P. 1
keutuhan jasad firaun

keutuhan jasad firaun

|Views: 31|Likes:

More info:

Published by: Yahya Gesang Manunggal on Sep 09, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/14/2012

pdf

text

original

Para ilmuwan Mesir dan ilmuwan Barat (kalau tidak salah kami dari Amerika Serikat) berkolaborasi mengadakan

penelitian mengenai struktur fisik dari jasad Fir’aun Laknatullah atau dikenal sebagai Ramses II. Jasad Fir‟aun ditemukan oleh arkeolog di dalam Piramida. Jasad yang sudah ribuan tahun masih utuh dengan balutan kulit serta menggambarkan guratan wajah seseorang yang mengalami penderitaan yang sangat dengan mulut ternganga.

Para ilmuwan berselisih pendapat mengenai jasad Fir‟aun. Para ilmuwan Mesir berkesimpulan bahwa Fir‟aun mati tenggelam sesuai yang tersebut di dalam Al-Qur‟anul Karim. Sedangkan para ilmuwan Barat menyimpulkan, pada saat penenggelaman pasukannya di Laut Merah (dinamakan Laut Merah oleh karena keberadaan ganggang merah yang membuat warna laut menjadi merah), Fir‟aun sedang duduk menyaksikan dari pinggir pantai. Mereka berkesimpulan bahwa jasad yang ada di depan mereka ini memang tidak pernah mengalami penenggelaman. Dengan menggunakan bantuan alat foto isotop nuklir, maka didapatlah sturktur kimia dan biologi yang terdapat di dalam jasad Fir‟aun. Didapatlah kecocokan dengan stuktur ganggang yang biasanya terdapat di Laut Merah. Perdebatan sengit terjadi, ilmuwan Barat bersikeras bahwa untuk mengawetkan Fir‟aun bahan dasarnya berasal dari ganggang tersebut. Setelah diteliti lebih lanjut, tidak ditemukan struktur ganggang tersebut terhadap Mummy lainnya.

Pada jasad Fir’aun terdapat ciri-ciri bagaikan orang yang tenggelam, seperti tersedak, paru-paru yang membengkak dan perut yang membesar.
Maka benarlah khabar berita yang disampaikan di dalam Al-qur’anul Karim bahwa Fir’aun memang ditenggelamkan oleh ALLAH SWT. Shadaqallaahu wa Shadaqta Ya Rasuulullah! (Maha benar ALLAH dan benar juga apa yang disampaikan oleh Engkau Ya Rasul ALLAH) Demikianlah Nabiyullah Musa a.s dan kaumnya berhasil melewati lautan. Sementara itu, Fir‟aun sampai ke tepi laut yang berlawanan. Ia menyaksikan mukjizat ini, Ia melihat lautan terdapat jalan kering yang terbelah menjadi dua. Fir‟aun saat itu merasakan ketakutan tetapi lagi-lagi, keras kepalanya membuyarkan akal sehatnya. Nabiyullah Musa a.s sesaat setelah sampai di pinggir pantai, menoleh kebelakang dan ingin memukulkan tongkatnya ke lautan tersebut agar tertutup kembali. Sedangkan ALLAH Ta’ala telah berkehendak untuk menenggelamkan Fir‟aun. Oleh karena itu,

Nabiyullah Musa a.s diperintahkan untuk membiarkan lautan seperti semula. ALLAH SWT mewahyukan kepadanya : “Dan biarlah laut itu tetap terbelah. Sesungguhnya mereka adalah tentara yang akan ditenggelamkan,” (Q.S Ad-Dukhan : 24) Fir‟aun bersama bala tentaranya sampai di tengah lautan, Ia sudah melewati separuh jarak dan akan sampai di tepi lainnya. Kemudian ALLAH Ta’ala memerintahkan Malaikat Jibril a.s yang kemudian digerakkanlah olehnya ombak sehingga ombak tersebut menerpa Fir‟aun dan tentaranya tenggelam ke dalam lautan. Ketika tenggelam, Fir‟aun melihat tempatnya di neraka. Kini ia baru sadar dan tabir telah terkuak di depannya. Fir‟aun telah menjelang ajal. Ia lalu menyadari kebenaran Risalah yang dibawakan oleh Nabiyullah Musa a.s sesuai yang terdapat di dalam Q.S Yunus : 90, yaitu : “Hingga bila fir‟aun itu hampir tenggelam berkatalah dia : „Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada ALLAH).” Taubat Fir‟aun tidak berguna dan jauh dari penerimaan, taubat yang disampaikan pada saat ajal sudah sampai pada kerongkongan ketika ia menyaksikan azab dan menjelang kematiannya. Lalu Malaikat Jibril a.s berkata kepadanya sebagaimana di dalam Q.S Yunus : 91 : “Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” Yakni, tiada taubat baginya. Sungguh telah usai masa taubat baginya dan binasalah ia. Selesailah urusannya dan tiadalah keselamatan baginya. Yang selamat hanyalah tubuhnya dan dilemparkan oleh ombak ke tepian pantai, menjadi bukti kebesaran ALLAH SWT bagi orang-orang yang hidup sesudahnya. Sesuai Q.S Yunus : 92 : “Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi peringatan bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” Apa yang dialami oleh Fir‟aun – Ramses II sebagaimana yang dapat dilihat di Museum Kairo, Mesir. Jasadnya mengering oleh sebab dibalsem dan dimasukkan ke dalam kotak serta dibalut oleh lilitan kain ke seluruh tubuhnya. Meskipun jasadnya utuh, akan tetapi jaringan sel yang terdapat di tubuhnya rusak dan mati. Lain halnya dengan jasad orangorang pilihan yang dikasihi ALLAH SWT, seperti Anbiya-i wal Mursalin serta para Shalihin, meskipun telah dikubur di dalam tanah mencapai hitungan ratusan hingga ribuan tahun, tetaplah layaknya bagaikan orang yang sedang tertidur. Jaringan selnya masih utuh seperti sediakala. Dalam hal ini adalah firman Allah SWT, “Maka pada hari ini, Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang kami mengerjakannya, dan supaya kamu berdua mempunyai kekuasaan di muka bumi? Kami tidak mempercayai kamu berdua.”(QS.Yunus:92) TENTANG KEUTUHAN JASAD FIRAUN Di dalam bukunya, “al-Qur‟an Dan Ilmu Modern”, Dr Morris Bukay* menyingkap adanya kesesuaian antara informasi yang dipaparkan di dalam al-Qur‟an mengenai nasib Fir‟aun yang hidup pada masa nabi Musa (setelah ia tenggelam di laut) dan keberadaan jasadnya hingga hari

ini sebagai tanda kebesaran Allah terhadap alam semesta ini. Dalam hal ini adalah firman Allah SWT, “Maka pada hari ini, Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang kami mengerjakannya, dan supaya kamu berdua mempunyai kekuasaan di muka bumi? Kami tidak mempercayai kamu berdua.”(QS.Yunus:92) Dr Bukay melanjutkan, “Riwayat versi Taurat yang terkait dengan kisah keberangkatan bangsa Yahudi bersama Musa AS dari Mesir menguatkan analisa yang mengatakan bahwa Mineptah, pengganti Ramses II adalah Fir‟aun Mesir di masa nabi Musa AS. Penelitian medis terhadap mummi Mineptah mengemukakan kepada kita informasi penting lainnya mengenai apa kemungkinan penyebab kematian Fir‟aun ini. Sesungguhnya Taurat menyebutkan, jasad Fir‟aun tersebut ditelan laut, akan tetapi tidak memberikan rincian mengenai apa yang terjadi setelah itu. Sedangkan al-Qur‟an menyebutkan bahwa jasad Fir‟aun yang dilaknat itu akan diselamatkan dari air sebagaimana yang tertera dalam ayat di atas. Pemeriksaan medis terhadap mummi ini menunjukkan, jasad tersebut tidak berada dalam waktu yang lama di dalam air sebab tidak ada tanda-tanda ia mengalami kerusakan (pembusukan) total akibat terendam lama di dalam air.** Dr Morris telah menyebutkan, “Hasil-hasil beberapa penelitian medis mendukung analisa terdahulu. Pada tahun 1975, di Cairo berhasil dilakukan pengambilan salah satu sampel organ tubuh berkat bantuan berharga dari Prof Michfl Durigon. Pemeriksaan yang sangat teliti dengan microscop menunjukkan kondisi utuh yang sangat sempurna dari objek penelitian itu. Juga menunjukkan bahwa keutuhan yang sangat sempurna seperti ini tidak mungkin terjadi andai jasad tersebut berada (tenggelam) di dalam selama beberapa waktu, bahkan sekali pun ia berada untuk waktu yang sekian lama di luar air sebelum dilakukan langkah pengawetan pertama. Kami sudah melakukan lebih dari itu dan menitikkan perhatian pada pencarian kemungkinan yang menjadi penyebab kematian Fir‟aun di mana dilakukan penelitian medis legal terhadap mummi tersebut berkat bantuan Ceccaldi, direktur laboratorium satelit udara di Paris dan Prof Durigon. Dalam pengecekan itu, tim medis berupaya mengetahui sebab di balik kematian „ekspress‟ akibat adanya memar di bagian tengkorak kepala… Jelaslah, bahwa setiap penelitian-penelitian ini sangat sesuai dengan kisah-kisah yang terdapat di dalam kitab-kitab suci yang menyiratkan bahwa Fir‟aun sudah mati saat ombak menelannya.*** Dr Bukay juga menjelaskan aspek kemukjizatan kisah ini dengan mengatakan, “Di zaman di mana al-Qur‟an telah sampai kepada umat manusia melalui jalur Muhammad SAW, jasad-jasad setiap Fir‟aun -yang di zaman modern ini orang-orang masih ragu apakah benar mereka memiliki hubungan dengan peristiwa keluarnya Musa AS ataukah tidak?- ternyata masih tersimpan di dekat beberapa kuburan di lembah raja-raja di Theeba di tebing lainnya dari sisi sungai Nil di hadapan kota al-Aqshar sekarang ini. Pada masa nabi Muhammad SAW, segala sesuatu tentang masalah ini masih misterius. Jasadjasad ini belum tersingkap kecuali di penghujung abad 19 H.**** Dengan demikian, jasad

Fir‟aun Musa yang hingga saat ini masih dapat disaksikan dengan mata kepala dengan jelas dinilai sebagai persaksian materil atas jasad yang diawetkan milik seorang yang mengenal Musa AS, melawan semua permintaannya bahkan melakukan pengejaran atas pelariannya lalu mati di tengah aksi pengejaran itu. Allah menyelamatkan jasadnya dari kepunahan total agar menjadi pertanda kebesaran Allah bagi umat manusia sebagaimana yang disebutkan al-Qur‟an alKarim.*****

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->