P. 1
Per Banding An Ruang Vektor Euclidean Dan Ruang Vektor Gyro

Per Banding An Ruang Vektor Euclidean Dan Ruang Vektor Gyro

|Views: 206|Likes:
Published by Esih Sukaesih

More info:

Published by: Esih Sukaesih on Sep 09, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/06/2014

pdf

text

original

Sections

  • LAMPIRAN A : PEMBUKTIAN SIFAT-SIFAT VEKTOR GYRO 52 kr _ xk =
  • LAMPIRAN A : PEMBUKTIAN SIFAT-SIFAT VEKTOR GYRO 53 kgyr [x; y] zk =

Perbandingan Ruang Vektor Euclidean dan Ruang Vektor Gyro
Oleh
Esih Sukaesih

Abstrak
Ruang vektor gyro memberi latar untuk geometri hiperbolik yang mempunyai
kesamaan dengan ruang vektor yang memberi latar untuk geometri Euclidean. Teori
dari ruang vektor gyro menyatukan beberapa aspek koordinat geometri dari geometri
Euclidean dan geometri hiperbolik.

Kata kunci: vektor gyro, ruang vektor gyro.

1.1 Pendahuluan

Geometri disertakan dalam mempelajari bentuk dari permukaan dan topologi.
Dalam fisika, Einstein dan Minkowski mengenali bahwa hukum fisika seharusnya
dirumuskan dalam bentuk geometri ruang waktu. Dalam Aljabar, satu cara yang
menghasilkan untuk mempelajari grup adalah untuk menyatakan mereka sebagai
grup simetri dari objek geometri. Dalam kasus ini, geometri yang sering diperlukan
geometri non-Euclid terutama geometri hiperbolik.
Kita ketahui bahwa geometri hiperbolik dipelajari dengan fungsi hiperbolik,
yang mempuyai kesamaan dengan fungsi lingkaran (atau, trigonometri). Kesamaan
seluruh fungsi hiperbolik, yang diekspresikan dengan fungsi lingkaran dari bidang
Euclidean memungkinkan untuk mengekspresikan rotasi pseudo dari bidang
Minkowski, dimana sudut pseudo dari rotasi pseudo adalah disebut rapidity. Rotasi
pseudo diparameterisasi dengan rapidity yang dikenal dalam Special Theory of
Relativity adalah transformasi Lorentz, untuk alasan ini bentuk "geometri
nonEuclidean" dari Bolyai dan Lobachevski berubah ke "geometri hiperbolik".
Struktur ruang vektor yang berada dalam geometri Euclidean memungkinkan
kita untuk mempelajari geometri Euclidean dengan koordinat. Untuk mengem-
bangkan kesamaan koordinat geometri hiperbolik akan digunakan Thomas preces-
sion dan membuka sebuah struktur seperti grup, yang disebut grup gyro. Konsep
grup gyro mengarahkan kita pada bentuk hiperbolik dari notasi ruang vektor
sebuah ruang vektor gyro.

Bab 2
Teori Dasar
2.1.2 De.nisi dari Sebuah Geometri
Misalkan dua bentuk dan . dan kongruen (ditulis ) jika dan hanya jika
A = f (B) = ff (z) : z dalam Ag dimana f adalah transformasi kongruen.
Dari sifat-sifat di atas diterjemahkan menjadi syarat transformasi kongruen se-
bagai berikut:
(a) fungsi identitas f (z) = z adalah sebuah transformasi kongruen,
(b) jika f (z) adalah sebuah transformasi kongruen, maka f bisa diinverskan dan
f 1 adalah juga sebuah transformasi kongruen,
(c) jika f (z) dan g (z) adalah transfomrasi kongruen, maka komposisi f (g (z))
adalah transformasi kongruen.
Ini mengarahkan kepada de.nisi berikut:
De.nisi 1 Misal S adalah sebuah himpunan tidak kosong. Sebuah grup trans-
formasi G adalah sebuah koleksi dari transformasi T : S ! S sehingga
(a) G tertutup terhadap komposisi,

(b) G memuat identitas, dan
BAB 2. TEORI DASAR 6
(c) transformasi dalam G bisa diinverskan dan inversnya dalam G
De.nisi 2 Setiap geometri (S;G) terdiri atas sebuah himpunan tidak kosong S
dan sebuah grup transformasi G.
De.nisi 3 Sebuah bentuk dalam geometri (S;G) adalah sebarang A subhimpunan
dari himpunan S. Dua bentuk A dan B adalah kongruen jika terdapat sebuah
transformasi T dalam G sehingga T (A) = B, dimana T (A) dide.nisikan dengan
rumus T (A) = fTz : z adalah sebuah titik dari Ag.
2.2 Geometri Euclidean
Bagian terpenting dalam geometri adalah grup transformasi G. Grup transfor-
masi G menentukan karakter dari geometri.
De.nisi 4 Misal E2 adalah bidang Euclidean termasuk 1, dan misal F adalah
grup transformasi dari himpunan transformasi yang berbentuk
T (z) = zei_ + b
dengan _ adalah konstanta Real dan b adalah konstanta kompleks. Pasangan
(E2; F) adalah model geometri Euclidean.
Model geometri Euclidean pada de.nisi di atas merupakan geometri dengan
transformasi perputaran (rotasi) dilanjutkan dengan pergeseran (translasi). Se-
lanjutnya akan ditunjukkan geometri (E2; F) adalah sebuah geometri.
(a) Misalkan T; S 2 F dengan
T (z) = zei_ + b
dan
S (z) = zei_ + c
BAB 2. TEORI DASAR 7
dengan _ adalah konstanta Real dan b; c adalah konstanta kompleks. Se-
hingga
T (S (z)) =

zei_ + c
_
ei_ + b
= zei2_ + cei_ + b
misalkan cei_ + b = d
T (S (z)) = zei2_ + d
dengan _ adalah konstanta Real dan d adalah konstanta kompleks. Karena
T _ S adalah transformasi rotasi dilanjutkan dengan translasi, jadi T _ S
adalah transformasi dalam F.
(b) Misalkan _ = 0 dan b = 0, maka
T (z) = z
adalah transfomasi identitas. Jadi F mempunyai identitas.
(c) Misalkan T 1 (z) = zei_ g adalah transformasi invers dari T , dengan
g = be i_ dan _ adalah konstanta Real dan g; b adalah konstanta kom-
pleks. Karena T 1 adalah transformasi rotasi dilanjutkan dengan translasi,
sehingga T 1 2 F, maka
T 1 (T (z)) =

zei_ + b
_
e i_ g

= zei_e i_ + be i_ be i_
= z
dan
T


T 1 (z)
_
=


ze i_ g
_
ei_ + b
= ze i_ei_ gei_ + b
= ze i_ei_ be i_ei_ + b
= z b + b
= z
BAB 2. TEORI DASAR 8
Jadi T 1 adalah transformasi invers dari T. Jadi F memuat invers.
Berdasarkan (a)-(c) di atas maka (E2; F) adalah model geometri Euclidean.
2.3 Ruang Euclidean
Ruang Euclidean mempunyai aspek aljabar dan geometri. Dalam aspek aljabar
ruang Euclidean mempunyai sifat vektor di R2. Ruang vektor R2 memenuhi sifat
berikut.

Definisi 5
Ruang vektor

adalah himpunan tidak kosong

dengan operasi biner

dan sebuah operasi

yang memenuhi sifat berikut.

Untuk setiap

berlaku . (sifat asosiatif)

Untuk setiap

berlaku . (sifat komutatif)

Terdapat

untuk setiap

sehingga berlaku . (identitas)

Terdapat

untuk setiap

sehingga berlaku . (invers)

Terdapat

untuk setiap

sehingga berlaku .

Untuk setiap dan untuk setiap

berlaku . (sifat

distributif)
Untuk setiap dan untuk setiap

berlaku .

Untuk setiap dan untuk setiap

berlaku .
Ruang vektor Euclidean secara aljabar sama dengan ruang vektor. Untuk
melengkapi ruang Euclidean, maka ruang vektor mempunyai norm yang
didefinisikan dari hasil kali dalam ruang vektor
.

Definisi 6
Misalkan sebarang

dengan dan dan ,

hasil kali dalam adalah

Berdasarkan definisi hasil kali dalam di atas didefinisikan norm.

Definisi 7
Misalkan sebarang

dengan dan , norm x adalah

‖ ‖

yang memenuhi sifat berikut:
‖ ‖ ,untuk setiap
.
Jika ‖ ‖ , maka . (vektor nol)
‖ ‖ | |‖ ‖ untuk setiap

dan setiap .

Sehingga jarak antara dua titik

dalam ruang Eulcidean

adalah

‖ ‖
Jadi ruang Euclidean adalah ruang vektor yang dilengkapi dengan fungsi jarak
(metrik). Konsep jarak adalah hal penting dalam geometri.

Teorema 8
Jarak antara dua titik dalam ruang Euclidean memenuhi sifat berikut.
Untuk setiap

, berlaku .

Untuk setiap

, berlaku jika dan hanya jika .

Untuk setiap

, berlaku .

Untuk setiap

, berlaku .

Identitas dalam ruang Euclidean adalah

‖ ‖

‖ ‖

‖ ‖

dengan
.
Jika saling tegak lurus maka diperoleh teorama Pythagoras
‖ ‖

‖ ‖

‖ ‖

dengan
.

Identitas polarisasi dalam ruang Euclidean adalah

‖ ‖

‖ ‖

dengan
.

Bab 3
Ruang Vektor Gyro
Cakram satuan { | | } dalam bidang komplek kaya akan struktur
matematika. Berdasarkan definisi cross ratio


akan didefinisikan
penjumlahan , yaitu operasi biner . Dengan memilih dan

̅ , ̅ adalah konjugate dari , maka


(

̅)

(

̅)

(

̅)(

̅
)

(

̅
)(

̅)

(

̅
) ̅(
̅ )

( ̅

)(
̅ )

Dengan

( ̅

) ̅
̅

̅

Sehingga diperoleh

(
̅ )

Dengan .
Selanjutnya akan didefinisikan perkalian skalar , yaitu aksi skalar ,
didefinisikan berdasarkan jarak hiperbolik suatu titik terhadap titik pusat
cakram satuan yaitu ( | |

| |). Perpanjangan suatu titik , sebanyak
(dengan adalah konstanta Real) terhadap titik pusat cakram satuan adalah

( | |

| |) ( | |
| |)
Sehingga jarak perpanjangan sutu titik terhadap titik pusat cakram satuan
adalah

( | |
| |) ( | |

| |)

sehingga

( | |
| |) ( | |

| |)

| | ( | |
| |)

| |

| | ( | |
| |)

| |( | |
| |)

| |( ( | |
| |)

) ( | |
| |)

| | ( | |

| |)

( | |
| |)

Maka

| | | |

| |
| | | |
Jadi aksi skalar dari suatu konstanta Real terhadap didefinisikan sebagai
berikut:

| |

| |

| |

| |
| | | |

| |

Jadi penjumlahan dan aksi skalar berturut-turut adalah

(
̅ )

Dan

| |

| |
| | | |

| |
Dengan , adalah konstanta Real, ̅ adalah konjugate dari . Berarti
pada aksi skalar, juga didefinisikan .) Struktur bukanlah ruang
vektor seperti pada umumnya, penjumlahan bersifat tidak komutatif dan tidak
asosiatif. adalah contoh dari struktur ruang vektor gyro. Istilah gyro bertitik
asal dari perkembangan sejarah dari struktur ini yang berhubungan dengan
phenomena Thomas precession dalam fisika relativitas. memenuhi model
Poincare untuk geometri hiperbolik. Struktur ruang vektor memenuhi landasan
aljabar dan analisis untuk Euclidean geometri, struktur ruang vektor juga memenuhi
struktur ruang vektor gyro (atau pendeknya struktur-gyro) dari yang
memenuhi landasan yang sama untuk geometri hiperbolik.
BAB 3. RUANG VEKTOR GYRO 25
3.1 Ruang Vektor Gyro
Diketahui bahwa bersifat nonkomutatif dan nonasosiatif. “Perbaikan” sifat
nonkomutatif untuk didefinisikan

[ ] ̅
̅

disebut gyration ditentukan dengan dan ; catatan bahwa | [ ]| .
Sehingga memenuhi hukum gyrokomutatif sebagai berikut:
[ ]
. Sehingga gyration memperbaiki sifat nonkomutatif dan sifat nonasosiatif dari
.
Definisi 18 Sebuah ruang vektor gyro adalah himpunan tidak kosong
dengan operasi biner dan sebuah operasi memenuhi
axioma berikut.
(G1) Terdapat sehingga untuk semua , berlaku
(Identitas)
(G2) Untuk setiap , terdapat – sehingga berlaku
(Invers).
Untuk setiap , pemetaan [ ] didefinisikan dengan
[ ] ( )

untuk memenuhi sifat berikut.
(G3) Untuk setiap berlaku
[ ] (sifat assosiatif kiri gyro).
(G4) Untuk setiap berlaku
[ ] (automorfisma gyro).
(G5) Untuk setiap berlaku
[ ] [ ] (sifat loop kiri).
(G6) Untuk setiap berlaku
x _ y = gyr [x; y] (y _ x) ; (sifat komutatif gyro).
(G7) Untuk setiap x 2 D dan untuk setiap r1; r2 adalah konstanta Real berlaku

(r1 + r2) _ x = (r1 _ x) _ (r2 _ x) :
(G8) Untuk setiap x 2 D dan untuk setiap r1; r2 adalah konstanta Real berlaku
(r1r2) _ x = r1 _ (r2 _ x) :
(G9) Terdapat 1 adalah konstanta Real, untuk setiap x 2 D berlaku
1 _ x = x:
(G10) Untuk setiap x; y; z 2 D dan untuk setiap r adalah konstanta Real berlaku
gyr [x; y] (r _ z) = r _ gyr [x; y] z:
(G11) Untuk setiap x 2 D dan untuk setiap r1; r2 adalah konstanta Real berlaku
gyr [r1 _ x; r2 _ x] = idD:
Pemetaaan gyr [x; y] : D ! D yang diberikan (3.7) disebut automor.sma gyro
yang dibangun x; y 2 D, dan aksi terhadap D disebut gyration yang dibangun
x; y 2 D. Struktur (D;_;_) adalah ruang vektor gyro, dan notasi gyration
sebagai aksi adalah konsisten dengan identi.kasi dalam (D;_;_) dari gyr [x; y].
Pembuktian sifat (G1) - (G11) terlampir dalam Lampiran A.
Berikut ini contoh penjumlahan dan aksi skalar dalam ruang vektor gyro,
misal x = 0:2 + 0:6i, y = 0:6 + 0:3i dan r1 = 2, r2 = 3.
BAB 3. RUANG VEKTOR GYRO 27
Gambar 3.2 Contoh penjumlahan dalam ruang vektor
gyro dengan x = 0:2 + 0:6i dan y = 0:6 + 0:3i:
Gambar 3.3 Contoh aksi skalar dalam ruang vektor gyro
dengan x = 0:2 + 0:6i dan r1 = 2, r2 = 3.
Aksi skalar _ dari r adalah konstanta Real terhadap z 2 D dalam persamaan
(3.4)
r _ z =
(1 + jxj)r (1 jxj)r
(1 + jxj)r + (1 jxj)r
x
jxj
jika r semakin mendekati 1 maka
lim
r!1
r _ z = lim
r!1
1
_
1 jzj
1+jzj
_t
1 +
_
1 jzj
1+jzj
_t
z
jzj
=
z
jzj
dan jika r semakin mendekati -1 maka
lim

r! 1
r _ z = lim
r!1
_
1+jxj
1 jxj
_r
1
_
1+jxj
1 jxj
_r
+ 1
z
jzj
=
z
jzj
:
BAB 3. RUANG VEKTOR GYRO 28
Jadi dalam aksi skalar, semakin besar r akan semakin mendekati batas lingkaran
satuan.
Sebuah grup gyro (D;_) adalah sebuah struktur yang memenuhi (G1) sam-
pai (G6), dan sebuah gyrokomutatif grup gyro harus juga memenuhi (G7). Se-
barang grup adalah sebuah grup gyro dengan gyr [x; y] _ id untuk semua x; y.
Sebaliknya, sebuah grup gyro dalam setiap gyration adalah jelas sebuah grup.
Ruang vektor adalah jelas sebuah ruang vektor gyro, terdapat grup abelian den-
gan sebuah aksi pada R yang memenuhi (G7) sampai (G9) (dan jelas, (G10) dan
(G11)) tetapi bukan ruang vektor. Jadi sebuah ruang vektor gyro dengan gyra-
tion tidak perlu merupakan sebuah ruang vektor. Yang masih hilang dan belum
diketahui adalah hukum distribusi gyro yang menghubungkan operasi _ dan _.
Dalam (D;_;_) dan ruang vektor gyro yang lain. Pernyataan r _ (x _ y) dan
(r _ x) _ (r _ y) adalah tidak sama.
Gambar 3.4 Contoh ruang vektor gyro tidak memiliki
sifat distributif dengan x = 0:2 + 0:6i, y = 0:6 + 0:3i
dan r = 3:
Mungkin aksioma yang paling teknis adalah sifat loop (G5), yang merupakan
kunci pembuktian berikut.
(L) Diberikan a; b 2 D, solusi unik dari a _ x = b adalah x = a _ b:
(R) Diberikan a; b 2 D, solusi unik dari x _ a = b adalah x = b _ gyr [b; a] a.
Disini x

y menyatakan x_( y). Sifat (L) dan (R) berarti setiap grup gyro
adalah loop. Pembuktian (L) dan (R) terlampir dalam Lampiran B.
BAB 3. RUANG VEKTOR GYRO 29
Dapat disimpulkan sifat (L) dan (R) dengan hukum penghilangan sebagai
berikut:
x _ (x _ y) = y (3.8)
untuk x; y 2 D. Hal ini akan dipergunakan untuk mempelajari geometri dari D.
Persamaan (3.8) adalah ekuivalen dengan (L), yang juga ekuivalen dengan
gyr [ x; x] = id (3.9)
untuk x; y 2 D.

3.2 Norm dan Metric
Dide.nisikan norm Poincare k:k : D ! [0; 1) dengan
kxk = jxj (3.10)
untuk x 2 D. Norm ini memenuhi sifat berikut: untuk semua x; y; z 2 D, r 2 R,
kxk _ 0; kxk = 0 =) x = 0 (P1)
kr _ xk = jrj _ kxk (P2)
kx _ yk _ kxk _ kyk (P3)
kgyr [x; y] zk = kzk : (P4)
Sifat norm ((P1) -( P4)) mempunyai kesamaan dengan sifat dari norm dalam
ruang vektor. Pembuktian sifat ((P1)-(P4)) terlampir dalam Lampiran A. Dalam
penjumlahan, kegunaan scaling identitas
r _ x
kr _ xk
=
x
kxk
(3.11)
terpenuhi untuk semua r > 0; x 2 D. Pembuktian scaling identitas terlampir
dalam Lampiran A.
BAB 3. RUANG VEKTOR GYRO 30
Identitas dalam ruang vektor Euclidean, mempunyai kesamaan dengan Iden-
titas Hiperbolik,
kx _ yk2 = kxk2 _ kyk2 _
1
2 (2 _ x) _ (2 _ y)
1 + 1
2 (2 _ x) _ (2 _ y)
(3.12)
untuk x; y 2 D. Disini hasil kali titik _ diberikan dengan a _ b = Re

ab
_
, di-
mana Re (z) menyatakan bagian real dari z. Pembuktian (3.12) terlampir dalam
Lampiran B. Jika x dan y saling tegak lurus, maka (3.12) spesialisasi terhadap
teorema Pythagoras hiperbolik:
kx _ yk2 = kxk2 + kyk2 (3.13)
Dalampenjumlahan, karena (( 1; 1) ;_) adalah sebuah grup abelian, berdasarkan
(3.12) maka Identitas Polarisasi Hiperbolik
kx _ yk2

kx yk2 = (2 _ x) _ (2 _ y) (3.14)
x; y 2 D, sebuah kesamaan dengan identitas polarisasi dalamsebuah ruang vektor
Euclide.
Dari norm Poincare, dide.nisikan metrik Poincare dengan
d_ (x; y) = kx

yk (3.15)
x; y 2 D. Kondisi nongenerasi d_ (x; y) = 0 =) x = y berdasarkan sifat dari
(P1), dan kondisi simetri d_ (x; y) = d_ (y; x) berdasakan gyrokomutatif (G6)
dan (P4). Metrik Poincare adalah gyroautomor.sma invariant dan gyrotranlasi
invariant (kiri), dengan sifat sebagai berikut
d_ (z;w) = d_ (gyr [x; y] z; gyr [x; y]w) (3.16)
d_ (y; z) = d_ (x _ y; x _ z) (3.17)

untuk x; y; z;w 2 D. Persamaan (3.16) berasal dari (P4), sedangkan (3.17) be-
rasal dari (P4) dan identitas berikut, yang terpenuhi dalam sebarang grup komu-
tatif gyro:
(x _ a) _ (x _ b) = gyr [x; a] ( a _ b) (3.18)
BAB 3. RUANG VEKTOR GYRO 31
untuk x; a; b 2 D. Sehingga diperoleh pertidaksamaan segitiga
d_ (x; z) _ d_ (x; y) _ d_ (y; z) _ d_ (x; y) + d_ (y; z) (3.19)
untuk x; y 2 D, yang terpenuhi dari (3.17), (P3), (G6), dan (P4). Pembuk-
tian metrik dan ruang vektor gyro dan persamaan (3.15)-(3.19) terlampir dalam
Lampiran A.
3.3 Geometri Gyro
Sekarang kita menuju geometri dari ruang vektor gyro (D;_;_). Dimulai dengan
kelas kurva dalam D yang mempunyai kesamaan terhadap garis dalam ruang
Euclidean. Jika a; b 2 E2, maka
r (t) = a + t ( a + b) (3.20)
t 2 R, parameterisasi garis unik yang melalui a (jika t = 0) dan b (jika t = 1).
Persamaan ini menekankan pengaturan yang berbeda dari parameter pada kurva
yang sama. Ambil a; b 2 D tetap dan misalkan kurva
l (t) = a _ t _ ( a _ b) (3.21)
untuk t 2 R. Kita mempunyai l (0) = a. Gunakan (G9) dan (3.8) dalam (3.21),
kita lihat bahwa l (1) = b. Mengacu pada kurva (3.21) sebagai garis gyro yang
melewati a dan b, lihat gambar 3.3. Untuk a; b 2 D, pada struktur- gyro terdapat
satu garis gyro yang melewati a dan b. Bagaimanapun, dalam D, mengarahkan
pengamatan geometri bahwa kurva dalam C, garis gyro merupakan tipe khusus
dari kurva lingkaran melalui a dan b.
BAB 3. RUANG VEKTOR GYRO 32
Gambar 3.5 Garis gyro
Subhimpunan .nite dari titik yang berada pada garis gyro biasa dapat dikarak-
teristik hanya dengan gyration. Hukum gyrotransitif sebagai berikut.
(T) Sebuah himpunan fa1; a2; :::; ang _ D berada pada garis gyro biasa jika dan
hanya jika
gyr [a1; a2] gyr [a2; a3] :::gyr [an 1; an] = gyr [a1; an] .
Diperoleh sifat "antara" garis gyro berikut ini. Untuk q < r < s,
d_ (l (q) ; l (r)) _ d_ (l (r) ; l (s)) = d_ (l (q) ; l (s)) (3.22)
(_ dalam (( 1; 1) ;_;_).) Persamaan (3.22) adalah sebuah konsekuensi gyro-
translasi invariant (3.17), (G7) dan (P2). Untuk setiap a; c 2 D, gyrotranlasi a
dengan mengalikan c di ruas kiri akan menjelaskan sebuah aksi grup R pada D:
s _ c _ (t _ c _ a) = (s _ c _ t _ c) _ a = (s + t) _ c _ a (3.23)
menggunakan (G3), (G11), dan (G7). Tidak secara langsung adalah bukti dari
kebalikannya: Jika tiga titik memenuhi (3.23), maka terdapat sebuah garis gyro
yang memuat mereka.
Seperti gambar 3.3 dan (3.22), garis gyro dalam D adalah .garis.dari model
Poincare dari geometri hiperbolik. Ini adalah geodesik (kurva dengan panjang
BAB 3. RUANG VEKTOR GYRO 33
busur terpendek) dalam ruang metrik (D; d_). garis gyro yang melalui a dan b
adalah sebuah busur dari lingkaran Euclide unik yang melalui a dan b (atau seg-
men garis jika a dan b adalah collinear dengan titik pusat) yang mendekati batas
dari D secara orthogonal. (Ini karena l (t) adalah peta di bawah transformasi
Mobius dari segmen garis diberikan oleh t _ ( a _ b).)
Akan diperlihatkan bagaimana struktur-gyro dari D jika diberikan sebuah

garis l dan sebuah titik a tidak pada l, terdapat sejumlah tak hingga garis
melalui a yang paralel (tidak memotong) terhadap l. Untuk menyederhanakan
perhitungan, akan dijelaskan dalam kasus dari sebuah garis gyro l (t) = t _ b
melalui titik pusat, dan sebuah titik a tidak pada l. Untuk r 2 R, dide.nisikan
_r = gyr [ a; r _ b], dan diperluas secara kontinu dengan _1 =
(jbj ab)
(jbj ab) dan
_ 1 =
(jbj+ab)
(jbj+ab) . Maka untuk sebarang r 2 [ 1;1], diberikan garis gyro dengan
lr (t) = a _ t _ _rb, (3.24)
t 2 R, melalui a (jika t = 0) dan paralel terhadap l (t) = t _ b, Gambar
3.4. Sebaliknya, sebarang garis gyro melalui a dan paralel ke l diberikan oleh
(3.21) untuk suatu r 2 [ 1;1]. Dua garis gyro ekstrim l1 dan l 1 memenuhi
limt!1 l1 (t) = b
jbj
dan limt! 1 l 1 (t) = b
jbj
, sebaliknya, dan disebut asymp-
totically divergent terhadap l.
Gambar 3.6 Beberapa garis gyro yang paralel terhadap garis
gyro yang diberikan
Diberikan titik a; b 2 D, akan diidenti.kasi elemen a_b 2 D dengan vektor
gyro terdiri dari segmen terarah dari garis gyro menghubungkan a ke b, yakni,
BAB 3. RUANG VEKTOR GYRO 34
dengan l (t) = a _ t ( a _ b) untuk 0 _ t _ 1. Jarak dari vektor gyro a _ b
dide.nisikan sebagai jarak d_ (a; b) antara titik batasnya. Jika a _ b = c _ d,
maka misalkan vektor gyro yang berhubungan menjadi ekuivalen. Pada umum-
nya, a _ b adalah ekuivalen terhadap sebuah vektor gyro tunggal bertitik asal
dari titik pusat. Dengan interpretasi ini, (3.21) dapat dilihat sebagai garis gyro
unik melalui a dengan arah vektor gyro a_b. vektor gyro yang ekuivalen jelas
mempunyai panjang yang sama, tetapi tidak seperti pada Euclide, mereka tidak
perlu paralel.
Untuk a; b 2 D, titik a_b
k a_bk
pada lingkaran satuan C hanya bergantung pada
sinar gyro l (t) = a _ t _ ( a _ b), t _ 0, bertitik asal dari a dan menuju b.
Meskipun, jika c 2 l diberikan dengan c = l (s) untuk beberapa s > 0, maka (3.8)
menjadi a _ c = s _ ( a _ b), dan sehingga
a _ c
k a _ ck
=
s _ ( a _ b)
ks _ ( a _ b)k
= a _ b
k a _ bk
dengan identitas skala (3.11). Sekarang misalkan a _ b1 dan a _ b2 , Gambar
3.5, dengan
cos _ = a _ b1
k a _ b1k _ a _ b2

k a _ b2k
(3.25)
Gambar 3.7 Sudut antara vektor gyro
Dengan diskusi berikut, (3.25) hanya bergantung pada dua sinar gyro berti-
tik asal dari a dan melalui b1 dan b2. Meskipun (3.25) hanya bergantung pada
struktur-gyro intrinsic dari D, berarti juga bahwa ukuran sudut sama dengan
yang dide.nisikan dengan tangent vektor l0i (0) pada a. Ini memperlihatkan bahwa
BAB 3. RUANG VEKTOR GYRO 35
dengan menghitung tangen vektor secara ekplisit adalah mudah, tetapi secara in-
tuitif jelas karena b1 dan b2 dapat diperoleh dari .secara in.nite dekat.terhadap
a, tangen vektor l0i (0) merupakan pengali dari a_bi
k a_bik
, i = 1; 2.
3.4 Aturan Cosinus dalam Ruang Vektor Gyro
Misal A = c _ b, B = c _ a dan C = a _ b menotasikan vektor gyro
memberikan sisi dari segitiga hiperbolik dengan titik a; b; c dan misalkan _; _;
menotasikan sudut yang bersesuian, lihat gambar 3.6. Dengan (3.18) dan (G6),
diperoleh
Gambar 3.8 Segitiga hiperbolik
A

B = ( c _ b) ( c _ a)
= ( c _ b) _ ( c _ a) , berdasarkan (3.18)
= gyr [ c; b] (b _ a)
= gyr [ c; b] gyr [b; a] ( a _ b) , berdasarkan (G6)
sehingga diperoleh
A

B = gyr [ c; b] gyr [b; a]C.
BAB 3. RUANG VEKTOR GYRO 36
Dengan menggunakan persamaan di atas, (P4), (3.12) dan (3.25), diperoleh
bentuk hukum kosinus hiperbolik sebagai berikut:
kCk2 = kgyr [ c; b] gyr [b; a]Ck2 , berdasarkan (P4)
= kA Bk2 , berdasarkan persamaan di atas
= kAk2 _ kBk2 _
1
2 (2 _ A) _ (2 _ B)
1 + 1
2 (2 _ A) _ (2 _ B)
, berdasarkan (3.12)
kCk2 = kAk2 _ kBk2
1
2 (2 _ A) _ (2 _ B)
1 1
2 (2 _ A) _ (2 _ B)
= kAk2 _ kBk2
1
2
_
2 _ AkAk
kAk
_
_
_

2 _ BkBk
kBk
_
1 1
2
_
2 _ AkAk
kAk
_
_
_
2 _ BkBk
kBk
_
= kAk2 _ kBk2
1
2 (2 _ kAk) (2 _ kBk) A
kAk _ B
kBk
1 1
2 (2 _ kAk) (2 _ kBk) A
kAk _ B
kBk
berdasarkan (3.25) sehingga diperoleh
kCk2 = kAk2 _ kBk2
1
2 (2 _ kAk) (2 _ kBk) cos
1 1
2 (2 _ kAk) (2 _ kBk) cos
(3.26)
Sebagaimana (3.26), diperoleh teorema phitagoras untuk segitiga siku-siku hiper-
bolik: Jika A dan B saling tegak lurus, maka kCk2 = kAk2 _ kBk2.
Bab 4
Kesimpulan dan Saran
4.1 Kesimpulan
Dari pembahasan yang telah dipaparkan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Geometri hiperbolik dan geometri Elliptik merupakan geometri alternatif
untuk menjelaskan dunia kita.
2. Ruang vektor gyro dapat memberi latar pada geometri hiperbolik, terutama
dalam tesis ini menjelaskan geometri hiperbolik dalam cakram Poincare,
seperti ruang vektor memberi latar pada geometri Euclidean.
3. Ruang vektor gyro mempermudah untuk membandingkan geometri Euclid-
ean dengan geometri hiperbolik.
4. Aturan cosinus pada vektor gyro mempunyai bentuk yang hampir serupa
dengan aturan cosinus yang telah kita kenal.
4.2 Saran
Mencermati masalah yang sudah disimpulkan di atas, beberapa saran yang dapat
disampaikan adalah:
37
BAB 4. KESIMPULAN DAN SARAN 38

1. Ruang vektor gyro dapat digunakan untuk mendalami geometri hiperbolik.
2. Dual vektor gyro dapat digunakan untuk lebih memperjelas perbandin-
gan antara geometri Euclidean dengan geometri hiperbolik pada cakram
Poincare.
Lampiran A : Pembuktian
Sifat-Sifat Vektor Gyro
Ruang Vektor Gyro
Sebuah ruang vektor gyro (D;_;_) adalah himpunan tidak kosong D dengan
operasi biner _ : D _ D ! D dan sebuah operasi _ : R _ D ! D memenuhi
axioma berikut. Aksioma (G1)-(G11).
(G1) Terdapat 0 2 D sehingga untuk semua x 2 D, berlaku
0 _ x = x _ 0 = x: (Identitas).
Akan ditunjukkan bahwa terdapat 0 2 D sehingga untuk setiap x 2 D,
berlaku 0 _ x = x _ 0 = x:
Bukti.
0 _ x =
0 + x
1 + 0x
=
0 + x
1 + 0x
, karena 0 = 0
=
0 + x
1 + 0
= x
=
x + 0
1 + 0
=
x + 0
1 + x0
, karena 0 = x0
= x _ 0
39
LAMPIRAN A : PEMBUKTIAN SIFAT-SIFAT VEKTOR GYRO 40
Jadi (G1) terbukti
(G2) Untuk setiap x 2 D, terdapat x 2 D sehingga berlaku
x _ x = x _ ( x) = 0: (Invers).
Akan ditunjukkan untuk setiap x 2 D, terdapat x 2 D sedemikian hingga
x _ x = x _ ( x) = 0:
Bukti.
x _ x = x + x
1 + ( x) x
= x + x
1 xx
=
x + ( x)
1 + x ( x)
,karena sifat komutatif di C

= x _ x
= 0:
Jadi (G2) terbukti.
Untuk setiap x; y 2 D, pemetaan gyr [x; y] : D ! D dide.nisikan
dengan
gyr [x; y] z = (x _ y) _ (x _ (y _ z)) :
Akan ditunjukkan untuk setiap x; y 2 D, pemetaan gyr [x; y] : D ! D
dide.nisikan dengan gyr [x; y] z = (x _ y) _ (x _ (y _ z))
Bukti.
gyr [x; y] z =
(1 + xy)
(1 + xy)
z
=
z (1 + xy)
(1 + xy)
, sifat asosiatif dalam C
=
(1 yy)
(1 yy)
z (1 + xy)
(1 + xy)
=
(z yyz)
(1 yy)
(1 + xy)
(1 + xy)
, sifat distributif dalam C
=
(1 xx) (z yyz)
(1 xx) (1 yy)
(1 + xy)
(1 + xy)
LAMPIRAN A : PEMBUKTIAN SIFAT-SIFAT VEKTOR GYRO 41
=
(1 xx) (y y + z yyz)
(1 xx) (yz yz + 1 yy)
(1 + xy)
(1 + xy)
=
(1 xx) + (y + z y yyz)
(1 xx) (1 + yz yz yy)
(1 + xy)
(1 + xy)
,sifat komutatif dalam C
=
( y yyz) (1 xx) + (y + z) (1 xx)
(1 + yz) (1 xx) + ( yz yy) (1 xx)
(1 + xy)
(1 + xy)

,sifat distributif dalam C
= y (1 + yz) (1 xx) + (y + z) (1 xx)
(1 + yz) (1 xx) + ( y) (y + z) (1 xx)
(1 + xy)
(1 + xy)
,sifat distributif dalam C
=
(1 + yz) ( y + xxy) + (y + z) (1 xx)
(1 + yz) (1 xx) + (y + z) ( y + xxy)
(1 + xy)
(1 + xy)
,sifat distributif dalam C
=
(1 + yz) ( x + x y + xxy) + (y + z) ( xy + xy + 1 xx)
(1 + yz) (xy xy + 1 xx) + (y + z) (x x y + xxy)
(1 + xy)
(1 + xy)
=
(1 + yz) ( x y + x + xxy) + (y + z) ( xx xy + 1 + xy)
(1 + yz) (1 + xy xy xx) + (y + z) (x + xxy x y)
(1 + xy)
(1 + xy)
,sifat komutatif dalam C
=
(1 + yz) (( (x + y)) + x (1 + xy)) + (y + z) (( x) (x + y) + (1 + xy))
(1 + yz) ((1 + xy) x (y + x)) + (y + z) (x (1 + xy) (x + y))
(1 + xy)
(1 + xy)
,sifat distributif dalam C
= (x + y) (1 + yz) + x (1 + xy) (1 + yz) (y + z) x (x + y) + (y + z) (1 + xy)
(1 + xy) (1 + yz) x (x + y) (1 + yz) + (y + z) x (1 + xy) (y + z) (x + y)
(1 + xy)
(1 + xy)
,sifat distributif dalam C
= (x + y) (1 + yz) (x + y) (y + z) x + x (1 + yz) (1 + xy) + (y + z) (1 + xy)
(1 + xy) (1 + yz) + (1 + xy) (y + z) x (x + y) x (1 + yz) (x + y) (y + z)
(1 + xy)
(1 + xy)
,sifat komutatif dalam C
= (x + y) ((1 + yz) + (y + z) x) + (x (1 + yz) + (y + z)) (1 + xy)
(1 + xy) ((1 + yz) + (y + z) x) (x + y) (x (1 + yz) + (y + z))
(1 + xy)
(1 + xy)
,sifat komutatif dalam C
LAMPIRAN A : PEMBUKTIAN SIFAT-SIFAT VEKTOR GYRO 42
=
(x+y)((1+yz)+(y+z)x)+(x(1+yz)+(y+z))(1+xy)
(1+xy)
(1+xy)((1+yz)+(y+z)x) (x+y)(x(1+yz)+(y+z))
(1+xy)

,sifat distributif dalam C
=
(x+y)((1+yz)+(y+z)x)+(x(1+yz)+(y+z))(1+xy)
(1+xy)((1+yz)+x(y+z))
(1+xy)((1+yz)+(y+z)x) (x+y)(x(1+yz)+(y+z))
(1+xy)((1+yz)+x(y+z))
=
(x+y)((1+yz)+(y+z)x)+(x(1+yz)+(y+z))(1+xy)
(1+xy)((1+yz)+x(y+z))
(1+xy)((1+yz)+(y+z)x) (x+y)(x(1+yz)+(y+z))
(1+xy)((1+yz)+x(y+z))
=
(x+y)((1+yz)+(y+z)x)
(1+xy)((1+yz)+x(y+z)) + (x(1+yz)+(y+z))(1+xy)
(1+xy)((1+yz)+x(y+z))
(1+xy)((1+yz)+(y+z)x)
(1+xy)((1+yz)+x(y+z)) (x+y)(x(1+yz)+(y+z))
(1+xy)((1+yz)+x(y+z))
, sifat distributif dalam C
=
(x+y)
(1+xy) + (x(1+yz)+(y+z))
((1+yz)+x(y+z))
1 + (x+y)
(1+xy)
(x(1+yz)+(y+z))
((1+yz)+x(y+z))
=
_
x+y
1+xy
_
+
_
x(1+yz)+y+z
(1+yz)+x(y+z)
_
1 +
_

_
x+y
1+xy
__ _
x(1+yz)+y+z
(1+yz)+x(y+z)
_
=
_
x+y

1+xy
_
+
_
x(1+yz)+y+z
(1+yz)+x(y+z)
_
1 +
_

_
x+y
1+xy
___
x(1+yz)+y+z
(1+yz)+x(y+z)
_
=
_
x + y
1 + xy
_
_
_
x (1 + yz) + y + z
(1 + yz) + x (y + z)
_
, penjumlahan dalam gyrovektor
=
_
x + y
1 + xy
_
_

x(1+yz)+y+z

1+yz
(1+yz)+x(y+z)
1+yz
!
=
_
x + y
1 + xy
_
_

x(1+yz)
1+yz + y+z
1+yz
(1+yz)
1+yz + x(y+z)

1+yz
!
, sifat distributif dalam C
=
_
x + y
1 + xy
_
_

x + y+z
1+yz
1 + x(y+z)
1+yz
!
=
_
x + y
1 + xy
_
_
_
x _
y + z
1 + yz
_
, penjumlahan dalam gyrovektor
= (x _ y) _ (x _ (y _ z))
terbukti.
(G3) Untuk setiap x; y; z 2 D berlaku
x _ (y _ z) = (x _ y) _ gyr [x; y] z; (sifat assosiatif kiri gyro).
LAMPIRAN A : PEMBUKTIAN SIFAT-SIFAT VEKTOR GYRO 43
Akan ditunjukkan untuk setiap x; y; z 2 D berlaku x_(y _ z) = (x _ y)_
gyr [x; y] z:
Bukti.
x _ (y _ z) = x _
y + z
1 + yz
, penjumlahan dalam gyrovektor
=
x + y+z
1+yz
1 + x y+z
1+yz
, penjumlahan dalam gyrovektor
=
x
_
1+yz
1+yz

_
+ y+z
1+yz _
1+yz
1+yz
_
+ x y+z
1+yz
=
x(1+yz)+y+z
1+yz
1+yz+x(y+z)
1+yz
, sifat distributif dalam C
=
x (1 + yz) + y + z
1 + yz + x (y + z)
, sifat distributif dalam C
=
x + xyz + y + z
1 + yz + xy + xz
, sifat distributif dalam C
=
x + y + (1 + xy) z
(1 + xy) + (x + y) z
, sifat komutatif dan
distributif dalam C
=
(x + y + (1 + xy) z)
((1 + xy) + (x + y) z)
(1 + xy) (1 + xy)
(1 + xy) (1 + xy)
=
(x + y) + (1 + xy) z
(1 + xy)
(1 + xy) (1 + xy)
(1 + xy) ((1 + xy) + (x + y) z)
,
sifat komutatif dalam C
=
_
(x+y)+(1+xy)z
(1+xy)
_
(1+xy)((1+xy)+(x+y)z)
(1+xy)(1+xy)
=
(x+y)
(1+xy) + (1+xy)
(1+xy)z

(1+xy)(1+xy)
(1+xy)(1+xy) + (x+y)(1+xy)z
(1+xy)(1+xy)
, sifat distributif dalam C
=
(x+y)
(1+xy) + (1+xy)
(1+xy)z
1 + (x+y)
(1+xy)
(1+xy)
(1+xy)z
=
x _ y + gyr [x; y] z
1 + (x _ y) gyr [x; y] z
, penjumlahan dalam gyrovektor
= (x _ y) _ gyr [x; y] z, penjumlahan dalam gyrovektor
Jadi (G3) terbukti.
LAMPIRAN A : PEMBUKTIAN SIFAT-SIFAT VEKTOR GYRO 44
(G4) Untuk setiap x; y 2 D berlaku
gyr [x; y] 2 Aut (D;_) ; (automor.sma gyro).
Akan ditunjukkan untuk setiap x; y 2 D berlaku gyr [x; y] 2 Aut (D;_) :
Bukti.
gyr [x; y] =
1 + xy
1 + xy
=
xy + 1
1 + xy:1
, sifat komutatif dalam C
= xy _ 1, penjumlahan dalam gyrovektor
sehingga xy _ 1 2 Aut (D;_). Jadi gyr [x; y] 2 Aut (D;_) :
(G5) Untuk setiap x; y 2 D berlaku
gyr [x _ y; y] = gyr [x; y] ; (sifat loop kiri).
Akan ditunjukkan untuk setiap x; y 2 D berlaku gyr [x _ y; y] = gyr [x; y] :
Bukti.
gyr [x _ y; y] =
1 + (x _ y) y
1 + (x _ y)y
, gyr dalam gyrovektor
=
1 + (x _ y) y
1 + (x _ y) y
, sifat konjugate dalam C
=
1 +
_
x+y
1+xy
_

y
1 +
_
x+y
1+xy
_
y
, penjumlahan dalam gyrovektor
=
1+xy
1+xy + x+y
1+xy y
1+xy
1+xy + x+y
1+xy y
=
1+xy+(x+y)y
1+xy
1+xy+(x+y)y
1+xy
, sifat distributif dalam C
=
1 + xy + (x + y) y
1 + xy
1 + xy
1 + xy + (x + y) y
=
1 + xy + (x + y) y
1 + xy + (x + y) y
1 + xy
1 + xy
, sifat komutatif dalam C
=
1 + xy + xy + yy
1 + xy + xy + yy
1 + xy
1 + xy
, sifat distributif dalam C
=
1 + xy
1 + xy
LAMPIRAN A : PEMBUKTIAN SIFAT-SIFAT VEKTOR GYRO 45
gyr [x _ y; y] = gyr [x; y] , gyr dalam gyrovektor
Jadi (G5) terbukti.
(G6) Untuk setiap x; y 2 D berlaku
x _ y = gyr [x; y] (y _ x) ; (sifat komutatif gyro).
Akan ditunjukkan untuk setiap x; y 2 D berlaku x_y = gyr [x; y] (y _ x) :
Bukti.
x _ y =
x + y

1 + xy
, penjumlahan dalam gyrovektor
=
x + y
1 + xy
1 + xy
1 + xy
=
1 + xy
1 + xy
x + y
1 + xy
, sifat komutatif dalam C
= gyr [x; y] (y _ x) , gyr dalam gyrovektor
Jadi (G6) terbukti.
(G7) Untuk setiap x 2 D dan untuk setiap r1; r2 adalah konstanta Real
berlaku
(r1 + r2) _ x = (r1 _ x) _ (r2 _ x) :
Akan ditunjukkan untuk setiap x 2 D dan untuk setiap r1; r2 adalah kon-
stanta Real berlaku (r1 + r2) _ x = (r1 _ x) _ (r2 _ x) : (r1 + r2) _ x =
(r1 _ x) _ (r2 _ x)
Bukti. misal a = 2 (1 + jxj)r1 (1 + jxj)r2 2 (1 jxj)r1 (1 jxj)r2 dan misal
b = 2 (1 + jxj)r1 (1 + jxj)r2 + 2 (1 jxj)r1 (1 jxj)r2 , maka
a = (1 + jxj)r1 (1 + jxj)r2 (1 jxj)r1 (1 jxj)r2 + (1 + jxj)r1 (1 + jxj)r2
(1 jxj)r1 (1 jxj)r2
= (1 + jxj)r1 (1 + jxj)r2 (1 jxj)r1 (1 jxj)r2 + (1 + jxj)r1 (1 jxj)r2
(1 + jxj)r1 (1 jxj)r2 + (1 + jxj)r1 (1 + jxj)r2 (1 jxj)r1 (1 jxj)r2 +
(1 jxj)r1 (1 + jxj)r2 (1 jxj)r1 (1 + jxj)r2
LAMPIRAN A : PEMBUKTIAN SIFAT-SIFAT VEKTOR GYRO 46
a = (1 + jxj)r1 (1 + jxj)r2 + (1 + jxj)r1 (1 jxj)r2 (1 jxj)r1 (1 + jxj)r2
(1 jxj)r1 (1 jxj)r2 + (1 + jxj)r1 (1 + jxj)r2 + (1 jxj)r1 (1 + jxj)r2
(1 + jxj)r1 (1 jxj)r2 (1 jxj)r1 (1 jxj)r2 , sifat komutatif dalam C
= (1 + jxj)r1 ((1 + jxj)r2 + (1 jxj)r2) (1 jxj)r1
((1 + jxj)r2 + (1 jxj)r2) + ((1 + jxj)r1 + (1 jxj)r1) (1 + jxj)r2
((1 + jxj)r1 + (1 jxj)r1) (1 jxj)r2 , sifat distributif dalam C
= ((1 + jxj)r1 (1 jxj)r1) ((1 + jxj)r2 + (1 jxj)r2) +
((1 + jxj)r1 + (1 jxj)r1) ((1 + jxj)r2 (1 jxj)r2) ,
sifat distributif dalam C
dan
b = (1 + jxj)r1 (1 + jxj)r2 + (1 jxj)r1 (1 jxj)r2 + (1 + jxj)r1 (1 + jxj)r2 +
(1 jxj)r1 (1 jxj)r2
= (1 + jxj)r1 (1 + jxj)r2 + (1 jxj)r1 (1 jxj)r2 + (1 + jxj)r1 (1 jxj)r2
(1 + jxj)r1 (1 jxj)r2 + (1 + jxj)r1 (1 + jxj)r2 + (1 jxj)r1 (1 jxj)r2 +
(1 jxj)r1 (1 + jxj)r2 (1 jxj)r1 (1 + jxj)r2
= (1 + jxj)r1 (1 + jxj)r2 + (1 + jxj)r1 (1 jxj)r2 + (1 jxj)r1 (1 + jxj)r2 +
(1 jxj)r1 (1 jxj)r2 + (1 + jxj)r1 (1 + jxj)r2 (1 + jxj)r1 (1 jxj)r2
(1 jxj)r1 (1 + jxj)r2 + (1 jxj)r1 (1 jxj)r2 ,
sifat komutatif dalam C
= (1 + jxj)r1 ((1 + jxj)r2 + (1 jxj)r2) + (1 jxj)r1
((1 + jxj)r2 + (1 jxj)r2) + (1 + jxj)r1 ((1 + jxj)r2 (1 jxj)r2)

(1 jxj)r1 ((1 + jxj)r2 (1 jxj)r2) , sifat distributif dalam C
= ((1 + jxj)r1 + (1 jxj)r1) ((1 + jxj)r2 + (1 jxj)r2) +
((1 + jxj)r1 (1 jxj)r1) ((1 + jxj)r2 (1 jxj)r2) ,
sifat distributif dalam C
LAMPIRAN A : PEMBUKTIAN SIFAT-SIFAT VEKTOR GYRO 47
diperoleh
a
b
= (((1 + jxj)r1 (1 jxj)r1) ((1 + jxj)r2 + (1 jxj)r2) + ((1 + jxj)r1 +
(1 jxj)r1))=(((1 + jxj)r1 + (1 jxj)r1) ((1 + jxj)r2 + (1 jxj)r2) +
((1 + jxj)r1 (1 jxj)r1) ((1 + jxj)r2 (1 jxj)r2))
((1+jxj)r1 (1 jxj)r1 )((1+jxj)r2+(1 jxj)r2 )
((1+jxj)r2+(1 jxj)r2 )((1+jxj)r1+(1 jxj)r1 ) + ((1+jxj)r1+(1 jxj)r1 )((1+jxj)r2 (1 jxj)r2 )
((1+jxj)r2+(1 jxj)r2 )((1+jxj)r1+(1 jxj)r1 )
((1+jxj)r1+(1 jxj)r1 )((1+jxj)r2+(1 jxj)r2 )
((1+jxj)r2+(1 jxj)r2 )((1+jxj)r1+(1 jxj)r1 ) + ((1+jxj)r1 (1 jxj)r1 )((1+jxj)r2 (1 jxj)r2 )
((1+jxj)r2+(1 jxj)r2 )((1+jxj)r1+(1 jxj)r1 )
=
((1+jxj)r1 (1 jxj)r1 )
((1+jxj)r1+(1 jxj)r1 ) + ((1+jxj)r2 (1 jxj)r2 )
((1+jxj)r2+(1 jxj)r2 )
1 + ((1+jxj)r1 (1 jxj)r1 )
((1+jxj)r1+(1 jxj)r1 )
((1+jxj)r2 (1 jxj)r2 )
((1+jxj)r2+(1 jxj)r2 )
jxj2
jxj2
=
((1+jxj)r1 (1 jxj)r1 )
((1+jxj)r1+(1 jxj)r1 ) + ((1+jxj)r2 (1 jxj)r2 )
((1+jxj)r2+(1 jxj)r2 )
1 + ((1+jxj)r1 (1 jxj)r1 )
((1+jxj)r1+(1 jxj)r1 )
((1+jxj)r2 (1 jxj)r2 )
((1+jxj)r2+(1 jxj)r2 )
xx
jxjjxj
=
((1+jxj)r1 (1 jxj)r1 )
((1+jxj)r1+(1 jxj)r1 ) + ((1+jxj)r2 (1 jxj)r2 )
((1+jxj)r2+(1 jxj)r2 )
1 + ((1+jxj)r1 (1 jxj)r1 )
((1+jxj)r1+(1 jxj)r1 )
x
jxj
((1+jxj)r2 (1 jxj)r2 )
((1+jxj)r2+(1 jxj)r2 )
x
jxj
,

sifat distributif dalam C.
sehingga
(r1 + r2) _ x =
((1+jxj)r1 (1 jxj)r1 )
((1+jxj)r1+(1 jxj)r1 ) + ((1+jxj)r2 (1 jxj)r2 )
((1+jxj)r2+(1 jxj)r2 )
1 + ((1+jxj)r1 (1 jxj)r1 )
((1+jxj)r1+(1 jxj)r1 )
x
jxj
((1+jxj)r2 (1 jxj)r2 )
((1+jxj)r2+(1 jxj)r2 )
x
jxj
x
jxj
=
((1+jxj)r1 (1 jxj)r1 )
((1+jxj)r1+(1 jxj)r1 )
x
jxj
+ ((1+jxj)r2 (1 jxj)r2 )
((1+jxj)r2+(1 jxj)r2 )
x
jxj
1 + ((1+jxj)r1 (1 jxj)r1 )
((1+jxj)r1+(1 jxj)r1 )
x
jxj
((1+jxj)r2 (1 jxj)r2 )
((1+jxj)r2+(1 jxj)r2 )
x
jxj
=
(r1 _ x) + (r2 _ x)
1 + (r1 _ x) (r2 _ x)
, aksi skalar dalam gyrovektor
= (r1 _ x) _ (r2 _ x) , penjumlahan dalam gyrovektor
Jadi (G7) terbukti.
(G8) Untuk setiap x 2 D dan untuk setiap r1; r2 adalah konstanta Real
berlaku
(r1r2) _ x = r1 _ (r2 _ x) :
Akan dibuktikan untuk setiap x 2 D dan untuk setiap r1; r2 adalah kon-
stanta Real berlaku (r1r2) _ x = r1 _ (r2 _ x) :
LAMPIRAN A : PEMBUKTIAN SIFAT-SIFAT VEKTOR GYRO 48
Bukti.
(r1r2) _ x =
((1 + jxj)r1r2 (1 jxj)r1r2)
((1 + jxj)r1r2 + (1 jxj)r1r2)
x

jxj
=
((1 + jxj)r1r2 (1 jxj)r1r2)
((1 + jxj)r1r2 + (1 jxj)r1r2)
x
jxj
=
2r1
2r1
((1 + jxj)r1r2 (1 jxj)r1r2)
((1 + jxj)r1r2 + (1 jxj)r1r2)
x
jxj
=
(2 (1 + jxj)r2)r1 (2 (1 jxj)r2)r1
(2 (1 + jxj)r2)r1 + (2 (1 jxj)r2)r1
x
jxj
=
((1 + jxj)r2 + (1 + jxj)r2)r1 ((1 jxj)r2 + (1 jxj)r2)r1
((1 + jxj)r2 + (1 + jxj)r2)r1 + ((1 jxj)r2 + (1 jxj)r2)r1
x
jxj
= ((((1 + jxj)r2 + (1 jxj)r2 + (1 + jxj)r2 (1 jxj)r2)r1
((1 jxj)r2 + (1 + jxj)r2 + (1 jxj)r2 (1 + jxj)r2)r1)=
(((1 + jxj)r2 + (1 jxj)r2 + (1 + jxj)r2 (1 jxj)r2)r1 +
((1 jxj)r2 + (1 + jxj)r2 + (1 jxj)r2 (1 + jxj)r2)r1)):(x= jxj)
= (((
(1 + jxj)r2 + (1 jxj)r2
(1 + jxj)r2 + (1 jxj)r2 +
(1 + jxj)r2 (1 jxj)r2
(1 + jxj)r2 + (1 jxj)r2 )r1
(
(1 jxj)r2 + (1 + jxj)r2
(1 + jxj)r2 + (1 jxj)r2 +
(1 jxj)r2 (1 + jxj)r2
(1 + jxj)r2 + (1 jxj)r2 )r1)=
((
(1 + jxj)r2 + (1 jxj)r2
(1 + jxj)r2 + (1 jxj)r2 +
(1 + jxj)r2 (1 jxj)r2
(1 + jxj)r2 + (1 jxj)r2 )r1 +
(
(1 jxj)r2 + (1 + jxj)r2
(1 + jxj)r2 + (1 jxj)r2 +
(1 jxj)r2 (1 + jxj)r2
(1 + jxj)r2 + (1 jxj)r2 )r1)))(x= jxj)
= (((1 +
(1 + jxj)r2 (1 jxj)r2
(1 + jxj)r2 + (1 jxj)r2 )r1 (1 +

(1 jxj)r2 (1 + jxj)r2
(1 + jxj)r2 + (1 jxj)r2 )r1)=
((1 +
(1 + jxj)r2 (1 jxj)r2
(1 + jxj)r2 + (1 jxj)r2 )r1 + (1 +
(1 jxj)r2 (1 + jxj)r2
(1 + jxj)r2 + (1 jxj)r2 )r1)))
(x= jxj)
= (((1 +
(1 + jxj)r2 (1 jxj)r2
(1 + jxj)r2 + (1 jxj)r2 )r1 (1
(1 + jxj)r2 (1 jxj)r2
(1 + jxj)r2 + (1 jxj)r2 )r1)=
((1 +
(1 + jxj)r2 (1 jxj)r2
(1 + jxj)r2 + (1 jxj)r2 )r1 + (1
(1 + jxj)r2 (1 jxj)r2
(1 + jxj)r2 + (1 jxj)r2 )r1)))
(x= jxj), sifat komutatif dalam C
= (((1 + j(1 + jxj)r2 (1 jxj)r2 j
j(1 + jxj)r2 + (1 jxj)r2 j
)r1 (1 j(1 + jxj)r2 (1 jxj)r2 j
j(1 + jxj)r2 + (1 jxj)r2 j
)r1)=
((1 + j(1 + jxj)r2 (1 jxj)r2 j
j(1 + jxj)r2 + (1 jxj)r2 j
)r1 + (1 j(1 + jxj)r2 (1 jxj)r2 j
j(1 + jxj)r2 + (1 jxj)r2 j
)r1)))
(x= jxj), Norm dalam R
LAMPIRAN A : PEMBUKTIAN SIFAT-SIFAT VEKTOR GYRO 49
= (((1 + j(1 + jxj)r2 (1 jxj)r2 j
j(1 + jxj)r2 + (1 jxj)r2 j
jxj
jxj
)r1 (1 j(1 + jxj)r2 (1 jxj)r2 j
j(1 + jxj)r2 + (1 jxj)r2 j
jxj
jxj
)r1)=
((1 + j(1 + jxj)r2 (1 jxj)r2 j
j(1 + jxj)r2 + (1 jxj)r2 j
jxj
jxj
)r1 + (1 j(1 + jxj)r2 (1 jxj)r2 j
j(1 + jxj)r2 + (1 jxj)r2 j
jxj
jxj
)r1)))
(x= jxj)

= (((1 + j(1 + jxj)r2 (1 jxj)r2 j
j(1 + jxj)r2 + (1 jxj)r2 j
jxj
jjxjj
)r1 (1 j(1 + jxj)r2 (1 jxj)r2 j
j(1 + jxj)r2 + (1 jxj)r2 j
jxj
jjxjj
)r1)=
((1 + j(1 + jxj)r2 (1 jxj)r2 j
j(1 + jxj)r2 + (1 jxj)r2 j
jxj
jjxjj
)r1 + (1 j(1 + jxj)r2 (1 jxj)r2 j
j(1 + jxj)r2 + (1 jxj)r2 j
jxj
jjxjj
)r1)))
(x= jxj), Norm dalam R
= (((1 +
____
(1 + jxj)r2 (1 jxj)r2
(1 + jxj)r2 + (1 jxj)r2
____
____
x
jxj
____
)r1 (1
____
(1 + jxj)r2 (1 jxj)r2
(1 + jxj)r2 + (1 jxj)r2
____
____
x
jxj
____)
r
1
)
=
((1 +
____
(1 + jxj)r2 (1 jxj)r2
(1 + jxj)r2 + (1 jxj)r2
____
____
x
jxj
____

)r1 + (1
____
(1 + jxj)r2 (1 jxj)r2
(1 + jxj)r2 + (1 jxj)r2
____
____x
jxj
____
)r1)))
(x= jxj), sifat perkalian dalam Norm
= (((1 +
____
(1 + jxj)r2 (1 jxj)r2
(1 + jxj)r2 + (1 jxj)r2
x
jxj
____
)r1 (1
____
(1 + jxj)r2 (1 jxj)r2
(1 + jxj)r2 + (1 jxj)r2
x
jxj
____
)r1)=
((1 +
____
(1 + jxj)r2 (1 jxj)r2
(1 + jxj)r2 + (1 jxj)r2
x
jxj
____
)r1 + (1
____
(1 + jxj)r2 (1 jxj)r2
(1 + jxj)r2 + (1 jxj)r2
x
jxj
____
)r1)))
(x= jxj), sifat perkalian dalam Norm
=
(1 + jr2 _ xj)r1 (1 jr2 _ xj)r1
(1 + jr2 _ xj)r1 + (1 jr2 _ xj)r1
x
jxj
, aksi skalar dalam vektor gyro
= r1 _ (r2 _ x)
Jadi (G8) terbukti.
(G9) Terdapat 1 adalah konstanta Real, untuk setiap x 2 D berlaku

1 _ x = x:
Akan ditunjukkan terdapat 1 adalah konstanta Real, untuk setiap x 2 D
berlaku 1 _ x = x:
Bukti.
1 _ x =
(1 + jxj) (1 jxj)
(1 + jxj) + (1 jxj)
x
jxj
=
1 + jxj 1 + jxj
1 + jxj + 1 jxj
x
jxj
=
2 jxj
2
x
jxj
= x
Jadi (G9) terbukti.
LAMPIRAN A : PEMBUKTIAN SIFAT-SIFAT VEKTOR GYRO 50
(G10) Untuk setiap x; y; z 2 D dan untuk setiap r adalah konstanta
Real berlaku
gyr [x; y] (r _ z) = r _ gyr [x; y] z:
Akan ditunjukkan untuk setiap x; y; z 2 D dan untuk setiap r adalah kon-
stanta Real berlaku gyr [x; y] (r _ z) = r _ gyr [x; y] z:
Bukti.
gyr [x; y] (r _ z) = gyr [x; y]
(1 + jzj)r (1 jzj)r
(1 + jzj)r + (1 jzj)r
z
jzj
=
(1 + jgyr [x; y]j jzj)r (1 jgyr [x; y]j jzj)r
(1 + jgyr [x; y]j jzj)r + (1 jgyr [x; y]j jzj)r
gyr [x; y] z
jgyr [x; y]j jzj
=
(1 + jgyr [x; y] zj)r (1 jgyr [x; y] zj)r
(1 + jgyr [x; y] zj)r + (1 jgyr [x; y] zj)r
gyr [x; y] z
gyr [x; y] jzj
= r _ gyr [x; y] z
Jadi (G10) terbukti.
(G11) Untuk setiap x 2 D dan untuk setiap r1; r2 adalah konstanta Real
berlaku
gyr [r1 _ x; r2 _ x] = idD:
Akan ditunjukkan untuk setiap x 2 D dan untuk setiap r1; r2 adalah kon-
stanta Real berlaku gyr [r1 _ x; r2 _ x] = idD:

Bukti.
gyr [r1 _ x; r2 _ x] =
1 + (r1 _ x) (r2 _ x)
1 + (r1 _ x) (r2 _ x)
= (1 +
(1 + jxj)r1 (1 jxj)r1
(1 + jxj)r1 + (1 jxj)r1
x
jxj
(1 + jxj)r2 (1 jxj)r2
(1 + jxj)r2 + (1 jxj)r2
x
jxj
)=
(1 +
(1 + jxj)r1 (1 jxj)r1
(1 + jxj)r1 + (1 jxj)r1
x
jxj
(1 + jxj)r2 (1 jxj)r2
(1 + jxj)r2 + (1 jxj)r2
x
jxj
)
= 1
Jadi (G11) terbukti.
LAMPIRAN A : PEMBUKTIAN SIFAT-SIFAT VEKTOR GYRO 51
Norm dalam Ruang Vektor Gyro
Dide.nisikan norm Poincare k:k : D ! [0; 1) dengan
kxk = jxj
untuk x 2 D. Norm ini memenuhi sifat berikut:
(P1) Untuk setiap x 2 D berlaku
kxk _ 0; kxk = 0 =) x = 0:
Akan ditunjukkan bahwa untuk setiap x 2 D berlaku kxk _ 0 dan kxk = 0 =)
x = 0:
Bukti.
kxk = jxj
, karena jxj _ 0, maka
kxk _ 0
Dan
kxk = jxj = 0
hanya mungkin jika x = 0:Jadi (P1) terbukti.
(P2) Untuk setiap x 2 D dan r 2 R berlaku
kr _ xk = jrj _ kxk :
Akan ditunjukkan bahwa untuk setiap x 2 D dan r 2 R berlaku kr _ xk =
jrj _ kxk :
Bukti.
kr _ xk = kjrj _ xk
=

(1 + jxj)jrj (1 jxj)jrj
(1 + jxj)jrj + (1 jxj)jrj
x
jxj

=

(1 + jxj)jrj (1 jxj)jrj
(1 + jxj)jrj + (1 jxj)jrj

x
jxj

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->