P. 1
TEORI-TEORI BELAJAR

TEORI-TEORI BELAJAR

|Views: 41|Likes:
Published by Pio Po'x

More info:

Published by: Pio Po'x on Sep 10, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/14/2012

pdf

text

original

Sections

  • A. Teori Van Hiele
  • B. TEORI BERMAKNA AUSUBEL
  • C. TEORI DIENES
  • D. TEORI BANDURA
  • E. TEORI PIAGET
  • F. TEORI GESTALT
  • G. TEORI THORNDIKE

A.

Teori Ausubel Teori pembelajaran Ausabel merupakan salah satu dari sekian banyaknya teori pembelajaran yang menjadi dasar dalam cooperative learning. David Ausubel adalah seorang ahli psikologi pendidikan. Menurut Ausubel, belajar dapat diklasifikasikan kedalam dua dimensi. Dimensi pertama berhubungan dengan cara informasi atau materi pelajaran itu disajikan kepada siswa melalui penerimaan atau penemuan. Belajar penerimaan yaitu yang menyajikan informasi tersebut dalam bentuk final, sedangkan belajar penemuan yaitu yang mengharuskan siswa untuk menemukan sendiri atau keseluruhan materi yang dipelajari.Selanjutnya dimensi kedua menyangkut bagaimana siswa dapat mengaitkan informasi itu pada struktur kognitif yang telah ada. Jika siswa hanya mencoba menghafalkan informasi baru itu tanpa menghubungkan dengan struktur kognitifnya, maka terjadilah belajar dengan hafalan. Sebaliknya jika siswa menghubungkan atau mengaitkan informasi baru itu dengan struktur kognitifnya maka yang terjadi adalah belajar bermakna. Jadi belajar bermakna terjadi bila pelajar mencoba menghubungkan fenomena baru dengan konsep yang telah ada sebelumnya. Artinya, bahan subjek itu mesti sesuai dengan keterampilan siswa dan mesti relevan dengan struktur kognitif yang dimiliki siswa. Oleh karena itu, subjek mesti dikaitkan dengan konsep-konsep yang sudah dimiliki para siswa, sehingga konsep-konsep baru tersebut benarbenar terserap olehnya. Dengan demikian, faktor intelektual-emosional siswa terlibat dalam kegiatan pembelajaran. Bila konsep yang cocok dengan fenomena baru itu belum ada, maka informasi baru tersebut harus dipelajari secara menghafal. Belajar menghafal ini perlu bila seseorang memperoleh informasi baru dalam dunia pengetahuan yang sama sekali tidak berhubungan dengan apa yang ia ketahui sebelumnya. Ausubel juga mengemukakan bahwa belajar menerima dan belajar menemukan adalah dua hal yang berbeda. Pada belejar menerima, isi pokok yang

1

akan dipelajari diberikan kepada siswa dalam bentuk catatan, belajar tidak melibatkan penemuan, siswa hanya diminta menghayati materi atau

menyatukannya dalam struktur kognitifnya, sehingga tersedia untuk direproduksi atau untuk penggunaan lainnya di masa mendatang. Sedangkan pada belajar menemukan, isi pokok yang akan dipelajari tidak diberikan, tetapi harus ditemukan oleh siswa, kemudian menghayatinya. Belajar menerima dan menemukan masing – masing dapat merupakan hafalan atau bermakna, tergantung pada situasi terjadinya belajar. Yang jelas bahwa belajar hafalan berbeda dengan belajar bermakna.menghafal sebenarnya mendapat informasi yang terisolasi sedemikian hingga siswa tidak dapat mengaitkan informasi yang diperoleh tersebut kedalam struktur kognitifnya. Dari dua dimensi belajar tersebut, terdapat empat kemungkinan tipe belajar, yaitu: a. Belajar menerima yang bermakna Ini terjadi bila informasi yang telah disusun secara logic disajikan kepada siswa dalam bentuk final. Selanjutnya siswa menghubungkan informasi baru tersebut dengan struktur kognitif yang telah ia miliki. b. Belajar penemuan yang bermakna Ini terjadi bila informasi pokok ditemukan ileh siswa dan kemudian ia menghubungkan informasi baru tersebut dengan struktur kognitif yang dimilikinya. c. Belajar menerima yang hafalan (tidak bermakna) Ini terjadi bila informasi disajikan kepada siswa dalam bentuk final dan kemudian siswa menghafalnya. d. Belajar penemuan yang hafalan (tidak bermakna) Ini terjadi bila informasi pokok ditemukan oleh siswa dan kemudian menghafal pengetahuan baru tersebut.

Inti dari teori Ausubel adalah belajar bermakna yang dianggap palin efisien. Menurut Ausubel pengajaran ekspositori yang baik merupakan satu – satunya cara

2

meningkatkan belajar bermakna, dimana guru yang menyusun topik dan menghubungkannya dengan topik yang bermakna yang telah dipelajari sebelumya. Dua prasyarat untuk belajar menerima yang bermakna, yaitu: 1. Siswa telah memiliki satu himpunan belajar. Artinya kondisi dan sikap telah siap untuk mengerjakan tugas belajar sesuai denga tujuan mereka. Bila siswa melaksanakan tugas belajar dengan sikap bahwa ia ingin memahami bahan pelajaran, mengaplikasikan serta menghubungkannya dengan bahan pelajaran yang dulu, maka dikatakan bahwa siswa tersebut belajr bahan baru dengan cara yang bermakna. Jadi dalam prasyarat ini faktor motivasional memegang peranan penting, sebab siswa tidak akan mengasimilasi materi baru tersebut, bila mereka tidak mempunyai keinginan dan pengetahuan tentang bagaimana melakukannya. 2. Tugas belajar yang diberikan kepada siswa harus sesuai dengan struktur kognitifnya, sehingga siswa dapat mengasimilasi bahan baru tersebut secara bermakna. Belajar bermakna terdahulu merupakan dasar atau penguat untuk belajar baru, sehingga belajar baru dan retensi tidak menjadi belajar hafalan. Ausubel mengembangkan suatu cara yang disebut “ advance organizer” untuk mengorientasikan siswa pada materi yang akan dipelajari dan membantu mereka untuk mengingat kembali informasi – informasi yang berkaitan dan yang dapat digunakan untuk membantu dalam menyatuka informasi – informasi baru yang akan dipelajari. Fungsi dari “ advance organizer” adalah untuk

memberikan scaffolding atau dukungan terhadap informasi baru. Advance organizer dapat dupandang sebagai jembatan konseptual di antara materi baru dengan pengetahuan siswa saat ini.

Suatu organizer membantu untuk meberikan dasar atau scaffolding mental sebelum guru menyajikan abstraksi atau generalisasi dari pelajaran, menjelaskan istilah – istilah kunci, memberikan contoh – contoh spesifik.

3

Hal ini menjadikan pembelajaran akuntansi tidak hanya sebagai konsep-konsep yang perlu dihapal dan diingat hanya pada saat siswa mendapat materi itu saja tetapi juga bagaimana siswa mampu menghubungkan pengetahuan yang baru didapat kemudian dengan konsep yang sudah dimilikinya sehingga terbentuklah kebermaknaan logis. Informasi yang dipelajari secara bermakna mempermudah belajar hal-hal yang mirip walaupun telah terjadi lupa.konsep. Pengatur awal (advance organizer) Pengatur awal dapat digunakan untuk membantu mengaitkan konsep yang lama dengan konsep 2. Informasi yang dipelajari secara bermakna lebih lama diingat. Dengan model cooperative learning materi yang dipelajarinya tidak hanya sekadar menjadi sesuatu yang dihafal dan diingat saja. b. Diharapkan model cooperative learning akan dapat mengusir kejenuhan dan kebosanan yang dirasa siswa di kelas karena selama ini hanya mendengarkan materi dari guru saja. pengalaman dan fakta-fakta baru ke dalam skemata yang telah dipelajari. 4 . Penekanan dan model cooperative learning sendiri adalah selain siswa mendapat bimbingan langsung dari guru. melainkan ada sesuatu yang dapat dipraktikkan dan dilatihkan dalam situasi nyata dan terlibat dalam pemecahan masalah. seseorang belajar dengan mengasosiasikan fenomena. Menurut Ausubel ada tiga kebaikan dari belajar bermakna yaitu : a.Lebih lanjut Ausubel mengemukakan. Caranya unsur yang inklusif diperkenalkan terlebih dahulu kemudian baru lebih mendetail. yang baru yang lebih tinggi maknanya. Diferensiasi Progregsif Dalam pembelajaran bermakna perlu ada pengembangan dan kolaborasi konsep. mereka juga diberi kebebasan untuk memecahkan masalah lewat pengetahuan yang mereka dapatkan sendiri. Informasi yang dipelajari secara bermakna memudahkan proses belajar berikutnya untuk materi pelajaran yang mirip c. Langkah – langkah belajar bermakna Ausubel adalah: 1.

dibiarkan lapar. Stimulus adalah suatu perubahan dari lingkungan eksternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme untuk beraksi atau berbuat. Berdasarkan hasil percobaannya di laboratorium yang menggunakan beberapa jenis hewan. kemudian dimasukkan ke dalam kurungan yang disebut ‖problem box‖. kucing itu melakukan bermacam-macam gerakan yang kurang relevan 5 . Teori Thorndike Edward L. akan menjadi lebih kuat atau lebih lemah dalam terbentuknya atau hilangnya kebiasaan-kebiasaan. sehingga kalau kucing menyentuh tombol tertentu pintu kurungan akan terbuka dan kucing dapat keluar dan mencapai makanan (daging) yang ditempatkan di luar kurungan itu sebagai hadiah atau daya penarik bagi si kucing yang lapar itu. Dalam hal ini. Dimana konstruksi pintu kurungan tersebut dibuat sedemikian rupa. sedangkan respon adalah sembarang tingkah laku yang dimunculkan karena adanya perangsang. teori belajar yang dikemukakan oleh Thorndike ini sering disebut dengan teori belajar koneksionisme atau teori asosiasi. bentuk belajar yang paling khas baik pada hewan maupun pada manusia menurutnya adalah “trial and error learning atau selecting and connecting learning” dan berlangsung menurut hukum-hukum tertentu. Asosiasi yang demikian itu disebut ”bond” atau ”connection”. Selain itu. Thorndike (1874-1949) adalah salah seorang penganut paham psikologi tingkah-laku. belajar merupakan peristiwa terbentuknya ikatan (asosiasi) antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R) yang diberikan atas stimulus tersebut. Dengan adanya pandangan-pandangan Thorndike yang memberikan sumbangan cukup besar di dunia pendidikan tersebut. Oleh karena itu.B. Teori tersebut menyatakan bahwa belajar pada hewan dan manusia pada dasarnya berlangsung menurut prinsip yang sama yaitu. maka ia dinobatkan sebagai salah satu tokoh pelopor dalam psikologi pendidikan. Pada usaha (trial) yang pertama. Eksperimennya yang terkenal adalah dengan menggunakan kucing yang masih muda dengan kebiasaan-kebiasaan yang masih belum kaku. ia mengemukakan suatu teori belajar yang dikenal dengan teori ―pengaitan‖ (connectionism).

yaitu apabila ikatan antara stimulus dan respon lebih sering terjadi. sampai kemudian menyentuh tombol dan pintu terbuka. Thorndike mengemukakan bahwa terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon ini mengikuti hukum-hukum berikut: (1) Hukum kesiapan (law of readiness). Dengan demikian diketahui bahwa supaya tercapai hubungan antara stimulus dan respons perlu adanya kemampuan untuk memilih respons yang tepat serta melalui usaha–usaha atau percobaanpercobaan (trials) dan kegagalan-kegagalan (error) terlebih dahulu. Dalam melaksanakan coba-coba ini. Setiap respons menimbulkan stimulus yang baru. Interpretasi dari hukum ini adalah semakin sering suatu pengetahuan—yang 6 . yaitu bahwa belajar itu terjadi dengan cara mencoba-coba dan membuat salah. (2) Hukum latihan (law of exercise). pada usaha-usaha (trial) berikutnya dan ternyata waktu yang dibutuhkan untuk memecahkan problem itu makin singkat. seperti mencakar. demikian selanjutnya. tetapi dia belajar mempertahankan respon-respon yang benar dan menghilangkan atau meninggalkan respon-respon yang salah.bagi pemecahan problemnya. kucing tersebut cenderung untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tidak mempunyai hasil. maka ikatan itu akan terbentuk semakin kuat. Namun waktu yang dibutuhkan dalam usaha yang pertama ini adalah lama. selanjutnya stimulus baru ini akan menimbulkan respons lagi. menubruk dan sebagainya. Percobaan tersebut menghasilkan teori “trial and error” atau “selecting and conecting”. apabila suatu materi pelajaran diajarkan kepada anak yang belum siap untuk mempelajari materi tersebut maka tidak akan ada hasilnya. hukum ini pada intinya menyatakan bahwa belajar akan berhasil apabila peserta didik benar-benar telah siap untuk belajar. Dengan perkataan lain. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya kucing itu sebenarnya tidak mengerti cara membebaskan diri dari kurungan tersebut. Percobaan yang sama seperti itu dilakukan secara berulang-ulang.

tampak bahwa hukum akibat tersebut ada hubungannya dengan pengaruh ganjaran dan hukuman. Hukum ini dapat juga diartikan. maka ikatan tersebut akan semakin kuat. Dalam hal ini. Namun perlu diingat. yaitu apabila asosiasi yang terbentuk antara stimulus dan respon diikuti oleh suatu kepuasan maka asosiasi akan semakin meningkat. Ganjaran yang diberikan guru kepada pekerjaan siswa (misalnya pujian guru terhadap siswa yang dapat menyelesaikan soal matematika dengan baik) menyebabkan peserta didik ingin terus melakukan kegiatan serupa. hukum ini menunjukkan prinsip utama belajar adalah pengulangan. setelah ia kerjakan. Sebaliknya. maka tindakan tersebut cenderung akan diulangi pada waktu yang lain. sering terjadi. Jadi. maka tindakan tersebut cenderung akan tidak diulangi pada waktu yang lain. Semakin sering suatu materi pelajaran diulangi maka materi pelajaran tersebut akan semakin kuat tersimpan dalam ingatan (memori). Sedangkan hukuman yang diberikan guru atas pekerjaan siswa (misalnya celaan guru terhadap hasil pekerjaan matematika siswa) menyebakan siswa tidak lagi mengulangi kesalahannya.telah terbentuk akibat terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon—dilatih (digunakan). suatu tindakan yang diikuti akibat yang menyenangkan. 7 . Hal ini berarti (idealnya). suatu tindakan yang diikuti akibat yang tidak menyenangkan. (3) Hukum akibat (law of effect). Konkretnya adalah sebagai berikut: Misalkan seorang siswa diminta untuk menyelesaikan suatu soal matematika. maka ia merasa senang/puas dan akibatnya antara soal dan jawabannya yang benar itu akan kuat tersimpan dalam ingatannya. jika suatu respon yang diberikan oleh seseorang terhadap suatu stimulus adalah benar dan ia mengetahuinya. bahwa hukuman yang diberikan guru atas pekerjaan siswa justru membuat siswa menjadi malas belajar dan bahkan membenci pelajaran matematika. maka kepuasan akan tercapai dan asosiasi akan diperkuat. ternyata jawabannya benar.

haruslah dilatih terus dengan mengerjakan soal-soal yang berikaitan dengan operasi aritmetik. Hukum Sikap (Set \Attitude) 3. 8 . Hukum Reaksi Bereaksi (Multiple Response) 2. dapat disimpulkan bahwa transfer belajar dapat tercapai dengan sering melakukan latihan. perkalian.Tambahan hukum Thorndike : 1. Unsur-unsur yang identik itu saling berasosiasi sehingga memungkinkan masalah yang dihadapi dapat diselesaikan. Dengan demikian kemampuan mengerjakan operasi aritmetika tersebut menjadi mantap dalam pikiran siswa. Hukum Respon by Analogy 5. tahu apa yang hendak diajarkan artinya tahu materi apa yang harus diberikan. Hukum Perpindahan Asosiasi Selain hukum-hukum di atas. kemampuan melakukan operasi aritmetik (penjumlahan. ada unsur-unsur dalam masalah itu yang identik dengan unsur-unsur pengetahuan yang telah dimiliki. setiap kemampuan harus dilatih secara efektif dan dikaitkan dengan kemampuan lain. Aplikasi Teori Thorndike dalam dunia pendidikan dan pengajaran Menurut Thorndike praktek pendidikan harus dipelajari secara ilmiah dan praktek pendidikan harus dihubungkan dengan proses belajar. dan pembagian) yang telah dimiliki siswa. Hukum Aktivitas Berat Sebelah(Prepotency of Element) 4. Selanjutnya. Unsur-unsur yang saling berasosiasi itu membentuk satu ikatan sehingga menggambarkan suatu kemampuan. respons yang akan diharapkan dan tahu kapan ―hadiah‖ selayaknya diberikan kepada peserta didik. Jadi. Misalnya. Thorndike juga mengemukakan konsep transfer belajar yang disebutnya transfer of training. pengurangan. karena di dalam setiap masalah. Mengajar bukanlah mengharapkan murid tahu apa yang diajarkan. Konsep ini maksudnya adalah penggunaan pengetahuan yang telah dimiliki siswa untuk menyelesaikan suatu masalah baru. Mengajar yang baik adalah : tahu tujuan pendidikan.

Tahap Pengenalan Pada tahap ini siswa hanya baru mengenal bangun-bangun geometri seperti bola. persegi dan bangun-bangun geometri lainnya. Buat hubungan sedemikian rupa sehingga menghasilkan perbuatan nyata dari peserta didik. melalui observasi dan tanya jawab. Seandainya kita hadapkan dengan sejumlah bangun-bangun geornetri. kemudian hasil penelitiannya ditulis dalam disertasinya pada tahun 1954. deduksi. dan keakuratan. siswa tidak akan bisa 9 . Penelitian yang dilakukan Van Hiele melahirkan beberapa kesimpulan mengenai tahap-tahap perkembangan kognitif anak dalam memahami geometri. Untuk hal ini. analisis.      Perhatikan respons yang diharapkan dari situasi tersebut. Pada tahap pengenalan anak belum dapat menyebutkan sifat-sifat dari bangun-bangun geometri yang dikenalnya itu. Ciptakan hubungan respons tersebut dengan sengaja. pengurutan. jangan mengharapkan hubungan terjadi dengan sendirinya. 1998) menyatakan bahwa terdapat 5 tahap pemahaman geometri yaitu: Tahap pengenalan. "apakah pada suatu persegipanjang kedua diagonalnya sama panjang?". Ciptakan suasana belajar sedemikian rupa sehingga dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. C. kubus. sisi-sisi yang berhadapan panjangnya sama?". segitiga. Sehingga bila kita ajukan pertanyaan seperti "apakah pada sebuah persegipanjang.Beberapa aturan yang dibuat Thorndike berhubungan dengan pengajaran: Perhatikan situasi peserta didik. anak dapat memilih dan menunjukkan bentuk segitiga. Teori Van Hiele Van Hiele adalah seorang pengajar matematika Belanda yang telah mengadakan penelitian di lapangan. Lima Tahap Pemahaman Geometri 1. Situasi-situasi yang sama jangan diindahkan sekiranya memutuskan hubungan tersebut. Van Hiele (dalam Ismail.

Seperti kita ketahui 10 . Pada tahap ini anak sudah dapat memahami sifat-sifat dari bangun-bangun geometri. Bila pada tahap pengenalan anak belum mengenal sifat-sifat dari bangun-bangun geometri. mengapa kedua diagonal pada persegi saling tegak lurus. 2. Pada tahap ini anak sudah mengenal sifat-sifat bangun geometri.menjawabnya. 4. Pada tahap ini pemahaman siswa terhadap geometri lebih meningkat lagi dari sebelumnya yang hanya mengenal bangun-bangun geometri beserta sifat-sifatnya. Tahap Deduksi Pada tahap ini anak sudah dapat memahami deduksi. Tahap Analisis Tingkat ini dikenal sebagai tingkat deskriptif. karena anak akan menerimanya melalui hafalan bukan dengan pengertian. Anak yang berada pada tahap ini sudah memahami pengurutan bangun-bangun geometri. 3. tetapi masih pada tahap awal artinya belum berkembang baik. siswa sudah mengetahui jajargenjang itu trapesium. Misalnya. jangan sampai. maka pada tahap ini anak sudah mampu mengetahui hubungan yang terkait antara suatu bangun geometri dengan bangun geometri lainnya. sedangkan banyak rusuknya ada 12. Seandainya kita tanyakan apakah kubus itu balok?. yaitu mengambil kesimpulan secara deduktif. Pengambilan kesimpulan secara deduktif yaitu penarikan kesimpulan dari hal-hal yang bersifat khusus. tidak demikian pada tahap Analisis. Pada tahap ini anak sudah mulai mampu untuk melakukan penarikan kesimpulan secara deduktif. seperti pada sebuah kubus banyak sisinya ada 6 buah. Tahap Pengurutan Tingkat ini disebut juga tingkat abstraksi atau tingkat relasional. Karena masih pada tahap awal siswa masih belum mampu memberikan alasan yang rinci ketika ditanya mengapa kedua diagonal persegi panjang itu sama. Anak pada tahap analisis belum mampu mengetahui hubungan yang terkait antara suatu bangun geometri dengan bangun geometri lainnya. kubus itu adalah balok. Guru harus memahami betul karakter anak pada tahap pengenalan. belah ketupat adalah layang-layang. maka anak pada tahap ini belum bisa menjawab pertanyaan tersebut karena anak pada tahap ini belum memahami hubungan antara balok dan kubus. anak diajarkan sifat-sifat bangun-bangun geometri tersebut.

dan teorema.bahwa matematika adalah ilmu deduktif. Anak pada tahap ini sudah memahami mengapa sesuatu itu dijadikan postulat atau dalil. Dalam matematika kita tahu bahwa betapa pentingnya suatu sistem deduktif. anak pada tahap ini belum dapat menjawab pertanyaan ―mengapa sesuatu itu disajikan teorema atau dalil. dikatakan sebagai ilmu deduktif karena pengambilan kesimpulan. maka seluruh geometri tersebut juga 11 . Oleh karena itu. kemudian setelah itu ditunjukkan semua sudutnya membentuk sudut satu putaran penuh atau 360° belum tuntas dan belum tentu tepat. jarang atau hanya sedikit sekali anak yang sampai pada tahap berpikir ini sekalipun anak tersebut sudah berada di tingkat SMA. Jadi. pada tingkat ini siswa menyadari bahwa jika salah satu aksioma pada suatu sistem geometri diubah.‖ 5. Matematika. di samping unsur-unsur yang didefinisikan. aksioma atau problem. Anak pada tahap ini telah mengerti pentingnya peranan unsur-unsur yang tidak didefinisikan. Sebagai contoh. mungkin saja dapat keliru dalam mengukur sudut-sudut jajargenjang tersebut. Tahap Keakuratan Tahap terakhir dari perkembangan kognitif anak dalam memahami geometri adalah tahap keakuratan. Pada tahap ini anak sudah memahami betapa pentingnya ketepatan dari prinsip-prinsip dasar yang melandasi suatu pembuktian. Tahap keakuratan merupakan tahap tertinggi dalam memahami geometri. Sebagai contoh untuk menunjukkan bahwa jumlah sudut-sudut dalam jajargenjang adalah 360º secara deduktif dibuktikan dengan menggunakan prinsip kesejajaran. Pada tahap ini memerlukan tahap berpikir yang kompleks dan rumit. Anak pada tahap ini belum memahami kegunaan dari suatu sistem deduktif. membuktikan teorema dan lain-lain dilakukan dengan cara deduktif. Untuk itu pembuktian secara deduktif merupakan cara yang tepat dalam pembuktian pada matematika. Pembuktian secara induktif yaitu dengan memotong-motong sudut-sudut benda jajargenjang. Oleh karena itu. Seperti diketahui bahwa pengukuran itu pada dasarnya mencari nilai yang paling dekat dengan ukuran yang sebenarnya.

kemudian saling bertukar pikiran maka kedua orang tersebut tidak akan mengerti.akan berubah. Contoh yang lain. misalnya anak itu berada pada tahap pengurutan ke bawah. seorang anak tidak mengerti mengapa gurunya membuktikan bahwa jumlah sudut-sudut dalam sebuah jajargenjang adalah 360º. Kalaupun anak itu dipaksakan 12 . Akan tetapi. seorang anak yang berada paling tinggi pada tahap kedua atau tahap analisis. pada tahap ini siswa sudah memahami adanya geometrigeometri yang lain di samping geometri Euclides. Selain mengemukakan mengenai tahap-tahap perkembangan kognitif dalam memahami geometri. materi pembelajaran dan metode penyusun yang apabila dikelola secara terpadu dapat mengakibatkan meningkatnya kemampuan berpikir anak kepada tahap yang lebih tinggi dari tahap yang sebelumnya. Teori yang dikemukakan Van Hiele antara lain adalah sebagai berikut: Tiga unsur yang utama pembelajaran geometri yaitu waktu. Sehingga. Menurut Van Hiele. semua anak mempelajari geometri dengan melalui tahap-tahap tersebut. dengan urutan yang sama. Van Hiele juga mengemukakan beberapa teori berkaitan dengan pembelajaran geometri. Gurunya pun sering tidak mengerti mengapa anak yang diberi penjelasan tersebut tidak memahaminya. kapan seseorang siswa mulai memasuki suatu tingkat yang baru tidak selalu sama antara siswa yang satu dengan siswa yang lain. belah ketupat itu layang-layang. Menurut Van Hiele seorang anak yang berada pada tingkat yang lebih rendah tidak mungkin dapat mengerti atau memahami materi yang berada pada tingkat yang lebih tinggi dari anak tersebut. Sebagai contoh. tidak mengerti apa yang dijelaskan gurunya bahwa kubus itu adalah balok. pembuktiannya tidak perlu sebab sudah jelas bahwa jumlah sudutsudutnya adalah 360°. Menurut anak pada tahap yang disebutkan. Bila dua orang yang mempunyai tahap berpikir berlainan satu sama lain. dan tidak dimungkinkan adanya tingkat yang diloncati.

tetapi seseorang yang berpikiran pada tingkat ini tidak sadar atau tidak tahu akan sifat-sifat itu. Kenaikan dari tingkat yang satu ke tingkat yang berikutnya lebih banyak tergantung dari pembelajaran daripada umur atau kedewasaan biologis. 13 . Suatu relasi yang benar pada suatu tingkat. gambar-gambar sebenarnya juga ditentukan oleh sifat-sifatnya. Misalnya pemikiran tentang persegi dan persegi panjang. Pada tingkat dasar. ternyata akan tidak benar pada tingkat yang lain. Untuk mencapai pengertian dibutuhkan kegiatan tertentu dari fase-fase pembelajaran. kegiatan belajar anak harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak atau disesuaikan dengan taraf berpikirnya. Supaya siswa dapat berperan dengan baik pada suatu tingkat yang lanjut dalam hirarki van Hiele. Setiap tingkat mempunyai bahasanya sendiri. Dengan demikian anak dapat memperkaya pengalaman dan berpikirnya. mempunyai simbol linguistiknya sendiri dan sistem relasinya sendiri yang menghubungkan simbolsimbol itu. tetapi seorang siswa tidak dapat mengambil jalan pintas ke tingkat tinggi dan berhasil mencapai pengertian. anak itu baru bisa memahami melalui hafalan saja bukan melalui pengertian.untuk memahaminya. sebab menghafal bukan ciri yang penting dari tingkat manapun. Seorang guru dapat mengurangi materi pelajaran ke tingkat yang lebih rendah. ia harus menguasai sebagian besar dari tingkat yang lebih rendah. dapat membimbing untuk mengingat-ingat hafalan. Pada setiap tingkat muncul secara ekstrinsik dari sesuatu yang intrinsik pada tingkat sebelumnya. Konsep-konsep yang secara implisit dipahami pada suatu tingkat menjadi dipahami secara eksplisit pada tingkat berikutnya. Untuk mendapatkan hasil yang diinginkan yaitu anak memahami geometri dengan pengertian. selain itu sebagai persiapan untuk meningkatkan tahap berpikirnya kepada tahap yang lebih tinggi dari tahap sebelumnya.

Informasi Pada awal tingkat ini. Dalam hal ini objek yang dipelajari adalah sifat komponen dan hubungan antar komponen bangun-bangun segi empat. Meskipun demikian. Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa sambil 14 . Walaupun demikian. dan yang satu tidak dapat mengikuti yang lainnya. Oleh karena itu. siswa tidak akan mencapai kemajuan tanpa bantuan guru. Menurut Van Hiele (dalam Ismail. teori Van Hiele tidak mendukung model teori absorbsi tentang belajar mengajar. Van Hiele menuntut bahwa tingkat yang lebih tinggi tidak langsung menurut pendapat guru. terutama untuk memberi bimbingan mengenai pengharapan. Struktur bahasa adalah suatu faktor yang kritis dalam perpindahan tingkat-tingkat ini. anak-anak sendiri akan menentukan kapan saatnya untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi. Fase-fase pembelajaran tersebut adalah: 1) fase informasi 2) fase orientasi 3) fase eksplisitasi 4) fase orientasi bebas 5) fase integrasi. Fase 1. kenaikan dari tingkat yang satu ke tingkat berikutnya tergantung sedikit pada kedewasaan biologis atau perkembangannya. tetapi melalui pilihan-pilihan yang tepat. Model Van Hiele tidak hanya memuat tingkat-tingkat pemikiran geometrik. dan tergantung lebih banyak kepada akibat pembelajarannya. (Clements.Dua orang yang berpikir pada tingkat yang berlainan tidak dapat saling mengerti. maka ditetapkan fase-fase pembelajaran yang menunjukkan tujuan belajar siswa dan peran guru dalam pembelajaran dalam mencapai tujuan itu. 1992). Lagi pula. Guru memegang peran penting dan istimewa untuk memperlancar kemajuan. 1998). guru dan siswa menggunakan tanya-jawab dan kegiatan tentang objek-objek yang dipelajari pada tahap berpikir siswa.

Pada akhir fase kelima ini 15 .melakukan observasi. maupun dalam menyelesaikan tugas-tugas. banyak hubungan antar objek menjadi jelas. Alat atau pun bahan dirancang menjadi tugas pendek sehingga dapat mendatangkan respon khusus. Melalui orientasi di antara para siswa dalam bidang investigasi. untuk membantu siswa menggunakan bahasa yang tepat dan akurat. (2) guru mempelajari petunjuk yang muncul dalam rangka menentukan pembelajaran selanjutnya yang akan diambil. Hal ini penting. tugas yang dilengkapi dengan banyak cara. Guru dapat membantu siswa dalam membuat sintesis ini dengan melengkapi survey secara global terhadap apa yang telah dipelajari. Di samping itu. Aktivitas ini akan berangsur-angsur menampakkan kepada siswa struktur yang memberi ciri-ciri sifat komponen dan hubungan antar komponen suatu bangun segi empat. Tujuan dari kegiatan ini adalah: (1) guru mempelajari pengalaman awal yang dimiliki siswa tentang topik yang dibahas. Hal tersebut berlangsung sampai sistem hubungan pada tahap berpikir mulai tampak nyata. siswa menyatakan pandangan yang muncul mengenai struktur yang diobservasi. tetapi kesimpulan ini tidak menunjukkan sesuatu yang baru. Fase 2: Orientasi Siswa menggali topik yang dipelajari melalui alat-alat yang dengan cermat telah disiapkan guru. Fase 4: Orientasi Bebas Siswa menghadapi tugas-tugas yang lebih kompleks berupa tugas yang memerlukan banyak langkah. Fase 5: Integrasi Siswa meninjau kembali dan meringkas apa yang telah dipelajari. guru memberi bantuan sesedikit mungkin. Fase 3: Penjelasan Berdasarkan pengalaman sebelumnya. dan tugas yang open-ended. Mereka memperoleh pengalaman dalam menemukan cara mereka sendiri.

Pada umumnya. dan guru yang aktif. Efektif diartikan sebagai tercapainya suatu tujuan yang merupakan pijakan utama suatu rancangan pembelajaran. karena teori ini menekankan tahap permainan. Siswa siap untuk mengulangi fase-fase belajar pada tahap sebelumnya. Aktif dapat diartikan siswa mampu berinteraksi yaitu bertanya atau mengeluarkan ide. pengetahuan dan sikap bagi kehidupan kelak. hasil penelitian di Amerika Serikat dan negara lainnya menetapkan bahwa tingkat-tingkat dari Van Hiele berguna untuk menggambarkan perkembangan konsep geometrik siswa dari SD sampai Perguruan Tinggi. maka tingkat pemikiran yang baru tentang topik itu dapat tercapai. Teori Dienes Teori belajar Dienes sangat terkait dengan konsep pembelajaran dengan pendekatan PAKEM ( Pembelajaran Aktif.siswa mencapai tahap berpikir yang baru. D. dimana tahap ini dapat membangkitkan semangat dan membuat anak senang dalam belajar. Menyenangkan diartikan sebagai suasana belajar mengajar yang hidup. Tujuan dari PAKEM yaitu menciptakan suatu lingkungan belajar yang melengkapi anak dengan keterampilan. ekspresif. Kreatif diartikan siswa diberi kesempatan untuk membuat atau merancang sesuatu atau menuliskan sebuah gagasan dan guru yang kreatif yaitu guru yang memberikan variasi dalam proses belajar mengajar dan membuat alat bantu serta menciptakan teknik – teknik mengajar tertentu sesuai tujuan pembelajaran. terkondisi dan mendorong pemusatan perhatian peserta didik terhadap belajar. yaitu guru yang memantau kegiatan belajar siswa dan memberikan umpan balik. Dalam pelaksanaan PAKEM perlu diperhatikan beberapa hal berikut: 16 . Setelah selesai fase kelima ini. Kreatif. Enaktif dan Menyenangkan).

b. h. memisah-misahkan hubungan-hubungan diantara struktur-struktur dan mengkatagorikan hubungan-hubungan di antara strukturstruktur. dan pengembangannya diorientasikan pada anakanak. 17 . karena kemampuan tingkat kognitif seseorang tergantung dari usia seseorang. sehingga dalam pembelajaran pada orang dewasa berbeda dengan pembelajaran anak-anak. Memberikan umpan balik yang bertanggungjawab untuk meningkatkan kegiatan belajar mengajar. Mengenal peserta didik secara individu. d. f. Ini mengandung arti bahwa benda-benda atau obyek-obyek dalam bentuk permainan akan sangat berperan bila dimanipulasi dengan baik dalam pengajaran matematika. Memanfaatkan perilaku peserta didik dalam pengorganisasian belajar. kreatif. sedemikian rupa sehingga sistem yang dikembangkannya itu menarik bagi anak yang mempelajari matematika. dalam proses belajar mengajar tingkat kognitif menjadi suatu hal yang sangat penting. g. dan kemampuan memecahkan masalah. Dienes adalah seorang matematikawan yang memusatkan perhatiannya pada cara-cara pengajaran terhadap anak-anak. Dienes berpendapat bahwa pada dasarnya matematika dapat dianggap sebagai studi tentang struktur. Dasar teorinya bertumpu pada teori pieget. Teori perkembangan kognitif melihat bahwa proses belajar seseorang dilihat dari tingkat kemampuan kognitifnya.a. Menegembangkan kemampuan berfikir kritis. c. Memahami sifat peserta didik. Dienes mengemukakan bahwa tiap-tiap konsep atau prinsip dalam matematika yang disajikan dalam bentuk yang konkret akan dapat dipahami dengan baik. Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar. Membedakan antara aktif fisik dan aktif mental. Zoltan P. e. Menegembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik.

Untuk melatih anak-anak dalam mencari kesamaan sifat-sifat ini. Misalnya dengan diberi permainan block logic. anak-anak mulai diarahkan dalam kegiatan menemukan sifat-sifat kesamaan dalam permainan yang sedang diikuti. Dalam tahap ini anak mulai membentuk struktur mental dan struktur sikap dalam mempersiapkan diri untuk memahami konsep yang sedang dipelajari. Jelaslah. Menurut Dienes konsep-konsep matematika akan berhasil jika dipelajari dalam tahap-tahap tertentu. anak didik mulai mempelajari konsepkonsep abstrak tentang warna. Permainan bebas merupakan tahap belajar konsep yang aktifitasnya tidak berstruktur dan tidak diarahkan. dengan melalui permainan siswa diajak untuk mulai mengenal 18 . siswa sudah mulai meneliti polapola dan keteraturan yang terdapat dalam konsep tertentu. Translasi ini tentu tidak boleh mengubah sifat-sifat abstrak yang ada dalam permainan semula. Anak didik diberi kebebasan untuk mengatur benda. tahap yang paling awal dari pengembangan konsep bermula dari permainan bebas. Selama permainan pengetahuan anak muncul.Makin banyak bentuk-bentuk yang berlainan yang diberikan dalam konsepkonsep tertentu. akan makin jelas konsep yang dipahami anak. karena anak-anak akan memperoleh hal-hal yang bersifat logis dan matematis dalam konsep yang dipelajarinya itu. Dalam mencari kesamaan sifat. guru perlu mengarahkan mereka dengan mentranslasikan kesamaan struktur dari bentuk permainan yang satu ke bentuk permainan lainnya. yaitu: Permainan Bebas (Free Play) Dalam setiap tahap belajar. Dienes membagi tahap-tahap belajar menjadi 6 tahap. Keteraturan ini mungkin terdapat dalam konsep tertentu tapi tidak terdapat dalam konsep yang lainnya. tebal tipisnya benda yang merupakan ciri/sifat dari benda yang dimanipulasi. Permainan yang Menggunakan Aturan (Games) Dalam permainan yang disertai aturan.

karena akan memperoleh hal-hal yang bersifat logis dan matematis dalam konsep yang dipelajari itu. Representasi yang diperoleh ini bersifat abstrak. Permainan Kesamaan Sifat (Searching for communalities) Dalam mencari kesamaan sifat siswa mulai diarahkan dalam kegiatan menemukan sifat-sifat kesamaan dalam permainan yang sedang diikuti. Contoh dengan permainan block logic. serta timbul penolakan terhadap bangun yang tipis (tebal). atau yang merah. untuk membuat konsep abstrak. Translasi ini tentu tidak boleh mengubah sifat-sifat abstrak yang ada dalam permainan semula. atau tidak merah (biru. Setelah mereka berhasil menyimpulkan kesamaan sifat yang terdapat dalam situasi-situasi yang dihadapinya itu. Para siswa menentukan representasi dari konsep-konsep tertentu. anak diberi kegiatan untuk membentuk kelompok bangun yang tipis. atau yang berwarna merah. anak diminta mengidentifikasi sifat-sifat yang sama dari benda-benda dalam kelompok tersebut (anggota kelompok). akan semakin jelas konsep yang dipahami siswa. dan sebagainya. Permainan Representasi (Representation) Representasi adalah tahap pengambilan sifat dari beberapa situasi yang sejenis. dan kegiatan untuk yang tidak relevan dengan pengalaman itu. timbul pengalaman terhadap konsep tipis dan merah. Contoh kegiatan yang diberikan dengan permainan block logic. Untuk melatih dalam mencari kesamaan sifat-sifat ini. Dengan demikian telah mengarah pada pengertian struktur matematika yang sifatnya 19 . hijau. Dalam membentuk kelompok bangun yang tipis. anak dihadapkan pada kelompok persegi dan persegi panjang yang tebal.dan memikirkan bagaimana struktur matematika itu. kuning). anak didik memerlukan suatu kegiatan untuk mengumpulkan bermacam-macam pengalaman. Menurut Dienes. kemudian membentuk kelompok benda berbentuk segitiga. Makin banyak bentuk-bentuk berlainan yang diberikan dalam konsep tertentu. guru perlu mengarahkan mereka dengan menstranslasikan kesamaan struktur dari bentuk permainan lain. atau yang tebal.

harus mampumerumuskan teorema dalam arti membuktikan teorema tersebut.abstrak yang terdapat dalam konsep yang sedang dipelajari. sebagai contoh siswa yang telah mengenal dasar-dasar dalam struktur matematika seperti aksioma. dalam arti membuktikan teorema tersebut. tetapi mereka sudah mempunyai pengetahuan tentang sistem yang berlaku dari pemahaman konsep-konsep yang terlibat satu sama lainnya. Contohnya. Dienes menyatakan bahwa proses pemahaman (abstracton) berlangsung selama belajar. dengan pendekatan induktif. adanya elemen identitas. Untuk pengajaran konsep matematika yang lebih sulit perlu dikembangkan materi matematika secara kongkret agar konsep matematika dapat dipahami dengan 20 . Pada tahap formalisasi anak tidak hanya mampu merumuskan teorema serta membuktikannya secara deduktif. Misalnya bilangan bulat dengan operasi penjumlahan peserta sifat-sifat tertutup. dari kegiatan mencari banyaknya diagonal dengan pendekatan induktif tersebut. harus mampu merumuskan suatu teorema berdasarkan aksioma. Contoh kegiatan anak untuk menemukan banyaknya diagonal poligon misal segi dua puluh tiga. anak didik telah mengenal dasar-dasar dalam struktur matematika seperti aksioma. komutatif. Permainan dengan Formalisasi (Formalization) Formalisasi merupakan tahap belajar konsep yang terakhir. asosiatif. kegiatan berikutnya menentukan rumus banyaknya diagonal suatu poligon yang digeneralisasikan dari pola yang didapat anak. membentuk sebuah sistem matematika. Dalam tahap ini siswa-siswa dituntut untuk mengurutkan sifat-sifat konsep dan kemudian merumuskan sifat-sifat baru konsep tersebut. Permainan dengan Simbolisasi (Symbolization) Simbolisasi termasuk tahap belajar konsep yang membutuhkan kemampuan merumuskan representasi dari setiap konsep-konsep dengan menggunakan simbol matematika atau melalui perumusan verbal. Sebagai contoh. dan mempunyai elemen invers.

pola berpikir anak-anak tidak sama dengan pola 21 . semakin jelas bagi anak dalam memahami konsep tersebut. Perkembangan kognitif setiap individu yang berkembang secara kronologi tidak terlepas dari faktor usia.tepat. menurut Dienes. Berbagai sajian (multiple embodiment) juga membuat adanya manipulasi secara penuh tentang variabel-variabel matematika. Dengan demikian. semakin banyak bentuk-bentuk berlainan yang diberikan dalam konsep tertentu. Langkah-langkah ini merupakan suatu cara untuk memberi kesempatan kepada anak didik ikut berpartisipasi dalam proses penemuan dan formalisasi melalui percobaan matematika. suatu anak didik dihadapkan pada permainan yang terkontrol dengan berbagai sajian. sehingga anak-anak dapat bermain dengan bermacam-macam material yang dapat mengembangkan minat anak didik. Menurut Dienes. Pentingnya simbolisasi adalah untuk meningkatkan kegiatan matematika ke satu bidang baru. Variasi matematika dimaksud untuk membuat lebih jelas mengenai sejauh mana sebuah konsep dapat digeneralisasi terhadap konsep yang lain. Langkah selanjutnya. grafik. Berhubungan dengan tahap belajar. adalah memotivasi anak didik untuk mengabstraksikan pelajaran tanda material kongkret dengan gambar yang sederhana. peta dan akhirnya memadukan simbolo – simbol dengan konsep tersebut. Proses pembelajaran ini juga lebih melibatkan anak didik pada kegiatan belajar secara aktif dari pada hanya sekedar menghapal. Dienes berpendapat bahwa materi harus dinyatakan dalam berbagai penyajian (multiple embodiment). Berbagai penyajian materi (multiple embodinent) dapat mempermudah proses pengklasifikasian abstraksi konsep. variasi sajian hendaknya tampak berbeda antara satu dan lainya sesuai dengan prinsip variabilitas perseptual (perseptual variability). Kegiatan ini menggunakan kesempatan untuk membantu anak didik menemukan cara-cara dan juga untuk mendiskusikan temuan-temuannya. sehingga anak didik dapat melihat struktur dari berbagai pandangan yang berbedabeda dan memperkaya imajinasinya terhadap setiap konsep matematika yang disajikan.

Periode Sensori Motor (0 – 2) tahun. namun usia atau kronologis pada setiap orang yang memasuki setiap periode berpikir yang lebih tinggi berbeda-beda tergantung kepada masing-masing individu. dalam memandang anak keliru jika kemampuan anak dengan kemampuan orang dewasa sama. perkembangan kognitif seorang individu dipengaruhi oleh lingkungan dan transmisi sosial. 22 . Jadi.berfikir orang dewasa. berpendapat bahwa proses berpikir manusia merupakan suatu perkembangan yang bertahap dari berpikir intelektual kongkret ke abstrak berurutan melalui empat tahap perkembangan. sebab anak bukan miniatur orang dewasa. Maka tahap perkembangan kognitif yang dicapai oleh setiap individu berbeda pula. karena efektivitas hubungan antara setiap individu dengan lingkunganya dan kehidupan sosialnya berbeda satu sama lain. Piaget (dalam Bell. Urutan periode itu tetap bagi setiap orang. yaitu mengenai teori perkembangan intelektual. Selain daripada itu. Piaget adalah orang pertama yang menggunakan filsafat konstruktivis dalam proses belajar mengajar. 1981). sebagai berikut: 1. E. Teori Piaget Teori Perkembangan Intelektual Piaget Teori belajar Dienes sangat terkait dengan teori belajar yang dikemukakan oleh Piaget. Oleh karena itu agar perkembangan kognitif seorang anak berjalan secara maksimal diperkaya dengan pengalaman edukatif. Jadi. Jean Piaget berpendapat bahwa proses berpikir manusia sebagai suatu perkembangan yang bertahap dari berpikir intelektual konkret ke abstrak berurutan melalui empat periode. semakin ia dewasa makin meningkat pula kemampuan berpikirnya.

Operasi kongkret hanyalah menunjukkan kenyataan adanya hubungan dengan pengalaman empirik-kongkret yang lampau dan masih mendapat kesulitan dalam mengambil kesimpulan yang logis dari pengalaman pengamanan yang khusus. pada akhir periode ini. bukan aktivitas sensori motor. Pekerjaan-pekerjaan logika dapat dilakukan dengan berorientasi ke objek-objek atau peristiwa-peristiwa yang 23 . Operasi yang dimaksud di sini adalah suatu proses berpikir atau logik.Periode operasi kongkret (7 – 12) tahun. anak itu tidak akan mencarinya lagi. misalnya suatu benda diberi nama (simbol). 2. Anak itu belum mempunyai kesadaran adanya konsep objek yang tetap. Bila objek itu disembunyikan. Rangsangan itu timbul karena anak melihat dan meraba-raba objek. Periode ini disebut operasi kongkret sebab berpikir logikanya didasarkan atas manipulasi fisik dari objek -objek. Walaupun pada periode permulaan pra-operasional ini anak mampu menggunakan simbol-simbol.Karateristik periode ini merupakan gerakan-gerakan sebagai akibat reaksi langsung dari rangsangan. Namun karena pengalamannya terhadap lingkungannya. Pada periode ini anak terpaku kepada kontak langsung dengan lingkungannya. tetapi anak itu mulai memanipulasi simbol dari benda-benda sekitarnya.Periode Pra-operasional (2 – 7) tahun. Dalam periode ini anak berpikirnya sudah dikatakan menjadi operasional. dan merupakan aktivitas mental. Periode ini sering disebut juga periode pemberian simbol. Pada periode ini anak di dalam berpikirnya tidak didasarkan kepada keputusan yang logis melainkan didasarkan kepada keputu san yang dapat dilihat seketika. anak menyadari bahwa objek yang disembunyikan tadi masih ada dan ia akan mencarinya. 3. ia masih sulit melihat hubungan- hubungan dan mengambil kesimpulan secara taat asas.

Hubungan A > B dan B > C menjadi A > C. Setiap operasi logik atau matematik dapat dikerjakan dengan operasi kebalikan. c. karateristik berpikir anak adalah sebagai berikut: a. Anak dapat membentuk variasi relasi kelas dan mengerti bahwa beberapa kelas dapat dimasukkan ke kelas lain. Anak masih terikat kepada pengalaman pribadi. Anak itu belum memperhitungkan semua kemungkinan dan kemudian mencoba menemukan kemungkinan yang mana yang akan terjadi. Dalam periode operasi kongkret. Misalnya unsur dari suatu himpunan berkawan dengan satu unsur dari himpunan kedua dan sebaliknya. Reversibilitas adalah operasi kebalikan. Misalnya himpunan bilangan bulat. berlaku hukum asosiatif terhadap penjumlahan. Korespondensi satu – satu antara objek-objek dari dua kelas. d. Demikian juga suatu jumlah dapat dinolkan dengan mengkombinasikan lawannya. Identitas adalah suatu operasi yang menunjukkan adanya unsur nol yang bila dikombinasikan dengan unsur atau kelas hasilnya tidak berubah. Asosiasivitas adalah suatu operasi terhadap beberapa kelas yang dikombinasikan menurut sebarang urutan.dalam himpunan bilangan bulat dengan operasi ‖+‖. Misalnya. Misalnya. misalnya 4 – 4 = 0.langsung dialami anak. operasi ‖+‖. 5 + ? = 9 sama dengan 9 – 5 = ? Reversibilitas ini merupakan karakteristik utama untuk berpikir operasional di dalam teori Piaget. 24 . Kombinasivitas atau klasifikasi adalah suatu operasi dua kelas atau lebih yang dikombinasikan ke dalam suatu kelas yang lebih besar. Pengalaman anak masih kongkret dan belum formal. unsur nol adalah 0 sehingga 8 + 0 = 8. Misalnya semua manusia laki – laki dan semua manusia perempuan adalah semua manusia. e. b.

Konservasi berkenaan dengan kesadaran bahwa satu aspek dari benda. Menurut Piaget.Periode Operasi Formal (> 12) tahun. Anak mampu menyelesaikan masalah dengan cara yang lebih baik dan kompleks dari pada anak yang masih dalam tahap periode operasi kongkret. tetapi ia sudah mulai menggeneralisasi objek-objek tadi. terutama selama transisi dari periode yang satu ke periode berikutnya. Anak sudah dapat mengoperasikan argumen-argumen tanpa dikaitkan dengan benda-benda empirik. Anak pada periode ini dilandasi oleh observasi dari pengalaman dengan objek nyata. Periode ini merupakan tahap terakhir dari keempat periode perkembangan intelektual. yaitu menggunakan prosedur hipotetik-deduktif. Namun prinsip konservasi yang dimiliki anak pada periode ini masih belum penuh. Anak juga sudah dapat berpikir kombinatorik.f.definisi verbal. tahap-tahap berpikir itu adalah pasti dan spontan namun umur kronologis yang diberikan itu adalah fleksibel. tetap sama sementara itu aspek lainnya berubah. Ia mampu menggunakan prosedur seorang ilmuwan.Anak sudah mampu menggunakan hubungan-hubungan di antara objek-objek apabila ternyata manipulasi objek-objek tidak memungkinkan. artinya bila anak dihadapkan kepada suatu masalah. 4. Periode operasi formal ini disebut juga sebagai periode operasi hipotetik-deduktif yang merupakan tahap tertinggi dari perkmbangan intelektual. Anak telah mampu melihat hubungan-hubungan abstrak dan menggunakan proposisi-proposisi logik-formal termasuk aksioma dan definisi. Umur 25 . Anak-anak pada periode ini sudah memberikan alasan dengan menggunakan lebih banyak simbol atau gagasan dalam cara berpikir. Konsep konservasi telah tercapai sepenuhnya. ia dapat mengisolasi faktor-faktor tersendiri atau mengkombinasikan faktor-faktor itu sehingga menuju penyelesaian masalah tadi. Kesadaran adanya prinsip-prinsip konservasi.

bagaimanakah ukurannya supaya luasnya sebesar-besarnya ? Aliran terapi Gestalt memandang bahwa konsep atau pengetahuan baru merupakan struktur yang terorganisir dan merupakan masalah bagi anak. Teori gestalt cenderung berupaya mengurangi pembagian sensasi menjadi bagian-bagian kecil. Ketika mengkonstruksi konsep. F. bereksplorasi. Teori Gestalt Gestalt adalah sebuah teori yang menjelaskan proses persepsi melalui pengorganisasian komponen-komponen sensasi yang memiliki hubungan. Istilah ―Gestalt‖ mengacu pada sebuah objek/figur yang utuh dan berbeda dari penjumlahan bagian-bagiannya. Menurut teori ini. tidak ada gunanya bila kita memaksa anak untuk cepat berpindah ke periode berikutnya. pertama anak dengan bantuan guru secara tidak langsung diberikan kesempatan untuk menganalisis masalahmasalah yang diberikan menjadi struktur yang lebih sederhana sehingga mudah 26 . akan dibuat parit pembuangan air. maka konsep fungsi kuadrat akan lebih bermakna jika konsep tersebut dikemas dalam bentuk masalah-masalah seharihari yang cukup sederhana seperti berikut : (1). dan diberikan kebebasan bereksperimen. Jika kelilingnya adalah 400 m. Jika kita akan mengajarkan konsep fungsi kuadrat. Pekarangan rumah berbentuk persegipanjang.kronologis itu dapat saling tindih bergantung kepada individu. Piaget berpendapat. Sekeliling kebun yang berbentuk persegipanjang dengan panjang 18 m dan lebar 12 m. Langkah-langkah pembelajaran menurut aliran ini. Teori gestalt beroposisi terhadap teori strukturalisme. berapa lebar parit yang direncanakan ? (2). pola. ataupun kemiripan menjadi kesatuan. Jika si pemilik kebun hanya mampu membuat parit seluas 99 m2. pembelajaran harus dimulai dari masalah-masalah yang berkaitan dengan konsep yang akan diberikan dan berada dalam kehidupannya sehari-hari. anak harus banyak diberikan kesempatan untuk berdialog (berdiskusi) dengan teman-temannya maupun dengan guru.

Dengan pernyataan ini ia menentang pendapat Wundt yang menunjuk pada proses fisik sebagai penjelasan phi phenomenon. Tahun 1910 ia mengajar di Univeristy of Frankfurt bersama-sama dengan Koehler dan Koffka yang saat itu sudah menjadi asisten di sana. and Wolfgang Köhler. Dengan konsep ini. Proses ini terjadi di otak dan sama sekali bukan proses fisik. Kemudian anak menyusun atau mensintesis penyelesaian masalah itu berdasarkan pada struktur yang lebih sederhana dan sudah dimengerti anak. Konsep pentingnya : phi phenomenon (bergeraknya obyek statis menjadi rangkaian gerakan yang dinamis setelah dimunculkan dalam waktu singkat dan dengan demikian memungkinkan manusia melakukan interpretasi). Kurt Koffka. Max Wertheimer. Bersama-sama dengan Wolfgang Koehler (1887-1967) dan Kurt Koffka (1887-1941) melakukan eksperimen yang akhirnya menelurkan ide Gestalt.dipahami anak. Akhirnya anak mencoba melakukan penerapan dari konsep yang sudah dipelajarinya. Teori ini dibangun oleh tiga orang. seorang tokoh aliran Wuerzburg.  Kurt Lewin (1890-1947) 27 . Selanjutnya anak mensintesis konsep atau pengetahuan dalam bentuk yang lebih umum.  Max Wertheimer (1880-1943) Belajar pada Kuelpe. Mereka menyimpulkan bahwa seseorang cenderung mempersepsikan apa yang terlihat dari lingkungannya sebagai kesatuan yang utuh. tetapi proses mental. Wertheimer menunjuk pada proses interpretasi dari sensasi obyektif yang kita terima.

Lewin lahir di Jerman. Hambatan ini mungkin sekali menjadi obyek yang bervalensi negatif bagi individu. yaitu Wertheimer dan Koehler dan mengambil konsep psychological field juga dari Gestalt. Pada umumnya individu akan mendekati obyek yang bervalensi positif dan menjauhi obyek yang bervalensi negatif. Batas ini dapat dipahami sebagai sebuah hambatan individu untuk mencapai tujuannya. dan avoidance-avoidance). Vektor juga memiliki kekuatan dan titik awal berangkat. dan valensi ini Lewin menjelaskan teorinya mengenai tiga jenis konflik (approach-approach. maka bagaimana valensi dari nilai tersebut bagi si individu akan menentukan gerakan individu. Dalam lapangan psikologis ini juga terjadi daya (forces) yang menarik dan mendorong individu mendekati dan menjauhi tujuan. 28 . Dalam usahanya mendekati obyek bervalensi positif. approach-avoidance. Arah individu mendekati/menjauhi tujuan disebut vektor. Dengan konsep vektor. Apabila terjadi ketidakseimbangan (disequilibrium). Gerakan individu mencapai tujuan (goal) disebut locomotion.D dari University of Berlin dalam bidang psikologi tahun 1914. maka terjadi ketegangan (tension). lulus Ph. Ia banyak terlibat dengan pemikir Gestalt. sangat mungkin ada hambatan.Pandangan Gestalt diaplikasikan dalam field psychology dari Kurt Lewin. Life space terbagi atas bagian-bagian memiliki batas-batas. Perilaku individu akan segera tertuju untuk meredakan ketegangan ini dan mengembalikan keseimbangan. Tugas utama psikologi adalah meramalkan perilaku individu berdasarkan semua fakta psikologis yang eksis dalam lapangan psikologisnya pada waktu tertentu. Lapangan psikologis ini terdiri dari fakta dan obyek psikologis yang bermakna dan menentukan perilaku individu (B=f L). Lewin adalah salah seorang ahli yang sangat kuat menganjurkan pemahaman tentang lapangan psikologis seseorang. Apabila individu menghadapi suatu obyek. daya. Konsep utama Lewin adalah Life Space. yaitu lapangan psikologis tempat individu berada dan bergerak.

Prinsip-prinsip pengorganisasian: O Principle of Proximity: bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertentu.Interaksi antara individu dan lingkungan disebut sebagai perceptual field. Sebaliknya. Maka perilaku kelompok menjadi fungsi dari lingkungan. bukan skill yang dipelajari. Dasar berpikirnya adalah kelompok dianalogikan dengan individu. maka perilaku anggota akan menjauhinya dan dengan demikian tujuan kelompok semakin tidak tercapai. yang cenderung dipersepsikan oleh manusia sebagai figure and ground. O Principle of Objective Set: Organisasi berdasarkan mental set yang sudah terbentuk sebelumnya. Kritik untuk teori Lewin berfokus pada konstruk-konstruknya yang dianggap hipotetis dan sulit dikongkritkan dalam situasi eksperimental. Apabila hubungan ini bervalensi negatif. 29 . Prinsip dasar Gestalt 1. Implikasinya adalah penjelasan Lewin sulit sampai pada level explanatory dan sifatnya deskriptif. Setiap perceptual field memiliki organisasi. 2. hubungan yang baik akan membuat anggota saling mendekati sehingga memungkinkan kerjasama yang lebih baik dalam mencapai tujuan kelompok.Aplikasi teori Lewin banyak dilakukan dalam konteks dinamika kelompok. O Principle of Similarity: bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang berada dalam arah yang sama cenderung akan dipersepsi sebagi suatu figure atau bentuk tertentu. dimana salah satu faktornya adalah para anggota kelompok dan hubungan interpersonal mereka. Oleh karena itu kemampuan persepsi ini merupakan fungsi bawaan manusia. Pengorganisasian ini mempengaruhi makna yang dibentuk.

Makin jelas makna hubungan suatu unsur. warnadan sebagainya membedakan figure dari latar belakang. Dalam proses pembelajaran.O Principle of Continuity: Organisasi berdasarkan kesinambungan pola.Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning). khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif 30 . Setelah proses belajar terjadi. potongan. makaakan terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figure. Aplikasi prinsip Gestalt Belajar Proses belajar adalah fenomena kognitif. O Principle of Isomorphism: Organisasi berdasarkan konteks. b. hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsurunsur dalam suatu obyek atau peristiwa. akan makin efektif pula sesuatu yang dipelajari. Bila figure dan latar bersifat samarsamar. Penampilan suatu obyek seperti ukuran. kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Apabila individu mengalami proses belajar. Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain : a. terjadi reorganisasi dalam perceptual fieldnya. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah. seseorang dapat memiliki cara pandang baru terhadap suatu problem. O Principle of Closure/ Principle of Good Form: bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap. O Principle of Figure and Ground: yaitu menganggap bahwa setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar belakang.Pengalaman tilikan (insight). Contoh: perubahan nada tidak akan merubah persepsi tentang melodi. bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku.

transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat. bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. Oleh karena itu. Oleh karena itu. Setelah adanya pengalaman insight. yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. individu mampu menerapkannya pada problem sejenis tanpa perlu melalui proses trial- 31 . Menurut pandangan Gestalt.pemecahannya. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons. materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik.Transfer dalam Belajar. e. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. bahwa perilaku terarah pada tujuan.Prinsip ruang hidup (life space). Juga menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya. tetapi ada keterkaitannya dengan tujuan yang ingin dicapai. c. Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. Insight Pemecahan masalah secara jitu yang muncul setelah adanya proses pengujian berbagai dugaan/kemungkinan. guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsipprinsip pokok dari materi yang diajarkannya. Oleh karena itu. Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya. d.Perilaku bertujuan (pusposive behavior).

dan problem solving beroperasi. Adanya perceptual field diinterpretasikan menjadi lapangan kognitif dimana proses-proses mental seperti persepsi. Secara sosial. ditemukan oleh Koehler dalam eksperimen yang sistematis. Akibatnya psikologi gestalt diakui sebagai sebuah aliran psikologi namun pengaruhnya tidak sekuat behaviorisme. Memory Hasil persepsi terhadap obyek meninggalkan jejak ingatan. Pandangan Gestalt cukup luas diakui di Jerman namun tidak lama exist di Jerman karena mulai didesak oleh pengaruh kekuasaan Hitler yang berwawasan sempit mengenai keilmuan. berfokus pada higher mental process. Namun hal ini tidak mudah dilakukan karena pada saat itu di AS didominasi oleh pandangan behaviorisme. insight. jejak ingatan ini akan berubah pula sejalan dengan prinsip-prinsip organisasional terhadap obyek. Para tokoh Gestalt banyak yang melarikan diri ke AS dan berusaha mengembangkan idenya di sana. yang selama ini dihindari karena abstrak. Konsep insight ini adalah fenomena penting dalam belajar.  Pandangan Gestalt menyempurnakan aliran behaviorisme dengan menyumbangkan ide untuk menggali proses belajar kognitif.  Pendekatan fenomenologis menjadi salah satu pendekatan yang eksis di psikologi dan dengan pendekatan ini para tokoh Gestalt menunjukkan bahwa studi psikologi dapat mempelajari higher mental process. Meskipun demikian. 32 . namun tetap dapat mempertahankan aspek ilmiah dan empirisnya. fenomena ini juga menjelaskan pengaruh gosip/rumor.error lagi. Penerapan Prinsip of Good Form seringkali muncul dan terbukti secara eksperimental. ada beberapa hal yang patut dicatat sebagai implikasi dari aliran Gestalt yaitu. Dengan berjalannya waktu.

Ketika para ahli Psikologi Gestalt beralih dari masalah pengamatan ke masalah belajar. 33 . tetapi juga secara fisik. Pada pengamatan itu menekankan perhatian pada bentuk yang terorganisasi (organized form) dan pola persepsi manusia. maka hasil-hasil yang telah kuat / sukses dalam penelitian mengenai pengamatan itu dibawanya dalam studi mengenai belajar. 4. Pemahaman dan persepsi tentang hubungan-hubungan dalam kebulatan (entities) adalah sangat esensial dalam belajar.bagiannya. Belajar adalah perkembangan kearah diferensiasi ynag lebih luas. 2. Manusia bereaksi dengan lingkungannya secara keseluruhan. Kelompok pemikiran ini sependapat pada suatu hal yakni suatu prinsip dasar bahwa pengalaman manusia memiliki kekayaan medan yang memuat fenomena keseluruhan lebih dari pada bagian. 3. maka untuk memahami proses belajar orang perlu memahami hukum-hukum yang menguasai proses pengamatan itu. Karena asumsi bahwa hukum –hukum atau prinsip-prinsip yang berlaku pada proses pengamatan dapat ditransfer kepada hal belajar. lengkap dengan segala aspek-aspeknya. Psikologi Gestalt ini terkenal juga sebagai teori medan (field) atau lazim disebut cognitive field theory. sosial dan sebagainya. Demonstrasinya mengenai peranan latar belakang dan organisasinya terhadap proses-proses yang diamati secara fenomenal demikian meyakinkan sehingga boleh dikatakan tidak dapat di bantah. Belajar adalah penyesuaian diri dengan lingkungan. emosional. tidak hanya secara intelektual. Manusia berkembang sebagai keseluruhan sejak dari kecil sampai dewasa. antara lain : 1. Keseluruhan ini memberikan beberapa prinsip belajar yang penting.Psikologi Gestalt bermula pada lapangan pengamatan (persepsi) dan mencapai sukses yang terbesar juga dalam lapangan ini.

Belajar merupakan suatu proses bila seseorang itu aktif. kelaziman) dan karakteristik pengamat (kemampuan indera. Kondisi lingkungan sekitar individu sangat berpengaruh pada pola belajar sosial ini. dan kontinuitas. mencakup peristiwa peniruan (adanya kejelasan. atau setidaknya menganggap bahwa judi itu tidak jelek. motivasi memberi dorongan yang mengerakan seluruh organisme. Menurut Bandura. 7. bukan ibarat suatu bejana yang diisi.yaitu hukum – hukum keterdekatan. 6. 34 . Tidak mungkin ada belajar tanpa ada kemauan untuk belajar. Dalam hukum-hukum belajar Gestalt ini ada satu hukum pokok. Teori Bandura Albert Bandura lahir pada tanggal 4 Desember 1925 di Mundare. ketertutupan. Belajar akan berhasil kalau ada tujuan. apabila tercapai kematangan untuk memperoleh insight. 8. yaitu hukum Pragnaz. Faktor-faktor yang berproses dalam belajar observasi adalah : 1. Misalnya seseorang yang hidup dan dibesarkan di lingkungan judi. Albert berkebangsaan Kanada. dan empat hukum tambahan (subsider) yang tunduk kepada hukum yang pokok itu. proses mengamati dan meniru perilaku sikap orang lain sebagai model merupakan tindakan belajar. Eksperimennya yang sangat terkenal adalah eksperimen ―Bobo doll‖ yang menunjukkan anak meniru secara persis perilaku agresif dari orang dewasa di sekitarnya. persepsi.5. perilaku dan pengaruh lingkungan. Perhatian (attention). penguatan sebelumnya). keterlibatan perasaan. Belajar hanya berhasil. tingkat kerumitan. Teori Bandura menjelaskan perilaku manusia dalam konteks interaksi timbal-balik yang berkesinambungan antara kognitif. minat. Ia seorang psikolog yang terkenal dengan teori belajar sosial atau kognitif sosial serta efikasi diri. kesamaan. G. maka dia cenderung menyenangi judi.

Reproduksi motorik (reproduction). tanda atau gambar daripada hanya observasi sederhana (hanya melihat saja). mencakup dorongan dari luar dan penghargaan terhadap diri sendiri. Sebagai contoh. pengulangan symbol. kemampuan meniru. pengulangan motorik. Individu akan menyukai perilaku yang ditiru jika model atau panutan tersebut disukai dan dihargai serta perilakunya mempunyai nilai yang bermanfaat. Teori belajar dari Bandura ini nampaknya memang bisa berlaku umum dalam semua langkah pendidikan sosial. Teori Bandura menjadi dasar dari perilaku pemodelan yang digunakan dalam berbagai pendidikan secara massal. keorganisasian pikiran. keakuratan umpan balik. Penyimpanan atau proses mengingat (retention). 3. Proses belajar masih berpusat pada penguatan. yang harus juga diperhatikan bahwa faktor model atau teladan mempunyai prinsip-prinsip sebagai berikut. Teori sosial belajar dari Bandura ini merupakan gabungan antara teori belajar behovioristik dengan penguatan dan psikologi kognitif. Individu lebih menyukai perilaku yang ditiru jika sesuai dengan nilai yang dimilikinya.2. 2. Motivasi. 4. penerapan teori belajar sosial dalam iklan televisi. 3. 1. mencakup kemampuan fisik. hanya terjadi secara langsung dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Tingkat tertinggi belajar dari pengamatan diperoleh dengan cara mengorganisasikan sejak awal dan mengulangi perilaku secara simbolik kemudian melakukannya. informasi dan instruksional. dengan prinsip modifikasi perilaku. komunikasi. Proses mengingat akan lebih baik dengan cara mengkodekan perilaku yang ditiru kedalam kata-kata. mencakup kode pengkodean simbolik. 35 . Selain itu.

karena suasana dan kondisi yang sudah dirancang secara khusus untuk tujuan yang khusus pula. Yakni untuk tujuan mempermudah terlaksananya proses belajar secara efektif. meskipun ia lapar. Dalam kenyataannya. Terhadap binatang yang sangat lapar kita dapat meramalkan bahwa makanan akan merupakan penguat yang sangat efektif. Penentuan Nilai dari Suatu Insentif 36 . penganut teori perilaku lebih memfokuskan pada seberapa jauh siswa telah belajar untuk mengerjakan pekerjaan sekolah dalam rangka mendapatkan hasil yang diinginkan (Bandura. kita tidak dapat sepenuhnya yakin apa yang merupakan penguat dan apa yang bukan penguat. karena nilai penguatan dari penguat yang paling potensial sebagian besar ditentukan oleh faktor-faktor pribadi dan situsional. Namun hal itu tentu saja sangat khusus dan terbatas.Namun karena kondisinya yang umum tadi. Terhadap manusia. Hanya dalam situasi sosial dan kemasyarakatanlah banyak terjadi belajar sosial. daripada membahas konsep motivasi belajar. Motivasi Belajar dan teori perilaku (Bandura) Konsep motivasi belajar berkaitan erat dengan prinsip bahwa perilaku yang memperoleh penguatan (reinforcement) di masa lalu lebih memiliki kemungkinan diulang dibandingkan dengan perilaku yang tidak memperoleh penguatan atau perilaku yang terkena hukuman (punishment). Peristiwa sosial juga terjadi di lingkungan sekolah dan pendidikan pada umumnya. sehingga metode belajar sosial dari Bandura ini agak sulit dilakukan. Penghargaan (Reward) dan Penguatan (Reinforcement) Suatu alasan mengapa penguatan yang pernah diterima merupaka penjelasan yang tidak memadai untuk motivasi karena motivasi belajar manusia itu sangat kompleks dan tidak bebas dari konteks (situasi yang berhubungan). 1995). maka sulit dilaksanakan dalam sekolah-sekolah formal. 1986 dan Wielkeiwicks.

1992). ―Pekerjaan yang bagus! Saya tahu kamu dapat mengerjakan tugas itu apabila kamu mencobanya!‖ Ucapan ini dapat memotivasi seorang siswa yang baru saja menyelesaikan suatu tugas yang ia anggap sulit namun dapat berarti hukuman (punishment) bagi siswa yang berfikir bahwa tugas itu mudah (karena pujian guru itu memiliki implikasi bahwa ia harus bekerja keras untuk menyelesaikan tugas itu). mengevaluasi. Self regulatory adalah menunjuk kepada 1) struktur kognitif yang memberi referensi tingkah laku dan hasil belajar. tetapi pada saat yang lain. tetapi juga sangat dipengaruhi oleh unsur-unsur yang berasal dari diri pembelajar sendiri yakni ―sense of self Efficacy‖ dan ―self – regulatory system‖. Kadang-kadang suatu jenis motivasi jelas-jelas menentukan perilaku. dan pengatur tingkah laku kita (Bandura. retensi. motor reproduksi dan motivasi. Dalam pembelajaran sel-regulatory akan menentukan ―goal setting‖ dan ―self evaluation‖ 37 . Pada saat guru mengatakan ―Saya ingin kamu semua mengumpulkan laporan buku pada waktunya karena laporan itu akan diperhitungkan dalam menentukan nilaimu. 1978). Apabila guru mengatakan kepada seorang siswa. Tetapi bagaimanapun juga sejumlah siswa dapat tidak menghiraukan nilai karena orang tua mereka tidak menghiraukannya atau mereka memiliki catatan kegagalan di sekolah dan telah mengambil sikap bahwa nilai itu tidak penting. Seringkali sukar menentukan motivasi belajar siswa dari perilaku mereka karena banyak motivasi yang berbeda dapat mempengaruhi perilaku. ada motivasi lain yang berpengaruh (mempengaruhi) terhadap perilaku belajar siswa. Sense of self efficacy adalah keyakinan pembelajar bahwa ia dapat menguasai pengetahuan dan keterampilan sesuai standar yang berlaku. 2) sub proses kognitif yang merasakan.‖ guru itu mungkin mengasumsikan bahwa nilai merupakan insentif yang efektif untuk siswa pada umumnya. Lebih lanjut menurut Bandura (1982) penguasaan skill dan pengetahuan yang kompleks tidak hanya bergantung pada proses perhatian.Ilustrasi berikut menunjukkan poin penting: nilai motivasi belajar dari suatu insentif tidak dapat diasumsikan. karena nilai itu dapat bergantung pada banyak faktor (Chance.

dan reinforcement bagi pembelajar.pembelajar dan merupakan dorongan untuk meraih prestasi belajar yang tinggi dan sebaliknya.Langkah-langkah manakah menurut sekuen yang harus dipresentasikan secara perlahan-lahan.Analisis tingkah laku yang akan dijadikan model yang terdiri : a. Dimanakah letak hal-hal yang penting (key point) dalam sekuen tersebut? 2. Bagaimanakah urutan atau sekuen dari tingkah laku tersebut? c. a.Tetapkan fungsi nilai dari tingkah laku dan pilihlah tingkah laku tersebut sebagai model. 38 . Berikut Bandura mengajukan usulan untuk mengembangkan strategi proses pembelajaran yaitu sebagi berikut : 1. Menurut Bandura agar pembelajar sukses instruktur/guru/dosen/guru harus dapat menghadirkan model yang mempunyai pengaruh yang kuat terhadap pembelajar. mengembangkan ―self of mastery‖. d. Apakah model harus hidup atau simbol? Pertimbangan soal biaya. Apakah karekter dari tingkah laku yang akan dijadikan model itu berupa konsep. motor skil atau efektif? b. Bila tingkah laku yang dipelajari kurang memberi manfaat (tidk begitu penting) model manakah yang lebih penting? c. Pengembangan sekuen instruksional Untuk mengajar motor skill. Apakah reinforcement yang akan didapat melalui model yang dipilih? 3. self efficacy. bagaimana cara mengerjakan pekerjaan/kemampuan yang dipelajari :how to do this‖ dan bukannya ―not this‖. Apakah tingkah laku (kemampuan yang dipelajari) merupakan hal yang penting dalam kehidupan dimasa datang? (success prediction) b. pengulangan demonstrasi dan kesempatan untuk menunjukkan fungsi nilai dan tingkah laku.

konsekuensikonsekuensi terhadap model dan proses-proses kognitif pembelajar. perlu ditumbuhkan ―sense of efficacy‖ dan self regulatory‖ pembelajar. disamping pembelajaran-pembelajaran komponen-komponen skill itu sendiri. Hasil belajar berupa kode-kode visual dan verbal yang mungkin dapat dimunculkan kembali atau tidak (retrievel). baik yang didukung oleh kode-kode verbal atau petunjuk untuk mencari konsistensi pada berbagai contoh 2) Beri kesempatan kepada pembelajar untuk membuat ihtisar atau summary 3) Jika yang dipelajari adalah pemecahan masalah atau strategi penerapan beri kesempatan pembelajar untuk berpartisipasi secaraaktif 4) Beri kesempatan pembelajar untuk membuat generalisasi ke berbagai siatuasi. faktor-faktor personal dan tingkah laku yang meliputi proses-proses kognitif belajar. 2. Implementasi pengajaran untuk menunut proses kognitif dan motor reproduksi. Dalam perencanaan pembelajaran skill yang kompleks. dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. 39 . Komponen-komponen belajar terdiri dari tingkah laku.a. Belajar merupakan interaksi segitiga yang saling berpengaruh dan mengikat antara lingkungan. 4. Dari uraian tentang teori belajar sosial. 3. motor skill 1) hadirkan model 2) beri kesempatan kepada tiap-tiap pembelajar untuk latihan secarasimbolik 3) beri kesempatan kepada pembelajar untuk latihan dengan umpan balik visual b. Proses kognitif 1) Tampilkan model.

dan ―reinforcement‖ dan hindari punishment yang tidak perlu.5. Dalam proses pembelajaran. pembelajar sebaiknya diberi kesempatan yang cukup untuk latihan secara mental sebelum latihan fisik. 40 .

Pada tingkat ini siswa belum memperhatikan komponen-komponen dari masing-masing bangun. menurut Van Hiele adalah sebagai berikut:  Tingkat Visualisasi Tingkat ini disebut juga tingkat pengenalan. mereka berpendapat bahwa dalam mempelajari geometri para siswa mengalami perkembangan kemampuan berpikir melalui tahap-tahap tertentu. pada tingkat ini siswa sudah terbiasa menganalisis bagian-bagian yang ada pada suatu bangun dan mengamati sifat-sifat yang dimiliki oleh unsur-unsur tersebut 41 . Teori Van Hiele Tingkat Kognitif menurut Van Hiele Dua tokoh pendidikan matematika dari Belanda. Sebagai contoh. Dengan demikian. pada tingkat ini siswa tahu suatu bangun bernama persegipanjang. Dian Van Hiele-Geldof. Pada tingkat ini. meskipun pada tingkat ini siswa sudah mengenal nama sesuatu bangun. pada tahun-tahun 1957 sampai 1959 mengajukan suatu teori mengenai proses perkembangan yang dilalui siswa dalam mempelajari geometri. Dengan kata lain. siswa memandang sesuatu bangun geometri sebagai suatu keseluruhan (wholistic). Tahapan berpikir atau tingkat kognitif yang dilalui siswa dalam pembelajaran geometri. siswa belum mengamati ciri-ciri dari bangun itu. tetapi ia belum menyadari ciri-ciri bangun persegipanjang tersebut.  Tingkat Analisis Tingkat ini dikenal sebagai tingkat deskriptif. yaitu Pierre Van Hiele dan isterinya. Dalam teori yang mereka kemukakan.A. Pada tingkat ini siswa sudah mengenal bangun-bangun geometri berdasarkan ciri-ciri dari masing-masing bangun.

Pada tingkat ini. siswa juga sudah bisa memahami hubungan antara bangun yang satu dengan bangun yang lain. Di samping itu pada tingkat ini siswa sudah memahami pelunya definisi untuk tiap-tiap bangun. aksioma-aksioma.Sebagai contoh. Pada tingkat ini siswa sudah mulai mampu menyusun bukti-bukti secara formal. siswa sudah bisa memahami hubungan antar ciri yang satu dengan ciri yang lain pada sesuatu bangun. siswa memahami bahwa dimungkinkan adanya lebih dari satu geometri. 42 . pada tingkat ini siswa sudah bisa mengatakan bahwa jika pada suatu segiempat sisi-sisi yang berhadapan sejajar. dan terorema-teorema dalam geometri. Pada tingkat ini. definisi-definisi. sisi-sisi yang berhadapan sejajar. Misalnya pada tingkat ini siswa sudah bisa memahami bahwa setiap persegi adalah juga persegipanjang. pada tingkat ini siswa sudah bisa mengatakan bahwa suatu bangun merupakan persegipanjang karena bangun itu ―mempunyai empat sisi. Pada tingkat ini. siswa mampu melakukan penalaran secara formal tentang sistem-sistem matematika (termasuk sistem-sistem geometri).  Tingkat Deduksi Formal Pada tingkat ini siswa sudah memahami perenan pengertian-pengertian pangkal. Sebagai contoh. Pada tahap ini. tanpa membutuhkan model-model yang konkret sebagai acuan. maka sisi-sisi yang berhadapan itu sama panjang. Ini berarti bahwa pada tingkat ini siswa sudah memahami proses berpikir yang bersifat deduktif-aksiomatis dan mampu menggunakan proses berpikir tersebut.  Tingkat Rigor Tingkat ini disebut juga tingkat metamatematis. dan semua sudutnya siku-siku‖  Tingkat Abstraksi Tingkat ini disebut juga tingkat pengurutan atau tingkat relasional. karena persegi juga memiliki ciri-ciri persegipanjang.

pada tahap ini siswa sudah memahami adanya geometrigeometri yang lain di samping geometri Euclides.  Fase 1 : Informasi (information) Pada awal fase ini. Guru mempelajari pengetahuan awal yang dipunyai siswa mengenai topik yang di bahas. Implementasi Teori Van Hiele dalam Pembelajaran Untuk meningkatkan suatu tahap berpikir ke tahap berpikir yang lebih tinggi Van Hiele mengajukan pembelajaran yang melibatkan 5 fase (langkah). dengan urutan yang sama. kapan seseorang siswa mulai memasuki suatu tingkat yang baru tidak selalu sama antara siswa yang satu dengan siswa yang lain. Tujuan kegiatan ini adalah : a. dan tidak dimungkinkan adanya tingkat yang diloncati.Sebagai contoh. proses perkembangan dari tahap yang satu ke tahap berikutnya terutama tidak ditentukan oleh umur atau kematangan biologis. dan integrasi (integration). Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa sambil melakukan observasi. orientasi langsung (directed orientation). Sehingga. semua anak mempelajari geometri dengan melalui tahap-tahap tersebut. pada tingkat ini siswa menyadari bahwa jika salah satu aksioma pada suatu sistem geometri diubah. orientasi bebas (free orientation). Menurut Van Hiele. guru dan siswa menggunakan tanya jawab dan kegiatan tentang obyek-obyek yang dipelajari pada tahap berpikir yang bersangkutan. informasi (information). tetapi lebih bergantung pada pengajaran dari guru dan proses belajar yang dilalui siswa. 43 . Selain itu. menurut Van Hiele. Akan tetapi. penjelasan (explication). maka seluruh geometri tersebut juga akan berubah. yaitu .

Jadi. siswa menyatakan pandangan yang muncul mengenai struktur yang diobservasi. alat ataupun bahan dirancang menjadi tugas pendek sehingga dapat mendatangkan respon khusus.  Fase 3 : Penjelasan (explication) Berdasarkan pengalaman sebelumnya. maupun dalam menyelesaikan tugas-tugas. Aktifitas ini akan berangsur-angsur menampakkan kepada siswa struktur yang memberi ciri-ciri untuk tahap berpikir ini.b. Guru mempelajari petunjuk yang muncul dalam rangka menentukan pembelajaran selanjutnya yang akan diambil. banyak hubungan antara obyekobyek yang dipelajari menjadi jelas. dan tugas-tugas open ended. Mereka memperoleh pengalaman dalam menemukan cara mereka sendiri. tugas-tugas yang dilengkapi dengan banyak cara. guru memberi bantuan seminimal mungkin. Guru dapat membantu dalam membuat sintesis ini dengan melengkapi survey secara global terhadap apa-apa yang telah dipelajari siswa.  Fase 5 : Integrasi (Integration) Siswa meninjau kembali dan meringkas apa yang telah dipelajari. Di samping itu untuk membantu siswa menggunakan bahasa yang tepat dan akurat. Hal tersebut berlangsung sampai sistem hubungan pada tahap berpikir ini mulai tampak nyata. 44 .  Fase 2 : Orientasi langsung (directed orientation) Siswa menggali topik yang dipelajari melalui alat-alat yang dengan cermat disiapkan guru.  Fase 4 : Orientasi bebas (free orientation) Siswa mengahadapi tugas-tugas yang lebih komplek berupa tugas yang memerlukan banyak langkah. Melalui orientasi diantara para siswa dalam bidang investigasi.

Pembelajaran bermakna merupakan suatu proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang.B. Ausubel mengemukakan bahwa belajar dikatakan menjadi bermakna (meaningful) bila informasi yang akan dipelajari peserta didik disusun sesuai dengan struktur kognitif yang dimiliki peserta didik itu sehingga peserta didik itu dapat mengaitkan informasi barunya dengan kognitif yang dimilikinya. ada dua jenis belajar : 1. Suparno (1997) mengatakan pembelajaran bermakna adalah suatu proses pembelajaran di mana informasi baru dihubungkan dengan struktur pengertian yang sudah dimiliki seseorang yang sedang melalui pembelajaran. P. TEORI BERMAKNA AUSUBEL Teori pembelajaran Ausabel merupakan salah satu dari sekian banyaknya teori pembelajaran yang menjadi dasar dalam cooperative learning. Dengan 45 . Menurut Ausubel (Dahar 1996) bahan subjek yang dipelajari siswa mestilah ―bermakna‖ (meaningfull). maka terjadilah belajar dengan hafalan. Menurut Ausubel. Selanjutnya dimensi kedua menyangkut bagaimana siswa dapat mengaitkan informasi itu pada struktur kognitif yang telah ada. Jika siswa hanya mencoba menghafalkan informasi baru itu tanpa menghubungkan dengan struktur kognitifnya. Belajar menghafal (rote learning) Menurut Ausubel belajar dapat diklasifikasikan kedalam dua dimensi. konsep-konsep. dan generalisasi-generalisasi yang telah disiswai dan diingat siswa. David Ausubel adalah seorang ahli psikologi pendidikan. Dimensi pertama berhubungan dengan cara informasi atau materi pelajaran itu disajikan kepada siswa melalui penerimaan atau penemuan. Struktur kognitif ialah fakta-fakta. Sebaliknya jika siswa menghubungkan atau mengaitkan informasi baru itu dengan struktur kognitifnya maka yang terjadi adalah belajar bermakna D. Belajar bermakna (meaningful learning) 2.

yaitu: 1. Selanjutnya peserta didik tidak dapat mengendapkan 46 . Belajar menerima (ekspositori) yang tidak bermakna. Teori pembelajaran Ausubel juga dikenali sebagai teori pembelajaran penerimaan atau penemuan . Empat tipe belajar menurut Ausubel. menghafal berlawanan dengan belajar bermakna. Belajar menerima (ekspositori) yang bermakna. Belajar dengan penemuan yang tidak bermakna. yaitu pelajaran yang dipelajari ditemukan sendiri oleh siswa tanpa mengaitkan pengetahuan yang telah dimilikinya. yaitu mengaitkan pengetahuan yang telahdimilikinya dengan materi pelajaran yang dipelajarinya atau siswa menemukan pengetahuannya dari apa yang ia pelajari kemudian pengetahuan baru itu ia kaitkan dengan pengetahuan yang sudah ada. kerena beliau menekankan proses penguasaan maklumat melalui bahasa yang bermakna. kemudia pengetahuan yang baru itu dihafalkan tanpa mengaitkannya dengan pengetahuan yang ia miliki. Menghafal sebenarnya mendapatkan informasi yang terisolasi sedemikian hingga peserta didik itu tidak dapat mengaitkan informasi yang diperoleh itu ke dalam struktur kognitifnya. kemudia pengetahuan yang baru itu dikaitkan dengan pengetahuan yang ia miliki. peserta didik menjadi kuat ingatannya dan transfer belajar mudah dicapai.belajar bermakna ini. kemudian dia hafalkan. yaitu materi pelajaran yang telah tersusun secara logis disampaikan kepada siswa sampai bentuk akhir. 4. Belajar dengan penemuan yang bermakna. guru memberikan konsep-konsep dengan jelas dan tersusun supaya peserta didik dapat menerimanya dengan lengkap dan baik. Bagi Ausubel. 2. materi pelajaran yang telah tersusun secara logis disampaikan kepada siswa sampai bentuk akhir. 3. Dalam pembelajaran resepsinya .

Belajar bermakna berarti belajar dengan memperoleh pemberitahuan yang bermakna mempunyai pra syarat : a. dikatakan peserta didik itu belajar bahan baru dengan cara yang bermakna. cenderung mengalami kegagalan dan akhirnya membenci matematika. maka belajar itu tidak bermakna. akan mengakibatkan peserta didik itu tidak mempunyai keinginan mempelajari materi tersebut secara bermakna. Tugas-tugas diberikan kepada peserta didik harus sesuai dengan struktur kognitif peserta didik sehingga peserta didik itu dapat mengasimilasi bahan baru secara bermakna. Banyaknya pengetahuan yang dapat dipelajari tergantung kepada apa yang sudah diketahui. c. Peserta didik yang masih di dalam periode operasi konkrit. hendaknya bersesuaian dengan tujuan belajar peserta didik. Apabila peserta didik melaksanakan tugas dengan sikap bahwa ia ingin memahami bahan pelajaran dan mengaplikasikan bahan baru serta menghubungkan bahan pelajaran yang terdahulu. Belajar yang bermakna pada tahap mula-mula memberikan pengertian kepada bahan baru sehingga bahan baru itu akan terserap dan kemudian diingat peserta didik. Dengan demikian 47 . Adanya struktur kognitif di dalam mental peserta didik yang merupakan dasar unsur mengaitkan datangnya informasi baru. Sebaliknya bila peserta didik itu tidak berkehendak mengaitkan bahan yang dipelajari dengan informasi yang dimiliki.pengetahuan yang diperoleh itu sehingga peserta didik itu hanya dapat mengingat fakta-fakta yang sederhana. Ia tidak menghafal asosiasi stimulus-respon yang terpisah-pisah. bila diberi bahan materi matematika yang abstrak tanpa contoh-contoh konkrit dari materi tersebut. Tugas-tugas yang diberikan haruslah sesuai dengan tahap perkembangan intelektual peserta didik. b. Kondisi dan sikap peserta didik terhadap tugas. Demikianlah banyak peserta didik yang tidak berusaha mengerti matematika.

peserta didik hanya menghafal pelajaran tadi tanpa pengertian sehingga peserta didik mempelajari matematika dengan pernyataanpernyataan verbalyang tidak cermat dan tepat. Ausubel (Dahar. 2. Diferensiasi Progregsif Dalam pembelajaran bermakna perlu ada pengembangan dan kolaborasi konsep-konsep. Caranya unsur yang inklusif diperkenalkan terlebih dahulu kemudian baru lebih mendetail. c. Hasil pengkombinasian ini diaplikasikan kepengajaran matematika. Informasi yang dipelajari secara bermakna mempermudah belajar hal-hal yang mirip walaupun telah lupa. b. Dari dua aliran psikologi yang telah dikemukakan diatas yang masingmasing menghasilkan teori belajar. perlu dikombinasikan sehingga kelemahan yang satu akan ditutup kekuatan yang lain. Langkah – langkah belajar bermakna Ausubel adalah : 1. 48 . Informasi yang dipelajari secara bermakna lebih lama dapat diingat. Pengaturan awal (advance organizer) Pengaturan awal dap digunakan untuk membantu mengaitkan konsep yang lama dengan konsep yang baru yang lebih tinggi maknanya.1989 : 141) ada tiga kebaikan belajar bermakna yaitu : a. Informasi yang dipelajari secara bermaknamemudahkan proses belajar beriktunya untuk materi pelajaran yang mirip.

efektif dan menyenangkan). kreatif. maka akan mendorong peserta didik untuk menyenangi dan memotivasi mereka untuk 49 . Aktif diartikan peserta didik maupun berinteraksi untuk menunjang pembelajaran. Apabila suasana belajar yang aktif dan kreatif terjadi. mengajukan pertanyaan menantang dan mempertanyakan gagasan anak didik. bahkan mencipta teknik -teknik mengajar tertentu sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik dan tujuan belajarnya. mengungkapkan ide dan mendemonstrasikan gagasan atau idenya. Guru harus menciptakan suasana sehingga peserta didik aktif bertanya. PAKEM bertujuan untuk menciptakan sesuatu lingkungan belajar yang lebih melengkapi peserta didik dengan keterampilan. Menurut Siswono (2004). Peserta didik akan kreatif. Dengan memberikan kesempatan peserta didik aktif akan mendorong kreativits peserta didik dalam belajar maupun memecahkan masalah. Hal ini berarti proses pembelajaran dapa t membangkitkan dan membuat anak didik senang dalam belajar. TEORI DIENES Konsep PAKEM Teori belajar Dienes yang menekankan pada tahapan permainan yang berarti pembelajaran yang diarahkan pada proses melibatkan anak didik dalam belajar. bila diberi kesempatan merancang/membuat sesuatu. Berikut ini akan dijelaskan sec ara singkat tentang PAKEM. Oleh karena itu teori belajar Dienes ini sangat terkait dengan konsep pembelajaran dengan pendekatan PAKEM (Pembelajaran Aktif. pengetahuan dan sikap bagi kehidupan kelak. memberikan tanggapan. menuliskan ide atau gagasan. Kegiatan tersebut akan memuaskan rasa keingintahuan dan imajinasi mereka.C. memberi umpan balik. Kreatif diartikan guru memberikan variasi dalam kegiatan belajar mengajar dan membuat alat bantu baljar. Guru aktif akan memantau kegiatan belajar peserta didik.keterampilan.

sedemikian rupa sehingga sistem yang dikembangkannya itu menarik bagi siswa yang mempelajarinya. mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik f. membedakan antara aktif fisik dn aktif mental.terus belajar. yaitu: a. semarak. Efektif yang diartikan sebagai ketercapaian suatu tujuan (kompetensi) merupakan pijakan utama suatu rancangan pembelajaran. Dasar teorinya bertumpu pada Piaget. memanfaatkan perilaku anak dalam pengorganisasian belajar d. Dalam pelaksanaan PAKEM perlu diperhatikan beberapa hal. Pembelajaran yang tampaknya aktif dan menyenangkan. terkondisi untuk trus berlanjut. memahami sifat anak b. mengenal peserta didik secara individu/perorangan c. dan mendorong pemusatan perhatian peserta didik terhadap belajar. kreatif dam kemampuan memecahkan masalah e. ekspresif. Tahap-Tahap Dalam Teori Belajar Dienes Zoltan P. mengembangkan kemampuan bepikir kritis. tetapi tidak efektif akan tampak hanya sekedar permainan belaka. 1992) berpendapat bahwa pada dasarnya matematika dapat dianggap sebagai studi tentang struktur. dan pengembangannya diorientasikan pada siswa-siswa. Menyenangkan diartikan sebagai suasana belajar mengajar yang ‖hidup‖. memberikan umpan balik yang bertanggung jawab untuk meningkan kegiatan belajar mengajar h. Dienes (dalam Ruseffendi. Dienes adalah seorang matematikawan yang memusatkan perhatiannya pada cara-cara pengajaran terhadap siswa-siswa. memisah - 50 . memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar g.

Dalam tahap ini anak mulai membentuk struktur mental dan struktur sikap dalam mempersiapkan diri untuk memahami konsep yang sedang dipelajari. Dienes membagi tahap-tahap belajar menjadi tahap. tebal tipisnya benda yang merupakan ciri/sifat dari benda yang dimanipulasi. Ini mengandung arti bahwa jika benda -benda atau objek-objek dalam bentuk permainan akan sangat berperan bila dimanipulasi dengan baik dalam pengajaran matematika. Makin banyak bentuk-bentuk berlainan yang diberikan dalam konsep tertentu. karena akan memperoleh 51 . Dienes mengemukakan bahwa tiap -tiap konsep atau prinsip dalam matematika yang disajikan dalam bentuk yang konkret aka n dapat dipahami dengan baik. akan semakin jelas konsep yang dipahami siswa. Anak didik diberi kebebasan untuk mengatur benda. Misalnya dengan diberi permainan block logic. Permainan bebas merupakan tahap belajar konsep yang aktifitasnya tidak berstruktur dan tidak diarahkan.misahkan hubungan-hubungan di antara struktur-struktur dan mengkategorikan hubungan. 2. Keteraturan ini mungkin terdapat dalam konsep tertentu tapi tidak terdapat dalam konsep yang lainnya. tahap yang paling awal dari pengembangan konsep bermula dari permainan bebas. dengan melalui permainan siswa diajak untuk mulai mengenal dan memikirkan bagaimana struktur matematika itu.hubungan di antara struktur-struktur. Permainan yang Menggunakan Aturan (Games) Dalam permainan yang disertai aturan siswa sudah mulai meneliti pola-pola dan keteraturan yang terdapat dalam konsep tertentu. Permainan Bebas (Free Play) Dalam setiap tahap belajar. yaitu 1. anak didik mulai mempelajari konsep-konsep abstrak tentang warna. Anak yang telah memahami aturan-aturan tadi. Jelaslah. Seperti halnya dengan Bruner. Selama permainan pengetahuan anak muncul.

untuk membuat konsep abstrak.hal-hal yang bersifat logis dan matematis dalam konsep yang dipelajari itu. dan kegiatan untuk yang tidak relevan dengan pengalaman itu. guru perlu mengarahkan mereka dengan menstranslasikan kes amaan struktur dari bentuk permainan lain. anak didik memerlukan suatu kegiatan untuk mengumpulkan bermacam -macam pengalaman. Dengan demikian telah mengarah pada 52 . atau tidak merah (biru). kuning). anak dihadapkan pada kelompok persegi dan persegi panjang yang tebal. hijau. Translasi ini tentu tidak boleh mengubah sifat -sifat abstrak yang ada dalam permainan semula. timbul pengalaman terhadap konsep tipis dan merah. Para siswa menentukan representasi dari konsep -konsep tertentu. dan sebagainya. Representasi yang diperoleh ini bersifat abstrak. Untuk melatih dalam mencari kesamaan sifat-sifat ini. anak diminta mengidentifikasi sifat-sifat yang sama dari benda-benda dalam kelompok tersebut (anggota kelompok). kemudian membentuk kelompok benda berbentuk segitiga. 3. anak diberi kegiatan untuk membentuk kelompok bangun yang tipis. Contoh kegiatan yang diberikan dengan permainan block logic. atau yang merah. atau yang berwarna merah. serta timbul penolakan terhadap bangun yang tipis (tebal). 4. Permainan Representasi (Representation) Representasi adalah tahap pengambilan sifat dari beberapa situasi yang sejenis. atau yang tebal. Dalam membentuk kelompok bangun yang tipis. Setelah mereka berhasil menyimpulkan kesamaan sifat yang terdapat dalam situasi-situasi yang dihadapinya itu. Menurut Dienes. Permainan Kesamaan Sifat (Searching for communalities) Dalam mencari kesamaan sifat siswa mulai diarahkan dalam kegiatan menemukan sifat-sifat kesamaan dalam permainan yang sedang diikuti. Contoh dengan permainan block logic.

20) menyatakan. harus mampu merumuskan suatu teorema berdasarkan aksioma. 53 .pengertian struktur matematika yang sifatnya abstrak yang terdapat dalam konsep yang sedang dipelajari. 6. Permainan dengan Simbolisasi (Symbolization) Simbolisasi termasuk tahap belajar konsep yang membutuhkan kemampuan merumuskan representasi dari setiap konsep-konsep dengan menggunakan simbol matematika atau melalui perumusan verbal. dari kegiatan mencari banyaknya diagonal dengan pendekatan induktif tersebut. harus mampu merumuskan teorema dalam arti membuktikan teorema tersebut. Misalnya bilangan bulat dengan operasi penjumlahan peserta sifat-sifat tertutup. membentuk sebuah sistem matematika. Permainan dengan Formalisasi (Formalization) Formalisasi merupakan tahap belajar konsep yang terakhir. sebagai contoh siswa yang telah mengenal dasar-dasar dalam struktur matematika seperti aksioma. Dalam tahap ini siswa-siswa dituntut untuk mengurutkan sifat-sifat konsep dan kemudian merumuskan sifat-sifat baru konsep tersebut. Contohnya. Contoh kegiatan anak untuk menemukan banyaknya diagonal poligon (misal segi dua puluh tiga) dengan pendekatan induktif seperti berikut ini (gambar 2 5. komutatif. dalam arti membuktikan teorema tersebut. anak didik telah mengenal dasar -dasar dalam struktur matematika seperti aksioma. kegiatan berikutnya menentukan rumus banyaknya diagonal suatu poligon yang digeneralisasikan dari pola yang didapat anak. tetapi mereka sudah mempunyai pengetahuan tentang sistem yang berlaku dari pemahaman konsep-konsep yang terlibat satu sama lainnya. adanya elemen identitas. an mempunyai elemen invers. pada tahap formalisasi anak tidak hanya mampu merumuskan teorema serta membuktikannya secara deduktif. asosiatif. Sebagai contoh. Karso (1999:1.

Pada bagian tulusian ini. Jika hasil penjumlahan lebih dari 10. maka penjumlahan suku-sukunya dilakukan dengan teknik ―menyimpan‖ Permainan ―menyimpan dan menjumlahkan‖ berikut memberikan kemudahan mengajarkan operasi penjumlahan. Jika hasil penjumlahan kurang atau sama dengan 10. maka anak akan senang belajar matematika sehingga menjadi efektif untuk mendapatkan hasil belajar yang optimal. Sediakan kartu kecil merah untuk puluhan dan kartu kecil putih untuk satuan. jika guru dapat mengemas permainan sebagai media maupun pendekatan dalam belajar matematika bagi anak. akan dibahas permainan matematika pada topik bilangan dan topik geometri. Oleh karena itu. sehingga anak didik menjadi aktif dan senang dalam belajar. Mudah-mudahan melalui tulisan ini. 2. Permainan Operasi Hitung a. Langkah-langkah permainan: 1. 1 . 54 . Sediakan kantong kain/kantong plastik/kantong dari katon. maka penjumlahan dapat dilakukan secara langsung dengan cara menjumlahkan suku-sukunya.Permainan Interaktif untuk Belajar Matematika Permainan interaktif merupakan suatu permainan yang dikemas dalam pembelajaran. Permainan Operasi Penjumlahan Ada dua teknik menjumlahkan. Tujuan : Memperlihatkan menyimpan sekaligus bentuk nyata penjumlahan dengan teknik menjelaskan langkah-langkah sistematis penyelesaian kalimat penjumlahan. Anda akan dapat merancang bagaimana mengemas pembelajaran matematika melalui permainan.

Langlah-langkah permainan: 1. b. Selanjutnya. Mintalah anak menghitung total kartu merah.3. 6. Mintalah anak menjumlahkan hasilnya. Mintalah anak menyatukan 9 dan 7 buah kartu putih dan mintalah anak menghitung jumlahnya (jawaban : 16). Selanjutnya. Mintalah anak mengerjakan 19 + 27. Karena dipinjam 1 maka sisa kartu merah menjadi = 4. yaitu 20 + 9 = 29. yaitu 1 + 2 + 1 = 4. Mintalah anak menggantikan 10 kartu putih dari 16 kartu p utih dengan satu kartu merah. Mintalah anak untuk mengurangkan 57 – 28 2. Permainan Operasi Pengurangan Ikutilah permainan berikut ini untuk memudahkan anak belajar operasi pengurangan dengan teknik meminjam. 8. Perluas contoh permainannya sampai ke bilangan ratusan dan seterusny 55 . 4. 5. 4 – 2 = 2 (terangkan bahwa membacanya 20 karena nilainya puluhan) 3. 17 dikurangi 8 menghasilkan 9. 7. Permainan ―menukar dan mengurangkan‖ Tujuan: Memperlihatkan meminjam sekaligus bentuk nyata pengurangan dengan teknik memperlihatkan langkah-langkah sistematis penyelesaian kalimat pengurangan. Mintalah anak untuk menjumlahkan hasilnya. yaitu 40 + 6 = 46. Terangkanlah bahwa nilai empat kartu merah tersebut adalah 40. Mintalah anak memasukan kartu merah tersebut ke kantong puluhan dan masukan sisa 6 kartu putih ke kantongan satuan. Terangkan karena 7 tidak bisa dikurangi 8 maka ambil 1 kartu merah dan tukar dengan 10 kartu putih sehingga total kartu putih 7 + 10 = 17. 4.

misalnya 2 + 2+ 2 atau bentuk lain 3 x 2. 2. Perlihatkan 6 permen di tangan. Langkah-langkah permainan: 1. 56 . 3. yaitu 6. Permainan ―permen perkalian‖ Tujuan: Menjelaskan makna perkalian. Permainan Operasi Pembagian Permainan berikut ini mempermudah anak memahami operasi pembagian. 2. Tanyakan berapakah jumlah total permen yang telah diberikan kepada ketiga anak tersebut. Pada kalimat 3 x 2 = 6. Tanyakan berapa anakkahyang akan mendapat permen. sedangkan 6 merupakan hasil perkalian 2 dan 3. d. Berikan masing-masing 2 buah permen kepada 3 orang anak. Perkalian merupakan penjumlahan berulang. Permainan Operasi Perkalian Ikutilah permainan berikut ini untuk melatih anak belaj ar perkalian dan kelipatan. Terangkan bahwa hasilnya merupakan perkalian 2 dengan 3. Permainan ―permen pembagian‖ Tujuan : Menjelaskan makna pembagian Langkah-langkah: 1. Bagikan secara merata 3 permen – 3 permen kepada beberapa anak sampai permen habis. 3.c. 3 dan 2 disebut faktor dari 6.

Terangkan bahwa hasilnya merupakan pembagian 6 dengan 3. atau setidaknya menganggap bahwa judi itu tidak jelek. penguatan sebelumnya) 57 . yaitu 2. TEORI BANDURA Albert Bandura lahir tanggal 4 Desember 1925 di Mundare Alberta berkebangsaan Kanada. maka dia cenderung menyenangi judi. Tanamkanlah pada anak bahwa 6 : 3 = 6 – 3 – 3. D. nilai fungsi) dan karakteristik pengamat (kemampuan indera. keterlibatan perasaan. Faktor-faktor yang berproses dalam belajar observasi adalah 1. kelaziman. perilaku dan pengaruh lingkungan. Kondisi lingkungan sekitar individu sangat berpengaruh padapola belajar sosial ini. Ulangi permainan ―permen perkalian dan pembagian‖ ini sehingga anak mengerti betul makna perkalian dan pembagian serta hubungan keduanya dengan contoh lain. Ia seorang psikolog yang terkenal dengan teori belajar sosial atau kognitif sosial serta efikasi diri. persepsi. sikap orang lain sebagai model merupakan tindakan belajar. Perhatian (Attention). Menurut Bandura proses mengamati dan meniru perilaku. Eksperimennya yang sangat terkenal adalah eksperimen Bobo Doll yang menunjukkan anak meniru secara persis perilaku agresif dari orang dewasa disekitarnya. mencakup peristiwa peniruan (adanya kejelasan. 5. tingkat kerumitan. minat.4. Misalnya seorang yang hidupnya dan lingkungannya dibesarkan dilingkungan judi. Teori Bandura menjelaskan perilaku manusia dalam konteks interaksi timbal balik yang berkesinambungan antara kognitif.

Tingkat tertinggi belajar dari pengamatan diperoleh dengan cara mengorganisasikan sejak awal dan mengulangi perilaku secara simbolik kemudian melakukannya.langkah dia mungkin belum bisa melakukannya dengan lancar. Motivasi. mendapat bimbingan tentang perkara. Reproduksi motorik (Reproduction). Proses mengingat akan lebih baik dengan cara mengkodekan perilaku yang ditiru kedalam kata-kata. 2. Sebagai contoh: belajar gerakan tari dari instruktur membutuhkan pengamatan dari berbagai sudut yang dibantu cermin dan langsungditirukan oleh siswa pada saat itu juga. 58 . mencakup kode pengkodean simbolik. tanda atau gambar dari pada hanya observasi sederhana (hanya melihat saja). Kemudian proses meniru akan lebih terbantu jika gerakan tadi juga didukung dengan penayangan video. pengorganisasian pikiran. mencakup kemampuan fisik. Apabila seorang peserta didik tahu bagaimana suatu tingkah laku itu ditunjukkan dan mengingat cara-cara atau langkah.2. pengulangan simbol. kemampuan meniru. keakuratan umpan balik. gambar atau instruksi yang ditulis dalam buku panduan.perkara penting sebelum meleksanakan tingkah laku model. Peserta didik harus berupaya melakukan semua tingkah laku yang ditirunya. Penyimpanan atau proses mengingat (Retention). pengualangan motorik. Individu lebih menyukai perilaku yang ditiru jika sesuai dengan nilai yang dimilikinya. Di peringkat penghasilan latihan menjadikan tingkah laku lebih lancar dan mahir. 4. mencakup dorongan dari luar dan penghargaan terhadap diri sendiri (Motivation) Selain itu juga yang harus diperhatikan bahwa faktor model atau teladan mempunyai prinsip-prinsip sebagai berikut: 1. Tapi peserta didik itu memerlukan latihan yang banyak. 3.

Peristiwa sosial juga terjadi di lingkungan sekolah dan pendidikan pada umumnya. komunikasi. hal ini untuk mendorong konsumen agar membeli sabun supaya mempunyai kulit seperti para "bintang" atau minum obat masuk anginnya "orang pintar". Hanya dalam situasi sosial dan kemasyarakatanlah banyak terjadi belajar sosial. yakni untuk tujuan mempermudah terlaksananya proses belajar secara efektif. Proses belajar masih berpusat pada penguatan. Sebagai contoh: penerapan teori belajar sosial dalam iklan televisi.3. dengan prinsip modifikasi perilaku. Individu akan menyukai perilaku yang ditiru jika model atau panutan tersebut disukai dan dihargai serta perilakunya mempunyai nilai yang bermanfaat. Teori belajar dari Bandura ini tampaknya memang bisa berlaku umum dalam semua langkah pendidikan sosial. 59 . namun karena kondisinya yang umum tadi maka sulit dilaksanakan dalam sekolah-sekolah formal. hanya terjadi secara langsung dalam berinteraksi dengan lingkungannya. karena suasana dan kondisi yang sudah dirancang secara khusus untuk tujuan yang khusus pula. namun hal itu tentu saja sangat khusus dan terbatas. Teori Bandura menjadi dasar dari perilaku pemodelan yang digunakan dalam berbagai pendidikan secara massal. informasi dan instruksional. Teori belajar sosial dari Bandura ini merupakan gabungan antara teori belajar behavioristik dengan penguatan dan psikologi kognitif. sehingga metode belajar sosial dari Bandura ini agak sulit dilakukan. Iklan selalu menampilkan bintang-bintang yang popular dan disukai masyarakat.

Piaget adalah orang pertama yang menggunakan filsafat konstruktivis dalam proses belajar mengajar. 60 . sebagai berikut: 1. dan merupakan aktivitas mental. anak menyadari bahwa objek yang disembunyikan tadi masih ada dan ia akan mencarinya. anak itu tidak akan mencarinya lagi. 1981). Karateristik periode ini merupakan gerakan-gerakan sebagai akibat reaksi langsung dari rangsangan. Bila objek itu disembunyikan. bukan aktivitas sensori motor. Anak itu belum mempunyai kesadaran adanya konsep objek yang tetap. Namun karena pengalamannya terhadap lingkungannya. pada akhir periode ini. 2. berpendapat bahwa proses berpikir manusia merupakan suatu perkembangan yang bertahap dari berpikir intelektual kongkret ke abstrak berurutan melalui empat tahap perkembangan.Periode Pra-operasional (2 – 7) tahun. Rangsangan itu timbul karena anak melihat dan merab-raba objek. yaitu mengenai teori perkembangan intelektual. TEORI PIAGET Teori Perkembangan Intelektual Piaget Teori belajar Dienes sangat terkait dengan teori belajar yang dikemukakan oleh Piaget. Piaget (dalam Bell. Operasi yang dimaksud di sini adalah suatu proses berpikir atau logik. namun usia atau kronologis pada setiap orang yang memasuki setiap periode berpikir yang lebih tinggi berbeda-beda tergantung kepada masing-masing individu.E. Jean Piaget berpendapat bahwa proses berpikir manusia sebagai suatu perkembangan yang bertahap dari berpikir intelektual konkret ke abstrak berurutan melalui empat periode.Periode Sensori Motor (0 – 2) tahun. Urutan periode itu tetap bagi setiap orang.

Anak dapat membentuk variasi relasi kelas dan mengerti bahwa beberapa kelas dapat dimasukkan ke kelas lain. Operasi kongkret hanyalah menunjukkan kenyataan adanya hubungan dengan pengalaman empirik-kongkret yang lampau dan masih mendapat kesulitan dalam mengambil kesimpulan yang logis dari pengalaman -pengamanan yang khusus. Dalam periode operasi kongkret. Walaupun pada periode permulaan pra-operasional ini anak mampu menggunakan simbol-simbol. Pengalaam anak masih kongkret dan belum formal. Anak itu belum memperhitungkan semua kemungkinan dan kemudian mencoba menemukan kemungkinan yang mana yangk akan terjadi. Anak masih terikat kepada pegakaman prib adi. Dalam periode ini anak berpikirnya sudah dikatakan menjadi operasional. tetapi anak itu mulai memanipulasi simbol dari benda-benda sekitarnya. Pengerjaan-pengerjaaan logikd apat dilakukan dengan berorientasike objek-objek atau peristiwa-peristiwa yang langsung dialami anak.Pada periode ini anak di dalam berpikirnya tidak didasarkan kepada keputusan yang logis melainkan didasarkan kepada keputusan yang dapat dilihat seketika. Misalnya semua 61 . 3. Periode ini sering disebut juga periode pemberian simbol. karateristik berpikir anak adalah sebagai berikut: a. misalnya suatu benda diberi nama (simbol). Periode ini disebut operasi kongkret sebab berpikir logiknya didasarkan atas manipulasi fisik dari objek-objek. Kombinasivitas atau klasifikasi adalah suatu operasi dua kelas atau lebih yang dikombinasikan ke dalam suatu kelas yan g lebih besar.Periode operasi kongkret (7 – 12) tahun. Pada periode ini anak terpaku kepada kontak langsung dengan lingkungannya. ia masih sulit melihat hubungan-hubungan dan mengambil kesimpulan secara taat asas.

62 . berlaku hukum asosiatif terhadap penjumlahan. 5 + ? = 9 sama dengan 9 – 5 = ? Reversibilitas ini merupakan karakteristik utama untuk berpikir operasional di dalam teori Piaget. Anak pada periode ini dilandasi oleh observasi dari pengalaman dengan objek nyata. Kesadaran adanya prinsip-prinsip konservasi. Namun prinsip konservasi yang dimilikianak pada periode ini masih belum penuh. unsur nol adalh 0 sehingga 8 + 0 = 8. e. Konservasi berkenaan dengan kesadaran bahwa satu aspek dari benda. misalnya 4 – 4 = 0. b. tetapi ia sudah mulai menggeneralisasi objek-objek tadi. Identitas adalah suatu operasi yang menunjukkan adanya unsur nol yang bila dikombinasikan dengan unsur atau kelas hasilnya tidak berubah. Asosiasivitas adalah suatu operasi terhadap beberapa kelas yang dikombinasikan menurut sebarang urutan. f. d. c.manusia lelaki dan semua manusia wanita adalah semua manusia. Misalnya. Reversibilitas adalah operasi kebalikan. Demikian juga suatu jumlah dapat dinolkan dengan mengkombinasikan lawannya.dalam himpunan bilangan bulat dengan operasi ‖+‖. Misalnya unsur dari suatu himpunan berkawan dengan satu unsur dari himpunan kedua dan sebaliknya. tetap sama sementara itu aspek lainnya berubah. Misalnya. Misalnya himpunan bilangan bulat. Hubungan A > B dan B > C menjadi A > C. Korespondensi satu – satu antara objek-objek dari dua kelas. Setiap operasi logik atau matematik dapat dikerjakan dengan operasi kebalikan. operasi ‖+‖.

Ia mampu menggunakan prosedur seorang ilmuwan. Konsep konservasi telah tercapai sepenuhnya. Adapun akomodasi adalah proses menstrukturkan kembali mental sebagai akibat adanya informasi dan pengalaman baru tadi. Periode operasi formal ini disebut juga disebut periode operasi hipotetik-deduktif yang merupakan tahap tertinggi dari perkmbangan intelektual. artinya bila anak dihadapkan kepada suatu masalah. faktor-faktor menuju penyelesaian Asimilasi adalah proses mendapatkan informasi dan pengalaman baru yang langsung menyatu dengan struktur mental yang sudah dimiliki seseorang.Anak sudah mampu menggunakan hubungan-hubungan di antara objek-objek apabila ternyata manipulasi objek-objek tidak memungkinkan. Anak telah mampu melihat hubungan hubungan abstrak dan menggunakan proposisi-proposisi logik-formal termasuk aksioma dan definisi. Periode ini merupakan tahap terakhir dari keempat periode perkembangan intelektual. Anak-anak pada periode ini sudah memberikan alasan dengan menggunakan lebih banyak simbul atau gagasan dalam cara berpikir. Kemudian kepada peserta 63 . Anak mampu menyelesaikan masalah dengan cara yang lebih baik dan kompleks dari pada anak yang masih dalam tahap periode operasi kongkre t. ia dapat mengisolasi itu faktor-faktor sehingga tersendiri atau mengkombinasikan masalah tadi.definisi verbal. Jadi. yaitu menggunakan posedur hipotetik-deduktif.Periode Operasi Formal (> 12) tahun. tetapi juga terjadi penstrukturan kembali informasi dan pengalaman lainnya untuk mengakomodasikan informasi dan pengalaman yang baru. Anak sudah dapat mengoperasikan argumen-argumen tanpa dikaitkan dengan benda-benda empirik. Misalnya di dalam struktur mental peserta didik telah ada pengorganisasian dan pengelompokan bentuk-bentuk bujur sangkar. segi panjang dan parallelogram sebagai segi empat. belajar itu tidak hanya menerima informasi dan pengalaman baru saja. Anak juga sudah dapat berpikir kombinatorik.4.

c. Sebagai hasil dari penyetimbangan itu. b. Perkembangan intelektual itu dipengaruhi oleh tiga factor berikut : a. 64 . Hal ini amat penting bagi perkembangan mental anak. Piaget percaya bahwa operasi formal tidak akan berkembang di dalam pikiran tanpa adanya pertukaran dan koordinasi pendapat di antara orang-orang. struktur mental berkembang dan menjadi matang. pengalaman logika-matematika yang berupa kegiatan mental yang ditampilkan individu dan struktur kognitifnya diorganisasikan menurut pengalamannya. Kematangan merupakan proses pertumbuhan psikologis dari otak dan sistem syaraf. Pengalaman juga mempunyai andil dalam pengembangan intelektual. Transmisi social merupakan interaksi dan kerja sama seseorang dengan orang lain atau dengan lingkungannya. pengalaman fisik yang berupa interaksi setiap individu dengan objek-objek di lingkungannya: yang kedua. Ini berarti terjadinya akomodasi. Pengalaman yang dimaksud ada dua macam/. Peristiwa itu juga berarti terjadinya penstrukturan kembali kognitif yang telah dimiliki oleh peserta didik karena datangnya informasi baru tentang trapesium tadi. yaitu yang pertama.didik itu diberikan lagi bentuk trapesium. Ketiga factor itu harus ada agar seseorang berkembang dari satu periode ke periode berpikir yang lebih tinggi. Ini berarti peserta didik tersebut menyatukan objek baru itu ke dalam struktur kognitif yang sudah dimiliki dan terjadilah proses asimilasi. Peserta didik itu me ngerti bahwa trapezium itupun merupakan segi empat dengan sifat yang sedikit berbeda dengan bentuk-bentuk yang telah dipelajari sebelumnya. Penyetimbangan (equilibration) merupakan proses adanya kehilangan stabilitas di dalam struktur mental sebagai akibat pengalaman dan informasi baru dan kembali setimbang melalui proses asimilasi dan akomodasi.

Proses penyetimbangan juga terjadi dalam belajar. Misalnya seseorang mendapat gagasan yang tidak terorganisasikan melalui kontak social atau pengalaman dari lingkungan, tetapi butir-butir itu terdapat perbedaan, perbedaan ini harus menjadi harmonis. Maka terjadilah proses penyetimbangan itu (logika matematika). Perkembangan Intelektual Anak dalam Belajar

Menurut Ruseffendi (1992), untuk dapat mengajarkan konsep matematika pada anak dengan baik dan mudah dimengerti, maka materi yang akan disampaikan hendaknya diberikan pada anak yang sudah siap intelektualnya untuk menerima materi tersebut. Contoh, meskipun anak berumur 3 tahun sudah dapat menghitung angka 1 –10, tetapi dia belum mengerti bilangan 1, 2, dan seterusnya. Oleh karena itu, dia akan kesulit an jika harus belajar tentang bilangan. Agar anak dapat mengerti materi matematika yang dipelajari, maka dia harus sudah siap menerima materi tersebut, artinya anak sudah mempunyai hukum kekekalan dari jenjang materi matematika yang dipelajari. Menurut piaget (dalam Ruseffendi; 1992), ada enam tahap dalam perkembangan belajar anak yang disebut dengan hukum kekekalan, sebagai berikut: 1. Hukum Kekekalan Bilangan (6 – 7 tahun) Anak yang telah memahami hukum kekekalan bilangan akan mengerti bahwa banyaknya suatu benda-benda akan tetap meskipun letaknya berbeda-beda atau diubah letaknya. Anak yang sudah memahami hukum kekekalan bilangan sudah siap untuk menerima pelajaran konsep bilangan dan operasinya. Sementara itu, anak yang belum memahami hukum kekekalan bilangan baginya belum waktunya mendapatkan

65

pelajaran operasi penjumlahan dan operasi hitung lainnya. Hukum kekekalan bilangan biasanya dipahami anak pada usia 6 – 7 tahun. 2. Hukum Kekekalan Materi ( 7 – 8 tahun) Anak yang sudah memahami hukum kekekalan materi atau zat akan mengatakan bahwa materi atau zat akan tetap sama banyaknya meskipun diubah bentuknya atau dipindah tempatnya. Sedangkan anak yang belum memahami hukum kekekalan materi akan mengatakan, bahwa air pada dua mangkok yang berbeda besarnya menjadi tidak sama, meskipun anak tersebut tahu bahwa air itu dituangkan dari dua bejana yang sama besar dan sama banyaknya. Anak yang belum memahami hukum kekekalan materi belum dapat melihat persamaan atau perbedaan dari satu sudut pandang saja. Contohnya, anak yang sudah dapat membedakan bilangan ganjil dan genap, bilangan kelipatan 3 dan bukan kelipatan 3, dan sebagainya. Masih akan kesulitan jika disuruh menentukan bilangan prima genap, atau bilangan genap kelipatan lima, dan sebagainya. Pada umumnya, anak memahami hukum kekekalan materi pada usia sekitar 7 – 8 tahun. 3. Hukum Kekekalan Panjang (8 - 9 tahun) Anak yang telah memahami hukum kekekalan panjang akan mengatakan bahwa panjang tali akan tetap meskipun tali itu

dilengkungkan. Sedangkan anak yang belum memahami hukum kekekalan panjang akan mengatakan bahwa dua utas tali yang tadinya sama panjang waktu direntangkan, menjadi tidak sama panjang bila yang satunya dilengkungkan sedangkan yang satunya lagi tidak. Anak yang belum memahami hukum kekekalan panjang akan memperoleh kesulitan dalam mempelajari konsep pengukuran, terutama pengukuran panjang benda -

66

benda yang tidak lurus. Hukum kekekalan panjang biasanya dipahami oleh anak pada usia sekitar 8 - 9 tahun. 4. Hukum Kekekalan Luas (8 – 9 tahun) Hukum kakakalan luas biasanya dipahami anak bersamaan dengan hukum kekekalan panjang, yaitu pada usia sekitar 8 - 9 tahun. Anak yang sudah memahami hukum kekekalan luas akan memahami bahwa luas daerah yang ditutupi suatu benda akan tetap sama meskipun letak bendanya diubah. Sedangkan anak yang belum memahami hukum kekekalan luas cenderung mengatakan bahwa luas daerah yang ditutupi 4 persegi kongruen yang diletakkan tersebar (tidak berimpit) lebih luas dari pada daerah yang ditutupi oleh 4 persegi kongruen yang diletakkan berimpitan. Anak yang belum memahami hukum kekekalan luas akan kesulitan belajar luasan suatu daerah. Misalnya, dalam menemukan rumus luas jajarangenjang yang diturunkan dari rumus luas persegi panjan g. 5. Hukum Kekekalan Berat (9 – 10 tahun) Hukum kekekalan berat menyatakan bahwa berat suatu benda akan tetap meskipun bentuk, tempat, dan atau penimbangan benda tersebut berbeda. Pada umumnya anak akan memahami hukum kekekalan berat setelah berusia sekitar 9 – 10 tahun 6. Hukum Kekekalan Isi (14 – 15 tahun) Hukum kekekalan isi menyatakan bahwa jika pada suatu bak atau bejana yang penuh dengan air dimasukan suatu benda, maka air yang ditumpahkan dari bak atau bejana tersebut sama dengan isi benda yang dimasukannya. Pada umumnya anak akan memahami hukum kekekalan isi pada usia sekitar 14 – 15 tahun atau mungkin sebelumnya. Untuk hukum kekekalan isi, karena pada umumnya belum dipahami pada anak SD, maka tidak dibahas lebih lanjut, dalam bahan ajar ini

67

 Kurt Lewin (1890-1947) Pandangan Gestalt diaplikasikan dalam field psychology dari Kurt Lewin. Teori gestalt beroposisi terhadap teori strukturalisme. 68 . Wertheimer menunjuk pada proses interpretasi dari sensasi obyektif yang kita terima. Bersama-sama dengan Wolfgang Koehler (1887-1967) dan Kurt Koffka (1887-1941) melakukan eksperimen yang akhirnya menelurkan ide Gestalt. tetapi proses mental. Proses ini terjadi di otak dan sama sekali bukan proses fisik. Lewin adalah salah seorang ahli yang sangat kuat menganjurkan pemahaman tentang lapangan psikologis seseorang. Tahun 1910 ia mengajar di Univeristy of Frankfurt bersama-sama dengan Koehler dan Koffka yang saat itu sudah menjadi asisten di sana. Teori gestalt cenderung berupaya mengurangi pembagian sensasi menjadi bagian-bagian kecil.  Max Wertheimer (1880-1943) Belajar pada Kuelpe. Konsep pentingnya : phi phenomenon (bergeraknya obyek statis menjadi rangkaian gerakan yang dinamis setelah dimunculkan dalam waktu singkat dan dengan demikian memungkinkan manusia melakukan interpretasi). Dengan pernyataan ini ia menentang pendapat Wundt yang menunjuk pada proses fisik sebagai penjelasan phi phenomenon. seorang tokoh aliran Wuerzburg. ataupun kemiripan menjadi kesatuan. Dengan konsep ini. TEORI GESTALT Tokoh Gestalt Gestalt adalah sebuah teori yang menjelaskan proses persepsi melalui pengorganisasian komponen-komponen sensasi yang memiliki hubungan.F. pola.

yaitu lapangan psikologis tempat individu berada dan bergerak. Prinsip-prinsip pengorganisasian:  Principle of Proximity: bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertentu. Interaksi antara individu dan lingkungan disebut sebagai perceptual field. Setiap perceptual field memiliki organisasi.Konsep utama Lewin adalah Life Space. potongan. Gerakan individu mencapai tujuan (goal) disebut locomotion. Pengorganisasian ini mempengaruhi makna yang dibentuk. warnadan 69 . 2. Lapangan psikologis ini terdiri dari fakta dan obyek psikologis yang bermakna dan menentukan perilaku individu (B=f L). bukan skill yang dipelajari. yang cenderung dipersepsikan oleh manusia sebagai figure and ground. Tugas utama psikologi adalah meramalkan perilaku individu berdasarkan semua fakta psikologis yang eksis dalam lapangan psikologisnya pada waktu tertentu .  Principle of Figure and Ground: yaitu menganggap bahwa setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar belakang. Oleh karena itu kemampuan persepsi ini merupakan fungsi bawaan manusia.  Principle of Similarity: bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang berada dalam arah yang sama cenderung akan dipersepsi sebagi suatu figure atau bentuk tertentu.    Principle of Objective Set: Organisasi berdasarkan mental set yang sudah terbentuk sebelumnya Principle of Continuity: Organisasi berdasarkan kesinambungan pola Principle of Closure/ Principle of Good Form: bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap. Penampilan suatu obyek seperti ukuran. Prinsip dasar Gestalt 1.

Apabila individu mengalami proses belajar. Contoh: perubahan nada tidak akan merubah persepsi tentang melodi. Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain : a. guru hendaknya menyadari tujuan 70 . c.sebagainya membedakan figure dari latar belakang. Perilaku bertujuan (pusposive behavior). b. Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya. Pengalaman tilikan (insight). terjadi reorganisasi dalam perceptual fieldnya. Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari. kebermaknaan unsurunsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu. seseorang dapat memiliki cara pandang baru terhadap suatu problem. Dalam proses pembelajaran.  Principle of Isomorphism: Organisasi berdasarkan konteks. tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. Setelah proses belajar terjadi. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah. khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. Aplikasi prinsip Gestalt Proses belajar adalah fenomena kognitif. hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa. Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning). bahwa perilaku terarah pada tujuan. makaakan terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figure. bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. Bila figure dan latar bersifat samar-samar. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons.

Setelah adanya pengalaman insight. Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). e.sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya. guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya. individu mampu menerapkannya pada problem sejenis tanpa perlu melalui proses trial-error lagi. transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat. materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik. Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain.  Memory Hasil persepsi terhadap obyek meninggalkan jejak ingatan. ditemukan oleh Koehler dalam eksperimen yang sistematis. yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain.  Insight Pemecahan masalah secara jitu yang muncul setelah adanya proses pengujian berbagai dugaan/kemungkinan. Menurut pandangan Gestalt. bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. Prinsip ruang hidup (life space). Transfer dalam Belajar. Oleh karena itu. d. Dengan berjalannya waktu. Oleh karena itu. Penerapan Prinsip of Good 71 . jejak ingatan ini akan berubah pula sejalan dengan prinsip-prinsip organisasional terhadap obyek. Konsep insight ini adalah fenomena penting dalam belajar.

Demonstrasinya mengenai peranan latar belakang dan organisasinya terhadap proses-proses yang diamati secara fenomenal demikian meyakinkan sehingga boleh dikatakan tidak dapat di bantah. Implikasi Gestalt  Pendekatan fenomenologis menjadi salah satu pendekatan yang eksis di psikologi dan dengan pendekatan ini para tokoh Gestalt menunjukkan bahwa studi psikologi dapat mempelajari higher mental process. berfokus pada higher mental process.Form seringkali muncul dan terbukti secara eksperimental.  Pandangan Gestalt menyempurnakan aliran behaviorisme dengan menyumbangkan ide untuk menggali proses belajar kognitif. Adanya perceptual field diinterpretasikan menjadi lapangan kognitif dimana proses-proses mental seperti persepsi. Keseluruhan ini memberikan beberapa prinsip belajar yang penting. namun tetap dapat mempertahankan aspek ilmiah dan empirisnya. fenomena ini juga menjelaskan pengaruh gosip/rumor. Manusia bereaksi dengan lingkungannya secara keseluruhan. insight. tidak hanya secara intelektual. Psikologi Gestalt bermula pada lapangan pengamatan (persepsi) dan mencapai sukses yang terbesar juga dalam lapangan ini. Tokoh: Tolman dan Koehler. sosial dan sebagainya 2. Secara sosial. antara lain : 1. 72 . tetapi juga secara fisik.dan problem solving beroperasi. Belajar adalah penyesuaian diri dengan lingkungan. emosional. Ada beberapa hal yang patut dicatat sebagai implikasi dari aliran Gestalt. yang selama ini dihindari karena abstrak.

motivasi memberi dorongan yang mengerakan seluruh organisme. 3. Jadi harus memahami apa masalahnya dan juga harus dapat merumuskan. Belajar memecahkan masalah diperlukan suatu pengamatan secara cermat dan lengkap. Tidak mungkin ada belajar tanpa ada kemauan untuk belajar. lengkap dengan segala aspek-aspeknya. Hal ini nampaknya juga relevan dengan konsep teori belajar yang diawali dengan suatu pengamatan. demikian pula pengalaman manusia tidak dapat dipersepsi sebagai sesuatu yang terisolasi dari lingkungannya. Belajar hanya berhasil. sebagai suatu jalan yang mungkin memberi arah pemecahan masalah. Mengajukan hipotesa. apabila tercapai kematangan untuk memperoleh insight. 8. Belajar adalah perkembangan kearah diferensiasi ynag lebih luas.3. Belajar sangat menguntungkan untuk kegiatan memecahkan masalah. dengan bacaan atau sumber-sumber lain. 2. 4. Dengan 73 . 5. Menilai dan mencoba usaha pembuktian hipotesa dengan keteranganketerangan yang diperoleh. bukan ibarat suatu bejana yang diisi. Dewey ada 5 upaya pemecahannya yakni: 1. membuat laporan atau membuat sesuatu dengan hasil pemecahan soal itu. Belajar akan berhasil kalau ada tujuan. Teori medan ini mengibaratkan pengalaman manusia sebagai lagu atau melodi yang lebih daripada kumpulan not. Mengambil kesimpulan. Kemudian bagaimana seseorang itu dapat memecahkan masalah menurut J. Manusia berkembang sebagai keseluruhan sejak dari kecil sampai dewasa. Belajar merupakan suatu proses bila seseorang itu aktif. 7. 5. Realisasi adanya masalah. Mengumpulkan data atau informasi. 6. 4.

Dengan memahami bagian / detail. anjing. maka persepsi awal akan keseluruhan objek yang semula masih agak kabur menjadi semakin jelas. S2 dari Harvard tahun 1896 dan meraih gelar doktor di Columbia tahun 1898. Buku ini yang merupakan hasil penelitian Thorndike terhadap tingkah beberapa jenis hewan seperti kucing. G. Thorndike berprofesi sebagai seorang pendidik dan psikolog yang berkebangsaan Amerika. Belajar bukan merupakan penjumalahan (aditif). dan master dari Hardvard pada tahun 1897. Edward lee thorndike meski secara teknis seorang fungsionalis. kemudian dia tinggal dan mengajar di Colombia sampai pension pada tahun 1940. Mental and social Measurements (1904).yang mencerminkan prinsip dasar dari proses belajar yang dianut oleh Thorndike yaitu bahwa dasar dari belajar (learning) tidak laian 74 . Thorndike (1874-1949) mendapat gelar sarjananya dari Wesleyan University di Connecticut pada tahun 1895.dia menerima bea siswa di Colombia. Animal Intelligence (1911). Buku-buku yang ditulisnya antara lain Educational Psychology (1903). An experimental study of associationprocess in Animal”.Your City (1939). dan Human Nature and The Social Order (1940). lambat laun terjadi proses diferensiasi.kata lain berbeda dengan teori asosiasi maka toeri medan ini melihat makna dari suatu fenomena yang relatif terhadap lingkungannya . TEORI THORNDIKE Biografi Edward Lee Thorndike. dan mendapatkan gelar PhD-nya tahun 1898. yakni menangkap bagian bagian dan detail suatu objek pengalaman. dan burung. dia mengikuti kelasnya Williyams James dan merekapun cepat menjadi akrab. Ateacher’s Word Book (1921). sebaliknya belajar mulai dengan mempersepsi keseluruhan. Dan dia menerbitkan suatu buku yang berjudul ―Animal intelligence. namun ia telah membentuk tahapan behaviorisme Rusia dalam versi Amerika. Lulus S1 dari Universitas Wesleyen tahun 1895. ketika disana.

pendidikan dan pengajaran di amerika serikat di dominasi oleh pengaruh dari Thorndike (1874-1949) teori belajar Thorndike di sebut ― Connectionism‖ karena belajar merupakan proses pembentukan koneksi-koneksi antara stimulus dan respon. Objek penelitian di hadapkan kepada situasi baru yang belum dikenal dan membiarkan objek melakukan berbagai pada aktivitas untuk merespon situasi itu. maka pada saat menghadai masalah yang serupa. Teori ini disebutdengan teori S-R. Seekor kucing misalnya. Berdasarkan pengalaman itulah . organisme sudah tahu tingkah laku mana yang harus di keleluarkan nya untuk memecahkan masalah. meloncat. pertama kali organisme (Hewan. Orang) belajar dengan cara coba salah (Trial end error). Sejak itu. 75 . maka organisme itu akan mengeluarkan serentakan tingkah laku dari kumpulan tingkah laku yang ada padanya untuk memecahkan masalah itu. yang di masukkan dalam kandang yang terkunci akan bergerak. Ia mengasosiasikan suatu masalah tertentu dengan suatu tingkah laku tertentu. mencakar dan sebagainya sampai suatu saat secara kebetulan ia menginjak suatu pedal dalam kandang itu sehingga kandang itu terbuka. dan tingkah laku anak-anak dan orang dewasa. Thorndike mendasarkan teorinya atas hasil-hasil penelitiannya terhadap tingkah laku beberapa binatang antara lain kucing. Kalau organisme berada dalam suatu situasi yang mengandung masalah. Teori ini sering juga disebut ―Trial and error‖ dlam rangkan menilai respon yang terdapat bagi stimulus tertentu. kucing akan langsung menginjak pedal kalau ia dimasukkan dalam kandag yang sama. Teori Edward Lee Thorndike. suatu stimulum akan menimbulkan suatu respon tertentu. dalam teori S-R di katakana bahwa dalam proses belajar.sebenaranya adalah asosiasi. berjalan. dalam hal ini objek mencoba berbagai cara bereaksi sehingga menemukan keberhasilan dalam membuat koneksi sesuatu reaksi dengan stimulasinya. Pada mulanya.

setelah ia kerjakan. Konkretnya adalah sebagai berikut: Misalkan seorang siswa diminta untuk menyelesaikan suatu soal matematika. Hukum latihan (law of exercise). Jadi. Hukum akibat (law of effect). suatu tindakan yang diikuti akibat yang menyenangkan. misalnya kesiapan belajar membaca. maka kepuasan akan tercapai dan asosiasi akan diperkuat. Hukum ini dapat juga diartikan. 3. Interpretasi dari hukum ini adalah semakin sering suatu pengetahuan—yang telah terbentuk akibat terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon—dilatih (digunakan). Ada motif pendorong aktivitas 2. maka ia merasa senang/puas dan akibatnya antara soal dan jawabannya yang benar itu akan kuat tersimpan dalam ingatannya. Isi teori ini sangat berorientasi pada fisiologis 2. Hal ini berarti (idealnya). maka ikatan tersebut akan semakin kuat.T 1. maka tindakan 76 . Semakin sering suatu materi pelajaran diulangi maka materi pelajaran tersebut akan semakin kuat tersimpan dalam ingatan (memori). Hukum-hukum yang digunakan Edward L. yaitu apabila asosiasi yang terbentuk antara stimulus dan respon diikuti oleh suatu kepuasan maka asosiasi akan semakin meningkat. yaitu apabila ikatan antara stimulus dan respon lebih sering terjadi. jika suatu respon yang diberikan oleh seseorang terhadap suatu stimulus adalah benar dan ia mengetahuinya.Ciri-ciri belajar dengan trial and error : 1. hukum ini menunjukkan prinsip utama belajar adalah pengulangan. ternyata jawabannya benar. Hukum kesiapan (Law of Readiness) : adanya kematangan fisiologis untuk proses belajar tertentu. maka ikatan itu akan terbentuk semakin kuat. ada aliminasi respon-respon yang gagal atau salah 4. ada berbagai respon terhadap situasi 3. ada kemajuan reaksi-reaksi mencapai tujuan dari penelitiannya itu.

Selain hukum-hukum di atas. 77 . perkalian. Jadi. pengurangan. suatu tindakan yang diikuti akibat yang tidak menyenangkan. dapat disimpulkan bahwa transfer belajar dapat tercapai dengan sering melakukan latihan. kemapuan melakukan operasi aritmetik (penjumlahan. maka tindakan tersebut cenderung akan tidak diulangi pada waktu yang lain. Misalnya. Thorndike juga mengemukakan konsep transfer belajar yang disebutnya transfer of training. Sebaliknya. Ganjaran yang diberikan guru kepada pekerjaan siswa (misalnya pujian guru terhadap siswa yang dapat menyelesaikan soal matematika dengan baik) menyebabkan peserta didik ingin terus melakukan kegiatan serupa. Dalam hal ini. Dengan demikian kemampuan mengerjakan operasi aritmetika tersebut menjadi mantap dalam pikiran siswa. Unsur-unsur yang identik itu saling berasosiasi sehingga memungkinkan masalah yang dihadapi dapat diselesaikan. Selanjutnya. sering terjadi. tampak bahwa hukum akibat tersebut ada hubungannya dengan pengaruh ganjaran dan hukuman. ada unsur-unsur dalam masalah itu yang identik dengan unsur-unsur pengetahuan yang telah dimiliki.tersebut cenderung akan diulangi pada waktu yang lain. haruslah dilatih terus dengan mengerjakan soal-soal yang berikaitan dengan operasi aritmetik. Namun perlu diingat. Konsep ini maksudnya adalah penggunaan pengetahuan yang telah dimiliki siswa untuk menyelesaikan suatu masalah baru. setiap kemampuan harus dilatih secara efektif dan dikaitkan dengan kemampuan lain. bahwa hukuman yang diberikan guru atas pekerjaan siswa justru membuat siswa menjadi malas belajar dan bahkan membenci pelajaran matematika. dan pembagian) yang telah dimiliki siswa. Sedangkan hukuman yang diberikan guru atas pekerjaan siswa (misalnya celaan guru terhadap hasil pekerjaan matematika siswa) menyebakan siswa tidak lagi mengulangi kesalahannya. Unsur-unsur yang saling berasosiasi itu membentuk satu ikatan sehingga menggambarkan suatu kemampuan. karena di dalam setiap masalah.

Mengajar bukanlah mengharapkan murid tahu apa yang diajarkan.Aplikasi teori Thorndike dalam dunia pendidikan dan pengajaran Aplikasi Teori Thorndike dalam dunia pendidikan dan pengajaran Menurut Thorndike praktek pendidikan harus dipelajari secara ilmiah dan praktek pendidikan harus dihubungkan dengan proses belajar. Beberapa aturan yang dibuat Thorndike berhubungan dengan pengajaran:  Perhatikan situasi peserta didik  Perhatikan respons yang diharapkan dari situasi tersebut  Ciptakan hubungan respons tersebut terjadi dengan sengaja. respons yang akan diharapkan dan tahu kapan ―hadiah‖ selayaknya diberikan kepada peserta didik. Mengajar yang baik adalah : tahu tujuan pendidikan. tahu apa yang hendak diajarkan artinya tahu materi apa yang harus diberikan.  Buat hubungan sedemikian rupa sehingga menghasilkan perbuatan nyata dari peserta didik  Bila hendak menciptakan hubungan tertentu jangan membuat hubunganhubungan lain yang sejenis  Ciptakan suasana belajar sedemikian rupa sehingga dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari 78 . jangan mengharapkan hubungan dengan sendirinya. Situasi-situasi yang sama jangan diindahkan sekiranya memutuskan hubungan tersebut.

79 .

7: .8472.07-.3. 2. 80-.3 /.3.3 503.3 31472. 907.5:3 .3 897:9:7 2039. .8 43709  43805 43807.9 -0757 42-3..3 /03.7:  8.2 80-.947  . /...8.3 .3 -039: -039: -::7 8.25: 20.  3. /. .3 5480/:7 54909 /0/:91  3.947 907803/7 .9.: 20342-3.3 :-:3..3 503.2..8: .25: 203008. /2 808047.3 5745488 5745488 4 1472.8.9.8 /.  3.3.9: /03. // 90.3 / . 31472..424/.2./03./. 31472.3.. .3 8:/...5.3 5.3 31472.7: 8.3 /.3 05.33.5.9./  -0. ./  .2.25: 203:3.3 05./. 9073.3 -.3 -03/.3 /0138  /0138 . /80-:9 5074/0 4507.82-:.3 .047.947 1..8 . :39: 203.342508 /..35:. 4-0 4-0 .424/. 3 /80-:9 :. 574808 203/.2 897:9:7 2039. .3 1. 9072.7 5.3  3.7:203 9.   ...7  80 5.  909.8 /.8 54909 /0/:91 .2.3  .30--.9  02:/. 80 025.3 .3. 8:.947 9: 803. 203072. 0257  .. 2. 3.8 /. 31472.8 1.3 /.  !074/0 4507. /.25: 203:3.3.8 /.3. 2../.-. 80503:3.:3  !074/0 3 207:5..8 . -0757  3.8./.9: 2.3 57480/:7 8047.38:3 203.7..30--.. !074/0 507./ 503897:9:7.. 50347. 202-07. 508079. 2.9 5074/0 50702-.3 9.7:203 .3.3 207:5.. 8:/. :.3 503.3 50304254.7 9: 9/.3 503..3.3 2.8.2 9.947 1. /.3 2../.9: 203:3../.9 .3 203:3. 907.8. -03/.7.3 .3 39009:.5 :.9.3 02-. 3 2.3.35..5.. /.3 :-:3. 574808 203897:9:7. 5074/0 3 8:/.9.:./.9 :-:3.3 2:.5./.3.3. 508079..3 39009:.3 02-.5 5074/0 4507. 90./.38.. .3 -.7.842.3 -. 202:33.5.3 503..3 9. 2039.9 2034507.9.8 4-0 4-0 9/..  .2. / /. . 5.7 0025..5. 203:: 503008.5 90793 /..9 20384.3 .8.-..3 .7: 9.3 203:3.8.8 90. 8:/.8 1472.8 /..39. .8.793.3 -.5 907. 8:/./. -.7 5072-.3  /..7 /.. /.2.5. /./  82.-897.8.8 /.3 :-:3..7.  9.3 /03. 2.

9 .3 4-0-.3.8-.  !03.2.397.7 80-0:23.7:9039.79 907.2.8  !0702-..3 207:5.//.79508079.3 907.. 97.9.3 80 025.3 39009:.3 8:/.3/ /.2. /:..7:9:0 /./  3-07.3 -039: -039: .3 .33.703.3.947-07:9 .3 574808 5079:2-:. /2 /.50:2 9:5:3 207:5.7 49.3 02-. 2.. 574808 .9:/503..1  !03.7./.7:409.2 50302-.424/.3 81. 9: :.3 90..79907.82.31472. 4391 ./..508:2  !08079.3 . /03. -07.3 80/9 -07-0/.3. /.2897:9:7 4391 .3 /2.3 :. -039: 97. /50..8:/ ..9./3.. /2 40508079..9:.339009:.3 58448 /. 2025:3. .508:29.. // 9: 203079 -./.3 90.  3 -07. 503897:9:7.3 88902 8./3.9 /03.// 9: /-07.  02.1.8  !0789.//90780-:9 203.

3..2.947 9: . .424/.5. .3 0/:.7503092-.3.8 809.8/..-9.7 8.3.-0702-.3 5079.3 18 .. .47.. 3907..3   09./.3. .. 5079:.3 20.33.2.3. 8092-. 8.25..9.82.  503..3  .9.3. 207:5.8503/.3.7: /. . 80-.3.38.3/.8 -.3 07.8/.3 /03.5 3/./: /03.8 /.3 9: 897:9:72039. 0.3 /9.9.9.:/03. 1.3 9.-.7.3 2039.2.8 / /.3 2039.3 47.33./2. .35.943  207:5.3.3828 84..3 /. 50702-.3 31472.7.. .2.3 4.8 1472.  !03092-.3 / /.3.3 89.9 503.  503.3 -07:5.. . /47././.  !. 0.7:8 ..8.3 3907. .347.3447/3.3 02-.9: .902..  -  %7. 9/.39.2.3 4-0 4-0 / 3:3. 4507.30-93    . .3 -07:5. -.3203. .2.3 -0702-.2 57.8 $0-.2 897:9:7 2039.9/.3 -0702-.33:3.09 507.3 897:9:7 43913..3 3/.3 /.3 06:-7.9: 5074/005074/0-0757..950393 -.3. 2. 808047.7 808047./: /..33.: 574808.2.3203:7:9503..3/.3 574808 .

.3  9.3 03/. 90747.3 909.. .. 50.!74808 503092-.3 /./.3.9 .3.380907:83.9072.3.5.3 -0:2 202.. 8. -03/. 2025:3./.92030792.902.3 :.3. .3 203/. 907.902.3.3 .3 /50.9 203.3.7:8 203. 574808 503092-.2 50702-..39: 4./ . ::2 00.38.3.3 8:/.5.25.5.5 2085:3 09...3 /8.5 :39: 203072. .8. 03.  0.3. /. 8.5 /.../.../.8.907 .. 2.3  507-0/. 84.7 03...2. 202.3 20.3 .: /:-. -.3  /.902.3 .3 -0.7. 2.3 4507. .3  80-.3.3 5.3 43805 -.3 ::2 00. 9:  . . 202.. -0/.:3  3.902.09 /.. :39: 203072..7:8 8:/.7.3 -..7  8.  $02039.3 /.83..3...9.5 -:97 -:97 9: 907/.5.3 -. /.. -0:2 203079-.3.7  03:7:9 #:801103/   :39: /.3 2.9..793. -0:2 .3 8:/. . .2 9.3   .9.9.... /.9.3 /80-:9 /03.3.3.7.3.3 43805 2. 907..5..9. /203079  2..3... /-07.907 90780-:9  .3.9 2039:3 . 8:/. 8:.    909.20.7 3:3. . 09.79039..3 3 .3 203079 -.:3 8:/.7.3  . . 203/.3.3/50.. /03.3 /.7 . .. 2. 808047.3.72438  .907 90780-:9  4394  2085:3 .3 90.2.  3.3..2 ::2 00. .9.308:9.3.703. -07-0/.3. 5.3.3.2 -0.  !0702-. 8.3.3 .3 -./.907 2.9: -03/./. .3 8:/.9 507-0/.3 9/..7 2.5.3..2 ::2 00.3 2:/.7:8-0.3  909.7  03:7:9 5..3 -. ./ /.5 203072.-07:9  ::200.. -07:2:7  9.3.339009:.3.3.3.: 503.3 -.3-.2 #:801103/   .5 39009:..: 439.9: /.9:3.5 /.2 ::2 00.

3.3 203.9 . /:.3 8:/.8 9:3 ..  .3...9.907 .50.2::2 00.9: /7039./3..3.3...9.93.3..3 4507.2. /.3.2 ::2 00.3 5.5 2085:3 9.:3   ::200.8 9. .3  9..3 -0:2 202. 9/.8.3/.3 .. .: 507-0/.2.3 . 203.3-:... -0. .2.907  9..3  907:9.. 9.9 ..34 . 5.3 90.3 -.: -.380-.  43943. 202.  ::2 00. .3 9.9. .907 -0:2 /.305..3.9.3 2. .3..: ...3 /.3.7 8.9.3 . /03:3.3 /.3.2 ::2 00./ 9/.3 -..7 9.3 8..3 8:/.  3.7 43805 503::7.907.907.3/./..9..3 -0:2 202.8 .3.3 . 03..3 -0:2 202.-.3 .: .3 909.38.9. 503::7. -08.3.3.9.7 /. 809.3 203.9 20.3  $0/.3.3.9.3 9..3 8.3..3 .   . 5. 90780-:9 9.8 503:2.3. 2.3 -07-0/.3 203.: -..  $0/.2 ::2 00.7 /:.3.3..3 20250740 08:9.3 80/.3./5. :9.3 5...3 .3 -..2.3  203. 8.3.3 5.2 ::2 00. 2.3 /. 5./.3.3 03.2.3 .3.3.3!. :8. .:3  3.32.3 8.3 -.3 909. -.2.3 2.3. /:. -039:3. /8:7: 203039:.3-././ 9/.3.3 /. ...9. . 8.5. 202..5.9. . 202.3 8..5 8. 2085:3 /:-.3 .907 5.33. . /. .  3.2.3 4507.3.  .  2085:3 . :2:23.75. .9.380-. .3 -.7. 9025.3 /..3 -03/.9 202-0/. .3 572..2..7 9: /9:..3.3../.3.5 -.3 2.3 -.3 05.3 .2.505.9:3..3 2..2 ::2 00.3 203.9 5078..9: 8:/:9 5..2 20250.3 -.2 ::2 00..: /53/.3.3 5.:8.3 -0:2 202.. 9: /03:3.73..3-.3 08:9.5  .3. 8.:3   ::200.303. -08.3 /.:3  3.9:3.5.3.  !.

 8:. !.: 2:33 80-0:23..7    9.:3  ::2 00. 202..35.3 8:.3..3 /2.3 :.7 -...... /.-0:2 /5.9  /.3 ::2 00.07.38 .3 ..8  9.  /.2.9.8 ..07. .3 .. .. :2:23...3 /9:9:5 40  50780 437:03 .303.8 /..3 8 5.. /:-..2 ::2 00../. /5.9 203.8:.3.3./.3 -. .9..8 /.9: -.3   ::200.3 8 -03/. :8.3 -03/.3 /.5.:3  ::2 00. .3 202. 9/.:8.7 .7    9.3 /9:9:5 8:.-07:8.9: -03/.: 5032-.3. :8.7 9.2...240 . . .2-..: -0. :2:23.3 202.39/.3:9 /.2.07.5.2 .2 20302:..  $0/.3 -.3. .3/./-.3.3.3 -07. :.3.5 8.8.9 8090. . .. 809.7 :.809..:7:8 ::200...3 -0:2 202..3 -07.. 90780-:9 8.3 .3:.  !.3  . . -07259  0- :.9: -03/.9 8:.3-./.3. :. -078.38  9.77:2:8:. .9.:3   ::200.3 -... 90780-:9 -07-0/..3.3 -0.80-.3 /09.8:.3 -0:2 202..2 ::2 00..3 8 203..9..7 5.9:/.. .: -0. .5 2085:3 -039:  9025.7. 2085:3 09./..3.307.-03/.3 8:/. -03/.703. /03.3 :..3 8:.9.  8.3. .2 -.3.7  9.3 909.2 ::2 00./.:2:23.3 90780-..33.8 .7 9/..:3  3.3 :.. .25./.8.  2. .9: 5./.9: -03/.2 ::2 00.3 /9:25.:3  ::200.9   9.809. -07.07.3.3 503: /03.2 ::2 00..8 -.3.3.3 /03.03/07:3 203...8 /.:3 .8.3/9:7:3.73   ..3 :.$  2.3. 5. ./.3 /9:9:5  50780 437:03 .  &39: ::2 00../.3 5.8507805.3 /09.3.8 .3  3../5.3 -07259.. 809.9.9.7 /2.3 08:9.3 202.3 909.3....37:2:8 :.8...:3  ::2 .

.3 4254303 4254303 8038.3 411.3:7.44/.38.3 07.38038.5 9047 897:9:7.3 203.3:8.3 8.9 ./.  43805 503933.3    .: 50347.8.35073.8 /.38.9 9: 8:/.3 /03..33 ..339075709././ 7.3:79411.8.:.3.358448808047.8  03.9  %.//49. /2:3.3 202 :-:3.9072.9 -0745488 907. 8.73.9. .3./. 80-:.  03. 203.9.3 .2.9  089.3 43805 3  0790207 203:3: 5.9: 83.3/02.7 8038. % #$%% %44089.3/.3.3 503/.:5:3 0275../.3/.5..03/07:3 -07:5.  5 503420343 -0707. 203:7. /03.5030. !748083907.80.3  %047 089. 8.7:7903  03 ./.203.2.0789 41 7.3203:3:5.341.5. 2030:7. /03.32./..34007   /..9 203. 8.2..3. 8047.3202:33.5574808 2039./ 08. 574808 39075709.  ..8 203.3 .9 :3/9.3 574808 5078058 20..2.5.3 -..3 8.3 502.8.  O . 9047 .3  54./.3 /.8 ..98 203.3..2.3 574808 18 909.9 :./.3.3 502-.210/58.28 8090..30.3089.2.39.3 08507203 .7 5.8.84-091.5748081880-.3.3 4007 /.3 9039.20.3 /0 089.3 .9 .-:.31:79 -078.:.9:.9/./-. :050  8047.3 2030..35503420343  O :7903    !.3 :07-:7  078. 203039..0790207    0.3 /3.:.   20. 4-0 89.7.2 .9 /.88903/8.7 / &3. ..:3   .820  %047 089.3 944 .

3 203039:.....504148:70.3:8.9.9   3907.3:8.:-039:9079039:  O !73.3 /50.8 -07/. .38.3 584483..2.0 .8..9:-039:9079039:  O !73./:-07.2. 1:70 .03/07:3/5078058.3 088 /.7.3 /.5507.2-:3.33202503.3.703.2.3 3:3.3/507805880-.3584483907/7/..8.7 !0347. ./.../: /.38.38..33/.34-0 58448 . 80-.38./:203. 207.3 -07/0.10/  $09.9.9 3/.3/-039:     !7385 5738550347. O !73..3/.059:.10/20247.50 41 -0.3 5078058 3 207:5.3/5./..9: 9079039:  07.7.50414393:9 7.2.3 O !73.3083..7089.5././.3 507.8.9:2.2...3 503.25:.43805:9.3 2.3/..8.38.39. :38:7 :38:7 .2.5.3 802:.50 41 $2.3503.79 -.3.8 .9.3/ 74:3/  0 .3-0707.03.7.10$5.3 .059:..9.8.3 80-.5.3.9: 1:70.9. O !73.8:.8 :9.50 41 !7429 -./: 1   %:.:5:37:..3.7.3 -. :38:7 :38:7 -/.3 8.3 4.3 507.9::.8.9:.907-039:80-0:23.2 ./.3 /80-:980-. ./.71. /80-:94.2-/.0 $09 7.7:2.03/07:3.354.3 8:/.3.9.5.3./: -07/.3 1:38 -.8.3..  -:.3 -07.424943  !7385/.3 -072. 5844 ./. /. 5..: 3/. 1.9.. 9: 02.3 8 ./.3 40 2..38.507.2.8-07/.8..7.: 3/. 58448 . 809 .3 2039.3584489025.

25.9: 54.5 -/.9.73.2./.3 9/.03.3 /.3 .9.3 !03.3.5 -.47.3/ 74:3/ .504144/472-.9..3.3 .9:4-0805079::7.2.9 /-.50 41 :70 .03/07:3 .3   .38:.3 . ..3 503. /:.5.3 2038 04843.: 503. 4-0 .9.7 -0..3 8:. 809..9: 1:70 -039:  /.!73.3 54943.5  O !73.9: 203.

3..7.3.3  .504184247582 7.  0. 5..39. . 9/.3 /..3.-.7...25:.9: 574-02  5.9.3 .3 203:3./  808047.3 0.28:.3 8:./..3 5020.3.9.3 5:8548. .7.3 /. 0907.5./.9 :-:3. 907.91 5020.3 1:70 /..3 3.  .8 /.38.9..343908  5. 508079.3 907.7 -0781.3 01091 808:..3.80-.3 /50.3 -. 1:70 /.3 2. 202-0/.3 20303.3 .3 .7 .3..059:.2 574808 502-0.3 907.. :-:3.9.8 2.:  .2....25:.3204/  O !73.9 !74808 -0.2 574808 502-0.9:4-0.3   .  !03.. 574808 -0..3.79::.3.9: :38:7 . 202 2.3 9.857385089...3 9./.8.7  2./.3 .7. .3 502-039:.. /.7 /.3 207:-.3./ 7047.. 3 8.7: 907... 1034203.3  03/.9 8.7 508079..3 389  -.3 0.3/03.331:0..89047089.2 507.3 892::8 7085438  909.0 -0.8-07/..5 8:./ ..: 907.3/..38. 5.9.:50789..9: 02..3.7 -0. // 03/.3.2 507.3  !07..  $090.3 ..9 202 .9: :7:03/.2.333/.2574808502-0..3 574808 0/:5..3 .3 9.5.39::./03. 9.2 0.7.8 2.3  .: -079::.733 0-072..7 ./ 0.9073.3 2.3.-.0907.5. 50780589039./.3 48 /03.. 9::.3 /50.187.3 1:70  4394 507:-.9: .9.3 .7.3-072..703./.3 . 9::.-:7.47  -.  -  !02-0. 4391  5..7 8. // 202 02.7 907.3 503.7...3 .39.3:38:7 :38:7 .3 507.3 -07...33.: -:..3.5.9.7. /.3 2020.2 574808 -0.9 50393 /. .8 /. 507.7  . . // 20303.3 50302-.3.7.203.33.8. 508079.8.2 /0391.3.  .9/./: 203..3. 20.  !07.  :8:83.7  907.3 50393 /..33.. 3/.3:38:7 :38:7/. !74808 502-0.3 01091 .2.7..333/. 10/3.9 ..

.9.33. /.8..9.30/:5...8/..8 502-0.8.-.8./.3 09039:.9.3 /03.2 89:.9.8 /.8 .8 :39: 02:/.907 .343/8 3:3.3 2.3.5.: 3/.9: 50784.  0 ./ /03.7.. 9:  2.7. 8:8:3..3 905. 9: .3 /. 574808 503:.3. 508079.3.8. 203.2 2020.9 97.39079039:089:..2 89:. . // /.3 ..389:.8  %7.3 503933.7..3 /:5 10 85.:/.3 /../ .8 /.289:.38107/.3 02:/.3 :2:2 0307.8.9:5023/. 80. /.3 03:7:95.2 9.9: 431:7.3 503079.3 3:3.3089.3. 9:  :7: 03/../.7 2...8 503.7 907.3 203025.3 57385 57385 544 . 57385 57385 544 /.29::. .3.9  :// 2030..3/.8.3.8..2020907.80-.3 2.39: 508079.3 202-.3 20302:.354.38107 -0.8 9079039: :39: 02:/.//  0  %7.9.3 203:8:3 09039:.3 907.2 502-0. .7.3 .8 431:7..3. 54.3 0307.3 /.3.7 ..9 202-..703....  /  !7385 7:. /:.907 .3 :.3 2005.303/..3 /.5 57385 57385 544 /.3 4-0 /..7.2 202.9.8 . // 90.. .  O 389 !020./: 202 0907...5.3 /:3.3/03.33.0  -.3/.3 2:3.20.3508079.38107 -0..39: 508079..3 /.: 8090. -07.2 89:. // :39: 203:..7.7.507...7.3 /..5.3  0 .. 503.. 507.3 /.7 8:.3 -07-.703.7 8:.3.3 /2.

3 0./.. 5:. 07747.5.:57480897.9..33.507: 20../. .3 -07:-. 3.3 /03.50393 /.3404007/.3./.35. 503.9:  0.843.5..54-0 !0307.38.9.3 3 .2-0.388902./.3  03.25:20307.98  O 0247 .8 5078058 907.. 3.7 /902:.3  $090...907.3 389 3/.3 57385 5738547.02:33./:2. 80.. .3 -07.5. 438053893.208507203.3!73854144/   .2.33.5 4-0 2033.1034203../.574-02800389.

7.3 907-:9 80.7:485. 2:3.: /. 085072039.2030.3:. $0.7.  1034203.3503..472 8073.848.8..

7 -0...5. 07 2039. 805079 5078058  389 /..  3. 574808 -0.34007  !844 089.5.3.088  .3 089.7.3574-0284.3.7 .7 :.35.2 .088  /.39.50308:.3.7.83.5. 507.7.7.703.83.3.3 503/0.8.3 5078058  /... 1034203. 507.3 9/.3:8.7. 574808 574808 2039.3 088 / 5844 /.3 -0. 574.9.9 203:3:. .3/.5.7 07 2039..  848.3..8 %44%42.3 .3 ..3-0-07. . /. .2:3 909.. 10/ /39075709. .9 80.9. 944 089. 574.9.39.3/.7.. 20303.5.3025783..8089.7.3   .33:3.059:.3 .8 /03.8502..5 /. 080:7:.3 907-08.8/./.  909.9:9/.3  9/.3. /.3.5 574808 574808 .3 503.   080:7:.3 /0 :39: 203. -40 /.-0-07.2.9 -072:.3 803. 80..3    ./.3 3 5. 80./ .9./ 8./.3 .3 3  0243897.3 20.7 4391  -0714:8 5. 8:808 ..3 1034203448 203.   0..5.3 203.9.25./. 8.7.9  25.3089.7:247  /.2.3.5.47820 /03.3.907..3 /.9 2025079. /02..9: 503/0.3 80.3 203.5.9.-897.3 -...57385-0.9 20250. /.5 :. 39009:.3 /.3/7/03.33202-07./. 80.9. 89:/ 5844 /.5.9/-..3 47.7..3. 5.3 4391 /2. -070.350393 . 3 /3/.3-074507.3.7.9 203025:73.  O !.. 18  024843.2.3 80-..3 3:3.3 203:2-..980-.9 O !03/0.7.3.3 /03.38.33.

..3    03.8.:.9.3  0.9.2./.7:8202.9:  %047 20/.7 ...3:8.: 8:2-07 8:2-07 ...25.320307....2.5.. .3 8:../.3 2.3 43805 9047 -0.  03.: .3 3 203-..3.8    0.3:8. 907.390784.3..3 .33. :25:.32. 808047..3:.8./..3 /.9.:.7.3 503.3    0.32. .7  249.9 203:39:3..3 2:33 202-07 .5/03.3    03.25.3 0- /.. 03.75.7.380.5020..3 /.. 502-:9.3820    0./0.50702-.9: 503.35./. ..7.70.3-.83.3-07..8/.. 8:.3:8.9.3 :39: 20250740 389    %/.8  . 9/..3/50740    03.3 5:./.91 -:./. 2:33 ...9207:2:8.2.3..4-.38:.3:39: 0.8.8.7207:5.../107038../.3 2. .380:7:47..203:7:9 00. .3 :39: -0.3.380-.080:7:..9: -0.98:.2..9:574808-. /03.9:.    03:25:.: 202-:.3 .0-:.39:..3.9/507805880-.7 9.9.78.3 /03..8..384.072..808047.3.7.9: 503.8  /03.8503.3 -.5.9.9: /03.7.808:. /03. :8.  80-..3 54908. -0..8...33.8 202-07/4743. 700.9 808:.5.2./.3.2- 0825:.8.3.5.3 9: /.-.7.9 .. 02.9.9 /.3 54908. 02..3.9.3   #0.-0702-. /507:.3   .: 204/ .30.8./.. .5.3  202-:.3.85020.:.3.9::. .9 2020.3 8:.3 203.5  02:/.3/8   0.    0..  .3 2020.3 .3 -. 503.: 31472..73:3..380.3 2.3 2. 5020.9: .9.3 03.7:8/.3 80... 80-./..2.3.9.2.3 349  /02../.:5.2..3 0907.3 0907.850 . 3 3..547..8.8.3 .5...7. /. -07.3.7 2020.8.7 . :.

3 203..3202.3 503:2../91 80-. /03...91907..7 8:.2 -./03.9 2..9..2-.  0../.9 .39047.3/.../ 574808 /107038.7-:.3/09.3.33..7 2:.848.3 .3. -0.9:4-0503.3  .8 2./.3.3-.8:.5-.3-07-0/.3 .3 207:5.370.:3 907..9:1034203.33 20.3 2025078058 080:7:..8  .3 03.940720/.2.53:3..

.8   % #% # 47.3 5844 .3 080:7:..7.7 /..:3 $/.30.7 574808 -0.8  3.7.3 503// /.:3/.44    039.83.8080039.733  9/.3 -0. 88.07 8 47/ 44  4:79  /.5. 203:9 0.078 207. 39003.28 .3  ..5:3 .7 .  /. .3 /. 20307-9.47820 #:8.7 ! 3.0380..3 802:..5..7/00%473/0  %473/0 -07574108 80-.0789/4330.93. .7 . 5078058 ..3.31:3843.5.3%473/0907.9. 202-039: 9.208 /.9.7080. /.78.9:70../. ::8$/.. 2. .-:7203. .3/..3 &3.3 203.3 2.38.33  /.2 .9: -.3/ 84.7 ./ .3:9 40 %473/0 .9.3 /.7/442-.. / 442-.0723../.3203.3/%0$4.7/.7.8.9: -:: .:3  . /09. .943574.088 3 32./802.:3   02:/.  %473/0    203/. !8.3805079:./.884.3207.3 4-0 . 39003.25.3 203/.3 57385 /.8.7/4947/4:2-.3 /9:83....8.8:7020398    32.3.3 207:5.:3   09.9..1/. /8. 9.... 90.7.9 203.  2.5.:3   /.:9 5.7 -0. 0. 89:/ 41 .0789.9038 8047.3 -070-.39. /.7 /. .3 . 9.7/ 5.3.:3 :: -:: ./.7 0./.3 -07:/: 32.8907 /.- /.3 /:.7/9..2:3..3 -:7:3 .7.90.3207. 9.05.7/ 009473/0 20880.8 .943.3.850309.  /.3:2./.-0-07.3   .. 8047.593.7&3. 7/07   /.  :: 3 . 203072.3 0. -0.0.0  3 05072039.0   90.5038435.3 8:..3 2070.

.8 50309.3 .:.: -0-07.34-020...3.3 907/..2202-:.2 8:.7 %473/0    9047 -0.7.3.848.  $0. 2033.305. 0-09:.9./.3.3/. 03/ 07747  ..3 503.3  /..3 / 2.: /.89:.7.7. .: 93..5. 9:  07/./. /.9: 2.3 28.25.2..3 ..8.3  7.  %047/.3 2032-:..7.3 ..7/00%473/0  !. 20302:.  503//.3 203.7.9 203..2. .  . 907. 5.3 807:5.2.3 9:.. %7.  -07.9 80...8 .3 503.3 8:.3 9: 803. .3 /0.3 47..703. .2 7. 708543 ..2 9047 $ # / . .3. 5.8-.3 574808 502-039:.8/03.7. .7.7..8. 892::8/.: 2.9: 8.848..38209:.5.38.3 8:.. ..9:70.207.8.9. 9:  :..8.3/:32. 9. -3.8 .9 -.47..3 90473.: . 2:.39.8 40 503.9: 708543 9079039:  %047 3 /80-:9/03..3-0:2/03.33.7 :25:.94382  .3 8:./. /./.: 9079039:  $0047 :.7 /.7/03. 8. /.8  8:.    .2 .4-.3820 -07.3./. /80-:9 %7.3 0-07.3 / . .3 .83.9.5.3 9: 907-:.  2..3 .9. . :39: 2020.393.2574808-0. 9079039: /03. . ..2 .3820 8:/./. .. -..3/....  47.7:8 / 00:.3892:. 2.8:.3/.3807039..3 93..7.4-.3 3.2.3.7. 892::8 9079039:  %473/0 203/. .9: 50/. .80-03.:./..7.3..8.32030:.8. -07-.5./. .3/.3 203.  .3 2. 3 4-0 203. .3.47....9.7 %473/0 / 80-:9  4330.8. 203.3 907:3.3 .3/.8.8:39:2070854389:.9: 93./. ..3 9047 $ #  /./2.3 93. -0. 8:. -070..89:  /.3708543 %047 38073 :.: . 8:..8:.3.3 /.807.9: 892::2 ....5 93.3/ 07747  /.50/.38:3 2033. 8.3 /. :39: 2020./.3.7: /.3820 0.94308808:.: 47..3 :.8 .9  203..7.3-07-..9: 89:...3/.3 2..7 207:5./.3 -0707.3 202-..8 803. 2.3 4308 4308 .39.8. /..2 . 8.  -050309.8.3 ./. .9 / /423..7 5079.3  2043.3.7:.3/.3 -0.3 80-.

892::8 /.7.7.803.20309.3 /507:. .3 802.3.85.9: 50309./..3 /:. 2. -0./.3 907-039: .   .3 .3 8073 8:..3 40 808047.8:.23..8.9..3..9.5 8:.9 .18448   ::2 .848./. -03.8   .-.8 .9:  ::2 ::2.9 /:3.2./...5.3/..3..3 9073.3.39:.3 90. /239. 892::8 /..8 70.80  ./. 892::8 /..7.370.-. .9.3 .:.-.../.3./.9: 2.902.207.-.9:.3/07747   /..9 907.9.5.3 .9...3 -0.../  ::2 3 203:3:. :39: 203008.388.8 .7..:8./3.3907..3.3..9: 05:.7 /.3 20247    ::2 .5.7-0.5.3 :..9.38047.39.8 .3708543 /..907 50. 08.3 8:.  8090.8203.8 /.05:.3802..3 :.3  $02.-07:98..7 .:.37085430-8073907.9: 84.5.9-0747039. 41 007.79 /0.39.. .9.7 2.750309.907 50..3 /-07.3 /.3.9:708543 ..3  2.9  39075709.7.2491503/4743../3088   .3 18448 :39: 574808 -0./.3 57385 :9.3/:3..3.-03.. 02..397.5..39.3-07.3.9::....848.9.9.3.9: 892::8 . ..9 437093./ 2.3 907.589:..9 .79079039:  28./..-... 2. 2.9  .3.3 90780-:9 .848.3 90780-:9 . 907-039: . .32033.7 202-./.7/ %   ::2 08.8.. 41 0110. 503:.3907-039:802..9: .3 :.9 907825.9./.3 2.7 .8.80-.:3.9  .2 3.7/03. 8 904738.3 8073 8:.3 2.02..3 708543 /:9 40 8:.3 802.848.33.8708543 708543. 07.3/.7 ::2 3 .708543907./.8   .9.33.8. 802. .-07-.. 41 #0.

2 3.9 ..79.39...9 907825.3 -03. /.3 .3 .3 :.5:.9.3 . /.-.93.3  2.3  8:. 93/.9 :.-..7 9: ..33.3   .3 /:9 ..-.5.7.3 /.3 20303. 84.33. .8/.  ::2 3 /.3.9: 93/. .

9.3 /03.3 -.3 -.9.-.  $0.3 -..8 -0.9 907:8 /03..3 88. ::2..3 ::2.  8:..3  .  ..3/0399:8. .3.3 /-07..9/.33  43805 3 2.302. 01091 /.2-. .9. :39: 203008.7: ./ 2.79209.3.  2030-.9 .2 809. 28.3 /.90780-:9 203. .35.9.3.03/07:3 .3 .5.3 43805 97.9  8073 907..3 :7: 907.3 84.-.:.  02.9./.3  &38:7 :38:7 ..8 .7 .848..3 20..3. 203:.3  507.25.3 :38:7 :38:7 50309.8 5007.7:  .32.3  2.3 -07..8./.9.9: .902../03.3 508079.3  /.3 08.3 502-.:-:3.:.3 :7: .9:02.3.3:93.  ...3 ./.3 20307.25:.8 .5 2.3./. /03.3  ..7/.7:8.3 90..9.9 203008. 20302:.3 .3202-03.2 2.3/02. 503:3. /2 88.9: 2.25:.33.9:./ 2.5 88.9 80.38107 -0.3 /-07.3 2..2:3507: /3. 28.9 88.  2030-..3 .38107 41 97.3 .3  503:7.25:.-. /2  &38:7 :38:7.9.703.3 9.3-07.3 -07.38107 -0.7.3 .3 /03.../.2 57. 93/.:.990780-:9.7.3 8. -. 97.8../.79209 503:2.0.3 02. .8803.3 4507.3 ::2 ::2 / .8.7:8 /.7.5 /.3 /. / /.3 $0.38:.3 20307.03/07:3.390780-:9.9.79209 03.3 /80-:93.3 :7: 05. // 33 907:8 20.39/.3 8:.3 /:9 ..8:/3.3803.33.8 9: 202-039:8...9:.9.5 02.:.3.3 :7: .3 503.3 88.3     ..7. .3 50309.9 /8008. 5:..8 5007.5.3.3 /.3 /:.. 84. .8.8 5007.3  8...3  $0-.3 /-07. :38:7 :38:7 /.  .32.3 5. /03.5:.::2. 2.7. 5007.3 . 9: .3 88.  .902.902./. .. :897: 202-:..  $0/.3..50.3 9/.3 /039 /03.  809.3 0.388.3807320.2.3 88./.5. 203.202:33.-.3 ::2.5 ...8.3 4507.3.. /.5.3 /..9. 97.9907. 20303.3.3 .3 :7: 907.. /2 88.3 90.3 90.34507.:./...5.848.25:.203.8  %473/0 :.5 /.3 807:5.90780-:9 ...3 84.39..7 /.9 /825:./  /.9: 93/../:. 88..3  ./  -.3 .

.3 /3/.3503//..3 9.890780-:9  59.5.3  7085438 . 9..3 /.9 :-:3.3 9079039: .. /.3..3 9.3 .3.: 2.7.9.357.3  !07.3 7:5./.3.8 89:.3.7508079.3 . 203.3 7085438 90780-:9 :-:3.20/:5.3 574808 -0.8.3 803.90503//..8.7:8 /:-:3.3 :-:3.3 803/73.3 807./-07.3 /. .3 5.:.3 2:7/9.3/.3 3.3.793.3 -. 203.3 7:5.3 /.7 .//  0-07.9 /:3.9.789:.9 :-:3.3/-:.7. /.380038  59..389:.89047%473/0/..907./. .3 :-:3.7.390780-:9   :.9.5.: .  $9:...7.3 907.3 203.3 :-:3.3/. 202:9:8. .3503..7.2/:3.3 /.7        .9:7.5.3 8.3 .3 03/.2 /:3.//  .7.2.5.508079.9... 503//.3.305.5.503//..7 80/02.3503.5.7.59.: 9::.3 /03.: ../. -0.9. 03/.8 .3.5.2./ /03.3.7.7  03.3 503. 803.7.3 202-:.7:8 /-07.3../.  80.90 503//.8508079....8 %047 %473/0 /..3 03..7:8/50.9%473/0-07:-:3.780.3/. .  .3 80/02.3 /.3.3 8:.//  !07...7 . /..3 /03. 803..7 -:.5.5.3 .3 03:7:9%473/057.3 507-:. 203.380.5.3 .7.3/03.37085438.3.5.3 :-:3.

             .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->