A.

Teori Ausubel Teori pembelajaran Ausabel merupakan salah satu dari sekian banyaknya teori pembelajaran yang menjadi dasar dalam cooperative learning. David Ausubel adalah seorang ahli psikologi pendidikan. Menurut Ausubel, belajar dapat diklasifikasikan kedalam dua dimensi. Dimensi pertama berhubungan dengan cara informasi atau materi pelajaran itu disajikan kepada siswa melalui penerimaan atau penemuan. Belajar penerimaan yaitu yang menyajikan informasi tersebut dalam bentuk final, sedangkan belajar penemuan yaitu yang mengharuskan siswa untuk menemukan sendiri atau keseluruhan materi yang dipelajari.Selanjutnya dimensi kedua menyangkut bagaimana siswa dapat mengaitkan informasi itu pada struktur kognitif yang telah ada. Jika siswa hanya mencoba menghafalkan informasi baru itu tanpa menghubungkan dengan struktur kognitifnya, maka terjadilah belajar dengan hafalan. Sebaliknya jika siswa menghubungkan atau mengaitkan informasi baru itu dengan struktur kognitifnya maka yang terjadi adalah belajar bermakna. Jadi belajar bermakna terjadi bila pelajar mencoba menghubungkan fenomena baru dengan konsep yang telah ada sebelumnya. Artinya, bahan subjek itu mesti sesuai dengan keterampilan siswa dan mesti relevan dengan struktur kognitif yang dimiliki siswa. Oleh karena itu, subjek mesti dikaitkan dengan konsep-konsep yang sudah dimiliki para siswa, sehingga konsep-konsep baru tersebut benarbenar terserap olehnya. Dengan demikian, faktor intelektual-emosional siswa terlibat dalam kegiatan pembelajaran. Bila konsep yang cocok dengan fenomena baru itu belum ada, maka informasi baru tersebut harus dipelajari secara menghafal. Belajar menghafal ini perlu bila seseorang memperoleh informasi baru dalam dunia pengetahuan yang sama sekali tidak berhubungan dengan apa yang ia ketahui sebelumnya. Ausubel juga mengemukakan bahwa belajar menerima dan belajar menemukan adalah dua hal yang berbeda. Pada belejar menerima, isi pokok yang

1

akan dipelajari diberikan kepada siswa dalam bentuk catatan, belajar tidak melibatkan penemuan, siswa hanya diminta menghayati materi atau

menyatukannya dalam struktur kognitifnya, sehingga tersedia untuk direproduksi atau untuk penggunaan lainnya di masa mendatang. Sedangkan pada belajar menemukan, isi pokok yang akan dipelajari tidak diberikan, tetapi harus ditemukan oleh siswa, kemudian menghayatinya. Belajar menerima dan menemukan masing – masing dapat merupakan hafalan atau bermakna, tergantung pada situasi terjadinya belajar. Yang jelas bahwa belajar hafalan berbeda dengan belajar bermakna.menghafal sebenarnya mendapat informasi yang terisolasi sedemikian hingga siswa tidak dapat mengaitkan informasi yang diperoleh tersebut kedalam struktur kognitifnya. Dari dua dimensi belajar tersebut, terdapat empat kemungkinan tipe belajar, yaitu: a. Belajar menerima yang bermakna Ini terjadi bila informasi yang telah disusun secara logic disajikan kepada siswa dalam bentuk final. Selanjutnya siswa menghubungkan informasi baru tersebut dengan struktur kognitif yang telah ia miliki. b. Belajar penemuan yang bermakna Ini terjadi bila informasi pokok ditemukan ileh siswa dan kemudian ia menghubungkan informasi baru tersebut dengan struktur kognitif yang dimilikinya. c. Belajar menerima yang hafalan (tidak bermakna) Ini terjadi bila informasi disajikan kepada siswa dalam bentuk final dan kemudian siswa menghafalnya. d. Belajar penemuan yang hafalan (tidak bermakna) Ini terjadi bila informasi pokok ditemukan oleh siswa dan kemudian menghafal pengetahuan baru tersebut.

Inti dari teori Ausubel adalah belajar bermakna yang dianggap palin efisien. Menurut Ausubel pengajaran ekspositori yang baik merupakan satu – satunya cara

2

meningkatkan belajar bermakna, dimana guru yang menyusun topik dan menghubungkannya dengan topik yang bermakna yang telah dipelajari sebelumya. Dua prasyarat untuk belajar menerima yang bermakna, yaitu: 1. Siswa telah memiliki satu himpunan belajar. Artinya kondisi dan sikap telah siap untuk mengerjakan tugas belajar sesuai denga tujuan mereka. Bila siswa melaksanakan tugas belajar dengan sikap bahwa ia ingin memahami bahan pelajaran, mengaplikasikan serta menghubungkannya dengan bahan pelajaran yang dulu, maka dikatakan bahwa siswa tersebut belajr bahan baru dengan cara yang bermakna. Jadi dalam prasyarat ini faktor motivasional memegang peranan penting, sebab siswa tidak akan mengasimilasi materi baru tersebut, bila mereka tidak mempunyai keinginan dan pengetahuan tentang bagaimana melakukannya. 2. Tugas belajar yang diberikan kepada siswa harus sesuai dengan struktur kognitifnya, sehingga siswa dapat mengasimilasi bahan baru tersebut secara bermakna. Belajar bermakna terdahulu merupakan dasar atau penguat untuk belajar baru, sehingga belajar baru dan retensi tidak menjadi belajar hafalan. Ausubel mengembangkan suatu cara yang disebut “ advance organizer” untuk mengorientasikan siswa pada materi yang akan dipelajari dan membantu mereka untuk mengingat kembali informasi – informasi yang berkaitan dan yang dapat digunakan untuk membantu dalam menyatuka informasi – informasi baru yang akan dipelajari. Fungsi dari “ advance organizer” adalah untuk

memberikan scaffolding atau dukungan terhadap informasi baru. Advance organizer dapat dupandang sebagai jembatan konseptual di antara materi baru dengan pengetahuan siswa saat ini.

Suatu organizer membantu untuk meberikan dasar atau scaffolding mental sebelum guru menyajikan abstraksi atau generalisasi dari pelajaran, menjelaskan istilah – istilah kunci, memberikan contoh – contoh spesifik.

3

Informasi yang dipelajari secara bermakna lebih lama diingat. Langkah – langkah belajar bermakna Ausubel adalah: 1. yang baru yang lebih tinggi maknanya. Caranya unsur yang inklusif diperkenalkan terlebih dahulu kemudian baru lebih mendetail. seseorang belajar dengan mengasosiasikan fenomena. pengalaman dan fakta-fakta baru ke dalam skemata yang telah dipelajari. mereka juga diberi kebebasan untuk memecahkan masalah lewat pengetahuan yang mereka dapatkan sendiri. Diharapkan model cooperative learning akan dapat mengusir kejenuhan dan kebosanan yang dirasa siswa di kelas karena selama ini hanya mendengarkan materi dari guru saja. Pengatur awal (advance organizer) Pengatur awal dapat digunakan untuk membantu mengaitkan konsep yang lama dengan konsep 2.konsep. 4 . Informasi yang dipelajari secara bermakna mempermudah belajar hal-hal yang mirip walaupun telah terjadi lupa. Diferensiasi Progregsif Dalam pembelajaran bermakna perlu ada pengembangan dan kolaborasi konsep. Dengan model cooperative learning materi yang dipelajarinya tidak hanya sekadar menjadi sesuatu yang dihafal dan diingat saja. b. melainkan ada sesuatu yang dapat dipraktikkan dan dilatihkan dalam situasi nyata dan terlibat dalam pemecahan masalah. Menurut Ausubel ada tiga kebaikan dari belajar bermakna yaitu : a. Informasi yang dipelajari secara bermakna memudahkan proses belajar berikutnya untuk materi pelajaran yang mirip c.Lebih lanjut Ausubel mengemukakan. Hal ini menjadikan pembelajaran akuntansi tidak hanya sebagai konsep-konsep yang perlu dihapal dan diingat hanya pada saat siswa mendapat materi itu saja tetapi juga bagaimana siswa mampu menghubungkan pengetahuan yang baru didapat kemudian dengan konsep yang sudah dimilikinya sehingga terbentuklah kebermaknaan logis. Penekanan dan model cooperative learning sendiri adalah selain siswa mendapat bimbingan langsung dari guru.

bentuk belajar yang paling khas baik pada hewan maupun pada manusia menurutnya adalah “trial and error learning atau selecting and connecting learning” dan berlangsung menurut hukum-hukum tertentu. Eksperimennya yang terkenal adalah dengan menggunakan kucing yang masih muda dengan kebiasaan-kebiasaan yang masih belum kaku. sehingga kalau kucing menyentuh tombol tertentu pintu kurungan akan terbuka dan kucing dapat keluar dan mencapai makanan (daging) yang ditempatkan di luar kurungan itu sebagai hadiah atau daya penarik bagi si kucing yang lapar itu. kemudian dimasukkan ke dalam kurungan yang disebut ‖problem box‖. Oleh karena itu. Stimulus adalah suatu perubahan dari lingkungan eksternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme untuk beraksi atau berbuat. Selain itu. Dengan adanya pandangan-pandangan Thorndike yang memberikan sumbangan cukup besar di dunia pendidikan tersebut.B. Berdasarkan hasil percobaannya di laboratorium yang menggunakan beberapa jenis hewan. dibiarkan lapar. Teori Thorndike Edward L. teori belajar yang dikemukakan oleh Thorndike ini sering disebut dengan teori belajar koneksionisme atau teori asosiasi. Thorndike (1874-1949) adalah salah seorang penganut paham psikologi tingkah-laku. kucing itu melakukan bermacam-macam gerakan yang kurang relevan 5 . ia mengemukakan suatu teori belajar yang dikenal dengan teori ―pengaitan‖ (connectionism). belajar merupakan peristiwa terbentuknya ikatan (asosiasi) antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R) yang diberikan atas stimulus tersebut. sedangkan respon adalah sembarang tingkah laku yang dimunculkan karena adanya perangsang. maka ia dinobatkan sebagai salah satu tokoh pelopor dalam psikologi pendidikan. akan menjadi lebih kuat atau lebih lemah dalam terbentuknya atau hilangnya kebiasaan-kebiasaan. Teori tersebut menyatakan bahwa belajar pada hewan dan manusia pada dasarnya berlangsung menurut prinsip yang sama yaitu. Dalam hal ini. Pada usaha (trial) yang pertama. Asosiasi yang demikian itu disebut ”bond” atau ”connection”. Dimana konstruksi pintu kurungan tersebut dibuat sedemikian rupa.

Interpretasi dari hukum ini adalah semakin sering suatu pengetahuan—yang 6 . hukum ini pada intinya menyatakan bahwa belajar akan berhasil apabila peserta didik benar-benar telah siap untuk belajar. tetapi dia belajar mempertahankan respon-respon yang benar dan menghilangkan atau meninggalkan respon-respon yang salah. yaitu apabila ikatan antara stimulus dan respon lebih sering terjadi. sampai kemudian menyentuh tombol dan pintu terbuka.bagi pemecahan problemnya. yaitu bahwa belajar itu terjadi dengan cara mencoba-coba dan membuat salah. Thorndike mengemukakan bahwa terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon ini mengikuti hukum-hukum berikut: (1) Hukum kesiapan (law of readiness). demikian selanjutnya. Dalam melaksanakan coba-coba ini. selanjutnya stimulus baru ini akan menimbulkan respons lagi. Dengan perkataan lain. (2) Hukum latihan (law of exercise). Hal ini disebabkan karena pada dasarnya kucing itu sebenarnya tidak mengerti cara membebaskan diri dari kurungan tersebut. Namun waktu yang dibutuhkan dalam usaha yang pertama ini adalah lama. Dengan demikian diketahui bahwa supaya tercapai hubungan antara stimulus dan respons perlu adanya kemampuan untuk memilih respons yang tepat serta melalui usaha–usaha atau percobaanpercobaan (trials) dan kegagalan-kegagalan (error) terlebih dahulu. Percobaan tersebut menghasilkan teori “trial and error” atau “selecting and conecting”. menubruk dan sebagainya. Percobaan yang sama seperti itu dilakukan secara berulang-ulang. Setiap respons menimbulkan stimulus yang baru. kucing tersebut cenderung untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tidak mempunyai hasil. apabila suatu materi pelajaran diajarkan kepada anak yang belum siap untuk mempelajari materi tersebut maka tidak akan ada hasilnya. maka ikatan itu akan terbentuk semakin kuat. seperti mencakar. pada usaha-usaha (trial) berikutnya dan ternyata waktu yang dibutuhkan untuk memecahkan problem itu makin singkat.

setelah ia kerjakan. maka kepuasan akan tercapai dan asosiasi akan diperkuat. Namun perlu diingat. Hukum ini dapat juga diartikan. maka ia merasa senang/puas dan akibatnya antara soal dan jawabannya yang benar itu akan kuat tersimpan dalam ingatannya. (3) Hukum akibat (law of effect). Jadi. Hal ini berarti (idealnya). Sedangkan hukuman yang diberikan guru atas pekerjaan siswa (misalnya celaan guru terhadap hasil pekerjaan matematika siswa) menyebakan siswa tidak lagi mengulangi kesalahannya. suatu tindakan yang diikuti akibat yang menyenangkan. Sebaliknya. sering terjadi. hukum ini menunjukkan prinsip utama belajar adalah pengulangan.telah terbentuk akibat terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon—dilatih (digunakan). maka tindakan tersebut cenderung akan diulangi pada waktu yang lain. maka tindakan tersebut cenderung akan tidak diulangi pada waktu yang lain. suatu tindakan yang diikuti akibat yang tidak menyenangkan. maka ikatan tersebut akan semakin kuat. Semakin sering suatu materi pelajaran diulangi maka materi pelajaran tersebut akan semakin kuat tersimpan dalam ingatan (memori). yaitu apabila asosiasi yang terbentuk antara stimulus dan respon diikuti oleh suatu kepuasan maka asosiasi akan semakin meningkat. ternyata jawabannya benar. Konkretnya adalah sebagai berikut: Misalkan seorang siswa diminta untuk menyelesaikan suatu soal matematika. 7 . Ganjaran yang diberikan guru kepada pekerjaan siswa (misalnya pujian guru terhadap siswa yang dapat menyelesaikan soal matematika dengan baik) menyebabkan peserta didik ingin terus melakukan kegiatan serupa. tampak bahwa hukum akibat tersebut ada hubungannya dengan pengaruh ganjaran dan hukuman. Dalam hal ini. jika suatu respon yang diberikan oleh seseorang terhadap suatu stimulus adalah benar dan ia mengetahuinya. bahwa hukuman yang diberikan guru atas pekerjaan siswa justru membuat siswa menjadi malas belajar dan bahkan membenci pelajaran matematika.

perkalian. Mengajar yang baik adalah : tahu tujuan pendidikan. Unsur-unsur yang saling berasosiasi itu membentuk satu ikatan sehingga menggambarkan suatu kemampuan. Hukum Respon by Analogy 5.Tambahan hukum Thorndike : 1. Dengan demikian kemampuan mengerjakan operasi aritmetika tersebut menjadi mantap dalam pikiran siswa. respons yang akan diharapkan dan tahu kapan ―hadiah‖ selayaknya diberikan kepada peserta didik. dapat disimpulkan bahwa transfer belajar dapat tercapai dengan sering melakukan latihan. karena di dalam setiap masalah. Thorndike juga mengemukakan konsep transfer belajar yang disebutnya transfer of training. Mengajar bukanlah mengharapkan murid tahu apa yang diajarkan. Aplikasi Teori Thorndike dalam dunia pendidikan dan pengajaran Menurut Thorndike praktek pendidikan harus dipelajari secara ilmiah dan praktek pendidikan harus dihubungkan dengan proses belajar. Selanjutnya. kemampuan melakukan operasi aritmetik (penjumlahan. Konsep ini maksudnya adalah penggunaan pengetahuan yang telah dimiliki siswa untuk menyelesaikan suatu masalah baru. dan pembagian) yang telah dimiliki siswa. tahu apa yang hendak diajarkan artinya tahu materi apa yang harus diberikan. Misalnya. Unsur-unsur yang identik itu saling berasosiasi sehingga memungkinkan masalah yang dihadapi dapat diselesaikan. Jadi. haruslah dilatih terus dengan mengerjakan soal-soal yang berikaitan dengan operasi aritmetik. Hukum Reaksi Bereaksi (Multiple Response) 2. pengurangan. Hukum Sikap (Set \Attitude) 3. 8 . ada unsur-unsur dalam masalah itu yang identik dengan unsur-unsur pengetahuan yang telah dimiliki. Hukum Perpindahan Asosiasi Selain hukum-hukum di atas. setiap kemampuan harus dilatih secara efektif dan dikaitkan dengan kemampuan lain. Hukum Aktivitas Berat Sebelah(Prepotency of Element) 4.

dan keakuratan. siswa tidak akan bisa 9 . sisi-sisi yang berhadapan panjangnya sama?". persegi dan bangun-bangun geometri lainnya. Ciptakan hubungan respons tersebut dengan sengaja. melalui observasi dan tanya jawab. pengurutan. Penelitian yang dilakukan Van Hiele melahirkan beberapa kesimpulan mengenai tahap-tahap perkembangan kognitif anak dalam memahami geometri. deduksi. analisis. kemudian hasil penelitiannya ditulis dalam disertasinya pada tahun 1954. kubus. segitiga. 1998) menyatakan bahwa terdapat 5 tahap pemahaman geometri yaitu: Tahap pengenalan. Pada tahap pengenalan anak belum dapat menyebutkan sifat-sifat dari bangun-bangun geometri yang dikenalnya itu. "apakah pada suatu persegipanjang kedua diagonalnya sama panjang?". Teori Van Hiele Van Hiele adalah seorang pengajar matematika Belanda yang telah mengadakan penelitian di lapangan. Untuk hal ini. Seandainya kita hadapkan dengan sejumlah bangun-bangun geornetri. Buat hubungan sedemikian rupa sehingga menghasilkan perbuatan nyata dari peserta didik. Van Hiele (dalam Ismail. Situasi-situasi yang sama jangan diindahkan sekiranya memutuskan hubungan tersebut. Lima Tahap Pemahaman Geometri 1. Tahap Pengenalan Pada tahap ini siswa hanya baru mengenal bangun-bangun geometri seperti bola. Ciptakan suasana belajar sedemikian rupa sehingga dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. anak dapat memilih dan menunjukkan bentuk segitiga. C.Beberapa aturan yang dibuat Thorndike berhubungan dengan pengajaran: Perhatikan situasi peserta didik. jangan mengharapkan hubungan terjadi dengan sendirinya.      Perhatikan respons yang diharapkan dari situasi tersebut. Sehingga bila kita ajukan pertanyaan seperti "apakah pada sebuah persegipanjang.

Anak pada tahap analisis belum mampu mengetahui hubungan yang terkait antara suatu bangun geometri dengan bangun geometri lainnya. Anak yang berada pada tahap ini sudah memahami pengurutan bangun-bangun geometri. anak diajarkan sifat-sifat bangun-bangun geometri tersebut. Pada tahap ini anak sudah dapat memahami sifat-sifat dari bangun-bangun geometri. belah ketupat adalah layang-layang. tidak demikian pada tahap Analisis. karena anak akan menerimanya melalui hafalan bukan dengan pengertian. Tahap Deduksi Pada tahap ini anak sudah dapat memahami deduksi. Karena masih pada tahap awal siswa masih belum mampu memberikan alasan yang rinci ketika ditanya mengapa kedua diagonal persegi panjang itu sama. 2. sedangkan banyak rusuknya ada 12. Tahap Pengurutan Tingkat ini disebut juga tingkat abstraksi atau tingkat relasional. Pada tahap ini anak sudah mengenal sifat-sifat bangun geometri. Seperti kita ketahui 10 . 4. Tahap Analisis Tingkat ini dikenal sebagai tingkat deskriptif. Guru harus memahami betul karakter anak pada tahap pengenalan. Pada tahap ini pemahaman siswa terhadap geometri lebih meningkat lagi dari sebelumnya yang hanya mengenal bangun-bangun geometri beserta sifat-sifatnya. Pada tahap ini anak sudah mulai mampu untuk melakukan penarikan kesimpulan secara deduktif. kubus itu adalah balok. seperti pada sebuah kubus banyak sisinya ada 6 buah. Pengambilan kesimpulan secara deduktif yaitu penarikan kesimpulan dari hal-hal yang bersifat khusus. Misalnya.menjawabnya. jangan sampai. maka anak pada tahap ini belum bisa menjawab pertanyaan tersebut karena anak pada tahap ini belum memahami hubungan antara balok dan kubus. siswa sudah mengetahui jajargenjang itu trapesium. 3. Seandainya kita tanyakan apakah kubus itu balok?. tetapi masih pada tahap awal artinya belum berkembang baik. maka pada tahap ini anak sudah mampu mengetahui hubungan yang terkait antara suatu bangun geometri dengan bangun geometri lainnya. mengapa kedua diagonal pada persegi saling tegak lurus. Bila pada tahap pengenalan anak belum mengenal sifat-sifat dari bangun-bangun geometri. yaitu mengambil kesimpulan secara deduktif.

Anak pada tahap ini belum memahami kegunaan dari suatu sistem deduktif. Tahap keakuratan merupakan tahap tertinggi dalam memahami geometri.bahwa matematika adalah ilmu deduktif. Seperti diketahui bahwa pengukuran itu pada dasarnya mencari nilai yang paling dekat dengan ukuran yang sebenarnya. Pembuktian secara induktif yaitu dengan memotong-motong sudut-sudut benda jajargenjang. Sebagai contoh untuk menunjukkan bahwa jumlah sudut-sudut dalam jajargenjang adalah 360º secara deduktif dibuktikan dengan menggunakan prinsip kesejajaran.‖ 5. jarang atau hanya sedikit sekali anak yang sampai pada tahap berpikir ini sekalipun anak tersebut sudah berada di tingkat SMA. Pada tahap ini memerlukan tahap berpikir yang kompleks dan rumit. Jadi. pada tingkat ini siswa menyadari bahwa jika salah satu aksioma pada suatu sistem geometri diubah. Anak pada tahap ini telah mengerti pentingnya peranan unsur-unsur yang tidak didefinisikan. di samping unsur-unsur yang didefinisikan. dan teorema. mungkin saja dapat keliru dalam mengukur sudut-sudut jajargenjang tersebut. Oleh karena itu. Oleh karena itu. Anak pada tahap ini sudah memahami mengapa sesuatu itu dijadikan postulat atau dalil. Pada tahap ini anak sudah memahami betapa pentingnya ketepatan dari prinsip-prinsip dasar yang melandasi suatu pembuktian. Untuk itu pembuktian secara deduktif merupakan cara yang tepat dalam pembuktian pada matematika. Matematika. dikatakan sebagai ilmu deduktif karena pengambilan kesimpulan. aksioma atau problem. kemudian setelah itu ditunjukkan semua sudutnya membentuk sudut satu putaran penuh atau 360° belum tuntas dan belum tentu tepat. anak pada tahap ini belum dapat menjawab pertanyaan ―mengapa sesuatu itu disajikan teorema atau dalil. Sebagai contoh. Dalam matematika kita tahu bahwa betapa pentingnya suatu sistem deduktif. Tahap Keakuratan Tahap terakhir dari perkembangan kognitif anak dalam memahami geometri adalah tahap keakuratan. membuktikan teorema dan lain-lain dilakukan dengan cara deduktif. maka seluruh geometri tersebut juga 11 .

Van Hiele juga mengemukakan beberapa teori berkaitan dengan pembelajaran geometri. Gurunya pun sering tidak mengerti mengapa anak yang diberi penjelasan tersebut tidak memahaminya. Akan tetapi.akan berubah. Sebagai contoh. Menurut anak pada tahap yang disebutkan. pada tahap ini siswa sudah memahami adanya geometrigeometri yang lain di samping geometri Euclides. Sehingga. Menurut Van Hiele seorang anak yang berada pada tingkat yang lebih rendah tidak mungkin dapat mengerti atau memahami materi yang berada pada tingkat yang lebih tinggi dari anak tersebut. Bila dua orang yang mempunyai tahap berpikir berlainan satu sama lain. misalnya anak itu berada pada tahap pengurutan ke bawah. belah ketupat itu layang-layang. Selain mengemukakan mengenai tahap-tahap perkembangan kognitif dalam memahami geometri. Contoh yang lain. materi pembelajaran dan metode penyusun yang apabila dikelola secara terpadu dapat mengakibatkan meningkatnya kemampuan berpikir anak kepada tahap yang lebih tinggi dari tahap yang sebelumnya. Teori yang dikemukakan Van Hiele antara lain adalah sebagai berikut: Tiga unsur yang utama pembelajaran geometri yaitu waktu. dengan urutan yang sama. Kalaupun anak itu dipaksakan 12 . dan tidak dimungkinkan adanya tingkat yang diloncati. semua anak mempelajari geometri dengan melalui tahap-tahap tersebut. kemudian saling bertukar pikiran maka kedua orang tersebut tidak akan mengerti. seorang anak yang berada paling tinggi pada tahap kedua atau tahap analisis. Menurut Van Hiele. kapan seseorang siswa mulai memasuki suatu tingkat yang baru tidak selalu sama antara siswa yang satu dengan siswa yang lain. seorang anak tidak mengerti mengapa gurunya membuktikan bahwa jumlah sudut-sudut dalam sebuah jajargenjang adalah 360º. tidak mengerti apa yang dijelaskan gurunya bahwa kubus itu adalah balok. pembuktiannya tidak perlu sebab sudah jelas bahwa jumlah sudutsudutnya adalah 360°.

Setiap tingkat mempunyai bahasanya sendiri. 13 . Konsep-konsep yang secara implisit dipahami pada suatu tingkat menjadi dipahami secara eksplisit pada tingkat berikutnya. Suatu relasi yang benar pada suatu tingkat. Untuk mencapai pengertian dibutuhkan kegiatan tertentu dari fase-fase pembelajaran. Pada setiap tingkat muncul secara ekstrinsik dari sesuatu yang intrinsik pada tingkat sebelumnya. ia harus menguasai sebagian besar dari tingkat yang lebih rendah. tetapi seorang siswa tidak dapat mengambil jalan pintas ke tingkat tinggi dan berhasil mencapai pengertian. ternyata akan tidak benar pada tingkat yang lain.untuk memahaminya. selain itu sebagai persiapan untuk meningkatkan tahap berpikirnya kepada tahap yang lebih tinggi dari tahap sebelumnya. Dengan demikian anak dapat memperkaya pengalaman dan berpikirnya. sebab menghafal bukan ciri yang penting dari tingkat manapun. mempunyai simbol linguistiknya sendiri dan sistem relasinya sendiri yang menghubungkan simbolsimbol itu. Kenaikan dari tingkat yang satu ke tingkat yang berikutnya lebih banyak tergantung dari pembelajaran daripada umur atau kedewasaan biologis. Misalnya pemikiran tentang persegi dan persegi panjang. Untuk mendapatkan hasil yang diinginkan yaitu anak memahami geometri dengan pengertian. Supaya siswa dapat berperan dengan baik pada suatu tingkat yang lanjut dalam hirarki van Hiele. tetapi seseorang yang berpikiran pada tingkat ini tidak sadar atau tidak tahu akan sifat-sifat itu. anak itu baru bisa memahami melalui hafalan saja bukan melalui pengertian. dapat membimbing untuk mengingat-ingat hafalan. kegiatan belajar anak harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak atau disesuaikan dengan taraf berpikirnya. Seorang guru dapat mengurangi materi pelajaran ke tingkat yang lebih rendah. gambar-gambar sebenarnya juga ditentukan oleh sifat-sifatnya. Pada tingkat dasar.

Informasi Pada awal tingkat ini. Walaupun demikian. 1992). teori Van Hiele tidak mendukung model teori absorbsi tentang belajar mengajar. Meskipun demikian. Lagi pula. tetapi melalui pilihan-pilihan yang tepat. Fase-fase pembelajaran tersebut adalah: 1) fase informasi 2) fase orientasi 3) fase eksplisitasi 4) fase orientasi bebas 5) fase integrasi. Dalam hal ini objek yang dipelajari adalah sifat komponen dan hubungan antar komponen bangun-bangun segi empat. (Clements. Menurut Van Hiele (dalam Ismail. Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa sambil 14 . Van Hiele menuntut bahwa tingkat yang lebih tinggi tidak langsung menurut pendapat guru. Oleh karena itu.Dua orang yang berpikir pada tingkat yang berlainan tidak dapat saling mengerti. Model Van Hiele tidak hanya memuat tingkat-tingkat pemikiran geometrik. Fase 1. Struktur bahasa adalah suatu faktor yang kritis dalam perpindahan tingkat-tingkat ini. guru dan siswa menggunakan tanya-jawab dan kegiatan tentang objek-objek yang dipelajari pada tahap berpikir siswa. kenaikan dari tingkat yang satu ke tingkat berikutnya tergantung sedikit pada kedewasaan biologis atau perkembangannya. dan yang satu tidak dapat mengikuti yang lainnya. dan tergantung lebih banyak kepada akibat pembelajarannya. terutama untuk memberi bimbingan mengenai pengharapan. maka ditetapkan fase-fase pembelajaran yang menunjukkan tujuan belajar siswa dan peran guru dalam pembelajaran dalam mencapai tujuan itu. Guru memegang peran penting dan istimewa untuk memperlancar kemajuan. siswa tidak akan mencapai kemajuan tanpa bantuan guru. anak-anak sendiri akan menentukan kapan saatnya untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi. 1998).

dan tugas yang open-ended.melakukan observasi. banyak hubungan antar objek menjadi jelas. Hal ini penting. Mereka memperoleh pengalaman dalam menemukan cara mereka sendiri. Fase 2: Orientasi Siswa menggali topik yang dipelajari melalui alat-alat yang dengan cermat telah disiapkan guru. Melalui orientasi di antara para siswa dalam bidang investigasi. Aktivitas ini akan berangsur-angsur menampakkan kepada siswa struktur yang memberi ciri-ciri sifat komponen dan hubungan antar komponen suatu bangun segi empat. Alat atau pun bahan dirancang menjadi tugas pendek sehingga dapat mendatangkan respon khusus. Guru dapat membantu siswa dalam membuat sintesis ini dengan melengkapi survey secara global terhadap apa yang telah dipelajari. tugas yang dilengkapi dengan banyak cara. Tujuan dari kegiatan ini adalah: (1) guru mempelajari pengalaman awal yang dimiliki siswa tentang topik yang dibahas. Fase 4: Orientasi Bebas Siswa menghadapi tugas-tugas yang lebih kompleks berupa tugas yang memerlukan banyak langkah. guru memberi bantuan sesedikit mungkin. Fase 5: Integrasi Siswa meninjau kembali dan meringkas apa yang telah dipelajari. siswa menyatakan pandangan yang muncul mengenai struktur yang diobservasi. tetapi kesimpulan ini tidak menunjukkan sesuatu yang baru. Pada akhir fase kelima ini 15 . Di samping itu. Fase 3: Penjelasan Berdasarkan pengalaman sebelumnya. maupun dalam menyelesaikan tugas-tugas. untuk membantu siswa menggunakan bahasa yang tepat dan akurat. Hal tersebut berlangsung sampai sistem hubungan pada tahap berpikir mulai tampak nyata. (2) guru mempelajari petunjuk yang muncul dalam rangka menentukan pembelajaran selanjutnya yang akan diambil.

Kreatif. Enaktif dan Menyenangkan). D. Dalam pelaksanaan PAKEM perlu diperhatikan beberapa hal berikut: 16 . hasil penelitian di Amerika Serikat dan negara lainnya menetapkan bahwa tingkat-tingkat dari Van Hiele berguna untuk menggambarkan perkembangan konsep geometrik siswa dari SD sampai Perguruan Tinggi. maka tingkat pemikiran yang baru tentang topik itu dapat tercapai.siswa mencapai tahap berpikir yang baru. terkondisi dan mendorong pemusatan perhatian peserta didik terhadap belajar. karena teori ini menekankan tahap permainan. Pada umumnya. dan guru yang aktif. Menyenangkan diartikan sebagai suasana belajar mengajar yang hidup. Siswa siap untuk mengulangi fase-fase belajar pada tahap sebelumnya. ekspresif. Efektif diartikan sebagai tercapainya suatu tujuan yang merupakan pijakan utama suatu rancangan pembelajaran. Setelah selesai fase kelima ini. Teori Dienes Teori belajar Dienes sangat terkait dengan konsep pembelajaran dengan pendekatan PAKEM ( Pembelajaran Aktif. Aktif dapat diartikan siswa mampu berinteraksi yaitu bertanya atau mengeluarkan ide. Kreatif diartikan siswa diberi kesempatan untuk membuat atau merancang sesuatu atau menuliskan sebuah gagasan dan guru yang kreatif yaitu guru yang memberikan variasi dalam proses belajar mengajar dan membuat alat bantu serta menciptakan teknik – teknik mengajar tertentu sesuai tujuan pembelajaran. pengetahuan dan sikap bagi kehidupan kelak. dimana tahap ini dapat membangkitkan semangat dan membuat anak senang dalam belajar. yaitu guru yang memantau kegiatan belajar siswa dan memberikan umpan balik. Tujuan dari PAKEM yaitu menciptakan suatu lingkungan belajar yang melengkapi anak dengan keterampilan.

17 . Dienes mengemukakan bahwa tiap-tiap konsep atau prinsip dalam matematika yang disajikan dalam bentuk yang konkret akan dapat dipahami dengan baik. sehingga dalam pembelajaran pada orang dewasa berbeda dengan pembelajaran anak-anak. Membedakan antara aktif fisik dan aktif mental. f. c. Dienes berpendapat bahwa pada dasarnya matematika dapat dianggap sebagai studi tentang struktur. d. Menegembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik. Menegembangkan kemampuan berfikir kritis. Zoltan P. dan kemampuan memecahkan masalah. kreatif. karena kemampuan tingkat kognitif seseorang tergantung dari usia seseorang.a. memisah-misahkan hubungan-hubungan diantara struktur-struktur dan mengkatagorikan hubungan-hubungan di antara strukturstruktur. dalam proses belajar mengajar tingkat kognitif menjadi suatu hal yang sangat penting. Dasar teorinya bertumpu pada teori pieget. e. b. h. sedemikian rupa sehingga sistem yang dikembangkannya itu menarik bagi anak yang mempelajari matematika. Memanfaatkan perilaku peserta didik dalam pengorganisasian belajar. Mengenal peserta didik secara individu. Memberikan umpan balik yang bertanggungjawab untuk meningkatkan kegiatan belajar mengajar. Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar. Dienes adalah seorang matematikawan yang memusatkan perhatiannya pada cara-cara pengajaran terhadap anak-anak. Ini mengandung arti bahwa benda-benda atau obyek-obyek dalam bentuk permainan akan sangat berperan bila dimanipulasi dengan baik dalam pengajaran matematika. g. Teori perkembangan kognitif melihat bahwa proses belajar seseorang dilihat dari tingkat kemampuan kognitifnya. Memahami sifat peserta didik. dan pengembangannya diorientasikan pada anakanak.

Misalnya dengan diberi permainan block logic. Menurut Dienes konsep-konsep matematika akan berhasil jika dipelajari dalam tahap-tahap tertentu. Permainan bebas merupakan tahap belajar konsep yang aktifitasnya tidak berstruktur dan tidak diarahkan. akan makin jelas konsep yang dipahami anak. Selama permainan pengetahuan anak muncul. yaitu: Permainan Bebas (Free Play) Dalam setiap tahap belajar. Untuk melatih anak-anak dalam mencari kesamaan sifat-sifat ini. siswa sudah mulai meneliti polapola dan keteraturan yang terdapat dalam konsep tertentu. tahap yang paling awal dari pengembangan konsep bermula dari permainan bebas. Translasi ini tentu tidak boleh mengubah sifat-sifat abstrak yang ada dalam permainan semula. Anak didik diberi kebebasan untuk mengatur benda. Dienes membagi tahap-tahap belajar menjadi 6 tahap. anak-anak mulai diarahkan dalam kegiatan menemukan sifat-sifat kesamaan dalam permainan yang sedang diikuti. Jelaslah. Permainan yang Menggunakan Aturan (Games) Dalam permainan yang disertai aturan. guru perlu mengarahkan mereka dengan mentranslasikan kesamaan struktur dari bentuk permainan yang satu ke bentuk permainan lainnya. dengan melalui permainan siswa diajak untuk mulai mengenal 18 . Keteraturan ini mungkin terdapat dalam konsep tertentu tapi tidak terdapat dalam konsep yang lainnya. Dalam tahap ini anak mulai membentuk struktur mental dan struktur sikap dalam mempersiapkan diri untuk memahami konsep yang sedang dipelajari. tebal tipisnya benda yang merupakan ciri/sifat dari benda yang dimanipulasi. karena anak-anak akan memperoleh hal-hal yang bersifat logis dan matematis dalam konsep yang dipelajarinya itu.Makin banyak bentuk-bentuk yang berlainan yang diberikan dalam konsepkonsep tertentu. anak didik mulai mempelajari konsepkonsep abstrak tentang warna. Dalam mencari kesamaan sifat.

akan semakin jelas konsep yang dipahami siswa. Representasi yang diperoleh ini bersifat abstrak. Contoh kegiatan yang diberikan dengan permainan block logic. Contoh dengan permainan block logic. Para siswa menentukan representasi dari konsep-konsep tertentu. karena akan memperoleh hal-hal yang bersifat logis dan matematis dalam konsep yang dipelajari itu. hijau. Setelah mereka berhasil menyimpulkan kesamaan sifat yang terdapat dalam situasi-situasi yang dihadapinya itu. Permainan Representasi (Representation) Representasi adalah tahap pengambilan sifat dari beberapa situasi yang sejenis. anak dihadapkan pada kelompok persegi dan persegi panjang yang tebal. Permainan Kesamaan Sifat (Searching for communalities) Dalam mencari kesamaan sifat siswa mulai diarahkan dalam kegiatan menemukan sifat-sifat kesamaan dalam permainan yang sedang diikuti. guru perlu mengarahkan mereka dengan menstranslasikan kesamaan struktur dari bentuk permainan lain. serta timbul penolakan terhadap bangun yang tipis (tebal). dan sebagainya. Menurut Dienes. Untuk melatih dalam mencari kesamaan sifat-sifat ini. anak didik memerlukan suatu kegiatan untuk mengumpulkan bermacam-macam pengalaman. atau yang merah. Makin banyak bentuk-bentuk berlainan yang diberikan dalam konsep tertentu. anak diminta mengidentifikasi sifat-sifat yang sama dari benda-benda dalam kelompok tersebut (anggota kelompok).dan memikirkan bagaimana struktur matematika itu. Dalam membentuk kelompok bangun yang tipis. kemudian membentuk kelompok benda berbentuk segitiga. atau yang berwarna merah. anak diberi kegiatan untuk membentuk kelompok bangun yang tipis. Translasi ini tentu tidak boleh mengubah sifat-sifat abstrak yang ada dalam permainan semula. timbul pengalaman terhadap konsep tipis dan merah. untuk membuat konsep abstrak. dan kegiatan untuk yang tidak relevan dengan pengalaman itu. Dengan demikian telah mengarah pada pengertian struktur matematika yang sifatnya 19 . kuning). atau yang tebal. atau tidak merah (biru.

asosiatif. Sebagai contoh. adanya elemen identitas. Dienes menyatakan bahwa proses pemahaman (abstracton) berlangsung selama belajar. anak didik telah mengenal dasar-dasar dalam struktur matematika seperti aksioma. Dalam tahap ini siswa-siswa dituntut untuk mengurutkan sifat-sifat konsep dan kemudian merumuskan sifat-sifat baru konsep tersebut. kegiatan berikutnya menentukan rumus banyaknya diagonal suatu poligon yang digeneralisasikan dari pola yang didapat anak. dalam arti membuktikan teorema tersebut. Pada tahap formalisasi anak tidak hanya mampu merumuskan teorema serta membuktikannya secara deduktif. komutatif. tetapi mereka sudah mempunyai pengetahuan tentang sistem yang berlaku dari pemahaman konsep-konsep yang terlibat satu sama lainnya. harus mampumerumuskan teorema dalam arti membuktikan teorema tersebut. Misalnya bilangan bulat dengan operasi penjumlahan peserta sifat-sifat tertutup. membentuk sebuah sistem matematika. Contohnya. dan mempunyai elemen invers.abstrak yang terdapat dalam konsep yang sedang dipelajari. dari kegiatan mencari banyaknya diagonal dengan pendekatan induktif tersebut. harus mampu merumuskan suatu teorema berdasarkan aksioma. Permainan dengan Simbolisasi (Symbolization) Simbolisasi termasuk tahap belajar konsep yang membutuhkan kemampuan merumuskan representasi dari setiap konsep-konsep dengan menggunakan simbol matematika atau melalui perumusan verbal. Contoh kegiatan anak untuk menemukan banyaknya diagonal poligon misal segi dua puluh tiga. sebagai contoh siswa yang telah mengenal dasar-dasar dalam struktur matematika seperti aksioma. Permainan dengan Formalisasi (Formalization) Formalisasi merupakan tahap belajar konsep yang terakhir. Untuk pengajaran konsep matematika yang lebih sulit perlu dikembangkan materi matematika secara kongkret agar konsep matematika dapat dipahami dengan 20 . dengan pendekatan induktif.

variasi sajian hendaknya tampak berbeda antara satu dan lainya sesuai dengan prinsip variabilitas perseptual (perseptual variability). suatu anak didik dihadapkan pada permainan yang terkontrol dengan berbagai sajian. Langkah selanjutnya. adalah memotivasi anak didik untuk mengabstraksikan pelajaran tanda material kongkret dengan gambar yang sederhana. semakin jelas bagi anak dalam memahami konsep tersebut. Dengan demikian. Dienes berpendapat bahwa materi harus dinyatakan dalam berbagai penyajian (multiple embodiment). Menurut Dienes. pola berpikir anak-anak tidak sama dengan pola 21 . Berbagai sajian (multiple embodiment) juga membuat adanya manipulasi secara penuh tentang variabel-variabel matematika. Berbagai penyajian materi (multiple embodinent) dapat mempermudah proses pengklasifikasian abstraksi konsep. sehingga anak-anak dapat bermain dengan bermacam-macam material yang dapat mengembangkan minat anak didik. menurut Dienes. semakin banyak bentuk-bentuk berlainan yang diberikan dalam konsep tertentu. Kegiatan ini menggunakan kesempatan untuk membantu anak didik menemukan cara-cara dan juga untuk mendiskusikan temuan-temuannya. peta dan akhirnya memadukan simbolo – simbol dengan konsep tersebut. Pentingnya simbolisasi adalah untuk meningkatkan kegiatan matematika ke satu bidang baru. Berhubungan dengan tahap belajar. Proses pembelajaran ini juga lebih melibatkan anak didik pada kegiatan belajar secara aktif dari pada hanya sekedar menghapal.tepat. Langkah-langkah ini merupakan suatu cara untuk memberi kesempatan kepada anak didik ikut berpartisipasi dalam proses penemuan dan formalisasi melalui percobaan matematika. Perkembangan kognitif setiap individu yang berkembang secara kronologi tidak terlepas dari faktor usia. grafik. Variasi matematika dimaksud untuk membuat lebih jelas mengenai sejauh mana sebuah konsep dapat digeneralisasi terhadap konsep yang lain. sehingga anak didik dapat melihat struktur dari berbagai pandangan yang berbedabeda dan memperkaya imajinasinya terhadap setiap konsep matematika yang disajikan.

sebab anak bukan miniatur orang dewasa. Teori Piaget Teori Perkembangan Intelektual Piaget Teori belajar Dienes sangat terkait dengan teori belajar yang dikemukakan oleh Piaget. semakin ia dewasa makin meningkat pula kemampuan berpikirnya. 1981). 22 . Jean Piaget berpendapat bahwa proses berpikir manusia sebagai suatu perkembangan yang bertahap dari berpikir intelektual konkret ke abstrak berurutan melalui empat periode. E. Jadi. Jadi. Maka tahap perkembangan kognitif yang dicapai oleh setiap individu berbeda pula. Urutan periode itu tetap bagi setiap orang. perkembangan kognitif seorang individu dipengaruhi oleh lingkungan dan transmisi sosial. Selain daripada itu. karena efektivitas hubungan antara setiap individu dengan lingkunganya dan kehidupan sosialnya berbeda satu sama lain. Oleh karena itu agar perkembangan kognitif seorang anak berjalan secara maksimal diperkaya dengan pengalaman edukatif. berpendapat bahwa proses berpikir manusia merupakan suatu perkembangan yang bertahap dari berpikir intelektual kongkret ke abstrak berurutan melalui empat tahap perkembangan. Piaget (dalam Bell.Periode Sensori Motor (0 – 2) tahun. yaitu mengenai teori perkembangan intelektual. namun usia atau kronologis pada setiap orang yang memasuki setiap periode berpikir yang lebih tinggi berbeda-beda tergantung kepada masing-masing individu. Piaget adalah orang pertama yang menggunakan filsafat konstruktivis dalam proses belajar mengajar. dalam memandang anak keliru jika kemampuan anak dengan kemampuan orang dewasa sama.berfikir orang dewasa. sebagai berikut: 1.

Pada periode ini anak terpaku kepada kontak langsung dengan lingkungannya.Periode Pra-operasional (2 – 7) tahun. pada akhir periode ini. dan merupakan aktivitas mental. Namun karena pengalamannya terhadap lingkungannya. misalnya suatu benda diberi nama (simbol). Bila objek itu disembunyikan. Pada periode ini anak di dalam berpikirnya tidak didasarkan kepada keputusan yang logis melainkan didasarkan kepada keputu san yang dapat dilihat seketika. Anak itu belum mempunyai kesadaran adanya konsep objek yang tetap. Operasi kongkret hanyalah menunjukkan kenyataan adanya hubungan dengan pengalaman empirik-kongkret yang lampau dan masih mendapat kesulitan dalam mengambil kesimpulan yang logis dari pengalaman pengamanan yang khusus. 3. anak menyadari bahwa objek yang disembunyikan tadi masih ada dan ia akan mencarinya. Walaupun pada periode permulaan pra-operasional ini anak mampu menggunakan simbol-simbol. tetapi anak itu mulai memanipulasi simbol dari benda-benda sekitarnya. Pekerjaan-pekerjaan logika dapat dilakukan dengan berorientasi ke objek-objek atau peristiwa-peristiwa yang 23 . Periode ini sering disebut juga periode pemberian simbol. anak itu tidak akan mencarinya lagi. bukan aktivitas sensori motor. Dalam periode ini anak berpikirnya sudah dikatakan menjadi operasional. Operasi yang dimaksud di sini adalah suatu proses berpikir atau logik. Rangsangan itu timbul karena anak melihat dan meraba-raba objek. 2. Periode ini disebut operasi kongkret sebab berpikir logikanya didasarkan atas manipulasi fisik dari objek -objek.Periode operasi kongkret (7 – 12) tahun. ia masih sulit melihat hubungan- hubungan dan mengambil kesimpulan secara taat asas.Karateristik periode ini merupakan gerakan-gerakan sebagai akibat reaksi langsung dari rangsangan.

Anak dapat membentuk variasi relasi kelas dan mengerti bahwa beberapa kelas dapat dimasukkan ke kelas lain. c. Setiap operasi logik atau matematik dapat dikerjakan dengan operasi kebalikan. Identitas adalah suatu operasi yang menunjukkan adanya unsur nol yang bila dikombinasikan dengan unsur atau kelas hasilnya tidak berubah. Misalnya unsur dari suatu himpunan berkawan dengan satu unsur dari himpunan kedua dan sebaliknya. Anak masih terikat kepada pengalaman pribadi. Pengalaman anak masih kongkret dan belum formal. Hubungan A > B dan B > C menjadi A > C.langsung dialami anak. d. 24 . b. Anak itu belum memperhitungkan semua kemungkinan dan kemudian mencoba menemukan kemungkinan yang mana yang akan terjadi. Demikian juga suatu jumlah dapat dinolkan dengan mengkombinasikan lawannya.dalam himpunan bilangan bulat dengan operasi ‖+‖. operasi ‖+‖. berlaku hukum asosiatif terhadap penjumlahan. Misalnya semua manusia laki – laki dan semua manusia perempuan adalah semua manusia. karateristik berpikir anak adalah sebagai berikut: a. Reversibilitas adalah operasi kebalikan. misalnya 4 – 4 = 0. Dalam periode operasi kongkret. unsur nol adalah 0 sehingga 8 + 0 = 8. 5 + ? = 9 sama dengan 9 – 5 = ? Reversibilitas ini merupakan karakteristik utama untuk berpikir operasional di dalam teori Piaget. e. Korespondensi satu – satu antara objek-objek dari dua kelas. Misalnya. Kombinasivitas atau klasifikasi adalah suatu operasi dua kelas atau lebih yang dikombinasikan ke dalam suatu kelas yang lebih besar. Misalnya himpunan bilangan bulat. Asosiasivitas adalah suatu operasi terhadap beberapa kelas yang dikombinasikan menurut sebarang urutan. Misalnya.

Konsep konservasi telah tercapai sepenuhnya. ia dapat mengisolasi faktor-faktor tersendiri atau mengkombinasikan faktor-faktor itu sehingga menuju penyelesaian masalah tadi. Anak telah mampu melihat hubungan-hubungan abstrak dan menggunakan proposisi-proposisi logik-formal termasuk aksioma dan definisi. Namun prinsip konservasi yang dimiliki anak pada periode ini masih belum penuh. Anak sudah dapat mengoperasikan argumen-argumen tanpa dikaitkan dengan benda-benda empirik. terutama selama transisi dari periode yang satu ke periode berikutnya. tetapi ia sudah mulai menggeneralisasi objek-objek tadi. Menurut Piaget. Konservasi berkenaan dengan kesadaran bahwa satu aspek dari benda. Anak mampu menyelesaikan masalah dengan cara yang lebih baik dan kompleks dari pada anak yang masih dalam tahap periode operasi kongkret. artinya bila anak dihadapkan kepada suatu masalah. Kesadaran adanya prinsip-prinsip konservasi. tahap-tahap berpikir itu adalah pasti dan spontan namun umur kronologis yang diberikan itu adalah fleksibel. yaitu menggunakan prosedur hipotetik-deduktif. Umur 25 .Periode Operasi Formal (> 12) tahun.definisi verbal. Ia mampu menggunakan prosedur seorang ilmuwan. Anak pada periode ini dilandasi oleh observasi dari pengalaman dengan objek nyata. Anak juga sudah dapat berpikir kombinatorik.Anak sudah mampu menggunakan hubungan-hubungan di antara objek-objek apabila ternyata manipulasi objek-objek tidak memungkinkan. Periode ini merupakan tahap terakhir dari keempat periode perkembangan intelektual. Anak-anak pada periode ini sudah memberikan alasan dengan menggunakan lebih banyak simbol atau gagasan dalam cara berpikir. tetap sama sementara itu aspek lainnya berubah.f. 4. Periode operasi formal ini disebut juga sebagai periode operasi hipotetik-deduktif yang merupakan tahap tertinggi dari perkmbangan intelektual.

Piaget berpendapat. Pekarangan rumah berbentuk persegipanjang. maka konsep fungsi kuadrat akan lebih bermakna jika konsep tersebut dikemas dalam bentuk masalah-masalah seharihari yang cukup sederhana seperti berikut : (1). pola. pembelajaran harus dimulai dari masalah-masalah yang berkaitan dengan konsep yang akan diberikan dan berada dalam kehidupannya sehari-hari. Menurut teori ini. bereksplorasi. tidak ada gunanya bila kita memaksa anak untuk cepat berpindah ke periode berikutnya. berapa lebar parit yang direncanakan ? (2). pertama anak dengan bantuan guru secara tidak langsung diberikan kesempatan untuk menganalisis masalahmasalah yang diberikan menjadi struktur yang lebih sederhana sehingga mudah 26 . Istilah ―Gestalt‖ mengacu pada sebuah objek/figur yang utuh dan berbeda dari penjumlahan bagian-bagiannya. dan diberikan kebebasan bereksperimen. Ketika mengkonstruksi konsep. Sekeliling kebun yang berbentuk persegipanjang dengan panjang 18 m dan lebar 12 m. anak harus banyak diberikan kesempatan untuk berdialog (berdiskusi) dengan teman-temannya maupun dengan guru. Teori gestalt beroposisi terhadap teori strukturalisme.kronologis itu dapat saling tindih bergantung kepada individu. Jika kita akan mengajarkan konsep fungsi kuadrat. bagaimanakah ukurannya supaya luasnya sebesar-besarnya ? Aliran terapi Gestalt memandang bahwa konsep atau pengetahuan baru merupakan struktur yang terorganisir dan merupakan masalah bagi anak. ataupun kemiripan menjadi kesatuan. Teori gestalt cenderung berupaya mengurangi pembagian sensasi menjadi bagian-bagian kecil. Jika kelilingnya adalah 400 m. akan dibuat parit pembuangan air. Jika si pemilik kebun hanya mampu membuat parit seluas 99 m2. Langkah-langkah pembelajaran menurut aliran ini. F. Teori Gestalt Gestalt adalah sebuah teori yang menjelaskan proses persepsi melalui pengorganisasian komponen-komponen sensasi yang memiliki hubungan.

Proses ini terjadi di otak dan sama sekali bukan proses fisik. Konsep pentingnya : phi phenomenon (bergeraknya obyek statis menjadi rangkaian gerakan yang dinamis setelah dimunculkan dalam waktu singkat dan dengan demikian memungkinkan manusia melakukan interpretasi). Bersama-sama dengan Wolfgang Koehler (1887-1967) dan Kurt Koffka (1887-1941) melakukan eksperimen yang akhirnya menelurkan ide Gestalt.  Max Wertheimer (1880-1943) Belajar pada Kuelpe. Teori ini dibangun oleh tiga orang. tetapi proses mental. seorang tokoh aliran Wuerzburg. Dengan konsep ini. Dengan pernyataan ini ia menentang pendapat Wundt yang menunjuk pada proses fisik sebagai penjelasan phi phenomenon. Max Wertheimer. Wertheimer menunjuk pada proses interpretasi dari sensasi obyektif yang kita terima. Akhirnya anak mencoba melakukan penerapan dari konsep yang sudah dipelajarinya.dipahami anak. and Wolfgang Köhler. Mereka menyimpulkan bahwa seseorang cenderung mempersepsikan apa yang terlihat dari lingkungannya sebagai kesatuan yang utuh. Selanjutnya anak mensintesis konsep atau pengetahuan dalam bentuk yang lebih umum.  Kurt Lewin (1890-1947) 27 . Kemudian anak menyusun atau mensintesis penyelesaian masalah itu berdasarkan pada struktur yang lebih sederhana dan sudah dimengerti anak. Kurt Koffka. Tahun 1910 ia mengajar di Univeristy of Frankfurt bersama-sama dengan Koehler dan Koffka yang saat itu sudah menjadi asisten di sana.

Vektor juga memiliki kekuatan dan titik awal berangkat. Tugas utama psikologi adalah meramalkan perilaku individu berdasarkan semua fakta psikologis yang eksis dalam lapangan psikologisnya pada waktu tertentu. Hambatan ini mungkin sekali menjadi obyek yang bervalensi negatif bagi individu. Dengan konsep vektor. Lapangan psikologis ini terdiri dari fakta dan obyek psikologis yang bermakna dan menentukan perilaku individu (B=f L). approach-avoidance. Batas ini dapat dipahami sebagai sebuah hambatan individu untuk mencapai tujuannya. Apabila terjadi ketidakseimbangan (disequilibrium).Pandangan Gestalt diaplikasikan dalam field psychology dari Kurt Lewin. Dalam lapangan psikologis ini juga terjadi daya (forces) yang menarik dan mendorong individu mendekati dan menjauhi tujuan. dan valensi ini Lewin menjelaskan teorinya mengenai tiga jenis konflik (approach-approach. 28 . Lewin lahir di Jerman. yaitu lapangan psikologis tempat individu berada dan bergerak. Konsep utama Lewin adalah Life Space. maka bagaimana valensi dari nilai tersebut bagi si individu akan menentukan gerakan individu. Gerakan individu mencapai tujuan (goal) disebut locomotion. Perilaku individu akan segera tertuju untuk meredakan ketegangan ini dan mengembalikan keseimbangan. Ia banyak terlibat dengan pemikir Gestalt. Dalam usahanya mendekati obyek bervalensi positif. Life space terbagi atas bagian-bagian memiliki batas-batas. Apabila individu menghadapi suatu obyek. Pada umumnya individu akan mendekati obyek yang bervalensi positif dan menjauhi obyek yang bervalensi negatif. yaitu Wertheimer dan Koehler dan mengambil konsep psychological field juga dari Gestalt. dan avoidance-avoidance). Arah individu mendekati/menjauhi tujuan disebut vektor. Lewin adalah salah seorang ahli yang sangat kuat menganjurkan pemahaman tentang lapangan psikologis seseorang.D dari University of Berlin dalam bidang psikologi tahun 1914. maka terjadi ketegangan (tension). sangat mungkin ada hambatan. daya. lulus Ph.

Implikasinya adalah penjelasan Lewin sulit sampai pada level explanatory dan sifatnya deskriptif. Maka perilaku kelompok menjadi fungsi dari lingkungan. Prinsip-prinsip pengorganisasian: O Principle of Proximity: bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertentu. hubungan yang baik akan membuat anggota saling mendekati sehingga memungkinkan kerjasama yang lebih baik dalam mencapai tujuan kelompok. bukan skill yang dipelajari. O Principle of Objective Set: Organisasi berdasarkan mental set yang sudah terbentuk sebelumnya. Apabila hubungan ini bervalensi negatif. Dasar berpikirnya adalah kelompok dianalogikan dengan individu. maka perilaku anggota akan menjauhinya dan dengan demikian tujuan kelompok semakin tidak tercapai. Oleh karena itu kemampuan persepsi ini merupakan fungsi bawaan manusia.Interaksi antara individu dan lingkungan disebut sebagai perceptual field.Aplikasi teori Lewin banyak dilakukan dalam konteks dinamika kelompok. Kritik untuk teori Lewin berfokus pada konstruk-konstruknya yang dianggap hipotetis dan sulit dikongkritkan dalam situasi eksperimental. Sebaliknya. Setiap perceptual field memiliki organisasi. 29 . O Principle of Similarity: bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang berada dalam arah yang sama cenderung akan dipersepsi sebagi suatu figure atau bentuk tertentu. 2. yang cenderung dipersepsikan oleh manusia sebagai figure and ground. dimana salah satu faktornya adalah para anggota kelompok dan hubungan interpersonal mereka. Pengorganisasian ini mempengaruhi makna yang dibentuk. Prinsip dasar Gestalt 1.

b. Penampilan suatu obyek seperti ukuran. makaakan terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figure. O Principle of Isomorphism: Organisasi berdasarkan konteks.O Principle of Continuity: Organisasi berdasarkan kesinambungan pola. terjadi reorganisasi dalam perceptual fieldnya. Setelah proses belajar terjadi.Pengalaman tilikan (insight). Dalam proses pembelajaran. bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. akan makin efektif pula sesuatu yang dipelajari. Contoh: perubahan nada tidak akan merubah persepsi tentang melodi. Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain : a. O Principle of Figure and Ground: yaitu menganggap bahwa setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar belakang.Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning). kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Makin jelas makna hubungan suatu unsur. Apabila individu mengalami proses belajar. Aplikasi prinsip Gestalt Belajar Proses belajar adalah fenomena kognitif. O Principle of Closure/ Principle of Good Form: bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap. Bila figure dan latar bersifat samarsamar. hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsurunsur dalam suatu obyek atau peristiwa. khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif 30 . potongan. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah. seseorang dapat memiliki cara pandang baru terhadap suatu problem. warnadan sebagainya membedakan figure dari latar belakang.

materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik. bahwa perilaku terarah pada tujuan. Menurut pandangan Gestalt. Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada.Transfer dalam Belajar. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya.Prinsip ruang hidup (life space). Juga menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). d.pemecahannya. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons. c. individu mampu menerapkannya pada problem sejenis tanpa perlu melalui proses trial- 31 . guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsipprinsip pokok dari materi yang diajarkannya. tetapi ada keterkaitannya dengan tujuan yang ingin dicapai. e. transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat. yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. Setelah adanya pengalaman insight.Perilaku bertujuan (pusposive behavior). Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya. guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya. Oleh karena itu. Insight Pemecahan masalah secara jitu yang muncul setelah adanya proses pengujian berbagai dugaan/kemungkinan. Oleh karena itu. Oleh karena itu.

Memory Hasil persepsi terhadap obyek meninggalkan jejak ingatan. namun tetap dapat mempertahankan aspek ilmiah dan empirisnya. Namun hal ini tidak mudah dilakukan karena pada saat itu di AS didominasi oleh pandangan behaviorisme. Pandangan Gestalt cukup luas diakui di Jerman namun tidak lama exist di Jerman karena mulai didesak oleh pengaruh kekuasaan Hitler yang berwawasan sempit mengenai keilmuan. berfokus pada higher mental process. ditemukan oleh Koehler dalam eksperimen yang sistematis. Adanya perceptual field diinterpretasikan menjadi lapangan kognitif dimana proses-proses mental seperti persepsi.dan problem solving beroperasi. yang selama ini dihindari karena abstrak. Para tokoh Gestalt banyak yang melarikan diri ke AS dan berusaha mengembangkan idenya di sana. 32 . Secara sosial.  Pandangan Gestalt menyempurnakan aliran behaviorisme dengan menyumbangkan ide untuk menggali proses belajar kognitif. Penerapan Prinsip of Good Form seringkali muncul dan terbukti secara eksperimental. Akibatnya psikologi gestalt diakui sebagai sebuah aliran psikologi namun pengaruhnya tidak sekuat behaviorisme. Dengan berjalannya waktu. Meskipun demikian. ada beberapa hal yang patut dicatat sebagai implikasi dari aliran Gestalt yaitu. insight. jejak ingatan ini akan berubah pula sejalan dengan prinsip-prinsip organisasional terhadap obyek.error lagi.  Pendekatan fenomenologis menjadi salah satu pendekatan yang eksis di psikologi dan dengan pendekatan ini para tokoh Gestalt menunjukkan bahwa studi psikologi dapat mempelajari higher mental process. fenomena ini juga menjelaskan pengaruh gosip/rumor. Konsep insight ini adalah fenomena penting dalam belajar.

maka hasil-hasil yang telah kuat / sukses dalam penelitian mengenai pengamatan itu dibawanya dalam studi mengenai belajar. sosial dan sebagainya. Pemahaman dan persepsi tentang hubungan-hubungan dalam kebulatan (entities) adalah sangat esensial dalam belajar. Belajar adalah perkembangan kearah diferensiasi ynag lebih luas. Demonstrasinya mengenai peranan latar belakang dan organisasinya terhadap proses-proses yang diamati secara fenomenal demikian meyakinkan sehingga boleh dikatakan tidak dapat di bantah. 3. Keseluruhan ini memberikan beberapa prinsip belajar yang penting. Manusia bereaksi dengan lingkungannya secara keseluruhan. lengkap dengan segala aspek-aspeknya. Karena asumsi bahwa hukum –hukum atau prinsip-prinsip yang berlaku pada proses pengamatan dapat ditransfer kepada hal belajar. emosional. 2.Psikologi Gestalt bermula pada lapangan pengamatan (persepsi) dan mencapai sukses yang terbesar juga dalam lapangan ini. Psikologi Gestalt ini terkenal juga sebagai teori medan (field) atau lazim disebut cognitive field theory. Pada pengamatan itu menekankan perhatian pada bentuk yang terorganisasi (organized form) dan pola persepsi manusia.bagiannya. Kelompok pemikiran ini sependapat pada suatu hal yakni suatu prinsip dasar bahwa pengalaman manusia memiliki kekayaan medan yang memuat fenomena keseluruhan lebih dari pada bagian. 4. tetapi juga secara fisik. tidak hanya secara intelektual. Belajar adalah penyesuaian diri dengan lingkungan. Ketika para ahli Psikologi Gestalt beralih dari masalah pengamatan ke masalah belajar. antara lain : 1. Manusia berkembang sebagai keseluruhan sejak dari kecil sampai dewasa. 33 . maka untuk memahami proses belajar orang perlu memahami hukum-hukum yang menguasai proses pengamatan itu.

Eksperimennya yang sangat terkenal adalah eksperimen ―Bobo doll‖ yang menunjukkan anak meniru secara persis perilaku agresif dari orang dewasa di sekitarnya. maka dia cenderung menyenangi judi. kelaziman) dan karakteristik pengamat (kemampuan indera. proses mengamati dan meniru perilaku sikap orang lain sebagai model merupakan tindakan belajar. mencakup peristiwa peniruan (adanya kejelasan. G. Ia seorang psikolog yang terkenal dengan teori belajar sosial atau kognitif sosial serta efikasi diri.5. Kondisi lingkungan sekitar individu sangat berpengaruh pada pola belajar sosial ini. Faktor-faktor yang berproses dalam belajar observasi adalah : 1. Perhatian (attention). Albert berkebangsaan Kanada. Belajar akan berhasil kalau ada tujuan. yaitu hukum Pragnaz. 7. kesamaan. apabila tercapai kematangan untuk memperoleh insight. perilaku dan pengaruh lingkungan. Misalnya seseorang yang hidup dan dibesarkan di lingkungan judi.yaitu hukum – hukum keterdekatan. penguatan sebelumnya). keterlibatan perasaan. atau setidaknya menganggap bahwa judi itu tidak jelek. persepsi. dan kontinuitas. Dalam hukum-hukum belajar Gestalt ini ada satu hukum pokok. ketertutupan. minat. 8. Teori Bandura menjelaskan perilaku manusia dalam konteks interaksi timbal-balik yang berkesinambungan antara kognitif. Belajar merupakan suatu proses bila seseorang itu aktif. 34 . bukan ibarat suatu bejana yang diisi. Belajar hanya berhasil. Tidak mungkin ada belajar tanpa ada kemauan untuk belajar. 6. tingkat kerumitan. motivasi memberi dorongan yang mengerakan seluruh organisme. dan empat hukum tambahan (subsider) yang tunduk kepada hukum yang pokok itu. Menurut Bandura. Teori Bandura Albert Bandura lahir pada tanggal 4 Desember 1925 di Mundare.

35 . 4. 2. Tingkat tertinggi belajar dari pengamatan diperoleh dengan cara mengorganisasikan sejak awal dan mengulangi perilaku secara simbolik kemudian melakukannya. Individu akan menyukai perilaku yang ditiru jika model atau panutan tersebut disukai dan dihargai serta perilakunya mempunyai nilai yang bermanfaat. yang harus juga diperhatikan bahwa faktor model atau teladan mempunyai prinsip-prinsip sebagai berikut. Sebagai contoh.2. dengan prinsip modifikasi perilaku. keakuratan umpan balik. 1. Teori Bandura menjadi dasar dari perilaku pemodelan yang digunakan dalam berbagai pendidikan secara massal. komunikasi. Teori sosial belajar dari Bandura ini merupakan gabungan antara teori belajar behovioristik dengan penguatan dan psikologi kognitif. mencakup kode pengkodean simbolik. Proses mengingat akan lebih baik dengan cara mengkodekan perilaku yang ditiru kedalam kata-kata. Teori belajar dari Bandura ini nampaknya memang bisa berlaku umum dalam semua langkah pendidikan sosial. Reproduksi motorik (reproduction). pengulangan motorik. Selain itu. 3. 3. keorganisasian pikiran. kemampuan meniru. mencakup dorongan dari luar dan penghargaan terhadap diri sendiri. mencakup kemampuan fisik. Proses belajar masih berpusat pada penguatan. Individu lebih menyukai perilaku yang ditiru jika sesuai dengan nilai yang dimilikinya. hanya terjadi secara langsung dalam berinteraksi dengan lingkungannya. pengulangan symbol. tanda atau gambar daripada hanya observasi sederhana (hanya melihat saja). Motivasi. penerapan teori belajar sosial dalam iklan televisi. Penyimpanan atau proses mengingat (retention). informasi dan instruksional.

Penentuan Nilai dari Suatu Insentif 36 .Namun karena kondisinya yang umum tadi. meskipun ia lapar. maka sulit dilaksanakan dalam sekolah-sekolah formal. 1995). Hanya dalam situasi sosial dan kemasyarakatanlah banyak terjadi belajar sosial. Terhadap manusia. Dalam kenyataannya. karena nilai penguatan dari penguat yang paling potensial sebagian besar ditentukan oleh faktor-faktor pribadi dan situsional. 1986 dan Wielkeiwicks. daripada membahas konsep motivasi belajar. Motivasi Belajar dan teori perilaku (Bandura) Konsep motivasi belajar berkaitan erat dengan prinsip bahwa perilaku yang memperoleh penguatan (reinforcement) di masa lalu lebih memiliki kemungkinan diulang dibandingkan dengan perilaku yang tidak memperoleh penguatan atau perilaku yang terkena hukuman (punishment). penganut teori perilaku lebih memfokuskan pada seberapa jauh siswa telah belajar untuk mengerjakan pekerjaan sekolah dalam rangka mendapatkan hasil yang diinginkan (Bandura. Penghargaan (Reward) dan Penguatan (Reinforcement) Suatu alasan mengapa penguatan yang pernah diterima merupaka penjelasan yang tidak memadai untuk motivasi karena motivasi belajar manusia itu sangat kompleks dan tidak bebas dari konteks (situasi yang berhubungan). Yakni untuk tujuan mempermudah terlaksananya proses belajar secara efektif. Terhadap binatang yang sangat lapar kita dapat meramalkan bahwa makanan akan merupakan penguat yang sangat efektif. sehingga metode belajar sosial dari Bandura ini agak sulit dilakukan. Peristiwa sosial juga terjadi di lingkungan sekolah dan pendidikan pada umumnya. kita tidak dapat sepenuhnya yakin apa yang merupakan penguat dan apa yang bukan penguat. Namun hal itu tentu saja sangat khusus dan terbatas. karena suasana dan kondisi yang sudah dirancang secara khusus untuk tujuan yang khusus pula.

Kadang-kadang suatu jenis motivasi jelas-jelas menentukan perilaku. Lebih lanjut menurut Bandura (1982) penguasaan skill dan pengetahuan yang kompleks tidak hanya bergantung pada proses perhatian. Dalam pembelajaran sel-regulatory akan menentukan ―goal setting‖ dan ―self evaluation‖ 37 . tetapi pada saat yang lain. ―Pekerjaan yang bagus! Saya tahu kamu dapat mengerjakan tugas itu apabila kamu mencobanya!‖ Ucapan ini dapat memotivasi seorang siswa yang baru saja menyelesaikan suatu tugas yang ia anggap sulit namun dapat berarti hukuman (punishment) bagi siswa yang berfikir bahwa tugas itu mudah (karena pujian guru itu memiliki implikasi bahwa ia harus bekerja keras untuk menyelesaikan tugas itu). Pada saat guru mengatakan ―Saya ingin kamu semua mengumpulkan laporan buku pada waktunya karena laporan itu akan diperhitungkan dalam menentukan nilaimu. motor reproduksi dan motivasi. 1992). retensi. Sense of self efficacy adalah keyakinan pembelajar bahwa ia dapat menguasai pengetahuan dan keterampilan sesuai standar yang berlaku. dan pengatur tingkah laku kita (Bandura. mengevaluasi. Tetapi bagaimanapun juga sejumlah siswa dapat tidak menghiraukan nilai karena orang tua mereka tidak menghiraukannya atau mereka memiliki catatan kegagalan di sekolah dan telah mengambil sikap bahwa nilai itu tidak penting. Apabila guru mengatakan kepada seorang siswa.‖ guru itu mungkin mengasumsikan bahwa nilai merupakan insentif yang efektif untuk siswa pada umumnya. karena nilai itu dapat bergantung pada banyak faktor (Chance. ada motivasi lain yang berpengaruh (mempengaruhi) terhadap perilaku belajar siswa. Seringkali sukar menentukan motivasi belajar siswa dari perilaku mereka karena banyak motivasi yang berbeda dapat mempengaruhi perilaku. 1978).Ilustrasi berikut menunjukkan poin penting: nilai motivasi belajar dari suatu insentif tidak dapat diasumsikan. 2) sub proses kognitif yang merasakan. tetapi juga sangat dipengaruhi oleh unsur-unsur yang berasal dari diri pembelajar sendiri yakni ―sense of self Efficacy‖ dan ―self – regulatory system‖. Self regulatory adalah menunjuk kepada 1) struktur kognitif yang memberi referensi tingkah laku dan hasil belajar.

Menurut Bandura agar pembelajar sukses instruktur/guru/dosen/guru harus dapat menghadirkan model yang mempunyai pengaruh yang kuat terhadap pembelajar. dan reinforcement bagi pembelajar. Berikut Bandura mengajukan usulan untuk mengembangkan strategi proses pembelajaran yaitu sebagi berikut : 1. Apakah reinforcement yang akan didapat melalui model yang dipilih? 3. bagaimana cara mengerjakan pekerjaan/kemampuan yang dipelajari :how to do this‖ dan bukannya ―not this‖. a.Analisis tingkah laku yang akan dijadikan model yang terdiri : a. Apakah karekter dari tingkah laku yang akan dijadikan model itu berupa konsep.Langkah-langkah manakah menurut sekuen yang harus dipresentasikan secara perlahan-lahan. 38 . Pengembangan sekuen instruksional Untuk mengajar motor skill. self efficacy. mengembangkan ―self of mastery‖. Bila tingkah laku yang dipelajari kurang memberi manfaat (tidk begitu penting) model manakah yang lebih penting? c. d.Tetapkan fungsi nilai dari tingkah laku dan pilihlah tingkah laku tersebut sebagai model. Apakah tingkah laku (kemampuan yang dipelajari) merupakan hal yang penting dalam kehidupan dimasa datang? (success prediction) b. pengulangan demonstrasi dan kesempatan untuk menunjukkan fungsi nilai dan tingkah laku. Bagaimanakah urutan atau sekuen dari tingkah laku tersebut? c.pembelajar dan merupakan dorongan untuk meraih prestasi belajar yang tinggi dan sebaliknya. Dimanakah letak hal-hal yang penting (key point) dalam sekuen tersebut? 2. motor skil atau efektif? b. Apakah model harus hidup atau simbol? Pertimbangan soal biaya.

perlu ditumbuhkan ―sense of efficacy‖ dan self regulatory‖ pembelajar. Belajar merupakan interaksi segitiga yang saling berpengaruh dan mengikat antara lingkungan. Komponen-komponen belajar terdiri dari tingkah laku. Dari uraian tentang teori belajar sosial. disamping pembelajaran-pembelajaran komponen-komponen skill itu sendiri. Dalam perencanaan pembelajaran skill yang kompleks. 4. 39 . Hasil belajar berupa kode-kode visual dan verbal yang mungkin dapat dimunculkan kembali atau tidak (retrievel). Implementasi pengajaran untuk menunut proses kognitif dan motor reproduksi.a. dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. faktor-faktor personal dan tingkah laku yang meliputi proses-proses kognitif belajar. Proses kognitif 1) Tampilkan model. 3. konsekuensikonsekuensi terhadap model dan proses-proses kognitif pembelajar. motor skill 1) hadirkan model 2) beri kesempatan kepada tiap-tiap pembelajar untuk latihan secarasimbolik 3) beri kesempatan kepada pembelajar untuk latihan dengan umpan balik visual b. baik yang didukung oleh kode-kode verbal atau petunjuk untuk mencari konsistensi pada berbagai contoh 2) Beri kesempatan kepada pembelajar untuk membuat ihtisar atau summary 3) Jika yang dipelajari adalah pemecahan masalah atau strategi penerapan beri kesempatan pembelajar untuk berpartisipasi secaraaktif 4) Beri kesempatan pembelajar untuk membuat generalisasi ke berbagai siatuasi. 2.

pembelajar sebaiknya diberi kesempatan yang cukup untuk latihan secara mental sebelum latihan fisik. 40 . dan ―reinforcement‖ dan hindari punishment yang tidak perlu. Dalam proses pembelajaran.5.

Dian Van Hiele-Geldof. meskipun pada tingkat ini siswa sudah mengenal nama sesuatu bangun. Pada tingkat ini siswa sudah mengenal bangun-bangun geometri berdasarkan ciri-ciri dari masing-masing bangun. Pada tingkat ini siswa belum memperhatikan komponen-komponen dari masing-masing bangun. pada tingkat ini siswa tahu suatu bangun bernama persegipanjang. Tahapan berpikir atau tingkat kognitif yang dilalui siswa dalam pembelajaran geometri. Sebagai contoh. Teori Van Hiele Tingkat Kognitif menurut Van Hiele Dua tokoh pendidikan matematika dari Belanda. tetapi ia belum menyadari ciri-ciri bangun persegipanjang tersebut. Dengan kata lain. pada tingkat ini siswa sudah terbiasa menganalisis bagian-bagian yang ada pada suatu bangun dan mengamati sifat-sifat yang dimiliki oleh unsur-unsur tersebut 41 . Pada tingkat ini. yaitu Pierre Van Hiele dan isterinya.A. menurut Van Hiele adalah sebagai berikut:  Tingkat Visualisasi Tingkat ini disebut juga tingkat pengenalan.  Tingkat Analisis Tingkat ini dikenal sebagai tingkat deskriptif. mereka berpendapat bahwa dalam mempelajari geometri para siswa mengalami perkembangan kemampuan berpikir melalui tahap-tahap tertentu. siswa memandang sesuatu bangun geometri sebagai suatu keseluruhan (wholistic). siswa belum mengamati ciri-ciri dari bangun itu. Dalam teori yang mereka kemukakan. Dengan demikian. pada tahun-tahun 1957 sampai 1959 mengajukan suatu teori mengenai proses perkembangan yang dilalui siswa dalam mempelajari geometri.

Ini berarti bahwa pada tingkat ini siswa sudah memahami proses berpikir yang bersifat deduktif-aksiomatis dan mampu menggunakan proses berpikir tersebut.Sebagai contoh. Pada tingkat ini. pada tingkat ini siswa sudah bisa mengatakan bahwa jika pada suatu segiempat sisi-sisi yang berhadapan sejajar. maka sisi-sisi yang berhadapan itu sama panjang. tanpa membutuhkan model-model yang konkret sebagai acuan. Pada tingkat ini. dan semua sudutnya siku-siku‖  Tingkat Abstraksi Tingkat ini disebut juga tingkat pengurutan atau tingkat relasional. siswa sudah bisa memahami hubungan antar ciri yang satu dengan ciri yang lain pada sesuatu bangun. dan terorema-teorema dalam geometri. karena persegi juga memiliki ciri-ciri persegipanjang. siswa juga sudah bisa memahami hubungan antara bangun yang satu dengan bangun yang lain. Sebagai contoh. 42 . Pada tahap ini. pada tingkat ini siswa sudah bisa mengatakan bahwa suatu bangun merupakan persegipanjang karena bangun itu ―mempunyai empat sisi. Pada tingkat ini.  Tingkat Deduksi Formal Pada tingkat ini siswa sudah memahami perenan pengertian-pengertian pangkal. Pada tingkat ini siswa sudah mulai mampu menyusun bukti-bukti secara formal. sisi-sisi yang berhadapan sejajar. Di samping itu pada tingkat ini siswa sudah memahami pelunya definisi untuk tiap-tiap bangun.  Tingkat Rigor Tingkat ini disebut juga tingkat metamatematis. siswa memahami bahwa dimungkinkan adanya lebih dari satu geometri. aksioma-aksioma. siswa mampu melakukan penalaran secara formal tentang sistem-sistem matematika (termasuk sistem-sistem geometri). Misalnya pada tingkat ini siswa sudah bisa memahami bahwa setiap persegi adalah juga persegipanjang. definisi-definisi.

dan tidak dimungkinkan adanya tingkat yang diloncati. Selain itu. maka seluruh geometri tersebut juga akan berubah. pada tingkat ini siswa menyadari bahwa jika salah satu aksioma pada suatu sistem geometri diubah. kapan seseorang siswa mulai memasuki suatu tingkat yang baru tidak selalu sama antara siswa yang satu dengan siswa yang lain. Implementasi Teori Van Hiele dalam Pembelajaran Untuk meningkatkan suatu tahap berpikir ke tahap berpikir yang lebih tinggi Van Hiele mengajukan pembelajaran yang melibatkan 5 fase (langkah). pada tahap ini siswa sudah memahami adanya geometrigeometri yang lain di samping geometri Euclides. yaitu . 43 . dengan urutan yang sama. Akan tetapi. dan integrasi (integration).Sebagai contoh. semua anak mempelajari geometri dengan melalui tahap-tahap tersebut. orientasi bebas (free orientation). guru dan siswa menggunakan tanya jawab dan kegiatan tentang obyek-obyek yang dipelajari pada tahap berpikir yang bersangkutan. tetapi lebih bergantung pada pengajaran dari guru dan proses belajar yang dilalui siswa. informasi (information). penjelasan (explication). Guru mempelajari pengetahuan awal yang dipunyai siswa mengenai topik yang di bahas. Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa sambil melakukan observasi. orientasi langsung (directed orientation). Tujuan kegiatan ini adalah : a.  Fase 1 : Informasi (information) Pada awal fase ini. Sehingga. Menurut Van Hiele. proses perkembangan dari tahap yang satu ke tahap berikutnya terutama tidak ditentukan oleh umur atau kematangan biologis. menurut Van Hiele.

b. Guru mempelajari petunjuk yang muncul dalam rangka menentukan pembelajaran selanjutnya yang akan diambil. alat ataupun bahan dirancang menjadi tugas pendek sehingga dapat mendatangkan respon khusus. dan tugas-tugas open ended. Melalui orientasi diantara para siswa dalam bidang investigasi.  Fase 4 : Orientasi bebas (free orientation) Siswa mengahadapi tugas-tugas yang lebih komplek berupa tugas yang memerlukan banyak langkah. guru memberi bantuan seminimal mungkin. banyak hubungan antara obyekobyek yang dipelajari menjadi jelas.  Fase 2 : Orientasi langsung (directed orientation) Siswa menggali topik yang dipelajari melalui alat-alat yang dengan cermat disiapkan guru. Di samping itu untuk membantu siswa menggunakan bahasa yang tepat dan akurat.  Fase 3 : Penjelasan (explication) Berdasarkan pengalaman sebelumnya. maupun dalam menyelesaikan tugas-tugas. Mereka memperoleh pengalaman dalam menemukan cara mereka sendiri. Guru dapat membantu dalam membuat sintesis ini dengan melengkapi survey secara global terhadap apa-apa yang telah dipelajari siswa. 44 . Hal tersebut berlangsung sampai sistem hubungan pada tahap berpikir ini mulai tampak nyata. Jadi. Aktifitas ini akan berangsur-angsur menampakkan kepada siswa struktur yang memberi ciri-ciri untuk tahap berpikir ini.  Fase 5 : Integrasi (Integration) Siswa meninjau kembali dan meringkas apa yang telah dipelajari. tugas-tugas yang dilengkapi dengan banyak cara. siswa menyatakan pandangan yang muncul mengenai struktur yang diobservasi.

maka terjadilah belajar dengan hafalan. dan generalisasi-generalisasi yang telah disiswai dan diingat siswa. Suparno (1997) mengatakan pembelajaran bermakna adalah suatu proses pembelajaran di mana informasi baru dihubungkan dengan struktur pengertian yang sudah dimiliki seseorang yang sedang melalui pembelajaran. David Ausubel adalah seorang ahli psikologi pendidikan. Ausubel mengemukakan bahwa belajar dikatakan menjadi bermakna (meaningful) bila informasi yang akan dipelajari peserta didik disusun sesuai dengan struktur kognitif yang dimiliki peserta didik itu sehingga peserta didik itu dapat mengaitkan informasi barunya dengan kognitif yang dimilikinya. Dimensi pertama berhubungan dengan cara informasi atau materi pelajaran itu disajikan kepada siswa melalui penerimaan atau penemuan. Belajar bermakna (meaningful learning) 2. P. Jika siswa hanya mencoba menghafalkan informasi baru itu tanpa menghubungkan dengan struktur kognitifnya. ada dua jenis belajar : 1. Belajar menghafal (rote learning) Menurut Ausubel belajar dapat diklasifikasikan kedalam dua dimensi. Selanjutnya dimensi kedua menyangkut bagaimana siswa dapat mengaitkan informasi itu pada struktur kognitif yang telah ada. Struktur kognitif ialah fakta-fakta. TEORI BERMAKNA AUSUBEL Teori pembelajaran Ausabel merupakan salah satu dari sekian banyaknya teori pembelajaran yang menjadi dasar dalam cooperative learning. Menurut Ausubel (Dahar 1996) bahan subjek yang dipelajari siswa mestilah ―bermakna‖ (meaningfull).B. konsep-konsep. Dengan 45 . Menurut Ausubel. Pembelajaran bermakna merupakan suatu proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Sebaliknya jika siswa menghubungkan atau mengaitkan informasi baru itu dengan struktur kognitifnya maka yang terjadi adalah belajar bermakna D.

materi pelajaran yang telah tersusun secara logis disampaikan kepada siswa sampai bentuk akhir. yaitu: 1. Belajar dengan penemuan yang tidak bermakna. Empat tipe belajar menurut Ausubel. 2. kemudian dia hafalkan. peserta didik menjadi kuat ingatannya dan transfer belajar mudah dicapai. yaitu materi pelajaran yang telah tersusun secara logis disampaikan kepada siswa sampai bentuk akhir. kemudia pengetahuan yang baru itu dikaitkan dengan pengetahuan yang ia miliki. yaitu mengaitkan pengetahuan yang telahdimilikinya dengan materi pelajaran yang dipelajarinya atau siswa menemukan pengetahuannya dari apa yang ia pelajari kemudian pengetahuan baru itu ia kaitkan dengan pengetahuan yang sudah ada. Belajar menerima (ekspositori) yang tidak bermakna. Belajar menerima (ekspositori) yang bermakna. Teori pembelajaran Ausubel juga dikenali sebagai teori pembelajaran penerimaan atau penemuan . Belajar dengan penemuan yang bermakna. Selanjutnya peserta didik tidak dapat mengendapkan 46 . yaitu pelajaran yang dipelajari ditemukan sendiri oleh siswa tanpa mengaitkan pengetahuan yang telah dimilikinya. menghafal berlawanan dengan belajar bermakna. Bagi Ausubel. kemudia pengetahuan yang baru itu dihafalkan tanpa mengaitkannya dengan pengetahuan yang ia miliki. Dalam pembelajaran resepsinya .belajar bermakna ini. kerena beliau menekankan proses penguasaan maklumat melalui bahasa yang bermakna. 4. 3. Menghafal sebenarnya mendapatkan informasi yang terisolasi sedemikian hingga peserta didik itu tidak dapat mengaitkan informasi yang diperoleh itu ke dalam struktur kognitifnya. guru memberikan konsep-konsep dengan jelas dan tersusun supaya peserta didik dapat menerimanya dengan lengkap dan baik.

Demikianlah banyak peserta didik yang tidak berusaha mengerti matematika. dikatakan peserta didik itu belajar bahan baru dengan cara yang bermakna. Peserta didik yang masih di dalam periode operasi konkrit. Kondisi dan sikap peserta didik terhadap tugas. bila diberi bahan materi matematika yang abstrak tanpa contoh-contoh konkrit dari materi tersebut. c. Dengan demikian 47 .pengetahuan yang diperoleh itu sehingga peserta didik itu hanya dapat mengingat fakta-fakta yang sederhana. Tugas-tugas yang diberikan haruslah sesuai dengan tahap perkembangan intelektual peserta didik. b. akan mengakibatkan peserta didik itu tidak mempunyai keinginan mempelajari materi tersebut secara bermakna. Belajar bermakna berarti belajar dengan memperoleh pemberitahuan yang bermakna mempunyai pra syarat : a. Apabila peserta didik melaksanakan tugas dengan sikap bahwa ia ingin memahami bahan pelajaran dan mengaplikasikan bahan baru serta menghubungkan bahan pelajaran yang terdahulu. Sebaliknya bila peserta didik itu tidak berkehendak mengaitkan bahan yang dipelajari dengan informasi yang dimiliki. maka belajar itu tidak bermakna. Banyaknya pengetahuan yang dapat dipelajari tergantung kepada apa yang sudah diketahui. cenderung mengalami kegagalan dan akhirnya membenci matematika. hendaknya bersesuaian dengan tujuan belajar peserta didik. Tugas-tugas diberikan kepada peserta didik harus sesuai dengan struktur kognitif peserta didik sehingga peserta didik itu dapat mengasimilasi bahan baru secara bermakna. Ia tidak menghafal asosiasi stimulus-respon yang terpisah-pisah. Belajar yang bermakna pada tahap mula-mula memberikan pengertian kepada bahan baru sehingga bahan baru itu akan terserap dan kemudian diingat peserta didik. Adanya struktur kognitif di dalam mental peserta didik yang merupakan dasar unsur mengaitkan datangnya informasi baru.

Hasil pengkombinasian ini diaplikasikan kepengajaran matematika. 2. Langkah – langkah belajar bermakna Ausubel adalah : 1. Pengaturan awal (advance organizer) Pengaturan awal dap digunakan untuk membantu mengaitkan konsep yang lama dengan konsep yang baru yang lebih tinggi maknanya. Caranya unsur yang inklusif diperkenalkan terlebih dahulu kemudian baru lebih mendetail. Informasi yang dipelajari secara bermaknamemudahkan proses belajar beriktunya untuk materi pelajaran yang mirip. c. Diferensiasi Progregsif Dalam pembelajaran bermakna perlu ada pengembangan dan kolaborasi konsep-konsep. Informasi yang dipelajari secara bermakna lebih lama dapat diingat. perlu dikombinasikan sehingga kelemahan yang satu akan ditutup kekuatan yang lain. Dari dua aliran psikologi yang telah dikemukakan diatas yang masingmasing menghasilkan teori belajar. Ausubel (Dahar. b.1989 : 141) ada tiga kebaikan belajar bermakna yaitu : a. Informasi yang dipelajari secara bermakna mempermudah belajar hal-hal yang mirip walaupun telah lupa.peserta didik hanya menghafal pelajaran tadi tanpa pengertian sehingga peserta didik mempelajari matematika dengan pernyataanpernyataan verbalyang tidak cermat dan tepat. 48 .

Aktif diartikan peserta didik maupun berinteraksi untuk menunjang pembelajaran. bila diberi kesempatan merancang/membuat sesuatu. mengajukan pertanyaan menantang dan mempertanyakan gagasan anak didik. pengetahuan dan sikap bagi kehidupan kelak. Guru aktif akan memantau kegiatan belajar peserta didik.keterampilan. memberikan tanggapan. efektif dan menyenangkan). kreatif. mengungkapkan ide dan mendemonstrasikan gagasan atau idenya. memberi umpan balik. Oleh karena itu teori belajar Dienes ini sangat terkait dengan konsep pembelajaran dengan pendekatan PAKEM (Pembelajaran Aktif. TEORI DIENES Konsep PAKEM Teori belajar Dienes yang menekankan pada tahapan permainan yang berarti pembelajaran yang diarahkan pada proses melibatkan anak didik dalam belajar. Apabila suasana belajar yang aktif dan kreatif terjadi.C. bahkan mencipta teknik -teknik mengajar tertentu sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik dan tujuan belajarnya. Menurut Siswono (2004). Guru harus menciptakan suasana sehingga peserta didik aktif bertanya. maka akan mendorong peserta didik untuk menyenangi dan memotivasi mereka untuk 49 . PAKEM bertujuan untuk menciptakan sesuatu lingkungan belajar yang lebih melengkapi peserta didik dengan keterampilan. Kegiatan tersebut akan memuaskan rasa keingintahuan dan imajinasi mereka. Hal ini berarti proses pembelajaran dapa t membangkitkan dan membuat anak didik senang dalam belajar. Kreatif diartikan guru memberikan variasi dalam kegiatan belajar mengajar dan membuat alat bantu baljar. Berikut ini akan dijelaskan sec ara singkat tentang PAKEM. menuliskan ide atau gagasan. Dengan memberikan kesempatan peserta didik aktif akan mendorong kreativits peserta didik dalam belajar maupun memecahkan masalah. Peserta didik akan kreatif.

mengembangkan kemampuan bepikir kritis. Menyenangkan diartikan sebagai suasana belajar mengajar yang ‖hidup‖. semarak. membedakan antara aktif fisik dn aktif mental. memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar g. Dienes adalah seorang matematikawan yang memusatkan perhatiannya pada cara-cara pengajaran terhadap siswa-siswa. Dasar teorinya bertumpu pada Piaget. memanfaatkan perilaku anak dalam pengorganisasian belajar d.terus belajar. ekspresif. Dienes (dalam Ruseffendi. memisah - 50 . Efektif yang diartikan sebagai ketercapaian suatu tujuan (kompetensi) merupakan pijakan utama suatu rancangan pembelajaran. 1992) berpendapat bahwa pada dasarnya matematika dapat dianggap sebagai studi tentang struktur. mengenal peserta didik secara individu/perorangan c. Dalam pelaksanaan PAKEM perlu diperhatikan beberapa hal. Pembelajaran yang tampaknya aktif dan menyenangkan. sedemikian rupa sehingga sistem yang dikembangkannya itu menarik bagi siswa yang mempelajarinya. mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik f. memberikan umpan balik yang bertanggung jawab untuk meningkan kegiatan belajar mengajar h. kreatif dam kemampuan memecahkan masalah e. memahami sifat anak b. terkondisi untuk trus berlanjut. Tahap-Tahap Dalam Teori Belajar Dienes Zoltan P. yaitu: a. dan pengembangannya diorientasikan pada siswa-siswa. tetapi tidak efektif akan tampak hanya sekedar permainan belaka. dan mendorong pemusatan perhatian peserta didik terhadap belajar.

anak didik mulai mempelajari konsep-konsep abstrak tentang warna. Permainan Bebas (Free Play) Dalam setiap tahap belajar. Permainan yang Menggunakan Aturan (Games) Dalam permainan yang disertai aturan siswa sudah mulai meneliti pola-pola dan keteraturan yang terdapat dalam konsep tertentu. Dalam tahap ini anak mulai membentuk struktur mental dan struktur sikap dalam mempersiapkan diri untuk memahami konsep yang sedang dipelajari. Anak yang telah memahami aturan-aturan tadi. tebal tipisnya benda yang merupakan ciri/sifat dari benda yang dimanipulasi.hubungan di antara struktur-struktur. Dienes membagi tahap-tahap belajar menjadi tahap. Seperti halnya dengan Bruner. Selama permainan pengetahuan anak muncul. 2. yaitu 1. Anak didik diberi kebebasan untuk mengatur benda. Keteraturan ini mungkin terdapat dalam konsep tertentu tapi tidak terdapat dalam konsep yang lainnya. akan semakin jelas konsep yang dipahami siswa. Ini mengandung arti bahwa jika benda -benda atau objek-objek dalam bentuk permainan akan sangat berperan bila dimanipulasi dengan baik dalam pengajaran matematika. karena akan memperoleh 51 . Dienes mengemukakan bahwa tiap -tiap konsep atau prinsip dalam matematika yang disajikan dalam bentuk yang konkret aka n dapat dipahami dengan baik. tahap yang paling awal dari pengembangan konsep bermula dari permainan bebas. Permainan bebas merupakan tahap belajar konsep yang aktifitasnya tidak berstruktur dan tidak diarahkan. Jelaslah. dengan melalui permainan siswa diajak untuk mulai mengenal dan memikirkan bagaimana struktur matematika itu. Makin banyak bentuk-bentuk berlainan yang diberikan dalam konsep tertentu.misahkan hubungan-hubungan di antara struktur-struktur dan mengkategorikan hubungan. Misalnya dengan diberi permainan block logic.

dan kegiatan untuk yang tidak relevan dengan pengalaman itu. Permainan Kesamaan Sifat (Searching for communalities) Dalam mencari kesamaan sifat siswa mulai diarahkan dalam kegiatan menemukan sifat-sifat kesamaan dalam permainan yang sedang diikuti. Untuk melatih dalam mencari kesamaan sifat-sifat ini. atau yang berwarna merah. hijau. Para siswa menentukan representasi dari konsep -konsep tertentu. guru perlu mengarahkan mereka dengan menstranslasikan kes amaan struktur dari bentuk permainan lain. Setelah mereka berhasil menyimpulkan kesamaan sifat yang terdapat dalam situasi-situasi yang dihadapinya itu. kuning). Dengan demikian telah mengarah pada 52 . anak diberi kegiatan untuk membentuk kelompok bangun yang tipis. atau yang merah. anak didik memerlukan suatu kegiatan untuk mengumpulkan bermacam -macam pengalaman. Dalam membentuk kelompok bangun yang tipis. 4. anak diminta mengidentifikasi sifat-sifat yang sama dari benda-benda dalam kelompok tersebut (anggota kelompok). atau yang tebal. anak dihadapkan pada kelompok persegi dan persegi panjang yang tebal. kemudian membentuk kelompok benda berbentuk segitiga.hal-hal yang bersifat logis dan matematis dalam konsep yang dipelajari itu. serta timbul penolakan terhadap bangun yang tipis (tebal). 3. Representasi yang diperoleh ini bersifat abstrak. atau tidak merah (biru). Contoh dengan permainan block logic. Permainan Representasi (Representation) Representasi adalah tahap pengambilan sifat dari beberapa situasi yang sejenis. Translasi ini tentu tidak boleh mengubah sifat -sifat abstrak yang ada dalam permainan semula. Contoh kegiatan yang diberikan dengan permainan block logic. untuk membuat konsep abstrak. timbul pengalaman terhadap konsep tipis dan merah. dan sebagainya. Menurut Dienes.

Contohnya. Contoh kegiatan anak untuk menemukan banyaknya diagonal poligon (misal segi dua puluh tiga) dengan pendekatan induktif seperti berikut ini (gambar 2 5. tetapi mereka sudah mempunyai pengetahuan tentang sistem yang berlaku dari pemahaman konsep-konsep yang terlibat satu sama lainnya. Permainan dengan Formalisasi (Formalization) Formalisasi merupakan tahap belajar konsep yang terakhir. harus mampu merumuskan suatu teorema berdasarkan aksioma. asosiatif. komutatif. anak didik telah mengenal dasar -dasar dalam struktur matematika seperti aksioma. pada tahap formalisasi anak tidak hanya mampu merumuskan teorema serta membuktikannya secara deduktif.20) menyatakan. kegiatan berikutnya menentukan rumus banyaknya diagonal suatu poligon yang digeneralisasikan dari pola yang didapat anak. Sebagai contoh. Dalam tahap ini siswa-siswa dituntut untuk mengurutkan sifat-sifat konsep dan kemudian merumuskan sifat-sifat baru konsep tersebut. dalam arti membuktikan teorema tersebut. 53 . sebagai contoh siswa yang telah mengenal dasar-dasar dalam struktur matematika seperti aksioma. 6. Misalnya bilangan bulat dengan operasi penjumlahan peserta sifat-sifat tertutup. an mempunyai elemen invers. membentuk sebuah sistem matematika. adanya elemen identitas.pengertian struktur matematika yang sifatnya abstrak yang terdapat dalam konsep yang sedang dipelajari. harus mampu merumuskan teorema dalam arti membuktikan teorema tersebut. Karso (1999:1. dari kegiatan mencari banyaknya diagonal dengan pendekatan induktif tersebut. Permainan dengan Simbolisasi (Symbolization) Simbolisasi termasuk tahap belajar konsep yang membutuhkan kemampuan merumuskan representasi dari setiap konsep-konsep dengan menggunakan simbol matematika atau melalui perumusan verbal.

Jika hasil penjumlahan kurang atau sama dengan 10. sehingga anak didik menjadi aktif dan senang dalam belajar. Oleh karena itu. Mudah-mudahan melalui tulisan ini. Langkah-langkah permainan: 1. Jika hasil penjumlahan lebih dari 10. 2. jika guru dapat mengemas permainan sebagai media maupun pendekatan dalam belajar matematika bagi anak. Permainan Operasi Hitung a. 1 . akan dibahas permainan matematika pada topik bilangan dan topik geometri.Permainan Interaktif untuk Belajar Matematika Permainan interaktif merupakan suatu permainan yang dikemas dalam pembelajaran. Pada bagian tulusian ini. Sediakan kartu kecil merah untuk puluhan dan kartu kecil putih untuk satuan. Sediakan kantong kain/kantong plastik/kantong dari katon. maka penjumlahan suku-sukunya dilakukan dengan teknik ―menyimpan‖ Permainan ―menyimpan dan menjumlahkan‖ berikut memberikan kemudahan mengajarkan operasi penjumlahan. Tujuan : Memperlihatkan menyimpan sekaligus bentuk nyata penjumlahan dengan teknik menjelaskan langkah-langkah sistematis penyelesaian kalimat penjumlahan. Anda akan dapat merancang bagaimana mengemas pembelajaran matematika melalui permainan. maka anak akan senang belajar matematika sehingga menjadi efektif untuk mendapatkan hasil belajar yang optimal. Permainan Operasi Penjumlahan Ada dua teknik menjumlahkan. maka penjumlahan dapat dilakukan secara langsung dengan cara menjumlahkan suku-sukunya. 54 .

Karena dipinjam 1 maka sisa kartu merah menjadi = 4. Mintalah anak untuk mengurangkan 57 – 28 2. 17 dikurangi 8 menghasilkan 9.3. yaitu 40 + 6 = 46. Mintalah anak menjumlahkan hasilnya. yaitu 1 + 2 + 1 = 4. Mintalah anak menghitung total kartu merah. Permainan ―menukar dan mengurangkan‖ Tujuan: Memperlihatkan meminjam sekaligus bentuk nyata pengurangan dengan teknik memperlihatkan langkah-langkah sistematis penyelesaian kalimat pengurangan. Mintalah anak memasukan kartu merah tersebut ke kantong puluhan dan masukan sisa 6 kartu putih ke kantongan satuan. Permainan Operasi Pengurangan Ikutilah permainan berikut ini untuk memudahkan anak belajar operasi pengurangan dengan teknik meminjam. 4 – 2 = 2 (terangkan bahwa membacanya 20 karena nilainya puluhan) 3. Mintalah anak menggantikan 10 kartu putih dari 16 kartu p utih dengan satu kartu merah. Mintalah anak menyatukan 9 dan 7 buah kartu putih dan mintalah anak menghitung jumlahnya (jawaban : 16). Selanjutnya. 6. Langlah-langkah permainan: 1. Mintalah anak untuk menjumlahkan hasilnya. Terangkanlah bahwa nilai empat kartu merah tersebut adalah 40. Terangkan karena 7 tidak bisa dikurangi 8 maka ambil 1 kartu merah dan tukar dengan 10 kartu putih sehingga total kartu putih 7 + 10 = 17. Selanjutnya. 4. yaitu 20 + 9 = 29. 7. 5. 4. 8. Perluas contoh permainannya sampai ke bilangan ratusan dan seterusny 55 . b. Mintalah anak mengerjakan 19 + 27.

2. Permainan ―permen pembagian‖ Tujuan : Menjelaskan makna pembagian Langkah-langkah: 1. d. 3. yaitu 6. sedangkan 6 merupakan hasil perkalian 2 dan 3. Permainan Operasi Perkalian Ikutilah permainan berikut ini untuk melatih anak belaj ar perkalian dan kelipatan. Permainan Operasi Pembagian Permainan berikut ini mempermudah anak memahami operasi pembagian.c. Berikan masing-masing 2 buah permen kepada 3 orang anak. 3. Perlihatkan 6 permen di tangan. Permainan ―permen perkalian‖ Tujuan: Menjelaskan makna perkalian. misalnya 2 + 2+ 2 atau bentuk lain 3 x 2. Tanyakan berapakah jumlah total permen yang telah diberikan kepada ketiga anak tersebut. Terangkan bahwa hasilnya merupakan perkalian 2 dengan 3. 2. 56 . Bagikan secara merata 3 permen – 3 permen kepada beberapa anak sampai permen habis. Pada kalimat 3 x 2 = 6. 3 dan 2 disebut faktor dari 6. Tanyakan berapa anakkahyang akan mendapat permen. Langkah-langkah permainan: 1. Perkalian merupakan penjumlahan berulang.

persepsi. maka dia cenderung menyenangi judi. Kondisi lingkungan sekitar individu sangat berpengaruh padapola belajar sosial ini.4. minat. nilai fungsi) dan karakteristik pengamat (kemampuan indera. Faktor-faktor yang berproses dalam belajar observasi adalah 1. atau setidaknya menganggap bahwa judi itu tidak jelek. TEORI BANDURA Albert Bandura lahir tanggal 4 Desember 1925 di Mundare Alberta berkebangsaan Kanada. tingkat kerumitan. Eksperimennya yang sangat terkenal adalah eksperimen Bobo Doll yang menunjukkan anak meniru secara persis perilaku agresif dari orang dewasa disekitarnya. Tanamkanlah pada anak bahwa 6 : 3 = 6 – 3 – 3. Terangkan bahwa hasilnya merupakan pembagian 6 dengan 3. D. Menurut Bandura proses mengamati dan meniru perilaku. mencakup peristiwa peniruan (adanya kejelasan. keterlibatan perasaan. Ulangi permainan ―permen perkalian dan pembagian‖ ini sehingga anak mengerti betul makna perkalian dan pembagian serta hubungan keduanya dengan contoh lain. kelaziman. yaitu 2. penguatan sebelumnya) 57 . perilaku dan pengaruh lingkungan. Ia seorang psikolog yang terkenal dengan teori belajar sosial atau kognitif sosial serta efikasi diri. Misalnya seorang yang hidupnya dan lingkungannya dibesarkan dilingkungan judi. sikap orang lain sebagai model merupakan tindakan belajar. Perhatian (Attention). 5. Teori Bandura menjelaskan perilaku manusia dalam konteks interaksi timbal balik yang berkesinambungan antara kognitif.

Peserta didik harus berupaya melakukan semua tingkah laku yang ditirunya. Motivasi. 4. mencakup dorongan dari luar dan penghargaan terhadap diri sendiri (Motivation) Selain itu juga yang harus diperhatikan bahwa faktor model atau teladan mempunyai prinsip-prinsip sebagai berikut: 1. Di peringkat penghasilan latihan menjadikan tingkah laku lebih lancar dan mahir. Reproduksi motorik (Reproduction). 2. pengorganisasian pikiran.2. Individu lebih menyukai perilaku yang ditiru jika sesuai dengan nilai yang dimilikinya. Tingkat tertinggi belajar dari pengamatan diperoleh dengan cara mengorganisasikan sejak awal dan mengulangi perilaku secara simbolik kemudian melakukannya. Penyimpanan atau proses mengingat (Retention). Sebagai contoh: belajar gerakan tari dari instruktur membutuhkan pengamatan dari berbagai sudut yang dibantu cermin dan langsungditirukan oleh siswa pada saat itu juga. Kemudian proses meniru akan lebih terbantu jika gerakan tadi juga didukung dengan penayangan video. keakuratan umpan balik. mencakup kemampuan fisik.langkah dia mungkin belum bisa melakukannya dengan lancar. mendapat bimbingan tentang perkara. pengulangan simbol. gambar atau instruksi yang ditulis dalam buku panduan. 58 . pengualangan motorik. Proses mengingat akan lebih baik dengan cara mengkodekan perilaku yang ditiru kedalam kata-kata. tanda atau gambar dari pada hanya observasi sederhana (hanya melihat saja). kemampuan meniru. Apabila seorang peserta didik tahu bagaimana suatu tingkah laku itu ditunjukkan dan mengingat cara-cara atau langkah. Tapi peserta didik itu memerlukan latihan yang banyak. mencakup kode pengkodean simbolik. 3.perkara penting sebelum meleksanakan tingkah laku model.

Teori belajar sosial dari Bandura ini merupakan gabungan antara teori belajar behavioristik dengan penguatan dan psikologi kognitif. namun hal itu tentu saja sangat khusus dan terbatas. Individu akan menyukai perilaku yang ditiru jika model atau panutan tersebut disukai dan dihargai serta perilakunya mempunyai nilai yang bermanfaat. yakni untuk tujuan mempermudah terlaksananya proses belajar secara efektif. Teori Bandura menjadi dasar dari perilaku pemodelan yang digunakan dalam berbagai pendidikan secara massal. karena suasana dan kondisi yang sudah dirancang secara khusus untuk tujuan yang khusus pula. komunikasi. 59 . informasi dan instruksional. Proses belajar masih berpusat pada penguatan. hal ini untuk mendorong konsumen agar membeli sabun supaya mempunyai kulit seperti para "bintang" atau minum obat masuk anginnya "orang pintar". Peristiwa sosial juga terjadi di lingkungan sekolah dan pendidikan pada umumnya. hanya terjadi secara langsung dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Teori belajar dari Bandura ini tampaknya memang bisa berlaku umum dalam semua langkah pendidikan sosial. Sebagai contoh: penerapan teori belajar sosial dalam iklan televisi.3. namun karena kondisinya yang umum tadi maka sulit dilaksanakan dalam sekolah-sekolah formal. Hanya dalam situasi sosial dan kemasyarakatanlah banyak terjadi belajar sosial. sehingga metode belajar sosial dari Bandura ini agak sulit dilakukan. dengan prinsip modifikasi perilaku. Iklan selalu menampilkan bintang-bintang yang popular dan disukai masyarakat.

dan merupakan aktivitas mental. Namun karena pengalamannya terhadap lingkungannya. 1981).Periode Pra-operasional (2 – 7) tahun. TEORI PIAGET Teori Perkembangan Intelektual Piaget Teori belajar Dienes sangat terkait dengan teori belajar yang dikemukakan oleh Piaget.Periode Sensori Motor (0 – 2) tahun. bukan aktivitas sensori motor. 2. Jean Piaget berpendapat bahwa proses berpikir manusia sebagai suatu perkembangan yang bertahap dari berpikir intelektual konkret ke abstrak berurutan melalui empat periode. Operasi yang dimaksud di sini adalah suatu proses berpikir atau logik. pada akhir periode ini. namun usia atau kronologis pada setiap orang yang memasuki setiap periode berpikir yang lebih tinggi berbeda-beda tergantung kepada masing-masing individu. anak menyadari bahwa objek yang disembunyikan tadi masih ada dan ia akan mencarinya. yaitu mengenai teori perkembangan intelektual. berpendapat bahwa proses berpikir manusia merupakan suatu perkembangan yang bertahap dari berpikir intelektual kongkret ke abstrak berurutan melalui empat tahap perkembangan. Anak itu belum mempunyai kesadaran adanya konsep objek yang tetap. sebagai berikut: 1. 60 . Karateristik periode ini merupakan gerakan-gerakan sebagai akibat reaksi langsung dari rangsangan. Rangsangan itu timbul karena anak melihat dan merab-raba objek. Piaget adalah orang pertama yang menggunakan filsafat konstruktivis dalam proses belajar mengajar. Piaget (dalam Bell. anak itu tidak akan mencarinya lagi. Urutan periode itu tetap bagi setiap orang. Bila objek itu disembunyikan.E.

Dalam periode operasi kongkret. Anak itu belum memperhitungkan semua kemungkinan dan kemudian mencoba menemukan kemungkinan yang mana yangk akan terjadi. Pengalaam anak masih kongkret dan belum formal. Pada periode ini anak terpaku kepada kontak langsung dengan lingkungannya. Misalnya semua 61 . 3. Periode ini sering disebut juga periode pemberian simbol. Walaupun pada periode permulaan pra-operasional ini anak mampu menggunakan simbol-simbol.Periode operasi kongkret (7 – 12) tahun. Anak dapat membentuk variasi relasi kelas dan mengerti bahwa beberapa kelas dapat dimasukkan ke kelas lain. Periode ini disebut operasi kongkret sebab berpikir logiknya didasarkan atas manipulasi fisik dari objek-objek. Operasi kongkret hanyalah menunjukkan kenyataan adanya hubungan dengan pengalaman empirik-kongkret yang lampau dan masih mendapat kesulitan dalam mengambil kesimpulan yang logis dari pengalaman -pengamanan yang khusus. Anak masih terikat kepada pegakaman prib adi. karateristik berpikir anak adalah sebagai berikut: a. Kombinasivitas atau klasifikasi adalah suatu operasi dua kelas atau lebih yang dikombinasikan ke dalam suatu kelas yan g lebih besar.Pada periode ini anak di dalam berpikirnya tidak didasarkan kepada keputusan yang logis melainkan didasarkan kepada keputusan yang dapat dilihat seketika. Pengerjaan-pengerjaaan logikd apat dilakukan dengan berorientasike objek-objek atau peristiwa-peristiwa yang langsung dialami anak. misalnya suatu benda diberi nama (simbol). tetapi anak itu mulai memanipulasi simbol dari benda-benda sekitarnya. Dalam periode ini anak berpikirnya sudah dikatakan menjadi operasional. ia masih sulit melihat hubungan-hubungan dan mengambil kesimpulan secara taat asas.

62 . berlaku hukum asosiatif terhadap penjumlahan.dalam himpunan bilangan bulat dengan operasi ‖+‖. tetapi ia sudah mulai menggeneralisasi objek-objek tadi. Asosiasivitas adalah suatu operasi terhadap beberapa kelas yang dikombinasikan menurut sebarang urutan. Konservasi berkenaan dengan kesadaran bahwa satu aspek dari benda. Namun prinsip konservasi yang dimilikianak pada periode ini masih belum penuh. d. Misalnya. Misalnya unsur dari suatu himpunan berkawan dengan satu unsur dari himpunan kedua dan sebaliknya. Anak pada periode ini dilandasi oleh observasi dari pengalaman dengan objek nyata. Korespondensi satu – satu antara objek-objek dari dua kelas. tetap sama sementara itu aspek lainnya berubah. Misalnya himpunan bilangan bulat. Setiap operasi logik atau matematik dapat dikerjakan dengan operasi kebalikan.manusia lelaki dan semua manusia wanita adalah semua manusia. Hubungan A > B dan B > C menjadi A > C. Kesadaran adanya prinsip-prinsip konservasi. e. f. unsur nol adalh 0 sehingga 8 + 0 = 8. c. Reversibilitas adalah operasi kebalikan. misalnya 4 – 4 = 0. Identitas adalah suatu operasi yang menunjukkan adanya unsur nol yang bila dikombinasikan dengan unsur atau kelas hasilnya tidak berubah. operasi ‖+‖. Demikian juga suatu jumlah dapat dinolkan dengan mengkombinasikan lawannya. b. 5 + ? = 9 sama dengan 9 – 5 = ? Reversibilitas ini merupakan karakteristik utama untuk berpikir operasional di dalam teori Piaget. Misalnya.

Kemudian kepada peserta 63 . Periode operasi formal ini disebut juga disebut periode operasi hipotetik-deduktif yang merupakan tahap tertinggi dari perkmbangan intelektual. Anak-anak pada periode ini sudah memberikan alasan dengan menggunakan lebih banyak simbul atau gagasan dalam cara berpikir. faktor-faktor menuju penyelesaian Asimilasi adalah proses mendapatkan informasi dan pengalaman baru yang langsung menyatu dengan struktur mental yang sudah dimiliki seseorang. tetapi juga terjadi penstrukturan kembali informasi dan pengalaman lainnya untuk mengakomodasikan informasi dan pengalaman yang baru. yaitu menggunakan posedur hipotetik-deduktif. belajar itu tidak hanya menerima informasi dan pengalaman baru saja. Jadi. Ia mampu menggunakan prosedur seorang ilmuwan. Anak juga sudah dapat berpikir kombinatorik. Periode ini merupakan tahap terakhir dari keempat periode perkembangan intelektual.Anak sudah mampu menggunakan hubungan-hubungan di antara objek-objek apabila ternyata manipulasi objek-objek tidak memungkinkan.4. Anak telah mampu melihat hubungan hubungan abstrak dan menggunakan proposisi-proposisi logik-formal termasuk aksioma dan definisi. Konsep konservasi telah tercapai sepenuhnya. segi panjang dan parallelogram sebagai segi empat. artinya bila anak dihadapkan kepada suatu masalah. Anak sudah dapat mengoperasikan argumen-argumen tanpa dikaitkan dengan benda-benda empirik. Misalnya di dalam struktur mental peserta didik telah ada pengorganisasian dan pengelompokan bentuk-bentuk bujur sangkar. ia dapat mengisolasi itu faktor-faktor sehingga tersendiri atau mengkombinasikan masalah tadi. Anak mampu menyelesaikan masalah dengan cara yang lebih baik dan kompleks dari pada anak yang masih dalam tahap periode operasi kongkre t.definisi verbal.Periode Operasi Formal (> 12) tahun. Adapun akomodasi adalah proses menstrukturkan kembali mental sebagai akibat adanya informasi dan pengalaman baru tadi.

Sebagai hasil dari penyetimbangan itu. b. Ketiga factor itu harus ada agar seseorang berkembang dari satu periode ke periode berpikir yang lebih tinggi. Peristiwa itu juga berarti terjadinya penstrukturan kembali kognitif yang telah dimiliki oleh peserta didik karena datangnya informasi baru tentang trapesium tadi. Ini berarti terjadinya akomodasi.didik itu diberikan lagi bentuk trapesium. struktur mental berkembang dan menjadi matang. Transmisi social merupakan interaksi dan kerja sama seseorang dengan orang lain atau dengan lingkungannya. Ini berarti peserta didik tersebut menyatukan objek baru itu ke dalam struktur kognitif yang sudah dimiliki dan terjadilah proses asimilasi. yaitu yang pertama. Pengalaman yang dimaksud ada dua macam/. pengalaman logika-matematika yang berupa kegiatan mental yang ditampilkan individu dan struktur kognitifnya diorganisasikan menurut pengalamannya. pengalaman fisik yang berupa interaksi setiap individu dengan objek-objek di lingkungannya: yang kedua. Perkembangan intelektual itu dipengaruhi oleh tiga factor berikut : a. Peserta didik itu me ngerti bahwa trapezium itupun merupakan segi empat dengan sifat yang sedikit berbeda dengan bentuk-bentuk yang telah dipelajari sebelumnya. Penyetimbangan (equilibration) merupakan proses adanya kehilangan stabilitas di dalam struktur mental sebagai akibat pengalaman dan informasi baru dan kembali setimbang melalui proses asimilasi dan akomodasi. Kematangan merupakan proses pertumbuhan psikologis dari otak dan sistem syaraf. Pengalaman juga mempunyai andil dalam pengembangan intelektual. Hal ini amat penting bagi perkembangan mental anak. c. Piaget percaya bahwa operasi formal tidak akan berkembang di dalam pikiran tanpa adanya pertukaran dan koordinasi pendapat di antara orang-orang. 64 .

Proses penyetimbangan juga terjadi dalam belajar. Misalnya seseorang mendapat gagasan yang tidak terorganisasikan melalui kontak social atau pengalaman dari lingkungan, tetapi butir-butir itu terdapat perbedaan, perbedaan ini harus menjadi harmonis. Maka terjadilah proses penyetimbangan itu (logika matematika). Perkembangan Intelektual Anak dalam Belajar

Menurut Ruseffendi (1992), untuk dapat mengajarkan konsep matematika pada anak dengan baik dan mudah dimengerti, maka materi yang akan disampaikan hendaknya diberikan pada anak yang sudah siap intelektualnya untuk menerima materi tersebut. Contoh, meskipun anak berumur 3 tahun sudah dapat menghitung angka 1 –10, tetapi dia belum mengerti bilangan 1, 2, dan seterusnya. Oleh karena itu, dia akan kesulit an jika harus belajar tentang bilangan. Agar anak dapat mengerti materi matematika yang dipelajari, maka dia harus sudah siap menerima materi tersebut, artinya anak sudah mempunyai hukum kekekalan dari jenjang materi matematika yang dipelajari. Menurut piaget (dalam Ruseffendi; 1992), ada enam tahap dalam perkembangan belajar anak yang disebut dengan hukum kekekalan, sebagai berikut: 1. Hukum Kekekalan Bilangan (6 – 7 tahun) Anak yang telah memahami hukum kekekalan bilangan akan mengerti bahwa banyaknya suatu benda-benda akan tetap meskipun letaknya berbeda-beda atau diubah letaknya. Anak yang sudah memahami hukum kekekalan bilangan sudah siap untuk menerima pelajaran konsep bilangan dan operasinya. Sementara itu, anak yang belum memahami hukum kekekalan bilangan baginya belum waktunya mendapatkan

65

pelajaran operasi penjumlahan dan operasi hitung lainnya. Hukum kekekalan bilangan biasanya dipahami anak pada usia 6 – 7 tahun. 2. Hukum Kekekalan Materi ( 7 – 8 tahun) Anak yang sudah memahami hukum kekekalan materi atau zat akan mengatakan bahwa materi atau zat akan tetap sama banyaknya meskipun diubah bentuknya atau dipindah tempatnya. Sedangkan anak yang belum memahami hukum kekekalan materi akan mengatakan, bahwa air pada dua mangkok yang berbeda besarnya menjadi tidak sama, meskipun anak tersebut tahu bahwa air itu dituangkan dari dua bejana yang sama besar dan sama banyaknya. Anak yang belum memahami hukum kekekalan materi belum dapat melihat persamaan atau perbedaan dari satu sudut pandang saja. Contohnya, anak yang sudah dapat membedakan bilangan ganjil dan genap, bilangan kelipatan 3 dan bukan kelipatan 3, dan sebagainya. Masih akan kesulitan jika disuruh menentukan bilangan prima genap, atau bilangan genap kelipatan lima, dan sebagainya. Pada umumnya, anak memahami hukum kekekalan materi pada usia sekitar 7 – 8 tahun. 3. Hukum Kekekalan Panjang (8 - 9 tahun) Anak yang telah memahami hukum kekekalan panjang akan mengatakan bahwa panjang tali akan tetap meskipun tali itu

dilengkungkan. Sedangkan anak yang belum memahami hukum kekekalan panjang akan mengatakan bahwa dua utas tali yang tadinya sama panjang waktu direntangkan, menjadi tidak sama panjang bila yang satunya dilengkungkan sedangkan yang satunya lagi tidak. Anak yang belum memahami hukum kekekalan panjang akan memperoleh kesulitan dalam mempelajari konsep pengukuran, terutama pengukuran panjang benda -

66

benda yang tidak lurus. Hukum kekekalan panjang biasanya dipahami oleh anak pada usia sekitar 8 - 9 tahun. 4. Hukum Kekekalan Luas (8 – 9 tahun) Hukum kakakalan luas biasanya dipahami anak bersamaan dengan hukum kekekalan panjang, yaitu pada usia sekitar 8 - 9 tahun. Anak yang sudah memahami hukum kekekalan luas akan memahami bahwa luas daerah yang ditutupi suatu benda akan tetap sama meskipun letak bendanya diubah. Sedangkan anak yang belum memahami hukum kekekalan luas cenderung mengatakan bahwa luas daerah yang ditutupi 4 persegi kongruen yang diletakkan tersebar (tidak berimpit) lebih luas dari pada daerah yang ditutupi oleh 4 persegi kongruen yang diletakkan berimpitan. Anak yang belum memahami hukum kekekalan luas akan kesulitan belajar luasan suatu daerah. Misalnya, dalam menemukan rumus luas jajarangenjang yang diturunkan dari rumus luas persegi panjan g. 5. Hukum Kekekalan Berat (9 – 10 tahun) Hukum kekekalan berat menyatakan bahwa berat suatu benda akan tetap meskipun bentuk, tempat, dan atau penimbangan benda tersebut berbeda. Pada umumnya anak akan memahami hukum kekekalan berat setelah berusia sekitar 9 – 10 tahun 6. Hukum Kekekalan Isi (14 – 15 tahun) Hukum kekekalan isi menyatakan bahwa jika pada suatu bak atau bejana yang penuh dengan air dimasukan suatu benda, maka air yang ditumpahkan dari bak atau bejana tersebut sama dengan isi benda yang dimasukannya. Pada umumnya anak akan memahami hukum kekekalan isi pada usia sekitar 14 – 15 tahun atau mungkin sebelumnya. Untuk hukum kekekalan isi, karena pada umumnya belum dipahami pada anak SD, maka tidak dibahas lebih lanjut, dalam bahan ajar ini

67

Teori gestalt cenderung berupaya mengurangi pembagian sensasi menjadi bagian-bagian kecil. seorang tokoh aliran Wuerzburg. Bersama-sama dengan Wolfgang Koehler (1887-1967) dan Kurt Koffka (1887-1941) melakukan eksperimen yang akhirnya menelurkan ide Gestalt. Teori gestalt beroposisi terhadap teori strukturalisme. pola. ataupun kemiripan menjadi kesatuan. Wertheimer menunjuk pada proses interpretasi dari sensasi obyektif yang kita terima.  Kurt Lewin (1890-1947) Pandangan Gestalt diaplikasikan dalam field psychology dari Kurt Lewin. Proses ini terjadi di otak dan sama sekali bukan proses fisik. 68 . Konsep pentingnya : phi phenomenon (bergeraknya obyek statis menjadi rangkaian gerakan yang dinamis setelah dimunculkan dalam waktu singkat dan dengan demikian memungkinkan manusia melakukan interpretasi).F. Lewin adalah salah seorang ahli yang sangat kuat menganjurkan pemahaman tentang lapangan psikologis seseorang.  Max Wertheimer (1880-1943) Belajar pada Kuelpe. Dengan konsep ini. tetapi proses mental. TEORI GESTALT Tokoh Gestalt Gestalt adalah sebuah teori yang menjelaskan proses persepsi melalui pengorganisasian komponen-komponen sensasi yang memiliki hubungan. Tahun 1910 ia mengajar di Univeristy of Frankfurt bersama-sama dengan Koehler dan Koffka yang saat itu sudah menjadi asisten di sana. Dengan pernyataan ini ia menentang pendapat Wundt yang menunjuk pada proses fisik sebagai penjelasan phi phenomenon.

Gerakan individu mencapai tujuan (goal) disebut locomotion. yaitu lapangan psikologis tempat individu berada dan bergerak. Pengorganisasian ini mempengaruhi makna yang dibentuk.Konsep utama Lewin adalah Life Space.    Principle of Objective Set: Organisasi berdasarkan mental set yang sudah terbentuk sebelumnya Principle of Continuity: Organisasi berdasarkan kesinambungan pola Principle of Closure/ Principle of Good Form: bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap. bukan skill yang dipelajari. Prinsip-prinsip pengorganisasian:  Principle of Proximity: bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertentu. Setiap perceptual field memiliki organisasi. Prinsip dasar Gestalt 1.  Principle of Figure and Ground: yaitu menganggap bahwa setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar belakang. Tugas utama psikologi adalah meramalkan perilaku individu berdasarkan semua fakta psikologis yang eksis dalam lapangan psikologisnya pada waktu tertentu . warnadan 69 . Oleh karena itu kemampuan persepsi ini merupakan fungsi bawaan manusia.  Principle of Similarity: bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang berada dalam arah yang sama cenderung akan dipersepsi sebagi suatu figure atau bentuk tertentu. 2. Interaksi antara individu dan lingkungan disebut sebagai perceptual field. Lapangan psikologis ini terdiri dari fakta dan obyek psikologis yang bermakna dan menentukan perilaku individu (B=f L). yang cenderung dipersepsikan oleh manusia sebagai figure and ground. potongan. Penampilan suatu obyek seperti ukuran.

Contoh: perubahan nada tidak akan merubah persepsi tentang melodi. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya.  Principle of Isomorphism: Organisasi berdasarkan konteks. seseorang dapat memiliki cara pandang baru terhadap suatu problem. terjadi reorganisasi dalam perceptual fieldnya. Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari. Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain : a. hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa. khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. bahwa perilaku terarah pada tujuan. Dalam proses pembelajaran. bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. c. Aplikasi prinsip Gestalt Proses belajar adalah fenomena kognitif. Oleh karena itu. guru hendaknya menyadari tujuan 70 . Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya. Setelah proses belajar terjadi. Pengalaman tilikan (insight).sebagainya membedakan figure dari latar belakang. makaakan terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figure. Perilaku bertujuan (pusposive behavior). Apabila individu mengalami proses belajar. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah. Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning). tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. kebermaknaan unsurunsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Bila figure dan latar bersifat samar-samar. b.

Dengan berjalannya waktu. Setelah adanya pengalaman insight. Penerapan Prinsip of Good 71 . Menurut pandangan Gestalt. Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat. Prinsip ruang hidup (life space). jejak ingatan ini akan berubah pula sejalan dengan prinsip-prinsip organisasional terhadap obyek. individu mampu menerapkannya pada problem sejenis tanpa perlu melalui proses trial-error lagi. materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik. ditemukan oleh Koehler dalam eksperimen yang sistematis.  Memory Hasil persepsi terhadap obyek meninggalkan jejak ingatan. Oleh karena itu. bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada.sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya. Transfer dalam Belajar. Oleh karena itu.  Insight Pemecahan masalah secara jitu yang muncul setelah adanya proses pengujian berbagai dugaan/kemungkinan. Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya. e. Konsep insight ini adalah fenomena penting dalam belajar. d.

yang selama ini dihindari karena abstrak. antara lain : 1.Form seringkali muncul dan terbukti secara eksperimental. fenomena ini juga menjelaskan pengaruh gosip/rumor. namun tetap dapat mempertahankan aspek ilmiah dan empirisnya. Implikasi Gestalt  Pendekatan fenomenologis menjadi salah satu pendekatan yang eksis di psikologi dan dengan pendekatan ini para tokoh Gestalt menunjukkan bahwa studi psikologi dapat mempelajari higher mental process. Secara sosial. Psikologi Gestalt bermula pada lapangan pengamatan (persepsi) dan mencapai sukses yang terbesar juga dalam lapangan ini. Keseluruhan ini memberikan beberapa prinsip belajar yang penting.  Pandangan Gestalt menyempurnakan aliran behaviorisme dengan menyumbangkan ide untuk menggali proses belajar kognitif. emosional. insight.dan problem solving beroperasi. tetapi juga secara fisik. tidak hanya secara intelektual. Adanya perceptual field diinterpretasikan menjadi lapangan kognitif dimana proses-proses mental seperti persepsi. berfokus pada higher mental process. sosial dan sebagainya 2. Manusia bereaksi dengan lingkungannya secara keseluruhan. Belajar adalah penyesuaian diri dengan lingkungan. Demonstrasinya mengenai peranan latar belakang dan organisasinya terhadap proses-proses yang diamati secara fenomenal demikian meyakinkan sehingga boleh dikatakan tidak dapat di bantah. 72 . Ada beberapa hal yang patut dicatat sebagai implikasi dari aliran Gestalt. Tokoh: Tolman dan Koehler.

membuat laporan atau membuat sesuatu dengan hasil pemecahan soal itu. lengkap dengan segala aspek-aspeknya. sebagai suatu jalan yang mungkin memberi arah pemecahan masalah. Belajar hanya berhasil. Dengan 73 . demikian pula pengalaman manusia tidak dapat dipersepsi sebagai sesuatu yang terisolasi dari lingkungannya. bukan ibarat suatu bejana yang diisi. Jadi harus memahami apa masalahnya dan juga harus dapat merumuskan. Mengajukan hipotesa. Belajar akan berhasil kalau ada tujuan. Dewey ada 5 upaya pemecahannya yakni: 1. Menilai dan mencoba usaha pembuktian hipotesa dengan keteranganketerangan yang diperoleh. 4. Belajar merupakan suatu proses bila seseorang itu aktif. apabila tercapai kematangan untuk memperoleh insight. Belajar sangat menguntungkan untuk kegiatan memecahkan masalah. Mengambil kesimpulan. Mengumpulkan data atau informasi. Realisasi adanya masalah. Kemudian bagaimana seseorang itu dapat memecahkan masalah menurut J. Manusia berkembang sebagai keseluruhan sejak dari kecil sampai dewasa. 4. Hal ini nampaknya juga relevan dengan konsep teori belajar yang diawali dengan suatu pengamatan. 5. motivasi memberi dorongan yang mengerakan seluruh organisme. Tidak mungkin ada belajar tanpa ada kemauan untuk belajar. 2. 5. 3.3. 8. Teori medan ini mengibaratkan pengalaman manusia sebagai lagu atau melodi yang lebih daripada kumpulan not. 7. dengan bacaan atau sumber-sumber lain. 6. Belajar memecahkan masalah diperlukan suatu pengamatan secara cermat dan lengkap. Belajar adalah perkembangan kearah diferensiasi ynag lebih luas.

dan mendapatkan gelar PhD-nya tahun 1898.yang mencerminkan prinsip dasar dari proses belajar yang dianut oleh Thorndike yaitu bahwa dasar dari belajar (learning) tidak laian 74 .dia menerima bea siswa di Colombia. TEORI THORNDIKE Biografi Edward Lee Thorndike. Dan dia menerbitkan suatu buku yang berjudul ―Animal intelligence. Buku ini yang merupakan hasil penelitian Thorndike terhadap tingkah beberapa jenis hewan seperti kucing. kemudian dia tinggal dan mengajar di Colombia sampai pension pada tahun 1940. dan master dari Hardvard pada tahun 1897. namun ia telah membentuk tahapan behaviorisme Rusia dalam versi Amerika.kata lain berbeda dengan teori asosiasi maka toeri medan ini melihat makna dari suatu fenomena yang relatif terhadap lingkungannya . Lulus S1 dari Universitas Wesleyen tahun 1895. An experimental study of associationprocess in Animal”. dia mengikuti kelasnya Williyams James dan merekapun cepat menjadi akrab.Your City (1939). Dengan memahami bagian / detail. yakni menangkap bagian bagian dan detail suatu objek pengalaman. Thorndike (1874-1949) mendapat gelar sarjananya dari Wesleyan University di Connecticut pada tahun 1895. S2 dari Harvard tahun 1896 dan meraih gelar doktor di Columbia tahun 1898. Thorndike berprofesi sebagai seorang pendidik dan psikolog yang berkebangsaan Amerika. dan Human Nature and The Social Order (1940). lambat laun terjadi proses diferensiasi. maka persepsi awal akan keseluruhan objek yang semula masih agak kabur menjadi semakin jelas. Mental and social Measurements (1904). Belajar bukan merupakan penjumalahan (aditif). Animal Intelligence (1911). Ateacher’s Word Book (1921). dan burung. Edward lee thorndike meski secara teknis seorang fungsionalis. sebaliknya belajar mulai dengan mempersepsi keseluruhan. anjing. ketika disana. Buku-buku yang ditulisnya antara lain Educational Psychology (1903). G.

Ia mengasosiasikan suatu masalah tertentu dengan suatu tingkah laku tertentu. pertama kali organisme (Hewan. Teori Edward Lee Thorndike. Seekor kucing misalnya. kucing akan langsung menginjak pedal kalau ia dimasukkan dalam kandag yang sama. suatu stimulum akan menimbulkan suatu respon tertentu. 75 . dalam teori S-R di katakana bahwa dalam proses belajar. organisme sudah tahu tingkah laku mana yang harus di keleluarkan nya untuk memecahkan masalah. mencakar dan sebagainya sampai suatu saat secara kebetulan ia menginjak suatu pedal dalam kandang itu sehingga kandang itu terbuka. Thorndike mendasarkan teorinya atas hasil-hasil penelitiannya terhadap tingkah laku beberapa binatang antara lain kucing. berjalan. dalam hal ini objek mencoba berbagai cara bereaksi sehingga menemukan keberhasilan dalam membuat koneksi sesuatu reaksi dengan stimulasinya. Berdasarkan pengalaman itulah . dan tingkah laku anak-anak dan orang dewasa.sebenaranya adalah asosiasi. maka organisme itu akan mengeluarkan serentakan tingkah laku dari kumpulan tingkah laku yang ada padanya untuk memecahkan masalah itu. Kalau organisme berada dalam suatu situasi yang mengandung masalah. Sejak itu. meloncat. Teori ini disebutdengan teori S-R. yang di masukkan dalam kandang yang terkunci akan bergerak. Objek penelitian di hadapkan kepada situasi baru yang belum dikenal dan membiarkan objek melakukan berbagai pada aktivitas untuk merespon situasi itu. Teori ini sering juga disebut ―Trial and error‖ dlam rangkan menilai respon yang terdapat bagi stimulus tertentu. maka pada saat menghadai masalah yang serupa. pendidikan dan pengajaran di amerika serikat di dominasi oleh pengaruh dari Thorndike (1874-1949) teori belajar Thorndike di sebut ― Connectionism‖ karena belajar merupakan proses pembentukan koneksi-koneksi antara stimulus dan respon. Orang) belajar dengan cara coba salah (Trial end error). Pada mulanya.

Interpretasi dari hukum ini adalah semakin sering suatu pengetahuan—yang telah terbentuk akibat terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon—dilatih (digunakan). Hukum-hukum yang digunakan Edward L. maka kepuasan akan tercapai dan asosiasi akan diperkuat. yaitu apabila asosiasi yang terbentuk antara stimulus dan respon diikuti oleh suatu kepuasan maka asosiasi akan semakin meningkat. ada kemajuan reaksi-reaksi mencapai tujuan dari penelitiannya itu. Hal ini berarti (idealnya). Jadi. jika suatu respon yang diberikan oleh seseorang terhadap suatu stimulus adalah benar dan ia mengetahuinya.Ciri-ciri belajar dengan trial and error : 1. maka ia merasa senang/puas dan akibatnya antara soal dan jawabannya yang benar itu akan kuat tersimpan dalam ingatannya. setelah ia kerjakan. maka ikatan itu akan terbentuk semakin kuat. 3. yaitu apabila ikatan antara stimulus dan respon lebih sering terjadi. Semakin sering suatu materi pelajaran diulangi maka materi pelajaran tersebut akan semakin kuat tersimpan dalam ingatan (memori). Hukum ini dapat juga diartikan. hukum ini menunjukkan prinsip utama belajar adalah pengulangan.T 1. maka ikatan tersebut akan semakin kuat. Hukum kesiapan (Law of Readiness) : adanya kematangan fisiologis untuk proses belajar tertentu. maka tindakan 76 . ada aliminasi respon-respon yang gagal atau salah 4. Konkretnya adalah sebagai berikut: Misalkan seorang siswa diminta untuk menyelesaikan suatu soal matematika. ada berbagai respon terhadap situasi 3. Ada motif pendorong aktivitas 2. Isi teori ini sangat berorientasi pada fisiologis 2. Hukum latihan (law of exercise). Hukum akibat (law of effect). ternyata jawabannya benar. misalnya kesiapan belajar membaca. suatu tindakan yang diikuti akibat yang menyenangkan.

Namun perlu diingat. bahwa hukuman yang diberikan guru atas pekerjaan siswa justru membuat siswa menjadi malas belajar dan bahkan membenci pelajaran matematika. Misalnya. Thorndike juga mengemukakan konsep transfer belajar yang disebutnya transfer of training. setiap kemampuan harus dilatih secara efektif dan dikaitkan dengan kemampuan lain. pengurangan. Sebaliknya.tersebut cenderung akan diulangi pada waktu yang lain. dan pembagian) yang telah dimiliki siswa. haruslah dilatih terus dengan mengerjakan soal-soal yang berikaitan dengan operasi aritmetik. Konsep ini maksudnya adalah penggunaan pengetahuan yang telah dimiliki siswa untuk menyelesaikan suatu masalah baru. sering terjadi. Selain hukum-hukum di atas. Ganjaran yang diberikan guru kepada pekerjaan siswa (misalnya pujian guru terhadap siswa yang dapat menyelesaikan soal matematika dengan baik) menyebabkan peserta didik ingin terus melakukan kegiatan serupa. Dengan demikian kemampuan mengerjakan operasi aritmetika tersebut menjadi mantap dalam pikiran siswa. Unsur-unsur yang identik itu saling berasosiasi sehingga memungkinkan masalah yang dihadapi dapat diselesaikan. tampak bahwa hukum akibat tersebut ada hubungannya dengan pengaruh ganjaran dan hukuman. maka tindakan tersebut cenderung akan tidak diulangi pada waktu yang lain. suatu tindakan yang diikuti akibat yang tidak menyenangkan. Unsur-unsur yang saling berasosiasi itu membentuk satu ikatan sehingga menggambarkan suatu kemampuan. Selanjutnya. kemapuan melakukan operasi aritmetik (penjumlahan. perkalian. Dalam hal ini. karena di dalam setiap masalah. Jadi. Sedangkan hukuman yang diberikan guru atas pekerjaan siswa (misalnya celaan guru terhadap hasil pekerjaan matematika siswa) menyebakan siswa tidak lagi mengulangi kesalahannya. dapat disimpulkan bahwa transfer belajar dapat tercapai dengan sering melakukan latihan. 77 . ada unsur-unsur dalam masalah itu yang identik dengan unsur-unsur pengetahuan yang telah dimiliki.

respons yang akan diharapkan dan tahu kapan ―hadiah‖ selayaknya diberikan kepada peserta didik.Aplikasi teori Thorndike dalam dunia pendidikan dan pengajaran Aplikasi Teori Thorndike dalam dunia pendidikan dan pengajaran Menurut Thorndike praktek pendidikan harus dipelajari secara ilmiah dan praktek pendidikan harus dihubungkan dengan proses belajar. jangan mengharapkan hubungan dengan sendirinya. Beberapa aturan yang dibuat Thorndike berhubungan dengan pengajaran:  Perhatikan situasi peserta didik  Perhatikan respons yang diharapkan dari situasi tersebut  Ciptakan hubungan respons tersebut terjadi dengan sengaja. tahu apa yang hendak diajarkan artinya tahu materi apa yang harus diberikan.  Buat hubungan sedemikian rupa sehingga menghasilkan perbuatan nyata dari peserta didik  Bila hendak menciptakan hubungan tertentu jangan membuat hubunganhubungan lain yang sejenis  Ciptakan suasana belajar sedemikian rupa sehingga dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari 78 . Mengajar yang baik adalah : tahu tujuan pendidikan. Mengajar bukanlah mengharapkan murid tahu apa yang diajarkan. Situasi-situasi yang sama jangan diindahkan sekiranya memutuskan hubungan tersebut.

79 .

  9. 8:.9 2034507. /. 203:: 503008.7: . .30--. 0257  .3 -.7 /.-./. -0757  3.9 :-:3.3  ..  3. /./.. 2. 2039. !074/0 507.3 503. /.8. 80503:3.3 5745488 5745488 4 1472.3  /.  !074/0 4507.3  3.3. 80 025.9: /03.8472.3 ./  82.8.38.3 .5 5074/0 4507.3 9. 8:/.3 2:./.9.  3. 574808 203897:9:7.39.7  80 5.-..947 9: 803.25: 203008..3.7. 2. -..3 :-:3.9./  .8 4-0 4-0 9/.3.3 :-:3.9: 2./.8 .30--. 2./.2 80-.3 /...2.3 02-.3 203:3.3 9. .3 -039: -039: -::7 8. 508079.3..9  02:/.. / /..3 05. 9072.947 907803/7 ..7.07-.3 503.8 43709  43805 43807.3 897:9:7 2039.3 203:3.842..8.5:3 .8 1..8.25: 203:3.. -03/.8 /.3 207:5.3.3 1.3 /03. 202:33../  -0.3. 9073..35:..33. 8:/..   . .3 02-.3 .3 31472./ 503897:9:7..3.793.7 9: 9/./. 2.3 .3.3 -. . 31472. 3.8 .5.9 -0757 42-3. /. 508079./03. 3 /80-:9 :..8 /.3 /. 31472.5.38:3 203.25: 20.3 31472.7 5./. :. .: 20342-3.3 5.7: 8.9 .:3  !074/0 3 207:5.424/.-897. 202-07.7: 9.8.2.3 /03..3 /0138  /0138 .8. 5.947 1.7.5. 907.3.947  .3 50304254./.3.3 8:/.5.8. 50347. 907..3 05.424/.7. 80-. 2. 4-0 4-0 .342508 /..9 20384.7:203 9.3 :-:3.3 -.7:203 . /.7 0025. 574808 203/..3 39009:.2.5. /..:.8.2.3 .7 5072-.. .3 2. .7:  8.8 1472.3.3 503.047.  .3 39009:.25: 203:3.8: ..9..3 57480/:7 8047. .8 90.3 5480/:7 54909 /0/:91  3. 203072.5 90793 /. 3 2.5. // 90./..2 9. 31472.5 907.5 :.8 54909 /0/:91 .35.8.2.2.3.2 897:9:7 2039.9.9..  909.9: 203:3.3 / . 5074/0 3 8:/..3 2../.947 1.9 5074/0 50702-. /2 808047.5.3 ..8 /. /80-:9 5074/0 4507.82-:. :39: 203.8 /.9. 8:/.3 -.3 -03/.3 /.. 90.3 503..8 /.8 /.3 503. /..

3 88902 8.. /2 /. 2.79 907.7 49.3 574808 5079:2-:.3 207:5. 4391 .2.1..8  !0702-.  3 -07.1  !03. 503897:9:7.397.50:2 9:5:3 207:5.3 .2./3.2897:9:7 4391 ./.  !03. /2 40508079.9 ..82.508:2  !08079.339009:.9.33.3 :.508:29.3 8:/. 574808 .3 39009:. /.79508079.947-07:9 .3 4-0-.7:409. /50. 2025:3. 9: :./3./.3 /2. /:.703..31472.. .3.8  !0789.7 80-0:23.8:/ .//90780-:9 203.3 907.3 80 025.3/ /.424/.//.. -07. // 9: 203079 -..3 58448 /..9:.3 80/9 -07-0/.9 /03.8-..9:/503.2 50302-.3 .7.3 90. /03.3.3 81. -039: 97..3 -039: -039: .3.7:9039.7:9:0 /. 97.3 90.79907./  3-07..// 9: /-07.2.  02.9./..3 02-.

 .3 3/.7:8 .47..3 4-0 4-0 / 3:3.3 2039./.33:3.3.424/.30-93    .3 /03.3..38.3828 84.7 8. 207:5. 2.  503.9.950393 -.33.3 5079.9/.5.3 07. 5079:.3 2039.3203.3.7.  503.3 / /.8/.947 9: .  -  %7. /47..347. .8 / /.3 3907.3 20./.  !. 9/.3 02-.82.9 503. 1.3.3   09.8 1472.3.7 808047..3 47.2.3. .: 574808. 0.8503/.8/. . . -.. 8. 50702-.2. ..33..3203:7:9503.3 /.3 18 ...3 06:-7.:/03..3 9: 897:9:72039.2././2./: /. 808047.2 57.3 574808 .3.3 9.33..3 /9.2.-.3 31472.3 897:9:7 43913.2. .39..5 3/.943  207:5.3.3/.3/.3 -0702-.9: . .3 -0702-.35.8 /. .8 809.3447/3.. 0.3  .9.2. 4507.3 -07:5.-9.. .8 -.3 -07:5.2 897:9:7 2039..25.2.3. 8092-.902.9.9: 5074/005074/0-0757.7: /. .3.3 0/:./: /03.3 /.3 4.3.7503092-. 80-..  !03092-.9. 3907..3 89.7.8.8 $0-.09 507.-0702-.

3  80-.3 03/. .5.3 8:/.3 /.5 /. .3.7  8. -0:2 203079-.902.3..3.5.902.5.3..  $02039.9 203.7:8 203.3. 9:  ..308:9.3 2:/.3.3..5 -:97 -:97 9: 907/. 203/...2 #:801103/   .3 43805 -.: /:-..3 -.20./.3  909.3  9.... 5.83..09 /.3.2 ::2 00. 2.3 /. /203079  2.. 2.3 /80-:9 /03. 8.. 2.3 /8. 202...3 .2 ::2 00. -0/./ ..7 2.3.: 439.3 9/.3 /.3 -0.92030792.72438  .7:8 8:/. /.7 3:3.38. 8.3. -. /03.380907:83...3-.3 ..3 8:/.!74808 503092-. 2025:3.7 03...7 .3 -. .9 507-0/.3.3.3.3 .    909. 202.3 203/..3.3 909. 8:./...39: 4. /.2 50702-.9..9.3./. -0:2 .3.902.3 3 ./.2 9.2.3 -0:2 202. ..5 :39: 203072.3.5.9: /./..-07:9  ::200.3 -. .907 90780-:9  4394  2085:3 .907 .3 ... 8.9. .79039.3 :.5 39009:. .7:8-0.3.9.9. 574808 503092-.3.3 20. -03/. /-07.7.5 2085:3 09.3 ::2 00.... -07:2:7  9.3. 84.3 90.3/50. 907.5 203072.: 503.3 -. ...25.9. /.2.. .907 2.3.9:3.9 2039:3 .  0.5. 03.2 -0.9 .9.703. 8:/. -07-0/.8.  3.7...9: -03/.793.:3 8:/.3   .5.3 43805 2.3.:3  3.8.3 4507.7  03:7:9 5. .3.3.3 203079 -. . ..2 ::2 00.3 -./.907 90780-:9  .339009:.3  /.. :39: 203072.7.9072. 09. ::2 00.3  507-0/.3.3 5.  !0702-./ /. .3.5 /. 90747.3 2.3 8:/.7.7  03:7:9 #:801103/   :39: /.3  .3.. 907.3.3 /50. 808047.3.902. 50.

3.  2085:3 . 202.9.:3  3.8 503:2.7 43805 503::7..3 08:9.3 -.5  .7 /:.3 80/. /:..3 2.3 4507.5.75.73./.3 .:3  3.3.   .3 9.3..3. . 202.3.3 8.3.3 2. -039:3.2 ::2 00..2.9:3.9 20.3 05.34 ..2::2 00..2..3 203.3 5.3 -.9 202-0/.3 572.3...93.9. /:...3 909.305.7 9: /9:..3 5. .3-.5 8.3..2. .3 -..:8..3.3.380-...9.3  907:9. -08.8.  3.3 203. .3./. 8.907 5../ 9/.3. 9.3.3 .: .3 ...3 -0:2 202.5.  43943.907  9.505.9.8 9:3 .. 203.3 2..3 /.3 9.3.: -.3 -.3 909.3 03.9 .5 -.2.3 /. 503::7. .3 .: 507-0/.3 -0:2 202.3 90. .  3.2 ::2 00.9..  !.3 5. .907.7.3 -..3.9.7 /.3. .3 .: /53/.. /03:3. 809.303. /.9.3 /./.3/.. /. 9025..33.3./ 9/.3 8:/.  .3 2.3 . .9: /7039.-.2 ::2 00.3 /. ..3 .  ::2 00..2 20250. -.9 . :8.3. 9/. .2. 03..907. 8.. 9: /03:3.3 8. 8.9. 2085:3 /:-..3.3..7 8.9: 8:/:9 5.3 4507./3.380-.3 -0:2 202. :2:23.  .3 8:/.5.3 /.3.2.3.:3   ::200.9 5078.3.3 8.3 203.3 8..2 ::2 00.32. ...3 . -0.2.:3   ::200.3  9.  $0/.3  $0/.50.3 .3.38.3 203.3.3.3.3  203..5 2085:3 9.3-:. /8:7: 203039:.: -. 2.2.3.3 -07-0/..907 -0:2 /.3./5. 202.3!. 5.2.3/.9.9.3.9. .. 90780-:9 9..3.907 .3 .3 /..3 -0:2 202. ...8 9.3. 5.3-. :9.3./.2 ::2 00. .3 5. -08. 5.3 -..2 ::2 00.3 20250740 08:9.: ...7 9.9:3.9.3 -03/. 2.8 .3 -.

9: 5. 8:.2 -.07.38  9..-07:8.  /. .07.3.73   .3 08:9./..3/9:7:3. :8.7 ./-.9.809..8.3:9 /.3.7 9.3.3..9 8090.9  /.. -03/.3 ::2 00.-03/.2 ::2 00.9: -03/.3 8 203..7 :.8 -..25.3 8 -03/..2 .... .2-././5.:3  ::2 .. 90780-:9 8.303./..9 8:.3-.8507805../.3 /03.2.. .3 /9:9:5 8:.. 809.3.3 909.3 202.809...9.5. .3 -07...3 -0.3 8 5.3.3.3.9: -03/.3 /. /./.7 /2.3  3..:3  ::200.9   9.3  .:3  3.3.:3 .  !.3 :.. /5.7  9.:3  ::2 00.$  2..3. 202.. .3 :. ..3 :. :.3/.2 ::2 00.  &39: ::2 00.9 203.77:2:8:.3 -.2 ::2 00. :8.3.3. ./.7 9/./.:3  ::2 00.3 /9:9:5  50780 437:03 .3 -0:2 202.3   ::200.9.8 ...7 -.3 -..7 5. 9/.: 2:33 80-0:23. -07.3:.5 2085:3 -039:  9025.2 20302:. .: -0.3 -.: -0.38 .2..3 503: /03.  8..3 .07.7    9.:2:23. 809. 5.2 ::2 00.3 90780-.5..3 8:. ..307. -07259  0- :.5 8..3 :.9.  2. /03.3.9:/.3 5. :2:23./.3 -0:2 202.3 /09... 2085:3 09. /:-...8 /.8:... .37:2:8 :.2 ::2 00.8 /.: 5032-.3 ./.. ..35.8:.3 /2.8.3 /09.-0:2 /5.3 .:7:8 ::200.8.3 202.3 909..07.3 202.7    9.3 /9:25.9: -.9.8  9. .3. .  $0/. !.. :.3 8:. -078.:3   ::200.8 /..9: -03/.703.3 -03/.33.8.3 /9:9:5 40  50780 437:03 .8 .3..80-..3.3..3.9. ... .39/. ..3 8:/.9..8 .3 -07259. 90780-:9 -07-0/.03/07:3 203.3 -07..2.. :2:23.240 .:8. ..7.3.

 203:7.35503420343  O :7903    !..73.3203:3:5.5030.3:79411. 8.341./.9.3 .8. 8.. 4-0 89. 80-:.3.3 08507203 .03/07:3 -07:5.3 /3. 2030:7.9 203.9/.3..3.:5:3 0275.30.5574808 2039.3 9039.32.3 8.80. /03.0789 41 7..3 .3  %047 089.3 574808 18 909.0790207    0.3202:33.3 /03.3 574808 5078058 20.339075709.9: 83.3. 9047 .  43805 503933.: 50347.8 203.-:.9 .8.2 .3/.3 -. /2:3.5.38. 203.:3   .5 9047 897:9:7.820  %047 089./.8.3/02...:. .3.28 8090./.:. 8.9 /. .3 /.//49.3 411.  O ./.203. /03.2.9 -0745488 907..33 .3 /0 089.7:7903  03 .3 2030.9 .35073.3 502./.3 4007 /.3  54.5748081880-.  03.9 :3/9./.3 4254303 4254303 8038.9072. 203039./-.8 /.3:8..3 43805 3  0790207 203:3: 5.44/.3    .:.3/.98 203.34007   /.39.  ..7 / &3..9.5.3089..7 5.3 203.9 :..5.9:./..358448808047.84-091.3 503/.7 8038..2.9  089.8 . % #$%% %44089./ 7. 8047./ 08./.   20.3..210/58.3 502-.3 8.3 202 :-:3.8  03.9  %.20.2.3 .38.31:79 -078. 574808 39075709.2.3 :07-:7  078.9 9: 8:/.3. !748083907.7.3 944 .  5 503420343 -0707.38038...8.88903/8.3 07.2.2. :050  8047.3:7.

3 4..7.50 41 !7429 -. 1:70 .3./.. 1.38.3-0707. .9:.3.9... 5. .3 -07/0..2./.38./.3:8.43805:9.8 :9./:-07.. /80-:94.7..7./.71.3 8 .3.3584483907/7/.059:.38.3083.3:8../: /..7.3 802:.03./....3 5078058 3 207:5.50414393:9 7.8 .2-:3.10$5.34-0 58448 .3 8.3/.03/07:3.38.9: 1:70.5.2-/..3 .79 -.9.10/  $09. :38:7 :38:7 -/. 5844 .9.3.8.8.3 507.907-039:80-0:23.3 1:38 -.10/20247...8:.504148:70.3 3:3.424943  !7385/.3 2.8-07/.7 !0347.3 -. 809 .3 /.9 3/.059:.703. :38:7 :38:7 .3 088 /.2. 58448 . 80-./.50 41 -0.3 2039.3503.5.7089.03/07:3/5078058.: 3/.3 503. 9: 02.3 80-.9::../: 1   %:.9.9:2.8.3.3/5./: -07/.3 8:/./:203.0 $09 7.3 /50.5.9.7.2.9.8.5..3/.3 -07...9. O !73.3 40 2.3 507.8..8./.9:-039:9079039:  O !73.2.:5:37:. .50 41 $2.3 584483.9   3907.2.39.. 207.3.  -:.25:.0 ..3 O !73..3/507805880-.8.8.3/-039:     !7385 5738550347.3/ 74:3/  0 .8 -07/.9: 9079039:  07.2 .38.507.3 203039:.33/.7:2.2. /. O !73.354.3.:-039:9079039:  O !73.33202503.38.: 3/.3 -072.5507.3584489025./.3 /80-:980-.2.

7 -0.3 ..25.03/07:3 .9: 203.9.50 41 :70 .5 -/.!73.3 8:.3.03.3/ 74:3/ .3 !03. 4-0 .47.3 2038 04843.38:. /:.: 503.9: 1:70 -039:  /.. 809.9.5  O !73.9.5..9: 54./.3 .9.2.9:4-0805079::7. .3..3 /.9 /-.73.2.3   .3 .504144/472-.3 9/.3 503.3 54943.5 -.

8....3./03. 9::./: 203..3 389  -.3 203:3.33.343908  5.3 -07.  :8:83..  .3 8:.3..7 .9 50393 /.9.91 5020.3 .3  .3.79::.3.3:38:7 :38:7/.8 /.7 8.3.3.3 50302-. 9/.3 .9.3 .2...3 01091 .3 .3 0./ 7047./  808047.857385089. 4391  5.3 ..3..3 207:-..39..9 !74808 -0. /.39::.733 0-072.3 . 9::.3 907.8 /.0907..: 907.9.. 20.8../.7.../.7  907.9: :38:7 .: -079::. 3/.. 202 2.-.  .-.  !03.25:.3 2.39.7.331:0.33.80-.7..38.9 8.3..3.38..3 574808 0/:5.703..3 /.187.5. // 20303. .25:..3  !07..5 8:..7: 907.7. 5.5.3 .2 574808 502-0.504184247582 7..2 574808 -0.2574808502-0.3-072.9.47  -.8 2.. 507./..9./.9 .3 892::8 7085438  909. 9...3   .203. 907. !74808 502-0.333/.3 507.:50789. 50780589039. // 202 02..3 /50. 3 8. 508079.3 2020.3 3.3  .3 5020.3 1:70 /.3 48 /03. 0907.7. .2 0..059:.5..0 -0.33..  -  !02-0.3/03.3 /.9 :-:3.7  .3 .3:38:7 :38:7 .89047089.7 508079.3 0./.  0.7 907.333/.3. .3.:  .3.3. .3..3 20303.3 -.3 907.  !07.8. 508079.2 507.2.9: 02. .3./..5.3 2..3 1:70  4394 507:-.2 507.3 9.9:4-0. // 03/.7  2. 1:70 /..2.28:.3 503.8-07/.7 .: -:..3  03/. 1034203.3 50393 /.7. 202-0/.9.3 5:8548.7./ 0.. 10/3.7 /. 5..7..2 574808 502-0./ .7. 574808 -0.9 202 .9: 574-02  5.3 502-039:.3 /50.3 9.3.2 /0391.  $090... :-:3.3 01091 808:. /.3 .3/.9: :7:03/.9073..9/.-:7.3204/  O !73.7 -0781..8 2..9: .7 -0.9.3 9.7.

303/.3.3 02:/.7. // /..39079039:089:.8.: 3/..9.29::.33.3.8.3..3 /.3/03...8 /.3 907. ..3 503933.0  -.3 2:3...9 97.3..3 -07-.38107 -0.3 .. // 90.. 80.3 2./..3/.907 .9..3 4-0 /.8 /.9 202-.907 ..30/:5.3 03:7:95.3 09039:.8 .3 /. 9: ..2 2020.5 57385 57385 544 /.3 :. 9:  2.8. 507.9: 431:7./ /03.2020907.3 2. .-..7. 203..... // :39: 203:.389:.3 /.3 20302:.3 /2..3.7.289:.39: 508079..3 203025. .8.354.3  0 .3 /03.703.7 . 508079.8 502-0.8.3.3 503079.3 /..3 3:3..3 /:3. /.8/.3 0307..8 .. 9:  :7: 03/. /.8.8 9079039: :39: 02:/.7 2.7 907. /:.9.9.8 :39: 02:/.703.9:5023/.//  0  %7.5.3 /:5 10 85.5.2 502-0.9: 50784.2 202.3 .7 8:.9./ . 574808 503:.7.80-.7.38107/. -07.3.5.507.8 503.8 431:7..3 :2:2 0307.3 /. 8:8:3.3 /..3 /.3 57385 57385 544 .  O 389 !020. .2 89:...33.3/.. 503. 57385 57385 544 /. 54.7.8..38107 -0..3 2005.3508079.2 9...7.3.7 8:.20./: 202 0907.7./.9  :// 2030.2 89:.  /  !7385 7:.343/8 3:3.: 8090.3 905.2 89:.3.  0 .9.:/.3089.39: 508079.3 203:8:3 09039:.8  %7.3 202-.

208507203..38.5 4-0 2033..5.35.7 /902:.843.3  03./.54-0 !0307.3 389 3/..2. 07747./:2.98  O 0247 ..3 0.02:33.3 57385 5738547.25:20307.50393 /.9.9:  0. 3.3. 3.1034203.:57480897.33. .. 438053893.3404007/.3!73854144/   .2-0./.3 -07:-.9... 5:.3 /03. .3 -07. 80.3 3 .574-02800389././..33.5. 503.388902./..907.5.3  $090.8 5078058 907.507: 20.

3 907-:9 80..7:485. $0.2030.7.848. 2:3.: /.8.  1034203. 085072039.3:.3503.472 8073..7.

7.7 .9.2.3.3 -0.3  9/...50308:.7. /.7.3. .7.3 5078058  /.703.3-0-07. 080:7:.7.3-074507.39..3 .3. 3 /3/.980-.5.3 3  0243897.3 -.3.9 203025:73..7 :. -070.3 803./ 8.5.7 4391  -0714:8 5.2:3 909.8.9 80. 80. 8.9 20250.3:8.9 -072:..  848..33202-07. 20303.3. .5.8502./.7 07 2039.3 /03.9:9/.3.. 574808 -0.3 9/.9.3.3 203:2-.7 -0..9.3 .83./.3089..088  .3 088 / 5844 /.. 80.8089.9.3    .33:3.3.33.3 907-08.3 503.3 4391 /2.3 . 07 2039.3 /0 :39: 203.7.5 /.3 3:3.3 503/0. 507.7:247  /.3 80.3/.-0-07... 39009:. 574808 574808 2039.2 .39...83.2. 1034203...  3.3 /.8 %44%42. /.  O !. -40 /.35. 89:/ 5844 /./.8 /03.350393 .9.9 2025079..8/.-897..3 80-. 507.. 80.7.5.9.  909. 18  024843.3 3 5. 574.38.3   .5.088  /.3 1034203448 203.3 20.3 47..3 203.9 O !03/0..2.   0. /02.5./.3574-0284.5 574808 574808 .7.3.7.3.47820 /03.9  25.059:. 944 089.9.9: 503/0./.3/7/03.5.9 203:3:. 5.5. 8:808 . .3./ .3 089.57385-0. 574. 10/ /39075709..3025783.7.3 . /.25.9/-.   080:7:.3 /. 805079 5078058  389 /.34007  !844 089..5 :.3 203..7.3/.907.5. .3.

9.3..2.3:.38:. :8.9207:2:8../.73:3..9..7. /.3 2:33 202-07 .... 02.7.9.3 -..9: 503.808:..380.5..75.91 -:./.3.. :25:./.320307. :.9.9.9:  %047 20/.39:.9.35.072.5.3-.: 31472.3 0907.3 8:.3:8.3...850 .8.8..    03:25:.7:8202.../107038.. 5020.3 5:..3 :39: -0.2- 0825:.3 3 203-.2.390784.3 .380:7:47.3:8.3 54908.9::.: 8:2-07 8:2-07 ./0.3:39: 0..3 0- /.808047.3 2. 8:.  80-..7 9.33.3820    0.3 /03..3.25.8. 9/..8/.3 8:.3-07. .. .  03.3  202-:.7.32.3 43805 9047 -0.3 203.3 :39: 20250740 389    %/.3 80.3 ...2.9 /.9 .3.9:..3 0907.9 2020.8.9.. 03.8. .3 .3 349  /02.2...:5.9: 503.7.9/507805880-..5  02:/..8.32. 700.8503..3.7. 3 3.3.3 2.83.8.5.. /507:.. /03.8.3.85020.9 203:39:3.../..3/8   0. 808047.9.3/50740    03.7  249.380.3 503. /03.3  0.3./.384.380-./.7 .3 2.9: -0.-0702-.2.8 202-07/4743.30.5.3 2020.3.0-:.3 2.3 . 503./.3 /... 80-./.4-..9: /03.3    03.33.7:8/..3   .5/03..9 808:..9:574808-.7. .203:7:9 00.080:7:. 502-:9.3:8.25.50702-.9.:. 2:33 .8  .3    03.3 /..: 202-:.3 54908.3..: 204/ .3 03..:.3.3    0.5.8..5.-.7. 02..8  /03.:.7 2020. -07.. .7 .    0.98:.3.: .2.70. 907. -0.7207:5...547.3 -.. .3 9: /.5020.9..8..3   #0.  .2.2./.8.9: ./.78./. .8    0..

53:3./ 574808 /107038.8:.8  .3.3 ..3-.3/09.8 2.848.3202.370.3..940720/.9:4-0503.33.3/...7-:.3 503:2.3..9. -0.2.7 8:.3 .9 2.2 -..3-07-0/./.9:1034203.3 03...3  .5-./91 80-..9 .  0.3 207:5.91907.2-.33 20.3 203./03..3 2025078058 080:7:..:3 907.../..39047. /03.7 2:.

3 /9:83.7 ./802.7 .0   90./. / 442-.3 57385 /.7/4947/4:2-.3:9 40 %473/0 .7....5038435.208 /.3207.3/.9 203..83.3 /.  /.3/ 84. 90.7 574808 -0.9.943574..8:7020398    32...7&3.-:7203.3 203.0  3 05072039.3 2.:3   09.3%473/0907.8  3.9. 5078058 ./. .7. /8./.44    039.39.:3 :: -:: . 203072./.2:3.8   % #% # 47.5.3 8:.3 0. 8047. 9.7 ! 3. ::8$/./.9.3 /. /09.8. 203:9 0.1/.7 .7.3203. . .0.31:3843..3   ./ . 202-039: 9.. 39003.3 &3...884.0789/4330.8 .3. 2. ..3 /:. .3 802:. 89:/ 41 .:3   /.7/00%473/0  %473/0 -07574108 80-.3 503// /.733  9/.7 /.  :: 3 . 9.078 207.:3 $/.3.25..  2.7 /.0723.78..7. 9.3 .5.93.8907 /. /.3 -:7:3 .7/9.3.:9 5. 88.3  .3 203/.7080.5.3 4-0 .30..7 0.0380.9. 0.3 -07:/: 32.593.3207.3 080:7:. 20307-9.9:70.  /.850309. 39003.9038 8047.3/%0$4..943..3 207:5.7 -0.3805079:..3 5844 .8.7/ 5.-0-07.:3   02:/.9: -.- /. -0.:3/.2 .3 -0./.0789.05. !8.088 3 32.3 -070-.8.7/ 009473/0 20880.7/..33  /.3 2070. /.5:3 .5. 7/07   /.:3  .8080039.7...28 .47820 #:8.7/442-.3:2.9: -:: .90.3.  %473/0    203/....38.07 8 47/ 44  4:79  /. .

. 892::8 9079039:  %473/0 203/. 5.8.9 80. -3.94382  ./.. /.  %047/. . 8.3 .8 .: -0-07. 03/ 07747  .. 892::8/.2 . .8 803.    .3 80-.703. .94308808:.3 2032-:. 3 4-0 203.4-.8:39:2070854389:.7 207:5.. 2. ...2.3/. 2033.: .3..3 :. :39: 2020.  47.89:..9.: 2..3892:.:./.7.7 /.80-03.7: /.807.2 8:..3 3..3/./.89:  /.2 .  503//.7:.3 8:.9: 708543 9079039:  %047 3 /80-:9/03. 708543 ..2574808-0.  .9: 50/.2./.8..3 9047 $ #  /.9.3/:32..3 93.5.305. 5. ..34-020. /80-:9 %7.5 93..39.3... /.. . 9079039: /03.47.5.3820 0..3 47.3 / 2. /..3 93...3..3 202-.7.3.2202-:.2.3 9: 907-:.8 .3/.: 93.3. .8:.8-.3.7./.9 / /423.7:8 / 00:. ..3 /.38:3 2033.2 7./2.5.3..:.3-0:2/03. 9:  :.3 .3. . .3 2..3 /0.3 9:.3 503.32030:..7.3 907/.7. /./.5.38209:.8.3/.8:.7 5079.3 /.9.7..207.3  /..8.83.3 203.7/03. %7.. 203.3 8:. 2.7/00%473/0  !.3  2043.7.3 .7 :25:. .3-07-.9. 9:  07/..7.7 %473/0 / 80-:9  4330.3. :39: 2020.3.8  8:.3 . 8.: /.9 -./. .2 .3 203.3 ..9: 89:.3/.  . -070.8. 20302:.9 203..3 574808 502-039:.8.7./.3 .  $0.3820 -07.8. 8.3708543 %047 38073 :.: 9079039:  $0047 :.. 9.3 9: 803../.39.3 907:3../..3 807:5. 8:. . .3 90473. .7 %473/0    9047 -0..8 50309.9:70..3 0-07..9  203.848. .9: 2..38. 907.3/.  2./.4-.: .3 ..3820 8:/.8. 2:.: 47.8. .3  7.9: 892::2 .3 4308 4308 .8/03.7.3 -0..3807039.7.9: 8. 8:.3 -0707.2. -.3 28...9. 0-09:.393..47.3.50/.8 .  -050309.  -07.. -0.3 / ..7.2 9047 $ # / .8 40 503./. .33.3 8:.3/ 07747  /. -07-..9: 93.3 2...848..3/.25.3 503.8.

 907-039: .3 18448 :39: 574808 -0.3.. .9.8203.-.3 2.388......8.3708543 /.3-07.18448   ::2 .39.3/.9:  ::2 ::2.3 /507:.9 /:3.39.9.8   . .750309. 892::8 /..3.85.207.9:.8 70.8708543 708543.7/03.7 ::2 3 .370.. 41 #0.7 .3 57385 :9.9../.9: 50309.8 /.3 708543 /:9 40 8:..:8. 503:.9.9.8.9  .9: .3/:3.3 . 2.9  ..5./.9::..7.8 .5.. -03. 02.3 907./. :39: 203008.708543907.37085430-8073907..9: 05:.3 802.3 . 802.3 90780-:9 .803..9: 84./..:.39:.397. .5.8   ../  ::2 3 203:3:.9:708543 ..3 907-039: .9 907825.3907.3.:.848.23..3 :.848./ 2.3 802.9.38047.3./../.8.3.3 :. 08. 8 904738. 2.79 /0...3 8073 8:.7.848..8:.3. .9: 2.-.3.7.. -0..9-0747039.-07-.80  .   .05:..3..3.9.3907-039:802.9: 892::8 . 892::8 /.9 907.2.5. 41 0110.80-./.3 :.-.3 2. 2.3 40 808047.3 8:...3 20247    ::2 .3.02.892::8 /.7.  8090...7-0.9.5 8:.3 90.9.3 /.7 2.3  2. .3.3 9073.2491503/4743.5.3 90780-:9 .-.907 50.39.:3..3802..-.9 437093.902.3 -0./3../.8 .. 41 007./.33.././.589:.2 3.3 /:. 07.3/.3.7 202-.3/07747   /.7..9 ..3 /-07.3 8073 8:..9.5. /239..848.79079039:  28.8 ..7 /.33.7/ %   ::2 08.3 ...-03.9 .3  $02.907 50.9  39075709.7 . .32033.-07:98.9./3088   ../.8.20309..

 ::2 3 /.3 ..3 /.9: 93/.5.3 20303. .3 /:9 ...2 3.7.3 -03.9 :.8/.39. 84.9 . /.3.33.3   .33.93..9.9 907825.3 :..3  8:.7 9: .-.5:.-. 93/. .3 .3 .79.-.. /.3  2.

:.3.3 .3 88..8 .-.3 . /.3  507.3.3803.8 5007.79209 503:2....8..3 84.:.3  .902.3 /-07.33  43805 3 2.7 ./.3 /-07.9: .3 .::2..90780-:9 .3 ...  $0.25..9 /825:.390780-:9.8.9.  .9:. ../.3 50309..-.5./.3 :7: 907.3  503:7. .3 9/.9 88.9 80.3 9.. /2 88.9. :897: 202-:.9 907:8 /03.:.9. /2  &38:7 :38:7. 01091 /.7.3 -. :38:7 :38:7 /.3 90.3 8:..3 502-.5..388. .3.03/07:3 .9. .90780-:9 203.8 9: 202-039:8. /2 88.79209./.3 :7: 05..3  ....38:.2 2.  02.8 5007.:-:3.3/0399:8.3 20307.-.3.3 ::2 ::2 / .3 /.32.8 ./  -.3 2.7:8.3./ 2.  .25:. /03.2-.3807320. .3 .. ..9 /8008.38107 -0.. 97.3 :7: .. 20302:.9  8073 907.  $0/.3 -.3 ::2.203.3 88./.5 88.3 :38:7 :38:7 50309.8.703.3  8.3 .3 -07.5 2. 203.3 08.7.3.3 4507.3 :7: 907.34507..9. ::2.25:.  2030-..9 203008.3 ::2.3 43805 97. 2.3202-03..3.33.2:3507: /3..3  &38:7 :38:7 .3 /-07./.32.9: 93/.:.9.25:.3 /80-:93.3 5.8 5007. /03. // 33 907:8 20.3 20.:. 84.990780-:9.8:/3.3  2.3  $0-.0..8./:.  8:.  .7.2..3 . 93/.3 /:9 . 203:..3 20307.3 $0./.3 /.9/.3 -07.3.902.3 84.3 90.3 807:5.9./  /..2 57.  809.3  .848..38107 -0.3     .8803.5:. ..03/07:3.3 8.3:93.3.3./.5 /.5 02. / /.3  /.902.38107 41 97.79209 03..3 :7: .2 809.9.3 ..9.7:8 /.3 .50.9:. 9: .302.-.5. 97.3 02.3/02.9:02.35.3 508079...848. 28..3 4507.9907.9./ 2..5.39/.3 /:.8.25:..3 -.7/..7:  .9 . 5007.9.8 -0.3.202:33.. 5:. 20303.3 /.9: 2.39./.7.5 /. :39: 203008.33.3 /.7 /.  . 88.3 /03.7: .3-07.5.. 28. -.  2030-.3 0. 503:3./03.7.3 88..3 503.3 90..3 /039 /03.3 88.3 /03.8  %473/0 :.5 .

7        .3  7085438 .3  !07.7 ./-07.  80.8.9.5.9.3/.3 /.7.3. /.5.3.3 7:5.3 /..9 :-:3.3 /.890780-:9  59.3. /.7 ..3 80/02.3 803.3 202-:..380038  59.7.3 :-:3.9 /:3.3 /03.: .. 503//. 202:9:8.3.3.789:..390780-:9   :.305.7 -:.. 803.59.3 8.3/.2/:3.3 807. .3..3/-:..8 %047 %473/0 /.7.3 9.3 7:5.780.3.8 .3.7.: 9::.7:8 /-07.380.3 03.389:.  .3 3. .7.3503.89047%473/0/.3 2:7/9.508079.357.3 03:7:9%473/057.7:8/50.7.7.9..8 89:.907.3 ./.3.20/:5.3 /.7508079./.90503//.3503.7 80/02.3 574808 -0.3 .3.2 /:3.  $9:.7.: . .3 /3/. 203.5.7:8 /:-:3...7.. 9.2.8508079.3 803/73.3 03/..3 9. 203.9 :-:3.:.3/. 03/..//  !07.3 .9:7.5..9.793. 803.8.3 507-:..503//.5.3 203.3 7085438 90780-:9 :-:3.5.3 907.3 5.3 8:. .9%473/0-07:-:3.5... /.3 :-:3./.9..3 ...5.7  03..3 503.5.3 /.3 :-:3... -0.3.5.90 503//.5.3/03.//  0-07./ /03././/  .7.2. 203.3 /03.3 -.: 2.37085438.3503//..3 .3 :-:3.3 9079039: .

             .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful