A.

Teori Ausubel Teori pembelajaran Ausabel merupakan salah satu dari sekian banyaknya teori pembelajaran yang menjadi dasar dalam cooperative learning. David Ausubel adalah seorang ahli psikologi pendidikan. Menurut Ausubel, belajar dapat diklasifikasikan kedalam dua dimensi. Dimensi pertama berhubungan dengan cara informasi atau materi pelajaran itu disajikan kepada siswa melalui penerimaan atau penemuan. Belajar penerimaan yaitu yang menyajikan informasi tersebut dalam bentuk final, sedangkan belajar penemuan yaitu yang mengharuskan siswa untuk menemukan sendiri atau keseluruhan materi yang dipelajari.Selanjutnya dimensi kedua menyangkut bagaimana siswa dapat mengaitkan informasi itu pada struktur kognitif yang telah ada. Jika siswa hanya mencoba menghafalkan informasi baru itu tanpa menghubungkan dengan struktur kognitifnya, maka terjadilah belajar dengan hafalan. Sebaliknya jika siswa menghubungkan atau mengaitkan informasi baru itu dengan struktur kognitifnya maka yang terjadi adalah belajar bermakna. Jadi belajar bermakna terjadi bila pelajar mencoba menghubungkan fenomena baru dengan konsep yang telah ada sebelumnya. Artinya, bahan subjek itu mesti sesuai dengan keterampilan siswa dan mesti relevan dengan struktur kognitif yang dimiliki siswa. Oleh karena itu, subjek mesti dikaitkan dengan konsep-konsep yang sudah dimiliki para siswa, sehingga konsep-konsep baru tersebut benarbenar terserap olehnya. Dengan demikian, faktor intelektual-emosional siswa terlibat dalam kegiatan pembelajaran. Bila konsep yang cocok dengan fenomena baru itu belum ada, maka informasi baru tersebut harus dipelajari secara menghafal. Belajar menghafal ini perlu bila seseorang memperoleh informasi baru dalam dunia pengetahuan yang sama sekali tidak berhubungan dengan apa yang ia ketahui sebelumnya. Ausubel juga mengemukakan bahwa belajar menerima dan belajar menemukan adalah dua hal yang berbeda. Pada belejar menerima, isi pokok yang

1

akan dipelajari diberikan kepada siswa dalam bentuk catatan, belajar tidak melibatkan penemuan, siswa hanya diminta menghayati materi atau

menyatukannya dalam struktur kognitifnya, sehingga tersedia untuk direproduksi atau untuk penggunaan lainnya di masa mendatang. Sedangkan pada belajar menemukan, isi pokok yang akan dipelajari tidak diberikan, tetapi harus ditemukan oleh siswa, kemudian menghayatinya. Belajar menerima dan menemukan masing – masing dapat merupakan hafalan atau bermakna, tergantung pada situasi terjadinya belajar. Yang jelas bahwa belajar hafalan berbeda dengan belajar bermakna.menghafal sebenarnya mendapat informasi yang terisolasi sedemikian hingga siswa tidak dapat mengaitkan informasi yang diperoleh tersebut kedalam struktur kognitifnya. Dari dua dimensi belajar tersebut, terdapat empat kemungkinan tipe belajar, yaitu: a. Belajar menerima yang bermakna Ini terjadi bila informasi yang telah disusun secara logic disajikan kepada siswa dalam bentuk final. Selanjutnya siswa menghubungkan informasi baru tersebut dengan struktur kognitif yang telah ia miliki. b. Belajar penemuan yang bermakna Ini terjadi bila informasi pokok ditemukan ileh siswa dan kemudian ia menghubungkan informasi baru tersebut dengan struktur kognitif yang dimilikinya. c. Belajar menerima yang hafalan (tidak bermakna) Ini terjadi bila informasi disajikan kepada siswa dalam bentuk final dan kemudian siswa menghafalnya. d. Belajar penemuan yang hafalan (tidak bermakna) Ini terjadi bila informasi pokok ditemukan oleh siswa dan kemudian menghafal pengetahuan baru tersebut.

Inti dari teori Ausubel adalah belajar bermakna yang dianggap palin efisien. Menurut Ausubel pengajaran ekspositori yang baik merupakan satu – satunya cara

2

meningkatkan belajar bermakna, dimana guru yang menyusun topik dan menghubungkannya dengan topik yang bermakna yang telah dipelajari sebelumya. Dua prasyarat untuk belajar menerima yang bermakna, yaitu: 1. Siswa telah memiliki satu himpunan belajar. Artinya kondisi dan sikap telah siap untuk mengerjakan tugas belajar sesuai denga tujuan mereka. Bila siswa melaksanakan tugas belajar dengan sikap bahwa ia ingin memahami bahan pelajaran, mengaplikasikan serta menghubungkannya dengan bahan pelajaran yang dulu, maka dikatakan bahwa siswa tersebut belajr bahan baru dengan cara yang bermakna. Jadi dalam prasyarat ini faktor motivasional memegang peranan penting, sebab siswa tidak akan mengasimilasi materi baru tersebut, bila mereka tidak mempunyai keinginan dan pengetahuan tentang bagaimana melakukannya. 2. Tugas belajar yang diberikan kepada siswa harus sesuai dengan struktur kognitifnya, sehingga siswa dapat mengasimilasi bahan baru tersebut secara bermakna. Belajar bermakna terdahulu merupakan dasar atau penguat untuk belajar baru, sehingga belajar baru dan retensi tidak menjadi belajar hafalan. Ausubel mengembangkan suatu cara yang disebut “ advance organizer” untuk mengorientasikan siswa pada materi yang akan dipelajari dan membantu mereka untuk mengingat kembali informasi – informasi yang berkaitan dan yang dapat digunakan untuk membantu dalam menyatuka informasi – informasi baru yang akan dipelajari. Fungsi dari “ advance organizer” adalah untuk

memberikan scaffolding atau dukungan terhadap informasi baru. Advance organizer dapat dupandang sebagai jembatan konseptual di antara materi baru dengan pengetahuan siswa saat ini.

Suatu organizer membantu untuk meberikan dasar atau scaffolding mental sebelum guru menyajikan abstraksi atau generalisasi dari pelajaran, menjelaskan istilah – istilah kunci, memberikan contoh – contoh spesifik.

3

Informasi yang dipelajari secara bermakna lebih lama diingat. Menurut Ausubel ada tiga kebaikan dari belajar bermakna yaitu : a. Caranya unsur yang inklusif diperkenalkan terlebih dahulu kemudian baru lebih mendetail. Pengatur awal (advance organizer) Pengatur awal dapat digunakan untuk membantu mengaitkan konsep yang lama dengan konsep 2. Penekanan dan model cooperative learning sendiri adalah selain siswa mendapat bimbingan langsung dari guru. Diferensiasi Progregsif Dalam pembelajaran bermakna perlu ada pengembangan dan kolaborasi konsep.Lebih lanjut Ausubel mengemukakan. yang baru yang lebih tinggi maknanya. Dengan model cooperative learning materi yang dipelajarinya tidak hanya sekadar menjadi sesuatu yang dihafal dan diingat saja. seseorang belajar dengan mengasosiasikan fenomena. 4 . Informasi yang dipelajari secara bermakna mempermudah belajar hal-hal yang mirip walaupun telah terjadi lupa. Langkah – langkah belajar bermakna Ausubel adalah: 1. Informasi yang dipelajari secara bermakna memudahkan proses belajar berikutnya untuk materi pelajaran yang mirip c. Diharapkan model cooperative learning akan dapat mengusir kejenuhan dan kebosanan yang dirasa siswa di kelas karena selama ini hanya mendengarkan materi dari guru saja. melainkan ada sesuatu yang dapat dipraktikkan dan dilatihkan dalam situasi nyata dan terlibat dalam pemecahan masalah. b. pengalaman dan fakta-fakta baru ke dalam skemata yang telah dipelajari. mereka juga diberi kebebasan untuk memecahkan masalah lewat pengetahuan yang mereka dapatkan sendiri. Hal ini menjadikan pembelajaran akuntansi tidak hanya sebagai konsep-konsep yang perlu dihapal dan diingat hanya pada saat siswa mendapat materi itu saja tetapi juga bagaimana siswa mampu menghubungkan pengetahuan yang baru didapat kemudian dengan konsep yang sudah dimilikinya sehingga terbentuklah kebermaknaan logis.konsep.

Pada usaha (trial) yang pertama. Dalam hal ini. dibiarkan lapar. kucing itu melakukan bermacam-macam gerakan yang kurang relevan 5 . Thorndike (1874-1949) adalah salah seorang penganut paham psikologi tingkah-laku. kemudian dimasukkan ke dalam kurungan yang disebut ‖problem box‖. Eksperimennya yang terkenal adalah dengan menggunakan kucing yang masih muda dengan kebiasaan-kebiasaan yang masih belum kaku. Selain itu. belajar merupakan peristiwa terbentuknya ikatan (asosiasi) antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R) yang diberikan atas stimulus tersebut. akan menjadi lebih kuat atau lebih lemah dalam terbentuknya atau hilangnya kebiasaan-kebiasaan. Asosiasi yang demikian itu disebut ”bond” atau ”connection”. maka ia dinobatkan sebagai salah satu tokoh pelopor dalam psikologi pendidikan. bentuk belajar yang paling khas baik pada hewan maupun pada manusia menurutnya adalah “trial and error learning atau selecting and connecting learning” dan berlangsung menurut hukum-hukum tertentu. ia mengemukakan suatu teori belajar yang dikenal dengan teori ―pengaitan‖ (connectionism). sedangkan respon adalah sembarang tingkah laku yang dimunculkan karena adanya perangsang. Teori tersebut menyatakan bahwa belajar pada hewan dan manusia pada dasarnya berlangsung menurut prinsip yang sama yaitu.B. sehingga kalau kucing menyentuh tombol tertentu pintu kurungan akan terbuka dan kucing dapat keluar dan mencapai makanan (daging) yang ditempatkan di luar kurungan itu sebagai hadiah atau daya penarik bagi si kucing yang lapar itu. Berdasarkan hasil percobaannya di laboratorium yang menggunakan beberapa jenis hewan. Oleh karena itu. Teori Thorndike Edward L. teori belajar yang dikemukakan oleh Thorndike ini sering disebut dengan teori belajar koneksionisme atau teori asosiasi. Stimulus adalah suatu perubahan dari lingkungan eksternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme untuk beraksi atau berbuat. Dengan adanya pandangan-pandangan Thorndike yang memberikan sumbangan cukup besar di dunia pendidikan tersebut. Dimana konstruksi pintu kurungan tersebut dibuat sedemikian rupa.

pada usaha-usaha (trial) berikutnya dan ternyata waktu yang dibutuhkan untuk memecahkan problem itu makin singkat. demikian selanjutnya. Setiap respons menimbulkan stimulus yang baru. selanjutnya stimulus baru ini akan menimbulkan respons lagi. kucing tersebut cenderung untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tidak mempunyai hasil. (2) Hukum latihan (law of exercise). Interpretasi dari hukum ini adalah semakin sering suatu pengetahuan—yang 6 . yaitu apabila ikatan antara stimulus dan respon lebih sering terjadi. menubruk dan sebagainya. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya kucing itu sebenarnya tidak mengerti cara membebaskan diri dari kurungan tersebut. hukum ini pada intinya menyatakan bahwa belajar akan berhasil apabila peserta didik benar-benar telah siap untuk belajar. Dengan demikian diketahui bahwa supaya tercapai hubungan antara stimulus dan respons perlu adanya kemampuan untuk memilih respons yang tepat serta melalui usaha–usaha atau percobaanpercobaan (trials) dan kegagalan-kegagalan (error) terlebih dahulu. apabila suatu materi pelajaran diajarkan kepada anak yang belum siap untuk mempelajari materi tersebut maka tidak akan ada hasilnya. yaitu bahwa belajar itu terjadi dengan cara mencoba-coba dan membuat salah. tetapi dia belajar mempertahankan respon-respon yang benar dan menghilangkan atau meninggalkan respon-respon yang salah. seperti mencakar. Dengan perkataan lain. sampai kemudian menyentuh tombol dan pintu terbuka.bagi pemecahan problemnya. Dalam melaksanakan coba-coba ini. Namun waktu yang dibutuhkan dalam usaha yang pertama ini adalah lama. Percobaan yang sama seperti itu dilakukan secara berulang-ulang. maka ikatan itu akan terbentuk semakin kuat. Percobaan tersebut menghasilkan teori “trial and error” atau “selecting and conecting”. Thorndike mengemukakan bahwa terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon ini mengikuti hukum-hukum berikut: (1) Hukum kesiapan (law of readiness).

(3) Hukum akibat (law of effect). setelah ia kerjakan. bahwa hukuman yang diberikan guru atas pekerjaan siswa justru membuat siswa menjadi malas belajar dan bahkan membenci pelajaran matematika. tampak bahwa hukum akibat tersebut ada hubungannya dengan pengaruh ganjaran dan hukuman. Dalam hal ini. Ganjaran yang diberikan guru kepada pekerjaan siswa (misalnya pujian guru terhadap siswa yang dapat menyelesaikan soal matematika dengan baik) menyebabkan peserta didik ingin terus melakukan kegiatan serupa. jika suatu respon yang diberikan oleh seseorang terhadap suatu stimulus adalah benar dan ia mengetahuinya.telah terbentuk akibat terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon—dilatih (digunakan). sering terjadi. Jadi. Konkretnya adalah sebagai berikut: Misalkan seorang siswa diminta untuk menyelesaikan suatu soal matematika. Namun perlu diingat. suatu tindakan yang diikuti akibat yang menyenangkan. 7 . maka tindakan tersebut cenderung akan diulangi pada waktu yang lain. Hukum ini dapat juga diartikan. hukum ini menunjukkan prinsip utama belajar adalah pengulangan. maka kepuasan akan tercapai dan asosiasi akan diperkuat. maka ia merasa senang/puas dan akibatnya antara soal dan jawabannya yang benar itu akan kuat tersimpan dalam ingatannya. maka ikatan tersebut akan semakin kuat. ternyata jawabannya benar. Semakin sering suatu materi pelajaran diulangi maka materi pelajaran tersebut akan semakin kuat tersimpan dalam ingatan (memori). Hal ini berarti (idealnya). yaitu apabila asosiasi yang terbentuk antara stimulus dan respon diikuti oleh suatu kepuasan maka asosiasi akan semakin meningkat. Sedangkan hukuman yang diberikan guru atas pekerjaan siswa (misalnya celaan guru terhadap hasil pekerjaan matematika siswa) menyebakan siswa tidak lagi mengulangi kesalahannya. maka tindakan tersebut cenderung akan tidak diulangi pada waktu yang lain. suatu tindakan yang diikuti akibat yang tidak menyenangkan. Sebaliknya.

respons yang akan diharapkan dan tahu kapan ―hadiah‖ selayaknya diberikan kepada peserta didik. perkalian. 8 . Unsur-unsur yang saling berasosiasi itu membentuk satu ikatan sehingga menggambarkan suatu kemampuan. Dengan demikian kemampuan mengerjakan operasi aritmetika tersebut menjadi mantap dalam pikiran siswa. Hukum Perpindahan Asosiasi Selain hukum-hukum di atas. karena di dalam setiap masalah. dan pembagian) yang telah dimiliki siswa. Hukum Aktivitas Berat Sebelah(Prepotency of Element) 4. Aplikasi Teori Thorndike dalam dunia pendidikan dan pengajaran Menurut Thorndike praktek pendidikan harus dipelajari secara ilmiah dan praktek pendidikan harus dihubungkan dengan proses belajar. ada unsur-unsur dalam masalah itu yang identik dengan unsur-unsur pengetahuan yang telah dimiliki. dapat disimpulkan bahwa transfer belajar dapat tercapai dengan sering melakukan latihan. tahu apa yang hendak diajarkan artinya tahu materi apa yang harus diberikan. Thorndike juga mengemukakan konsep transfer belajar yang disebutnya transfer of training. Unsur-unsur yang identik itu saling berasosiasi sehingga memungkinkan masalah yang dihadapi dapat diselesaikan. kemampuan melakukan operasi aritmetik (penjumlahan. Mengajar bukanlah mengharapkan murid tahu apa yang diajarkan. haruslah dilatih terus dengan mengerjakan soal-soal yang berikaitan dengan operasi aritmetik. Hukum Respon by Analogy 5. Jadi. setiap kemampuan harus dilatih secara efektif dan dikaitkan dengan kemampuan lain. Mengajar yang baik adalah : tahu tujuan pendidikan. Selanjutnya. Konsep ini maksudnya adalah penggunaan pengetahuan yang telah dimiliki siswa untuk menyelesaikan suatu masalah baru. Hukum Reaksi Bereaksi (Multiple Response) 2. Hukum Sikap (Set \Attitude) 3.Tambahan hukum Thorndike : 1. pengurangan. Misalnya.

Teori Van Hiele Van Hiele adalah seorang pengajar matematika Belanda yang telah mengadakan penelitian di lapangan. jangan mengharapkan hubungan terjadi dengan sendirinya. Ciptakan suasana belajar sedemikian rupa sehingga dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. sisi-sisi yang berhadapan panjangnya sama?". Tahap Pengenalan Pada tahap ini siswa hanya baru mengenal bangun-bangun geometri seperti bola. Buat hubungan sedemikian rupa sehingga menghasilkan perbuatan nyata dari peserta didik.Beberapa aturan yang dibuat Thorndike berhubungan dengan pengajaran: Perhatikan situasi peserta didik. deduksi. analisis. "apakah pada suatu persegipanjang kedua diagonalnya sama panjang?". 1998) menyatakan bahwa terdapat 5 tahap pemahaman geometri yaitu: Tahap pengenalan. Sehingga bila kita ajukan pertanyaan seperti "apakah pada sebuah persegipanjang. Penelitian yang dilakukan Van Hiele melahirkan beberapa kesimpulan mengenai tahap-tahap perkembangan kognitif anak dalam memahami geometri. pengurutan. kubus. kemudian hasil penelitiannya ditulis dalam disertasinya pada tahun 1954. persegi dan bangun-bangun geometri lainnya. Van Hiele (dalam Ismail. Seandainya kita hadapkan dengan sejumlah bangun-bangun geornetri. siswa tidak akan bisa 9 . Ciptakan hubungan respons tersebut dengan sengaja. Pada tahap pengenalan anak belum dapat menyebutkan sifat-sifat dari bangun-bangun geometri yang dikenalnya itu. dan keakuratan.      Perhatikan respons yang diharapkan dari situasi tersebut. anak dapat memilih dan menunjukkan bentuk segitiga. C. Lima Tahap Pemahaman Geometri 1. segitiga. melalui observasi dan tanya jawab. Untuk hal ini. Situasi-situasi yang sama jangan diindahkan sekiranya memutuskan hubungan tersebut.

anak diajarkan sifat-sifat bangun-bangun geometri tersebut. 3. yaitu mengambil kesimpulan secara deduktif. Tahap Analisis Tingkat ini dikenal sebagai tingkat deskriptif. Karena masih pada tahap awal siswa masih belum mampu memberikan alasan yang rinci ketika ditanya mengapa kedua diagonal persegi panjang itu sama. seperti pada sebuah kubus banyak sisinya ada 6 buah. sedangkan banyak rusuknya ada 12. mengapa kedua diagonal pada persegi saling tegak lurus. Tahap Deduksi Pada tahap ini anak sudah dapat memahami deduksi. tidak demikian pada tahap Analisis. siswa sudah mengetahui jajargenjang itu trapesium. Tahap Pengurutan Tingkat ini disebut juga tingkat abstraksi atau tingkat relasional. Pada tahap ini anak sudah mulai mampu untuk melakukan penarikan kesimpulan secara deduktif.menjawabnya. Pada tahap ini pemahaman siswa terhadap geometri lebih meningkat lagi dari sebelumnya yang hanya mengenal bangun-bangun geometri beserta sifat-sifatnya. 4. Seperti kita ketahui 10 . 2. karena anak akan menerimanya melalui hafalan bukan dengan pengertian. Pengambilan kesimpulan secara deduktif yaitu penarikan kesimpulan dari hal-hal yang bersifat khusus. Seandainya kita tanyakan apakah kubus itu balok?. jangan sampai. Pada tahap ini anak sudah dapat memahami sifat-sifat dari bangun-bangun geometri. maka pada tahap ini anak sudah mampu mengetahui hubungan yang terkait antara suatu bangun geometri dengan bangun geometri lainnya. Anak pada tahap analisis belum mampu mengetahui hubungan yang terkait antara suatu bangun geometri dengan bangun geometri lainnya. Guru harus memahami betul karakter anak pada tahap pengenalan. Pada tahap ini anak sudah mengenal sifat-sifat bangun geometri. tetapi masih pada tahap awal artinya belum berkembang baik. Bila pada tahap pengenalan anak belum mengenal sifat-sifat dari bangun-bangun geometri. kubus itu adalah balok. Anak yang berada pada tahap ini sudah memahami pengurutan bangun-bangun geometri. maka anak pada tahap ini belum bisa menjawab pertanyaan tersebut karena anak pada tahap ini belum memahami hubungan antara balok dan kubus. belah ketupat adalah layang-layang. Misalnya.

Anak pada tahap ini telah mengerti pentingnya peranan unsur-unsur yang tidak didefinisikan.‖ 5. pada tingkat ini siswa menyadari bahwa jika salah satu aksioma pada suatu sistem geometri diubah. dan teorema. Dalam matematika kita tahu bahwa betapa pentingnya suatu sistem deduktif. kemudian setelah itu ditunjukkan semua sudutnya membentuk sudut satu putaran penuh atau 360° belum tuntas dan belum tentu tepat. Pada tahap ini anak sudah memahami betapa pentingnya ketepatan dari prinsip-prinsip dasar yang melandasi suatu pembuktian. Untuk itu pembuktian secara deduktif merupakan cara yang tepat dalam pembuktian pada matematika. Anak pada tahap ini belum memahami kegunaan dari suatu sistem deduktif. Anak pada tahap ini sudah memahami mengapa sesuatu itu dijadikan postulat atau dalil. Tahap keakuratan merupakan tahap tertinggi dalam memahami geometri. Oleh karena itu. aksioma atau problem. maka seluruh geometri tersebut juga 11 . Seperti diketahui bahwa pengukuran itu pada dasarnya mencari nilai yang paling dekat dengan ukuran yang sebenarnya. membuktikan teorema dan lain-lain dilakukan dengan cara deduktif. jarang atau hanya sedikit sekali anak yang sampai pada tahap berpikir ini sekalipun anak tersebut sudah berada di tingkat SMA. mungkin saja dapat keliru dalam mengukur sudut-sudut jajargenjang tersebut. Sebagai contoh. Pembuktian secara induktif yaitu dengan memotong-motong sudut-sudut benda jajargenjang. Jadi. anak pada tahap ini belum dapat menjawab pertanyaan ―mengapa sesuatu itu disajikan teorema atau dalil. Matematika. dikatakan sebagai ilmu deduktif karena pengambilan kesimpulan. Tahap Keakuratan Tahap terakhir dari perkembangan kognitif anak dalam memahami geometri adalah tahap keakuratan. Oleh karena itu. Pada tahap ini memerlukan tahap berpikir yang kompleks dan rumit. Sebagai contoh untuk menunjukkan bahwa jumlah sudut-sudut dalam jajargenjang adalah 360º secara deduktif dibuktikan dengan menggunakan prinsip kesejajaran. di samping unsur-unsur yang didefinisikan.bahwa matematika adalah ilmu deduktif.

Menurut Van Hiele seorang anak yang berada pada tingkat yang lebih rendah tidak mungkin dapat mengerti atau memahami materi yang berada pada tingkat yang lebih tinggi dari anak tersebut. materi pembelajaran dan metode penyusun yang apabila dikelola secara terpadu dapat mengakibatkan meningkatnya kemampuan berpikir anak kepada tahap yang lebih tinggi dari tahap yang sebelumnya. Van Hiele juga mengemukakan beberapa teori berkaitan dengan pembelajaran geometri. Contoh yang lain. Selain mengemukakan mengenai tahap-tahap perkembangan kognitif dalam memahami geometri. belah ketupat itu layang-layang. pembuktiannya tidak perlu sebab sudah jelas bahwa jumlah sudutsudutnya adalah 360°. pada tahap ini siswa sudah memahami adanya geometrigeometri yang lain di samping geometri Euclides. seorang anak tidak mengerti mengapa gurunya membuktikan bahwa jumlah sudut-sudut dalam sebuah jajargenjang adalah 360º. Menurut anak pada tahap yang disebutkan. Bila dua orang yang mempunyai tahap berpikir berlainan satu sama lain. kemudian saling bertukar pikiran maka kedua orang tersebut tidak akan mengerti. misalnya anak itu berada pada tahap pengurutan ke bawah. dan tidak dimungkinkan adanya tingkat yang diloncati. Sebagai contoh. Teori yang dikemukakan Van Hiele antara lain adalah sebagai berikut: Tiga unsur yang utama pembelajaran geometri yaitu waktu. Kalaupun anak itu dipaksakan 12 . Menurut Van Hiele. seorang anak yang berada paling tinggi pada tahap kedua atau tahap analisis. Gurunya pun sering tidak mengerti mengapa anak yang diberi penjelasan tersebut tidak memahaminya. kapan seseorang siswa mulai memasuki suatu tingkat yang baru tidak selalu sama antara siswa yang satu dengan siswa yang lain.akan berubah. Akan tetapi. tidak mengerti apa yang dijelaskan gurunya bahwa kubus itu adalah balok. semua anak mempelajari geometri dengan melalui tahap-tahap tersebut. Sehingga. dengan urutan yang sama.

Kenaikan dari tingkat yang satu ke tingkat yang berikutnya lebih banyak tergantung dari pembelajaran daripada umur atau kedewasaan biologis. mempunyai simbol linguistiknya sendiri dan sistem relasinya sendiri yang menghubungkan simbolsimbol itu. 13 . tetapi seorang siswa tidak dapat mengambil jalan pintas ke tingkat tinggi dan berhasil mencapai pengertian. Setiap tingkat mempunyai bahasanya sendiri. kegiatan belajar anak harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak atau disesuaikan dengan taraf berpikirnya. selain itu sebagai persiapan untuk meningkatkan tahap berpikirnya kepada tahap yang lebih tinggi dari tahap sebelumnya.untuk memahaminya. ternyata akan tidak benar pada tingkat yang lain. tetapi seseorang yang berpikiran pada tingkat ini tidak sadar atau tidak tahu akan sifat-sifat itu. Konsep-konsep yang secara implisit dipahami pada suatu tingkat menjadi dipahami secara eksplisit pada tingkat berikutnya. Untuk mendapatkan hasil yang diinginkan yaitu anak memahami geometri dengan pengertian. Pada setiap tingkat muncul secara ekstrinsik dari sesuatu yang intrinsik pada tingkat sebelumnya. sebab menghafal bukan ciri yang penting dari tingkat manapun. Dengan demikian anak dapat memperkaya pengalaman dan berpikirnya. Pada tingkat dasar. ia harus menguasai sebagian besar dari tingkat yang lebih rendah. anak itu baru bisa memahami melalui hafalan saja bukan melalui pengertian. Untuk mencapai pengertian dibutuhkan kegiatan tertentu dari fase-fase pembelajaran. Misalnya pemikiran tentang persegi dan persegi panjang. Suatu relasi yang benar pada suatu tingkat. Supaya siswa dapat berperan dengan baik pada suatu tingkat yang lanjut dalam hirarki van Hiele. gambar-gambar sebenarnya juga ditentukan oleh sifat-sifatnya. dapat membimbing untuk mengingat-ingat hafalan. Seorang guru dapat mengurangi materi pelajaran ke tingkat yang lebih rendah.

siswa tidak akan mencapai kemajuan tanpa bantuan guru. Model Van Hiele tidak hanya memuat tingkat-tingkat pemikiran geometrik. Dalam hal ini objek yang dipelajari adalah sifat komponen dan hubungan antar komponen bangun-bangun segi empat. guru dan siswa menggunakan tanya-jawab dan kegiatan tentang objek-objek yang dipelajari pada tahap berpikir siswa. maka ditetapkan fase-fase pembelajaran yang menunjukkan tujuan belajar siswa dan peran guru dalam pembelajaran dalam mencapai tujuan itu. terutama untuk memberi bimbingan mengenai pengharapan. Fase 1. Walaupun demikian. Meskipun demikian. Fase-fase pembelajaran tersebut adalah: 1) fase informasi 2) fase orientasi 3) fase eksplisitasi 4) fase orientasi bebas 5) fase integrasi. Menurut Van Hiele (dalam Ismail. Guru memegang peran penting dan istimewa untuk memperlancar kemajuan. Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa sambil 14 . kenaikan dari tingkat yang satu ke tingkat berikutnya tergantung sedikit pada kedewasaan biologis atau perkembangannya. dan yang satu tidak dapat mengikuti yang lainnya. teori Van Hiele tidak mendukung model teori absorbsi tentang belajar mengajar. anak-anak sendiri akan menentukan kapan saatnya untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi. 1992). Oleh karena itu. Informasi Pada awal tingkat ini.Dua orang yang berpikir pada tingkat yang berlainan tidak dapat saling mengerti. tetapi melalui pilihan-pilihan yang tepat. Lagi pula. Van Hiele menuntut bahwa tingkat yang lebih tinggi tidak langsung menurut pendapat guru. Struktur bahasa adalah suatu faktor yang kritis dalam perpindahan tingkat-tingkat ini. (Clements. dan tergantung lebih banyak kepada akibat pembelajarannya. 1998).

Hal ini penting. Fase 3: Penjelasan Berdasarkan pengalaman sebelumnya. maupun dalam menyelesaikan tugas-tugas. tugas yang dilengkapi dengan banyak cara. untuk membantu siswa menggunakan bahasa yang tepat dan akurat. siswa menyatakan pandangan yang muncul mengenai struktur yang diobservasi. Hal tersebut berlangsung sampai sistem hubungan pada tahap berpikir mulai tampak nyata. Tujuan dari kegiatan ini adalah: (1) guru mempelajari pengalaman awal yang dimiliki siswa tentang topik yang dibahas.melakukan observasi. dan tugas yang open-ended. Aktivitas ini akan berangsur-angsur menampakkan kepada siswa struktur yang memberi ciri-ciri sifat komponen dan hubungan antar komponen suatu bangun segi empat. Fase 4: Orientasi Bebas Siswa menghadapi tugas-tugas yang lebih kompleks berupa tugas yang memerlukan banyak langkah. guru memberi bantuan sesedikit mungkin. Fase 2: Orientasi Siswa menggali topik yang dipelajari melalui alat-alat yang dengan cermat telah disiapkan guru. Melalui orientasi di antara para siswa dalam bidang investigasi. Fase 5: Integrasi Siswa meninjau kembali dan meringkas apa yang telah dipelajari. Guru dapat membantu siswa dalam membuat sintesis ini dengan melengkapi survey secara global terhadap apa yang telah dipelajari. Mereka memperoleh pengalaman dalam menemukan cara mereka sendiri. banyak hubungan antar objek menjadi jelas. Alat atau pun bahan dirancang menjadi tugas pendek sehingga dapat mendatangkan respon khusus. (2) guru mempelajari petunjuk yang muncul dalam rangka menentukan pembelajaran selanjutnya yang akan diambil. Pada akhir fase kelima ini 15 . Di samping itu. tetapi kesimpulan ini tidak menunjukkan sesuatu yang baru.

ekspresif. Setelah selesai fase kelima ini. Aktif dapat diartikan siswa mampu berinteraksi yaitu bertanya atau mengeluarkan ide. pengetahuan dan sikap bagi kehidupan kelak. D. Enaktif dan Menyenangkan). karena teori ini menekankan tahap permainan. terkondisi dan mendorong pemusatan perhatian peserta didik terhadap belajar. yaitu guru yang memantau kegiatan belajar siswa dan memberikan umpan balik. Kreatif diartikan siswa diberi kesempatan untuk membuat atau merancang sesuatu atau menuliskan sebuah gagasan dan guru yang kreatif yaitu guru yang memberikan variasi dalam proses belajar mengajar dan membuat alat bantu serta menciptakan teknik – teknik mengajar tertentu sesuai tujuan pembelajaran. Efektif diartikan sebagai tercapainya suatu tujuan yang merupakan pijakan utama suatu rancangan pembelajaran. Dalam pelaksanaan PAKEM perlu diperhatikan beberapa hal berikut: 16 .siswa mencapai tahap berpikir yang baru. Siswa siap untuk mengulangi fase-fase belajar pada tahap sebelumnya. Tujuan dari PAKEM yaitu menciptakan suatu lingkungan belajar yang melengkapi anak dengan keterampilan. maka tingkat pemikiran yang baru tentang topik itu dapat tercapai. dimana tahap ini dapat membangkitkan semangat dan membuat anak senang dalam belajar. hasil penelitian di Amerika Serikat dan negara lainnya menetapkan bahwa tingkat-tingkat dari Van Hiele berguna untuk menggambarkan perkembangan konsep geometrik siswa dari SD sampai Perguruan Tinggi. dan guru yang aktif. Pada umumnya. Menyenangkan diartikan sebagai suasana belajar mengajar yang hidup. Teori Dienes Teori belajar Dienes sangat terkait dengan konsep pembelajaran dengan pendekatan PAKEM ( Pembelajaran Aktif. Kreatif.

Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar. f. Mengenal peserta didik secara individu. memisah-misahkan hubungan-hubungan diantara struktur-struktur dan mengkatagorikan hubungan-hubungan di antara strukturstruktur. b. kreatif. g. Memberikan umpan balik yang bertanggungjawab untuk meningkatkan kegiatan belajar mengajar. Dasar teorinya bertumpu pada teori pieget. d. sehingga dalam pembelajaran pada orang dewasa berbeda dengan pembelajaran anak-anak. sedemikian rupa sehingga sistem yang dikembangkannya itu menarik bagi anak yang mempelajari matematika. Teori perkembangan kognitif melihat bahwa proses belajar seseorang dilihat dari tingkat kemampuan kognitifnya. c. Dienes mengemukakan bahwa tiap-tiap konsep atau prinsip dalam matematika yang disajikan dalam bentuk yang konkret akan dapat dipahami dengan baik. Dienes adalah seorang matematikawan yang memusatkan perhatiannya pada cara-cara pengajaran terhadap anak-anak. Memahami sifat peserta didik. Menegembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik. karena kemampuan tingkat kognitif seseorang tergantung dari usia seseorang.a. h. dan kemampuan memecahkan masalah. Ini mengandung arti bahwa benda-benda atau obyek-obyek dalam bentuk permainan akan sangat berperan bila dimanipulasi dengan baik dalam pengajaran matematika. 17 . Menegembangkan kemampuan berfikir kritis. dalam proses belajar mengajar tingkat kognitif menjadi suatu hal yang sangat penting. dan pengembangannya diorientasikan pada anakanak. Memanfaatkan perilaku peserta didik dalam pengorganisasian belajar. Dienes berpendapat bahwa pada dasarnya matematika dapat dianggap sebagai studi tentang struktur. Zoltan P. e. Membedakan antara aktif fisik dan aktif mental.

siswa sudah mulai meneliti polapola dan keteraturan yang terdapat dalam konsep tertentu. Dienes membagi tahap-tahap belajar menjadi 6 tahap. Anak didik diberi kebebasan untuk mengatur benda. Untuk melatih anak-anak dalam mencari kesamaan sifat-sifat ini. Dalam tahap ini anak mulai membentuk struktur mental dan struktur sikap dalam mempersiapkan diri untuk memahami konsep yang sedang dipelajari. tahap yang paling awal dari pengembangan konsep bermula dari permainan bebas. Dalam mencari kesamaan sifat. guru perlu mengarahkan mereka dengan mentranslasikan kesamaan struktur dari bentuk permainan yang satu ke bentuk permainan lainnya. anak-anak mulai diarahkan dalam kegiatan menemukan sifat-sifat kesamaan dalam permainan yang sedang diikuti. Jelaslah. tebal tipisnya benda yang merupakan ciri/sifat dari benda yang dimanipulasi. Translasi ini tentu tidak boleh mengubah sifat-sifat abstrak yang ada dalam permainan semula. dengan melalui permainan siswa diajak untuk mulai mengenal 18 . akan makin jelas konsep yang dipahami anak. Permainan bebas merupakan tahap belajar konsep yang aktifitasnya tidak berstruktur dan tidak diarahkan. Menurut Dienes konsep-konsep matematika akan berhasil jika dipelajari dalam tahap-tahap tertentu. karena anak-anak akan memperoleh hal-hal yang bersifat logis dan matematis dalam konsep yang dipelajarinya itu. anak didik mulai mempelajari konsepkonsep abstrak tentang warna. Keteraturan ini mungkin terdapat dalam konsep tertentu tapi tidak terdapat dalam konsep yang lainnya. Misalnya dengan diberi permainan block logic. Selama permainan pengetahuan anak muncul. Permainan yang Menggunakan Aturan (Games) Dalam permainan yang disertai aturan. yaitu: Permainan Bebas (Free Play) Dalam setiap tahap belajar.Makin banyak bentuk-bentuk yang berlainan yang diberikan dalam konsepkonsep tertentu.

kemudian membentuk kelompok benda berbentuk segitiga. Contoh dengan permainan block logic.dan memikirkan bagaimana struktur matematika itu. Dalam membentuk kelompok bangun yang tipis. Representasi yang diperoleh ini bersifat abstrak. Permainan Kesamaan Sifat (Searching for communalities) Dalam mencari kesamaan sifat siswa mulai diarahkan dalam kegiatan menemukan sifat-sifat kesamaan dalam permainan yang sedang diikuti. atau yang tebal. atau yang merah. Makin banyak bentuk-bentuk berlainan yang diberikan dalam konsep tertentu. Setelah mereka berhasil menyimpulkan kesamaan sifat yang terdapat dalam situasi-situasi yang dihadapinya itu. akan semakin jelas konsep yang dipahami siswa. Para siswa menentukan representasi dari konsep-konsep tertentu. hijau. kuning). guru perlu mengarahkan mereka dengan menstranslasikan kesamaan struktur dari bentuk permainan lain. anak diberi kegiatan untuk membentuk kelompok bangun yang tipis. atau tidak merah (biru. Permainan Representasi (Representation) Representasi adalah tahap pengambilan sifat dari beberapa situasi yang sejenis. anak dihadapkan pada kelompok persegi dan persegi panjang yang tebal. atau yang berwarna merah. Translasi ini tentu tidak boleh mengubah sifat-sifat abstrak yang ada dalam permainan semula. timbul pengalaman terhadap konsep tipis dan merah. Contoh kegiatan yang diberikan dengan permainan block logic. anak didik memerlukan suatu kegiatan untuk mengumpulkan bermacam-macam pengalaman. dan sebagainya. dan kegiatan untuk yang tidak relevan dengan pengalaman itu. anak diminta mengidentifikasi sifat-sifat yang sama dari benda-benda dalam kelompok tersebut (anggota kelompok). serta timbul penolakan terhadap bangun yang tipis (tebal). karena akan memperoleh hal-hal yang bersifat logis dan matematis dalam konsep yang dipelajari itu. Menurut Dienes. untuk membuat konsep abstrak. Untuk melatih dalam mencari kesamaan sifat-sifat ini. Dengan demikian telah mengarah pada pengertian struktur matematika yang sifatnya 19 .

Untuk pengajaran konsep matematika yang lebih sulit perlu dikembangkan materi matematika secara kongkret agar konsep matematika dapat dipahami dengan 20 . adanya elemen identitas. sebagai contoh siswa yang telah mengenal dasar-dasar dalam struktur matematika seperti aksioma. Pada tahap formalisasi anak tidak hanya mampu merumuskan teorema serta membuktikannya secara deduktif. Permainan dengan Simbolisasi (Symbolization) Simbolisasi termasuk tahap belajar konsep yang membutuhkan kemampuan merumuskan representasi dari setiap konsep-konsep dengan menggunakan simbol matematika atau melalui perumusan verbal. anak didik telah mengenal dasar-dasar dalam struktur matematika seperti aksioma. Dalam tahap ini siswa-siswa dituntut untuk mengurutkan sifat-sifat konsep dan kemudian merumuskan sifat-sifat baru konsep tersebut. Permainan dengan Formalisasi (Formalization) Formalisasi merupakan tahap belajar konsep yang terakhir. tetapi mereka sudah mempunyai pengetahuan tentang sistem yang berlaku dari pemahaman konsep-konsep yang terlibat satu sama lainnya. Misalnya bilangan bulat dengan operasi penjumlahan peserta sifat-sifat tertutup. dengan pendekatan induktif. Contoh kegiatan anak untuk menemukan banyaknya diagonal poligon misal segi dua puluh tiga. dalam arti membuktikan teorema tersebut. harus mampu merumuskan suatu teorema berdasarkan aksioma. dari kegiatan mencari banyaknya diagonal dengan pendekatan induktif tersebut. asosiatif. Contohnya. komutatif. dan mempunyai elemen invers.abstrak yang terdapat dalam konsep yang sedang dipelajari. Sebagai contoh. harus mampumerumuskan teorema dalam arti membuktikan teorema tersebut. kegiatan berikutnya menentukan rumus banyaknya diagonal suatu poligon yang digeneralisasikan dari pola yang didapat anak. Dienes menyatakan bahwa proses pemahaman (abstracton) berlangsung selama belajar. membentuk sebuah sistem matematika.

adalah memotivasi anak didik untuk mengabstraksikan pelajaran tanda material kongkret dengan gambar yang sederhana. Kegiatan ini menggunakan kesempatan untuk membantu anak didik menemukan cara-cara dan juga untuk mendiskusikan temuan-temuannya. Menurut Dienes. Berbagai penyajian materi (multiple embodinent) dapat mempermudah proses pengklasifikasian abstraksi konsep. Dengan demikian. suatu anak didik dihadapkan pada permainan yang terkontrol dengan berbagai sajian. Proses pembelajaran ini juga lebih melibatkan anak didik pada kegiatan belajar secara aktif dari pada hanya sekedar menghapal. Pentingnya simbolisasi adalah untuk meningkatkan kegiatan matematika ke satu bidang baru. Berbagai sajian (multiple embodiment) juga membuat adanya manipulasi secara penuh tentang variabel-variabel matematika. grafik. peta dan akhirnya memadukan simbolo – simbol dengan konsep tersebut. semakin banyak bentuk-bentuk berlainan yang diberikan dalam konsep tertentu. Langkah-langkah ini merupakan suatu cara untuk memberi kesempatan kepada anak didik ikut berpartisipasi dalam proses penemuan dan formalisasi melalui percobaan matematika. sehingga anak didik dapat melihat struktur dari berbagai pandangan yang berbedabeda dan memperkaya imajinasinya terhadap setiap konsep matematika yang disajikan.tepat. semakin jelas bagi anak dalam memahami konsep tersebut. Dienes berpendapat bahwa materi harus dinyatakan dalam berbagai penyajian (multiple embodiment). pola berpikir anak-anak tidak sama dengan pola 21 . Berhubungan dengan tahap belajar. Perkembangan kognitif setiap individu yang berkembang secara kronologi tidak terlepas dari faktor usia. variasi sajian hendaknya tampak berbeda antara satu dan lainya sesuai dengan prinsip variabilitas perseptual (perseptual variability). Langkah selanjutnya. Variasi matematika dimaksud untuk membuat lebih jelas mengenai sejauh mana sebuah konsep dapat digeneralisasi terhadap konsep yang lain. menurut Dienes. sehingga anak-anak dapat bermain dengan bermacam-macam material yang dapat mengembangkan minat anak didik.

Urutan periode itu tetap bagi setiap orang. semakin ia dewasa makin meningkat pula kemampuan berpikirnya. Piaget adalah orang pertama yang menggunakan filsafat konstruktivis dalam proses belajar mengajar. Jadi. Teori Piaget Teori Perkembangan Intelektual Piaget Teori belajar Dienes sangat terkait dengan teori belajar yang dikemukakan oleh Piaget. 22 . Jean Piaget berpendapat bahwa proses berpikir manusia sebagai suatu perkembangan yang bertahap dari berpikir intelektual konkret ke abstrak berurutan melalui empat periode. perkembangan kognitif seorang individu dipengaruhi oleh lingkungan dan transmisi sosial. yaitu mengenai teori perkembangan intelektual. 1981). namun usia atau kronologis pada setiap orang yang memasuki setiap periode berpikir yang lebih tinggi berbeda-beda tergantung kepada masing-masing individu. Oleh karena itu agar perkembangan kognitif seorang anak berjalan secara maksimal diperkaya dengan pengalaman edukatif. sebagai berikut: 1. dalam memandang anak keliru jika kemampuan anak dengan kemampuan orang dewasa sama. Maka tahap perkembangan kognitif yang dicapai oleh setiap individu berbeda pula. Piaget (dalam Bell. karena efektivitas hubungan antara setiap individu dengan lingkunganya dan kehidupan sosialnya berbeda satu sama lain.Periode Sensori Motor (0 – 2) tahun. berpendapat bahwa proses berpikir manusia merupakan suatu perkembangan yang bertahap dari berpikir intelektual kongkret ke abstrak berurutan melalui empat tahap perkembangan. Jadi. E.berfikir orang dewasa. sebab anak bukan miniatur orang dewasa. Selain daripada itu.

Walaupun pada periode permulaan pra-operasional ini anak mampu menggunakan simbol-simbol. tetapi anak itu mulai memanipulasi simbol dari benda-benda sekitarnya. 2. Rangsangan itu timbul karena anak melihat dan meraba-raba objek. bukan aktivitas sensori motor. ia masih sulit melihat hubungan- hubungan dan mengambil kesimpulan secara taat asas. pada akhir periode ini. Pada periode ini anak terpaku kepada kontak langsung dengan lingkungannya.Periode Pra-operasional (2 – 7) tahun. 3. Pada periode ini anak di dalam berpikirnya tidak didasarkan kepada keputusan yang logis melainkan didasarkan kepada keputu san yang dapat dilihat seketika. Dalam periode ini anak berpikirnya sudah dikatakan menjadi operasional. misalnya suatu benda diberi nama (simbol). Periode ini sering disebut juga periode pemberian simbol. Bila objek itu disembunyikan. Operasi kongkret hanyalah menunjukkan kenyataan adanya hubungan dengan pengalaman empirik-kongkret yang lampau dan masih mendapat kesulitan dalam mengambil kesimpulan yang logis dari pengalaman pengamanan yang khusus. anak itu tidak akan mencarinya lagi. Namun karena pengalamannya terhadap lingkungannya. Periode ini disebut operasi kongkret sebab berpikir logikanya didasarkan atas manipulasi fisik dari objek -objek. anak menyadari bahwa objek yang disembunyikan tadi masih ada dan ia akan mencarinya.Karateristik periode ini merupakan gerakan-gerakan sebagai akibat reaksi langsung dari rangsangan. Pekerjaan-pekerjaan logika dapat dilakukan dengan berorientasi ke objek-objek atau peristiwa-peristiwa yang 23 . dan merupakan aktivitas mental.Periode operasi kongkret (7 – 12) tahun. Operasi yang dimaksud di sini adalah suatu proses berpikir atau logik. Anak itu belum mempunyai kesadaran adanya konsep objek yang tetap.

Misalnya. d. Pengalaman anak masih kongkret dan belum formal. Anak dapat membentuk variasi relasi kelas dan mengerti bahwa beberapa kelas dapat dimasukkan ke kelas lain. c.langsung dialami anak. Asosiasivitas adalah suatu operasi terhadap beberapa kelas yang dikombinasikan menurut sebarang urutan. 24 . Demikian juga suatu jumlah dapat dinolkan dengan mengkombinasikan lawannya. Misalnya himpunan bilangan bulat.dalam himpunan bilangan bulat dengan operasi ‖+‖. Anak itu belum memperhitungkan semua kemungkinan dan kemudian mencoba menemukan kemungkinan yang mana yang akan terjadi. Misalnya semua manusia laki – laki dan semua manusia perempuan adalah semua manusia. karateristik berpikir anak adalah sebagai berikut: a. Dalam periode operasi kongkret. Korespondensi satu – satu antara objek-objek dari dua kelas. 5 + ? = 9 sama dengan 9 – 5 = ? Reversibilitas ini merupakan karakteristik utama untuk berpikir operasional di dalam teori Piaget. Anak masih terikat kepada pengalaman pribadi. misalnya 4 – 4 = 0. unsur nol adalah 0 sehingga 8 + 0 = 8. Hubungan A > B dan B > C menjadi A > C. Misalnya. operasi ‖+‖. Misalnya unsur dari suatu himpunan berkawan dengan satu unsur dari himpunan kedua dan sebaliknya. berlaku hukum asosiatif terhadap penjumlahan. e. b. Reversibilitas adalah operasi kebalikan. Kombinasivitas atau klasifikasi adalah suatu operasi dua kelas atau lebih yang dikombinasikan ke dalam suatu kelas yang lebih besar. Setiap operasi logik atau matematik dapat dikerjakan dengan operasi kebalikan. Identitas adalah suatu operasi yang menunjukkan adanya unsur nol yang bila dikombinasikan dengan unsur atau kelas hasilnya tidak berubah.

tahap-tahap berpikir itu adalah pasti dan spontan namun umur kronologis yang diberikan itu adalah fleksibel.Periode Operasi Formal (> 12) tahun. Periode operasi formal ini disebut juga sebagai periode operasi hipotetik-deduktif yang merupakan tahap tertinggi dari perkmbangan intelektual. Menurut Piaget. tetapi ia sudah mulai menggeneralisasi objek-objek tadi. yaitu menggunakan prosedur hipotetik-deduktif. 4. Anak mampu menyelesaikan masalah dengan cara yang lebih baik dan kompleks dari pada anak yang masih dalam tahap periode operasi kongkret. Umur 25 . Namun prinsip konservasi yang dimiliki anak pada periode ini masih belum penuh. terutama selama transisi dari periode yang satu ke periode berikutnya. Anak sudah dapat mengoperasikan argumen-argumen tanpa dikaitkan dengan benda-benda empirik.f. ia dapat mengisolasi faktor-faktor tersendiri atau mengkombinasikan faktor-faktor itu sehingga menuju penyelesaian masalah tadi.definisi verbal. Anak juga sudah dapat berpikir kombinatorik. Periode ini merupakan tahap terakhir dari keempat periode perkembangan intelektual. Anak telah mampu melihat hubungan-hubungan abstrak dan menggunakan proposisi-proposisi logik-formal termasuk aksioma dan definisi. Ia mampu menggunakan prosedur seorang ilmuwan. Konservasi berkenaan dengan kesadaran bahwa satu aspek dari benda. Kesadaran adanya prinsip-prinsip konservasi. Anak-anak pada periode ini sudah memberikan alasan dengan menggunakan lebih banyak simbol atau gagasan dalam cara berpikir. tetap sama sementara itu aspek lainnya berubah. Anak pada periode ini dilandasi oleh observasi dari pengalaman dengan objek nyata. Konsep konservasi telah tercapai sepenuhnya. artinya bila anak dihadapkan kepada suatu masalah.Anak sudah mampu menggunakan hubungan-hubungan di antara objek-objek apabila ternyata manipulasi objek-objek tidak memungkinkan.

anak harus banyak diberikan kesempatan untuk berdialog (berdiskusi) dengan teman-temannya maupun dengan guru. Istilah ―Gestalt‖ mengacu pada sebuah objek/figur yang utuh dan berbeda dari penjumlahan bagian-bagiannya. bereksplorasi. Teori gestalt beroposisi terhadap teori strukturalisme. Ketika mengkonstruksi konsep. bagaimanakah ukurannya supaya luasnya sebesar-besarnya ? Aliran terapi Gestalt memandang bahwa konsep atau pengetahuan baru merupakan struktur yang terorganisir dan merupakan masalah bagi anak. Sekeliling kebun yang berbentuk persegipanjang dengan panjang 18 m dan lebar 12 m. Teori Gestalt Gestalt adalah sebuah teori yang menjelaskan proses persepsi melalui pengorganisasian komponen-komponen sensasi yang memiliki hubungan. pertama anak dengan bantuan guru secara tidak langsung diberikan kesempatan untuk menganalisis masalahmasalah yang diberikan menjadi struktur yang lebih sederhana sehingga mudah 26 . F. Langkah-langkah pembelajaran menurut aliran ini. Jika si pemilik kebun hanya mampu membuat parit seluas 99 m2. Menurut teori ini. Pekarangan rumah berbentuk persegipanjang. akan dibuat parit pembuangan air.kronologis itu dapat saling tindih bergantung kepada individu. Jika kita akan mengajarkan konsep fungsi kuadrat. maka konsep fungsi kuadrat akan lebih bermakna jika konsep tersebut dikemas dalam bentuk masalah-masalah seharihari yang cukup sederhana seperti berikut : (1). Piaget berpendapat. dan diberikan kebebasan bereksperimen. Jika kelilingnya adalah 400 m. Teori gestalt cenderung berupaya mengurangi pembagian sensasi menjadi bagian-bagian kecil. ataupun kemiripan menjadi kesatuan. tidak ada gunanya bila kita memaksa anak untuk cepat berpindah ke periode berikutnya. berapa lebar parit yang direncanakan ? (2). pola. pembelajaran harus dimulai dari masalah-masalah yang berkaitan dengan konsep yang akan diberikan dan berada dalam kehidupannya sehari-hari.

Selanjutnya anak mensintesis konsep atau pengetahuan dalam bentuk yang lebih umum. Tahun 1910 ia mengajar di Univeristy of Frankfurt bersama-sama dengan Koehler dan Koffka yang saat itu sudah menjadi asisten di sana.dipahami anak. Proses ini terjadi di otak dan sama sekali bukan proses fisik. seorang tokoh aliran Wuerzburg. and Wolfgang Köhler. Kemudian anak menyusun atau mensintesis penyelesaian masalah itu berdasarkan pada struktur yang lebih sederhana dan sudah dimengerti anak. Mereka menyimpulkan bahwa seseorang cenderung mempersepsikan apa yang terlihat dari lingkungannya sebagai kesatuan yang utuh. Max Wertheimer. Wertheimer menunjuk pada proses interpretasi dari sensasi obyektif yang kita terima. Dengan pernyataan ini ia menentang pendapat Wundt yang menunjuk pada proses fisik sebagai penjelasan phi phenomenon. Dengan konsep ini. Teori ini dibangun oleh tiga orang. tetapi proses mental. Bersama-sama dengan Wolfgang Koehler (1887-1967) dan Kurt Koffka (1887-1941) melakukan eksperimen yang akhirnya menelurkan ide Gestalt. Akhirnya anak mencoba melakukan penerapan dari konsep yang sudah dipelajarinya.  Max Wertheimer (1880-1943) Belajar pada Kuelpe.  Kurt Lewin (1890-1947) 27 . Kurt Koffka. Konsep pentingnya : phi phenomenon (bergeraknya obyek statis menjadi rangkaian gerakan yang dinamis setelah dimunculkan dalam waktu singkat dan dengan demikian memungkinkan manusia melakukan interpretasi).

Pada umumnya individu akan mendekati obyek yang bervalensi positif dan menjauhi obyek yang bervalensi negatif. Gerakan individu mencapai tujuan (goal) disebut locomotion. yaitu Wertheimer dan Koehler dan mengambil konsep psychological field juga dari Gestalt. 28 . Apabila individu menghadapi suatu obyek. approach-avoidance. Batas ini dapat dipahami sebagai sebuah hambatan individu untuk mencapai tujuannya.Pandangan Gestalt diaplikasikan dalam field psychology dari Kurt Lewin. dan valensi ini Lewin menjelaskan teorinya mengenai tiga jenis konflik (approach-approach. dan avoidance-avoidance). Konsep utama Lewin adalah Life Space. Life space terbagi atas bagian-bagian memiliki batas-batas. sangat mungkin ada hambatan. lulus Ph. Ia banyak terlibat dengan pemikir Gestalt. Lapangan psikologis ini terdiri dari fakta dan obyek psikologis yang bermakna dan menentukan perilaku individu (B=f L). Dalam usahanya mendekati obyek bervalensi positif. Hambatan ini mungkin sekali menjadi obyek yang bervalensi negatif bagi individu. Dalam lapangan psikologis ini juga terjadi daya (forces) yang menarik dan mendorong individu mendekati dan menjauhi tujuan. Vektor juga memiliki kekuatan dan titik awal berangkat. Lewin lahir di Jerman. Lewin adalah salah seorang ahli yang sangat kuat menganjurkan pemahaman tentang lapangan psikologis seseorang. Arah individu mendekati/menjauhi tujuan disebut vektor. yaitu lapangan psikologis tempat individu berada dan bergerak. daya. Tugas utama psikologi adalah meramalkan perilaku individu berdasarkan semua fakta psikologis yang eksis dalam lapangan psikologisnya pada waktu tertentu.D dari University of Berlin dalam bidang psikologi tahun 1914. maka bagaimana valensi dari nilai tersebut bagi si individu akan menentukan gerakan individu. Dengan konsep vektor. maka terjadi ketegangan (tension). Perilaku individu akan segera tertuju untuk meredakan ketegangan ini dan mengembalikan keseimbangan. Apabila terjadi ketidakseimbangan (disequilibrium).

Prinsip-prinsip pengorganisasian: O Principle of Proximity: bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertentu. Maka perilaku kelompok menjadi fungsi dari lingkungan. O Principle of Objective Set: Organisasi berdasarkan mental set yang sudah terbentuk sebelumnya.Aplikasi teori Lewin banyak dilakukan dalam konteks dinamika kelompok. Apabila hubungan ini bervalensi negatif. dimana salah satu faktornya adalah para anggota kelompok dan hubungan interpersonal mereka. bukan skill yang dipelajari. hubungan yang baik akan membuat anggota saling mendekati sehingga memungkinkan kerjasama yang lebih baik dalam mencapai tujuan kelompok.Interaksi antara individu dan lingkungan disebut sebagai perceptual field. Sebaliknya. 29 . Oleh karena itu kemampuan persepsi ini merupakan fungsi bawaan manusia. yang cenderung dipersepsikan oleh manusia sebagai figure and ground. Dasar berpikirnya adalah kelompok dianalogikan dengan individu. Prinsip dasar Gestalt 1. Pengorganisasian ini mempengaruhi makna yang dibentuk. Implikasinya adalah penjelasan Lewin sulit sampai pada level explanatory dan sifatnya deskriptif. O Principle of Similarity: bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang berada dalam arah yang sama cenderung akan dipersepsi sebagi suatu figure atau bentuk tertentu. Setiap perceptual field memiliki organisasi. maka perilaku anggota akan menjauhinya dan dengan demikian tujuan kelompok semakin tidak tercapai. Kritik untuk teori Lewin berfokus pada konstruk-konstruknya yang dianggap hipotetis dan sulit dikongkritkan dalam situasi eksperimental. 2.

khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif 30 . Setelah proses belajar terjadi. Aplikasi prinsip Gestalt Belajar Proses belajar adalah fenomena kognitif. terjadi reorganisasi dalam perceptual fieldnya. Apabila individu mengalami proses belajar. Bila figure dan latar bersifat samarsamar. Makin jelas makna hubungan suatu unsur. potongan. Dalam proses pembelajaran. kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. O Principle of Figure and Ground: yaitu menganggap bahwa setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar belakang. warnadan sebagainya membedakan figure dari latar belakang. b. O Principle of Closure/ Principle of Good Form: bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap.Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning). Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain : a.Pengalaman tilikan (insight). hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsurunsur dalam suatu obyek atau peristiwa. seseorang dapat memiliki cara pandang baru terhadap suatu problem. Penampilan suatu obyek seperti ukuran. bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. makaakan terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figure.O Principle of Continuity: Organisasi berdasarkan kesinambungan pola. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah. Contoh: perubahan nada tidak akan merubah persepsi tentang melodi. akan makin efektif pula sesuatu yang dipelajari. O Principle of Isomorphism: Organisasi berdasarkan konteks.

Prinsip ruang hidup (life space). c. bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya.pemecahannya. Menurut pandangan Gestalt. d. Oleh karena itu. guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya.Perilaku bertujuan (pusposive behavior). materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons. tetapi ada keterkaitannya dengan tujuan yang ingin dicapai. transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat. e. Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsipprinsip pokok dari materi yang diajarkannya. Setelah adanya pengalaman insight. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. Oleh karena itu. Juga menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). individu mampu menerapkannya pada problem sejenis tanpa perlu melalui proses trial- 31 .Transfer dalam Belajar. yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. bahwa perilaku terarah pada tujuan. Insight Pemecahan masalah secara jitu yang muncul setelah adanya proses pengujian berbagai dugaan/kemungkinan. Oleh karena itu.

Memory Hasil persepsi terhadap obyek meninggalkan jejak ingatan. namun tetap dapat mempertahankan aspek ilmiah dan empirisnya. 32 .error lagi. Pandangan Gestalt cukup luas diakui di Jerman namun tidak lama exist di Jerman karena mulai didesak oleh pengaruh kekuasaan Hitler yang berwawasan sempit mengenai keilmuan. insight. fenomena ini juga menjelaskan pengaruh gosip/rumor. ditemukan oleh Koehler dalam eksperimen yang sistematis. Para tokoh Gestalt banyak yang melarikan diri ke AS dan berusaha mengembangkan idenya di sana. berfokus pada higher mental process. ada beberapa hal yang patut dicatat sebagai implikasi dari aliran Gestalt yaitu. Secara sosial. yang selama ini dihindari karena abstrak. Meskipun demikian. jejak ingatan ini akan berubah pula sejalan dengan prinsip-prinsip organisasional terhadap obyek. Adanya perceptual field diinterpretasikan menjadi lapangan kognitif dimana proses-proses mental seperti persepsi. Akibatnya psikologi gestalt diakui sebagai sebuah aliran psikologi namun pengaruhnya tidak sekuat behaviorisme. Penerapan Prinsip of Good Form seringkali muncul dan terbukti secara eksperimental.  Pandangan Gestalt menyempurnakan aliran behaviorisme dengan menyumbangkan ide untuk menggali proses belajar kognitif. Namun hal ini tidak mudah dilakukan karena pada saat itu di AS didominasi oleh pandangan behaviorisme.dan problem solving beroperasi. Konsep insight ini adalah fenomena penting dalam belajar. Dengan berjalannya waktu.  Pendekatan fenomenologis menjadi salah satu pendekatan yang eksis di psikologi dan dengan pendekatan ini para tokoh Gestalt menunjukkan bahwa studi psikologi dapat mempelajari higher mental process.

emosional. maka untuk memahami proses belajar orang perlu memahami hukum-hukum yang menguasai proses pengamatan itu. Psikologi Gestalt ini terkenal juga sebagai teori medan (field) atau lazim disebut cognitive field theory. tetapi juga secara fisik. 3. tidak hanya secara intelektual. Ketika para ahli Psikologi Gestalt beralih dari masalah pengamatan ke masalah belajar. Keseluruhan ini memberikan beberapa prinsip belajar yang penting. antara lain : 1.Psikologi Gestalt bermula pada lapangan pengamatan (persepsi) dan mencapai sukses yang terbesar juga dalam lapangan ini. Pada pengamatan itu menekankan perhatian pada bentuk yang terorganisasi (organized form) dan pola persepsi manusia. Pemahaman dan persepsi tentang hubungan-hubungan dalam kebulatan (entities) adalah sangat esensial dalam belajar. Belajar adalah perkembangan kearah diferensiasi ynag lebih luas. 2. Demonstrasinya mengenai peranan latar belakang dan organisasinya terhadap proses-proses yang diamati secara fenomenal demikian meyakinkan sehingga boleh dikatakan tidak dapat di bantah. Kelompok pemikiran ini sependapat pada suatu hal yakni suatu prinsip dasar bahwa pengalaman manusia memiliki kekayaan medan yang memuat fenomena keseluruhan lebih dari pada bagian. sosial dan sebagainya. maka hasil-hasil yang telah kuat / sukses dalam penelitian mengenai pengamatan itu dibawanya dalam studi mengenai belajar. 4. Belajar adalah penyesuaian diri dengan lingkungan. 33 . lengkap dengan segala aspek-aspeknya.bagiannya. Karena asumsi bahwa hukum –hukum atau prinsip-prinsip yang berlaku pada proses pengamatan dapat ditransfer kepada hal belajar. Manusia berkembang sebagai keseluruhan sejak dari kecil sampai dewasa. Manusia bereaksi dengan lingkungannya secara keseluruhan.

proses mengamati dan meniru perilaku sikap orang lain sebagai model merupakan tindakan belajar. Perhatian (attention). Albert berkebangsaan Kanada. Teori Bandura Albert Bandura lahir pada tanggal 4 Desember 1925 di Mundare. mencakup peristiwa peniruan (adanya kejelasan. Belajar hanya berhasil.5. 8.yaitu hukum – hukum keterdekatan. kelaziman) dan karakteristik pengamat (kemampuan indera. Misalnya seseorang yang hidup dan dibesarkan di lingkungan judi. dan kontinuitas. atau setidaknya menganggap bahwa judi itu tidak jelek. minat. Kondisi lingkungan sekitar individu sangat berpengaruh pada pola belajar sosial ini. Eksperimennya yang sangat terkenal adalah eksperimen ―Bobo doll‖ yang menunjukkan anak meniru secara persis perilaku agresif dari orang dewasa di sekitarnya. 34 . perilaku dan pengaruh lingkungan. tingkat kerumitan. yaitu hukum Pragnaz. Tidak mungkin ada belajar tanpa ada kemauan untuk belajar. G. Belajar merupakan suatu proses bila seseorang itu aktif. bukan ibarat suatu bejana yang diisi. Belajar akan berhasil kalau ada tujuan. maka dia cenderung menyenangi judi. 7. persepsi. penguatan sebelumnya). Dalam hukum-hukum belajar Gestalt ini ada satu hukum pokok. 6. dan empat hukum tambahan (subsider) yang tunduk kepada hukum yang pokok itu. Menurut Bandura. apabila tercapai kematangan untuk memperoleh insight. motivasi memberi dorongan yang mengerakan seluruh organisme. keterlibatan perasaan. kesamaan. ketertutupan. Ia seorang psikolog yang terkenal dengan teori belajar sosial atau kognitif sosial serta efikasi diri. Faktor-faktor yang berproses dalam belajar observasi adalah : 1. Teori Bandura menjelaskan perilaku manusia dalam konteks interaksi timbal-balik yang berkesinambungan antara kognitif.

4. hanya terjadi secara langsung dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Proses mengingat akan lebih baik dengan cara mengkodekan perilaku yang ditiru kedalam kata-kata. Sebagai contoh. keakuratan umpan balik. Motivasi. pengulangan motorik. 2. Tingkat tertinggi belajar dari pengamatan diperoleh dengan cara mengorganisasikan sejak awal dan mengulangi perilaku secara simbolik kemudian melakukannya. 3. kemampuan meniru. Teori sosial belajar dari Bandura ini merupakan gabungan antara teori belajar behovioristik dengan penguatan dan psikologi kognitif. mencakup dorongan dari luar dan penghargaan terhadap diri sendiri. Penyimpanan atau proses mengingat (retention). informasi dan instruksional. Selain itu. mencakup kode pengkodean simbolik. Proses belajar masih berpusat pada penguatan. keorganisasian pikiran. dengan prinsip modifikasi perilaku. penerapan teori belajar sosial dalam iklan televisi. mencakup kemampuan fisik. tanda atau gambar daripada hanya observasi sederhana (hanya melihat saja).2. Teori Bandura menjadi dasar dari perilaku pemodelan yang digunakan dalam berbagai pendidikan secara massal. pengulangan symbol. yang harus juga diperhatikan bahwa faktor model atau teladan mempunyai prinsip-prinsip sebagai berikut. komunikasi. Reproduksi motorik (reproduction). 35 . Individu akan menyukai perilaku yang ditiru jika model atau panutan tersebut disukai dan dihargai serta perilakunya mempunyai nilai yang bermanfaat. 3. Teori belajar dari Bandura ini nampaknya memang bisa berlaku umum dalam semua langkah pendidikan sosial. 1. Individu lebih menyukai perilaku yang ditiru jika sesuai dengan nilai yang dimilikinya.

Penghargaan (Reward) dan Penguatan (Reinforcement) Suatu alasan mengapa penguatan yang pernah diterima merupaka penjelasan yang tidak memadai untuk motivasi karena motivasi belajar manusia itu sangat kompleks dan tidak bebas dari konteks (situasi yang berhubungan). Terhadap manusia. 1986 dan Wielkeiwicks. Hanya dalam situasi sosial dan kemasyarakatanlah banyak terjadi belajar sosial. Peristiwa sosial juga terjadi di lingkungan sekolah dan pendidikan pada umumnya.Namun karena kondisinya yang umum tadi. Namun hal itu tentu saja sangat khusus dan terbatas. 1995). meskipun ia lapar. Dalam kenyataannya. maka sulit dilaksanakan dalam sekolah-sekolah formal. penganut teori perilaku lebih memfokuskan pada seberapa jauh siswa telah belajar untuk mengerjakan pekerjaan sekolah dalam rangka mendapatkan hasil yang diinginkan (Bandura. Motivasi Belajar dan teori perilaku (Bandura) Konsep motivasi belajar berkaitan erat dengan prinsip bahwa perilaku yang memperoleh penguatan (reinforcement) di masa lalu lebih memiliki kemungkinan diulang dibandingkan dengan perilaku yang tidak memperoleh penguatan atau perilaku yang terkena hukuman (punishment). daripada membahas konsep motivasi belajar. karena suasana dan kondisi yang sudah dirancang secara khusus untuk tujuan yang khusus pula. Penentuan Nilai dari Suatu Insentif 36 . sehingga metode belajar sosial dari Bandura ini agak sulit dilakukan. Yakni untuk tujuan mempermudah terlaksananya proses belajar secara efektif. karena nilai penguatan dari penguat yang paling potensial sebagian besar ditentukan oleh faktor-faktor pribadi dan situsional. Terhadap binatang yang sangat lapar kita dapat meramalkan bahwa makanan akan merupakan penguat yang sangat efektif. kita tidak dapat sepenuhnya yakin apa yang merupakan penguat dan apa yang bukan penguat.

‖ guru itu mungkin mengasumsikan bahwa nilai merupakan insentif yang efektif untuk siswa pada umumnya.Ilustrasi berikut menunjukkan poin penting: nilai motivasi belajar dari suatu insentif tidak dapat diasumsikan. Sense of self efficacy adalah keyakinan pembelajar bahwa ia dapat menguasai pengetahuan dan keterampilan sesuai standar yang berlaku. motor reproduksi dan motivasi. Pada saat guru mengatakan ―Saya ingin kamu semua mengumpulkan laporan buku pada waktunya karena laporan itu akan diperhitungkan dalam menentukan nilaimu. Lebih lanjut menurut Bandura (1982) penguasaan skill dan pengetahuan yang kompleks tidak hanya bergantung pada proses perhatian. tetapi juga sangat dipengaruhi oleh unsur-unsur yang berasal dari diri pembelajar sendiri yakni ―sense of self Efficacy‖ dan ―self – regulatory system‖. 1978). ada motivasi lain yang berpengaruh (mempengaruhi) terhadap perilaku belajar siswa. Dalam pembelajaran sel-regulatory akan menentukan ―goal setting‖ dan ―self evaluation‖ 37 . tetapi pada saat yang lain. Self regulatory adalah menunjuk kepada 1) struktur kognitif yang memberi referensi tingkah laku dan hasil belajar. dan pengatur tingkah laku kita (Bandura. Kadang-kadang suatu jenis motivasi jelas-jelas menentukan perilaku. karena nilai itu dapat bergantung pada banyak faktor (Chance. 2) sub proses kognitif yang merasakan. Seringkali sukar menentukan motivasi belajar siswa dari perilaku mereka karena banyak motivasi yang berbeda dapat mempengaruhi perilaku. 1992). Tetapi bagaimanapun juga sejumlah siswa dapat tidak menghiraukan nilai karena orang tua mereka tidak menghiraukannya atau mereka memiliki catatan kegagalan di sekolah dan telah mengambil sikap bahwa nilai itu tidak penting. Apabila guru mengatakan kepada seorang siswa. retensi. ―Pekerjaan yang bagus! Saya tahu kamu dapat mengerjakan tugas itu apabila kamu mencobanya!‖ Ucapan ini dapat memotivasi seorang siswa yang baru saja menyelesaikan suatu tugas yang ia anggap sulit namun dapat berarti hukuman (punishment) bagi siswa yang berfikir bahwa tugas itu mudah (karena pujian guru itu memiliki implikasi bahwa ia harus bekerja keras untuk menyelesaikan tugas itu). mengevaluasi.

38 . Bagaimanakah urutan atau sekuen dari tingkah laku tersebut? c. d.Analisis tingkah laku yang akan dijadikan model yang terdiri : a. a. Apakah model harus hidup atau simbol? Pertimbangan soal biaya. Menurut Bandura agar pembelajar sukses instruktur/guru/dosen/guru harus dapat menghadirkan model yang mempunyai pengaruh yang kuat terhadap pembelajar. mengembangkan ―self of mastery‖. Apakah karekter dari tingkah laku yang akan dijadikan model itu berupa konsep. dan reinforcement bagi pembelajar. Pengembangan sekuen instruksional Untuk mengajar motor skill.Langkah-langkah manakah menurut sekuen yang harus dipresentasikan secara perlahan-lahan. Dimanakah letak hal-hal yang penting (key point) dalam sekuen tersebut? 2. Bila tingkah laku yang dipelajari kurang memberi manfaat (tidk begitu penting) model manakah yang lebih penting? c.Tetapkan fungsi nilai dari tingkah laku dan pilihlah tingkah laku tersebut sebagai model. self efficacy. Berikut Bandura mengajukan usulan untuk mengembangkan strategi proses pembelajaran yaitu sebagi berikut : 1. bagaimana cara mengerjakan pekerjaan/kemampuan yang dipelajari :how to do this‖ dan bukannya ―not this‖. Apakah tingkah laku (kemampuan yang dipelajari) merupakan hal yang penting dalam kehidupan dimasa datang? (success prediction) b.pembelajar dan merupakan dorongan untuk meraih prestasi belajar yang tinggi dan sebaliknya. Apakah reinforcement yang akan didapat melalui model yang dipilih? 3. motor skil atau efektif? b. pengulangan demonstrasi dan kesempatan untuk menunjukkan fungsi nilai dan tingkah laku.

motor skill 1) hadirkan model 2) beri kesempatan kepada tiap-tiap pembelajar untuk latihan secarasimbolik 3) beri kesempatan kepada pembelajar untuk latihan dengan umpan balik visual b. 4. 39 . Dari uraian tentang teori belajar sosial. perlu ditumbuhkan ―sense of efficacy‖ dan self regulatory‖ pembelajar. Hasil belajar berupa kode-kode visual dan verbal yang mungkin dapat dimunculkan kembali atau tidak (retrievel). 3. baik yang didukung oleh kode-kode verbal atau petunjuk untuk mencari konsistensi pada berbagai contoh 2) Beri kesempatan kepada pembelajar untuk membuat ihtisar atau summary 3) Jika yang dipelajari adalah pemecahan masalah atau strategi penerapan beri kesempatan pembelajar untuk berpartisipasi secaraaktif 4) Beri kesempatan pembelajar untuk membuat generalisasi ke berbagai siatuasi. Implementasi pengajaran untuk menunut proses kognitif dan motor reproduksi. konsekuensikonsekuensi terhadap model dan proses-proses kognitif pembelajar. Dalam perencanaan pembelajaran skill yang kompleks. 2. disamping pembelajaran-pembelajaran komponen-komponen skill itu sendiri. Proses kognitif 1) Tampilkan model. Komponen-komponen belajar terdiri dari tingkah laku. dapat disimpulkan sebagai berikut : 1.a. Belajar merupakan interaksi segitiga yang saling berpengaruh dan mengikat antara lingkungan. faktor-faktor personal dan tingkah laku yang meliputi proses-proses kognitif belajar.

40 . dan ―reinforcement‖ dan hindari punishment yang tidak perlu. Dalam proses pembelajaran.5. pembelajar sebaiknya diberi kesempatan yang cukup untuk latihan secara mental sebelum latihan fisik.

mereka berpendapat bahwa dalam mempelajari geometri para siswa mengalami perkembangan kemampuan berpikir melalui tahap-tahap tertentu.A. Teori Van Hiele Tingkat Kognitif menurut Van Hiele Dua tokoh pendidikan matematika dari Belanda. Dalam teori yang mereka kemukakan. Pada tingkat ini. yaitu Pierre Van Hiele dan isterinya. pada tingkat ini siswa sudah terbiasa menganalisis bagian-bagian yang ada pada suatu bangun dan mengamati sifat-sifat yang dimiliki oleh unsur-unsur tersebut 41 . Pada tingkat ini siswa sudah mengenal bangun-bangun geometri berdasarkan ciri-ciri dari masing-masing bangun. menurut Van Hiele adalah sebagai berikut:  Tingkat Visualisasi Tingkat ini disebut juga tingkat pengenalan.  Tingkat Analisis Tingkat ini dikenal sebagai tingkat deskriptif. siswa belum mengamati ciri-ciri dari bangun itu. tetapi ia belum menyadari ciri-ciri bangun persegipanjang tersebut. pada tahun-tahun 1957 sampai 1959 mengajukan suatu teori mengenai proses perkembangan yang dilalui siswa dalam mempelajari geometri. Sebagai contoh. Dian Van Hiele-Geldof. pada tingkat ini siswa tahu suatu bangun bernama persegipanjang. Dengan demikian. siswa memandang sesuatu bangun geometri sebagai suatu keseluruhan (wholistic). Dengan kata lain. Tahapan berpikir atau tingkat kognitif yang dilalui siswa dalam pembelajaran geometri. Pada tingkat ini siswa belum memperhatikan komponen-komponen dari masing-masing bangun. meskipun pada tingkat ini siswa sudah mengenal nama sesuatu bangun.

sisi-sisi yang berhadapan sejajar. Pada tingkat ini. siswa juga sudah bisa memahami hubungan antara bangun yang satu dengan bangun yang lain. dan semua sudutnya siku-siku‖  Tingkat Abstraksi Tingkat ini disebut juga tingkat pengurutan atau tingkat relasional. Pada tingkat ini. Di samping itu pada tingkat ini siswa sudah memahami pelunya definisi untuk tiap-tiap bangun. Pada tahap ini. siswa memahami bahwa dimungkinkan adanya lebih dari satu geometri. Pada tingkat ini. 42 . pada tingkat ini siswa sudah bisa mengatakan bahwa suatu bangun merupakan persegipanjang karena bangun itu ―mempunyai empat sisi. definisi-definisi. Sebagai contoh.Sebagai contoh.  Tingkat Deduksi Formal Pada tingkat ini siswa sudah memahami perenan pengertian-pengertian pangkal. tanpa membutuhkan model-model yang konkret sebagai acuan. Misalnya pada tingkat ini siswa sudah bisa memahami bahwa setiap persegi adalah juga persegipanjang. maka sisi-sisi yang berhadapan itu sama panjang. karena persegi juga memiliki ciri-ciri persegipanjang. siswa sudah bisa memahami hubungan antar ciri yang satu dengan ciri yang lain pada sesuatu bangun. aksioma-aksioma. siswa mampu melakukan penalaran secara formal tentang sistem-sistem matematika (termasuk sistem-sistem geometri). pada tingkat ini siswa sudah bisa mengatakan bahwa jika pada suatu segiempat sisi-sisi yang berhadapan sejajar. dan terorema-teorema dalam geometri. Pada tingkat ini siswa sudah mulai mampu menyusun bukti-bukti secara formal. Ini berarti bahwa pada tingkat ini siswa sudah memahami proses berpikir yang bersifat deduktif-aksiomatis dan mampu menggunakan proses berpikir tersebut.  Tingkat Rigor Tingkat ini disebut juga tingkat metamatematis.

Tujuan kegiatan ini adalah : a. orientasi langsung (directed orientation). maka seluruh geometri tersebut juga akan berubah. tetapi lebih bergantung pada pengajaran dari guru dan proses belajar yang dilalui siswa. 43 . dan tidak dimungkinkan adanya tingkat yang diloncati. Implementasi Teori Van Hiele dalam Pembelajaran Untuk meningkatkan suatu tahap berpikir ke tahap berpikir yang lebih tinggi Van Hiele mengajukan pembelajaran yang melibatkan 5 fase (langkah). orientasi bebas (free orientation). Akan tetapi. dan integrasi (integration).Sebagai contoh. menurut Van Hiele. Guru mempelajari pengetahuan awal yang dipunyai siswa mengenai topik yang di bahas. yaitu . kapan seseorang siswa mulai memasuki suatu tingkat yang baru tidak selalu sama antara siswa yang satu dengan siswa yang lain. informasi (information). Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa sambil melakukan observasi. guru dan siswa menggunakan tanya jawab dan kegiatan tentang obyek-obyek yang dipelajari pada tahap berpikir yang bersangkutan. penjelasan (explication). pada tahap ini siswa sudah memahami adanya geometrigeometri yang lain di samping geometri Euclides. Sehingga. dengan urutan yang sama. proses perkembangan dari tahap yang satu ke tahap berikutnya terutama tidak ditentukan oleh umur atau kematangan biologis. Menurut Van Hiele. pada tingkat ini siswa menyadari bahwa jika salah satu aksioma pada suatu sistem geometri diubah. semua anak mempelajari geometri dengan melalui tahap-tahap tersebut.  Fase 1 : Informasi (information) Pada awal fase ini. Selain itu.

 Fase 4 : Orientasi bebas (free orientation) Siswa mengahadapi tugas-tugas yang lebih komplek berupa tugas yang memerlukan banyak langkah. Di samping itu untuk membantu siswa menggunakan bahasa yang tepat dan akurat. Mereka memperoleh pengalaman dalam menemukan cara mereka sendiri. 44 . Aktifitas ini akan berangsur-angsur menampakkan kepada siswa struktur yang memberi ciri-ciri untuk tahap berpikir ini. siswa menyatakan pandangan yang muncul mengenai struktur yang diobservasi. Jadi.  Fase 2 : Orientasi langsung (directed orientation) Siswa menggali topik yang dipelajari melalui alat-alat yang dengan cermat disiapkan guru.  Fase 3 : Penjelasan (explication) Berdasarkan pengalaman sebelumnya. maupun dalam menyelesaikan tugas-tugas. Guru mempelajari petunjuk yang muncul dalam rangka menentukan pembelajaran selanjutnya yang akan diambil. guru memberi bantuan seminimal mungkin. Melalui orientasi diantara para siswa dalam bidang investigasi. banyak hubungan antara obyekobyek yang dipelajari menjadi jelas. dan tugas-tugas open ended. alat ataupun bahan dirancang menjadi tugas pendek sehingga dapat mendatangkan respon khusus. Hal tersebut berlangsung sampai sistem hubungan pada tahap berpikir ini mulai tampak nyata.  Fase 5 : Integrasi (Integration) Siswa meninjau kembali dan meringkas apa yang telah dipelajari. Guru dapat membantu dalam membuat sintesis ini dengan melengkapi survey secara global terhadap apa-apa yang telah dipelajari siswa. tugas-tugas yang dilengkapi dengan banyak cara.b.

dan generalisasi-generalisasi yang telah disiswai dan diingat siswa. Pembelajaran bermakna merupakan suatu proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. P. David Ausubel adalah seorang ahli psikologi pendidikan. Struktur kognitif ialah fakta-fakta. konsep-konsep. Jika siswa hanya mencoba menghafalkan informasi baru itu tanpa menghubungkan dengan struktur kognitifnya. Menurut Ausubel (Dahar 1996) bahan subjek yang dipelajari siswa mestilah ―bermakna‖ (meaningfull). Selanjutnya dimensi kedua menyangkut bagaimana siswa dapat mengaitkan informasi itu pada struktur kognitif yang telah ada. Dimensi pertama berhubungan dengan cara informasi atau materi pelajaran itu disajikan kepada siswa melalui penerimaan atau penemuan. Menurut Ausubel. TEORI BERMAKNA AUSUBEL Teori pembelajaran Ausabel merupakan salah satu dari sekian banyaknya teori pembelajaran yang menjadi dasar dalam cooperative learning. Belajar menghafal (rote learning) Menurut Ausubel belajar dapat diklasifikasikan kedalam dua dimensi.B. Suparno (1997) mengatakan pembelajaran bermakna adalah suatu proses pembelajaran di mana informasi baru dihubungkan dengan struktur pengertian yang sudah dimiliki seseorang yang sedang melalui pembelajaran. Belajar bermakna (meaningful learning) 2. Sebaliknya jika siswa menghubungkan atau mengaitkan informasi baru itu dengan struktur kognitifnya maka yang terjadi adalah belajar bermakna D. Dengan 45 . ada dua jenis belajar : 1. Ausubel mengemukakan bahwa belajar dikatakan menjadi bermakna (meaningful) bila informasi yang akan dipelajari peserta didik disusun sesuai dengan struktur kognitif yang dimiliki peserta didik itu sehingga peserta didik itu dapat mengaitkan informasi barunya dengan kognitif yang dimilikinya. maka terjadilah belajar dengan hafalan.

Belajar dengan penemuan yang tidak bermakna. Empat tipe belajar menurut Ausubel. 4. guru memberikan konsep-konsep dengan jelas dan tersusun supaya peserta didik dapat menerimanya dengan lengkap dan baik. peserta didik menjadi kuat ingatannya dan transfer belajar mudah dicapai. menghafal berlawanan dengan belajar bermakna. Dalam pembelajaran resepsinya . materi pelajaran yang telah tersusun secara logis disampaikan kepada siswa sampai bentuk akhir. 2. Menghafal sebenarnya mendapatkan informasi yang terisolasi sedemikian hingga peserta didik itu tidak dapat mengaitkan informasi yang diperoleh itu ke dalam struktur kognitifnya. kerena beliau menekankan proses penguasaan maklumat melalui bahasa yang bermakna. Belajar menerima (ekspositori) yang tidak bermakna. yaitu: 1. yaitu mengaitkan pengetahuan yang telahdimilikinya dengan materi pelajaran yang dipelajarinya atau siswa menemukan pengetahuannya dari apa yang ia pelajari kemudian pengetahuan baru itu ia kaitkan dengan pengetahuan yang sudah ada. 3. Bagi Ausubel. Belajar menerima (ekspositori) yang bermakna. yaitu pelajaran yang dipelajari ditemukan sendiri oleh siswa tanpa mengaitkan pengetahuan yang telah dimilikinya.belajar bermakna ini. kemudian dia hafalkan. Belajar dengan penemuan yang bermakna. yaitu materi pelajaran yang telah tersusun secara logis disampaikan kepada siswa sampai bentuk akhir. Teori pembelajaran Ausubel juga dikenali sebagai teori pembelajaran penerimaan atau penemuan . Selanjutnya peserta didik tidak dapat mengendapkan 46 . kemudia pengetahuan yang baru itu dikaitkan dengan pengetahuan yang ia miliki. kemudia pengetahuan yang baru itu dihafalkan tanpa mengaitkannya dengan pengetahuan yang ia miliki.

dikatakan peserta didik itu belajar bahan baru dengan cara yang bermakna. Belajar yang bermakna pada tahap mula-mula memberikan pengertian kepada bahan baru sehingga bahan baru itu akan terserap dan kemudian diingat peserta didik. bila diberi bahan materi matematika yang abstrak tanpa contoh-contoh konkrit dari materi tersebut.pengetahuan yang diperoleh itu sehingga peserta didik itu hanya dapat mengingat fakta-fakta yang sederhana. Demikianlah banyak peserta didik yang tidak berusaha mengerti matematika. Ia tidak menghafal asosiasi stimulus-respon yang terpisah-pisah. cenderung mengalami kegagalan dan akhirnya membenci matematika. Dengan demikian 47 . Peserta didik yang masih di dalam periode operasi konkrit. b. Kondisi dan sikap peserta didik terhadap tugas. maka belajar itu tidak bermakna. akan mengakibatkan peserta didik itu tidak mempunyai keinginan mempelajari materi tersebut secara bermakna. hendaknya bersesuaian dengan tujuan belajar peserta didik. Apabila peserta didik melaksanakan tugas dengan sikap bahwa ia ingin memahami bahan pelajaran dan mengaplikasikan bahan baru serta menghubungkan bahan pelajaran yang terdahulu. Tugas-tugas diberikan kepada peserta didik harus sesuai dengan struktur kognitif peserta didik sehingga peserta didik itu dapat mengasimilasi bahan baru secara bermakna. c. Tugas-tugas yang diberikan haruslah sesuai dengan tahap perkembangan intelektual peserta didik. Adanya struktur kognitif di dalam mental peserta didik yang merupakan dasar unsur mengaitkan datangnya informasi baru. Belajar bermakna berarti belajar dengan memperoleh pemberitahuan yang bermakna mempunyai pra syarat : a. Banyaknya pengetahuan yang dapat dipelajari tergantung kepada apa yang sudah diketahui. Sebaliknya bila peserta didik itu tidak berkehendak mengaitkan bahan yang dipelajari dengan informasi yang dimiliki.

peserta didik hanya menghafal pelajaran tadi tanpa pengertian sehingga peserta didik mempelajari matematika dengan pernyataanpernyataan verbalyang tidak cermat dan tepat. c. Informasi yang dipelajari secara bermakna mempermudah belajar hal-hal yang mirip walaupun telah lupa. Dari dua aliran psikologi yang telah dikemukakan diatas yang masingmasing menghasilkan teori belajar. Langkah – langkah belajar bermakna Ausubel adalah : 1. perlu dikombinasikan sehingga kelemahan yang satu akan ditutup kekuatan yang lain.1989 : 141) ada tiga kebaikan belajar bermakna yaitu : a. b. Informasi yang dipelajari secara bermakna lebih lama dapat diingat. 2. 48 . Ausubel (Dahar. Pengaturan awal (advance organizer) Pengaturan awal dap digunakan untuk membantu mengaitkan konsep yang lama dengan konsep yang baru yang lebih tinggi maknanya. Hasil pengkombinasian ini diaplikasikan kepengajaran matematika. Caranya unsur yang inklusif diperkenalkan terlebih dahulu kemudian baru lebih mendetail. Diferensiasi Progregsif Dalam pembelajaran bermakna perlu ada pengembangan dan kolaborasi konsep-konsep. Informasi yang dipelajari secara bermaknamemudahkan proses belajar beriktunya untuk materi pelajaran yang mirip.

Menurut Siswono (2004). kreatif. memberikan tanggapan. Kreatif diartikan guru memberikan variasi dalam kegiatan belajar mengajar dan membuat alat bantu baljar.keterampilan. Aktif diartikan peserta didik maupun berinteraksi untuk menunjang pembelajaran. PAKEM bertujuan untuk menciptakan sesuatu lingkungan belajar yang lebih melengkapi peserta didik dengan keterampilan. pengetahuan dan sikap bagi kehidupan kelak. mengajukan pertanyaan menantang dan mempertanyakan gagasan anak didik. Kegiatan tersebut akan memuaskan rasa keingintahuan dan imajinasi mereka. Hal ini berarti proses pembelajaran dapa t membangkitkan dan membuat anak didik senang dalam belajar. Apabila suasana belajar yang aktif dan kreatif terjadi. maka akan mendorong peserta didik untuk menyenangi dan memotivasi mereka untuk 49 . mengungkapkan ide dan mendemonstrasikan gagasan atau idenya. Oleh karena itu teori belajar Dienes ini sangat terkait dengan konsep pembelajaran dengan pendekatan PAKEM (Pembelajaran Aktif. Dengan memberikan kesempatan peserta didik aktif akan mendorong kreativits peserta didik dalam belajar maupun memecahkan masalah. Guru harus menciptakan suasana sehingga peserta didik aktif bertanya. Guru aktif akan memantau kegiatan belajar peserta didik. Berikut ini akan dijelaskan sec ara singkat tentang PAKEM. bila diberi kesempatan merancang/membuat sesuatu. bahkan mencipta teknik -teknik mengajar tertentu sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik dan tujuan belajarnya. TEORI DIENES Konsep PAKEM Teori belajar Dienes yang menekankan pada tahapan permainan yang berarti pembelajaran yang diarahkan pada proses melibatkan anak didik dalam belajar. menuliskan ide atau gagasan. Peserta didik akan kreatif.C. efektif dan menyenangkan). memberi umpan balik.

terus belajar. membedakan antara aktif fisik dn aktif mental. memisah - 50 . tetapi tidak efektif akan tampak hanya sekedar permainan belaka. mengenal peserta didik secara individu/perorangan c. dan pengembangannya diorientasikan pada siswa-siswa. Dasar teorinya bertumpu pada Piaget. memahami sifat anak b. Menyenangkan diartikan sebagai suasana belajar mengajar yang ‖hidup‖. Efektif yang diartikan sebagai ketercapaian suatu tujuan (kompetensi) merupakan pijakan utama suatu rancangan pembelajaran. dan mendorong pemusatan perhatian peserta didik terhadap belajar. memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar g. ekspresif. kreatif dam kemampuan memecahkan masalah e. 1992) berpendapat bahwa pada dasarnya matematika dapat dianggap sebagai studi tentang struktur. mengembangkan kemampuan bepikir kritis. mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik f. Dalam pelaksanaan PAKEM perlu diperhatikan beberapa hal. terkondisi untuk trus berlanjut. memberikan umpan balik yang bertanggung jawab untuk meningkan kegiatan belajar mengajar h. semarak. memanfaatkan perilaku anak dalam pengorganisasian belajar d. sedemikian rupa sehingga sistem yang dikembangkannya itu menarik bagi siswa yang mempelajarinya. yaitu: a. Dienes adalah seorang matematikawan yang memusatkan perhatiannya pada cara-cara pengajaran terhadap siswa-siswa. Pembelajaran yang tampaknya aktif dan menyenangkan. Dienes (dalam Ruseffendi. Tahap-Tahap Dalam Teori Belajar Dienes Zoltan P.

Anak yang telah memahami aturan-aturan tadi. Anak didik diberi kebebasan untuk mengatur benda.misahkan hubungan-hubungan di antara struktur-struktur dan mengkategorikan hubungan. 2. Seperti halnya dengan Bruner. Jelaslah. Dienes membagi tahap-tahap belajar menjadi tahap. yaitu 1. Permainan yang Menggunakan Aturan (Games) Dalam permainan yang disertai aturan siswa sudah mulai meneliti pola-pola dan keteraturan yang terdapat dalam konsep tertentu. Ini mengandung arti bahwa jika benda -benda atau objek-objek dalam bentuk permainan akan sangat berperan bila dimanipulasi dengan baik dalam pengajaran matematika. Permainan bebas merupakan tahap belajar konsep yang aktifitasnya tidak berstruktur dan tidak diarahkan. Permainan Bebas (Free Play) Dalam setiap tahap belajar. akan semakin jelas konsep yang dipahami siswa. dengan melalui permainan siswa diajak untuk mulai mengenal dan memikirkan bagaimana struktur matematika itu.hubungan di antara struktur-struktur. Selama permainan pengetahuan anak muncul. Misalnya dengan diberi permainan block logic. tahap yang paling awal dari pengembangan konsep bermula dari permainan bebas. Dienes mengemukakan bahwa tiap -tiap konsep atau prinsip dalam matematika yang disajikan dalam bentuk yang konkret aka n dapat dipahami dengan baik. karena akan memperoleh 51 . tebal tipisnya benda yang merupakan ciri/sifat dari benda yang dimanipulasi. Dalam tahap ini anak mulai membentuk struktur mental dan struktur sikap dalam mempersiapkan diri untuk memahami konsep yang sedang dipelajari. Keteraturan ini mungkin terdapat dalam konsep tertentu tapi tidak terdapat dalam konsep yang lainnya. anak didik mulai mempelajari konsep-konsep abstrak tentang warna. Makin banyak bentuk-bentuk berlainan yang diberikan dalam konsep tertentu.

3. Permainan Representasi (Representation) Representasi adalah tahap pengambilan sifat dari beberapa situasi yang sejenis. Dalam membentuk kelompok bangun yang tipis. Setelah mereka berhasil menyimpulkan kesamaan sifat yang terdapat dalam situasi-situasi yang dihadapinya itu. timbul pengalaman terhadap konsep tipis dan merah. Menurut Dienes. atau tidak merah (biru). Permainan Kesamaan Sifat (Searching for communalities) Dalam mencari kesamaan sifat siswa mulai diarahkan dalam kegiatan menemukan sifat-sifat kesamaan dalam permainan yang sedang diikuti. untuk membuat konsep abstrak. hijau. dan kegiatan untuk yang tidak relevan dengan pengalaman itu. Translasi ini tentu tidak boleh mengubah sifat -sifat abstrak yang ada dalam permainan semula. Untuk melatih dalam mencari kesamaan sifat-sifat ini. serta timbul penolakan terhadap bangun yang tipis (tebal). kuning). anak didik memerlukan suatu kegiatan untuk mengumpulkan bermacam -macam pengalaman. kemudian membentuk kelompok benda berbentuk segitiga. Dengan demikian telah mengarah pada 52 . Representasi yang diperoleh ini bersifat abstrak. guru perlu mengarahkan mereka dengan menstranslasikan kes amaan struktur dari bentuk permainan lain. atau yang berwarna merah. Contoh kegiatan yang diberikan dengan permainan block logic.hal-hal yang bersifat logis dan matematis dalam konsep yang dipelajari itu. atau yang tebal. 4. anak dihadapkan pada kelompok persegi dan persegi panjang yang tebal. anak diminta mengidentifikasi sifat-sifat yang sama dari benda-benda dalam kelompok tersebut (anggota kelompok). Para siswa menentukan representasi dari konsep -konsep tertentu. dan sebagainya. anak diberi kegiatan untuk membentuk kelompok bangun yang tipis. atau yang merah. Contoh dengan permainan block logic.

Karso (1999:1.pengertian struktur matematika yang sifatnya abstrak yang terdapat dalam konsep yang sedang dipelajari. dalam arti membuktikan teorema tersebut. Permainan dengan Simbolisasi (Symbolization) Simbolisasi termasuk tahap belajar konsep yang membutuhkan kemampuan merumuskan representasi dari setiap konsep-konsep dengan menggunakan simbol matematika atau melalui perumusan verbal. sebagai contoh siswa yang telah mengenal dasar-dasar dalam struktur matematika seperti aksioma. tetapi mereka sudah mempunyai pengetahuan tentang sistem yang berlaku dari pemahaman konsep-konsep yang terlibat satu sama lainnya. Permainan dengan Formalisasi (Formalization) Formalisasi merupakan tahap belajar konsep yang terakhir. membentuk sebuah sistem matematika. adanya elemen identitas. asosiatif. 6. Misalnya bilangan bulat dengan operasi penjumlahan peserta sifat-sifat tertutup. kegiatan berikutnya menentukan rumus banyaknya diagonal suatu poligon yang digeneralisasikan dari pola yang didapat anak. anak didik telah mengenal dasar -dasar dalam struktur matematika seperti aksioma. harus mampu merumuskan teorema dalam arti membuktikan teorema tersebut. Contohnya.20) menyatakan. 53 . an mempunyai elemen invers. Contoh kegiatan anak untuk menemukan banyaknya diagonal poligon (misal segi dua puluh tiga) dengan pendekatan induktif seperti berikut ini (gambar 2 5. Dalam tahap ini siswa-siswa dituntut untuk mengurutkan sifat-sifat konsep dan kemudian merumuskan sifat-sifat baru konsep tersebut. harus mampu merumuskan suatu teorema berdasarkan aksioma. pada tahap formalisasi anak tidak hanya mampu merumuskan teorema serta membuktikannya secara deduktif. dari kegiatan mencari banyaknya diagonal dengan pendekatan induktif tersebut. komutatif. Sebagai contoh.

54 . Permainan Operasi Penjumlahan Ada dua teknik menjumlahkan. Sediakan kantong kain/kantong plastik/kantong dari katon.Permainan Interaktif untuk Belajar Matematika Permainan interaktif merupakan suatu permainan yang dikemas dalam pembelajaran. Pada bagian tulusian ini. sehingga anak didik menjadi aktif dan senang dalam belajar. Langkah-langkah permainan: 1. maka penjumlahan suku-sukunya dilakukan dengan teknik ―menyimpan‖ Permainan ―menyimpan dan menjumlahkan‖ berikut memberikan kemudahan mengajarkan operasi penjumlahan. Tujuan : Memperlihatkan menyimpan sekaligus bentuk nyata penjumlahan dengan teknik menjelaskan langkah-langkah sistematis penyelesaian kalimat penjumlahan. Anda akan dapat merancang bagaimana mengemas pembelajaran matematika melalui permainan. Jika hasil penjumlahan kurang atau sama dengan 10. Oleh karena itu. Mudah-mudahan melalui tulisan ini. Sediakan kartu kecil merah untuk puluhan dan kartu kecil putih untuk satuan. jika guru dapat mengemas permainan sebagai media maupun pendekatan dalam belajar matematika bagi anak. 2. 1 . maka penjumlahan dapat dilakukan secara langsung dengan cara menjumlahkan suku-sukunya. Permainan Operasi Hitung a. akan dibahas permainan matematika pada topik bilangan dan topik geometri. maka anak akan senang belajar matematika sehingga menjadi efektif untuk mendapatkan hasil belajar yang optimal. Jika hasil penjumlahan lebih dari 10.

Langlah-langkah permainan: 1. Terangkanlah bahwa nilai empat kartu merah tersebut adalah 40. Mintalah anak untuk mengurangkan 57 – 28 2. Mintalah anak untuk menjumlahkan hasilnya. Permainan Operasi Pengurangan Ikutilah permainan berikut ini untuk memudahkan anak belajar operasi pengurangan dengan teknik meminjam. Selanjutnya. Mintalah anak menyatukan 9 dan 7 buah kartu putih dan mintalah anak menghitung jumlahnya (jawaban : 16). 8. Selanjutnya. 5. 4 – 2 = 2 (terangkan bahwa membacanya 20 karena nilainya puluhan) 3. Mintalah anak menghitung total kartu merah. Permainan ―menukar dan mengurangkan‖ Tujuan: Memperlihatkan meminjam sekaligus bentuk nyata pengurangan dengan teknik memperlihatkan langkah-langkah sistematis penyelesaian kalimat pengurangan. 7. Mintalah anak menjumlahkan hasilnya. Mintalah anak mengerjakan 19 + 27. 4. Mintalah anak menggantikan 10 kartu putih dari 16 kartu p utih dengan satu kartu merah. yaitu 1 + 2 + 1 = 4. 17 dikurangi 8 menghasilkan 9. Terangkan karena 7 tidak bisa dikurangi 8 maka ambil 1 kartu merah dan tukar dengan 10 kartu putih sehingga total kartu putih 7 + 10 = 17. yaitu 20 + 9 = 29. b.3. 6. Mintalah anak memasukan kartu merah tersebut ke kantong puluhan dan masukan sisa 6 kartu putih ke kantongan satuan. Perluas contoh permainannya sampai ke bilangan ratusan dan seterusny 55 . yaitu 40 + 6 = 46. Karena dipinjam 1 maka sisa kartu merah menjadi = 4. 4.

Langkah-langkah permainan: 1. 3 dan 2 disebut faktor dari 6. Berikan masing-masing 2 buah permen kepada 3 orang anak. 3. 56 . 2. Perlihatkan 6 permen di tangan. Pada kalimat 3 x 2 = 6. yaitu 6. Permainan Operasi Pembagian Permainan berikut ini mempermudah anak memahami operasi pembagian. Terangkan bahwa hasilnya merupakan perkalian 2 dengan 3. 2.c. sedangkan 6 merupakan hasil perkalian 2 dan 3. Permainan Operasi Perkalian Ikutilah permainan berikut ini untuk melatih anak belaj ar perkalian dan kelipatan. Tanyakan berapakah jumlah total permen yang telah diberikan kepada ketiga anak tersebut. Perkalian merupakan penjumlahan berulang. Permainan ―permen pembagian‖ Tujuan : Menjelaskan makna pembagian Langkah-langkah: 1. Bagikan secara merata 3 permen – 3 permen kepada beberapa anak sampai permen habis. 3. misalnya 2 + 2+ 2 atau bentuk lain 3 x 2. Permainan ―permen perkalian‖ Tujuan: Menjelaskan makna perkalian. Tanyakan berapa anakkahyang akan mendapat permen. d.

minat. Teori Bandura menjelaskan perilaku manusia dalam konteks interaksi timbal balik yang berkesinambungan antara kognitif. Eksperimennya yang sangat terkenal adalah eksperimen Bobo Doll yang menunjukkan anak meniru secara persis perilaku agresif dari orang dewasa disekitarnya. Perhatian (Attention). Menurut Bandura proses mengamati dan meniru perilaku. kelaziman. sikap orang lain sebagai model merupakan tindakan belajar. Terangkan bahwa hasilnya merupakan pembagian 6 dengan 3. Ulangi permainan ―permen perkalian dan pembagian‖ ini sehingga anak mengerti betul makna perkalian dan pembagian serta hubungan keduanya dengan contoh lain. nilai fungsi) dan karakteristik pengamat (kemampuan indera. Misalnya seorang yang hidupnya dan lingkungannya dibesarkan dilingkungan judi. Faktor-faktor yang berproses dalam belajar observasi adalah 1. tingkat kerumitan. maka dia cenderung menyenangi judi. perilaku dan pengaruh lingkungan. TEORI BANDURA Albert Bandura lahir tanggal 4 Desember 1925 di Mundare Alberta berkebangsaan Kanada. penguatan sebelumnya) 57 . D. yaitu 2. Tanamkanlah pada anak bahwa 6 : 3 = 6 – 3 – 3. mencakup peristiwa peniruan (adanya kejelasan. keterlibatan perasaan.4. atau setidaknya menganggap bahwa judi itu tidak jelek. persepsi. 5. Kondisi lingkungan sekitar individu sangat berpengaruh padapola belajar sosial ini. Ia seorang psikolog yang terkenal dengan teori belajar sosial atau kognitif sosial serta efikasi diri.

2. Kemudian proses meniru akan lebih terbantu jika gerakan tadi juga didukung dengan penayangan video. Peserta didik harus berupaya melakukan semua tingkah laku yang ditirunya. Di peringkat penghasilan latihan menjadikan tingkah laku lebih lancar dan mahir. Apabila seorang peserta didik tahu bagaimana suatu tingkah laku itu ditunjukkan dan mengingat cara-cara atau langkah.langkah dia mungkin belum bisa melakukannya dengan lancar. Penyimpanan atau proses mengingat (Retention). Proses mengingat akan lebih baik dengan cara mengkodekan perilaku yang ditiru kedalam kata-kata. Tingkat tertinggi belajar dari pengamatan diperoleh dengan cara mengorganisasikan sejak awal dan mengulangi perilaku secara simbolik kemudian melakukannya. Individu lebih menyukai perilaku yang ditiru jika sesuai dengan nilai yang dimilikinya. 3. Tapi peserta didik itu memerlukan latihan yang banyak. Sebagai contoh: belajar gerakan tari dari instruktur membutuhkan pengamatan dari berbagai sudut yang dibantu cermin dan langsungditirukan oleh siswa pada saat itu juga. Reproduksi motorik (Reproduction). gambar atau instruksi yang ditulis dalam buku panduan. 4. pengualangan motorik.2. pengorganisasian pikiran. mencakup kode pengkodean simbolik. mendapat bimbingan tentang perkara.perkara penting sebelum meleksanakan tingkah laku model. keakuratan umpan balik. mencakup dorongan dari luar dan penghargaan terhadap diri sendiri (Motivation) Selain itu juga yang harus diperhatikan bahwa faktor model atau teladan mempunyai prinsip-prinsip sebagai berikut: 1. mencakup kemampuan fisik. kemampuan meniru. pengulangan simbol. Motivasi. 58 . tanda atau gambar dari pada hanya observasi sederhana (hanya melihat saja).

namun karena kondisinya yang umum tadi maka sulit dilaksanakan dalam sekolah-sekolah formal. namun hal itu tentu saja sangat khusus dan terbatas. Sebagai contoh: penerapan teori belajar sosial dalam iklan televisi. Teori Bandura menjadi dasar dari perilaku pemodelan yang digunakan dalam berbagai pendidikan secara massal. 59 . informasi dan instruksional. dengan prinsip modifikasi perilaku. Teori belajar dari Bandura ini tampaknya memang bisa berlaku umum dalam semua langkah pendidikan sosial. karena suasana dan kondisi yang sudah dirancang secara khusus untuk tujuan yang khusus pula.3. Peristiwa sosial juga terjadi di lingkungan sekolah dan pendidikan pada umumnya. Proses belajar masih berpusat pada penguatan. hanya terjadi secara langsung dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Iklan selalu menampilkan bintang-bintang yang popular dan disukai masyarakat. Hanya dalam situasi sosial dan kemasyarakatanlah banyak terjadi belajar sosial. Teori belajar sosial dari Bandura ini merupakan gabungan antara teori belajar behavioristik dengan penguatan dan psikologi kognitif. Individu akan menyukai perilaku yang ditiru jika model atau panutan tersebut disukai dan dihargai serta perilakunya mempunyai nilai yang bermanfaat. sehingga metode belajar sosial dari Bandura ini agak sulit dilakukan. yakni untuk tujuan mempermudah terlaksananya proses belajar secara efektif. hal ini untuk mendorong konsumen agar membeli sabun supaya mempunyai kulit seperti para "bintang" atau minum obat masuk anginnya "orang pintar". komunikasi.

Bila objek itu disembunyikan. Jean Piaget berpendapat bahwa proses berpikir manusia sebagai suatu perkembangan yang bertahap dari berpikir intelektual konkret ke abstrak berurutan melalui empat periode. yaitu mengenai teori perkembangan intelektual. dan merupakan aktivitas mental. Operasi yang dimaksud di sini adalah suatu proses berpikir atau logik. Piaget (dalam Bell. 2. Rangsangan itu timbul karena anak melihat dan merab-raba objek.Periode Sensori Motor (0 – 2) tahun. Piaget adalah orang pertama yang menggunakan filsafat konstruktivis dalam proses belajar mengajar. bukan aktivitas sensori motor. Namun karena pengalamannya terhadap lingkungannya. Karateristik periode ini merupakan gerakan-gerakan sebagai akibat reaksi langsung dari rangsangan.Periode Pra-operasional (2 – 7) tahun. namun usia atau kronologis pada setiap orang yang memasuki setiap periode berpikir yang lebih tinggi berbeda-beda tergantung kepada masing-masing individu. TEORI PIAGET Teori Perkembangan Intelektual Piaget Teori belajar Dienes sangat terkait dengan teori belajar yang dikemukakan oleh Piaget. sebagai berikut: 1. anak menyadari bahwa objek yang disembunyikan tadi masih ada dan ia akan mencarinya.E. 1981). berpendapat bahwa proses berpikir manusia merupakan suatu perkembangan yang bertahap dari berpikir intelektual kongkret ke abstrak berurutan melalui empat tahap perkembangan. 60 . Anak itu belum mempunyai kesadaran adanya konsep objek yang tetap. anak itu tidak akan mencarinya lagi. pada akhir periode ini. Urutan periode itu tetap bagi setiap orang.

Walaupun pada periode permulaan pra-operasional ini anak mampu menggunakan simbol-simbol. Periode ini disebut operasi kongkret sebab berpikir logiknya didasarkan atas manipulasi fisik dari objek-objek.Pada periode ini anak di dalam berpikirnya tidak didasarkan kepada keputusan yang logis melainkan didasarkan kepada keputusan yang dapat dilihat seketika. Misalnya semua 61 .Periode operasi kongkret (7 – 12) tahun. Pengalaam anak masih kongkret dan belum formal. Operasi kongkret hanyalah menunjukkan kenyataan adanya hubungan dengan pengalaman empirik-kongkret yang lampau dan masih mendapat kesulitan dalam mengambil kesimpulan yang logis dari pengalaman -pengamanan yang khusus. tetapi anak itu mulai memanipulasi simbol dari benda-benda sekitarnya. 3. Pengerjaan-pengerjaaan logikd apat dilakukan dengan berorientasike objek-objek atau peristiwa-peristiwa yang langsung dialami anak. Anak itu belum memperhitungkan semua kemungkinan dan kemudian mencoba menemukan kemungkinan yang mana yangk akan terjadi. Periode ini sering disebut juga periode pemberian simbol. Dalam periode operasi kongkret. Pada periode ini anak terpaku kepada kontak langsung dengan lingkungannya. Dalam periode ini anak berpikirnya sudah dikatakan menjadi operasional. Anak masih terikat kepada pegakaman prib adi. misalnya suatu benda diberi nama (simbol). Anak dapat membentuk variasi relasi kelas dan mengerti bahwa beberapa kelas dapat dimasukkan ke kelas lain. ia masih sulit melihat hubungan-hubungan dan mengambil kesimpulan secara taat asas. Kombinasivitas atau klasifikasi adalah suatu operasi dua kelas atau lebih yang dikombinasikan ke dalam suatu kelas yan g lebih besar. karateristik berpikir anak adalah sebagai berikut: a.

Asosiasivitas adalah suatu operasi terhadap beberapa kelas yang dikombinasikan menurut sebarang urutan. Reversibilitas adalah operasi kebalikan. d. berlaku hukum asosiatif terhadap penjumlahan. operasi ‖+‖. Identitas adalah suatu operasi yang menunjukkan adanya unsur nol yang bila dikombinasikan dengan unsur atau kelas hasilnya tidak berubah.manusia lelaki dan semua manusia wanita adalah semua manusia.dalam himpunan bilangan bulat dengan operasi ‖+‖. 62 . Demikian juga suatu jumlah dapat dinolkan dengan mengkombinasikan lawannya. Setiap operasi logik atau matematik dapat dikerjakan dengan operasi kebalikan. Misalnya himpunan bilangan bulat. c. Misalnya. b. Misalnya. Anak pada periode ini dilandasi oleh observasi dari pengalaman dengan objek nyata. unsur nol adalh 0 sehingga 8 + 0 = 8. Misalnya unsur dari suatu himpunan berkawan dengan satu unsur dari himpunan kedua dan sebaliknya. tetap sama sementara itu aspek lainnya berubah. f. Korespondensi satu – satu antara objek-objek dari dua kelas. Kesadaran adanya prinsip-prinsip konservasi. 5 + ? = 9 sama dengan 9 – 5 = ? Reversibilitas ini merupakan karakteristik utama untuk berpikir operasional di dalam teori Piaget. misalnya 4 – 4 = 0. tetapi ia sudah mulai menggeneralisasi objek-objek tadi. e. Namun prinsip konservasi yang dimilikianak pada periode ini masih belum penuh. Hubungan A > B dan B > C menjadi A > C. Konservasi berkenaan dengan kesadaran bahwa satu aspek dari benda.

Misalnya di dalam struktur mental peserta didik telah ada pengorganisasian dan pengelompokan bentuk-bentuk bujur sangkar. artinya bila anak dihadapkan kepada suatu masalah. Ia mampu menggunakan prosedur seorang ilmuwan. Periode operasi formal ini disebut juga disebut periode operasi hipotetik-deduktif yang merupakan tahap tertinggi dari perkmbangan intelektual. Anak sudah dapat mengoperasikan argumen-argumen tanpa dikaitkan dengan benda-benda empirik. yaitu menggunakan posedur hipotetik-deduktif. Anak mampu menyelesaikan masalah dengan cara yang lebih baik dan kompleks dari pada anak yang masih dalam tahap periode operasi kongkre t.Periode Operasi Formal (> 12) tahun. Anak juga sudah dapat berpikir kombinatorik.definisi verbal. Periode ini merupakan tahap terakhir dari keempat periode perkembangan intelektual. Konsep konservasi telah tercapai sepenuhnya. Kemudian kepada peserta 63 . ia dapat mengisolasi itu faktor-faktor sehingga tersendiri atau mengkombinasikan masalah tadi. belajar itu tidak hanya menerima informasi dan pengalaman baru saja. Anak telah mampu melihat hubungan hubungan abstrak dan menggunakan proposisi-proposisi logik-formal termasuk aksioma dan definisi. tetapi juga terjadi penstrukturan kembali informasi dan pengalaman lainnya untuk mengakomodasikan informasi dan pengalaman yang baru. Anak-anak pada periode ini sudah memberikan alasan dengan menggunakan lebih banyak simbul atau gagasan dalam cara berpikir.Anak sudah mampu menggunakan hubungan-hubungan di antara objek-objek apabila ternyata manipulasi objek-objek tidak memungkinkan.4. Jadi. faktor-faktor menuju penyelesaian Asimilasi adalah proses mendapatkan informasi dan pengalaman baru yang langsung menyatu dengan struktur mental yang sudah dimiliki seseorang. Adapun akomodasi adalah proses menstrukturkan kembali mental sebagai akibat adanya informasi dan pengalaman baru tadi. segi panjang dan parallelogram sebagai segi empat.

Peristiwa itu juga berarti terjadinya penstrukturan kembali kognitif yang telah dimiliki oleh peserta didik karena datangnya informasi baru tentang trapesium tadi. pengalaman logika-matematika yang berupa kegiatan mental yang ditampilkan individu dan struktur kognitifnya diorganisasikan menurut pengalamannya. Penyetimbangan (equilibration) merupakan proses adanya kehilangan stabilitas di dalam struktur mental sebagai akibat pengalaman dan informasi baru dan kembali setimbang melalui proses asimilasi dan akomodasi. Ketiga factor itu harus ada agar seseorang berkembang dari satu periode ke periode berpikir yang lebih tinggi. b. c. yaitu yang pertama. Pengalaman yang dimaksud ada dua macam/. Piaget percaya bahwa operasi formal tidak akan berkembang di dalam pikiran tanpa adanya pertukaran dan koordinasi pendapat di antara orang-orang. Perkembangan intelektual itu dipengaruhi oleh tiga factor berikut : a. Kematangan merupakan proses pertumbuhan psikologis dari otak dan sistem syaraf. 64 . struktur mental berkembang dan menjadi matang. Ini berarti peserta didik tersebut menyatukan objek baru itu ke dalam struktur kognitif yang sudah dimiliki dan terjadilah proses asimilasi. Peserta didik itu me ngerti bahwa trapezium itupun merupakan segi empat dengan sifat yang sedikit berbeda dengan bentuk-bentuk yang telah dipelajari sebelumnya. Hal ini amat penting bagi perkembangan mental anak. Sebagai hasil dari penyetimbangan itu.didik itu diberikan lagi bentuk trapesium. Pengalaman juga mempunyai andil dalam pengembangan intelektual. Transmisi social merupakan interaksi dan kerja sama seseorang dengan orang lain atau dengan lingkungannya. Ini berarti terjadinya akomodasi. pengalaman fisik yang berupa interaksi setiap individu dengan objek-objek di lingkungannya: yang kedua.

Proses penyetimbangan juga terjadi dalam belajar. Misalnya seseorang mendapat gagasan yang tidak terorganisasikan melalui kontak social atau pengalaman dari lingkungan, tetapi butir-butir itu terdapat perbedaan, perbedaan ini harus menjadi harmonis. Maka terjadilah proses penyetimbangan itu (logika matematika). Perkembangan Intelektual Anak dalam Belajar

Menurut Ruseffendi (1992), untuk dapat mengajarkan konsep matematika pada anak dengan baik dan mudah dimengerti, maka materi yang akan disampaikan hendaknya diberikan pada anak yang sudah siap intelektualnya untuk menerima materi tersebut. Contoh, meskipun anak berumur 3 tahun sudah dapat menghitung angka 1 –10, tetapi dia belum mengerti bilangan 1, 2, dan seterusnya. Oleh karena itu, dia akan kesulit an jika harus belajar tentang bilangan. Agar anak dapat mengerti materi matematika yang dipelajari, maka dia harus sudah siap menerima materi tersebut, artinya anak sudah mempunyai hukum kekekalan dari jenjang materi matematika yang dipelajari. Menurut piaget (dalam Ruseffendi; 1992), ada enam tahap dalam perkembangan belajar anak yang disebut dengan hukum kekekalan, sebagai berikut: 1. Hukum Kekekalan Bilangan (6 – 7 tahun) Anak yang telah memahami hukum kekekalan bilangan akan mengerti bahwa banyaknya suatu benda-benda akan tetap meskipun letaknya berbeda-beda atau diubah letaknya. Anak yang sudah memahami hukum kekekalan bilangan sudah siap untuk menerima pelajaran konsep bilangan dan operasinya. Sementara itu, anak yang belum memahami hukum kekekalan bilangan baginya belum waktunya mendapatkan

65

pelajaran operasi penjumlahan dan operasi hitung lainnya. Hukum kekekalan bilangan biasanya dipahami anak pada usia 6 – 7 tahun. 2. Hukum Kekekalan Materi ( 7 – 8 tahun) Anak yang sudah memahami hukum kekekalan materi atau zat akan mengatakan bahwa materi atau zat akan tetap sama banyaknya meskipun diubah bentuknya atau dipindah tempatnya. Sedangkan anak yang belum memahami hukum kekekalan materi akan mengatakan, bahwa air pada dua mangkok yang berbeda besarnya menjadi tidak sama, meskipun anak tersebut tahu bahwa air itu dituangkan dari dua bejana yang sama besar dan sama banyaknya. Anak yang belum memahami hukum kekekalan materi belum dapat melihat persamaan atau perbedaan dari satu sudut pandang saja. Contohnya, anak yang sudah dapat membedakan bilangan ganjil dan genap, bilangan kelipatan 3 dan bukan kelipatan 3, dan sebagainya. Masih akan kesulitan jika disuruh menentukan bilangan prima genap, atau bilangan genap kelipatan lima, dan sebagainya. Pada umumnya, anak memahami hukum kekekalan materi pada usia sekitar 7 – 8 tahun. 3. Hukum Kekekalan Panjang (8 - 9 tahun) Anak yang telah memahami hukum kekekalan panjang akan mengatakan bahwa panjang tali akan tetap meskipun tali itu

dilengkungkan. Sedangkan anak yang belum memahami hukum kekekalan panjang akan mengatakan bahwa dua utas tali yang tadinya sama panjang waktu direntangkan, menjadi tidak sama panjang bila yang satunya dilengkungkan sedangkan yang satunya lagi tidak. Anak yang belum memahami hukum kekekalan panjang akan memperoleh kesulitan dalam mempelajari konsep pengukuran, terutama pengukuran panjang benda -

66

benda yang tidak lurus. Hukum kekekalan panjang biasanya dipahami oleh anak pada usia sekitar 8 - 9 tahun. 4. Hukum Kekekalan Luas (8 – 9 tahun) Hukum kakakalan luas biasanya dipahami anak bersamaan dengan hukum kekekalan panjang, yaitu pada usia sekitar 8 - 9 tahun. Anak yang sudah memahami hukum kekekalan luas akan memahami bahwa luas daerah yang ditutupi suatu benda akan tetap sama meskipun letak bendanya diubah. Sedangkan anak yang belum memahami hukum kekekalan luas cenderung mengatakan bahwa luas daerah yang ditutupi 4 persegi kongruen yang diletakkan tersebar (tidak berimpit) lebih luas dari pada daerah yang ditutupi oleh 4 persegi kongruen yang diletakkan berimpitan. Anak yang belum memahami hukum kekekalan luas akan kesulitan belajar luasan suatu daerah. Misalnya, dalam menemukan rumus luas jajarangenjang yang diturunkan dari rumus luas persegi panjan g. 5. Hukum Kekekalan Berat (9 – 10 tahun) Hukum kekekalan berat menyatakan bahwa berat suatu benda akan tetap meskipun bentuk, tempat, dan atau penimbangan benda tersebut berbeda. Pada umumnya anak akan memahami hukum kekekalan berat setelah berusia sekitar 9 – 10 tahun 6. Hukum Kekekalan Isi (14 – 15 tahun) Hukum kekekalan isi menyatakan bahwa jika pada suatu bak atau bejana yang penuh dengan air dimasukan suatu benda, maka air yang ditumpahkan dari bak atau bejana tersebut sama dengan isi benda yang dimasukannya. Pada umumnya anak akan memahami hukum kekekalan isi pada usia sekitar 14 – 15 tahun atau mungkin sebelumnya. Untuk hukum kekekalan isi, karena pada umumnya belum dipahami pada anak SD, maka tidak dibahas lebih lanjut, dalam bahan ajar ini

67

F. seorang tokoh aliran Wuerzburg. Tahun 1910 ia mengajar di Univeristy of Frankfurt bersama-sama dengan Koehler dan Koffka yang saat itu sudah menjadi asisten di sana. Dengan konsep ini. Dengan pernyataan ini ia menentang pendapat Wundt yang menunjuk pada proses fisik sebagai penjelasan phi phenomenon. 68 . tetapi proses mental. Teori gestalt cenderung berupaya mengurangi pembagian sensasi menjadi bagian-bagian kecil. pola.  Max Wertheimer (1880-1943) Belajar pada Kuelpe. Lewin adalah salah seorang ahli yang sangat kuat menganjurkan pemahaman tentang lapangan psikologis seseorang. TEORI GESTALT Tokoh Gestalt Gestalt adalah sebuah teori yang menjelaskan proses persepsi melalui pengorganisasian komponen-komponen sensasi yang memiliki hubungan. Wertheimer menunjuk pada proses interpretasi dari sensasi obyektif yang kita terima. Konsep pentingnya : phi phenomenon (bergeraknya obyek statis menjadi rangkaian gerakan yang dinamis setelah dimunculkan dalam waktu singkat dan dengan demikian memungkinkan manusia melakukan interpretasi).  Kurt Lewin (1890-1947) Pandangan Gestalt diaplikasikan dalam field psychology dari Kurt Lewin. Proses ini terjadi di otak dan sama sekali bukan proses fisik. Teori gestalt beroposisi terhadap teori strukturalisme. Bersama-sama dengan Wolfgang Koehler (1887-1967) dan Kurt Koffka (1887-1941) melakukan eksperimen yang akhirnya menelurkan ide Gestalt. ataupun kemiripan menjadi kesatuan.

 Principle of Figure and Ground: yaitu menganggap bahwa setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar belakang. Interaksi antara individu dan lingkungan disebut sebagai perceptual field. Tugas utama psikologi adalah meramalkan perilaku individu berdasarkan semua fakta psikologis yang eksis dalam lapangan psikologisnya pada waktu tertentu . Lapangan psikologis ini terdiri dari fakta dan obyek psikologis yang bermakna dan menentukan perilaku individu (B=f L). potongan. Oleh karena itu kemampuan persepsi ini merupakan fungsi bawaan manusia. Prinsip dasar Gestalt 1. warnadan 69 . 2. Penampilan suatu obyek seperti ukuran. Setiap perceptual field memiliki organisasi.    Principle of Objective Set: Organisasi berdasarkan mental set yang sudah terbentuk sebelumnya Principle of Continuity: Organisasi berdasarkan kesinambungan pola Principle of Closure/ Principle of Good Form: bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap. Pengorganisasian ini mempengaruhi makna yang dibentuk.  Principle of Similarity: bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang berada dalam arah yang sama cenderung akan dipersepsi sebagi suatu figure atau bentuk tertentu. Prinsip-prinsip pengorganisasian:  Principle of Proximity: bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertentu. Gerakan individu mencapai tujuan (goal) disebut locomotion. bukan skill yang dipelajari. yang cenderung dipersepsikan oleh manusia sebagai figure and ground.Konsep utama Lewin adalah Life Space. yaitu lapangan psikologis tempat individu berada dan bergerak.

bahwa perilaku terarah pada tujuan. Oleh karena itu. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah. Apabila individu mengalami proses belajar. Contoh: perubahan nada tidak akan merubah persepsi tentang melodi. Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning). Dalam proses pembelajaran. bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya. Bila figure dan latar bersifat samar-samar. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa. Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain : a. seseorang dapat memiliki cara pandang baru terhadap suatu problem. terjadi reorganisasi dalam perceptual fieldnya. guru hendaknya menyadari tujuan 70 . tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. Pengalaman tilikan (insight). c. kebermaknaan unsurunsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons. Setelah proses belajar terjadi. khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. b. Perilaku bertujuan (pusposive behavior).sebagainya membedakan figure dari latar belakang.  Principle of Isomorphism: Organisasi berdasarkan konteks. Aplikasi prinsip Gestalt Proses belajar adalah fenomena kognitif. makaakan terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figure.

individu mampu menerapkannya pada problem sejenis tanpa perlu melalui proses trial-error lagi. Prinsip ruang hidup (life space). guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya. Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. ditemukan oleh Koehler dalam eksperimen yang sistematis. yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik. Menurut pandangan Gestalt. jejak ingatan ini akan berubah pula sejalan dengan prinsip-prinsip organisasional terhadap obyek. Konsep insight ini adalah fenomena penting dalam belajar. Setelah adanya pengalaman insight. Oleh karena itu. Penerapan Prinsip of Good 71 . Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi).  Memory Hasil persepsi terhadap obyek meninggalkan jejak ingatan. Transfer dalam Belajar. e. transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat. Oleh karena itu. Dengan berjalannya waktu. bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. d.sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya.  Insight Pemecahan masalah secara jitu yang muncul setelah adanya proses pengujian berbagai dugaan/kemungkinan.

Demonstrasinya mengenai peranan latar belakang dan organisasinya terhadap proses-proses yang diamati secara fenomenal demikian meyakinkan sehingga boleh dikatakan tidak dapat di bantah. sosial dan sebagainya 2. Keseluruhan ini memberikan beberapa prinsip belajar yang penting. Manusia bereaksi dengan lingkungannya secara keseluruhan. fenomena ini juga menjelaskan pengaruh gosip/rumor. Ada beberapa hal yang patut dicatat sebagai implikasi dari aliran Gestalt.Form seringkali muncul dan terbukti secara eksperimental.  Pandangan Gestalt menyempurnakan aliran behaviorisme dengan menyumbangkan ide untuk menggali proses belajar kognitif.dan problem solving beroperasi. berfokus pada higher mental process. emosional. antara lain : 1. Adanya perceptual field diinterpretasikan menjadi lapangan kognitif dimana proses-proses mental seperti persepsi. insight. namun tetap dapat mempertahankan aspek ilmiah dan empirisnya. Psikologi Gestalt bermula pada lapangan pengamatan (persepsi) dan mencapai sukses yang terbesar juga dalam lapangan ini. yang selama ini dihindari karena abstrak. Tokoh: Tolman dan Koehler. Secara sosial. Implikasi Gestalt  Pendekatan fenomenologis menjadi salah satu pendekatan yang eksis di psikologi dan dengan pendekatan ini para tokoh Gestalt menunjukkan bahwa studi psikologi dapat mempelajari higher mental process. 72 . tetapi juga secara fisik. tidak hanya secara intelektual. Belajar adalah penyesuaian diri dengan lingkungan.

Jadi harus memahami apa masalahnya dan juga harus dapat merumuskan.3. Teori medan ini mengibaratkan pengalaman manusia sebagai lagu atau melodi yang lebih daripada kumpulan not. 6. bukan ibarat suatu bejana yang diisi. demikian pula pengalaman manusia tidak dapat dipersepsi sebagai sesuatu yang terisolasi dari lingkungannya. apabila tercapai kematangan untuk memperoleh insight. Kemudian bagaimana seseorang itu dapat memecahkan masalah menurut J. 7. membuat laporan atau membuat sesuatu dengan hasil pemecahan soal itu. Tidak mungkin ada belajar tanpa ada kemauan untuk belajar. 2. motivasi memberi dorongan yang mengerakan seluruh organisme. 4. Manusia berkembang sebagai keseluruhan sejak dari kecil sampai dewasa. Hal ini nampaknya juga relevan dengan konsep teori belajar yang diawali dengan suatu pengamatan. 5. Menilai dan mencoba usaha pembuktian hipotesa dengan keteranganketerangan yang diperoleh. sebagai suatu jalan yang mungkin memberi arah pemecahan masalah. Belajar sangat menguntungkan untuk kegiatan memecahkan masalah. Mengumpulkan data atau informasi. Dewey ada 5 upaya pemecahannya yakni: 1. 3. dengan bacaan atau sumber-sumber lain. 5. Belajar hanya berhasil. Dengan 73 . lengkap dengan segala aspek-aspeknya. 4. Belajar merupakan suatu proses bila seseorang itu aktif. Mengambil kesimpulan. Belajar akan berhasil kalau ada tujuan. Realisasi adanya masalah. 8. Belajar memecahkan masalah diperlukan suatu pengamatan secara cermat dan lengkap. Mengajukan hipotesa. Belajar adalah perkembangan kearah diferensiasi ynag lebih luas.

lambat laun terjadi proses diferensiasi. Edward lee thorndike meski secara teknis seorang fungsionalis. dan mendapatkan gelar PhD-nya tahun 1898. Ateacher’s Word Book (1921). Thorndike (1874-1949) mendapat gelar sarjananya dari Wesleyan University di Connecticut pada tahun 1895. anjing. Thorndike berprofesi sebagai seorang pendidik dan psikolog yang berkebangsaan Amerika.kata lain berbeda dengan teori asosiasi maka toeri medan ini melihat makna dari suatu fenomena yang relatif terhadap lingkungannya . Dan dia menerbitkan suatu buku yang berjudul ―Animal intelligence. Buku ini yang merupakan hasil penelitian Thorndike terhadap tingkah beberapa jenis hewan seperti kucing. An experimental study of associationprocess in Animal”. G. kemudian dia tinggal dan mengajar di Colombia sampai pension pada tahun 1940. S2 dari Harvard tahun 1896 dan meraih gelar doktor di Columbia tahun 1898. dia mengikuti kelasnya Williyams James dan merekapun cepat menjadi akrab. ketika disana.yang mencerminkan prinsip dasar dari proses belajar yang dianut oleh Thorndike yaitu bahwa dasar dari belajar (learning) tidak laian 74 . Dengan memahami bagian / detail. TEORI THORNDIKE Biografi Edward Lee Thorndike. dan Human Nature and The Social Order (1940). Belajar bukan merupakan penjumalahan (aditif).dia menerima bea siswa di Colombia. Lulus S1 dari Universitas Wesleyen tahun 1895. Animal Intelligence (1911). dan master dari Hardvard pada tahun 1897. sebaliknya belajar mulai dengan mempersepsi keseluruhan. Mental and social Measurements (1904). maka persepsi awal akan keseluruhan objek yang semula masih agak kabur menjadi semakin jelas. Buku-buku yang ditulisnya antara lain Educational Psychology (1903). yakni menangkap bagian bagian dan detail suatu objek pengalaman. dan burung.Your City (1939). namun ia telah membentuk tahapan behaviorisme Rusia dalam versi Amerika.

Pada mulanya. Teori Edward Lee Thorndike. Thorndike mendasarkan teorinya atas hasil-hasil penelitiannya terhadap tingkah laku beberapa binatang antara lain kucing. organisme sudah tahu tingkah laku mana yang harus di keleluarkan nya untuk memecahkan masalah. dalam teori S-R di katakana bahwa dalam proses belajar. Sejak itu. pendidikan dan pengajaran di amerika serikat di dominasi oleh pengaruh dari Thorndike (1874-1949) teori belajar Thorndike di sebut ― Connectionism‖ karena belajar merupakan proses pembentukan koneksi-koneksi antara stimulus dan respon. mencakar dan sebagainya sampai suatu saat secara kebetulan ia menginjak suatu pedal dalam kandang itu sehingga kandang itu terbuka. dan tingkah laku anak-anak dan orang dewasa. Seekor kucing misalnya.sebenaranya adalah asosiasi. dalam hal ini objek mencoba berbagai cara bereaksi sehingga menemukan keberhasilan dalam membuat koneksi sesuatu reaksi dengan stimulasinya. Teori ini disebutdengan teori S-R. pertama kali organisme (Hewan. berjalan. Objek penelitian di hadapkan kepada situasi baru yang belum dikenal dan membiarkan objek melakukan berbagai pada aktivitas untuk merespon situasi itu. yang di masukkan dalam kandang yang terkunci akan bergerak. 75 . Kalau organisme berada dalam suatu situasi yang mengandung masalah. maka organisme itu akan mengeluarkan serentakan tingkah laku dari kumpulan tingkah laku yang ada padanya untuk memecahkan masalah itu. Teori ini sering juga disebut ―Trial and error‖ dlam rangkan menilai respon yang terdapat bagi stimulus tertentu. meloncat. Ia mengasosiasikan suatu masalah tertentu dengan suatu tingkah laku tertentu. Orang) belajar dengan cara coba salah (Trial end error). Berdasarkan pengalaman itulah . kucing akan langsung menginjak pedal kalau ia dimasukkan dalam kandag yang sama. suatu stimulum akan menimbulkan suatu respon tertentu. maka pada saat menghadai masalah yang serupa.

Ciri-ciri belajar dengan trial and error : 1. ada berbagai respon terhadap situasi 3. maka tindakan 76 . jika suatu respon yang diberikan oleh seseorang terhadap suatu stimulus adalah benar dan ia mengetahuinya. Hukum ini dapat juga diartikan. Hukum-hukum yang digunakan Edward L. Hukum kesiapan (Law of Readiness) : adanya kematangan fisiologis untuk proses belajar tertentu. Hukum latihan (law of exercise). Jadi. maka ikatan itu akan terbentuk semakin kuat. ternyata jawabannya benar. Hal ini berarti (idealnya). ada aliminasi respon-respon yang gagal atau salah 4. misalnya kesiapan belajar membaca.T 1. setelah ia kerjakan. Isi teori ini sangat berorientasi pada fisiologis 2. suatu tindakan yang diikuti akibat yang menyenangkan. ada kemajuan reaksi-reaksi mencapai tujuan dari penelitiannya itu. maka ia merasa senang/puas dan akibatnya antara soal dan jawabannya yang benar itu akan kuat tersimpan dalam ingatannya. Interpretasi dari hukum ini adalah semakin sering suatu pengetahuan—yang telah terbentuk akibat terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon—dilatih (digunakan). Semakin sering suatu materi pelajaran diulangi maka materi pelajaran tersebut akan semakin kuat tersimpan dalam ingatan (memori). yaitu apabila asosiasi yang terbentuk antara stimulus dan respon diikuti oleh suatu kepuasan maka asosiasi akan semakin meningkat. hukum ini menunjukkan prinsip utama belajar adalah pengulangan. maka ikatan tersebut akan semakin kuat. Hukum akibat (law of effect). maka kepuasan akan tercapai dan asosiasi akan diperkuat. Ada motif pendorong aktivitas 2. 3. yaitu apabila ikatan antara stimulus dan respon lebih sering terjadi. Konkretnya adalah sebagai berikut: Misalkan seorang siswa diminta untuk menyelesaikan suatu soal matematika.

setiap kemampuan harus dilatih secara efektif dan dikaitkan dengan kemampuan lain. Misalnya.tersebut cenderung akan diulangi pada waktu yang lain. Dengan demikian kemampuan mengerjakan operasi aritmetika tersebut menjadi mantap dalam pikiran siswa. Selanjutnya. Sebaliknya. Namun perlu diingat. pengurangan. haruslah dilatih terus dengan mengerjakan soal-soal yang berikaitan dengan operasi aritmetik. bahwa hukuman yang diberikan guru atas pekerjaan siswa justru membuat siswa menjadi malas belajar dan bahkan membenci pelajaran matematika. dapat disimpulkan bahwa transfer belajar dapat tercapai dengan sering melakukan latihan. Konsep ini maksudnya adalah penggunaan pengetahuan yang telah dimiliki siswa untuk menyelesaikan suatu masalah baru. tampak bahwa hukum akibat tersebut ada hubungannya dengan pengaruh ganjaran dan hukuman. 77 . dan pembagian) yang telah dimiliki siswa. Jadi. sering terjadi. Sedangkan hukuman yang diberikan guru atas pekerjaan siswa (misalnya celaan guru terhadap hasil pekerjaan matematika siswa) menyebakan siswa tidak lagi mengulangi kesalahannya. Unsur-unsur yang identik itu saling berasosiasi sehingga memungkinkan masalah yang dihadapi dapat diselesaikan. Selain hukum-hukum di atas. kemapuan melakukan operasi aritmetik (penjumlahan. Dalam hal ini. ada unsur-unsur dalam masalah itu yang identik dengan unsur-unsur pengetahuan yang telah dimiliki. maka tindakan tersebut cenderung akan tidak diulangi pada waktu yang lain. perkalian. suatu tindakan yang diikuti akibat yang tidak menyenangkan. Unsur-unsur yang saling berasosiasi itu membentuk satu ikatan sehingga menggambarkan suatu kemampuan. Ganjaran yang diberikan guru kepada pekerjaan siswa (misalnya pujian guru terhadap siswa yang dapat menyelesaikan soal matematika dengan baik) menyebabkan peserta didik ingin terus melakukan kegiatan serupa. Thorndike juga mengemukakan konsep transfer belajar yang disebutnya transfer of training. karena di dalam setiap masalah.

Situasi-situasi yang sama jangan diindahkan sekiranya memutuskan hubungan tersebut. Mengajar bukanlah mengharapkan murid tahu apa yang diajarkan. tahu apa yang hendak diajarkan artinya tahu materi apa yang harus diberikan.  Buat hubungan sedemikian rupa sehingga menghasilkan perbuatan nyata dari peserta didik  Bila hendak menciptakan hubungan tertentu jangan membuat hubunganhubungan lain yang sejenis  Ciptakan suasana belajar sedemikian rupa sehingga dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari 78 . Beberapa aturan yang dibuat Thorndike berhubungan dengan pengajaran:  Perhatikan situasi peserta didik  Perhatikan respons yang diharapkan dari situasi tersebut  Ciptakan hubungan respons tersebut terjadi dengan sengaja. respons yang akan diharapkan dan tahu kapan ―hadiah‖ selayaknya diberikan kepada peserta didik. jangan mengharapkan hubungan dengan sendirinya.Aplikasi teori Thorndike dalam dunia pendidikan dan pengajaran Aplikasi Teori Thorndike dalam dunia pendidikan dan pengajaran Menurut Thorndike praktek pendidikan harus dipelajari secara ilmiah dan praktek pendidikan harus dihubungkan dengan proses belajar. Mengajar yang baik adalah : tahu tujuan pendidikan.

79 .

.. 3.3  .3 /. / /.82-:.8 4-0 4-0 9/.3 2.3 05... 202-07. .   ./.5.-.30--.25: 203008.2 80-.7. -0757  3. 50347.7.9.2.5.:.3 9. /. 203072. 80 025.3 5480/:7 54909 /0/:91  3.7: 8.5 :.2.7: 9. /2 808047.8472. 31472.8 /. 90.35:.9  02:/.947 1.8.7: .07-.  3.3 -.3 /. :.3.7:203 9. 80-.8 54909 /0/:91 .2 9. 202:33. 8:.947 1.2.8 /.3  /.3. 8:/.7. .424/. /80-:9 5074/0 4507.3.3 :-:3.38:3 203.9 -0757 42-3.3 .3 -.7 0025.3 . -03/. /.3 2.9.. 907.  909./.3 57480/:7 8047.7 /. 574808 203897:9:7.947 907803/7 .947 9: 803.8.7 5072-..8: .8.8. /.9 5074/0 50702-. 2.8 /. 3 2../  82. // 90.047. 203:: 503008.9: 2.3 5. !074/0 507.3. 2039.3 /03.38. :39: 203.424/. 9072.25: 203:3.5.3 897:9:7 2039.8 /.342508 /. 8:/..3 /03.3 :-:3. 508079.3 02-.8 1.8 90.30--./.9: 203:3.8 . 5074/0 3 8:/.3 .8. .5.7  80 5.3 31472.3 /. /. 0257  .7:203 .3.3 31472...3.7:  8..3 -039: -039: -::7 8.  3. .9 2034507..7 9: 9/..842.3 503..39..3 05..3 .:3  !074/0 3 207:5.8 43709  43805 43807./.3. 5..9 :-:3.3 8:/.9 ..3 /0138  /0138 .5:3 ../ 503897:9:7. 9073.5.5 90793 /./  .2 897:9:7 2039.5.793.33.8 /. 31472.  .3 50304254.8 /..3 39009:.5 5074/0 4507.3 5745488 5745488 4 1472.-897./  -0.9 20384./03.3 :-:3. 8:/...2.8 1472.3 / .3 -.9.3 02-.35.3.9..3 39009:. /. 508079. .2.3..25: 20.3 503. 2.3  3.../.3 203:3. . /.3 -..2. -.8 .9. .5 907.3.3 207:5.3 503.-. 574808 203/.: 20342-3...3 ..8. /./..3. 3 /80-:9 :.8.3 203:3.3. .5.3 . 2.3 -03/.3 503.3 1.25: 203:3.9: /03.3 2:. 2.3 503..  !074/0 4507.7./.. 907.  9..3 9..8.8.947  ./.. 2.7 5.9. 4-0 4-0 ./. 31472. 80503:3./.

.. 2025:3.3 907.703./.7..2. 503897:9:7.3 :..//90780-:9 203.  3 -07.8  !0702-.82.3.3 90. 4391 .1.3 80 025.9 .339009:. 97...  !03..3 02-. -039: 97..9.3 .. /. /2 /.947-07:9 .7 80-0:23.79508079.3.33.508:29. // 9: 203079 -.9 /03.// 9: /-07. 574808 ./.3 207:5. ..3 /2.7:9:0 /.79907.3 88902 8.3/ /.3.2897:9:7 4391 .397.. /:./3. 9: :.2 50302-.7:409.31472.3 4-0-.3 8:/. -07./3.424/.  02.9.50:2 9:5:3 207:5.3 90.8:/ . /50. /2 40508079.3 -039: -039: .9:/503.508:2  !08079.9:.8  !0789.1  !03.//.2.3 ./  3-07. 2.79 907.3 58448 /.7 49.2./..3 574808 5079:2-:.8-.7:9039.3 80/9 -07-0/. /03.3 39009:.3 81.

7..3/..3 4-0 4-0 / 3:3.2..3.7503092-.9.3 0/:.3 897:9:7 43913. 2.3.424/.3 3/.3 07..  !03092-.947 9: . 4507..3 574808 . .-9.9. /47.902. . 0.3 47.3447/3.3 06:-7../: /.8/.3 18 .3 9: 897:9:72039. -.  503.3203:7:9503.7:8 . 5079:.3 4. 207:5. .2.3203.-0702-.8/.7: /..3 -07:5. .3 5079.9 503.5 3/. .3 3907.3 /9.47.8 1472.3   09.82.7. .2 897:9:7 2039.2.3 20.09 507. 50702-.:/03.3 -0702-.3.39.33.8 809./.3.3 31472.3 -0702-.3.3 89.25.35.8 / /.3.943  207:5.33:3. .3 02-../.950393 -.3 -07:5.. 8.3 2039.3.8 $0-.. .33.  -  %7. 3907.2.9: 5074/005074/0-0757.5.8 -. 1.2.347.3/.3.3  .2. 80-.3828 84.3 / /.9../2.9.2 57. .3.3 /.3.3 /. 808047.30-93    .3 9..2. ..3 /03.8 /.  503.7 8.8. ..  !.3 2039. 8092-.. 0.8503/.38.33..: 574808..7 808047.9: .-. 9/././: /03.9/.3.

339009:.83.902./.5.3.3 8:/.7 3:3. -0:2 203079-.9./ /..3 /.3.907 2.907 90780-:9  4394  2085:3 .72438  .9. 90747.:3 8:/.2 9. .3 /50. -.5.380907:83.3   .3 20.9: -03/./.3 -0:2 202..3 43805 2.3. -03/.5 /.3.3 3 .20.7  03:7:9 5.25.3.3 2:/.8..39: 4. .3..38.3 -. ..3 ::2 00.2 ::2 00.5 39009:.3 8:/..3.907 .3  .7  8..3 -.2 ::2 00.9 2039:3 .  3.3 203079 -.3.703.3.: /:-.. /.3 4507.5 2085:3 09.3  9.3 -..79039.5 :39: 203072. . ::2 00..3 . 9:  .793.7... /..9.: 503.7  03:7:9 #:801103/   :39: /.: 439.92030792. 202. .9 203. -07-0/.. .9. 50.902.. 574808 503092-.3/50.3 5.7.3.308:9.3 /.3  80-.3  909.2 -0. :39: 203072..3 03/.-07:9  ::200.5 203072.5 -:97 -:97 9: 907/....3. 8. . . .3  /.!74808 503092-..  0.3. /203079  2.7:8 203.9 ...3  507-0/.3.3. /-07.3.:3  3./.2 #:801103/   .3 -.  $02039. 203/. 03.3.2 ::2 00..902.3 /80-:9 /03. -0/.3.3..3 8:/..09 /.. 2. -0:2 .3 909. 907.7 03..7.5./ .    909. 907.3. .7:8 8:/.907 90780-:9  ...3 9/.3 -. /.3.3.3 2../.3. 2.9: /...3 ..5.9072.5. 84. 8.3.7 .3 -0. 2025:3.3 .3.902.2 50702-.3.  !0702-. 8:../. 09.3-.5.. .8.3 /..9.3 .3 /8. 5.9 507-0/. ./.3. 808047.9:3.3 203/. /03..3 90.7 2.7. .9.3.3 :. 202.3 43805 -. 2.2.3..5 /.3..9.2..7:8-0. 8. 8:/. -07:2:7  9.

3 -.3 8.  3.9 5078.3 .3 /.7 /:.2.  .3 .9 20.2.3.3-.: ./ 9/. .380-.3  9.3.2 ::2 00.50. 202.3 -07-0/. 2085:3 /:-. 8. . .3 .9..93..2.305.3  $0/.: /53/. 202.73.3.9.3 ..3 5..2...3  907:9../.3.3 /..3 20250740 08:9.9 . 503::7.303..9 .3.3-:..3 -0:2 202.3..3 .3 .. .3 05.3 -0:2 202.3 203.3. /:..3 -.9: /7039.8 9:3 . .  2085:3 .3.5.34 .9: 8:/:9 5.9. -039:3.9.505.3 572. :8..3 203.3.2.3.3.9 202-0/./.3 8:/.:3   ::200.8 9.380-.38.5.8 . -08..3 4507.3 ..3 -0:2 202.3 2.3.3.  $0/. 90780-:9 9.3-.3.  !. 03.3 .3..9. /8:7: 203039:.2.7 9: /9:.  .7 /.:3   ::200.:8./.3..907 .3 203.:3  3. 203.  43943. :9.3 203. 2.3 2. :2:23.3 9.907  9.3 8.8 503:2..3.3.3 909.3 5..9.3!.3 /.7 43805 503::7.9.9.75. 5.5 2085:3 9.: -.9.3..3 8./.3.  3...3.3 03.9..2 ::2 00... -.5 8. .. -0.3 -. 5.3.907.3. .3 9.3 909.3 -.3/.3 4507...2 ::2 00. 202.3 80/. .3 5.  ::2 00. /03:3.3.7 8.. /. 9/. .3..5 -. 5.907 -0:2 /.3.. .3 /. 9: /03:3.3 -03/... 809.3..3 -0:2 202.: -.5  .3.3 -. .3 2.: .7.3. /.7 9.9.3 5.907 5.-.3 08:9. 2.8.3.3  203.3 /. -08.. /:.2.3 -. 8..3 /.3 8:/. 9...2 ::2 00.5.:3  3.33./ 9/.9:3./5.3 90..2..   .3 . .3.32... 8.907.9..2 20250.3 2.3 8..2. .3 -.2::2 00.: 507-0/. .3./3. 9025.3/. .3.2 ::2 00.2 ::2 00..9:3.3 .

.7 -..: 5032-.3 503: /03.. 809..3  3. /5.3 -0:2 202./...3 /9:9:5 8:.2 ::2 00.3 8 -03/..3 90780-.3 .:8.9:/.3 /9:9:5  50780 437:03 .3.73   .: -0. ..3 /09.9 8:.8:.:3   ::200..3 :.8. :.9 8090.3 -07.07.3 -.3.8.3   ::200..:3  ::2 00..9.07. :. -07.8 -.07./-.8 . .8. :2:23. :2:23.3..:7:8 ::200.3 -07259. /03. .8 /.3 8 5.3 ::2 00.8. !.:3  3.8 /.307.. -078..3..  8. .3 8:/. -03/.3.3 08:9./5.3 :.9 203. 90780-:9 8.... 202.  2..3 -.3 :.77:2:8:.. .  $0/.2-. 9/. 90780-:9 -07-0/. .2.8 .5...: 2:33 80-0:23.3 -.2../...3.3 /9:9:5 40  50780 437:03 . -07259  0- :.$  2..25. :8..3 -03/.9   9./.9  /.3. .2 -.3.:3 .39/..:3  ::200.3  . .3.7 9.7 .7 :.8 /.9. . /:-.9: -.3 /9:25. .3 -0.5 8. .3..3 /09.3.7 5. 809.3../.3 /.. 2085:3 09.  &39: ::2 00. .3 -0:2 202./..: -0..9: -03/.7    9..8  9.  /.35.2 ::2 00.:3  ::2 ..9.80-.3 /03.9.2 ::2 00.2 ::2 00.3 5.3 ..3. ..809.3.3/9:7:3.2 .8507805.3 :...9: -03/.3. .03/07:3 203..3 8:.:3  ::2 00.8:.3 909. 5./... 8:.2 ::2 00.3.2.3-.9: 5.07.3 -07.9.3:9 /.-0:2 /5./.38  9./.3 202.240 .2 20302:....3.7    9.-07:8.303.3 /2.3 8 203.7  9.3 909.33.:2:23.3 8:. .9: -03/. ..8 .3 202..9.809.-03/. .3 .  !.9./.7 9/.703.3.5.38 .3.. :8.3/..7. /..3 202...37:2:8 :.3:.5 2085:3 -039:  9025..7 /2..

8.9:.28 8090..2 .339075709.34007   /.3 202 :-:3.3/.9. ..3 -./.7:7903  03 .7 8038.  03.3 503/..9.3.3  %047 089.3 .38..38038.: 50347.3 574808 18 909.30.3 4254303 4254303 8038.9 :. 203:7.9  089.98 203.9/.3 /3...20. 80-:.3 .3 /03./. 2030:7.  O . /03..2.5.5574808 2039./. 8.2.:.3 944 .9 .2.2.8 /.3.. 8.3.2.9  %.3 203. !748083907.39.7.3. 9047 .3 502.-:.80. 8.3 4007 /.3089..3 .8 .3:79411.7 5.  43805 503933.5 9047 897:9:7.9 203.3 43805 3  0790207 203:3: 5.  ..3 411.31:79 -078.820  %047 089.88903/8./.3.//49.73.2.3    ./.3/02.8. 8047.03/07:3 -07:5.5748081880-. 4-0 89.3:7.3 :07-:7  078.3.32.3.8 203.5.3  54.35073.35503420343  O :7903    !.9 /.3:8.3 502-.3 2030.8.:5:3 0275..9 -0745488 907.  5 503420343 -0707.3 8.210/58.3 8. /2:3.3 08507203 .44/.3/. 203039.38.5030./ 08.0790207    0.. :050  8047.9 9: 8:/.9 :3/9..:.3203:3:5./.   20.33 . 574808 39075709.3 07..7 / &3./ 7.358448808047..341.84-091.9072.8  03. /03.9: 83.3202:33. 203.3 9039. .3 /.5.3 /0 089.0789 41 7.3 574808 5078058 20./.203.8.. % #$%% %44089..:3   .9 ./-./.:.

.3 /50.3/ 74:3/  0 .8 -07/.7. 207.7:2.3..3 8:/. /80-:94.3 2039. 9: 02.3 503.9.3 3:3.8. 5.424943  !7385/.3.50 41 !7429 -.2.03/07:3.8..3 4. :38:7 :38:7 .9:.10/  $09. 1:70 . O !73.50 41 -0.9   3907./. O !73.8.10$5.3 -072.43805:9.3/507805880-.0 $09 7. 809 .8./. .: 3/.7.3..2../.907-039:80-0:23.39.3 2./: /.5..8-07/.9::.7089.3 -07. 80-. 1.2-:3. /.9: 9079039:  07.9:2..3:8. :38:7 :38:7 -/.3 8..0 .3083.5.9.9.50 41 $2.7 !0347.10/20247.3 ..9 3/.  -:.3 088 /.3.2.7./: -07/...3 -07/0.504148:70..3 40 2.059:..3/5.8 .3 /80-:980-.9..8.3.8:.33/./.3584483907/7/.3/.5507.9: 1:70.3/-039:     !7385 5738550347.25:.3503.33202503..: 3/.8.7.38.2.3 1:38 -.3./:-07.../:203.:-039:9079039:  O !73./.5.79 -...7.9.5.50414393:9 7.9. .703.3 -.3 584483.9:-039:9079039:  O !73.2./.3584489025.3 507..3 5078058 3 207:5.38. .507.38.2..3 80-..2 .03/07:3/5078058.71./: 1   %:. 5844 .8./.8 :9.3/.8.34-0 58448 . 58448 .3.059:.3 802:.3 O !73.38.9.38./.354.3 8 .3:8.3 /.38.3 507.2.2-/.:5:37:..3 203039:.3-0707.03.

3 /.5 -/.!73.03.2.3 8:.504144/472-.03/07:3 .73.9.38:.3   .47.5 -.3.9: 1:70 -039:  /.: 503.2.9..9: 54.9: 203.9 /-.3.3 54943. ..25.9..3 2038 04843.9./.3 503.5  O !73.3 !03.7 -0.5.3 .3/ 74:3/ . /:. 809.3 . 4-0 .3 9/..50 41 :70 .3 .9:4-0805079::7.

3..3 20303.7.7  2.3 9.3 .3  !07./.3.9.8-07/..3 0..3 907.  $090..3  . 5.3 2..2.: 907.3 .5.3 502-039:.3 50393 /.3. 0907.. 50780589039.7 907.-.9 !74808 -0. 3/..343908  5. 20.8..3.3204/  O !73.8 2.7 . 1:70 /.3.7..3 -07.2.3 . 9/. 1034203..3 01091 808:.. .3 .33...3 01091 .3  03/.9 ..3.9.: -:.3 .7.79::.2 574808 502-0.857385089..  0.7 -0.3  .38..8 2.9. 907.3 9.. // 03/./ 0.9.0 -0.../. 507../..3 3.9: .9: :7:03/.3 ..3   .9.3-072...7..2 /0391./ ..25:.: -079::..5.3 .  ..3. 9::. 508079..9..3 5:8548.  !03.3 907.3 50302-.39.3.7.7. // 20303.187.7.059:./. 508079. /.3 8:.9: :38:7 ..3 503.89047089.-:7.3 .9 202 ...3 . .3 507. 9::.7  907.3/..7 -0781..3 1:70  4394 507:-.3 0. !74808 502-0.2 0.3:38:7 :38:7/.33.7: 907.:  .7 8.33. .3 5020.. .5 8:.331:0.3/03. :-:3../.3 /50.2 507. 202 2.:50789.9 8.2 574808 502-0.3.2 507. 574808 -0.8.9/....8 /.9 :-:3.8 /.203..7.7 /.  !07.47  -. 4391  5.3.25:..9073. 10/3./: 203.3 2.3 207:-.3. /.91 5020.3 /.-. 9.7.3 574808 0/:5.3 48 /03..9: 574-02  5./.9:4-0. .38./ 7047.3.8./  808047.2574808502-0.3 2020.2. 3 8.5.39.3 203:3.39::.3 /50.7  .3.3 389  -.3 /..9.28:.  :8:83. 5.7 .3 1:70 /.  ..9: 02.3 9.5.703.9 50393 /.504184247582 7.0907.3 892::8 7085438  909.3:38:7 :38:7 .733 0-072.3 -.2 574808 -0.3.7 508079.  -  !02-0.333/.. 202-0/.3./03.7.333/.3.80-.. // 202 02.

-..3 /. /..289:.3./ .8 .3089.3.8 :39: 02:/.33.8. 507..3 /2.9..8  %7.8 .33.3 03:7:95.9.3 /.3 0307.3 905.303/.9  :// 2030.3508079...7 907.  0 .3/.3 202-.3 .3 503079....3 02:/.:/.3/03.38107 -0.0  -.8 502-0.3 /:3.5.9:5023/.3 203:8:3 09039:..39: 508079.9. 574808 503:.2 89:. 503.8 /. // /.8 431:7..30/:5. .8 9079039: :39: 02:/. .: 8090.907 .3 503933. 9:  :7: 03/.3 907.9.3 /.3.2 89:.3  0 .9 202-..7.3 /.8 503.9: 50784.389:.703.7.907 .3 09039:.39: 508079.3.3 4-0 /.3 /:5 10 85...5 57385 57385 544 /.8.. .8.3 57385 57385 544 . 8:8:3.3.8.3.8 /.2 202. 203.3.38107/.7.2 502-0.354..3 2.8..3 2:3..7 8:.7.3 -07-..8.3 ./ /03.9: 431:7. // :39: 203:.2020907..3 2005.  O 389 !020.5.3 /..2 2020.  /  !7385 7:. 80.3 2.39079039:089:..7 8:. 57385 57385 544 /. .3.343/8 3:3. // 90.3 /.3 :.//  0  %7..3 20302:./..9 97. 9: .7.3 /03.2 9... 508079.7./.3..3 3:3.. /:..8.9.80-./: 202 0907.507.. -07.7 .3 /..7.: 3/.38107 -0.20.29::..703..7.3 203025. /.8/.5.9. 9:  2.3 :2:2 0307...2 89:. 54.7 2.3/.

9:  0....50393 /. 3. 503..3 0./.9..2.3  03.5.9.388902.3.3!73854144/   .3 /03.25:20307. .3 3 .3 -07.208507203./..2-0.5.3  $090.843. . 5:.907.7 /902:.35.:57480897.02:33../.1034203.././.5.33.98  O 0247 . 80.5 4-0 2033.3 389 3/.507: 20.3 -07:-. 3.54-0 !0307.38..3404007/. 438053893.8 5078058 907.33. 07747.3 57385 5738547.574-02800389./:2.

: /.3:. $0.7.7:485.848..8. 2:3.3503.472 8073.3 907-:9 80.  1034203..2030. 085072039.7.

 20303.5.3/.57385-0.2.. 080:7:. 80./.9. 574808 -0.5.5 :.3 /0 :39: 203.3025783.7.38. 80. -40 /.2.3.50308:.. 8:808 ..5.7.3 503/0.3 3:3..5...088  /.8 /03.3 203:2-.9 203:3:.5.33.3.9 20250.  3.9 203025:73.3-074507. 574.3 -0.3574-0284.. 507./.9: 503/0.8 %44%42.3 088 / 5844 /.   080:7:./.7.3 /.9.3 80-..3 3  0243897.5 574808 574808 .83.2:3 909.3 503.3 .907.25.7 4391  -0714:8 5. 1034203. 10/ /39075709.  O !.9 -072:.83. .2 . 80.9 2025079.3 /.8502.  848.2..3 9/.3 .3089.3.703..-897.-0-07.3 803.33202-07.3.35.3. 89:/ 5844 /.7 07 2039.5.... 944 089.350393 ...3:8.33:3./ 8.3-0-07.9  25.3 5078058  /..7.9 O !03/0. 574808 574808 2039.980-.7.8/.9.   0.3 4391 /2. /....3 203.39.3   .3 3 5. 18  024843.059:.3 .3 80.3 089. /.3/7/03.7. .5 /.3. 8.5.3 20.8.3 203.3 47.3  9/..7.9/-.088  .7 :.  909.7.9.3    . 5.3 -.5..39.9:9/. /.7.3 1034203448 203.5.3.7 -0. 507.9 80./.3.7. 574. .7:247  /.3. 3 /3/./ . 805079 5078058  389 /. /02.3 907-08.7 . .3 /03.3 .3....3.47820 /03.9.7.9.3/.34007  !844 089. -070. 39009:. 07 2039./.9.8089.3.

83.: 8:2-07 8:2-07 ..3 5:..3 :39: 20250740 389    %/.3.8.8...9::.3 /03./.9..: .9.2..8 202-07/4743.3. 502-:9.320307.9.9:.8.3 43805 9047 -0.9 .9..3    0.9: 503.3 8:.3 2.78..7207:5. 808047.8  /03.080:7:.    03:25:..5.. ...3   ..8.3-.5.9.2.072.9 808:. 2:33 .2.-.3 3 203-.70.2.3. .3 .3   #0.9: -0.9 /.32.3.3 80.7.9.7 9... 8:.2.3 03.....25.3:8.3 8:.9: 503.547.30.203:7:9 00.3 -.3 -.5/03..3 2020. /507:. 503.3:8..73:3. ../. :8..850 .3    03.3.3 349  /02.384.9/507805880-..7 2020.3 /.3.7  249.:5..8. /.:. 03.5./. 5020./107038.5..75.3 503.:.91 -:.3 0907.3.7 .5.: 202-:....3 0907..3 0- /.2.8..8503.3/50740    03.7..50702-.380-. 3 3.9207:2:8.: 31472.35.390784./.39:.3:8.7:8/. .3:39: 0. 9/.8.98:.8    0..25. 700.3  202-:.  03.3820    0. /03..3/8   0..3 2.3 ..380:7:47..7 ./.32.38:.7..    0.. . -07./.9 2020.3  0.3 2:33 202-07 ..3 . /03.8.: 204/ .0-:. 80-..3.7.9.3 2.2..7..3 9: /.3.3..2.. 02.85020.5020.808047. .7.8.3..7:8202.7.808:..2- 0825:.9.9:574808-.33.3 54908.3 54908../.380.9: /03../.3 :39: -0.380. :.9.5./.9.9:  %047 20/...-0702-..4-.3 203./0. :25:.33./.  80-. 02. .8.3 2.8/.3.3.8  ..  ./.3-07..9 203:39:3.:..3:. 907.3    03.3 . -0.9: .5  02:/.8.3 /.

3-.9..3 2025078058 080:7:.2-.9:4-0503.../.33....3202.:3 907..7 8:.3 .3  .3 503:2.3 03.91907..3../03.370.5-.2.848. -0.2 -.8  .3/.3.7-:. /03..33 20.3 207:5.3 203..3-07-0/.8 2.53:3..9 2./ 574808 /107038.940720/.3/09.7 2:.3.  0./.39047..9 .9:1034203./91 80-.3 ..8:.

0.3 0.9.3  .3 203/. 202-039: 9. -0.5.3/.30.31:3843.25..3 -:7:3 ...088 3 32.7 ..7/442-. .8  3..7 -0.3 2.3..2:3.3 4-0 . /09. /.:9 5.0  3 05072039.3207.9:70.:3   09./802.3 207:5.078 207. 89:/ 41 .7. .208 /.5. 90.7 ./..38.8.8:7020398    32.3:9 40 %473/0 .33  /.3 /.7.8907 /.850309.3 5844 .:3  .47820 #:8.39.7/00%473/0  %473/0 -07574108 80-.5. 20307-9.7 .3 /9:83.1/.:3   /.7&3.93.3 -070-.7 0.7./.5.3207./.-:7203..- /.943574.. 88.9: -.8   % #% # 47.8.3.943.05..0   90.8./.7/ 009473/0 20880..  %473/0    203/.3/ 84.3./ .3 . /.3:2.0789/4330..3203.0789.9.:3   02:/.3 &3. .7 ! 3..3%473/0907.9. 9.  2.  /.3 8:.5038435.:3 $/./.3. ./.07 8 47/ 44  4:79  /.3 -0.. 39003.. / 442-.7/ 5. 9.3   ..3 /:.44    039.. 9.5:3 .  :: 3 ..78.3 802:. 0.:3/. !8. ::8$/.3 57385 /.884. /8. 203:9 0.9 203.-0-07. 7/07   /.0723.7.9.7/9..733  9/.7/4947/4:2-.8 .8080039.7 /.28 ..90.3 503// /.3 080:7:..3/%0$4.2 .3 2070.3 /.3 203.7.0380. .9: -:: .3805079:.  /.593.7080.. 5078058 .:3 :: -:: .9038 8047. 2.7/. 39003.3 -07:/: 32.7 574808 -0.7 /.. . 203072..83. 8047.

3 9: 907-:. /.3/.8..8:39:2070854389:.9...3 . /..2 8:.34-020.3 807:5..9: 50/.3 .  .9: 708543 9079039:  %047 3 /80-:9/03. -07-.2.  .8 ..3 .  $0. 8:.  -07.3 ../. 2.  %047/..3  7.3  2043.2 7.5 93. .4-.3-0:2/03..7 5079.2 9047 $ # / .7./...3.8.3820 -07. %7.89:  /.8:.47..7./. 2:.3 2032-:.3 80-. 5. 8.3708543 %047 38073 :. /80-:9 %7.3 / 2.94308808:.3 203. .25. . .8:.3 .848.. 3 4-0 203.3.: 2.3 93./.: /.9:70...38209:.2.3/ 07747  /...3 /. 708543 .3/:32.33.50/..3892:.: .9... 03/ 07747  .7 207:5.. ..89:. 9079039: /03.8.3/.2.7.9 203.3 / ..  -050309..2 .9: 2./.3.94382  . -0.3. 892::8/.3 574808 502-039:.83.3 -0.9 -...:.3 8:.. /.7:8 / 00:.7.3.  2.7.: -0-07./. -.3 9: 803..5.207.3 28.9.807.3./..  47.3820 0.3.7.8.3 9:.: .2202-:.8 .8 50309.3 202-.3.7:. 9:  07/.2.5. . 8:.7 :25:. :39: 2020.:.3 90473.3 93.3 2./2.38:3 2033..3/.3 907:3.9 / /423.7.3  /.3 9047 $ #  /. 8.3 203.3..3 /. 8.3 907/. ./.8.3 47. .3 :.3807039..8 40 503. .2 .../.: 9079039:  $0047 :...  503//.7.3.3 8:..3 3. .7.8 803.7 %473/0 / 80-:9  4330.9: 892::2 . 0-09:.3820 8:/.9.    .8.9: 8.5....9.. . /.3/. . 9.3/.9 80.7/00%473/0  !. 907. ..39.305.8.: 93.9  203...38.7 /. 5. -070.3-07-.4-.8  8:.3 8:.393.2 . 20302:./..7./.8. 9:  :.703.. 203.3 /0.8.47..3/.8 . .7/03.8-.7: /.3/.8.3.3 503.3 -0707.3 0-07..3 4308 4308 .2574808-0...8/03. .. .3 ./.3 .9: 93.. 892::8 9079039:  %473/0 203/. 2033.3 503. . ..: 47.848.9: 89:.39.80-03.3 2.5.7 %473/0    9047 -0. 2.32030:.7. :39: 2020.7. -3.

3 90780-:9 .3 ./3088   ..:3.3...9: 84.9.8708543 708543.9 907825.9: 05:.9.3.3 90780-:9 .39.18448   ::2 .7/03.7 ::2 3 ../.9: ../..80  ..-03.3 2.9  . :39: 203008.9 /:3.7 .589:..5./.3 2.-.7.3708543 /..902. -03.-.:8.7-0.8...8:..3 8073 8:. 41 #0.3.9.85.:.5..9::.7 .37085430-8073907.207.79079039:  28.3 .2 3.3 9073.3 907-039: .9 .848.3 :.3  2./..-. .3 /:.33.3/:3.3 90..5.9: 892::8 . 02.9:./  ::2 3 203:3:.39.3 907.7. 892::8 /..9: 50309. 41 007. 8 904738....848.32033.3 /507:..3907.5 8:.02./3..9.3..3 802.5.3 40 808047.9.907 50....-07-.2491503/4743.3  $02. 07.3.7....-07:98.7.7.8 70.3.907 50.3. .8 /.7/ %   ::2 08.5.9:708543 .2.3././..9: 2.23./.. 41 0110.8..39:.3 -0.803./ 2.80-.33.3 /-07.9 437093.7 2..3 /.848../.848..9.39.3 708543 /:9 40 8:.-.9.892::8 /./.3..5.3802.   .3 18448 :39: 574808 -0.8   . .-.3 8073 8:.79 /0.20309.3 :.3 57385 :9..9  .3 20247    ::2 .3.8   .388.3/. .9..  8090.8 .3 8:.9 .370.9-0747039.8 .8. -0. 907-039: . ..397.8 .3.750309. /239./.... 892::8 /.38047. 503:.9:  ::2 ::2.708543907..:./.8.7 /.. 802.3907-039:802.3 .. 08..3-07.8203.7 202-.9 907.05:./.9.3. 2.9.9  39075709.3 :.3 802.9. 2. .3/07747   /. 2.3/.

39.7. .3 :.3  2.5..9 .33.79.3   .. .3.93.  ::2 3 /.3  8:.-.-.3 /:9 .3 .-. /. 84.3 /.3 .3 20303.2 3. /.9 :..33.7 9: .3 .5:.8/.9: 93/....9.3 -03. 93/.9 907825.

 :39: 203008.2 2.-.390780-:9.  8:.  02.3.9.3 88.3 84. 20303. 01091 /.3 /-07.3 /.203. 203:.2 57..3 4507. 20302:.3 20..32..3 84..5 2.5 88.9: 93/.-.8  %473/0 :.9. .3.3 /03.8.703.50..3.8 -0.3 8:.9./..33..3.8 5007.3 9.25:.990780-:9.5 /. 5:..3803..3 /80-:93.. 203.3 43805 97.8..9 907:8 /03.3 :7: 907.3 ::2.3202-03.848.3 0.38107 -0.32. -.3  /.79209 503:2..3 20307.  809.5./.3  503:7./. ./  -.302.3 08.8 9: 202-039:8.25:. /..3 /.3 :7: 907../.03/07:3 .::2.9.3 /039 /03..3 9/.202:33.9.3:93.3 /-07.3 2.8.9907.0.3/0399:8.3 ::2 ::2 / .3 .3 88.3 503.  . .8:/3.  $0/.  . 88.7.5:.03/07:3.3  507.3 -.3 /-07.9 /825:.9: 2.3 5.9.2-.:.9.3 02. /2  &38:7 :38:7. :897: 202-:.3 /:9 .8.:.3.3/02.902.3 /.3-07.9/..3 . /2 88.. / /.  .8 5007.9 88..9 203008.3 .3 ..9.5 /.././  /.5 02. . 93/. 84./ 2..38107 -0.3 50309. // 33 907:8 20.25.8 .3 :7: . .3 90./ 2.3  8.8.9.3 .3. :38:7 :38:7 /.9 .38:.34507./.3 :7: .3 508079.7/.3 -07. 2.2.3  ..9  8073 907.  2030-. 28.2:3507: /3.33.3 -.3 $0..7:  .9.:-:3.7. 5007.. 28..3  &38:7 :38:7 .3 .3  .90780-:9 203.3..8 5007.9:.39/. 503:3.:.9.3  $0-.90780-:9 ...9 80.3 /:. .7.3 88..5.3 20307.902.3     .25:.5..5.7.3.79209.79209 03.2 809.3 8.902.3 807:5./:. ..5 . 97.848.3 4507.38107 41 97. ::2...3 90.9:...8 ..3 .7: ./. 9: .-...3 90..7.7 /.  .7:8..7 .9 /8008.3 502-.5../03.3 ..3 :38:7 :38:7 50309.3 -07.3 ::2.:.3 /.35.3 /03.25:.39.3 :7: 05.7:8 /./.3 -.3.3  .8803./. /2 88.3807320.9: .3.. /03.3  2.  2030-.33  43805 3 2.3.:.-.  $0. /03. 97.3 88.388.9:02..3 .

3/.3 .3 80/02.380./.3 9079039: .3503. /.3  !07.5.59.5.3 803.3 03:7:9%473/057.3 .3 9.9 :-:3.2/:3.2 /:3. 9.7.3 -.3 :-:3.3 574808 -0.8 89:.3.5..  .5... .3.3 .. 203.5.:.907.3.3 .: 2.3 7085438 90780-:9 :-:3.780.3 ./-07. -0. /..//  !07./.3 7:5.8.8 .7..3 :-:3..3/.3503//.9%473/0-07:-:3.8 %047 %473/0 /.3 907.8508079.3.3 /.7        .390780-:9   :..3 03..7..89047%473/0/.3 :-:3.9.7.3/-:.503//.3 :-:3.3...3 /.7508079.3 03/.793.9.9 /:3.305. 803.5.3/.3/03.508079. 203.3 /03.3 503...20/:5.389:./.7:8/50. /.3 8:. .  $9:.. 803.5.2.3 8.3 202-:..3.7.5...3.//  0-07.5.: . 03/.3.2.7.3 807.9:7.380038  59.3.3. ./.: 9::..3 203.3 9.9 :-:3.789:.7.3  7085438 .  80.3 /.7 .9.3 2:7/9.3 /03.3 /.7 -:. 503//.3 7:5.7 80/02..90503//.7  03.7:8 /-07..5. 203.9.37085438.3 803/73.3 507-:.7.90 503//./ /03..7:8 /:-:3.: .3 /3/. 202:9:8.8.//  .7.7.7 .3. .5.890780-:9  59.3 5.3 3.3503.357..3 /...9.

             .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful