A.

Teori Ausubel Teori pembelajaran Ausabel merupakan salah satu dari sekian banyaknya teori pembelajaran yang menjadi dasar dalam cooperative learning. David Ausubel adalah seorang ahli psikologi pendidikan. Menurut Ausubel, belajar dapat diklasifikasikan kedalam dua dimensi. Dimensi pertama berhubungan dengan cara informasi atau materi pelajaran itu disajikan kepada siswa melalui penerimaan atau penemuan. Belajar penerimaan yaitu yang menyajikan informasi tersebut dalam bentuk final, sedangkan belajar penemuan yaitu yang mengharuskan siswa untuk menemukan sendiri atau keseluruhan materi yang dipelajari.Selanjutnya dimensi kedua menyangkut bagaimana siswa dapat mengaitkan informasi itu pada struktur kognitif yang telah ada. Jika siswa hanya mencoba menghafalkan informasi baru itu tanpa menghubungkan dengan struktur kognitifnya, maka terjadilah belajar dengan hafalan. Sebaliknya jika siswa menghubungkan atau mengaitkan informasi baru itu dengan struktur kognitifnya maka yang terjadi adalah belajar bermakna. Jadi belajar bermakna terjadi bila pelajar mencoba menghubungkan fenomena baru dengan konsep yang telah ada sebelumnya. Artinya, bahan subjek itu mesti sesuai dengan keterampilan siswa dan mesti relevan dengan struktur kognitif yang dimiliki siswa. Oleh karena itu, subjek mesti dikaitkan dengan konsep-konsep yang sudah dimiliki para siswa, sehingga konsep-konsep baru tersebut benarbenar terserap olehnya. Dengan demikian, faktor intelektual-emosional siswa terlibat dalam kegiatan pembelajaran. Bila konsep yang cocok dengan fenomena baru itu belum ada, maka informasi baru tersebut harus dipelajari secara menghafal. Belajar menghafal ini perlu bila seseorang memperoleh informasi baru dalam dunia pengetahuan yang sama sekali tidak berhubungan dengan apa yang ia ketahui sebelumnya. Ausubel juga mengemukakan bahwa belajar menerima dan belajar menemukan adalah dua hal yang berbeda. Pada belejar menerima, isi pokok yang

1

akan dipelajari diberikan kepada siswa dalam bentuk catatan, belajar tidak melibatkan penemuan, siswa hanya diminta menghayati materi atau

menyatukannya dalam struktur kognitifnya, sehingga tersedia untuk direproduksi atau untuk penggunaan lainnya di masa mendatang. Sedangkan pada belajar menemukan, isi pokok yang akan dipelajari tidak diberikan, tetapi harus ditemukan oleh siswa, kemudian menghayatinya. Belajar menerima dan menemukan masing – masing dapat merupakan hafalan atau bermakna, tergantung pada situasi terjadinya belajar. Yang jelas bahwa belajar hafalan berbeda dengan belajar bermakna.menghafal sebenarnya mendapat informasi yang terisolasi sedemikian hingga siswa tidak dapat mengaitkan informasi yang diperoleh tersebut kedalam struktur kognitifnya. Dari dua dimensi belajar tersebut, terdapat empat kemungkinan tipe belajar, yaitu: a. Belajar menerima yang bermakna Ini terjadi bila informasi yang telah disusun secara logic disajikan kepada siswa dalam bentuk final. Selanjutnya siswa menghubungkan informasi baru tersebut dengan struktur kognitif yang telah ia miliki. b. Belajar penemuan yang bermakna Ini terjadi bila informasi pokok ditemukan ileh siswa dan kemudian ia menghubungkan informasi baru tersebut dengan struktur kognitif yang dimilikinya. c. Belajar menerima yang hafalan (tidak bermakna) Ini terjadi bila informasi disajikan kepada siswa dalam bentuk final dan kemudian siswa menghafalnya. d. Belajar penemuan yang hafalan (tidak bermakna) Ini terjadi bila informasi pokok ditemukan oleh siswa dan kemudian menghafal pengetahuan baru tersebut.

Inti dari teori Ausubel adalah belajar bermakna yang dianggap palin efisien. Menurut Ausubel pengajaran ekspositori yang baik merupakan satu – satunya cara

2

meningkatkan belajar bermakna, dimana guru yang menyusun topik dan menghubungkannya dengan topik yang bermakna yang telah dipelajari sebelumya. Dua prasyarat untuk belajar menerima yang bermakna, yaitu: 1. Siswa telah memiliki satu himpunan belajar. Artinya kondisi dan sikap telah siap untuk mengerjakan tugas belajar sesuai denga tujuan mereka. Bila siswa melaksanakan tugas belajar dengan sikap bahwa ia ingin memahami bahan pelajaran, mengaplikasikan serta menghubungkannya dengan bahan pelajaran yang dulu, maka dikatakan bahwa siswa tersebut belajr bahan baru dengan cara yang bermakna. Jadi dalam prasyarat ini faktor motivasional memegang peranan penting, sebab siswa tidak akan mengasimilasi materi baru tersebut, bila mereka tidak mempunyai keinginan dan pengetahuan tentang bagaimana melakukannya. 2. Tugas belajar yang diberikan kepada siswa harus sesuai dengan struktur kognitifnya, sehingga siswa dapat mengasimilasi bahan baru tersebut secara bermakna. Belajar bermakna terdahulu merupakan dasar atau penguat untuk belajar baru, sehingga belajar baru dan retensi tidak menjadi belajar hafalan. Ausubel mengembangkan suatu cara yang disebut “ advance organizer” untuk mengorientasikan siswa pada materi yang akan dipelajari dan membantu mereka untuk mengingat kembali informasi – informasi yang berkaitan dan yang dapat digunakan untuk membantu dalam menyatuka informasi – informasi baru yang akan dipelajari. Fungsi dari “ advance organizer” adalah untuk

memberikan scaffolding atau dukungan terhadap informasi baru. Advance organizer dapat dupandang sebagai jembatan konseptual di antara materi baru dengan pengetahuan siswa saat ini.

Suatu organizer membantu untuk meberikan dasar atau scaffolding mental sebelum guru menyajikan abstraksi atau generalisasi dari pelajaran, menjelaskan istilah – istilah kunci, memberikan contoh – contoh spesifik.

3

Informasi yang dipelajari secara bermakna mempermudah belajar hal-hal yang mirip walaupun telah terjadi lupa. Diferensiasi Progregsif Dalam pembelajaran bermakna perlu ada pengembangan dan kolaborasi konsep. Penekanan dan model cooperative learning sendiri adalah selain siswa mendapat bimbingan langsung dari guru. 4 .konsep. Pengatur awal (advance organizer) Pengatur awal dapat digunakan untuk membantu mengaitkan konsep yang lama dengan konsep 2. Diharapkan model cooperative learning akan dapat mengusir kejenuhan dan kebosanan yang dirasa siswa di kelas karena selama ini hanya mendengarkan materi dari guru saja.Lebih lanjut Ausubel mengemukakan. b. Informasi yang dipelajari secara bermakna memudahkan proses belajar berikutnya untuk materi pelajaran yang mirip c. Hal ini menjadikan pembelajaran akuntansi tidak hanya sebagai konsep-konsep yang perlu dihapal dan diingat hanya pada saat siswa mendapat materi itu saja tetapi juga bagaimana siswa mampu menghubungkan pengetahuan yang baru didapat kemudian dengan konsep yang sudah dimilikinya sehingga terbentuklah kebermaknaan logis. Caranya unsur yang inklusif diperkenalkan terlebih dahulu kemudian baru lebih mendetail. Langkah – langkah belajar bermakna Ausubel adalah: 1. pengalaman dan fakta-fakta baru ke dalam skemata yang telah dipelajari. melainkan ada sesuatu yang dapat dipraktikkan dan dilatihkan dalam situasi nyata dan terlibat dalam pemecahan masalah. yang baru yang lebih tinggi maknanya. Menurut Ausubel ada tiga kebaikan dari belajar bermakna yaitu : a. mereka juga diberi kebebasan untuk memecahkan masalah lewat pengetahuan yang mereka dapatkan sendiri. Informasi yang dipelajari secara bermakna lebih lama diingat. seseorang belajar dengan mengasosiasikan fenomena. Dengan model cooperative learning materi yang dipelajarinya tidak hanya sekadar menjadi sesuatu yang dihafal dan diingat saja.

Oleh karena itu. Berdasarkan hasil percobaannya di laboratorium yang menggunakan beberapa jenis hewan.B. Asosiasi yang demikian itu disebut ”bond” atau ”connection”. akan menjadi lebih kuat atau lebih lemah dalam terbentuknya atau hilangnya kebiasaan-kebiasaan. Thorndike (1874-1949) adalah salah seorang penganut paham psikologi tingkah-laku. maka ia dinobatkan sebagai salah satu tokoh pelopor dalam psikologi pendidikan. Selain itu. Stimulus adalah suatu perubahan dari lingkungan eksternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme untuk beraksi atau berbuat. Dalam hal ini. sedangkan respon adalah sembarang tingkah laku yang dimunculkan karena adanya perangsang. sehingga kalau kucing menyentuh tombol tertentu pintu kurungan akan terbuka dan kucing dapat keluar dan mencapai makanan (daging) yang ditempatkan di luar kurungan itu sebagai hadiah atau daya penarik bagi si kucing yang lapar itu. Pada usaha (trial) yang pertama. Dimana konstruksi pintu kurungan tersebut dibuat sedemikian rupa. dibiarkan lapar. kucing itu melakukan bermacam-macam gerakan yang kurang relevan 5 . ia mengemukakan suatu teori belajar yang dikenal dengan teori ―pengaitan‖ (connectionism). Teori Thorndike Edward L. Dengan adanya pandangan-pandangan Thorndike yang memberikan sumbangan cukup besar di dunia pendidikan tersebut. Eksperimennya yang terkenal adalah dengan menggunakan kucing yang masih muda dengan kebiasaan-kebiasaan yang masih belum kaku. bentuk belajar yang paling khas baik pada hewan maupun pada manusia menurutnya adalah “trial and error learning atau selecting and connecting learning” dan berlangsung menurut hukum-hukum tertentu. kemudian dimasukkan ke dalam kurungan yang disebut ‖problem box‖. Teori tersebut menyatakan bahwa belajar pada hewan dan manusia pada dasarnya berlangsung menurut prinsip yang sama yaitu. teori belajar yang dikemukakan oleh Thorndike ini sering disebut dengan teori belajar koneksionisme atau teori asosiasi. belajar merupakan peristiwa terbentuknya ikatan (asosiasi) antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R) yang diberikan atas stimulus tersebut.

Dalam melaksanakan coba-coba ini. menubruk dan sebagainya. yaitu apabila ikatan antara stimulus dan respon lebih sering terjadi. Interpretasi dari hukum ini adalah semakin sering suatu pengetahuan—yang 6 . Percobaan yang sama seperti itu dilakukan secara berulang-ulang. apabila suatu materi pelajaran diajarkan kepada anak yang belum siap untuk mempelajari materi tersebut maka tidak akan ada hasilnya. Namun waktu yang dibutuhkan dalam usaha yang pertama ini adalah lama. yaitu bahwa belajar itu terjadi dengan cara mencoba-coba dan membuat salah. Dengan demikian diketahui bahwa supaya tercapai hubungan antara stimulus dan respons perlu adanya kemampuan untuk memilih respons yang tepat serta melalui usaha–usaha atau percobaanpercobaan (trials) dan kegagalan-kegagalan (error) terlebih dahulu. seperti mencakar. hukum ini pada intinya menyatakan bahwa belajar akan berhasil apabila peserta didik benar-benar telah siap untuk belajar. (2) Hukum latihan (law of exercise). pada usaha-usaha (trial) berikutnya dan ternyata waktu yang dibutuhkan untuk memecahkan problem itu makin singkat. maka ikatan itu akan terbentuk semakin kuat. tetapi dia belajar mempertahankan respon-respon yang benar dan menghilangkan atau meninggalkan respon-respon yang salah. kucing tersebut cenderung untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tidak mempunyai hasil. selanjutnya stimulus baru ini akan menimbulkan respons lagi. Percobaan tersebut menghasilkan teori “trial and error” atau “selecting and conecting”. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya kucing itu sebenarnya tidak mengerti cara membebaskan diri dari kurungan tersebut. demikian selanjutnya. Thorndike mengemukakan bahwa terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon ini mengikuti hukum-hukum berikut: (1) Hukum kesiapan (law of readiness). Dengan perkataan lain. Setiap respons menimbulkan stimulus yang baru.bagi pemecahan problemnya. sampai kemudian menyentuh tombol dan pintu terbuka.

maka kepuasan akan tercapai dan asosiasi akan diperkuat. Hukum ini dapat juga diartikan. suatu tindakan yang diikuti akibat yang menyenangkan. jika suatu respon yang diberikan oleh seseorang terhadap suatu stimulus adalah benar dan ia mengetahuinya.telah terbentuk akibat terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon—dilatih (digunakan). Semakin sering suatu materi pelajaran diulangi maka materi pelajaran tersebut akan semakin kuat tersimpan dalam ingatan (memori). ternyata jawabannya benar. sering terjadi. Ganjaran yang diberikan guru kepada pekerjaan siswa (misalnya pujian guru terhadap siswa yang dapat menyelesaikan soal matematika dengan baik) menyebabkan peserta didik ingin terus melakukan kegiatan serupa. maka tindakan tersebut cenderung akan diulangi pada waktu yang lain. Dalam hal ini. maka tindakan tersebut cenderung akan tidak diulangi pada waktu yang lain. suatu tindakan yang diikuti akibat yang tidak menyenangkan. Namun perlu diingat. setelah ia kerjakan. maka ia merasa senang/puas dan akibatnya antara soal dan jawabannya yang benar itu akan kuat tersimpan dalam ingatannya. (3) Hukum akibat (law of effect). maka ikatan tersebut akan semakin kuat. Sedangkan hukuman yang diberikan guru atas pekerjaan siswa (misalnya celaan guru terhadap hasil pekerjaan matematika siswa) menyebakan siswa tidak lagi mengulangi kesalahannya. bahwa hukuman yang diberikan guru atas pekerjaan siswa justru membuat siswa menjadi malas belajar dan bahkan membenci pelajaran matematika. Konkretnya adalah sebagai berikut: Misalkan seorang siswa diminta untuk menyelesaikan suatu soal matematika. Hal ini berarti (idealnya). hukum ini menunjukkan prinsip utama belajar adalah pengulangan. 7 . Jadi. Sebaliknya. tampak bahwa hukum akibat tersebut ada hubungannya dengan pengaruh ganjaran dan hukuman. yaitu apabila asosiasi yang terbentuk antara stimulus dan respon diikuti oleh suatu kepuasan maka asosiasi akan semakin meningkat.

Misalnya. haruslah dilatih terus dengan mengerjakan soal-soal yang berikaitan dengan operasi aritmetik.Tambahan hukum Thorndike : 1. setiap kemampuan harus dilatih secara efektif dan dikaitkan dengan kemampuan lain. 8 . Jadi. Aplikasi Teori Thorndike dalam dunia pendidikan dan pengajaran Menurut Thorndike praktek pendidikan harus dipelajari secara ilmiah dan praktek pendidikan harus dihubungkan dengan proses belajar. perkalian. Dengan demikian kemampuan mengerjakan operasi aritmetika tersebut menjadi mantap dalam pikiran siswa. Hukum Reaksi Bereaksi (Multiple Response) 2. Mengajar bukanlah mengharapkan murid tahu apa yang diajarkan. Unsur-unsur yang saling berasosiasi itu membentuk satu ikatan sehingga menggambarkan suatu kemampuan. tahu apa yang hendak diajarkan artinya tahu materi apa yang harus diberikan. Hukum Respon by Analogy 5. Hukum Perpindahan Asosiasi Selain hukum-hukum di atas. Hukum Sikap (Set \Attitude) 3. dan pembagian) yang telah dimiliki siswa. Mengajar yang baik adalah : tahu tujuan pendidikan. Selanjutnya. respons yang akan diharapkan dan tahu kapan ―hadiah‖ selayaknya diberikan kepada peserta didik. Unsur-unsur yang identik itu saling berasosiasi sehingga memungkinkan masalah yang dihadapi dapat diselesaikan. pengurangan. kemampuan melakukan operasi aritmetik (penjumlahan. ada unsur-unsur dalam masalah itu yang identik dengan unsur-unsur pengetahuan yang telah dimiliki. karena di dalam setiap masalah. Thorndike juga mengemukakan konsep transfer belajar yang disebutnya transfer of training. Konsep ini maksudnya adalah penggunaan pengetahuan yang telah dimiliki siswa untuk menyelesaikan suatu masalah baru. dapat disimpulkan bahwa transfer belajar dapat tercapai dengan sering melakukan latihan. Hukum Aktivitas Berat Sebelah(Prepotency of Element) 4.

siswa tidak akan bisa 9 . Sehingga bila kita ajukan pertanyaan seperti "apakah pada sebuah persegipanjang. Ciptakan hubungan respons tersebut dengan sengaja. jangan mengharapkan hubungan terjadi dengan sendirinya. kemudian hasil penelitiannya ditulis dalam disertasinya pada tahun 1954. "apakah pada suatu persegipanjang kedua diagonalnya sama panjang?". segitiga.Beberapa aturan yang dibuat Thorndike berhubungan dengan pengajaran: Perhatikan situasi peserta didik. Untuk hal ini. Teori Van Hiele Van Hiele adalah seorang pengajar matematika Belanda yang telah mengadakan penelitian di lapangan. Van Hiele (dalam Ismail. deduksi. 1998) menyatakan bahwa terdapat 5 tahap pemahaman geometri yaitu: Tahap pengenalan. Seandainya kita hadapkan dengan sejumlah bangun-bangun geornetri. Tahap Pengenalan Pada tahap ini siswa hanya baru mengenal bangun-bangun geometri seperti bola. Lima Tahap Pemahaman Geometri 1. melalui observasi dan tanya jawab. persegi dan bangun-bangun geometri lainnya. Situasi-situasi yang sama jangan diindahkan sekiranya memutuskan hubungan tersebut. Penelitian yang dilakukan Van Hiele melahirkan beberapa kesimpulan mengenai tahap-tahap perkembangan kognitif anak dalam memahami geometri. pengurutan. analisis. dan keakuratan. Buat hubungan sedemikian rupa sehingga menghasilkan perbuatan nyata dari peserta didik. anak dapat memilih dan menunjukkan bentuk segitiga.      Perhatikan respons yang diharapkan dari situasi tersebut. Pada tahap pengenalan anak belum dapat menyebutkan sifat-sifat dari bangun-bangun geometri yang dikenalnya itu. sisi-sisi yang berhadapan panjangnya sama?". kubus. C. Ciptakan suasana belajar sedemikian rupa sehingga dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Bila pada tahap pengenalan anak belum mengenal sifat-sifat dari bangun-bangun geometri. Tahap Analisis Tingkat ini dikenal sebagai tingkat deskriptif. mengapa kedua diagonal pada persegi saling tegak lurus. kubus itu adalah balok. Seandainya kita tanyakan apakah kubus itu balok?. tidak demikian pada tahap Analisis. Pada tahap ini anak sudah dapat memahami sifat-sifat dari bangun-bangun geometri. jangan sampai. sedangkan banyak rusuknya ada 12. Pengambilan kesimpulan secara deduktif yaitu penarikan kesimpulan dari hal-hal yang bersifat khusus. 2. 3. 4.menjawabnya. maka pada tahap ini anak sudah mampu mengetahui hubungan yang terkait antara suatu bangun geometri dengan bangun geometri lainnya. yaitu mengambil kesimpulan secara deduktif. tetapi masih pada tahap awal artinya belum berkembang baik. Anak yang berada pada tahap ini sudah memahami pengurutan bangun-bangun geometri. Karena masih pada tahap awal siswa masih belum mampu memberikan alasan yang rinci ketika ditanya mengapa kedua diagonal persegi panjang itu sama. Guru harus memahami betul karakter anak pada tahap pengenalan. Tahap Pengurutan Tingkat ini disebut juga tingkat abstraksi atau tingkat relasional. Misalnya. Pada tahap ini anak sudah mengenal sifat-sifat bangun geometri. belah ketupat adalah layang-layang. seperti pada sebuah kubus banyak sisinya ada 6 buah. Pada tahap ini anak sudah mulai mampu untuk melakukan penarikan kesimpulan secara deduktif. Pada tahap ini pemahaman siswa terhadap geometri lebih meningkat lagi dari sebelumnya yang hanya mengenal bangun-bangun geometri beserta sifat-sifatnya. Tahap Deduksi Pada tahap ini anak sudah dapat memahami deduksi. Seperti kita ketahui 10 . Anak pada tahap analisis belum mampu mengetahui hubungan yang terkait antara suatu bangun geometri dengan bangun geometri lainnya. anak diajarkan sifat-sifat bangun-bangun geometri tersebut. maka anak pada tahap ini belum bisa menjawab pertanyaan tersebut karena anak pada tahap ini belum memahami hubungan antara balok dan kubus. karena anak akan menerimanya melalui hafalan bukan dengan pengertian. siswa sudah mengetahui jajargenjang itu trapesium.

Sebagai contoh. jarang atau hanya sedikit sekali anak yang sampai pada tahap berpikir ini sekalipun anak tersebut sudah berada di tingkat SMA. membuktikan teorema dan lain-lain dilakukan dengan cara deduktif. Seperti diketahui bahwa pengukuran itu pada dasarnya mencari nilai yang paling dekat dengan ukuran yang sebenarnya. dan teorema. Anak pada tahap ini belum memahami kegunaan dari suatu sistem deduktif. Pada tahap ini memerlukan tahap berpikir yang kompleks dan rumit. Anak pada tahap ini sudah memahami mengapa sesuatu itu dijadikan postulat atau dalil. Sebagai contoh untuk menunjukkan bahwa jumlah sudut-sudut dalam jajargenjang adalah 360º secara deduktif dibuktikan dengan menggunakan prinsip kesejajaran. Pembuktian secara induktif yaitu dengan memotong-motong sudut-sudut benda jajargenjang. aksioma atau problem. Tahap keakuratan merupakan tahap tertinggi dalam memahami geometri. Oleh karena itu. Tahap Keakuratan Tahap terakhir dari perkembangan kognitif anak dalam memahami geometri adalah tahap keakuratan. pada tingkat ini siswa menyadari bahwa jika salah satu aksioma pada suatu sistem geometri diubah.bahwa matematika adalah ilmu deduktif. di samping unsur-unsur yang didefinisikan. dikatakan sebagai ilmu deduktif karena pengambilan kesimpulan. Dalam matematika kita tahu bahwa betapa pentingnya suatu sistem deduktif.‖ 5. kemudian setelah itu ditunjukkan semua sudutnya membentuk sudut satu putaran penuh atau 360° belum tuntas dan belum tentu tepat. Anak pada tahap ini telah mengerti pentingnya peranan unsur-unsur yang tidak didefinisikan. Matematika. anak pada tahap ini belum dapat menjawab pertanyaan ―mengapa sesuatu itu disajikan teorema atau dalil. Jadi. maka seluruh geometri tersebut juga 11 . Oleh karena itu. Pada tahap ini anak sudah memahami betapa pentingnya ketepatan dari prinsip-prinsip dasar yang melandasi suatu pembuktian. mungkin saja dapat keliru dalam mengukur sudut-sudut jajargenjang tersebut. Untuk itu pembuktian secara deduktif merupakan cara yang tepat dalam pembuktian pada matematika.

dan tidak dimungkinkan adanya tingkat yang diloncati. seorang anak yang berada paling tinggi pada tahap kedua atau tahap analisis. Sehingga. semua anak mempelajari geometri dengan melalui tahap-tahap tersebut. pada tahap ini siswa sudah memahami adanya geometrigeometri yang lain di samping geometri Euclides. Van Hiele juga mengemukakan beberapa teori berkaitan dengan pembelajaran geometri. seorang anak tidak mengerti mengapa gurunya membuktikan bahwa jumlah sudut-sudut dalam sebuah jajargenjang adalah 360º. Contoh yang lain. belah ketupat itu layang-layang. Menurut Van Hiele seorang anak yang berada pada tingkat yang lebih rendah tidak mungkin dapat mengerti atau memahami materi yang berada pada tingkat yang lebih tinggi dari anak tersebut.akan berubah. Gurunya pun sering tidak mengerti mengapa anak yang diberi penjelasan tersebut tidak memahaminya. Selain mengemukakan mengenai tahap-tahap perkembangan kognitif dalam memahami geometri. Sebagai contoh. materi pembelajaran dan metode penyusun yang apabila dikelola secara terpadu dapat mengakibatkan meningkatnya kemampuan berpikir anak kepada tahap yang lebih tinggi dari tahap yang sebelumnya. misalnya anak itu berada pada tahap pengurutan ke bawah. Kalaupun anak itu dipaksakan 12 . tidak mengerti apa yang dijelaskan gurunya bahwa kubus itu adalah balok. pembuktiannya tidak perlu sebab sudah jelas bahwa jumlah sudutsudutnya adalah 360°. kapan seseorang siswa mulai memasuki suatu tingkat yang baru tidak selalu sama antara siswa yang satu dengan siswa yang lain. kemudian saling bertukar pikiran maka kedua orang tersebut tidak akan mengerti. Teori yang dikemukakan Van Hiele antara lain adalah sebagai berikut: Tiga unsur yang utama pembelajaran geometri yaitu waktu. Menurut Van Hiele. Menurut anak pada tahap yang disebutkan. Akan tetapi. dengan urutan yang sama. Bila dua orang yang mempunyai tahap berpikir berlainan satu sama lain.

Untuk mencapai pengertian dibutuhkan kegiatan tertentu dari fase-fase pembelajaran. Kenaikan dari tingkat yang satu ke tingkat yang berikutnya lebih banyak tergantung dari pembelajaran daripada umur atau kedewasaan biologis. ia harus menguasai sebagian besar dari tingkat yang lebih rendah.untuk memahaminya. kegiatan belajar anak harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak atau disesuaikan dengan taraf berpikirnya. Setiap tingkat mempunyai bahasanya sendiri. Konsep-konsep yang secara implisit dipahami pada suatu tingkat menjadi dipahami secara eksplisit pada tingkat berikutnya. tetapi seorang siswa tidak dapat mengambil jalan pintas ke tingkat tinggi dan berhasil mencapai pengertian. Pada tingkat dasar. Pada setiap tingkat muncul secara ekstrinsik dari sesuatu yang intrinsik pada tingkat sebelumnya. mempunyai simbol linguistiknya sendiri dan sistem relasinya sendiri yang menghubungkan simbolsimbol itu. 13 . ternyata akan tidak benar pada tingkat yang lain. Dengan demikian anak dapat memperkaya pengalaman dan berpikirnya. anak itu baru bisa memahami melalui hafalan saja bukan melalui pengertian. tetapi seseorang yang berpikiran pada tingkat ini tidak sadar atau tidak tahu akan sifat-sifat itu. selain itu sebagai persiapan untuk meningkatkan tahap berpikirnya kepada tahap yang lebih tinggi dari tahap sebelumnya. Untuk mendapatkan hasil yang diinginkan yaitu anak memahami geometri dengan pengertian. dapat membimbing untuk mengingat-ingat hafalan. sebab menghafal bukan ciri yang penting dari tingkat manapun. gambar-gambar sebenarnya juga ditentukan oleh sifat-sifatnya. Seorang guru dapat mengurangi materi pelajaran ke tingkat yang lebih rendah. Supaya siswa dapat berperan dengan baik pada suatu tingkat yang lanjut dalam hirarki van Hiele. Suatu relasi yang benar pada suatu tingkat. Misalnya pemikiran tentang persegi dan persegi panjang.

Struktur bahasa adalah suatu faktor yang kritis dalam perpindahan tingkat-tingkat ini. Oleh karena itu. Model Van Hiele tidak hanya memuat tingkat-tingkat pemikiran geometrik. Walaupun demikian. teori Van Hiele tidak mendukung model teori absorbsi tentang belajar mengajar. Menurut Van Hiele (dalam Ismail. siswa tidak akan mencapai kemajuan tanpa bantuan guru. tetapi melalui pilihan-pilihan yang tepat. dan tergantung lebih banyak kepada akibat pembelajarannya. Fase-fase pembelajaran tersebut adalah: 1) fase informasi 2) fase orientasi 3) fase eksplisitasi 4) fase orientasi bebas 5) fase integrasi. anak-anak sendiri akan menentukan kapan saatnya untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi. 1992). Guru memegang peran penting dan istimewa untuk memperlancar kemajuan. guru dan siswa menggunakan tanya-jawab dan kegiatan tentang objek-objek yang dipelajari pada tahap berpikir siswa. Dalam hal ini objek yang dipelajari adalah sifat komponen dan hubungan antar komponen bangun-bangun segi empat. Meskipun demikian. Informasi Pada awal tingkat ini. Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa sambil 14 . (Clements. Van Hiele menuntut bahwa tingkat yang lebih tinggi tidak langsung menurut pendapat guru. terutama untuk memberi bimbingan mengenai pengharapan. Fase 1.Dua orang yang berpikir pada tingkat yang berlainan tidak dapat saling mengerti. maka ditetapkan fase-fase pembelajaran yang menunjukkan tujuan belajar siswa dan peran guru dalam pembelajaran dalam mencapai tujuan itu. 1998). kenaikan dari tingkat yang satu ke tingkat berikutnya tergantung sedikit pada kedewasaan biologis atau perkembangannya. Lagi pula. dan yang satu tidak dapat mengikuti yang lainnya.

Fase 3: Penjelasan Berdasarkan pengalaman sebelumnya. tugas yang dilengkapi dengan banyak cara. Guru dapat membantu siswa dalam membuat sintesis ini dengan melengkapi survey secara global terhadap apa yang telah dipelajari. Fase 2: Orientasi Siswa menggali topik yang dipelajari melalui alat-alat yang dengan cermat telah disiapkan guru. maupun dalam menyelesaikan tugas-tugas.melakukan observasi. Di samping itu. Mereka memperoleh pengalaman dalam menemukan cara mereka sendiri. dan tugas yang open-ended. siswa menyatakan pandangan yang muncul mengenai struktur yang diobservasi. Hal tersebut berlangsung sampai sistem hubungan pada tahap berpikir mulai tampak nyata. Fase 4: Orientasi Bebas Siswa menghadapi tugas-tugas yang lebih kompleks berupa tugas yang memerlukan banyak langkah. Aktivitas ini akan berangsur-angsur menampakkan kepada siswa struktur yang memberi ciri-ciri sifat komponen dan hubungan antar komponen suatu bangun segi empat. untuk membantu siswa menggunakan bahasa yang tepat dan akurat. (2) guru mempelajari petunjuk yang muncul dalam rangka menentukan pembelajaran selanjutnya yang akan diambil. Alat atau pun bahan dirancang menjadi tugas pendek sehingga dapat mendatangkan respon khusus. banyak hubungan antar objek menjadi jelas. Fase 5: Integrasi Siswa meninjau kembali dan meringkas apa yang telah dipelajari. guru memberi bantuan sesedikit mungkin. Hal ini penting. Pada akhir fase kelima ini 15 . Melalui orientasi di antara para siswa dalam bidang investigasi. tetapi kesimpulan ini tidak menunjukkan sesuatu yang baru. Tujuan dari kegiatan ini adalah: (1) guru mempelajari pengalaman awal yang dimiliki siswa tentang topik yang dibahas.

dimana tahap ini dapat membangkitkan semangat dan membuat anak senang dalam belajar. dan guru yang aktif. maka tingkat pemikiran yang baru tentang topik itu dapat tercapai. Dalam pelaksanaan PAKEM perlu diperhatikan beberapa hal berikut: 16 . Siswa siap untuk mengulangi fase-fase belajar pada tahap sebelumnya. Teori Dienes Teori belajar Dienes sangat terkait dengan konsep pembelajaran dengan pendekatan PAKEM ( Pembelajaran Aktif. ekspresif. D. Setelah selesai fase kelima ini. Pada umumnya. pengetahuan dan sikap bagi kehidupan kelak. Enaktif dan Menyenangkan). Kreatif. Efektif diartikan sebagai tercapainya suatu tujuan yang merupakan pijakan utama suatu rancangan pembelajaran. Menyenangkan diartikan sebagai suasana belajar mengajar yang hidup. karena teori ini menekankan tahap permainan. Aktif dapat diartikan siswa mampu berinteraksi yaitu bertanya atau mengeluarkan ide. Kreatif diartikan siswa diberi kesempatan untuk membuat atau merancang sesuatu atau menuliskan sebuah gagasan dan guru yang kreatif yaitu guru yang memberikan variasi dalam proses belajar mengajar dan membuat alat bantu serta menciptakan teknik – teknik mengajar tertentu sesuai tujuan pembelajaran. terkondisi dan mendorong pemusatan perhatian peserta didik terhadap belajar. hasil penelitian di Amerika Serikat dan negara lainnya menetapkan bahwa tingkat-tingkat dari Van Hiele berguna untuk menggambarkan perkembangan konsep geometrik siswa dari SD sampai Perguruan Tinggi. Tujuan dari PAKEM yaitu menciptakan suatu lingkungan belajar yang melengkapi anak dengan keterampilan. yaitu guru yang memantau kegiatan belajar siswa dan memberikan umpan balik.siswa mencapai tahap berpikir yang baru.

Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar. Dienes adalah seorang matematikawan yang memusatkan perhatiannya pada cara-cara pengajaran terhadap anak-anak. Menegembangkan kemampuan berfikir kritis. Memahami sifat peserta didik. Memanfaatkan perilaku peserta didik dalam pengorganisasian belajar. d. Memberikan umpan balik yang bertanggungjawab untuk meningkatkan kegiatan belajar mengajar. Membedakan antara aktif fisik dan aktif mental. Dasar teorinya bertumpu pada teori pieget.a. kreatif. memisah-misahkan hubungan-hubungan diantara struktur-struktur dan mengkatagorikan hubungan-hubungan di antara strukturstruktur. Zoltan P. e. dalam proses belajar mengajar tingkat kognitif menjadi suatu hal yang sangat penting. Teori perkembangan kognitif melihat bahwa proses belajar seseorang dilihat dari tingkat kemampuan kognitifnya. Ini mengandung arti bahwa benda-benda atau obyek-obyek dalam bentuk permainan akan sangat berperan bila dimanipulasi dengan baik dalam pengajaran matematika. f. Menegembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik. dan kemampuan memecahkan masalah. g. sedemikian rupa sehingga sistem yang dikembangkannya itu menarik bagi anak yang mempelajari matematika. h. c. Mengenal peserta didik secara individu. Dienes berpendapat bahwa pada dasarnya matematika dapat dianggap sebagai studi tentang struktur. dan pengembangannya diorientasikan pada anakanak. Dienes mengemukakan bahwa tiap-tiap konsep atau prinsip dalam matematika yang disajikan dalam bentuk yang konkret akan dapat dipahami dengan baik. karena kemampuan tingkat kognitif seseorang tergantung dari usia seseorang. sehingga dalam pembelajaran pada orang dewasa berbeda dengan pembelajaran anak-anak. b. 17 .

karena anak-anak akan memperoleh hal-hal yang bersifat logis dan matematis dalam konsep yang dipelajarinya itu. akan makin jelas konsep yang dipahami anak.Makin banyak bentuk-bentuk yang berlainan yang diberikan dalam konsepkonsep tertentu. yaitu: Permainan Bebas (Free Play) Dalam setiap tahap belajar. tebal tipisnya benda yang merupakan ciri/sifat dari benda yang dimanipulasi. Dalam mencari kesamaan sifat. Menurut Dienes konsep-konsep matematika akan berhasil jika dipelajari dalam tahap-tahap tertentu. anak didik mulai mempelajari konsepkonsep abstrak tentang warna. Anak didik diberi kebebasan untuk mengatur benda. Permainan yang Menggunakan Aturan (Games) Dalam permainan yang disertai aturan. Permainan bebas merupakan tahap belajar konsep yang aktifitasnya tidak berstruktur dan tidak diarahkan. siswa sudah mulai meneliti polapola dan keteraturan yang terdapat dalam konsep tertentu. Selama permainan pengetahuan anak muncul. dengan melalui permainan siswa diajak untuk mulai mengenal 18 . anak-anak mulai diarahkan dalam kegiatan menemukan sifat-sifat kesamaan dalam permainan yang sedang diikuti. guru perlu mengarahkan mereka dengan mentranslasikan kesamaan struktur dari bentuk permainan yang satu ke bentuk permainan lainnya. Jelaslah. Dalam tahap ini anak mulai membentuk struktur mental dan struktur sikap dalam mempersiapkan diri untuk memahami konsep yang sedang dipelajari. Keteraturan ini mungkin terdapat dalam konsep tertentu tapi tidak terdapat dalam konsep yang lainnya. Untuk melatih anak-anak dalam mencari kesamaan sifat-sifat ini. Dienes membagi tahap-tahap belajar menjadi 6 tahap. tahap yang paling awal dari pengembangan konsep bermula dari permainan bebas. Misalnya dengan diberi permainan block logic. Translasi ini tentu tidak boleh mengubah sifat-sifat abstrak yang ada dalam permainan semula.

anak diberi kegiatan untuk membentuk kelompok bangun yang tipis. untuk membuat konsep abstrak. Menurut Dienes. anak diminta mengidentifikasi sifat-sifat yang sama dari benda-benda dalam kelompok tersebut (anggota kelompok). atau yang tebal. atau tidak merah (biru. timbul pengalaman terhadap konsep tipis dan merah. dan sebagainya. kemudian membentuk kelompok benda berbentuk segitiga. Makin banyak bentuk-bentuk berlainan yang diberikan dalam konsep tertentu. kuning). anak dihadapkan pada kelompok persegi dan persegi panjang yang tebal.dan memikirkan bagaimana struktur matematika itu. Contoh kegiatan yang diberikan dengan permainan block logic. Translasi ini tentu tidak boleh mengubah sifat-sifat abstrak yang ada dalam permainan semula. Contoh dengan permainan block logic. hijau. atau yang merah. guru perlu mengarahkan mereka dengan menstranslasikan kesamaan struktur dari bentuk permainan lain. Para siswa menentukan representasi dari konsep-konsep tertentu. karena akan memperoleh hal-hal yang bersifat logis dan matematis dalam konsep yang dipelajari itu. Permainan Kesamaan Sifat (Searching for communalities) Dalam mencari kesamaan sifat siswa mulai diarahkan dalam kegiatan menemukan sifat-sifat kesamaan dalam permainan yang sedang diikuti. akan semakin jelas konsep yang dipahami siswa. serta timbul penolakan terhadap bangun yang tipis (tebal). dan kegiatan untuk yang tidak relevan dengan pengalaman itu. Setelah mereka berhasil menyimpulkan kesamaan sifat yang terdapat dalam situasi-situasi yang dihadapinya itu. Dalam membentuk kelompok bangun yang tipis. Untuk melatih dalam mencari kesamaan sifat-sifat ini. atau yang berwarna merah. Representasi yang diperoleh ini bersifat abstrak. anak didik memerlukan suatu kegiatan untuk mengumpulkan bermacam-macam pengalaman. Permainan Representasi (Representation) Representasi adalah tahap pengambilan sifat dari beberapa situasi yang sejenis. Dengan demikian telah mengarah pada pengertian struktur matematika yang sifatnya 19 .

asosiatif.abstrak yang terdapat dalam konsep yang sedang dipelajari. dan mempunyai elemen invers. sebagai contoh siswa yang telah mengenal dasar-dasar dalam struktur matematika seperti aksioma. membentuk sebuah sistem matematika. tetapi mereka sudah mempunyai pengetahuan tentang sistem yang berlaku dari pemahaman konsep-konsep yang terlibat satu sama lainnya. dalam arti membuktikan teorema tersebut. Misalnya bilangan bulat dengan operasi penjumlahan peserta sifat-sifat tertutup. Permainan dengan Simbolisasi (Symbolization) Simbolisasi termasuk tahap belajar konsep yang membutuhkan kemampuan merumuskan representasi dari setiap konsep-konsep dengan menggunakan simbol matematika atau melalui perumusan verbal. Dalam tahap ini siswa-siswa dituntut untuk mengurutkan sifat-sifat konsep dan kemudian merumuskan sifat-sifat baru konsep tersebut. Contohnya. Contoh kegiatan anak untuk menemukan banyaknya diagonal poligon misal segi dua puluh tiga. Sebagai contoh. dari kegiatan mencari banyaknya diagonal dengan pendekatan induktif tersebut. Permainan dengan Formalisasi (Formalization) Formalisasi merupakan tahap belajar konsep yang terakhir. harus mampumerumuskan teorema dalam arti membuktikan teorema tersebut. kegiatan berikutnya menentukan rumus banyaknya diagonal suatu poligon yang digeneralisasikan dari pola yang didapat anak. dengan pendekatan induktif. harus mampu merumuskan suatu teorema berdasarkan aksioma. Untuk pengajaran konsep matematika yang lebih sulit perlu dikembangkan materi matematika secara kongkret agar konsep matematika dapat dipahami dengan 20 . adanya elemen identitas. Dienes menyatakan bahwa proses pemahaman (abstracton) berlangsung selama belajar. Pada tahap formalisasi anak tidak hanya mampu merumuskan teorema serta membuktikannya secara deduktif. komutatif. anak didik telah mengenal dasar-dasar dalam struktur matematika seperti aksioma.

Kegiatan ini menggunakan kesempatan untuk membantu anak didik menemukan cara-cara dan juga untuk mendiskusikan temuan-temuannya. Langkah selanjutnya. Variasi matematika dimaksud untuk membuat lebih jelas mengenai sejauh mana sebuah konsep dapat digeneralisasi terhadap konsep yang lain. suatu anak didik dihadapkan pada permainan yang terkontrol dengan berbagai sajian. Dienes berpendapat bahwa materi harus dinyatakan dalam berbagai penyajian (multiple embodiment). Dengan demikian. menurut Dienes. semakin jelas bagi anak dalam memahami konsep tersebut. Berbagai penyajian materi (multiple embodinent) dapat mempermudah proses pengklasifikasian abstraksi konsep. Menurut Dienes. Proses pembelajaran ini juga lebih melibatkan anak didik pada kegiatan belajar secara aktif dari pada hanya sekedar menghapal. Berbagai sajian (multiple embodiment) juga membuat adanya manipulasi secara penuh tentang variabel-variabel matematika. peta dan akhirnya memadukan simbolo – simbol dengan konsep tersebut. Berhubungan dengan tahap belajar. variasi sajian hendaknya tampak berbeda antara satu dan lainya sesuai dengan prinsip variabilitas perseptual (perseptual variability). Perkembangan kognitif setiap individu yang berkembang secara kronologi tidak terlepas dari faktor usia. sehingga anak-anak dapat bermain dengan bermacam-macam material yang dapat mengembangkan minat anak didik. sehingga anak didik dapat melihat struktur dari berbagai pandangan yang berbedabeda dan memperkaya imajinasinya terhadap setiap konsep matematika yang disajikan. Langkah-langkah ini merupakan suatu cara untuk memberi kesempatan kepada anak didik ikut berpartisipasi dalam proses penemuan dan formalisasi melalui percobaan matematika. grafik. semakin banyak bentuk-bentuk berlainan yang diberikan dalam konsep tertentu.tepat. pola berpikir anak-anak tidak sama dengan pola 21 . adalah memotivasi anak didik untuk mengabstraksikan pelajaran tanda material kongkret dengan gambar yang sederhana. Pentingnya simbolisasi adalah untuk meningkatkan kegiatan matematika ke satu bidang baru.

Urutan periode itu tetap bagi setiap orang. karena efektivitas hubungan antara setiap individu dengan lingkunganya dan kehidupan sosialnya berbeda satu sama lain. sebab anak bukan miniatur orang dewasa. Jadi. Teori Piaget Teori Perkembangan Intelektual Piaget Teori belajar Dienes sangat terkait dengan teori belajar yang dikemukakan oleh Piaget. yaitu mengenai teori perkembangan intelektual. sebagai berikut: 1. berpendapat bahwa proses berpikir manusia merupakan suatu perkembangan yang bertahap dari berpikir intelektual kongkret ke abstrak berurutan melalui empat tahap perkembangan. Oleh karena itu agar perkembangan kognitif seorang anak berjalan secara maksimal diperkaya dengan pengalaman edukatif. 22 . namun usia atau kronologis pada setiap orang yang memasuki setiap periode berpikir yang lebih tinggi berbeda-beda tergantung kepada masing-masing individu.Periode Sensori Motor (0 – 2) tahun. Piaget (dalam Bell. dalam memandang anak keliru jika kemampuan anak dengan kemampuan orang dewasa sama. Maka tahap perkembangan kognitif yang dicapai oleh setiap individu berbeda pula. 1981). Selain daripada itu. Jean Piaget berpendapat bahwa proses berpikir manusia sebagai suatu perkembangan yang bertahap dari berpikir intelektual konkret ke abstrak berurutan melalui empat periode. Piaget adalah orang pertama yang menggunakan filsafat konstruktivis dalam proses belajar mengajar. E. perkembangan kognitif seorang individu dipengaruhi oleh lingkungan dan transmisi sosial. semakin ia dewasa makin meningkat pula kemampuan berpikirnya.berfikir orang dewasa. Jadi.

Periode operasi kongkret (7 – 12) tahun. Operasi yang dimaksud di sini adalah suatu proses berpikir atau logik.Karateristik periode ini merupakan gerakan-gerakan sebagai akibat reaksi langsung dari rangsangan. Pekerjaan-pekerjaan logika dapat dilakukan dengan berorientasi ke objek-objek atau peristiwa-peristiwa yang 23 . Periode ini disebut operasi kongkret sebab berpikir logikanya didasarkan atas manipulasi fisik dari objek -objek. anak menyadari bahwa objek yang disembunyikan tadi masih ada dan ia akan mencarinya. bukan aktivitas sensori motor. ia masih sulit melihat hubungan- hubungan dan mengambil kesimpulan secara taat asas. Anak itu belum mempunyai kesadaran adanya konsep objek yang tetap. Rangsangan itu timbul karena anak melihat dan meraba-raba objek. Periode ini sering disebut juga periode pemberian simbol. tetapi anak itu mulai memanipulasi simbol dari benda-benda sekitarnya. Operasi kongkret hanyalah menunjukkan kenyataan adanya hubungan dengan pengalaman empirik-kongkret yang lampau dan masih mendapat kesulitan dalam mengambil kesimpulan yang logis dari pengalaman pengamanan yang khusus. Pada periode ini anak terpaku kepada kontak langsung dengan lingkungannya. pada akhir periode ini. Walaupun pada periode permulaan pra-operasional ini anak mampu menggunakan simbol-simbol. Namun karena pengalamannya terhadap lingkungannya. Pada periode ini anak di dalam berpikirnya tidak didasarkan kepada keputusan yang logis melainkan didasarkan kepada keputu san yang dapat dilihat seketika. dan merupakan aktivitas mental.Periode Pra-operasional (2 – 7) tahun. 2. Dalam periode ini anak berpikirnya sudah dikatakan menjadi operasional. anak itu tidak akan mencarinya lagi. 3. Bila objek itu disembunyikan. misalnya suatu benda diberi nama (simbol).

berlaku hukum asosiatif terhadap penjumlahan. Misalnya himpunan bilangan bulat. Hubungan A > B dan B > C menjadi A > C. 5 + ? = 9 sama dengan 9 – 5 = ? Reversibilitas ini merupakan karakteristik utama untuk berpikir operasional di dalam teori Piaget. Kombinasivitas atau klasifikasi adalah suatu operasi dua kelas atau lebih yang dikombinasikan ke dalam suatu kelas yang lebih besar. unsur nol adalah 0 sehingga 8 + 0 = 8.dalam himpunan bilangan bulat dengan operasi ‖+‖. Identitas adalah suatu operasi yang menunjukkan adanya unsur nol yang bila dikombinasikan dengan unsur atau kelas hasilnya tidak berubah.langsung dialami anak. Korespondensi satu – satu antara objek-objek dari dua kelas. Anak itu belum memperhitungkan semua kemungkinan dan kemudian mencoba menemukan kemungkinan yang mana yang akan terjadi. Anak masih terikat kepada pengalaman pribadi. Pengalaman anak masih kongkret dan belum formal. d. b. Setiap operasi logik atau matematik dapat dikerjakan dengan operasi kebalikan. Misalnya. Dalam periode operasi kongkret. operasi ‖+‖. 24 . Reversibilitas adalah operasi kebalikan. Demikian juga suatu jumlah dapat dinolkan dengan mengkombinasikan lawannya. e. Misalnya semua manusia laki – laki dan semua manusia perempuan adalah semua manusia. Misalnya. misalnya 4 – 4 = 0. Anak dapat membentuk variasi relasi kelas dan mengerti bahwa beberapa kelas dapat dimasukkan ke kelas lain. c. Asosiasivitas adalah suatu operasi terhadap beberapa kelas yang dikombinasikan menurut sebarang urutan. karateristik berpikir anak adalah sebagai berikut: a. Misalnya unsur dari suatu himpunan berkawan dengan satu unsur dari himpunan kedua dan sebaliknya.

Periode ini merupakan tahap terakhir dari keempat periode perkembangan intelektual. Kesadaran adanya prinsip-prinsip konservasi. tetap sama sementara itu aspek lainnya berubah.f. tahap-tahap berpikir itu adalah pasti dan spontan namun umur kronologis yang diberikan itu adalah fleksibel. Anak pada periode ini dilandasi oleh observasi dari pengalaman dengan objek nyata. 4. Ia mampu menggunakan prosedur seorang ilmuwan. Anak sudah dapat mengoperasikan argumen-argumen tanpa dikaitkan dengan benda-benda empirik.Periode Operasi Formal (> 12) tahun. Konsep konservasi telah tercapai sepenuhnya.Anak sudah mampu menggunakan hubungan-hubungan di antara objek-objek apabila ternyata manipulasi objek-objek tidak memungkinkan. Anak juga sudah dapat berpikir kombinatorik.definisi verbal. Anak telah mampu melihat hubungan-hubungan abstrak dan menggunakan proposisi-proposisi logik-formal termasuk aksioma dan definisi. ia dapat mengisolasi faktor-faktor tersendiri atau mengkombinasikan faktor-faktor itu sehingga menuju penyelesaian masalah tadi. terutama selama transisi dari periode yang satu ke periode berikutnya. Periode operasi formal ini disebut juga sebagai periode operasi hipotetik-deduktif yang merupakan tahap tertinggi dari perkmbangan intelektual. Anak mampu menyelesaikan masalah dengan cara yang lebih baik dan kompleks dari pada anak yang masih dalam tahap periode operasi kongkret. Umur 25 . artinya bila anak dihadapkan kepada suatu masalah. tetapi ia sudah mulai menggeneralisasi objek-objek tadi. Anak-anak pada periode ini sudah memberikan alasan dengan menggunakan lebih banyak simbol atau gagasan dalam cara berpikir. yaitu menggunakan prosedur hipotetik-deduktif. Konservasi berkenaan dengan kesadaran bahwa satu aspek dari benda. Menurut Piaget. Namun prinsip konservasi yang dimiliki anak pada periode ini masih belum penuh.

bereksplorasi. bagaimanakah ukurannya supaya luasnya sebesar-besarnya ? Aliran terapi Gestalt memandang bahwa konsep atau pengetahuan baru merupakan struktur yang terorganisir dan merupakan masalah bagi anak. berapa lebar parit yang direncanakan ? (2). tidak ada gunanya bila kita memaksa anak untuk cepat berpindah ke periode berikutnya. Langkah-langkah pembelajaran menurut aliran ini. ataupun kemiripan menjadi kesatuan. anak harus banyak diberikan kesempatan untuk berdialog (berdiskusi) dengan teman-temannya maupun dengan guru. Teori Gestalt Gestalt adalah sebuah teori yang menjelaskan proses persepsi melalui pengorganisasian komponen-komponen sensasi yang memiliki hubungan. maka konsep fungsi kuadrat akan lebih bermakna jika konsep tersebut dikemas dalam bentuk masalah-masalah seharihari yang cukup sederhana seperti berikut : (1).kronologis itu dapat saling tindih bergantung kepada individu. Jika kita akan mengajarkan konsep fungsi kuadrat. Jika kelilingnya adalah 400 m. dan diberikan kebebasan bereksperimen. Ketika mengkonstruksi konsep. Pekarangan rumah berbentuk persegipanjang. Sekeliling kebun yang berbentuk persegipanjang dengan panjang 18 m dan lebar 12 m. Menurut teori ini. Jika si pemilik kebun hanya mampu membuat parit seluas 99 m2. F. Piaget berpendapat. pertama anak dengan bantuan guru secara tidak langsung diberikan kesempatan untuk menganalisis masalahmasalah yang diberikan menjadi struktur yang lebih sederhana sehingga mudah 26 . pembelajaran harus dimulai dari masalah-masalah yang berkaitan dengan konsep yang akan diberikan dan berada dalam kehidupannya sehari-hari. pola. Teori gestalt cenderung berupaya mengurangi pembagian sensasi menjadi bagian-bagian kecil. akan dibuat parit pembuangan air. Teori gestalt beroposisi terhadap teori strukturalisme. Istilah ―Gestalt‖ mengacu pada sebuah objek/figur yang utuh dan berbeda dari penjumlahan bagian-bagiannya.

Selanjutnya anak mensintesis konsep atau pengetahuan dalam bentuk yang lebih umum. Dengan pernyataan ini ia menentang pendapat Wundt yang menunjuk pada proses fisik sebagai penjelasan phi phenomenon. Proses ini terjadi di otak dan sama sekali bukan proses fisik.  Max Wertheimer (1880-1943) Belajar pada Kuelpe. Akhirnya anak mencoba melakukan penerapan dari konsep yang sudah dipelajarinya. Max Wertheimer. and Wolfgang Köhler.  Kurt Lewin (1890-1947) 27 . seorang tokoh aliran Wuerzburg. Dengan konsep ini. Wertheimer menunjuk pada proses interpretasi dari sensasi obyektif yang kita terima.dipahami anak. tetapi proses mental. Mereka menyimpulkan bahwa seseorang cenderung mempersepsikan apa yang terlihat dari lingkungannya sebagai kesatuan yang utuh. Teori ini dibangun oleh tiga orang. Tahun 1910 ia mengajar di Univeristy of Frankfurt bersama-sama dengan Koehler dan Koffka yang saat itu sudah menjadi asisten di sana. Konsep pentingnya : phi phenomenon (bergeraknya obyek statis menjadi rangkaian gerakan yang dinamis setelah dimunculkan dalam waktu singkat dan dengan demikian memungkinkan manusia melakukan interpretasi). Bersama-sama dengan Wolfgang Koehler (1887-1967) dan Kurt Koffka (1887-1941) melakukan eksperimen yang akhirnya menelurkan ide Gestalt. Kemudian anak menyusun atau mensintesis penyelesaian masalah itu berdasarkan pada struktur yang lebih sederhana dan sudah dimengerti anak. Kurt Koffka.

Dalam lapangan psikologis ini juga terjadi daya (forces) yang menarik dan mendorong individu mendekati dan menjauhi tujuan. sangat mungkin ada hambatan. maka bagaimana valensi dari nilai tersebut bagi si individu akan menentukan gerakan individu. Konsep utama Lewin adalah Life Space. Dengan konsep vektor. Lewin lahir di Jerman. Apabila terjadi ketidakseimbangan (disequilibrium). Hambatan ini mungkin sekali menjadi obyek yang bervalensi negatif bagi individu. daya. Tugas utama psikologi adalah meramalkan perilaku individu berdasarkan semua fakta psikologis yang eksis dalam lapangan psikologisnya pada waktu tertentu. lulus Ph. Perilaku individu akan segera tertuju untuk meredakan ketegangan ini dan mengembalikan keseimbangan. Apabila individu menghadapi suatu obyek. Batas ini dapat dipahami sebagai sebuah hambatan individu untuk mencapai tujuannya. Dalam usahanya mendekati obyek bervalensi positif. Vektor juga memiliki kekuatan dan titik awal berangkat. yaitu Wertheimer dan Koehler dan mengambil konsep psychological field juga dari Gestalt.Pandangan Gestalt diaplikasikan dalam field psychology dari Kurt Lewin. Life space terbagi atas bagian-bagian memiliki batas-batas. 28 . Pada umumnya individu akan mendekati obyek yang bervalensi positif dan menjauhi obyek yang bervalensi negatif. yaitu lapangan psikologis tempat individu berada dan bergerak. Lapangan psikologis ini terdiri dari fakta dan obyek psikologis yang bermakna dan menentukan perilaku individu (B=f L). Ia banyak terlibat dengan pemikir Gestalt. Lewin adalah salah seorang ahli yang sangat kuat menganjurkan pemahaman tentang lapangan psikologis seseorang. dan valensi ini Lewin menjelaskan teorinya mengenai tiga jenis konflik (approach-approach. dan avoidance-avoidance). Arah individu mendekati/menjauhi tujuan disebut vektor. Gerakan individu mencapai tujuan (goal) disebut locomotion. maka terjadi ketegangan (tension).D dari University of Berlin dalam bidang psikologi tahun 1914. approach-avoidance.

Dasar berpikirnya adalah kelompok dianalogikan dengan individu. Setiap perceptual field memiliki organisasi. Prinsip-prinsip pengorganisasian: O Principle of Proximity: bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertentu. 29 . O Principle of Similarity: bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang berada dalam arah yang sama cenderung akan dipersepsi sebagi suatu figure atau bentuk tertentu. Oleh karena itu kemampuan persepsi ini merupakan fungsi bawaan manusia. dimana salah satu faktornya adalah para anggota kelompok dan hubungan interpersonal mereka. yang cenderung dipersepsikan oleh manusia sebagai figure and ground. Prinsip dasar Gestalt 1. 2.Interaksi antara individu dan lingkungan disebut sebagai perceptual field. bukan skill yang dipelajari. Sebaliknya. Pengorganisasian ini mempengaruhi makna yang dibentuk. Apabila hubungan ini bervalensi negatif. maka perilaku anggota akan menjauhinya dan dengan demikian tujuan kelompok semakin tidak tercapai. hubungan yang baik akan membuat anggota saling mendekati sehingga memungkinkan kerjasama yang lebih baik dalam mencapai tujuan kelompok. O Principle of Objective Set: Organisasi berdasarkan mental set yang sudah terbentuk sebelumnya.Aplikasi teori Lewin banyak dilakukan dalam konteks dinamika kelompok. Implikasinya adalah penjelasan Lewin sulit sampai pada level explanatory dan sifatnya deskriptif. Kritik untuk teori Lewin berfokus pada konstruk-konstruknya yang dianggap hipotetis dan sulit dikongkritkan dalam situasi eksperimental. Maka perilaku kelompok menjadi fungsi dari lingkungan.

b. Contoh: perubahan nada tidak akan merubah persepsi tentang melodi. O Principle of Figure and Ground: yaitu menganggap bahwa setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar belakang.Pengalaman tilikan (insight). khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif 30 . O Principle of Isomorphism: Organisasi berdasarkan konteks. terjadi reorganisasi dalam perceptual fieldnya. seseorang dapat memiliki cara pandang baru terhadap suatu problem.O Principle of Continuity: Organisasi berdasarkan kesinambungan pola. warnadan sebagainya membedakan figure dari latar belakang. Apabila individu mengalami proses belajar. bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. Penampilan suatu obyek seperti ukuran.Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning). kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Setelah proses belajar terjadi. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah. O Principle of Closure/ Principle of Good Form: bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap. makaakan terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figure. Dalam proses pembelajaran. Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain : a. Aplikasi prinsip Gestalt Belajar Proses belajar adalah fenomena kognitif. Bila figure dan latar bersifat samarsamar. hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsurunsur dalam suatu obyek atau peristiwa. akan makin efektif pula sesuatu yang dipelajari. Makin jelas makna hubungan suatu unsur. potongan.

Perilaku bertujuan (pusposive behavior). Oleh karena itu.pemecahannya. transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat. Menurut pandangan Gestalt. Setelah adanya pengalaman insight. c. guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsipprinsip pokok dari materi yang diajarkannya. Juga menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya. guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya. Insight Pemecahan masalah secara jitu yang muncul setelah adanya proses pengujian berbagai dugaan/kemungkinan. tetapi ada keterkaitannya dengan tujuan yang ingin dicapai. e. individu mampu menerapkannya pada problem sejenis tanpa perlu melalui proses trial- 31 . bahwa perilaku terarah pada tujuan. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya.Transfer dalam Belajar. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons.Prinsip ruang hidup (life space). Oleh karena itu. Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. Oleh karena itu. materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik. d.

 Pendekatan fenomenologis menjadi salah satu pendekatan yang eksis di psikologi dan dengan pendekatan ini para tokoh Gestalt menunjukkan bahwa studi psikologi dapat mempelajari higher mental process. Pandangan Gestalt cukup luas diakui di Jerman namun tidak lama exist di Jerman karena mulai didesak oleh pengaruh kekuasaan Hitler yang berwawasan sempit mengenai keilmuan. Memory Hasil persepsi terhadap obyek meninggalkan jejak ingatan. Penerapan Prinsip of Good Form seringkali muncul dan terbukti secara eksperimental. Para tokoh Gestalt banyak yang melarikan diri ke AS dan berusaha mengembangkan idenya di sana.error lagi. 32 .  Pandangan Gestalt menyempurnakan aliran behaviorisme dengan menyumbangkan ide untuk menggali proses belajar kognitif. fenomena ini juga menjelaskan pengaruh gosip/rumor. Konsep insight ini adalah fenomena penting dalam belajar. Meskipun demikian. Secara sosial. ada beberapa hal yang patut dicatat sebagai implikasi dari aliran Gestalt yaitu. Dengan berjalannya waktu. yang selama ini dihindari karena abstrak. berfokus pada higher mental process. Adanya perceptual field diinterpretasikan menjadi lapangan kognitif dimana proses-proses mental seperti persepsi. Namun hal ini tidak mudah dilakukan karena pada saat itu di AS didominasi oleh pandangan behaviorisme.dan problem solving beroperasi. Akibatnya psikologi gestalt diakui sebagai sebuah aliran psikologi namun pengaruhnya tidak sekuat behaviorisme. namun tetap dapat mempertahankan aspek ilmiah dan empirisnya. insight. jejak ingatan ini akan berubah pula sejalan dengan prinsip-prinsip organisasional terhadap obyek. ditemukan oleh Koehler dalam eksperimen yang sistematis.

Psikologi Gestalt ini terkenal juga sebagai teori medan (field) atau lazim disebut cognitive field theory. Pada pengamatan itu menekankan perhatian pada bentuk yang terorganisasi (organized form) dan pola persepsi manusia. Demonstrasinya mengenai peranan latar belakang dan organisasinya terhadap proses-proses yang diamati secara fenomenal demikian meyakinkan sehingga boleh dikatakan tidak dapat di bantah. 4. antara lain : 1. Ketika para ahli Psikologi Gestalt beralih dari masalah pengamatan ke masalah belajar. 33 . tetapi juga secara fisik. maka hasil-hasil yang telah kuat / sukses dalam penelitian mengenai pengamatan itu dibawanya dalam studi mengenai belajar. emosional. 3. Manusia berkembang sebagai keseluruhan sejak dari kecil sampai dewasa.Psikologi Gestalt bermula pada lapangan pengamatan (persepsi) dan mencapai sukses yang terbesar juga dalam lapangan ini. Karena asumsi bahwa hukum –hukum atau prinsip-prinsip yang berlaku pada proses pengamatan dapat ditransfer kepada hal belajar.bagiannya. Kelompok pemikiran ini sependapat pada suatu hal yakni suatu prinsip dasar bahwa pengalaman manusia memiliki kekayaan medan yang memuat fenomena keseluruhan lebih dari pada bagian. Pemahaman dan persepsi tentang hubungan-hubungan dalam kebulatan (entities) adalah sangat esensial dalam belajar. Belajar adalah penyesuaian diri dengan lingkungan. sosial dan sebagainya. Manusia bereaksi dengan lingkungannya secara keseluruhan. maka untuk memahami proses belajar orang perlu memahami hukum-hukum yang menguasai proses pengamatan itu. lengkap dengan segala aspek-aspeknya. tidak hanya secara intelektual. 2. Keseluruhan ini memberikan beberapa prinsip belajar yang penting. Belajar adalah perkembangan kearah diferensiasi ynag lebih luas.

8. maka dia cenderung menyenangi judi. kelaziman) dan karakteristik pengamat (kemampuan indera. G. proses mengamati dan meniru perilaku sikap orang lain sebagai model merupakan tindakan belajar. Perhatian (attention). Misalnya seseorang yang hidup dan dibesarkan di lingkungan judi.yaitu hukum – hukum keterdekatan. Dalam hukum-hukum belajar Gestalt ini ada satu hukum pokok. persepsi. atau setidaknya menganggap bahwa judi itu tidak jelek. Albert berkebangsaan Kanada. minat. Belajar hanya berhasil. Faktor-faktor yang berproses dalam belajar observasi adalah : 1.5. apabila tercapai kematangan untuk memperoleh insight. bukan ibarat suatu bejana yang diisi. dan empat hukum tambahan (subsider) yang tunduk kepada hukum yang pokok itu. mencakup peristiwa peniruan (adanya kejelasan. Menurut Bandura. motivasi memberi dorongan yang mengerakan seluruh organisme. Belajar merupakan suatu proses bila seseorang itu aktif. yaitu hukum Pragnaz. Teori Bandura menjelaskan perilaku manusia dalam konteks interaksi timbal-balik yang berkesinambungan antara kognitif. 7. ketertutupan. 34 . Teori Bandura Albert Bandura lahir pada tanggal 4 Desember 1925 di Mundare. Tidak mungkin ada belajar tanpa ada kemauan untuk belajar. Belajar akan berhasil kalau ada tujuan. Kondisi lingkungan sekitar individu sangat berpengaruh pada pola belajar sosial ini. perilaku dan pengaruh lingkungan. kesamaan. 6. dan kontinuitas. Eksperimennya yang sangat terkenal adalah eksperimen ―Bobo doll‖ yang menunjukkan anak meniru secara persis perilaku agresif dari orang dewasa di sekitarnya. Ia seorang psikolog yang terkenal dengan teori belajar sosial atau kognitif sosial serta efikasi diri. keterlibatan perasaan. penguatan sebelumnya). tingkat kerumitan.

mencakup dorongan dari luar dan penghargaan terhadap diri sendiri. mencakup kode pengkodean simbolik. Proses mengingat akan lebih baik dengan cara mengkodekan perilaku yang ditiru kedalam kata-kata. hanya terjadi secara langsung dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Tingkat tertinggi belajar dari pengamatan diperoleh dengan cara mengorganisasikan sejak awal dan mengulangi perilaku secara simbolik kemudian melakukannya. pengulangan symbol. 35 .2. 2. 4. informasi dan instruksional. keakuratan umpan balik. Motivasi. komunikasi. Proses belajar masih berpusat pada penguatan. yang harus juga diperhatikan bahwa faktor model atau teladan mempunyai prinsip-prinsip sebagai berikut. 3. keorganisasian pikiran. 3. Teori sosial belajar dari Bandura ini merupakan gabungan antara teori belajar behovioristik dengan penguatan dan psikologi kognitif. Sebagai contoh. Teori belajar dari Bandura ini nampaknya memang bisa berlaku umum dalam semua langkah pendidikan sosial. penerapan teori belajar sosial dalam iklan televisi. dengan prinsip modifikasi perilaku. Teori Bandura menjadi dasar dari perilaku pemodelan yang digunakan dalam berbagai pendidikan secara massal. tanda atau gambar daripada hanya observasi sederhana (hanya melihat saja). Selain itu. Reproduksi motorik (reproduction). Individu lebih menyukai perilaku yang ditiru jika sesuai dengan nilai yang dimilikinya. kemampuan meniru. 1. pengulangan motorik. mencakup kemampuan fisik. Penyimpanan atau proses mengingat (retention). Individu akan menyukai perilaku yang ditiru jika model atau panutan tersebut disukai dan dihargai serta perilakunya mempunyai nilai yang bermanfaat.

daripada membahas konsep motivasi belajar. Penentuan Nilai dari Suatu Insentif 36 . karena suasana dan kondisi yang sudah dirancang secara khusus untuk tujuan yang khusus pula. karena nilai penguatan dari penguat yang paling potensial sebagian besar ditentukan oleh faktor-faktor pribadi dan situsional. 1986 dan Wielkeiwicks. Hanya dalam situasi sosial dan kemasyarakatanlah banyak terjadi belajar sosial. maka sulit dilaksanakan dalam sekolah-sekolah formal. kita tidak dapat sepenuhnya yakin apa yang merupakan penguat dan apa yang bukan penguat. sehingga metode belajar sosial dari Bandura ini agak sulit dilakukan. Terhadap binatang yang sangat lapar kita dapat meramalkan bahwa makanan akan merupakan penguat yang sangat efektif. Dalam kenyataannya. Namun hal itu tentu saja sangat khusus dan terbatas. penganut teori perilaku lebih memfokuskan pada seberapa jauh siswa telah belajar untuk mengerjakan pekerjaan sekolah dalam rangka mendapatkan hasil yang diinginkan (Bandura. Motivasi Belajar dan teori perilaku (Bandura) Konsep motivasi belajar berkaitan erat dengan prinsip bahwa perilaku yang memperoleh penguatan (reinforcement) di masa lalu lebih memiliki kemungkinan diulang dibandingkan dengan perilaku yang tidak memperoleh penguatan atau perilaku yang terkena hukuman (punishment).Namun karena kondisinya yang umum tadi. Penghargaan (Reward) dan Penguatan (Reinforcement) Suatu alasan mengapa penguatan yang pernah diterima merupaka penjelasan yang tidak memadai untuk motivasi karena motivasi belajar manusia itu sangat kompleks dan tidak bebas dari konteks (situasi yang berhubungan). Yakni untuk tujuan mempermudah terlaksananya proses belajar secara efektif. Peristiwa sosial juga terjadi di lingkungan sekolah dan pendidikan pada umumnya. 1995). Terhadap manusia. meskipun ia lapar.

‖ guru itu mungkin mengasumsikan bahwa nilai merupakan insentif yang efektif untuk siswa pada umumnya. karena nilai itu dapat bergantung pada banyak faktor (Chance. dan pengatur tingkah laku kita (Bandura. 2) sub proses kognitif yang merasakan. Apabila guru mengatakan kepada seorang siswa. Pada saat guru mengatakan ―Saya ingin kamu semua mengumpulkan laporan buku pada waktunya karena laporan itu akan diperhitungkan dalam menentukan nilaimu. Kadang-kadang suatu jenis motivasi jelas-jelas menentukan perilaku. 1978). ada motivasi lain yang berpengaruh (mempengaruhi) terhadap perilaku belajar siswa. Dalam pembelajaran sel-regulatory akan menentukan ―goal setting‖ dan ―self evaluation‖ 37 . tetapi juga sangat dipengaruhi oleh unsur-unsur yang berasal dari diri pembelajar sendiri yakni ―sense of self Efficacy‖ dan ―self – regulatory system‖. tetapi pada saat yang lain. Tetapi bagaimanapun juga sejumlah siswa dapat tidak menghiraukan nilai karena orang tua mereka tidak menghiraukannya atau mereka memiliki catatan kegagalan di sekolah dan telah mengambil sikap bahwa nilai itu tidak penting. mengevaluasi. Sense of self efficacy adalah keyakinan pembelajar bahwa ia dapat menguasai pengetahuan dan keterampilan sesuai standar yang berlaku. ―Pekerjaan yang bagus! Saya tahu kamu dapat mengerjakan tugas itu apabila kamu mencobanya!‖ Ucapan ini dapat memotivasi seorang siswa yang baru saja menyelesaikan suatu tugas yang ia anggap sulit namun dapat berarti hukuman (punishment) bagi siswa yang berfikir bahwa tugas itu mudah (karena pujian guru itu memiliki implikasi bahwa ia harus bekerja keras untuk menyelesaikan tugas itu).Ilustrasi berikut menunjukkan poin penting: nilai motivasi belajar dari suatu insentif tidak dapat diasumsikan. 1992). Lebih lanjut menurut Bandura (1982) penguasaan skill dan pengetahuan yang kompleks tidak hanya bergantung pada proses perhatian. retensi. Self regulatory adalah menunjuk kepada 1) struktur kognitif yang memberi referensi tingkah laku dan hasil belajar. motor reproduksi dan motivasi. Seringkali sukar menentukan motivasi belajar siswa dari perilaku mereka karena banyak motivasi yang berbeda dapat mempengaruhi perilaku.

Analisis tingkah laku yang akan dijadikan model yang terdiri : a. Bagaimanakah urutan atau sekuen dari tingkah laku tersebut? c.pembelajar dan merupakan dorongan untuk meraih prestasi belajar yang tinggi dan sebaliknya. Bila tingkah laku yang dipelajari kurang memberi manfaat (tidk begitu penting) model manakah yang lebih penting? c. mengembangkan ―self of mastery‖. 38 . bagaimana cara mengerjakan pekerjaan/kemampuan yang dipelajari :how to do this‖ dan bukannya ―not this‖. Apakah karekter dari tingkah laku yang akan dijadikan model itu berupa konsep. a. motor skil atau efektif? b.Tetapkan fungsi nilai dari tingkah laku dan pilihlah tingkah laku tersebut sebagai model. Apakah tingkah laku (kemampuan yang dipelajari) merupakan hal yang penting dalam kehidupan dimasa datang? (success prediction) b. dan reinforcement bagi pembelajar. Menurut Bandura agar pembelajar sukses instruktur/guru/dosen/guru harus dapat menghadirkan model yang mempunyai pengaruh yang kuat terhadap pembelajar.Langkah-langkah manakah menurut sekuen yang harus dipresentasikan secara perlahan-lahan. d. Apakah reinforcement yang akan didapat melalui model yang dipilih? 3. Dimanakah letak hal-hal yang penting (key point) dalam sekuen tersebut? 2. Berikut Bandura mengajukan usulan untuk mengembangkan strategi proses pembelajaran yaitu sebagi berikut : 1. Pengembangan sekuen instruksional Untuk mengajar motor skill. self efficacy. Apakah model harus hidup atau simbol? Pertimbangan soal biaya. pengulangan demonstrasi dan kesempatan untuk menunjukkan fungsi nilai dan tingkah laku.

4. Dari uraian tentang teori belajar sosial. faktor-faktor personal dan tingkah laku yang meliputi proses-proses kognitif belajar. perlu ditumbuhkan ―sense of efficacy‖ dan self regulatory‖ pembelajar.a. 3. motor skill 1) hadirkan model 2) beri kesempatan kepada tiap-tiap pembelajar untuk latihan secarasimbolik 3) beri kesempatan kepada pembelajar untuk latihan dengan umpan balik visual b. Belajar merupakan interaksi segitiga yang saling berpengaruh dan mengikat antara lingkungan. 39 . disamping pembelajaran-pembelajaran komponen-komponen skill itu sendiri. dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Proses kognitif 1) Tampilkan model. konsekuensikonsekuensi terhadap model dan proses-proses kognitif pembelajar. Hasil belajar berupa kode-kode visual dan verbal yang mungkin dapat dimunculkan kembali atau tidak (retrievel). Dalam perencanaan pembelajaran skill yang kompleks. 2. Implementasi pengajaran untuk menunut proses kognitif dan motor reproduksi. Komponen-komponen belajar terdiri dari tingkah laku. baik yang didukung oleh kode-kode verbal atau petunjuk untuk mencari konsistensi pada berbagai contoh 2) Beri kesempatan kepada pembelajar untuk membuat ihtisar atau summary 3) Jika yang dipelajari adalah pemecahan masalah atau strategi penerapan beri kesempatan pembelajar untuk berpartisipasi secaraaktif 4) Beri kesempatan pembelajar untuk membuat generalisasi ke berbagai siatuasi.

40 . Dalam proses pembelajaran. pembelajar sebaiknya diberi kesempatan yang cukup untuk latihan secara mental sebelum latihan fisik. dan ―reinforcement‖ dan hindari punishment yang tidak perlu.5.

Dalam teori yang mereka kemukakan. Sebagai contoh. pada tingkat ini siswa tahu suatu bangun bernama persegipanjang.A. meskipun pada tingkat ini siswa sudah mengenal nama sesuatu bangun. siswa belum mengamati ciri-ciri dari bangun itu.  Tingkat Analisis Tingkat ini dikenal sebagai tingkat deskriptif. mereka berpendapat bahwa dalam mempelajari geometri para siswa mengalami perkembangan kemampuan berpikir melalui tahap-tahap tertentu. Dian Van Hiele-Geldof. Teori Van Hiele Tingkat Kognitif menurut Van Hiele Dua tokoh pendidikan matematika dari Belanda. yaitu Pierre Van Hiele dan isterinya. pada tahun-tahun 1957 sampai 1959 mengajukan suatu teori mengenai proses perkembangan yang dilalui siswa dalam mempelajari geometri. tetapi ia belum menyadari ciri-ciri bangun persegipanjang tersebut. Dengan kata lain. Pada tingkat ini. menurut Van Hiele adalah sebagai berikut:  Tingkat Visualisasi Tingkat ini disebut juga tingkat pengenalan. Dengan demikian. Pada tingkat ini siswa belum memperhatikan komponen-komponen dari masing-masing bangun. siswa memandang sesuatu bangun geometri sebagai suatu keseluruhan (wholistic). Pada tingkat ini siswa sudah mengenal bangun-bangun geometri berdasarkan ciri-ciri dari masing-masing bangun. Tahapan berpikir atau tingkat kognitif yang dilalui siswa dalam pembelajaran geometri. pada tingkat ini siswa sudah terbiasa menganalisis bagian-bagian yang ada pada suatu bangun dan mengamati sifat-sifat yang dimiliki oleh unsur-unsur tersebut 41 .

siswa memahami bahwa dimungkinkan adanya lebih dari satu geometri. siswa sudah bisa memahami hubungan antar ciri yang satu dengan ciri yang lain pada sesuatu bangun.Sebagai contoh. siswa mampu melakukan penalaran secara formal tentang sistem-sistem matematika (termasuk sistem-sistem geometri). karena persegi juga memiliki ciri-ciri persegipanjang. tanpa membutuhkan model-model yang konkret sebagai acuan. Pada tingkat ini. pada tingkat ini siswa sudah bisa mengatakan bahwa suatu bangun merupakan persegipanjang karena bangun itu ―mempunyai empat sisi. dan semua sudutnya siku-siku‖  Tingkat Abstraksi Tingkat ini disebut juga tingkat pengurutan atau tingkat relasional. Pada tingkat ini.  Tingkat Rigor Tingkat ini disebut juga tingkat metamatematis. Sebagai contoh. dan terorema-teorema dalam geometri. definisi-definisi. 42 . sisi-sisi yang berhadapan sejajar. aksioma-aksioma. siswa juga sudah bisa memahami hubungan antara bangun yang satu dengan bangun yang lain. maka sisi-sisi yang berhadapan itu sama panjang. Misalnya pada tingkat ini siswa sudah bisa memahami bahwa setiap persegi adalah juga persegipanjang. Di samping itu pada tingkat ini siswa sudah memahami pelunya definisi untuk tiap-tiap bangun.  Tingkat Deduksi Formal Pada tingkat ini siswa sudah memahami perenan pengertian-pengertian pangkal. Pada tingkat ini siswa sudah mulai mampu menyusun bukti-bukti secara formal. Pada tingkat ini. pada tingkat ini siswa sudah bisa mengatakan bahwa jika pada suatu segiempat sisi-sisi yang berhadapan sejajar. Pada tahap ini. Ini berarti bahwa pada tingkat ini siswa sudah memahami proses berpikir yang bersifat deduktif-aksiomatis dan mampu menggunakan proses berpikir tersebut.

yaitu . tetapi lebih bergantung pada pengajaran dari guru dan proses belajar yang dilalui siswa. Sehingga. kapan seseorang siswa mulai memasuki suatu tingkat yang baru tidak selalu sama antara siswa yang satu dengan siswa yang lain. orientasi bebas (free orientation). Selain itu. Tujuan kegiatan ini adalah : a. pada tingkat ini siswa menyadari bahwa jika salah satu aksioma pada suatu sistem geometri diubah. dan integrasi (integration). guru dan siswa menggunakan tanya jawab dan kegiatan tentang obyek-obyek yang dipelajari pada tahap berpikir yang bersangkutan. Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa sambil melakukan observasi. orientasi langsung (directed orientation). Implementasi Teori Van Hiele dalam Pembelajaran Untuk meningkatkan suatu tahap berpikir ke tahap berpikir yang lebih tinggi Van Hiele mengajukan pembelajaran yang melibatkan 5 fase (langkah).  Fase 1 : Informasi (information) Pada awal fase ini. dengan urutan yang sama. menurut Van Hiele. 43 . pada tahap ini siswa sudah memahami adanya geometrigeometri yang lain di samping geometri Euclides. Menurut Van Hiele. Akan tetapi. dan tidak dimungkinkan adanya tingkat yang diloncati. semua anak mempelajari geometri dengan melalui tahap-tahap tersebut. maka seluruh geometri tersebut juga akan berubah.Sebagai contoh. proses perkembangan dari tahap yang satu ke tahap berikutnya terutama tidak ditentukan oleh umur atau kematangan biologis. penjelasan (explication). Guru mempelajari pengetahuan awal yang dipunyai siswa mengenai topik yang di bahas. informasi (information).

siswa menyatakan pandangan yang muncul mengenai struktur yang diobservasi. Di samping itu untuk membantu siswa menggunakan bahasa yang tepat dan akurat. Jadi. Guru dapat membantu dalam membuat sintesis ini dengan melengkapi survey secara global terhadap apa-apa yang telah dipelajari siswa.  Fase 2 : Orientasi langsung (directed orientation) Siswa menggali topik yang dipelajari melalui alat-alat yang dengan cermat disiapkan guru. dan tugas-tugas open ended. maupun dalam menyelesaikan tugas-tugas. 44 .  Fase 5 : Integrasi (Integration) Siswa meninjau kembali dan meringkas apa yang telah dipelajari.  Fase 4 : Orientasi bebas (free orientation) Siswa mengahadapi tugas-tugas yang lebih komplek berupa tugas yang memerlukan banyak langkah. Guru mempelajari petunjuk yang muncul dalam rangka menentukan pembelajaran selanjutnya yang akan diambil. Melalui orientasi diantara para siswa dalam bidang investigasi. guru memberi bantuan seminimal mungkin. Aktifitas ini akan berangsur-angsur menampakkan kepada siswa struktur yang memberi ciri-ciri untuk tahap berpikir ini. tugas-tugas yang dilengkapi dengan banyak cara. banyak hubungan antara obyekobyek yang dipelajari menjadi jelas. alat ataupun bahan dirancang menjadi tugas pendek sehingga dapat mendatangkan respon khusus.  Fase 3 : Penjelasan (explication) Berdasarkan pengalaman sebelumnya.b. Hal tersebut berlangsung sampai sistem hubungan pada tahap berpikir ini mulai tampak nyata. Mereka memperoleh pengalaman dalam menemukan cara mereka sendiri.

Belajar bermakna (meaningful learning) 2. Suparno (1997) mengatakan pembelajaran bermakna adalah suatu proses pembelajaran di mana informasi baru dihubungkan dengan struktur pengertian yang sudah dimiliki seseorang yang sedang melalui pembelajaran. Jika siswa hanya mencoba menghafalkan informasi baru itu tanpa menghubungkan dengan struktur kognitifnya. ada dua jenis belajar : 1. Dengan 45 . maka terjadilah belajar dengan hafalan. Struktur kognitif ialah fakta-fakta. Belajar menghafal (rote learning) Menurut Ausubel belajar dapat diklasifikasikan kedalam dua dimensi. P. David Ausubel adalah seorang ahli psikologi pendidikan. Sebaliknya jika siswa menghubungkan atau mengaitkan informasi baru itu dengan struktur kognitifnya maka yang terjadi adalah belajar bermakna D.B. Menurut Ausubel. konsep-konsep. Menurut Ausubel (Dahar 1996) bahan subjek yang dipelajari siswa mestilah ―bermakna‖ (meaningfull). dan generalisasi-generalisasi yang telah disiswai dan diingat siswa. Pembelajaran bermakna merupakan suatu proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Dimensi pertama berhubungan dengan cara informasi atau materi pelajaran itu disajikan kepada siswa melalui penerimaan atau penemuan. Ausubel mengemukakan bahwa belajar dikatakan menjadi bermakna (meaningful) bila informasi yang akan dipelajari peserta didik disusun sesuai dengan struktur kognitif yang dimiliki peserta didik itu sehingga peserta didik itu dapat mengaitkan informasi barunya dengan kognitif yang dimilikinya. Selanjutnya dimensi kedua menyangkut bagaimana siswa dapat mengaitkan informasi itu pada struktur kognitif yang telah ada. TEORI BERMAKNA AUSUBEL Teori pembelajaran Ausabel merupakan salah satu dari sekian banyaknya teori pembelajaran yang menjadi dasar dalam cooperative learning.

kemudian dia hafalkan. yaitu mengaitkan pengetahuan yang telahdimilikinya dengan materi pelajaran yang dipelajarinya atau siswa menemukan pengetahuannya dari apa yang ia pelajari kemudian pengetahuan baru itu ia kaitkan dengan pengetahuan yang sudah ada. yaitu: 1. Menghafal sebenarnya mendapatkan informasi yang terisolasi sedemikian hingga peserta didik itu tidak dapat mengaitkan informasi yang diperoleh itu ke dalam struktur kognitifnya. kemudia pengetahuan yang baru itu dihafalkan tanpa mengaitkannya dengan pengetahuan yang ia miliki. Selanjutnya peserta didik tidak dapat mengendapkan 46 . Teori pembelajaran Ausubel juga dikenali sebagai teori pembelajaran penerimaan atau penemuan . materi pelajaran yang telah tersusun secara logis disampaikan kepada siswa sampai bentuk akhir. kemudia pengetahuan yang baru itu dikaitkan dengan pengetahuan yang ia miliki. peserta didik menjadi kuat ingatannya dan transfer belajar mudah dicapai. 3.belajar bermakna ini. Bagi Ausubel. Belajar dengan penemuan yang bermakna. 4. yaitu pelajaran yang dipelajari ditemukan sendiri oleh siswa tanpa mengaitkan pengetahuan yang telah dimilikinya. Belajar menerima (ekspositori) yang tidak bermakna. guru memberikan konsep-konsep dengan jelas dan tersusun supaya peserta didik dapat menerimanya dengan lengkap dan baik. menghafal berlawanan dengan belajar bermakna. 2. Empat tipe belajar menurut Ausubel. Belajar menerima (ekspositori) yang bermakna. kerena beliau menekankan proses penguasaan maklumat melalui bahasa yang bermakna. yaitu materi pelajaran yang telah tersusun secara logis disampaikan kepada siswa sampai bentuk akhir. Belajar dengan penemuan yang tidak bermakna. Dalam pembelajaran resepsinya .

Adanya struktur kognitif di dalam mental peserta didik yang merupakan dasar unsur mengaitkan datangnya informasi baru. Apabila peserta didik melaksanakan tugas dengan sikap bahwa ia ingin memahami bahan pelajaran dan mengaplikasikan bahan baru serta menghubungkan bahan pelajaran yang terdahulu. hendaknya bersesuaian dengan tujuan belajar peserta didik. dikatakan peserta didik itu belajar bahan baru dengan cara yang bermakna. Demikianlah banyak peserta didik yang tidak berusaha mengerti matematika. bila diberi bahan materi matematika yang abstrak tanpa contoh-contoh konkrit dari materi tersebut. Tugas-tugas yang diberikan haruslah sesuai dengan tahap perkembangan intelektual peserta didik. maka belajar itu tidak bermakna. b. Belajar yang bermakna pada tahap mula-mula memberikan pengertian kepada bahan baru sehingga bahan baru itu akan terserap dan kemudian diingat peserta didik. Peserta didik yang masih di dalam periode operasi konkrit.pengetahuan yang diperoleh itu sehingga peserta didik itu hanya dapat mengingat fakta-fakta yang sederhana. Tugas-tugas diberikan kepada peserta didik harus sesuai dengan struktur kognitif peserta didik sehingga peserta didik itu dapat mengasimilasi bahan baru secara bermakna. akan mengakibatkan peserta didik itu tidak mempunyai keinginan mempelajari materi tersebut secara bermakna. Dengan demikian 47 . c. Kondisi dan sikap peserta didik terhadap tugas. cenderung mengalami kegagalan dan akhirnya membenci matematika. Ia tidak menghafal asosiasi stimulus-respon yang terpisah-pisah. Belajar bermakna berarti belajar dengan memperoleh pemberitahuan yang bermakna mempunyai pra syarat : a. Banyaknya pengetahuan yang dapat dipelajari tergantung kepada apa yang sudah diketahui. Sebaliknya bila peserta didik itu tidak berkehendak mengaitkan bahan yang dipelajari dengan informasi yang dimiliki.

1989 : 141) ada tiga kebaikan belajar bermakna yaitu : a. Pengaturan awal (advance organizer) Pengaturan awal dap digunakan untuk membantu mengaitkan konsep yang lama dengan konsep yang baru yang lebih tinggi maknanya. Ausubel (Dahar. 48 . Informasi yang dipelajari secara bermakna mempermudah belajar hal-hal yang mirip walaupun telah lupa. b. c. Dari dua aliran psikologi yang telah dikemukakan diatas yang masingmasing menghasilkan teori belajar. Hasil pengkombinasian ini diaplikasikan kepengajaran matematika. Diferensiasi Progregsif Dalam pembelajaran bermakna perlu ada pengembangan dan kolaborasi konsep-konsep. Informasi yang dipelajari secara bermakna lebih lama dapat diingat.peserta didik hanya menghafal pelajaran tadi tanpa pengertian sehingga peserta didik mempelajari matematika dengan pernyataanpernyataan verbalyang tidak cermat dan tepat. Caranya unsur yang inklusif diperkenalkan terlebih dahulu kemudian baru lebih mendetail. 2. Langkah – langkah belajar bermakna Ausubel adalah : 1. Informasi yang dipelajari secara bermaknamemudahkan proses belajar beriktunya untuk materi pelajaran yang mirip. perlu dikombinasikan sehingga kelemahan yang satu akan ditutup kekuatan yang lain.

TEORI DIENES Konsep PAKEM Teori belajar Dienes yang menekankan pada tahapan permainan yang berarti pembelajaran yang diarahkan pada proses melibatkan anak didik dalam belajar. Aktif diartikan peserta didik maupun berinteraksi untuk menunjang pembelajaran. maka akan mendorong peserta didik untuk menyenangi dan memotivasi mereka untuk 49 . memberi umpan balik. Oleh karena itu teori belajar Dienes ini sangat terkait dengan konsep pembelajaran dengan pendekatan PAKEM (Pembelajaran Aktif.keterampilan. Apabila suasana belajar yang aktif dan kreatif terjadi.C. efektif dan menyenangkan). Guru harus menciptakan suasana sehingga peserta didik aktif bertanya. Peserta didik akan kreatif. kreatif. menuliskan ide atau gagasan. mengungkapkan ide dan mendemonstrasikan gagasan atau idenya. Hal ini berarti proses pembelajaran dapa t membangkitkan dan membuat anak didik senang dalam belajar. PAKEM bertujuan untuk menciptakan sesuatu lingkungan belajar yang lebih melengkapi peserta didik dengan keterampilan. Kreatif diartikan guru memberikan variasi dalam kegiatan belajar mengajar dan membuat alat bantu baljar. Menurut Siswono (2004). pengetahuan dan sikap bagi kehidupan kelak. Guru aktif akan memantau kegiatan belajar peserta didik. bahkan mencipta teknik -teknik mengajar tertentu sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik dan tujuan belajarnya. Berikut ini akan dijelaskan sec ara singkat tentang PAKEM. memberikan tanggapan. Dengan memberikan kesempatan peserta didik aktif akan mendorong kreativits peserta didik dalam belajar maupun memecahkan masalah. mengajukan pertanyaan menantang dan mempertanyakan gagasan anak didik. bila diberi kesempatan merancang/membuat sesuatu. Kegiatan tersebut akan memuaskan rasa keingintahuan dan imajinasi mereka.

Menyenangkan diartikan sebagai suasana belajar mengajar yang ‖hidup‖. mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik f. Dasar teorinya bertumpu pada Piaget. kreatif dam kemampuan memecahkan masalah e. tetapi tidak efektif akan tampak hanya sekedar permainan belaka. Dienes adalah seorang matematikawan yang memusatkan perhatiannya pada cara-cara pengajaran terhadap siswa-siswa. Dalam pelaksanaan PAKEM perlu diperhatikan beberapa hal.terus belajar. yaitu: a. terkondisi untuk trus berlanjut. memahami sifat anak b. Pembelajaran yang tampaknya aktif dan menyenangkan. memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar g. sedemikian rupa sehingga sistem yang dikembangkannya itu menarik bagi siswa yang mempelajarinya. Dienes (dalam Ruseffendi. dan pengembangannya diorientasikan pada siswa-siswa. mengembangkan kemampuan bepikir kritis. membedakan antara aktif fisik dn aktif mental. Tahap-Tahap Dalam Teori Belajar Dienes Zoltan P. memisah - 50 . dan mendorong pemusatan perhatian peserta didik terhadap belajar. Efektif yang diartikan sebagai ketercapaian suatu tujuan (kompetensi) merupakan pijakan utama suatu rancangan pembelajaran. ekspresif. memanfaatkan perilaku anak dalam pengorganisasian belajar d. mengenal peserta didik secara individu/perorangan c. 1992) berpendapat bahwa pada dasarnya matematika dapat dianggap sebagai studi tentang struktur. memberikan umpan balik yang bertanggung jawab untuk meningkan kegiatan belajar mengajar h. semarak.

dengan melalui permainan siswa diajak untuk mulai mengenal dan memikirkan bagaimana struktur matematika itu. Permainan Bebas (Free Play) Dalam setiap tahap belajar. tahap yang paling awal dari pengembangan konsep bermula dari permainan bebas. anak didik mulai mempelajari konsep-konsep abstrak tentang warna. Anak didik diberi kebebasan untuk mengatur benda. Dienes membagi tahap-tahap belajar menjadi tahap.misahkan hubungan-hubungan di antara struktur-struktur dan mengkategorikan hubungan. karena akan memperoleh 51 . Makin banyak bentuk-bentuk berlainan yang diberikan dalam konsep tertentu. Dienes mengemukakan bahwa tiap -tiap konsep atau prinsip dalam matematika yang disajikan dalam bentuk yang konkret aka n dapat dipahami dengan baik. Selama permainan pengetahuan anak muncul. Jelaslah. Keteraturan ini mungkin terdapat dalam konsep tertentu tapi tidak terdapat dalam konsep yang lainnya. tebal tipisnya benda yang merupakan ciri/sifat dari benda yang dimanipulasi. akan semakin jelas konsep yang dipahami siswa. 2. yaitu 1. Dalam tahap ini anak mulai membentuk struktur mental dan struktur sikap dalam mempersiapkan diri untuk memahami konsep yang sedang dipelajari. Seperti halnya dengan Bruner. Permainan yang Menggunakan Aturan (Games) Dalam permainan yang disertai aturan siswa sudah mulai meneliti pola-pola dan keteraturan yang terdapat dalam konsep tertentu. Misalnya dengan diberi permainan block logic. Anak yang telah memahami aturan-aturan tadi. Permainan bebas merupakan tahap belajar konsep yang aktifitasnya tidak berstruktur dan tidak diarahkan. Ini mengandung arti bahwa jika benda -benda atau objek-objek dalam bentuk permainan akan sangat berperan bila dimanipulasi dengan baik dalam pengajaran matematika.hubungan di antara struktur-struktur.

Translasi ini tentu tidak boleh mengubah sifat -sifat abstrak yang ada dalam permainan semula. Menurut Dienes. kuning). atau yang merah. anak dihadapkan pada kelompok persegi dan persegi panjang yang tebal. untuk membuat konsep abstrak. Permainan Representasi (Representation) Representasi adalah tahap pengambilan sifat dari beberapa situasi yang sejenis. Contoh kegiatan yang diberikan dengan permainan block logic. timbul pengalaman terhadap konsep tipis dan merah. kemudian membentuk kelompok benda berbentuk segitiga. Untuk melatih dalam mencari kesamaan sifat-sifat ini. Dalam membentuk kelompok bangun yang tipis. Representasi yang diperoleh ini bersifat abstrak. 4. dan sebagainya. dan kegiatan untuk yang tidak relevan dengan pengalaman itu. 3. serta timbul penolakan terhadap bangun yang tipis (tebal). anak diminta mengidentifikasi sifat-sifat yang sama dari benda-benda dalam kelompok tersebut (anggota kelompok). Contoh dengan permainan block logic. atau tidak merah (biru). anak didik memerlukan suatu kegiatan untuk mengumpulkan bermacam -macam pengalaman. hijau. atau yang berwarna merah. anak diberi kegiatan untuk membentuk kelompok bangun yang tipis. Setelah mereka berhasil menyimpulkan kesamaan sifat yang terdapat dalam situasi-situasi yang dihadapinya itu. atau yang tebal. guru perlu mengarahkan mereka dengan menstranslasikan kes amaan struktur dari bentuk permainan lain. Para siswa menentukan representasi dari konsep -konsep tertentu. Dengan demikian telah mengarah pada 52 .hal-hal yang bersifat logis dan matematis dalam konsep yang dipelajari itu. Permainan Kesamaan Sifat (Searching for communalities) Dalam mencari kesamaan sifat siswa mulai diarahkan dalam kegiatan menemukan sifat-sifat kesamaan dalam permainan yang sedang diikuti.

dalam arti membuktikan teorema tersebut. harus mampu merumuskan teorema dalam arti membuktikan teorema tersebut. Contoh kegiatan anak untuk menemukan banyaknya diagonal poligon (misal segi dua puluh tiga) dengan pendekatan induktif seperti berikut ini (gambar 2 5. Dalam tahap ini siswa-siswa dituntut untuk mengurutkan sifat-sifat konsep dan kemudian merumuskan sifat-sifat baru konsep tersebut. dari kegiatan mencari banyaknya diagonal dengan pendekatan induktif tersebut. tetapi mereka sudah mempunyai pengetahuan tentang sistem yang berlaku dari pemahaman konsep-konsep yang terlibat satu sama lainnya. membentuk sebuah sistem matematika. pada tahap formalisasi anak tidak hanya mampu merumuskan teorema serta membuktikannya secara deduktif. harus mampu merumuskan suatu teorema berdasarkan aksioma. Permainan dengan Simbolisasi (Symbolization) Simbolisasi termasuk tahap belajar konsep yang membutuhkan kemampuan merumuskan representasi dari setiap konsep-konsep dengan menggunakan simbol matematika atau melalui perumusan verbal. sebagai contoh siswa yang telah mengenal dasar-dasar dalam struktur matematika seperti aksioma. Misalnya bilangan bulat dengan operasi penjumlahan peserta sifat-sifat tertutup. 6.20) menyatakan. kegiatan berikutnya menentukan rumus banyaknya diagonal suatu poligon yang digeneralisasikan dari pola yang didapat anak. Sebagai contoh. Contohnya. 53 . an mempunyai elemen invers. komutatif. adanya elemen identitas. Permainan dengan Formalisasi (Formalization) Formalisasi merupakan tahap belajar konsep yang terakhir.pengertian struktur matematika yang sifatnya abstrak yang terdapat dalam konsep yang sedang dipelajari. Karso (1999:1. asosiatif. anak didik telah mengenal dasar -dasar dalam struktur matematika seperti aksioma.

akan dibahas permainan matematika pada topik bilangan dan topik geometri. Pada bagian tulusian ini. maka penjumlahan dapat dilakukan secara langsung dengan cara menjumlahkan suku-sukunya. Langkah-langkah permainan: 1. Mudah-mudahan melalui tulisan ini. jika guru dapat mengemas permainan sebagai media maupun pendekatan dalam belajar matematika bagi anak. 2. sehingga anak didik menjadi aktif dan senang dalam belajar. Jika hasil penjumlahan lebih dari 10. Oleh karena itu. Jika hasil penjumlahan kurang atau sama dengan 10.Permainan Interaktif untuk Belajar Matematika Permainan interaktif merupakan suatu permainan yang dikemas dalam pembelajaran. Permainan Operasi Hitung a. 1 . maka anak akan senang belajar matematika sehingga menjadi efektif untuk mendapatkan hasil belajar yang optimal. maka penjumlahan suku-sukunya dilakukan dengan teknik ―menyimpan‖ Permainan ―menyimpan dan menjumlahkan‖ berikut memberikan kemudahan mengajarkan operasi penjumlahan. 54 . Sediakan kartu kecil merah untuk puluhan dan kartu kecil putih untuk satuan. Anda akan dapat merancang bagaimana mengemas pembelajaran matematika melalui permainan. Permainan Operasi Penjumlahan Ada dua teknik menjumlahkan. Sediakan kantong kain/kantong plastik/kantong dari katon. Tujuan : Memperlihatkan menyimpan sekaligus bentuk nyata penjumlahan dengan teknik menjelaskan langkah-langkah sistematis penyelesaian kalimat penjumlahan.

4 – 2 = 2 (terangkan bahwa membacanya 20 karena nilainya puluhan) 3. 17 dikurangi 8 menghasilkan 9. Perluas contoh permainannya sampai ke bilangan ratusan dan seterusny 55 . yaitu 1 + 2 + 1 = 4. Mintalah anak menggantikan 10 kartu putih dari 16 kartu p utih dengan satu kartu merah. 6. yaitu 20 + 9 = 29. b. 5. Mintalah anak memasukan kartu merah tersebut ke kantong puluhan dan masukan sisa 6 kartu putih ke kantongan satuan. Mintalah anak menghitung total kartu merah. Langlah-langkah permainan: 1. Selanjutnya. 8. Karena dipinjam 1 maka sisa kartu merah menjadi = 4. yaitu 40 + 6 = 46.3. 4. Mintalah anak mengerjakan 19 + 27. Terangkan karena 7 tidak bisa dikurangi 8 maka ambil 1 kartu merah dan tukar dengan 10 kartu putih sehingga total kartu putih 7 + 10 = 17. Permainan ―menukar dan mengurangkan‖ Tujuan: Memperlihatkan meminjam sekaligus bentuk nyata pengurangan dengan teknik memperlihatkan langkah-langkah sistematis penyelesaian kalimat pengurangan. Mintalah anak untuk mengurangkan 57 – 28 2. Mintalah anak menyatukan 9 dan 7 buah kartu putih dan mintalah anak menghitung jumlahnya (jawaban : 16). Selanjutnya. Mintalah anak untuk menjumlahkan hasilnya. 7. Terangkanlah bahwa nilai empat kartu merah tersebut adalah 40. Mintalah anak menjumlahkan hasilnya. Permainan Operasi Pengurangan Ikutilah permainan berikut ini untuk memudahkan anak belajar operasi pengurangan dengan teknik meminjam. 4.

Permainan ―permen pembagian‖ Tujuan : Menjelaskan makna pembagian Langkah-langkah: 1. Permainan ―permen perkalian‖ Tujuan: Menjelaskan makna perkalian. Bagikan secara merata 3 permen – 3 permen kepada beberapa anak sampai permen habis. 3. 3. Permainan Operasi Perkalian Ikutilah permainan berikut ini untuk melatih anak belaj ar perkalian dan kelipatan. Pada kalimat 3 x 2 = 6.c. 2. sedangkan 6 merupakan hasil perkalian 2 dan 3. 56 . Terangkan bahwa hasilnya merupakan perkalian 2 dengan 3. Perkalian merupakan penjumlahan berulang. Perlihatkan 6 permen di tangan. Tanyakan berapa anakkahyang akan mendapat permen. Permainan Operasi Pembagian Permainan berikut ini mempermudah anak memahami operasi pembagian. d. yaitu 6. misalnya 2 + 2+ 2 atau bentuk lain 3 x 2. Berikan masing-masing 2 buah permen kepada 3 orang anak. Langkah-langkah permainan: 1. 2. Tanyakan berapakah jumlah total permen yang telah diberikan kepada ketiga anak tersebut. 3 dan 2 disebut faktor dari 6.

mencakup peristiwa peniruan (adanya kejelasan. Terangkan bahwa hasilnya merupakan pembagian 6 dengan 3. Ia seorang psikolog yang terkenal dengan teori belajar sosial atau kognitif sosial serta efikasi diri. Teori Bandura menjelaskan perilaku manusia dalam konteks interaksi timbal balik yang berkesinambungan antara kognitif. perilaku dan pengaruh lingkungan. kelaziman. persepsi. 5. nilai fungsi) dan karakteristik pengamat (kemampuan indera. Kondisi lingkungan sekitar individu sangat berpengaruh padapola belajar sosial ini. minat.4. tingkat kerumitan. Tanamkanlah pada anak bahwa 6 : 3 = 6 – 3 – 3. Faktor-faktor yang berproses dalam belajar observasi adalah 1. D. atau setidaknya menganggap bahwa judi itu tidak jelek. TEORI BANDURA Albert Bandura lahir tanggal 4 Desember 1925 di Mundare Alberta berkebangsaan Kanada. yaitu 2. Misalnya seorang yang hidupnya dan lingkungannya dibesarkan dilingkungan judi. Ulangi permainan ―permen perkalian dan pembagian‖ ini sehingga anak mengerti betul makna perkalian dan pembagian serta hubungan keduanya dengan contoh lain. penguatan sebelumnya) 57 . keterlibatan perasaan. Menurut Bandura proses mengamati dan meniru perilaku. Perhatian (Attention). sikap orang lain sebagai model merupakan tindakan belajar. maka dia cenderung menyenangi judi. Eksperimennya yang sangat terkenal adalah eksperimen Bobo Doll yang menunjukkan anak meniru secara persis perilaku agresif dari orang dewasa disekitarnya.

4. gambar atau instruksi yang ditulis dalam buku panduan. tanda atau gambar dari pada hanya observasi sederhana (hanya melihat saja). mendapat bimbingan tentang perkara. 58 . Motivasi. 3. Tapi peserta didik itu memerlukan latihan yang banyak. pengorganisasian pikiran. Di peringkat penghasilan latihan menjadikan tingkah laku lebih lancar dan mahir. Proses mengingat akan lebih baik dengan cara mengkodekan perilaku yang ditiru kedalam kata-kata. mencakup kode pengkodean simbolik. Tingkat tertinggi belajar dari pengamatan diperoleh dengan cara mengorganisasikan sejak awal dan mengulangi perilaku secara simbolik kemudian melakukannya. mencakup kemampuan fisik.2. mencakup dorongan dari luar dan penghargaan terhadap diri sendiri (Motivation) Selain itu juga yang harus diperhatikan bahwa faktor model atau teladan mempunyai prinsip-prinsip sebagai berikut: 1.perkara penting sebelum meleksanakan tingkah laku model. Kemudian proses meniru akan lebih terbantu jika gerakan tadi juga didukung dengan penayangan video. Individu lebih menyukai perilaku yang ditiru jika sesuai dengan nilai yang dimilikinya. Sebagai contoh: belajar gerakan tari dari instruktur membutuhkan pengamatan dari berbagai sudut yang dibantu cermin dan langsungditirukan oleh siswa pada saat itu juga. keakuratan umpan balik. kemampuan meniru. Penyimpanan atau proses mengingat (Retention). Reproduksi motorik (Reproduction). pengulangan simbol. Peserta didik harus berupaya melakukan semua tingkah laku yang ditirunya. Apabila seorang peserta didik tahu bagaimana suatu tingkah laku itu ditunjukkan dan mengingat cara-cara atau langkah. 2.langkah dia mungkin belum bisa melakukannya dengan lancar. pengualangan motorik.

Peristiwa sosial juga terjadi di lingkungan sekolah dan pendidikan pada umumnya. Iklan selalu menampilkan bintang-bintang yang popular dan disukai masyarakat. Proses belajar masih berpusat pada penguatan. yakni untuk tujuan mempermudah terlaksananya proses belajar secara efektif. karena suasana dan kondisi yang sudah dirancang secara khusus untuk tujuan yang khusus pula. 59 . hanya terjadi secara langsung dalam berinteraksi dengan lingkungannya.3. Sebagai contoh: penerapan teori belajar sosial dalam iklan televisi. sehingga metode belajar sosial dari Bandura ini agak sulit dilakukan. Hanya dalam situasi sosial dan kemasyarakatanlah banyak terjadi belajar sosial. namun hal itu tentu saja sangat khusus dan terbatas. Teori belajar sosial dari Bandura ini merupakan gabungan antara teori belajar behavioristik dengan penguatan dan psikologi kognitif. namun karena kondisinya yang umum tadi maka sulit dilaksanakan dalam sekolah-sekolah formal. dengan prinsip modifikasi perilaku. Individu akan menyukai perilaku yang ditiru jika model atau panutan tersebut disukai dan dihargai serta perilakunya mempunyai nilai yang bermanfaat. informasi dan instruksional. komunikasi. hal ini untuk mendorong konsumen agar membeli sabun supaya mempunyai kulit seperti para "bintang" atau minum obat masuk anginnya "orang pintar". Teori Bandura menjadi dasar dari perilaku pemodelan yang digunakan dalam berbagai pendidikan secara massal. Teori belajar dari Bandura ini tampaknya memang bisa berlaku umum dalam semua langkah pendidikan sosial.

yaitu mengenai teori perkembangan intelektual. Anak itu belum mempunyai kesadaran adanya konsep objek yang tetap.Periode Pra-operasional (2 – 7) tahun. anak menyadari bahwa objek yang disembunyikan tadi masih ada dan ia akan mencarinya. Operasi yang dimaksud di sini adalah suatu proses berpikir atau logik. Urutan periode itu tetap bagi setiap orang. 2. namun usia atau kronologis pada setiap orang yang memasuki setiap periode berpikir yang lebih tinggi berbeda-beda tergantung kepada masing-masing individu. berpendapat bahwa proses berpikir manusia merupakan suatu perkembangan yang bertahap dari berpikir intelektual kongkret ke abstrak berurutan melalui empat tahap perkembangan. Bila objek itu disembunyikan. 60 . Piaget adalah orang pertama yang menggunakan filsafat konstruktivis dalam proses belajar mengajar. anak itu tidak akan mencarinya lagi. pada akhir periode ini. Jean Piaget berpendapat bahwa proses berpikir manusia sebagai suatu perkembangan yang bertahap dari berpikir intelektual konkret ke abstrak berurutan melalui empat periode.Periode Sensori Motor (0 – 2) tahun. TEORI PIAGET Teori Perkembangan Intelektual Piaget Teori belajar Dienes sangat terkait dengan teori belajar yang dikemukakan oleh Piaget. Karateristik periode ini merupakan gerakan-gerakan sebagai akibat reaksi langsung dari rangsangan.E. dan merupakan aktivitas mental. sebagai berikut: 1. 1981). Rangsangan itu timbul karena anak melihat dan merab-raba objek. Namun karena pengalamannya terhadap lingkungannya. bukan aktivitas sensori motor. Piaget (dalam Bell.

Periode operasi kongkret (7 – 12) tahun. 3. ia masih sulit melihat hubungan-hubungan dan mengambil kesimpulan secara taat asas. Dalam periode ini anak berpikirnya sudah dikatakan menjadi operasional. Pengalaam anak masih kongkret dan belum formal. Periode ini sering disebut juga periode pemberian simbol.Pada periode ini anak di dalam berpikirnya tidak didasarkan kepada keputusan yang logis melainkan didasarkan kepada keputusan yang dapat dilihat seketika. Anak masih terikat kepada pegakaman prib adi. Operasi kongkret hanyalah menunjukkan kenyataan adanya hubungan dengan pengalaman empirik-kongkret yang lampau dan masih mendapat kesulitan dalam mengambil kesimpulan yang logis dari pengalaman -pengamanan yang khusus. Misalnya semua 61 . Walaupun pada periode permulaan pra-operasional ini anak mampu menggunakan simbol-simbol. Pengerjaan-pengerjaaan logikd apat dilakukan dengan berorientasike objek-objek atau peristiwa-peristiwa yang langsung dialami anak. tetapi anak itu mulai memanipulasi simbol dari benda-benda sekitarnya. karateristik berpikir anak adalah sebagai berikut: a. Pada periode ini anak terpaku kepada kontak langsung dengan lingkungannya. misalnya suatu benda diberi nama (simbol). Dalam periode operasi kongkret. Periode ini disebut operasi kongkret sebab berpikir logiknya didasarkan atas manipulasi fisik dari objek-objek. Anak itu belum memperhitungkan semua kemungkinan dan kemudian mencoba menemukan kemungkinan yang mana yangk akan terjadi. Anak dapat membentuk variasi relasi kelas dan mengerti bahwa beberapa kelas dapat dimasukkan ke kelas lain. Kombinasivitas atau klasifikasi adalah suatu operasi dua kelas atau lebih yang dikombinasikan ke dalam suatu kelas yan g lebih besar.

Misalnya. b. c. Misalnya unsur dari suatu himpunan berkawan dengan satu unsur dari himpunan kedua dan sebaliknya. d. 62 .dalam himpunan bilangan bulat dengan operasi ‖+‖. Hubungan A > B dan B > C menjadi A > C. Konservasi berkenaan dengan kesadaran bahwa satu aspek dari benda. e.manusia lelaki dan semua manusia wanita adalah semua manusia. berlaku hukum asosiatif terhadap penjumlahan. Asosiasivitas adalah suatu operasi terhadap beberapa kelas yang dikombinasikan menurut sebarang urutan. Misalnya himpunan bilangan bulat. 5 + ? = 9 sama dengan 9 – 5 = ? Reversibilitas ini merupakan karakteristik utama untuk berpikir operasional di dalam teori Piaget. tetap sama sementara itu aspek lainnya berubah. Demikian juga suatu jumlah dapat dinolkan dengan mengkombinasikan lawannya. Setiap operasi logik atau matematik dapat dikerjakan dengan operasi kebalikan. Reversibilitas adalah operasi kebalikan. f. Namun prinsip konservasi yang dimilikianak pada periode ini masih belum penuh. Misalnya. misalnya 4 – 4 = 0. tetapi ia sudah mulai menggeneralisasi objek-objek tadi. Anak pada periode ini dilandasi oleh observasi dari pengalaman dengan objek nyata. Kesadaran adanya prinsip-prinsip konservasi. operasi ‖+‖. unsur nol adalh 0 sehingga 8 + 0 = 8. Identitas adalah suatu operasi yang menunjukkan adanya unsur nol yang bila dikombinasikan dengan unsur atau kelas hasilnya tidak berubah. Korespondensi satu – satu antara objek-objek dari dua kelas.

Jadi. Ia mampu menggunakan prosedur seorang ilmuwan.Periode Operasi Formal (> 12) tahun. Adapun akomodasi adalah proses menstrukturkan kembali mental sebagai akibat adanya informasi dan pengalaman baru tadi. Periode operasi formal ini disebut juga disebut periode operasi hipotetik-deduktif yang merupakan tahap tertinggi dari perkmbangan intelektual. segi panjang dan parallelogram sebagai segi empat. tetapi juga terjadi penstrukturan kembali informasi dan pengalaman lainnya untuk mengakomodasikan informasi dan pengalaman yang baru. yaitu menggunakan posedur hipotetik-deduktif.Anak sudah mampu menggunakan hubungan-hubungan di antara objek-objek apabila ternyata manipulasi objek-objek tidak memungkinkan. Periode ini merupakan tahap terakhir dari keempat periode perkembangan intelektual. ia dapat mengisolasi itu faktor-faktor sehingga tersendiri atau mengkombinasikan masalah tadi. belajar itu tidak hanya menerima informasi dan pengalaman baru saja. faktor-faktor menuju penyelesaian Asimilasi adalah proses mendapatkan informasi dan pengalaman baru yang langsung menyatu dengan struktur mental yang sudah dimiliki seseorang. Kemudian kepada peserta 63 . Anak sudah dapat mengoperasikan argumen-argumen tanpa dikaitkan dengan benda-benda empirik. artinya bila anak dihadapkan kepada suatu masalah.4.definisi verbal. Anak juga sudah dapat berpikir kombinatorik. Misalnya di dalam struktur mental peserta didik telah ada pengorganisasian dan pengelompokan bentuk-bentuk bujur sangkar. Anak-anak pada periode ini sudah memberikan alasan dengan menggunakan lebih banyak simbul atau gagasan dalam cara berpikir. Anak mampu menyelesaikan masalah dengan cara yang lebih baik dan kompleks dari pada anak yang masih dalam tahap periode operasi kongkre t. Anak telah mampu melihat hubungan hubungan abstrak dan menggunakan proposisi-proposisi logik-formal termasuk aksioma dan definisi. Konsep konservasi telah tercapai sepenuhnya.

Transmisi social merupakan interaksi dan kerja sama seseorang dengan orang lain atau dengan lingkungannya. b. Pengalaman yang dimaksud ada dua macam/. Piaget percaya bahwa operasi formal tidak akan berkembang di dalam pikiran tanpa adanya pertukaran dan koordinasi pendapat di antara orang-orang. Ini berarti terjadinya akomodasi. pengalaman logika-matematika yang berupa kegiatan mental yang ditampilkan individu dan struktur kognitifnya diorganisasikan menurut pengalamannya. Ketiga factor itu harus ada agar seseorang berkembang dari satu periode ke periode berpikir yang lebih tinggi. c. Perkembangan intelektual itu dipengaruhi oleh tiga factor berikut : a. pengalaman fisik yang berupa interaksi setiap individu dengan objek-objek di lingkungannya: yang kedua. 64 . struktur mental berkembang dan menjadi matang. Peserta didik itu me ngerti bahwa trapezium itupun merupakan segi empat dengan sifat yang sedikit berbeda dengan bentuk-bentuk yang telah dipelajari sebelumnya. Pengalaman juga mempunyai andil dalam pengembangan intelektual. Hal ini amat penting bagi perkembangan mental anak.didik itu diberikan lagi bentuk trapesium. Penyetimbangan (equilibration) merupakan proses adanya kehilangan stabilitas di dalam struktur mental sebagai akibat pengalaman dan informasi baru dan kembali setimbang melalui proses asimilasi dan akomodasi. Sebagai hasil dari penyetimbangan itu. Kematangan merupakan proses pertumbuhan psikologis dari otak dan sistem syaraf. yaitu yang pertama. Ini berarti peserta didik tersebut menyatukan objek baru itu ke dalam struktur kognitif yang sudah dimiliki dan terjadilah proses asimilasi. Peristiwa itu juga berarti terjadinya penstrukturan kembali kognitif yang telah dimiliki oleh peserta didik karena datangnya informasi baru tentang trapesium tadi.

Proses penyetimbangan juga terjadi dalam belajar. Misalnya seseorang mendapat gagasan yang tidak terorganisasikan melalui kontak social atau pengalaman dari lingkungan, tetapi butir-butir itu terdapat perbedaan, perbedaan ini harus menjadi harmonis. Maka terjadilah proses penyetimbangan itu (logika matematika). Perkembangan Intelektual Anak dalam Belajar

Menurut Ruseffendi (1992), untuk dapat mengajarkan konsep matematika pada anak dengan baik dan mudah dimengerti, maka materi yang akan disampaikan hendaknya diberikan pada anak yang sudah siap intelektualnya untuk menerima materi tersebut. Contoh, meskipun anak berumur 3 tahun sudah dapat menghitung angka 1 –10, tetapi dia belum mengerti bilangan 1, 2, dan seterusnya. Oleh karena itu, dia akan kesulit an jika harus belajar tentang bilangan. Agar anak dapat mengerti materi matematika yang dipelajari, maka dia harus sudah siap menerima materi tersebut, artinya anak sudah mempunyai hukum kekekalan dari jenjang materi matematika yang dipelajari. Menurut piaget (dalam Ruseffendi; 1992), ada enam tahap dalam perkembangan belajar anak yang disebut dengan hukum kekekalan, sebagai berikut: 1. Hukum Kekekalan Bilangan (6 – 7 tahun) Anak yang telah memahami hukum kekekalan bilangan akan mengerti bahwa banyaknya suatu benda-benda akan tetap meskipun letaknya berbeda-beda atau diubah letaknya. Anak yang sudah memahami hukum kekekalan bilangan sudah siap untuk menerima pelajaran konsep bilangan dan operasinya. Sementara itu, anak yang belum memahami hukum kekekalan bilangan baginya belum waktunya mendapatkan

65

pelajaran operasi penjumlahan dan operasi hitung lainnya. Hukum kekekalan bilangan biasanya dipahami anak pada usia 6 – 7 tahun. 2. Hukum Kekekalan Materi ( 7 – 8 tahun) Anak yang sudah memahami hukum kekekalan materi atau zat akan mengatakan bahwa materi atau zat akan tetap sama banyaknya meskipun diubah bentuknya atau dipindah tempatnya. Sedangkan anak yang belum memahami hukum kekekalan materi akan mengatakan, bahwa air pada dua mangkok yang berbeda besarnya menjadi tidak sama, meskipun anak tersebut tahu bahwa air itu dituangkan dari dua bejana yang sama besar dan sama banyaknya. Anak yang belum memahami hukum kekekalan materi belum dapat melihat persamaan atau perbedaan dari satu sudut pandang saja. Contohnya, anak yang sudah dapat membedakan bilangan ganjil dan genap, bilangan kelipatan 3 dan bukan kelipatan 3, dan sebagainya. Masih akan kesulitan jika disuruh menentukan bilangan prima genap, atau bilangan genap kelipatan lima, dan sebagainya. Pada umumnya, anak memahami hukum kekekalan materi pada usia sekitar 7 – 8 tahun. 3. Hukum Kekekalan Panjang (8 - 9 tahun) Anak yang telah memahami hukum kekekalan panjang akan mengatakan bahwa panjang tali akan tetap meskipun tali itu

dilengkungkan. Sedangkan anak yang belum memahami hukum kekekalan panjang akan mengatakan bahwa dua utas tali yang tadinya sama panjang waktu direntangkan, menjadi tidak sama panjang bila yang satunya dilengkungkan sedangkan yang satunya lagi tidak. Anak yang belum memahami hukum kekekalan panjang akan memperoleh kesulitan dalam mempelajari konsep pengukuran, terutama pengukuran panjang benda -

66

benda yang tidak lurus. Hukum kekekalan panjang biasanya dipahami oleh anak pada usia sekitar 8 - 9 tahun. 4. Hukum Kekekalan Luas (8 – 9 tahun) Hukum kakakalan luas biasanya dipahami anak bersamaan dengan hukum kekekalan panjang, yaitu pada usia sekitar 8 - 9 tahun. Anak yang sudah memahami hukum kekekalan luas akan memahami bahwa luas daerah yang ditutupi suatu benda akan tetap sama meskipun letak bendanya diubah. Sedangkan anak yang belum memahami hukum kekekalan luas cenderung mengatakan bahwa luas daerah yang ditutupi 4 persegi kongruen yang diletakkan tersebar (tidak berimpit) lebih luas dari pada daerah yang ditutupi oleh 4 persegi kongruen yang diletakkan berimpitan. Anak yang belum memahami hukum kekekalan luas akan kesulitan belajar luasan suatu daerah. Misalnya, dalam menemukan rumus luas jajarangenjang yang diturunkan dari rumus luas persegi panjan g. 5. Hukum Kekekalan Berat (9 – 10 tahun) Hukum kekekalan berat menyatakan bahwa berat suatu benda akan tetap meskipun bentuk, tempat, dan atau penimbangan benda tersebut berbeda. Pada umumnya anak akan memahami hukum kekekalan berat setelah berusia sekitar 9 – 10 tahun 6. Hukum Kekekalan Isi (14 – 15 tahun) Hukum kekekalan isi menyatakan bahwa jika pada suatu bak atau bejana yang penuh dengan air dimasukan suatu benda, maka air yang ditumpahkan dari bak atau bejana tersebut sama dengan isi benda yang dimasukannya. Pada umumnya anak akan memahami hukum kekekalan isi pada usia sekitar 14 – 15 tahun atau mungkin sebelumnya. Untuk hukum kekekalan isi, karena pada umumnya belum dipahami pada anak SD, maka tidak dibahas lebih lanjut, dalam bahan ajar ini

67

 Kurt Lewin (1890-1947) Pandangan Gestalt diaplikasikan dalam field psychology dari Kurt Lewin. Teori gestalt cenderung berupaya mengurangi pembagian sensasi menjadi bagian-bagian kecil. Dengan pernyataan ini ia menentang pendapat Wundt yang menunjuk pada proses fisik sebagai penjelasan phi phenomenon. TEORI GESTALT Tokoh Gestalt Gestalt adalah sebuah teori yang menjelaskan proses persepsi melalui pengorganisasian komponen-komponen sensasi yang memiliki hubungan. Konsep pentingnya : phi phenomenon (bergeraknya obyek statis menjadi rangkaian gerakan yang dinamis setelah dimunculkan dalam waktu singkat dan dengan demikian memungkinkan manusia melakukan interpretasi). Teori gestalt beroposisi terhadap teori strukturalisme. Dengan konsep ini.  Max Wertheimer (1880-1943) Belajar pada Kuelpe. Tahun 1910 ia mengajar di Univeristy of Frankfurt bersama-sama dengan Koehler dan Koffka yang saat itu sudah menjadi asisten di sana. 68 . pola. seorang tokoh aliran Wuerzburg. Proses ini terjadi di otak dan sama sekali bukan proses fisik. Lewin adalah salah seorang ahli yang sangat kuat menganjurkan pemahaman tentang lapangan psikologis seseorang. ataupun kemiripan menjadi kesatuan. Bersama-sama dengan Wolfgang Koehler (1887-1967) dan Kurt Koffka (1887-1941) melakukan eksperimen yang akhirnya menelurkan ide Gestalt.F. tetapi proses mental. Wertheimer menunjuk pada proses interpretasi dari sensasi obyektif yang kita terima.

2. Prinsip-prinsip pengorganisasian:  Principle of Proximity: bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertentu. Interaksi antara individu dan lingkungan disebut sebagai perceptual field. yaitu lapangan psikologis tempat individu berada dan bergerak. Gerakan individu mencapai tujuan (goal) disebut locomotion. warnadan 69 . Oleh karena itu kemampuan persepsi ini merupakan fungsi bawaan manusia. bukan skill yang dipelajari. Penampilan suatu obyek seperti ukuran. Setiap perceptual field memiliki organisasi. potongan. Prinsip dasar Gestalt 1. yang cenderung dipersepsikan oleh manusia sebagai figure and ground.    Principle of Objective Set: Organisasi berdasarkan mental set yang sudah terbentuk sebelumnya Principle of Continuity: Organisasi berdasarkan kesinambungan pola Principle of Closure/ Principle of Good Form: bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap.  Principle of Similarity: bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang berada dalam arah yang sama cenderung akan dipersepsi sebagi suatu figure atau bentuk tertentu.Konsep utama Lewin adalah Life Space. Lapangan psikologis ini terdiri dari fakta dan obyek psikologis yang bermakna dan menentukan perilaku individu (B=f L).  Principle of Figure and Ground: yaitu menganggap bahwa setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar belakang. Tugas utama psikologi adalah meramalkan perilaku individu berdasarkan semua fakta psikologis yang eksis dalam lapangan psikologisnya pada waktu tertentu . Pengorganisasian ini mempengaruhi makna yang dibentuk.

hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa. khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. Pengalaman tilikan (insight). b. Bila figure dan latar bersifat samar-samar. Perilaku bertujuan (pusposive behavior). Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning). Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya.  Principle of Isomorphism: Organisasi berdasarkan konteks. Dalam proses pembelajaran. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons. Oleh karena itu. tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. Apabila individu mengalami proses belajar. bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. Setelah proses belajar terjadi. makaakan terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figure. terjadi reorganisasi dalam perceptual fieldnya. kebermaknaan unsurunsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. seseorang dapat memiliki cara pandang baru terhadap suatu problem. Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari. Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya.sebagainya membedakan figure dari latar belakang. bahwa perilaku terarah pada tujuan. Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain : a. guru hendaknya menyadari tujuan 70 . Contoh: perubahan nada tidak akan merubah persepsi tentang melodi. Aplikasi prinsip Gestalt Proses belajar adalah fenomena kognitif. c.

Penerapan Prinsip of Good 71 . ditemukan oleh Koehler dalam eksperimen yang sistematis. Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik. transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat. Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). e. Setelah adanya pengalaman insight. guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya. Prinsip ruang hidup (life space).sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya. yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. Transfer dalam Belajar. d. Konsep insight ini adalah fenomena penting dalam belajar. Oleh karena itu. Oleh karena itu. Dengan berjalannya waktu. Menurut pandangan Gestalt.  Insight Pemecahan masalah secara jitu yang muncul setelah adanya proses pengujian berbagai dugaan/kemungkinan.  Memory Hasil persepsi terhadap obyek meninggalkan jejak ingatan. jejak ingatan ini akan berubah pula sejalan dengan prinsip-prinsip organisasional terhadap obyek. individu mampu menerapkannya pada problem sejenis tanpa perlu melalui proses trial-error lagi. bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada.

yang selama ini dihindari karena abstrak. tidak hanya secara intelektual. Secara sosial. antara lain : 1. insight. emosional. fenomena ini juga menjelaskan pengaruh gosip/rumor. Demonstrasinya mengenai peranan latar belakang dan organisasinya terhadap proses-proses yang diamati secara fenomenal demikian meyakinkan sehingga boleh dikatakan tidak dapat di bantah. 72 . Implikasi Gestalt  Pendekatan fenomenologis menjadi salah satu pendekatan yang eksis di psikologi dan dengan pendekatan ini para tokoh Gestalt menunjukkan bahwa studi psikologi dapat mempelajari higher mental process. berfokus pada higher mental process. Adanya perceptual field diinterpretasikan menjadi lapangan kognitif dimana proses-proses mental seperti persepsi.  Pandangan Gestalt menyempurnakan aliran behaviorisme dengan menyumbangkan ide untuk menggali proses belajar kognitif. Keseluruhan ini memberikan beberapa prinsip belajar yang penting. Belajar adalah penyesuaian diri dengan lingkungan. sosial dan sebagainya 2. namun tetap dapat mempertahankan aspek ilmiah dan empirisnya. Ada beberapa hal yang patut dicatat sebagai implikasi dari aliran Gestalt. tetapi juga secara fisik.dan problem solving beroperasi. Tokoh: Tolman dan Koehler.Form seringkali muncul dan terbukti secara eksperimental. Manusia bereaksi dengan lingkungannya secara keseluruhan. Psikologi Gestalt bermula pada lapangan pengamatan (persepsi) dan mencapai sukses yang terbesar juga dalam lapangan ini.

membuat laporan atau membuat sesuatu dengan hasil pemecahan soal itu. Teori medan ini mengibaratkan pengalaman manusia sebagai lagu atau melodi yang lebih daripada kumpulan not. 6. Realisasi adanya masalah. Jadi harus memahami apa masalahnya dan juga harus dapat merumuskan. lengkap dengan segala aspek-aspeknya. Belajar memecahkan masalah diperlukan suatu pengamatan secara cermat dan lengkap. motivasi memberi dorongan yang mengerakan seluruh organisme. 8. 5. Belajar sangat menguntungkan untuk kegiatan memecahkan masalah. 5.3. sebagai suatu jalan yang mungkin memberi arah pemecahan masalah. dengan bacaan atau sumber-sumber lain. Dewey ada 5 upaya pemecahannya yakni: 1. 2. Belajar adalah perkembangan kearah diferensiasi ynag lebih luas. 4. 4. Hal ini nampaknya juga relevan dengan konsep teori belajar yang diawali dengan suatu pengamatan. Manusia berkembang sebagai keseluruhan sejak dari kecil sampai dewasa. Belajar akan berhasil kalau ada tujuan. Menilai dan mencoba usaha pembuktian hipotesa dengan keteranganketerangan yang diperoleh. Mengambil kesimpulan. Belajar hanya berhasil. Mengajukan hipotesa. bukan ibarat suatu bejana yang diisi. demikian pula pengalaman manusia tidak dapat dipersepsi sebagai sesuatu yang terisolasi dari lingkungannya. Dengan 73 . 3. Kemudian bagaimana seseorang itu dapat memecahkan masalah menurut J. 7. Mengumpulkan data atau informasi. Tidak mungkin ada belajar tanpa ada kemauan untuk belajar. Belajar merupakan suatu proses bila seseorang itu aktif. apabila tercapai kematangan untuk memperoleh insight.

namun ia telah membentuk tahapan behaviorisme Rusia dalam versi Amerika. Dan dia menerbitkan suatu buku yang berjudul ―Animal intelligence. sebaliknya belajar mulai dengan mempersepsi keseluruhan. Animal Intelligence (1911). Lulus S1 dari Universitas Wesleyen tahun 1895. G. kemudian dia tinggal dan mengajar di Colombia sampai pension pada tahun 1940. ketika disana.kata lain berbeda dengan teori asosiasi maka toeri medan ini melihat makna dari suatu fenomena yang relatif terhadap lingkungannya . TEORI THORNDIKE Biografi Edward Lee Thorndike. dan Human Nature and The Social Order (1940).dia menerima bea siswa di Colombia. S2 dari Harvard tahun 1896 dan meraih gelar doktor di Columbia tahun 1898. Dengan memahami bagian / detail. lambat laun terjadi proses diferensiasi. maka persepsi awal akan keseluruhan objek yang semula masih agak kabur menjadi semakin jelas. Thorndike (1874-1949) mendapat gelar sarjananya dari Wesleyan University di Connecticut pada tahun 1895. Belajar bukan merupakan penjumalahan (aditif). anjing. Thorndike berprofesi sebagai seorang pendidik dan psikolog yang berkebangsaan Amerika. Edward lee thorndike meski secara teknis seorang fungsionalis. An experimental study of associationprocess in Animal”. yakni menangkap bagian bagian dan detail suatu objek pengalaman. Mental and social Measurements (1904). Ateacher’s Word Book (1921).yang mencerminkan prinsip dasar dari proses belajar yang dianut oleh Thorndike yaitu bahwa dasar dari belajar (learning) tidak laian 74 . Buku-buku yang ditulisnya antara lain Educational Psychology (1903). dan burung.Your City (1939). dan mendapatkan gelar PhD-nya tahun 1898. dan master dari Hardvard pada tahun 1897. dia mengikuti kelasnya Williyams James dan merekapun cepat menjadi akrab. Buku ini yang merupakan hasil penelitian Thorndike terhadap tingkah beberapa jenis hewan seperti kucing.

suatu stimulum akan menimbulkan suatu respon tertentu. Orang) belajar dengan cara coba salah (Trial end error). yang di masukkan dalam kandang yang terkunci akan bergerak. mencakar dan sebagainya sampai suatu saat secara kebetulan ia menginjak suatu pedal dalam kandang itu sehingga kandang itu terbuka. meloncat. berjalan. dan tingkah laku anak-anak dan orang dewasa. Objek penelitian di hadapkan kepada situasi baru yang belum dikenal dan membiarkan objek melakukan berbagai pada aktivitas untuk merespon situasi itu. dalam hal ini objek mencoba berbagai cara bereaksi sehingga menemukan keberhasilan dalam membuat koneksi sesuatu reaksi dengan stimulasinya. Kalau organisme berada dalam suatu situasi yang mengandung masalah.sebenaranya adalah asosiasi. pendidikan dan pengajaran di amerika serikat di dominasi oleh pengaruh dari Thorndike (1874-1949) teori belajar Thorndike di sebut ― Connectionism‖ karena belajar merupakan proses pembentukan koneksi-koneksi antara stimulus dan respon. maka pada saat menghadai masalah yang serupa. Sejak itu. Seekor kucing misalnya. maka organisme itu akan mengeluarkan serentakan tingkah laku dari kumpulan tingkah laku yang ada padanya untuk memecahkan masalah itu. Pada mulanya. Berdasarkan pengalaman itulah . 75 . Teori ini sering juga disebut ―Trial and error‖ dlam rangkan menilai respon yang terdapat bagi stimulus tertentu. organisme sudah tahu tingkah laku mana yang harus di keleluarkan nya untuk memecahkan masalah. Thorndike mendasarkan teorinya atas hasil-hasil penelitiannya terhadap tingkah laku beberapa binatang antara lain kucing. dalam teori S-R di katakana bahwa dalam proses belajar. pertama kali organisme (Hewan. Ia mengasosiasikan suatu masalah tertentu dengan suatu tingkah laku tertentu. Teori Edward Lee Thorndike. Teori ini disebutdengan teori S-R. kucing akan langsung menginjak pedal kalau ia dimasukkan dalam kandag yang sama.

yaitu apabila ikatan antara stimulus dan respon lebih sering terjadi. maka ikatan tersebut akan semakin kuat.Ciri-ciri belajar dengan trial and error : 1. ada kemajuan reaksi-reaksi mencapai tujuan dari penelitiannya itu. Jadi. jika suatu respon yang diberikan oleh seseorang terhadap suatu stimulus adalah benar dan ia mengetahuinya. Semakin sering suatu materi pelajaran diulangi maka materi pelajaran tersebut akan semakin kuat tersimpan dalam ingatan (memori). setelah ia kerjakan. Konkretnya adalah sebagai berikut: Misalkan seorang siswa diminta untuk menyelesaikan suatu soal matematika. maka ikatan itu akan terbentuk semakin kuat. ada berbagai respon terhadap situasi 3. maka tindakan 76 . ternyata jawabannya benar. Hukum ini dapat juga diartikan. Hukum-hukum yang digunakan Edward L. Hukum latihan (law of exercise). 3. hukum ini menunjukkan prinsip utama belajar adalah pengulangan. Hukum akibat (law of effect). yaitu apabila asosiasi yang terbentuk antara stimulus dan respon diikuti oleh suatu kepuasan maka asosiasi akan semakin meningkat. Hukum kesiapan (Law of Readiness) : adanya kematangan fisiologis untuk proses belajar tertentu. suatu tindakan yang diikuti akibat yang menyenangkan. maka kepuasan akan tercapai dan asosiasi akan diperkuat. ada aliminasi respon-respon yang gagal atau salah 4.T 1. maka ia merasa senang/puas dan akibatnya antara soal dan jawabannya yang benar itu akan kuat tersimpan dalam ingatannya. Isi teori ini sangat berorientasi pada fisiologis 2. misalnya kesiapan belajar membaca. Ada motif pendorong aktivitas 2. Hal ini berarti (idealnya). Interpretasi dari hukum ini adalah semakin sering suatu pengetahuan—yang telah terbentuk akibat terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon—dilatih (digunakan).

Sebaliknya. Dengan demikian kemampuan mengerjakan operasi aritmetika tersebut menjadi mantap dalam pikiran siswa.tersebut cenderung akan diulangi pada waktu yang lain. Selain hukum-hukum di atas. sering terjadi. pengurangan. Jadi. 77 . Misalnya. Unsur-unsur yang identik itu saling berasosiasi sehingga memungkinkan masalah yang dihadapi dapat diselesaikan. Sedangkan hukuman yang diberikan guru atas pekerjaan siswa (misalnya celaan guru terhadap hasil pekerjaan matematika siswa) menyebakan siswa tidak lagi mengulangi kesalahannya. Selanjutnya. Ganjaran yang diberikan guru kepada pekerjaan siswa (misalnya pujian guru terhadap siswa yang dapat menyelesaikan soal matematika dengan baik) menyebabkan peserta didik ingin terus melakukan kegiatan serupa. karena di dalam setiap masalah. dapat disimpulkan bahwa transfer belajar dapat tercapai dengan sering melakukan latihan. bahwa hukuman yang diberikan guru atas pekerjaan siswa justru membuat siswa menjadi malas belajar dan bahkan membenci pelajaran matematika. Dalam hal ini. dan pembagian) yang telah dimiliki siswa. ada unsur-unsur dalam masalah itu yang identik dengan unsur-unsur pengetahuan yang telah dimiliki. Konsep ini maksudnya adalah penggunaan pengetahuan yang telah dimiliki siswa untuk menyelesaikan suatu masalah baru. perkalian. Unsur-unsur yang saling berasosiasi itu membentuk satu ikatan sehingga menggambarkan suatu kemampuan. tampak bahwa hukum akibat tersebut ada hubungannya dengan pengaruh ganjaran dan hukuman. setiap kemampuan harus dilatih secara efektif dan dikaitkan dengan kemampuan lain. kemapuan melakukan operasi aritmetik (penjumlahan. suatu tindakan yang diikuti akibat yang tidak menyenangkan. maka tindakan tersebut cenderung akan tidak diulangi pada waktu yang lain. haruslah dilatih terus dengan mengerjakan soal-soal yang berikaitan dengan operasi aritmetik. Namun perlu diingat. Thorndike juga mengemukakan konsep transfer belajar yang disebutnya transfer of training.

jangan mengharapkan hubungan dengan sendirinya. respons yang akan diharapkan dan tahu kapan ―hadiah‖ selayaknya diberikan kepada peserta didik. Beberapa aturan yang dibuat Thorndike berhubungan dengan pengajaran:  Perhatikan situasi peserta didik  Perhatikan respons yang diharapkan dari situasi tersebut  Ciptakan hubungan respons tersebut terjadi dengan sengaja. tahu apa yang hendak diajarkan artinya tahu materi apa yang harus diberikan. Mengajar bukanlah mengharapkan murid tahu apa yang diajarkan. Mengajar yang baik adalah : tahu tujuan pendidikan.  Buat hubungan sedemikian rupa sehingga menghasilkan perbuatan nyata dari peserta didik  Bila hendak menciptakan hubungan tertentu jangan membuat hubunganhubungan lain yang sejenis  Ciptakan suasana belajar sedemikian rupa sehingga dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari 78 .Aplikasi teori Thorndike dalam dunia pendidikan dan pengajaran Aplikasi Teori Thorndike dalam dunia pendidikan dan pengajaran Menurut Thorndike praktek pendidikan harus dipelajari secara ilmiah dan praktek pendidikan harus dihubungkan dengan proses belajar. Situasi-situasi yang sama jangan diindahkan sekiranya memutuskan hubungan tersebut.

79 .

3 :-:3.-897...8 /..8 43709  43805 43807./.424/.3 /../  -0.39.8 1472.-.33. 0257  . . !074/0 507. 202:33.3 .8: .3 897:9:7 2039. 2.3 503.9 2034507./.3 . 8:.424/.8.25: 203:3.9  02:/.7 5072-..9. 2.9 20384.3. .3 5. 90..8. 2..947 1.3 ..3 -. :. -0757  3.3  3.3.3 /03. / /.3 :-:3.. 80503:3.8472.8. 9072. 80-. 9073. 80 025.3. .5 907.3 05.3 /03.5 5074/0 4507.7.. 3 /80-:9 :. 907.3  ..7:203 .8 90. 508079.047.8 1.3.  3.3 2..3 31472. /....3.2 897:9:7 2039.3 -. 508079..3 .3 05.3 207:5.. 907.7:203 9.3 2.35.3 503./03. . 574808 203/.947 907803/7 .9..2 80-.. 5074/0 3 8:/.30--. 203:: 503008.  3.7: . -03/.3 39009:.3.07-.3.3.7.8. 31472./. .8 /. 4-0 4-0 .3 9..38:3 203.3 503..7: 9.9: 2. 8:/. /2 808047.2./  82.8 54909 /0/:91 .5.3 2:. /.3 -039: -039: -::7 8.2.  9.25: 20.82-:./ 503897:9:7.  . 31472..3.3 -..5:3 .7 /. 203072.3 31472...8 /.9: 203:3.. 2.25: 203008.7  80 5. 2039.8 . 31472.3 1.342508 /..3 /. -.3 39009:.3 57480/:7 8047.9.8 /.3 8:/.:. /.7:  8.5.8 4-0 4-0 9/.793..3 . 8:/../.3 -.:3  !074/0 3 207:5. ./.: 20342-3.3 203:3. /80-:9 5074/0 4507. .   .5 90793 /.-..3.3 ..9 :-:3.3 9.5.  909.842.9 .7 0025. 50347.2. :39: 203.3 5745488 5745488 4 1472./.3  /.8.2.3 :-:3.5.7. 3.9: /03.8.8..30--./  .5 :.8 .947  . /./. 202-07.9 5074/0 50702-.7.9 -0757 42-3.7 9: 9/.3 50304254../.9.5.3 /0138  /0138 . /.35:. /.3 503./.8 /.3 / .7: 8./.3.3 5480/:7 54909 /0/:91  3.8. 574808 203897:9:7.3 -03/.3 02-.947 9: 803.3.5.. /.8 /. .8.2.2.  !074/0 4507. 5.38..3 203:3.9.3 503.2 9.3 02-.947 1.25: 203:3.5..9.7 5. // 90. 2. 3 2. 8:/.3 /.

.3 207:5.7.3 81. /03.3 ./3.3 90..3 907.  !03.. 97. // 9: 203079 -. 574808 .3 88902 8.7:409. .3./..3..79 907./.3 80 025.7:9:0 /.9:/503.9.50:2 9:5:3 207:5.1.7:9039..79508079.2 50302-.3 39009:.8:/ .3 58448 /.3 80/9 -07-0/.2.3 574808 5079:2-:.8  !0789.79907.9.1  !03.3 -039: -039: . /.508:29.3 4-0-.3 02-.3/ /.33..339009:. 9: :.3.9 /03.// 9: /-07.3 :. /2 40508079.508:2  !08079.  02.2.. 4391 .//90780-:9 203.7 49.8  !0702-.82.  3 -07.3 /2.703. /:./3. 2025:3.3 .8-.3 90.947-07:9 . -07..31472..//. -039: 97.9:.7 80-0:23. /2 /.. 2./  3-07.397.2. /50.9 ../.2897:9:7 4391 .3 8:/.424/. 503897:9:7.

7 8.3 20. 8.8 -.7: /.8.3/.9.3447/3.950393 -.3828 84. 2..3 31472.3 /.5 3/. 8092-./. 80-.3 3907.3/.3 -0702-.9: 5074/005074/0-0757.9.8/.3.3 02-..47.3 2039. .2 897:9:7 2039.902.3203. 0.30-93    ./: /03..39. -.3./2...3 -07:5. .3 897:9:7 43913./: /.3.8/.3 9: 897:9:72039. ./.-0702-.3.7 808047. .3 47. .33.3.  503.8 / /.2. 5079:.3 2039.  !03092-.3. 9/. .3.-9.2 57.3 18 .25. 3907.943  207:5. .7:8 .3 -07:5.3 07.9.3 /03.947 9: .8 809.9/.5.3 -0702-.3 /. /47.  -  %7..3 9.7.  !..347.9: .3   09.: 574808.3 4-0 4-0 / 3:3.2.-.82.2.8 /.3.3 89./. 1.  503.9 503.2.. 50702-..33.424/.2.33:3. 0.35. 4507.8 $0-.7503092-.2..3..:/03..3 / /.3 3/. ..7. . 808047. 207:5...33.38.3 5079. .8 1472.3 06:-7.3 /9.3.3 574808 .09 507.3203:7:9503. .3  .9.3 0/:.3...3 4.2.8503/.

 ::2 00.3 3 .  !0702-. ...7  8. .83..9.3.5.3../ /.3 9/.3-.5 39009:.92030792./..3 4507.3  /.3..3 2:/.7  03:7:9 #:801103/   :39: /.3. 2.7 2..9 .3.3.9. 5.3..:3  3.20.3 5.3 /.9 203.3 /80-:9 /03.2 #:801103/   .3 8:/.3 -.9: -03/..3 . 8.902..2 9..3 909. ..3 03/. 907.. . 8:/..9. 202. :39: 203072.2 50702-. 907.3 -.3 .5 /.3   .. 8.308:9.3..5 2085:3 09. 202. 03.3 . 84.: /:-.7.7:8-0. .3 203/. 2.2 ::2 00.  $02039.9: /. /./.3 203079 -.  0..5./.. .3 90.5..9 507-0/.7 3:3.5 -:97 -:97 9: 907/./.3.9.3. 203/.3.3. .3/50..25.-07:9  ::200.907 90780-:9  .7 . -.7.3.3 -0:2 202.3 43805 -. /203079  2. .38.. -0/./.902.3 /50.3.3 :.3  80-.3.8..79039.: 503.. 09. 574808 503092-.3 8:/.3 -. -07-0/. . . 2..7. 50.3..5 203072.3 ::2 00.72438  .9. /.9072.2 ::2 00.3 -0.7  03:7:9 5.3 2..3  909. -07:2:7  9.5.2..902./ .. 9:  .9.5. /03.. 2025:3. 8:.:3 8:/.8.: 439.3  9.3.3.3 /.3  507-0/.3.339009:.3 43805 2..39: 4.5 :39: 203072. .907 90780-:9  4394  2085:3 .9:3.3 /8.7...3.!74808 503092-..9 2039:3 . -0:2 ..3 8:/.. -0:2 203079-.3 -.    909./. 808047.3  .9.3 /.3. 8.902..703.2.3. .5.7 03. -03/.3.3 -.7:8 8:/.. 90747. /-07.7:8 203.3.3. . /.3.380907:83..3.5 /.2 -0.907 2.907 .  3.793.3 .3.3 20.09 /..3..2 ::2 00.

3 90. . 5. .8 .3...380-..3..3.907 .:3   ::200..2 20250. .5 2085:3 9.3 -0:2 202. .  3..3 8. 9.  3.3 8.907.3  9.3 .3 -.5.8 503:2. .:3  3..   ..2 ::2 00.  !.3 -. 9/.3 8:/.2.3 -0:2 202. 203.3.38...3. -0.9: /7039.3. .5.3..3 /. .3 03.3 . 202.  43943.7 9.: 507-0/.3 80/.3.9: 8:/:9 5.9 202-0/.3/.7 9: /9:.3 .505..907 -0:2 /. 202.3 08:9.: /53/.303.3 9.3 203.9 20.7 /:.3 .7 /.3....3 9.8 9.907 5.2..5 8.3 2.3 .3 2.3 909.3 8.:8..2.. 8.3 203.3 /./3./ 9/. 8..2.: -. .3 20250740 08:9.2.3./..3 -07-0/...3 ...5.3-..3 5. ..9 . 2.5 -..3  $0/.9.3... 9: /03:3. 202.3..3 /.3 -.  ::2 00. /03:3.9. :2:23.3.3. -039:3.3 572.3 203.3.9:3.2 ::2 00.907.2.3 2.3 -.5  .. .9. /..305.3 5.3-.9.  2085:3 .3 /.3 5. .2 ::2 00.3.9.7 8. . 5.93.3 8.  $0/.3.3 4507.9.3 203.9.  .2 ::2 00.3 -03/.9.50..3.33.3.380-. 03.: -.34 .. 5.9 .73.75.3 5.9..3  907:9.3..3.3.3 .32.8 9:3 . 809.3-:.-.9:3.9.3..3 .3./. /:.2.2.: .3 -0:2 202./ 9/.7 43805 503::7.3.3.9 5078. 9025. 8./...3 05.2 ::2 00.3 8:/.9.907  9. .3/.3 -.: . :9.3 -0:2 202..3. 90780-:9 9.3. /8:7: 203039:.3. .3./. 503::7./5.3 -.3 /..  .3  203.2::2 00. ..3 2. 2085:3 /:-. 2.3 4507. :8. /:.3.:3   ::200.:3  3..3.3 909...3!.3 .3 . -08.9.3 -. /. -..8.3 /.3.2. -08.2 ::2 00.7.

07.3 -0./.: 5032-.2 20302:..8:./.7 -..:3  3..  8. .9. .8.2.3  .3 5.: 2:33 80-0:23.3 -03/. :2:23.2 -.3 8 203..3/.9.:7:8 ::200.3 :.. ..9   9.3.3.3 /9:9:5 40  50780 437:03 .7  9..809.3 /.7..:3 ././..3/9:7:3.9..$  2./. . .8:.3 .8 /.3 -......3 90780-....3 -.77:2:8:.9 8:.:3  ::2 .  $0/.38 .3.3 :. 809. 90780-:9 8..35..8..8 /.5.3 -0:2 202.307. :.73   . /5. .3.2 ::2 00.9. :.3 -0:2 202.3 .9 203.07..3 909.../.3.9: -03/.3 /09.3:.3.: -0.8  9. .3 /03.5..3 -07259.  !.7    9.: -0.3 8:.9 8090. .3 8 -03/.8 .7 5.. . 202.3 909. /..2-. .9: -03/..2 . .  2.3-.38  9..7    9.. -07259  0- :.  /.25.8.3.9.3 /9:9:5  50780 437:03 . 5.3   ::200.:8. :8.3 202. :2:23.3.-03/.:3  ::200....3 -07.3.3 /09.7 9.3.3 8:/.9  /.3.3...3:9 /. 9/. -07.303.8 -.7 :. :8.:3   ::200. .9: -.2 ::2 00. -078.7 ..9. 2085:3 09.8 .7 9/.3 202.3 202.../5.3.5 2085:3 -039:  9025. .-0:2 /5.9: 5.809.3.2 ::2 00...2.3.3 /9:9:5 8:.9: -03/.8507805.:3  ::2 00.3 .. /03...3  3.03/07:3 203./.3 :. ...3./..3 :.3 8:.07. /:-.07. 90780-:9 -07-0/. 809.8. !.80-.8 /..3 08:9.:2:23.. .7 /2.3 /9:25.2 ::2 00. .-07:8.3.5 8./-.  &39: ::2 00. -03/.3 -.:3  ::2 00..3 -07.3.2 ::2 00.39/..3 8 5.. ./.3 ::2 00.. 8:.3 503: /03.9.9:/.3 /2.703.37:2:8 :.2..33.3..240 .8 .

3.  03.7 5.35073.3 :07-:7  078. 8047.31:79 -078.2..9. /2:3.3    . .5.8.3 8. 8..3 08507203 .5748081880-..820  %047 089.339075709.:5:3 0275..3203:3:5. 8.88903/8.28 8090.2.9: 83.. 203039.3 503/.:./.  43805 503933.7.7 / &3.3:79411.:3   .3:7.5 9047 897:9:7. :050  8047./.358448808047.3 /3./.3 .: 50347..3 /.3 07.9 :3/9.7:7903  03 .203.39. /03.:. 80-:.3 4254303 4254303 8038.3.3 /0 089./ 08.3 502-.9  %.5030.3202:33.73.8 /.38.   20.3  54.  5 503420343 -0707.7 8038.3 502.3 . /03././.2..2.3.03/07:3 -07:5./.3 574808 5078058 20.3 9039.3/. 203:7..32..8 . 574808 39075709.35503420343  O :7903    !.9 -0745488 907.8.3 411.9 9: 8:/.2 .3 8.3 944 .8../ 7.3 202 :-:3..0790207    0./.9:.30.44/..3/02.3 203.9072.3 -.3 574808 18 909.33 .9.34007   /.  O . 8.9 203.3.3 .5574808 2039.2.//49.5.3/.38038.3.341./-. 203. % #$%% %44089. !748083907..9/.3 4007 /./.9 :.0789 41 7.98 203.3.8.8 203.84-091.8  03.5..80..3 /03. 2030:7.20.3089..9 /.  .9 .. 9047 .3 43805 3  0790207 203:3: 5.3 2030.3  %047 089. 4-0 89.9 .3:8.3.38.-:.:. .2.9  089.210/58.

5.3 -072.3 -07.2.7089.38..3/507805880-.9.33202503..2.3.3 1:38 -.3 O !73..3.3.3 /. :38:7 :38:7 ./: -07/..8./..3 507./:203./.9.9: 1:70...2.3 /50.2 ./. 5844 .2-:3.38..:-039:9079039:  O !73.8. /80-:94./.3 . O !73.. 80-.25:.9.507.03/07:3/5078058.059:..3 -.8.0 $09 7.3-0707.7.39.3..9:. 5.424943  !7385/.7 !0347.3 3:3.3.5.9./..703.43805:9.3503.38. 809 .3 40 2..0 . .9.5507.3 8:/.3 8 .7./.3 507.8 :9..3.8.38.3 -07/0.7./: 1   %:../:-07.38. :38:7 :38:7 -/. .3 2039..3/.8 ../.3584489025.3 088 /.50 41 !7429 -.504148:70.2.33/. .8-07/.34-0 58448 .  -:.3 802:.50 41 -0.3:8.3:8. 9: 02.9   3907.: 3/.3/.8 -07/.3/-039:     !7385 5738550347.9:2..3 4.7:2. /.38.2-/. 1:70 .907-039:80-0:23.8.3 584483.3/5.10/  $09.8.8.71.8..50 41 $2.9::.8:.9.10$5.3 8.3 503.5. 207.3 80-.9:-039:9079039:  O !73.3.3/ 74:3/  0 .5.9 3/. 58448 .3584483907/7/.2.2. O !73.354.059:..7.79 -. 1.3 /80-:980-.:5:37:.3083.7..03.3 5078058 3 207:5.9./../: /.: 3/.9: 9079039:  07.10/20247.50414393:9 7.3 203039:..3 2.2.03/07:3.

7 -0.5.03.3.3 .73.504144/472-. 809.3 .3 2038 04843.9 /-.3 8:.9: 1:70 -039:  /.!73.9. 4-0 .03/07:3 .3   .5 -.9: 203.25.5 -/.3 /.3 .3 9/.5  O !73.9.9: 54. .9.38:.47..9.50 41 :70 .2..3 54943../.3. /:.2.9:4-0805079::7.3 !03.3 503..: 503.3/ 74:3/ .

3:38:7 :38:7 .  -  !02-0.. 1034203.2.3 5:8548.-. 9.5.3 2020.7.3.3./.25:.28:.7.33.7 /. 202-0/.7.3 .80-.3 507.8..89047089. 10/3. 20.3.3.3 9.  .3.3  03/.7 .3 .7 .7.3 907.0 -0.  .9 50393 /.3 907.. !74808 502-0.2 574808 502-0.5 8:./.7. .5.7./ 7047. 508079.9: 574-02  5. 9::.3 0.3 8:.7 -0.2.7  2.7  .2 574808 -0.2 507.7.9:4-0.3 -.3.3 50393 /.38..3.3..3 5020.8 /.9.: 907.-:7.3 50302-.3.9.25:..2 /0391.39.703. 202 2..3. 4391  5.9: .9. 574808 -0..3 574808 0/:5. 907.3  !07.3 /50.203..343908  5.3.3 .8-07/. 3/. ..7: 907..39. ..3 ... 5..3.3./. ...9.3.9/./ . 5.059:.333/.  !03.. 3 8.333/./.3  .3-072.3/03. :-:3.3 .3 892::8 7085438  909.9: :38:7 ..3 0..38. 9/./: 203.7 -0781.9 202 .7 8.3 01091 808:...9 :-:3.. /.3.3 503.3 203:3.. . /.9 8.39::.3 48 /03.3 207:-.:  .3  ..8.8.3 2.3 20303..5..3204/  O !73.3 .  :8:83..3 1:70 /...9: :7:03/.5.3 502-039:.3 .3   .2 0.-.504184247582 7.3 .8 /...9.7.3 9..8 2.0907.3 /....  0..857385089.47  -.2574808502-0.3.33./ 0.  !07. 508079./. // 03/. // 20303../03..3:38:7 :38:7/.3 /. 50780589039. 9::.9.3/.  $090.: -:.9 .7.7 508079.3 /50.733 0-072./... // 202 02.3 9.:50789..9.7  907.79::.3 1:70  4394 507:-.9073. 1:70 /.91 5020.7. 0907..9 !74808 -0.187..3 -07.2 507.2 574808 502-0.3 2..33.9: 02.2.8 2. 507.7 907.3 01091 .3 .331:0.: -079::.3 389  -./  808047..3 3..

3 4-0 /. .3 :.8 .3 203:8:3 09039:.3.3 -07-.7.8 :39: 02:/.3 2005.3 3:3..3 0307.8.3 905.3.3 /03.../ /03..39: 508079.8 /.9: 50784.. 8:8:3.7.8. /.3 02:/.3 09039:.3 2. 203..3089.2 502-0.3/..7 .7.9.7./. 9:  2.3 /2.30/:5..3. 54..9:5023/.29::.3 2:3..5.: 3/.9.2 202.2 9.3 /:3. 574808 503:..7.5..3 2.8 9079039: :39: 02:/.5 57385 57385 544 /.33.5.8 502-0.3 503079.3 203025.3 .7 8:.  0 ..3/.80-. 80..3 .3 503933.:/.7.39079039:089:.3 /.389:.3 /.8 /.  /  !7385 7:. 9: .9: 431:7..3 03:7:95.703. // :39: 203:../: 202 0907.2 2020.38107/..3. -07.303/.8 ..8/.7..3508079.0  -.8.9 202-.8 431:7.3 202-.3...7 907./. /:.2020907.3 /.9  :// 2030.3..8.3.8./ .3 /.. 57385 57385 544 /. 507.8.7.3 :2:2 0307.3 /..7 2.38107 -0.3 907.8  %7.39: 508079...3.507. . 9:  :7: 03/. // /.8...7 8:..  O 389 !020.907 ..-. // 90.9. /...9.9.38107 -0.3..9 97.2 89:.289:.//  0  %7.3 /.2 89:.3 /:5 10 85. .3/03.9.907 ..343/8 3:3.3 57385 57385 544 .3  0 .703. 508079. .33..20.8 503. 503.: 8090.3 /.354.2 89:.3 20302:.

.843..9.5.3 /03..3 -07. 5:./.3  $090.9:  0.5.907.8 5078058 907. 3.388902.3!73854144/   .3  03.38.33..2-0./. 80.33.25:20307./.3..3 57385 5738547. 438053893.1034203.3 3 .54-0 !0307.:57480897....9./.98  O 0247 ./:2.574-02800389. .3404007/.5 4-0 2033.7 /902:.5.3 389 3/.208507203. 3.02:33. .3 0.35. 07747.507: 20./.50393 /. 503.2..3 -07:-.

3:.  1034203.7:485.848.2030. 085072039.3503.7..: /..8.472 8073.7. $0.3 907-:9 80. 2:3.

8.3-074507.. 3 /3/. 574808 574808 2039. -40 /. /.3. .9 2025079./ 8.50308:.703.7 :.9..9.25.7.3.3.3 -....3.3   ..83. 080:7:.33202-07.38. 574. 10/ /39075709. /02.5.57385-0.5 574808 574808 .9/-.2.2:3 909.9 O !03/0. 805079 5078058  389 /. /.3 203.3 /0 :39: 203.9  25.3 /.3 . 507.9 203025:73.-897..7.9 -072:. 89:/ 5844 /.3 9/.3 4391 /2...3  9/.39.907.3 907-08.3./.2.7.5 :.8 %44%42. 944 089.3 5078058  /.3. 80.2 .9.8 /03.7.3 089.3.9 80.7.3 20.3 47.3. 18  024843.83.5 /.8502.33:3. 5.7.3 .5.3574-0284..9 20250.   0.3 3  0243897.3 1034203448 203.059:.3 503..7.3 203:2-.   080:7:..3/.3 /03.3.5.7 07 2039.. -070.3.5..35.3 3 5. .3./ .7:247  /.5.9.9.9:9/.9./...350393 .3 803.3    .3 3:3.3 . 1034203. 39009:./.3 /.3..3:8.  848./..  3.7 4391  -0714:8 5. 80. 574808 -0.47820 /03.  O !.3 503/0. 8..7 -0.7. /.3/7/03.3-0-07.3 .3 80-.5.5. 07 2039. .  909.9.9 203:3:.-0-07.8089.7 .3/./. 80.33. .7.088  .980-. 20303.3 80.2.5.088  /.3089.39. 507.7.8/. 574..3025783.5..34007  !844 089...9: 503/0.7.3 203.3 -0.. 8:808 .3 088 / 5844 /.

.9/507805880-..5.75...3-07.2..9::.7:8202.3 :39: 20250740 389    %/.7 9.: 31472.3 8:.8.9..2.3...39:.3:8.3 5:. 700..5.3 03../.3 2:33 202-07 .2. 907.9: /03./.380:7:47...380. :8.3 :39: -0.3:.3 .9 808:. 503.  80-..8/.50702-.8  /03.3 0- /.7 2020.3 54908.-0702-. ..3.3 /03..3    0.3 -. 502-:9.9207:2:8.7:8/.: . :25:.9.3 ..3   #0.3/50740    03...3 2..5/03.3 54908.. 03..3:39: 0. /03..98:.7 .2.38:. 8:. .. ..808047.9..320307..547.7..3:8.:.5..83.2- 0825:.3 -..8.8  .8. .-..8.380.2.850 .8.  .7.2./. 80-../.3  202-:.8.. -07.5020.5.3 503.3 .32.5..3 0907.9 /...3820    0.91 -:. /03.2..3 /.33.9:574808-.5  02:/.7./0.: 204/ .:5.3.33.3.3.32. 5020.25.3 2.9: 503./107038. 3 3.    0./.390784.8.73:3.85020.3 9: /.3 .3./..  03.3  0.3 3 203-. 02..3    03.70.3 8:.9.    03:25:.3/8   0.4-.3...9:  %047 20/.5.9.3 /.9.3    03.9.35.3-./.3 2..7  249.8 202-07/4743. ..080:7:.3 0907../.9 2020.3.8.25..9 .3 80. 02. /507:.3 203.3.7.: 8:2-07 8:2-07 .3 349  /02.203:7:9 00.3 2.8.9..9:. :.9: -0.7207:5. /.3   .: 202-:..3./. ...3./.7 . 808047.3:8.7.2. .808:. 9/.072.8..30.9: 503./.78.9 203:39:3..9.384.:.3..3 2020.0-:..8. -0.3..3 43805 9047 -0.:.7.380-..8503.8    0. 2:33 ..9: .9.7.

.3/09..  0.9:4-0503.../ 574808 /107038.3 .:3 907.3 2025078058 080:7:.33 20.3.8:.8 2.. /03./..53:3.3 207:5. -0.3 .8  ..3-...3 203.9.9 .3  .3 03./91 80-.370.9:1034203../03..5-.33.848.7 8:.7-:.2 -.3.3/.3 503:2./.39047..9 2..3-07-0/.2..7 2:.91907.3.940720/.3202.2-.

.9038 8047.8:7020398    32.3 2070. /8.3 0.7&3.:3 :: -:: .1/.208 /. . /09.850309.3/.3207./.7/.:3/. 7/07   /.3 /.07 8 47/ 44  4:79  /..3..7/00%473/0  %473/0 -07574108 80-.7.7 ...0  3 05072039.7.33  /.3   ..3 -070-.8.. 0.7/ 009473/0 20880. 203072.078 207.25.. ./. 39003./802.7 -0. 89:/ 41 . 202-039: 9.3 207:5./.7 574808 -0.3  .:3  . 8047..3 4-0 .:3   /.0380.9.8   % #% # 47.3./.7 /.0723.7.  2.5.8.8907 /. !8.3:9 40 %473/0 . -0.7/9.593.3 203/..884.. 9.5./ .3 802:.2 . /.3 -:7:3 .7.3 /.9.7. .05.7 ! 3.  /.3 2..9: -.:3   02:/.3 -0.  %473/0    203/.2:3. 9. 20307-9.3 57385 /.8  3.:3 $/./.3 080:7:.3203.31:3843.:3   09..3%473/0907.38.8.3 /:.:9 5. .39..47820 #:8.7/ 5.3 /9:83.3207..-:7203.3 .-0-07.0   90.7 0.9: -:: .44    039.3. 88. .  :: 3 .9.0789/4330.7/442-.3/%0$4.9 203.- /. 5078058 .3 5844 ...7 /./. 39003.30.7 ..943574..3:2.9.5..733  9/..5:3 .5038435.3.7 .3 203.0..0789..83. 9.3/ 84.9:70.3 8:.7080. /.93.8080039.3 503// /.943. 90.8 .3 &3. ::8$/.  /. 203:9 0.5..28 .3 -07:/: 32. . / 442-. 2.3805079:.78.088 3 32.7/4947/4:2-.90.

8. ..3820 -07. 2.3 :..: 2. 9079039: /03.8/03. .38209:..3 9047 $ #  /. 892::8/.5 93. 907. /.7/00%473/0  !.3 93. 8..3.3 ./.3 202-..703.3/./.3820 0.2 7.9 -. -.3 .3 -0707.4-.94308808:.8. 8:..7.32030:...3/./..3 907/.2 8:..3.3..8 .3.94382  .3 93.848. -0. -07-.38:3 2033.9.3-07-.8-.7 %473/0 / 80-:9  4330.3 .3 80-. :39: 2020.: 9079039:  $0047 :.7.3.:.3 907:3.9 80. 8:./...25.: . 3 4-0 203..9.  47.. . 9:  :..39.  $0.9.7.. 2033.3/.7/03.7 207:5.8.393..9:70.7:.8.2 9047 $ # / .  2. 03/ 07747  .3 503..3 8:.7.3  2043.2574808-0..3 8:...3 2032-:.8:39:2070854389:.7.3/ 07747  /.3 0-07.8:.33.2. 9:  07/.39.89:  /..50/.3 28.3/.2 .5.3807039./.3 4308 4308 . 8.3708543 %047 38073 :.8.  ..7 %473/0    9047 -0./.8 40 503..3  /.3.7.38. %7.3/..9: 892::2 .2 .8.4-.: -0-07.2.3 203..8 .7.3 .: 93. 892::8 9079039:  %473/0 203/.8.9: 708543 9079039:  %047 3 /80-:9/03.80-03.3 574808 502-039:. /.848. ..    .: /.3 47..3 90473.3.7.3 ... .207.3 /.3 .3892:.7:8 / 00:..3/:32. . .7.7.83.8.9: 93.3 /..3 /0.:.2..8:..3 807:5.8.8 50309. ./.9. .. :39: 2020.3 2.3/.9 / /423. 2:..9 203./.7: /..  -07. -070. /80-:9 %7.3 503.  %047/.2.3 . /.: 47. 203.7 /..3/...3 9: 803./. .7 5079.3-0:2/03.3820 8:/.3 2.5./. 5.3 9: 907-:.3 / ..  . /. . 0-09:.3.3 8:.9: 50/. 708543 .2 .47.89:. .7 :25:. 9.  503//.3.3 9:.9. .9: 89:.5.47. .3 203.5.3 -0...8 ... 5.9  203.2202-:..7.807.3...8  8:.8.3 3.: .. 8..3.  -050309.. 20302:./.3 / 2. -3.34-020.3  7. ././2.305.7. . .8 803. 2.9: 2..9: 8. .

/.907 50.3.02.388.3 .9:708543 .3 2.907 50.3 .5. -0.3 40 808047.9. :39: 203008..7 .848.3..3 18448 :39: 574808 -0.5.80-.3. . 41 #0..3.3 /.3 907..7 202-..3 .3.3 907-039: .7.848.7 . .8   .18448   ::2 .../ 2.:. 892::8 /.9: 892::8 .3.8 .3 20247    ::2 .-.:3./.7-0. ... 41 007.8 70.8203.5.7/ %   ::2 08.8.8.:./.-.9: 05:.:8.9.-07-..5.3 802.7/03..3-07.9. 08. 02..9 907825.7.  8090.39.5 8:..589:..9: . 2..8:.3..2..3.80  . -03./.3708543 /.. .3 8073 8:.3 /-07.33./.9 437093.79079039:  28..20309.3  $02.3907-039:802.9: 84.3 -0.7.9 .-03..5..3 90.892::8 /./..848.37085430-8073907.3/./  ::2 3 203:3:...3 8073 8:...3 :.3 57385 :9.9. 802.3. 503:.7 2.848.9.2 3.39.9: 2..9 907..3 8:.3.9:. .3../.7.8 .708543907.39:.8.3 2.9 /:3.9../..85.3 90780-:9 .8.38047.8 /.-07:98.3 :.8   .2491503/4743.9  ..3802. 07../3088   .-.3.9  39075709.05:.750309.3 :.3 /:..3/07747   /.3907....9.39./3..23.8708543 708543.7.79 /0.3 90780-:9 .-.. 2.902. .9:  ::2 ::2.3/.8 .9.   . 907-039: .9  .803..9 . 2..3  2./..9-0747039./.207././.3 708543 /:9 40 8:. 892::8 /..7 /. 8 904738.3/:3.370.-.32033.3 9073.9: 50309.5.33.9..9.9::.9.7 ::2 3 . /239.3 /507:..3 802. 41 0110.397.

9 :.3 /.3 :.7 9: ..-.  ::2 3 /.-.8/.3 -03.3.3 ..33.5.. 93/. . /.3 . /.9 .33. 84.7. .5:..3   .3 .93.39.9: 93/.3  2.3 20303.3  8:.79.3 /:9 .-.2 3.9 907825...9.

3 /-07.  809.3 9/..38107 41 97.3 807:5.3 90..9 80.3..3.8 -0.7 .2:3507: /3.90780-:9 203.703.39/.25.03/07:3.3 02..38107 -0.3:93.3 8.3/0399:8. 20302:.7.5 2.3 /039 /03.7:8.3 90.9..-.3 88..8 ./:.3  &38:7 :38:7 .3 5./.9.2 57.3 50309..03/07:3 .3. 93/..9  8073 907..202:33. .8 5007.9.. 2.3 8:.848..3 84.90780-:9 .9.38107 -0.:-:3..9 88./. /2 88.3 $0.25:.25:./  /.9.7 /.9: 93/..990780-:9. :897: 202-:.3 :7: ..3 .3 43805 97..3  507.8  %473/0 :./ 2. 9: .7.5.3.3807320./ 2.3 .3 .34507..9:.3 /.  2030-.3202-03.33  43805 3 2.32.5 88.5 /..3 .3 2./03.79209 503:2. /2 88. 203:..3 4507./.3 /:9 .3 :7: 907.3 502-.25:.3  ../. 20303.8 5007..3 20..3 90. /.  2030-.8.2 2.2.902.3 84.5.8.33. 5007.39.3     . 01091 /.5.3  503:7.3 508079..3 -07.3 503.3 20307.3 :7: 907.3 88.9 203008./.38:.35.8803.3  $0-..7.:.  .  ./.3/02.. 28.3 /03... :38:7 :38:7 /.3 88. .3 08..3 -.9.3  8.:.79209 03. .3 9. 97.7/.3 .3 -07. /2  &38:7 :38:7.5 02.33..3-07..:.9.5 /.9.5.3 /80-:93. .3.5.3 -.902.3803./  -. 28..3 0.8.8 ./.3 /-07.9/..7:  . .8. :39: 203008.-.3 /. 503:3.-.203.9 /825:.3 /.5 . 97..3  /.2-.8 5007. .3...  02.9. 88.3 .388.8:/3.9: 2.9.79209.3 :38:7 :38:7 50309.848. ::2.:..0.3 .50..3 .  $0. 5:...  .302..9.3 :7: .3 /:.  $0/.3  .3 4507.3.9 .3 /-07.5:. 203.9:02.25:. /03.3..3 -. -../.3 20307. /03.3 88.3 ::2 ::2 / ..3.8 9: 202-039:8.-.:.3 :7: 05.3 /.3 .8.3  .  .390780-:9.9 907:8 /03. .9907.3 ::2.32.902.7:8 /.7.7.3 ::2.9 /8008.3./.7: .3  2. // 33 907:8 20.3 /03..9:.9: .2 809.  8:..3. / /. 84.::2.

.7.3 . .7..3 8:.3 80/02.3 2:7/9.3 /.8.3 203.2.3 /.3/..305..3 507-:.//  0-07. 03/.3 03. 803.  $9:..9:7..3 .9%473/0-07:-:3.357.3 7:5..//  !07.: 9::.3 574808 -0.3.7:8 /-07.9.3 9..3 :-:3..5.7.3/./.508079.3 907.8 . 803.:. .5.9 /:3.7:8/50. 203..3 7:5.3503.2/:3..7508079..37085438.5. /.3/.7 -:.3 803/73.7. 203.3  !07.3.9.3 3...3 5.3503//.  80..390780-:9   :.9.3 :-:3.3 -. .2 /:3.3.89047%473/0/.3 /03.8 %047 %473/0 /.907.3 /.3.3 807.90 503//. -0...3 .3 .5.780.//  .3/03.3 7085438 90780-:9 :-:3. 203.8508079.59.  .3  7085438 .5.9 :-:3..7.7 80/02./.. .3.3.. /.3 9079039: .8 89:.5.389:.9..380.7..3 /3/.3 /03.3 /.5.3 8.890780-:9  59.3 /.3 :-:3.3/-:.3 03/.3.3 9.793.3.9.7 ./.7:8 /:-:3.3 . 202:9:8.3.5.7..: .2. 9.3.503//.20/:5.3 03:7:9%473/057.789:.3 202-:.7        .7 .7./..3 803.: .7  03.9 :-:3. /.3.380038  59.3 503.5.3 :-:3.7.3503./-07./ /03..5.7. 503//.90503//.8.5.: 2.

             .