A.

Teori Ausubel Teori pembelajaran Ausabel merupakan salah satu dari sekian banyaknya teori pembelajaran yang menjadi dasar dalam cooperative learning. David Ausubel adalah seorang ahli psikologi pendidikan. Menurut Ausubel, belajar dapat diklasifikasikan kedalam dua dimensi. Dimensi pertama berhubungan dengan cara informasi atau materi pelajaran itu disajikan kepada siswa melalui penerimaan atau penemuan. Belajar penerimaan yaitu yang menyajikan informasi tersebut dalam bentuk final, sedangkan belajar penemuan yaitu yang mengharuskan siswa untuk menemukan sendiri atau keseluruhan materi yang dipelajari.Selanjutnya dimensi kedua menyangkut bagaimana siswa dapat mengaitkan informasi itu pada struktur kognitif yang telah ada. Jika siswa hanya mencoba menghafalkan informasi baru itu tanpa menghubungkan dengan struktur kognitifnya, maka terjadilah belajar dengan hafalan. Sebaliknya jika siswa menghubungkan atau mengaitkan informasi baru itu dengan struktur kognitifnya maka yang terjadi adalah belajar bermakna. Jadi belajar bermakna terjadi bila pelajar mencoba menghubungkan fenomena baru dengan konsep yang telah ada sebelumnya. Artinya, bahan subjek itu mesti sesuai dengan keterampilan siswa dan mesti relevan dengan struktur kognitif yang dimiliki siswa. Oleh karena itu, subjek mesti dikaitkan dengan konsep-konsep yang sudah dimiliki para siswa, sehingga konsep-konsep baru tersebut benarbenar terserap olehnya. Dengan demikian, faktor intelektual-emosional siswa terlibat dalam kegiatan pembelajaran. Bila konsep yang cocok dengan fenomena baru itu belum ada, maka informasi baru tersebut harus dipelajari secara menghafal. Belajar menghafal ini perlu bila seseorang memperoleh informasi baru dalam dunia pengetahuan yang sama sekali tidak berhubungan dengan apa yang ia ketahui sebelumnya. Ausubel juga mengemukakan bahwa belajar menerima dan belajar menemukan adalah dua hal yang berbeda. Pada belejar menerima, isi pokok yang

1

akan dipelajari diberikan kepada siswa dalam bentuk catatan, belajar tidak melibatkan penemuan, siswa hanya diminta menghayati materi atau

menyatukannya dalam struktur kognitifnya, sehingga tersedia untuk direproduksi atau untuk penggunaan lainnya di masa mendatang. Sedangkan pada belajar menemukan, isi pokok yang akan dipelajari tidak diberikan, tetapi harus ditemukan oleh siswa, kemudian menghayatinya. Belajar menerima dan menemukan masing – masing dapat merupakan hafalan atau bermakna, tergantung pada situasi terjadinya belajar. Yang jelas bahwa belajar hafalan berbeda dengan belajar bermakna.menghafal sebenarnya mendapat informasi yang terisolasi sedemikian hingga siswa tidak dapat mengaitkan informasi yang diperoleh tersebut kedalam struktur kognitifnya. Dari dua dimensi belajar tersebut, terdapat empat kemungkinan tipe belajar, yaitu: a. Belajar menerima yang bermakna Ini terjadi bila informasi yang telah disusun secara logic disajikan kepada siswa dalam bentuk final. Selanjutnya siswa menghubungkan informasi baru tersebut dengan struktur kognitif yang telah ia miliki. b. Belajar penemuan yang bermakna Ini terjadi bila informasi pokok ditemukan ileh siswa dan kemudian ia menghubungkan informasi baru tersebut dengan struktur kognitif yang dimilikinya. c. Belajar menerima yang hafalan (tidak bermakna) Ini terjadi bila informasi disajikan kepada siswa dalam bentuk final dan kemudian siswa menghafalnya. d. Belajar penemuan yang hafalan (tidak bermakna) Ini terjadi bila informasi pokok ditemukan oleh siswa dan kemudian menghafal pengetahuan baru tersebut.

Inti dari teori Ausubel adalah belajar bermakna yang dianggap palin efisien. Menurut Ausubel pengajaran ekspositori yang baik merupakan satu – satunya cara

2

meningkatkan belajar bermakna, dimana guru yang menyusun topik dan menghubungkannya dengan topik yang bermakna yang telah dipelajari sebelumya. Dua prasyarat untuk belajar menerima yang bermakna, yaitu: 1. Siswa telah memiliki satu himpunan belajar. Artinya kondisi dan sikap telah siap untuk mengerjakan tugas belajar sesuai denga tujuan mereka. Bila siswa melaksanakan tugas belajar dengan sikap bahwa ia ingin memahami bahan pelajaran, mengaplikasikan serta menghubungkannya dengan bahan pelajaran yang dulu, maka dikatakan bahwa siswa tersebut belajr bahan baru dengan cara yang bermakna. Jadi dalam prasyarat ini faktor motivasional memegang peranan penting, sebab siswa tidak akan mengasimilasi materi baru tersebut, bila mereka tidak mempunyai keinginan dan pengetahuan tentang bagaimana melakukannya. 2. Tugas belajar yang diberikan kepada siswa harus sesuai dengan struktur kognitifnya, sehingga siswa dapat mengasimilasi bahan baru tersebut secara bermakna. Belajar bermakna terdahulu merupakan dasar atau penguat untuk belajar baru, sehingga belajar baru dan retensi tidak menjadi belajar hafalan. Ausubel mengembangkan suatu cara yang disebut “ advance organizer” untuk mengorientasikan siswa pada materi yang akan dipelajari dan membantu mereka untuk mengingat kembali informasi – informasi yang berkaitan dan yang dapat digunakan untuk membantu dalam menyatuka informasi – informasi baru yang akan dipelajari. Fungsi dari “ advance organizer” adalah untuk

memberikan scaffolding atau dukungan terhadap informasi baru. Advance organizer dapat dupandang sebagai jembatan konseptual di antara materi baru dengan pengetahuan siswa saat ini.

Suatu organizer membantu untuk meberikan dasar atau scaffolding mental sebelum guru menyajikan abstraksi atau generalisasi dari pelajaran, menjelaskan istilah – istilah kunci, memberikan contoh – contoh spesifik.

3

Hal ini menjadikan pembelajaran akuntansi tidak hanya sebagai konsep-konsep yang perlu dihapal dan diingat hanya pada saat siswa mendapat materi itu saja tetapi juga bagaimana siswa mampu menghubungkan pengetahuan yang baru didapat kemudian dengan konsep yang sudah dimilikinya sehingga terbentuklah kebermaknaan logis. Pengatur awal (advance organizer) Pengatur awal dapat digunakan untuk membantu mengaitkan konsep yang lama dengan konsep 2. mereka juga diberi kebebasan untuk memecahkan masalah lewat pengetahuan yang mereka dapatkan sendiri. Informasi yang dipelajari secara bermakna lebih lama diingat.konsep. Dengan model cooperative learning materi yang dipelajarinya tidak hanya sekadar menjadi sesuatu yang dihafal dan diingat saja. yang baru yang lebih tinggi maknanya. b. Penekanan dan model cooperative learning sendiri adalah selain siswa mendapat bimbingan langsung dari guru. 4 . Informasi yang dipelajari secara bermakna memudahkan proses belajar berikutnya untuk materi pelajaran yang mirip c. Caranya unsur yang inklusif diperkenalkan terlebih dahulu kemudian baru lebih mendetail. Menurut Ausubel ada tiga kebaikan dari belajar bermakna yaitu : a. pengalaman dan fakta-fakta baru ke dalam skemata yang telah dipelajari. Informasi yang dipelajari secara bermakna mempermudah belajar hal-hal yang mirip walaupun telah terjadi lupa. melainkan ada sesuatu yang dapat dipraktikkan dan dilatihkan dalam situasi nyata dan terlibat dalam pemecahan masalah. seseorang belajar dengan mengasosiasikan fenomena. Diharapkan model cooperative learning akan dapat mengusir kejenuhan dan kebosanan yang dirasa siswa di kelas karena selama ini hanya mendengarkan materi dari guru saja.Lebih lanjut Ausubel mengemukakan. Langkah – langkah belajar bermakna Ausubel adalah: 1. Diferensiasi Progregsif Dalam pembelajaran bermakna perlu ada pengembangan dan kolaborasi konsep.

belajar merupakan peristiwa terbentuknya ikatan (asosiasi) antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R) yang diberikan atas stimulus tersebut. Eksperimennya yang terkenal adalah dengan menggunakan kucing yang masih muda dengan kebiasaan-kebiasaan yang masih belum kaku. Pada usaha (trial) yang pertama. bentuk belajar yang paling khas baik pada hewan maupun pada manusia menurutnya adalah “trial and error learning atau selecting and connecting learning” dan berlangsung menurut hukum-hukum tertentu.B. Oleh karena itu. ia mengemukakan suatu teori belajar yang dikenal dengan teori ―pengaitan‖ (connectionism). Dalam hal ini. sedangkan respon adalah sembarang tingkah laku yang dimunculkan karena adanya perangsang. Asosiasi yang demikian itu disebut ”bond” atau ”connection”. Teori tersebut menyatakan bahwa belajar pada hewan dan manusia pada dasarnya berlangsung menurut prinsip yang sama yaitu. teori belajar yang dikemukakan oleh Thorndike ini sering disebut dengan teori belajar koneksionisme atau teori asosiasi. Thorndike (1874-1949) adalah salah seorang penganut paham psikologi tingkah-laku. Selain itu. Berdasarkan hasil percobaannya di laboratorium yang menggunakan beberapa jenis hewan. sehingga kalau kucing menyentuh tombol tertentu pintu kurungan akan terbuka dan kucing dapat keluar dan mencapai makanan (daging) yang ditempatkan di luar kurungan itu sebagai hadiah atau daya penarik bagi si kucing yang lapar itu. Dengan adanya pandangan-pandangan Thorndike yang memberikan sumbangan cukup besar di dunia pendidikan tersebut. dibiarkan lapar. Stimulus adalah suatu perubahan dari lingkungan eksternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme untuk beraksi atau berbuat. akan menjadi lebih kuat atau lebih lemah dalam terbentuknya atau hilangnya kebiasaan-kebiasaan. Teori Thorndike Edward L. kemudian dimasukkan ke dalam kurungan yang disebut ‖problem box‖. maka ia dinobatkan sebagai salah satu tokoh pelopor dalam psikologi pendidikan. kucing itu melakukan bermacam-macam gerakan yang kurang relevan 5 . Dimana konstruksi pintu kurungan tersebut dibuat sedemikian rupa.

selanjutnya stimulus baru ini akan menimbulkan respons lagi. yaitu bahwa belajar itu terjadi dengan cara mencoba-coba dan membuat salah. yaitu apabila ikatan antara stimulus dan respon lebih sering terjadi. Namun waktu yang dibutuhkan dalam usaha yang pertama ini adalah lama. tetapi dia belajar mempertahankan respon-respon yang benar dan menghilangkan atau meninggalkan respon-respon yang salah. Interpretasi dari hukum ini adalah semakin sering suatu pengetahuan—yang 6 . kucing tersebut cenderung untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tidak mempunyai hasil. Setiap respons menimbulkan stimulus yang baru. demikian selanjutnya. maka ikatan itu akan terbentuk semakin kuat.bagi pemecahan problemnya. sampai kemudian menyentuh tombol dan pintu terbuka. menubruk dan sebagainya. (2) Hukum latihan (law of exercise). Percobaan tersebut menghasilkan teori “trial and error” atau “selecting and conecting”. Percobaan yang sama seperti itu dilakukan secara berulang-ulang. apabila suatu materi pelajaran diajarkan kepada anak yang belum siap untuk mempelajari materi tersebut maka tidak akan ada hasilnya. Thorndike mengemukakan bahwa terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon ini mengikuti hukum-hukum berikut: (1) Hukum kesiapan (law of readiness). Dalam melaksanakan coba-coba ini. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya kucing itu sebenarnya tidak mengerti cara membebaskan diri dari kurungan tersebut. seperti mencakar. pada usaha-usaha (trial) berikutnya dan ternyata waktu yang dibutuhkan untuk memecahkan problem itu makin singkat. Dengan perkataan lain. hukum ini pada intinya menyatakan bahwa belajar akan berhasil apabila peserta didik benar-benar telah siap untuk belajar. Dengan demikian diketahui bahwa supaya tercapai hubungan antara stimulus dan respons perlu adanya kemampuan untuk memilih respons yang tepat serta melalui usaha–usaha atau percobaanpercobaan (trials) dan kegagalan-kegagalan (error) terlebih dahulu.

suatu tindakan yang diikuti akibat yang tidak menyenangkan. maka ia merasa senang/puas dan akibatnya antara soal dan jawabannya yang benar itu akan kuat tersimpan dalam ingatannya. 7 . (3) Hukum akibat (law of effect). yaitu apabila asosiasi yang terbentuk antara stimulus dan respon diikuti oleh suatu kepuasan maka asosiasi akan semakin meningkat. Dalam hal ini. Namun perlu diingat. suatu tindakan yang diikuti akibat yang menyenangkan. Sedangkan hukuman yang diberikan guru atas pekerjaan siswa (misalnya celaan guru terhadap hasil pekerjaan matematika siswa) menyebakan siswa tidak lagi mengulangi kesalahannya. bahwa hukuman yang diberikan guru atas pekerjaan siswa justru membuat siswa menjadi malas belajar dan bahkan membenci pelajaran matematika. tampak bahwa hukum akibat tersebut ada hubungannya dengan pengaruh ganjaran dan hukuman. maka tindakan tersebut cenderung akan diulangi pada waktu yang lain. Hal ini berarti (idealnya). maka tindakan tersebut cenderung akan tidak diulangi pada waktu yang lain. Semakin sering suatu materi pelajaran diulangi maka materi pelajaran tersebut akan semakin kuat tersimpan dalam ingatan (memori). Sebaliknya. Hukum ini dapat juga diartikan. Jadi.telah terbentuk akibat terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon—dilatih (digunakan). maka ikatan tersebut akan semakin kuat. ternyata jawabannya benar. Ganjaran yang diberikan guru kepada pekerjaan siswa (misalnya pujian guru terhadap siswa yang dapat menyelesaikan soal matematika dengan baik) menyebabkan peserta didik ingin terus melakukan kegiatan serupa. maka kepuasan akan tercapai dan asosiasi akan diperkuat. sering terjadi. Konkretnya adalah sebagai berikut: Misalkan seorang siswa diminta untuk menyelesaikan suatu soal matematika. hukum ini menunjukkan prinsip utama belajar adalah pengulangan. setelah ia kerjakan. jika suatu respon yang diberikan oleh seseorang terhadap suatu stimulus adalah benar dan ia mengetahuinya.

Unsur-unsur yang identik itu saling berasosiasi sehingga memungkinkan masalah yang dihadapi dapat diselesaikan. Jadi. setiap kemampuan harus dilatih secara efektif dan dikaitkan dengan kemampuan lain. Unsur-unsur yang saling berasosiasi itu membentuk satu ikatan sehingga menggambarkan suatu kemampuan. respons yang akan diharapkan dan tahu kapan ―hadiah‖ selayaknya diberikan kepada peserta didik. Mengajar bukanlah mengharapkan murid tahu apa yang diajarkan. haruslah dilatih terus dengan mengerjakan soal-soal yang berikaitan dengan operasi aritmetik. tahu apa yang hendak diajarkan artinya tahu materi apa yang harus diberikan. Dengan demikian kemampuan mengerjakan operasi aritmetika tersebut menjadi mantap dalam pikiran siswa. Hukum Sikap (Set \Attitude) 3. Hukum Aktivitas Berat Sebelah(Prepotency of Element) 4. Thorndike juga mengemukakan konsep transfer belajar yang disebutnya transfer of training.Tambahan hukum Thorndike : 1. ada unsur-unsur dalam masalah itu yang identik dengan unsur-unsur pengetahuan yang telah dimiliki. 8 . Hukum Perpindahan Asosiasi Selain hukum-hukum di atas. Hukum Respon by Analogy 5. Mengajar yang baik adalah : tahu tujuan pendidikan. Misalnya. dan pembagian) yang telah dimiliki siswa. dapat disimpulkan bahwa transfer belajar dapat tercapai dengan sering melakukan latihan. Konsep ini maksudnya adalah penggunaan pengetahuan yang telah dimiliki siswa untuk menyelesaikan suatu masalah baru. Selanjutnya. pengurangan. karena di dalam setiap masalah. Hukum Reaksi Bereaksi (Multiple Response) 2. Aplikasi Teori Thorndike dalam dunia pendidikan dan pengajaran Menurut Thorndike praktek pendidikan harus dipelajari secara ilmiah dan praktek pendidikan harus dihubungkan dengan proses belajar. kemampuan melakukan operasi aritmetik (penjumlahan. perkalian.

Sehingga bila kita ajukan pertanyaan seperti "apakah pada sebuah persegipanjang. dan keakuratan. Ciptakan hubungan respons tersebut dengan sengaja. analisis. Van Hiele (dalam Ismail. kemudian hasil penelitiannya ditulis dalam disertasinya pada tahun 1954. melalui observasi dan tanya jawab. Seandainya kita hadapkan dengan sejumlah bangun-bangun geornetri. sisi-sisi yang berhadapan panjangnya sama?". 1998) menyatakan bahwa terdapat 5 tahap pemahaman geometri yaitu: Tahap pengenalan. C. pengurutan. "apakah pada suatu persegipanjang kedua diagonalnya sama panjang?". jangan mengharapkan hubungan terjadi dengan sendirinya. anak dapat memilih dan menunjukkan bentuk segitiga. siswa tidak akan bisa 9 . Untuk hal ini.Beberapa aturan yang dibuat Thorndike berhubungan dengan pengajaran: Perhatikan situasi peserta didik. Tahap Pengenalan Pada tahap ini siswa hanya baru mengenal bangun-bangun geometri seperti bola. Lima Tahap Pemahaman Geometri 1. Buat hubungan sedemikian rupa sehingga menghasilkan perbuatan nyata dari peserta didik. Ciptakan suasana belajar sedemikian rupa sehingga dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. persegi dan bangun-bangun geometri lainnya. kubus. Situasi-situasi yang sama jangan diindahkan sekiranya memutuskan hubungan tersebut. segitiga. Teori Van Hiele Van Hiele adalah seorang pengajar matematika Belanda yang telah mengadakan penelitian di lapangan. Penelitian yang dilakukan Van Hiele melahirkan beberapa kesimpulan mengenai tahap-tahap perkembangan kognitif anak dalam memahami geometri. deduksi. Pada tahap pengenalan anak belum dapat menyebutkan sifat-sifat dari bangun-bangun geometri yang dikenalnya itu.      Perhatikan respons yang diharapkan dari situasi tersebut.

yaitu mengambil kesimpulan secara deduktif. Tahap Analisis Tingkat ini dikenal sebagai tingkat deskriptif. sedangkan banyak rusuknya ada 12. Karena masih pada tahap awal siswa masih belum mampu memberikan alasan yang rinci ketika ditanya mengapa kedua diagonal persegi panjang itu sama. Anak yang berada pada tahap ini sudah memahami pengurutan bangun-bangun geometri. anak diajarkan sifat-sifat bangun-bangun geometri tersebut. kubus itu adalah balok. karena anak akan menerimanya melalui hafalan bukan dengan pengertian. siswa sudah mengetahui jajargenjang itu trapesium. Pengambilan kesimpulan secara deduktif yaitu penarikan kesimpulan dari hal-hal yang bersifat khusus. Pada tahap ini anak sudah mengenal sifat-sifat bangun geometri. jangan sampai. 4. tetapi masih pada tahap awal artinya belum berkembang baik. Bila pada tahap pengenalan anak belum mengenal sifat-sifat dari bangun-bangun geometri. Misalnya. Pada tahap ini pemahaman siswa terhadap geometri lebih meningkat lagi dari sebelumnya yang hanya mengenal bangun-bangun geometri beserta sifat-sifatnya. Seperti kita ketahui 10 . tidak demikian pada tahap Analisis. Guru harus memahami betul karakter anak pada tahap pengenalan. 2. maka pada tahap ini anak sudah mampu mengetahui hubungan yang terkait antara suatu bangun geometri dengan bangun geometri lainnya. Anak pada tahap analisis belum mampu mengetahui hubungan yang terkait antara suatu bangun geometri dengan bangun geometri lainnya. Tahap Pengurutan Tingkat ini disebut juga tingkat abstraksi atau tingkat relasional. mengapa kedua diagonal pada persegi saling tegak lurus. seperti pada sebuah kubus banyak sisinya ada 6 buah. 3. Pada tahap ini anak sudah dapat memahami sifat-sifat dari bangun-bangun geometri. belah ketupat adalah layang-layang.menjawabnya. Seandainya kita tanyakan apakah kubus itu balok?. Pada tahap ini anak sudah mulai mampu untuk melakukan penarikan kesimpulan secara deduktif. Tahap Deduksi Pada tahap ini anak sudah dapat memahami deduksi. maka anak pada tahap ini belum bisa menjawab pertanyaan tersebut karena anak pada tahap ini belum memahami hubungan antara balok dan kubus.

anak pada tahap ini belum dapat menjawab pertanyaan ―mengapa sesuatu itu disajikan teorema atau dalil. Anak pada tahap ini belum memahami kegunaan dari suatu sistem deduktif. Anak pada tahap ini telah mengerti pentingnya peranan unsur-unsur yang tidak didefinisikan. Matematika.bahwa matematika adalah ilmu deduktif. Anak pada tahap ini sudah memahami mengapa sesuatu itu dijadikan postulat atau dalil. dikatakan sebagai ilmu deduktif karena pengambilan kesimpulan. aksioma atau problem. Oleh karena itu. Sebagai contoh untuk menunjukkan bahwa jumlah sudut-sudut dalam jajargenjang adalah 360º secara deduktif dibuktikan dengan menggunakan prinsip kesejajaran. Pada tahap ini anak sudah memahami betapa pentingnya ketepatan dari prinsip-prinsip dasar yang melandasi suatu pembuktian. membuktikan teorema dan lain-lain dilakukan dengan cara deduktif. Pembuktian secara induktif yaitu dengan memotong-motong sudut-sudut benda jajargenjang. di samping unsur-unsur yang didefinisikan. pada tingkat ini siswa menyadari bahwa jika salah satu aksioma pada suatu sistem geometri diubah. maka seluruh geometri tersebut juga 11 . Untuk itu pembuktian secara deduktif merupakan cara yang tepat dalam pembuktian pada matematika. Jadi. Oleh karena itu.‖ 5. mungkin saja dapat keliru dalam mengukur sudut-sudut jajargenjang tersebut. jarang atau hanya sedikit sekali anak yang sampai pada tahap berpikir ini sekalipun anak tersebut sudah berada di tingkat SMA. dan teorema. Sebagai contoh. Tahap Keakuratan Tahap terakhir dari perkembangan kognitif anak dalam memahami geometri adalah tahap keakuratan. Tahap keakuratan merupakan tahap tertinggi dalam memahami geometri. Pada tahap ini memerlukan tahap berpikir yang kompleks dan rumit. Dalam matematika kita tahu bahwa betapa pentingnya suatu sistem deduktif. Seperti diketahui bahwa pengukuran itu pada dasarnya mencari nilai yang paling dekat dengan ukuran yang sebenarnya. kemudian setelah itu ditunjukkan semua sudutnya membentuk sudut satu putaran penuh atau 360° belum tuntas dan belum tentu tepat.

Sebagai contoh. Menurut Van Hiele. semua anak mempelajari geometri dengan melalui tahap-tahap tersebut. Van Hiele juga mengemukakan beberapa teori berkaitan dengan pembelajaran geometri. tidak mengerti apa yang dijelaskan gurunya bahwa kubus itu adalah balok. Kalaupun anak itu dipaksakan 12 . Selain mengemukakan mengenai tahap-tahap perkembangan kognitif dalam memahami geometri. Gurunya pun sering tidak mengerti mengapa anak yang diberi penjelasan tersebut tidak memahaminya. kemudian saling bertukar pikiran maka kedua orang tersebut tidak akan mengerti. Contoh yang lain. Teori yang dikemukakan Van Hiele antara lain adalah sebagai berikut: Tiga unsur yang utama pembelajaran geometri yaitu waktu. pada tahap ini siswa sudah memahami adanya geometrigeometri yang lain di samping geometri Euclides. Akan tetapi. dan tidak dimungkinkan adanya tingkat yang diloncati. misalnya anak itu berada pada tahap pengurutan ke bawah. seorang anak tidak mengerti mengapa gurunya membuktikan bahwa jumlah sudut-sudut dalam sebuah jajargenjang adalah 360º. dengan urutan yang sama. belah ketupat itu layang-layang.akan berubah. pembuktiannya tidak perlu sebab sudah jelas bahwa jumlah sudutsudutnya adalah 360°. Bila dua orang yang mempunyai tahap berpikir berlainan satu sama lain. Menurut anak pada tahap yang disebutkan. Sehingga. seorang anak yang berada paling tinggi pada tahap kedua atau tahap analisis. Menurut Van Hiele seorang anak yang berada pada tingkat yang lebih rendah tidak mungkin dapat mengerti atau memahami materi yang berada pada tingkat yang lebih tinggi dari anak tersebut. kapan seseorang siswa mulai memasuki suatu tingkat yang baru tidak selalu sama antara siswa yang satu dengan siswa yang lain. materi pembelajaran dan metode penyusun yang apabila dikelola secara terpadu dapat mengakibatkan meningkatnya kemampuan berpikir anak kepada tahap yang lebih tinggi dari tahap yang sebelumnya.

selain itu sebagai persiapan untuk meningkatkan tahap berpikirnya kepada tahap yang lebih tinggi dari tahap sebelumnya. Setiap tingkat mempunyai bahasanya sendiri. Pada setiap tingkat muncul secara ekstrinsik dari sesuatu yang intrinsik pada tingkat sebelumnya. ia harus menguasai sebagian besar dari tingkat yang lebih rendah. tetapi seorang siswa tidak dapat mengambil jalan pintas ke tingkat tinggi dan berhasil mencapai pengertian. Kenaikan dari tingkat yang satu ke tingkat yang berikutnya lebih banyak tergantung dari pembelajaran daripada umur atau kedewasaan biologis. dapat membimbing untuk mengingat-ingat hafalan. tetapi seseorang yang berpikiran pada tingkat ini tidak sadar atau tidak tahu akan sifat-sifat itu. Dengan demikian anak dapat memperkaya pengalaman dan berpikirnya. anak itu baru bisa memahami melalui hafalan saja bukan melalui pengertian.untuk memahaminya. Untuk mendapatkan hasil yang diinginkan yaitu anak memahami geometri dengan pengertian. Pada tingkat dasar. ternyata akan tidak benar pada tingkat yang lain. sebab menghafal bukan ciri yang penting dari tingkat manapun. Seorang guru dapat mengurangi materi pelajaran ke tingkat yang lebih rendah. Suatu relasi yang benar pada suatu tingkat. gambar-gambar sebenarnya juga ditentukan oleh sifat-sifatnya. Konsep-konsep yang secara implisit dipahami pada suatu tingkat menjadi dipahami secara eksplisit pada tingkat berikutnya. Misalnya pemikiran tentang persegi dan persegi panjang. Supaya siswa dapat berperan dengan baik pada suatu tingkat yang lanjut dalam hirarki van Hiele. Untuk mencapai pengertian dibutuhkan kegiatan tertentu dari fase-fase pembelajaran. 13 . kegiatan belajar anak harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak atau disesuaikan dengan taraf berpikirnya. mempunyai simbol linguistiknya sendiri dan sistem relasinya sendiri yang menghubungkan simbolsimbol itu.

tetapi melalui pilihan-pilihan yang tepat.Dua orang yang berpikir pada tingkat yang berlainan tidak dapat saling mengerti. Oleh karena itu. Meskipun demikian. Walaupun demikian. 1998). anak-anak sendiri akan menentukan kapan saatnya untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi. Struktur bahasa adalah suatu faktor yang kritis dalam perpindahan tingkat-tingkat ini. Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa sambil 14 . Model Van Hiele tidak hanya memuat tingkat-tingkat pemikiran geometrik. terutama untuk memberi bimbingan mengenai pengharapan. 1992). Informasi Pada awal tingkat ini. maka ditetapkan fase-fase pembelajaran yang menunjukkan tujuan belajar siswa dan peran guru dalam pembelajaran dalam mencapai tujuan itu. guru dan siswa menggunakan tanya-jawab dan kegiatan tentang objek-objek yang dipelajari pada tahap berpikir siswa. Fase-fase pembelajaran tersebut adalah: 1) fase informasi 2) fase orientasi 3) fase eksplisitasi 4) fase orientasi bebas 5) fase integrasi. Fase 1. Menurut Van Hiele (dalam Ismail. teori Van Hiele tidak mendukung model teori absorbsi tentang belajar mengajar. (Clements. kenaikan dari tingkat yang satu ke tingkat berikutnya tergantung sedikit pada kedewasaan biologis atau perkembangannya. dan yang satu tidak dapat mengikuti yang lainnya. Van Hiele menuntut bahwa tingkat yang lebih tinggi tidak langsung menurut pendapat guru. dan tergantung lebih banyak kepada akibat pembelajarannya. Guru memegang peran penting dan istimewa untuk memperlancar kemajuan. Lagi pula. Dalam hal ini objek yang dipelajari adalah sifat komponen dan hubungan antar komponen bangun-bangun segi empat. siswa tidak akan mencapai kemajuan tanpa bantuan guru.

Mereka memperoleh pengalaman dalam menemukan cara mereka sendiri. tetapi kesimpulan ini tidak menunjukkan sesuatu yang baru. (2) guru mempelajari petunjuk yang muncul dalam rangka menentukan pembelajaran selanjutnya yang akan diambil. banyak hubungan antar objek menjadi jelas. Fase 5: Integrasi Siswa meninjau kembali dan meringkas apa yang telah dipelajari. Melalui orientasi di antara para siswa dalam bidang investigasi. dan tugas yang open-ended.melakukan observasi. Di samping itu. guru memberi bantuan sesedikit mungkin. Fase 4: Orientasi Bebas Siswa menghadapi tugas-tugas yang lebih kompleks berupa tugas yang memerlukan banyak langkah. maupun dalam menyelesaikan tugas-tugas. Fase 3: Penjelasan Berdasarkan pengalaman sebelumnya. Hal tersebut berlangsung sampai sistem hubungan pada tahap berpikir mulai tampak nyata. siswa menyatakan pandangan yang muncul mengenai struktur yang diobservasi. Alat atau pun bahan dirancang menjadi tugas pendek sehingga dapat mendatangkan respon khusus. untuk membantu siswa menggunakan bahasa yang tepat dan akurat. Hal ini penting. tugas yang dilengkapi dengan banyak cara. Fase 2: Orientasi Siswa menggali topik yang dipelajari melalui alat-alat yang dengan cermat telah disiapkan guru. Aktivitas ini akan berangsur-angsur menampakkan kepada siswa struktur yang memberi ciri-ciri sifat komponen dan hubungan antar komponen suatu bangun segi empat. Guru dapat membantu siswa dalam membuat sintesis ini dengan melengkapi survey secara global terhadap apa yang telah dipelajari. Pada akhir fase kelima ini 15 . Tujuan dari kegiatan ini adalah: (1) guru mempelajari pengalaman awal yang dimiliki siswa tentang topik yang dibahas.

Menyenangkan diartikan sebagai suasana belajar mengajar yang hidup. hasil penelitian di Amerika Serikat dan negara lainnya menetapkan bahwa tingkat-tingkat dari Van Hiele berguna untuk menggambarkan perkembangan konsep geometrik siswa dari SD sampai Perguruan Tinggi. Enaktif dan Menyenangkan). Kreatif diartikan siswa diberi kesempatan untuk membuat atau merancang sesuatu atau menuliskan sebuah gagasan dan guru yang kreatif yaitu guru yang memberikan variasi dalam proses belajar mengajar dan membuat alat bantu serta menciptakan teknik – teknik mengajar tertentu sesuai tujuan pembelajaran. Dalam pelaksanaan PAKEM perlu diperhatikan beberapa hal berikut: 16 . dan guru yang aktif. ekspresif. Teori Dienes Teori belajar Dienes sangat terkait dengan konsep pembelajaran dengan pendekatan PAKEM ( Pembelajaran Aktif. Kreatif. Siswa siap untuk mengulangi fase-fase belajar pada tahap sebelumnya. karena teori ini menekankan tahap permainan. Setelah selesai fase kelima ini. yaitu guru yang memantau kegiatan belajar siswa dan memberikan umpan balik. Pada umumnya. Efektif diartikan sebagai tercapainya suatu tujuan yang merupakan pijakan utama suatu rancangan pembelajaran. terkondisi dan mendorong pemusatan perhatian peserta didik terhadap belajar. Aktif dapat diartikan siswa mampu berinteraksi yaitu bertanya atau mengeluarkan ide. maka tingkat pemikiran yang baru tentang topik itu dapat tercapai. Tujuan dari PAKEM yaitu menciptakan suatu lingkungan belajar yang melengkapi anak dengan keterampilan.siswa mencapai tahap berpikir yang baru. dimana tahap ini dapat membangkitkan semangat dan membuat anak senang dalam belajar. D. pengetahuan dan sikap bagi kehidupan kelak.

b. g. Dasar teorinya bertumpu pada teori pieget. Teori perkembangan kognitif melihat bahwa proses belajar seseorang dilihat dari tingkat kemampuan kognitifnya. Menegembangkan kemampuan berfikir kritis. Menegembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik. Memahami sifat peserta didik. kreatif. Membedakan antara aktif fisik dan aktif mental. Mengenal peserta didik secara individu.a. Dienes mengemukakan bahwa tiap-tiap konsep atau prinsip dalam matematika yang disajikan dalam bentuk yang konkret akan dapat dipahami dengan baik. dan kemampuan memecahkan masalah. Memanfaatkan perilaku peserta didik dalam pengorganisasian belajar. memisah-misahkan hubungan-hubungan diantara struktur-struktur dan mengkatagorikan hubungan-hubungan di antara strukturstruktur. c. f. Ini mengandung arti bahwa benda-benda atau obyek-obyek dalam bentuk permainan akan sangat berperan bila dimanipulasi dengan baik dalam pengajaran matematika. Zoltan P. dan pengembangannya diorientasikan pada anakanak. sedemikian rupa sehingga sistem yang dikembangkannya itu menarik bagi anak yang mempelajari matematika. h. e. Dienes berpendapat bahwa pada dasarnya matematika dapat dianggap sebagai studi tentang struktur. sehingga dalam pembelajaran pada orang dewasa berbeda dengan pembelajaran anak-anak. karena kemampuan tingkat kognitif seseorang tergantung dari usia seseorang. dalam proses belajar mengajar tingkat kognitif menjadi suatu hal yang sangat penting. 17 . Memberikan umpan balik yang bertanggungjawab untuk meningkatkan kegiatan belajar mengajar. Dienes adalah seorang matematikawan yang memusatkan perhatiannya pada cara-cara pengajaran terhadap anak-anak. Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar. d.

Makin banyak bentuk-bentuk yang berlainan yang diberikan dalam konsepkonsep tertentu. tebal tipisnya benda yang merupakan ciri/sifat dari benda yang dimanipulasi. akan makin jelas konsep yang dipahami anak. Misalnya dengan diberi permainan block logic. Translasi ini tentu tidak boleh mengubah sifat-sifat abstrak yang ada dalam permainan semula. Dalam mencari kesamaan sifat. anak didik mulai mempelajari konsepkonsep abstrak tentang warna. yaitu: Permainan Bebas (Free Play) Dalam setiap tahap belajar. anak-anak mulai diarahkan dalam kegiatan menemukan sifat-sifat kesamaan dalam permainan yang sedang diikuti. Menurut Dienes konsep-konsep matematika akan berhasil jika dipelajari dalam tahap-tahap tertentu. guru perlu mengarahkan mereka dengan mentranslasikan kesamaan struktur dari bentuk permainan yang satu ke bentuk permainan lainnya. Dienes membagi tahap-tahap belajar menjadi 6 tahap. Permainan bebas merupakan tahap belajar konsep yang aktifitasnya tidak berstruktur dan tidak diarahkan. siswa sudah mulai meneliti polapola dan keteraturan yang terdapat dalam konsep tertentu. Anak didik diberi kebebasan untuk mengatur benda. tahap yang paling awal dari pengembangan konsep bermula dari permainan bebas. Untuk melatih anak-anak dalam mencari kesamaan sifat-sifat ini. Dalam tahap ini anak mulai membentuk struktur mental dan struktur sikap dalam mempersiapkan diri untuk memahami konsep yang sedang dipelajari. karena anak-anak akan memperoleh hal-hal yang bersifat logis dan matematis dalam konsep yang dipelajarinya itu. Permainan yang Menggunakan Aturan (Games) Dalam permainan yang disertai aturan. Keteraturan ini mungkin terdapat dalam konsep tertentu tapi tidak terdapat dalam konsep yang lainnya. Selama permainan pengetahuan anak muncul. Jelaslah. dengan melalui permainan siswa diajak untuk mulai mengenal 18 .

Untuk melatih dalam mencari kesamaan sifat-sifat ini. Contoh kegiatan yang diberikan dengan permainan block logic. Dalam membentuk kelompok bangun yang tipis. atau tidak merah (biru. Menurut Dienes. timbul pengalaman terhadap konsep tipis dan merah. karena akan memperoleh hal-hal yang bersifat logis dan matematis dalam konsep yang dipelajari itu. Makin banyak bentuk-bentuk berlainan yang diberikan dalam konsep tertentu. Contoh dengan permainan block logic. atau yang merah. anak diminta mengidentifikasi sifat-sifat yang sama dari benda-benda dalam kelompok tersebut (anggota kelompok). kuning). serta timbul penolakan terhadap bangun yang tipis (tebal). hijau. Permainan Representasi (Representation) Representasi adalah tahap pengambilan sifat dari beberapa situasi yang sejenis. Translasi ini tentu tidak boleh mengubah sifat-sifat abstrak yang ada dalam permainan semula. Permainan Kesamaan Sifat (Searching for communalities) Dalam mencari kesamaan sifat siswa mulai diarahkan dalam kegiatan menemukan sifat-sifat kesamaan dalam permainan yang sedang diikuti. dan kegiatan untuk yang tidak relevan dengan pengalaman itu. Para siswa menentukan representasi dari konsep-konsep tertentu.dan memikirkan bagaimana struktur matematika itu. kemudian membentuk kelompok benda berbentuk segitiga. untuk membuat konsep abstrak. anak didik memerlukan suatu kegiatan untuk mengumpulkan bermacam-macam pengalaman. atau yang tebal. Dengan demikian telah mengarah pada pengertian struktur matematika yang sifatnya 19 . atau yang berwarna merah. dan sebagainya. Representasi yang diperoleh ini bersifat abstrak. guru perlu mengarahkan mereka dengan menstranslasikan kesamaan struktur dari bentuk permainan lain. Setelah mereka berhasil menyimpulkan kesamaan sifat yang terdapat dalam situasi-situasi yang dihadapinya itu. akan semakin jelas konsep yang dipahami siswa. anak diberi kegiatan untuk membentuk kelompok bangun yang tipis. anak dihadapkan pada kelompok persegi dan persegi panjang yang tebal.

Untuk pengajaran konsep matematika yang lebih sulit perlu dikembangkan materi matematika secara kongkret agar konsep matematika dapat dipahami dengan 20 . Contoh kegiatan anak untuk menemukan banyaknya diagonal poligon misal segi dua puluh tiga. harus mampu merumuskan suatu teorema berdasarkan aksioma. Dalam tahap ini siswa-siswa dituntut untuk mengurutkan sifat-sifat konsep dan kemudian merumuskan sifat-sifat baru konsep tersebut. harus mampumerumuskan teorema dalam arti membuktikan teorema tersebut. anak didik telah mengenal dasar-dasar dalam struktur matematika seperti aksioma. dan mempunyai elemen invers. sebagai contoh siswa yang telah mengenal dasar-dasar dalam struktur matematika seperti aksioma. Sebagai contoh. Pada tahap formalisasi anak tidak hanya mampu merumuskan teorema serta membuktikannya secara deduktif. komutatif. Misalnya bilangan bulat dengan operasi penjumlahan peserta sifat-sifat tertutup. Permainan dengan Formalisasi (Formalization) Formalisasi merupakan tahap belajar konsep yang terakhir. dari kegiatan mencari banyaknya diagonal dengan pendekatan induktif tersebut. asosiatif. tetapi mereka sudah mempunyai pengetahuan tentang sistem yang berlaku dari pemahaman konsep-konsep yang terlibat satu sama lainnya. Contohnya. Dienes menyatakan bahwa proses pemahaman (abstracton) berlangsung selama belajar. Permainan dengan Simbolisasi (Symbolization) Simbolisasi termasuk tahap belajar konsep yang membutuhkan kemampuan merumuskan representasi dari setiap konsep-konsep dengan menggunakan simbol matematika atau melalui perumusan verbal. adanya elemen identitas. membentuk sebuah sistem matematika. dengan pendekatan induktif.abstrak yang terdapat dalam konsep yang sedang dipelajari. dalam arti membuktikan teorema tersebut. kegiatan berikutnya menentukan rumus banyaknya diagonal suatu poligon yang digeneralisasikan dari pola yang didapat anak.

variasi sajian hendaknya tampak berbeda antara satu dan lainya sesuai dengan prinsip variabilitas perseptual (perseptual variability). sehingga anak-anak dapat bermain dengan bermacam-macam material yang dapat mengembangkan minat anak didik. Kegiatan ini menggunakan kesempatan untuk membantu anak didik menemukan cara-cara dan juga untuk mendiskusikan temuan-temuannya. Menurut Dienes. suatu anak didik dihadapkan pada permainan yang terkontrol dengan berbagai sajian. Berhubungan dengan tahap belajar. pola berpikir anak-anak tidak sama dengan pola 21 . sehingga anak didik dapat melihat struktur dari berbagai pandangan yang berbedabeda dan memperkaya imajinasinya terhadap setiap konsep matematika yang disajikan. semakin banyak bentuk-bentuk berlainan yang diberikan dalam konsep tertentu. Dengan demikian. Proses pembelajaran ini juga lebih melibatkan anak didik pada kegiatan belajar secara aktif dari pada hanya sekedar menghapal. Langkah selanjutnya. Variasi matematika dimaksud untuk membuat lebih jelas mengenai sejauh mana sebuah konsep dapat digeneralisasi terhadap konsep yang lain. grafik. Dienes berpendapat bahwa materi harus dinyatakan dalam berbagai penyajian (multiple embodiment). Berbagai penyajian materi (multiple embodinent) dapat mempermudah proses pengklasifikasian abstraksi konsep. Pentingnya simbolisasi adalah untuk meningkatkan kegiatan matematika ke satu bidang baru.tepat. peta dan akhirnya memadukan simbolo – simbol dengan konsep tersebut. Langkah-langkah ini merupakan suatu cara untuk memberi kesempatan kepada anak didik ikut berpartisipasi dalam proses penemuan dan formalisasi melalui percobaan matematika. Perkembangan kognitif setiap individu yang berkembang secara kronologi tidak terlepas dari faktor usia. menurut Dienes. Berbagai sajian (multiple embodiment) juga membuat adanya manipulasi secara penuh tentang variabel-variabel matematika. semakin jelas bagi anak dalam memahami konsep tersebut. adalah memotivasi anak didik untuk mengabstraksikan pelajaran tanda material kongkret dengan gambar yang sederhana.

Piaget adalah orang pertama yang menggunakan filsafat konstruktivis dalam proses belajar mengajar.berfikir orang dewasa. Piaget (dalam Bell. karena efektivitas hubungan antara setiap individu dengan lingkunganya dan kehidupan sosialnya berbeda satu sama lain. Selain daripada itu. sebagai berikut: 1. Teori Piaget Teori Perkembangan Intelektual Piaget Teori belajar Dienes sangat terkait dengan teori belajar yang dikemukakan oleh Piaget. perkembangan kognitif seorang individu dipengaruhi oleh lingkungan dan transmisi sosial. Oleh karena itu agar perkembangan kognitif seorang anak berjalan secara maksimal diperkaya dengan pengalaman edukatif. Jean Piaget berpendapat bahwa proses berpikir manusia sebagai suatu perkembangan yang bertahap dari berpikir intelektual konkret ke abstrak berurutan melalui empat periode. sebab anak bukan miniatur orang dewasa. 1981). berpendapat bahwa proses berpikir manusia merupakan suatu perkembangan yang bertahap dari berpikir intelektual kongkret ke abstrak berurutan melalui empat tahap perkembangan. Jadi. Maka tahap perkembangan kognitif yang dicapai oleh setiap individu berbeda pula. namun usia atau kronologis pada setiap orang yang memasuki setiap periode berpikir yang lebih tinggi berbeda-beda tergantung kepada masing-masing individu. yaitu mengenai teori perkembangan intelektual. Jadi. dalam memandang anak keliru jika kemampuan anak dengan kemampuan orang dewasa sama.Periode Sensori Motor (0 – 2) tahun. E. 22 . Urutan periode itu tetap bagi setiap orang. semakin ia dewasa makin meningkat pula kemampuan berpikirnya.

3. bukan aktivitas sensori motor. Dalam periode ini anak berpikirnya sudah dikatakan menjadi operasional. Rangsangan itu timbul karena anak melihat dan meraba-raba objek. tetapi anak itu mulai memanipulasi simbol dari benda-benda sekitarnya.Periode Pra-operasional (2 – 7) tahun.Periode operasi kongkret (7 – 12) tahun. Periode ini sering disebut juga periode pemberian simbol. Pada periode ini anak di dalam berpikirnya tidak didasarkan kepada keputusan yang logis melainkan didasarkan kepada keputu san yang dapat dilihat seketika. misalnya suatu benda diberi nama (simbol). Namun karena pengalamannya terhadap lingkungannya. dan merupakan aktivitas mental. Walaupun pada periode permulaan pra-operasional ini anak mampu menggunakan simbol-simbol. Operasi kongkret hanyalah menunjukkan kenyataan adanya hubungan dengan pengalaman empirik-kongkret yang lampau dan masih mendapat kesulitan dalam mengambil kesimpulan yang logis dari pengalaman pengamanan yang khusus. Bila objek itu disembunyikan. anak itu tidak akan mencarinya lagi. anak menyadari bahwa objek yang disembunyikan tadi masih ada dan ia akan mencarinya. Pada periode ini anak terpaku kepada kontak langsung dengan lingkungannya. ia masih sulit melihat hubungan- hubungan dan mengambil kesimpulan secara taat asas. Pekerjaan-pekerjaan logika dapat dilakukan dengan berorientasi ke objek-objek atau peristiwa-peristiwa yang 23 . pada akhir periode ini. Operasi yang dimaksud di sini adalah suatu proses berpikir atau logik. Anak itu belum mempunyai kesadaran adanya konsep objek yang tetap. 2. Periode ini disebut operasi kongkret sebab berpikir logikanya didasarkan atas manipulasi fisik dari objek -objek.Karateristik periode ini merupakan gerakan-gerakan sebagai akibat reaksi langsung dari rangsangan.

Korespondensi satu – satu antara objek-objek dari dua kelas. Demikian juga suatu jumlah dapat dinolkan dengan mengkombinasikan lawannya. Identitas adalah suatu operasi yang menunjukkan adanya unsur nol yang bila dikombinasikan dengan unsur atau kelas hasilnya tidak berubah. 5 + ? = 9 sama dengan 9 – 5 = ? Reversibilitas ini merupakan karakteristik utama untuk berpikir operasional di dalam teori Piaget. operasi ‖+‖. Hubungan A > B dan B > C menjadi A > C. Asosiasivitas adalah suatu operasi terhadap beberapa kelas yang dikombinasikan menurut sebarang urutan. Misalnya unsur dari suatu himpunan berkawan dengan satu unsur dari himpunan kedua dan sebaliknya. Reversibilitas adalah operasi kebalikan. Misalnya. e.dalam himpunan bilangan bulat dengan operasi ‖+‖. Misalnya himpunan bilangan bulat. Kombinasivitas atau klasifikasi adalah suatu operasi dua kelas atau lebih yang dikombinasikan ke dalam suatu kelas yang lebih besar. unsur nol adalah 0 sehingga 8 + 0 = 8. Misalnya. Anak masih terikat kepada pengalaman pribadi. d. karateristik berpikir anak adalah sebagai berikut: a. b. Anak itu belum memperhitungkan semua kemungkinan dan kemudian mencoba menemukan kemungkinan yang mana yang akan terjadi. Misalnya semua manusia laki – laki dan semua manusia perempuan adalah semua manusia. 24 .langsung dialami anak. misalnya 4 – 4 = 0. Dalam periode operasi kongkret. Setiap operasi logik atau matematik dapat dikerjakan dengan operasi kebalikan. berlaku hukum asosiatif terhadap penjumlahan. c. Anak dapat membentuk variasi relasi kelas dan mengerti bahwa beberapa kelas dapat dimasukkan ke kelas lain. Pengalaman anak masih kongkret dan belum formal.

Anak mampu menyelesaikan masalah dengan cara yang lebih baik dan kompleks dari pada anak yang masih dalam tahap periode operasi kongkret.Anak sudah mampu menggunakan hubungan-hubungan di antara objek-objek apabila ternyata manipulasi objek-objek tidak memungkinkan. Konservasi berkenaan dengan kesadaran bahwa satu aspek dari benda. tahap-tahap berpikir itu adalah pasti dan spontan namun umur kronologis yang diberikan itu adalah fleksibel. Menurut Piaget. Anak-anak pada periode ini sudah memberikan alasan dengan menggunakan lebih banyak simbol atau gagasan dalam cara berpikir. Ia mampu menggunakan prosedur seorang ilmuwan. Konsep konservasi telah tercapai sepenuhnya. Anak pada periode ini dilandasi oleh observasi dari pengalaman dengan objek nyata. Umur 25 . ia dapat mengisolasi faktor-faktor tersendiri atau mengkombinasikan faktor-faktor itu sehingga menuju penyelesaian masalah tadi. tetapi ia sudah mulai menggeneralisasi objek-objek tadi.f. Periode operasi formal ini disebut juga sebagai periode operasi hipotetik-deduktif yang merupakan tahap tertinggi dari perkmbangan intelektual. tetap sama sementara itu aspek lainnya berubah. terutama selama transisi dari periode yang satu ke periode berikutnya. 4. Anak telah mampu melihat hubungan-hubungan abstrak dan menggunakan proposisi-proposisi logik-formal termasuk aksioma dan definisi.Periode Operasi Formal (> 12) tahun. yaitu menggunakan prosedur hipotetik-deduktif. Anak sudah dapat mengoperasikan argumen-argumen tanpa dikaitkan dengan benda-benda empirik. artinya bila anak dihadapkan kepada suatu masalah. Namun prinsip konservasi yang dimiliki anak pada periode ini masih belum penuh. Kesadaran adanya prinsip-prinsip konservasi. Periode ini merupakan tahap terakhir dari keempat periode perkembangan intelektual.definisi verbal. Anak juga sudah dapat berpikir kombinatorik.

pertama anak dengan bantuan guru secara tidak langsung diberikan kesempatan untuk menganalisis masalahmasalah yang diberikan menjadi struktur yang lebih sederhana sehingga mudah 26 . tidak ada gunanya bila kita memaksa anak untuk cepat berpindah ke periode berikutnya. Sekeliling kebun yang berbentuk persegipanjang dengan panjang 18 m dan lebar 12 m. Jika kelilingnya adalah 400 m. bereksplorasi. Langkah-langkah pembelajaran menurut aliran ini. Istilah ―Gestalt‖ mengacu pada sebuah objek/figur yang utuh dan berbeda dari penjumlahan bagian-bagiannya. dan diberikan kebebasan bereksperimen. Jika kita akan mengajarkan konsep fungsi kuadrat. ataupun kemiripan menjadi kesatuan. Jika si pemilik kebun hanya mampu membuat parit seluas 99 m2. Teori gestalt cenderung berupaya mengurangi pembagian sensasi menjadi bagian-bagian kecil. Ketika mengkonstruksi konsep. maka konsep fungsi kuadrat akan lebih bermakna jika konsep tersebut dikemas dalam bentuk masalah-masalah seharihari yang cukup sederhana seperti berikut : (1). Teori gestalt beroposisi terhadap teori strukturalisme. Pekarangan rumah berbentuk persegipanjang. Teori Gestalt Gestalt adalah sebuah teori yang menjelaskan proses persepsi melalui pengorganisasian komponen-komponen sensasi yang memiliki hubungan.kronologis itu dapat saling tindih bergantung kepada individu. Piaget berpendapat. bagaimanakah ukurannya supaya luasnya sebesar-besarnya ? Aliran terapi Gestalt memandang bahwa konsep atau pengetahuan baru merupakan struktur yang terorganisir dan merupakan masalah bagi anak. pola. berapa lebar parit yang direncanakan ? (2). pembelajaran harus dimulai dari masalah-masalah yang berkaitan dengan konsep yang akan diberikan dan berada dalam kehidupannya sehari-hari. akan dibuat parit pembuangan air. anak harus banyak diberikan kesempatan untuk berdialog (berdiskusi) dengan teman-temannya maupun dengan guru. F. Menurut teori ini.

Selanjutnya anak mensintesis konsep atau pengetahuan dalam bentuk yang lebih umum. Wertheimer menunjuk pada proses interpretasi dari sensasi obyektif yang kita terima.dipahami anak. Kemudian anak menyusun atau mensintesis penyelesaian masalah itu berdasarkan pada struktur yang lebih sederhana dan sudah dimengerti anak. Dengan konsep ini. Max Wertheimer. tetapi proses mental. Kurt Koffka. Bersama-sama dengan Wolfgang Koehler (1887-1967) dan Kurt Koffka (1887-1941) melakukan eksperimen yang akhirnya menelurkan ide Gestalt. Proses ini terjadi di otak dan sama sekali bukan proses fisik. Tahun 1910 ia mengajar di Univeristy of Frankfurt bersama-sama dengan Koehler dan Koffka yang saat itu sudah menjadi asisten di sana. Konsep pentingnya : phi phenomenon (bergeraknya obyek statis menjadi rangkaian gerakan yang dinamis setelah dimunculkan dalam waktu singkat dan dengan demikian memungkinkan manusia melakukan interpretasi).  Max Wertheimer (1880-1943) Belajar pada Kuelpe. Akhirnya anak mencoba melakukan penerapan dari konsep yang sudah dipelajarinya. Mereka menyimpulkan bahwa seseorang cenderung mempersepsikan apa yang terlihat dari lingkungannya sebagai kesatuan yang utuh. Teori ini dibangun oleh tiga orang.  Kurt Lewin (1890-1947) 27 . and Wolfgang Köhler. Dengan pernyataan ini ia menentang pendapat Wundt yang menunjuk pada proses fisik sebagai penjelasan phi phenomenon. seorang tokoh aliran Wuerzburg.

Dalam usahanya mendekati obyek bervalensi positif. Ia banyak terlibat dengan pemikir Gestalt. Life space terbagi atas bagian-bagian memiliki batas-batas. maka bagaimana valensi dari nilai tersebut bagi si individu akan menentukan gerakan individu. Perilaku individu akan segera tertuju untuk meredakan ketegangan ini dan mengembalikan keseimbangan. Konsep utama Lewin adalah Life Space.D dari University of Berlin dalam bidang psikologi tahun 1914. Pada umumnya individu akan mendekati obyek yang bervalensi positif dan menjauhi obyek yang bervalensi negatif. Lapangan psikologis ini terdiri dari fakta dan obyek psikologis yang bermakna dan menentukan perilaku individu (B=f L). Lewin lahir di Jerman. lulus Ph. Dengan konsep vektor. Gerakan individu mencapai tujuan (goal) disebut locomotion. dan avoidance-avoidance). Apabila terjadi ketidakseimbangan (disequilibrium). Apabila individu menghadapi suatu obyek. Tugas utama psikologi adalah meramalkan perilaku individu berdasarkan semua fakta psikologis yang eksis dalam lapangan psikologisnya pada waktu tertentu. daya. Hambatan ini mungkin sekali menjadi obyek yang bervalensi negatif bagi individu. Batas ini dapat dipahami sebagai sebuah hambatan individu untuk mencapai tujuannya. Lewin adalah salah seorang ahli yang sangat kuat menganjurkan pemahaman tentang lapangan psikologis seseorang. yaitu Wertheimer dan Koehler dan mengambil konsep psychological field juga dari Gestalt. approach-avoidance. Arah individu mendekati/menjauhi tujuan disebut vektor. 28 . dan valensi ini Lewin menjelaskan teorinya mengenai tiga jenis konflik (approach-approach. yaitu lapangan psikologis tempat individu berada dan bergerak.Pandangan Gestalt diaplikasikan dalam field psychology dari Kurt Lewin. Dalam lapangan psikologis ini juga terjadi daya (forces) yang menarik dan mendorong individu mendekati dan menjauhi tujuan. Vektor juga memiliki kekuatan dan titik awal berangkat. maka terjadi ketegangan (tension). sangat mungkin ada hambatan.

hubungan yang baik akan membuat anggota saling mendekati sehingga memungkinkan kerjasama yang lebih baik dalam mencapai tujuan kelompok. Sebaliknya. Setiap perceptual field memiliki organisasi.Interaksi antara individu dan lingkungan disebut sebagai perceptual field. Prinsip dasar Gestalt 1. O Principle of Objective Set: Organisasi berdasarkan mental set yang sudah terbentuk sebelumnya. dimana salah satu faktornya adalah para anggota kelompok dan hubungan interpersonal mereka. bukan skill yang dipelajari. Maka perilaku kelompok menjadi fungsi dari lingkungan. 29 . 2. Implikasinya adalah penjelasan Lewin sulit sampai pada level explanatory dan sifatnya deskriptif. Apabila hubungan ini bervalensi negatif.Aplikasi teori Lewin banyak dilakukan dalam konteks dinamika kelompok. O Principle of Similarity: bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang berada dalam arah yang sama cenderung akan dipersepsi sebagi suatu figure atau bentuk tertentu. Oleh karena itu kemampuan persepsi ini merupakan fungsi bawaan manusia. Dasar berpikirnya adalah kelompok dianalogikan dengan individu. Kritik untuk teori Lewin berfokus pada konstruk-konstruknya yang dianggap hipotetis dan sulit dikongkritkan dalam situasi eksperimental. maka perilaku anggota akan menjauhinya dan dengan demikian tujuan kelompok semakin tidak tercapai. Prinsip-prinsip pengorganisasian: O Principle of Proximity: bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertentu. yang cenderung dipersepsikan oleh manusia sebagai figure and ground. Pengorganisasian ini mempengaruhi makna yang dibentuk.

makaakan terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figure. bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. terjadi reorganisasi dalam perceptual fieldnya. khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif 30 . kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Apabila individu mengalami proses belajar. Dalam proses pembelajaran.Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning). b.Pengalaman tilikan (insight). O Principle of Figure and Ground: yaitu menganggap bahwa setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar belakang. Penampilan suatu obyek seperti ukuran. Bila figure dan latar bersifat samarsamar. seseorang dapat memiliki cara pandang baru terhadap suatu problem. O Principle of Closure/ Principle of Good Form: bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap. akan makin efektif pula sesuatu yang dipelajari. Aplikasi prinsip Gestalt Belajar Proses belajar adalah fenomena kognitif.O Principle of Continuity: Organisasi berdasarkan kesinambungan pola. Setelah proses belajar terjadi. Makin jelas makna hubungan suatu unsur. Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain : a. hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsurunsur dalam suatu obyek atau peristiwa. Contoh: perubahan nada tidak akan merubah persepsi tentang melodi. O Principle of Isomorphism: Organisasi berdasarkan konteks. potongan. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah. warnadan sebagainya membedakan figure dari latar belakang.

Menurut pandangan Gestalt. Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya. Setelah adanya pengalaman insight. bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. Oleh karena itu. d. Insight Pemecahan masalah secara jitu yang muncul setelah adanya proses pengujian berbagai dugaan/kemungkinan. individu mampu menerapkannya pada problem sejenis tanpa perlu melalui proses trial- 31 . Oleh karena itu. guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsipprinsip pokok dari materi yang diajarkannya.Prinsip ruang hidup (life space). Oleh karena itu. c. materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik. e.pemecahannya.Perilaku bertujuan (pusposive behavior). transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons.Transfer dalam Belajar. yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya. Juga menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). tetapi ada keterkaitannya dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. bahwa perilaku terarah pada tujuan. Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain.

jejak ingatan ini akan berubah pula sejalan dengan prinsip-prinsip organisasional terhadap obyek. Secara sosial. Adanya perceptual field diinterpretasikan menjadi lapangan kognitif dimana proses-proses mental seperti persepsi. insight. Dengan berjalannya waktu. ada beberapa hal yang patut dicatat sebagai implikasi dari aliran Gestalt yaitu. Akibatnya psikologi gestalt diakui sebagai sebuah aliran psikologi namun pengaruhnya tidak sekuat behaviorisme. Pandangan Gestalt cukup luas diakui di Jerman namun tidak lama exist di Jerman karena mulai didesak oleh pengaruh kekuasaan Hitler yang berwawasan sempit mengenai keilmuan.error lagi. berfokus pada higher mental process. fenomena ini juga menjelaskan pengaruh gosip/rumor.  Pandangan Gestalt menyempurnakan aliran behaviorisme dengan menyumbangkan ide untuk menggali proses belajar kognitif. Namun hal ini tidak mudah dilakukan karena pada saat itu di AS didominasi oleh pandangan behaviorisme. 32 . Meskipun demikian. namun tetap dapat mempertahankan aspek ilmiah dan empirisnya. Memory Hasil persepsi terhadap obyek meninggalkan jejak ingatan. Konsep insight ini adalah fenomena penting dalam belajar. yang selama ini dihindari karena abstrak. Para tokoh Gestalt banyak yang melarikan diri ke AS dan berusaha mengembangkan idenya di sana. ditemukan oleh Koehler dalam eksperimen yang sistematis.dan problem solving beroperasi.  Pendekatan fenomenologis menjadi salah satu pendekatan yang eksis di psikologi dan dengan pendekatan ini para tokoh Gestalt menunjukkan bahwa studi psikologi dapat mempelajari higher mental process. Penerapan Prinsip of Good Form seringkali muncul dan terbukti secara eksperimental.

Manusia bereaksi dengan lingkungannya secara keseluruhan. 3. Manusia berkembang sebagai keseluruhan sejak dari kecil sampai dewasa. antara lain : 1. maka untuk memahami proses belajar orang perlu memahami hukum-hukum yang menguasai proses pengamatan itu. Demonstrasinya mengenai peranan latar belakang dan organisasinya terhadap proses-proses yang diamati secara fenomenal demikian meyakinkan sehingga boleh dikatakan tidak dapat di bantah. Belajar adalah perkembangan kearah diferensiasi ynag lebih luas. Karena asumsi bahwa hukum –hukum atau prinsip-prinsip yang berlaku pada proses pengamatan dapat ditransfer kepada hal belajar. Kelompok pemikiran ini sependapat pada suatu hal yakni suatu prinsip dasar bahwa pengalaman manusia memiliki kekayaan medan yang memuat fenomena keseluruhan lebih dari pada bagian.bagiannya. Belajar adalah penyesuaian diri dengan lingkungan. lengkap dengan segala aspek-aspeknya. Keseluruhan ini memberikan beberapa prinsip belajar yang penting. Pemahaman dan persepsi tentang hubungan-hubungan dalam kebulatan (entities) adalah sangat esensial dalam belajar. emosional. 2. Psikologi Gestalt ini terkenal juga sebagai teori medan (field) atau lazim disebut cognitive field theory. tetapi juga secara fisik. Ketika para ahli Psikologi Gestalt beralih dari masalah pengamatan ke masalah belajar. Pada pengamatan itu menekankan perhatian pada bentuk yang terorganisasi (organized form) dan pola persepsi manusia. 33 . 4.Psikologi Gestalt bermula pada lapangan pengamatan (persepsi) dan mencapai sukses yang terbesar juga dalam lapangan ini. tidak hanya secara intelektual. maka hasil-hasil yang telah kuat / sukses dalam penelitian mengenai pengamatan itu dibawanya dalam studi mengenai belajar. sosial dan sebagainya.

mencakup peristiwa peniruan (adanya kejelasan. kesamaan. Albert berkebangsaan Kanada. Faktor-faktor yang berproses dalam belajar observasi adalah : 1. Perhatian (attention).yaitu hukum – hukum keterdekatan. Menurut Bandura. dan empat hukum tambahan (subsider) yang tunduk kepada hukum yang pokok itu. Eksperimennya yang sangat terkenal adalah eksperimen ―Bobo doll‖ yang menunjukkan anak meniru secara persis perilaku agresif dari orang dewasa di sekitarnya. maka dia cenderung menyenangi judi. 34 . proses mengamati dan meniru perilaku sikap orang lain sebagai model merupakan tindakan belajar. persepsi. G. Tidak mungkin ada belajar tanpa ada kemauan untuk belajar. Dalam hukum-hukum belajar Gestalt ini ada satu hukum pokok.5. 8. dan kontinuitas. ketertutupan. Kondisi lingkungan sekitar individu sangat berpengaruh pada pola belajar sosial ini. keterlibatan perasaan. tingkat kerumitan. apabila tercapai kematangan untuk memperoleh insight. kelaziman) dan karakteristik pengamat (kemampuan indera. perilaku dan pengaruh lingkungan. Misalnya seseorang yang hidup dan dibesarkan di lingkungan judi. atau setidaknya menganggap bahwa judi itu tidak jelek. Belajar akan berhasil kalau ada tujuan. Belajar hanya berhasil. bukan ibarat suatu bejana yang diisi. 6. penguatan sebelumnya). minat. Ia seorang psikolog yang terkenal dengan teori belajar sosial atau kognitif sosial serta efikasi diri. motivasi memberi dorongan yang mengerakan seluruh organisme. Teori Bandura Albert Bandura lahir pada tanggal 4 Desember 1925 di Mundare. yaitu hukum Pragnaz. 7. Teori Bandura menjelaskan perilaku manusia dalam konteks interaksi timbal-balik yang berkesinambungan antara kognitif. Belajar merupakan suatu proses bila seseorang itu aktif.

keorganisasian pikiran. keakuratan umpan balik. Teori sosial belajar dari Bandura ini merupakan gabungan antara teori belajar behovioristik dengan penguatan dan psikologi kognitif. pengulangan motorik. 3. Tingkat tertinggi belajar dari pengamatan diperoleh dengan cara mengorganisasikan sejak awal dan mengulangi perilaku secara simbolik kemudian melakukannya. pengulangan symbol. 4. Penyimpanan atau proses mengingat (retention). komunikasi. yang harus juga diperhatikan bahwa faktor model atau teladan mempunyai prinsip-prinsip sebagai berikut. Individu akan menyukai perilaku yang ditiru jika model atau panutan tersebut disukai dan dihargai serta perilakunya mempunyai nilai yang bermanfaat. Individu lebih menyukai perilaku yang ditiru jika sesuai dengan nilai yang dimilikinya. 35 . Teori Bandura menjadi dasar dari perilaku pemodelan yang digunakan dalam berbagai pendidikan secara massal. 1. dengan prinsip modifikasi perilaku. 2. mencakup dorongan dari luar dan penghargaan terhadap diri sendiri. 3. Reproduksi motorik (reproduction). informasi dan instruksional.2. mencakup kemampuan fisik. Proses belajar masih berpusat pada penguatan. hanya terjadi secara langsung dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Sebagai contoh. penerapan teori belajar sosial dalam iklan televisi. Proses mengingat akan lebih baik dengan cara mengkodekan perilaku yang ditiru kedalam kata-kata. Selain itu. mencakup kode pengkodean simbolik. tanda atau gambar daripada hanya observasi sederhana (hanya melihat saja). Motivasi. Teori belajar dari Bandura ini nampaknya memang bisa berlaku umum dalam semua langkah pendidikan sosial. kemampuan meniru.

sehingga metode belajar sosial dari Bandura ini agak sulit dilakukan. kita tidak dapat sepenuhnya yakin apa yang merupakan penguat dan apa yang bukan penguat. Terhadap binatang yang sangat lapar kita dapat meramalkan bahwa makanan akan merupakan penguat yang sangat efektif. meskipun ia lapar. karena suasana dan kondisi yang sudah dirancang secara khusus untuk tujuan yang khusus pula. Penentuan Nilai dari Suatu Insentif 36 . Penghargaan (Reward) dan Penguatan (Reinforcement) Suatu alasan mengapa penguatan yang pernah diterima merupaka penjelasan yang tidak memadai untuk motivasi karena motivasi belajar manusia itu sangat kompleks dan tidak bebas dari konteks (situasi yang berhubungan). karena nilai penguatan dari penguat yang paling potensial sebagian besar ditentukan oleh faktor-faktor pribadi dan situsional. 1995). penganut teori perilaku lebih memfokuskan pada seberapa jauh siswa telah belajar untuk mengerjakan pekerjaan sekolah dalam rangka mendapatkan hasil yang diinginkan (Bandura. Peristiwa sosial juga terjadi di lingkungan sekolah dan pendidikan pada umumnya.Namun karena kondisinya yang umum tadi. 1986 dan Wielkeiwicks. Terhadap manusia. Dalam kenyataannya. Motivasi Belajar dan teori perilaku (Bandura) Konsep motivasi belajar berkaitan erat dengan prinsip bahwa perilaku yang memperoleh penguatan (reinforcement) di masa lalu lebih memiliki kemungkinan diulang dibandingkan dengan perilaku yang tidak memperoleh penguatan atau perilaku yang terkena hukuman (punishment). maka sulit dilaksanakan dalam sekolah-sekolah formal. Hanya dalam situasi sosial dan kemasyarakatanlah banyak terjadi belajar sosial. Namun hal itu tentu saja sangat khusus dan terbatas. daripada membahas konsep motivasi belajar. Yakni untuk tujuan mempermudah terlaksananya proses belajar secara efektif.

2) sub proses kognitif yang merasakan. ―Pekerjaan yang bagus! Saya tahu kamu dapat mengerjakan tugas itu apabila kamu mencobanya!‖ Ucapan ini dapat memotivasi seorang siswa yang baru saja menyelesaikan suatu tugas yang ia anggap sulit namun dapat berarti hukuman (punishment) bagi siswa yang berfikir bahwa tugas itu mudah (karena pujian guru itu memiliki implikasi bahwa ia harus bekerja keras untuk menyelesaikan tugas itu). mengevaluasi. Pada saat guru mengatakan ―Saya ingin kamu semua mengumpulkan laporan buku pada waktunya karena laporan itu akan diperhitungkan dalam menentukan nilaimu. Lebih lanjut menurut Bandura (1982) penguasaan skill dan pengetahuan yang kompleks tidak hanya bergantung pada proses perhatian. tetapi juga sangat dipengaruhi oleh unsur-unsur yang berasal dari diri pembelajar sendiri yakni ―sense of self Efficacy‖ dan ―self – regulatory system‖. 1978). motor reproduksi dan motivasi. Dalam pembelajaran sel-regulatory akan menentukan ―goal setting‖ dan ―self evaluation‖ 37 .‖ guru itu mungkin mengasumsikan bahwa nilai merupakan insentif yang efektif untuk siswa pada umumnya. 1992). Self regulatory adalah menunjuk kepada 1) struktur kognitif yang memberi referensi tingkah laku dan hasil belajar. retensi. Tetapi bagaimanapun juga sejumlah siswa dapat tidak menghiraukan nilai karena orang tua mereka tidak menghiraukannya atau mereka memiliki catatan kegagalan di sekolah dan telah mengambil sikap bahwa nilai itu tidak penting. ada motivasi lain yang berpengaruh (mempengaruhi) terhadap perilaku belajar siswa. Apabila guru mengatakan kepada seorang siswa. Kadang-kadang suatu jenis motivasi jelas-jelas menentukan perilaku. Sense of self efficacy adalah keyakinan pembelajar bahwa ia dapat menguasai pengetahuan dan keterampilan sesuai standar yang berlaku. karena nilai itu dapat bergantung pada banyak faktor (Chance. tetapi pada saat yang lain. Seringkali sukar menentukan motivasi belajar siswa dari perilaku mereka karena banyak motivasi yang berbeda dapat mempengaruhi perilaku. dan pengatur tingkah laku kita (Bandura.Ilustrasi berikut menunjukkan poin penting: nilai motivasi belajar dari suatu insentif tidak dapat diasumsikan.

Berikut Bandura mengajukan usulan untuk mengembangkan strategi proses pembelajaran yaitu sebagi berikut : 1. d. Apakah model harus hidup atau simbol? Pertimbangan soal biaya.Tetapkan fungsi nilai dari tingkah laku dan pilihlah tingkah laku tersebut sebagai model.Langkah-langkah manakah menurut sekuen yang harus dipresentasikan secara perlahan-lahan. Apakah karekter dari tingkah laku yang akan dijadikan model itu berupa konsep.pembelajar dan merupakan dorongan untuk meraih prestasi belajar yang tinggi dan sebaliknya. pengulangan demonstrasi dan kesempatan untuk menunjukkan fungsi nilai dan tingkah laku. a. mengembangkan ―self of mastery‖. Pengembangan sekuen instruksional Untuk mengajar motor skill. Apakah tingkah laku (kemampuan yang dipelajari) merupakan hal yang penting dalam kehidupan dimasa datang? (success prediction) b. Bagaimanakah urutan atau sekuen dari tingkah laku tersebut? c. bagaimana cara mengerjakan pekerjaan/kemampuan yang dipelajari :how to do this‖ dan bukannya ―not this‖. 38 . Apakah reinforcement yang akan didapat melalui model yang dipilih? 3. motor skil atau efektif? b. dan reinforcement bagi pembelajar. Menurut Bandura agar pembelajar sukses instruktur/guru/dosen/guru harus dapat menghadirkan model yang mempunyai pengaruh yang kuat terhadap pembelajar. Dimanakah letak hal-hal yang penting (key point) dalam sekuen tersebut? 2. Bila tingkah laku yang dipelajari kurang memberi manfaat (tidk begitu penting) model manakah yang lebih penting? c.Analisis tingkah laku yang akan dijadikan model yang terdiri : a. self efficacy.

disamping pembelajaran-pembelajaran komponen-komponen skill itu sendiri. 4. Hasil belajar berupa kode-kode visual dan verbal yang mungkin dapat dimunculkan kembali atau tidak (retrievel). Proses kognitif 1) Tampilkan model. Dari uraian tentang teori belajar sosial. baik yang didukung oleh kode-kode verbal atau petunjuk untuk mencari konsistensi pada berbagai contoh 2) Beri kesempatan kepada pembelajar untuk membuat ihtisar atau summary 3) Jika yang dipelajari adalah pemecahan masalah atau strategi penerapan beri kesempatan pembelajar untuk berpartisipasi secaraaktif 4) Beri kesempatan pembelajar untuk membuat generalisasi ke berbagai siatuasi. 3. Belajar merupakan interaksi segitiga yang saling berpengaruh dan mengikat antara lingkungan. perlu ditumbuhkan ―sense of efficacy‖ dan self regulatory‖ pembelajar. faktor-faktor personal dan tingkah laku yang meliputi proses-proses kognitif belajar.a. motor skill 1) hadirkan model 2) beri kesempatan kepada tiap-tiap pembelajar untuk latihan secarasimbolik 3) beri kesempatan kepada pembelajar untuk latihan dengan umpan balik visual b. Dalam perencanaan pembelajaran skill yang kompleks. Implementasi pengajaran untuk menunut proses kognitif dan motor reproduksi. konsekuensikonsekuensi terhadap model dan proses-proses kognitif pembelajar. Komponen-komponen belajar terdiri dari tingkah laku. dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. 39 . 2.

40 .5. Dalam proses pembelajaran. dan ―reinforcement‖ dan hindari punishment yang tidak perlu. pembelajar sebaiknya diberi kesempatan yang cukup untuk latihan secara mental sebelum latihan fisik.

pada tingkat ini siswa sudah terbiasa menganalisis bagian-bagian yang ada pada suatu bangun dan mengamati sifat-sifat yang dimiliki oleh unsur-unsur tersebut 41 . menurut Van Hiele adalah sebagai berikut:  Tingkat Visualisasi Tingkat ini disebut juga tingkat pengenalan.  Tingkat Analisis Tingkat ini dikenal sebagai tingkat deskriptif. yaitu Pierre Van Hiele dan isterinya. pada tingkat ini siswa tahu suatu bangun bernama persegipanjang. siswa belum mengamati ciri-ciri dari bangun itu. Dengan demikian. meskipun pada tingkat ini siswa sudah mengenal nama sesuatu bangun. Dengan kata lain. Pada tingkat ini. Sebagai contoh. Dian Van Hiele-Geldof. Teori Van Hiele Tingkat Kognitif menurut Van Hiele Dua tokoh pendidikan matematika dari Belanda. Tahapan berpikir atau tingkat kognitif yang dilalui siswa dalam pembelajaran geometri.A. Pada tingkat ini siswa belum memperhatikan komponen-komponen dari masing-masing bangun. Dalam teori yang mereka kemukakan. tetapi ia belum menyadari ciri-ciri bangun persegipanjang tersebut. siswa memandang sesuatu bangun geometri sebagai suatu keseluruhan (wholistic). mereka berpendapat bahwa dalam mempelajari geometri para siswa mengalami perkembangan kemampuan berpikir melalui tahap-tahap tertentu. pada tahun-tahun 1957 sampai 1959 mengajukan suatu teori mengenai proses perkembangan yang dilalui siswa dalam mempelajari geometri. Pada tingkat ini siswa sudah mengenal bangun-bangun geometri berdasarkan ciri-ciri dari masing-masing bangun.

pada tingkat ini siswa sudah bisa mengatakan bahwa suatu bangun merupakan persegipanjang karena bangun itu ―mempunyai empat sisi. Pada tingkat ini.  Tingkat Rigor Tingkat ini disebut juga tingkat metamatematis. siswa mampu melakukan penalaran secara formal tentang sistem-sistem matematika (termasuk sistem-sistem geometri). Di samping itu pada tingkat ini siswa sudah memahami pelunya definisi untuk tiap-tiap bangun. pada tingkat ini siswa sudah bisa mengatakan bahwa jika pada suatu segiempat sisi-sisi yang berhadapan sejajar. Ini berarti bahwa pada tingkat ini siswa sudah memahami proses berpikir yang bersifat deduktif-aksiomatis dan mampu menggunakan proses berpikir tersebut.Sebagai contoh. 42 . siswa memahami bahwa dimungkinkan adanya lebih dari satu geometri. Pada tingkat ini siswa sudah mulai mampu menyusun bukti-bukti secara formal. Sebagai contoh. Pada tingkat ini. Misalnya pada tingkat ini siswa sudah bisa memahami bahwa setiap persegi adalah juga persegipanjang.  Tingkat Deduksi Formal Pada tingkat ini siswa sudah memahami perenan pengertian-pengertian pangkal. siswa juga sudah bisa memahami hubungan antara bangun yang satu dengan bangun yang lain. Pada tahap ini. sisi-sisi yang berhadapan sejajar. maka sisi-sisi yang berhadapan itu sama panjang. karena persegi juga memiliki ciri-ciri persegipanjang. aksioma-aksioma. tanpa membutuhkan model-model yang konkret sebagai acuan. siswa sudah bisa memahami hubungan antar ciri yang satu dengan ciri yang lain pada sesuatu bangun. dan semua sudutnya siku-siku‖  Tingkat Abstraksi Tingkat ini disebut juga tingkat pengurutan atau tingkat relasional. definisi-definisi. Pada tingkat ini. dan terorema-teorema dalam geometri.

guru dan siswa menggunakan tanya jawab dan kegiatan tentang obyek-obyek yang dipelajari pada tahap berpikir yang bersangkutan. dengan urutan yang sama. dan integrasi (integration). maka seluruh geometri tersebut juga akan berubah.Sebagai contoh. kapan seseorang siswa mulai memasuki suatu tingkat yang baru tidak selalu sama antara siswa yang satu dengan siswa yang lain. Selain itu. pada tingkat ini siswa menyadari bahwa jika salah satu aksioma pada suatu sistem geometri diubah. yaitu . dan tidak dimungkinkan adanya tingkat yang diloncati. menurut Van Hiele. pada tahap ini siswa sudah memahami adanya geometrigeometri yang lain di samping geometri Euclides. orientasi bebas (free orientation). Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa sambil melakukan observasi. Akan tetapi. Menurut Van Hiele. informasi (information).  Fase 1 : Informasi (information) Pada awal fase ini. 43 . Tujuan kegiatan ini adalah : a. Implementasi Teori Van Hiele dalam Pembelajaran Untuk meningkatkan suatu tahap berpikir ke tahap berpikir yang lebih tinggi Van Hiele mengajukan pembelajaran yang melibatkan 5 fase (langkah). tetapi lebih bergantung pada pengajaran dari guru dan proses belajar yang dilalui siswa. Sehingga. orientasi langsung (directed orientation). proses perkembangan dari tahap yang satu ke tahap berikutnya terutama tidak ditentukan oleh umur atau kematangan biologis. Guru mempelajari pengetahuan awal yang dipunyai siswa mengenai topik yang di bahas. semua anak mempelajari geometri dengan melalui tahap-tahap tersebut. penjelasan (explication).

tugas-tugas yang dilengkapi dengan banyak cara.  Fase 4 : Orientasi bebas (free orientation) Siswa mengahadapi tugas-tugas yang lebih komplek berupa tugas yang memerlukan banyak langkah. dan tugas-tugas open ended. Aktifitas ini akan berangsur-angsur menampakkan kepada siswa struktur yang memberi ciri-ciri untuk tahap berpikir ini. Di samping itu untuk membantu siswa menggunakan bahasa yang tepat dan akurat.b. guru memberi bantuan seminimal mungkin. banyak hubungan antara obyekobyek yang dipelajari menjadi jelas. Melalui orientasi diantara para siswa dalam bidang investigasi. 44 . Guru mempelajari petunjuk yang muncul dalam rangka menentukan pembelajaran selanjutnya yang akan diambil. Guru dapat membantu dalam membuat sintesis ini dengan melengkapi survey secara global terhadap apa-apa yang telah dipelajari siswa. siswa menyatakan pandangan yang muncul mengenai struktur yang diobservasi. maupun dalam menyelesaikan tugas-tugas.  Fase 2 : Orientasi langsung (directed orientation) Siswa menggali topik yang dipelajari melalui alat-alat yang dengan cermat disiapkan guru. Mereka memperoleh pengalaman dalam menemukan cara mereka sendiri. alat ataupun bahan dirancang menjadi tugas pendek sehingga dapat mendatangkan respon khusus.  Fase 5 : Integrasi (Integration) Siswa meninjau kembali dan meringkas apa yang telah dipelajari.  Fase 3 : Penjelasan (explication) Berdasarkan pengalaman sebelumnya. Hal tersebut berlangsung sampai sistem hubungan pada tahap berpikir ini mulai tampak nyata. Jadi.

Sebaliknya jika siswa menghubungkan atau mengaitkan informasi baru itu dengan struktur kognitifnya maka yang terjadi adalah belajar bermakna D. P. Belajar bermakna (meaningful learning) 2. Ausubel mengemukakan bahwa belajar dikatakan menjadi bermakna (meaningful) bila informasi yang akan dipelajari peserta didik disusun sesuai dengan struktur kognitif yang dimiliki peserta didik itu sehingga peserta didik itu dapat mengaitkan informasi barunya dengan kognitif yang dimilikinya. konsep-konsep. Menurut Ausubel. maka terjadilah belajar dengan hafalan. TEORI BERMAKNA AUSUBEL Teori pembelajaran Ausabel merupakan salah satu dari sekian banyaknya teori pembelajaran yang menjadi dasar dalam cooperative learning. Dengan 45 . Struktur kognitif ialah fakta-fakta. Suparno (1997) mengatakan pembelajaran bermakna adalah suatu proses pembelajaran di mana informasi baru dihubungkan dengan struktur pengertian yang sudah dimiliki seseorang yang sedang melalui pembelajaran. Pembelajaran bermakna merupakan suatu proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. David Ausubel adalah seorang ahli psikologi pendidikan. Dimensi pertama berhubungan dengan cara informasi atau materi pelajaran itu disajikan kepada siswa melalui penerimaan atau penemuan. ada dua jenis belajar : 1. Menurut Ausubel (Dahar 1996) bahan subjek yang dipelajari siswa mestilah ―bermakna‖ (meaningfull). Belajar menghafal (rote learning) Menurut Ausubel belajar dapat diklasifikasikan kedalam dua dimensi. dan generalisasi-generalisasi yang telah disiswai dan diingat siswa. Selanjutnya dimensi kedua menyangkut bagaimana siswa dapat mengaitkan informasi itu pada struktur kognitif yang telah ada. Jika siswa hanya mencoba menghafalkan informasi baru itu tanpa menghubungkan dengan struktur kognitifnya.B.

kemudia pengetahuan yang baru itu dikaitkan dengan pengetahuan yang ia miliki. materi pelajaran yang telah tersusun secara logis disampaikan kepada siswa sampai bentuk akhir. Menghafal sebenarnya mendapatkan informasi yang terisolasi sedemikian hingga peserta didik itu tidak dapat mengaitkan informasi yang diperoleh itu ke dalam struktur kognitifnya. Bagi Ausubel. yaitu mengaitkan pengetahuan yang telahdimilikinya dengan materi pelajaran yang dipelajarinya atau siswa menemukan pengetahuannya dari apa yang ia pelajari kemudian pengetahuan baru itu ia kaitkan dengan pengetahuan yang sudah ada. Dalam pembelajaran resepsinya . 3. guru memberikan konsep-konsep dengan jelas dan tersusun supaya peserta didik dapat menerimanya dengan lengkap dan baik. Belajar dengan penemuan yang tidak bermakna. Selanjutnya peserta didik tidak dapat mengendapkan 46 . Teori pembelajaran Ausubel juga dikenali sebagai teori pembelajaran penerimaan atau penemuan . Belajar dengan penemuan yang bermakna. Belajar menerima (ekspositori) yang tidak bermakna. yaitu materi pelajaran yang telah tersusun secara logis disampaikan kepada siswa sampai bentuk akhir. yaitu: 1. peserta didik menjadi kuat ingatannya dan transfer belajar mudah dicapai. menghafal berlawanan dengan belajar bermakna. kemudia pengetahuan yang baru itu dihafalkan tanpa mengaitkannya dengan pengetahuan yang ia miliki. yaitu pelajaran yang dipelajari ditemukan sendiri oleh siswa tanpa mengaitkan pengetahuan yang telah dimilikinya. kemudian dia hafalkan.belajar bermakna ini. 2. Empat tipe belajar menurut Ausubel. Belajar menerima (ekspositori) yang bermakna. kerena beliau menekankan proses penguasaan maklumat melalui bahasa yang bermakna. 4.

c. akan mengakibatkan peserta didik itu tidak mempunyai keinginan mempelajari materi tersebut secara bermakna. Ia tidak menghafal asosiasi stimulus-respon yang terpisah-pisah. Apabila peserta didik melaksanakan tugas dengan sikap bahwa ia ingin memahami bahan pelajaran dan mengaplikasikan bahan baru serta menghubungkan bahan pelajaran yang terdahulu. hendaknya bersesuaian dengan tujuan belajar peserta didik. b. Tugas-tugas yang diberikan haruslah sesuai dengan tahap perkembangan intelektual peserta didik. bila diberi bahan materi matematika yang abstrak tanpa contoh-contoh konkrit dari materi tersebut. Belajar yang bermakna pada tahap mula-mula memberikan pengertian kepada bahan baru sehingga bahan baru itu akan terserap dan kemudian diingat peserta didik. maka belajar itu tidak bermakna. Sebaliknya bila peserta didik itu tidak berkehendak mengaitkan bahan yang dipelajari dengan informasi yang dimiliki. Peserta didik yang masih di dalam periode operasi konkrit. Dengan demikian 47 . cenderung mengalami kegagalan dan akhirnya membenci matematika.pengetahuan yang diperoleh itu sehingga peserta didik itu hanya dapat mengingat fakta-fakta yang sederhana. Tugas-tugas diberikan kepada peserta didik harus sesuai dengan struktur kognitif peserta didik sehingga peserta didik itu dapat mengasimilasi bahan baru secara bermakna. Kondisi dan sikap peserta didik terhadap tugas. dikatakan peserta didik itu belajar bahan baru dengan cara yang bermakna. Banyaknya pengetahuan yang dapat dipelajari tergantung kepada apa yang sudah diketahui. Belajar bermakna berarti belajar dengan memperoleh pemberitahuan yang bermakna mempunyai pra syarat : a. Demikianlah banyak peserta didik yang tidak berusaha mengerti matematika. Adanya struktur kognitif di dalam mental peserta didik yang merupakan dasar unsur mengaitkan datangnya informasi baru.

Ausubel (Dahar. Informasi yang dipelajari secara bermakna lebih lama dapat diingat.1989 : 141) ada tiga kebaikan belajar bermakna yaitu : a. c. Informasi yang dipelajari secara bermakna mempermudah belajar hal-hal yang mirip walaupun telah lupa. Langkah – langkah belajar bermakna Ausubel adalah : 1. 2. Pengaturan awal (advance organizer) Pengaturan awal dap digunakan untuk membantu mengaitkan konsep yang lama dengan konsep yang baru yang lebih tinggi maknanya.peserta didik hanya menghafal pelajaran tadi tanpa pengertian sehingga peserta didik mempelajari matematika dengan pernyataanpernyataan verbalyang tidak cermat dan tepat. perlu dikombinasikan sehingga kelemahan yang satu akan ditutup kekuatan yang lain. Hasil pengkombinasian ini diaplikasikan kepengajaran matematika. Dari dua aliran psikologi yang telah dikemukakan diatas yang masingmasing menghasilkan teori belajar. 48 . Diferensiasi Progregsif Dalam pembelajaran bermakna perlu ada pengembangan dan kolaborasi konsep-konsep. b. Informasi yang dipelajari secara bermaknamemudahkan proses belajar beriktunya untuk materi pelajaran yang mirip. Caranya unsur yang inklusif diperkenalkan terlebih dahulu kemudian baru lebih mendetail.

Aktif diartikan peserta didik maupun berinteraksi untuk menunjang pembelajaran. TEORI DIENES Konsep PAKEM Teori belajar Dienes yang menekankan pada tahapan permainan yang berarti pembelajaran yang diarahkan pada proses melibatkan anak didik dalam belajar.C. Guru aktif akan memantau kegiatan belajar peserta didik. Peserta didik akan kreatif. memberikan tanggapan. mengungkapkan ide dan mendemonstrasikan gagasan atau idenya. Menurut Siswono (2004). Dengan memberikan kesempatan peserta didik aktif akan mendorong kreativits peserta didik dalam belajar maupun memecahkan masalah. pengetahuan dan sikap bagi kehidupan kelak. Berikut ini akan dijelaskan sec ara singkat tentang PAKEM. Oleh karena itu teori belajar Dienes ini sangat terkait dengan konsep pembelajaran dengan pendekatan PAKEM (Pembelajaran Aktif. menuliskan ide atau gagasan. memberi umpan balik. Apabila suasana belajar yang aktif dan kreatif terjadi. kreatif. Hal ini berarti proses pembelajaran dapa t membangkitkan dan membuat anak didik senang dalam belajar. PAKEM bertujuan untuk menciptakan sesuatu lingkungan belajar yang lebih melengkapi peserta didik dengan keterampilan. Kreatif diartikan guru memberikan variasi dalam kegiatan belajar mengajar dan membuat alat bantu baljar. Kegiatan tersebut akan memuaskan rasa keingintahuan dan imajinasi mereka. bahkan mencipta teknik -teknik mengajar tertentu sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik dan tujuan belajarnya. bila diberi kesempatan merancang/membuat sesuatu. efektif dan menyenangkan). Guru harus menciptakan suasana sehingga peserta didik aktif bertanya.keterampilan. mengajukan pertanyaan menantang dan mempertanyakan gagasan anak didik. maka akan mendorong peserta didik untuk menyenangi dan memotivasi mereka untuk 49 .

terkondisi untuk trus berlanjut. memisah - 50 . sedemikian rupa sehingga sistem yang dikembangkannya itu menarik bagi siswa yang mempelajarinya. membedakan antara aktif fisik dn aktif mental. kreatif dam kemampuan memecahkan masalah e. memanfaatkan perilaku anak dalam pengorganisasian belajar d. memahami sifat anak b. Dasar teorinya bertumpu pada Piaget. mengembangkan kemampuan bepikir kritis. Dienes adalah seorang matematikawan yang memusatkan perhatiannya pada cara-cara pengajaran terhadap siswa-siswa. semarak. Tahap-Tahap Dalam Teori Belajar Dienes Zoltan P. Dienes (dalam Ruseffendi. Dalam pelaksanaan PAKEM perlu diperhatikan beberapa hal. Pembelajaran yang tampaknya aktif dan menyenangkan. ekspresif. mengenal peserta didik secara individu/perorangan c. memberikan umpan balik yang bertanggung jawab untuk meningkan kegiatan belajar mengajar h. memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar g. dan pengembangannya diorientasikan pada siswa-siswa. tetapi tidak efektif akan tampak hanya sekedar permainan belaka.terus belajar. Efektif yang diartikan sebagai ketercapaian suatu tujuan (kompetensi) merupakan pijakan utama suatu rancangan pembelajaran. 1992) berpendapat bahwa pada dasarnya matematika dapat dianggap sebagai studi tentang struktur. Menyenangkan diartikan sebagai suasana belajar mengajar yang ‖hidup‖. yaitu: a. dan mendorong pemusatan perhatian peserta didik terhadap belajar. mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik f.

misahkan hubungan-hubungan di antara struktur-struktur dan mengkategorikan hubungan. 2. Permainan yang Menggunakan Aturan (Games) Dalam permainan yang disertai aturan siswa sudah mulai meneliti pola-pola dan keteraturan yang terdapat dalam konsep tertentu. Permainan bebas merupakan tahap belajar konsep yang aktifitasnya tidak berstruktur dan tidak diarahkan. Selama permainan pengetahuan anak muncul. Makin banyak bentuk-bentuk berlainan yang diberikan dalam konsep tertentu. anak didik mulai mempelajari konsep-konsep abstrak tentang warna. Anak yang telah memahami aturan-aturan tadi. karena akan memperoleh 51 . Seperti halnya dengan Bruner. Anak didik diberi kebebasan untuk mengatur benda.hubungan di antara struktur-struktur. tebal tipisnya benda yang merupakan ciri/sifat dari benda yang dimanipulasi. Dalam tahap ini anak mulai membentuk struktur mental dan struktur sikap dalam mempersiapkan diri untuk memahami konsep yang sedang dipelajari. yaitu 1. Keteraturan ini mungkin terdapat dalam konsep tertentu tapi tidak terdapat dalam konsep yang lainnya. Dienes membagi tahap-tahap belajar menjadi tahap. Ini mengandung arti bahwa jika benda -benda atau objek-objek dalam bentuk permainan akan sangat berperan bila dimanipulasi dengan baik dalam pengajaran matematika. Dienes mengemukakan bahwa tiap -tiap konsep atau prinsip dalam matematika yang disajikan dalam bentuk yang konkret aka n dapat dipahami dengan baik. dengan melalui permainan siswa diajak untuk mulai mengenal dan memikirkan bagaimana struktur matematika itu. akan semakin jelas konsep yang dipahami siswa. Jelaslah. tahap yang paling awal dari pengembangan konsep bermula dari permainan bebas. Misalnya dengan diberi permainan block logic. Permainan Bebas (Free Play) Dalam setiap tahap belajar.

Permainan Representasi (Representation) Representasi adalah tahap pengambilan sifat dari beberapa situasi yang sejenis. 3. Permainan Kesamaan Sifat (Searching for communalities) Dalam mencari kesamaan sifat siswa mulai diarahkan dalam kegiatan menemukan sifat-sifat kesamaan dalam permainan yang sedang diikuti. Contoh kegiatan yang diberikan dengan permainan block logic. atau yang berwarna merah. Representasi yang diperoleh ini bersifat abstrak. 4. Dengan demikian telah mengarah pada 52 . anak didik memerlukan suatu kegiatan untuk mengumpulkan bermacam -macam pengalaman. Contoh dengan permainan block logic. Untuk melatih dalam mencari kesamaan sifat-sifat ini. Para siswa menentukan representasi dari konsep -konsep tertentu. dan kegiatan untuk yang tidak relevan dengan pengalaman itu. hijau. guru perlu mengarahkan mereka dengan menstranslasikan kes amaan struktur dari bentuk permainan lain. untuk membuat konsep abstrak. Dalam membentuk kelompok bangun yang tipis. atau tidak merah (biru). Setelah mereka berhasil menyimpulkan kesamaan sifat yang terdapat dalam situasi-situasi yang dihadapinya itu. Menurut Dienes. timbul pengalaman terhadap konsep tipis dan merah. anak dihadapkan pada kelompok persegi dan persegi panjang yang tebal. dan sebagainya. atau yang merah. anak diminta mengidentifikasi sifat-sifat yang sama dari benda-benda dalam kelompok tersebut (anggota kelompok).hal-hal yang bersifat logis dan matematis dalam konsep yang dipelajari itu. kuning). atau yang tebal. kemudian membentuk kelompok benda berbentuk segitiga. anak diberi kegiatan untuk membentuk kelompok bangun yang tipis. serta timbul penolakan terhadap bangun yang tipis (tebal). Translasi ini tentu tidak boleh mengubah sifat -sifat abstrak yang ada dalam permainan semula.

Sebagai contoh. an mempunyai elemen invers. asosiatif. dari kegiatan mencari banyaknya diagonal dengan pendekatan induktif tersebut. Misalnya bilangan bulat dengan operasi penjumlahan peserta sifat-sifat tertutup. Permainan dengan Simbolisasi (Symbolization) Simbolisasi termasuk tahap belajar konsep yang membutuhkan kemampuan merumuskan representasi dari setiap konsep-konsep dengan menggunakan simbol matematika atau melalui perumusan verbal. membentuk sebuah sistem matematika. anak didik telah mengenal dasar -dasar dalam struktur matematika seperti aksioma. Permainan dengan Formalisasi (Formalization) Formalisasi merupakan tahap belajar konsep yang terakhir. Contohnya. Contoh kegiatan anak untuk menemukan banyaknya diagonal poligon (misal segi dua puluh tiga) dengan pendekatan induktif seperti berikut ini (gambar 2 5. 53 . pada tahap formalisasi anak tidak hanya mampu merumuskan teorema serta membuktikannya secara deduktif. 6. kegiatan berikutnya menentukan rumus banyaknya diagonal suatu poligon yang digeneralisasikan dari pola yang didapat anak. harus mampu merumuskan suatu teorema berdasarkan aksioma. dalam arti membuktikan teorema tersebut. komutatif. harus mampu merumuskan teorema dalam arti membuktikan teorema tersebut.20) menyatakan. Dalam tahap ini siswa-siswa dituntut untuk mengurutkan sifat-sifat konsep dan kemudian merumuskan sifat-sifat baru konsep tersebut.pengertian struktur matematika yang sifatnya abstrak yang terdapat dalam konsep yang sedang dipelajari. adanya elemen identitas. Karso (1999:1. sebagai contoh siswa yang telah mengenal dasar-dasar dalam struktur matematika seperti aksioma. tetapi mereka sudah mempunyai pengetahuan tentang sistem yang berlaku dari pemahaman konsep-konsep yang terlibat satu sama lainnya.

Jika hasil penjumlahan lebih dari 10. Oleh karena itu. Tujuan : Memperlihatkan menyimpan sekaligus bentuk nyata penjumlahan dengan teknik menjelaskan langkah-langkah sistematis penyelesaian kalimat penjumlahan. jika guru dapat mengemas permainan sebagai media maupun pendekatan dalam belajar matematika bagi anak. Pada bagian tulusian ini. 54 .Permainan Interaktif untuk Belajar Matematika Permainan interaktif merupakan suatu permainan yang dikemas dalam pembelajaran. akan dibahas permainan matematika pada topik bilangan dan topik geometri. 1 . Anda akan dapat merancang bagaimana mengemas pembelajaran matematika melalui permainan. maka penjumlahan suku-sukunya dilakukan dengan teknik ―menyimpan‖ Permainan ―menyimpan dan menjumlahkan‖ berikut memberikan kemudahan mengajarkan operasi penjumlahan. Permainan Operasi Penjumlahan Ada dua teknik menjumlahkan. Sediakan kantong kain/kantong plastik/kantong dari katon. maka penjumlahan dapat dilakukan secara langsung dengan cara menjumlahkan suku-sukunya. 2. maka anak akan senang belajar matematika sehingga menjadi efektif untuk mendapatkan hasil belajar yang optimal. Mudah-mudahan melalui tulisan ini. Jika hasil penjumlahan kurang atau sama dengan 10. Sediakan kartu kecil merah untuk puluhan dan kartu kecil putih untuk satuan. sehingga anak didik menjadi aktif dan senang dalam belajar. Langkah-langkah permainan: 1. Permainan Operasi Hitung a.

Mintalah anak menyatukan 9 dan 7 buah kartu putih dan mintalah anak menghitung jumlahnya (jawaban : 16). Mintalah anak menjumlahkan hasilnya. Perluas contoh permainannya sampai ke bilangan ratusan dan seterusny 55 . Terangkan karena 7 tidak bisa dikurangi 8 maka ambil 1 kartu merah dan tukar dengan 10 kartu putih sehingga total kartu putih 7 + 10 = 17. 8. Mintalah anak menghitung total kartu merah. Mintalah anak memasukan kartu merah tersebut ke kantong puluhan dan masukan sisa 6 kartu putih ke kantongan satuan. Selanjutnya. Mintalah anak mengerjakan 19 + 27. 17 dikurangi 8 menghasilkan 9. 7. Terangkanlah bahwa nilai empat kartu merah tersebut adalah 40. Mintalah anak untuk mengurangkan 57 – 28 2. Karena dipinjam 1 maka sisa kartu merah menjadi = 4. yaitu 20 + 9 = 29. 4 – 2 = 2 (terangkan bahwa membacanya 20 karena nilainya puluhan) 3. Permainan Operasi Pengurangan Ikutilah permainan berikut ini untuk memudahkan anak belajar operasi pengurangan dengan teknik meminjam. 4. yaitu 1 + 2 + 1 = 4. Langlah-langkah permainan: 1.3. yaitu 40 + 6 = 46. Permainan ―menukar dan mengurangkan‖ Tujuan: Memperlihatkan meminjam sekaligus bentuk nyata pengurangan dengan teknik memperlihatkan langkah-langkah sistematis penyelesaian kalimat pengurangan. Mintalah anak menggantikan 10 kartu putih dari 16 kartu p utih dengan satu kartu merah. 4. Mintalah anak untuk menjumlahkan hasilnya. 5. 6. Selanjutnya. b.

yaitu 6. Permainan Operasi Pembagian Permainan berikut ini mempermudah anak memahami operasi pembagian.c. Permainan ―permen pembagian‖ Tujuan : Menjelaskan makna pembagian Langkah-langkah: 1. 2. 2. Berikan masing-masing 2 buah permen kepada 3 orang anak. Bagikan secara merata 3 permen – 3 permen kepada beberapa anak sampai permen habis. Perlihatkan 6 permen di tangan. 3. Terangkan bahwa hasilnya merupakan perkalian 2 dengan 3. Permainan ―permen perkalian‖ Tujuan: Menjelaskan makna perkalian. d. 3 dan 2 disebut faktor dari 6. Tanyakan berapakah jumlah total permen yang telah diberikan kepada ketiga anak tersebut. sedangkan 6 merupakan hasil perkalian 2 dan 3. 3. 56 . Langkah-langkah permainan: 1. Permainan Operasi Perkalian Ikutilah permainan berikut ini untuk melatih anak belaj ar perkalian dan kelipatan. Pada kalimat 3 x 2 = 6. Perkalian merupakan penjumlahan berulang. Tanyakan berapa anakkahyang akan mendapat permen. misalnya 2 + 2+ 2 atau bentuk lain 3 x 2.

Perhatian (Attention). TEORI BANDURA Albert Bandura lahir tanggal 4 Desember 1925 di Mundare Alberta berkebangsaan Kanada. Faktor-faktor yang berproses dalam belajar observasi adalah 1. kelaziman. mencakup peristiwa peniruan (adanya kejelasan. atau setidaknya menganggap bahwa judi itu tidak jelek. nilai fungsi) dan karakteristik pengamat (kemampuan indera. yaitu 2. Kondisi lingkungan sekitar individu sangat berpengaruh padapola belajar sosial ini. persepsi. minat. Eksperimennya yang sangat terkenal adalah eksperimen Bobo Doll yang menunjukkan anak meniru secara persis perilaku agresif dari orang dewasa disekitarnya. Terangkan bahwa hasilnya merupakan pembagian 6 dengan 3. Ia seorang psikolog yang terkenal dengan teori belajar sosial atau kognitif sosial serta efikasi diri. perilaku dan pengaruh lingkungan. keterlibatan perasaan. sikap orang lain sebagai model merupakan tindakan belajar. Ulangi permainan ―permen perkalian dan pembagian‖ ini sehingga anak mengerti betul makna perkalian dan pembagian serta hubungan keduanya dengan contoh lain. Menurut Bandura proses mengamati dan meniru perilaku. maka dia cenderung menyenangi judi. Misalnya seorang yang hidupnya dan lingkungannya dibesarkan dilingkungan judi. D.4. 5. tingkat kerumitan. penguatan sebelumnya) 57 . Tanamkanlah pada anak bahwa 6 : 3 = 6 – 3 – 3. Teori Bandura menjelaskan perilaku manusia dalam konteks interaksi timbal balik yang berkesinambungan antara kognitif.

4. tanda atau gambar dari pada hanya observasi sederhana (hanya melihat saja). mencakup kode pengkodean simbolik. Apabila seorang peserta didik tahu bagaimana suatu tingkah laku itu ditunjukkan dan mengingat cara-cara atau langkah. Tapi peserta didik itu memerlukan latihan yang banyak.2. pengualangan motorik. Sebagai contoh: belajar gerakan tari dari instruktur membutuhkan pengamatan dari berbagai sudut yang dibantu cermin dan langsungditirukan oleh siswa pada saat itu juga. mencakup kemampuan fisik. Motivasi. 58 . Peserta didik harus berupaya melakukan semua tingkah laku yang ditirunya. Proses mengingat akan lebih baik dengan cara mengkodekan perilaku yang ditiru kedalam kata-kata. mencakup dorongan dari luar dan penghargaan terhadap diri sendiri (Motivation) Selain itu juga yang harus diperhatikan bahwa faktor model atau teladan mempunyai prinsip-prinsip sebagai berikut: 1. Reproduksi motorik (Reproduction). kemampuan meniru. gambar atau instruksi yang ditulis dalam buku panduan. mendapat bimbingan tentang perkara. Penyimpanan atau proses mengingat (Retention). 2. pengulangan simbol. pengorganisasian pikiran. Kemudian proses meniru akan lebih terbantu jika gerakan tadi juga didukung dengan penayangan video.perkara penting sebelum meleksanakan tingkah laku model. Di peringkat penghasilan latihan menjadikan tingkah laku lebih lancar dan mahir. Tingkat tertinggi belajar dari pengamatan diperoleh dengan cara mengorganisasikan sejak awal dan mengulangi perilaku secara simbolik kemudian melakukannya. Individu lebih menyukai perilaku yang ditiru jika sesuai dengan nilai yang dimilikinya.langkah dia mungkin belum bisa melakukannya dengan lancar. 3. keakuratan umpan balik.

Teori Bandura menjadi dasar dari perilaku pemodelan yang digunakan dalam berbagai pendidikan secara massal. dengan prinsip modifikasi perilaku. 59 . Teori belajar sosial dari Bandura ini merupakan gabungan antara teori belajar behavioristik dengan penguatan dan psikologi kognitif. Iklan selalu menampilkan bintang-bintang yang popular dan disukai masyarakat. Individu akan menyukai perilaku yang ditiru jika model atau panutan tersebut disukai dan dihargai serta perilakunya mempunyai nilai yang bermanfaat. Peristiwa sosial juga terjadi di lingkungan sekolah dan pendidikan pada umumnya. Sebagai contoh: penerapan teori belajar sosial dalam iklan televisi. sehingga metode belajar sosial dari Bandura ini agak sulit dilakukan. karena suasana dan kondisi yang sudah dirancang secara khusus untuk tujuan yang khusus pula.3. yakni untuk tujuan mempermudah terlaksananya proses belajar secara efektif. Proses belajar masih berpusat pada penguatan. hanya terjadi secara langsung dalam berinteraksi dengan lingkungannya. hal ini untuk mendorong konsumen agar membeli sabun supaya mempunyai kulit seperti para "bintang" atau minum obat masuk anginnya "orang pintar". namun hal itu tentu saja sangat khusus dan terbatas. informasi dan instruksional. Hanya dalam situasi sosial dan kemasyarakatanlah banyak terjadi belajar sosial. komunikasi. Teori belajar dari Bandura ini tampaknya memang bisa berlaku umum dalam semua langkah pendidikan sosial. namun karena kondisinya yang umum tadi maka sulit dilaksanakan dalam sekolah-sekolah formal.

namun usia atau kronologis pada setiap orang yang memasuki setiap periode berpikir yang lebih tinggi berbeda-beda tergantung kepada masing-masing individu. Operasi yang dimaksud di sini adalah suatu proses berpikir atau logik. 60 . Karateristik periode ini merupakan gerakan-gerakan sebagai akibat reaksi langsung dari rangsangan.E. Namun karena pengalamannya terhadap lingkungannya.Periode Sensori Motor (0 – 2) tahun. berpendapat bahwa proses berpikir manusia merupakan suatu perkembangan yang bertahap dari berpikir intelektual kongkret ke abstrak berurutan melalui empat tahap perkembangan. sebagai berikut: 1. Bila objek itu disembunyikan. anak itu tidak akan mencarinya lagi. pada akhir periode ini. TEORI PIAGET Teori Perkembangan Intelektual Piaget Teori belajar Dienes sangat terkait dengan teori belajar yang dikemukakan oleh Piaget. 1981). Rangsangan itu timbul karena anak melihat dan merab-raba objek. 2. Piaget (dalam Bell. anak menyadari bahwa objek yang disembunyikan tadi masih ada dan ia akan mencarinya. Urutan periode itu tetap bagi setiap orang. bukan aktivitas sensori motor. Piaget adalah orang pertama yang menggunakan filsafat konstruktivis dalam proses belajar mengajar. yaitu mengenai teori perkembangan intelektual. dan merupakan aktivitas mental. Anak itu belum mempunyai kesadaran adanya konsep objek yang tetap.Periode Pra-operasional (2 – 7) tahun. Jean Piaget berpendapat bahwa proses berpikir manusia sebagai suatu perkembangan yang bertahap dari berpikir intelektual konkret ke abstrak berurutan melalui empat periode.

Walaupun pada periode permulaan pra-operasional ini anak mampu menggunakan simbol-simbol. ia masih sulit melihat hubungan-hubungan dan mengambil kesimpulan secara taat asas. Periode ini disebut operasi kongkret sebab berpikir logiknya didasarkan atas manipulasi fisik dari objek-objek. Misalnya semua 61 . Pengalaam anak masih kongkret dan belum formal. Pada periode ini anak terpaku kepada kontak langsung dengan lingkungannya. Anak masih terikat kepada pegakaman prib adi. Pengerjaan-pengerjaaan logikd apat dilakukan dengan berorientasike objek-objek atau peristiwa-peristiwa yang langsung dialami anak. tetapi anak itu mulai memanipulasi simbol dari benda-benda sekitarnya. Kombinasivitas atau klasifikasi adalah suatu operasi dua kelas atau lebih yang dikombinasikan ke dalam suatu kelas yan g lebih besar. Anak itu belum memperhitungkan semua kemungkinan dan kemudian mencoba menemukan kemungkinan yang mana yangk akan terjadi.Periode operasi kongkret (7 – 12) tahun. 3. Operasi kongkret hanyalah menunjukkan kenyataan adanya hubungan dengan pengalaman empirik-kongkret yang lampau dan masih mendapat kesulitan dalam mengambil kesimpulan yang logis dari pengalaman -pengamanan yang khusus. Periode ini sering disebut juga periode pemberian simbol. karateristik berpikir anak adalah sebagai berikut: a. Dalam periode ini anak berpikirnya sudah dikatakan menjadi operasional. misalnya suatu benda diberi nama (simbol).Pada periode ini anak di dalam berpikirnya tidak didasarkan kepada keputusan yang logis melainkan didasarkan kepada keputusan yang dapat dilihat seketika. Anak dapat membentuk variasi relasi kelas dan mengerti bahwa beberapa kelas dapat dimasukkan ke kelas lain. Dalam periode operasi kongkret.

e. Reversibilitas adalah operasi kebalikan. c. Kesadaran adanya prinsip-prinsip konservasi. Demikian juga suatu jumlah dapat dinolkan dengan mengkombinasikan lawannya. Misalnya himpunan bilangan bulat. 5 + ? = 9 sama dengan 9 – 5 = ? Reversibilitas ini merupakan karakteristik utama untuk berpikir operasional di dalam teori Piaget. Hubungan A > B dan B > C menjadi A > C. Asosiasivitas adalah suatu operasi terhadap beberapa kelas yang dikombinasikan menurut sebarang urutan. 62 . Anak pada periode ini dilandasi oleh observasi dari pengalaman dengan objek nyata. f. d. Konservasi berkenaan dengan kesadaran bahwa satu aspek dari benda. Misalnya unsur dari suatu himpunan berkawan dengan satu unsur dari himpunan kedua dan sebaliknya. Setiap operasi logik atau matematik dapat dikerjakan dengan operasi kebalikan. operasi ‖+‖. unsur nol adalh 0 sehingga 8 + 0 = 8. tetap sama sementara itu aspek lainnya berubah.manusia lelaki dan semua manusia wanita adalah semua manusia. Namun prinsip konservasi yang dimilikianak pada periode ini masih belum penuh. Misalnya. Korespondensi satu – satu antara objek-objek dari dua kelas. berlaku hukum asosiatif terhadap penjumlahan. Misalnya. misalnya 4 – 4 = 0.dalam himpunan bilangan bulat dengan operasi ‖+‖. b. tetapi ia sudah mulai menggeneralisasi objek-objek tadi. Identitas adalah suatu operasi yang menunjukkan adanya unsur nol yang bila dikombinasikan dengan unsur atau kelas hasilnya tidak berubah.

segi panjang dan parallelogram sebagai segi empat. Misalnya di dalam struktur mental peserta didik telah ada pengorganisasian dan pengelompokan bentuk-bentuk bujur sangkar.Anak sudah mampu menggunakan hubungan-hubungan di antara objek-objek apabila ternyata manipulasi objek-objek tidak memungkinkan.Periode Operasi Formal (> 12) tahun. Anak telah mampu melihat hubungan hubungan abstrak dan menggunakan proposisi-proposisi logik-formal termasuk aksioma dan definisi. Anak mampu menyelesaikan masalah dengan cara yang lebih baik dan kompleks dari pada anak yang masih dalam tahap periode operasi kongkre t. Kemudian kepada peserta 63 . faktor-faktor menuju penyelesaian Asimilasi adalah proses mendapatkan informasi dan pengalaman baru yang langsung menyatu dengan struktur mental yang sudah dimiliki seseorang. ia dapat mengisolasi itu faktor-faktor sehingga tersendiri atau mengkombinasikan masalah tadi. Adapun akomodasi adalah proses menstrukturkan kembali mental sebagai akibat adanya informasi dan pengalaman baru tadi. artinya bila anak dihadapkan kepada suatu masalah. Anak sudah dapat mengoperasikan argumen-argumen tanpa dikaitkan dengan benda-benda empirik.definisi verbal. tetapi juga terjadi penstrukturan kembali informasi dan pengalaman lainnya untuk mengakomodasikan informasi dan pengalaman yang baru. Konsep konservasi telah tercapai sepenuhnya. belajar itu tidak hanya menerima informasi dan pengalaman baru saja. yaitu menggunakan posedur hipotetik-deduktif. Periode operasi formal ini disebut juga disebut periode operasi hipotetik-deduktif yang merupakan tahap tertinggi dari perkmbangan intelektual. Jadi. Ia mampu menggunakan prosedur seorang ilmuwan. Periode ini merupakan tahap terakhir dari keempat periode perkembangan intelektual. Anak juga sudah dapat berpikir kombinatorik.4. Anak-anak pada periode ini sudah memberikan alasan dengan menggunakan lebih banyak simbul atau gagasan dalam cara berpikir.

Hal ini amat penting bagi perkembangan mental anak. pengalaman logika-matematika yang berupa kegiatan mental yang ditampilkan individu dan struktur kognitifnya diorganisasikan menurut pengalamannya. Kematangan merupakan proses pertumbuhan psikologis dari otak dan sistem syaraf. Pengalaman yang dimaksud ada dua macam/. Ini berarti peserta didik tersebut menyatukan objek baru itu ke dalam struktur kognitif yang sudah dimiliki dan terjadilah proses asimilasi. Penyetimbangan (equilibration) merupakan proses adanya kehilangan stabilitas di dalam struktur mental sebagai akibat pengalaman dan informasi baru dan kembali setimbang melalui proses asimilasi dan akomodasi. Transmisi social merupakan interaksi dan kerja sama seseorang dengan orang lain atau dengan lingkungannya. Pengalaman juga mempunyai andil dalam pengembangan intelektual. 64 . Peserta didik itu me ngerti bahwa trapezium itupun merupakan segi empat dengan sifat yang sedikit berbeda dengan bentuk-bentuk yang telah dipelajari sebelumnya. Piaget percaya bahwa operasi formal tidak akan berkembang di dalam pikiran tanpa adanya pertukaran dan koordinasi pendapat di antara orang-orang. Ketiga factor itu harus ada agar seseorang berkembang dari satu periode ke periode berpikir yang lebih tinggi. Peristiwa itu juga berarti terjadinya penstrukturan kembali kognitif yang telah dimiliki oleh peserta didik karena datangnya informasi baru tentang trapesium tadi. struktur mental berkembang dan menjadi matang. Sebagai hasil dari penyetimbangan itu. b. Ini berarti terjadinya akomodasi. yaitu yang pertama. Perkembangan intelektual itu dipengaruhi oleh tiga factor berikut : a.didik itu diberikan lagi bentuk trapesium. c. pengalaman fisik yang berupa interaksi setiap individu dengan objek-objek di lingkungannya: yang kedua.

Proses penyetimbangan juga terjadi dalam belajar. Misalnya seseorang mendapat gagasan yang tidak terorganisasikan melalui kontak social atau pengalaman dari lingkungan, tetapi butir-butir itu terdapat perbedaan, perbedaan ini harus menjadi harmonis. Maka terjadilah proses penyetimbangan itu (logika matematika). Perkembangan Intelektual Anak dalam Belajar

Menurut Ruseffendi (1992), untuk dapat mengajarkan konsep matematika pada anak dengan baik dan mudah dimengerti, maka materi yang akan disampaikan hendaknya diberikan pada anak yang sudah siap intelektualnya untuk menerima materi tersebut. Contoh, meskipun anak berumur 3 tahun sudah dapat menghitung angka 1 –10, tetapi dia belum mengerti bilangan 1, 2, dan seterusnya. Oleh karena itu, dia akan kesulit an jika harus belajar tentang bilangan. Agar anak dapat mengerti materi matematika yang dipelajari, maka dia harus sudah siap menerima materi tersebut, artinya anak sudah mempunyai hukum kekekalan dari jenjang materi matematika yang dipelajari. Menurut piaget (dalam Ruseffendi; 1992), ada enam tahap dalam perkembangan belajar anak yang disebut dengan hukum kekekalan, sebagai berikut: 1. Hukum Kekekalan Bilangan (6 – 7 tahun) Anak yang telah memahami hukum kekekalan bilangan akan mengerti bahwa banyaknya suatu benda-benda akan tetap meskipun letaknya berbeda-beda atau diubah letaknya. Anak yang sudah memahami hukum kekekalan bilangan sudah siap untuk menerima pelajaran konsep bilangan dan operasinya. Sementara itu, anak yang belum memahami hukum kekekalan bilangan baginya belum waktunya mendapatkan

65

pelajaran operasi penjumlahan dan operasi hitung lainnya. Hukum kekekalan bilangan biasanya dipahami anak pada usia 6 – 7 tahun. 2. Hukum Kekekalan Materi ( 7 – 8 tahun) Anak yang sudah memahami hukum kekekalan materi atau zat akan mengatakan bahwa materi atau zat akan tetap sama banyaknya meskipun diubah bentuknya atau dipindah tempatnya. Sedangkan anak yang belum memahami hukum kekekalan materi akan mengatakan, bahwa air pada dua mangkok yang berbeda besarnya menjadi tidak sama, meskipun anak tersebut tahu bahwa air itu dituangkan dari dua bejana yang sama besar dan sama banyaknya. Anak yang belum memahami hukum kekekalan materi belum dapat melihat persamaan atau perbedaan dari satu sudut pandang saja. Contohnya, anak yang sudah dapat membedakan bilangan ganjil dan genap, bilangan kelipatan 3 dan bukan kelipatan 3, dan sebagainya. Masih akan kesulitan jika disuruh menentukan bilangan prima genap, atau bilangan genap kelipatan lima, dan sebagainya. Pada umumnya, anak memahami hukum kekekalan materi pada usia sekitar 7 – 8 tahun. 3. Hukum Kekekalan Panjang (8 - 9 tahun) Anak yang telah memahami hukum kekekalan panjang akan mengatakan bahwa panjang tali akan tetap meskipun tali itu

dilengkungkan. Sedangkan anak yang belum memahami hukum kekekalan panjang akan mengatakan bahwa dua utas tali yang tadinya sama panjang waktu direntangkan, menjadi tidak sama panjang bila yang satunya dilengkungkan sedangkan yang satunya lagi tidak. Anak yang belum memahami hukum kekekalan panjang akan memperoleh kesulitan dalam mempelajari konsep pengukuran, terutama pengukuran panjang benda -

66

benda yang tidak lurus. Hukum kekekalan panjang biasanya dipahami oleh anak pada usia sekitar 8 - 9 tahun. 4. Hukum Kekekalan Luas (8 – 9 tahun) Hukum kakakalan luas biasanya dipahami anak bersamaan dengan hukum kekekalan panjang, yaitu pada usia sekitar 8 - 9 tahun. Anak yang sudah memahami hukum kekekalan luas akan memahami bahwa luas daerah yang ditutupi suatu benda akan tetap sama meskipun letak bendanya diubah. Sedangkan anak yang belum memahami hukum kekekalan luas cenderung mengatakan bahwa luas daerah yang ditutupi 4 persegi kongruen yang diletakkan tersebar (tidak berimpit) lebih luas dari pada daerah yang ditutupi oleh 4 persegi kongruen yang diletakkan berimpitan. Anak yang belum memahami hukum kekekalan luas akan kesulitan belajar luasan suatu daerah. Misalnya, dalam menemukan rumus luas jajarangenjang yang diturunkan dari rumus luas persegi panjan g. 5. Hukum Kekekalan Berat (9 – 10 tahun) Hukum kekekalan berat menyatakan bahwa berat suatu benda akan tetap meskipun bentuk, tempat, dan atau penimbangan benda tersebut berbeda. Pada umumnya anak akan memahami hukum kekekalan berat setelah berusia sekitar 9 – 10 tahun 6. Hukum Kekekalan Isi (14 – 15 tahun) Hukum kekekalan isi menyatakan bahwa jika pada suatu bak atau bejana yang penuh dengan air dimasukan suatu benda, maka air yang ditumpahkan dari bak atau bejana tersebut sama dengan isi benda yang dimasukannya. Pada umumnya anak akan memahami hukum kekekalan isi pada usia sekitar 14 – 15 tahun atau mungkin sebelumnya. Untuk hukum kekekalan isi, karena pada umumnya belum dipahami pada anak SD, maka tidak dibahas lebih lanjut, dalam bahan ajar ini

67

tetapi proses mental. Wertheimer menunjuk pada proses interpretasi dari sensasi obyektif yang kita terima. Dengan konsep ini.F. Konsep pentingnya : phi phenomenon (bergeraknya obyek statis menjadi rangkaian gerakan yang dinamis setelah dimunculkan dalam waktu singkat dan dengan demikian memungkinkan manusia melakukan interpretasi). Proses ini terjadi di otak dan sama sekali bukan proses fisik. Bersama-sama dengan Wolfgang Koehler (1887-1967) dan Kurt Koffka (1887-1941) melakukan eksperimen yang akhirnya menelurkan ide Gestalt. Teori gestalt beroposisi terhadap teori strukturalisme. Tahun 1910 ia mengajar di Univeristy of Frankfurt bersama-sama dengan Koehler dan Koffka yang saat itu sudah menjadi asisten di sana. TEORI GESTALT Tokoh Gestalt Gestalt adalah sebuah teori yang menjelaskan proses persepsi melalui pengorganisasian komponen-komponen sensasi yang memiliki hubungan. Teori gestalt cenderung berupaya mengurangi pembagian sensasi menjadi bagian-bagian kecil. pola.  Max Wertheimer (1880-1943) Belajar pada Kuelpe.  Kurt Lewin (1890-1947) Pandangan Gestalt diaplikasikan dalam field psychology dari Kurt Lewin. 68 . Lewin adalah salah seorang ahli yang sangat kuat menganjurkan pemahaman tentang lapangan psikologis seseorang. seorang tokoh aliran Wuerzburg. ataupun kemiripan menjadi kesatuan. Dengan pernyataan ini ia menentang pendapat Wundt yang menunjuk pada proses fisik sebagai penjelasan phi phenomenon.

yaitu lapangan psikologis tempat individu berada dan bergerak. 2. Pengorganisasian ini mempengaruhi makna yang dibentuk. Penampilan suatu obyek seperti ukuran. Tugas utama psikologi adalah meramalkan perilaku individu berdasarkan semua fakta psikologis yang eksis dalam lapangan psikologisnya pada waktu tertentu . Oleh karena itu kemampuan persepsi ini merupakan fungsi bawaan manusia.    Principle of Objective Set: Organisasi berdasarkan mental set yang sudah terbentuk sebelumnya Principle of Continuity: Organisasi berdasarkan kesinambungan pola Principle of Closure/ Principle of Good Form: bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap. Prinsip dasar Gestalt 1.Konsep utama Lewin adalah Life Space. Lapangan psikologis ini terdiri dari fakta dan obyek psikologis yang bermakna dan menentukan perilaku individu (B=f L). Gerakan individu mencapai tujuan (goal) disebut locomotion. bukan skill yang dipelajari. Interaksi antara individu dan lingkungan disebut sebagai perceptual field.  Principle of Figure and Ground: yaitu menganggap bahwa setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar belakang. yang cenderung dipersepsikan oleh manusia sebagai figure and ground. potongan. Setiap perceptual field memiliki organisasi. Prinsip-prinsip pengorganisasian:  Principle of Proximity: bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertentu.  Principle of Similarity: bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang berada dalam arah yang sama cenderung akan dipersepsi sebagi suatu figure atau bentuk tertentu. warnadan 69 .

Bila figure dan latar bersifat samar-samar. Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons. tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. Oleh karena itu. bahwa perilaku terarah pada tujuan. Pengalaman tilikan (insight). Setelah proses belajar terjadi. terjadi reorganisasi dalam perceptual fieldnya. Dalam proses pembelajaran. hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa.sebagainya membedakan figure dari latar belakang. kebermaknaan unsurunsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah. Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain : a. guru hendaknya menyadari tujuan 70 . Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning). c. makaakan terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figure. b. Aplikasi prinsip Gestalt Proses belajar adalah fenomena kognitif. khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya.  Principle of Isomorphism: Organisasi berdasarkan konteks. seseorang dapat memiliki cara pandang baru terhadap suatu problem. Apabila individu mengalami proses belajar. Contoh: perubahan nada tidak akan merubah persepsi tentang melodi. bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. Perilaku bertujuan (pusposive behavior). Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya.

Transfer dalam Belajar. materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik. individu mampu menerapkannya pada problem sejenis tanpa perlu melalui proses trial-error lagi. Penerapan Prinsip of Good 71 . transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat. Dengan berjalannya waktu. yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. e. Oleh karena itu. Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). jejak ingatan ini akan berubah pula sejalan dengan prinsip-prinsip organisasional terhadap obyek. Menurut pandangan Gestalt. d. guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya. Oleh karena itu. Setelah adanya pengalaman insight. Konsep insight ini adalah fenomena penting dalam belajar.  Memory Hasil persepsi terhadap obyek meninggalkan jejak ingatan. Prinsip ruang hidup (life space). bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada.  Insight Pemecahan masalah secara jitu yang muncul setelah adanya proses pengujian berbagai dugaan/kemungkinan. ditemukan oleh Koehler dalam eksperimen yang sistematis.sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya.

antara lain : 1. Implikasi Gestalt  Pendekatan fenomenologis menjadi salah satu pendekatan yang eksis di psikologi dan dengan pendekatan ini para tokoh Gestalt menunjukkan bahwa studi psikologi dapat mempelajari higher mental process. namun tetap dapat mempertahankan aspek ilmiah dan empirisnya. sosial dan sebagainya 2. berfokus pada higher mental process. 72 .  Pandangan Gestalt menyempurnakan aliran behaviorisme dengan menyumbangkan ide untuk menggali proses belajar kognitif. Adanya perceptual field diinterpretasikan menjadi lapangan kognitif dimana proses-proses mental seperti persepsi. emosional. yang selama ini dihindari karena abstrak. insight. Tokoh: Tolman dan Koehler. fenomena ini juga menjelaskan pengaruh gosip/rumor. Ada beberapa hal yang patut dicatat sebagai implikasi dari aliran Gestalt. Manusia bereaksi dengan lingkungannya secara keseluruhan. Belajar adalah penyesuaian diri dengan lingkungan. Secara sosial. Demonstrasinya mengenai peranan latar belakang dan organisasinya terhadap proses-proses yang diamati secara fenomenal demikian meyakinkan sehingga boleh dikatakan tidak dapat di bantah. tetapi juga secara fisik.dan problem solving beroperasi.Form seringkali muncul dan terbukti secara eksperimental. tidak hanya secara intelektual. Psikologi Gestalt bermula pada lapangan pengamatan (persepsi) dan mencapai sukses yang terbesar juga dalam lapangan ini. Keseluruhan ini memberikan beberapa prinsip belajar yang penting.

Manusia berkembang sebagai keseluruhan sejak dari kecil sampai dewasa. bukan ibarat suatu bejana yang diisi. motivasi memberi dorongan yang mengerakan seluruh organisme. membuat laporan atau membuat sesuatu dengan hasil pemecahan soal itu. 5. 7. sebagai suatu jalan yang mungkin memberi arah pemecahan masalah. Belajar adalah perkembangan kearah diferensiasi ynag lebih luas. demikian pula pengalaman manusia tidak dapat dipersepsi sebagai sesuatu yang terisolasi dari lingkungannya. 3. Belajar sangat menguntungkan untuk kegiatan memecahkan masalah. Mengajukan hipotesa. Jadi harus memahami apa masalahnya dan juga harus dapat merumuskan. Belajar akan berhasil kalau ada tujuan. Mengumpulkan data atau informasi. apabila tercapai kematangan untuk memperoleh insight. 5. Menilai dan mencoba usaha pembuktian hipotesa dengan keteranganketerangan yang diperoleh. 4. 2. Hal ini nampaknya juga relevan dengan konsep teori belajar yang diawali dengan suatu pengamatan. Dengan 73 . Belajar merupakan suatu proses bila seseorang itu aktif. 4. Tidak mungkin ada belajar tanpa ada kemauan untuk belajar. Teori medan ini mengibaratkan pengalaman manusia sebagai lagu atau melodi yang lebih daripada kumpulan not.3. 6. Belajar hanya berhasil. Mengambil kesimpulan. dengan bacaan atau sumber-sumber lain. Dewey ada 5 upaya pemecahannya yakni: 1. Kemudian bagaimana seseorang itu dapat memecahkan masalah menurut J. 8. Belajar memecahkan masalah diperlukan suatu pengamatan secara cermat dan lengkap. Realisasi adanya masalah. lengkap dengan segala aspek-aspeknya.

maka persepsi awal akan keseluruhan objek yang semula masih agak kabur menjadi semakin jelas.dia menerima bea siswa di Colombia. Thorndike (1874-1949) mendapat gelar sarjananya dari Wesleyan University di Connecticut pada tahun 1895. Belajar bukan merupakan penjumalahan (aditif). Mental and social Measurements (1904).kata lain berbeda dengan teori asosiasi maka toeri medan ini melihat makna dari suatu fenomena yang relatif terhadap lingkungannya . Buku-buku yang ditulisnya antara lain Educational Psychology (1903). lambat laun terjadi proses diferensiasi. Thorndike berprofesi sebagai seorang pendidik dan psikolog yang berkebangsaan Amerika. G. namun ia telah membentuk tahapan behaviorisme Rusia dalam versi Amerika. anjing. TEORI THORNDIKE Biografi Edward Lee Thorndike. dan Human Nature and The Social Order (1940). An experimental study of associationprocess in Animal”. sebaliknya belajar mulai dengan mempersepsi keseluruhan. ketika disana. Dan dia menerbitkan suatu buku yang berjudul ―Animal intelligence. Ateacher’s Word Book (1921). kemudian dia tinggal dan mengajar di Colombia sampai pension pada tahun 1940. dia mengikuti kelasnya Williyams James dan merekapun cepat menjadi akrab. dan mendapatkan gelar PhD-nya tahun 1898. dan master dari Hardvard pada tahun 1897. yakni menangkap bagian bagian dan detail suatu objek pengalaman. dan burung. Animal Intelligence (1911). Buku ini yang merupakan hasil penelitian Thorndike terhadap tingkah beberapa jenis hewan seperti kucing. Dengan memahami bagian / detail.Your City (1939). Edward lee thorndike meski secara teknis seorang fungsionalis. Lulus S1 dari Universitas Wesleyen tahun 1895.yang mencerminkan prinsip dasar dari proses belajar yang dianut oleh Thorndike yaitu bahwa dasar dari belajar (learning) tidak laian 74 . S2 dari Harvard tahun 1896 dan meraih gelar doktor di Columbia tahun 1898.

Ia mengasosiasikan suatu masalah tertentu dengan suatu tingkah laku tertentu. Seekor kucing misalnya. Sejak itu. pendidikan dan pengajaran di amerika serikat di dominasi oleh pengaruh dari Thorndike (1874-1949) teori belajar Thorndike di sebut ― Connectionism‖ karena belajar merupakan proses pembentukan koneksi-koneksi antara stimulus dan respon. Berdasarkan pengalaman itulah . Objek penelitian di hadapkan kepada situasi baru yang belum dikenal dan membiarkan objek melakukan berbagai pada aktivitas untuk merespon situasi itu. yang di masukkan dalam kandang yang terkunci akan bergerak. Kalau organisme berada dalam suatu situasi yang mengandung masalah. Thorndike mendasarkan teorinya atas hasil-hasil penelitiannya terhadap tingkah laku beberapa binatang antara lain kucing. dan tingkah laku anak-anak dan orang dewasa. suatu stimulum akan menimbulkan suatu respon tertentu. mencakar dan sebagainya sampai suatu saat secara kebetulan ia menginjak suatu pedal dalam kandang itu sehingga kandang itu terbuka. 75 . pertama kali organisme (Hewan. Teori Edward Lee Thorndike. dalam hal ini objek mencoba berbagai cara bereaksi sehingga menemukan keberhasilan dalam membuat koneksi sesuatu reaksi dengan stimulasinya. Teori ini disebutdengan teori S-R. Pada mulanya. maka pada saat menghadai masalah yang serupa. Orang) belajar dengan cara coba salah (Trial end error). meloncat. dalam teori S-R di katakana bahwa dalam proses belajar. Teori ini sering juga disebut ―Trial and error‖ dlam rangkan menilai respon yang terdapat bagi stimulus tertentu. kucing akan langsung menginjak pedal kalau ia dimasukkan dalam kandag yang sama.sebenaranya adalah asosiasi. berjalan. maka organisme itu akan mengeluarkan serentakan tingkah laku dari kumpulan tingkah laku yang ada padanya untuk memecahkan masalah itu. organisme sudah tahu tingkah laku mana yang harus di keleluarkan nya untuk memecahkan masalah.

T 1. Hal ini berarti (idealnya). Hukum kesiapan (Law of Readiness) : adanya kematangan fisiologis untuk proses belajar tertentu. Jadi.Ciri-ciri belajar dengan trial and error : 1. setelah ia kerjakan. ada aliminasi respon-respon yang gagal atau salah 4. 3. Hukum-hukum yang digunakan Edward L. Hukum latihan (law of exercise). Interpretasi dari hukum ini adalah semakin sering suatu pengetahuan—yang telah terbentuk akibat terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon—dilatih (digunakan). Isi teori ini sangat berorientasi pada fisiologis 2. ada kemajuan reaksi-reaksi mencapai tujuan dari penelitiannya itu. Semakin sering suatu materi pelajaran diulangi maka materi pelajaran tersebut akan semakin kuat tersimpan dalam ingatan (memori). yaitu apabila asosiasi yang terbentuk antara stimulus dan respon diikuti oleh suatu kepuasan maka asosiasi akan semakin meningkat. maka tindakan 76 . Konkretnya adalah sebagai berikut: Misalkan seorang siswa diminta untuk menyelesaikan suatu soal matematika. Hukum akibat (law of effect). yaitu apabila ikatan antara stimulus dan respon lebih sering terjadi. hukum ini menunjukkan prinsip utama belajar adalah pengulangan. suatu tindakan yang diikuti akibat yang menyenangkan. Ada motif pendorong aktivitas 2. misalnya kesiapan belajar membaca. maka kepuasan akan tercapai dan asosiasi akan diperkuat. ternyata jawabannya benar. maka ikatan itu akan terbentuk semakin kuat. maka ia merasa senang/puas dan akibatnya antara soal dan jawabannya yang benar itu akan kuat tersimpan dalam ingatannya. maka ikatan tersebut akan semakin kuat. ada berbagai respon terhadap situasi 3. jika suatu respon yang diberikan oleh seseorang terhadap suatu stimulus adalah benar dan ia mengetahuinya. Hukum ini dapat juga diartikan.

Sedangkan hukuman yang diberikan guru atas pekerjaan siswa (misalnya celaan guru terhadap hasil pekerjaan matematika siswa) menyebakan siswa tidak lagi mengulangi kesalahannya. Sebaliknya. karena di dalam setiap masalah. dan pembagian) yang telah dimiliki siswa. tampak bahwa hukum akibat tersebut ada hubungannya dengan pengaruh ganjaran dan hukuman. haruslah dilatih terus dengan mengerjakan soal-soal yang berikaitan dengan operasi aritmetik. kemapuan melakukan operasi aritmetik (penjumlahan. Namun perlu diingat. ada unsur-unsur dalam masalah itu yang identik dengan unsur-unsur pengetahuan yang telah dimiliki. perkalian. Ganjaran yang diberikan guru kepada pekerjaan siswa (misalnya pujian guru terhadap siswa yang dapat menyelesaikan soal matematika dengan baik) menyebabkan peserta didik ingin terus melakukan kegiatan serupa. Dengan demikian kemampuan mengerjakan operasi aritmetika tersebut menjadi mantap dalam pikiran siswa.tersebut cenderung akan diulangi pada waktu yang lain. maka tindakan tersebut cenderung akan tidak diulangi pada waktu yang lain. bahwa hukuman yang diberikan guru atas pekerjaan siswa justru membuat siswa menjadi malas belajar dan bahkan membenci pelajaran matematika. setiap kemampuan harus dilatih secara efektif dan dikaitkan dengan kemampuan lain. Unsur-unsur yang identik itu saling berasosiasi sehingga memungkinkan masalah yang dihadapi dapat diselesaikan. Misalnya. Konsep ini maksudnya adalah penggunaan pengetahuan yang telah dimiliki siswa untuk menyelesaikan suatu masalah baru. Jadi. Unsur-unsur yang saling berasosiasi itu membentuk satu ikatan sehingga menggambarkan suatu kemampuan. dapat disimpulkan bahwa transfer belajar dapat tercapai dengan sering melakukan latihan. Selanjutnya. Dalam hal ini. Selain hukum-hukum di atas. sering terjadi. Thorndike juga mengemukakan konsep transfer belajar yang disebutnya transfer of training. pengurangan. 77 . suatu tindakan yang diikuti akibat yang tidak menyenangkan.

Beberapa aturan yang dibuat Thorndike berhubungan dengan pengajaran:  Perhatikan situasi peserta didik  Perhatikan respons yang diharapkan dari situasi tersebut  Ciptakan hubungan respons tersebut terjadi dengan sengaja. tahu apa yang hendak diajarkan artinya tahu materi apa yang harus diberikan.  Buat hubungan sedemikian rupa sehingga menghasilkan perbuatan nyata dari peserta didik  Bila hendak menciptakan hubungan tertentu jangan membuat hubunganhubungan lain yang sejenis  Ciptakan suasana belajar sedemikian rupa sehingga dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari 78 . Mengajar bukanlah mengharapkan murid tahu apa yang diajarkan. Situasi-situasi yang sama jangan diindahkan sekiranya memutuskan hubungan tersebut. Mengajar yang baik adalah : tahu tujuan pendidikan. respons yang akan diharapkan dan tahu kapan ―hadiah‖ selayaknya diberikan kepada peserta didik. jangan mengharapkan hubungan dengan sendirinya.Aplikasi teori Thorndike dalam dunia pendidikan dan pengajaran Aplikasi Teori Thorndike dalam dunia pendidikan dan pengajaran Menurut Thorndike praktek pendidikan harus dipelajari secara ilmiah dan praktek pendidikan harus dihubungkan dengan proses belajar.

79 .

9 2034507.. 4-0 4-0 .3 203:3. 202-07.9 5074/0 50702-.. 574808 203/.5 :.8 /.  9.3 503.82-:..30--.25: 20.5..2.3 02-. 2.8.8 /.. 90. 907.25: 203008. 508079.8 .2.3 /0138  /0138 ./  82.7 /.3 5745488 5745488 4 1472./..3 207:5.7 9: 9/.. 203:: 503008.9.7:203 9. .7 5072-.2 9.5 907.3.   .  3..9 .9: 2.3 -.3 . 80 025..3 .3. !074/0 507.3 -.8472.9  02:/.3 :-:3./.3 -.7 0025.3 9.8 /.7: 9. . 9072.3.3 57480/:7 8047. -03/.3 .:./ 503897:9:7.30--.8 43709  43805 43807. 3 /80-:9 :./. 3.5.3..7: . 9073..8 /.947 907803/7 .8 54909 /0/:91 . .-.3 2. .5:3 .7.947  .3. /. 8:.7: 8.-. 5074/0 3 8:/.8.2.25: 203:3. 202:33. /...947 1.5.5.9 :-:3.5./. 2.9 20384.3 39009:.8.35. 80-.: 20342-3... :.. 574808 203897:9:7. /80-:9 5074/0 4507.9: /03. 508079.8./03./.2. :39: 203.33.3 503.3 2:.5.8 1.3.3 :-:3.3.3 .3 503.25: 203:3.3  3.8 90..5. 31472..3 /.3 9.3 503.3 503.8.9: 203:3.3 50304254.3 31472.3 8:/.9.424/.793.3 .9 -0757 42-3.9..8...  .8 1472.:3  !074/0 3 207:5. 2. 5.3.2..38.3 1.7./.3 2. /. /. /./  .3 /03..3 -039: -039: -::7 8../..947 9: 803..3 5480/:7 54909 /0/:91  3...3 / . 203072.3.8.9.047.. /.7.7:203 .947 1.. 2.8 .3  ..  !074/0 4507. 907. .8 /.842.9.3 05.-897. 8:/. 2.7:  8.8./.3 31472.39.9.3 /.35:. .  909. 2039.3 /. / /. /.8 4-0 4-0 9/.3 -.2 80-. .. -. // 90. 31472.. .3 39009:.5 90793 /.. -0757  3.07-. 50347.38:3 203.8 /.3  /.2.3 05.3 203:3. 80503:3.3 -03/.3 02-.3 .5 5074/0 4507. /2 808047./.3.3 897:9:7 2039.424/.3 /03.8.342508 /.. 0257  .7  80 5. 8:/. 31472.7 5.2 897:9:7 2039.3 :-:3./. 3 2.8: .3.7.3 5.3. 8:/.  3./  -0..

8:/ .7:9039. /:.3 :.508:2  !08079.33.424/. 97.50:2 9:5:3 207:5.3 81.  02. 2.2..339009:.8  !0789../3. 574808 ./. 2025:3. 9: :.3.397.. /50.//./.1  !03..3 90.31472..3 8:/.// 9: /-07. 4391 .2897:9:7 4391 .3 574808 5079:2-:.  !03..7 80-0:23..9.9:/503.3 90.3 80/9 -07-0/..3 -039: -039: .3 02-.7:9:0 /. .7:409.947-07:9 . -039: 97.3 207:5....8-. 503897:9:7.2.3 907.1.7 49.3. // 9: 203079 -.3.. /03./3.508:29. -07.82.3 88902 8.//90780-:9 203.3 /2.9 . /2 40508079.3 4-0-.  3 -07.3 80 025./  3-07.9 /03. /2 /.3 39009:.9:.3 .8  !0702-.3 58448 /. /.79907.2 50302-.3/ /.703.2.9.79508079./.79 907.3 .7.

3.09 507... .3 /9..3 2039.3 2039. 4507.9/.3 -0702-.3 07./: /03.2 57. .3 5079.947 9: .8/.  !. .3 31472.3 574808 . .. 2.8/.-.8 / /.. 1. 0.3.3  .33../.-9. 8092-.  !03092-.9.3 9: 897:9:72039. .  503.3 89.3 /03. 207:5. 5079:. -.2 897:9:7 2039..8 809.3 20.2.7: /..3   09.: 574808.3203.3 /.3.3 0/:.3.3 -0702-.9...9 503.3.3 06:-7.3 47./: /..3.82.5 3/. .3 02-. /47.30-93    . .3 3907.7 808047.3 3/.3/.3203:7:9503.8.943  207:5..5. 0.47./.3828 84. .8 -.8 1472.3 897:9:7 43913.39.3.3.3.9.2.33:3.25.. 9/.7.-0702-.3 18 .3.3447/3.2. 8.7503092-.3 9.3 4.7:8 .3 -07:5.9: . 3907.2.35.:/03.3 / /./2..33. .7 8. .2.2.33.2.  -  %7. 80-.9.950393 -.9: 5074/005074/0-0757. 808047. .3 /.8 /..8 $0-. 50702-.3 -07:5..7.347.424/.902..3./.3 4-0 4-0 / 3:3.8503/.38.  503.3/.

9 .. 907.  $02039. 808047.2 -0.2 ::2 00. 8...3 -.3. .902.9.3  .79039.7  03:7:9 #:801103/   :39: /. .3 43805 -.2.92030792. .3..!74808 503092-..7  03:7:9 5.9: -03/.09 /..3.3.3..3 /8.. 8.3 03/.3.907 .3 -.5. 202.7 2.25.3 -.3 43805 2.9 203.3 ./..3.3.3  /.3. /.3. 9:  .3.3 203079 -. 03.3 -. 2025:3.5./ . . -. 2.    909... 202. /203079  2.3.2. -07-0/. .. ..3 /. 8:/.7:8-0. 09.  !0702-./.3.5 /.3.2 #:801103/   ..907 90780-:9  . ::2 00..3.2 ::2 00.793.3 . 907.5 2085:3 09.380907:83.2 50702-.3 /80-:9 /03.3..339009:. -03/. /-07. /03.907 90780-:9  4394  2085:3 .5.9..7:8 203..9 507-0/..7 03..3 3 .3 2:/.8.3.2 9. /.3.5 :39: 203072.3. ...3.5 203072.9: /. 2.3.9. :39: 203072../.9072.  0.3.3-.3 ::2 00.7.308:9. ./.3 4507../ /.3.-07:9  ::200. 2.7:8 8:/.3...3 2.. 90747..3   ..3  909.8.83.9. -07:2:7  9.: 503.5 -:97 -:97 9: 907/.7. 203/.. 574808 503092-.3 90.902.3 .9:3.: 439. 50.3 /./.2 ::2 00.3 9/. .907 2. /.3/50.3 5.3 /..3 203/.9 2039:3 ./. .: /:-.3 909. -0:2 .:3 8:/.3.3 8:/.3 20.72438  ..7.5 39009:.902.9.. . 8. 84. -0/. .3 /50.7 3:3.20.39: 4.3. .7  8.7..3 8:/.3 8:/..3 :.5.3.  3.3 -.5.:3  3.902. 8:....3.3  80-.3 -0.9. -0:2 203079-.3  507-0/..5.3 -0:2 202..7 .3 .3  9.3. 5.5 /.9.38.703.

3.3-.3 .50..3.3 05.3 .7 /..  ::2 00.2.3 03.3 -0:2 202.3.93.  3.3 -.380-.5 8.3 5.9.3.3 /. 9: /03:3..3/.3. 5.9.9.3 .3.380-.3 .3 90. -039:3.3 ..3.9 . 5.3  $0/..8 9:3 .3.3 4507.2 ::2 00.3. /.3 -.33..: /53/.. .3.73.9 5078.2./.3 -.3 909.  !./5.: -.3 /..7 /:.907..907 -0:2 /.3 -. /:.3 ..2.3 203..3.. :9.3!.3..3 2. . /:.3... :2:23. /.303. 8.2. .3 8.3/.3.2 ::2 00. :8. . /03:3.:3  3. -08. 9....3. 503::7. .3 2.9: 8:/:9 5. .3-:. -.8 9. .3..3 8:/.3 -0:2 202.9.907 ./ 9/.: -.3 -03/.   .2 ::2 00.  3.2.2::2 00.  .3.2.5. .3 8.3 -. .3  9....3 . .7 8.:8./3.3 20250740 08:9.. 2.  43943.: .3..  2085:3 . 202.3 8.3. .8 503:2.3 9.3 5.907.3 2.75.3 .9.3 4507.3.505.3.3.3 203.3 203..9.3.5  .3.3 8:/.3 ..8 .7 43805 503::7.3  203.7.3 -07-0/. -0.:3  3. 203.3 /.7 9: /9:. 2085:3 /:-.2. 8.7 9..:3   ::200.3 -0:2 202.3 5. 5.9 202-0/.3 /.3.3 /.3 -.2. ./.3 8..3... 8.3 2..3.3. 809.5 2085:3 9. 90780-:9 9.907 5. 03.3 9. 2. 202.3.-.5.3.9:3. .9: /7039.3 80/.3 08:9.: 507-0/.38. -08.34 .. .3 203.5.3..3 5.9.305...3 572.9..9 . /8:7: 203039:.9 20.3  907:9.3 909..907  9...3 -.5 -.3 .:3   ::200..  ..2.3. 9/..: .3-.2 ::2 00.2 ::2 00.3../.9:3.32.9.  $0/./..9. 202. 9025.2 ::2 00..9.3 /. .3 -0:2 202.9../ 9/.8.2 20250.

3.8. .3 /03.. 9/.8.3.38  9.9: -03/.7 5.3 /09.33./5.  $0/. -07.:7:8 ::200.3. . 90780-:9 8./.:3   ::200.3.-0:2 /5.3 909.3 8 -03/.8 /../. ..3 /9:9:5 40  50780 437:03 . -078..9  /.  8.3 -..:2:23.7    9.9.:8.. .2..3   ::200.3 503: /03.3 ::2 00.73   ...3 .2. .  &39: ::2 00.3.2 20302:.9   9.3 8 203..3 -0:2 202..8 /.. /5.: -0.:3  ::2 00.07.8  9.03/07:3 203.2 ::2 00.3 8:. .8 . :2:23...9..9: -03/.3-.3.3 202.3..3 . .8..240 .38 .7 -.3  3..8 .7 9.7    9.2-.9 203..: 2:33 80-0:23.2 ..3.3/9:7:3.3 :.3 -03/.07.7 :.7 /2. .7 9/..:3 .3 909......:3  ::200.2 ::2 00. .3 /9:9:5  50780 437:03 . . .7  9./...9. 2085:3 09.3 :.. 809.3 8 5.3 /... ..2 ::2 00.3.9.2 ::2 00..39/.3.8:..25../-. -07259  0- :.2.-03/./.5... :8..9.:3  ::2 .9 8090.. .3  . /03.9: -03/.-07:8. 5./. /.:3  3.9:/.3.: 5032-.8 /.3/. 202... !.  !./.3 8:/....809.2 ::2 00.35.8:. :.9: -.3:../..: -0.3:9 /.8507805.07. .$  2.3 90780-. /:-.3 -0.3.3 :.3.3 -0:2 202.3 08:9. .3 /09.303.3 -.5 8.8.3 202. . 90780-:9 -07-0/.3.3 -07259.07.8 . :. .. :8.3 -07.3 /2.9./.3..3 202.2 -.5.3 :.3.3 8:.3 5.3 /9:9:5 8:.3 /9:25. -03/..77:2:8:.3 .:3  ::2 00.9..9: 5.  /..703.307...3 -. :2:23.7. 809./.3 -07.9 8:.  2.80-.5 2085:3 -039:  9025.3.8 -..809.7 . 8:.3.37:2:8 :.3.

3 4254303 4254303 8038.:.8.3  %047 089. 8.3:7.3 43805 3  0790207 203:3: 5.3 203.9 :.28 8090.3 8.   20.9072.2.3203:3:5..820  %047 089.73. /03.8 203.5748081880-.3 202 :-:3.3 07.31:79 -078.9:.7 8038.:3   .3 503/.7 5.9.38.5030.3 .  5 503420343 -0707. /03..7:7903  03 ..3 /./.98 203./ 08.210/58.44/.3.:..2.5. 80-:. 9047 ./.3 9039.38../.3 /03..  .3:79411.3 :07-:7  078.2.: 50347.9 203..3 574808 5078058 20.8. 8047.0790207    0.3 502.7 / &3. 2030:7.3 .-:.  03.9 -0745488 907..3 /3.9 /.88903/8.35503420343  O :7903    !.9: 83.3 502-.9  089.80.5574808 2039..3202:33./.8  03.3 08507203 .9 9: 8:/. 203. 203039.3/.3 -./.339075709.7.3.9 . !748083907.9 :3/9.2.  43805 503933./.3 /0 089.30..9/.2 ..3 4007 /.3.3/.9  %.33 . 203:7.3089.32.  O .3.3.3:8. /2:3.3 2030.8 ./.9..341.:5:3 0275.2./-.84-091. 574808 39075709.3    ..3 411. .8.38038. 4-0 89.8.20.35073./.34007   /.5. % #$%% %44089.2.3.5.9 .203.3 .5 9047 897:9:7.0789 41 7. 8.8 /..3/02.3 944 ..39.. .03/07:3 -07:5.3 8.3  54. 8. :050  8047..3.//49.358448808047.3 574808 18 909.:./ 7.

 O !73.8.10/  $09.3/ 74:3/  0 .3 -072.: 3/.3584483907/7/.504148:70. .8.3584489025.3 /.43805:9.:5:37:.9:-039:9079039:  O !73.3 584483.50414393:9 7. . /.38.8.38.38.3 /80-:980-.7.3 802:.3..8 -07/.907-039:80-0:23.7.5507.38.7 !0347.3 3:3.7.3/.71.3-0707. 9: 02. 5844 .. 80-..2.354.5.8.2.2.8-07/.5./:203.0 .507.34-0 58448 .3/5.2./.3.2.9.03/07:3/5078058.: 3/.059:.8. 1. /80-:94.8:. O !73.. 809 .2.3/-039:     !7385 5738550347.3503./.38.9.3.03/07:3.2 ./..8./. .3 2.39...9 3/.3 088 /.3.3 4./: /.33202503.3 203039:.2.3 80-.3/507805880-..3:8.10$5. 5.9.79 -...9   3907.3 507./.3083.3 -07.3 1:38 -. :38:7 :38:7 -/.703.:-039:9079039:  O !73.9.3 .5./: 1   %:..7.3 -.9: 1:70.3 2039..3:8./:-07. 1:70 ./.3 8.8.9./: -07/.9.3 503.3 O !73..  -:. 58448 ..8.3 8:/.10/20247.33/.3 /50.8 .3..38.2-/.03.9: 9079039:  07.2-:3.9:2.8 :9.0 $09 7.3 507.9. :38:7 :38:7 ..7:2...9:.3/.3 -07/0.7.3..5.50 41 $2./...50 41 -0.059:. 207.3 5078058 3 207:5./..50 41 !7429 -.3 8 .3 40 2.7089.9::..424943  !7385/.3.25:.

38:.5 -.3 503.9./.504144/472-.2.2.3 2038 04843.9: 1:70 -039:  /.9.50 41 :70 .3 .3 8:. /:..47.73.9.. .25.9 /-.3.5.9.5 -/.9: 203.03/07:3 .3 9/..3. 809.3 .9: 54.3 54943.7 -0.: 503.!73.03.9:4-0805079::7. 4-0 ..5  O !73.3/ 74:3/ .3 .3   .3 !03.3 /.

 1:70 /.:  .7.3  ..7 907.: -:.3 .3..25:.  :8:83.7  2.3.9 !74808 -0.9 50393 /.9... .  .8 2.3204/  O !73..7 8.3 /50. 3/...  !03..3 50302-.9: :7:03/.  .3.91 5020. 5.187... 9/.9 202 .3:38:7 :38:7 . 508079.3   ....3.. 10/3.3 9.703..3 1:70 /./03.9073.343908  5.3 1:70  4394 507:-.3 8:.3.504184247582 7.47  -..3 2.331:0. !74808 502-0./.2.5.7..: -079::. /..5.3 .333/.3 389  -./.3 -07.9: 02. 3 8.857385089.39..25:.-:7./  808047..7 /.28:.-.3:38:7 :38:7/..7.7.3 ..0907.8. 507.3/03.2574808502-0..3.333/..8.3  !07..2 0./.3 0.7: 907. /.3 .2 /0391.3 502-039:..33. :-:3.9/. .3 2.3.059:.  -  !02-0.7  907./: 203..38.9 :-:3.3.3 01091 .3/. 50780589039.3 2020.7 -0.3 50393 /.-.3 .  !07.9...3 207:-.9: 574-02  5.33./.9.2 574808 -0.80-.3 48 /03.0 -0.2.3 5:8548..3-072.3 /.8.9:4-0. 508079.9: ./.. 9::.3 /.8 /.3 907...39::.. 907. 202-0/.3 503.  0.2 574808 502-0..7.:50789. 0907.3 574808 0/:5.3 907.38.89047089.3 9. 202 2. 5.3 3.9 .79::.3. .2 574808 502-0.8 2.3.2 507.39..3. // 03/.8 /. .3.3 .7 .3..9 8.5.3  .3 20303.7.3 203:3.2.733 0-072.2 507.3.3 507.3 ./ 0.9: :38:7 .3 . ..: 907.7..7 -0781..3 -. 574808 -0.  $090.5.. 4391  5.5 8:.7.203.9.3 /50...33. // 202 02./ .7 508079. 9::.3.3./ 7047./..3  03/..3 892::8 7085438  909.3 5020.9.7. 20.7.3 9.8-07/. 9..9. 1034203.9.3 .3 0. // 20303.7 .3 01091 808:.7  ..

 0 ..3  0 .8/.2 9..7..33.907 .3 203:8:3 09039:. // 90.-.80-.703.3 2. 57385 57385 544 /. .9 97.9..8 .303/.8..8 503.8.8 502-0.8 .8 /..7 8:.3 09039:.703.3 503079.3 -07-.: 3/.3 57385 57385 544 . 80.39079039:089:.3 /03..3.3.2 202.8.3 907. 9:  2.7.3. 574808 503:. 503./ /03.3 3:3.39: 508079.3. 9: .5..507. /..//  0  %7.9..8.3 /.343/8 3:3.3 203025. 508079.9: 431:7.7 8:...3508079.3 02:/.7 .7.3 /.3 2:3.3 /:5 10 85.29::.9  :// 2030.3 2.3 /.5.8.7. /:.289:./ .9..3 0307..3 /.9..:/.2020907.9. // :39: 203:.907 .3 4-0 /.3 .3/.2 2020.7 907.38107 -0.39: 508079.3 :2:2 0307.8 /.8 :39: 02:/./.5.  /  !7385 7:.3..3.20..7..3 /2..9 202-. .: 8090.3.389:.8..3 202-.7..3 905.  O 389 !020.38107 -0..3..2 502-0...30/:5.3/.0  -./: 202 0907. .38107/. -07..8.3 503933.3 20302:.2 89:.2 89:...9.9:5023/. .8 9079039: :39: 02:/.2 89:.7.3 /./..3/03. 507. 203.3.3 /:3.7.354.3 /.3 03:7:95..7 2.8 431:7.9: 50784.3 2005. 54.. 9:  :7: 03/.. 8:8:3.. // /..3 .8  %7.3 /.5 57385 57385 544 /.33. /..3089.3 :.

. 3.3 57385 5738547. 80.7 /902:..507: 20.3 -07.02:33.1034203.35. 438053893.907.3  $090.208507203.5.3!73854144/   . 5:.843. 3.3404007/.25:20307..9.574-02800389./:2.98  O 0247 .3  03./...5. 07747.5. .33.38.9.8 5078058 907.2. .9:  0..5 4-0 2033./.2-0.3 389 3/.54-0 !0307./.3 0.3 /03./.3 -07:-. 503.3 3 ../.388902..3..50393 /.:57480897.33.

7.: /..2030..3 907-:9 80. 085072039.472 8073.3:.3503.7.7:485.  1034203. 2:3.848.8. $0.

3 47.9 O !03/0..  848.3   .3.  O !..3    .3 203.9 2025079.33:3. 8:808 .5.7. 18  024843.3.9.3 . 07 2039.5. 20303.25.3025783.3.3 503/0..3. 80..57385-0.7.50308:.38.059:.. /.7.. 3 /3/.3..3 80-.3 .9 203:3:./. 89:/ 5844 /.. 574.7.9.5.9  25. -40 /. -070.. /.3/.2.3.9 203025:73.5 :..3. /. 10/ /39075709.. 5.3 ..3 3:3.5. .7 :.8.8089. .3 /03.3 5078058  /.9: 503/0.3089.7.088  .3 1034203448 203.7:247  /.3.7.3 9/. 39009:.9 -072:. 80.3 3  0243897.980-.8 %44%42.39.3.3 20.-897. 944 089. /02..3 4391 /2.9 20250.5.3/.8/.2.3 3 5.9.3 203.3  9/./.3 /0 :39: 203. 574808 574808 2039. 507.3 80.2.350393 .  909.3 /.3574-0284./ .5 574808 574808 .7./.-0-07..9.39.. 1034203..33202-07.7. 507.3-0-07.9:9/.9..5.8 /03.35.9/-.3-074507./.3 803.   0.3:8.3 -0.5.9.3 203:2-.907.83.7 -0. 8.3/7/03..3..9 80.5 /. 80.8502.7 4391  -0714:8 5./ 8.3.   080:7:.2 .3.  3..3 089.3 -.703.33.3 . 080:7:..7 .5..7 07 2039.5. .3 907-08.47820 /03.3 088 / 5844 /.3 503.3 /.9. .7.83.2:3 909. 574.7.088  /.7.. 805079 5078058  389 /./..34007  !844 089. 574808 -0.

30.9: /03.3 ./.3.35.3.5/03.9:.7.2- 0825:.7  249.3   #0.8  .380.7:8202..9..3 2.9: 503.390784.3.3. .3 /03.7. 2:33 .3 ../.5..9..-0702-.98:.3 /.3 0- /.9. :.9/507805880-.3 80. .380-.5.7:8/.9207:2:8.3 2...808:.9..7 .: ..3:8.: 31472.25.3 43805 9047 -0.3 2../.384.  ...9::.7.3 /.3 -.32././.70./.2.3  0.3 8:.3820    0. -0.3 54908.8..8.3 .8./.3/50740    03.547. .8. 5020.9.850 .. 8:.7.8.9.3 03.9 /.3 .7 9.3    03.. 700.072.73:3.2.3.3.9../.9: -0.3 54908.3 :39: 20250740 389    %/.808047.3-.5.3 203.8.39:.8503.9 2020.3 3 203-.3 :39: -0..3.3 0907.-.25..32.3./107038../0./. 03.3.9 203:39:3..3:..380:7:47...203:7:9 00..8 202-07/4743.9: 503.85020..: 202-:.  03.7..3/8   0. 907.: 8:2-07 8:2-07 ..9: ..33.2.9..3 2..9 808:.3...9.3 9: /.3 0907.3 8:./.83.. 808047.3. /507:.7. 502-:9.75. ...  80-.5  02:/. -07.7 2020.9 . 503.:.7 .7.3:8.: 204/ ...38:.8  /03.3    03.3 2:33 202-07 ....3-07.3.8.5..5..3 2020.3   .5..3  202-:.8.8. 3 3. /03. :25:.2.:5.. :8.3 -.91 -:. 02.    0. 9/.320307.3 503....3:39: 0.2.9:574808-.78. 02.8.50702-.9:  %047 20/.8.3 5:..4-. 80-.080:7:. ./.0-:.3.3:8.33.3 349  /02.380.    03:25:.2.8    0.5020.. /03. /..2.:.3    0. . ..7207:5..9.8/.2..:...

/03.8 2.33.39047.3.3  ...9:4-0503.91907...3 203.9 2.33 20...2 -../ 574808 /107038.3 .7-:.3 503:2.  0../91 80-..3.3 .3/09...9:1034203. /03. -0.3 03.3202../..8:.848.9.3-07-0/.:3 907./.7 8:.53:3.370.5-.8  .3 207:5.2-.3/.2.7 2:.3..3 2025078058 080:7:.940720/.9 .3-.

9038 8047.28 .3 /. 88..3 802:... -0.2 .7/ 5./.31:3843. /8./.733  9/.44    039./. 39003...9:70. 9..3203. 203072...7 /.33  /.30.7.3 /9:83.3/ 84.07 8 47/ 44  4:79  /.5. 7/07   /..1/..3805079:.8907 /.8.38. / 442-.9 203. 0.7080.:3   /.7/4947/4:2-. !8.  %473/0    203/.9./. 5078058 .7.7.9.3 0. /.. /.593.088 3 32..-:7203.0  3 05072039. .0723.05.208 /.:3   09.3/%0$4.8   % #% # 47.0380.8  3.3 203.90. 9.7/00%473/0  %473/0 -07574108 80-.7 .9: -.9: -:: . ::8$/.  /.3 8:.39.8080039.884.7 /.3 080:7:.- /..:3  .5038435.-0-07.0.7 ! 3.7/442-.850309.3207./. 39003.3:2.3 /:.078 207.78.7 -0.3/.3.3 5844 .7 . .5:3 .3.3 503// /.3 -0.:3 :: -:: ..3 2.9..7/.3%473/0907.5. 20307-9./802.93.0   90. 202-039: 9.3 207:5.. /09.:9 5.7/9.3 .0789.3 203/.3 4-0 .3 -070-.7 .5. 90.9./ . .8:7020398    32. .  :: 3 .5.47820 #:8..8 ./.7 0.7 574808 -0.7.0789/4330.3 57385 /. 89:/ 41 ...8.  /.3207.943.7..3. 8047.25.3 2070.943574..7/ 009473/0 20880.8.3  .3:9 40 %473/0 .83.3 -07:/: 32. 9.:3/.3 -:7:3 . 203:9 0.:3   02:/.. 2.. ..3 /.3   .7&3.:3 $/.3.  2.2:3. .3 &3.

/.5 93.  $0..3 / . 9:  07/..:.3/...3 93.3 93.3 0-07.8. 9079039: /03.3.8. 0-09:. -07-....3 503.7 207:5. 8:. %7.8.3 203. 2033.33..  47. ..2 9047 $ # / .89:./2...7.  . 708543 ..5.3..3.3-07-. -3.50/. -..  503//.9.305.3-0:2/03./.7:8 / 00:.7: /.3.. /80-:9 %7. -0...7.3 9:..8 .3 .5.7...7.9  203. :39: 2020.3 /. ..9 203.3.3 3.8 . 3 4-0 203.80-03.3 2..3./.8 40 503.2.7 %473/0    9047 -0.4-.3 503.    ..8.3 28.2 .2 8:. 03/ 07747  .848..3708543 %047 38073 :. -070. 8:.. 9.3 .2 ...9 -.3 807:5.3 -0707.. .7.34-020.3 47.:.9. .3.3. 5. . .3 8:.3 202-.38.3 203.7/00%473/0  !.25./.9: 892::2 .  2.848. 203. .3/.3 ./.: 2.2. .2 . . 8..7./.8/03.3/.: 47.7 :25:.9: 89:. .7/03.3 .7.3 -0.39.3 2032-:.3 2.8 .3807039.3.3 ..3 907/. . 9:  :.5..703.9...393.  . 2.3  /.8:.94308808:.2.3 90473.32030:.9.8  8:.3 907:3.38209:..3 .3/ 07747  /.9 / /423.8-. .9: 2. .: 93..8./. /.3/.: -0-07.7.  -07.. .7 /.3 8:.38:3 2033.3 / 2.89:  /. 892::8 9079039:  %473/0 203/..9 80..83.3/:32.2202-:.: .3820 8:/.8 803./.47.3/.2574808-0.8:. /...2.47.2 7.7:.3  2043. /.3. 8.: 9079039:  $0047 :.7.9: 93.8. /./.3./. ..  %047/.7.3  7..7 %473/0 / 80-:9  4330..207..././..3 9: 907-:.7 5079.: .9: 708543 9079039:  %047 3 /80-:9/03.9: 50/..3/.3820 -07.4-. 2:.3 9047 $ #  /.  -050309.9. 907..3 4308 4308 . :39: 2020. 8.9:70.94382  ..8. 20302:.: /.3 80-.3820 0.3 574808 502-039:.8:39:2070854389:.7.3 8:. 5.3 9: 803.9: 8..807.3/.8.5.3 .8. 2.3 /0.3892:. .7.39..3 :.8. . . 892::8/..8 50309.3 /..

9 437093.9.848.8.39. .33.3 8:. 41 #0.9-0747039.:.8.3 708543 /:9 40 8:.7.  8090.7..-..7-0./ 2..3 /507:.18448   ::2 .3 18448 :39: 574808 -0..9: 50309..3708543 /.3 :.8.9  .8 .2.3802.8 70.9:708543 .39:./.-03..05:.3...23. 2.8708543 708543. 07.3..3 :.79 /0.7..3907.3.3.5.3 :.2 3.9 907.3 802.9.207.. 8 904738.3.39.3 /-07.9: 05:. ..9:  ::2 ::2.3.9: 892::8 .9 907825.3 8073 8:.:8.-07-. 802./../. 892::8 /./.9.3...5 8:.7 .5.848.85./.9: 84.79079039:  28./.3 802.3  $02.3 .20309.803.3 90780-:9 ././3088   . 41 0110...38047..388.3 ...3  2.848.7.907 50.5.3.:3.8 ./.3 20247    ::2 ..9. .3 90.9.902..-.32033.3..8.33.3 -0.80  . . 892::8 /.37085430-8073907.8   .8:. /239..9::.. .9..7/03.-07:98.7 /.3 907-039: . 2.3/:3.7 202-.   ..9 .../. 907-039: .3/07747   /.-.3 907..8 .8203.7 .5.8   ..-. 2.:.3..7 2.9..-...9 /:3.3 8073 8:.02.3 /..8 /./  ::2 3 203:3:.3/.9 .907 50./..9.9.. .7..7 ::2 3 .9: 2./3. 41 007.3.3 90780-:9 . 503:.848.9.9:. -03.9  39075709.3 /:..3907-039:802.2491503/4743.892::8 /.3 57385 :9..80-.5. 08.9. -0..370.3 40 808047.589:./.708543907.3-07.3 9073.9  .3.39.3 2.750309..7/ %   ::2 08./. 02.397.. :39: 203008.9: .3/..3 2.5.3 .

79.. 84.3 /:9 .3 .3  2.3 .9 :.3 :. .9 .8/. .2 3.33.33. /.3 /.  ::2 3 /...3 .3  8:..9 907825.5:.93. /.9: 93/.7 9: .9.7.3 -03.3.-. 93/..5.-..3   .3 20303.39.-.

 /03.:-:3.8 .7 .9 /8008..3 -..902.8 5007. .3 8:.3  $0-..8.7: .3 02. 28.2-.38107 -0.3 20.203. /2 88.2:3507: /3..3 ./.  .5...9. /.9/. .390780-:9.3 90.3 /-07. .9.9: 93/.3 .5 02.9. /03.3 -. 20302:..848.  $0/.35.9 /825:.3202-03.3.9.7 /. .-...3 ::2 ::2 / ..3.9:.3 4507..-.902.9./.3  .3.5 2./03.3 /03..../ 2.8 9: 202-039:8.03/07:3.:.9 907:8 /03.3     ./ 2./.3 5..2 2.25:.. 9: .3 08.50.9 .3803..8 -0.3 /.7. 20303.../.5 /.8  %473/0 :.3 :38:7 :38:7 50309.3 .3 43805 97.  809.5 88.8803.3 /039 /03.9.3 502-.9:. /2 88.3 /80-:93.7./.  $0.25:.3 /.34507.7.3 9/..-.3 9./.2.:. / /. ..3 .3 4507.. 5:. :897: 202-:.3 503.. 203.3 50309. ::2.3.3.3 90...9.3.  ./.5.32.9:02.25:.3  503:7.3 .3/02.25..5:..3 807:5.3/0399:8.3 -07.. ./:.3.3  507..3 :7: .5.9 80.703. 88.:.8 .38:.7/. 2.39.. 97.3 84.9 203008.3 88.3 /:.8 5007.7:  .3 ::2.3 -.2 57.8.3 -07. -.9.5 .  2030-.3 /:9 .3 :7: .3 /-07.848.:..5.202:33.8:/3. 5007..  .3  8.9907.33  43805 3 2.3 84. 97. 93/.9: .3.3 /.3 88.9. 01091 /.38107 41 97.3.388.902.7.9.33....3 508079.5 /.32.5.3 .3 :7: 05.3:93.3 88.  .3 ::2.33. 503:3.3  &38:7 :38:7 ..-.  2030-...79209 503:2.3  .8.38107 -0.::2.3 /. .79209 03./  /..3 .3 :7: 907.39/.3 8.3  /.3  2.8.7:8.3  .  8:./.3 ./  -.7:8 /.3 /03. /2  &38:7 :38:7.2 809.3 2.990780-:9.9.9 88.3 20307.8.3 . // 33 907:8 20.9  8073 907.:.302.25:.3-07.8 5007..0..3 0.03/07:3 .. 203:. 84.3807320.3 /-07. 28.3 20307.7. :38:7 :38:7 /.3.3 88./.3 90.3 :7: 907..79209..  02.90780-:9 .3 $0.3.90780-:9 203. :39: 203008.9: 2.

3 /3/.5.7  03.3 03:7:9%473/057.3.3..9.5.5.3 .3 .3/.3 503.3 .5.3 03.5... .380.3  7085438 ..59.3 5...780.3/-:.7.7.3 807.: .8 ./.: .3./.3 /03.8508079.2./ /03.7        .3  !07.3503... 203.:.. 803.. 203..3/.20/:5.9 /:3.3. /.3 /.3.5.9.380038  59.9%473/0-07:-:3.3 8:.7508079.3 /.5.3 .389:.3 9079039: .5.3 /.3.7:8 /-07.  .7.//  !07.7:8 /:-:3.3 7:5..3.7..3 203.37085438.: 9::..3 7085438 90780-:9 :-:3.3.3.//  0-07.5. 03/. 9.9.3 8.3 803.7.9.3 574808 -0.7 ..3 907..508079.8.9. -0....7.8 %047 %473/0 /..3/03. 803.3.: 2.390780-:9   :.9:7.789:.793..3 2:7/9. 202:9:8.3 3.3/..3 80/02. .5.3 03/..7 -:.3 507-:.3. .3503//.5.3 :-:3.3 :-:3.2/:3.2 /:3.3 /.90503//.7.3503.3 9.9 :-:3. /.503//. 503//.90 503//.3 /03..7 .//  .3 /..9 :-:3.3 7:5.7:8/50.  $9:./.7.7.3 :-:3./-07.3 9. /.3 803/73./.357.890780-:9  59.  80.3 -.8 89:. 203.7 80/02.8.907.305.3 202-:. .89047%473/0/.3 .3 :-:3.7.2.

             .