TEORI-TEORI BELAJAR

A.

Teori Ausubel Teori pembelajaran Ausabel merupakan salah satu dari sekian banyaknya teori pembelajaran yang menjadi dasar dalam cooperative learning. David Ausubel adalah seorang ahli psikologi pendidikan. Menurut Ausubel, belajar dapat diklasifikasikan kedalam dua dimensi. Dimensi pertama berhubungan dengan cara informasi atau materi pelajaran itu disajikan kepada siswa melalui penerimaan atau penemuan. Belajar penerimaan yaitu yang menyajikan informasi tersebut dalam bentuk final, sedangkan belajar penemuan yaitu yang mengharuskan siswa untuk menemukan sendiri atau keseluruhan materi yang dipelajari.Selanjutnya dimensi kedua menyangkut bagaimana siswa dapat mengaitkan informasi itu pada struktur kognitif yang telah ada. Jika siswa hanya mencoba menghafalkan informasi baru itu tanpa menghubungkan dengan struktur kognitifnya, maka terjadilah belajar dengan hafalan. Sebaliknya jika siswa menghubungkan atau mengaitkan informasi baru itu dengan struktur kognitifnya maka yang terjadi adalah belajar bermakna. Jadi belajar bermakna terjadi bila pelajar mencoba menghubungkan fenomena baru dengan konsep yang telah ada sebelumnya. Artinya, bahan subjek itu mesti sesuai dengan keterampilan siswa dan mesti relevan dengan struktur kognitif yang dimiliki siswa. Oleh karena itu, subjek mesti dikaitkan dengan konsep-konsep yang sudah dimiliki para siswa, sehingga konsep-konsep baru tersebut benarbenar terserap olehnya. Dengan demikian, faktor intelektual-emosional siswa terlibat dalam kegiatan pembelajaran. Bila konsep yang cocok dengan fenomena baru itu belum ada, maka informasi baru tersebut harus dipelajari secara menghafal. Belajar menghafal ini perlu bila seseorang memperoleh informasi baru dalam dunia pengetahuan yang sama sekali tidak berhubungan dengan apa yang ia ketahui sebelumnya. Ausubel juga mengemukakan bahwa belajar menerima dan belajar menemukan adalah dua hal yang berbeda. Pada belejar menerima, isi pokok yang

1

akan dipelajari diberikan kepada siswa dalam bentuk catatan, belajar tidak melibatkan penemuan, siswa hanya diminta menghayati materi atau

menyatukannya dalam struktur kognitifnya, sehingga tersedia untuk direproduksi atau untuk penggunaan lainnya di masa mendatang. Sedangkan pada belajar menemukan, isi pokok yang akan dipelajari tidak diberikan, tetapi harus ditemukan oleh siswa, kemudian menghayatinya. Belajar menerima dan menemukan masing – masing dapat merupakan hafalan atau bermakna, tergantung pada situasi terjadinya belajar. Yang jelas bahwa belajar hafalan berbeda dengan belajar bermakna.menghafal sebenarnya mendapat informasi yang terisolasi sedemikian hingga siswa tidak dapat mengaitkan informasi yang diperoleh tersebut kedalam struktur kognitifnya. Dari dua dimensi belajar tersebut, terdapat empat kemungkinan tipe belajar, yaitu: a. Belajar menerima yang bermakna Ini terjadi bila informasi yang telah disusun secara logic disajikan kepada siswa dalam bentuk final. Selanjutnya siswa menghubungkan informasi baru tersebut dengan struktur kognitif yang telah ia miliki. b. Belajar penemuan yang bermakna Ini terjadi bila informasi pokok ditemukan ileh siswa dan kemudian ia menghubungkan informasi baru tersebut dengan struktur kognitif yang dimilikinya. c. Belajar menerima yang hafalan (tidak bermakna) Ini terjadi bila informasi disajikan kepada siswa dalam bentuk final dan kemudian siswa menghafalnya. d. Belajar penemuan yang hafalan (tidak bermakna) Ini terjadi bila informasi pokok ditemukan oleh siswa dan kemudian menghafal pengetahuan baru tersebut.

Inti dari teori Ausubel adalah belajar bermakna yang dianggap palin efisien. Menurut Ausubel pengajaran ekspositori yang baik merupakan satu – satunya cara

2

meningkatkan belajar bermakna, dimana guru yang menyusun topik dan menghubungkannya dengan topik yang bermakna yang telah dipelajari sebelumya. Dua prasyarat untuk belajar menerima yang bermakna, yaitu: 1. Siswa telah memiliki satu himpunan belajar. Artinya kondisi dan sikap telah siap untuk mengerjakan tugas belajar sesuai denga tujuan mereka. Bila siswa melaksanakan tugas belajar dengan sikap bahwa ia ingin memahami bahan pelajaran, mengaplikasikan serta menghubungkannya dengan bahan pelajaran yang dulu, maka dikatakan bahwa siswa tersebut belajr bahan baru dengan cara yang bermakna. Jadi dalam prasyarat ini faktor motivasional memegang peranan penting, sebab siswa tidak akan mengasimilasi materi baru tersebut, bila mereka tidak mempunyai keinginan dan pengetahuan tentang bagaimana melakukannya. 2. Tugas belajar yang diberikan kepada siswa harus sesuai dengan struktur kognitifnya, sehingga siswa dapat mengasimilasi bahan baru tersebut secara bermakna. Belajar bermakna terdahulu merupakan dasar atau penguat untuk belajar baru, sehingga belajar baru dan retensi tidak menjadi belajar hafalan. Ausubel mengembangkan suatu cara yang disebut “ advance organizer” untuk mengorientasikan siswa pada materi yang akan dipelajari dan membantu mereka untuk mengingat kembali informasi – informasi yang berkaitan dan yang dapat digunakan untuk membantu dalam menyatuka informasi – informasi baru yang akan dipelajari. Fungsi dari “ advance organizer” adalah untuk

memberikan scaffolding atau dukungan terhadap informasi baru. Advance organizer dapat dupandang sebagai jembatan konseptual di antara materi baru dengan pengetahuan siswa saat ini.

Suatu organizer membantu untuk meberikan dasar atau scaffolding mental sebelum guru menyajikan abstraksi atau generalisasi dari pelajaran, menjelaskan istilah – istilah kunci, memberikan contoh – contoh spesifik.

3

melainkan ada sesuatu yang dapat dipraktikkan dan dilatihkan dalam situasi nyata dan terlibat dalam pemecahan masalah. b. Pengatur awal (advance organizer) Pengatur awal dapat digunakan untuk membantu mengaitkan konsep yang lama dengan konsep 2. 4 . yang baru yang lebih tinggi maknanya. seseorang belajar dengan mengasosiasikan fenomena. mereka juga diberi kebebasan untuk memecahkan masalah lewat pengetahuan yang mereka dapatkan sendiri. Informasi yang dipelajari secara bermakna mempermudah belajar hal-hal yang mirip walaupun telah terjadi lupa. Caranya unsur yang inklusif diperkenalkan terlebih dahulu kemudian baru lebih mendetail. Hal ini menjadikan pembelajaran akuntansi tidak hanya sebagai konsep-konsep yang perlu dihapal dan diingat hanya pada saat siswa mendapat materi itu saja tetapi juga bagaimana siswa mampu menghubungkan pengetahuan yang baru didapat kemudian dengan konsep yang sudah dimilikinya sehingga terbentuklah kebermaknaan logis. Penekanan dan model cooperative learning sendiri adalah selain siswa mendapat bimbingan langsung dari guru. Informasi yang dipelajari secara bermakna memudahkan proses belajar berikutnya untuk materi pelajaran yang mirip c. Diharapkan model cooperative learning akan dapat mengusir kejenuhan dan kebosanan yang dirasa siswa di kelas karena selama ini hanya mendengarkan materi dari guru saja. Informasi yang dipelajari secara bermakna lebih lama diingat. Langkah – langkah belajar bermakna Ausubel adalah: 1. Menurut Ausubel ada tiga kebaikan dari belajar bermakna yaitu : a. Dengan model cooperative learning materi yang dipelajarinya tidak hanya sekadar menjadi sesuatu yang dihafal dan diingat saja. pengalaman dan fakta-fakta baru ke dalam skemata yang telah dipelajari.Lebih lanjut Ausubel mengemukakan. Diferensiasi Progregsif Dalam pembelajaran bermakna perlu ada pengembangan dan kolaborasi konsep.konsep.

B. kemudian dimasukkan ke dalam kurungan yang disebut ‖problem box‖. Dengan adanya pandangan-pandangan Thorndike yang memberikan sumbangan cukup besar di dunia pendidikan tersebut. Teori tersebut menyatakan bahwa belajar pada hewan dan manusia pada dasarnya berlangsung menurut prinsip yang sama yaitu. Selain itu. Oleh karena itu. bentuk belajar yang paling khas baik pada hewan maupun pada manusia menurutnya adalah “trial and error learning atau selecting and connecting learning” dan berlangsung menurut hukum-hukum tertentu. Dimana konstruksi pintu kurungan tersebut dibuat sedemikian rupa. Asosiasi yang demikian itu disebut ”bond” atau ”connection”. sehingga kalau kucing menyentuh tombol tertentu pintu kurungan akan terbuka dan kucing dapat keluar dan mencapai makanan (daging) yang ditempatkan di luar kurungan itu sebagai hadiah atau daya penarik bagi si kucing yang lapar itu. akan menjadi lebih kuat atau lebih lemah dalam terbentuknya atau hilangnya kebiasaan-kebiasaan. belajar merupakan peristiwa terbentuknya ikatan (asosiasi) antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R) yang diberikan atas stimulus tersebut. sedangkan respon adalah sembarang tingkah laku yang dimunculkan karena adanya perangsang. ia mengemukakan suatu teori belajar yang dikenal dengan teori ―pengaitan‖ (connectionism). teori belajar yang dikemukakan oleh Thorndike ini sering disebut dengan teori belajar koneksionisme atau teori asosiasi. maka ia dinobatkan sebagai salah satu tokoh pelopor dalam psikologi pendidikan. kucing itu melakukan bermacam-macam gerakan yang kurang relevan 5 . Thorndike (1874-1949) adalah salah seorang penganut paham psikologi tingkah-laku. Berdasarkan hasil percobaannya di laboratorium yang menggunakan beberapa jenis hewan. Pada usaha (trial) yang pertama. Teori Thorndike Edward L. Eksperimennya yang terkenal adalah dengan menggunakan kucing yang masih muda dengan kebiasaan-kebiasaan yang masih belum kaku. dibiarkan lapar. Dalam hal ini. Stimulus adalah suatu perubahan dari lingkungan eksternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme untuk beraksi atau berbuat.

tetapi dia belajar mempertahankan respon-respon yang benar dan menghilangkan atau meninggalkan respon-respon yang salah. yaitu bahwa belajar itu terjadi dengan cara mencoba-coba dan membuat salah. Dengan perkataan lain. (2) Hukum latihan (law of exercise).bagi pemecahan problemnya. sampai kemudian menyentuh tombol dan pintu terbuka. Namun waktu yang dibutuhkan dalam usaha yang pertama ini adalah lama. seperti mencakar. Dalam melaksanakan coba-coba ini. Percobaan tersebut menghasilkan teori “trial and error” atau “selecting and conecting”. pada usaha-usaha (trial) berikutnya dan ternyata waktu yang dibutuhkan untuk memecahkan problem itu makin singkat. Interpretasi dari hukum ini adalah semakin sering suatu pengetahuan—yang 6 . menubruk dan sebagainya. Dengan demikian diketahui bahwa supaya tercapai hubungan antara stimulus dan respons perlu adanya kemampuan untuk memilih respons yang tepat serta melalui usaha–usaha atau percobaanpercobaan (trials) dan kegagalan-kegagalan (error) terlebih dahulu. hukum ini pada intinya menyatakan bahwa belajar akan berhasil apabila peserta didik benar-benar telah siap untuk belajar. Percobaan yang sama seperti itu dilakukan secara berulang-ulang. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya kucing itu sebenarnya tidak mengerti cara membebaskan diri dari kurungan tersebut. Setiap respons menimbulkan stimulus yang baru. Thorndike mengemukakan bahwa terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon ini mengikuti hukum-hukum berikut: (1) Hukum kesiapan (law of readiness). demikian selanjutnya. apabila suatu materi pelajaran diajarkan kepada anak yang belum siap untuk mempelajari materi tersebut maka tidak akan ada hasilnya. kucing tersebut cenderung untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tidak mempunyai hasil. maka ikatan itu akan terbentuk semakin kuat. selanjutnya stimulus baru ini akan menimbulkan respons lagi. yaitu apabila ikatan antara stimulus dan respon lebih sering terjadi.

yaitu apabila asosiasi yang terbentuk antara stimulus dan respon diikuti oleh suatu kepuasan maka asosiasi akan semakin meningkat. maka kepuasan akan tercapai dan asosiasi akan diperkuat. Namun perlu diingat. maka ikatan tersebut akan semakin kuat. Sedangkan hukuman yang diberikan guru atas pekerjaan siswa (misalnya celaan guru terhadap hasil pekerjaan matematika siswa) menyebakan siswa tidak lagi mengulangi kesalahannya. suatu tindakan yang diikuti akibat yang menyenangkan. maka tindakan tersebut cenderung akan diulangi pada waktu yang lain. Hal ini berarti (idealnya). Semakin sering suatu materi pelajaran diulangi maka materi pelajaran tersebut akan semakin kuat tersimpan dalam ingatan (memori). Sebaliknya. Hukum ini dapat juga diartikan. 7 . hukum ini menunjukkan prinsip utama belajar adalah pengulangan. ternyata jawabannya benar. maka tindakan tersebut cenderung akan tidak diulangi pada waktu yang lain. tampak bahwa hukum akibat tersebut ada hubungannya dengan pengaruh ganjaran dan hukuman. suatu tindakan yang diikuti akibat yang tidak menyenangkan. maka ia merasa senang/puas dan akibatnya antara soal dan jawabannya yang benar itu akan kuat tersimpan dalam ingatannya. Dalam hal ini. setelah ia kerjakan. Konkretnya adalah sebagai berikut: Misalkan seorang siswa diminta untuk menyelesaikan suatu soal matematika. (3) Hukum akibat (law of effect). Jadi. Ganjaran yang diberikan guru kepada pekerjaan siswa (misalnya pujian guru terhadap siswa yang dapat menyelesaikan soal matematika dengan baik) menyebabkan peserta didik ingin terus melakukan kegiatan serupa. jika suatu respon yang diberikan oleh seseorang terhadap suatu stimulus adalah benar dan ia mengetahuinya. sering terjadi. bahwa hukuman yang diberikan guru atas pekerjaan siswa justru membuat siswa menjadi malas belajar dan bahkan membenci pelajaran matematika.telah terbentuk akibat terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon—dilatih (digunakan).

Hukum Respon by Analogy 5. 8 . Hukum Reaksi Bereaksi (Multiple Response) 2. respons yang akan diharapkan dan tahu kapan ―hadiah‖ selayaknya diberikan kepada peserta didik. kemampuan melakukan operasi aritmetik (penjumlahan. perkalian. Misalnya. pengurangan. Mengajar yang baik adalah : tahu tujuan pendidikan. Thorndike juga mengemukakan konsep transfer belajar yang disebutnya transfer of training. Hukum Aktivitas Berat Sebelah(Prepotency of Element) 4. Aplikasi Teori Thorndike dalam dunia pendidikan dan pengajaran Menurut Thorndike praktek pendidikan harus dipelajari secara ilmiah dan praktek pendidikan harus dihubungkan dengan proses belajar. dan pembagian) yang telah dimiliki siswa. haruslah dilatih terus dengan mengerjakan soal-soal yang berikaitan dengan operasi aritmetik. Dengan demikian kemampuan mengerjakan operasi aritmetika tersebut menjadi mantap dalam pikiran siswa. Konsep ini maksudnya adalah penggunaan pengetahuan yang telah dimiliki siswa untuk menyelesaikan suatu masalah baru. Hukum Perpindahan Asosiasi Selain hukum-hukum di atas. dapat disimpulkan bahwa transfer belajar dapat tercapai dengan sering melakukan latihan. Hukum Sikap (Set \Attitude) 3. setiap kemampuan harus dilatih secara efektif dan dikaitkan dengan kemampuan lain. ada unsur-unsur dalam masalah itu yang identik dengan unsur-unsur pengetahuan yang telah dimiliki. Selanjutnya. tahu apa yang hendak diajarkan artinya tahu materi apa yang harus diberikan.Tambahan hukum Thorndike : 1. Jadi. Unsur-unsur yang identik itu saling berasosiasi sehingga memungkinkan masalah yang dihadapi dapat diselesaikan. Unsur-unsur yang saling berasosiasi itu membentuk satu ikatan sehingga menggambarkan suatu kemampuan. Mengajar bukanlah mengharapkan murid tahu apa yang diajarkan. karena di dalam setiap masalah.

Sehingga bila kita ajukan pertanyaan seperti "apakah pada sebuah persegipanjang. Penelitian yang dilakukan Van Hiele melahirkan beberapa kesimpulan mengenai tahap-tahap perkembangan kognitif anak dalam memahami geometri. jangan mengharapkan hubungan terjadi dengan sendirinya. Untuk hal ini. Teori Van Hiele Van Hiele adalah seorang pengajar matematika Belanda yang telah mengadakan penelitian di lapangan. siswa tidak akan bisa 9 . kubus. persegi dan bangun-bangun geometri lainnya.      Perhatikan respons yang diharapkan dari situasi tersebut. Ciptakan suasana belajar sedemikian rupa sehingga dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Pada tahap pengenalan anak belum dapat menyebutkan sifat-sifat dari bangun-bangun geometri yang dikenalnya itu. sisi-sisi yang berhadapan panjangnya sama?". Buat hubungan sedemikian rupa sehingga menghasilkan perbuatan nyata dari peserta didik.Beberapa aturan yang dibuat Thorndike berhubungan dengan pengajaran: Perhatikan situasi peserta didik. analisis. dan keakuratan. Seandainya kita hadapkan dengan sejumlah bangun-bangun geornetri. C. Ciptakan hubungan respons tersebut dengan sengaja. Van Hiele (dalam Ismail. pengurutan. kemudian hasil penelitiannya ditulis dalam disertasinya pada tahun 1954. Situasi-situasi yang sama jangan diindahkan sekiranya memutuskan hubungan tersebut. segitiga. 1998) menyatakan bahwa terdapat 5 tahap pemahaman geometri yaitu: Tahap pengenalan. Lima Tahap Pemahaman Geometri 1. Tahap Pengenalan Pada tahap ini siswa hanya baru mengenal bangun-bangun geometri seperti bola. deduksi. anak dapat memilih dan menunjukkan bentuk segitiga. "apakah pada suatu persegipanjang kedua diagonalnya sama panjang?". melalui observasi dan tanya jawab.

4. Pada tahap ini anak sudah dapat memahami sifat-sifat dari bangun-bangun geometri. 2. tidak demikian pada tahap Analisis. Pada tahap ini pemahaman siswa terhadap geometri lebih meningkat lagi dari sebelumnya yang hanya mengenal bangun-bangun geometri beserta sifat-sifatnya. sedangkan banyak rusuknya ada 12. Karena masih pada tahap awal siswa masih belum mampu memberikan alasan yang rinci ketika ditanya mengapa kedua diagonal persegi panjang itu sama. Anak pada tahap analisis belum mampu mengetahui hubungan yang terkait antara suatu bangun geometri dengan bangun geometri lainnya. siswa sudah mengetahui jajargenjang itu trapesium. Tahap Deduksi Pada tahap ini anak sudah dapat memahami deduksi. maka pada tahap ini anak sudah mampu mengetahui hubungan yang terkait antara suatu bangun geometri dengan bangun geometri lainnya. Pada tahap ini anak sudah mengenal sifat-sifat bangun geometri. Seperti kita ketahui 10 . Anak yang berada pada tahap ini sudah memahami pengurutan bangun-bangun geometri. maka anak pada tahap ini belum bisa menjawab pertanyaan tersebut karena anak pada tahap ini belum memahami hubungan antara balok dan kubus. anak diajarkan sifat-sifat bangun-bangun geometri tersebut. seperti pada sebuah kubus banyak sisinya ada 6 buah. yaitu mengambil kesimpulan secara deduktif. karena anak akan menerimanya melalui hafalan bukan dengan pengertian. Bila pada tahap pengenalan anak belum mengenal sifat-sifat dari bangun-bangun geometri.menjawabnya. Pada tahap ini anak sudah mulai mampu untuk melakukan penarikan kesimpulan secara deduktif. Tahap Analisis Tingkat ini dikenal sebagai tingkat deskriptif. kubus itu adalah balok. mengapa kedua diagonal pada persegi saling tegak lurus. Misalnya. Pengambilan kesimpulan secara deduktif yaitu penarikan kesimpulan dari hal-hal yang bersifat khusus. Tahap Pengurutan Tingkat ini disebut juga tingkat abstraksi atau tingkat relasional. tetapi masih pada tahap awal artinya belum berkembang baik. Seandainya kita tanyakan apakah kubus itu balok?. jangan sampai. Guru harus memahami betul karakter anak pada tahap pengenalan. 3. belah ketupat adalah layang-layang.

dikatakan sebagai ilmu deduktif karena pengambilan kesimpulan. pada tingkat ini siswa menyadari bahwa jika salah satu aksioma pada suatu sistem geometri diubah.bahwa matematika adalah ilmu deduktif. di samping unsur-unsur yang didefinisikan. mungkin saja dapat keliru dalam mengukur sudut-sudut jajargenjang tersebut. Pada tahap ini memerlukan tahap berpikir yang kompleks dan rumit. Sebagai contoh untuk menunjukkan bahwa jumlah sudut-sudut dalam jajargenjang adalah 360º secara deduktif dibuktikan dengan menggunakan prinsip kesejajaran. Anak pada tahap ini belum memahami kegunaan dari suatu sistem deduktif. Oleh karena itu. Pada tahap ini anak sudah memahami betapa pentingnya ketepatan dari prinsip-prinsip dasar yang melandasi suatu pembuktian. Anak pada tahap ini sudah memahami mengapa sesuatu itu dijadikan postulat atau dalil. Tahap Keakuratan Tahap terakhir dari perkembangan kognitif anak dalam memahami geometri adalah tahap keakuratan. anak pada tahap ini belum dapat menjawab pertanyaan ―mengapa sesuatu itu disajikan teorema atau dalil. dan teorema. aksioma atau problem. Anak pada tahap ini telah mengerti pentingnya peranan unsur-unsur yang tidak didefinisikan. maka seluruh geometri tersebut juga 11 . Dalam matematika kita tahu bahwa betapa pentingnya suatu sistem deduktif. Oleh karena itu. Tahap keakuratan merupakan tahap tertinggi dalam memahami geometri.‖ 5. jarang atau hanya sedikit sekali anak yang sampai pada tahap berpikir ini sekalipun anak tersebut sudah berada di tingkat SMA. Seperti diketahui bahwa pengukuran itu pada dasarnya mencari nilai yang paling dekat dengan ukuran yang sebenarnya. Sebagai contoh. Untuk itu pembuktian secara deduktif merupakan cara yang tepat dalam pembuktian pada matematika. Pembuktian secara induktif yaitu dengan memotong-motong sudut-sudut benda jajargenjang. Matematika. Jadi. membuktikan teorema dan lain-lain dilakukan dengan cara deduktif. kemudian setelah itu ditunjukkan semua sudutnya membentuk sudut satu putaran penuh atau 360° belum tuntas dan belum tentu tepat.

Akan tetapi. kemudian saling bertukar pikiran maka kedua orang tersebut tidak akan mengerti. Selain mengemukakan mengenai tahap-tahap perkembangan kognitif dalam memahami geometri. pembuktiannya tidak perlu sebab sudah jelas bahwa jumlah sudutsudutnya adalah 360°. seorang anak tidak mengerti mengapa gurunya membuktikan bahwa jumlah sudut-sudut dalam sebuah jajargenjang adalah 360º. Menurut Van Hiele seorang anak yang berada pada tingkat yang lebih rendah tidak mungkin dapat mengerti atau memahami materi yang berada pada tingkat yang lebih tinggi dari anak tersebut. dan tidak dimungkinkan adanya tingkat yang diloncati. belah ketupat itu layang-layang. Kalaupun anak itu dipaksakan 12 . Van Hiele juga mengemukakan beberapa teori berkaitan dengan pembelajaran geometri. Menurut Van Hiele. tidak mengerti apa yang dijelaskan gurunya bahwa kubus itu adalah balok. materi pembelajaran dan metode penyusun yang apabila dikelola secara terpadu dapat mengakibatkan meningkatnya kemampuan berpikir anak kepada tahap yang lebih tinggi dari tahap yang sebelumnya. semua anak mempelajari geometri dengan melalui tahap-tahap tersebut. misalnya anak itu berada pada tahap pengurutan ke bawah. Menurut anak pada tahap yang disebutkan. Teori yang dikemukakan Van Hiele antara lain adalah sebagai berikut: Tiga unsur yang utama pembelajaran geometri yaitu waktu. kapan seseorang siswa mulai memasuki suatu tingkat yang baru tidak selalu sama antara siswa yang satu dengan siswa yang lain. seorang anak yang berada paling tinggi pada tahap kedua atau tahap analisis. dengan urutan yang sama.akan berubah. Contoh yang lain. Gurunya pun sering tidak mengerti mengapa anak yang diberi penjelasan tersebut tidak memahaminya. Sehingga. Bila dua orang yang mempunyai tahap berpikir berlainan satu sama lain. Sebagai contoh. pada tahap ini siswa sudah memahami adanya geometrigeometri yang lain di samping geometri Euclides.

Suatu relasi yang benar pada suatu tingkat. ia harus menguasai sebagian besar dari tingkat yang lebih rendah. anak itu baru bisa memahami melalui hafalan saja bukan melalui pengertian. sebab menghafal bukan ciri yang penting dari tingkat manapun. gambar-gambar sebenarnya juga ditentukan oleh sifat-sifatnya. Konsep-konsep yang secara implisit dipahami pada suatu tingkat menjadi dipahami secara eksplisit pada tingkat berikutnya. Supaya siswa dapat berperan dengan baik pada suatu tingkat yang lanjut dalam hirarki van Hiele. Setiap tingkat mempunyai bahasanya sendiri. tetapi seorang siswa tidak dapat mengambil jalan pintas ke tingkat tinggi dan berhasil mencapai pengertian.untuk memahaminya. mempunyai simbol linguistiknya sendiri dan sistem relasinya sendiri yang menghubungkan simbolsimbol itu. tetapi seseorang yang berpikiran pada tingkat ini tidak sadar atau tidak tahu akan sifat-sifat itu. Pada setiap tingkat muncul secara ekstrinsik dari sesuatu yang intrinsik pada tingkat sebelumnya. Seorang guru dapat mengurangi materi pelajaran ke tingkat yang lebih rendah. Pada tingkat dasar. Misalnya pemikiran tentang persegi dan persegi panjang. selain itu sebagai persiapan untuk meningkatkan tahap berpikirnya kepada tahap yang lebih tinggi dari tahap sebelumnya. 13 . Untuk mencapai pengertian dibutuhkan kegiatan tertentu dari fase-fase pembelajaran. Kenaikan dari tingkat yang satu ke tingkat yang berikutnya lebih banyak tergantung dari pembelajaran daripada umur atau kedewasaan biologis. Dengan demikian anak dapat memperkaya pengalaman dan berpikirnya. Untuk mendapatkan hasil yang diinginkan yaitu anak memahami geometri dengan pengertian. dapat membimbing untuk mengingat-ingat hafalan. kegiatan belajar anak harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak atau disesuaikan dengan taraf berpikirnya. ternyata akan tidak benar pada tingkat yang lain.

Guru memegang peran penting dan istimewa untuk memperlancar kemajuan. Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa sambil 14 . Lagi pula. dan tergantung lebih banyak kepada akibat pembelajarannya. siswa tidak akan mencapai kemajuan tanpa bantuan guru. Meskipun demikian. Model Van Hiele tidak hanya memuat tingkat-tingkat pemikiran geometrik. Menurut Van Hiele (dalam Ismail. Fase 1. Dalam hal ini objek yang dipelajari adalah sifat komponen dan hubungan antar komponen bangun-bangun segi empat.Dua orang yang berpikir pada tingkat yang berlainan tidak dapat saling mengerti. tetapi melalui pilihan-pilihan yang tepat. maka ditetapkan fase-fase pembelajaran yang menunjukkan tujuan belajar siswa dan peran guru dalam pembelajaran dalam mencapai tujuan itu. Van Hiele menuntut bahwa tingkat yang lebih tinggi tidak langsung menurut pendapat guru. teori Van Hiele tidak mendukung model teori absorbsi tentang belajar mengajar. 1998). kenaikan dari tingkat yang satu ke tingkat berikutnya tergantung sedikit pada kedewasaan biologis atau perkembangannya. Informasi Pada awal tingkat ini. 1992). terutama untuk memberi bimbingan mengenai pengharapan. anak-anak sendiri akan menentukan kapan saatnya untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi. dan yang satu tidak dapat mengikuti yang lainnya. guru dan siswa menggunakan tanya-jawab dan kegiatan tentang objek-objek yang dipelajari pada tahap berpikir siswa. Walaupun demikian. (Clements. Struktur bahasa adalah suatu faktor yang kritis dalam perpindahan tingkat-tingkat ini. Fase-fase pembelajaran tersebut adalah: 1) fase informasi 2) fase orientasi 3) fase eksplisitasi 4) fase orientasi bebas 5) fase integrasi. Oleh karena itu.

Mereka memperoleh pengalaman dalam menemukan cara mereka sendiri. Aktivitas ini akan berangsur-angsur menampakkan kepada siswa struktur yang memberi ciri-ciri sifat komponen dan hubungan antar komponen suatu bangun segi empat. tugas yang dilengkapi dengan banyak cara. Hal tersebut berlangsung sampai sistem hubungan pada tahap berpikir mulai tampak nyata. Fase 2: Orientasi Siswa menggali topik yang dipelajari melalui alat-alat yang dengan cermat telah disiapkan guru. banyak hubungan antar objek menjadi jelas. guru memberi bantuan sesedikit mungkin.melakukan observasi. Guru dapat membantu siswa dalam membuat sintesis ini dengan melengkapi survey secara global terhadap apa yang telah dipelajari. Fase 4: Orientasi Bebas Siswa menghadapi tugas-tugas yang lebih kompleks berupa tugas yang memerlukan banyak langkah. Hal ini penting. dan tugas yang open-ended. (2) guru mempelajari petunjuk yang muncul dalam rangka menentukan pembelajaran selanjutnya yang akan diambil. tetapi kesimpulan ini tidak menunjukkan sesuatu yang baru. Tujuan dari kegiatan ini adalah: (1) guru mempelajari pengalaman awal yang dimiliki siswa tentang topik yang dibahas. maupun dalam menyelesaikan tugas-tugas. Di samping itu. siswa menyatakan pandangan yang muncul mengenai struktur yang diobservasi. Pada akhir fase kelima ini 15 . Fase 5: Integrasi Siswa meninjau kembali dan meringkas apa yang telah dipelajari. Melalui orientasi di antara para siswa dalam bidang investigasi. Fase 3: Penjelasan Berdasarkan pengalaman sebelumnya. Alat atau pun bahan dirancang menjadi tugas pendek sehingga dapat mendatangkan respon khusus. untuk membantu siswa menggunakan bahasa yang tepat dan akurat.

Siswa siap untuk mengulangi fase-fase belajar pada tahap sebelumnya. Pada umumnya. Efektif diartikan sebagai tercapainya suatu tujuan yang merupakan pijakan utama suatu rancangan pembelajaran. Kreatif. Enaktif dan Menyenangkan). Dalam pelaksanaan PAKEM perlu diperhatikan beberapa hal berikut: 16 . Aktif dapat diartikan siswa mampu berinteraksi yaitu bertanya atau mengeluarkan ide. dan guru yang aktif. Tujuan dari PAKEM yaitu menciptakan suatu lingkungan belajar yang melengkapi anak dengan keterampilan. Menyenangkan diartikan sebagai suasana belajar mengajar yang hidup. Teori Dienes Teori belajar Dienes sangat terkait dengan konsep pembelajaran dengan pendekatan PAKEM ( Pembelajaran Aktif.siswa mencapai tahap berpikir yang baru. dimana tahap ini dapat membangkitkan semangat dan membuat anak senang dalam belajar. yaitu guru yang memantau kegiatan belajar siswa dan memberikan umpan balik. Kreatif diartikan siswa diberi kesempatan untuk membuat atau merancang sesuatu atau menuliskan sebuah gagasan dan guru yang kreatif yaitu guru yang memberikan variasi dalam proses belajar mengajar dan membuat alat bantu serta menciptakan teknik – teknik mengajar tertentu sesuai tujuan pembelajaran. karena teori ini menekankan tahap permainan. hasil penelitian di Amerika Serikat dan negara lainnya menetapkan bahwa tingkat-tingkat dari Van Hiele berguna untuk menggambarkan perkembangan konsep geometrik siswa dari SD sampai Perguruan Tinggi. D. maka tingkat pemikiran yang baru tentang topik itu dapat tercapai. terkondisi dan mendorong pemusatan perhatian peserta didik terhadap belajar. Setelah selesai fase kelima ini. pengetahuan dan sikap bagi kehidupan kelak. ekspresif.

Mengenal peserta didik secara individu. Teori perkembangan kognitif melihat bahwa proses belajar seseorang dilihat dari tingkat kemampuan kognitifnya. e. c. b. sehingga dalam pembelajaran pada orang dewasa berbeda dengan pembelajaran anak-anak. dan pengembangannya diorientasikan pada anakanak. Memanfaatkan perilaku peserta didik dalam pengorganisasian belajar. dalam proses belajar mengajar tingkat kognitif menjadi suatu hal yang sangat penting. Membedakan antara aktif fisik dan aktif mental. kreatif. f. Memahami sifat peserta didik. Dienes berpendapat bahwa pada dasarnya matematika dapat dianggap sebagai studi tentang struktur. sedemikian rupa sehingga sistem yang dikembangkannya itu menarik bagi anak yang mempelajari matematika. Dasar teorinya bertumpu pada teori pieget. Memberikan umpan balik yang bertanggungjawab untuk meningkatkan kegiatan belajar mengajar. Dienes mengemukakan bahwa tiap-tiap konsep atau prinsip dalam matematika yang disajikan dalam bentuk yang konkret akan dapat dipahami dengan baik. Menegembangkan kemampuan berfikir kritis. karena kemampuan tingkat kognitif seseorang tergantung dari usia seseorang. 17 . dan kemampuan memecahkan masalah. h. d. Ini mengandung arti bahwa benda-benda atau obyek-obyek dalam bentuk permainan akan sangat berperan bila dimanipulasi dengan baik dalam pengajaran matematika.a. Zoltan P. Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar. Menegembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik. Dienes adalah seorang matematikawan yang memusatkan perhatiannya pada cara-cara pengajaran terhadap anak-anak. memisah-misahkan hubungan-hubungan diantara struktur-struktur dan mengkatagorikan hubungan-hubungan di antara strukturstruktur. g.

Dalam tahap ini anak mulai membentuk struktur mental dan struktur sikap dalam mempersiapkan diri untuk memahami konsep yang sedang dipelajari. Keteraturan ini mungkin terdapat dalam konsep tertentu tapi tidak terdapat dalam konsep yang lainnya. tebal tipisnya benda yang merupakan ciri/sifat dari benda yang dimanipulasi. tahap yang paling awal dari pengembangan konsep bermula dari permainan bebas. siswa sudah mulai meneliti polapola dan keteraturan yang terdapat dalam konsep tertentu. Dienes membagi tahap-tahap belajar menjadi 6 tahap. karena anak-anak akan memperoleh hal-hal yang bersifat logis dan matematis dalam konsep yang dipelajarinya itu. guru perlu mengarahkan mereka dengan mentranslasikan kesamaan struktur dari bentuk permainan yang satu ke bentuk permainan lainnya. Untuk melatih anak-anak dalam mencari kesamaan sifat-sifat ini. Dalam mencari kesamaan sifat. Permainan yang Menggunakan Aturan (Games) Dalam permainan yang disertai aturan. Jelaslah. Anak didik diberi kebebasan untuk mengatur benda. akan makin jelas konsep yang dipahami anak. Menurut Dienes konsep-konsep matematika akan berhasil jika dipelajari dalam tahap-tahap tertentu. Misalnya dengan diberi permainan block logic.Makin banyak bentuk-bentuk yang berlainan yang diberikan dalam konsepkonsep tertentu. dengan melalui permainan siswa diajak untuk mulai mengenal 18 . Translasi ini tentu tidak boleh mengubah sifat-sifat abstrak yang ada dalam permainan semula. yaitu: Permainan Bebas (Free Play) Dalam setiap tahap belajar. Selama permainan pengetahuan anak muncul. Permainan bebas merupakan tahap belajar konsep yang aktifitasnya tidak berstruktur dan tidak diarahkan. anak didik mulai mempelajari konsepkonsep abstrak tentang warna. anak-anak mulai diarahkan dalam kegiatan menemukan sifat-sifat kesamaan dalam permainan yang sedang diikuti.

kuning). akan semakin jelas konsep yang dipahami siswa. timbul pengalaman terhadap konsep tipis dan merah. dan kegiatan untuk yang tidak relevan dengan pengalaman itu. Representasi yang diperoleh ini bersifat abstrak. Translasi ini tentu tidak boleh mengubah sifat-sifat abstrak yang ada dalam permainan semula. Contoh kegiatan yang diberikan dengan permainan block logic. Dengan demikian telah mengarah pada pengertian struktur matematika yang sifatnya 19 . Makin banyak bentuk-bentuk berlainan yang diberikan dalam konsep tertentu. kemudian membentuk kelompok benda berbentuk segitiga. atau yang berwarna merah. Setelah mereka berhasil menyimpulkan kesamaan sifat yang terdapat dalam situasi-situasi yang dihadapinya itu. atau tidak merah (biru. serta timbul penolakan terhadap bangun yang tipis (tebal). untuk membuat konsep abstrak.dan memikirkan bagaimana struktur matematika itu. Permainan Kesamaan Sifat (Searching for communalities) Dalam mencari kesamaan sifat siswa mulai diarahkan dalam kegiatan menemukan sifat-sifat kesamaan dalam permainan yang sedang diikuti. Permainan Representasi (Representation) Representasi adalah tahap pengambilan sifat dari beberapa situasi yang sejenis. Untuk melatih dalam mencari kesamaan sifat-sifat ini. karena akan memperoleh hal-hal yang bersifat logis dan matematis dalam konsep yang dipelajari itu. Contoh dengan permainan block logic. Dalam membentuk kelompok bangun yang tipis. atau yang merah. anak dihadapkan pada kelompok persegi dan persegi panjang yang tebal. anak diminta mengidentifikasi sifat-sifat yang sama dari benda-benda dalam kelompok tersebut (anggota kelompok). anak didik memerlukan suatu kegiatan untuk mengumpulkan bermacam-macam pengalaman. Menurut Dienes. hijau. Para siswa menentukan representasi dari konsep-konsep tertentu. dan sebagainya. guru perlu mengarahkan mereka dengan menstranslasikan kesamaan struktur dari bentuk permainan lain. anak diberi kegiatan untuk membentuk kelompok bangun yang tipis. atau yang tebal.

harus mampu merumuskan suatu teorema berdasarkan aksioma. Contoh kegiatan anak untuk menemukan banyaknya diagonal poligon misal segi dua puluh tiga. Dienes menyatakan bahwa proses pemahaman (abstracton) berlangsung selama belajar. membentuk sebuah sistem matematika. dalam arti membuktikan teorema tersebut. harus mampumerumuskan teorema dalam arti membuktikan teorema tersebut. anak didik telah mengenal dasar-dasar dalam struktur matematika seperti aksioma. Misalnya bilangan bulat dengan operasi penjumlahan peserta sifat-sifat tertutup. Permainan dengan Simbolisasi (Symbolization) Simbolisasi termasuk tahap belajar konsep yang membutuhkan kemampuan merumuskan representasi dari setiap konsep-konsep dengan menggunakan simbol matematika atau melalui perumusan verbal. Untuk pengajaran konsep matematika yang lebih sulit perlu dikembangkan materi matematika secara kongkret agar konsep matematika dapat dipahami dengan 20 . dan mempunyai elemen invers.abstrak yang terdapat dalam konsep yang sedang dipelajari. Pada tahap formalisasi anak tidak hanya mampu merumuskan teorema serta membuktikannya secara deduktif. komutatif. Contohnya. Sebagai contoh. tetapi mereka sudah mempunyai pengetahuan tentang sistem yang berlaku dari pemahaman konsep-konsep yang terlibat satu sama lainnya. adanya elemen identitas. dengan pendekatan induktif. sebagai contoh siswa yang telah mengenal dasar-dasar dalam struktur matematika seperti aksioma. asosiatif. kegiatan berikutnya menentukan rumus banyaknya diagonal suatu poligon yang digeneralisasikan dari pola yang didapat anak. Permainan dengan Formalisasi (Formalization) Formalisasi merupakan tahap belajar konsep yang terakhir. Dalam tahap ini siswa-siswa dituntut untuk mengurutkan sifat-sifat konsep dan kemudian merumuskan sifat-sifat baru konsep tersebut. dari kegiatan mencari banyaknya diagonal dengan pendekatan induktif tersebut.

Berbagai sajian (multiple embodiment) juga membuat adanya manipulasi secara penuh tentang variabel-variabel matematika. semakin banyak bentuk-bentuk berlainan yang diberikan dalam konsep tertentu. Perkembangan kognitif setiap individu yang berkembang secara kronologi tidak terlepas dari faktor usia. suatu anak didik dihadapkan pada permainan yang terkontrol dengan berbagai sajian. sehingga anak-anak dapat bermain dengan bermacam-macam material yang dapat mengembangkan minat anak didik. sehingga anak didik dapat melihat struktur dari berbagai pandangan yang berbedabeda dan memperkaya imajinasinya terhadap setiap konsep matematika yang disajikan. grafik. Kegiatan ini menggunakan kesempatan untuk membantu anak didik menemukan cara-cara dan juga untuk mendiskusikan temuan-temuannya. Proses pembelajaran ini juga lebih melibatkan anak didik pada kegiatan belajar secara aktif dari pada hanya sekedar menghapal. Langkah-langkah ini merupakan suatu cara untuk memberi kesempatan kepada anak didik ikut berpartisipasi dalam proses penemuan dan formalisasi melalui percobaan matematika. Variasi matematika dimaksud untuk membuat lebih jelas mengenai sejauh mana sebuah konsep dapat digeneralisasi terhadap konsep yang lain. menurut Dienes. Menurut Dienes. Dienes berpendapat bahwa materi harus dinyatakan dalam berbagai penyajian (multiple embodiment). variasi sajian hendaknya tampak berbeda antara satu dan lainya sesuai dengan prinsip variabilitas perseptual (perseptual variability). Pentingnya simbolisasi adalah untuk meningkatkan kegiatan matematika ke satu bidang baru. pola berpikir anak-anak tidak sama dengan pola 21 .tepat. peta dan akhirnya memadukan simbolo – simbol dengan konsep tersebut. Dengan demikian. Berbagai penyajian materi (multiple embodinent) dapat mempermudah proses pengklasifikasian abstraksi konsep. semakin jelas bagi anak dalam memahami konsep tersebut. Langkah selanjutnya. Berhubungan dengan tahap belajar. adalah memotivasi anak didik untuk mengabstraksikan pelajaran tanda material kongkret dengan gambar yang sederhana.

dalam memandang anak keliru jika kemampuan anak dengan kemampuan orang dewasa sama. yaitu mengenai teori perkembangan intelektual. 22 .Periode Sensori Motor (0 – 2) tahun. Maka tahap perkembangan kognitif yang dicapai oleh setiap individu berbeda pula. Piaget (dalam Bell. sebab anak bukan miniatur orang dewasa. Jadi. Jean Piaget berpendapat bahwa proses berpikir manusia sebagai suatu perkembangan yang bertahap dari berpikir intelektual konkret ke abstrak berurutan melalui empat periode. berpendapat bahwa proses berpikir manusia merupakan suatu perkembangan yang bertahap dari berpikir intelektual kongkret ke abstrak berurutan melalui empat tahap perkembangan. karena efektivitas hubungan antara setiap individu dengan lingkunganya dan kehidupan sosialnya berbeda satu sama lain. Piaget adalah orang pertama yang menggunakan filsafat konstruktivis dalam proses belajar mengajar. 1981). Selain daripada itu. namun usia atau kronologis pada setiap orang yang memasuki setiap periode berpikir yang lebih tinggi berbeda-beda tergantung kepada masing-masing individu. Oleh karena itu agar perkembangan kognitif seorang anak berjalan secara maksimal diperkaya dengan pengalaman edukatif. Urutan periode itu tetap bagi setiap orang.berfikir orang dewasa. E. perkembangan kognitif seorang individu dipengaruhi oleh lingkungan dan transmisi sosial. sebagai berikut: 1. Jadi. Teori Piaget Teori Perkembangan Intelektual Piaget Teori belajar Dienes sangat terkait dengan teori belajar yang dikemukakan oleh Piaget. semakin ia dewasa makin meningkat pula kemampuan berpikirnya.

2. pada akhir periode ini.Periode operasi kongkret (7 – 12) tahun. Periode ini disebut operasi kongkret sebab berpikir logikanya didasarkan atas manipulasi fisik dari objek -objek. Rangsangan itu timbul karena anak melihat dan meraba-raba objek.Karateristik periode ini merupakan gerakan-gerakan sebagai akibat reaksi langsung dari rangsangan. Pada periode ini anak di dalam berpikirnya tidak didasarkan kepada keputusan yang logis melainkan didasarkan kepada keputu san yang dapat dilihat seketika. tetapi anak itu mulai memanipulasi simbol dari benda-benda sekitarnya. anak itu tidak akan mencarinya lagi. Operasi yang dimaksud di sini adalah suatu proses berpikir atau logik. bukan aktivitas sensori motor. ia masih sulit melihat hubungan- hubungan dan mengambil kesimpulan secara taat asas. Pada periode ini anak terpaku kepada kontak langsung dengan lingkungannya. Pekerjaan-pekerjaan logika dapat dilakukan dengan berorientasi ke objek-objek atau peristiwa-peristiwa yang 23 . Walaupun pada periode permulaan pra-operasional ini anak mampu menggunakan simbol-simbol. Bila objek itu disembunyikan. Periode ini sering disebut juga periode pemberian simbol.Periode Pra-operasional (2 – 7) tahun. dan merupakan aktivitas mental. Anak itu belum mempunyai kesadaran adanya konsep objek yang tetap. Operasi kongkret hanyalah menunjukkan kenyataan adanya hubungan dengan pengalaman empirik-kongkret yang lampau dan masih mendapat kesulitan dalam mengambil kesimpulan yang logis dari pengalaman pengamanan yang khusus. anak menyadari bahwa objek yang disembunyikan tadi masih ada dan ia akan mencarinya. Dalam periode ini anak berpikirnya sudah dikatakan menjadi operasional. 3. Namun karena pengalamannya terhadap lingkungannya. misalnya suatu benda diberi nama (simbol).

Identitas adalah suatu operasi yang menunjukkan adanya unsur nol yang bila dikombinasikan dengan unsur atau kelas hasilnya tidak berubah. Reversibilitas adalah operasi kebalikan. Pengalaman anak masih kongkret dan belum formal. Misalnya unsur dari suatu himpunan berkawan dengan satu unsur dari himpunan kedua dan sebaliknya. Korespondensi satu – satu antara objek-objek dari dua kelas. c. d. unsur nol adalah 0 sehingga 8 + 0 = 8. Kombinasivitas atau klasifikasi adalah suatu operasi dua kelas atau lebih yang dikombinasikan ke dalam suatu kelas yang lebih besar. Misalnya. Misalnya himpunan bilangan bulat. Hubungan A > B dan B > C menjadi A > C. Dalam periode operasi kongkret. Anak itu belum memperhitungkan semua kemungkinan dan kemudian mencoba menemukan kemungkinan yang mana yang akan terjadi. 24 . karateristik berpikir anak adalah sebagai berikut: a. Demikian juga suatu jumlah dapat dinolkan dengan mengkombinasikan lawannya. Misalnya semua manusia laki – laki dan semua manusia perempuan adalah semua manusia. operasi ‖+‖. e.langsung dialami anak. Asosiasivitas adalah suatu operasi terhadap beberapa kelas yang dikombinasikan menurut sebarang urutan. Misalnya. 5 + ? = 9 sama dengan 9 – 5 = ? Reversibilitas ini merupakan karakteristik utama untuk berpikir operasional di dalam teori Piaget. Setiap operasi logik atau matematik dapat dikerjakan dengan operasi kebalikan. Anak dapat membentuk variasi relasi kelas dan mengerti bahwa beberapa kelas dapat dimasukkan ke kelas lain.dalam himpunan bilangan bulat dengan operasi ‖+‖. misalnya 4 – 4 = 0. b. Anak masih terikat kepada pengalaman pribadi. berlaku hukum asosiatif terhadap penjumlahan.

tetapi ia sudah mulai menggeneralisasi objek-objek tadi. Periode operasi formal ini disebut juga sebagai periode operasi hipotetik-deduktif yang merupakan tahap tertinggi dari perkmbangan intelektual. Namun prinsip konservasi yang dimiliki anak pada periode ini masih belum penuh. Anak sudah dapat mengoperasikan argumen-argumen tanpa dikaitkan dengan benda-benda empirik.f. 4. artinya bila anak dihadapkan kepada suatu masalah. Konservasi berkenaan dengan kesadaran bahwa satu aspek dari benda.Anak sudah mampu menggunakan hubungan-hubungan di antara objek-objek apabila ternyata manipulasi objek-objek tidak memungkinkan. tetap sama sementara itu aspek lainnya berubah. tahap-tahap berpikir itu adalah pasti dan spontan namun umur kronologis yang diberikan itu adalah fleksibel. Periode ini merupakan tahap terakhir dari keempat periode perkembangan intelektual. Anak pada periode ini dilandasi oleh observasi dari pengalaman dengan objek nyata. Ia mampu menggunakan prosedur seorang ilmuwan.definisi verbal. Anak telah mampu melihat hubungan-hubungan abstrak dan menggunakan proposisi-proposisi logik-formal termasuk aksioma dan definisi. Konsep konservasi telah tercapai sepenuhnya.Periode Operasi Formal (> 12) tahun. ia dapat mengisolasi faktor-faktor tersendiri atau mengkombinasikan faktor-faktor itu sehingga menuju penyelesaian masalah tadi. terutama selama transisi dari periode yang satu ke periode berikutnya. yaitu menggunakan prosedur hipotetik-deduktif. Anak mampu menyelesaikan masalah dengan cara yang lebih baik dan kompleks dari pada anak yang masih dalam tahap periode operasi kongkret. Menurut Piaget. Kesadaran adanya prinsip-prinsip konservasi. Anak juga sudah dapat berpikir kombinatorik. Umur 25 . Anak-anak pada periode ini sudah memberikan alasan dengan menggunakan lebih banyak simbol atau gagasan dalam cara berpikir.

Pekarangan rumah berbentuk persegipanjang. Jika kelilingnya adalah 400 m. bereksplorasi. Sekeliling kebun yang berbentuk persegipanjang dengan panjang 18 m dan lebar 12 m. tidak ada gunanya bila kita memaksa anak untuk cepat berpindah ke periode berikutnya.kronologis itu dapat saling tindih bergantung kepada individu. berapa lebar parit yang direncanakan ? (2). ataupun kemiripan menjadi kesatuan. anak harus banyak diberikan kesempatan untuk berdialog (berdiskusi) dengan teman-temannya maupun dengan guru. Ketika mengkonstruksi konsep. Menurut teori ini. pola. Teori gestalt beroposisi terhadap teori strukturalisme. Istilah ―Gestalt‖ mengacu pada sebuah objek/figur yang utuh dan berbeda dari penjumlahan bagian-bagiannya. pertama anak dengan bantuan guru secara tidak langsung diberikan kesempatan untuk menganalisis masalahmasalah yang diberikan menjadi struktur yang lebih sederhana sehingga mudah 26 . bagaimanakah ukurannya supaya luasnya sebesar-besarnya ? Aliran terapi Gestalt memandang bahwa konsep atau pengetahuan baru merupakan struktur yang terorganisir dan merupakan masalah bagi anak. Jika si pemilik kebun hanya mampu membuat parit seluas 99 m2. maka konsep fungsi kuadrat akan lebih bermakna jika konsep tersebut dikemas dalam bentuk masalah-masalah seharihari yang cukup sederhana seperti berikut : (1). akan dibuat parit pembuangan air. pembelajaran harus dimulai dari masalah-masalah yang berkaitan dengan konsep yang akan diberikan dan berada dalam kehidupannya sehari-hari. Teori Gestalt Gestalt adalah sebuah teori yang menjelaskan proses persepsi melalui pengorganisasian komponen-komponen sensasi yang memiliki hubungan. Teori gestalt cenderung berupaya mengurangi pembagian sensasi menjadi bagian-bagian kecil. Jika kita akan mengajarkan konsep fungsi kuadrat. F. dan diberikan kebebasan bereksperimen. Langkah-langkah pembelajaran menurut aliran ini. Piaget berpendapat.

dipahami anak. Dengan konsep ini. Dengan pernyataan ini ia menentang pendapat Wundt yang menunjuk pada proses fisik sebagai penjelasan phi phenomenon. Mereka menyimpulkan bahwa seseorang cenderung mempersepsikan apa yang terlihat dari lingkungannya sebagai kesatuan yang utuh. Bersama-sama dengan Wolfgang Koehler (1887-1967) dan Kurt Koffka (1887-1941) melakukan eksperimen yang akhirnya menelurkan ide Gestalt.  Max Wertheimer (1880-1943) Belajar pada Kuelpe. Max Wertheimer.  Kurt Lewin (1890-1947) 27 . Kurt Koffka. Tahun 1910 ia mengajar di Univeristy of Frankfurt bersama-sama dengan Koehler dan Koffka yang saat itu sudah menjadi asisten di sana. Kemudian anak menyusun atau mensintesis penyelesaian masalah itu berdasarkan pada struktur yang lebih sederhana dan sudah dimengerti anak. tetapi proses mental. Selanjutnya anak mensintesis konsep atau pengetahuan dalam bentuk yang lebih umum. Wertheimer menunjuk pada proses interpretasi dari sensasi obyektif yang kita terima. Teori ini dibangun oleh tiga orang. Proses ini terjadi di otak dan sama sekali bukan proses fisik. Konsep pentingnya : phi phenomenon (bergeraknya obyek statis menjadi rangkaian gerakan yang dinamis setelah dimunculkan dalam waktu singkat dan dengan demikian memungkinkan manusia melakukan interpretasi). and Wolfgang Köhler. seorang tokoh aliran Wuerzburg. Akhirnya anak mencoba melakukan penerapan dari konsep yang sudah dipelajarinya.

dan avoidance-avoidance). Lapangan psikologis ini terdiri dari fakta dan obyek psikologis yang bermakna dan menentukan perilaku individu (B=f L). Arah individu mendekati/menjauhi tujuan disebut vektor. sangat mungkin ada hambatan. Apabila terjadi ketidakseimbangan (disequilibrium). lulus Ph. dan valensi ini Lewin menjelaskan teorinya mengenai tiga jenis konflik (approach-approach. Hambatan ini mungkin sekali menjadi obyek yang bervalensi negatif bagi individu. Life space terbagi atas bagian-bagian memiliki batas-batas. maka terjadi ketegangan (tension). daya. Gerakan individu mencapai tujuan (goal) disebut locomotion. Lewin adalah salah seorang ahli yang sangat kuat menganjurkan pemahaman tentang lapangan psikologis seseorang. yaitu lapangan psikologis tempat individu berada dan bergerak. Vektor juga memiliki kekuatan dan titik awal berangkat. Perilaku individu akan segera tertuju untuk meredakan ketegangan ini dan mengembalikan keseimbangan. Dalam usahanya mendekati obyek bervalensi positif. Tugas utama psikologi adalah meramalkan perilaku individu berdasarkan semua fakta psikologis yang eksis dalam lapangan psikologisnya pada waktu tertentu. yaitu Wertheimer dan Koehler dan mengambil konsep psychological field juga dari Gestalt. Konsep utama Lewin adalah Life Space. maka bagaimana valensi dari nilai tersebut bagi si individu akan menentukan gerakan individu. 28 . Dalam lapangan psikologis ini juga terjadi daya (forces) yang menarik dan mendorong individu mendekati dan menjauhi tujuan. Dengan konsep vektor. Pada umumnya individu akan mendekati obyek yang bervalensi positif dan menjauhi obyek yang bervalensi negatif.D dari University of Berlin dalam bidang psikologi tahun 1914. Apabila individu menghadapi suatu obyek. approach-avoidance. Ia banyak terlibat dengan pemikir Gestalt. Lewin lahir di Jerman.Pandangan Gestalt diaplikasikan dalam field psychology dari Kurt Lewin. Batas ini dapat dipahami sebagai sebuah hambatan individu untuk mencapai tujuannya.

Prinsip dasar Gestalt 1. Sebaliknya. yang cenderung dipersepsikan oleh manusia sebagai figure and ground. Kritik untuk teori Lewin berfokus pada konstruk-konstruknya yang dianggap hipotetis dan sulit dikongkritkan dalam situasi eksperimental. Setiap perceptual field memiliki organisasi. 29 . Apabila hubungan ini bervalensi negatif.Interaksi antara individu dan lingkungan disebut sebagai perceptual field. maka perilaku anggota akan menjauhinya dan dengan demikian tujuan kelompok semakin tidak tercapai. Prinsip-prinsip pengorganisasian: O Principle of Proximity: bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertentu.Aplikasi teori Lewin banyak dilakukan dalam konteks dinamika kelompok. Implikasinya adalah penjelasan Lewin sulit sampai pada level explanatory dan sifatnya deskriptif. Dasar berpikirnya adalah kelompok dianalogikan dengan individu. hubungan yang baik akan membuat anggota saling mendekati sehingga memungkinkan kerjasama yang lebih baik dalam mencapai tujuan kelompok. bukan skill yang dipelajari. Maka perilaku kelompok menjadi fungsi dari lingkungan. O Principle of Objective Set: Organisasi berdasarkan mental set yang sudah terbentuk sebelumnya. O Principle of Similarity: bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang berada dalam arah yang sama cenderung akan dipersepsi sebagi suatu figure atau bentuk tertentu. Pengorganisasian ini mempengaruhi makna yang dibentuk. Oleh karena itu kemampuan persepsi ini merupakan fungsi bawaan manusia. 2. dimana salah satu faktornya adalah para anggota kelompok dan hubungan interpersonal mereka.

potongan. terjadi reorganisasi dalam perceptual fieldnya.Pengalaman tilikan (insight). Aplikasi prinsip Gestalt Belajar Proses belajar adalah fenomena kognitif. O Principle of Closure/ Principle of Good Form: bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap. makaakan terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figure. akan makin efektif pula sesuatu yang dipelajari. warnadan sebagainya membedakan figure dari latar belakang.Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning). Apabila individu mengalami proses belajar. O Principle of Figure and Ground: yaitu menganggap bahwa setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar belakang. bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. Setelah proses belajar terjadi. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah. hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsurunsur dalam suatu obyek atau peristiwa. O Principle of Isomorphism: Organisasi berdasarkan konteks. khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif 30 . b. Makin jelas makna hubungan suatu unsur. seseorang dapat memiliki cara pandang baru terhadap suatu problem. Contoh: perubahan nada tidak akan merubah persepsi tentang melodi. Penampilan suatu obyek seperti ukuran. kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran.O Principle of Continuity: Organisasi berdasarkan kesinambungan pola. Bila figure dan latar bersifat samarsamar. Dalam proses pembelajaran. Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain : a.

Oleh karena itu. tetapi ada keterkaitannya dengan tujuan yang ingin dicapai. Setelah adanya pengalaman insight. yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik. bahwa perilaku terarah pada tujuan. Oleh karena itu. individu mampu menerapkannya pada problem sejenis tanpa perlu melalui proses trial- 31 .pemecahannya. Oleh karena itu. e. Menurut pandangan Gestalt. bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons. guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya. c. Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya.Transfer dalam Belajar.Perilaku bertujuan (pusposive behavior). Juga menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya. d. guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsipprinsip pokok dari materi yang diajarkannya.Prinsip ruang hidup (life space). transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat. Insight Pemecahan masalah secara jitu yang muncul setelah adanya proses pengujian berbagai dugaan/kemungkinan.

 Pendekatan fenomenologis menjadi salah satu pendekatan yang eksis di psikologi dan dengan pendekatan ini para tokoh Gestalt menunjukkan bahwa studi psikologi dapat mempelajari higher mental process. yang selama ini dihindari karena abstrak. Penerapan Prinsip of Good Form seringkali muncul dan terbukti secara eksperimental.  Pandangan Gestalt menyempurnakan aliran behaviorisme dengan menyumbangkan ide untuk menggali proses belajar kognitif. Pandangan Gestalt cukup luas diakui di Jerman namun tidak lama exist di Jerman karena mulai didesak oleh pengaruh kekuasaan Hitler yang berwawasan sempit mengenai keilmuan. insight. ditemukan oleh Koehler dalam eksperimen yang sistematis. Adanya perceptual field diinterpretasikan menjadi lapangan kognitif dimana proses-proses mental seperti persepsi. namun tetap dapat mempertahankan aspek ilmiah dan empirisnya. Secara sosial. Namun hal ini tidak mudah dilakukan karena pada saat itu di AS didominasi oleh pandangan behaviorisme. jejak ingatan ini akan berubah pula sejalan dengan prinsip-prinsip organisasional terhadap obyek. Konsep insight ini adalah fenomena penting dalam belajar. Meskipun demikian. Dengan berjalannya waktu. fenomena ini juga menjelaskan pengaruh gosip/rumor. Para tokoh Gestalt banyak yang melarikan diri ke AS dan berusaha mengembangkan idenya di sana.dan problem solving beroperasi. Akibatnya psikologi gestalt diakui sebagai sebuah aliran psikologi namun pengaruhnya tidak sekuat behaviorisme.error lagi. Memory Hasil persepsi terhadap obyek meninggalkan jejak ingatan. ada beberapa hal yang patut dicatat sebagai implikasi dari aliran Gestalt yaitu. berfokus pada higher mental process. 32 .

tetapi juga secara fisik. Pemahaman dan persepsi tentang hubungan-hubungan dalam kebulatan (entities) adalah sangat esensial dalam belajar. Demonstrasinya mengenai peranan latar belakang dan organisasinya terhadap proses-proses yang diamati secara fenomenal demikian meyakinkan sehingga boleh dikatakan tidak dapat di bantah. Keseluruhan ini memberikan beberapa prinsip belajar yang penting. Belajar adalah perkembangan kearah diferensiasi ynag lebih luas. emosional. antara lain : 1. 33 . maka untuk memahami proses belajar orang perlu memahami hukum-hukum yang menguasai proses pengamatan itu. Manusia berkembang sebagai keseluruhan sejak dari kecil sampai dewasa. Ketika para ahli Psikologi Gestalt beralih dari masalah pengamatan ke masalah belajar. Belajar adalah penyesuaian diri dengan lingkungan.bagiannya. sosial dan sebagainya.Psikologi Gestalt bermula pada lapangan pengamatan (persepsi) dan mencapai sukses yang terbesar juga dalam lapangan ini. 2. Manusia bereaksi dengan lingkungannya secara keseluruhan. Karena asumsi bahwa hukum –hukum atau prinsip-prinsip yang berlaku pada proses pengamatan dapat ditransfer kepada hal belajar. 3. maka hasil-hasil yang telah kuat / sukses dalam penelitian mengenai pengamatan itu dibawanya dalam studi mengenai belajar. Pada pengamatan itu menekankan perhatian pada bentuk yang terorganisasi (organized form) dan pola persepsi manusia. Psikologi Gestalt ini terkenal juga sebagai teori medan (field) atau lazim disebut cognitive field theory. tidak hanya secara intelektual. Kelompok pemikiran ini sependapat pada suatu hal yakni suatu prinsip dasar bahwa pengalaman manusia memiliki kekayaan medan yang memuat fenomena keseluruhan lebih dari pada bagian. 4. lengkap dengan segala aspek-aspeknya.

persepsi. Tidak mungkin ada belajar tanpa ada kemauan untuk belajar. dan kontinuitas. motivasi memberi dorongan yang mengerakan seluruh organisme. G. Teori Bandura menjelaskan perilaku manusia dalam konteks interaksi timbal-balik yang berkesinambungan antara kognitif. kelaziman) dan karakteristik pengamat (kemampuan indera. minat. maka dia cenderung menyenangi judi. Dalam hukum-hukum belajar Gestalt ini ada satu hukum pokok. keterlibatan perasaan. Belajar hanya berhasil. kesamaan. apabila tercapai kematangan untuk memperoleh insight.5. 34 . Misalnya seseorang yang hidup dan dibesarkan di lingkungan judi.yaitu hukum – hukum keterdekatan. atau setidaknya menganggap bahwa judi itu tidak jelek. mencakup peristiwa peniruan (adanya kejelasan. 7. 8. Teori Bandura Albert Bandura lahir pada tanggal 4 Desember 1925 di Mundare. Kondisi lingkungan sekitar individu sangat berpengaruh pada pola belajar sosial ini. Perhatian (attention). Faktor-faktor yang berproses dalam belajar observasi adalah : 1. Ia seorang psikolog yang terkenal dengan teori belajar sosial atau kognitif sosial serta efikasi diri. yaitu hukum Pragnaz. Albert berkebangsaan Kanada. proses mengamati dan meniru perilaku sikap orang lain sebagai model merupakan tindakan belajar. bukan ibarat suatu bejana yang diisi. 6. Belajar merupakan suatu proses bila seseorang itu aktif. Menurut Bandura. dan empat hukum tambahan (subsider) yang tunduk kepada hukum yang pokok itu. penguatan sebelumnya). Belajar akan berhasil kalau ada tujuan. tingkat kerumitan. Eksperimennya yang sangat terkenal adalah eksperimen ―Bobo doll‖ yang menunjukkan anak meniru secara persis perilaku agresif dari orang dewasa di sekitarnya. perilaku dan pengaruh lingkungan. ketertutupan.

Teori Bandura menjadi dasar dari perilaku pemodelan yang digunakan dalam berbagai pendidikan secara massal. pengulangan motorik. keakuratan umpan balik. Reproduksi motorik (reproduction).2. Proses belajar masih berpusat pada penguatan. dengan prinsip modifikasi perilaku. Individu akan menyukai perilaku yang ditiru jika model atau panutan tersebut disukai dan dihargai serta perilakunya mempunyai nilai yang bermanfaat. Motivasi. 3. mencakup kemampuan fisik. Individu lebih menyukai perilaku yang ditiru jika sesuai dengan nilai yang dimilikinya. Penyimpanan atau proses mengingat (retention). pengulangan symbol. 1. Proses mengingat akan lebih baik dengan cara mengkodekan perilaku yang ditiru kedalam kata-kata. 2. komunikasi. keorganisasian pikiran. mencakup kode pengkodean simbolik. informasi dan instruksional. mencakup dorongan dari luar dan penghargaan terhadap diri sendiri. Teori belajar dari Bandura ini nampaknya memang bisa berlaku umum dalam semua langkah pendidikan sosial. 4. penerapan teori belajar sosial dalam iklan televisi. 35 . Selain itu. 3. yang harus juga diperhatikan bahwa faktor model atau teladan mempunyai prinsip-prinsip sebagai berikut. Tingkat tertinggi belajar dari pengamatan diperoleh dengan cara mengorganisasikan sejak awal dan mengulangi perilaku secara simbolik kemudian melakukannya. hanya terjadi secara langsung dalam berinteraksi dengan lingkungannya. tanda atau gambar daripada hanya observasi sederhana (hanya melihat saja). kemampuan meniru. Teori sosial belajar dari Bandura ini merupakan gabungan antara teori belajar behovioristik dengan penguatan dan psikologi kognitif. Sebagai contoh.

Penentuan Nilai dari Suatu Insentif 36 . karena nilai penguatan dari penguat yang paling potensial sebagian besar ditentukan oleh faktor-faktor pribadi dan situsional.Namun karena kondisinya yang umum tadi. maka sulit dilaksanakan dalam sekolah-sekolah formal. sehingga metode belajar sosial dari Bandura ini agak sulit dilakukan. Dalam kenyataannya. 1986 dan Wielkeiwicks. karena suasana dan kondisi yang sudah dirancang secara khusus untuk tujuan yang khusus pula. penganut teori perilaku lebih memfokuskan pada seberapa jauh siswa telah belajar untuk mengerjakan pekerjaan sekolah dalam rangka mendapatkan hasil yang diinginkan (Bandura. Peristiwa sosial juga terjadi di lingkungan sekolah dan pendidikan pada umumnya. kita tidak dapat sepenuhnya yakin apa yang merupakan penguat dan apa yang bukan penguat. meskipun ia lapar. Terhadap binatang yang sangat lapar kita dapat meramalkan bahwa makanan akan merupakan penguat yang sangat efektif. Motivasi Belajar dan teori perilaku (Bandura) Konsep motivasi belajar berkaitan erat dengan prinsip bahwa perilaku yang memperoleh penguatan (reinforcement) di masa lalu lebih memiliki kemungkinan diulang dibandingkan dengan perilaku yang tidak memperoleh penguatan atau perilaku yang terkena hukuman (punishment). Penghargaan (Reward) dan Penguatan (Reinforcement) Suatu alasan mengapa penguatan yang pernah diterima merupaka penjelasan yang tidak memadai untuk motivasi karena motivasi belajar manusia itu sangat kompleks dan tidak bebas dari konteks (situasi yang berhubungan). Namun hal itu tentu saja sangat khusus dan terbatas. 1995). daripada membahas konsep motivasi belajar. Hanya dalam situasi sosial dan kemasyarakatanlah banyak terjadi belajar sosial. Terhadap manusia. Yakni untuk tujuan mempermudah terlaksananya proses belajar secara efektif.

Tetapi bagaimanapun juga sejumlah siswa dapat tidak menghiraukan nilai karena orang tua mereka tidak menghiraukannya atau mereka memiliki catatan kegagalan di sekolah dan telah mengambil sikap bahwa nilai itu tidak penting. retensi. tetapi pada saat yang lain. 1992). Apabila guru mengatakan kepada seorang siswa. Pada saat guru mengatakan ―Saya ingin kamu semua mengumpulkan laporan buku pada waktunya karena laporan itu akan diperhitungkan dalam menentukan nilaimu. ―Pekerjaan yang bagus! Saya tahu kamu dapat mengerjakan tugas itu apabila kamu mencobanya!‖ Ucapan ini dapat memotivasi seorang siswa yang baru saja menyelesaikan suatu tugas yang ia anggap sulit namun dapat berarti hukuman (punishment) bagi siswa yang berfikir bahwa tugas itu mudah (karena pujian guru itu memiliki implikasi bahwa ia harus bekerja keras untuk menyelesaikan tugas itu). karena nilai itu dapat bergantung pada banyak faktor (Chance. motor reproduksi dan motivasi. Dalam pembelajaran sel-regulatory akan menentukan ―goal setting‖ dan ―self evaluation‖ 37 .Ilustrasi berikut menunjukkan poin penting: nilai motivasi belajar dari suatu insentif tidak dapat diasumsikan. 1978). Lebih lanjut menurut Bandura (1982) penguasaan skill dan pengetahuan yang kompleks tidak hanya bergantung pada proses perhatian. ada motivasi lain yang berpengaruh (mempengaruhi) terhadap perilaku belajar siswa. Seringkali sukar menentukan motivasi belajar siswa dari perilaku mereka karena banyak motivasi yang berbeda dapat mempengaruhi perilaku. tetapi juga sangat dipengaruhi oleh unsur-unsur yang berasal dari diri pembelajar sendiri yakni ―sense of self Efficacy‖ dan ―self – regulatory system‖. Kadang-kadang suatu jenis motivasi jelas-jelas menentukan perilaku. 2) sub proses kognitif yang merasakan.‖ guru itu mungkin mengasumsikan bahwa nilai merupakan insentif yang efektif untuk siswa pada umumnya. Self regulatory adalah menunjuk kepada 1) struktur kognitif yang memberi referensi tingkah laku dan hasil belajar. dan pengatur tingkah laku kita (Bandura. Sense of self efficacy adalah keyakinan pembelajar bahwa ia dapat menguasai pengetahuan dan keterampilan sesuai standar yang berlaku. mengevaluasi.

Bila tingkah laku yang dipelajari kurang memberi manfaat (tidk begitu penting) model manakah yang lebih penting? c. a. Menurut Bandura agar pembelajar sukses instruktur/guru/dosen/guru harus dapat menghadirkan model yang mempunyai pengaruh yang kuat terhadap pembelajar.Tetapkan fungsi nilai dari tingkah laku dan pilihlah tingkah laku tersebut sebagai model. motor skil atau efektif? b. self efficacy. Apakah model harus hidup atau simbol? Pertimbangan soal biaya. Apakah reinforcement yang akan didapat melalui model yang dipilih? 3. Apakah tingkah laku (kemampuan yang dipelajari) merupakan hal yang penting dalam kehidupan dimasa datang? (success prediction) b. d. Bagaimanakah urutan atau sekuen dari tingkah laku tersebut? c. Dimanakah letak hal-hal yang penting (key point) dalam sekuen tersebut? 2.pembelajar dan merupakan dorongan untuk meraih prestasi belajar yang tinggi dan sebaliknya. mengembangkan ―self of mastery‖. Pengembangan sekuen instruksional Untuk mengajar motor skill. pengulangan demonstrasi dan kesempatan untuk menunjukkan fungsi nilai dan tingkah laku. 38 . Apakah karekter dari tingkah laku yang akan dijadikan model itu berupa konsep.Analisis tingkah laku yang akan dijadikan model yang terdiri : a.Langkah-langkah manakah menurut sekuen yang harus dipresentasikan secara perlahan-lahan. bagaimana cara mengerjakan pekerjaan/kemampuan yang dipelajari :how to do this‖ dan bukannya ―not this‖. Berikut Bandura mengajukan usulan untuk mengembangkan strategi proses pembelajaran yaitu sebagi berikut : 1. dan reinforcement bagi pembelajar.

2. Komponen-komponen belajar terdiri dari tingkah laku.a. disamping pembelajaran-pembelajaran komponen-komponen skill itu sendiri. Belajar merupakan interaksi segitiga yang saling berpengaruh dan mengikat antara lingkungan. konsekuensikonsekuensi terhadap model dan proses-proses kognitif pembelajar. perlu ditumbuhkan ―sense of efficacy‖ dan self regulatory‖ pembelajar. Dalam perencanaan pembelajaran skill yang kompleks. motor skill 1) hadirkan model 2) beri kesempatan kepada tiap-tiap pembelajar untuk latihan secarasimbolik 3) beri kesempatan kepada pembelajar untuk latihan dengan umpan balik visual b. Implementasi pengajaran untuk menunut proses kognitif dan motor reproduksi. 3. faktor-faktor personal dan tingkah laku yang meliputi proses-proses kognitif belajar. 4. Hasil belajar berupa kode-kode visual dan verbal yang mungkin dapat dimunculkan kembali atau tidak (retrievel). Proses kognitif 1) Tampilkan model. 39 . baik yang didukung oleh kode-kode verbal atau petunjuk untuk mencari konsistensi pada berbagai contoh 2) Beri kesempatan kepada pembelajar untuk membuat ihtisar atau summary 3) Jika yang dipelajari adalah pemecahan masalah atau strategi penerapan beri kesempatan pembelajar untuk berpartisipasi secaraaktif 4) Beri kesempatan pembelajar untuk membuat generalisasi ke berbagai siatuasi. Dari uraian tentang teori belajar sosial. dapat disimpulkan sebagai berikut : 1.

40 . Dalam proses pembelajaran.5. dan ―reinforcement‖ dan hindari punishment yang tidak perlu. pembelajar sebaiknya diberi kesempatan yang cukup untuk latihan secara mental sebelum latihan fisik.

yaitu Pierre Van Hiele dan isterinya. menurut Van Hiele adalah sebagai berikut:  Tingkat Visualisasi Tingkat ini disebut juga tingkat pengenalan.A. Teori Van Hiele Tingkat Kognitif menurut Van Hiele Dua tokoh pendidikan matematika dari Belanda. Tahapan berpikir atau tingkat kognitif yang dilalui siswa dalam pembelajaran geometri. Pada tingkat ini siswa sudah mengenal bangun-bangun geometri berdasarkan ciri-ciri dari masing-masing bangun. Dengan demikian. Sebagai contoh. siswa belum mengamati ciri-ciri dari bangun itu. siswa memandang sesuatu bangun geometri sebagai suatu keseluruhan (wholistic). meskipun pada tingkat ini siswa sudah mengenal nama sesuatu bangun. mereka berpendapat bahwa dalam mempelajari geometri para siswa mengalami perkembangan kemampuan berpikir melalui tahap-tahap tertentu.  Tingkat Analisis Tingkat ini dikenal sebagai tingkat deskriptif. Dian Van Hiele-Geldof. pada tahun-tahun 1957 sampai 1959 mengajukan suatu teori mengenai proses perkembangan yang dilalui siswa dalam mempelajari geometri. Pada tingkat ini. Dalam teori yang mereka kemukakan. pada tingkat ini siswa tahu suatu bangun bernama persegipanjang. Pada tingkat ini siswa belum memperhatikan komponen-komponen dari masing-masing bangun. Dengan kata lain. tetapi ia belum menyadari ciri-ciri bangun persegipanjang tersebut. pada tingkat ini siswa sudah terbiasa menganalisis bagian-bagian yang ada pada suatu bangun dan mengamati sifat-sifat yang dimiliki oleh unsur-unsur tersebut 41 .

definisi-definisi. pada tingkat ini siswa sudah bisa mengatakan bahwa jika pada suatu segiempat sisi-sisi yang berhadapan sejajar. tanpa membutuhkan model-model yang konkret sebagai acuan. dan terorema-teorema dalam geometri. 42 . siswa memahami bahwa dimungkinkan adanya lebih dari satu geometri. siswa juga sudah bisa memahami hubungan antara bangun yang satu dengan bangun yang lain. Misalnya pada tingkat ini siswa sudah bisa memahami bahwa setiap persegi adalah juga persegipanjang.Sebagai contoh. Pada tahap ini. siswa mampu melakukan penalaran secara formal tentang sistem-sistem matematika (termasuk sistem-sistem geometri). siswa sudah bisa memahami hubungan antar ciri yang satu dengan ciri yang lain pada sesuatu bangun.  Tingkat Rigor Tingkat ini disebut juga tingkat metamatematis. Pada tingkat ini. Di samping itu pada tingkat ini siswa sudah memahami pelunya definisi untuk tiap-tiap bangun. Ini berarti bahwa pada tingkat ini siswa sudah memahami proses berpikir yang bersifat deduktif-aksiomatis dan mampu menggunakan proses berpikir tersebut. dan semua sudutnya siku-siku‖  Tingkat Abstraksi Tingkat ini disebut juga tingkat pengurutan atau tingkat relasional. aksioma-aksioma. Sebagai contoh. Pada tingkat ini. Pada tingkat ini siswa sudah mulai mampu menyusun bukti-bukti secara formal. karena persegi juga memiliki ciri-ciri persegipanjang. Pada tingkat ini. pada tingkat ini siswa sudah bisa mengatakan bahwa suatu bangun merupakan persegipanjang karena bangun itu ―mempunyai empat sisi. maka sisi-sisi yang berhadapan itu sama panjang.  Tingkat Deduksi Formal Pada tingkat ini siswa sudah memahami perenan pengertian-pengertian pangkal. sisi-sisi yang berhadapan sejajar.

Akan tetapi. 43 . yaitu . pada tahap ini siswa sudah memahami adanya geometrigeometri yang lain di samping geometri Euclides. menurut Van Hiele.Sebagai contoh. kapan seseorang siswa mulai memasuki suatu tingkat yang baru tidak selalu sama antara siswa yang satu dengan siswa yang lain. dan integrasi (integration). semua anak mempelajari geometri dengan melalui tahap-tahap tersebut. proses perkembangan dari tahap yang satu ke tahap berikutnya terutama tidak ditentukan oleh umur atau kematangan biologis. Tujuan kegiatan ini adalah : a. Implementasi Teori Van Hiele dalam Pembelajaran Untuk meningkatkan suatu tahap berpikir ke tahap berpikir yang lebih tinggi Van Hiele mengajukan pembelajaran yang melibatkan 5 fase (langkah). orientasi bebas (free orientation). Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa sambil melakukan observasi. Sehingga. Guru mempelajari pengetahuan awal yang dipunyai siswa mengenai topik yang di bahas. dengan urutan yang sama. pada tingkat ini siswa menyadari bahwa jika salah satu aksioma pada suatu sistem geometri diubah. Menurut Van Hiele. tetapi lebih bergantung pada pengajaran dari guru dan proses belajar yang dilalui siswa. maka seluruh geometri tersebut juga akan berubah.  Fase 1 : Informasi (information) Pada awal fase ini. informasi (information). orientasi langsung (directed orientation). Selain itu. guru dan siswa menggunakan tanya jawab dan kegiatan tentang obyek-obyek yang dipelajari pada tahap berpikir yang bersangkutan. dan tidak dimungkinkan adanya tingkat yang diloncati. penjelasan (explication).

dan tugas-tugas open ended.b.  Fase 3 : Penjelasan (explication) Berdasarkan pengalaman sebelumnya. guru memberi bantuan seminimal mungkin. tugas-tugas yang dilengkapi dengan banyak cara. Melalui orientasi diantara para siswa dalam bidang investigasi. Aktifitas ini akan berangsur-angsur menampakkan kepada siswa struktur yang memberi ciri-ciri untuk tahap berpikir ini. Hal tersebut berlangsung sampai sistem hubungan pada tahap berpikir ini mulai tampak nyata. Mereka memperoleh pengalaman dalam menemukan cara mereka sendiri. siswa menyatakan pandangan yang muncul mengenai struktur yang diobservasi. 44 . Guru mempelajari petunjuk yang muncul dalam rangka menentukan pembelajaran selanjutnya yang akan diambil. banyak hubungan antara obyekobyek yang dipelajari menjadi jelas.  Fase 2 : Orientasi langsung (directed orientation) Siswa menggali topik yang dipelajari melalui alat-alat yang dengan cermat disiapkan guru. Guru dapat membantu dalam membuat sintesis ini dengan melengkapi survey secara global terhadap apa-apa yang telah dipelajari siswa. maupun dalam menyelesaikan tugas-tugas. Jadi.  Fase 5 : Integrasi (Integration) Siswa meninjau kembali dan meringkas apa yang telah dipelajari.  Fase 4 : Orientasi bebas (free orientation) Siswa mengahadapi tugas-tugas yang lebih komplek berupa tugas yang memerlukan banyak langkah. alat ataupun bahan dirancang menjadi tugas pendek sehingga dapat mendatangkan respon khusus. Di samping itu untuk membantu siswa menggunakan bahasa yang tepat dan akurat.

Menurut Ausubel (Dahar 1996) bahan subjek yang dipelajari siswa mestilah ―bermakna‖ (meaningfull). Ausubel mengemukakan bahwa belajar dikatakan menjadi bermakna (meaningful) bila informasi yang akan dipelajari peserta didik disusun sesuai dengan struktur kognitif yang dimiliki peserta didik itu sehingga peserta didik itu dapat mengaitkan informasi barunya dengan kognitif yang dimilikinya. Dengan 45 . konsep-konsep. Menurut Ausubel. dan generalisasi-generalisasi yang telah disiswai dan diingat siswa.B. Belajar bermakna (meaningful learning) 2. Suparno (1997) mengatakan pembelajaran bermakna adalah suatu proses pembelajaran di mana informasi baru dihubungkan dengan struktur pengertian yang sudah dimiliki seseorang yang sedang melalui pembelajaran. David Ausubel adalah seorang ahli psikologi pendidikan. maka terjadilah belajar dengan hafalan. Pembelajaran bermakna merupakan suatu proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Struktur kognitif ialah fakta-fakta. TEORI BERMAKNA AUSUBEL Teori pembelajaran Ausabel merupakan salah satu dari sekian banyaknya teori pembelajaran yang menjadi dasar dalam cooperative learning. Sebaliknya jika siswa menghubungkan atau mengaitkan informasi baru itu dengan struktur kognitifnya maka yang terjadi adalah belajar bermakna D. Jika siswa hanya mencoba menghafalkan informasi baru itu tanpa menghubungkan dengan struktur kognitifnya. ada dua jenis belajar : 1. Dimensi pertama berhubungan dengan cara informasi atau materi pelajaran itu disajikan kepada siswa melalui penerimaan atau penemuan. Selanjutnya dimensi kedua menyangkut bagaimana siswa dapat mengaitkan informasi itu pada struktur kognitif yang telah ada. Belajar menghafal (rote learning) Menurut Ausubel belajar dapat diklasifikasikan kedalam dua dimensi. P.

Belajar menerima (ekspositori) yang tidak bermakna. 3. kemudia pengetahuan yang baru itu dikaitkan dengan pengetahuan yang ia miliki. Belajar dengan penemuan yang bermakna. Bagi Ausubel. kerena beliau menekankan proses penguasaan maklumat melalui bahasa yang bermakna.belajar bermakna ini. yaitu: 1. Belajar dengan penemuan yang tidak bermakna. 2. Selanjutnya peserta didik tidak dapat mengendapkan 46 . guru memberikan konsep-konsep dengan jelas dan tersusun supaya peserta didik dapat menerimanya dengan lengkap dan baik. Dalam pembelajaran resepsinya . Teori pembelajaran Ausubel juga dikenali sebagai teori pembelajaran penerimaan atau penemuan . yaitu pelajaran yang dipelajari ditemukan sendiri oleh siswa tanpa mengaitkan pengetahuan yang telah dimilikinya. materi pelajaran yang telah tersusun secara logis disampaikan kepada siswa sampai bentuk akhir. kemudian dia hafalkan. kemudia pengetahuan yang baru itu dihafalkan tanpa mengaitkannya dengan pengetahuan yang ia miliki. peserta didik menjadi kuat ingatannya dan transfer belajar mudah dicapai. Menghafal sebenarnya mendapatkan informasi yang terisolasi sedemikian hingga peserta didik itu tidak dapat mengaitkan informasi yang diperoleh itu ke dalam struktur kognitifnya. Belajar menerima (ekspositori) yang bermakna. yaitu materi pelajaran yang telah tersusun secara logis disampaikan kepada siswa sampai bentuk akhir. menghafal berlawanan dengan belajar bermakna. yaitu mengaitkan pengetahuan yang telahdimilikinya dengan materi pelajaran yang dipelajarinya atau siswa menemukan pengetahuannya dari apa yang ia pelajari kemudian pengetahuan baru itu ia kaitkan dengan pengetahuan yang sudah ada. Empat tipe belajar menurut Ausubel. 4.

Sebaliknya bila peserta didik itu tidak berkehendak mengaitkan bahan yang dipelajari dengan informasi yang dimiliki. Adanya struktur kognitif di dalam mental peserta didik yang merupakan dasar unsur mengaitkan datangnya informasi baru. Ia tidak menghafal asosiasi stimulus-respon yang terpisah-pisah. akan mengakibatkan peserta didik itu tidak mempunyai keinginan mempelajari materi tersebut secara bermakna. bila diberi bahan materi matematika yang abstrak tanpa contoh-contoh konkrit dari materi tersebut. dikatakan peserta didik itu belajar bahan baru dengan cara yang bermakna. Peserta didik yang masih di dalam periode operasi konkrit. maka belajar itu tidak bermakna. Apabila peserta didik melaksanakan tugas dengan sikap bahwa ia ingin memahami bahan pelajaran dan mengaplikasikan bahan baru serta menghubungkan bahan pelajaran yang terdahulu. Banyaknya pengetahuan yang dapat dipelajari tergantung kepada apa yang sudah diketahui. Demikianlah banyak peserta didik yang tidak berusaha mengerti matematika. Tugas-tugas diberikan kepada peserta didik harus sesuai dengan struktur kognitif peserta didik sehingga peserta didik itu dapat mengasimilasi bahan baru secara bermakna. b.pengetahuan yang diperoleh itu sehingga peserta didik itu hanya dapat mengingat fakta-fakta yang sederhana. Kondisi dan sikap peserta didik terhadap tugas. c. Tugas-tugas yang diberikan haruslah sesuai dengan tahap perkembangan intelektual peserta didik. Belajar bermakna berarti belajar dengan memperoleh pemberitahuan yang bermakna mempunyai pra syarat : a. hendaknya bersesuaian dengan tujuan belajar peserta didik. Dengan demikian 47 . Belajar yang bermakna pada tahap mula-mula memberikan pengertian kepada bahan baru sehingga bahan baru itu akan terserap dan kemudian diingat peserta didik. cenderung mengalami kegagalan dan akhirnya membenci matematika.

Hasil pengkombinasian ini diaplikasikan kepengajaran matematika. perlu dikombinasikan sehingga kelemahan yang satu akan ditutup kekuatan yang lain.peserta didik hanya menghafal pelajaran tadi tanpa pengertian sehingga peserta didik mempelajari matematika dengan pernyataanpernyataan verbalyang tidak cermat dan tepat. Dari dua aliran psikologi yang telah dikemukakan diatas yang masingmasing menghasilkan teori belajar.1989 : 141) ada tiga kebaikan belajar bermakna yaitu : a. Pengaturan awal (advance organizer) Pengaturan awal dap digunakan untuk membantu mengaitkan konsep yang lama dengan konsep yang baru yang lebih tinggi maknanya. Informasi yang dipelajari secara bermakna mempermudah belajar hal-hal yang mirip walaupun telah lupa. 48 . 2. Langkah – langkah belajar bermakna Ausubel adalah : 1. b. Informasi yang dipelajari secara bermaknamemudahkan proses belajar beriktunya untuk materi pelajaran yang mirip. Diferensiasi Progregsif Dalam pembelajaran bermakna perlu ada pengembangan dan kolaborasi konsep-konsep. Ausubel (Dahar. Caranya unsur yang inklusif diperkenalkan terlebih dahulu kemudian baru lebih mendetail. Informasi yang dipelajari secara bermakna lebih lama dapat diingat. c.

Oleh karena itu teori belajar Dienes ini sangat terkait dengan konsep pembelajaran dengan pendekatan PAKEM (Pembelajaran Aktif. mengajukan pertanyaan menantang dan mempertanyakan gagasan anak didik.keterampilan. TEORI DIENES Konsep PAKEM Teori belajar Dienes yang menekankan pada tahapan permainan yang berarti pembelajaran yang diarahkan pada proses melibatkan anak didik dalam belajar. Hal ini berarti proses pembelajaran dapa t membangkitkan dan membuat anak didik senang dalam belajar. efektif dan menyenangkan). bila diberi kesempatan merancang/membuat sesuatu. maka akan mendorong peserta didik untuk menyenangi dan memotivasi mereka untuk 49 . Apabila suasana belajar yang aktif dan kreatif terjadi. Menurut Siswono (2004). Peserta didik akan kreatif. kreatif. Guru harus menciptakan suasana sehingga peserta didik aktif bertanya. menuliskan ide atau gagasan. PAKEM bertujuan untuk menciptakan sesuatu lingkungan belajar yang lebih melengkapi peserta didik dengan keterampilan. memberikan tanggapan. memberi umpan balik. Guru aktif akan memantau kegiatan belajar peserta didik. Dengan memberikan kesempatan peserta didik aktif akan mendorong kreativits peserta didik dalam belajar maupun memecahkan masalah. pengetahuan dan sikap bagi kehidupan kelak. bahkan mencipta teknik -teknik mengajar tertentu sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik dan tujuan belajarnya. Kreatif diartikan guru memberikan variasi dalam kegiatan belajar mengajar dan membuat alat bantu baljar. Berikut ini akan dijelaskan sec ara singkat tentang PAKEM. Aktif diartikan peserta didik maupun berinteraksi untuk menunjang pembelajaran. Kegiatan tersebut akan memuaskan rasa keingintahuan dan imajinasi mereka. mengungkapkan ide dan mendemonstrasikan gagasan atau idenya.C.

memisah - 50 . memanfaatkan perilaku anak dalam pengorganisasian belajar d. Efektif yang diartikan sebagai ketercapaian suatu tujuan (kompetensi) merupakan pijakan utama suatu rancangan pembelajaran. kreatif dam kemampuan memecahkan masalah e. Dasar teorinya bertumpu pada Piaget. memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar g. semarak. Pembelajaran yang tampaknya aktif dan menyenangkan. Dienes adalah seorang matematikawan yang memusatkan perhatiannya pada cara-cara pengajaran terhadap siswa-siswa. Dienes (dalam Ruseffendi. mengembangkan kemampuan bepikir kritis. ekspresif. mengenal peserta didik secara individu/perorangan c. Menyenangkan diartikan sebagai suasana belajar mengajar yang ‖hidup‖. sedemikian rupa sehingga sistem yang dikembangkannya itu menarik bagi siswa yang mempelajarinya. yaitu: a. memberikan umpan balik yang bertanggung jawab untuk meningkan kegiatan belajar mengajar h. mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik f. membedakan antara aktif fisik dn aktif mental. terkondisi untuk trus berlanjut. tetapi tidak efektif akan tampak hanya sekedar permainan belaka. dan mendorong pemusatan perhatian peserta didik terhadap belajar. memahami sifat anak b. Dalam pelaksanaan PAKEM perlu diperhatikan beberapa hal. 1992) berpendapat bahwa pada dasarnya matematika dapat dianggap sebagai studi tentang struktur. Tahap-Tahap Dalam Teori Belajar Dienes Zoltan P.terus belajar. dan pengembangannya diorientasikan pada siswa-siswa.

2. Permainan yang Menggunakan Aturan (Games) Dalam permainan yang disertai aturan siswa sudah mulai meneliti pola-pola dan keteraturan yang terdapat dalam konsep tertentu. Jelaslah. anak didik mulai mempelajari konsep-konsep abstrak tentang warna. akan semakin jelas konsep yang dipahami siswa.hubungan di antara struktur-struktur. yaitu 1. Dienes membagi tahap-tahap belajar menjadi tahap. Permainan bebas merupakan tahap belajar konsep yang aktifitasnya tidak berstruktur dan tidak diarahkan. Anak didik diberi kebebasan untuk mengatur benda. Makin banyak bentuk-bentuk berlainan yang diberikan dalam konsep tertentu. dengan melalui permainan siswa diajak untuk mulai mengenal dan memikirkan bagaimana struktur matematika itu. Permainan Bebas (Free Play) Dalam setiap tahap belajar. Dalam tahap ini anak mulai membentuk struktur mental dan struktur sikap dalam mempersiapkan diri untuk memahami konsep yang sedang dipelajari. Ini mengandung arti bahwa jika benda -benda atau objek-objek dalam bentuk permainan akan sangat berperan bila dimanipulasi dengan baik dalam pengajaran matematika. tahap yang paling awal dari pengembangan konsep bermula dari permainan bebas. Seperti halnya dengan Bruner. Keteraturan ini mungkin terdapat dalam konsep tertentu tapi tidak terdapat dalam konsep yang lainnya.misahkan hubungan-hubungan di antara struktur-struktur dan mengkategorikan hubungan. Anak yang telah memahami aturan-aturan tadi. Dienes mengemukakan bahwa tiap -tiap konsep atau prinsip dalam matematika yang disajikan dalam bentuk yang konkret aka n dapat dipahami dengan baik. karena akan memperoleh 51 . tebal tipisnya benda yang merupakan ciri/sifat dari benda yang dimanipulasi. Misalnya dengan diberi permainan block logic. Selama permainan pengetahuan anak muncul.

Translasi ini tentu tidak boleh mengubah sifat -sifat abstrak yang ada dalam permainan semula. Representasi yang diperoleh ini bersifat abstrak. Contoh kegiatan yang diberikan dengan permainan block logic. 3. Dalam membentuk kelompok bangun yang tipis. hijau. serta timbul penolakan terhadap bangun yang tipis (tebal). timbul pengalaman terhadap konsep tipis dan merah. anak didik memerlukan suatu kegiatan untuk mengumpulkan bermacam -macam pengalaman. Permainan Representasi (Representation) Representasi adalah tahap pengambilan sifat dari beberapa situasi yang sejenis. anak diberi kegiatan untuk membentuk kelompok bangun yang tipis. Permainan Kesamaan Sifat (Searching for communalities) Dalam mencari kesamaan sifat siswa mulai diarahkan dalam kegiatan menemukan sifat-sifat kesamaan dalam permainan yang sedang diikuti. untuk membuat konsep abstrak.hal-hal yang bersifat logis dan matematis dalam konsep yang dipelajari itu. atau yang merah. atau tidak merah (biru). atau yang tebal. Menurut Dienes. Dengan demikian telah mengarah pada 52 . Para siswa menentukan representasi dari konsep -konsep tertentu. atau yang berwarna merah. kuning). anak diminta mengidentifikasi sifat-sifat yang sama dari benda-benda dalam kelompok tersebut (anggota kelompok). 4. Contoh dengan permainan block logic. dan kegiatan untuk yang tidak relevan dengan pengalaman itu. Untuk melatih dalam mencari kesamaan sifat-sifat ini. kemudian membentuk kelompok benda berbentuk segitiga. Setelah mereka berhasil menyimpulkan kesamaan sifat yang terdapat dalam situasi-situasi yang dihadapinya itu. anak dihadapkan pada kelompok persegi dan persegi panjang yang tebal. guru perlu mengarahkan mereka dengan menstranslasikan kes amaan struktur dari bentuk permainan lain. dan sebagainya.

adanya elemen identitas. Contohnya. Dalam tahap ini siswa-siswa dituntut untuk mengurutkan sifat-sifat konsep dan kemudian merumuskan sifat-sifat baru konsep tersebut. Sebagai contoh.20) menyatakan. tetapi mereka sudah mempunyai pengetahuan tentang sistem yang berlaku dari pemahaman konsep-konsep yang terlibat satu sama lainnya. harus mampu merumuskan teorema dalam arti membuktikan teorema tersebut. Contoh kegiatan anak untuk menemukan banyaknya diagonal poligon (misal segi dua puluh tiga) dengan pendekatan induktif seperti berikut ini (gambar 2 5. anak didik telah mengenal dasar -dasar dalam struktur matematika seperti aksioma. 6. kegiatan berikutnya menentukan rumus banyaknya diagonal suatu poligon yang digeneralisasikan dari pola yang didapat anak. asosiatif. Permainan dengan Simbolisasi (Symbolization) Simbolisasi termasuk tahap belajar konsep yang membutuhkan kemampuan merumuskan representasi dari setiap konsep-konsep dengan menggunakan simbol matematika atau melalui perumusan verbal. dari kegiatan mencari banyaknya diagonal dengan pendekatan induktif tersebut. Permainan dengan Formalisasi (Formalization) Formalisasi merupakan tahap belajar konsep yang terakhir. komutatif.pengertian struktur matematika yang sifatnya abstrak yang terdapat dalam konsep yang sedang dipelajari. an mempunyai elemen invers. pada tahap formalisasi anak tidak hanya mampu merumuskan teorema serta membuktikannya secara deduktif. membentuk sebuah sistem matematika. Karso (1999:1. dalam arti membuktikan teorema tersebut. harus mampu merumuskan suatu teorema berdasarkan aksioma. sebagai contoh siswa yang telah mengenal dasar-dasar dalam struktur matematika seperti aksioma. 53 . Misalnya bilangan bulat dengan operasi penjumlahan peserta sifat-sifat tertutup.

Mudah-mudahan melalui tulisan ini. 2. Permainan Operasi Hitung a. 1 . maka anak akan senang belajar matematika sehingga menjadi efektif untuk mendapatkan hasil belajar yang optimal. maka penjumlahan suku-sukunya dilakukan dengan teknik ―menyimpan‖ Permainan ―menyimpan dan menjumlahkan‖ berikut memberikan kemudahan mengajarkan operasi penjumlahan. Permainan Operasi Penjumlahan Ada dua teknik menjumlahkan. Oleh karena itu. akan dibahas permainan matematika pada topik bilangan dan topik geometri.Permainan Interaktif untuk Belajar Matematika Permainan interaktif merupakan suatu permainan yang dikemas dalam pembelajaran. Pada bagian tulusian ini. Tujuan : Memperlihatkan menyimpan sekaligus bentuk nyata penjumlahan dengan teknik menjelaskan langkah-langkah sistematis penyelesaian kalimat penjumlahan. Langkah-langkah permainan: 1. sehingga anak didik menjadi aktif dan senang dalam belajar. Sediakan kantong kain/kantong plastik/kantong dari katon. jika guru dapat mengemas permainan sebagai media maupun pendekatan dalam belajar matematika bagi anak. Jika hasil penjumlahan kurang atau sama dengan 10. maka penjumlahan dapat dilakukan secara langsung dengan cara menjumlahkan suku-sukunya. Sediakan kartu kecil merah untuk puluhan dan kartu kecil putih untuk satuan. Jika hasil penjumlahan lebih dari 10. Anda akan dapat merancang bagaimana mengemas pembelajaran matematika melalui permainan. 54 .

Selanjutnya. 6. Mintalah anak mengerjakan 19 + 27. 4. Mintalah anak untuk mengurangkan 57 – 28 2. Perluas contoh permainannya sampai ke bilangan ratusan dan seterusny 55 . Terangkan karena 7 tidak bisa dikurangi 8 maka ambil 1 kartu merah dan tukar dengan 10 kartu putih sehingga total kartu putih 7 + 10 = 17. b. yaitu 1 + 2 + 1 = 4. Mintalah anak menghitung total kartu merah. Mintalah anak menyatukan 9 dan 7 buah kartu putih dan mintalah anak menghitung jumlahnya (jawaban : 16). yaitu 20 + 9 = 29. Mintalah anak menggantikan 10 kartu putih dari 16 kartu p utih dengan satu kartu merah. Karena dipinjam 1 maka sisa kartu merah menjadi = 4. 17 dikurangi 8 menghasilkan 9. 4. Mintalah anak untuk menjumlahkan hasilnya. 4 – 2 = 2 (terangkan bahwa membacanya 20 karena nilainya puluhan) 3. Permainan Operasi Pengurangan Ikutilah permainan berikut ini untuk memudahkan anak belajar operasi pengurangan dengan teknik meminjam. Permainan ―menukar dan mengurangkan‖ Tujuan: Memperlihatkan meminjam sekaligus bentuk nyata pengurangan dengan teknik memperlihatkan langkah-langkah sistematis penyelesaian kalimat pengurangan. Terangkanlah bahwa nilai empat kartu merah tersebut adalah 40. 5. 8. 7.3. Mintalah anak memasukan kartu merah tersebut ke kantong puluhan dan masukan sisa 6 kartu putih ke kantongan satuan. yaitu 40 + 6 = 46. Selanjutnya. Langlah-langkah permainan: 1. Mintalah anak menjumlahkan hasilnya.

misalnya 2 + 2+ 2 atau bentuk lain 3 x 2. 3 dan 2 disebut faktor dari 6. Pada kalimat 3 x 2 = 6. d. Langkah-langkah permainan: 1. 3.c. Bagikan secara merata 3 permen – 3 permen kepada beberapa anak sampai permen habis. Perkalian merupakan penjumlahan berulang. sedangkan 6 merupakan hasil perkalian 2 dan 3. 56 . Terangkan bahwa hasilnya merupakan perkalian 2 dengan 3. 3. 2. Tanyakan berapa anakkahyang akan mendapat permen. yaitu 6. Tanyakan berapakah jumlah total permen yang telah diberikan kepada ketiga anak tersebut. Permainan Operasi Perkalian Ikutilah permainan berikut ini untuk melatih anak belaj ar perkalian dan kelipatan. Permainan Operasi Pembagian Permainan berikut ini mempermudah anak memahami operasi pembagian. Permainan ―permen perkalian‖ Tujuan: Menjelaskan makna perkalian. 2. Berikan masing-masing 2 buah permen kepada 3 orang anak. Perlihatkan 6 permen di tangan. Permainan ―permen pembagian‖ Tujuan : Menjelaskan makna pembagian Langkah-langkah: 1.

Perhatian (Attention). 5. persepsi. keterlibatan perasaan. Kondisi lingkungan sekitar individu sangat berpengaruh padapola belajar sosial ini. atau setidaknya menganggap bahwa judi itu tidak jelek. tingkat kerumitan. Misalnya seorang yang hidupnya dan lingkungannya dibesarkan dilingkungan judi. nilai fungsi) dan karakteristik pengamat (kemampuan indera. Teori Bandura menjelaskan perilaku manusia dalam konteks interaksi timbal balik yang berkesinambungan antara kognitif. Ulangi permainan ―permen perkalian dan pembagian‖ ini sehingga anak mengerti betul makna perkalian dan pembagian serta hubungan keduanya dengan contoh lain. D.4. maka dia cenderung menyenangi judi. penguatan sebelumnya) 57 . mencakup peristiwa peniruan (adanya kejelasan. minat. Eksperimennya yang sangat terkenal adalah eksperimen Bobo Doll yang menunjukkan anak meniru secara persis perilaku agresif dari orang dewasa disekitarnya. perilaku dan pengaruh lingkungan. Terangkan bahwa hasilnya merupakan pembagian 6 dengan 3. kelaziman. TEORI BANDURA Albert Bandura lahir tanggal 4 Desember 1925 di Mundare Alberta berkebangsaan Kanada. Menurut Bandura proses mengamati dan meniru perilaku. sikap orang lain sebagai model merupakan tindakan belajar. Faktor-faktor yang berproses dalam belajar observasi adalah 1. Ia seorang psikolog yang terkenal dengan teori belajar sosial atau kognitif sosial serta efikasi diri. Tanamkanlah pada anak bahwa 6 : 3 = 6 – 3 – 3. yaitu 2.

Sebagai contoh: belajar gerakan tari dari instruktur membutuhkan pengamatan dari berbagai sudut yang dibantu cermin dan langsungditirukan oleh siswa pada saat itu juga. 4. pengulangan simbol. Di peringkat penghasilan latihan menjadikan tingkah laku lebih lancar dan mahir. Motivasi. Apabila seorang peserta didik tahu bagaimana suatu tingkah laku itu ditunjukkan dan mengingat cara-cara atau langkah.langkah dia mungkin belum bisa melakukannya dengan lancar. pengorganisasian pikiran.perkara penting sebelum meleksanakan tingkah laku model. 2. Reproduksi motorik (Reproduction). mencakup dorongan dari luar dan penghargaan terhadap diri sendiri (Motivation) Selain itu juga yang harus diperhatikan bahwa faktor model atau teladan mempunyai prinsip-prinsip sebagai berikut: 1.2. mencakup kode pengkodean simbolik. Tingkat tertinggi belajar dari pengamatan diperoleh dengan cara mengorganisasikan sejak awal dan mengulangi perilaku secara simbolik kemudian melakukannya. Proses mengingat akan lebih baik dengan cara mengkodekan perilaku yang ditiru kedalam kata-kata. Penyimpanan atau proses mengingat (Retention). 58 . Individu lebih menyukai perilaku yang ditiru jika sesuai dengan nilai yang dimilikinya. Tapi peserta didik itu memerlukan latihan yang banyak. mencakup kemampuan fisik. gambar atau instruksi yang ditulis dalam buku panduan. 3. Peserta didik harus berupaya melakukan semua tingkah laku yang ditirunya. keakuratan umpan balik. Kemudian proses meniru akan lebih terbantu jika gerakan tadi juga didukung dengan penayangan video. pengualangan motorik. kemampuan meniru. tanda atau gambar dari pada hanya observasi sederhana (hanya melihat saja). mendapat bimbingan tentang perkara.

3. Peristiwa sosial juga terjadi di lingkungan sekolah dan pendidikan pada umumnya. informasi dan instruksional. karena suasana dan kondisi yang sudah dirancang secara khusus untuk tujuan yang khusus pula. hanya terjadi secara langsung dalam berinteraksi dengan lingkungannya. 59 . Teori belajar sosial dari Bandura ini merupakan gabungan antara teori belajar behavioristik dengan penguatan dan psikologi kognitif. Sebagai contoh: penerapan teori belajar sosial dalam iklan televisi. hal ini untuk mendorong konsumen agar membeli sabun supaya mempunyai kulit seperti para "bintang" atau minum obat masuk anginnya "orang pintar". komunikasi. Individu akan menyukai perilaku yang ditiru jika model atau panutan tersebut disukai dan dihargai serta perilakunya mempunyai nilai yang bermanfaat. Proses belajar masih berpusat pada penguatan. Hanya dalam situasi sosial dan kemasyarakatanlah banyak terjadi belajar sosial. dengan prinsip modifikasi perilaku. namun hal itu tentu saja sangat khusus dan terbatas. Teori Bandura menjadi dasar dari perilaku pemodelan yang digunakan dalam berbagai pendidikan secara massal. namun karena kondisinya yang umum tadi maka sulit dilaksanakan dalam sekolah-sekolah formal. sehingga metode belajar sosial dari Bandura ini agak sulit dilakukan. Iklan selalu menampilkan bintang-bintang yang popular dan disukai masyarakat. Teori belajar dari Bandura ini tampaknya memang bisa berlaku umum dalam semua langkah pendidikan sosial. yakni untuk tujuan mempermudah terlaksananya proses belajar secara efektif.

Namun karena pengalamannya terhadap lingkungannya. Piaget adalah orang pertama yang menggunakan filsafat konstruktivis dalam proses belajar mengajar. berpendapat bahwa proses berpikir manusia merupakan suatu perkembangan yang bertahap dari berpikir intelektual kongkret ke abstrak berurutan melalui empat tahap perkembangan. Urutan periode itu tetap bagi setiap orang.Periode Sensori Motor (0 – 2) tahun.E. Bila objek itu disembunyikan. 60 . TEORI PIAGET Teori Perkembangan Intelektual Piaget Teori belajar Dienes sangat terkait dengan teori belajar yang dikemukakan oleh Piaget. Karateristik periode ini merupakan gerakan-gerakan sebagai akibat reaksi langsung dari rangsangan.Periode Pra-operasional (2 – 7) tahun. anak itu tidak akan mencarinya lagi. 1981). sebagai berikut: 1. 2. Jean Piaget berpendapat bahwa proses berpikir manusia sebagai suatu perkembangan yang bertahap dari berpikir intelektual konkret ke abstrak berurutan melalui empat periode. bukan aktivitas sensori motor. Piaget (dalam Bell. pada akhir periode ini. Anak itu belum mempunyai kesadaran adanya konsep objek yang tetap. dan merupakan aktivitas mental. Operasi yang dimaksud di sini adalah suatu proses berpikir atau logik. anak menyadari bahwa objek yang disembunyikan tadi masih ada dan ia akan mencarinya. Rangsangan itu timbul karena anak melihat dan merab-raba objek. namun usia atau kronologis pada setiap orang yang memasuki setiap periode berpikir yang lebih tinggi berbeda-beda tergantung kepada masing-masing individu. yaitu mengenai teori perkembangan intelektual.

Dalam periode operasi kongkret. misalnya suatu benda diberi nama (simbol). Pengerjaan-pengerjaaan logikd apat dilakukan dengan berorientasike objek-objek atau peristiwa-peristiwa yang langsung dialami anak. Misalnya semua 61 . Anak dapat membentuk variasi relasi kelas dan mengerti bahwa beberapa kelas dapat dimasukkan ke kelas lain.Pada periode ini anak di dalam berpikirnya tidak didasarkan kepada keputusan yang logis melainkan didasarkan kepada keputusan yang dapat dilihat seketika. Walaupun pada periode permulaan pra-operasional ini anak mampu menggunakan simbol-simbol. Anak itu belum memperhitungkan semua kemungkinan dan kemudian mencoba menemukan kemungkinan yang mana yangk akan terjadi. ia masih sulit melihat hubungan-hubungan dan mengambil kesimpulan secara taat asas. Pada periode ini anak terpaku kepada kontak langsung dengan lingkungannya. Kombinasivitas atau klasifikasi adalah suatu operasi dua kelas atau lebih yang dikombinasikan ke dalam suatu kelas yan g lebih besar. Periode ini sering disebut juga periode pemberian simbol. karateristik berpikir anak adalah sebagai berikut: a. Dalam periode ini anak berpikirnya sudah dikatakan menjadi operasional. Periode ini disebut operasi kongkret sebab berpikir logiknya didasarkan atas manipulasi fisik dari objek-objek. Anak masih terikat kepada pegakaman prib adi.Periode operasi kongkret (7 – 12) tahun. tetapi anak itu mulai memanipulasi simbol dari benda-benda sekitarnya. Pengalaam anak masih kongkret dan belum formal. 3. Operasi kongkret hanyalah menunjukkan kenyataan adanya hubungan dengan pengalaman empirik-kongkret yang lampau dan masih mendapat kesulitan dalam mengambil kesimpulan yang logis dari pengalaman -pengamanan yang khusus.

tetap sama sementara itu aspek lainnya berubah. Hubungan A > B dan B > C menjadi A > C. Identitas adalah suatu operasi yang menunjukkan adanya unsur nol yang bila dikombinasikan dengan unsur atau kelas hasilnya tidak berubah. Misalnya. c. e. Demikian juga suatu jumlah dapat dinolkan dengan mengkombinasikan lawannya. Korespondensi satu – satu antara objek-objek dari dua kelas. 62 . Misalnya himpunan bilangan bulat. Kesadaran adanya prinsip-prinsip konservasi. operasi ‖+‖. berlaku hukum asosiatif terhadap penjumlahan.dalam himpunan bilangan bulat dengan operasi ‖+‖. Reversibilitas adalah operasi kebalikan. Namun prinsip konservasi yang dimilikianak pada periode ini masih belum penuh. tetapi ia sudah mulai menggeneralisasi objek-objek tadi. Misalnya. d.manusia lelaki dan semua manusia wanita adalah semua manusia. f. Setiap operasi logik atau matematik dapat dikerjakan dengan operasi kebalikan. misalnya 4 – 4 = 0. Anak pada periode ini dilandasi oleh observasi dari pengalaman dengan objek nyata. b. Asosiasivitas adalah suatu operasi terhadap beberapa kelas yang dikombinasikan menurut sebarang urutan. Misalnya unsur dari suatu himpunan berkawan dengan satu unsur dari himpunan kedua dan sebaliknya. 5 + ? = 9 sama dengan 9 – 5 = ? Reversibilitas ini merupakan karakteristik utama untuk berpikir operasional di dalam teori Piaget. Konservasi berkenaan dengan kesadaran bahwa satu aspek dari benda. unsur nol adalh 0 sehingga 8 + 0 = 8.

Ia mampu menggunakan prosedur seorang ilmuwan. Adapun akomodasi adalah proses menstrukturkan kembali mental sebagai akibat adanya informasi dan pengalaman baru tadi. Periode operasi formal ini disebut juga disebut periode operasi hipotetik-deduktif yang merupakan tahap tertinggi dari perkmbangan intelektual. faktor-faktor menuju penyelesaian Asimilasi adalah proses mendapatkan informasi dan pengalaman baru yang langsung menyatu dengan struktur mental yang sudah dimiliki seseorang. Anak juga sudah dapat berpikir kombinatorik. belajar itu tidak hanya menerima informasi dan pengalaman baru saja. segi panjang dan parallelogram sebagai segi empat. Misalnya di dalam struktur mental peserta didik telah ada pengorganisasian dan pengelompokan bentuk-bentuk bujur sangkar. tetapi juga terjadi penstrukturan kembali informasi dan pengalaman lainnya untuk mengakomodasikan informasi dan pengalaman yang baru. Anak sudah dapat mengoperasikan argumen-argumen tanpa dikaitkan dengan benda-benda empirik. Konsep konservasi telah tercapai sepenuhnya. artinya bila anak dihadapkan kepada suatu masalah. Periode ini merupakan tahap terakhir dari keempat periode perkembangan intelektual.4.Periode Operasi Formal (> 12) tahun. Jadi. Anak-anak pada periode ini sudah memberikan alasan dengan menggunakan lebih banyak simbul atau gagasan dalam cara berpikir. Anak telah mampu melihat hubungan hubungan abstrak dan menggunakan proposisi-proposisi logik-formal termasuk aksioma dan definisi. ia dapat mengisolasi itu faktor-faktor sehingga tersendiri atau mengkombinasikan masalah tadi. yaitu menggunakan posedur hipotetik-deduktif.definisi verbal. Anak mampu menyelesaikan masalah dengan cara yang lebih baik dan kompleks dari pada anak yang masih dalam tahap periode operasi kongkre t. Kemudian kepada peserta 63 .Anak sudah mampu menggunakan hubungan-hubungan di antara objek-objek apabila ternyata manipulasi objek-objek tidak memungkinkan.

yaitu yang pertama. b.didik itu diberikan lagi bentuk trapesium. pengalaman logika-matematika yang berupa kegiatan mental yang ditampilkan individu dan struktur kognitifnya diorganisasikan menurut pengalamannya. Transmisi social merupakan interaksi dan kerja sama seseorang dengan orang lain atau dengan lingkungannya. Pengalaman yang dimaksud ada dua macam/. Peristiwa itu juga berarti terjadinya penstrukturan kembali kognitif yang telah dimiliki oleh peserta didik karena datangnya informasi baru tentang trapesium tadi. Ketiga factor itu harus ada agar seseorang berkembang dari satu periode ke periode berpikir yang lebih tinggi. Hal ini amat penting bagi perkembangan mental anak. Perkembangan intelektual itu dipengaruhi oleh tiga factor berikut : a. c. 64 . Ini berarti peserta didik tersebut menyatukan objek baru itu ke dalam struktur kognitif yang sudah dimiliki dan terjadilah proses asimilasi. Penyetimbangan (equilibration) merupakan proses adanya kehilangan stabilitas di dalam struktur mental sebagai akibat pengalaman dan informasi baru dan kembali setimbang melalui proses asimilasi dan akomodasi. Kematangan merupakan proses pertumbuhan psikologis dari otak dan sistem syaraf. Ini berarti terjadinya akomodasi. Pengalaman juga mempunyai andil dalam pengembangan intelektual. Piaget percaya bahwa operasi formal tidak akan berkembang di dalam pikiran tanpa adanya pertukaran dan koordinasi pendapat di antara orang-orang. Peserta didik itu me ngerti bahwa trapezium itupun merupakan segi empat dengan sifat yang sedikit berbeda dengan bentuk-bentuk yang telah dipelajari sebelumnya. Sebagai hasil dari penyetimbangan itu. struktur mental berkembang dan menjadi matang. pengalaman fisik yang berupa interaksi setiap individu dengan objek-objek di lingkungannya: yang kedua.

Proses penyetimbangan juga terjadi dalam belajar. Misalnya seseorang mendapat gagasan yang tidak terorganisasikan melalui kontak social atau pengalaman dari lingkungan, tetapi butir-butir itu terdapat perbedaan, perbedaan ini harus menjadi harmonis. Maka terjadilah proses penyetimbangan itu (logika matematika). Perkembangan Intelektual Anak dalam Belajar

Menurut Ruseffendi (1992), untuk dapat mengajarkan konsep matematika pada anak dengan baik dan mudah dimengerti, maka materi yang akan disampaikan hendaknya diberikan pada anak yang sudah siap intelektualnya untuk menerima materi tersebut. Contoh, meskipun anak berumur 3 tahun sudah dapat menghitung angka 1 –10, tetapi dia belum mengerti bilangan 1, 2, dan seterusnya. Oleh karena itu, dia akan kesulit an jika harus belajar tentang bilangan. Agar anak dapat mengerti materi matematika yang dipelajari, maka dia harus sudah siap menerima materi tersebut, artinya anak sudah mempunyai hukum kekekalan dari jenjang materi matematika yang dipelajari. Menurut piaget (dalam Ruseffendi; 1992), ada enam tahap dalam perkembangan belajar anak yang disebut dengan hukum kekekalan, sebagai berikut: 1. Hukum Kekekalan Bilangan (6 – 7 tahun) Anak yang telah memahami hukum kekekalan bilangan akan mengerti bahwa banyaknya suatu benda-benda akan tetap meskipun letaknya berbeda-beda atau diubah letaknya. Anak yang sudah memahami hukum kekekalan bilangan sudah siap untuk menerima pelajaran konsep bilangan dan operasinya. Sementara itu, anak yang belum memahami hukum kekekalan bilangan baginya belum waktunya mendapatkan

65

pelajaran operasi penjumlahan dan operasi hitung lainnya. Hukum kekekalan bilangan biasanya dipahami anak pada usia 6 – 7 tahun. 2. Hukum Kekekalan Materi ( 7 – 8 tahun) Anak yang sudah memahami hukum kekekalan materi atau zat akan mengatakan bahwa materi atau zat akan tetap sama banyaknya meskipun diubah bentuknya atau dipindah tempatnya. Sedangkan anak yang belum memahami hukum kekekalan materi akan mengatakan, bahwa air pada dua mangkok yang berbeda besarnya menjadi tidak sama, meskipun anak tersebut tahu bahwa air itu dituangkan dari dua bejana yang sama besar dan sama banyaknya. Anak yang belum memahami hukum kekekalan materi belum dapat melihat persamaan atau perbedaan dari satu sudut pandang saja. Contohnya, anak yang sudah dapat membedakan bilangan ganjil dan genap, bilangan kelipatan 3 dan bukan kelipatan 3, dan sebagainya. Masih akan kesulitan jika disuruh menentukan bilangan prima genap, atau bilangan genap kelipatan lima, dan sebagainya. Pada umumnya, anak memahami hukum kekekalan materi pada usia sekitar 7 – 8 tahun. 3. Hukum Kekekalan Panjang (8 - 9 tahun) Anak yang telah memahami hukum kekekalan panjang akan mengatakan bahwa panjang tali akan tetap meskipun tali itu

dilengkungkan. Sedangkan anak yang belum memahami hukum kekekalan panjang akan mengatakan bahwa dua utas tali yang tadinya sama panjang waktu direntangkan, menjadi tidak sama panjang bila yang satunya dilengkungkan sedangkan yang satunya lagi tidak. Anak yang belum memahami hukum kekekalan panjang akan memperoleh kesulitan dalam mempelajari konsep pengukuran, terutama pengukuran panjang benda -

66

benda yang tidak lurus. Hukum kekekalan panjang biasanya dipahami oleh anak pada usia sekitar 8 - 9 tahun. 4. Hukum Kekekalan Luas (8 – 9 tahun) Hukum kakakalan luas biasanya dipahami anak bersamaan dengan hukum kekekalan panjang, yaitu pada usia sekitar 8 - 9 tahun. Anak yang sudah memahami hukum kekekalan luas akan memahami bahwa luas daerah yang ditutupi suatu benda akan tetap sama meskipun letak bendanya diubah. Sedangkan anak yang belum memahami hukum kekekalan luas cenderung mengatakan bahwa luas daerah yang ditutupi 4 persegi kongruen yang diletakkan tersebar (tidak berimpit) lebih luas dari pada daerah yang ditutupi oleh 4 persegi kongruen yang diletakkan berimpitan. Anak yang belum memahami hukum kekekalan luas akan kesulitan belajar luasan suatu daerah. Misalnya, dalam menemukan rumus luas jajarangenjang yang diturunkan dari rumus luas persegi panjan g. 5. Hukum Kekekalan Berat (9 – 10 tahun) Hukum kekekalan berat menyatakan bahwa berat suatu benda akan tetap meskipun bentuk, tempat, dan atau penimbangan benda tersebut berbeda. Pada umumnya anak akan memahami hukum kekekalan berat setelah berusia sekitar 9 – 10 tahun 6. Hukum Kekekalan Isi (14 – 15 tahun) Hukum kekekalan isi menyatakan bahwa jika pada suatu bak atau bejana yang penuh dengan air dimasukan suatu benda, maka air yang ditumpahkan dari bak atau bejana tersebut sama dengan isi benda yang dimasukannya. Pada umumnya anak akan memahami hukum kekekalan isi pada usia sekitar 14 – 15 tahun atau mungkin sebelumnya. Untuk hukum kekekalan isi, karena pada umumnya belum dipahami pada anak SD, maka tidak dibahas lebih lanjut, dalam bahan ajar ini

67

 Max Wertheimer (1880-1943) Belajar pada Kuelpe. Dengan pernyataan ini ia menentang pendapat Wundt yang menunjuk pada proses fisik sebagai penjelasan phi phenomenon. Dengan konsep ini. ataupun kemiripan menjadi kesatuan. tetapi proses mental. seorang tokoh aliran Wuerzburg. pola. Konsep pentingnya : phi phenomenon (bergeraknya obyek statis menjadi rangkaian gerakan yang dinamis setelah dimunculkan dalam waktu singkat dan dengan demikian memungkinkan manusia melakukan interpretasi). Teori gestalt beroposisi terhadap teori strukturalisme. Wertheimer menunjuk pada proses interpretasi dari sensasi obyektif yang kita terima. Lewin adalah salah seorang ahli yang sangat kuat menganjurkan pemahaman tentang lapangan psikologis seseorang. Teori gestalt cenderung berupaya mengurangi pembagian sensasi menjadi bagian-bagian kecil.F. Bersama-sama dengan Wolfgang Koehler (1887-1967) dan Kurt Koffka (1887-1941) melakukan eksperimen yang akhirnya menelurkan ide Gestalt. Tahun 1910 ia mengajar di Univeristy of Frankfurt bersama-sama dengan Koehler dan Koffka yang saat itu sudah menjadi asisten di sana. 68 . TEORI GESTALT Tokoh Gestalt Gestalt adalah sebuah teori yang menjelaskan proses persepsi melalui pengorganisasian komponen-komponen sensasi yang memiliki hubungan.  Kurt Lewin (1890-1947) Pandangan Gestalt diaplikasikan dalam field psychology dari Kurt Lewin. Proses ini terjadi di otak dan sama sekali bukan proses fisik.

yang cenderung dipersepsikan oleh manusia sebagai figure and ground. Lapangan psikologis ini terdiri dari fakta dan obyek psikologis yang bermakna dan menentukan perilaku individu (B=f L). yaitu lapangan psikologis tempat individu berada dan bergerak. 2. Pengorganisasian ini mempengaruhi makna yang dibentuk. warnadan 69 . Interaksi antara individu dan lingkungan disebut sebagai perceptual field.Konsep utama Lewin adalah Life Space. potongan. Prinsip dasar Gestalt 1. Tugas utama psikologi adalah meramalkan perilaku individu berdasarkan semua fakta psikologis yang eksis dalam lapangan psikologisnya pada waktu tertentu . Gerakan individu mencapai tujuan (goal) disebut locomotion. Penampilan suatu obyek seperti ukuran. Setiap perceptual field memiliki organisasi.  Principle of Similarity: bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang berada dalam arah yang sama cenderung akan dipersepsi sebagi suatu figure atau bentuk tertentu. Oleh karena itu kemampuan persepsi ini merupakan fungsi bawaan manusia. bukan skill yang dipelajari. Prinsip-prinsip pengorganisasian:  Principle of Proximity: bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertentu.  Principle of Figure and Ground: yaitu menganggap bahwa setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar belakang.    Principle of Objective Set: Organisasi berdasarkan mental set yang sudah terbentuk sebelumnya Principle of Continuity: Organisasi berdasarkan kesinambungan pola Principle of Closure/ Principle of Good Form: bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap.

 Principle of Isomorphism: Organisasi berdasarkan konteks. guru hendaknya menyadari tujuan 70 . Setelah proses belajar terjadi. Pengalaman tilikan (insight). hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa. Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning). khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. makaakan terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figure. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons. seseorang dapat memiliki cara pandang baru terhadap suatu problem. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah. Aplikasi prinsip Gestalt Proses belajar adalah fenomena kognitif. bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. Oleh karena itu. Dalam proses pembelajaran. Apabila individu mengalami proses belajar. Bila figure dan latar bersifat samar-samar. Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain : a. c. Perilaku bertujuan (pusposive behavior). bahwa perilaku terarah pada tujuan. Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya. kebermaknaan unsurunsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari. Contoh: perubahan nada tidak akan merubah persepsi tentang melodi.sebagainya membedakan figure dari latar belakang. terjadi reorganisasi dalam perceptual fieldnya. tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. b.

Konsep insight ini adalah fenomena penting dalam belajar. Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat. Oleh karena itu. Oleh karena itu. jejak ingatan ini akan berubah pula sejalan dengan prinsip-prinsip organisasional terhadap obyek. Menurut pandangan Gestalt. materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik. Prinsip ruang hidup (life space). bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada.sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya. guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya.  Memory Hasil persepsi terhadap obyek meninggalkan jejak ingatan. Dengan berjalannya waktu. individu mampu menerapkannya pada problem sejenis tanpa perlu melalui proses trial-error lagi. e. d. ditemukan oleh Koehler dalam eksperimen yang sistematis. Penerapan Prinsip of Good 71 . yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. Setelah adanya pengalaman insight. Transfer dalam Belajar. Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain.  Insight Pemecahan masalah secara jitu yang muncul setelah adanya proses pengujian berbagai dugaan/kemungkinan.

Demonstrasinya mengenai peranan latar belakang dan organisasinya terhadap proses-proses yang diamati secara fenomenal demikian meyakinkan sehingga boleh dikatakan tidak dapat di bantah. fenomena ini juga menjelaskan pengaruh gosip/rumor. Manusia bereaksi dengan lingkungannya secara keseluruhan.  Pandangan Gestalt menyempurnakan aliran behaviorisme dengan menyumbangkan ide untuk menggali proses belajar kognitif. yang selama ini dihindari karena abstrak. Secara sosial. antara lain : 1. 72 . Keseluruhan ini memberikan beberapa prinsip belajar yang penting. berfokus pada higher mental process.Form seringkali muncul dan terbukti secara eksperimental.dan problem solving beroperasi. Belajar adalah penyesuaian diri dengan lingkungan. tidak hanya secara intelektual. Implikasi Gestalt  Pendekatan fenomenologis menjadi salah satu pendekatan yang eksis di psikologi dan dengan pendekatan ini para tokoh Gestalt menunjukkan bahwa studi psikologi dapat mempelajari higher mental process. Ada beberapa hal yang patut dicatat sebagai implikasi dari aliran Gestalt. Psikologi Gestalt bermula pada lapangan pengamatan (persepsi) dan mencapai sukses yang terbesar juga dalam lapangan ini. sosial dan sebagainya 2. Adanya perceptual field diinterpretasikan menjadi lapangan kognitif dimana proses-proses mental seperti persepsi. insight. emosional. tetapi juga secara fisik. Tokoh: Tolman dan Koehler. namun tetap dapat mempertahankan aspek ilmiah dan empirisnya.

2. Mengambil kesimpulan. Dewey ada 5 upaya pemecahannya yakni: 1. Jadi harus memahami apa masalahnya dan juga harus dapat merumuskan. Realisasi adanya masalah. apabila tercapai kematangan untuk memperoleh insight. Belajar adalah perkembangan kearah diferensiasi ynag lebih luas. Belajar merupakan suatu proses bila seseorang itu aktif. Menilai dan mencoba usaha pembuktian hipotesa dengan keteranganketerangan yang diperoleh. motivasi memberi dorongan yang mengerakan seluruh organisme. Dengan 73 . Belajar hanya berhasil. 5.3. 4. 6. sebagai suatu jalan yang mungkin memberi arah pemecahan masalah. membuat laporan atau membuat sesuatu dengan hasil pemecahan soal itu. Belajar memecahkan masalah diperlukan suatu pengamatan secara cermat dan lengkap. 8. Kemudian bagaimana seseorang itu dapat memecahkan masalah menurut J. bukan ibarat suatu bejana yang diisi. Teori medan ini mengibaratkan pengalaman manusia sebagai lagu atau melodi yang lebih daripada kumpulan not. lengkap dengan segala aspek-aspeknya. 5. Mengajukan hipotesa. Tidak mungkin ada belajar tanpa ada kemauan untuk belajar. 7. Mengumpulkan data atau informasi. dengan bacaan atau sumber-sumber lain. Hal ini nampaknya juga relevan dengan konsep teori belajar yang diawali dengan suatu pengamatan. Manusia berkembang sebagai keseluruhan sejak dari kecil sampai dewasa. Belajar sangat menguntungkan untuk kegiatan memecahkan masalah. 4. demikian pula pengalaman manusia tidak dapat dipersepsi sebagai sesuatu yang terisolasi dari lingkungannya. Belajar akan berhasil kalau ada tujuan. 3.

Dengan memahami bagian / detail.yang mencerminkan prinsip dasar dari proses belajar yang dianut oleh Thorndike yaitu bahwa dasar dari belajar (learning) tidak laian 74 . Animal Intelligence (1911). namun ia telah membentuk tahapan behaviorisme Rusia dalam versi Amerika. dan mendapatkan gelar PhD-nya tahun 1898. Thorndike berprofesi sebagai seorang pendidik dan psikolog yang berkebangsaan Amerika. Ateacher’s Word Book (1921). dan burung. sebaliknya belajar mulai dengan mempersepsi keseluruhan. An experimental study of associationprocess in Animal”. kemudian dia tinggal dan mengajar di Colombia sampai pension pada tahun 1940.dia menerima bea siswa di Colombia. dan master dari Hardvard pada tahun 1897. Lulus S1 dari Universitas Wesleyen tahun 1895. Belajar bukan merupakan penjumalahan (aditif). Edward lee thorndike meski secara teknis seorang fungsionalis. dia mengikuti kelasnya Williyams James dan merekapun cepat menjadi akrab.kata lain berbeda dengan teori asosiasi maka toeri medan ini melihat makna dari suatu fenomena yang relatif terhadap lingkungannya . maka persepsi awal akan keseluruhan objek yang semula masih agak kabur menjadi semakin jelas. Buku ini yang merupakan hasil penelitian Thorndike terhadap tingkah beberapa jenis hewan seperti kucing. Thorndike (1874-1949) mendapat gelar sarjananya dari Wesleyan University di Connecticut pada tahun 1895. Mental and social Measurements (1904). dan Human Nature and The Social Order (1940). Dan dia menerbitkan suatu buku yang berjudul ―Animal intelligence. yakni menangkap bagian bagian dan detail suatu objek pengalaman. TEORI THORNDIKE Biografi Edward Lee Thorndike. lambat laun terjadi proses diferensiasi. Buku-buku yang ditulisnya antara lain Educational Psychology (1903). anjing. G. ketika disana. S2 dari Harvard tahun 1896 dan meraih gelar doktor di Columbia tahun 1898.Your City (1939).

sebenaranya adalah asosiasi. dalam hal ini objek mencoba berbagai cara bereaksi sehingga menemukan keberhasilan dalam membuat koneksi sesuatu reaksi dengan stimulasinya. maka pada saat menghadai masalah yang serupa. Objek penelitian di hadapkan kepada situasi baru yang belum dikenal dan membiarkan objek melakukan berbagai pada aktivitas untuk merespon situasi itu. Ia mengasosiasikan suatu masalah tertentu dengan suatu tingkah laku tertentu. 75 . mencakar dan sebagainya sampai suatu saat secara kebetulan ia menginjak suatu pedal dalam kandang itu sehingga kandang itu terbuka. berjalan. Teori ini sering juga disebut ―Trial and error‖ dlam rangkan menilai respon yang terdapat bagi stimulus tertentu. Teori ini disebutdengan teori S-R. Sejak itu. dalam teori S-R di katakana bahwa dalam proses belajar. pertama kali organisme (Hewan. organisme sudah tahu tingkah laku mana yang harus di keleluarkan nya untuk memecahkan masalah. yang di masukkan dalam kandang yang terkunci akan bergerak. Pada mulanya. pendidikan dan pengajaran di amerika serikat di dominasi oleh pengaruh dari Thorndike (1874-1949) teori belajar Thorndike di sebut ― Connectionism‖ karena belajar merupakan proses pembentukan koneksi-koneksi antara stimulus dan respon. Thorndike mendasarkan teorinya atas hasil-hasil penelitiannya terhadap tingkah laku beberapa binatang antara lain kucing. Berdasarkan pengalaman itulah . suatu stimulum akan menimbulkan suatu respon tertentu. meloncat. kucing akan langsung menginjak pedal kalau ia dimasukkan dalam kandag yang sama. maka organisme itu akan mengeluarkan serentakan tingkah laku dari kumpulan tingkah laku yang ada padanya untuk memecahkan masalah itu. Kalau organisme berada dalam suatu situasi yang mengandung masalah. dan tingkah laku anak-anak dan orang dewasa. Orang) belajar dengan cara coba salah (Trial end error). Teori Edward Lee Thorndike. Seekor kucing misalnya.

Hukum latihan (law of exercise). ada aliminasi respon-respon yang gagal atau salah 4. maka ia merasa senang/puas dan akibatnya antara soal dan jawabannya yang benar itu akan kuat tersimpan dalam ingatannya. Konkretnya adalah sebagai berikut: Misalkan seorang siswa diminta untuk menyelesaikan suatu soal matematika. maka ikatan tersebut akan semakin kuat. Semakin sering suatu materi pelajaran diulangi maka materi pelajaran tersebut akan semakin kuat tersimpan dalam ingatan (memori). Interpretasi dari hukum ini adalah semakin sering suatu pengetahuan—yang telah terbentuk akibat terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon—dilatih (digunakan). ternyata jawabannya benar. yaitu apabila asosiasi yang terbentuk antara stimulus dan respon diikuti oleh suatu kepuasan maka asosiasi akan semakin meningkat. Ada motif pendorong aktivitas 2. Isi teori ini sangat berorientasi pada fisiologis 2. Hukum akibat (law of effect). jika suatu respon yang diberikan oleh seseorang terhadap suatu stimulus adalah benar dan ia mengetahuinya. Hukum kesiapan (Law of Readiness) : adanya kematangan fisiologis untuk proses belajar tertentu. 3. yaitu apabila ikatan antara stimulus dan respon lebih sering terjadi. suatu tindakan yang diikuti akibat yang menyenangkan. hukum ini menunjukkan prinsip utama belajar adalah pengulangan. ada kemajuan reaksi-reaksi mencapai tujuan dari penelitiannya itu. maka kepuasan akan tercapai dan asosiasi akan diperkuat. ada berbagai respon terhadap situasi 3. setelah ia kerjakan. misalnya kesiapan belajar membaca. maka ikatan itu akan terbentuk semakin kuat. Hukum ini dapat juga diartikan. Hal ini berarti (idealnya). Jadi.Ciri-ciri belajar dengan trial and error : 1.T 1. maka tindakan 76 . Hukum-hukum yang digunakan Edward L.

Unsur-unsur yang identik itu saling berasosiasi sehingga memungkinkan masalah yang dihadapi dapat diselesaikan. Sedangkan hukuman yang diberikan guru atas pekerjaan siswa (misalnya celaan guru terhadap hasil pekerjaan matematika siswa) menyebakan siswa tidak lagi mengulangi kesalahannya. maka tindakan tersebut cenderung akan tidak diulangi pada waktu yang lain. Konsep ini maksudnya adalah penggunaan pengetahuan yang telah dimiliki siswa untuk menyelesaikan suatu masalah baru. Dalam hal ini. haruslah dilatih terus dengan mengerjakan soal-soal yang berikaitan dengan operasi aritmetik. 77 . tampak bahwa hukum akibat tersebut ada hubungannya dengan pengaruh ganjaran dan hukuman. sering terjadi. Dengan demikian kemampuan mengerjakan operasi aritmetika tersebut menjadi mantap dalam pikiran siswa. Thorndike juga mengemukakan konsep transfer belajar yang disebutnya transfer of training. Ganjaran yang diberikan guru kepada pekerjaan siswa (misalnya pujian guru terhadap siswa yang dapat menyelesaikan soal matematika dengan baik) menyebabkan peserta didik ingin terus melakukan kegiatan serupa. perkalian. Misalnya. pengurangan. ada unsur-unsur dalam masalah itu yang identik dengan unsur-unsur pengetahuan yang telah dimiliki. dan pembagian) yang telah dimiliki siswa. Selanjutnya. Selain hukum-hukum di atas.tersebut cenderung akan diulangi pada waktu yang lain. bahwa hukuman yang diberikan guru atas pekerjaan siswa justru membuat siswa menjadi malas belajar dan bahkan membenci pelajaran matematika. dapat disimpulkan bahwa transfer belajar dapat tercapai dengan sering melakukan latihan. Namun perlu diingat. Jadi. kemapuan melakukan operasi aritmetik (penjumlahan. karena di dalam setiap masalah. Sebaliknya. setiap kemampuan harus dilatih secara efektif dan dikaitkan dengan kemampuan lain. Unsur-unsur yang saling berasosiasi itu membentuk satu ikatan sehingga menggambarkan suatu kemampuan. suatu tindakan yang diikuti akibat yang tidak menyenangkan.

Mengajar bukanlah mengharapkan murid tahu apa yang diajarkan.Aplikasi teori Thorndike dalam dunia pendidikan dan pengajaran Aplikasi Teori Thorndike dalam dunia pendidikan dan pengajaran Menurut Thorndike praktek pendidikan harus dipelajari secara ilmiah dan praktek pendidikan harus dihubungkan dengan proses belajar. Mengajar yang baik adalah : tahu tujuan pendidikan.  Buat hubungan sedemikian rupa sehingga menghasilkan perbuatan nyata dari peserta didik  Bila hendak menciptakan hubungan tertentu jangan membuat hubunganhubungan lain yang sejenis  Ciptakan suasana belajar sedemikian rupa sehingga dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari 78 . Situasi-situasi yang sama jangan diindahkan sekiranya memutuskan hubungan tersebut. respons yang akan diharapkan dan tahu kapan ―hadiah‖ selayaknya diberikan kepada peserta didik. tahu apa yang hendak diajarkan artinya tahu materi apa yang harus diberikan. Beberapa aturan yang dibuat Thorndike berhubungan dengan pengajaran:  Perhatikan situasi peserta didik  Perhatikan respons yang diharapkan dari situasi tersebut  Ciptakan hubungan respons tersebut terjadi dengan sengaja. jangan mengharapkan hubungan dengan sendirinya.

79 .

 /.8.-.9 :-:3.3 8:/...5.3 31472.8 54909 /0/:91 ../. 8:/. 0257  ./ 503897:9:7.9: 2. -03/./.3 39009:.842.342508 /. .3 .9. 508079.3 /...5.8 /.7:203 9. 8:/.-897.  3.8472.3 :-:3. /..... -0757  3..3 2:./.8 /.9 .3.5. 31472.. 8:/.5 90793 /.2./. 2.3  3.8. 80-. 907.3 . 31472. 203072. 202-07.3 -.8 43709  43805 43807.2 897:9:7 2039.7 9: 9/. 4-0 4-0 .3 -.2 9.9: 203:3..7 /.3  /.7 0025..8 . 3.7: 8. .9./.5.3.9.5 907.424/.3 5745488 5745488 4 1472.8.3.5.:.3 57480/:7 8047./.2.7 5072-.38.3 1...3 5480/:7 54909 /0/:91  3.8..5 :. 3 /80-:9 :.8 1472.2.3 503.9.3 5.424/.8 90. 202:33.3 /03. :39: 203.2.3 503.3.38:3 203.9: /03..3 897:9:7 2039.:3  !074/0 3 207:5.  ..8.25: 203008.3. / /. 2.8 /. 3 2. -.3 .3 /0138  /0138 . 50347.7: .25: 203:3..3 -.3 -.9 5074/0 50702-. 31472.7: 9.3 503.9 20384. 907.3 05. /.. 9073. 508079./03.3 207:5.35..3. 2039. 9072. /80-:9 5074/0 4507.: 20342-3. . .7. /./. 80 025.8 /. 8:.7. .   .30--.3 .. 2.3 503. 90.8 /. 80503:3.3 05.3 -03/.33. . 5.9../.3 :-:3.82-:. /.3 2...7  80 5.3 /. /2 808047.3.3 02-.7 5.9  02:/.30--.793./  -0.  3.3 2.3 503.3 9.  909.947 1.8./.5.8 1..8: .3 / . 5074/0 3 8:/.39. // 90. /.3.5:3 .947 907803/7 .2.3 39009:./  .25: 20.3 203:3.3 /03.3 /. 574808 203/..5.8 /. 2.3 02-..3  . .35:./..3 ../  82.  !074/0 4507. 574808 203897:9:7.947  .3 -039: -039: -::7 8.3 .5 5074/0 4507.9 -0757 42-3.-.8 ..7:203 .. :.947 1..3 9.8.25: 203:3.07-.7. . 203:: 503008. !074/0 507..947 9: 803.2 80-.047.7:  8.8 4-0 4-0 9/.3 :-:3.3 31472.2.7.3 50304254.3.9.8.3..3 203:3.8.  9. /..3.3.9 2034507. 2.

3 02-.3/ /.  3 -07.7:9039..703.8  !0702-. 2025:3. -07. -039: 97.. 97.3 90.9. /2 40508079. /.3 .7 49../3.3 574808 5079:2-:.339009:.3 80 025.  02..8-.3./  3-07./. /50.3 /2..3.9 .79907..7:409. .8  !0789.9 /03.3 907.. /03.424/./.50:2 9:5:3 207:5.3 90.3 :.3 .3 81. // 9: 203079 -.9:/503.//.9.508:2  !08079.3./3.2897:9:7 4391 .// 9: /-07.7. /2 /.3 207:5.3 -039: -039: .3 8:/.1. 503897:9:7. /:.82.31472.397..2.3 4-0-.2 50302-.3 58448 /.3 39009:.33. 574808 . 9: :.  !03.2.79 907..3 88902 8.3 80/9 -07-0/..79508079.947-07:9 ..508:29. 4391 .7:9:0 /./. 2.9:.2.1  !03.8:/ .//90780-:9 203.7 80-0:23..

 207:5.9: .3 -0702-.5 3/.8/.7 8.2. 0./.. 8.3 9: 897:9:72039..3 89.38.3 06:-7.3 18 .2 897:9:7 2039.347.3 5079.3203.3 -07:5.33. .3.3 02-.3 20. 2. 3907.3447/3.3 /03.3 /9...7:8 .  !03092-.9: 5074/005074/0-0757.3   09.3 47.33.3203:7:9503.  -  %7.-0702-./: /03.  503.3. .9.3/./. 808047.  503.33.3 4.30-93    . 80-..3 2039..3.7: /. 4507. 50702-.3.25.943  207:5.8 / /.7.3 3907.:/03. . 0.7 808047././: /. -. 5079:.8 1472.8503/.3.7.3 3/.2.9. . /47.  !.82.9. ..47.2..8 -.. .3.9/.3828 84. ...9.3 -0702-.3.7503092-.3 /. .8.3.3 /. .35.2.-.3.3 897:9:7 43913.39.. . .: 574808.8 /.-9.2 57. 8092-.3 4-0 4-0 / 3:3.8 $0-..3 574808 .3  .3 9.902.09 507..33:3.5.2.3/.3 -07:5. 1.2.424/...947 9: .8 809. 9/./2.3 2039.3 07..3.3 / /.3 0/:.3 31472.950393 -.3.9 503.8/.2.

. 907.5.5 2085:3 09. 8.3.3. /03. -0:2 .9.7 3:3.3 -0:2 202.7.5..3 3 .9:3.38.7:8 8:/.907 90780-:9  .79039. 09.9: /.3.793../. 907...3.3 /.3 /8..3 43805 2.3. 8.:3 8:/..902.7  8.3  . . 2..72438  .. 574808 503092-. -07-0/.3.7.9 203. ::2 00.3.  3..7 .39: 4.3 5... 8. .3.3./.902.3 43805 -./ /.    909.3.  0. 9:  .3. -07:2:7  9.3 9/./.. 8:./ .3 909.9 .: 503.2 9.. /203079  2.703.5.09 /.2 -0.3.25.3 8:/. 50.5 /. .2 ::2 00.3  909.9 2039:3 . -0/.3.3.3  9.3 8:/.3 90.8.3  80-.2 ::2 00. 90747.20.5.3 .3../.3 2. 202..3 /.3 -.3.3.3.3 /50. .907 90780-:9  4394  2085:3 .!74808 503092-..3 203/..  !0702-.339009:.2.3 -. .5 /.7  03:7:9 #:801103/   :39: /. .7  03:7:9 5..9072. 2025:3.-07:9  ::200.. /... 84.3-./. .7:8-0. -0:2 203079-. /-07.3 . 5.3.2 #:801103/   ..92030792.5.:3  3.3.9 507-0/..3 -.83.. 203/.3.7 2.7.3 20.9..2 ::2 00. -..3 .3 203079 -.9. 8:/.3 2:/...9.3   .3 -..3  507-0/.3..2 50702-.3..3. .  $02039.380907:83. 03. 202.902.7.3.907 2. -03/.3 -.9.5 :39: 203072.3  /.3.3.5..5 203072. 2.3 8:/.9. /.5 -:97 -:97 9: 907/. . .3 /...907 .: 439..: /:-. . .8.308:9.3 .5 39009:. :39: 203072. /.9: -03/..902.3/50.2.3 :..3 4507. 2.3 03/.3 ::2 00..3./. .7:8 203. 808047.3 -0.9.3..7 03.3 /80-:9 /03.

3 203.3 .3.9:3.9. .3.3.3 -03/.2.:3   ::200.3 5.3.3 203.3 8..3.3.3 203. 203. 9/..3  907:9.9.:3   ::200.3.9.3 2.3.3./ 9/. /:.2 ::2 00.8 .3 -.305../.2.3..3.38.   .8 503:2.3  $0/..3  9.2 ::2 00.3 .3.  3.33.: .3 /.8.. /03:3...2. .2.9.907 5.3..3-. 202.3 5.. .73.9 ...7 43805 503::7.: 507-0/.5  .3.3. .8 9:3 .: .3/.3 . .3 /.34 . 90780-:9 9.7 8.5.3 203.9.3 .  !. 9025.3 08:9.907 .. -08.3 -0:2 202. 8..380-.: -.3./.3 .3..3 5. .3 572.3 -.50. 2.  $0/.9:3. 202. 03./5.9: 8:/:9 5.3  203.3.3 20250740 08:9. :2:23.3 -0:2 202.3 9.907.2.: -.3.9.505.7 9. ..2..9..3 .3 ...3 8.5.3 /. 5.:3  3.2 ::2 00..3 .75..7 /.  .3.: /53/.3 4507.3.2::2 00.9..9 . ./3. /8:7: 203039:.2 ::2 00. 2085:3 /:-. .2 ::2 00.9: /7039.9 202-0/.:3  3.  .:8...5 -.2.3 8.3 .3 05.907  9.3!.3 /.3 -0:2 202.3.2 ::2 00. ... 5..3 -.3 -.  ::2 00.2. /.3 909.9.3 2.3 -.7.3 -07-0/.9 20. 9. 8.. 809. -08.3.3 /.7 9: /9:.  2085:3 .380-.3 90..2.3 8.3 2.9 5078.3 -.9.32. . :9.3.. ./.3 03...3.3../.  43943.3.3 .907 -0:2 /.3/..3.3.5. 503::7.3.3../ 9/. -039:3. 5. .3 9.3 4507. :8..3 -0:2 202.7 /:.5 2085:3 9. 8. /.907.3 80/.3-.3 8:/.3.3 909. 2.3 /.93.  3.3 8:/.5 8.. -0..303. . /:.3 -.3 2.3 5.3-:..8 9. -.9.2 20250.-..3...9... 202. .. 9: /03:3.

3  . 809.9:/..3 08:9..8.2 -.9: -03/.-0:2 /5.3.2-.9: 5.:3  ::2 .  !..3 :..307.3 .  $0/. /03.3 -0:2 202.3 -.9. .2.3.5.3 -.7  9.3 /9:25.: -0. 5.3 /09.2 ::2 00./..9.... :8.. /5.8.8. ..5.7    9.3./.3. /:-.8 .:7:8 ::200..9./.3 :.5 2085:3 -039:  9025.3 8:.  /.. 9/./.9.9 8090.03/07:3 203.8 /.3 8 5..38 ..3 /9:9:5 40  50780 437:03 .3 -07.3.  2.7 5.2 20302:. -078.9: -./..3./-.7 .3 :...3 -.3   ::200.3.3-. .8  9.9: -03/...07.. 809. .7 :.3 . :2:23.2 ::2 00. :2:23.3 -07. :8.303.3 8 -03/.809.3..3.240 .. -07259  0- :.3 /03.3 909. 2085:3 09.3 -0:2 202..3 ::2 00.3/..3. .3.3 /9:9:5 8:.7 -.3  3.7 9/.39/.3 /2. /.. 202.: 2:33 80-0:23.2. ..3 202.7    9.9.8 .2 .: -0.$  2. :..3 5.8:.-07:8.:3  ::200..07.8 .3 909.07.9: -03/.2.35.809.3:.  8.. . . .9 203. !.:3  3.9 8:.37:2:8 :.38  9.3../.:3   ::200.. .3. .3 /9:9:5  50780 437:03 ..8:. 90780-:9 8.. :..9.3 202.2 ::2 00.33.2 ::2 00.8.3:9 /..3 503: /03.3 /09.:3  ::2 00.8 /.73   .77:2:8:. ...5 8.8507805.  &39: ::2 00.3 /.3.. ..3 -03/.8 /. -07...3 202.07./. .:2:23...3 . 90780-:9 -07-0/. -03/. .7.8 -. 8:. .:8.../5.9   9.3 8:/..3 8 203.3 -0..7 9.3 90780-.3 8:.3.3.2 ::2 00..7 /2.3.3/9:7:3.:3 .703../..3 -07259.3..: 5032-..9.25./.3 :...80-.:3  ::2 00. .9  /.-03/.3.

.3/..   20../.5030.3/. /03. 80-:.7 5.9 -0745488 907. % #$%% %44089..3 -.9  089. 8. 8././ 7.9 203.34007   /.341..80.358448808047.:5:3 0275./.3 .31:79 -078. /2:3. !748083907.0790207    0..3  54.9072.. 8.2. 2030:7.7 8038.5. 4-0 89.3.3 /03..7 / &3.9 .3:7.3 .9 9: 8:/.3 .8.:...3.3 202 :-:3.3 503/.9  %.3 9039. :050  8047. .  43805 503933.39.3 4254303 4254303 8038.9 :.3 411.35073.3 :07-:7  078.3203:3:5. 203:7.3 /3.  5 503420343 -0707./.:3   .//49.3 8.9:.5574808 2039.8 /.8  03. 203039.98 203.44/... 203.88903/8.8.2.3    .820  %047 089.  ./-.9/.203.8.3 502-.9 .3 4007 /.38.3  %047 089.5..30.3 /0 089.3.2.38038.:.35503420343  O :7903    !. /03.03/07:3 -07:5.9.3.  O ./ 08./.2.  03.0789 41 7.33 .3 502.7.3.: 50347.38. 9047 .20./.3 8.2.3089./.3.3 2030.3/02.3 08507203 ./.32.3 07.5748081880-.28 8090. 574808 39075709.-:.84-091.3 43805 3  0790207 203:3: 5.9 /.210/58.3 574808 5078058 20.5 9047 897:9:7.2 .3 944 .3202:33..:.3.3:79411.8.8 .9..7:7903  03 .9 :3/9.73..5.3 574808 18 909..2.3:8.9: 83.339075709. . 8047.8 203.3 203.3 /.

5.25:.3.03.2.9: 9079039:  07.3.3..8.3 80-. 80-.7.03/07:3.38.2..38./:203.059:.3 1:38 -.3/5. 5.3584483907/7/.3.3 3:3.7. 207.9.50 41 !7429 -.2./:-07..3 /.3/-039:     !7385 5738550347..7.:5:37:..43805:9.3 8:/. 9: 02.71.3 /80-:980-.2.8 :9. .7./: -07/..: 3/..424943  !7385/.9.7:2..8 -07/.38.3 2039./.5..7089.3 -07.34-0 58448 ..3 -.. .9:2.3 507.703.2-/.5.: 3/.5507.3 5078058 3 207:5.. /80-:94.. /.9   3907.39.9.3/...38.0 $09 7.33202503.3083.2-:3./: /.907-039:80-0:23./: 1   %:.50 41 -0.3 4.8.3 /50.8.0 .03/07:3/5078058.10/20247.10/  $09.3584489025.2./.3503.3 -072.8:.3 503.3 584483.8.38. 1:70 .504148:70.354.8-07/. 809 .3 8 ../.3 40 2.8./.50 41 $2.9:.3 802:.3/507805880-.3 .9::.3 2.3 088 /.3./.2. 5844 .. 1.8.3/.8 .8.. O !73.33/.8.5.3/ 74:3/  0 ..3 8.2 .3:8.. O !73.3 -07/0./.9.79 -.9.059:.9. :38:7 :38:7 .9:-039:9079039:  O !73.  -:.9 3/./. :38:7 :38:7 -/.7..38.3-0707..:-039:9079039:  O !73.3 507.9: 1:70.3.10$5.50414393:9 7.507.2.. 58448 .3./.3 203039:.3 O !73.7 !0347.9. .3:8.

9:4-0805079::7.38:.3 . /:..9: 203.47.3 .3 54943.50 41 :70 .03/07:3 .9: 1:70 -039:  /.3 .: 503. 809.3.2.3..73.25.9: 54.3 /.9.2.3 2038 04843./.3/ 74:3/ ..3   .5  O !73.9.504144/472-.5 -.7 -0. .5.03.3 9/.3 !03.5 -/.!73..3 8:.9.9.3 503.9 /-. 4-0 .

.3.7 907.3 .3 /.3.  !03.9 !74808 -0. 0907.:  .333/. :-:3. ..: -:. // 20303.3 574808 0/:5.703.3 5020. /.9: :7:03/.7  .  0../.3 2020..9../: 203.2.2.3 01091 808:.7.: -079::.3 9.3 . 507. 5.343908  5.38.3 389  -.3 20303..8 /.3 9.203..91 5020.9 :-:3.38.80-.5.7  907..7  2.3.3 50393 /.2 0.7. 1:70 /.504184247582 7.39./. 9::..:50789.25:.2.8-07/..3  ...28:.7.5.9: :38:7 .9.3 9.3 50302-.3 .3 1:70 /.: 907.3:38:7 :38:7/.9: 574-02  5..3 8:. 50780589039.3 502-039:.333/. 9.  $090.8./. ../03.3 1:70  4394 507:-.89047089.9 50393 /.3 3.8 2.. !74808 502-0.8.7 508079. ..8.3 48 /03..47  -.3 /.331:0.  !07.2 574808 -0..0907.3.39.7 .3-072.9.9 8.3 ./ 7047.0 -0..3.857385089..3 .3 0.-.7.059:. 202-0/.2 574808 502-0.7.9:4-0.9. // 202 02..-:7.2 507.  ..8 /...3/.-.3 . 907.7 8.2574808502-0.9: .79::.3  03/.7 -0.3 -.3.33.2 /0391.3 503.187.3 -07../..7 -0781.3 .3 203:3.3...3.3 /50. 9/. 5.7.3 5:8548.3/03..3.39::.3 892::8 7085438  909..3204/  O !73. // 03/.3 /50.3.3  . /.3   ..3 907.7.7.7./  808047...3.3./.3 2../.5.3 .7 .2 574808 502-0. 508079.3  !07.7.5 8:.3 207:-.3.3..9. 20.9 ..  .3:38:7 :38:7 .9073..5.7 /.3 507. 9::.9 202 .33..9.3.9/. 202 2.25:. 3 8.3 01091 . 1034203. 508079.3 .  :8:83. 3/...2 507.3 2. 574808 -0. .7: 907... .9: 02.33.9.3.. 10/3.3 907..3 0.733 0-072. 4391  5..  -  !02-0.8 2../ 0../ .

3 203:8:3 09039:.7..39: 508079.33.39079039:089:.38107/.3 /03.38107 -0.:/.7.907 .: 3/.7 8:.3 :.8 ..7.9:5023/.8.389:. 9: .9.7 2.8/.7 .3 /:3.3 2.3 /../ .8 /. 9:  2.2 9.3.3 2005..3 503933. // /.3 /2.3 202-.3 03:7:95.703..3 .20. 508079.2 89:.9.29::. 54.8 503. /...3/03.3 57385 57385 544 .. // :39: 203:.3 -07-.3.9.354..8 502-0.3 02:/.9 97.3 503079.8.9 202-. 8:8:3.3.3. 574808 503:.9.8. .... .5 57385 57385 544 /..3/.3 /:5 10 85.3.3 2.343/8 3:3..907 ..8  %7.3 /.2 502-0.8.0  -./.8.39: 508079. /..5.  0 .3 /./ /03.3089.9. .7.3 0307.  /  !7385 7:.8 9079039: :39: 02:/.9: 50784.3 ..289:.  O 389 !020.3.7 8:.3 /.5. 503. 9:  :7: 03/./.703.7..//  0  %7.80-.3 2:3. /:.3 905....3.. 507.8 /.: 8090.3 /.8.7..8.. . // 90.. -07.3  0 ..2 202...7.2 89:.507.3 4-0 /.3 :2:2 0307.3 3:3.3 /.9.33. 80. 57385 57385 544 /.2020907.3508079.7 907.3.8 :39: 02:/.9: 431:7./: 202 0907.38107 -0..7. 203..2 2020..2 89:.3/.3 /.3.30/:5.-.9  :// 2030.5...3 203025...3 09039:.3 20302:.8 .8 431:7.303/.3 907.

. 80.5.3 /03.907.98  O 0247 . .../.5 4-0 2033.574-02800389.2-0.3 0.33.50393 /./.3..3  03.02:33.3404007/./.3 -07:-.3 389 3/.208507203.:57480897.33. 503. 3.9:  0./. .5.2.9.3  $090..9.54-0 !0307.843. 3.7 /902:. 07747./.38.3 57385 5738547.1034203../:2.388902. 438053893.3!73854144/   . 5:.35..25:20307.8 5078058 907.3 -07..507: 20.5..3 3 .

.7..7.3503.3 907-:9 80. 2:3.  1034203. $0.2030.7:485.3:.848.: /.8. 085072039.472 8073.

.5.3.5. -070. 1034203.3 1034203448 203..7 4391  -0714:8 5.9 203025:73.059:. 10/ /39075709. 80.7 :.50308:. 39009:../.7.3089.39.5.3 3:3.7:247  /.7.9.. /./ .3-0-07./. /.9  25.  O !.3 203:2-.3 80-...5 /.7 07 2039.7.3 -0.7.9.. 080:7:.-0-07.3 203.5 :.8089..3 47..7. .2 . 574. 8:808 . 944 089.  909.9 O !03/0.3 3 5.7./.  848.7.350393 . 20303. 5.3 20.57385-0.088  /.703.5.8 /03.9.34007  !844 089.3  9/.9.9 203:3:..3 803. 805079 5078058  389 /.3 5078058  /.3.5. . .3 203.  3.3 .5.980-./ 8. 574808 574808 2039.5.39.9 2025079.7.9.. -40 /.3.33:3.3    .7 . 3 /3/. 07 2039.47820 /03.3 4391 /2.8.3.7.3:8..5.3 9/.9..8502.3 .2. 80. 507.3. 574.3 907-08.2.-897.2:3 909.3. 8../..907.3/.9 -072:.2.35. .   080:7:.3 088 / 5844 /.3   . 18  024843.3.9: 503/0.3 503/0.3-074507.3.25.3 /03.3 .3 /.38.9.3574-0284.3025783.33202-07.. 80. 574808 -0.8 %44%42.3./.8/..7.   0.9:9/.9 20250.33.7 -0..3 -.5 574808 574808 .3 80. /02.3 3  0243897.3/7/03.3 /0 :39: 203.83.3.83.3/..088  .3 089. 89:/ 5844 /.. /.3 /..3 .3.3 503.. 507.7...9/-.3.9 80.5.

3 0907.9 2020.3-.3  0..5.8.7.75.5020.../107038..8/. :8.  80-...50702-.9: -0...73:3.3 2.3 -. .7:8202.7 2020..3 54908...8.4-.3 :39: -0.. 502-:9.3 80../..8 202-07/4743. 8:.9. -0.. 03.: 8:2-07 8:2-07 .3.3.3   .83.2.5/03../.. 907..9.  ./0..3./.7.7  249..3 2.3    03.3 349  /02.8  . 80-.3.5.8.3 .2.85020.3.5.: 202-:.3 .91 -:..3-07.3 2.808047.7:8/.3:8.3 -.9.9: 503.3.:5.3 .33..3 :39: 20250740 389    %/.70.: .5  02:/.3:8.7.2- 0825:.9:.384..7.././..080:7:.25. 700.. .78.3/50740    03.7 .98:.3 /./.  03. 808047. -07./../.808:.8.. 2:33 .9 808:.8.2.9..: 31472.9::.3 0907.3 203.3 2:33 202-07 .3 5:.3.2.3.7.3    03.2.38:.2...3.3 9: /.3 2020.32.9 ./... 5020..3820    0.7 .: 204/ .3  202-:.    03:25:.7./.9.. :.3   #0.. /.390784..8.8.30.8.203:7:9 00..:.:.3 54908./.8.9 /.2.8.9.547.3. /03.35..9.3 503.380:7:47.3 2. .0-:.3:.33..7207:5.9: 503.. :25:.9:574808-..9:  %047 20/.3. 503.072.9207:2:8. /507:. 3 3..3 0- /.380.:.9: .3.320307.3    0.. 02.8503. .3 .3:8..9 203:39:3.3 8:..9.380.-.3 8:.3/8   0.8    0... .7 9.9.7..380-..850 ..3.9/507805880-.    0.3 43805 9047 -0. 9/.3 /..8  /03. .3:39: 0.2.25.9.3 /03.5.5.-0702-.5.3 3 203-. 02. /03.8.32.... .39:.9: /03.3 03.

.3-07-0/.3 207:5.33 20.848.3  .3 ./91 80-.91907....3-.3 203.9.3 2025078058 080:7:.5-..../.3 .2-...7 2:.53:3.  0..8  ..33.2.8 2.3.7 8:./.3 503:2.8:.:3 907..2 -.39047.9:4-0503.9:1034203.370./03.3/09.3 03./ 574808 /107038.. /03.3/..3202.3.9 .7-:.9 2.3. -0.940720/.

 39003..733  9/.25.8   % #% # 47. ::8$/.3:2..3/.:3 :: -:: .7&3.90.7080.3.593.9038 8047. 9.3.44    039..-:7203.93..5.3:9 40 %473/0 .9.3 203. /.1/. 9.0789/4330.7/.7 -0.8.9:70.8080039.83.3 8:.:3 $/.9: -:: .7/ 5.3 -0.0723.:9 5.3 080:7:. 8047. 20307-9.3   .78.9. . 88.7 ! 3.:3   09.3 /. 203:9 0.943.3 /.47820 #:8. 9./.5.0   90.:3/.8:7020398    32.0  3 05072039. /8.2 .3 -:7:3 . .3207.0..3 0..7 . 89:/ 41 .  %473/0    203/..3%473/0907.8.7 .850309. 90. 2.3 203/.208 /.7 574808 -0. / 442-.-0-07.38.3 ../. 7/07   /..3 207:5.. 39003.  :: 3 .3/ 84.3 /9:83.3 4-0 ..07 8 47/ 44  4:79  /.088 3 32.078 207.8.0380. 203072. .  2.  /.3.3207.30.:3  . /.5038435.0789.7 /.2:3. !8.33  /.7..8  3.3 -070-.7 /.5:3 ./.7/442-.3/%0$4.7/ 009473/0 20880.7.7/9.3 57385 /. 5078058 .3 2.3 /:.3. .28 . 202-039: 9.:3   /.7 .5..8907 /.9.3 &3..05.7...:3   02:/. .9: -.943574./ ...3 5844 . -0.- /.7..5.39.3 2070.8 .  /.3 503// /...9.7.7/4947/4:2-..3 802:.9 203.3805079:.7 0./802./. 0./.. . /09.3203..7/00%473/0  %473/0 -07574108 80-./.31:3843.884.3 -07:/: 32.3  .

3 -0707.7 5079. . .: 93.. 8:.3 47.../2.3 /..3  2043..3 :.38.  47..8..3 2. .8 ..9  203.3 .2574808-0. -070.: 47.2.3 807:5.3 203.25.7..3820 0.3 93.    .9 -.3 / .  -07.3820 -07.3-0:2/03.: 2.9:70.: -0-07.2 7.7/00%473/0  !.: .8. .3820 8:/.3 8:./. 9079039: /03.: 9079039:  $0047 :. 0-09:.3 -0.7.5.4-./.7.8 50309.2 . 9.9: 89:.3 / 2.. /.  . 5.7/03.3 2032-:.3 4308 4308 .4-.. . 2:.. ..3 /.9: 2. 892::8/.3/. 892::8 9079039:  %473/0 203/.8 .7..3 /0. 203. .3 203.3 28.3.  -050309.3.8-.2.94308808:.3 907/..7 %473/0 / 80-:9  4330.3-07-..3/.3 574808 502-039:.89:. 8. /.  2.33.3708543 %047 38073 :.3 90473.8.8 40 503. /.5.9: 708543 9079039:  %047 3 /80-:9/03. .9..8 . -./.7.3 503..:.3.3 2.3 9:.8 803.3.89:  /.. %7.50/.807..3.3 .7 :25:.3 3.7 %473/0    9047 -0.8.3 9: 803.94382  .3/. 2033.2..2 .3 . /80-:9 %7./.7. 8. . 8.: .3 907:3..:. :39: 2020..3.2 8:.2 9047 $ # / . -3.848.7 /..9.: /.5 93..3 80-.9: 8. -07-. .3 93.3 9: 907-:.703.2..9: 50/.3  /.2 .47.3/... 8:. 9:  07/..8.5./.80-03..7:. 3 4-0 203..39.9.7:8 / 00:. .3 503.  503//..3 8:.3..  %047/.3.3.3/.8. /.7.34-020.8:..3 .32030:. 03/ 07747  .9: 892::2 .3/:32. .9 / /423.3 . 9:  :.7.8  8:.3/ 07747  /.3.3 0-07.3  7.. 2. 907..83./...2202-:.7.39.8.  $0..8. .9 80.848.207.7.3 9047 $ #  /.305.38209:./..8. 20302:. -0. . 2...3.3 .3 202-.3892:.3 .47..9 203. :39: 2020.9../.3/..3807039. ..9.8:39:2070854389:.393.3/.. .  . 5..7.8/03. 708543 ./..5.7 207:5.8:./..7..7: /.9: 93.3 8:.../. .8.38:3 2033. ./.

907 50.3708543 /.5.80  .3 90780-:9 .8708543 708543..3 57385 :9.892::8 /.:. 41 007.803.:3.3.7.5.9: 05:.9 907..3 ../  ::2 3 203:3:.3 /:..9 907825.3 -0.   .9.9. 892::8 /.3 :.3907-039:802.7 2.39:.8 .79 /0.902.3.3 907-039: .8   . 02.7 202-.3 8073 8:...3/:3.9. -0. 503:.9: 892::8 .848.207.397..18448   ::2 . 8 904738..8 /.79079039:  28.9:708543 .9.848..3 .3. 802. 907-039: .388..9.3 :.7 ..7.9 437093...-.8.23..3 907.3 /-07.9 .9...3 802.39.80-.370. -03. .8 70.02.7 . 892::8 /.2491503/4743./.907 50. 2..9. 2..8   .:8.2.8:.3802.3 2.8 .5..3 2.750309./.8.5 8:./.7-0. 41 #0.7.3 .9:  ::2 ::2.85.3 /507:.9  ./.3907./.3 8073 8:.9:.././.-03.3 90.3.3..3.2 3.5./..3./.32033.3.3 90780-:9 . .848.9.7 ::2 3 .5..3 20247    ::2 .3/.33.7/03....8..708543907.9  .3  $02... . 07.3 18448 :39: 574808 -0.3/.39./.7.5..7/ %   ::2 08.-.9 /:3.9::.3. 2.3 9073./.3 :.-.3 40 808047.9-0747039.3.8 .8..-.-07:98. /239...38047.3  2.9: 84./3.33./. .3 708543 /:9 40 8:..20309./ 2.9.9 .-.9.3/07747   /.3-07.848.3 /..7 /. ..9  39075709.9: 50309../3088   .3 802.. :39: 203008..7.3 8:.05:.9: .37085430-8073907.  8090. .9: 2.39..3.9..:.. 41 0110.589:... 08.-07-..8203.3.

..3 /.8/.3 .9: 93/.3 /:9 .9 :.93.7 9: .3 :..79. 84.-.3.3 -03.9.3   .5:. .9 .9 907825.3 20303.33. 93/.39.-.3 .-.  ::2 3 /.2 3..7.3  8:.5.. /.3  2.. /.33. .3 .

9907.. 2.03/07:3 .:..8.3 /.03/07:3.3 -.7 .3  507.3  .8.9.  .3 88.  02.3 /03.3 /:9 .3.8 5007../  /.3 5.9: 93/.9.9 /825:.9:.38107 41 97. ...3 ::2.202:33.9.3 4507.7/.7:  ..9: 2.3 90./..902.9.9.3.25:..9.3  .3202-03./ 2.3 88.3 :7: 907.7 /. /2 88. 5:.3/0399:8.5. .3 .9.7. ..  2030-. 20303.3 02.3 88..3 84.3  $0-.3  . // 33 907:8 20./..9.3 -..5.7:8 /.3 508079.  $0/./.  . 97.  8:.8:/3. /03.9 88.8 5007. 88. 9: .3 9/.-. :38:7 :38:7 /.3.:. -.5:.  .9 203008.3 20307.302.50.38107 -0. .8 -0.3 . 93/.3 807:5.3 90.7.5...2 57.9: .25:.34507./.3 . 503:3..38107 -0.3 4507.3.25:.-.::2.3 8./:.9:02.5 02.3 88.9  8073 907..79209. /03.9.. /. .  2030-.3 ::2 ::2 / . :39: 203008.25:.2-.9/..3 503./. 203.3/02../.5 2.3 /-07.35.25.3  503:7.3-07.5 .9.5 88.3 :38:7 :38:7 50309.8803.5 /.8 5007. 84.3.3 /..3 $0.3 .0.38:.902.3  &38:7 :38:7 ..33.3     .9.3 8:.. /2  &38:7 :38:7..8.9 .848.3 /-07.90780-:9 ..-.3.3 502-.3 9.3803.3 90.388..7:8. :897: 202-:.3 :7: 907.3 .3  /.3.3 /.703.3  2.3 .7.:. .9:. /2 88.  809.390780-:9.90780-:9 203...79209 03. / /..3 2.39.:..2:3507: /3.  $0.3 08.. 01091 /.3 84..8 9: 202-039:8.3.5.8 .3 .3 /80-:93.3 -07.-../.3 :7: ..  .8.5..3 /-07.3.. 97.3  8..848.990780-:9.9 80.7: ./  -.3 -./03. ..8  %473/0 :..2.8.:-:3.3 50309../.3807320.3 ::2.902.3 .3 /:. 28.3.5 /.3 0.3 /039 /03.2 2./ 2.3 43805 97.39/..3 /03.33..8 .7.3 20307.3 :7: .3:93.33  43805 3 2...3 -07.2 809.3 20.32. 5007. 20302:. 28..3.203./.32. ::2.9 /8008.3 .7.3 /.3 :7: 05.79209 503:2.9 907:8 /03.:. 203:.

 03/.3 -. ./-07.7. 9.3. .3/03.3.7        .3/-:....3.5.3 574808 -0. 803..3 803./.7 -:.3 203.:.7.3  7085438 ...90 503//..8508079.3 .//  !07.3 503.3 2:7/9.380038  59.7 .89047%473/0/.3 9.3503.3 :-:3.3 /.8 .3.90503//.3 8:.3503//.503//..7.7 80/02. -0. 503//.793.3 /.3 803/73.3.. 803.3..3/.7 .3 03/.  ...3 507-:. ..305.3 9.59.9 :-:3.3503.//  ..7.3  !07.3.3.380..9.  $9:.: .3 .7508079.../.890780-:9  59..7:8 /-07.2.3 /.3 907.7.3 /3/. 203./.3 9079039: .8 89:.3 :-:3.7.8 %047 %473/0 /.2 /:3.3.7.5.9:7.8.357.3 807...3 80/02.9.3 /03.3 /. 203...3 7:5.5.2/:3.3 /./.9 /:3..5. /.: 2.8.7  03.789:.3.3 .3 3.3 .: 9::.9.390780-:9   :.5.5.3 5. 203./ /03.3 :-:3.3 7:5.9 :-:3.37085438.508079.9.5.5.389:.9.780.3/.3 .9%473/0-07:-:3.//  0-07.7:8 /:-:3.7. 202:9:8.7:8/50.20/:5.5. /.3/..7.3.: .5.3 202-:.3 03:7:9%473/057.907.3 7085438 90780-:9 :-:3.  80..3 /03. .3 03.3 :-:3. /.5.3 8.7.2.

             .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful