A.

Teori Ausubel Teori pembelajaran Ausabel merupakan salah satu dari sekian banyaknya teori pembelajaran yang menjadi dasar dalam cooperative learning. David Ausubel adalah seorang ahli psikologi pendidikan. Menurut Ausubel, belajar dapat diklasifikasikan kedalam dua dimensi. Dimensi pertama berhubungan dengan cara informasi atau materi pelajaran itu disajikan kepada siswa melalui penerimaan atau penemuan. Belajar penerimaan yaitu yang menyajikan informasi tersebut dalam bentuk final, sedangkan belajar penemuan yaitu yang mengharuskan siswa untuk menemukan sendiri atau keseluruhan materi yang dipelajari.Selanjutnya dimensi kedua menyangkut bagaimana siswa dapat mengaitkan informasi itu pada struktur kognitif yang telah ada. Jika siswa hanya mencoba menghafalkan informasi baru itu tanpa menghubungkan dengan struktur kognitifnya, maka terjadilah belajar dengan hafalan. Sebaliknya jika siswa menghubungkan atau mengaitkan informasi baru itu dengan struktur kognitifnya maka yang terjadi adalah belajar bermakna. Jadi belajar bermakna terjadi bila pelajar mencoba menghubungkan fenomena baru dengan konsep yang telah ada sebelumnya. Artinya, bahan subjek itu mesti sesuai dengan keterampilan siswa dan mesti relevan dengan struktur kognitif yang dimiliki siswa. Oleh karena itu, subjek mesti dikaitkan dengan konsep-konsep yang sudah dimiliki para siswa, sehingga konsep-konsep baru tersebut benarbenar terserap olehnya. Dengan demikian, faktor intelektual-emosional siswa terlibat dalam kegiatan pembelajaran. Bila konsep yang cocok dengan fenomena baru itu belum ada, maka informasi baru tersebut harus dipelajari secara menghafal. Belajar menghafal ini perlu bila seseorang memperoleh informasi baru dalam dunia pengetahuan yang sama sekali tidak berhubungan dengan apa yang ia ketahui sebelumnya. Ausubel juga mengemukakan bahwa belajar menerima dan belajar menemukan adalah dua hal yang berbeda. Pada belejar menerima, isi pokok yang

1

akan dipelajari diberikan kepada siswa dalam bentuk catatan, belajar tidak melibatkan penemuan, siswa hanya diminta menghayati materi atau

menyatukannya dalam struktur kognitifnya, sehingga tersedia untuk direproduksi atau untuk penggunaan lainnya di masa mendatang. Sedangkan pada belajar menemukan, isi pokok yang akan dipelajari tidak diberikan, tetapi harus ditemukan oleh siswa, kemudian menghayatinya. Belajar menerima dan menemukan masing – masing dapat merupakan hafalan atau bermakna, tergantung pada situasi terjadinya belajar. Yang jelas bahwa belajar hafalan berbeda dengan belajar bermakna.menghafal sebenarnya mendapat informasi yang terisolasi sedemikian hingga siswa tidak dapat mengaitkan informasi yang diperoleh tersebut kedalam struktur kognitifnya. Dari dua dimensi belajar tersebut, terdapat empat kemungkinan tipe belajar, yaitu: a. Belajar menerima yang bermakna Ini terjadi bila informasi yang telah disusun secara logic disajikan kepada siswa dalam bentuk final. Selanjutnya siswa menghubungkan informasi baru tersebut dengan struktur kognitif yang telah ia miliki. b. Belajar penemuan yang bermakna Ini terjadi bila informasi pokok ditemukan ileh siswa dan kemudian ia menghubungkan informasi baru tersebut dengan struktur kognitif yang dimilikinya. c. Belajar menerima yang hafalan (tidak bermakna) Ini terjadi bila informasi disajikan kepada siswa dalam bentuk final dan kemudian siswa menghafalnya. d. Belajar penemuan yang hafalan (tidak bermakna) Ini terjadi bila informasi pokok ditemukan oleh siswa dan kemudian menghafal pengetahuan baru tersebut.

Inti dari teori Ausubel adalah belajar bermakna yang dianggap palin efisien. Menurut Ausubel pengajaran ekspositori yang baik merupakan satu – satunya cara

2

meningkatkan belajar bermakna, dimana guru yang menyusun topik dan menghubungkannya dengan topik yang bermakna yang telah dipelajari sebelumya. Dua prasyarat untuk belajar menerima yang bermakna, yaitu: 1. Siswa telah memiliki satu himpunan belajar. Artinya kondisi dan sikap telah siap untuk mengerjakan tugas belajar sesuai denga tujuan mereka. Bila siswa melaksanakan tugas belajar dengan sikap bahwa ia ingin memahami bahan pelajaran, mengaplikasikan serta menghubungkannya dengan bahan pelajaran yang dulu, maka dikatakan bahwa siswa tersebut belajr bahan baru dengan cara yang bermakna. Jadi dalam prasyarat ini faktor motivasional memegang peranan penting, sebab siswa tidak akan mengasimilasi materi baru tersebut, bila mereka tidak mempunyai keinginan dan pengetahuan tentang bagaimana melakukannya. 2. Tugas belajar yang diberikan kepada siswa harus sesuai dengan struktur kognitifnya, sehingga siswa dapat mengasimilasi bahan baru tersebut secara bermakna. Belajar bermakna terdahulu merupakan dasar atau penguat untuk belajar baru, sehingga belajar baru dan retensi tidak menjadi belajar hafalan. Ausubel mengembangkan suatu cara yang disebut “ advance organizer” untuk mengorientasikan siswa pada materi yang akan dipelajari dan membantu mereka untuk mengingat kembali informasi – informasi yang berkaitan dan yang dapat digunakan untuk membantu dalam menyatuka informasi – informasi baru yang akan dipelajari. Fungsi dari “ advance organizer” adalah untuk

memberikan scaffolding atau dukungan terhadap informasi baru. Advance organizer dapat dupandang sebagai jembatan konseptual di antara materi baru dengan pengetahuan siswa saat ini.

Suatu organizer membantu untuk meberikan dasar atau scaffolding mental sebelum guru menyajikan abstraksi atau generalisasi dari pelajaran, menjelaskan istilah – istilah kunci, memberikan contoh – contoh spesifik.

3

b. Menurut Ausubel ada tiga kebaikan dari belajar bermakna yaitu : a. 4 . Diharapkan model cooperative learning akan dapat mengusir kejenuhan dan kebosanan yang dirasa siswa di kelas karena selama ini hanya mendengarkan materi dari guru saja. Caranya unsur yang inklusif diperkenalkan terlebih dahulu kemudian baru lebih mendetail. yang baru yang lebih tinggi maknanya. Informasi yang dipelajari secara bermakna mempermudah belajar hal-hal yang mirip walaupun telah terjadi lupa. melainkan ada sesuatu yang dapat dipraktikkan dan dilatihkan dalam situasi nyata dan terlibat dalam pemecahan masalah.Lebih lanjut Ausubel mengemukakan. Hal ini menjadikan pembelajaran akuntansi tidak hanya sebagai konsep-konsep yang perlu dihapal dan diingat hanya pada saat siswa mendapat materi itu saja tetapi juga bagaimana siswa mampu menghubungkan pengetahuan yang baru didapat kemudian dengan konsep yang sudah dimilikinya sehingga terbentuklah kebermaknaan logis. Dengan model cooperative learning materi yang dipelajarinya tidak hanya sekadar menjadi sesuatu yang dihafal dan diingat saja. Langkah – langkah belajar bermakna Ausubel adalah: 1. Penekanan dan model cooperative learning sendiri adalah selain siswa mendapat bimbingan langsung dari guru. seseorang belajar dengan mengasosiasikan fenomena.konsep. Informasi yang dipelajari secara bermakna lebih lama diingat. Pengatur awal (advance organizer) Pengatur awal dapat digunakan untuk membantu mengaitkan konsep yang lama dengan konsep 2. mereka juga diberi kebebasan untuk memecahkan masalah lewat pengetahuan yang mereka dapatkan sendiri. pengalaman dan fakta-fakta baru ke dalam skemata yang telah dipelajari. Informasi yang dipelajari secara bermakna memudahkan proses belajar berikutnya untuk materi pelajaran yang mirip c. Diferensiasi Progregsif Dalam pembelajaran bermakna perlu ada pengembangan dan kolaborasi konsep.

teori belajar yang dikemukakan oleh Thorndike ini sering disebut dengan teori belajar koneksionisme atau teori asosiasi. Selain itu. ia mengemukakan suatu teori belajar yang dikenal dengan teori ―pengaitan‖ (connectionism). akan menjadi lebih kuat atau lebih lemah dalam terbentuknya atau hilangnya kebiasaan-kebiasaan. Dimana konstruksi pintu kurungan tersebut dibuat sedemikian rupa. belajar merupakan peristiwa terbentuknya ikatan (asosiasi) antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R) yang diberikan atas stimulus tersebut.B. maka ia dinobatkan sebagai salah satu tokoh pelopor dalam psikologi pendidikan. sehingga kalau kucing menyentuh tombol tertentu pintu kurungan akan terbuka dan kucing dapat keluar dan mencapai makanan (daging) yang ditempatkan di luar kurungan itu sebagai hadiah atau daya penarik bagi si kucing yang lapar itu. Teori tersebut menyatakan bahwa belajar pada hewan dan manusia pada dasarnya berlangsung menurut prinsip yang sama yaitu. kucing itu melakukan bermacam-macam gerakan yang kurang relevan 5 . sedangkan respon adalah sembarang tingkah laku yang dimunculkan karena adanya perangsang. Dalam hal ini. Thorndike (1874-1949) adalah salah seorang penganut paham psikologi tingkah-laku. Eksperimennya yang terkenal adalah dengan menggunakan kucing yang masih muda dengan kebiasaan-kebiasaan yang masih belum kaku. Stimulus adalah suatu perubahan dari lingkungan eksternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme untuk beraksi atau berbuat. kemudian dimasukkan ke dalam kurungan yang disebut ‖problem box‖. Berdasarkan hasil percobaannya di laboratorium yang menggunakan beberapa jenis hewan. Oleh karena itu. Pada usaha (trial) yang pertama. bentuk belajar yang paling khas baik pada hewan maupun pada manusia menurutnya adalah “trial and error learning atau selecting and connecting learning” dan berlangsung menurut hukum-hukum tertentu. dibiarkan lapar. Dengan adanya pandangan-pandangan Thorndike yang memberikan sumbangan cukup besar di dunia pendidikan tersebut. Asosiasi yang demikian itu disebut ”bond” atau ”connection”. Teori Thorndike Edward L.

Dengan demikian diketahui bahwa supaya tercapai hubungan antara stimulus dan respons perlu adanya kemampuan untuk memilih respons yang tepat serta melalui usaha–usaha atau percobaanpercobaan (trials) dan kegagalan-kegagalan (error) terlebih dahulu. seperti mencakar. Dengan perkataan lain. hukum ini pada intinya menyatakan bahwa belajar akan berhasil apabila peserta didik benar-benar telah siap untuk belajar. apabila suatu materi pelajaran diajarkan kepada anak yang belum siap untuk mempelajari materi tersebut maka tidak akan ada hasilnya. Dalam melaksanakan coba-coba ini. kucing tersebut cenderung untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tidak mempunyai hasil. Interpretasi dari hukum ini adalah semakin sering suatu pengetahuan—yang 6 . tetapi dia belajar mempertahankan respon-respon yang benar dan menghilangkan atau meninggalkan respon-respon yang salah. sampai kemudian menyentuh tombol dan pintu terbuka. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya kucing itu sebenarnya tidak mengerti cara membebaskan diri dari kurungan tersebut. maka ikatan itu akan terbentuk semakin kuat. pada usaha-usaha (trial) berikutnya dan ternyata waktu yang dibutuhkan untuk memecahkan problem itu makin singkat. Percobaan tersebut menghasilkan teori “trial and error” atau “selecting and conecting”. Namun waktu yang dibutuhkan dalam usaha yang pertama ini adalah lama. Percobaan yang sama seperti itu dilakukan secara berulang-ulang. Setiap respons menimbulkan stimulus yang baru. demikian selanjutnya. menubruk dan sebagainya. (2) Hukum latihan (law of exercise). Thorndike mengemukakan bahwa terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon ini mengikuti hukum-hukum berikut: (1) Hukum kesiapan (law of readiness). yaitu apabila ikatan antara stimulus dan respon lebih sering terjadi. selanjutnya stimulus baru ini akan menimbulkan respons lagi.bagi pemecahan problemnya. yaitu bahwa belajar itu terjadi dengan cara mencoba-coba dan membuat salah.

7 . sering terjadi. setelah ia kerjakan. maka tindakan tersebut cenderung akan tidak diulangi pada waktu yang lain. maka ia merasa senang/puas dan akibatnya antara soal dan jawabannya yang benar itu akan kuat tersimpan dalam ingatannya. Jadi. yaitu apabila asosiasi yang terbentuk antara stimulus dan respon diikuti oleh suatu kepuasan maka asosiasi akan semakin meningkat. bahwa hukuman yang diberikan guru atas pekerjaan siswa justru membuat siswa menjadi malas belajar dan bahkan membenci pelajaran matematika. Hukum ini dapat juga diartikan. ternyata jawabannya benar. jika suatu respon yang diberikan oleh seseorang terhadap suatu stimulus adalah benar dan ia mengetahuinya. Konkretnya adalah sebagai berikut: Misalkan seorang siswa diminta untuk menyelesaikan suatu soal matematika. tampak bahwa hukum akibat tersebut ada hubungannya dengan pengaruh ganjaran dan hukuman. Semakin sering suatu materi pelajaran diulangi maka materi pelajaran tersebut akan semakin kuat tersimpan dalam ingatan (memori). maka kepuasan akan tercapai dan asosiasi akan diperkuat. Sedangkan hukuman yang diberikan guru atas pekerjaan siswa (misalnya celaan guru terhadap hasil pekerjaan matematika siswa) menyebakan siswa tidak lagi mengulangi kesalahannya. suatu tindakan yang diikuti akibat yang tidak menyenangkan. hukum ini menunjukkan prinsip utama belajar adalah pengulangan. Dalam hal ini. Sebaliknya. Ganjaran yang diberikan guru kepada pekerjaan siswa (misalnya pujian guru terhadap siswa yang dapat menyelesaikan soal matematika dengan baik) menyebabkan peserta didik ingin terus melakukan kegiatan serupa.telah terbentuk akibat terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon—dilatih (digunakan). (3) Hukum akibat (law of effect). maka ikatan tersebut akan semakin kuat. maka tindakan tersebut cenderung akan diulangi pada waktu yang lain. suatu tindakan yang diikuti akibat yang menyenangkan. Hal ini berarti (idealnya). Namun perlu diingat.

Konsep ini maksudnya adalah penggunaan pengetahuan yang telah dimiliki siswa untuk menyelesaikan suatu masalah baru. perkalian. ada unsur-unsur dalam masalah itu yang identik dengan unsur-unsur pengetahuan yang telah dimiliki. Jadi. Unsur-unsur yang saling berasosiasi itu membentuk satu ikatan sehingga menggambarkan suatu kemampuan. Unsur-unsur yang identik itu saling berasosiasi sehingga memungkinkan masalah yang dihadapi dapat diselesaikan. Dengan demikian kemampuan mengerjakan operasi aritmetika tersebut menjadi mantap dalam pikiran siswa. Hukum Respon by Analogy 5. Thorndike juga mengemukakan konsep transfer belajar yang disebutnya transfer of training. Aplikasi Teori Thorndike dalam dunia pendidikan dan pengajaran Menurut Thorndike praktek pendidikan harus dipelajari secara ilmiah dan praktek pendidikan harus dihubungkan dengan proses belajar. Mengajar bukanlah mengharapkan murid tahu apa yang diajarkan. Mengajar yang baik adalah : tahu tujuan pendidikan. respons yang akan diharapkan dan tahu kapan ―hadiah‖ selayaknya diberikan kepada peserta didik. Hukum Sikap (Set \Attitude) 3. 8 . dapat disimpulkan bahwa transfer belajar dapat tercapai dengan sering melakukan latihan. Hukum Aktivitas Berat Sebelah(Prepotency of Element) 4. Hukum Reaksi Bereaksi (Multiple Response) 2. tahu apa yang hendak diajarkan artinya tahu materi apa yang harus diberikan. Hukum Perpindahan Asosiasi Selain hukum-hukum di atas.Tambahan hukum Thorndike : 1. haruslah dilatih terus dengan mengerjakan soal-soal yang berikaitan dengan operasi aritmetik. kemampuan melakukan operasi aritmetik (penjumlahan. karena di dalam setiap masalah. setiap kemampuan harus dilatih secara efektif dan dikaitkan dengan kemampuan lain. pengurangan. Misalnya. dan pembagian) yang telah dimiliki siswa. Selanjutnya.

Teori Van Hiele Van Hiele adalah seorang pengajar matematika Belanda yang telah mengadakan penelitian di lapangan. Penelitian yang dilakukan Van Hiele melahirkan beberapa kesimpulan mengenai tahap-tahap perkembangan kognitif anak dalam memahami geometri. melalui observasi dan tanya jawab. Tahap Pengenalan Pada tahap ini siswa hanya baru mengenal bangun-bangun geometri seperti bola. Seandainya kita hadapkan dengan sejumlah bangun-bangun geornetri. 1998) menyatakan bahwa terdapat 5 tahap pemahaman geometri yaitu: Tahap pengenalan.      Perhatikan respons yang diharapkan dari situasi tersebut. Buat hubungan sedemikian rupa sehingga menghasilkan perbuatan nyata dari peserta didik. siswa tidak akan bisa 9 . Untuk hal ini. pengurutan. segitiga. Van Hiele (dalam Ismail. dan keakuratan. Sehingga bila kita ajukan pertanyaan seperti "apakah pada sebuah persegipanjang. analisis. anak dapat memilih dan menunjukkan bentuk segitiga. Pada tahap pengenalan anak belum dapat menyebutkan sifat-sifat dari bangun-bangun geometri yang dikenalnya itu. kubus. Situasi-situasi yang sama jangan diindahkan sekiranya memutuskan hubungan tersebut. Ciptakan hubungan respons tersebut dengan sengaja. C. jangan mengharapkan hubungan terjadi dengan sendirinya. Ciptakan suasana belajar sedemikian rupa sehingga dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. kemudian hasil penelitiannya ditulis dalam disertasinya pada tahun 1954. Lima Tahap Pemahaman Geometri 1. sisi-sisi yang berhadapan panjangnya sama?".Beberapa aturan yang dibuat Thorndike berhubungan dengan pengajaran: Perhatikan situasi peserta didik. "apakah pada suatu persegipanjang kedua diagonalnya sama panjang?". deduksi. persegi dan bangun-bangun geometri lainnya.

2. mengapa kedua diagonal pada persegi saling tegak lurus. belah ketupat adalah layang-layang. siswa sudah mengetahui jajargenjang itu trapesium. Bila pada tahap pengenalan anak belum mengenal sifat-sifat dari bangun-bangun geometri. Pengambilan kesimpulan secara deduktif yaitu penarikan kesimpulan dari hal-hal yang bersifat khusus. tidak demikian pada tahap Analisis. Pada tahap ini anak sudah mulai mampu untuk melakukan penarikan kesimpulan secara deduktif.menjawabnya. maka pada tahap ini anak sudah mampu mengetahui hubungan yang terkait antara suatu bangun geometri dengan bangun geometri lainnya. jangan sampai. anak diajarkan sifat-sifat bangun-bangun geometri tersebut. karena anak akan menerimanya melalui hafalan bukan dengan pengertian. yaitu mengambil kesimpulan secara deduktif. Pada tahap ini anak sudah dapat memahami sifat-sifat dari bangun-bangun geometri. Karena masih pada tahap awal siswa masih belum mampu memberikan alasan yang rinci ketika ditanya mengapa kedua diagonal persegi panjang itu sama. maka anak pada tahap ini belum bisa menjawab pertanyaan tersebut karena anak pada tahap ini belum memahami hubungan antara balok dan kubus. Tahap Pengurutan Tingkat ini disebut juga tingkat abstraksi atau tingkat relasional. tetapi masih pada tahap awal artinya belum berkembang baik. Guru harus memahami betul karakter anak pada tahap pengenalan. Tahap Deduksi Pada tahap ini anak sudah dapat memahami deduksi. Pada tahap ini anak sudah mengenal sifat-sifat bangun geometri. 3. seperti pada sebuah kubus banyak sisinya ada 6 buah. Seandainya kita tanyakan apakah kubus itu balok?. Anak pada tahap analisis belum mampu mengetahui hubungan yang terkait antara suatu bangun geometri dengan bangun geometri lainnya. 4. Tahap Analisis Tingkat ini dikenal sebagai tingkat deskriptif. sedangkan banyak rusuknya ada 12. Anak yang berada pada tahap ini sudah memahami pengurutan bangun-bangun geometri. kubus itu adalah balok. Misalnya. Seperti kita ketahui 10 . Pada tahap ini pemahaman siswa terhadap geometri lebih meningkat lagi dari sebelumnya yang hanya mengenal bangun-bangun geometri beserta sifat-sifatnya.

mungkin saja dapat keliru dalam mengukur sudut-sudut jajargenjang tersebut. Jadi. dan teorema. Oleh karena itu. Sebagai contoh untuk menunjukkan bahwa jumlah sudut-sudut dalam jajargenjang adalah 360º secara deduktif dibuktikan dengan menggunakan prinsip kesejajaran. pada tingkat ini siswa menyadari bahwa jika salah satu aksioma pada suatu sistem geometri diubah. Sebagai contoh. Oleh karena itu. Pada tahap ini anak sudah memahami betapa pentingnya ketepatan dari prinsip-prinsip dasar yang melandasi suatu pembuktian. Anak pada tahap ini telah mengerti pentingnya peranan unsur-unsur yang tidak didefinisikan. Untuk itu pembuktian secara deduktif merupakan cara yang tepat dalam pembuktian pada matematika. Anak pada tahap ini belum memahami kegunaan dari suatu sistem deduktif. dikatakan sebagai ilmu deduktif karena pengambilan kesimpulan. maka seluruh geometri tersebut juga 11 . kemudian setelah itu ditunjukkan semua sudutnya membentuk sudut satu putaran penuh atau 360° belum tuntas dan belum tentu tepat. Seperti diketahui bahwa pengukuran itu pada dasarnya mencari nilai yang paling dekat dengan ukuran yang sebenarnya. Anak pada tahap ini sudah memahami mengapa sesuatu itu dijadikan postulat atau dalil. anak pada tahap ini belum dapat menjawab pertanyaan ―mengapa sesuatu itu disajikan teorema atau dalil. membuktikan teorema dan lain-lain dilakukan dengan cara deduktif. Tahap keakuratan merupakan tahap tertinggi dalam memahami geometri. Dalam matematika kita tahu bahwa betapa pentingnya suatu sistem deduktif. Matematika. aksioma atau problem.‖ 5. Pada tahap ini memerlukan tahap berpikir yang kompleks dan rumit. Pembuktian secara induktif yaitu dengan memotong-motong sudut-sudut benda jajargenjang. Tahap Keakuratan Tahap terakhir dari perkembangan kognitif anak dalam memahami geometri adalah tahap keakuratan.bahwa matematika adalah ilmu deduktif. di samping unsur-unsur yang didefinisikan. jarang atau hanya sedikit sekali anak yang sampai pada tahap berpikir ini sekalipun anak tersebut sudah berada di tingkat SMA.

pembuktiannya tidak perlu sebab sudah jelas bahwa jumlah sudutsudutnya adalah 360°. dan tidak dimungkinkan adanya tingkat yang diloncati. Menurut Van Hiele seorang anak yang berada pada tingkat yang lebih rendah tidak mungkin dapat mengerti atau memahami materi yang berada pada tingkat yang lebih tinggi dari anak tersebut. misalnya anak itu berada pada tahap pengurutan ke bawah. pada tahap ini siswa sudah memahami adanya geometrigeometri yang lain di samping geometri Euclides. Gurunya pun sering tidak mengerti mengapa anak yang diberi penjelasan tersebut tidak memahaminya.akan berubah. Akan tetapi. Van Hiele juga mengemukakan beberapa teori berkaitan dengan pembelajaran geometri. kemudian saling bertukar pikiran maka kedua orang tersebut tidak akan mengerti. belah ketupat itu layang-layang. seorang anak yang berada paling tinggi pada tahap kedua atau tahap analisis. dengan urutan yang sama. tidak mengerti apa yang dijelaskan gurunya bahwa kubus itu adalah balok. Kalaupun anak itu dipaksakan 12 . Selain mengemukakan mengenai tahap-tahap perkembangan kognitif dalam memahami geometri. kapan seseorang siswa mulai memasuki suatu tingkat yang baru tidak selalu sama antara siswa yang satu dengan siswa yang lain. Teori yang dikemukakan Van Hiele antara lain adalah sebagai berikut: Tiga unsur yang utama pembelajaran geometri yaitu waktu. Sehingga. Contoh yang lain. seorang anak tidak mengerti mengapa gurunya membuktikan bahwa jumlah sudut-sudut dalam sebuah jajargenjang adalah 360º. semua anak mempelajari geometri dengan melalui tahap-tahap tersebut. Menurut Van Hiele. Sebagai contoh. materi pembelajaran dan metode penyusun yang apabila dikelola secara terpadu dapat mengakibatkan meningkatnya kemampuan berpikir anak kepada tahap yang lebih tinggi dari tahap yang sebelumnya. Bila dua orang yang mempunyai tahap berpikir berlainan satu sama lain. Menurut anak pada tahap yang disebutkan.

tetapi seorang siswa tidak dapat mengambil jalan pintas ke tingkat tinggi dan berhasil mencapai pengertian. Dengan demikian anak dapat memperkaya pengalaman dan berpikirnya. Supaya siswa dapat berperan dengan baik pada suatu tingkat yang lanjut dalam hirarki van Hiele. selain itu sebagai persiapan untuk meningkatkan tahap berpikirnya kepada tahap yang lebih tinggi dari tahap sebelumnya. kegiatan belajar anak harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak atau disesuaikan dengan taraf berpikirnya.untuk memahaminya. gambar-gambar sebenarnya juga ditentukan oleh sifat-sifatnya. Pada tingkat dasar. Seorang guru dapat mengurangi materi pelajaran ke tingkat yang lebih rendah. dapat membimbing untuk mengingat-ingat hafalan. Kenaikan dari tingkat yang satu ke tingkat yang berikutnya lebih banyak tergantung dari pembelajaran daripada umur atau kedewasaan biologis. sebab menghafal bukan ciri yang penting dari tingkat manapun. Untuk mencapai pengertian dibutuhkan kegiatan tertentu dari fase-fase pembelajaran. 13 . Konsep-konsep yang secara implisit dipahami pada suatu tingkat menjadi dipahami secara eksplisit pada tingkat berikutnya. Untuk mendapatkan hasil yang diinginkan yaitu anak memahami geometri dengan pengertian. Suatu relasi yang benar pada suatu tingkat. mempunyai simbol linguistiknya sendiri dan sistem relasinya sendiri yang menghubungkan simbolsimbol itu. anak itu baru bisa memahami melalui hafalan saja bukan melalui pengertian. tetapi seseorang yang berpikiran pada tingkat ini tidak sadar atau tidak tahu akan sifat-sifat itu. Pada setiap tingkat muncul secara ekstrinsik dari sesuatu yang intrinsik pada tingkat sebelumnya. ternyata akan tidak benar pada tingkat yang lain. ia harus menguasai sebagian besar dari tingkat yang lebih rendah. Misalnya pemikiran tentang persegi dan persegi panjang. Setiap tingkat mempunyai bahasanya sendiri.

maka ditetapkan fase-fase pembelajaran yang menunjukkan tujuan belajar siswa dan peran guru dalam pembelajaran dalam mencapai tujuan itu. Oleh karena itu. Model Van Hiele tidak hanya memuat tingkat-tingkat pemikiran geometrik. Guru memegang peran penting dan istimewa untuk memperlancar kemajuan. Struktur bahasa adalah suatu faktor yang kritis dalam perpindahan tingkat-tingkat ini. Menurut Van Hiele (dalam Ismail. Van Hiele menuntut bahwa tingkat yang lebih tinggi tidak langsung menurut pendapat guru. kenaikan dari tingkat yang satu ke tingkat berikutnya tergantung sedikit pada kedewasaan biologis atau perkembangannya. teori Van Hiele tidak mendukung model teori absorbsi tentang belajar mengajar. Walaupun demikian. (Clements. Dalam hal ini objek yang dipelajari adalah sifat komponen dan hubungan antar komponen bangun-bangun segi empat. 1992).Dua orang yang berpikir pada tingkat yang berlainan tidak dapat saling mengerti. Fase-fase pembelajaran tersebut adalah: 1) fase informasi 2) fase orientasi 3) fase eksplisitasi 4) fase orientasi bebas 5) fase integrasi. Lagi pula. dan yang satu tidak dapat mengikuti yang lainnya. guru dan siswa menggunakan tanya-jawab dan kegiatan tentang objek-objek yang dipelajari pada tahap berpikir siswa. dan tergantung lebih banyak kepada akibat pembelajarannya. Informasi Pada awal tingkat ini. anak-anak sendiri akan menentukan kapan saatnya untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi. Meskipun demikian. siswa tidak akan mencapai kemajuan tanpa bantuan guru. tetapi melalui pilihan-pilihan yang tepat. terutama untuk memberi bimbingan mengenai pengharapan. 1998). Fase 1. Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa sambil 14 .

Hal tersebut berlangsung sampai sistem hubungan pada tahap berpikir mulai tampak nyata. dan tugas yang open-ended.melakukan observasi. (2) guru mempelajari petunjuk yang muncul dalam rangka menentukan pembelajaran selanjutnya yang akan diambil. Alat atau pun bahan dirancang menjadi tugas pendek sehingga dapat mendatangkan respon khusus. Fase 4: Orientasi Bebas Siswa menghadapi tugas-tugas yang lebih kompleks berupa tugas yang memerlukan banyak langkah. Tujuan dari kegiatan ini adalah: (1) guru mempelajari pengalaman awal yang dimiliki siswa tentang topik yang dibahas. banyak hubungan antar objek menjadi jelas. untuk membantu siswa menggunakan bahasa yang tepat dan akurat. tetapi kesimpulan ini tidak menunjukkan sesuatu yang baru. maupun dalam menyelesaikan tugas-tugas. Hal ini penting. Fase 3: Penjelasan Berdasarkan pengalaman sebelumnya. Aktivitas ini akan berangsur-angsur menampakkan kepada siswa struktur yang memberi ciri-ciri sifat komponen dan hubungan antar komponen suatu bangun segi empat. Di samping itu. Melalui orientasi di antara para siswa dalam bidang investigasi. siswa menyatakan pandangan yang muncul mengenai struktur yang diobservasi. Mereka memperoleh pengalaman dalam menemukan cara mereka sendiri. Fase 2: Orientasi Siswa menggali topik yang dipelajari melalui alat-alat yang dengan cermat telah disiapkan guru. Pada akhir fase kelima ini 15 . tugas yang dilengkapi dengan banyak cara. guru memberi bantuan sesedikit mungkin. Fase 5: Integrasi Siswa meninjau kembali dan meringkas apa yang telah dipelajari. Guru dapat membantu siswa dalam membuat sintesis ini dengan melengkapi survey secara global terhadap apa yang telah dipelajari.

Enaktif dan Menyenangkan).siswa mencapai tahap berpikir yang baru. pengetahuan dan sikap bagi kehidupan kelak. karena teori ini menekankan tahap permainan. dimana tahap ini dapat membangkitkan semangat dan membuat anak senang dalam belajar. Dalam pelaksanaan PAKEM perlu diperhatikan beberapa hal berikut: 16 . D. Kreatif diartikan siswa diberi kesempatan untuk membuat atau merancang sesuatu atau menuliskan sebuah gagasan dan guru yang kreatif yaitu guru yang memberikan variasi dalam proses belajar mengajar dan membuat alat bantu serta menciptakan teknik – teknik mengajar tertentu sesuai tujuan pembelajaran. dan guru yang aktif. Efektif diartikan sebagai tercapainya suatu tujuan yang merupakan pijakan utama suatu rancangan pembelajaran. maka tingkat pemikiran yang baru tentang topik itu dapat tercapai. Pada umumnya. Aktif dapat diartikan siswa mampu berinteraksi yaitu bertanya atau mengeluarkan ide. yaitu guru yang memantau kegiatan belajar siswa dan memberikan umpan balik. Menyenangkan diartikan sebagai suasana belajar mengajar yang hidup. Kreatif. hasil penelitian di Amerika Serikat dan negara lainnya menetapkan bahwa tingkat-tingkat dari Van Hiele berguna untuk menggambarkan perkembangan konsep geometrik siswa dari SD sampai Perguruan Tinggi. Tujuan dari PAKEM yaitu menciptakan suatu lingkungan belajar yang melengkapi anak dengan keterampilan. ekspresif. Siswa siap untuk mengulangi fase-fase belajar pada tahap sebelumnya. Teori Dienes Teori belajar Dienes sangat terkait dengan konsep pembelajaran dengan pendekatan PAKEM ( Pembelajaran Aktif. Setelah selesai fase kelima ini. terkondisi dan mendorong pemusatan perhatian peserta didik terhadap belajar.

Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar. Menegembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik. Memanfaatkan perilaku peserta didik dalam pengorganisasian belajar. Ini mengandung arti bahwa benda-benda atau obyek-obyek dalam bentuk permainan akan sangat berperan bila dimanipulasi dengan baik dalam pengajaran matematika. f. g. h. Zoltan P. dan kemampuan memecahkan masalah. kreatif. d. sedemikian rupa sehingga sistem yang dikembangkannya itu menarik bagi anak yang mempelajari matematika. karena kemampuan tingkat kognitif seseorang tergantung dari usia seseorang. Mengenal peserta didik secara individu. Memahami sifat peserta didik. 17 . e. sehingga dalam pembelajaran pada orang dewasa berbeda dengan pembelajaran anak-anak. Memberikan umpan balik yang bertanggungjawab untuk meningkatkan kegiatan belajar mengajar. Dienes berpendapat bahwa pada dasarnya matematika dapat dianggap sebagai studi tentang struktur. Teori perkembangan kognitif melihat bahwa proses belajar seseorang dilihat dari tingkat kemampuan kognitifnya. dan pengembangannya diorientasikan pada anakanak. memisah-misahkan hubungan-hubungan diantara struktur-struktur dan mengkatagorikan hubungan-hubungan di antara strukturstruktur. b. Dienes mengemukakan bahwa tiap-tiap konsep atau prinsip dalam matematika yang disajikan dalam bentuk yang konkret akan dapat dipahami dengan baik. Membedakan antara aktif fisik dan aktif mental. Dienes adalah seorang matematikawan yang memusatkan perhatiannya pada cara-cara pengajaran terhadap anak-anak. c. dalam proses belajar mengajar tingkat kognitif menjadi suatu hal yang sangat penting. Menegembangkan kemampuan berfikir kritis.a. Dasar teorinya bertumpu pada teori pieget.

Menurut Dienes konsep-konsep matematika akan berhasil jika dipelajari dalam tahap-tahap tertentu. Dalam mencari kesamaan sifat. Dienes membagi tahap-tahap belajar menjadi 6 tahap. Dalam tahap ini anak mulai membentuk struktur mental dan struktur sikap dalam mempersiapkan diri untuk memahami konsep yang sedang dipelajari. Permainan yang Menggunakan Aturan (Games) Dalam permainan yang disertai aturan. Misalnya dengan diberi permainan block logic. Permainan bebas merupakan tahap belajar konsep yang aktifitasnya tidak berstruktur dan tidak diarahkan. anak-anak mulai diarahkan dalam kegiatan menemukan sifat-sifat kesamaan dalam permainan yang sedang diikuti. Anak didik diberi kebebasan untuk mengatur benda. siswa sudah mulai meneliti polapola dan keteraturan yang terdapat dalam konsep tertentu. Translasi ini tentu tidak boleh mengubah sifat-sifat abstrak yang ada dalam permainan semula. dengan melalui permainan siswa diajak untuk mulai mengenal 18 . Keteraturan ini mungkin terdapat dalam konsep tertentu tapi tidak terdapat dalam konsep yang lainnya. Jelaslah.Makin banyak bentuk-bentuk yang berlainan yang diberikan dalam konsepkonsep tertentu. Untuk melatih anak-anak dalam mencari kesamaan sifat-sifat ini. tebal tipisnya benda yang merupakan ciri/sifat dari benda yang dimanipulasi. akan makin jelas konsep yang dipahami anak. anak didik mulai mempelajari konsepkonsep abstrak tentang warna. guru perlu mengarahkan mereka dengan mentranslasikan kesamaan struktur dari bentuk permainan yang satu ke bentuk permainan lainnya. Selama permainan pengetahuan anak muncul. tahap yang paling awal dari pengembangan konsep bermula dari permainan bebas. yaitu: Permainan Bebas (Free Play) Dalam setiap tahap belajar. karena anak-anak akan memperoleh hal-hal yang bersifat logis dan matematis dalam konsep yang dipelajarinya itu.

Translasi ini tentu tidak boleh mengubah sifat-sifat abstrak yang ada dalam permainan semula. Contoh dengan permainan block logic. Permainan Kesamaan Sifat (Searching for communalities) Dalam mencari kesamaan sifat siswa mulai diarahkan dalam kegiatan menemukan sifat-sifat kesamaan dalam permainan yang sedang diikuti. Contoh kegiatan yang diberikan dengan permainan block logic. dan sebagainya. Dengan demikian telah mengarah pada pengertian struktur matematika yang sifatnya 19 . atau tidak merah (biru. kuning). atau yang berwarna merah. karena akan memperoleh hal-hal yang bersifat logis dan matematis dalam konsep yang dipelajari itu. akan semakin jelas konsep yang dipahami siswa. anak diminta mengidentifikasi sifat-sifat yang sama dari benda-benda dalam kelompok tersebut (anggota kelompok). atau yang tebal. untuk membuat konsep abstrak. hijau. anak dihadapkan pada kelompok persegi dan persegi panjang yang tebal. Permainan Representasi (Representation) Representasi adalah tahap pengambilan sifat dari beberapa situasi yang sejenis. timbul pengalaman terhadap konsep tipis dan merah. Dalam membentuk kelompok bangun yang tipis. anak diberi kegiatan untuk membentuk kelompok bangun yang tipis. Setelah mereka berhasil menyimpulkan kesamaan sifat yang terdapat dalam situasi-situasi yang dihadapinya itu. Para siswa menentukan representasi dari konsep-konsep tertentu. Menurut Dienes. atau yang merah. dan kegiatan untuk yang tidak relevan dengan pengalaman itu. anak didik memerlukan suatu kegiatan untuk mengumpulkan bermacam-macam pengalaman. serta timbul penolakan terhadap bangun yang tipis (tebal).dan memikirkan bagaimana struktur matematika itu. kemudian membentuk kelompok benda berbentuk segitiga. guru perlu mengarahkan mereka dengan menstranslasikan kesamaan struktur dari bentuk permainan lain. Makin banyak bentuk-bentuk berlainan yang diberikan dalam konsep tertentu. Untuk melatih dalam mencari kesamaan sifat-sifat ini. Representasi yang diperoleh ini bersifat abstrak.

Permainan dengan Simbolisasi (Symbolization) Simbolisasi termasuk tahap belajar konsep yang membutuhkan kemampuan merumuskan representasi dari setiap konsep-konsep dengan menggunakan simbol matematika atau melalui perumusan verbal. Untuk pengajaran konsep matematika yang lebih sulit perlu dikembangkan materi matematika secara kongkret agar konsep matematika dapat dipahami dengan 20 . dari kegiatan mencari banyaknya diagonal dengan pendekatan induktif tersebut.abstrak yang terdapat dalam konsep yang sedang dipelajari. Sebagai contoh. Permainan dengan Formalisasi (Formalization) Formalisasi merupakan tahap belajar konsep yang terakhir. tetapi mereka sudah mempunyai pengetahuan tentang sistem yang berlaku dari pemahaman konsep-konsep yang terlibat satu sama lainnya. dalam arti membuktikan teorema tersebut. kegiatan berikutnya menentukan rumus banyaknya diagonal suatu poligon yang digeneralisasikan dari pola yang didapat anak. sebagai contoh siswa yang telah mengenal dasar-dasar dalam struktur matematika seperti aksioma. Contoh kegiatan anak untuk menemukan banyaknya diagonal poligon misal segi dua puluh tiga. Pada tahap formalisasi anak tidak hanya mampu merumuskan teorema serta membuktikannya secara deduktif. Misalnya bilangan bulat dengan operasi penjumlahan peserta sifat-sifat tertutup. harus mampumerumuskan teorema dalam arti membuktikan teorema tersebut. adanya elemen identitas. dengan pendekatan induktif. Dalam tahap ini siswa-siswa dituntut untuk mengurutkan sifat-sifat konsep dan kemudian merumuskan sifat-sifat baru konsep tersebut. harus mampu merumuskan suatu teorema berdasarkan aksioma. dan mempunyai elemen invers. anak didik telah mengenal dasar-dasar dalam struktur matematika seperti aksioma. Contohnya. komutatif. membentuk sebuah sistem matematika. asosiatif. Dienes menyatakan bahwa proses pemahaman (abstracton) berlangsung selama belajar.

Berhubungan dengan tahap belajar. peta dan akhirnya memadukan simbolo – simbol dengan konsep tersebut. menurut Dienes. suatu anak didik dihadapkan pada permainan yang terkontrol dengan berbagai sajian. grafik. pola berpikir anak-anak tidak sama dengan pola 21 . sehingga anak-anak dapat bermain dengan bermacam-macam material yang dapat mengembangkan minat anak didik. Dengan demikian. Menurut Dienes. Langkah selanjutnya. Berbagai sajian (multiple embodiment) juga membuat adanya manipulasi secara penuh tentang variabel-variabel matematika. Kegiatan ini menggunakan kesempatan untuk membantu anak didik menemukan cara-cara dan juga untuk mendiskusikan temuan-temuannya. adalah memotivasi anak didik untuk mengabstraksikan pelajaran tanda material kongkret dengan gambar yang sederhana. semakin banyak bentuk-bentuk berlainan yang diberikan dalam konsep tertentu. semakin jelas bagi anak dalam memahami konsep tersebut. Variasi matematika dimaksud untuk membuat lebih jelas mengenai sejauh mana sebuah konsep dapat digeneralisasi terhadap konsep yang lain. sehingga anak didik dapat melihat struktur dari berbagai pandangan yang berbedabeda dan memperkaya imajinasinya terhadap setiap konsep matematika yang disajikan. variasi sajian hendaknya tampak berbeda antara satu dan lainya sesuai dengan prinsip variabilitas perseptual (perseptual variability). Langkah-langkah ini merupakan suatu cara untuk memberi kesempatan kepada anak didik ikut berpartisipasi dalam proses penemuan dan formalisasi melalui percobaan matematika. Proses pembelajaran ini juga lebih melibatkan anak didik pada kegiatan belajar secara aktif dari pada hanya sekedar menghapal.tepat. Pentingnya simbolisasi adalah untuk meningkatkan kegiatan matematika ke satu bidang baru. Dienes berpendapat bahwa materi harus dinyatakan dalam berbagai penyajian (multiple embodiment). Berbagai penyajian materi (multiple embodinent) dapat mempermudah proses pengklasifikasian abstraksi konsep. Perkembangan kognitif setiap individu yang berkembang secara kronologi tidak terlepas dari faktor usia.

22 . 1981). Piaget (dalam Bell. Urutan periode itu tetap bagi setiap orang. karena efektivitas hubungan antara setiap individu dengan lingkunganya dan kehidupan sosialnya berbeda satu sama lain. perkembangan kognitif seorang individu dipengaruhi oleh lingkungan dan transmisi sosial. berpendapat bahwa proses berpikir manusia merupakan suatu perkembangan yang bertahap dari berpikir intelektual kongkret ke abstrak berurutan melalui empat tahap perkembangan. Jadi. E. Jadi.berfikir orang dewasa. sebab anak bukan miniatur orang dewasa. namun usia atau kronologis pada setiap orang yang memasuki setiap periode berpikir yang lebih tinggi berbeda-beda tergantung kepada masing-masing individu. dalam memandang anak keliru jika kemampuan anak dengan kemampuan orang dewasa sama. semakin ia dewasa makin meningkat pula kemampuan berpikirnya. Teori Piaget Teori Perkembangan Intelektual Piaget Teori belajar Dienes sangat terkait dengan teori belajar yang dikemukakan oleh Piaget. sebagai berikut: 1. Selain daripada itu. yaitu mengenai teori perkembangan intelektual. Oleh karena itu agar perkembangan kognitif seorang anak berjalan secara maksimal diperkaya dengan pengalaman edukatif. Jean Piaget berpendapat bahwa proses berpikir manusia sebagai suatu perkembangan yang bertahap dari berpikir intelektual konkret ke abstrak berurutan melalui empat periode. Maka tahap perkembangan kognitif yang dicapai oleh setiap individu berbeda pula.Periode Sensori Motor (0 – 2) tahun. Piaget adalah orang pertama yang menggunakan filsafat konstruktivis dalam proses belajar mengajar.

Periode ini disebut operasi kongkret sebab berpikir logikanya didasarkan atas manipulasi fisik dari objek -objek. anak menyadari bahwa objek yang disembunyikan tadi masih ada dan ia akan mencarinya. dan merupakan aktivitas mental. bukan aktivitas sensori motor.Periode Pra-operasional (2 – 7) tahun. Bila objek itu disembunyikan. Dalam periode ini anak berpikirnya sudah dikatakan menjadi operasional. Operasi kongkret hanyalah menunjukkan kenyataan adanya hubungan dengan pengalaman empirik-kongkret yang lampau dan masih mendapat kesulitan dalam mengambil kesimpulan yang logis dari pengalaman pengamanan yang khusus. tetapi anak itu mulai memanipulasi simbol dari benda-benda sekitarnya. 2. Periode ini sering disebut juga periode pemberian simbol. ia masih sulit melihat hubungan- hubungan dan mengambil kesimpulan secara taat asas. anak itu tidak akan mencarinya lagi. Walaupun pada periode permulaan pra-operasional ini anak mampu menggunakan simbol-simbol. misalnya suatu benda diberi nama (simbol). Pada periode ini anak di dalam berpikirnya tidak didasarkan kepada keputusan yang logis melainkan didasarkan kepada keputu san yang dapat dilihat seketika. Pekerjaan-pekerjaan logika dapat dilakukan dengan berorientasi ke objek-objek atau peristiwa-peristiwa yang 23 . Operasi yang dimaksud di sini adalah suatu proses berpikir atau logik. Namun karena pengalamannya terhadap lingkungannya. Anak itu belum mempunyai kesadaran adanya konsep objek yang tetap. Rangsangan itu timbul karena anak melihat dan meraba-raba objek.Periode operasi kongkret (7 – 12) tahun.Karateristik periode ini merupakan gerakan-gerakan sebagai akibat reaksi langsung dari rangsangan. pada akhir periode ini. 3. Pada periode ini anak terpaku kepada kontak langsung dengan lingkungannya.

Anak masih terikat kepada pengalaman pribadi. Misalnya. e.dalam himpunan bilangan bulat dengan operasi ‖+‖. Dalam periode operasi kongkret. unsur nol adalah 0 sehingga 8 + 0 = 8. Identitas adalah suatu operasi yang menunjukkan adanya unsur nol yang bila dikombinasikan dengan unsur atau kelas hasilnya tidak berubah. operasi ‖+‖. Misalnya. b. berlaku hukum asosiatif terhadap penjumlahan. Korespondensi satu – satu antara objek-objek dari dua kelas. Misalnya himpunan bilangan bulat. 24 . Reversibilitas adalah operasi kebalikan. karateristik berpikir anak adalah sebagai berikut: a. Setiap operasi logik atau matematik dapat dikerjakan dengan operasi kebalikan. Misalnya semua manusia laki – laki dan semua manusia perempuan adalah semua manusia. Misalnya unsur dari suatu himpunan berkawan dengan satu unsur dari himpunan kedua dan sebaliknya. Pengalaman anak masih kongkret dan belum formal. Anak dapat membentuk variasi relasi kelas dan mengerti bahwa beberapa kelas dapat dimasukkan ke kelas lain. Kombinasivitas atau klasifikasi adalah suatu operasi dua kelas atau lebih yang dikombinasikan ke dalam suatu kelas yang lebih besar. Demikian juga suatu jumlah dapat dinolkan dengan mengkombinasikan lawannya.langsung dialami anak. Anak itu belum memperhitungkan semua kemungkinan dan kemudian mencoba menemukan kemungkinan yang mana yang akan terjadi. Hubungan A > B dan B > C menjadi A > C. misalnya 4 – 4 = 0. c. 5 + ? = 9 sama dengan 9 – 5 = ? Reversibilitas ini merupakan karakteristik utama untuk berpikir operasional di dalam teori Piaget. d. Asosiasivitas adalah suatu operasi terhadap beberapa kelas yang dikombinasikan menurut sebarang urutan.

terutama selama transisi dari periode yang satu ke periode berikutnya.definisi verbal. Anak-anak pada periode ini sudah memberikan alasan dengan menggunakan lebih banyak simbol atau gagasan dalam cara berpikir. Kesadaran adanya prinsip-prinsip konservasi. Anak sudah dapat mengoperasikan argumen-argumen tanpa dikaitkan dengan benda-benda empirik.f. Menurut Piaget. Umur 25 . Anak telah mampu melihat hubungan-hubungan abstrak dan menggunakan proposisi-proposisi logik-formal termasuk aksioma dan definisi. Konservasi berkenaan dengan kesadaran bahwa satu aspek dari benda. Namun prinsip konservasi yang dimiliki anak pada periode ini masih belum penuh. tetap sama sementara itu aspek lainnya berubah. tahap-tahap berpikir itu adalah pasti dan spontan namun umur kronologis yang diberikan itu adalah fleksibel. Konsep konservasi telah tercapai sepenuhnya. Ia mampu menggunakan prosedur seorang ilmuwan.Periode Operasi Formal (> 12) tahun.Anak sudah mampu menggunakan hubungan-hubungan di antara objek-objek apabila ternyata manipulasi objek-objek tidak memungkinkan. tetapi ia sudah mulai menggeneralisasi objek-objek tadi. Anak mampu menyelesaikan masalah dengan cara yang lebih baik dan kompleks dari pada anak yang masih dalam tahap periode operasi kongkret. yaitu menggunakan prosedur hipotetik-deduktif. Anak pada periode ini dilandasi oleh observasi dari pengalaman dengan objek nyata. Periode operasi formal ini disebut juga sebagai periode operasi hipotetik-deduktif yang merupakan tahap tertinggi dari perkmbangan intelektual. 4. artinya bila anak dihadapkan kepada suatu masalah. ia dapat mengisolasi faktor-faktor tersendiri atau mengkombinasikan faktor-faktor itu sehingga menuju penyelesaian masalah tadi. Anak juga sudah dapat berpikir kombinatorik. Periode ini merupakan tahap terakhir dari keempat periode perkembangan intelektual.

pertama anak dengan bantuan guru secara tidak langsung diberikan kesempatan untuk menganalisis masalahmasalah yang diberikan menjadi struktur yang lebih sederhana sehingga mudah 26 . Jika kelilingnya adalah 400 m. Jika si pemilik kebun hanya mampu membuat parit seluas 99 m2. akan dibuat parit pembuangan air. Jika kita akan mengajarkan konsep fungsi kuadrat.kronologis itu dapat saling tindih bergantung kepada individu. Teori gestalt beroposisi terhadap teori strukturalisme. bagaimanakah ukurannya supaya luasnya sebesar-besarnya ? Aliran terapi Gestalt memandang bahwa konsep atau pengetahuan baru merupakan struktur yang terorganisir dan merupakan masalah bagi anak. Ketika mengkonstruksi konsep. Langkah-langkah pembelajaran menurut aliran ini. Istilah ―Gestalt‖ mengacu pada sebuah objek/figur yang utuh dan berbeda dari penjumlahan bagian-bagiannya. tidak ada gunanya bila kita memaksa anak untuk cepat berpindah ke periode berikutnya. ataupun kemiripan menjadi kesatuan. Menurut teori ini. maka konsep fungsi kuadrat akan lebih bermakna jika konsep tersebut dikemas dalam bentuk masalah-masalah seharihari yang cukup sederhana seperti berikut : (1). Sekeliling kebun yang berbentuk persegipanjang dengan panjang 18 m dan lebar 12 m. dan diberikan kebebasan bereksperimen. Pekarangan rumah berbentuk persegipanjang. Teori Gestalt Gestalt adalah sebuah teori yang menjelaskan proses persepsi melalui pengorganisasian komponen-komponen sensasi yang memiliki hubungan. berapa lebar parit yang direncanakan ? (2). pembelajaran harus dimulai dari masalah-masalah yang berkaitan dengan konsep yang akan diberikan dan berada dalam kehidupannya sehari-hari. bereksplorasi. Teori gestalt cenderung berupaya mengurangi pembagian sensasi menjadi bagian-bagian kecil. anak harus banyak diberikan kesempatan untuk berdialog (berdiskusi) dengan teman-temannya maupun dengan guru. Piaget berpendapat. F. pola.

Kurt Koffka. Teori ini dibangun oleh tiga orang.  Max Wertheimer (1880-1943) Belajar pada Kuelpe. and Wolfgang Köhler. seorang tokoh aliran Wuerzburg.  Kurt Lewin (1890-1947) 27 . Selanjutnya anak mensintesis konsep atau pengetahuan dalam bentuk yang lebih umum. Dengan pernyataan ini ia menentang pendapat Wundt yang menunjuk pada proses fisik sebagai penjelasan phi phenomenon. Mereka menyimpulkan bahwa seseorang cenderung mempersepsikan apa yang terlihat dari lingkungannya sebagai kesatuan yang utuh. Proses ini terjadi di otak dan sama sekali bukan proses fisik. Max Wertheimer. Akhirnya anak mencoba melakukan penerapan dari konsep yang sudah dipelajarinya. Wertheimer menunjuk pada proses interpretasi dari sensasi obyektif yang kita terima. Bersama-sama dengan Wolfgang Koehler (1887-1967) dan Kurt Koffka (1887-1941) melakukan eksperimen yang akhirnya menelurkan ide Gestalt. Tahun 1910 ia mengajar di Univeristy of Frankfurt bersama-sama dengan Koehler dan Koffka yang saat itu sudah menjadi asisten di sana.dipahami anak. Kemudian anak menyusun atau mensintesis penyelesaian masalah itu berdasarkan pada struktur yang lebih sederhana dan sudah dimengerti anak. tetapi proses mental. Konsep pentingnya : phi phenomenon (bergeraknya obyek statis menjadi rangkaian gerakan yang dinamis setelah dimunculkan dalam waktu singkat dan dengan demikian memungkinkan manusia melakukan interpretasi). Dengan konsep ini.

yaitu lapangan psikologis tempat individu berada dan bergerak.D dari University of Berlin dalam bidang psikologi tahun 1914. Perilaku individu akan segera tertuju untuk meredakan ketegangan ini dan mengembalikan keseimbangan. Hambatan ini mungkin sekali menjadi obyek yang bervalensi negatif bagi individu. Lapangan psikologis ini terdiri dari fakta dan obyek psikologis yang bermakna dan menentukan perilaku individu (B=f L). Life space terbagi atas bagian-bagian memiliki batas-batas. Arah individu mendekati/menjauhi tujuan disebut vektor. yaitu Wertheimer dan Koehler dan mengambil konsep psychological field juga dari Gestalt. Vektor juga memiliki kekuatan dan titik awal berangkat. Dalam lapangan psikologis ini juga terjadi daya (forces) yang menarik dan mendorong individu mendekati dan menjauhi tujuan. dan valensi ini Lewin menjelaskan teorinya mengenai tiga jenis konflik (approach-approach. Dengan konsep vektor. sangat mungkin ada hambatan. Pada umumnya individu akan mendekati obyek yang bervalensi positif dan menjauhi obyek yang bervalensi negatif. dan avoidance-avoidance). Gerakan individu mencapai tujuan (goal) disebut locomotion.Pandangan Gestalt diaplikasikan dalam field psychology dari Kurt Lewin. maka bagaimana valensi dari nilai tersebut bagi si individu akan menentukan gerakan individu. lulus Ph. Dalam usahanya mendekati obyek bervalensi positif. 28 . Lewin lahir di Jerman. approach-avoidance. Tugas utama psikologi adalah meramalkan perilaku individu berdasarkan semua fakta psikologis yang eksis dalam lapangan psikologisnya pada waktu tertentu. Lewin adalah salah seorang ahli yang sangat kuat menganjurkan pemahaman tentang lapangan psikologis seseorang. Konsep utama Lewin adalah Life Space. Apabila individu menghadapi suatu obyek. Apabila terjadi ketidakseimbangan (disequilibrium). maka terjadi ketegangan (tension). Batas ini dapat dipahami sebagai sebuah hambatan individu untuk mencapai tujuannya. Ia banyak terlibat dengan pemikir Gestalt. daya.

O Principle of Similarity: bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang berada dalam arah yang sama cenderung akan dipersepsi sebagi suatu figure atau bentuk tertentu. Setiap perceptual field memiliki organisasi. dimana salah satu faktornya adalah para anggota kelompok dan hubungan interpersonal mereka. Oleh karena itu kemampuan persepsi ini merupakan fungsi bawaan manusia. maka perilaku anggota akan menjauhinya dan dengan demikian tujuan kelompok semakin tidak tercapai.Interaksi antara individu dan lingkungan disebut sebagai perceptual field.Aplikasi teori Lewin banyak dilakukan dalam konteks dinamika kelompok. Maka perilaku kelompok menjadi fungsi dari lingkungan. 29 . Prinsip dasar Gestalt 1. Sebaliknya. Dasar berpikirnya adalah kelompok dianalogikan dengan individu. Pengorganisasian ini mempengaruhi makna yang dibentuk. Prinsip-prinsip pengorganisasian: O Principle of Proximity: bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertentu. Apabila hubungan ini bervalensi negatif. Implikasinya adalah penjelasan Lewin sulit sampai pada level explanatory dan sifatnya deskriptif. hubungan yang baik akan membuat anggota saling mendekati sehingga memungkinkan kerjasama yang lebih baik dalam mencapai tujuan kelompok. 2. bukan skill yang dipelajari. Kritik untuk teori Lewin berfokus pada konstruk-konstruknya yang dianggap hipotetis dan sulit dikongkritkan dalam situasi eksperimental. O Principle of Objective Set: Organisasi berdasarkan mental set yang sudah terbentuk sebelumnya. yang cenderung dipersepsikan oleh manusia sebagai figure and ground.

Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain : a. b. Penampilan suatu obyek seperti ukuran. bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. Makin jelas makna hubungan suatu unsur. Bila figure dan latar bersifat samarsamar. O Principle of Isomorphism: Organisasi berdasarkan konteks. terjadi reorganisasi dalam perceptual fieldnya. Dalam proses pembelajaran.O Principle of Continuity: Organisasi berdasarkan kesinambungan pola.Pengalaman tilikan (insight). khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif 30 . seseorang dapat memiliki cara pandang baru terhadap suatu problem. O Principle of Closure/ Principle of Good Form: bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap. Contoh: perubahan nada tidak akan merubah persepsi tentang melodi. kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. akan makin efektif pula sesuatu yang dipelajari. O Principle of Figure and Ground: yaitu menganggap bahwa setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar belakang. Setelah proses belajar terjadi. hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsurunsur dalam suatu obyek atau peristiwa. Apabila individu mengalami proses belajar. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah. potongan. makaakan terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figure. Aplikasi prinsip Gestalt Belajar Proses belajar adalah fenomena kognitif.Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning). warnadan sebagainya membedakan figure dari latar belakang.

Transfer dalam Belajar. Juga menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). Setelah adanya pengalaman insight. Insight Pemecahan masalah secara jitu yang muncul setelah adanya proses pengujian berbagai dugaan/kemungkinan. Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya. bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. d.pemecahannya.Prinsip ruang hidup (life space). individu mampu menerapkannya pada problem sejenis tanpa perlu melalui proses trial- 31 . Menurut pandangan Gestalt. guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya.Perilaku bertujuan (pusposive behavior). Oleh karena itu. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. bahwa perilaku terarah pada tujuan. yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. Oleh karena itu. c. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons. transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat. e. materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik. guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsipprinsip pokok dari materi yang diajarkannya. Oleh karena itu. tetapi ada keterkaitannya dengan tujuan yang ingin dicapai.

Penerapan Prinsip of Good Form seringkali muncul dan terbukti secara eksperimental. Dengan berjalannya waktu. berfokus pada higher mental process. 32 .  Pendekatan fenomenologis menjadi salah satu pendekatan yang eksis di psikologi dan dengan pendekatan ini para tokoh Gestalt menunjukkan bahwa studi psikologi dapat mempelajari higher mental process. ditemukan oleh Koehler dalam eksperimen yang sistematis. Para tokoh Gestalt banyak yang melarikan diri ke AS dan berusaha mengembangkan idenya di sana. Memory Hasil persepsi terhadap obyek meninggalkan jejak ingatan. jejak ingatan ini akan berubah pula sejalan dengan prinsip-prinsip organisasional terhadap obyek. Secara sosial.dan problem solving beroperasi. Namun hal ini tidak mudah dilakukan karena pada saat itu di AS didominasi oleh pandangan behaviorisme. Pandangan Gestalt cukup luas diakui di Jerman namun tidak lama exist di Jerman karena mulai didesak oleh pengaruh kekuasaan Hitler yang berwawasan sempit mengenai keilmuan. insight. Akibatnya psikologi gestalt diakui sebagai sebuah aliran psikologi namun pengaruhnya tidak sekuat behaviorisme. namun tetap dapat mempertahankan aspek ilmiah dan empirisnya.  Pandangan Gestalt menyempurnakan aliran behaviorisme dengan menyumbangkan ide untuk menggali proses belajar kognitif. fenomena ini juga menjelaskan pengaruh gosip/rumor. ada beberapa hal yang patut dicatat sebagai implikasi dari aliran Gestalt yaitu.error lagi. Meskipun demikian. Konsep insight ini adalah fenomena penting dalam belajar. Adanya perceptual field diinterpretasikan menjadi lapangan kognitif dimana proses-proses mental seperti persepsi. yang selama ini dihindari karena abstrak.

Demonstrasinya mengenai peranan latar belakang dan organisasinya terhadap proses-proses yang diamati secara fenomenal demikian meyakinkan sehingga boleh dikatakan tidak dapat di bantah. Pemahaman dan persepsi tentang hubungan-hubungan dalam kebulatan (entities) adalah sangat esensial dalam belajar. Karena asumsi bahwa hukum –hukum atau prinsip-prinsip yang berlaku pada proses pengamatan dapat ditransfer kepada hal belajar.Psikologi Gestalt bermula pada lapangan pengamatan (persepsi) dan mencapai sukses yang terbesar juga dalam lapangan ini. 2. Manusia berkembang sebagai keseluruhan sejak dari kecil sampai dewasa. Manusia bereaksi dengan lingkungannya secara keseluruhan. maka untuk memahami proses belajar orang perlu memahami hukum-hukum yang menguasai proses pengamatan itu. Belajar adalah penyesuaian diri dengan lingkungan. 4. Belajar adalah perkembangan kearah diferensiasi ynag lebih luas. 3. Kelompok pemikiran ini sependapat pada suatu hal yakni suatu prinsip dasar bahwa pengalaman manusia memiliki kekayaan medan yang memuat fenomena keseluruhan lebih dari pada bagian. Keseluruhan ini memberikan beberapa prinsip belajar yang penting. antara lain : 1. lengkap dengan segala aspek-aspeknya. sosial dan sebagainya. emosional. Psikologi Gestalt ini terkenal juga sebagai teori medan (field) atau lazim disebut cognitive field theory. 33 . maka hasil-hasil yang telah kuat / sukses dalam penelitian mengenai pengamatan itu dibawanya dalam studi mengenai belajar. Pada pengamatan itu menekankan perhatian pada bentuk yang terorganisasi (organized form) dan pola persepsi manusia. tetapi juga secara fisik. Ketika para ahli Psikologi Gestalt beralih dari masalah pengamatan ke masalah belajar.bagiannya. tidak hanya secara intelektual.

apabila tercapai kematangan untuk memperoleh insight. tingkat kerumitan. 34 . motivasi memberi dorongan yang mengerakan seluruh organisme. Teori Bandura menjelaskan perilaku manusia dalam konteks interaksi timbal-balik yang berkesinambungan antara kognitif. minat. atau setidaknya menganggap bahwa judi itu tidak jelek. 8.5. perilaku dan pengaruh lingkungan. Albert berkebangsaan Kanada. Tidak mungkin ada belajar tanpa ada kemauan untuk belajar. Faktor-faktor yang berproses dalam belajar observasi adalah : 1. G. ketertutupan. Perhatian (attention). Menurut Bandura. Misalnya seseorang yang hidup dan dibesarkan di lingkungan judi. keterlibatan perasaan. Eksperimennya yang sangat terkenal adalah eksperimen ―Bobo doll‖ yang menunjukkan anak meniru secara persis perilaku agresif dari orang dewasa di sekitarnya. Belajar akan berhasil kalau ada tujuan. kesamaan. 7. penguatan sebelumnya). Kondisi lingkungan sekitar individu sangat berpengaruh pada pola belajar sosial ini. Belajar merupakan suatu proses bila seseorang itu aktif. maka dia cenderung menyenangi judi.yaitu hukum – hukum keterdekatan. Ia seorang psikolog yang terkenal dengan teori belajar sosial atau kognitif sosial serta efikasi diri. dan kontinuitas. Dalam hukum-hukum belajar Gestalt ini ada satu hukum pokok. Belajar hanya berhasil. yaitu hukum Pragnaz. 6. Teori Bandura Albert Bandura lahir pada tanggal 4 Desember 1925 di Mundare. proses mengamati dan meniru perilaku sikap orang lain sebagai model merupakan tindakan belajar. kelaziman) dan karakteristik pengamat (kemampuan indera. mencakup peristiwa peniruan (adanya kejelasan. bukan ibarat suatu bejana yang diisi. persepsi. dan empat hukum tambahan (subsider) yang tunduk kepada hukum yang pokok itu.

hanya terjadi secara langsung dalam berinteraksi dengan lingkungannya. yang harus juga diperhatikan bahwa faktor model atau teladan mempunyai prinsip-prinsip sebagai berikut. Proses mengingat akan lebih baik dengan cara mengkodekan perilaku yang ditiru kedalam kata-kata. informasi dan instruksional. Motivasi. 4. 35 . dengan prinsip modifikasi perilaku. Tingkat tertinggi belajar dari pengamatan diperoleh dengan cara mengorganisasikan sejak awal dan mengulangi perilaku secara simbolik kemudian melakukannya. 3. keakuratan umpan balik. Sebagai contoh. pengulangan motorik. Proses belajar masih berpusat pada penguatan. Individu lebih menyukai perilaku yang ditiru jika sesuai dengan nilai yang dimilikinya. 3. komunikasi. Selain itu. mencakup dorongan dari luar dan penghargaan terhadap diri sendiri. mencakup kode pengkodean simbolik. tanda atau gambar daripada hanya observasi sederhana (hanya melihat saja). Teori Bandura menjadi dasar dari perilaku pemodelan yang digunakan dalam berbagai pendidikan secara massal. mencakup kemampuan fisik. Teori belajar dari Bandura ini nampaknya memang bisa berlaku umum dalam semua langkah pendidikan sosial. Teori sosial belajar dari Bandura ini merupakan gabungan antara teori belajar behovioristik dengan penguatan dan psikologi kognitif. Reproduksi motorik (reproduction). Penyimpanan atau proses mengingat (retention).2. pengulangan symbol. Individu akan menyukai perilaku yang ditiru jika model atau panutan tersebut disukai dan dihargai serta perilakunya mempunyai nilai yang bermanfaat. 1. kemampuan meniru. penerapan teori belajar sosial dalam iklan televisi. 2. keorganisasian pikiran.

Terhadap manusia. karena suasana dan kondisi yang sudah dirancang secara khusus untuk tujuan yang khusus pula. 1986 dan Wielkeiwicks. daripada membahas konsep motivasi belajar. Yakni untuk tujuan mempermudah terlaksananya proses belajar secara efektif. sehingga metode belajar sosial dari Bandura ini agak sulit dilakukan. penganut teori perilaku lebih memfokuskan pada seberapa jauh siswa telah belajar untuk mengerjakan pekerjaan sekolah dalam rangka mendapatkan hasil yang diinginkan (Bandura. Peristiwa sosial juga terjadi di lingkungan sekolah dan pendidikan pada umumnya. meskipun ia lapar. Penentuan Nilai dari Suatu Insentif 36 . Hanya dalam situasi sosial dan kemasyarakatanlah banyak terjadi belajar sosial. Dalam kenyataannya. Motivasi Belajar dan teori perilaku (Bandura) Konsep motivasi belajar berkaitan erat dengan prinsip bahwa perilaku yang memperoleh penguatan (reinforcement) di masa lalu lebih memiliki kemungkinan diulang dibandingkan dengan perilaku yang tidak memperoleh penguatan atau perilaku yang terkena hukuman (punishment). karena nilai penguatan dari penguat yang paling potensial sebagian besar ditentukan oleh faktor-faktor pribadi dan situsional. maka sulit dilaksanakan dalam sekolah-sekolah formal. 1995). Terhadap binatang yang sangat lapar kita dapat meramalkan bahwa makanan akan merupakan penguat yang sangat efektif.Namun karena kondisinya yang umum tadi. Namun hal itu tentu saja sangat khusus dan terbatas. Penghargaan (Reward) dan Penguatan (Reinforcement) Suatu alasan mengapa penguatan yang pernah diterima merupaka penjelasan yang tidak memadai untuk motivasi karena motivasi belajar manusia itu sangat kompleks dan tidak bebas dari konteks (situasi yang berhubungan). kita tidak dapat sepenuhnya yakin apa yang merupakan penguat dan apa yang bukan penguat.

motor reproduksi dan motivasi. ada motivasi lain yang berpengaruh (mempengaruhi) terhadap perilaku belajar siswa. karena nilai itu dapat bergantung pada banyak faktor (Chance. ―Pekerjaan yang bagus! Saya tahu kamu dapat mengerjakan tugas itu apabila kamu mencobanya!‖ Ucapan ini dapat memotivasi seorang siswa yang baru saja menyelesaikan suatu tugas yang ia anggap sulit namun dapat berarti hukuman (punishment) bagi siswa yang berfikir bahwa tugas itu mudah (karena pujian guru itu memiliki implikasi bahwa ia harus bekerja keras untuk menyelesaikan tugas itu). 1978). Self regulatory adalah menunjuk kepada 1) struktur kognitif yang memberi referensi tingkah laku dan hasil belajar. Pada saat guru mengatakan ―Saya ingin kamu semua mengumpulkan laporan buku pada waktunya karena laporan itu akan diperhitungkan dalam menentukan nilaimu. tetapi pada saat yang lain.Ilustrasi berikut menunjukkan poin penting: nilai motivasi belajar dari suatu insentif tidak dapat diasumsikan. Sense of self efficacy adalah keyakinan pembelajar bahwa ia dapat menguasai pengetahuan dan keterampilan sesuai standar yang berlaku. dan pengatur tingkah laku kita (Bandura. 1992). tetapi juga sangat dipengaruhi oleh unsur-unsur yang berasal dari diri pembelajar sendiri yakni ―sense of self Efficacy‖ dan ―self – regulatory system‖.‖ guru itu mungkin mengasumsikan bahwa nilai merupakan insentif yang efektif untuk siswa pada umumnya. retensi. Lebih lanjut menurut Bandura (1982) penguasaan skill dan pengetahuan yang kompleks tidak hanya bergantung pada proses perhatian. Kadang-kadang suatu jenis motivasi jelas-jelas menentukan perilaku. Dalam pembelajaran sel-regulatory akan menentukan ―goal setting‖ dan ―self evaluation‖ 37 . 2) sub proses kognitif yang merasakan. mengevaluasi. Apabila guru mengatakan kepada seorang siswa. Tetapi bagaimanapun juga sejumlah siswa dapat tidak menghiraukan nilai karena orang tua mereka tidak menghiraukannya atau mereka memiliki catatan kegagalan di sekolah dan telah mengambil sikap bahwa nilai itu tidak penting. Seringkali sukar menentukan motivasi belajar siswa dari perilaku mereka karena banyak motivasi yang berbeda dapat mempengaruhi perilaku.

mengembangkan ―self of mastery‖. dan reinforcement bagi pembelajar. a. Dimanakah letak hal-hal yang penting (key point) dalam sekuen tersebut? 2. Berikut Bandura mengajukan usulan untuk mengembangkan strategi proses pembelajaran yaitu sebagi berikut : 1. Bila tingkah laku yang dipelajari kurang memberi manfaat (tidk begitu penting) model manakah yang lebih penting? c. Apakah model harus hidup atau simbol? Pertimbangan soal biaya. pengulangan demonstrasi dan kesempatan untuk menunjukkan fungsi nilai dan tingkah laku. motor skil atau efektif? b. Menurut Bandura agar pembelajar sukses instruktur/guru/dosen/guru harus dapat menghadirkan model yang mempunyai pengaruh yang kuat terhadap pembelajar. 38 .Tetapkan fungsi nilai dari tingkah laku dan pilihlah tingkah laku tersebut sebagai model.Analisis tingkah laku yang akan dijadikan model yang terdiri : a. d. bagaimana cara mengerjakan pekerjaan/kemampuan yang dipelajari :how to do this‖ dan bukannya ―not this‖. Apakah karekter dari tingkah laku yang akan dijadikan model itu berupa konsep.Langkah-langkah manakah menurut sekuen yang harus dipresentasikan secara perlahan-lahan. Apakah reinforcement yang akan didapat melalui model yang dipilih? 3. Bagaimanakah urutan atau sekuen dari tingkah laku tersebut? c. Pengembangan sekuen instruksional Untuk mengajar motor skill. Apakah tingkah laku (kemampuan yang dipelajari) merupakan hal yang penting dalam kehidupan dimasa datang? (success prediction) b. self efficacy.pembelajar dan merupakan dorongan untuk meraih prestasi belajar yang tinggi dan sebaliknya.

39 . Dari uraian tentang teori belajar sosial. perlu ditumbuhkan ―sense of efficacy‖ dan self regulatory‖ pembelajar. Hasil belajar berupa kode-kode visual dan verbal yang mungkin dapat dimunculkan kembali atau tidak (retrievel). Proses kognitif 1) Tampilkan model. 2. Komponen-komponen belajar terdiri dari tingkah laku. faktor-faktor personal dan tingkah laku yang meliputi proses-proses kognitif belajar. konsekuensikonsekuensi terhadap model dan proses-proses kognitif pembelajar. dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Implementasi pengajaran untuk menunut proses kognitif dan motor reproduksi. Belajar merupakan interaksi segitiga yang saling berpengaruh dan mengikat antara lingkungan. motor skill 1) hadirkan model 2) beri kesempatan kepada tiap-tiap pembelajar untuk latihan secarasimbolik 3) beri kesempatan kepada pembelajar untuk latihan dengan umpan balik visual b.a. 3. 4. baik yang didukung oleh kode-kode verbal atau petunjuk untuk mencari konsistensi pada berbagai contoh 2) Beri kesempatan kepada pembelajar untuk membuat ihtisar atau summary 3) Jika yang dipelajari adalah pemecahan masalah atau strategi penerapan beri kesempatan pembelajar untuk berpartisipasi secaraaktif 4) Beri kesempatan pembelajar untuk membuat generalisasi ke berbagai siatuasi. Dalam perencanaan pembelajaran skill yang kompleks. disamping pembelajaran-pembelajaran komponen-komponen skill itu sendiri.

5. pembelajar sebaiknya diberi kesempatan yang cukup untuk latihan secara mental sebelum latihan fisik. dan ―reinforcement‖ dan hindari punishment yang tidak perlu. Dalam proses pembelajaran. 40 .

Dengan demikian. tetapi ia belum menyadari ciri-ciri bangun persegipanjang tersebut. Tahapan berpikir atau tingkat kognitif yang dilalui siswa dalam pembelajaran geometri. menurut Van Hiele adalah sebagai berikut:  Tingkat Visualisasi Tingkat ini disebut juga tingkat pengenalan. siswa memandang sesuatu bangun geometri sebagai suatu keseluruhan (wholistic). Dengan kata lain. Sebagai contoh. yaitu Pierre Van Hiele dan isterinya. pada tingkat ini siswa tahu suatu bangun bernama persegipanjang. meskipun pada tingkat ini siswa sudah mengenal nama sesuatu bangun. Pada tingkat ini. Pada tingkat ini siswa belum memperhatikan komponen-komponen dari masing-masing bangun. pada tahun-tahun 1957 sampai 1959 mengajukan suatu teori mengenai proses perkembangan yang dilalui siswa dalam mempelajari geometri. Dian Van Hiele-Geldof. Pada tingkat ini siswa sudah mengenal bangun-bangun geometri berdasarkan ciri-ciri dari masing-masing bangun.A. Teori Van Hiele Tingkat Kognitif menurut Van Hiele Dua tokoh pendidikan matematika dari Belanda. Dalam teori yang mereka kemukakan.  Tingkat Analisis Tingkat ini dikenal sebagai tingkat deskriptif. pada tingkat ini siswa sudah terbiasa menganalisis bagian-bagian yang ada pada suatu bangun dan mengamati sifat-sifat yang dimiliki oleh unsur-unsur tersebut 41 . mereka berpendapat bahwa dalam mempelajari geometri para siswa mengalami perkembangan kemampuan berpikir melalui tahap-tahap tertentu. siswa belum mengamati ciri-ciri dari bangun itu.

Ini berarti bahwa pada tingkat ini siswa sudah memahami proses berpikir yang bersifat deduktif-aksiomatis dan mampu menggunakan proses berpikir tersebut. siswa juga sudah bisa memahami hubungan antara bangun yang satu dengan bangun yang lain.  Tingkat Rigor Tingkat ini disebut juga tingkat metamatematis. maka sisi-sisi yang berhadapan itu sama panjang. Pada tingkat ini. tanpa membutuhkan model-model yang konkret sebagai acuan. pada tingkat ini siswa sudah bisa mengatakan bahwa jika pada suatu segiempat sisi-sisi yang berhadapan sejajar. sisi-sisi yang berhadapan sejajar. pada tingkat ini siswa sudah bisa mengatakan bahwa suatu bangun merupakan persegipanjang karena bangun itu ―mempunyai empat sisi. dan semua sudutnya siku-siku‖  Tingkat Abstraksi Tingkat ini disebut juga tingkat pengurutan atau tingkat relasional. 42 . Pada tingkat ini.  Tingkat Deduksi Formal Pada tingkat ini siswa sudah memahami perenan pengertian-pengertian pangkal. Di samping itu pada tingkat ini siswa sudah memahami pelunya definisi untuk tiap-tiap bangun. siswa mampu melakukan penalaran secara formal tentang sistem-sistem matematika (termasuk sistem-sistem geometri). Pada tingkat ini. Sebagai contoh. Misalnya pada tingkat ini siswa sudah bisa memahami bahwa setiap persegi adalah juga persegipanjang. siswa sudah bisa memahami hubungan antar ciri yang satu dengan ciri yang lain pada sesuatu bangun. Pada tahap ini. definisi-definisi. aksioma-aksioma. karena persegi juga memiliki ciri-ciri persegipanjang. dan terorema-teorema dalam geometri. Pada tingkat ini siswa sudah mulai mampu menyusun bukti-bukti secara formal.Sebagai contoh. siswa memahami bahwa dimungkinkan adanya lebih dari satu geometri.

semua anak mempelajari geometri dengan melalui tahap-tahap tersebut. kapan seseorang siswa mulai memasuki suatu tingkat yang baru tidak selalu sama antara siswa yang satu dengan siswa yang lain.  Fase 1 : Informasi (information) Pada awal fase ini. dan integrasi (integration). Selain itu. Akan tetapi.Sebagai contoh. dan tidak dimungkinkan adanya tingkat yang diloncati. maka seluruh geometri tersebut juga akan berubah. guru dan siswa menggunakan tanya jawab dan kegiatan tentang obyek-obyek yang dipelajari pada tahap berpikir yang bersangkutan. yaitu . dengan urutan yang sama. menurut Van Hiele. 43 . orientasi langsung (directed orientation). Sehingga. Implementasi Teori Van Hiele dalam Pembelajaran Untuk meningkatkan suatu tahap berpikir ke tahap berpikir yang lebih tinggi Van Hiele mengajukan pembelajaran yang melibatkan 5 fase (langkah). informasi (information). pada tingkat ini siswa menyadari bahwa jika salah satu aksioma pada suatu sistem geometri diubah. Menurut Van Hiele. Guru mempelajari pengetahuan awal yang dipunyai siswa mengenai topik yang di bahas. pada tahap ini siswa sudah memahami adanya geometrigeometri yang lain di samping geometri Euclides. orientasi bebas (free orientation). proses perkembangan dari tahap yang satu ke tahap berikutnya terutama tidak ditentukan oleh umur atau kematangan biologis. penjelasan (explication). Tujuan kegiatan ini adalah : a. Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa sambil melakukan observasi. tetapi lebih bergantung pada pengajaran dari guru dan proses belajar yang dilalui siswa.

 Fase 4 : Orientasi bebas (free orientation) Siswa mengahadapi tugas-tugas yang lebih komplek berupa tugas yang memerlukan banyak langkah. Hal tersebut berlangsung sampai sistem hubungan pada tahap berpikir ini mulai tampak nyata.  Fase 2 : Orientasi langsung (directed orientation) Siswa menggali topik yang dipelajari melalui alat-alat yang dengan cermat disiapkan guru. banyak hubungan antara obyekobyek yang dipelajari menjadi jelas. guru memberi bantuan seminimal mungkin. siswa menyatakan pandangan yang muncul mengenai struktur yang diobservasi.  Fase 3 : Penjelasan (explication) Berdasarkan pengalaman sebelumnya.  Fase 5 : Integrasi (Integration) Siswa meninjau kembali dan meringkas apa yang telah dipelajari. Guru dapat membantu dalam membuat sintesis ini dengan melengkapi survey secara global terhadap apa-apa yang telah dipelajari siswa. Melalui orientasi diantara para siswa dalam bidang investigasi. Di samping itu untuk membantu siswa menggunakan bahasa yang tepat dan akurat. tugas-tugas yang dilengkapi dengan banyak cara. alat ataupun bahan dirancang menjadi tugas pendek sehingga dapat mendatangkan respon khusus. maupun dalam menyelesaikan tugas-tugas. Guru mempelajari petunjuk yang muncul dalam rangka menentukan pembelajaran selanjutnya yang akan diambil. Mereka memperoleh pengalaman dalam menemukan cara mereka sendiri. Jadi. Aktifitas ini akan berangsur-angsur menampakkan kepada siswa struktur yang memberi ciri-ciri untuk tahap berpikir ini.b. 44 . dan tugas-tugas open ended.

Belajar bermakna (meaningful learning) 2. konsep-konsep. Belajar menghafal (rote learning) Menurut Ausubel belajar dapat diklasifikasikan kedalam dua dimensi. Menurut Ausubel. P. dan generalisasi-generalisasi yang telah disiswai dan diingat siswa. maka terjadilah belajar dengan hafalan. Dengan 45 . Struktur kognitif ialah fakta-fakta. Dimensi pertama berhubungan dengan cara informasi atau materi pelajaran itu disajikan kepada siswa melalui penerimaan atau penemuan. Pembelajaran bermakna merupakan suatu proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. TEORI BERMAKNA AUSUBEL Teori pembelajaran Ausabel merupakan salah satu dari sekian banyaknya teori pembelajaran yang menjadi dasar dalam cooperative learning. Sebaliknya jika siswa menghubungkan atau mengaitkan informasi baru itu dengan struktur kognitifnya maka yang terjadi adalah belajar bermakna D. Ausubel mengemukakan bahwa belajar dikatakan menjadi bermakna (meaningful) bila informasi yang akan dipelajari peserta didik disusun sesuai dengan struktur kognitif yang dimiliki peserta didik itu sehingga peserta didik itu dapat mengaitkan informasi barunya dengan kognitif yang dimilikinya. David Ausubel adalah seorang ahli psikologi pendidikan. Menurut Ausubel (Dahar 1996) bahan subjek yang dipelajari siswa mestilah ―bermakna‖ (meaningfull).B. Suparno (1997) mengatakan pembelajaran bermakna adalah suatu proses pembelajaran di mana informasi baru dihubungkan dengan struktur pengertian yang sudah dimiliki seseorang yang sedang melalui pembelajaran. ada dua jenis belajar : 1. Jika siswa hanya mencoba menghafalkan informasi baru itu tanpa menghubungkan dengan struktur kognitifnya. Selanjutnya dimensi kedua menyangkut bagaimana siswa dapat mengaitkan informasi itu pada struktur kognitif yang telah ada.

Belajar menerima (ekspositori) yang bermakna. kemudia pengetahuan yang baru itu dikaitkan dengan pengetahuan yang ia miliki. kemudia pengetahuan yang baru itu dihafalkan tanpa mengaitkannya dengan pengetahuan yang ia miliki. kerena beliau menekankan proses penguasaan maklumat melalui bahasa yang bermakna. yaitu: 1. Bagi Ausubel. Belajar dengan penemuan yang bermakna. kemudian dia hafalkan. guru memberikan konsep-konsep dengan jelas dan tersusun supaya peserta didik dapat menerimanya dengan lengkap dan baik. menghafal berlawanan dengan belajar bermakna. Selanjutnya peserta didik tidak dapat mengendapkan 46 . Menghafal sebenarnya mendapatkan informasi yang terisolasi sedemikian hingga peserta didik itu tidak dapat mengaitkan informasi yang diperoleh itu ke dalam struktur kognitifnya. Dalam pembelajaran resepsinya . Belajar menerima (ekspositori) yang tidak bermakna. Empat tipe belajar menurut Ausubel. materi pelajaran yang telah tersusun secara logis disampaikan kepada siswa sampai bentuk akhir. 3. 2. yaitu mengaitkan pengetahuan yang telahdimilikinya dengan materi pelajaran yang dipelajarinya atau siswa menemukan pengetahuannya dari apa yang ia pelajari kemudian pengetahuan baru itu ia kaitkan dengan pengetahuan yang sudah ada. 4. Teori pembelajaran Ausubel juga dikenali sebagai teori pembelajaran penerimaan atau penemuan . peserta didik menjadi kuat ingatannya dan transfer belajar mudah dicapai. yaitu pelajaran yang dipelajari ditemukan sendiri oleh siswa tanpa mengaitkan pengetahuan yang telah dimilikinya. yaitu materi pelajaran yang telah tersusun secara logis disampaikan kepada siswa sampai bentuk akhir. Belajar dengan penemuan yang tidak bermakna.belajar bermakna ini.

Ia tidak menghafal asosiasi stimulus-respon yang terpisah-pisah. Sebaliknya bila peserta didik itu tidak berkehendak mengaitkan bahan yang dipelajari dengan informasi yang dimiliki. akan mengakibatkan peserta didik itu tidak mempunyai keinginan mempelajari materi tersebut secara bermakna. hendaknya bersesuaian dengan tujuan belajar peserta didik. dikatakan peserta didik itu belajar bahan baru dengan cara yang bermakna. Adanya struktur kognitif di dalam mental peserta didik yang merupakan dasar unsur mengaitkan datangnya informasi baru. Belajar yang bermakna pada tahap mula-mula memberikan pengertian kepada bahan baru sehingga bahan baru itu akan terserap dan kemudian diingat peserta didik. Tugas-tugas diberikan kepada peserta didik harus sesuai dengan struktur kognitif peserta didik sehingga peserta didik itu dapat mengasimilasi bahan baru secara bermakna. cenderung mengalami kegagalan dan akhirnya membenci matematika. b. Peserta didik yang masih di dalam periode operasi konkrit. Kondisi dan sikap peserta didik terhadap tugas.pengetahuan yang diperoleh itu sehingga peserta didik itu hanya dapat mengingat fakta-fakta yang sederhana. maka belajar itu tidak bermakna. Demikianlah banyak peserta didik yang tidak berusaha mengerti matematika. c. Belajar bermakna berarti belajar dengan memperoleh pemberitahuan yang bermakna mempunyai pra syarat : a. Dengan demikian 47 . bila diberi bahan materi matematika yang abstrak tanpa contoh-contoh konkrit dari materi tersebut. Banyaknya pengetahuan yang dapat dipelajari tergantung kepada apa yang sudah diketahui. Apabila peserta didik melaksanakan tugas dengan sikap bahwa ia ingin memahami bahan pelajaran dan mengaplikasikan bahan baru serta menghubungkan bahan pelajaran yang terdahulu. Tugas-tugas yang diberikan haruslah sesuai dengan tahap perkembangan intelektual peserta didik.

Hasil pengkombinasian ini diaplikasikan kepengajaran matematika. b. perlu dikombinasikan sehingga kelemahan yang satu akan ditutup kekuatan yang lain. c. Ausubel (Dahar. Informasi yang dipelajari secara bermaknamemudahkan proses belajar beriktunya untuk materi pelajaran yang mirip. Informasi yang dipelajari secara bermakna mempermudah belajar hal-hal yang mirip walaupun telah lupa. 2. Dari dua aliran psikologi yang telah dikemukakan diatas yang masingmasing menghasilkan teori belajar.1989 : 141) ada tiga kebaikan belajar bermakna yaitu : a. Diferensiasi Progregsif Dalam pembelajaran bermakna perlu ada pengembangan dan kolaborasi konsep-konsep. Langkah – langkah belajar bermakna Ausubel adalah : 1. 48 . Pengaturan awal (advance organizer) Pengaturan awal dap digunakan untuk membantu mengaitkan konsep yang lama dengan konsep yang baru yang lebih tinggi maknanya.peserta didik hanya menghafal pelajaran tadi tanpa pengertian sehingga peserta didik mempelajari matematika dengan pernyataanpernyataan verbalyang tidak cermat dan tepat. Informasi yang dipelajari secara bermakna lebih lama dapat diingat. Caranya unsur yang inklusif diperkenalkan terlebih dahulu kemudian baru lebih mendetail.

memberi umpan balik. Berikut ini akan dijelaskan sec ara singkat tentang PAKEM.keterampilan. Dengan memberikan kesempatan peserta didik aktif akan mendorong kreativits peserta didik dalam belajar maupun memecahkan masalah. bahkan mencipta teknik -teknik mengajar tertentu sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik dan tujuan belajarnya. Peserta didik akan kreatif. Aktif diartikan peserta didik maupun berinteraksi untuk menunjang pembelajaran. pengetahuan dan sikap bagi kehidupan kelak. Apabila suasana belajar yang aktif dan kreatif terjadi. kreatif. mengajukan pertanyaan menantang dan mempertanyakan gagasan anak didik. menuliskan ide atau gagasan.C. PAKEM bertujuan untuk menciptakan sesuatu lingkungan belajar yang lebih melengkapi peserta didik dengan keterampilan. Kreatif diartikan guru memberikan variasi dalam kegiatan belajar mengajar dan membuat alat bantu baljar. bila diberi kesempatan merancang/membuat sesuatu. Guru harus menciptakan suasana sehingga peserta didik aktif bertanya. Menurut Siswono (2004). Guru aktif akan memantau kegiatan belajar peserta didik. maka akan mendorong peserta didik untuk menyenangi dan memotivasi mereka untuk 49 . Oleh karena itu teori belajar Dienes ini sangat terkait dengan konsep pembelajaran dengan pendekatan PAKEM (Pembelajaran Aktif. mengungkapkan ide dan mendemonstrasikan gagasan atau idenya. Hal ini berarti proses pembelajaran dapa t membangkitkan dan membuat anak didik senang dalam belajar. efektif dan menyenangkan). memberikan tanggapan. Kegiatan tersebut akan memuaskan rasa keingintahuan dan imajinasi mereka. TEORI DIENES Konsep PAKEM Teori belajar Dienes yang menekankan pada tahapan permainan yang berarti pembelajaran yang diarahkan pada proses melibatkan anak didik dalam belajar.

semarak. memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar g. Menyenangkan diartikan sebagai suasana belajar mengajar yang ‖hidup‖. terkondisi untuk trus berlanjut. Efektif yang diartikan sebagai ketercapaian suatu tujuan (kompetensi) merupakan pijakan utama suatu rancangan pembelajaran. Dalam pelaksanaan PAKEM perlu diperhatikan beberapa hal. Tahap-Tahap Dalam Teori Belajar Dienes Zoltan P. mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik f. memberikan umpan balik yang bertanggung jawab untuk meningkan kegiatan belajar mengajar h. Pembelajaran yang tampaknya aktif dan menyenangkan. Dienes adalah seorang matematikawan yang memusatkan perhatiannya pada cara-cara pengajaran terhadap siswa-siswa. 1992) berpendapat bahwa pada dasarnya matematika dapat dianggap sebagai studi tentang struktur. memanfaatkan perilaku anak dalam pengorganisasian belajar d. Dasar teorinya bertumpu pada Piaget. memahami sifat anak b. tetapi tidak efektif akan tampak hanya sekedar permainan belaka. Dienes (dalam Ruseffendi. sedemikian rupa sehingga sistem yang dikembangkannya itu menarik bagi siswa yang mempelajarinya. dan mendorong pemusatan perhatian peserta didik terhadap belajar. mengembangkan kemampuan bepikir kritis. membedakan antara aktif fisik dn aktif mental.terus belajar. yaitu: a. ekspresif. dan pengembangannya diorientasikan pada siswa-siswa. mengenal peserta didik secara individu/perorangan c. kreatif dam kemampuan memecahkan masalah e. memisah - 50 .

Keteraturan ini mungkin terdapat dalam konsep tertentu tapi tidak terdapat dalam konsep yang lainnya. Seperti halnya dengan Bruner. Permainan bebas merupakan tahap belajar konsep yang aktifitasnya tidak berstruktur dan tidak diarahkan. Dienes mengemukakan bahwa tiap -tiap konsep atau prinsip dalam matematika yang disajikan dalam bentuk yang konkret aka n dapat dipahami dengan baik. akan semakin jelas konsep yang dipahami siswa. Anak didik diberi kebebasan untuk mengatur benda.hubungan di antara struktur-struktur. Makin banyak bentuk-bentuk berlainan yang diberikan dalam konsep tertentu. tahap yang paling awal dari pengembangan konsep bermula dari permainan bebas. Ini mengandung arti bahwa jika benda -benda atau objek-objek dalam bentuk permainan akan sangat berperan bila dimanipulasi dengan baik dalam pengajaran matematika. Permainan Bebas (Free Play) Dalam setiap tahap belajar. Misalnya dengan diberi permainan block logic. anak didik mulai mempelajari konsep-konsep abstrak tentang warna. Jelaslah. Permainan yang Menggunakan Aturan (Games) Dalam permainan yang disertai aturan siswa sudah mulai meneliti pola-pola dan keteraturan yang terdapat dalam konsep tertentu. Anak yang telah memahami aturan-aturan tadi. Dalam tahap ini anak mulai membentuk struktur mental dan struktur sikap dalam mempersiapkan diri untuk memahami konsep yang sedang dipelajari. Selama permainan pengetahuan anak muncul. tebal tipisnya benda yang merupakan ciri/sifat dari benda yang dimanipulasi.misahkan hubungan-hubungan di antara struktur-struktur dan mengkategorikan hubungan. Dienes membagi tahap-tahap belajar menjadi tahap. karena akan memperoleh 51 . dengan melalui permainan siswa diajak untuk mulai mengenal dan memikirkan bagaimana struktur matematika itu. 2. yaitu 1.

Para siswa menentukan representasi dari konsep -konsep tertentu. Permainan Kesamaan Sifat (Searching for communalities) Dalam mencari kesamaan sifat siswa mulai diarahkan dalam kegiatan menemukan sifat-sifat kesamaan dalam permainan yang sedang diikuti. dan sebagainya. Representasi yang diperoleh ini bersifat abstrak. Dengan demikian telah mengarah pada 52 . atau yang berwarna merah. timbul pengalaman terhadap konsep tipis dan merah. anak diminta mengidentifikasi sifat-sifat yang sama dari benda-benda dalam kelompok tersebut (anggota kelompok). anak dihadapkan pada kelompok persegi dan persegi panjang yang tebal. serta timbul penolakan terhadap bangun yang tipis (tebal). Dalam membentuk kelompok bangun yang tipis. dan kegiatan untuk yang tidak relevan dengan pengalaman itu. atau tidak merah (biru). atau yang merah. kuning). Menurut Dienes. Contoh dengan permainan block logic. 4. Contoh kegiatan yang diberikan dengan permainan block logic. hijau. Translasi ini tentu tidak boleh mengubah sifat -sifat abstrak yang ada dalam permainan semula. guru perlu mengarahkan mereka dengan menstranslasikan kes amaan struktur dari bentuk permainan lain. Untuk melatih dalam mencari kesamaan sifat-sifat ini. Setelah mereka berhasil menyimpulkan kesamaan sifat yang terdapat dalam situasi-situasi yang dihadapinya itu. 3. atau yang tebal. untuk membuat konsep abstrak. Permainan Representasi (Representation) Representasi adalah tahap pengambilan sifat dari beberapa situasi yang sejenis. kemudian membentuk kelompok benda berbentuk segitiga. anak didik memerlukan suatu kegiatan untuk mengumpulkan bermacam -macam pengalaman. anak diberi kegiatan untuk membentuk kelompok bangun yang tipis.hal-hal yang bersifat logis dan matematis dalam konsep yang dipelajari itu.

Karso (1999:1. harus mampu merumuskan suatu teorema berdasarkan aksioma.20) menyatakan. an mempunyai elemen invers. Contoh kegiatan anak untuk menemukan banyaknya diagonal poligon (misal segi dua puluh tiga) dengan pendekatan induktif seperti berikut ini (gambar 2 5. Contohnya. Permainan dengan Simbolisasi (Symbolization) Simbolisasi termasuk tahap belajar konsep yang membutuhkan kemampuan merumuskan representasi dari setiap konsep-konsep dengan menggunakan simbol matematika atau melalui perumusan verbal. asosiatif. 6. anak didik telah mengenal dasar -dasar dalam struktur matematika seperti aksioma. pada tahap formalisasi anak tidak hanya mampu merumuskan teorema serta membuktikannya secara deduktif. kegiatan berikutnya menentukan rumus banyaknya diagonal suatu poligon yang digeneralisasikan dari pola yang didapat anak. membentuk sebuah sistem matematika. Misalnya bilangan bulat dengan operasi penjumlahan peserta sifat-sifat tertutup. adanya elemen identitas. dari kegiatan mencari banyaknya diagonal dengan pendekatan induktif tersebut.pengertian struktur matematika yang sifatnya abstrak yang terdapat dalam konsep yang sedang dipelajari. Sebagai contoh. 53 . tetapi mereka sudah mempunyai pengetahuan tentang sistem yang berlaku dari pemahaman konsep-konsep yang terlibat satu sama lainnya. komutatif. dalam arti membuktikan teorema tersebut. Permainan dengan Formalisasi (Formalization) Formalisasi merupakan tahap belajar konsep yang terakhir. Dalam tahap ini siswa-siswa dituntut untuk mengurutkan sifat-sifat konsep dan kemudian merumuskan sifat-sifat baru konsep tersebut. sebagai contoh siswa yang telah mengenal dasar-dasar dalam struktur matematika seperti aksioma. harus mampu merumuskan teorema dalam arti membuktikan teorema tersebut.

Langkah-langkah permainan: 1. Permainan Operasi Hitung a. Tujuan : Memperlihatkan menyimpan sekaligus bentuk nyata penjumlahan dengan teknik menjelaskan langkah-langkah sistematis penyelesaian kalimat penjumlahan. sehingga anak didik menjadi aktif dan senang dalam belajar. maka penjumlahan suku-sukunya dilakukan dengan teknik ―menyimpan‖ Permainan ―menyimpan dan menjumlahkan‖ berikut memberikan kemudahan mengajarkan operasi penjumlahan. Permainan Operasi Penjumlahan Ada dua teknik menjumlahkan. Mudah-mudahan melalui tulisan ini. Pada bagian tulusian ini. jika guru dapat mengemas permainan sebagai media maupun pendekatan dalam belajar matematika bagi anak. 54 . Sediakan kantong kain/kantong plastik/kantong dari katon. Jika hasil penjumlahan kurang atau sama dengan 10. Anda akan dapat merancang bagaimana mengemas pembelajaran matematika melalui permainan.Permainan Interaktif untuk Belajar Matematika Permainan interaktif merupakan suatu permainan yang dikemas dalam pembelajaran. maka anak akan senang belajar matematika sehingga menjadi efektif untuk mendapatkan hasil belajar yang optimal. Jika hasil penjumlahan lebih dari 10. 2. maka penjumlahan dapat dilakukan secara langsung dengan cara menjumlahkan suku-sukunya. Oleh karena itu. akan dibahas permainan matematika pada topik bilangan dan topik geometri. 1 . Sediakan kartu kecil merah untuk puluhan dan kartu kecil putih untuk satuan.

b. Mintalah anak menghitung total kartu merah. 4 – 2 = 2 (terangkan bahwa membacanya 20 karena nilainya puluhan) 3. Langlah-langkah permainan: 1. yaitu 1 + 2 + 1 = 4. Terangkan karena 7 tidak bisa dikurangi 8 maka ambil 1 kartu merah dan tukar dengan 10 kartu putih sehingga total kartu putih 7 + 10 = 17. Permainan ―menukar dan mengurangkan‖ Tujuan: Memperlihatkan meminjam sekaligus bentuk nyata pengurangan dengan teknik memperlihatkan langkah-langkah sistematis penyelesaian kalimat pengurangan. Mintalah anak menyatukan 9 dan 7 buah kartu putih dan mintalah anak menghitung jumlahnya (jawaban : 16). Mintalah anak untuk menjumlahkan hasilnya. 8. Mintalah anak memasukan kartu merah tersebut ke kantong puluhan dan masukan sisa 6 kartu putih ke kantongan satuan. Terangkanlah bahwa nilai empat kartu merah tersebut adalah 40. Selanjutnya. Mintalah anak menggantikan 10 kartu putih dari 16 kartu p utih dengan satu kartu merah. yaitu 40 + 6 = 46. Selanjutnya. 4. 4. 7. Perluas contoh permainannya sampai ke bilangan ratusan dan seterusny 55 . Permainan Operasi Pengurangan Ikutilah permainan berikut ini untuk memudahkan anak belajar operasi pengurangan dengan teknik meminjam. Mintalah anak untuk mengurangkan 57 – 28 2. yaitu 20 + 9 = 29. 6. Mintalah anak menjumlahkan hasilnya.3. 5. Mintalah anak mengerjakan 19 + 27. Karena dipinjam 1 maka sisa kartu merah menjadi = 4. 17 dikurangi 8 menghasilkan 9.

Terangkan bahwa hasilnya merupakan perkalian 2 dengan 3. Pada kalimat 3 x 2 = 6.c. 3. Perlihatkan 6 permen di tangan. Langkah-langkah permainan: 1. 3. sedangkan 6 merupakan hasil perkalian 2 dan 3. Permainan Operasi Perkalian Ikutilah permainan berikut ini untuk melatih anak belaj ar perkalian dan kelipatan. misalnya 2 + 2+ 2 atau bentuk lain 3 x 2. Tanyakan berapa anakkahyang akan mendapat permen. 56 . Perkalian merupakan penjumlahan berulang. Berikan masing-masing 2 buah permen kepada 3 orang anak. Permainan ―permen perkalian‖ Tujuan: Menjelaskan makna perkalian. Permainan Operasi Pembagian Permainan berikut ini mempermudah anak memahami operasi pembagian. Permainan ―permen pembagian‖ Tujuan : Menjelaskan makna pembagian Langkah-langkah: 1. Tanyakan berapakah jumlah total permen yang telah diberikan kepada ketiga anak tersebut. d. 2. 3 dan 2 disebut faktor dari 6. 2. yaitu 6. Bagikan secara merata 3 permen – 3 permen kepada beberapa anak sampai permen habis.

Teori Bandura menjelaskan perilaku manusia dalam konteks interaksi timbal balik yang berkesinambungan antara kognitif. perilaku dan pengaruh lingkungan. mencakup peristiwa peniruan (adanya kejelasan. yaitu 2. Ulangi permainan ―permen perkalian dan pembagian‖ ini sehingga anak mengerti betul makna perkalian dan pembagian serta hubungan keduanya dengan contoh lain. maka dia cenderung menyenangi judi. Tanamkanlah pada anak bahwa 6 : 3 = 6 – 3 – 3. Faktor-faktor yang berproses dalam belajar observasi adalah 1. tingkat kerumitan. sikap orang lain sebagai model merupakan tindakan belajar. kelaziman. Ia seorang psikolog yang terkenal dengan teori belajar sosial atau kognitif sosial serta efikasi diri. atau setidaknya menganggap bahwa judi itu tidak jelek. penguatan sebelumnya) 57 . nilai fungsi) dan karakteristik pengamat (kemampuan indera. TEORI BANDURA Albert Bandura lahir tanggal 4 Desember 1925 di Mundare Alberta berkebangsaan Kanada. 5. Perhatian (Attention). Eksperimennya yang sangat terkenal adalah eksperimen Bobo Doll yang menunjukkan anak meniru secara persis perilaku agresif dari orang dewasa disekitarnya. Terangkan bahwa hasilnya merupakan pembagian 6 dengan 3. minat. persepsi. Kondisi lingkungan sekitar individu sangat berpengaruh padapola belajar sosial ini. keterlibatan perasaan. Menurut Bandura proses mengamati dan meniru perilaku.4. Misalnya seorang yang hidupnya dan lingkungannya dibesarkan dilingkungan judi. D.

Tapi peserta didik itu memerlukan latihan yang banyak.2. Tingkat tertinggi belajar dari pengamatan diperoleh dengan cara mengorganisasikan sejak awal dan mengulangi perilaku secara simbolik kemudian melakukannya. tanda atau gambar dari pada hanya observasi sederhana (hanya melihat saja). keakuratan umpan balik. mencakup kemampuan fisik. Penyimpanan atau proses mengingat (Retention). pengualangan motorik.langkah dia mungkin belum bisa melakukannya dengan lancar. mendapat bimbingan tentang perkara. Di peringkat penghasilan latihan menjadikan tingkah laku lebih lancar dan mahir. gambar atau instruksi yang ditulis dalam buku panduan. Sebagai contoh: belajar gerakan tari dari instruktur membutuhkan pengamatan dari berbagai sudut yang dibantu cermin dan langsungditirukan oleh siswa pada saat itu juga. 3. 58 . Peserta didik harus berupaya melakukan semua tingkah laku yang ditirunya. Kemudian proses meniru akan lebih terbantu jika gerakan tadi juga didukung dengan penayangan video. mencakup dorongan dari luar dan penghargaan terhadap diri sendiri (Motivation) Selain itu juga yang harus diperhatikan bahwa faktor model atau teladan mempunyai prinsip-prinsip sebagai berikut: 1. Reproduksi motorik (Reproduction).perkara penting sebelum meleksanakan tingkah laku model. pengulangan simbol. Apabila seorang peserta didik tahu bagaimana suatu tingkah laku itu ditunjukkan dan mengingat cara-cara atau langkah. 4. Individu lebih menyukai perilaku yang ditiru jika sesuai dengan nilai yang dimilikinya. kemampuan meniru. Motivasi. Proses mengingat akan lebih baik dengan cara mengkodekan perilaku yang ditiru kedalam kata-kata. 2. mencakup kode pengkodean simbolik. pengorganisasian pikiran.

59 . dengan prinsip modifikasi perilaku. Proses belajar masih berpusat pada penguatan. Individu akan menyukai perilaku yang ditiru jika model atau panutan tersebut disukai dan dihargai serta perilakunya mempunyai nilai yang bermanfaat. Peristiwa sosial juga terjadi di lingkungan sekolah dan pendidikan pada umumnya. sehingga metode belajar sosial dari Bandura ini agak sulit dilakukan. namun hal itu tentu saja sangat khusus dan terbatas. informasi dan instruksional. komunikasi. yakni untuk tujuan mempermudah terlaksananya proses belajar secara efektif. namun karena kondisinya yang umum tadi maka sulit dilaksanakan dalam sekolah-sekolah formal. hanya terjadi secara langsung dalam berinteraksi dengan lingkungannya. hal ini untuk mendorong konsumen agar membeli sabun supaya mempunyai kulit seperti para "bintang" atau minum obat masuk anginnya "orang pintar". Sebagai contoh: penerapan teori belajar sosial dalam iklan televisi.3. Teori belajar sosial dari Bandura ini merupakan gabungan antara teori belajar behavioristik dengan penguatan dan psikologi kognitif. Hanya dalam situasi sosial dan kemasyarakatanlah banyak terjadi belajar sosial. Teori belajar dari Bandura ini tampaknya memang bisa berlaku umum dalam semua langkah pendidikan sosial. Iklan selalu menampilkan bintang-bintang yang popular dan disukai masyarakat. karena suasana dan kondisi yang sudah dirancang secara khusus untuk tujuan yang khusus pula. Teori Bandura menjadi dasar dari perilaku pemodelan yang digunakan dalam berbagai pendidikan secara massal.

bukan aktivitas sensori motor.E. 60 .Periode Pra-operasional (2 – 7) tahun. Jean Piaget berpendapat bahwa proses berpikir manusia sebagai suatu perkembangan yang bertahap dari berpikir intelektual konkret ke abstrak berurutan melalui empat periode. pada akhir periode ini. Piaget adalah orang pertama yang menggunakan filsafat konstruktivis dalam proses belajar mengajar. yaitu mengenai teori perkembangan intelektual. Anak itu belum mempunyai kesadaran adanya konsep objek yang tetap.Periode Sensori Motor (0 – 2) tahun. Operasi yang dimaksud di sini adalah suatu proses berpikir atau logik. namun usia atau kronologis pada setiap orang yang memasuki setiap periode berpikir yang lebih tinggi berbeda-beda tergantung kepada masing-masing individu. 2. anak itu tidak akan mencarinya lagi. Karateristik periode ini merupakan gerakan-gerakan sebagai akibat reaksi langsung dari rangsangan. Urutan periode itu tetap bagi setiap orang. TEORI PIAGET Teori Perkembangan Intelektual Piaget Teori belajar Dienes sangat terkait dengan teori belajar yang dikemukakan oleh Piaget. Rangsangan itu timbul karena anak melihat dan merab-raba objek. Bila objek itu disembunyikan. anak menyadari bahwa objek yang disembunyikan tadi masih ada dan ia akan mencarinya. 1981). Namun karena pengalamannya terhadap lingkungannya. sebagai berikut: 1. berpendapat bahwa proses berpikir manusia merupakan suatu perkembangan yang bertahap dari berpikir intelektual kongkret ke abstrak berurutan melalui empat tahap perkembangan. dan merupakan aktivitas mental. Piaget (dalam Bell.

misalnya suatu benda diberi nama (simbol).Periode operasi kongkret (7 – 12) tahun. Anak itu belum memperhitungkan semua kemungkinan dan kemudian mencoba menemukan kemungkinan yang mana yangk akan terjadi. Misalnya semua 61 . Pengalaam anak masih kongkret dan belum formal. Pengerjaan-pengerjaaan logikd apat dilakukan dengan berorientasike objek-objek atau peristiwa-peristiwa yang langsung dialami anak. tetapi anak itu mulai memanipulasi simbol dari benda-benda sekitarnya. Walaupun pada periode permulaan pra-operasional ini anak mampu menggunakan simbol-simbol. Kombinasivitas atau klasifikasi adalah suatu operasi dua kelas atau lebih yang dikombinasikan ke dalam suatu kelas yan g lebih besar. Periode ini sering disebut juga periode pemberian simbol. Operasi kongkret hanyalah menunjukkan kenyataan adanya hubungan dengan pengalaman empirik-kongkret yang lampau dan masih mendapat kesulitan dalam mengambil kesimpulan yang logis dari pengalaman -pengamanan yang khusus. Anak dapat membentuk variasi relasi kelas dan mengerti bahwa beberapa kelas dapat dimasukkan ke kelas lain. Dalam periode operasi kongkret. Pada periode ini anak terpaku kepada kontak langsung dengan lingkungannya. ia masih sulit melihat hubungan-hubungan dan mengambil kesimpulan secara taat asas. 3. Periode ini disebut operasi kongkret sebab berpikir logiknya didasarkan atas manipulasi fisik dari objek-objek. Anak masih terikat kepada pegakaman prib adi.Pada periode ini anak di dalam berpikirnya tidak didasarkan kepada keputusan yang logis melainkan didasarkan kepada keputusan yang dapat dilihat seketika. karateristik berpikir anak adalah sebagai berikut: a. Dalam periode ini anak berpikirnya sudah dikatakan menjadi operasional.

Hubungan A > B dan B > C menjadi A > C. tetap sama sementara itu aspek lainnya berubah. Kesadaran adanya prinsip-prinsip konservasi. f. Korespondensi satu – satu antara objek-objek dari dua kelas. Misalnya. c. Asosiasivitas adalah suatu operasi terhadap beberapa kelas yang dikombinasikan menurut sebarang urutan. Setiap operasi logik atau matematik dapat dikerjakan dengan operasi kebalikan.manusia lelaki dan semua manusia wanita adalah semua manusia. operasi ‖+‖.dalam himpunan bilangan bulat dengan operasi ‖+‖. 5 + ? = 9 sama dengan 9 – 5 = ? Reversibilitas ini merupakan karakteristik utama untuk berpikir operasional di dalam teori Piaget. Identitas adalah suatu operasi yang menunjukkan adanya unsur nol yang bila dikombinasikan dengan unsur atau kelas hasilnya tidak berubah. Misalnya unsur dari suatu himpunan berkawan dengan satu unsur dari himpunan kedua dan sebaliknya. Anak pada periode ini dilandasi oleh observasi dari pengalaman dengan objek nyata. Namun prinsip konservasi yang dimilikianak pada periode ini masih belum penuh. d. Misalnya. Konservasi berkenaan dengan kesadaran bahwa satu aspek dari benda. Reversibilitas adalah operasi kebalikan. tetapi ia sudah mulai menggeneralisasi objek-objek tadi. Misalnya himpunan bilangan bulat. unsur nol adalh 0 sehingga 8 + 0 = 8. Demikian juga suatu jumlah dapat dinolkan dengan mengkombinasikan lawannya. misalnya 4 – 4 = 0. b. berlaku hukum asosiatif terhadap penjumlahan. 62 . e.

belajar itu tidak hanya menerima informasi dan pengalaman baru saja. Anak mampu menyelesaikan masalah dengan cara yang lebih baik dan kompleks dari pada anak yang masih dalam tahap periode operasi kongkre t. ia dapat mengisolasi itu faktor-faktor sehingga tersendiri atau mengkombinasikan masalah tadi. faktor-faktor menuju penyelesaian Asimilasi adalah proses mendapatkan informasi dan pengalaman baru yang langsung menyatu dengan struktur mental yang sudah dimiliki seseorang. Kemudian kepada peserta 63 .4. artinya bila anak dihadapkan kepada suatu masalah. Periode operasi formal ini disebut juga disebut periode operasi hipotetik-deduktif yang merupakan tahap tertinggi dari perkmbangan intelektual. Adapun akomodasi adalah proses menstrukturkan kembali mental sebagai akibat adanya informasi dan pengalaman baru tadi.Periode Operasi Formal (> 12) tahun. tetapi juga terjadi penstrukturan kembali informasi dan pengalaman lainnya untuk mengakomodasikan informasi dan pengalaman yang baru. Jadi.definisi verbal. Anak-anak pada periode ini sudah memberikan alasan dengan menggunakan lebih banyak simbul atau gagasan dalam cara berpikir. Konsep konservasi telah tercapai sepenuhnya.Anak sudah mampu menggunakan hubungan-hubungan di antara objek-objek apabila ternyata manipulasi objek-objek tidak memungkinkan. segi panjang dan parallelogram sebagai segi empat. Anak juga sudah dapat berpikir kombinatorik. Misalnya di dalam struktur mental peserta didik telah ada pengorganisasian dan pengelompokan bentuk-bentuk bujur sangkar. Anak sudah dapat mengoperasikan argumen-argumen tanpa dikaitkan dengan benda-benda empirik. yaitu menggunakan posedur hipotetik-deduktif. Anak telah mampu melihat hubungan hubungan abstrak dan menggunakan proposisi-proposisi logik-formal termasuk aksioma dan definisi. Periode ini merupakan tahap terakhir dari keempat periode perkembangan intelektual. Ia mampu menggunakan prosedur seorang ilmuwan.

Hal ini amat penting bagi perkembangan mental anak. c. struktur mental berkembang dan menjadi matang. Pengalaman yang dimaksud ada dua macam/. pengalaman logika-matematika yang berupa kegiatan mental yang ditampilkan individu dan struktur kognitifnya diorganisasikan menurut pengalamannya. 64 . Sebagai hasil dari penyetimbangan itu. Piaget percaya bahwa operasi formal tidak akan berkembang di dalam pikiran tanpa adanya pertukaran dan koordinasi pendapat di antara orang-orang. Peserta didik itu me ngerti bahwa trapezium itupun merupakan segi empat dengan sifat yang sedikit berbeda dengan bentuk-bentuk yang telah dipelajari sebelumnya. Pengalaman juga mempunyai andil dalam pengembangan intelektual.didik itu diberikan lagi bentuk trapesium. Kematangan merupakan proses pertumbuhan psikologis dari otak dan sistem syaraf. pengalaman fisik yang berupa interaksi setiap individu dengan objek-objek di lingkungannya: yang kedua. Perkembangan intelektual itu dipengaruhi oleh tiga factor berikut : a. b. Ketiga factor itu harus ada agar seseorang berkembang dari satu periode ke periode berpikir yang lebih tinggi. Peristiwa itu juga berarti terjadinya penstrukturan kembali kognitif yang telah dimiliki oleh peserta didik karena datangnya informasi baru tentang trapesium tadi. Transmisi social merupakan interaksi dan kerja sama seseorang dengan orang lain atau dengan lingkungannya. yaitu yang pertama. Ini berarti terjadinya akomodasi. Penyetimbangan (equilibration) merupakan proses adanya kehilangan stabilitas di dalam struktur mental sebagai akibat pengalaman dan informasi baru dan kembali setimbang melalui proses asimilasi dan akomodasi. Ini berarti peserta didik tersebut menyatukan objek baru itu ke dalam struktur kognitif yang sudah dimiliki dan terjadilah proses asimilasi.

Proses penyetimbangan juga terjadi dalam belajar. Misalnya seseorang mendapat gagasan yang tidak terorganisasikan melalui kontak social atau pengalaman dari lingkungan, tetapi butir-butir itu terdapat perbedaan, perbedaan ini harus menjadi harmonis. Maka terjadilah proses penyetimbangan itu (logika matematika). Perkembangan Intelektual Anak dalam Belajar

Menurut Ruseffendi (1992), untuk dapat mengajarkan konsep matematika pada anak dengan baik dan mudah dimengerti, maka materi yang akan disampaikan hendaknya diberikan pada anak yang sudah siap intelektualnya untuk menerima materi tersebut. Contoh, meskipun anak berumur 3 tahun sudah dapat menghitung angka 1 –10, tetapi dia belum mengerti bilangan 1, 2, dan seterusnya. Oleh karena itu, dia akan kesulit an jika harus belajar tentang bilangan. Agar anak dapat mengerti materi matematika yang dipelajari, maka dia harus sudah siap menerima materi tersebut, artinya anak sudah mempunyai hukum kekekalan dari jenjang materi matematika yang dipelajari. Menurut piaget (dalam Ruseffendi; 1992), ada enam tahap dalam perkembangan belajar anak yang disebut dengan hukum kekekalan, sebagai berikut: 1. Hukum Kekekalan Bilangan (6 – 7 tahun) Anak yang telah memahami hukum kekekalan bilangan akan mengerti bahwa banyaknya suatu benda-benda akan tetap meskipun letaknya berbeda-beda atau diubah letaknya. Anak yang sudah memahami hukum kekekalan bilangan sudah siap untuk menerima pelajaran konsep bilangan dan operasinya. Sementara itu, anak yang belum memahami hukum kekekalan bilangan baginya belum waktunya mendapatkan

65

pelajaran operasi penjumlahan dan operasi hitung lainnya. Hukum kekekalan bilangan biasanya dipahami anak pada usia 6 – 7 tahun. 2. Hukum Kekekalan Materi ( 7 – 8 tahun) Anak yang sudah memahami hukum kekekalan materi atau zat akan mengatakan bahwa materi atau zat akan tetap sama banyaknya meskipun diubah bentuknya atau dipindah tempatnya. Sedangkan anak yang belum memahami hukum kekekalan materi akan mengatakan, bahwa air pada dua mangkok yang berbeda besarnya menjadi tidak sama, meskipun anak tersebut tahu bahwa air itu dituangkan dari dua bejana yang sama besar dan sama banyaknya. Anak yang belum memahami hukum kekekalan materi belum dapat melihat persamaan atau perbedaan dari satu sudut pandang saja. Contohnya, anak yang sudah dapat membedakan bilangan ganjil dan genap, bilangan kelipatan 3 dan bukan kelipatan 3, dan sebagainya. Masih akan kesulitan jika disuruh menentukan bilangan prima genap, atau bilangan genap kelipatan lima, dan sebagainya. Pada umumnya, anak memahami hukum kekekalan materi pada usia sekitar 7 – 8 tahun. 3. Hukum Kekekalan Panjang (8 - 9 tahun) Anak yang telah memahami hukum kekekalan panjang akan mengatakan bahwa panjang tali akan tetap meskipun tali itu

dilengkungkan. Sedangkan anak yang belum memahami hukum kekekalan panjang akan mengatakan bahwa dua utas tali yang tadinya sama panjang waktu direntangkan, menjadi tidak sama panjang bila yang satunya dilengkungkan sedangkan yang satunya lagi tidak. Anak yang belum memahami hukum kekekalan panjang akan memperoleh kesulitan dalam mempelajari konsep pengukuran, terutama pengukuran panjang benda -

66

benda yang tidak lurus. Hukum kekekalan panjang biasanya dipahami oleh anak pada usia sekitar 8 - 9 tahun. 4. Hukum Kekekalan Luas (8 – 9 tahun) Hukum kakakalan luas biasanya dipahami anak bersamaan dengan hukum kekekalan panjang, yaitu pada usia sekitar 8 - 9 tahun. Anak yang sudah memahami hukum kekekalan luas akan memahami bahwa luas daerah yang ditutupi suatu benda akan tetap sama meskipun letak bendanya diubah. Sedangkan anak yang belum memahami hukum kekekalan luas cenderung mengatakan bahwa luas daerah yang ditutupi 4 persegi kongruen yang diletakkan tersebar (tidak berimpit) lebih luas dari pada daerah yang ditutupi oleh 4 persegi kongruen yang diletakkan berimpitan. Anak yang belum memahami hukum kekekalan luas akan kesulitan belajar luasan suatu daerah. Misalnya, dalam menemukan rumus luas jajarangenjang yang diturunkan dari rumus luas persegi panjan g. 5. Hukum Kekekalan Berat (9 – 10 tahun) Hukum kekekalan berat menyatakan bahwa berat suatu benda akan tetap meskipun bentuk, tempat, dan atau penimbangan benda tersebut berbeda. Pada umumnya anak akan memahami hukum kekekalan berat setelah berusia sekitar 9 – 10 tahun 6. Hukum Kekekalan Isi (14 – 15 tahun) Hukum kekekalan isi menyatakan bahwa jika pada suatu bak atau bejana yang penuh dengan air dimasukan suatu benda, maka air yang ditumpahkan dari bak atau bejana tersebut sama dengan isi benda yang dimasukannya. Pada umumnya anak akan memahami hukum kekekalan isi pada usia sekitar 14 – 15 tahun atau mungkin sebelumnya. Untuk hukum kekekalan isi, karena pada umumnya belum dipahami pada anak SD, maka tidak dibahas lebih lanjut, dalam bahan ajar ini

67

ataupun kemiripan menjadi kesatuan. 68 . TEORI GESTALT Tokoh Gestalt Gestalt adalah sebuah teori yang menjelaskan proses persepsi melalui pengorganisasian komponen-komponen sensasi yang memiliki hubungan. tetapi proses mental. Dengan pernyataan ini ia menentang pendapat Wundt yang menunjuk pada proses fisik sebagai penjelasan phi phenomenon. Teori gestalt cenderung berupaya mengurangi pembagian sensasi menjadi bagian-bagian kecil.  Kurt Lewin (1890-1947) Pandangan Gestalt diaplikasikan dalam field psychology dari Kurt Lewin.  Max Wertheimer (1880-1943) Belajar pada Kuelpe. Tahun 1910 ia mengajar di Univeristy of Frankfurt bersama-sama dengan Koehler dan Koffka yang saat itu sudah menjadi asisten di sana. Dengan konsep ini. Konsep pentingnya : phi phenomenon (bergeraknya obyek statis menjadi rangkaian gerakan yang dinamis setelah dimunculkan dalam waktu singkat dan dengan demikian memungkinkan manusia melakukan interpretasi). Wertheimer menunjuk pada proses interpretasi dari sensasi obyektif yang kita terima.F. Proses ini terjadi di otak dan sama sekali bukan proses fisik. Lewin adalah salah seorang ahli yang sangat kuat menganjurkan pemahaman tentang lapangan psikologis seseorang. pola. seorang tokoh aliran Wuerzburg. Bersama-sama dengan Wolfgang Koehler (1887-1967) dan Kurt Koffka (1887-1941) melakukan eksperimen yang akhirnya menelurkan ide Gestalt. Teori gestalt beroposisi terhadap teori strukturalisme.

2. yang cenderung dipersepsikan oleh manusia sebagai figure and ground. potongan.Konsep utama Lewin adalah Life Space.  Principle of Figure and Ground: yaitu menganggap bahwa setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar belakang. Pengorganisasian ini mempengaruhi makna yang dibentuk. Tugas utama psikologi adalah meramalkan perilaku individu berdasarkan semua fakta psikologis yang eksis dalam lapangan psikologisnya pada waktu tertentu . Prinsip-prinsip pengorganisasian:  Principle of Proximity: bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertentu. Prinsip dasar Gestalt 1. Penampilan suatu obyek seperti ukuran. Gerakan individu mencapai tujuan (goal) disebut locomotion. Oleh karena itu kemampuan persepsi ini merupakan fungsi bawaan manusia. yaitu lapangan psikologis tempat individu berada dan bergerak.    Principle of Objective Set: Organisasi berdasarkan mental set yang sudah terbentuk sebelumnya Principle of Continuity: Organisasi berdasarkan kesinambungan pola Principle of Closure/ Principle of Good Form: bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap. bukan skill yang dipelajari. warnadan 69 .  Principle of Similarity: bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang berada dalam arah yang sama cenderung akan dipersepsi sebagi suatu figure atau bentuk tertentu. Setiap perceptual field memiliki organisasi. Lapangan psikologis ini terdiri dari fakta dan obyek psikologis yang bermakna dan menentukan perilaku individu (B=f L). Interaksi antara individu dan lingkungan disebut sebagai perceptual field.

Oleh karena itu. Bila figure dan latar bersifat samar-samar. guru hendaknya menyadari tujuan 70 . Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning). Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya. tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. Aplikasi prinsip Gestalt Proses belajar adalah fenomena kognitif. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons. Dalam proses pembelajaran. terjadi reorganisasi dalam perceptual fieldnya. hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah. Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain : a. Setelah proses belajar terjadi. Pengalaman tilikan (insight). c. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. Contoh: perubahan nada tidak akan merubah persepsi tentang melodi. khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. Apabila individu mengalami proses belajar.  Principle of Isomorphism: Organisasi berdasarkan konteks.sebagainya membedakan figure dari latar belakang. Perilaku bertujuan (pusposive behavior). kebermaknaan unsurunsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. seseorang dapat memiliki cara pandang baru terhadap suatu problem. makaakan terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figure. bahwa perilaku terarah pada tujuan. Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari. b.

Transfer dalam Belajar. Dengan berjalannya waktu. transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat. yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik. Oleh karena itu.sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya. Menurut pandangan Gestalt. d. Oleh karena itu. Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). jejak ingatan ini akan berubah pula sejalan dengan prinsip-prinsip organisasional terhadap obyek. Prinsip ruang hidup (life space). guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya. Konsep insight ini adalah fenomena penting dalam belajar.  Memory Hasil persepsi terhadap obyek meninggalkan jejak ingatan. e. individu mampu menerapkannya pada problem sejenis tanpa perlu melalui proses trial-error lagi. bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. Setelah adanya pengalaman insight. Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain.  Insight Pemecahan masalah secara jitu yang muncul setelah adanya proses pengujian berbagai dugaan/kemungkinan. Penerapan Prinsip of Good 71 . ditemukan oleh Koehler dalam eksperimen yang sistematis.

Keseluruhan ini memberikan beberapa prinsip belajar yang penting. Psikologi Gestalt bermula pada lapangan pengamatan (persepsi) dan mencapai sukses yang terbesar juga dalam lapangan ini. insight. Adanya perceptual field diinterpretasikan menjadi lapangan kognitif dimana proses-proses mental seperti persepsi. Manusia bereaksi dengan lingkungannya secara keseluruhan. Implikasi Gestalt  Pendekatan fenomenologis menjadi salah satu pendekatan yang eksis di psikologi dan dengan pendekatan ini para tokoh Gestalt menunjukkan bahwa studi psikologi dapat mempelajari higher mental process. emosional. 72 . namun tetap dapat mempertahankan aspek ilmiah dan empirisnya. sosial dan sebagainya 2. tetapi juga secara fisik. Tokoh: Tolman dan Koehler. fenomena ini juga menjelaskan pengaruh gosip/rumor. Secara sosial. Demonstrasinya mengenai peranan latar belakang dan organisasinya terhadap proses-proses yang diamati secara fenomenal demikian meyakinkan sehingga boleh dikatakan tidak dapat di bantah.Form seringkali muncul dan terbukti secara eksperimental.  Pandangan Gestalt menyempurnakan aliran behaviorisme dengan menyumbangkan ide untuk menggali proses belajar kognitif. tidak hanya secara intelektual. berfokus pada higher mental process. antara lain : 1. yang selama ini dihindari karena abstrak.dan problem solving beroperasi. Belajar adalah penyesuaian diri dengan lingkungan. Ada beberapa hal yang patut dicatat sebagai implikasi dari aliran Gestalt.

2. Mengajukan hipotesa. Belajar hanya berhasil. 5. 4. lengkap dengan segala aspek-aspeknya. Mengumpulkan data atau informasi. 7. Realisasi adanya masalah. Dengan 73 . 3. sebagai suatu jalan yang mungkin memberi arah pemecahan masalah. demikian pula pengalaman manusia tidak dapat dipersepsi sebagai sesuatu yang terisolasi dari lingkungannya. membuat laporan atau membuat sesuatu dengan hasil pemecahan soal itu. Dewey ada 5 upaya pemecahannya yakni: 1. 4. Belajar merupakan suatu proses bila seseorang itu aktif. Mengambil kesimpulan. Belajar adalah perkembangan kearah diferensiasi ynag lebih luas. Hal ini nampaknya juga relevan dengan konsep teori belajar yang diawali dengan suatu pengamatan. dengan bacaan atau sumber-sumber lain. Jadi harus memahami apa masalahnya dan juga harus dapat merumuskan.3. Belajar sangat menguntungkan untuk kegiatan memecahkan masalah. Menilai dan mencoba usaha pembuktian hipotesa dengan keteranganketerangan yang diperoleh. Belajar memecahkan masalah diperlukan suatu pengamatan secara cermat dan lengkap. Tidak mungkin ada belajar tanpa ada kemauan untuk belajar. Teori medan ini mengibaratkan pengalaman manusia sebagai lagu atau melodi yang lebih daripada kumpulan not. bukan ibarat suatu bejana yang diisi. motivasi memberi dorongan yang mengerakan seluruh organisme. 8. 5. 6. Belajar akan berhasil kalau ada tujuan. apabila tercapai kematangan untuk memperoleh insight. Kemudian bagaimana seseorang itu dapat memecahkan masalah menurut J. Manusia berkembang sebagai keseluruhan sejak dari kecil sampai dewasa.

lambat laun terjadi proses diferensiasi. TEORI THORNDIKE Biografi Edward Lee Thorndike. maka persepsi awal akan keseluruhan objek yang semula masih agak kabur menjadi semakin jelas. ketika disana.Your City (1939). An experimental study of associationprocess in Animal”. dan burung. Edward lee thorndike meski secara teknis seorang fungsionalis. Mental and social Measurements (1904). anjing. dia mengikuti kelasnya Williyams James dan merekapun cepat menjadi akrab. sebaliknya belajar mulai dengan mempersepsi keseluruhan. Lulus S1 dari Universitas Wesleyen tahun 1895. kemudian dia tinggal dan mengajar di Colombia sampai pension pada tahun 1940.yang mencerminkan prinsip dasar dari proses belajar yang dianut oleh Thorndike yaitu bahwa dasar dari belajar (learning) tidak laian 74 . Ateacher’s Word Book (1921). namun ia telah membentuk tahapan behaviorisme Rusia dalam versi Amerika. S2 dari Harvard tahun 1896 dan meraih gelar doktor di Columbia tahun 1898. Buku-buku yang ditulisnya antara lain Educational Psychology (1903). Dan dia menerbitkan suatu buku yang berjudul ―Animal intelligence. yakni menangkap bagian bagian dan detail suatu objek pengalaman. G. dan Human Nature and The Social Order (1940). dan mendapatkan gelar PhD-nya tahun 1898. Animal Intelligence (1911). Thorndike berprofesi sebagai seorang pendidik dan psikolog yang berkebangsaan Amerika.kata lain berbeda dengan teori asosiasi maka toeri medan ini melihat makna dari suatu fenomena yang relatif terhadap lingkungannya . dan master dari Hardvard pada tahun 1897.dia menerima bea siswa di Colombia. Thorndike (1874-1949) mendapat gelar sarjananya dari Wesleyan University di Connecticut pada tahun 1895. Belajar bukan merupakan penjumalahan (aditif). Buku ini yang merupakan hasil penelitian Thorndike terhadap tingkah beberapa jenis hewan seperti kucing. Dengan memahami bagian / detail.

maka pada saat menghadai masalah yang serupa. maka organisme itu akan mengeluarkan serentakan tingkah laku dari kumpulan tingkah laku yang ada padanya untuk memecahkan masalah itu. Ia mengasosiasikan suatu masalah tertentu dengan suatu tingkah laku tertentu. pertama kali organisme (Hewan. organisme sudah tahu tingkah laku mana yang harus di keleluarkan nya untuk memecahkan masalah. Seekor kucing misalnya. dalam teori S-R di katakana bahwa dalam proses belajar.sebenaranya adalah asosiasi. Sejak itu. Berdasarkan pengalaman itulah . dalam hal ini objek mencoba berbagai cara bereaksi sehingga menemukan keberhasilan dalam membuat koneksi sesuatu reaksi dengan stimulasinya. berjalan. kucing akan langsung menginjak pedal kalau ia dimasukkan dalam kandag yang sama. Teori Edward Lee Thorndike. Orang) belajar dengan cara coba salah (Trial end error). yang di masukkan dalam kandang yang terkunci akan bergerak. Teori ini disebutdengan teori S-R. dan tingkah laku anak-anak dan orang dewasa. mencakar dan sebagainya sampai suatu saat secara kebetulan ia menginjak suatu pedal dalam kandang itu sehingga kandang itu terbuka. Teori ini sering juga disebut ―Trial and error‖ dlam rangkan menilai respon yang terdapat bagi stimulus tertentu. Kalau organisme berada dalam suatu situasi yang mengandung masalah. pendidikan dan pengajaran di amerika serikat di dominasi oleh pengaruh dari Thorndike (1874-1949) teori belajar Thorndike di sebut ― Connectionism‖ karena belajar merupakan proses pembentukan koneksi-koneksi antara stimulus dan respon. 75 . Pada mulanya. Objek penelitian di hadapkan kepada situasi baru yang belum dikenal dan membiarkan objek melakukan berbagai pada aktivitas untuk merespon situasi itu. suatu stimulum akan menimbulkan suatu respon tertentu. meloncat. Thorndike mendasarkan teorinya atas hasil-hasil penelitiannya terhadap tingkah laku beberapa binatang antara lain kucing.

Semakin sering suatu materi pelajaran diulangi maka materi pelajaran tersebut akan semakin kuat tersimpan dalam ingatan (memori). ternyata jawabannya benar. Ada motif pendorong aktivitas 2. hukum ini menunjukkan prinsip utama belajar adalah pengulangan. Hal ini berarti (idealnya). Isi teori ini sangat berorientasi pada fisiologis 2. yaitu apabila asosiasi yang terbentuk antara stimulus dan respon diikuti oleh suatu kepuasan maka asosiasi akan semakin meningkat.T 1. Interpretasi dari hukum ini adalah semakin sering suatu pengetahuan—yang telah terbentuk akibat terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon—dilatih (digunakan). jika suatu respon yang diberikan oleh seseorang terhadap suatu stimulus adalah benar dan ia mengetahuinya. Hukum kesiapan (Law of Readiness) : adanya kematangan fisiologis untuk proses belajar tertentu. Hukum latihan (law of exercise). suatu tindakan yang diikuti akibat yang menyenangkan. ada kemajuan reaksi-reaksi mencapai tujuan dari penelitiannya itu. misalnya kesiapan belajar membaca. ada berbagai respon terhadap situasi 3.Ciri-ciri belajar dengan trial and error : 1. Konkretnya adalah sebagai berikut: Misalkan seorang siswa diminta untuk menyelesaikan suatu soal matematika. maka ia merasa senang/puas dan akibatnya antara soal dan jawabannya yang benar itu akan kuat tersimpan dalam ingatannya. maka tindakan 76 . maka kepuasan akan tercapai dan asosiasi akan diperkuat. Jadi. yaitu apabila ikatan antara stimulus dan respon lebih sering terjadi. Hukum akibat (law of effect). Hukum-hukum yang digunakan Edward L. maka ikatan itu akan terbentuk semakin kuat. maka ikatan tersebut akan semakin kuat. Hukum ini dapat juga diartikan. ada aliminasi respon-respon yang gagal atau salah 4. 3. setelah ia kerjakan.

dan pembagian) yang telah dimiliki siswa. perkalian. Thorndike juga mengemukakan konsep transfer belajar yang disebutnya transfer of training. sering terjadi. Selanjutnya. tampak bahwa hukum akibat tersebut ada hubungannya dengan pengaruh ganjaran dan hukuman. Sebaliknya. Misalnya. Ganjaran yang diberikan guru kepada pekerjaan siswa (misalnya pujian guru terhadap siswa yang dapat menyelesaikan soal matematika dengan baik) menyebabkan peserta didik ingin terus melakukan kegiatan serupa. Sedangkan hukuman yang diberikan guru atas pekerjaan siswa (misalnya celaan guru terhadap hasil pekerjaan matematika siswa) menyebakan siswa tidak lagi mengulangi kesalahannya.tersebut cenderung akan diulangi pada waktu yang lain. Unsur-unsur yang identik itu saling berasosiasi sehingga memungkinkan masalah yang dihadapi dapat diselesaikan. setiap kemampuan harus dilatih secara efektif dan dikaitkan dengan kemampuan lain. maka tindakan tersebut cenderung akan tidak diulangi pada waktu yang lain. suatu tindakan yang diikuti akibat yang tidak menyenangkan. Jadi. Unsur-unsur yang saling berasosiasi itu membentuk satu ikatan sehingga menggambarkan suatu kemampuan. bahwa hukuman yang diberikan guru atas pekerjaan siswa justru membuat siswa menjadi malas belajar dan bahkan membenci pelajaran matematika. Dalam hal ini. Namun perlu diingat. dapat disimpulkan bahwa transfer belajar dapat tercapai dengan sering melakukan latihan. ada unsur-unsur dalam masalah itu yang identik dengan unsur-unsur pengetahuan yang telah dimiliki. Selain hukum-hukum di atas. Konsep ini maksudnya adalah penggunaan pengetahuan yang telah dimiliki siswa untuk menyelesaikan suatu masalah baru. karena di dalam setiap masalah. Dengan demikian kemampuan mengerjakan operasi aritmetika tersebut menjadi mantap dalam pikiran siswa. kemapuan melakukan operasi aritmetik (penjumlahan. 77 . haruslah dilatih terus dengan mengerjakan soal-soal yang berikaitan dengan operasi aritmetik. pengurangan.

Mengajar bukanlah mengharapkan murid tahu apa yang diajarkan. Mengajar yang baik adalah : tahu tujuan pendidikan.  Buat hubungan sedemikian rupa sehingga menghasilkan perbuatan nyata dari peserta didik  Bila hendak menciptakan hubungan tertentu jangan membuat hubunganhubungan lain yang sejenis  Ciptakan suasana belajar sedemikian rupa sehingga dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari 78 . respons yang akan diharapkan dan tahu kapan ―hadiah‖ selayaknya diberikan kepada peserta didik. Beberapa aturan yang dibuat Thorndike berhubungan dengan pengajaran:  Perhatikan situasi peserta didik  Perhatikan respons yang diharapkan dari situasi tersebut  Ciptakan hubungan respons tersebut terjadi dengan sengaja.Aplikasi teori Thorndike dalam dunia pendidikan dan pengajaran Aplikasi Teori Thorndike dalam dunia pendidikan dan pengajaran Menurut Thorndike praktek pendidikan harus dipelajari secara ilmiah dan praktek pendidikan harus dihubungkan dengan proses belajar. Situasi-situasi yang sama jangan diindahkan sekiranya memutuskan hubungan tersebut. jangan mengharapkan hubungan dengan sendirinya. tahu apa yang hendak diajarkan artinya tahu materi apa yang harus diberikan.

79 .

7  80 5./03.3 /.  !074/0 4507.25: 20.3 207:5.3 9. 3 /80-:9 :..5.8 1472.3 2.9 20384.9: 203:3.9.7:203 9. 2.3. 5. .3 -. /80-:9 5074/0 4507.3 :-:3.3 02-.8 /.3.3 :-:3.-. 9073./  82.3 /03.7 0025.5. 80-./  -0.7 9: 9/.. 2039.8.35:. 2.9 2034507.3 5480/:7 54909 /0/:91  3.3 39009:./.2. 2.7: . 3 2.39./.3 31472.3 57480/:7 8047.3 02-.3 897:9:7 2039. 80503:3. 574808 203897:9:7..5:3 .35.7 5072-.3 39009:. 8:/.8.7..2 9.7:203 ..8 43709  43805 43807.8: .5.3.   . 203072.-.9: 2.5. 5074/0 3 8:/. 31472.3./. 90.8..  3.3./.3.8 90.3  .3 2.3 503.3 203:3...3 2:.9  02:/.8.8 /..9.. 8:/..33. /..3 /0138  /0138 ..3 /. .7 5... . 3.  .424/. /././. !074/0 507.3 -.842.9 .047.947  .7:  8. 8:. 574808 203/.8 .2 80-.30--.3 503.  3.: 20342-3.3 / ..38:3 203. .2.8 1.3 ../ 503897:9:7..82-:. /. 508079.3 203:3.3 -.947 9: 803.9..3 9.3 .2.3 . 0257  .8 /..424/. 202-07.3 503.8 4-0 4-0 9/.. -03/. 907. -.8 /.3.38.3 8:/.9. / /..2 897:9:7 2039.947 1.947 907803/7 .3 05. 31472. 2. /. /2 808047.3 503.8.2.3 -.3.3 5745488 5745488 4 1472.5 5074/0 4507.3.25: 203:3. .25: 203:3.5 907.9: /03. :.3 5.8 . 8:/.9 :-:3. -0757  3.2.5.8.9.342508 /...9 5074/0 50702-./  .  909.8472.:3  !074/0 3 207:5..3 /./.3 1.25: 203008. 508079.  9.3 31472..3.8 /.-897.8 /.7: 8. // 90.7: 9./. /..947 1. 50347.2.3 :-:3.07-.9. /.3 .. .5.3 .3..5 90793 /. 31472. .3 503. :39: 203. 4-0 4-0 . 907. 202:33..7.3 -03/.:..3 /03.8 54909 /0/:91 .8.../. 80 025.5 :.8. .7. /.. 203:: 503008.3  3. 2.3 .3 05..793.7.3 50304254./.8.3 -039: -039: -::7 8.3.30--.9 -0757 42-3.5.7 /.3  /.. 9072.

/.3.3/ /.33.31472.3 4-0-.3 /2./3. .82.8  !0702-..8:/ ../3.3 8:/. /2 /.. 9: :..3 02-.9:.. /:.//.// 9: /-07.7:9039.508:29../  3-07. /2 40508079.  3 -07.339009:. 2.50:2 9:5:3 207:5.1  !03.3 907.9.3.3 39009:.7 49.3 88902 8..7:9:0 /.3 90..3 90. // 9: 203079 -..  !03.  02.2 50302-.508:2  !08079.8  !0789. 574808 .424/..79907./.9:/503.//90780-:9 203.79 907.3 80 025.3 81.. -07.7. 503897:9:7.3 574808 5079:2-:./..3 80/9 -07-0/. /03. 97.3 .2897:9:7 4391 .9 /03. /50.7:409.8-.2. 4391 . /. 2025:3.2.3 207:5.397.3 :.3 -039: -039: .3 58448 /.9. -039: 97.1.2.703.3.79508079.3 .9 .947-07:9 .7 80-0:23.

 /47.9/.2.943  207:5.-. 0./: /.3 /9.8 809.3..3 06:-7.3447/3.424/..3  . 4507. .8 1472. . . 5079:. 3907..3 07.347.09 507.8 / /.9: .3.  -  %7.3 2039.  503.33.3 89. 0.9.3 -07:5.3 4..2./: /03.7503092-.47.2. 8092-.8/.7 8.2 57.3.:/03.3828 84.25.3 / /.33. 2.7 808047.3 -0702-./2.3. . .33:3.3/.3.3 47.8.9.35.. 207:5.9.3./.  503.3 4-0 4-0 / 3:3. 808047.2.3203:7:9503.3.950393 -.. 9/.  !.3 /.3.7: /.3 20.3 -07:5.3 3907..3   09. 8..30-93    . 50702-..38.3 9.3 2039.8 /.3 0/:. .3 18 .2.5.3 /03.3 9: 897:9:72039... 1.3 -0702-.3203.3 574808 .3 31472.8/.7.7..3.-0702-.3 /.947 9: .3 5079./. .7:8 . 80-.8503/.9 503.8 $0-.8 -. ..3.902.: 574808. .2.82.2...-9./.. .33.3 897:9:7 43913.5 3/.3/.3 02-.9.3 3/.9: 5074/005074/0-0757. . -.39.  !03092-.3..2 897:9:7 2039.

2.9 2039:3 .3.2.79039. .3. /.3 /80-:9 /03.9.9 203. 90747..2 ::2 00.3 203079 -. . -07:2:7  9.7:8 8:/.3  507-0/.2 ::2 00.3.5. :39: 203072...9 .3.3.3.5 2085:3 09.3 /.2 9.3.5...8. 202. 5.9.308:9. /-07.3../ /..3.    909. 2.: 503.7 3:3..380907:83. 808047.. 8:.3.!74808 503092-.3 -0:2 202.3..9.3.3 20.  $02039.3.3 .9072. .3 2:/.3 5.5.3.5 39009:.3.:3 8:/.7 2. 8:/.83.-07:9  ::200... 8..20. 907.3.3. -07-0/.3 ../.9: /..9..3. .907 90780-:9  4394  2085:3 . /203079  2.703.7  03:7:9 #:801103/   :39: /. 50. .3 .3 8:/. 8. -0/.09 /. 09..5 /..3/50.3 :.../.7.. ...902. -03/..9.7:8-0. 2025:3.3 -.3 8:/.3 3 ./. -0:2 203079-.3. ::2 00.3 43805 2.3 /8.3 -0. 84.2 50702-.7 .7.7:8 203. /03.339009:.7  03:7:9 5. /.9: -03/.2 ::2 00.9. .3  9.72438  . .3  .3 -.3.  !0702-.9:3.7 03. 8. .3. 574808 503092-.3 /..3 .. .3 /50.3 9/.8.3   .9. 2./ .7  8.3 ::2 00.9 507-0/..92030792.907 90780-:9  .2 #:801103/   .2 -0.39: 4.902.3  909.3..3...3  /./.3 8:/. 203/. 2.3 203/..5 /. 9:  .7. .: /:-.907 .25.3 90. /.3 03/.902.907 2.3..3-.3.3 2. -0:2 .3. 907.5.  0.38. ...7.3 909.902.3  80-.793.5 203072.5 :39: 203072.3 4507.: 439.. -.3..3 -.3.  3./..5.5. 03.3 -./..5 -:97 -:97 9: 907/.3 /.3 43805 -..3.. .:3  3.3 -. 202.

 03.3 20250740 08:9..3 9..:3  3./.3 /...3 -.3 .907 .3.50.  43943.  3.9.  2085:3 .33.3 -0:2 202. 202.2 ::2 00. .3 8:/.9.3 .3 90.3 5.3 /.2.3. .3 -.  3.9: 8:/:9 5.  !.9.3.3..9 . -.9:3...2.9.3 /..3 05.3  $0/.3 2..907./3.: -.3 -0:2 202.3 2..3 . 5.3 -03/.3.. 203.3.8 ..3 /.5 2085:3 9.9 202-0/.: -.9.3 8.2 ::2 00.9. 9: /03:3.32.. 5.3.38.: .3 .3.8 503:2.3..907 5.3 203..3 03.. 809.3 /.3./...2.3.907  9...3 -.3 909.. .2..2.3 2.3 203.9. -08./5.3!.-.9: /7039.3.8 9:3 ..3.34 .3.3. . 90780-:9 9.3 9.3-.9.9.. 5.7 /.3. -039:3.3 8.3  203. .2::2 00.3 08:9.   .3 80/.3 . .2. /03:3.. :2:23..3  907:9.9 ..7 /:.3. 8. ..8.3 5.3.3 .7.3.: /53/.305.3-:..380-. /8:7: 203039:.3 -.9 5078.3 4507.  .3-. 9/.  $0/. -0. 2.3 8.  .3 909.5..7 8.3 -0:2 202. .3.3.3. .3.7 9: /9:. /.9:3. 2085:3 /:-.3.:3  3.907.5..380-.2 ::2 00.3.8 9.3 /.2.2.907 -0:2 /. 9025...3 5. -08.5 8. :9. .9 20.3 2.5.3 -07-0/..3 .3 -0:2 202..3 . .3.3.3 8.73. 503::7.  ::2 00.9. ./. . 202./ 9/.3 4507.:3   ::200.303.7 9.3. /.3/...3 572.3 203. .3 -.3.2 ::2 00. /:.75.3 8:/..2 ::2 00..3 203..9./.3.3 5. 8..: 507-0/..: .3 -.9.7 43805 503::7.3. 9. 202. 2.93.3 .3 -.2 ::2 00.:3   ::200. :8.5  . . /:.3.2.5 -.:8.3.../ 9/.505...3  9.3 .2 20250. 8.3/.

3.:3  3.  2.3 202.2 ::2 00./.3   ::200.7 -..3 -.:3   ::200../-.3 909.3 -0.3 :.9.2 ::2 00. . .8. -07259  0- :..07..5. -03/.38 .3 -07259.3.3 .8 /...3. 5.7 9.: 2:33 80-0:23.3 909.809. .3 :. 2085:3 09.  8.3.7 /2.2.5 8.8:..3 /9:9:5 40  50780 437:03 . :8.38  9.03/07:3 203.8 ..7 .8..3 8 203..3 /9:25.3 -03/.:2:23.3 8:./.:3  ::200.3 :.  !.3.. .../5.. 202.8 .:3  ::2 00.3 8:. . .-07:8.7    9.3 ./. :2:23.3. -078.3 -.  &39: ::2 00.2-.. /03.9.3:9 /. .:3 ...... /5.3/9:7:3. 90780-:9 8.7.3 /..9: -03/./.3 8:/..3 /2. 809.8:.: -0. . 9/.9.  /. .3 8 -03/.7  9.73   .. /:-. :.3 /09.3 -07.2 ::2 00.8507805. 809.303.9: -03/../.8.9: 5..7 :.3 08:9.:3  ::2 .9.3:.:3  ::2 00. -07. ./.35. ..2 .3. /.3-.5 2085:3 -039:  9025.3.3.9 203.703..-0:2 /5.3. .3 5.2.8. 8:..3 -.809. :8. .3  .3/..3..3 :.307..3 -0:2 202.3 /9:9:5 8:.8 /..3 202.8 /.25.80-.07.3 503: /03. .7    9. :.9:/.3.5.3..3 8 5.3.$  2.3 .:7:8 ::200.3.7 9/./.9: -03/.77:2:8:.8  9..3.3 -0:2 202.:8.9  /..9 8090.9.3 /9:9:5  50780 437:03 ...3 90780-. ..07..3.39/.240 .2 ::2 00.2 20302:.07.3 ::2 00...9 8:...3 202.2 -./.9   9.3..-03/.3 -07.2 ::2 00. . :2:23.37:2:8 :. !.9..8 ..3  3..  $0/.33..9: -.3.3 /09../.9...7 5..: -0..3 /03. .8 -. 90780-:9 -07-0/.2.: 5032-..

3 574808 18 909.20. 8.//49.2.:.3089.  ../.9.7 5.34007   /.39. 203039.3 .3 07. 8.2.3 202 :-:3. 8.3 203.9 :./. /2:3.33 . 80-:. 2030:7. !748083907./..8 .32.  5 503420343 -0707.9 203../.9  089.28 8090.3 503/.2.7:7903  03 .  43805 503933.8  03.8 /.3:8.3 4254303 4254303 8038.38038.9072.9 :3/9.3 /.3 08507203 .9 .3  %047 089.3 2030.3 574808 5078058 20.3 :07-:7  078./..3 502-..9:.35073...341.9 .8./.2 ../..3 -.3 43805 3  0790207 203:3: 5. /03.210/58.73.3.3    . 9047 .5.203.3 /3.9./-.9/. 203:7.0789 41 7.38.3 ./ 08. % #$%% %44089.. :050  8047..7 / &3.9 /.  03. 203.5748081880-.:. ./ 7.:.9  %.3 8.5574808 2039.3 411.7 8038..3/.: 50347./.3 /03.3.   20.339075709.5 9047 897:9:7.8 203..3 8.44/.:3   .5030.3:79411.3202:33.3 944 .80. 574808 39075709.38.358448808047.3203:3:5. 4-0 89.3  54.35503420343  O :7903    !.8.5.3 /0 089.84-091.3.7.2.3 9039.8.9: 83. .30.9 -0745488 907..3 4007 /.3 .820  %047 089.31:79 -078.  O ..3.3/. 8047.5.98 203.3.3.0790207    0.8.03/07:3 -07:5.88903/8.2.:5:3 0275..-:.3 502.3:7.2.3/02. /03.9 9: 8:/..3.

/.3 /50.3 O !73. 5.3 2.5.38.9..9.9: 9079039:  07.: 3/. 1:70 .3 203039:.3 8 .7.  -:.3 2039...3 5078058 3 207:5..7:2..5507. .2.5.2-:3.3:8..3..3 4.3/.33/.50 41 !7429 -.3584483907/7/.38. 809 ./:203././.2.3 . 9: 02.7.39. ./.3.2.059:.2-/.9:.9.507.50 41 $2.3503.3/-039:     !7385 5738550347../: 1   %:.3 1:38 -.33202503.3 584483./.43805:9.3 -07. 207.907-039:80-0:23.354.424943  !7385/.7 !0347..3 507.3/507805880-.2.3. 80-.8.8.3083.71.3-0707.9: 1:70..38.9 3/.:5:37:.3/.2.7...03.: 3/.9.3 8:/.3 8.8 .3.03/07:3. O !73.3.9. :38:7 :38:7 -/./:-07.3 -.5.8.5.25:.8. 58448 .9   3907.34-0 58448 .8 -07/./.8.8.3584489025..3 802:..8.059:.8:.3 3:3.504148:70.3 507.10/20247. 1.0 $09 7. /. /80-:94.8-07/.50414393:9 7.3.. :38:7 :38:7 .38..9::.3/5.3:8.3 /.50 41 -0..8...3.7089.703.7.9:-039:9079039:  O !73. 5844 .3 80-..3 088 /./: /..79 -.3 -072.3/ 74:3/  0 .:-039:9079039:  O !73.3 -07/0.9.3 /80-:980-./: -07/.38.10/  $09.2.8 :9..2 .9.03/07:3/5078058. O !73.3 40 2.9:2.7. .38.10$5././.3 503.0 .2..

3 /. 809.: 503.73.3   .3 8:.3 54943.9: 203.9: 54.!73.03/07:3 .3 .504144/472-.50 41 :70 .9.3 2038 04843.3.9.. 4-0 . ..2.5  O !73.9.5 -/. /:.03.3 !03.3 .47.3/ 74:3/ ..7 -0.9.3 9/.38:.2.9 /-.9:4-0805079::7..3 503.5 -./.3.5.25.9: 1:70 -039:  /.3 .

 /.343908  5..2 507.3 9.38.. !74808 502-0.2 574808 -0.3 /50..3.3 -.2 574808 502-0.8-07/.9.3.3 /.8..3.3:38:7 :38:7 .. 3/.504184247582 7.  0..7 /.8 2. .2 507.333/./.3 .  !07. 9::.3 1:70 /.3-072.3. ..9..3 1:70  4394 507:-.9.7.39.7 907.2.3   ..3.3 892::8 7085438  909.2 0.3  !07.8.5 8:.3 01091 .857385089.3 .3 .:50789.5.9 :-:3.7  2.7 -0..9: . 20. 202 2.3  .3 2./  808047.3/03...333/.3 507.. // 03/./: 203. 9.7: 907.  :8:83.-:7.3 2020.3 8:..3.8 /..3 ..5..7 -0781.7 508079. 508079.80-..3 /./.8.3 50302-.3.3 5:8548.25:.38...3 /50.9 50393 /.9. 9::. 5.79::.7.3 0. 507. /.3 20303.7.3 502-039:.3204/  O !73. 5.9: :7:03/.3.  .9 !74808 -0.3 907. . 9/..3.. 1:70 /.3:38:7 :38:7/.3 .9 .733 0-072.25:.3 5020.5.331:0.7.28:. 4391  5. .3.3  .91 5020. // 202 02. 574808 -0..3.703.2.3 ..3 2..3 48 /03.  .: 907.3.: -079::.7  907.3/...9..8 2.. // 20303.9 8../ . ./.9/.3 9.0 -0./ 7047.:  .33...33.47  -.-.9: 574-02  5...7.3.5.3 .3 207:-. 1034203.9073.3 01091 808:.2 574808 502-0.  !03..2.059:. :-:3..39::.3 -07. 0907.7 .203.3 907.. 3 8./.3 .3.89047089.9:4-0../.39. 508079.7. 907.7 .3 574808 0/:5.2574808502-0.9.3  03/..7..-...9: :38:7 .187.3 0./03.3 503./..9 202 ..33.  $090.3.7.9: 02. 10/3. 50780589039. 202-0/.7  ..: -:.3./ 0..3 3.7.3 389  -.3 50393 /..8 /.7.2 /0391.3 203:3.  -  !02-0.3 9.0907.7 8.3 .9.

3 2:3.3 :. 80.8.7.8 /.3 .8.3 20302:.7.5 57385 57385 544 /.3 -07-.8.8/..303/.8 . 8:8:3.3 907.2 89:.7..3 /.8 9079039: :39: 02:/.20.8.. /.3.80-.3 503079.289:.: 8090.5.: 3/.33...3 2. .703.38107 -0..343/8 3:3.. 203.3/.. 508079.8.9  :// 2030.2 89:...9..3 57385 57385 544 .3 /.9.3 203025. .8 431:7...3.3 09039:.9 202-.3.5./ .3.907 .9.. 57385 57385 544 /. // /.39: 508079.8 503.3. .8 502-0.9.3 0307.3.3 :2:2 0307.. 507.8  %7.7 8:.3..7.3 /:5 10 85.2 2020.389:.38107 -0.3 503933.9 97.9: 431:7.39: 508079.3 /.//  0  %7.3 03:7:95.7..3  0 .33. /.8 /.29::.39079039:089:.507.30/:5.2 9.703. 9:  2.3 /03.3 /..9:5023/.7.3/03.8.3 /..-..7.3 /2.7 2.3 /:3.8.. 503./ /03.3 /.  O 389 !020.. /:.7 907.3 2005..354.  /  !7385 7:.8 :39: 02:/.3 4-0 /...:/.3 202-..2020907..38107/.3/.3. 9:  :7: 03/./: 202 0907.7 8:.3 /. -07.3089...3 02:/.8 ././.. // :39: 203:.. . 54.3508079.3 2.  0 . 9: ..9.2 202.7.3 .9: 50784...3 905. 574808 503:.3 3:3..907 .3.0  -.3 203:8:3 09039:.2 502-0.7 .2 89:.9.5. // 90.

02:33.3404007/..54-0 !0307.. 3.907.7 /902:.3 -07.35...507: 20.3!73854144/   ..50393 /.3 /03.5.2.25:20307.2-0.3  $090. .9./.9:  0.5.3.208507203. 80.9.3 389 3/.3  03.8 5078058 907. 07747. 3.98  O 0247 .3 0.33././:2. 438053893.5 4-0 2033. 5:.:57480897.843. 503.33.38.574-02800389.3 3 .3 57385 5738547....5. ../.1034203./.388902.3 -07:-./.

.2030.3 907-:9 80. $0.7.7.  1034203. 085072039.3503.8.7:485.472 8073..3:. 2:3.: /.848.

9.8 %44%42..9.3 -0. 5.50308:.9/-.3    ..9 -072:...350393 .059:. /02. 20303.9.9 O !03/0.3089.3 907-08.. 574808 574808 2039.3 /.83.3 .3-0-07.3 20. /.7 4391  -0714:8 5.088  /.9. .3.3.7.9 203:3:.3 /03. 10/ /39075709.9.7./.8.25.703./.3:8.3574-0284.3 . .35.7 -0.8 /03.088  .7.9  25.9: 503/0. 18  024843.5 574808 574808 . 507.7. 944 089.3/7/03. 07 2039.3 503/0.   0.57385-0.39..-0-07.3 503.3.9.3.7..9 80.5.83.5 /.5. 80..7 . 89:/ 5844 /..3 -. 574. -070.2.8089.. 80.5../ ./.7. 507.5..907. 574808 -0.7:247  /.2:3 909.33. /.47820 /03.980-.3.7 :./.39.. 3 /3/.9 203025:73.7.3 9/.3./.  O !. /..7..3 /.3 47.5.   080:7:.8/.3/.3   .2 . 80.  848..3 80-.3 .3..3025783.3 1034203448 203.3 4391 /2.3 80. 39009:.9:9/..8502.5.7.3. 805079 5078058  389 /.9 20250.5.3 088 / 5844 /.34007  !844 089.3. 1034203.  909. 080:7:.3 203.5 :.2..3 .3..7.3/.9.7.  3.33202-07.3 3:3.9 2025079.38.3.3 /0 :39: 203. 574.3 203:2-. 8... ./ 8.3 3 5.3. .3  9/. 8:808 ..-897.3-074507.3 203.2.3 3  0243897.5.3 803. -40 /.33:3.3 5078058  /..5.3 089.7 07 2039.

7 2020.3:.8.8.7./..3 /03./.2.3    0. -0.8/.3.072.320307.3 -.30. 808047.3 0907.:5. :8.9 203:39:3..2- 0825:.. 503./..3:39: 0.3 0907.380-.5  02:/.380.808:.5.3...78..3:8. 907.9.3 :39: -0.3 43805 9047 -0. 02.3 .2.3 5:.91 -:./...7  249.35..9::.75../.3-07.32. . /507:.9: 503.3 0- /.8  .203:7:9 00.3:8..3 349  /02.8..3.7:8/. .3   #0. ...9 2020.9. 502-:9.7. 2:33 .9: 503...73:3.. 700.  .3..: .9./.8.9./0.25..3 .3 -..7...3  202-:.3 /.5.7...7 .50702-..9:. 03..3-.3 :39: 20250740 389    %/.9./.: 31472.2.3 03.808047.3 3 203-.9: -0.9207:2:8.3   .3. :.390784.8.3    03./107038.3.9: /03.5/03.380.32.5.9 808:.25./..3 2:33 202-07 .98:.3.3 . .:.83..3.3 54908.5...3 203.3820    0..3..9.85020.9 /.3 8:..7:8202...380:7:47.9.9: .9.3.:.5.3:8.4-.3 8:. :25:.70.33.3/8   0.5.8503.3..3 .2.3.547.8.8.8    0. 80-.7 .8..3  0.8..5020.3 80.8..8 202-07/4743.7. 8:.9/507805880-..9.2..9:574808-.-0702-.:. /03.3 2.850 .  03.: 204/ .7207:5..3 2020.7 9.3 2.3 2.. ..2./...    03:25:.2.: 202-:.3 /.38:...9. 5020.080:7:. . /. -07..33. 3 3.7.9 .. 9/.3/50740    03./.0-:.3 503./.384.    0.: 8:2-07 8:2-07 . /03. .8.39:.9:  %047 20/.3 54908.3    03.7.. 02.8  /03.3 9: /.2.3....-.3 2.  80-.

5-.33 20.940720/.3.2./ 574808 /107038.53:3. /03.7 8:./91 80-.3/..../03.9..3-07-0/.3-.2 -...7 2:.3  ..848.2-.33.3 03.9:1034203..91907..9 .39047.9 2.3 2025078058 080:7:.3202. -0.7-:.:3 907..8  .3./..3 .370.8 2.  0..8:./.3.3 ..3 203.9:4-0503.3 207:5.3 503:2..3/09.

:3 :: -:: .7/ 5.3 -0.-:7203.0  3 05072039..9 203.3 /...  %473/0    203/. 89:/ 41 .3 -07:/: 32. / 442-. .3%473/0907. . .3.3 -070-.7 /. -0.0.:3   02:/.7/4947/4:2-.8.3/.8907 /.78.5. !8.7..:3/.3:2. 2...7.3 /:./.3  .3 8:.31:3843.25. 88. 5078058 .07 8 47/ 44  4:79  /.././.30. 7/07   /.8:7020398    32.83.8 .. 9.7 /. /.3805079:.38..3/ 84.3 080:7:..943..39.3 503// /.3 203/.3 207:5. 39003.0789.7/.9..7 0.- /.28 .943574.9: -:: .:9 5.8080039.850309.05.7&3.3 802:.  2.0380.3207.0723.5.  /./.7/9.:3   09.44    039. . 0.5.9: -.3 203. /.3 . 9. 203:9 0.3 &3.. /09.593. 39003..3 /9:83.7 .:3 $/.0789/4330.47820 #:8.733  9/.:3  .3. 20307-9.. 9.5.884.:3   /.7 .8  3.3.3203. 90.7 .088 3 32.3 57385 /.208 /. .3 5844 .1/.90.33  /.5:3 . 8047.7.9. ::8$/..3 -:7:3 .3 0.8.7/442-.7./802..2:3./..  /.078 207.8   % #% # 47.3   .7/00%473/0  %473/0 -07574108 80-. 203072..-0-07.2 .9038 8047.3 4-0 .7/ 009473/0 20880..9:70.3 2..8..0   90. /8.3..7 ! 3.7080.3 /.3 2070.93./.9.3:9 40 %473/0 .  :: 3 .7 574808 -0.7.9.5038435./ .. 202-039: 9.3207.3/%0$4. .7 -0.

80-03..3.47.3 28.8.3 503.3/..3820 8:/. .8.8.8.3/.848.5.2574808-0.: 93.7.3 93.3 .: .7.3  /.3 907:3.9: 708543 9079039:  %047 3 /80-:9/03. /.4-..94308808:./.9 / /423..3 / 2.207..3 203.8 .2 8:.7. .3807039./.3  2043.38:3 2033..9: 892::2 .39.3 0-07.3 .5.  . 8../.8.. -3. 9079039: /03.../.3 574808 502-039:...3 4308 4308 .7. ..3 9:.7.34-020.7 %473/0    9047 -0.. . -070. 2./2.3 /.3820 -07. 3 4-0 203./. :39: 2020. . ..8:.3892:./. /.3 /0. :39: 2020.: /.9 203.3 80-.94382  ..3.3 .. 203.39.8 40 503.3 .8 . /80-:9 %7.9..7.8-.:..3 .3/:32..3. 9:  07/.2 9047 $ # / .25./.: -0-07.7: /.8.50/..: .: 2.9: 50/..9  203.3 2032-:.3/.9.9 -..8/03. . /. .393.3 .3 9047 $ #  /. ..9: 8. .8 803. . 03/ 07747  .: 47. .32030:.2.7 5079.3.3.3 3..2 7.2 . 9.8.  503//..3-07-.3 9: 907-:.807.2..7.7/00%473/0  !. 2:. 5.3 / .  47..7.3/. /.5 93.7. .2 .7. .9. -07-./.  2.9: 89:.3.3 -0.  %047/. 907.9./. 2033.3 90473. ..3.2. 8.5. .....3-0:2/03.38209:./. .2 .3.3 203. 5.703.5.9. 8:.7:.3 47..3. 20302:..3 8:.3 9: 803.. -0.  $0.8. 892::8 9079039:  %473/0 203/.    .3./.7 %473/0 / 80-:9  4330.7/03.3 2..:..848. .8:39:2070854389:.8.  .8:..3 503.3.  -050309.9:70. 0-09:.3 807:5.4-.2..9 80.3 -0707. 9:  :.3 93. -.3 2..7 :25:..7:8 / 00:.83.3 :.3820 0.8 .3/ 07747  /.7.3/.3 8:. %7.89:.. 892::8/..3 8:.8.7.  -07.89:  /..9: 2.3  7.2202-:./. 8..3/..3 .3 907/.38..3 /...8 50309. 2.33.. 8:.9: 93.3/... 708543 .7 /.8  8:.3708543 %047 38073 :.7 207:5.47.3 202-.305.: 9079039:  $0047 :.

9: ..5.848./.. .5 8:.. .8.9: 2.8.79079039:  28.20309.750309.37085430-8073907.9.8   .-.3 708543 /:9 40 8:.39.3/.9...39.907 50. -03..9:  ::2 ::2.9-0747039.....3 ..80-.3 57385 :9. .803.9.708543907..3 9073.. .3 ./.9..3 .3 8:.3/:3..7.8 .3.207. 08.3.:3./. 41 007.. 02.3-07.. 2.5./..3.3 40 808047.9.:8.-.3 2.9.892::8 /.7..848.9 /:3.3/. -0.39:.-07:98.-.3 2.3 :.9 437093.18448   ::2 .907 50.3 :.9:. 41 #0.9 .7 202-.3 90780-:9 .33.3.5..8 70.9.589:.848./../  ::2 3 203:3:.8203. 503:..9..././.3 /:.5.7-0..7.397./3.3..3802.9 .8 /..388. 892::8 /.3 90..3 8073 8:..3 /-07.3 20247    ::2 .5. 802./...32033.:. 8 904738. 907-039: .3  2./.39.3907-039:802.7 ::2 3 . 2.370.7 /.3708543 /..9: 50309.5.-03.7. 41 0110..7 .3 802./ 2.3  $02.02. 892::8 /.3 /./.3.9::..3. 2..3 90780-:9 .9.33.3 -0. 07.3 907.80  .3 /507:.2491503/4743.8.8   .7 2.3907.848.3/07747   /.8708543 708543.8..2.7/ %   ::2 08./..8:.85.9  .3.7.-07-. .. :39: 203008.9  .3.   .9 907825. ..3 18448 :39: 574808 -0.9:708543 .9.9: 84.3 907-039: .-.05:.3.7 .3 8073 8:.3.9: 892::8 .7/03...23.3 802.8 .:.9: 05:..  8090../3088   .902..9.2 3. /239.9  39075709.-.3.9 907.79 /0.3 :.38047.8 ../.

3 /:9 .7 9: ..3 /.39.9 .7. .3 -03.9 907825.-.33...9 :.-.3 .9: 93/.93. 84. /.3  8:. .2 3..79..3 20303..3 . /. 93/.33.3 :.3  2.3.3   .  ::2 3 /.9.8/.5:.3 .-.5.

 20302:./. -./ 2.3 88..3  /..3 $0.3 ./.5 /.7.7. .5.9 907:8 /03. /2 88. 503:3. 2.3 ..3  .3  507.. .:-:3..9:.9.9.9 203008.38107 41 97.7 .25:.  809.202:33.-.8 5007.3 ::2 ::2 / .:./  -..9.7.203.35. 203:.5 2.9907. 28.9:02..3  2.-.3 ::2.990780-:9.9.  $0/..:.33. /03.2:3507: /3.7. / /.3.3 50309.8 5007.3 9/.2 2.8803.9 /8008.388.38107 -0./.7/.3/0399:8..32.  .3.3.03/07:3.3 503.5.3 -07.8 .9.9 . .3 90.9. 20303...9 80.  .50. :39: 203008.3 5... 84.7:8 /.3-07.3 2..7..848. 88.8:/3.3 9..3  503:7.3  $0-..5.8  %473/0 :.3     .8 -0.3 8:.8. /.3 4507. /2 88./ 2..3202-03./:.3/02.3 88./03.32.39/.3 807:5.390780-:9...79209 503:2.  .3 90.  2030-. 203.3 . .3 .3 ::2..7: .3 :7: .3  8.5 /.34507. 5:.8.39.3 /.3 02./.3:93.3 -07../.848.3.3.3 502-. 28.3 :7: 907.-.9: ./.90780-:9 203. // 33 907:8 20.9 /825:.  .902.8.2..:.  2030-.3 :7: .3807320.9: 93/.79209.3..9..703.3 88.25:.25.. /03.5 .9.3 84. .3 :7: 907. 01091 /.3 90.33  43805 3 2.3803. .38:.9..3 .3 43805 97... 97.302.3 :38:7 :38:7 50309.5 02..8..  8:.3.03/07:3 .3 /80-:93. .3 20307.3 4507.7 /.3 ./.8 9: 202-039:8..5.3 /039 /03.3 /.5 88.9.3 84.3 88. 97.3 /. 93/.25:.3 /-07.:.5:.9  8073 907.902.3 20.3 :7: 05.5. :38:7 :38:7 /.  $0.3  ..2-.3 /-07..2 57.3 .9: 2.3 /.3 /03.3  ..3 0.3 /:.3.3.9:.9/.8 .3 8.3 08...3 /:9 .:.79209 03.3 -..25:.9 88..8.7:  . /2  &38:7 :38:7./  /.3  &38:7 :38:7 .3 -./..::2.8 5007.9.3 .3. 5007.3 -.3 20307.902...2 809.7:8.3 .38107 -0.3 /-07.3 /03.  02..0. ::2.90780-:9 .33./.3 508079. 9: . :897: 202-:.-.3..

3 /03.7. .890780-:9  59..3 :-:3.9..: 2. /.3 5..3 9.5.3 :-:3.3 :-:3.3 8.37085438.5.5.3.3.9 /:3.9 :-:3.3/.5.3 9079039: .3 3.7../.8.3 907.508079.8 %047 %473/0 /.3 ..3..5. 9.3  7085438 .3 03:7:9%473/057.5..7:8 /:-:3.7.8 .3.3/03..8508079.9./. 03/.793. 203.3 803/73.390780-:9   :..3503.3503//.3 /.780.7:8/50.: 9::.7:8 /-07.3..3 803./.3 807..90 503//..20/:5.. .. /.//  0-07.2/:3.  80.3 202-:.9..7 -:.9:7.9 :-:3.3 8:.3/.3 7085438 90780-:9 :-:3. .: .7508079.3 03/.89047%473/0/.3 /.8 89:. 202:9:8.3 2:7/9./-07.7.503//.3 /03.2.3 .5.3 203.7.3 03.3 .3 /.5.3 /3/.:.//  !07./.5.5. /.: .3..3503...3 7:5.3 507-:.7..7.7.90503//.//  ..380038  59.3.380.5.3 503.389:.9. 803. 803.3 .789:.3 /. 503//. 203.7  03.3 .3 80/02..3 574808 -0.  .3..7.7.305.3. 203.7 .2. -0./ /03..9%473/0-07:-:3.3/-:.3.3 9.3  !07.357.3.7 .907.3 -. .3 /.59.8.7        ..2 /:3..  $9:.7 80/02.3 :-:3.9.3 7:5.3/.

             .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful