P. 1
ACARA PIDANA

ACARA PIDANA

|Views: 431|Likes:
Published by Hendro Purba

More info:

Categories:Types, Business/Law
Published by: Hendro Purba on Sep 11, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/17/2014

pdf

text

original

Buku Panduan Masyarakat Kisi-kisi BAB I PROSES PERADILAN PIDANA PENYIDIKAN, PENUNTUTAN DAN PERSIDANGAN DI PENGADILAN NEGERI

1. SEJARAH DAN PENGERTIAN HUKUM ACARA Dalam penjelasan umum UU No. 8 tahun 1981 tentang Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) dapat dikemukakan bahwa sebelum digunakan KUHAP dalam lingkungan peradilan umum berlaku “Reglemen Indonesia yang diperbaharui atau atau sering disebut “Het Herziene Inlandsch Reglement” (HIR) Akibat adanaya perbedan dari golongan penduduk indonesia sehingga terdapat dua hukum acara pidana dalam peradilan bagi golongan penduduk Bumiputera dan peradilan bagi golongan Eropah di jaman Hindia Belanda yang masih dipertahankan. Dengan ditetapkan dan dinyatakan berlaku UU No. 8 tahun 1981, ketentuan hukum acara pidana dilingkungan peradilan umum yang sebelumnya diatur dalam HIR, maka bagian-bagian dan pasal-pasal yang mengatur tentang hukum acara pidana dalam HIR dinyatakan tidak berlaku. 2. DELIK-DELIK - Pengertian Delik 3. PROSES PEMERIKSAAN PERKARA PIDANA MULAI DARI TINGKAT PENYIDIKAN, DAKWAAN JAKSA PENUNTUT UMUM, DAN PENGADILAN  BAGAIMANA MEMULAI PEMERIKASAAN PERKARA PIDANA DALAM TUGAS DAN WEWENANG PENYIDIK Secara formil pemerikasaan dalam konteks penyidikan terhadap suatu tindak pidana, pada umumnya dilakukan setelah diketahui bahwa suatu peristiwa atau kajadian yang terjadi diduga merupakan suatu tindak pidana. Peristiwa atau kejadian dimaksud dapat diketahui antara lain melalui: Laporan, Pengaduan, dan Tertangkap Tangan A. Adanya Laporan Laporan adalah pemberitahuan yang disampaikan oleh seseorang karena hak atau kewajiban berdasarkan undang-undang kepada pejabat yang berwenang tentang telah atau sedang atau diduga akan terjadinya peristiwa pidana. (pasal 1 butir 24 KUHAP) Dari konstruksi kalimat tersebut diatas dapat dikemukakan bahwa laporan polisi atas telah atau sedang atau diduga akan terjadinya peristiwa pidana dapat dilakukan oleh siapa saja tidak mesti oleh orang yang ada hubungan kekerabatan dengan orang lain yang termasuk didalam peristiwa pidana itu. Atau dalam istilah lain setiap orang yang melihat telah atau sedang atau diduga akan terjadinya peristiwa pidana dapat menyampaikan laporan kepada pihak kepolisian terdekat.

Penyidik atau penyidik pembantu menerima laporan dari seseorang secara tertulis maupun lisan, untuk selanjutnya dituangkan dalam berkas laporan kepolisian yang ditandatangani oleh pelapor dan penyidik/penyidik pembantu, oleh karenanya penyidik/penyidik pembantu setelah menerima laporan kepada pelapor diberikan Surat Tanda Terima Laporan. B. Adanya Pengaduan Pengaduan adalah pemberitahuan yang disertai permintaan oleh pihak yang berkepentingan kepada pejabat yang berwenang untuk menindak menurut hukum seorang yang telah melakukan tindak pidana aduan yang telah merugikannya. (pasal 1 butir 25 KUHAP) Berbeda dengan laporan, pengaduan biasanya dilakukan oleh pihak yang dirugikan yang disampaikan secara lisan maupun tertulis kepada penyidik/penyidik pembantu agar melakukan penindakan secara hukum kepada seseorang yang melakukan tindak pidana. Hal terpenting lainya, terhadap pengaduan harus dibuatkan laporan pengaduan oleh pejabat yang berwenang kemudian setelah itu kepada pengadu diberikan tanda bukti pengaduan. C. Tertangkap Tangan Tertangkap tangan adalah tertangkapnya seseorang pada waktu melakukan tindak pidana, atau dengan segera sesudah beberapa saat pidana itu dilakukan, atau sesaat kemudian diserukan oleh khalayak ramai sebagai orang yang melakukannya, atau apabila sesaat kemudian padanya ditemukan benda yang diduga keras telah dipergunakan untuk melakukan tindak pidana itu yang menunjukkan bahwa ia adalah pelakunya atau turut melakukan atau membantu melakukan tindak pidana itu. (pasal 1 butir 19 KUHAP) Pengertian pada pasal ini, memberikan kewenangan kepada polisi tanpa Surat Perintah dapat melakukan tindakan-tindakan berupa: 1. Penangkapan, penggeledahan, penyitaan dan melakukan tindakan lain yang sah menurut hukum. Catatan Khusus untuk tindakan penangkapan dapat juga dilakukan oleh orang atau masyarakat pada saat itu, seterusnya / pada saat itu juga pelaku diserahkan kepada kepolisian untuk menghindari tindakan main hakim sendiri sehingga pelaksanan dari hukum acara pidana dapat berjalan sebagaimana mestinya. Tidak dibenarkan dalam hukum setelah dilakukan penangkapan oleh masyarakat kemudian atas inisiatifnya melakukan tindakan lain yang merupakan kelanjutan dari tindakan penagkapan. 2. Melakukan tindakan-tindakan di Tempat Kejadian Perkara, selanjutnya memberitahukan dan menyerahkan tersangka beserta barang bukti hasil kejahatannya dan alat bukti yang dipergunakan untuk melakukan kejahatan (jika ada dan ditemukan di Tempat Kejadian Perkara) kepada petugas polisi yang berwenang. Terhadap petugas kepolisian yang menerima penyerahan tersangka, barang bukti dan alat bukti yang ditemukan di Tempat Kejadian Perkara wajib:

a) Membuat Laporan Polisi b) Mendatangi Tempat Kejadian Perkara dan melakukan tindakan yang diperlukan c) Membuat Berita Acara atas setiap tindakan yang dilakukan. Tindak lanjut dari seluruh kegiatan diatas dimana terdapat suatu peristiwa yang diduga merupakan tindak pidana, kepolisian harus melakukan kegiatan penyidikan melalui upaya-upaya penyelidikan, penindakan, memeriksa termasuk penyelesaian dan penyerahan berkas perkara. Suatu peristiwa yang diduga adalah tindak pidana, apakah diperoleh dari laporan, pengaduan atau tertangkap tangan selayaknya segera dilakukan penyelidikan dan penyidikan, setelah upaya-upaya tersebut dilakukan barulah ditingkatkan pada upaya lain yang mengarah pada penyelesaian perkara pidana. Pada tingkat penyelidikan yang penyidik karena kewajibannya mempunyai kenangan seperti tertuang dalam pasal 5 KUHAP antara lain : 1. Menerima laporan atau pengaduan dari seorang tentang adanya tindak pidana; 2. Mencari keterangan dan barang bukti; 3. Menyuruh berhenti seorang yang dicurigai dan menanyakan serta memeriksa tanda pengenal diri; 4. Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung-jawab. 5. Atas perintah penyidik dapat melakukan tindakan berupa: a. penangkapan, larangan meninggalkan tempat, penggeledahan dan penahanan; b. pemeriksaan dan penyitaan surat; c. mengambil sidik jari dan memotret seorang; d. membawa dan menghadapkan seseorang pada penyidik. 6. Penyelidik membuat dan menyampaikan laporan hasil pelaksanaan tindakan sebagaimana tersebut diatas. 7. Untuk kepentingan penyelidikan, penyelidik atas perintah penyidik berwenang melakukan penangkapan. (Pasal 16 ayat (1) KUHAP) Setelah suatu peristiwa dapat ditentukan merupakan tindak pidana (kecuali karena tertangkap tangan) maka tindakan berikutnya ditingkatkan menjadi penyidikan, seperti yang termuat dalam pasal 1 butir 2 KUHAP yaitu suatu upaya dari penyidik untuk mencari serta mengumpulkan bukti sehingga dapat membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya. Termasuk juga bagian dari kewenangan kepolisian ketika hendak menyelesaikan secara hukum suatu tindak pidana adalah sebagai berikut : 1. Penangkapan, 2. Penahanan, 3. Penggeledahan, 4. Penyitaan, 5. Pemerikasaan Surat. Sudah semestinya lima hal yang menjadi kewenangan kepolisian diketahui publik untuk mendekatkan pemahamannya pada proses penyelesaian masalah pidana pada tingkat kepolisian. Pada rangkaian proses ini terdapat tatacara yang harus dipenuhi sebagai bentuk penghargaan terhadap kewibawaan hukum dan penghargaan terhadap hak asasi manusia yang merupakan komitmen bersama bangsa. 1. Penangkapan Apa dan kenapa dilakukan penangkapan serta bagaimana prosedur hukum melakukan penangkapan adalah hal penting yang akan dijelaskan pada bagian ini. Bukan berarti menafikkan hal lain dari yang ditonjolkan. Dalam KUHAP pasal 1 butir 20 menyebutkan bahwa Penangkapan adalah suatu tindakan penyidik berupa pengekangan sementara waktu kebebasan tersangka atau

terdakwa apabila terdapat cukup bukti guna kepentingan penyidikan atau penuntutan dan atau peradilan dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini. Untuk kepentingan penyelidikan dan penyidikan upaya penangkapan dapat dilacak pada pasal 16, pasal 17, pasal 18 dan pasal 19 KUHAP. Penangkapan terhadap seseorang yang diduga sebagai pelaku tindak pidana dilakukan atas beberapa pertimbangan diantaranya : Terdapat dugaan keras bahwa seseoarang itu sebagai pelaku tindak pidana kejahatan yang didasarkan pada bukti permulaan yang cukup perlu segera didengar keterangannya dan diperiksa, terdapat permintaan dari penyidik/penyidik pembantu dari kepolisian diluar daerah hukum atau bisa juga atas permintaan penuntut umum atau hakim, tehadap tersangka pelaku pelanggaran tidak dilakukan penangkapan kecuali kepadanya setelah dipanggil secara sah dua kali berturut-turut tidak memenuhi panggilan tanpa alasan yang sah. Dasar hukum dilakukan penangkapan 1. Pasal 1 butir 20 KUHAP (pengertian penangkapan); 2. Pasal 5 (1) huruf b, Pasal 7 (1) huruf d, Pasal 11 dan Pasal 16 (2) dan (2) KUHAP (kewenangan penyidik/penyidik pembantu serta Penyelidik atas perintah Penyidik mengenai penangkapan); 3. Pasal 17 KUHAP (alasan untuk dapat melakukan penangkapan terhadap seseorang yang diduga keras melakukan tindak pidana) 4. Pasal 18 KUHAP (kelengkapan administrasi dan tata cara dalam hal melakukan penangkapan); 5. Pasal 19 (1) KUHAP (batas waktu penangkapan); 6. Pasal 19 (2) KUHAP (penangkapan terhadap tersangka pelaku pelanggaran); 7. Pasal 37 (1) dan (2) KUHAP (penangkapan terhadap tersangka dan dapat dilanjutkan dengan penggeledahan badan clan pakaian) ; 8. Pasal 102 (2), (3) clan Pasal 111 (1) KUHAP (kewenangan dan kewajiban dalam hal tertangkap tangan) ; Tata Cara Melakukan Penangkapan : 1. Penangkapan dilakukan oleh Penyidik/ Penyidik Pembantu atau Penyelidik atas perintah Penyidik, terhadap seseorang yang diduga keras telah melakukan tindak pidana berdasarkan bukti yang cukup; 2. Penangkapan dilengkapi Surat Perintah Tugas dan Surat Perintah Penangkapan; 3. Petugas yang melakukan penangkapan wajib memperlihatkan Surat Perintah Penangkapan dan atau identitas kepada yang ditangkap atau keluarganya; 4. Setelah dilakukan penangkapan harus dibuat Berita Acara Penangkapan yang ditanda tangani oleh Petugas dan orang yang ditangkap; Catatan Dalam hal tertangkap tangan, penangkapan dapat dilakukan oleh semua orang dengan ketentuan segera menyerahkan kepada petugas kepolisian terdekat ; 5. Penyidik/Penyidik pembantu yang melakukan penangkapan memberikan 1 (satu) lembar Surat Perintah Penangkapan kepada tersangka;

6. Penyidik yang akan melakukan penangkapan atas perintah penyidik, terlebih dahulu menunjukkan Surat Perintah Tugas, kemudian memberikan 1 (satu) lembar Surat Perintah Penangkapan kepada tersangka; 7. Satu Lembar Surat Perintah Penangkapan diberikan kepada keluarga tersangka segera setelah dilakukan penangkapan atas diri tersangka; 8. Dibuat Berita Acara Penangkapan (banyaknya disesuaikan dengan kebutuhan dilapangan) yang ditanda-tangani oleh Penyidik/Penyidik Pembantu/Penyelidik yang melakukan penangkapan dan oleh orang yang ditangkap; 9. Sebelum atau sesudah penangkapan sebaiknya memberitahukan penangkapan terhadap tersangka kepada Kepala Desa atau Kepala Lingkungan tempat tersangka tertangkap atau bertempat tinggal Melakukan penangkapan tanpa prosedur sesuai dengan ketentuan peraturan memberi peluang bagi tersangka melalui advokatnya untuk mengajukan Praperadilan. Perlu juga menjadi konsentrasi bersama mengingat waktu yang tersedia hanya satu kali dua puluh empat jam maka setelah melakukan penangkapan harus segera diupayakan pemeriksaan untuk dapat menetukan apakah kepada tersangka perlu dilakukan penahanan atau tidak. 2. Penahanan Telah dikemukakan sebelumnya bahwa sesaat setelah dilakukan penangkapan, kepada tersangka wajib dilakukan pemeriksaan selama atau dalam waktu satu kali duapuluh empat jam untuk menentukan apakah tersangka perlu ditahan atau tidak. Jika berdasarkan hasil pemeriksaan kepada tersangka terdapat dugaan keras berdasarkan bukti-bukti yang cukup bahwa tersangka telah melakukan tindak pidana atau percobaan dan membantu melakukan tindak pidana, kepada tersangka dilakukan penahanan. A). Apa Pertimbangan Dilakukan Penahanan Pertimbangan dilakukannya penahanan karena terdapat keadaan yang manimbulkan kekhawatiran bahwa tersangka atau terdakwa akan melarikan diri, merusak dan menghilangkan barang bukti, atau dikhawatirkan akan mengulangi tindak pidana. Dalam pasal 21 ayat 4 KUHAP penahanan hanya dapat dilakukan kepada tersangka atau terdakwa yang melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara lima tahun atau lebih dan melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal 283 ayat (3), pasal 296, pasal 335 ayat (1), pasal 351 ayat (1) pasal 353 ayat (1) pasal 372, pasal 378, pasal 379, pasal 453, 454, pasal 455, pasal 459, pasal 480 dan pasal 506 Kitab Undang-undang Hukum Pidana Penahanan dapat dilakukan pada setiap tingkat pemeriksaan perkara, untuk kepentingan penyidikan penyidik atau penyidik pembantu berwenang melakukan penahanan, untuk kepentingan penuntutan penuntut umum berwenang melakukan penahanan dan penahanan lanjutan, dengan penetapannya untuk kepentingan pemeriksaan pengadilan hakim berwenang melakukan penahanan. Wewenang melakukan penahanan dan penahanan lanjutan pada setiap tingkat pemeriksaan perkara dilakukan dengan teknis dan alokasi waktu yang diatur dalam KUHAP. Tersangka atau terdakwa bebas demi hukum jika pada tingkat pemerikasaan (Penyidik Polri, Jaksa Penuntut Umum, dan Hakim) penyidik belum selesai pengumpulan bukti-bukti, jaksa penuntut umum belum selesai menyusun dakwaannya dan hakim pada

tingkat pemeriksaan pengadilan belum selesai melakukan pemeriksaan namun alokasi waktu untuk itu telah berakhir maka tersangka atau terdakwa harus dibebaskan demi hukum. B). Dasar Hukum Dilakukannya Penahanan 1. Pasal 1 butir 21 KUHAP (pengertian penahanan); 2. Pasal 7 ayat (1) huruf d pasal 11 dan pasal 20 (wewenang penyidik/penyidik pembantu tentang penahanan); 3. Pasal 21 KUHAP (alasan dan syarat-syarat untuk dapat melakukan penahanan); 4. Pasal 22 KUHAP (jenis penahanan); 5. Pasal 23 KUHAP (pengalihan jenis penahanan); 6. Pasal 24 KUHAP (jangka waktu penahanan); 7. Pasal 29 KUHAP (pengecualian waktu penahanan yang diberikan oleh ketua Pengadilan Negeri); 8. Pasal 31 KUHAP (penangguhan penahanan); 9. Pasal 123 KUHAP (keberatan penahanan yang dilakukan oleh penyidik); C). Jenis Penahan Terdapat beberapa tempat yang dpat dipakai untuk melakukan penahanan diantaranya : Penahanan Rumah Tahanan Negara, Penahanan Rumah, dan Penahanan Kota. Kegiatan-kegiatan persiapan dalam hal penyidik atau penyidik pembantu berdasarkan pelimpahan wewenang dari penyidik akan melakukan tindakan penahanan atau perpanjangan penahanan atau penangguhan penahanan atau pengalihan jenis penahanan atau atau pengeluaran tahanan maka harus dipersiapkan kelengkapan administrasi sebagai perangkat penunjang diantaranya : Menerbitkan Surat Pemberitahuan, apabila diperlukan perpanjangan penahanan maka harus mempersiapkan Surat Permintaan Perpanjangan Penahanan surat ini diajukan 5 (lima) hari sebelum jangka waktu penahanan berakhir. Kelengkapan administrasi lainnya yang juga wajib dipenuhi, resume singkat hasil penyidikan pada saat itu, ini penting untuk kepentingan perpanjangan penahanan tersangka. Dalam hal tersangka akan dikenakan penahanan di rumah tahanan negara dilakukan dengan penyerahan tersangka dengan menyertakan surat pengantar yang memuat identitas tersangka sesuai dengan surat perintah penahanan, nama, pangkat, dan jabatan pejabat rumah tahanan negara yang berwenang menerima, tanggal dan jam penerimaan serta tandatangan dan cap jabatannya. Langkah berikutnya adalah mempersiapkan angkutan dan pengawalan apabila diperlukan. Penahanan di Rumah Tahanan Negara Penahan rumah tahanan negara dilakukan di rumah tahanan negara atau cabang rumah tahanan negara, penahanan dirumah tahanan dilakukan dengan terlebih dahulu menerbitkan: a. Surat Perintah Penahanan,

Surat ini dikeluarkan oleh penyidik kepolisian yang dibuat dalam rangkap sesuai dengan kebutuhan dan diserahkan kepada tersangka yang akan dilakukan penahanan untuk kemudian ditandatangani. Setelah ditandatangani surat perintah penahanan diserahkan kepada pihak-pihak terkait untuk diketahui. Pihak terkait dimaksud adalah tersangka, keluarga tersangka, pejabat rumah tahanan negara, penuntut umum, dan ketua pengadilan negeri, disamping juga untuk keperluan kelengkapan berkas perkara. b. Dilakukan Penggeledahan Badan Dan Pakaian. Setiap tersangka yang akan ditempatkan penahanannya pada rumah tahanan negara akan dilakukan penggeledahan badan dan pakaian. Upaya ini dilakukan agar tersangka tidak membawa masuk kedalam ruang tahanan barang-barang yang tidak diperkenankan. Barang dimaksud antara lain benda tajam, obat-obatan berbahaya, barang perhiasan, uang, tali, ikat pinggang, selendang. Barang-barang milik tersangka ini sebelum dimasukkan dalam rumah tahanan negara disimpan dan menjadi tanggungjawab penyidik atau penyidik pembantu yang memeriksa perkara ditingkat penyidikan kepolisian dengan mencatatnya didalam buku register barang titipan tahanan dan kepada tersangka diberikan tanda bukti penitipan. c. Kepada Tersangka Dilakukan Pemotretan Dan Pengambilan Sidik Jari. Hal ini penting untuk kepentingan recording terhadap tersangka . d. Penyerahan Tersangka Ke Rumah Tahanan Negara. Penyerahan tersangka beserta dengan barang titipan, penyerahan ini dilakukan dengan menyertakan surat pengantar yang dilampiri dengan surat perintah penahanan. e. Penerimaan Tahanan Oleh Pejabat Yang Berwenang Di Rumah Tahanan Negara. Pejabat rumah tahanan negara penerima tahanan diminta untuk menandatangani penerimaan tahanan dan barang tititapan dengan menyebutkan nama terang, pangkat, tanggal penerimaan dengan dibubuhi cap jabatan atau dinas. Serah terima tersangka dan barang titipan kepada pejabat rumah tahanan negara harus dibuat berate acara tentang itu yang ditandatangani oleh petugas kepolisian dan pejabat rumah tahanan yang menerima dengan disaksikan oleh dua orang saksi dari pihak rumah tahanan. Sebelum dititipkan dirumah tahanan, tersangka ditempatkan didalam ruang tahanan kepolisian setempat. Penahanan Rumah Penahanan rumah dilakukan oleh penyidik dengan terlebih dahulu dibuatkan Surat Perintah Penahanan, surat dimaksud dikeluarkan oleh penyidik kepolisian yang dibuat dalam rangkap 9 (sembilan) dan diserahkan kepada tersangka yang akan dilakukan penahanan untuk kemudian ditandatangani. Setelah ditandatangani surat perintah penahanan diserahkan kepada pihak-pihak terkait untuk diketahui. Pihak terkait dimaksud adalah tersangka, keluarga tersangka, penuntut umum, dan ketua pengadilan negeri, kecuali pejabat rumah tahanan, disamping juga untuk keperluan kelengkapan berkas perkara.

Penahanan Rumah dilaksanakan dirumah tempat tinggal/kediaman tersangka dengan diupayakan pengawasan atau menempatkan penjagaan untuk mengadakan penjagan tetap pada waktu-waktu tertentu, melakukan patroli, atau dapat juga dilakukan dengan telepon jika dirumah tersangka tempat dilakukan penahanan ada telepon, atau bisa juga dengan meminta bantuan pejabat desa/kelurahan, atau dengan cara-cara yang dapat menghindarkan segala sesuatu yang dapat menimbulkan kesulitan dalam pelaksanaan penyidikan berikutnya hal tersebut dilakukan dengan koordinasi kesatuan kepolisian terdekat. Penahanan Kota Surat Perintah Penahanan Kota dikeluarkan oleh penyidik kepolisian yang dibuat dalam rangkap sesuai dengan kebutuhan dan diserahkan kepada tersangka yang akan dilakukan penahanan untuk kemudian ditandatangani. Setelah ditandatangani surat perintah penahanan diserahkan kepada pihak-pihak terkait untuk diketahui. Pihak terkait dimaksud adalah tersangka, keluarga tersangka, pejabat rumah tahanan negara, penuntut umum, dan ketua pengadilan negeri, disamping juga untuk keperluan kelengkapan berkas perkara. Penahanan kota dilaksanakan dikota tempat tinggal atau kediaman tersangka dengan kewajiban bagi tersangka untuk melaporkan dirinya pada waktu-waktu yang ditentukan. Kalau tersangka sakit, dan menurut pengamatan penyidik atau penyidik pembantu yang bersangkutan serta menurut pendapat dokter perlu dirawat dirumah sakit, maka penahanan dapat dilaksanakan dirumah sakit hal ini dilakukan pembantaran penahanan dengan pengawasan kesatuan penyidik atau penyidik pembantu tersebut diatas atau minta bantuan dari kesatuan kepolisian yang terdekat dengan rumah sakit tersebut. Catatan 1. Jangka waktu penahanan yang menjadi kewenangan penyidik kepolisian terhadap semua jenis penahanan, paling lama 20 (dua puluh) hari. Jangka waktu ini dapat diperpanjang oleh Penuntut Umum untuk untuk kepentingan pemeriksaan yang belum selesai paling lama 40 hari. 2. Tidak tertutup kemungkinan tersangka dikeluarkan dari tahanan walaupun masa penahanannya belum berakhir, jika kepentingan pemeriksaan sudah terpenuhi. 3. Jika telah mencapai waktu enam puluh hari penyidik harus telah mengeluarkan tersangka demi hukum dari tahanan P er lu M enghargai H ak-H ak Ters angka. Dalam pelaksanaan tindakan penahanan hal-hal yang perlu diperhatikan adalah, hak-hak tersangka yang ditahan, antara lain sbb : a. Dalam waktu satu hari setelah perintah penahanan itu dijalankan, tersangka harus mulai diperiksa (pasal 122 KUHAP). b. Menghubungi penasehat hukum (pasal 57 ayat (1) KUHAP). c. Menghubungi clan berbicara dengan perwakilan negaranya apabila tersangka berkebangsaan asing (pasal 57 ayat ( 2) KUHAP).

d. Diberitahukan tentang penahanan atas dirinya kepada keluarga atau orang lain yang serumah atau orang yang dibutuhkan bantuannya untuk mendapatkan bantuan hukum atau jaminan bagai penangguhannya (pasal 59 KUHAP). e. Mengadakan hubungan surat menyurat dengan penasehat hukum atau dengan keluarganya dan harus disediakan alat-alat tulisnya (pasal 62 KUHAP). Menghubungi dan menerima kunjungan : f. Dokter pribadi kalau ada (pasal 58 KUHAP). g. Pihak yang mempunyai hubungan keluarga (pihak lain) guna mendapatkan jaminan baik penangguhan penahanan atau untuk usaha mendapatkan bantuan hukum (pasal 60 KUHAP). h. Rokhaniawan (pasal 63 KUHAP). i. Mengajukan permintaan kepada Pengadilan Negeri setempat untuk dilakukan pemeriksaan pra peradilan (tentang sah atau tidak sahnya penahanan atas dirinya) (pasal 124 KUHAP). Catatan Bagi setiap tindakan penahanan, penangguhan penahanan, pengalihan jenis penahanan pembantaran penahanan dan pengeluaran tahanan harus dibuat Berita Acaranya (masing-masing yang ditanda tangani oleh penyidik atau penyidik pembantu dan tersangka yang bersangkutan) 3. Penggeledahan. Penggeledahan rumah adalah tindakan penyidik untuk memasuki rumah tempat tinggal dan tertutup lainnya untuk melakukan tindakan pemeriksaan dan atau penyitaan dan atau penangkapan dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini (pasal 1 poin 17 KUHAP). Penggeledahan badan adalah tindakan penyidik untuk mengadakan pemeriksaaan badan dan atau pakaian tersangka untuk mencari benda yang diduga keras ada pada badannya atau dibawanya serta, untuk disita (pasal 1 poin 18 KUHAP). KUHAP mengatur tentang penggeledahan pada pasal 32, pasal 33, pasal 34, pasal 35, pasal 36 pasal 37, penggeledahan dimaksudkan untuk penyidikan, penggeledahan dapat berupa penggeledahan rumah atau penggeledahan badan atau pengeledahan pakaian. Apa dan kenapa dilakukan pengeledahan? Dalam melakukan penggeledahan perlu memperhatikan pertimbangan-pertimbangan. a. Salah satu kegiatan penindakan upaya paksa dalam pelaksanaan penyidikan tindak pidana adalah tindak penggeledahan (badan, Rumah, tempat tertutup); b. Tindakan penggeledahan dilakukan dengan maksud, untuk mendapatkan bukti-bukti yang cukup atau barang bukti dan melakukan tindakan penangkapan terhadap tersangka. Persiapan yang harus dilakukan sebelum pelaksanaan penggeledahan antara lain :

1. 2.

3.

4. 5.

Mengajukan permintaan Ijin kepada Ketua Pengadilan Negeri didaerah hukum tempat dilakukan penggeledahan rumah atau tempat tertutup lainnya. Mengajukan permintaan ijin penggeledahan rumah disertai dengan permintaan ijin khusus untuk melakukan tindakan pemeriksaan dan penyitaan surat-surat lainnya apabila dalam penggeledahan rumah atau tempat tertutup lainnya diperlukan pula tindakan pemeriksaan dan penyitaan surat-surat lain. Menerbitkan Surat Perintah Penggeledahan, setelah memperoleh Surat Ijin atau Surat ijin Khusus dari Ketua Pengadilan Negeri ditempat dimana penggeledahan akan dilakukan. Foto copy Surat Ijin dari Ketua Pengadilan Negeri dilampirkan pada Surat Perintah Penggeledahan Mengajukan surat permintaan bantuan kepada pejabat kesehatan, dokter atau tenaga medis apabila akan dilakukan pemeriksaan bagian dalam badan karena diduga tersangka menyimpan atau menelan barang bukti. Melakukan upaya koordinasi dengan dengan fungsi lain dilingkungan kepalisian atau dinas instansi lain guna kelancaran dan keberhasilan pelaksanaan penggeledahan.

Apa yang harus digeledah pada penggeledahan rumah atau tempat tertutup lainnya ? a. Diluar hal tertangkap tangan Dalam keadan ini penggeledahan dilakukan sesuai surat ijin penggeledahan rumah dari ketua pengedilan negeri setempat dengan mencantumkan dasar dan pertimbangan surat perintah penggeledahan. Surat Perintah Penggeledahan mencantumkan tanggal dan nomor surat ijin peggeledahan dari ketua pengadilan negeri. Penggeledahan dilakukan oleh penyidik atau penyidik pembantu b. Dalam Keadaan Yang Perlu Dan Mendesak 1. Dapat dilakukan tanpa surat ijin penggeledahan dari Ketua Pengadilan Negeri setempat. 2. Diperlukan Surat Perintah Penggeledahan dari Ketua Pengadilan Negeri setempat. 3. Penyidik, Penyidik Pembantu dan Penyelidik atas Perintah Penyidik dapat melakukan penggeledahan: a. Halaman rumah tersangka bertempat tinggal/berdiam atau berada, dan yang ada diatasnya. b. Setiap tempat lain dimana tersangka bertempat tinggal/berdiam atau berada. c. Ditempat tindak pidana dilakukan atau tempat lain yang terdapat bekas tindak pidana. d. Tempat penginapan dan tempat umum lainnya. 4. Dalam hal pemilik rumah menolak untuk dilakukan penggeledahan rumah, tetap dilaksanakan penggeledahan dengan disaksikan Kepala Desa/Ketua Lingkungan serta minimal dua orang saksi. Catatatan

| Meskipun kewenangan penggeledahan oleh Penyidik atau Penyidik Pembantu secara yuridis diatur dan ditentukan oleh KUHAP dan Undang-undang Kepolisian, namun pada kasus-kasus yang menyangkut atau melibatkan anak, diperlukan ketentuan-ketentuan yang bersifat khusus. | Dalam melakukan penggeledahan terhadap anak, Penyidik atau Penyidik Pembantu harus mempertimbangkan faktor-faktor pshycologis bagi anak. | Dalam melakukan penggeledahan perlu memperhatikan faktor-faktor keamanan. | Penggeledahan badan terhadap wanita harus dilakukan oleh Polisi Wanita atau seorang wanita yang ditunjuk oleh Penyidik. | Penggeledahan yang menyangkut benda, alat, fasilitas dan tempat-tempat lain yang menyangkut keamanan Negara agar koordinasi dengan instansi yang terkait. 4. Penyitaan. Penyitaan adalah serangkaian tindakan penyidik untuk mengambil alih dan atau menyimpan dibawah penguasaannya benda bergerak atau tidak bergerak, berwujud atau tidak berwujud untuk kepentingan pembuktian dalam penyidikan, penuntutan dan peradilan (pasal 1 poin 16 KUHAP). Klausul tentang penyitaan dapat dilihat pada KUHAP pasal 38, pasal 39, pasal 40, pasal 41, pasal 42, pasal 43, pasal 44, pasal 45, pasal 46. Pada konteks penyitaan hanya dapat dilakukan dengan surat izin ketua pengadilan negeri setempat kecuali dalam keadan perlu dan mendesak dimana pada saat itu tidak mungkin mendapatkan surat izin secera cepat. Beberapa hal penting yang juga perlu diketahui menyangkut apa yang dimaksud dengan penyitaan, kewenangan penyidik atau penyidik pembantu dalam hal penyitaan, syarat-syarat penyitaan, benda-benda apa saja yang dapat dikenakan penyitaan, bagaimana melakukan penyitaan pada keadaan tertangkap tangan, dapatkah dilakukan penyitaan atas surat atau benda yang pengirimannya lewat kantor pos atau telekomunikasi, penyimpanan benda-benda sitaan, benda sitaan apa saja yang dapat dijual, pengembalian benda siataan kepada yang berhak, dan penanganan dan pengamanan barang sitaan. Yang jelas penyidik melakukan penyitaan atas pertimbangan, bahwa diperlukan barang bukti terutama yang ada kaitannya dengan kasus atau tindak pidana yang terjadi guna membuat terang atau pembuktian kasus, selain itu juga diperlukan sebagai persyaratan untuk kelengkapan berkas perkara terutama dalam hal pembuktian dalam proses penyidikan, penuntutan dan peradilan. Supaya penyitaan berjalan sebagaimana mestinya dan tidak menimbulkan resistensi menjadi penting mentaati prosedur yang telah ditentukan, atau setidak-tidaknya melakukan langkah-langkah persiapan seperti misalnya : 1. Melakukan pemeriksaan dan penyitaan benda dan surat-surat lain dilakukan setelah memperoleh surat ijin atau surat ijin khusus dari ketua pengadilan negeri setempat. 2. Surat ijin atau ijin khusus penyitaan dari ketua pengadilan negeri setempat salinannya harus dilampirkan pada surat perintah penyitaan. Hal ini juga penting diketahui oleh pemilik rumah atau gedung yang akan dimasuki penyidik atau penyidik pembantu yang hendak melakukan penyitaan.

3. Penyitaan dapat dilakukan dengan surat perintah penyitaan dalam keadaan yang perlu dan mendesak dan tidak mungkin untuk mendapatkan surat ijin terlebih dahulu tanpa surat ijin atau surat ijin khusus ketua pengadilan negeri setempat. Penyitaan ini hanya terbatas pada benda-benda bergerak saja dan untuk itu wajib segera melaporkan kepada ketua pengadilan untuk mendaptkan pengesahan. 4. Untuk melakukan pengawasan atas barang-barang sitaan atau barang bukti perlu ditunjuk pengawas. Selengkapnya proses penyitaan terhadap barang dan surat-surat lain dalam keadaan tertangkap tangan, diluar tertangkap tangan dan dalam keadaan yang sangat perlu dan mendesak dikemukankan seseperti berikut ini. Penyitaan terhadap benda Dalam Keadaan Diluar Tertangkap Tangan dilakukan dengan mengikuti dan mengetahui hal-hal penting berikut ini sehingga tidak meghilangkan substansi hukum yang mestinya dikedepankan. Pada keadaan ini penting dan diperlukan sebelum melakukan penyitaan diantaranya; surat ijin atau ijin khusus penyitaan dari ketua pengadilan negeri setempat dan surat perintah penyitaan. Konteks ini, penyitaan dapat dilakukan oleh penyidik atau penyidik pembantu dan penyelidik atas perintah penyidik. Sedangkan benda-benda yang dapat dikenakan penyitaan dapat berupa benda-benda bergerak dan benda-benda tidak bergerak meliputi benda atau tagihan tersangka atau terdakwa yang seluruh atau sebagian diduga diperoleh dari hasil tindak pidana, benda yang dipergunakan secara langsung untuk melakukan tindak pidana atau untuk mempersiapkannya, benda yang dipergunakan untuk menghalangi penyidik tindak pidana itu, benda yang khusus dibuat atau diperuntukkan untuk melakukan tindak pidana, benda yang mempunyai hubungan langsung dengan tindak pidana yang dilakukan, dan benda yang berada dalam sitaan karena perkara perdata atau karena pailit dapat disita untuk kepentingan penyidikan, penuntutan dan mengadili perkara pidana sepanjang berhubungan dengan konteks pidana yang dituduhkan kepadanya dan sedang diproses pada tingkat penyidikan, penuntutan dan pengadilan. Melakukan Penyitaan Dalam Keadaan Yang Sangat Perlu Dan Mendesak dapat dilakukan tanpa surat ijin ketua pengadilan akan halnya dengan surat perintah penyitaan namun penyitaannya hanya terbatas pada benda-benda bergerak saja yang dilakukan oleh penyidik atau penyidik pembantu namun setelah itu wajib memberitahukan kepada ketua pengadilan negeri setempat untuk mendapat pengesahan. Lantas bagaimana melakukan penyitaan terhadap benda yang diduga digunakan untuk melakukan tindak pidana atau benda-benda yang diduga diperoleh dari hasil tindak pidana Dalam Hal Tertangkap Tangan. Pada konteks ini tentu tidak diperlukan surat ijin atau surat ijin khusus dari ketua pengadilan termasuk tidak diperlukan surat perintah penyitaan, penyidik atau penyidik pembantu baik karena mendapatkan sendiri maupun karena mendaptkan penyerahan dari penyidik atau orang lain dapat melakukan penyitaan terhadap benda atau alat yang ternyata telah dipergunakan untuk melakukan tindak pidana. Tindakan ini dilakukan oleh penyidik, karena mendapatkan sendiri ataupun karena adanya penyerahan dari orang lain untuk segera diserahkan kepada penyidik sedaerah hukumnya disertai dengan berita acara tentang tindakan yang telah dilakukannya. Penyidik atau penyidik pembantu sebelum melakukan penyitaan menunjukan tanda pengenal dan surat perintah penyitaan dilampiri surat ijin atau ijin khusus ketua

pengadilan negeri kepada tersangka atau keluarga dari siapa benda akan disita. Penyitaan sedapat mungkin dilakukan oleh minimal dua orang petugas dan diupayakan menghubungi kepala desa atau kepala lingkungan atau orang lain yang dapat dipercaya menjadi saksi dalam penyitaan itu. Benda-benda yang akan disita harus diperlihatkan pada kepada tersangka atau keluarganya termasuk keterangan tentang asal benda itu diambil, dan dilakukan didepan minimal dua oarng saksi. Benda-benda yang telah diletakkan sita dibuatkan daftar rinciannya yang memuat setidaknya jumlah dan jenis bahkan bila perlu untuk kepentingan keamanannya dapat terlebih dahulu dilakukan pemotretan. Upaya melakukan penyitaan surat lain diperlukan surat ijin khusus ketua pengadilan, setelah itu penyidik meminta secara tertulis kepada kepala kantor pos, telekomunikasi atau perusahaan-perusahaan jasa yang terkait dengan pengiriman barang dan surat-surat agar menyerahkan surat-surat lain yang diperlukan untuk penyidikan. Terhadap surat-surat yang mempunyai hubungan dengan tindak pidana yang telah diperiksa maka dilakukan penyitaan, namun jika tidak ada hubungannya maka surat itu ditutup dan diberi cap Telah Dibuka Oleh Penyidik dengan dibubuhi tanda tangan, identitas dan pengkat penyidik untuk selanjutnya dikembalikan kepada kantor atau perusahaan jasa tempat surat itu diambil berikut dibuatkan terima penyerahan kembali.  TUGAS DAN WEWENANG JAKSA PENUNTUT UMUM Setelah penyidik menyelesaikan tugas-tugas penyelidikan dan penyidikan dengan serangkaian proses tersebut diatas mulai dari menerima laporan, pengaduan atau karena tertangkap tangan lantas melakukan pemanggilan, pemeriksaan saksi, penangkapan, penahanaan dan lain sebagainya intinya adalah suatu rangkaian kerja penyidik yang benar menurut KUHAP dalam rangka membuat terang dan menemukan pelaku tindak pidana untuk dimintai pertanggungjawabannya. Serangkaian penyidikan, oleh penyidik kemudian dituangkan kedalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Menurut pasal 14, pasal 110, pasal 138, pasal 139 dan pasal 140 KUHAP, Ketika penyidik memandang proses penyidikan telah selesai dilakukan selanjutnya berkas perkara diserahkan kepada penuntut umum untuk dipelajari dan diteliti kelengkapannya sebagai dasar dan bahan untuk membuat surat dakwaan. Berkas perkara yang disampaikan penyidik, oleh penuntut umum segera diteliti dan dipelajari, dalam waktu tujuh hari jika dipandang bahwa hasil penyidikan masih belum lengkap penuntut umum segera mengembalikan perkara tersebut kepada penyidik untuk dilengkapi beserta pentunjuk tentang hal yang harus dilakukan untuk dilengkapi. Proses ini berlangsung selama empat belas hari sejak pengembalian berkas oleh penuntut umum dan penyidik harus sudah menyampaikan berkas itu kepada penuntut umum. Setelah pengembalian berkas perkara untuk dilengkapi penyidik wajib melakukan penyidikan tambahan sesuai dengan petunjuk penuntut umum, setelah itu segera diajukan kembali kepada penuntut umum. Jika dalam waktu empat belas hari tidak mengembalikan hasil penyidikan atau penyidikan tambahan dari penyidik maka penyidikan dianggap telah rampung. Apabila penuntut umum menilai bahwa berkas perkara tersebut telah lengkap, maka penuntut umum kemudian akan membuat surat dakwaan dan dilanjutkan ke tahap penuntutan.

Merujuk pada pasal 1 butir 7 KUHAP penuntut umum melakukan penuntutan sebagai tindakan pelimpahan perkara pidana kepada pengadilan negeri yang berwenang untuk menyelesaikan menurut cara yang diatur dlam KUHAP, penyerahan itu disertai dengan permintaan supaya diperiksa dan diputus oleh hakim didalam sidang pengadilan. Berikutnya dapat juga dilacak beberapa hal yang menjadi kewenangan penuntut umum, oleh karena itu secara berturut-turut pasal-pasal yang mengatur itu dikemukakan sebagaiberikut : a. Menerima dan memeriksa berkas perkara penyidikan dari penyidik atau penyidik pembantu. Mempelajari dan meneliti dalam waktu tujuh hari wajib diberitahukan pada penyidik apakah hasil penyidikannya telah lengkap atau belum; (pasal 14, pasal 138 ayat 1 KUHAP) b. 1. Mengadakan prapenuntutan apabila ada kekurangan pada penyidikan dengan memberi petunjuk dalam rangka penyempurnaan penyidikan dari penyidik. 2. Jika hasil penyidikan ternyata belum lengkap, berkas perkara pidana akan dikembalikan kepada penyidik beserta petunjuk untuk melengkapinya dan dalam waktu empat belas hari penyidik harus telah menggemabalikan berkas tersebut kepada penuntut umum; (Pasal 14, pasal 138 ayat 2 KUHAP) c. Memberikan perpanjangan penahanan, melakukan penahanan atau penahanan lanjutan dan atau mengubah status tahanan setelah perkaranya dilimpahkan oleh penyidik; (Pasal 14 KUHAP) d. 1. Membuat surat dakwaan, 2. Atau dalam hal penuntut umum berpendapat bahwa dari hasil penyidikan dapt dilakukan penuntutan maka dalam waktu secepatnya membuat surat dakwaan; (pasal 14, pasal 140 ayat 1 KUHAP) e. 1. Melimpahkan perkara ke pengadilan. 2. Setelah penuntut umum menerima kembali hasil penyidikan yang lengkap, segera menentukan apakah berkas perkara dimaksud telah memenuhi persyaratan untuk dapat dilimpahkan kepengadilan atau tidak ;(pasal 14, pasal 139, pasal 143 ayat 1 KUHAP) 3. Penuntut Umum melimpahkan berkas perkara disertai dengan surat dakwaan ke pengadilan negeri dengan permintaan agar segera mengadili perkara tersbut. f. Menyampaikan pemberitahuan kepada terdakwa tentang ketentuan hari dan waktu perkara disidangkan yang disertai surat panggilan, baik kepada terdakwa maupun kepada saksi, untuk datang pada sidang yang telah ditentukan; (pasal 146 KUHAP) g. Melakukan penuntutan; (pasal 137 KUHAP) h. Menutup perkara demi kepentingan hukum; (pasal 14 KUHAP) i. Mengadakan tindakan lain dalam lingkup tugas dan tanggung jawab sebagai penuntut umum menurut ketentuan undang-undang ini; (pasal 14 KUHAP) j. Melaksanakan penetapan hakim. (pasal 14 KUHAP) k. Atas permintaan tersangka atau terdakwa, penuntut umum dapat mengadakan penangguhan penahanan dengan atau tanpa jaminan uang atau jaminan orang, berdasarkan syarat yang ditentukan. (pasal 31 ayat 1 KUHAP) l. Karena jabatannya hakim sewaktu-waktu dapat mencabut penangguhan penahanan dalam hal tersangka atau terdakwa melanggar syarat yang sudah ditentukan. (pasal 31 ayat (2) KUHAP)

 PROSES PEMERIKSAAN PERKARA PIDANA PENGADILAN NEGERI Setelah penyusunan dakwaan selesai disusun oleh penuntut umum, selanjutnya penuntut umum mengajukan kepada pengadilan negeri untuk disidang. Jika berjalan lancar maka persidangan itu akan berlangsung sebanyak sembilan kali. Berikut ini proses sidang dipengadilan negeri pada perkara pidana: Proses Persidangan Di Pengadilan Negeri I. Sidang Pertama. PEMBACAAN SURAT DAKWAAN (dilakukan oleh jaksa penuntut umum) Pada bagian ini dapat di identifikasi tahapan persidangannya sebagai berikut : 1. Pemeriksaan dipengadilan dilakukan oleh hakim majelis, kecuali pada perkara tertentu. hakim ketua sidang memimpin pemeriksaan dilakukan secara lisan dalam bahasa Indonesia yang dimengerti oleh terdakwa dan saksi. 2. Hakim ketua majelis membuka sidang dengan menyatakan sidang dibuka dan terbuka untuk umum, hal ini tidak dilakukan kecuali dalam hal perkara kesusilaan atau terdakwa dibawah umur sidang dinyatakan dibuka dan tertutup untuk umum. Catatan : Jika hal dalam poin 2 ini tidak dilakukan oleh hakim berakibat pada batalnya putusan demi hukum. (pasal 153 ayat 4 KUHAP) 3. Ketua majelis hakim memerintahkan supaya terdakwa dipanggil masuk di persidangan. Dalam hal terdakwa tidak hadir, hakim ketua sidang menanyakan beberapa hal berkenaan dengan alasan ketidakhadiran terdakwa, apakah terdakwa telah dipanggil secara sah atau tidak, apabila ternyata tidak sah, diadakan pemanggilan ulang selama tiga kali 4. Hakim menanyakan kepada terdakwa apakah ia didampingi oleh Advokat atau Penasihat Hukum. Berdasarkan pasal 56 KUHAP terdakwa didampingi oleh penasihat hukum bagi tindak pidana yang dilakukan dan diancam dengan hukuman pidana mati, atau ancaman pidana limabelas tahun atau ancaman pidananya lebih dari lima tahun wajib didampingi Penasihat Hukum. 5. Apabila terdakwa didampingi oleh penasihat hukum, kepada penasihat hukumnya hakim menanyakan surat kuasa dan surat izin beracara sebagai keabsahaan bahwa yang bersangkutan adalah sebagai advokat atau pengacara. Kemudian setelah verifikasi keabsahaan advokat telah selesai, selanjutnya 6. Ketua majelis hakim menanyakan identitas terdakwa, meliputi : nama lengkap, tempat lahir, umur atau tanggal lahir, jenis kelamin, kebangsaan, tempat tinggal, agama dan pekerjaan serta mengingatkan terdakwa untuk memperhatikan apa yang terjadi selama persidangan. 7. Hakim ketua majelis meminta penuntut umum untuk membacakan surat dakwaannya. Setelah selesai dibaca selanjutnya, 8. Hakim ketua majelis menanyakan kepada terdakwa apakah terdakwa benar-benar mengerti isi surat dakwaan, apabila ternyata tidak mengerti maka penuntut umum atas permintaan hakim ketua siding wajib memberi penjelasan yang diperlukan. 9. Hakim ketua sidang menanyakan kepada terdakwa melalui Penasihat Hukumnya (jika ada) apakah ia keberatan dengan surat dakwaan tersebut.

10.

Selanjutnya hakim ketua majelis menyatakan sidang ditunda

II. Sidang Kedua. PEMBACAAN EKSEPSI Jika Ada (dilakukan oleh terdakwa atau penasihat hukumnya) Dalam hal terdakwa atau penasihat hukumnya mengajukan keberatan bahwa pengadilan tidak berwenang mengadili perkaranya atau dakwaan tidak dapat diterima atau harus dibatalkan, maka setelah diberi kesempatan kepada penuntut umum untuk menyatakan pendapatnya, hakim mempertimbangkan keberatan tersebut untuk selanjutnya mengambil keputusan. Jika hakim menyatakan keberatan tersebut diterima, maka perkara itu tidak dilanjutkan periksaannya, sebaliknya dalam hal tidak diterima atau hakim berpendapat hal tersebut baru dapat diputus setelah selesai pemeriksaan, maka sidang dilanjutkan. Pada bagian ini dapat di identifikasi tahapan persidangannya sebagai berikut : 1. Hakim ketua majelis membuka sidang dengan menyatakan sidang dibuka dan terbuka untuk umum. 2. Ketua majelis hakim memerintahkan terdakwa untuk hadir diruang sidang, terdakwa hadir diruang sidang kepadanya ditanyakan apakah terdakwa sudah siap dengan eksepsinya. Jika sudah siap ketua majelis hakim memberikan kesempatan kepada terdakwa atau penasihat hukumnya untuk membacakan eksepsinya. 3. Ketua majelis hakim menanyakan kesiapan penuntut umum apakah akan memberikan tanggapan terhadap eksepsi terdakwa. Pada bagian ini ada dua kemungkinan, penuntut umum akan menanggapi eksepsi terdakwa atau tidak akan menanggapi. Dalam hal penuntut umum akan menanggapi eksepsi terdakwa, sidang akan ditunda sampai dengan waktu yang ditentukan majelis hakim untuk pembacaan tanggapan penuntut umum. Dalam hal penuntut umum tidak akan menanggapi eksepsi terdakwa, sidang akan ditunda sampai dengan waktu yang ditentukan majelis hakim untuk pembacaan putusan sela. 4. Ketua majelis hakim menyatakan sidang ditunda dan menyatakan Putusan akan diberikan bersamaan dengan Putusan mengenai perkara pokoknya. III. Sidang Ketiga. TANGGAPAN JAKSA PENUNTUT UMUM (dilakukan oleh jaksa penuntut umum) Pada bagian ini dapat di identifikasi tahapan persidangannya sebagai berikut : 1. Ketua majelis hakim membuka sidang dengan menyatakan sidang dibuka dan terbuka untuk umum. 2. Ketua majelis hakim memerintahkan terdakwa untuk hadir diruang sidang, terdakwa hadir diruang sidang. Selanjutnya, 3. Ketua majelis hakim menanyakan kepada penuntut umum prihal kesiapannya memberikan tanggapan atas eksepsi terdakwa, jika jaksa penuntut umum telah siap dengan tangapannya maka kepadanya diberikan kesempatan untuk membacakan tanggapannya. Selanjutnya,

4. Ketua majelis hakim menanyakan kepada terdakwa atau penasihat hukumnya apakah akan memberikan tanggapan atas tanggapan jaksa penuntut umum 5. Sidang ditunda, sampai waktu yang ditentukan oleh majelis hakim IV. Sidang Keempat. TANGGAPAN TERDAKWA ATAU PENASIHAT HUKUM ATAS TANGGAPAN PENUNTUT UMUM Pada bagian ini dapat di identifikasi tahapan persidangannya sebagai berikut : 1. Ketua majelis hakim membuka sidang dengan menyatakan sidang dibuka dan terbuka untuk umum. 2. Ketua majelis hakim memerintahkan terdakwa untuk hadir diruang sidang, terdakwa hadir diruang sidang. Selanjutnya, 3. Ketua majelis hakim menanyakan kepada terdakwa atau Penasihat Hukumnya apakah sudah siap dengan tanggapannya untuk memberi tanggapan atas tanggapan penuntut umum. 4. Kesempatan selanjutnya diberikan oleh ketua majelis hakim kepada terdakwa atau penasihat hukum untuk membacakan tanggapannya atas tanggapan penuntut umum. 5. Ketua majelis hakim menyatakan sidang ditunda. V. Sidang Kelima. PUTUSAN SELA Setelah beberapa proses beracara yang merupakan jawab menjawab berlangsung sampailah saatnya pada putusan sela untuk menentukan apakah sidang dilanjutkan atau tidak. Pada proses ini dapat teridentifikasi sebagai berikut : 1. Ketua majelis hakim membuka sidang dan menyatakan sidang terbuka untuk umum. 2. Terdakwa hadir di ruang sidang, selanjutnya 3. Ketua majelis hakim membacakan putusan sela. Putusan sela dapat berupa majelis menerima eksepsi yang diajukan oleh terdakwa atau penasihat hukum atau tidak. Kosong kosong kosong kosong kosong kosong kosong kosong kosong kosong kosong kosong kosong kosong kosong kosong kosong 4. Selanjutnya ketua majelis hakim menanyakan kesiapan jaksa penuntut umum tentang kesiapannya dengan pembuktia 5. Sidang ditunda.
3. Hakim Ketua Majelis membacakan putusan sela Isi Putusan Sela: Majelis menerima eksepsi yang diajukan oleh Terdakwa *Jika ya, sidang dilanjutkan pada tahap selanjutnya *Jika tidak, sidang dinyatakan ditutup.

VI. Sidang Keenam. PEMBUKTIAN (pemerikasaan saksi atau saksi ahli) Pada proses ini, masing-masing pihak (penuntut umum dan terdakwa atau penasihat hukum) melakukan pembuktian dan pembelaan dengan mengajukan saksi-saksi dan

bukti-bukti lain yang dapat mempengaruhi atau memberi keyakinan kepada hakim pada saat mengambil putusan. Pemeriksaan saksi dilakukan dengan cara, hakim memanggil saksi satu persatu menurut urutan yang dipandang baik oleh ketua majelis hakim setelah mendengarkan pendapat dari penuntut umum, terdakwa atau penasihat hukum. Saksi yang pertama didengarkan keterangannya adalah korban yang menjadi saksi Terdapat tiga hal yang diperiksa pada proses pembuktian ini antara lain Pemeriksaan Saksi, Pemeriksaan Barang Bukti dan Pemeriksaan Terdakwa. Pada bagian ini prosesnya dapat teridentifikasi sebagai berikut : Pemeriksaan Saksi 1. Ketua majelis hakim membuka sidang dan menyatakan sidang terbuka untuk umum. Selanjutnya 2. Ketua majelis hakim memeriksa apakah sudah tidak ada lagi saksi yang akan memberikan keterangan masih berada dalam ruang sidang, jika masih ada hakim mempersilahkan agar saksi yang masih ada dalam ruang sidang untuk keluar. 3. Ketua majelis hakim memerintahkan penuntut umum atau penasihat hukum untuk menghadirkan saksi atau saksi ahli ke ruang sidang. Pada saat ini terdakwa duduk disamping penasihat hukumnya. Selanjutnya setelah saksi atau saksi ahli yang akan dimintai keterangan atau kesaksiannya berada dalam ruang sidang, 4. Ketua majelis hakim menanyakan kesehatan (apakah saksi dalam keadaan sehat), diteruskan dengan menanyakan identitasnya meliputi : nama lengkap, tepat lahir, umur atau tanggal lahir, jenis kelamin, kebangsaan, tempat tinggal, agama dan pekerjaan. 5. Pertanyaan selanjutnya adalah hakim menanyakan apakah saksi kenal dengan terdakwa, apakah saksi punya hubungan keluarga sedarah atau semenda dengan terdakwa, atau apakah saksi adalah suami atau isteri terdakwa meskipun telah bercerai, atau saksi terikat hubungan kerja dengan terdakwa 6. Saksi atau saksi ahli disumpah. Sebelum memberikan keterangan saksi wajib mengucapkan sumpah atau janji menurut cara agamanya. 7. Selanjutnya majelis hakim mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang hal yang dia ketahui, yang dia dengar, yang dia lihat atau mungkin yang dia alami sendiri dan pertanyaan-pertanyaan lain untuk membuat terang suatu perkara. 8. Pertanyaan selanjutnya kepada saksi diajukan oleh jaksa penuntut umum, setelah selesai dialnjutkan lagi dengan pertanyaan dari penasihat hukum. Setiap saksi selesai memberikan keterangannya hakim menanyakan kembali kepada terdakwa tentang benar tidaknya keterangan yang diberikan saksi. 9. Apakah saksi menarik kembali keterangannya dalam Berita Acara Pemeriksaan penyidik. Pemeriksaan Barang Bukti 10. Untuk memperkuat argumentasinya jaksa penuntut umum memperlihatkan barang bukti di persidangan kepada majelis hakim. Selanjutnya 11. Hakim menanyakan kembali kepada terdakwa atau saksi mengenai barang bukti tersebut. Untuk itu hakim dapat memanggil jaksa penuntut umum, penasihat

hukum, terdakwa atau saksi untuk maju kemuka sidang atau didepan majelis hakim dan memperlihatkan barnag bukti tersbut. Pemeriksaan Terdakwa 12. Hakim mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada terdakwa 13. Selanjutnya, pertanyaan diajukan oleh jaksa penuntut umum kepada terdakwa setelah dipersilahkan oleh hakim 14. Setelah jaksa penuntut umum selesai mengajukan pertanyaan, selanjutnya penasihat hukum mengajukan pertanyaan kepada terdakwa. 15. Setelah seluruh proses pembuktian pembuktian telah dilakukan. Hakim menanyakan kepada jaksa penuntut umum untuk membacakan tuntutannya 16. Sidang ditunda. Catatan a. Pada pemeriksaan saksi (saksi yang diajukan oleh penuntut umum) pertanyaan pertama diajukan oleh ketua majelis hakim dilanjutkan oleh hakim anggota, selanjutnya oleh jaksa penuntut umum lalu penasihat hukum. b. Pada pemeriksaan saksi (saksi yang diajukan oleh penasihat hokum) pertanyaan pertama diajukan oleh ketua majelis hakim dilanjutkan oleh hakim anggota, selanjutnya oleh penasihat hukum lalu jaksa penuntut umum. c. Saksi yang diajukan jaksa penuntut umum adalah saksi yang memberatkan terdakwa saksi ini lazimnya disebut saksi a charge d. Saksi yang diajukan oleh penasihat hukum adalah saksi yang meringankan terdakwa, saksi ini lazimnya disebut saksi a de charge

VII. Sidang Ketujuh. PEMBACAAN TUNTUTAN JAKSA PENUNTUT UMUM (Requisitoir) Pada hari sidang yang telah ditentukan untuk pembacaan tuntutan jaksa, para pihak baik jaksa penuntut umum maupun terdakwa sudah harus berada dalam ruang sidang. Prosesnya sebagai berikut: 1. Hakim Ketua Majelis membuka sidang dan menyatakan sidang terbuka untuk umum. 2. Terdakwa sudah berada di dalam ruang sidang untuk mendengarkan tuntutan jaksa. 3. Selanjutnya hakim meminta jaksa penuntut umum untuk membacakan tuntutannya 4. Jaksa penuntut umum membacakan tuntutannya. Selanjutnya. 5. Ketua majelis hakim menanyakan kepada penasihat hukum, apakah akan mengajukan pembelaan. Selanjutnya 6. Sidang ditunda VIII. Sidang kedelapan PEMBACAAN PEMBELAAN (Pleidooi) Pembacaan pleidoi atau pidato pembelaan dalam perkara pidana muncul setelah ada tututan pidana (requisitor) dari penuntut umum. Hal ini terlihat dari pasal 182 KUHAP yang menyatakan setelah pemeriksaan dinyatakan selesai, penuntut umum mengajukan tuntutan pidana; selanjutnya terdakwa atau penasihat hukum mengajukan pembelaan. Proses ini tergambar seperti berikut : 1. Ketua majelis hakim membuka sidang dan menyatakan sidang terbuka untuk umum. 2. Terdakwa berada dalam ruang sidang. Selanjutnya 3. Ketua majelis hakim mempersilahkan penasihat hukum untuk membacakan pembelaannya. Dilanjutkan dengan pembacaan pembelaan oleh penasihat hukum. Selanjutnya, 4. Ketua majelis hakim menanyakan kepada jaksa penuntut umum apakah akan mengajukan tanggapan (Replik) atas pembelaan penasihat hukum. Selanjutnya 5. Ketua Majelis hakim menyatakan sidang ditunda IX. Sidang Kesembilan TANGGAPAN JAKSA PENUNTUT UMUM (REPLIK) terhadap pleidooi penasihat hukum Pada sidang ini jaksa membacakan tanggapannya terhadap pleidooi dari penasihat hukum. Proses persidangan pembacaan replik ini sebagai berikut : 1. Ketua majelis hakim membuka sidang dan menyatakan sidang terbuka untuk umum, 2. Terdakwa terlihat hadir dalam ruang persidangan. Selanjutnya 3. Ketua majelis hakim mempersilahkan jaksa penuntut umum membacakan Repliknya. Selanjutnya 4. Ketua majelis hakim menanyakan kepada penasihat hokum apakah akan mengajukan Duplik 5. Ketua Majelis hakim menyatakan sidang ditunda

X. Sidang Kesembilan TANGGAPAN PENASIHAT HUKUM (DUPLIK) terhadap replik jaksa penuntut umum Ketentuan untuk proses jawab menjawab menempatkan terdakwa atau penasihat hukum selalu pada giliran terakhir. Untuk proses persidangan pembacaan duplik sebagai berikut: 1. Ketua majelis hakim membuka sidang dan menyatakan sidang terbuka untuk umum. 2. Terdakwa hadir di dalam persidangan. Selanjutnya 3. Ketua majelis hakim mempersilahkan penasihat hokum membacakan Dupliknya 4. Ketua majelis hakim menyatakan sidang ditunda untuk pembacaan Putusan XI. Sidang Kesembilan PEMBACAAN PUTUSAN Setelah seluruh proses acara diatas selesai ketua majelis hakim menyatakan pemeriksaan dinyatakan ditutup, dengan ketentuan dapat dibuka sekali lagi atas kewenangan hakim ketua sidang maupuin atas permintaan penuntut umum, terdakwa atau penasihat hukum dengan memberikan alasan. Sesudah itu hakim mengadakan musyawarah terakhir untuk mengambil keputusan. Keputusan pengadilan dapat dijatuhkan dan diumumkan pada hari itu juga atau pada hari lain yang sebelumnya ada pemberitahuan kepada penuntut umum terdakwa atau penasihat hukum. Proses sidang selengkapnya pada saat pembacaan putusan hakim sebagai berikut : 1. Ketua majelis hakim membuka sidang dan menyatakan sidang terbuka untuk umum. 2. Terdakwa hadir dalam persidangan untuk mendengarkan putusan hakim. Selanjutnya ketua majelis hakim menanyakan kesehatan terdakwa dan menanyakan apakah terdakwa siap untuk mengikuti persidangan pembacaan putusan. Jika terdakwa tidak hadir, maka ketua majelis hakim menanyakan alas an ketidak hadiran terdakwa, jika alasannya dapat diterima hakim ketua sidang menunda persidangan 3. Pembacaan putusan hakim 4. Ketua majelis hakim menanyakan kepada terdakwa, apakah mengerti dengan isi putusan. 5. Hakim menanyakan apakan para pihak akan mengajukan upaya hukum Catatan Isi putusan hakim terdiri dari : 1. Kepala putusan bertuliskan “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” 2. Memuat identitas terdakwa 3. Memuat surat dakwaan

4. Memuat pertimbangan hukum 5. Memuat vonis 6. Memuat hari dan tanggal diadakannya rapat musyawarah Majelis

Setelah terdakwa menerima vonis atau putusan hakim, ia masih memiliki upaya hukum. Terdapat dua upaya macam hukum yang dapat ditempuh oleh terdakwa, yaitu: 1. Upaya Hukum Biasa Upaya hukum ini terdiri atas tiga upaya, yaitu: a. banding, yaitu upaya hukum yang dapat diajukan baik oleh terdakwa maupun Penuntut Umum apabila merasa tidak puas terhadap putusan pengadilan tingkat I. Permohonan banding ini diajukan ke pengadilan tinggi dalam jangka waktu tujuh hari setelah putusan dibacakan apabila terdakwa hadir, ataupun tujuh hari setelah putusan diberitahukan secara resmi kepada terdakwa apabila terdakwa tidak hadir (pasal 233 KUHAP) b. Kasasi, upaya hukum yang diajukan terdakwa maupun Penuntut Umum apabila tidak puas terhadap putusan pengadilan pada Tingkat II, melalui pengadilan tingkat pertama (PN) yang mengadili perkara tersebut. Permohonan kasasi diajukan dalam jangka waktu 14 hari setalah putusan dibacakan apabila terdakwa hadir, atau 14 hari setelah putusan diberitahukan secara resmi kepada terdakwa apabila terdakwa tidak hadir (pasal 245 KUHAP). Pihak yang mengajukan kasasi wajib menyerahkan Memori Kasasi dalam jangka waktu 14 hari setalah permohonan kasasi diiterima oleh Mahkamah Agung (pasal 248 KUHAP). Apabila jangka waktu tersebut tidak dipenuhi, maka hak untuk mengajukan permohonan kasasi tersebut gugur. c. Perlawanan (verzet) Perlawanan ini diajukan oleh terdakwa dan terbagi atas dua macam, yaitu: o Perlawanan terhadap putusan hakim yang bersifat penetapan, maka perlawanan tersebut diajukan ke Pengadilan Tinggi (pasal 156 KUHAP) o Perlawanan terhadap putusan verstek. Perlawanan ini diajukan terdakwa apabila pada sidang pertama hakim menjatuhkan putusan tanpa kehadiran terdakwa. Perlawanan ini diajukan oleh terdakwa ke Pengadilan negeri yang mengadili perkara tersebut (pasal 214 KUHAP). Upaya Hukum Luar Biasa

2.

Upaya hukum ini dilakukan terhadap suatu putusan hakim yang telah berkekuatan hukum tetap. Upaya hukum luar biasa ini terbagi atas dua macam, yaitu: a. Peninjauan Kembali (PK) Upaya hukum ini hanya dapat diajukan oleh terpidana atau ahli waris dari terpidana. Selain itu, PK ini hanya dapat dilaksanakan terhadap putusan hakim yang bersifat menghukum. Menurut pasal 263 ayat 2 KUHAP, alasan untuk mengajukan PK adalah · Apabila terdapat keadaan baru yang menimbulkan dugaan kuat, bahwa jika keadaan itu sudah diketahui pada waktu sidang masih berlangsung, hasilnya akan berupa putusan bebas atau putusan lepas dari seghala tuntutan hukum atau tuntutan penuntut umum tidak dapat diterima atau terhadap perkara itu diterapkan ketentuan pidana yang lebih ringan. · Apabila dalam pelbagai putusan terdapat pernyataan bahwa sesuatu telah terbukti, akan tetapi hal atau keadaan sebagai dasar dan alasan putusan yang dinyatakan telah terbukti itu, ternyata telah bertentangan satu dengan yang lain. · Apabila putusan itu dengan jelas memperlihatkan suatu kekhilafan hakim atau suatu kekeliruan yang nyata b. Kasasi Demi Kepentingan Hukum (KDKH) Upaya hukum ini hanya dapat dilakukan oleh Jaksa Agung. Tujuan dari upaya hukum ini adalah hanya untuk memperbaiki redaksional tertentu dari putusan dan pertimbangan hukum yang tidak tepat, agar tidak terdapat kasalahan penahanan dikemudian hari. Isi putusan tidak boleh bertentangan dengan kepentingan.

Hukum Acara Peradilan Tatausaha Negara Hukum Acara Peradilan Agama Hukum Acara Peradilan Anak

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->