P. 1
137 Teknik Survei Dan Pemetaan-Jilid_1

137 Teknik Survei Dan Pemetaan-Jilid_1

|Views: 950|Likes:
Published by Rizky Riz

More info:

Published by: Rizky Riz on Sep 12, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/24/2013

pdf

text

original

Sections

  • 1. Pengantar Surveidan Pemetaan
  • 1.5 Pengukuran titik-titik detail
  • 2.2 Kesalahan sistematis
  • 2.4 Kesalahan besar
  • 2.3 Kesalahan acak
  • 3.3 Pengukuran trigonometris
  • 3.4 Pengukuran barometris
  • kerangka dasar vertikal :
  • 5.4. Menentukan Sudut Jurusan

Iskandar Muda

TEKNIK SURVEI DAN PEMETAAN
JILID 1 SMK

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional

Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional Dilindungi Undang-undang

TEKNIK SURVEI DAN PEMETAAN
JILID 1
Untuk SMK
Penulis : Iskandar Muda

Perancang Kulit

: TIM

Ukuran Buku

:

17,6 x 25 cm

MUD t

MUDA, Iskandar. Teknik Survei dan Pemetaan Jilid 1 untuk SMK oleh Iskandar Muda ---- Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, 2008. x, 173 hlm Daftar Pustaka : Lampiran. A Glosarium : Lampiran. B Daftar Tabel : Lampiran. C Daftar Gambar : Lampiran. D ISBN : 978-979-060-151-2 ISBN : 978-979-060-152-9

Diterbitkan oleh

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional

Tahun 2008

KATA SAMBUTAN
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia Nya, Pemerintah, dalam hal ini, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional, telah melaksanakan kegiatan penulisan buku kejuruan sebagai bentuk dari kegiatan pembelian hak cipta buku teks pelajaran kejuruan bagi siswa SMK. Karena buku-buku pelajaran kejuruan sangat sulit di dapatkan di pasaran. Buku teks pelajaran ini telah melalui proses penilaian oleh Badan Standar Nasional Pendidikan sebagai buku teks pelajaran untuk SMK dan telah dinyatakan memenuhi syarat kelayakan untuk digunakan dalam proses pembelajaran melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 45 Tahun 2008 tanggal 15 Agustus 2008. Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh penulis yang telah berkenan mengalihkan hak cipta karyanya kepada Departemen Pendidikan Nasional untuk digunakan secara luas oleh para pendidik dan peserta didik SMK. Buku teks pelajaran yang telah dialihkan hak ciptanya kepada Departemen Pendidikan Nasional ini, dapat diunduh (download), digandakan, dicetak, dialihmediakan, atau difotokopi oleh masyarakat. Namun untuk penggandaan yang bersifat komersial harga penjualannya harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Dengan ditayangkan soft copy ini diharapkan akan lebih memudahkan bagi masyarakat khsusnya para pendidik dan peserta didik SMK di seluruh Indonesia maupun sekolah Indonesia yang berada d luar negeri untuk i mengakses dan memanfaatkannya sebagai sumber belajar. Kami berharap, semua pihak dapat mendukung kebijakan ini. Kepada para peserta didik kami ucapkan selamat belajar dan semoga dapat memanfaatkan buku ini sebaik-baiknya. Kami menyadari bahwa buku ini masih perlu ditingkatkan mutunya. Oleh karena itu, saran dan kritik sangat kami harapkan.

Jakarta, 17 Agustus 2008 Direktur Pembinaan SMK

.

H. construction.Dr. Sesuai dengan pepatah “Tiada Gading yang Tak Retak”. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. investigation. atas perhatian dan bantuannya pada proposal buku teks yang penulis buat. Buku teks “Teknik Survei dan Pemetaan” ini dibuat berdasarkan penelitian-penelitian yang pernah dibuat. design.iv PENGANTAR PENULIS Penulis mengucapkan puji syukur ke Hadirat Allah SWT karena atas ridho-Nya buku teks “Teknik Survei dan Pemetaan” dapat diselesaikan dengan baik. Kepada Yth. Ilmu Ukur Tanah termasuk dalam tahap studi penyuluhan (survey) untuk memperoleh informasi spasial (keruangan) berupa informasi kerangka dasar horizontal. selaku Dekan Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung. Sunaryo Kartadinata. selaku Rektor Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung. vertikal dan titik-titik detail yang produk akhirnya berupa peta situasi.Pd. Sabri. silabus mata kuliah Ilmu Ukur Tanah untuk mahasiswa S1 Pendidikan Teknik Sipil dan D3 Teknik Sipil FPTK UPI serta referensi-referensi yang dibuat oleh penulis dalam dan luar negeri. Tahap-tahap pembangunan dalam bidang teknik sipil dikenal dengan istilah SIDCOM (survey. penulis merasa masih banyak kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam proposal buku teks ini. operation and mantainance). . Penulis mengucapkan terima kasih : 1. Drs. Kepada Yth. Amin. Semoga Allah SWT juga mencatat kegiatan ini sebagai bagian dari ibadah kepada-Nya. Semoga proposal buku teks ini dapat bermanfaat bagi para pembaca umumnya dan penulis khususnya serta memperkaya khasanah buku teks bidang teknik sipil di perguruan tinggi (akademi dan universitas). Buku teks ini dibuat juga sebagai bentuk partisipasi pada Program Hibah Penulisan Buku Teks 2006 yang dikoordinir oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat. M. Oleh sebab itu saran-saran yang membangun sangat penulis harapkan dari para pembaca agar buku teks yang penulis buat dapat terwujud dengan lebih baik di masa depan. Prof. Penulis. baik substansial maupun redaksional. 2.

.

Azimuth dan Sudut Jurusan 7.3. Proyeksi Peta 5.1. Pengukuran Sipat Datar Optis 3.1.4.1.4.3.5. Penggambaran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal 96 104 105 5.4. Menentukan Sudut Jurusan 6.3.2. Teori Kesalahan 2.1.1.2. Prosedur Pengikatan Ke muka 7.5. Pengolahan Data Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal 4. Pengantar Survei dan Pemetaan 1. Tujuan Pengikatan ke Muka 7.2. Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal 91 4.3. Jarak. Konversi Besaran Sudut 6. Tujuan dan Sasaran Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal 4.4.3. Pengolahan Data Pengikatan Kemuka 8. Pengukuran Trigonometris 3. Pengukuran Barometris iv v viii ix 1 4. Pengolahan Data Pengikatan ke Belakang Metode Collins 8.2.3. Pengukuran Kerangka Dasar Vertikal 1. Pengukuran Titik-Titik Detail 2. Besaran Sudut dari Lapangan 6. Peralatan. Peralatan. Macam Besaran Sudut 6.1.4. bahan.5.4. Prosedur Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal 4.1. Macam Besaran Sudut 6.2.v DAFTAR ISI Lembar Pengesahan Kata Sambutan Pengantar Penulis Daftar Isi Deskripsi Konsep Peta Kompetensi 1. Pekerjaan Survei dan Pemetaan 1.4. Kesalahan Sistematis 2. Cara Pengikatan ke Belakang Metode Collins 193 196 201 203 207 61 61 61 79 82 213 4. Pengukuran Kerangka Dasar Horizontal 1.3.2. Aturan Kuadran 5. Pengukuran Kerangka Dasar Vertikal 3.2. Azimuth dan Pengikatan ke Muka 193 26 46 50 50 7. Kesalahan Acak 2. Sistem Koordinat 5. dan formulir 91 8. Aturan Kuadran dan Sistem Kordinat 121 5.3. Proyeksi Peta. Kesalahan-Kesalahan pada Survei dan Pemetaan 2. Pengertian 3.2. Tujuan Cara Pengikatan ke Belakang Metode Collins 8.4. Penggambaran Pengikatan ke Belakang Metode Collins 215 216 221 233 pengukuran sipat datar kerangka dasar vertikal 92 . Bahan dan Prosedur Pengikatan ke Belakang Metode Collins 8. Plan Surveying dan Geodetic Surveying 1.1. Kesalahan Besar 3. Pengukuran Sudut 121 137 138 140 145 145 145 146 163 1 5 6 11 18 26 7. Jarak Pada Survei dan Pemetaan 7.

4.Cara Menentukan Posisi. Pemetaan Digital 15.1. Interval Kontur dan Indeks Kontur 13. Keunggulan Pemetaan Digital Dibanding Pemetaan Konvensional 15.2. Pengolahan Data Pengukuran Tachymetri 367 12.4. Tujuan Pengukuran Titik-Titik Detail Metode Tachymetri 345 12.4.2.1. Galian dan Timbunan 418 14.13 Pengenalan Surfer 14.1. Kemiringan Tanah dan Kontur Gradient 13. Cara Pengikatan ke Belakang Metode Cassini 239 9. Perhitungan Luas 11.2.4.5. Bentuk-Bentuk Lembah dan Pegunungan dalam Garis Kontur 13. Peralatan. Perhitungan Garis Kontur 13. Sifat dan Interpolasinya 13.2.3. Bagian-Bagian Pemetaan Digital 15.1. Perhitungan Galian dan Timbunan 387 387 388 390 391 391 240 241 246 253 259 393 395 396 396 397 399 259 261 271 279 282 313 313 401 402 417 338 12. Pengolahan Data Galian dan Timbunan 430 14.vi 9.3.3.3.10.5. Pengukuran Titik-titik Detail Metode Tachymetri 345 12.6.2. Bahan dan Prosedur Pengikatan ke Belakang Metode Cassini 9.8. Metode-Metode Perhitungan Galian dan Timbunan 418 14.2. Penggambaran Hasil Pengukuran Tachymetri 368 14.11. Tujuan Pengikatan ke Belakang Metode Cassini 9.2. Bahan dan Prosedur Pengukuran Titik Titik Detail Metode Tachymetri 359 12. Perhitungan Galian dan Timbunan 432 14. Interpolasi Garis Kontur 13. Peralatan. Sifat Garis Kontur 13.5. Prinsip Dasar Penentuan Volume 13.1.4. Pencetakan Peta dengan Kaidah Kartografi 445 445 445 446 450 473 . Peralatan. Kegunaan Garis Kontur 13.5. Peralatan. Penggambaran Pengikatan ke Belakang Metode Cassini 10. Perubahan Letak Garis Kontur di Tepi Pantai 13.4.12. Tujuan Perhitungan Galian dan Timbunan 417 14.7. Pengolahan Data Pengikatan ke Belakang Metode Cassini 9.3. Pengertian Garis Kontur 13. Pengolahan Data Poligon 10. Garis Kontur. Prosedur Pengukuran Luas dengan Perangkat Lunak AutoCAD 13.9. Pengukuran Poligon Kerangka Dasar Horisontal 10. Cross Bearing dan Metode Penggambaran 13. Metode-Metode Pengukuran 11.1.3. Penggambaran Galian dan Timbunan 439 15. Pengertian Pemetaan Digital 15. Penentuan dan Pengukuran Titik Detail untuk Pembuatan Garis Kontur 13. Bahan dan Prosedur Pengukuran Poligon 10.1. Tujuan Pengukuran Poligon Kerangka Dasar Horizontal 10. Penggambaran Poligon 11.6. Jenis-Jenis Poligon 10. Bahan dan Prosedur Pemetaan Digital 15.

Glosarium C. Bahan dan Prosedur Pembangunan SIG 16.2.1.vii 16. DAFTAR TABEL D.4. Keuntungan Sistem Informasi Geografis 16.5.3. Sistem Informasi Geografis 481 16. Pengertian Dasar Sistem Informasi Geografis 16. Jenis-Jenis Analisis Spasial dengan SIG dan Aplikasinya pada Berbagai Sektor Pembangunan LAMPIRAN A. Daftar Pustaka B. Komponen Utama SIG 16. Peralatan. DAFTAR GAMBAR 481 481 486 491 500 .

.

dapat melakukan pengukuran sipat datar. perhitungan luas. polygon dan tachymetry serta pembuatan peta situasi. diharapkan peserta diklat mampu mengoperasikan alat ukur waterpass dan theodolite. aplikasi teori kesalahan pada pengukuran dan pemetaan. metode pengukuran titik detail. Buku ini tidak hanya menyajikan teori semata.viii DESKRIPSI Buku Teknik Survei dan Pemetaan ini menjelaskan ruang lingkup Ilmu ukur tanah. metode pengukuran kerangka dasar vertikal dan horisontal. Selain itu. galian dan timbunan. Sehingga. pemetaan digital dan sistem informasi geografis. dibahas tentang perkenalan ilmu ukur tanah. akan tetapi buku ini dilengkapi dengan penduan untuk melakukan praktikum pekerjaan dasar survei. pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan pada Ilmu Ukur tanah untuk kepentingan studi kelayakan. . konstruksi dan operasional pekerjaan teknik sipil. perencanaan.

.

b. pengukuran sipat datar kerangka dasar vertikal Memahami prosedur pengukuran sipat datar kerangka dasar vertikal Dapat mengolah data sipat datar kerangka dasar vertikal Dapat menggambaran sipat datar kerangka dasar vertikal No 1 Sub Kompetensi Pengantar survei dan pemetaan a. c. kemudian mengolah data bahan dan formulir dan menggambarkannya.ix PETA KOMPETENSI Program diklat Tingkat Alokasi Waktu Kompetensi : : : : Pekerjaan Dasar Survei x (sepuluh) 120 Jam pelajaran Melaksanakan Dasar-dasar Pekerjaan Survei Pembelajaran Pengetahuan Keterampilan Memahami ruang lingkup plan Menggambarkan diagram alur ruang lingkup pekerjaan surveying dan geodetic survei dan pemetaan Memahami ruang lingkup pekerjaan survey dan pemetaan Memahami pengukuran kerangka dasar vertikal Memahami Pengukuran kerangka dasar horisontal Memahami Pengukuran titiktitik detail Mengidentifikasi kesalahankesalahan pada pekerjaan survey dan pemetaan Mengidentifikasi kesalahan sistematis (systematic error) Mengidentifikasi Kesalahan Acak (random error) Mengidentifikasi Kesalahan Besar (random error) Mengeliminasi Kesalahan Sistematis Mengeliminasi Kesalahan Acak Dapat melakukan Memahami penggunaan sipat pengukuran kerangka dasar datar kerangka dasar vertikal vertikal dengan Memahami penggunaan menggunakan sipat datar. 2 Teori Kesalahan a. b. 4 Pengukuran sipat dasar kerangka dasar vertikal a. c. c. d. f. c. trigonometris trigonometris dan Memahami penggunaan barometris. d. b. . d. e. e. barometris Dapat melakukan Memahami tujuan dan pengukuran kerangka dasar sasaran pengukuran sipat vertikal dengan datar kerangka dasar vertikal menggunakan sipat datar Mempersiapkan peralatan. 3 Pengukuran kerangka dasar vertikal a. b.

Memahami pengertian jarak pada survey dan pemetaan b. Penggambaran Pengikatan ke Belakang Metode Collins a. d. Memahami azimuth dan sudut jurusan c. Memahami penggambaran pengikatan ke muka a. Tujuan Pengikatan ke Belakang Metode Collins b. aturan kuadran dan sisten koordinat dan sistem koordinat Memahami jenis-jenis proyeksi peta dan aplikasinya Memahami aturan kuadran geometrik dan trigonometrik Memahami sistem koordinat ruang dan bidang Memahami orientasi survei dan pemetaan serta aturan kuadran geometrik Mengaplikasikan besaran Mengetahui macam besaran sudut dilapangan untuk sudut pengolahan data. b. azimuth dan pengikatan kemuka a. Pengolahan Data Pengikatan ke Belakang Metoda Collins d. Memahami besaran sudut dari lapangan Dapat melakukan konversi besaran sudut Memahami besaran sudut untuk pengolahan data Mengukur jarak baik dengan alat sederhana maupun dengan pengikatan ke muka. Mempersiapkan peralatan. 6 Macam besaran sudut a. 9 Cara pengikatan ke belakang metode Cassini Mencari koordinat dengan metode Cassini. c. Pembelajaran Pengetahuan Keterampilan Membuat Proyeksi peta Memahami pengertian berdasarkan aturan kuadran proyeksi peta. 7 Jarak. Mempersiapkan peralatan. b. aturan kuadran dan sistem koordinat a. Bahan dan Prosedur Pengikatan ke Belakang Metode Collins c. Peralatan. Memahami tujuan pengikatan ke muka d. . c. Memahami penggambaran pengikatan ke belakang metode cassini 8 Cara pengikatan ke belakang metode collins Mencari koordinat dengan metode Collins. Memahami pengolahan data pengikatan ke muka f. bahan dan prosedur pengikatan ke muka e.x No 5 Sub Kompetensi Proyeksi peta. Memahami tujuan pengikatan ke belakang metode cassini b. e. bahan dan prosedur pengikatan ke belakang metode cassini c. d. Memahami pengolahan data pengikatan ke belakang metoda cassini d.

xi

No 10

Sub Kompetensi Pengukuran poligon kerangka dasar horisontal a. b. c. d. e. f.

11

Pengukuran luas

a. b. c. d.

12

Pengukuran titik-titik detail

a. b. c. d.

Pembelajaran Pengetahuan Keterampilan Dapat melakukan Memahami tujuan pengukuran kerangka dasar pengukuran poligon horisontal (poligon). Memahami kerangka dasar horisontal Mengetahui jenis-jenis poligon Mempersiapkan peralatan, bahan dan prosedur pengukuran poligon Memahami pengolahan data pengukuran poligon Memahami penggambaran poligon Menghitung luas Menyebutkan metode-metode bedasarkan hasil dilapangan pengukuran luas dengan metoda saruss, Memahami prosedur planimeter dan autocad. pengukuran luas dengan metode sarrus Memahami prosedur pengukuran luas dengan planimeter Memahami prosedur pengukuran luas dengan autocad Melakukan pengukuran titikMemahami tujuan titik dtail metode tachymetri. pengukuran titik-titik detail metode tachymetri Mempersiapkan peralatan, bahan dan prosedur pengukuran tachymetri Memahami pengolahan data pengukuran tachymetri Memahami penggambaran hasil pengukuran tachymetri Membuat garis kontur berdasarkan data yang diperoleh di lapangan.

13

Garis kontur, sifat dan interpolasinya

a. Memahami pengertian garis kontur b. Menyebutkan sifat-sifat garis kontur c. Mengetahui cara penarikan garis kontur d. Mengetahui prosedur penggambaran garis kontur e. Memahami penggunaan perangkat lunak surfer a. Memahami tujuan perhitungan galian dan timbunan b. Memahami metode-metode perhitungan galian dan timbunan c. Memahami pengolahan data galian dan timbunan d. Mengetahui cara penggambaran galian dan timbunan

14

Perhitungan galian dan timbunan

Menghitung galian dan timbunan.

xii

No 15

Sub Kompetensi Pemetaan digital a. b.

c. d. 16 Sisitem informasi geografik a. b.

c.

d.

Pembelajaran Pengetahuan Memahami pengertian pemetaan digital Mengetahui keunggulan pemetaan digital dibandingkan pemetaan konvensional Memahami perangkat keras dan perangkat lunak pemetaan digital Memahami pencetakan peta dengan kaidah kartografi Memahami pengertian sistem informasi geografik Memahami keunggulan sistem informasi geografik dibandingkan pemetaan digital perangkat keras dan perangkat lunak sistem informasi geografik Mempersiapkan peralatan, bahan dan prosedur pembangunan sistem informasi geografik Memahami jenis-jenis analisis spasial dengan sistem informasi geografik dan aplikasinya pada berbagai sektor pembangunan

Keterampilan

1
1 Pengantar Survei dan Pemetaan

1. Pengantar Survei dan Pemetaan
permukaan bumi baik unsur alam maupun

1.1 Plan surveying dan geodetic surveying

unsur buatan manusia pada bidang yang dianggap datar. Plan surveying di batasi oleh daerah yang sempit yaitu berkisar

llmu ukur tanah merupakan bagian rendah dari ilmu yang lebih luas yang dinamakan ilmu Geodesi. Ilmu Geodesi mempunyai dua maksud : a. Maksud ilmiah : menentukan bentuk permukaan bumi b. Maksud praktis : membuat bayangan yang dinamakan peta dari sebagian besar atau sebagian kecil permukaan bumi. Pada maksud kedua inilah yang sering disebut dengan istilah pemetaan.

antara 0.5 derajat x 0.5 derajat atau 55 km x 55 km.

Plan Surveying Geodesi

Geodetic Survaying

Bentuk bumi merupakan pusat kajian dan perhatian dalam Ilmu ukur tanah. Proses penggambaran permukaan bumi secara fisiknya adalah berupa bola yang tidak beraturan bentuknya dan mendekati bentuk sebuah jeruk. Hal tersebut terbukti dengan adanya pegunungan, Lereng-lereng, dan

Pengukuran dan pemetaan pada dasarnya dapat dibagi 2, yaitu : • • Geodetic Surveying Plan Surveying prinsip dari dua jenis

jurang jurang. Karena bentuknya yang tidak beraturan maka diperlukan suatu bidang matematis. Para pakar kebumian yang ingin menyajikan informasi tentang bentuk bumi, mengalami kesulitan karena bentuknya

Perbedaan

pengukuran dan pemetaan di atas adalah : Geodetic surveying suatu pengukuran

untuk menggambarkan permukaan bumi pada bidang melengkung/ellipsoida/bola. Geodetic Surveying adalah llmu, seni,

yang tidak beraturan ini, oleh sebab itu, mereka berusaha mencari bentuk sistematis yang dapat mendekati bentuk bumi. Awalnya para ahli memilih bentuk bola sebagai bentuk bumi. Namum pada

teknologi untuk menyajikan informasi bentuk kelengkungan keiengkungan bumi bola. atau Sedangkan pada plan

hakekatnya,

bentuk

bumi

mengalami

Surveying adalah merupakan llmu seni, dan teknologi untuk menyajikan bentuk

pemepatan pada bagian kutub-kutubnya, hal ini terlihat dari Fenomena lebih

078 m. ellipsoide ini di dapat dengan memutar suatu ellips dengan sumbu kecilnya sebagai sumbu putar a = 6377.bilangan yang penting mengenai bentuk bumi yang banyak menghubungkan kutub utara dan sumbu kutub selatan yang merupakan sedangkan sumbu poros sumbu yang perputaran panjangnya bumi. Anggapan bumi Bentuk bola Bentuk Ellipsoidal Bidang Ellipsoide adalah bila luas daerah lebih besar dari 5500 Km . Bidang datar a2 − b2 a2 . Bilangan . Jari-jari bulatan ini dipilih sedemikian. 2 Sumbu panjang ellipsoid a Sumbu panjang ellipsoid b Angka pergepengan x = a−b a 1 a = x a−b Yang banyak dipakai adalah Eksentrisitas kesatu e2 = sehingga bulatan menyinggung permukaan bumi di titik tengah daerah.397. bahwa bentuk bumi itu dapat dianggap terjadi sebagai bentuk ruang suatu yang ellips dengan memutar pendeknya suatu dengan sumbu kecilnya sebagai sumbu putar. digunakan dalam ilmu geodesi adalah : adalah menghubungkan equator dengan equator yang lain dipermukaan sebaliknya. Bidang bulatan adalah elips dari Bessel mempunyai sumbu kurang dari 100 km. Terbukti.2 1 Pengantar Survei dan Pemetaan panjangnya jarak lingkaran pada bagian equator di bandingkan dengan jarak pada lingkaran yang melalui kutub utara dan kutub selatan dan akhirnya para ahli memilih Ellipsoidal atau yang dinamakan ellips yang berputar adalah dimana sumbu sumbu yang adalah bila daerah mempunyai ukuran terbesar tidak melebihi 55 km (kira-kira 10 jam jalan). Bentuk jeruk Gambar 1. dan sumbu kecil b = 6356.

.739.605.rata pertama dan eksentrisitet kedua. eksentrisitet ellipsoidal/ 1 = 298. dan diterimanya dengan dimensi : a = 6. Q31.725. 56 e'2 = 0.G) Pada Sidang Umum International Union of Geodesy and Geophysics. pemepatan yaitu atau penggepengan untuk Assosiation Geodesy (l. 32 • sebagai parameter bentuk menentukan ellips.116660. 5161 m e2 = 0. b adalah setengah sumbu pendek atau jari-jari kutub.A.000 m b = 6.371.427 x R rata .37788. 006.356.3 1 Pengantar Survei dan Pemetaan a2 − b2 Eksentrisitas kedua e = b2 ’2 Salah satu hal yang harus diperhatikan berkaitan dengan ellipsoidal bumi adalah bahwa • • • ellipsoide bumi itu mempunyai Ellipsoid Bumi Internasional yang terakhir diusulkan International pada tahun 1967 of oleh: komponen – komponen sebagai berikut : a adalah sumbu setengah pendek atau jari-jari equator. Ellipsoidal bumi . 006.329. = 2a + b = 6.694. 5Q54 m 3 Gambar 2.247.182.167.774.

maka dinamakan proyeksi equivalent.4 1 Pengantar Survei dan Pemetaan Keterangan : 0 = pusat bumi (pusat ellipsoide bumi) Ku = Kutub Utara bumi Ks = Kutub selatan bumi EK = ekuator bumi Untuk skala yang lebih luas. Lingkar paralel berharga positif ke utara hingga 90° pada titik kutub utara dan sebaliknya negatif ke selatan hingga -900 pada titik kutub selatan. Oleh sebab itu. Asumsi bumi datar hanya dapat diterapkan sejauh kesalahan jarak dan sudut yang terjadi akibat efek Bentuk bumi yang (agak asli tidaklah bulat lonjong) namun sempurna pendekatan bumi sebagai bola sempurna masih cukup relevan untuk sebagian besar kebutuhan. Lingkar meridian adalah lingkaran yang sejajar dengan dinamakan azimuthal dan zenithal. . yaitu : • Bidang sendiri • proyeksi atau bidang datarnya perantara disebut lingkaran equator. Dari bidang perantara ini ada aspek geometric dari permukaan bumi matematis itu ke bidang datar berhubungan dengan luas. yaitu longituda 00. Bidang proyeksi ini terbagi dalam tiga jenis. berhubungan dengan jarak (jarak di internasional. Bidang perantara yang berbentuk sumbu bumi dan memotong tegak lurus bidang equator. asumsi ini tidak dapat diterapkan mengingat pada kenyataannya permukaan bumi berbentuk lengkungan bola. Kedua garis ini membagi belahan bumi menjadi belahan barat dan belahan timur. Lingkar paralel adalah lingkaran yang memotong tegak lurus terhadap sumbu putar bumi. Pada kenyataannya kita ingin menyajikan permukaan bumi dalam bentuk bidang datar. bidang bola atau bidang ellipsoide yang akan dikupas pasti ada distorsi atau ada perubahan bentuk karena harus ada bagian dari bidang speroid itu yang tersebut tersobekan didekati dengan dengan kelengkungan bumi masih dapat diabaikan. Setengah garis lingkar meridian yang melalui kota Greenwich di UK (dari kutub utara ke kutub selatan) disepakati sebagai garis meridian utama. termasuk penentuan kedudukan dengan tingkat presisi yang relatif rendah. Lingkaran paralel yang tepat membagi dua belahan bumi utara-selatan yaitu lingkar paralel 0 0 kenyataan perantara bidang proyeksi. Bidang proyeksi yang menggunakan bidang perantara berbentuk silinder yang dinamakan bidang perantara cylindrical. Setengah lingkaran tepat 1800 di belakang garis meridian utama disepakati sebagai garis penanggalan • kerucut dinamakan bidang perantara conical.

Contoh aplikasi yang mempertahankan 1. dalam untuk geometric itu adalah proyeksi equivalent yaitu pemetaan yang biasanya digunakan oleh BPN. Ilmu ukur tanah pada dasarnya terdiri dari tiga bagian besar yaitu : merupakan bagian pekerjaan pengukuran dan pemetaan dari satu kesatuan paket pekerjaan perencanaan dan atau perancangan bangunan teknik sipil. Kerangka dasar pemetaan untuk pekerjaan rekayasa sipil pada kawasan yang tidak luas. Titiktitik kerangka dasar pemetaan yang akan ditentukan tebih dahulu koordinat dan ketinggiannya itu dibuat tersebar merata dengan mudah secara kerapatan dikenali baik tertentu.2 Pekerjaan survei dan pemetaan Dalam pembuatan peta yang dikenal dengan istilah pemetaan dapat dicapai dengan melakukan pengukuran- pengukuran di atas permukaan bumi yang mempunyai bentuk tidak beraturan. Sedangkan Kerangka Horizontal) tegak conform yaitu pemetaan yang digunakan untuk keperluan navigasi laut atau udara.5 1 Pengantar Survei dan Pemetaan permukaan bumi sama dengan jarak pada bidang datar dalam perbandingan skalanya) dinamakan proyeksi equidistance dan berhubungan dengan sudut (sudut permukaan bumi sama dengan sudut di bidang datar) dinamakan proyeksi conform. permanen. umumnya diterangkan di atas yaitu ada 3 jenis bidang perantara dan mempunyai 3 jenis geometric maka kita bisa menggunakan 27 kombinasi/ variasi/ altematif di untuk atas memproyeksikan titik-titik permukaan bumi pada bidang datar. sehingga bumi masih bisa dianggap sebagai bidang datar. proyeksi equidistance yaitu pemetaan yang digunakan departemen perhubungan jaringan dalam hal ini misalnya proyeksi Pengukuran-pengukuran pengukuran yang dibagi mendatar mendapat hubungan titik-titik yang diukur di atas permukaan Dasar bumi (Pengukuran dan guna jalan. Berdasarkan bidang perantara yang pengukuran-pengukuran mendapat hubungan tegak antara titik-titik yang diukur (Pengukuran Kerangka Dasar Vertikal) serta pengukuran titik-titik detail. a) Pengukuran kerangka dasar Vertikal (KDV) b) Pengukuran kerangka dasar Horizontal (KDH) c) Pengukuran Titik-titik Detail dan didokumentasikan memudahkan sehingga penggunaan selanjutnya. .

Aplikasi pekerjaan pemetaan pada bidang teknik sipil lokal.6 1 Pengantar Survei dan Pemetaan 1. Hal ini dapat dijelaskan dengan menggunakan teori perambatan kesalahan yang dapat diturunkan melalui persamaan matematis diferensial parsial. tinggi alat. dan suclut (Zenith atau Inklinasi). Peta merupakan hal yang sangat penting untuk perencanaan bangunan tersebut. benang Vertikal Dalam perencanaan bangunan Sipil misalnya perencanaan jalan raya.3 Pengukuran kerangka dasar vertikal Kerangka dasar vertikal merupakan teknik dan cara pengukuran kumpulan titik-titik yang telah diketahui atau ditentukan posisi vertikalnya berupa ketinggiannya terhadap bidang rujukan ketinggian tertentu. dengan perkataan lain bahwa pematokan merupakan kebalikan dari pemetaan. • Pengukuran Trigonometris prinsipnya adalah Mengukur jarak langsung (Jarak Miring). Staking out .titik yang ada pada peta perencanaan suatu bangunan sipil ke lapangan (permukaan bumi) dalam • tengah rambu. Bidang ketinggian rujukan ini biasanya berupa ketinggian muka air taut rata-rata (mean sea level . Untuk memindahkan titik . • Metode sipat datar prinsipnya adalah Mengukur tinggi bidik alat sipat datar optis di lapangan menggunakan rambu ukur. atau Pengukuran Barometris pada prinsipnya adalah mengukur beda tekanan atmosfer. tinggi. Gamba 4. bendung dan sebagainya. pelaksanaanya pekerjaan sipil ini dibuat dengan pematokan/ staking out.MSL) atau ditentukan Gambar 3. Metode sipat datar merupakan metode yang paling teliti dibandingkan dengan metode trigonometris dan barometris. jalan kereta api.

3. Maksud pengukuran tinggi adalah Untuk melakukan dan mendapatkan pembacaan pada mistar yang dinamakan pula Baak. Pengukuran sipat datar optis tetapi bila jarak antara titik-titik A dan B Metode sipat datar prinsipnya adalah dapat dianggap sebagai Bidang yang Mengukur tinggi bidik alat sipat datar optis di lapangan menggunakan rambu ukur.7 1 Pengantar Survei dan Pemetaan 1. maka tinggi titik B. . karena benang ini akan melengkung. Bila diingat tentang hal hal yang telah di bicarakan tentang teropong. karena pada nivo tabung dijumpai suatu garis lurus yang dapat mendatar dengan ketelitian besar. Sehingga ketelitian kerangka dasar vertikal (KDV) dinyatakan sebagai batas harga terbesar perbedaan tinggi hasil pengukuran sipat datar pergi dan pulang. Beda tinggi h diketahui antara dua titik a dan b. pengukuran beda tinggi dengan menggunakan metode sipat datar optis masih merupakan cara pengukuran beda tinggi yang paling teliti. Hingga saat ini.1. jadi tidak lurus. meskipun dari kawat. sedang tinggi titik A diketahui sama dengan Ha dan titik B lebih tinggi dari titik A. Hb = Ha + h yang diartikan dengan beda tinggi antara titik A clan titik B adalah jarak antara dua bidang pada teropong ini di dapat suatu garis lurus ialah garis bidik. mendatar. Gambar 5. Untuk garis lurus ini tidaklah mungkin seutas benang. Metode pengukuran sipat datar optis nivo yang melalui titik A dan B. diperlukan suatu garis lurus. Garis bidik ini harus di buat mendatar supaya dapat digunakan untuk menentukan beda tinggi antara dua titik. maka setelah teropong dilengkapi dengan diafragma. ingatlah pula nivo pada tabung. Umumnya bidang nivo adalah bidang yang lengkung. menentukan beda tinggi antara dua titik.

Akan tetapi ketelitian membidik kecil. Dalam pengukuran Sipat Datar Optis bisa menggunakan Alat dengan benang tengah muka.8 1 Pengantar Survei dan Pemetaan Garis lurus ini ialah tidak lain adalah garis nivo. Bila sekarang teropong di putar dengan sumbu kesatu sebagai sumbu putar dan garis bidik di arahkan ke mistar kanan. Cara menghitung tinggi garis bidik atau benang tengah dari suatu rambu dengan menggunakan alat ukur sifat datar • mendatar. teropong sehingga dipindahkan gelembung di tengah-tengah. Semua ini dipasang diatas statif. Maka garis arah nivo yang dapat mendatar dapat pula digunakan untuk tengah-tengah antara rambu belakang dan muka . Beda tinggi slag tersebut pengurangan pada benang dasarnya tengah adalah belakang mendatarkan garis bidik di dalam suatu teropong. dibuat sejajar dengan garis arah nivo. Supaya garis bidik mendatar. Hal inilah yang menjadi syarat utama untuk semua alat ukur penyipat datar. tempatkan sebuah nivo tabung diatas teropong. Rambu ukur berjumlah 2 buah masing-masing di dirikan di atas dua patok yang merupakan titik ikat jalur pengukuran alat sifat optis kemudian di letakan di tegak lurus pada sumbu kesatu. caranya. maka sudut a antara garis arah nivo dan sumbu kesatu pindah kearah kanan. atas dan bawah. Berikut ini adalah syarat-syarat untuk alat penyipat datar optis : • Garis arah nivo harus tegak lurus pada sumbu kesatu alat ukur penyipat datar. haruslah keatas. Garis bidik di dafam teropong.Alat sifat datar diatur sedemikian rupa sehingga teropong sejajar dengan nivo yaitu dengan mengetengahkan gelembung nivo. Benang mendatar diagfragma harus (waterpass). Pada pengukuran titik tinggi dengan cara menyipat datar. sehingga garis bidik yang tidak mendatar tidaklah dapat digunakan untuk pembacaan b dengan garis bidik yang mendatar. Perbaikan dari alat ini adalah mengganti pipa logam dengan slang dari karet dan dua tabung gelas di beri skala dalam mm. sehingga alat ini tidak digunakan orang lagi. bila garis arah nivo di datarkan dengan menempatkan gelembung di tengahtengah. dan ternyata garis arah nivo dan dengan sendirinya garis bidik tidak sederhana dengan spesifikasi alat penyipat datar yang sederhana terdiri atas dua tabung terdiri dari gelas yang berdiri dan di hubungkan dengan pipa logam. perlulah lebih dahulu. Setelah gelembung nivo di ketengahkan barulah di baca rambu belakang dan rambu muka yang terdiri dari bacaan benang tengah. Tabung dari gelas dan pipa penghubung dari logam di isi dengan zat cair yang berwarna. yang dicari selalu titik potong garis bidik yang mendatar dengan .

Pita ukur menghubungkan objektif dengan titik potong dua garis diafragma. Alat sipat datar . Alat-alat yang biasa digunakan dalam pengukuran kerangka dasar vertikal metode sipat datar optis adalah: • • • • • • Alat Sipat Datar Pita Ukur Rambu Ukur Statif Unting – Unting Dll Gambar 8. Rambu ukur Gambar 9. sedang diketahui bahwa garis bidik adalah garis lurus yang menghubungkan dua titik potong benang atau garis diagframa dengan titik tengah lensa objektif teropong. Garis bidik adalah Garis titik lurus tengah yang lensa Gambar 7. • Garis bidik teropong harus sejajar dengan garis arah nivo. dimana pada garis bidik pada teropong harus sejajar dengan garis arah nivo sehingga hasil dari pengukuran adalah hasil yang teliti dan tingkat kesaIahannya sangat keciI.9 1 Pengantar Survei dan Pemetaan mistar-mistar yang dipasang diatas titiktitik. Statif Gambar 6 .

10
1 Pengantar Survei dan Pemetaan

1.3.2. Metode pengukuran barometris Pengukuran Barometris pada prinsip-nya adalah mengukur beda tekanan atmosfer. Pengukuran tinggi dengan menggunakan metode barometris dilakukan dengan

dalam hal ini misalnya elevasi ± 0,00 meter permukaan air laut rata-rata. P=

f m.a = = Phg . g. H A A MV 2 R

FC = - FC = Keterangan :

menggunakan sebuah barometer sebagai alat utama.

p = massa jenis rasa air raksa (hidragirum) g = gravitasi - 9.8 mJsZ - 10 m/s2 h= tinggi suatu titik dari MSL ( Mean Sea level )

∆HAB = PA − PB = p.g a .ha − p.g b .hb = (ha − hb ) p (g a + gb ) 2

1.3.3. Metode pengukuran trigonometris

BT B

Gambar 10. Barometris
Inklinasi (i)

Seperti telah di ketahui, Barometer adalah alat pengukur tekanan udara. Di suatu tempat dengan tertentu tekanan tekanan udara udara dengan sama tebal
A

dAB

Gambar 11. Pengukuran Trigonometris d AB = dm . cos i ∆ HAB =dm. sin i + TA – TB

tertentu pula. Idealnya pencatatan di setiap titik dilakukan dalam kondisi atmosfer yang sama tetapi pengukuran tunggal hampir tidak mungkin dilakukan karena pencatatan tekanan dan temperatur udara

Pengukuran metode

kerangka

dasar pada

vertikal prinsipnya

trigonometris

adalah perolehan beda tinggi melalui jarak langsung teropong terhadap beda tinggi dengan memperhitungkan tinggi alat, sudut vertikal (zenith atau inklinasi) serta tinggi garis bidik yang diwakili oleh benang

mengandung kesalahan akibat perubahan kondisi atmosfir. penentuan beda tinggi dengan cara mengamati tekanan udara di suatu tempat lain yang dijadikan referensi

11
1 Pengantar Survei dan Pemetaan

tengah rambu ukur. Alat theodolite, target dan rambu ukur semua berada diatas titik ikat. Prinsip awal penggunaan alat

data sudut mendatar yang diukur pada skafa fingkaran yang letaknya mendatar. Bagian-bagian dari pengukuran kerangka dasar horizontal adalah : • • • • • • Metode Poligon Metode Triangulasi Metode Trilaterasi Metode kuadrilateral Metode Pengikatan ke muka Metode pengikatan ke belakang cara Collins dan cassini 1.4.1 Metode pengukuran poligon Poligon digunakan apabila titik-titik yang akan di cari koordinatnya terletak segi dan

theodolite sama dengan alat sipat datar yaitu kita harus nivo mengetengahkan dahulu baru

gelembung kemudian

terlebih

membaca

unsur-unsur

pengukuran yang lain. Jarak langsung dapat diperoleh melalui bacaan optis

benang atas dan benang bawah atau menggunakan alat pengukuran jarak

elektronis yang sering dikenal dengan nama EDM (Elektronic Distance

Measurement). Untuk menentukan beda tinggi dengan cara trigonometris di

perlukan alat pengukur sudut (Theodolit) untuk dapat mengukur sudut sudut tegak. Sudut tegak dibagi dalam dua macam, ialah sudut miring m clan sudut zenith z, sudut miring m diukur mulai ari keadaan mendatar, sedang sudut zenith z diukur mu(ai dari keadaan tegak lurus yang selalu ke arah zenith alam.

memanjang banyak

sehingga

tnernbentuk Pengukuran

(poligon).

Pemetaan Poligon merupakan salah satu pengukuran dan pemetaan kerangka dasar horizontal yang bertujuan untuk

memperoleh koordinat planimetris (X,Y) titik-titik pengukuran. Pengukuran poligon sendiri mengandung arti salah satu metode penentuan titik diantara beberapa metode

1.4 Pengukuran kerangka dasar horizontal
Untuk mendapatkan hubungan mendatar titik-titik yang diukur di atas permukaan bumi maka perlu dilakukan pengukuran mendatar yang disebut dengan istilah

penentuan titik yang lain. Untuk daerah yang relatif tidak terlalu luas, pengukuran cara poligon merupakan pilihan yang sering di gunakan, karena cara tersebut dapat dengan mudah menyesuaikan diti dengan keadaan daerah/lapangan. Penentuan

koordinat titik dengan cara poligon ini membutuhkan,

pengukuran kerangka dasar Horizontal. Jadi untuk hubungan mendatar diperlukan

12
1 Pengantar Survei dan Pemetaan

1.

Koordinat awal Bila diinginkan suatu sistem sistim koordinat tertentu,

ke

matahari

dari Dan

titik

yang

bersangkutan. dihasilkan poligon

selanjutnya kesalah satu

terhadap

azimuth tersebut

haruslah dipilih koordinat titik yang sudah diketahui misalnya: titik

dengan

ditambahkan ukuran sudut mendatar (azimuth matahari). 4. Data ukuran sudut dan jarak Sudut mendatar pada setiap stasiun dan jarak antara dua titik kontrol perlu diukur di lapangan.

triangulasi atau titik-titik tertentu yang mempunyai hubungan dengan lokasi yang akan dipatokkan. Bila dipakai system koordinat lokal pilih salah satu titik, BM kemudian beri harga

koordinat tertentu dan tititk tersebut dipakai sebagai acuan untuk titik-titik lainya. 2. Koordinat akhir Koordinat titik ini di butuhkan untuk memenuhi syarat Geometri hitungan koordinat dan tentunya harus di pilih titik yang mempunyai sistem koordinat yang sama dengan koordinat awal. 3. Azimuth awal Azimuth awal ini mutlak harus
Gambar 12. Pengukuran poligon

β2

β1
d1 d2

Data ukuran tersebut, harus bebas dari sistematis yang terdapat (ada alat ukur) sedangkan salah sistematis dari orang atau pengamat dan alam di usahakan sekecil mungkin bahkan kalau bisa di tiadakan. Berdasarkan bentuknya poligon dapat dibagi dalam dua bagian, yaitu : • Poligon berdasarkan visualnya : a. poligon tertutup

diketahui sehubungan dengan arah orientasi dari system koordinat yang dihasilkan dan pengadaan datanya dapat di tempuh dengan dua cara yaitu sebagai berikut : • Hasil hitungan dari koordinat titik titik yang telah diketahui dan akan dipakai sebagai tititk acuan system koordinatnya. • Hasil pengamatan astronomis

(matahari). Pada salah satu titik poligon sehingga didapatkan azimuth

Medan lapangan pengukuran menentukan bentuk konstruksi pilar atau patok sebagai penanda titik di lapangan . Metode poligon merupakan bentuk yang paling baik di lakukan pada bangunan karena memperhitungkaan bentuk kelengkungan bumi yang pada prinsipnya cukup di tinjau dari bentuk fisik di lapangan dan geometriknya. Tingkat ketelitian sistem koordinat yang diinginkan dan kedaan medan lapangan pengukuran merupakan faktor-faktor menyusun yang menentukan poligon dalam ketentuan kerangka dasar. poligon bercabang tidak terlalu luas sekitar (20 km x 20 km). Cara pengukuran polygon merupakan cara yang umum dilakukan untuk pengadaan kerangka dasar pemetaan pada daerah yang c. Berbagai bentuk poligon mudah dibentuk untuk menyesuaikan dengan berbagai bentuk medan pemetaan dan keberadaan titik – titik rujukan maupun pemeriksa.Tingkat ketelitian umum dikaitkan dengan jenis dan atau tahapan pekerjaan yang sedang dilakukan. Sistem koordinat • dikaitkan dengan keperluan pengukuran Poligon berdasarkan geometriknya : a. poligon tidak terikat pengikatan. poligon terikat sempurna b. poligon terikat sebagian c. poligon terbuka koordinatnya terletak memanjang sehingga membentuk segi banyak (poligon). Poligon digunakan apabila titik-titik yang akan dicari b.13 1 Pengantar Survei dan Pemetaan Untuk mendapatkan nilai sudut-sudut dalam atau sudut-sudut luar serta jarak jarak mendatar antara titik-titik poligon diperoleh atau diukur di lapangan menggunakan alat pengukur jarak yang mempunyai tingkat ketelitian tinggi.

07 ± 0. Pengadaan kerangka dasar horizontal di Indonesia dimulai di pulau Jawa oleh Belanda pada tahun 1862. pengukuran mempunyai ukuran panjang dan lebar yang sama. Tabel 1. Hingga tahun 1936.14 1 Pengantar Survei dan Pemetaan dan juga berkaitan dengan jarak selang penempatan titik. pantai Barat Sumatra dengan datum Padang. Ketelitian posisi horizontal (x. karena pengukurannya menggunakan cara triangulasi. Gunung Genuk. pengadaan titik triangulasi oleh Belanda ini telah mencakup pulau Jawa dengan datum sedangkan posisi horizontal peta topografi yang dibuat dengan ikatan dan pemeriksaan ke titik triangulasi dibuat dalam sistem proyeksi Polyeder.3 km.y) titik triangulasi Titik P S T K Jarak 20 . Sumatra Selatan dengan datum Gunung Dempo. kepulauan Sunda Kecil. pantai Timur Sumatra dengan datum Serati.40 km 10 – 20 km 3 – 10 km 1 – 3 km Ketelitian ± 0.tiap segitiga. Y) titik triangulasi dibuat dalam sistem proyeksi Mercator. Titik triangulasi buatan Belanda tersebut dibuat berjenjang turun berulang. Posisi horizontal (X. Pada cara ini sudut yang diukur adalah sudut dalam tiap . pulau Bangka dengan datum Gunung Limpuh. dari cakupan luas paling teliti dengan jarak antar titik 20 40 km hingga paling kasar pada cakupan 1 .53 ± 3.2 Metode pengukuran triangulasi Triangulasi digunakan apabila daerah Sulawesi dengan datum Moncong Lowe. maka dibuat jaring segitiga. Titik-titik kerangka dasar horizontal buatan Belanda ini dikenal sebagai titik triangulasi. Bali dan Lombik dengan datum Gunung Genuk. kepulauan Riau dan Lingga dengan datum Gunung Limpuh dan Kalimantan Tenggara dengan datum Gunung Segara.30 - Metode Triangulasi Triangulasi Mengikat Polygon Selain posisi horizontal (X Y) dalam sistem proyeksi Mercator. 1. titik-titik triangulasi ini juga dilengkapi dengan informasi posisinya dalam sistem geografis (j.4.I) dan ketinggiannya terhadap muka air laut rata- . Metode Triangulasi.

trigonometris. Kuadrilateral tidak boleh panjang dan sempit. karena lebih banyak syarat yang dapat dibuat. Triangulasi dapat diklasifikasikan sebagai berikut : • • • Primer Sekunder Tersier Bentuk geometri triangulasi terdapat tiga buah bentuk geometrik dasar triangulasi.4. yaitu : • Rangkaian segitiga yang sederhana cocok untuk pekerjaanpekerjaan dengan orde rendah Gambar 13. maka dibuat tempat berdiri target (rambu ukur. 1. Pada titik pusat tersebut terdapat beberapa buah sudut yang jumlahnya sama dengan 360 derajat. Sudut beta dan alfa diperofeh dari tapangan. Jaring-jaring segitiga untuk ini dapat sedapat mungkin diusahakan sisi-sisi segitiga sama panjang.15 1 Pengantar Survei dan Pemetaan rata yang ditentukan dengan cara segitiga yang seluruh jarak jaraknya di ukur di lapangan. Metode pengukuran pengikatan ke muka Pengikatan ke muka adalah suatu metode pengukuran data dari dua buah titik di lapangan tempat berdiri alat untuk yang terbaik untuk ketelitian tinggi. benang.3 Metode pengukuran trilaterasi Trilaterasi digunakan apabila daerah yang diukur ukuran salah satunya lebih besar daripada ukuran lainnya. unting-unting) koordinatnya antara yang dari titik titik akan diketahui Garis tersebut.4. • Kuadrilateral merupakan bentuk Pada jaring segitiga akan selalu diperoleh suatu titik sentral atau titik pusat. Sudut dalam yang dibentuk absis terhadap target di titik B dinamakan sudut beta. yang kedua diketahui rangkaian segitiga. . • Titik pusat terletak antara 2 titik yang terjauh dan sering di perlukan.4. Pada cara ini sudut yang diukur adalah semua sisi segitiga. memperoleh suatu titik lain di lapangan 1. Metode Trilaterasi yaitu serangkaian koordinatnya dinamakan garis absis.

Ketiga titik tersebut dihubungkan oleh suatu kerangka horizontal untuk menentukan koordinat titik-titik yang diukur dengan cara mengikat ke belakang pada titik tertentu dan yang diukur adalah sudut-sudut yang berada di titik yang akan ditentukan koordinatnya. yaitu diikat pada titik A dan titik B. Pada pengukuran pengikatan ke belakang metode Collins.4. Misalkan titik lainnya itu titik A. Akibat dari sudut yang diukur adalah sudut yang dihadapkan titik yang dicari. yang diukur melalui titik-titik koordinat lain yang sudah diketahui. Bentuk yang digunakan metoda ini adalah bentuk segi tiga. cara Collins menggunakan era perhitungan logaritma. . pengukuran pengikatan ke muka alat theodolite ditegakkan di atas titik yang ingin atau belum diketahui koordinatnya. titik P ini akan diukur melalui titik-titik lain yang koordinatnya sudah diketahui terlebih dahulu. maka salah satu sisi segitiga tersebut harus diketahui untuk menentukan bentuk dan besar segitinya.5 Metode pengukuran Collins dan Cassini Metode pengukuran Collins dan Cassini merupakan pengukuran salah satu metode dasar dalam Misalkan titik itu diberi nama titik P. Sebelum alat hitung berkembang dengan balk. Collins yang merupakan berfungsi perhitungan mengetahui suatu letak titik koordinat. seperti masa kini maka perhitungan umumnya dilakukan dengan bantuan daftar logaritma. 1. Pada era lingkaran dengan jari-jari tertentu. Pertama titik P diikatkan pada dua buah titik lain yang telah diketahui koordinatnya. metode Pengikatan kebelakang model untuk dilakukan hanya pengukuran sudut. B.16 1 Pengantar Survei dan Pemetaan Pada metode ini. Gambar 15. Adapun metode Cassini menggunakan alat hitung karena teori ini muncul pada saat adanya alat hitung yang sudah mulai berkembang. sehingga titik C berada di luar lingkaran. pengukuran yang Adapun perbedaan pada kedua metode di atas terletak pada cara perhitungannya. Adapun pada metode Cassini menggunakan mesin hitung. dan titik C. mengikat ke belakang ada dua metode hitungan yaitu dengan cara Collins dan Cassini.

17
1 Pengantar Survei dan Pemetaan

Kemudian tariklah titik P terhadap titik C. Dari hasil penarikan garis P terhadap G akan memotong tali busur lingkaran, dan potongannya akan berupa titik hasil dari pertemuan persilangan garis dan tali busur. Titik itu diberi nama titik H, dimana titik H ini merupakan titik penolong Collins. Sehingga dari informasi koordinat titik A, B, dan G serta sudut-sudut yang dibentuknya, maka koordinat titik P akan dapat diketahui.
A (Xa,Ya)

Pada

cara

perhitungan

Cassini

memerlukan dua tempat kedudukan untuk menentukan suatu titik yaitu titik P. Lalu titik P diikat pada titik-titik A, B dan C. Kemudian Cassini membuat garis yang melalui titik A dan tegak lurus terhadap garis AB serta memotong tempat

kedudukan yang melalui A dan B, titik tersebut diberi nama titik R. Sama halnya Cassini pula membuat garis lurus yang melalui titik C dan tegak lurus terhadap garis BC serta memotong tempat

kedudukan yang melalui B dan C, titik

α
P

β

B (Xb,Yb)

tersebut diberi nama titik S. Sekarang hubungkan R dengan P dan S

H

dengan P. Karena 4 BAR = 900, maka garis BR merupakan garis tengah lingkaran, sehingga 4 BPR = 900. Karena ABCS= 900 maka garis BS merupakan garis tengah lingkaran, sehinggga αBPR = 900. Maka titik R, P dan S terletak di satu garus lurus. Titik R dan S merupakan titik penolong Cassini. Untuk mencari koordinat titik P, lebih dahulu dicari koordinat-koordinat titiktitik penolong R dan S, supaya dapat dihitung sudut jurusan garis RS, karena PB 1 RS, maka didapatlah sudut jurusan PB, dan kemudian sudut jurusan BP untuk dapat menghitung koordinat-koordinat titik P sendiri dari koordinat-koordinat titik B.

Gambar 15. Pengukuran Collins

1. titik A, B ,dan C merupakan titik koordinat yang sudah diketahui. 2. titik P adalah titik yang akan dicari koordinatnya. 3. titik H adalah titik penolong collins yang dibentuk oleh garis P terhadap C dengan lingkaran yang dibentuk oleh titik-titik A, B, dan P. Sedangkan Metode Cassini adalah cara pengikatan kebelakang yang menggunakan mesin hitung atau kalkulator. Pada cara ini theodolit diletakkan diatas titik yang belum diketahui koordinatnya.

18
1 Pengantar Survei dan Pemetaan

A (Xa, Ya)

dab dar

B (Xb, Yb)
dcb

α
R
dcs

C (Xc, Yc)

α

β β
P

S

Cassini (1679)
Gambar 16. Pengukuran cassini

Rumus-rumus yang akan digunakan adalah

x1 − x 2 = d12 sin a12 y 2− y1 = d12 cos a12 tgna12 = ( x 2 − x1 ) : ( y 2 − y1 ) cot a12 = ( y 2 − y1 ) : ( x 2 − x1 )
Metode Cassini dapat digunakan untuk metode penentuan posisi titik
Gambar 17. Macam – macam sextant

Metode penentuan ini dimaksudkan sebagai acuan dan pegangan dalam pengukuran penentuan posisi titik-titik pengukuran di

menggunakan dua buah sextant. Tujuannya untuk menetapkan suatu

perairan pantai, sungai, danau dan muara. Sextant adalah alat pengukur sudut dari dua titik bidik terhadap posisi alat tersebut, posisi titik ukur perum adalah titik-titik yang

penentuan posisi titik perum menggunakan dua buah sextant, termasuk. membahas tentang ketentuan-ketentuan dan tahapan pelaksanaan pengukuran penentuan posisi titik perum.

mempunyai koordinat berdasarkan hasil pengukuran.

1.5 Pengukuran titik-titik detail

Untuk

keperluan

pengukuran

dan

pemetaan selain pengukuran Kerangka Dasar Vertikal yang menghasilkan tinggi

19
1 Pengantar Survei dan Pemetaan

titik-titik ikat dan pengukuran Kerangka Dasar Horizontal yang menghasilkan

koordinat titik-titik ikat juga perlu dilakukan pengukuran titik-titik detail untuk

menghasilkan yang tersebar di permukaan bumi yang menggambarkan situasi daerah pengukuran. Dalam pengukuran titik-titik detail
Gambar 18. Alat pembuat sudut siku cermin

prinsipnya adalah menentukan koordinat dan tinggi titik-titik detail dari titik-titik ikat. Metode yang digunakan dalam pengukuran titik-titik detail adalah metode offset dan metode tachymetri. Namun metode yang sering digunakan adalah metode
Gambar 19. Prisma bauernfiend

Tachymetri karena Metode tachymetri ini relatif cepat dan mudah karena yang diperoleh dari lapangan adalah pembacaan rambu, magnetis), inklinasi) diperoleh adalah sudut sudut dan dari posisi horizontal vertikal alat. (azimuth atau yang

(zenith Hasil

tinggi

pengukuran planimetris X,

tachymetri Y dan
Gambar 20. Jalon

ketinggian Z.

1.5.1. Metode pengukuran offset Metode offset adalah pengukuran titik-titik menggunakan alat alat sederhana yaitu pita ukur, dan yalon. Pengukuran untuk

pembuatan peta cara offset menggunakan alat utama pita ukur, sehingga cara ini juga biasa disebut cara rantai (chain surveying). Alat bantu lainnya adalah :
Gambar 21. Pita ukur

tetapi perpotongan benang stadia dibaca pada rambu tegak prosedur reduksi tachymetri. yang bekerja atas dasar perubahan sudut vertikal. Tachymetri "diagram' lainnya pada dasarnya bekerja atas bekerja atas prinsip yang. cara offset biasa digunakan untuk daerah yang relatif datar dan tidak luas. Pada gambar. Metode tachymetri didasarkan pada prinsip bahwa pada segitiga-segitiga sebangun. tinggi di atas datum seperti dalam sipat datar). Cara mengikat (cara interpolasi). dan digital. Peta yang diperoleh dengan cara offset tidak akan menyajikan informasi ketinggian rupa bumi yang dipetakan. Sebuah tachymetri swa-reduksi memakai sebuah garis horizontal tetap pada sebuah diafragma dan garis horizontal lainnya pada diafragma keduanya dapat bergerak.5. pembacaan sudut dan jarak dapat dikerjakan lebih cepat dari pada pencatatan pengukuran dan pembuatan sketsa oleh pencatat. dengan transit atau planset. pembidikan ke rambu ukur. Setelah alat siap untuk pengukuran. pengamatan azimuth dan pencatatan data di rambu BT. Kebanyakan pengukuran tachymetri adalah dengan garis bidik miring karena adanya keragaman topografi. BA. Sudut vertikalnya (sudut kemiringan) terbaca kerangka dasar untuk pemetaanyapun juga dibuat dengan cara offset. baik 1. Pengukuran detail cara tachymetri dimulai dengan penyiapan alat ukur di atas titik ikat dan penempatan rambu di titik bidik. sehingga lurus dan jarak miring "direduksi" menjadi jarak horizontal dan jarak vertikal. BB serta sudut miring . sama sudut vertikal secara otomatis dipapas oleh pisahan garis stadia yang beragam. Metode tachymetri itu paling bermanfaat dalam penentuan lokasi sejumlah besar detail topografik. .2 Metode pengukuran tachymetri Metode tachymetri adalah pengukuran horizontal maupun vetikal. Di wilayah-wilayah perkotaan. sebesar a. sebuah transit dipasang pada suatu titik dan rambu dipegang pada titik tertentu. Dengan benang silang tengah dibidikkan pada rambu ukur sehingga tinggi t sama dengan tinggi theodolite ke tanah.20 1 Pengantar Survei dan Pemetaan Dari jenis peralatan yang digunakan ini. Cara pengukuran titik detil dengan cara offset ada tiga cara: • • • Cara siku-siku (cara garis tegak lurus). Cara gabungan keduanya. sisi yang sepihak adalah sebanding. Kebanyakan alidade planset memakai suatu jenis menggunakan alat-alat optis. dimulai dengan perekaman data di tempat alat berdiri. Perhatikan bahwa dalam pekerjaan tachymetri tinggi instrumen adalah tinggi garis bidik diukur dari titik yang diduduki (bukan TI. elektronis.

Pengukuran titik detail tachymetri .21 1 Pengantar Survei dan Pemetaan 1 BA i Z Z BT i Z Z dA B BB ? HAB O' i O Ta A dABX B Titik Nadir Gambar 22.

5 derajat x 0.5 derajat) (1.Drs.2) Pengukuran Titik Jamak Pengikatan ke Muka Pengikatan ke Belakang (Collins & Cassini) Triangulasi.1) Pengukuran Tachymetri (3.22 1 Pengantar Survei dan Pemetaan Model Diagram Alir Ilmu Ukur Tanah Pertemuan ke-01 Model Diagram Alir Perkenalan Ilmu Ukur Tanah Pengantar Survei dan Pemetaan Dosen Penanggung Jawab : Dr. Trilaterasi.1) Pengukuran Sipat Datar KDV (1) Pengukuran Kerangka Dasar Vertikal (1.Ir.5 derajat x 0.1) Pengukuran Titik Tunggal (2) Pengukuran Kerangka Dasar Horisontal (2.H.Iskandar Muda Purwaamijaya. Triangulaterasi Poligon Kuadrilateral (3) Pengukuran Titik-Titik Detail (3.5 derajat) Ilmu. seni dan teknologi untuk menyajikan informasi bentuk permukaan bumi baik unsur alam maupun buatan manusia di bidang lengkung (luas > 55 km x 55 km) atau (> 0. MT Bumi Bentuk Jeruk Bentuk Bola Rotasi Bumi Bentuk Ellipsoida (Ellips putar dengan sumbu putar kutub ke kutub) Pemepatan (Radius Kutub < Radius Ekuator) Plan Surveying (Ilmu Ukur Tanah) Geodetic Surveying Ilmu.2) Pengukuran Trigonometris (1. seni dan teknologi untuk menyajikan informasi bentuk permukaan bumi baik unsur alam maupun buatan manusia di bidang datar (luas < 55 km x 55 km) atau (< 0.2) Pengukuran Offset Gambar 23. Diagram alir pengantar survei dan pemetaan .3) Pengukuran Barometris (2.

5 derajat x 0. dan c. Pengukuran kerangka dasar Vertikal (KDV) b. Metode pengukuran Trigonometris. maka dapat disimpulkan sebagi berikut: 1. Geodetic Surveying b. Metode kuadrilateral e. Plan Surveying 2.5 derajat x 0. Plan Surveying merupakan ilmu seni dan teknologi untuk menyajikan informasi bentuk permukaan bumi baik unsur alam maupun buatan manusia di bidang lengkung (luas < 55 km x 55 km) atau (<0.5 derajat) 3.23 1 Pengantar Survei dan Pemetaan Rangkuman Berdasarkan uraian materi bab 1 mengenai pengantar survei dan pemetaan. Geodetic surveying merupakan ilmu seni dan teknologi untuk menyajikan informasi bentuk permukaan bumi baik unsur alam maupun buatan manusia di bidang lengkung (luas > 55 km x 55 km) atau (>0. Bagian-bagian dari pengukuran kerangka dasar horizontal adalah : a. Metode Poligon b. Pengukuran Titik-titik Detail : 5. yaitu : a. Ilmu ukur tanah pada dasarnya terdiri dari tiga bagian besar yaitu a. b. 7. Pengukuran kerangka dasar horizontal adalah untuk mendapatkan hubungan mendatar titik-titik yang diukur di atas permukaan bumi maka perlu dilakukan pengukuran mendatar.5 derajat) 4. yaitu : a. Metode Trilaterasi d. Pengukuran dan pemetaan pada dasarnya dapat dibagi 2. Metode pengukuran kerangka dasar sipat datar optis. Pengukuran kerangka dasar Horizontal (KDH) c. Metode Triangulasi c. Kerangka dasar vertikal merupakan teknik dan cara pengukuran kumpulan titik-titik yang telah diketahui atau ditentukan posisi vertikalnya berupa ketinggiannya terhadap bidang rujukan ketinggian tertentu. 8. Metode Pengikatan ke muka f. Metode pengukuran Barometris. 6. Metode pengikatan ke belakang cara Collins dan cassini . Pengukuran kerangka Dasar vertical pada dasarnya ada 3 metode.

24 1 Pengantar Survei dan Pemetaan Soal Latihan Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini ! 1. Sebutkan bagian-bagian pengukuran dari ilmu ukur tanah! Jelaskan 2. pengukuran apa yang tepat untuk dilakukan ? Jelaskan! 5. Jelaskan pengertian dari pengukuran kerangka dasar vertikal ! sebutkan metodemetode yang digunakan dalam pengukuran kerangka dasar vertikal! 4. Mengapa bumi dianggap bulat? 3. Jika kita akan mengukur beda tinggi suatu wilayah. Mengapa pengukuran titik-titik detail metode tachymetri sering digunakan ? Jelaskan! .

mempunyai ketidaktelitian yaitu adanya kesalahan yang berbeda-beda. 3.25 2. Hal inilah yang menyebabkan banyak aplikasi pada bidang pengukuran dan pemetaan. Kesalahan diketahui atau penyetelan instrumen. sudut. benda ukur. 4. Pengukuran tidak selalu tepat. Pengukur. Harga sebenarnya yang tepat dari selalu suatu tidak pengukuran tidak pernah diketahui. perubahan angin. Setiap pengukuran. tergantung pada kondisi alat ukur. karena yang absolut benar tidak diketahui. Pengukuran dan pemetaan banyak tergantung dari alam. dengan kecermatan yang memadai. gaya berat dan deklinasi magnetik. pembiasan cahaya. Teori Kesalahan 2. Kondisi alam walaupun pada dasarnya merupakan suatu fungsi yang berlanjut. Kesalahan dalam pengukuran–pengukuran yang dinyatakan dalam persyaratan bahwa: 1. meraba. Kesalahan dapat terjadi maka pengukuran dan pengumpulan data harus di keterbatasan kemampuan pengukur dalam merasa. 2. suhu. hasil Ketelitian bersifat relatif yaitu kesamaan perbedaan harga pengukuran dengan harga yang dianggap benar.1 Kesalahan-kesalahan pada survei dan pemetaan merupakan ukur karena dan proses pengukur yang atau Adapun sumber–sumber kesalahan yang menjadi penyebab kesalahan pengukuran adalah sebagai berikut: Pengukuran ukur. Pelaksanaan pekerjaan dan pengukuran jarak. ketidak sempurnaan konstruksi masing-masing bagian ini ditambah dengan pengaruh lingkungan maka bisa dikatakan bahwa tidak ada satu pun pengukuran yang memberikan atau ketelitian antara yang absolut. Alam. ketidak sempurnaan kelembaban udara. dan koordinat titik pada foto udara juga diperlukan suatu instrumen pengukuran yang prosedurnya untuk mengupayakan kesalahan yang kecil. melihat dan . kelalaian. Alat. Setiap pengukuran mengandung galat. 3. metoda pengukuran dan kecakapan si pengukur. 2. akan tetapi mempunyai karakteristik yang dinamis. atau pertimbangan yang buruk. Dan jika diantara kesalahan itu ulang. mencakup tiga hal atau bagian yaitu benda pengamat. Kesalahan terjadi karena salah mengerti permarsalahan. alat 1.

26 diketemukan sistemetis dihilangkan dengan seluruh dengan mengecek pekerjaan jalan secara dan Bila garis bidik datar (horizontal). Kesalahan dalam : 1. Kesalahan karena alat 2. bila garis bidik tidak horizontal (membuat sudut α dengan garis horizontal) maka pembacaan pada rambu A = Pa’ dan pada rambu ∆ = Pb’. Gambar 24. Dengan demikian ukuran sedapat mungkin dilakukan dari tengah. Kesalahan karena alat Dalam kesalahan karena alat termasuk : a) Karena kurang datarnya garis bidik instrumental/ kesalahan ini dapat kita golongkan karena Pa’Pa = Pb’Pb = ∆. dalam hal ini Pa’ – Pb’ akan sama dengan Pa–Pb. Perbedaan tinggi adalah Pa’ – Pb’. Perbedaan tinggi ∆H = Pa – Pb. Kesalahan– kesalahan memang ini disebabkan baik karena dalam kekhilapan maupun karena kita manusia tidak sempurna menciptakan alat–alat. pembacaan pada rambu A = Pa dan rambu B = Pb. Dalam melaksanakan ukuran datar akan selalu terdapat “Kesalahan”. Kesalahan pembacaan rambu . Tapi kalau ukuran tidak dilakukan dari tengah AB missal dari Q. Kesalahan pengukur A. Bila ukuran dilakukan dari tengah – tengah AB (PA = PB =1) mengulang sebagian atau bahkan seluruh pekerjaan. maka hasil ukuran adalah qa – qb dan qa – qb ≠ Pa – Pb karena qa – Pa = ∆1 dan qb – Pb = ∆2. Kesalahan karena pengaruh luar/ alam 3.

Bila ukuran dilaksanakan dengan meletakkan rambu A selalu di belakang dan rambu B selalu di depan.A = -1 mm A . Dengan demikian.B = +1 mm B Gambar 26.000 mm maka di rambu B dibaca 999 mm. Titik O dari rambu B misalnya telah bergeser 1 mm. Prosedur Pemindahan Rambu .B = +1 mm B . Kalau 100 sipatan berarti 100 II I b 2 1 b b 4 m 2 m 1 b 3 m 3 B A A +m 1 m B A +m 1 m +m 1 m B Gambar 25.27 b) Tidak samanya titik O dari rambu Titik O dari rambu mungkin tidak sama karena mungkin salah satu rambu sudah aus. rambu A dibaca 1. Pengukuran sipat datar I II I b2 b1 m1 b3 m2 b4 II m3 A A A . maka kesalahan A–B mempunyai tanda yang sama–tiap mm. I II sipatan kesalahannya +1 mm.

Kesalahan alam Pengaruh karena pengaruh luar/ luar dalam melaksanakan ukuran datar adalah: a. Dengan demikian waktu melaksanakan ukuran datar. B – A = +1 mm. rambu harus benar–benar vertikal. APa’ > APa.28 Untuk mengatasi kesalahan–kesalahan tersebut. b. Dan seterusnya. sedangkan jalannya sinar itu lurus. gelombang udara yang dapat terlihat melalui teropong. (gambar 26) Dengan demikian kesalahannya B. Cuaca Panas matahari sangat mempengaruhi pelaksanaan ukuran datar. Membuat vertikal rambu ini dapat dilaksanakan dengan nivo. . Kesalahan Kemiringan Rambu Jarak APa ≠APa’. pembacaan rambu = Pa akan tetapi bila rambu tidak vertikal pembacaan pada rambu adalah Pa’. dalam pelaksanaan ukuran tiap tiap kali sipatan rambu belakang harus ditukar dengan rambu depan. Apabila matahari sudah tinggi antara jam 11.00. c) Kurang tegak lurusnya rambu Syarat pokok dalam melaksanakan ukur datar ialah bahwa garis bidik harus horizontal dan rambu harus vertikal. pa pa' Gambar 27. gelombang udara didepan rambu akan terlihat sehingga angka pada rambu ikut bergelombang dan sukar dibaca. panas matahari pada waktu itu akan menimbulkan Dengan adanya demikian.00 – jam 14. Lengkungan bumi Permukaan bumi itu melengkung. Bila rambu vertikal. adalah A – B = +1 mm.

29 Gambar 28. Dengan demikian. . Kesalahan karena pengukur Kesalahan pengukur ini ada 2 macam : a) Kesalahan kasar kehilapan 1. maka tiap kali pengukuran dibuat kesalahan ∆. h1 didapat perbedaan tinggi ∆h 1 = Pa – Pb. R2 + a2 = R2 + 2R∆ +∆2 ∆ kecil sekali jadi kalau dikuadratkan dapat dihapus sehingga kita dapat R2 + a2 = F + 2R . Keslahan kasar dapat diatasi dengan mengukur 2 kali dengan tinggi teropong yang berbeda. Bilangan ini kecil sekali tapi kalau tiap kali dibuat kesalahan akan menumpuk menjadi besar. Kesalahan ini bisa diatasi dengan tiap kali mengukur dari tengah. Pengaruh kelengkungan bumi Karena itu oleh alat ukur datar dibaca titik A pada rambu sedangkan perbedaan tinggi mengikuti lengkungan bumi. bila terdapat kesalahan/ perbedaan besar maka harus diulang. Pada pengukuran kedua dengan tinggi teropong h2 didapat perbedaan tinggi ∆h 2 = qa – qb. Pertama dengan tinggi teropong R2 + a2 = (R +∆)2. ∆h 1 harus sama dengan ∆h 2. Besar ∆ ini dapat dihitung c. jadi seharusnya dibaca B.

AB adalah arah kemiringan maksimum dengan sasaran s pada sudut elevasi h dalam keadaan dimana sumbu vertikal theodolite berhimpit dengan arah garis vertikal yang menghasilkan posisi lintasan teleskop csd dalam arah u dari . Miasalnya mengukur jarak yang dapat dibaca sampai 1 dm. Sifat Kesalahan a. 2. Kesalahan kasar. Kesalahan kasar sipat datar 2. namun terjadi perbedaan pengukuran sampai 1 m. c. b. Kesalahan yang tak teratur. Kesalahan teratur. Sumbu vertikal theodolite x miring dan membentuk sudut v terhadap garis vertikal x. terjadi secara teratur setiap kali melakukan pengukuran dan umumnya terjadi karena kesalahan alat. disebabkan karena kurang sempurnanya panca indera maupun peralatan dan kesalahan ini sulit dihindari karena memang merupakan sifat pengamatan\ ukuran.1. Dapat diatasi pula dengan selain membaca benang tengah dibaca pula benang atas dan benang bawah sebab: benang atas + benang bawah / 2 = benang tengah.1 Kesalahan pada pengukuran KDV Kesalahan yang terjadi akibat berhimpitnya sumbu vertikal theodolite dengan garis arah vertikal. adalah kesalahan yang besarnya satuan pembacaannya. Ini berarti ada kesalahan pembacaan ukuran dan harus diulang.30 qa pa h2 qb pb h1 Gambar 29.

Sebelum pengelohan data sipat datar kerangka dasar vertikal dilakukan. Kontrol tinggi dilakukan melalui suatu jalur tertutup yang diharapkan O Kesalahan sumbu vertikal Gambar 30. maka pengukuran untuk sasaran dengan elevasi cukup besar. Jarak belakang dan muka setiap slag menjadi suatu variabel yang menentukan bobot kesalahan dan pemberi koreksi.31 kemiringan maksimum. koreksi kesalahan sistematis harus dilakukan terlebih dahulu dalam pembacaan benang tengah. Semakin panjang suatu slag pengukuran maka bobot kesalahannya menjadi lebih besar. koreksi kesalahan sistematis berupa koreksi garis bidik yang diperoleh melalui pengukuran sipat datar dengan menggunakan 2 rambu yaitu belakang dan muka dalam posisi 2 stand (2 kali berdiri dan diatur dalam bidang nivo). Kesalahan Sumbu Vertikal Salah satu pengaplikasian pada pengukuran kerangka dasar vertikal dapat dilihat dari pengukuran sipat datar. Koreksi kesalahan pada pengukuran dasar vertikal menggunakan alat sipat datar optis. Koreksi kesalahan acak pada pengukuran kerangka dasar vertikal dilakukan untuk memperoleh beda tinggi dan titik tinggi ikat definit. Koreksi kesalahan didapat dari pengukuran yang menggunakan dua rambu. dan sebaliknya C C' u u' S r B' A A' D D' B S u' C' r u C Karena kesalahan sumbu vertikal tak dapat dihilangkan dengan membagi rata dari observasi dengan teleskop dalam posisi normal dan dalam kebalikan. Dari dua lintasan ini akan diperoleh segitiga bola scc’ yang sumbu vertikal β dinyatakan dalam persamaan berikut : β = u’ – u β = v sin u’ ctgn (90 – h) β = v sin u’ tgn h diperoleh beda tinggi pada jalur sama menghasilkan angka nol. koreksi kesalahan sistematis berupa nilai rata-rata sudut horizontal yang diperoleh melalui pengukuran target (berupa benang dan unting-unting) pada posisi . Sedangkan dalam keadaan dimana sumbu vertikal theodolite miring sebesar v terhadap garis vertikal menghasilkan lintasan c’sd’ dalam arah u’ dari kemiringan yang maksimum. Sedangkan pada pengukuran kerangka dasar horizontal menggunakan alat theodolite. Pada pengukuran kerangka dasar vertikal menggunakan sipat datar optis. yaitu rambu depan dan rambu belakang yang berdiri 2 stand.

koreksi kesalahan sistematis berupa nilai rata–rata sudut horizontal yang diperoleh melalui pengukuran target. Semakin panjang jarak pada suatu slang maka bobot kesalahan dan koreksinya lebih kecil.1. Syarat yang ditetapkan dan harus diperhatikan adalah syarat sudut lalu syarat absis dan ordinat. koreksi sistematis perlu dilakukan terlebih dahulu kedalam pembacaan benang tengah setiap slang. Kesalahan acak pada pengukuran kerangka dasar Sebelum dasar horizontal harga pengolahan horizontal dilakukan koordinat poligon dilakukan. Dalam segitiga bola sdd’. persamaan dapat terjadi α = I tan h . kerangka koreksi memperoleh kerangka dasar vertikal dilakukan. dan apabila sumbu horizontal miring sebear i maka. Sedangkan bobot koreksi absis dan ordinat diperhitungkan melalui dua metode : Kesalahan disebut horizontal tidak tegak lurus sumbu vertikal kesalahan sumbu horizontal. tanda kesalahan menjadi negatip dan apabila sudut yang dicari dengan teleskop dalam posisi normal dan kebalikan dirata–rata maka kesalahan sumbu horizontal dapat hilang. jarak belakang dan muka setiap slang menjadi variabel yang menentukan bobot kesalahan dan bobot pemberian koreksi. Kontrol tinggi dilakukan melalui suatu alur tertutup sedemikian rupa sehingga diharapkan diperoleh beda tinggi pada jalur tertutup sama dengan nol. tgn i Karena a dan I biasanya sangat kecil. Apabila sumbu horizontal miring sebesar i menjadi a’b’. tempat kedudukan adalah c’sd’. Merupakan kesalahan sumbu horizontal.32 teropong biasa (vizier teropong pembidik berasal diatas teropong) dan pada posisi teropong luas biasa (vizier teropong pembidik berasal di bawah teropong) Sebelum pengolahan data sipat datar Apabila teleskop dipasang dalam keadaan terbalik. Sin α = tgn h / tgn ( 90 – i ). Kedudukan garis kolimasi dengan teleskop mengarah pada s berputar mengelilingi sumbu horizontal adalah csd. 2.2 Kesalahan pada pengukuran KDH yang terjadi akibat sumbu sistematis harus dilakukan terlebih dahulu dalam pembacaan sudut horizontal. dd’ = α . Sedang koreksi pengukuran kerangka dasar horizontal menggunakan theodolite. Tgn h. Pada posisi teropong biasa dan luar biasa. untuk definitip. Bobot koreksi sudut tidak diperhitungkan atau dilakukan secara sama rata tanpa memperhatikan faktor lain. Kontrol koordinat dilakukan melalui 4 atau 2 buah titik ikat bergantung pada kontrol sempurna atau sebagian Jarak datar dan sudut poligon setiap titik poligon merupakan variabel yang menentukan untuk memperoleh koordinat definitip tersebut.

a. dan c. Karena pengukur sendiri kesalahan pengukuran dapat di sebabkan . Kontrol tinggi dilakukan melalui suatu alur tertutup sedemikian rupa sehingga diharapkan diperoleh beda tinggi pada jalur tertutup sama dengan nol. Kontrol koordinat dilakukan melalui 4 atau 2 buah titik ikat tergantung pada ikat kontrol sempurna atau sebagian saja. Metode bowditch bobot koreksinya dihitung berdasarkan jarak datar langsung. Metode Transit Metode ini bobot koreksinya dihitung berdasarkan proyeksi jarak langsung tehadap sumbu x dan pada sumbu y. sedangkan terhadap sumbu x (untuk absis) dan sumbu y (untuk sumbu ordinat). koreksi sistematis harus dilakukan terlebih dahulu kesalahan yang mungkin terjadi pada waktu melakukan oleh . koreksi bobot absis dan ordinat semakin besar. Koreksi kesalahan acak pada pengukuran kerangka dasar horizontal dilakukan untuk memperoleh koordinat (absis dan ordinat) definitif. Di atas telah dijelaskan pengukuran. Syarat yang ditetapakan dan harus dipenuhi terlebih dahulu adalah syarat sudut baru kemudian absis dan ordinat. Jarak datar dan sudut poligon setiap poligon merupakan suatu variabel yang menentukan untuk memperoleh koordinat definitif tersebut. bentuk-bentuk kesalahan berdasarkan jarak datar langsung. Semakin besar jarak datar langsung.33 a. koreksi sistematis perlu dilakukan terlebih dahulu kedalam pembacaan benang tengah setiap slang. Karena keadaan alam. Sebelum pengolahan data sipat datar kerangka dasar vertikal dilakukan. b. Sebelum pengolahan data poligon kerangka dasar horizontal. yaitu metode bowditch dan transit. Kesalahan acak pada pengukuran kerangka dasar horizontal dilakukan untuk memperoleh beda tinggi dan tinggi titik ikat relatif. Metode Bowditch Metode ini bobot koreksinya kedalam pembacaan sudut horizontal. demikian pula sebaliknya. Sedangkan bobot koreksi absis dan ordinat diperhitungkan melalui 2 metode. Semakin besar jarak langsung koreksi bobot absis dan ordinat maka semakin besar nilainya. Karena kesalahan pada alat yang digunakan (seperti yang telah di jelaskan di atas) b. jarak belakang dan muka setiap slang menjadi variabel yang menentukan bobot kesalahan dan bobot pemberian koreksi. Semakin panjang jarak pada suatu slang maka bobot kesalahan dan koreksinya lebih kecil. Bobot koreksi sudut tidak diperhitungkan atau dilakuan secara sama rata tanpa memperhitungkan faktor-faktor lain.

• beda Kesalahan ini sering kita jumpai pada saat melakukan tinggi. baik kaki tiga maupun mistar ke dua masuk kedalam tanah. Yang secara tidak langsung akan mengakibatkan kasarnya pembacaan. c. Kesalahan ini banyak . pada umumnya bidang-bidang melengkungnya permukaan bumi akan melengkung pula dan beda tinggi antara dua titik adalah antara jarak dua didang nivo yang melalui dua titik itu. maka terjadi tegangan pada bagianbagian alat ukur. akan dijelaskan pada bagian koreksi boussole • Karena getaran udara. Kesalahan ini adalah: Garis bidik tidak sejajar dengan garis arah nivo. Kesalahan yang kasar. sehingga pembacaan dari mistar tidak dapat dilakukan dengan teliti • Karena masuknya lagi tiga kaki dan mistar ke dalam tanah. maka bila mata telah lelah. karena kerap kali harus melakukan pembacaan dengan cara menaksir. Apalagi bila nivo harus dilihat tersendiri. Bila dalam pahamnya pembacaan pada mistar. sehingga kurang tepatnya meletakan gelembung nivo di tengah-tengah.34 a. terutama pada bagian yang terpenting yaitu pada bagian nivo. Kesalahan yang didapat adakah yang berhubungan dengan syarat utama. maka pembacaan pada mistar kedua akan salah bila digunakan untuk mencari beda tinggi antara dua titik yang ditempati oleh mistar-mistar itu. karena tidak terlihat dalam medan teropong. b. Kesalahan karena keadaan alam • Karena nivo lengkungnya karena permukaan pekerjaan pengukuran waktu antara pengukuran satu mistar dengan mistar lainnya. nilai taksirannya menjadi kurang. Kesalahan pada alat yang dugunakan Alat-alat yang digunakan adalah alat ukur penyipat datar dan mistar. Karena perubahan arah garis nivo. Karena pengukur sendiri Kesalahan pada mata. maka bayangan dari mistar yang dilihat dengan teropong akan bergetar. • Karena lengkungnya sinar cahaya. karena belum bumi. Karena alat ukur penyipat datar kena panas sinar matahari. karena adanya pemindahan hawa panas dari permukaan bumi ke atas. Kesalahan pada pembacaan. Lebih dahulu akan di tinjau kesalahan pada alat ukur penyipat datar. kebanyakan orang pada waktu mengukur menggunkan satu mata saja. Mistarmistar mempunyai tata cara tersendiri dalam pembuatan skalanya.

Garis ukur: • Jumlah mungkin. a. Kesalahan pengukuran.35 sekali dibuat dalam menentukan banyaknya meter dan desimeter angka pembacaan. c. Kesalahan pengukuran cara offset Kesalahan berakibat: arah garis offset α dengan panjang l yang tidak benar-benar tegak lurus menggunakan metode closed traverse selalu terjadi kesalahan (penyimpangan). garis ukur sesedikit 3. maka gabungan pengaruh kesalahan pengukuran jarak dan sudut menjadi: {(l sin α ) 2 + δ l 2}1/2. Garis offset pada cara siku-siku harus benar-benar tegak lurus garis ukur. • Garis tegak lurus garis ukur sependek mungkin. Kesalahan dasar pengukuran tachymetri dengan bantuan alat pengukuran cara tachymetri dengan theodolite Kesalahan alat. Garis skala 0° . Pengaturan alat tidak sempurna (temporaryadjustment) Salah taksir dalam pembacaan Salah catat. Titik-titik kerangka dasar dipilih atau dibuat mendekati bentuk segitiga sama sisi. misalnya. Ketelitian pengukuran cara offset dalam upaya meningkatkan ketelitian hasil ukur cara offset bisa dilakukan dengan : 1. a. Jarum kompas tidak benar-benar lurus. c. Pada perhitungan dari survei yang Kesalahan akibat faktor alam misalnya. b. kerangka theodolite. e. b. Bila kesalahan pengukuran jarak garis ofset δ l. b. 2. 4. f. Pita ukur harus benar-benar mendatar dan diukur seteliti mungkin. 5. Jarum kompas tidak dapat bergerak bebas pada porosnya. Deklinasi magnet. Letak teropong eksentris. Gunakan kertas gambar yang stabil untuk penggambaran.180° atau 180° . d. atraksi lokal.0° tidak sejajar garis bidik. maka akan terjadi salah plot sebesar 1/S x kesalahan. yaitu adanya dua stasiun yang meskipun . Salah satu pengaplikasian horisontal pengukuran ini adalah Kesalahan arah sejajar garis ukur = l sin α Kesalahan arah tegak lurus garis ukur = l . misalnya . Garis bidik tidak tegak lurus sumbu mendatar (salah kolimasi). a. • Garis ukur pada bagian yang datar. Poros penyangga magnet tidak sepusat dengan skala lingkaran mendatar.l cos α Bila skala peta adalah 1 : S.

Pengaruh kesalahan kompas t0 Theodolite Untuk mengatasi hal itu. Alat (Tidak ada alat yang sempurna) 2. Pembacaan (tidak ada penglihatan yang sempurna) Sewaktu survei dilakukan dan tidak mungkin kesalahan itu tidak dapat dihindarkan sebab tidak ada alat dan manusia yang ideal untuk menghasilkan pengukuran yang ideal pula. dengan cara yang sederhana yaitu jumlah total kesalahan dibagi dengan jumlah lengan survai. akan pempengaruhi bagi posisi stasiun berikutnya. Gambar 31. Sedangkan survei menggunakan kompas.36 pada kenyataannya dilapangan. kemudian di distribusikan ke setiap stasiun tersebut. tidak mempengaruhi bagi stasiun berikutnya. memiliki jenis yang berbeda. Dibawah ini merupakan distribusi untuk survei non magnetic Perataan penyimpangan elevasi Berikut ini gambar sket perjalanan tampak samping memanjang . Hal ini terjadi karena kesalahan pada ketidak-sempurnaan terhadap : 1. angka kesalahan yang terjadi harus di distribusikan ke setiap stasiun. Kesalahan yang terjadi karena survei magnetic (dengan menggunakan kompas dan survay grade x) menggunakan theodolithe. tersebut hanya satu. dalam kesalahan dalam salah satu stasiun. kesalahan yang terjadi pada salah satu stasiun. stasiun Pada survei yang menggunakan theodolite. kesalahan yang terjadi adalah akumulatif. Distribusi kesalahan pada Survei magnetik. Kesalahan tersebut meliputi kesalahan koodinat dan elevasi stasiun terakhir yang seharusnya adalah sama dengan stasiun awal.

ternyata terletak didalam bidang meridian Setelah dengan sebesar: perhitungan titik 1 magnetis. bahwa jarum magnet diganggu oleh benda-benda dari logam yang terletak di sekitar jarum magnet itu. maka azimuth magnetis harus diberi koreksi terlebih dahulu. ialah dua bidang yang melalui dua kutub magnetis dan bidang magnetios itu. Untuk menentukan koreksi boussole ada dua cara. Mengukur azimuth suatu garis yang tertentu. supaya didapat besaran-besaran geografis: ingat pada sudut jurusan yang sebetulnya sama dengan azimuth utaratimur. a. Seperti telah diketahui garis yang tertentu adalah garis yang menghubungkan dua titik P(Xp. Bila tidak ada gangguan.d2=f(y)2+f(x)2 Gambar 33. Koreksi terhadap penyimpangan ordinat.37 Koreksi bousole Dari ilmu alam diketahui. jarum magnet Gambar 32. Koreksi adalah besaran yang harus ditambahkan pada pembacaan atau pengukuran. Sket perjalanan akan dilakukan. Karena untuk keperluan pembuatan peta diperlukan meridian geografis yang melalui dua kutub bumi dan tempat jarum itu. hasilnya stasiun terakhir tidak kembali ke stasiun awal. analog dengan perhitungan diatas .Yq) yang telah diketahui koordinat- penyimpangan absis f(x) dan ordinat f(y) koreksi terhadap penyimpangan absis: Absis terkoreksi = absis lama + koreksi. dan karena meridian magnetis tidak berhimpit dengan meridian geografis yang disebabkan oleh tidak samanya kutub-kutub magnetis dan kutub-kutub geografis. supaya didapat besaran yang betul.Yp) dan Q(Xq. Gambar Kesalahan Hasil Survei Penyimpangan yang terjadi adalah adalah besaran yang harus dikurangkan dari pembacaan atau pengukuran. Ingatlah lebih dahulu apa yang diartikan dengan koreksi. ada selisih jarak sel (d). supaya didapat besaran yang betul. Kesalahan elevasi titik akhir yang seharusnya sama terdapat penyimpangan Elevasi koreksi = elevasi titik + koreksi Perataan penyimpangan koordinat Setelah perhitungan dilakuan.

Hitunglah sudut jurusan αab garis PQ dengan tg αab = (xq-xp) : (yp-yp) yang setelah sudut jurusan αpq ini di sesuaikan dengan macam sudut azimuth yang ditunjuk oleh jarum magnet alat ukur BTM ada α. dapatlah ditentukan koreksi boussole.38 koordinatnya. Mengukur tinggi matahari. Tinggi h yang didapat dari hasil pengukuran koreksi refraksi dengan tanda minus. 2. Adapun faktor-faktor tersebut antara lain: Keadaan tanah jalur pengukuran Keadaan/ kondisi atmosfir (getaran udara) pengukuran si pengukur berdiri dengan .3 Kesalahan Pengukuran rumus boussole. Besarnya mempunyai pengukuran.1. Misalkan pembacaan pada skala lingkaran mendatar dengan ujung utara jarum magnet ada A. Bila azimnuth astronomis itu dibandingkan dengan azimuth yang ditunjuk oleh jarum magnet pada saat pengukuran. Ingatlah selalu. deklinasi δ bintang itu dan lintang tempat pengukuran dapatlah di hitung azimuth astronomis yang sama dengan azimuth geografis bintang itu. Alat ukut BTM punggungnya ke arah matahari yang diukur dan keadaan tepi-tepi matahari dilihat dari ujung objektif pada kertas putih yang di pasang pada lensa okuler. dapatlah ditulis: α=A+C Dalam rumus C adalah pada tinggi h yang di dapat dari harga berlaku tabel. bahwa pada saat Banyak faktor yang mempengaruhi hasil pengukuran sipat datar teliti. Tinggi h yang telah diberi koreksi refraksi ini adalah tinggi sebenarnya dari pada tepi atas atau tepi bawah matahari. maka tinggi sebenarnya tadi harus dikurangi dengan ½ D = 16’. sehingga C = α-A b. Arahkan garis bidik tepat pada titik Q. bila di ukur tepi bawah mata hari untuk mendapatkan tinggi sebenarnya dari pada titik pusat matahari. mulai dari faktor-faktor dihilangkan pengaruhnya yang sampai hanya pengaruhnya faktor-faktor dapat dapat yang diperkecil. misalnya di titik P. refraksi tanda Untuk yang minus selalu tergantung koreksi ditempatkan pada salah satu titik itu. Dasar cara kedua ini adalah mengukur tinggi suatu bintang pada yang saat diketahui deklinasinya bintang itu. Karena yang diperlukan sekarang adalah tinggi titik pusat matahari dan sudut lihat kedua tepi atas dan tepi bawah matahari ada D = 32’. pengukuran ϕ Dengan tinggi h. maka karena α adalah besaran yang betul. dengan sumbu kesatuan tegak lurus diatas titik P.

Dari faktor-faktor tersebut dapat ditarik pelajaran bahwa sudah seharusnya seorang juru ukur mengetahui hal-hal yang akan mengakibatkan pengukuran. Kesalahan pemasangan nivo rambu Kesalahan garis bidik.39 Refraksi atmosfir. karena apabila terjadi penurunan pengukuran alat dan akan rambu maka mengalami kesalahan. Kesalahan panjang rambu (bukan rambu standar). Pada . Kesalahan karena penurunan alat Pada salag 1 selama waktu pembacaan rambu belakang dan memutar alat kerambu muka. Keadaan jalur pengukuran Pengukuran sipat datar pada umumnya harus menggunakan jalur pengukuran yang keras. Kesalahan letak skala nol rambu. seperti jalan diperkeras. Kelengkungan bumi. kesalahan pada a. jalan raya. alat ukur turun δ1. Dengan demikian turunya alat dan rambu dalam pelaksanaan pengukuran dapat diperkecil. jalan baja. Besarnya kesalahan akibat penuruanan alat-alat tersebut dijelaskan dibawah ini: I II I λ1 1 b1 2 δ2 m2 δ1 b2 m1 A turun turun turun B Gambar 34. Kesalahan pembagian skala (scale graduation) rambu.

bahwa apabila pengukuran antara dua titik (pilar) terdiri dari banyak slag pengaruh turunnya alat dan rambu akan menjadi lebih besar (akumulasi). Rumus yang digunakan untuk Di bawah ini adalah usaha yang bisa dilakukan untuk memperkecil pengaruh turunnya alat dan rambu: Pada perpindahan slag. Dari slag 1 : ∆h1 = (b1 – m1) + δ1 Dari slag 2 : ∆h2 = (b2 – m2)+ δ2 . menentukan beda tinggi (∆h) akibat penurunan alat antara A dan B yaitu: Slag 1: ∆h1 = (b1 − ( m1 + δ 1 ) Slag 2: ∆h2 = (b2 − λ1 ) − ( m 2 + δ 2 ) pembacaan dilakukan dua kali untuk setiap ∆h AB = (b1 − m1 ) + (b2 − m 2 ) − (δ 1 + δ 2 + λ1 ) u ∆h AB = ∆h AB − (δ 1 + δ 2 + λ1 ) = ∆h AB − K 1 + rambu. Untuk kedua usaha di atas dapat diterangkan sbb: Pembacaan dimulai pada rambu no I. I II Dimana K2 < K1 I λ1 1 b1 δ2 b2 m1 2 m2 δ1 A Gambar 35.δ2 ) u ∆hAB = ∆h AB − K 2 Dimana: ∆h u AB = beda tinggi hasil ukuran K1 = ( δ 1 + δ 2 + λ1 ) = kesalahan karena turunya alat dan rambu Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan.40 waktu alat pindah ke slag 2. rambu turun λ1 dan selama pengukuran berlangsung alat turun δ2.δ1 . Pembacaan pada rambu I B .λ1 ∆hAB = ∆hAB – (λ1 . pembacaan dimulai pada rambu yang sama seperti Pada pembacaan setiap slag pada slag sebelumnya.

Pengaruh kesalahan ini dapat sudah ∆h1 = (b2 + δ 2 ) − (m2 + δ 1 ) = (b2 − m 2 ) + (δ 2 − δ 1 ) Kesalahannya: (δ2 . δ2 ≠ δ1. Dan rambu II mempunyai kesalahan δ2.δ1) Jumlah kesalahan dari dua slag adalah (δ1 .41 Pembacaan diulang 2x I II 1 b1 b'1 δ1 m1 m2 δ2 Gambar 36. Kesalahan letak skala nol rambu Kesalahan letak skala nol rambu dapat terjadi karena kesalahan pembuatan alat (pabrik) atau rambu sering yang dipakai bawahnya digunakan sehingga menjadi aus. maka: Slag 1: ∆h1 = (b1 + δ 1 ) − (m1 + δ 2 ) = (b1 − m1 ) + (δ 1 − δ 2 ) Maka ∆h AB = ∆h AB u Kesalahannya: (δ1 .δ2) Slag 2: b. Pembacaan pada rambu II Dari slag 1 : Bacaan pertama : ∆h1 = (b1 – m1)-δ1 Bacaan kedua : ∆h1 = (b1 – m1) + δ2 Rata-rata ∆h1 = ∆h1u − 1 (δ 1 − δ 2 ) 2 Dengan cara yang sama dari slag dua diperoleh: u Rata-rata ∆h2 = ∆h2 − 1 (δ 2 − δ1 ) 2 Secara sistematis dapat dirumuskan sbb: Misal rambu I mempunyai kesalahan δ1.δ2) + (δ2 . .δ1) = 0 Artinya: u ∆h AB = ∆h AB permukaan diterangkan dengan gambar 37.

Kesalahan panjang rambu Panjang rambu akan berubah karena perubahan temperatur udara. 3m panjang pada kesalahan dilakukan akibat dengan kesalahan letak skala nol rambu. Bila pada waktu pengukuran temperatur udara adalah t (lebih besar atau lebih kecil dari t0) maka rambu tidak lagi 3m.... panjangnya rambu standar adalah L m. tetapi 3m ± α(t ..t0) dimana α adalah angka muai invar. Besarnya pengaruh dijelaskan dalam gambar 38. bila Hal ini mengakibatkan data hasil pengukuran mengalami kesalahan.42 I I II I b2 b1 m1 b3 m2 b4 II m4 m3 C 2 B 1 A 4 3 2 1 0 δ δ 4 3 2 1 0 Gambar 37. Posisi rambu harus diatur selangseling (I – II – I – II . maka dalam satu slag: Beda tinggi ukuran Karena b1 = ⎛ L + δ 1 ⎞ ⋅ b 1 = ⎛ 1 + δ 1 ⎞ ⋅ b ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ L⎠ ⎝ L ⎠ ⎝ m1 = ⎛ L + δ 2 ⎞ ⋅ m1 = ⎛1 + δ 2 ⎞ ⋅ m ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ L⎠ ⎝ L ⎠ ⎝ Maka ∆h = b – m = ∆hu + ⎛ δ 1 δ ⎞ b1 + 2 m 1 ⎟ ⎜ L ⎠ ⎝ L = ∆hu = b1 – m1 Beda tinggi yng beanr = ∆h = b – m temperatur standar t0. Secara sistematis dapat dirumuskan sebagai berikit: Misal rambu I muai sebesar δ1m dan rambu II muai δ2m. dst . umumnya 3m. I) c.. .. Misalnya panjang rambu rambu tersebut invar tepat 3m. Kesalahan Skala Nol Rambu Jadi dapat disimpulkan bahwa beda tinggi hasil ukuran antara dua titik tidak mengandung pengukuran prosedure sbb: Jumlah slag antara titik-titik yang diukur harus genap.

pasti dibagian yang lain ada yang lebih besar. artinya gelembung nivo sudah . Cara pencegahannya kesalahan pembagian yaitu akibat skala apabila tidak pada Dengan cara yang sama dapat diterangkan kesalahan untuk rambu yang mengkerut. seharusnya gelembung nivo berada ditengah. d. Misalkan panjang rambu 3m. Akan tetapi karena kesalahan pemasangan. hal ini tidak dikehendaki. sebaiknya rambu tersebut tidak digunakan dan dalam pemilihan rambu sebaiknya harus teliti agar memperoleh rambu yang sama dalam pembagian skalanya. Kesalahan pembagian skala rambu Kesalahan pembagian skala rambu terdapat meratanya rambu. terjadi pada waktu pembuatan (pabrik). data pengukuran mengandung kesalahan sebesar: ⎛ δ 1 b 1 + δ 2 m 1 ⎞ ⎜ ⎟ ⎝ L L ⎠ Penaksiran bacaan pada interval skala yang kecil akan berbeda dengan bacaan pada interval skala yang lebih besar. yaitu jika pada saat pengukuran udara panas atau hujan maka rambu ukur harus dilindungi dengan payung sehingga rambu ukur dapat terlindungi.43 I δ1 II δ2 1 b m Gambar 38. Cara pencegahan agar rambu tidak mengalami pemuaian. artinya ketelitian bacaan akan berbeda. Bukan rambu standar Artinya. e. maka apabila ada satu bagian skala dibuat terlalu kecil. keadaan di atas tidak dipenuhi. Kesalahan pemasangan nivo rambu Pada rambu keadaan tegak.

maka: b = b Cos α karena umumnya α kecil: b = b (1 – ½ α + . besarnya kesalahan tergantung tingginya bacaan b1.. Cara pencegahannya yaitu pada saat pengukuran bidik f...tB) Besarnya X adalah (lihat gambar 42): (R + h)2 + D2 = {(R + h) + X}2 (R + h)2+ D2 = (R + h)2 + 2 (R + h)X + X2 D2 = 2 (R + h)X + X2 Karena h <<< R dan X <<< R dapat Dianggap: (R + h) ≈ R dan X2 ≈ 0.tB). Kesalahn karena kelengkungan bumi pada beda tinggi adalah dh Dh = (b . Kelengkungan bumi Jarak antara bidang-bidang nivo melalui masing-masing titik yang bersangkutan disebut beda tinggi antara dua titik.. Bila kemiringan rambu adalah sudut α.44 berada ditengah rambu dalam keadaan miring.) b = b1 – ½ α b1 + . Apabila rambu miring baik kedepan. Secara sistematis dapat dirumuskan sebagai berikut: Bacaan rambu dalam keadaan miring adalah b1.m) yang tidak sama dengan selisih (tA .tA) – (m . Beda tinggi antara dua titik dapat ditentukan dari ketinggian bidang nivo 1 1 1 menghasilkan selisih bacaan (b . Karena α konstan.. Dengan garis bidik mendatar.tB) Sedangkan pada pembacaan rambu masing-masing adalah: Rambu belakang : Xb = (b . bacaan seharusnya adalah b. Besarnya kesalahan pembacaan adalah ½ α b . maka D2 = 2R. Permasalahan di atas dijelaskan dalam gambar 41. Dari bacaan garis bidik mendatar maka bacaan rambu akan terlalu besar.. kesamping. kebelakang. karena kelengkungan bumi tersebut tidak memberikan beda. Makin tinggi b1 maka makin besar kesalahannya.tA) Rambu muka : Xm = (m . tidak periksalah terlalu pemasangan dari atas nivo dan pada waktu pengukuran garis tinggi permukaan tanah. yang melalui alat sipat datar bila bidang-bidang nivo dianggap saling sejajar.X Atau 2 X = D 2R Dengan demikian: Xb = Db2 2R 2 Dm 2R Xm = .

45 Dan pengukuran sipat datar dijelaskan pada 2 Db2 Dm 1 2 − = ⋅ ( Db2 − Dm ) 2R 2R 2R dh = gambar 43. X = 40 2 = 0. R = 6000 km. Bila Mak Bila Maka D = 40 m.30 ) 2(6000000) 2 2 Y = K⋅ D2 2R = 0.13mm 2(6000000) kesalahannya adalah Y = t1 – t. K = 0. Dm = 30 m.02 mm 2(6000000) r= Dimana: k −1 2 2 ( Db − D m ) 2R r = adalah koreksi terhadap bacaan r = adalah koreksi terhadap beda tinggi (satu slag) tinggi dari posisi seharusnya.14 ⋅ Catatan: Koreksi menjadi refraksi satu atmosfir refraksi dan dan kelengkungan bumi biasanya digabung karena kelengkungan bumi terjadi bersamasama pada saat pengukuran dilakukan. Refraksi atmosfir Karena lapisan atmosfir mempunyai kerapatan yang tidak sama (makin kebawah. dh = 1 (40 . sehingga koreksi X bertanda negatif Bila Db > Dm koreksi dh adalah negatif Bila Db < Dm koreksi dh adalah positif g. Besarnya Y adalah : Db = 40 m. Rumusnya : r = k − 1 D 2 2R 40 2 = 0.14. Berikut contoh besarnya X dan dh. Besarnya atmosfir . Sehingga pengaruh benda-benda refraksi akan lebih pada Dimana K = koefisien refraksi atmosfir = R ≈ 0.06 mm Cara pencegahaannya adalah: Usahakan agar didalam setiap slag Db seimbang dengan Dm agar dh=0 Karena kelengkungan bumi bacaan rambu terlalu besar. Secara sistematis besarnya pengaruh refraksi atmosfir pada pengukuran sipat datar adalah sebagai berikut: Skala t akan nampak di t1. maka: Y = 0.14 R1 Contoh: Bila D = 40 m. makin rapat) jalannya sinar/ cahaya (matahari) adalah mengalami pembiasan (melengkung).

46 h. i. Getaran udara Biasanya. gelembung nivo akan nampak sudah tepat ditengah. teropong adanya bayangan nampak pemindahan rambu panas pada karena dari k. Apabila tidak sejajar. . bacaan Sehingga rambu mengakibatkan mengandung kesalahan. Montur sehingga lagi nivo arah mendapat garis tegangan nivo pembacaan. Sehingga megakibatkan kedudukan garis bidik belum mendatar maka pembacaan akan mengandung kesalahan. yaitu dengan cara menempatkan mata tegak diatas nivo langsung atau bayangan (lewat cermin atau prisma). pada nivo saat harus permukaan tanah ke atas. Paralak Dalam tepat pengukuran gelembung Untuk ditengah. Perubahan arah garis jurusan nivo Pada alat ukur akan terjadi tegangan pada bagian-bagian alat ukur terutama sekali nivo apabila terkena panas matahari langsung. Kesalahan garis bidik Garis bidik harus sejajar dengan garis jurusan nivo hal ini merupakan syarat utama alat sipat datar. jurusan mengalami perubahan dan tidak sejajar dengan garis bidik. maka pada saat pengukuran berlangsung hendaknya alat ukur di lindungi oleh payung. pastikan dulu bergetar bahwa garis bidik sudah sejajar dengan garis jurusan nivo. Cara pencegahannya yaitu sebelum pengukuran dimulai. Cara pencegahannya yaitu pada saat akan memulai pengukuran maka gelembung nivo diatur dulu hingga benar-benar sesuai dengan aturan. maka sebaiknya pengukuran dihentikan. karena paralak. mengetahu dengan tepat bahwa gelembung nivo berada ditengah. Dengan demikian cara pencegahannya yaitu karena pembacaan rambu tidak dapat dilakukan dengan teliti. pada kedudukan gelembung nivo ditengah garis bidik tidak mendatar.2 Kesalahan sistematis kesalahan pada suatu sistem. Cara pencegahannya yaitu agar hal ini tidak terjadi. j. Bila dari samping. Kesalahan yang sistematis adalah akibat kesalahan adanya mungkin terjadi 2. Kesalahan sistem dapat diakibatkan oleh peralatan dan kondisi alam.

maka akan mendekati harga benar walaupun tidak dapat diketahui dengan pasti penyebab kesalahan tersebut.47 Peralatan yang dibuat manusia walaupun dibuat dengan canggihnya. pita ukur baja yang terdapat koreksi skala atau koreksi suhu. yang timbul dan kesalahan semacam ini di sebut kesalahan Rambu belakang BTb Rambu muka BTm 1 Arah Pengukuran A 2 Gambar 39. Contohnya. terdapat semacam kesalahan yang besarnya hampir sama dan jika di lakukan koreksi dengan suatu nilai tertentu terhadap harga ukurnya. Kesalahan seperti ini dapat pula diklasifikasikan sebagai kesalahan sistematis. Apabila penyebab suatu kesalahan telah di ketahui sebelumnya dan apabila pada saat pengukuran kondisinya telah pula di ketahui maka dapat di lakukan koreksi terhadap kesalahan-kesalahan sistematis. Sebagai adanya contoh. akan tetapi masih diperlukan suatu prosedur guna mengetahui kesalahan maupun data. seperti pada kesalahan yang besarnya hampir sama dan jika dilakukan koreksi dengan suatu nilai tertentu terhadap harga ukurnya. kesalahan-kesalahan bahwa pada pita ukur baja biasanya untuk. Harga-harga ukurnya terdapat konstantakonstanta koreksi skala atau kloreksi suhu. kemungkinan pada pengukuran munculnya baik alat. Selanjutnya. Sipat Datar di Suatu Slag Apabila penyebab suatu kesalahan telah diketahui sebelumnya dan apabila pada saat pengukuran kondisinya telah pula diketahui. seperti halnya kesalahan petugas yang timbul pada pengukuran elevasi dengan instrumen ploting. maka dapat dilakukan koreksi pada kesalahan yang ada. maka pasti akan mendekati harga benar tersebut walaupun tidak dapat di ketahui dengan penyebab kesalahan . Selanjutnya. sehubungan dengan tersebut.

Kesalah sistematis dapat terjadi karena kesalahan alat yang kita gunakan. lengkungan Pada permukaan karena umumnya bidang-bidang nivo karena pula dan beda tinggi antara dua tititk adalah jarak antara dua bidang nivo yang melalui dua titik itu. maka bayangan dari mistar yang di lihat dengan sehingga teropong akan ada bergetar mistar pembacan menjadi BTm dan BTb. Karena masuknya lagi kaki tiga dan mistar kedalam tanah. 2. maka koreksi garis bidik untuk diatas sama dengan: klasifikasikan sebagai kesalahan sisitematis. Dapat diketahui bahwa untuk mendapatkan beda tinggi antara dua titik mistar yang diletakan di atas dua titik harus di bidik dengan garis bidik yang mendatar. Karena melengkungnya sinar cahaya (refraksi). Karena getaran udara. karena suhu dan tekannya tidak sama. pembacaan dengan garis bidik yang mendatar adalah BTb1-BTm1. akibat adanya pemindahan hawa panas dari permukaan bumi keatas. Sekarang akan dicari hubungan antara selisih pembacaan BTb2 dan BTm2 yang di dapatkan garis bidik miring dengan selisih pembacaan tidak dapat di lakukan.48 Kesalahan seperti ini dapat pula di BTb1 dan BTm2 yang akan di dapat bila garis bidik mendatar jadi telah sejajar dengan garis arah nivo. 3. sehingga akan pembacaan kedua mistar = ( BTb1 − BTm1) − ( BTb 2 − BTm2) (db1 − dm1) − (db2 − dm2) Kesalahan sistematis dapat juga disebabkan oleh karena keadaan alam yang dapat di sebabkan oleh: 1. Karena bumi. Sinar cahaya yang datang dari benda yang di teropong harus melalui lapisan-lapisan udara yang tidak sama padatnya. Kesalahan yang di dapat adalah yang berhubungan dengan syarat utama. sedang pembacaan yang di lakukan dengan garis bidik miring dinyatakan dengan angka 2. jadi garis arah nivo mendatar dan garis bidik tidak sejajar dengan garis arah nivo. Semua pembacan yang di lakukan dengan garis bidik yang mendatar diberi tanda dengan angka 1. Bila dalam waktu antara pengukuran satu mistar dengan mistar lainya baik . maka garis bidik akan miring dan membuat sudut α dengan garis pada arah nivo. 4. Kesalahan itu adalah garis bidik tidak sejajar dengan dengan garis arah nivo. Alat-alat yang di gunakan adalah alat ukur penyipat datar dan mistar. Lebih dahulu kita akan tinjau kesalahan yang ada pada alat ukur penyipat datar. Beda tinggi antara titik A dan titik B sama dengan t = BTb1-BTm1. bila gelembung di tengah-tengah.

2. hasil ukuran menjadi tidak benar.Σm0 Dari hal-hal diatas dapat dilihat bahwa. maka hasil pembacaan tidak benar. Karena perubahan garis arah nivo.2 Pengaruh kesalahan nol skala dan satu satuan skala mistar ukur Akibat hal–hal tertentu artinya dasar/ ujung bawah mistar ukur bahwa mistar ukur dan tidak samanya satu satuan skala dari masing–masing mistar ukur yang di gunakan timbul hal – hal sebagai berikut : σ = Kesalahan yang timbul akibat salah nol skala.2. Mengatasi kesalahan garis bidik ada dua cara : Dasar/ dihitung kemiringan garis bidik. slag selanjutnya harus menjadi mistar muka dan Bila garis bidik sejajar dengan garis arah nivo. Pengaturan perpindahan mistar ukur. dan selanjutnya dikoreksikan terhadap hasil ukuran. Mencari kesalahan garis bidik . terutama pada bagian penting seperti nivo. tersebut yaitu hilang dengan dengan mengatur sendirinya penempatan alat sehingga kesalahan (tereliminir). 5. Hasil ukuran : ∆h1 = (b10 + δ0 + ∆0) – (m10 + δ1 + ∆1) = (b10 + m10) + (δ0 + ∆0 – δ1 – ∆1 ∆h2 = (b20 + m20) + (δ0∆0 + δ1∆1) ∆h1 + ∆h2 = (b10 + m10) + (b20 + m20) Σ∆h = Σb0 . mistar belakang. dan akibatnya. 2. Bila pada slag sebelumnya mistar ukur merupakan sebaliknya. akibat dari dua kesalahan yang timbul.49 kaki tiga maupun mistar kedua masuk lagi kedalam tanah maka pembacan pada mistar kedua akan salah bila di gunakan untuk mencari beda tinggi antara dua titik yang ditempati oleh mistar-mistar itu. Eleminasi. karena alat ukur penyipat datar terkena napas sinar matahari maka akan terjadi tegangan pada bagianbagian alat ukur.1 Pengaruh kesalahan garis bidik 2. beda tinggi tidak benar. ∆ = Kesaahan yangtimbul akibat satu– satuan skala. tetapi dalam hal ini dapat di eliminasi dua cara : Di jumlah slag genap.

kita mengenal adnya rumus KGB (koreksi kesalahan garis bidik) KGB = (BTm1 – BTb1) – (BTm2 – BTb2) (dm1 – db1) – (dm2 – db2) 2. Walaupun demikian. ketidakmengertian pada alat. lalai. mudah dengan relatif pendekatan-pendekatan ilmu statistik. Khusus untuk pengukuran kerangka dasar horizontal. pada memperhatikan kesalahan sistematis dan acak yang sering terjadi.3 Kesalahan acak 2. Keterbatasan itu dapat berupa kekeliruan. Dengan demikian. atau belum menguasai sepenuhnya alat. Maka dari itu.1 Koreksi kesalahan Seluruh pengukuran untuk kepentingan dari pemetaan dasarnya maupun aplikasi lain.4 Kesalahan besar Kesalahan operator besar atau dapat terjadi apabila Adalah suatu kesalahan yang objektif yang mungkin terjadi akibat dari keterbatasan panca indera manusia.2 Kesalahan datar Kesalahan pengukuran sipat datar dapat dikelompokan dalam : 1. Pada fenomena pengukuran dan pemetaan suatu syarat geometrik menjadi kontrol dan pengikat data yang tercakup pada titik-titik kontrol pengukuran.4. jika terjadi kesalahan yang besar maka pengukuran harus diulang dengan rute yang berbeda. pengukur yang berpengalaman tidak mutlak pengukurannya itu benar. Karena itu dalam mempersiapkan dan merencanakan pekerjaan pengukuran harus diperhatikan hal–hal sebagai berikut: • • Menggunakan metode yang berbeda. koreksi kesalahan sistemtik dan acak mutlak dilakukan. tidak pengukuran sipat mungkin terjadi akibat terjadi perbedaan manusia.50 2.4. . Mengupayakan rute pengukuran yang berbeda. kelalaian. Kesalahan pengukur Kesalahan pengukur mempunyai panca indra (mata) tidak sempurna dan pengukur kurang hati-hati. kurang hati-hati. Pada fenomena pengukuran dan pemetaan suatu syarat geometrik menjadi kontrol Kesalahan keterbatasan Kesalahan dieleminir ini bersifat panca acak atau subjektif indra lebih dikoreksi yang surveyor melakukan kesalahan yang seharusnya tidak terjadi akibat kesalahan pembacaan dan penulisan nilai yang diambil dari data pengukuran. Kesalahan ini lebih mudah dikoreksi dengan pendekatan ilmu statistik. 2.

(2) 1 1 n jauh dan dibagi dalam beberapa seksi.51 paham menggunakan alat ukur. Karena seringnya rambu dipakai maka ada kemungkinan alas rambu menjadi aus. Ini berarti bahwa angka skala nol terletak di bawah alas rambu.b b1) karena a a1 = tan α (Db-Dm) h1-h = ∆h = tan α (Db-Dm) bila sudut α kecil : ∆h = α (radial) x (Db-Dm) b) Bila rambu baik skala dengan rambu alas maka garis nol harus rambu. 2. maka pengaruhnya kesalahn pada ukuran beda kesalahan pembuatan garis nol dapat terletak diatas alas rambu. a) Garis bidik tidak sejajar dengan garis jurusan nivo. berhimpit Karena terhadap hasil beda tingi adalah: ∆h = tan α (Db-Dm) = α (Db Dm)…. Beda dari yang tinggi salah yang karena didapat pembacaan pembacaan- . Alat sipat datar demikian kesalahan pengaruh dikatakan garis kesalahan mempunyai bidik. Kesalahan alat ukur Kesalahan yang diakibatkan oleh alat ukur antara lain : Dijelaskan dalam gambar 24. garis Besar bidik haruslah a1 dan b1 dikoreksi h = (a1-a a1) – (b1-b b1) h = (a1. dan tidak paham menggunakan pembacaan rambu. maka pembacaan pada rambu.(1) dimana : ∆h = tinggi Db = jarak kerambu belakang Dm = jarak kerambu muka α = kesalahan garis bidik apabila jarak antara dua titik yang diukur adalah : n ∆h = tan α ( ∑ Db-∑ Dm) 1 1 n n = α ( ∑ Db-∑ Dm)….(3) Persamaan (1) dapat dijelaskan sebagai berikut: h yang benar adalah : h = a – b dari ukuran diperoleh: h1=a1-b1 agar h1 menjadi betul.b1) – (a a1. Sehingga kesalahan mengakibatkan dari persamaan (1) dan (2) dapat dimengerti bahwa pengaruh kesalahan garis bidik sama dengan nol haruslah diusahakan agar : Db ∑ n 1 = Dm atau ( ∑ n 1 Db- Dm)…. Apabila garis jurusan nivo mendatar garis bidik tidak mendatar.

Seharusnya panjang rambu yang digunakan adalah standard. apabila jumlah seksi antara dua titik dibuat genap dan seling. Kesalahan karena faktor alam a) Karena bumi. . c) Untuk menegakan nivo pada nivo rambu kotak rambu. Apabila ada interval yang tidak sama sekali terlalu besar sekali lagi terlalu kecil maka dikatakan bahwa rambu mempunyai kesalahan pembagian skala. Sinar cahaya yang datang dari benda yang di teropong harus melalui lapisan-lapisan udara yang tidak sama padatnya. d) Kesalahan pembagian skala rambu. cahaya (refraksi). Bila dikatakan bahwa rambunya mempunyai kesalahan panjang.∆Lm b} Lb Lm digunakan diletakan gelembung ditempatkan ditengah. Akan tetapi bila gelembung nivo sudah ditengah tetapi rambu miring. Kesalahan ini tidak dapat dihilangkan. Artinya apabila angka rambu mulai dari 0 – 3m panjang rambu harus tepat 3m. 3. karena suhu dan tekannya tidak sama. c) Karena getaran udara . ukur yang Apabila pemindahan rambu ukur selama pengukuran harus selang Bila ∆Lb dan ∆Lm adalah kesalahan panjang rambu belakang dan muka Lb dan Lm panjang rambu belakang dan dan muka muka a dan yang b adalah pembacaan pada rambu belakang mempunyai kesalahan maka beda tinggi yang betul adalah : h=h1+{∆Lba . lengkungan Pada permukaan bidang- dikatakan terdapat kesalahan nivo kotak karena salah mengaturnya. Oleh sebab itu gunakan rambu dengan baik. b) Karena melengkungnya sinar rambu adalah sama. karena adanya pemindahan hawa panas dari permukaan bumi keatas. Seharusnya pembagian skala umumnya bidang nivo karena pula dan beda tinggi antara dua tititk adalah jarak antara dua bidang nivo yang melalui dua titik itu. maka bayangan dari mistar yang di lihat dengan teropong akan bergetar sehingga pembacan ada mistar tidak dapar di lakukan.52 adanya kesalahan garis nol skala rambu akan betul. rambu harus tegak. e) Kesalahan panjang rambu.

Penempatan alat pada titik sudut haruslah tepat kalau tidak demikian maka akan terdapat kesalahan sudut. sehingga terdapat kesalahan pengukuran jarak. terutama pada bagian penting seperti nivo. karena alat ukur penyipat datar kena napas sinar matahari maka akan terjadi tegangan pada bagianbagian alat ukur. jarak. Kesalahan jarak Kesalahan jarak yang sering dilakukan ialah disebabkan para pengukur jarak merentangkan pita ukurnya kurang tegang.3 Kesalahan pada ukuran Yang mempengaruhi sudut serta pengukuran: Sudut diukur pada satu titik. kedua titik sebelum dan sesudah titik sudut tersebut. 2. Untuk membantu dalam sentrering alat–alat pengukur sudut yang baru dilengkapi dengan alat sentering yang karena titik optis.53 d) Karena masuknya lagi kaki tiga dan mistar kedalam tanah. yang unting–unting sangat menyusahkan sangat mudah bergoyang bila tertiup Selain lainnya adalah titik–titik Disini akan dibicarakan sedikit mengenai kesalahan pada sudut dan kesalahan pada jarak: Kesalahan sudut Sudut yang diukur merupakan suatu data untuk perhitungan poligon dan dengan sendirinya pula ketelitian poligon sebagaian tergantung dari pada pengukuran sudutnya dengan demikian salah satu cara untuk meninggikan ketelitian poligon pengukuran sudut harus diukur dengan teliti.4. Karena sentrering dilapangan angin. akan Karena terdapat bila tidak kesalahan . menggunakan unting–unting sudut. Satu hal yang sangat penting dan yang kadang – kadang dilupakan orang ialah mengecek alat pengukur demikian sistematis. Bila dalam waktu antara pengukuran satu mistar dengan mistar lainya baik kaki tiga maupun mistar kedua masuk lagi kedalam tanah maka pembacan pada mistar kedua akan salah bila di gunakan untuk mencari beda tinggi antara dua titik yang di tempati oleh mistar-mistar itu. penting arah. e) Karena perubahan garis arah nivo.

Rambu miring .5 Mencari kesalahan besar pada sudut besar pada jarak Yang dimaksud dengan kesalahan besar disini ialah kesalahan sudut atau kesalahan jarak yang biasanya disebabkan oleh karena kekeliruan. baik karena kekeliruan membaca maupun menulis.54 2.4. Kesalahan besar sudut. menghitung atau menggambar poligon menghitung m e n d a ta r b b' α Gambar 40. Kesalahan besar dalam ukuran jarak suatu poligon terlihat pada salah penutup koordinat toleransi. dapat dicari tempatnya tetapi cukup dengan tidak satu perlu kali. Kesalahan besar dalam ukuran sudut suatu poligon sudah dapat terlihat pada salah penutup yang terlalu besar. yang jauh lebih besar dari Kemungkinan kesalahan besar pada sudut terbagi 2 macam cara : Kesalahan digambar besar sudut.4.4 Mencari kesalahan–kesalahan 2. Perpotongan kedua poligon itu menunjukkan titik poligon dimana terdapat kesalahan besar. muka dapat dan ditemukan bila poligon itu dihitung atau secara grafis belakang.

tB Bidang nivo A B Bidang nivo B Gambar 41. Kelengkungan Bumi D mendatar t bidang nivo melalui alat h Bumi R R Pusat Bumi Gambar 42. Kelengkungan bumi .55 b Xb mendatar m Xm tb Bidang nivo Alat tA A tA .

56 t' Y t h Garis pandangan Lengkung cahaya Bumi R R = jari-jari bumi R' = jari-jari lengkung cahaya Pusat Bumi Gambar 43. Refraksi atmosfir .

Drs. MT Koreksi dengan Metode Pengukuran Koreksi Garis Bidik (Sipat Datar KDV) Pembacaan Teropong Biasa & Luar Biasa (Theodolite KDH) Jumlah Slag Genap (Sipat Datar KDV) Jumlah Jarak Belakang ~ Jarak Muka (Sipat Datar KDV) Kesalahan Sistematis (Systemathical Error) Kesalahan yang disebabkan oleh sistem peralatan dan kondisi alam Kesalahan yang mungkin terjadi pada pengukuran dan pemetaan Kesalahan Acak (Random Error) Koreksi dengan Hitung Perataan dan Ilmu Statistik Kesalahan yang disebabkan oleh keterbatasan panca indera manusia Titik Kontrol Tinggi (H atau Z) Titik Kontrol Planimetris (X dan Y) Komponen-Komponen Koreksi Kontrol Sudut Horisontal (Azimuth) Sistem Pembobotan Koreksi Kesalahan Besar (Blunder) Pengukuran harus diulangi Kesalahan yang disebabkan oleh kesalahan membaca/melihat angka-angka Gambar 44.H.Ir.57 Model Diagram Alir Ilmu Ukur Tanah Pertemuan ke-02 Model Diagram Alir Teori Kesalahan Teori Kesalahan Dosen Penanggung Jawab : Dr. Model diagram alir teori kesalahan .Iskandar Muda Purwaamijaya.

Kesalahan yang tepat selalu tidak diketahui 3. 2. kesalahan panjang rambu (bukan rambu standar). Persyaratan kesalahan saat pengukuran yaitu: a. refraksi atmosfer. Bagian yang harus ada saat pengukuran yaitu benda ukur. 6. alat dan pengukur Factor.factor yang mempengaruhi hasil pengukuran yaitu : keadaan tanah jalur pengukuran. yaitu : kesalahan sudut dan kesalahan jarak. kesalahan garis bidik. keadaan/kondisi atmosfer (getaran udara).58 Rangkuman Berdasarkan uraian materi bab 2 mengenai teori kesalahan. Penyebab kesalahan pengukuran yaitu : alam. dan pengukur/pengamat. Harga sebenarnya dari suatu pengukuran tidak pernah diketahui d. Kesalahan pada ukuran dibagi dua. Macam-macam kesalahan yaitu : kesalahan sistematis. kelengkungan bumi. kesalahan besar. 4. 5. maka dapat disimpulkan sebagi berikut: 1. kesalahan acak. Setiap pengukuran mengandung galat c. kesalahan pembagian skala (scale graduation) rambu. . alat ukur. Pengukuran tidak selalu tepat b. kesalahan letak skala nol rambu. kesalahan pemasangan nivo rambu.

Gambarkan model diagram alir teori kesalahan! . Bagaimana cara mengkoreksi kesalahan sistematis pada pengukuran kerangka dasar vertical dan kerangka dasar horizontal? 3.59 Soal Latihan Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini ! 1. Jelaskan secara singkat definisi dari koreksi dan kesalahan? 2. Bagaimana cara mengatasi kesalahan garis bidik? 5. Jelaskan secara singkat faktor-faktor yang mempengaruhi hasil pengukuran? 4.

.

Metode trigonometris 3.2 Pengukuran sipat datar pengukuran beda tinggi yang paling teliti.MSL) atau ditentukan lokal. Tingkat Ketelitian Pengukuran Sipat Datar Tingkat/ Orde I II III K ± 3mm ± 6mm ± 8mm Bakosurtanal. Tabel 2. Jejaring titik kerangka dasar vertikal ini disebut sebagai Titik Tinggi Geodesi (TTG). Metode barometri 3. Pengadaan jaring kerangka dasar vertikal dimulai oleh Belanda dengan menetapkan MSL di beberapa tempat dan diteruskan dengan pengukuran sipat datar teliti. pengukuran beda tinggi sipat datar masih merupakan cara Metode sipat datar optis adalah proses penentuan ketinggian dari sejumlah titik atau pengukuran perbedaan elevasi. mulai akhir tahun 1970-an memulai upaya penyatuan sistem tinggi nasional dengan melakukan pengukuran sipat datar teliti yang melewati titik-titik kerangka dasar yang telah ada maupun pembuatan titik-titik baru pada kerapatan tertentu. terhadap MSL. Umumnya titik kerangka dasar vertikal dibuat menyatu pada satu pilar dengan titik kerangka dasar horizontal. Untuk keperluan pengikatan kumpulan titik-titik yang telah diketahui atau ditentukan ketinggiannya ketinggian posisi vertikalnya bidang berupa rujukan ketinggian.61 3. Pada tabel 2 ditunjukkan contoh ketentuan ketelitian sipat teliti untuk pengadaan kerangka dasar vertikal. Beda tinggi antara 2 titik dapat ditentukan dengan : 1. Pengukuran Kerangka Dasar Vertikal perbedaan tinggi hasil pengukuran sipat 3. Perbedaan yang dimaksud adalah perbedaan tinggi di Pengukuran tinggi adalah menentukan beda tinggi antara dua titik. Metode pengukuran penyipat datar 2.1 Pengertian Kerangka dasar vertikal merupakan datar pergi dan pulang. Sehingga ketelitian kerangka dasar vertikal (K) dinyatakan sebagai batas harga terbesar . Hingga saat ini. bila pada suatu wilayah tidak ditemukan TTG. Bidang ketinggian rujukan ini bisa berupa ketinggian muka air laut rata-rata (mean sea level . maka bisa menggunakan ketinggian titik triangulasi sebagai ikatan yang mendekati harga ketinggian teliti terhadap tertentu.

Beberapa istilah yang digunakan dalam pengukuran alat sipat datar. Artinya jarak antara dua titik yang akan diukur beda tingginya tidak boleh lebih dari 120 meter dengan alat sipat datar ditempatkan di tengah antar dua titik mempunyai permukaan ketinggian yang tidak sama atau mempunyai selisih tinggi. stasion adalah titik tempat berdiri alat.00 m. diantaranya: pertama diketahui tingginya. mempunyai syarat yaitu: garis bidik harus sejajar dengan garis jurusan nivo. Perbedaan tinggi antara titiktitik akan dapat ditentukan dengan garis sumbu pada pesawat yang ditunjukan pada rambu yang vertikal.62 atas air laut ke suatu titik tertentu sepanjang garis vertikal. Tujuan dari pengukuran penyipat datar adalah mencari beda tinggi antara dua titik yang diukur. Dalam keadaan di atas. gelembung nivo . maka agar kita dapat menaksir bacaan skala dalam 1 cm dengan teliti. apabila gelembung nivo tabung berada di tengah garis bidik akan mendatar.BTm Gambar 45. Pengukuran sipat datar optis A 2 Sebelum digunakan alat sipat datar a. Misalnya bumi. bukan tempat alat sipat datar ditempatkan. jarak antara alat sipat datar dengan rambu tidak lebih dari 60 meter. Karena interval skala rambu umumnya 1 cm. Rambu belakang BTb Rambu muka BTm 1 Arah Pengukuran ∆H1. Stasion Stasion adalah titik dimana rambu ukur ditegakan. Apabila selisih tinggi dari dua buah titik dapat diketahui maka tinggi titik kedua dan seterusnya dapat dihitung setelah titik tersebut dan paling dekat 3.2 = BTb . bumi tabung harus di tengah setiap kali akan membaca skala rambu. Oleh sebab itu. Tetapi pada pengukuran horizontal.

Stasion antara (intermediate stasion) Stasion antara (intermediate stasion) adalah titik antara dua titik putar. yang sering pula disebut slag. (permukaan air laut rata-rata) d. b = rambu belakang. b. Rambunya disebut rambu belakang. Disebut pengukuran ke muka. Titik putar (turning point) Titik putar (turning point) adalah stasion dimana pengukuran ke belakang dan ke muka dilakukan pada rambu yang ditegakan di stasion tersebut. d. Istilah-istilah di atas dijelaskan pada gambar 46. dimana hanya dilakukan pengukuran ke muka . maka: c. e. f. c. m = pengukuran ke rambu yang ditegakan di stasion yang diketahui ketinggiannya. Tinggi garis bidik Tinggi garis bidik adalah tinggi garis bidik di atas bidang referensi ketinggian untuk menentukan ketinggian stasion tersebut. Ti = tinggi alat.63 b. Pengertian lain dari beda tinggi antara dua titik adalah selisih pengukuran ke belakang dan pengukuran ke muka. Pengukuran ke muka Pengukuran ke muka adalah rambu muka. BC dst masing-masing disebut seksi atau slag. Seksi Seksi adalah jarak antara dua stasion yang berdekatan. Rambunya disebut rambu muka. tinggi stasion B diketahui. Disebut pengukuran ke belakang. Disebut pengukuran ke belakang. dan C = stasion: X = stasion antara Andaikan stasion A diketahui tingginya. Disebut pengukuran ke muka. Tinggi alat Tinggi alat adalah tinggi garis bidik di atas tanah dimana alat sipat datar didirikan. h. maksudnya untuk mengetahui tingginya garis bidik. stasion B disebut titik putar Jarak AB. Dari pengukuran 1 dan 2. maksudnya untuk mengetahui tingginya garis bidik. Pengukuran ke belakang Pengukuran ke belakang adalah Keterangan Gambar 46: A. B. Dengan demikian akan diperoleh beda tinggi sesuai dengan ketinggian titik yang diukur. maka: a. g. Tgb= tinggi garis bidik. pengukuran ke rambu yang ditegakan di stasion yang diketahui ketinggiannya.

64 b m m=b 3 1 2 4 m m2 t1 Ta A Tb t2 X B C bidang referensi Gambar 46. Seperti pada gambar 47.b hAB HA B HB bidang referensi Gambar 47. Apabila pembacaan rambu di stasion lain diketahui. Cara tinggi garis bidik Berikut adalah cara-cara pengukuran Dengan demikian dengan mengukur tinggi alat. stasion ini dapat pula dihitung. maka tinggi dengan sipat datar. . tinggi garis bidik dapat dihitung. Keterangan pengukuran sipat datar garis bidik mendatar b ta T A hAB = ta . diantaranya: a. Cara kesatu Alat sipat datar ditempatkan di stasion yang diketahui ketinggiannya.

Perhatikan gambar 48: hAB = a – b hBA = b – a Bila tinggi stasion A adalah HA. Catatan: ta dapat dianggap hasil pengukuran ke belakang.b Bila tinggi stasion B diketahui. Cara kedua Alat sipat datar ditempatkan diantara dua stasion (tidak perlu segaris). Dengan demikian beda tinggi dari A ke B yaitu hAB = ta – b. Hasil ini menunjukan bahwa hAB adalah negatif (karena ta < b) sesuai dengan keadaan dimana stasion B lebih rendah dari stasion A. Cara ketiga Alat sipat datar tidak ditempatkan HA = tinggi stasion A b = bacaan rambu di B HB = tinggi stasion B hAB = beda tinggi dari A ke B = ta – b untuk menghitung tinggi stasion B digunakan rumus sbb: HB = T – b HB = HA + ta – b HB = HA + hAB Cara tersebut dinamakan cara tinggi garis bidik. Hasilnya adalah positif. maka tinggi stasion A adalah: HA = HB + hBA = HB + b – a = T – a c. beda tinggi dari B ke A yaitu hBA = b – t. maka: HB = HA + hAB = HA + a . maka: HA = HB + hAB = HB + b – a . maka: HB = HC + tc – b = T – b HA = HC + tc – a = T – a Bila tinggi stasion A diketahui. Perhatikan gambar 49: hAB = a – b hBA = b – a bila tinggi stasion C diketahui HC. Jadi apabila HB dihitung dengan rumus HB = HA + hAB hasilnya dari A.65 Keterangan gambar 47: ta T = tinggi alat di A = tinggi garis bidik b. maka tinggi stasion B adalah: HB = HA + hAB = HA + a – b = T – b Bila tinggi stasion B adalah HB. tidak sesuai dengan keadaan dimana B harus lebih rendah diantara atau pada stasion. Dari catatan poin 1 dan 2 dapat disimpulkan bahwa hBA = -hAB agar diperoleh hasil sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. karena stasion A diketahui tingginya.

.a HB bidang referensi garis bidik mendatar a b tc C T 0 A HA h B HB HC Gambar 49. cara yang paling teliti adalah cara kedua. Keterangan cara ketiga Dari ketiga cara di atas. Cara kedua pesawat di tengah-tengah B hBA = b .b A HA Gambar 48.66 garis bidik mendatar a b T hAB = a . karena pembacaan a dan b dapat diusahakan sama teliti yaitu menempatkan alat sipat datar tepat di tengah-tengah antara stasion A dan B (jarak pandang ke A sama dengan jarak pandang ke B).

2. Digunakan apabila jarak antara dua stasion yang akan ditentukan beda tingginya sangat berjauhan (di luar jangkauan jarak pandang). Seperti pada gambar 50 : Perbedaan tinggi antara A ke B adalah hAB = ½ {(a . salah satu rambu (rambu jauh) diganti dengan target dan sipat datar yang digunkan adalah tipe jungkit. Sipat datar resiprokal Kelainan pada sipat datar ini adalah pemanfaatan konstruksi serta tugas nivo yang dilengkapi dengan skala terbuka terikat dengan cara kedua hasil pengukuran akan bebas dari pengaruh kesalahankesalahan garis bidik. Apabila jarak antara A dan B jauh. refraksi udara serta kelengkungan bumi. maka hasil akhirnya adalah data ketinggian dari kedua titik tersebut. Tujuan pengukuran ini umumnya untuk mengetahui yang ketinggian dari titik-titik biasanya pembaca dilakukan bagi pengungkitan nivo yang terhadap tersebut. Hasil akhir daripada pekerjaan ini adalah data ketinggian dari pilar-pilar sepanjang jalur pengukuran yang bersangkutan.67 Pada cara pertama pengukuran ta kurang teliti dibandingkan dengan Yaitu semua titik yang ditempati oleh rambu ukur tersebut. 5. . A.1 Jenis-Jenis Pengukuran Sipat Datar Ada beberapa macam pengukuran sipat datar di antaranya: 4. Titik-titk C. Jarak antara kedua stasion tersebut dibagi dalam jarak-jarak pendek yang disebut seksi atau slag. dan pada cara ketiga pembacaan a kurang teliti dibandingkan dengan pembacaan b. Selain itu.b) + (a’ + b’)}. B. Sipat datar memanjang dibedakan pengukuran b. dan D tidak harus berada pada satu garis lurus. Sipat datar memanjang. dilewatinya dan diperlukan sebagai kerangka vertikal bagi suatu daerah pemetaan. Memanjang sempurna. Memanjang pergi pulang. Memanjang double stand. menjadi: Memanjang terbuka. Memanjang keliling (tertutup). Jumlah aljabar beda tinggi tiap slag akan menghasilkan beda tinggi antara kedua stasion tersebut. 3. Seperti halnya sipat datar memanjang. Sehingga dapat dilakukan pengukuran beda tinggi antara dua titik yang tidak dapat dilewati pengukur.

Gambar 51. n2 = bacaan skala pengungkit pada saat garis bidik mengarah ke target bawah skala yang diperoleh. Contoh pengukuran resiprokal Apabila sekrup pengungkit dilengkapi skala untuk menentukan banyaknya putaran seperti nampak pada gambar 51. Rumus yang digunakan untuk Indek bacaan Sekrup pengungkit berskala menghitung b adalah: n − n2 B = b0 + b1 = b0 + 0 ⋅i n1 − n 2 Dimana: n0 = bacaan skala pengungkit pada saat gelombung nivo berada di tengah. sipat datar tipe jungkit . yang dicatat bukan kedudukan gelombang nivo akan tetapi banyaknya putaran ditentukan sekrup oleh pengungkit perbedaan yang bacaan n1 = bacaan skala pengungkit pada saat garis bidik mengarah ke target atas.68 a' b' a b B C A D Gambar 50.

konstruksi. Hasil akhir dari pengukuran ini adalah gambaran (profil) dari pada kedua jenis pengukuran tersebut dalam arah potongan tegaknya. Pengukuran ini bertujuan untuk digambarkan lapangan sepanjang proyek tersebut.69 Catatan: Untuk memperoleh ketelitian ke tinggi. C x D x A B Gambar 52. sehingga . Untuk kesalahan kelengkungan sebaiknya memperkecil refraksi bumi. Gambar irisan tegak keadaan rencana memanjang. misalnya ukuran pertama pagi hari dan ukuran kedua sore hari. Profil memanjang Maksud dan tujuan pengukuran profil memanjang adalah untuk menentukan ketinggian titik-titik sepanjang suatu garis rencana proyek irisan sehingga tegak garis dapat keadaan rencana pengukuran bolak-balik. Sipat datar profil. pertama kali alat ukur dipasang sekitar A kemudian dipindah ke tempat sekitar B seperti nampak pada gambar berikut ini: 6. Maksudnya. lapangan proyek sepanjang disebut garis profil mengetahui profil dari suatu trace baik jalan ataupun saluran. masing- selanjutnya dapat diperhitungkan banyaknya galian dan timbunan yang perlu dilakukan pada pekerjaan lakukanlah pengukuran masing target berulang-ulang. Hal ini dimaksudkan untuk memperkecil pengaruh refraksi udara. dilakukan pengaruh udara dan Pelaksanaan pekerjaan ini dilakukan dalam dua bagian yang disebut sebagai sipat datar profil memanjang dan melintang. misalkan 20x. Contoh pengukuran resiprokal Pengukuran sebaiknya dilakukan pada keadaan cuaca yang berbeda.

.2. akan yang (Systematic errors) dan kesalahan yang sifatnya kebetulan (accidental errors). sepanjang garis rencana proyek dipasang patok-patok dari kayu atau beton yang menyatakan sumbu proyek. Oleh sebab itu dilakukan Dalam pengukuran sipat datar akan pasti mengalami kesalahan-kesalahan yang pada garis besarnya dapat digolongkan ke dalam kesalahan yang sifatnya sistimatis pengukuran sipat datar luas dengan mengukur sebanyak mungkin titik detail. maka dapat ditarik garis-garis konturnya di atas peta daerah pengukuran tersebut. Kesalahan-kesalahan sistematis adalah yang tergolong kesalahan-kesalahan permukaan Bentuk dilukiskan yang telah diketahui penyebabnya dan dapat diformulasikan ke dalarn rumus permukaan oleh tanah garis-garis matematika maupun fisika tertentu. hingga dari tempat ini dapat dibidik sebanyak mungkin titik-titik di sekitarnya. Garis ini dinamakan kontur. Apabila panjang. 7. maka pengukurannya dapat dilakukan dengan cara tinggi garis bidik. Cara pengukurannya adalah dengan cara tinggi garis bidik. ada kalanya ingin diketahui keadaan tinggi rendahnya permukaan tanah. sehingga dengan melakukan interpolasi diantara ketinggian yang ada. Profil melintang Profil melintang diperlukan untuk menghubungkan titik-titik yang mempunyai ketinggian sama. memanjang. Apabila profil melintang yang dibuat mempunyai jarak pendek (± 120 m). Agar pekerjaan pengukuran berjalan lancar maka pilihlah tempat alat ukur sedemikian rupa. Patok-patok ini digunakan untuk pengukuran profil memanjang. Apabila makin rapat titik detail pengukurannya maka akan mendaptkan tanah yang gambaran lebih baik. 3. Sipat datar luas Untuk merencanakan bangunandilakukan seperti profil mengambil ketinggian dari titik-titik detail di daerah tersebut dan dinyatakan sebagai wakil daripada ketinggiannya. Pada jenis pengukuran sipat datar ini yang paling diperlukan adalah penggambaran profil dari suatu daerah pemetaan yang dilakukan dengan mengetahui profil lapangan pada arah tegak lurus garis rencana atau untuk mengetahui profil lapangan ke arah yang membagi sudut sama besar antara dua garis rencana yang berpotongan. Kerapatan dan letak titik detail diatur sesuai dengan kebutuhannya.70 Di lapangan.2 Ketelitian pengukuran sipat datar bangunan.

maka hasil pengukuran harus dibebaskan dari harus diulangi atau tidak mengetahui baik tidaknya pengukuran sipat datar (memanjang). kesalahan - kesalahan yang Untuk mengetahui apakah pengukuran dan untuk terdapat pada alat ukur yang digunakan antara lain kesalahan garis bidik. maka ditentukan batas harga kesalahan terbesar yang masih dapat diterima yang dinamakan toleransi pengukuran. Misalnya. refraksi udara dan kelengkungan bumi. menaksir letak gelembung nivo di tengah. Biasanya alat ini dilengkapi dengan nivo yang sipatan berfungsi mendatar untuk dari mendapatkan kedudukan alat dan unting-unting untuk mendapatkan kedudukan alat tersebut di atas titik yang bersangkutan. kesalahan yang sifatnya Pengukuran sipat datar memerlukan dua alat utama yaitu sipat datar dan rambu ukur alat sipat datar. Cara yang dapat ditempuh yaitu dengan memberikan koreksi terhadap hasilnya atau dengan caracara pengukuran tertentu. untuk menghilangkan pengaruh kesalahan garis bidik.2. Dengan demikian hasil pengukuran hanya dipengaruhi kebetulan. Kesalahan . alat sipat datar harus ditempatkan tepat di tengah antara dua rambu (jarak ke rambu belakang dan ke rambu muka harus dibuat sama besar). . kesalahan garis nol skala rambu.3 Syarat-syarat alat sipat datar D kesalahan sistematis tersebut. Angka toleransi dihitung dengan rumus: T=±K Dimana : T = toleransi dalam satuan milimeter K = konstanta yang menunjukan tingkat ketelitian pengukuran dalam satuan milimeter D = Jarak antara dua titik yang diukur dalam satuan kilometer 3. akan tetapi orde besarnya biasanya kecil-kecil saja serta kemungkinan positif dan negatifnya sama besar. Karena kesalahan sistimatik bersifat menumpuk (akumulasi). Pesawat Sipat Datar Pesawat sipat datar yang kita gunakan dapat ditemukan pada beberapa alat berikut. Misalnya.71 Misalnya.kesalahan yang tergolong kebetulan adalah kesalahan-kesalahan yang tidak dapat dihindarkan dan pengaruhnya tidak dapat ditentukan. a. kesalahan menaksir bacaan pada skala rambu. kesalahan karena faktor alam antara lain refraksi udara dan kelengkungan bumi.

72 1. Dari jenis kotak yang terletak pada tribach dan jenis tabung yang landasan datar tempat alat ukur tersebut diletakan dan diatur terletak di atas teropong. Bagian dari alat ini meliputi: Landasan alat Landasan alat ini terletak di atas dari tripod (statif) dan merupakan Teropong ini dilengkapi dengan sekumpulan peralatan optis dan peralatan untuk dapat memperbesar bayangan. Nivo kotak tersebut digunakan untuk sebelum melakukan pengukuran. Tribach Tribach adalah platform ataupun penghubung statip dan alat sipat datar. Teropong Teropong ini duduk di atas tribach dan kedudukan mendatarnya diatur oleh ketiga sekrup penyetel yang terdapat pada tribach diatas. yaitu agar tegak lurus pada garis grafvitasi dan nivo tabung digunakan untuk mendatarkan landasan alat tersebut. Nivo Pada alat ukur sipat datar ini umumnya terdapat dua buah nivo. juga untuk mendatarkan sebuah bidang nivo yaitu bidang yang tegak lurus teropong pada jurusan bidikan. . reticule dengan benang diafragma. serta peralatan penyetel lainnya. Alat ini adalah alat yang paling sederhana. Dumpy Level Kelebihan dari alat sipat datar ini yaitu teleskopnya hanya bergerak pada suatu bidang yang menyudut 90° terhadap sumbu rotasinya. Sekrup penyetel Sekrup penyetel berfungsi untuk mendatarkan alat ukur di atas mendatarkan bidang nivo dari alat tersebut. terhadap garis gaya gravitasi.

Pada type ini teropong dapat diputar sepanjang sumbu mekanis sehingga nivo tabung letak dibawah teropong. terdiri dari tribrach dan trivet. Tipe Reversi ( Reversible level ) Kelebihan dari sipat datar ini yaitu pada teropong terdapat nivo reversi dan teropong mempunyai sumbu mekanis. Dumpy level Tipe kekar terdiri dari: 1) Teropong. 2) Nivo tabung. 3) Skrup koreksi/pengatur nivo. penyangga sumbu kesatu dan teropong.73 Gambar 53. kebawah maupun mendatar. . 10) Sumbu kesatu (sumbu tegak) . 8) Trivet. 6) Skrup kiap (umumnya 3 buah). dapat dikuncikan pada statip 9) Kiap (leveling head). 4) Skrup koreksi/pengatur diafragma (4 buah). 5) Skrup pengunci gerakan horizontal. 7) Tribrach. 11) Tombol focus 2. Disamping itu teropong dapat diungkit sehingga garis bidik bisa mengarah keatas. Karena nivo tabung mempunyai dua permukaan maka dalam posisi demikian gelembung nivo akan nampak.

Gambar 54. 2) Nivo reversi (mempunyai dua permukaan). Tipe reversi 6) Skrup kiap. . 3) Skrup koreksi/pengatur nivo 4) Skrup koreksi/pengatur diafragma.74 Tipe Reversi terdiri dari: 1) Teropong. 5) Skrup pengunci gerakan horizontal.

15) Sumbu mekanis. 3. Tilting Level Perbedaan tilting level dan dumpy level adalah teleskopnya tidak dapat dipaksa bergerak sejajar dengan plat paralel di atas. 8) Trivet. 10) Sumbu kesatu (sumbu tegak). yaitu dengan tersedianya bola dan soket diantara landasan statif dan tribach tersebut. 11) Tombol focus. Dua macam tilting level . Gambar 55. diantaranya: Dudukan alat Pada bagian alat ini dapat berputar terhadap sumbu vertikal alat. Bagian dari alat ini. 9) Kiap. Kelebihan dari pesawat tilting level yaitu teropongnya dapat diungkit naik turun terhadap sendinya. 14) Skrup pemutar. dan mempunyai dua nivo yaitu nivo kotak dan nivo tabung. Penyetelan pesawat ungkit ini lebih mudah dibandingkan dengan Teropong Teropong yang terdapat pada alat ukur ini sama dengan pada alat ukur dumpy level ataupun teropong pada umumnya. Berbeda dengan tipe reversi. 13) Skrup pengungkit teropong. Dalam tilting level terdapat sekrup pengungkit teropong dan hanya terdiri dari tiga bagian saja.75 7) Tribrach. dumpy level. pada tipe ini teropong dapat diungkit dengan skrup pengungkit. Nivo Demikian pula nivo yang terletak di atas teropong tersebut mempunyai fungsi yang sama dengan yang terdapat pada alat-alat lainnya. 12) Pegas.

6. 9. 5. Skrup kiap. Skrup koreksi/pengatur diagram. Trivet. Kiap (leveling head). Tribrach. 12. Skrup pengunci gerakan horizontal. Alat ini hanya mendatarkan bidang nivo kotak melalui tiga sekrup penyetel dan secara otomatis sebuah bandul menggantikan fungsi nivo tabung dalam mendatarkan garis nivo ke target yang dikehendaki. Tombol focus. Skrup koreksi/pengatur nivo. 4. 7. Teropong. Nivo tabung. 2. Pegas. Sumbu kesatu (sumbu tegak).76 Gambar 56. 8. 3. 10. Bagin-bagian dari tilting level Keterangan : 1. Automatic Level Pada alat ini yang otomatis adalah sistem pengaturan garis bidik yang tidak lagi bergantung pada nivo yang terletak di atas teropong. 13. sekrup . Bagian-bagian dari alat sipat datar otomatis diantaranya: kip bagian bawah (sebagai landasan pesawat yang menumpu pada kepala statif). 11. Skrup pengungkit teropong. 4.

Keistimewaan utama dari penyipat datar otomatis adalah garis bidiknya yang melalui tengah sumbu perpotongan selalu optik benang silang horizontal alat meskipun tidak Gambar 57. kesatu tegak lingkaran mendatar (skala sudut). teropong. dan tombol pengatur fokus (menyetel ketajaman gambar objek). Instrumen sipat datar otomatis tersebut horizontal. Bagian-bagian dari sipat datar otomatis . nivo kotak (sebagai pedoman yang penyetelan lurus rambu nivo). Gambar 58.77 penyetel kedataran (untuk menyetel nivo).

Meter teratas dan meter terbawah berwarna hitam. dimana kegunaan dari keempat alat di atas yaitu hanya untuk memperoleh informasi beda tinggi yang relatif akurat pada pengukuran di suatu lapangan. 8. Pada bagian bawah diberi sepatu. Kompensator. 7. yaitu: 1. dan 5 m. tebal 3 cm – 4 cm. Rambu sipat datar sasaran Rambu ukur diperlukan untuk berwarna merah. Skrup pengunci gerakan horizontal. Ukurannya. mempermudah/membantu mengukur beda tinggi antara garis . Teropong. 4. 3. 4 m. Rambu Ukur Rambu untuk pengukuran sipat datar (leveling) diklasifikasikan ke dalam 2 tipe. 3 m. dan meter di tengah dibuat pembacaan sendiri a) Jalon b) Rambu sipat datar sopwith c) Rambu sipat datar bersendi d) Rambu sipat datar invar 2. Skrup kiap. Rambu sipat datar dengan bidik dengan permukaan tanah. Rambu ukur biasanya dibaca langsung oleh pembidik. Kiap (leveling head/base plate). 5. 2. kadang disebut rambu E. Rambu ukur dibagi dalam skala. Ukuran desimeter dibagi dalam sentimeter oleh E dan oleh kedua garis. agar tidak aus karena sering dipakai. Skrup koreksi/ pengatur diafragma. Ketepatan penggunaan dari keempat alat sipat datar diatas yaitu sama-sama digunakan untuk pengukuran kerangka dasar vertikal. Tribrach. dan 9. Ukuran meter yang dalam rambu ditulis dalam angka romawi. Oleh karena itu. 6.78 Keterangan : 1. b. Fungsi rambu ukur adalah sebagai alat bantu dalam menentukan beda tinggi dan mengukur jarak dengan menggunakan pesawat. lebarnya ±10 cm dan panjang 2 m. angka-angka menunjukan ukuran dalam desimeter. Trivet. Angka pada rambu ukur tertulis tegak atau terbalik. Tombol focus. Rambu ukur terbuat dari kayu atau campuran logam alumunium. Pada bidang lebarnya ada lukisan milimeter dan diberi cat merah dan hitam dengan cat dasar putih agar saat dilihat dari jauh tidak menjadi silau.

Seperti telah dibahas sebelumnya. bidang .79 Pada pengukuran tinggi dengan cara trigonometris ini. maka kita masih dapat menganggap bidang nivo Gambar 59.3 Pengukuran trigonometris Metode trigonometris prinsipnya adalah jauh. Rambu ukur sebagai bidang datar. Bila jarak mendatar atau jarak miring diketahaui memakai dihitunglah atau diukur. Sudut tegak lengkung. tetapi haruslah lengkung dipandang dan garis diperoleh dari pengukuran dengan alat theodolite sedangkan jarak diperoleh atau terkadang diambil jarak dari peta. karena yang diukur di sini adalah sudut miringnya atau sudut zenith. Di samping itu kita harus pula menyadari bahwa jalan sinarpun bukan merupakan garis lurus. maka dengan geometris hendak hubungan-hubungan beda tinggi yang ditentukan itu. sebagai lengkung. Akan tetapi bila jarak yang dimaksudkan itu 3. beda tinggi antara dua titik dihitung dari besaran sudut tegak dan jarak. Jadi jika jarak antara kedua titik yang akan ditentukan beda tingginya itu jauh. maka kita tidak boleh lagi memisahkan atau mengambil bidang nivo itu sebagai bidang datar. maka bidang nivo dan jalan sinar tidak dapat dipandang sebagai bidang datar dan garis lurus. tinggi alat. tetapi haruslah bidang nivo itu dipandang sebagai bidang lengkung. tetapi merupakan garis mengukur jarak langsung (jarak miring). beda tinggi didapatkan secara tidak langsung. tinggi benang tengah rambu dan sudut vertikal (zenith atau inklinasi) yang kemudian direduksi menjadi informasi beda tinggi menggunakan alat theodolite. Bila jarak antara kedua titik yang hendak ditentukan beda tingginya tidak jauh.

ukur tingginya target dari B. dan Dari besaran-besaran yang diukur. Tegakkan target di B. Ukur jarak mendatar D atau Dm (dengan EDM). Makin dekat ke A makin padat. misalkan l. Dengan adanya kesalahan karena faktor alam tersebut di atas hitungan beda tinggi perlu mendapat koreksi. . Misalkan t. sin I + ta – BT HAB = (TB + TB’) + B’B’’ – TB = D tan m + t – 1 ⇒cot z + t-1 HAB = Dm sin m + t – 1 = Dm cos z + t – 1 Sudut tegak ukuran perlu mendapat koreksi sudut refraksi dan bidang-bidang nivo Titik A dan B akan ditentukan beda tingginya dengan cara trigonometris. Prosedur pengukuran dan perhitungannya adalah sebagai berikut: Tegakkan theodolite di A. Contoh pengukuran trigonometris H B AB i dab ∆HAB : Inklinasi (sudut miring) : dm . Lapisan udara dari B ke A akan berbeda kepadatannya karena sinar cahaya yang datang dari target B ke teropong theodolite akan melalui garis melengkung. cos i : dm . Ukur sudut tegak m (sudut miring) atau z (sudut zenith). ukur tingginya sumbu mendatar dari A. maka: melalui A dan B harus diperhitungkan sebagai permukaan yang melengkung apabila beda tinggi dan jarak AB besar dan beda tinggi akan ditentukan lebih teliti.80 BT dm i ta A dAB Gambar 60.

Cp .14 R = jari-jari bumi 6370 km Besarnya sudut refraksi udara r dapat dihitung dengan rumus: R = rm . t = temperatur udara 273 + t di A dalm mmHg 0C . P = tekanan udara di A 760 dalam mmHg D2 + t −1 2R 1− k ⋅ D2 2R Ct = atau h AB = D tan m'+t − 1 + 283 . Gambar koreksi trigonometris Keterangan: z’ = sudut zenith ukuran z = sudut zenith yang betul h AB = D cot z '+t − 1 + Dimana: k 1− k ⋅ D2 2R m’ = sudut miring ukuran m = sudut miring yang betul r 0 = sudut refraksi udara = pusat bumi = koefisien refraksi udara = 0. temperatur udara 100C dan kelembaban nisbi 60% Cp = atau h AB = D tan(m'−r ) + hAB = D tan(m'− r ) + D2 + t −1 2R P . Ct D = jarak (mendatar) Dari gambar 61: hAB = (TB + BB’) + B’B’’ + B’’B’’’ – TB 2 hAB = D tan m + D + t – 1 2R rm = sudut refraksi normal pada tekanan udara 760 mmHg.81 Gambar 61.

82 Agar beda tinggi yang didaptkan lebih baik. m2’ sudut miring ukuran di A dan B t dan 1 dibuat sama tinggi. Bagian-bagian barometer Metode barometris prinsipnya adalah Dari ketiga metode di atas yang keuntungannya lebih besar ialah alat sipat datar. Tujuan pengukuran sipat datar KDV pembacaan dibandingkan dua metode lainnya. tetapi membutuhkan yang lebih Pengukuran sipat datar KDV maksudnya adalah pembuatan serangkaian titik-titik di lapangan yang diukur ketinggiannya melalui pengukuran beda tinggi untuk pengikatan ketinggian titik-titik lain yang lebih detail dan banyak. maka pengukuran harus dilakukan bolakbalik. . mengukur beda tekanan atmosfer suatu ketinggian menggunakan alat barometer yang kemudian direduksi menjadi beda tinggi. karena setiap ketinggian berbedabeda dan tekanan berbeda-beda maka hasil pengukurannya pun berbeda-beda. Pengukuran mudah ketelitian dengan barometer relatif dilakukan. Kemudian hasilnya dirata-ratakan. 3. kelembapan. dan kondisi-kondisi sedemikian rupa sehingga informasi tinggi pada daerah yang tercakup layak untuk diolah sebagai informasi yang lebih cuaca lainnya. dapat pula beda tinggi dihitung secara serentak dengan rumus: Pada prinsipnya menghitung beda tinggi pada suatu wilayah yang relatif sulit dicapai karena kondisi alamnya dengan bantuan pembacaan tekanan udara atau atmosfer menggunakan alat barometer ⎛ H + HB ⎞ h AB = D⎜1 + A ⎟ tan 1 (m' 2 − m'1 ) 2 2R ⎠ ⎝ dimana: HA dan HB tinggi pendekatan A dan B (dari peta topografi) m1’. yaitu metode alat sipat datar dan metode trigonometris Hasil dari pengukuran barometer ini adalah untuk memperoleh informasi tinggi yang relatif akurat di lapangan yang bergantung pada ketinggian permukaan tanah juga bergantung pada temperatur udara.4 Pengukuran barometris Gambar 62.

........... Disamping itu.... Kombinasi rumus 2 dan 3 akan memberikan: Dh = Bila P1 adalah Peristiwa alam menunjukan bahwa semakin tinggi suatu tempat maka semakin kecil tekanannya... δ = kepadatan udara... Dengan demikian rumus di atas akan menjadi: P = δ . manual..83 kompleks........ Referensi informasi ketinggian diperoleh melalui suatu pengamatan di tepi pantai yang dikenal pasut.... dan elektronis... dh.....g ... V = R ...... dengan Pengamatan nama ini Menurut hukum Boyle dan Charles: P .1 Dimana: P= tekanan gas (udara) persatuan masa. mempunyai hubungan: M=V.. T......δ Maka untuk satu satuan masa...... δ ... maka dengan menggunakan rumus 4 dengan perubahan tinggi....2 Bila perubahan tekanan udara adalah dp untuk satu satuan luas sesuai dengan perubahan tinggi dh.. Secara sederhana kita dapat menentukan hubungan antara perubahan tekanan RT dp . karena antara massa m dengan volume V dan kepadatan δ pengamatan dilakukan dengan menggunakan alat-alat sederhana yang bekerja secara mekanis... T.. Hubungan antara tekanan dan ketinggian bergantung pada temperatur. maka: Dp = .. Pengukuran sipat datar KDV diawali dengan mengidentifikasi kesalahan sistematis dalam hal ini kesalahan bidik alat sipat datar optis melalui suatu pengukuran sipat datar dalam posisi 2 stand.. . R ....... dalam satuan m3 R= T= konstanta gas (udara) temperatur gas (udara) dalam satuan kelvin (00C = 2730K). V = 1/δ...4 ⋅ g p tekanan udara pada ketinggian H1 dan P2 adalah tekanan pada ketinggian H2.. dalam satuan Newton/m2 V= volume gas (udara) persatuan masa... kelembaban dan percepatan gaya gravitasi...3 Gambar 63........ Barometer Dimana g = percepatan gaya berat.

... B. D akan ditentukan beda-beda tingginya....2928 kg/m3 pada temperatur 00C dan tekanan 760 mmHg gs = 9.... namun disini kita akan bahas dua metode...7 ⎜p ⎟ T ⎟ ⎝ 1⎠ s ⎠ (simultaneous observation) 1... Dari rumus 2: R= ps .6 δ s Ts Subtitusikan harga R persamaan 6 kedalam persamaan 5: ⎛ ps h = −⎜ ⎜ M ⋅δ ⋅ g s s ⎝ ⎞ ⎛p ⎞ T ⎟ ⋅ log⎜ 2 ⎟ ⋅ ......... C...80665 N/kg dimuka laut pada suatu lintang 450 Ts = 00C = 2730K Maka : R ⋅T akan g merupakan konstanta...80665 N/kg ..............84 RT dp h = ∫ dh = H 2 − H 1 = − ∫ ⋅ g p H1 P 1 Karena H2 P2 δs = 1........... δ = δs dan T = Ts.................. Bila diambil harga standar sbb: Ps = 101325 N/m2 yang sesuai dengan tekanan 760 0 mmHg pada temperatur 0 C dan g = 9........... yaitu: metode pengukuran tunggal (single observation) metode pengukuran simultan P RT log( 2 ) ......... Pengukuran tunggal Misalkan titik-titik A... maka: h=− RT g P2 dp p P 1 ∫ h = −(18402...... h=− M ⋅g P1 Brigg = 0....... apabila kita menentukan harga standar untuk p = ps ..5 Harga konstanta R dapat ditentukan besarnya. Alat ukur yang digunakan satu alat barometer dan satu alat thermometer...........4342945.....8 Ts p1 h=− RT g{ln P2 − ln P1 } P2 = tekanan udara pada ketinggian H2 dalam mmHg P1 = tekanan udara pada ketinggian H1 dalam mmHg T = temperatur udara rata-rata pada ketinggian H1 dan H2 dalam 0K Ts = temperatur udara standar = 2730K Prosedur pengukuran: Ada beberapa metode pengukuran yang dapat dilakukan...........6)m Dimana: p T log( 2 ) . M = modulus log..

Kemudian kita berjalan menuju titik B. t3. Pertama sekali catat tekanan dan temperatur udara di A. t1. Pada titik-titik yang dilalui tadi (B. dilakukan. namun pada pengukuran tunggal hal ini tidak mungkin dilakukan. pencatatan tekanan dan temperatur udara di dua titik yang ditentukan beda tingginya dilakukan pada saat bersamaan. C. Pengukuran simultan Pada metode simultan. Prosedur pengukuran: Buat jadwal waktu penacatatan. t4. C. t5.85 D B A C Gambar 64. Maksudnya untuk mengeliminir kesalahan karena perubahan kondisi atmosfir. dan D. Dan dari ketinggian A dapat dihitung ketinggian B. Alat barometer dan thermometer yang digunakan adalah dua buah. Sehingga pencatatan mengandung kesalahan akibat perubahan kondisi atmosfir. A) kita catat pula tekanan dan temperatur udaranya. Alat-alat pertama (I) ditempatkan di A. dan alat-alat kedua (II) berjalan dari A-B-C-D-C-B-A. B. C. B. t2. C. Misalkan t0. Barometer dan thermometer pertama ditempatkan di titik yang diketahui tingginya besaran tekanan dan temperatur di setiap titik. D. Dalam keadaan atmosfir yang sama idealnya pencatatan di setiap titik sedangkan yang lain dibawa ke titik-titik yang akan diukur. D dan kemudian kembali ke C. dan A. t6. Dengan pencatatan besaran- 2. Pengukuran tunggal Misal titik A telah diketahui tingginya. dengan rumus 8 dapat dihitung beda-beda tingginya. .

.9 p1 T dinyatakan dalam satuan 0C α= 1 = 0. tekanannya adalah p = 739 mmHg maka rumus umum untuk menghitung tinggi adalah: Hi = (18402. catat tekanan dan temperatur di A (I) dan C (II) Pada pukul t3. catat tekanan dan temperatur di A (I) dan B (II) Pada pukul t7.6) (1 + 0. catat tekanan dan temperatur di A (I) dan D (II) Pada pukul t5. catat tekanan dan temperatur di A (I) dan C (II) Pada pukul t6. catat tekanan dan temperatur di A (I) dan D (II) Pada pukul t4. Pengukuran Simultan Pada pukul t0. karena harga g yang digunakan disesuaikan dengan berdekatan dapat diketahui. Dengan demikian beda tinggi antara dua titik yang Catatan: 1. Rumus 8 dapat ditulis lain: h = −(18402. catat tekanan dan temperatur di A (I) dan A (II) Dari pencatatan di A dan titik-titik lain dapat ditentukan beda tinggi terhadap A.003663 273 2. Apabila dimisalkan untuk tinggi H = 0. catat tekanan dan temperatur di A (I) dan B (II) Pada pukul t2. Rumus berikut ini.. akan memberikan hasil h yang lebih baik.86 t4 t6 t7 D t5 t3 B t1 A C t2 Gambar 65..6)(1 + αt ) log( Dimana: p2 ) .003663 t) log ( 739 ) pi dihitung dengan rumus 10 Tinggi disebut tinggi hitungan dan digunakan untuk menghitung beda tinggi. catat tekanan dan temperatur di A (I) dan A (II) Pada pukul t1. . 3.

..6] (1 + αt) (1 + 2H ) R (1 + β cos 2ϕ log ( Dimana: p2 )...............64399 x 10-3 ....11 p1 2H = H1+H2 (harga pendekatan) R = jari-jari bumi (≈ 6370 km) ϕ = lintang tempat pengamatan rata-rata = ½ (ϕ1 +ϕ2 ) β = 2...[18402.87 ketinggian dan lintang tempat pengamatan.. Sedangkan pada rumus 8 harga g yang digunakan adalah harga g pada ketinggian nol dan lintang 450 H = .

Drs.Ir.45 %) Metode Trigonometris Benang Tengah Sudut Vertikal (Inklinasi/ Zenith) Orde .H.3 Tekanan Udara di Titik i Tekanan Udara di Titik j Daerah Gunung ( > 45 %) Metode Barometris Gravitasi di Titik i Massa Jenis Cairan Gravitasi di Titik j Gambar 66.Iskandar Muda Purwaamijaya.15 %) Metode Sipat Datar Benang Tengah Rambu Muka Tinggi Alat Orde . Model diagram alir pengukuran kerangka dasar vertikal .88 Model Diagram Alir Ilmu Ukur Tanah Pertemuan ke-03 Model Diagram Alir Penjelasan Metode-Metode Pengukuran Kerangka Dasar Vertikal Pengukuran Kerangka Dasar Vertikal Dosen Penanggung Jawab : Dr.2 Jarak langsung Pengukuran Kerangka Dasar Vertikal Daerah Bukit (15 .1 Benang Tengah Rambu Belakang Daerah Datar ( 0 . MT Orde .

89 Rangkuman Berdasarkan uraian materi bab 3 mengenai pengukuran kerangka dasar vertikal. 5. . Pengukuran beda tinggi dapat ditentukan dengan tiga metode. 2. Pengukuran beda tinggi metode trigonometris prinsipnya yaitu mengukur jarak langsung (jarak miring). Pengukuran tinggi merupakan penentuan beda tinggi antara dua titik. Tingkat ketelitian yang paling tinggi dari ketiga metode tersebut adalah sipat datar kemudian trigonometris dan terakhir adalah barometris. yaitu: • • • • Sipat datar memanjang Sipat datar resiprokal Sipat datar profil Sipat datar luas 4. maka dapat disimpulkan sebagi berikut: 1. Tujuan dari pengukuran penyipat datar adalah mencari beda tinggi antara dua titik yang diukur. Pengukran beda tinggi metode sipat datar optis adalah proses penentuan ketinggian dari sejumlah titik atau pengukuran perbedaan elevasi. tinggi alat. tinggi benang tengah rambu dan sudut vertikal (zenith atau inklinasi) yang kemudian direduksi menjadi informasi beda tinggi menggunakan alat theodolite. 6. Kerangka dasar vertikal merupakan kumpulan titik-titik yang telah diketahui atau ditentukan posisi vertikalnya berupa ketinggiannya terhadap bidang rujukan ketinggian tertentu. Pengukuran beda tinggi metode barometris prinsipnya adalah mengukur beda tekanan atmosfer suatu ketinggian menggunakan alat barometer yang kemudian direduksi menjadi beda tinggi. yaitu: • • • Metode pengkuran penyipat datar Metode trigonometris Metode barometris. 3. Pengkuran sipat datar terdiri dari beberapa macam. Pada prinsipnya ketiga metode tersebut layak dipakai bergantung pada situasi dan kondisi lapangan.

Sebutkan macam-macam sipat datar memanjang ! 6. Dari ketiga metode pengukuran beda tinggi.90 Soal Latihan Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini ! 1. Sebutkan bagian-bagian pesawat sipat datar tipe dumpy level lengkap beserta gambarnya ! 7. Sebutkan dan jelaskan macam-macam pengukuran sipat datar ? 5. Sebutkan prosedur pengukuran dan penurunan rumus trigonometris lengkap dengan gambarnya ! 9. Apa yang dimaksud dengan pengukuran tinggi dan bagaimana cara mencari beda tingginya ? 4. tilting level. automatic level. dan tipe reversi ? beda tinggi metode . Jelaskan apa yang anda ketahui tentang pengukuran beda tinggi metode sipat datar optis ! 3. Jelaskan prinsip pengukuran beda tinggi metode trigonometris dan metode barometris yang anda ketahui ! 8. Apa yang dimaksud dengan kerangka dasar vertikal ? 2. Jelaskan kelebihan dari alat sipat datar tipe dumpy level. manakah yang mempunyai tingkat ketelitian paling tinggi dan jelaskan alasannya ! 10.

ialah memasang titik-titik dilapangan. maka tinggi titik kedua tersebut dapat di hitung. Sedangkan selisih tinggi atau lebih dikenal dengan beda tinggi (h) dapat . dimana tidak perlu dilibatkan adanya faktor kelengkungan bumi diperhitungkan. Setelah gelembung nivo di ketengahkan (garis arah nivo harus tegak lurus pada sumbu kesatu) barulah di baca rambu belakang dan rambu muka yang terdiri dari bacaan benang tengah. artinya tidak mempunyai pemukaan yang sama tinggi. Alat sipat datar diatur sedemikian rupa sehingga teropong sejajar dengan nivo yaitu dengan mengetengahkan gelembung nivo. Pengukuran beda tinggi dengan cara sipat datar dapat memberikan hasil lebih baik dibandingkan dengan cara-cara trigonometris dan barometris. Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal diketahui/diukur prinsip sipat datar. atas dan bawah. termasuk dalam Ilmu Geodesi Tinggi. sebagai koordinat lokal ataupun terikat dengan titik yang lain yang telah diketahui tingginya.91 4. Pengukuran menggunakan sipat datar optis yang adalah pengukuran tinggi garis bidik alat sipat datar di lapangan melalui rambu ukur. Beda tinggi slag tersebut pada dasarnya adalah telah kita tahu bahwa pengurangan Benang Tengah belakang (BTb) dengan Benang Tengah muka (BTm). Pengukuran-pengukuran ini dilakukan pada daerah yang relatife sempit. Pengukuran sipat datar kerangka dasar vertikal maksudnya adalah pembuatan serangkaian titik-titik di lapangan yang dengan menggunakan 4. pada atau dibawah permukaan tanah. Tinggi titik pertama (h1) dapat di definisikan. yaitu apabila titik pertama telah diketahui tingginya. maka titik-titik kerangka dasar vertikal diukur dengan sipat datar. Rambu ukur ini berjumlah 2 buah masingmasing didirikan di atas dua patok/titik yang merupakan jalur pengukuran. Sebagaimana permukaan bumi ini tidak tentu. Letak titiktitik yang ditentukan adalah berguna pada kompliming peta atau untuk menentukan garis-garis atau jalur-jalur dan kemiringankemiringan konstruksi pada pekerjaan teknik sipil. atau sebaliknya.1 Tujuan dan sasaran pengukuran sipat datar kerangka dasar vertikal Ukur Tanah adalah ilmu Ilmu mempelajari pengukuran-pengukuran yang diperlukan untuk menentukan letak relatife titik-titik diatas. Alat sipat datar optis kemudian diletakan di tengahtengah antara rambu belakang dan muka.

Pengamatan permukaan air laut pada 4. Terdiri dari kotak gelas yang diisi alkohol.92 diukur ketinggiannya melalui pengukuran beda tinggi untuk pengikatan ketinggian titik–titik lain yang lebih detail dan banyak. Teropong berfungsi untuk membidik rambu (menggunakan garis bidik) dan memperbesar bayangan rambu. MSL ini berdimensi meter dan merupakan referensi ketinggian bagi titik-titik lain di darat. Referensi informasi ketinggian diperoleh melalui suatu pengamatan di tepi pantai yang dikenal dengan nama pengamatan Pasut.2 Peralatan.1 Peralatan yang digunakan : 1. bekerja Pengamatan alat-alat secara pasut dilakukan yang dan menggunakan elektronis. Proses pengukuran sedemikian sehingga informasi tinggi pada daerah yang tercakup layak untuk diolah sebagai informasi yang layak kompleks. Bagian kecil kotak tidak berisi zat cair sehingga kelihatan ada gelembung. Tinggi permukaan air laut direkam pada interval waktu tertentu dengan bantuan pelampung baik dalam kondisi air laut pasang maupun surut.2. . Tujuan pengukuran sipat datar kerangka dasar vertikal adalah untuk memperoleh informasi lapangan tinggi yang relatif rupa akurat di Gambar 67. bahan. Arah pengukuran Rambu Belakang Rambu Muka mekanis. Alat sipat datar optis Pada dasarnya alat sipat datar terdiri dari bagian utama sebagai berikut: a. Nivo tabung diletakan pada teropong berfungsi mengatur agar garis bidik mendatar. dan formulir pengukuran sipat datar kerangka dasar vertikal interval tertentu kemudian diolah dengan bantuan ilmu statistik sehingga diperoleh informasi mengenai tinggi muka air laut ratarata atau sering dikenal dengan istilah Mean Sea Level (MSL). Nivo akan terletak sederhana manual Arah Pengukuran Gambar 68. b. 4.

d. Sekrup penggerak membidik sasaran). Ukuran lebarnya ± 4 cm. Sekrup pengunci (untuk mengunci gerakan teropong kekanan/ kiri). sentimeter. Rambu ukur . Vizir (untuk mencari/ membidik kasar objek). c. g. f. h. Rambu ukur 2 buah e.93 tegak lurus pada garis tengah vertikal bidang singgung di titik tengah bidang lengkung atas dalam nivo mendatar. Kiap (leveling head/base plate). kiap terdapat (nivo sekrup-sekrup tabung) yang (umumnya tiga buah) dan nivo kotak semuanya digunakan untuk menegakkan sumbu kesatu (sumbu tegak) teropong. Lensa okuler (untuk memperjelas Rambu ukur dapat terbuat dari kayu. 2. campuran alumunium yang diberi skala objektif/ diafragma halus (untuk (untuk pembacaan. Alat sipat datar memperjelas benda/ objek). desimeter. Lensa Gambar 69. dan milimeter. benang). i. panjang antara 3m-5m pembacaan dilengkapi dengan angka dari meter. (tripod) berfungsi untuk menyangga ketiga bagian tersebut di Gambar 70. Statif atas.

dengan maksud agar tidak lepas dan tidak mudah dicabut. Patok terbuat dari dua macam bahan yaitu kayu dan besi atau beton. dimana titik setelah diukur dan akan diperlukan lagi pada waktu lain. Gambar 71. Patok biasanya ditanam didalam tanah dan yang menonjol antara 5 cm . Statif Statif merupakan tempat dudukan alat dan untuk menstabilkan alat seperti Sipat datar. Cara menggunakan rambu ukur di lapangan 3. dan bagian atasnya diberi cat.94 4. Statif saat didirikan harus rata karena jika tidak rata dapat mengakibatkan kesalahan saat pengukuran. ukur Unting-unting di berguna tanah untuk atau memproyeksikan suatu titik pada pita permukaan sebaliknya. Unting-unting 5. Gambar 73. Gambar 72. Patok Patok dalam ukur tanah berfungsi untuk memberi tanda batas jalon. • Patok Kayu Patok kayu yang terbuat dari kayu. Alat ini mempunyai 3 kaki yang sama panjang dan bisa dirubah ukuran ketinggiannya.10 cm. Statif . Unting-Unting Unting-unting terbuat dari besi atau kuningan yang berbentuk kerucut dengan ujung bawah lancip dan di ujung atas digantungkan pada seutas tali. berpenampang bujur sangkar dengan ukuran ± 50mm x 50mm.

Pita ukur . Pita ukur (meteran) Pita ukur linen bisa berlapis plastik atau tidak. 15m. Payung Payung ini digunakan atau memiliki fungsi sebagai pelindung dari panas dan hujan untuk alat ukur itu sendiri. Tanda ini tidak boleh hilang sebelum perhitungan selesai karena akan mempengaruhi perhitungan dalam pengukuran. tidak tahan air.2. dll).2 Gambar 76. 7. lambat laun alat tersebut pasti mudah rusak (seperti. 20m. lekas rusak dan mudah putus. jamuran. Gambar 74. yaitu digunakan untuk menandai dimana kita mengukur dan dimana pula kita meletakan rambu ukur. Peta wilayah study 2. 1. Payung Bahan Yang Digunakan : Peta digunakan agar mengetahui di daerah mana akan melakukan pengukuran diperkuat dengan benang serat. dan kadang-kadang 4. Kelebihan dari alat ini bisa digulung dan ditarik kembali. Karena bila alat ukur sering kepanasan atau kehujanan. dan kekurangannya adalah kalau ditarik akan memanjang.95 • Patok Beton atau Besi Patok yang terbuat dari beton atau besi biasanya merupakan patok tetap yang akan masih dipakai diwaktu lain. Cat dan kuas Alat ini murah dan sederhana akan tetapi peranannya sangat penting sekali ketika di lapangan. Pita ini tersedia dalam ukuran panjang 10m. 25m atau 30m. Patok kayu dan beton/ besi 6. Gambar 75.

harus diukur dengan ketelitian tingkat III. b. Panjang satu slag pengukuran. Pengukuran sipat datar. Tingkat Ketelitian Pengukuran Sipat Datar 3. Pengukuran berdasarkan harus dilaksanakan ketentuan-ketentuan Tingkat I II III Contoh : K 3 mm 6 mm 8 mm yang ditetapkan sebelumnya. dilakukan dengan cara Dari A ke B sejauh 2 km. 4. Ini berarti perbedaan ukuran beda tinggi pergi dan pulang tidak boleh melebihi 8 2 = 11 mm. . ukuran tersebut diterima sebagai ukuran tingkat III. Apabila beda tinggi ukuran pergi dan pulang ≤ 11 mm. Khusus mengenai angka toleransi pengukuran sipat datar. 4.3 Formulir Pengukuran Formulir pengukuran digunakan untuk mencatat kondisi di lapangan dan hasil perhitungan-perhitungan/ pengukuran di lapangan (terlampir). Bila > 11 mm ukuran harus diulangi. Prosedur pengukuran sipat datar kerangka dasar vertikal Ketentuan-ketentuan pengukuran Kerangka Dasar Vertikal adalah sebagai berikut : a.2.3. Cat dan kuas D dalam satuan Dimana : T = toleransi untuk milimeter K = konstanta yang menunjukan tingkat ketelitian pengukuran dalam satuan milimeter D = Jarak antara dua titik yang diukur dalam satuan kilometer Berikut ini diberikan contoh harga K untuk bermacam tingkat pengukuran sipat datar : Tabel 3. Perbedaan hasil ukuran pergi dan pulang tidak melebihi angka toleransi yang ditetapkan. Pengukuran antara dua titik. sekurangkurangnya diukur 2 kali (pergi dan pulang). c.96 d. dapat dijelaskan sebagai berikut : T=±K Gambar 77. Alat tulis Alat tulis digunakan mencatat hasil pengkuran di lapangan.

10. 2. Rambu yang dibaca harus benar-benar tegak lurus terhadap permukaan tanah. Sebelum pembacaan dilakukan adalah mengatur agar sumbu I (sumbu yang tegak lurus garis bidik) benar-benar tegak lurus dengan sumbu II melalui upaya mengetengahkan gelembung nivo tabung. 3. Kesalahan garis bidik adalah kemungkinan terungkitnya garis bidik teropong ke arah atas atau bawah diakibatkan oleh keterbatasan pabrik membuat alat ini betulbetul presisi. menyerahkannya 6. Sebelum digunakan. Langkah-langkah dalam pengukuran sipat datar kerangka dasar vertikal adalah sebagai berikut : 1. 5. Setelah sama. langkah selanjutnya kedua nivo yaitu nivo kotak dan nivo tabung diatur. Ketua tim menandai semua peralatan yang dibutuhkan serta mengambil peta dan batas-batas Lalu pengukuran di laboratorium. Setelah selesai merencanakan lokasilokasi patok (menggunakan Cat) lalu menandainya di lapangan. pada laboran. 8. 9.97 Dari pengalaman menunjukkan bahwa titiktitik kerangka dasar vertikal yang akan digunakan harus diukur lebih teliti. Siswa akan menerima peta dan batasbatas daerah pengukuran. barulah kita melakukan pembacaan rambu. 7. Ketengahkan gelembung nivo dengan prinsip perputaran 2 sekrup kaki kiap dan 1 sekrup kaki kiap. Setelah . Melakukan pengukuran kesalahan garis bidik. Yang perlu diperhatikan pengukuran itu tidak harus dilaksanakan jauh dari laboratorium. Pengukuran sipat datar kerangka dasar vertikal harus diawali dengan mengidentifikasi kesalahan sistematis dalam hal ini kesalahan garis bidik alat sipat datar optis melalui suatu pengukuran sipat datar dalam posisi 2 stand (2 kali berdiri alat). 4. Ketua tim memeriksa kelengkapan alat. Menentukan lokasi-lokasi patok atau merencanakan lokasi-lokasi patok sehingga jumlah slag itu genap. alat sipat datar harus terlebih dahulu diatur sedemikian rupa sehingga garis bidiknya (sumbu II) sejajar dengan bidang nivo melalui upaya mengetengahkan gelembung nivo yang terdapat pada nivo kotak. Bidang nivo sendiri merupakan bidang equipotensial yaitu bidang yang mempunyai energi potensial yang sama. Hal ini dilakukan dengan cara mendirikan rambu diantara 2 titik (patok) dan dirikan statif serta alat sipat datar optis kira-kira di tengah antara 2 titik tersebut. Survei ke daerah yang akan dipetakan pada jalur batas pemetaan. lalu anggota tim membawanya ke lapangan.

membaca benang atas. lalu untuk laboratorium tergantung pada keadaan lapangan. benang tengah. Kemudian membaca kembali benang atas. Tinggi a garis bidik (titik tengah teropong) di atas titik B diukur dengan mistar.2. Setelah kembali pengukuran ke selesai. Kemudian alat digeser sedikit (slag 2) lakukan hal yang sama sampai slag akhir pengukuran selesai. 14. Sedangkan untuk memperjelas objek rambu ukur dengan memutar sekrup fokus diatas teropong. Kemudian mengukur jarak dengan menggunakan pita ukur dari rambu belakang ke alat dan dari alat ke rambu belakang (hasilnya di rata-ratakan) serta mengukur juga jarak rambu muka ke alat dan dari alat ke rambu muka (hasilnya dirata-ratakan). benang tengah. sedang di titik–titik A dan B ditempatkan dua mistar. sedang alat ukur penyipat datar tidaklah perlu diletakkan digaris lurus yang menghubungkan dua titik A dan B.98 gelembung nivo di tengah. Arahkan garis bidik dengan gelembung di mengembalikan alat. 13. Untuk memperjelas benang diafragma dengan memutar sekrup pada teropong. 15. Pengolahan data yang dilakukan adalah pengolahan data untuk mengeliminir kesalahan acak atau sistematis dengan dilengkapi instrumen tabel kesalahan garis bidik dan sistematis. maka angka b ini menyatakan jarak angka b itu dengan alas mistar. Maka beda tinggi antara titik A dan titik B adalah t = b –a. dan benang bawah rambu belakang. 4. Alat ukur penyipat datar diletakkan antara titik A dan titik B. Jarak dari alat ukur penyipat datar ke kedua mistar ambillah kira–kira sama.2 Penentuan beda tinggi antara dua titik Penentuan beda tinggi anatara dua titik dapat dilakukan alat dengan ukur tiga cara datar. ialah titik A. garis bidik diarahkan ke mistar yang diletakkan di atas titik lainnya. . penempatan penyipat memasang unting-unting. lalu Kesalahan sistematis berupa kesalahan garis bidik kita konversikan ke dalam pembacaan benang tengah mentah yang akan menghasilkan benang tengah setiap slag yang telah dikoreksi dan merupakan fungsi dari jarak muka atau belakang dikalikan dengan koreksi garis bidik. Hasil pembacaan di tulis pada formulir yang telah disiapkan. 12. Setelah itu melakukan pengolahan data. Dengan menempatkan alat ukur penyipat datar di atas titik B. Pembacaan pada mistar dimisalkan b. Setelah itu. Dengan gelembung ditengah–tengah. dan benang bawah rambu muka. 11.

2. Disebabkan oleh petugas. maka dengan mudahlah dapat dimengerti. bahwa beda tinggi t = b –a m. Pengaruh refraksi cahaya.2. Kesalahan petugas.4 Pengukuran Sipat Datar pengaruh posisi instrument sifat datar dan rambu- Gambar 78. bahwa beda tinggi antara titik–titik A dan B ada t = b – m. c. Kesalahan Alami. tidak pula di atas salah satu titik A atau titik B. Disebabkan rambu. Bila selalu diingat. bahwa angka – angka pada rambu selalu menyatakan jarak antara angka dan alas mistar. Disebabkan oleh rambu. Disebabkan oleh rambu. Alat ukur penyipat datar ditempatkan tidak diantara titik A dan B. 4. • • • • • • • • Disebabkan oleh observer. 4. Pembacaan yang dilakukan pada mistar yang diletakkan di atas titik A dan B sekarang adalah berrturutturut b dan m lagi. matahari langsung.99 tengah–tengah ke mistar A (belakang) dan ke mistar B (muka). Disebabkan pengaruh sinar b. Pengaruh lengkung bumi. sehingga digambar didapat dengan mudah. Kesalahan Instrumen. tetapi di sebelah kiri titik A atau disebelah kanan titik B.3 Kesalahan–kesalahan pada sipat datar a. dan misalkan pembacaaan pada dua mistar berturut-turut ada b (belakang) dan m (muka). jadi diluar garis AB. Pengukuran sipat datar .

• • Dari lapangan kita peroleh jarak belakang x jarak muka. Eliminasi kesalahan jarak sistematis karena kondisi alam dapat dengan membuat belakang dan jarak muka hampir sama. Pengukuran sipat datar rambu ganda . Keterangan : Pembagian kesalahan setiap slag lebih rata. BB pada setiap slag (misalnya) n = genap. a Eliminasi kesalahan sistematis karena kondisi dikoreksi alam. Metode pengukuran rambu muka dan belakang dengan dua stand (dua kali alat berdiri).mengoreksi KGB (kesalahan garis bidik). Peluang untuk meng-koreksi kesalahan di slag ganjil dan genap lebih besar. Gambar 79. c. ⎛ ( BTbI − BTm I ) − ( BTbII − BTm II ) ⎞ kgb = ⎜ ⎟ ⎜ (db + dm ) − (db + dmII ) ⎟ I I "II ⎠ ⎝ Koreksi Kgb = -Kgb.100 Eliminasi kesalahan sistematis alat sipat datar dengan cara .kesalahan I = Kgb = sudut ⎛ ∧ ⎞ ⎜ ⎟ ⎜ BT − BT ⎟ tan kgb = lim kgb→0 ⎜ ⎟ d ⎜ ⎟ ⎝ ⎠ ∧ ⎛ ⎞ ⇒ kgb = ⎜ BT − BT ⎟ ⎜ ⎟ d ⎜ ⎟ ⎝ ⎠ ∧ (random error): Dilapangan kita peroleh bacaan BA. Jumlah slag pengukuran harus genap. b. Cara • meng-koreksi kesalahan acak BT = benang tengah yang dianggap benar BT = benang tengah yang dibaca dari teropong Koreksi = . BT.

Pengukuran sipat datar di luar slag rambu Gambar 80.101 Gambar 80. Pengukuran sipat datar di luar slag rambu .

Pengukuran sipat datar dua rambu Gambar 82.102 Gambar 81. Pengukuran sipat datar menurun .

Pengukuran sipat datar tinggi bangunan . Pengukuran sipat datar menaik Gambar 84.103 Gambar 83.

4 Pengolahan data sifat datar kerangka dasar vertikal Hasil yang diperoleh dari praktek tinggi sama dengan nol jika jalur pengukur berawal dan berakhir pada titik yang sama. pengukuran sipat datar dan pengolahan data lapangan adalah tinggi pada titik-titik (patok-patok) yang diukur untuk keperluan penggambaran dalam pemetaan. BT. Menghitung beda tinggi (∆H) di setiap slag dari bacaan benang tengah koreksi belakang dan muka. Beda tinggi awal suatu slag diperoleh melalui pengurangan benang tengah belakang koreksi dengan benang tengah muka koreksi. 7. Perhitungan meliputi : Mengoreksi hasil ukuran Mereduksi hasil ukuran. Penjumlahan beda tinggi awal setiap slag merupakan kesalahan acak beda tinggi yang harus dikoreksikan kepada setiap slag berdasarkan bobot tertentu. 3. Langkah-langkah dalam pengolahan data adalah sebagai berikut: 1. Menuliskan nilai BA. 6. BB. 4. misalnya mereduksi jarak miring menjadi jarak mendatar dan lain-lain Menghitung matahari Menghitung koordinat dan ketinggian setiap titik. Total bobot adalah jumlah jarak semua slag.104 setiap slag harus memenuhi syarat beda 4. Menghitung BT koreksi (BTk) di setiap slag. Sebagai bobot koreksi kita menggunakan jarak setiap slag yang merupakan penjumlahan jarak muka dan belakang. 5. Menghitung jarak (∑d) setiap slag dengan menjumlahkan jarak belakang dan jarak muka. Menghitung tinggi titik-titik pengukuran (Ti) dengan cara menjumlahkan tinggi titik sebelumnya dengan tinggi titik koreksi yang hasilnya akan sama dengan nol. Mencari nilai kesalahan garis bidik. Koreksi tinggi setiap slag dengan demikian diperoleh melalui negatif kesalahan acak beda tinggi dikalikan dengan jarak slag tersebut dan dibagi dengan total jarak seluruh slag. Menghitung total jarak (∑ (∑d)) jalur pengukuran dengan menjumlahkan semua jarak slag. 8. Beda tinggi azimuth pengamatan . Menghitung bobot koreksi setiap slag dengan membagi jarak slag dengan total jarak pengukuran. 2. jarak belakang dan jarak muka.

Jika tidak sama dengan nol maka pengolahan data harus diulangi dan diidentifikasi kembali letak kesalahannya. Dengan penggambaran konvensional (manual). kemudian dibandingkan dengan luas lembaran yang tersedia. maka tinggi titik-titik koreksif diperoleh dengan cara menjumlahkan tinggi titik awal terhadap beda tinggi koreksi slag secara berurutan. Apakah itu A0. skala bukan menjadi masalah tetapi yang dipentingkan adalah masalah koordinat koordinat berbagai titik-titik itu macam dan untuk peta/ penggunaan mengintegrasikan Dimana : BTb BTm BTbk ∆H ∆Hk ∑d dm db = Benang Tengah Belakang = Benang Tengah Muka = Benang Tengah Belakang = Beda Tinggi = Beda tinggi koreksi = Total jarak per-slag BTmk = Benang Tengah Muka gambar yang akan ditetapkan. Bobot = Koreksi slag dengan membagi . A1. Dalam hal ini untuk tugas praktikum Ilmu Ukur Tanah. Penggambaran digital lebih menguntungkan karena pada skala berapa pun peta/gambar digital dapat dikeluarkan tidak bergantung pada skala serta revisi data dari peta/ gambar digital lebih mudah dibandingkan dengan peta/ gambar konvensional.db) = BTbk – BTmk = db + dm BTmk = BTm – (Kgb.dm) Σd Bobot = Σ ( Σd ) ∆Hk Ti = ∆H – (∑∆H .105 9. Rumus-rumus BTbk ∆H ∑d dalam pengukuran 4. kemudian tentukan skala dari peta yang akan digambarkan. direferensikan kertas yang digunakan adalah berukuran A2. Dengan penggambaran digital. Jika tinggi titik awal diketahui. A2 dan sebagainya.5 Penggambaran sipat datar kerangka dasar vertikal Penggambaran (pemetaan) dapat dilakukan dalam bentuk konvensional (manual) dan digital. A1 dan A0. bobot) = Ti awal + ∆H lapangan dengan di ukuran kertas yang ada. harus terlebih dahulu menentukan luas cakupan daerah yang akan dipetakan. Setelah luas diperoleh berupa di perbandingan cakupan wilayah kerangka dasar vertikal : = BTb – (Kgb. Konsep yang pertama kali mendekati untuk penyajian peta/ ∑ (∑d) = Total Jarak dari penjumlahan ∑d = Jarak muka = Jarak belakang jarak slag dengan total jarak pengukuran Ti = Tinggi titik-titik pengukuran.

Murah dan akurasinya tinggi. tinggi maka (Computer Aided Design) atau suatu menyimpan disajikan koordinat-koordinat pula yang istilah mampu kemudian dalam bentuk grafis. Unsur-unsur yang harus ada dalam dan rendahnya permukaan digunakan garis-garis tinggi atau tranches atau kontur yang menghubungkan titiktitik yang tingginya sama di atas permukaan bumi. sungai. Dapat dan tidak analisis perlu spasial mengeluarkan banyak biaya. Tidak dibatasi skala dalam penyajiannya. Juga untuk bermacam-macam keadaan dan tanam-tanaman misalnya ladang. Muka peta sebaiknya memiliki ukuran estetik. Keuntungan-keuntungan dari penyajian gambar dalam bentuk digital adalah: 1. 2. padang rumput. Jika perlu melakukan revisi mudah dilakukan 5. kelapa. melakukan (keruangan) secara mudah. simbol dan gambar yang menjelaskan . Proses pembuatannya relatif cepat. kereta api. 4. Muka peta Yaitu ruang yang digunakan untuk menyajikan informasi bentuk permukaan bumi baik informasi vertikal maupun horizontal. Tanda-tanda atau simbol-simbol yang digunakan adalah untuk menyatakan bangunan-bangunan yang ada di atas bumi seperti jalan raya. 3. rawa atau kampung. atau alang-alang. Skala panjang agar dan lebar yang unsur proporsional memenuhi penggambaran hasil pengukuran pemetaan adalah : Legenda Yaitu suatu informasi berupa huruf. perkebunan seperti: karet.106 gambar database digital grafis adalah yang konsep CAD mengenai isi gambar. selokan. untuk tiap macam pohon diberi tanda khusus. kemudian dikenal GIS (Geographical database Information System) yaitu suatu sistem mengaitkan dengan database atributnya yang sesuai. Peta-peta/ gambar dalam bentuk digital dapat disajikan dalam bentuk hard copy atau cetakan print out dari hasil-hasil file komputer. Legenda memiliki ruang di luar muka peta dan dibatasi oleh garis yang membentuk kotak-kotak. Skala peta Yaitu simbol yang menggambarkan perbandingan jarak di atas peta dengan jarak sesungguhnya di lapangan. soft copy atau dalam bentuk file serta dalam bentuk penyajian peta/ gambar digital di layar komputer. kopi. Untuk dapat membayangkan bumi.

dan arah utara grid koordinat proyeksi. misalnya: skala 1 : 25. 1 0. Sumber peta akan memberikan tingkat akurasi dan kualitas peta yang dibuat. arah utara magnetis.000 atau skala 1 : 50. Tim pengukuran yang membuat peta Untuk mengetahui penanggung jawab pengukuran yang di lapangan akan dan penyajiannya di atas kertas. skala perbandingan.107 peta terdiri dari: skala numeris. Orientasi arah utara Yaitu simbol berupa panah yang biasanya mengarah ke arah sumbu Y positif muka peta dan menunjukkan orientasi arah utara. Personel disajikan memberikan menyatakan perbandingan perkecilan yang ditulis dengan angka. Kilometer Skala grafis memiliki kelebihan Instalasi dan simbol Instalasi dan simbol yang memberikan pekerjaan dan melaksanakan pekerjaan pengukuran memberikan karakteristik diperlukan bersangkutan. Skala numeris yaitu skala yang pembesaran dan perkecilan peta serta muai susut bahan peta. Skala peta grafis biasanya selalu disajikan numeris untuk untuk atau melengkapi skala skala adanya perbandingan perubahan ukuran penyajian mengantisipasi . dan skala grafis. Sumber gambar yang dipetakan Untuk mengetahui secara terperinci proses dan prosedur pembuatan peta. Skala garis grafis di peta di yaitu dan skala jarak yang yang melalui digunakan untuk menyatakan panjang diwakilinya lapangan informasi grafis. Orientasi arah utara ini dapat terdiri dari: arah utara geodetik. dan pembuatan peta.5 0 1 2 3 4 informasi mengenai kualifikasi personel yang terlibat.000. Instalasi dan simbol instalasi ini akan informasi tema bagi yang instalasi mengenai biasanya yang dibandingkan dengan skala numeris dan skala perbandingan karena tidak dipengaruhi oleh muai kerut bahan dan peta.

sebagai berikut : 1. 3. Prosedur penggambaran untuk sipat datar kerangka dasar vertikal secara manual. 4. 5. 2. Peralatan yang harus disiapkan untuk berbeda dengan jangkauan Ukuran kertas yang digunakan untuk pencetakkan peta biasanya Seri A. ikat yang lain. A1 adalah setengah A0. range beda tinggi pengukuran sipat datar kerangka dasar A4 3. Jadi. Menentukan ukuran kertas yang akan dipakai. Dasar ukuran adalah A0 yang luasnya setara dengan 1 meter persegi. tinggi titik-titik dan garis hubung antara satu Penggambaran secara manual pada sipat kerangka vertikal memiliki karakteristik. Penggaris 2 buah (segitiga atau lurus). Perhitungan yang lebih besar dari SA0 adalah 2A0 atau dua kali ukuran A0. A1 A3 A2 2. Penghapus. Gambar 85. yaitu : skala jarak mendatar kurang dari skala tinggi. Ukuran kertas untuk penggambaran hasil pengukuran dan pemetaan Ukuran Kertas A0 A1 A2 A3 A4 A5 Panjang (milimeter) 1189 841 594 420 297 210 Lebar (milimeter) 841 594 420 297 210 148 Penggambaran sipat datar kerangka dasar vertikal akan menyajikan unsur unsur: jarak mendatar titik datar ikat antara dengan titik-titik titik dasar penggambaran. menggambar sipat datar kerangka dasar vertikal meliputi : 1. Pensil. karena jangkauan jarak mendatar memiliki ukuran yang signifikan tingginya. Setiap angka setelah huruf A menyatakan setengah ukuran dari angka sebelumnya. Menghitung vertikal. Menghitung kumulatif jarak horizontal pengukuran sipat datar kerangka dasar vertikal.108 Ukuran kertas untuk penggambaran hasil pengukuran dan pemetaan terdiri dari : Tabel 4. A2 adalah seperempat dari A0 dan A3 adalah seperdelapan dari A0. Pembagian kertas seri A . Lembaran kertas milimeter dengan ukuran tertentu. Tinta.

. membuat skala beda tinggi dengan membuat perbandingan lebar muka peta dengan range beda tinggi dalam satuan yang yang bulat. Menjiplak tinta. Untuk penggambaran menggunakan lotus atau excell yang harus diperhatikan adalah penggambaran grafik dengan metode scatter. Menggambarkan merupakan pengukuran posisi dengan titik-titik tinggi yang hasil 10. jarak-jarak tertentu serta menghubungkan titiktitik tersebut. orientasi pengukuran. menggunakan pensil. 8. membuat skala. 7. Untuk penggambaran sipat datar kerangka dasar atau vertikal secara digital dapat dengan yang menggunakan perangkat lunak lotus.keterangan nilai tinggi dan jarak di dalam muka peta serta melengkapi informasi legenda. 6. menggunakan pensil. maka nilai skala dibulatkan ke atas dan memiliki nilai kelipatan tertentu. maka Jika nilai hasil skala perbandingan tidak menghasilkan nilai dibulatkan ke atas dan memiliki nilai kelipatan tertentu. tidak memiliki interval yang sama. sama. menggunakan pensil. Penggambaran dengan AutoCad walaupun lebih sulit akan menghasilkan keluaran yang lebih sempurna dan sesuai dengan format yang diinginkan. meliputi muka peta dan ruang legenda. tim pengukuran. agar gambar yang diperoleh pada arah tertentu (terutama sumbu horizontal) memiliki interval sesuai dengan yang diinginkan. nama instansi dan simbolnya. 11. Membuat keterangan. Jika hasil perbandingan tidak menghasilkan nilai yang bulat. 5. 9. sumber peta.109 4. Menetapkan skala jarak horizontal dengan membuat perbandingan panjang muka peta dengan kumulatif jarak horizontal dalam satuan yang sama. Membuat tata letak peta. excell AutoCad. Penggambaran perangkat lunak masing-masing draft penggambaran ke atas bahan yang transparan menggunakan berbeda akan memberikan hasil keluaran yang berbeda pula. Menghitung panjang dan lebar muka. Membuat sumbu mendatar dan tegak yang titik pusatnya memiliki jarak tertentu terhadap batas muka peta.

sipat datar Kerangka Dasar Vertikal (KDV) tertutup dengan 8 slag.00116.438 .155 . dm = 14 Titik 2 : BTb = 1.10504) = -0. titik 1 merupakan titik awal dengan ketinggian +905 meter MSL. ∑d BTb = 0.675 .675 db = 11 . dm = 7 Titik 8 : BTb = 0.418 .625 .891 -(-0. BTbk = BTb .02380.275 . db) = 0.1.78748 7.891 BTm = 1.78748-(0. BTm = 1.90376 .11) = 0. 0.795 . db = 8 .863 .69124 3.(Kgb . Ti 6. dm = 12 Titik 4 : BTb = 1.69124 = . db = 13 .385 .00116 ∑(∑d) = 238 ∑∆H = 0.891 . BTm = 2.387 .90376 2.00116. BTm = 0. Bobot = TITIK 1 Diketahui : Σd Σ ( Σd ) 25 238 = 0. dm = 26 Titik 6 : BTb = 1.417 .14) = 1. db = 11 .dm) = 1.406 . db = 12 . BTm = 0. BTm = 1. dm = 13 Titik 3 : BTb = 1. dm = 31 Titik 5 : BTb = 2.801 . BTm = 1. ∆H = BTbk-BTmk = 0. BTm = 1. HASIL PENGOLAHAN DATA Diketahui.491 .753 . dm = 12 4. db = 8 .675-(-0. db = 13 .110 Contoh Hasil Pengukuran Sipat Datar Kerangka Vertikal : Dari lapangan didapat . BTm = 1.10504 = ∆H-(∑∆H. dm = 14 Kgb = -0. • • • • • • • • Titik 1 : BTb = 0.78998 = 905 . dm = 14 Titik 7 : BTb = 0. ∆Hk = = db+dm = 14+11 = 25 5. db = 29 . db = 15 .02380 Jawab : 1.0. BTmk = BTm-(Kgb.bobot) = -0.

147 -(-0.00116.10924) = 0.438 . Bobot = Σd Σ ( Σd ) Σd Σ ( Σd ) = 26 238 = 24 238 = 0.43208 .dm) = 1. ∆H = BTbk-BTmk = 1.10924 13.03200-(0.(∑∆H.406 -(-0.03200 18. 0.111 TITIK 2 Diketahui : BTb=1.00116.45192 = .78748 11. BTbk = BTb-(Kgb. Bobot = TITIK 3 Diketahui : BTb=1. ∆H = BTbk-BTmk = 1.13) = 1. Ti = Ti1 + ∆Hk1 = 905 .0. ∑d = db+dm = 12+12 = 24 19. ∆Hk = ∆H . BTbk = BTb-(Kgb.406 BTm=1.bobot) = . dm=12 Kgb=-0. T i 20.41992 -1.03440 = Ti2+∆Hk2 = 904.10084 = ∆H-(∑∆H.1.147 BTm=1.db) = 1.78748.69124 10.41992 16. 0.00116.21002-0.02380. BTmk = BTm-(Kgb.12) = 1.02380.(0.438 -(-0.02940 14.db) = 1.0. ∑d = db+dm = 13+13 = 26 12.03440 = 904.45192 17.00116. BTmk = BTm-(Kgb.21002 21.00116 ∑(∑d)= 238 ∑∆H=0.bobot) = -0.12) = 1.13) = 1. ∆Hk = 0. db=12 .0.00116 ∑(∑d)= 238 ∑∆H=0.43208 9. dm=13 Kgb=-0.385 db=13 .23942 .02380 Jawab : 8.10084) = -0.02380 Jawab : 15.dm) = 1.69124 = -0.385 -(-0.02940 = 904.

387-(-0.66096 24.625 db=15 .625-(-0.30864 30.0.19328 27.89148-(0.491 BTm=0.84284 = 904.50840 23.29) = 2.491-(-0. ∆Hk = ∆H-(∑∆H. BTmk = BTm-(Kgb.26) = 1.88598 = Ti4+∆Hk5 = 904.04786 . ∆H = BTbk-BTmk = 1.84744-(0.00116.84284 28.15) = 1.00116. Bobot = Σd Σ ( Σd ) = 33. BTbk = BTb-(Kgb. Ti = 0.50840-0.bobot) = 0.66096 = 0.275-(-0. ∑d = db+dm = 29+26 = 55 26.00116 ∑(∑d)= 238 ∑∆H=0.00116. dm=31 Kgb=-0.02380.00116.23109 = ∆H-(∑∆H. ∆Hk 55 238 = 0.23109) = 0. ∆H = BTbk-BTmk = 2. 0. Bobot = Σd Σ ( Σd ) = 46 238 34.89148 32.30864-1.41716 = 0.23942+0. BTbk = BTb-(Kgb.19328) = 0.20502+0.bobot) = 0.02380 Jawab : 22.387 db=29 .02380 .41716 31.20502 35. dm=26 Kgb=-0.112 TITIK 4 Diketahui : BTb=1.275 BTm=1.dm) = 0.88598 = 905.31) = 0. Ti = Ti3+∆Hk4 = 904.dm) = 1. ∑d = db+dm = 15 +31 = 46 TITIK 5 Diketahui : BTb=2.00116 ∑(∑d)= 238 ∑∆H=0.db) = 1. BTmk = BTm-(Kgb.02380 Jawab : 29.db) = 2.84744 25.

81008 37.81008-0. BTbk = BTb-(Kgb.1.06303) = -0. Ti = Ti5+∆Hk6 = 905.00116.06303 = ∆H-(∑∆H.(0.13) = 1.37584. ∆Hk = ∆H .dm) = 1.93834) = 907.00116. ∆H = BTbk-BTmk = 0. ∑d = db+dm = 8+7 = 15 47.93834 = Ti6+∆Hk 7 = 905.93684-(0. ∑d = db+dm = 13+14 =27 40. dm=7 Kgb=-0.7) = 1.795 BTm=0.37314 = 905.02380 Jawab : 43. ∆H = BTbk-BTmk = 1. 0.bobot) = 1.02380 Jawab : 36.00116.80912 = -0. Bobot = Σd Σ ( Σd ) Σd Σ ( Σd ) = 27 238 48. dm=14 Kgb=-0.db) = 1.37584 39.43424 = 1.(-0.30698 .37314 42.11345) = 1.bobot) = -0.93384 49.02380.418 -(-0. BTmk = BTm-(Kgb.00116 ∑(∑d)= 238 ∑∆H=0.00116 ∑(∑d)= 238 ∑∆H = 0.11345 41.43424 38.80912 45.14) = 0.87228 44. Ti = 0.04786+1.93684 46.dm) = 0. Bobot = TITIK 7 Diketahui : BTb = 0.(∑∆H. 0.8) = 0.02380.801 db=8 .863 -(-0.795 .113 TITIK 6 Diketahui : BTb=1.863 BTm=1.db) = 0.87228. BTbk = BTb-(Kgb.00116.93384+(-0.801 -(-0.418 db=13 . BTmk = BTm-(Kgb. ∆Hk = 15 238 = 0.

0.db) = 0. ∆H = BTbk-BTmk = 0.36664-(0. Bobot = Σd Σ ( Σd ) = 20 238 = 0.3686 . dm=12 Kgb=-0.36664 53.02380 Jawab : 50.114 TITIK 8 Diketahui : BTb=0.08403 55.36864 56.36864) = 906.16892 = -1.80228 51. ∆Hk = ∆H-(∑∆H.08403) = -1.80228 .00116.bobot) = -1.8) = 0.02380. Ti = Ti7+∆Hk8 = 907.00116.2.16892 52. BTbk = BTb-(Kgb. ∑d = db+dm = 8+12 = 20 54.30698+(-1.155 db=8 .155 -(-0.00116 ∑(∑d)= 238 ∑∆H=0. BTmk = BTm-(Kgb.793-(-0.dm) = 2.793 BTm=2.12) = 2.

Lembar Cuaca Alat Ukur Instruktur Beda Tinggi dari Muka Atas Bawah Tengah + - Tinggi Titik Ket . Formulir pengukuran sipat datar PENGUKURAN SIPAT DATAR Laboratorium Ilmu Ukur Tanah Jurusan Teknik Bangunan Pengukuran Lokasi Diukur Oleh Bacaan Benang Belakang Stand Tengah Atas Bawah Tanggal Jarak Belakang Muka Total No.115 Tabel 5.

753 2.84744 0.89148 1.488 0.482 1.416 2.257 0.387 0.793 Atas Bawah 0.78748 Tinggi Titik 905 904.836 1.275 1.517 1.903 0.378 0.23942 904.836 1.04786 905.385 Tanggal Jarak Belakang 11 13 12 15 29 13 8 8 Muka 14 13 12 31 26 14 7 12 Total 25 26 24 46 55 27 15 20 0.130 1.417 1.823 0.215 2.36664 0.730 0.863 0. Formulir pengukuran sipat datar PENGUKURAN SIPAT DATAR Laboratorium Ilmu Ukur Tanah Jurusan Teknik Bangunan Pengukuran Lokasi Diukur Oleh Bacaan Benang Belakang Stand Tengah 1 2 3 4 5 6 7 8 0.155 1.438 1.766 2.566 1.Lembar Cuaca Alat Ukur Instruktur Beda Tinggi dari Muka Atas Bawah 1.795 0.745 1.946 0.116 Tabel 6.833 0.348 1.418 1.466 1.450 1.93384 907.491 2.21002 904.625 1.346 1.03200 No.780 0.36864 Ket 238 .095 Tengah 1.801 0.420 2.20502 805.93684 1.30698 906.605 1.470 1.675 + 0.03200 0.37584 0.891 1.320 1.406 1.860 1.498 1.352 1.

MT MATA KULIAH TS 241 PRAKTIK ILMU UKUR TANAH JUDUL GAMBAR PENGUKURAN KERANGKA DASAR VERTIKAL PENGUKURAN KERANGKA DASAR VERTIKAL LOKASI GEDUNG OLAH RAGA Gambar 86. Pengukuran kerangka dasar vertikal . ISKANDAR MUDA PURWAAMIJAYA. MT MUDA PURWAAMIJAYA. DRS. IR. H.117 CATATAN U INSTITUSI PENDIDIKAN TEKNIK SIPIL .S1 FAKULTAS PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2007 LEGENDA SIPAT DATAR OPTIS POHON BACAAN BENANG BATAS JALAN DOSEN DR.

Ir.Iskandar Muda Purwaamijaya. Perhitungan beda tinggi koreksi kesalahan sistematis. Diagram alir pengukuran sipat datar kerangka dasar vertikal .H. Distribusi kesalahan acak ke setiap slag dengan bobot koreksi. Persiapan patok-patok pengukuan. Gambar 87. Survei awal dan pematokan. Pengukuran di lapangan : Persiapan sketsa/peta jalur pengukuran dan rencana pematokan dengan jumlah slag genap. Rambu ukur diatur tegak lurus permukaan tanah dan dibaca.118 Model Diagram Alir Ilmu Ukur Tanah Pertemuan ke-04 Model Diagram Alir Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal Pengukuran Sipat Dr. Perhitungan beda tinggi dan tinggi definitif yang telah dikoreksi kesalahan acak. MT Datar Kerangka Dasar Vertikal Dosen Penanggung Jawab : Maksud : Pembuatan serangkaian titik-titik di lapangan yang diukur ketinggiannya melalui pengukuran beda tinggi untuk pengikatan ketinggian titik-titik lain yang lebih detail dan banyak Tujuan : Memperoleh informasi tinggi yang akurat untuk menyajikan informasi yang lebih kompleks (garis kontur) Referensi tinggi : diperoleh dengan cara pengamatan pasut pada selang waktu tertentu di tepi pantai untuk memperoleh tinggi muka air laut rata-rata atau mean sea level (MSL) Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal Eliminasi kesalahan sistematis : Melakukan pengukuran sipat datar dalam posisi 2 stand (2 kali berdiri alat) untuk memperoleh nilai kesalahan garis bidik (kemungkinan terungkitnya garis bidik ke atas/bawah akibat keterbatasan pabrik membuat alat betul-betul presisi) Pengaturan awal alat sipat datar : Mengatur garis bidik // sumbu II teropong dengan mengetengahkan gelembung nivo kotak (menggerakkan 2 sekrup kaki kiap ke dalam/ luar dan 1 sekrup kaki kiap ke kanan/kiri) . Rambu ukur didirikan di atas patok-patok pengukuran.Drs. Mengatur sumbu I tegak lurus sumbu II teropong dengan mengetengahkan gelembung nivo tabung. Pengolahan Data : Koreksi bacaan benang tengah dengan hasil kali koreksi garis bidik dan jarak. Pembacaan rambu ukur belakang dan muka. Alat sipat datar didirikan sekitar tengah-tengah slag atau dibuat jumlah jarak belakang ~ jumlah jarak muka. Perhitungan bobot koreksi dari rasio jarak slag terhadap total jarak pengukuran. Penggambaran jalur pengukuran dengan skala vertikal > skala horisontal. Pengukuran jarak belakang & muka. Perhitungan kesalahan acak.

b. e. f. statif. c. d. Pengukuran menggunakan sipat datar optis adalah pengukuran tinggi garis bidik alat sipat datar di lapangan melalui rambu ukur. i. b. pita ukur g. c. Sekrup pengunci (untuk mengunci gerakan teropong kekanan/ kiri). 2. Bagian utama pada Alat sipat datar optis adalah a. digunakan untuk menegakan sumbu kesatu (sumbu tegak) teropong. Nivo tabung berfungsi mengatur agar garis bidik mendatar. g. Kiap (leveling head/base plate). rambu ukur 2 buah. . e. h. 4. payung. Teropong untuk membidik rambu (menggunakan garis bidik) dan memperbesar bayangan rambu. 5. unting-unting. Vizir (untuk mencari/ membidik kasar objek). alat sipat datar optis. f. d. Sekrup penggerak halus (untuk membidik sasaran). Pengukuran sipat datar kerangka dasar vertikal maksudnya adalah pembuatan serangkaian titik-titik di lapangan yang diukur ketinggiannya melalui pengukuran beda tinggi untuk pengikatan ketinggian titik–titik lain yang lebih detail dan banyak. patok. Lensa okuler (untuk memperjelas benang). Peralatan yang digunakan pada pengukuran sipat datar optis adalah : a. maka dapat disimpulkan sebagi berikut: 1. Statif (tripod) berfungsi untuk menyangga ketiga bagian tersebut di atas. Lensa objektif/ diafragma (untuk memperjelas benda/ objek). 3. Tujuan pengukuran sipat datar kerangka dasar vertikal adalah untuk memperoleh informasi tinggi yang relatif akurat di lapangan sedemikian rupa sehingga informasi tinggi pada daerah yang tercakup layak untuk diolah sebagai informasi yang layak kompleks.119 Rangkuman Berdasarkan uraian materi bab 4 mengenai pengukuran sipat datar kerangka dasar vertikal.

C dan D) dan tinggi titik Ti (awal) = + 777 meter HSL. Diketahui pengukuran sipat datar dengan 4 slag (A.780 Slag : 1 db = 25. Jelaskan bagaimana prosedur pengolahan data pada pengukuran sipat datar kerangka dasar vertikal ! 5. Jelaskan bagaimana prosedur pengukuran sipat datar kerangka dasar vertikal ! 3.558 Slag : 4 ( D –A) BTb = 1.658 Slag : 2 ( B –C) BTb = 1.5 Slag : 1 db = 27.120 Soal Latihan Jawablah pertanyaan-pertanyaan di abwah ini ! 1. Apa sajakah keuntungan-keuntungan dari penggambaran dalam bentuk digital ! 4. B.08 dm = 25.5 dm = 25.5 Slag : 1 db = 32.568 BTm = 1.5 dm = 26. Jelaskan peralatan dan bahan-bahan apa sajakah yang digunakan pada pengukuran sipat datar kerangka dasar vertikal! 2.775 BTm = 1. Slag : 1 ( A –B) BTb = 1.890 BTm = 1.886 Slag : 3 ( C –D) BTb = 1.5 dm = 34.55 .675 BTm = 1.95 Slag : 1 db = 26.

121

5. Proyeksi Peta, Aturan Kuadran dan Sistem Kordinat
ellipsoid WGS-84 adalah 6.378.137 ini m

5.1. Proyeksi peta
Proyeksi peta adalah teknik-teknik yang digunakan untuk menggambarkan sebagian atau keseluruhan permukaan tiga dimensi yang secara kasaran berbentuk bola ke permukaan datar dua dimensi dengan distorsi sesedikit mungkin. Dalam proyeksi peta diupayakan sistem yang memberikan hubungan antara posisi titik-titik di muka bumi dan di peta. Bentuk bumi bukanlah bola tetapi lebih menyerupai ellips 3 dimensi atau ellipsoid. Istilah ini sinonim dengan istilah spheroid yang digunakan untuk menyatakan bentuk bumi. Karena bumi tidak uniform, maka digunakan istilah geoid untuk menyatakan bentuk bumi yang menyerupai ellipsoid tetapi dengan bentuk muka yang sangat tidak beraturan. Untuk menghindari geoid, kompleksitas maka dipilih model model terkecil (Geodetic

dengan kegepengan 1/298.257, maka rasio penyimpangan terbesar adalah 1/100.000. Indonesia, seperti halnya negara lainnya, menggunakan ukuran ellipsoid ini untuk pengukuran WGS-84 dan pemetaan di Indonesia. "diatur, diimpitkan"

sedemikian rupa diperoleh penyimpangan terkecil di kawasan Nusantara RI. Titik impit WGS-84 dengan geoid di Indonesia dikenal sebagai datum Padang (datum geodesi relatif) yang digunakan sebagai titik reference dalam pemetaan nasional.

Sebelumnya juga dikenal datum Genuk di daerah sekitar Semarang. Untuk pemetaan yang dibuat Belanda, menggunakan ER yang sama yaitu WGS-84. Sejak 1995 pemetaan nasional di Indonesia menggunakan datum geodesi absolut DGN95. Dalam sistem datum absolut ini, pusat ER berimpit dengan pusat masa bumi. Sistem dengan: • Membagi luas, dan • Menggunakan didatarkan seperti silinder. bidang peta berupa distorsi bidang bidang datar atau bidang yang dapat tanpa mengalami dan bidang kerucut daerah yang dipetakan proyeksi peta dibuat untuk

matematik yaitu yang

mereduksi sekecil mungkin distorsi tersebut

ellipsoid terbaik pada daerah pemetaan, penyimpangannya GRS-1980 terhadap geoid. WGS-84 (World Geodetic System) dan Reference System) adalah ellipsoid terbaik untuk keseluruhan geoid. Penyimpangan terbesar antara geoid dengan ellipsoid WGS-84 adalah 60 m di atas dan 100 m di bawahnya. Bila ukuran sumbu panjang

menjadi bagian-bagian yang tidak terlalu

122

Tujuan Sistem Proyeksi Peta dibuat dan dipilih untuk: • Menyatakan permukaan posisi bumi ke titik-titik dalam pada sistem

Pembagian Sistem Proyeksi Peta Secara garis besar sistem proyeksi peta bisa dikelompokkan berdasarkan pertimbangan ekstrinsik dan intrinsik. Pertimbangan Ekstrinsik Bidang proyeksi yang digunakan: • • • Proyeksi Proyeksi azimutal kerucut: / zenital: Bidang Bidang proyeksi

koordinat bidang datar yang nantinya bisa digunakan untuk perhitungan jarak dan arah antar titik. • Menyajikan secara grafis titik-titik pada permukaan bumi ke dalam sistem koordinat bidang datar yang selanjutnya bisa digunakan untuk membantu studi dan pengambilan keputusan berkaitan dengan topografi, iklim, vegetasi, hunian dan lain-lainnya yang umumnya berkaitan dengan ruang yang luas. Cara proyeksi peta bisa dipilih sebagai: • Proyeksi langsung (direct projection): yaitu dari ellipsoid langsung ke bidang proyeksi. • Proyeksi projection): tidak yaitu langsung proyeksi (double yang

proyeksi bidang datar. bidang selimut kerucut. Proyeksi silinder: Bidang proyeksi bidang selimut silinder. Persinggungan bidang proyeksi dengan bola bumi: • • • Proyeksi Proyeksi Proyeksi Tangen: Secant: Bidang Bidang proyeksi Proyeksi Banyak

bersinggungan dengan bola bumi. berpotongan dengan bola bumi. "Polysuperficial": bidang proyeksi. Posisi sumbu simetri bidang proyeksi

dilakukan menggunakan "bidang" antara, ellipsoid ke bola dan dari bola ke bidang proyeksi. Pemilihan sistem proyeksi peta ditentukan berdasarkan pada: • Ciri-ciri tertentu atau asli yang ingin dipertahankan sesuai dengan tujuan pembuatan / pemakaian peta. • • Ukuran dan bentuk daerah yang akan dipetakan. Letak daerah yang akan dipetakan. • terhadap sumbu bumi: • Proyeksi Normal: Sumbu simetri bidang proyeksi berimpit dengan sumbu bola bumi. Proyeksi Miring: Sumbu simetri bidang proyeksi miring terhadap sumbu bola bumi.

123

Proyeksi Transversal: Sumbu simetri bidang proyeksi ⊥ terhadap sumbu bola bumi.

• •

Proyeksi Proyeksi

Matematis: Semi Geometris:

Semuanya Sebagian

diperoleh dengan hitungan matematis. peta diperoleh dengan cara proyeksi dan sebagian lainnya diperoleh dengan cara matematis.

Pertimbangan Intrinsik Sifat asli yang dipertahankan: • Proyeksi Ekuivalen: Luas daerah

Pertimbangan dalam pemilihan proyeksi peta untuk pembuatan peta skala besar adalah: • • • • • Distorsi pada peta berada pada batasbatas kesalahan grafis. Sebanyak mungkin lembar peta yang bisa digabungkan. Perhitungan plotting setiap lembar sesederhana mungkin. Plotting manual bisa dibuat dengan cara semudah-mudahnya. Menggunakan titik-titik kontrol sehingga posisinya segera bisa diplot.

dipertahankan, yaitu luas pada peta setelah disesuaikan dengan skala peta = luas di asli pada muka bumi. • Proyeksi Konform: Bentuk daerah dipertahankan, sehingga sudut-sudut

pada peta dipertahankan sama dengan sudut-sudut di muka bumi. • Proyeksi Ekuidistan: Jarak antar titik di peta setelah disesuaikan dengan skala peta sama dengan jarak asli di muka bumi. Cara penurunan peta: • Proyeksi Geometris: Proyeksi perspektif atau proyeksi sentral.

Tabel 7. Kelas proyeksi peta

KELAS 1. Bid. Proyeksi Pertimbangan EKSTRINSIK 2. Persinggungan 3. Posisi Pertimbangan INTRINSIK 5. Generasi Geometris Matematis Semi Geometris 4. Sifat Tangent Normal Ekuidistan Secant Oblique/Miring Ekuivalen Polysuperficial Transversal Konform Bid. Datar Bid. Kerucut Bid. Silinder

b. (Gambar dapat dilihat pada Gambar 89). (Dapat dilihat pada Gambar 91).b)/b. d.f = (a . Garis Loxodrome (Rhumbline) adalah garis (kurva) yang menghubungkan titiktitik dengan azimuth α yang tetap.Y).l ).124 Silinder Kerucut Azimut Normal Transversal Miring Tangent Secant Gambar 88. Jenis bidang proyeksi dan kedudukannya terhadap bidang datum Bidang datum dan bidang proyeksi: • Bidang datum adalah bidang yang akan digunakan untuk memproyeksikan titiktitik yang diketahui koordinatnya (j . Garis Orthodrome adalah proyeksi garis geodesic pada bidang proyeksi. Ellipsoid: a. • Bidang proyeksi adalah bidang yang akan digunakan untuk memproyeksikan titik-titik yang diketahui koordinatnya (X. Garis geodesic adalah kurva terpendek yang menghubungkan dua titik pada permukaan elipsoid. (Dapat dilihat pada Gambar 90). . c. Sumbu panjang (a) dan sumbu pendek (b). Kegepengan ( flattening ) . e.

Oorthodrome dan loxodrome pada proyeksi gnomonis dan proyeksi mercator . Geometri ellipsoid Gambar 90.125 Gambar 89. Rhumbline atau loxodrome menghubungkan titik-titik Gambar 91.

Proyeksi polyeder: bidang datum dan bidang proyeksi . tangent dan konform Gambar 92.126 Proyeksi Polyeder Sistem proyeksi kerucut. normal. Proyeksi kerucut: bidang datum dan bidang proyeksi Gambar 93.

koreksi jurusan kecil sekali sehingga bisa diabaikan. Bidang kerucut menyinggung pada garis paralel tengah yang merupakan paralel baku .127 Proyeksi ini digunakan untuk daerah 20° x 20° (37 km x 37 km). Konvergensi meridian di tepi bagian derajat di wilayah Indonesia maksimum 1. Lembar proyeksi peta polyeder di bagian lintang utara dan lintang selatan Gambar 95. Konvergensi meridian pada proyeksi polyeder . Untuk jarak-jarak kurang dari 30 km. Meridian tergambar sebagai garis lurus yang konvergen ke arah kutub.75°.k = 1. sehingga bisa memperkecil distorsi. Gambar 94. ke arah KU untuk daerah di sebelah utara ekuator dan ke arah KS untuk daerah di selatan ekuator. Paralelparalel tergambar sebagai lingkaran konsentris. Bumi dibagi dalam jalur-jalur yang dibatasi oleh dua garis paralel dengan lintang sebesar 20° atau tiap jalur selebar 20° diproyeksikan pada kerucut tersendiri.

Koordinat titik-titik lain seperti titik triangulasi dan titik pojok lembar peta dihitung dari titik pusat bagian derajat masing-masing bagian derajat.000... meliputi peta-peta di pulau Jawa.141° BT dan 6° LU . Bali dan Sulawesi.128 Secara praktis. Cara menghitung pojok lembar peta perubahan jarak dan sudut pada satu bagian derajat 20° x 20°. Sumbu Y adalah meridian tengah dan sumbu X adalah garis tegak lurus sumbu Y yang melalui perpotongan meridian tengah dan paralel tengah. Penerapan Proyeksi Polyeder di Indonesia Sistem penomoran bagian derajat proyeksi polyeder Peta dengan proyeksi polyeder dibuat di Indonesia sejak sebelum perang dunia II. Penomoran dari barat ke timur: 1. 2.000.11° LS dibagi dalam 139 x LI bagian derajat. proyeksi polyeder Setiap bagian derajat mempunyai sistem koordinat masing-masing. 1 : 25.000 dan 1 : 5. Pada skala 1 : 50. maka proyeksi ini baik untuk digunakan pada pemetaan teknis skala besar. 1 : 50. masing-masing 20° x 20°. B. misal 1 : 100.. jarak hasil ukuran di muka bumi dan jarak lurusnya di bidang proyeksi mendekati sama atau bisa dianggap sama.000. tiap lembar bisa dibagi lagi dalam bagian yang lebih kecil. C dan D. .6° LU. LI. yang dibagi sama tiap 20° atau menjadi 139 bagian.Y) dari sistem koordinat bagian derajat. Tergantung pada skala peta. Setiap lembar peta mempunyai sistem sumbu koordinat yang melalui titik tengah lembar dan sejajar sumbu (X. 139. Sumbu X berimpit dengan meridian tengah dan sumbu Y tegak .141° BT..000. III.. satu bagian derajat proyeksi polyeder (20° x 20°) tergambar dalam 4 lembar peta dengan penomoran lembar A. Wilayah Indonesia dengan 94° 40’ BT . yang dibagi tiap 20° atau menjadi 51 bagian... sekitar 37 km x 37 km bisa diabaikan. Koordinat titik-titik sudut (titik pojok) geografis lembar peta dihitung berdasarkan skala peta. 3. Sehingga titik tengah setiap bagian derajat mempunyai koordinat O. Keuntungan dan kerugian sistem proyeksi polyeder Keuntungan proyeksi polyeder: karena 11° LS . dan penomoran dari LU ke LS: I. II. lurus sumbu X di titik tengah bagian derajatnya. Proyeksi polyeder di Indonesia digunakan untuk pemetaan topografi dengan cakupan: 94° 40’ BT . pada kawasan 20° x 20°.

Proyeksi Universal Traverse Mercator (UTM) UTM merupakan sistem proyeksi silinder. konform. Dengan ketentuan sebagai berikut: Pada dan Gambar gambar 96 berikut XYZ ditunjukkan menujukkan perpotongan silinder terhadap bola bumi penggambaran proyeksi dari bidang datum ke bidang proyeksi. memerlukan tranformasi koordinat. secant. di meridian tengah = Batas paralel tepi atas dan tepi bawah adalah 84° LU dan 80° LS. Untuk pemetaan daerah luas harus sering pindah bagian derajat. Kedudukan bidang proyeksi silinder terhadap bola bumi pada proyeksi UTM . b.9996. Kesalahan arah maksimum 15 m untuk jarak 15 km. c. • • Perbesaran 0. • Bidang silinder memotong bola bumi pada dua buah meridian yang disebut meridian standar dengan faktor skala 1. transversal. d. Tidak praktis untuk peta skala kecil dengan cakupan luas. Grid kurang praktis karena dinyatakan dalam kilometer fiktif. Tiap zone mempunyai meridian tengah sendiri. • Lebar zone 6° dihitung dari 180° BB dengan nomor zone 1 hingga ke 180° BT dengan nomor zone 60.129 Kerugian proyeksi polyeder: a. Gambar 96.

130 Gambar 97. Pembagian zone global pada proyeksi UTM . Proyeksi dari bidang datum ke bidang proyeksi Gambar 98.

Absis dan ordinat semu di (0. III dan IV yang tidak mengalami distorsi setelah proyeksi. Konvergensi meridian pada proyeksi UTM .131 Pada kedua gambar tersebut.Y) proyeksi pada setip zone. Pada daerah I. sedangkan pada daerah IA. tergambar sebagai garis lurus dan meridianmeridian tergambar sedikit melengkung.000. IIIC dan IVD mengalami perbesaran. IV gambar proyeksi mengalami pengecilan. V. dan + 0 m untuk wilayah di sebelah utara ekuator atau +10. Karena proyeksi UTM bersifat konform. Lingkaran tempat perpotongan silinder dengan bola bumi tergambar sebagai garis lurus. Ekuator tergambar sebagai garis lurus dan dipotong tegak lurus oleh proyeksi meridian tengah yang juga terproyeksi sebagai garis lurus melalui titik V dan VI. Kedua garis ini digunakan sebagai sumbu sistem koordinat (X.000 m. II. IIB. Sistem grid pada proyeksi UTM terdiri dari garis lurus yang sejajar meridian tengah. ekuator Garis tebal dan garis putus-putus pada gambar menunjukkan proyeksi lingkaranlingkaran melalui I. II dan III. Gambar 99. Pusat koordinat tiap bagian lembar derajat adalah perpotongan meridian tengah dengan "paralel" tengah.0) adalah + 500.000 m untuk wilayah di sebelah selatan ekuator. Konvergensi Meridian Ukuran lembar peta dan cara menghitung titik sudut lembar peta UTM Susunan sistem koordinat Ukuran satu lembar bagian derajat adalah 6° arah meridian 8° arah paralel (6° x 8°) atau sekitar (665 km x 885 km). maka paralel-paralel juga tergambar agak melengkung sehingga perpotongannya dengan meridian membentuk sudut siku. VI.

000 m.000 m dan 680. Sedangkan pada selang diluar kedua daerah ini terjadi perbesaran faktor skala.000. untuk jarak 1.070.000 m terjadi pengecilan faktor skala dari 1 ke 0.9996. pada tepi zone atau sekitar 300 km di sebelah barat dan timur meriadian tengah.000 m – 500. Misalnya.000 m = 1.132 Gambar 99 dan 100 menunjukkan sistem koordinat dan faktor skala pada setiap lembar peta.000. Grafik faktor skala proyeksi peta UTM .000 m pada meridian tengah akan tergambar 1. Perhatikan pada absis antara 320. Gambar 100. atau terjadi distorsi sekitar 70 cm / 1 000 m. Sistem koordinat proyeksi peta UTM Gambar 101.000 m – 500.070 x 1.

M.000 adalah 30° x 30°.36 untuk penomoran bagian lembar setiap 30° pada arah 6° LU – 12° LS.000 adalah 1½° x 1°. Sehingga untuk satu bagian derajat 6° x 8° terbagi dalam 4 x 8 = 32 lembar.31 untuk penomoran bagian lembar setiap 1½° pada arah 94½° BT – 141° BT. Angka Arab 1 . b.133 Lembar Peta UTM Global Penomoran setiap lembar bujur 6° dari 180° BB – 180° BT menggunakan angka Arab 1 – 60. b.000 di Indonesia a. Penomoran menggunakan angka Romawi I.000 adalah 7½° x 7½ °. Lembar peta UTM skala 1 : 100. yaitu L. Ukuran 1 lembar peta skala 1 : 250. wilayah Indonesia di mulai pada zone 46 dengan meridian sentral 93° BT dan berakhir pada zone 54 dengan meridian sentral 141° BT.000 di Indonesia a. c.000. c. II. d. c dan d dimulai dari pojok kanan atas searah jarum jam.000 dibagi menjadi 4 bagian lembar peta skala 1 : 50.000 adalah 15° x 15°. Ukuran 1 lembar peta skala 1 : 25. Menggunakan cara penomoran seperti itu. Angka Arab 1 .000 di Indonesia a. Penomoran setiap lembar arah paralel 80° LS – 84° LU menggunakan huruf latin besar dimulai dengan huruf C dan berakhir huruf X dengan tidak menggunakan huruf I dan O. serta 4 satuan arah lintang. Selang seragam setiap 8° mulai 80° LS – 72° LU atau C – W. III dan IV dimulai dari pojok kanan atas searah jarum jam.000. c. Lembar peta UTM skala 1 : 250. Satu lembar peta skala 1 : 50. Satu lembar peta skala 1 : 100. .000. Ukuran 1 lembar peta skala 1 : 100.000 dibagi menjadi 4 bagian lembar peta skala 1 : 25. b. Penomoran menggunakan huruf latin kecil a. b. Lembar peta UTM skala 1 : 25.000 di Indonesia a. b. N dan P dimulai dari 15° LS – 10° LU. c.000 dibagi menjadi 6 bagian lembar peta skala 1 : 100. Lembar peta UTM skala 1 : 50. secara global pada proyeksi UTM. Satu lembar peta skala 1 : 250. Angka Romawi I – XVII untuk penomoran bagian lembar setiap 1° pada arah 6° LU – 11° LS. Angka Arab 1 – 94 untuk penomoran bagian lembar setiap 30° pada arah 94° BT – 141° BT. Ukuran 1 lembar peta skala 1 : 50.

134 1. Peta kota Bandung Gambar 103. Peta Geologi . Peta–peta khusus Gambar 102.

Peta statistik Gambar 105. Peta sungai .135 Gambar 104.

Gambar 107. Peta jaringan 2. Peta Dunia Peta dunia skalanya lebih kecil dari 1 : 1.000.000 yang berisikan pulau dan benua. Peta dunia .136 Gambar 106.

9999 dan lebar zone = 3°. g. e. Proyeksi: TM dengan lebar zone 3°. b. maka arah utara diambil sebagai suatu salib sumbu. Sistem proyeksi ini. Menurut teori. Ordinat semu (U) : 1.40 cm/ 1.000 m. Sistem koordinat yang dipergunakan adalah koordinat siku-siku (kartesien) dan koordinat polar. Sumbu kedua (X) : Ekuator. f.137 Kebaikan Proyeksi UTM 5. d. Sumbu pertama (Y): Meridian sentral dari setiap zone. Distorsi berkisar antara .2. Proyeksi simetris selebar 6° untuk setiap zone.000 meter + X. Satuan : Meter. sejak tahun 1997 digunakan oleh bekas Badan Pertanahan Nasional (BPN) sebagai sistem koordinat nasional menggunakan datum absolut DGN-95. Transformasi koordinat dari zone ke zone dapat dikerjakan dengan rumus yang sama untuk setiap zone di seluruh dunia. yang positif α = 90 Berhimpit dengan sb. digunakan pada pengukuran dan pemetaan berbeda dengan sistem koordinat matematis (trigonometri).9999. Proyeksi TM-3° Sistem proyeksi peta TM-3° adalah sistem proyeksi Universal Tranverse Mercator dengan ketentuan faktor skala di meridian sentral = 0. Ketentuan sistem proyeksi peta TM-3° : a. Pada waktu kaki bergerak OP: Berhimpit dengan sb. c. Alasan dari aturan kuadran ilmu ukur tanah yang searah jarum jam adalah karena peralatan pengukuran sudut menggunakan bantuan magnet bumi yang nilainya bertambah besar searah jarum jam. Faktor skala pada meridian sentral : Koordinat proyeksi peta dapat didekati dengan aturan diatas atau ditetapkan oleh surveyor secara pendekatan lokal jika belum tersedia Bencmark Sistem disekitar kuadran lokasi yang pengukuran. Sistem berbeda kuadran dengan koordinat kuadran geometrik trigonometrik karena alat-alat Ilmu Ukur Tanah arahnya dari utara dan searah jarum jam. Sistem kuadran matematis bertambah besar ke arah berlawanan jarum jam. sudut jurusan adalah sudut yang dimulai dari arah utara geografis. c.000 m dan 70 cm/ 1. Absis semu (T) : 200. 0.500. Aturan kuadran a.000 meter + Y. b. yang positif α = 180 . Untuk menentukan suatu titik terhadap titik yang lainnya dipergunakan sistem koordinat.

Sistem koordinat Sistem koordinat permukaan bumi keseluruhan menggunakan sistem koordinat geografik (Geodetik) yang diukur dengan menggunakan derajat (degree) garis-garis lingkaran yang menghubungkan kutub utara ke kutub selatan dikenal dengan nama garis bujur (longitude) atau garis-garis meridian. Disamping ini digambar garis AB yang di sebellah kiri AB dan di sebelah kanan αba. 180270. dengan memperpanjang AB. maka didapat dua sifat yang penting dari jurusan tersebut: I. (dua sudut jurusan dari dua arah yang berlawanan berselisih . Garis-garis lingkaran yang tegak lurus terhadap garis meridian dikenal dengan nama garis lintang (latitude). dimana daerah-daerah tersebut disebut dengan: Kuadran I Kuadran II Kuadran III Kuadran IV : 0 – 90 : 90 – 180 : 180 – 270 : 270 – 360 5. yang positif α = 360 Dengan demikian kaki yang bergerak OP melalui daerah-daerah 0-90.138 Berhimpit dengan sb. 90-180. II. α ab . (sudut jurusan terletak 0 antara 0º . 0 ‹ α ‹ 360 0 selatan dikenal dengan nama garis ekuator atau garis katulistiwa. Nilai nol derajat garis meridian melalui kota Greenwich di kota inggris. Kedua arah BA dan AB mempunyai arah yang berlawanan. Nilai nol derajat garis lintang memotong di tengah garis meridian yang menghubungkan kutub utara dengan kutub Dan kuadran berputar dengan jalannya jarum jam. Nilai garis meridian dari Greenwich ke arah timur dikenal dengan nama bujur timur yang besarnya adalah 0 derajat sampai dengan 180 derajat Bujur Timur. maka didapat pula αab dan αba. pada sebelah kanan dapat ditentukan hubungan antar αab dan αba karena terbukti bahwa: α ba = α ab + 1800 Dengan uraian di atas tentang sudut jurusan. Adalah 0 derajat sampai dengan 180 derajat Bujur Barat.360º).3. yang positif α = 270 Berhimpit dengan sb. Nilai garis lintang dari ekuator ke kutub utara dikenal dengan istilah lintang utara yang besarnya dari 0 derajat sampai dengan 90 derajat Lintang Utara.α ba = 180 180º). 270-300. Nilai garis lintang dari ekuator ke kutub Selatan dikenal dengan istilah Lintang Selatan yang besarnya dari 0 derajat sampai dengan 90 derajat Lintang Selatan.

j). Gambar 109. Bumi sebagai spheroid . bujur barat (0° 180° BB) dan bujur timur (0° . Sistem koordinat geografis Beberapa adalah: • • ketentuan yang berhubungan • • Bujur (longitude . dengan pemodelan bumi sebagai spheroid Meridian dan meridian utama. Paralel dan paralel NOL atau ekuator.139 Gambar 108.l ). lintang utara (0° 90° LU) dan lintang selatan (0° – 90° LS).180° BT). Lintang ( latitude .

140 Pengukuran tempat titik – titik • Menggunakan garis lurus Apabila titik – titik tersebut terdapat pada satu garis lurus. Cosinus. dengan titik dasar 0 dimana sebelah kanan dari titik nol bertanda positif dan sebelah kiri dari titik nol bertanda negatif. digunakan rumus: tg α ab ( X b − X a ) 2 + (Y b − Ya ) 2 5. Pada sumbu Y kearah utara dari titik O negatif. Tgn α = r r y Tgαab = Xb − X a Yb − Ya . Aturan kuadran trigonometris Kuadran I Trigonometris Sin α Cos α Tan α II III IV Untuk menentukan besarnya atau lebih tepat di kuadran manakah sudut jurusan α di letakkan. dan Tangen berfungsi dengan penuh pada Ilmu Geodesi. Meskipun membagi kuadran pada ilmu ukur sudut dan pada ilmu geodesi. yaitu pada = Xb − Xa Yb − Ya perhitungan analitik yaitu ini adalah goniometri- Dasar–dasar geometri trigonometri adalah sebagai berikut : Sin α= x y x . dengan titik O sebagai pusat dari perpotongan garis mendatar X (Absis) dan garis tegak lurus Y (Ordinat). Menentukan Sudut Jurusan Seperti telah dijelaskan sebelumnya sudut jurusan adalah sudut yang dibentuk dari arah utara geografis kemudian diputar searah jarum jam dan berhenti pada garis yang telah ditentukan. Untuk menentukan jarak dab dapat menggunakan Teorema Phytagoras: dab = bertanda positif dan kearah selatan dari titik O bertanda Ilmu Ukur Sudut dari kanan ke kiri dan pada Ilmu Geodesi dari kiri ke kanan tapi daerah kuadran pada dua ilmu itu menyatakan daerah yang sama ialah: Kuadran I Kuadran II Kuadran III Kuadran IV : 00 – 900 : 900 – 1800 : 1800 – 2700 : 2700 – 3600 Segala suatu yang telah dipelajari pada Ilmu Ukur Sudut mengenai Sinus. Dimana pada sumbu X kesebelah kanan dari titik O bertanda positif dan sebelah kiri dari titik O bertanda negatif. Tabel 8. Cos α = . • Menggunakan sumbu koordinat Apabila terdapat dua titik tidak pada satu garis lurus.4.

Y3.Y a ) Gambar 110. Xn dan Y1. X3. Y2. (X1 ⋅Y2 + X2 ⋅Y3 + X3 ⋅Y1 )−(Y ⋅ X2 +Y2 ⋅ X3 +Y3 ⋅ X1) 1 2 Gambar 112... Aturan kuadran geometris sin α ab = d ab = Xb − Xa sin α ab Untuk menentukan luas pengukuran dengan menggunakan sistem koordinat : “Metode Sarus” Metode Sarus Apabila terdapat beberapa variabel X dan Y.. Sudut jurusan Dari gambar di atas dapat dicari jarak d ab menggunakan aturan sinus dan cosinus : cos α ab = d ab = Y Yb − Ya = r d ab Yb − Ya cos α ab X Xb − Xa = r d ab Gambar 111.141 B ( X b .Y b ) d ab α ab C A ( X a . X2.. Misalnya X1.. Aturan kuadran trigonometris . Yn.... Maka kedua variabel tersebut dikali silang kemudian dibagi 2.

Drs. MT Sistem Koordinat Permukaan Bumi (dalam Degree / Derajat) (Koordinat Geodetik : Longitude dan Latitude) (Bujur dan Lintang) Lingkaran-Lingkaran yang melalui Kutub Utara dan Selatan (Garis Bujur/Meridian/Longitude) Lingkaran-Lingkaran yang tegak lurus Garis Bujur/Meridian/Longitude (Garis Lintang/Paralel/Latitude) Nol Derajat Meridian di Kota Greenwich Inggris Nol Derajat Paralel di Garis Equator/Khatulistiwa Bujur Barat 0 . Proyeksi Peta dan Aturan Kordinat Dosen Penanggung Jawab : Dr. Aturan Kuadran dan Sistem Kordinat .90 Lintang Selatan 0 .180 Bujur Timur 0 .90 Distorsi (Perubahan Bentuk) Informasi jarak. Diagram alir Proyeksi Peta.180 Lintang Utara 0 .Ir.142 Model Ukur Tanah Model Diagram Alir IlmuDiagram AlirPertemuan ke-05 Proyeksi Peta.H. sudut dan luas) Bidang Bola / Ellipsoida Proyeksi Peta : Proses memindahkan informasi dari bidang lengkung ke bidang datar melalui bidang perantara Bidang Perantara Silinder/ Cylindrical Datar/ Zenithal Kerucut/ Conical Posisi Sumbu Putar Bumi terhadap Garis Normal Bidang Perantara Transversal/ Tegak Lurus Normal/Berhimpit/ Sejajar Oblique/Miring Jarak (Equidistance) Bina Marga / Jasa Marga Informasi Geometris yang dipertahankan Sudut (Conform) Navigasi Luas (Equivalent) BPN Bidang Datar Gambar 113. Aturan Kuadran dan Sistem Kuadran Sistem Koordinat.Iskandar Muda Purwaamijaya.

Oleh karena itu. Misalnya X1. Proyeksi peta adalah teknik-teknik yang digunakan untuk menggambarkan sebagian atau keseluruhan permukaan tiga dimensi yang secara kasaran berbentuk bola ke permukaan datar dua dimensi dengan distorsi sesedikit mungkin. Sistem proyeksi peta TM-3° adalah sistem proyeksi Universal Tranverse Mercator dengan ketentuan faktor skala di meridian sentral = 0..Y). Meskipun membagi kuadran pada ilmu ukur sudut dan pada ilmu geodesi berjalan berlawanan. X3. konform. Untuk menentukan luas pengukuran dengan menggunakan sistem koordinat dapat menggunakan metode Sarus. 7.143 Rangkuman Berdasarkan uraian materi bab 5 mengenai Proyeksi Peta.9999 dan lebar zone = 3°. Yn. 9. maka arah utara diambil sebagai suatu salib sumbu.... Bidang datum adalah bidang yang akan digunakan untuk memproyeksikan titik-titik yang diketahui koordinatnya (j . Xn dan Y1. Cara proyeksi peta dapat dilakukan dengan cara proyeksi langsung (direct projection) dan proyeksi tidak langsung (double projection). 4. 3. Maka kedua variabel tersebut dikali silang kemudian dibagi 2. Sudut jurusan adalah sudut yang dimulai dari arah utara geografis.l ).. .. Aturan Kuadran dan Sistem Kordinat. Sedangkan bidang proyeksi adalah bidang yang akan digunakan untuk memproyeksikan titik-titik yang diketahui koordinatnya (X.. X2. 5. 8. Y3. Metode Sarus dapat digunakan apabila terdapat beberapa variabel X dan Y. Tujuan Sistem Proyeksi Peta dibuat dan dipilih untuk menyatakan dan menyajikan secara grafis posisi titik-titik pada permukaan bumi ke dalam sistem koordinat bidang datar. UTM merupakan sistem proyeksi silinder. secant. Y2. Sistem proyeksi peta dibuat untuk mereduksi sekecil mungkin distorsi. 2. ialah pada Ilmu Ukur Sudut dari kanan ke kiri dan pada Ilmu Geodesi dari kiri ke kanan tapi daerah kuadran pada dua ilmu itu menyatakan daerah yang sama. maka dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. alat-alat Ilmu Ukur Tanah arahnya dari utara dan searah jarum jam. transversal.. 6. Secara garis besar sistem proyeksi peta bisa dikelompokkan berdasarkan pertimbangan ekstrinsik dan intrinsik.

144 Soal Latihan Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini! 1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan sistem proyeksi peta TM-3°. Apa yang dimaksud dengan bidang datum dan bidang proyeksi ? 3. Keuntungan dan kerugian apa saja pada sistem proyeksi polyeder ? 4. Jelaskan pengertian dan tujuan proyeksi peta ? 2. Jelaskan mengapa aturan kuadran Ilmu Ukur Tanah searah jarum jam ? 6. Apa yang dimaksud dengan sudut jurusan ? . serta ketentuanketentuannya ? 5. Sebutkan ketentuan-ketentuan yang berhubungan dengan permodelan bumi sebagai spheroid ? 7.

Lanalyawati. . 2007. dan kawan-kawan.S. N. 1999. ITB. Bandung. Lembaga Penelitian UPI. Bogor. dan kawan-kawan. 2003. Budiono.LAMPIRAN A. Penanganan Masalah Jalan Tembus Hutan secara Terintegrasi : Kajian terhadap Kebutuhan Kelembagaan Stakeholders. Gunarta. Ukur Tanah 2. 2006. P. Jurusan Pendidikan Teknik Bangunan.S. Angkasa. 1988. Bandung. Gunarso.2 Juli. 2004. dan G. S. Penggunaan Computer Aided Design (CAD) pada Biro Arsitek. Bandung. Evaluasi dan Strategi Pengendalian Pencemaran Udara di Kota-Kota Besar di Indonesia. Bogor. Aplikasi Geographical Information System untuk Evaluasi Kemampuan Lahan di Kabupaten Sumedang. RM. 2000. Pemkab Malinau Hasanudin.G. Standar Kompetensi Nasional Bidang SURVEYING. Teknik Geodesi FTSP ITB. Poligon. Departemen Pendidikan Nasional RI. 1999.3 Oktober. Wiradisastra.1 Departemen Pekerjaan Umum. Jakarta. Bandung Barus. 1990. SPS IPB. Pradjna Paramita. Marina. (1983). Masri. Departemen Pekerjaan Umum. Jakarta. Sailendra. Sistem Informasi dan Geografis. dan kawan-kawan. 1 DAFTAR PUSTAKA Anonim.B. Bandung. S. Jakarta. M. I. Jurnal Litbang Jalan Volume 20 No. Kajian Perubahan Lingkungan Zona Buruk untuk Perumahan. Struktur Kurikulum Program Studi Pendidikan Teknik Sipil FPTK UPI. Gumilar. Darmaji. R. 2003. Teknik geodesi FPTS ITB. dan kawan-kawan. Jurusan Teknik Sipil PEDC. dan A. Jurusan Pendidikan Teknik Bangunan FPTK UPI. PT. I. A. Hendriatiningsih. S. 2004. Departemen Pekerjaan Umum. Bandung. Bandung. Aplikasi Pemetaan Digital dan Rekayasa Teknik Sipil dengan Autocad Development. Mira. Bagian Proyek Sistem Pengembangan. Jakarta. 2004. 2003. Kusminingrum. Survai dengan GPS. Pengukuran Topografi dan Teknik Pemetaan.. Bandung. Engineering Survey. Bandung. Pengkajian Pengelolaan Lingkungan Jalan di Kawasan Hutan Lindung (Bedugul Bali). 2003. Aplikasi Geographical Information System untuk Zonasi Kesesuaian Lahan Perumahan di Kabupaten Bandung. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Ilmu Ukur Tanah. Yusuf. 2005. 2002. Kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan. Jurusan Diktekbang FPTK UPI. B dan U. Gunawan. 2003. M. Pradnya Paramita. Bandung. 2005. Jurnal Litbang Jalan Volume 21 No. Bandung. Hayati.W. Gayo. Modul Pelatihan SIG. Depdikbud. Jurnal Litbang Jalan Volume 20 No.

FPTK UPI. Departemen Pekerjaan Umum. Bandung. D. Pola Perubahan Lingkungan yang Disebabkan oleh Prasarana dan Sarana Jalan (Studi Kasus : Jalan Soekarno-Hatta di Kota Bandung Jawa Barat). Susanto dan kawan-kawan. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.dan I.28 – 2005. I. Modul : Pemindahan Tanah Mekanis. Supratman. I. Badan Penelitian dan Pengembangan. S. Jurnal Permukiman ISSN : 02150778 Volume 21 No.U. Bekasi. Yulianto. 2004. Jurusan Pendidikan Teknik Bangunan FPTK UPI. Teknik Geodesi Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Bandung. 1992. 1982. A. Purwaamijaya.LAMPIRAN A. I. W. Bandung.M Purwaamijaya. Petunjuk Penggunaan Planimeter. FPTK IKIP. Purworaharjo. (1994). Hitung proyeksi Geodesi (Proyeksi Peta).: FPTK IKIP. R. 2002. Ilmu Ukur Tanah Seri C Pemetaan Topografi. Ilmu Ukur Tanah Seri B Pengukuran Horisontal.R dan Lanalyawati. 1980. Melani.M. Aplikasi AUTOCAD 2002 untuk Pemetaan dan SIG. (1992). 2005c.dan I. FPTK IKIP. Teknik Geodesi Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Bandung.M. Purworaharjo. Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Air. Teknik Geodesi FTSP ITB. Wongsotjitro. A. Jurnal Litbang Jalan Volume 21 No. Ilmu Kanisius . Bandung.3 Desember 2005. Bandung. 2004. 1982. Aplikasi Geographical Information System untuk Zonasi Kesesuaian Lahan Perumahan di Kabupaten Sumedang. Ilmu Ukur Tanah Seri A Pengukuran Tinggi. Teknik Geodesi Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Bandung.M.. Bandung.M. Jurnal Informasi Teknik ISSN : 0215-1928 No. A. Analisis Kemampuan Lahan di KecamatanKecamatan yang Dilalui Jalan Soekarno-Hatta di Kota Bandung Jawa Barat. S. Pusat Pengembangan Penataran Guru Teknologi. Bandung. E.M. Analisis Kemampuan Lahan sebagai Acuan Penyimpangan Gejala Konversi Lahan Sawah Beririgasi Menjadi Lahan Perumahan di Koridor Jalan SoekarnoHatta Kota Bandung. Purworaharjo. Purwaamijaya.M Purwaamijaya. Purworaharjo. I. Kajian Kebijakan dalam Pengelolaan Lingkungan Jalan di Kawasan Sensitif. Balai Irigasi. 2 Mira.Y. Purwaamijaya. Pengukuran Horizontal.1 Maret.U. Ukuran Tinggi Teliti. Purwaamijaya.U. Bandung. Bandung. Teknik Geodesi Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Bandung. Staf Ukur Tanah. Bandung. 1986. 2005a. FPTK IKIP. Bandung. 2002. Supratman. Modul Ilmu Ukur Tanah.Yogyakarta.. . Bandung. Tutorial Arcview SIG Informatika. Gramedia. Parhasta. 2005b. Badan Penelitian dan Pengembangan. 1988. 2006. 2004.. Ukur Tanah. Mulyani. 1986. Ilmu Ukur Tanah untuk Teknik Sipil.U. Departemen Pekerjaan Umum. Supratman. 1986. Jakarta. Departemen Pekerjaan Umum. Geometrik Jalan Raya.

1 GLOSARIUM Absis Analog Astronomis Automatic level : : : : Posisi titik yang diproyeksikan terhadap sumbu X yang arahnya horizontal pada bidang datar. Metode pengikatan ke belakang (alat berdiri di atas titik yang ingin diketahui koordinatnya) yang menggunakan bantuan 2 titik penolong dan dua buah lingkaran. Benang silang diafragma yang tampak pada lensa objektif teropong sebagai acuan untuk membaca ketinggian garis bidik pada rambu ukur. Ilmu yang mempelajari posisi relatif benda-benda langit terhadap benda-benda langit lainnya. Sipat datar optis yang mirip dengan tipe kekar tetapi dilengkapi dengan alat kompensator untuk membuat garis bidik mendatar dengan sendirinya. Penyajian gambar secara digital menggunakan perangkat keras dan perangkat lunak komputer. Alat atau metode untuk mengukur tekanan udara yang diaplikasikan untuk menghitung beda tinggi antara beberapa titik di atas permukaan bumi yang berkategori gunung (slope > 40 %).LAMPIRAN B. Besar sudut yang dihitung dari perbandingan sisi datar terhadap sisi miring. Titik ikat di lapangan yang ditandai oleh patok yang dibuat dari beton dan besi dan telah diketahui koordinatnya hasil pengukuran sebelumnya. Sudut yang dibentuk dari garis arah utara terhadap garis arah suatu titik yang besarnya diukur searah jarum jam. Pengaturan koordinat peta analog agar sesuai dengan koordinat pada sistem koordinat peta digital yang titik-titik ikat acuannya adalah titik-titik di peta analog yang memiliki nilai-nilai koordinat. Metode pengikatan ke belakang (alat berdiri di atas titik yang ingin diketahui koordinatnya) yang menggunakan bantuan 1 titik penolong dan satu buah lingkaran. Penampang pada arah lebar yang menggambarkan turun naiknya permukaan suatu bentuk objek. Profil melintang. Sistem penyajian peta secara manual. Computer Aided Design. Pusat ellipsoid referensi berimpit dengan pusat bumi (datum absolut). Metode koreksi absis dan ordinat pada pengukuran polygon yang bobotnya adalah perbandingan antara jarak resultante terhadap total jarak resultante. Sistem penyajian informasi (grafis atau teks) secara biner elektronis. Titik perpotongan antara ellipsoid referensi dengan geoid (datum relatif). Badan Pertanahan Nasional (Kantor Agraria / Pertanahan). Azimuth Barometri : : Benchmark : Bowditch : BPN CAD Cassini : : : Collins : Coordinate Set : Cosinus Cross hair : : Cross Section Datum : : Digital : .

Garis atau bidang yang tegak lurus terhadap garis atau bidang yang menjauhi pusat bumi. Satu putaran = 360o. Spheroid persamaan kata ellipsoid. sumbu tegak menjadi satu dengan teropong. Nilai yang diperoleh dari pembagian selisih radius terpendek dengan radius terpanjang ellipsoida terhadap radius terpendek. second. Kota di Inggris yang dilewati oleh garis meridian (longitude/bujur) 0o. Sistem besaran sudut yang menyajikan sudut dengan sebutan derajat. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang mempelajari mengenai geometris foto-foto udara yang diperoleh dari pemotretan menggunakan pesawat terbang. Hg. Datum Geodesi Nasional.LAMPIRAN B. Ilmu yang mempelajari bentuk matematis di atas permukaan bumi. 1’=60”. Kegepengan. . Besarnya nilai perbandingan sisi muka terhadap sisi samping yang membentuk sudut tegak lurus (90o) Penyajian hasil pengukuran dengan gambar. Kurva terpendek yang menghubungkan dua titik pada permukaan ellipsoida. Ketajaman penampakan objek pada teropong dan dapat diatur dengan tombol fokus. Perubahan bentuk atau perubahan informasi geometrik yang disajikan pada bidang lengkung (bola/ellipsoidal) terhadap bentuk atau informasi geometrik yang disajikan pada bidang datar. Bentuk tidak beraturan yang mewakili permukaan air laut di bumi dan memiliki energi potensial yang sama. menit.2 Digitizer : Distorsi : DGN Dumpy level Ellipsoid : : : Equator Flattening : : Fokus Fotogrametri : : Geodesi : Geodesic Geoid Geometri Gradien Grafis Greenwich Grid : : : : : : : Hexagesimal Higragirum Horisontal Indeks : : : : Alat yang digunakan untuk mengubah peta-peta analog menjadi peta-peta digital dengan menelusuri detail-detail peta satu persatu. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang mempelajari dan menyajikan informasi bentuk permukaan bumi dengan memperhatikan kelengkungan bumi. Sipat datar optis tipe kekar. Garis khatulistiwa yaitu garis yang membagi bumi bagian utara dan bumi bagian selatan sama besar. datum sistem koordinat nasional. 1o=60’. Garis kontur yang penyajiannya lebih tebal atau lebih ditonjolkan dibandingkan garis-garis kontur lain setiap selang ketinggian tertentu. Bentuk 3 dimensi dari ellips yang diputar pada sumbu pendeknya dan merupakan bentuk matematis bumi. air raksa yang dipakai sebagai cairan penunjuk nilai tekanan udara pada alat barometer. Bentuk empat persegi panjang yang merupakan referensi posisi absis dan ordinat yang diletakkan di muka peta yang panjang dan lebarnya bergantung pada unit posisi X dan Y yang ditetapkan oleh pembuat peta berdasarkan kaidah kartografi (pemetaan).

Alat yang digunakan untuk menunjukkan arah suatu garis terhadap utara magnet yang dipengaruhi magnet bumi. Suatu rumusan untuk mencari ketinggian suatu titik yang diapit oleh dua titik lain dengan konsep segitiga sebangun. yaitu pengukuran titik tunggal dari dua buah titik yang telah diketahui koordinatnya dengan menempatkan alat theodolite di atas titik-titik yang telah diketahui koordinatnya. Suatu sistem informasi yang mampu mengaitkan database grafis dengan data base tekstualnya yang sesuai. Garis khayal di permukaan bumi yang menghubungkan titik-titik dengan ketinggian yang sama dari permukaan air laut rata-rata (MSL).3 Interpolasi Intersection : : Galat GIS : : GPS Gravitasi GRS-1980 : : : Hardcopy Hardware Informasi Inklinasi Interpolasi Jalon Jurusan Kalibrasi : : : : : : : : Kartesian Kompas Kontrol : : : Kontur : Konvergensi Konversi Koordinat : : : Metode perhitungan ketinggian suatu titik di antara dua titik yang dihubungkan oleh garis lurus. adalah ellipsoid terbaik yang memiliki penyimpangan terkecil terhadap geoid (lihat istilah geoid). Sistem penentuan posisi global menggunakan satelit buatan Angkatan Laut Amerika Serikat.LAMPIRAN B. Upaya mengendalikan data hasil pengukuran di lapangan agar Memenuhi syarat geometrik tertentu sehingga kesalahan hasil pengukuran di lapangan dapat memenuhi syarat yang ditetapkan dan kesalahan-kesalahan acaknya telah dikoreksi. mouse. Suatu prosedur untuk mengeliminasi kesalahan sistematis pada peralatan pengukuran dengan menyetel ulang komponenkomponen dalam peralatan. Gaya tarik bumi yang mengarah ke pusat bumi dengan nilai + 9. GeodeticReference System tahun 1984.5 meter sebagai target bidikan arah horizontal. Batang besi seperti lembing berwarna merah dan putih dengan panjang + 1. Dokumentasi peta-peta digital dalam bentuk lembaran-lembaran peta yang dicetak dengan printer atau plotter.8 m2/detik. Sudut yang dihitung dari selisih absis dan ordinat dengan acuan sudut nolnya arah sumbu Y positif searah jarum jam. Sudut vertical yang dibentuk dari garis bidik (dinamakan juga sudut miring). Perangkat keras computer yang terdiri CPU (Central Processing Unit). Sesuatu yang memiliki makna atau manfaat. . Proses mengubah suatu besaran (sudut/jarak) dari suatu sistem menjadi sistem yang lain. Geographical Information System. Posisi titik yang dihitung dari posisi nol sumbu X dan posisi nol sumbu Y. Selisih antara nilai pengamatan dengan nilai sesungguhnya. Sistem koordinar siku-siku. printer. keyboard (papan ketik). Nama lain dari pengikatan ke muka. Garis di atas peta yang menghubungkan titik-titik dengan ketinggian yang sama dari permukaan air laut rata-rata dan kerapatannya bergantung pada ukuran lembar penyajian (skala peta). Global Positioning System. Serangkaian garis searah yang menuju suatu titik pertemuan.

4 Koreksi Kuadran Kuadrilateral Latitude : : : : Leveling head Logaritma Longitude : : : Long Section Loxodrome Mapinfo : : : MSL : Mistar : Meridian : Nivo : Normal Oblique : : Offset Ordinat Orientasi Orthodrome Overlay : : : : : Nilai yang dijumlahkan terhadap nilai pengamatan sehingga diperoleh nilai yang dianggap benar. Paralel nol berada di equator atau garis khatulistiwa. Meridian nol berada di Kota Greenwich. . Sebagai acuan titik nol pengukuran tinggi di darat. Nilai yang diperoleh dari kebalikan fungsi pangkat. Inggris. Suatu fungsi pada analisis pemetaan digital dan GIS yang Menumpangtindihkan tema-tema dengan jenis pengelompokkan yang berbeda. pita ukur. kerucut. Garis-garis khayal di permukaan bumi yang menghubungkan kutub utara dan kutub selatan bumi. Nama lain garis parallel. Proyeksi garis geodesic pada bidang proyeksi. Meridian nol berada di Kota Greenwich. Garis (kurva) yang menghubungkan titik-titik dengan azimuth yang tetap. Garis-garis khayal di permukaan bumi yang menghubungkan kutub utara dan kutub selatan bumi. Nama lain garis meridian. jalon). silinder). Penampang pada arah memanjang yang menggambarkan turun naiknya permukaan suatu bentuk objek. Gelembung udara dan cairan yang berada pada tempat berbentuk bola atau silinder sebagai penunjuk bahwa teropong sipat datar atau theodolite telah sejajar dengan bidang yang memiliki energi potensial yang sama. Proyeksi peta yang sumbu putar buminya berimpit dengan garis normal bidang perantara (datar. Pengukuran untuk mengetahui posisi absolute dan posisi relative Objek-objek di atas permukaan bumi. Posisi titik yang diproyeksikan terhadap sumbu Y yang arahnya vertical pada bidang datar. Inggris. Proyeksi peta yang sumbu putar buminya membentuk sudut tajam (< 90o) dengan garis normal bidang perantara (datar. Perangkat lunak yang digunakan untuk pembuatan peta digital berinformasi yang dibuat dengan spesifikasi teknis perangkat keras untuk pemakai tunggal dan dibuat oleh perusahaan Mapinfo Corporation yang berdomisili di Kota New York Amerika Serikat.kesalahan. Nilai koreksi = . kerucut. Profil memanjang. silinder). Nama lain adalah Rhumbline. Metode pengukuran menggunakan alat-alat sederhana (prisma. benang bawah). Papan penggaris berukuran 3 meter yang dapat dilipat dua sebagai target pembacaan diafragma teropong untuk mengukur tinggi garis bidik (benang atas. Mean Sea Level (permukaan air laut rata-rata yang diamati selama periode tertentu di pinggir pantai). Garis-garis khayal yang tegak lurus garis meridian dan melingkari bumi. benang tengah. Bentuk segiempat dan diagonalnya yang diukur sudut-sudut dan jarak-jaraknya untuk menentukan koordinat titik di lapangan. Desktop Mapping Software.LAMPIRAN B. Ruang-ruang yang membagi sudut satu putaran menjadi 4 ruang yang pusat pembagiannya adalah titik 0. disebut juga kiap. Bagian yang terdiri dari tribach dan trivet.

14…… Random Acces Memory. Proses memindahkan informasi geometrik dari bidang lengkung (bola/ellipsoidal) ke bidang datar melalui bidang perantara (bidang datar. Salah satu metode pengukuran beda tinggi dengan menggunakan 2 alat sipat datar dan rambunya yang dipisahkan oleh halangan alam berupa sungai atau lembah dan dilakukan bolak-balik untuk meningkatkan ketelitian hasil pengukuran. Bidang datar (2 dimensi) yang dinyatakan dalam sumbu X dan Y Pengaturan koordinat peta analog agar sesuai dengan koordinat pada sistem koordinat peta digital yang titik-titik ikat acuannya adalah titik-titik di peta analog yang identik dengan titik-titik di peta digital yang telah ada. Sistem proyeksi dengan bidang perantara kerucut. Alat untuk menghitung koordinat secara konvensional. Serangkaian garis-garis yang membentuk kurva terbuka atau Tertutup untuk menentukan koordinat titik-titik di atas permukaan bumi. Sistem koordinat kutub (sudut dan jarak). Sistem besaran sudut yang menyajikan sudut satu putaran = 2 π radian. silinder). Gulungan kawat berbentuk spiral yang dapat memanjang dan memendek karena gaya tekan atau tarik yang digunakan pada alat sipat datar. Penyajian peta atau gambar secara digital menggunakan unit-unit terkecil berbentuk bujur sangkar. informasi geometric yang dipertahankan sama adalah sudut (conform) dan tangent. Pemetaan bentuk permukaan bumi menggunakan satelit buatan dengan ketinggian tertentu yang direkam secara digital dengan ukuran-ukuran kotak tertentu yang dinamakan pixel. . Istilah untuk alat ukur optis waterpass atau theodolite. Bagian dalam komputer yang digunakan sebagai tempat menyimpan dan memroses fungsifungsi matematis untuk sementara waktu. Perubahan posisi suatu objek karena diputar pada suatu sumbu putar tertentu. kerucut. Ilmuwan yang menemukan rumusan kuadrat garis terpanjang di suatu segitiga dengan salah satu sudutnya 90o adalah sama dengan perjumlahan kuadrat 2 sisi yang lain. Ketelitian unit-unit terkecil dinamakan dengan resolusi. Sipat datar optis tipe reversi yang teropongnya dapat diputar pada sumbu mekanis dan disangga oleh bagian tengah yang mempunyai sumbu tegak. Potongan gambaran turun dan naiknya permukaan tanah baik memanjang atau melintang.5 Pantograph Paralel : : Pegas : Pesawat Phytagoras : : Planimeter Planimetris Point Set : : : Polar Polyeder : : Polygon : Profil Proyeksi peta : : Radian RAM : : Raster : Remote Sensing : Resiprocal : Reversible level : Rotasi : Alat yang digunakan untuk memperbesar atau memperkecil objek gambar. sumbu putar bumi berimpit dengan garis normal kerucut. Penginderaan jauh.LAMPIRAN B. Paralel nol berada di equator atau garis khatulistiwa. π = 22/7 = 3. Garis-garis khayal yang tegak lurus garis meridian dan melingkari bumi.

saluran. Serangkaian segitiga yang diukur sudut-sudut dan jarak-jaraknya di lapangan untuk menentukan koordinat titik-titik di lapangan.6 Sarrus Scanner : : Sentisimal Simetris Sinus Skala Softcopy Software Stadia Statif Tachymetri : : : : : : : : : Tangen Tilting level TM-3 Topografi : : : : Total Station : Trace Transit : : Transversal : Triangulasi Triangulaterasi Tribach Trigonometri : : : : Trilaterasi : Orang yang menemukan rumusan perhitungan luas dengan nilainilai koordinat batas kurva. Nilai perbandingan besaran jarak atau luas di atas kertas terhadap jarak dan luas di lapangan.9999 dan lebar zone = 3o.LAMPIRAN B. Sistem besaran sudut yang menyajikan sudut dengan sebutan grid. centicentigrid. Serangkaian segitiga yang diukur sudut-sudutnya untuk Menentukan koordinat titik-titik di lapangan. Peta yang menyajikan informasi di atas permukaan bumi baik unsur alam maupun unsur buatan manusia dengan skala sedang dan kecil. Metode koreksi absis dan ordinat pada pengukuran polygon yang bobotnya adalah perbandingan antara jarak proyeksi pada sumbu X atau Y terhadap total jarak proyeksi pada sumbu X atau Y. Benang tipis berwarna hitam yang tampak di dalam teropong alat. Kaki tiga untuk menyangga alat waterpass atau theodolite optis. Metode pengukuran titik-titik detail menggunakan alat theodolite yang diikatkan pada pengukuran kerangka dasar vertikal dan horisontal. Satu putaran = 400g. Bagian yang dibagi sama besar oleh suatu garis diagonal. Alat ukur theodolite yang dilengkapi dengan perangkat elekronis untuk menentukan koordinat dan ketinggian titik detail secara otomatis digital menggunakan gelombang elektromagnetis. Penyangga sumbu kesatu dan teropong. centigrid. Alat yang mengubah gambar-gambar atau peta-peta analog Menjadi gambar-gambar/peta-peta digital dengan cara mengkilas. kerucut. silinder). Serangkaian garis yang merupakan garis tengah suatu bangunan (jalan. Dokumentasi peta-peta digital dalam bentuk file-file digital. Perangkat lunak computer untuk berbagai macam kepentingan. Besar sudut yang dihitung dari perbandingan sisi muka terhadap sisi miring. Sistem proyeksi Universal Transverse Mercator dengan faktor Skala di meridian sentral adalah 0. Sipat datar optis tipe jungkit yang sumbu tegak dan teropong Dihubungkan dengan engsel dan sekrup pengungkit. Proyeksi peta yang sumbu putar buminya tegak lurus (membentuk sudut 90o) dengan garis normal bidang perantara (datar. jalur lintasan). 1g=100c. Besar sudut yang dihitung dari perbandingan sisi muka terhadap sisi miring. . 1c=100cc. Bagian dari ilmu matematika yang diaplikasikan untuk Menghitung beda tinggi antara beberapa titik di atas permukaan bumi yang berkategori bermedan bukit (8%< slope < 40 %). Serangkaian segitiga yang diukur jarak-jaraknya untuk Menentukan koordinat titik-titik di lapangan.

Penglihatan kasat mata. Garis atau bidang yang menjauhi pusat bumi. titik dan kurva. Sistem proyeksi peta global yang memiliki lebar zona 6o sehingga jumlah zona UTM seluruh dunia adalah 60 zona. Kurva yang dibatasi oleh batas-batas dengan kriteria tertentu. Bentuk silinder-kerucut terbuat dari kuningan yang digantung di bawah alat waterpass atau theodolite sebagai penunjuk arah titik nadir atau pusat bumi yang mewakili titik patok. World Geodetic System tahun 1984. Titik atau garis yang menjauhi pusat bumi dari permukaan bumi. Ketelitian unit-unit terkecil dinamakan dengan resolusi. Alat atau metode yang digunakan untuk mengukur tinggi garis bidik di atas permukaan bumi yang berkategori bermedan datar (slope < 8 %). Penyajian peta atau gambar secara digital menggunakan garis.7 Trivet : Unting-unting : UTM : Vektor : Vertikal Visual Waterpass : : : WGS-84 : Zenith Zone : : Bagian terbawah dari alat sipat datar dan theodolite yang dapat dikuncikan pada statif. Bidang perantara yang digunakan adalah silinder dengan posisi transversal (sumbu putar bumi tegak lurus terhadap garis normal silinder). . informasi geometrik yang dipertahankan sama adalah sudut (konform) dan secant.LAMPIRAN B. adalah ellipsoid terbaik yang Memiliki penyimpangan terkecil terhadap geoid (lihat istilah geoid). Universal Transverse Mercator.

.

Buku lapangan sudut vertikal.LAMPIRAN C. Metode perhitungan perbedaan sudut ganda dan perbedaan observasi Arti dari perbedaan sudut ganda dan perbedaan observasi. Daftar Logaritma Hitungan dengan cara logaritma Hitungan cara logaritma Ukuran Kertas Seri A Bacaan sudut Jarak Formulir pengukuran poligon 1 Formulir pengukuran poligon 2 Formulir pengukuran poligon 3 Contoh perhitungan garis bujur ganda format daftar planimeter tipe 1 format daftar planimeter tipe 2 Hal No 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 Teks Formulir pengukuran titik detail Formulir pengukuran titik detail posisi 1 Formulir pengukuran titik detail posisi 2 Formulir pengukuran titik detail posisi 3 Formulir pengukuran titik detail posisi 4 Formulir pengukuran titik detail posisi 5 Formulir pengukuran titik detail posisi 6 Formulir pengukuran titik detail posisi 7 Formulir pengukuran titik detail posisi 8 Bentuk muka tanah dan interval kontur.y) titik triangulasi Tingkat Ketelitian Pengukuran Sipat Datar Tingkat Ketelitian Pengukuran Sipat Datar Ukuran kertas untuk penggambaran hasil pengukuran dan pemetaan Formulir pengukuran sipat datar Formulir pengukuran sipat datar Kelas proyeksi peta Aturan kuadran trigonometris Cara Sentisimal ke cara seksagesimal Cara Sentisimal ke cara radian Cara seksagesimal ke cara radian Cara radian ke cara sentisimal Cara seksagesimal ke cara radian Buku lapangan untuk pengukuran sudut dengan repitisi. Tabel perhitungan galian dan timbunan Daftar load factor dan procentage swell dan berat dari berbagai bahan Daftar load factor dan procentage swell dan berat dari berbagai bahan Keunggulan dan kekurangan pemetaan digital dengan konvensional Contoh keterangan warna gambar Keterangan koordinat Kelebihan dan kekurangan pekerjaan GIS dengan manual/pemetaan Digital Pendigitasian Konvensional di banding pendigitasian GPS Beberapa fungsi tetangga sederhana Perbandingan Bentuk Data Raster dan Vektor Hal 374 375 376 377 378 379 380 381 382 391 431 14 61 96 108 115 116 123 139 148 149 150 151 152 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 433 42 186 43 186 44 187 187 204 208 230 283 287 287 303 304 305 319 326 326 45 46 15 434 16 445 468 468 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 482 498 509 511 47 48 49 .1 DAFTAR TABEL No 1 2 3 4 Teks Ketelitian posisi horizontal (x.

.

1 DAFTAR GAMBAR No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 Teks Anggapan bumi Ellipsoidal bumi Aplikasi pekerjaan pemetaan pada bidang teknik sipil Staking out Pengukuran sipat datar optis Alat sipat datar Pita ukur Rambu ukur Statif Barometris Pengukuran Trigonometris Pengukuran poligon Jaring-jaring segitiga Pengukuran pengikatan ke muka Pengukuran collins Pengukuran cassini Macam – macam sextant Alat pembuat sudut siku cermin Prisma bauernfiend Jalon Pita ukur Pengukuran titik detail tachymetri Diagram alir pengantar survei dan pemetaan Kesalahan pembacaan rambu Pengukuran sipat datar Prosedur Pemindahan Rambu Kesalahan Kemiringan Rambu Pengaruh kelengkungan bumi Kesalahan kasar sipat datar Kesalahan Sumbu Vertikal Pengaruh kesalahan kompas theodolite Sket perjalanan Gambar Kesalahan Hasil Survei Kesalahan karena penurunan alat Pembacaan pada rambu I Pembacaan pada rambu II Hal 2 3 6 6 7 9 9 9 9 10 10 12 15 16 17 18 18 19 19 19 19 21 22 26 27 27 28 29 30 31 36 37 37 39 40 41 No 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 Teks Kesalahan Skala Nol Rambu Bukan rambu standar Sipat Datar di Suatu Slag Rambu miring Kelengkungan bumi Kelengkungan bumi Refraksi atmosfir Model diagram alir teori kesalahan Pengukuran sipat datar optis Keterangan pengukuran sipat datar Cara tinggi garis bidik Cara kedua pesawat di tengahtengah Keterangan cara ketiga Cotoh pengukuran resiprokal Sipat datar tipe jungkit Contoh pengukuran resiprokal Dumpy level Tipe reversi Dua macam tilting level Bagian-bagian dari tilting level Instrumen sipat datar otomatis Bagian-bagian dari sipat datar otomatis Rambu ukur Contoh pengukuran trigonometris Gambar koreksi trigonometris Bagian-bagian barometer Barometer Pengukuran tunggal Pengukuran simultan Model diagram alir pengukuran kerangka dasar vertikal Proses pengukuran Arah pengukuran Alat sipat datar Rambu ukur Cara menggunakan rambu ukur di lapangan Statif Unting-unting Patok kayu dan beton/ besi Pita ukur Payung Hal 42 43 47 54 55 55 56 57 62 64 64 66 66 68 68 69 73 74 75 76 77 77 79 80 81 82 83 85 86 88 92 92 93 93 94 94 94 95 94 94 .LAMPIRAN D.

7. Pembagian zone global pada proyeksi UTM. Rhumbline atau loxodrome menghubungkan titik-titik Oorthodrome dan loxodrome pada proyeksi gnomonis dan proyeksi mercator. Theodolite T0 Wild Theodolite Metode untuk menentukan arah titik A. Proyeksi kerucut: bidang datum dan bidang proyeksi. Berbagai macam lingkaran graduasi. Lembar proyeksi peta polyeder di bagian lintang utara dan lintang selatan Konvergensi meridian pada proyeksi polyeder. Kedudukan bidang proyeksi silinder terhadap bola bumi pada proyeksi UTM Proyeksi dari bidang datum ke bidang proyeksi. Proyeksi polyeder: bidang datum dan bidang proyeksi. Metode untuk menentukan arah titik A dan titik B.2 No 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 Teks Cat dan kuas Pengukuran sipat datar Pengukuran sipat datar rambu ganda Pengukuran sipat datar di luar slag rambu Pengukuran sipat datar dua rambu Pengukuran sipat datar menurun Pengukuran sipat datar menaik Pengukuran sipat datar tinggi bangunan Pembagian kertas seri A Pengukuran kerangka dasar vertikal Diagram alir pengukuran sipat datar kerangka dasar vertikal Jenis bidang proyeksi dan kedudukannya terhadap bidang datum Geometri elipsoid. Konvergensi meridian pada proyeksi UTM Sistem koordinat proyeksi peta UTM. Grafik faktor skala proyeksi peta UTM Peta kota Bandung Peta Geologi Hal 96 99 100 101 102 102 103 103 108 117 118 124 125 125 125 126 126 127 127 129 130 130 131 132 132 134 134 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 Peta sungai Peta jaringan Peta dunia Sistem koordinat geografis Bumi sebagai spheroid. Hubungan antara gerakan gelembung dan inklinasi. Vernir langsung. Pembacaan vernir langsung Pembacaan vernir mundur 20. 135 136 136 139 139 141 141 141 142 158 158 158 158 159 159 159 160 161 162 163 163 165 165 165 167 167 167 167 168 168 169 169 170 171 171 171 171 . Theodolite (tipe sumbu ganda) Theodolite (tipe sumbu tunggal) Sistem lensa teleskop Penyimpangan kromatik Penyimpangan speris Diafragma (benang silang) Tipe benang silang Pembidik Ramsden Teleskop pengfokus dalam Niveau tabung batangan Niveau tabung bundar.LAMPIRAN D. Sudut jurusan Aturan kuadran geometris Aturan kuadran trigonometris Model diagram alir sistem koordinat proyeksi peta dan aturan kuadran Pembacan derajat Pembacaan grade Pembacaan menit Pembacaan centigrade Sudut jurusan Sudut miring Cara pembacaan sudut mendatar dan sudut miring Arah sudut zenith (sudut miring).

Alat penyipat datar dengan sentral bulat. Penyetelan benang silang (Penyetelan garis longitudinal). Azimuth dan Pengikatan Ke Muka Kondisi alam yang dapat dilakukan cara pengikatan ke muka Kondisi alam yang dapat dilakukan cara pengikatan ke belakang Pengikatan ke muka Pengikatan ke belakang Tampak atas permukaan bumi Pengukuran yang terpisah sungai Alat Theodolite Rambu ukur Statif Unting-unting Contoh lokasi pengukuran Penentuan titik A.LAMPIRAN D. Contoh pembacaan mikrometer tipe berhimpit. Metode observasi sudut vertikal (2). Metode observasi sudut vertikal (3). Pembacaan mikrometer skala Sistem optis mikrometer tipe berhimpit. Sistem optis theodolite untuk mikrometer skala. Kesalahan sumbu horizontal Kesalahan sumbu vertikal.C dan P Pemasangan Theodolite di titik P Penentuan sudut mendatar Pemasangan statif Pengaturan pembidikan theodolite Penentuan titik penolong Collins Besar sudut α dan β Garis bantu metode Collins Penentuan koordinat H dari titik A Menentukan sudut αah Menentukan rumus dah Penentuan koordinat H dari titik B Menentukan sudut α bh Menentukan rumus dbh Penentuan koordinat P dari titik A Menentukan sudut αap Menentukan sudut γ Menentukan rumus dap Penentuan koordinat P dari titik B 207 209 213 213 214 214 215 215 216 217 217 217 217 218 218 218 219 219 220 221 222 222 222 223 223 223 224 224 224 224 225 225 . Kesalahan eksentris. Metode arah Metode sudut. Kesalahan luar. Pengukuran sudut tunggal.B. Penyetelan sekrup-sekrup penyipat datar Penyetelan benang silang (Inklinasi). Penyetelan sumbu horizontal. Unting-unting Alat penegak optis Kesalahan sumbu kolimasi. Koreksi otomatis untuk sudut elevasi Metode pengukuran sudut vertikal (1).3 No 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 Teks Pembacaan berbagai macam vernir. Sistem optis theodolite dengan pembacaan tipe berhimpit Alat penyipat datar speris. Diagram alir macam sistem besaran sudut Pengukuran Jarak Lokasi Patok Spedometer Pembagian kuadran azimuth Azimuth Matahari Pengikatan Kemuka Pengikatan ke muka Hal 172 172 172 173 173 173 174 174 175 175 175 177 177 178 178 179 180 180 181 182 185 186 186 188 188 188 189 193 194 195 197 200 202 203 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 Pengikatan ke muka Model Diagram Alir Jarak.

Lingkaran yang menghubungkan titik A. B.β Penentuan titik R dan S Penarikan garis dari titik R ke S Hal 225 225 227 233 233 233 234 234 234 235 239 239 240 241 241 242 242 242 243 244 255 244 245 245 246 246 247 247 254 254 254 254 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 Model diagram alir cara pengikatan ke belakang metode cassini Poligon terbuka Poligon tertutup Poligon bercabang Poligon kombinasi Poligon terbuka tanpa ikatan Poligon Terbuka Salah Satu Ujung terikat Azimuth Poligon Terbuka Salah Satu Ujung Terikat Koordinat Poligon Terbuka Salah Satu UjungTerikat Azimuth dan Koordinat Poligon Terbuka Kedua Ujung Terikat Azimuth Poligon terbuka. S dan P. Lingkaran yang menghubungkan titik B. R dan P. Menentukan sudut 900 – α dan 900 .4 No 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 Teks Menentukan sudut αbp Menentukan rumus dbp Cara Pengikatan ke belakang metode Collins Menentukan besar sudut α dan β Menentukan koordinat titik penolong Collins Menentukan titik P Menentukan koordinat titik A. C.LAMPIRAN D. salah satu ujung terikat azimuth sedangkan sudut lainnya terikat koordinat Poligon Terbuka Kedua Ujung Terikat Koordinat Poligon Terbuka Salah Satu Ujung Terikat Koordinat dan Azimutk Sedangkan Yang Lain Hanya Terikat Azimuth Poligon Terbuka Salah Satu Ujung Terikat Azimuth dan Koordinat Sedangkan Ujung Lain Hanya Terikat Koordinat Poligon Terbuka Kedua Ujung Terikat Azimuth dan Koordinat Poligon Tertutup Topcon Total Station-233N Statif Unting-Unting Patok Beton atau Besi Rambu Ukur Payung Pita Ukur Formulir dan alat tulis Benang Nivo Kotak Nivo tabung Nivo tabung Jalon Di Atas Patok 255 262 262 262 263 263 264 264 265 266 266 267 268 269 270 270 272 272 273 273 274 274 274 275 275 276 276 276 278 . B dan C. Cara pengikatan ke belakang metode Cassini Menentukan dar Menentukan αar Menentukan das Menentukan αas Penentuan koordinat titik A.B dan C pada kertas grafik Garis yang dibentuk sudut α dan β Pemasangan transparansi pada kertas grafik Model diagram alir cara pengikatan ke belakang metode collins Pengukuran di daerah tebing Pengukuran di daerah jurang Pengukuran terpisah jurang Pengikatan ke belakang metode Collins Pengikatan ke belakang metode Cassini Theodolite Rambu ukur Statif Unting-unting Pengukuran sudut α dan β di lapangan.

LAMPIRAN D.5 No 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 Teks Penempatan Rambu Ukur Penempatan Unting-Unting Pembagian Kertas Seri A Skala Grafis Situasi titik-titik KDH poligon tertutup metode transit Situasi titik-titik KDH poligon tertutup metode bowdith Situasi lapangan metode transit Situasi lapangan metode Bowditch Model Diagram Alir kerangka dasar horizontal metode poligon Metode diagonal dan tegak lurus Metode trapesium Offset dengan interval tidak tetap Offset sentral Metoda simpson Metoda 3/8 simpson Garis bujur ganda pada poligon metode koordinat tegak lurus Metode koordinat tegak lurus Metode kisi-kisi Metode lajur Planimeter fixed index model Sliding bar mode dengan skrup penghalus Sliding bar mode tanpa skrup penghalus Pembacaan noneus model 1 dan 2 Bacaan roda pengukur Penempatan planimeter Gambar kerja Gambar pengukuran peta dengan planimeter liding bar model yang tidak dilengkapi zero setting (pole weight/diluar kutub) Hasil bacaan positif Hasil bacaan negatif Pengukuran luas peta pole weight (pemberat kutup) di dalam peta Pengukuran luas peta pole weight dalam peta Hal 278 279 283 284 306 307 308 309 No 301 302 303 304 Teks Pembagian luas yang sama dengan garis lurus sejajar salah satu segitiga Pembagian luas yang sama dengan garis lurus melalui sudut puncak segitiga Pembagian dengan perbandingan a : b : c Pembagian dengan perbandingan m : n oleh suatu garis lurus melalui salah satu sudut segiempat Pembagian dengan garis lurus sejajar dengan trapesium Pembagian suatu poligon Penentuan garis batas Perubahan segi empat menjadi trapesium Pengurangan jumlah sisi polygon tanpa merubah luas Perubahan garis batas yang berliku-liku menjadi garis lurus Perubahan garis batas lengkung menjadi garis lurus Posisi start yang harus di klik Start – all Program – autocad 2000 Worksheet autocad 2000 Open file Open file Gambar penampang yang akan dihitung Luasnya Klik poin untuk menghitung luas Klik poin untuik menghitung luas Diagram alir perhitungan luas Prinsip tachymetri Sipat datar optis luas Pengukuran sipat datar luas Tripod pengukuran vertikal Theodolite Topcon Statif Unting-unting Jalon di atas patok Pita ukur Rambu ukur Payung Formulir Ukur Hal 334 335 335 335 335 336 337 337 337 338 338 338 338 339 339 339 339 340 340 341 347 349 358 358 361 361 361 362 362 362 362 362 305 310 314 315 316 316 316 317 318 319 320 320 321 322 323 324 325 328 328 306 307 308 309 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 297 298 299 300 329 330 331 332 334 .

Jendela GS scripter Simbolisasi pada peta kontur dalam surfer. luas dan volume daerah genangan berdasarkan garis kontur. Penggambaran kontur Kerapatan garis kontur pada daerah curam dan daerah landai Garis kontur pada daerah sangat curam. Plateau Saddle Pass Menggambar penampang Kotak dialog persiapan Surfer Peta tiga dimensi Peta kontur dalam bentuk dua dimensi. Peta kontur dengan interval 3 Gambar peta kontur dan model 3D. Obyek melalui digitasi. Data XYZ dalam koordinat kartesian Data XYZ dalam koordinat decimal degrees. sifat dan interpolasinya Sipat datar melintang Tongkat sounding Potongan tipikal jalan Contoh penampang galian dan timbunan Meteran gulung Pesawat theodolit Jalon 398 399 400 400 400 402 403 404 404 405 405 406 406 407 408 408 409 410 410 411 411 412 413 414 419 419 420 421 422 422 422 . Alur garis besar pekerjaan pada surfer. Pengukuran kontur pola radial.LAMPIRAN D. Garis kontur lembah. Titik ketinggian sama berdasarkan garis kontur Garis kontur dan titik ketinggian Pengukuran kontur pola spot level dan pola grid. Overlay peta kontur dengan model 3D Base map foto udara. Rute dengan kelandaian tertentu. Peta kontur dengan kontur interval I. Garis kontur pada bukit dan cekungan Kemiringan tanah dan kontur gradient Potongan memanjang dari potongan garis kontur Bentuk. punggungan dan perbukitan yang memanjang. Pengukuran kontur cara langsung Interpolasi kontur cara taksiran Hal 363 363 366 367 369 370 371 372 373 383 360 361 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 344 345 346 347 348 349 350 351 352 353 354 355 356 357 358 387 388 389 389 390 390 391 392 392 392 393 393 394 394 395 396 372 373 374 375 376 377 378 379 380 381 382 383 384 385 387 388 389 390 391 Perubahan garis pantai dan garis kontur sesudah kenaikan muka air laut. Garis kontur pada curah dan punggung bukit. Lembar worksheet. Model diagram alir garis kontur.6 No 333 334 335 336 337 338 339 340 341 342 343 Teks Cat dan Kuas Benang Segitiga O BT O’ Pengukuran titik detail tachymetri Theodolit T0 wild Siteplan pengukuran titik detail tachymetri Kontur tempat pengukuran titik detail tachymetri Pengukuran titik detail tachymetri dengan garis kontur 1 Pengukuran titik detail tachymetri dengan garis kontur 2 Diagram alir Pengukuran titiktitik detail metode tachymetri Pembentukan garis kontur dengan membuat proyeksi tegak garis perpotongan bidang mendatar dengan permukaan bumi. Jendela editor menampilkan hasil perhitungan volume. Lembar plot surfer.

(b) hasil digitasi jalan. Perbesaran dan perkecilan Model Digram Alir Pemetaan Digital Contoh : Penggunaan Komputer dalam Pembuatan Peta Contoh : Penggunaan Komputer dalam Pembuatan Peta Komputer sebagai fasilitas pembuat peta Foto udara suatu kawasan Contoh : Peta udara Daerah Propinsi Aceh Data grafis mempunyai tiga elemen : titik (node). kotak kecil adalah vertex (tampil saat objek terpilih).000. (a) peta asli. Bingkai peta dan grid UTM per 1000 m Digitasi jalan arteri dan jalan lokal. yang dilakukan oleh Bakosurtanal Salah satu alat yang dipakai dalam GPS type NJ 13 Hasil Foto Udara yang dilakukan di daerah Nangroe Aceh Darussalam yang dilakukan pasca Tsunami.LAMPIRAN D. garis (arc) dan luasan (poligon) Peta pemuktahiran pasca bencana tsunami Komponen utama SIG Perangkat keras Perangkat keras keyboard Perangkat keras CPU Perangkat keras Scanner 463 463 464 464 465 466 467 469 470 432 433 434 435 471 472 476 482 482 483 483 483 484 484 486 486 487 487 487 454 .7 No 392 393 394 395 396 397 398 399 400 401 402 403 404 405 406 407 408 409 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420 Teks Rambu ukur Stake out pada bidang datar Stake out pada bidang yang berbeda ketinggian Stake out beberapa titik sekaligus Volume cara potongan melintang rata-rata Volume cara jarak rata-rata Volume cara prisma Volume cara piramida kotak Volume cara dasar sama bujur sangkar Volume cara dasar sama – segitiga volume cara kontur Penampang melintang jalan ragam 1 Penampang melintang jalan ragam 2 Penampang melintang jalan ragam 3 Penampang trapesium Penampang timbunan Koordinat luas penampang Volume trapesium Penampang galian Penampang timbunan Penampang galian dan timbunan Penampang melintang galian dan timbunan Diagram alir perhitungan galian dan timbunan Perangkat keras Perangkat keras Scanner Peta lokasi Beberapa hasil pemetaan digital. untuk keperluan Infrastruktur Rehabilitasi dan Konstruksi Hal 422 422 423 423 424 424 425 425 425 425 426 430 430 431 434 435 435 436 437 438 439 440 441 446 446 451 452 453 440 441 442 443 444 445 436 437 438 439 422 423 424 425 426 427 428 429 430 431 Contoh Hasil pemetaan Digital Menggunakan AutoCAD Contoh : Hasil pemetaan Digital Menggunakan AutoCAD Hasil pemetaan Digital Menggunakan AutoCAD Hasil pemetaan Digital Menggunakan AutoCAD Tampilan auto cad Current pointing device Grid untuk pengujian digitizer Grid untuk peta skala 1:25.

LAMPIRAN D. Surabaya Peta hasil foto udara daerah Nangroe Aceh Darussalam Pasca Tsunami NPS360 for robotic Total Station NK10 Set Holder dan Prisma Canister NK12 Set Holder dan Prisma NK19 Set GPS type NL 10 GPS type NL 14 fixed adapter GPS type NJ 10 with optical plummet GPS type NK 12 Croth single prism Holder Offset : 0 mm GPS type CPH 1 A Leica Single Prism Holder Offset : 0 mm Peta digitasi kota Bandung tentang perkiraan daerah rawan banjir Peta hasil analisa SPM (Suspended Particular Matter) Peta prakiraan awal musim kemarau tahun 2007 di daerah Jawa Peta kedalaman tanah efektif di daerah jawa barat Bandung Peta Curah hujan di daerah Jawa Barat-Bandung Peta Pemisahan Data vertikal dipakai untuk penunjukan kawasan hutan dan perairan Indonesia Hal 487 487 490 490 491 491 491 491 491 492 492 492 492 492 493 493 493 502 502 467 468 469 470 471 472 473 Peta perubahan penutupan lahan pulau Kalimantan Peta infrastruktur di daerah Nangreo Aceh Darussalam Garis interpolasi hasil program Surfer Garis kontur hasil interpolasi Interpolasi Kontur cara taksiran Mapinfo GIS Model Diagram Alir Sistem Informasi Geografis 504 506 517 517 518 519 520 503 .8 No 446 447 448 449 450 451 452 453 454 455 456 457 458 459 460 461 462 463 464 465 Teks Perangkat keras monitor Perangkat keras mouse Peta arahan pengembangan komoditas pertanian kabupaten Ketapang. Kalimantan Barat Peta Citra radar Tanjung Perak.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->