ASPEK HUKUM MANAJEMEN KESEHATAN LINGKUNGAN RUMAH SAKIT

OLEH : TOTOK DWIHARTANTO NIM .109160040 DOSEN : drg. Andrianto, SH, MHKes, MARS

ILMU HUKUM KESEHATAN PROGRAM PASCASARJANA UNSWAGATI CIREBON TAHUN 2010

System Kesehatan Nasional merupakan suatu tatanan yang menghimpun berbagai upaya bangsa Indonesia secara terpadu dan saling mendukung guna menjamin derajat kesehatan yang setinggi-tingginya sebagai perwujudan kesejateraan umum seperti yang dimaksud dalam pembukaan Undang. Adapun tujuan dari System Kesehatan Nasional adalah terselenggaranya pembangunan kesehatan o. . merata dan terjangkau oleh masyarakat maka salah satu tanggung jawab dalam sektor kesehatan adalah menjamin tersedianya pelayanan kesehatan yang bermutu merata dan terjangkau dan penyelenggaraanya serta mengikut sertakakan peran serta masyarakat dan swasta secara aktip. masyarakat.Undang Dasar 1945. Umum. swasta maupun pemerintah secara sinergis dan dan berhasil guna serta berdayaguna sehingga tercapai derjat kesehatan masarakat yang setinggitingginya. Sesuai hal tersebut diatas maka dalam rangka memelihara dan meningkatakan pelayanan kesehatan yang berrmutu .eh semua potensi bangsa.ASPEK HUKUM MANAJEMEN KESEHATAN LINGKUNGAN RUMAH SAKIT BAB I PENDAHULUAN 1.

biologic. radiasi sinar pengion & . Dalam penulisan makalah ini dibatasi pada manajemen pengelolaan Limbah cair. binatang pembawa penyakit. zat kimia yg berbahaya.limbah padat. Oleh karena sanitasi rumah sakit adalah suatu bentuk kegiatan pengawasan berbagai faktor lingkugan fisik. maupun bagi masyarakat yang tinggal disekitar rumah sakit. Ruang Lingkup. Maksud Dan Tujuan Maksud dan tujuan dari penulisan makalah ini adalah agar mahasiswa dapat dan mampu untuk mengelola dan menganalisa manajemen kesehatan lingkungan rumah sakit guna menjamin terselenggaranya pelayanan dirumah sakit dengan aman dan nyaman terbebas dari bahaya infeksi nosokomial baik pada pasien . pengunjung. kimiawi di rumah. 3. kebisingan yang melebihi ambang batas. sampah yang tidak diproses sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan pemerintah.sakit yang menimbulkan atau mungkin dapat megakibatkan pengaruh buruk terhadap kesehatan petugas.2 Adapun tugas utama dalam sektor pelayanan kesehatan adalah memelihara dan meningkatkan kesehatan individu keluarga dan masyarakat tanpa meninggalkan upaya menyembuhkan penyakit dan pemulihan kesehatan penderita serta tetap menjaga kesehatan lingkungan rumah sakit sesuai dengan ketetuan peraturan tentang manajemen sanitasi rumah sakit dan dapat mengendalikan infeksi nosokomial dengan benar. limbah gas. 2.pengunjung dan petugas rumah sakkit itu sendiri.

berasal dari pelayanan medik. Gambaran Umum Kesling Rumah Sakit Rumah sakit sebagai penghasil limbah klinis terbesar. Sebagai gambaran umum dibeberapa rumah sakit yang ada diwilayah baik dikota maupun kabupaten. Penutup BAB II GAMBARAN UMUM KESEHATAN LINGKUNGAN DI RUMAH SAKIT 4. pengobatan serta perawatan yang dapat membahayakan dan menimbulkan gangguan kesehatan pengunjung.3 non-pengion. Analisis Manajemen Kesling Rumah Sakit e. Gambaran Umum Kesling Rumah Sakit d. sebagian yang dikelola baik milik swasta maupun milik pemerintah ada dengan benar tetapi sebagaian masih belum cara pengelolaan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan hal ini terbukti dari sampah medisatau limbah padat yang seharusnya jarum infuse atau bekas jarum suntik dimusnakan melalui pembakaran INCINERATOR tetapi masih banyak domestiK ditemukan ditempat sampah pembuangan umum atau sampah . farmasi. air yg tercemar. Maksud Dan Tujuan c. petugas rumah sakit baik bagi dan yang menangani limbah tersebut masyarakat sekitar rumah sakit apabila tidak dikelola secara baik dan benar. perawatan gigi. makanan yg terkontaminasi dan disusun sbb : a Pendahuluan b. udara yg tercemar dan.

mengandung berjuta kuman penyakit baik yang menular/ berbahaya atau tidak. Serta dalam pembawaan linen dari satu ruangan keruangan lain tanpa meggunakan pembungkus yang benar hal ini dapat menularkan penyakit baik pada petugas . pegunjung pasien yaitu dengan infeksi Nosokomial . Kamar Bersalin tercemarnya sumber air tersebut. Petugas kesehatan yang tidak melakkukan prosedur atau ketentuan tentang alat pelindung diri diantaranya adalah petugas kamar cuci yang melaksakan pekerjaanya tanpa sadar tidak menggunakan tutup kepala masker sebagi alat pelindung diri yang seharusnya siap dipakai apabila sedang dimana linen yag kotor tersebut tentunya banyak kesehatan terhadap pentinngany kesehatan lingkungan dengan alasan penghematan biaya sekitar rumah sakit mengambil linen kotor. Dan dalam pengolahan limbah cair masih ada rumah sakit yang belum memiliki sarana IPAL. dan sebagainya betapa Radiologi Kamar Bedah .kadang saja kalau ada pemeriksaan dari Bapedal / Amdal / Kesehatan Lingkungan tetapi ada juga yang memiliki IPAL tetapi rusak dan tidak dapat berfungsi.4 dan hal ini dapat membayakan petugas kebersihan / mobil sampah umum apabila terstusuk bekas jarum suntik tersebut. Hal dilakukan karena kurang sadarnya petugas sarana pelayanan masyarakat operasional. ada yang memiliki sarana IPAL tetapi digunakan hanya kadang. L Aboratorium. Dan sebagai dampak dari kegiatan sarana pelayanan kesehatan yang nakal seperti ini memiliki andil yang cukup besar dalam pencemaran sumber air tanah maupun aliran sungai oleh karena limbah cair rumah sakit langsung dibuang kesungai tanpa melalui pengolahan. Dan dapat dibayangkan limbah dari Haemodialisa /Cuci Darah.

terutama kucing yang agak sulit di basmi hal ini karena rumah sakit banyak sumber makanan bagi binatang tersebut dan sebagai dampaknya adalah dapat menimbulkan bau yang tidak sedap dari kotoran binatang kucing tersebut. Sinar radiologi yang dapat membahayakan baik petugas maupu pegunjung sarana kesehatan tersebut bilamna tidak dibuat sesuai dengan ketentun dengan melapisi dnding dengan lembaran timah dimana dampak dari sinar radiasinya dapat membahayakan kesehatan baik petugas maupun para pegunjung rumaj sakit tersebut. Ada beberapa rumah sakit yang pecemaran udaraya cukup tinggi serta angka kebisingan namun hal ini dapat diatasi dengan cara menanam pohon pohon sebagai taman pelindung dan sekaligus dapat digunakan sebagai penyarig debu dilingkungan rumah sakit. Inilah sebagai gambaran rumah sakit yang tidak mau melaksanakan kesehatan lingkungan rumah sakit dengan alasan keterbatasan dana / anggaran dan yang jelas mau mencari suatu keuntungan saja. Hal ini kesadaran petugas sarana pelayanan mencermikan betapa minimya kesehatan terhadap ligkungan tempat mereka bekerja bahkan mungkin kuman yang ada dapat menyebabkan berbagai sumber penyakit yang dampaknya akan terjadi Infeksi Nosokomial baik pada petugas sarana pelayanan kesehatan tersebut atau pada pasien dan para pengunjung Gangguan binatang pengganggu diantaranya binatang kucing.5 Kebersiahan kamar operasiruangan tidkan yang seharusnya dibersihkan minimal satu minggu sekali dengan sinar Ultra Violet atau deinfektan tetapi tidak pernah dlakukan bahkan pernah ada pada saat pengambilan sampel kuman di kamar opersi didapatkan angka kuman yang melebihi toleransi. tikus dan lain –lain. nilai ambang batas sampel ini diambil dari hapusan debu pada lampu operasi. namun masih .

Pengertian 1) Limbah rumah sakit adalah semua limbah yang dihasilkan dari kegiatan rumah sakit dalam bentuk padat.) Limbah padat rumah sakit adalah semua limbah rumah sakit yang berbentuk padat sebagai akibat kegiatan rumah sakit yang terdiri dari limbah medis padat dan non-medis. dan limbah dengan kandungan logam berat yang tinggi. )Limbah medis padat adalah limbah padat yang terdiri dari limbah infeksius. limbah kimiawi. limbah benda tajam. limbah radioaktif. Sesuai dasar tersebut diharapkan semua penyelenggara pelayanan kesehatan harus memenuhi persaratan kesehatan lingkungan sesuai permenkes diantara yang akan diurakan dibawah ini. limbah kontainer bertekanan. .6 banyak rumah sakit atau sanaran pelayanaan kesehtan yang masih peduli dengan megelola semua limbah yang dihasilkan oleh karena kegiatan pelayanan rumah sakit dengan benar dan dilakukan sesuai dengan peratuaran yang berlaku. Analisis Manajemen Kesling Rumah Sakit Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1204/ MENKES/ SK/ X/ 2004 tentang persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit. dan gas. limbahfarmasi. limbah sitotoksis. limbah patologi.dan saya berharap agar sarana pelayanan yang belum sadar segera mendapat tegoran atau denda seberat beratnya oleh karena tidak peduli pada lingkungan. BAB III ANALISIS MANAJEMEN KESLING RUMAH SAKIT 5. 2. 3. a. cair.

perkantoran. perlengkapan generator. dan halaman yang dapat dimanfaatkan kembali apabila ada teknologinya. Penataan ruang bangunan dan penggunaannya harus sesuai dengan fungsi serta memenuhi persyaratan kesehatan yaitu dengan mengelompokkan ruangan berdasarkan tingkat risiko terjadinya penularan penyakit sebagai berikut : . terinfeksi atau kontak dengan bahan yang sangat infeksius. 8. Bangunan. ) Limbah padat non-medis adalah limbah padat yang dihasilkan dari kegiatan di rumah sakit di luar medis yang berasal dari dapur. ) Limbah gas adalah semua limbah yang berbentuk gas yang berasal dari kegiatan pembakaran di rumah sakit seperti insinerator. Minimasi limbah adalah upaya yang dilakukan rumah sakit untuk mengurangi jumlah limbah yang dihasilkan dengan caramengurangi bahan (reduce). organ binatangpercobaan dan bahan lain yang telah diinokulasi. 5.7 4. taman. 10. dan pembuatan obat citotoks 7.) Limbah infeksius adalah limbah yang terkontaminasi organisme patogen yang tidak secara rutin ada di lingkungan dan organismetersebut dalam jumlah dan virulensi yang cukup untuk menularkan penyakit pada manusia rentan. bahan kimia beracun dan radioaktif yang berbahaya bagi kesehatan 6.) Limbah cair adalah semua air buangan termasuk tinja yang berasal dari kegiatan rumah sakit yang kemungkinan mengandungmikroorganisme. otopsi.) Limbah sangat infeksius adalah limbah berasal dari pembiakan dan stock bahan sangat infeksius. anastesi.dapur. 9) Limbah sitotoksis adalah limbah dari bahan yang terkontaminasi dari persiapan dan pemberian obat sitotoksis untuk kemoterapikanker yang mempunyai kemampuan untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan sel hidup. menggunakan kembali limbah (reuse) dan daur ulang limbah (recycle b.

(3) Langit-langit harus terbuat dari bahan multipleks atau bahan yang kuat.dan ruang pendidikan/pelatihan. ruang resepsionis. harus dilengkapi dengan penghawaan mekanis (exhauster) . warna terang.10 meter. ruang perpustakaan.70 meter dari lantai. dan pertemuan antara lantaidengan dinding harus berbentuk konus. 3) Zona dengan Risiko Tinggi . dan ambang bawah jendela minimal 1. (1) Permukaan dinding harus rata dan berawarna terang (2) Lantai harus terbuat dari bahan yang kuat. (4) Lebar pintu minimal 1.40 meter dari lantai. ruang ganti pakaian.8 1) Zona dengan Risiko Rendah Zona risiko rendah meliputi : ruang administrasi. ruang pertemuan. (6) Semua stop kontak dan saklar dipasang pada ketinggian minimal 1. mudah dibersihkan. dan ruang tunggupasien. berwarna terang.20 meter dan tinggi minimal 2. kerangka harus kuat. mudah dibersihkan. (5) Ventilasi harus dapat menjamin aliran udara di dalam kamar/ruang dengan baik. 2) Zona dengan Risiko Sedang Zona risiko sedang meliputi : ruang rawat inap bukan penyakit menular. kedap air. Persyaratan bangunan pada zona dengan risiko sedang sama dengan persyaratan pada zona risiko rendah. ruang komputer. bila ventilasi alamiah tidak menjaminadanya pergantian udara dengan baik. rawat jalan. dan tinggi minimal 2.00 meter darilantai.

ruang bedah mayat (autopsy). laboratorium. dengan ketentuan dinding disesuaikan dengan pancaran sinar yang dihasilkan dari peralatan yang dipasang di ruangan tersebut. dan ambang bawah jendela minimal 1. (2) Lantai terbuat dari bahan yang kuat. berwarna terang. warna terang. ruang bedah mulut. berwarna terang.dan ruang patologi dengan ketentuan sebagai berikut diataranya Dinding terbuat dari bahan porslin atau vinyl setinggi langit-langit.00 meter dari lantai. (4) Lebar pintu minimal 1.9 Zona risiko tinggi meliputi : ruang isolasi.50 meter dari lantai dan sisanya dicat warna terang. mudah dibersihkan.dan tinggi minimal 2. ruang bersalin.10 meter. dan ruang jenazah dengan ketentuan sebagai berikut : (1) Dinding permukaan harus rata dan berwarna terang.40 meter dari lantai. ruang perawatan gigi. b) Dinding ruang penginderaan medis harus berwarna gelap. ruang gawat darurat. dan lain –lain . dan pertemuan antara lantai dengan dinding harus berbentuk konus (3) Langit-langit terbuat dari bahan mutipleks atu bahan yang kuat. a) Dinding ruang laboratorium dibuat dari porselin atau keramik setinggi 1. ruang perawatan intensif. (5) Semua stop kontak dan saklar dipasang pada ketinggian minimal 1. 4) Zona dengan Risiko Sangat Tinggi Zona risiko tinggi meliputi : ruang operasi. atau dicat dengan cat tembok yang tidak luntur dan aman.20 meter dan tinggi minimal 2. kerangka harus kuat. tembok pembatas antara ruang Sinar Xdengan kamar gelap dilengkapi dengan transfer cassette. kedap air.70 meter dari lantai. mudah dibersihkan. ruang penginderaan medis (medicalimaging).

10 c. 2) Setiap rumah sakit harus mengelola dan mengawasi penggunaan bahan kimia yang berbahaya dan beracun. d. Wadahtersebut harus anti bocor. Pemilahan. dan pemusnahan harus melalui sertifikasi dari pihak yang berwenang. 3) Setiap rumah sakit harus melakukan pengelolaan stok bahan kimia dan farmasi. Minimasi Limbah 1) Setiap rumah sakit harus melakukan reduksi limbah dimulai dari sumber. 3) Limbah benda tajam harus dikumpulkan dalam satu wadah tanpa memperhatikan terkontaminasi atau tidaknya. anti tusuk dan tidak mudah untuk dibuka sehingga orang yang tidak berkepentingan tidak dapat membukanya. . pengangkutan. 4) Setiap peralatan yang digunakan dalam pengelolaan limbah medis mulai dari pengumpulan. Untuk menguji efektifitas sterilisasi panas harus dilakukan tes Bacillus stearothermophilus dan untuk sterilisasi kimia harus dilakukan tes Bacillus subtilis. 5) Limbah medis padat yang akan dimanfaatkan kembali harus melalui proses sterilisasi sesuai Tabel I. Pemanfaatan Kembali dan Daur Ulang 1) Pemilahan limbah harus dilakukan mulai dari sumber yang menghasilkan limbah 2) Limbah yang akan dimanfaatkan kembali harus dipisahkan dari limbah yang tidak dimanfaatkan kembali. 4) Jarum dan syringes harus dipisahkan sehingga tidak dapat digunakan kembali.10. Pewadahan.

Frekuensi pemeriksaan kualitas limbah cair terolah (effluent) dilakukan setiap bulan sekali untuk swapantau dan minimal 3 bulan sekali uji petik sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 7) Rumah sakit yang menghasilkan limbah cair yang mengandung atau terkena zat radioaktif.11 e. 8) Parameter radioaktif diberlakukan bagi rumah sakit sesuai dengan bahan radioaktif yang dipergunakan oleh rumah sakit yang bersangkutan. . 4) Air limbah dari dapur harus dilengkapi penangkap lemak dan saluran air limbah harus dilengkapi/ditutup dengan gril. Saluran pembuangan limbah harus menggunakan sistem saluran tertutup. kedap air. 6) . pengelolaannya dilakukan sesuaiketentuan BATAN. Limbah Cair Limbah cair harus dikumpulkan dalam kontainer yang sesuai dengan karakteristik bahan kimia dan radiologi. dan limbah harus mengalir dengan lancar. 1). dan prosedur penanganan dan penyimapanannya. 5) . Air limbah yang berasal dari laboratorium harus diolah di Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). 3) Perlu dipasang alat pengukur debit limbah cair untuk mengetahui debit harian limbah yang dihasilkan. serta terpisah dengan saluran air hujan 2) . volume. apabila belum ada atau tidak terjangkau sistem pengolahan air limbahperkotaan. Rumah sakit harus memiliki instalasi pengolahan limbah cair sendiri atau bersama-sama secara kolektif dengan bangunan disekitarnya yang memenuhi persyaratan teknis. bila tidak mempunyai IPALharus dikelola sesuai kebutuhan yang berlaku melalui kerjasam dengan pihak lain atau pihak yang berwenang.

maka tenaganya harus berpendidikan sanitarian dan telah megikuti pelatihan khusus di bidang kesehatan lingkungan rumah sakit yang diselenggarakan oleh pemerintah atau badan lain sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. diusahaan mengikuti pelatihan khusus di bidang kesehatan lingkungan rumah sakit yang diselenggarakan oleh pemerintah atau pihak lain terkait sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku . diperlukan tenaga dengan kualifikasi sebagai berikut : 1. Untuk itu. 2. teknik kimia. biologi. Maka diperlukan suatu usaha meliputi kegiatan-kegiatan yang sangat kompleks sehingga diantaranya memerlukan penanganan secara lintas program dan lintas sektor serta berdimensi multi disiplin. Penanggung jawab kesehatan lingkungan di rumah sakit kelas C dan D (rumah sakit pemerintah) dan yang setingkat adalah seorang tenaga yang memiliki kualifikasi sanitarian serendah-rendahnya berijazah diploma (D3) di bidang kesehatan lingkungan. dan teknik sipil. 3. Tenaga sebagaimana dimaksud pada butir 1 dan 2. Penanggung jawab kesehatan lingkungan di rumah sakit kelas A dan B (rumah sakit pemerintah) dan yang setingkat adalah seorang tenaga yang memiliki kualifikasi sanitarian serendah-rendahnya berijazah sarjana (S1) di bidang kesehatan lingkungan. Rumah sakit pemerintah maupun swasta yang sebagian kegiatan kesehatan lingkungannya dilaksanakan oleh pihak ketiga. tekniklingkungan.12 Sebagai analisis tentang manajemen kesling di Rumah Sakit yang kurang baik maka perlu suatu upaya penyehatan lingkungan Rumah Sakit agar terhindar dari pecemaran dan tuntutan jerat hukum. 4.

Darmanto Joyodibroto. EGC. Pengelolaan Aman Limbah Layanan Rumah Sakit. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699 Nasrul Effendy.Jakarta DSP 1997.Soekidjo Notoatmodjo. Rineka Cipta 2004. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 68. Kiat Mengelola Rumah 4. dr. Jakarta Palupi Widyastuti. Jakarta Prof.1997. Soekidjo Notoatmodjo. 8. 2002. . Etika Kedokteran Indonesia.Kesehatan Masyarakat. Sakit. 1. 3. EGC . Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan. 2. SKM. Pentutup.13 Penutup. Daftar pustaka. Jakarta. FKUI. Rineka Cipta 2007. Jakarta 5.Hipocrates.DR. Kesehatan Masyarakat.DR. Jakarta Prof. Demikian makalah tentang Aspek Hukum Kesehatan Lingkungan rumah sakit dan upaya analisa penyelesaian masalah lingkungan Dirumah Sakit mudah -mudahan dapat dijadikan sebagai bahan masukan yang positip pada penyehatan bermanfaat dan dapat pada pelaksanaan tugas petugas kesehatan di rumah sakit mapun dilapangan agar tidak menyalahi aturan serta terhindar dari tuntutan hukum dengan dugaan kegiatan melaggar hukum. 1994. 7.Drs. Ratna Suprapti Samil. 6. Kesehatan Masyarakat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful