ASUHAN KEPERAWATAN KEHILANGAN DAN BERDUKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Lahir, kehilangan, dan kematian adalah kejadian yang unuiversal dan kejadian yang sifatnya unik bagi setiap individual dalam pengalaman hidup seseorang. Kehilangan dan berduka merupakan istilah yang dalam pandangan umum berarti sesuatu kurang enak atau nyaman untuk dibicarakan. Hal ini dapat disebabkan karena kondisi ini lebih banyak melibatkan emosi dari yang bersangkutan atau disekitarnya. Dalam perkembangan masyarakat dewasa ini, proses kehilangan dan berduka sedikit demi sedikit mulai maju. Dimana individu yang mengalami proses ini ada keinginan untuk mencari bentuan kepada orang lain. Pandangan-pandangan tersebut dapat menjadi dasar bagi seorang perawat apabila menghadapi kondisi yang demikian. Pemahaman dan persepsi diri tentang pandangan diperlukan dalam memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif. Kurang memperhatikan perbedaan persepsi menjurus pada informasi yang salah, sehingga intervensi perawatan yang tidak tetap (Suseno, 2004). Perawat berkerja sama dengan klien yang mengalami berbagai tipe kehilangan. Mekanisme koping mempengaruhi kemampuan seseorang untuk menghadapi dan menerima kehilangan. Perawat membantu klien untuk memahami dan menerima kehilangan dalam konteks kultur mereka sehingga kehidupan mereka dapat berlanjut. Dalam kultur Barat, ketika klien tidak berupaya melewati duka cita setelah mengalami kehilangan yang sangat besar artinya, maka akan terjadi masalah emosi, mental dan sosial yang serius. Kehilangan dan kematian adalah realitas yang sering terjadi dalam lingkungan asuhan keperawatan. Sebagian besar perawat berinteraksi dengan klien dan keluarga yang mengalami kehilangan dan dukacita. Penting bagi perawat memahami kehilangan dan dukacita. Ketika merawat klien dan keluarga, parawat juga mengalami kehilangan pribadi ketika hubungan klien-kelurga-perawat berakhir karena perpindahan, pemulangan, penyembuhan atau kematian. Perasaan pribadi, nilai dan pengalaman pribadi mempengaruhi seberapa jauh perawat dapat mendukung klien dan keluarganya selama kehilangan dan kematian (Potter & Perry, 2005). 1.2 Permasalahan Adapun permasalahan yang kami angkat dari makalah ini adalah bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan kehilangan dan berduka disfungsional. 1.3 Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini, adalah:
1. Tujuan umum
 

Mengetahui konsep kehilangan dan berduka. Mengetahui asuhan keperawatan pada kehila.ngan dan berduka disfungsional

1. Tujuan khusus
  

Mengetahui jenis-jenis kehilangan. Menjelaskan konsep dan teori dari proses berduka. Mengetahui faktor yang mempengaruhi reaksi kehilangan.

BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Kehilangan 2.1.1 Definisi kehilangan Kehilangan dan berduka merupakan bagian integral dari kehidupan. Kehilangan adalah suatu kondisi yang terputus atau terpisah atau memulai sesuatu tanpa hal yang berarti sejak kejadian tersebut. Kehilangan mungkin terjadi secara bertahap atau mendadak, bisa tanpa kekerasan atau traumatik, diantisispasi atau tidak diharapkan/diduga, sebagian atau total dan bisa kembali atau tidak dapat kembali. Kehilangan adalah suatu keadaan individu yang berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada, kemudian menjadi tidak ada, baik terjadi sebagian atau keseluruhan (Lambert dan Lambert,1985,h.35). Kehilangan merupakan pengalaman yang pernah dialami oleh setiap individu dalam rentang kehidupannya. Sejak lahir individu sudah mengalami kehilangan dan cenderung akan mengalaminya kembali walaupun dalam bentuk yang berbeda. Kehilangan merupakan suatu kondisi dimana seseorang mengalami suatu kekurangan atau tidak ada dari sesuatu yang dulunya pernah ada atau pernah dimiliki. Kehilangan merupakan suatu keadaan individu berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada menjadi tidak ada, baik sebagian atau seluruhnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi 1. Arti 2. Sosial 3. kepercayaan 4. Peran 5. Status 6. kondisi fisik dan psikologi individu 2.1.2 Tipe Kehilangan Kehilangan 1. dibagi Aktual dalam 2 atau tipe yaitu: nyata reaksi dari / social kehilangan, tergantung: kehilangan budaya spiritual seks ekonomi

sebagian atau komplit.1. yaitu:  Kehilangan seseorang seseorang yang dicintai Kehilangan seseorang yang dicintai dan sangat bermakna atau orang yang berarti adalah salah satu yang paling membuat stress dan mengganggu dari tipe-tioe kehilangan.  Kehilangan kehidupan/ meninggal Seseorang dapat mengalami mati baik secara perasaan. dan dampaknya. Beberapa aspek lain yang dapat hilang dari seseorang misalnya kehilangan pendengaran. yang mana harus ditanggung oleh seseorang. diri sendiri.4 Rentang Respon Kehilangan . Misalnya pindah kekota lain. misalnya. uang atau pekerjaan. misalnya amputasi. usia muda. Anggapan ini meliputi perasaan terhadap keatraktifan. fungsi tubuh. maka akan memiliki tetangga yang baru dan proses penyesuaian baru.  Kehilangan objek eksternal Kehilangan objek eksternal misalnya kehilangan milik sendiri atau bersama-sama. perhiasan. seseorang yang berhenti bekerja / PHK.1. intensitas dan ketergantungan dari ikatan atau jalinan yang ada. Kematian juga membawa dampak kehilangan bagi orang yang dicintai. Persepsi Hanya dialami oleh seseorang dan sulit untuk dapat dibuktikan. 2. menyebabkan perasaan kemandirian dan kebebasannya menjadi menurun.3 Jenis-jenis Kehilangan Terdapat 5 katagori kehilangan. 2. Karena keintiman. ingatan. kematian pasangan suami/istri atau anak biasanya membawa dampak emosional yang luar biasa dan tidak dapat ditutupi. pikiran dan respon pada kegiatan dan orang disekitarnya. Sebagian orang berespon berbeda tentang kematian. kemampuan fisik dan mental. 2.  Kehilangan lingkungan yang sangat dikenal Kehilangan diartikan dengan terpisahnya dari lingkungan yang sangat dikenal termasuk dari kehidupan latar belakang keluarga dalam waktu satu periode atau bergantian secara permanen. sampai pada kematian yang sesungguhnya. peran dalam kehidupan.  Kehilangan yang ada pada diri sendiri (loss of self) Bentuk lain dari kehilangan adalah kehilangan diri atau anggapan tentang mental seseorang.Mudah dikenal atau diidentifikasi oleh orang lain. Kehilangan dari aspek diri mungkin sementara atau menetap. kematian orang yang sangat berarti / di cintai. Kedalaman berduka yang dirasakan seseorang terhadap benda yang hilang tergantung pada arti dan kegunaan benda tersebut.

susah tidur. nadi cepat.2. a. akhirnya saya harus operasi ― 2.Denial—–> Anger—–> Bergaining——> Depresi——> Acceptance 1. lemah. Menunjukan sikap menarik diri. abnormal. Tipe ini masih dalam batas normal. tidak mempercayai kenyataan b. menangis. c. Verbalisasi. Verbalisasi.2 Teori dari Proses Berduka Tidak ada cara yang paling tepat dan cepat untuk menjalani proses berduka. dan lain-lain. Fase acceptance a. Pikiran pada objek yang hilang berkurang. dorongan libido menurun. Mulai sadar akan kenyataan b. Fase depresi a. Fase bergaining / tawarmenawar. objek atau ketidakmampuan fungsional sebelum terjadinya kehilangan. Tipe ini kadang-kadang menjurus ke tipikal. muka merah.‖ apa yang dapat saya lakukan agar saya cepat sembuh‖. gelisah. Fase anger / marah a. Berduka diantisipasi adalah suatu status yang merupakan pengalaman individu dalam merespon kehilangan yang aktual ataupun yang dirasakan seseorang. Perilaku agresif.2 Berduka 2. 3. Fase denial a. 2.1 Definisi berduka Berduka adalah respon emosi yang diekspresikan terhadap kehilangan yang dimanifestasikan adanya perasaan sedih. tangan mengepal. hubungan/kedekatan.‖ itu tidak mungkin‖. d. b. diare. Reaksi pertama adalah syok. Berduka merupakan respon normal pada semua kejadian kehilangan. letih. Reaksi fisik. ― kenapa harus terjadi pada saya ? ― kalau saja yang sakit bukan saya ― seandainya saya hati-hati ―. letih. hubungan. Verbalisasi . tidak mau bicara atau putus asa. b. sesak nafas. Gejala . Perubahan fisik. Berduka disfungsional adalah suatu status yang merupakan pengalaman individu yang responnya dibesar-besarkan saat individu kehilangan secara aktual maupun potensial. menolak makan. cemas.2. detak jantung cepat. NANDA merumuskan ada dua tipe dari berduka yaitu berduka diantisipasi dan berduka disfungsional. objek dan ketidakmampuan fungsional. 5. ― saya tidak percaya itu terjadi ‖. pucat. atau kesalahan/kekacauan. susah tidur. mual. Marah diproyeksikan pada orang lain c. 4. ― yah. 2. gangguan pernafasan. gelisah. gelisah. susah tidur. Konsep dan teori berduka hanyalah alat yang hanya dapat digunakan untuk mengantisipasi kebutuhan .

tidak mungkin seperti itu. Bisa merasa bersalah dan sangat menyesal tentang kurang perhatiannya di masa lalu terhadap almarhum. Teori Kubler-Ross Kerangka kerja yang ditawarkan oleh Kubler-Ross (1969) adalah berorientasi pada perilaku dan menyangkut 5 tahap. frustasi. yaitu sebagai berikut: a) Penyangkalan (Denial) Individu bertindak seperti seolah tidak terjadi apa-apa dan dapat menolak untuk mempercayai bahwa telah terjadi kehilangan. Pernyataan seperti ―Tidak. mual. Teori Engels Menurut Engel (1964) proses berduka mempunyai beberapa fase yang dapat diaplokasikan pada seseorang yang sedang berduka maupun menjelang ajal. diaporesis. insomnia dan kelelahan.  Fase V Kehilangan yang tak dapat dihindari harus mulai diketahui/disadari. detak jantung cepat. Reaksi secara fisik termasuk pingsan. 1. diare. Kesadaran baru telah berkembang.  Fase III (restitusi) Berusaha mencoba untuk sepakat/damai dengan perasaan yang hampa/kosong.  Fase IV Menekan seluruh perasaan yang negatif dan bermusuhan terhadap almarhum. depresi.  Fase II (berkembangnya kesadaran) Seseoarang mulai merasakan kehilangan secara nyata/akut dan mungkin mengalami putus asa. Peran perawat adalah untuk mendapatkan gambaran tentang perilaku berduka. atau pergi tanpa tujuan.‖ atau ―Tidak akan terjadi pada saya!‖ umum dilontarkan klien. Kemarahan. karena kehilangan masih tetap tidak dapat menerima perhatian yang baru dari seseorang yang bertujuan untuk mengalihkan kehilangan seseorang.  Fase I (shock dan tidak percaya) Seseorang menolak kenyataan atau kehilangan dan mungkin menarik diri. mengenali pengaruh berduka terhadap perilaku dan memberikan dukungan dalam bentuk empati. b) Kemarahan (Anger) . 1. perasaan bersalah. Sehingga pada fase ini diharapkan seseorang sudah dapat menerima kondisinya. dan kekosongan jiwa tiba-tiba terjadi.emosional klien dan keluarganya dan juga rencana intervensi untuk membantu mereka memahami kesedihan mereka dan mengatasinya. duduk malas. tidak bisa istirahat.

Teori Rando Rando (1993) mendefinisikan respon berduka menjadi 3 katagori: 1. klien sering kali mencari pendapat orang lain. Akomodasi Pada tahap ini terjadi secara bertahap penurunan kedukaan akut dan mulai memasuki kembali secara emosional dan sosial dunia sehari-hari dimana klien belajar untuk menjalani hidup dengan kehidupan mereka. Reaksi yang terus menerus dari kesedihan biasanya reda dalam 6-12 bulan dan berduka yang mendalam mungkin berlanjut sampai 3-5 tahun. Pada tahap ini. Teori Martocchio Martocchio (1985) menggambarkan 5 fase kesedihan yang mempunyai lingkup yang tumpang tindih dan tidak dapat diharapkan. e) Penerimaan (Acceptance) Reaksi fisiologi menurun dan interaksi sosial berlanjut. 1. .Individu mempertahankan kehilangan dan mungkin ―bertindak lebih‖ pada setiap orang dan segala sesuatu yang berhubungan dengan lingkungan. 1. Pada fase ini orang akan lebih sensitif sehingga mudah sekali tersinggung dan marah. menyangkal dan tidak percaya. Konfrontasi Pada tahap ini terjadi luapan emosi yang sangat tinggi ketika klien secara berulang-ulang melawan kehilangan mereka dan kedukaan mereka paling dalam dan dirasakan paling akut. 1. Kubler-Ross mendefinisikan sikap penerimaan ada bila seseorang mampu menghadapi kenyataan dari pada hanya menyerah pada pengunduran diri atau berputus asa. d) Depresi (Depression) Terjadi ketika kehilangan disadari dan timbul dampak nyata dari makna kehilangan tersebut. Durasi kesedihan bervariasi dan bergantung pada faktor yang mempengaruhi respon kesedihan itu sendiri. Hal ini merupakan koping individu untuk menutupi rasa kecewa dan merupakan menifestasi dari kecemasannya menghadapi kehilangan. c) Penawaran (Bargaining) Individu berupaya untuk membuat perjanjian dengan cara yang halus atau jelas untuk mencegah kehilangan. 1. Tahap depresi ini memberi kesempatan untuk berupaya melewati kehilangan dan mulai memecahkan masalah. Penghindaran Pada tahap ini terjadi shock.

PERBANDINGAN EMPAT TEORI PROSES BERDUKA ENGEL (1964) Shock dan tidak percaya Berkembangnya kesadaran Restitusi KUBLER-ROSS (1969) Menyangkal Marah Tawar-menawar MARTOCCHIO (1985) RANDO (1991) Shock and disbelief Yearning and protest Anguish. Kesulitan mengekspresikan e. tingkat aktivitas Diagnosa keperawatan: Berduka disfungsional Definisi: sesuatu respon terhadap kehilangan yang nyata maupun yang dirasakan dimana individu tetap terfiksasi dalam satu tahap proses berduka untuk suatu periode waktu yang terlalu lama. Perasaan putus asa. c. Perasaan sedih. Adanya perubahan dalam kebiasaan makan. pola tidur. kesepian kehilangan perasaan menurun berlebihan orang lain. b. Kemarahan yang g. Kemungkinan Etiologi (“yang berhubungan dengan”)    adalah: menangis. berlebihan. Konsentrasi f. lambat Kehilangan yang nyata atau dirasakan dari beberapa konsep nilai untuk individu Kehilangan yang terlalu berat (penumpukan rasa berduka dari kehilangan multiple yang belum terselesaikan) Menghalangi respon berduka terhadap suatu kehilangan . atau gejala berduka yang normal menjadi berlebih-lebihan untuk suatu tingkat yang mengganggu fungsi kehidupan. Tidak berminat dalam berinteraksi dengan h. Mengingkari d. Konfrontasi disorganization and despair Identification bereavement Reorganization restitution in Penghindaran Idealization Depresi Reorganization / the out come Penerimaan and akomodasi BAB III ASKEP BERDUKA DISFUNGSIONAL Pengkajian Data yang dapat dikumpulkan a. Reaksi emosional yang j. Merenungkan perasaan bersalah secara i.

Intervensi dengan Rasional Tertentu 1. Jujur dan tepati semua janji Rasional Rasa percaya merupakan dasar unutk suatu kebutuhan yang terapeutik. 1.  Tidak adanya antisipasi proses berduka Perasaan bersalah yang disebabkan oleh hubungan ambivalen dengan konsep kehilangan. Tentukan pada tahap berduka mana pasian terfiksasi. . Identifikasi perilaku-perilaku yang berhubungan dengan tahap ini. Sasaran jangka panjang Pasien akan mampu menyatakan secara verbal perilaku-perilaku yang berhubungan dengan tahap-tahap berduka yang normal. Rasional Pengkajian data dasar yang akurat adalah penting untuk perencanaan keperawatan yang efektif bagi pasien yang berduka. diekspresikan secara tidak tepat ü Obsesi-obsesi pengalaman-pengalaman masa lampau ü Merenungkan perasaan nersalah secara berlebihan dan dibesar-basarkan tidak sesuai dengan ukuran situasi. Kembangkan hubungan saling percaya dengan pasien.      Regresi perkembangan Gangguan dalam konsentrasi Kesulitan dalam mengekspresikan kehilangan Afek yang labil Kelainan dalam kebiasaan makan. Sasaran/Tujuan Sasaran jangka pendek Pasien akan mengekspresikan kemarahan terhadap konsep kehilangan dalam 1 minggu. Pasien akan mampu mengakui posisinya sendiri dalam proses berduka sehingga ia mampu dengan langkahnya sendiri terhadap pemecahan masalah. pola tidur. libido. tingkat aktivitas. Perlihatkan empati dan perhatian. Batasan Karakteristik (“dibuktikan dengan”)   Idealisasi kehilangan (konsep) Mengingkari kehilangan ü Kemarahan yang berlebihan. pola mimpi.

Bantu pasien untuk mengerti bahwa perasaan seperti rasa bersalah dan marah terhadap konsep kehilangan adalah perasaan yang wajar dan dapat diterima selama proses berduka. joging. Dorong pasien untuk mengekspresikan rasa marah. Komunikasikan kepada pasien bahwa menangis merupakan hal yang dapat diterima. Menggunakan sentuhan merupakan hal yang terapeutik dan tepat untuk kebanyakan pasien. 1. Ajarkan tentang tahap-tahap berduka yang normal dan perilaku yang berhubungan dengan setiap tahap. Rasional Pasien harus menghentikan persepsi idealisnya dan mampu menerima baik aspek positif maupun negatif dari konsep kehilangan sebelum proses berduka selesai seluruhnya.dll) Rasional Latihan fisik memberikan suatu metode yang aman dan efektif untuk mengeluarkan kemarahan yang terpendam. bola voli. Rasional Pengetahuan tentang perasaan-perasaan yang wajar yang berhubungan dengan berduka yang normal dapat menolong mengurangi beberapa perasaan bersalah menyebabkan timbulnya respon-respon ini. Perlihatkan sikap menerima dan membolehkan pasien untuk mengekspresikan perasaannya secara terbuka Rasional Sikap menerima menunjukkan kepada pasien bahwa anda yakin bahwa ia merupakan seseorang pribadi yang bermakna. Rasa percaya meningkat. . menunjukkan realita situasi dalam area-area dimana kesalahan presentasi diekspresikan. Rasional Pengungkapan secara verbal perasaan dalam suatu lingkungan yang tidak mengancam dapat membantu pasien sampai kepada hubungan dengan persoalan-persoalan yang belum terpecahkan. 1. Dorong pasien untuk meninjau hubungan dengan konsep kehilangan. 1. Jangan menjadi defensif jika permulaan ekspresi kemarahan dipindahkan kepada perawat atau terapis. 1. 1. Bantu pasien untuk mengeluarkan kemarahan yang terpendam dengan berpartisipasi dalam aktivitas-aktivitas motorik kasar (mis. Dengan dukungan dan sensitivitas.1. Bantu pasien untuk mengeksplorasikan perasaan marah sehingga pasien dapat mengungkapkan secara langsung kepada objek atau orang/pribadi yang dimaksud.

Tipe ini kadang-kadang menjurus ke tipikal. Pasien mampu mengidentifikasi posisinya sendiri dalam proses berduka dan mengekspresikan perasaan-perasaannya yang berhubungan denga konsep kehilangan secara jujur. Bantu pasien dalam memecahkan masalahnya sebagai usaha untuk menentukan metodametoda koping yang lebih adaptif terhadap pengalaman kehilangan. Hasil Pasien yang Diharapkan/Kriteria Pulang 1. Pasien tidak terlalu lama mengekspresikan emosi-emosi dan perilaku-perilaku yang berlebihan yang berhubungan dengan disfungsi berduka dan mampu melaksanakan aktifitas-aktifitas hidup sehari-hari secara mandiri. Berikan umpan balik positif untuk identifikasi strategi dan membuat keputusan. Dorong pasien untuk menjangkau dukungan spiritual selama waktu ini dalam bentuk apapun yang diinginkan untuknya. Rasional Umpan balik positif meningkatkan harga diri dan mendorong pengulangan perilaku yang diharapkan. atau kesalahan/kekacauan. Kaji kebutukan-kebutuhan spiritual pasien dan bantu sesuai kebutuhan dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu. 10. Berduka diantisipasi adalah suatu status yang merupakan pengalaman individu dalam merespon kehilangan yang aktual ataupun yang dirasakan seseorang. hubungan/kedekatan. . 3. 2. BAB IV PENUTUP 4. baik sebagian atau seluruhnya. Kehilangan merupakan suatu keadaan individu berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada menjadi tidak ada. objek atau ketidakmampuan fungsional sebelum terjadinya kehilangan. hubungan. Tipe ini masih dalam batas normal. Berduka disfungsional adalah suatu status yang merupakan pengalaman individu yang responnya dibesar-besarkan saat individu kehilangan secara aktual maupun potensial. objek dan ketidakmampuan fungsional. Berduka merupakan respon normal pada semua kejadian kehilangan. mengenali pengaruh berduka terhadap perilaku dan memberikan dukungan dalam bentuk empati. Peran perawat adalah untuk mendapatkan gambaran tentang perilaku berduka. abnormal. Pasien mampu untuk menyatakan secara verbal tahap-tahap proses berduka yang normal dan perilaku yang berhubungan debgab tiap-tiap tahap. NANDA merumuskan ada dua tipe dari berduka yaitu berduka diantisipasi dan berduka disfungsional.1 Kesimpulan Kehilangan merupakan suatu kondisi dimana seseorang mengalami suatu kekurangan atau tidak ada dari sesuatu yang dulunya pernah ada atau pernah dimiliki.1.

Townsend. kehilangan yang ada pada diri sendiri/aspek diri. Pemenuhan Kebutuhan Dasar Manusia: Kehilangan. tawar-menawar.3.51. depresi dan penerimaan. stikes. kehilangan lingkungan yang sangat dikenal. 1998. 2005. ed. Jakarta: EGC. kehilangan objek eksternal. yaitu:Kehilangan seseorang seseorang yang dicintai. Jakarta: EGC. Jakarta: Sagung Seto. Tulisan ini dikirim pada pada Kamis.1969. Anda dapat meneruskan . Buku Saku Keperawatan Jiwa. yaitu : pengikaran.h. dan kehilangan kehidupan/meninggal. Jakarta: ECG. Diagnosa Keperawatan pada Keperawatn Psikiatri.fortdekock. 1998. Suseno. Terdapat 5 katagori kehilangan. Tutu April. Pedoman Untuk Pembuatan Rencana Perawatan Edisi 3. Fundamental Keperawatan volume 1. membagi respon berduka dalam lima fase. Kematian dan Berduka dan Proses keperawatan. marah. Mary C. Elizabeth Kubler-rose.id Stuart and Sundeen.ac.Kehilangan dibagi dalam 2 tipe yaitu: Aktual atau nyata dan persepsi. DAFTAR PUSTAKA Potter & Perry. cre : 06 PSIK USK Suka Be the first to like this post. Januari 21st. 2010 11:52 pm dan di isikan dibawah makalah keperawatan Jiwa. 2004.

menurut WHO kecelakaan lalu lintas bahkan dapat menyebabkan kematian 1.Roux G & Lockhart R. Pengertian Fraktur :   Fraktur (patah tulang) adalah terputusnya kontinuitas struktur tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. dengan korban sebagian besar adalah remaja. metafisis. Jika fraktur didapatkan bersamaan dengan dislokasi sendi.2001) Fraktur adalah setiap retak atau patah pada tulang yang utuh. Fraktur dengan fragmen patahan terdorong kedalam ( sering terjadi pada tulang tengkorak dan wajah) disebut depresi.Fraktur (Patah Tulang) Salah satu masalah yang banyak dijumpai pada pusat-pusat pelayanan kesehatan di seluruh dunia saat ini adalah penyakit muskuloskeletal. oblik (miring). . jenis fraktur dapat dibagi berdasarkan :    Lokasi Fraktur dapat terjadi pada tulang di mana saja seperti pada diafisis. Jika terdapat lebih dari satu garis fraktur. Fraktur tidak lengkap contohnya adalah retak.2001 ) Jenis Fraktur : Agar lebih sistematis. jika satu bagian patah sedangkan sisi lainnya membengkok disebut greenstick. Selain menyebabkan fraktur. epifisis. atau intraartikuler. Konfigurasi Dilihat dari garis frakturnya. maka dinamakan fraktur dislokasi. dapat dibagi menjadi transversal (mendatar). fraktur dimana tulang mengalami kompresi ( terjadi pada tulang belakang ) disebut kompresi.25 juta orang tiap tahunnya.J. (smeltzer S. maka dinamakan kominutif.C & Bare B. atau spiral (berpilin/ memuntir seputar batang tulang).G.( Reeves C. Bahkan pada dasawarsa terakhir ini antara tahun 2000 sampai dengan tahun 2010 organisasi kesehatan tingkat dunia WHO menetapkan sebagai ―Dekade Tulang dan Persendian‖. Luas Terbagi menjadi fraktur lengkap (komplit) dan tidak lengkap (inkomplit). Kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab fraktur (patah tulang) terbanyak.

Grade II : luka lebih luas tanpa kerusakan jaringan lunak yang ekstensif. arah serta kekuatan tulang.  Hubungan antar bagian yang fraktur Antar bagian yang fraktur dapat masih berhubungan (undisplaced) atau terpisah jauh (displaced). panjangnya kurang dari 1 cm. Grade III : sangat terkontaminasi. kelenturan. densitas serta kekuatan tulang. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya fraktur : · Faktor ekstrinsik yaitu meliputi kecepatan dan durasi trauma yang mengenai tulang. · Faktor intrinsik yaitu meliputi kapasitas tulang mengabsorpsi energi trauma. Hubungan antara fraktur dengan jaringan sekitar Fraktur dapat dibagi menjadi fraktur terbuka (jika terdapat hubungan antara tulang dengan dunia luar) atau fraktur tertutup (jika tidak terdapat hubungan antara fraktur dengan dunia luar). Etiologi : Terjadinya fraktur akibat adanya trauma yang mengenai tulang yang kekuatannya melebihi kekuatan tulang. Fraktur terbuka dibedakan menjadi beberapa grade yaitu : Grade I : luka bersih. Pengkajian . dan mengalami kerusakan jaringan lunak ekstensif.

. Inspeksi (look) Adanya deformitas (kelainan bentuk) seperti bengkak. Golongan darah (terutama jika akan dilakukan tindakan operasi).Riwayat Penyakit : Dilakukan anamnesa untuk mendapatkan riwayat mekanisme terjadinya cidera. riwayat alergi. harus mengikuti aturan role of two. krepitasi. angulasi. riwayat fraktur sebelumnya. 3. capillary refill test. Kreatinin (trauma otot dapat meningkatkan beban kreatinin untuk kliren ginjal). fragmen tulang (pada fraktur terbuka). warna kulit. merokok. yang terdiri dari :     Mencakup dua gambaran yaitu anteroposterior (AP) dan lateral. pekerjaan. riwayat osteoporosis serta riwayat penyakit lainnya. 2. Memuat dua extremitas (terutama pada anak-anak) baik yang cidera maupun yang tidak terkena cidera (untuk membandingkan dengan yang normal) Dilakukan dua kali. Pemeriksaan laboratorium. Palpasi (feel) Adanya nyeri tekan (tenderness). yaitu sebelum tindakan dan sesudah tindakan. 3. di bagian distal cedera meliputi pulsasi arteri. pemendekan. Pemeriksaan Fisik : 1. Faktor pembekuan darah. Memuat dua sendi antara fraktur yaitu bagian proximal dan distal. Komplikasi : Penyebab komplikasi fraktur secara umum dibedakan menjadi dua yaitu bisa karena trauma itu sendiri. Gerakan (moving) Adanya keterbatasan gerak pada daerah fraktur. pada daerah yang dicurigai fraktur. pemeriksaan status neurologis dan vaskuler di bagian distal fraktur. Pemeriksaan arteriografi dilakukan jika dicurigai telah terjadi kerusakan vaskuler akibat fraktur tersebut. meliputi:      Darah rutin. 2. Urinalisa. Pemeriksaan Penunjang : 1. rotasi. Pemeriksaan radiologis (rontgen). obat-obatan yang dikomsumsi. bisa juga akibat penanganan fraktur yang disebut komplikasi iatrogenik. posisi tubuh saat berlangsungnya trauma. Palpasi daerah ektremitas tempat fraktur tersebut.

Ada beberapa komplikasi yang terjadi yaitu :           Infeksi. Mengembalikan fungsi seperti semula . dan setelah beberapa hari atau minggu dapat terjadi gangguan metabolisme yaitu peningkatan katabolisme. syok neurogenik (karena nyeri yang hebat). yaitu pemasangan bidai / spalk. Mengurangi rasa nyeri. Penatalaksanaan : Penatalaksanaan fraktur mengacu kepada empat tujuan utama yaitu: 1. gangguan fungsi pernafasan. tetanus. Atropi otot karena imobilisasi sampai osteoporosis. Lepuh di kulit karena elevasi kulit superfisial akibat edema. Membuat tulang kembali menyatu Tulang yang fraktur akan mulai menyatu dalam waktu 4 minggu dan akan menyatu dengan sempurna dalam waktu 6 bulan.Kompikasi Umum : Syok hipovolemia (karena perdarahan yang banyak). Seperti pemasangan traksi kontinyu. 3. 4. Non union yaitu tidak terjadinya penyambungan pada tulang yang fraktur. Dekubitus. Komplikasi Lokal : Jika komplikasi yang terjadi sebelum satu minggu pasca trauma disebut komplikasi dini. gas ganggren. koagulopati diffus. karena penekanan jaringan lunak oleh gips. maupun memasang gips. terutama pada kasus fraktur terbuka. Komplikasi ini dapat terjadi dalam waktu 24 jam pertama pasca trauma. emboli lemak. Mempertahankan posisi yang ideal dari fraktur. Terganggunya gerakan aktif otot karena terputusnya serabut otot. sedangkan bidai maupun gips hanya dapat digunakan untuk fiksasi yang bersifat sementara saja. Delayed union yaitu penyambungan tulang yang lama. jika komplikasi terjadi setelah satu minggu pasca trauma disebut komplikasi lanjut. fiksasi eksternal. Untuk mengurangi nyeri dapat diberi obat penghilang rasa nyeri. yaitu kerusakan kartilago sendi. trombosit vena dalam (DVT). Trauma pada jaringan disekitar fraktur menimbulkan rasa nyeri yang hebat bahkan sampai menimbulkan syok. serta dengan teknik imobilisasi. fiksasi internal. Osteomielitis yaitu infeksi yang berlanjut hingga tulang. Sindroma kompartemen karena pemasangan gips yang terlalu ketat sehingga mengganggu aliran darah. Artritis supuratif. 2.

Jika dirontgen maka garis fraktur mulai tidak tampak. Pada awalnya terbentuk kalus lunak. yang akan mempersiapkan fase reparatif. osteoklas. Fase Remodeling : Fase ini bisa membutuhkan waktu berbulan-bulan hingga tahunan untuk merampungkan penyembuhan tulang. Ditandai dengan diferensiasi dari sel mesenkim pluripotensial. garis fraktur lebih terlihat karena telah disingkirkannya material nekrotik. . yang meliputi aktifitas osteoblas dan osteoklas yang menghasilkan perubahan jaringan immatur agar menjadi matur. makrofag. sel fagosit. Maka untuk mencegah hal tersebut diperlukan upaya mobilisasi. Peningkatan aliran darah menimbulkan hematom diikuti invasi sel-sel peradangan yaitu neutrofil. Proses Penyembuhan Tulang : Fase Inflamasi : Fase ini berlangsung mulai terjadinya fraktur hingga kurang lebih satu sampai dua minggu. terbentuknya tulang lamelar sehingga menambah stabilitas daerah fraktur. Osteoblas mengakibatkan mineralisasi kalus lunak menjadi kalus keras serta menambah stabilitas fraktur. Fase Reparatif : Dapat berlangsung beberapa bulan. yang berfungsi untuk membersihkan jaringan nekrotik. terdiri dari jaringan fibrosa dan kartilago dengan sejumlah kecil jaringan tulang. Hematom fraktur diisi oleh kondroblas dan fibroblas yang akan menjadi tempat matrik kalus. Jika dirontgen.Imobilisasi dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan atrofi otot dan kekakuan pada sendi.

dimana potensial untuk terjadi infeksi (Sjamsuhidajat. 3) Rakhitis : suatu penyakit tulang yang disebabkan oleh defisiensi Vitamin D yang mempengaruhi semua jaringan skelet lain. dan biasanya lebih banyak dialami oleh laki-laki dewasa.blogspot. 1989 : 144). 10 Juli 2008 FRAKTUR I. mengakibatkan pendertia jatuh dalam syok (FKUI. 2) Cedera tidak langsung berarti pukulan langsung berada jauh dari lokasi benturan. b. (E. Patah pada daerah ini dapat menimbulkan perdarahan yang cukup banyak. misalnya jatuh dengan tangan berjulur dan menyebabkan fraktur klavikula. 1995:543) Fraktur olecranon adalah fraktur yang terjadi pada siku yang disebabkan oleh kekerasan langsung. Fraktur femur adalah terputusnya kontinuitas batang femur yang bisa terjadi akibat trauma langsung (kecelakaan lalu lintas. 2) Infeksi seperti osteomielitis : dapat terjadi sebagai akibat infeksi akut atau dapat timbul sebagai salah satu proses yang progresif. lambat dan sakit nyeri. Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Mansjoer. jatuh dari ketinggian). Fraktur tertutup adalah bila tidak ada hubungan patah tulang dengan dunia luar. Fraktur terbuka adalah fragmen tulang meluas melewati otot dan kulit. 1999 : 1138). Fraktur Patologik Dalam hal ini kerusakan tulang akibat proses penyakit dimana dengan trauma minor dapat mengakibatkan fraktur dapat juga terjadi pada berbagai keadaan berikut : 1) Tumor tulang (jinak atau ganas) : pertumbuhan jaringan baru yang tidak terkendali dan progresif. 1995:553).html ASKEP FRAKTUR >> Kamis. PENGERTIAN Fraktur adalah putusnya hubungan normal suatu tulang atau tulang rawan yang disebabkan oleh kekerasan. II. ETIOLOGI Menurut Sachdeva (1996).com/2008/07/fraktur-i.http://asuhan-keperawatan-patriani. tetapi kadang-kadang dapat . Cedera traumatik Cedera traumatik pada tulang dapat disebabkan oleh : 1) Cedera langsung berarti pukulan langsung terhadap tulang sehingga tulang pata secara spontan. Pemukulan biasanya menyebabkan fraktur melintang dan kerusakan pada kulit diatasnya. biasanya disebabkan oleh defisiensi diet. biasanya kominuta dan disertai oleh fraktur lain atau dislokasi anterior dari sendi tersebut (FKUI. 3) Fraktur yang disebabkan kontraksi keras yang mendadak dari otot yang kuat. penyebab fraktur dapat dibagi menjadi tiga yaitu : a. Oerswari. 2000 : 347).

. 2001:2357). fraktur terbuka dibagi menjadi tiga derajat. Secara spontan : disebabkan oleh stress tulang yang terus menerus misalnya pada penyakit polio dan orang yang bertugas dikemiliteran.Kontaminasi ringan. d.kerusakan jaringan lunak sedikit tidak ada tanda luka remuk. c. 2) Derajat II . KLASIFIKASI FRAKTUR FEMUR a. Fraktur incomplete • Patah hanya terjadi pada sebagian dari garis tengah tulang.luka kurang dari 1 cm . avulse . c) Bergeser-tidak bergeser Fraktur tidak bergeser garis patali kompli tetapi kedua fragmen tidak bergeser. tidak luas. Fraktur tertutup (closed). edema. yaitu : 1) Derajat I .Laserasi lebih dari 1 cm . Fraktur bergeser. Jenis khusus fraktur a) Bentuk garis patah 1) Garis patah melintang 2) Garis pata obliq 3) Garis patah spiral 4) Fraktur kompresi 5) Fraktur avulsi b) Jumlah garis patah 1) Fraktur komunitif garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan. 2) Fraktur segmental garis patah lebih dari satu tetapi saling berhubungan 3) Fraktur multiple garis patah lebih dari satu tetapi pada tulang yang berlainan. e. tranversal. . Fase hematum • Dalam waktu 24 jam timbul perdarahan. hematume disekitar fraktur .Fraktur komuniti sedang. IV. bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar. PATOFISIOLOGI Proses penyembuhan luka terdiri dari beberapa fase yaitu : 1.fraktur sederhana. Fraktur terbuka (open/compound). otot dan neurovaskuler serta kontaminasi derajat tinggi. Fraktur complete • Patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya mengalami pergerseran (bergeser dari posisi normal). obliq atau kumulatif ringan. b. bila terdapat hubungan antara fragemen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukan di kulit.Kerusakan jaringan lunak.disebabkan kegagalan absorbsi Vitamin D atau oleh karena asupan kalsium atau fosfat yang rendah. terjadi pergeseran fragmen-fragmen fraktur yang juga disebut di lokasi fragmen (Smeltzer. c. 3) Derajat III Terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas meliputi struktur kulit. III.

Bengkak : edema muncul secara cepat dari lokasi dan ekstravaksasi darah dalam jaringan yang berdekatan dengan fraktur 3. Foto Rontgen Untuk mengetahui lokasi fraktur dan garis fraktur secara langsung Mengetahui tempat dan type fraktur Biasanya diambil sebelum dan sesudah dilakukan operasi dan selama proses penyembuhan secara periodik 2. Spasme otot spasme involunters dekat fraktur 5. mungkin terjadi dari rusaknya saraf/perdarahan) 8. Fase ossificasi • Mulai pada 2 – 3 minggu setelah fraktur sampai dengan sembuh • Callus permanent akhirnya terbentuk tulang kaku dengan endapan garam kalsium yang menyatukan tulang yang patah 5. Artelogram dicurigai bila ada kerusakan vaskuler 4. Echumosis dari Perdarahan Subculaneous 4. Mr1 : dapat digunakan mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak. 1993 : 199). Nyeri mungkin disebabkan oleh spasme otot berpindah tulang dari tempatnya dan kerusakan struktur di daerah yang berdekatan. 1993 : 19 ). Fase formasi callus • Terjadi 6 – 10 harisetelah injuri • Granulasi terjadi perubahan berbentuk callus 4. Rotasi pemendekan tulang b. TANDA DAN GEJALA 1. Deformitas Daya terik kekuatan otot menyebabkan fragmen tulang berpindah dari tempatnya perubahan keseimbangan dan contur terjadi seperti : a. V. Hitung darah lengkap HT mungkin meningkat ( hemokonsentrasi ) atau menrurun ( perdarahan . Tenderness/keempukan 6. 3.• Setelah 24 jam suplai darah di sekitar fraktur meningkat 2. Krepitasi (Black. skor C1. 7. Kehilangan sensasi (mati rasa. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. 3. Penekanan tulang 2. Fase consolidasi dan remadelling • Dalam waktu lebih 10 minggu yang tepat berbentuk callus terbentuk dengan oksifitas osteoblast dan osteuctas (Black. Skor tulang tomography. Shock hipovolemik hasil dari hilangnya darah 10. Pergerakan abnormal 9. VI. Fase granulasi jaringan • Terjadi 1 – 5 hari setelah injury • Pada tahap phagositosis aktif produk neorosis • Itematome berubah menjadi granulasi jaringan yang berisi pembuluh darah baru fogoblast dan osteoblast.

b. Type lokasi fraktur tergantung umur klien. Peralatan traksi : o Traksi kulit biasanya untuk pengobatan jangka pendek o Traksi otot atau pembedahan biasanya untuk periode jangka panjang. Sirkulasi Gejala : riwayat masalah jantung. VII. Pernapasan Gejala : infeksi. Fraksi terbuka Pembedahan debridement dan irigrasi Imunisasi tetanus Terapi antibiotic prophylactic Immobilisasi (Smeltzer. marah. . stimulasi simpatis. peningkatan ketegangan/peka rangsang . Pengkajian pasien Post op frakture Olecranon (Doenges. malnutrisi (termasuk obesitas) . sekrup peniti plates batang intramedulasi. Penurunan terbuka merupakan perbaikan tulang terusan penjajaran insisi pembedahan. MANAJEMEN KEPERAWATAN I. c. 1999 : 76 ). kondisi yang kronis/batuk. PENATALAKSANAAN 1. dan paku. Profil koagulasi perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah transfusi multiple atau cedera hati (Doenges. misalnya financial. seringkali memasukkan internal viksasi terhadap fraktur dengan kawat.bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada trauma multiple) Peningkatan jumlah SDP adalah respon stres normal setelah trauma 5. Fraktur Reduction  Manipulasi atau penurunan tertutup. takut. 2001). Makanan / cairan Gejala : insufisiensi pancreas/DM. Integritas ego Gejala : perasaan cemas. Tanda : tidak dapat istirahat. d. PENGKAJIAN Pengkajian adalah langkah awal dan dasar dalam proses keperawatan secara menyeluruh (Boedihartono. atau stasis vascular (peningkatan risiko pembentukan trombus). membrane mukosa yang kering (pembatasan pemasukkan / periode puasa pra operasi). hubungan. 1999) meliputi : a. (predisposisi untuk hipoglikemia/ketoasidosis) . penyakit vascular perifer. merokok. gaya hidup. GJK. manipulasi non bedah penyusunan kembali secara manual dari fragmen-fragmen tulang terhadap posisi otonomi sebelumnya. 1994 : 10). apatis . edema pulmonal. Fraktur Immobilisasi Pembalutan (gips) Eksternal Fiksasi Internal Fiksasi Pemilihan Fraksi 3. 2. factor-faktor stress multiple.

edema dan cedera pada jaringan. awitan yang tiba-tiba atau perlahan dari intensitas ringan samapai berat dengan akhir yang dapat di antisipasi atau dapat diramalkan dan durasinya kurang dari enam bulan. bronchodilator. plester. f. Riwayat transfuse darah / reaksi transfuse. perubahan status metabolik. Riwayat penyakit hepatic (efek dari detoksifikasi obat-obatan dan dapat mengubah koagulasi) . Penggunaan alcohol (risiko akan kerusakan ginjal. makanan. Nyeri berhubungan dengan terputusnya jaringan tulang. kelemahan/keletihan. terapi pembatasan aktivitas. demam. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri/ketidak nyamanan. kurang terpajan/mengingat. dekongestan. 1994 : 17). 1994:20) Implementasi adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan (Effendi. dan gangguan pola tidur. ansietas. prosedur invasif dan jalur penusukkan. antihipertensi. 5. antikonvulsan atau tranquilizer dan juga obat yang dijual bebas. antibiotic. Risiko infeksi berhubungan dengan stasis cairan tubuh. DIAGNOSA KEPERAWATAN Diagnosa keperawatan adalah suatu penyatuan dari masalah pasien yang nyata maupun potensial berdasarkan data yang telah dikumpulkan (Boedihartono. antiinflamasi. Nyeri adalah pengalaman sensori serta emosi yang tidak menyenangkan dan meningkat akibat adanya kerusakan jaringan aktual atau potensial. ansietas 2. steroid. dan larutan . III. salah interpretasi informasi. Kurang pengetahuan tantang kondisi. kelemahan. Penyuluhan / Pembelajaran Gejala : pengguanaan antikoagulasi. respons inflamasi tertekan. 3. prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan keterbatasan kognitif.e. II. atau obat-obatan rekreasional. dan penurunan kekuatan/tahanan. 1995:40). analgesic. Tanda : menculnya proses infeksi yang melelahkan . 4. Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien dengan post op fraktur (Wilkinson. . Intervensi dan implementasi keperawatan yang muncul pada pasien dengan post op frakture Olecranon (Wilkinson. 2006) meliputi : 1. Riwayat keluarga tentang hipertermia malignant/reaksi anestesi . ketidak edekuatan oksigenasi. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tekanan. insisi pembedahan. yang mempengaruhi koagulasi dan pilihan anastesia. dan juga potensial bagi penarikan diri pasca operasi). Intoleransi aktivitas berhubungan dengan dispnea. Keamanan Gejala : alergi/sensitive terhadap obat. stress. turgor kulit buruk. penurunan berat badan. terdapat jaringan nekrotik. 6. 2006) meliputi : 1. Defisiensi immune (peningkaan risiko infeksi sitemik dan penundaan penyembuhan) . kerusakan sirkulasi dan penurunan sensasi dibuktikan oleh terdapat luka / ulserasi. digambarkan dalam istilah seperti kerusakan . antidisritmia. gerakan fragmen tulang. alat traksi/immobilisasi. kerusakan muskuloskletal. diuretic. Munculnya kanker / terapi kanker terbaru . kardiotonik glokosid. INTERVENSI DAN IMPLEMENTASI Intervensi adalah penyusunan rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan untuk menanggulangi masalah sesuai dengan diagnosa keperawatan (Boedihartono. luka/kerusakan kulit.

Kriteria Hasil : . Tujuan : Mencapai penyembuhan luka pada waktu yang sesuai.pasien mengungkapkan mampu untuk melakukan beberapa aktivitas tanpa dibantu.Koordinasi otot. Kriteria Hasil : . R/ tahapan-tahapan yang diberikan membantu proses aktivitas secara perlahan dengan menghemat tenaga namun tujuan yang tepat.Tujuan : nyeri dapat berkurang atau hilang. R/ mengurangi aktivitas yang tidak diperlukan. Intervensi dan Implementasi : a. Intoleransi aktivitas adalah suatu keadaaan seorang individu yang tidak cukup mempunyai energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau memenuhi kebutuhan atau aktivitas sehari-hari yang diinginkan. Kaji tingkat intensitas dan frekwensi nyeri R/ tingkat intensitas nyeri dan frekwensi menunjukkan skala nyeri c. b. tulang dan anggota gerak lainya baik. Intervensi dan Implementasi : a. dan energi terkumpul dapat digunakan untuk aktivitas seperlunya secar optimal. c. Melakukan kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian analgesik R/ merupakan tindakan dependent perawat. R/ untuk mengetahui perkembangan klien e. d. 2. Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhan sesuai kebutuhan. Rencanakan periode istirahat yang cukup. Tujuan : pasien memiliki cukup energi untuk beraktivitas. Kriteria hasil : .Klien tampak tenang. R/ mengetahui sejauh mana perkembangan luka mempermudah dalam melakukan tindakan yang tepat. Jelaskan pada klien penyebab dari nyeri R/ memberikan penjelasan akan menambah pengetahuan klien tentang nyeri.Tanda-tanda vital dalam batas normal atau dapat ditoleransi.perilaku menampakan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan diri. . d. . 3.tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus.Nyeri berkurang atau hilang . R/ menjaga kemungkinan adanya respons abnormal dari tubuh sebagai akibat dari latihan. Setelah latihan dan aktivitas kaji respons pasien. R/ mengurangi pemakaian energi sampai kekuatan pasien pulih kembali. Intervensi dan Implementasi : a. Kerusakan integritas kulit adalah keadaan kulit seseorang yang mengalami perubahan secara tidak diinginkan. . Lakukan pendekatan pada klien dan keluarga R/ hubungan yang baik membuat klien dan keluarga kooperatif b. mobilisasi dini. . . dimana analgesik berfungsi untuk memblok stimulasi nyeri. Observasi tanda-tanda vital.luka bersih tidak lembab dan tidak kotor. Berikan latihan aktivitas secara bertahap. Kaji kulit dan identifikasi pada tahap perkembangan luka.

4 = ketergantungan. gunakan plester kertas. R/ tehnik aseptik membantu mempercepat penyembuhan luka dan mencegah terjadinya infeksi. h.b. Kriteria hasil : . 2 = memerlukan bantuan dari orang lain untuk bantuan. Risiko infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan perifer. R/ suhu tubuh yang meningkat dapat diidentifikasikan sebagai adanya proses peradangan. tidak berpartisipasi dalam aktivitas. warna. R/ mempengaruhi penilaian terhadap kemampuan aktivitas apakah karena ketidakmampuan ataukah ketidakmauan. Intervensi dan Implementasi : g. R/ mempertahankan /meningkatkan kekuatan dan ketahanan otot. 5. . dengan karakteristik : 0 = mandiri penuh 1 = memerlukan alat Bantu. ganti balutan sesuai kebutuhan. pergerakkan fisik yang bermanfaat dari tubuh atau satu ekstremitas atau lebih. R/ balutan dapat diganti satu atau dua kali sehari tergantung kondisi parah/ tidak nya luka.penampilan yang seimbang. Tujuan : pasien akan menunjukkan tingkat mobilitas optimal. serta jumlah dan tipe cairan luka.. Pantau peningkatan suhu tubuh. Ajarkan dan pantau pasien dalam hal penggunaan alat bantu. ukuran. e. perubahan sirkulasi. dan pengajaran. Tujuan : infeksi tidak terjadi / terkontrol. i.mempertahankan mobilitas optimal yang dapat di toleransi. Tentukan tingkat motivasi pasien dalam melakukan aktivitas. Kolaborasi dengan ahli terapi fisik atau okupasi. Kaji lokasi. . c. bau. Kaji kebutuhan akan pelayanan kesehatan dan kebutuhan akan peralatan. R/ sebagai suaatu sumber untuk mengembangkan perencanaan dan mempertahankan/meningkatkan mobilitas pasien. j. 4. R/ mengidentifikasi masalah. f. R/ menilai batasan kemampuan aktivitas optimal. R/ mengidentifikasi tingkat keparahan luka akan mempermudah intervensi. d. agar tidak terjadi infeksi. R/ agar benda asing atau jaringan yang terinfeksi tidak menyebar luas pada area kulit normal lainnya. R / antibiotik berguna untuk mematikan mikroorganisme pathogen pada daerah yang berisiko terjadi infeksi.melakukan pergerakkan dan perpindahan. Jika pemulihan tidak terjadi kolaborasi tindakan lanjutan. memudahkan intervensi. Setelah debridement. . Balut luka dengan kasa kering dan steril. pengawasan. Hambatan mobilitas fisik adalah suatu keterbatasan dalam kemandirian. kadar gula darah yang tinggi. k. prosedur invasif dan kerusakan kulit. Ajarkan dan dukung pasien dalam latihan ROM aktif dan pasif. g. misalnya debridement. 3 = membutuhkan bantuan dari orang lain dan alat Bantu. Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi. Berikan perawatan luka dengan tehnik aseptik.

kateter. Pasien akan menunjukkan tingkat mobilitas optimal. Intervensi dan Implementasi: a. Nyeri dapat berkurang atau hilang setelah dilakukan tindakan keperawatan. 5. . R/ mengetahui seberapa jauh pengalaman dan pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya. Infeksi tidak terjadi / terkontrol 6.Kriteria hasil : . Berikan penjelasan pada klien tentang penyakitnya dan kondisinya sekarang. R/ mengidentifikasi tanda-tanda peradangan terutama bila suhu tubuh meningkat. Jika ditemukan tanda infeksi kolaborasi untuk pemeriksaan darah. 2001). b. drainase luka. Anjurkan klien dan keluarga untuk memperhatikan diet makanan nya. efek prosedur dan proses pengobatan. Evaluasi yang diharapkan pada pasien dengan post operasi fraktur adalah : 1. Kurang pengetahuan tentang kondisi. b. Mencapai penyembuhan luka pada waktu yang sesuai 4. EVALUASI Evaluasi addalah stadium pada proses keperawatan dimana taraf keberhasilan dalam pencapaian tujuan keperawatan dinilai dan kebutuhan untuk memodifikasi tujuan atau intervensi keperawatan ditetapkan (Brooker.melakukan prosedur yang diperlukan dan menjelaskan alasan dari suatu tindakan. seperti Hb dan leukosit. kurang terpajan/mengingat. R/ diet dan pola makan yang tepat membantu proses penyembuhan. c. . e. efek prosedur dan proses pengobatan. Lakukan perawatan terhadap prosedur inpasif seperti infus. . Minta klien dan keluarga mengulangi kembali tentang materi yang telah diberikan. R/ untuk mengurangi risiko infeksi nosokomial.Tanda-tanda vital dalam batas normal atau dapat ditoleransi. 6. IV. 2. R/ antibiotik mencegah perkembangan mikroorganisme patogen. R/ penurunan Hb dan peningkatan jumlah leukosit dari normal bisa terjadi akibat terjadinya proses infeksi. salah interpretasi informasi. Pasien mengutarakan pemahaman tentang kondisi. Pasien memiliki cukup energi untuk beraktivitas. Tujuan : pasien mengutarakan pemahaman tentang kondisi.luka bersih tidak lembab dan tidak kotor. dll. d. 3.memulai perubahan gaya hidup yang diperlukan dan ikut serta dalam regimen perawatan. klien dan keluarganya akan merasa tenang dan mengurangi rasa cemas. R/ dengan mengetahui penyakit dan kondisinya sekarang. . R/ mengendalikan penyebaran mikroorganisme patogen. Intervensi dan Implementasi : a. d. R/ mengetahui seberapa jauh pemahaman klien dan keluarga serta menilai keberhasilan dari tindakan yang dilakukan. Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya. prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan keterbatasan kognitif.tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus. Pantau tanda-tanda vital. Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik. c. Kriteria Hasil : . Kolaborasi untuk pemberian antibiotik.

2001. Proses Keperawatan di Rumah Sakit. Pengantar Proses Keperawatan. W. Smeltzer. Medical Surgical Nursing. Jakarta. Suzanne C. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah dari Brunner & Suddarth. PT Gramedia. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Christine. Brunner dan Suddarth. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. EGC : Jakarta. Edisi 8. Joyce M. Keperawatan Medikal Bedah. Bedah dan Perawatannya. Sjamsuhidajat. EGC : Jakarta. Effendi. Rencana Asuhan Keperawatan. 2001. Binarupa Aksara : Jakarta . Marilyn E. 2002. Kamus Saku Keperawatan. Jakarta Nasrul. 2006. 1998. 1999. Jakarta Doenges. E. 1993. 1995. Edisi 3. edisi 7. Buku Ajar Imu Bedah. 1995. Edisi revisi. EGC : Jakarta. dan Wim de Jong. EGC : Jakarta Wilkinson. EGC : Jakarta. FKUI. Judith M. 1994.B Sainders Company : Philadelpia Boedihartono. EGC : Jakarta. Edisi 3. Oerswari 1989. R. Brooker. EGC. EGC.DAFTAR PUSTAKA Black.