P. 1
25951912-Pembelajaran-Cepat

25951912-Pembelajaran-Cepat

|Views: 659|Likes:

More info:

Published by: Abdul Kadir Batubara on Sep 14, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/26/2013

pdf

text

original

Belajar dan pembelajaran \\pantun@msitorus.net.id ☺ sman1porsea © 2005

Karena selama ini kita lebih banyak ber-orientasi
pembelajaran otak kiri terlalu jauh, untuk mengimbanginya
mau tidak mau saatnya kita harus berorientasi “oatak kanan
lebih jauh”.
Paradigma belajar harus berubah.
Menghadirkan kondisi dan suasana belajar bayi kedalam
kelas. Guru harus lebih banyak belajar bersama murid
(Belajar bagaimana belajar) daripada mengajar menjejali
imformasi kepada murid. Memberi keleluasaan siswa
menemukan - membangun sendiri cara / metode belajarnya
dan pemahamannya

Berikut ini gambaran ringkasnya :

Otak Kiri

Otak Kanan

Berpikir logis dan rasional (cenderung
dibatasi akal sehat)

Berpikir acak(random) dan intuitif
(Berani mencoba yang tak terduga)

bekerja Sekuensial dan linier
(Mengutamakan keteraturan dan sering
mengabaikan kemungkinan lain)

Bekerja acak tidak teratur dan holistik
(menyeluruh).

Hasil berupa expressi verbal, menulis,
keteraturan, assosiasi- auiditorial, fonetik dan
simbolisme, elemen fakta, membaca.

Expressi nonverbal: Emosi, perasaan milik,
Visualisasi, bentuk / ruang, seni, kesadaran
spasial, , dan kreatifitas sastra

Bersifat deduktif, mengandalkan pengalaman
masa lalu

Bersifat Induktif, memamfaatkan segala
sesuatu yang sedang dihadapi.

Berpikir logis = Analitis; Strategis; Vertikal

Berpikir intuitif = Ktitis; Kreatif; Produktif
dan Lateral

9

Created by PantunMsitorus; Belajar....2005

Secara anatomi kasar otak kita yang terdiri dari tiga bagian itu, terbagi dua belahan kiri dan
kanan. Masing masing belahan betanggungjawab mengkoordinir bagian tubuh secara menyilang.
Selaiin itu “otak kiri”dan “otak kanan” memiliki spesialisasi cara berpikir masing-masing
sekalipun dalam beberapa hal ada pertukaran antara keduanya atau pesilangan fungsi.

Awal kehidupan kita sangat banyak bergantung pada kemampuan otak kanan untuk
memuaskan pencarian kita tentang segalanya. Keingin-tahuan kita membawa otak kanan bekerja
memberi pengalaman yang besar untuk berani hidup dan memahami hidup secara intuitif mencari
wujud dan pemahaman tentang sesuatu secara acak menyeluruh. Dimbangi pola pikir otak kiri; di
usia kanak-kanak mulai belajar keteraturan, logika dan rasional, sehingga kita masih punya
kesempatan memikirkan detail sesuatu, tahapan dan kehatihatian.

Mengapa harus otak kanan?

Ketika kita memasuki pendidikan lembaga pendidikan formal oatak kiri kita terus dipacu,
sementara otak kanan mulai terabaikan. Hilangnya keseimbangan ini menghasilkan hambtan
signifikan dalam proses belajar secara alamiah.Tiada lagi pembelajaran yang menakjubkan, bebas
penuh permainan dan kesenangan dalam pencarian yang kreatif. Kita tumbuh cenderung ber “otak
kiri” menjadi pembelajar yang kaku dan kurang keberanian. Mengutamakan kemapanan,
kepastian keteraturan dan hal-hal verbal. Belajar itu menjadi terasa kering, jauh dari kebebasan,
abstraksi, miskin intusi dan kreatifitas.
Itulah sebabnya ahir–ahir ini dunia pendidikan internasional berusaha merepormasi cara-
cara pembelajaran lama yang lebih menitik beratkan berpikiran otak kiri ke pembelajaran yang
mengarah pengembangan otak kanan
. Penomena Pendidikan condong otak kiri - mengorbankan
otak kanan, telah menjatuhkan citra pendidikan itu sendiri, LULUSan berprestasi tak dapat
dikorelasikan dengan kesuksesan dalam menghadapi kenyataan hidup. Kini saatnya cara berpikir
otak kanan kita hadirkan kedalam kelas dalam porsi yang lebih besar.
Sangat menguntungkan memiliki perkembangan otak Kiri dan otak kanan yang seimbang,
sehingga otak selalu cukup pilihan cara berpikir yang terbaik dalam belajar berbagai hal yang
berbeda. Kombinasi keduanya mebuat Konsep : “Siapa saja dapat belajar apa saja, kapan saja
dan dimana saja” menjadi sangat mungkin terjadi.
Karena selama ini kita banyak berorientasi membelajarkan otak kiri terlalu jauh, untuk
mengimbanginya mau tidakmau saatnya kita harus berorientasi “oatak kanan lebih jauh”.
Paradigma belajar harus berubah. Menghadirkan kondisi dan suasana belajar bayi kedalam
kelas. Guru harus lebih banyak belajar bersama murid daripada mengajar menjejali imformasi
kepada murid. Memberi keleluasaan siswa menemukan-membangun sendiri cara/metode
belajarnya dan pemahamannya.

Sesungguhnya, tidak ada orang normal yang hanya menggunakan otak kiri saja atau otak
kanan saja, melainkan kecenderungan /lebih condong ke salah satu belahan. Untuk
menyeimbangkan kecenderungan masyarakat terhadap otak kiri, pengalaman belajar perlu
dirancang melibatkan unsur-unsur khas otak kanan diantaranya: metode yang beragam,
pertukaran suasana tempat belajar, pengubahan tata-letak meja siswa, kejutan-kejutan baru,
menyertakan musik, unsur estetik, humoris, warna-warni, wewangian dan permainan. Kerja otak
kiri semakin baik pada saat otak kanan ikut terlibat.
Disamping itu, dukungan terhadap setiap usaha / partisipasi siswa (sekalipun hasil belajarnya
tidak tepat), perayaan keberhasilan siswa betapapun kecilnya, merupakan umpan balik positif
membangkitkan emosi positif yang merangsang efektifitas otak. Selanjutnya belajar memperoleh
tambahan energi dan motivasi, menjadi lebih mudah, lebih efisien dan efektif. Proses ini akan
membentuk siklus percepatan belajar yang menjanjikan. Jauh dari kata jenuh dan membosankan.

Belajar dan pembelajaran \\pantun@msitorus.net.id ☺ sman1porsea © 2005

10

Created by PantunMsitorus; Belajar....2005

Cara dan metode belajar / mengajar yang pal ing kreatif
melibatkan ;

☺t a k kiri 40% dan ☺t ak
kanan 60%

Belajar dan pembelajaran \\pantun@msitorus.net.id ☺ sman1porsea © 2005

11

Created by PantunMsitorus; Belajar....2005

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->