P. 1
Bab 13 Fitnah Politik Gus Dur Melecehkan Ummat Islam Maluku

Bab 13 Fitnah Politik Gus Dur Melecehkan Ummat Islam Maluku

|Views: 425|Likes:
Published by shecutesib9835

More info:

Published by: shecutesib9835 on Sep 14, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/15/2013

pdf

text

original

1. Setiap penduduk di Indonesia agaknja sudah tahu, siapakah gerangan Soekarno itu (selandjutnja di sebut: Karno!)
A. Di zaman Belanda ia masuk salah seorang pemimpin muda jang ulung, di kalangan nasional. Karno terkenal memiliki
mulut dan kerongkongan (tenggo-rokan), dari mana ia pandai melantjarkan suara jang menggeledek dan meluntjur-kan
pidato jang berapi2. Dengan bawaannja jang serupa itu, maka ia dapat mengembangkan dirinja mendjadi orator (tukang
pidato) jang hebat dan agitator (penghasut dan menggelora semangat) jang tjakap dan mahir.
Dalam posisi sebagai agitator dan orator, jang membutuhkan tepuk-tangan dan sorak-sorai dari pendengarnja, maka
atjapkali ia dihinggapi oleh penjakit iblis (rija’, sum’ah, takabbur dan lain2), terombang-ambing oleh gelombang nafsu,
sjahwat, amarah dan perasaannja (sentimentil), jang kadang2 meledak laksana dynamit, seperti jang terdjadi pada tanggal
17 Agustus 1953 jang baru lalu.
Adapun isi-hati dan dasar-djiwanja jang mendjadi filsafat-hidupnja, didjeladjah daripada kata2 dan tulisannja dengan tjara
analytis dan synthetis (tafsil dan idjmal), ialah: marhainisme, satu bentuk (model) ideologi, terletak antara nasio-nalisme
kiri dan komunisme, jang “keluar” tampak sebagai salah satu mata-rantai Pan-Asiatisme.
Karena “ideologi” itu pulalah, maka ia terdjebak oleh pemerintah djadjahan Belanda, dan kemudian dibuang!
B. Di zaman Djepang karno mendjadi agen Djepang nomer satu.
Dewi sri alias ibu Pertiwi diselaraskan dengan Dewi Amaterasu, animisme Djawa (kedjawen) ditjampur dengan sintoisme,
marhainisme disesuaikan dengan tjita2 kema’muran Asia-Timur-Raja, dan dengan alat2 itu, atas perintah tuannja, ia siap
memperdjepangkan diri dan kawan2nja, dan kemudian U.I.B.I. pun mendjadi sasarannja jang istimewa. Sebagai hamba
Dewi Amaterasu ia dapat menundjuk-kan kepandaian dan ketjakapannja, sehingga ia mendapat kedudukan jang lumajan
dan bintang dari tuannja. Waktu itu, suaranja, jang menggeledek ditu-djukan kepada perkuatan kekuasaan Djepang dan
aksi anti-A.S., dan anti-Inggeris, ialah musuh2 negara tuannja. Babak ini berhenti dengan kapitulasi Djepang.
C. Pada awal revolusi nasional, maka Karno (+ Hatta) dipaksa oleh segolongan pemuda revolusioner untuk menjatakan
proklamasi (17 Agustus 1945).
Karena nasib jang mudjur dan bintangnja lagi naik, maka ia dakui dan mengakui dirinja presiden, walau sebagai presiden
konstitusionil sekalipun, sebagai lambang kesatuan negara. Sehingga karenanja, ia menempati kedudukan “kepala negara”
(boneka) jang tidak bertanggung-djawab dan ta’ boleh diganggu-gugat (dalam segala perbuatan dan pernjataannja), dan di
dalam lingkungan angkatan perang ia mendjadi panglima tertinggi (kalau lazim ada panglima tertinggi tituler, mumkin ia
mendapat gelar “panglima tertinggi tituler”!).
2. Kembali kepada marhaenisme, jang djuga terkenal dengan nama proletarisme, jang mendjadi isi-djiwa Karno, maka
bolehlah diterangkan di sini, bahwa sedjak mula zaman Djepang, ideologi ini selalu diselubungi dan ditjampur-adukkan
dengan “pantjasila” satu ideologi djahilijah jang sering kali diselimuti dengan “Islam”, tegasnja “Islam munafiq”.
Walaupun gutji-wasiat ini senantiasa ditutup disembunjikan, namun sering kali tampak wudjud, bentuk dan sifat jang
sesungguhnja daripada apa jang disebut “marhaenisme” itu.
Pada masa PNI = Partai Nasional Indonesia (I, II dan III —periksalah Manifest Politik N.I.I. No. V/7.—) marhaenisme ini
tampaknja amat dekat sekali dengan ko-munisme. Sehingga pada zaman PPPKI (Permufakatan Perhimpunan2 Politik
Kebangsaan Indonesia) sering terdjadi bentrokan dan pertikaian politik, antara pihak nasional kiri (marhaenisme, jang
dibelakang dibantu oleh pihak komunis “di bawah-tanah” dan ex-digulisten) dengan pihak Islam, masing2 dipelopori oleh
PNI dan PSII (Party Sjarikat Islam Indonesia).
Pada zaman pendudukan Djepang, sifat anti-Islam ini tidak seberapa tampak, karena (1) tiap party memang terkurung
didalam berbagai2 “sangkar mas”, dan (2) memang sesuai dengan instruksi Djepang, jang amat lemah-lembut didalam
melakukan tipu-muslihatnja, untuk memperdjepangkan Indonesia dan men-sinto-kan U.I. B.I.

Pada zaman revolusi nasional tengah menggelora sifat djahannam itu ta’ tampak sama sekali (latent, terpendam).
Tetapi tidak tampak atau tidak timbul di sini, bukan sekali2 bererti hilang dan sembuh, melainkan hanjalah sifat
“sementara”, hal mana memang dipergunakan sebagai taktik untuk menggalang dan memperoleh “persatuan nasional”,
satu tipu-daja jang amat litjin dan tjerdik, bagi menina-bobok-kan U.I.B.I., jang pada waktu itu memiliki semangat
perdjuangan jang menggelora dan hebat-dahsjat.
Kemudian, setelah daulat hadijah diterima dan pihak merah beserta pembantu2nja jang setia, agen2 Moskow, mendapat
kesempatan jang baik, untuk melakukan pernanannja jang penting dan melaksanakan programnja, sepandjang konsepsi
Moskow, maka “taktik” mendjaga “persatuan nasional”itu (jang kini berubah sifat dan istilahnja, mendjadi “perdamaian
nasional”) lambat laun ditinggalkan.
Karena pengaruh rasa bebas, lepas daripada tekanan pendjadjahan dan pendudukan asing, maka isi-djiwa jang lama
terpendam itu pada suatu sa’at meledak, meletup dan meluap, dan achir-kemudiannja menampakkan pribadi jang
sebenarnja.
A. Ingatkah saudara apa jang diutjapkan oleh Karno tiga tahun jang lalu, semasa ia tourne ke Sunda-ketjil, pada
kesempatan mana ada seorang pemuda Islam jang menanjakan tentang “kemumkinan berdirinja Negara Islam Indonesia?”
Djawab Karno, katanja: “Negara Islam Indonesia tidak mumkin berdiri di Indonesia (tegasnja: RI, kini: RIK) harus
melepaskan sebagian daripada wilajahnja, dimana penduduknja tidak beragama Islam, seperti Bali, Minahasa dan lain2
sebagainja.”
Alangkah pitjiknja pengetahuan dan pengertian Karno dalam seluk-beluknja Agama Islam! Ia beranggapan, bahwa didalam
lingkungan Negara Islam orang tidak dibolehkan memeluk Agama jang lainnja. Satu bukti jang njata akan kebodohan dan
tololnja presiden RIK.
Tjelakanja bagi masjarakat ialah: ia sebagai orang jang “besar” telah memberi kata-putus dan pendapat jang pasti akan
barang sesuatu jang sesungguhnja ia tidak mengetahui, atau sengadja menjangkalnja.
Terutama jang mengenai keseluruhan negara. Sajang! Sebaliknja, untungnja bagi dia, bahwa ia tidak tanggung-djawab, dan
memang tidak dapat dipertanggung-djawabkan atas utjapan dan perbuatannja jang anti-Islam dan anti-Negara Islam itu!
Berkat kedudukan dia sebagai “boneka negara”.
B. Ingatkah Saudara, apa jang pernah meluntjur daripada mulut lantjang Karno, dengan sadar atau karena lupa, dengan
sengadja atau tidak, dikala ia (dengan keluarganja) melawat dan berada di Manila?
Antara lain2 ia berkata: “Bila ra’jat Indonesia menghendaki negara komunis, maka ia (Karno) akan tunduk kepada ra’jat
itu!”
Kata2 itu menggambarkan dengan djelas dan terang akan isi-hati dan djiwa Karno jang sewadjarnja, ja’ni:
1) Bahwa sewaktu2 dimana perlu, mulai sa’at itu djuga, menurut keadaan dan kepentingan (keselamatan) dirinja, maka ia
ta’ segan2 mendjadi komunis, tegasnja: anti-Islam dan anti-Negara Islam. Dan
2) Bahwa didalam djantung dan hati Karno mengalirlah darah merah-Moskow, darah penganut djahannam, pengikut
Beruang-Merah, darah Dadjal dan Abu-Lahab Indonesia!
C. Ingatkah Saudara, apa jang pernah dilahirkan oleh mulut Karno di Amuntai pada awal tahun ini, jang isinja hampir sama
dengan apa jang tersebut dalam huruf A. di atas? Anti-Islam dan Anti-Negara Islam, jang bererti pula: berchijanat kepada
Allah dan kepada Rasulullah clm., serta adjaran sutji, tuntunan Ilahy dan sunnah Nabi !
Pidato ini, seperti djuga pidato2 sebelumnja, telah menimbulkan gundah dan kemarahan U.I.B.I. Dalam hubungan ini,
bolehlah kiranja ditjatat reaksi daripada pihak Perti, GPII, NU, PB Persatuan Islam, dan dari pemimpin2 Islam Isa Anshary
(ketua Masjumi Djawa Barat dan anggauta PB Persatuan Islam tersebut), dan Ghazali Hasan, ketua harian PB “Front
Muballighin Islam Sumatera”, jang se-muanja memprotest keras dan menjangkal pidato si-djahannam itu, dan meng-
harapkan ditjabutnja. Hampir seluruh Indonesia, dalam lingkungan Ummat Islam, bergolaklah karenanja.
D. Berkenaan dengan itu, dan berhubungan dengaan banjaknja pertanjaan dari pihak kaum Muslimin dan pemuda Islam,
dari setiap lapisan dan pendjuru di Indonesia, djuga pada kesempatan diadakannja rapat peringatan Isra dan Mi’radj
Rasulullah clm., maka pada awal bulan Februari ’53 dilangsungkanlah sebuah kulliyah-Karno, jang diadakan didepan
mahasiswa2, maha-guru2, pembesar2 dan pemimpin2 negara, organissasi dan party, bertempat di aula Universiteit di

Djakarta.
Isi chulasoh kulliyah tersebut antara lain2 adalah sebagai berikut:
1) RI adalah negara nasional.
2) Nasionalisme tidak menghalang2-i penjebaran idelogi2 jang lainnja, seperti: Islamisme, komunisme, marhaenisme dan
lain2.
3) Islam bukan hanja utusan pribadi (privaatzaak), tetapi mengatur hubungan antara orang dengan Tuhan dan antara orang
dengan orang, satu djalan keluar (way out) jang meliputi.
4) Konklusi:
a. Nasionalisme hanjalah merupakan tempat (wadah).
b. Isinja boleh Islamisme, komunisme, marhaenisme atau isme2 jang lainnja (tergantung kepada kehendak ra’jat, dalam
pemilihan umum jang akan datang?).
E. Apa jang tersebut di atas —D., (4)—, itu djualah jang mendjadi isi pidatonja Karno di mesdjid Kotaradja, Atjeh, dengan
tambahan, bahwa menurut pendapat Karno, jang tergila2 kepada pantjasila: “rukun Islam harus ditambah dengan 2 rukun
lagi, jaitu ke’adilan sosial dan peri-kemanusiaan” (supaja tjotjok dengan pantjasila?).
Perlu pula diterangkan di sini, bahwa semasa Karno melawat ke Atjeh, banjaklah slogan2 jang diperlihatkan ra’jat, untuk
menundjukkan kehendak, keinginan dan tjita2nja. Di antaranja: “Menudju Negara Islam!”
Tetapi sesuai dengan sifat dan djiwa penipu pengchijanat, dengan perantaraan lildahnja jang berbisa (beratjun) itu, maka ia
tjoba2 menina-bobokkan kawan2 kita di Atjeh, dengan kata-kata dan tjeritera, jang “memikat hati dan memberi harapan.”
Perdjalanan Karno ini lalu disusul oleh Hatta, dengan selimut kooperasinja jang masjhur itu, dengan maksud jang tertentu:
melunakkan kawan2 kita seperdjuangan sutji di Atjeh.
3. Dengan kupasan ringkas, berdasarkan atas riwajat jang njata dan kedjadian jang sesungguhnja, masih herankah kita,
djika:
A. Karno berpihak kepada merah, mendjadi alat merah atau memang merah sama sekali?
B. Karno anti-Islam dan Anti-Negara Islam mati2an, tegasnja: menolak berlakunja hukum2 Islam, jang maha-’adil?
C. Karno dengan karena kejakinannja jang djahannam itu, hendak mengarahkan segenap tenaga, untuk membasmi N.I.I.
dan memadamkan tjahaja Ilahy (Islam)?
Lebih2 lagi, djika kita mengingat kedudukan Karno sebagai orator dan agitator, jang selalu haus akan tepuk-tangan dan
sorak-sorai chalajak ramai, maka ia sering kali lupa daratan, ta’ menginjak kenjataan (realiteit) jang sesungguhnja.
Sadarkah ia, bahwa pidatonja penuh mengandung nafsu dan perasaan dendam, sehingga ia lupa kepada keadaan jang
sebenarnja dan menjalahi kedjadian riwajat jang sesung-guhnja? Ataukah, memang ia sengadja memutar-balikkan sualnja?
Dan, ataukah ia memang tidak menerima laporan2/ berita2 jang sebenarnja, sivil dan militer —jang memang sengadja
menjembunjikan kenjataan2 itu, karena “malu” menjaksikan realiteit— ???
Tetapi, walaupun betapa pula diputar-balik, dipulas dan diperhalus, maka pidato Karno mentjapai puntjaknja (climax),
menundjukkan djiwa Abu-Lahabnja dan hati-iblisnja, jang dengan terang2an hendak membasmi Islam, Negara Islam
Indonesia dan memperkosa hak asasy Ummat Islam Bangsa Indonesia. Lebih dari itu, kiranja tidak mumkin. Ketjuali djika
Karno sudah gila 100%!
Di balik itu, ia ingin memuaskan hati badut2 merah, jang telah menjatakan protest, membuat demonstrasi2 dan tuntutan2.
Kalau ia sendiri tidak merah dan masih tahu harga dirinja sebagai pemimpin, nistjajalah tidak begitu sadja ia membelok ke
Moskow.
Selandjutnja, ia ingin memberi dan menerima bantuan atau sokongan dari kabinet Ali-Wongso jang merah itu, jang
menurut perhitungan akan mendapat dukungan jang kuat dari parlemen.
4. Hal ini perlu kita kemukakan lebih dulu, djika kita hendak mendjeladjah hakikinja perkara, lebih2 karena pribadi Karno
menggambarkan salah satu exponent dan realisasi daripada golongan djahiliyah, golongan nasionalis kiri beserta merah-
Moskow, jang kini memegang kendali pemerintahan RIK.
Djadi, semuanja ini dituliskan, lepas daripada pertimbangan2 apakah pidato Karno, selaku presiden konstitusionil (dan
panglima tertinggi—tituler!), jang membati-buta dan lupa daratan itu, mempunjai kekuatan hukum (rechtskracht) dan

dituruti oleh bawahannja. Demikian pula tentang nafsu jang menggelora itu, akan sesuai dengan kemampuan, ketjakapan
dan ketjukupan RIK, melakukan rentjananja jang djahannam itu! Wallahu a’lam! Hanja Allah pula Jang Maha-Mengetahui.
Kami masih amat menjangsikan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->