P. 1
Termodinamika Rtf

Termodinamika Rtf

|Views: 1,700|Likes:
Published by Fia Cuby

More info:

Published by: Fia Cuby on Sep 14, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/29/2013

pdf

text

original

Untuk mengetahui bagaimana menaikkan efisiensi mesin kalor, seorang ilmuwan muda
belia dari negeri Perancis yang bernama om Sadi Carnot (1796-1832 = 36 tahun saja.
Mati muda) meneliti suatu mesin kalor ideal secara teoritis pada tahun 1824. Pada waktu
itu hukum pertama termodinamika belum dirumuskan (apalagi hukum kedua). Hukum
pertama belum dirumuskan karena para ilmuwan belum mengetahui secara pasti kalor
alias panas tuh sebenarnya apa. Setelah om Jimi Joule dan teman-temannya melakukan
percobaan pada tahun 1830-an, para ilmuwan baru mengetahui secara pasti bahwa kalor
merupakan energi yang berpindah akibat adanya perbedaan suhu. Jadi hukum pertama
baru dirumuskan setelah tahun 1830. Om Sadi Carnot sudah meneliti mesin kalor ideal
secara teoritis pada tahun 1824. Penelitian yang beliau lakukan sebenarnya untuk
menaikkan efisiensi mesin uap yang pada waktu itu sudah digunakan. Kebanyakan mesin
uap waktu itu kurang efisien… (Ingat lagi penjelasan gurumuda sebelumnya).

Siklus pada mesin kalor ideal hasil oprekan om Sadi Carnot disebut sebagai siklus
Carnot. Sebelum meninjau siklus Carnot, alangkah baiknya kita pahami kembali proses
ireversibel. Setiap proses perubahan bentuk energi dan perpindahan energi yang
berlangsung secara alami, biasanya terjadi secara ireversibel (tidak bisa balik). Misalnya
kalau kita menggosokkan kedua telapak tangan, kedua telapak tangan kita biasanya
kepanasan. Dalam hal ini, kalor alias panas dihasilkan melalui kerja yang kita lakukan.
Prosesnya bersifat ireversibel. Kalor alias panas yang dihasilkan tersebut tidak bisa
dengan sendirinya melakukan kerja dengan menggosok-gosok kedua telapak tangan kita

. Nah, tujuan dari mesin kalor adalah membalikkan sebagian proses ini, di mana
kalor alias panas bisa dimanfaatkan untuk melakukan kerja dengan efisiensi sebesar
mungkin. Agar mesin kalor bisa memiliki efisiensi yang maksimum maka kita harus
menghindari semua proses ireversibel… Perpindahan kalor yang terjadi secara alami
biasanya bersifat ireversibel, karenanya kita berupaya agar si kalor tidak boleh jalan-
jalan. Pada saat mesin mengambil kalor QH pada tempat yang bersuhu tinggi (TH), zat
kerja dalam mesin juga harus berada pada suhu TH. Demikian juga apabila mesin
membuang kalor QL pada tempat yang bersuhu rendah (TL), zat kerja dalam mesin juga
harus berada pada suhu TL. Jadi setiap proses yang melibatkan perpindahan kalor harus
bersifat isotermal (suhu sama). Sebaliknya, apabila suhu zat kerja dalam mesin berada di
antara TH dan TL, tidak boleh terjadi perpindahan kalor antara mesin dengan tempat yang

Termodinamika

adiwarsito.wordpress.com

memiliki suhu TH (penyedia kalor) dan tempat yang memiliki suhu TL (pembuangan).
Agar si kalor tidak jalan-jalan maka proses harus dilakukan secara adiabatik…

Siklus Carnot sebenarnya terdiri dari dua proses isotermal reversibel dan dua proses
adiabatik reversibel. Biar paham, tataplah gambar kusam di bawah dengan penuh
kelembutan…

Gambar di atas merupakan siklus Carnot untuk gas ideal. Mula-mula kalor diserap
selama pemuaian isotermal (a-b). Selama pemuaian isotermal, suhu gas dalam silinder
dijaga agar selalu konstan. Selanjutnya gas memuai secara adiabatik sehingga suhunya
turun dari TH menjadi TL (b-c). TH = suhu tinggi (High temperatur), TL = suhu rendah
(Low temperatur). Selama pemuaian adiabatik, tidak ada kalor yang masuk atau keluar
dari silinder. Setelah itu gas ditekan secara isotermal (c-d). Selama penekanan isotermal,
suhu gas dijaga agar selalu konstan. Seluruh proses pada siklus Carnot bersifat
reversibel…

Selama pemuaian isotermal dan penekanan isotermal, suhu gas dijaga agar selalu
konstan. Tujuannya adalah menghindari adanya perbedaan suhu. Adanya perbedaan suhu
bisa menyebabkan terjadi perpindahan kalor (proses ireversibel). Agar proses isotermal
bisa terjadi (suhu gas selalu konstan) maka gas harus dimuaikan atau ditekan secara
perlahan-lahan. Dalam kenyataannya, pemuaian atau penekanan gas terjadi lebih cepat.
Hal ini diakibatkan oleh adanya turbulensi (ingat materi fluida dinamis), gesekan,
viskositas alias kekentalan dkk. Akibatnya, proses isotermal yang sempurna tidak akan

Termodinamika

adiwarsito.wordpress.com

pernah ada. Sebaliknya, pemuaian dan penekanan adiabatik dilakukan dengan cepat.
Tujuannya adalah menjaga agar kalor tidak mengalir menuju silinder atau kabur dari
silinder. Adaya gesekan, viskositas alias kekentalan dkk menyebabkan pemuaian dan
penekanan adiabatik sempurna tidak akan pernah ada. Perlu diketahui bahwa mesin
Carnot hanya bersifat teoritis saja. Mesin carnot tidak ada dalam kehidupan kita.
Walaupun hanya bersifat teoritis saja tetapi adanya mesin Carnot sangat membantu
pengembangan ilmu termodinamika. Minimal kita bisa mengetahui setiap proses
ireversibel yang mungkin terjadi selama proses dan berupaya untuk meminimalkannya
sehingga efisiensi mesin kalor rancangan kita bisa bernilai maksimum.

Hasil yang sangat penting dari mesin Carnot adalah bahwa untuk mesin kalor yang
sempurna (semua proses reversibel), Kalor yang diserap (QH) sebanding dengan suhu TH
dan Kalor yang dibuang (QL) sebanding dengan suhu TL. Dengan demikian, efisiensi
mesin kalor sempurna adalah :

Contoh soal 1 :

Sebuah mesin uap bekerja antara suhu 500 o

C dan 300 o

C. Tentukan efisiensi ideal

(efisiensi Carnot) dari mesin uap tersebut.

Panduan jawaban :

Suhu harus diubah ke dalam skala kelvin

TH (suhu tinggi) = 500 o

C = 500 + 273 = 773 K

TL (suhu rendah) = 300 o

C = 300 + 273 = 573 K

Termodinamika

adiwarsito.wordpress.com

Efisiensi ideal atau efisiensi mesin kalor sempurna yang bekerja antara suhu 500 o

C dan

300 o

C adalah 26 %. Apabila mesin yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari

bekerja antara suhu 500 o

C dan 300 o

C, efisiensi maksimum yang bisa dicapai mesin
tersebut biasanya sekitar 0,7 kali efisiensi ideal (18,2 %). Hal ini dipengaruhi oleh
adanya gesekan dan proses ireversibel lainnya…

Contoh soal 2 :

Sebuah mesin kalor menerima kalor (Q) sebanyak 600 Joule pada suhu 300 o

C,

melakukan kerja (W) 100 Joule dan membuang 500 J pada suhu 100 o

C. Tentukan

efisiensi sebenarnya dan efisiensi ideal (efisiensi Carnot) mesin ini…

Panduan jawaban :

Suhu harus diubah ke dalam skala Kelvin

TH (suhu tinggi) = 300 o

C — 300 + 273 = 573 K

TL (suhu rendah) = 100 o

C — 100 + 273 = 373 K

QH = 600 J

QL = 500 J

Efisiensi mesin :

Efisiensi ideal mesin ini :

Termodinamika

adiwarsito.wordpress.com

Efisiensi ideal atau efisiensi mesin kalor sempurna yang bekerja antara suhu 300 o

C dan

100 o

C adalah 35 %. Efisiensi maksimum yang bisa dicapai mesin tersebut biasanya
sekitar 0,7 kali efisiensi ideal = 0,7 x 35 % = 24,5 % (24,5 % x 600 J = 147 J kalor yang
bisa digunakan untuk melakukan kerja).

Efisiensi sebenarnya dari mesin ini adalah 17 % (hanya 100 J kalor yang digunakan
untuk melakukan kerja). Masih sekitar 147 J – 100 J = 47 J kalor yang bisa dipakai untuk
melakukan kerja… Alangkah baiknya jika efisiensi mesin ini dtingkatkan, sehingga
kerugian yang kita terima diminimalkan. Prinsip ekonomi juga perlu diterapkan dalam

ilmu fisika

Contoh soal 3 :

Sebuah mesin menerima 1000 Joule kalor dan menghasilkan 400 Joule kerja pada setiap
siklus. Mesin ini bekerja di antara suhu 500 o

C dan 200 o

C. Berapakah efisiensi

sebenarnya dan efisiensi ideal mesin ini ?

Panduan jawaban :

TH (suhu tinggi) = 500 o

C — 500 + 273 = 773 K

TL (suhu rendah) = 200 o

C — 200 + 273 = 473 K

QH = 1000 J

QL = 400 J

Efisiensi mesin :

Efisiensi ideal mesin ini :

Termodinamika

adiwarsito.wordpress.com

Efisiensi ideal alias efisiensi carnot = 40 %. Efisiensi mesin sebenarnya = 60 %… Mesin
seperti ini tidak ada. Efisiensi mesin tidak mungkin melebihi efisiensi ideal alias efisiensi
om Carnot…

Contoh soal 4 :

Agar efisiensi ideal alias efisiensi mesin Carnot mencapai 100 % (1), berapakah suhu
pembuangan (TL) yang diperlukan ?

Panduan jawaban :

Agar efisiensi ideal alias efisiensi mesin kalor sempurna bisa mencapai 100 % (semua
kalor masukkan bisa digunakan untuk melakukan kerja) maka suhu pembuangan (TL)
harus = 0 K.

Dalam pokok bahasan Suhu dan Kalor + Teori Kinetik Gas, gurumuda sudah
menjelaskan kepadamu bahwa mencapai suhu 0 K adalah sesuatu yang mustahil alias
tidak mungkin terjadi (hasil ini dikenal dengan julukan Hukum Ketiga Termodinamika.
Selengkapnya akan dibahas dalam episode berikutnya).
Karena 0 K tidak mungkin
dicapai, maka suatu mesin kalor sempurna tidak mungkin memiliki efisiensi 100 %.
Mesin kalor sempurna saja tidak bisa memiliki efisiensi 100 %, apalagi mesin kalor yang
kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari…

Termodinamika

adiwarsito.wordpress.com

Karena efisiensi 100 % tidak bisa dicapai oleh mesin kalor maka kita bisa menyimpulkan
bahwa tidak mungkin semua kalor masukan (QH) digunakan untuk melakukan kerja.
Pasti ada kalor yang terbuang (QL). Hasil ini bisa ditulis dengan bahasa yang lebih gaul :

Tidak mungkin ada mesin kalor (yang bekerja dalam suatu siklus) yang dapat mengubah
semua kalor alias panas menjadi kerja seluruhnya
(Hukum kedua termodinamika –
pernyataan Kelvin-Planck
).

Jangan pake hafal… Pahami saja…

Tulisan gaul yang dicetak miring di atas merupakan salah satu pernyataan khusus hukum
kedua termodinamika. Disebut sebagai pernyataan khusus karena hanya berlaku untuk
mesin kalor saja. Karena om Kelvin dan om Planck yang merumuskannya maka disebut
juga sebagai pernyataan Kelvin-Planck. Perhatikan bahwa terdapat kata siklus pada
pernyataan di atas. Siklus adalah proses yang terjadi secara berulang. Jadi si mesin kalor
bekerja secara terus menerus. Ditambahkan kata siklus karena dalam kenyataannya,
semua kalor bisa diubah menjadi kerja seluruhnya apabila prosesnya terjadi satu kali saja.
Pahami penjelasan berikut ini…

Pada pokok bahasan hukum pertama termodinamika, gurumuda sudah menjelaskan
kepadamu mengenai beberapa proses termodinamika, antara lain proses isotermal,
isobarik, isokorik dan adiabatik. Nah, dalam proses isotermal, kita bisa mengubah semua
kalor menjadi usaha alias kerja (Q = W). Hal ini bisa terjadi jika prosesnya hanya terjadi
dalam satu tahap saja… Amati gambar di bawah :

Grafik ini menunjukkan proses isotermal (pemuaian isotermal) yang terjadi dalam satu
tahap saja… Dalam proses ini, semua kalor (Q) bisa diubah menjadi kerja (W). Besarnya
kerja yang dilakukan = luasan yang diarsir…

Agar bisa dimanfaatkan, mesin kalor harus bekerja secara terus menerus (prosesnya harus
terjadi secara berulang, tidak bisa terjadi hanya dalam satu tahap saja). Misalnya mesin
uap tipe bolak balik. Piston pada mesin uap tipe bolak balik harus bergerak ke kanan dan
ke kiri secara terus menerus agar roda bisa berputar (bisa digunakan untuk menggerakkan
sesuatu). Roda tidak bisa berputar kalau piston hanya bergerak ke kanan saja, setelah itu

Termodinamika

adiwarsito.wordpress.com

diam (proses hanya terjadi dalam satu tahap saja). Apabila proses terjadi secara berulang
(piston bergerak ke kanan dan ke kiri secara terus menerus), tidak mungkin semua kalor
bisa diubah menjadi kerja (pernyataan Kelvin-Planck). Misalnya kita tinjau proses
isotermal yang ditunjukkan oleh grafik di atas.

Grafik di sebelah kiri menunjukkan pemuaian isotermal (panah ke bawah) dan penekanan
isotermal (panah ke atas). Proses terjadi secara terus menerus secara isotermal (Tidak ada
kerja yang dihasilkan). Grafik di sebelah kanan merupakan proses pemuaian isotermal
(panah ke bawah), proses penekanan isobarik (panah ke kiri) dan proses isokorik (panah
ke atas)… Dari kedua grafik ini, tampak bahwa untuk proses yang terjadi secara terus
menerus (siklus), selalu ada kalor yang terbuang… Hal ini sesuai dengan penyataan om
Kelvin-Planck sebelumnya…

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->