1

ASPEK PENGENDALIAN PERDAGANGAN ILEGAL

SATWA LIAR YANG DILINDUNGI DI PROPINSI DKI JAKARTA
Oleh: Tarsoen Waryono **)

Pendahuluan Kondisi saat ini pusat perdagangan satwa liar di lindungi di DKI Jakarta dijumpai di beberapa lokasi, walaupun sering melakukan operasi satwa di lapang, namun penindakan hukum belum memadai. Untuk itu perlu pembentukan Tim Terpadu sebagai upaya pengendalian. Hal tersebut menjadi penting, walaupun wewenang penangananan berada di pusat (Departemen Kehutanan), akan tetapi kejadiaanya berada di daerah. Tingkat keberhasilan pengendalian yang dilakukan oleh Pemda DKI Jakarta, akan dapat dipergunakan sebagai barometer bagi Pemerintah daerah lain di Indonesia dalam kaitannya dengan pengendalian perdagangan satwa liar yang dilindungi. Peraturan-peraturan yang ada sudah tegas, akan tetapi masih belum aplicable untuk diimplementasikan. Institusi pemerintah dan stakeholder lain sudah ada komitmen yaitu: (a). Pengendalian perdagangan satwa liar yang dilindungi. (b). Inventarisasi satwa liar yang dilindungi yang dimiliki oleh masyarakat. (c). Sosialisasi peraturan, dan penegakan hukum dengan menggunakan pendekatan preventif, efentif dan represif. (d). Pengadaan stasiun pemeliharaan satwa liar yang dilindungi dari hasil sitaan yang dilakukan pemerintah. (e). Penanganan terhadap 4 komponen pokok, yaitu : (1) penangkap dan pengambil satwa liar, (2) pedagang lokal, (3) pembeli, (4) penggemar satwa liar yang dilindungi eksportir. (f). Akan diadakan sosialisasi penyerahan satwa liar yang dilindungi oleh pengusaha atau pejabat. (g). Perlu adanya monitoring satwa liar yang dilindungi. (h). Adanya penggunaan hukuman minilmal seperti kasus narkoba dengan mengundangkan melalui perda. (i). Perlu diciptakan wahana pasar satwa liar yang dilindungi. (j). Perlu membentuk lembaga independen dengan akreditasi CITES guna menggalakkan potensi sumberdaya satwa liar yang dilindungi.

*). Seminar Nasional Strategi dan Aplikasi Pemberdayaan Kebijakan Perlindungan Satwa Liar Di Indonesia, Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Jakarta, Dephutbun. 8 Agustus 2001. **). Staf pengajar Jurusan Geografi FMIPA-UI.

Kumpulan Makalah Periode 1987-2008

yakni : (a) pemanfaatan tata usaha perdagangan satwa. 515 spesies mamalia. (2). Upaya pemerintah cq. Kelompok pemanfaat di daerah hulu Kelompok ini adalah para penagkap di alam bisanya merupakan masyarakat yang tinggal di sekitar hutan sebagai habitat satwa liar. habitat dan pengguna/pemanfaat satwa. Dengan luas daratan yang hanya sekitar 1. Hal ini akan memperburuk citra Indonesia di mata Internasional. setelah Zaire dan Brasil. Kelompok Pemanfaatan Hilir Kumpulan Makalah Periode 1987-2008 . Satwa liar memberi manfaat terhadap manusia dan pembangunan vegetasi pada ekosistem hutan. (3). 270 spesies amphibia dan 1539 spesies burung (311 spesies endemik). sosial dan ekonomi menyebabkan lunturnya budaya yang menjaga keseimbangan ekosistem hutan. (c) penegakan peraturan perundang-undangan atau hukum.3 % dari luas permukaan bumi. bulu dan daging. Ketentuan CITES (Convention on International Trade of Endangered Spesies of Wild Flora and fauna) yang telah diratifikasi Indonesia sejak tahun 1978 akan menjatuhkan kondisi yang demikian berupa penurunan strata perlindungan satwa ke dalam appendix I. II atau III. dan (d) pembenahan persepsi masyarakat dalam upaya konservasi satwa. Manfaat itu antara lain : diburu untuk memperoleh kulit. yaitu : (1). Walaupun banyak suku di Indonesia yang memiliki kearifan dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan. 511 spesies reptilia. Kelompok Perantara Kelompok ini bergerak sangat dinamis ke segala penjuru tanah air untuk melakukan negosiasi dan memesan berbagai satwa liar yang dilindungi. Perdagangan satwa ilegal di wilayah RI cenderung meningkat. dapat dijumpai tidak kurang 27.500 jenis tumbuhan berbunga. Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam berupaya menerapkan pola pemanfaatan satwa liar melalui beberapa hal. menyebarkan biji-bijian khususnya satwa pemakan biji sehingga terjadi keseimbangan ekosistem. tetapi ketidakberdayaan terhadap akses informasi. Pelanggaran-pelanggaran dalam bidang perlindungan satwa liar terbesar dilakukan dengan penangkapan dan pemasaran satwa liar secara ilegal yang dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga).2 Strategi dan Aplikasi Pemberdayaan Kebijakan Perlindungan Satwa Liar di Indonesia Hutan Indonesia memiliki keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa yang tergolong kaya. Kelompok ini merupakan kelompok yang paling rentan terhadap bujukan untuk menangkap satwa liar karena keterbatasan pengetahuan dan perbedaan sosial ekonomi dengan masyarat di luar hutan. (b) pengumpulan informasi lapangan serta ilmiah guna pengkajian data populasi. Kebanyakan kelompok ini terdiri dari orang-orang yang telah mengetahui bahwa pemanfaatan satwa liar telah diatur oleh pemerintah dan mereka berspekulasi untuk memperoleh keuntungan besar dan cepat tanpa memperhitungkan prinsip-prinsip kelestarian.

yaitu Appendix I yang melarang pemanfaatan satwa. Penetapan Peraturan Perundang-undangan dan ratifikasi Konvensi Internasional Pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar secara lestari telah diatur secara khusus melalui Peraturan pemerintah No. Bea dan Cukai. penagkaran. LIPI dan berbagai instansi terkait. Konsep Perlindungan dan Pemanfaatan Satwa Lindung Di Indonesia Secara konsepsional satwa lindung perlu dipertahankan keberadaannya sehingga bencana kepunahan bisa dihambat. Di lingkup Internasional negara-negara yang telah meratifikasi konvensi CITES dapat ikut membantu Indonesia dalam pemantauan perdagangan internasional satwa yang berasal dari Indonesia. Pemanfaatan tersebut meliputi pemanfaatan untuk pengkajian. 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan satwa Liar. Sedangkan strategi untuk mewujudkan kebijaksanaan tersebut adalah : (1). Perlindungan sistem ekologis penyangga kehidupan. yang antara lain: (a) melarang pemanfaatan satwa lindung. peragaan. dan (c). Ratifikasi konvensi CITES 1978 merupakan komitmen Indonesia untuk mengkontrol perdagangan jenis-jenis satwa liar dan meminimalkan adanya pelanggaran (perdagangan ilegal) yang menyebabkan abncaman dan punahnya satwa liar. Kebijakan pemerintah untuk perlindungan satwa liar adalah: (a). (b) Pengawetan keanekaragaman hayati. Peraturan CITES menempatkan sxatwa lindung dalam 3 katagori. Appendix II yang memperbolehkan pemanfaatan satwa Kumpulan Makalah Periode 1987-2008 .3 Pedagang di perkotaan yang secara sembunyi-sembunyi menjual jenis satwa liar yang dilindungi baik untuk kalangaan domestik maupun luar negeri. Koordinasi dan Sinkronisasi Program Perlindungan Satwa Liar Koordinasi dilakukan bersama Kepolisian. pertukaran. pengumpulan dan pengangkutan di dalam negeri untuk tujuan perdagangan dalam negeri maupun luar negeri. (2). perburuan. Nilai perdagangan satwa liar ilegal menurut sekretariat CITES menduduki peringkat ke dua setelah perdagangan ilegal narkotika. (b) satwa lindung adalah satwa yang dilindungi menurut CITES. budidaya tanaman obat dan pemeliharaan untuk kesenangan. untuk dapat melaksanakan beberapa kajian. Penetapan Quota Penangkapan dari Alam. penelitian dan pengembangan. (3). Quota diberlakukan untuk penangkapan satwa dari alam tergantung dengan populasi di alam dan memperhatikan aspek keseimbangan ekosistem khususnya daya regenerasi dan reproduksi. perdagangan. Pemanfaatan secara lestari. Beredarnya suatu jenis satwa liar dimulai dari penangkapan di alam.

harimau berbagai jenis kakatua dan nuri. buaya. Bila melihat pengalaman di luar negeri. Demikian pula orang hutan. ketiga (F3) dan Kumpulan Makalah Periode 1987-2008 .4 dengan ijin quota CITES. Karena bisnis satwa liar sangat menguntungkan dan berharga puluhan ribu dollar per ekor. Cara lain adalah ranching. Pemilahan dalam appendix didasrkan atas kelangkaan. jerat. Appendix III memperoleh quota dari otorita pengelola dan otorita ilmiah negara masing-masing. Para eksportir satwa mengeluh karena tidak memperoleh kuota yang diinginkan dan menuduh pemerintah tidak memberi dukungan atas dasar data yang konkrit tentang kelangkaan satwa di alam. komodo. yaitu mengambil anakan dari alam dan dibesarkan. (1). sedangkan yang dikembalikan ke habitat asli Taman Nasional Bali Barat. TSI ataupun penagkar swasta. Hal ini tentunya sangat merugikan bagi sumber pemasukan devisa negara. Mortalitas anak penyu di alam bisa mencapai 95 %. burung-burung tersebut menghilang ? Di negara Singapura dan Philipina burung-burung ex Indonesia ditangkarkan dan menjadi komoditi expor. Ada beberapa satwa yang seharusnya merupakan Non Appendix tetapi di masukkan ke dalam golongan Appendix. banteng. jaring dari alam bebas. secara naluri menuju ke laut dan ikan-ikan pemangsa sudah menghadangnya. keunikan dan endimesme. (2). Sebagian pernah dikembalikan ke Indonesia di Zoo Surabaya yang tidak jelas pengembangangbiakannya. Hal ini dapat berakibat orang asing yang banyak mempunyai dana untuk pendataan mengklasifikasikan satwa liar yang terdapat di Indonesia ke dalam golongan Appendix. baik yang dilakukan oleh hobies maupun lembaga seperti TMII. Penangkaran adalah salah satu upaya penyehjatan dan perbanyakan populasi jenis untuk menghindarkan kepunahan. Menggalakkan upaya penangkaran Penangkaran adalah mengembangbiakan satwa-satwa domestik. Misalnya anak penyu (tukik) yang ditetaskan secara alami dalam ukuran kecil. Badak di Indonesia termasuk Appendix I. ular piton. Hal ini disebabkan oleh kurangnya data aktual tentang populasi satwa langka di Indonesia. Melalui penagkaran maupun rancing diharapkan satwa liar yang dilindungi akan menghasilkan keturunan kedua (F2). Jalak bali merupakan salah satu satwa yang berhasil ditangkarkan di Amerika Serikat dan Inggris. Hal ini bisa dilakukan untuk mengurangi tingkat mortalitas yang tinggi yang terjadi di alam. seharusnya Indonesia sudah mampu melaksanakan penagkaran/expor. Satwa domestik tersebut awalnya liar dan ditangap melalui perburuan. Pemanfaatan satwa lindung secara terkendali Posisi Indonesia dalam forum CITES sering tidak menguntungkan karena untuk mempertahankan jenis satwa Non Appendix yang berarti dapat dijual bebas tidak pernah ada data yang aktuil hasil survey sendiri. Melalui ranching mortalitas bisa ditekan sampai 5 % karena anak penyu baru dilepas sesudah dewasa dan mencapai ukuran 25 cm. keadaannnya di hutan betul-betul diambang kepunahan dan harus dilindungi.

Para petinggi juga harus memberikan contoh terhadap masyarakat dan bawahan mengenai satwa liar tersebut. profesionalisme petugas penegak hukum akan menentukan terlaksananya peraturan perundang-undangan yang telah diundangkan. Untuk dapat mengendalikan satwa yang sudah langka perlu setiap daerah mengeluarkan peraturan yang sesuai dengan kebutuhan daerahnya. Budaya Hukum. Aparatur. 5/1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam hayati dan Ekosistemnya. ekonomi maupun budaya akan cenderung memenuhi kebutuhan masyarakat/institusi pemilik modal yang mengerti nilai ekonomis satwa liar yang dilindungi untuk melakukan perburuan. Kejujuran. (4). Membuat peraturan yang mengikat dengan sistem insentif dan disinsentif Peraturan perundang-undangan nasional yang mengatur satwa liar ini adalah : Undang-undang No. Pada masa krisis. Undang-undang yang mengatur tentang perlindungan dan pemanfaatan satwa liar harus benar-benar dilandasi faktor fisiologis. besarnya nilai ekonomis yang dimiliki oleh satwa liar dan terjadinya penyimpangan pelaksanaan reformasi menyebabkan pelestarian alam dikalahkan oleh masyarakat yang benar-benar dalam kesulitan memenuhi basic need Kumpulan Makalah Periode 1987-2008 (a). (b). Seminar dan ceramah juga dapat memberikan konstribusi pemecahan berbagai masalah yang berkaitan dengan perlindungan dan pemanfaatan satwa liar. Peraturan yang ditetapkan akan memberikan konsekuensi yang berlainan terhadap kedua tipologi masyarakat tersebut. Peraturan Pemerintah No. Mensosialisasikan arti satwa lindung bagi kehidupan Kepunahan satwa liar oleh masyarakat tradisional akhir-akhir ini disebabkan adanya motivasi ekonomi yang dilakukan oleh masyarakat/institusi pemilik modal yang mengimingimingi dengan imbal jasa atas hasil tangkapan masyarakat tradisional. media elektronik dan cetak. Sosialisasi peraturan mengenai perlindungan satwa liar dapat dilakukan dengan berbagai cara. (3). 7/1997 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Masyarakat tradisional yang didesak oleh adanya perubahan ekosistem akibat adanya intervensi dari luar yang berpengaruh terhadap kehidupan sosial. sosiologis dan yuridis.5 seterusnya sehingga satwa keturunan tersebut menghasilkan satwa domestik yang tidak diatur lagi oleh CITES maupun Otorita. (d). (c). Implementasi Kebijakan Hukum Terhadap Pelanggaran Perdagangan Satwa Liar Ilegal Efektivitas hukum terdiri atas faktor : Perundang-undangan. ketegasan. mulai dari pelajaran di sekolah. Peraturan yang dibuat pusat sebaiknya setelah mempelajari peraturan daerah untuk dijadikan undang-undang. . Sarana dan Prasarana. Dalam pelaksanaan suatu hukum akan berlangsung efektif apabilas ditunjang dengan sarana dan prasarana yang memadai.

(c). (Mc Neely et. Al. adalah potensi sebagai negara biodiversitas (BAPPENAS. (c). dan (f) 15 % serangga. (c) 78 jenis paruh bengkok. 25 % endemik. (b) 40 jenis primata. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penegakan hukum adalah : (a).539 jenis (16 %) reptilia dan amfibia. kedudukan Indonesia di dunia sangat istimewa. Jangan dilaukan penindakan setelah banyak terjadi pelanggaran. Disamping diberikan sanksi perlu dilakukan reward bagi mereka yang membantu dalam melestarikan satwa liar yang dilindungi. (d) burung (17 %). (c) 1. (e) ikan 25 %. Supriatna 1996). Penindakan harus dilakukan secara berkesinambungan. di dunia hewan. Keanekaragaman hayati Indonesia yang jumlahnya cukup tinggi. Konsisten. Penyitaan satwa yang dilindungi tidak boleh ada ‘penebusan’ sehingga penindakan yang dilakukan tidak berguna.500 jenis (10 %) jenis tumbuhan berbunga.600 jenis mamalia besar yang ada. Penindakan hukum dilakukan dimana saja dan tidak ada diskriminasi atau penindakan hukum dilakukan terhadap semua golongan. (b). 1990. 40 % endemik. Oleh karena itu disarankan dilakukan hal-hal sebagai berikut : (a).000 Kumpulan Makalah Periode 1987-2008 . 44 endemik. 1993). tidak hanya pada saat-saat operasi tertentu saja. Oleh karena itu Indonesia dikenal sebagai salkah satu negara yang mempunyai ‘Mega Diversituy’ jenis hayati dan merupakan ‘Mega Center’ keanekaragaman hayati dunia. kekayaan satwa di Indonesia dibandingkan dengan dunia adalah : (a) 27. kecuali terjadi peraturan perundang-undangan berubah. Mencegah lebih baik daripada melakukan penindakan. Penindakan hukum yang dilakukan terhadap sesuatu objek harus terus dilakukan. Tidak boleh objek tersebut akhirnya menjadi sesuatu yang dilegalkan. (d). Peluang dan Strategi Penagkaran Satwa Liar yang Dilindungi Peluang penangkaran satwa liar. Konsekuen. (b). baru + 6.6 maupun masyarakat berpendidikan dan berkapital besar untuk merambah nice satwa liar maupun secara langsung menangkap satwa liar guna memenuhi pasar perdagangan satwa liar. Kontinyu. dan (d) 121 jenis kupu-kupu. (b) 515 jenis (12 %) binatang menyusui. Penindakan dilakukan sedini mungkin. Hasil sitaan harus ada laporan ke masyarakat luas apakan dilakukan penangkaran atau dikembalikan ke habitatnya. Dilakukan sosialisasi seluas-luasnya kepada masyarakat tentang adanya larangan serta sanksi yang ada dalam Undang-undang terntang satwa liar yang dilindungi. karena : (a) 500 . 36 % endemik. (e).

hutan dan kebun koleksi.7 spesies tumbuhan. Teknologi Penagkaran yang Tersedia Penangkaran satwa liar berkembang pesar dengan adanya teknologi reproduksi canggih seperti : 1. Akhir-akhir ini. penyusutan juga terjadi walaupun sulit diamati pada populasi alami.000 spesies hewan dan 100 spesies jasad renik yang telah diketahui potensi dan dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia untuk menunjang kebutuhan hidupnya (KPPNN 1992). Sealain itu prosedur pelaksanaan IVF lebih atraktif karena tidak memerlukan kejelasan mengenai estrus atau adanya interaksi jantan-betina. berkurangnya keanekaragaman di tingkat ini jelas terlihat. Pemakaian bibit unggul secara besar-besaran menyebabkan terdesaknya dan mulai menghilangnya bibit tradisional secara turun-temurun dikembangkan oleh petani sendiri. + 1. “stress susceptibility” dan handicap secara fisik. Tetapi pada spesies budidaya. 1990 mengatakan bahwa material genetik dari satwa liar dapat diintroduksi kepada populasi tangkar yang biasanya mempunyai karakteristik sulit untuk bereproduksi disebabkan oleh perilaku unik. selain itu betina yang tidak produktif dapat digunakan. Didalam areal seperti keanekaragaman hayati diharapkan dapat dipertahankan secara insitu (di tempat habitat aslinya). Wildt dkk. Pada tingkat keanekaragaman di dalam spesies. Indonesia juga telah mengembangkan konsep pelestarian keanekaragaman hayati di luar kawasan konservasi. In Vitro Fertilization (IVF) Merupakan salah satu teknologi yang paling baik untuk ‘artificial breeding’ spesies langka. Kombinasi dengan teknologi ‘embryo freezing’ dapat membatu preservasi kombinasi material genetik suatu individu yang mempunyai berbagai karakter bahkan spesies lain sebagai pengganti. Isu-isu Konservasi Ex-situ dan Komersialisasi Satwa Liar Kumpulan Makalah Periode 1987-2008 . Menyadari berkembangnya proses penyusutan keanekaragaman hayati Indonesia di semua tingkatannya maka pemerintah berupaya agar laju penyusutannya dapat dikurangi dengan jalan menyisihkan areal hutan alam untuk kawasan pelestarian. Embryo Transfer (ET) Digunakan untuk mempercepat jumlah anak yang diproduksi. 3. untuk melebarkan usaha pelestarian keanekaragaman hayati. Artificial Insemination (AI) Untuk penangkaran satwa liar yang perilaku berreproduksi tidak memungkinkan di dalam kandang. Selain itu untuk menghindari bahaya yang sering terjadi sewaktu memindahkan satwa dari satu tempat ke tempat lain. 2. Ini dilakukan dengan pembentukan taman hutan raya yang merupakan perpaduan konsep taman.

2. Manajemen adaptif sebaiknya dipakai untuk menangkal adanya ketidakpastian dalam masalah ekologi dan sosio ekonomi. Penagkaran burung-burung langka dapat digunakan untuk merestorasi hutan kota yang selama ini masih belum memfungsikan hutannya secara ekologis. Monitoring dan evaluasi untuk menjaga kualitas penagkar dan kuantitas yang ditangkar perlu dilakukan oleh badan atau organisasi yang independen. 9. karena banyak difokuskan kepada keindahan dan rehabilitasi lahan. 5. Kumpulan Makalah Periode 1987-2008 . 4.8 Beberapa prasarat untuk suksesnya suatu penagkaran satwa liar agar medapat manfaat yang baik bagi publik adalah : 1. seperti IUCN Guidelines of Capative Breeding. Subsidi ekonomi akan diperlukan dalam masa transisi sebelum tercipta penggunaan yang berlanjut. peneliti. Selain itu apabila terjadi ketidakseimbangan ekologi. 6. 7. Penelitian mengenai ekologi dan demografi spesies tersebut harus diketahui sebelum dimanfaatkan untuk kepentingan komersial. Badan ini bertanggungjawab kepada pemerintah dan publik serta menggunakan standar internasional. maka pengetahuan tradisional dan sistem manajemennya harus didasari oleh pengetahuan ilmiah. Penggunaan satwa liar untuk tujuan komersial dan konsumtif hanya dipromosikan jika ada juga keuntungan konservasi. Penagkaran Satwa Liar yang Dilindungi : Apa yang Kurang ? Manajemen dan teknologi usaha penangkaran dan komersialisasi satwa lindung yang perlu mendapat perhatian adalah : 1. pola pemanfaatan harus ditinjau ulang. 8. 2. Jika penggunaan spesies berubah polanya dari tradisional kepada komersial. dan pemerintah daerah agar program tersebut dapat berlanjut. AAZPA dan lainnya. Restocking dapat melibatkan pebisnis. Tujuan dari komersialisasi dan konsumsi spesies langka dan endemik adalah menjaga keanekaragaman hayati agar tidak terjadi penyusutan yang bersifat ‘irreversible’. Spesies langka mempunyai nilai kegunaan intristik dalam rangka memperkaya budaya dan spiritual. Pendapatan dari penggunaan spesies ini harus cukup terdistribusi untuk membayar manajemen dan menciptakan insentif untuk promosi pelestarian keanekaragaman hayati walaupun tidak pembayar keseluruhan program konservasi. 3. Tolok ukur untuk ‘Boidiversity and ecological integrity’ harus memakai definisi ‘Acceptable limits of change’ yang disebabkan oleh eksploitasi yang berlebih. Penagkaran satwa liar yang dilindungi untuk tujuan komersial sebaiknya lebih ditujukan bukan hanya bersifat konsumtif berupa hewan peliharaan dan laboratorium tetapi restocking populasi di alam yang menurun drastis.

Perlu adanya Genome Resource Banking untuk satwa liar. Peraturan CITES dan Peraturan nasional perlu dipelajari dan disosialisasikan. (4).9 3. kebun binatang dan taman safari. Insentif dan disinsentif perlu diberikan kepada setiap pelaku penangkaran yang jujur dan yang tidak baik. terutama untuk pemilikan pribadi. Dalam upaya perlindungan terhadap satwa liar yang sudah dianggap langka perlu dibuat peraturan yang bersifat pencegahan dan pembatasan. yang didasarkan kepada data hasil survey. embryo dan oocyte dalam temperatur rendah. Bank gen ini dimaksudkan untuk menyimpan material genetic termasuk spermatozoa. Kumpulan Makalah Periode 1987-2008 . (2). (7). Tempattempat peragaan seperti Kebun Binatang Ragunan dan TMII adalah tempat pendidikan masyarakat mengenai satwa liar yang dilindungi. Menggalakkan swadana masyarakat untuk mengembangbiakan satwa langka yang dilindungi dengan berbagai kemudahan dan bimbingan pemerintah daerah. Jika perkiraan Bank Dunia bahwa hutan dataran rendah Sumatera akan punah tahun 2005. Uraian Penutup Hal-hal penting yang perlu mendapatkan perhatian keterkaitannya dengan pengendalian perdagangan satwa yang dilindungi antara lain: (1). maka kemungkinan banyak sekali spesies endemik akan juga punah. Daerah bisa menetapkan suatu quota satwa yang diperjualbelikan bagi satwa-satwa yang termasuk dalam Appendix III dan Non Appendix (CITES) (3). demikian pula penangkaran kera ekor panjang di hutan lindung Angke kapuk tidak diperkenankan. Rehabilitation and Rescue Center untuk satwa lindung guna mengelola satwa hasil sitaan pemerintah yang terancam harus secepatnya dibuat dan direalisasikan antara pemerintah daerah bekerjasama dengan BKSDA dan Universitas. 4. (5). Perburuan burung di wilayah DKI Jakarta supaya dilarang dan perlu diadakan pengkayaan jenis burung. Bagi satwa yang tergolong Appendix I dan II supaya dikonsultasikan dengan LIPI dan Departemen Kehutanan. (6).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful