BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tanah mempunyai partikel penyusunnya berupa pasir, debu, dan liat.

Di dalam tanah terdapat mineral, unsur hara, air, udara, dan banyak mikroorganisme yang hidup didalam tanah. Tanah mempunyai tingkatan kedalaman yang disebut dengan horizon. Setiap tingkatan tersebut berbeda-beda yang terkandung didalamnya. Banyak keanekaragaman mikroorganisme dan hewan tanah baik yang bersifat merugikan maupun yang menguntungkan ( Subagyo1970). Dibuatnya laporan ini merupakan tugas akhir ilmu tanah yang berisi seluruh laporan praktikum selama semester dua, antara lain : a) Penetapan pH, EC/ DHL, dan Kebutuhan Kapur

b) Penetapan Aldd c) Penetapan C Organik

d) Penetapan N-Total e) f) Penetapan P dengan Metode P-Bray Penetapan KTK dan KB

g) Morfologi tanah. h) Kurva pF dan Distribusi Ukuran Pori Fungsi tanah secara fisik adalah sebagai tempat tumbuh dan

berkembangnya perakaran sebagai penopang tumbuh tegaknya tanaman dan menyuplai kebutuhan air dan hara ke akar tanaman. Fungsi tanah secara kimiawi adalah sebagai gudang dan penyuplai hara atau nutrisi (baik berupa senyawa organik maupun anorganik sederhana dan unsur-unsur esensial, seperti: N, P, K, Ca, Mg, S, Cu, Zn, Fe, Mn, B, Cl). Fungsi tanah secara biologi sebagai habitat dari organisme tanah yang turut berpartisipasi aktif dalam penyediaan hara tersebut dan zat-zat aditif bagi tanaman. Integritas dari ketiganya (fisik, kimiawi, dan biologi) secara integral mampu menunjang produktivitas tanah untuk menghasilkan biomass dan produksi baik tanaman pangan, tanaman sayursayuran, tanaman hortikultura, tanaman obat-obatan, tanaman perkebunan, dan tanaman kehutanan. Tanah merupakan tempat tumbuh tanaman, tubuh alam yang

1

berasal dari hancuran batuan dan bahan organik. Hal tersebut dapat dipelajari dari suatu penampang tegak atau profil tanah Nilai pH tanah sesungguhnya dipengaruhi oleh sifat dan ciri tanah yang kompleks sekali. Namun, yang menonjol antara lain : kejenuhan basa, sifat misel (koloid) dan macam kation yang terjerap (Hakim, dkk, 1986). Kisaran pH tanah dapat dibatasi pada dua ekstrim. Kisaran pH tanah mineral biasanya terdapat antara pH 3,5 – 10 atau lebih. Untuk tanah gambut pH tanah dapat kurang dari 3, sebaliknya tanah alkalis bisa menunjukan pH lebih dari 11. Kemasaman tanah yang sangat rendah dapat ditingkatkan dengan menebarkan kapur pertanian, sedangkan pH yang terlalu tinggi dapat diturunkan dengan penambahan sulfur. Sebelum pengapuran, pH tanah harus diketahui terlebih dahulu (Novizan, 2002). Pengaruh pH tanah yang utama bersifat hayati. Dimana pengaruh pH umumnya terbesar pada pertumbuhan tanaman adalah pengaruh pH terhadap persediaan hara. Persediaan atau kelarutan beberapa hara tanaman berkurang dengan peningkatan pH tanah (Foth, 1998) Kemasaman tanah (pH) dapat dikelompokkan sebagai berikut : (Arsyad,1989)

pH < 4,5 (sangat masam) pH 4,5 - 5,5 (masam) pH 5,6 - 6,5 (agak masam)

pH 6,6 - 7,5 (netral) pH 7,6 - 8,5 (agak alkalis) pH >8,5 (alkalis)

Al-dd merupakan unsur yang sering dijumpai di dalam tanah dan sangat menentukan kualitas tanah, karena ketersediaan unsur ini berpengaruh langsung terhadap pertumbuhan tanaman dengan cara berinteraksi meracuni perakaran. Khususnya tanah masam yang erat hubungannya dengan persantase ion H+ dan Al 3+ yag dipertukarkan karena alumunium merupakan sumber kemasaman yang sangat penting. Dengan persentase Al-dd yang tinggi berarti menunjukkan tingginya tingkat kemasaman suatu jenis tanah. Semakin masam suatu tanah berarti pH nya menurun sehingga ketersediaan unsur hara dalam tanah semakin menurun karena kemampuan unsur Al untuk mengikat unsur P

2

membentuk Al-P yang tidak tersedia dan tidak dapat diserap oleh akar tanaman. Penetapan Al dapat dilakukan melalui uji tanah. Tanah banyak mengandung ionion (-) sehingga kation yang dapat dipertukarkan hanyalah kation yang menempel pada tanah diantaranya Ca+, Mg+, K+, Na+, dll. Penetapan Al-dd juga dapat dilakukan dengan metode titrasi. Pada praktikum kali ini titrasi dilakukan dengan dengan menggunakan larutan NaOH 0,1 N, HCL 0,1 N, dan 10 ml NaF. Atmosfer terdiri dari 79 % nitrogen ( berdasarkan volume ) sebagai gas padat N2 yang tidak bereaksi dengan unsur-unsur lainnya yang menghasilkan suatu bentuk nitrogen yang dapat digunakan oleh sebagian besar tanaman. Peningkatan penyediaan nitrogen tanah untuk tanaman terdiri terutama dari meningkatnya jumlah pengikatan nitrogen secara biologis atau penambahan nitrogen pupuk. Diantara berbagai macam unsur hara yang dibutuhkan tanaman nitrogen merupakan salah satu diantara unsur hara makro tersebut yang sangat besar peranannya bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Nitrogen memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan pertumbuhan. Diantara tiga unsur yang biasa mengandung pupuk buatan yaitu kalium, fosfat, dan nitrogen, rupanya nitrogen mempunyai efek paling menonjol. Nitrogen total adalah jumlah total kjeldahl nitrogen (nitrogen organik dan berkurang), amonia, dan nitrat-nitrit. Hal ini dapat diturunkan dengan pemantauan untuk nitrogen total kjeldahl (TKN), amonia dan nitrat-nitrit individual dan menambahkan komponen bersama-sama. Penetapan N-total tanaman dan beberapa bahan kompleks yang mengandung N sangat sulit. Bahan-bahan yang membantu perubahan N menjadi NH4 adalah garam-garam, biasanya K2SO4 yang bertujuan untuk meningkatkan suhu. Selain itu beberapa katalisator seperti selenium, air raksa atau tembaga digunakan untuk merangsang dan mempercepat oksidasi bahan organik. Nitrogen dalam tanah berasal dari bahan organik tanah, bahan organik halus, N tinggi, C/N rendah, bahan organik kasar, N rendah C/N tinggi. Bahan organik merupakan sumber bahan N yang utama di dalam tanah. Selain N, bahan organik mengandung unsur lain terutama C, P, S dan unsur mikro. Pengikatan oleh mikrorganisme dan N udara.

3

Perbandingan C/N rendah cenderung dirombak lebih cepat dibandingkan dengan bahan tanaman yang mempunyai nisbih C/N tinggi. Perbandingan C/N rendah karena N yang tinggi dan tanaman yang memiliki lebih besar proporsi C dalam senyawa selulosa dan lignin yang tahan terhadap pelapukan, maupun sebaliknya. Kekurangan N dapat diatasi dengan menambah garam-garam N dalam pelapukan, sedangkan C tetap berada dalam bentuk yang tahan perombakan (Pairunan, 1997). Gejala-gejala kekurangan N adalah tanaman kerdil, pertumbuhan akar terbatas, daun-daun kuning dan gugur, dan gejala-gejala kebanyakan N adalah memperlambat kematangan tanaman, batang-batang lemah mudah roboh, dan mengurangi daya tahan pada tanaman. Tanah merupakan penyusun sebagian besar bumi ini disamping air. Sebagai tempat hidup seluruh organisme di bumi ini, tanah memiliki beberapa fungsi yaitu tanah sebagai dasar rumah kita, pembutan kerajinan dari tanah, sebagai sumber kehidupan dan media tumbuh bagi tanaman. Pernan tanah sebagai media tumbuhnya tanaman, tanah harus dapat menyediakan unsur-unsur yang dibutuhkan oleh tanaman untuk tumbuh. Salah satu faktor yang harus ada adalah bahan organik tanah (Subagyo 1970 ). Bahan organik adalah kumpulan senyawa-senyawa organik kompleks yang sedang atau telah mengalami proses dekomposisi baik berupa humus hasil humifikasi maupun senyawa anorganik hasil mineralisasi (disebut biontik) termasuk mikroba heterotrofik dan autotrofik yang terlibat (biotic). Bahan organik sangat penting bagi tumbuhan. Bahan organik tanah memiliki ukuran partikel 1% biomas terdapat dipermukaan horizon. Tanah yang kehilangan bahan organik dapat merugian bagi tumbuhan. Bahan organik tanah merupakan indikator kesuburan tanah. Bahan organik memiliki beberapa manfaat yang sangat penting bagi tanah. Diantaranya yaitu (1) Untuk menambah keasaman atau kebasaan tanah. (2) Mempengaruhi warna tanah. (3) Mempengaruhi ciri fisik tanah (mempengaruhi tekstur dan struktur). (4) Menambah kemampuan tanah untuk mengikat dan menahan unsur hara. (5) Sebagai sumber unsur hara N, P, S, unsur mikro.

4

Bahan organik memiliki pengaruh terhadap sifat tanah. Pertama, bahan organik dapat menurunkan plastisitas. Kedua, bahan organik dapat memperbaiki struktur tanah sehingga menjadi lebih remah. Ketiga, bahan organik dapat meningkatkan daya menahan air sehingga drainase tidak berlebihan, kelembapan dan temperatur tanah menjadi stabil. Keempat, terhadap fisik tanah bahan organik tanah membentuk struktur yang baik, terhadap kimia tanah bahan organik sebagai sumber nutrisi tanah atau sumber unsur hara dan terjadi kapasitas pertukaran kation yang tinggi dan trhadap biologi tanah sebagai suplai energi untuk bahan organisme tanah. Bahan organik biasanya berwarna cokelat dan bersifat koloid yang dikenal dengan humus. Humus terdiri dari bahan organik halus yang berasal dari hancuran bahan organik kasar serta senyawa-senyawa baru yang dibentuk dari hancuran bahan organik tersebut melalui suatu kegiatan mikroorganisme di dalam tanah. Humus merupakan senyawa yang resisten berwarna hitam atau cokelat dan mempunyai daya menahan air dan unsur hara yang tinggi. Tanah yang mengandung banyak humus atau mengandung banyak bahan organik adalah tanah-tanah titik atas atau tanah-tanah top soil. Bahan organik tanah berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman yaitu sebagai granulator yang berfungsi memperbaiki struktur tanah, penyediaan unsur hara dan sebagainya. (Saifuddin, 1988) Fosfor adalah salah satu hara makro yang penting untuk pertumbuhan tanaman, dan peranannya sebagai faktor pembatas pertumbuhan lebih penting daripada potasium. Sumber utama fosfor dalam tanah, yaitu: 1) pupuk buatan, 2) pupuk kandang, 3) sisa tanaman dan pupuk hijau, dan 4) senyawa alami organik dan anorganik. Senyawa-senyawa alami P-organik yang sering dijumpai dalam tanah seperti fluorapalit, karbonatoapatit, hidroksiapatit, oksiapatit, trikalsium fosfat, dikalsium fosfat, dan monokalsium fosfat. Pengendali ketersediaan Pbentuk fosfat yang dapat segera dimanfaatkan akan membantu pemberian saran perlu atau tidaknya dilakukan pemupukan fosfat, atau saran pengelolaannya (Notohadiprawiro, 1985). Anorganik mencakup pH tanah, besi, alumunium, magan terlarut, adanya pelican mengandung besi, adanya kalsium, jumlah dan arah peruraian bahan organik, serta kegiatan jasad renik tanah. Masalah yang

5

banyak dihadapi adalah jumlah P tersedia dalam tanah sangat sedikit. Telaah bentuk Fosfor di dalam tanah dapat dibedakan dalam dua bentuk yaitu P-organik dan P-anorganik. Kandungannya sangat bervariasi tergantung pada jenis tanah, tetapi pada umumnya rendah. (Handayanto dan Hairiyah, 2007). Fosfor organik di dalam tanah terdapat sekitar 50% dari P total tanah dan bervariasi sekitar 15-80% pada kebanyakan tanah. Bentuk-bentuk fospat ini berasal dari sisa tanaman, hewan dan mikrobia. Di sini terdapat berbagai senyawa ester dari asam orthofospat yaitu inositol , fosfolipid, asam nukleat, nukleotida, dan gula posfat. Tiga senyawa yaitu inositol, fosfolipid dan asam nukleat sangat dominan dalam tanah. Inositol fospat dapat memiliki satu sampai enam atom P setiap unitnya, dan senyawa ini dapat ditemukan dalam tanah atau organisme hidup (bakteri) yang dibentuk secara enzimatik. Asam nukleat sebagai DNA dan RNA menyusun 110% P-organik total. Sel-sel mikrobia (bakteri) sangat kaya dengan asam nukleat. Jika organisme tersebut mati maka asam nukleatnya siap untuk dimineralisasi. Ketersediaan P-organik bagi tanaman sangat tergantung pada aktivitas mikrobia untuk memineralisasikannya. Namun seringkali hasil mineralisasi ini bersenyawa dengan bagian-bagian anorganik untuk membentuk senyawa yang relatif sukar larut. Enzim fostafase berperan utama dalam melepaskan P dari ikatan P-organik. Enzim ini banyak dihasilkan dari mikrobia tanah,terutama yang bersifat heterotrof. Aktivitas fosfatase dalam tanah meningkat dengan meningkatnya Corganik,tetapi juga dipengaruhi oleh pH, kelembaban temperatur dan faktor lain. Dalam kebanyakan tanah total P-organik sangat berkorelasi dengan C-organik tanah, sehingga mineralisasi P meningkat dengan meningkatnya C-organik. Semakin tinggi C-organik dan semakin rendah P-organik semakin meningkat immobilisasi P. Fosfat anorganik dapat diimmobilisasi menjadi P-organik oleh mikrobia dengan jumlah yang bervariasi antara 25-100%. Bentuk P-anorganik dapat dibedakan menjadi P aktif yang meliputi Ca-P, AlP, Fe-P dan P tidak aktif, yang meliputi occhided-P , reductant-P , dan mineral P primer.Fospor anorganik di dalam tanah pada umumnya berasal dari mineral fluor apatit. Dalam proses hancuran iklim dihasilkan berbagai mineral P sekunder seperti hidroksi apatit, karbonat apatit, klor apatit dan lainnya sesuai dengan

6

lingkungannya. Selain itu ion-ion fospat dengan mudah dapat bereaksi ion Fe3+,Al3+,Mn2+ dan Ca2+, ataupun terjerap pada permukaan oksida-oksida hidrat besi, aluminium dan hidrat. P-anorganik berupa senyawa 3Ca(PO4)CaF Fluor apatit, 3Ca3(PO4)2CaCO3 Carbonat apatit, 3Ca2(PO4)2Ca(HO)2 Hidroksi apatit, 3Ca3(PO4)2CaO Oksi apatit, Ca(PO4)2CaCO3 Tri kalsium Phosfat, Ca3(PO4)2 Dikalsium phosfat, AlPO42H2O Variscit, FePO42H2O Strengit (Elfiati,2005). Buntan (1992) menjelaskan fosfor merupakan bahan makanan utama yang digunakan oleh semua organisme untuk energi dan pertumbuhan. Secara geokimia, fosfor merupakan 11 unsur yang sangat melimpah di kerak bumi. Seperti halnya nitrogen, fosfor merupakan unsur utama di dalam proses fotosintesis. Fosfor biasanya berasal dari pupuk buatan yang kandungannya berdasarkan rasio N-P-K. Sebagai contoh 15-30-15, mengindikasikan bahwa berat persen fostor dalam pupuk buatan adalah 30% fosfor oksida (P2O5). Fosfor yang dapat dikonsumsi oleh tanaman adalah dalam bentuk fosfat, seperti diamonium fosfat ((NH4)2HPO4) atau kalsium fosfat dihidrogen(Ca(H2PO4)2). Fosfat merupakan salah satu bahan galian yang sangat berguna untuk pembuatan pupuk. Sekitar 90% konsumsi fosfat dunia dipergunakan untuk pembuatan pupuk, sedangkan sisanya dipakai oleh industri ditergen dan makanan ternak. Mineralmineral fosfat adalah batuan dengan kandungan fosfor yang ekonomis. Kandungan fosfor pada batuan dinyatakan dengan BPL (bone phosphate of lime) atau TPL (triphosphate of lime) yang didasarkan atas kandungan P2O5. Menganalisis unsur fosfor atau P dapat digunakan menggunakan beberapa metode, salah satu diantaranya adalah metode P-Bray 1. Metode Bray 1 digunakan untuk menetapkan kandungan P-terjerap dengan menggunakan larutan

pengekstrak NH4F. Larutan ini akan membebaskan ion-ion F untuk menyekap Al, Fe dan Ca dari senyawa P dalam larutan asam, sehingga ion-ion P nya dapat dibebaskan. Metode Bray 1 menggunakan pengekstrak 0,03N NH4F dalam 0,025N HCl. Menutut Poerwowidodo (1992), terdapat beberapa metode lainnya dalam menganalisis fosfor atau P tersedia dalam tanah antara lain: 1.0 Analisis P tersedia menurut Olsen, 2.0 Analisis P tersedia menurut Bray 1, 3.0 Analisis P tersedia menurut MCU, dan 4.0 Analsis P-total.

7

Kapasitas tukar kation tanah didefinisikan sebagai kapasitas tanah untuk menyerap dan mempertukarkan kation. KTK biasanya dinyatakan dalam milliekivalen per 100 gram. Kation-kation yang berbeda dapat mempunyai kemampuan yang berbeda untuk menukar kation yang dijerap (Tan, 1998). Kapasitas tukar kation merupakan sifat kimia yang sangat erat hubungannya dengan kesuburan tanah. Tanah dengan KTK tinggi mampu menyerap dan menyediakan unsur hara lebih baik daripada tanah dengan KTK rendah. Karena unsur-unsur hara tersebut tidak mudah hilang tercuci oleh air (Hardjowigeno, 1995). Biasanya KTK tanah dipengaruhi oleh sifat dan ciri tanah itu sendiri, antara lain : reaksi tanah atau pH tanah, tekstur atau jumlah liat, jumlah mineral liat, bahan organik, pengapuran dan pemupukkan (Hakim, dkk, 1986). Kejenuhan basa (KB) merupakan suatu sifat yang berhubungan dengan KTK. Ia didefinisikan sebagai berikut :

KB = (Basa–basa yang dapat dipertukarkan) x 100 % KTK Kejenuhan basa (KB) sering dianggap sebagai petunjuk tingkat kesuburan tanah. Kemudahan pelepasan kation terjerap untuk tanaman tergantung pada tingkat kejenuhan basa. Pengapuran merupakan cara yang umum untuk meningkatkan kejenuhan basa (Tan, 1998). Kejenuhan basa sering dianggap sebagai petunjuk tingkat kesuburan tanah, kemudahan pelepasan kation terjerap untuk tanaman tergantung pada tingkat kejenuhan basa. Suatu tanah dianggap sangat subur jika kejenuhan basanya > 80%, kesuburan sedang jika kejenuhan basanya antara 50-80 %, dan tidak subur jika kejenuhan basanya < 50%. Suatu tanah dengan kejenuhan basa sebesar 80% akan melepaskan basa-basa yang dapat dipertukarkan lebih mudah dari pada tanah dengan kejenuhan basa 50%. Pengapuran merupakan cara yang umum untuk meningkatkan persen kejenuhan basa (Tan, 1998) Tanah sebagai tubuh alam, sifat fisik, kimia, biologi tanah sangat berpengaruh pada kegiatan pertanian. Faktor fisik tanah yang sangat berpengaruh kegiatan pertanian antara lain tekstur, struktur, konsistensi, kapasitas memegang

8

air, kapasitas infiltrasi, permeabilitas, drainase, kedalaman efektif, dsb. Faktor kimia tanah yang penting adalah kandungan hara tersedia makro dan mikro, pH tanah, kandungan bahan organic, kapasitas tukar kation, kadar bahan beracun (Aldd) dsb. Sedangkan faktor biologi yang penting adalah jumlah dan aktifitas organisme dalam tanah. Tindakantindakan terhadap tanah, umumnya ditujukan untuk menambah dan menjamin keseimbangan hara dan bagi tanaman, mencegah keracunan, kehilangan, serta manipulasi kondisi lingkungan hiungga sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangahn tanaman dan hewan. Dalam pengelolaan pertanian, pemanfaatan maksimal faktor-faktor tersebut harus diperhatikan untuk menjaga produktivitas dan kegunaan tanah secara lestari. Pertanian modern memerlukan sarjana yang mengerti cara-cara

menganalisis baik di laboratorium maupun di lapangan, serta tagu dan mampumemilih bahan-bahan untuk mengembangkan pertanian dalam arti luas. Untuk mencapai tujuan tersebutpeningkatan keterampilan yang menunjang perkembangan pertanian modern sangat diperlukan. Tanah sebagai cabang ilmu yang menunjang menunjang langsung pertanian tidak lepas dari hal di atas. Untuk membekali lulusan pengetahuan tentang tanah, maka mahasiswa perlu belajar mengamati berbagai proses yang terjadi di dalam tanah dan proses-pross identifikasi sifat-sifat tanah mulai dari teknik pengambilan contoh, pengenalan morfologi tanah, teknik konservasi tanah, analisis tanah di lapang, teknik pengelolaan tanah, dan pengenalan berbagai jenis pupuk sebagai bahan yang digunakan untuk meningkatkan kualitas tanah guna meningkatkan

produktivitasnya. Untuk menjamin keberlanjutan kehidupan dan kesejahteraan manusia maka diperlukan perlindungan terhadap tanah. Oleh karena itu pengamatan di lapangan perlu dilakukan dan menjadi sangat penting untuk mengidentifikasi profil tanah. Tanah adalah material yang tidak padat yang terletak di permukaan bumi, sebagai media untuk menumbuhkan tanaman (SSSA, Glossary of Soil Science Term). Tanah sebagai tubuh alam mempunyai berbagai macam fungsi utama, diantaranya pertama sebagai media tumbuhan tanaman yang menyediakan hara dan air. Kedua sebagai gudang unsur-unsur hara makro dan mikro serta mengatur penyediaan bagi tanaman. Ketiga sebagai tempat tunjangan mekanik akar

9

tanaman. Tanah dari tempat ke tempat tanah berbeda. Misalnya pada lereng yang curam tanah tidak sedalam dan seproduktif seperti tanah yang terdapat di tempat yang datar. Sifat-sifat tanah yang dibentuk di daerah tropic akan berbeda dari tanah yang dibentuk di daerah sub tropic. Selain itu kita juga harus mempelajari tentang morfologi tanah tersebut untuk meningkatkan kualtas tanah guna meningkatkan produktivitasnya. Seorang ahli tanah menganggap tanah sebagai tubuh alam yang berdimensi dalam dan luas. Ia juga memandang tanah sebagai hasil kerja gaya-gaya pembangunan dan penghancur. Pelapukan bahan organic merupakan kejadian destruktif, sedangkan pembentukan mineral baru sepetii liat, dan perkembangan suatu horizon merupakan kejadian sintetik.(goeswono soepardi, 1983). Tanah di kelompokkan dalam tiga definisi yaitu: berdasarkan pandangan ahli geologi, berdasarkan pandangan ahli ilmu alam murni, berdasarkan pandangan ilmu pertanian. Menurut ahli geologi (berdasarkan pendekatan Geologis). Tanahdidefiniskan sebagai lapisan permukaan bumi yang berasal dari bebatuan yang telah mengalami serangkaian pelapukan oleh gaya-gaya alam, sehingga membentuk regolit (lapisan partikel halus). Menurut Ahli Ilmu Alam Murni (berdasarkan pendekatan Pedologi) Tanah didefinisikan sebagai bahan padat (baik berupa mineral maupun organik) yang terletak dipermukaan bumi, yang telah dan sedang serta terus mengalami perubahan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor: bahan induk, iklim, organisme, topografi, dan waktu. Menurut Ahli Pertanian (berdasarkan pendekatan Edapologi) tanah didefinisikan sebagai media tempat tumbuh tanaman. Fungsi tanah secara fisik adalah sebagai tempat tumbuh dan

berkembangnya perakaran sebagai penopang tumbuh tegaknya tanaman dan menyuplai kebutuhan air dan hara ke akar tanaman. Fungsi tanah secara kimiawi adalah sebagai gudang dan penyuplai hara atau nutrisi (baik berupa senyawa organik maupun anorganik sederhana dan unsur-unsur esensial, seperti: N, P, K, Ca, Mg, S, Cu, Zn, Fe, Mn, B, Cl). Fungsi tanah secara biologi sebagai habitat dari organisme tanah yang turut berpartisipasi aktif dalam penyediaan hara tersebut dan zat-zat aditif bagi tanaman. Integritas dari ketiganya (fisik, kimiawi, dan biologi) secara integral mampu menunjang produktivitas tanah untuk

10

menghasilkan biomass dan produksi baik tanaman pangan, tanaman sayursayuran, tanaman hortikultura, tanaman obat-obatan, tanaman perkebunan, dan tanaman kehutanan. Tanah merupakan tempat tumbuh tanaman, tubuh alam yang berasal dari hancuran batuan dan bahan organik. Hal tersebut dapat dipelajari dari suatu penampang tegak atau profil tanah Kurfa pF menggambarkan hubungan antara kadar air dengan tegangan air pada tanah tertentu. Disebut juga sebagai kurva pF atau kurva retensi air tanah Kadar air dinyatakan dalam persamaan volume, sedangkan tegangan air dinyatakan dalam nilai logaritma tinggi kolom air dalam cm. . Banyaknya kandungan air dalam tanah berhubungan erat dengan besarnya

tegangan air (moisturetension) dalam tanah tersebut. Besarnya tegangan air menunjukkan besarnya tenaga yangdiperlukan untuk menahan air tersebut di dalam tanah. Tegangan diukur dalam bar atau atmosfir atau cm air atau logaritma dari cm air yang disebut pF. Satuan bar dan atmosfir sering dianggapsama karena 1 atm = 1,0127 bar.Jadi semakin mampat suatu struktur tanah, maka pori pori tanah juga semakin kecil. Sehinggakadar air tanah ditentukan oleh tingkat kerapatan pori, semakin rapat suatu pori tanah makakandungan air dalam tanah juga akan semkin kecil. Tekanan air dalam tanah juga berpengaruhterhadap struktur tanah. Jenis tanah yang ada di suatu tempat ditentukan oleh batuan induk, iklim, topografi, bahan organik dan umur. Jenis-jenis tanah yang terdapat diindonesia adalah sebagai berikut : 1. Tanah Humus adalah tanah yang sangat subur terbentuk dari pelapukan daun dan batang pohon di hutan hujan tropis yang lebat. 2. Tanah Pasir adalah tanah yang bersifat kurang baik bagi pertanian yang terbentuk dari batuan sedimen yang memiliki butir kasar dan berkerikil. 3. Tanah Aluvial / Tanah Endapan adalah tanah yang dibentuk dari lumpur sungai yang mengendap di dataran rendah yang memiliki sifat tanah yang subur dan cocok untuk lahan pertanian.

11

4. Tanah Podzolik adalah tanah subur yang umumnya berada di pegunungan rendah/dingin. 5. Tanah Vulkanik / Tanah Gunung Berapi adalah tanah yang terbentuk dari lapukan materi letusan gunung berapi yang subur mengandung zat hara yang tinggi. Jenis tanah vulkanik dapat dijumpai di sekitar lereng gunung berapi. 6. Tanah Laterit adalah tanah tidak subur yang tadinya subur dan kaya akan unsure hara, namun unsure hara tersebut hilang karena larut dibawa oleh air hujan yang tinggi. Contoh : Kalimantan Barat dan Lampung. 7. Tanah Mediteran / Tanah Kapur adalah tanah yang sifatnya tidak subur yang terbentuk dari pelapukan batuan yang kapur. Contoh : Nusa Tenggara, Maluku, Jawa Tenggah dan Jawa Timur. 8. Tanah Gambut / Tanah Organosol adalah jenis tanah yang kurang subur untuk bercocok tanam yang merupakan hasil bentukan pelapukan tumbuhan rawa. Contoh : Rawa Kalimantan, Papua, dan Sumatra. Lahan berbeda dengan tanah. Lahan merupakan suatu kawasan yang mempunyai sifat-sifat yang sama seperti jenis tanah, topografi, dan drainase serta dapat digunakan untuk tujuan tertentu. Contoh: lahan sawah, tegalan, pekarangan, dan lahan pasang surut. B. Tujuan Praktikum penetapan reaksi tanah (pH) bertujuan menentukan pH masingmasing sampel tanah (Andosol, Latosol, Mediteran, Podzolik), menentukan dengan curah hujan yang tinggi dan bersuhu

mudah tidaknya unsure-unsur hara diserap tanaman, dan menetapkan kebutuhan kapur metode SMP. Praktikum penetapan Al yang dapat dipertukarkan bertujuan menetapkan jumlah Alumunium yang dapat dipertukarkan dengan metode titrasi. Praktikum penentuan Fosfor tersedia dalam tanah bertujuan mencari nilai larutan standar, nilai absorbans contoh larutan dan menentukan kandungan fosfor

12

dalam keempat sampel tanah yang diuji (Andosol, Latosol, Mediteran, dan Pozdazolik) dengan menggunakan metode P-Bray 1. Praktikum penentuan Bahan Organik yang terkandung dalam tanah bertujuan mengetahui kandungan bahan organik tanah pada tanah Andosol, Latosol, Mediteran dan Podzolik. Praktikum penentuan Kapasitas Tukar Kation (KTK) dan Kejenuhan Basa (KB) bertujuan mengetahui kemampuan tanah menjerap dan mempertukarkan kation, menentukan banyak sedikitnya tempat yang diduduki oleh kation-kation basa pada kompleks jerapan yang menggambarkan kejenuhan basa pada tanah (KB) dan mengetahuo peranan KTK dalam kesuburan tanah. Praktikum penetapan Nitrogen total bertujuan menetapkan nitrogen total yang terkandung dalam tanah dan beberapa bahan kompleks yang mengandung nitrogen. Praktikum pengambilan contoh tanah bertujuan untuk menentukan kebenaran hasil analisis di laboratorium ( penetapan sifat fisik tanah, kerapatan distribusi ruang dan pH), mengetahui karakteristik kelembaban tanah, bobot isi, serta faktor-faktor yang mempengaruhinya, dan mengetahui hal0-hal yang perlu diperhatikan dalam pengambilan contoh tanah yang dianalisis.

Praktikum morfologi tanah bertujuan mengetahui sifat-sifat fisik tanah di suatu lokasi tertentu, mengetahui sifatsifat tanah (latosol, dan podzolik), dan mempelajari proses pembentukan profil tanah. Praktikum kurfa pF bertujuan mempelajari kurfa pF yang merupakan kurva yang menggambarkan hubungan antara kadar air dengan tegangan air tanah

13

BAB II ALAT, BAHAN DAN METODE A. Alat dan Bahan Alat-alat yang digunakan dalam praktikum derajat keasaman tanah (pH) ialah neraca analitik, mesin pengocok, pH meter, erlenmeyer, buret, gelas ukur serta gelas piala, pipet, kertas saring dan tissue. Bahan-bahan yang digunakan ialah empat sampel tanah (andosol, latosol, mediteran dan podzolik), aqudest, KCl 1 N. Alat-alat yang digunakan dalam praktikum Al yang dapat dipertukarkan ialah neraca analitik, erlenmeyer, gelas ukur, gelas piala, kertas saring, pipet mohr, dan mesin pengocok. Bahan-bahan yang digunakan ialah empat sampel tanah, aquades, indikator fenoftalein, KCL 1 N, NaOH 0,1 N, HCL 0,1 N dan NaF 10 ml. Alat-alat yang digunakan dalam praktikum penetapan P dalam tanah dengan metode P-Bray1 ialah labu ekstrasi, mesin pengocok, pipet mohr, labu reaksi, kertas saring, corong dan spektrofotometer. Bahan-bahan yang digunakan ialah empat sampel tanah (andosol, latosol, mediteran dan podzolik) masing-masing seberat 1,5 gram, pengekstrak P-A , pengekstrak P-B dan pereduksi P-C. Alat-alat yang digunakan dalam praktikum bahan organik tanah ialah

erlenmeyer 500ml, pipet mohr, buret untuk titrasi gelas ukur dan ruang asap. Bahan-bahan yang digunakan ialah beberapa sampel tanah kering udara seperti tanah andosol 0,20 gram, tanah latosol 0,50 gram, tanah mediteran 0,50 gram dan tanah podzolik 0,50 gram, K2Cr2O7, H2SO4, indikator ferroin 0,025 M, FeSO4 0,5 N, dan aquades. Alat- alat yang digunakan dalam praktikum penetapan Nitrogen total yang terkandung dalam tanah ialah neraca analitik, labu kjeldahal 25 ml, labu destilasi, erlenmeyer, pipet tetes, dan buret. Bahan-bahan yang digunakan ialah empat sampel tanah( andosol, latosol, mediteran, podzolik) masing-masing 500 mg, campuran Se, CuSo4, Na2SO4, larutan H2SO4, cairan parafin, NaOH 50%, H3BO4 4%, indikator conway, dan HCl.

14

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum penentuan Kapasitas Tukar Kation (KTK) dan Kejenuhan Basa (KB) ialah timbangan analitik, tabung sentrifuse, pengaduk gelas, saringan, labu takar 100 ml, labu didih, erlenmeyer 250 ml, erlenmeyer 100 ml, kertas saring, pipet dan penangas air. Bahan-bahan yang digunakan ialah 5g sampel tanah, 20 ml larutan NH4OAc N pH 7, 20 ml alkohol 80%, pereaksi Nester, batu didih, parafin cair, 20 ml NaOh 50 %, 25 ml H2SO4 0,1 N, indikator Conwai, NaOH 0,1 N, 25 ml HCL 0,1 N dan Indikator metil merah. Alat-alat yang digunakan dalam praktikum pengambilan contoh tanah cangkul atau sekop, pisau, catter ,alat penekan, kotak penyimpan tabung, kertas label, ring sampel, penggaris, martil dan golok. Bahan yang digunakan ialah sepetak lahan. Alat-alat yang digunakan ialah buku munsel soil colour chart, meteran, clinometer dan alat tulis. Bahan-bahan yang digunakan ialah sampel tanah, air keran, alas tanah. B. Metode a. pH, EC/DHL dan Kebutuhan Kapur pH H2O ( 1:1 ) Ditimbang 10 gram tanah (contoh tanah-tanah yang diatas) kemudian diukur 10 ml aquades lalu masukan kedalam gelas ukur. Kemudian kedua bahan tersebut masukan kedalam gelas kocok, yang kemudian dimasukan kedalam mesin pengocok selama 30 menit. Lalu diamkan selama 5 menit. Setelah didiamkan larutan diukur pHnya dengan pHmeter. pH H2O (5:1) Ditimbang 10 gram tanah (contoh tanah-tanah yang diatas) kemudian diukur 50 ml aquades lalu masukan kedalam gelas ukur. Kemudian kedua bahan tersebut masukan kedalam gelas kocok, yang kemudian dimasukan kedalam mesin pengocok selama 30 menit. Lalu

15

diamkan selama 5 menit. Setelah didiamkan larutan diukur pHnya dengan pHmeter. pH KCl (1:1) Ditimbang 10 gram tanah (contoh tanah-tanah yang diatas) kemudian diukur 10 ml KCl lalu masukan kedalam gelas ukur. Kemudian kedua bahan tersebut masukan kedalam gelas kocok, yang kemudian dimasukan kedalam mesin pengocok selama 30 menit. Lalu diamkan selama 5 menit. Setelah didiamkan larutan diukur pHnya dengan pH meter.
1413  X ....... mos/ cm ~mmhos/cm 110 ,8

Catatan : DHL =

Ket :1413 dan 110.8 (setelah dikalibrasi) merupakan ketetapan DHL Kebutuhan kapur Ditimbang 1 gr kapur pertanian (kaptan). Masukan kaptan tersebut kedalam erlemeyer dan kemudian diukur 50 ml HCl didalam gelas ukur, lalu dicampurkan juga kedalam erlemeyer, kemudian di kocok dan dimsukkan kedalam ruang asap sampai mendidih selama 30menit. Masukkan 50ml aquades yang kemudian diteteskan indikator fenolftalen (pp). Tahap terakhir titrasi larutan dengan NaOH sampai larutan berubah warna, dihitung berapa mL larutan yg terpakai sampai berubah warna. Dengan rumus : % DN = (ml HCl x N HCl) – (ml NaOH x N NaOH) (Mr NaOH) x 100% = ( 50 ml HCl x 1) – (ml NaOH x 0,1) 40 x 100 % Ket : 0,1926 = N NaOH  dari Laboran
16

Umumnya pakai 0,1 karena kalau 0,1926 DNnya rendah sekali

b. Al yang dapat dipertukarkan Timbang 5 gr tanah, masukkan ke dalam erlenmeyer 125m. Tambahkan 50 ml larutan KCl 1N. Tambahkan 50ml larutan KCl 1N, kocok dengan mesin pengocok selama 30 menit. Saring dan tampunglah hasil saringan. Pipet 25ml hasil saringan, masukkan ke dalam erlenmeyer 125ml. Ditambahkan 5 tetes larutan indikator Penolptalein Tambahkan 5 tetes indikator Penolptalein. Titrasi dengan NaOH 0,1N sampai timbul warna merah muda permanen. Ditambahkan (± 1 tetes HCl 0,1N).

Ditambahkan ± 1 tetes HCl 0,1N sampai warna merah muda lenyap lagi Ditambahkan 10ml NaF 4%, warna merah akan timbul kembali. Titrasi lagi dengan HCl 0,1N sampai warna merah tadi hilang kembali. Jumlah asam yang dipakai akan sama dengan jumlah Al yang dapat dipertukarkan Cari ppm Al berdasarkan hasil data yang didapat. Ppm Al = ((ml HCl x N HCl) 〖x fp x 9x10〗^3)/(Bobot tanah kering 105°C) me Al/100g = ppm Al/90.

c. C-Organik dalam tanah Tanah yang bobot keringnya telah diukur, ditempatkan dalam labu erlenmeyer 500 ml. Sepuluh mililiter larutan K2Cr2O7 dipipet sambil digoyangkan perlahan-lahan agar tanah dan larutan K2Cr2O7 tercampur merata. Duapuluh mililiter larutan H2SO4 pekat ditambahkan di ruang asap sambil digoyang cepat hingga tercampur rata. Campuran tersebut dibiarkan di ruang asap selama 30 menit hingga dingin. Campuran diencerkan dengan 100 ml air bebas ion atau air destilata. Empat tetes indikator ferroin 0,025 M ditambahkan ke cairan tersebut lalu dititrasi dengan larutan FeSO4 hingga larutan tetep berwarna merah anggur. Blanko ditetapkan sama seperti langkah kerja di awal, tetapi tanpa menggunakan conoh tanah. Persen C-organik dan bahan organik dihitung dengan rumus sebagai berikut:

17

% C-Organik= (V blanko- V Contoh) N FeO4 x 0,003 x f x 100 BKM d. Nitrogen Total dalam tanah Menimbang tanah sebanyak 500mg dan memasukkannya ke dalam labu Kjeldahl yang berukuran 25ml. Menambahkan 1.9g campuran Se, CuSO4 dan Na2SO4. Menambahkan 5ml H2SO4 pekat ke dalm labu kemudian labu tersebut digoyangkan perlahan-lahan agar semua tanah terbasahi oleh H2SO4. Campuran tanah tersebut dijaga agar tidak memercik ke dinding labu. Menambahkan 5 tetes parafin cair. Memanasi labu di kamar asap dengan api kecil kemudian perlahan-lahan api diperbesar, shingga diperoleh suatu cairan yang berwarna terang (hijau biru). Memanasi labu 15 menit lagi, lalu didinginkan. Menambahkan air sebanyak 50ml dan menggoyangkan sebentar kemudian memindahkan isi labu secara kuantitatif kedalam labu destilasi. Bahan cairan dalam labu destilasi tidak boleh melebihi setengah dari isi labu. Menambahkan 20ml NaOH 50% kedalam labu destilasi. Memulai destilasi dengan menampung destilasi dalam Erlenmeyer berukuran 125ml yang telah berisi campuran 10ml H3BO4 4% dan 5 tetes indikator Conway. Mengisi destilat sebanyak 100ml. Mentitrasi destilat dengan HCl yang telah dibakukan sampai terjadi perubahan warna dari hijau ke merah. Melakukan penetapan blanko. e. Fosfor dalam tanah dengan metode P-Bray 1 Tanah andosol, latosol, mediteran, podsolik terlebih dahulu disiapkan dan masing-masing tanah diambil sebanyak 1,5 gram dimasukkan ke dalam labu ekstraksi yang berbeda-berbeda, disisakan 1 labu ekstarksi kosong sebagai blanko. Masing-masing labu takar ditambahkan 15 ml larutan P-A., dan dikocok dengan menggunakan mesin pengocok selama 15 menit. Setelah 15 menit, hasil kocokkan dari masingmasing labu takar disaring dengan menggunakan corong dan kertas saring agar mendapat air ekstraksi tanah, dan air tersebut dimasukkan ke dalam erlenmeyer. Hasil ekstraksi tersebut dipipet 5 ml dan dipindahkan ke
18

dalam tabung reaksi dan tambahkan larutan P-B sebanyak 5 ml, lalu dikocok. Setelah larut oleh larutan P-B, ditetesi + 5 tetes larutan produksi PC dikocok lagi dan tunggu hingga 15 menit. Setelah 15 menit, dibaca kerapatan optik/ absorbansinya dengan menggunakan alat

spektrofotometer pada panjang gelombang 660 mµ. Untuk selanjutnya dilakukan pembakuan dengan membuat satu seri larutan baku yang mempunyai konsentrasi 0, 1, 2, 3, 4, dan 5 ppm P. Larutan ini dibuat dari larutan baku, dengan masing-masing konsentrasi diberi volume 0, 0.5, 1, 1.5, 2, 2.5 dan masing-masing larutan diencerkan dengan larutan Bray 1 dalam labu takar 50 ml. Diambil 5 ml larutan baku yang telah dibuat, lalu dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan ditambahkan 5 ml larutan P-B serta 5 tetes larutan P-C. Larutan-larutan tersebut dibaca absorbansinya dengan spektrofotometer pada panjang gelombang yang sama (660 mµ ). f. Kapasitas Tukar Kation (KTK) dan KB (Kejenuhan Basa) Langkah awal yang dilakukan dalam percobaan kapasitas tukar kation ialah contoh tanah kering udara dengan ukuran 2 mm ditimbang sebanyak 5 gram dan dimasukan kedalam tabung sentrifuse 100 mL. larutan NH4OAc pH 7 ditambahkan sebanyak 20 mL dan diaduk sampai merata. Campuran dibiarkan selama 24 jam. Campuran di sentrifuse selama 10 menit sampai 15 menit dengan kecepatan 2500 rpm. Ekstrak NH4OAc di dekantasi dan disaring melalui saringan. Filtrate yang diperoleh ditampung didalam labu takar 100 mL.Larutan NH4OAc pH 7 ditambahkan kembali dan diulangi sampai 4 kali. Campuran disentrifuse dan ekstraknya didekantasi kedalam labu takar 100 mL sampai tanda tera. Alkohol 80% ditambahkan kedalam campuran sebanyak 20 mL untuk pencucian NH4+ sebanyak 7 kali hingga campuran bebas NH4+ dengan pereaksi Nesler. Tanah dipindahkan secara kuantitatif dari tabung sentrifuse kedalam labu didih setelah bebas NH4+. Air ditambahkan sebanyak 450 mL. batu didih ditambahkan sebanyak 5 sampai 6 butir kedalam labu didih. Paraffin cair sebanyak 5 sampai 6 tetes dan NaOH 50

19

% sebanyak 20 mL ditambahkan kedalam labu didih, kemudian didestilasi. Destilat ditampung dalam Erlenmeyer 250 mL yang berisi 25 mL H2SO4 0,1 N dan 5 sampai 6 tetes indikator Conway. Destilasi dihentikan setelah tampungan destilat mencapai 150 mL. kelebihan asam dititrasi dengan NaOH 0,1 N. titrasi dihentikan ketika warna berubah menjadi hijau. Destilasi dilakukan tanpa tanah sebagai blanko. Besarnya KTK dihitung dengan suatu rumus. KTK( )
( ( ) )

Langkah kedua yang dilakukan dalam percobaan kejenuhan basa ialah ekstrak NH4OAc pada penetapan KTK dipipet sebanyak 25 mL. larutan tersebut dimasukan kedalam cawan porselin dan diuapkan dalam penangas air. Campuran dibiarkan hingga cukup dingin dan dipindahkan kedalam moffel oven dengan suhu 600 C sampai isi cawan berubah menjadi abu putih. Cawan diambil dari moffel oven dan didinginkan. Larutan HCl 0,1 N sebanyak 25 mL ditambahkan untuk melarutkan abu. Larutan dipanaskan diatas nyala api kecil selama 3 menit. Larutan didinginkan sebentar dan dipindahkan secara kuantitatif kedalam labu Erlenmeyer 100 mL serta ditempatkan diatas penangas air selama 3 menit. Indikator metal merah ditambahkan sebanyak 4 tetes dan dititrasi dengan larutan NaOH 0,1 N sampai mencapai titik akhir. Blanko dititrasi dengan larutan NaOH 0,1 N. Presentasi kejenuhan basa dari contoh tersebut dihitung dengan suatu rumus.
% KB  Ca  Mg  K  Na x 100% KTK

g. Morfologi Tanah Tahapan pengamatan yang pertama adalah mengidentifikasi penampang tanah dengan membaginya menjadi beberapa horizon, pembatasan horison dilakukan dengan melihat warna secara umum dan menusuk-nusuk atau mencukil-cukil dinding penampang yang akan dideskripsi, untuk mengetahui perbedaan kekerasan atau kepadatan dari

20

keseluruhan penampang. Sementara itu dengan tangan kiri untuk merasakan perbedaan tekstur dengan meremas-remas tanahnya. Kemudian dilakukan pengukuran kedalaman tiap horizon. Tanah latosol memiliki solum yang dalam dengan horizon B yang tebal. Batas antar horizon baur dimana lebar peralihan antara 10-20 cm. Bentuk topografi batas horizon berombak dan tidak teratur. Sedangkan horizon podsolik dapat dibedakan dengan jelas yang memiliki batas nyata hingga jelas dan benttuk horizon tidak teratur. Tahapan selanjutnya adalah menentukan warna masingmasing horizon tanah dengan buku Munsell Soil Color Chart. Selanjutnya diamati tekstur dan struktur tanah.

h. Kurva pF dan Distribusi Ukuran Pori Mengambil contoh tanah dari lapang dengan kuningan (tabung), mengambil tanah dari tabung setebal sebesar 1 cm, kemudian mengambil 1,5 cm dibagi 3 masing untuk pF 1( tekanan 10 cm air) pF 2(tekanan 100cm air) pF 2,54 (tekanan 1/3 atm), untuk pF 4,2 (tekanan 15 atm), digunakan contoh tanah udara kering berukuran kurang dari 2 mm. Penetapan 1,2 dan 2,54 diletakkan diatas piringan dalam “pressure plate apparatus”. Sedangkan untuk penetapan 4,2 diletakkan diatas piringan dalam “pressure membrane appratus”. Jenuhi contoh tanah dengan air sampai berlebihan dibiarkan selama 48 jam, menutup alat rapat-rapat dan berikan tekanan sesuai dengan pF yang dikehendaki. Keseimbangan akan tercapai setelah kira-kira 48 jam, tekanan tersebut bekerja. Mengeluarkan contoh tanah untuk menetapkan kadar airnya, dan membuat kurva pF. Menghitung porositas total, kemudian membuat persen pori dranase sangat cepat, setelah itu menghitung persen pori drananse cepat dan menghitung pori dranase pori lambat,

21

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN a. pH, EC/DHL dan Kebutuhan Kapur Tabel 1 Data pH, EC/DHL dan Kebutuhan Kapur

No.

Metode

Andosol Latosol Mediteran Podzolik 4.35 4.42 4.37 4.28 4.36 4.36 4.31 4.33 4.35 4.34 4.33 4.33 4.45 4.45 4.49 4.50 4.47 4.47 120.20 69.90 118.00 119.90 107.00 107.00 5.08 5.16 4.69 4.69 4.91 4.91 4.38 4.39 4.40 4.41 4.40 4.40 4.53 4.50 4.53 4.50 4.52 4.52 3.71 3.70 3.71 3.73 3.71 3.71 29.40 30.40 23.40 24.40 26.90 26.90 5.27 5.25 4.40 4.42 4.84 4.84 6.00 6.17 6.19 6.23 6.15 6.15 6.29 6.31 6.20 6.39 6.30 6.30 5.18 5.37 5.31 5.35 5.30 5.30 82.70 90.80 73.50 74.60 80.40 80.40 6.53 6.57 6.10 6.12 6.33 6.33 4.16 4.14 4.22 4.20 4.18 4.18 4.44 4.41 4.44 4.39 4.42 4.42 3.48 3.47 3.52 3.50 3.49 3.49 92.40 92.60 73.50 74.70 83.30 83.30 4.25 4.20 3.74 3.75 3.99 3.99

1

pH H2O (1:1) Rata-rata pH H2O (1:2,5) Rata-rata pH KCl (1:1) Rata-rata

2

3

4

EC

Rata-rata

5

pH SMP

Rata-rata

22

Praktikum Reaksi pH Tanah dilakukan dengan menguji kadar H+ yang dikandung oleh tanah selain itu praktikum ini menguji kadar Daya Hantar Listrik (DHL). pH tanah disebut juga Kemasaman Tanah. Kemasaman tanah sangat terdapat pada tanah dengan curah hujan tinggi, cukup banyak basa yang bias tertukar dari permukaan tanah. Pengaruhnya sangat besar terhadap tanaman sehingga kemasaman tanah harus diperhatikan karena merupakan sifat tanah yang sangat penting (Buckmandan Brady, 1982). pH tanah yang rendah menyebabkan terganggunya pertumbuhan tanaman. pH tanah yang rendah disebabkan oleh banyak faktor diantaranya : (1) perusakan sel-sel akar langsung oleh H+, (2) terganggunya penyerapan unsur hara, (3) meningkatnya kelarutan Al, Fe, & Mn sehingga meracuni tanaman, (4) berkurangnya ketersediaan Mo dan P, (5) rendahnya kandungan basa seperti Ca, Mg, & K. pH tanah yang terlalu tinggi juga menyebabkan pertumbuhan tanaman terganggu. Pertumbuhan tanah yang terganggu disebabkan oleh unsur mikro seperti Zn, Cu, B, Fe, & Mn menjadi kurang tersedia bagi tanaman. Sedangkan kelarutan P berkurang karena diendapkan oleh Ca & Mg. pH tanah adalah salah satu dari beberapa indicator kesuburan tanah, sama dengan keracunan tanah. Level optimum pH tanah untuk aplikasi penggunaan lahan berkisar antara 5–7,5. Tanah dengan pH rendah (acid) dan pH tinggi (alkali) membatasi pertumbuhan tanaman. Efek pH tanah pada umumnya tidak langsung. Di dalam kultur larutan umumnya tanaman budi daya yang dipelajari pertumbuhannya baik/sehat pada level pH 4,8 atau lebih (Bunting, 1981). Beradasarkan hasil Data yang didapatkan dari praktikum dan tercantum pada tabel. Tanah mediteran paling mendekati angka stabil atau angka layak tanam dalam uji pH H20(1:1), pH H20 (1:2,5) dan pH KCl. Tanah latosol,

andosol, podsolik memiliki angka yang hamper sama pada setiap uji, namun pada setiap poinnya penghuni pH terendah adalah tanah podzolik pada pH H20(1:1), tanah andosol pada pH H20(1:2,5), dan tanah latosol pada pH KCl.

23

b. Al yang dapat dipertukarkan Tabel 2 Data Pengamatan Al-dd NaOH No. Jenis Tanah Volume Volume Awal 1.32 2.20 1 Andosol 5.60 6.40 3.88 Rata-rata 3.88 2.66 3.82 2 Latosol 7.10 10.20 5.95 Rata-rata 5.95 0.66 0.80 3 Mediteran 18.70 5.80 6.49 Rata-rata 6.49 1.04 4.54 4 Podzolik 11.50 15.90 8.25 Rata-rata 8.25 akhir 2.20 2.66 6.40 7.10 4.59 4.59 3.82 5.82 10.20 11.50 7.84 7.84 0.80 1.04 19.50 6.40 6.94 6.94 4.54 8.00 14.90 18.70 11.54 11.54 Volume yang digunakan 0.88 0.46 0.80 0.70 0.71 0.71 1.16 2.00 3.10 1.30 1.89 1.89 0.14 0.24 0.80 0.60 0.45 0.45 3.50 3.46 3.40 2.80 3.29 3.29 5.24 2.40 6.40 6.80 5.21 5.21 8.88 4.80 6.80 10.00 7.62 7.62 3.64 2.40 0.40 3.20 2.41 2.41 3.08 3.08 3.62 4.32 0.72 4.50 3.29 3.29 0.72 2.51 2.51 4.32 5.24 1.70 5.80 4.27 4.27 0.72 0.46 0.46 0.70 0.92 0.98 1.30 0.98 0.98 HCl Volume Volume Awal 2.96 3.20 akhir 3.20 3.62 Volume yang digunakan 0.24 0.42

24

Perhitungan :

BKU Andosol BKU Latosol BKU Mediteran BKU Podzolik

: 8,84 : 8,82 : 8,82 : 8,73 KA = (BKU – BKM) : (BKM x 100)

BKM Andosol BKM Latosol BKM Mediteran BKM Podzolik

: 6,98 : 8,25 : 7,99 : 7,66

Jenis Tanah

BKM = BKU : (1 + KA)

Andosol

= (8,84 - 6,98) : (6,98 x = 5 : (1 + 0,003) = 4,98 100) = 0,003 % = (8,82 - 8,25) : (8,25 x = 5 : (1 + 0,0007) = 4,99 100) = 0,0007 % = (8,82 - 7,99) : (7,99 x = 5 : (1 + 0,001) = 4,99 100) = 0,001 % = (8,73 – 7,66) : (7,66 x = 5 : (1 + 0,001) = 4,99 100) =0,001 %

Latosol

Mediteran

Podzolik

ppm Al = (ml HCl x N HCl x fp x 9 . 103) : BKM ppm Al = ( 0,46 x 0,1 x 9 x 9 . 103) : 4,98 = 748,19 ppm

1. Andosol

2. Latosol ppm Al = (0,98 x 0,1 x 9 x 9 . 103) : 4,99 = 1590,78 ppm 3. Mediteran : Tidak berubah warna sehingga tidak ada perhitungan.

4. Podzolik ppm Al = (2,41 x 0,1 x 9 x 9 . 103) : 4,99 = 3912,02 ppm

25

c. C-Organik dalam tanah Tabel 3 Data C-organik B1 Sampel Tanah Andosol Latosol Mediteran Podsolik Blanko Meniskus Awal 5 10.2 15.5 0.2 0.2 10 5.7 Meniskus Akhir 8.7 15.5 5 19.6 10 5.7 15 6.3 30.3 11.8 Ml FeSO4 BKU (g) 3.7 5.3 5 4.1 9.8 5.5 5 6.3 24.6 11.8 0,20 0,20 0,50 0,50 0,50 0,50 0,50 0,50

Tabel 4 Data C-Organik B2 Sampel Tanah Andosol Latosol Mediteran Podzolik Blanko Meniskus Awal 24,50 29,50 15,00 19,80 3,00 8,50 2,30 10,00 16,50 Meniskus Akhir 29,50 34,30 19,80 24,60 8,50 13,80 10,00 16,50 24,30 Ml FeSO4 5,00 4,80 4,80 4,80 5,50 5,30 7,70 6,50 7,80 BKU (g) 0,20 0,20 0,50 0,50 0,50 0,50 0,50 0,50

Tabel 5 Rata-rata C-Organik Sampel Tanah Andosol Latosol Mediteran Podzolik Blanko BKU 0,20 0,50 0,50 0,50 ml FeSO4 4,7 4,68 6,53 6,38 14,73 % KA 26,65 7,52 10,39 13,97 -

26

Tabel 6 Kandungan Bahan Organik dalam tanah Jenis Tanah Andosol Latosol Mediteran Podzolik Nilai Kandungan Bahan Organik (%) 29,33 10,02 8,51 8,89

No 1 2 3 4

1. Andosol Diketahui: tanah berat kering udara (BKU)= 0,20 gram ml blanko = 14,73 ml titrasi tanah andosol = 4,7 %KA = 26,65 % N FeSO4 = 0,68 Ditanya: % Bahan Organik =...? Jawab : BKM = BKU 1+ % KA = 0,20 1 + 26,65 % = 0,20 1,2665 % C-Organik = (V blanko- V Contoh) x N FeO4 x 0,003 x f x 100 = 0,16

27

BKM = (14,73-4,7) x 0,68 x 0, 003 x 1,33 x 100 0,16 = 2, 72 0,16 = 17, 01 % Bahan Organik = % C-Organik x 1,724 = 17, 01 x 1,724 = 29,33 2. Latosol Diketahui: tanah berat kering udara (BKU)= 0,50 gram ml blanko = 14,73 ml titrasi tanah latosol = 4,68 %KA = 7,52 % N FeSO4 = 0,68 Ditanya: % Bahan Organik=...? Jawab: BKM = BKU 1+ % KA = 0,50 1 + 7,52 % = 0,50 = 0,47

28

1,0752 % C-Organik = (V blanko- V Contoh) x N FeO4 x 0,003 x f x 100 BKM = (14,73-4,68) x 0,68 x 0, 003 x 1,33 x 100 0,47

= 2, 73 0,47 = 5,81 % Bahan Organik = % C-Organik x 1,724 = 5,81x 1,724 = 10,02 3. Mediteran Diketahui: tanah berat kering udara (BKU)= 0,50 gram ml blanko = 14,73 ml titrasi tanah mediteran = 6,53 %KA = 10,39 % N FeSO4 = 0,68 Ditanya: % Bahan Organik=...? Jawab: BKM= BKU 1+ % KA

29

= 0,50 1 + 10,39 % = 0,50 1,1039 % C-Organik = (V blanko- V Contoh) x N FeO4 x 0,003 x f x 100 BKM = (14,73-6,53) x 0,68 x 0, 003 x 1,33 x 100 0,45 = 2,22 0,45 = 4,93 % Bahan Organik = % C-Organik x 1,724 = 4,93 x 1,724 = 8,51 4. Podzolik Diketahui: tanah berat kering udara (BKU)= 0,50 gram ml blanko = 14,73 ml titrasi tanah podzolik = 6,38 %KA = 13,97 % N FeSO4 = 0,68 Ditanya: % Bahan Organik=...? Jawab: = 0,45

30

BKM = BKU 1+ % KA = 0,50 1 + 13,97% = 0,50 1,1397 % C-Organik = (V blanko- V Contoh) x N FeO4 x 0,003 x f x 100 BKM = (14,73-6,38) x 0,68 x 0, 003 x 1,33 x 100 0,44 = 2,27 0,44 = 5,16 % Bahan Organik = % C-Organik x 1,724 = 5,16 x 1,724 = 8,89 Bahan organik memiliki peran penting dalam menentukan kemampuan tanah untuk mendukung tanaman, sehingga jika kadar bahan organik tanah menurun, kemampuan tanah dalam mendukung produktivitas tanaman juga menurun. Menurunnya kadar bahan organik merupakan salah satu bentuk kerusakan tanah yang umum terjadi. Kerusakan tanah merupakan masalah penting karena intensitasnya yang cenderung meningkat sehingga tercipta tanah-tanah rusak yang jumlah maupun intensitasnya meningkat. = 0,44

31

Dampak negatif dari pertanian modern yang menggunakan bahan agrokimia secara berlebihan dan tidak selektif, khususnya untuk pemberantasan hama, penyakit dan gulma, menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan atau keamanan pangan dan ancaman akan terjadinya pencemaran lingkungan dan kerusakan lahan yang berujung pada ketidak lestarian sistem pertanian yang ada. Dari problem yang sedemikian itulah, jelas erat kaitannya dengan permasalahan bahan organik tanah. Dengan mengukur seberapa banyak kandungan bahan organik di dalam tanah, maka nantinya akan diketahui seberapa bagus suatu tanah tersebut dijadikan sebagai media tanam bagi tumbuhan ataupun tanaman budidaya. Bahan organik adalah bagian dari tanah yang merupakan suatu sistem kompleks dan dinamis, yang bersumber dari sisa tanaman dan atau binatang yang terdapat di dalam tanah yang terus menerus mengalami perubahan bentuk, karena dipengaruhi oleh faktor biologi, fisika, dan kimia (Kononova, 1961). Menurut Stevenson (1991), bahan organik tanah adalah semua jenis senyawa organik yang terdapat di dalam tanah, termasuk serasah, fraksi bahan organik ringan, biomassa mikroorganisme, bahan organik terlarut di dalam air, dan bahan organik yang stabil atau humus. Bahan organik berperan penting untuk menciptakan kesuburan tanah. Peranan bahan organik bagi tanah adalah dalam kaitannya dengan perubahan sifat-sifat tanah, yaitu sifat fisik, biologis, dan sifat kimia tanah. Bahan organik merupakan pembentuk granulasi dalam tanah dan sangat penting dalam pembentukan agregat tanah yang stabil. Bahan organik adalah bahan pemantap agregat tanah yang tiada taranya. Melalui penambahan bahan organik, tanah yang tadinya berat menjadi berstruktur remah yang relatif lebih ringan. (Anonymous 2010) Berkaitan erat dengan permasalahan bahan organik yang terdapat dalam tanah maka dilakukan praktikum penetapan C-Organik sebagai langkah untuk mengetahui kandungan bahan organik yang terkandung pada sampel tanah yang akan diuji. Praktikum ini bertujuan untuk penetapan dan perhitungan bahan organik yang terkandung dalam sampel tanah. Praktikum C-Organik ini memakai beberapa smpel tanah diantaranya yaitu tanah andosol, latosol, mediteran dan

32

podzolik. Praktikum dilakukan di laboratorium tanah ,jurusan ilmu tanah fakultas pertanian Institut Pertanian Bogor. Hasil data-data yang diperoleh, lalu dapat dihitung menggunakan rumus yang telah ditetapkan. Kandungan bahan organik ditentukan secara tidak langsung yaitu dengan mengalikan kadar C dengan suatu faktor yang umumnya sebagai berikut: kandungan bahan organik = C x 1,724. Bila jumlah C organik dalam tanah dapat diketahui maka kandungan bahan organik tanah juga dapat dihitung. Hasil perhitungan maka, diperoleh hasil sebagai berikut yaitu kandungan bahan organik pada tanah andosol sebesar 29,33%, tanah latosol sebesar 10,02%, tanah mediteran 8,51% dan podzolik sebesar 8,89%. Kandungan bahan organik tertinggi dimiliki oleh tanah andosol dan yang terendah dimiliki oleh tanah mediteran. Sementara itu ada juga yang mengelompokan tingkat kandungan bahan organik tanah secara umum, seperti dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel Kriteria Kandungan Bahan Organik Pada Tanah Kandungan Bahan Organik (%) < 0,5 0,5 - 1 1-2 2-4 4-8 8 - 15 > 15 Kriteria Rendah Sedang- Rendah Sedang Tinggi Berlebihan Sangat Berlebihan Gambut

Berdasarkan tabel kriteria kandungan bahan organik maka dapat dibahas sebagai berikut, tanah andosol yang memiliki kandungan bahan organik tertinggi
33

yaitu sebesar 29,33% dinyatakan termasuk kriteria gambut. Tanah Latosol mengandung 10,02% bahan organik dinyatakan termasuk kriteria tanah yang mengandung bahan organik sangat berlebih.Tanah mediteran mengandung 8,51% , dinyatakan termasuk kriteria tanah yang mengandung bahan organik sangat berlebih. Sama halnya dengan tanah podzolik yang termasuk dalam kriteria tanah berbahan organik sangat berlebih.

34

d. Nitrogen Total dalam tanah Tabel 7 Data Nitrogen Total dalam Tanah Sampel Tanah Andosol Latosol Mediteran Podsolik Blanko ml HCl 4.36 1.59 1.71 1.9 0,05 BKM (g) 0.39 0.47 0.45 0.44

N HCl=0.1

N %=
Andosol

ml HCl (contoh− blanko) x N HCl x14 x 100 BKM

N %=
Latosol

(4.36− 0.05) x 0.1 x 14 x 100 0.39

=

641.2 0.39

= 1644.10 %

N %=
Mediteran

(1.59− 0.05) x0.1 x 14 x 100 0.47

=

215.6 0.47

= 458.72 %

N %=
Podsolik

(1.71− 0.05) x 0.1 x14 x 100 0.45

=

232.4 0.45

= 516.44 %

N %=

(1.9− 0.05) x 0.1 x 14 x 100 0.44

=

259 0.44

= 588.64 %

Penetapan N-total tanah dan beberapa bahan kompleks yang mengandung N sangat sulit. Kesulitan ini bertambah karena kurangnya pengetahuan tentang bentuk-bentuk N dan karena rendahnya kadar N dalam tanah. Kadar N-total tanah
35

berkisar dari 0.02% dalam subsoil sampai 2.5% pada tanah gambut. Lapisan olah dari tanah-tanah pertanian mengandung 0.06-0.5% N. Bahan-bahan yang membantu perubahan N menjadi NH4 adalah garamgaram, biasanya K2SO4 atau Na2SO4 yang bertujuan untuk meningkatkan suhu. Selain itu beberapa katalisator seperti selenium, air raksa atau tembaga digunakan untuk merangsang dan mempercepat oksidasi bahan organik. Diantara berbagai macam unsur hara yang dibutuhkan tanaman nitrogen merupakan salah satu diantara unsur hara makro tersebut yang sangat besar peranannya bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Nitrogen memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan tumbuhan. Diantara tiga unsur yang biasa mengandung pupuk buatan yaitu kalium, fosfat, dan nitrogen, rupanya nitrogen mempunyai efek paling menonjol. Nilai tertinggi dari hasil perhitungan N-total ialah tanah andosol sebesar 1644.10% dan nilai terendahnya ialah latosol sebesar 458.72%. Tabel yang menunjukan nilai ml HCl didapat dari menggabungkan hasil nilai tanah kelas B dan dibagi empat. Nilai BKM tanah masing-masing telah diketahui dan nilai N HClnya pun telah diketahui sebesar 0.1. Hasil N-total didapat dengan cara mengurangkan nilai ml HCl contoh dengan nilai ml HCl blanko dan hasilnya dikalikan dengan N HCl, 14 dan 100. Semua hasil tersebut dibagi dengan nilai BKM.

36

e. Fosfor dalam tanah dengan metode P-Bray 1 Tabel 8 Nilai Absorbansi Larutan Standar Larutan Standar Absorbansi 0 0,014 1 (0,5) 0,072 Konsentrasi (ppm P) 2 (1) 3 (1,5) 0,137 0,205 4 (2) 0,253 5 (2,5) 0,294

Gambar 1 Kurva Larutan Standar

Kurva Larutan Standard
A b s o r b a n s i 0.35 0.3 0.25 0.2 0.15 0.1 0.072 0.05 0 0 0.014 0.5 1 1.5 2 2.5 0.137 0.205 Series 1 y= 0.115 X - 0.001 0.253

Konsentrasi Larutan Standard (ppm)

Tabel 9 Nilai Absorbansi Tanah No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Jenis Tanah Andosol 1 Andosol 2 Latosol 1 Latosol 2 Mediteran 1 Mediteran 2 Podsolik 1 Podsolik 2 Blanko
37

Absorbansi 0,023 0,023 0,016 0,041 0,024 0,052 0,143 0,058 0,011

Tabel 10 Nilai pada larutan (ppm P) No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Jenis Tanah Andosol 1 Andosol 2 Latosol 1 Latosol 2 Mediteran 1 Mediteran 2 Podsolik 1 Podsolik 2 Blanko P dalam larutan (ppm) 0,208 0,208 0,147 0,365 0,217 0,460 1,252 0,513 0,104

Tabel 11 Nilai P tersedia pada tanah (P tersedia) No. Jenis Tanah 1 2 3 4 5 6 7 8 Andosol 1 Andosol 2 Latosol 1 Latosol 2 Mediteran 1 Mediteran 2 Podsolik 1 Podsolik 2 P tersedia dalam tanah (ppm) 4,171 4,171 2,942 7,305 4,344 9,209 25,074 10,274

Tabel 12 Nilai P tanah rata-rata No. 1 2 3 4 Jenis Tanah Andosol Latosol Mediteran Podsolik P rata-rata (ppm) 4,171 5,123 6,776 17,674

38

Gambar 2 Grafik Perbandingan P Tanah

Grafik Perbandingan P Tanah
18 16 14 12 10 8 6 4 2 0

17.674

4.171

5.123

6.776

Andosol

Latosol Andosol Latosol

Mediteran Mediteran

Podsolik Podsolik

Tabel 13 Data Lengkap No. 1 2 3 4 5 6 7 8 Jenis Tanah Andosol 1 Andosol 2 Latosol 1 Latosol 2 Mediteran 1 Mediteran 2 Podsolik 1 Podsolik 2 BKU (gram) Absorbansi Tanah 0,023 0,023 0,016 0,041 0,024 0,052 0,143 0,058 ppm P 0,208 0,208 0,147 0,365 0,217 0,460 1,252 0,513 P tersedia 4,171 4,171 2,942 7,305 4,344 9,209 25,074 10,274 P ratarata 4,171 5,123 6,776 17,674

1,5

© Perhitungan P dalam larutan Persamaan kurva larutan standard → Y = 0,115 X – 0,001 P dalam larutan (ppm) = X = 1.) Andosol 1 2.) Andosol 2 3.) Latosol 1 4.) Latosol 2 = = = =
39

=

→ Y = absorbansi tanah = 0,208 ppm = 0,208 ppm = 0,147 ppm = 0,365 ppm

5.) Mediteran 1 6.) Mediteran 2 7.) Podsolik 1 8.) Podsolik 2

= = = =

= 0,217 ppm = 0,460 ppm = 1,252 ppm = 0,513 ppm

© Perhitungan P yang tersedia pada tanah Keterangan : W (BKU)= bobot contoh yang digunakan (1,5 gr) = 26,6% = 7,52% = 10,39% = 13,97% x x x x x x x x x x x x x x x x x x = 4,171 ppm = 4,171 ppm = 2,942 ppm = 7,305 ppm = 4,344 ppm = 9,209 ppm = 25,074 ppm = 10,274 ppm

KA → Andosol Latosol Mediteran Podsolik

Rumus : P Tanah = P dalam larutan x 1.) Andosol 1 2.) Andosol 2 3.) Latosol 1 4.) Latosol 2 5.) Mediteran 1 6.) Mediteran 2 7.) Podsolik 1 8.) Podsolik 2 = 0,208 x = 0,208 x = 0,147 x = 0,365 x = 0,217 x = 0,460 x = 1,252 x = 0,513 x

Perhitungan P Tersedia (rata-rata) P tersedia (rata-rata) =    Andosol Latosol Mediteran = = = = 4,171 ppm = 5,123 ppm = 6,776 ppm

40

Podzolik

=

17,674 ppm

Dalam menganalisis jumlah kadar unsur P (fosfat) yang tersedia pada tanah, dapat digunakan beberapa metode seperti metode bray 1 dan 2 (kurtz), metode north carolina, serta metode olsen. Metode yang digunakan pada praktikum adalah metode bray 1. Metode ini cukup baik digunakan pada tanah-tanah masam dan juga tanah-tanah netral. Penetapan fosfor dengan cara metode Bray I ini bertujuan untuk mengetahui jumlah P yang tersedia di dalam tanah. Variable tanah yang digunakan ada empat macam, diantaranya yakni tanah andosol, latosol, mediteran, dan podsolik. Seperti yang telah diketahui bahwa fosfor dibedakan dalam dua bentuk yaitu P-organik dan P-anorganik. Fosfor organik di dalam tanah terdapat sekitar 50%, bentuk fospat ini berasal dari sisa tanaman, hewan dan mikrobia. Bentuk P pada tanah masam umumnya dijumpai sebagai Al-P dan Fe-P, sedangkan pada tanah alkalin terdapat dalam bentuk Ca-P yang merupakan bentuk P anorganik yang aktif. Sedangkan P anorganik yang tidak aktif meliputi occhided-P , reductant-P , dan mineral P primer. Selain itu ion-ion fospat dapat dengan mudah bereaksi dengan ion Fe3+,Al3+,Mn2+ dan Ca2+ . Fosfat anorganik dapat diimmobilisasi menjadi P-organik oleh mikrobia dengan jumlah yang bervariasi antara 25-100%. Tanaman mengambil unsur P dari ikatan-ikatan tersebut, dan jumlahnya sangat dipengaruhi dari perbandingan Al-P, Fe-P dan CaP. Nilai yang akan diamati pada penetapan kadar P ini yaitu penentuan konsentrasi serta absorbansi pada masing-masing tanah ,yang kemudian akan diketahui kandungan P pada masing-masing tanah tersebut dengan menggunakan rumus: P Tanah = P dalam larutan x x x

Sebelum dilakukan perhitungan P tanah, terlebih dahulu harus diukur konsentrasi dan absorbansi pada setiap tanah dan larutan standard yang telah dibuat, menggunakan alat spektrofotometer dengan ukuran panjang gelombang 660 mµ. Dari hasil pengukuran, dapat dilihat bahwa nilai absorbansi pada tanah podsolik lebih besar diantara tanah-tanah lainnya yaitu sebesar 0,101. Pada perhitungan P tanah BKU yang digunakan sebesar 1,5 gram tanah yang telah ditimbang. Setelah mengetahui nilai dari konsentrasi dan absorbantnya dapat dihitung kandungan P tersedia yang berada di masing-masing tanah dengan rumus diatas ,serta data-data hasil pengamatan yang telah dicantumkan pada bagian hasil
41

pengamatan dan perhitungan. Dari hasil perhitungan tersebut, diketahui tanah andosol memiliki kadar P tanah sebesar 4,171 ppm , tanah latosol sebesar 5,123 ppm , tanah mediteran sebesar 6,776 ppm , dan tanah podsolik sebesar 17,674 ppm.

42

f. Kapasitas Tukar Kation (KTK) dan Kejenuhan Basa (KB) Tabel 14 Data KTK mL HCl No. Jenis Tanah Volume Awal 17.40 Andosol 23.20 25.00 30.40 RataRata 24.00 0.50 Latosol 9.10 13.60 23.30 RataRata 11.63 30.50 Mediteran 36.50 33.20 15.60 RataRata 28.95 27.60 Podzolik 36.90 35.90 33.30 RataRata 5 Blanko 33.43 0.00 Volume akhir 23.20 27.60 30.40 35.90 29.28 9.10 17.40 23.30 33.00 20.70 37.00 43.10 41.50 24.70 36.58 33.10 42.50 41.50 39.10 39.05 13.60 Volume yang digunakan 5.80 4.40 5.40 5.50 5.28 8.60 8.30 9.70 9.70 9.08 6.50 6.60 8.30 9.10 7.63 5.50 5.60 5.60 5.80 5.63 13.60 5.00 5.00 5.00 5.00 5.00 5.00 5.00 5.00 5.00 5.00 5.00 5.00 5.00 5.00 5.00 5.00 5.00 5.00 5.00 5.00 3.95 3.95 3.95 3.95 3.95 4.65 4.65 4.65 4.65 4.65 4.53 4.53 4.53 4.53 4.53 4.39 4.39 4.39 4.39 4.39 BKU (gram) BKM (gram)

1

2

3

4

43

PERHITUNGAN KTK KTK( )
( ( ) ) ( ( ( ( ) ) ) )

1. KTK( 2. KTK( 3. KTK( 4. KTK(

) ) ) )

% % % %

44

Tabel 15 Data KB

No.

Jenis Tanah

BKM (gram) 3.95

Ca (ppm) 0.58 0.53 0.58 0.52 0.55 0.92 0.92 0.82 0.91 0.89 13.54 14.56 13.85 14.59 14.14 2.56 2.01 2.26 2.01 2.21

Mg (ppm) 0.12 0.13 0.11 0.13 0.12 0.21 0.22 0.22 0.23 0.22 0.40 0.46 0.40 0.41 0.42 0.68 0.66 0.68 0.70 0.68

K (ppm) 0.33 0.30 0.25 0.30 0.30 0.43 0.45 0.45 0.45 0.45 0.30 0.25 0.38 0.20 0.28 1.63 1.63 1.38 1.25 1.47

Na (ppm) 0.93 0.83 0.33 0.75 0.71 0.50 0.63 0.95 0.50 0.65 0.88 1.00 0.75 0.58 0.80 1.13 1.13 0.88 1.13 1.07

1

Andosol

3.95 3.95 3.95

RataRata

3.95 4.65

2

Latosol

4.65 4.65 4.65

RataRata

4.65 4.53

3

Mediteran

4.53 4.53 4.53

RataRata

4.53 4.39

4

Podzolik

4.39 4.39 4.39

RataRata

4.39

45

Perhitungan KB Rumus Konversi ppm ke me / 100 gr :

% KB 

Ca  Mg  K  Na x 100% KTK

Andosol

Latosol

46

% KB 

Ca  Mg  K  Na x 100% KTK 0,055  0,0024  0,015  0,043 x 100%  21,06  0,0260%

% KB 

Ca  Mg  K  Na x 100% KTK 0,089  0,366  0,023  0,056 x 100%  9,7204  5,4936%

Mediteran

Podzolik

% KB 

Ca  Mg  K  Na x 100% KTK 1,414  0,07  0,0143  0,069 x 100%  13,1788  11,89%

% KB 

Ca  Mg  K  Na x 100% KTK 0,221 0,113  0,0753  0,0930 x 100%  18,1548  2,766%

47

Tanah-tanah dengan kandungan bahan organik atau dengan kadar liat tinggi mempunyai KTK lebih tinggi dari pada tanah-tanah dengan kandungan bahan organic rendah atau tanah-tanah berpasir. Jenis-jenis mineral liat juga menentukan besarnya KTK tanah. (Munir, 1984). Tanah-tanah dengan kandungan bahan organik atau dengan kadar liat tinggi mempunyai KTK lebih tinggi dari pada tanah-tanah dengan kandungan bahan organik rendah atau tanah-tanah berpasir. Jenis-jenis mineral liat juga menentuka besarnya KTK tanah (Hakim,dkk,1986). Koloid tanah yang memiliki muatan negatif besar akan dapat menjerap sejumlah besar kation. Jumlah kation yang dapat dijerap koloid dalam bentuk dapat tukar pada pH tertentu disebut kapasitas rukar kation (KTK). Kapasitas tukar kation merupakan jumlah muatan negatif persatuan berat koloid yang dinetralisasi oleh kation yang yang mudah diganti. Kapasitas tukar kation didefinisikan sebagi nilai yang diperoleh pada pH 7, yang dinyatakan dalam milligram setara per 100 gram koloid. Pada praktikum kapasitas tukar kation kadar KTK tertinggi hingga terendah terkandung pada jenis tanah Andosol (21,06%) – Podzolik (18,15%) – Mediteran (13,17%) – Latosol (9,72%), hal ini disebabkan oleh reaksi tanah atau pH tanah, tekstur atau jumlah liat, jumlah mineral liat, bahan organik, pengapuran dan pemupukkan. Kejenuhan basa tertinnggi yang terkandung dalam tanah yang diujikan terdapat pada tanah Mediteran (11,89%) dan yang terendah adalah tanah jenis Andosol (0,0260%), hal ini disebabkan oleh pH tanah dan juga jumlah basabasa (Ca, Na, Mg dan K) yang terjerap dalam tanah. KTK dan KB tanah sangat berpengaruh pada kesuburan tanah. Tanah dengan pH rendah memiliki KTK dan KB rendah, maka tanah tersebut kurang subur. Tanah dengan KTK tinggi mampu menjerap dan menyediakan unsur hara lebih baik dibandingkan dengan tanah yang KTK-nya rendah. Tetapi KTK yang tinggi juga dipengaruhi oleh KB. Apabila KB pada tanah tersebut didominasi oleh kation basa akan meningkatkan kesuburan tanah sedangkan kation asam (Al dan H) akan mengurangi kesuburan tanah.

48

g. Morfologi Tanah Tabel 16 Data Morfologi Tanah Podzolik Nomor Lapisan Simbol Horizon Kedalaman Lapisan Batas Horison I A 0-20 cm Jelas, datar 7,5 YR 4/6 brown strong II AB 20-30 cm Jelas, datar III B 30-41 cm Baur, bergelomb ang 7,5 YR 5/6 brown strong IV C 41-52 cm Baur, bergelom bang 7,5 YR 5/6 brown strong V D 52-72 cm Berangsu r, bergelom bang 7,5 YR 5/6 brown strong

Warna Matriks

7,5 YR 4/6 brown strong Lempung berpasir

Tekstur Tingkat perkem bangan Kelas ukuran

Lempung berpasir

Lempung berpasir

Lempung berdebu

Liat berdebu

Lemah

Lemah

Sedang

Lemah

Sedang

Struktur

Kasar

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Konsistensi

Bentuk Basah Lembab

Gumpal Gumpal membulat membulat Agak Plastis Gembur Sedang 85 cm Agak Plastis Gembur Banyak 85 cm

Remah Plastis Agak plastis Sedang 85 cm

Remah Plastis Agak plastis Sedang 85 cm

Remah Plastis Plastis Sedang 85 cm

Penetrasi

Akar Halus Sedang Kasar 85 cm

49

Tabel 17 Data Morfologi Tanah Latosol Nomor Lapisan Simbol Horizon Kedalaman Lapisan I A 0-20 cm II AB 20-30 cm III B 30-55 cm IV C 55-72 cm Baur, berangs ur 5 YR 4/6 yellowis h red V D 72-90 cm Berangsur, bergelomb ang 5 YR 3/4 dark reddish brown Lempung Berpasir Lemah

Batas Horison

Baur, berangsur

Baur, Baur, berangsur berangsur

5 YR 4/6 Warna Matriks yellowish red

5 YR 4/6 yellowish red

5 YR 4/6 yellowish red

Tekstur Tingkat perkem bangan Kelas ukuran Bentuk

Lempung berpasir

Lempung berpasir

Lempung berpasir

Lempun g berdebu Lemah

Lemah

Lemah

Lemah

Struktur

Sedang

Sedang

Sedang Gumpal membulat Lekat Lepas Sedang Bisa

Sedang Gumpal membul at Lekat Lepas Sedang Bisa

Sedang

Remah

Remah Agak lekat Lepas Banyak Bisa

Remah

Konsiste nsi

Basah Lembab Halus Sedanga Kasar Bisa

Agak lekat Lepas Banyak Bisa

Plastis Lepas Sedang Hanya 15 cm

Akar Penetras i

Morfologi tanah merupakan sifat tanah yang dapat diamati langsung di lapang yang menunjukkan profil tanah ke arah dalam tanah. Sifat fisik tanah yang

50

berpengaruh pada kegiatan pertanian antra lain tekstur, struktur, konsistensi, kapasitas memegang air, kapasitas infiltrasi, permeabilitas, drainase, kedalaman efektif, dsb. Faktor tanah yang penting adalah kandungan hara yang tersedia makro dan mikro, pH tanah, kandungan bahan organik, kapasitas tukar kation, kadar bahan beracun (misal: Fe, Al-dd) dsb. Sedangkan bahan biologi yang penting adalah jumlah dan aktivitas organisne di dalam tanah. Tindakan-tindakan terhadap tanah umumnya ditunjukkan untuk menambah dan menjamin keseimbangan hara bagi tanaman, mencegah keracunan, kehilangan, dan kerusakan serta memanipulasi kondisi lingkungan hingga sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan taaman dan hewan. Pengelolaan pertanian dalam pemanfaatan maksimal faktor-faktor yang berpengaruh harus menjaga produktivitas dan kegunaan tanah secara lestari. Berdasarkan sifat morfologi tersebut, tanah dapat dibedakan ke dalam profil-profil tanah sesuai sifat morfologinya. Profil Tanah adalah irisan vertikal tanah dari lapisan paling atas hingga ke batuan induk tanah. Profil dari tanah yang berkembang lanjut biasanya memiliki horison-horison sbb: O–A–E–B–C–R. Solum Tanah terdiri dari: O–A–E–B. Lapisan Tanah Atas meliputi: O–A. Lapisan Tanah Bawah: E–B. O adalah serasah / sisa-sisa tanaman (Oi) dan bahan organik tanah (BOT) hasil dekomposisi serasah (Oa) A adalah horison mineral ber BOT tinggi sehingga berwarna agak gelap. E adalah horison mineral yang telah tereluviasi (tercuci) sehingga kadar (BOT, liat silikat, Fe dan Al) rendah tetapi pasir dan debu kuarsa (seskuoksida) dan mineral resisten lainnya tinggi, berwarna terang. B adalah horison illuvial atau horison tempat terakumulasinya bahanbahan yang tercuci dari harison diatasnya (akumulasi bahan eluvial). C adalah lapisan yang bahan penyusunnya masih sama dengan bahan induk (R) atau belum terjadi perubahan. R adalah Bahan Induk. Tanah latosol yaitu tanah yang banyak mengandung zat besi dan aluminium. Tanah ini sudah sangat tua, sehingga kesuburannya rendah. Warna tanahnya merah hingga kuning, sehingga sering disebut tanah merah. Tanah latosol yang mempunyai sifat cepat mengeras bila tersing kap atau berada di udara terbuka disebut tanah laterit. Tanah latosol tersebar di Sumatra Utara, Sumatra Barat, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, JawaTimur, Bali, Kalimantan Tengah,

51

Kalimantan Selatan, dan Papua. Tanah dengan kadar liat lebih dari 60 %, remah sampai gumpal, gembur, warna tanah seragam dengan dengan batas-batas horison yang kabur, solum dalam (lebih dari 150 cm), kejenuhan basa kurang dari 50 %, umumnya mempunyai epipedon kambrik dan horison kambik. Tumbuhan yang dapat hidup di tanah latosol adalah padi, palawija, sayuran, buah-buahan, karet, cengkih, kakao, kopi, dan kelapa sawit. Tanah podsolik adalah tanah yang mempunyai solum agak tebal (1-2 m), warna tanah merah hingga kuning, batas horizon nyata, tekstur beragam , struktur gumpal pada horizon B, konsistensi teguh samapi gembur. Tanah podsolik merupakan tanah yang mempunyai horizon B argilik, kejenuhan bas kurang dari 50% sekurang-kurangnya horizon B didalam penampung 125 cm dari permukaan. Adanya horizon argilik menunjukkan proses pembentukan tanah podsolik yang utama adalah liksiviasi (pencucian tanah). Sedangkan tanah latosol adalah tanah bersolum dalam, mengalami pencucian dan pelapukan lanjut, berbatas horizon baur, kandungan mineral primer dan unsure hara rendah, konsistensi gembur dengan stabilitas agregat kuat dan terjadi penumpukan relative seskwioksida di dalam tanah akibat pencucian silikat. Warna tanah merah, coklat kemerahan, coklat, coklat kekuningan atau kuning tergantung bahan induk. Warna batuan, iklim dan letak ketinggian. Di Indonesia ditemukan terutama di daerah volkanik baik berasal dari tufa maupun batuan beku. Hal ini penting untuk diamati karena akar tanaman berjangkar di tempat tersebut. Semakin baik akar berjangkar pada umumnya pertumbuhan tanaman semakin baik dan sebaliknya. Pengamatan profil tanah perlu memperhatikan sifat-sifat tanah karena morfologi tanah sangat menentukan pertumbuhan tanaman. Pengamatan morfologi tanah yang dapat dilakukan adalah seperti pengamatan ketebalan top soil, kedalaman efektif, duripan, fragipan, horizon argilik, petroferik, petrogibsik, dll. Dari sifat-sifat tersebut dapat diperkirakan tanaman yang berpotensi untuk tumbuh secara optimal pada daerah tersebut. Dalam mengamati morfologi tanah selalu dicatat pula kondisi lingkungan disekitarnya seperti bahan induk, lereng, fisiografi, drainase permukaan, keadaan batuan dsb. Morfologi tanah tergantung pada tingkat perkembangan tanah tersebut. Tingkat perkembangan tanah dinilai dari tingkat perkembangan horizon yang terjadi.

52

Pengamatan secara langsung di lapang ini membahas tentang morfologi tanah di Darmaga, Bogor. Berdasarkan pengamatan data yang diperoleh, masingmasing jenis tanah dapat dibedakan berdasarkan ciri morfologinya. Secara

keseluruhan, Tanah di Darmaga (Bogor) mempunyai warna yang cerah. Selain itu, berdasarkan ciri fisik, kimia, dan biologi, tanah di Darmaga digologkan dalam tanah latosol dan podzolik. Perbedaanya yaitu horizon tanah latosol baur (susah dibedakan horizonnya), Sedangkan tanah podzolik relative lebih mudah dibedakan. Tanah latosol memiliki solum yang dalam dengan horizon B yang tebal. Batas antar horizon baur dimana lebar peralihan antara 10-20 cm. Bentuk topografi batas horizon berombak dan tidak teratur. Sedangkan horizon podsolik dapat dibedakan dengan jelas yang memiliki batas nyata hingga jelas dan bentuk horizon tidak teratur. Data lain menunjukkan bahwa tanah latosol ini mengalami pencucian yang cukup intensif, pencucian intensif dapat menyebabkan tanah ini berkembang menjadi tanah podzolik.

53

h. Kurva pF dan Distribusi Ukuran Pori Tabel 18 Data Kurva pF 1 B-1 Sampel Tanah 1 2 3 4 Ratarata Berat Cawan Berat + Tanah Cawan Lembab 8.74 8.59 6.64 9.58 8.39 21.47 20.69 15.88 22.17 20.05 Berat Cawan + Tanah Kering 16.80 16.69 12.72 18.90 16.28 Kadar Air 0.28 0.24 0.25 0.17 0.24 Kadar Air % 27.78 23.97 24.87 17.30 23.48

Tabel 19 Data Kurva pF 1 B-2 Sampel Tanah 1 2 3 4 Ratarata Berat Cawan Berat + Tanah Cawan Lembab 9.55 7.13 7.89 9.06 8.41 17.48 17.23 13.83 19.09 16.91 Berat Cawan + Tanah Kering 14.45 12.72 11.02 16.15 13.59 Kadar Air 0.21 0.35 0.25 0.18 0.25 Kadar Air % 20.92 35.49 25.45 18.24 25.03

Tabel 20 Rata-rata data Kurva pF 1 Berat cawan + tanah lembab 19,475 18,96 14,855 20,63 18,48 Berat cawan + tanah kering 15,625 14,705 11,87 17,525 14,93 Bobot Kadar air Tanah (%) Kering 6,48 6,84 4,61 8,21 26,14 59,41 62,13 64,64 37,75 55,98

Sampel tanah 1 2 3 4 Ratarata

Berat cawan 9,145 7,86 7,265 9,32 8,4

Bobot Air 3,85 4,25 2,98 3,10 3,55

54

Tabel 21 Data Kurva pF 2 B-1 Sampel Tanah 1 2 3 4 Ratarata Berat Cawan 9.06 8.54 8.48 7.32 8.35 Berat Cawan + Tanah Lembab 20.75 21.91 21.95 24.82 22.36 Berat Cawan + Tanah Kering 16.90 17.78 17.98 19.69 18.09 Kadar Air 0.23 0.23 0.24 0.26 0.24 Kadar Air % 22.72 23.21 22.04 26.06 23.51

Tabel 22 Data Kurva pF 2 B-2 Sampel Tanah 1 2 3 4 Ratarata Berat Cawan 8.88 8.89 8.85 7.80 8.35 Berat Cawan + Tanah Lembab 21.58 23.03 21.68 17.76 22.36 Berat Cawan + Tanah Kering 17.55 18.87 18.74 14.99 18.09 Kadar Air 0.23 0.22 0.16 0.19 0.24 Kadar Air % 22.98 22.07 15.65 18.50 23.51

Tabel 23 Rata-rata data Kurva pF 2 Sampel tanah 1 2 3 4 Ratarata Berat cawan 8.97 8.715 8.665 7.56 8,48 Berat cawan + tanah lembab 21.165 22.47 21.815 21.29 21,69 Berat cawan + tanah kering 17.225 18.325 18.36 15.84 17,44 Bobot Air 3.94 4.14 3.45 5.45 4,25 Bobot Tanah Kering 8.26 9.61 9.70 8.28 8,96 Kadar air (%) 47.70 43.10 35.56 65.82 48.04

55

Tabel 24 Data Kurva pF 2,54 B-1 Sampel Tanah 1 2 3 4 RataRata Berat Cawan 9.02 8.57 8.99 9.23 8.95 Berat Cawan + Tanah Lembab 26.18 22.17 25.58 20.19 23.53 Berat Cawan + Tanah Kering 22.59 19.56 20.91 17.86 20.23 Kadar Air 0.16 0.13 0.22 0.13 0.16 Kadar Air % 15.93 13.32 22.31 13.00 16.14

Tabel 25 Data Kurva pF 2,54 B-2 Sampel Tanah 1 2 3 4 Ratarata Berat Cawan 8.81 8.77 8.90 8.13 8.65 Berat Cawan + Tanah Lembab 21.58 23.03 21.68 17.76 21.01 Berat Cawan + Tanah Kering 13.74 13.75 13.91 13.93 13.83 Kadar Air 0.12 0.17 0.10 0.14 0.13 Kadar Air % 12.07 16.93 10.25 14.05 13.33

Tabel 26 Rata-rata data kurva pF 2,54 Sampel tanah 1 2 3 4 Ratarata Berat cawan 8.945 8.67 8.945 8.68 8,81 Berat cawan + tanah lembab 20.79 19.125 20.46 18.04 19,60 Berat cawan + tanah kering 18.165 16.665 17.405 15.895 17,03 Bobot Air 2.62 2.46 3.05 2.15 2,57 Bobot Tanah Kering 9.22 8 8.46 7.22 8,23 Kadar air (%) 28.41 30.78 36.05 29.77 31,25

Contoh Perhitungan : Bobot air =(berat cawan+tanah lembab) – (berat cawan+tanah kering) = 19,475 – 15,625 = 3,85

56

Bobot tanah kering

=(berat cawan + tanah kering) – berat cawan = 15,625 – 9,145= 6,48

KA (Kadar Air)

= = = 59,41 %

Gambar 3 Kurva pF

Kurva pF
60 50 40 30 20 10 0 1 55.98% 2 48.04% pF KA 2.54 31.25% 31.25 55.98 48.04

Bobot Isi BI Volume (
( )

)

(

)

1. Andosol Vol

2. Latosol Vol

3. Mediteran

57

Vol

4. Podzolik Vol Kurva pF merupakan kurva yang menunjukkan hubungan antara kadar air dengan tegangan air pada tanah. Kadar air dinyatakan dalam persen volume. Tegangan air dinyatakan dalam nilai logaritma tinggi kolom air yang dinyatakan dalam cm. Kurva pF ditentukan berdasarkan contoh tanah yang dibuat berkeseimbangan dengan berbagai tekanan. Kadar air biasa dijadikan sebagai titik asbsis dan pF sebagai titik ordinat. Air yang terdapat dalam tanah karena ditahan(diserap)oleh massa tanah, tertahan oleh lapisan kedap air, atau karena keadaan drainase yang kurang baik.Air dapat meresap atau ditahan oleh tanah karenaa dan gaya-gaya adhesi, kohesi, dan gravitasi. Karena adanya gaya-gaya tersebut maka air dalam tanah dapat dibedakan menjadi: (1) Air hidroskopik, adalah air yang diserap tanah sangat kuat sehingga tidak dapat digunakan tanaman, kondisi ini terjadi karena adanya gaya adhesi antara tanah dengan air. Air hidroskopik merupakan selimut air pada permukaan butir-butir tanah.(2) Air kapiler, adalah air dalam tanah dimana daya kohesi (gaya tarik menarik antara sesama butir-butir air) dandaya adhesi (antara air dan tanah) lebih kuatdari gravitasi. Air ini dapat bergerak secara horisontal (ke samping) atau vertikal (ke atas) karena gaya-gaya kapiler.Sebagian besar dari air kapilermerupakan air yang tersedia (dapatdiserap) bagi tanaman. Kemampuan tanah menahan air dipengaruhi antara lain oleh tekstur tanah. Tanah-tanah bertekstur kasar (sandy loam) mempunyai daya menahan air lebih kecil daripada tanah bertekstur halus (clay loam ). Oleh karena itu, tanaman yang ditanam pada tanah pasir (sandy loam) umumnya lebih mudah kekeringan daripada tanah-tanahbertekstur lempung atau liat (clay loam) Kondisi kelebihan air ataupun kekurangan air dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Praktikum dilakukan dengan melakukan perhitungan nilai kadar air berdasarkan perbandingan pF 1; 2; 2,54. Pada pF 1 diketahui kadar air sebesar 59.98 % , pada pF 2 sebesar 48.04%, pada pF 2.54 sebesar 31.25%. Kadar Air

58

pada pF 1 digunakan sebagai pembanding antara air kapiler dengan air di udara. Pembandingan ini dimaksudkan untuk mendeskripsikan kekuatan tegangan air tanah.

59

BAB IV PENUTUP

KESIMPULAN Berdasarkan dari hasil yang diperoleh pada percobaan bahan organik tanah diperoleh hasil sebagai berikut yaitu kandungan bahan organik pada tanah andosol sebesar 29,33%, tanah latosol sebesar 10,02%, tanah mediteran 8,51% dan podzolik sebesar 8,89%. Kandungan bahan organik tertinggi dimiliki oleh tanah andosol dan yang terendah dimiliki oleh tanah mediteran. Tanah andosol yang memiliki kandungan bahan organik tertinggi yaitu sebesar 29,33% dinyatakan termasuk kriteria gambut. Tanah Latosol mengandung 10,02% bahan organik, dinyatakan termasuk kriteria tanah yang mengandung bahan organik sangat berlebih.Tanah mediteran mengandung 8,51%, dinyatakan termasuk kriteria tanah yang mengandung bahan organik sangat berlebih. Begitu juga dengan tanah podzolik yang termasuk dalam kriteria tanah berbahan organik sangat berlebih. Berdasarkan hasil dari pengamatan dan perhitungan P tanah dengan berdasarkan nilai absorbansi dan konsentrasinya, dapat dilihat bahwa tanah podsolik memiliki persentase kadar P tanah tersedia yang tinggi diantara 3 tanah lainnya dengan nilai sebesar 17,674 ppm dan tanah andosol memiliki kadar P tanah yang terendah diantara ketiga tanah lainnya. Dari hasil tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa tanah podsolik memiliki unsur hara esensial yakni Ptersedia yang tinggi. Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan oleh kelompok kami, kami dapat mengambil kesimpulan bahwa N-total sangat dibutuhkan diantara berbagai macam unsur hara, peranan N-total perkembangan dan pertumbuhan tanaman. Penetapan N-total pada tanah andosol memiliki persentase sebesar 1644,10%. Tanah latosol persentase N-total sebesar 458,72%. Tanah mediteran juga dibutuhkan untuk

60

persentase N-total sebesar 516,44% dan tanah podzolik persentase N-totalnya sebesar 588,64%. Berdasarkan hasil yang telah didapatkan pada percobaan reaksi pH tanah diperoleh hasil pada EC/DHL yang terkecil adalah Latosol dan tertinggi andosol, pada 1:1 pH H20 yang terkecil adalah Podsolik dan tertinggi adalah mediteran, pada 1:2,5 pH H20 yang terkecil adalah andosol dan tertinggi adalah mediteran. Dan pada pH KCl 1:1 yang terkecil adalah podsolik dan yang tertinggi mediteran. Berdasarkan data yang didapakan dapat disimpulkan bahwa tanah di

Indonesia pada umunya merupakan tanah masam, tanaman yang tumbuh dan ditumbuhkan di Indonesia pada umumnya adalah tanaman masam. Berdasarkan data yang didapatkan dari praktikum dan perhitungan tentang kapasitas tukar kation dapat disimpulakan bahwa tanah yang memiliki kadar KTK tertinggi ialah tanah Andosol sebesar 21,06%, tanah yang memiliki kadar KTK tertinggi ke-2 ialah tanah Podzolik sebesar 18,15%, tanah yang memiliki kadar KTK tertinggi ke-3 ialah Mediteran sebesar 13,17%, dan tanah yang memiliki kadar KTK terendah adalah tanah Latosol sebesar 9,72%. Berdasarkan data yang didapatkan dari praktikum dan perhitungan tentang kejenuhan basa dapat disimpulakan bahwa tanah yang memiliki kadar KB tertinggi ialah tanah Mediteran sebesar 11,89%, tanah yang memiliki kadar KB tertinggi ke-2 ialah tanah Latosol sebesar 5,4936%, tanah yang memiliki kadar KTK tertinggi ke-3 ialah Podzolik sebesar 2,766%, dan tanah yang memiliki kadar KTK terendah adalah tanah Andosol sebesar 0,0260%. Tanah semakin subur jika memiliki pH yang tinggi atau mendekati netral, karena dalam tanah yang memiliki pH tinggi disana terdapat banyak H+ yang akan mempengaruhi tingginya Kapasitas Tukar Kation (KTK). Yaitu semakin tinggi KTK maka tanah tersebut semakin mampu menjerap dan menyediakan unsur hara lebih baik dari tanah yang mempunyai KTK rendah. Pada nilai KTK biasanya susunan kationya disominasi oleh K,Ca, dan Mg yang merupakan unsur makro tanah. Dan semakin tinggi H+ maka semakin tinggi DHL, kesuburan tanah juga dapat dilihat dari banyaknya unsur N dan P. Dari seluruh tabel pengamatan, Andosol mendominasi nilai tertinggi, seperti pH, DHL, KTK, BO, dan N-total.

61

Dan dapat dikatakan Tanah Andosol adalah tanah yang paling subur yang cocok untuk lahan pegunungan. Hasil dari pengamatan di peroleh hasil yaitu tanah potzolik memiliki ppm terbesar sedangkan tanah mediteran memiliki nilai ppm terendah. Ini di sebabkan tanah mediteran tidak memiliki nilai kemasaman Al pada tanah, tanah potzolok memeiliki tingkat kemasaman yang sangat tinggi. Jika tingkat ke masam suatu tanah meninkat berarti pH suatu tanah menurun, ketersediaan unsur hara dalam tanah semakin menurun karena kemampuan unsur Al untuk mengikat unsur P membentuk Al-P yang tidak tersedia dan tidak dapat diserap oleh akar tanaman. Tanah potzolik memiliki tingkat kemasaman yang tinggi sehingga kemampuan tanaman untuk menyerap unsur hara tidak maksimal, berbeda dengan tanah mediteran yang memiliki tingkat kemasaman redah sehingga kemampuan tanaman untuk menyerap unsure hara dapat di serap secara maksimal.

SARAN Kekurangan-kekurangan yang terjadi harus diperbaiki, sehingga pada pelaksanaan praktikum Ilmu Tanah yang selanjutnya ketersediaan asisten praktikum yang cakap dan berpengalaman dapat ditingkatkan. Sebelum praktikum dilaksanakan hendaknya disediakan objek yang secara kualitas dan kualitas memenuhi standar oparasional prosedur program sehingga praktikum dapat berlangsung efektif dan efisien. Jika hal tersebut dapat terpenuhi, maka dapat dipastikan semua praktikan akan cepat menangkap inti dan manfaat dari praktikum Ilmu Tanah.

62

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous1.2010. Bahan Organik, [online]. http://lestarimandiri.org/id/pupukorganik/92-pupuk-organik/156-bahan-organik.html.diakses tanggal 26Mei 2011). Hardjowigeno, S. 1992. Ilmu Tanah. Jakarta : Akademika Pressindo Rafidi, S. 1982. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bogor : Institut Pertanian Bogor Saifuddin, S, 1988. Kimia Fisika Pertanian. Bandung : CV. Buana Subagyo, 1970. Ilmu Tanah Umum. Jakarta : PT. Soeroengan Tan. Kim. 1995. Dasar- dasar Kimia Tanah. Bogor :Gadjah Mada University Press Tim Dosen DDIT. 2010. Penuntun Praktikum Dasar- Dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung : Bandar Lampung. Foth, Henry D. 1994. Dasar-dasar Ilmu Tanah.Jakarta : Erlangga Hardjowigeno. 1987. Ilmu Tanah. Jakarta : Akademika Pressindo Syarief h.F, Syarifudin. 1998. Fisika Kimia Tanah Pertanian. Bandung : Pustaka Buana Sutanto, Rachman. 2005. Dasar-dasar Ilmu Tanah : Konsep dan Kenyataan. Yogyakarta : Kanisius. Rosmarkam, Afandhie dan Widya Y Nasih. 2002. Ilmu Kesuburan Tanah. Yogyakarta : Kanisius. Kuswandi. 1993. Pengapuran Tanah Pertanian. Yogyakarta : Kanisius. Foth, Hendry D.1994. Dasar-Dasar Ilmu Tanah.Edisi keenam.Jakarta:Erlangga. Handayanto,E dan Hairiyah,K.2007. Biologi Tanah Landasan Pengelolaan Tanah Sehat. Edisi 3.Jakarta: Pustaka Adipura.

63

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful