P. 1
ILMU TANAH

ILMU TANAH

5.0

|Views: 7,882|Likes:
Published by tyas

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: tyas on Sep 14, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/03/2014

pdf

text

original

Sections

BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar Belakang

Tanah mempunyai partikel penyusunnya berupa pasir, debu, dan liat. Di
dalam tanah terdapat mineral, unsur hara, air, udara, dan banyak mikroorganisme
yang hidup didalam tanah. Tanah mempunyai tingkatan kedalaman yang disebut
dengan horizon. Setiap tingkatan tersebut berbeda-beda yang terkandung
didalamnya. Banyak keanekaragaman mikroorganisme dan hewan tanah baik
yang bersifat merugikan maupun yang menguntungkan ( Subagyo1970).
Dibuatnya laporan ini merupakan tugas akhir ilmu tanah yang berisi seluruh
laporan praktikum selama semester dua, antara lain :

a)Penetapan pH, EC/ DHL, dan Kebutuhan Kapur
b)Penetapan Aldd
c)Penetapan C Organik
d)Penetapan N-Total
e)Penetapan P dengan Metode P-Bray
f)Penetapan KTK dan KB
g)Morfologi tanah.
h)Kurva pF dan Distribusi Ukuran Pori
Fungsi tanah secara fisik adalah sebagai tempat tumbuh dan
berkembangnya perakaran sebagai penopang tumbuh tegaknya tanaman dan
menyuplai kebutuhan air dan hara ke akar tanaman. Fungsi tanah secara kimiawi
adalah sebagai gudang dan penyuplai hara atau nutrisi (baik berupa senyawa
organik maupun anorganik sederhana dan unsur-unsur esensial, seperti: N, P, K,
Ca, Mg, S, Cu, Zn, Fe, Mn, B, Cl). Fungsi tanah secara biologi sebagai habitat
dari organisme tanah yang turut berpartisipasi aktif dalam penyediaan hara
tersebut dan zat-zat aditif bagi tanaman. Integritas dari ketiganya (fisik, kimiawi,
dan biologi) secara integral mampu menunjang produktivitas tanah untuk
menghasilkan biomass dan produksi baik tanaman pangan, tanaman sayur-
sayuran, tanaman hortikultura, tanaman obat-obatan, tanaman perkebunan, dan
tanaman kehutanan. Tanah merupakan tempat tumbuh tanaman, tubuh alam yang

1

berasal dari hancuran batuan dan bahan organik. Hal tersebut dapat dipelajari dari
suatu penampang tegak atau profil tanah
Nilai pH tanah sesungguhnya dipengaruhi oleh sifat dan ciri tanah yang
kompleks sekali. Namun, yang menonjol antara lain : kejenuhan basa, sifat misel
(koloid) dan macam kation yang terjerap (Hakim, dkk, 1986).
Kisaran pH tanah dapat dibatasi pada dua ekstrim. Kisaran pH tanah
mineral biasanya terdapat antara pH 3,5 – 10 atau lebih. Untuk tanah gambut pH
tanah dapat kurang dari 3, sebaliknya tanah alkalis bisa menunjukan pH lebih dari
11. Kemasaman tanah yang sangat rendah dapat ditingkatkan dengan menebarkan
kapur pertanian, sedangkan pH yang terlalu tinggi dapat diturunkan dengan
penambahan sulfur. Sebelum pengapuran, pH tanah harus diketahui terlebih
dahulu (Novizan, 2002).

Pengaruh pH tanah yang utama bersifat hayati. Dimana pengaruh pH
umumnya terbesar pada pertumbuhan tanaman adalah pengaruh pH terhadap
persediaan hara. Persediaan atau kelarutan beberapa hara tanaman berkurang
dengan peningkatan pH tanah (Foth, 1998)
Kemasaman tanah (pH) dapat dikelompokkan sebagai berikut :

(Arsyad,1989)

pH < 4,5 (sangat masam)

pH 6,6 - 7,5 (netral)

pH 4,5 - 5,5 (masam)

pH 7,6 - 8,5 (agak alkalis)

pH 5,6 - 6,5 (agak masam) pH >8,5 (alkalis)

Al-dd merupakan unsur yang sering dijumpai di dalam tanah dan sangat
menentukan kualitas tanah, karena ketersediaan unsur ini berpengaruh langsung
terhadap pertumbuhan tanaman dengan cara berinteraksi meracuni perakaran.
Khususnya tanah masam yang erat hubungannya dengan persantase ion H+

dan Al

3+

yag dipertukarkan karena alumunium merupakan sumber kemasaman yang
sangat penting. Dengan persentase Al-dd yang tinggi berarti menunjukkan
tingginya tingkat kemasaman suatu jenis tanah. Semakin masam suatu tanah
berarti pH nya menurun sehingga ketersediaan unsur hara dalam tanah semakin
menurun karena kemampuan unsur Al untuk mengikat unsur P membentuk Al-P
yang tidak tersedia dan tidak dapat diserap oleh akar tanaman. Penetapan Al dapat

2

dilakukan melalui uji tanah. Tanah banyak mengandung ion-ion (-) sehingga
kation yang dapat dipertukarkan hanyalah kation yang menempel pada tanah
diantaranya Ca+

, Mg+

, K+

, Na+

, dll. Penetapan Al-dd juga dapat dilakukan dengan
metode titrasi. Pada praktikum kali ini titrasi dilakukan dengan dengan
menggunakan larutan NaOH 0,1 N, HCL 0,1 N, dan 10 ml NaF.
Atmosfer terdiri dari 79 % nitrogen ( berdasarkan volume ) sebagai gas
padat N2 yang tidak bereaksi dengan unsur-unsur lainnya yang menghasilkan suatu
bentuk nitrogen yang dapat digunakan oleh sebagian besar tanaman. Peningkatan
penyediaan nitrogen tanah untuk tanaman terdiri terutama dari meningkatnya
jumlah pengikatan nitrogen secara biologis atau penambahan nitrogen pupuk.
Diantara berbagai macam unsur hara yang dibutuhkan tanaman nitrogen
merupakan salah satu diantara unsur hara makro tersebut yang sangat besar
peranannya bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Nitrogen memberikan
pengaruh besar terhadap perkembangan pertumbuhan. Diantara tiga unsur yang
biasa mengandung pupuk buatan yaitu kalium, fosfat, dan nitrogen, rupanya
nitrogen mempunyai efek paling menonjol.
Nitrogen total adalah jumlah total kjeldahl nitrogen (nitrogen organik dan
berkurang), amonia, dan nitrat-nitrit. Hal ini dapat diturunkan dengan pemantauan
untuk nitrogen total kjeldahl (TKN), amonia dan nitrat-nitrit individual dan
menambahkan komponen bersama-sama.
Penetapan N-total tanaman dan beberapa bahan kompleks yang
mengandung N sangat sulit. Bahan-bahan yang membantu perubahan N menjadi
NH4 adalah garam-garam, biasanya K2SO4 yang bertujuan untuk meningkatkan
suhu. Selain itu beberapa katalisator seperti selenium, air raksa atau tembaga
digunakan untuk merangsang dan mempercepat oksidasi bahan organik.
Nitrogen dalam tanah berasal dari bahan organik tanah, bahan organik
halus, N tinggi, C/N rendah, bahan organik kasar, N rendah C/N tinggi. Bahan
organik merupakan sumber bahan N yang utama di dalam tanah. Selain N, bahan
organik mengandung unsur lain terutama C, P, S dan unsur mikro. Pengikatan
oleh mikrorganisme dan N udara.
Perbandingan C/N rendah cenderung dirombak lebih cepat dibandingkan
dengan bahan tanaman yang mempunyai nisbih C/N tinggi. Perbandingan C/N
rendah karena N yang tinggi dan tanaman yang memiliki lebih besar proporsi C
dalam senyawa selulosa dan lignin yang tahan terhadap pelapukan, maupun

3

sebaliknya. Kekurangan N dapat diatasi dengan menambah garam-garam N dalam
pelapukan, sedangkan C tetap berada dalam bentuk yang tahan perombakan
(Pairunan, 1997).

Gejala-gejala kekurangan N adalah tanaman kerdil, pertumbuhan akar
terbatas, daun-daun kuning dan gugur, dan gejala-gejala kebanyakan N adalah
memperlambat kematangan tanaman, batang-batang lemah mudah roboh, dan
mengurangi daya tahan pada tanaman.
Tanah merupakan penyusun sebagian besar bumi ini disamping air.
Sebagai tempat hidup seluruh organisme di bumi ini, tanah memiliki beberapa
fungsi yaitu tanah sebagai dasar rumah kita, pembutan kerajinan dari tanah,
sebagai sumber kehidupan dan media tumbuh bagi tanaman. Pernan tanah sebagai
media tumbuhnya tanaman, tanah harus dapat menyediakan unsur-unsur yang
dibutuhkan oleh tanaman untuk tumbuh. Salah satu faktor yang harus ada adalah
bahan organik tanah (Subagyo 1970 ).
Bahan organik adalah kumpulan senyawa-senyawa organik kompleks yang
sedang atau telah mengalami proses dekomposisi baik berupa humus hasil
humifikasi maupun senyawa anorganik hasil mineralisasi (disebut biontik)
termasuk mikroba heterotrofik dan autotrofik yang terlibat (biotic). Bahan organik
sangat penting bagi tumbuhan. Bahan organik tanah memiliki ukuran partikel 1%
biomas terdapat dipermukaan horizon. Tanah yang kehilangan bahan organik
dapat merugian bagi tumbuhan. Bahan organik tanah merupakan indikator
kesuburan tanah.

Bahan organik memiliki beberapa manfaat yang sangat penting bagi tanah.
Diantaranya yaitu (1) Untuk menambah keasaman atau kebasaan tanah. (2)
Mempengaruhi warna tanah. (3) Mempengaruhi ciri fisik tanah (mempengaruhi
tekstur dan struktur). (4) Menambah kemampuan tanah untuk mengikat dan
menahan unsur hara. (5) Sebagai sumber unsur hara N, P, S, unsur mikro.
Bahan organik memiliki pengaruh terhadap sifat tanah. Pertama, bahan
organik dapat menurunkan plastisitas. Kedua, bahan organik dapat memperbaiki
struktur tanah sehingga menjadi lebih remah. Ketiga, bahan organik dapat
meningkatkan daya menahan air sehingga drainase tidak berlebihan, kelembapan
dan temperatur tanah menjadi stabil. Keempat, terhadap fisik tanah bahan organik
tanah membentuk struktur yang baik, terhadap kimia tanah bahan organik sebagai
sumber nutrisi tanah atau sumber unsur hara dan terjadi kapasitas pertukaran

4

kation yang tinggi dan trhadap biologi tanah sebagai suplai energi untuk bahan
organisme tanah.

Bahan organik biasanya berwarna cokelat dan bersifat koloid yang dikenal
dengan humus. Humus terdiri dari bahan organik halus yang berasal dari hancuran
bahan organik kasar serta senyawa-senyawa baru yang dibentuk dari hancuran
bahan organik tersebut melalui suatu kegiatan mikroorganisme di dalam tanah.
Humus merupakan senyawa yang resisten berwarna hitam atau cokelat dan
mempunyai daya menahan air dan unsur hara yang tinggi. Tanah yang
mengandung banyak humus atau mengandung banyak bahan organik adalah
tanah-tanah titik atas atau tanah-tanah top soil. Bahan organik tanah berpengaruh
terhadap pertumbuhan tanaman yaitu sebagai granulator yang berfungsi
memperbaiki struktur tanah, penyediaan unsur hara dan sebagainya. (Saifuddin,
1988)

Fosfor adalah salah satu hara makro yang penting untuk pertumbuhan
tanaman, dan peranannya sebagai faktor pembatas pertumbuhan lebih penting
daripada potasium. Sumber utama fosfor dalam tanah, yaitu: 1) pupuk buatan, 2)
pupuk kandang, 3) sisa tanaman dan pupuk hijau, dan 4) senyawa alami organik
dan anorganik. Senyawa-senyawa alami P-organik yang sering dijumpai dalam
tanah seperti fluorapalit, karbonatoapatit, hidroksiapatit, oksiapatit, trikalsium
fosfat, dikalsium fosfat, dan monokalsium fosfat. Pengendali ketersediaan P-
bentuk fosfat yang dapat segera dimanfaatkan akan membantu pemberian saran
perlu atau tidaknya dilakukan pemupukan fosfat, atau saran pengelolaannya
(Notohadiprawiro, 1985). Anorganik mencakup pH tanah, besi, alumunium,
magan terlarut, adanya pelican mengandung besi, adanya kalsium, jumlah dan
arah peruraian bahan organik, serta kegiatan jasad renik tanah. Masalah yang
banyak dihadapi adalah jumlah P tersedia dalam tanah sangat sedikit. Telaah
bentuk

Fosfor di dalam tanah dapat dibedakan dalam dua bentuk yaitu P-organik dan
P-anorganik. Kandungannya sangat bervariasi tergantung pada jenis tanah, tetapi
pada umumnya rendah. (Handayanto dan Hairiyah, 2007). Fosfor organik di
dalam tanah terdapat sekitar 50% dari P total tanah dan bervariasi sekitar 15-80%
pada kebanyakan tanah. Bentuk-bentuk fospat ini berasal dari sisa tanaman,
hewan dan mikrobia. Di sini terdapat berbagai senyawa ester dari asam
orthofospat yaitu inositol , fosfolipid, asam nukleat, nukleotida, dan gula posfat.

5

Tiga senyawa yaitu inositol, fosfolipid dan asam nukleat sangat dominan dalam
tanah. Inositol fospat dapat memiliki satu sampai enam atom P setiap unitnya, dan
senyawa ini dapat ditemukan dalam tanah atau organisme hidup (bakteri) yang
dibentuk secara enzimatik. Asam nukleat sebagai DNA dan RNA menyusun 1-
10% P-organik total. Sel-sel mikrobia (bakteri) sangat kaya dengan asam nukleat.
Jika organisme tersebut mati maka asam nukleatnya siap untuk dimineralisasi.
Ketersediaan P-organik bagi tanaman sangat tergantung pada aktivitas mikrobia
untuk memineralisasikannya. Namun seringkali hasil mineralisasi ini bersenyawa
dengan bagian-bagian anorganik untuk membentuk senyawa yang relatif sukar
larut. Enzim fostafase berperan utama dalam melepaskan P dari ikatan P-organik.
Enzim ini banyak dihasilkan dari mikrobia tanah,terutama yang bersifat
heterotrof. Aktivitas fosfatase dalam tanah meningkat dengan meningkatnya C-
organik,tetapi juga dipengaruhi oleh pH, kelembaban temperatur dan faktor lain.
Dalam kebanyakan tanah total P-organik sangat berkorelasi dengan C-organik
tanah, sehingga mineralisasi P meningkat dengan meningkatnya C-organik.
Semakin tinggi C-organik dan semakin rendah P-organik semakin meningkat
immobilisasi P. Fosfat anorganik dapat diimmobilisasi menjadi P-organik oleh
mikrobia dengan jumlah yang bervariasi antara 25-100%.
Bentuk P-anorganik dapat dibedakan menjadi P aktif yang meliputi Ca-P, Al-
P, Fe-P dan P tidak aktif, yang meliputi occhided-P , reductant-P , dan mineral P
primer.Fospor anorganik di dalam tanah pada umumnya berasal dari mineral fluor
apatit. Dalam proses hancuran iklim dihasilkan berbagai mineral P sekunder
seperti hidroksi apatit, karbonat apatit, klor apatit dan lainnya sesuai dengan
lingkungannya. Selain itu ion-ion fospat dengan mudah dapat bereaksi ion
Fe3+

,Al3+

,Mn2+

dan Ca2+

, ataupun terjerap pada permukaan oksida-oksida hidrat
besi, aluminium dan hidrat. P-anorganik berupa senyawa 3Ca(PO4)CaF Fluor
apatit, 3Ca3(PO4)2CaCO3 Carbonat apatit, 3Ca2(PO4)2Ca(HO)2 Hidroksi apatit,
3Ca3(PO4)2CaO Oksi apatit, Ca(PO4)2CaCO3 Tri kalsium Phosfat, Ca3(PO4)2
Dikalsium phosfat, AlPO42H2O Variscit, FePO42H2O Strengit (Elfiati,2005).
Buntan (1992) menjelaskan fosfor merupakan bahan makanan utama
yang digunakan oleh semua organisme untuk energi dan pertumbuhan. Secara
geokimia, fosfor merupakan 11 unsur yang sangat melimpah di kerak bumi.
Seperti halnya nitrogen, fosfor merupakan unsur utama di dalam proses
fotosintesis. Fosfor biasanya berasal dari pupuk buatan yang kandungannya

6

berdasarkan rasio N-P-K. Sebagai contoh 15-30-15, mengindikasikan bahwa berat
persen fostor dalam pupuk buatan adalah 30% fosfor oksida (P2O5). Fosfor yang
dapat dikonsumsi oleh tanaman adalah dalam bentuk fosfat, seperti diamonium
fosfat ((NH4)2HPO4) atau kalsium fosfat dihidrogen(Ca(H2PO4)2). Fosfat
merupakan salah satu bahan galian yang sangat berguna untuk pembuatan pupuk.
Sekitar 90% konsumsi fosfat dunia dipergunakan untuk pembuatan pupuk,
sedangkan sisanya dipakai oleh industri ditergen dan makanan ternak. Mineral-
mineral fosfat adalah batuan dengan kandungan fosfor yang ekonomis.
Kandungan fosfor pada batuan dinyatakan dengan BPL (bone phosphate of lime)
atau TPL (triphosphate of lime) yang didasarkan atas kandungan P2O5.
Menganalisis unsur fosfor atau P dapat digunakan menggunakan beberapa
metode, salah satu diantaranya adalah metode P-Bray 1. Metode Bray 1 digunakan
untuk menetapkan kandungan P-terjerap dengan menggunakan larutan
pengekstrak NH4F. Larutan ini akan membebaskan ion-ion F untuk menyekap Al,
Fe dan Ca dari senyawa P dalam larutan asam, sehingga ion-ion P nya dapat
dibebaskan. Metode Bray 1 menggunakan pengekstrak 0,03N NH4F dalam
0,025N HCl. Menutut Poerwowidodo (1992), terdapat beberapa metode lainnya
dalam menganalisis fosfor atau P tersedia dalam tanah antara lain: 1.0 Analisis P
tersedia menurut Olsen, 2.0 Analisis P tersedia menurut Bray 1, 3.0 Analisis P
tersedia menurut MCU, dan 4.0 Analsis P-total.

Kapasitas tukar kation tanah didefinisikan sebagai kapasitas tanah untuk
menyerap dan mempertukarkan kation. KTK biasanya dinyatakan dalam
milliekivalen per 100 gram. Kation-kation yang berbeda dapat mempunyai
kemampuan yang berbeda untuk menukar kation yang dijerap (Tan, 1998).
Kapasitas tukar kation merupakan sifat kimia yang sangat erat
hubungannya dengan kesuburan tanah. Tanah dengan KTK tinggi mampu
menyerap dan menyediakan unsur hara lebih baik daripada tanah dengan KTK
rendah. Karena unsur-unsur hara tersebut tidak mudah hilang tercuci oleh air
(Hardjowigeno, 1995).

Biasanya KTK tanah dipengaruhi oleh sifat dan ciri tanah itu sendiri,
antara lain : reaksi tanah atau pH tanah, tekstur atau jumlah liat, jumlah mineral
liat, bahan organik, pengapuran dan pemupukkan (Hakim, dkk, 1986).

7

Kejenuhan basa (KB) merupakan suatu sifat yang berhubungan dengan
KTK. Ia didefinisikan sebagai berikut :

KB = (Basa–basa yang dapat dipertukarkan) x 100 %
KTK
Kejenuhan basa (KB) sering dianggap sebagai petunjuk tingkat kesuburan
tanah. Kemudahan pelepasan kation terjerap untuk tanaman tergantung pada
tingkat kejenuhan basa. Pengapuran merupakan cara yang umum untuk
meningkatkan kejenuhan basa (Tan, 1998).
Kejenuhan basa sering dianggap sebagai petunjuk tingkat kesuburan tanah,
kemudahan pelepasan kation terjerap untuk tanaman tergantung pada tingkat
kejenuhan basa. Suatu tanah dianggap sangat subur jika kejenuhan basanya >
80%, kesuburan sedang jika kejenuhan basanya antara 50-80 %, dan tidak subur
jika kejenuhan basanya < 50%. Suatu tanah dengan kejenuhan basa sebesar 80%
akan melepaskan basa-basa yang dapat dipertukarkan lebih mudah dari pada tanah
dengan kejenuhan basa 50%. Pengapuran merupakan cara yang umum untuk
meningkatkan persen kejenuhan basa (Tan, 1998)

Tanah sebagai tubuh alam, sifat fisik, kimia, biologi tanah sangat
berpengaruh pada kegiatan pertanian. Faktor fisik tanah yang sangat berpengaruh
kegiatan pertanian antara lain tekstur, struktur, konsistensi, kapasitas memegang
air, kapasitas infiltrasi, permeabilitas, drainase, kedalaman efektif, dsb. Faktor
kimia tanah yang penting adalah kandungan hara tersedia makro dan mikro, pH
tanah, kandungan bahan organic, kapasitas tukar kation, kadar bahan beracun (Al-
dd) dsb. Sedangkan faktor biologi yang penting adalah jumlah dan aktifitas
organisme dalam tanah. Tindakantindakan terhadap tanah, umumnya ditujukan
untuk menambah dan menjamin keseimbangan hara dan bagi tanaman, mencegah
keracunan, kehilangan, serta manipulasi kondisi lingkungan hiungga sesuai untuk
pertumbuhan dan perkembangahn tanaman dan hewan. Dalam pengelolaan
pertanian, pemanfaatan maksimal faktor-faktor tersebut harus diperhatikan untuk
menjaga produktivitas dan kegunaan tanah secara lestari.
Pertanian modern memerlukan sarjana yang mengerti cara-cara
menganalisis baik di laboratorium maupun di lapangan, serta tagu dan
mampumemilih bahan-bahan untuk mengembangkan pertanian dalam arti luas.

8

Untuk mencapai tujuan tersebutpeningkatan keterampilan yang menunjang
perkembangan pertanian modern sangat diperlukan. Tanah sebagai cabang ilmu
yang menunjang menunjang langsung pertanian tidak lepas dari hal di atas. Untuk
membekali lulusan pengetahuan tentang tanah, maka mahasiswa perlu belajar
mengamati berbagai proses yang terjadi di dalam tanah dan proses-pross
identifikasi sifat-sifat tanah mulai dari teknik pengambilan contoh, pengenalan
morfologi tanah, teknik konservasi tanah, analisis tanah di lapang, teknik
pengelolaan tanah, dan pengenalan berbagai jenis pupuk sebagai bahan yang
digunakan untuk meningkatkan kualitas tanah guna meningkatkan
produktivitasnya. Untuk menjamin keberlanjutan kehidupan dan kesejahteraan
manusia maka diperlukan perlindungan terhadap tanah. Oleh karena itu
pengamatan di lapangan perlu dilakukan dan menjadi sangat penting untuk
mengidentifikasi profil tanah.

Tanah adalah material yang tidak padat yang terletak di permukaan bumi,
sebagai media untuk menumbuhkan tanaman (SSSA, Glossary of Soil Science
Term
). Tanah sebagai tubuh alam mempunyai berbagai macam fungsi utama,
diantaranya pertama sebagai media tumbuhan tanaman yang menyediakan hara
dan air. Kedua sebagai gudang unsur-unsur hara makro dan mikro serta mengatur
penyediaan bagi tanaman. Ketiga sebagai tempat tunjangan mekanik akar
tanaman. Tanah dari tempat ke tempat tanah berbeda. Misalnya pada lereng yang
curam tanah tidak sedalam dan seproduktif seperti tanah yang terdapat di tempat
yang datar. Sifat-sifat tanah yang dibentuk di daerah tropic akan berbeda dari
tanah yang dibentuk di daerah sub tropic. Selain itu kita juga harus mempelajari
tentang morfologi tanah tersebut untuk meningkatkan kualtas tanah guna
meningkatkan produktivitasnya. Seorang ahli tanah menganggap tanah sebagai
tubuh alam yang berdimensi dalam dan luas. Ia juga memandang tanah sebagai
hasil kerja gaya-gaya pembangunan dan penghancur. Pelapukan bahan organic
merupakan kejadian destruktif, sedangkan pembentukan mineral baru sepetii liat,
dan perkembangan suatu horizon merupakan kejadian sintetik.(goeswono
soepardi, 1983).

Tanah di kelompokkan dalam tiga definisi yaitu: berdasarkan pandangan
ahli geologi, berdasarkan pandangan ahli ilmu alam murni, berdasarkan
pandangan ilmu pertanian. Menurut ahli geologi (berdasarkan pendekatan
Geologis). Tanahdidefiniskan sebagai lapisan permukaan bumi yang berasal dari

9

bebatuan yang telah mengalami serangkaian pelapukan oleh gaya-gaya alam,
sehingga membentuk regolit (lapisan partikel halus). Menurut Ahli Ilmu Alam
Murni (berdasarkan pendekatan Pedologi) Tanah didefinisikan sebagai bahan
padat (baik berupa mineral maupun organik) yang terletak dipermukaan bumi,
yang telah dan sedang serta terus mengalami perubahan yang dipengaruhi oleh
faktor-faktor: bahan induk, iklim, organisme, topografi, dan waktu. Menurut Ahli
Pertanian (berdasarkan pendekatan Edapologi) tanah didefinisikan sebagai media
tempat tumbuh tanaman.

Fungsi tanah secara fisik adalah sebagai tempat tumbuh dan
berkembangnya perakaran sebagai penopang tumbuh tegaknya tanaman dan
menyuplai kebutuhan air dan hara ke akar tanaman. Fungsi tanah secara kimiawi
adalah sebagai gudang dan penyuplai hara atau nutrisi (baik berupa senyawa
organik maupun anorganik sederhana dan unsur-unsur esensial, seperti: N, P, K,
Ca, Mg, S, Cu, Zn, Fe, Mn, B, Cl). Fungsi tanah secara biologi sebagai habitat
dari organisme tanah yang turut berpartisipasi aktif dalam penyediaan hara
tersebut dan zat-zat aditif bagi tanaman. Integritas dari ketiganya (fisik, kimiawi,
dan biologi) secara integral mampu menunjang produktivitas tanah untuk
menghasilkan biomass dan produksi baik tanaman pangan, tanaman sayur-
sayuran, tanaman hortikultura, tanaman obat-obatan, tanaman perkebunan, dan
tanaman kehutanan. Tanah merupakan tempat tumbuh tanaman, tubuh alam yang
berasal dari hancuran batuan dan bahan organik. Hal tersebut dapat dipelajari dari
suatu penampang tegak atau profil tanah
Kurfa pF menggambarkan hubungan antara kadar air dengan tegangan air
pada tanah tertentu. Disebut juga sebagai kurva pF atau kurva retensi air tanah
Kadar air dinyatakan dalam persamaan volume, sedangkan tegangan air
dinyatakan dalam nilai logaritma tinggi kolom air dalam cm.
.

Banyaknya kandungan air dalam tanah berhubungan erat dengan besarnya
tegangan air (moisturetension) dalam tanah tersebut. Besarnya tegangan air
menunjukkan besarnya tenaga yangdiperlukan untuk menahan air tersebut di
dalam tanah. Tegangan diukur dalam bar atau atmosfir atau cm air atau logaritma
dari cm air yang disebut pF. Satuan bar dan atmosfir sering dianggapsama karena
1 atm = 1,0127 bar.Jadi semakin mampat suatu struktur tanah, maka pori pori
tanah juga semakin kecil. Sehinggakadar air tanah ditentukan oleh tingkat
kerapatan pori, semakin rapat suatu pori tanah makakandungan air dalam tanah

10

juga akan semkin kecil. Tekanan air dalam tanah juga berpengaruhterhadap
struktur tanah.

Jenis tanah yang ada di suatu tempat ditentukan oleh batuan induk, iklim,
topografi, bahan organik dan umur. Jenis-jenis tanah yang terdapat diindonesia
adalah sebagai berikut :

1.Tanah Humus adalah tanah yang sangat subur terbentuk dari pelapukan
daun dan batang pohon di hutan hujan tropis yang lebat.
2.Tanah Pasir adalah tanah yang bersifat kurang baik bagi pertanian
yang terbentuk dari batuan sedimen yang memiliki butir kasar dan
berkerikil.
3.Tanah Aluvial / Tanah Endapan adalah tanah yang dibentuk dari
lumpur sungai yang mengendap di dataran rendah yang memiliki sifat
tanah yang subur dan cocok untuk lahan pertanian.
4.Tanah Podzolik adalah tanah subur yang umumnya berada di
pegunungan dengan curah hujan yang tinggi dan bersuhu
rendah/dingin.
5.Tanah Vulkanik / Tanah Gunung Berapi adalah tanah yang terbentuk
dari lapukan materi letusan gunung berapi yang subur mengandung zat
hara yang tinggi. Jenis tanah vulkanik dapat dijumpai di sekitar lereng
gunung berapi.
6.Tanah Laterit adalah tanah tidak subur yang tadinya subur dan kaya
akan unsure hara, namun unsure hara tersebut hilang karena larut
dibawa oleh air hujan yang tinggi. Contoh : Kalimantan Barat dan
Lampung.
7.Tanah Mediteran / Tanah Kapur adalah tanah yang sifatnya tidak subur
yang terbentuk dari pelapukan batuan yang kapur. Contoh : Nusa
Tenggara, Maluku, Jawa Tenggah dan Jawa Timur.
8.Tanah Gambut / Tanah Organosol adalah jenis tanah yang kurang
subur untuk bercocok tanam yang merupakan hasil bentukan
pelapukan tumbuhan rawa. Contoh : Rawa Kalimantan, Papua, dan
Sumatra.

Lahan berbeda dengan tanah. Lahan merupakan suatu kawasan yang
mempunyai sifat-sifat yang sama seperti jenis tanah, topografi, dan drainase serta

11

dapat digunakan untuk tujuan tertentu. Contoh: lahan sawah, tegalan, pekarangan,
dan lahan pasang surut.

A.Tujuan

Praktikum penetapan reaksi tanah (pH) bertujuan menentukan pH masing-
masing sampel tanah (Andosol, Latosol, Mediteran, Podzolik), menentukan
mudah tidaknya unsure-unsur hara diserap tanaman, dan menetapkan kebutuhan
kapur metode SMP.

Praktikum penetapan Al yang dapat dipertukarkan bertujuan menetapkan
jumlah Alumunium yang dapat dipertukarkan dengan metode titrasi.
Praktikum penentuan Fosfor tersedia dalam tanah bertujuan mencari nilai
larutan standar, nilai absorbans contoh larutan dan menentukan kandungan fosfor
dalam keempat sampel tanah yang diuji (Andosol, Latosol, Mediteran, dan
Pozdazolik) dengan menggunakan metode P-Bray 1.
Praktikum penentuan Bahan Organik yang terkandung dalam tanah
bertujuan mengetahui kandungan bahan organik tanah pada tanah Andosol,
Latosol, Mediteran dan Podzolik.
Praktikum penentuan Kapasitas Tukar Kation (KTK) dan Kejenuhan Basa
(KB) bertujuan mengetahui kemampuan tanah menjerap dan mempertukarkan
kation, menentukan banyak sedikitnya tempat yang diduduki oleh kation-kation
basa pada kompleks jerapan yang menggambarkan kejenuhan basa pada tanah
(KB) dan mengetahuo peranan KTK dalam kesuburan tanah.
Praktikum penetapan Nitrogen total bertujuan menetapkan nitrogen total
yang terkandung dalam tanah dan beberapa bahan kompleks yang mengandung
nitrogen.

Praktikum pengambilan contoh tanah bertujuan untuk menentukan
kebenaran hasil analisis di laboratorium ( penetapan sifat fisik tanah, kerapatan
distribusi ruang dan pH), mengetahui karakteristik kelembaban tanah, bobot isi,
serta faktor-faktor yang mempengaruhinya, dan mengetahui hal0-hal yang perlu
diperhatikan dalam pengambilan contoh tanah yang dianalisis.

12

Praktikum morfologi tanah bertujuan mengetahui sifat-sifat fisik tanah di
suatu lokasi tertentu, mengetahui sifatsifat tanah (latosol, dan podzolik), dan
mempelajari proses pembentukan profil tanah.
Praktikum kurfa pF bertujuan mempelajari kurfa pF yang merupakan
kurva yang menggambarkan hubungan antara kadar air dengan tegangan air tanah

BAB II

ALAT, BAHAN DAN METODE

A.Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum derajat keasaman tanah (pH)
ialah neraca analitik, mesin pengocok, pH meter, erlenmeyer, buret, gelas ukur
serta gelas piala, pipet, kertas saring dan tissue. Bahan-bahan yang digunakan
ialah empat sampel tanah (andosol, latosol, mediteran dan podzolik), aqudest, KCl
1 N.

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum Al yang dapat dipertukarkan ialah
neraca analitik, erlenmeyer, gelas ukur, gelas piala, kertas saring, pipet mohr, dan
mesin pengocok. Bahan-bahan yang digunakan ialah empat sampel tanah,
aquades, indikator fenoftalein, KCL 1 N, NaOH 0,1 N, HCL 0,1 N dan NaF 10
ml.

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum penetapan P dalam tanah dengan
metode P-Bray1 ialah labu ekstrasi, mesin pengocok, pipet mohr, labu reaksi,
kertas saring, corong dan spektrofotometer. Bahan-bahan yang digunakan ialah
empat sampel tanah (andosol, latosol, mediteran dan podzolik) masing-masing
seberat 1,5 gram, pengekstrak P-A , pengekstrak P-B dan pereduksi P-C.

13

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum bahan organik tanah ialah
erlenmeyer 500ml, pipet mohr, buret untuk titrasi gelas ukur dan ruang asap.
Bahan-bahan yang digunakan ialah beberapa sampel tanah kering udara seperti
tanah andosol 0,20 gram, tanah latosol 0,50 gram, tanah mediteran 0,50 gram dan
tanah podzolik 0,50 gram, K2Cr2O7, H2SO4, indikator ferroin 0,025 M, FeSO4 0,5
N, dan aquades.

Alat- alat yang digunakan dalam praktikum penetapan Nitrogen total yang
terkandung dalam tanah ialah neraca analitik, labu kjeldahal 25 ml, labu destilasi,
erlenmeyer, pipet tetes, dan buret. Bahan-bahan yang digunakan ialah empat
sampel tanah( andosol, latosol, mediteran, podzolik) masing-masing 500 mg,
campuran Se, CuSo4, Na2SO4, larutan H2SO4, cairan parafin, NaOH 50%, H3BO4
4%, indikator conway, dan HCl.
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum penentuan Kapasitas Tukar Kation
(KTK) dan Kejenuhan Basa (KB) ialah timbangan analitik, tabung sentrifuse,
pengaduk gelas, saringan, labu takar 100 ml, labu didih, erlenmeyer 250 ml,
erlenmeyer 100 ml, kertas saring, pipet dan penangas air. Bahan-bahan yang
digunakan ialah 5g sampel tanah, 20 ml larutan NH4OAc N pH 7, 20 ml alkohol
80%, pereaksi Nester, batu didih, parafin cair, 20 ml NaOh 50 %, 25 ml H2SO4
0,1 N, indikator Conwai, NaOH 0,1 N, 25 ml HCL 0,1 N dan Indikator metil
merah.

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum pengambilan contoh tanah
cangkul atau sekop, pisau, catter ,alat penekan, kotak penyimpan tabung, kertas
label, ring sampel, penggaris, martil dan golok. Bahan yang digunakan ialah
sepetak lahan.

Alat-alat yang digunakan ialah buku munsel soil colour chart, meteran,
clinometer dan alat tulis. Bahan-bahan yang digunakan ialah sampel tanah, air
keran, alas tanah.

B.Metode

a.pH, EC/DHL dan Kebutuhan Kapur
pH H2O ( 1:1 )

Ditimbang 10 gram tanah (contoh tanah-tanah yang diatas)
kemudian diukur 10 ml aquades lalu masukan kedalam gelas ukur.
Kemudian kedua bahan tersebut masukan kedalam gelas kocok, yang

14

kemudian dimasukan kedalam mesin pengocok selama 30 menit. Lalu
diamkan selama 5 menit. Setelah didiamkan larutan diukur pHnya
dengan pHmeter.

pH H2O (5:1)

Ditimbang 10 gram tanah (contoh tanah-tanah yang diatas)
kemudian diukur 50 ml aquades lalu masukan kedalam gelas ukur.
Kemudian kedua bahan tersebut masukan kedalam gelas kocok, yang
kemudian dimasukan kedalam mesin pengocok selama 30 menit. Lalu
diamkan selama 5 menit. Setelah didiamkan larutan diukur pHnya
dengan pHmeter.

pH KCl (1:1)

Ditimbang 10 gram tanah (contoh tanah-tanah yang diatas)
kemudian diukur 10 ml KCl lalu masukan kedalam gelas ukur.
Kemudian kedua bahan tersebut masukan kedalam gelas kocok, yang
kemudian dimasukan kedalam mesin pengocok selama 30 menit. Lalu
diamkan selama 5 menit. Setelah didiamkan larutan diukur pHnya
dengan pH meter.

Catatan : DHL =

.......

8,
110

1413

X

µmos/ cm ~mmhos/cm

Ket :1413 dan 110.8 (setelah dikalibrasi) merupakan ketetapan
DHL

Kebutuhan kapur

Ditimbang 1 gr kapur pertanian (kaptan). Masukan kaptan
tersebut kedalam erlemeyer dan kemudian diukur 50 ml HCl didalam
gelas ukur, lalu dicampurkan juga kedalam erlemeyer, kemudian di
kocok dan dimsukkan kedalam ruang asap sampai mendidih selama
30menit. Masukkan 50ml aquades yang kemudian diteteskan indikator
fenolftalen (pp). Tahap terakhir titrasi larutan dengan NaOH sampai

15

larutan berubah warna, dihitung berapa mL larutan yg terpakai sampai
berubah warna.

Dengan rumus :

% DN = (ml HCl x N HCl) – (ml NaOH x N NaOH)

(Mr NaOH) x 100%
= ( 50 ml HCl x 1) – (ml NaOH x 0,1)
40 x 100 %

Ket : 0,1926 = N NaOH

dari Laboran

Umumnya pakai 0,1 karena kalau 0,1926 DNnya rendah sekali

a.Al yang dapat dipertukarkan

Timbang 5 gr tanah, masukkan ke dalam erlenmeyer 125m.
Tambahkan 50 ml larutan KCl 1N. Tambahkan 50ml larutan KCl 1N,
kocok dengan mesin pengocok selama 30 menit. Saring dan tampunglah
hasil saringan. Pipet 25ml hasil saringan, masukkan ke dalam erlenmeyer
125ml. Ditambahkan 5 tetes larutan indikator Penolptalein Tambahkan 5
tetes indikator Penolptalein. Titrasi dengan NaOH 0,1N sampai timbul
warna merah muda permanen. Ditambahkan (± 1 tetes HCl 0,1N).
Ditambahkan ± 1 tetes HCl 0,1N sampai warna merah muda lenyap lagi
Ditambahkan 10ml NaF 4%, warna merah akan timbul kembali. Titrasi
lagi dengan HCl 0,1N sampai warna merah tadi hilang kembali. Jumlah
asam yang dipakai akan sama dengan jumlah Al yang dapat dipertukarkan
Cari ppm Al berdasarkan hasil data yang didapat. Ppm Al = ((ml HCl x N
HCl) 〖x fp x 9x10〗^3)/(Bobot tanah kering 105°C)
me Al/100g = ppm Al/90.

b.C-Organik dalam tanah

Tanah yang bobot keringnya telah diukur, ditempatkan dalam labu
erlenmeyer 500 ml. Sepuluh mililiter larutan K2Cr2O7 dipipet sambil

16

digoyangkan perlahan-lahan agar tanah dan larutan K2Cr2O7 tercampur
merata. Duapuluh mililiter larutan H2SO4 pekat ditambahkan di ruang asap
sambil digoyang cepat hingga tercampur rata. Campuran tersebut
dibiarkan di ruang asap selama 30 menit hingga dingin. Campuran
diencerkan dengan 100 ml air bebas ion atau air destilata. Empat tetes
indikator ferroin 0,025 M ditambahkan ke cairan tersebut lalu dititrasi
dengan larutan FeSO4 hingga larutan tetep berwarna merah anggur. Blanko
ditetapkan sama seperti langkah kerja di awal, tetapi tanpa menggunakan
conoh tanah. Persen C-organik dan bahan organik dihitung dengan rumus
sebagai berikut:

% C-Organik= (V blanko- V Contoh) N FeO4 x 0,003 x f x 100

BKM

c.Nitrogen Total dalam tanah

Menimbang tanah sebanyak 500mg dan memasukkannya ke dalam
labu Kjeldahl yang berukuran 25ml. Menambahkan 1.9g campuran Se,
CuSO4 dan Na2SO4. Menambahkan 5ml H2SO4 pekat ke dalm labu
kemudian labu tersebut digoyangkan perlahan-lahan agar semua tanah
terbasahi oleh H2SO4. Campuran tanah tersebut dijaga agar tidak memercik
ke dinding labu. Menambahkan 5 tetes parafin cair. Memanasi labu di
kamar asap dengan api kecil kemudian perlahan-lahan api diperbesar,
shingga diperoleh suatu cairan yang berwarna terang (hijau biru).
Memanasi labu 15 menit lagi, lalu didinginkan. Menambahkan air
sebanyak 50ml dan menggoyangkan sebentar kemudian memindahkan isi
labu secara kuantitatif kedalam labu destilasi. Bahan cairan dalam labu
destilasi tidak boleh melebihi setengah dari isi labu. Menambahkan 20ml
NaOH 50% kedalam labu destilasi. Memulai destilasi dengan menampung
destilasi dalam Erlenmeyer berukuran 125ml yang telah berisi campuran
10ml H3BO4 4% dan 5 tetes indikator Conway. Mengisi destilat sebanyak
100ml. Mentitrasi destilat dengan HCl yang telah dibakukan sampai terjadi
perubahan warna dari hijau ke merah. Melakukan penetapan blanko.

d.Fosfor dalam tanah dengan metode P-Bray 1

17

Tanah andosol, latosol, mediteran, podsolik terlebih dahulu
disiapkan dan masing-masing tanah diambil sebanyak 1,5 gram
dimasukkan ke dalam labu ekstraksi yang berbeda-berbeda, disisakan 1
labu ekstarksi kosong sebagai blanko. Masing-masing labu takar
ditambahkan 15 ml larutan P-A., dan dikocok dengan menggunakan mesin
pengocok selama 15 menit. Setelah 15 menit, hasil kocokkan dari masing-
masing labu takar disaring dengan menggunakan corong dan kertas saring
agar mendapat air ekstraksi tanah, dan air tersebut dimasukkan ke dalam
erlenmeyer. Hasil ekstraksi tersebut dipipet 5 ml dan dipindahkan ke
dalam tabung reaksi dan tambahkan larutan P-B sebanyak 5 ml, lalu
dikocok.

Setelah larut oleh larutan P-B, ditetesi + 5 tetes larutan produksi P-
C dikocok lagi dan tunggu hingga 15 menit. Setelah 15 menit, dibaca
kerapatan optik/ absorbansinya dengan menggunakan alat
spektrofotometer pada panjang gelombang 660 mµ. Untuk selanjutnya
dilakukan pembakuan dengan membuat satu seri larutan baku yang
mempunyai konsentrasi 0, 1, 2, 3, 4, dan 5 ppm P. Larutan ini dibuat dari
larutan baku, dengan masing-masing konsentrasi diberi volume 0, 0.5, 1,
1.5, 2, 2.5 dan masing-masing larutan diencerkan dengan larutan Bray 1
dalam labu takar 50 ml. Diambil 5 ml larutan baku yang telah dibuat, lalu
dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan ditambahkan 5 ml larutan P-B
serta 5 tetes larutan P-C. Larutan-larutan tersebut dibaca absorbansinya
dengan spektrofotometer pada panjang gelombang yang sama (660 mµ ).

e.Kapasitas Tukar Kation (KTK) dan KB (Kejenuhan Basa)

Langkah awal yang dilakukan dalam percobaan kapasitas tukar
kation ialah contoh tanah kering udara dengan ukuran 2 mm ditimbang
sebanyak 5 gram dan dimasukan kedalam tabung sentrifuse 100 mL.
larutan NH4OAc pH 7 ditambahkan sebanyak 20 mL dan diaduk sampai
merata. Campuran dibiarkan selama 24 jam. Campuran di sentrifuse
selama 10 menit sampai 15 menit dengan kecepatan 2500 rpm. Ekstrak
NH4OAc di dekantasi dan disaring melalui saringan. Filtrate yang
diperoleh ditampung didalam labu takar 100 mL.Larutan NH4OAc pH 7
ditambahkan kembali dan diulangi sampai 4 kali. Campuran disentrifuse

18

dan ekstraknya didekantasi kedalam labu takar 100 mL sampai tanda tera.
Alkohol 80% ditambahkan kedalam campuran sebanyak 20 mL untuk
pencucian NH4+

sebanyak 7 kali hingga campuran bebas NH4+

dengan
pereaksi Nesler. Tanah dipindahkan secara kuantitatif dari tabung
sentrifuse kedalam labu didih setelah bebas NH4+

. Air ditambahkan
sebanyak 450 mL. batu didih ditambahkan sebanyak 5 sampai 6 butir
kedalam labu didih. Paraffin cair sebanyak 5 sampai 6 tetes dan NaOH 50
% sebanyak 20 mL ditambahkan kedalam labu didih, kemudian didestilasi.
Destilat ditampung dalam Erlenmeyer 250 mL yang berisi 25 mL H2SO4
0,1 N dan 5 sampai 6 tetes indikator Conway. Destilasi dihentikan setelah
tampungan destilat mencapai 150 mL. kelebihan asam dititrasi dengan
NaOH 0,1 N. titrasi dihentikan ketika warna berubah menjadi hijau.
Destilasi dilakukan tanpa tanah sebagai blanko. Besarnya KTK dihitung
dengan suatu rumus.

KTKme100 gr=ml blanko-ml contohx N NaOHx100BKM

(gr)

Langkah kedua yang dilakukan dalam percobaan kejenuhan basa
ialah ekstrak NH4OAc pada penetapan KTK dipipet sebanyak 25 mL.
larutan tersebut dimasukan kedalam cawan porselin dan diuapkan dalam
penangas air. Campuran dibiarkan hingga cukup dingin dan dipindahkan
kedalam moffel oven dengan suhu 600 C sampai isi cawan berubah
menjadi abu putih. Cawan diambil dari moffel oven dan didinginkan.
Larutan HCl 0,1 N sebanyak 25 mL ditambahkan untuk melarutkan abu.
Larutan dipanaskan diatas nyala api kecil selama 3 menit. Larutan
didinginkan sebentar dan dipindahkan secara kuantitatif kedalam labu
Erlenmeyer 100 mL serta ditempatkan diatas penangas air selama 3 menit.
Indikator metal merah ditambahkan sebanyak 4 tetes dan dititrasi dengan
larutan NaOH 0,1 N sampai mencapai titik akhir. Blanko dititrasi dengan
larutan NaOH 0,1 N. Presentasi kejenuhan basa dari contoh tersebut
dihitung dengan suatu rumus.

%

100

%

x

KTK

Na

K

Mg

Ca

KB

+

+

+

=

19

f.Morfologi Tanah

Tahapan pengamatan yang pertama adalah mengidentifikasi
penampang tanah dengan membaginya menjadi beberapa horizon,
pembatasan horison dilakukan dengan melihat warna secara umum dan
menusuk-nusuk atau mencukil-cukil dinding penampang yang akan
dideskripsi, untuk mengetahui perbedaan kekerasan atau kepadatan dari
keseluruhan penampang. Sementara itu dengan tangan kiri untuk
merasakan perbedaan tekstur dengan meremas-remas tanahnya. Kemudian
dilakukan pengukuran kedalaman tiap horizon. Tanah latosol memiliki
solum yang dalam dengan horizon B yang tebal. Batas antar horizon baur
dimana lebar peralihan antara 10-20 cm. Bentuk topografi batas horizon
berombak dan tidak teratur. Sedangkan horizon podsolik dapat dibedakan
dengan jelas yang memiliki batas nyata hingga jelas dan benttuk horizon
tidak teratur. Tahapan selanjutnya adalah menentukan warna masing-
masing horizon tanah dengan buku Munsell Soil Color Chart. Selanjutnya
diamati tekstur dan struktur tanah.

g.Kurva pF dan Distribusi Ukuran Pori

Mengambil contoh tanah dari lapang dengan kuningan (tabung),
mengambil tanah dari tabung setebal sebesar 1 cm, kemudian mengambil
1,5 cm dibagi 3 masing untuk pF 1( tekanan 10 cm air) pF 2(tekanan
100cm air) pF 2,54 (tekanan 1/3 atm), untuk pF 4,2 (tekanan 15 atm),
digunakan contoh tanah udara kering berukuran kurang dari 2 mm.
Penetapan 1,2 dan 2,54 diletakkan diatas piringan dalam “pressure plate
apparatus”. Sedangkan untuk penetapan 4,2 diletakkan diatas piringan
dalam “pressure membrane appratus”. Jenuhi contoh tanah dengan air
sampai berlebihan dibiarkan selama 48 jam, menutup alat rapat-rapat dan
berikan tekanan sesuai dengan pF yang dikehendaki. Keseimbangan akan
tercapai setelah kira-kira 48 jam, tekanan tersebut bekerja. Mengeluarkan
contoh tanah untuk menetapkan kadar airnya, dan membuat kurva pF.
Menghitung porositas total, kemudian membuat persen pori
dranase sangat cepat, setelah itu menghitung persen pori drananse cepat
dan menghitung pori dranase pori lambat,

20

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

a.pH, EC/DHL dan Kebutuhan Kapur

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->