P. 1
BUKU SKI IX 2011

BUKU SKI IX 2011

3.0

|Views: 18,938|Likes:
Buku SKI ini di susun oleh Irwan Setiawan, S.Pd.I dan Lora Hamdarida, S.Pd selesai pada tanggal 16 September 2011, insya Allah bermanfaat dan berkesan untuk para pendidik dan pelajar di MTs. se Indonesia.
Buku SKI ini di susun oleh Irwan Setiawan, S.Pd.I dan Lora Hamdarida, S.Pd selesai pada tanggal 16 September 2011, insya Allah bermanfaat dan berkesan untuk para pendidik dan pelajar di MTs. se Indonesia.

More info:

Published by: M Azka Aulia Al-Adha on Sep 16, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/01/2013

pdf

text

original

Pendidikan di Indonesia setelah merdeka terbagi kepada dua yaitu

diselenggarakan opemerintah dan oleh masyarakat. Pada masa penjajahan

juga terbagi dua yaitu yang diselenggarakan kolonial dan oleh masyarsakat.

Akan tetapi Pendidikan bangsa oleh pemerintah dan masyarakat, tujuannya

sama yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia, masyarakat diberi

kebebasan mengembangkan pendidikan sesuai dengan undang-undang yang

berlaku.

Dengan berkembangknya pembaharuan, dalam Islam di awal abad ke

20 M, persoalan administrasi dan organisasi pendidikan mulai mendapat

perhatian pada beberapa kalangan atau organisasi. Kurikulum mulai jelas.

Belajar untuk memahami, dan bukan sekedar menghapal, sebagaimana yang

telah dialami selama ini dipondok-pondok pesantren.

Haji Muhammad Yunus, alumni Kairo asal Padang, merencanakan

pembangunan pendidikan Islam. Gagasan ini dilaksanakan di Lampung, waktu

itu masih merupakan karesidenan tahun 1948 M banyak sekolah-sekolah

swasta dijadikan negeri, mereka memperoleh subsidi dari pemerintah.

Haji Mahmud Yunus juga menyarankan agar pendidikan agama

diajarkan pada sekolah-sekolah umum dan hal hal ini disetujui oleh konfrensi

pendidikan se-Sumatra di Padang Panjang, Tanggal 02 Oktober 1947 M.

Ketika itu ia menjadi Kepala Seksi Islam dan Kantor Agama Propinsi.

Gagasan beliau untuk mengembangkan pendidikan Islam kandas

(mengalami kegagalan) karena terjadinya aksi militer Belanda II. Setelah

Sejarah Kebudayaan Islam Kelas IX

133

selesai, usaha untuk mengkoordinasi sekolah-sekolah agam mulai tumbuh

kembali bukan saja untuk Jawa dan Sumatra, bahkan untuk seluruh Indonesia.

Dari gagasan Haji Mahmud Yunus tersebut, muncullah sekolah-sekolah

seperti :

1. Madrasah Ibtidaiyah 6 Tahun

2. Tsanawiyah 4 Tahun

3. Aliyah 3 Tahun

4. Sekolah Guru Agama Islam 5 Tahun (bagi lulusan sekolah dasar

umum dan agama, 2 tahun lagi bagi lulusan SMP atau Tsanawiyah).

5. Sekolah Guru Hakim Agama Islam / SGHA 4 Tahun.

6. PGA menjadi 6 bTahun, 4 Tahun bagian pertama dan 2 Tahun

bagian atas.

7. Sedangkan SGHA dihapuskan tahun 1954 M dan digantikan dengan

Pendidikan Hakim Islam Negeri (PHIN 4 Tahun, bagi lulusan PGA 4

Tahun).

Demikianlah beberapa sekolah agama Islam yang didirikan oleh

Departemen Agama. Adapun bentuk lembaga-lembaga pendidikan Islam

swasta adalah sebagai berikut :

1. Pondok Pesantren

2. Madrasah Diniyah

3. Madrasah Swasta, yang sistem pengajaran dan kurikulumnya sama

dengan sekolah negeri

Dalam rangka meningkatkan kwalitas pondok pesantren, karena mutu

keluaran sekolah-sekolah agamamasih mendapat sorotan maka Departemen

Sejarah Kebudayaan Islam Kelas IX

134

Agama memberikan bantuan kepada Madrasah yang juga

menambah/memperhatikan pendidikan umum. Karena fungsi Departemen

Agama sebagaimana yang dirumuskan pada tahun 1967 M ada;ah sebagai

berikut :

1. Mengurus serta mengatur pandidikan agama disekolah-sekolah

serta membimbing perguruan-perguruan agama.

2. Mengikuti dan memperhatikan hal yang bersangkutan dengan

agama dan keagamaan.

3. Memberi penerangan dan penyuluhan agama.

4. Mengurus dan mengatur peradilan agama serta menyelesaikan

masalah yang berhubungan dengan hukum agama.

5. Mengurus dan mengembangkan IAIN perguruan tinggi swasta dan

pesantren.

6. Mengurus dan mengawasi pendidikan agama pada

perguruan-perguruan tinggi.

7. Mengatur, mengurus, mengawasi penyelenggaraan ibadah haji.

Setelah berdirinya Departemen Agama, persoalan pendidikan

agama Islam mulai mendapat perhatian lebih serius, sebagai bukti

antara lain :

Badan pekerja Komite Nasional Pusat dalam bulan Desember

1945 M menganjurkan agar pendidikan Madrasah diteruskan.

Badan ini juga mendesak pemerintah agar memberikan bantuan

kepada Madrasah.

Departemen Agama segera membentuk seksi khusus yang

Sejarah Kebudayaan Islam Kelas IX

135

bertugas menyusun pelajaran dan pendidikan agama Islam.

Mengadakan pengangkatan guru-guru Agama, dan mengawasi

pendidikan agama.

Pada tahun 1946 M, Departemen Agama mengadakan latihan 90

guru agama, 45 orang kemudian diangkat menjadi guru agama.

Adapun perguruan tinggi yang telah ada antara lain :

1. Universitas Islam di Solo, didirikan pada tanggal 20 Februari

1950 M.

2. Universitas Islam di Yogyakarta dan Solo, pada tanggal 20

Februari 1951 M digabung menjadi satu demgan nama UII.

3. Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) didirikan pada

tanggal 26 September 1951 M.

4. Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA) didirikan di Jakarta pada

tahun 1957 M.

5. PTAIN dan ADIA dijadikan satu menjadi IAIN (Institut Agama

Islam Negeri)

6. Universitas Islam Attahiriyah di Jakarta.

7. Universitas Islam Asyafiyyah, di Jakarta.

8. UNINUS serta UNISBA, keduanya terletak di Bandung.

9. Islamic Collage (berdiri 9 Desember 1940 M di Padang oleh M.

Mahmud Yunus dengan dua Fakultas yaitu :

Fakultas Syariah

Fakultas Pendidikan dan Bahasa Arab.

Tujuannya adalah untuk mendidik generasi muda Islam

Sejarah Kebudayaan Islam Kelas IX

136

agar menjadi sarjana dan ulama yang berwawasan luas.

Dari uraian diatas menunjukkan bahwa Ummat Islam

Indonesia telah memainkan peranan penting dibidang

pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan untuk

mempersiapkan generasi Islam dalam keikutsertaan

membangun negara Indonesia.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->