P. 1
Skripsi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Nht

Skripsi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Nht

|Views: 250|Likes:
Published by Rizki Fauzian

More info:

Published by: Rizki Fauzian on Sep 17, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/22/2014

pdf

text

original

Oleh Nurwahyuni Latif BAB I PENDAHULUAN 1.

Latar Belakang Keberhasilan program pendidikan melalui proses belajar mengajar di sekolah sebagai lembaga pendidikan formal sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu : siswa, kurikulum, tenaga kependidikan, biaya, sarana dan prasarana serta faktor lingkungan. Apabila faktor-faktor tersebut dapat terpenuhi sudah tentu akan memperlancar proses belajar-mengajar, yang akan menunjang pencapaian hasil belajar yang maksimal yang pada akhirnya akan meningkatkan mutu pendidikan. Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah, antara lain dengan perbaikan mutu belajar-mengajar. Belajar mengajar di sekolah merupakan serangkaian kegiatan yang secara sadar telah terencana. Dengan adanya perencanaan yang baik akan mendukung keberhasilan pengajaran. Usaha perencanaan pengajaran diupayakan agar peserta didik memiliki kemampuan maksimal dan meningkatkan motifasi, tantangan dan kepuasan sehingga mampu memenuhi harapan baik oleh guru sebagai pembawa materi maupun peserta didik sebagai penggarap ilmu pengetahuan. Salah satu upaya untuk meningkatkan sumber daya manusia adalah melalui proses pembelajaran di sekolah. Dalam usaha meningkatkan kualitas sumber daya pendidikan, guru merupakan sumber daya manusia yang harus dibina dan dikembangkan. Usaha meningkatkan kemampuan guru dalam belajar-mengajar, perlu pemahaman ulang. Mengajar tidak sekedar mengkomunikasikan pengetahuan agar dapat belajar, tetapi mengajar juga berarti usaha menolong si pelajar agar mampu memahami konsep-konsep dan dapat menerapkan konsep yang dipahami. SMA Muhammadiyah Kendari adalah salah satu SMA swasta yang statusnya disejajarkan dengan SMA negeri dan diakui oleh pemerintah. Sejak tahun pelajaran 2006/2007 SMA Muhammadiyah, seperti halnya SMA lainnya telah menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), namun menurut hasil wawancara dengan guru diketahui bahwa terdapat beberapa kendala dalam pelaksanaan KTSP. Salah satu kendala utama adalah kurangnya antusias siswa untuk belajar siswa lebih cenderung menerima apa saja yang disampaikan oleh guru, diam dan enggan dalam mengemukakan pertanyaan maupun pendapat. Hal ini dikarenakan oleh pembelajaran yang dilakukan oleh guru cenderung menggunakan metode pembelajaran konvensional yakni ceramah, tanya jawab dan pemberian tugas. Padahal dalam kerangka pembelajaran matematika, siswa mesti dilibatkan secara mental, fisik dan sosial untuk membuktikan sendiri tentang kebenaran dari teori-teori dan hukum-hukum matematika yang telah dipelajarinya melalui proses ilmiah. Jika hal ini tidak tercakup dalam proses pembelajaran dapat dipastikan penguasaan konsep matematika akan kurang dan akan menyebabkan rendahnya prestasi belajar siswa yang pada akhirnya akan mengakibatkan rendahnya mutu pendidikan. Berdasarkan informasi tersebut, dilakukan observasi di SMA Muhammadiyah Kendari pada tanggal 18 Desember 2006 dan diperoleh keterangan bahwa prestasi belajar matematika siswa kelas XIIA-1 di sekolah tersebut masih tergolong rendah. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata ulangan harian siswa hanya mencapai 4,5. Nilai rata-rata ini jika dibandingkan dengan ketuntasan belajar menurut kurikulum, yakni sebesar 6,5 atau 65 % dapat dikatakan bahwa nilai tersebut berada dibawah standar ketuntasan yang diharapkan. Dari hasil wawancara ini pula diperoleh informasi dari guru matematika bahwa pokok bahasan yang dianggap sulit untuk dipahami oleh siswa adalah pokok bahasan Limit Fungsi. Dalam hal ini siswa seringkali mengalami kesulitan dan kekeliruan dalam menyelesaikan soal-soal latihan. Misalnya:

Tentukan

jika . Sebagian besar siswa lansung mensubstitusikan

ke

sehingga . Dengan

cara penyelesaian seperti itu, maka

tidak mempunyai nilai karena pembagian dengan 0 tidak

terdefinisi. Untuk kasus limit seperti ini penyelesaiannya adalah sebagai berikut : Jika , maka : , sehingga jawaban yang benar dari = . Dari

gambaran jawaban, terlihat bahwa siswa tidak memiliki keterampilan untuk menyelesaikan soal. Hal ini disebabkan karena siswa hanya bekerja sendiri dimana kemampuan mereka dalam menyelesaikan soal sangat minim. Selama ini mereka hanya menerima apa saja yang diberikan oleh guru dan tidak pernah bertanya kepada guru atau teman yang lebih tahu jika mereka mengalamai kesulitan dan siswa yang bisa menjawab tidak mau memberikan penjelasan kepada siswa lain yang belum mengerti. Terlebih lagi guru jarang memberikan soal-soal latihan. Guru hanya menjelaskan materi dan membuat rangkuman. Oleh karena itu jika siswa diberi soal-soal latihan mereka tidak bisa menjawab. Yang bisa mereka jawab hanya soal-soal yang sama persis dengan yang dicontohkan oleh guru. Guru dan peneliti menduga model pembelajaran yang digunakan selama ini belum efektif. Hal inilah yang menyebabkan rendahnya prestasi belajar matematika siswa khususnya siswa kelas XIIA-1 SMA Muhammadiyah Kendari pada pokok bahasan limit fungsi. Atas dugaan di atas maka peneliti bersama-sama dengan guru sepakat untuk menawarkan suatu tindakan alternatif untuk mengatasi untuk mengatasi masalah yang ada berupa penerapan model pembelajaran lain yang lebih mengutamakan keaktifan siswa dan memberi kesempatan siswa untuk mengembangkan potensinya secara maksimal. Model pembelajaran yang dimaksud adalah model pemebelajaran kooperatif. Model pembelajaran kooperatif tumbuh dari suatu tradisi pendidikan yang menekankan berpikir dan latihan bertindak demokratis, pembelajaran aktif, perilaku kooperatif, dan menghormati perbedaan dalam masyarakat multibudaya. Dalam pelaksanaannya pembelajaran kooperatif dapat merubah peran guru dari peran terpusat pada guru ke peran pengelola aktivitas kelompok kecil. Sehingga dengan demikian peran guru yang selama ini monoton akan berkurang dan siswa akan semakin terlatih untuk menyelesaikan berbagai permasalahan, bahkan permasalahan yang dianggap sulit sekalipun. Beberapa peneliti yang terdahulu yang menggunakan model pembelajaran kooperatif menyimpulkan bahwa model pembelajaran tersebut dengan beberapa tipe telah memberikan masukan yang berarti bagi sekolah, guru dan terutama siswa dalam meningkatkan prestasi. Olehnya itu lebih lanjut guru bersama peneliti ingin melihat pembelajaran kooperatif melalui pendekatan struktural tipe Numbered Heads Together (NHT). Dalam pembelajaran kooperatif tipe NHT siswa lebih bertanggungjawab terhadap tugas yang diberikan karena dalam pembelajaran kooperatif tipe NHT siswa dalam kelompok diberi nomor yang berbeda. Setiap siswa dibebankan untuk menyelesaikan soal yang sesuai dengan nomor anggota mereka. Tetapi pada umumnya mereka harus mampu mengetahui dan menyelesaikan semua soal yang ada dalam LKS. Dalam proses pembelajaran kooperatif tipe NHT. Siswa aktif bekerja dalam kelompok. Mereka bertanggungjawab penuh terhadap soal yang diberikan. Misalnya siswa yang bernomor urut 2 dalam kelompoknya mempertanggungjawabkan soal nomor 2 dan seterusnya. Walaupun pada saat persentase mereka bisa ditunjuk untuk mengerjakan nomor lain. Sedangkan pada model pembelajaran kooperatif yang lain terkadang siswa saling berharap kepada teman kelompok lain yang lebih pintar. Dalam pembelajaran kooperatif tipe STAD misalnya, siswa hanya disuruh bekerja dalam kelompok dan pertanggungjawabannya secara kelompok pula. Siswa kurang aktif dalam kelompok. Pembelajaran kooperatif tipe NHT juga dinilai lebih memudahkan siswa berinteraksi dengan teman-teman dalam kelas dibandingkan dengan model pembelajaran langsung yang selama ini diterapkan oleh guru. Pada model pembelajaran kooperatif tipe NHT siswa perlu berkomunikasi satu sama lain, sedangkan pada model

Peneliti dapat meningkatkan pemahaman dan penguasaan peneliti tentang model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan dapat menambah pengalaman peneliti BAB II . Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas. Dengan dasar inilah yang mendorong peneliti dan guru bersama-sama mencoba mengadakan penelitian dalam bentuk penelitian tindakan kelas dengan judul ”Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Kelas XI IA-1 SMA Muhammadiyah Kendari Pada Pokok Bahasan Limit Fungsi Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT” 2. 4. maka masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut : “Apakah dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT hasil belajar matematika siswa kelas XIIA-1 SMA Muhammadiyah Kendari pada pokok bahasan Limit Fungsi dapat ditingkatkan?”. 5. Manfaat Penelitian Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. 3. Tujuan Penelitian Sejalan dengan rumusan masalah tersebut di atas. Dapat memberikan masukan yang berarti/bermakna pada sekolah dalam rangka perbaikan atau peningkatan pembelajaran 4.pembelajaran langsung siswa duduk berhadap-hadapan dengan guru dan terus memperhatikan gurunya. Dengan adanya penelitian ini diharapkan guru dapat memperbaiki dan meningkatkan mutu pembelajaran matematika 2. Batasan Masalah Pembelajaran matematika dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dalam penelitian ini dibatasi pada pokok bahasan Limit Fungsi kelas XIIA-1 SMA Muhammadiyah Kendari semester Genap Tahun Ajaran 2006/2007. Siswa semakin termotivasi untuk belajar karena partisipasi aktif dalam proses pembelajaran dan suasana pembelajaran semakin variatif dan tidak monoton 3. maka tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas XIIA-1 SMA Muhammadiyah Kendari pada pokok bahasan Limit Fungsi melalui model pembelajaran kooperatif tipe NHT.

1995: 35). pengertian. Perubahan itu tidak hanya mengenai jumlah pengetahuan melainkan juga dalam bentuk kecakapan. Kajian Pustaka 1. Selanjutnya Winkel (1989: 15) mengemukakan bahwa belajar pada manusia merupakan suatu proses siklus yang berlangsung dalam interaksi aktif subyek dengan lingkungannya yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan. 2003: 2). Proses belajar-mengajar matematika Berdasarkan pengertian belajar dan mengajar di atas. Kesempatan untuk berbuat dan aktif berpikir lebih banyak diberikan kepada siswa. pendeknya mengenai segala aspek atau pribadi seseorang (Nasution. sikap. Defenisi ini menunjukkan bahwa yang aktif adalah siswa. Perubahan tersebut adalah perubahan pengetahuan. Guru hanya membimbing.Mengajar 1. penghargaan. 3. sikap dan tingkah laku yang bersifat menetap. Proses Belajar . Dari uraian beberapa pendapat di atas maka dapat dirumuskan defenisi belajar yaitu suatu proses untuk mencapai suatu tujuan yaitu perubahan kearah yang lebih baik.TINJAUAN PUSTAKA 1. belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya (Slameto. pemahaman. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa mengajar adalah suatu kegiatan membimbing dan mengorganisasikan lingkungan sekitar anak didik. Pasaribu (1983: 7) mengajar adalah suatu kegiatan mengorganisir (mengatur) lingkungan sebaik-baiknya dengan anak sehingga terjadi proses belajar. yang mengalami proses belajar. Belajar merupakan proses perubahan sedangkan belajar merupakan proses pengaturan agar perubahan itu terjadi. dapat dikatakan bahwa kegiatan belajar mengajar tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Menurut pengertian secara psikologis. Adapun defenisi lain di negara-negara modern yang sudah maju mengatakan bahwa mengajar adalah bimbingan kepada siswa dalam proses belajar. penyesuaian diri. mendengarkan dan lain sebagainya. agar tercipta lingkungan belajar yang kondusif yang memungkinkan terjadinya proses belajar yang optimal. 2. mengamati. Mengajar didefinisikan oleh Sudjana (2000: 37) sebagai alat yang direncanakan melalui pengaturan dan penyediaan kondisi yang memungkinkan siswa melakukan berbagai kegiatan belajar seoptimal mungkin. kebiasaan. keterampilan yang bersifat menetap/ konstan. keterampilan. Pengertian Mengajar. minat. pemahaman. menunjukkan jalan dengan memperhitungkan kepribadian siswa. Pengertian Belajar Belajar adalah suatu kegiatan yang membawa perubahan pada individu yang belajar. Menurut Slameto (1995: 29) mengajar adalah penyerahan kebudayaan berupa pengalaman dan kecakapan kepada anak didik kita. Proses belajar mengajar untuk mata pelajaran matematika . Selain itu Sardiman (1992: 22) menyatakan bahwa belajar senantiasa merupakan perubahan tingkah laku atau keterampilan dengan serangkaian kegiatan misalnya membaca.

Salah satu cara untuk mengembangkan niat dan kerja sama antar peserta didik dalam model pembelajaran kooperatif adalah melalui pengelolaan kelas. 2) tanggung jawab perseorangan. 5) evaluasi proses kelompok. dikerjakan dan sebagainya). peserta didik juga harus menguasai kiat-kiat berinteraksi dan bekerja sama dengan orang lain. Untuk mencapai hasil yang maksimal. Tujuan dibentuknya kelompok kooperatif adalah untuk memberikan kesempatan kepada siswa agar dapat terlibat secara aktif dalam proses berpikir dalam kegiatan belajar mengajar. 2002: 12). Artinya. prestasi berarti hasil usaha. prestasi berarti hasil belajar yang dicapai oleh siswa setelah melakukan kegiatan belajar pada kurun waktu tertentu. perlu mendahulukan belajar tentang konsep matematika yang mempunyai daya bantu terhadap konsep matematika yang lain. Prestasi Belajar Matematika Dalam kamus besar Bahasa Indonesia (2001: 895) prestasi diartikan sebagai yang telah dicapai (telah dilakukan. Menurut Arifin (1991: 3). Pada awal abad pertama. dapat disimpulkan bahwa prestasi merupakan hasil usaha yang telah dicapai oleh seseorang sedang prestasi belajar adalah hasil yang dapat dicapai oleh seseorang setelah melakukan kegiatan belajar dalam kurun waktu tertentu. keuletan. 4) komunikasi antar anggota. Roger dan David Johnson dalam Lie (2002: 30) mengatakan bahwa tidak semua kerja kelompok bisa dianggap pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran koopertif tidak sama dengan sekedar belajar dalam kelompok. Karena materi matematika bersifat hirarkis dan terstruktur maka dalam belajar matematika. 3) tatap muka. 3. serta rasa cinta terhadap matematika. tidak boleh terputus-putus dan urutan materi harus diperhatikan. Prestasi belajar siswa mampu memperlihatkan perubahanperubahan dalam bidang pengetahuan/pengalaman dalam bidang ketrampilan. 2. Pelaksanaan prosedur model pembelajaran kooperatif dengan benar akan memungkinkan pendidik mengelola kelas dengan efektif. Ada tiga hal . Dari beberapa pendapat di atas. Selain niat. Jadi prestasi belajar matematika merupakan hasil belajar yang dicapai oleh siswa setelah mempelajari matematika dalam kurun waktu tertentu dan diukur dengan menggunakan alat evaluasi (tes). melainkan telah dikenal sejak zaman Yunani kuno. Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang mengutamakan adanya kerja sama. dalam hal ini sebagaian besar aktivitas pembelajaran berpusat pada siswa yakni mempelajari materi pelajaran dan berdiskusi untuk memecahkan masalah (tugas). Untuk memenuhi kelima unsur tersebut harus dibutuhkan proses yang melibatkan niat dan kiat para anggota kelompok para peserta didik harus mempunyai niat untuk bekerja sama dengan yang lainnya dalam kegiatan belajar kelompok yang akan saling menguntungkan. nilai dan sikap. Dalam hubungannya dengan usaha belajar. Ada unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif yang membedakannya dengan pembagian kelompok yang dilakukan secara asalasalan. Seorang siswa yang telah melakukan kegiatan belajar matematika. Para siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil dan diarahkan untuk mempelajari materi pelajaran yang telah ditentukan. Sumarmo (2002: 2) mengemukakan beberapa karakteristik matematika yaitu : materi matematika menekankan penalaran yang bersifat deduktif materi matematika bersifat hirarkis dan terstruktur dan dalam mempelajari matematika dibutuhkan ketekunan. seorang filosofi berpendapat bahwa agar seseorang belajar harus memiliki pasangan. yakni kerja sama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran (Johnson dan Johnson dalam Ismail. Kelima unsur tersebut yaitu : 1) saling ketergantungan positif. lima unsur dalam model pembelajaran kooperatif harus diterapkan. Pembelajaran Kooperatif Konsep pembelajaran kooperatif (cooperative learning) bukanlah suatu konsep baru.harus memperhatikan karakteristik matematika. dapat diukur prestasinya setelah melakukan kegiatan belajar tersebut dengan menggunakan suatu alat evaluasi.

penting yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan kelas model pembelajaran kooperatif. Berbagi kepemimpinan 5. Ciri-ciri pembelajaran kooperatif Menurut Stahl dalam Ismail (2002: 12) bahwa ciri-ciri pembelajaran kooperatif adalah : 1. Tatap muka antar teman 3. Kelompok siswa yang dibentuk merupakan percampuran yang ditinjau dari latar belakang . Dapat dipertanggungjawabkan secara individu 3. Belajar dalam kelompok kecil 6. Heterogen 4. Saling ketergantungan yang positif 2. 2. mengemukakan pendapat dan membuat keputusan secara bersama. Efektifitas tergantung kepada kelompok Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif memiliki ciri-ciri sebagai berikut : 1. Produktif berbicara atau mengemukakan pendapat 7. Mempunyai ketrampilan dalam berhubungan sosial 8. Siswa aktif Sedangkan menurut Johnson dalam Ismail (2002: 12) belajar dengan koopertif mempunyai ciri : 1. produktif mendengar. Mendengarkan diantara anggota 4. yakni pengelompokan semangat kerja sama dan penataan ruang kelas. Berbagi tanggung jawab 6. Siswa belajar dalam kelompok. Belajar dari teman sendiri dalam kelompok 5. 1. Ditekankan pada tugas dan kebersamaan 7. Siswa membuat keputusan 8. Guru mengamati 9. Belajar dengan teman 2.

Siswa akan dikenakan evaluasi atau diberikan hadiah/penghargaan yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompok. 7. 4. Hasil belajar akademik Pembelajaran kooperatif bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik. Siswa harus memiliki persepsi bahwa mereka sehidup sepenanggungan bersama. Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama dalam proses belajarnya. Pengakuan adanya keragaman Model pembelajaran kooperatif bertujuan agar siswa dapat menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai macam perbedaan latar belakang. . Keterampilan sosial yang dimaksud dalam pembelajaran kooperatif adalah berbagi tugas. Pengembangan keterampilan sosial Pembelajaran kooperatif bertujuan untuk mengembangkan keterampilan social siswa. Banyak ahli yang berpendapat bahwa model pembelajaran kooperatif unggul dalam membantu siswa untuk memahami konsep-konsep yang sulit. 6. jenis kelamin. 5. aktif bertanya. Perbedaan tersebut antara lain perbedaan suku. seperti milik mereka sendiri. 3. Menurut Ibrahim (2000: 6) unsur-unsur dalam pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut : 1. Siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalam kelompoknya. 2.sosial. dan kemampuan belajar. Tujuan pembelajaran kooperatif Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif mempunyai tiga tujuan yang hendak dicapai : 1. Siswa harus melihat bahwa semua anggota di dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama. dan bekerja sama dalam kelompok. Siswa haruslah berbagi tugas dan tanggung jawab yang sama diantara anggota kelompoknya. 2. Panghargaan lebih diutamakan pada kerja kelompok. menghargai pendapat orang lain. Siswa akan diminta mempertanggung jawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif. 3. 3. agama. kemampuan akademik dan tingkat sosial. 2. mau menjelaskan ide atau pendapat.

Fase – 5 Evaluasi Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya hasil belajar individu maupun kelompok Fase – 6 Memberikan penghargaan (Ibrahim. Fase – 4 Membimbing kelompok bekerja dan belajar Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasekan hasil kerjanya. 2000: 10) .3. Fase-Fase Pembelajaran kooperatif Fase Fase – 1 Tingkah Laku Guru Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi Menyampaikan tujuan dan siswa belajar memotivasi siswa Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan Fase – 2 Menyajikan informasi Fase – 3 Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompokkelompok belajar Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.

Rasa harga diri menjadi lebih tinggi 2. . Sebagai pengganti pertanyaan lansung kepada seluruh kelas. (d) Pemberian jawaban.4. Penerapan pembelajaran kooperatif tipe NHT merujuk pada konsep Spencer Kagen dalam Ibrahim (2000 : 28) untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dengan mengecek pemahaman mereka mengenai isi pelajaran tersebut. Guru memberi nomor kepada setiap siswa dalam kelompok dan nama kelompok yang berbeda. (b) Pengajuan pertanyaan. Perilaku mengganggu menjadi lebih kecil 5. Memperbaiki kehadiran 3. dalam pembentukan kelompok digunakan nilai tes (pre-test) sebagai dasar dalam menentukan masing-masing kelompok. Tipe ini dikembangkan oleh Kagen dalam Ibrahim (2000 : 28) dengan melibatkan para siswa dalam menelaah bahan yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut. guru menggunakan empat langkah sebagai berikut : (a) Penomoran. Kelompok yang dibentuk merupakan percampuran yang ditinjau dari latar belakang sosial. kepekaan dan toleransi 8. antara lain Linda Lundgren dalam Ibrahim (2000 : 18) adalah : 1. Persiapan Dalam tahap ini guru mempersiapkan rancangan pelajaran dengan membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Penerimaan terhadap individu menjadi lebih besar 4. Lembar Kerja Siswa (LKS) yang sesuai dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Konflik antar pribadi berkurang 6. Selain itu. Langkah 2. Langkah-langkah tersebut kemudian dikembangkan menjadi enam langkah sesuai dengan kebutuhan pelaksanaan penelitian ini. Meningkatkan kebaikan budi. Hasil belajar lebih tinggi 5. (c) Berpikir bersama. Manfaat Model Pembelajaran Kooperatif Manfaat-manfaat model pembelajaran kooperatif bagi siswa dengan hasil belajar yang rendah. Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 4 sampai 5 orang siswa. Pemahaman yang lebih mendalam 7. pembentukan kelompok Dalam pembentukan kelompok disesuaikan dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. jenis kelamin dan kemampuan belajar. Langkah-Langkah Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT Pembelajaran kooperatif tipe NHT merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur-struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola-pola interaksi siswa dalam memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan isi akademik. Keenam langkah tersebut adalah sebagai berikut : Langkah 1.

Langkah 5. guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban kepada siswa di kelas. Memberikan penghargaan Pada tahap ini. Memanggil nomor anggota atau pemberian jawaban Dalam tahap ini. Dalam pelajaran matematika. guru memberikan penghargaan berupa kata-kata pujian pada siswa dan memberi nilai yang lebih tinggi kepada kelompok yang hasil belajarnya lebih baik. karena melihat kondisi siswa yang mempunyai karakteristik yang berbeda antara satu dengan yang lainnya dalam menerima materi pelajaran yang disajikan guru di kelas. Memberikan umpan balik terhadap ide-ide serta menghindari saling mengkritik sesama siswa dalam kelompok Langkah 3. 2. yaitu membagi siswa dalam beberapa kelompok yang terdiri dari 5 orang siswa dan setiap kelompok mempunyai tingkat kemampuan yang beragam. Langkah 6. ada yang pintar. penulis menilai perlu digunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. guru membagikan LKS kepada setiap siswa sebagai bahan yang akan dipelajari. Menyikapi kenyataan ini. Kerangka Berpikir Untuk meningkatkan prestasi belajar siswa terhadap pelajaran matematika. dan ada pula yang tingkat kemampuannya kurang. Kemudian setiap anggota kelompok diberikan tanggung jawab untuk memecahkan masalah atau soal dalam kelompoknya dan diberikan kebebasan mengeluarkan pendapat tanpa merasa takut salah. Dalam kerja kelompok. Pertanyaan dapat bervariasi. guru memperkenalkan keterampilan kooperatif dan menjelaskan tiga aturan dasar dalam pembelajaran kooperatif yaitu : 1.Sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai. Oleh karena itu tidak tampak lagi mana siswa yang unggul karena semuanya berbaur dalam satu kelompok dan sama-sama bertanggung jawab terhadap kelompok tersebut. ada siswa yang mempunyai daya serap cepat dan ada pula siswa yang mempunyai siswa yang mempunyai daya tanggap yang lama. Tetap berada dalam kelas 2. untuk meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas XIIA-1 SMA Muhammadiyah Kendari khususnya pada pokok bahasan Limit Fungsi . sedang. guru perlu menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dalam mengajarkan pokok bahasan . Diskusi masalah Dalam kerja kelompok. dari spesifik sampai yang bersifat umum. Mengajukan pertanyaan kepada kelompok sebelum mengajukan pertanyaan kepada guru 3. setiap siswa berpikir bersama untuk menggambarkan dan meyakinkan bahwa setiap orang mengetahui jawaban dari pertanyaan yang telah ada dalam LKS atau pertanyaan yang telah diberikan oleh guru. Memberi kesimpulan Guru memberikan kesimpulan atau jawaban akhir dari semua pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang disajikan. salah satu hal yang harus diperhatikan oleh guru dalam mengajarkan suatu pokok bahasan adalah pemilihan model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diajarkan. Langkah 4. guru harus mampu menciptakan suasana belajar yang optimal dengan menerapkan berbagai model pembelajaran. Dengan demikian.

dengan kemampuan yang heterogen 4. 3. Hipotesis Tindakan Berdasarkan kajian pustaka. untuk memperoleh data tentang kondisi pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe NHT di kelas 2. 2007 : 7). untuk memperoleh data tenteng prestasi belajar siswa setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. yang menyimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas I SMP Negeri 1 Sampolawa pada pokok bahasan bilangan bulat dalam belajar matematika. Waktu penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 14 Maret 2007 sampai tanggal 12 April 2007 di kelas XIIA-1 SMA Muhammadiyah Kendari. Penelitian Yang Relevan Hasil penelitian yang dilakukan oleh Ruslan (2004). Tes hasil belajar. BAB III METODE PENELITIAN 1. Jenis Penelitian Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian tindakan kelas. Karakteristik yang khas dari penelitian tindakan kelas yakni adanya tindakan-tindakan tertentu untuk memperbaiki proses belajar mengajar di kelas (Muhtar.tersebut karena daya serap siswa dalam menerima materi pada pokok bahasan Limit Fungsi tidak sama dan diharapkan dengan model pembelajaran tipe NHT setiap siswa akan mempunyai tingkat kemampuan yang relative sama terhadap materi Limit Fungsi dan pada akhirnya prestasi belajar siswa akan lebih baik. Lembar observasi. Setting Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada di SMA Muhammadiyah Kendari. 3. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Wa Sinar (2003). Subyek Penelitian Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XIIA-1 SMA Muhammadiyah Kendari yang berjumlah 25 orang yang terdiri dari 6 orang laki-laki dan 19 orang perempuan. 4. Instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. 2. maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : “dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) maka hasil belajar siswa kelas XIIA-1 SMA Muhammadiyah Kendari pada pokok bahasan limit fungsi dapat ditingkatkan”. . yang menyimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together dapat meningkatkan pemahaman siswa kelas I5 SMP Negeri 1 Kendari dalam belajar matematika.

Membuat instrumen penelitian yang meliputi alat evaluasi berupa tes disertai jawaban dan panduan penskoran. Faktor sumber pelajaran : yaitu melihat sumber atau bahan pelajaran yang digunakan. ada beberapa faktor yang ingin diselidiki. yang diukur dengan menggunakan alat evaluasi tertentu (tes). Defenisi Operasional 1. (2) Pelaksanaan tindakan. Hasil belajar matematika adalah suatu hasil yang dicapai oleh siswa setelah mempelajari matematika dalam kurun waktu tertentu. Secara rinci prosedur penelitian tindakan kelas tersebut dijabarkan sebagai berikut : 1. 2. 2. 2. Setiap siswa dalam kelompoknya diberi nomor yang berbeda. Pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) adalah suatu model pembelajaran yang menekankan adanya kerjasama antar siswa. Prosedur Penelitian Prosedur penelitian tindakan kelas ini direncanakan terdiri dari tiga siklus. 6.3. Faktor yang diselidiki Untuk mampu menjawab permasalahan. 3. (4) Refleksi. . Tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai pada faktor-faktor yang diselidiki. Untuk dapat mengetahui prestasi siswa dalam belajar matematika sebelum diberikan tindakan. Dimana tindakan yang akan dilakukan yaitu dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT). Perencanaan : adapun kegiatan yang dilakukan pada tahap ini meliputi : 1. 5. Siswa dibagi ke dalam kelompok dimana setiap kelompok terdiri dari 4 siswa heterogen. Faktor siswa : yaitu melihat aktivitas/kegiatan siswa dalam mempelajari matematika khususnya pada saat mempelajari pokok bahasan 2. Faktor guru : yaitu melihat atau memperhatikan guru dalam menyajikan materi pelajaran serta teknik yang digunakan guru dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut : 1. (3) Observasi dan evaluasi. apakah sudah dapat mendukung pelaksanaan model pembelajaran yang diterapkan. Membuat perangkat pembelajaran (RPP dan LKS). untuk memperoleh data tentang refleksi diri. terlebih dahulu diberikan tes awal sedangkan observasi awal (18 Desember 2006) adalah untuk mengetahui tindakan apa yang harus dilakukan dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa. Jurnal refleksi diri. Dalam pelaksanaan tindakan pada tiap siklus mencakup tahap-tahap sebagai berikut: (1) Perencanaan.

hasil yang diperoleh pada tahap observasi dan evaluasi dikumpulkan kemudian dianalisis. Indikator Kerja Sebagai indikator keberhasilan dalam penelitian kelas ini adalah bila minimal 75% siswa telah memperoleh nilai minimal 6. 2. • • 9. Kelemahan atau kekurangan-kekurangan yang terjadi pada siklus sebelumnya akan diperbaiki pada siklus berikutnya. Sumber data: yaitu guru dan siswa. 4. 8.3. sedangkan data kualitatif diperoleh dari lembar observasi dan jurnal. Teknik pengambilan data : • Data mengenai kondisi pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe NHT diambil dengan menggunakan lembar observasi Data mengenai refleksi diri diambil dengan menggunakan jurnal. Membuat jurnal untuk mengetahui data refleksi diri. . 3. Pelaksanaan tindakan: kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini disesuaikan dengan rencana yang telah disusun dalam rencana pembelajaran. Jenis data: jenis data yang akan diperoleh adalah data kuantitatif dan data kualitatif. Dari hasil tersebut akan dilihat apakah telah memenuhi target yang ditetapkan pada indikator kerja. Data kuantitatif diperoleh dari tes prestasi belajar. Membuat lembar observasi 4.0 (ketetapan dari sekolah). Refleksi: pada tahap ini. Data dan Teknik Pengambilan Data 1. Jika belum memenuhi target. maka penelitian dilanjutkan ke siklus berikutnya. Data mengenai hasil belajar matematika diambil dengan menggunakan tes. 3. Observasi dan evaluasi: kegiatannya adalah melaksanakan proses observasi terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi yang telah dibuat dan melakukan evaluasi hasil belajar siswa setelah dilakukan tindakan. 2.

Desain dan Model Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: .

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1. Halini memberikan gambaran bahwa prestasi belajar matematika siswa masih tergolong rendah. 1997: 27).komposisi fungsi.(Tim pelatih PGSM. Siklus I 1.86. 2.diputuskan untuk menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dalam mengajarkan pokok bahasan limit fungsi dikelas IX 1A-1.pemfaktoran. Hasil Penelitian 1. Soal-soal tes awal berupa materi yang berhubungan dengan pokok bahasan yang akan diajarkan dalam hal ini materi untuk soal tes awal adalah materi fungsi. peneliti melakukan observasi awal dan wawancara singkat dengan guru matematika kelas XI SMA Muhammadiyah Kendari. Dari tes awal tersebut. Untuk mengetahui kemampuan awal siswa terhadap materi limit fungsi. Hasil observasi menunjukan bahwa prestasi belajar matematika siswa khususnya kelas XI masih tergolong rendah dan model pembelajaran yang digunakan adalah model pembelajaran yang konvensional.terlihat bahwa siswa yang memperoleh nilai lebih dari atau sama dengan 6.sebagaimana terlihat pada lampiran 4. Pada tanggal 14 maret 2007 diadakan tes awal pada siswa kelas IX 1A-1. Perencanaan . Kegiatan Pendahuluan Sebelum melakukan tindakan dalam penelitian. Nilai tes awal dijadikan acuan untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar matematika siswa kelas IX1A-1 SMA Muhammadiyah Kendari setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Berdasarkan hasil wawancara tersebut.0 mencapai (6 orang siswa) dengan nilai rata-rata 4.

Setelah terbentuk kelompok dan siswa berada dalam kelompoknya masing-masing.1 yang terdiri dari 4 nomor soal yang dapat dilihat pada lampiran 7 dan menjelaskan secara singkat cara kerja dalam LKS selama  25 menit. Setelah itu guru memberi kesempatan kepada siswa untuk menyelesaikan soal-soal dalam LKS. Hal ini disebabkan oleh kehadiran peneliti. Guru menjelaskan bahwa jika suatu limit atau maka limit tersebut harus disederhanakan terlebih dahulu dengan cara pemfaktoran atau merasionalkan bentuk akar. Guru merasa canggung dalam mengajar. Kelompok yang terbentuk sebanyak 5 kelompok dan setiap kelompok terdiri dari 5 orang siswa yang heterogen. Soal yang dikerjakan sebagai berikut: Tentukan limit fungsi f(x) untuk x = 1 jika Jawaban dari siswa adalah sebagai berikut: Karena jawaban siswa dari kelompok II sudah benar maka tidak ada sanggahan dari kelompok lain. 15 maret 2007. Setelah berkonsultasi dengan guru bidang studi matematika kelas IX1A-1 SMA Muhammadiyah Kendari. Guru memantau siswa dan sesekali keluar ruangan. Membuat LKS 4. . Kemudian guru secara acak memanggil nomor anggota siswa dalam kelompok untuk mempersentasekan hasil kerja kelompoknya. Setelah  13 menit guru memastikan semua siswa telah menyelesaikan soal yang diberikan dan mengumpulkan lembar jawaban siswa secara kelompok. Guru juga tidak menyampaikan tujuan dan indikator yang harus dicapai dalam proses pembelajaran. Selama proses ini berlangsung para siswa tidak bertanya kepada guru tentang hal-hal yang mereka tidak mengerti. maka kegiatan selanjutnya adalah menyiapkan beberapa hal yang diperlukan pada saat pelaksanaan tindakan. Membuat jurnal untuk refleksi diri 2.Setelah ditetapkan untuk menerapkan model pembelajaran model kooperatif tipe NHT dalam mengajar matematika pokok bahasan limit fungsi. Kegiatan pembelajaran diawali dengan guru menginformasikan model pembelajaran yang digunakan yaitu model pembelajaran kooperatif tipe NHT selama 2 menit. Membuat skenario pembelajaran untuk tindakan siklus I 2. Pelaksanaan Tindakan 1. guru membagikan LKS 1. Membuat alat evaluasi 5. peneliti melakukan hal-hal sebagai berikut : 1. Guru tidak memotivasi siswa dan tidak memberikan apersepsi kepada siswa sebelum memasuki materi pelajaran. Memasuki kegiatan inti. Pertemuan Pertama Pelaksanaan tindakan dilakukan oleh guru matematika sedangkan peneliti bertindak sebagai pengamat. Pada kesempatan ini guru memanggil siswa bernomor 2 untuk menyelesaikan soal nomor 1. guru berkolaborasi dengan peneliti melakukan pembagian kelompok sesuai dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT selama 5 menit. Membuat lembaran observasi terhadap guru dan siswa selama proses pembelajaran di kelas 3. Tindakan siklus I untuk pertemuan pertama dilakukan pada hari kamis. Semua siswa yang bernomor 2 unjuk jari dan kemudian guru menunjuk perwakilan dari kelompok II.

2 dan menyuruh siswa menyelesaikan soal-soal yang ada dalam LKS. Jadi: = = = = = = Setelah menyimpulkan jawaban siswa yang tadi sebenarnya guru masih akan memberikan PR kepada siswa tapi karena waktu telah habis akhirnya guru menutup pelajaran 2. Selanjutnya masuk pada kegiatan inti guru menyajikan materi” Penggunaan Konsep Limit Fungsi Untuk Menghitung Bentuk Tak Tentu Fungsi Aljabar dan Trigonometri”. 21 Maret 2007. Kegiatan pembelajaran diawali dengan guru menginformasikan kepada siswa model pembelajaran yang akan digunakan yaitu model pembelajaran kooperatif tipe NHT serta menyampaikan indikator pembelajaran. Kemudian guru menyuruh siswa bergabung dengan kelompoknya masing-masing dan membagikan LKS 1. Soal tersebut sebagai berikut: Tentukan nilai limit berikut: Guru menjelaskan bahwa untuk menyelesaikan soal seperti di atas kita harus merasionalkannya terlebih dahulu dengan cara mengalikan dengan akar sekawannya. Pertemuan Kedua. Pertemuan ini dilaksanakan pada hari Rabu. Sesekali guru menegur siswa yang kedapatan bermain-main atau tidak aktif . Selama siswa menyelesaikan soal dalam LKS guru memantau kerja dari tiap-tiap kelompok. guru mengetahui bahwa ada satu nomor soal yang tidak dapat dijawab oleh siswa yaitu soal nomor 4. Pada saat persentase. Oleh karena itu guru menjelaskan cara penyelesaiannya. Pertemuan kedua adalah lanjutan dari pertemuan pertama.kemudian guru melanjutkan kenomor lain sampai selesai. Masing-masing kelompok diberi waktu 2 menit untuk mempersentasekan hasil kerja kelompoknya.

3. hanya sebagian siswa yang masih takut jika nomornya yang dipanggil maju ke depan kelas. Pada tahap ini masih terjadi keributan dalam kelas namun tidak seperti pertemuan pertama. akibatnya ada tahapan-tahapan dalam skenario pembelajaran yang tidak terlaksana karena kehabisan waktu. Hal ini menjadi tugas guru menyimpulkan jawaban siswa dan memberikan penghargaan berupa tepuk tangan kepada kelompok yang memperoleh hasil terbaik. Setelah peneliti berkonfirmasi kepada guru hal-hal diatas disebakan oleh: • Kehadiran peneliti mempengaruhi kinerja guru sehingga guru menjadi canggung dan suasana kelas menjadi kaku. Guru tidak sampai memberikan PR kepada siswa karena waktu yang terbatas. Guru tidak secara merata memberikan bimbingan kepada siswa. Hasil observasi terhadap guru menunjukkan hal-hal sebagai berikut: 1. Observasi Hal-hal yang diobservasi pada pelaksanaan tindakan siklus I adalah cara guru menyajikan materi pelajaran apakah sudah sesuai dengan skenario pembelajaran yang telah dibuat atau belum. Ada sebagian siswa yang merasa kesulitan menyelesaikan soal yang ada dalam LKS. Guru belum mampu mengelola waktu dengan baik. Siswa terlihat masih kaku jika berada dalam kelompoknya 2.dalam diskusi kelompok. Hal ini disebabkan siswa kurang memperhatikan penjelasan guru. Model pembelajaran kooperatif tipe NHT dianggap hal yang baru bagi pribadi guru mata pelajaran matematika di SMA Muhammadiyah Kendari maupun bagi sekolah sehingga guru masih canggung dalam melaksanakan skenario yang telah dibuat. suara kurang jelas dan gerakan kurang leluasa. hal ini nampak pada saat guru memberikan penjelasan. • Hasil observasi terhadap siswa menunjukkan hal-hal sebagai berikut: 1. Hanya beberapa siswa yang mampu mempresentasikan hasil kerja kelompoknya dan banyak siswa yang merasa gugup ketika nomornya terpanggil untuk maju kedepan kelas Hal-hal tersebut di atas disebakan oleh: . Setelah siswa menyelesaikan soal dalam LKS guru secara acak memanggil nomor anggota siswa dalam kelompok untuk mempersentasikan hasil kerja kelompoknya. Selanjutnya guru menutup pembelajaran dengan membimbing siswa merangkum materi yang telah dibahas. Selanjutnya siswa yang ditunjuk untuk mewakili kelompoknya maju ke depan kelas untuk mempersentasikan jawabannya wlaupun jawaban mereka belum sepenuhnya benar. Masih banyak siswa yang kurang aktif dalam mengerjakan soal-soal dalam LKS yang telah diberikan 3. Guru tidak memberi motivasi dan tidak memberi apersepsi 2. 3. Siswa masih ragu mengemukakan pendapat 4. Selain itu juga dilihat aktivitas siswa dalam mengikuti pelajaran.

Evaluasi Setelah pelaksanaan tindakan siklus I selama 2 kali pertemuan . Walaupun hasil tes siklus I menunjukkan peningkatan. Memberi motivasi dan apersepsi kepada siswa sebelum memulai proses pembelajaran 2.0. Guru harus memotivasi siswa agar siswa bersemangat dalam belajar serta guru harus memberikan apersepsi. diadakan evaluasi dengan tes seperti yang ada pada lampiran 4. Mampu mengelola waktu dengan efisien agar semua tahapan kegiatan dalam skenario pembelajaran dapat terlaksana 3. Kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan yang ada pada siklus I akan diperbaiki pada siklus II.0 pada tes awal dan meningkat menjadi 48% (12 orang) siswa memperoleh nilai ≥ 6. pelaksanaan tindakan siklus I belum mencapai indikator keberhasilan yang telah ditetapkan. 2. 3. Siklus II 1. Perencanaan Berdasarkan hasil observasi dan evaluasi. Setelah diadakan refleksi antara guru dan peneliti maka pada pertemuan selanjutnya guru harus: 1. Membeti bimbingan kepada setiap kelompok yang mengalami kesulitan 3. tapi karena belum mencapai indikator keberhasilan maka penelitian dilanjutkan pada siklus II. Hasil tes tindakan siklus I selengkapnya terdapat pada lampiran I. Guru harus bersikap tegas dengan menegur/memberi sanksi kepada siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru. Hal-hal yang perlu dilakukan dalam memperbaiki kelemahan dan kekurangan pada siklus I untuk diperbaiki pada siklus II adalah : 1. Hasil tes siklus I menunjukkan bahwa terjadi peningkatan jika dibandingkan dengan hasil tes awal yaitu dari 24% (6 orang) siswa memperoleh nilai ≥ 6. Analisis terhadap observasi dijadikan sebagai bahan untuk menentukan tindakan selanjutnya. sehingga peneliti bersama guru merencanakan tindakan siklus II. Refleksi Pada tindakan siklus I ini penerapan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dalam mengajarkan pokok bahasan limit fungsi belum sempurna sesuai dengan yang diharapkan.• • Sebagian siswa tidak memperhatikan penjelasan guru Sebagian besar siswa belum dapat menyampaikan pendapat atau pertanyaan karena merasa asing dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. 4. Guru harus selalu memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada siswa . 5.

Selanjutnya guru menyimpulkan jawaban sisiwa dan memberikan penghargaan berupa tepuk tangan pada kelompok yang memperoleh skor tertinggi. Guru juga memotivasi siswa agar lebih aktif dan banyak latihan sehingga mudah menyelesaikan soal-soal latihan yang berkaitan dengan materi limit fungsi karena ujian semester sudah dekat. Pertemuan ini dilaksanakan pada hari kamis. Ternyata ada soal yang mereka anggap sulit dan langsung bertanya kepada gurunya. Setelah berada dalam kelompoknya guru membagikan LKS 2. Kemudian guru menyampaikan indikator pencapaian hasil belajar serta memberikan motivasi kepada siswa suapaya sering mengerjakan soal-soal latihan agar bisa berhasil dalam ujian.2 dan meminta siswa menyelesaikan soal-soal dalam LKS. guru secara acak memanggil nomor anggota siswa dalam kelompok untuk menjawab atau mempersentasikan hasil kerja kelompoknya. Pertemuan Kedua Pertemuan kedua adalah lanjutan dari pertemuan sebelumnya. Selama siswa menyelesaikan soal dalam LKS guru memantau kerja dari tiap-tiap kelompok . Memasuki kegiatan inti guru menjelaskan cara membagi pembilang dan penyebut dengan variabel pangkat tertinggi untuk memudahkan proses pencarian limitnya. 2. kegiatan pembelajaran diawali dengan guru menyampaikan indikator pencapaian hasil belajar dan menginformasikan model pembelajaran yang akan digunakan yaitu model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Setelah semua siswa telah menyelesaikan soal yang diberikan. Guru mengakhiri pembelajaran dengan memberikan PR sebanyak 1 nomor. Pertemuan Pertama Pertemuan pertama siklus II dilaksanakan pada hari Rabu. Setelah siswa berada dalam kelompoknya masing-masing guru membagikan LKS 2. Guru memberi apersepsi kepada siswa dengan mengadakan tanya jawab tentang materi yang sudah dipelajari. Siswa sudah mampu persentasi walaupun hasilnya belum terlalu bagus. lembar observasi untuk guru dan siswa. Pelaksanaan tindakan 1. Masuk pada kegiatan inti guru menyajikan materi cara menentukan limit suku banyak dan menjelaskan teorema-teorema limit. alat evaluasi dan jurnal refleksi diri untuk tindakan siklus II. Siswa sudah tidak lagi ketika nomor anggotanya terpanggil. . 28 Maret 2007. 2. Setelah persentasi selesai guru menyimpulkan jawaban siswa dengan memberikan penghargaan pada kelompok yang memperoleh skor tertinggi.untuk menanyakan hal-hal yang tidak dimengerti. Kemudian guru memanggil secara acak nomor anggota siswa untuk menjawab atau mempersentasikan hasil kerja kelompoknya. Pada awal pertemuan guru membahas PR yang dianggap sulit oleh siswa dan menginformasikan kepada siswa model pembelajaran yang akan digunakan yaitu model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Kemudian guru menyuruh siswa bergabung dengan kelompoknya masing-masing. Kemudian guru menyuruh siswa untuk bergabung dalam kelompoknya masing-masing. Selain hal-hal yang merupakan rencana perbaikan untuk tindakan siklus I. Guru memberikan bimbingan kepada kelompok atau siswa yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal LKS. 4. sesekali keluar ruangan dan mengobrol dengan peneliti. Guru harus mampu mengelola waktu dengan efisien agar semua tahapan kegiatan dalam skenario pembelajaran dapat terlaksana. 29 Maret 2007. peneliti harus mempersiapkan juga scenario pembelajaran. Guru kemudian menjelaskannya.1 dan memina siswa secara kelompok menyelesaikan soal-soal dalam LKS. Guru tidak membimbing siswa merangkum materi pelajaran. Ada yang mengalami kesulitan dan siswa tersebut langsung bertanya kepada guru tentang kesulitannya.

Siswa memperhatikan dengan baik penjelasan guru 2. Hal ini terlihat pada hasil observasi guru dan siswa. Hasil observasi terhadap guru menunjukan bahwa : 1. 3. Sebagian besar siswa sudah mampu mempresentasikan hasil kerja kelompoknya. 3. Sebagian siswa sudah berani menanyakan hal-hal yang kurang dimengerti yang ada kaitannya dengan materi yang diajarkan. Guru memberikan bantuan/bimbingan kepada kelompok atau siswa yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal dalam LKS dan memberikan penghargaan kepada kelompok /siswa yang menjawab dengan benar. Soal tes tindakan siklus II selengkapnya terdapat pada lampiran 4. .Selanjutnya guru membimbing siswa untuk merangkum materi yang telah dibahas kemudian guru memberikan PR sebanyak 2 nomor dan selanjutnya mengakhiri pembelajaran. 5. Guru selalu menjelaskan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa. Hasil observasi terhadap siswa menunjukan bahwa : 1. hal yang masih perlu diperhatikan adalah bimbingan terhadap siswa yang mengalami kesulitan dalam mengerjakan latihan perlu ditingkatkan. Dari hasil tes siklus II. Hasil evaluasi pelaksanaan tindakan siklus II dapat dilihat selengkapnya pada lampiran 1. walaupun menunjukkan peningkatan tetapi karena belum mencapai indikator keberhasilan maka penelitian dilanjutkan pada siklus III. 4. Evaluasi Setelah 2 kali pertemuan yang membahas materi mengenai limit fungsi di suatu titik. Hasil observasi selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 5. Guru sudah dapat melaksanakan hampir semua tahapan kegiatan dalam skenario pembelajaran pada siklus II. 2. Guru sudah bersikap tegas dengan menegur/memberi sanksi kepada siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru. 4. 3. Kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan yang terjadi pada tindakan siklus II akan diperbaiki pada pelaksanaan tindakan siklusIII. Hasil tes siklus II menunjukkan peningkatan prestasi belajar matematika siswa dibandingkan dengan siklus I yaitu dari 48% (12 orang) siswa yang telah memperoleh nilai pada siklus I meningkat menjadi 68% (17 orang) siswa telah memperoleh nilai pada siklus II. Observasi Secara umum pada pelaksanaan tindakan siklus II ini telah ada peningkatan dibandingkan dengan siklus I. kembali diadakan evaluasi untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar matematika siswa. Refleksi Berdasarkan hasil observasi dan evaluasi pelaksanaan tindakan siklus II.

Selanjutnya guru menyampaikan indikator pembelajaran dan memotivasi siswa agar lebih semangat dalam belajar. Masuk pada kegiatan inti guru mengecek pemahaman dasar siswa tentang trigonometri. Kemudian siswa berdiskusi dengan teman-teman dalam kelompoknya dan ternyata . Selanjutnya siswa berdiskusi dalam kelompoknya untuk menyelesaikan soal-soal dalam LKS. serta menyuruh siswa mengerjakan soal-soal yang ada dalam LKS yang telah dibagikan. Pada awal pertemuan guru membahas PR yang dianggap sulit oleh siswa. evaluasi dan refleksi diri pada tindakan siklusII. Kemudian guru meminta siswa bergabung dalam kelompoknya masing-masing dan membagikan LKS 3.2 serta menyuruh siswa mengerjakan soal-soal dalam LKS yang telah dibagikan. Pertemuan ini dilaksanakan pada hari Rabu. Disini siswa sudah tidak takut lagi ketika nomornya dipanggil. Pada awal pertemuan guru selalu membahas PR yang tidak dimengerti oleh siswa. Setelah jeda kurang lebih 1 menit guru mengakhiri pelajaran dengan membimbing siswa membuat rangkuman tentang materi yang telah dibahas dan memberikan latihan soal-soal untuk dikerjakan di rumah. Kemudian guru menjelaskan materi limit fungsi trigonometri di satu titik dengan menggunakan metode ceramah. Guru juga memotivasi siswa agar mempersiapkan diri dalam menghadapi ujian semester. b. guru secara acak memanngil nomor anggota siswa adalam kelompok untuk mempresentasikan hasil kerja kelompoknya di depan kelas dan kelompok yang lain menanggapinya. Setelah siswa menyelesaikan soal dalam LKS. Siswa sudah aktif bekerja dalam kelompok dan menjawab soal dengan benar. Pelaksanaan tindakan 1. pada tahap perencanaan ini peneliti tetap membuat skenario pembelajaran. Guru tidak lupa menginformasikan model pembelajaran yang akan digunakan yaitu model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Sehingga siswa tidak kesulitan lagi dalam menyelesaikan soal. 2.1. maka peneliti bersama dengan guru merencanakan tindakan siklus III agar kekurangan-kekurangan pada tindakan siklus II dapat diperbaiki. 11 April 2007. Selain itu. Kemudian guru menginformasikan model pembelajaran yang akan digunakan yaitu model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan menyampaikan indikator dan tujuan pembelajaran. Selanjutnya guru menyimpulkan jawabn siswa dan memberikan penghargaan pada kelompok yang memperoleh skor tertinggi. 5 April 2007. Tindakan siklus III a. Adapun hal-hal yang perlu dilakukan dalam rangka memperbaiki tindakan siklus II adalah guru harus selalu membimbing siswa dalam mengerjakan soal-soal LKS yang telah diberikan. Perencanaan Berdasarkan hasil observasi. Mereka lalu bertanya kepada guru dan guru membantu menjelaskannya.masih ada satu soal yang sulit mereka kerjakan. Memasuki kegiatan inti guru mengawali pembelajaran dengan menjelaskan arti bentuk tak tentu dari limit fungsi. alat evaluasi dan jurnal refleksi diri untuk tindakan siklus III. lembar observasi terhadap guru dan siswa. Hal ini sangat membantu siswa untuk memahami materi yang diajarkan. Pertemuan Pertama Pertemuan pertama siklus III dilaksankan pada hari Kamis. . 4.Hasil refleksi diri pada pelaksanaan tindakan siklus II selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 6. Selanjutnya guru menyuruyh siswa untuk bergabung dengan kelompoknya masing-masing dan membagikan LKS 3. Pertemuan Kedua Pertemuan kedua adalah lanjutan dari pertemuan sebelumnya.

Hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT sudah mendapatkan hasil yang lebih baik. Hasil observasi selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 5. Hasil evaluasinya dapat dilihat pada lampiran 1. Dari hasil tes siklus III menunjukkan adanya peningkatan dan telah mencapai indikator keberhasilan yang telah ditetapkan. Siswa sudah mampu mengemukakan pendapat. maka . Hanya masih ada sedikit kelemahan-kelemahan pada pihak siswa yaitu ada beberapa siswa yang belun mampu mengemukakan pendapat. Pada akhir pelajaran guru memberikan soal-soal untuk dikerjakan di rumah. Refleksi Kegiatan refleksi yang dilakukan pada tindakan siklus III menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan baik bagi guru mata pelajaran maupun bagi peneliti. Hasil tes menunjukkan adanya peningkatan dari siklus sebelumnya yaitu dari 68% (17 0rang) siswa telah memperoleh nilai pada siklus II meningkat menjadi 80% (20 orang) siswa telah memperoleh nilai pada siklus III. maka pelaksanaan tindakan dihentikan hanya sanpai pada siklus III. walaupun masih ada beberapa siswa yang belum dapat menyampaikan pendapat tetapi siswa tersebut aktif melibatkan diri dalam melaksanakan tugas kelompok. d. Secara umum pelaksanaan tindakan sudah sesuai dengan skenario pembelajaran yang telah dibuat. Siswa sudah mampu mempresentasikan hasil kerja kelompoknya 3. maka kembali diadakan tes tindakan siklus III untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar matematika siswa. yaitu telah mencapai 80% (20 orang) siswa yag telah memperoleh nilai atau dengan kata lain telah mencapai indikator keberhasilan. Hasil observasi terhadap siswa menunjukkan hal-hal berikut: 1. Jika dilihat dari hasil tes pada evaluasi pelaksanaan tindakan siklus III. Selanjutnya guru dan siswa merumuskan jawaban yang benar dan memberi kesimpulan. Karena masih ada waktu yang tersisa guru menyarankan siswa untuk mengerjakan soal-soal yang ada dalam buku paket. Semua siswa sudah memperhatikan penjelasan guru 2. Observasi Peneliti kembali melaksanakan observasi terhadap pelaksanaan tindakan siklus III dan hasil observasi terhadap guru menunjukkan bahwa guru telah mampu melaksanakan skenario pembelajaran dengan baik. c. Evaluasi Setelah 2 kali pertemuan.Setelah memastikan semua siswa telah menyelesaikan soal yang diberikan guru meminta wakil dari setiap kelompok untuk mempresentasikan hasil kerja kelompoknya di depan kelas dan memandu jalannya diskusi. e. Semua tahapan kegiatan dalam skenario pembelajaran telah dilaksanakan dengan sempurna oleh guru.

.penelitian ini telah berhasil dilaksanakan sesuai rencana pelaksanaan penelitian dengan tiga siklus tindakan.

kegiatan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran telah meningkat. Dimana kekurangan-kekurangan yang terjadi pada siklus I sudah dapat diperbaiki sedikit demi sedikit. Hal ini berarti telah mencapai indikator yang telah ditetapkan. . Karena indikator keberhasilan dalam penelitian telah tercapai. Berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan pada siklus II.2. Hal-hal yang harus diperbaiki pada tindakan siklus II adalah guru harus bersikap tegas dengan menegur/memberi sanksi kepada siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru dan yang tidak mau bekerja sama dengan teman kelompoknya. guru terlalu banyak memberikan waktu pada siswa untuk bekerja menyelesaikan soal-soal yang diberikan. nilai siswa menunjukkan lagi peningkatan menjadi 80% siswa telah memperoleh nilai dan secara rata-rata juga meningkat menjadi 6. Melihat kekurangan yang masih ada serta prestasi belajar matematika siswa terhadap pokok bahasan limit fungsi pada tindakan siklus I belum memenuhi indikator keberhasilan yang telah ditetapkan. Hal-hal yang harus diperbaiki pada siklus III adalah guru harus selalu membimbing siswa dalam mengerjakan soal-soal yang diberikan. guru dan siswa telah melakukan kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Pada siklus I. siswa yang memperoleh nilai sebanyak 16 orang atau 68%. Jakarta : Depdiknas. namun masih terdapat kekurangan-kekurangan dimana kekurangan itu ada yang berasal dari guru dan ada juga yang berasal dari siswa. Ini berarti mengalami peningkatan dibanding hasil evaluasi pada siklus I. Guru juga harus mampu mengelola waktu dengan efisien agar semua tahapan kegiatan dalam skenario pembelajaran dapat terlaksana. ini berarti hipotesis tindakan telah tercapai yaitu dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT prestasi belajar matematika siswa kelas IX1A-1 SMA Muhammadiah Kendari pada pokok bahasan limit fungsi dapat ditingkatkan. dan guru merasa canggung dalam mengajar karena kehadiran peneliti. Diantaranya ada sebagian siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru pada saat menyampaikan materi. Nilai evaluasi hasil tes siklus I meningkat 24% dari hasil tes awal. maka penelitian dilanjutkan pada tindakan siklus II. 1994.82. DAFTAR PUSTAKA Anonim. Pada tindakan siklus II. Kurikulum 1994. dan kekurangan yang berasal dari guru adalah belum terlaksananya semua komponen dalam skenario pembelajaran. Hal itu dikarenakan guru belum dapat mengatur waktu sebaik mungkin. perolehan nilai siswa berdasarkan ketuntasan belajar hanya 48% (12 orang) siswa yang telah memperoleh nilai . Setelah siklus III. Melihat hasil tes tindakan siklus II ini belum mencapai indikator keberhasilan yang telah ditetapkan maka penelitian dilanjutkan kembali pada siklus berikutnya. Berdasarkan hasil observasi pada siklus I. i. model pembelajaran kooperatif tipe NHT kembali dilaksanakan. Siswa sudah lebih memperhatikan penjelasan guru walaupun hanya beberapa siswa mampu dan mau mengajukan pertanyaan jika mendapat masalah dalam menyelesaikan soal-soal LKS yang diberikan. Berdasarkan hasil observasi pada tindakan siklus II. Pembahasan Penelitian ini berakhir setelah pelaksanaan siklus III karena telah mencapai indikator kinerja yang telah ditetapkan.

Pembelajaran Kooperatif. Bandung : Tarsito. Jakarta : Proyek PGSM Dikti. M. Jakarta : Rineka Cipta. A. Mengajar Belajar Matematika. Bandung : Sinar Baru Algensindo. dkk. . Herman. 2000. Guru dan SPG. Winkel. Model-model Pembelajaran. 2000. E. Malang : IKIP Malang. Sardiman. Sumarmo. W. Lie. Jakarta : Rajawali Press. 1989. Sudjana. 1980. Ruseffendi. S. Cooperative Learning. 1995. 2002. dan Simandjuntak._______. Utari. Hudojo.T. 1983. Pasaribu. 1990. L. Slameto. Jakarta : PT Grasindo. Bandung : FMIPA-UPI. Pengajaran Matematika Modern Untuk Orang Tua Murid. Jakarta : Gramedia. Ismail. Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar. Proses Belajar Mengajar Edisi II. N. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. Alaternatif Pembelajaran Matematika Dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta : Direktorat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Dirjen Dikdasmen Depdiknas. 2002. B. Penelitian Tindakan Kelas. 1992. M. I. Pedoman Bagi Guru dan Calon Guru. Surabaya : Universitas Negeri Surabaya University Press. 2002. Ibrahim. 1999. Bandung : Tarsito.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->