Masa Demokrasi Terpimpin (1959-1967) Sebagai akibat dari dekrit presiden 5 Juli 1959, maka Indonesia menjalankan

sistem demokrasi terpimpin dan struktur ekonomi Indonesia menjurus pada sistem etatisme (segalagalanya diatur oleh pemerintah). Dengan sistem ini, diharapkan akan membawa pada kemakmuran bersama dan persamaan dalam sosial, politik,dan ekonomi (mengikuti Mazhab Sosialisme). Akan tetapi, kebijakan-kebijakan ekonomi yang diambil pemerintah di masa ini belum mampu memperbaiki keadaan ekonomi Indonesia, antara lain : a)Devaluasi yang diumumkan pada 25 Agustus 1959 menurunkan nilai uang sebagai berikut :Uang kertas pecahan Rp 500 menjadi Rp 50, uang kertas pecahan Rp 1000 menjadi Rp 100, dan semua simpanan di bank yang melebihi 25.000 dibekukan. b)Pembentukan Deklarasi Ekonomi (Dekon) untuk mencapai tahap ekonomi sosialis Indonesia dengan cara terpimpin. Dalam pelaksanaannya justru mengakibatkan stagnasi bagi perekonomian Indonesia. Bahkan pada 1961-1962 harga barang-baranga naik 400%. c)Devaluasi yang dilakukan pada 13 Desember 1965 menjadikan uang senilai Rp 1000 menjadi Rp 1. Sehingga uang rupiah baru mestinya dihargai 1000 kali lipat uang rupiah lama, tapi di masyarakat uang rupiah baru hanya dihargai 10 kali lipat lebih tinggi. Maka tindakan pemerintah untuk menekan angka inflasi ini malah meningkatkan angka inflasi. Kegagalan-kegagalan dalam berbagai tindakan moneter itu diperparah karena pemerintah tidak menghemat pengeluaran-pengeluarannya. Pada masa ini banyak proyek-proyek mercusuar yang dilaksanakan pemerintah, dan juga sebagai akibat politik konfrontasi dengan Malaysia dan negara-negara Barat. Sekali lagi, ini juga salah satu konsekuensi dari pilihan menggunakan sistem demokrasi terpimpin yang bisa diartikan bahwa Indonesia berkiblat ke Timur (sosialis) baik dalam politik, eonomi, maupun bidang-bidang lain. - Orde Baru/ Orba (Demokrasi Pancasila) Pada masa orde baru, pemerintah menjalankan kebijakan yang tidak mengalami perubahan terlalu signifikan selama 32 tahun. Dikarenakan pada masa itu pemerintah sukses menghadirkan suatu stablilitas politik sehingga mendukung terjadinya stabilitas ekonomi. Karena hal itulah maka pemerintah jarang sekali melakukan perubahan-perubahan kebijakan terutama dalam hal anggaran negara. Pada masa pemerintahan orde baru, kebijakan ekonominya berorientasi kepada pertumbuhan ekonomi. Kebijakan ekonomi tersebut didukung oleh kestabilan politik yang dijalankan oleh pemerintah. Hal tersebut dituangkan ke dalam jargon kebijakan ekonomi yang disebut dengan Trilogi Pembangungan, yaitu stabilitas politik, pertumbuhan ekonomi yang stabil, dan pemerataan pembangunan. Hal ini berhasil karena selama lebih dari 30 tahun, pemerintahan mengalami stabilitas politik sehingga menunjang stabilitas ekonomi. Kebijakan-kebijakan ekonomi pada masa itu dituangkan pada Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN), yang pada akhirnya selalu disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk disahkan menjadi APBN. APBN pada masa pemerintahan Orde Baru, disusun berdasarkan asumsi-asumsi perhitungan dasar. Yaitu laju pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi, harga ekspor minyak mentah Indonesia, serta nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika. Asumsi-asumsi dasar tersebut dijadikan sebagai ukuran fundamental ekonomi nasional. Padahal sesungguhnya, fundamental ekonomi nasional tidak didasarkan pada perhitungan hal-hal makro. Akan tetapi, lebih kearah yang bersifat mikro-ekonomi. Misalnya, masalah-masalah dalam dunia usaha, tingkat resiko yang tinggi, hingga penerapan dunia swasta dan BUMN yang baik dan bersih.

Akan tetapi. sehingga menimbulkan kesan bahwa kebijakan ekonomi nasional memperhatikan petani. Padahal. Presiden menyatakan bahwa dana-dana pembiayaan yang bersumber dari dalam negeri harus meningkat. khususnya di bidang ekonomi. Penerimaan terdiri dari penerimaan rutin dan penerimaan pembangunan serta pengeluaran terdiri dari pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan. Hal perimbangan tersebut sebetulnya sangat tidak mungkin. Dan lebih parahnya lagi . karena anggaran defisit negara ditutup dengan pinjaman luar negeri. Padahal. Sehingga pembangunanpun terus dapat berjalan. Penerapan kebijakan tersebut menimbulkan banyak kritik. Ini artinya pinjaman-pinjaman luar negeri tersebut ditempatkan pada anggaran penerimaan. Format APBN pada masa Orde baru dibedakan dalam penerimaan dan pengeluaran. Sehingga yang terjadi hanya perbedaan penghasilan. yaitu anggaran penerimaan yang disesuaikan dengan anggaran pengeluaran sehingga terdapat jumlah yang sama antara penerimaan dan pengeluaran. karena pinjaman yang digunakan akan membuahkan hasil yang nyata. Namun prinsip berimbang ini merupakan kunci sukses pemerintah pada masa itu untuk mempertahankan stabilitas. Dalam Keterangan Pemerintah tentang RAPBN tahun 1977.Oleh karena itu pemerintah selalu dihadapkan pada kritikan yang menyatakan bahwa penetapan asumsi APBN tersebut tidaklah realistis sesuai keadaan yang terjadi. Permasalahannya. Oleh karena itu. dan penyalahgunaan. Sehingga antara penerimaan dan pengeluaran dapat berimbang. Sirkulasi anggaran dimulai pada 1 April dan berakhir pada 31 Maret tahun berikutnya. Selain itu pinjaman luar negeri yang banyak akan menimbulkan resiko kebocoran. dalam APBN tiap tahunnya cantuman angka pinjaman luar negeri selalu meningkat. Karena menurut pemerintah. Padahal seharusnya pinjaman-pinjaman tersebut adalah utang yang harus dikembalikan. Pinjaman-pinjaman luar negeri inilah yang digunakan pemerintah untuk menutup anggaran yang defisit. Hal lain yang dapat terjadi adalah pemerataan ekonomi tidak akan terwujud. pada masa itu penerimaan pajak saat minim sehingga tidak dapat menutup defisit anggaran. Hal ini bertentangan dengan keinginan pemerintah untuk selalu meningkatkan penerimaan dalam negeri. Diantaranya akan menyebabkan berkurangnya pertumbuhan ekonomi. Pada dasarnya kebijakan ini sangat bagus. korupsi. dan merupakan beban pengeluaran di masa yang akan datang. pada dasarnya APBN pada masa itu selalu mengalami defisit anggaran. Karena pemerintah dapat menghindari terjadinya inflasi. ketergantungan yang besar terhadap pinjaman luar negeri akan menimbulkan akibat-akibat. karena pada masa itu pinjaman luar negeri selalu mengalir. yang sumber pokoknya karena terjadi anggaran yang defisit. Prinsip lain yang diterapkan pemerintah Orde Baru adalah prinsip fungsional. APBN pada masa itu diberlakukan atas dasar kebijakan prinsip berimbang. Kebijakan yang disebut tahun fiskal ini diterapkan seseuai dengan masa panen petani. konsep yang benar adalah pengeluaran pemerintah dapat ditutup dengan penerimaan pajak dalam negeri. Prinsip ini merupakan pengaturan atas fungsi anggaran pembangunan dimana pinjaman luar negeri hanya digunakan untuk membiayai anggaran belanja pembangunan. pembangunan memerlukan dana investasi yang besar dan tidak dapat seluruhnya dibiayai oleh sumber dana dalam negeri.

Masa Kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono terdapat kebijakan kontroversial yaitu mengurangi subsidi BBM. Anggaran subsidi BBM dialihkan ke subsidi sektor pendidikan dan kesehatan. kebijakan demikian membutuhkan waktu dan proses yang cukup lama. Masa kepemimpinan Megawati Soekarnoputri mengalami masalah-masalah yang mendesak untuk dipecahkan adalah pemulihan ekonomi dan penegakan hukum. pengendalian inflasi. Padahal keberadaan korupsi membuat banyak investor berpikir dua kali untuk menanamkan modal di Indonesia.ketergantungan tersebut akan menyebabkan negara menjadi malas untuk berusaha meningkatkan penerimaan dalam negeri. namun juga kebijakan ekonomi. karena BUMN yang diprivatisasi dijual ke perusahaan asing. kinerja BUMN. Pada masa ini tidak hanya hal ketatanegaraan yang mengalami perubahan. Kebijakan ini dilatar belakangi oleh naiknya harga minyak dunia. Privatisasi adalah menjual perusahaan negara di dalam periode krisis dengan tujuan melindungi perusahaan negara dari intervensi kekuatan-kekuatan politik dan mengurangi beban negara. Padahal disaat yang bersamaan persentase pengeluaran rutin untuk membayar pinjaman luar negeri terus meningkat. Sehingga apa yang telah stabil dijalankan selama 32 tahun. Prinsip ketiga yang diterapakan oleh pemerintahan Orde Baru dalam APBN adalah. Malah presiden terlibat skandal Bruneigate yang menjatuhkan kredibilitasnya di mata masyarakat. Kolusi dan Nepotisme). ada berbagai persoalan ekonomi yang diwariskan orde baru harus dihadapi. Oleh karena itu. Akibatnya. Dalam hal ini pemerintah akan berupaya untuk mendapatkan kelebihan pendapatan yang telah dikurangi dengan pengeluaran rutin. yaitu derelgulasi perbankan dan reformasi perpajakan. dan mengganggu jalannya pembangunan nasional.8 milyar pada pertemuan Paris Club ke-3 dan mengalokasikan pembayaran utang luar negeri sebesar Rp 116. Kebijakan pemerintah ini dilakukan dengan dua cara. belum ada tindakan yang cukup berarti untuk menyelamatkan negara dari keterpurukan. serta bidang-bidang yang mendukung peningkatan . Padahal. Pada masa kepemimpinan presiden Abdurrahman Wahid pun. Hal ini jelas menggambarkan betapa APBN pada masa pemerintahan Orde Baru sangat bergantung pada pinjaman luar negeri. kedudukannya digantikan oleh presiden Megawati. b)Kebijakan privatisasi BUMN. Pemerintahan presiden BJ. Sehingga pada akhirnya berakibat tidak dapat terpenuhinya keinginan pemerintah untuk meningkatkan tabungannya. Kebijakan-kebijakan yang ditempuh untuk mengatasi persoalan-persoalan ekonomi antara lain : a)Meminta penundaan pembayaran utang sebesar US$ 5. antara lain masalah KKN (Korupsi. Di masa ini juga direalisasikan berdirinya KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Hasil penjualan itu berhasil menaikkan pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4.ditandai dengan tumbangnya pemerintahan Orde Baru kemudian disusul dengan era reformasi yang dimulai oleh pemerintahan Presiden Habibie. atau dengan kata lain menaikkan harga BBM. dinamis yang berarti peningkatan tabungan pemerintah untuk membiayai pembangunan. Akan tetapi.3 triliun. terpaksa mengalami perubahan guna menyesuaikan dengan keadaan.Masa Reformasi (Demokrasi Liberal) Pada masa krisis ekonomi. kebijakan untuk mengurangi bantuan luar negeri tidak dapat terjadi karena jumlah pinjaman luar negeri terus meningkat. Namun kebijakan ini memicu banyak kontroversi. pemulihan ekonomi. agar dapat dijadikan tabungan pemerintah.1 %. . tetapi belum ada gebrakan konkrit dalam pemberantasan korupsi. pemerintah dapat memanfaatkan tabungan tersebut untuk berinvestasi dalam pembangunan.Habibie yang mengawali masa reformasi belum melakukan manuver-manuver yang cukup tajam dalam bidang ekonomi. Kebijakan-kebijakannya diutamakan untuk mengendalikan stabilitas politik. Akibatnya. dan mempertahankan kurs rupiah.

antara lain karena pengucuran kredit perbankan ke sector riil masih sangat kurang (perbankan lebih suka menyimpan dana di SBI). Kalo bisa ngutang ya ngutang. tapi di lain pihak. Salah satunya adalah diadakannya Indonesian Infrastructure Summit pada bulan November 2006 lalu. Rakyat pun merasa hidup berkecukupan pada masa Orba. Penebangan hutan pada masa Bung Karno juga amat minim. Hutan dijadikan sumber duit. kedelai dsb. meski RI hidup miskin. Jangan dilupakan pula bahwa ekonomi RI ambruk parah ditandai Rupiah terjun bebas ke Rp 16. terigu. yakni Bantuan Langsung Tunai (BLT) bagi masyarakat miskin. Kebijakan kontroversial pertama itu menimbulkan kebijakan kontroversial kedua. Jika ada orang mempertanyakan. padahal sebagian adalah beras impor. Jika semakin banyak investasi asing di Indonesia. Semua serba tertutup dan tidak tranparan. dibagi-bagi ke orang-orang tertentu (kroni) secara tidak transparan. Namun wacana untuk berhutang lagi pada luar negri kembali mencuat. digadaikan.10 jiwa di bulan Februari 2005 menjadi 39. yang salah satunya adalah revisi undangundang ketenagakerjaan. Ingat fakta sejarah: Orde Baru tumbang akibat demo mahasiswa yang memprotes pemerintah Orba yang bergelimang KKN. Pada masa Orde Baru konsepnya bertolak belakang dengan orde lama. dan pembagiannya menimbulkan berbagai masalah sosial. Hal ini disebabkan karena beberapa hal.Kebijakan yang ditempuh untuk meningkatkan pendapatan perkapita adalah mengandalkan pembangunan infrastruktur massal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi serta mengundang investor asing dengan janji memperbaiki iklim investasi. dibagi menjadi kapling-kapling HPH. Biarlah anak cucu yang menikmati jika mereka sudah mampu dan bisa.kesejahteraan masyarakat. Pada pertengahan bulan Oktober 2006 . terutama investor asing.Apa yang bisa digadaikan.000 per dollar terjadi masih pada masa Orde Baru. investasi merupakan faktor utama untuk menentukan kesempatan kerja. Yang penting bisa selalu makan enak dan hidup wah. maka diharapkan Indonesia tak lagi mengikuti agenda-agenda IMF dalam menentukan kebijakan dalam negeri. sehingga kinerja sector riil kurang dan berimbas pada turunnya investasi. Selain itu. dan jumlah penduduk miskin meningkat dari 35. . Kekayaan alam itu akan menjadi tabungan anak cucu di masa depan. Jadi. Beberapa gelintir orang mendapat rente ekonomi yang luar biasa dari berbagai jenis monopoli impor komoditi bahan pokok. karena inefisiensi pengelolaan anggaran.2 miliar dolar AS. Indonesia melunasi seluruh sisa utang pada IMF sebesar 3. Dengan ini. Beras murah. birokrasi pemerintahan terlalu kental. Kebanyakan BLT tidak sampai ke tangan yang berhak. Jika Bangsa Indonesia belum mampu atau belum punya iptek untuk menambang minyak bumi dsb biarlah SDA tetap berada di dalam perut bumi Indonesia. termasuk beras. tapi Bung Karno tidak pernah menggadaikan (konsesi) tambang-tambang milik bangsa ke perusahaan asing. Jadi saat dipimpin Bung Karno.05 juta jiwa pada bulan Maret 2006. di satu sisi pemerintah berupaya mengundang investor dari luar negri. sehingga menyebabkan kecilnya realisasi belanja Negara dan daya serap. Menurut Keynes. diharapkan jumlah kesempatan kerja juga akan bertambah. setelah keluarnya laporan bahwa kesenjangan ekonomi antara penduduk kaya dan miskin menajam. o Masalah pemanfaatan kekayaan alam. Mungkin ini mendasari kebijakan pemerintah yang selalu ditujukan untuk memberi kemudahan bagi investor. kondisi dalam negeri masih kurang kondusif. yang mempertemukan para investor dengan kepala-kepala daerah. Pada masa orde lama : Konsep Bung Karno tentang kekayaan alam sangat jelas. diancam tuduhan subversif.

Yang memimpikan kembalinya rezim totaliter mungkin hanyalah sekelompok orang yang dulu amat menikmati previlege dan romantisme kenikmatan duniawi di zaman Orba. Soeharto dan Orde Baru tidak bisa dipisahkan. Perbedaan Orde Baru dan Orde Reformasi secara kultural dan substansi semakin kabur. demokrasi Pancasila. bangsa ini tidak pernah membuat garis demarkasi yang jelas terhadap Orde Baru. namun sektor ekonomi sudah diserahkan ke swasta/asing. Rakyat menikmati kebebasan (namun sepertinya terlalu “bebas”). fokus pada pembangunan ekonomi. Kita masih menyaksikan koruptor masih bercokol di negeri ini. Orde reformasi : pemerintahan tidak punya kebijakan (menuruti alur parpol di DPR). Sebab. meski pada masa Presiden SBY pemberantasan korupsi mulai kelihatan wujudnya. pewadahunggalan organisasi profesi. Betulkah Orde Baru telah berakhir? Kita masih menyaksikan praktik-praktik nilai Orde Baru hari ini masih menjadi karakter dan tabiat politik di negeri ini. tidak jelas apa orientasinya dan mau dibawa kemana bangsa ini. Mengapa semua ini terjadi? Salah satu jawabannya. demokrasi Liberal (neoliberaliseme).Sistem politik otoriter (partisipasi masyarakat sangat minimal) pada masa orba terdapat instrumen-instrumen pengendali seperti pembatasan ruang gerak pers. pemerintahan lemah. kapitalisme. sekularisme.. menjadi muara dari illegal logging. Soeharto melahirkan Orde Baru dan Orde Baru merupakan sistem kekuasaan yang menopang pemerintahan Soeharto selama lebih dari tiga dekade. industri kayu yang sudah terbentuk dimana-mana akibat dari berbagai HPH . Orde baru : kebijakan masih pada pemerintah. sentralistik. dll. Media masa menjadi terbuka. Budaya korupsi yang sudah menggurita sulit dihilangkan. berorientasi pada politik. sentralistik. dan muncul otonomi daerah yang kebablasan. o Sistem pemerintahan Orde lama : kebijakan pada pemerintah. . pembatasan partai poltik.semua proyek diserahkan kepada pemerintah.Sekarang kita mewarisi hutan yang sudah rusak parah. kekuasaan militer untuk memasuki wilayah-wilayah sipil.demokrasi Terpimpin. Tonggak awal reformasi 11 tahun lalu yang diharapkan bisa menarik garis demarkasi kekuatan lama yang korup dan otoriter dengan kekuatan baru yang ingin melakukan perubahan justru “terbelenggu” oleh faktor kekuasaan.Masa Reformasi krisis ekonomi parah sudah terjadi. Utang LN tetap harus dibayar.

9/./.0.38:/.-.78:9..7:0-.8.8788043425./.5740/807././ &9.39./. 907-039:/2. #..3 2085.203.3.2.9.3/:897..7.3/:3.8.90-0-.702949./.20.!708/03$ 502-07.800425447. 47:58.549 802:.38:/.30 8..3909.3::/3.9072:33.8:9/.7:8./807.5020739./..8..2.3..85.7820  7/0-.92032.9570.35.7.7-07-.89.3 3.3 05.7:8/-.2..89 /0247.70.2:380947043428:/.3 /::.3.3.5.92032.  .3.38:/.3742.39.3 7/0.5020739.0-.8 0/./.2:3 8050793.8.3 7-..203:79.302-. 3.907. $0.43  4$89025020739.: -0-. 2.5020739.8%075253 80:. -0747039.7 :/.2.347:582:.#01472.9.320225.! 203.:.32.7.8.2.8:/../2:..39820032..85./907-:.7.907.5.3.3.00/. 80397.

3 203:7:9.7.85 /  7/0701472..2./$.30-. .89 /0247.347.9.8 2.39.5:3..:/-.732.78/02.3$40.44/30073 !07-0/.2.8..89.8.3907.9232./..32.3 7/0.3 /0247.5 7/0 .794/.38.7:9/..3  .38:-89.9.47-.7:90.98.-07.7:.3.8203.37:.3-. 5.$40.9549/30073 9.83 14:85. -..502-.8!..9:.93897:203 3897:20350303/..8.7.9.7985.802:..8203..8.8..:494342/.32:3.8..8.7:.7:/.8 203.8:.3. 7/0.79.33./.-.347:59472.. 304-07.33320.0.78/02.:9:7.38./..3:3.32907:39:202.3 7/0.-8.3..  .3 7/0.3 507:-..02.203.30:..:3.39/.-.8-07.3-8.907/..39/.9470:.:.85020739.:.880.35.754/!#  5020739..0- /.5.7: %43.3.7.320345...8907.3 $89025494947907 5.79.79480.:3.5./.79.302.8.9./..7.7:207:5./0.35020739. /.304342 80397.5.2.7.7:/.59.3889020:.549  0:.307.7.8574108 502-.8-07.3/.38802.2..357.9.-:7 03.7.79420.9 57./58.5./0 09:.701472.5078 50.3 $0-. 7/0.30./.9 3.3:897: 907-003: 401.805079 502-.5073.2.347:5/.8.34947907/03.907/.202-:.8.8..8 0:.3 7/0.0-.-. 8./.7.07.8.820  $40.3 7/0 #01472.38.3..47039.8.3.-..:75.8020 9/.83.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful