P. 1
ASKEP TB

ASKEP TB

|Views: 428|Likes:

More info:

Published by: Fauzia Namira H Mustofa on Sep 17, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/12/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Banyaknya bermunculan berbagai jenis penyakit menjadi faktor utama menurunnya angka kesehatan dimasyarakat kita. Hal ini tentunya dipengaruhi oleh berbagai faktor dari berbagai sektor. Salah satu penyakit yang kini banyak menjangkit masyarakat yaitu Tuberculosis Paru. Jenis penyakit ini bukanlah sesuatu yang harus dianggap kurang penting, karena jenis penyakit ini sangat berbahaya dan mengancam kesehatan serta kelangsungan hidup masyarakat. Penyebaran virus merupakan perantara menularnya penyakit ini dari si penderita ke orang lain. Dalam menghadapi hal yang demikian tentunya setiap kalangan masyarakat harus menjaga kesehatan pribadi serta lingkungan. Pemahaman lebih luas mengenai penyakit ini tidak hanya diperlukan bagi setiap masyarakat pada umumnya melainkan para tenaga-tenaga yang berkecimpung di dunia kesehatan pun harus lebih efektif dalam menghadapi hal ini terutama perawat. Seorang perawat harus mengetahui dan memahami tindakan yang bagaimana yang harus dilakukan dalam menghadapi klien yang menderita penyakit ini serta apa saja tindakan yang harus dilakukan seorang perawat sebagai usaha yang bersifat preventif belum terinfeksi penyakit tersebut. kepada para masyarakat yang

1.2 Tujuan a. Tujuan umum Untuk Tuberculosis mengetahui Paru yang lebih luas ini mengenai banyak penyakit menjangkit

akhir-akhir

dimasyarakat serta cara penanggulangan penyakit tersebut.

1

b. Tujuan khusus 1. Mengetahui penyebab penyakit Tuberculosis Paru. 2. Mengetahui tanda dan gejala penyakit Tuberculosis Paru. 3. Mengetahui tindakan keperawatan terhadap penyakit Tuberculosis Paru.

4. Mengetahui pengobatan yang dapat dilakukan terhadap penyakit Tuberculosis Paru. 5. Asuhan Keperawatan teoritis Tuberculosis Paru.

1.3 Manfaat Adapun manfaat yang diperoleh antara lain : a. Memberi pengetahuan yang lebih luas mengenai penyakit Tuberculosis Paru. b. Memahami tindakan apa yang harus dilakukan terhadap penderita penyakit yang demikian bagi para tenaga medis secara umum dan tenaga perawat secara khusus. c. Memberikan informasi kesehatan kepada masyarakat

khususnya mengenai penyakit Tuberculosis Paru, sehingga masyarakat kita dapat melakukan pencegahan secara dini. d. Menjelaskan Asuhan Keperawatan terhadap penderita

Tuberculosis Paru.

2

Definisi Tuberculosis (TB) paru kuman adalah penyakit akibat infeksi sistemis sehingga dapat Mycobaterium tuberculosis mengenai hampir semua organ tubuh. (Kapita Selekta Kedokteran. melalui saluran pernapasan atau menyebar langsung ke organ-organ tubuh yang lain (Brunner & Suddarth. suatu basil aerobik tahan asam. 3 . Tuberculosis adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh mycobacterium tuberculosis.1 Konsep Penyakit A. Kuman tersebut masuk kedalam tubuh manusia melalui udara pernapasan kedalam paru. 2002). yang ditularkan melalui udara (Asih & Effendi 2004). dengan lokasi terbanyak di paru yang biasanya merupakan lokasi infeksi primer. Kemudian kuman tersebut dapat menyebar dari paru ke tubuh bagian yang lain sistem peredaran darah. jilid 2 edisi ke-3).BAB II PEMBAHASAN 2. Tuberculosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh mycobaterium tuberculosis. peredaran limfe.

4 .

Proses transportasi. 5 . Dikenal sebagai proses inspirasi dan ekspirasi. 2. Saluran pernapasan atas : • • • Hidung. Bronchus. Proses ini merupakan proses pemasukkan oksigen dan pengeluaran karbondioksida melalui saluran nafas. Proses pertukaran gas antara oksigen dan karbondioksida yang terjadi di alveoli dan kapiler darah. Larynx. Pharynx. Proses respirasi dapat dibagi dalam 4 bagian : 1. antara lain : 1. Saluran pernapasan bawah : • • • • Trakea. Proses ventilasi. Otot antar tulang iga (costales). 3. Bronchiolus. Proses membawa oksigen melalui darah (Hb) menuju sel tubuh dan membawa kembali karbondioksida menuju kapiler paru.Saluran pernapasan dimulai dari : 1. 2. Adapun otot-otot pernapasan yang ikut berperan. Otot diafragma. Alveoli. Proses difusi. 2.

tulang. ginjal. 4. Secara garis besar bahwa paru-paru mempunyai fungsi sebagai berikut : 1. Proses pengaturan pernapasan melalui pusat pernapasan dengan peran baro dan khemoreseptor. Reservoir darah. Proses regulasi. Fungsi utamanya adalah pertukaran gas-gas. C. 2. 3. dll 6 . Patogenesis Inhalasi basil TB Alveolus Fagositosis oleh makrofag Destruksi basil TB Basil TB berkembang biak Destruksi makrofag Resolusi Kalsifikasi Pembentukkan tuberkel Perkejuan Kelenjar limfe Kompleks Ghon Pecah Lesi sekunder paru Penyebaran hematogen Lesi di hepar. lien. otak.4. Terdapat permukaan gas-gas yaitu mengalirkan Oksigen dari udara atmosfer kedarah vena dan mengeluarkan Karbondioksida dari alveoli ke udara atmosfer. Menyaring bahan beracun dari sirkulasi.

Dahak bercampur darah. Sesak napas dan nyeri dada. 7 . malaise (rasa kurang enak badan). 2. kuman ini dapat dorman selama beberapa tahun. berat badan menurun. E. Etiologi Tuberculosis (TB) paru disebabkan oleh kuman-kuman tahan asam mycobaterium tuberculosis. 3.D. jenis kuman batang dengan ukuran panjang 1-4 µm dan tebal 0. Batuk terus menerus selama 3 minggu atau lebih. Kuman TB dapat mati dengan sinar matahari langsung tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam ditempat yang gelap dan lembek. demam meriang lebih dari sebulan. Dalam jaringan tubuh. 4. Batuk darah. nafsu makan menurun. Badan lemah. Dalam hal ini imunitas tubuh sangat berperan untuk membatasi infeksi sehingga tidak bermanifestasi menjadi penyakit TBC. berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan. Adapun tanda dan gejala penyakit Tuberculosis Paru. Kuman ini mempunyai sifat khusus yakni tahan asam pada pewarnaan (BTA). 1/3 penduduk dunia saat ini telah terinfeksi mycobaterium tuberculosis.6 µm. antara lain : 1. Menurut perkiraan WHO. Tanda dan Gejala. terutama yang kontak erat. TB Paru merupakan penyakit yang sangat infeksius. 5.3-0. Seorang penderita TB dapat menularkan penyakit kepada 10 orang disekitarnya. Kuman ini dapat disebarkan dari penderita TB BTA positif kepada orang yang berada disekitarnya.

- Poto torak : Infiltnasi lesi awal pada area paru atas. dengan hasil positif bila terdapat indurasi diameter lebih dari 10 mm. . meragukan bila 5-9 mm. diameter indurasi ≥ 5 mm harus dinilai positif. Uji tuberculin bisa di ulang setelah 1-2 minggu. Pada anak yang telah mendapat BCG. - Kultur sputum : Mycobaterium tuberculosis positif pada tahap akhir penyakit. Hemoptisis berat (perdarahan dari saluran nafas bawah). 8 . Pemeriksaan Diagnostik / Penunjang. 3. G. pada tahap ini tampak gambaran bercak-bercak seperti awan dengan batas tidak jelas. Pembesaran kelenjar limfe suferfisialis yang tidak sakit dan biasanya multifel.6. 4. Pnemuotorak spontan : kolaps spontan karena kerusakan jaringan paru. dapat menyebabkan kematian karena syok hipovolemik atau tersumbat jalan nafas. Kolaps dari lobus akibat dari retraksi bronchial. diameter indurasi 15 mm keatas baru dinyatakan positif. sedangkan pada anak kontak erat dengan penderita TB aktif. Bronkiektasis dan fibrosis pada paru.Tuberulin skin testing. Pembacaan hasil uji tuberculin dilakukan setelah 48-72 jam. 2. F. Komplikasi Komplikasi yang terjadi pada penderita stadium lanjut : 1.

3. Prinsip pemberian obat anti tuberkulosis (OAT) : 1. 3. 2. Istirahat kerja 1-3 bulan dan tidak merokok. b.- Bronchografi : untuk melihat kerusakan bronkus atau kerusakan paru karena TB paru. Fase lanjut. Penatalaksanaan medis / pengobatan. Pengobatan dibagi 2 fase : a. 1. Obat anti tuberkulosis tergantung kolagen. G. fase awal. Spirometri : penurunan fungsi paru dengan kapasitas vital menurun. 2. 4. Diet tinggi protein rendah karbohidrat. INH dosis 10-20 mg/kg BB/hari diberikan 2-3 kali/hari. Pengobatan minimal dengan 2 OAT. Diberikan tiap / berkala selama 4-11 bulan. 9 . 4. Streptomisin : 30-50 mg/kg BB/hari dosis tunggal. Motivasi dan pendidikan meliputi TB paru. Diberikan setiap hari selama 2-3 bulan efek yang ingin dicapai adalah efek bakterisida. Panduan yang diberikan sebaiknya jangka pendek : yaitu panduan yang mengandung rifampisisn diberikan selama 6-9 bulan. - Darah : peningkatan leukosit dan laju endap darah (LED). Pemberian dosis sebaiknya berdasarkan berat badan a. merupakan penyakit menular dapat disembuhkan dengan minum obat secara teratur paling sedikit 6 bulan. Ethambutol : 10-20 mg/kg BB/hari per os dibagi 2-3 dosis. b. c.

b. c. Drugs and disability : Drud : penggunaan obat antibiotik. Bunyi napas ronchi. Klien batuk. MK : Bersihan jalan napas tidak efektif. • a. Breathing : Sesak napas kemungkinan ada. Edema tidak ditemukan. Circulation : Nadi meningkat. Tekanan darah < 120/80 mmHg. e.2. Disability : kesadaran klien compos mentis. Irama tidak teratur. Nyeri pada dada bisa dialami oleh klien akibat dari batuk yang terus-menerus. Terdapat penggunaan otot-otot pernapasan tambahan. c. d. Distensi vena jugularis (+). Batuk ada. MK : Pola napas tidak efektif. • a. b. b. Klien bisa mengalami sianosis. • • Fluid : Perdarahan tidak ditemukan.2 Konsep Keperawatan A. Pengkajian. Airway : Terdapat sekret pada saluran napas. Exposure : a. sputum kuning kental. kemudian sputum kuning kental. Get vital sign : 10 .

pupil isokor. d. tidak ada sumbatan jalan napas. Wajah : mata konjungtiva tidak anemis. bunyi pada sonor. Leher : tidak ada pembesaran pada vena jugularis dan tiroid.  Abdo men : bentuk simetris. datar.  Dada : Paru- paru : bentuk simetris kanan dan kiri. redup pada lapang paru. hidung tidak ada perdarahan (epitaksis). Genet 11 . peristaltik usus 10 x/menit. Head to toe : a. RR > 24 x/menit. Temperatur 36-37 C.  alia : tidak ada kelainan. skelera ikterus. Pols > 82 x/menit. warna rambut hitam. bunyi napas vesikuler.Tekanan darah menurun < 120/80 mmHg. Kepala : bentuk simetris. b.  Jantu ng : tidak ada massa. tidak mudah rontok. tidak ada benjolan pada torak. tidak ada massa. mukosa bibir kering. suara tympani. tidak teraba pengisisan kapiler. tidak ada masa. c.

dispnea. sekret yang kental. 3. malnutrisi. 4. sekret yang menetap. Perubahan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan kelelahan. Diagnosa keperawatan yang lazim terjadi pada klien dengan Tuberkulosis paru adalah sebagai berikut : 1. kerusakan jaringan akibat infeksi yang menyebar. anoreksia. fungsi silia menurun. adanya produksi sputum. kelemahan upaya batuk buruk. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan berkurangnya ke efektifan permukaan paru. penurunan kemampuan finansial. kerusakan membran alveolar kapiler. maupun tangan. luka pada kaki. 12 . Diagnosa Keperawatan. B. Rencana Tindakan Keperawatan. edema bronchial. C. batuk yang sering. serta kurang pengetahuan tentang infeksi kuman. terkontaminasi oleh lingkungan. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan sekret kental atau sekret darah. atelektasis. atau edema trakeal / faringeal. Ekstr emitas : tidak ditemukan adanya edema. Resiko tinggi infeksi dan penyebaran infeksi berhubungan dengan daya tahan tubuh menurun. 2.

• Pertahankan intake cairan minimal 2500 ml/hari kecuali kontraindikasi. bronkodilator. Rasional : • Penurunan bunyi nafas indikasi atelektasis. 13 . adanya hemoptisis. kedalaman. • • Lembabkan udara / oksigen inspirasi. • Pengeluaran sulit bila sekret tebal. kortikosteroid sesuai indikasi. kecepatan. ajarkan batuk efektif dan latihan nafas dalam.Adapun rencana keperawatan yang ditetapkan berdasarkan diagnosis keperawatan yang telah dirumuskan sebagai berikut : 1. • Catat kemampuan untuk mengeluarkan sekret atau batuk efektif. sputum berdarah akibat kerusakan paru atau luka bronchial yang memerlukan evaluasi / intervensi lanjut. • Bersihkan sekret dari mulut dan trakhea. Berikan obat : agen mukolitik. dan penggunaan otot aksesori. • Berikan klien posisi semi fowler. suction bila perlu. ronki indikasi akumulasi sekret / ketidakmampuan membersihkan jalan nafas sehingga otot aksesori digunakan dan kerja pernapasan meningkat. Bersihan jalan nafas tidak efektif. catat karakter. jumlah sputum. Intervensi : • Kaji fungsi pernapasan : bunyi nafas.

catat tanda- tanda sianosis dan perubahan warna kulit. Intervensi : • Kaji dispnea. 2. lingkaran ukuran lumen trakeabronkial. bunyi pernapasan abnormal. Suction dilakukan bila klien tidak mampu mengeluarkan sekret. • Anjurkan untuk mengeluarkan nafas dengan bibir disiutkan. terutama pada klien dengan fibrosis atau kerusakan parenkim. • • Membantu mengencerkan sekret sehingga mudah dikeluarkan. Gangguan pertukaran gas. Mencegah pengeringan membran mukosa. batasi dan bantu aktivitas sesuai kebutuhan. takipnea. ventilasi maksimal membuka area atelektasis dan peningkatan gerakan sekret agar mudah dikeluarkan. dan warna kuku. • Mencegah obstruksi. • Diperlukan pada kasus jarang bronkogenik dengan edema laring atau perdarahan paru akut.• Meningkatkan ekspansi paru. • Evaluasi perubahan tingkat kesadaran. berguna jika terjadi hipoksemia pada kavitas yang luas. • • Monitor GDA Berikan oksigen sesuai indikasi Rasional : 14 . membran mukosa. • Menurunkan kekentalan sekret. • Anjurkan untuk bedrest.

bersin. ciuman. Resiko tinggi infeksi dan penyebaran infeksi. teman. atau menyanyi. nekrosis. • Akumulasi sekret dapat mengganggu oksigenisasi di organ vital dan jaringan. • Mengurangi konsumsi oksigen pada periode respirasi. 15 . pleural effusion.• Tuberkulosis paru dapat paru-paru menyebabkan yang meluasnya dari jangkauan dalam berasal bronkopneumonia yang meluas menjadi inflamasi. • Menurunnya saturasi oksigen (Pa O2) atau meningkatnya Pa CO2 menunjukkan perlunya penanganan yang lebih adekuat atau perubahan therapi. tertawa. • Anjurkan klien menutup mulut dan membuang dahak di tempat penampungan yang tertutup jika batuk. • Meningkatnya resistensi aliran udara untuk mencegah kolapsnya jalan napas. Intervensi : • Review patologi penyakit fase aktif / tidak aktif. dan meluasnya fibrosis dengan gejala respirasi distress. • Identifikasi orang-orang yang beresiko terkena infeksi anggota keluarga. infeksi melalui bronkus pada jaringan penyebaran sekitarnya atau aliran darah atau sistem limfe dan resiko infeksi melalui batuk. 3. meludah. orang dalam satu seperti perkumpulan. • Membantu mengoreksi hipoksemia yang terjadi sekunder hipoventilasi dan penurunan permukaan alveolar paru.

• Periode menular dapat terjadi hanya 2-3 hari setelah permulaan kemoterapi jika sudah terjadi kavitas. Intervensi : • • • Catat status nutrisi klien. • Orang-orang yang beresiko perlu program terapi obat untuk mencegah penyebaran infeksi. • Untuk mengawasi ke efektifan obat dan efeknya serta respon klien terhadap terapi. 4. Mengurangi resiko penyebaran infeksi. Enthabutol. Monitor temperatur. Mengukur intake dan output secara periodik. penyebaran infeksi dapat berlanjut sampai 3 bulan. Kaji pola diet klien yang disukai / tidak disukai. Rifampisin. resiko. • INH adalah obat pilihan bagi penyakit tuberkulosis primer dikombinasikan dengan obat-obat lainnya. Rasional : • Membantu klien agar mau mengerti dan menerima terapi yang diberikan untuk mencegah komplikasi. Pemberian terapi INH. 16 . Tekankan untuk tidak menghentikan terapi yang dijalani. Febris merupakan indikasi terjadinya infeksi. Perubahan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan. • • • Untuk mencegah terjadinya penularan infeksi.• • • • • Gunakan masker setiap melakukan tindakan. Monitor sputum BTA.

Konsul dengan tim medis untuk jadwal pengobatan 1-2 jam sebelum / setelah makan. • Membantu menghemat energi khusus. • • Mengukur ke efektifan nutrisi dan cairan. • • Anjurkan bedrest. muntah. Lakukan perawatan mulut sebelum dan sesudah tindakan pernapasan. dan tetapkan jika ada hubungannya dengan medikasi.• Catat adanya anoreksia. • Membantu intervensi kebutuhan yang spesifik. • Memaksimalkan intake nutrisi dan menurunkan iritasi gaster. Rasional : • Berguna dalam mengindentifikasikan derajat masalah dan intervensi yang tepat. mual. Dapat menentukan jenis diet dan mengidentifikasikan pemecahan masalah untuk meningkatkan intake nutrisi. • Anjurkan makan sedikit dan sering dengan makanan tinggi protein dan karbohidrat. saat demam terjadi peningkatan metabolik. • • Awasi pemeriksaan laboratorium Berikan antipiretik tepat. meningkatkan intake diet klien. • Mengurangi rasa tidak enak dari sputum otau obat-obat yang digunakan yang dapat merangsang muntah. 17 . • • Rujuk ke ahli gizi untuk menentukan komposisi diet.

berat badan meningkat dan tidak terjadi malnutrisi. • Perilaku / pola hidup berubah untuk mencegah penyebaran infeksi. • Membantu menurunkan insiden mual dan muntah karena efek samping obat. Kriteria Hasil / Evaluasi.• Memberikan bantuan dalam perencanaan diet dengan nutrisi adekuat untuk kebutuhan metabolik dan diet. 18 . D. • Demam meningkatkan kebutuhan metabolik dan konsumsi kalori. • Pemahaman tentang proses penyakit / prognosis dan program pengobatan dan perubahan perilaku untuk memperbaiki kesehatan. • Nilai rendah menunjukkan malnutrisi dan perubahan program terapi. • Fungsi pernapasan adekuat untuk memenuhi kebutuhan individu. • Ke efektifan bersihan jalan nafas. • Kebutuhan nutrisi adekuat.

. • • • • Proses respirasi dapat dibagi dalam 4 bagian : Proses ventilasi. Larynx. Saluran pernapasan : • Saluran pernapasan atas : a. • Saluran pernapasan bawah : Trakea. proses difusi.BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan 1. Farynx. Proses transportasi. 3. c. Tuberkulosis paru merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri tahan asam Mycobaterium tuberculosis yang dapat menular melalui udara. 2. 19 a. Hidung. Proses regulasi. b.

berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan. Bronchus. malaise (rasa kurang enak badan). Fungsi utamanya adalah pertukaran gas-gas. demam meriang lebih dari sebulan. 6. nafsu makan menurun. Kolaps dari lobus akibat dari retraksi bronchial. berat badan menurun. Otot-otot bantu pernapasan : • • Otot diafragma. • • • Menyaring bahan beracun dari sirkulasi. 4. 7. Komplikasi : • • Hemoptisis berat. Reservoir darah. Alveoli. c. d. • Pembesaran kelenjar limfe suferfisialis yang tidak sakit dan biasanya multifel. Sesak napas dan nyeri dada. Tanda dan gejala Tuberkulosis Paru : • Batuk terus menerus selama 3 minggu atau lebih. Bronchiolus. Batuk darah. • Fungsi paru-paru : Terdapat permukaan gas-gas yaitu mengalirkan Oksigen dari udara atmosfer kedarah vena dan mengeluarkan Karbondioksida dari alveoli ke udara atmosfer. 5. 20 . Badan lemah. Otot antar tulang iga (ostales).b. • • • • Dahak bercampur darah.

terkontaminasi oleh lingkungan. Pemeriksaan Diagnostik : • • • • • • Tuberulin skin testing. Ethambutol 10-20 mg/kg BB/hari per os dibagi 2-3 dosis. Darah. Pemberian obat INH dosis 10-20 mg/kg BB/hari diberikan 23 kali/hari. • Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan berkurangnya ke efektifan permukaan paru. Poto torak. kerusakan membran alveolar kapiler.• • Bronkiektasis dan fibrosis pada paru. 21 . fungsi silia menurun. Pengobatan : • • • Istirahat kerja 1-3 bulan dan tidak merokok. malnutrisi. Spirometri. sekret yang menetap. 10. atau edema trakeal / faringeal. atelektasis. Diagnosa keperawatan : • Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan sekret kental atau sekret darah. edema bronchial. kerusakan jaringan akibat infeksi yang menyebar. sekret yang kental. Kultur sputum. 9. serta kurang pengetahuan tentang infeksi kuman. Streptomisin 30-50 mg/kg BB/hari dosis tunggal. Pnemuotorak spontan. • Resiko tinggi infeksi dan penyebaran infeksi berhubungan dengan daya tahan tubuh menurun. Diet tinggi protein rendah karbohidrat. kelemahan upaya batuk buruk. 8. Bronchografi.

• Pemahaman tentang proses penyakit / prognosis dan pengobatan dan perubahan perilaku untuk program memperbaiki kesehatan. 11. • Kebutuhan nutrisi adekuat.• Perubahan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan kelelahan. adanya produksi sputum. Evaluasi : • Ke efektifan bersihan jalan nafas. berat badan meningkat dan tidak terjadi malnutrisi. penurunan kemampuan finansial. • Fungsi pernapasan adekuat untuk memnuhi kebutuhan individu. anoreksia. 22 . batuk yang sering. dispnea. • Perilaku / pola hidup berubah untuk mencegah penyebaran infeksi.

volume 3. edisi 8. Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan. 2006. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta : EGC Syaifuddin. Kapita Selekta Kedokteran.dkk. 2006. Buku Ajar Anatomi dan Fisiologi. Valerie C. Jakarta : EGC Doengoes. M. Jakarta : EGC Scanion. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. edisi 3. Jakarta : EGC 23 .DAFTAR PUSTAKA Brunner and Suddarth. edisi 3. edisi 3. 2002. Jakarta : EGC Mansjoer. Arief. 2000. 2000.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->