LAPORAN KULIAH KERJA LAPANGAN (KKL) PENDIDIKAN EKONOMI 2011 DIREKTORAT JENDERAL PAJAK

Disusun oleh: Intan Indah Kurnia Sari 7101410140 Pendidikan Ekonomi (Akuntansi)

JURUSAN PENDIDIKAN EKONOMI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2011

LEMBAR PENGESAHAN
Laporan pelaksanaan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) mahasiswa jurusan Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi Unoversitas Negeri Semarang angkatan 2010 tahun 2011 di Direktorat Jenderal Pajak ini disahkan pada: hari tanggal : :

Mengesahkan,

Dosen Pembimbing I

Dosen Pembimbing II

Akhmad Nurkhin,S.Pd,M.Si

Drs. Partono Thomas,M.Si

Mengetahui, Ketua Jurusan Pendidikan Ekonomi

Drs. Partono Thomas,M.Si

4) Drs.S.Si yang telah mendampingi saya selama perjalanan. dan hidayah-Nya. taufik . September 2011 Penyusun . Partono Thomas. 2) Orang tua saya yang telah mengizinkan saya untuk mengikuti kegiatan ini. serta memfasilitasi dalam perjalanan ini.Si dan Akhmad Nurkhin. Semarang. Laporan ini takkan terwujud tanpa bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu saya mengucapkan terima kasih kepada: 1) Jajaran birokrasi Jurusan Pendidikan Ekonomi FE Unnes yang telah memfasilitasi penyelenggaraan KKL Terpadu Pendidikan Ekonomi angkatan 2010 tahun 2011 di Direktorat Jenderal Pajak. Proses penyusunan ini bukan tanpa hambatan dan kekurangan. Oleh karena itu saya memohon kritik dan saran yang membangun. sehingga laporan ini dapat diselesaikan.KATA PENGANTAR Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat. 5) Kantor Direktorat Jenderal Pajak yang telah berkenan menerima kunjungan KKL Terpadu Pendidikan Ekonomi 2011 prodi Pendidikan Akuntansi. M. Dalam laporan ini saya bermaksud menuturkan kembali materi yang telah diterima dalam KKL.M.Pd. serta memberikan tambahan ilmu kepada saya. 3) Seluruh panitia KKL Terpadu Pendidikan Ekonomi 2011 yang telah bekerja keras demi kelancaran kegiatan ini. 6) Teman-teman se-Jurusan Pendidikan Ekonomi yang telah berbagi suka dan duka selama perjalanan.

............... Perpajakan di Indonesia.............................. Lembar Pengesahan ..............DAFTAR ISI Halaman Judul ........................................................... B......... Manfaat KKL ............................................... G............. Daftar Isi ............................................ Latar Belakang ....................................................................................................................................... E................................................................ H.................................................................................................................. Direktorat Jenderal Pajak ......................................................... Waktu dan Tempat Pelaksanaan................ 22 ............................................................................... Reformasi Perpajakan....................... Metode Penyusunan Laporan KKL ............................................ Saran .. Kesimpulan.... C............................................................................................................................. D....................................................................................................................... Kata Pengantar .......................................... Tujuan KKL ....................................................................... Ketentuan Umum Perpajakan . BAB II Isi F.............................................................................................................................................................. i ii iii iv 1 1 1 2 2 3 4 8 16 21 21 Daftar Pustaka ...................................................................................... A................................................. BAB I Pendahuluan A..................... B............................................................................................................ BAB III Penutup A............

Tujuan KKL Kuliah Kerja Lapangan ini bertujuan memberi bekal keterampilam dan pengetahuan bagi para mahasiswa. Dalam kegiatan KKL Terpadu ini. C. Setelah kegiatan KKL dilaksanakan. B. bertujuan untuk mengembangkan materi dan kemampuan serta menambah wawasan dan pengetahuan yang didapatkan sebagai pelengkap materi di kegiatan perkuliahan. Latar Belakang Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Terpadu Universitas Negeri Semarang adalah agenda rutin yang dilaksanakan satu tahun sekali yang diikuti oleh seluruh mahasiswa Fakultas Ekonomi semester dua. 2) Mahasiswa dapat mencocokkan teori yang telah didapat di bangku kuliah dengan keadaan yang sebenarnya.BAB I PENDAHULUAN A. karena KKL merupakan salah satu program pelaksanaan Kerja Lapangan yang harus diikuti oleh mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang. saya mengunjungi Direktorat Jenderal Pajak sebagai obyek KKL. berkenaan dengan konsep dan teori yang ada di lapangan sebelum terjun langsung dalam dunia kerja yang sebenarnya. Adapun tujuan KKL lainnya antara lain: 1) Mengembangkan wawasan dan pengetahuan secara langsung tentang dunia kerja yang sebenarnya. KKL di Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang khususnya Jurusan Pendidikan Ekonomi. diperlukan adanya laporan KKL yang merupakan tugas mahasiswa yang harus dilengkapi dan juga merupakan salah satu syarat kelulusan. Manfaat KKL . sehingga dapat meningkatkan potensi para mahasiswanya untuk mampu bersaing dalam dunia kerja. 3) Mahasiswa dapat menambah pengetahuan tentang Direktorat Jenderal Pajak dan perpajakan di Indonesia.

2) Interview Proses tanya jawab langsung saat berada di obyek KKL mengenai hal-hal yang ingin dan perlu diketahui sebagai tambahan wawasan mahasiswa disamping untuk menyusun laporan KKL ini. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Pelaksanaan KKL Terpadu ini dilaksanakan pada: Hari : Senin Tanggal : 25 Juli 2011 Waktu Tempat : pukul 09.30 WIB : Kantor Direktorat Jenderal Pajak E. Metode Penyusunan Laporan KKL Metode-metode yang digunakan dalam penyusunan laporan ini adalah: 1) Observasi Pengamatan langsung di obyek KKL untuk menyusun laporan ini. 3) Studi Pustaka Studi pustaka dilakukan dengan mencari berbagai informasi tentang perpajakan di Indonesia baik melalui slide presentasi dari Direktorat Jenderal Pajak maupun pencarian sumber-sumber tertulis dari website Direktorat Jenderal Pajak lainnya. .Kegiatan KKL Terpadu Jurusan Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang angkatan 2010 tahun 2011 yang dilaksanakan di Direktorat Jenderal Pajak ini mempunyai manfaat : 1) Menambah wawasan dan pengetahuan megenai perpajakan di Indonesia.30-11. 2) Mempunyai pengalaman di obyek KKL. D. 3) Menjalin hubungan kerjasama yang baik antara Universitas Negeri Semarang khususnya Fakultas Eonomi dengan Direktorat Jenderal Pajak.

melakukan pelayanan dan penyuluhan kepada wajib pajak. pajak dipungut setiap tahun oleh pemerintah yang berkuasa. Ciri utama landrent adalah mengenakan pajak atas kepemilikan tanah. Sistem pemungutan yang jumlah pajak terutangnya ditetapkan oleh aparat pajak seperti yang terjadi pada zaman penjajahan dinamakan dengan Official Assessment System. Pada zaman penjajahan Inggris . Sehingga aparat pajak hanya mengawasi saja. menghitung hutang pajaknya sendiri dan melaporkan hasil perhitungan pajaknya ke Kantor Pelayanan Pajak. Dengan memungut hasil/pajak kepada penguasa pribumi maka pungutan tersebut diserahkan kepada pejabat pribumi maupun kepala pribumi tingkat desa yang menerima gaji dalam bentuk jasa dan hasil bumi. Sistem perpajakan setelah kemerdekaan banyak mengalami perubahan. PERPAJAKAN DI INDONESIA Pajak sebenarnya sudah dikenal dan dipraktekkan oleh nenek moyang kita pada waktu kerajaan-kerajaan masih berdiri pada zaman itu.BAB II ISI A. Pada saat itulah diperkenalkan Self Assessment System di Indonesia dimana wajib pajak diberikan kepercayaan untuk mendaftarkan diri.Pemungutan pajak terus berlanjut hingga Indonesia Merdeka. Sir Raffles memperkenalkan peraturan pajak baru yaitu Landrent (sewa tanah) yang merupakan salah satu jenis dari pajak tanah. bisa berupa hasil bumi atau harta benda lainnya. . Dalam prakteknya banyak di antara wajib pajak yang menyembunyikan sebagian penghasilan dan kekayaannya dan membayar pajak lebih kecil dari yang seharusnya. Pada saat zaman penjajahan Belanda sistem perpajakan menjadi berupa sewa. Pajak dan pungutan resmi lain yang diberlakukan terhadap rakyat telah berorientasi pada kesejahteraan masyarakat luas. pada praktiknya upeti tetap digunakan untuk membiayai roda pemerintahan atau kelanggengan dinasti kerajaan. Sejak tahun 1984 berbagai aturan tentang pajak banyak dilakukan reformasi. Setiap rakyat diwajibkan menyerahkan upeti yang sudah ditentukan besarnya kepada raja. Landrent adalah sewa tanah yang dikenakan oleh pemerintah kolonial Inggris terhadap tanah-tanah yang ada di Indonesia. Upeti lebih bermanfaat untuk kepentingan raja atau keluarganya.

Tanpa pajak . Pajak Daerah Pajak yang dikelola oleh pemerintah daerah. KETENTUAN UMUM PERPAJAKAN Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan UU. jembatan. dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Penggunaan uang pajak meliputi:  Pembayaran gaji Pegawai Negeri sampai dengan pembiayaan berbagai proyek pembangunan. rumah sakit.B. Pajak dapat dibedakan menjadi dua berdasarkan dari lembaga yang mengelolanya.  Subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM). Pajak merupakan sumber utama penerimaan negara. Jaminan Kesehatab Masyarakat (Jamkesmas).  Pembiayaan lainnya dalam rangka meningkatkan kesejahteraan bagi seluruh lapisan masyarakat. sebagian besar kegiatan Negara tidak dapat untuk dilaksanakan. Subsidi pupuk. yaitu: 1. puskesmas.  Pembangunan sarana umum seperti jalan-jalan. Subsidi listrik. kantor polisi. Pajak Pusat Pajak yang dikelola pemerintah pusat yang dalam hal ini sebagian dikelola oleh Direktorat Jenderal Pajak yaitu: a) Pajak Penghasilan b) Pajak Pertambahan Nilai c) Pajak Penjualan Barang yang tergolong Mewah d) Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Perkebunan. dan Pertambangan e) Bea Materai 2. Bantuan Langsung Tunai (BLT). sekolah. Perhutanan. Pengadaan Beras Miskin (Raskin). yaitu: Propinsi . yang dalam hal ini ditangani oleh Dinas Pendapatan Daerah.

yaitu :  Orang Pribadi Adalah mereka yang telah mempunyai penghasilan diatas Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) dimana batasan PTKP telah ditentukan oleh UndangUndang Pajak Penghasilan.  Badan . maka orang atau suatu badan yang menurut undang-undang perpajakan ditentukan untuk melakukan kewajiban perpajakan disebut sebagai Wajib Pajak. Mengingat sifatnya wajib. Wajib Pajak dibedakan menjadi dua.a) Pajak Kendaraan Bermotor b) Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor c) Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor d) Pajak Air Permukaan e) Pajak Rokok Kabupaten a) Pajak Hotel b) Pajak Restoran c) Pajak Hiburan d) Pajak Reklame e) Pajak Penerang Jalan f) Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan g) Pajak Parkir h) Pajak Air Tanah i) Pajak Sarang Burung Walet j) Pajak Bumi dan Bangunan Pedesaan dan Perkotaan (mulai tahun 2011 atau selambat-lambatnya tahun 2014) k) Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (mulai berlaku 1 Januari 2011) a. kecuali ketentuan perundangundangan menentukan lain. Wajib Pajak Pada dasarnya setiap orang pribadi baik Warga Negara Indonesia/Warga Negara Asing yang bertempat tinggal di Indonesia dan badan yang didirikan /berkedudukan di Indonesia merupakan Wajib Pajak.

organisasi massa. firma. kongsi. dan orang pribadi tersebut tidak mendaftarkan diri . yaitu:     Sebagai sarana dalam administrasi perpajakan Sebagai tanda pengenal diri atau identitas Wajib Pajak dalam melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya Menjaga ketertiban dalam pembayaran pajak dan pengawasan administrasi perpajakan Dicantumkan dalam setiap dokumen perpajakan Persyaratan untuk mendapatkan NPWP:   Persyaratan Subjektif adalah Wajib Pajak dilahirkan di Indonesia serta berdomisili di Indonesia Persyaratan Objektif adalah persyaratan bagi subjek pajak yang menerima atau memperoleh penghasilan atau diwajibkan untuk melakukan pemotongan/ pemungutan sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Pajak Penghasilan 1984 dan perubahannya. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) yang diberikan kepada Wajib Pajak mempunyai fungsi.Adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas. perkumpulan. perseroan komanditer. dapat diterbitkan NPWP secara . atau organisasi lainnya. badan usaha milik negara atau badan usaha milik daerah dengan nama dan dalam bentuk apapun. Apabila berdasarkan data yang diperoleh atau dimiliki Direktorat Jenderal Pajak orang pribadi atau badan telah memenuhi syarat untuk memperoleh NPWP . koperasi. b. organisasi sosial politik . perseroan lainnya. persekutuan. dana pensiun. lembaga dan bentuk badan lainnya termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap. yayasan. Nomor Pokok Wajib Pajak Sesuai dengan Self Assessment System maka Wajib Pajak mempunyai kewajiban untuk mendaftarkan diri ke Kantor Pelayanan Pajak (KKP) atau Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP) yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan Wajib Pajak untuk diberikan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).

BCA. menyetor/membayar pajak. maka SPT Masa PPN dapat disampaikan pada hari kerja berikutnya. diancam dengan pidana penjara paling lama 6 tahun dan denda paling tinggi 4 kali jumlah pajak yang terutang. Cara pembayaran pajak adalah dengan menggunakan (mengisi dan menandatangani) Surat Setoran Pajak (SSP) 4 rangkap. dll) Kantor Pos Melalui ATM (Khusus PBB saja) c. SPT Tahunan adalah Surat Pemberitahuan untuk suatu tahun pajak atau bagian tahun pajak dilaporkan paling lambat akhir bulan ketiga setelah . SPT Masa adalah Surat Pemberitahuan untuk suatu masa pajak (dilaporkan setiap tanggal 20 setelah saat terutangnya pajak atau masa pajak berakhir). SPT adalah surat yang Wajib Pajak digunakan untuk:    Melaporkan jumlah penghasilan yang menjadi objek pajak dan atau bukan objek pajak. Bagi mereka yang dengan sengaja tidak mendaftarkan diri atau menyalahgunakan atau tanpa hak NPWP sehingga menimbulkan kerugian pendapatan Negara. 2. Surat Pemberitahuan (SPT) Pajak dilaporkan dengan menggunakan SPT. Melaporkan harta dan kewajiban dan susunan dan anggota keluarga. Kewajiban mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP dibatasi jangka waktunya. melaporkan pajak.jabatan.pajak. BNI. BII.go. karena hal ini berkaitan dengan saat pajak terutang dan kewajiban mengenakan pajak terutang.id Setelah memiliki NPWP Wajib Pajak berkewajiban untuk melaksanakan 3M yaitu menghitung pajak. Melaporkan perhitungan dan atau pembayaran pajak. Terdapat 2 macam SPT yaitu: 1. Dalam hal akhir bulan adalah hari libur termasuk hari Sabtu atau hari libur nasional. Kini Wajib Pajak diberikan kemudahan untuk mendaftarkan diri melalui menu aplikasi di internet yang bernama e-registration dengan alamat www. Pembayaran dapat dilakukan di:    Bank-bank persepsi (Bank Mandiri. Untuk SPT Masa PPN harus disampaikan paling lama akhir bulan berikutnya setelah berakhirnya masa pajak.

 Surat Tagihan Pajak. d. serta Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan. Surat Setoran Pajak berfungsi sebagai bukti pembayaran pajak apabila telah disahkan oleh Pejabat kantor penerima pembayaran yang berwenang atau apabila telah mendapatkan validasi. Surat Setoran Pajak (SSP) Surat Setoran Pajak adalah bukti pembayaran atau penyetoran pajak yang telah dilakukan dengan menggunakan formulir atau telah dilakukan dengan cara lain ke kas negara melalui tempat pembayaran yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan. Putusan Banding. Surat Keputusan Pembetulan. yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.  Dirjen Pajak atas permohonan WP dapat memberikan persetujuan untuk mengangsur atau menunda pembayaran pajak termasuk kekurangan pembayaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) paling lama 12 (dua belas) bulan. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar. harus dilunasi dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak tanggal diterbitkan. DIREKTORAT JENDERAL PAJAK Direktorat Jenderal Pajak adalah sebuah direktorat jenderal di bawah Kementerian Keuangan Indonesia yang mempunyai tugas merumuskan serta . dan Surat Keputusan Keberatan. yang pelaksanaannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. paling lama 15 (lima belas) hari setelah saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak  Kekurangan pembayaran pajak yang terutang berdasarkan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan harus dibayar lunas sebelum Surat Pemberitahuan Pajak Penghasilan disampaikan.tahun pajak berakhir untuk WP Orang Pribadi dan paling lambat akhir bulan keempat setelah tahun pajak berakhir untuk WP Badan. C. yang menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah. Jatuh tempo pembayaran pajak:  Menteri Keuangan menentukan tanggal jatuh tempo pembayaran dan penyetoran pajak yang terutang untuk suatu saat atau Masa Pajak bagi masing-masing jenis pajak. serta Putusan Peninjauan Kembali.

Direktorat Jenderal Pajak menyelenggarakan fungsi:      Penyiapan perumusan kebijakan Departemen Keuangan di bidang perpajakan.melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang perpajakan. Dalam melaksanakan tugasnya.Untuk mengkoordinasikan pelaksanaan tugas di daerah. Dengan keputusan Presiden RI No. 12 tahun 1976 tanggal 27 Maret 1976. Direktorat Ipeda diserahkan dari Direktorat Jenderal Moneter kepada Direktorat Jenderal Pajak. Pelaksanaan kebijakan di bidang perpajakan. kriteria. Pelaksanaan administrasi direktorat jenderal.Pada tanggal 27 Desember 1985 melalui Undang-undang RI No.   Jawatan Lelang yang bertugas melakukan pelelangan terhadap barang-barang sitaan guna pelunasan piutang pajak Negara. dibentuk beberapa kantor Inspektorat . Pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang perpajakan. pedoman. Perumusan standar. Sejarah Organisasi Direktorat Jenderal Pajak pada mulanya merupakan perpaduan dari beberapa unit organisasi yaitu :  Jawatan Pajak yang bertugas melaksanakan pemungutan pajak berdasarkan perundang-undangan dan melakukan tugas pemeriksaan kas Bendaharawan Pemerintah. 12 tahun 1985 Direktorat IPEDA berganti nama menjadi Direktorat Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). dan prosedur di bidang perpajakan. a.Demikian juga unit kantor di daerah yang semula bernama Inspeksi Ipeda diganti menjadi Inspeksi Pajak Bumi dan Bangunan. norma. dan Kantor Dinas Luar Ipeda diganti menjadi Kantor Dinas Luar PBB. Jawatan Akuntan Pajak yang bertugas membantu Jawatan Pajak untuk melaksanakan pemeriksaan pajak terhadap pembukuan Wajib Pajak Badan. dan  Jawatan Pajak Hasil Bumi (Direktorat Iuran Pembangunan Daerah pada Ditjen Moneter) yang bertugas melakukan pungutan pajak hasil bumi dan pajak atas tanah yang pada tahun 1963 diubah menjadi Direktorat Pajak Hasil Bumi dan kemudian pada tahun 1965 berubah lagi menjadi Direktorat Iuran Pembangunan Daerah (IPEDA).

Periode 1945-1959 . Djawatandjawatan yang mengurus penghasilan negara seperti Djawatan Bea Cukai.Pada masa penguasaan Jepang. serta Djawatan Padjak Hasil Bumi. Pra Proklamasi Kemerdekaan RI Pada zaman penjajahan Belanda. Bea Cukai dan Padjak Hasil Bumi) 1945 – berdasarkan Penetapan Pemerintah No. Departemen Van Financien diubah namanya menjadi Zaimubu. dan Indonesia Timur. 2. Kalimantan. tugas pemerintahan dalam bidang moneter dilaksanakan oleh Departemen Van Financien dengan dasar hukumnya yaitu Staatsblad 1924 Number 576. 576 Artikel 3 1942 – Djawatan Padjak dibawah Zaimubu (Djawatan Padjak. Artikel 3.              1924 – Djawatan Padjak dibawah Departemen Van Financien berdasar Staatsblad 1924 No. ternyata mempunyai sejarah panjang sejak sebelum proklamasi kemerdekaan RI. Inspektorat Daerah ini kemudian menjadi Kanwil Ditjen Pajak(Kantor Wilayah) seperti yang ada sekarang ini. Sejarah singkat DJP terbagi dalam beberapa periode sebagai berikut: 1. Jawa.2/SD Urusan Bea ditangani Departemen Keuangan Bahagian Padjak 1950 – Djawatan Padjak dibawah Direktur Iuran Negara 1958 – Djawatan Padjak dibawah vertikal langsung Departemen Keuangan 1964 – Djawatan Padjak berubah menjadi Direktorat Pajak dibawah pimpinan Menteri Urusan Pendapatan Negara 1965 – Direktorat IPEDA di bawah Ditjen Moneter 1966 – Direktorat Padjak diubah menjadi Direktorat Jenderal Pajak 1976 – Direktorat IPEDA dialihkan Ke Direktorat Jenderal Pajak 1983 – Tax Reform I berlakunya Self Assesment 1985 – IPEDA berganti nama menjadi Direktorat PBB 2000 – Tax Reform II 2002 – Modernisasi Birokrasi Direktorat Jenderal Pajak (DJP) yang merupakan institusi penting di negara ini dimana saat ini dipercaya mengumpulkan sekitar 80% dari dana APBN.Daerah Pajak (ItDa) yaitu di Jakarta dan beberapa daerah seperti di Sumatera. Djawatan Padjak. Ketiganya digabungkan dan berada di bawah seorang pimpinan dengan nama Syusekatjo.

efisien. Direktorat Perentjanaan dan Pengusutan. Sedangkan Penetapan Pemerintah tanggal 7 Nopember 1945 No. 2/S. memutuskan bahwa urusan bea ditangani Departemen Keuangan Bahagian Padjak mulai tanggal 1 Nopember 1945 sesuai dengan Putusan Menteri Keuangan tanggal 31 Oktober 1945 No.01/1. bea dan cukai. Direktorat Padjak Tidak Langsung.Akhir tahun 1951 Kementerian Keuangan mengadakan perubahan dimana Djawatan Padjak. pajak. Djawatan Bea dan Cukai dan Djawatan Padjak Bumi berada dibawah koordinasi Direktur Iuran Negara. Direktorat Padjak diubah menjadi Direktorat Djenderal Padjak yang membawahi Sekretariat Direktorat Djenderal. pengadaan candu dan garam tetap menggunakan Undang-Undang atau peraturan yang ada sebelumnya sampai dengan dikeluarkannya peraturan yang baru dari pemerintah Indonesia. b. . 3. B. lelang.Maklumat Menteri Keuangan Nomor 1 Tanggal 5 Oktober 1945 yang menyatakan bahwa seluruh Undang-undang atau peraturan tentang perbendaharaan Keuangan Negara. Visi dan Misi Visi Menjadi Institusi pemerintah yang menyelenggarakan sistem administrasi perpajakan modern yang efektif. Direktorat Padjak Langsung.D. Misi Menghimpun penerimaan pajak negara berdasarkan Undang-undang Perpajakan yang mampu mewujudkan kemandirian pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara melalui sistem administrasi perpajakan yang efektif dan efisien. dan dipercaya masyarakat dengan integritas dan profesionalisme yang tinggi. Periode 1960-1994 Tahun 1964 Djawatan Padjak diubah menjadi Direktorat Pajak yang berada dibawah pimpinan Pembantu Menteri Urusan Pendapatan Negara. Kemudian pada tahun 1966 berdasarkan Keputusan Presidium Kabinet No.dan Direktorat Pembinaan Wilayah. 75/U/KEP/11/1966 tentang Struktur Organisasi dan Pembagian Tugas Departemen-Departemen.

c. yaitu KPP Wajib Pajak Besar (LTO – Large Taxpayers Office). Khusus di kantor operasional. sehingga hasil yang diperoleh dapat lebih optimal. Dengan pembagian seperti ini. Ke depannya KP DJP dirancang sebagai Pusat Analisis dan Perumusan Kebijakan (Center of Policy Making and Analysis) . penyesuaian struktur organisasi DJP merupakan suatu langkah yang harus dilakukan dan sifatnya cukup strategis. ke tiga jenis kantor pajak yang ada. struktur organisasi harus juga diberi fleksibilitas yang cukup untuk dapat selalu menyesuaikan dengan lingkungan eksternal yang sangat dinamis. Struktur Organisasi Kantor Pajak Modern Untuk melaksanakan perubahan secara lebih efektif dan efisien. Untuk mengimplementasikan konsep administrasi perpajakan modern yang berorientasi pada pelayanan dan pengawasan. Untuk lebih memberikan rasa keadilan bagi Wajib Pajak. yang mempunyai tugas antara lain memberikan bantuan konsultasi perpajakan kepada Wajib Pajak. maka struktur organisasi DJP perlu diubah. Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan (KPPBB). terdapat posisi baru yang disebut Account Representative. Struktur berbasis fungsi diterapkan pada KPP dengan system administrasi modern untuk dapat merealisasikan debirokratisasi pelayanan sekaligus melaksanakan pengawasan terhadap Wajib Pajak secara lebih sistematis berdasarkan analisis resiko. Dengan demikian Wajib Pajak cukup datang ke satu kantor saja untuk menyelesaikan seluruh masalah perpajakannya. termasuk perkembangan dunia bisnis dan teknologi. Sebagai langkah pertama. baik di level kantor pusat sebagai pembuat kebijakan maupun di level kantor operasional sebagai pelaksana implementasi kebijakan. Struktur Kantor Pusat DJP (KP DJP) ikut disesuaikan berdasarkan fungsi agar sesuai dengan unit vertikal di bawahnya. Unit vertikal DJP dibedakan berdasarkan segmentasi Wajib Pajak. Lebih jauh lagi. sekaligus mencapai tujuan organisasi yang diinginkan. memberitahukan peraturan perpajakan yang baru. dan mengawasi kepatuhan wajib pajak. dan KPP Pratama (STO – Small Taxpayers Office). untuk memudahkan Wajib Pajak. diharapkan strategi dan pendekatan terhadap wajib pajakpun dapat disesuaikan dengan karakteristik Wajib Pajak yang ditangani. yaitu Kantor Pelayanan Pajak (KPP). KPP Madya (MTO – Medium Taxpayers Office). serta Kantor Pemeriksaan dan Penyidikan Pajak (Karikpa). seluruh penanganan keberatan dilakukan oleh Kantor Wilayah yang merupakan unit vertikal di atas KPP yang menerbitkan surat ketetapan pajak sebagai hasil dari pemeriksaan pajak. dilebur menjadi Kantor Pelayanan Pajak (KPP).

sumber daya manusia (SDM).atau hanya menjalankan tugas dan pekerjaan yang sifatnya non operasional. ekstensifikasi perpajakan. dan hubungan masyarakat (public relations). Account Representative (AR) adalah petugas yang berada di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) yang telah melaksanakan Sistem Administrasi Modern. Untuk memperkuat beberapa fungsi yang dianggap penting. maka dibentuk beberapa direktorat baru untuk menangani intelijen dan penyidikan perpajakan. dan direktorat yang menangani pengembangan/transformasi (3 direktorat). yaitu direktorat yang menangani day-to-day operation (1 sekretariat + 9 direktorat). termasuk di antaranya keuangan. Mengingat besarnya skala perubahan yang akan dilakukan dalam program ini dan adanya keterbatasan resources yang dimiliki. dan infrastuktur. Untuk mengantisipasi perkembangan dunia bisnis yang begitu cepat. serta beberapa subdirektorat baru yang menangani penelitian perpajakan. Untuk itu struktur KP DJP dibagi menjadi dua bagian besar. Departemen Keuangan Direktorat Jenderal Pajak Kantor Wilayah DJP KPP Madya (200 WP terbesar) Account Representative KPP Pratama Account Representative Dalam struktur Kantor Pajak Modern setiap wajib pajak dilayani oleh satu orang Account Representative (AR) yang akan melayani seluruh kebutuhan wajib pajak secara personal. kepatuhan internal. Account Representative . maka dibentuk direktorat transformasi yang bertugas untuk selalu melakukan pemikiran dan perbaikan di bidang business process. serta penyempurnaan organisasi dan sumber daya manusia. dan transfer pricing. maka implementasi program modernisasi pada kantor operasional pajak harus dilakukan secara bertahap. pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi.

Pajak Penghasilan (PPh) Dikenakan atas setiap penghasilan.Setiap Account Representative (AR) mempunyai beberapa Wajib Pajak (WP) yang harus diawasi. baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia yang dapat dipakai untuk konsumsi dan menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan. PPN PPH Konseling Account Representative Pengawasan PBB SPT d. Wajib Pajak dapat secara mudah menghubungi Account Representative (AR)-nya baik secara langsung datang ke KPP maupun menggunakan telepon atau e-mail. melaksanakan bimbingan dan melaksanakan himbauan kepada Wajib Pajak (WP). dan memiliki pengetahuan perpajakan yang baik. dengan nama dan dalam bentuk apapun. bersikap melayani.(AR) berkewajiban melaksanakan pengawasan kepatuhan kewajiban perpajakan. Seorang Account Representative (AR) memiliki akses terhadap rekening Wajib Pajak (tax payer account) secara on-line. Penugasan pelayanan oleh Account Representative (AR) dilakukan berdasarkan jenis usaha sehingga meningkatkan profesionalisme dan meningkatkan produktivitas kerja karena pelaksanaan pekerjaan lebih terfokus. Definisi Tiap Jenis Pajak Pusat 1. . yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak. Account Representative (AR) juga dilatih agar menjadi staf yang proaktif. Selain itu.

royalti. Akta-akta notaris termasuk salinannya. Pajak Bumi dan Bangunan Dikenakan atas kepemilikan atau pemanfaatan bumi dan atau bangunan. 5. Dokumen adalah kertas yang berisikan tulisan yang mengandung arti dan maksud tentang perbuatan. PBB tidak lagi dipungut oleh pusat melainkan oleh daerah. Barang yang tergolong mewah adalah:      Barang tersebut bukan merupakan kebutuhan pokok Barang tersebut dikonsumsi oleh masyarakat tertentu Barang tersebut dikonsumsi oleh masyarakat berpenghasilan tinggi Barang tersenut dikonsumsi untuk menunjukkan status Apabila dikonsumsi dapat merusak kesehatan dan moral masyarakat 4. Surat Perjanjian. hadiah. keadaan. komisi. Namun pada tahun 2014. gratifikasi. Pajak Penjualan atas Barang yang tergolong Mewah (PPnBM) Dikenakan terhadap konsumsi barang-barang yang tergolong mewah.Dengan demikian penghasilan itu dapat berupa keuntungan usaha. dan ruko tersebut disewakan kepada PT X maka dalam hal ini PT X yang mendapat manfaat lansung dari ruko tersebut wajib membayar PBB-nya . Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Pajak yang dipungut dari konsumen atas konsumsi setiap barang dan atau jasa di dalam negeri. bunga. surat-surat lain yang digunakan sebagai alat pembuktian di depan pengadilan. deviden. kecuali detetapkan lain oleh undang-undang. Akta yang dibuat oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah. misalnya kebutuhan pokok seperti beras. honorarium. gaji. kecuali perjanjian menentukan lain. bonus dan lain sebagainya. atau kenyataan. bagi seseorang dan atau pihak-pihak yang berkepentingan. Contoh: Surat Berharga. Contoh: Apabila si A memiliki rumah toko(ruko). hasil sewa rumah. Pada prinsipnya setiap barang dan jasa dikenakan PPN. . 3. kwitansi pembayaran yang menyebutkan jumlah uang. Bea Materai Bea Materai adalah pajak yang dikenakan atas dokoumen. 2.

Arus perjalanan reformasi pajak digulirkan sejak tahun 2002. Direktorat Jenderal Pajak saat ini telah dan sedang mempersiapkan system pengawasan dari berbagai aspek agar proses reformasi tetap berjalan pada rel yang benar. Pengawasan lainnya adalah melalui pembenahan SDM. Sedangkan sasaran khusus PINTAR adalah:   penyempurnaan tata kelola administrasi perpajakan. REFORMASI PERPAJAKAN Reformasi perpajakan merupakan modernisasi administrasi perpajakan dengan pelayanan prima dan pengawasan intensif dengan pelaksanaan good governance. tampaknya terus mengalir tanpa ada yang bisa menghentikannya.D. pengembangan sistem informasi yang efisien (yaitu menghubungkan sistem input seperti registrasi dan pengolahan SPT pada ledger dengan proses bisnis kepatuhan perpajakan seperti pemeriksaan dan penagihan). Walaupun berbagai rintangan dalam mengarungi perjalanan panjang proses reformasi pajak .  pemanfaatan data pihak ketiga secara lebih baik dalam rangka penetapan kewajiban perpajakan yang akurat (memberikan informasi tersebut kepada Wajib Pajak bersangkutan sebagai langkah awal dalam rangka meningkatkan kepatuhan perpajakan). Melalui SDM secara terus menerus diharapkan kinerja Direktorat Jenderal Pajak dapat sejajar dengan pelayanan yang dilakukan di Negara lain. proses reformasi akan terus berjalan. Tujuan utama PINTAR adalah mengembangkan sistem administrasi perpajakan yang diarahkan pada peningkatan kepatuhan Wajib Pajak secara sukarela melalui upaya komprehensif mencegah penghindarandan/atau penggelapan pajak. Tujuan dari reformasi perpajakan tersebut adalah untuk meningkatkan kepatuhan terhadap pajak serta meningkatkan kepercayaan yang tinggi terhadap pajak. diharapkan dapat berjalan dengan baik dan lancar. Pengawasan melalui proses modernisasi administrasi dengan dibangunnya suatu program yang disebut dengan PINTAR (Project for Indonesian Tax Administration Reform).  pengelolaan secara otomatis proses restitusi guna memanfaatkan intelligence model pada software pemindaian .

Saat ini Indonesia baru 75% APBN yayng dibiayai oleh pajak. PINTAR akan memperbaiki kebijakan SDM. Fokus utama Reformasi Perpajakan jilid dua adalah dua bidang yaitu Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dan Manajamen Sumber Daya Manusia (MSDM). pengembangan kapasitas. serta dapat menyumbangkan hasil kinerja pegawai yang bermanfaat bagi bangsa Indonesia. dan lain-lain. DJP sebagai lembaga yag berperan langsung menanganinya terus melakukan pembenahan. manajerial. Artinya dua dari tonggak yang menopang pengeluaran Indonesia berasal dari pajak. Angka itu sekitar lebih dari dua pertiga APBN. Pajak merupakan komponen penting yang digunakan Negara untuk membiayai pengeluarannya.  serta mendukung proses pemeriksaan dan penagihan secara komprehensif. pajak menjadi satu-satunya pegangan. Begitu pentingnya peran pajak bagi Negara. Sekarang ini sedang berjalan Reformasi Perpajakan jilid dua yang dicanangkan pada tanggal 22 Juni 2009 oleh Menteri Keuangan. a. PINTAR-SDM Dalam bidang manajemen SDM. traansparansi dan remunerasi yang seimbang. perbaikan proses bisnis manajemen SDM. memodernisasi manajemen SDM. .menentukan tingkat resiko yang berkaitan dengan restitusi (sehingga mempercepat penyelesaian restitusi). Hasil assessment ini sudah digunakan untuk menjalankan fungsi pengembangan MSDM berbasis kompetensi seperti mutasi/promosi. sementara di Negara maju sudah mencapai 100%. Sekarang ini Indonesia sangat tergantung dari peneriamaan pajak. serta meningkatkan kemampuan teknis. Saat ini DJP bekerja sama dengan Assessment Center Kementrian Keuangan secara bertahap tengah melakukan kegiatan assessment pegawai yang bertujuang untuk memperoleh profil kometensi pegawai dalam rangka Standar Kompetensi Jabatan yang diperlukan. Tahun 2010 target penerimaan pajak adalah Rp 606 triliun. dan profesionalisme pegawai DJP melalui perbaikan program dan kurikulum pelatihan. karena saat kekayaan alam tak bisa digunakan lagi untuk membiayai pembangunan . Fokus utama manajemen SDM adalah mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik (goog governance).

Mapping SDM Hard Competency Penilaian atasan langsung Pendidikan kedinasan Track record penempatan Consistency Profil psikologis Soft Competency Langkah Mendisiplinkan Petugas Pajak PINTAR juga akan meningkatkan kemampuan teknis. diantaranya melalui pelaksanaan program-program pelatihan yang dilakukan baik secara mandiri maupun bekerjasama dengan BPPK. Perpajakan. Selain itu. perencanaan pegawai 3. DJP memberikan reward and punishment terhadap para pegawai. kompensasi dan tunjangan 9. Modul tersebut antara lain: 1. Sanksi disiplin dikenakan kepada pegawai yang tidak menaati kewajiban dan atau melanggar larangan disiplin dalam menjalankan prosedur pemeriksaan perpajakan. kepatuhan internal DJP senantiasa melakukan upaya-upaya untuk meningkatkan kompetensi pegawai. manajemen pola karir 8. Pusdiklat Perpajakan. pengembangan dan pelatihan 6. DJP juga telah mengirimkan ribuan pegawainya untuk memperoleh beasiswa tugas belajar dalam rangka penigkatan pengetahuan pada institusi-institusi penyelenggara pendidikan formal di dalam dan di luar negeri dengan prioritas bidang keilmuan yang relevan dengan tugas pokok dan fungsi organisasi DJP seperti: Akuntansi. PINTAR juga akan menempa kedisiplinanapara petugas perpajakan melaui komponen SDM yang terdiri dri Sembilan modul. Mengenai . Ilmu Hukum. jumlah pegawaiyang dikenai sanksi hukuman meningkat. dan sebagainya. Dalam lima tahun terakhir. pengembangan organisasi 2. manajerial serta profesionalisme pegawai DJP melalui perbaikan program dan kurikulum pelatihan. manajemen pengukuran kinerja 7. administrasi kepegawaian 5. rekruitmen dan seleksi 4. dan penyedia training lainnya.

peningkatan jumlah pegawai yang terkena sanksi disiplin tersebut. Whistleblowing Munculnya berbagai kasus besar yang mencederai reformasi birokrasi Dierktorat Jenderal Pajak(DJP). Pemeriksaan terkait penjatuhan hukuman disiplin di lingkungan DJP sendiri dilakukan oleh Inspektorat Jenderal Kementrian Keuangan (Inspektorat Bidang Investigasi). membuat bank data yang menyimpan seluruh data yang valid. Dalam rangka memberiakan layanan terbaik kepada end user. Sementara itu di sisi lain. Salah satu upaya yang tengah dilakukan DJP untuk menjaga kelangsungan reformasi Birokrasi adalah mengembangkan system whistleblowing. peningkatan penjatuhan hukuman tersebut tidak mencerminkan peningkatan pelanggaran yang terjadi. setiap pelapor dijamin kerahasiaan identitasnya. Untuk mendorong pihak internal dan eksternal melaporkan pelanggaran yang terjadi. Namun. Direktorat KITSDA maupun atasan langsung pegawai yang diduga melakukan pelanggaran disiplin. serta kewenangan hak akses data dan informasi. Setiap petugas di direktorat . Kepatuhan pegawai tidak dapat semata-mata digantungkankepada eksistensi Direktorat Kepatuahn Internal dan Transformasi Sumber Daya Aparatur (KITSDA) sebagai unit ynag mengawal kepatuhan pegawai di DJP . disebabkan karena adanya pengawasan dan penegakan disiplin pegawai di lingkunagn DJP yang semakin ketat. Hal ini dikarenakan penjatuhan hukuman disiplin juga dilakukan terhadap pelanggaran yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya yang belum ditindaklanjuti dengan penjatuhan hukuman disiplin.000 orang dan tersebar di seluruh Indonesia. DJP melakukan data clean up untuk data yang terdapat pada database. jumlah pegawai yang harus diawasi tidak kurang dari 32. membuat kebijakan keamanan data dan informasi. Untuk menjaga performa sistem. Kasus yang terakhir terjadi menyadarkan DJP bahwa sistem control organisasi hirarkis yang ketatpun masih menyisakan ruang untuk terjadinya kecurangan. yang mempunyai keterbatasan khususnya dalam jumlah sumber daya. DJP juga membekali setiap petugasnya dengan teknologi terkini dengan tetap berpegang prinsip efektif dan efisien. menjadikan tahun 2010 sebagai salah satu tahun terberat dalam sejarah DJP yang tenagh menegakkan reformasi birokrasi.

mengakses Kring Pajak 500200 atau mengirim email ke pusat. Tugas direktorat ini juga melakukan evaluasi dan implementasi dalam hal analisis dan evaluasi sistem informasi. pengembangan aplikasi di bidang teknologi komunikasi dan informasi. Tujuan dari program ini adalah agar DJP mempunyai satu sistem yang yang terintegrasi. Pada bidang manajemen SDM. dan pengawasan. DJP menyiapkan SDM TIK melaui pelatihan yang dengan terlebih dahulu dilakukan assessment untuk mengetahui kebutuhan ragam dan tingkat kompetensi.com. pengembangan perangkat keras. Langkah untuk menanamkan nilai-nilai tatakelola yang baik adalah melalui program PINTAR (Project for Indonesian Tax Administration Reform). PINTAR-Manajemen TI Berdasarkan PMK nomor 100/PMK.pajak@gmail. perencanaan. Pangaduan terhadap pelanggaran pegawai pajak dapat diadukan melaui Kantor Pelayanan Pajak. dan komponen kepatuhan perpajakan. disusun rencana peningkatan dan pengembangan kapasitas pegawai melalui program pelatihan dan workshop tentang pengembangan TIK.2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Keuangan pasal 580 dijelaskan bahwa Direktorat TTKI mempunyai tugas dan fungsi melaksanakan penyusunan strategi dan perancangan. Selanjutnya. . Sedangkan Direktorat TIP lebih berkonsentrasi pada layanan dan bertugas memberikan dukungan dan layanan operasional serta pembinaan pengolahan data dan pengelolaan dokumen. atau mengirim surat langsung kepada Direktur KITSDA dan Direktur Jenderal Pajak. komponen manajemen SDM.01. dan penyediaan informasi yang akurat dan tepat waktu. Penyempurnaan pada komponen proses bisnis utama perpajakan bertujuan untuk menyempurnakan manajeman registrasi Wajib Pajak.telah disumpah dan mendatangani pakta integritas untuk menjaga kerahasiaan informasi pelapor dan hal lainnya yang secara jabatan harus dirahasiakan. sehingga pelayanan kepada wajib pajak dapat dioptimalkan. peneriamaan. b. pengembangan.pengaduan. pemrosesan surat pemberitahuan pajak. PINTAR merupakan penyempurnaan proses bisnis utama perpajakan.

PINTAR ini meliputi reformasi dalam hal sumber daya manusia dan manajemen IT. Jika dulu Indonesia menganut Official Assessment System dimana penentuan jumlah pajak dilakukan oleh fiskus.BAB III PENUTUP A. Direktorat Jenderal Pajak sebagai sebuah lembaga di bawah Kementerian Keuangan Indonesia yang mempunyai tugas merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang perpajakan. Saran 1. Pengawasan melalui proses modernisasi administrasi dengan dibangunnya suatu program yang disebut dengan PINTAR (Project for Indonesian Tax Administration Reform). sekarang ini menganut Self Assessment System dimana wajib pajak sendiri yang menentukan besarnya jumlah pajak yang akan dibayar. Direktorat Jenderal Pajak saat ini telah mempersiapkan sistem pengawasan dari berbagai aspek. Oleh karena itu besar penerimaan pajak sangatlah penting karena membiayai sebagian besar belanja Negara. DJP telah menggulirkan reformasi pajak yang saat ini telah mencapai jilid dua. Untuk masyarakat diharapkan untuk mempunyai kesadaran yang tinggi untuk membayar pajak karena kegunaan pajak tersebut sangatlah penting untuk membiayai pengeluaran Negara. . DJP berusaha untuk meningkatkan penerimaan pajak dengan berbagai cara baik intensifikasi maupun ekstensifikasi. 2. KESIMPULAN Pemungutan pajak sebenarnya sudah digulirkan sejak zaman penjajahan hingga sekarang. DJP bertugas untuk menghimpun penerimaan pajak dari masyarakat yang akan digunakan untuk belanja Negara. Untuk Direktorat Jenderal Pajak diharapkan untuk terus berkomitmen untuk meningkatkan jumlah penerimaan pajak serta memberikan pengawasan yang ketat terhadap SDMnya agar tidak terjadi lagi kasus-kasus mafia pajak. Untuk meningkatkan jumlah penerimaan pajak. B.

Semarang : Universitas Negeri Semarang Press .go.2009.id Trisni Suryarini.DAFTAR PUSTAKA www. Pengetahuan Perpajakan.pajak. Tarsis Tarmudji.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful