P. 1
Baja (9)

Baja (9)

|Views: 27|Likes:
Published by Intan Saraswati W

More info:

Published by: Intan Saraswati W on Sep 18, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/15/2012

pdf

text

original

BAJA

• •

SEJARAH PEMAKAIAN STRUKTUR BAJA Penggunaan logam sebagai bahan struktur dimulai di Inggris pada tahun 1777-1779. Besi tuang digunakan pada struktur jembatan pelengkung dengan bentang 30 meter. Gelagar induk terdiri dari potongan besi tuang individu (berupa balok atau rangka batang). Besi tempa digunakan sebagai bahan struktur pada jembatan Britania di Selat Menai, Wales, yang dibuat pada tahun 1846-1850. Balok tabular dengan penampang tertutup dengan bentang 70 meter dan 140 meter. Baja propil giling dikembangkan untuk batang bulat, berbagai propil, dan besi rel kereta api mulai pada tahun 1780.

BAJA STRUKTURAL
• Baja struktural yang ada di pasaran mempunyai tegangan leleh berkisar antara 165 MPa dan 689 Mpa (24 ksi dan 100 ksi). Pengelompokan jenis baja struktural berdasarkan kadar karbon, susunan paduan, ketahanan terhadap karat, dan kemudahan dilas. Baja struktural yang digiling panas (hot-rolled) dapat dibedakan menjadi : baja karbon, baja paduan rendah berkekuatan tinggi, dan baja paduan dengan pencelupan dan pemanasan kembali.

Baja Karbon
Baja karbon adalah baja yang mengandung unsur bukan besi dengan prosentase maksimum sebagai berikut : • karbon sebesar 1,7%, berguna untuk menaikkan kekuatan. • mangan sebesar 1,65%, berguna untuk memperbaiki sifat mekanis. • silikon sebesar 0,6%, berguna untuk memperbaiki sifat mekanis. • tembaga sebesar 0,6%, berguna untuk menaikkan ketahan-karat

• Baja karbon dibagi atas empat kelompok : baja karbon rendah (kadar karbon kurang dari 0,15%), baja karbon lunak (kadar karbon antara 0,15-0,29%), baja karbon sedang (kadar karbon antara 0,3-0,59%), dan baja karbon tinggi (kadar karbon antara 0,60-1,7%). • Baja karbon yang kekuatannya rendah mudah berkarat. Untuk meningkatkan ketahanan tehadap karat dengan menambahkan tembaga sebagai unsur paduan. • Baja karbon memiliki titik leleh yang jelas seperti ditunjukkan pada Gambar 1.b. Makin besar prosentase karbon makin besar tegangan lelehnya tetapi makin kecil daktilitasnya dan makin sulit dilas.

Baja karbon yang dapat dilas dengan tanpa pemanasan awal dan akhir serta tidak memerlukan elektroda khusus adalah baja karbon dengan kandungan karbon tidak lebih dari 0,3%. A36, A53, A500, A501, A529, A570, A611, A709, Bj 34, Bj 37, Bj 41, dan Mutu 36 termasuk baja karbon.

Baja Paduan Rendah Kekuatan Tinggi
• Katagori ini meliputi baja yang tegangan lelehnya berkisar 275 MPa sampai 480 MPa (40 ksi sampai 70 ksi). Baja jenis ini mempunyai titik leleh yang jelas seperti pada Gambar 1.b. Baja ini diperoleh dari baja dengan menambah unsur paduan seperti chrom, columbium, tembaga, mangan, molybdenum, nikel, fosfor, vanadium, dan zirconium. Penambahan dimaksud untuk memperbaiki sifat mekanis. Unsur paduan menaikkan kekuatan dengan memperhalus mikrostruktur yang terjadi selama pendinginan baja.

• Baja paduan rendah kekuatan tinggi dibuat pada kondisi penggilingan atau penormalan tanpa perlakuan panas. • Baja paduan rendah kekuatan tinggi meliputi jenis : A242, A441, A572, A588, A606, A607, A618, A709, Bj 44, Bj 50, Bj 52, Mutu 50, dan 50W. • A440 adalah baja berkekuatan tinggi yang sifatsifatnya sama seperti paduan rendah berkekuatan tinggi. Kekuatan A440 diperoleh dengan menambah kandungan karbon dan mangan yang lebih banyak dari baja A36.

Baja Paduan Dengan Perlakuan Panas
• Baja paduan ini mempunyai tegangan leleh 550 MPa sampai 760 Mpa (80 ksi sampai 110 ksi). Titik leleh tidak jelas, tegangan leleh didefinisikan sebagai tegangan pada regangan tetap 0,2%. Kurva tegangan- regangan dapat dilihat pada Gambar 2.1 • Baja paduan ini dibentuk dari baja paduan rendah (kadar karbon maksimal 0,2%) yang mendapat perlakuan panas yaitu didinginkan dalam air (dicelup pada suhu 400 derajat F) dan dipanasi kembali (suhu 1150 derajad F) untuk memperoleh tambahan kekuatan. Pencelupan menghasilkan martensit ( mikrostruktur yang sangat keras, kuat dan getas) dan pemanasan kembali untuk menaikan keliatan dan daktilitas. • Baja ini dapat dilas dengan prosedur yang sesuai, dan tidak perlu perlakuan panas setelah dilas.

SIFAT-SIFAT BAJA
• Baja karbon, paduan rendah, dan paduan dengan perlakuan panas mempunyai kurva tegangan-regangan yang mirip. • Kurva tegangan-regangan akibat tarikan dapat dilihat pada Gambar 2.1. Tegangan ditentukan dengan membagi beban dengan luas penampang lintang benda uji. Regangan ditentukan dengan membagi perpanjangan dengan panjang semula.

• Kurva tegangan-regangan diawali dari nol membentuk garis lurus sampai titik yang disebut batas proposional. Batas proposional biasanya berimpit dengan titik leleh baja struktural yang titik lelehnya tidak melampui 450 MPa (65 ksi). • Batas proporsional untuk baja paduan rendah dengan perlakuan panas tidak jelas, maka titik leleh dinyatakan dengan tegangan di regangan tetap sebesar 0,2%.

• Rasio tegangan dan regangan pada daerah garis lurus awal disebut modulus elastisitas/modulus Young, E, dan besarnya diambil 200.000 MPa (29.000 ksi). • Daerah dimana kurva berupa garis lurus disebut daerah elastis. Tegangannya disebut tegangan elastis, regangannya disebut regangan elastis, dan modulusnya disebut modulus elastis (Eel). • Dari titik leleh kurva hampir sejajar dengan sumbu regangan. Daerah dimana regangan yang besar pada tegangan yang hampir tetap disebut daerah plastis.

• Daerah dimana regangannya sebesar 15 – 20 kali regangan elastis maksimum, kurva mulai miring lagi hanya lebih landai dibanding dengan kurva miring pertama. Daerah ini disebut daerah pengerasan regangan (strain hardening) dan berakhir sampai kekuatan tarik maksimum. Harga modulusnya (Est) berkisar 4800 MPa 6200 MPa. • Kurva tegangan-regangan akan mengalami penurunan dan berakhir pada saat benda uji mengalami patah.

Modulus elastisitas
• Modulus elastisitas adalah rasio tegangan dan regangan pada daerah garis lurus awal atau disebut modulus Young, E, dan besarnya diambil 200.000 MPa (29.000 ksi).

Daktilitas
• Kurva tegangan-regangan juga menunjukkan daktilitas. Daktilitas didefinisikan sebagai regangan maksimum pada saat patah dibagi dengan regangan elastis maksimum.: s = ult /y dimana : s : daktilitas y : elongasi pada saat leleh ult : elongasi pada saat runtuh

Kekenyalan
Kekenyalan (resilience) adalah jumlah energi elastis yang dapat diserap oleh satu satuan volume bahan yang dibebani beban tarik, yang besarnya sama dengan luas bidang di bawah diagram tegangan – regangan sampai titik leleh.

Keliatan
Keliatan (toughness) adalah jumlah energi elastis dan inelastis yang dapat diserap oleh satu satuan volume bahan yang dibebani beban tarik, yang besarnya sama dengan luas bidang di bawah diagram tegangan – regangan sampai patah.

Angka Poison
Angka Poison adalah rasio antara regangan tranversal dan regangan longitudinal akibat beban. Angka Poison untuk baja struktural adalah  sama dengan 0,3 pada daerah elastis dan 0,5 pada daerah plastis.

Modulus Elastisitas Geser
• Modulus elastisitas geser adalah kemiringan kurva tegangan-regangan pada beban geser murni, G ( modulus geser/gelincir), sebesar 75.800 MPa (11.000 ksi). G = E / { 2(1 + ) } dimana : G : modulus geser, MPa E : modulus elastisitas, MPa  : angka poison

Pengerjaan Pada Kondisi Dingin
• Pembebanan dan penghilangan beban pada daerah elastis tidak menimbulkan tegangan sisa, namun pembebanan pada daerah plastis menimbulkan tegangan sisa. • Pembebanan ulang pada baja yang telah mengalami leleh akan meningkatkan titik leleh akibat pengerasan regangan, bila pada baja yang telah mengalami pengerasan regangan akan meningkatkan titik leleh akibat pelapukan regangan. Daktilitas akibat bebebanan ulang menurun dari kondisi awal. • Proses pembebanan di atas daerah elastis yang mengubah besarnya daktilitas disebut kerja dingin.

Patah Getas
• Patah getas didefinisikan sebagai jenis keruntuhan yang terjadi tanpa deformasi plastis lebih dahulu dan terjadi dalam waktu singkat. Sifat patah getas dipengaruhi oleh suhu, laju pembebanan, tingkat tegangan, ukuran cacat, tebal plat, geometri sambungan, dan mutu pengerjaan. Suhu berpengaruh pada timbulnya mikrostruktur yang getas dan pengendapan senyawa karbon dan elemen paduan.

Sobekan Lamela
Sobekan lamela merupakan salah satu bentuk patah getas. Bahan pecah akibat regangan sepanjang ketebalan (las) yang timbul karena penyusutan logam las. Regangan setempat akibat penyusutan logam las dapat beberapa kali lebih besar dari regangan titik leleh.

Patah Lelah
Kelelahan (fatigue) adalah keruntuhan akibat beban yang berulang-ulang walaupun tidak melampui beban leleh.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->