P. 1
Resume

Resume

|Views: 45|Likes:
Published by Khoirun Ni'mah

More info:

Published by: Khoirun Ni'mah on Sep 19, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/19/2012

pdf

text

original

Peristiwa-Peristiwa Kejiwaan

Manusia adalah mahluk kaffah yang ada di belahan bumi ini oleh Sang Khalik. Dengan sedemikian rupa dengan adanya akal dapat merespon segala yanga ada. Jiwa manusia merupakan suatu totalitas, kesatuian bulat yang tidak terlepas sama sekali dengan bagian orang lain, tetapi selalu berhubung-hubungan. Didalam jiwa manusia terdapat kemampuan atau kemauan (tri sakti), yaitu fikiran, rasa dan kemauan yang selaras dengan cipta, rasa dan karsa. Dari ketiga unsure tadi, manusia akan menerima stimulus baik dari diri individu ataupun dari luar diri individu yang tidak terlepas dari konteks lingkungan. Aktifitas kognitif sebagai akibat dari stimulus yang diterima oleh organisme dan organisme mengadakan respon terhadap stimulus yang mengenainya. Perseption Stimulus yang ditimbulkan akibat adanya penginderaan atau merupakan keadaan beraneka ragam yang integrated oleh individu melalui reseptornya, ini dapat dikatakan sebagai perception. Terjadinya proses persepsi dengan melalui adanya obyek yang mana dapat menimbulkan stimulus mengenai alat indera, adanya reseptor yang merupakan alat untuk menerima stimulus, dan adanya perhatian yang mana sebagai langkah pertama sebagai suatu persiapan dalam persepsi. Respon yang diberikan oleh individu terhadap stimulus dengan adanya persesuaian atau yang menarik individu baik dari dalam ataupun dari luar diri individu. Skemanya dapat digambarkan sebagai berikut: L–S–O–R–L Perhatian Perhatian merupakan pemusatan ataupun konsentrasi dari seluruh aktifitas individu yang ditujukan kepada sesuatu atau sekumpulan objek dengan penuh kesadaran. Makin jauh dari pusat kesadaran makin kurang diperhatikan perhatikan skema berikut: Daerah pertama merupakan daerah yang benar-benar diperhatikan. Daerah kedua, merupakan daerah peralihan dalam arti hanya samar-samar disadari tidak sepenuhnya. Sedangkan daerah ketiga, tidak sama sekali diperhatikan individu karena tidak disadari. Stimulus bukanlah merupakan satu-satunya factor hingga terjadi persepsi. Stimulus hanya factor luar dan dapat ditinjau dari penyelidikan-penyelidikan yang menyebabkan adanya

perhatian yang mana dapat ditinjau dari berbagai segi misalnya dari segi timbulnya, meliputi: perhatian spontan dan perhatian tidak spontan. Stimulus Dalam stimulus mempunyai kekuatan agar dapat dipersepsi oleh individu yang bersangkutan, kekuatannya meliputi: • Ambang stimulus, yaitu kekuatan stimulus minimal yang dapat disadari oleh individu, kurang dari kekuatan tersebut individu tidak akan dapat menyadari stimulus tersebut. Untuk menentukannya dengan methods of limits (metode psikologis), yaitu dengan cara menyuguhkan stimulus ditempuh dengan cara menarik (increase) dan secara menurun (descrease) secara bergantian. • Ambang perbedaan, yaitu manusia mempunyai kemampuan yang berbeda dalam menanggapi stimulus sehingga mereka mempunyai ambang stimulus yang berbeda. Seperti membedakan dua benda yang berbeda, disini satu dapat membedakan sedangkan yang satu tidak. Hokum Weber-Fechner Menurut Weber stimulus yang berbeda yang perbedaan itu dapat diamati oleh individu atau subjek disebut Dufference limen (DL). Weber membuat formulasi yang terkenal dengan hokum weber yaitu: “Didalam memperbandingkan dua objek, perbedaan itu dapat diamati bila ditambah stimulus telah mencapai perbandingan yang tertentu terhadap standarnya”. Atas dasar formulasi weber danatas prisip yang dikemukakannya maka fechner berpendapat bahwa: “Bila stimulus bertanbah dengan suatu perbandingan yang tetap, maka pengamatan yang ditimbulkan bertanbah dengan tambahan yang sama”. Dari persamaan keduanya ini dikenal dengan hokum Weber-Fechner atau sering pula disebut dengan hukum Fechner. Factor individu Dalam menghadapi stimulus dari luar, individu bersikap selektif untuk menentukan stimulus mana yang akan diperhatikan. Keadaan individu pada suatu waktu ditentukan oleh sifat structural (keadaan individu bersifat permanent), sifat temporer (keadaan individu pada suatu

waktu) dan aktifitas yang sedang berjalan pada individu. Persepsi melalui penginderaan Alat indra merupakan alat utama dalam individu mengadakan persepsi. Dengan kata lain individu mempersepsikan apa yang diterima dengan alat indranya melalui proses. Prosesnya melalui stimulus mengenai alat indera (proses fisik) kemudian dilangsungkan keotak oleh saraf sensoris (proses fisiologis) dan dari ini individu dapat mempersepsinya (proses psikologis). Seseorang dapat melihat dengan mata, tapi bukan satu-satunya alat yang menerima stimulus. Pada penglihatan dapat difahami bagaimana kerjanya dengan memahami struktur fisiologis mata, adanya warna elementer dan warna primer. Buta warna yang mana tidak dapat membedakan warna disini bukanlah kelainan hanya saja terdapat kurang sempurna pada retina. Persepsi melalui indra pendengaran Telinga (alat pendengaran) merupakan salah satu alat untuk dapat mengetahui sesuatu yang ada disekitar. Stimulus berwujud bunyi merupakan getaran udara dan sebagai respon itu orang dapat mendengarnya. Persepsi melalui penciuman Hidung (alat penciuman) merupakan salah satu alat untuk dapat mencium sesuatu. Stimulus berwujud benda bersifat khemis atau gas yang dapat menguap, dan mengenai alat-alat yang ada dalam hidung kemudian ditentukan oleh saraf yang diteruskan keotak sebagai respon dari stimulus orang dapat merasakannya. Persepsi melalui pengecapan Lidah (alat pengecap) merupakan salah satu alat untuk dapat merasakan sesuatu. Zat cair yang mengenai lidah kemudian dilangsungkan oleh saraf sensorik ke otak hingga orang dapat merasakan (baik pahit, manis, asin ataupun asam) apa yang dicecap. Persepsi melalui indera kulit Indera ini dapat merasakan rasa sakit, rabaan, tekanan dan temperature. Tetapi tidak semua bagian kulit mengalami hal tersebut. Dalam hal tekanan, stimulus langsung mengenai bagian kulit bagian rabaan atau tekanan. Stimulus ini akan menimbulkan kesadaran akan lunak, keras, halus dan kasar. Ilusi Kesalahan dalam memberikan arti terhadap stimulus yang diterima disebut dengan ilusi. Ilusi bukanlah merupakan kelainan dalam kehidupan kejiwaan seseorang. Hal ini, berlainan

dengan halusinasi yang merupakan kelainan dalam kejiwan seseorang dan mengalami sesuatu persepsi.

BAYANGAN
Manusia mempunyai kemampuan-kemampuan lain selain kemampuan untuk mengadakan persepsi yaitu kemampuan membayangkan atau menanggap kembali hal-hal yang diamatinya itu. Diantaranya terdapat perbedaan pada persepsi membutuhkan objek dan tentu terkait dengan waktu dan tempat sedangkan pada tanggapan terlepas dengan hal itu.

Halisinasi dan Bayangan eidetik
Pada tanggapan gambaran adanya kemungkinan bayangan itu jelas ataupun tidak. Bayangan yang jelas seperti pada persepsi disebut dengan bayangan eidetic (dikemukakan oleh Urbant-schnitsh). Bayangan ini merupakan bayangan yang jelas tetapi apabila orang tidak dapat membedakannya antara persepsi dan bayangan, maka orang akan mengalami halusinasi. Pada halusinasi seseorang merasa bahwa ia seakan-akan menerima sesuatu stimulus yang sebenarnya tidak ada.

Asosiasi dan reproduksi

Dalam mempersepsikan sesuatu dan hasil persepsi tersimpan dalam jiwa dan bila diperlukan dapat ditimbulkan kembali dalam alam kesadaran. Terjadinya asosiasi antara bayangan satu dengan lainnya ini terjadi bila adanya pertautan antara keduanya. Kalau orang ingat akan sesuatu maka orang akan ingat kepada benda lain yang berhubungan dengan benda tersebut (kekuatan untuk mengadakan asosiasi). Pada umumnya bayangan yang saling berhubungan, saling menimbulkan kembali atau saling memproduksi.

FANTASI
Kemampuan jiwa baik disadari ataupun tidak untuk membentuk tanggapan-tanggapan atau bayangan-bayangan baru disebut dengan fantasi. Manusia dapat melepaskan diri dari

keadaan yang dihadapinya dan menjangkau kedepan ke keadaan-keadaan yang akan mendatang maka berfantasi mempunyai arti penting dalam kehidupan manusia. Fantasi, dilihat dari cara orang berfantasi dapat dibedakan atas yang mengabstraksi (dengan mengabstraksikan beberapa bagian, sehingga ada bagian-bagian yang dihilangkan), yang mendeterminasi (dalam berfantasi dengan mendeterminasi terlebih dahulu), dan yang mengombinasi (dengan cara mengombinasikan bayangan-bayangan atau pengertian-pengertian yang ada). Dengan berfantasi pula orang dapat menambah bayangan-bayangan atau tanggapantanggapan. Dan semuanya itu dapat ditentukan dengan melalui tes fantasi yang mana dapat diketahui asal sejauh mana kemampuan individu dalam berfantasi.

INGATAN

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->