Pasal-pasal Sisdur 2011 17 Maret

PERATURAN BUPATI TAPANULI TENGAH NOMOR : TAHUN 2011

TENTANG

SISTEM DAN PROSEDUR PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN TAPANULI TENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TAPANULI TENGAH,
Menimbang

: a. bahwa untuk memenuhi Pasal 330 Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 dalam rangka Pembinaan dan Pengembangan Pengelolaan Keuangan Daerah dalam hal Penatausahaan Keuangan Daerah di lingkungan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah, dipandang perlu menetapkan Sistem dan Prosedur Pengelolaan Keuangan Daerah; b. bahwa berdasarkan pertimbangan huruf “a” diatas, perlu ditetapkan dengan Peraturan Bupati tentang Sistem dan Prosedur Pengelolaan Keuangan Daerah di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah. : 1. Undang-Undang Nomor 7 Drt Tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah Otonom Kabupaten-kabupaten dalam Lingkungan Daerah Propinsi Sumatera Utara ( Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1956 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Nomor 109) ; 2. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3851) ; 3. Undang–Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 246, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4048 ) ; 4. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286) ; 5. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355) ; 6. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389) ;Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan

Mengingat

-2-

Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4400) ; 7. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4400) ;
8. Undang-Undang

Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah dua kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844) ;

9.

Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438) ;

10. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akutansi Pemerintahan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4503); 11. Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah ( Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 136, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4574 ) ; 12. Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan ( Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 137, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4575 ) ; 13. Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2005 tentang Sistem Informasi Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 138, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4576) ; 14. Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2005 tentang Hibah Kepada Daerah ( Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 139 ,Tambahan Lembaran Negara Nomor 4577 ) ; 15. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4578) ; 16. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4593) ; 17. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Laporan

-3-

Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah ( Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 25, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4614) ; 18. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Propinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Republik Indonesia Nomor 4737) 19. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah ; 20. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 37 Tahun 2010 tentang Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2011 ; 21. Peraturan Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah Nomor 25 Tahun 2007 tentang Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Daerah dan Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah ; 22. Peraturan Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah Nomor 26 Tahun 2007 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas-dinas Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah ; 23. Peraturan Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah Nomor 27 Tahun 2007 Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah ; 24. Peraturan Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah Nomor 13 Tahun 2008 tentang Pokok-pokok Pengelolaan Keuangan Daerah ; 25. Peraturan Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah Nomor 1 Tahun 2011 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah Tahun Anggaran 2011 ; 26. Peraturan Bupati Tapanuli Tengah Nomor 1 Tahun 2011 tentang Penjabaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah Tahun Anggaran 2011. MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN BUPATI TENTANG SISTEM DAN PROSEDUR PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN TAPANULI TENGAH TAHUN ANGGARAN 2011 BAB I KETENTUAN UMUM Bagian Pertama Pengertian Pasal 1 Dalam Peraturan Bupati ini yang dimaksud dengan :

-4-

1. Daerah adalah Kabupaten Tapanuli Tengah.
2. 3.

Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah Pemerintah Kabupaten adalah Bupati Tapanuli Tengah dan Perangkat Daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintah Daerah.

4. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah selanjutnya disingkat DPRD adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah yang merupakan Lembaga Perwakilan Rakyat Daerah sebagai Unsur Penyelenggara Pemerintah Daerah. 5. Keuangan Daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan Pemerintah Daerah yang dapat dinilai dengan uang termasuk di dalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah tersebut. 6. Peraturan Daerah adalah peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh Bupati dengan persetujuan bersama DPRD. 7. Pengelolaan Keuangan Daerah adalah keseluruhan kegiatan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, pertanggung jawaban, dan pengawasaan keuangan daerah.
8.

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, selanjutnya disingkat APBD adalah rencana keuangan tahunan pemerintah daerah yang dibahas dan disetujui bersama oleh Pemerintah Daerah dan DPRD, dan ditetapkan dengan peraturan daerah.

9.

Satuan Kerja Perangkat Daerah yang selanjutnya disingkat SKPD adalah perangkat daerah pada pemerintah daerah selaku pengguna anggaran/pengguna barang. Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah yang selanjutnya disebut SKPKD adalah perangkat daerah pada pemerintah daerah selaku pengguna anggaran/pengguna barang, yang juga melaksanakan pengelolaan keuangan daerah. Organisasi adalah unsur Pemerintah Daerah yang terdiri dari DPRD, Bupati/Wakil Bupati dan Satuan Kerja Perangkat Daerah. Dinas Pendapatan, Pengelola Keuangan dan Kekayaan Daerah yang selanjutnya disingkat DPPKKD adalah adalaha Satuan Kerja Perangkat Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah selaku SKPKD. Pemegang Kekuasaan Keuangan Daerah adalah Bupati yang karena jabatannya mempunyai kewenangan menyelenggarakan keseluruhan pengelolaan keuangan daerah. Pejabat Pengelola Keuangan Daerah yang selanjutnya disingkat PPKD adalah kepala satuan kerja pengelola keuangan daerah yang selanjutnya disebut dengan kepala SKPKD yang mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan APBD dan bertindak sebagai bendahara umum daerah. Bendahara Umum Daerah yang selanjutnya disingkat BUD adalah PPKD yang bertindak dalam kapasitas sebagai bendahara umum daerah. Pengguna Anggaran adalah jabatan pemegang kewenangan penggunaan anggaran untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsi SKPD yang dipimpinnya. Pengguna Barang adalah pejabat pemegang kewenangan penggunaan barang milik daerah. Kuasa Bendahara Umum Daerah yang selanjutnya disingkat kuasa BUD adalah pejabat yang diberi kuasa untuk melaksanakan sebagian tugas BUD.

10.

11. 12.

13.

14.

15. 16. 17. 18.

dan mempertanggungjawabkan uang untuk keperluan belanja daerah dalam rangka pelaksanaan APBD pada SKPD. dan mempertanggungjawabkan uang pendapatan daerah dalam rangka pelaksanaan APBD pada SKPD. 33. Kegiatan adalah bagian dari program yang dilaksanakan oleh satu atau lebih unit kerja pada SKPD sebagai bagian dari pencapaian sasaran terukur pada suatu program dan terdiri dari sekumpulan tindakan pengerahan sumber daya baik yang berupa personil (sumber daya manusia).-5- 19. Bendahara pengeluaran adalah pejabat fungsional yang ditunjuk menerima. 29. . menyetorkan. 28. Rencana Kerja dan Anggaran SKPD yang selanjutnya disingkat RKA-SKPD adalah dokumen perencanaan dan penganggaran yang berisi rencana pendapatan. 20. 31. membayarkan. barang modal termasuk 22. PPKD dan pejabat lainnya sesuai dengan kebutuhan. dan mensejahterakan masyarakat. 30. 26. Penganggaran Terpadu (unified budgeting) adalah penyusunan rencana keuangan tahunan yang dilakukan secara terintegrasi untuk seluruh jenis belanja guna melaksanakan kegiatan pemerintah yang didasarkan pada prinsip pencapaian efisiensi alokasi dana. 23. 32. Entitas Akuntansi adalah unit pemerintahan pengguna anggaran/pengguna barang dan oleh karenanya wajib menyelenggarakan akuntansi dan menyusun laporan keuangan untuk digabungkan pada entitas pelaporan. Unit Kerja adalah bagian dari SKPD yang melaksanakan satu atau beberapa program. Entitas pelaporan adalah unit pemerintahan yang terdiri atas satu atau lebih entitas akuntansi yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan wajib menyampaikan laporan pertanggungjawaban berupa laporan keuangan. menyimpan. Pejabat Pelaksanaan Teknis Kegiatan yang selanjutnya disingkat PPTK adalah pejabat pada unit kerja SKPD yang melaksanakan satu atau beberapa kegiatan dari suatu program sesuai dengan bidang tugasnya. Urusan Pemerintahan adalah fungsi-fungsi pemerintahan yang menjadi hak dan kewajiban setiap tingkatan dan/atau susunan pemerintahan untuk mengatur dan mengurus fungsi-fungsi tersebut yang menjadi kewenangannya dalam rangka melindungi. 21. memberdayakan. Kuasa Pengguna Anggaran adalah pejabat yang diberi kuasa untuk melaksanakan sebagian tugas dan fungsi SKPD. rencana belanja program dan kegiatan SKPD serta rencana pembiayaan sebagai dasar penyusunan APBD. menatausahakan. 24. Pejabat Penatausahaan Keuangan SKPD yang selanjutnya disingkat PPK-SKPD adalah pejabat yang melaksanakan fungsi tata usaha keuangan pada SKPD. Program adalah penjabaran kebijakan SKPD dalam bentuk upaya yang berisi satu atau lebih kegiatan dengan menggunakan sumber daya yang disediakan untuk mencapai hasil yang terukur sesuai dengan misi SKPD. menatausahakan. Fungsi adalah perwujudan tugas kepemerintahan di bidang tertentu yang dilaksanakan dalam rangka mencapai tujuan pembangunan nasional. 25. Tim Anggaran Pemerintahan Daerah yang selanjutnya disingkat TAPD adalah tim yang dibentuk dengan keputusan Bupati dan dipimpin oleh sekretaris daerah yang mempunyai tugas menyiapkan serta melaksanakan kebijakan Bupati dalam rangka penyusunan APBD yang anggotanya terdiri dari pejabat perencanaan daerah. menyimpan. 27. melayani. Bendahara Penerimaan adalah pejabat fungsional yang ditunjuk untuk menerima.

Utang Daerah adalah jumlah uang yang wajib dibayar pemerintah daerah dan/atau kewajiban pemerintah daerah yang dapat dinilai dengan uang berdasarkan peraturan perundang-undangan. perjanjian. 45. 47. Sasaran (target) adalah hasil yang diharapkan dari suatu program atau keluaran yang diharapkan dari suatu kegiatan. 48. Pinjaman Daerah adalah semua transaksi yang mengakibatkan daerah menerima sejumlah uang atau menerima manfaat yang bernilai uang dari pihak lain sehingga daerah dibebani kewajiban untuk membayar kembali. dana. atau kombinasi dari beberapa atau kesemua jenis sumber daya tersebut sebagai masukan (input) untuk menghasilkan keluaran (output) dalam bentuk barang/jasa. Pembiayaan Daerah adalah semua penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali. Penerimaan Daerah adalah uang yang masuk ke kas daerah. Keluaran (output) adalah barang atau jasa yang dihasilkan oleh kegiatan yang dilaksanakan untuk mendukung pencapaian sasaran atau tujuan program dari kebijakan. 39. baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya. Hasil (outcome) adalah segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran dari kegiatan-kegiatan dalam satu program. 41. 42. 49. Piutang Daerah adalah jumlah uang yang wajib dibayar kepada pemerintah daerah dan/atau hak pemerintah daerah yang dapat dinilai dengan uang sebagai akibat perjanjian atau akibat lainnya berdasarkan peraturan perundangundangan atau akibat lainnya yang sah. 38. Defisit Anggaran Daerah adalah selisih kurang antara pendapatan daerah dan belanja daerah. Investasi adalah penggunaan aset untuk memperoleh manfaat ekonomis 36. 50. Pengeluaran Daerah adalah uang yang keluar dari kas daerah. 40. 43. 46. 51. Rekening Kas Umum Daerah adalah rekening tempat penyimpanan uang daerah yang ditentukan oleh Bupati untuk menampung seluruh penerimaan daerah dan digunakan untuk membayar seluruh pengeluaran daerah pada bank yang ditetapkan. Pendapatan Daerah adalah hak pemerintah daerah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih. 44. Kas Umum Daerah adalah tempat penyimpanan uang daerah yang ditentukan oleh Bupati untuk menampung seluruh penerimaan daerah dan digunakan untuk membayar seluruh pengeluaran daerah. 37. atau berdasarkan sebab yang lainnya yang sah. Belanja Daerah adalah kewajiban pemerintah daerah yang diakui sebagai pengurang nilai kekakayaan bersih. Dana Cadangan adalah dana yang disisihkan guna mendanai kegiatan yang memerlukan dana relatif besar yang tidak dapat dipenuhi dalam satu tahun anggaran. . 34.-6- peralatan dan teknologi. Surplus Anggaran Daerah adalah selisih lebih antara pendapatan daerah dan belanja daerah. Sisa Lebih Perhitungan Anggaran yang selanjutnya disingkat SILPA adalah selisih lebih realisasi penerimaan dan pengeluaran anggaran selama satu periode anggaran. 35.

59. Surat Perintah Membayar Uang Persediaan yang selanjutnya disingkat SPMUP adalah dokumen yang diterbitkan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran untuk penerbitan SP2D atas beban-beban pengeluaran DPA-SKPD yang dipergunakan sebagai uang persediaan untuk mendanai kegiatan. 54. Dokumen Pelaksanaan Perubahan Anggaran SKPD yang selanjutnya disingkat DPPA-SKPD adalah dokumen yang memuat perubahan pendapatan. SPP Ganti Uang Persediaan yang selanjutnya disingkat SPP-GU adalah dokumen yang diajukan oleh bendahara pengeluaran untuk permintaan pengganti uang persediaan yang tidak dapat dilakukan dengan pembayaran langsung.-7- seperti bunga. manfaat sosial. 60. 61. 52. peruntukan. belanja dan pembiayaan yang digunakan sebagai dasar pelaksanaan oleh pengguna anggaran. SPP Langsung yang selanjutnya disingkat SPP-LS adalah dokumen yang diajukan oleh bendahara pengeluaran untuk permintaan pembayaran langsung kepada pihak ketiga atas dasar perjanjian kontrak kerja atau surat perintah kerja lainnya dan pembayaran gaji dengan jumlah. dan pembiayaan yang digunakan sebagai dasar pelaksanaan perubahan anggaran oleh pengguna anggaran. Surat Permintaan Pembayaran yang selanjutnya disingkat SPP adalah dokumen yang diterbitkan oleh pejabat yang bertanggung jawab atas pelaksanaan kegiatan/bendahara pengeluaran untuk mengajukan permintaan pembayaran. 56. 53. Surat Penyediaan Dana yang selanjutnya disingkat SPD adalah dokumen yang menyatakan tersedianya dana untuk melaksanakan kegiatan sebagai dasar penerbitan SPP. Dokumen Pelaksanaan Anggaran SKPD yang selanjutnya disingkat DPA-SKPD adalah dokumen yang memuat pendapatan. dan waktu pembayaran tertentu yang dokumennya disiapkan oleh PPTK. 55. SPP Tambahan Uang Persediaan yang selanjutnya disingkat SPP-TU adalah dokumen yang diajukan oleh bendahara pengeluaran untuk permintaan tambahan uang persediaan guna melaksanakan kegiatan SKPD yang bersifat mendesak dan tidak dapat digunakan untuk pembayaran langsung dan uang persediaan. belanja. Anggaran Kas adalah dokumen perkiraan arus kas masuk yang bersumber dari penerimaan dan perkiraan arus kas keluar untuk mengatur ketersediaan dana yang cukup guna mendanai pelaksanaan kegiatan dalam setiap periode. deviden. penerima. 62. Surat Pemerintah Membayar Ganti Uang Persediaan yang selanjutnya disingkat SPM-GU adalah dokumen yang diterbitkan oleh pengguna anggaran/kuasa penggunaan anggaran untuk penerbitan SP2D atas beban pengeluaran DPA-SKPD yang dananya dipergunakan untuk mengganti uang persediaan yang telah dibelanjakan. Surat Perintah Membayar yang selanjutnya disingkat SPM adalah dokumen yang digunakan/diterbitkan oleh pengguna anggaran untuk penerbitan SP2D atas beban pengeluaran DPA-SKPD. 63. royalti. 57. . dan/atau manfaat lainnya sehingga dapat meningkatkan kemampuan pemerintah dalam rangka pelayanan kepada masyarakat. 58. SPP Uang Persediaan yang selanjutnya disingkat SPP-UP adalah dokumen yang diajukan oleh bendahara pengeluaran untuk permintaan uang muka kerja yang bersifat pengisian kembali (revolving) yang tidak dapat dilakukan dengan pembayaran langsung.

66. tata cara Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah penatausahaan Akuntansi Daerah pelaporan Keuangan Daerah pengawasan dan Pertanggungjawaban Keuangan (2) Pendapatan yang direncanakan merupakan perkiraan yang terukur secara dapat dicapai dari setiap sumber pendapatan. (3) Belanja yang dianggarkan merupakan batas tertinggi pengeluaran belanja. rasional yang (4) Tidak dibenarkan melaksanakan kegiatan yang belum tersedia atau tidak mencukupi kredit anggarannya dalam APBD. belanja. maupun pembiayaan harus pada peraturan perundangan yang berlaku. Pasal 4 (1) SKPD tidak dibenarkan melakukan penggeseran anggaran. Bagian Kedua Ruang Lingkup Pasal 2 Pengelolaan keuangan daerah yang diatur dalam Peraturan Daerah ini meliputi: a. 67. c. d. Surat Perintah Pencairan Dana yang selanjut disingkat SP2D adalah dokumen yang digunakan sebagai dasar pencairan dana yang diterbitkan oleh BUD berdasarkan SPM. Daerah Bagian Ketiga Prinsip-Prinsip Anggaran Pasal 3 (1) Pelaksanaan anggaran baik pendapatan. mengacu 65. Surat Perintah Membayar Langsung yang selanjutnya disingkat SPM-LS adalah dokumen yang diterbitkan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran untuk penerbitan SP2D atas beban pengeluaran DPA-SKPD kepada pihak ketiga. Surat Pertanggungjawaban yang selanjutnya disingkat SPJ adalah berbagai Dokumen yang digunakan sebagai bukti Pertanggungjawaban dari Belanja Suatu Kegiatan. (2) Pergeseran antar rincian objek belanja dapat dilakukan atas persetujuan PPKD. Surat Perintah Membayar Tambahan Uang Persediaan yang selanjutnya disingkat SPM-TU adalah dokumen yang diterbitkan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran untuk penerbitan SP2D atas beban pengeluaran DPA-SKPD. Daerah. e.-8- 64. karena kebutuhan dananya melebihi dari jumlah batas pagu uang persediaan yang telah ditetapkan sesuai dengan ketentuan. (3) Pergeseran antar objek belanja dalam jenis belanja berkenaan dilakukan atas persetujuan . b.

f. (4). Pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah dimaksud pada ayat (1) mempunyai kewenangan: a. menetapkan kebijakan tentang pengelolaan barang daerah. dan sesuai dengan kebutuhan teknis yang dipersyaratkan. sebagaimana b. tidak mewah. Pelimpahan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditetapkan dengan . menetapkan kebijakan tentang pelaksanaan APBD. (3). Bagian Keempat Efisiensi dan Efektifitas Anggaran Pasal 5 Pelaksanaan atas belanja daerah didasarkan pada prinsip-prinsip: a. Kepala SKPKD selaku PPKD c. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pemungutan penerimaan da erah. c. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengelolaan utang dan piutang daerah. e. Bupati melimpahkan sebagian atau seluruh kekuasaannya kepada : a. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengujian atas tagihan dan memerintahkan pembayaran. dana yang tersedia dimanfaatkan dengan sebaik mungkin untuk dapat menghasilkan manfaat bagi peningkatan kesejahteraan dan pelayanan kepada masyarakat BAB II KEKUASAAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH Bagian Pertama Pemegang Kekuasaan Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 6 (1). yang selanjutnya dianggarkan dalam Peraturan Daerah tentang Perubahan APBD. efektif. c. d. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengelolaan barang milik daerah. Kepala SKPD selaku Pengguna Anggaran/Barang Daerah. Selaku Pemegang Kekuasaan Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). menetapkan bendahara penerimaan dan/atau bendahara pengeluaran. dan h. g. hemat. (5) Perubahan atas penjelasan rincian objek belanja dapat dilakukan dengan persetujuan PPKD. Sekretaris Daerah selaku Koordinator Pengelolaan Keuangan Daerah b. menetapkan kuasa pengguna anggaran/barang.-9Sekretaris Daerah. (4) Pergeseran anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) dilakukan dengan cara mengubah Peraturan Bupati tentang Penjabaran APBD sebagai dasar pelaksanaan. efisien. dan terkendali sesuai dengan rencana program/kegiatan serta fungsi setiap organisasi perangkat daerah. Bupati adalah adalah Pemegang Kekuasaaan tertinggi Pengelolaan Keuangan Daerah yang mewakili Pemerintah dalam menguasai seluruh Kekayaan Pemerintah Daerah yang dipisahkan (2). b. terarah.

PPKD selaku BUD berwenang: menyusun kebijakan dan pedoman pelaksanaan APBD. menyusun laporan keuangan daerah dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. (2) . menguji dan yang menerima atau mengeluarkan uang. Perubahan APBD.-10- keputusan Bupati berdasarkan prinsip pemisahan kewenangan antara yang memerintahkan. dan f. a. penyusunan laporan keuangan daerah dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. PPKD. Bagian Ketiga Pejabat Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 8 (1) PPKD mempunyai tugas sebagai berikut: menyusun dan melaksanakan kebijakan pengelolaan keuangan daerah. Bagian Kedua Koordinator Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 7 (1). dan pejabat pengawas keuangan daerah. b. melaksanakan tugas lainnya berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh Bupati. melaksanakan fungsi Bendahara Umum Daerah. memimpin Tim Anggaran Pemerintah Daerah. Sekretaris Daerah selaku Koordinator Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) huruf a mempunyai tugas koordinasi di bidang: a. c. memberikan persetujuan pengesahan DPA-SKPD. Selain tugas-tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) koordinator pengelolaan keuangan daerah juga mempunyai tugas: a. c. e. menyusun rancangan APBD dan rancangan Perubahan APBD. (2). e. dan f. b. d. penyusunan rancangan APBD dan rancangan perubahan APBD. penyusunan Raperda APBD. melaksanakan tugas-tugas koordinasi pengelolaan keuangan daerah lainnya berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh Bupati. (3) Koordinator pengelolaan keuangan daerah bertanggung jawab atas pelaksanaan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) kepada Bupati. d. b. dan e. melaksanakan pemungutan pendapatan daerah yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah. penyusunan dan pelaksanaan kebijakan pengelolaan barang daerah. tugas-tugas pejabat perencana daerah. mengesahkan DPA-SKPD. menyiapkan pedoman pengelolaan barang daerah. c. d. penyusunan dan pelaksanaan kebijakan pengelolaan APBD. menyiapkan pedoman pelaksanaan APBD. dan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. b. a.

c. menyiapkan anggaran kas. h. i. melaksanakan kebijakan dan pedoman pengelolaan serta penghapusan barang milik daerah. n. menyiapkan SPD. m.-11- c. memberikan petunjuk teknis tentang Sistem dan Prosedur Pengelolaan Keuangan Daerah e. b. dan (4) (5) Kuasa BUD selain melaksanakan tugas sebagaimana pada ayat (3) juga melaksanakan wewenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2). melakukan pengelolaan utang dan piutang daerah. menyiapkan pelaksanaan pinjaman dan pemberian jaminan atas nama pemerintah daerah. Pasal 9 (1) (2) (3) PPKD selaku BUD menunjuk pejabat di lingkungan satuan kerja pengelola keuangan daerah selaku kuasa BUD. f. menyetujui surat pengesahan laporan pertanggungjawaban SKPD. j. melaksanakan sistem akuntansi dan pelaporan keuangan daerah. melakukan pengendalian pelaksanaan APBD. huruf g. Bagian Keempat Pejabat Pengguna Anggaran/Pengguna Barang Daerah Pasal 11 . menerbitkan SP2D. menyajikan informasi keuangan daerah. Kuasa BUD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). melakukan pembayaran berdasarkan permintaan pejabat pengguna anggaran atas beban rekening kas umum daerah. Kuasa BUD bertanggung jawab kepada PPKD Pasal 10 (6) Pelimpahan wewenang selain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (4). huruf k. dan huruf o. mempunyai tugas: a. o. g. melaksanakan pemungutan pajak daerah. Penunjukan kuasa BUD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan keputusan Bupati. k. huruf m. huruf f. Kuasa BUD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikuasakan kepada Kepala Bidang Belanja pada Dinas Pendapatan Pengelola Keuangan dan Kekayaan Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah. d. dapat dilimpahkan kepada pejabat lainnya di lingkungan satuan kerja pengelolaan keuangan daerah. menetapkan SPD. l. melaksanakan pemberian pinjaman atas nama pemerintah daerah. huruf j. huruf n. huruf h. melakukan penagihan piutang daerah.

(2) (3) (4) b. SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (4) butir a dab b Selaku (6) (7) . Pengelola Keuangan dan Kekayaan Daerah selaku SKPKD juga menetapkan Pembantu Bendahara untuk membantu tugas-tugas Bendahara Pengeluaran SKPKD. mengelola utang dan piutang yang menjadi tanggung jawab SKPD yang dipimpinnya. Dinas Pendapatan. (2) dan ayat 3 di atas. n. (5) Dengan menetapkan Kuasa Pengguna Anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (4) Dinas Pendapatan. melaksanakan pemungutan penerimaan bukan pajak. beban kerja. Penetapan kepala unit kerja pada SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berdasarkan pertimbangan besaran SKPD. e. mengelola barang milik daerah/kekayaan daerah yang menjadi tanggung jawab SKPD yang dipimpinnya. j. melaksanakan tugas-tugas pengguna anggaran/pengguna barang lainnya berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh Bupati. menyusun dan menyampaikan laporan keuangan SKPD yang dipimpinnya. dan o. menyusun RKA-SKPD. Pasal 12 (1) Pejabat pengguna anggaran dalam melaksanakan tugas dapat melimpahkan sebagian kewenangannya kepada kepala unit kerja pada SKPD selaku kuasa pengguna anggaran/pengguna barang. bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada Bupati melalui sekretaris daerah. melaksanakan anggaran SKPD yang dipimpinnya. Untuk memperlancar Proses Penatausahaan Keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) Kuasa Pengguna Anggaran membuka Rekening Pembantu Bank untuk menampung Anggaran yang dikelolanya. kompetensi dan/atau rentang kendali dan pertimbangan objektif lainnya. lokasi. c. Politik dan Perlindungan Masyarakat Kabupaten Tapanuli Tengah untuk Belanja Bantuan Partai Politik yang anggarannya ditampung pada SKPKD.-12- Pejabat pengguna anggaran/pengguna barang daerah mempunyai tugas dan wewenang: a. Sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pelimpahan wewenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Bupaati atas usul kepala SKPD. melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran atas beban anggaran belanja. m. i. mengawasi pelaksanaan anggaran SKPD yang dipimpinnya. Badan Kesatuan Bangsa. l. k. Pengelola Keuangan dan Kekayaan Daerah selaku SKPD dan SKPKD melimpahkan sebagian kewenangannya kepada : a. g. Bagian Kesejahteraan Masyarakat sekretariat Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah untuk Belanja Bantuan Sosial yang anggarannya ditampung pada SKPKD. besaran jumlah uang yang dikelola. mengadakan ikatan/perjanjian kerjasama dengan pihak lain dalam batas anggaran yang telah ditetapkan. f. menyusun Rancangan DPA-SKPD. melakukan pengujian atas tagihan dan memerintahkan pembayaran. menandatangani SPM. b. d. menerbitkan surat pengesahan laporan pertanggungjawaban SKPD. h.

mengendalikan pelaksanaan kegiatan. (8) melakukan Permintaan atas Belanja dimaksud dengan menerbitkan SPP dan SPM mengelola Belanja sesuai kebutuhannya dengan Penatausahaan Pembukuan sesuai peraturan yang ada. (6) PPTK mempunyai tugas: a. mengawasi dikelolanya. melaksanakan kegiatan sesuai dengan petunjuk operasional dan yang berlaku. dan pertimbangan obyektif lainnya. c. PPTK bertanggung jawab kepada pejabat pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. dan/atau rentang kendali dan pertimbangan objektif lainnya.-13- Kuasa Pengguna Anggaran mempunyai tugas : a. dan /atau rentang kendali. e. mengajukan kebutuhan dana sesuai DPA-SKPD kepada pengguna bendahara pengeluaran. (4) Dalam hal PPTK mempunyai Sertifikat pengadaan barang dan jasa. (3) PPTK yang ditunjuk adalah pejabat struktural. lokasi. anggaran melalui ketentuan lainnya d. Pasal 14 (1) Penunjukan PPTK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1) berdasarkan pertimbangan kompetensi jabatan. (2) Penunjukan PPTK berdasarkan pertimbangan kompetensi jabatan. beban kerja. b. maka dapat merangkap sebagai Pejabat Pembuat Komitmen. menyiapkan perjanjian/kontrak dengan pihak penyedia barang/jasa. c. (2) Bagian Keenam Pejabat Penatausahaan Keuangan SKPD dan SKPKD Pasal 15 (1) Dalam rangka melaksanakan wewenang atas penggunaan anggaran yang dimuat dalam DPA-SKPD. beban kerja. dan Mempertanggungjawabkan Belanja yang Kuasa pengguna anggaran bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada pengguna anggaran/pengguna barang. Bagian Kelima Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan SKPD Pasal 13 (1) Pejabat Pengguna Anggaran/Pengguna Barang dan Kuasa Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Barang dalam melaksanakan program dan kegiatan menunjuk pejabat pada unit kerja SKPD selaku PPTK. anggaran kegiatan. anggaran kegiatan. lokasi. b. menyiapkan rencana dan jadwal pelaksanaan kegiatan. kepala SKPD menetapkan pejabat yang .

melakukan verifikasi harian atas penerimaan. d. meneliti kelengkapan/melakukan verifikasi SPP-LS Permintaan pembayaran belanja bunga. belanja bagi hasil. menyiapkan SPM. (3) Bendahara yang diusulkan adalah Pegawai Negeri Sipil yang jujur. melakukan verifikasi SPP. bendahara. menyiapkan SPM. . hibah. e. dan pembiayaan yang disampaikan oleh bendahara pengeluaran SKPKD. gaji dan perundang-undangan yang diajukan oleh bendahara tunjangan PNS.-14- melaksanakan fungsi tata usaha keuangan pada SKPD sebagai pejabat penatausahaan keuangan SKPD. subsidi. berperilaku baik. pengeluaran. (2)Bendahara Penerimaan/Pengeluaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak boleh merangkap sebagai pejabat pengelola keuangan maupun sebagai PPTK. SPP-GU. bantuan sosial. SPP-LS. bendahara. meneliti kelengkapan SPP-LS pengadaan barang dan jasa yang disampaikan oleh bendahara pengeluaran yang diketahui/disetujui oleh PPTK. dan diutamakan pernah mengikuti bimbingan/pelatihan penatausahaan keuangan. bantuan keuangan. subsidi. b. dan/atau PPTK. Bagian Ketujuh Bendahara Penerimaan dan Bendahara Pengeluaran Pasal 17 (1) Pada setiap SKPD ditunjuk 1 (satu) orang Bendahara Penerimaan dan atau 1 (satu) orang Bendahara Pengeluaran yang melaksanakan tata usaha keuangan . (2) PPK-SKPKD mempunyai tugas: a. dan pembiayaan. melaksanakan akuntansi SKPD. (2) Pejabat Penatausahaan Keuangan atau PPK-SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas : a. disiplin. meneliti kelengkapan SPP-UP. bantuan keuangan. SPP-TU. hibah. dan/atau PPTK Pasal 16 (1) PPK-SKPKD adalah pejabat yang melaksanakan fungsi tata usaha keuangan untuk belanja bunga. belanja bagi hasil. f. dan menyiapkan laporan keuangan SKPD (3) Pejabat penatausahaan keuangan SKPD tidak boleh merangkap sebagai pejabat yang bertugas melakukan pemungutan penerimaan daerah. serta penghasilan lainnya yang ditetapkan sesuai ketentuan c. bertanggung jawab. (3) PPK-SKPKD tidak boleh merangkap sebagai pejabat yang bertugas melakukan pemungutan penerimaan daerah. bantuan sosial. g. b.

Belanja daerah. kegiatan perdagangan. (9) Bendahara penerimaan dan bendahara pengeluaran secara fungsional bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada PPKD selaku BUD. merupakan hak daerah dalam satu tahun anggaran dan tidak perlu dibayar kembali oleh . Penyimpan Barang dan Pengurus Barang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak boleh merangkap sebagai pejabat pengelola keuangan maupun sebagai PPTK. BAB III STRUKTUR ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH Pasal 19 Struktur APBD terdiri dari: a. c. pekerjaan pemborongan dan penjualan jasa atau bertindak sebagai penjamin atas kegiatan/pekerjaan/penjualan tersebut. Penyimpan Barang dan Pengurus Barang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) adalah pejabat fungsional.-15(4) Bendahara Penerimaan/Pengeluaran bertanggung jawab terhadap pengurusan. Bendahara Penerimaan/Pengeluaran bertanggung jawab secara administratif kepada Pengguna Anggaran dan bertanggung jawab secara fungsional kepada BUD. sebagaimana (7) Bendahara penerimaan dan bendahara pengeluaran dilarang melakukan. (5) (6) Bendahara penerimaan dan bendahara pengeluaran dimaksud pada ayat (1) dan (2) adalah pejabat fungsional. baik secara langsung maupun tidak langsung. b. Pasal 20 (1) Pendapatan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 huruf a adalah semua penerimaan uang melalui rekening kas umum daerah yang menambah ekuitas dana. pengadministrasian. penyimpanan. Pasal 18 Penyimpan Barang dan Pengurus Barang (1) (2) (3) (4) (5) Pada setiap SKPD ditunjuk 1 (satu) orang Penyimpan Barang dan 1 (satu) orang Pengurus Barang yang melaksanakan tata usaha barang daerah. penyimpanan dan keamanan barang yang menjadi beban tugasnya. Pendapatan daerah. (8) Bendahara penerimaan dan/atau bendahara pengeluaran dalam melaksanakan tugasnya dapat dibantu oleh bendahara penerimaan pembantu dan/atau bendahara pengeluaran pembantu. dan Pembiayaan daerah. Penyimpan Barang dan Pengurus Barang bertanggung jawab terhadap pengurusan. pengadministrasian. (10) Bendahara Penerimaan dan Bendahara Pengeluaran serat pembantu Bendahara mendapatkan Tunjangan Kelancaran Tugas sesuai dengan Keputusan Bupati Tapanuli Tengah yang Anggarannya ditampung pada SKPD masing-masing. dan keamanan keuangan yang menjadi beban tugasnya. serta menyimpan uang pada suatu bank atau lembaga keuangan lainnya atas nama pribadi. Penyimpan Barang dan Pengurus Barang bertanggung jawab secara administratif kepada Pengguna Anggaran dan bertanggung jawab secara fungsional kepada BUD.

(2) Semua penerimaan yang diterima dalam rangka pelaksanaan tugas dan fungsi SKPD dan yang menggunakan fasilitas pemerintah daerah secara langsung/tidak langsung dicatat sebagai pendapatan daerah. merupakan kewajiban daerah dalam satu tahun anggaran dan tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh daerah.-16daerah. (3) Penerimaan daerah disetor secara bruto ke rekening Kas Umum Daerah. Pasal 22 (1) Semua uang daerah disimpan dalam rekening Kas Umum Daerah. (2) Rincian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikirim kepada SKPKD pada awal tahun anggaran untuk penyusunan Anggaran Kas. (3) Pembiayaan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 huruf c adalah semua transaksi keuangan untuk menutup defisit atau untuk memanfaatkan surplus. BAB IV PENGELOLAAN PENDAPATAN DAERAH Pasal 21 (1) Target penerimaan daerah selama 1 (satu) tahun anggaran dirinci sesuai dengan target masing-masing jenis dan obyek pendapatan. (2) Belanja daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 huruf b adalah semua pengeluaran dari rekening kas umum daerah yang mengurangi ekuitas dana. .

Pasal 24 (1) Setiap orang/pejabat yang bertugas menerima dan menyetorkan penerimaan daerah dilarang menyimpan uang dalam penguasaannya: a. komisi. (2)Bendahara penerimaan wajib menyetor seluruh penerimaannya ke rekening kas umum daerah selambat-lambatnya dalam waktu 24 jam. maka penerimaan tersebut dipindahbukukan sepenuhnya ke rekening Kas Umum Daerah paling lambat 1 (satu) bulan setelah penerimaannya. (5) Jasa giro. Pasal 23 (1) SKPD yang mengelola pendapatan daerah wajib melakukan intensifikasi dan ekstensifikasi untuk meningkatkan pendapatan. (2) Denda administrasi dan atau denda bunga atas keterlambatan kewajiban pembayaran penerimaan/pendapatan daerah menjadi pendapatan daerah pada tahun berjalan. lebih dari batas waktu yang telah ditetapkan. dan b.setelah penerimaannya ke rekening Kas Umum Daerah pada bank atau lembaga keuangan yang ditunjuk Bupati.-17- (4) Dalam hal terdapat adanya penerimaan daerah yang disalurkan melalui rekening Bupati. (6) Apabila penerimaan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) berupa uang harus disetor ke rekening Kas Umum Daerah. Pasal 26 SKPD dilarang melakukan pungutan selain dari yang ditetapkan dalam peraturan daerah. potongan harga atau penerimaan lainnya yang dapat dinilai dengan uang. (2) SKPD pengelola penerimaan/pendapatan dilarang melakukan penggunaan langsung dari pendapatan yang diterima untuk belanja daerah atau pengeluaran daerah lainnya. (7) Apabila penerimaan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) berupa barang menjadi milik daerah dan harus diinventarisasikan sebagai aset daerah. denda keterlambatan penyelesaian pekerjaan. atas nama pribadi pada suatu bank atau lembaga keuangan lainnya. rabat. (3) SKPD tidak diperkenankan mengadakan pungutan atau tambahan pungutan yang tidak tercantum dalam peraturan daerah dan atau peraturan perundangan yang berlaku. (3) Setiap penerimaan harus didukung oleh bukti yang lengkap atas setoran dimaksud. baik langsung maupun tidak langsung sebagai akibat penjualan dan atau pengadaan barang/jasa untuk daerah adalah hak daerah. Pasal 28 (1) Penerimaan SKPD yang merupakan penerimaan daerah tidak dapat dipergunakan langsung untuk pengeluaran. denda kelalaian. Pasal 27 SKPD yang mempunyai tugas memungut dan/atau menerima dan/atau kegiatannya berdampak pada penerimaan daerah wajib mengintensifkan pemungutan dan penerimaan tersebut. . Pasal 25 (1)Piutang penerimaan/pendapatan dan tunggakan Penerimaan/pendapatan daerah pada tahun sebelumnya menjadi penerimaan pada tahun berjalan.

Untuk pengembalian kelebihan penerimaan yang terjadi pada tahuntahun sebelumnya dibebankan pada rekening belanja tidak terduga. (4) (5) Penerbitan SPD didasarkan atas Peraturan Daerah tentang APBD dan DPA-SKPD yang telah ditetapkan. Pasal 29 (3) (1) Pengembalian atas kelebihan pajak. . (3) Untuk pengeluaran kas atas beban APBD terlebih dahulu diterbitkan SPD. Semua penerimaan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) apabila berbentuk uang harus segera disetor ke kas umum daerah dan berbentuk barang menjadi milik/aset daerah yang dicatat sebagai inventaris daerah. potongan atau penerimaan lain dengan nama dan dalam bentuk apa pun yang dapat dinilai dengan uang. (2) DPA-SKPD disusun berdasarkan Peraturan Daerah tentang APBD dan disahkan oleh PPKD digunakan sebagai dasar pelaksanaan anggaran oleh kepala SKPD selaku pengguna anggaran/pengguna barang. jasa giro atau penerimaan lain sebagai akibat penyimpanan dana anggaran pada bank serta penerimaan dari hasil pemanfaatan barang daerah atas kegiatan lainnya merupakan pendapatan daerah. baik secara langsung sebagai akibat dari penjualan. hibah. BAB V PENGELOLAAN BELANJA DAERAH Bagian Kesatu Pelaksanaan Belanja Pasal 30 (2) (1) Pelaksanaan belanja daerah dilaksanakan berdasarkan DPA. (3) Pengeluaran kas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak termasuk belanja yang bersifat mengikat dan belanja yang bersifat wajib. (7) Perubahan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dan ayat (6) hanya dapat dilakukan setelah mendapat persetujuan PPKD selaku BUD. (6)Perubahan anggaran kas per triwulan dapat dilakukan dengan memperhitungkan besaran SPD yang telah diterbitkan. Perubahan belanja hanya dapat dilakukan pada penjelasan atas rincian objek. rabat. asuransi dan/atau pengadaan barang dan jasa termasuk penerimaan bunga. Pasal 31 (1) Setiap pengeluaran harus didukung oleh bukti yang lengkap dan sah mengenai hak yang diperoleh oleh pihak yang menagih. (2) Pengeluaran kas yang mengakibatkan beban APBD tidak dapat dilakukan sebelum rancangan peraturan daerah tentang APBD ditetapkan dan ditempatkan dalam lembaran daerah. pengembalian tuntutan ganti rugi dan sejenisnya dilakukan dengan membebankan pada rekening penerimaan yang bersangkutan untuk pengembalian penerimaan yang terjadi dalam tahun yang sama. tukar menukar. retribusi.-18- (2) Komisi.

(4) Bendahara pengeluaran wajib menolak perintah bayar dari pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran apabila persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak dipenuhi. menguji ketersediaan dana yang bersangkutan. (2) Untuk kelancaran pelaksanaan tugas SKPD. meneliti kelengkapan perintah pembayaran yang diterbitkan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. b. d. Pembayaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan penerbitan SP2D oleh kuasa BUD. b. kuasa BUD berkewajiban untuk: a. . kepada pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran dapat diberikan uang persediaan yang dikelola oleh bendahara pengeluaran. menguji kebenaran perhitungan tagihan yang tercantum dalam perintah pembayaran. dan c. menolak pencairan dana. (3) Bendahara pengeluaran melaksanakan pembayaran dari uang persediaan yang dikelolanya setelah: a. Dalam rangka pelaksanaan pembayaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1). atau DPASKPD. meneliti kelengkapan perintah pembayaran yang diterbitkan oleh pengguna anggaran.-19- Pasal 32 Pembayaran atas beban APBD dapat dilakukan berdasarkan SPD. c. wajib menyetorkan seluruh penerimaan potongan dan pajak yang dipungutnya ke rekening Kas Negara pada bank pemerintah atau bank lain yang ditetapkan Menteri Keuangan sebagai bank persepsi atau pos giro dalam jangka waktu sesuai ketentuan perundang-undangan. dan e. apabila perintah pembayaran yang diterbitkan oleh pengguna anggaran tidak memenuhi persyaratan yang ditetapkan. Pasal 35 (1) (2) (3) Pelaksanaan pengeluaran atas beban APBD dilakukan berdasarkan SPM yang diterbitkan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. Pasal 34 Bendahara pengeluaran sebagai wajib pungut Pajak Penghasilan (PPh) dan pajak lainnya. Pasal 36 (1) Penerbitan SPM tidak boleh dilakukan sebelum barang dan/atau jasa diterima kecuali ditentukan lain dalam peraturan perundang-undangan. memerintahkan pencairan dana sebagai dasar pengeluaran daerah. menguji kebenaran perhitungan tagihan atas beban APBD yang tercantum dalam perintah pembayaran. atau dokumen lain yang dipersamakan dengan SPD. menguji ketersediaan dana yang bersangkutan.

belanja bantuan keuangan. belanja bagi hasil. dan jasa. kepala SKPD selaku pengguna anggaran dilarang menerbitkan SPM yang membebani tahun anggaran berkenaan. Pasal 40 (1) SKPKD melaksanakan belanja tidak langsung yang terdiri dari belanja pegawai. Pasal 38 Setelah tahun anggaran berakhir. Pasal 37 (6) (7) jawab secara pribadi atas Bupati dapat memberikan izin pembukaan rekening untuk keperluan pelaksanaan pengeluaran di lingkungan SKPD. dan belanja tidak terduga. tunjangan pimpinan dan anggota DPRD serta gaji dan tunjangan Bupati dan wakil Bupati serta penghasilan dan penerimaan lainnya yang ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan dianggarkan dalam belanja pegawai. belanja hibah. serta penghasilan lainnya yang diberikan kepada Pegawai Negeri Sipil yang ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Belanja tidak langsung yang dilaksanakan oleh SKPD hanya belanja pegawai (gaji). (2) Uang representasi. belanja bantuan sosial. (2) (3) Bagian Kedua Belanja Tidak Langsung Pasal 41 (1) Belanja pegawai merupakan belanja kompensasi dalam bentuk gaji. Tata cara pembukaan rekening ditetapkan dan diatur dengan Peraturan Bupati. jangka menengah. Pasal 42 Belanja bunga digunakan untuk menganggarkan pembayaran bunga utang yang dihitung atas kewajiban pokok utang berdasarkan perjanjian pinjaman jangka pendek. belanja bunga. belanja barang. SKPD melaksanakan belanja langsung yang terdiri dari belanja pegawai. Pasal 43 Belanja subsidi dianggarkan untuk bantuan biaya produksi kepada perusahaan/lembaga tertentu agar harga jual produksi/jasa yang dihasilkan dapat terjangkau oleh masyarakat banyak. belanja subsidi. Pasal 39 Pengguna Anggaran bertanggung jawab baik dari segi keuangan maupun dari segi fisik atas pelaksanaan anggaran pada SKPD yang menjadi tanggung jawabnya sebagaimana ditetapkan pada DPA-SKPD. serta belanja modal. . dan jangka panjang.-20- (5) Bendahara pengeluaran bertanggung pembayaran yang dilaksanakannya. tunjangan.

b. Belanja hibah diberikan berdasarkan pengajuan dari penerima hibah dan dilaksanakan melalui perjanjian hibah. Bantuan keuangan yang bersifat umum adalah bantuan yang belum ditentukan penggunaannya sedangkan bantuan keuangan yang bersifat khusus adalah bantuan yang telah ditetapkan penggunaannya. bencana sosial. barang. yang anggarannya tidak tersedia dalam tahun anggaran yang bersangkutan. Pasal 48 (1) Belanja tidak terduga dianggarkan untuk pengeluaran penanganan bencana alam. penetapan peraturan/keputusan bupati yang mendasari penggunaan belanja tidak terduga serta besaran belanja tidak terduga yang akan digunakan. c. Pelaksanaan belanja bantuan sosial dalam bentuk uang dianggarkan melalui SKPKD sedangkan dalam bentuk barang dilaksanakan oleh SKPD yang bersangkutan. Pembagian/penetapan besaran belanja bagi hasil kepada masing-masing desa ditetapkan dengan Keputusan Bupati. (2) (2) (3) (2) Pasal 47 (1) (2) Belanja bantuan keuangan digunakan untuk memberikan bantuan keuangan yang bersifat umum atau khusus kepada pemerintah desa. Pasal 46 (1) Belanja bagi hasil digunakan untuk menganggarkan dana bagi hasil yang bersumber dari pendapatan provinsi/daerah atau pendapatan tertentu kepada pemerintah desa sesuai dengan peraturan perundang-undangan.-21Pasal 44 (1) Belanja hibah digunakan untuk menganggarkan pemberian hibah dalam bentuk uang. dan atau jasa kepada kelompok masyarakat/perorangan yang secara spesifik telah ditetapkan peruntukannya. (4) Penggunaan belanja tidak terduga diberitahukan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah . kewenangan Pemerintah Daerah (3) (2) pengeluaran-pengeluaran yang sangat diperlukan berkaitan langsung dengan pelayanan masyarakat. penetapan pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran serta bendakara pada SKPD yang akan melaksanakan belanja tidak terduga. b. Pasal 45 (1) Belanja bantuan sosial digunakan untuk menganggarkan pemberian bantuan dalam bentuk uang dan atau barang kepada masyarakat yang bertujuan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pengeluaran dalam rangka penyelenggaraan sebagaimana dimaksud pada ayat(1) untuk: a. Pelaksanaan bantuan sosial diatur dengan Peraturan Bupati tersendiri. atau pengeluaran lainnya yang sangat diperlukan dalam rangka penyelenggaraan kewenangan pemerintah daerah. (3) Penggunaan belanja tidak terduga melalui tahapan: a. Pembagian/penetapan besaran belanja bantuan keuangan ditetapkan dengan Keputusan Bupati. pengembalian atas kelebihan penerimaan yang terjadi dalam tahun anggaran yang telah ditutup dan didukung dengan bukti-bukti yang sah. pertanggungjawaban penggunaan belanja tidak terduga disampaikan kepada PPKD setelah selesainya pelaksanaan kegiatan.

. Pengguna Anggaran atau Kuasa Pengguna Anggaran dapat membentuk Tim/Panitia bila dipandang perlu. Pasal 52 Pegawai yang telah menerima honorarium sebagai pelaksana kegiatan dan menjadi instruktur/narasumber pada kegiatan yang sama tidak dibenarkan menerima honorarium sebagai narasumber. Pasal 53 Bagi pegawai yang menjadi anggota tim pelaksana kegiatan atau tim lainnya dan sedang mengambil cuti atau melaksanakan diklat dalam jangka waktu lebih dari 20 (dua puluh) hari kerja dalam 1 (satu) bulan tidak diberikan honorarium pada bulan yang bersangkutan. c. belanja pegawai. dan c. Pembentukan Tim/Panitia sebagaimana dimaksud ayat (2) dapat melibatkan instansi terkait. Pasal 55 (1) Apabila dipandang perlu dalam pelaksanaan program/kegiatan dapat dibentuk Tim Pembina.-22paling lambat 1 (satu) bulan setelah penggunaan. Pasal 54 Pembinaan dan pelatihan bagi pegawai dan masyarakat dalam rangka pelaksanaan program dan kegiatan sedapat mungkin dilaksanakan oleh PNS pelaksana kegiatan namun demikian apabila dipandang perlu dapat mengundang narasumber dari luar termasuk dari akademisi. Panitia Pemeriksa/Penerima Barang atau Tim Bimbingan Teknis Kegiatan. dan d. serta penghasilan lainnya yang diberikan kepada Pegawai Negeri Sipil yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. b. Pengawas lapangan. Pasal 51 Pegawai/pelaksana kegiatan tidak dibenarkan menerima honorarium dari dua sumber dalam satu kegiatan. termasuk honorarium tenaga kontrak. b. dan tim pelaksana kegiatan. belanja barang dan jasa. belanja modal. (2) (3) (4) Untuk melaksanakan program/kegiatan. Tim/Panitia sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat terdiri dari : a. Bagian Ketiga Belanja Langsung Pasal 49 Belanja langsung terdiri dari : a. Tim Pelaksana/Penyelenggara. Panitia Pengadaan Barang dan Jasa. Pasal 50 Belanja pegawai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 huruf a digunakan untuk membiayai belanja kompensasi dalam bentuk gaji dan tunjangan.

makanan dan minuman. sedangkan pelaksanaannya dapat dianggarkan oleh SKPD yang bersangkutan. Pasal 58 Belanja perjalanan dinas dan luar daerah agar dibatasi baik jumlah personil maupun jumlah hari dan diutamakan pada kegiatan yang penting dalam mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi SKPD. pakaian kerja. pakaian khusus dan hari-hari tertentu. Panitia Pemeriksa/Penerima Barang dan Pekerjaan dibatasi dalam jumlah personil dan jumlah bulan sesuai kebutuhan dan beban tugas yang terukur secara wajar dan rasional. perawatan kendaraan bermotor. cetak/penggandaan. Kepala Kantor. Panitia Pengadaan Barang/Jasa. Pasal 59 (1) Perjalanan dinas keluar daerah bagi Asisten Sekretaris Daerah. pakaian dinas dan atributnya. Harga barang dan jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan batas tertinggi untuk tiap jenis barang dan jasa dalam melaksanakan belanja. seperti dalam bentuk tanah. sewa sarana mobilitas. perjalanan dinas. sewa rumah/gedung/gudang/parkir. Sekretaris Dewan. Pasal 56 (1) Belanja barang dan jasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 huruf b digunakan untuk pengeluaran pembelian/pengadaan barang yang nilai manfaatnya kurang dari 12 (duabelas) bulan dan/atau pemakaian jasa dalam melaksanakan program dan kegiatan pemerintahan daerah. irigasi dan jaringan. bahan/material. Kepala Badan. (2) Pasal 60 (1) (2) Pelaksanaan Belanja Daerah mengacu pada Standarisasi Harga Barang dan Jasa yang ditetapkan oleh Bupati. (2) Pembelian/pengadaan barang dan/atau pemakaian jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup belanja barang pakai habis. sewa alat berat. Pengawas Lapangan. perjalanan dinas pindah tugas. dan aset tetap lainnya serta dicatat sebagai aset daerah. Pasal 57 (1) Belanja modal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 huruf c digunakan untuk pengeluaran yang dilakukan dalam rangka pembelian/pengadaan atau pembangunan aset tetap berwujud yang mempunyai nilai manfaat lebih dari 12 (duabelas) bulan untuk digunakan dalam kegiatan pemerintahan.-23(5) Pembentukan Tim Pelaksana. (2) (3) Nilai pembelian/pengadaan atau pembangunan aset tetap berwujud sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang dianggarkan dalam belanja modal sebesar harga perolehan termasuk untuk honorarium panitia pengadaan dan administrasi pembelian/pembangunan untuk memperoleh setiap aset tetap. Untuk pelaksanaan pelelangan yang merupakan batas tertinggi adalah nilai keseluruhan barang dan jasa yang dilelangkan berdasarkan perhitungan harga standar. Camat dan Direktur RSUD dilaksanakan dengan Surat Perintah Tugas yang dikeluarkan oleh Sekretaris Daerah. Perjalanan dinas pada satuan kerja dilaksanakan dengan surat perintah tugas yang dikeluarkan oleh kepala SKPD. dan pemulangan pegawai. sewa perlengkapan dan peralatan kantor. peralatan dan mesin. gedung dan bangunan. Kepala Dinas. jalan. Belanja aset tidak berwujud seperti soft ware dan sejenisnya dicatat sebagai aset daerah. kecuali ditentukan lain oleh Bupati. premi asuransi. (3) . (4) Pelaksanaan belanja modal untuk yang bersifat kontraktual melalui pembayaran LS sedangkan untuk pendukungnya dapat melalui UP. jasa kantor.

kewajiban kepada pihak ketiga yang sampai dengan akhir tahun anggaran belum diselesaikan serta sisa dana kegiatan.-24(4) SKPD yang melakukan kegiatan/pengadaan Barang dan Jasa khusus yang belum diatur atau melebihi standar sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Apabila terjadi gejolak perekonomian yang berakibat kenaikan harga-harga barang dan jasa perlu diambil langkah-langkah sebagai berikut: a. mekanisme pengadaan barang dan jasa serta pengelolaannya diatur dengan Peraturan Bupati tersendiri. segala tindakan penyesuaian volume dan penyesuaian spesifikasi teknis dan fungsi sebagaimana dimaksud pada huruf a dan huruf b dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. untuk pekerjaan fisik konstruksi dapat dilakukan penyesuaian volume dan penyesuaian spesifikasi teknis dan fungsi dengan persyaratan teknis dan fungsi tetap dipenuhi. Pasal 65 Pembayaran pokok utang digunakan untuk menganggarkan kewajiban pokok utang yang dihitung berdasarkan perjanjian pinjaman jangka pendek. penghematan belanja. (7) Prosedur. dan jangka panjang. Apabila terjadi kebijakan Pemerintah mengenai ketetapan Harga Barang dan Jasa yang berlaku secara nasional dapat langsung menyesuaikan. dan c. penerimaan lain-lain penerimaan yang sah. b. . jangka menengah. tata cara. (5) (6) BAB VI PENGELOLAAN PEMBIAYAAN Pasal 61 Sisa lebih perhitungan anggaran tahun sebelumnya mencakup pelampauan penerimaan PAD. Pasal 62 Penerimaan piutang digunakan untuk menganggarkan penerimaan yang bersumber dari pelunasan piutang pihak ketiga dan penerimaan lainnya. penerimaan dana perimbangan. Pasal 63 Penerimaan kembali pemberian pinjaman dicatat sebesar pemberian pokok pinjaman/penguatan modal bergulir sedangkan pendapatan bunga dicatat sebagai PAD. Pasal 64 Pengeluaran pembiayaan digunakan untuk menganggarkan penyertaan modal baik berupa investasi permanen maupun investasi non permanen. untuk pengadaan barang dan jasa dapat dilakukan penyesuaian volume dan penyesuaian spesifikasi teknis dan fungsi. wajib mengajukan permohonan izin tertulis kepada Bupati melalui Sekretaris Daerah yang dilampiri alasan dan nilai harga barang/jasa yang dimohonkan dengan tembusan dikirimkan kepada kepala DPPKAD dan Kepala Bagian Administrasi Pembangunan. Pasal 66 (1) Pengelolaan anggaran pembiayaan daerah dilakukan oleh SKPKD selaku PPKD.

(2) Penerimaan pinjaman dalam bentuk mata uang asing dibukukan dalam nilai rupiah. (2) Penjualan Kekayaan Daerah sebagaiman dimaksud pada ayat(1) dilakukan berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku (3) Penjualan Kekayan Daerah disetorkan pada Rekening Kas Umum Daerah dan dicatat pada Kode Rekening Pendapatan yang ada pada APBD. Pasal 69 (1) Penerimaan pinjaman daerah didasarkan pada jumlah pinjaman yang akan diterima dalam tahun anggaran yang bersangkutan sesuai dengan yang ditetapkan dalam perjanjian pinjaman berkenaan. . Pasal 67 (1) Sebelum masuk ke Rekening Kas Umum Daerah. untuk kesesuaian pengembalian pokok pinjaman dan kewajiban lainnya yang menjadi tanggungan pihak peminjam. Pasal 70 Penerimaan kembali pemberian pinjaman daerah didasarkan pada perjanjian pemberian pinjaman daerah sebelumnya.-25- (2) Semua penerimaan dan pengeluaran pembiayaan daerah dilakukan melalui Rekening Kas Umum Daerah. dana-dana khusus diluar DAU dimasukkan dahulu kedalam Rekening tersendiri yang ditetapkan oleh Bupati. Pasal 72 Pembayaran pokok utang didasarkan pada jumlah yang harus dibayarkan sesuai dengan perjanjian pinjaman dan pelaksanaannya merupakan prioritas utama dari seluruh kewajiban pemerintah daerah yang harus diselesaikan dalam tahun anggaran yang berkenaan. (2) Setelah dilakukan Verifikasi atas jumlah dana yang tertampung pada Rekening sebagaimana dimaksud pada ayat (1) selanjutnya dilakukan pemindahan ke Rekening Kas Umum Daerah. (4) Pencatatan penerimaan atas penjualan kekayaan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada bukti penerimaan yang sah. Pasal 71 Penyertaan modal pemerintah daerah dapat dilaksanakan apabila jumlah yang akan disertakan dalam tahun anggaran berkenaan telah ditetapkan dalam Peraturan Daerah tentang penyertaan modal daerah berkenaan. Pasal 68 (1) Penjualan kekayaan milik daerah yang dipisahkan dilakukan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.

Perencanaan sebagaimana dimaksud pada Ayat (2) berbentuk Kebijakan Umum APBD dan Prioroitas Plafon Anggaran Sementara yang selanjutnya disingkat KUA PPAS. Kebijakan Umum APBD dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara disusun oleh Tim Anggaran Pemerintah Daerah bersama SKPD Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah. meneliti kelengkapan perintah pembayaran/pemindahbukuan yang diterbitkan oleh PPKD.-26- Pasal 73 Pemberian pinjaman daerah kepada pihak lain berdasarkan keputusan Bupati atas persetujuan DPRD. Pasal 74 Pelaksanaan pengeluaran pembiayaan penyertaan modal pemerintah daerah. c. d. APBD disusun berdasarkan perencanaan. menguji ketersediaan dana yang bersangkutan. BAB VII PERENCANAAN. menolak pencairan dana. Pasal 77 (1). pembayaran pokok utang dan pemberian pinjaman daerah dilakukan berdasarkan SPM yang diterbitkan oleh PPKD Pasal 75 Dalam rangka pelaksanaan pengeluaran pembiayaan. (2). (3). Setelah KUA PPAS selesai disusun oleh Bappeda maka Bupati bersama Unsur Dewan Perwakilan Rakyat Daerah mengadakan Rapat Paripurna untuk membahas hasil Penyusunan KUA PPAS tersebut. (2). PENYUSUNAN DAN PENETAPAN APBD Bagian Pertama Perencanaan APBD Pasal 76 (1). kuasa BUD berkewajiban untuk: a. Dalam hal Perencanaan APBD Bupati menetapkan Tim Anggaran Pemerintah Daerah. (3). b. . apabila perintah pembayaran atas pengeluaran pembiayaan tidak memenuhi persyaratan yang ditetapkan. (4). Sebagaimana maksud dari ayat (3) Bupati bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah menandatangani Nota Kesepakatan Bersama penetapan KUA PPAS. menguji kebenaran perhitungan pengeluaran pembiayaan yang tercantum dalam perintah pembayaran. Perencanaan yang dimaksud pada Ayat (1) merupakan Kebijakan yang diputuskan bersama antara Bupati dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah.

Setelah diterimanya hasil evaluasi dari gubernur sebagaimana tersebut pada Pasal 8 maka dilakukan Penyempurnaan oleh Bupati bersama Tim Anggaran DPRD. Pasal 79 Bupati bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah menandatangani Nota kesepakatan Bersama tentang Rancangan Perda APBD dan Rancangan Peraturan Bupati tentang Penjabaran APBD.-27- Bagian Kedua Penyusunan APBD Pasal 78 (1). Penetapan APBD Pasal 82 (1). (3). Pasal 80 Dalam jangka waktu 3 (tiga) hari Rancangan Perda APBD dan Rancangan Peraturan Bupati tentang Penjabaran APBD disampaikan kepada Gubernur Sumatera Utara untuk dilakukan Evaluasi. Hasil Penyempurnaan sebagaimana dimasud pada ayat (1) ditetapkan oleh Pimpinan DPRD. (3). KUA PPAS hasil kesepakatan sebagaimana dimaksud pada Pasal 15 Ayat (3) diteruskan kepada Dinas Pendapatan. Tim Anggaran Pemerintah Daerah bersama Staf Teknis Penyusun pada Dinas Pendapatan Pengelola Keuangan Dan Kekayaan Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah meminta kepada seluruh SKPD menyampaikan Rancangan RKA setiap Kegiatannya sebagai dasar Penyusunan Rancangan Perda APBD dan Rancangan Peraturan Bupati tentang Penjabaran APBD. (2). Keputusan Pimpinan DPRD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dijadikan sebagai dasar penetapan Peraturan Daerah tentang APBD. (4). Pasal 81 Gubernur Sumater a Utara menetapkan Keputusan Hasil Evaluasi atas rancangan Peraturan Daerah tentang APBD dan Rancangan Peraturan Bupati tentang Penjabaran APBD palin lama 15 (lima belas) hari. (2). Bupati melalui Tim Anggaran Pemerintah Daerah mengajukan Rancangan Perda APBD dan Rancangan Peraturan Bupati tentang Penjabaran APBD kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah untuk dibahas dalam sidang Paripurna. . Berdasarkan Penetapan DPRD maka Bupati menetapkan Rancangan Perda tentang APBD dan Rancangan Peraturan Bupati tentang Penjabaran APBD menjadi Peraturan Daerah tentang APBD dan Peraturan Bupati tentang Penjabaran APBD. Pengeloala Keuangan dan Kekayaan Daerah untuk Penyusunan Rancangan Perda tentang APBD dan Rancangan Peraturan Bupati tentang Penjabaran APBD.

(2) Pelaksanaan belanja daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). tidak mewah. memberitahukan kepada semua kepala SKPD agar menyusun dan menyampaikan rancangan DPA-SKPD. (2) Rancangan DPA-SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan/atau yang tidak cukup tersedia anggarannya dalam APBD. program. Bagian Kedua Penyiapan Dokumen Pelaksanaan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah Pasal 84 (1) PPKD paling lambat 3 (tiga) hari kerja setelah APBD ditetapkan.-28- BAB VIII PELAKSANAAN APBD Bagian Pertama Asas Umum Pelaksanaan APBD Pasal 83 (1) SKPD dilarang melakukan pengeluaran atas beban anggaran belanja daerah untuk tujuan yang tidak tersedia anggarannya. DPA-SKPD yang telah disahkan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) disampaikan kepada kepala SKPD yang bersangkutan selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja sejak tanggal disahkan. (2) Verifikasi atas rancangan DPA-SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). efisien dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. kegiatan. dan rencana penarikan dana tiap-tiap satuan kerja serta pendapatan yang diperkirakan. DPA-SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (3) digunakan sebagai dasar pelaksanaan anggaran oleh kepala SKPD selaku pengguna anggaran/barang Kode Rekening Penganggaran (5) . diselesaikan paling lambat 15 (lima belas) hari kerja sejak ditetapkannya peraturan tentang penjabaran APBD. anggaran yang disediakan untuk mencapai sasaran tersebut. PPKD mengesahkan rancangan DPA-SKPD dengan persetujuan sekretaris daerah. Pasal 85 (1) Tim anggaran pemerintah daerah melakukan verifikasi rancangan DPASKPD bersama-sama dengan kepala SKPD yang bersangkutan. efektif. harus didasarkan pada prinsip hemat. (3) (4) Berdasarkan hasil verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Kepala SKPD menyerahkan rancangan DPA-SKPD yang telah disusunnnya kepada PPKD paling lambat 6 (enam) hari kerja setelah pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan. merinci sasaran yang hendak dicapai. fungsi.

Untuk tertib penganggaran kode dihimpun menjadi satu kesatuan kode anggaran yang disebut kode rekening. dibahas bersama DPRD dengan pemerintah daerah dalam rangka penyusunan prakiraan perubahan atas APBD tahun anggaran yang bersangkutan. Daftar nama dan kode rekening serta nama dan kode program dan kegiatan yang terlampir dalam Peraturan Bupati ini merupakan daftar yang harus dipedomani oleh setiap SKPD Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah dalam penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran. Setiap program. (2). Urutan susunan kode rekening APBD dimulai dari kode urusan pemerintahan daerah. kode jenis. Penambahan nama dan kode rekening serta nama dan kode program dan kegiatan yang belum ada dalam lampiran Peraturan Bupati ini oleh SKPD harus terlebih dahulu dikoordinasikan dan dikonsultasikan dengan Dinas Pendapatan. kelompok. (4). b. kode organisasi. kode program. (6). perkembangan yang tidak sesuai dengan asumsi kebijakan umum APBD. Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada DPRD selambat-lambatnya pada awal bulan Agustus tahun anggaran yang bersangkutan. keadaan yang menyebabkan harus dilakukan pergeseran anggaran . kode jenis. kode akun. untuk dibahas bersama antara DPRD dan pemerintah daerah. kode obyek dan kode rincian obyek. (3). apabila terjadi: a. kode obyek dan kode rincian obyek. Lampiran sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Bagian Kedua Perubahan APBD Pasal 88 (1)Penyesuaian APBD dengam perkembangan dan/atau perubahan keadaan. kegiatan. Pengelola Keuangan dan Kekayaan Daerah selaku SKPKD. jenis.-29- Pasal 86 (1). obyek dan rincian obyek yang dicantumkan dalam APBD menggunakan kode program. BAB IX LAPORAN REALISASI SEMESTER PERTAMA APBD DAN PERUBAHAN APBD Bagian Pertama Laporan Realisasi Semester Pertama APBD Pasal 87 (1) (2) Pemerintah daerah menyusun laporan realisasi semester pertama APBD dan prognosis untuk 6 (enam) bulan berikutnya. kode kegiatan. kode kegiatan. kode kelompok. (5). kode kelompok. (2) dan (3) merupakan daftar nama dan kode rekening yang pemilihannya disesuaikan dengan kebutuhan objektif dan nyata sesuai karakteristik daerah Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah.

d. tahun (2)Dalam keadaan darurat. bukan merupakan kegiatan normal dari aktivitas pemerintah daerah dan tidak dapat diprediksikan sebelumnya. BAB X PENATAUSAHAAN KEUANGAN DAERAH Bagian Pertama Asas Umum Penatausahaan Keuangan Daerah Pasal 92 . yang selanjutnya diusulkan dalam rancangan perubahan Penjabaran APBD dengan persetujuan DPRD dan disampaikan dalam laporan realisasi anggaran. dan memiliki dampak yang signifikan terhadap anggaran dalam rangka pemulihan yang disebabkan oleh keadaan darurat. pemerintah daerah dapat melakukan pengeluaran yang belum tersedia anggarannya. selambat-lambatnya 2 (dua) bulan sebelum berakhirnya tahun anggaran. Pasal 90 (1) Pemerintah daerah mengajukan rancangan peraturan daerah tentang perubahan APBD tahun anggaran yang bersangkutan untuk mendapatkan persetujuan DPRD sebelum tahun anggaran yang bersangkutan berakhir. Pasal 89 (1) Perubahan APBD hanya dapat dilakukan 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun anggaran. keadaan yang menyebabkan saldo anggaran lebih sebelumnya harus digunakan untuk tahun berjalan. antar kegiatan. berada di luar kendali dan pengaruh pemerintah daerah. (3)Keadaan darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d sekurang-kurangnya memenuhi kriteria sebagai berikut: a. Pasal 91 Proses evaluasi dan penetapan rancangan peraturan daerah tentang perubahan APBD dan rancangan peraturan Bupati tentang penjabaran perubahan APBD menjadi peraturan daerah dan peraturan Bupati berlaku ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 sampai dengan pasal 19. d. c. tidak diharapkan terjadi secara berulang. dan e. keadaan darurat. kecuali dalam keadaan luar biasa. keadaan luar biasa.-30- antar unit organisasi. c. dan antarjenis belanja. (2) Keadaan luar biasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 adalah keadaan yang menyebabkan estimasi penerimaan dan/atau pengeluaran dalam APBD mengalami kenaikan atau penurunan lebih besar dari 50% (lima puluh persen). b. (2) Persetujuan DPRD terhadap rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Bagian Kedua Pelaksanaan Penatausahaan Keuangan Daerah Pasal 93 (2) (1) Untuk pelaksanaan APBD. (2) Penetapan pejabat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sebelum dimulainya tahun anggaran berkenaan Pasal 94 Bendahara penerimaan dan/atau bendahara pengeluaran dalam melaksanakan tugas-tugas kebendaharaan pada satuan kerja dalam SKPD dapat dibantu oleh pembantu bendahara penerimaan dan/atau pembantu bendahara pengeluaran sesuai kebutuhan dengan keputusan kepala SKPD. pejabat yang diberi wewenang menandatangani SPM. c. Bupati menetapkan: a. Pejabat yang menandatangani dan/atau mengesahkan dokumen yang berkaitan dengan surat bukti yang menjadi dasar pengeluaran atas beban APBD bertanggung jawab atas kebenaran material dan akibat yang timbul dari penggunaan surat bukti dimaksud. b. Pasal 95 (1) PPKD dalam rangka manajemen kas menerbitkan SPD dengan mempertimbangkan penjadwalan pembayaran pelaksanaan program dan kegiatan yang dimuat dalam DPA-SKPD. wajib menyelenggarakan penatausahaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.-31- (1) Pengguna anggaran / kuasa pengguna anggaran bendahara penerimaan/ pengeluaran dan orang atau badan yang menerima atau menguasai uang / barang / kekayaan daerah. SPD yang diterbitkan atas dasar permintaan SKPD diterbitkan berdasarkan per Program dan Kegiatan. SPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disiapkan oleh kuasa BUD untuk ditandatangani oleh PPKD. pejabat yang diberi wewenang menandatangani SP2D. pejabat yang diberi wewenang menandatangani SPD. pejabat yang diberi wewenang mengesahkan surat pertanggungjawaban (SPJ). bendahara penerimaan/pengeluaran. SPD yang diterbitkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikeluarkan dengan pembagian Triwulan dan tertuang dalam DPA. Bagian Ketiga Penatausahaan Bendahara Penerimaan Pasal 96 (2) (3) (4) (1) (2) Penyetoran penerimaan pendapatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (3) dilakukan dengan uang tunai. dan f. Penyetoran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ke rekening kas umum . pejabat lainnya yang ditetapkan dalam rangka pelaksanaan APBD. e. d.

Pengajuan SPP-LS dilampiri dengan kelengkapan persyaratan ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. SPP-UP.-32- daerah pada bank pemerintah yang ditunjuk. PPTK mengajukan SPP-LS melalui pejabat penatausahaan keuangan pada SKPD kepada pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran paling lambat 3 (tiga) hari kerja setelah diterimanya tagihan dari pihak ketiga. Bendahara penerimaan pada SKPD wajib menyampaikan laporan pertanggungjawaban penerimaan kepada PPKD paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya. atau surat berharga yang dalam penguasaannya lebih dari 1 (satu) hari kerja dan/atau atas nama pribadi pada bank atau giro pos. Batas jumlah pengajuan SPP-TU sebagaimana dimaksud pada ayat (6) harus mendapat persetujuan dari PPKD dengan memperhatikan rincian kebutuhan dan waktu penggunaan.Belanja Modal) atau 3/12 dari (Belanja Langsung . yang (4).Belanja Modal) . SPP-UP sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dilampiri dengan daftar rincian rencana penggunaan dana. Permintaan pembayaran dilakukan melalui penerbitan SPP-LS. (2) (3) Bagian Keempat Penatausahaan Bendahara Pengeluaran Pasal 98 (1). (5). dan SPP-TU.Belanja Tidak Langsung . cek. (3) Bendahara penerimaan dilarang menyimpan uang. Pasal 99 Batas Besaran Pemberian Uang Persediaan per triwulan dapat dihitung dengan formula sebagai berikut : 3/12 dari (Belanja Daerah . pengeluaran mengajukan SPP-GU dan/atau SPP-TU. dianggap sah setelah kuasa BUD menerima nota kredit. Untuk penggantian dan penambahan uang persediaan. bendahara (7). PPKD melakukan verifikasi. SPP-GU. (6). (3). Pasal 97 (1) Bendahara penerimaan pada SKPD wajib menyelenggarakan pembukuan terhadap seluruh penerimaan dan penyetoran atas penerimaan yang menjadi tanggung jawabnya. Bendahara pengeluaran melalui pejabat penatausahaan keuangan pada SKPD mengajukan SPP-UP kepada pengguna anggaran setinggi-tingginya untuk keperluan satu bulan. (2). evaluasi dan analisis atas laporan pertanggungjawaban penerimaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2).

Sistem akuntansi Pemerintah Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan peraturan Bupati mengacu pada peraturan daerah tentang pengelolaan keuangan daerah. (3). dan/atau b. (4). tidak didukung oleh kelengkapan dokumen sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Pasal 103 Bupati berdasarkan standar akuntansi pemerintah menetapkan Peraturan . Pemerintah daerah menyusun sistem akuntansi pemerintah daerah yang mengacu kepada standar akuntansi pemerintahan. ketentuan peraturan perundang-undangan Pasal 101 (4). SP2D yang diterbitkan dan ditandatangani oleh Kuasa BUD adalah dokumen yang digunakan untuk mencairkan dana ke bank yang ditunjuk tanpa perlu lagi menggunakan billyet giro. Bagian Kelima Akuntansi Keuangan Daerah Pasal 102 (1). (2). (4) Dalam hal kuasa BUD menolak permintaan pembayaran sebagaimana dimaksud pada ayat (3). SPM dikembalikan paling lama 1 (satu) hari kerja setelah diterima. pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran dapat mengajukan tambahan uang persediaan kepada kuasa BUD dengan menerbitkan SPM-TU. Dalam hal uang persediaan tidak mencukupi kebutuhan. Kuasa BUD berhak menolak permintaan pembayaran yang diajukan pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran bilamana: a. Pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran mengajukan permintaan uang persediaan kepada kuasa BUD dengan menerbitkan SPM-UP. paling lama 2 (dua) hari kerja sejak SPM diterima. Pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran mengajukan penggantian uang persediaan yang telah digunakan kepada kuasa BUD. anggaran yang ditujukan kepada bank (2). Pelaksanaan pembayaran melalui SPM-UP dan SPM-LS berpedoman pada (1). Penerbitan SP2D oleh Kuasa BUD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dengan menerbitkan SPM-GU yang dilampiri bukti asli pertanggungjawaban atas penggunaan uang persediaan sebelumnya. (3). (2). pengeluaran tersebut melampaui pagu. Kuasa BUD menerbitkan SP2D atas SPM yang diterima dari pengguna anggaran/kuasa pengguna operasional mitra kerjanya.-33- Pasal 100 (1).

(2). c. dan d. aset. Penyelenggaraan akuntansi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan pencatatan/penatausahaan atas transaksi keuangan di lingkungan SKPD dan menyiapkan laporan keuangan sehubungan dengan pelaksanaan anggaran dan barang yang dikelolanya. Laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilampiri dengan laporan ikhtisar realisasi kinerja dan laporan keuangan badan usaha milik daerah/perusahaan daerah. Kepala SKPD selaku pengguna anggaran menyelenggarakan akuntansi atas transaksi keuangan. Laporan keuangan pemerintah daerah sebagaimana dimaksud pada ayat . Kepala SKPD selaku pengguna anggaran/pengguna barang memberikan pernyataan bahwa pengelolaan APBD yang menjadi tanggung jawabnya telah diselenggarakan berdasarkan sistem pengendalian intern yang memadai. Catatan Atas Laporan Keuangan.-34- Bupati tentang kebijakan akuntansi. (5). d. neraca. Sistem akuntansi sebagaimana dimaksud pada berdasarkan prinsip pengendalian intern sesuai peraturan perundang-undangan. prosedur akuntansi pengeluaran kas. b. Sistem akuntansi pemerintah daerah paling sedikit meliputi: prosedur akuntansi penerimaan kas. PPKD menyusun laporan keuangan pemerintah daerah terdiri dari: a. Neraca. (3). termasuk transaksi pembiayaan dan perhitungannya. (2). c. ayat (1) disusun dengan ketentuan BAB XI PERTANGGUNGJAWABAN PELAKSANAAN APBD Pasal 105 (1). sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. (4). b. Pasal 104 (1). (3). Laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri dari laporan (4). utang. Laporan Realisasi Anggaran. dan ekuitas dana. prosedur akuntansi selain kas. dan ekuitas dana. a. yang berada dalam tanggung jawabnya. Laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disusun dan disajikan sesuai dengan Peraturan Pemerintah tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. prosedur akuntansi aset. utang. realisasi anggaran. Pasal 106 (1). dan catatan atas laporan keuangan yang disampaikan kepada Bupati melalui PPKD selambat-lambatnya 2 (dua) bulan setelah tahun anggaran berakhir. aset. (2). PPKD menyelenggarakan akuntansi atas transaksi keuangan. Laporan Arus Kas.

Pasal 108 (1). Pasal 111 . (2). Pasal 107 dalam rangka memenuhi Bupati menyampaikan rancangan Peraturan Daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD kepada DPRD berupa laporan keuangan yang telah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) paling lambat 6 (enam) bulan setelah tahun anggaran berakhir. (6). rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 65 diajukan kepada DPRD. (2) (3) Pemerintah daerah wajib melaporkan posisi surplus/defisit APBD kepada Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan setiap semester dalam tahun anggaran berkenaan. Laporan keuangan pelaksanaan APBD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63 ayat (2) disampaikan kepada BPK selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan setelah tahun anggaran berakhir. Apabila sampai batas waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) BPK belum menyampaikan laporan hasil pemeriksaan. Defisit APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditutup dengan pembiayaan netto.-35- (2) disusun berdasarkan laporan keuangan SKPD. BAB XII PENGENDALIAN DEFISIT DAN PENGGUNAAN SURPLUS APBD Bagian Pertama Pengendalian Defisit APBD Pasal 110 (1) Dalam hal APBD diperkirakan defisit ditetapkan sumber-sumber pembiayaan untuk menutupi defisit tersebut dalam Peraturan Daerah tentang APBD. Laporan keuangan pemerintah daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan kepada Bupati pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. Pemeriksaan laporan keuangan oleh BPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselesaikan selambat-lambatnya 2 (dua) bulan setelah menerima laporan keuangan dari Pemerintah Daerah. (3). Pasal 109 Bupati memberikan tanggapan dan melakukan penyesuaian terhadap laporan keuangan berdasarkan hasil pemeriksaan BPK atas laporan keuangan pemerintah daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 147 ayat (1).

dan rekening (3). pencairan dana cadangan. . b. Saldo rekening penerimaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) setiap akhir hari kerja wajib disetorkan seluruhnya ke rekening kas umum daerah. Dalam pelaksanaan operasional penerimaan dan pengeluaran daerah. Jumlah dana yang disediakan pada rekening pengeluaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disesuaikan dengan rencana pengeluaran untuk membiayai kegiatan pemerintahan yang telah ditetapkan dalam APBD. Rekening penerimaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) digunakan (4). (2). (6). penggunaannya ditetapkan dalam Peraturan Daerah tentang APBD. Rekening pengeluaran pada bank sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diisi dengan dana yang bersumber dari rekening kas umum daerah. PPKD membuka rekening kas umum daerah pada bank yang ditentukan oleh Bupati. c. BAB XIII KEKAYAAN DAN KEWAJIBAN Bagian Pertama Pengelolaan Kas Umum Daerah Pasal 114 Semua transaksi penerimaan dan pengeluaran daerah dilaksanakan melalui rekening kas umum daerah Pasal 115 (1). sisa lebih perhitungan anggaran (SiLPA) daerah tahun sebelumnya. Bagian Kedua Penggunaan Surplus APBD Pasal 112 Dalam hal APBD diperkirakan surplus. d. Dalam rangka pengelolaan uang daerah. dan/atau e. hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan. untuk menampung penerimaan daerah setiap hari. penerimaan pinjaman. dan/atau pendanaan belanja peningkatan jaminan sosial. kuasa BUD dapat membuka rekening penerimaan pengeluaran pada bank yang ditetapkan oleh Bupati. penerimaan kembali pemberian pinjaman. (5).-36- Defisit APBD dapat ditutup dari sumber pembiayaan: a. pembentukan dana cadangan. Pasal 113 Penggunaan surplus APBD diutamakan untuk pengurangan utang.

belanja. Penyelesaian piutang daerah sebagai akibat hubungan keperdataan dapat dilakukan melalui perdamaian. Pasal 119 (1). Pemerintah daerah berhak memperoleh bunga dan/atau jasa giro atas dana yang disimpan pada bank umum berdasarkan tingkat suku bunga dan/atau jasa giro yang berlaku.-37- Pasal 116 (1).00 (lima miliar dengan persetujuan DPRD untuk jumlah lebih dari Rp. Setiap pejabat yang diberi kuasa untuk mengelola pendapatan.000. (3). (4). ketentuan yang berlaku pada bank umum yang (2). Bupati untuk jumlah sampai dengan Rp.000. kecuali mengenai piutang daerah yang cara penyelesaiannya dilakukan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. menyangkut piutang pemerintah daerah. Piutang daerah yang tidak dapat diselesaikan seluruhnya dan tepat waktu. Bupati sepanjang a.000. diselesaikan menurut peraturan perundang-undangan. Pemerintah daerah mempunyai hak mendahului atas piutang jenis tertentu sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (2). daerah. (2). . dan kekayaan daerah wajib mengusahakan agar setiap piutang daerah diselesaikan seluruhnya dengan tepat waktu. ditetapkan oleh : rupiah). (2). Biaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebankan pada belanja Bagian Kedua Pengelolaan Piutang Daerah Pasal 118 (1). 5. Penghapusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). b. Pasal 117 (1). kecuali mengenai piutang daerah yang cara penyelesaiannya sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Bunga dan/atau jasa giro yang diperoleh pemerintah daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan pendapatan asli daerah. Piutang daerah dapat dihapuskan secara mutlak atau bersyarat dari pembukuan sesuai dengan ketentuan mengenai penghapusan piutang negara dan daerah. Biaya sehubungan dengan pelayanan yang diberikan oleh bank umum didasarkan pada bersangkutan.

konsultasi.-38- 5. Pemberian bimbingan. Investasi jangka panjang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 159. dan konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup perencanaan dan penyusunan APBD. (3). dan/atau manfaat lainnya. bimbingan. supervisi.00 (lima miliar rupiah). Pasal 124 (1). (3). Bagian Ketiga Pengelolaan Investasi Daerah Pasal 120 Pemerintah daerah dapat melakukan investasi jangka pendek dan jangka panjang untuk memperoleh manfaat ekonomi. pertanggungjawaban keuangan daerah. Pasal 122 (1). sosial. (2).000. penatausahaan.000.000. (2). dan pertanggungjawaban APBD yang dilaksanakan secara berkala dan/atau . Investasi non permanen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dimaksudkan untuk dimiliki secara tidak berkelanjutan atau ada niat untuk diperjualbelikan atau ditarik kembali. pemantauan dan evaluasi. serta kelembagaan pengelolaan keuangan daerah. Pasal 121 (1). supervisi. pelatihan. Investasi jangka pendek sebagaimana dimaksud dalam Pasal 159 merupakan investasi yang dapat segera dicairkan dan dimaksudkan untuk dimiliki selama 12 (dua belas) bulan atau kurang. pendidikan. pelaksanaan. Pemberian pedoman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup perencanaan dan penyusunan APBD. (2). merupakan investasi yang dimaksudkan untuk dimiliki lebih dari 12 (dua belas) bulan. Pembinaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 81 meliputi pemberian pedoman. serta penelitian dan pengembangan. Investasi jangka panjang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 79 ayat (2) terdiri dari investasi permanen dan non permanen. Investasi permanen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dimaksudkan untuk dimiliki secara berkelanjutan tanpa ada niat untuk diperjualbelikan atau tidak ditarik kembali. BAB XIV PEMBINAAN DAN PENGAWASAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH Bagian Pertama Pembinaan dan Pengawasan Pasal 123 Bupati melakukan pembinaan dan pengawasan pengelolaan keuangan daerah kepada SKPD yang dikoordinasikan oleh Sekretaris Daerah.

Bendahara. atau pejabat lain yang karena perbuatannya melanggar hukum atau melalaikan kewajiban yang dibebankan kepadanya secara langsung merugikan keuangan daerah. dan akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah. dan Pegawai Negeri Sipil Daerah. baik secara menyeluruh kepada seluruh SKPD maupun kepada SKPD tertentu sesuai dengan kebutuhan. Bagian Kedua Pengendalian Intern Pasal 126 (1) Dalam rangka meningkatkan kinerja. Pasal 125 Pengawasan pengelolaan keuangan daerah berpedoman pada ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 129 (2) (3) . (4). BAB XV PENYELESAIAN KERUGIAN DAERAH Pasal 128 (1) Setiap kerugian daerah yang disebabkan oleh tindakan melanggar hukum atau kelalaian seseorang harus segera diselesaikan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. transparansi.yang berlaku. setelah mengetahui bahwa dalam SKPD yang bersangkutan terjadi kerugian akibat perbuatan dari pihak manapun. Bagian Ketiga Pemeriksaan Ekstern Pasal 127 Pemeriksaan pengelolaan dan pertanggungjawaban Keuangan Daerah dilakukan oleh BPK sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pendidikan dan pelatihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan secara berkala bagi kepala SKPD. Bupati mengatur dan menyelenggarakan sistem pengendalian intern di lingkungan pemerintahan daerah yang dipimpinnya. pegawai negeri bukan bendahara. Kepala SKPD dapat segera melakukan tuntutan ganti rugi. wajib mengganti kerugian tersebut.-39- sewaktu-waktu. perangkat daerah. (2) Pengaturan dan penyelenggaraan sistem pengendalian intern sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berpedoman pada ketentuan peraturan perundang-undangan.

terbatas pada kekayaan yang dikelola atau diperolehnya. pegawai negeri bukan bendahara. Putusan pidana atas kerugian daerah terhadap bendahara. pegawai negeri bukan bendahara. atau pejabat lain yang digunakan penyelenggaraan tugas pemerintahan. dalam bukan negeri dalam (2). Pasal 131 (1). atau pejabat lain yang bersangkutan. atau pejabat lain yang bersangkutan diketahui melarikan diri atau meninggal dunia.-40- (1) Kerugian daerah wajib dilaporkan oleh atasan langsung atau kepala SKPD kepada Bupati dan diberitahukan kepada BPK selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja setelah kerugian daerah itu diketahui. Bendahara. atau sejak bendahara. Bupati segera mengeluarkan surat keputusan pembebanan penggantian kerugian sementara kepada yang bersangkutan. kepada bendahara. Ketentuan penyelesaian kerugian daerah dalam peraturan pemerintah ini berlaku pula untuk pengelola perusahaan daerah dan badan-badan lain yang menyelenggarakan pengelolaan keuangan daerah. (2). yang berasal dari bendahara. Pasal 130 (2) (3) (1). Ketentuan penyelesaian kerugian daerah sebagaimana diatur peraturan pemerintah ini berlaku pula untuk uang dan/atau barang milik daerah. atau pejabat lain yang bersangkutan. Jika surat keterangan tanggung jawab mutlak tidak mungkin diperoleh atau tidak dapat menjamin pengembalian kerugian daerah. atau meninggal dunia. pegawai negeri bukan bendahara dan pejabat lain tidak membebaskan yang bersangkutan . yang berada dalam penguasaan bendahara. atau pejabat lain yang nyata-nyata melanggar hukum atau melalaikan kewajibannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 204 ayat (2) segera dimintakan surat pernyataan kesanggupan dan/atau pengakuan bahwa kerugian tersebut menjadi tanggung jawabnya dan bersedia mengganti kerugian daerah dimaksud. penuntutan dan penagihan terhadapnya beralih kepada pengampu/yang memperoleh hak/ahli waris. Dalam hal bendahara. sepanjang tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan tersendiri. pegawai negeri bukan bendahara. pegawai negeri bukan bendahara. Tanggung jawab pengampu/yang memperoleh hak/ahli waris untuk membayar ganti kerugian daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi hapus apabila dalam waktu 3 (tiga) tahun sejak keputusan pengadilan yang menetapkan pengampuan kepada bendahara. Segera setelah kerugian daerah tersebut diketahui. pegawai negeri bukan bendahara. melarikan diri. dan pejabat lain yang telah ditetapkan untuk mengganti kerugian administratif dan/atau sanksi pidana. Pasal 132 (1). pengampu/yang memperoleh hak/ahli waris tidak diberi tahu oleh pejabat yang berwenang mengenai adanya kerugian daerah. pegawai negeri bukan bendahara. pegawai bukan bendahara. daerah dapat dikenai sanksi (2). atau pejabat lain yang dikenai tuntutan ganti kerugian daerah berada dalam pengampuan.

Pasal 135 Pengenaan ganti kerugian daerah terhadap pegawai negeri bukan bendahara ditetapkan oleh Bupati. menjadi kedaluwarsa jika dalam waktu 5 (lima) tahun sejak diketahuinya kerugian tersebut atau dalam waktu 8 (delapan) tahun sejak terjadinya kerugian tidak dilakukan penuntutan ganti rugi terhadap yang bersangkutan. atau pejabat lain untuk membayar ganti rugi. bantuan pemerintah dan bantuan Pemerintah Daerah. Pasal 134 (1) (2) Pengenaan ganti kerugian daerah terhadap bendahara ditetapkan oleh BPK.-41- dari tuntutan ganti rugi. BPK menindaklanjutinya sesuai dengan peraturan perundang-undangan. pegawai negeri bukan bendahara.. BAB XVI KEUANGAN DESA Bagian Pertama Alokasi Anggaran Pasal 137 (1) Penyelenggaraan urusan pemerintahan desa yang menjadi kewenangan desa didanai dari anggaran pendapatan dan belanja desa. Desa adalah pemegang kekuasaan (2) Dalam melaksanakan kekuasaannya sebagaimana . Pasal 133 Kewajiban bendahara. Apabila dalam pemeriksaan kerugian daerah ditemukan unsur pidana. Penyelenggaraan urusan pemerintah daerah yang diselenggarakan oleh pemerintah desa didanai dari anggaran pendapatan dan belanja daerah yang ditampung pada Anggaran Bagian Pemerintahan Umum pada Sekretariat Daerah Kabupaten tapanuli Tengah Bagian Kedua Pengelolaan Pasal 138 (1) (2) Kepala pengelolaan Keuangan Desa. Pasal 136 Ketentuan lebih lanjut tentang tata cara tuntutan ganti kerugian daerah diatur dengan Peraturan Daerah dan berpedoman pada peraturan perundangundangan.

-42- dimaksud pada ayat (1) Kepala Desa dapat melimpahkan sebagian atau seluruh kekuasaannya yang berupa perencanaan. penatausahaan. pelaporan kepada perangkat desa. . Pasal 144 Agar setiap orang mengetahuinya. Pasal 139 Ketentuan lebih lanjut mengenai pengelolaan keuangan desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 96 ayat (1) diatur dengan peraturan desa. BAB XVIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 142 Pada saat berlakunya Peraturan Bupati ini. Pasal 140 Pedoman pengelolaan keuangan desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 96 ayat (1) diatur dengan Peraturan Bupati. dicabut dan dinyatakan tidak berlaku lagi. memerintahkan pengundangan Peraturan Bupati ini dengan penempatannya dalam Berita Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah. BAB XVII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 141 Semua Pedoman Administrasi Penatausahaan Keuangan dari Perencanaan sampai dengan Pertanggungjawaban APBD tertuang dalam Lampiran Peraturan ini dalam bentuk Sistem dan Prosedur Penatausahaan Keuangan Daerah dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Bupati ini. Pasal 143 Peraturan Bupati ini mulai berlaku sejak tanggal diundangkan. pelaksanaan. Peraturan Bupati Tapanuli Tengah Nomor 34 Tahun 2008 tentang Sistem dan Prosedur Pengelolaan Keuangan Daerah di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah Tahun Anggaran 2008.

SEKRETARIS DAERAH LUMBANTOBING Drs. 2011 BUPATI TAPANULI TENGAH ttd TUANI Diundangkan di Pandan pada tanggal Mei 2011 Plt. USMAN BATUBARA Berita Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah Nomor 4 Seri E .-43- Ditetapkan di Pandan pada tanggal.

Pasal 102 Peraturan Bupati ini mulai berlaku sejak ditetapkan. BAB XIV KETENTUAN PENUTUP Pasal 101 Peraturan Bupati ini berlaku untuk Tahun Anggaran 2008. memerintahkan pengundangan Peraturan Bupati ini dengan penempatannya dalam Berita Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah. Agar setiap orang mengetahuinya.-44- Lampiran Peraturan ini dalam bentuk Sistem dan Prosedur Penatausahaan Keuangan Daerah dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Bupati ini. Ditetapkan di Pandan pada tanggal. 11 Agustus 2008 BUPATI TAPANULI TENGAH dto TUANI Diundangkan di Pandan pada tanggal 13 Agustus 2008 SEKRETARIS DAERAH LUMBANTOBING ..

-45- BAHARUDDIN MANIK Berita Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah Nomor 35 Seri A .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful