P. 1
Pasal-pasal Sisdur 2011 17 Maret

Pasal-pasal Sisdur 2011 17 Maret

|Views: 219|Likes:
Published by Indra San

More info:

Published by: Indra San on Sep 19, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/08/2012

pdf

text

original

Sections

  • Pasal 2
  • Pasal 3
  • Pasal 4
  • Pasal 5
  • Pasal 6
  • Pasal 7
  • Pasal 9
  • Pasal 10
  • Pasal 11
  • Pasal 12
  • Pasal 13
  • Pasal 14
  • Pasal 15
  • Pasal 16
  • Pasal 18
  • Pasal 19
  • Pasal 20
  • Pasal 21
  • Pasal 22
  • Pasal 23
  • Pasal 24
  • Pasal 25
  • Pasal 26
  • Pasal 27
  • Pasal 28
  • Pasal 29
  • Pasal 30
  • Pasal 31
  • Pasal 32
  • Pasal 34
  • Pasal 35
  • Pasal 36
  • Pasal 37
  • Pasal 38
  • Pasal 39
  • Pasal 40
  • Pasal 41
  • Pasal 42
  • Pasal 43
  • Pasal 44
  • Pasal 45
  • Pasal 46
  • Pasal 47
  • Pasal 48
  • Pasal 49
  • Pasal 50
  • Pasal 51
  • Pasal 52
  • Pasal 53
  • Pasal 54
  • Pasal 55
  • Pasal 56
  • Pasal 57
  • Pasal 58
  • Pasal 59
  • Pasal 60
  • Pasal 61
  • Pasal 62
  • Pasal 63
  • Pasal 64
  • Pasal 65
  • Pasal 66
  • Pasal 67
  • Pasal 68
  • Pasal 69
  • Pasal 70
  • Pasal 71
  • Pasal 72
  • Pasal 73
  • Pasal 74
  • Pasal 75
  • Pasal 76
  • Pasal 77
  • Pasal 79
  • Pasal 80
  • Pasal 81
  • Pasal 83
  • Pasal 84
  • Pasal 85
  • Pasal 86
  • Pasal 87
  • Pasal 88
  • Pasal 89
  • Pasal 90
  • Pasal 91
  • Pasal 92
  • Pasal 93
  • Pasal 94
  • Pasal 95
  • Pasal 96
  • Pasal 97
  • Pasal 98
  • Pasal 99
  • Pasal 100
  • Pasal 101
  • Pasal 102
  • Pasal 103
  • Pasal 104
  • Pasal 105
  • Pasal 106
  • Pasal 107
  • Pasal 108
  • Pasal 109
  • Pasal 110
  • Pasal 111
  • Pasal 112
  • Pasal 113
  • Pasal 114
  • Pasal 115
  • Pasal 116
  • Pasal 117
  • Pasal 118
  • Pasal 119
  • Pasal 120
  • Pasal 121
  • Pasal 122
  • Pasal 123
  • Pasal 124
  • Pasal 125
  • Pasal 126
  • Pasal 128
  • Pasal 129
  • Pasal 130
  • Pasal 131
  • Pasal 132
  • Pasal 133
  • Pasal 134
  • Pasal 135
  • Pasal 136
  • Pasal 137
  • Pasal 139
  • Pasal 140
  • Pasal 141
  • Pasal 142
  • Pasal 143
  • Pasal 144

PERATURAN BUPATI TAPANULI TENGAH NOMOR : TAHUN 2011

TENTANG

SISTEM DAN PROSEDUR PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN TAPANULI TENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TAPANULI TENGAH,
Menimbang

: a. bahwa untuk memenuhi Pasal 330 Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 dalam rangka Pembinaan dan Pengembangan Pengelolaan Keuangan Daerah dalam hal Penatausahaan Keuangan Daerah di lingkungan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah, dipandang perlu menetapkan Sistem dan Prosedur Pengelolaan Keuangan Daerah; b. bahwa berdasarkan pertimbangan huruf “a” diatas, perlu ditetapkan dengan Peraturan Bupati tentang Sistem dan Prosedur Pengelolaan Keuangan Daerah di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah. : 1. Undang-Undang Nomor 7 Drt Tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah Otonom Kabupaten-kabupaten dalam Lingkungan Daerah Propinsi Sumatera Utara ( Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1956 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Nomor 109) ; 2. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3851) ; 3. Undang–Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 246, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4048 ) ; 4. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286) ; 5. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355) ; 6. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389) ;Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan

Mengingat

-2-

Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4400) ; 7. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4400) ;
8. Undang-Undang

Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah dua kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844) ;

9.

Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438) ;

10. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akutansi Pemerintahan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4503); 11. Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah ( Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 136, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4574 ) ; 12. Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan ( Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 137, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4575 ) ; 13. Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2005 tentang Sistem Informasi Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 138, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4576) ; 14. Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2005 tentang Hibah Kepada Daerah ( Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 139 ,Tambahan Lembaran Negara Nomor 4577 ) ; 15. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4578) ; 16. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4593) ; 17. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Laporan

-3-

Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah ( Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 25, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4614) ; 18. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Propinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Republik Indonesia Nomor 4737) 19. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah ; 20. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 37 Tahun 2010 tentang Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2011 ; 21. Peraturan Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah Nomor 25 Tahun 2007 tentang Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Daerah dan Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah ; 22. Peraturan Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah Nomor 26 Tahun 2007 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas-dinas Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah ; 23. Peraturan Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah Nomor 27 Tahun 2007 Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah ; 24. Peraturan Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah Nomor 13 Tahun 2008 tentang Pokok-pokok Pengelolaan Keuangan Daerah ; 25. Peraturan Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah Nomor 1 Tahun 2011 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah Tahun Anggaran 2011 ; 26. Peraturan Bupati Tapanuli Tengah Nomor 1 Tahun 2011 tentang Penjabaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah Tahun Anggaran 2011. MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN BUPATI TENTANG SISTEM DAN PROSEDUR PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN TAPANULI TENGAH TAHUN ANGGARAN 2011 BAB I KETENTUAN UMUM Bagian Pertama Pengertian Pasal 1 Dalam Peraturan Bupati ini yang dimaksud dengan :

-4-

1. Daerah adalah Kabupaten Tapanuli Tengah.
2. 3.

Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah Pemerintah Kabupaten adalah Bupati Tapanuli Tengah dan Perangkat Daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintah Daerah.

4. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah selanjutnya disingkat DPRD adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah yang merupakan Lembaga Perwakilan Rakyat Daerah sebagai Unsur Penyelenggara Pemerintah Daerah. 5. Keuangan Daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan Pemerintah Daerah yang dapat dinilai dengan uang termasuk di dalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah tersebut. 6. Peraturan Daerah adalah peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh Bupati dengan persetujuan bersama DPRD. 7. Pengelolaan Keuangan Daerah adalah keseluruhan kegiatan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, pertanggung jawaban, dan pengawasaan keuangan daerah.
8.

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, selanjutnya disingkat APBD adalah rencana keuangan tahunan pemerintah daerah yang dibahas dan disetujui bersama oleh Pemerintah Daerah dan DPRD, dan ditetapkan dengan peraturan daerah.

9.

Satuan Kerja Perangkat Daerah yang selanjutnya disingkat SKPD adalah perangkat daerah pada pemerintah daerah selaku pengguna anggaran/pengguna barang. Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah yang selanjutnya disebut SKPKD adalah perangkat daerah pada pemerintah daerah selaku pengguna anggaran/pengguna barang, yang juga melaksanakan pengelolaan keuangan daerah. Organisasi adalah unsur Pemerintah Daerah yang terdiri dari DPRD, Bupati/Wakil Bupati dan Satuan Kerja Perangkat Daerah. Dinas Pendapatan, Pengelola Keuangan dan Kekayaan Daerah yang selanjutnya disingkat DPPKKD adalah adalaha Satuan Kerja Perangkat Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah selaku SKPKD. Pemegang Kekuasaan Keuangan Daerah adalah Bupati yang karena jabatannya mempunyai kewenangan menyelenggarakan keseluruhan pengelolaan keuangan daerah. Pejabat Pengelola Keuangan Daerah yang selanjutnya disingkat PPKD adalah kepala satuan kerja pengelola keuangan daerah yang selanjutnya disebut dengan kepala SKPKD yang mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan APBD dan bertindak sebagai bendahara umum daerah. Bendahara Umum Daerah yang selanjutnya disingkat BUD adalah PPKD yang bertindak dalam kapasitas sebagai bendahara umum daerah. Pengguna Anggaran adalah jabatan pemegang kewenangan penggunaan anggaran untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsi SKPD yang dipimpinnya. Pengguna Barang adalah pejabat pemegang kewenangan penggunaan barang milik daerah. Kuasa Bendahara Umum Daerah yang selanjutnya disingkat kuasa BUD adalah pejabat yang diberi kuasa untuk melaksanakan sebagian tugas BUD.

10.

11. 12.

13.

14.

15. 16. 17. 18.

Fungsi adalah perwujudan tugas kepemerintahan di bidang tertentu yang dilaksanakan dalam rangka mencapai tujuan pembangunan nasional. Bendahara pengeluaran adalah pejabat fungsional yang ditunjuk menerima. 29. Kuasa Pengguna Anggaran adalah pejabat yang diberi kuasa untuk melaksanakan sebagian tugas dan fungsi SKPD. 26. 20. memberdayakan. Urusan Pemerintahan adalah fungsi-fungsi pemerintahan yang menjadi hak dan kewajiban setiap tingkatan dan/atau susunan pemerintahan untuk mengatur dan mengurus fungsi-fungsi tersebut yang menjadi kewenangannya dalam rangka melindungi.-5- 19. 21. 31. 25. 28. Kegiatan adalah bagian dari program yang dilaksanakan oleh satu atau lebih unit kerja pada SKPD sebagai bagian dari pencapaian sasaran terukur pada suatu program dan terdiri dari sekumpulan tindakan pengerahan sumber daya baik yang berupa personil (sumber daya manusia). melayani. 33. . Pejabat Penatausahaan Keuangan SKPD yang selanjutnya disingkat PPK-SKPD adalah pejabat yang melaksanakan fungsi tata usaha keuangan pada SKPD. menatausahakan. membayarkan. dan mensejahterakan masyarakat. dan mempertanggungjawabkan uang pendapatan daerah dalam rangka pelaksanaan APBD pada SKPD. Penganggaran Terpadu (unified budgeting) adalah penyusunan rencana keuangan tahunan yang dilakukan secara terintegrasi untuk seluruh jenis belanja guna melaksanakan kegiatan pemerintah yang didasarkan pada prinsip pencapaian efisiensi alokasi dana. Tim Anggaran Pemerintahan Daerah yang selanjutnya disingkat TAPD adalah tim yang dibentuk dengan keputusan Bupati dan dipimpin oleh sekretaris daerah yang mempunyai tugas menyiapkan serta melaksanakan kebijakan Bupati dalam rangka penyusunan APBD yang anggotanya terdiri dari pejabat perencanaan daerah. menyimpan. 24. menyimpan. Entitas pelaporan adalah unit pemerintahan yang terdiri atas satu atau lebih entitas akuntansi yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan wajib menyampaikan laporan pertanggungjawaban berupa laporan keuangan. PPKD dan pejabat lainnya sesuai dengan kebutuhan. 32. 30. Rencana Kerja dan Anggaran SKPD yang selanjutnya disingkat RKA-SKPD adalah dokumen perencanaan dan penganggaran yang berisi rencana pendapatan. Bendahara Penerimaan adalah pejabat fungsional yang ditunjuk untuk menerima. dan mempertanggungjawabkan uang untuk keperluan belanja daerah dalam rangka pelaksanaan APBD pada SKPD. Unit Kerja adalah bagian dari SKPD yang melaksanakan satu atau beberapa program. barang modal termasuk 22. 27. Entitas Akuntansi adalah unit pemerintahan pengguna anggaran/pengguna barang dan oleh karenanya wajib menyelenggarakan akuntansi dan menyusun laporan keuangan untuk digabungkan pada entitas pelaporan. 23. menyetorkan. Pejabat Pelaksanaan Teknis Kegiatan yang selanjutnya disingkat PPTK adalah pejabat pada unit kerja SKPD yang melaksanakan satu atau beberapa kegiatan dari suatu program sesuai dengan bidang tugasnya. rencana belanja program dan kegiatan SKPD serta rencana pembiayaan sebagai dasar penyusunan APBD. Program adalah penjabaran kebijakan SKPD dalam bentuk upaya yang berisi satu atau lebih kegiatan dengan menggunakan sumber daya yang disediakan untuk mencapai hasil yang terukur sesuai dengan misi SKPD. menatausahakan.

baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya. 39. 35. 47. 41. . Sasaran (target) adalah hasil yang diharapkan dari suatu program atau keluaran yang diharapkan dari suatu kegiatan. Defisit Anggaran Daerah adalah selisih kurang antara pendapatan daerah dan belanja daerah. dana. 34. Utang Daerah adalah jumlah uang yang wajib dibayar pemerintah daerah dan/atau kewajiban pemerintah daerah yang dapat dinilai dengan uang berdasarkan peraturan perundang-undangan. Rekening Kas Umum Daerah adalah rekening tempat penyimpanan uang daerah yang ditentukan oleh Bupati untuk menampung seluruh penerimaan daerah dan digunakan untuk membayar seluruh pengeluaran daerah pada bank yang ditetapkan. Pendapatan Daerah adalah hak pemerintah daerah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih. Belanja Daerah adalah kewajiban pemerintah daerah yang diakui sebagai pengurang nilai kekakayaan bersih. atau kombinasi dari beberapa atau kesemua jenis sumber daya tersebut sebagai masukan (input) untuk menghasilkan keluaran (output) dalam bentuk barang/jasa. 42. Penerimaan Daerah adalah uang yang masuk ke kas daerah. 46. perjanjian. Piutang Daerah adalah jumlah uang yang wajib dibayar kepada pemerintah daerah dan/atau hak pemerintah daerah yang dapat dinilai dengan uang sebagai akibat perjanjian atau akibat lainnya berdasarkan peraturan perundangundangan atau akibat lainnya yang sah. 49. 37. Dana Cadangan adalah dana yang disisihkan guna mendanai kegiatan yang memerlukan dana relatif besar yang tidak dapat dipenuhi dalam satu tahun anggaran. Pinjaman Daerah adalah semua transaksi yang mengakibatkan daerah menerima sejumlah uang atau menerima manfaat yang bernilai uang dari pihak lain sehingga daerah dibebani kewajiban untuk membayar kembali. Pengeluaran Daerah adalah uang yang keluar dari kas daerah. Sisa Lebih Perhitungan Anggaran yang selanjutnya disingkat SILPA adalah selisih lebih realisasi penerimaan dan pengeluaran anggaran selama satu periode anggaran. Kas Umum Daerah adalah tempat penyimpanan uang daerah yang ditentukan oleh Bupati untuk menampung seluruh penerimaan daerah dan digunakan untuk membayar seluruh pengeluaran daerah. 40. 48. Pembiayaan Daerah adalah semua penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali.-6- peralatan dan teknologi. Keluaran (output) adalah barang atau jasa yang dihasilkan oleh kegiatan yang dilaksanakan untuk mendukung pencapaian sasaran atau tujuan program dari kebijakan. 44. 45. Hasil (outcome) adalah segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran dari kegiatan-kegiatan dalam satu program. 50. 51. 38. 43. Investasi adalah penggunaan aset untuk memperoleh manfaat ekonomis 36. atau berdasarkan sebab yang lainnya yang sah. Surplus Anggaran Daerah adalah selisih lebih antara pendapatan daerah dan belanja daerah.

61. dan pembiayaan yang digunakan sebagai dasar pelaksanaan perubahan anggaran oleh pengguna anggaran. 53. 63. dan waktu pembayaran tertentu yang dokumennya disiapkan oleh PPTK. Anggaran Kas adalah dokumen perkiraan arus kas masuk yang bersumber dari penerimaan dan perkiraan arus kas keluar untuk mengatur ketersediaan dana yang cukup guna mendanai pelaksanaan kegiatan dalam setiap periode. belanja. peruntukan. 57. 59. Surat Permintaan Pembayaran yang selanjutnya disingkat SPP adalah dokumen yang diterbitkan oleh pejabat yang bertanggung jawab atas pelaksanaan kegiatan/bendahara pengeluaran untuk mengajukan permintaan pembayaran. Surat Pemerintah Membayar Ganti Uang Persediaan yang selanjutnya disingkat SPM-GU adalah dokumen yang diterbitkan oleh pengguna anggaran/kuasa penggunaan anggaran untuk penerbitan SP2D atas beban pengeluaran DPA-SKPD yang dananya dipergunakan untuk mengganti uang persediaan yang telah dibelanjakan. royalti. 56. 60. SPP Langsung yang selanjutnya disingkat SPP-LS adalah dokumen yang diajukan oleh bendahara pengeluaran untuk permintaan pembayaran langsung kepada pihak ketiga atas dasar perjanjian kontrak kerja atau surat perintah kerja lainnya dan pembayaran gaji dengan jumlah. SPP Uang Persediaan yang selanjutnya disingkat SPP-UP adalah dokumen yang diajukan oleh bendahara pengeluaran untuk permintaan uang muka kerja yang bersifat pengisian kembali (revolving) yang tidak dapat dilakukan dengan pembayaran langsung. manfaat sosial. 55. deviden.-7- seperti bunga. 54. penerima. 62. Surat Perintah Membayar yang selanjutnya disingkat SPM adalah dokumen yang digunakan/diterbitkan oleh pengguna anggaran untuk penerbitan SP2D atas beban pengeluaran DPA-SKPD. Surat Perintah Membayar Uang Persediaan yang selanjutnya disingkat SPMUP adalah dokumen yang diterbitkan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran untuk penerbitan SP2D atas beban-beban pengeluaran DPA-SKPD yang dipergunakan sebagai uang persediaan untuk mendanai kegiatan. Dokumen Pelaksanaan Perubahan Anggaran SKPD yang selanjutnya disingkat DPPA-SKPD adalah dokumen yang memuat perubahan pendapatan. Dokumen Pelaksanaan Anggaran SKPD yang selanjutnya disingkat DPA-SKPD adalah dokumen yang memuat pendapatan. SPP Tambahan Uang Persediaan yang selanjutnya disingkat SPP-TU adalah dokumen yang diajukan oleh bendahara pengeluaran untuk permintaan tambahan uang persediaan guna melaksanakan kegiatan SKPD yang bersifat mendesak dan tidak dapat digunakan untuk pembayaran langsung dan uang persediaan. Surat Penyediaan Dana yang selanjutnya disingkat SPD adalah dokumen yang menyatakan tersedianya dana untuk melaksanakan kegiatan sebagai dasar penerbitan SPP. . 52. dan/atau manfaat lainnya sehingga dapat meningkatkan kemampuan pemerintah dalam rangka pelayanan kepada masyarakat. belanja dan pembiayaan yang digunakan sebagai dasar pelaksanaan oleh pengguna anggaran. 58. SPP Ganti Uang Persediaan yang selanjutnya disingkat SPP-GU adalah dokumen yang diajukan oleh bendahara pengeluaran untuk permintaan pengganti uang persediaan yang tidak dapat dilakukan dengan pembayaran langsung.

b. maupun pembiayaan harus pada peraturan perundangan yang berlaku. (3) Pergeseran antar objek belanja dalam jenis belanja berkenaan dilakukan atas persetujuan . c. Daerah Bagian Ketiga Prinsip-Prinsip Anggaran Pasal 3 (1) Pelaksanaan anggaran baik pendapatan.-8- 64. Surat Pertanggungjawaban yang selanjutnya disingkat SPJ adalah berbagai Dokumen yang digunakan sebagai bukti Pertanggungjawaban dari Belanja Suatu Kegiatan. rasional yang (4) Tidak dibenarkan melaksanakan kegiatan yang belum tersedia atau tidak mencukupi kredit anggarannya dalam APBD. (2) Pergeseran antar rincian objek belanja dapat dilakukan atas persetujuan PPKD. belanja. karena kebutuhan dananya melebihi dari jumlah batas pagu uang persediaan yang telah ditetapkan sesuai dengan ketentuan. Surat Perintah Pencairan Dana yang selanjut disingkat SP2D adalah dokumen yang digunakan sebagai dasar pencairan dana yang diterbitkan oleh BUD berdasarkan SPM. Daerah. Surat Perintah Membayar Langsung yang selanjutnya disingkat SPM-LS adalah dokumen yang diterbitkan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran untuk penerbitan SP2D atas beban pengeluaran DPA-SKPD kepada pihak ketiga. (3) Belanja yang dianggarkan merupakan batas tertinggi pengeluaran belanja. 67. 66. e. mengacu 65. tata cara Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah penatausahaan Akuntansi Daerah pelaporan Keuangan Daerah pengawasan dan Pertanggungjawaban Keuangan (2) Pendapatan yang direncanakan merupakan perkiraan yang terukur secara dapat dicapai dari setiap sumber pendapatan. Surat Perintah Membayar Tambahan Uang Persediaan yang selanjutnya disingkat SPM-TU adalah dokumen yang diterbitkan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran untuk penerbitan SP2D atas beban pengeluaran DPA-SKPD. d. Bagian Kedua Ruang Lingkup Pasal 2 Pengelolaan keuangan daerah yang diatur dalam Peraturan Daerah ini meliputi: a. Pasal 4 (1) SKPD tidak dibenarkan melakukan penggeseran anggaran.

dan sesuai dengan kebutuhan teknis yang dipersyaratkan. e. Bupati adalah adalah Pemegang Kekuasaaan tertinggi Pengelolaan Keuangan Daerah yang mewakili Pemerintah dalam menguasai seluruh Kekayaan Pemerintah Daerah yang dipisahkan (2). Pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah dimaksud pada ayat (1) mempunyai kewenangan: a.-9Sekretaris Daerah. Selaku Pemegang Kekuasaan Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). g. (3). d. terarah. (5) Perubahan atas penjelasan rincian objek belanja dapat dilakukan dengan persetujuan PPKD. dana yang tersedia dimanfaatkan dengan sebaik mungkin untuk dapat menghasilkan manfaat bagi peningkatan kesejahteraan dan pelayanan kepada masyarakat BAB II KEKUASAAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH Bagian Pertama Pemegang Kekuasaan Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 6 (1). (4) Pergeseran anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) dilakukan dengan cara mengubah Peraturan Bupati tentang Penjabaran APBD sebagai dasar pelaksanaan. Sekretaris Daerah selaku Koordinator Pengelolaan Keuangan Daerah b. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengelolaan utang dan piutang daerah. tidak mewah. b. efektif. sebagaimana b. c. menetapkan kebijakan tentang pengelolaan barang daerah. menetapkan kuasa pengguna anggaran/barang. dan h. Pelimpahan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditetapkan dengan . Bupati melimpahkan sebagian atau seluruh kekuasaannya kepada : a. f. dan terkendali sesuai dengan rencana program/kegiatan serta fungsi setiap organisasi perangkat daerah. menetapkan kebijakan tentang pelaksanaan APBD. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengelolaan barang milik daerah. menetapkan bendahara penerimaan dan/atau bendahara pengeluaran. (4). Bagian Keempat Efisiensi dan Efektifitas Anggaran Pasal 5 Pelaksanaan atas belanja daerah didasarkan pada prinsip-prinsip: a. yang selanjutnya dianggarkan dalam Peraturan Daerah tentang Perubahan APBD. Kepala SKPKD selaku PPKD c. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengujian atas tagihan dan memerintahkan pembayaran. Kepala SKPD selaku Pengguna Anggaran/Barang Daerah. c. hemat. efisien. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pemungutan penerimaan da erah.

dan e. (3) Koordinator pengelolaan keuangan daerah bertanggung jawab atas pelaksanaan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) kepada Bupati. mengesahkan DPA-SKPD. melaksanakan tugas lainnya berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh Bupati. c. menyusun laporan keuangan daerah dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. menguji dan yang menerima atau mengeluarkan uang. tugas-tugas pejabat perencana daerah. dan f. menyusun rancangan APBD dan rancangan Perubahan APBD. penyusunan Raperda APBD. a. melaksanakan pemungutan pendapatan daerah yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah. menyiapkan pedoman pengelolaan barang daerah. d. dan f. PPKD. e. melaksanakan tugas-tugas koordinasi pengelolaan keuangan daerah lainnya berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh Bupati. b. Perubahan APBD. b. b. b. d. melaksanakan fungsi Bendahara Umum Daerah. Sekretaris Daerah selaku Koordinator Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) huruf a mempunyai tugas koordinasi di bidang: a. memimpin Tim Anggaran Pemerintah Daerah. penyusunan dan pelaksanaan kebijakan pengelolaan barang daerah. Selain tugas-tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) koordinator pengelolaan keuangan daerah juga mempunyai tugas: a.-10- keputusan Bupati berdasarkan prinsip pemisahan kewenangan antara yang memerintahkan. Bagian Ketiga Pejabat Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 8 (1) PPKD mempunyai tugas sebagai berikut: menyusun dan melaksanakan kebijakan pengelolaan keuangan daerah. menyiapkan pedoman pelaksanaan APBD. dan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. c. a. penyusunan laporan keuangan daerah dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. dan pejabat pengawas keuangan daerah. (2). d. Bagian Kedua Koordinator Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 7 (1). e. PPKD selaku BUD berwenang: menyusun kebijakan dan pedoman pelaksanaan APBD. penyusunan rancangan APBD dan rancangan perubahan APBD. c. penyusunan dan pelaksanaan kebijakan pengelolaan APBD. (2) . memberikan persetujuan pengesahan DPA-SKPD.

memberikan petunjuk teknis tentang Sistem dan Prosedur Pengelolaan Keuangan Daerah e.-11- c. huruf h. huruf k. menyiapkan anggaran kas. menyiapkan pelaksanaan pinjaman dan pemberian jaminan atas nama pemerintah daerah. l. menetapkan SPD. melaksanakan sistem akuntansi dan pelaporan keuangan daerah. Kuasa BUD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). huruf n. h. menerbitkan SP2D. f. o. menyetujui surat pengesahan laporan pertanggungjawaban SKPD. melakukan pengendalian pelaksanaan APBD. melaksanakan kebijakan dan pedoman pengelolaan serta penghapusan barang milik daerah. k. m. i. Penunjukan kuasa BUD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan keputusan Bupati. Bagian Keempat Pejabat Pengguna Anggaran/Pengguna Barang Daerah Pasal 11 . huruf j. d. mempunyai tugas: a. j. g. b. melakukan pengelolaan utang dan piutang daerah. melaksanakan pemungutan pajak daerah. huruf g. huruf m. melakukan penagihan piutang daerah. Kuasa BUD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikuasakan kepada Kepala Bidang Belanja pada Dinas Pendapatan Pengelola Keuangan dan Kekayaan Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah. Kuasa BUD bertanggung jawab kepada PPKD Pasal 10 (6) Pelimpahan wewenang selain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (4). dan (4) (5) Kuasa BUD selain melaksanakan tugas sebagaimana pada ayat (3) juga melaksanakan wewenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2). c. n. menyajikan informasi keuangan daerah. melakukan pembayaran berdasarkan permintaan pejabat pengguna anggaran atas beban rekening kas umum daerah. melaksanakan pemberian pinjaman atas nama pemerintah daerah. menyiapkan SPD. dapat dilimpahkan kepada pejabat lainnya di lingkungan satuan kerja pengelolaan keuangan daerah. dan huruf o. huruf f. Pasal 9 (1) (2) (3) PPKD selaku BUD menunjuk pejabat di lingkungan satuan kerja pengelola keuangan daerah selaku kuasa BUD.

n. kompetensi dan/atau rentang kendali dan pertimbangan objektif lainnya. menerbitkan surat pengesahan laporan pertanggungjawaban SKPD. bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada Bupati melalui sekretaris daerah. (5) Dengan menetapkan Kuasa Pengguna Anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (4) Dinas Pendapatan. Bagian Kesejahteraan Masyarakat sekretariat Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah untuk Belanja Bantuan Sosial yang anggarannya ditampung pada SKPKD. mengawasi pelaksanaan anggaran SKPD yang dipimpinnya. menyusun dan menyampaikan laporan keuangan SKPD yang dipimpinnya. e. mengelola utang dan piutang yang menjadi tanggung jawab SKPD yang dipimpinnya. h. (2) dan ayat 3 di atas. i. Untuk memperlancar Proses Penatausahaan Keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) Kuasa Pengguna Anggaran membuka Rekening Pembantu Bank untuk menampung Anggaran yang dikelolanya. menandatangani SPM. Sebagaimana dimaksud pada ayat (1). d. c. Badan Kesatuan Bangsa. (2) (3) (4) b. b. j. melakukan pengujian atas tagihan dan memerintahkan pembayaran. melaksanakan pemungutan penerimaan bukan pajak. l. Pasal 12 (1) Pejabat pengguna anggaran dalam melaksanakan tugas dapat melimpahkan sebagian kewenangannya kepada kepala unit kerja pada SKPD selaku kuasa pengguna anggaran/pengguna barang. melaksanakan tugas-tugas pengguna anggaran/pengguna barang lainnya berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh Bupati. beban kerja. dan o. mengadakan ikatan/perjanjian kerjasama dengan pihak lain dalam batas anggaran yang telah ditetapkan. besaran jumlah uang yang dikelola. Pengelola Keuangan dan Kekayaan Daerah selaku SKPD dan SKPKD melimpahkan sebagian kewenangannya kepada : a.-12- Pejabat pengguna anggaran/pengguna barang daerah mempunyai tugas dan wewenang: a. Dinas Pendapatan. SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (4) butir a dab b Selaku (6) (7) . g. menyusun RKA-SKPD. Penetapan kepala unit kerja pada SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berdasarkan pertimbangan besaran SKPD. Pengelola Keuangan dan Kekayaan Daerah selaku SKPKD juga menetapkan Pembantu Bendahara untuk membantu tugas-tugas Bendahara Pengeluaran SKPKD. lokasi. f. melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran atas beban anggaran belanja. m. melaksanakan anggaran SKPD yang dipimpinnya. Pelimpahan wewenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Bupaati atas usul kepala SKPD. menyusun Rancangan DPA-SKPD. Politik dan Perlindungan Masyarakat Kabupaten Tapanuli Tengah untuk Belanja Bantuan Partai Politik yang anggarannya ditampung pada SKPKD. mengelola barang milik daerah/kekayaan daerah yang menjadi tanggung jawab SKPD yang dipimpinnya. k.

anggaran kegiatan. mengendalikan pelaksanaan kegiatan. menyiapkan perjanjian/kontrak dengan pihak penyedia barang/jasa. Bagian Kelima Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan SKPD Pasal 13 (1) Pejabat Pengguna Anggaran/Pengguna Barang dan Kuasa Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Barang dalam melaksanakan program dan kegiatan menunjuk pejabat pada unit kerja SKPD selaku PPTK. beban kerja. mengajukan kebutuhan dana sesuai DPA-SKPD kepada pengguna bendahara pengeluaran.-13- Kuasa Pengguna Anggaran mempunyai tugas : a. (2) Bagian Keenam Pejabat Penatausahaan Keuangan SKPD dan SKPKD Pasal 15 (1) Dalam rangka melaksanakan wewenang atas penggunaan anggaran yang dimuat dalam DPA-SKPD. lokasi. (6) PPTK mempunyai tugas: a. dan /atau rentang kendali. (8) melakukan Permintaan atas Belanja dimaksud dengan menerbitkan SPP dan SPM mengelola Belanja sesuai kebutuhannya dengan Penatausahaan Pembukuan sesuai peraturan yang ada. c. (2) Penunjukan PPTK berdasarkan pertimbangan kompetensi jabatan. dan pertimbangan obyektif lainnya. mengawasi dikelolanya. melaksanakan kegiatan sesuai dengan petunjuk operasional dan yang berlaku. PPTK bertanggung jawab kepada pejabat pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. anggaran melalui ketentuan lainnya d. (4) Dalam hal PPTK mempunyai Sertifikat pengadaan barang dan jasa. kepala SKPD menetapkan pejabat yang . (3) PPTK yang ditunjuk adalah pejabat struktural. beban kerja. maka dapat merangkap sebagai Pejabat Pembuat Komitmen. Pasal 14 (1) Penunjukan PPTK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1) berdasarkan pertimbangan kompetensi jabatan. b. dan/atau rentang kendali dan pertimbangan objektif lainnya. b. e. anggaran kegiatan. c. menyiapkan rencana dan jadwal pelaksanaan kegiatan. dan Mempertanggungjawabkan Belanja yang Kuasa pengguna anggaran bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada pengguna anggaran/pengguna barang. lokasi.

bertanggung jawab. hibah. meneliti kelengkapan SPP-LS pengadaan barang dan jasa yang disampaikan oleh bendahara pengeluaran yang diketahui/disetujui oleh PPTK. dan pembiayaan yang disampaikan oleh bendahara pengeluaran SKPKD. (2) PPK-SKPKD mempunyai tugas: a. melakukan verifikasi harian atas penerimaan. Bagian Ketujuh Bendahara Penerimaan dan Bendahara Pengeluaran Pasal 17 (1) Pada setiap SKPD ditunjuk 1 (satu) orang Bendahara Penerimaan dan atau 1 (satu) orang Bendahara Pengeluaran yang melaksanakan tata usaha keuangan . meneliti kelengkapan SPP-UP. disiplin. bantuan sosial. bendahara. (3) Bendahara yang diusulkan adalah Pegawai Negeri Sipil yang jujur. melakukan verifikasi SPP. e. SPP-GU. serta penghasilan lainnya yang ditetapkan sesuai ketentuan c. (2) Pejabat Penatausahaan Keuangan atau PPK-SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas : a. dan menyiapkan laporan keuangan SKPD (3) Pejabat penatausahaan keuangan SKPD tidak boleh merangkap sebagai pejabat yang bertugas melakukan pemungutan penerimaan daerah. menyiapkan SPM. dan/atau PPTK. dan pembiayaan. meneliti kelengkapan/melakukan verifikasi SPP-LS Permintaan pembayaran belanja bunga. g. f. dan diutamakan pernah mengikuti bimbingan/pelatihan penatausahaan keuangan. belanja bagi hasil. d.-14- melaksanakan fungsi tata usaha keuangan pada SKPD sebagai pejabat penatausahaan keuangan SKPD. bendahara. . SPP-TU. (2)Bendahara Penerimaan/Pengeluaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak boleh merangkap sebagai pejabat pengelola keuangan maupun sebagai PPTK. menyiapkan SPM. b. pengeluaran. berperilaku baik. belanja bagi hasil. hibah. gaji dan perundang-undangan yang diajukan oleh bendahara tunjangan PNS. bantuan sosial. dan/atau PPTK Pasal 16 (1) PPK-SKPKD adalah pejabat yang melaksanakan fungsi tata usaha keuangan untuk belanja bunga. bantuan keuangan. (3) PPK-SKPKD tidak boleh merangkap sebagai pejabat yang bertugas melakukan pemungutan penerimaan daerah. b. bantuan keuangan. SPP-LS. melaksanakan akuntansi SKPD. subsidi. subsidi.

dan keamanan keuangan yang menjadi beban tugasnya. pekerjaan pemborongan dan penjualan jasa atau bertindak sebagai penjamin atas kegiatan/pekerjaan/penjualan tersebut. Belanja daerah. Penyimpan Barang dan Pengurus Barang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) adalah pejabat fungsional.-15(4) Bendahara Penerimaan/Pengeluaran bertanggung jawab terhadap pengurusan. Pasal 18 Penyimpan Barang dan Pengurus Barang (1) (2) (3) (4) (5) Pada setiap SKPD ditunjuk 1 (satu) orang Penyimpan Barang dan 1 (satu) orang Pengurus Barang yang melaksanakan tata usaha barang daerah. baik secara langsung maupun tidak langsung. penyimpanan. (10) Bendahara Penerimaan dan Bendahara Pengeluaran serat pembantu Bendahara mendapatkan Tunjangan Kelancaran Tugas sesuai dengan Keputusan Bupati Tapanuli Tengah yang Anggarannya ditampung pada SKPD masing-masing. Penyimpan Barang dan Pengurus Barang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak boleh merangkap sebagai pejabat pengelola keuangan maupun sebagai PPTK. (5) (6) Bendahara penerimaan dan bendahara pengeluaran dimaksud pada ayat (1) dan (2) adalah pejabat fungsional. b. pengadministrasian. pengadministrasian. kegiatan perdagangan. (9) Bendahara penerimaan dan bendahara pengeluaran secara fungsional bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada PPKD selaku BUD. Pendapatan daerah. sebagaimana (7) Bendahara penerimaan dan bendahara pengeluaran dilarang melakukan. (8) Bendahara penerimaan dan/atau bendahara pengeluaran dalam melaksanakan tugasnya dapat dibantu oleh bendahara penerimaan pembantu dan/atau bendahara pengeluaran pembantu. Penyimpan Barang dan Pengurus Barang bertanggung jawab terhadap pengurusan. c. dan Pembiayaan daerah. Penyimpan Barang dan Pengurus Barang bertanggung jawab secara administratif kepada Pengguna Anggaran dan bertanggung jawab secara fungsional kepada BUD. BAB III STRUKTUR ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH Pasal 19 Struktur APBD terdiri dari: a. penyimpanan dan keamanan barang yang menjadi beban tugasnya. Pasal 20 (1) Pendapatan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 huruf a adalah semua penerimaan uang melalui rekening kas umum daerah yang menambah ekuitas dana. merupakan hak daerah dalam satu tahun anggaran dan tidak perlu dibayar kembali oleh . Bendahara Penerimaan/Pengeluaran bertanggung jawab secara administratif kepada Pengguna Anggaran dan bertanggung jawab secara fungsional kepada BUD. serta menyimpan uang pada suatu bank atau lembaga keuangan lainnya atas nama pribadi.

. (2) Rincian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikirim kepada SKPKD pada awal tahun anggaran untuk penyusunan Anggaran Kas. (3) Penerimaan daerah disetor secara bruto ke rekening Kas Umum Daerah.-16daerah. BAB IV PENGELOLAAN PENDAPATAN DAERAH Pasal 21 (1) Target penerimaan daerah selama 1 (satu) tahun anggaran dirinci sesuai dengan target masing-masing jenis dan obyek pendapatan. (2) Semua penerimaan yang diterima dalam rangka pelaksanaan tugas dan fungsi SKPD dan yang menggunakan fasilitas pemerintah daerah secara langsung/tidak langsung dicatat sebagai pendapatan daerah. (3) Pembiayaan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 huruf c adalah semua transaksi keuangan untuk menutup defisit atau untuk memanfaatkan surplus. merupakan kewajiban daerah dalam satu tahun anggaran dan tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh daerah. Pasal 22 (1) Semua uang daerah disimpan dalam rekening Kas Umum Daerah. (2) Belanja daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 huruf b adalah semua pengeluaran dari rekening kas umum daerah yang mengurangi ekuitas dana.

rabat. . (2) SKPD pengelola penerimaan/pendapatan dilarang melakukan penggunaan langsung dari pendapatan yang diterima untuk belanja daerah atau pengeluaran daerah lainnya. (3) SKPD tidak diperkenankan mengadakan pungutan atau tambahan pungutan yang tidak tercantum dalam peraturan daerah dan atau peraturan perundangan yang berlaku. baik langsung maupun tidak langsung sebagai akibat penjualan dan atau pengadaan barang/jasa untuk daerah adalah hak daerah. Pasal 26 SKPD dilarang melakukan pungutan selain dari yang ditetapkan dalam peraturan daerah. atas nama pribadi pada suatu bank atau lembaga keuangan lainnya. (3) Setiap penerimaan harus didukung oleh bukti yang lengkap atas setoran dimaksud. (6) Apabila penerimaan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) berupa uang harus disetor ke rekening Kas Umum Daerah. dan b. Pasal 25 (1)Piutang penerimaan/pendapatan dan tunggakan Penerimaan/pendapatan daerah pada tahun sebelumnya menjadi penerimaan pada tahun berjalan. Pasal 23 (1) SKPD yang mengelola pendapatan daerah wajib melakukan intensifikasi dan ekstensifikasi untuk meningkatkan pendapatan. Pasal 24 (1) Setiap orang/pejabat yang bertugas menerima dan menyetorkan penerimaan daerah dilarang menyimpan uang dalam penguasaannya: a. (2) Denda administrasi dan atau denda bunga atas keterlambatan kewajiban pembayaran penerimaan/pendapatan daerah menjadi pendapatan daerah pada tahun berjalan. Pasal 27 SKPD yang mempunyai tugas memungut dan/atau menerima dan/atau kegiatannya berdampak pada penerimaan daerah wajib mengintensifkan pemungutan dan penerimaan tersebut. komisi. (5) Jasa giro. denda keterlambatan penyelesaian pekerjaan. maka penerimaan tersebut dipindahbukukan sepenuhnya ke rekening Kas Umum Daerah paling lambat 1 (satu) bulan setelah penerimaannya. (7) Apabila penerimaan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) berupa barang menjadi milik daerah dan harus diinventarisasikan sebagai aset daerah. denda kelalaian. Pasal 28 (1) Penerimaan SKPD yang merupakan penerimaan daerah tidak dapat dipergunakan langsung untuk pengeluaran.-17- (4) Dalam hal terdapat adanya penerimaan daerah yang disalurkan melalui rekening Bupati. lebih dari batas waktu yang telah ditetapkan. (2)Bendahara penerimaan wajib menyetor seluruh penerimaannya ke rekening kas umum daerah selambat-lambatnya dalam waktu 24 jam. potongan harga atau penerimaan lainnya yang dapat dinilai dengan uang.setelah penerimaannya ke rekening Kas Umum Daerah pada bank atau lembaga keuangan yang ditunjuk Bupati.

-18- (2) Komisi. (2) Pengeluaran kas yang mengakibatkan beban APBD tidak dapat dilakukan sebelum rancangan peraturan daerah tentang APBD ditetapkan dan ditempatkan dalam lembaran daerah. (2) DPA-SKPD disusun berdasarkan Peraturan Daerah tentang APBD dan disahkan oleh PPKD digunakan sebagai dasar pelaksanaan anggaran oleh kepala SKPD selaku pengguna anggaran/pengguna barang. (3) Untuk pengeluaran kas atas beban APBD terlebih dahulu diterbitkan SPD. rabat. Pasal 31 (1) Setiap pengeluaran harus didukung oleh bukti yang lengkap dan sah mengenai hak yang diperoleh oleh pihak yang menagih. Perubahan belanja hanya dapat dilakukan pada penjelasan atas rincian objek. hibah. pengembalian tuntutan ganti rugi dan sejenisnya dilakukan dengan membebankan pada rekening penerimaan yang bersangkutan untuk pengembalian penerimaan yang terjadi dalam tahun yang sama. (7) Perubahan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dan ayat (6) hanya dapat dilakukan setelah mendapat persetujuan PPKD selaku BUD. Untuk pengembalian kelebihan penerimaan yang terjadi pada tahuntahun sebelumnya dibebankan pada rekening belanja tidak terduga. baik secara langsung sebagai akibat dari penjualan. retribusi. tukar menukar. . (4) (5) Penerbitan SPD didasarkan atas Peraturan Daerah tentang APBD dan DPA-SKPD yang telah ditetapkan. BAB V PENGELOLAAN BELANJA DAERAH Bagian Kesatu Pelaksanaan Belanja Pasal 30 (2) (1) Pelaksanaan belanja daerah dilaksanakan berdasarkan DPA. potongan atau penerimaan lain dengan nama dan dalam bentuk apa pun yang dapat dinilai dengan uang. asuransi dan/atau pengadaan barang dan jasa termasuk penerimaan bunga. (6)Perubahan anggaran kas per triwulan dapat dilakukan dengan memperhitungkan besaran SPD yang telah diterbitkan. jasa giro atau penerimaan lain sebagai akibat penyimpanan dana anggaran pada bank serta penerimaan dari hasil pemanfaatan barang daerah atas kegiatan lainnya merupakan pendapatan daerah. Semua penerimaan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) apabila berbentuk uang harus segera disetor ke kas umum daerah dan berbentuk barang menjadi milik/aset daerah yang dicatat sebagai inventaris daerah. (3) Pengeluaran kas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak termasuk belanja yang bersifat mengikat dan belanja yang bersifat wajib. Pasal 29 (3) (1) Pengembalian atas kelebihan pajak.

b. menguji kebenaran perhitungan tagihan atas beban APBD yang tercantum dalam perintah pembayaran. memerintahkan pencairan dana sebagai dasar pengeluaran daerah. Pembayaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan penerbitan SP2D oleh kuasa BUD. atau DPASKPD. (4) Bendahara pengeluaran wajib menolak perintah bayar dari pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran apabila persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak dipenuhi. Pasal 34 Bendahara pengeluaran sebagai wajib pungut Pajak Penghasilan (PPh) dan pajak lainnya. wajib menyetorkan seluruh penerimaan potongan dan pajak yang dipungutnya ke rekening Kas Negara pada bank pemerintah atau bank lain yang ditetapkan Menteri Keuangan sebagai bank persepsi atau pos giro dalam jangka waktu sesuai ketentuan perundang-undangan. meneliti kelengkapan perintah pembayaran yang diterbitkan oleh pengguna anggaran. menguji ketersediaan dana yang bersangkutan. atau dokumen lain yang dipersamakan dengan SPD. menguji ketersediaan dana yang bersangkutan. Pasal 35 (1) (2) (3) Pelaksanaan pengeluaran atas beban APBD dilakukan berdasarkan SPM yang diterbitkan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. d.-19- Pasal 32 Pembayaran atas beban APBD dapat dilakukan berdasarkan SPD. (2) Untuk kelancaran pelaksanaan tugas SKPD. c. Dalam rangka pelaksanaan pembayaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan c. menguji kebenaran perhitungan tagihan yang tercantum dalam perintah pembayaran. (3) Bendahara pengeluaran melaksanakan pembayaran dari uang persediaan yang dikelolanya setelah: a. menolak pencairan dana. b. kepada pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran dapat diberikan uang persediaan yang dikelola oleh bendahara pengeluaran. . apabila perintah pembayaran yang diterbitkan oleh pengguna anggaran tidak memenuhi persyaratan yang ditetapkan. meneliti kelengkapan perintah pembayaran yang diterbitkan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. kuasa BUD berkewajiban untuk: a. dan e. Pasal 36 (1) Penerbitan SPM tidak boleh dilakukan sebelum barang dan/atau jasa diterima kecuali ditentukan lain dalam peraturan perundang-undangan.

belanja bunga. serta penghasilan lainnya yang diberikan kepada Pegawai Negeri Sipil yang ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. belanja bantuan sosial. serta belanja modal. (2) Uang representasi. dan jasa.-20- (5) Bendahara pengeluaran bertanggung pembayaran yang dilaksanakannya. dan belanja tidak terduga. Pasal 38 Setelah tahun anggaran berakhir. Tata cara pembukaan rekening ditetapkan dan diatur dengan Peraturan Bupati. SKPD melaksanakan belanja langsung yang terdiri dari belanja pegawai. belanja bagi hasil. tunjangan pimpinan dan anggota DPRD serta gaji dan tunjangan Bupati dan wakil Bupati serta penghasilan dan penerimaan lainnya yang ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan dianggarkan dalam belanja pegawai. dan jangka panjang. . Pasal 40 (1) SKPKD melaksanakan belanja tidak langsung yang terdiri dari belanja pegawai. tunjangan. Belanja tidak langsung yang dilaksanakan oleh SKPD hanya belanja pegawai (gaji). Pasal 37 (6) (7) jawab secara pribadi atas Bupati dapat memberikan izin pembukaan rekening untuk keperluan pelaksanaan pengeluaran di lingkungan SKPD. jangka menengah. belanja barang. (2) (3) Bagian Kedua Belanja Tidak Langsung Pasal 41 (1) Belanja pegawai merupakan belanja kompensasi dalam bentuk gaji. kepala SKPD selaku pengguna anggaran dilarang menerbitkan SPM yang membebani tahun anggaran berkenaan. Pasal 43 Belanja subsidi dianggarkan untuk bantuan biaya produksi kepada perusahaan/lembaga tertentu agar harga jual produksi/jasa yang dihasilkan dapat terjangkau oleh masyarakat banyak. belanja bantuan keuangan. Pasal 42 Belanja bunga digunakan untuk menganggarkan pembayaran bunga utang yang dihitung atas kewajiban pokok utang berdasarkan perjanjian pinjaman jangka pendek. belanja hibah. Pasal 39 Pengguna Anggaran bertanggung jawab baik dari segi keuangan maupun dari segi fisik atas pelaksanaan anggaran pada SKPD yang menjadi tanggung jawabnya sebagaimana ditetapkan pada DPA-SKPD. belanja subsidi.

kewenangan Pemerintah Daerah (3) (2) pengeluaran-pengeluaran yang sangat diperlukan berkaitan langsung dengan pelayanan masyarakat. atau pengeluaran lainnya yang sangat diperlukan dalam rangka penyelenggaraan kewenangan pemerintah daerah. Pengeluaran dalam rangka penyelenggaraan sebagaimana dimaksud pada ayat(1) untuk: a. pengembalian atas kelebihan penerimaan yang terjadi dalam tahun anggaran yang telah ditutup dan didukung dengan bukti-bukti yang sah. Pasal 46 (1) Belanja bagi hasil digunakan untuk menganggarkan dana bagi hasil yang bersumber dari pendapatan provinsi/daerah atau pendapatan tertentu kepada pemerintah desa sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (2) (2) (3) (2) Pasal 47 (1) (2) Belanja bantuan keuangan digunakan untuk memberikan bantuan keuangan yang bersifat umum atau khusus kepada pemerintah desa. pertanggungjawaban penggunaan belanja tidak terduga disampaikan kepada PPKD setelah selesainya pelaksanaan kegiatan. penetapan pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran serta bendakara pada SKPD yang akan melaksanakan belanja tidak terduga. b.-21Pasal 44 (1) Belanja hibah digunakan untuk menganggarkan pemberian hibah dalam bentuk uang. barang. Bantuan keuangan yang bersifat umum adalah bantuan yang belum ditentukan penggunaannya sedangkan bantuan keuangan yang bersifat khusus adalah bantuan yang telah ditetapkan penggunaannya. penetapan peraturan/keputusan bupati yang mendasari penggunaan belanja tidak terduga serta besaran belanja tidak terduga yang akan digunakan. b. Pelaksanaan belanja bantuan sosial dalam bentuk uang dianggarkan melalui SKPKD sedangkan dalam bentuk barang dilaksanakan oleh SKPD yang bersangkutan. bencana sosial. Pelaksanaan bantuan sosial diatur dengan Peraturan Bupati tersendiri. Belanja hibah diberikan berdasarkan pengajuan dari penerima hibah dan dilaksanakan melalui perjanjian hibah. Pasal 48 (1) Belanja tidak terduga dianggarkan untuk pengeluaran penanganan bencana alam. c. Pasal 45 (1) Belanja bantuan sosial digunakan untuk menganggarkan pemberian bantuan dalam bentuk uang dan atau barang kepada masyarakat yang bertujuan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pembagian/penetapan besaran belanja bantuan keuangan ditetapkan dengan Keputusan Bupati. dan atau jasa kepada kelompok masyarakat/perorangan yang secara spesifik telah ditetapkan peruntukannya. Pembagian/penetapan besaran belanja bagi hasil kepada masing-masing desa ditetapkan dengan Keputusan Bupati. (3) Penggunaan belanja tidak terduga melalui tahapan: a. yang anggarannya tidak tersedia dalam tahun anggaran yang bersangkutan. (4) Penggunaan belanja tidak terduga diberitahukan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah .

Pasal 53 Bagi pegawai yang menjadi anggota tim pelaksana kegiatan atau tim lainnya dan sedang mengambil cuti atau melaksanakan diklat dalam jangka waktu lebih dari 20 (dua puluh) hari kerja dalam 1 (satu) bulan tidak diberikan honorarium pada bulan yang bersangkutan. dan c. Pembentukan Tim/Panitia sebagaimana dimaksud ayat (2) dapat melibatkan instansi terkait. Pengguna Anggaran atau Kuasa Pengguna Anggaran dapat membentuk Tim/Panitia bila dipandang perlu. serta penghasilan lainnya yang diberikan kepada Pegawai Negeri Sipil yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Pasal 51 Pegawai/pelaksana kegiatan tidak dibenarkan menerima honorarium dari dua sumber dalam satu kegiatan. b. belanja pegawai. Pasal 54 Pembinaan dan pelatihan bagi pegawai dan masyarakat dalam rangka pelaksanaan program dan kegiatan sedapat mungkin dilaksanakan oleh PNS pelaksana kegiatan namun demikian apabila dipandang perlu dapat mengundang narasumber dari luar termasuk dari akademisi. Bagian Ketiga Belanja Langsung Pasal 49 Belanja langsung terdiri dari : a. Panitia Pemeriksa/Penerima Barang atau Tim Bimbingan Teknis Kegiatan. belanja modal. Pasal 55 (1) Apabila dipandang perlu dalam pelaksanaan program/kegiatan dapat dibentuk Tim Pembina. Pasal 52 Pegawai yang telah menerima honorarium sebagai pelaksana kegiatan dan menjadi instruktur/narasumber pada kegiatan yang sama tidak dibenarkan menerima honorarium sebagai narasumber. .-22paling lambat 1 (satu) bulan setelah penggunaan. belanja barang dan jasa. Pengawas lapangan. c. dan tim pelaksana kegiatan. Panitia Pengadaan Barang dan Jasa. (2) (3) (4) Untuk melaksanakan program/kegiatan. Pasal 50 Belanja pegawai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 huruf a digunakan untuk membiayai belanja kompensasi dalam bentuk gaji dan tunjangan. b. termasuk honorarium tenaga kontrak. Tim Pelaksana/Penyelenggara. Tim/Panitia sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat terdiri dari : a. dan d.

sedangkan pelaksanaannya dapat dianggarkan oleh SKPD yang bersangkutan. gedung dan bangunan. pakaian kerja. cetak/penggandaan. jalan. peralatan dan mesin. Belanja aset tidak berwujud seperti soft ware dan sejenisnya dicatat sebagai aset daerah. (2) Pasal 60 (1) (2) Pelaksanaan Belanja Daerah mengacu pada Standarisasi Harga Barang dan Jasa yang ditetapkan oleh Bupati. Kepala Badan. perjalanan dinas. (2) Pembelian/pengadaan barang dan/atau pemakaian jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup belanja barang pakai habis. perawatan kendaraan bermotor. Pasal 58 Belanja perjalanan dinas dan luar daerah agar dibatasi baik jumlah personil maupun jumlah hari dan diutamakan pada kegiatan yang penting dalam mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi SKPD. (2) (3) Nilai pembelian/pengadaan atau pembangunan aset tetap berwujud sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang dianggarkan dalam belanja modal sebesar harga perolehan termasuk untuk honorarium panitia pengadaan dan administrasi pembelian/pembangunan untuk memperoleh setiap aset tetap. Panitia Pemeriksa/Penerima Barang dan Pekerjaan dibatasi dalam jumlah personil dan jumlah bulan sesuai kebutuhan dan beban tugas yang terukur secara wajar dan rasional.-23(5) Pembentukan Tim Pelaksana. kecuali ditentukan lain oleh Bupati. Pasal 56 (1) Belanja barang dan jasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 huruf b digunakan untuk pengeluaran pembelian/pengadaan barang yang nilai manfaatnya kurang dari 12 (duabelas) bulan dan/atau pemakaian jasa dalam melaksanakan program dan kegiatan pemerintahan daerah. Kepala Dinas. Harga barang dan jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan batas tertinggi untuk tiap jenis barang dan jasa dalam melaksanakan belanja. perjalanan dinas pindah tugas. Sekretaris Dewan. seperti dalam bentuk tanah. Panitia Pengadaan Barang/Jasa. pakaian dinas dan atributnya. sewa perlengkapan dan peralatan kantor. Camat dan Direktur RSUD dilaksanakan dengan Surat Perintah Tugas yang dikeluarkan oleh Sekretaris Daerah. dan pemulangan pegawai. Pasal 59 (1) Perjalanan dinas keluar daerah bagi Asisten Sekretaris Daerah. sewa alat berat. bahan/material. Untuk pelaksanaan pelelangan yang merupakan batas tertinggi adalah nilai keseluruhan barang dan jasa yang dilelangkan berdasarkan perhitungan harga standar. jasa kantor. sewa sarana mobilitas. sewa rumah/gedung/gudang/parkir. premi asuransi. Perjalanan dinas pada satuan kerja dilaksanakan dengan surat perintah tugas yang dikeluarkan oleh kepala SKPD. (4) Pelaksanaan belanja modal untuk yang bersifat kontraktual melalui pembayaran LS sedangkan untuk pendukungnya dapat melalui UP. Pasal 57 (1) Belanja modal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 huruf c digunakan untuk pengeluaran yang dilakukan dalam rangka pembelian/pengadaan atau pembangunan aset tetap berwujud yang mempunyai nilai manfaat lebih dari 12 (duabelas) bulan untuk digunakan dalam kegiatan pemerintahan. Pengawas Lapangan. makanan dan minuman. pakaian khusus dan hari-hari tertentu. Kepala Kantor. dan aset tetap lainnya serta dicatat sebagai aset daerah. irigasi dan jaringan. (3) .

penerimaan lain-lain penerimaan yang sah. untuk pekerjaan fisik konstruksi dapat dilakukan penyesuaian volume dan penyesuaian spesifikasi teknis dan fungsi dengan persyaratan teknis dan fungsi tetap dipenuhi. Pasal 62 Penerimaan piutang digunakan untuk menganggarkan penerimaan yang bersumber dari pelunasan piutang pihak ketiga dan penerimaan lainnya. Pasal 65 Pembayaran pokok utang digunakan untuk menganggarkan kewajiban pokok utang yang dihitung berdasarkan perjanjian pinjaman jangka pendek. segala tindakan penyesuaian volume dan penyesuaian spesifikasi teknis dan fungsi sebagaimana dimaksud pada huruf a dan huruf b dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 63 Penerimaan kembali pemberian pinjaman dicatat sebesar pemberian pokok pinjaman/penguatan modal bergulir sedangkan pendapatan bunga dicatat sebagai PAD. penghematan belanja. untuk pengadaan barang dan jasa dapat dilakukan penyesuaian volume dan penyesuaian spesifikasi teknis dan fungsi. (5) (6) BAB VI PENGELOLAAN PEMBIAYAAN Pasal 61 Sisa lebih perhitungan anggaran tahun sebelumnya mencakup pelampauan penerimaan PAD. mekanisme pengadaan barang dan jasa serta pengelolaannya diatur dengan Peraturan Bupati tersendiri. Pasal 66 (1) Pengelolaan anggaran pembiayaan daerah dilakukan oleh SKPKD selaku PPKD. tata cara. kewajiban kepada pihak ketiga yang sampai dengan akhir tahun anggaran belum diselesaikan serta sisa dana kegiatan. (7) Prosedur. Pasal 64 Pengeluaran pembiayaan digunakan untuk menganggarkan penyertaan modal baik berupa investasi permanen maupun investasi non permanen. .-24(4) SKPD yang melakukan kegiatan/pengadaan Barang dan Jasa khusus yang belum diatur atau melebihi standar sebagaimana dimaksud pada ayat (1). jangka menengah. Apabila terjadi gejolak perekonomian yang berakibat kenaikan harga-harga barang dan jasa perlu diambil langkah-langkah sebagai berikut: a. penerimaan dana perimbangan. dan jangka panjang. wajib mengajukan permohonan izin tertulis kepada Bupati melalui Sekretaris Daerah yang dilampiri alasan dan nilai harga barang/jasa yang dimohonkan dengan tembusan dikirimkan kepada kepala DPPKAD dan Kepala Bagian Administrasi Pembangunan. dan c. Apabila terjadi kebijakan Pemerintah mengenai ketetapan Harga Barang dan Jasa yang berlaku secara nasional dapat langsung menyesuaikan. b.

-25- (2) Semua penerimaan dan pengeluaran pembiayaan daerah dilakukan melalui Rekening Kas Umum Daerah. Pasal 69 (1) Penerimaan pinjaman daerah didasarkan pada jumlah pinjaman yang akan diterima dalam tahun anggaran yang bersangkutan sesuai dengan yang ditetapkan dalam perjanjian pinjaman berkenaan. dana-dana khusus diluar DAU dimasukkan dahulu kedalam Rekening tersendiri yang ditetapkan oleh Bupati. (4) Pencatatan penerimaan atas penjualan kekayaan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada bukti penerimaan yang sah. Pasal 67 (1) Sebelum masuk ke Rekening Kas Umum Daerah. Pasal 72 Pembayaran pokok utang didasarkan pada jumlah yang harus dibayarkan sesuai dengan perjanjian pinjaman dan pelaksanaannya merupakan prioritas utama dari seluruh kewajiban pemerintah daerah yang harus diselesaikan dalam tahun anggaran yang berkenaan. (2) Setelah dilakukan Verifikasi atas jumlah dana yang tertampung pada Rekening sebagaimana dimaksud pada ayat (1) selanjutnya dilakukan pemindahan ke Rekening Kas Umum Daerah. Pasal 70 Penerimaan kembali pemberian pinjaman daerah didasarkan pada perjanjian pemberian pinjaman daerah sebelumnya. Pasal 68 (1) Penjualan kekayaan milik daerah yang dipisahkan dilakukan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. (2) Penjualan Kekayaan Daerah sebagaiman dimaksud pada ayat(1) dilakukan berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku (3) Penjualan Kekayan Daerah disetorkan pada Rekening Kas Umum Daerah dan dicatat pada Kode Rekening Pendapatan yang ada pada APBD. (2) Penerimaan pinjaman dalam bentuk mata uang asing dibukukan dalam nilai rupiah. untuk kesesuaian pengembalian pokok pinjaman dan kewajiban lainnya yang menjadi tanggungan pihak peminjam. Pasal 71 Penyertaan modal pemerintah daerah dapat dilaksanakan apabila jumlah yang akan disertakan dalam tahun anggaran berkenaan telah ditetapkan dalam Peraturan Daerah tentang penyertaan modal daerah berkenaan. .

Perencanaan sebagaimana dimaksud pada Ayat (2) berbentuk Kebijakan Umum APBD dan Prioroitas Plafon Anggaran Sementara yang selanjutnya disingkat KUA PPAS. kuasa BUD berkewajiban untuk: a. c. Pasal 74 Pelaksanaan pengeluaran pembiayaan penyertaan modal pemerintah daerah. (3). menguji kebenaran perhitungan pengeluaran pembiayaan yang tercantum dalam perintah pembayaran. d. (3). apabila perintah pembayaran atas pengeluaran pembiayaan tidak memenuhi persyaratan yang ditetapkan. menguji ketersediaan dana yang bersangkutan. menolak pencairan dana. Setelah KUA PPAS selesai disusun oleh Bappeda maka Bupati bersama Unsur Dewan Perwakilan Rakyat Daerah mengadakan Rapat Paripurna untuk membahas hasil Penyusunan KUA PPAS tersebut.-26- Pasal 73 Pemberian pinjaman daerah kepada pihak lain berdasarkan keputusan Bupati atas persetujuan DPRD. b. BAB VII PERENCANAAN. . PENYUSUNAN DAN PENETAPAN APBD Bagian Pertama Perencanaan APBD Pasal 76 (1). Perencanaan yang dimaksud pada Ayat (1) merupakan Kebijakan yang diputuskan bersama antara Bupati dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah. pembayaran pokok utang dan pemberian pinjaman daerah dilakukan berdasarkan SPM yang diterbitkan oleh PPKD Pasal 75 Dalam rangka pelaksanaan pengeluaran pembiayaan. (2). Pasal 77 (1). Sebagaimana maksud dari ayat (3) Bupati bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah menandatangani Nota Kesepakatan Bersama penetapan KUA PPAS. (2). APBD disusun berdasarkan perencanaan. meneliti kelengkapan perintah pembayaran/pemindahbukuan yang diterbitkan oleh PPKD. (4). Dalam hal Perencanaan APBD Bupati menetapkan Tim Anggaran Pemerintah Daerah. Kebijakan Umum APBD dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara disusun oleh Tim Anggaran Pemerintah Daerah bersama SKPD Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah.

Setelah diterimanya hasil evaluasi dari gubernur sebagaimana tersebut pada Pasal 8 maka dilakukan Penyempurnaan oleh Bupati bersama Tim Anggaran DPRD. . (3). Pengeloala Keuangan dan Kekayaan Daerah untuk Penyusunan Rancangan Perda tentang APBD dan Rancangan Peraturan Bupati tentang Penjabaran APBD. (4). Penetapan APBD Pasal 82 (1). Pasal 79 Bupati bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah menandatangani Nota kesepakatan Bersama tentang Rancangan Perda APBD dan Rancangan Peraturan Bupati tentang Penjabaran APBD. KUA PPAS hasil kesepakatan sebagaimana dimaksud pada Pasal 15 Ayat (3) diteruskan kepada Dinas Pendapatan. Pasal 80 Dalam jangka waktu 3 (tiga) hari Rancangan Perda APBD dan Rancangan Peraturan Bupati tentang Penjabaran APBD disampaikan kepada Gubernur Sumatera Utara untuk dilakukan Evaluasi. Pasal 81 Gubernur Sumater a Utara menetapkan Keputusan Hasil Evaluasi atas rancangan Peraturan Daerah tentang APBD dan Rancangan Peraturan Bupati tentang Penjabaran APBD palin lama 15 (lima belas) hari. (3).-27- Bagian Kedua Penyusunan APBD Pasal 78 (1). Bupati melalui Tim Anggaran Pemerintah Daerah mengajukan Rancangan Perda APBD dan Rancangan Peraturan Bupati tentang Penjabaran APBD kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah untuk dibahas dalam sidang Paripurna. (2). (2). Tim Anggaran Pemerintah Daerah bersama Staf Teknis Penyusun pada Dinas Pendapatan Pengelola Keuangan Dan Kekayaan Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah meminta kepada seluruh SKPD menyampaikan Rancangan RKA setiap Kegiatannya sebagai dasar Penyusunan Rancangan Perda APBD dan Rancangan Peraturan Bupati tentang Penjabaran APBD. Keputusan Pimpinan DPRD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dijadikan sebagai dasar penetapan Peraturan Daerah tentang APBD. Berdasarkan Penetapan DPRD maka Bupati menetapkan Rancangan Perda tentang APBD dan Rancangan Peraturan Bupati tentang Penjabaran APBD menjadi Peraturan Daerah tentang APBD dan Peraturan Bupati tentang Penjabaran APBD. Hasil Penyempurnaan sebagaimana dimasud pada ayat (1) ditetapkan oleh Pimpinan DPRD.

(2) Rancangan DPA-SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). DPA-SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (3) digunakan sebagai dasar pelaksanaan anggaran oleh kepala SKPD selaku pengguna anggaran/barang Kode Rekening Penganggaran (5) . diselesaikan paling lambat 15 (lima belas) hari kerja sejak ditetapkannya peraturan tentang penjabaran APBD. tidak mewah. DPA-SKPD yang telah disahkan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) disampaikan kepada kepala SKPD yang bersangkutan selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja sejak tanggal disahkan. harus didasarkan pada prinsip hemat. fungsi. program. dan rencana penarikan dana tiap-tiap satuan kerja serta pendapatan yang diperkirakan. (3) (4) Berdasarkan hasil verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). memberitahukan kepada semua kepala SKPD agar menyusun dan menyampaikan rancangan DPA-SKPD. PPKD mengesahkan rancangan DPA-SKPD dengan persetujuan sekretaris daerah. (2) Pelaksanaan belanja daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). anggaran yang disediakan untuk mencapai sasaran tersebut. efisien dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. kegiatan. merinci sasaran yang hendak dicapai.-28- BAB VIII PELAKSANAAN APBD Bagian Pertama Asas Umum Pelaksanaan APBD Pasal 83 (1) SKPD dilarang melakukan pengeluaran atas beban anggaran belanja daerah untuk tujuan yang tidak tersedia anggarannya. dan/atau yang tidak cukup tersedia anggarannya dalam APBD. Pasal 85 (1) Tim anggaran pemerintah daerah melakukan verifikasi rancangan DPASKPD bersama-sama dengan kepala SKPD yang bersangkutan. (2) Verifikasi atas rancangan DPA-SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Kepala SKPD menyerahkan rancangan DPA-SKPD yang telah disusunnnya kepada PPKD paling lambat 6 (enam) hari kerja setelah pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan. Bagian Kedua Penyiapan Dokumen Pelaksanaan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah Pasal 84 (1) PPKD paling lambat 3 (tiga) hari kerja setelah APBD ditetapkan. efektif.

(2). BAB IX LAPORAN REALISASI SEMESTER PERTAMA APBD DAN PERUBAHAN APBD Bagian Pertama Laporan Realisasi Semester Pertama APBD Pasal 87 (1) (2) Pemerintah daerah menyusun laporan realisasi semester pertama APBD dan prognosis untuk 6 (enam) bulan berikutnya. (6). kode jenis. kode kegiatan. Lampiran sebagaimana dimaksud pada ayat (1). jenis. kode obyek dan kode rincian obyek. Urutan susunan kode rekening APBD dimulai dari kode urusan pemerintahan daerah.-29- Pasal 86 (1). perkembangan yang tidak sesuai dengan asumsi kebijakan umum APBD. kelompok. (3). kode kegiatan. (5). Untuk tertib penganggaran kode dihimpun menjadi satu kesatuan kode anggaran yang disebut kode rekening. b. keadaan yang menyebabkan harus dilakukan pergeseran anggaran . kode program. Setiap program. kode akun. kegiatan. (2) dan (3) merupakan daftar nama dan kode rekening yang pemilihannya disesuaikan dengan kebutuhan objektif dan nyata sesuai karakteristik daerah Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah. obyek dan rincian obyek yang dicantumkan dalam APBD menggunakan kode program. Bagian Kedua Perubahan APBD Pasal 88 (1)Penyesuaian APBD dengam perkembangan dan/atau perubahan keadaan. kode kelompok. Pengelola Keuangan dan Kekayaan Daerah selaku SKPKD. Daftar nama dan kode rekening serta nama dan kode program dan kegiatan yang terlampir dalam Peraturan Bupati ini merupakan daftar yang harus dipedomani oleh setiap SKPD Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah dalam penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran. kode kelompok. untuk dibahas bersama antara DPRD dan pemerintah daerah. kode jenis. (4). Penambahan nama dan kode rekening serta nama dan kode program dan kegiatan yang belum ada dalam lampiran Peraturan Bupati ini oleh SKPD harus terlebih dahulu dikoordinasikan dan dikonsultasikan dengan Dinas Pendapatan. kode organisasi. dibahas bersama DPRD dengan pemerintah daerah dalam rangka penyusunan prakiraan perubahan atas APBD tahun anggaran yang bersangkutan. Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada DPRD selambat-lambatnya pada awal bulan Agustus tahun anggaran yang bersangkutan. apabila terjadi: a. kode obyek dan kode rincian obyek.

kecuali dalam keadaan luar biasa. b. bukan merupakan kegiatan normal dari aktivitas pemerintah daerah dan tidak dapat diprediksikan sebelumnya. keadaan yang menyebabkan saldo anggaran lebih sebelumnya harus digunakan untuk tahun berjalan. keadaan luar biasa. yang selanjutnya diusulkan dalam rancangan perubahan Penjabaran APBD dengan persetujuan DPRD dan disampaikan dalam laporan realisasi anggaran. dan e. d. Pasal 90 (1) Pemerintah daerah mengajukan rancangan peraturan daerah tentang perubahan APBD tahun anggaran yang bersangkutan untuk mendapatkan persetujuan DPRD sebelum tahun anggaran yang bersangkutan berakhir. tahun (2)Dalam keadaan darurat. pemerintah daerah dapat melakukan pengeluaran yang belum tersedia anggarannya. Pasal 89 (1) Perubahan APBD hanya dapat dilakukan 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun anggaran. Pasal 91 Proses evaluasi dan penetapan rancangan peraturan daerah tentang perubahan APBD dan rancangan peraturan Bupati tentang penjabaran perubahan APBD menjadi peraturan daerah dan peraturan Bupati berlaku ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 sampai dengan pasal 19. BAB X PENATAUSAHAAN KEUANGAN DAERAH Bagian Pertama Asas Umum Penatausahaan Keuangan Daerah Pasal 92 . tidak diharapkan terjadi secara berulang. (3)Keadaan darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d sekurang-kurangnya memenuhi kriteria sebagai berikut: a. dan memiliki dampak yang signifikan terhadap anggaran dalam rangka pemulihan yang disebabkan oleh keadaan darurat.-30- antar unit organisasi. c. berada di luar kendali dan pengaruh pemerintah daerah. selambat-lambatnya 2 (dua) bulan sebelum berakhirnya tahun anggaran. (2) Keadaan luar biasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 adalah keadaan yang menyebabkan estimasi penerimaan dan/atau pengeluaran dalam APBD mengalami kenaikan atau penurunan lebih besar dari 50% (lima puluh persen). c. d. (2) Persetujuan DPRD terhadap rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). keadaan darurat. dan antarjenis belanja. antar kegiatan.

Bupati menetapkan: a. (2) Penetapan pejabat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sebelum dimulainya tahun anggaran berkenaan Pasal 94 Bendahara penerimaan dan/atau bendahara pengeluaran dalam melaksanakan tugas-tugas kebendaharaan pada satuan kerja dalam SKPD dapat dibantu oleh pembantu bendahara penerimaan dan/atau pembantu bendahara pengeluaran sesuai kebutuhan dengan keputusan kepala SKPD. pejabat yang diberi wewenang mengesahkan surat pertanggungjawaban (SPJ). SPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disiapkan oleh kuasa BUD untuk ditandatangani oleh PPKD. pejabat lainnya yang ditetapkan dalam rangka pelaksanaan APBD. wajib menyelenggarakan penatausahaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. pejabat yang diberi wewenang menandatangani SP2D. Pasal 95 (1) PPKD dalam rangka manajemen kas menerbitkan SPD dengan mempertimbangkan penjadwalan pembayaran pelaksanaan program dan kegiatan yang dimuat dalam DPA-SKPD. Pejabat yang menandatangani dan/atau mengesahkan dokumen yang berkaitan dengan surat bukti yang menjadi dasar pengeluaran atas beban APBD bertanggung jawab atas kebenaran material dan akibat yang timbul dari penggunaan surat bukti dimaksud. b. dan f.-31- (1) Pengguna anggaran / kuasa pengguna anggaran bendahara penerimaan/ pengeluaran dan orang atau badan yang menerima atau menguasai uang / barang / kekayaan daerah. d. pejabat yang diberi wewenang menandatangani SPD. SPD yang diterbitkan atas dasar permintaan SKPD diterbitkan berdasarkan per Program dan Kegiatan. e. Bagian Kedua Pelaksanaan Penatausahaan Keuangan Daerah Pasal 93 (2) (1) Untuk pelaksanaan APBD. c. Penyetoran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ke rekening kas umum . pejabat yang diberi wewenang menandatangani SPM. bendahara penerimaan/pengeluaran. Bagian Ketiga Penatausahaan Bendahara Penerimaan Pasal 96 (2) (3) (4) (1) (2) Penyetoran penerimaan pendapatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (3) dilakukan dengan uang tunai. SPD yang diterbitkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikeluarkan dengan pembagian Triwulan dan tertuang dalam DPA.

Bendahara penerimaan pada SKPD wajib menyampaikan laporan pertanggungjawaban penerimaan kepada PPKD paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya. yang (4). (2). SPP-UP.Belanja Modal) . dan SPP-TU. (3). Pasal 97 (1) Bendahara penerimaan pada SKPD wajib menyelenggarakan pembukuan terhadap seluruh penerimaan dan penyetoran atas penerimaan yang menjadi tanggung jawabnya. PPKD melakukan verifikasi. Untuk penggantian dan penambahan uang persediaan. dianggap sah setelah kuasa BUD menerima nota kredit. (2) (3) Bagian Keempat Penatausahaan Bendahara Pengeluaran Pasal 98 (1). Permintaan pembayaran dilakukan melalui penerbitan SPP-LS. SPP-UP sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dilampiri dengan daftar rincian rencana penggunaan dana. bendahara (7). (3) Bendahara penerimaan dilarang menyimpan uang.-32- daerah pada bank pemerintah yang ditunjuk. (6). Pasal 99 Batas Besaran Pemberian Uang Persediaan per triwulan dapat dihitung dengan formula sebagai berikut : 3/12 dari (Belanja Daerah . Batas jumlah pengajuan SPP-TU sebagaimana dimaksud pada ayat (6) harus mendapat persetujuan dari PPKD dengan memperhatikan rincian kebutuhan dan waktu penggunaan. Bendahara pengeluaran melalui pejabat penatausahaan keuangan pada SKPD mengajukan SPP-UP kepada pengguna anggaran setinggi-tingginya untuk keperluan satu bulan. cek. Pengajuan SPP-LS dilampiri dengan kelengkapan persyaratan ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (5). SPP-GU.Belanja Modal) atau 3/12 dari (Belanja Langsung . PPTK mengajukan SPP-LS melalui pejabat penatausahaan keuangan pada SKPD kepada pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran paling lambat 3 (tiga) hari kerja setelah diterimanya tagihan dari pihak ketiga. evaluasi dan analisis atas laporan pertanggungjawaban penerimaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). atau surat berharga yang dalam penguasaannya lebih dari 1 (satu) hari kerja dan/atau atas nama pribadi pada bank atau giro pos. pengeluaran mengajukan SPP-GU dan/atau SPP-TU.Belanja Tidak Langsung .

anggaran yang ditujukan kepada bank (2). pengeluaran tersebut melampaui pagu. paling lama 2 (dua) hari kerja sejak SPM diterima. Sistem akuntansi Pemerintah Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan peraturan Bupati mengacu pada peraturan daerah tentang pengelolaan keuangan daerah. Pelaksanaan pembayaran melalui SPM-UP dan SPM-LS berpedoman pada (1). Pasal 103 Bupati berdasarkan standar akuntansi pemerintah menetapkan Peraturan . Penerbitan SP2D oleh Kuasa BUD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (4) Dalam hal kuasa BUD menolak permintaan pembayaran sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (2). (3). dan/atau b. (4). Kuasa BUD menerbitkan SP2D atas SPM yang diterima dari pengguna anggaran/kuasa pengguna operasional mitra kerjanya. Pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran mengajukan permintaan uang persediaan kepada kuasa BUD dengan menerbitkan SPM-UP. Pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran mengajukan penggantian uang persediaan yang telah digunakan kepada kuasa BUD. dengan menerbitkan SPM-GU yang dilampiri bukti asli pertanggungjawaban atas penggunaan uang persediaan sebelumnya. (3).-33- Pasal 100 (1). Kuasa BUD berhak menolak permintaan pembayaran yang diajukan pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran bilamana: a. SPM dikembalikan paling lama 1 (satu) hari kerja setelah diterima. Pemerintah daerah menyusun sistem akuntansi pemerintah daerah yang mengacu kepada standar akuntansi pemerintahan. (2). Bagian Kelima Akuntansi Keuangan Daerah Pasal 102 (1). SP2D yang diterbitkan dan ditandatangani oleh Kuasa BUD adalah dokumen yang digunakan untuk mencairkan dana ke bank yang ditunjuk tanpa perlu lagi menggunakan billyet giro. Dalam hal uang persediaan tidak mencukupi kebutuhan. ketentuan peraturan perundang-undangan Pasal 101 (4). pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran dapat mengajukan tambahan uang persediaan kepada kuasa BUD dengan menerbitkan SPM-TU. tidak didukung oleh kelengkapan dokumen sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.

PPKD menyusun laporan keuangan pemerintah daerah terdiri dari: a. Catatan Atas Laporan Keuangan. Pasal 104 (1). dan catatan atas laporan keuangan yang disampaikan kepada Bupati melalui PPKD selambat-lambatnya 2 (dua) bulan setelah tahun anggaran berakhir. prosedur akuntansi pengeluaran kas. Penyelenggaraan akuntansi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan pencatatan/penatausahaan atas transaksi keuangan di lingkungan SKPD dan menyiapkan laporan keuangan sehubungan dengan pelaksanaan anggaran dan barang yang dikelolanya. ayat (1) disusun dengan ketentuan BAB XI PERTANGGUNGJAWABAN PELAKSANAAN APBD Pasal 105 (1). Pasal 106 (1). Sistem akuntansi sebagaimana dimaksud pada berdasarkan prinsip pengendalian intern sesuai peraturan perundang-undangan. Laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri dari laporan (4). b. realisasi anggaran. dan d. (3). Laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disusun dan disajikan sesuai dengan Peraturan Pemerintah tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. aset. Kepala SKPD selaku pengguna anggaran menyelenggarakan akuntansi atas transaksi keuangan. utang. b. c. Laporan Arus Kas. d. PPKD menyelenggarakan akuntansi atas transaksi keuangan. utang. dan ekuitas dana. aset. neraca. yang berada dalam tanggung jawabnya. (5). Neraca. prosedur akuntansi aset. Kepala SKPD selaku pengguna anggaran/pengguna barang memberikan pernyataan bahwa pengelolaan APBD yang menjadi tanggung jawabnya telah diselenggarakan berdasarkan sistem pengendalian intern yang memadai. Sistem akuntansi pemerintah daerah paling sedikit meliputi: prosedur akuntansi penerimaan kas. prosedur akuntansi selain kas. c. (3).-34- Bupati tentang kebijakan akuntansi. (4). dan ekuitas dana. termasuk transaksi pembiayaan dan perhitungannya. sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Laporan Realisasi Anggaran. Laporan keuangan pemerintah daerah sebagaimana dimaksud pada ayat . a. (2). Laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilampiri dengan laporan ikhtisar realisasi kinerja dan laporan keuangan badan usaha milik daerah/perusahaan daerah. (2). (2).

Pasal 109 Bupati memberikan tanggapan dan melakukan penyesuaian terhadap laporan keuangan berdasarkan hasil pemeriksaan BPK atas laporan keuangan pemerintah daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 147 ayat (1). Pasal 107 dalam rangka memenuhi Bupati menyampaikan rancangan Peraturan Daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD kepada DPRD berupa laporan keuangan yang telah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) paling lambat 6 (enam) bulan setelah tahun anggaran berakhir. Apabila sampai batas waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) BPK belum menyampaikan laporan hasil pemeriksaan. (2) (3) Pemerintah daerah wajib melaporkan posisi surplus/defisit APBD kepada Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan setiap semester dalam tahun anggaran berkenaan. rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 65 diajukan kepada DPRD. Laporan keuangan pemerintah daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan kepada Bupati pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. Pasal 108 (1). Defisit APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditutup dengan pembiayaan netto. (3). Laporan keuangan pelaksanaan APBD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63 ayat (2) disampaikan kepada BPK selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan setelah tahun anggaran berakhir. Pemeriksaan laporan keuangan oleh BPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselesaikan selambat-lambatnya 2 (dua) bulan setelah menerima laporan keuangan dari Pemerintah Daerah.-35- (2) disusun berdasarkan laporan keuangan SKPD. (6). BAB XII PENGENDALIAN DEFISIT DAN PENGGUNAAN SURPLUS APBD Bagian Pertama Pengendalian Defisit APBD Pasal 110 (1) Dalam hal APBD diperkirakan defisit ditetapkan sumber-sumber pembiayaan untuk menutupi defisit tersebut dalam Peraturan Daerah tentang APBD. (2). Pasal 111 .

pembentukan dana cadangan. Pasal 113 Penggunaan surplus APBD diutamakan untuk pengurangan utang. penerimaan pinjaman. Saldo rekening penerimaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) setiap akhir hari kerja wajib disetorkan seluruhnya ke rekening kas umum daerah. pencairan dana cadangan. Bagian Kedua Penggunaan Surplus APBD Pasal 112 Dalam hal APBD diperkirakan surplus. penggunaannya ditetapkan dalam Peraturan Daerah tentang APBD. b. BAB XIII KEKAYAAN DAN KEWAJIBAN Bagian Pertama Pengelolaan Kas Umum Daerah Pasal 114 Semua transaksi penerimaan dan pengeluaran daerah dilaksanakan melalui rekening kas umum daerah Pasal 115 (1). untuk menampung penerimaan daerah setiap hari. dan rekening (3). d.-36- Defisit APBD dapat ditutup dari sumber pembiayaan: a. PPKD membuka rekening kas umum daerah pada bank yang ditentukan oleh Bupati. Rekening penerimaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) digunakan (4). hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan. Dalam rangka pengelolaan uang daerah. . c. penerimaan kembali pemberian pinjaman. dan/atau pendanaan belanja peningkatan jaminan sosial. (2). kuasa BUD dapat membuka rekening penerimaan pengeluaran pada bank yang ditetapkan oleh Bupati. (5). sisa lebih perhitungan anggaran (SiLPA) daerah tahun sebelumnya. Jumlah dana yang disediakan pada rekening pengeluaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disesuaikan dengan rencana pengeluaran untuk membiayai kegiatan pemerintahan yang telah ditetapkan dalam APBD. dan/atau e. Dalam pelaksanaan operasional penerimaan dan pengeluaran daerah. (6). Rekening pengeluaran pada bank sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diisi dengan dana yang bersumber dari rekening kas umum daerah.

Bunga dan/atau jasa giro yang diperoleh pemerintah daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan pendapatan asli daerah. ketentuan yang berlaku pada bank umum yang (2). kecuali mengenai piutang daerah yang cara penyelesaiannya sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Biaya sehubungan dengan pelayanan yang diberikan oleh bank umum didasarkan pada bersangkutan.000. Pemerintah daerah berhak memperoleh bunga dan/atau jasa giro atas dana yang disimpan pada bank umum berdasarkan tingkat suku bunga dan/atau jasa giro yang berlaku.000. (3). Penyelesaian piutang daerah sebagai akibat hubungan keperdataan dapat dilakukan melalui perdamaian. kecuali mengenai piutang daerah yang cara penyelesaiannya dilakukan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. 5. (2).00 (lima miliar dengan persetujuan DPRD untuk jumlah lebih dari Rp. menyangkut piutang pemerintah daerah. (2). Piutang daerah yang tidak dapat diselesaikan seluruhnya dan tepat waktu.-37- Pasal 116 (1). Bupati untuk jumlah sampai dengan Rp. dan kekayaan daerah wajib mengusahakan agar setiap piutang daerah diselesaikan seluruhnya dengan tepat waktu. (2).000. Bupati sepanjang a. Pasal 117 (1). Penghapusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (4). belanja. ditetapkan oleh : rupiah). daerah. diselesaikan menurut peraturan perundang-undangan. Pasal 119 (1). Biaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebankan pada belanja Bagian Kedua Pengelolaan Piutang Daerah Pasal 118 (1). Pemerintah daerah mempunyai hak mendahului atas piutang jenis tertentu sesuai dengan peraturan perundang-undangan. b. Setiap pejabat yang diberi kuasa untuk mengelola pendapatan. . Piutang daerah dapat dihapuskan secara mutlak atau bersyarat dari pembukuan sesuai dengan ketentuan mengenai penghapusan piutang negara dan daerah.

dan pertanggungjawaban APBD yang dilaksanakan secara berkala dan/atau . Investasi non permanen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dimaksudkan untuk dimiliki secara tidak berkelanjutan atau ada niat untuk diperjualbelikan atau ditarik kembali. (2). serta kelembagaan pengelolaan keuangan daerah.000. serta penelitian dan pengembangan. Pasal 124 (1). supervisi.000. penatausahaan. Bagian Ketiga Pengelolaan Investasi Daerah Pasal 120 Pemerintah daerah dapat melakukan investasi jangka pendek dan jangka panjang untuk memperoleh manfaat ekonomi. Pasal 122 (1). (3). Pemberian bimbingan. bimbingan. Investasi jangka panjang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 79 ayat (2) terdiri dari investasi permanen dan non permanen. supervisi. pelaksanaan. Investasi jangka pendek sebagaimana dimaksud dalam Pasal 159 merupakan investasi yang dapat segera dicairkan dan dimaksudkan untuk dimiliki selama 12 (dua belas) bulan atau kurang. (2). dan/atau manfaat lainnya. konsultasi. Pembinaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 81 meliputi pemberian pedoman. dan konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup perencanaan dan penyusunan APBD.00 (lima miliar rupiah).000. pemantauan dan evaluasi. sosial. Investasi permanen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dimaksudkan untuk dimiliki secara berkelanjutan tanpa ada niat untuk diperjualbelikan atau tidak ditarik kembali. Pemberian pedoman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup perencanaan dan penyusunan APBD. (3). Pasal 121 (1). pertanggungjawaban keuangan daerah. pelatihan.-38- 5. pendidikan. Investasi jangka panjang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 159. BAB XIV PEMBINAAN DAN PENGAWASAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH Bagian Pertama Pembinaan dan Pengawasan Pasal 123 Bupati melakukan pembinaan dan pengawasan pengelolaan keuangan daerah kepada SKPD yang dikoordinasikan oleh Sekretaris Daerah. (2). merupakan investasi yang dimaksudkan untuk dimiliki lebih dari 12 (dua belas) bulan.

BAB XV PENYELESAIAN KERUGIAN DAERAH Pasal 128 (1) Setiap kerugian daerah yang disebabkan oleh tindakan melanggar hukum atau kelalaian seseorang harus segera diselesaikan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. baik secara menyeluruh kepada seluruh SKPD maupun kepada SKPD tertentu sesuai dengan kebutuhan. pegawai negeri bukan bendahara. setelah mengetahui bahwa dalam SKPD yang bersangkutan terjadi kerugian akibat perbuatan dari pihak manapun.yang berlaku. (4). Pendidikan dan pelatihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan secara berkala bagi kepala SKPD. (2) Pengaturan dan penyelenggaraan sistem pengendalian intern sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berpedoman pada ketentuan peraturan perundang-undangan. atau pejabat lain yang karena perbuatannya melanggar hukum atau melalaikan kewajiban yang dibebankan kepadanya secara langsung merugikan keuangan daerah. dan akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah. dan Pegawai Negeri Sipil Daerah. wajib mengganti kerugian tersebut. Bagian Kedua Pengendalian Intern Pasal 126 (1) Dalam rangka meningkatkan kinerja.-39- sewaktu-waktu. transparansi. Pasal 125 Pengawasan pengelolaan keuangan daerah berpedoman pada ketentuan peraturan perundang-undangan. perangkat daerah. Kepala SKPD dapat segera melakukan tuntutan ganti rugi. Pasal 129 (2) (3) . Bupati mengatur dan menyelenggarakan sistem pengendalian intern di lingkungan pemerintahan daerah yang dipimpinnya. Bendahara. Bagian Ketiga Pemeriksaan Ekstern Pasal 127 Pemeriksaan pengelolaan dan pertanggungjawaban Keuangan Daerah dilakukan oleh BPK sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

melarikan diri. Jika surat keterangan tanggung jawab mutlak tidak mungkin diperoleh atau tidak dapat menjamin pengembalian kerugian daerah. Tanggung jawab pengampu/yang memperoleh hak/ahli waris untuk membayar ganti kerugian daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi hapus apabila dalam waktu 3 (tiga) tahun sejak keputusan pengadilan yang menetapkan pengampuan kepada bendahara. yang berada dalam penguasaan bendahara. atau pejabat lain yang bersangkutan. pegawai negeri bukan bendahara. Ketentuan penyelesaian kerugian daerah dalam peraturan pemerintah ini berlaku pula untuk pengelola perusahaan daerah dan badan-badan lain yang menyelenggarakan pengelolaan keuangan daerah. atau pejabat lain yang dikenai tuntutan ganti kerugian daerah berada dalam pengampuan. atau sejak bendahara. dalam bukan negeri dalam (2). yang berasal dari bendahara. Pasal 130 (2) (3) (1). pegawai negeri bukan bendahara. Segera setelah kerugian daerah tersebut diketahui.-40- (1) Kerugian daerah wajib dilaporkan oleh atasan langsung atau kepala SKPD kepada Bupati dan diberitahukan kepada BPK selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja setelah kerugian daerah itu diketahui. pegawai bukan bendahara. sepanjang tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan tersendiri. dan pejabat lain yang telah ditetapkan untuk mengganti kerugian administratif dan/atau sanksi pidana. pegawai negeri bukan bendahara dan pejabat lain tidak membebaskan yang bersangkutan . pegawai negeri bukan bendahara. pegawai negeri bukan bendahara. pengampu/yang memperoleh hak/ahli waris tidak diberi tahu oleh pejabat yang berwenang mengenai adanya kerugian daerah. Putusan pidana atas kerugian daerah terhadap bendahara. daerah dapat dikenai sanksi (2). Bendahara. kepada bendahara. atau pejabat lain yang bersangkutan. terbatas pada kekayaan yang dikelola atau diperolehnya. penuntutan dan penagihan terhadapnya beralih kepada pengampu/yang memperoleh hak/ahli waris. atau pejabat lain yang nyata-nyata melanggar hukum atau melalaikan kewajibannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 204 ayat (2) segera dimintakan surat pernyataan kesanggupan dan/atau pengakuan bahwa kerugian tersebut menjadi tanggung jawabnya dan bersedia mengganti kerugian daerah dimaksud. Dalam hal bendahara. (2). Pasal 131 (1). pegawai negeri bukan bendahara. Ketentuan penyelesaian kerugian daerah sebagaimana diatur peraturan pemerintah ini berlaku pula untuk uang dan/atau barang milik daerah. atau pejabat lain yang bersangkutan diketahui melarikan diri atau meninggal dunia. atau pejabat lain yang digunakan penyelenggaraan tugas pemerintahan. Bupati segera mengeluarkan surat keputusan pembebanan penggantian kerugian sementara kepada yang bersangkutan. pegawai negeri bukan bendahara. atau meninggal dunia. Pasal 132 (1).

. Pasal 133 Kewajiban bendahara. bantuan pemerintah dan bantuan Pemerintah Daerah. menjadi kedaluwarsa jika dalam waktu 5 (lima) tahun sejak diketahuinya kerugian tersebut atau dalam waktu 8 (delapan) tahun sejak terjadinya kerugian tidak dilakukan penuntutan ganti rugi terhadap yang bersangkutan. Desa adalah pemegang kekuasaan (2) Dalam melaksanakan kekuasaannya sebagaimana . pegawai negeri bukan bendahara. BAB XVI KEUANGAN DESA Bagian Pertama Alokasi Anggaran Pasal 137 (1) Penyelenggaraan urusan pemerintahan desa yang menjadi kewenangan desa didanai dari anggaran pendapatan dan belanja desa. Pasal 134 (1) (2) Pengenaan ganti kerugian daerah terhadap bendahara ditetapkan oleh BPK.-41- dari tuntutan ganti rugi. BPK menindaklanjutinya sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 135 Pengenaan ganti kerugian daerah terhadap pegawai negeri bukan bendahara ditetapkan oleh Bupati. Penyelenggaraan urusan pemerintah daerah yang diselenggarakan oleh pemerintah desa didanai dari anggaran pendapatan dan belanja daerah yang ditampung pada Anggaran Bagian Pemerintahan Umum pada Sekretariat Daerah Kabupaten tapanuli Tengah Bagian Kedua Pengelolaan Pasal 138 (1) (2) Kepala pengelolaan Keuangan Desa. atau pejabat lain untuk membayar ganti rugi. Pasal 136 Ketentuan lebih lanjut tentang tata cara tuntutan ganti kerugian daerah diatur dengan Peraturan Daerah dan berpedoman pada peraturan perundangundangan. Apabila dalam pemeriksaan kerugian daerah ditemukan unsur pidana.

Pasal 143 Peraturan Bupati ini mulai berlaku sejak tanggal diundangkan.-42- dimaksud pada ayat (1) Kepala Desa dapat melimpahkan sebagian atau seluruh kekuasaannya yang berupa perencanaan. Peraturan Bupati Tapanuli Tengah Nomor 34 Tahun 2008 tentang Sistem dan Prosedur Pengelolaan Keuangan Daerah di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah Tahun Anggaran 2008. Pasal 140 Pedoman pengelolaan keuangan desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 96 ayat (1) diatur dengan Peraturan Bupati. dicabut dan dinyatakan tidak berlaku lagi. . memerintahkan pengundangan Peraturan Bupati ini dengan penempatannya dalam Berita Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah. Pasal 139 Ketentuan lebih lanjut mengenai pengelolaan keuangan desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 96 ayat (1) diatur dengan peraturan desa. pelaksanaan. Pasal 144 Agar setiap orang mengetahuinya. BAB XVIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 142 Pada saat berlakunya Peraturan Bupati ini. BAB XVII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 141 Semua Pedoman Administrasi Penatausahaan Keuangan dari Perencanaan sampai dengan Pertanggungjawaban APBD tertuang dalam Lampiran Peraturan ini dalam bentuk Sistem dan Prosedur Penatausahaan Keuangan Daerah dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Bupati ini. penatausahaan. pelaporan kepada perangkat desa.

SEKRETARIS DAERAH LUMBANTOBING Drs.-43- Ditetapkan di Pandan pada tanggal. USMAN BATUBARA Berita Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah Nomor 4 Seri E . 2011 BUPATI TAPANULI TENGAH ttd TUANI Diundangkan di Pandan pada tanggal Mei 2011 Plt.

Pasal 102 Peraturan Bupati ini mulai berlaku sejak ditetapkan. Agar setiap orang mengetahuinya. BAB XIV KETENTUAN PENUTUP Pasal 101 Peraturan Bupati ini berlaku untuk Tahun Anggaran 2008. memerintahkan pengundangan Peraturan Bupati ini dengan penempatannya dalam Berita Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah.-44- Lampiran Peraturan ini dalam bentuk Sistem dan Prosedur Penatausahaan Keuangan Daerah dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Bupati ini.. Ditetapkan di Pandan pada tanggal. 11 Agustus 2008 BUPATI TAPANULI TENGAH dto TUANI Diundangkan di Pandan pada tanggal 13 Agustus 2008 SEKRETARIS DAERAH LUMBANTOBING .

-45- BAHARUDDIN MANIK Berita Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah Nomor 35 Seri A .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->