P. 1
122010 San Tun An

122010 San Tun An

|Views: 251|Likes:
Published by Muhammad

More info:

Published by: Muhammad on Sep 19, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/16/2012

pdf

text

original

Pimpinan dan Seluruh Karyawan/Karyawati Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh

Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1432 Hijriyyah dan Tahun Baru Masehi 2011 Miladiyyah Semoga semakin memantapkan etos kerja dan kinerja seluruh jajaran Kementerian Agama Provinsi Aceh
Kepala, Drs. H. A. Rahman TB, Lt

Mengucapkan

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh dan Seluruh Jajarannya
atas berlangsungnya Perkemahan Wirakarya Jambore Nasional Tahun 2010 di Scout Camp, Seulawah, Provinsi Aceh dari tanggal 29 November - 6 Desember 2010
Ttd Drs. H. A. Rahman TB, Lt

Mengucapkan Selamat dan Sukses

DAFTAR ISI

Santri pun Wajib Sekolah
Menuju Pendidikan yang Adil
Drs. Sulaiman, Lt., M.Pd:

Laporan Utama :

Hal. 6

Hal. 12

Drs. T. Arifin , M.Si:

Ujian saja tanpa Sekolah, itu Imposibel

Berlindung di Masjid, 50 orang selamat

Tsunami Mentawai;

Dunia Islam:
Hal. 24

Hal. 11

Tafsir:

Ishak, atau Ismail?
Hal. 31
Korpri dan DW: Hal. 54

Suamiku Nusyuz

Kosultasi BP4: Hal. 44

Tips Memelihara Anggrek

Camilla Leyland, Guru Yoga yang Menjadi Muslimah Hal. 31
Cover: Seorang santri sedang mengaji (Tgk. Irfan M. Nur). Majalah Santunan Kantor Kementerian Agama Provinsi Aceh Pembina: Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh Penanggungjawab: Kepala Bagian Tata Usaha Kanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh Dewan Pengarah: Drs. H. Taufiq Abdullah; Drs. H. Ibnu Sa’dan, M.Pd; H. Abrar Zym, S.Ag; Drs. H. Asy’ari Basyah; Drs. Saifuddin AR; H. Aska Yunan, S.Ag. Pemimpin Umum: Drs. H. Zuardi Zain Pemimpin Redaksi: Juniazi Wakil Pemimpin Redaksi: Muzakkir Sekretaris Redaksi : Khairuddin Aba Wakil Sekretaris Redaksi: Jabbar Sabil Redaktur: Mulyadi Nurdin; Ridwan Qari; Juhaimi; Taharuddin, Wiswadas; Azhar; Khairul Saleh; Abdullah AR; Muhammad Yakub Yahya; Suri Arniansyah; Alfirdaus Putra. Pemimpin Usaha: Imran Wakil Pemimpin Usaha: Zulfahmi Keuangan: Munawar; Elia Fajri Sirkulasi: Darwin; Jatu Rahmi Rahayu Iklan: Hartati; Yenni Yusnita Layout: Tim Santunan Alamat Redaksi: Jl. Tgk. Abu Lam U No. 9 Banda Aceh E-mail : redaksisantunan@yahoo.co.id / redaksisantunan@gmail.com Hotline-SMS: 0852-7775-9339

aru-baru ini, Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh, kembali melaksanakan ujian Wajar Dikdas 9 Tahun pada pondok pesantren dan atau dayah salafiyah di seluruh Aceh. Ujian ini dilakukan sebagai bentuk penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun di pondok pesantren. Sejak awal, program ini diorientasikan untuk memberikan kesempatan kepada santri yang tidak mengikuti layanan pada pendidikan dasar jalur formal, dan menjangkau santri yang belum terlayani hak dasar pendidikannya. Jika ditilik dengan seksama, untuk kegiatan ini pemerintah telah menyiapkan dua program khusus, yaitu program Wajar Dikdas pada Pondok Pesantren Salafiyah dan Pendidikan Kesetaraan (Paket A dan B) pada Pondok Pesantren, yang selama ini sudah berlangsung di sebagian besar dayah, khususnya di Aceh. Program Wajardikdas ini adalah salah satu contoh dan bukti keikutsertaan pemerintah dalam rangka pengembangan mutu serta kualitas pondok pesantren. Bagaimana kita tidak sedih dan prihatin, bila sebelumnya pesantren dianggap pendidikan tidak bergengsi. Lepasan pesantren atau dayah tidak diakui, baik dari segi keilmuan maupun legalitasnya. Makanya, dulu kita dengar, alumni dayah tidak dapat melanjutkan pendidikan di jalur pendidikan formal. Alumni pesantren tidak diterima kuliah di perguruan tinggi. Alumni pesantren tidak berkualitas. Alumni dayah tidak diterima jadi CPNS, dan seterusnya. Saat itu, stigma alumni pesantren tidak bisa dipakai, maaf, sudah menjadi rahasia umum. Nah, stigma itu, harus dihilangkan.Harus dihapus. Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional mengamanatkan, pesantren adalah lembaga pendidikan yang diakui di negeri ini. Tidak ada perbedaaan antara pesantren dengan lembaga pendidikan lainnya. Sebagaimana halnya, lembaga pendidikan agama dengan lembaga pendidikan umum, tidak ada lagi dikotomi.
4

B

Agar Tidak Lagi Dilihat Sebelah Mata
Punya hak yang sama di mata pemerintah, termasuk untuk mendapatkan bantuan dan anggaran. Dalam konteks pengembangan pesantren, pemerintah sebetulnya menempatkan diri dalam posisi sebagai fasilitator. Sedangkan inisiatif dan upaya-upaya pengembangan, haruslah tumbuh dari dan dilakukan oleh pondok pesantren itu sendiri. Tidak dapat dipungkiri, untuk mencapai sistem pendidikan dan pengajaran yang baik di pondok pesantren, diperlukan inovasi-inovasi pendidikan dengan tetap mengikuti perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan serta teknologi. Walau, pandangan ini sebelumnya mendapat tantangan dan kritikan dari dalam pesantren sendiri. Namun, terakhir, kita melihat dan mendengar, banyak pesantren yang sudah menerima pembaharuanpembaharuan dari luar. Sebagai lembaga pendidikan keagamaan, inovasi yang terus menerus di pesantren diperlukan, agar pelayanan diberikan pesantren tetap up-todate. Agar pesantren tidak lagi dilihat sebelah mata. Supaya pesantren dapat bersanding dengan lembagalembaga pendidikan formal lainnya. Inovasi-inovasi itu, misalnya, bidang kurikulum, pembenahan manajemen sarana dan prasarana pendidikan. Juga tak kalah penting adalah membangun jaringan kerjasama, baik dengan sesama pesantren, lembaga pendidikan formal lainnya atau dengan lembaga-lembaga lain. Satu hal penting sebagai catatan, semangat pembaharuan yang diwarnai dengan inovasi-inovasi baru di pesantren, tidak menghilangkan ciri-ciri khas pesantren yang selama ini dipegang teguh. Tradisi dan identitas pesantren tidak boleh lentur, harus dipertahankan. Karena, inilah sebetulnya yang menjadi keunikan pesantren dibanding lembaga pendidikan lain di negeri ini. Santri bersarung? Kenapa tidak. Ini adalah khazanah. n Juniazi

Santunan DESEMBER 2010

Profile Guru Teladan
Yth. Pemimpin Redaksi Majalah Santunan diMeja Tugas Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Teriring do’a semoga kita selalu berada dalam keadaan sehat

wal’afiat dibawah lindungan Allah Swt. Saya adalah salah seorang pembaca setia majalah Santunan yang berdomisili di Lhoksukon Aceh Utara. Saya sangat tertarik dengan berbagai topik dan materi yang dimuat dalam Majalah tersebut. Pada kesempatan ini saya ingin mengusulkan seorang guru untuk mengisi kolom Tokoh. Selama

ini saya melihat kolom tokoh sering diisi oleh unsur pajabat di Kemenag. Saya rasa kolom ini juga sangat menarik dan dapat memotivasi guru atau siswa bila kolom Tokoh ini juga diisi oleh guru-guru atau siswa berprestasi di lingkungan Kemenag. Tanpa sengaja saya menemukan salah seorang guru Kemenag yang tercatat sebagai salah seorang tokoh dalam situs Acehpedia.org, yaitu ibu Nurchaili. Saya rasa prestasi ibu ini layak untuk dipublikasikan melalui Majalah Santunan untuk memotivasi guru lainnya bahwa sumberdaya di Kemenag juga tidak kalah dengan instansi lainnya. Selama ini saya juga pernah membaca di harian lokal, ada guru madrasah di Aceh Besar yang berprestasi dalam Lomba Inovasi Pembelajaran dan Siswa MAN Model Banda Aceh yang juara menulis tingkat nasional. Tentu prestasi-prestasi ini sangat membanggakan bagi komunitas besar Kemenag Aceh. Demikianlah yang dapat saya sampaikan, atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih. Wassalam, Suryadi Ali suryadi_ali@yahoo.com

Redaksi Terima kasih atas masukan Saudara Suryadi, insya Allah akan menjadi pertimbangan dewan redaksi Majalah Santunan.

Perhatian: Redaksi hanya memuat surat, email, atau sms yang menyertakan identitas yang jelas, dan disampaikan dalam bahasa yang sopan. Demikian untuk dimaklumi.
BIRO DAERAH MAJALAH SANTUNAN: Kota Banda Aceh Yusri, Said Mahfud, Aceh Barat Narjun Ikhsan, Merahwan, Simeulu Drs. H. Yusman, Iskandar, Aceh Barat Daya Zubaili, Fajrina, Nagan Raya Muhammad Juned, Taufiq, Aceh Tengah M. Ramli, SH, Hasanah, Gayo Lues Radiah, S.Sos, Munirullah, S.Sos.I, Pidie Drs. Ilyas Muhammad, Syuib, S.Ag, Kota Lhokseumawe T. Helmi, S.Sos, Umar Dani, Aceh Besar Nasrullah, Amirullah, Kota Sabang H. Khairuddin, S.Ag, Eriadi, ST, Aceh Jaya Taisir, S.TH, Rahmat, Aceh Selatan Drs. Bukhari Harun, Zulhelmi, S.Pd.I, Aceh Tenggara Syaiful, S.HI, Razali, Aceh Timur Jakfar, S.Sos.I, Hermansyah, Aceh Tamiang Muhammad Sofyan, Jumini, Kota Langsa M. Dahlan Ary, Apmilina Sari, Aceh Utara Drs. Kasmidi, A. Hadi, Aceh Singkil Ghazali, S.Ag, Widiastuti, Bener Meriah Azhari Ramadhan, M.Ag, Irmayati, SE, Bireuen Ismuar, S.Ag, Mursyidah. Santunan DESEMBER 2010

5

LAPORAN UTAMA
Dirangkum oleh Muhammad Yakub yahya

Santri pun Wajib Sekolah
Aaktivitas santri dayah mulai bergeser dalam hal kurikulum. ‘Anak dayah’ bukan hanya menelaah kitab gundul saja, tapi juga pelajaran umum. Umat pun tentu berharap banyak...

S

ejak beberapa tahun terakhir, aktivitas santri dayah mulai bergeser, melangkah lebih maju dalam hal kurikulum dan jadwal. Di dayah, terutama yang disebut salafiyah, ‘anak dayah’ bukan hanya menelaah kitab gundul, tapi juga belajar mata pelajaran sekolah. Ummat pun tentu mengharap lebih banyak, mereka menjadi tempat bertanya lebih awal setiap soalan hidup masyarakat. Harapan ini, tempat ditanyai persoalan kehidupan, juga sebenarnya dibebani ke pundak insan akademik lain, mahasiswa misalnya. Berikut hanya tiga contoh, jika musim pemungutan zakat telah tiba, santri dayah dituntut lebih cerdas dan cermat, untuk mampu mengkalkulasikan besaran nisab dari para muzakki. Selanjutnya santri diharapkan lebih tangkas dan piawai dalam memecahkan dan mendistribusikan harta agama. Pembagian, pengurangan, dan penambahan lewat digit desimal (1,2 atau 2,01 misalnya) dan bilangan pecahan (misalnya 1/5 atau 2/3), setelah program pedidikan umum di dayah, dimohon lebih lancar di tangan santri. Ini bagian dari muara

mata pelajaran matematika di dayah, sebagaimana juga di sekolah umum. Buat santri di dayah yang belum belajar matematika, kini akan terbantu dengan program ‘santri sekolah’, yang salah satunya ilmu eksakta tadi, sebagaimana didikan di bangku sekolah untuk anak bangsa lainnya, di luar dayah. PLS (Pendidikan

Luar Sekolah) itu program pemerintah yang sudah lama di Aceh. Andai ada problematika dari keluarga muslimin, soal pembagian pusaka, guru dan santri dayah termasuk yang duluan didatangi warga. Dikesankan, teungku dayah lebih alim. Atau jika ada informasi (isu global atau istilah asing) yang masuk

6

Santunan DESEMBER 2010

LAPORAN UTAMA
ke bilik-bilik dayah, yang belum akrab di pesantren salafi --belum seakrab seperti bahasa kitab yang diejanya sehari-hari-- maka pendidikan bahasa sebagai mata pelajaran ‘luar sekolah’, di samping pengajian tambahan, mutlak diperlukan hari ini. Sekolah Sempat, Ijazah Dapat Jadi sekarang, bagi saudara di kampung dan kota, masuk ke pesantren tanpa sempat menduduki bangku sekolah satu kelas pun, atau sikula terhenti, hingga belum menamatkannya, maka dengan program nasional pendidikan dasar, mudah-mudahan akan membantu santri untuk menyahuti hak asasinya: mendapat pendidikan yang layak. Ini pula yang menjadi salah satu inti dan muara pengetahuan, betapa sinergisnya kebutuhan pendidikan agama dan umum dari zaman Nabi Saw. hingga kini. Benarlah, hakikat ilmu itu tak ada itu ilmu dunia dan ilmu akhirat, umum dan agama, karena al-‘ilm (kelak dinamakan ilmu, ilmu pengetahuan, dan pengetahuan) itu sumbernya satu, dari Allah. Manusialah yang memilah dan memilihnya. Tergantung sekarang cara kita mensosialisasikan kepada para Abu di dayah untuk menerima program ini. Pertama memang ada sebagian pimpinan dayah kurang tertarik, namun ketika ditelaah regulasi, teknik, dan aspek manfaatnya, banyak dayah di Aceh yang kini menerimanya. Begitu di antara pengalaman staf dan pejabat di Pekapontren (Pendidikan Keagamaan dan Pondok Pesantren) Kanwil Kemenag Provinsi Aceh, sebagaimana di sampaikan Drs. Sulaiman, Lt., M.Pd., Kasi Pendidikan Salafi, kepada Santunan. Memang, anggaran salah satu masalah besar untuk guru umum yang masuk ke dayah, jika target program ini diharapkan seperti target sekolah umum. Barangkali sebagian masyarakat masih kurang akrab dengan istilah Wajardikdas (Wajib Belajar Pendidikan

Dasar) pada ponpes, apalagi jika diiringi dengan Paket A, B, dan C. “Sekolah di dayah, itu hanya satu pola di antara banyak pola pendidikan di Indonesia bagi masyarakat untuk mengenyam pendidikan dasar, sebagaimana juga di SD/MI, SLTP/ MTs,” sambung Drs. Sulaiman. Jadi santriwan dan santriwati pun wajib sekolah, minimal tingkat dasar 9 tahun (6 tahun sederajat dengan SD dan 3 tahun sederajat dengan SMP) dengan tidak perlu keluar dari pesantren. Ijazah hasil UNPPS (Ujian Nasional Pondok Pesanten Salafi) sama-sama civil effect, sebagaimana ijazah alumnus lembaga formal lainnya. Bahkan bagi santri yang telah berumur 18 tahun, tapi belum memliki ijazah SD/MI atau SLTP/ MTs, dapat diikutsertakan dalam pogram Wajardikdas ini. Namun jika santri sedang mengikuti pendidikan dasar di SD/MI, sambilan mengaji di Ponpes Salafi/Diniyah Salafiyah, tentu diutamakan merampungkan saja di bangku sekolah. Pendidikan Dasar pada Pesantren Salafiyah ada dua jenjang. Pertama, Ula (Dasar) bagi santri yang berusia 7 sampai 12 tahun. Kedua, Wustha (Lanjutan)
Santunan DESEMBER 2010

untuk santri yang berusia 13 sampai 15 tahun. Teknik pembelajaran di ponpes, jelas Sulaiman, antara lain dengan mendatangkan guru pendidikan umum (matematika, IPA, IPS, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, dan Pendidikan Kewarganegaraan) ke dayah salafi untuk membantu para santri, di luar jam pengajian rutin, seperti usai shalat shubuh atau asar. Guru luar bisa berijazah D1 dan S1. Modelnya ada yang bermacammacam, ada yang betul-betul kayak kuliah: para santri mencatat mata kuliah, di sisinya seorang guru yang memberikan kuliah; santri membaca modul, lalu memahami, sedangkan guru mengawasi saja; bentuk diskusi atau semacam halaqah yang duduk melingkar; dan metode hafalan. Ini sangat cocok untuk mata pelajaran matematika IPA, dan Bahasa Indonesia. Tujuan penyelenggaraan Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar pada Pondok Pesantren Salafi, antara lan untuk memberi kesempatan yang sama bagi semua warga negara untuk menikmati minimal pendidikan dasarnya, dari usia tujuh hingga lima belas tahun. “Di samping sebagai
7

LAPORAN UTAMA
salah satu kewajiban negara melayani setiap warganya untuk mendapatkan pendidikan yang memadai, menuntaskan wajib belajar 9 tahun, mencerdaskan segenap anak bangsa; dan memberikan kesempatan yang sama dan adil bagi anak dayah dan luar dayah, untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, dengan ijazah yang sama-sama sah, sebagaiman lembaga pendidikan lain, seperti SD/MI dan SLTP/MTs,” jelas Drs. Sulaiman, Lt., M.Pd, pada Santunan. Dengan ijazah yang legal dan diakui negara itu, alumni pendidikan dasar di pondok pesantren (ponpes) dapat melanjutkan kuliah (tentu setelah jenjang pendidikan SMA/MA) atau kesempatan mendapatkan pekerjaan di berbagai instansi pemerintah dan perusahaan. “Alumni Wajar Dikdas itu memiliki peluang yang sama, sebab tujuan lain dari program ini ialah menuntaskan buta aksara,” ujar Sulaiman yang sempat menempuh sebuah pendidikan di Jepang. Anggaran Setara Kita mengharapkan secara bertahap, kesenjangan pendidikan, meliputi perhatian dan anggaran, antara pendidikan di dayah dan lembaga umum, di Aceh terutama, dapat diminimalisir. Kita salut, padahal dalam hal tertentu, kelebihan anak dayah lebih dibandingkan anak sekolah, misalnya dalam berorasi dan tampil di depan. Bahkan yang berkiprah keluar negeri. Ini memang soal kapasitas pribadi-pribadi. Makanya dengan Program PLS (Pendidikan Luar Sekolah), kesan ketimpangan itu dapat dikurangi. Demikian harapan H. Muharuddin, Sekretaris Komisi E DPR Aceh, yang membidangi salah satunya, pendidikan. “Jika selama ini, anggaran untuk membayar honor guru di dayah disisihkan dari anggaran yang diplotkan untuk santri di dayah --semacam dana BOS di sekolah umum, dengan pogram ini pemerintah mestinya mengalokasikan anggaran yang memadai, sebab ini program pemerintah. Barangkali wewenang Badan Dayah atau Dinas Pendidikan. Kita di dewan pun terus memberi support,” janji Muharuddin, anggota dewan dari Fraksi PA itu. Guna memayungi hak warga negara di atas, antara lain UU Nomor 2 Tahun 1989 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), PP Nomor 73 Tahun 1971 Tentang Pendidikan Luar Sekolah (PLS), Inpres Nomor 1 Tahun 1994 Tentang Pelaksanaan Wajib Belajar Pendidikan Dasar (Wajar Dikdas) Sembilan Tahun, dan SKB Mendiknas dan Menag Nomor 1/U/KB/2000 dan Nomor MA/86/2000 Tentang Pondok Pesantren Salafiah Sebagai Pola Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun, perlu disosialisasikan kepada pimpinan dayah dan masyarakat. Meski ada aturan yang jelas, peran Dinas Pendidikan selama ini tidak bisa mencampur terlalu jauh ke dalam pengajaran (kurikulum) di pesantren. Paling untuk program luar sekolah, pihak PLS hanya memantau ujian. Demikian gambaran yang diberikan Drs. T. Arifin, M.Si., Kepala Bidang PLBS Dinas Pendidikan Provinsi Aceh pada Santunan. n (yakub, mulyadi, khairuddin, amwar)

REKAPITULASI JUMLAH PONDOK, SANTRI DAN GURU WAJAR DIKDAS
NO. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 KABUPATEN/KOTA BANDA ACEH SABANG LHOKSEUMAWE LANGSA SUBULUSSALAM ACEH BESAR PIDIE PIDIE JAYA BIREUEN ACEH TENGAH BENER MERIAH ACEH UTARA ACEH TIMUR ACEH TAMIANG SINGKIL ACEH JAYA ACEH BARAT NAGAN RAYA SIMEULUE ACEH BARAT DAYA ACEH SELATAN ACEH TENGGARA GAYO LUES TOTAL JUMLAH PONDOK 5 0 2 2 0 3 36 0 6 3 0 32 10 2 3 5 16 19 5 7 11 4 6 177 JUMLAH SANTRI ULA 16 0 42 0 0 0 117 0 0 213 0 1022 603 83 62 55 177 382 320 150 282 166 226 3916 WUSTHA 135 0 108 54 0 189 5320 0 416 148 0 3442 1206 0 182 144 956 653 106 506 887 166 281 14899 JUMLAH GURU ULA 6 0 6 0 0 0 15 0 0 18 0 106 31 5 5 15 15 95 25 21 20 20 25 428 WUSTHA 24 0 7 11 0 18 207 0 37 18 0 177 58 0 18 13 96 114 6 42 63 24 36 969

Sumber: Bidang Pekapontren Kanwil Kemenag Aceh

8

Santunan DESEMBER 2010

LAPORAN UTAMA
Laporan Zarkasyi

(Evaluasi pelaksanaan ujian wajardikdas)
Ujian nasional untuk program ini dilaksanakan secara serentak, sama seperti halnya sekolah Umum dan Madrasah. Ini dilakukan agar program yang dilaksanakan pada lembaga non formal ini tidak dituding dipandang sebelah mata, dipandang rendah, dan diasumsikan tidak memiliki kapasitas, baik secara kelembagaan, maupun standar kelulusan santri. Ujian Nasional Wajardikdas Ula dan wustha pondok Pesantren dilaksanakan dua kali dalam satu tahun pembelajaran. Ujian tahap pertama dilaksanakan pada bulan Juni-Juli, dan tahap kedua pada bulan November. Ujian tahap kedua diikuti oleh peserta yang tidak lulus pada ujian tahap pertama. Untuk tahun 2010, tahap pertama diikuti oleh 636 santri tingkat ula, dan 2798 santri tingkat wustha. Pada tahap ini hanya 373 santri ula yang lulus, sedangkan wustha hanya 1194 santri. Minimnya jumlah peserta yang lulus pada tahap pertama, tentu menimbulkan tanda tanya besar. Kondisi ini tentu mengindikasikan, bahwa pelaksanaan ujian wajardikdas Pesantren Salafiyah masih banyak kekurangan, proses pembelajaran pun masih perlu dievaluasi, kualitas pengajar pun harus mendapat perhatian serius. Bahkan proses pembelajarannya disinyalir menganut sistem; “wate troh kapai baro pula lada.” Belajar hendaknya tidak dilakukan pada saat akan menghadapi ujian nasional. Fakta rendahnya tingkat kelulusan peserta program Wajardikdas tentu menuntut perhatian serius. Jelasnya,
9

Wajarkah Wajardikdas?

P

emberantasan buta aksara yang salah satu implementasinya berwujud program Wajardikdas (Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun), merupakan salah satu program Pemerintah yang terus dilaksanakan sampai sekarang. Di antara upaya tersebut, juga diturunkan dalam bentuk pemberian dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) pada tingkat dasar dan menengah, serta pondok pesantren salafiyah. Penyelenggaraan program Wajib Belajar Pendidikan dasar Sembilan tahun tentu membutuhkan kucuran dana yang tidak sedikit. Trilyunan rupiah anggaran disediakan untuk mendukung program ini. Namun sejauhmana program ini memberikan kontribusi, tentu tidak mudah untuk

dijawab. Yang jelas pemerintah telah menunjukkan keseriusannya bagi upaya memerangi buta aksara di tengah masyarakat. Untuk menjawab itu semua, tentu diperlukan evaluasi dan penelitian yang mampu memberikan data valid guna mengukur tingkat keberhasilan program ini. Mungkin Ujian Nasional Wajardikdas dapat dijadikan salah satu indikator dalam melihat dan menilai keberhasilan program ini. Oleh karena itu, tulisan ini mencoba memberikan suatu gambaran tentang ujian nasional Wajardikdas diselenggarakan baru-baru ini. Tentunya gambaran ini hanya berlaku dalam skop lokal, Aceh. Karena data yang dipakai hanya dari hasil evaluasi yang diselenggarakan di Aceh.
Santunan DESEMBER 2010

LAPORAN UTAMA
wajardikdas pada pondok pesantren perlu mendapat evaluasi, apakah program ini masih wajar diteruskan, atau perlu pembenahan sistem pelaksanaannya. Sebab beberapa temuan di lapangan menyajikan fakta, bahwa banyak peserta program ini merupakan siswa sekolah/madrasah yang hanya mengikuti ujian program ini saat waktunya tiba. Hal ini tentu dapat dijadikan bukti, bahwa program ini telah jauh melenceng dari tujuan dasar. Tujuan dasar program ini adalah memberikan akses pendidikan kepada mereka yang tidak mendapatkan pendidikan, terutama pendidikan pada tingkat dasar dan menengah. Jika kemudian yang ikut justru siswa yang sedang belajar di bangku, sekolah, apakah ini dapat dikatakan efektif? Fakta lain yang tersaji, bahwa pengelolaan Wajardikdas masih belum sesuai dengan yang diharapkan. Manajemennya pun masih menganut sistem menajemen keluarga. Bahkan lebih jauh, pesantren salafiyah sebagai penyelenggara program ini dituding hanya tertarik memanfaatkan dana cuma-cuma yang diberikan pemerintah melalui BOS Wajardikdas Salafiyah. Lalu masih wajarkah Wajardikdas? Wajar atau tidak, Wajardikdas masih terus digulirkan, terutama pada pondok pesantren salafiyah. Tentu keberlanjutan program Wajardikdas sangat ditentukan oleh hasil evaluasi pelaksanaannya. Semua ini sangat bergantung dari kinerja para pihak yang terlibat, terutama pihak pondok pesantren salafiyah sebagai penyelenggara wajardikdas. Idealnya, program ini hendaklah benar-benar dilaksanakan sebagai suatu upaya meningkatkan mutu pesantren, terutama bagi santri yang berkeinginan melanjutkan pendidikan umum ke jenjang yang lebih tinggi. Setidaknya, ijazah wajardikdas ula dan wustha, dapat menjadi bekal awal untuk menuju jenjang yang lebih tinggi. n
10

H. Muharuddin, Sekretaris Komisi E DPR Aceh

Bisa Moderat Meski Tetap Salafiah
Dayah Samalanga. Bahkan di MUDI Mesra, Bireuen itu dalam satu komplek ada STAI pula. Jadi lebih modern walaupun salafiyah. Ada dayah di Tanoh Mirah Bireuen yang memiliki Diniyah, atau Babussalam Alue Bilie Aceh Utara, yang juga ada ‘jenjang sekolah umum’ di sana. Selain itu, di Aceh, ada dayah sekarang yang mengembangkan santri lewat kursus-kursus, di samping Paket C. Ini bagian untuk menghilangkan imej, bahwa di sana hanya mengaji kitab kuning (kitab gundul). Kita terus mensupport supaya lembaga pendidikan agama lewat pogram luar sekolah itu dapat bersaing dengan alumni lembaga umum. Sehingga harapan kita, dari dayah ada karya yang dimanfaatkan lebih oleh ummat. Jadi dayah akan lebih memperindah dan modern, walau salafiah. Selanjutnya ada keterpaduan antara agama dan umum. Kita di dewan terus mengarahkan pemerintah pada perimbangan anggaran dayah agar menyamai anggaan sekolah. Dalam rapat paripurna bersama gubernur, kita sering suarakan hal ini. Jika kita mendengar gaji guru dan guru mengajar pelajaran umum dalam program PLS minim, atau dibebankan pada pondok pesantren,

emang kita akrab mendengar ada kesan selama ini, bahwa dayah di Aceh masih dianaktirikan. Misalnya dalam pengalokasian dana dan fasilitas. Ini memang fakta. Untuk pendidikan umum anggaran besar, sedangkan untuk pendidikan agama dana kurang. Padahal alumni dayah tidak kalah dengan kampus. Ada yang lebih piawai dalam beorasi dan bahkan kuliah dan kerkarya di luar negeri. Ini memang tergantung pada pribadi santri sendiri, misalnya Paket C itu buat apa? Image bahwa dayah itu kumuh, kurang wawasan, atau gaptek (gagap teknologi), pelan-pelan kita hilangkan. Peran dayah di Aceh sekarang sudah mengarah ke sana, ke perubahan itu. Kita bisa lihat dan membandingkan dengan dayah-dayah di Pulau Jawa misalnya, yang relatif lebih modern. Kini ada dayah di Aceh yang diajarkan perakitan komputer dan HP, misalnya
Santunan DESEMBER 2010

M

LAPORAN UTAMA
atau disisihkan dari ‘jatah’ yang dialokasikan nasional untuk santri, mengantisipasi ini di Aceh, Badan Pendidkan dan Pengembangan Dayah atau Dinas Pendidikan Provinsi Aceh perlu memperhatikannya. Sebab ini program pemerintah. Dewan tentu menantikan data akurat (data base) jumlah guru dayah, atau kita akan cross cek masalah keterbatasan anggaran buat guru yang mengajar mata pelajaran umum di sekolah. n (yakub)

Drs. T. Arifin, MSi, Kepala Bidang PLBS Dinas Pendidikan Provinsi Aceh

Ujian Saja tanpa Sekolah,

Itu Imposibel

K

ita mengharapkan data santri di dayah, anak yang putus sekolah, anak cacat, dan data pendidikan yang kita sebut ‘pendidikan anak buangan’ itu, yang real. Data base yang akurat. Dengan data ini, baru bisa kita susun perencanaan. Jadi data perlu di-update terus dari tingkat bawah, tingkat dua. Proses pendidikan luar sekolah tersendiri di dayah, selama ini, kerja sama sesama kita memang sangat baik. Walaupun yang ditangani oleh Dinas Pendidikan Aceh, antara lain, hanya anak yang tidak lulus di sekolah umum, lalu masuk mengajian di dayah. Juga pemantauan ujian di

dayah. Kita tidak bisa mengintervensi kurikulum di dayah, sebab itu wilayah Badan Dayah, misalnya. Syarat ujian antara lain, ada rapor belajar sejak di tingkat satu. Jadi jangan diujiankan, jika cuma ada dua buah (dua halaman) rapor, yang berarti cuma mereka ada sekolah satu tahun. Jangan pula dayah mau mengeluarkan rekomendasi untuk ikut ujian, padahal tidak belajar penuh di dayah. Namun boleh merekomendasikan jika memang benar-benar ia pernah belajar misalnya tiga tahun di dayah, atau belum lulus di sekolah umum, lalu mengaji di pesantren. Untuk
Santunan DESEMBER 2010

ini pasti ada persyaratan, misalnya nomor ujian yang tidak lulus dulu, nomor induk di sekolah dulu, atau nomor induk di dayah, dan lainnya. Jika hanya mau ikut ujian, tanpa belajar menurut aturan yang baku, juga imposible (tidak mungkin) lulus, dan dapat berhak mendapatkan ijazah atau SKHUN (Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional) di PPS (Pondok Pesantren Salafiyah). Dinas pendidikan juga membuka peluang bagi santri jika mengikuti pola paket belajar di dayah sebagaimana pola belajar nonformal dalam masyarakat, seperti PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat). Dinas Pendidikan yang dibidangi oleh PLBS (Pendidikan Luar Biasa dan Luar Sekolah) atau sering disebut PLS, akan mengkoordinasi dengan pusat belajar semacam ini, sebagaimana juga untuk anak cacat, anak DO (droup out), PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), life skill (keahlian) dan lembaga edukasi sosial lainnya. Boleh saja dayah mengikuti pola PKBM itu, asal persyaratan terpenuhi, misalnya ada santri, guru, dan seterusnya. Kita lantas mengenal Paket C untuk jenjang SMA, Paket B untuk strata SMP, dan untuk santri jenjang di bawahnya juga akan diijazahkan lewat paket A. Lalu kita akan menggabungkan beberapa kelompok pendidikan untuk pengawasan ujian, kiriman soal-soal, atau evaluasi-evaluasi lainnya. n (yakub)
11

Drs. Sulaiman, Lt, M. Pd, Kasi Salafiah pada Bidang Pekapontren, Kanwil Kemenag Aceh

Menuju Pendidikan yang Adil
Apa latar belakang diadakan Wajardikdas? Wajardikdas adalah Program dari pemerintah yang ditempatkan pada pondok pesantren salafiah, yang terdiri dari tingkat ula dan wusta. Pondok pesantren terbagi dua, terpadu dan salafiah (tradisional). Kalau terpadu itu telah menerapkan kurikulum formal berjenjang dari tingkat dasar ke tingkat menengah, sedangkan pesantren salafiah diterapkan Wajardikdas dengan mempelajari kurikulum formal, seperti PPKN, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika. Ada lima mata pelajaran untuk ula dan enam mata pelajaran untuk wusta. Jadwal belajarnya fleksibel, kapan ada waktu mereka, misalnya ashar, malam, subuh, sistem belajarnya dengan menggunakan modul. Murid darimana saja yang Mengikuti? Murid Khusus untuk Wajardikdas adalah murid yang ada dalam pesantren itu sendiri, yang putus sekolah dapat melanjutkannya, sedangkan paket B dan paket C itu boleh dari luar pesantren. Untuk Wajardikdas lebih bagus mereka mengikutinya di tempat tersebut, tidak lagi di sekolah di luar. Kami juga mensosialisasikan anakanak jangan keluar, dan terus mengikuti program ini. Guru-guru ada yang didatangkan dari luar ada juga guru-guru dari pesantren tersebut. Kalau mereka yang tingkat wusta yang kesetaraannya tingkat SMP itu bisa mengambil guruguru MTsN atau SMP. Tujuan dari Wajardikdas? Untuk menuntaskan wajib belajar tingkat dasar sembilan tahun, Madrasah
12

Ibtidaiyah dan Madrasah Tsanawiyah. Di sini kita kategorikan ula setara dengan MI, dan wusta setara dengan SMP. Itu supaya mereka semuanya mendapatkan pendidikan dan mendapatkan keadilan dalam pendidikan, dan juga menuntaskan buta aksara. Mereka di pondok pesantren bukan hanya belajar dari kitab-kitab, tetapi juga diberi kesempatan agar bisa menulis dan membaca. Tujuan berikutnya adalah untuk melanjutkan studi setelah ula ke wusta dan setelahnya ke paket C. Selanjutnya mereka dapat melanjutkan ke perguruan tinggi. Namun walaupun mereka nanti hanya sampai di paket C tetapi sudah dapat mandiri, karena di paket C ada pembelajaran keahlian (skill) yang harus mereka miliki. Seperti kegiatan-kegiatan yang membuat mereka mandiri misalnya bidang agrobisnis atau workshop dan lainnya. Bagaimana perbandingannya dengan sistem paket? Sebenarnya sama, akan tetapi mereka yang program Wajardikdas ula dan wusta ini mendapat prioritas Bantuan Operasianal Sekolah (BOS) sama seperti madrasah, satu murid

mendapatkan Rp 570.000 per tahunnya, namun diberikan bertahap dengan 4 kali tahapan. Pengelola dapat menggunakan dana sisa untuk keperluan belajar mengajar, honor guru, pengadaan alat tulis dan buku-buku paket. Siapa yang mengeluarkan ijazah? Mengenai ijazah, karena ini merupakan program nasional dan ijazahnya akan difasilitasi oleh pemerintah setelah mengikuti UN (Ujian Nasional). Ijazah nanti akan dikeluarkan oleh direktur kami di Jakarta. Dari Kanwil bisa dikeluarkan? Dari Kanwil hanya mendistribusikan saja ke daerahdaerah dan p o n d o k p o n d o k

Santunan DESEMBER 2010

pesantren yang melaksanakan Wajardikdas. Yang menandatangani ijazah siapa? Pimpinan pondok pesantren sendiri yang akan menandatangani ijazah tersebut. Dan nantinya boleh juga dilegalisir oleh Kankemenag Kabupaten. Di Aceh berapa pesantren yang termasuk dalam Wajardikdas? Berjumlah 168 pondok pesantren, dan di antaranya 76 yang juga memiliki program ula, selebihnya mulai dari wusta. Bagaimana mengenai usia pelajar? Mereka bisa mengikuti seperti biasa anak-anak sekolah, mulai umur enam tahun dan untuk UN nya berumur 12 tahun. Dan di tambah 3 tahun untuk dapat mengikuti ujian tingkat wusta. Bila umur mereka sudah lewat, bagaimana? Umur tidak dibatasi. Mereka dapat memilih, boleh ikut dan boleh tidak. Misalnya yang ingin mengikuti wusta harus memiliki ijazah dasar. Kalau umpamanya tidak memiliki ijazah dasar tetap harus mengikuti ula dulu, baru bisa melanjutkannya. Sejak kapan dimulainya Wajardikdas dan berapa jumlah alumni hingga saat ini? Sejak tahun 2003. Alumni diperkirakan sekitar lima ribuan yang telah lulus. Tahun lalu yang mengikuti ujian sebanyak 4.980 orang dan itu ada juga yang tidak lulus. Kalau dari tahun 2003 sampai dengan 2010 berarti 7 kali sudah keluar hasil ujian. Honor guru pengajar dari mana? Karena mereka tidak ada sertifikasi, bisa mengirit sedikit dari dana BOS. Karena dananya terbatas kadang-kadang pemerintah juga memberikan insentif guru sedikit, itupun satu Kabupaten satu, seperti tahun lalu 15 orang dengan 1 orang Rp 3.000.000, jumlahnya sedikit sekali, maunya ada penambahan yang cukup. Tetapi tidak ada hambatan. Kenapa tidak semua Dayah masuk? Karena pondok pesantren kebanyakan milik pribadi dan kita tidak bisa memaksa mereka, kita terus berikan sosialisasi serta juknis panduan yang bahwa anakanak harus sekolah dan jangan ada yang buta aksara. Di lain hal kita juga terbatas

dengan dana tadi. Namun kalau sudah berminat walau pun tidak ada dana pasti mereka mau, dan juga sebaliknya bila kita paksa pasti mereka juga akan meminta dana operasionalnya. Kita hanya bisa suplai dana BOS, lain dengan yang di formal. Di Wajardikdas tidak ada dana kecuali dana BOS, itupun untuk membantu kegiatan. Namun apabila teungku-teungku di dayah bersedia tetapi ada hambatan, itu kami akan membantunya, dan nantinya juga akan diberikan penghargaan Piagam untuk yang mau melaksanakannya. Hambatan dalam hal membuat proposal untuk mengusulkan itu tidak ada masalah, ada kasi kami yang membantu di daerah, bila

Puspendin (Pusat Penilaian Pendidikan Nasional) di Jakarta, Balitbang, BNSP. Ini antara pusat dengan Direktur kami (Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren). Semua bekerjasama dengan baik, kemudian juga kami bekerja sama juga dengan direktorat juga. Ada 3 Departemen yang terlibat, Kementerian Agama, kementerian Pendidikan Nasional, dan Menpan. Kerja sama ini memang cukup erat sekali. Prosesnya saja dilaksanakan di pondok pesantren kemudian soal-soal juga dari mereka, mensuplai ke Departemen, dari Departemen menggandakan dan kemudian mengirimnya. Kita di sini dengan soal-soal tersebut mendistribusi-

nanti ada masaalah boleh panggil kami dan kami pun akan koordinasi dengan Pusat. Jadi di Wajardikdas ini yang ada baru tingkat ula sampai wusta saja? Iya, untuk tingkat ulya (tinggi) itu belum diberikan kesempatan. Apakah nanti ijazah tersebut dapat digunakan ke semua keperluan? Karena ini program pemerintah dengan menggunakan kurikulum formal dan ujiannya juga berstandar nasional, jadi ijazahnya juga dapat digunakan ke semua keperluan, sama seperti yang formal. Apakah ada hubungan koordinasi dengan lembaga lainnya? Khususnya Wajardikdas ini hubungannya yang sangat erat sekali adalah dengan
Santunan DESEMBER 2010

kan kepada pimpinan pondok pesantren untuk menyelenggarakan ujian dengan dimonitoring, baik dari kita sendiri disini maupun, dari pusat juga ada, dan dari Kandepag juga. Jadi sama-sama akan memonitor dan membina lembaga tersebut supaya melaksanakan proses pembelajaran dengan bagus, baik dari awal sampai mendapatkan ijazah. Apakah benar dayah di Aceh tidak mau penambahan pelajaran? Iya, tetapi setelah kita berikan sosialisasi dan mereka baru menyadari bahwa itu juga sangat diperlukan, contohnya matematika ilmu hitung. n (mulyadi nurdin, yakub, amwar, khairuddin)
13

Laporan Khairuddin: dari Rakor Ulama Se-Sumatera XIII di Banda Aceh

Perkuat Akhlak melalui Keteladanan
Santunan – Banda Aceh. Rakor Majelis Ulama Indonesia (MUI) SeSumatera yang diikuti oleh 256 perwakilan ulama dari berbagai wilayah di pulau Sumatera telah berakhir pada 7 November 2010. Dalam kegiatan lima hari yang dibuka oleh Wagub Aceh Muhammad Nazar, pada 3 November 2010, masalah utama yang menjadi pokok diskusi adalah melorotnya kualitas akhlak masyarakat muslim dewasa ini. Korupsi, pergaulan bebas, zina, konflik antarwarga, premanisme, dan lain-lain merupakan contoh nyata menurunnya kualitas akhlak masyarakat. Kondisi ini, menurut ulama terjadi akibat menurunnya keteladanan pemimpin masyarakat, lemahnya penegakan hukum, tidak berfungsinya lembaga-lembaga sosial seperti lembaga adat. Minimnya Peran orang tua dalam rumah tangga juga membawa akibat makin cepatnya kemerosotan akhlak bangsa. (Serambi Indonesia, 7 November 2010) Aliran sesat juga merupakan contoh kongkrit dari melemahnya hubungan antara generasi tua dan generasi muda dalam masyarakat. Perubahan budaya telah menyebabkan kesenjangan komunikasi antara dua generasi ini yang berakibat pada rusaknya sendi-sendi kemasyarakatan dan keagamaan. Untuk itu diperlukan langkahlangka perbaikan yang mendesak dan bersifat segera oleh segenap lapisan masyarakat yang sadar akan pentingnya menjaga moralitas, akhlak dan agama. Langkah perbaikan ini, menurut para ulama, haruslah dimulai dari pemimpin, orangorang yang memiliki pengaruh besar dalam lingkungannya. Dalam hal ini, pemerintah atau pejabat publik adalah pihak yang harus berdiri paling depan dalam upaya penyelematan akhlak dan agama. Karena pejabat publik adalah pemegang amanah dan urusan rakyat,
14

baik dari sudut pandang administrasi negara mapun pandangan agama, mereka disebut umara. Dengan kesadaran, dan keteladanan yang aktif dari para pemimpin publik ini, maka petuah-petuah dan fatwa ulama akan menemuakan momentumnya di dalam masyarakat. Dalam makna positif, orang-orang awam akan lebih termotivasi untuk melakukan kebaikan-kebaikan yang dicontohkan oleh para pemimpinnya, dan pada saat yang sama sesuai dengan ajaran para ulama. Selama ini, ulama hubungan umara sering hadir dalam konteks negatifnya. Sehingga sebahgian materi dakwah ulama adalah materi yang antagonis terhadap peran yang dilakukan oleh para pejabat pemerintah. Kondisi ini melahirkan segmentasi dalam maysrakat, yaitu yang loyal terhadap ulama, yang cenderung nyaman dengan sikap para pejabat, dan mereka yang masa bodoh dengan apa yang berlangsung di sekelilingya. Dalam kondisi yang chaos seperti ini, masing-masing pihak tidak akan memiliki kekuatan maksimal dalam membangun masyarakatnya. Ada kelompok yang mencemooh ulama, ada masyarakat yang mencemooh pemerintah, dan ada pula masyarakat yang mencari alternatif lain yang berujung pada aliran sesat misalnya. Refleksi Kementerian Agama Aceh Menyahuti rekomendasi ini, kementerian agama merupakan salah satu model yang bisa dijadikan rujukan awal bagi upaya perbaikan mental dan moralitas masyarakat, khususnya Provinsi Aceh yang kita cintai ini. Karena Kementerian Agama merupakah sintesis dari ‘darah’ ulama dan ‘darah’ umara. Pelayanan agama yang menjadi tugas dan fungsi utama lembaga ini merupakan modal potensial yang
Santunan DESEMBER 2010

mesti dipelihara, daipalikasikan dan diperlihatkan kepada masyarakat dalam kapasitasnya sebagai perpanjangan tugas-tugas negara. Dalamkonteksini,mempertontokan keteladanan kepada masyarakat oleh setiap aparatur pemerintah bukanlah keriayaan, melainkan salah satu tugas dan fungsi sosial serta tanggungjawab kita sebagai PNS Kementerian Agama. Justru kita harus malu apabila sikap dan tindakan kita, para pemegang amanah di kementerian Agama justru dianggap tercela dan tidak sesuai dengan ajaran agama. Sekali lagi, adalah tanggungjawab pemimpin tertinggi institusi ini untuk mencontohkan, mengontrol dan mengawasi setiap kebijakan dan tindakan aparaturnya supaya sesuai dengan ajaran dan perintah agama. Sehingga masyarakat tidak meledek kita, ketika muncul pemberitaan di media massa tentang praktik-praktik koruptif atau inmoral lainnya.*** Kiat Menangkal Aliran Sesat: 1. Meningakatkan ilmu agama dan wawasan Islam. 2. Mantapkan aqidah tauhid sejak usia dini. 3. Hindari halaqah pengajian tertutup. 4. Kenali guru, ustadz, atau kiyai yang mangajar. 5. Tanyakan setiap ajaran yang diragukan kebenarannya. 6. Ajak berdiskusi dengan mengemukakan dalil-dalilnya. 7. Standar kebenaran adalah AlQur’an dan Hadits Shahih. 8. Selektif dalam mengikuti pengajian agama. 9. Jangan cepat terpengaruh oleh aliran baru. 10. Sampaikan kepada orang lain apa dipelajari dalam pengajian. (Tgk. Daud Hasbi, M. Ag) n

Laporan Alfirdaus Putra

Perhelatan Akbar Keluarga Besar Bidang Urais di Negeri Antara
Bidang Urusan Agama Islam (Urais) Kanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh, melaksanakan Rapat Koordinasi dan Evaluasi Tahunan, pada tanggal 5 s/d 8 November 2010 Kegiatan tahun ini berbeda dengan kegiatan serupa tahun-tahun sebelumnya yang selalu dilaksanakan di ibu kota Provinsi, Banda Aceh, tahun ini di Takengon dengan harapan akan lahir ide-ide segar untuk pengembangan dan reformasi kinerja nantinya. Perhelatan akbar Keluarga Besar Bidang Urais ini ditata demikian rapi pelaksanaannya yang dikomandoi oleh Drs.H.Alhulwani, Kasi Urais kantor Kemenag Kabupaten Aceh Tengah, sebagai Ketua panitia pelaksana daerah dan diarahkan oleh kakan kemenag Kabupaten Aceh Tengah (Drs.Hamdan).Dengan kerja keras panitia didukung oleh apresiasi pemerintah daerah Kabupaten Aceh Tengah, yang mana Bupati Aceh Tengah, Ir.Nasruddin,MM langsung membuka sendiri kegiatan tersebut dan juga menjadi salah seorang nara sumber dalam kegiatan ini. Nasruddin yang dikenal sebagai Bupati yang sangat peduli dan akrab dengan kegiatan-kegiatan keagamaan yang dilaksanakan di wilayah kerja, menyampaikan bahwa pembangunan Agama sangat penting dalam pembangunan Bangsa untuk mewujudkan anak-anak Bangsa yang berakhlak mulia. Rapat Koordinasi dan Evaluasi ini juga sebagai sebuah bentuk silaturrahim keluarga Bidang Urusan Agama Islam yang terdiri dari Bidang Urais Kanwil kemenag Provinsi(15 orang), Kepala Seksi Urais Kabupaten/Kota(21 orang) dan Kepala KUA Kecamatan se-Provinsi Aceh(261 orang), terang Alhulwani, sang ketua panitia. Kepala Kantor Kemenag Aceh yang diwakili oleh H.Abrar Zym,S.Ag (Kabid Pekapontren Kemenag Aceh), dalam sambutannya menegaskan bahwa reformasi di tubuh Kemenenag harus dilakukan secara intense dalam rangka untuk mewujudkan aparatur Negara, khususnya di lingkungan Kemenag yang terdepan dalam pelaksanan tugas, santun dan mampu memberikan pelayanan PRIMA kepada masyarakat. Lebih lanjut beliau menyampaikan pelaksanaan di Takengon hendaknya bias melahirkan program-program yang kreatif dan inovatif dari peserta rapat koordinasi dan Evaluasi tersebut. Beberapa pakar ikut memberikan materi dalam kegiatan tersebut seperti Drs.H. Abdul Manan,SH, MH., yang merupakan Hakim Tinggi pada Mahkamah Syar’iyyah Provinsi Aceh, dan Direktur Pasca Sarjana IAIN ArRaniry Banda Aceh, Prof,Dr.Alyasa’ Abu Bakar, MA., di samping itu Bupati Aceh Tengah, Ir.Nasruddin,MM, Ka kanwil Kemenag Aceh (diwakili oleh H.Abrar Zym,S.Ag) dan Kabid Urais Kanwil Kemenag, Drs.H.Ibnu Sa’dan MPd, juga menjadi keynote speaker pada acara ini. Kegiatan tersebut akan diakhiri dengan curah pendapat dan uneguneg peserta untuk sebuah reformasi di tubuh Bidang Urusan Agama Islam yang diharapkan nantinya menjadi oleh-oleh dalam kegiatan ini, yang pada akhirnya para peserta merumuskan suatu “rekomendasi” untuk internal maupun eksternal Kementerian Agama. n

Santunan DESEMBER 2010

15

16

Santunan DESEMBER 2010

Laporan Taharuddin

LESSON STUDY: Guru Tak Lagi Gugup Dikritik
Kaisar bertanya setelah Jepang dibom oleh Amerika, “Ada berapa guru yang masih hidup?” Untuk itu, Pemerintah Jepang mengeluarkan undang-undang guna meningkatkan pembelajaran IPA di sekolahsekolah. Drs Sulaiman M.Pd (Kasi Salafiyah pada Bidang PK Pontren, Kanwil Kemenag Prov. Aceh) bersama dengan kami, mendapat kesempatan untuk mengikuti Training Of Trainers Lesson Study ini. Kami, selain mendapat pendidikan di kelas, kami juga diberikan pengalaman memantau atau mengobservasi bagaimana kegiatan Lesson Study dijalankan di Kabupaten Sumedang dan Kebupaten Bandung Barat. Paparan Kepala SMPN 1 Situraja, Kabupaten Sumedang bahwa pada mulanya guru yang menjadi guru model dalam Open Lesson malu-malu dan sukar dikriktik oleh para observer. Tetapi kemudian dengan mengikuti etika-etika ber-lesson study, banyak guru MIPA yang telah terbiasa berhadapan dengan observer. Pada puncaknya, kehadiran kami perserta training yang berjumlah - tidak biasanya dialami para guru model - mencapai 26 obeserver plus guru MGMP basecamp SMPN 1 Situraja yang berjumlah sekitar 10 orang guru. Dapat dibayangkan betapa seorang ibu guru yang memberi pelajaran Matematika dengan topik operasi aljabar pada bilangan sejenis dan tidak sejenis, tanpa sedikitpun gugup dan grogi menghadapi para pemantau (observer). PBM berjalan lancar
Santunan DESEMBER 2010

Sensei Tanaka, salah seorang anggota JICA (Japan International Cooperation Agency), pada saat pembukaan Training Of Trainers Lesson Study di Lembang, Bandung, Jawa Barat tanggal 18 Oktober 2010, mengatakan bahwa di Jepang, tradisi lesson study bagi pengembangan guru dalam cara membelajarkan siswa telah dimulai sejak lama. Dengan lesson study timbul gairah untuk memperbaiki kualitas pendidikan melalui bagaimana siswa belajar yang sesungguhnya. Dalam buku panduan Lesson Study yang diberikan kepada peserta TOT, termaktub alasan mengapa di Jepang harus dilakukan reformasi sekolah. Menurut Prof. Dr. Tadahiko Inahaki, sekira 50 tahun yang lalu, setelah Jepang kalah perang, untuk bangkit dan memajukan Jepang dari keterpurukan adalah utamanya dengan meningkatkan pendidikan.

sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah disepakati guru MGMP. Dan pada akhir kegiatan Lesson Study, sang guru menghadapi kegiatan refleksi, dimana para observer memberikan data-data yang ditemukan pada ‘siswa yang belajar’ dan ‘siswa tidak belajar,’ sekaligus memberikan solusi bagaimana siswa belajar. Open Lesson adalah kegiatan do bagi guru model dan observers. Guru dalam kegiatan ini, mengajar sesuai rencana dan observer meneliti untuk menemukan siswa belajar, siswa tidak belajar serta apa yang mesti diperbaiki dalam pembelajaran siswa. Sesi setelah open lesson selanjutnya adalah tahap refleksi. Di sini, para observer dimnta memberikan tanggapan terhadap apakah anak-anak belajar. Adakah siswa yang tidak belajar? Dan bagaimana solusi agar siswa belajar. Dalam etika refleksi tidak diinginkan observer mengkritisi guru. DR. Asep Supriyatna memberikan arahan bahwa yang ditanggapi adalah pada bagaimana siswa belajar. Bukan pada bagaimana guru harus mengajar. “Bagi observer merupakan inspirasi” sebutnya, jika mereka mengajar maka akan mengajar dengan apa yang telah disarankan kepada guru model. Semetara bagi guru model berkeuntungan untuk mendapatkan ilmu tambahan dari sharing pembelajaran itu. Ada etika yang santun dalam mengadakan refleksi. Guru tidak dicecar dengan kesalahan-kesalahan dalam kegiatan pembelajarannya. Walaupun memang pada akhirnya guru mengambil manfaat dari bagaimana mengajar yang baik. Dari provinsi Aceh yang hadir dalam kegiatan TOT ini berasal dari Dinas Pendidikan Provinsi dan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi sejumlah 4 orang.n
17

Jamaah Haji Aceh Tiba di Tanah Air
Santunan – Banda Aceh. Sabtu (21/11), jamaah haji Aceh, Kelompok Terbang (Kloter) 1, Debarkasi Banda Aceh, tiba di tanah air, setelah 40 hari melaksanakan ibadah haji di tanah suci, Mekkah Kloter 1, yang jamaahnya berasal dari Kota Banda Aceh, Kabupaten Pidie, Aceh Tengah dan Bener Meriah, tiba di Bandara Sulthan Iskandar Muda, Blang Bintang, pukul 12.05 WIB. Pesawat Garuda, yang membawa Kloter 1 yang sempat terjadi perubahan jadwal pemulangan dari jadwal yang direncanakan, pukul 06.30, mendarat selamat. Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh, yang juga Ketua Penyelenggara Ibadah Haji Debarkasi Banda Aceh, saat menyambut Kloter ini, mengucapkan Selamat Datang, Selamat Tiba Kembali di Tanah Air, Kepada Jamaah Haji Kloter 1 Debarkasi Banda Aceh yang telah menunaikan ibadah haji selama lebih kurang 40 hari di tanah suci Mekkah. ”Semoga bapak, ibu, saudara telah mendapatkan predikat haji dan hajjah mabrur dan mabrurah. Sebagaimana dijelaskan oleh Baginda Rasulullah saw., ”Tidak ada balasan haji yang mabrur kecuali syurga,” ujar Drs. H. Rahman TB, Lt. Selaku haji dan hajjah yang baru tiba kembali di tanah air, Kakanwil berharap, predikat haji dan hajjah itu tolong dijaga dan dirawat dengan
18

baik, sehingga kehadiran bapak dan ibu bermakna bagi kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat. Artinya, kemabbruran haji dapat mewarnai kehidupan pribadi dan masyarakat sekitar. ”Orang yang sudah pernah haji, harus lebih baik dari mereka yang belum berhaji,” jelasnya. Disamping itu pula, Kakanwil atas nama pemerintah, penyelengara ibadah haji provinsi Aceh memohon maaf atas pelayanan, fasilitas

yang diberikan, baik pada saat pemberangkatan tempo hari, saat melaksanakan seluruh rangkaian ibadah haji di tanah suci Mekkah maupun Madinah. ”Kami sudah berusaha memberikan pelayanan dan fasilitas yang terbaik, toh jika pun ada kekurangan, kekhilafan di sana-sini pada kesempatan ini kami mohon maaf. Ceritakan pengalaman yang baik-baik kepada sanak keluarga dan masyarakat, sehingga semua orang tertarik dan berminat segera menunaikan ibadah haji sebagai rukun Islam yang kelima,” kata Kakanwil. Kakanwil juga menjelaskan, bahwa sudah menjadi tekad pemerintah dan
Santunan DESEMBER 2010

seluruh panitia penyelenggara haji, baik di tanah air maupun panitia haji nasional yang berada di tanah suci, untuk memberikan yang terbaik dan maksimal kepada seluruh jamaah haji. ”Pridikat sebagai embarkasi baik secara nasional yang kita raih dua tahun berturut-turut, bukan menjadi target utama seluruh panitia penyelenggara ibadah haji Banda Aceh. Tetapi, semua kami ingin memberikan pelayanan yang terbaik kepada seluruh jamaah haji saat keberangkatan maupun saat ketibaan kembali di tanah air. Semoga ini menjadi amal shalih kami dalam memberikan pelayanan kepada tamu-tamu Allah, dhuyufurrahman, tambahnya. Total jamaah haji Aceh yang berangkat ke tanah suci tahun ini sebanyak 4.133 orang. Dan sampai saat majalah ini dead line, sudah 10 orang jamaah Aceh, meninggal di tanah suci. Kakanwil berharap, semoga mereka diampuni dosa dan kesalahannya serta ditempatkan pada tempat yang layak di sisi Allah SWT dan mendapat pahala haji mabrur. Kepada keluarga yang ditinggalkan semoga diberikan Allah ketabahan dan kesabaran,” imbuhnya. Pada bagian akhir sambutannya, Kakanwil menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada semua pihak yang sudah berpartisipasi aktif dalam penyelenggaraan ibadah haji Provinsi Aceh tahun 2010. njuniazi

Laporan Azhar

Aceh Juara III Penyuluh Teladan Tingkat Nasional
ba pun dibagi dalam 2 babak, penyisihan dan final. Dalam babak penyisihan dinilai kelengkapan administrasi, laporan kepenyuluhan, dan presentasi makalah. Dalam babak penyisihan tersebut Rahmawati memperoleh peringkat 2, malah dari segi administrasi dia mendapat peringkat 1 nasional. Sedangkan babak final penilaiannya murni kemampuan presentasi, sering kali penguji melemparkan pertanyaan di luar prediksi seperti kesahihan hadits, asbabun nuzul ayat, asbabul wurud hadits. “Banyak peserta yang tidak mampu menjawab pertanyaan dadakan itu”, ungkap Drs. Amin Chuzaini, Kasi MTQ pada kanwil Kemenag Aceh yang ikut menyertainya ke Jakarta. “Kita juga diuntungkan karena tertib Administrasi di kasi Penyuluh Kanwil Kemenag Aceh, berkasnya sudah dikirim sebelum acara berlangsung, sementara ada peserta yang membawa berkas ketika hari H”, tambah Amin. Kasi Penyuluh Kanwil Kemenag Aceh, Azhar, S. Ag yang dikonfirmasi Santunan membenarkan bahwa dokumen administrasi calon peserta sudah dikirim lebih dulu ke Jakarta. “Dokumennya sudah dikirim lebih dulu kepada panitia di Jakarta, sebelum peserta b e r a n g k a t ”, ujarnya. Dalam babak final banyak peserta yang tidak bisa menjawab dengan mulus ketika didebat oleh tim penSantunan DESEMBER 2010

Rahmawati (37 tahun), penyuluh Agama Islam Fungsional Kota Langsa, duduk di deretan kursi belakang aula hotel Treva Internasional Jakarta. Bersama 33 orang peserta dari seluruh Indonesia sudah enam hari ia mengikuti acara seleksi penyuluh teladan tingkat nasional. Di tengah kepenatan sekali-kali terdengar juga tepuk tangan meriah, kadang-kadang diselingi tawa hadirin ketika panitia membuat humor pemecah kebekuan. Bagi Rahmawati saat itu merupakan waktu menegangkan, karena baru saja selesai melakukan presentasi, sambil menarik nafas panjang dia berusaha menenangkan diri setelah habis-habisan “diserang” oleh tim penguji. Dalam benaknya mulai ragu, karena sempat gugup ketika diserang dengan beberapa pertanyaan yang lumayan berat, padahal dia sudah mempersiapkan diri dengan serius jauh-jauh hari. “Pengujinya Profesor semua”, ungkapnya kepada santunan. Keraguan itu akhirnya terjawab setelah panitia menobatkannya sebagai juara 3 penyuluh teladan tingkat nasional tahun 2010. Gemuruh tepuk tangan pun bersahutan. Seleksi penyuluh teladan tingkat nasional yang dilaksanakan pada tanggal 20 sampai 26 November 2010 itu dikemas begitu serius dan profesional, sistem lom-

guji, tapi Rahmawati bisa melawatinya dengan modal keyakinan dan percaya diri. “Awalnya takut juga, apalagi melihat banyak peserta yang gugup, tapi saya tetap percaya diri”, ujarnya bangga. Bagi pemenang akan diberikan hadiah pembinaan dalam bentuk kegiatan penyuluhan bagi daerah terpencil. Acara yang dibuka oleh Dirjen Bimas Islam Kemenag Pusat, Prof. Dr. Nasaruddin Umar tersebut menghasilkan penyuluh terbaik tingkat nasional tahun 2010. Peringkat pertama diraih oleh Jawa Barat, juara kedua Jawa Timur, Juara Ketiga Aceh. Selanjutnya harapan satu diraih Kalimantan Timur, harapan dua Maluku, dan harapan tiga Jawa Tengah. (mul)

BIODATA Nama : RAHMAWATI. S.Ag T.Tgl Lahir: Maligas, 26 Oktober 1973 Alamat: Dsn. Suka Makmur Desa. Matang Setui Kec. Langsa Timur – Kota Langsa NIP : 19731026 200003 2 002 Pangkat / Gol : Penata TK.I / III / d Jabatan : Penyuluh Agama Ahli Muda TMT Pangkat / Gol : 01 Maret 2000
19

Laporan Wiswadas

Forum Komunikasi Pemuda Lintas Agama Terbentuk
periode 2010-2013. Acara dialog itu dibuka Kasubbag Hukmas dan KUB Kanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh Juniazi SAg. Dialog diawali dengan panel materi peningkatan hubungan kekerabatan pemuda antaragama yang disampaikan dua pemateri yaitu M Sahlan Hanafiah MA yang juga pengurus Center For Conflic Resolution and Piace Studies (CCRPS) dan Juniazi SAg. Dialog ini dimoderatori Inayatillah MAg, dosen Fakultas Adab IAIN Ar-Raniry. Dialog tersebut diikuti 30 peserta yang mewakili berbagai organisasi pemuda. Di antaranya PW IPA Al Wasliyah Aceh, GPA Aceh, PPMI Aceh, PW HIMMAH Aceh, Iskada Aceh, GP Anshor, Fatayat NU, DPW IMM Aceh, PW Pemuda Muhammadiyah, PII Aceh, Muda Mudi Protestan Banda Aceh, MUDIKA Katolik Banda Aceh, Peradah Hindu Banda Aceh, dan Muda Mudi Wihara Budayana Banda Aceh. Salah satu hal yang berkembang dalam dialog itu adalah perlunya suatu forum komunikasi untuk selalu aktif mendeteksi, berpikir, dan memberikan solusi-solusi terhadap potensi munculnya konflik pemuda lintas agama di Provinsi Aceh, khususnya di Kota Banda Aceh. Dari pemikiran inilah, maka peserta sepakat membentuk FKPLA. Futsal Friendly Match Sebelumnya, pada tanggal 16 Oktober 2010, telah dilaksanakan pertandingan persahabatan futsal antar organisasi agama kepemudaan se kota Banda Aceh, bertempat di lapangan Futsal Aceh Sport Center.
Santunan DESEMBER 2010

Sejumlah komponen pemuda dari lintas agama di Banda Aceh, Sabtu (13/11) sepakat membentuk Forum Komunikasi Pemuda Lintas Agama (FKPLA). Kesepakatan pembentukan forum ini tercapai dalam acara “Dialog Pemuda Lintas Agama” yang berlangsung selama satu hari penuh di aula KNPI Aceh, di Banda Aceh, Sabtu (13/11). Ketua panitia, Salman Yusuf dalam siaran pers kepada Serambi mengatakan, dalam kesempatan itu peserta dialog juga memberikan kepercayaan kepada dirinya untuk memimpin FKPLA dengan jabatan sekretaris jenderal, dibantu Saifullah serta Inayatillah, masing-masing sebagai sekretaris eksekurif dan keuangan. “Kegiatan dialog keagamaan ini sendiri merupakan salah satu kegiatan tindak lanjut dari pelatihan Partisipation Action Researh (PAR) yang didukung Litbang Kementerian Agama Republik Indonesia di Bawah Koordinator Profesor DR Rusmin Tumanggor,” ujar Salman yang juga menjabat Wakil Ketua DPD KNPI Aceh
20

Pertandingan ini juga merupakan again dari program kegiatan Kreatifitas Pemuda Aceh Lintas Agama (KaPAL) Tahun 2010 yang merupakan tindak lanjut dari pelatihan PAR. OKP Muslim diwakili olah Rabithah Thaliban Aceh (RTA), Pemuda Muhammadiyah, GP Anshor, dan Nahdatul Ulama. Untuk OKP Non Muslim, masing-masing agama diwakili oleh satu organisasi Kepemudaannya, Peradah Kota Banda Aceh (Budha), Muda-mudi Protestan Banda Aceh (Protestan), MUDIKA Banda Aceh (Katolik), dan Sekber PMVBI Wihara Budayana (Hindu). Sebelum pertandingan digelar, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh memberikan kata sambutan dan menendang bola pertama sebagai tanda pembukaan kegiatan. Dalam sambutannya, Kakanwil menyambut baik pertandingan ini, menurut beliau ini merupakan upaya untuk menjaga silaturrahmi dan keakraban yang telah terbina. Sippa Dhamma Samaja Sippa Dhamma Samajja (SDS) II Tingkat Nasional diselenggarakan oleh Ditjen Buddha Kementerian Agama RI dilaksanakan pada tanggal 18 sd 21 Oktober 2010 di Hotel Grand Jaya Raya, Bogor. SDS di buka oleh Menteri Agama RI, Suryadharma Ali, secara simbolis memukul gong sebagai acara telah resminya di buka dengan dihadiri oleh Walubi, Kasi, para pejabatan eselon I pada Ditjen Bimas Kemenag RI Kontingen Aceh berhasil meraih medali perak dari cabang lomba karya seni rupa Budhis, serta juara harapan II lomba membaca puisi. n

Santri Aceh Singkil Peroleh Beasiswa Belajar di Pesantren Turki
Santunan – Singkil. Dua orang Santri Pondok Pesantren Tahfizul Qur’an Asy-Syifa Desa Danau Bungara Kecamatan Kuta Baharu Kabupaten Aceh Singkil, dinyatakan lulus seleksi Program Beasiswa Santri Indonesia belajar di Pesantren Turki. Keduanya dinyatakan lulus, setelah mengikuti tahapan-tahapan seleksi. Tahap pertama adalah seleksi berkas yang dikirim melalui email ke Kementerian Agama RI, sementara tahap selanjutnya adalah orientasi dan seleksi yang dilaksanakan pada tanggal 22 s/d 25 September 2010, bertempat di Gedung Yayasan Pusat Persatuan Kebudayaan Islam Indonesia (United Islamic Cultural Centre of Indonesia) di Jakarta Timur. Demikian dijelaskan oleh Suhardiman, S.Ag Kasi Penamas dan Pekapontren Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Singkil. Kedua Santri tersebut adalah 1). Suwandi (Hafal Al-Qur’an 5 Juz) berasal dari Desa Darul Makmur Kecamatan Sultan Daulat Kota Subulussalam; 2). Gunawan Muhammad (Hafal AlQur’an 30 Juz) berasal dari Desa Suka Makmur Kecamatan Gunung Meriah Kabupaten Aceh Singkil. Lebih lanjut Suhardimana menjelaskan, sesuai dengan Program Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, bahwa bagi Santri yang dinyatakan lulus akan langsung mengikuti Program Pendidikan selama satu tahun di Jakarta terlebih dahulu, untuk mendalami Pendidikan (1). Qiraatil Qur’an dan Tahfidzul Qur’an; (2) Bahasa Arab dan Bahasa Turki; (3). Fiqih dan Aqidah Islamiyah. Kepala Kontor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Singkil, begitu berharap dengan adanya Program Beasiswa Santri Belajar di Pesantren Turki ini, benar-benar dapat dimanfaatkan oleh santrisantri kita dalam upaya meningkatkan pengalaman dan pengetahuan tentang Islam sekaligus memantapkan ilmu dalam bidang Qiraatil dan Tahfidz Al-Qur’an. Jika kedua Santri kita dengan sungguh-sungguh mengikuti pendidikan persiapan selama satu tahun di Jakarta, maka untuk tahun kedua mereka bisa diberangkatkan ke Turki untuk melanjutkan pendidikan (nyantri) di Pesantren Turki. Insya Allah. n (Safnawati/aba)

Penyusunan RKA-KL Tahun 2011
Santunan –Banda Aceh. Organisasi yang berskala besar tidak terlepas dari proses perencanaan, dalam hal ini, perencanaan di lingkungan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh bukanlah semata-mata menjadi milik Subbag Perencanaan saja, tetapi juga membutuhkan partisipasi dari seluruh anggota organisasi yang ada di lingkungan Kantor wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh. Jadi, seluruh unsur yang terlibat dapat merencanakan sesuatu untuk dapat memperkecil ketidakpastian dalam pencapaian tujuan organisasi. Partisipasi dari anggota organisasi juga diwujudkan dengan data yang akurat dan tepat waktu. Kepala dan staf Sub Bagian Perencanaan dan Informasi Keagamaan (Caninfoka) Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh pada tanggal 7 - 15 November 2010 di Aston Marina Hotel Jakarta melaksanakan salah satu tugas utamanya yaitu Penyusunan dan Pembahasan RKA-KL tahun 2011. Pada Acara Pembukaan di hadiri oleh Biro Perencanaan, Irjen Kementerian Agama dan seluruh peserta penyusunan dari Kanwil, Perguruan Tinggi Negeri dan Balai Diklat Kementerian Agama se-Indonesia. Penyusunan RKA-KL Tahun 2011 terjadi Perubahan yang mendasar pada sistem perencanaan menjadi penganggaran berbasis kinerja dan penggabungan Aplikasi RKA-KL dengan DIPA menjadi Aplikasi RKA-KLDIPA. Diharapkan dengan sistem yang baru ini, perencanaan anggaran dapat menghasilkan output yang optimal. n (Elia Fajri)

Santunan DESEMBER 2010

21

Ujian Seleksi CPNS di Lingkungan Kementerian Agama Tahun 2010
Jaya, Kabupaten Nagan Raya, Kabupaten Pidie, Kabupaten Pidie Jaya, Kota Banda Aceh, dan Kota Sabang. Total peserta pada rayon 3 sejumlah 895 orang peserta. Rayon 4, dengan lokasi ujian di Bireuen, meliputi unit kerja Kementerian Agama Kabupaten Aceh Utara, Kabupaten Bireuen, dan Kota Lhokseumawe. Total peserta pada rayon 4 sejumlah 1.108 orang peserta. Rayon 5, dengan lokasi ujian di Langsa, meliputi unit kerja Kementerian Agama Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh Timur, dan Kota Langsa. Total peserta untuk rayon 5 sejumlah 339 orang peserta. Materi Tes Tulis CPNS Kementerian Agama Tahun 2010 meliputi Tes Pengetahuan Agama (TPA) sebanyak 50 soal; Tes Pengetahuan Umum (TPU) sebanyak 50 soal; Tes Bakat Skolastik (TBS) sebanyak 50 soal; dan Tes Pengetahuan Teknis (TPT) sebanyak 50 soal. Dan untuk diketahui, Sistem rekrutmen CPNS Kementerian Agama Aceh Tahun 2010 ini menggunakan media online/Teknologi Informasi sehingga akuntabilitas dan transparansi proses seleksi menjadi lebih baik. Pengumuman kelulusan, dijadwalkan pada tanggal 15 Desember 2010 dan penyampaian berkas usulan pengangkatan CPNS akan dilakukan tanggal 21 Desember 2010. n (Aba)

Santunan – Banda Aceh. Sesuai Surat Keputusan Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Republik Indonesia No. 77 Tahun 2010 Tanggal 13 Oktober 2010 tentang petunjuk pelaksananaan pengadaan Calon Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Kementerian Agama Tahun 2010, pelaksanaan ujian seleksi CPNS di lingkungan Kantor Wilayah Kementerian Agama Aceh akan dilaksanakan secara serentak pada tanggal 24 November 2010. Total peserta yang akan mengikuti proses ujian seleksi seluruh Aceh berjumlah 3.150 orang, untuk memperebutkan 168 formasi yang disediakan. Sistem ujian seleksi CPNS di lingkungan Kankemenag Aceh tahun ini, dilaksanakan dengan sistem rayon, yang dipusatkan pada lima titik di seluruh Aceh. Rayon 1, dengan lokasi ujian di Blang Pidie, meliputi unit kerja Kementerian Agama Kabupaten Aceh Barat Daya, Kabupaten Aceh Selatan, Kabupaten Aceh Singkil, Kabupaten Simeulue, dan Kota Subulussalam. Total peserta pada rayon 1 sejumlah 304 orang peserta. Rayon 2, dengan lokasi ujian di Takengon, meliputi unit kerja Kementerian Agama Kabupaten Aceh Tengah, Kabupaten Aceh Tenggara, Kabupaten Bener Meriah, dan Kabupaten Gayo Lues. Total peserta pada rayon 2 sejumlah 504 orang peserta. Rayon 3, dengan lokasi ujian di Banda Aceh, meliputi unit kerja Kementerian Agama Kanwil Provinsi Aceh, Kabupaten Aceh Barat, Kabupaten Aceh Besar, Kabupaten Aceh
22

Pekapontren Adakan Workshop Pembinan Kepala dan Pokja Madin
Santunan – Banda Aceh. Kepala dan Pokja Madrasah Diniyah Se-Aceh dibina dalam Workshop Pembinaan Kepala dan Pokja Madrasah Diniyah Se-Aceh, acara ini diselenggarakan di Hotel Diana Kuta Alam Banda Aceh, 28 – 30 Oktober 2010. Jumlah peserta yang hadir sebanyak 60 orang, 30 orang peserta kepala Madrasah Diniyah, 30 orang peserta kelompok kerja Madrasah Diniyah. Jumlah peserta ini sudah termasuk Kepala Seksi Pekapontren sebanyak 18 orang. Jumlah Madrasah Diniyah yang berjumlah 517 lembaga dengan perbandingan, 81 lembaga berada dalam pondok pesantren, serta 405 lembaga di luar pondok pesantren. Acara ini dimaksudkan untuk meningkatkan pengelolaan Madrasah Diniyah menjadi lebih baik, profesionalitas dan memiliki daya kompetitif yang tinggi. Acara dibuka oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh, dalam amanatnya Kakanwil mengharapkan hendaknya Madrasah Diniyah menjadi garda terdepan dalam memperbaiki akhlak ummat, serta menangkal upaya-upaya pendangkalan akidah, apalagi menghadapi
Santunan DESEMBER 2010

kemunculan berbagai aliran-aliran sesat di Aceh. Kakanwil mengharapkan hendaknya pendidikan Agama dapat diterima oleh anak dengan baik, dengan menggunakan berbagai metode pengajaran, sehingga membuat anak didik menjadi lebih tertarik. Bahkan lebih jauh, kakanwil mengatakan bahwa pelajaran umum yang diajarakan dengan muatan agama di dalamnya justru akan lebih menarik. Sementera itu, pembinaan madrasah Diniyah merupakan manivetasi dari amaran Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007, tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan, tepatnya pasal 9 ayat 3. Tidak hanya, kegiatan ini juga merupakan upaya meningkatkan kualitas SDM pengelola lembaga Madrasah Diniyah. Dalam workshop ini juga dihasilkan beberapa rekomendasi, diantaranya adalah pelaksanaan ujian secara serentak seluruh Aceh, penempatan Guru PNS pada Madrasah Diniyah, serta mengusulkan guru Madarasah Diniyah yang telah lama mengabdi menjadi CPNS. n (Zarkasyi/Aba)

Haru dan Bahagia Mewarnai Perayaan HUT PGRI Ke-65
satu jam tersebut sungguh sangat khitmat, seribu lima ratus murid MIN Banda Aceh terlihat begitu khusyuk. “ Saya benar-benar bangga pada seluruh guru dan siswa yang sudah berperan aktif pada pelaksanaan Upacara HUT PGRI ke – 65 ” Ujar Marzunita, S.Ag., selaku Pembina Upacara, dalam amanatnya Pembina upacara juga membacakan TEKS AMANAT YANG DIKELUARKAN OLEH PENGURUS BESAR PGRI. Usai pembacaan amanat dari Pembina upacara siswa – siswi mengalungkan bunga pada 65 orang guru MIN Banda Aceh sebagai wujud rasa terimakasih yang tiada tara, Suara tepuk tanggan dari siswa - siswi MIN Banda Aceh Secara Spontan menutup Upacara HUT PGRI Ke – 65 dan tak lama berselang siswa – siswi menjabat erat tanggan sang guru untuk mengucapkan Selamat Hari Guru! n.(aba)

PORSENI ACEH BESAR SUKSES
Santunan - Aceh Besar. Porseni (Pekan Olah Raga dan Seni) XII Kankemenag Kabupaten Aceh Besar suskes digelar di Komplek MAN Cot Gue, Darul Imarah, Aceh Besar (5-7 Oktober). Setelah dibuka oleh unsur Muspida Aceh Besar, agenda ini ditutup oleh Wakil Ketua DPRK Aceh Besar Sulaiman Ali, yang diikuti dan didampingi oleh pejabat dan jajaran Kankemenag Aceh Besar, termasuk ribuan pelajar dan para guru. Antusias peserta dan penonton sangat terasa dalam acara tingkat kabupaten di bawah jajajran Kemenag ini. Even yang diikuti oleh 1.948 peserta dalam beragam cabang perlombaan itu, dijuarai oleh tiga madrasah sebagai juara umum. Masing-masing, MIN Lambaro men-juarai tiga kategori setelah merebut tiga gelar terbaik I, tiga gelar terbaik II, dan dua gelar terbaik III. Selanjutnya, MTsN Tungkop dinobatkan sebagai juara umum setelah meraih lima gelar terbaik I, lima gelar terbaik II, dan tiga tingkat terbaik III. Sedangkan MAS Ruhul Islam dinobat-kan juara umum setelah merebut 11 gelar terbaik I, empat raihan terbaik II, dan dua prestasi terbaik III. Kepada para juara, baik juara umum dan juara lainnya, selain diberikan tropi, dialokasikan dana pembinaan. Demikian laporan Ketua Pa-nitia, Drs Uzair yang didampingi Sekretaris Penitia Drs Burhanuddin dan Kepala MAN Cot Gue Muntasyir, kepada Santunan. Menurut Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Aceh Besar, Drs H Salahuddin, di sela-sela penutupan, juara terbaik akan diikutsertakan dalam even yang sama di tingkat provinsi, di Meulaboh, 10-15 Januari 2011. Oleh karenanya kepada para juara, bersama guru dan pelatih, dimohon dapat lebih menyemangati dan motivasikan diri untuk meningkatkan prestasi. n (yakub)
23

Santunan – Banda Aceh. Kamis, 25 Nopember 2010, Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Banda Aceh, Kota Banda Aceh melaksanakan Upacara HUT PGRI Ke – 65. Mungkin ini bisa dikatakan bukan upacara yang biasa karena seluruh pelaksana upacara adalah GURU, bayangkan betapa antusiasnya siswa ketika melihat guru yang dibanggakannya mengibarkan sang Merah Putih dengan gagahnya. Upacara yang berlangsung sekitar

Kemenag Aceh Sembelih 4 Sapi Kurban
yang telah diinvetarisir oleh panitia kurban, yaitu mereka yang terdiri dari para honorer, PNS golongan II dan masyarakat sekitar Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh.” Demikian jelas Ketua Panitia Kurban 1431 H Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh, Muzakkir, S.Ag. MTsN Meureudu Bagi-Bagi Kurban Sementara itu, di MTsN Meureudu, Pidi Jaya, juga dilaksanakan penyembelihan hewan kurban berupa 4 ekor sapi pada tanggal 18 November 2010. Ini merupakan kurban dari 28 orang guru dan karyawan di lingkungan MTsN Meureudu. “Tahun ini ada peningkatan dari tahun sebelumnya yang hanya 2 ekor sapi. Kita berharap kegiatan kurban bersama ini tetap berlanjut di tahun-tahun berikutnya, bila perlu melibatkan para siswa dan orang tua mereka, sebagai bagian dari proses pendidikan.” Demikian pernyataan Drs. Nasrul, Kepala MTsN Meureudu melalui rilis yang diterima Majalah Santunan. n (aba)
Santunan DESEMBER 2010

Santunan – Banda Aceh. Keluarga Besar Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh, pada perayaan Idul Adha 1431 H, menyembelih 4 ekor sapi kurban. Keempat sapi tersebut merupakan kurban dari karyawan/ karyawati Kanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh dan anggota keluarganya sejumlah 28 orang. Pelaksanaan penyembelihan dilakukan pada, tanggal 17 November 2010, dini hari. Daging sapi-sapi kurban tersebut dibagi dalam 280 kantong dengan berat masing-masing kantong sekitar 2 kg. “Daging kurban ini dibagi kepada mereka yang berhak

Presiden SBY Buka Perkemahan Pramuka di Aceh
sampaikan Ketua Kwartir Daerah (Kwarda) Pramuka Aceh yang juga Wakil Gubernur (Wagub), Muhammad Nazar seusai presentasi rencana Perkemahan Wirakarya di hadapan Pengurus Kwartis Nasional (Kwarnas) Pramuka, di Gedung Pramuka Gambir, Jakarta, Kamis (4/2 Hadir dalam presentasi itu Ka. Kwarnas Pramuka Prof. dr. Asrul Azwar dan sejumlah penguruh Kwarnas. Saat presentaasi, Muhammad Nazar didampingi pengurus Kwarda Pramuka Aceh, Azhari Basyar, Jufrie, dan Anas M Adam. Sepanjang sejarah kepramukaan di Aceh, menurut Muhammad Nazar, baru kali ini event perkemahan Wirakarya Pramuka Nasional berlangsung di Aceh. “Aceh dipercaya sebagai tuan rumah setelah disepakati dalam musyawarah nasional Pramuka tahun lalu,” sebut Muhammad Nazar. Perkemahan Wirakarya tersebut diikuti lebih dari 10 ribu pandu Pramuka dari seluruh Indonesia, negara Asean dan Timur Tengah. Kegiatan akan difokuskan kepada pengabdian masyarakat yang dilaksanakan selama satu pekan dalam berbagai bentuk kegiatan, antara lain kegiatan: gampong bersih; gerakan cinta kebersihan di dayah dan tempattempat pendidikan serta rumah ibadah; gerakan cinta lingkungan berupa penanaman pohon; gerakan ekonomi pariwisata dan lain-lain. Pramuka Aceh dalam beberapa tahun terakhir berhasil meraih berbagai prestasi dan penghargaan baik dalam forum Pramuka Nasional maupun internasional. Dua bulan silam, kontingen Pramuka Aceh mendapatkan dua penghargaan Asia Pasifik dari lima penghargaan yang diperebutkan. “Kegiatan Pramuka di Aceh sangat menonjol pasca konflik dan tsunami. Kita ingin meningkatkan di bidang kepramukaan sebagai salah satu wadah pendidikan bagi remaja dan pemuda,” sebut Nazar. n (serambinews/aba)

Santunan – Jakarta. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dipastikan membuka Perkemahan Pramuka Wirakarya Nasional 2010 di Banda Aceh. Kegiatan yang dilaksanakan pada 2229 November 2010 itu merupakan kegiatan reguler Pramuka pertama yang diadakan di Aceh. Kepastian kehadiran Presiden SBY tersebut di-

Berlindung di Masjid, 50 Orang Selamat
Santunan – Mentawai. Sebuah masjid tua di Dusun Pasa Puat, Mentawai, Sumatera Barat, tidak tersentuh gelombang tsunami dan tetap berdiri kokoh. Sebanyak 50 orang yang berlindung di masjid itu pun selamat. Seperti dikabarkan voa-islam. com, permukiman penduduk rata dengan tanah. Tak satu pun rumah warga yang berdiri. Masjid itulah satusatunya bangunan yang berdiri kokoh menghadap pantai. Seorang warga, Zulfikar, kepada voa-islam menuturkan, masjid itu berdiri sekitar tahun 1960. “Ini masjid tertua di dusun kami. Bentuk masjid itu sudah tidak asli lagi, karena terus diperbaiki,” ujar Zulfikar. Zulfikar menceritakan, masjid ini
24

Tsunami Mentawai;

sama sekali tidak tersentuh tsunami. Padahal, lokasinya tidak jauh dari pantai sedangkan rumah-rumah warga di sekitar masjid rata dengan tanah. Masjid itulah yang menjadi tempat perlindungan masyarakat saat gelombang besar datang. Seperti mukjizat, air laut hanya sampai di teras masjid. Di luar masjid, Zulfikar melihat dengan mata kepala
Santunan DESEMBER 2010

sendiri gelombang tsunami mencapai delapan meter. “Kami dalam masjid ada sekitar 50 orang, sedangkan warga yang lain telah menyelamatkan diri ke perbukitan yang berjarak satu kilometer dari masjid. Melihat masjid tidak kena sama sekali, kami merasa heran. Setelah itu kami sadar ini adalah kehendak Tuhan,” jelas pria berjenggot itu. Zulfikar dan 50 warga lainnya tidak henti-henti mengucap kebesaran Allah. Di luar masjid, tsunami terus menerjang sebanyak tiga gelombang. Tiada yang menduga, tsunami menghindar dari masjid. “Sepertinya, di masjid air terbelah, sehingga lantai masjid pun tidak basah sama sekali,” kenangnya.n (mulyadi nurdin/ dakwatuna)

Camilla Leyland, Guru Yoga yang Menjadi Muslimah
Santunan-Inggris. Namanya Camilla Leyland. Usianya kini 32 tahun. Bagi warga Cornwall, Inggris, Camilla sudah tak asing lagi. Ia memiliki sanggar yoga terbesar dan terkenal di kota itu, Camilla Yoga. Namun tak banyak yang tahu, ibu dari seorang putri, Inaya, ini adalah seorang Muslim. Ia memutuskan untuk menganut Islam pada usia 20an tahun. Beda dengan pandangan Barat soal perlakuan Islam atas perempuan, ia justru tertarik mempelajari Islam karena alasan ini. Menurutnya, tak seperti pandangan banyak orang, Islam justru mendudukkan perempuan setara dengan laki-laki, dalam fungsi dan tugas masing-masing. “Saya tahu, orang pasti akan terkejut mendengar kata “feminisme dan “Islam”. Namun jangan salah, dalam Alquran, wanita mempunyai kedudukan setara laki-laki dan ketika agama ini dilahirkan, perempuan adalah warga kelas dua dalam masyarakat misoginis,” ujarnya. Menurutnya, banyak orang yang salah mendudukkan antara budaya dan agama. Di negara Islam, kebebasan wanita dikungkung mungkin benar, namun jangan salah juga, ketika saya tumbuh, saya juga merasa tertekan dalam kultur masyarakat Barat yang begini,” ujarnya. “Tekanan” yang dimaksudkan, adalah tuntutan sosial agar wanita berlaku sama dengan pria, dengan minum minuman keras dan seks bebas. “Tak ada artinya semua itu bagi saya. Dalam Islam, ketika Anda mulai menjalin hubungan, maka artinya adalah sebuah komitmen yang intens,” ujarnya. Camilla besar dalam lingkungan kelas menengah Inggris. Ayahnya adalah direktur Southampton Institute of Education dan ibunya dosen ekonomi. Camilla mulai tertarik pada Islam sejak sekolah menengah. Dahaganya akan pengetahuan keislaman agak terpuaskan ketelah ia masuk universitas, yang dilanjutkan dengan meraih gelar master untuk

bidang studi Timur Tengah. Pencerahan datang saat ia tinggal dan bekerja di Suriah. Ia makin tertarik pada Islam setelah membaca terjemah Alquran. “Saya tertarik untuk menjadi mualaf,” ujarnya. Keputusan menganut Islam membuat teman-teman dan keluarganya heran. “Sulit bagi mereka untuk memahami seorang yang terpelajar, berasal dari kelas menengah, dan berkulit putih pula, memutuskan untuk menjadi Muslim,” ujar Camilla. Ia sempat mengenakan jilbab, namun kini dia tampil tanpa jilbab. Namun ia mengaku makin mantap dengan Islam dan tak pernah melalaikan shalat. Ia bersyukur menemukan Islam. Ia bercerita, makin kuat tekadnya memegang teguh agamanya saat mengSantunan DESEMBER 2010

hadiri ulang tahun temannya di sebuah bar, saat itu ia tampil berjilbab. “Saya berjalan, dengan jilbab dan pakaian rapat saya, melihat semua mata menatap saya dan beberapa yang mabuk mengucapkan kata-kata tak senonoh atau menari secara provokatif. Untuk pertama kalinya, saya menyaksikan masa lalu saya dengan sebelah mata dan saya tahu, saya tak akan pernah ingin kembali pada kehidupan semacam itu,” ujarnya. Ia menyatakan beruntung menemukan “rute penyelamatan diri”-nya, Islam. “Ini saya yang sesungguhnya: saya bahagia berdoa lima kali sehari, dan mengikuti pengajian di masjid. Saya tak lagi menjadi budak dari masyarakat yang rusak,” ujarnya. n (mulyadi nurdin/ republika)
25

Dari Mekah, Sang Nenek Terus Doakan Obama

Indonesia Dukung Program Nuklir Iran
Santunan–Jakarta. Pemerintah Indonesia menegaskan dukungan terhadap program nuklir Iran. Dukungan tersebut dilakukan selama Iran menggunakan nuklir untuk tujuan damai. Seandainya ada pelaksanaan yang timbul dalam pelaksanaan hak itu, maka perlu diselesaikan lewat dialog. “Presiden menegaskan Indonesia senantiasa mendukung hak dari setiap negara, termasuk Iran, atas teknologi nuklir untuk maksud damai,” kata Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa, di Kantor Presiden, Jumat (1/10). Marty menyampaikan hal itu usai mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima utusan khusus Presiden Mahmoud Ahmadinejad. Utusan itu adalah Alaeddin Boroujerdi yang juga Ketua Komisi lnternasional dan Keamanaan Nasional Parlemen Iran. Alaedin didampingi sejumlah pejabat Iran lainnya, seperti Dubes Iran untuk Indonesia Mahmoud Farazandeh, Sekretaris Komisi Luar Negeri Iran Fazlullah Baghestani, dan Deputy Chief of the Mission Kedutaan Iran Mahmoud Mozaffari. Presiden didampingi juga oleh Mensesneg Sudi Silalahi dan Seskab Dipo Alam. Marty mengatakan, Presiden berpendapat bahwa permasalahan yang timbul dalam pelaksanaan hak diselesaikan melalui perundingan dan dialog, bukan menggunakan kekerasan, bahkan menggunakan sanksi terhadap negara mana pun juga. “Pada kesempatan tersebut, utusan khusus Presiden Iran menegaskan komitmen Iran untuk mengembangkan teknologi nuklir untuk maksud damai dan sikapnya yang menentang atau menolak proliferasi senjata nuklir,” kata Marty. Iran juga berkomitmen mengendepankan dialog. Dalam kaitan itu, kata Marty, Presiden menyampaikan bahwa Iran dan Indonesai ada kesamaan pandangan atas beberapa hal, yaitu hak segala bangsa untuk menggunakan teknologi nuklir untuk maksud damai. “Baik Iran maupun Indonesai samasama setuju dalam menentang proliferasi persentaaan nuklir,” kata dia. (mulyadi nurdin/dakwatuna)
Santunan DESEMBER 2010

Perusahaan Raksasa India Rambah Keuangan Islam
Santunan-New Delhi. Peluncuran dana ekuitas Islam oleh Tata Group India dua minggu lalu menyaksikan masuknya perusahaan manajemen aset besar India lain di bidang keuangan Islam. Ini menyusul pembentukan sebuah perusahaan manajemen aset Islam oleh rival Tata Group, Reliance Anil Dhirubahi Ambani Group, di Malaysia, Reliance Asset Management Malaysia Sdn Bhd, pada akhir tahun 2009 untuk memimpin aktivitas manajemen aset Islam globalnya. Sementara Reliance tampak sedikit berhati-hati, Tata pada bulan Oktober 2010 meluncurkan Tata Indian Shariah Equity Fund (TISEF) melalui Tata Asset Management (Mauritius) Private Limited (TAMM) miliknya, yang juga merupakan manajer dana. Menurut TAMM, penawaran itu adalah dana ekuitas terbuka terdiversifikasi yang berinvestasi di ekuitas sesuai Syariah atau perusahaan-perusahaan India terdaftar setara ekuitas. Langganan minimumnya adalah 5.000 dolar dan standarnya adalah Indeks Syariah CNX Nifty milik Standard & Poor. Semesta saham dari TISEF terdiri atas perusahaan-perusahaan seperti Cummins India, Bharti Airtel, Reliance Industries, Gujarat Mineral Development Corporation dan lainnya, yang sahamnya dianggap mematuhi Syariah dan karena itu memuaskan berbagai layar Syariah yang terkait dengan aktivitas bisnis dan rasio keuangan. Alokasi aset dana adalah 31% ekuitas dan 69% uang tunai dan kelas-kelas aset lainnya seperti Sukuk. Pemilihan Mauritius sebagai domisili dana tidak mengejutkan. Mauritius dalam beberapa tahun terakhir telah mempromosikan diri sebagai pusat perbankan luar negeri dan pusat pasar modal Islam. n (mulyadi nurdin/suaramedia)

Santunan-Makkah. Sang nenek Presiden Amerika Serikat (AS), Barack Obama, mendoakan cucunya itu masuk Islam. Tahun ini, nenek Obama datang ke Tanah Suci Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Dalam doanya selama di Makkah, dia selalu memohon kepada Allah SWT agar Obama masuk islam. Nenek yang bernama Sarah Omar itu sekarang tinggal di Kenya. Dalam wawancaranya dengan koran Al Watan Saudi, nenek berusia 88 tahun itu, mengaku pergi ke Makkah bersama salah satu anaknya, yang juga paman Obama, Saeed Hussein Obama. “Saya doakan Barack cucu saya untuk masuk Islam,” kata Sarah Omar, Kamis. Selain bersama seorang putra, dia juga menunaikan ibadah haji bersama empat cucunya. Kepada harian tersebut, dia menolak untuk memberikan komentar atas sikap politik Obama. Dia hanya bersedia memberikan pernyataan yang terkait dengan haji. Kepergian Sarah Omar beserta anak dan cucunya ke Tanah Suci itu sepertinya terselenggara atas dukungan Kerajaan Arab Saudi. Sarah mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Raja Abdullah atas keramahannya dalam menerima para jamaah haji dari berbagai penjuru dunia. n (mulyadi nurdin/republika)
26

Resahkan Hubungan AS–Israel
Santunan-Tel Aviv. Kedutaan AS di Tel Aviv menginformasikan Kementerian Luar Negeri Yerusalem bahwa website pengadu WikiLeaks berencana merilis ratusan ribu kabel diplomatik Amerika, beberapa di antaranya mungkin berkaitan dengan hubungan Amerika - Israel. Amerika mengatakan ingin memberitahu pemerintah Israel agar tidak terkejut dan bersiap menghadapi publisitas yang mungkin akan mempermalukan secara diplomatik. Seorang pejabat militer Israel yang familiar dengan isi pesan itu mengatakan bahwa menurut Amerika, material WikiLeaks termasuk kabel diplomatik yang dikirimkan ke Washington dari kedutaan Amerika di seluruh dunia. Sumber-sumber di Washington mengata-kan dokumendokumen itu akan segera keluar. Kabel-kabel itu berasal dari periode lima tahun terakhir dan mencakup laporan media, pembicaraan dengan politisi, pejabat pemerintah dan jurnalis, serta evaluasi dan berbagai analisis oleh diplomat Amerika terkait negara tempat mereka ditugaskan. Menurut petinggi senior Israel, kedutaan AS mengatakan bahwa dokumen-dokumen itu tidak terlalu rahasia, tapi pemerintah tidak tahu isi persisnya. “Amerika mengatakan bahwa mereka memandang serius kebocoran ini. Mereka tidak tahu kapan dokumen-dokumen itu akan dirilis di internet dan apa isi persisnya, tapi mereka tidak mau kami membacanya di koran,” ujar petinggi itu. Pesan dari Amerika mengatakan bahwa jika kabel dari kedutaan AS di Tel Aviv dirilis, itu akan memalukan karena terkait dengan hubungan antara Israel dan AS, yang biasanya dijaga agar tetap rahasia, atau karena dokumen itu melibatkan korespondensi internal antar diplomat Amerika yang tidak selalu mencerminkan posisi resmi pemerintahan AS. n (mulyadi nurdin/ suaramedia)

WikiLeaks

Pelajari Islam di Mekah, Snouck Hurgronje Pura-pura Masuk Islam

ran dan sistem kepercayaan Islam. Dia juga fasih berbahasa Arab,’’ ujar Elie Domit, seorang kurator galeri. Pada 1880, Hurgronje menulis tesis doktornya berjudul “Het Mekkansche Feest” (pesta Makkah) yang menggambarkan ibadah haji dan adat istiadatnya. Pada waktu itu, pemerintah di negara-negara Eropa mulai melihat dukungan yang diberikan penduduk Muslim bagi upaya kemerdekaan bagi wilayah koloni Eropa dan Belanda. Makkah dipandang sebagai tempat berkumpulnya para pejuang Muslim. Pada 1884, berkat didanai pemerintah Belanda, Hurgronje dikirim ke Jeddah untuk meneliti kehidupan Muslim di Makkah. n (mulyadi nurdin/republika)

Santunan-Dubai. Snouck Hurgronje. Nama itu tak asing lagi dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, khususnya di masa penaklukan Aceh oleh kolonial Belanda. Berkat informasi yang dipasok orientalis yang menguasai budaya Aceh dan Islam itu, pasukan kolonial Belanda berhasil menguasai Aceh. Rupanya, kiprah warga Belanda itu tak hanya tercatat di bumi Serambi Mekkah saja. Jejak kaki Hurgronje (1857-1936) juga sampai ke Makkah yang sesungguhnya di Arab Saudi. Demi mempelajari Islam, ritual haji, dan kehidupan masyarakat di Makkah, lulusan jurusan teologi di Universitas Lieden, ini pernah tinggal selama sekitar tujuh bulan di Kota Suci itu. Pria yang lahir di Oosterhout, Belanda, pada 1857 dan memiliki nama lengkap Christiaan Snouck Hurgronje, ini bahkan dikabarkan sampai mengubah keyakinan agamanya alias menjadi mualaf demi bisa menetap di Kota Makkah. Semua itu dilakukannya agar bisa mempelajari Islam langsung di jantungnya. Saat ini foto-foto karya Hurgronje saat menetap di Makkah sedang dipamerkan di Dubai Financial Center dengan diberi judul ‘Makkah, Sebuah Petualangan Berbahaya’. ‘’Dia terpesona dengan berbagai macam agama, tetapi secara khusus tertarik pada ajaSantunan DESEMBER 2010

Garap Pasar Islam, Iran-Malaysia Rumuskan Standar Produk Halal
Santunan-Taheran. Republik Islam Iran dan Malaysia melakukan kerja sama untuk menentukan standar baku produk halal. Ketua Kamar Dagang dan Industri Iran, Mohammad Reza Nahavandian, Kamis (25/11) kepada IRNA, mengatakan, Teheran telah melakukan langkah-langkah serius terkait standar barang-barang halal. Ditambahkannya, langkah itu dapat mendorong terbentuknya pasar Islam bersama. Iran bermaksud mendirikan kantor perwakilan standar halal di 10 negara dan telah meyusun program yang matang pada tahap pengoperasian dan pengawasan. Menyinggung volume perdagangan Iran dan Malaysia, Nahavandian menuturkan, neraca perdagangan Teheran dan Kuala Lumpur masih menguntungkan Malaysia dan ekspor negara itu ke Iran kira-kira dua kali lipat dari ekspor Iran. Menurut keterangan Nahavandian, nilai ekspor Malaysia ke Iran pada tahun lalu mencapai 800 juta dolar. Sementara tingkat ekspor Iran ke negara itu hanya 350 juta dolar dan pada bulan lalu meningkat delapan persen. n (mulyadi nurdin/ republika)
27

Ensiklopedi Bahasa di Aceh
Bahasa di Aceh Desember 2010 “SAKIT”
NO. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 BAHASA INDONESIA Baju Celana Sarung Kain Burung Terbang Ikan Berenang Tali Akar Obat Sakit Sembuh Daun Buah Racun Mujarab Keras Muntah Mencret BAHASA ACEH Bajee Siluweue Ija Krong Ija Cicem Pe’ Engkot Meulangu Taloo Ukhee Ubat Saket Puleh On Boh Kaye Racon Rasi Kreueh Muntah/ Ulak Ciret BAHASA GAYO Baju Seruwel Opoh Kerung Opoh Manuk Temerbang Iken/Gule` Munawe` Ikot/Tali Uyet Uwak/Tawar Malang/ Sakiten Jeger/Pulih Olong/Dun Uwah Tube Mujereb Teger Pelowah Cereten BAHASA ANEUK JAMEE Baju Salwa Saruang Kain Unggeh Tabang Lauk Baranang Tali Aka Ubek Sakik Cegak Daun Buah Racun Marasi Kareh Muntah Mencret Ukhat Dhaun Mesui Njuah Bhulung Buah Khacun Metajab Nekong Muntah Bucukh Naknuk Ngkabhang Ikan BAHASA ALAS Bhaju Suakh Uwis BAHASA SIGULAI/ LAMAMEK Badu Alundung Bekhak Karung Bekhak Manu-manu Umumbo Inaklan Luma Langi Dali U’a De’u Afekhe Puleh Bulu Bua Racun Mujerab Abe’e Umutah Se’re’t BAHASA DEVAYAN Ba’du Saluncung Enen Kedang Enen Manokmanok Umabang Nae’ Lumangoi Tali Ollor Ron/Don Akoi/Maun Mata Uh Bulung Bo Tufa Mujrab Mate El/ Ma’la Umutah Buran BAHASA SINGKIL Waju Sokhal Ulis Kain Memanuk Kawang Ikan Langi Tali Ukhat ‘Daun Odak Sehat Njuah Wulung Wuah Khacun Skhasi Piher Jloag Mencret BAHASA PAK-PAK BOANG Baju Sokhal Ulis Kain Memanuk Kabeng Ikan Langi Tali Ukhat Daun Sakit Njuah Bulung Buah Khacun Sekhasi Pihekh Mutah Melae BAHASA TAMIANG Baju Seluoar Kerong Kerong Bakal Unggeh Tarbang Ikan Nenang Tali Akerr Ubek Sakik Baek Daun Buah Kracun Mujerab Tegorr Muntah Cirik BAHASA KLUAT Baju Seruwe Kerung Ulos Piduk Kabang Ikan Langui/ Ngayo Tali Urat Daun Cuwi Cegak Bulung Buah Racun Mujarab Mekong Jeluak Cirit

Terima kasih kepada semua kontributor yang memungkinkan Rubrik Ensiklopedi Bahasa di Aceh dapat terus eksis di setiap edisi Majalah Santunan. Meski masih terdapat banyak kekurangan di sana sini, namun kami berkomitmen agar rubrik ini dapat tampil lebih baik. Oleh karena itu kami sangat berharap adanya masukan berupa sumbangan pemikiran yang membangaun dari pembaca.Untuk ikut berpartisipasi pada rubrik ini, pembaca dapat mengirimkan sms ke No. 085277759339, dengan menyebutkan nama, bahasa, dan padanan katanya, terima kasih. Kosa kata untuk rubrik ini untuk edisi yang akan datang adalah sebagai berikut: Gila; Waras; Lemah; Kuat; Terang; Gelap; Kecil; Besar; Ringan; Berat; Banyak; Sedikit; Manis; Asin; Asam; Pahit; Lezat; Lucu; Tawar; Bau.
28
Santunan DESEMBER 2010

S A I N S

Pengembangan, dan Pembinaan Olimpiade Sains di Madrasah
Oleh : Muhammad Putra Aprullah, SE Apa itu Sains dan Olimpiade sains? Sains (Ilmu Pengetahuan) adalah bagaimana manusia memahami dirinya dengan lingkungannya, meneliti hubungan dan pengaruh hal-hal tersebut antara satu dengan lainnya, dan dapat menjelaskan menggunakan aktivitas dan metode yang ada sehingga didapatkan kumpulan informasi/pengetahuan yang lengkap dan sistematis mulai sejak awal hingga saat ini. Perkembangan ilmu pengetahuan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun merupakan bentuk sumbangsih bersama dari para ilmuwan yang berasal dari berbagai negara yang berbeda. Oleh karena itu, olimpiade sains menjadi momentum untuk mewujudkan generasi ilmuwan bangsa Indonesia, sehingga hasil pengembangan sains akan bermanfaat dalam meningkatkan kemakmuran bangsa Indonesia. Pelaksanaan Olimpiade Sains mengacu kepada Peraturan Menteri No. 34 Tentang Prestasi Peserta Didik yang Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa. Selain itu, tertuang juga di Peraturan Menteri No. 39 Tahun 2008 Tentang Pembinaan Kesiswaan, yang salah satunya berisi tentang kegiatan seni dan olahraga yang polanya hampir sama dengan olimpiade sains. Keseriusan sekolah umum dalam membina olimpiade sains kiranya ikut memotivasi madrasah untuk berperan aktif bersama sekolah umum dalam meningkatkan kompetensi dan intelektualitas siswa dalam ajang olimpiade sains, sehingga polaritas (kutub) antara sekolah umum dan madrasah dapat dieleminasi demi kemajuan dunia pendidikan Indonesia secara merata. Jenis Kompetisi Olimpiade Sains 1. Olimpiade Sains Nasional (OSN) Dalam OSN Bidang yang dikompetisikan adalah Matematika, Fisika, Biologi, Kimia, Astronomi,Geografi, Ekonomi, Komputer. Kompetisinya mulai dari tingkat kabupaten/kota, provinsi, nasional, dan international. Peserta kompetisi ini adalah siswa SD/MI, SMP/MTs, SMA/ MA, dan mahasiswa perguruan tinggi (OSNPT). 2. Indonesian Science Project Olympiad (ISPO) ISPO merupakan sebuah kompetesi yang memperlombakan proyek-proyek penelitian ilmu pengetahuan yang dimulai dari proses pengamatan, percobaan, membuat laporan proyek penelitian, dan mempresentasikan hasil proyek ilmu pengetahuan dalam sebuah stand pameran. Proyek penelitian akan dinilai dewan juri dan pengunjung pameran tersebut. Bidang proyek penelitian yang dikompetisikan adalah Fisika, Kimia, Biologi, Matematika, Lingkungan, dan Teknologi. 3. Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI). Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI). bertujuan untuk menjaring siswa yang memiliki bakat dan kemampuan dalam bidang penelitian, menumbuhkembangkan budaya meneliti di kalangan siswa SMA, memotivasi siswa SMA untuk berkreasi dalam berbagai bidang ilmu sesuai dengan minat dan bakatnya, dan mendapatkan hasil penelitian yang orisinal, berkualitas, dan kompetitif. Bidang yang dikompetisikan: 1) Sains Dasar yang meliputi Matematika, Fisika, Kimia,
29

Santunan DESEMBER 2010

S A I N S

dan Biologi; 2) Sains Terapan yang meliputi Ekologi, Mesin, Elektronika, Informatika, Kesehatan, dan Pertanian; 3) Ilmu Pengetahuan Sosial dan Bahasa yang meliputi Ekonomi dan Manajemen,Sejarah dan Kebudayaan, Bahasa dan Kesusastraan, Pendidikan dan Psikologi, Sosiologi, dan Antropologi). 4. Olimpiade Sains dan Bahasa (OSB) Tujuan dari OSB adalah menumbuhkembangkan budaya kompetitif yang sehat di kalangan siswa Madrasah, meningkatkan wawasan pengetahuan, kemampuan, kreatifitas dan kerja keras untuk menguasai ilmu pengetahuan dan bahasa, meningkatkan intelektual dan mengembangkan/menggali potensi siswa Madrasah Aliyah, menanamkan rasa ukhuwah Islamiyah di kalangan keluarga besar MKK Madrasah Aliyah, memotivasi pelaksanaan program intra dan ekstra kurikuler yang berfungsi sebagai penunjang peningkatan dan pembinaan sumber daya manusia yang sesuai dengan visi dan misi Madrasah Aliyah secara umum. Kompetisi ini baru dilaksanakan tahun 2010 se-provinsi Jawa Timur, dan tidak mustahil di masa yang akan datang kompetisi ini menjadi model pembinaan olimpiade sains di kalangan siswa madrasah secara nasional. Bidang yang dikompetisikan adalah Matematika, Bahasa Arab, dan Ekonomi. Proses Pembinaan Olimpiade Proses pembinaan olimpiade sains dimulai dari beberapa tahapan sebagai berikut: a. Penyusunan Program Pembinaan Olimpiade: Guru/Pembina olimpiade sains nasional menyusun program sesuai dengan ruang lingkup dan standar operasional prosedur kompetisi olimpiade sains yang akan diikuti oleh siswa. Program di sini mencakup silabus, dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Dengan jelasnya program yang telah disusun oleh guru/pembina akan memudahkan dalam mengarahkan siswa untuk mencapai prestasi terbaik. b. Seleksi Siswa berdasarkan Minat, Bakat, dan Potensi: Seleksi siswa dilakukan berdasarkan bakat, minat, dan potensi siswa terhadap bidang studi olimpiade sains
30

yang akan dipelajari. Siswa yang diikutkan dalam proses seleksi adalah siswa kelas X, dan kelas XI. Pola seleksi olimpiade sains lebih ditekankan pada bakat dan minat terhadap satu bidang studi daripada prestasi akademik siswa secara umum, sehingga pencapaian prestasi siswa di bidang olimpiade sains dapat ditorehkan pada level lokal, nasional, dan international. c. Pembinaan Olimpiade Sains: Pembinaan olimpiade sains dapat dilakukan oleh guru atau pembina khusus olimpiade. Guru dan Pembina dapat menerapkan model pembelajaran yang representatif dan mendukung semangat siswa untuk belajar. Siswa harus merasa menikmati dan senang belajar materi olimpiade sains, walaupun pada kenyataannya siswa dibebankan materi yang lebih berat dibandingkan materi yang dipelajari di sekolah. Untuk mewujudkan hal ini guru dan pembina harus mampu mempersiapkan diri dan mengevaluasi program dan model pembelajaran secara berkelanjutan. d. Evaluasi Program: Evaluasi program dapat dilakukan dengan memberikan pre-test, post-test, try-out, maupun kegiatan kompetisi yang diikuti siswa binaan olimpiade sains. Evaluasi program perlu dilakukan untuk melihat kelemahan dan kekuatan program. Dengan adanya evaluasi ini dapat melihat kemajuan siswa dalam proses pembelajaran, sehingga guru dan Pembina dapat memprediksikan dan menargetkan kepada siswa level prestasi yang dapat mereka capai. Dukungan dan kepedulian penuh pemerintah pusat, pemerintah daerah, universitas, LSM/NGO terhadap pembinaan olimpiade sains telah menggairahkan perkembangan olimpiade sains di Indonesia. Dukungan nyata pemerintah dan pihak universitas di Indonesia telah ditunjukkan dengan pemberian beasiswa pendidikan kepada para siswa yang berprestasi dalam Olimpiade Sains baik tingkat nasional maupun internasional untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi dalam negeri dan luar negeri. Kesempatan ini harus mampu dimanfaatkan oleh siswa-siswa madrasah untuk menunjukkan kepada dunia bahwa siswa-siswa madrasah memiliki potensi untuk menjadi ilmuwan yang memiliki intelektualitas dan spiritualitas yang tinggi. n Penulis adalah Staf Bidang Mapenda Kanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh

Santunan DESEMBER 2010

Ishak, atau Ismail?
(Penafsiran Ayat 102 Surat al-Shaffat)
Oleh Jabbar Sabil, MA
Allah berfirman:

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersamasama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!”. Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. (Q.S. alShaffat [37]: 102). Dalam menafsirkan ayat ini, para ulama berbeda pendapat tentang siapa yang disembelih. Sebagian ulama berpendirian, bahwa yang disembelih adalah Ishak, mereka berpegang kepada riwayat yang katanya bersumber dari ulama kalangan sahabat dan tabiin. Antara lain dapat disebut al-‘Abbas ibn ‘Abd al-Muthallib dan anaknya ‘Abdullah, berdasar riwayat secara marfu‘ yang mengatasnamakan keduanya oleh alTsawri dan Ibn Jurayj. Riwayat-riwayat seperti ini banyak bermunculan, ada yang disandarkan kepada ‘Ali, Zubayr, Jabir, dan ‘Abdullah ibn ‘Umar yang mendengar dari ayahnya ‘Umar ibn al-Khattab. Al-Qurthubi dalam tafsirnya al-Jami‘ li Ahkam alQur’an menyimpulkan, bahwa dasar pendapat ini disandarkan kepada tujuh orang sahabat di atas. Adapun dari kalangan tabiin, pendapat ini dipegang oleh ‘Alqamah, al-Sya’bi, Mujahid, Sa‘id ibn Jubir, Ka‘ab al-Ahbar, Qatadah, Masruq, ‘Ikrimah, Qasim ibn Abi Bazzah, ‘Atha’, Muqatil, ‘Abd al-Rahman ibn Sabith, al-Zuhri, al-Sadi, ‘Abdullah ibn Abi al-Hazil, dan Malik ibn Anas.

Saat Ismail lahir, Nabi Ibrahim berusia 86 tahun, adapun Ishak, lahir kala Nabi Ibrahim berusia 99 tahun.
Semua mereka sependapat, bahwa yang disembelih adalah Ishak. Dari kalangan mufasir, pendapat ini diterima oleh al-Thabari, al-Nuhas, Jalal al-Suyuthi, dan lain-lain. Perlu dicatat, pendapat ulama kelompok pertama ini, sesuai dengan keyakinan di kalangan ahli kitab, baik Yahudi maupun Nasrani. Kelompok kedua, ulama yang ber keyakinan bahwa yang disembelih adalah Ismail. Dari kalangan sahabat, pendapat ini dinyatakan bersumber dari Abu Hurayrah, Abu Thufayl, dan anehnya, pendapat ini juga dikatakan bersumber dari Ibn ‘Umar dan Ibn ‘Abbas. Jadi kedua tokoh sahabat ini terkesan tidak konsisten. Dari kalangan tabiin, pendapat ini dipegang oleh Sa‘id ibn al-Musayyab, al-Sya‘bi, Yusuf ibn Mihran, Mujahid, al-Rabi‘ ibn Anas, Muhammad ibn Ka‘ab al-Quradhi, al-Kalabi, dan ‘Alqamah. Di sini juga terdapat tokoh yang terkesan tidak konsisten, yaitu ‘Alqamah, al-Sya’bi, dan Mujahid. Namun tidak diperoleh informasi, apakah mereka membatalkan pendapat pertama mereka, atau menguatkan salah satunya, yang jelas kedua pendapat ini tidak mungkin disatukan karena kontradiksi. Kelihatannya sumber kontradiksi muncul akibat sikap sebagian sahabat dan tabiin yang mencoba memperdetil penafsiran dengan menerima input dari ahli kitab. Hal ini disebabkan tidak adanya penjelasan dari Rasulullah yang secara tegas menyatakan siapa
Santunan DESEMBER 2010

yang disembelih oleh Nabi Ibrahim. Itulah kenapa riwayat tentang penetapan Ishak sebagai anak yang disembelih, semuanya berakhir pada tabiin atau sahabat saja. Demikian pula riwayat yang menyatakan Ismail sebagai anak yang disembelih oleh Nabi Ibrahim, diterima mufasir sebagai interpretasi sahabat dan tabiin, bukan penjelasan langsung dari Rasulullah. Kondisi ini tentu menyulitkan, karena masing-masing pihak berusaha menginterpretasi dari teks Alquran. Kedua kelompok berusaha menemukan alasan pembenar dari Alquran, lalu bagaimana caranya agar kita bisa menentukan sikap? Penafsiran ayat dengan ayat Para ulama yang berpendirian Ishak sebagai anak yang disembelih, mengambil kesimpulan berdasar analisa terhadap kata ghulam halim dalam ayat 101 surat al-Shaffat berikut ini: Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh (100). Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar (101). (Q.S. al-Shaffat [37]: 100-102) Jadi kata ghulam halim menjadi kata kunci dalam mencari jawaban tentang siapa anak yang disembelih oleh Nabi Ibrahim. Menurut ulama kalangan ini, penafsiran makna ghulam halim dijelaskan oleh ayat 49 surat Maryam berikut ini:

Maka ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya Ishak, dan Ya’qub. Dan masing-masingnya Kami
31

angkat menjadi nabi. (Q.S. Maryam [19]: 49). Selain menerapkan metode penafsiran ayat dengan ayat (ayat 49 surat Maryam menjadi penafsir kata ghulam halim dalam ayat 101 surat al-Shaffat), ulama kelompok ini juga melakukan kajian historis. Hal ini dimungkinkan karena adanya riwayat tentang Nabi Ibrahim dari khasanah peradaban ahli kitab. Oleh karena itu, berdasar keterangan ayat di atas, peristiwa itu dapat direkonstruksikan kembali sesuai dengan perjalanan waktu dalam sejarah. Menurut catatan sejarah, Nabi Ibrahim dilahirkan di sekitar Urfa, Harran (sekitar daerah Turki sekarang). Lalu Nabi Ibrahim menyingkir (‘uzlah) dari kampung halaman karena ulah umatnya yang mengingkari ajaran yang ia bawa. Nabi Ibrahim menentukan tujuannya ke negeri Syam. Di tengah perjalanan ke negeri Syam, Nabi Ibrahim berdoa agar diberi anak yang saleh (Q.S. al-Shaffat [37]: 100-101). Dalam perjalanan ini pula, ia dikabari akan memperoleh anak yang dinyatakan bakal menjadi nabi, yaitu Ishak dan Ya’qub (Q.S. Maryam [19]: 49). Cerita ini dilanjutkan sesuai dialog Bapak-anak dalam surat al-Shaffat, bahwa dialog itu merupakan ucapan Nabi Ishak, bukan Nabi Ismail. Lalu ditutup dengan pernyataan Allah, bahwa anak itu (Nabi Ishak) ditebus dengan seekor sembelihan yang besar: Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. (Q.S. al-Shaffat [37]: 107). Kesimpulan ulama kelompok pertama ini dipandang semakin kuat oleh redaksi ayat 112 surat al-Shaffat berikut: Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh. (Q.S. al-Shaffat [37]: 112). Pernyataan ayat 112 surat al-Shaffat ini, dipandang sebagai penguat bagi penafsiran kata ghulam halim pada ayat 101. Jika penjelasan dalam
32

ayat 49 surat Maryam bercampur dengan sebutan Nabi Ya’qub, maka dalam ayat 112 surat al-Shaffat justru khusus tentang Nabi Ishak. Maka hal ini memperteguh keyakinan ulama yang berpendirian Ishak sebagai anak yang disembelih. Penafsiran di atas diperkuat dengan penalaran logis berdasar urutan peristiwa perjalanan hidup Nabi Ibrahim. Dari catatan sejarah diketahui, bahwa saat melakukan perjalanan menuju negeri Syam, Nabi Ibrahim belum berpoligami, sebab pernikahan dengan Hajar baru dilangsungkan setelah mereka menetap di negeri Syam. Dengan demikian, saat berita akan memperoleh anak diterimanya dalam perjalanan itu, kemungkinan memperoleh anak hanya dapat terjadi dari isterinya yang bernama Sarah. Maka anak yang dimaksud dalam pemberitaan itu ada Ishak, lalu sesuai dengan rangkaian kisah dalam surat al-Shaffat, anak yang diberitakan itu diperintah sembelih. Meski penafsiran ini terlihat cukup beralasan, namun pada tataran kebenaran, interpretasi di atas tidak bisa mencapai tingkat meyakinkan (qath‘i). Sebab, metodologi penafsiran yang sama juga digunakan oleh ulama kelompok kedua, tetapi hasilnya malah bertolak belakang. Bagi ulama dari kelompok ke-dua, petunjuk tentang siapa yang disembelih terkandung dalam kalimat “… satajiduni Insya Allah min al-shabirin” dalam ayat 102 surat al-Shaffat. Kata kuncinya, adalah kata al-shabirin yang penafsirannya terkait erat dengan bunyi ayat 85 surat al-Anbiya’ berikut: Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris, dan Zulkifli. Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar. (Q.S. alAnbiya’ [37]: 85). Ayat ini secara gamblang menyebutkan nama Ismail dalam sederetan nama nabi yang digelar sebagai al-sabirin. Bagi jumhur ulama, alasan digelarnya Nabi Ismail sebagai al-sabirin adalah; karena kesabarannya dalam menerima perin-tah penyembelihan atas dirinya sebagaimana tergambar dalam dialog pada ayat 102 surat alSantunan DESEMBER 2010

Shaffat. Penafsiran ini diperkuat oleh keterangan dalam ayat 54 surat Maryam berikut:

Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al-Qur’an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. (Q.S. Maryam [19]: 54). Sebagian ulama menyatakan bahwa yang dimaksud dalam ayat di atas adalah Ismail ibn Hazaqil, tapi bagi jumhur ulama, itu adalah Ismail ibn Ibrahim. Berdasar pendapat jumhur ulama, ulama kelompok kedua menafsirkan; bahwa alasan disebutnya Nabi Ismail sebagai orang yang benar janjinya karena ia menepati janji kepada ayahnya, yaitu akan bersabar menerima penyembelihan. Bagi ulama kelompok kedua, penjelasan ayat 85 surat al-Anbiya’, dan ayat 54 surat Maryam, merupakan bukti yang kuat bahwa dialog dalam ayat 102 surat al-Shaffat adalah ucapan Nabi Ismail. Dengan demikian, anak yang disembelih oleh Nabi Ibrahim adalah Nabi Ismail. Berdasarkan penafsiran ayat dengan ayat, ulama kelompok kedua membantah hujah ulama kelompok pertama. Logikanya, pemberitaan tentang Ishak yang akan menjadi nabi, menunjukkan bahwa ia tidak mungkin disembelih. Mereka juga menambahkan fakta tentang pengangkatan Ishak sebagai nabi dari surat Hud ayat 71:

Dan isterinya berdiri (di balik tirai) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir puteranya) Ya’qub. (Q.S. Hud [11]: 71). Dengan fakta bahwa dari Nabi Ishak akan lahir Nabi Ya’qub, lalu bagaimana mungkin Nabi Ishak akan disembelih. Disembelih berarti mati, lalu bagaimana mungkin ia akan menjadi nabi dan memiliki putera Nabi Ya’qub sementara ia harus mati?

Menurut ulama kelompok kedua, menyatakan Ishak sebagai anak yang disembelih, berarti mendustakan ayat yang memberitakan Ishak akan menjadi nabi dan memiliki putera bernama Ya’qub. Padahal Alquran memberitakan kenabian Ishak dan puteranya dalam beberapa surat sehingga tidak mungkin ditakwil. Dengan pastinya berita ini, maka menyatakan penyembelihan Ishak, sama artinya membohongi perintah menyembelih, atau setidaknya, perintah menyembelih terlihat sebagai kepura-puraan saja. Logika yang dikemukakan ulama kelompok kedua ini kelihatan cukup mengena, tapi juga tidak mampu mengantarkan kepada tataran meyakinkan (qath’i). Menurut Sa‘id ibn Jubir (dari kelompok pertama), berita kenabian dan lahirnya Ya’qub dari Ishak tidak mendustakan peristiwa penyembelihan. Sebab kedua peristiwa ini tidak terkait dengan waktu, jadi bisa saja penyembelihan berlangsung di masa depan setelah Ishak menjadi nabi dan punya anak. Jadi pada saat diwahyukan, perintah menyembelih tidak terkesan sebagai perintah pura-pura. Sampai di sini, hujah dan penalaran dari kedua kelompok ulama terlihat sama kuat sehingga sulit untuk menentukan sikap. Kiranya kesan sama kuat ini dapat dilihat dari munculnya kelompok ketiga yang seorang tokohnya dapat disebut al-Zujaj. Al-Zujaj menyimpulkan, bahwa Ismail dan Ishak, keduaduanya disembelih. Kelihatannya al-Zujaj tidak mau dipusingkan oleh masalah seperti ini, dan kemudian pendiriannya ini menjadi mazhab ketiga dalam kontroversi tentang siapa yang disembelih. Ulama kelompok kedua tidak berhenti pada hujah dan logika di atas, mereka juga melakukan kajian historis. Mereka menunjukkan fakta sejarah, bahwa penyembelihan terjadi di Mekah, bukan di Syam, sedangkan Ishak tidak pernah ke Mekah, maka tidak mungkin Ishak yang disembelih. Dengan demikian dapat dipastikan, bahwa anak yang disembelih adalah Ismail, sebab Ismail lah yang hidup di Mekah dan membangun Ka’bah bersama Ibrahim.

Solusi al-Syanqiti Fakta historis yang diangkat oleh ulama kelompok kedua di atas meyakinkan banyak orang sehingga jumhur ulama berpendapat bahwa Ismail lah yang disembelih. Hal ini menjadi pendukung untuk menerima penafsiran kata ghulam halim pada ayat 101 surat al-Shaffat oleh mufasir yang datang belakangan. Mereka menafsirkannya dengan cara yang berbeda dengan ulama kelompok pertama di atas. Misalnya Ibn Katsir (w. 774 H) yang menafsirkan kata ghulam halim sebagai Ismail karena fakta bahwa Ismail lebih tua usianya dari Ishak. Menurut Ibn Katsir, ada kesepakatan bersama di kalangan umat

Islam dan ahli kitab, bahwa Ismail lebih tua dari Ishak. Saat Ismail lahir, Nabi Ibrahim berusia 86 tahun, adapun Ishak, lahir kala Nabi Ibrahim berusia 99 tahun. Maka berita bahwa Nabi Ibrahim akan memperoleh anak, merujuk kepada anak pertama, yaitu Ismail. Sampai di sini masih ada satu hal yang belum terjawab, bagaimana dengan ungkapan wa basysyarnahu bi Ishaq… dalam ayat 112 surat alShaffat, bukankah itu mendukung penafsiran ghulam halim sebagai Ishak karena masih dalam satu surat? Hal ini dapat diselesaikan oleh penafsir lain, yaitu al-Syanqithi.
Santunan DESEMBER 2010

Menurut al-Syanqithi, petunjuk itu cukup jelas ditemukan dalam redaksi ayat-ayat dalam surat al-Shaffat itu sendiri. Setelah ayat 100 yang berisi doa Nabi Ibrahim (rabbi hab li min al-shalihin), dilanjutkan dengan jawaban (fa basysyarnahu bi ghulam halim). Lalu pada ayat 112 yang memberitakan tentang kenabian Ishak (wa basysyarnahu bi Ishaq…), redaksi ayat menggunakan huruf ‘athaf. Hal ini menunjukkan bahwa objek berita yang kedua, berbeda dari objek berita pertama. Karena pada berita yang kedua (ayat 112) disebut secara jelas nama Ishak, maka pada berita pertama (ayat 101) dapat dipastikan bukan Ishak. Jadi kata ghulam halim dapat ditafsirkan maksudnya sebagai kata ungkapan yang merujuk kepada Ismail. Bagi al-Syanqithi, menafsirkan kata ghulam halim sebagai Ishak tidak sah, sebab sebutan nama Ishak pada pemberitaan ayat 112 mengakibatkan pengulangan yang tidak berfaedah. Pengulangan siasia seperti ini tidak mungkin terjadi dalam kalam Allah, oleh karena itu, redaksi ayat menjadi sangat jelas, bahwa yang dimaksud dengan kata ghulam halim dalam ayat 101 adalah Ismail. Jika penafsiran ini diikuti, maka Nabi Ibrahim menerima dua pemberitahuan, pertama pemberitahuan akan mendapat anak yang akan disembelih, yaitu Nabi Ismail. Kedua, akan mendapat anak seorang nabi yang nantinya berputerakan Nabi Ya’qub, yaitu Nabi Ishak. Dengan demikian, ayat 49 surat Maryam, dan ayat 71 surat Hud, merupakan penjelasan tersendiri tentang pemberitaan kelahiran Nabi Ishak. Sementara surat al-Shaffat, merupakan versi lengkap tentang peristiwa menyingkirnya Nabi Ibrahim dari tanah kelahiraanya. Penjelasan redaksional al-Syanqithi di atas, dipadu dengan fakta sejarah, bahwa peristiwa pernyembelihan terjadi di Mekah, kiranya dapat mengantarkan kita kepada penafsiran yang lebih lebih beralasan. Wallahu a‘lam. n Penulis adalah kandidat Doktor IAIN Ar-Raniry Banda Aceh.
33

Menuntut Ilmu
Oleh: Salman Abdul Muthalib, Lc., M.Ag
endidikan merupakan suatu kegiatan yang paling banyak memberi pengaruh terhadap perilaku seseorang atau suatu masyarakat. Ia merupakan model rekayasa sosial yang paling efektif untuk menyiapkan suatu bentuk masyarakat di masa mendatang, hal ini sangat diharapkan mengingat manusia mendapat kehormatan menjadi khalifah di muka bumi untuk mengelola alam beserta isinya. Untuk mengimbangi agar ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia tidak terjerembab ke arah yang negatif, perlu dibarengi dengan keimanan, sehingga umat manusia dalam menapaki kehidupan seharihari selalu tertuju ke arah yang diridai Allah. Islam sangat menekankan pentingnya pendidikan bagi umat, hal ini dapat dilihat dari berbagai teks agama baik Alquran maupun hadis yang menyuruh dan memotivasi umat untuk selalu menuntut ilmu pengetahuan tanpa batas waktu. Banyak ayat dan hadis Nabi yang menyuruh kita untuk menuntut ilmu, bahkan wahyu pertama sekali diterima Rasul Muhammad saw. yang terekam dalam Alquran pada surat al-‘Alaq menyuruhnya untuk membaca. Allah melalui Jibril mewahyukan kepada Nabi Muhammad saw. ketika ia sedang bertahannus di Gua Hira: ”Bacalah, dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang telah menciptakan.” Sebagian besar ulama menjadikan perintah “iqra’ (bacalah)” ini sebagai dasar yang sangat kuat bahwa menuntut ilmu itu merupakan suatu kewajiban dan berlaku bagi setiap umat Islam, tanpa membedakan kelamin, ras, suku dan berbagai perbedaan lainnya. Rasul bersabda:

P

“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan.” (HR. Muslim) Kewajiban ini menurut hadis Nabi Muhammad saw. juga harus dimulai sejak dari ayunan hingga ia masuk ke liang lahat: “Tuntutlah ilmu mulai dari ayunan sampai ke liang lahat.” Kewajiban itu sendiri melekat secara otomatis ketika seseorang

beliau bersedia menyisihkan waktu tertentu khusus untuk mereka dalam rangka menuntut ilmu pengetahuan, permohonan ini tentu saja dikabulkan oleh Nabi saw. Dengan demikian jelaslah bahwa kewajiban menuntut ilmu menjadi keharusan setiap orang, di mana tujuan kewajiban ini agar umat manusia bahagia hidup di dunia dan di akhirat. Allah akan selalu menjaga dan melindungi orang-orang yang keluar dan merantau dengan itikad baik untuk mencari ilmu, seperti digambarkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Turmuzi:

“Barangsiapa yang pergi untuk menuntut ilmu, maka dia telah termasuk golongan sabilillah (orang yang menegakkan agama Allah) hingga ia sampai pulang kembali.” (HR. Turmuzi) terlahir dan dinyatakan hidup sampai tiba masanya ia meninggalkan dunia ini. Ini adalah kewajiban yang tidak memandang usia, orang sering menyebutnya dengan istilah long life education (Pendidikan seumur hidup). Dengan adanya beberapa dalil yang kuat, akan terbantahkan anggapan, dan bahkan semacam dogma yang menyatakan bahwa menuntut ilmu itu semata-mata kewajiban dan hanya berhak diperoleh oleh sekelompok orang, pendidikan bukan hanya milik mereka yang memiliki kemampuan finansial yang tinggi, setiap orang berkewajiban menuntut ilmu sebagai aplikasi ajaran Islam yang telah diemban oleh Rasul Muhammad saw. Para sahabat baik laki maupun perempuan di zaman Nabi saw. menyadari benar kewajiban ini, bahkan sekelompok wanita pada masa itu memohon kepada Nabi agar
Santunan DESEMBER 2010

Teks hadis ini begitu menghargai orang yang menuntut ilmu, sampaisampai memposisikan mereka yang sedang menuntut sebagai fi sabilillah. Sekembalinya seseorang dari menimba ilmu, ia kembali berhadapan dengan alamnya, ia akan terus menikmati indahnya hidup di dunia sambil terus mempersiapkan bekal ke akhirat sehingga di sana pun ia akan bahagia, untuk mencapai semua itu hanya bisa dilalui dengan memiliki ilmu. Kewajiban menuntut ilmu itu sendiri tidak hanya terbatas pada pengetahuan agama (seperti pemahaman sebagian orang saat ini), tetapi ilmu pengetahuan umum pun harus diperhatikan. Bila pengetahuan umum dan agama diamalkan dengan benar dan dikembangkan, maka akan menjadi pahala yang terus-menerus mengalir bagi si pelaku walaupun ia telah meninggal dunia, sebagaimana

34

sabda Rasulullah:

”Jika anak Adam telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal, sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, anak saleh yang mendoakan kedua orang tuanya.” (HR. Muslim) Islam telah meletakkan dasar-dasar pikiran mengenai pengembangan ilmu pengetahuan bagi umatnya, dalam Islam peningkatan kualitas pendidikan menjadi kebutuhan mendasar, selain untuk menghadapi era masa depan juga mempersiapkan kehidupan yang lebih baik. Hal ini sejalan dengan perkataan Ali bin Abi Thalib ra. yang begitu masyhur: ”Didiklah anak-anakmu karena mereka akan hidup pada suatu zaman yang berbeda dengan zamanmu.” Berdasarkan keterangan di atas, dapat dikatakan bahwa generasi penerus yang terdidik tidak akan berada dalam kebodohan, karena kemuliaan manusia terletak pada akal yang dianugerahi Allah. Akal ini digunakan untuk mendidik dirinya

sehingga memiliki ilmu untuk mengenal pencipta dan beribadah kepadaNya dengan benar. Itulah sebabnya Rasulullah saw. menggunakan metode pendidikan untuk memperbaiki manusia, karena dengan pendidikanlah manusia memiliki ilmu yang benar dan wawasan yang luas. Dengan demikian, ia terhindar dari ketergelinciran dalam maksiat, kelemahan, terpecah belah dan kemiskinan. Dalam Alquran, Allah telah menegaskan bahwa orang yang berilmu akan mendapat derajat yang tinggi di sisinya, dalam surat al-Mujadilah ayat 11, Allah berfirman:

Orang yang berilmu itu dipandang besar, meskipun tubuhnya kecil. Orang bodoh akan dinilai kecil, meskipun badannya besar. Belajarlah, karena tidak ada seorangpun yang dilahirkan langsung berilmu. Dan tidak akan sama orang yang berilmu dengan orang bodoh. Apa yang telah dijelaskan di atas menunjukkan betapa pentingnya ilmu pengetahuan bagi setiap individu, dan untuk mencapai ini semua tentu melalui proses pendidikan yang harus ditempuh dan dijalani setiap orang dalam kesehariannya. Berbagai bentuk dan model pendidikan demi untuk menuntut ilmu pengetahuan diperbolehkan dalam Islam, baik melalui lembaga pendidikan formal, dayah, atau bentuk pendidikan yang lain. Tinggal kita sekarang yang menentukan sistem pendidikan mana yang cocok buat kita, anak cucu kita dan generasi mendatang, yang terpenting adalah tujuan akhir dari pendidikan ini menciptakan manusia yang yang bermoral dan bermanfaat bagi orang lain. Wallahu a’lam bisshawab. n Penulis Dosen Fakultas Ushuluddin IAIN Ar-Raniry Banda Aceh.

“Allah akan meninggikan orangorang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Dalam pribahasa juga disebutkan:

Innalillahi Wainna Ilaihi Raajiun
Pimpinan dan Jajaran
Turut Berduka Cita Yang Mendalam Atas Berpulangnya Kerahmatullah

Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Tengah Bapak Tgk. H. Abu Zaki bin Abdurrahim (80),
Ayahanda Bapak Drs. H. Hamdan, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Tengah Pada Hari Senin, 15 November 2010, di Bebesen, Aceh Tengah.

Semoga Almarhum diampuni Allah, dan ditempatkan di tempat yang layak di sisi-Nya. Kepada keluarga yang ditinggalkan, semoga sabar dan tabah atas musibah ini. Kasubbag Tata Usaha Kankemenag Kabupaten Aceh Tengah Drs. Saidi B
Santunan DESEMBER 2010

35

Menggagas Pendidikan Dayah Masa Depan
Oleh: Khairizzaman, M. Ag
I. PENDAHULUAN Qanun No. 23 tahun 2002 tentang Penyelenggaraan Pendidikan di Aceh pada pasal 16 ayat 1 disebutkan, bahwa dayah/pesantren adalah lembaga pendidikan Islam dengan sistem pondok/rangkang yang dipimpin oleh ulama, diselenggarakan oleh yayasan, badan sosial, perorangan, dan atau pemerintah. Dayah sepanjang sejarah telah menunjukkan peran krusial dan instrumental dalam mewujudkan peradaban bangsa ini. Nurcholis Madjid --alumnus dayah dan cendekiawan muslim-- mengatakan bahwa perwujudan masyarakat madani merupakan tanggung jawab utama institusi pesantren. Harapan Nurcholis ini tentu berdasar pengamatan, bahwa pesantren/dayah merupakan sistem pendidikan yang tumbuh dan lahir dari kultur Indonesia asli, dan telah memberikan kontribusi berarti bagi nusantara ini. Sebagai institusi pendidikan Islam di Aceh, dayah juga telah memberikan peran strategis dan menentukan dalam membangun peradaban Aceh. Dayah di Aceh juga telah teruji kemapanan dan daya survive-nya sampai era modern sekarang ini. Ketahanan yang ditampakkan dayah dalam menyikapi perkembangan zaman dan perubahan sosial sepanjang sejarah menunjukkan bahwa sebagai lembaga pendidikan, dayah di Aceh dianggap mempunyai karakteristik unik yang survive dan berdialog dengan zamannya. Eksistensi dayah sepanjang sejarah mengindikasikan adanya keunggulan. Setidaknya terdapat tiga peran krusial dayah, yaitu sebagai lembaga pendidikan, lembaga dakwah, dan lembaga pengembangan masyarakat. Sebagai lembaga pendidikan, dayah telah mewariskan tradisi keilmuan, proses transmisi, dan internalisasi moralitas muslim melebihi lembaga pendidikan lain. Dayah telah melahirkan banyak cendekiawan yang tidak hanya excellent dalam persoalan keagamaan
36

tetapi juga unggul dan terlibat aktif dalam politik pemerintahan. Lebih dari itu, alumnus dayah pada masa lalu lebih produktif dalam berkreasi menulis dibandingkan ulama Aceh sekarang ini. Seiring pergantian waktu dan perubahan zaman, terkesan munculnya gejala pemudaran dan penurunan peran pesantren atau dayah salafi dalam membangun pendidikan masa depan, sehingga membuat sebagian elemen masyarakat merasa kecewa dengan kelemahan mendasar yang ada pada dayah itu. Azyumardi Azra, mantan rektor UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, memandang lembaga pendidikan pesantren/ dayah atau madrasah tidak berhasil dalam membentuk perilaku dan sikap keagamaan yang mencerminkan imtak (iman dan takwa), juga kurang berhasil menumbuhkan sikap toleran dalam menghadapi perbedaanperbedaan di antara umat beragama, baik intra maupun antar agama. Nurcholis Madjid juga berpendapat, bahwa secara konseptual lembaga pendidikan Islam tradisional ini telah mulai meninggalkan akar sejarahnya. Lebih jauh, Zamakhsyari Dhafier memberi komentar bahwa model pendidikan pesantren/dayah saat ini di mana power and authority yang hanya berada dalam kontrol seorang pimpinan dayah akan berdampak negatif bagi perkembangannya ke arah yang lebih baik. Menghadapi kekhawatiran ini, sejumlah peneliti mencoba mengidentifikasi kelemahan yang dimiliki dayah. Di antaranya persoalan manajemen, pola pendidikan, kurikulum, kepemimpinan, pengembangan keterampilan dan sebagainya. Tulisan ini akan difokuskan pada pola pendidikan dayah di Aceh khususnya salafi yang menurut penulis harus dirancang-bangun kembali dengan orientasi dan paradigma baru supaya lebih kuat berakar dan tetap dilirik menjadi lembaga pendidikan alternatif di tengah-tengah hegemoni
Santunan DESEMBER 2010

pendidikan formal. Pendidikan dayah perlu direformulasi secara nyata dalam konteks kehidupan yang berkembang saat ini. Kalau tidak demikian, maka dikhawatirkan bukan hanya tertinggal tetapi akan terlindas oleh waktu dan tergilas persaingan. Ke depan, siapapun dan apapun lembaga pendidikan sangat membutuhkan kepada daya kompetitif yang tinggi untuk dapat mengikuti perubahan zaman yang sangat drastis. II. Pengembangan Pendidikan Dayah Masa Depan Berbagai pihak telah menaruh harapan yang sangat besar agar terjadi perubahan pola pendidikan di dunia dayah, terutama mengenai pengorganisasian pengajaran, penentu arah dan tujuan kebijakan pendidikan dayah yang tidak hanya berada di bawah otoritas seorang teungku, sehingga hampir tidak ada rumusan tertulis tentang kurikulum, tujuan dan sasaran pendidikan dayah. Metode pembelajaran-pun harus lebih mengarah dan berorientasi kepada multi kultural, dengan tidak memberi penekanan yang terlalu kuat pada aspek kognitif an sich, tapi juga aspek afektif dan psikomotorik. Yusny Saby, mantan rektor IAIN Ar-Raniry Banda Aceh yang menulis, peran ulama dalm konteks social changes (perubahan sosial) di Aceh, menyarankan adanya perbaikan dalam dunia pendidikan agama di Aceh terutama dayah untuk mengganti “rigid model of education” (model pendidikan yang kaku) dengan memasukkan pelajaran-pelajaran umum dan modern ke dalam kurikulumnya. Ia menganjurkan dua model perbaikan pendidikan dayah yaitu konseptual yang mengarah kepada filosofi seperti adanya pelajaran modern dan umum serta perbaikan fisik berupa upaya memperbaiki kondisi bangunan dayah yang biasanya sangat sederhana. Pola pendidikan dayah salafi yang tetap berkutat pada kurikulum masa

lampau dan tidak mau memasukkan materi umum dianggap salah satu aspek kekurangan mendasar dayah salafiyah, sebab hal ini akan berakibat pada lemahnya dayah untuk bersikap antisipatif dalam menangkap tandatanda zaman. Ketika tuntutan zaman telah berubah dan persoalan sosial amat kompleks, maka materi yang diajarkan sejatinya harus selalu dimodifikasikan sesuai kebutuhan zaman. Menghadapi tantangan modernitas dan perubahan sosial yang luar biasa pesat, maka seharusnya ada inovasi, dan perubahan konsep dan pola pendidikan secara komprehensif. Beberapa dayah salafi di Aceh telah berusaha menutupi kelemahan ini dengan bersifat terbuka kepada dunia luar dayah dan menerima sejumlah masukan tetapi hal ini masih terkesan parsial dan tambal sulam. Dalam hal ini, perlu sinergitas semua komponen yang peduli dunia pendidikan untuk memasukkan ilmuilmu eksak dan humaniora di dayah salafi. Ini merupakan keniscayaan dan tidak boleh sekedar tempelan an sich sehingga berakibat kepada kecenderungan pemilahan antara ilmu agama dan umum yang sangat tinggi seperti dirasakan selama ini. Ada satu fenomena menarik pasca tsunami meluluhlantakkan Aceh, setelah seratusan ribu lebih LSM asing masuk ke Aceh. Dunia dayah merasakan sekali kelemahannya ketika tidak mampu berkomunikasi dengan bulebule Barat. Padahal banyak sekali yang ingin disampaikan. Sekarang cakrawala berfikir sudah berubah, mereka mengakui pentingnya bahasa Inggris sebagai media utama berkomunikasi. Proses alami yang sudah diterima dunia dayah ini harus dimanfaatkan oleh stakeholder pendidikan untuk pembenahan pendidikan dayah masa depan. Kelemahan ini masih ditambah lagi dengan aspek metodologis yang kurang memadai. Sampai batas-batas tertentu, pola pendidikan yang bersifat penalaran agak tersingkirkan, sedang pola yang bersifat dogmatis agak dominan. Konsekuensinya, kebiasaan berfikir logis kurang populer di dunia dayah. Pembenahan kurikulum dayah dengan mengedepankan penggunaan

metodologi yang sistematis menjadi satu kebutuhan yang cukup mendesak. Pada saat yang sama, semua disiplin keilmuan dan life skill yang tangguh harus diletakkan dalam suatu integrasi yang benar-benar kukuh, sehingga antara satu dengan lainnya terjadi hubungan interdepedensi yang pada akhirnya akan memperkuat penciptaan capacity building dayah. Untuk maksud ini, agar lebih integral, maka penguatan kurikulum dayah tidak hanya berorientasi ukhrawi saja, tetapi juga ada bekal yang harus disesuaikan dengan kondisi lokal. Dayah yang berada di pusat kota misalnya perlu mengembangkan tekhnologi informasi, computer dan

ilmu, seperti kelas fikih dan ushul fikih, kelas sejarah, kelas khusus ‘ulumul qur‘an dan kelas hadis. Melatih mereka dengan keterampilan-keterampilan tertentu, buat aneka seminar baik lokal maupun nasional, bangun gedung atau aula representatif dan pusat olah raga yang memadai dan lain sebagainya. Pendek kata, pemerintah harus memberikan perhatian ekstra kepada dua lembaga salafi ini baik moril maupun materil. Serangkaian kegiatan yang mencerahkan dunia dayah dipusatkan pada dua dayah ini untuk beberapa waktu atau selama lima tahun. Selanjutnya secara silih berganti dipilih kembali dayah-dayah lain yang ada di wilayah Aceh ini. Inovasi seperti ini perlu dicoba oleh pemerintah kepada dayah-dayah salafi di Aceh seperti pembangunan beberapa dayah salafi di pulau Jawa yang lebih mampu merespon tuntutan globalisasi dan perubahan zaman. III. Kesimpulan Globalisasi dan informasi merupakan arus yang tidak bisa dibendung pertumbuhannya. Globalisasi menempatkan pendidikan agama dalam posisi tidak mampu menjawab, apalagi mengarahkan perubahan yang terjadi. Perubahan mengalami akselerasi yang terus meningkat. Dampak perubahan itu menuntut spesialisasi dan diferensiasi yang tinggi dalam masyarakat. Lembaga pendidikan dayah harus berbenah diri memperbaiki segala kekurangan dan kelemahan yang dirasakan selama ini. Terutama sekali aspek pola pendidikan yang selama ini berkembang. Pola pendidikan dayah salafi harus dirancang kembali oleh ahli-ahli bidang pendidikan sesuai dengan kebutuhan zaman. Sekalipun dayah telah teruji keung-gulannya sepanjang sejarah, tetapi mengandalkan keunggulan itu saja tidak memadai, karena zamannya berbeda. Karena itu dayah yang paling survive di masa depan adalah dayah yang paling mampu berdialog dan merespon semangat zamannya. n Penulis adalah alumnus Dayah Tauthiatuth Thullab Arongan Simpang Mamplam Bireun dan Staf Dinas Syari`at Islam Kabupaten Pidie.
37

bahasa Inggris. Sebaliknya dayahdayah yang berada di pedesaan perlu menyesuaikan keterampilan yang relevan dengan potensi alam sekitarnya, seperti keterampilan pengetaman, perabotan, menjahit, usaha perbengkelan, las, dan lain sebagainya. Menyahuti perubahan pola pendidikan di dayah ini, pemerintah Aceh dapat mengujicobakan dengan memilih salah satu dayah yang berada di pesisir Barat seperti Dayah Budi Lamno Aceh Jaya, dan Dayah Mudi Mesjid Raya, Samalanga, Bireun misalnya untuk dijadikan pilot projek pendidikan dayah masa depan. Hadirnya guru-guru umum di dua dayah ini, buka kelas-kelas spesialisasi
Santunan DESEMBER 2010

Modernis atau Konsumeristik: Menggugat Mentalitas Pendidik
Oleh Darmawansyah, S.Pd.I

A

bad 21 yang juga disebut dengan zaman melenium ke tiga merupakan zaman yang serba “wah” dengan berbagai macam perkembangan yang terus berubah dari hari ke hari. ‘Modern’ merupakan sebutan yang cocok untuk zaman ini (walau sebutan ini telah lama diberikan untuk zaman ini). ‘Modern’ merupakan kata yang dinisbahkan untuk segala sesuatu yang kekinian, kehidupan modern adalah kehidupan yang berwujud kekinian yang dalam artian tidak ketinggalan zaman. Jika seseorang masih berkehidupan dengan mengacu pada kehidupan masa lalu di sebut dengan “orang kolot/kuno”. Sebutansebutan tersebut sering terngiang ditelinga kita sehari-hari, apalagi kata-kata tersebut sering diutarakan dikalangan anak remaja masa kini. Kehidupan modern yang kita saksikan saat ini adalah kehidupan yang cenderung materialistik, segala sesuatu dilihat dari pandangan tersebut. Konsumeristik adalah salah satu tanda dari zaman ini, apalagi zaman ini di sebut juga dengan era globalisasi yang menuntut setiap manusia harus mampu mengikuti perkembangan zaman secara up to date. Banyak orang terjerumus dengan sikap negatif yang dimanfaatkan dari sebuah zaman, dan mayoritas manusia terperangkap didalamnya. Wajar jika Jhon Naisbit menyebut zaman Modern dengan “Zona Mabuk Teknologi”. Kemodernan hari ini dipenuhi dengan penemuan-penemuan baru teknologi yang dapat digunakan di segala bidang, mulai dari rumah

tangga hingga perkantoran, semua dipenuhi oleh teknologi-teknologi baru. Belum selesai satu teknologi baru merambah masuk ke sebuah wilayah di sebuah negera, telah ditemukan kembali teknologi baru dengan kualitas baru pula, dan terus berjalan seiring waktu.

Di masyarakat luas, terutama di pedesaan, kemodernan ditandai dengan konsumeristik alat-alat teknologi mulai dari perlengkapan dapur hingga kendaraan pribadi. Apa saja produk baru yang diiklankan di televisi, segera saja produk itu diburu untuk dimiliki guna mendongkrak status sosial, supaya masyarakat menyebutnya “orang kaya”. Konsumeristik telah melalaikan umat manusia, terutama umat Islam dari tanggung jawab yang sesungguhnya. Orang tua yang konSantunan DESEMBER 2010

sumeristik misalnya, akan melalaikan perannya selaku pendidik awal bagi anak-anaknya, baik sebelum masuk ke lembaga pendidikan maupun setelah memasuki lembaga pendidikan. Orang tua hanya mengajarkan gengsi sosial semata dengan mengoleksi berbagai produk terbaru, yang pada akhirnya juga merusak prilaku anakanaknya. Seorang pendidik yang juga konsumeristik, tidak lagi mengajar dengan penuh dedikasi, melainkan mengejar target-target liar guna memenuhi hasrat kemodrenannya. Akibatnya, lembaga pendidikan pun hanya menjadi lahan gersang bagi pembibitan generasi masa depan. Fenomena demikian merupakan salah satu penyebab kegagalan pendidikan, dimana peran utama orang tua selaku pembimbing anak-anaknya di rumah telah terkikis bahkan hilang sama sekali. Orang tua hanya sebagai manusia yang memenuhi kebutuhan finansial bagi anak-anak mereka, mereka tidak mau tahu bagaimana akhlak dan tingkah laku anakanaknya di kemudian hari. Demikian pula halnya dengan guru yang hanya mengejar ‘angka kredit’ dan sertifikasi saja. Oleh karena itu, setiap pihak harus bersedia mengevaluasi diri, baik para orang tua, maupun pra guru, untuk meluruskan mentalitas mereka dalam menjalankan amanah yang dititipkan Allah Swt. untuk mempersiapkan generasi yang lebih kuat di masa mendatang. n Penulis adalah Guru pada MTS Negeri Jagong Kabupaten Aceh Tengah.

38

Dayah, Menuju Modernisasi Institusi
Oleh: Tgk. H.M.Daud Hasbi, M.Ag
ayah berasal dari kata zawiyah yang berarti pojok, adalah tempat para syeikh memberikan ilmu agama kepada masyarakat secara nonformal yang tak terikat dengan tempat atau waktu dan hanya dengan memilih sembarang pojok untuk mengajar. Menurut catatan pakar pendidikan, dayah merupakan lembaga pendidikan paling awal di Aceh sama halnya dengan kedudukan pesantren di daerah lain di Indonesia. Peran dan fungsi dayah dalam pembelajaransosialtelahmenunjukkan prestasi yang patut dibanggakan pada masa lalu. Dalam konteks Aceh, dayah tidak saja sebagai pusat pendidikan Islam tetapi juga sebagai pusat dakwah dan pemberdayaan sosial yang amat penting. Sebagai pusat pendidikan, dayah merupakan pusat transformasi dan transmisi ilmu dari generasi ke generasi. Sebagai pusat dakwah, dayah telah menjadi pusat penyiaran agama kepada publik, sehingga kehadiran dayah benar-benar menyatu dengan kehidupan masyarakat. Dalam perkembangannya, dayah juga telah menjadi pusat pemberdayaan ekonomi umat, meskipun belum maksimal. Dalam kehidupan modern, dayah belum kehilangan peran dan fungsinya sebagai wadah atau kajian ilmu meskipun banyak lembaga pendidikan modern bermunculan, dayah masih tetap eksis bahkan jumlahnya semakin bertambah, ini pertanda bahwa lembaga dayah masih dibutuhkan oleh masyarakat. Keunikan pendidikan dayah, yang tetap ada sampai saat ini, dapat dilihat pada sistem pendidikannya yang konsisten. Fokus kajiannya adalah teks “Kitab Kuning”, yang berbahasa Arab gundul (tanpa syakal). Metode pembelajarannya pun unik, yaitu santri menyimak syarahan guru yang berpedoman pada kitab tertentu; dan terus berlanjut dari satu kitab ke kitab yang lain. Kealiman alumni

D

tidak diukur dengan Indeks Prestasi tapi diukur dari jumlah dan jenis kitab yang telah dikuasai, sehingga dari dasar ini kompetensi santri terbentuk dengan sebenarnya. Dalam perjalanan sejarah, dayah telah membuktikan diri sebagai lembaga yang berperan dalam mengawal kepribadian umat. Kondisi moralitas bangsa selalu diangkat dalam setiap pengajaran baik di dalam dayah maupun dalam masyarakat melalui kajian dan khutbah-khutbah. Nasehat ulama dayah selalu menjadi acuan dan pegangan masyarakat dalam menjalani kehidupan sehari hari. Tradisi keilmuan dan kepribadian diteruskan dari satu periode ke periode berikutnya maka terbentuklah suatu

hirarkhi antara murid pertama dengan murid setelahnya yang terlahir dalam istilah rangkang manyang. Murid di rangkang manyang biasanya adalah murid yang pertama menjadi santri dan memiliki kemampuan lebih. Murid beriktunya diajarkan untuk takzim kepada teungku rankangnya yang tidak lain adalah kakak kelasnya, pada saatnya nanti ia menjadi guru bagi santri dibawahnya dan jika berkekalan dalam kondisi demikian guru pertama akan muncul sebagai sosok kharismatik di mata santri lain dan berimbas dalam masyarakat di sekitarnya. Antara Tradisi dan Modernisasi Ada dua tradisi dayah yang sudah mengakar dalam sistem
Santunan DESEMBER 2010

pembelajarannya: pertama, pola pendekatan yang mengembangkan metode pembelajaran yang lentur dan luwes dalam melakukan transformasi nilai-nilai keagamaan. Terbukti dalam sejarah, dayah mampu menjadi lembaga pemersatu dan bersama masyarakat terus bertransformasi. Kedua, tradisi keilmuan yang integral, yaitu mempelajari suatu ilmu yang saling terkait dengan ilmui-ilmu lain. Tradisi ini dapat dikembangkan terus sehingga tidak ada lagi dikhotomi ilmu dalam tradisi keilmuan Islam. Dengan demikian, dayah akan menjadi pelopor Islamisasi ilmu sehingga tidak ditemukan lagi perbedaan atau garis pemisah antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum. Dan ketiga, arah pendidikan dayah adalah tafaqquh fiddin sehingga melahirkan ulama-ulama yang handal dalam berbagai disiplin ilmu. Semangat keilmuan dayah dilandasi semangat keikhlasan, kesederhanaan, dan kemandirian. Di era modern, dayah dapat mengdopsi inovasi teknologi untuk menopang kualitas pembelajaran. Perangkat teknologi informasi merupakan sarana paling penting dalam pengembangan sistem pendidikan dayah zaman kini dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai moral Qur’ani. Memang, tak dapat dipungkiri bahwa setiap inovasi teknologi pasti melahirkan dampak ganda, antara manfaat dan mudharat. Di sinilah dayah berperan untuk membuat filter atau tangkal agar inovasi teknologi dapat memberikan nilai positif dan konstruktif bagi kehidupan santri dan lingkungan sekitar. Dayah dan Pemanfaatan ICT Istilah Information and Communication Technology (ICT) suatu istilah yang biasa digunakan dalam jaringan global saat ini. Dalam kehidupan keseharian, setiap orang selalu menggunakan ICT sebagai
39

media komunikasi dan bahkan media pembelajaran. Di berbagai lembaga pendidikan saat ini, ICT bukanlah barang asing. Dengan ICT proses pembelajaran belangsung efektif dan efisien walau dalam ruang yang sangat terbatas. Dengan ICT proses pembelajaran jarak jauh pun dapat terjadi. Strategi pembelajaran di dayah diharapkan dapat menerapkan prinsip ICT ini sehingga proses pembelajaran didasarkan pada komunikasi tiga arah: pertama, komunikasi antara guru dengan santri; kedua, komunikasi antara santri dengan sumber belajar; dan ketiga, komunikasi di antara para santri. Para pakar pendidikan menyatakan bahwa keberhasilan pencapaian tujuan dari pembelajaran sangat ditentukan oleh keseimbangan antara ketiga aspek tersebut. Kemudian, ditegaskan pula bahwa perancangan suatu pembelajaran dengan mengutamakan keseimbangan antara ketiga bentuk komunikasi tersebut sangat penting dalam lingkungan pembelajaran berbasis web. Dari sejumlah studi yang telah dilakukan menunjukkan bahwa in-ternet dapat dipergunakan sebagai media pembelajaran. Internet merupakan jaringan global yang menghubungkan beribu bahkan berjuta jaringan komputer (local and wide area network) dan komputer pribadi (stand alone) yang memungkinkan setiap komputer yang terhubungan kepadanya dapat

melakukan komunikasi satu sama lain. Penguasaan ICT oleh santri dapat membantu penyebaran dan penyampaian ilmu ke segenap lapisan social dan sekaligus menjadi materi caunter terhadap upaya pembodohan ummat dan pendangkalan Akidah Islmiah. Bagi santri, ICT dapat menjadi sarana untuk memperluas wawasan, mengetahui kemajemukan pandangan terhadap suatu permasalahan agama dan kehidupan dan dapat belajar memahami arti sebuah perbedaan sehingga dapat memilah dan memilih mana yang prinsipil dan mana yang tidak prinsipil. Kelak kita mengharapkan ada santri yang mampu menunjukkan prinsip prinsip beragama atas dasar pemikiran yang benar menurut al Quran dan hadis dan mampu mematahkan segala argument yang meragukan alquran dan yang melawan al-Quran, tentunya dengan kepiawaian dalam menyusun elaborasi dan metodologi penyampaian. Harapan yang demikian perlu diwujudkan dalam bentuk tindakan nyata berupa mengarahkan dan menjadikan setiap dayah sebagai lembaga pendidikan Islam terpadu. Secara prospektif, dayah merupakan wadah perlindungan dan pelestarian nilai-nilai agama dan moral umat yang kian berubah. Pada gilirannya, dayah akan menjadi “spiritual healer”(pembersih jiwa) bagi masyarakat modern yang terimbas globalisasi. Kegersangan jiwa, kegalauan spiritual, kegelisahan,

stress yang berkepanjangan, frustrasi, dan dipresi merupakan efek negatif yang ditimbulkan oleh kemajuan teknologi dan globalisasi. Dalam aspek keagamaan, lahir berbagai macam paham dan aliran yang menjurus kepada desakralisasi, dehumanisasi, dan dekadensi moral. Sebagai contoh kasus yang marak diperbincangkan belakangan ini di Aceh adalah kasus Millata Abraham dan pemurtadan, dalam hal ini dayah harus berperan dalam menangkal pedangkalan akidah. Tanpa dapat dielakkan bahwa modernisasi dan globalisasi akan melahirkan demokratisasi, sekularisasi, dan westernisasi, yang menjadi ancaman bagi dunia Islam secara umum dan dayah pada khususnya. Merupakan tugas kita semua untuk membendung arus perubahan yang mengacu kepada dampak negatif dan destruktif. Dengan pendekatan religius, dayah dapat berperan sebagai pengawal moral umat dengan tetap mempertahankan nilai-nilai Islami yang bersumberkan al-Qur’an dan sunnah. Untuk itu diperlukan wawasan keilmuan, kepekaan terhadap informasi, kemampuan berkomunikasi, dan responsif terhadap perubahan dan perkembangan zaman. n Ed. (zarkasyi) Penulis adalah alumni dan Pembina Dayah, saat ini juga menjabat sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Lhokseumawe.

Redaksi Majalah Santunan

Mengucapkan Selamat Tahun Baru Islam

1 Muharram 1432 H
Semoga kehadiran kami di tahun depan lebih bermakna di hati pembaca. Pemred Juniazi
40
Santunan DESEMBER 2010

Ruhul Ma’had Sebagai Urat Nadi Dayah
Oleh : Ahyar M. Gade, S. Sos. I
unia dayah adalah wilayah yang selalu menarik untuk ditelaah untuk dijadikan sebagai cerminan dan tolak ukur. Baik dalam konteks kelembagaan, perilaku santri, kehidupan para tokohnya, maupun lingkungan dayah itu sendiri. Banyak orang besar (panutan umat/tokoh masyarakat) lahir dari habitat dayah. Hal ini tentu bukanlah sebuah kebetulan belaka atau karena perjalanan waktu. Bisa jadi, ini merupakan suatu isyarat atau pertanda bahwa dayah memang memiliki “sesuatu” yang patut disimak dan didalami. Di sisi lain, dayah juga dapat dikatakan sebagai sebuah kampung peradaban bagi kehidupan manusia, khususnya bagi masyarakat yang berdomisili di pesisir dan pelosok pendesaan Aceh. Wakil Gubernur Aceh, Muhammad Nazar, S.Ag., dalam pidatonya di hadapan para ulama, tokoh masyarakat, dan Menteri BUMN RI (Mustafa Abu Bakar) serta ribuan santri Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga (pada Acara Haul Abon MUDI ke-21, dan Wisuda pertama lulusan STAI Al-Aziziyah Samalanga, 15 Juni 2010), mengatakan, bahwa sebelum ada sistem sekolah di Aceh, dayah merupakan pendidikan resmi dalam Kerajaan Aceh dan juga bagi masyarakat Aceh. (Majalah Santunan, Edisi 06, Juli 2010 M/Ra’jab 1431 H). Seiring perjalanan waktu, keberadaan dayah terus didambakan dan menjadi prioritas sebagian masyarakat, dengan mempercayakan institusi dayah sebagai lembaga pendidikan bagi anaknya. Walaupun ada asumsi segilintir orang yang mengatakan dayah sebagai bagian dari kamuflase kehidupan, alasannya karena dayah lebih banyak mengurusi urusan ukhrawiyah dibandingkan dengan urusan duniawiyah. Dayah sering dilabelkan sebagai pusat kehidupan fatalis, karena memprioritaskan dan menanamkan kehidupan zuhud yang mengabaikan kehidupan dunia materi. Padahal,

D

komunitas dayah menikmati kesederhanaan kehidupannya sebagai bagian dari panggilan moralitas keberagamaan. Bagi mereka, dunia merupakan “alat atau media” untuk menggapai tujuan akhirat. Karena manusia tidak mungkin sampai ke tujuan yang dicita-citakan tanpa ada alat atau media yang dijadikan sebagai sarana. Begitu juga halnya seorang hamba tidak mungkin menikmati kehidupan akhirat tanpa membangun peradaban dunia yang baik, “al-dunya mazra’ah lil akhirah”. Mengapa misalnya, dayah menjadi “besar” dan “berjasa” justru di tengah kesederhanaan dan ketulu-

san para tokohnya dalam memimpin lembaganya, dengan berazaskan tanggung jawab moral islami dan dengan sikap tak lebih dari sekedar mengabdi pada sebuah profesi? Mengapa misalnya, dayah menjadi kuat justru di tengah kejujuran dan ketegaran para tokohnya dalam mengemban amanah umat, dengan sikap lebih dari sekedar istiqamah? Mengapa misalnya, dayah menjadi hancur dan lenyap justru ketika para tokohnya melakukan “lompat pagar” ke dalam arena politik praktis yang menjanjikan kekayaan materi? Pertanyaanpertanyaan semacam ini merupakan salah satu dari sekian tanda tanya
Santunan DESEMBER 2010

yang dialamatkan kepada lingkungan dayah. Setiap institusi/lembaga pendidikan, apapun bentuk dan statusnya, sudah barang tentu mempunyai keunggulan karakteristik dan ciri khas tersendiri, sehingga menjadikannya berbeda dengan lembaga pendidikan sejenisnya. Setidaknya ada tiga faktor yang membuat dayah mampu mengembangkan dirinya sendiri. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut: Pertama, pola kepemimpinan yang mandiri dan tidak terpengaruhi oleh berbagai bentuk kepentingan yang bersifat jangka pendek. Faktor ini sangatlah berperan penting bagi kelangsungan dayah, karena landasan seorang pimpinan dayah hanyalah pada moralitas keislaman dan syariat agama. Tidak ada intervensi dari dunia luar, bahkan dari pemerintah atau lain sebagainya. Pola kepemimpinan seperti itu membuat dayah menjadi unik. Kedua, kitab-kitab rujukan sebagai kurikulum dayah yang digunakan, umumnya terdiri dari kitab-kitab yang muktabar, yang tidak lain merupakan warisan peradaban Islam dari berbagai abad. Mereka tidak hanya mengkaji fiqh, tetapi juga belajar ilmu ushul fiqh, ilmu kalam, tasawuf, sastra Arab, dan lain sebagainya. Berbagai macam ilmu tersebut akan membentuk wawasan keislaman yang padu dan utuh bagi santri, karena mereka mendalami agama dari berbagai disiplin ilmu. Sementara faktor ketiga adalah nilai-nilai dasar yang diterapkan di dayah itu sendiri. Nilai-nilai dasar ini dinamakan dengan Ruhul al-Ma’had, itulah yang nantinya menjadi bekal dalam proses kehidupan para santri di masyarakat, di samping ilmu yang sudah mereka miliki. Secara umum, nilai-nilai dasar (ruhul al-ma’had) dayah yaitu; (1) Keikhlasan, (2) Kesederhanaan, (3) Berdikari, (4) Ukhwah Islamiyah, (5) Sikap Adil, (6) Musyawarah dan
41

(7) Kedisiplinan. Ruhul al-Ma’had tersebut menjadi suntikan spirit bagi segala bentuk aktivitas didayah. Tidak hanya sekedar hiasan kata atau lukisan dipamplet semata, tapi diaplikasikan dalam dunia dayah. Sebagai contoh, keadaan komunitas dayah (lingkungan dayah) itu sendiri bisa dikatakan seperti hidup dalam akademi militer yang beraktivitas selama dua puluh empat jam, dan menjalankan aktivitas pendidikan sejak sebelum subuh sampai kembali tidur. Jadi, dunia dayah sesungguhnya membuat peradaban dunia ideal mereka sendiri. Dengan Ruhul al-Ma’had-nyalah, dayah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat dengan membuktikan keterlibatannya dalam menyiapkan tunas bangsa di masa depan. Sumbangsih dayah dalam menciptakan dan melahirkan generasi penerus bangsa merupakan yang paling monumental dalam sejarah pendidikan Islam di Aceh. Dayah telah menjadi “change agenties” bagi umat Islam Aceh. Dayah juga telah menyiapkan dan memberikan apa yang diminta dan dibutuhkan oleh negeri ini. Nurcholish Madjid, dalam bukunya Bilik-Bilik Dayah Sebuah Potret Perjalanan mengatakan bahwa Efektifitas dayah untuk menjadi agent of change sebenarnya terbentuk karena sejak awal keberadaannya, dayah juga menempatkan diri sebagai pusat belajar masyarakat, community learning centre. Dayah adalah wadah anak-anak negeri untuk menuntut ilmu, kemudian mengamalkan (menstranformasi) ilmunya dalam kehidupan masyarakat. Di tangan merekalah terletak nasib tranformasi sosial. Mereka adalah symbol dari kekuatan cultural yang akan melesat ke masa depan. Malahan dalam beberapa dimensi, dayah jauh lebih maju dibandingkan dengan lembagalembaga pendidikan tertentu yang selama ini mengklaim diri sebagai “rahim” paling sah dalam melahirkan generasi penerus yang berintelektualitas tinggi. n Penulis adalah alumni Dayah MUDI Mesjid Raya, Samalanga
42

B

erkembangnya ilmu pengetahuan di Aceh pada masa dahulu tidak terlepas dari peran ulama. Mereka berperan penting dalam mensosialisasikan pentingnya ilmu pengetahuan kepada masyarakat. Menurut mereka menuntut ilmu merupakan yang harus menjadi perhatian serius semua pihak. Untuk memotivasi masyarakat untuk itu mereka menyertai pesannya dengan hadits Nabi saw., sehingga menuntut ilmu dalam masyarakat Aceh dilandasi oleh semangat mencari pahala dan beribadah, di samping itu partisipasi masyarakat luas dalam pengembangan pendidikan agama juga sangat besar. Partisipasi itu bisa sebatas memberi dukungan baik moril maupun materi kepada orang yang menuntut ilmu, malah dengan menghadiri majelis ilmu saja sudah mendapat apresiasi dengan adanya janji pahala yang sangat besar dari Allah Swt. Hal itu dapat dijumpai dalam beberapa kitab yang ditulis oleh ulama Aceh. Salah satunya kitab Syifaul Qulub yang ditulis oleh Arif Billah Syeikh Abdullah, yang merupakan salah satu kitab yang terhimpun dalam kitab Jam’u al-jawami’. Kitab yang berisi 400 hadits itu menempatkan bab keutamaan ilmu dan ulama pada bagian pertama. Ini menunjukkan seriusnya Syekh Abdullah dalam memandang pentingnya ilmu pengetahuan bagi masyarakat Aceh. Kitab yang umumnya dibaca oleh murid pemula itu telah berdampak luas dalam masyarakat Aceh sehingga terbangun struktur masyarakat adat yang mengharuskan anak-anak untuk belajar agama dengan meunasah sebagai sentralnya. Sementara bagi yang ingin meningkatkan ilmunya akan pergi ke dayahdayah dengan sistem meudagang (mondok) hingga bertahun-tahun lamanya. Dalam kurun waktu yang sangat lama Aceh menjadi pusat kajian Islam di nusantara berkat semangat keagamaan tersebut, sehingga ada adagium yang berkembang seolah-olah kalau tidak bisa mengaji bukan orang Aceh namanya. Walaupun ada masyarakat Aceh yang lahir sebelum kemerdekaan Indonesia yang buta aksara latin, tapi mereka umumnya sangat lancar membaca huruf Arab, dan Arab Jawi. Ini menandakan budaya keilmuan telah berkembang di
Santunan DESEMBER 2010

Ulama Aceh
zaman dahulu sesuai dengan konteks yang ada pada masanya. Karena sebelum Belanda menjajah Aceh, kitab yang berkembang pada masa itu adalah Arab Jawi. Dalam kitab Syifaul Qulub, Syeikh Abdullah menuliskan: “Barangsiapa menolong ia akan orang yang alim yakni orang yang mengajar, atau menolong ia akan orang yang muta’allim, yakni orang yang belajar, jikalau adanya dengan qalam yang patah sekalipun, maka serasa-rasa ia berbuat ka’bah tujuh puluh kali“ (al-Hadis). Kutipan-kutipan hadis seperti di atas telah menumbuhkan semangat infak di kalangan masyarakat, sehingga banyak yang memberi sumbangan kepada lembaga pengajian agama, baik dalam bentuk uang maupun wakaf tanah. Sehingga di mana-mana dalam masyarakat sangat banyak didapatkan tanah wakaf yang dikelola oleh imum gampong selama masih menjabat dan mengajar Alquran untuk anak-anak. Hal yang sama juga kita dapatkan pada lembaga yang lebih tinggi seperti dayah yang sering dibangun di atas tanah wakaf, dan pembangunan juga dilakukan dengan sumbangan masyarakat sekitar. Malah dalam waktu yang sangat lama dayah Aceh tidak mendapat dana dari pemerintah. Di samping pentingnya ilmu pengetahuan, Syekh Abdullah juga menekankan pentingnya memberi penghormatan kepada para ulama. “Siapa yang mempermuliakan ulama maka bahwasanya mereka itu pada Allah Ta’ala itu mulia ia” (al-Hadis). Pesan-pesan tersebut membentuk karakter masyarakat Aceh yang cinta ulama serta menghormati mereka. Apalagi dalam lembaga pendidikan seperti dayah rasa hormat kepada guru telah menjadi tatanan yang melekat erat bagi setiap santrinya. Bagi santri jika tidak hormat kepada guru akan dihantui oleh perasaan bersalah (teumeureuka) dengan gurunya, dan itu akan sangat tabu bagi masyarakat Aceh.

dan Ilmu Pengetahuan
Oleh Mulyadi Nurdin, Lc
Penghormatan kepada ulama juga disebabkankarenaketerlibatanmasyarakat yang sangat tinggi dalam pengembangan pendidikan agama di Aceh. Sehingga lulusan dari lembaga pendidikan tersebut juga mendapat tempat yang terhormat. Bagi masyarakat awam, lulusan dari lembaga pendidikan merupakan kader yang telah dibesarkan oleh mereka sendiri secara bersama-sama. Penghormatan kepada ulama yang telah mengakar tersebut menjadikan mereka sebagai pusat fatwa (peunutoh) dalam berbagai persoalan sosial masyarakat. Adab dan Perilaku Adab lebih tinggi dari ilmu. Demikian pemahaman masyarakat Aceh mengenai pentingnya adab dan sopan santun dalam kehidupan, adab itu sendiri berlaku bagi semua kalangan, baik masyarakat umum hingga ulama sekalipun. Adab di Aceh sudah menjadi tata krama yang mentradisi dari generasi ke generasi. Sehingga melahirkan kondisi sosial masyarakat yang santun, lembut dan menghormati orang lain. Dalam dunia pendidikan juga sama, adab itu sangat dijunjung tinggi, seorang murid harus menghormati guru, demikian juga guru harus menghargai muridnya, sehingga proses belajar mengajar berjalan dengan harmonis dan bebas dari beban psikologis. Suasana penuh keakraban dapat kita lihat dalam lembaga pendidikan agama di Aceh. Tidak pernah terjadi murid memprotes guru dengan cara yang tidak wajar apalagi demonstrasi tanpa kendali. Hal itu dapat kita baca dalam kitab karya Syeikh Muhammad, anak dari Syeikh Khatib dalam kitabnya Dawaul Qulub yang juga merupakan salah satu kitab yang terkumpul dalam kitab Jam’u Jawami’ Al-Musannafat, karya Syeikh Ismail bin Abdul Muthallib Al-Asyi. Syeikh Muhammad juga menekankan pentingnya penampilan seorang yang berilmu dalam masyarakat seperti style berpakaian, dan tingkah laku. Berikut kutipannya: “Inilah khatimah pada menyatakan segala perbuatan yang tak dapat tiada bagi murid”. Di sini syeikh Muhammad mengingatkan para murid agar tetap menjaga jati dirinya dimana pun berada, seperti menjaga pakaian agar sesuai sunnah Nabi saw., selalu mendahului dalam memberi salam kepada siapa pun, menyayangi semua orang tanpa pilih kasih, tidak berburuk sangka kepada manusia walaupun ia bersifat fasiq sekalipun, tidak boleh menghina orang lanjut usia, serta selalu menuntut ilmu di mana pun berada. Perbedaan Mazhab Persoalan khilafiah sudah selesai bagi masyarakat Aceh, seperti perbedaan mazhab yang akhir-akhir ini sering dipertentangkan. Menurut ulama Aceh tempo dulu, mazhab yang dianut di Aceh adalah empat mazhab sekaligus, yaitu, mazhab Syafii, Hanbali, Maliki dan Hanafi. Keempat mazhab tersebut diakui kebenarannya dan dijadikan standar kompetensi para imam, mufti dan ulama di Aceh. Hal itu pula yang menyebabkan Aceh menjadi sentral peradaban Islam di Asia Tenggara kala itu. Karena semua persengketaan dari lintas mazhab pun mampu diselesaikan di sini. Malah pengakuan terhadap empat mazhab tersebut tertuang dalam konstitusi Aceh kala itu; Qanun Meukuta Alam Al-Asyi. Sebagaimana yang tercantum dalam kitab tazkirah Tabaqat, karya Tgk. Di Mulek: “Maka peganglah dengan sungguhsungguh hati Qanun Meukuta Alam alAsyi dari karena mengikuti... Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i (dan) Imam Hanbali. Dan empat mazhab itu semuanya tunduk kepada Syari’at Rasullullah saw. Yakni berhimpun empat, yaitu Islam dan Iman dan Tauhid dan Makrifat, maka barulah bernama agama. Di sini juga mencerminkan pemikiran mazhab ulama Aceh masa lalu yang multi
Santunan DESEMBER 2010

mazhab dan toleran dengan dinamika persoalan umat. Bahkan mereka berani pindah mazhab jika suatu persoalan tidak bisa diselesaikan oleh salah satu mazhab. “Yaitu jika tiada boleh hukumnya dalam mazhab Imam Syafi’i, maka dicari hukumnya dalam mazhab Ahmad Imam Hanbali. Dan jika tiada hukumnya dalam mazhab Imam Hanbali, maka dicari hukumnya dalam mazhab Imam Malik. Dan jika tiada dalam mazhab Imam Malik, maka dicari hukumnya dalam mazhab Imam Abu Hanifah. Karena adalah Imam yang empat itu pangkat Mujtahid Mutlak yang sah dalam Ahlussunnah waljama’ah. Keragaman mazhab di sini hanya terbatas pada empat mazhab saja karena masih dalam koridor ahlus sunnah wal jamaah sebagaimana yang ditegaskan oleh Tgk. Di Mulek. Malah pada masa Iskandar Muda di Aceh dibentuk mufti empat mazhab yang disebut dengan Syaikh Al-Islam supaya dapat mengakomodir semua pemasalahan umat. “Maka sebab itulah paduka Sri Sultan Sulaiman Meukuta Alam Iskandar Muda Perkasa Alam Syah mendirikan Mufti empat mazhab, yakni Syaikh alIslam; Mufti Empat dalam negeri Aceh Darussalam. Karena menjaga dan memeliharakan hukum Syara’ Syari’at Rasulullah saw. dari kaum yang Tujuh Puluh Dua yang khianat kepada agama Islam. Dan maka jika alim ulama yang Ahlus-Sunnah Waljama’ah masuk ke dalam negeri Aceh dari luar negeri, maka dipermuliakannya oleh Sultan Iskandar Muda serta diberikan surat berCap Sembilan dan diberikan tadah. Jika alim ulama itu bermukim dalam negeri Aceh. Dan jika ia musafir maka diberikan belanja sekedar mencukupi yaitu makanan dan pakaian. Dan jika pulang ia ke negeri di mana pun negerinya maka diberikan hadiahnya dan ongkos kapal dibayar oleh kerajaan Aceh. Disini disebutkan bahwa Iskandar Muda sangat hormat kepada ulama berbagai mazhab ahlus sunnah wal jamaah, juga disediakan berbagai fasilitas yang dibutuhkan. Sehingga banyak terdapat ulama dari berbagai bangsa yang menetap dan ikut mengajar masyarakat Aceh. n Penulis adalah Penyuluh Agama Islam Fungsional Aceh Besar
43

KonsultasiGani Isa, SH., M.Ag. (Ketua BP4 Provinsi Aceh) BP4 Diasuh oleh Drs. H. Abdul

“Suamiku Nusyuz “
Assalamu’alaikum Wr.Wb Pengasuh rubrik keluarga yang terhormat, saya seorang ibu rumah tangga, sehari-hari bekerja di sebuah restoran di Banda Aceh. Pekerjaan itu saya lakukan atas persetujuan suami saya, yang selama ini juga ia bekerja di sebuah perusahaan swasta di kota yang sama. Sejak awal kami berumah tangga lima tahun lalu, telah membuat kesepakatan, baik saya sebagai isteri maupun suami senantiasa berupaya untuk mensejahterakan dan membahagiakan keluarga kami, karena itu apapun pekerjaan dan halal kami sepakat melakukannya, untuk menambah penghasilan keluarga. Namun dalam beberapa bulan terakhir ini, suami saya hampir saban hari menuduh saya sebagai isteri yang “nusyuz”, dengan alasan sering terlambat pulang dari hari-hari sebelumnya, dan menilai saya sudah tidak lagi menjalankan kewajiban baik terhadap anak yang masih TK. Memang saya sebagai isteri menyadari sebagai pihak yang lemah. Tetapi juga suami saya sebagai seorang laki-laki, saya menilai lebih banyak menyia-nyiakan tanggung jawabnya untuk kebutuhan rumah tangga. Ia hampir tidak pemah menanyakan apa kebutuhan untuk anak, baik biaya sekolah dan lain-lain. Dalam pikiran saya, suamiku juga “nusyuz”. Untuk itu saya mohon kepada pengasuh agar memberi jalan keluar, berupa pandangan pandangan dan hukumnya, sehingga saya tidak keliru dalam bersikap. Atas jawabannya, saya aturkan terimakasih. Wassalam, Ami, di Banda Aceh Wa’alaikum salam Wr. Wb. Saudari Ami di Banda Aceh, pengasuh memberikan apresiasi tinggi kepada anda, baik sebagai seorang isteri maupun ibu rumah tangga, dan sekaligus telah mempertahankan martabat yang tidak mau menerima dituduh isteri yang “nusyuz”, ini anda lakukan dengan sangat hati-hati, dengan tetap
44

menjaga keharmonisan dalam keluarga. Pengasuh juga berasumsi bahwa hal yang sama juga banyak terjadi dan dialami keluarga lainnya. Terkait dengan “nusyuz”, para ulama mengutip firman Allah Swt. seperti tersebut dalam surat al-Nisa ayat 34 yang artinya: “wanita-wanita yang kamu khawatirkan nu-syuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.” Kata “nusyuz” dalam kitab-kitab fikih dan tafsir klasik selalu diindektikkan kepada isteri yang tidak taat (membangkang) kepada suami. Hampir tidak ditemukan kata “nusyuz” itu dinisbahkan untuk suami yang (membangkang) kepada isteri, atau suami yang tidak melaksanakan tugas dan kewajibannya terhadap isteri. Namun bila kita mengkaji secara mendalam, Alquran juga menyebutkan adanya “nusyuz” dari suami, seperti diisyaratkan dalam surat al-Nisa’ ayat 128 yang artinya “Dan jika seorang wanita khawatir akan (nusyuz) atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu menggauli isterimu dengan baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Berdasarkan ayat ini, menurut pengasuh anda tidaklah salah bila menganggap suami anda juga nusyuz, seperti suami mengatakan untuk anda nusyuz. Namun perlu diingatkan janganlah sekali-kali anda bersikap kasar kepada suami anda. Dalam kaitan ini Sayyid Qutub, mengatakan sebagaimana dikutip Aminah Wadud bahwa kata nusyuz dalam ayat ini lebih merujuk kepada pengertian
Santunan DESEMBER 2010

terjadinya ketidakharmonisan dalam suatu perkawinan (a state of disorder between the merried couple)(Aminah Wadud, 1998: 75). Agar rumah tangga anda tetap langgeng, harmonis, dan bahagia serta untuk menghindari disharmonisasi, pengasuh menyarankan kepada anda berdua beberapa hal sebagai berikut: Pertama, Alquran menekankan pentingnya berdamai (ishlah) kembali, dengan saling mengingatkan di antara berdua. Lakukanlah itu segera mungkin dengan ikhlas dan hindarilah cara-cara yang tidak beradab, apalagi dengan cara kekerasan (violence). Kedua, introspeksi diri anda berdua sangat penting, untuk secepatnya bisa memperbaiki sikap dan cara pandang bila selama ini sudah keliru dan menyimpang dari tekad semula membina keluarga bahagia. Ketiga, lakukanlah tugas dan pekerjaan baik sebagai isteri maupun sebagai suami secara transparan, dan bila menemui sesuatu kendala selalulah bermusyawarah. Karena sikap-sikap emosional dan keakuan (egoisme) akan sulit menemukan jalan damai, malahan semakin memperkuat konflik dalam keluarga. Keempat, anda sebagai isteri, dengan arif memposisikan fungsi itu, baik sebagai seorang isteri dan ibu rumah tangga. Lakukanlah semua itu sesuai hak dan kewajiban dengan tidak mengabaikan fungsi kodrat seorang wanita. Demikian pula anda sebagai suami, Laksanakanlah hak dan kewajiban anda sebagai suami sepenuh hati. Janganlah menganggap anda lebih superior dan isteri anda inverior. Tapi hendaklah saling bersanding dan setara dalam mewujudkan rumah tangga sakinah, mawaddah dan rahmah, dan hindarilah pola bertanding, karena rumah tangga bukan arena olah raga, tapi lahannya bersemi cinta, tempat beribadah, medidik anak, menuai barakah dan ridha dari Sang Maha Pencipta Wassalam, Pengasuh.

Konsultasi Qari, M.Ag. Hukum Islam Diasuh oleh Drs. H. Ridwan

Haji Mabrur & ‘Rumah Allah’
Bapak pengasuh yth. Selalu saja ada do’a yang kita dengar tatkala saudara, handai taulan dan kerabat pergi menunaikan rukun Islam yang ke lima: “Semoga menjadi haji mabrur”! Yang menjadi pertanyaan saya, seperti apakah haji mabrur itu? Terima kasih, sebelumnya, atas jawaban yang bapak berikan. Muhammad, di Takengon Jawaban: Pertanyaan ini sangat penting dan mendasar. Penting dalam arti agar tidak ikut-ikutan berhaji tanpa mengerti. Mendasar artinya perlu ada rumusan yang tepat sehingga mungkin untuk dipegang; tidak meraba-raba. Sehingga kalau ditanya seperti apa haji mabrur itu maka dapat dijawab bahwa haji mabrur itu adalah ibadah haji yang dilakukan seseorang dengan kreteria sebagai berikut: 1. Sempurna syarat, rukun dan wajibnya dan karena Allah semata. Syaratnya terpenuhi, rukunnya tidak ada yang kurang, wajibnya tidak ada yang tinggal. Semua itu dilakukan semata karena Allah, bukan karena kepentingan yang lain. 2. Dilaksanakan pada bulan-bulan haji. Pelaksanaan haji itu pada bulan syawwal, dzulqa’dah dan dzulhijjah. Tidak pada bulan yang lain, kecuali hanya melaksanakan umrah. 3. Bertempat di Mekah dan sekitar tanah haram. Tidak ada haji di tempat lain. Kalau ada pendapat yang menyatakan haji dapat dilakukan di Batam, umpamanya, itu dapat dipastikan sebagai aliran sesat. 4. Berbekal taqwa: tidak rafats, tidak fusuq dan tidak jidal. Orang yang berhaji tidak dan tidak akan porno peri dan porno aksi, melakukan dosa besar dan mendawamkan dosa kecil, suka berdebat; kalau mereka berbeda pendapat maka hakim agungnya adalah Allah dan Rasul (Alquran dan Sunah). 5. Berdagang secara halal bagi yang berhaji sambil berdagang atau bertugas dengan baik bagi yang berhaji sambil dinas. Yang berjualan, baik barang maupun jasa, harus jelas penjual, pembeli dan barang/jasa yang ditawarkan/disepakati dan lain-lain sesuai syarat dan rukun perdagangan. Bagi yang dinas wajib taat asas sesuai ketentuan yang berlaku. 6. Senantiasa berdzikir kepada Allah. Bagi seorang haji zikir disini bukan simbol ucapan takbir, tahmid dan tahlil untuk memuji semata. Tetapi lebih dari itu, yakni mentaati. Artinya memuji tanpa mengkhianati. Atau dalam istilah Imam Nawawy zikir itu dimaknai sebagai amal salih. 7. Seimbang dalam kepentingan di dunia dan di akhirat. Untuk keperluan dunia seorang haji bersegera dan un-tuk keperluan akhirat dia bergegas. Maksudnya adalah yang didengar, dilihat, dikata, dipikir, diniat, dimakan, dipakai, dicari, dikerja, diusaha, di... HASANAH. 8. Meyakini sepenuh hati akan kembali kepada Allah dengan segenap konsekuensi yang akan diberlakukanNya pada yawm al-diin, hari yang tidak ada kewenangan siapapun kecuali semua urusan berada di ”tangan” Allah. Sepanjang pembacaan kami, inilah beberapa kreteria haji mabrur yang dielaborasi oleh al-qur’an pada ayat-ayat mengenai haji, terutama dalam surah alBaqarah dan Ali Imran. Wallahu A’lam. Bapak pengasuh yth. Singkat saja pertanyaan saya, apakah boleh menyebut Masjid al- Haram yang di Makkah itu dengan Bayt Allah? Sedang kita tahu bahwa Allah swt tidak memiliki rumah seperti manusia memiliki tempat tinggal. Bagaimana hukumnya penyebutan seperti itu. Terima kasih atas kesediaan bapak untuk menjawab pertanyaan saya ini. Ali, di Banda Aceh. Jawaban: Terima kasih atas pertanyaan yang sangat penting ini. Benar sekali bahwa Allah Swt. tidak memiliki rumah yang menjadi tempat tinggal-Nya seperti manusia memiliki rumah untuk menjadi tempat tinggal. Akan tetapi perlu juga dipahami bahwa ada rumah yang dibuat
Santunan DESEMBER 2010

oleh seseorang dan dia tidak menghuni rumah itu namun dia adalah pemilik sebenarnya dan ada tanda-tandanya. Jadi, kalau dimisalkan, saudara punya rumah, sudah bersertifikat, masyarakat sekitarpun tahu dan diberikan kepada orang lain untuk ditempati tanpa sewa tetapi harus dijaga dan dirawat sebagaimana mestinya. Kepemilikannya tidak akan berubah, tetap milik saudara. Sehingga ketika ada orang lainnya bertanya rumah ”itu” kepunyaan siapa? Orang yang tinggal disana akan menjawab bahwa rumah ”itu” kepunyaan si fulan. Ya, saudara sendiri. Memiliki tidak mesti menempati. Seperti inilah, kiranya, pemahaman ”Bayt Allah” untuk rumah ibadah yang pertama dan utama yang dibuat di dunia ini yang digambarkan dalam nash Alquran. Allah Swt. berfirman: ”Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia ialah (Baytullah) yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam” (QS. Ali Imran: 96). Tanda-tanda yang lain, dari sisi filosofis, diantaranya, adalah hajar al aswad dan ka’bah itu sendiri. Hajar al aswad perlambang ”tangan kanan” Allah Swt. yang sunnah dicium atau diusap atau istilam sesuai menurut yang mungkin bersamaan dengan ikrar sumpah setia ”bismillahi Allahu Akbar” kepada Allah Swt. ketika melaksanakan thawaf. Ka’bah adalah tanda bukti bahwa ”yang mutlak” tidak memiliki arah. Kemanapun kamu perpaling engkau dapat menyaksikan ”Yang Maha Agung”, Allah! (QS. al-Baqarah: 115). Tanda yang lain, sisi historis, Sang Pemilik mempertahankan ”rumahnya” dari gangguan musuh dengan ”pasukan burung” (QS. al-Fil: 1-5). Pemilik pasti senantiasa memelihara miliknya. Jadi, menyebut masjid al-haram sebagai Bayt Allah tidak salah dan tidak berdosa karena tidak bermakna bahwa Allah Swt. tinggal dan menetap di dalam masjid al haram itu seperti manusia menetap di dalam rumahnya. Dia adalah Sang Pencipta, Sang Pemilik dan Pemberi Tanda. Wallahu a’lam.
45

Direksi dan Seluruh Karyawan Karyawati

PT. ATRABU TOUR & TRAVEL Aceh Darussalam Mengucapkan Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1432 H
Tahun baru, semangat baru, songsong hari esok yang lebih baik
Direktur Utama, H. Arifin Ibrahim, BBA

Hubungi Kami…!

Jln. Mohd. Jam No. 40, Banda Aceh, Telp. 0651-31330, 23631 e-mail: atrabutour@yahoo.com
 Transpor Angkutan Umum Seluruh Aceh  Tiket Pesawat Luar dan Dalam Negeri

Melayani:  Paket Tour Dalam dan Luar Negeri  Paket Umrah ke Tanah Suci Mekkah  Rental Mobil

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh
Ikut berduka cita yang mendalam atas berpulangnya kerahmatullah Ayah dari Drs. H. Hamdan, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Tengah, Pada Hari Senin, 15 November 2010, di Bebesen, Aceh Tengah. Semoga Almarhum diampuni oleh Allah Swt. dan ditempatkan di tempat yang layak di sisi-Nya. Kepala Keluarga Yang Ditinggalkan Semoga Sabar dan Tabah Atas Musibah Ini. Kepala Drs. H. A. Rahman TB, Lt.
46
Santunan DESEMBER 2010

Innalillahi Wainna Ilaihi Raajiun

Bapak Tgk. H. Abu Zaki bin Abdurrahim (80)

Diasuh oleh Muzakkir, S.Ag

Kosong Menyibukkah Penghormatan Suara Menoleh Sifat-sifat jelek

= = = = = =

Mencari Jabatan Kemasyhuran Tujuan duniawi Tergesa-gesa Menjauhi

= = = = = =

Santunan DESEMBER 2010

47

By Erfiati Adam, MA, English Teacher at MAN Model Banda Aceh

English Teaching Methods
(Part One)
A variety of approaches have been adapted in teaching English for the students of non native speakers. The numbers of methods have had their zenith and very rarely been used nowadays; while some others are still commonly been applied at present. Among those methods, here are several of them that perhaps useful for English teachers in carrying out the teaching English at schools. Grammar Translation Method (established in Europe in the 19th century) The Grammar Translation Method teaches student in Grammar and leads the students to learn vocabulary and memorize it through. Basically, the grammar teaching is made up of a training process in which the students are to be aware of the rules of English language, to understand the statement, to be able to express their opinion in a ‘grammatically correct’ manner and also to have the ability in analyzing the content at a wide range. All teachers need to do is to gradually introduce the English Syntactic Mechanism moving from the uncomplicated to the most complicated level. Of course, this is not an instant process instead of a ‘long term project’. Practically, more and more exercises are required in carrying out this method. Direct Method (established in Europe in 20th century) Considering that the grammar Translation Method has a limited ability in building Language proficiency, language teaching philosophy started to undergo a modern approach in teaching foreign language by the end of 1800s. Then, the so-called ‘evolution in language teaching’ is later called as ‘natural method’ or ‘direct method’. It is a method that avoids using the learner’s mother tongue (native language) but simply applies the target language. Basically, the teachers attempt to apply incorporated techniques constructed to focus on all aspects of grammar more spontaneous and at the same time also guide the students to develop the ability to find the similar context for the target language (English). It runs on the idea that second language learning (English) must be a replication of first language learning (Bahasa Indonesia). Henceforth, it promotes teaching of oral skills at the expense of every
48

traditional aim of language teaching. The stressing point for the teacher is to ensure that the students must have a correct pronunciation and then practice it besides to keep on mind of using full English in explaining every single thing within the teaching learning process. The Audio-Lingual Method (Expanded in Europe in 20th Century) The Audio-Lingual Method allows students to pay attention or view recordings of language models acting in situations. In applying this method, the teachers are to be well-prepared with a variety of tools and well-trained in dealing with those instruments. Generally, the target of carrying out the Audio-Lingual Method is to produce communicative competence in learners (students). Practically, the students are to extensively do the repetition and perform a large amount of complicated drills. The following are key features of the Audiolingual Method, taken from Brown (1994:57) and adapted from Prator and Celce-Murcia (1979). New material is presented in dialog form. - There is dependence on mimicry, memorization of set phrases, and overlearning. - Structures are sequenced by means of contrastive analysis and taught one at a time. - Structural patterns are taught using repetitive drills. - There is little or no grammatical explanation. Grammar is taught by inductive analogy rather than deductive explanation. Vocabulary is strictly limited and learned in context. - There is much use of tapes, language labs, and visual aids. - Great importance is attached to pronunciation. - Very little use of the mother tongue by teachers is permitted. - Successful responses are immediately reinforced. To be continued…..

Santunan DESEMBER 2010

Drs. H. M. Arif Idris, MA. Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Barat

Sukses Sebagai Tuan Rumah dan Tetap Juara Umum

S

etiap orang tua wajib mengajarkan Alquran kepada anak-anaknya sejak dini, agar ruh Alquran bisa berhembus dalam jiwa mereka. Sehingga pada saatnya nanti akan timbul rasa kecintaannya kepada Allah, Alquran dan RasulNya. Demikian ulasan Drs. H. M. Arif Idris, MA, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Barat, saat bincang-bincang dengan Juniazi dari Majalah Santunan, di sela-sela kunjungan kerja Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh, baru-baru ini, di Meulaboh. Menurut Pak Arif, demikian ia sering disapa, kecintaan kepada Allah, Alquran dan rasul akan menjadikan seseorang mencintai ilmu. Dilahirkan dari keluarga qari, keluarga yang nota bene mencintai Alquran, 50 tahun silam, tepatnya di Ujong Tanjung, Aceh Barat, 7 Januari 1960. Pak Arif, memulai karir pertama sebagai guru pada MTsN Teunom, tahun 1985. Sudah dua kali menjabat sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama, pertama di Kota Sabang dari tahun 2002. Dan tahun 2008, diminta pulang kembali ke kampung halaman menjadi Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Barat, sampai sekarang. Masa mudanya dihabiskan untuk belajar di madrasah, mengaji dan memperdalam Alquran. Sewaktu belajar di madrasah, sampai kuliah di Fakultas

Tarbiyah IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh, ia lebih dikenal sebagai qari yang pernah tampil dari mimbar tilawah satu ke mimbar tilawah yang lain. Pernah beberapa kali menjurai MTQ tingkat kecamatan dan tingkat Kabupaten Aceh Barat dan sampai menjuari MTQ Tingkat Provinsi Aceh. Menurut Pak Arif, Alquran adalah sumber segala ilmu. “Adalah tugas setiap orang tua untuk memastikan bahwa Alquran dibaca dalam di rumah. Bayi, anak-anak, bahkan saat mereka masih berada di dalam kandungan sekalipun, harus sudah diperkenalkan dengan Alquran,” ujar Master A ga m a Program Pasca Sarjana IAIN ArRaniry Banda Aceh,

2010. Orangnya kalem dan tidak kelihatan meledak-ledak, begitulah penampilan kesehariannya, entah itu di kantor ataupun dalam kesehariannya. Dalam pandangan Pak Arif, anakanak perlu dibiasakan mendengar bacaan Alquran yang dibacakan oleh kedua orang tua mereka. Bisa juga mereka diperdengarkan alunan ayatayat suci Alquran melalui kaset. Bisa juga bayi dan anak-anak dihantar tidur dengan alunan-alunan ayat-ayat suci Alquran. ”Dengan cara begini, mudah-mudahan anak-anak kita kelak akan cinta kepada Alquran, dan tertanam niat yang kuat untuk bisa menghafalnya di kemudian hari,” ujar Kankemenag yang senang juice terong Belanda ini, penuh semangat. Ketika Santunan menanyakan tentang kesiapan Aceh Barat, sebagai tuan rumah Pekan Olah Raga dan Seni (PORSENI) XII, Kantor Wilayah Kementerian Agama tahun 2010 yang akan dilaksanakan di Meulaboh, Pak Arif dengan gamblang menjawab, kami sudah siap menjadi tuan rumah Porseni XII. Sebagaimana diketahui, Porseni XII Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh akan dilaksanakan di Meulaboh dari tanggal 10 sampai dengan 15 Januari 2011, bertepatan dengan libur semester madrasah. Porseni XII ini, adalah even provinsi yang dilaksanakan dua tahun

Santunan DESEMBER 2010

49

sekali, direncanakan akan diikuti oleh lebih kurang lima ribu peserta dan ofisial dari 22 kontingen dari seluruh Kankemenang di Aceh dan Kantor Wilayah Kementerian Agama. ”Sebagai tuan rumah, sebagaimana amanat Bapak Kakanwil, tentunya, kami sudah melakukan persiapan-persiapan. Akomodasi dan penginapan kontingen, tempattempat pertandingan olah raga dan seni, sudah kami data dan tata. Termasuk koordinasi yang intens dengan pemerintah daerah, dengan Bapak Bupati dan Wakil Bupati Aceh Barat dan dengan SKPD setempat sudah kita lakukan pertemuan. Alhamdulillah, respon pemerintah daerah di sini sangat luar biasa. Kami bangga dan bersyukur sekali atas dukungan dan respon Pak Bupati, Wakil Bupati dan Pemerintah Daerah di sini. Ini akan sangat memudahkan kami dalam melakukan persiapanpersiapan. ”Seluruh panitia dan jajaran Kementerian Agama di sini sudah bertekad menyukseskan Porseni XII. Sukses menjadi tuan rumah dan sukses sebagai kontingen. Insyaallah, gelar juara umum pada Porseni XI lalu, di Kota Langsa, akan kembali kita pertahankan di Bumi Teuku Umar ini,” ujar Ketua Panitia Pelaksana Porseni XII ini. Porseni kali ini mempertandingkan 11 cabang olah raga dan 11 cabang seni yang diikuti siswa dan siswi madrasah pada semua tingkat, karyawan Kankemenag dan Dharmawanita. Tema yang diusung Porseni di Meulaboh ini, Rajut Ukhuwah, Raih Prestasi, Junjung Tinggi Sportivitas”. Insyaallah, sebagai tuan rumah kami sudah siap menerima kontingen Porseni dari seluruh Aceh. Semoga even ini berjalan sukses dan mohon doa restu seluruh masyarakat Meulaboh,” harap suami Rawiyah Ishaq. Selamat Pak Kakankemenag. Doa kami, dengan dukungan semua pihak, Insyaallah, Meulaboh, bisa! n Juniazi
50

Nama Tempat/Tanggal Lahir Pangkat/Golongan Alamat Nama Isteri Pendidikan

Pekerjaan

Pendidikan dan Latihan

Biodata: : D rs. H. H. Arif Idris, MA : Ujong Tanjung, 7 Januari 1960 : Pembina Tingkat I (IV/b) : Jln. Nasional No. 39, Meulaboh, Aceh Barat : Rawiyah Ishaq : MIN Meureubo, Tahun 1973 MTsN Meulaboh, Tahun 1976 MAN Meulaboh, Tahun 1980 Sarjana Muda Tarbiyah, Tahun 1983 Sarjana Tarbiyah, IAIN Ar-Raniry, Tahun 1987 Pasca Sarjana IAIN Ar-Raniry, 2010 : Guru MTsN Teunom, Aceh Barat, 1985 Kepala MTsN Teunom, Aceh Barat, 1992 Kepala MTsN Meulaboh, 1992 Kepala MAN 2 Meulaboh, 1995 Kasubbag TU Kankemenag Aceh Barat, 1997 Kepala Kankemenag Kota Sabang, 2002 Kepala Kankemenag Kab. A. Barat, 2008-skrg : Diklat Kepala MTsN Se-Aceh & Sumut, 1994 Diklat Adum, Medan, 1997 Diklat PIM Tingkat III, Yakarta, 2003 Diklat Peningkatan Kualitas Kepemimpinan Kepala Kantor Kementerian Agama, Medan, 2003

Santunan DESEMBER 2010

Pengawasan Pendekatan Agama
Oleh Ardiansyah, SE.Ak.MAB

Tugas pokok Kementerian Agama adalah menyelenggarakan sebagian tugas pemerintahan di bidang keagamaan. Hal ini untuk dapat mewujudkan masyarakat yang berakhlak mulia, maju, mandiri, dan sejahtera lahir bathin dalam kehidupan penuh toleransi, selaras, seimbang dan berkesinambungan. Tentu kalau kita maknai secara mendalam tugas yang diemban Kementerian Agama cukuplah mulia yaitu ingin menciptakan manusia Indonesia yang berahlak. Namun harapan tersebut masih jauh dari kenyataannya, di mana masih saja terjadi penyimpanganpenyimpangan dalam hal pengelolaan keuangan Negara. Sungguh sangat merisaukan bila di zaman globalisasi yang menuntut persaingan yang kompeten masih saja ada hal-hal seperti itu. Banyak faktor yang dapat menimbulkan penyimpangan tersebut, baik dari segi moral maupun budaya yang ada pada masyarakat tersebut. Jika persoalannya ada pada moral yang tidak lagi mengedepankan pada agama tetapi hanya mengedepankan pada kepentingan pribadi atau golongan dan tidak menghiraukan dampak dari pada perbuatannya terhadap masyarakat, bangsa bahkan

Agama, maka peran Kementerian Agama sangatlah dibutuhkan, Pengawasan Pendekatan Agama merupakan pengembangan peran dan fungsi yang merupakan salah satu misi Inspektorat Jenderal Kementerian Agama. Pengawasan Pendekatan Agama adalah kegiatan pembudayaan pengawasan dengan
Santunan DESEMBER 2010

menyampaikan pesanpesan moral yang dilandasi nilai Agama. Sedangkan Visi Pengawasan Pendekatan Agama yang ingin dicapai yaitu menjadikan nilai-nilai agama sebagai kekuatan moral dalam pelaksanaan pegawasan untuk memberikan kontribusi tidak hanya bagi Aparatur Negara bah-kan untuk masyarakat secara luas agar dapat terbebas dari praktik KKN dan bentuk penyimpangan lainnya . Untuk dapat terlaksana Pengawasan Pendekatan berdasarkan Agama maka bobot mengenai kurikulum Agama yang mengedepankan moral serta pencerahan kepada umat harus diberikan porsi yang lebih besar, khususnya dalam pendidikan kedinasan. Dengan Pengawasan Pendekatan Agama diharapkan dapat menciptakan masyarakat Indonesia yang berilmu dan berakhlak mulia. Ada semboyan dari Sosialisasi Reformasi Birokrasi Kementerian Agama yang menyatakan “Bangsa Berahlak Negara Sejahtera”. Dengan Ahlak mulia kita dapat melakukan perubahan, perbaikan, penyempurnaan, pemba-haruan ke arah yang lebih baik dan menjadikan Negara adil dan makmur bagi seluruh rakyatnya. Nah mari memulainya dari instansi kita!
51

Diasuh oleh Zulfathi, Staf Bidang Mapenda Kanwil Kementerian Agama Aceh

Menghubungkan Laptop dengan Infocus

Zaman sudah modern, ceramah atau presentasi tidak lagi bisa mengandalkan gaya bicara semata-mata. Orang-orang sibuk mengejar waktu dan kesempatan, sehingga makalah tebal menjadi tidak efisien dan nyaman. Para audiens membutuhkan sesuatu yang baru, yang ringan, jenaka, dan penuh warna. Tuntutan inipun kini melanda masyarakat kita. Pak Guru, Pak Ustadz, dan juga Bapak Kepala Kantor mulai lekat dengan laptop yang ringan dan mudah dibawa-bawa ke mana-mana. Pelajaran, ceramah dan presentasi selalu didampingi laptop. Fungsi papan tulispun mulai tergusur, tidak perlu lagi spidol dan kapur. Gambar dan tulisan kini bisa hadir di dinding kelas, dinding asrama maupun warung kopi yang bersahaja. Kondisi ini dimungkinkan dengan hadirnya teknologi ’layar tancap’ dalam bentuk yang compact, ringan, sederhana dan mudah dibawa-bawa. Kita sering menyebutnya dengan LCD atau Infocus Projektor. Di hadapan teknologi yang satu ini, tentu saja OHP (over head projector) yang dulunya adalah barang mewah, segera ketinggalan zaman. Dalam kesempatan ini, kita tidak akan membahas panjang lebar tentang kelebihan, kekurangan, atau mekanisme kerja ’makhluk’ ini secara terperinci. Tulisan ini dimaksudkan hanya sebagai pengenalan teknologi dan cara penggunaannya secara sederhana. Sehingga kehadiran teknologi tidak hanya menjadi gaya atau pajangan semata. Ada dua langkah yang perlu dilakukan untuk menghubungkan laptop dengan infocus/proyektor. Langkah pertama adalah menyambungkan kabel konektor antara laptop dengan infocus. Pastikan bahwa kabel tersebut ’dicolokkan’ pada tempat yang benar. Khusus pada badan infocus/proyektor, kabel harus dimasukkan pada slot dengan kode atau tulisan ’Computer In’ atau dengan lambang gambar komputer sederhana. Pada laptop, biasanya hanya ada satu slot, sehingga tidak perlu takut tertukar tempatnya. Langkah kedua adalah melakukan setting pada laptop sehingga bisa ’nyambung’ dengan proyektor. Untuk setting ini ada tiga cara yang mungkin kita lakukan sehingga layar
52

laptop dan layar proyektor menjadi sama. Untuk langkah penyetingan ini, ada tiga kondisi yang mungkin terjadi setelah laptop dan infocus terhubung oleh kabel (tentunya setelah memastikan bahwa lpatop dan infocus dalam keadaan hidup, ON). Kondisi pertama, dimana layar laptop terproyeksi dengan jelas oleh infocus. Hal ini terjadi karena setting standar pada laptop dan infocus sama. Jadi anda bisa langsung Go Ahead saja. Kondisi kedua, dimana tampilan layar laptop tidak terpoyeksikan sama sekali oleh infocus. Dan kondisi ketiga, dimana tampilan laptop anda terproyeksi oleh infocus, sebaliknya layar laptop anda blank, hitam gelap. Pada kondisi kedua, boleh jadi, setting pada laptop dan infocus belum nyambung sama sekali. Untuk mengatasi kondisi ini. Dapat diatasi dengan dua metode sederhana. Metode pertama dengan melakukan klik kanan pada layar laptop. pilih ’output setting,’ lalu sesuai dengan kebutuhan anda pilihlah tampilan ’Monitor-Notebook,’ ’NotebookMonitor,’ ’Monitor,’ atau ’Netbook’ saja. Biasanya pilihan ini terdapat pada Laptop dengan chipset/motherboard Intel. Pada komputer tampa bantuan setting klik kanan, kita bisa mengatasinya dengan memamfaatkan tombol fungsi pada keyboard laptop. Tombol fungsi adalah tombol yang disimbolkan dengan F1, F2, F3 sampai dengan F12. Pada salah satu tombol fungsi tersebut biasanya terdapat gambar tambahan berupa layar kecil dan komputer kecil. Beda merek komputer maka berbeda pula jenis tombol yang digunakan untuk kepentingan tersebut. Pada umumnya tombol yang berfungsi sebagai setting proyektor adalah F4, F5, atau F7, sesuai dengan model dan seri laptop. Awali dengan menekan tombol ’Fn,’ biasanya tombol ini berada di sudut kiri bawah keyboard. Tetap tekan ’Fn’ dan tekan tombol fungsi yang ada gambar monitor/komputer kecil. Perhatikan perubahan pada layar laptop dan hasil proyeksi infocus. Untuk kondisi dimana hanya layar infocus yang berfungsi, sedangkan layar laptop blank, bisa diatasi dengan dua metode di atas. Selamat mencoba. (Khairuddin)

Santunan DESEMBER 2010

T T S

TTS 010 2010 Santunan Edisi Desember 2010

Pertanyaan TTS Edisi Desember 2010
Mendatar 2. Balai pengajian (Aceh) 7. Din.....:ketua Organisasi Muhammadiyyah sekarang 8. Wajib belajar 10. Salah satu gelar untuk Rasulullah SAW 14. Gelar keagamaan di Jawa 15. Menengah atas (Arabic) 16. Salah satu sistem pengajaran kitab kuning di pesantren 17. Mengganggu (English) 19. Pengarang kitab ta’limul muta’allim Menurun 1. Lembaga khusus tempat belajar pelajaran-pelajaran Agama Islam 3. Kementerian kita 4. Keadaan hidup bersama secara erat antara dua organisme yg berbeda 5. Organisasi dan Tata laksana 6. Bahasa latinnya oriza sativa 9. Salah seorang putri Rasulullah SAW 11. .....school: sekolah berasrama 12. Pendidikan dasar dan Menengah 13. berkaitan dengan zat yg berasal dari makhluk hidup (hewan atau tumbuhan, spt minyak dan batu bara) 18. Test Potensial Akademik

Jawaban TTS Edisi 007 Desember 2010

Santunan DESEMBER 2010

53

Tips Memelihara Anggrek
Oleh Elia Fajri, SE
anyak orang suka dengan keindahan bunga anggrek karena anggrek mempunyai sejuta pesona. Apalagi dengan banyaknya penyilangan saat ini, banyak ragam warna dan jenis baru bermunculan. Waw... indahnya, itulah kata pertama terucap bila melihat anggrek kesayangan lagi berbunga. Namun tidak semudah yang dibayangkan untuk dapat menikmati semua keindahan bunga anggrek tersebut. Pengorbanan pasti diperlukan, Tenaga, biaya dan waktu diperlukan untuk merawat sang idaman. Dengan perawatan dasar yang tepat, anggrek akan tampil menawan dan rajin berbunga. Sebenarnya tidak terlau rumit dalam merawat tanaman anggrek, ada 4 dasar perawatan tanaman anggrek yang mesti diperhatikan: • Penaungan Tanaman anggrek tidak

B

memerlukan intensitas matahari secara penuh, selama pertumbuhan anggrek memerlukan naungan, seperti habitat aslinya di mana tanaman anggrek tumbuh di hutan dan menepel di pohon yang rindang. • Penyiraman Penyiraman tanaman anggrek sangat dipengaruhi oleh media ta-

nam, besar kecilnya tanaman, temperatur, kelembaban dan jenis pot yang digunakan. Penyiraman sebaiknya menggunakan sprayer, sehingga pengeluaran air yang keluar dapat diatur agar tidak merusak media tanam, bunga dan daun anggrek. Penyiraman langsung dilakukan ke akar. • Pemupukan Pemupukan yang baik adalah lewat daun, karena daun memiliki daya serap yang lebih besar dari akar. Waktu pemupukan terbaik dipagi hari yaitu jam 08.00-10.00 dan jam sore hari jam 17.00-18.00. • Penggantian Pot Penggantian pot adalah proses di mana tanaman anggrek ditanam ulang dengan pot yang lebih besar dengan media tanam baru. Tanda yang tepat melakukan penggantian pot adalah: 1. Pot sudah padat oleh tunas baru. 2. Pot sudah tidak cukup menampung perakarannya. 3. Media tanam banyak ditumbuhi lumut. 4. Media tanam sudah hancur dan lapuk Hanya 4 dasar perawatan tersebut yang harus diperhatiakan untuk mendapatkan pertumbuhan tanaman anggrek yang baik, sedangkan lainnya bersifat penunjang atau insidentil. Bagaimana dengan tanaman anggrek anda para hobiis...??? sudahkah perawatan dasar itu dilakukan...???. Tidah ada kata terlambat, koreksi ulang dan cepat lakukan.......!!!!!! Penulis adalah Karyawati Kanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh.

54

Santunan DESEMBER 2010

Cerpen

Setelah Takbir Tak Bergema Lagi
Oleh Aby
endung masih menggantung di atas langit, begitu rapi sehingga sulit membedakan waktu tanpa bantuan jam dinding masjid yang berdenting setiap 60 menit. Hari itu, hari minggu, kira-kira pukul 9 pagi, tapi suasananya masih seperti subuh hari. Mendung masih menggantung di atas langit. Amin, sang penjaga majid, duduk termenung di tangga masjid. Sepi sendiri. Bukan hanya karena masjid lagi sunyi di luar waktu shalat, tapi memang ada semacam keheningan yang menyergap Amin, sang penjaga masjid. Amin adalah anak yatim piatu yang ditinggal orang tak dikenal di depan gerbang masjid, 20 tahun yang lalu. Ia dipungut dan diasuh oleh penjaga mesjid sebelumnya, Pak Sabar. Kebetulan Pak Sabar tidak memiliki anak, karena ia tidak pernah kawin, tidak ada yang mau menikahkan anaknya dengan Sabar yang cacat, tidak mampu bicara dengan lancar, matanya juga juling. Tapi, Amin tumbuh dengan sehat, tidak kurang suatu apa, kecuali pengetahuan tentang orang tuanya, dia anak siapa. Amin memang tidak bersekolah, tapi dia bisa tulis baca. Suaranya indah, menggema setiap kali azan menandakan waktu shalat lima kali sehari semalam. Amin, orang yang terpercaya, merawat Pak Sabar dengan penuh kasih sayang, hingga, ketika Pak Sabar telah tiada, Amin masih tetap setia menunggui masjid, Istiqamah namanya. Amin tidak begitu terpelajar, sehingga dia bingung, kenapa pada hari Raya Idul Fitri semua orang bergembira, petasan dan takbir menggema sepanjang malam, dan senyap keesokan harinya. Tapi semua orang tetap bergembira. Amin tidak mengerti, karena tidak ada orang yang memberitahunya, tidak ada

M

yang menyapanya di luar hari raya. Amin tambah bingung, ketika Idul Adha tiba, semua orang kelihatan susah wajahnya, dan takbirpun dilantunkan dengan seadanya. Orangorang tampak terpaksa ketika melantunkan takbir di hari kedua, ketiga, dan keempat hari raya.

Tibatiba saja keheningan menyerang si Amin, ketika shalat magrib berakhir, dan imam tidak memimpin takbir, padahal si Amin sudah terbiasa. Ditunggunya waktu isya, tapi takbir tak juga dikumandangkan lagi, hingga subuk esok pagi. Amin termenung sendiri di tangga masjid Istiqamah, yang menghitam seiring perjalanan waktu. Masjid ini benar-benar sunyi, tidak hanya pada hari minggu ini, tapi juga pada hari-hari lainnya, selain jum’at dan hari raya. Tiba-tiba saja angin bertiup kencang, dan bau amis darah sisa kurban kembali tercium oleh Amin, padahal dia sudah mengubur sisa penyembelihan itu dalam-dalam. Tapi baunya masih terasa juga menusuk hidung Amin. Amin tidak mendapat jatah
Santunan DESEMBER 2010

daging kurban tahun ini, meskipun hewan-hewan itu disembelih di perkarangan masjid ini. Karena Amin dianggap orang kaya, tidak memiliki tanggungan, tidak memiliki utang. Amin hanya hidup sendiri, dan dia sudah cukup bahagia menjaga masjid ini, meneruskan tradisi Pak Sabar, ayah angkatnya. Amin bangkit menuju tempat wudhuk, sebuah bak air tua, setua Pak Sabar dan Masjid Istiqamah. Amin membasuh muka dan tangannya, menyapu kepalanya, membasuh kaki-nya. Lalu menghadap ke Mekkah, Ya Allah, aku rindu suara takbir itu… Amin melangkah ke ruang mihrab, membunyikan mikrofon, lalu dengan lantang bertakbir. Allaahuakabar…. Allaahuakbar….Allaahuakbar….. Laailaahaillallahuwallaahuakbar…. Allaahuakbar…walillaahilhamd…. Allaahuakbar….. Allaahuakbar….. Dan kesunyian yang mendera Aminpun terusir dengan sendirinya, perlahan dia mendengar, takbirnya mulai mendapat jawaban, dia tidak lagi bertakbir sendiri, makin lama suara takbir itu makin gemuruh, memenuhi dada Amin, memenuhi Masjid Istiqamah, bahkan dari halaman dan jalan-jalan juga terdengar suara gemuruh. Amin sangat bahagia, tiba-tiba saja dia merasa gembira, kegembiraan yang luar biasa. Amin tersenyum, tersenyum lebar karena bahagia. Amin bertakbir lagi… Ter-dengar sahutan takbir. Amin bertakbir lebih keras lagi… Terdengar lagi sahutan. Amin bertakbir lebih keras lagi, Amin merasa lebih bahagia, dadanya mengembang… Amin bahagia. *** Di sudut halaman Masjid Istiqamah, kini terdapat dua gundukan
55

tanah kecil, yang satu makam Pak Sabar, penjaga masjid yang lama. Dan satunya lagi makam si Amin, yang baru meninggal pada hari rabu kemarin. Amin ditemukan rebah di depan mihrab mesjid, oleh orang-orang yang terusik dengan suara takbirnya yang tidak tepat waktu. Mereka berbondong-bondong menuju mesjid untuk melihat siapa yang berani berbuat bid’ah dan lancang di masjid ini. Tapi mereka hanya menemukan tubuh si Amin yang tidak bernyawa lagi. Mereka merasa kesal, karena mereka telah diakali oleh si Amin yang telah mati. Hari senin, di papan pengumuman masjid, juga di depan gerbangnya, tertempel papan pengumuman: DICARI PENJAGA MASJID YANG BARU DENGAN SYARAT BERSUARA MERDU, RAJIN BEKERJA, BELUM BERKELUARGA, TIDAK GILA, DAN BERSEDIA MENGIKUTI FIT DAN PROPER TEST OLEH PANITIA SELEKSI. TTD, PANITIA MASJID ISTIQAMAH. *** Tiga bulan berselang, papan pengumuman di depan gerbang masjid telah jatuh ke tanah yang becek. Mendung masih juga menggantung di langit. Sebuah mobil MPV mewah berhenti di depan gerbang Masjid Istiqamah. Dua orang turun dari mobil

dengan penampilan yang berbeda. Yang satu dengan setelan jas abuabu, kacamata hitam, dan berambut tipis yang disisir rapi ke belakang. Yang satunya, berjas biru dengan kain sarung, surban tebal dan peci hitam. Jas Abu-abu: Pak Ustadz, ini benarbenar lokasi yang sangat strategis untuk pengembangan bisnis dan usaha. Saya berencana membangun gedung mewah dua puluh tingkat, lengkap dengan Mall, perkantoran dan tempat tinggal mewah. Berapa harga jadinya, Pak Ustadz? Jas Biru: oh Pak Mister terlalu melebih-lebihkan, dari dulu masjid itu letaknya memang selalu strategis. Hanya karena zaman telah berubah, tempat ini menjadi sepi. Orangorang melaporkan kalo setiap malam nampak dua sosok hantu yang bergentayangan di tempat ini. Jas Abu-abu: Tidak masalah itu Pak Ustadz. Saya jamin tempat ini akan kembali ramai, bahkan lebih ramai dari sebelumnya, kalo perlu, orang-orang yang ada disini tidak akan pernah tidur siang malam sampai mati. Hantu-hantu itu juga akan hilang dengan sendirinya. Jadi berapa nilai yang saya bayar untuk tempat ini? Jas Biru: Terimakasih Pak Mister atas perhatiannya. Harganya tidak terlalu mahal, tapi saya punya satu syarat Pak Mister, mudah-mudahan

anda tidak keberatan? Jas Abu-abu: Tidak masalah Pak Ustadz, saya terkenal sebagai orang yang murah hati, saya kira sayarat kecil anda itu tidak akan membatalkan kesepakatan ini, bukan? Jas Biru: Saya yakin dengan anda, Pak Mister. Syaratnya sederhana saja, saya ingin gedung itu tidak hanya 20 lantai, tapi 21 lantai. Lantai teratas menjadi masjid yang indah dengan kubah mungil menjulang ke angkasa. Itu saja Pak Mister. Jas Abu-abu: Oh... Pak Ustadz, itu tidak masalah sama sekali, bahkan saya akan membuat desainnya seislami mungkin. Sehingga orang orang akan mengira ini bangunan di timur tengah. Berapa saya harus bayar Pak Usdaz? Jas Biru: 44 milyar rupiah, Pak Mister! Jas Abu-abu: Oke, deal kalo begitu. Mereka naik kembali ke mobil MPV mewah, meluncur meninggalkan cipratan lumpur ke papan pengumuman. *** Satu setengah tahun kemudian, di tempat Masjid Istiqamah dulu berada, kini berdiri sebuah bangunan mewah berlantai 21, dengan puncak kubah menjulang angkasa. Ada grafiti dengan tulisan AKBAR TOWER. n

Setia Pada Kapur
Telapak tangan bergerak lincah Mendekap penuh gelora Terjepit diantara tiga jemari Putih begitu bernyawa Kupilin dipapan hitam Berpadu membentuk pola Mungkin hanya ingin jelaskan satu kata Atau tentang bait yang penuh arti Menjelajah seluruh penjuru dunia Dalam warna yang bermakna beda Serat putih mulai berterbangan Bermain dengan hembusan angin Membelai rambut Menyentuh kerah baju
56

Puisi M. Hanafiah Menyeret hingga ke pojok ruang Beterbangan menggapai batas waktu Bagitu terkesan antara hitam dan putih Semua terpampang begitu nyata Kibasan tangan menjadi semakin padu Mungkin telah bermain dengan hati Membuat bibir terus mengalun Mengikuti gerak jari yang beritma Yang terus merangkai A dan B Hingga makna semakin nyata Karya: M. Hanafiah, S.Pd Guru Ekonomi pada MAS Jeumala Amal Kab. Pidie Jaya

Santunan DESEMBER 2010

MASJID BAITURRAHIM, ULEE LHEUE

Masjid ini terletak di kemukiman Meuraxa, Desa Ulee Lheue, 5 kilometer dari kota Banda Aceh. Gaya arsitektur Eropa sangat kentara pada masjid yang dibangun dalam masa pemerintahan Kolonial Belanda ini.

Mesjid ini dibangun oleh almarhum Teuku Teungoh, yaitu Uleebalang Kemukiman Meuraxa pada tahun 1343 H, bertepatan dengan tahun 1926 M dengan biaya swadaya masyarakat dan tokoh-tokoh masyarakat. Konstruksi mesjid ini dibangun dari bahan beton/bata dengan atap seng gelombang ukuran 25 x 18 meter. Dari awal pembangunannya, tata ruang dalam masjid dibuat dalam dua bagian. Bagian pertama digunakan untuk shalat dan bagian belakang dimaksudkan sebagai ruang belajar.

Kapasitas masjid mampu menampung lebih kurang 450 orang jamaah shalat. Namun karena pertumbuhan penduduk, maka di tahun 1960, ruang bagian belakang pun dijadikan sebagai ruang shalat Jumat. Air untuk berwudhuk pada saat itu diambil dari sumur, dan ditampung di dalam bak berukuran isi 20 m3. Pada tahun 1965, kedua ruangan masjid itu tidak mampu lagi menampung jamaah shalat Jumat. Beginilah kondisi Masjid Baiturrahim Ulee Lheue sebelum tsunami. Foto diabadikan beberapa hari sebelum Tsunami melanda Aceh. Tampak Kubahnya telah dibongkar dalam rangka renovasi. Beberapa hari setelah tsunami, kerusakan masjid ini tergolong ringan dibanding kekuatan gelombang yang dahsyat di pagi hari Minggu, 26 Desember 2004. Tampak seluruh bangunan di sekeliling masjid telah tersapu habis. Masjid ini satu-satunya bangunan tersisa.

Masjid Baiturrahim, Ulee Lheue, sekarang menjadi situs tsunami.
Rubrik ini diangkat berdasarkan buku Masjid Bersejarah di Nanggroe Aceh, diterbitkan oleh Bidang Penamas Kantor Wilayah Kementerian Agama Aceh, 2009.
Santunan DESEMBER 2010

57

Pembagian Daging kurban kepada siswa-siswi kurang mampu di MTsN Ulee Gle, 17 Nov 2010.

Pelatihan Manasik Haji di Bener Meriah, 21-23 Sept 2010.

Para juara hifzil quran 1 juz antar ibu-ibu Fusfita Kabuapten Aceh Tengah, 27 Juli 2010.

Pelatihan Admin Website aceh.kemenag.go.id, 29 nov 2010.

Pembinaan TPQ di Aceh Singkil, 20 Okt 2010.

Siswi MIN Sinabang ikut memeriahkan Ulang Tahun Kab. Simeulue, 12 Oktober 2010.

58

Santunan DESEMBER 2010

J

ilbab adalah bagian dari setelan busana muslim dan salah satu bagian yang selalu melekat dalam diri seorang muslimah. Keberadaannya menjadikan seorang muslimah terlihat lebih cantik, anggun dan berwibawa. Meski, hakekat dari penggunaannya adalah untuk menutup aurat. Kerapian dan kecocokan dalam memakai jilbab dan busana muslim akan menjadikan muslimah tampak lebih menawan dan cantik. Berikut tips Memadukan Jilbab dengan busana muslimah n Bahan Pilihlah bahan jilbab yg ringan, nyaman, adem dan praktis. n Model Pilihlah model jilbab yg sesuai dgn bentuk wajah. n Keserasian Model dan warna jilbab harus sesuai dgn busana muslim atau baju muslim yg dikenakan, sehingga akan menambah kecantikan Anda. n Aksesoris Tambahan Kenakan dalam kerudung, seperti ciput, bando atau bandana agar rambut jangan mudah keluar. Dan pilihlah warna yg sesuai dgn warna jilbab yg di pakai, sehingga aksesoris tambahan ini jangan terlihat jelas. Selain itu, gunakan aksesoris tambahan seperti bros dan lainnya agar Anda terlihat lebih cantik.

Kepada seluruh jamaah haji Aceh,
MANAJEMEN GARUDA INDONESIA CABANG BANDA ACEH

Selamat Tiba Kembali di Tanah Air, Bumi Serambi Mekah, dengan membawa Haji Mabrur, “Hanya syurgalah imbalan haji mabrur”
GM. Garuda Indonesia Cabang Banda Aceh, H. Banjari Suhardi, SE

Mengucapkan

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->