makalah medula spinalis

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Cidera medulla spinalis adalah suatu kerusakan fungsi neurologis yang disebabkan seringkali oleh kecelakaan lalu lintas. Apabila cedera itu mengenai daerah L1-2 dan/atau di bawahnya maka dapat mengakibatkan hilangnya fungsi motorik dan sensorik serta kehilangan fungsi defekasi dan berkemih. Cidera medulla spinalis diklasifikasikan sebagai komplet : kehilangan sensasi fungsi motorik volunter total dan tidak komplet : campuran kehilangan sensasi dan fungsi motorik volunter (Marilynn E. Doenges,1999;338). Cidera medulla spinalis adalah masalah kesehatan mayor yang mempengaruhi 150.000 orang di Amerika Serikat, dengan perkiraan10.000 cedera baru yang terjadi setiap tahun. Kejadian ini lebih dominan pada pria usia muda sekitar lebih dari 75% dari seluruh cedera (Suzanne C. Smeltzer,2001;2220). Data dari bagian rekam medik Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati didapatkan dalam 5 bulan terakhir terhitung dari Januari sampai Juni 2003 angka kejadian angka kejadian untuk fraktur adalah berjumlah 165 orang yang di dalamnya termasuk angka kejadian untuk cidera medulla spinalis yang berjumlah 20 orang (12,5%). Pada usia 45-an fraktur banyak terjadi pada pria di bandingkan pada wanita karena olahraga, pekerjaan, dan kecelakaan bermotor. Tetapi belakangan ini wanita lebih banyak dibandingkan pria karena faktor osteoporosis yang di asosiasikan dengan perubahan hormonal (menopause) (di kutip dari Medical Surgical Nursing, Charlene J. Reeves,1999). Klien yang mengalami cidera medulla spinalis khususnya bone loss pada L2-3 membutuhkan perhatian lebih diantaranya dalam pemenuhan kebutuhan ADL dan dalam pemenuhan kebutuhan untuk mobilisasi. Selain itu klien juga beresiko mengalami komplikasi cedera spinal seperti syok spinal, trombosis vena profunda, gagal napas; pneumonia dan hiperfleksia autonomic. Maka dari itu sebagai perawat merasa perlu untuk dapat membantu dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan cidera medulla spinalis dengan cara promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif sehingga masalahnya dapat teratasi dan klien dapat terhindar dari masalah yang paling buruk. Berdasarkan uraian diatas di harapkan dengan adanya laporan inti ini yang berjudul “ Asuhan Keperawatan Pada Ny. NS Dengan Cidera Medulla Spinalis Bone Loss L2-3 di Ruang Orthopaedi Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati Jakarta” dapat bermanfaat bagi para pembaca untuk dapat meningkatkan mutu asuhan keperawatan. B. Tujuan Penulisan 1. Tujuan Umum Untuk memberikan pengalaman nyata tentang asuhan keperawatan dengan kasus cidera medulla spinalis bone loss L2-3. 2. Tujuan Khusus a. Mampu mengidentifikasi data yang menunjang b. Mampu menentukan diagnosa keperawatan c. Mampu menulis definisi diagnosa keperawatan d. Mampu menjelaskan rasional diagnosa keperawatan

e. Mampu memprioritaskan diagnosa keperawatan f. Mampu menyusun rencana keperawatan untuk masing-masing diagnosa keperawatan g. Mampu melaksanakan tindakan keperawatan pada klien h. Mampu melaksanakan evaluasi i. Mampu mengidentifikasi faktor penghambat dan penunjang dalam melaksanakan asuhan keperawatan j. Mampu mengidentifikasi dalam pemberian penyelesaian masalah (solusi). C. Metode Penulisan Dalam mengumpulkan data penulis menggunakan metode studi kasus dengan teknik pengumpulan data sebagai berikut : teknik wawancara, teknik observasi, pemeriksaan fisik, studi kepustakaan dengan mengambil literature yang berhubungan dengan kasus cidera medulla spinalis. D. Sistematika Penulisan BAB I : Pendahuluan, yang terdiri dari latar belakang, tujuan penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan. BAB II : Tinjauan teoritis, yang terdiri dari pengertian, anatomi, etiologi, tanda dan gejala, patofisiologi, pemeriksaan penunjang, penatalaksanaan medis, komplikasi dan asuhan keperawatan yang terkait dengan kasus tersebut. BAB III : Tinjauan kasus, yang terdiri dari gambaran kasus dan laporan asuhan keperawatan dari pengkajian hingga evaluasi keperawatan. BAB IV : Pembahasan. BAB V : Penutup, yang terdiri dari kesimpulan dan saran. Daftar Pustaka Lampiran LAPORAN PENDAHULUAN DENGAN CEDERA MEDULLA SPINALIS A. KONSEP DASAR I. ANATOMI FISIOLOGI Columna Vertebralis adalah pilar utama tubuh yang berfungsi melindungi medula spinalis dan menunjang berat kepala serta batang tubuh, yang diteruskannya ke lubanglubang paha dan tungkai bawah. Masing-masing tulang dipisahkan oleh disitus intervertebralis. Vertebralis dikelompokkan sebagai berikut : a. Vetebrata Thoracalis (atlas) Vetebrata Thoracalis mempunyai ciri yaitu tidak memiliki corpus tetapi hanya berupa cincin tulang. Vertebrata cervikalis kedua (axis) ini memiliki dens, yang mirip dengan pasak. Veterbrata cervitalis ketujuh disebut prominan karena mempunyai prosesus spinasus paling panjang. b. Vertebrata Thoracalis Ukurannya semakin besar mulai dari atas kebawah. Corpus berbentuk jantung, berjumlah 12 buah yang membentuk bagian belakang thorax. c. Vertebrata Lumbalis Corpus setiap vertebra lumbalis bersifat masif dan berbentuk ginjal, berjumlah 5 buah yang membentuk daerah pinggang, memiliki corpus vertebra yang besar ukurnanya sehingga pergerakannya lebih luas kearah fleksi. d. Os. Sacrum

servikal dan lumbal. misalnya kulit 2. Disini medula spinalis meruncing sebagai konus medularis. mengalami rudimenter. plexus-plexus saraf bergerak guna melayani anggota badan atas dan bawah : dan plexus dari daerah thorax membentuk saraf-saraf interkostalis.kalau dilihat dari samping maka kolumna vertebralis memperlihatkan empat kurva atau lengkung antero-pesterior : lengkung vertikal pada daerah leher melengkung kedepan daerah torakal melengkung kebelakang. Serabut saraf sensorik . pada bagian depannya dibelah oleh figura anterior yang dalam. Untuk terjadinya geraka refleks. Kedua lengkung yang menghadap pasterior. bergerak menuju koksigis. sel saraf motorik . Pearah. Coccygis Terdiri dari 4 tulang yang juga disebut ekor pada manusia. 3. menyediakan permukaan untuk kartan otot dan membentuk tapal batas pasterior yang kukuh untuk rongga-rongga badan dan memberi kaitan pada iga. dna kemudian sebuah sambungan tipis dasri pia meter yang disebut filum terminale.Terdiri dari 5 sacrum yang membentuk sakrum atau tulang kengkang dimana ke 5 vertebral ini rudimenter yang bergabung yang membentuk tulang bayi. Pada sumsum tulang belakang terdapat dua penebalan. (Eveltan. yaitu torakal dan pelvis. Disamping itu juga untuk memikul berat badan. disebut promer karena mereka mempertahankan lengkung aslinya kebelakang dari hidung tulang belakang. dan lengkung lumbal di bentuk ketika ia merangkak. 56 – 62) Medulla spinalis atau sumsum tulang belakang bermula ada medula ablonata. Organ sensorik : menerima impuls. Lengkung koluma vertebralis. Mengadakan komunikasi antara otak dan semua bagian tubuh dan bergerak refleks. e. sementara bagian belakang dibelah oleh sebuah figura sempit. yaitu bentuk (sewaktu janin dengna kepala membengkak ke bawah sampai batas dada dan gelang panggul dimiringkan keatas kearah depan badan. berdiri dan berjalan serta mempertahankan tegak. dalam karnu anterior medula spinalis yang menerima dan mengalihkan impuls tersebut melalui serabut sarag motorik. 4. dimana serabut-serabut saraf penghubung menghantarkan impuls-impuls menuju karnu anterior medula spinalis. dan dengan demikian otak dan sumsum belkang terlindung terhadap goncangan. Dari penebalan ini. Os. dibutuhkan struktur sebagai berikut : 1. Sumsum tulang belakang yang berukuran panjang sekitar 45 cm ini. Kedua lengkung yang menghadap ke anterior adalah sekunder → lengkung servikal berkembang ketika kanak-kanak mengangkat kepalanya untuk melihat sekelilingnya sambil menyelidiki. menjulur kearah kaudal melalu foramen magnum dan berakhir diantara vertebra-lumbalis pertama dan kedua. . Sebagai pendukung badan yang kokoh dan sekaligus bekerja sebagai penyangga kedengan prantaraan tulang rawan cakram intervertebralis yang lengkungnya memberikan fleksibilitas dan memungkinkan membonkok tanpa patah. 1997 . Cakramnya juga berguna untuk menyerap goncangan yang terjadi bila menggerakkan berat badan seperti waktu berlari dan meloncat. Sumsum tulang belakang. (lihat gambar A1) Fungsi dari kolumna vertebralis. Fungsi sumsum tulang belakang : a. yang menembus kantong durameter. daerah lumbal kedepan dan daerah pelvis melengkung kebelakang. mengantarkan impuls-impuls tersebut menuju sel-sel dalam ganglion radix pasterior dan selanjutnya menuju substansi kelabu pada karnu pasterior mendula spinalis. C.

olah-raga. 2001) Cidera medulla spinalis adalah buatan kerusakan tulang dan sumsum yang mengakibatkan gangguan sistem persyarafan didalam tubuh manusia yang diklasifikasikan sebagai : .5.Lesi 11 – 15 : kehilangan sensorik yaitu sama menyebar sampai lipat paha dan bagian dari bokong.Lesi L4 : Ekstremitas bagian bawah kecuali anterior paha. segera sebelum terjadi kontusio atau robekan pada cedera. Dan apabila saraf frenitus itu terserang maka dibutuhkan pernafasan buatan.tumor.terjatuh. . 6. . serabut-serabut saraf mulai membengkak dan hancur. lesi. menyelam . tembak . .Lesi L5 : Bagian luar kaki dan pergelangan kaki. II. MANIFESTASI KLINIS . Cidera medulla spinalis dapat terjadi pada lumbal 1-5 . yang menyebar sepanjang saraf yang terkena .kecelakaan otomobil. III. hemorargi.komplet (kehilangan sensasi dan fungsi motorik total) . Sirkulasi darah ke medulla spinalis menjadi terganggu. hipoksia. edema. paralisis pada otot abdomen dan otot-otot pada kedua anggota gerak bawah. ETIOLOGI Penyebab dari cidera medulla spinalis yaitu : . Organ motorik yang melaksanakan gerakan karena dirangsang oleh impuls saraf motorik. industri . IV.nyeri akut pada belakang leher. .luka tusuk. PENGERTIAN Cidera medula spinalis adalah suatu kerusakan fungsi neurologis yang disebabkan oleh benturan pada daerah medulla spinalis (Brunner & Suddarth. laserasi dan kompresi substansi medulla. PATOFISIOLOGI Kerusakan medulla spinalis berkisar dari kamosio sementara (pasien sembuh sempurna) sampai kontusio. darah dapat merembes ke ekstradul subdural atau daerah suaranoid pada kanal spinal. (lebih salah satu atau dalam kombinasi) sampai transaksi lengkap medulla (membuat pasien paralisis). Bila hemoragi terjadi pada daerah medulla spinalis. Suatu rantai sekunder kejadian-kejadian yang menimbulakn iskemia. badan dan tungkai mata penderita itu tidak tertolong. Kerusakan pada sumsum tulang belakang khususnya apabila terputus pada daerah torakal dan lumbal mengakibatkan (pada daerah torakal) paralisis beberapa otot interkostal. Apabila cedera itu mengenai daerah servikal pada lengan.paraplegia .Lesi L2 : ekstremitas bagian bawah kecuali 1/3 atas dari anterior paha. tidak hanya ini saja tetapi proses patogenik menyebabkan kerusakan yang terjadi pada cidera medulla spinalis akut.tidak komplet (campuran kehilagan sensori dan fungsi motorik) Cidera medullan spinalis adalah suatu kerusakan fungsi neurologis yang disebabkan sering kali oleh kecelakaan lalu lintas.Lesi L3 : Ekstremitas bagian bawah. sebelum alat pernafasan mekanik dapat digunakan. serta paralisis sfinker pada uretra dan rektum.

1999 . Tindakan Respiratori 1. .Infeksi saluran kemih .Sinar X spinal Menentukan lokasi dan jenis cedera tulan (fraktur.Pemeriksaan fungsi paru (kapasitas vita.Kontraktur .Konstipasi PENATALAKSANAAN CEDERA MEDULA SPINALIS (FASE AKUT) Tujuan penatalaksanaan adalah untuk mencegah cedera medula spinalis lebih lanjut dan untuk mengobservasi gejala perkembangan defisit neurologis.penurunan fungsi pernafasan . unutk kesejajaran.MRI Mengidentifikasi adanya kerusakan saraf spinal.gagal nafas (Diane C..Ileus Paralitik . Baughman.paralisis sensorik motorik total .Dekubitus . 200 : 87) PEMERIKSAN DIAGNOSTIK .GDA : Menunjukan kefektifan penukaran gas atau upaya ventilasi (Marilyn E. Farmakoterapi Berikan steroid dosis tinggi (metilpredisolon) untuk melawan edema medela.penurunan keringat dan tonus vasomoto . atelektasis) . dislokasi).Mielografi. 339 – 340) KOMPLIKASI . reduksi setelah dilakukan traksi atau operasi .Hipoksia. distensi kandung kemih) . Doengoes. . Untuk memperlihatkan kolumna spinalis (kanal vertebral) jika faktor putologisnya tidak jelas atau dicurigai adannya dilusi pada ruang sub anakhnoid medulla spinalis (biasanya tidak akan dilakukan setelah mengalami luka penetrasi).kehilangan kontrol kandung kemih (refensi urine. edema dan kompresi .Skan ct Menentukan tempat luka / jejas.Orthostatic Hipotensi . Lakukan resusitasi sesuai kebutuhan dan pertahankan oksigenasi dan kestabilan kardiovaskuler.Foto ronsen torak. .Gangguan paru-paru .Inkontinensia blader . volume tidal) : mengukur volume inspirasi maksimal khususnya pada pasien dengan trauma servikat bagian bawah atau pada trauma torakal dengan gangguan pada saraf frenikus /otot interkostal).Instabilitas spinal .Neurogenik shock. mengevaluasi ganggaun struktural . . Berikan oksigen untuk mempertahankan PO2 arterial yang tinggi. . memperlihatkan keadan paru (contoh : perubahan pada diafragma.tingkat neurologik .

Perubahan reaksi pupil. Aktifitas /Istirahat Kelumpuhan otot (terjadi kelemahan selama syok pada bawah lesi. f. j. Kehilangan sensasi (derajat bervariasi dapat kembaki normak setelah syok spinal sembuh). Cedera terjadi pada region lumbar atau torakal 4. ronki. menarik diri. dislokasi. Gantung pemberat dengan batas sehinga tidak menggangu traksi Intervensi bedah = Laminektomi Dilakukan Bila : 1. Neurosensori Kelumpuhan. Pernapasan Pernapasan dangkal /labored. gelisah. ptosis. Eliminasi Retensi urine. dan stabilisasi koluma vertebrata. Kelemahan umum /kelemahan otot (trauma dan adanya kompresi saraf). pucat. 2. bradikardi. Pengkajian a. Sirkulasi Hipotensi. Hipotensi posturak. Status Neurologis mengalami penyimpanan untuk mengurangi fraktur spinal atau dislokasi atau dekompres medulla. Kurangi fraktur servikal dan luruskan spinal servikal dengan suatu bentuk traksi skeletal. melena. reduksi. Cedera medulla spinalis membutuhkan immobilisasi. . Reduksi dan Fraksi skeletal 1. nyeri tekan vertebral. Higiene Sangat ketergantungan dalam melakukan aktifitas sehari-hari (bervariasi) h. cemas. Takut. i. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan dengan Cedera Medulla Spinalis 1. postur. Terapkan perawatan yang sangat berhati-hati untuk menghindari fleksi atau eksistensi leher bila diperlukan inkubasi endrotakeal. 2000 . 3. penurunan bunyi napas. Kehilangan tonus otot /vasomotor. ekstremitas dingin dan pucat. distensi abdomen. periode apnea. peristaltik usus hilang. Integritas Ego e. Makanan /cairan Mengalami distensi abdomen. 3. Deformitas tidak dapat dikurangi dengan fraksi 2. kehilangan refleks /refleks asimetris termasuk tendon dalam. c. d. yaitu teknik tong /capiller skeletal atau halo vest. 88-89) B. emisis berwarna seperti kopi tanah /hematemesis.2. peristaltik usus hilang (ileus paralitik) g. Nyeri /kenyamanan Mengalami deformitas. kelemahan (kejang dapat berkembang saat terjadi perubahan pada syok spinal). Terdapat ketidakstabilan signifikan dari spinal servikal 3. Braughman. (Diane C. b. Pertimbangan alat pacu diafragma (stimulasi listrik saraf frenikus) untuk pasien dengan lesi servikal yang tinggi. hilangnya keringat bagian tubuh yang terkena karena pengaruh trauma spinal.

Resiko terhadap kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan penurunan immobilitas. PaCO2 = 35-45 mmHg. mampu melakukan reposisi. k. perbaikan fungsi usus. l.45 Rencana Tindakan a. cedera psikis dan alt traksi (Diane C. dan tidak terdapatnya komplikasi. e. Berikan minum hangat jika tidak kontraindikasi R/ Mengencerkan sekret . Konstipasi berhubungan dengan adanya atoni usus sebagai akibat gangguan autonomik. Pertahankan jalan nafas (hindari fleksi leher. brsihkan sekret) R/ Menutup jalan nafas. 2. Keamanan Suhu yang berfluktasi *(suhu tubuh ini diambil dalam suhu kamar). bunyi napas normal. jumlah dan konsistensi sekret. pemeliharaan integritas kulit. PH = 7.35 – 7. pasien mampu mengeluarkan seket. 4. irama dan jumlah pernapasan. 338-339) DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. (Marikyn E. Doengoes. pasien. Ketidak efektifan pola pernapasan yang berhubungan dengan kelemahan /paralisis otot-otot abdomen dan intertiostal dan ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi. Nyeri yang berhubungan dengan pengobatan immobilitas lama. nilai AGD : PaO2 > 80 mmHg. d. c. peningkatan rasa nyaman. g. menghilangkan retensi urine. Kaji kemampuan batuk dan reproduksi sekret R/ Hilangnya kemampuan motorik otot intercosta dan abdomen berpengaruh terhadap kemampuan batuk. Auskultasi bunyi napas R/ Mendeteksi adanya sekret dalam paru-paru. Monitor warna. Lakukan suction bila perlu R/ Pengambilan secret dan menghindari aspirasi. f. 3. respirasi normal. 1999 . jalan napas bersih. lakukan kultur R/ Hilangnya refleks batuk beresiko menimbulkan pnemonia. Seksualitas Ereksi tidak terkendali (priapisme). menstruasi tidak teratur. penurunan sensorik. b. Lakukan latihan nafas R/ mengembangkan alveolu dan menurunkan prosuksi sekret. Retensi urine yang berhubungan dengan ketidakmampuan untuk berkemih secara spontan.sianosis. Tujuan : Meningkatkan pernapasan yang adekuat Kriteria hasil : Batuk efektif. perbaikan mobilitas. INTERVENSI 1. 5. Boughman. 6. Kerusakan mobilitas fisik yang berhubungan dengan kerusakan fungsi motorik dan sesorik. 2000 : 90) PERENCANAAN DAN IMPLEMENTASI Tujuan perencanaan dan implementasi dapat mencakup perbaikan pola pernapasan.

Ganti posisi pasien setiap 2 jam dengan memperhatikan kestabilan tubuh dan kenyamanan pasien. 3. Tujuan : Mempertahankan Intergritas kulit Kriteria Hasil : Keadaan kulit pasien utuh. Monitor adanya nyeri dan kelelahan pada pasien. handsplits R/ Mencegah terjadinya kontraktur.h. Kaji faktor resiko terjadinya gangguan integritas kulit R/ Salah satunya yaitu immobilisasi. Rencana Tindakan a. R/ Lingkungan yang lembab dan kotor mempermudah terjadinya kerusakan kulit f. perubahan posisi meningkatkan sirkulasi darah. Lakukan pemijatan khusus / lembut diatas daerah tulang yang menonjol setiap 2 jam dengan gerakan memutar. Pertahankan kebersihan dan kekeringan tempat tidur dan tubuh pasien. f. Gunakan otot orthopedhi. Lakukan perawatan kulit pada daerah yang lecet / rusak setiap hari R/ Mempercepat proses penyembuhan . Kaji keadaan pasien setiap 8 jam R/ Mencegah lebih dini terjadinya dekubitus. bebas dari infeksi pada lokasi yang tertekan. bebas dari kemerahan. Rencana Tindakan a. Kaji fungsi-fungsi sensori dan motorik pasien setiap 4 jam. Beri papan penahan pada kaki R/ Mencegah terjadinya foodrop d. c. b. footdrop. 2. meningkatkan kekuatan bagian tubuh yang sakit /kompensasi. R/ Meningkatkan sirkulasi darah g. Tujuan : Memperbaiki mobilitas Kriteria Hasil : Mempertahankan posisi fungsi dibuktikan oleh tak adanya kontraktur. Monitor tanda vital setiap 2 jam dan status neurologi R/ Mendeteksi adanya infeksi dan status respirasi. hilangnya sensasi. e. b. R/ Menetapkan kemampuan dan keterbatasan pasien setiap 4 jam. Ganti posisi setiap 2 jam dengan sikap anatomis R/ Daerah yang tertekan akan menimbulkan hipoksia. Konsultasikan kepada fisiotrepi untuk latihan dan penggunaan otot seperti splints R/ Memberikan pancingan yang sesuai. Gunakan tempat tidur khusus (dengan busa) R/ Mengurangi tekanan 1 tekanan sehingga mengurangi resiko dekubitas d. R/ Menunjukan adanya aktifitas yang berlebihan. Kaji status nutrisi pasien dan berikan makanan dengan tinggi protein R/ Mempertahankan integritas kulit dan proses penyembuhan h. Berikan oksigen dan monitor analisa gas darah R/ Meninghkatkan suplai oksigen dan mengetahui kadar olsogen dalam darah. i. e. Lakukan ROM Pasif setelah 48-72 setelah cedera 4-5 kali /hari R/ Meningkatkan stimulasi dan mencehag kontraktur. g. mendemonstrasikan teknik /perilaku yang memungkinkan melakukan kembali aktifitas. c. Inkontinensia bladder /bowel. edar. R/ Mencegah terjadinya dekubitus.

. tipe nyeri. Berikan diet tinggi serat R/ Serat meningkatkan konsistensi feses c. b. kaji adanya distensi abdomen R/ Bising usus menentukan pergerakan perstaltik e. Rencana tindakan a.. Rencana tindakan a. misalnya lokasi. Cek bladder pasien setiap 2 jam R/ Mengetahui adanya residu sebagai akibat autonomic hyperrefleksia f. Kaji tanda-tanda infeksi saluran kemih R/ Efek dari tidak efektifnya bladder adalah adanya infeksi saluran kemih b. Lakukan pemasangan kateter sesuai program R/ Efek trauma medulla spinalis adlah adanya gangguan refleks berkemih sehingga perlu bantuan dalam pengeluaran urine d.. Auskultasi bising usus. Berikan suppositoria sesuai program R/ Pelunak feses sehingga memudahkan eliminasi h. Kaji intake dan output cairan R/ Mengetahui adekuatnya gunsi gnjal dan efektifnya blodder.4.. keadaan feses yang lembek. kultur urine negatif. e. mendemonstrasikan penggunaan keterampilan relaksasi dan aktifitas hiburan sesuai kebutuhan individu. Lakukan mobilisasi jika memungkinkan R/ Meningkatkan pergerakan peritaltik g. 5. Anjurkan pasien untuk minum 2-3 liter setiap hari R/ Mencegah urine lebih pekat yang berakibat timbulnya . Berikan minum 1800 – 2000 ml/hari jika tidak ada kontraindikasi R/ Mencegah konstipasi d. kaji pola eliminasi bowel R/ Menentukan adanya perubahan eliminasi b. kultur dan sensitibilitas R/ Mengetahui adanya infeksi g. Lakukan pemeriksaan urinalisa. intensitas pada skala 0 – 1R/ Pasien biasanya melaporkan nyeri diatas tingkat cedera misalnya dada / punggung atau .. Tujuan : Peningkatan eliminasi urine Kriteria Hasil : Pasien dpat mempertahankan pengosongan blodder tanpa residu dan distensi. c. Evaluasi dan catat adanya perdarah pada saat eliminasi R/ Kemungkinan perdarahan akibat iritasi penggunaan suppositoria 6.. intake dan output cairan seimbang Rencana tindakan a. mengidentifikasikan cara-cara untuk mengatasi nyeri. Kaji terhadap adanya nyeri. Hindari penggunaan laktasif oral R/ Kebiasaan menggunakan laktasif akan tejadi ketergantungan f. bantu pasien mengidentifikasi dan menghitung nyeri. keadaan urine jernih. Tujuan : Memperbaiki fungsi usus Kriteria hasil : Pasien bebas konstipasi. Tujuan : Memberikan rasa nyaman Kriteria hasil : Melaporkan penurunan rasa nyeri /ketidak nyaman.. Monitor temperatur tubuh setiap 8 jam R/ Temperatur yang meningkat indikasi adanya infeksi. berbentuk.

misalnya diazepam (valium) R/ Dibutuhkan untuk menghilangkan spasme /nyeri otot atau untuk menghilangkanansietas dan meningkatkan istrirahat. Rencana Asuham Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3. klien mengalami peningkatan eliminasi urine 5. E. 1993. Philadelphia . Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta . c. Diane C Baurghman. Carpenito. latihan nafas dalam. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. analgetik. relaksasi otot. T. Klien mengalami perbaikan usus / tidak mengalami konstipasi 6. Evalusi 1. perubahan posisi. 2001. Doenges 1999 . misalnya dontren (dantrium). L. 1998. Jakarta . EGC Doengoes. misalnya. Kapita Selekta Kedokteran. antiansietis. pedoman imajinasi visualisasi. Medical Surgical Nursing a Psychophysiologic approach.kemungkinan sakit kepala dari alat stabilizer b. selain menurunkan kebutuhan otot nyeri / efek tak diinginkan pada fungsi pernafasan. misalnya. Gramedia . 2000. meningkatkan rasa kontrol. kompres hangat / dingin sesuai indikasi. 1997. Souders Company. WB. 1999. 2000 : 91 – 93) DAFTAR PUSTAKA Brunner & Suddarth. 3 . EGC Luckman.C. 340 – 358. Jilid 2. J. kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi. Dorong penggunaan teknik relaksasi. Edisi 6. Edisi 3 Jakarta : FKUI Pearce Evelyn C. dan dapat meningkatkan kemampuan koping d. Mansjoer. masase. M. Klien menyatakan rasa nyaman (Marilyn E. Berikan tindakan kenyamanan. Klien dapat mempertahankan integritas kulit 4. Jakarta : PT. Edisi 8 Vol. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Ed : 4. R/ Tindakan alternatif mengontrol nyeri digunakan untuk keuntungan emosionlan. Klien dapat meningkatkan pernafasan yang adekuat 2. and Sorensens R. A. Klien dapat memperbaiki mobilitas 3. Jakarta : EGC. R/ Memfokuskan kembali perhatian.

Disini para ‘ dokter “ mesir menuliskan gejala . B. pengalaman. herniasi diskus intervertebralis dan hematom. sumbangan yang berharga telah diwujudkan terutama di inggris . hal ini biasanya terjadi pada hiperfleksi. tapi dislokasi cenderung lokasi terjadi pada tempat. terjatuh. Efek trauma yang tidak dapat langsung bersangkutan dengan fraktur dan dislokasi .A. ledakan bom merupakan penyebab trauma medulla spinalis. Kecelakaan lalu lintas . Tergolong dalam trauma tak langsung ini adalah whiplash (lecutan).tempat antara bagian yang sangat mobil dan bagianyang terfiksasi seperti vertebra C1-2. GAngguan sirkulasi akibat kompresi tulang atua system arteri spinalis anterior dan posterior . Regangan jaringan yang berlebihan akan menyebabkan gangguan pada jaringan . Frekuensi relatif ketiga jenis tersebut adalah ter 3:1:1 Fraktur tidak mempunyai tempat predileksi. d. olahraga (Misalnya menyelam) . Yang paling berat adalah kerusakan akibat kompresi tulang dan kompresi oleh korpus vertebra yang mengalami dislokasi ke posterior dan trauma hiperekstensi. cara pemeriksaan penderita dan mengemukakan prognosisnya yang jelek. Setelah melalui perjalanan yang panjang . tetapi catatan pada manusia yang paling dini tentang paraplegia dan kuadriplegia pada manusia ditemukan pada Papirus Edwin _ Smith . fraktur dan dislokasi. PENDAHULUAN Akibat suatu trauma pada medulla spinalis dan kauda ekuina telah dikenal oleh manusia purba. Medula spinalis danradiks dapat rusak melalui 4 mekanisme berikut : Kompresi oleh tulang. efek traumatiknya bias mengakibatkan lesi yang nyata di medulla spinalis. Tanpa kerusakan yang nyata pada tulang belakang . c. Toleransi medulla spinalis terhadap regangan akan menurun dengan bertambahnya usia Edema medulla spinalis yang timbul segera setelah trauma menyebabkan gangguan aliran darah kapiler dan vena. Efek trauma terhadap tulang belakang bias berupa fraktur -dislokasi. perhatian makin bertambah selama dan sesudah perang dunia II. tetapi dapat menimbulkan lesi pada medulla spinalis yang dikenal sebagai trauma tak langsung. ligamentum. jatuh terduduk atau dengan badan berdiri atau terlempar oleh gaya eksploso bom. kecelakaan industry. PATOGENESIS a. C5-6 dan T11-12 Dislokasi bias ringan dan bersifat sementara atau berat dan menetap. b. luka tembak dan luka bacok.George Ridoch memutuskan untuk mengobati pendertita dikenal sebagai unit trauma spinal.

Bila paralisis total dan hilngnya sensibilitas menetap lebih dari 48 jam maka kemungkinan sembuh sempurna menipis dan perubahan pada medulla spinalis lebih mengarah ke perubahan anatomic daripada fisiologik 2. medulla spinalis dapat mengalami perdarahan epidural. Gambaran klinisnya adalah adanya trauma yang relative ringan tetapi segera diikuti paralisis flaksid berat akibat penekanan medulla spinalis. KONTUSIO MEDULA SPINALIS Berbeda dengan komosio medulla spinalis yng diduga hanya merupakan gangguan fisiologik saja tanpa kerusakan anatomic makroskopik.C. 4. Hematomieli adalah perdarahan di dalam substansia grisea medulla spinalis . maka pada kontusio medulla spinalis didapati kerusakan makroskopik dan mikroskopik medulla spinalis yaitu perdarahan. MANIFESTASI LESI TRAUMATIK 1.dislokasi . Kedua keadaan diatas memerlukan tindakan darurat bedah. Biasanya penyebab lesi ini adalah luka tembak atau bacok / tusukan.kecil dan infark di sekitar pembuluh darah. Sembuh sempurna akan terjadi dalam waktu beberpa menit hingga beberapa jam/ hari tanpa meningglakan gejala sisa. 3. fraktur dislokasi vertebra. perubahan neuron. Perdarahan ini dapat terjadi akibat fraktu. Kerusakan reversible yang mendasari komosio medulla spinalis berupa edema.reaksi peradangan. LASERASIO MEDULA SPINALIS Pada laserasio medulla spinalis terjadi kerusdakan yang berat akibat diskontinuitas medulla spinalis. subdural Maupun hematomieli. pembengkakan (edema). PERDARAHAN Akibat trauma . Pada saat inspeksi makroskopik medulla spinalis tetap utuh . trauma whiplash atau trauma tidak langsung misalnya akibat gaya eksplosi atau jatuh dalam posisi berdiri / duduk. Perdarahan di dalam sustansia alba memperlihatkan adanya bercak – bercak degenarasi waller dan pada kornu anterior terjadi hilangnya neuron yang di ikuti proliferasi microglia dan astrosit. perdarahan perivaskuler kecil. KOMOSIO MEDULA SPINALIS Komosio medulla spinalis adalah suatu keadaan dimana funsi medulla spinalis hilang sementara akibat suatau trauma dengan atau tanpa disertai fraktur atau dislokasi. Hematom epidural dan subdural dapat terjadi akibat trauma maupun akibat anesthesia epidural dan sepsis. .

dislokasi. hiperfleksi. 5. yang menyebabkan rusaknya segmen sakralis medulla spinalis. 6. Akan didapati nyeri radikuler dan paralisis flaksid setinggi lesi akibat kompresi pada radiks saraf tepi.Biasanya tidak dijumpai gangguan. otorik yang menetap. Gambaran klinisnya sebanding dengan sindrom kompresi medulla spinalis akibat tumor.perbaikan funsi funikulus lateralis dan posterior medulla spinalis. S3. Kompresi konus medularis terjadi akibat fraktu. Di bawah lesi kompresi medulla spinalis akan didapati paralisis spastic dan gangguan sensorik serta otonom sesuai denga deerajat bertanya kompresi.dislokasi vertebra L1. dan abses di dalam kanalis vertebralis . dengan utuhnya sensibilitas nyerei dan suhu serta fungsi funikulus posterior. tetapi terdapat gangguan sensorik pada segmen sakralis yang terutama mengenai daerah sadel. fraktur dan gerak lecutan (whiplash) radiks saraf tepi dapat tertarik dan mengalami jejas (reksis). dan S4 akan menyebabkan retensio urin dan hilamgnya control volunteer vesika urinaria. perineum dan bokong. Kompresi pada saraf spinalis S2. Akibat hiperekstensi . Di samping itu dijumpai juga gangguan otonom yang berupa retensio urin serta pada pria terdapat impotensi. Setinggi lesi . HEMISEKSI MEDULA SPINALIS Biasanya dijumpai pada luka tembak atau luka tusuk / bacok di medulla spinalis. Kompresi kaudal ekulna akan menimbulkan gejala. Gangguan sensorik sesuai dengan dermatom yang terlibat.Dulu gambaran penyakit ini dikenal sebagai hematorakhis yang sebenarnya lebih tepat dinamakan neuralgia radikularis traumatic yang reversible. KOMPRESI MEDULA SPINALIS Kompresi medulla spinalis dapat terjadi akibat dislokasi vertebra maupun perdarahan epi dan sudural. Gambaran klinisnya merupakan sindrom down sequard yaitu setinggi lesi terdapat kelimpuhan neuron motorik perifer(LMN) ipsilateral pada otot – otot yang disarafi oleh motoneuron yang terkena hemilesi . Akan dijumnpai paralisis flaksid dan atrofi otot.Gambaran klinisnya adalah hilangnya fungsi medulla spinalis dibawah lesi. Tetapi setelah edema berkurang dan bekuan darah diserap maka terdapat perbaikan. yang sering menyerupai lesi transversal. kista. Hal ini menimbulkan gamabran klinis yang khas hematomielia sebagai berikut : terdapat paralisis flaksid dan atrofi otot setinggi lesi dan di bawah lesi terdapat paresis spastic. yang bergantung pada serabut saraf spinlais mana yang terlibat. inkontinensia alvi dan impotensi. Pada trauma lecutan radiks C5-7 dapat mengalami hal demikian dan menimbulkan nyeri radikular spontan.

maka fase syok ini akan berlangsung lebih lama. sepsis. SINDROM MEDULA SPINALIS BAGIAN POSTERIOR Ciri khas sindrom ini adalah adanya deficit motorik yang lebih berat pada lengan daripada tungkai dan disertai defisit sensorik. b. Dibawah tingkat lesi dijumpai pada sisi ipsi lateral kelumpuhan neuron motorik sentral (UMN) dan deficit sensorik proprioseptif sedangkan pada sisi kontra lateral terdapat deficit sensorik protopatik. Mc Cough mengemukakan 3 faktor yang mungkin berperan dalam mekanisme syok spinal. tetapi sensibilitas protopatik tetap utuh. Efek terakhir ini disebut renjartan spinal(spinal shock). Sindrom ini sering dijumpai pada penderita spondilosis servikal. dijumpai deficit sensorik ipsilateral yang terbatas pada kawasan sensorik segmen yang terkena hemilesi. yang bekerja pada reflex ekstensor dan Degenerasi aksonal interneuron . c. infeksi traktus urionarius atau keadaan metabolic yang terganggu . a) b) c) a. SINDROM MEDULA SPINALIS BAGIAN ANTERIOR Sindrom ini mempunyai cirri khas berikut: paralisis dan hilangnya sensibilitas protopatik dibawah tingkat lesi. yang melibatkan baik reflex tendon maupun reflex otonom.Bila terdapat dekubitus . 9. Kadang kala pada fase renjatan ini masih dapat dijumpai reflex bulbokavernosus dan atau beberapa minggu samapi beberapa bulan(3-6 minggu) Pada anak. mal nutrisi. TRANSEKSI MEDULA SPINALIS Bila medulla spinalis secara mendadak rusak total akibat lesi teransversal maka akan dijumpai 3 macam gangguan yang muncul serentak yaitu: Semua gerak voluntary pada bagian tubuh yang terletakdibawah lesi akan hilang fungsinya secra mendadak dan menetap Semua sensibilitas daerah di bawah lesi menghilang Semua fungsi reflektorik pada semua segmen dibawah lesi akan menghilang. 8.anak fase syok spinal berlansung lebih singkat daripada orang dewasayaitu kurang dari 1 minggu. Defisit motorik yang lebih jelas pada lengan (daripada tungkai) dapat dijelaskan akibat rusaknya sel motorik di kornu anterior medulla sinalis segmen servikal atau akibat terlibatnya serabut traktus kortikospianlis yang terletak lebih medial di kolumna lateralis medulla spinalis.7. Hilangya fasilitas traktus desendens Inhibisi dari bawah yang menetap .

AKTIVITAS REFLEKS YANG MENINGKAT Setelah beberapa minggu respons reflex terhadap rangsang mulai timbul. ridoch menggunkanya sebagai dasar pembagian gambaran klinisnya atas 2 bagian. atonia gaster dan hipestesia. retensio alvi dan ileus paralitik. D. fleksi tripel.mula lemah makin lama makin kuat. Secara bertahap timbul reflex fleksi yang khas yaitu tanda babinski dan kemudian fleksi tripel( gerak menghindar dari rangsang dengan mengadakan fleksi pada sendi pergelangan kaki. hiperhidrosis. keringat dan piloereksi sert6a fungsi seksual. SYOK SPINAL ATAU AREFLEKSIA Sesaat setelah trauma . 11. 10.Karena fase renjatan spinal ini mat dramatis . sehingga rangsang pada kulit tungkai akan menimbulkan kontraksi otot perut. setelah intravaskuler lebih tinggi dari sfingter uretra maka urin akan mengalir keluar(overflow incontinence) demikian pula terjadi dilatasi pasif usus besar . Tujuan tindakan ini adalah untuk memastikan bahwa tidak terjadi perubahan jajaran . reflex bulbokavernosus. kontraksi otot dartos) menghilang. pilo ereksi dan pengosongan kandung kemih secra otomatis( kadang – kala juga pengosongan rectum). ialah renjatan spinal atau arefleksi dan aktivitas reflex yang meningkat. foto lateral daerah vertebra yang diperkirakan mendapat trauma harus dikerjakan segera. Refleks genitalia (ereksi penis. mula.posterior dan lateral pada daerah yang diperkirakan mengalami trauma akan memperlihatkan adanya fraktur dan mungkin disertai dengan dislokasi. sendi lutut dan sendi pangkal paha) muncul. meskipun penderita telah membawa foto dari rumah sakit sebelumnya( khususnya pada trauma daerah servikal). Pada ruang gawat darurat. Hal ini disebut reflex massa. fungsi lesi di bawah tingkat lesi hilang. otot flaksid . Sfingter vesika urinaria dan anus dalam keadaan kontraksi (disebabkan karena hilangnya inhibisi dari pusat system saraf pusat yang lebih tinggi) tetapi otot destrusor dan otot polos dalam keadaan atonik. Urin akan terkumpul .Beberapa bulan kemudian reflex menghindar tadi akan bertambah meningkat . Kulit menjadi kering dan pucat serta ulkus dapat timbul pada daerah yang mendapat penekanan tulang. Juga di bawah tingkat lesi dijumpai hilangnya tonus vasomotor. paralisis atonik vesika urinaria dan kolon. DIAGNOSIS a) Radiologik Foto polos posisi antero.reflex hilang.

sebab sering terjadi herniasi diskus intevertebralis. Pemeberian cairan secar intravena segera dilakukan untuk mencegah terjadinya hipotensi. • • • • . Pada trauma daerah servikal foto dengan posisi mulut terbuka dapat membantu dalam memeriksa adanya kemungkinan fraktur vertebra C1. Sewaktu penanggulanganawal dimulai . maka kepala dan leher difiksasi (imobilisasi) dengan menggunakan bantal pasir pada sisi kanan dan kiri kepala serta leher. Manajemen mempunyai tujuan mempertahankan fungsi medulla spinalis yang masih ada dan memperbaiki kondisi untuk penyembuhan jaringan medulla spinalis yang mengalami trauma tersebut. c) Mielografi Mielografi tampaknya tidak mempunyai indikasi pada fase akut trauma medulla spinalis.vertebra(alignment) sewaktu diangkat/ dipindahkan. Prinsip tatalaksana dapat diringkaskan sebagai berikut: Segera imobilisasi dan diagnose dini Stabilisasi daeerah tulang yang mengalami trauma Pencegahan progreivitas gangguan medulla spinalis Rehabilitasi dini Pada penderita yang diperkirakan mengalami trauma pada daerah servikal harus difiksasi degan kerah servikal(cervical collar). Tetapi mielografi dianjurkan pada penderita yang telah sembuh dari trauma pada derah lumbal. Bila tekanan oksigen medulla spinalis atau aliran darah berkurang . Dan antefleksi pada vertebra servikal harus dihindari bila diperkirakan terjadi trauma pada daerah vertebra servikalis tersebut. Bila kerah tidak tersedia . maka lesi medulla spinalis akan memburuk. b) Pungsi Lumbal Berguna pada fase akut trauma medulla spinalis . Sedikit peningkatan tekanan liquor serebrospinal dannadanya blockade pada tindakan Queckenstedt menggambarkan beratnya derajat edema medulla spinalis. TATALAKSANA Pada umumnya pengobatan trauma medulla spinalis adalah konservatif dan simptomatik. oksigenisasi dan aliran darah yang adekuat pada medulla spinalis dipertahankan.C2. karena posisi fleksi tulang belakang dapat memperberat dislokasi yuang telah terjadi. tetapi perlu diingat tindakan pungsi lumbal ini harus dilakukan dengan hatihati. E. sedangkan penderita dibaringkan dalam posisi terlentang pada alas yang keras(papan). Perhatian yang besra ditujuakan untuk mempertahankan jalan nafas.

kasus tertentu. diperlukan pemberian enema.Trauma medulla spinalis segmen servikal dapat menyebabkan paralisis otot. Fragmen yang menekan lengkung saraf Adanya benda asing atau fragmen tulang dalam kanalis spinalis 3. Bila perlu dilakuka inkubasi nasotrakeal(hindari fleksi dan ekstensi yang berlebihan) bila pemberian oksigen saja tidak efektif membantu penderita. anggota gerak bawah dan visera yang mengalami dilatasi . Indikasi operasi pada saat ini adalah: Reduksi terbuka dislokasi dengan atau tanpa disertai fraktur pada daerah servikal. 4.baklofen dan dantrolen sodium untuk mengatasinya. Perawatan yang baik perlu untuk mencegah timbulnya efek infeksi mtraktus urinarius. 5. Oleh karena itu dapatterjadi gangguan pernafasan bahkan kadang kala apneu. . 2. Untuk mencegah timbulnya dekubitus perlu dilakukan alih baring tiap 2 jam. Bila timbul spastisitas dapat digunakan diazepam. Adanya fraktur servikal dengan lesi parsial medulla spinalis dengan fragmen tulang tetap menekan permukaan anterior medulla spinalis meskipun telah dilakukan traksi yang adekuat.bila hendak diberikan dapat dipakai deksametason.otot interkostal. Pada stadium awal dimana terjadi dilatasi gastrointestinal.Bila tidak dilakukan dapat berakibat adanya vomitus lalu aspirasi dan akan memperberat pernafasan . Bila traktus gastrointestinal menjadi lebih aktif lagi enema dapat digantidengan supositoria. OPERASI 1. F. Trauma servikal dengan lesi parsial medulla spinalis. dimana tidak tampak adanya fragmen tulang dan diduga terdapat penekanan medulla spinalis oleh herniasi diskus intervertebralis. Pada saat ini laminektomi dekopresif tak dianjurkan kecuali pada kasus. Pipa nasogastrik dipasang untuk mencegah distensi abdomen akibat dilatasi gaster akut. Pemberian kortikosteroid untuk mengurangi edema medulla spinalismasih controversial. secepat mungkin diruang gawat darurat dilakukan pemasangan kateter foley sebab retensio urin akan berkembang dalam waktu beberapa jam. hilangnya control vasomotor menyebabkan pengumpula darah di pembuluh darah di abdomen . Kemudian bila periltastik timbul kembali dapat diberikan obat pelunak feses.Pada trauma servikal. Penderita harus sering diperhatikan ada/ tidaknya fekalit. bilamana traksi dan manipulasi gagal. menyebabkan timbulnya hipotensi. Dalam hal ini perlu dilakukan pemeriksaan mielografi dan scan tomografik untuk membuktikannya.

mengurangi cacat dan menyiapkan penderita untuk kembali ke tengah keluarganya dan masyarakat.angsur memburuk setelah mulanya dengan cara konservatif yang maksimal menunjukkan perbaikan .Kapita Selekta Neurologi ed.&sidharta. Lesi parsial medulla spinalis yang berangsur.2. Daftar pustaka  Mardjono.Tahap pertama pada fase akut yaitu semasa penderita dalam pengobatan yang intensif. merawat gangguan sensibilitas. Terutama dikerjakan oleh perawat dan fisioterapis.. masase. P. Tindakan yang dapat dilakukan pada fase ini adalah latiha. G.Gadjah mada University Press: Yogyakarta .2003. berpakaian . merawat gangguan miksi dan defekasi.M. Untuk itu diperlukan suatu tim rehabilitasi yang terdiri dari:  Dokter  Perawat  Fisioterapis  Pekerja social  Psikolog  Ahli terapi kerja  Ahhli ortotik  Ahli ortopedi Program rehabilitasi ini dapat dibagi dalam 2 tahap yang sinambung.miksi dan defekasi • Alih pekerjaan yang disesuaikan dengan kondisi penderita. PT Dian Rakyat:Jakarta  Tim penyusun. REHABILITASI Rehabilitasi harus dilakukan sedini mungkin dengan tujuan untuk mencegah dengan tujuan untuk mencegah timbulnya komplikasi.6.memelihara jalan nafas. harus dicurigai hematoma. Pada tahap kedua yaitu program rehabilitasi jangka panjang . ed 5.1989 Neurologi Klinis Dasar. Program ini meliputi: • Menyiapkan keadaan mental emosional penderita agar dapat tetap berkarya meskipun menderita cacat • Edukasi pada penderita dan keluarga tentang perawatan dirumahlatihan cara makan. elektroterapi. disisni semua unsure tim rehabilitasi dilibatkan dengan tujuan memasyarakatkan kemabali penderita.

Trauma whiplash terjadi pada tulang belakang bagian servikalis bawah maupun torakalis bawah misal.iskamia disebabkan hipotensi. rotasi. atau perdarahan. Trauma tidak langsung dari tulang belakang berupa hiperekstensi. atau rotasi tulang belakang. kompressi. hiperekstensi. memar. tetapi lesi traumatic pada medulla spinalis tidak selalu terjadi karena fraktur dan dislokasi.bahkan dapat menusuk kekanalis vertebralis serta arteri dan vena-vena yang mengalirkan darah kemedula spinalis dapat ikut terputus .Kelainan sekunder pada sumsum belakang dapat doisebabkan hipoksemia dana iskemia. Pada fase awal setelah trauma tidak dapat dipastikan apakah gangguan fungsi disebabkan oleh kerusakan sebenarnya dari jaringan saraf atau disebabkan oleh tekanan. Fraktur dapat berupa patah tulang sederhana. Perlu disadar bahwa kerusakan pada sumsum belakang merupakan kerusakan yang permanen karena tidak akan terjadi regenerasi dari jaringan saraf. atau oedema. Atau pada waktu terjun dari jarak tinggi menyelam dan masuk air yang dapat mengakibatkan paraplegia. kominutif.12sampai L. atau kompressi. PENYEBAB DAN BENTUK Cedera sumsum tulang belakang terjadi akibat patah tulang belakang dan terbanyak mengenai daerah servikal dan lumbal.2).jatuh dari tempat ketinggian dan kecelakaan olah raga. kompressi.ligamentum longitudainalis posterior dan duramater bisa robek. pada waktu duduk dikendaraan yang sedang cepat berjalan kemudian berhenti secara mendadak. kerusakan melintang. sedangkan kerusakan pada sumsum tulanmg belakang dapat beruypa memar. hiperfleksi. contusio.cedera terjadi akibat hiperfleksi. pada masa kini penyebabnya lebih beraneka ragam seperti lkecelakaan lalu lintas.didaerah torakal tidak banyak terjadi karena terlindung dengan struktur toraks. tekanan vertical (terutama pada T. Kerusakan yang dialami medulla spinalis . Efek trauma yang tidak langsung bersangkutan tetapi dapat menimbulkan lesi pada medulla spinalis disebut “whiplash”/trauma indirek. PATOFISIOLOGI Tulang belakang yang mengalami gangguan trauma dapat menyebabkan kerusakan pada medulla spinalis. laserasi dengan atau tanpa gangguan peredaran darah. Whiplash adalah gerakan dorsapleksi dan anterofleksi berlebihan dari tulang belakang secara cepat dan mendadak.kalau dimasa lalu cedera tersebut lebih banyak disebabkan oleh jatuh dari ketionggian seperti pohon kelapa . dan dislokasi. Cedera sumsum tulang belakang merupakan kelainan yang pada masa kini yang banyak memberikan tantangan karena perubahan dan pola trauma serta kemajuan dibidang penatalaksanaannya.Trauma medulla spinalis dapat terjadi bersamaan dengan trauma pada tulang belakang yaitu terjadinya fraktur pada tuylang belakang pada tulang belakang . oedema.

Sindrom sumsum belakang bagian depan menunjukkan kelumpuhan otot lurik dibawah tempat kerusakan disertai hilangnya rasa nyeri dan suhu pada kedua sisinya. gambaran tersbut disebut hematorasis atau neuralgia radikularis traumatik yang reversible.8 atau T. hemitransversa. tetapi dapat sembuh kembali dalam beberapa hari.hematomielia adalah perdarahan dlam medulla spinalis yang berbentuk lonjong dan bertempat disubstansia grisea.9 yang akan menimbulkan defisit sensorik motorik pada dermatoma dan miotoma yang bersangkutan dan sindroma sistema aaanastomosis anterial anterior spinal.trauma ini bersifat “whiplash “ yaitu jatuh dari jarak tinggi dengan sifat badan berdiri.kerusakan meningitis.tandanya adalah kelumpuhan flasid.peristiwa ini umumnya berlangsung selama 1-6 minggu. kuadran transversa).pada trauma whislap.dapat bersifat sementara atau menetap. kadang lebih lama. Suatu segmen medulla spinalis dapat tertekan oleh hematoma ekstra meduler traumatic dan dapat juga tertekan oleh kepingan tulang yang patah yang terselip diantara duramater dan kolumna vertebralis. laserasio dan pembengkakan daerah tertentu di medulla spinalis. sedangkan .jika radiks terputus akibat trauma tulang belakang. bradikardia dan hipotensi.lesi transversa medulla spinalis tergantung pada segmen yang terkena (segmen transversa.shock spinal terjadi pada kerusakan mendadak sumsum tulang belakang karena hilangnya rangsang yang berasal dari pusat . anastesia. perdarahan peri vaskuler dan infark disekitar pembuluh darah. triafismus. terdampar eksplosi atau fraktur dislokasio. dan gejala yang terjadi adalah nyeri radikuler spontan yang bersifat hiperpatia. radiks colmna 5-7 dapat mengalami hal demikian. medulla spinalis dapat terjepit oleh penyempitan kanalis vertebralis.setelah shock spinal pulih kembali. akan terdapat hiperrefleksi terlihat pula pada tanda gangguan fungsi otonom. Pada kerusakan medulla spinalis yang menetap. contusio. secara makroskopis kelainannya dapat terlihat dan terjadi lesi. berupa kulit kering karena tidak berkeringat dan hipotensi ortostatik serta gangguan fungsi kandung kemih dan gangguan defekasi. hilangnya fersfirasi. Gejala yang ditimbulkan adalah berupa oedema. maka gejala defisit sensorik dan motorik yang terlihat adalah radikuler dengan terputusnya arteri radikuler terutama radiks T. Akibat hiperekstensi dislokasio.lintang memberikan gambaran berupa hilangnya fungsi motorik maupun sensorik kaudal dari tempat kerusakan disertai shock spinal. GAMBARAN KLINIK Gambaran klinik tergantung pada lokasi dan besarnya kerusakan yang terjadi. medula spinalis dapat tidak berfungsi untuk sementara (komosio medulla spinalis). gangguan fungsi rectum dan kandung kemih. jatuh terduduk.kompresi medulla spinalis terjadi karena dislokasi.akibat trauma terhadap tulang belakang. fraktur dan whislap radiks saraf spinalis dapat tertarik dan mengalami jejas/reksis. refleksi. Laserasi medulla spinalis merupakan lesi berat akibat trauma tulang belakang secara langsung karena tertutup atau peluru yang dapat mematahkan /menggeserkan ruas tulang belakang (fraktur dan dislokasi). kista dan abses didalam kanalis vertebralis.gejala yang didapat sama dengan sindroma kompresi medulla spinalis akibat tumor.

Kerusakan tulang belakang setinggi vertebra lumbal 1&2 mengakibatkan anaestesia perianal.untuk maksud tersebut dilakukan immobilisasi ditempat kejadian dengan memanfaatkan alas yang keras.gangguan pada ekstremitas atas lebih ringan daripada ekstremitas atas sedangkan daerah perianal tidak terganggu.pengangkutan penderita tidak dibenarkan tanpa menggunakan tandu atau sarana papun yang beralas keras. KULIT Perawatan posisi berganti dapat mencegah timbulnya decubitus yaitu dengan cara miring kanan kiri telentang dan telungkup.keadaan ini pada umumnnya terjadi akibat cedera didaerah servikal dan disebabkan oleh hiperekstensi mendadak sehinnga sumsum belakang terdesak dari dorsal oleh ligamentum flavum yang terlipat. kemudian terjadi gangguan keseimbangan yang mendadak sehingga beban jatuh dsan tulang belakang sekonyong-konyong dihiper ekstensi. gangguan fungsi defekasi.perawatn ditujukan pada pencegahan : * Kulit : agar tidak timbul dekubitus karena daerah yang anaestesi.cedera tersebut dapat terjadi pada orang yang memikul barang berat diatas kepala.selalu harus diperhatikan jalan nafas dan sirkulasi.gambaran klinik berupa tetraparese parsial. Cedera sumsum belakang sentral jarang ditemukan. · Anggota gerak : agar tiadak timbul kontraktur. miksi. . Perawatan penderita memegang peranan penting untuk mencegah timbulnya penyakit. impotensi serta hilangnya refleks anal dan refleks bulbokafernosa. * Traktus digestivus : menjamin kelancaran bab. * Traktus respiratorius : apabila yang terkena daerah servikal sehingga terjadi pentaplegi.pencegahan ditujukan terhadap timbulnya kontraktur sendi dengan melakukan fisioterapi.rasa raba dan posisi tidak terganggu. * Traktus urinarius : menjamin pengeluaran air kemih. ANGGOTA GERAK Karena kelainan saraf maka timbul pula posisi sendi akibat inbalance kekuatan otot.bila dicurigai cedera didaerah servikal harus diusahakan agar kep[ala tidak menunduk dan tetap ditengah dengan menggunakan bantal kecil untuk menyanngga leher pada saat pengangkutan. PERAWATAN DAN PENGOBATAN Perhatian utama pada penderita cedera tulang belakang ditujukan pada usaha mencegah terjadinya kerusakan yang lebih parah atau cedera sekunder. latihan dan pergerakan sendi serta meletakkan anggota dalam posisi netral.

agar tidak menimbulkan infeksi. karenanya maka kateterisasi perlu dikerjakan dengan baik . maka resusitasi dan kontrol resprasion diperlukan. . TRAKTUS RESPIRATORIUS Apabila lesi cukup tinggi (daerah servikal dimana terdapat pula kelumpuhan pernapasan pentaplegia). TRAKTUS DIGESTIVUS Menjamin kelancaran defekasi dapat dikerjkaka secara manual .TRAKTUS URINARIUS Untuk ini perlu apakah ganggua saraf menimbulkan gejala UMN dan LMN terhadap bulibuli.

Trauma whiplash terjadi pada tulang belakang bagian servikalis bawah maupun torakalis bawah misal. Perlu disadar bahwa kerusakan pada sumsum belakang merupakan kerusakan yang permanen karena tidak akan terjadi regenerasi dari jaringan saraf. kompressi. Kelainan sekunder pada sumsum belakang dapat doisebabkan hipoksemia dana iskemia.iskamia disebabkan hipotensi. kompressi. kerusakan melintang. kominutif.bahkan dapat menusuk kekanalis vertebralis serta arteri dan vena-vena yang mengalirkan darah kemedula spinalis dapat ikut terputus . hiperekstensi. atau kompressi.cedera terjadi akibat hiperfleksi. atau perdarahan. sedangkan kerusakan pada sumsum tulanmg belakang dapat beruypa memar. Efek trauma yang tidak langsung bersangkutan tetapi dapat menimbulkan lesi pada medulla spinalis disebut “whiplash”/trauma indirek. atau oedema. pada masa kini penyebabnya lebih beraneka ragam seperti lkecelakaan lalu lintas. atau rotasi tulang belakang. Pada masa lalu kematian penderita dengan cedera sumsum tulang belakang terutama disebabkan oleh terjadinya penyulit berupa infeksi saluran kemih gagalginjal. Fraktur dapat berupa patah tulang sederhana. memar. tetapi lesi traumatic pada medulla spinalis tidak selalu terjadi karena fraktur dan dislokasi. oedema. II. Pada fase awal setelah trauma tidak dapat dipastikan apakah gangguan fungsi disebabkan oleh kerusakan sebenarnya dari jaringan saraf atau disebabkan oleh tekanan. pada waktu duduk dikendaraan yang sedang cepat berjalan kemudian . PENYEBAB DAN BENTUK Cedera sumsum tulang belakang terjadi akibat patah tulang belakang dan terbanyak mengenai daerah servikal dan lumbal. contusio.I. dan dislokasi. III. Whiplash adalah gerakan dorsapleksi dan anterofleksi berlebihan dari tulang belakang secara cepat dan mendadak. laserasi dengan atau tanpa gangguan peredaran darah.kalau dimasa lalu cedera tersebut lebih banyak disebabkan oleh jatuh dari ketionggian seperti pohon kelapa .didaerah torakal tidak banyak terjadi karena terlindung dengan struktur toraks. Definisi Trauma medulla spinalis dapat terjadi bersamaan dengan trauma pada tulang belakang yaitu terjadinya fraktur pada tuylang belakang pada tulang belakang .jatuh dari tempat ketinggian dan kecelakaan olah raga. PATOFISIOLOGI Tulang belakang yang mengalami gangguan trauma dapat menyebabkan kerusakan pada medulla spinalis.pneumoni/decubitus. Cedera sumsum tulang belakang merupakan kelainan yang pada masa kini yang banyak memberikan tantangan karena perubahan dan pola trauma serta kemajuan dibidang penatalaksanaannya.ligamentum longitudainalis posterior dan duramater bisa robek.

12sampai L. dan gejala yang terjadi adalah nyeri radikuler spontan yang bersifat hiperpatia. maka gejala defisit sensorik dan motorik yang terlihat adalah radikuler dengan terputusnya arteri radikuler terutama radiks T. Suatu segmen medulla spinalis dapat tertekan oleh hematoma ekstra meduler traumatic dan dapat juga tertekan oleh kepingan tulang yang patah yang terselip diantara duramater dan kolumna vertebralis. fraktur dan whislap radiks saraf spinalis dapat tertarik dan mengalami jejas/reksis.trauma ini bersifat “whiplash “ yaitu jatuh dari jarak tinggi dengan sifat badan berdiri. terdampar eksplosi atau fraktur dislokasio.pada trauma whislap.kompresi medulla spinalis terjadi karena dislokasi. kista dan abses didalam kanalis vertebralis. hemitransversa.jika radiks terputus akibat trauma tulang belakang. medula spinalis dapat tidak berfungsi untuk sementara (komosio medulla spinalis). Laserasi medulla spinalis merupakan lesi berat akibat trauma tulang belakang secara langsung karena tertutup atau peluru yang dapat mematahkan /menggeserkan ruas tulang belakang (fraktur dan dislokasi).hematomielia adalah perdarahan dlam medulla spinalis yang berbentuk lonjong dan bertempat disubstansia grisea. Kerusakan yang dialami medulla spinalis dapat bersifat sementara atau menetap.akibat trauma terhadap tulang belakang. radiks colmna 5-7 dapat mengalami hal demikian. hiperfleksi.2). secara makroskopis kelainannya dapat terlihat dan terjadi lesi.lesi transversa medulla spinalis tergantung pada segmen yang terkena (segmen transversa. contusio. tekanan vertical (terutama pada T. Gejala yang ditimbulkan adalah berupa oedema.gejala yang didapat sama dengan sindroma kompresi medulla spinalis akibat tumor. kuadran transversa). Pada kerusakan medulla spinalis yang menetap. Akibat hiperekstensi dislokasio. gambaran tersbut disebut hematorasis atau neuralgia radikularis traumatik yang reversible. jatuh terduduk. rotasi. laserasio dan pembengkakan daerah tertentu di medulla spinalis.9 yang akan menimbulkan defisit sensorik motorik pada dermatoma dan miotoma yang bersangkutan dan sindroma sistema aaanastomosis anterial anterior spinal. Atau pada waktu terjun dari jarak tinggi menyelam dan masuk air yang dapat mengakibatkan paraplegia.berhenti secara mendadak. perdarahan peri vaskuler dan infark disekitar pembuluh darah. .8 atau T. medulla spinalis dapat terjepit oleh penyempitan kanalis vertebralis. Trauma tidak langsung dari tulang belakang berupa hiperekstensi. tetapi dapat sembuh kembali dalam beberapa hari.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful