P. 1
Laporan Prakerin SMK Farmasi

Laporan Prakerin SMK Farmasi

|Views: 7,066|Likes:

More info:

Published by: Sonna Cahyadi Nugraha on Sep 20, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

04/13/2015

Sections

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Di zaman Globalisasi ini bangsa Indonesia masih kurang
menyadari dengan masalah kesehatan.
Pembangunan kesehatan di Indonesia bertujuan agar setiap
penduduk dapat meningkatkan derajat kesehatan yang optimal. Derajat
kesehatan yang tinggi sangat besar artinya dalam mengembangkan sumber
daya manusia sebagai modal bagi terlaksananya pembangunan nasional,
Oleh karena itu pembangunan kesehatan harus di tingkatkan dengan
jangkauan pemerataan yang semakin luas dengan mutu pelayanan yang
semakin baik.
Bangsa Indonesia memerlukan orang-orang yang kompeten di
bidang kesehatan dan kefarmasian.
Agar tercapai tujuan tersebut, maka perlu di lakukan peningkatan
upaya kesehatan masyarakat yang didukung oleh pengembangan sistem
kesehatan nasional secara terpadu.
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut di atas, maka
calon seorang asisten apoteker sebaiknya melakukan latihan kerja industri
di apotek untuk mengetahui secara langsung mengenai pengelolaan, serta
tugas dan tanggung jawabnya dalam mengelola apotek.
1
2


Untuk mengetahui perkembangan para siswa peserta prakerin di
dunia usaha / industri, diperlukan satu perangkat yang dapat memberikan
informasi tentang kualifikasi dan jenis kegiatan siswa yaitu jurnal kegiatan
siswa.

B. Maksud dan Tujuan
Maksud diadakannya prakerin ini adalah :
1) Untuk memenuhi tuntutan kurikulum pendidikan khususnya Sekolah
Menengah Kejuruan yang mengharuskan peserta didiknya mengikuti
praktek kerja di industri yang terkait
2) Untuk memenuhi salah satu syarat mengikuti Ujian Kompetensi dan
Ujian Nasional
Tujuan diadakannya Prakerin diantaranya ialah :
1) Mengetahui pengelolaan perbekalan farmasi di Apotek
2) Untuk mengetahui sistem pelayana obat di Apotek
3) Untuk mengetahui ketepatan pemakaian obat dan kerasionalan serta
kedisiplinan dalam bekerja
4) Untuk memperoleh pengalaman kerja
5) Untuk menerapkan teori yang didapat di sekolah, khususnya di bidang
kefarmasian
6) Untuk memenuhi tugas akademik


3


C. Waktu Dan Tempat Prakerin
Pelaksanaan Prakerin dilaksanakan selama kurang lebih dua bulan,
terhitung sejak tanggak 5 Juli s/d 27 Agustus 2010, di Apotek Citra Caraka
Emas yang bertempat di Jl.Sutisna Senjaya No.97 Tasikmalaya.
Kegiatannya di bagi menjadi dua shift, Yaitu :
1. Sip pagi di laksanakan dari pukul 08.00 s/d 14.00
2. Sip malam dilaksanakan dari pukul 14.00 s/d 20.00
















4


BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Pengertian Apotek
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan No. 1027/Menkes/SK/IX/2004
yang dimaksud dengan Apotek adalah suatu tempat tertentu, tempat dilakukan
pekerjaan kefarmasian dan penyaluran sediaan kefarmasian dan penyaluran
sediaan farmasi, perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat.

B. Tugas dan Fungsi Apotek
Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 1980, tugas dan
fungsi apotek adalah :
1. Tempat pengabdian profesi seorang apoteker dan asisten apoteker yang
telah mengucapkan sumpah jabatan.
2. Sarana farmasi yang melakukan peracikan, pengubahan bentuk,
pencampuran dan penyerahan obat atau bahan obat.
3. Sarana penyalur perbekalan farmasi yang harus menyebarkan obat yang
diperlukan masyarakat secara luas dan merata.

C. Pengelolaan Apotek
Pengelolaan apotek meliputi :
1. Pembuatan, pengolahan, peracikan, pengubahan bentuk, pencampuran,
penyimpanan, dan penyerahan obat atau bahan obat.
4

5


2. Pengadaan, penyimpanan, penyaluran dan perbekalan farmasi lainnya.
3. Pelayanan informasi mengenai perbekalan farmasi. Pelayanan informasi
yang dimaksud meliputi :
a. Pelayanan informasi tentang obat dan perbekalan farmasi lainnya yang
diberikan baik kepada dokter dan tenaga kesehatan lainnya maupun
kepada masyarakat.
b. Pelayanan informasi mengenai khasiat, keamanan, bahaya dan mutu
obat serta perbekalan farmasi lainnya.

D. Pelayanan Apotek
1. Apotek wajib dibuka untuk melayani masyarakat dari pukul 08.00 – 22.00.
2. Apotek wajib melayani resep dokter, dokter gigi dan dokter hewan.
Pelayanan resep sepenuhnya atas tanggung jawab Apoteker pengelola
apotek.
3. Apoteker wajib melayani resep sesuai dengan tanggung jawab dan
keahlian profesinya yang dilandasi pada kepentingan masyarakat.
Apoteker tidak diizinkan untuk mengganti obat generik yang ditulis dalam
resep dengan obat paten. Dalam hal pasien tidak mampu menebus obat
yang tertulis didalam resep, apoteker wajib berkonsultasi dengan dokter
untuk pemilihan obat yang lebih tepat.
4. Apoteker wajib memberikan informasi :
a. Yang berkaitan dengan penggunaan obat yang diserahkan kepada
pasien.
6


b. Penggunaan obat secara tepat, aman, rasional atas permintaan
masyarakat.
5. Apabila apoteker menganggap bahwa dalam resep ada kekeliruan atau
penulisan resep yang tidak tepat, apoteker harus memberitahukan kepada
dokter penulis resep. Bila dokter penulis resep tetap pada pendiriannya,
Dokter wajib membubuhkan tanda tangan yang lazim di atas resep atau
dinyatakan tertulis.
6. Salinan resep harus ditandatangani oleh apoteker.
7. Resep harus dirahasiakan dan disimpan di apotek dengan baik dalam
jangka waktu 3 tahun. Resep atau salinan resep hanya boleh diperlihatkan
kepada dokter penulis resep atau yang merawat penderita, penderita yang
bersangkutan, petugas kesehatan atau petugas lain yang berwenang
menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

E. Perizinan Apotek
Izin apotek diberikan oleh Menteri Kesehatan, yang kewenangannya
dilimpahkan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
Kepala Dinas Kabupaten/Kota wajib melaporkan pelaksanaan
pemberian izin, pembekuan izin, pencairan izin dan pencabutan izin apotek
sekali setahun kepada Menteri Kesehatan dengan tembusan kepada Kepala
Dinas Kesehatan Propinsi.


7


F. Pencabutan Izin Apotek
Izin apotek dapat dicabut dalam hal :
1. Apoteker sudah tidak lagi memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan
seperti ijazah yang tidak terdaftar pada Departemen Kesehatan, melanggar
sumpah/janji sebagai apoteker, tidak lagi memenuhi persyaratan fisik dan
mental dalam menjalankan tugasnya, bekerja sebagai penanggung jawab
pada apotek atau industri farmasi lainnya, atau.
2. Apoteker tidak menyediakan, menyimpan dan menyerahkan perbekalan
farmasi yang bermutu dan terjamin keabsahannya, atau.
3. Apoteker dan asisten apoteker tidak menjalankan tugasnya dengan baik
seperti dalam hal melayani resep, memberikan informasi yang berkaitan
dengan penggunaan obat secara tepat, aman dan rasional, atau.
4. Bila apoteker berhalangan melakukan tugasnya lebih dari dua tahun
berturut-turut, atau.
5. Bila apoteker melanggar perundang-undangan narkotika, obat keras dan
ketentuan lainnya, atau.
6. SIK APA dicabut, atau.
7. PSA terbukti terlibat dalam pelanggaran perundang-undangan di bidang
obat, atau.
8. Apotek tidak lagi memenuhi persyaratan yang ditetapkan.

8


G. Istilah-istilah yang ada dalam Apotek
Ketentuan-ketentuan umum yang berlaku tentang perapotekan sesuai
Keputusan Menteri Kesehatan No. 1332/Menkes/SK/X/2002 adalah sebagai
berikut :
1. Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus dan telah mengucapkan
sumpah jabatan apoteker, mereka yang berdasarkan peraturan perundang-
undangan yang berlaku dan berhak melakukan pekerjaan kefarmasian di
Indonesia sebagai apoteker.
Tugas dan kewajiban apoteker :
a. Bertanggungjawab atas proses pembuatan obat, meskipun obat dibuat
oleh asisten apoteker.
b. Kehadirannya di tempat bertugas diatur oleh Undang-Undang No. 23
Tahun 1992 tentang Kesehatan.
c. Wajib berada di tempat selama jam apotek buka.
d. Wajib menerangkan ke konsumen tentang kandungan obat yang
ditebus. Penjelasan ini tidak dapat diwakilkan kepada asisten atau
petugas apotek.
e. Membahas dan mendiskusikan resep obat langsung kepada dokter,
bukan asisten atau petugas apotek.
f. Wajib menjaga kerahasiaan resep pasien.
2. Surat Izin Apotek (SIA) adalah surat izin yang diberikan oleh menteri
kepada apoteker atau apoteker bekerja sama dengan Pemilik Sarana
Apotek (PSA) untuk menyelenggarakan apotek di suatu tempat tertentu.
9


3. Apoteker Pengelola Apotek (APA) adalah apoteker yang telah diberi surat
izin apotek.
Tugas, kewajiban dan wewenang :
a. Memimpin semua kegiatan apotek, antara lain mengelola kegiatan
kefarmasian serta membina karyawan yang menjadi bawahan apotek.
b. Secara aktif berusaha sesuai dengan bidang tugasnya untuk
meningkatkan dan mengembangkan hasil usaha apotek.
c. Mengatur dan mengawasi penyimpanan serta kelengkapan terutama di
ruang peracikan.
d. Membina serta memberi petunjuk teknis farmasi kepada bawahannya
terutama dalam memberikan informasi kepada pasien.
4. Apoteker pendamping adalah apoteker yang bekerja di apotek di samping
apoteker pengelola apotek dan atau menggantikannya pada jam-jam
tertentu pada hari buka apotek.
5. Apoteker pengganti adalah apoteker yang menggantikan apoteker
pengelola apotek selama apoteker pengelola apotek tersebut tidak berada
di tempat lebih dari 3 bulan secara terus menerus, telah memiliki Surat Izin
Kerja dan tidak bertindak sebagai Apoteker Pengelola Apotek lain.
6. Asisten Apoteker adalah mereka yang berdasarkan peraturan perundang-
undangan yang berlaku berhak melakukan pekerjaan kefarmasian sebagai
asisten apoteker.
Tugas dan kewajiban asisten apoteker :
a. Mengerjakan sesuai dengan profesinya sebagai asisten apoteker, yaitu :
10


1) Dalam pelayanan obat bebas dan resep (mulai dari menerima
pasien sampai menyerahkan obat yang diperlukan).
2) Mencatat dan membuat laporan keluar masuknya obat narkotika,
obat psikotropika, obat KB, obat bebas, obat bebas terbatas dan
obat keras.
3) Menyusun resep-resep menurut nomor urut dan tanggal lalu
disimpan.
4) Memelihara kebersihan ruangan peracikan, lemari obat.
b. Dalam hal darurat, dapat menggantikan pekerjaan sebagai kasir dalam
pelayanan obat bebas maupun juru resep.
Tanggung jawab asisten apoteker :
Asisten apoteker bertanggung jawab kepada apoteker pengelola apotek
sesuai dengan tugas yang diberikan kepadanya, artinya bertugas atas
kebenaran segala tugas yang diselesaikannya, tidak boleh ada
kesalahan, kehilangan dan kerusakan.
Wewenang asisten apoteker :
Asisten apoteker berwenang melaksanakan pelayanan kefarmasian
sesuai dengan petunjuk atau instruksi dari apoteker pengelola apotek,
dan semua peraturan perundang-undangan yang berlaku.
7. Resep adalah permintaan tertulis dari dokter, dokter gigi dan dokter hewan
kepada Apoteker Pengelola Apotek (APA) untuk menyediakan dan
menyerahkan obat bagi penderita sesuai dengan perundang-undangan yang
berlaku.
11


8. Sediaan farmasi adalah obat, bahan obat, obat asli Indonesia, alat
kesehatan dan kosmetika.
9. Alat kesehatan adalah instrumen aparatus, mesin, implan yang tidak
mengandung obat yang digunakan untuk mencegah, mengdiagnosis,
menyembuhkan dan meringankan penyakit, merawat orang sakit serta
pemulihan kesehatan manusia, dan atau membentuk struktur dan
memperbaiki fungsi tubuh.
10. Perbekalan kesehatan adalah semua bahan dan peralatan yang diperlukan
untuk menyelenggarakan semua peralatan yang dipergunakan untuk
melaksanakan pengelolaan apotek.

H. Pengelolaan Sediaan Farmasi dan Perbekalan Kesehatan
Pengelolaan obat meliputi :
1. Perencanaan
Perencanaan adalah suatu proses kegiatan seleksi obat dan
menunjukkan jumlah obat dalam rangka pengadaan.
a. Tujuan
Untuk mendapatkan jenis dan jumlah obat yang tepat sesuai
kebutuhan, menghindari terjadinya kekosongan obat, meningkatkan
penggunaan obat secara rasional, meningkatkan efisiensi penggunaan
obat.
b. Kegiatan perencanaan
Kegiatan pokok dalam perencanaan pengadaan obat adalah :
12


1) Seleksi atau perkiraan kebutuhan meliputi memilih obat yang akan
dibeli dan menentukan jumlah obat yang akan dibeli.
2) Penyelesaian jumlah kebutuhan obat dan alokasi dana.
Pencatatan perencanaan obat yang akan dipesan dilakukan dalam
suatu buku yang dinamakan defecta.
a) Buku defecta tentang daftar obat atau alat kesehatan yang akan
dipesan atau dibeli dari PBF dengan memperhitungkan sisa
stock.
b) Stock penggunaan adalah jumlah obat atau alat kesehatan yang
diperlukan untuk menghindari kekosongan obat.
c) Lead time adalah waktu yang diperlukan sejak rencana
kebutuhan diajukan sampai dengan obat diterima.
d) Kartu stock adalah kartu yang digunakan untuk mencatat
mutasi obat yang memuat penerimaan obat, pengeluaran obat,
obat rusak atau kadaluarsa. Setiap kartu stock hanya memuat
satu tensi catatan mutasi obat untuk satu jenis obat. Kartu stock
merupakan dokumen yang harus disimpan dan dipelihara
dengan baik.
2. Pengadaan
Pengadaan adalah suatu proses untuk mengadakan obat yang
dibutuhkan di unit pelayanan kesehatan. Dengan tujuan supaya tersedianya
obat dengan jenis dan jumlah yang tepat dengan mutu yang tinggi dan
dapat diperoleh pada waktu yang tepat.
13


Pengadaan barang pada umumnya dapat dilakukan melalui
pembelian dan konsinyasi. Konsinyasi adalah sistem penitipan barang dari
pemilik barang tersebut kepada apotek, apabila barang tersebut laku maka
apotek mendapatkan komisi, tetapi apabila barang tidak laku akan
dikembalikan.
3. Penerimaan
Penerimaan adalah suatu rangkaian kegiatan dalam menerima obat
baik dari pemasok maupun dari gudang unit pelayanan kesehatan dalam
rangka memenuhi pesanan atau permintaan obat.
4. Konseling
Suatu proses yang sistematis untuk mengidentifikasi dan
menyelesaikan masalah pasien yang berkaitan dengan pengambilan dan
penggunaan obat.
Tujuannya yaitu agar pasien patuh dalam menggunakan obat.
Masalah yang dibicarakan :
a. Nama obat.
b. Tujuan pengobatan.
c. Jadwal pengobatan.
d. Cara penggunaan obat.
e. Lamanya penggunaan obat.
f. Efek samping obat.
g. Tanda-tanda toksisitas.
h. Cara penyimpanan obat.
14


i. Penggunaan obat-obat lain.
Apoteker harus memberikan konseling mengenai sediaan farmasi,
pengobatan dan perbekalan kesehatan lainnya, sehingga dapat
memperbaiki kualitas hidup pasien atau yang bersangkutan terhindar dari
bahaya penggunaan obat yang salah.



15


BAB III
PROFIL APOTEK “ CITRA CARAKA EMAS ”

A. Sejarah Apotek
Apotek Citra Caraka Emas adalah Apotek yang di bentuk oleh suatu
koperasi, yaitu koperasi pegawai Telkom (KOPEGTEL) Citra Caraka Emas, yang
dimana koperasi ini berdiri di bawah naungan PT Telkom.
Pada saat ini, Apotek Citra Caraka Emas sudah tidak bekerja sama lagi
dengan PT.Limas Citra Lestari Bandung. Apotek ini di dirikan pada awal tahun
2000, tepatnya pada tanggal 22 Januari 2000. Apotek Citra Caraka Emas
bertempat di Jl.Sutisna Senjaya No.97 Tasikmalaya. Tujuan didirikannya Apotek
Citra Caraka Emas adalah untuk melayani pelayanan kesehatan anggota koperasi
Citra Caraka Emas, pegawai, keluarga pegawai, pensiunan dan keluarga
pensiunan.
Dokter-dokter yang bekerja sama dengan Apotek Citra Caraka Emas
diantaranya :
1) dr. H. Kamil Roesman Bachtiar, M.si. spesialis dokter umum.
2) dr. H. Oki Zulkifli D. spesialis dokter umum
Pada saat ini Apoteker yang bertanggung jawab atas Apotek Citra Caraka
Emas adalah Yanti Puji Utami, Ssi,Apt.




15

16



B. Stuktur Organisasi
Struktur Organisasi di Apotek Citra Caraka Emas adalah sebagai
berikut:





Gambar 3.1 Struktur Organisasi
Dilihat dari struktur Organisasi di atas maka, seorang kepala Apotek
berwenang memimpin seluruh kegiatan Apotek, mengatur melaksanakan dan
mengawasi administrasi Apotek agar Apotek yang di pimpinya dapat memberikan
hasil yang optimal sesuai dengan rencana kerja. Selain itu Kepala Apotek
bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup Apotek yang dipimpinnya.
Untuk membantu kelancaran dalam pengelolaan Apotek, keuangan dan
pembelian yang berfungsi mencatat mereka beberapa catatan penting diantaranya
fakturis.
Kefarmasian atau Juru Racik berfungsi dalam mengerjakan hal-hal yang
berhubungan langsung secara tekhnis dan meracik ataupun dalam penyediaan
obat-obatan untuk pasien.


Manager
Apotek
Staf
Administrasi
Kefarmasian/
juru racik
Kepala
Apotek
17


C. Manajemen Farmasi
1. Perencanaan
Perencanaan adalah suatu proses kegiatan seleksi obat dan
menunjukkan jumlah obat dalam rangka pengadaan.
Perencanaan obat yang akan dipesan di Apotek Citra Caraka Emas
berdasarkan kartu stock, permintaan dokter, dan lain-lain seperti
banyaknya permintaan konsumen akan suatu obat tertentu.
Perencanaan obat yang akan dipesan dilakukan dalam suatu buku yang
dinamakan buku defecta. Buku defecta adalah buku yang memuat tentang
daftar obat atau alat kesehatan yang akan dipesan dari PBF, dengan
memperhitung`
kan sisa stock untuk menghindari terjadinya kekosongan obat.
2. Pengadaan
Pengadaan adalah suatu proses untuk mengadakan obat yang
dibutuhkan di unit pelayanan kesehatan. Dengan tujuan supaya tersedianya
obat dengan jenis dan jumlah yang tepat dengan mutu yang tinggi dan
dapat diperoleh pada waktu yang tepat.
Pengadaan barang di Apotek Citra Caraka Emas dilakukan oleh bagian
pembelian berdasarkan buku defecta, dimana pengadaannya melalui:
a. Konsinyasi adalah titipan barang ini dilakukan oleh perusahaan
pemilik barang kepada Apotek.
b. Pembelian yaitu dilakukan secara tunai ataupun kredit kepada PBF
melalui surat pemesanan. Kadang-kadang pembelian juga dilakukan
18


secara mendesak kepada Apotek lain karena kehabisan stock atau tidak
adanya jenis obat yang diminta.
Pengadaan dan pemesanan barang biasanya dilakukan dengan
membuat surat pesanan ( SP ) barang dari bagian pembelian kepada
pemasok barang atau Pedagang Besar Farmasi ( PBF ). Untuk mencegah
penumpukan barang dan terjadinya kekosongan obat dilakukan system
stok agar pengadaan obat lebih baik dan modalnya dapat digunakan
dengan efisien.
Pengadaan dan pemesanan barang dilakukan dengan membuat surat
pesanan barang dari bagian pembelian kepada distributor tertentu yang
dituju. SP dibuat 2 rangkap yaitu satu slip untuk diberikan kepada
pemasok / PBF dan satu slip lagi disimpan untuk arsip di Apotek.
Biasanya bagian pembelian memilih PBF dengan berbagai pertimbangan
seperti kesesuaian harga termasuk adanya potongan harga atau bonus,
jangka waktu pengiriman dan legalitas distributor ( harus berbadan resmi ).
Untuk SP obat bebas dan obat bebas terbatas boleh dibuat oleh Asisten
Apoteker atau karyawan yang bekerja di Apotek tersebut. Dan di dalam SP
tersebut boleh dilakukan pemesanan barang hingga beberapa jenis barang.
Sedangkan untuk SP psikotropika hanya boleh dibuat dan ditanda
tangani oleh Apoteker yang bertanggung jawab di Apotek tersebut. Dan di
dalam SP tersebut hanya boleh dilakukan pemesanan maksimal tiga jenis
barang tidak boleh lebih.
19


Pembelian barang dalam jumlah besar dan penagihan hutang ke PBF
biasanya dilakukan dua kali dalam seminggu yaitu pada hari selasa dan
kamis antara pukul 09.00 – 14.00 WIB. Selain jam – jam tersebut tidak
akan dilayani.
Pembayaran atas pembelian barang melalui PBF dilakukan sebulan
setelah barang diterima atau istilahnya sudah jatuh tempo. Apabila
pembelian dalam jumlah kecil biasanya dapat dilakukan melalui telepon,
dan SP diberikan menyusul pada saat barang dikirim ke Apotek.

3. Penerimaan Barang
Penerimaan adalah suatu rangkaian kegiatan dalam menerima obat
baik dari pemasok maupun dari gudang unit pelayanan kesehatan dalam
rangka memenuhi pesanan atau permintaan obat.
Petugas Apotek akan menerima barang dari PBF beserta copy
fakturnya kemudian dilakukan pemeriksaan fisik, jenis, jumlah, kulitas
dan kuantitas barangnya dihadapan petugas pengantar barang kemudian
dicocokkan dengan SP dan fakturnya. Apabila sudah cocok kemudian
faktur ditanda tangani dan distampel untuk menyatakan kesesuaian barang
yang diterima.
Faktur biasanya dibuat sesuai dengan kehendak perusahaan, biasanya
pihak apotek meminta 2 slip faktur ( copy faktur ) untuk arsip dan untuk
memudahkan keperluan administrasi. Setelah barang diperiksa, maka
petugas pembelian akan mencatat barang-barang yang diterima tersebut ke
20


dalam buku penerimaan barang yang di dalamnya mencantumkan nomor
urut faktur, nomor faktur, nama PBF, nama barang, banyaknya barang,
expire date, nomor batch, harga satuan, discount, jumlah harga, PPN dan
harga yang harus dibayar. Selain itu kartu stok obat juga diisi sesuai
dengan jumlah barang yang diterima.
Bila terjadi ketidaksesuaian barang yang diterima dengan surat
pesanan atau ada kerusakan fisik barang maka petugas pembelian akan
membuat nota pengembalian barang, bila sudah ada pengembalian barang
maka barang dari pemasok harus disertai dengan faktur baru
21



Gamabar 3.2 Mekanisme Penerimaan Barang di Apotek Citra Caraka Emas
CEK BARANG
HABIS KURANG
TULIS DI BUKU DEFEKTA
BUAT SURAT PESANAN
TENTUKAN JUMLAH & JENIS
BARANG DIPESAN
BARANG DITERIMA BESERTA FAKTUR
BARANG DATANG DARI PBF
CEK BARANG YANG DATANG
FISIK
DATA KOMPUTER
KARTU STOCK
YA SESUAI? TIDAK
TULIS DATA FAKTUR
DI BUKU PEMBELIAN
ACC FAKTUR
TULIS BARANG DI
KARTU STOCK
SIMPAN BARANG
PENGGANTIAN BARANG OLEH PBF
BARANG DIKEMBALIKAN / DITUKAR
BUAT SURAT PEMBELIAN
BARANG/RETUR PEMBELIAN
BARANG DITERIMA BESERTA FAKTUR
CEK BARANG
22


4. Penyimpanan
Penyimpanan adalah suatu kegiatan dengan cara menempatkan obat-
obatan yang diterima pada tempat yang dinilai aman.
Kegiatan penyimpanan yang dilakukan di Apotek Citra Caraka Emas
di kelompokan menjadi beberapa bagian dengan menggunakan sistem
Alphabetis, FIFO, dan Bentuk sediaan. Dimana penyimpanan obat
disimpan berdasarkan jenisnya, yaitu :
1) Obat Bebas dan Bebas Terbatas
Obat bebas dan bebas terbatas di simpan di etalase dan rak-rak yang
menghadap keluar. Dengan etalase yang berbeda menurut bentuk
sediaannya.
2) Obat Keras
Penyimpanan obat-obat keras berada di etalase yang berada di dalam
ruangan apotek yang menempel pada dinding. Penyimpanan obat keras
ini di kelompokan menjadi obat paten dan obat generik. Di mana obat
keras kelompok generik di simpan pada etalase bagian atas, sedangkan
obat keras kelompok paten di simpan pada etalase bagian bawah
3) Psikotropika
Penyimpanan obat golonagn Psikotropika dipisahkan dari obat lainnya.
Yaitu di simpan di dalam lemari terkunci yang disusun berdasarkan
sistem alphabetis dan di lengkapi dengan kartu stok masing-masing.
23


5. Pelayanan Apotek Citra Caraka Emas
Pelayanan Apotek Citra Caraka Emas adalah menyalurkan dan
memenuhi kabutuhan penderita akan perbekalan farmasi. Pelayanan
perbekalan farmasi di apotek Citra Caraka Emas meliputi pelayanan Obat
bebas, pelayanan resep tunai, pelayanan resep kredit.
1) Pelayanan Obat dengan Resep Dokter Secara Tunai
Pelayanan ini merupakan penjualan yang di lakukan berdasarkan
perintah dari dokter. Umumnya untuk obat-obat keras dan
psikotropika. Penjualan ini di lakukan secara tunai, yaitu pasien
langsung membyar obat-obat yang di terimanya dengan uang tunai.
a. Dengan resep secara tunai












Gambar 3.3 Alur Pelayanan Obat dengan Resep secara tunai
Pasien membawa resep
Pengecekan resep
Hitung harga obat
Persetujuan harga obat
dan pasien membayar
Kerjakan resep + etiket
Merekap resep
Menyerahkan obat + memberikan
informasi penggunaan obat ke pasien
Catat pengeluaran obat di kartu stock
Mengkopi resep jika diperlukan
pasien
24


Keterangan : Pertama-tama pasien datang membawa resep, kemudian resep
dicek terlebih dahulu sebelum dikerjakan. Apakah resep tersebut sudah lengkap
atau belum. Setelah itu, bila resep sudah dipastikan lengkap. Kemudian resep
dihargai lalu. Dan apabila pasien telah setuju dengan harga resep, kemudian
pasien membayar ke bagian pembayaran. Setelah itu resep dikerjakan dan apabila
ada obat yang belum bias sepenuhnya diberikan kepasien. Maka dibuat kopi resep
dari apotek, agar pasien dapat menebus sisa obatnya. Setelah itu Obat diserahkan
kepasien beserta pemberian informasi obat mengenai kegunaan obat, cara
pemakaiannya dan efek samping obat. Setelah itu catat pengeluaran obat di kartu
stok obat.
2) Pelayanan Obat dengan Resep Dokter Secara Kredit
Pelayanan obat dengan resep dokter secara kredit hanya di berikan
kepada pasien yang merupakan karyawan atau anggota dari instasi
yang membuat kesepakatan dengan Apotek Citra Caraka Emas.
Alur pelayanan yang dilakukan hampir sama dngan pelayanan obat
dengan resp dokter scara tunai, perbedaannya adalah pada pelayanan ini
tidak tedapat perincian harga obat dan penyerahan uang tunai dari pasien
kepada Apotek Citra Caraka Emas Oleh karena itu, pencatatan terhadap
pelayanan obat dengan resep dokter secara kredit ini di pisahkan dengan
pelayanan obat dengan resep dokter secara tunai. Kemudian resep dan
struk penjualan secara kredit tersebut diserakan kepada perusahaan yang
bersangkutan untk dilakukan penagihan.

25


b. Dengan resep secara kredit








Gambar 3.4 Alur Pelayanan Obat dengan Resep Secara Kredit

Keterangan : Pasien datang membawa resep, kemudian pengecekan resep.
Apakah resep tersebut sudah lengkap atau belum. Apabila resep telah dipastikan
lengkap, maka resep langsung dikerjakan. Bila ada obat yang belum bias ditebus
sepenuhnya maka dibuat kopi resep dari apotek. Agar pasien dapat menebus sisa
obatnya. Setelah obat selesai dikerjakan, kemudian diserahkan ke pasien disertai
dengan informasi obat. Meliputi kegunaan obat, Cara pemakaian obat dan efek
samping obat. Setelah obat diserahkan, kemudian catat pengeluaran obat di kartu
stok. Dan resep diarsipkan di komputer untuk dilakukan penagihan pada
Perusahaan yang bersangkutan.
Pasien membawa resep
Pengecekan resep
Kerjakan resep+obat
Merekap resep Mengkopi resep jika diperlukan
pasien
Menyerahkan obat+ memberikan
informasi penggunaan obat
Catat pengeluaran obat di kartu
stock
26


D. Kegiatan yang dilakukan di tempat Prakerin
Selama penulis melakukan Prakerin di Apotek Citra Caraka Emas,
banyak kegiatan yang penulis lakukan. Adapun Rincian Kegiatan yang
penulis lakukan dapat dilihat pada table di bawah ini :
NO
JENIS KEGIATAN
1 Perkenalan dengan karyawan Apotek Citra Caraka Emas
2 Belajar Membaca Resep dari Dokter
3 Memberi harga pada obat bebas,dan obat bebas terbatas
4 Menghargai obat pada Resep Telkom ( Menghargai Resep)
5 Menulis etiket
6 Menempelkan Etiket pada sediaan obat
7 Menyiapkan obat-obatan yang akan di racik
8 Meracik obat
9 Menyerahkan obat ke pasien
10 Memberikan informasi tentang penggunaan obat secara singkat dan jelas
11 Menerima Barang dari PBF
12 Mengecek barang yang dating dari PBF
13 Menandatangani Faktur
14 Menstok obat-obatan
15 Melayani pembelian obat bebas dan obat bebas terbatas
16 Mencatat obat-obat yang hamper habis di buku defecta
17 Mengelompokan Resep
18 Menyalin Faktur kedalam buku pembelian
19 Mencatat obat-obat yang sudah terjual di buku pembelian
20 Menulis copy Resep
21 Menulis Surat pesanan obat untuk ke PBF

Tabel 3.1 Kegiatan yang dilakukan di tempat PRAKERIN
27


Selain yang disebutkan di atas, masih banyak lagi kegiatan yang
penulis lakukan selama prakerin di apotek Citra Caraka Emas.

E. Hasil Prakerin
Selama penulis melakukan prakerin, banyak sekali yang penulis
peroleh dari kegiatan ini. Adapun hasil yang di peroleh ialah :
1. Pengalaman kerja sebelum memasuki dunia kerja
2. Penulis dapat mengetahui Kegiatan kefarmasian yang ada di Apotek Citra
Caraka Emas.
3. Dapat menbandingkan antara teori yang di dapatkan dari sekolah dengan
praktek di dunia karja
4. Memahami hal-hal teknis di bidang kafarmasian, ketenagaan dan
Informasi kesehatan di suatu Perusahaan / Insatansi / Lembaga.
5. Mendapatkan ilmu-ilmu lain yang tidak di dapatkan penulis di sekolah


i. E
ii.
iii.
iv.
v.
vi.

28


BAB IV
PENUTUP

A. Simpulan
Berdasarkan hasil Praktek Kerja Lapangan (PKL) dan mulai tanggal 29
Juni 2010 sampai tanggal 29 Agustus 2010 penulis menerima banyak
pelajaran yang berharga diantaranya :
1. Mendapat pengalaman kerja langsung di dunia kerja.
2. Dapat membandingkan dan menerapkan pengetahuan pada dunia kerja
yang akan dihadapi secara jelas dan konsisten dengan komitmen yang
tinggi.
3. Lebih cepat memahami konsep-konsep non akademis dan non teknis di
dunia kerja.
4. Dapat memperluas ilmu dan menambah pengalaman dengan langsung
praktek di bidang farmasi.
5. Apotek Citra Caraka Emas telah melakukan penyelenggaraan kegiatan
kefarmasian dengan benar sesuai aturan yang berlaku.

B. Saran
Hasil keseluruhan pengalaman pelaksanaan PKL yang telah
dilaksanakan penulis mengajukan saran yang mungkin dapat bermanfaat untuk
mencapai hasil yang diterapkan diantaranya :


28

29


1. Bagi Siswa
Siswa hendaknya terbiasa disiplin dan tekun dalam teori maupun
praktek. Melakukan percobaan-percobaan dengan memperhatikan aspek
kehati-hatian dan teliti karena menyangkut keselamatan jiwa manusia.
Kemahiran dalam praktek lulusan Sekolah Kejuruan merupakan modal
utama dalam menghadapi dunia kerja. Hindari kesalahan pemberian obat
pada pengguna obat, atau salah memberikan obat dapat berakibat fatal bagi
pengguna obat.

2. Bagi Sekolah
Program Praktek Kerja Lapangan waktunya bisa diperpanjang
dengan pembagian tempat praktek untak tiap siswa dilakukan bergiliran
antara Rumah Sakit, Apotek, Industri, dan Instansi kesehatan lainnya
sehingga memungkinkan para siswa mendapat pengalaman pembelajaran
bervariasi dari setiap tempat kerja praktek. Walaupun bentuk laporan bagi
siswa dipilih salah satu tempat praktek.
Menghindari kelalaian bagi praktikan. Laporan bentuk praktek
jurnal kegiatan dilaporkan seluruhnya, sedangkan untuk laporan karya tulis
ilmiah dipilih salah satu dari tempat praktek, setelah melalui seleksi
penentuan judul Praktek Kerja Lapangan oleh Pembimbing, pada saat
setelah melakukan Praktek Kerja Lapangan.

30


DAFTAR PUSTAKA

http://www.google.com. “Apotek” 23 Agustus 2010.
Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Depkes RI : Kumpulan
Peraturan Perundang-undangan di bidang Narkotika dan Psikotropik dan
Bahan Berbahaya, Jakarta 1997.
Simandjuntak Buntu Angin et all : Kumpulan Undang-undang dan Peranan
tentang Apotek, Jakarta 1981.















31



32


RESEP YAKES
















COPIE RESEP APOTEK “ CITRA CARAKA EMAS”
33















KWITANSI APOTEK “ CITRA CARAKA EAMAS”
34



















FAKTUR SPB
35
























SURAT PESANAN PSIKOTROPIKA
36




























ETIKET PUTIH
37


















38


ETIKET BIRU
























39


TUGAS KHUSUS

1. ACCOLATE
a. Kandungan : Zafirlukas 20 mg.
b. Indikasi : Pengobatan asma kronik dewasa dan anak >12 thn
c. Kontra Indikasi : Hipersensitif, Pasien <12 thn, Kerusakan hati atau
sirosis
2. ALUPENT
a. Kandungan : Metaproterenol sulfat 2mg/ml sirup, 20mg/tab,
0,75mg/dosis obat sempot.
b. Indikasi : Asma bronkial, Bronkhitis kronis, Emfisema
c. Konta Indikasi : Tirotoksikosis, Stenosis aorta subvavular,
takiaritma dan terapi zat hambat MAO.
3. PRINASMA
a. Kandungan : Salbutamol 4mg
b. Indikasi : Kejang bronkus pada semua jenis asma bronkial,
bronkitis kronis dan emfisema.
c. Kontra Indikasi : Hipersensitif
4. GRANTUSIF
a. Kandungan : Dekstrometorfan HBr 15 mg, gliserilguaiakolat 100
mg, difenhidramin HCl 5 mg.
b. Indikasi : Batuk, pilek, Bersin-bersin, gatal tenggorokan dan
hidung karena alergi.
40


c. Kontra Indikasi : Hipersensitif.
5. PROMEDEX
a. Kandungan : Prometazin HCl 5 mg, dekstrometorfan HBr 5 mg,
tingtur ipeka 0,1 ml, gliserilguaiakolat 50 mg, Na-
sitrat 197 mg, mentol 1 mg, tiap tablet
b. Indikasi : Batuk
c. Kontra Indikasi : Hipersensitif
6. ASECRIN
a. Kandungan : Bromheksin HCl 4 mg/5 ml sirup; 8 mg.
b. Indikasi : Ekspetoran
c. Kontra Indikasi : Hipersensitif
7. DEFAN
a. Kandungan : Klorfeniramini maleat 1 mg, fenilpropanolamin
HCl 8 mg, gliserilguaiakolat 50 mg tiap 5 ml sirup
b. Indikasi : Batuk berdahak disertai dengan bersin, hidung
tersumbat, pilek dan batuk karena alergi.
c. Kontra Indikasi : Hipersensitif, hipertensi, glaukoma, diabetes,
gangguan jantung dan gondok.
8. NEONADRYL
a. Kandungan : Difenhidramin HCl 14 mg, amonium klorida 135
mg, alkohol 1% tiap 5 ml sirup
b. Indikasi : Mengurangi dan Meringankan Batukberdahak
karena alergi
41


c. Kontra Indikasi : Bayi baru lahir dan ibu menyusui, hipersensitif.
9. TUZALOS
a. Kandungan : Dekstrometorfan HBr 10 mg, fenilpropanolamina
HCl 15 mg, Klorfeniramina maleat 1 mg,
parasetamol 500 mg.
b. Indikasi : Meringankan gejala flu disertai batuk.
c. Kontra Indikasi : Penderita peka terhadap obat simpatomimetik,
tekanan darah tinggi berat dan yang mendapat
terapi obat anti depresantipe penghambat MAO.
10. VECTRINE
a. Kandungan : Endostein 150 mg; 300 mg/kapsul; 175 mg; 225
mg/ sachet granul; 175 mg/5 ml sirup kering.
b. Indikasi : Mukolitik, pengencer lendir pada gangguan saluran
nafas akut dan kronik.
c. Kontra indikasi : hiperesdensitif, penderita serosis hati dan defisiensi
enzim sistasionin sintetase, fenilketonuria,
sehubungan adanya aspartam terbatas pada granul;
penderita gagal ginjal berat.


vii.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->