Benteng Fort Rotterdam Written by Administrator Tuesday, 16 June 2009 Sejarah Singkat Benteng Fort Rotterdam merupakan salah

satu benteng di Sulawesi Selatan yang boleh dianggap megah dan menawan. Seorang wartawan New York Times, Barbara Crossette pernah menggambarkan benteng ini sebagai “the best preserved Dutch fort in Asia”. Pada awalnya benteng ini disebut Benteng Jumpandang (Ujung Pandang). Benteng ini merupakan peninggalan sejarah Kesultanan Gowa, Kesultanan ini pernah Berjaya sekitar abad ke-17 dengan ibu kota Makassar. Kesultanan ini sebenarnya memiliki 17 buah benteng yang mengitari seluruh ibu kota. Hanya saja, Benteng Fort Rotterdam merupakan benteng paling megah diantara benteng benteng lainnya dan keasliannya masih terpelihara hingga kini. Benteng ini dibangun tahun 1545 oleh Raja Gowa ke-X yang bernama Imanrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung atau Karaeng Tunipalangga Ulaweng. Pada awalnya bentuk benteng ini adalah segi empat, seperti halnya arsitektur benteng gaya Portugis. Bahan dasarnya campuran batu dan dan tanah liat yang dibakar hingga kering.

serangan ini pula yang mengakibatkan sebagian benteng hancur. Sultan Gowa ke-XIV (I Mangerangi Daeng Manrabbia. dengan gelar Sultan Alauddin) membuat dinding tembok dengan batu padas hitam yang didatangkan dari daerah Maros. Armada perang Belanda pada waktu itu dipimpin oleh Gubernur Jendral Admiral Cornelis Janszoon Speelman. Arsitektur Benteng Dinding benteng ini kokoh menjulang setinggi 5 meter dengantebal dinding sekitar 2 meter. Gubernur Jendral Speelman kemudian membangun kembali benteng yang sebagian hancur dengan model arsitektur Belanda. Bentuk benteng yang tadinya berbentuk segi empat dengan empat bastion. Jika dilihat dari udara benteng ini berbentuk segi lima seperti penyu yang hendak masuk kedalam pantai. yang merupakan nama tempat kelahiran Speelman. yaitu bangunan yang lebih kokoh dan posisinya lebih tinggi di setiap sudut benteng yang biasanya ditempatkan kanon atau meriam diatasnya. kadang juga benteng ini juga dinamakan Benteng Panynyua (Penyu). Karena benteng ini bentuknya mirip penyu. . dibangun lagi dinding tembok kedua dekat pintu gerbang. Pada tanggal 23 Juni 1635. ditambahkan satu bastion lagi di sisi barat. Nama benteng kemudian dinamakan Fort Rotterdam. Belanda pernah menyerang Kesultanan Gowa yang saat itu dipimpin Sultan Hasanuddin. dengan pintu utama berukuran kecil. Tujuan penyerbuan Belanda ini untuk menguasai jalur perdagangan rempah rempah dan memperluas sayap kekuasaan untuk memudahkan mereka membuka jalur ke Banda dan Maluku. Akibat kekalahan ini Sultan Gowa dipaksa untuk menandatangani Perjanjian Bongaya pada tanggal 18 November 1667. yaitu antara tahun 1655 hingga tahun 1669. Sejak saat itu Benteng Fort Rotterdam berfungsi sebagai pusat perdagangan dan penimbunan hasil bumi dan rempah rempah sekaligus pusat pemerintahan Belanda di wilayah Timur Nusantara (Indonesia). Benteng ini mempunyai 5 Bastion. Selama satu tahun penuh Kesultanan Gowa diserang.Pada tanggal 9 Agustus 1634. Benteng ini pernah hancur pada masa penjajahan Belanda.

go. alquran. Akses ke Lokasi Karena letaknya di tengah Kota Makassar.makassarkota.Wisata Sejarah Salah satu obyek wisata yang terkenal disini selain melihat benteng serta museum Lagaligo adalah menjenguk ruang tahanan sempit Pangeran Diponegoro saat dibuang oleh Belanda sejak tertangkap ditanah Jawa.id/index. angkutan kota. Diruang itu ia disedikan sebuah kamar kosong beserta pelengkap hidup lainnya seperti peralatan shalat. Begitu ia wafat Belanda memindah ia ketempat rahasia agar tidak memicu letupan diantara pengikut fanatiknya di Jawa atau disitu. Dia seorang diri ditempatkan didalam sebuah sel penjara yang berdinding melengkung dan amat kokoh. mayat Diponegoro tidak ada di Makassar. Bisa menggunakan taksi.php?option=com_content&task=view&id=35&Itemid=39 . Perang Diponegoro yg berkobar diantara tahun 1825-1830 berakhir dengan dijebaknya Pangeran Diponegoro oleh Belanda saat mengikuti perundingan damai. benteng ini mudah diakses. lalu ia dikuburkan disitu juga. Tapi ada pendapat lain mengatakan. Pangeran Diponegoro kemudian ditangkap dan dibuang ke Menado. dan tempat tidur. atau fasilitas pengantaran hotel Tarif Pengelola tidak mengenkan tarif kepada setiap pengunjung yang masuk ke benteng ini http://wisata. Banyak kemudian yang meyakini bahwa Diponegoro wafat di Makassar. lantas tahun 1834 ia dipindahkan ke Fort Rotterdam.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful