P. 1
Leksem Dan Kata Dalam Studi Morfologi

Leksem Dan Kata Dalam Studi Morfologi

|Views: 1,906|Likes:
Published by mspeakers

More info:

Published by: mspeakers on Sep 21, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/14/2013

pdf

text

original

LEKSEM DAN KATA DALAM STUDI MORFOLOGI

PERANAN LEKSEM DAN KATA DALAM STUDI MORFOLOGI oleh: Dwi Purnanto l. Pendahuluan Dalam bidang linguistik kita kenal adanya ancangan linguistik struktural. Linguis yang menganut aliran ini dalam pengkajiannya tentang bahasa ternyata tidak memiliki kesamaan dalam tata kerjanya. Para linguis yang menganut atau mengembangkan strukturalisme Bloomfield menggunakan tata kerja taksonomis: tuturan dianggap sebagai wujud pengalaman kejiwaan yang dipenggal-penggal dari satuan-satuan yang terbesar menjadi yang terkecil;dari kalimat-frasa-kata-morfem-fonem-bunyi bahasa. Morfologi dengan begitu akan menganalisis kata atas morfem-morfem yang menjadi unsur pembentuknya. Dengan demikian, pemerian morfologi akan berwujud inventarisasi morfem afiks, pemerian segi morfofonemiknya, dan inventarisasi makna gramatikal sebagai akibat dari proses afiksasi. Berbeda dengan ahli morfologi (linguis) Eropa, penganut dan pengembang strukturalisme De Saussure dan strukturalisme Praha, akan menggunakan tata kerja yang lain. Dalam pandangan linguis Eropa bahasa (langue) terealisasi dalam pemakaian bahasa (parole). Dari seluruh pemakaian bahasa dapat didentifikasi adanya satu bahasa tertentu. Jadi, bahasa dan pemakaian bahasa adalah dua segi seperti permukaan uang yang berpadu erat; yang satu tidak akan ada tanpa yang lain (Uhlenbeck dalam Ekowardono, 1991:2). Sejalan dengan itu, maka akan terdapat dua satuan dasar yang mendukungnya, yaitu kata dan kalimat. Kalimat akan ditempatkan sebagai satuan sentral dalam pemakaian bahasa, sedangkan kata akan diposisikan sebagai satuan sentral dalam bahasa. Selanjutnya dalam penelitian bahasa, kata akan dikaji morfologi, dan kalimat akan dikaji sintaksis. Dalam praktiknya kajian morfologi tidak akan pernah dapat dilepaskan dari kalimat, sebaliknya kajian sintaksis juga tidak akan pernah mengabaikan ihwal kata. Namun demikian, kajian morfologi tetap berkosentrasi pada kata. Analisis morfologi dilakukan dengan cara mengkorelasikan kata-kata dalam suatu bahasa secara proporsional, dalam arti akan memperhitungkan setiap kata dalam paradigmanya. Pendekatan seperti ini akan disebut dengan pendekatan Word and Paradigm (WP). Pengkorelasian itu akan dilakukan secara sistematis terhadap leksikon suatu bahasa. Dengan metode itu akan diketahui apakah anatara kata-kata yang dikorelasikan itu terdapat kesepadanan (korespondensi) dalam tiga aspeknya atau tidak. Aspek itu adalah aspek bentuk, aspek makna, dan aspek valensi sintaktis. Kalau sejumlah kata terdapat kesepadanan aspek makna, aspek bentuk, dan valensi sintakstiknya maka kata-kata itu akan dimasukkan dalam satu kategori morfologis. Sebaliknya kalau sejumlah

khususnya aliran struktural Amerika yang dipelopori oleh Bloomfield.1974:154). .kata itu tidak menunjukkan kesepadanan. Kata dalam hal ini dipandang sebagai satuan-satuan padu bentuk dan makna yang memperlihatkan aspek valensi sintaksis. 1988:4). 1988:5). 1982:54). kata itu akan memperlihatkan (1) kata itu dapat dipisahkan dari kata yang lain. Hal itu dapat diambil contoh pasangan-pasangan kata sebagai berikut: desert deserter ‘pembelot’ design designer ‘perancang’ fight fighter ‘pejuang/petinju’ paint painter ‘pengecat’ Kata-kata tersebut tidak hanya akan dikaji bentuk katanya saja. (2) dapat dibalikkan urutannya. Dengan begitu kajian morfologi akan berkaitan juga dengan bagaimana proses infleksi dan derivasinya. maksudnya dalam hubungannya dengan kata lain secara linier. atau dalam arti terdapat oposisi antara kata-kata yang dikaji maka dapat dikelompokkan dalam kategori morfologis yang berbeda. yaitu setidak-tidaknya terdapat tiga sumber utama. kata. dengan intonasi tertentu dapat dipakai sebagai kalimat. (Mathews. Kata sebagai satuan sentral dalam bahasa ditandai oleh adanya mobilitas sintagmatisnya. Setiap bahasa tentunya dapat dijabarkan ihwal kata itu dan properti-properti morfosintaksisnya (Mathews. Posisi Leksem dan Kata dalam Morfologi Morfologi termasuk salah satu studi kebahasaan (linguistik) yang mengkaji kata atau leksikon suatu bahasa. Pada tingkat gramatikal. secara tradisional akan dipahami sebagai unsur terkecil bahasa yang akan didentifikasikan tentang asal dan bentuknya dalam paradigma. munculnya aliran transformasional yang dikembangkan oleh Noam Chomsky (Bauer. sedangkan sintaksis berkaitan dengan fungsi-fungsi eksternal kata dan kaitannya dengan kata lain dalam kalimat. studi bahasa yang bermacam-macam yang dipengaruhi oleh aliran struktural. Pertama adanya studi filologis terhadap tata bahasa pada akhir abad 19 dan tahun-tahun pertama abad 20. tetapi akan dikaji bagaimana unit-unit lain dapat berfungsi untuk mengubah bentuk katanya. Kedua. Ketiga. 2. (3) dapat digantian posisisnya oleh kata yang lain (4) dapat disolasikan. Pada abad 19 istilah morfologi sebagai bidang linguistik dipahami sebagai studi tentang perubahan-perubahan secara sistematis tentang bentuk kata yang dihubungkan dengan maknanya (Bauer. Terdapat latar belakang teoritis mengapa perhatian baru terhadap morfologi diperhatikan lagi. 1974:136). Menurut tradisi studi morfologi akan mengkaji struktur internal kata dalam kaitannya dengan kata lain dalam suatu paradigma. yakni kemungkinan-kemungkan yang dimiliki kata untuk berkombinasi dengan kata-kata lain dalam kelompok (Uhlenbeck dalam Ekowardono.

akan melibatkan kajian tentang afiks sebagai alat pembentuk kata (polimorfemis) atau lexical formatives (istilah Mathews). Prefiks remembentuk leksem baru RECREATE dari bentuk dasar create. akan didapati dua jenis afiks.. Dengan perkataan lain. and as a part analyzed or abstracted from sentence. pelopor relativitas bahasa itu menerangkan bahwa “The lexeme …” adalah ” …the word or stem as an item of the vocabulary. analisis morfologi terhadap kata lebih didominasi dengan penggunaan model IA dan IP. dan sebuah sufiks . Dia berpendapat bahwa kata harus dibedakan dengan leksem dengan mengutip pendapat dari Lyons (1968).sebuah akar create. leksemlah yang merupakan “bahan dasar” yang telah mengalami “pengolahan gramatikal” menjadi kata dalam subsistem gramatika. Di dalam karangan ini pun ia mempergunakan leksem sebagai satuan dasar dalam leksikon dan dibedakan dari kata sebagai satuan gramatikal. 1997:2). dan Word and Paradigm (WP). sedangkan afiks derivasional adalah afiks yang menghasilkan leksem baru dari leksem dasar.s. Pengertian leksem tersebut terbatas pada satuan yang diwujudkan . analisis kata dengan pendekatan Item and Pro-cess (IP). “. Sebenarnya istilah leksem sudah dipergunakan oleh Whorf pada tahun 1938.(1977:19). dan WP adalah yang paling rumit (1988:170). termasuk bahasa Indonesia. sedangkan sufiks -s bersifat infleksional. Misalnya kata recreates dapat dianalisis menjadi sebuah prefiks re. Pembicaraaan secara operasional pada bagian ini akan dibandingkan bagaimana konsep leksem dan model tata kerja yang dipahami dan diterapkan oleh Harimurti Kridalaksana dan Edi Subroto.Dengan tata kerja seperti itu kajian morfologi di dalam suatu bahasa. sedangkan sufiks -s membentuk kata yang lain dari leksem RECREATE. IP agak lebih rumit. Lyons dalam karangannya yang lain menyatakan. Dalam salah satu karangannya. Jadi prefiks re.1 Pandangan Harimurti Kridalaksana tentang Leksem dan Pembentukan Kata Pandangan Harimurti Kridalaksana mengenai leksem sebagai input dalam proses pembentukan kata tertuang dalam disertasinya yang telah dibukukan dengan judul Beberapa Prinsip Perpaduan Leksem dalam Bahasa Indonesia (1988) dan Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia (1989). Untuk memahami bagaimana kata dapat dikaji dalam morfologi.lexemes are the words and phrases that a dictionary would list under a separate entry” (1977:23). seperti tertuang dalam tulisan Hockett Two Models of Item and Arrangement (IA) and Item and Process (IP).bersifat derivasional. Matthews. Kemudian ia menyatakan. . Afiks infleksional adalah afiks yang mampu menghasilkan bentuk-bentuk kata yang baru dari leksem dasarnya. Dengan demikian. (Kridalaksana. 2. yaitu afiks-afiks infleksional dan afiks-afiks derivasional. Lebih lanjut Bauer berpendapat bahwa model IA adalah tipe yang paling sederhana. Sarjana lain. para linguis bisa mengacu ulang kepada pendapat Hockett (1954) tentang: analisis kata dengan pendekatan Item and Arrangement (IA). menyebutkan bahwa leksem sebagai”an ABSTRACT unit” (1974:21) adalah “… the fundamental unit … of the lexicon” (1974:22). “… vocabulary words constitute one subclass of what … we are calling lexeme“. words” (Iihat Carroll 1956:125-33). Pada masa itu.

dalam kepustakaan linguistik dikenal pula kategorisasi semantis sebagaimana dilakukan oleh Chafe. baik secara morfologis. tidak disebut leksem. output proses ini.53) “morfologi dapat dipandang sebagai subsistem yang berupa proses yang mengolah leksem menjadi kata atau seperti dikatakan oleh Whorf (dalam Carrol 1956:132) ketika membicarakan derivational types. ciri-ciri kategorinya tidak dapat ditentukan seperti kelas kata. Penentuan kategori leksikal berlainan caranya dari penentuan kategori gramatikal atau kelas kata. verba dipakai leksem verbal. Berdasarkan pendapat Harimurti Kridalaksana (1988. walaupun ada kesepadanannya. the other.dalam gramatika dalam bentuk morfem dasar atau kata. Lain halnya dengan kategori dari leksem. Di samping kategorisasi gramatikal dan kategorisasi leksikal tersebut. the total human conceptual universe is dichotomized initially into two major areas. yakni makna leksikal. misalnya leksem nominal yang sepadan dengan kata nominal atau nomina. the area of the noun. Dalam tulisan Harimurti akan banyak dijumpai konsep-konsep seperti leksem nominal. satuan yang disebut morfem yang dalam hierarki gramatikal merupakan satuan terkecil baru dapat ditandai setelah kata terbentuk melalui . embraces “things” (both physical objects and reified abstractions)” (1970:96). sedikit banyak tidak berubah. One the area of the verb. Jadi. embraces states (conditions. leksem verbal dan sebagainya. Telah menjadi kelaziman dalam linguistik Indonesia bahwa untuk menentukan kelas kata dari sudut intern gramatika. Masalah kelas kata dalam bahasa Indonesia telah dibahas secara mendalam dalam karangan lain (Harimurti Kridalaksana 1986). yaitu kata. qualities) and events. (5) bentuk yang tidak tergolong proleksem atau partikel. sedangkan makna semula. dengan ringkas dapat dinyatakan bahwa leksem adalah: (1) satuan terkecil dalam leksikon. merupakan suatu kesatuan yang dapat dianalisis atas komponen-komponen yang disebut morfem. (4) unsur yang diketahui adanya dari bentuk yang setelah disegmentasikan dari bentuk kompleks merupakan bentuk dasar yang lepas dari morfem afiks. kecuali dalam satu proses bukan hanya berubah bentuknya melainkan juga memperoleh makna baru. sedangkan kata sebagai satuan gramatikal berperan sebagai output. Jadi. maupun secara sintaktis. Satuan lain yang cukup dikenal. yang berperan sebagai input dalam proses itu ialah leksem sebagai satuan leksikal. yang di sini disebut makna gramatikal. . jadi apa yang secara semantis merupakan nomina biasanya juga nomina secara leksikal dan gramatikal. Jadi. melainkan lexical-formative (Matthews 1974:41). Secara ideal baik sekali bila ada tes untuk menentukan suatu kategori secara leksikal dan semantis. Dalam proses ini leksem. Antara lain ia menyatakan. (2) satuan yang berperan sebagai input dalam proses morfologis.. (3) bahan baku dalam proses morfologis. Penggunaan konsep leksem dan pembedaannya dengan konsep kata dapat menghilangkan keragu-rarguan orang selama ini dalam menentukan kriteria kata. tetapi dewasa ini satu-satunya tes yang dapat diandalkan hanyalah tes gramatikal (Iihat juga Hopper & Thompson 1984). yaitu afiks. Berkaitan erat dengan konsep leksem ialah kategorisasi leksem. Karena leksem sebagai satuan dari leksikon ada di luar morfologi maupun sintaksis. Tidak sulit bagi kita untuk menerima bahwa antara ketiga kategorisasi itu terdapat kesepadanan. Dengan perkataan lain.

dan kemudian memperoleh konfiks ke-an menjadi ketidakadilan.proses morfologis itu.e. maka subsistem ini disebut morfologi leksikal atau morfologi derivatif. jadi secara sintaktis bisa langsung menjadi kata. sedangkan infleksi terjadi sesudah pembentukan kata selesai dan menutup konstruksi derivasi. dan -s disebut morfem inflektif. Proses morfologis dalam bahasa Indonesia. i. Karena bahan dasar kata ialah leksem. sedangkan morfem terikat tidak dapat. yaitu satuan pembentuk kata yang sedikit banyak menyebabkan leksem itu mempunyai makna gramatikal’. merupakan morfem yang mengalami proses morfologis. dan karena proses ini menyangkut pembentukan kata. Morfem dasar. yaitu morfem leksikal yang makna dan bentuknya sedikit banyak sama dengan leksem. dan morfem gramatikal. morphemes only secondary signs. Untuk menerangkan bidang ini diambil contoh kata Inggris writers ‘penulis-penulis’. yaitu gabungan leksem dan leksem (yang kita sebut paduan leksem) dan gabungan kata dan kata (yang kita sebut frasa). Kata tersebut berasal dari Ieksem write ‘menulis’ yang berubah menjadi kata writer setelah mengalami proses morfologi leksikal karena mendapat imbuhan er. Ada lagi suatu sektor gramatikal yang menyangkut perubahan kata menjadi satuan yang dapat berperan dalam sintaktis yang disebut morfologi inflektif. sehingga terdapat satuan yang merupakan peralihan di antara keduanya. bahwa derivasi terjadi sebelum kata. . Afiks selalu merupakan morfem terikat. therefore words are better perceivable than morphemes for motivating derived words” (1 983:75). kemudian bergabung menjadi frasa tidak adil. dan keduanya dapat memperoleh kombinasi afiks dalam disalahgunakan. bukan hanya morfem dasar yang tunggal atau bentuk yang monomorfemis. sedangkan afiks adalah morfem yang membentuk kata. Di dalam bahasa Indonesia perbedaan di antara derivasi dan infleksi tidak sejelas itu (Kridalaksana (1988:54). Batas di antara morfem bebas dan morfem terikat tidak selamanya tegas. melainkan juga bentuk yang polimorfemis. dan perubahan ini terjadi dalam morfologi inflektif. yang wujudnya sama dengan leksem. signs on signs (words). terdapat morfem bebas angkat dan morfem terikat ter-. Contoh: leksem salah dan leksem guna dapat berpadu menjadi salah guna. seperti afiksasi misalnya. Selain itu lazim pula dibedakan antara morfem dasar dan afiks. “All regular word-formation processes are word-based” (1976:21). sebagaimana dikatakan oleh Aronoff. Leksem tidak dan leksem adil masing-masing diderivasikan sebagai kata. Perlu dibedakan di sini antara apa yang disebut morfem bebas dan morfem terikat. Dengan singkat dapat dinyatakan. Morfem bebas adalah morfem yang mempunyai potensi untuk berdiri sendiri. sedangkan tidak semua morfem dasar merupakan morfem bebas. yaitu masalah proleksem dan klitika. Selanjutnya kata itu berubah lagi setelah mendapat sufiks penanda plural -s. Uraian tersebut berlaku bagi proses pembentukan kata sebagai satuan sintaktis. Dalam kata terangkat misalnya. Pandangan yang serupa juga diberikan pula oleh Uhlenbeck (1982:6) bahwa “di dalam kata ada 2 jenis morfem. sebuah morfem derivatif. dan oleh Dressler: … words are primary signs.

serta output. Ada beberapa jenis pemendekan: (a) pemenggalan (b) kontraksi (c) akronim (d) penyingkatan. berupa kata. (2) afiksasi. dan salah satu proses tersebut di atas. . Peristiwa itu dapat digambarkan sebagai berikut: Proses morfologis yang kita kenal ialah: (1) derivasi zero (2) afiksasi (3) reduplikasi (4) pemendekan (5) derivasi balik (6) perpaduan. Penjelasan singkat tentang proses itu masing-masing: (1) derivasi zero dalam proses ini leksem menjadi kata tunggal tanpa perubahan apa-apa: leksem derivasi zero kata tunggal tunggal contoh: leksem lupa menjadi kata lupa tanpa perubahan apa-apa. yaitu Ieksem. (3) reduplikasi: dalam proses ini leksem berubah menjadi kata kompleks dengan bebcrapa macam proses pengulangan.Peristiwa morfologis terjadi dari input.. (4) pemendekan: dalam proses ini leksem atau gabungan leksem meniadi kata kompleks atau akronim atau singkatan dengan pelbagai proses pemendekan. dalam proses ini Icksem berubah menjadi kata kompleks.

jadi dapat digambarkan sebagai berikut: leksem afiksasi kata tunggal reduplikasi kompleks pemenggalan kontraksi Contoh: (a) leksem lupa menjadi kata melupakan setelah mengalami afiksasi dengan me. (c) leksem ibu menjadi kata bu setelah mengalami pemendekan dalam bentuk pemenggalan. .Dalam pemenggalan dan kontraksi inputnya adalah leksem tunggal dan outputnya kata kqmpleks seperti terdapat pada afiksasi dan reduplikasi. Singkatan dan akronim itu secara gramatikal berstatus kata. (b) Ieksem republik dan leksem Indonesia menjadi singkatan RI. (d) leksem tak dan leksem akan menjadi takkan setelah mengalami kontraksi.dan -kan. leksem tunggal akronim akronim penyingkatan singkatan leksem tunggal Contoh: (a) leksem peluru dan leksem tunggal kendali menjadi akronim rudal. (b) leksem rumah menjadi kata rumah-rumah setelah mengalami reduplikasi.

Dua contoh berikut dapat diamati untuk memahami bagaimana gramatikalisasi dan leksikalisasi itu berinteraksi dalam pembentukan kata: ketidakadilan . dan outputnya berupa kata yang secara historis muncul kemudian dari asalnya itu. dan unsur ini kemudian dapat mengalami proses morfologis lagi dan menjadi kata “baru” (lihat juga Brown 1984:66). Pembentukan kata dalam bahasa Indonesia menurut Harimurti Kridalaksana dapat bersifat rekursif: sebuah leksem atau lebih setelah mengalami proses morfologis menjadi kata. (6) perpaduan: dalam proses ini dua leksem atau lebih berpadu dan outputnya adaiah paduan leksem. Kata majemuk yang dihasilkan oleh proses perpaduan yang bersifat morfologis berbeda dari frasa yang merupakan penggabungan kata yang bersifat sintaktis. dan bagannya adalah: leksem tunggal paduan kata perpaduan leksem majemuk leksem tunggal Contoh: Leksem daya dan leksem juang menjadi dayajuang sebagai paduan leksem dalam tingkat morfologi atau kata majemuk dalam tingkat sintaksis.(5) derivasi balik: dalam proses ini inputnya leksem tunggal. Kejadiannya seperti afiksasi). dan kembalinya kata menjadi unsur Icksikal lagi itu disebut proses leksikalisasi. Contoh: Leksem mungkir menjadi pungkir dalam bentuk seperti dipungkiri karena proses derivasi balik. Kita mengetahui leksem mungkir lebih dahulu ada daripada pungkir karena leksem itu merupakan pinjaman dari bahasa Arab dan pungkir hanya ada dalam bahasa Indonesia. Berubahnya leksem menjadi kata disebut proses gramatikalisasi.

boleh dikatakan bahwa penelitian mereka baru secara umum atau baru mengenai kategori transposisi tertentu sehingga masalah itu . disendratarikan proses I : gramatikalisasi leksem-leksem seni. proses IV : pemendekan (kontraksi) gabungan leksem seni drama tari menjadi sendratari.2 Pandangan Edi Subroto tentang Leksem dan Pembentukan Kata Pandangan yang berbeda tentang leksem dinyatakan oleh Edi Subroto dalam makalah tentang Infleksi dan derivasi. 1969) dan Poedjosoedarmo dkk (1979). proses VI : sufiksasi dengan .D.i. tari (secara berasingan) masing-masing menjadi kata. proses IV : konfiksasi dengan ke . 2. dan sebagainya di luar proses pembentukan kata.proses I : gramatikalisasi Ieksem tidak dan adil (secara berasingan) menjadi kata. dan tidak perlu dibicarakan proses afiksasi. proses Ill: leksikalisasi frasa seni drama tari menjadi gabungan leksem.D. dan disertasi tentang Transposisi dari Adjektiva menjadi Verba dan Sebaliknya dalam Bahasa Jawa. drama.kan terhadap leksem sendratari menjadi sendratarikan. Kedua contoh tersebut memperlihatkan manfaat pembedaan konsep gramatikalisasi dan leksikalisasi dalam pembentukan kata: semua proses itu berada dalam satu sistem. proses VII: prefiksasi terhadap sendratarikan menjadi disendratarikan. Namun demikian. Konsep Leksem dan Upaya Pengorganisasian Lema dan Sublema dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. proses Ill:leksikalisasi frasa tidak adil menjadi gabungan leksem.an terhadap gabungan leksem tidak adil menjadi kata ketidakadilan.perlu diteliti lebih lanjut secara lebih luas dan mendalam. proses ll: penggabungan kedua kata itu menjadi frase tidak adil (ini terjadi dalam tingkat sintaksis).terutama di antara jenis-jenis kata utama . dan Me(N)-D-kan dalam Bahasa Indonesia. Dalam disertasi itu dinyatakan bahwa “terdapat beberapa linguis yang telah meneliti transposisi dari jenis kata yang satu menjadi jenis kata lain dalam bahasa Jawa ialah Uhlenbeek (1953a. Me(N). perpaduan. Verba Bentuk Me(N). . proses V : leksikalisasi kata sendratari menjadi leksem. proses ll : penggabungan ketiga kata itu menjadi seni drama tari (ini terjadi dalam tingkat sintaksis).

Berdasarkan ancangan itu. Sedangkan Matthews (1974:38) menjelaskan bahwa infleksi adalah bentuk-bentuk kata yang berbeda dari paradigma yang sama. Lebih lanjut. Berdasarkan pola pembentukan kata yang telah ada. sebuah kata dapat dipakai sebagai dasar bagi pembentukan kata-kata lain dengan prosede-prosede tertentu. afiks drivasional jumlahnya lebih beragam bila dibandingkan dengan afiks infleksional. Ancangan yang mengakui kesentralan kata dipandang cocok untuk diterapkan dalam analisis morfologi bahasa Jawa karena terdapat banyak kata yang secara formal sama tetapi dimasukkan dalam kategori yang berbeda karena berhubungan dengan ciri makna yang berbeda. (3) afiks-afiks derivasional dapat mengubah jenis kata. (5) pembentukan derivasional dapat dijadikan dasar bagi pembentukan berikutnya.Ancangan (approach) yang digunakan di dalam disertasi itu ialah strukturalisme. sedangkan pembentukan infleksional tidak bisa. sedangkan derivasi adalah bentuk kata yang berbeda dari paradigma yang berbeda. Menurut Edi Subroto. Bauer (1988: 12-13) berpendapat bahwa derivasi adalah proses morfologis yang menghasilkan morfem baru. paradigma dari dasar”PETIK” -PETIKI __________ -PETIK __________ -PETIKKAN memetiki memetik memetikkan 1 . Ciri-ciri yang demikian tidak terdapat pada paradigma yang derivasional (1985: 6). sebuah afiks akan termasuk infleksional kalau di dalam suatu paradigma dapat diramalkan untuk menggantikan afiks infleksional lainnya. tetapi strukturalisme yang mengakui kesentralan kata tidak saja di dalam morfologi tetapi juga di dalam bahasa pada umumnya. Kata dan prosede morfologis (kaidah atau pola pembentukan kata secara sinkronis) adalah dua konsep utama di dalam ancangan itu. Contohnya. (4) afiks-afiks derivasional mempu-nyai distribusi yang terbatas. apa yang disebut “morfem” bukanlah satuan fingual (satuan bahasa) yang otonom melainkan suatu momen (a dependent feature) yang identitasnya baru diketahui dalam hubungan kata secara keseluruhan. sedangkan afiks infleksional mempunyai distribusi yang luas. Perbedaan antara pembentukan secara derivasional dan infleksional diuraikan Nida dalam Edi Subroto (1985: 2): (1) pembentukan derivasional termasuk jenis kata yang sama dengan kata tunggal (dari suatu sistem jenis kata). (2) secara statistik. Kata yang dipakai sebagai dasar bersama dengan kata-kata lain yang tersusun di dalam suatu paradigma yang termasuk jenis tertentu. Bauer merumuskan bahwa pembentukan infleksional dapat diramalkan sedangkan pembentukkan derivasional tidak dapat diramalkan. Dengan demikian. juga terdapat keteraturan makna gramatikal di dalam paradigma infleksional. Selanjutnya. Posisi satu kategori dalam kaitannya dengan kategori-kategori lain dan kontras atau perbedaan antara kategori yang satu dengan kategori lainnya di dalam paradigma itu dapat diperikan secara lebih jelas. sedangkan infleksi adalah proses morfologis yang menghasilkan bentuk-bentuk kata yang berbeda dari sebuah leksem yang sama. setiap proses morfologis. sedangkan afiks-afiks infleksional tidak bisa.

kolom B dari leksem -PETIKI. Baris 6 berbeda dengan baris 3-5 karena menyatakan pelaku ‘nampak dalam bentuk’.(sebagai bentuk pertama. kau-.6 (kecuali kolom -PETIKKAN 6 dan kolom -PETIKI. Bentuk baris 1 terdapat apabila kalimat berfokus agentif. sedangkan baris 2-6 berfokus pasientif. Leksem -PETIKI bermakna ‘pluralitas perbuatan’. dia-. baris 4 adalah O2. sedangkan baris 2 menyatakan pelaku ‘tidak nampak dalam bentuk’.dipetiki dipetik dipetikkan 2 I kupetiki kupetik kupetikkan 3 kaupetiki kaupetik kaupetikkan 4 diapetiki diapetik diapetikkan 5 terpetiki? terpetik . dan memetikkan secara leksikal adalah tiga kata yang berbeda (derivasional) sekalipun termasuk dalam kata kerja. pemetikan‘hal . ketiga kata itu dide-rivasikan dari kata kerja mememetik(pemetik‘orang yang memetik’. kata memetik. 6 yang masih tanda tanya). kolom C dari leksem -PETIKKAN. masing-masing kolom merupakan paradigma infleksional. dan kolom -PETIKKAN disebut C. ku-. dan -PETIKKAN. baris 2-5 menyatakan ‘kesengajaan’. kolom PETIKI. Dengan begitu. kolom -PETIKI disebut B. Masing-masing kolom merupakan paradigma infleksional dan masing-masing mempunyai bentuk kata baris 1 . Untuk memudahkan pembicaraan paradigma kata kerja kolom -PETIK disebut A. Kemunculan masing-asing bentuk dari setiap kolom dapat diramalkan berdasarkan kaidah gramatis tertentu. perdasarkan pertimbangan semantik leksikal. -PETIKKAN (dalam oposisinya dengan -PETIK) mengandung ciri ‘kebenefaktifan’. sedangkan paradigma II adalah paradigma deverbal. Perbedaan antara baris 2-6 menytkan ‘keaksidentalan’ (hal tidak disengaja). baris 5 adalah O3. Maksudnya. -PETIKI. Oleh karena itu. dan kolom PETIKAN. Kata pemetik.6 ______________________________________________________ II pemetik pemetikan petikan ______________________________________________________ Paradigma I termasuk paradigma kata kerja yang dibentuk dari dasar “petik”. baris 3 pelaku adalah O1. Paradigma kata kerja terbagi atas tiga kolom: kolom PETIK. Kolom A dari leksem -PETIK. pemetikan. memetiki. baris pertama) dapat digantikan dengan di-. Selanjutnya perlu dibedakan leksem -PETIK. Terlihat pada masing-masing kolom bahwa bentuk dengan Me(N). dan petikan(II) dikategorikan sebagai kata benda derivasional deverbal.

III. (Harimurti.memetik’. atau. leksem adalah satuan abstrak dan satuan terkecil dari sebuah paradigma” (1996:271). petikan ‘hasil memetik’). transposisi dibedakan dalam rangka untuk membedakan identitas leksemnya. kata sebagai leksem. Di samping itu. Sebagai satuan abstrak terkecil leksem dapat diwujudkan dalam bentuk kata gramatikal dalam sebuah paradigma. Dalam kaitannya dengan itu. maka akan sangat membantu dan relevan bila kita dapat melacak kembali pendapat Matthews yang membedakan kata secara fonologis. Berbeda dengan pendapat Edi Subroto. leksem dipahami sebagai input dalam proses gramatikal (pembentukan kata). Keberatan kedua ialah bahwa penerapannya tidak membuat deskripsi menjadi ekonomis. sedangkan outputnya adalah kata. misalnya leksem lupa dengan derivasi zero akan menjadi kata lupa tanpa perubahan apa-apa. Leksem merupakan satuan fundamental dari leksikon sebuah bahasa. Menurutnya “model proses adalah satu-satunya model yang cocok untuk menyajikan morfologi Bahasa Indonesia” (1997:7). Harimurti dalam karya-karyanya sengaja tidak membedakan jenis leksem (yang ada hanya leksem tunggal). Keberatan Harimurti atas penggunaan model lain. tidak mengenal adanya transposisi dalam derivasi zero. Edi Subroto menyetujui gagasan dan pendapat Marchand bahwa “pembentukan kata adalah cabang ilmu bahasa yang mengkaji pola-pola dimana sebuah bahasa membentuk satuan-satuan leksikal baru. leksem dibedakan atas leksem tunggal dan leksem majemuk. Oleh sebab itu. Berdasarkan perbedaan referennya. dalam tulisan-tulisan yang . KOMENTAR Untuk mengkaji konsep leksem dan kata hendaknya dicermati secara seksama. khususnya (WP) adalah terdapatnya kenyataan bahwa kata merupakan satuan yang tidak terlalu jelas batas-batasnya. Dengan demikian yang relevan bagi pembentukan kata adalah morfologi derivasional atau morfologi leksikal (1996:269). Di dalam tulisan-tulisannya. 1997:6). ihwal infleksi dan derivasi yang ada keterkaitanya dengan konsep kata dalam arti leksem dan kata gramatikal. Dan yang paling menentukan adalah adanya pendekatan terhadap analisis kata-kata dalam Bahasa Indonesia dengan memakai Word and Paradigm (WP). untuk satu kelas kata. dalam pengertian kata sebagai sesuatu yang sentral. sangat diperlukan pula mengenai ancangan (pendekatan) yang dipakai untuk tata kerja di dalam mengkaji sebuah kata dan proses pembentukannya (proses morfologisnya). hal yang amat penting yakni infleksi dan derivasi tidak diakui keberadaannya. ketiga kata itu berbeda secara leksikal sekalipun sama-sama termasuk kata benda. Berdasarkan uraian di atas akhirnya dirumuskan oleh Subroto bahwa leksem adalah “satuan lingual hasil abstraksi dari sebuah paradigma. sehingga bila diunggulkan tidak akan mempermudah analisis (padahal dianjurkan untuk mengatasi dilema analisis morfemis). dan kata gramatikal. misalnya nomina tidak dibedakan nomina dengan ciri semantisnya. yaitu kata. Dengan demikian.

Namun dalam perdebatan tentang model mana yang cocok untuk digunakan sebagai model pengkajian dalam morfologi. Perbedaan kedua kajian tentang bahasa ditandai oleh hal-hal seperti berikut: (1) linguistik Amerika berpijak kepada pengalaman dari penelitian babasa-babasa Indian yang mempunyai sifat-sifat yang sangat berlainan dengan bahasa-bahasa Indo-Eropa (Meskipun para pelopor linguistik Amerika awal abad itu semuanya berpendidikkan Eropa. Dan beberapa segi dari bahasa fusi memerlukan bantuan dari tata bahasa model WP agar lebih efektif (Bauer. Robins (1959) yang menganjurkan penggunaan konsep WP itu menyatakan bahwa bila model itu bisa diterapkan maka linguis akan terbebas dari dilema analisis morfemis. Mereka menganggap morfem sebagai satuan gramatikal terkecil (dan sentral). Di antara ketiganya model WP adalah model morfologis tertua yang digunakan sebagai kerangka kerja. Beberapa segi bahasa fusi dan aglutinasi jauh lebih mudah diterapkan pada tata bahasa dengan model IP. Ini dapat ditemukan dalam gramatika bahasa-hahasa klasik. kata dalam arti leksem dan kata gramatikal sesuai dengan konsep infleksi dan derivasi (1989:3). namun mereka mampu menanggalkan paradigma Eropa dalam penyelidikan babasa).Bahwa deskripsi yangdibuat dari ketiga model itu dapat dikaitkan dengan satu model yang disarankan. sebenarnya kita harus kembali kepada pendapat Hockett (1954) seperti yang dikutip oleh Bauer tentang: analisis kata dengan pendekatan Item and Arrangement (IA). Pada umumnya tampak bahwa bahasa -bahasa isolasi lebih tepat dengan model IA. khususnya morfologi.dipublikasikan Edi Subroto memposisikan kata sebagaimana yang dinyatakan oleh Mathews. Model IP itu diperkenalkan kembali sejak tahun 60-an dalam teori TG yang . Pada tahun 70-an model WP dimunculkan lagi karena pengaruh teori tata bahasa generatif. istilah itu baru muncul lebih kemudian dibandingkan dengan tata kerja IA dan IP. dan WP yang dibahas dalam linguistik sebenarnya paling relevan bila dikaitkan dengan pemhahasan tentang morfologi (pembentukan kata). hal yang tidak boleh diabaikan adalah terdapatnya perbedaan kajian strukturalisme Amerika dan strukturalisme Eropa. Sanskerta. (2) Hieraki gramatikal diakui secara eksplisit maupun implisit. Latin. seperti bahasa Yunani. dengan ketentuan kata harus diakui sebagai satuan yang diunggulkan dan konsep morfem ditinggalkan. Maka dikenallah apa yang disehut Neo-WP. yang menempatkan kata sebagai kajian sentral dan morfem hanya sebuah momen (a dependent feature). Selain itu. Beberapa keberatan tersebut di atas dicoba untuk diatasi. 1988:170-171). sehingga kata tidak dianggap sebagai satuan sentral. Dengan memahami perbedaan pandangan kedua mazhab itu kiranya akan dapat menerangkan dan menjawab ihwal latar belakang mengapa terdapat perbedaan kajian terhadap morfologi. IA. dan Word and Paradigm (WP). Dalam tradisi Amerika model IP lebih dulu lazim daripada model IA. Untuk memahami bagaimana kata dapat dikaji dalam bahasa. Lihat misalnya karya Boas (191 1) dan Sapir (1921) serta edisi pertama karya Nida Morphology (1942) yang sangat luas digunakan itu. analisis kata dengan Item and Process (IP). dan Arab. Model tata kerja IP. Yang hal ini berbeda dengan kajian struktural Eropa.

seperti : dogs. berarti -al telah mengubah kelas kata sehingga termasuk afiks derivasional. trees. sedangkan afiks derivasional bersifat produktif. IV. Anderson (1977. Model IP sangat luas digunakan oleh kaum Neo-Bloomfieldian yang memiliki landasan filsafat positivisme. Ahli morfologi yang bekerja dengan pendekatan WP menurut Bauer (1988:152 setidak-tidaknya akan mempunyai dua keuntungan. (c) Terdapat suatu kaidah umum bahwa bila dapat menambahkan afiks infleksional pada salah satu anggota dari sebuah klas kata. yaitu morfologi infleksional. Dengan begitu. Contohnya adalah form adalah nomina. akhirnya perlu diperhatikan apa yang dinyatakan oleh Bauer dalam kaitannya dengan studi tentang morfologi (1988:12-13). Formalise adalah verba dan formalises juga verba. Matthews membuat notasi terhadap tata kerja dengan WP. yakni tahun 1972. Sedangkan afiks derivasional tidak dapat ditambahkan pada setiap anggota kelas. dapat ditentukan bahwa afiks-afiks infleksional itu bersifat tidak produktif. Laurie. formal adalah ajektiva.age dalam bandage ‘pembalut’. shortage ‘kekurangan’. dan morfologi derivasional atau morfologi leksikal. English Word-Formation. (2) Dapat mencakup kumulasi morfem-morfem di dalam satu morf-tunggal. Lain halnya dengan perubahan makna secara derivasional seperti . (b) Afiks-afiks infleksional selalu menampakkan makna yang teratur atau dapat diprediksikan. sebaliknya makna-makna dari afiks-afiks derivasional tidak dapat diramalkan. . Dalam kaitannya dengan afiks infleksional dan afiks derivasional itu akhirnya terdapat dua bidang morfologi. cleavage ‘perpecahan’. miliege ‘jarak mil’. 1983. yaitu adanya sejumlah cara untuk mengetahui apakah sebuah afiks bersifat infleksional atau derivasional. berarti -s tidak mengubah kelas kata sehingga kemungkinan termasuk afiks infleksional. maka akan dapat menambah afiks infleksional pada semua anggota kelas yang lain. Sebagai catatan akhir . yaitu: (1) terdapat banyak peristiwa bahwa satu formatif dapat mewujudkan atau menghasilkan morfem-morfem yang berbeda di dalam bagian yang berbeda dari suatu paradigma. (a) Jika sebuah afiks mengubah bentuk bentuk dasarnya. London: Cambridge University Press. 1982) membahas analisis morfologi dengan tata kerja atau anacangan WP secara mendasar dengan sebutan kerangka kerja leksikal. yakni morfologi yang berkonsentrasi pada kata dan paradigmanya. DAFTAR PUSTAKA Bauer. shoes. Afiks-afiks yang tidak mengubah kelas kata bentuk dasarnya biasanya termasuk afiks infleksional. afiks itu bersifat derivasional. Pada perkembangan selanjutnya. Sebagai contoh afiks infleksional -s yang menunjukkan makna jamak dalam Bahasa Inggris.seluruhnya menggunakan model proses. bicycles.

Lexeme. dan Valensi dalam bahasa Indonesia” dalam Pelangi Bahasa (ed. Beberapa Prinsip Perpaduan Leksem dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Harimurti Kridalaksana. 1982. Jakarta: Bhratara. ” Kata sebagai satuan Sentral dalam Kajian Morfologi” dalam Konferensi dan Musyawarah Nasional VI MLI. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia. B. Edi Subroto.Bauer. “Sistem Verba Bahasa Jawa’ dalam Linguistik dan Bahasa Indonesia: Kumpulan Makalah Seminar Linguistik. Surakarta: Fakultas Sastra UNS. Edi Subroto. Edi subroto. 1993. Edi Subroto.1985. Harimurti Kridalaksana. Me(N)-D-I. dan Me(N)-D-Kan dalam Bahasa Indonesia” dalam dalam Pelangi Bahasa (ed.1988. “Konsep Leksem dan Upaya Pembaharuan Penyusunan Kamus dalam bahasa Indonesia” dalam PIBSI XI. Karno Ekowardono. Beard.1985. Semarang: UNDIP dan IKIPN. Edi Subroto.1989. 1995. Harimurti dan Anton Moeliono).1996. Yogyakarta: Kanisius. “Verba Pasif Bentuk Ter-D dalam Kaitannya dengan Verba Pasif Bentuk di-D” dalam PIBSI XIV. “Infleksi dan Derivasi:Kemungkinan Penerapannya dalam Pemerian Morfologi Bahasa Indonesia” dalam PIBSI VII. Introducing Linguistic Morphology.1982. ” Konsepsi Morfem Afiks: Sebuah Studi atas Korelasi Bentuk. 1992. Edi Subroto.1982. 1991. Jakarta: Bhratara. Robert. Yogyakarta: Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa. Tegal: Universitas Pancasakti. Laurie. Yogyakarta: IKIP Muhammadiyah. Surakarta: Fakulas Sastra dan Budaya UNS.1988. Jakarta:UI. “Konsep Leksem dan Upaya Pengorganisasian Kembali Lema dan Sublema Kamus Besar Bahasa Indonesia’ dalam Bahasa Nasional Kita. Morpheme Base MorphologyUSA: State University Of New York. Makna. Transposisi dari Adjektiva Menjadi Verba dan Sebaliknya dalam Bahasa Jawa (Disertasi). “Verba Bentuk Me(N)-D. Karno Ekowardono. Edi Subroto. Dasar-dasar dan Segi-segi Penyusunan Kamus” daalm Seminar dalam rangka Bulan Bahasa.Great Britain: Edinburgh University Press. 1996. Harimurti dan Anton Moeliono). B. Bandung: ITB. . Edi Subroto.

. “Teori Morfologi dewasa Ini: Morfologi Klasik” dalam PELLBA II.P.1997. Jakarta: Universitas Atma Jaya. Morphology: An Introduction to The Theory of Word Structure.H.1974.Harimurti Kridalaksana. Harimurti Kridalaksana. N Matthews. London: Cambridge University Press.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->