LEKSEM DAN KATA DALAM STUDI MORFOLOGI

PERANAN LEKSEM DAN KATA DALAM STUDI MORFOLOGI oleh: Dwi Purnanto l. Pendahuluan Dalam bidang linguistik kita kenal adanya ancangan linguistik struktural. Linguis yang menganut aliran ini dalam pengkajiannya tentang bahasa ternyata tidak memiliki kesamaan dalam tata kerjanya. Para linguis yang menganut atau mengembangkan strukturalisme Bloomfield menggunakan tata kerja taksonomis: tuturan dianggap sebagai wujud pengalaman kejiwaan yang dipenggal-penggal dari satuan-satuan yang terbesar menjadi yang terkecil;dari kalimat-frasa-kata-morfem-fonem-bunyi bahasa. Morfologi dengan begitu akan menganalisis kata atas morfem-morfem yang menjadi unsur pembentuknya. Dengan demikian, pemerian morfologi akan berwujud inventarisasi morfem afiks, pemerian segi morfofonemiknya, dan inventarisasi makna gramatikal sebagai akibat dari proses afiksasi. Berbeda dengan ahli morfologi (linguis) Eropa, penganut dan pengembang strukturalisme De Saussure dan strukturalisme Praha, akan menggunakan tata kerja yang lain. Dalam pandangan linguis Eropa bahasa (langue) terealisasi dalam pemakaian bahasa (parole). Dari seluruh pemakaian bahasa dapat didentifikasi adanya satu bahasa tertentu. Jadi, bahasa dan pemakaian bahasa adalah dua segi seperti permukaan uang yang berpadu erat; yang satu tidak akan ada tanpa yang lain (Uhlenbeck dalam Ekowardono, 1991:2). Sejalan dengan itu, maka akan terdapat dua satuan dasar yang mendukungnya, yaitu kata dan kalimat. Kalimat akan ditempatkan sebagai satuan sentral dalam pemakaian bahasa, sedangkan kata akan diposisikan sebagai satuan sentral dalam bahasa. Selanjutnya dalam penelitian bahasa, kata akan dikaji morfologi, dan kalimat akan dikaji sintaksis. Dalam praktiknya kajian morfologi tidak akan pernah dapat dilepaskan dari kalimat, sebaliknya kajian sintaksis juga tidak akan pernah mengabaikan ihwal kata. Namun demikian, kajian morfologi tetap berkosentrasi pada kata. Analisis morfologi dilakukan dengan cara mengkorelasikan kata-kata dalam suatu bahasa secara proporsional, dalam arti akan memperhitungkan setiap kata dalam paradigmanya. Pendekatan seperti ini akan disebut dengan pendekatan Word and Paradigm (WP). Pengkorelasian itu akan dilakukan secara sistematis terhadap leksikon suatu bahasa. Dengan metode itu akan diketahui apakah anatara kata-kata yang dikorelasikan itu terdapat kesepadanan (korespondensi) dalam tiga aspeknya atau tidak. Aspek itu adalah aspek bentuk, aspek makna, dan aspek valensi sintaktis. Kalau sejumlah kata terdapat kesepadanan aspek makna, aspek bentuk, dan valensi sintakstiknya maka kata-kata itu akan dimasukkan dalam satu kategori morfologis. Sebaliknya kalau sejumlah

Setiap bahasa tentunya dapat dijabarkan ihwal kata itu dan properti-properti morfosintaksisnya (Mathews. (2) dapat dibalikkan urutannya. Menurut tradisi studi morfologi akan mengkaji struktur internal kata dalam kaitannya dengan kata lain dalam suatu paradigma. Kata sebagai satuan sentral dalam bahasa ditandai oleh adanya mobilitas sintagmatisnya. khususnya aliran struktural Amerika yang dipelopori oleh Bloomfield. Posisi Leksem dan Kata dalam Morfologi Morfologi termasuk salah satu studi kebahasaan (linguistik) yang mengkaji kata atau leksikon suatu bahasa. (Mathews. (3) dapat digantian posisisnya oleh kata yang lain (4) dapat disolasikan. 1988:4). . Dengan begitu kajian morfologi akan berkaitan juga dengan bagaimana proses infleksi dan derivasinya. Hal itu dapat diambil contoh pasangan-pasangan kata sebagai berikut: desert deserter ‘pembelot’ design designer ‘perancang’ fight fighter ‘pejuang/petinju’ paint painter ‘pengecat’ Kata-kata tersebut tidak hanya akan dikaji bentuk katanya saja. Pertama adanya studi filologis terhadap tata bahasa pada akhir abad 19 dan tahun-tahun pertama abad 20. kata. Pada abad 19 istilah morfologi sebagai bidang linguistik dipahami sebagai studi tentang perubahan-perubahan secara sistematis tentang bentuk kata yang dihubungkan dengan maknanya (Bauer. sedangkan sintaksis berkaitan dengan fungsi-fungsi eksternal kata dan kaitannya dengan kata lain dalam kalimat. maksudnya dalam hubungannya dengan kata lain secara linier. atau dalam arti terdapat oposisi antara kata-kata yang dikaji maka dapat dikelompokkan dalam kategori morfologis yang berbeda. yakni kemungkinan-kemungkan yang dimiliki kata untuk berkombinasi dengan kata-kata lain dalam kelompok (Uhlenbeck dalam Ekowardono. yaitu setidak-tidaknya terdapat tiga sumber utama. 2. Ketiga. 1988:5). 1982:54). Pada tingkat gramatikal. 1974:136). Terdapat latar belakang teoritis mengapa perhatian baru terhadap morfologi diperhatikan lagi. tetapi akan dikaji bagaimana unit-unit lain dapat berfungsi untuk mengubah bentuk katanya. kata itu akan memperlihatkan (1) kata itu dapat dipisahkan dari kata yang lain.1974:154). dengan intonasi tertentu dapat dipakai sebagai kalimat. studi bahasa yang bermacam-macam yang dipengaruhi oleh aliran struktural. munculnya aliran transformasional yang dikembangkan oleh Noam Chomsky (Bauer. Kata dalam hal ini dipandang sebagai satuan-satuan padu bentuk dan makna yang memperlihatkan aspek valensi sintaksis. secara tradisional akan dipahami sebagai unsur terkecil bahasa yang akan didentifikasikan tentang asal dan bentuknya dalam paradigma.kata itu tidak menunjukkan kesepadanan. Kedua.

sedangkan sufiks -s bersifat infleksional. Kemudian ia menyatakan.1 Pandangan Harimurti Kridalaksana tentang Leksem dan Pembentukan Kata Pandangan Harimurti Kridalaksana mengenai leksem sebagai input dalam proses pembentukan kata tertuang dalam disertasinya yang telah dibukukan dengan judul Beberapa Prinsip Perpaduan Leksem dalam Bahasa Indonesia (1988) dan Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia (1989). Pengertian leksem tersebut terbatas pada satuan yang diwujudkan . leksemlah yang merupakan “bahan dasar” yang telah mengalami “pengolahan gramatikal” menjadi kata dalam subsistem gramatika. words” (Iihat Carroll 1956:125-33). Pembicaraaan secara operasional pada bagian ini akan dibandingkan bagaimana konsep leksem dan model tata kerja yang dipahami dan diterapkan oleh Harimurti Kridalaksana dan Edi Subroto. “… vocabulary words constitute one subclass of what … we are calling lexeme“. Dalam salah satu karangannya. Afiks infleksional adalah afiks yang mampu menghasilkan bentuk-bentuk kata yang baru dari leksem dasarnya. yaitu afiks-afiks infleksional dan afiks-afiks derivasional. “..Dengan tata kerja seperti itu kajian morfologi di dalam suatu bahasa. 2. dan Word and Paradigm (WP). Misalnya kata recreates dapat dianalisis menjadi sebuah prefiks re. dan sebuah sufiks . seperti tertuang dalam tulisan Hockett Two Models of Item and Arrangement (IA) and Item and Process (IP). IP agak lebih rumit.bersifat derivasional.lexemes are the words and phrases that a dictionary would list under a separate entry” (1977:23). Prefiks remembentuk leksem baru RECREATE dari bentuk dasar create. akan melibatkan kajian tentang afiks sebagai alat pembentuk kata (polimorfemis) atau lexical formatives (istilah Mathews). Dengan perkataan lain. Sarjana lain.sebuah akar create. sedangkan afiks derivasional adalah afiks yang menghasilkan leksem baru dari leksem dasar. analisis morfologi terhadap kata lebih didominasi dengan penggunaan model IA dan IP. Matthews. pelopor relativitas bahasa itu menerangkan bahwa “The lexeme …” adalah ” …the word or stem as an item of the vocabulary. Dia berpendapat bahwa kata harus dibedakan dengan leksem dengan mengutip pendapat dari Lyons (1968). Pada masa itu. Untuk memahami bagaimana kata dapat dikaji dalam morfologi. 1997:2). sedangkan sufiks -s membentuk kata yang lain dari leksem RECREATE.s. Lebih lanjut Bauer berpendapat bahwa model IA adalah tipe yang paling sederhana. Lyons dalam karangannya yang lain menyatakan. termasuk bahasa Indonesia. Dengan demikian. para linguis bisa mengacu ulang kepada pendapat Hockett (1954) tentang: analisis kata dengan pendekatan Item and Arrangement (IA). Di dalam karangan ini pun ia mempergunakan leksem sebagai satuan dasar dalam leksikon dan dibedakan dari kata sebagai satuan gramatikal. . and as a part analyzed or abstracted from sentence. Sebenarnya istilah leksem sudah dipergunakan oleh Whorf pada tahun 1938. menyebutkan bahwa leksem sebagai”an ABSTRACT unit” (1974:21) adalah “… the fundamental unit … of the lexicon” (1974:22). dan WP adalah yang paling rumit (1988:170). analisis kata dengan pendekatan Item and Pro-cess (IP). (Kridalaksana. akan didapati dua jenis afiks. Jadi prefiks re.(1977:19).

Masalah kelas kata dalam bahasa Indonesia telah dibahas secara mendalam dalam karangan lain (Harimurti Kridalaksana 1986). Penentuan kategori leksikal berlainan caranya dari penentuan kategori gramatikal atau kelas kata. tetapi dewasa ini satu-satunya tes yang dapat diandalkan hanyalah tes gramatikal (Iihat juga Hopper & Thompson 1984). sedangkan kata sebagai satuan gramatikal berperan sebagai output. (4) unsur yang diketahui adanya dari bentuk yang setelah disegmentasikan dari bentuk kompleks merupakan bentuk dasar yang lepas dari morfem afiks. Dalam tulisan Harimurti akan banyak dijumpai konsep-konsep seperti leksem nominal.dalam gramatika dalam bentuk morfem dasar atau kata. sedangkan makna semula. Lain halnya dengan kategori dari leksem. Telah menjadi kelaziman dalam linguistik Indonesia bahwa untuk menentukan kelas kata dari sudut intern gramatika. leksem verbal dan sebagainya. walaupun ada kesepadanannya. embraces “things” (both physical objects and reified abstractions)” (1970:96). Jadi. melainkan lexical-formative (Matthews 1974:41). embraces states (conditions. sedikit banyak tidak berubah. yang berperan sebagai input dalam proses itu ialah leksem sebagai satuan leksikal. kecuali dalam satu proses bukan hanya berubah bentuknya melainkan juga memperoleh makna baru. the other. yang di sini disebut makna gramatikal. dengan ringkas dapat dinyatakan bahwa leksem adalah: (1) satuan terkecil dalam leksikon. Antara lain ia menyatakan. the total human conceptual universe is dichotomized initially into two major areas. maupun secara sintaktis. Berkaitan erat dengan konsep leksem ialah kategorisasi leksem. yaitu afiks. misalnya leksem nominal yang sepadan dengan kata nominal atau nomina. (2) satuan yang berperan sebagai input dalam proses morfologis. qualities) and events. Secara ideal baik sekali bila ada tes untuk menentukan suatu kategori secara leksikal dan semantis. jadi apa yang secara semantis merupakan nomina biasanya juga nomina secara leksikal dan gramatikal. Tidak sulit bagi kita untuk menerima bahwa antara ketiga kategorisasi itu terdapat kesepadanan. ciri-ciri kategorinya tidak dapat ditentukan seperti kelas kata. Penggunaan konsep leksem dan pembedaannya dengan konsep kata dapat menghilangkan keragu-rarguan orang selama ini dalam menentukan kriteria kata. (5) bentuk yang tidak tergolong proleksem atau partikel. dalam kepustakaan linguistik dikenal pula kategorisasi semantis sebagaimana dilakukan oleh Chafe. Karena leksem sebagai satuan dari leksikon ada di luar morfologi maupun sintaksis. verba dipakai leksem verbal. . satuan yang disebut morfem yang dalam hierarki gramatikal merupakan satuan terkecil baru dapat ditandai setelah kata terbentuk melalui .53) “morfologi dapat dipandang sebagai subsistem yang berupa proses yang mengolah leksem menjadi kata atau seperti dikatakan oleh Whorf (dalam Carrol 1956:132) ketika membicarakan derivational types. Dalam proses ini leksem. merupakan suatu kesatuan yang dapat dianalisis atas komponen-komponen yang disebut morfem. One the area of the verb. Satuan lain yang cukup dikenal. Di samping kategorisasi gramatikal dan kategorisasi leksikal tersebut.. baik secara morfologis. (3) bahan baku dalam proses morfologis. yakni makna leksikal. the area of the noun. Jadi. tidak disebut leksem. output proses ini. Dengan perkataan lain. yaitu kata. Jadi. Berdasarkan pendapat Harimurti Kridalaksana (1988.

bahwa derivasi terjadi sebelum kata. sedangkan tidak semua morfem dasar merupakan morfem bebas. Karena bahan dasar kata ialah leksem. yang wujudnya sama dengan leksem.proses morfologis itu. morphemes only secondary signs. dan morfem gramatikal. Uraian tersebut berlaku bagi proses pembentukan kata sebagai satuan sintaktis. Dalam kata terangkat misalnya. sedangkan infleksi terjadi sesudah pembentukan kata selesai dan menutup konstruksi derivasi. “All regular word-formation processes are word-based” (1976:21). Pandangan yang serupa juga diberikan pula oleh Uhlenbeck (1982:6) bahwa “di dalam kata ada 2 jenis morfem. Kata tersebut berasal dari Ieksem write ‘menulis’ yang berubah menjadi kata writer setelah mengalami proses morfologi leksikal karena mendapat imbuhan er. Morfem dasar. dan perubahan ini terjadi dalam morfologi inflektif.e. yaitu gabungan leksem dan leksem (yang kita sebut paduan leksem) dan gabungan kata dan kata (yang kita sebut frasa). Contoh: leksem salah dan leksem guna dapat berpadu menjadi salah guna. i. yaitu morfem leksikal yang makna dan bentuknya sedikit banyak sama dengan leksem. merupakan morfem yang mengalami proses morfologis. kemudian bergabung menjadi frasa tidak adil. Selain itu lazim pula dibedakan antara morfem dasar dan afiks. Selanjutnya kata itu berubah lagi setelah mendapat sufiks penanda plural -s. sebagaimana dikatakan oleh Aronoff. maka subsistem ini disebut morfologi leksikal atau morfologi derivatif. signs on signs (words). bukan hanya morfem dasar yang tunggal atau bentuk yang monomorfemis. Dengan singkat dapat dinyatakan. seperti afiksasi misalnya. sedangkan afiks adalah morfem yang membentuk kata. dan -s disebut morfem inflektif. therefore words are better perceivable than morphemes for motivating derived words” (1 983:75). melainkan juga bentuk yang polimorfemis. jadi secara sintaktis bisa langsung menjadi kata. yaitu satuan pembentuk kata yang sedikit banyak menyebabkan leksem itu mempunyai makna gramatikal’. Leksem tidak dan leksem adil masing-masing diderivasikan sebagai kata. Proses morfologis dalam bahasa Indonesia. Di dalam bahasa Indonesia perbedaan di antara derivasi dan infleksi tidak sejelas itu (Kridalaksana (1988:54). dan keduanya dapat memperoleh kombinasi afiks dalam disalahgunakan. terdapat morfem bebas angkat dan morfem terikat ter-. Batas di antara morfem bebas dan morfem terikat tidak selamanya tegas. Afiks selalu merupakan morfem terikat. Ada lagi suatu sektor gramatikal yang menyangkut perubahan kata menjadi satuan yang dapat berperan dalam sintaktis yang disebut morfologi inflektif. yaitu masalah proleksem dan klitika. . sedangkan morfem terikat tidak dapat. dan oleh Dressler: … words are primary signs. Perlu dibedakan di sini antara apa yang disebut morfem bebas dan morfem terikat. Morfem bebas adalah morfem yang mempunyai potensi untuk berdiri sendiri. dan karena proses ini menyangkut pembentukan kata. sehingga terdapat satuan yang merupakan peralihan di antara keduanya. sebuah morfem derivatif. Untuk menerangkan bidang ini diambil contoh kata Inggris writers ‘penulis-penulis’. dan kemudian memperoleh konfiks ke-an menjadi ketidakadilan.

. yaitu Ieksem. (3) reduplikasi: dalam proses ini leksem berubah menjadi kata kompleks dengan bebcrapa macam proses pengulangan. (4) pemendekan: dalam proses ini leksem atau gabungan leksem meniadi kata kompleks atau akronim atau singkatan dengan pelbagai proses pemendekan. dan salah satu proses tersebut di atas. Ada beberapa jenis pemendekan: (a) pemenggalan (b) kontraksi (c) akronim (d) penyingkatan. serta output. Peristiwa itu dapat digambarkan sebagai berikut: Proses morfologis yang kita kenal ialah: (1) derivasi zero (2) afiksasi (3) reduplikasi (4) pemendekan (5) derivasi balik (6) perpaduan. dalam proses ini Icksem berubah menjadi kata kompleks. Penjelasan singkat tentang proses itu masing-masing: (1) derivasi zero dalam proses ini leksem menjadi kata tunggal tanpa perubahan apa-apa: leksem derivasi zero kata tunggal tunggal contoh: leksem lupa menjadi kata lupa tanpa perubahan apa-apa. berupa kata.Peristiwa morfologis terjadi dari input. (2) afiksasi. .

(d) leksem tak dan leksem akan menjadi takkan setelah mengalami kontraksi. Singkatan dan akronim itu secara gramatikal berstatus kata.dan -kan. leksem tunggal akronim akronim penyingkatan singkatan leksem tunggal Contoh: (a) leksem peluru dan leksem tunggal kendali menjadi akronim rudal. jadi dapat digambarkan sebagai berikut: leksem afiksasi kata tunggal reduplikasi kompleks pemenggalan kontraksi Contoh: (a) leksem lupa menjadi kata melupakan setelah mengalami afiksasi dengan me.Dalam pemenggalan dan kontraksi inputnya adalah leksem tunggal dan outputnya kata kqmpleks seperti terdapat pada afiksasi dan reduplikasi. (c) leksem ibu menjadi kata bu setelah mengalami pemendekan dalam bentuk pemenggalan. (b) leksem rumah menjadi kata rumah-rumah setelah mengalami reduplikasi. (b) Ieksem republik dan leksem Indonesia menjadi singkatan RI. .

Dua contoh berikut dapat diamati untuk memahami bagaimana gramatikalisasi dan leksikalisasi itu berinteraksi dalam pembentukan kata: ketidakadilan . dan unsur ini kemudian dapat mengalami proses morfologis lagi dan menjadi kata “baru” (lihat juga Brown 1984:66).(5) derivasi balik: dalam proses ini inputnya leksem tunggal. dan bagannya adalah: leksem tunggal paduan kata perpaduan leksem majemuk leksem tunggal Contoh: Leksem daya dan leksem juang menjadi dayajuang sebagai paduan leksem dalam tingkat morfologi atau kata majemuk dalam tingkat sintaksis. (6) perpaduan: dalam proses ini dua leksem atau lebih berpadu dan outputnya adaiah paduan leksem. Kata majemuk yang dihasilkan oleh proses perpaduan yang bersifat morfologis berbeda dari frasa yang merupakan penggabungan kata yang bersifat sintaktis. Kejadiannya seperti afiksasi). Contoh: Leksem mungkir menjadi pungkir dalam bentuk seperti dipungkiri karena proses derivasi balik. dan outputnya berupa kata yang secara historis muncul kemudian dari asalnya itu. Pembentukan kata dalam bahasa Indonesia menurut Harimurti Kridalaksana dapat bersifat rekursif: sebuah leksem atau lebih setelah mengalami proses morfologis menjadi kata. Kita mengetahui leksem mungkir lebih dahulu ada daripada pungkir karena leksem itu merupakan pinjaman dari bahasa Arab dan pungkir hanya ada dalam bahasa Indonesia. dan kembalinya kata menjadi unsur Icksikal lagi itu disebut proses leksikalisasi. Berubahnya leksem menjadi kata disebut proses gramatikalisasi.

dan tidak perlu dibicarakan proses afiksasi. proses Ill: leksikalisasi frasa seni drama tari menjadi gabungan leksem. tari (secara berasingan) masing-masing menjadi kata. boleh dikatakan bahwa penelitian mereka baru secara umum atau baru mengenai kategori transposisi tertentu sehingga masalah itu . proses IV : konfiksasi dengan ke . Dalam disertasi itu dinyatakan bahwa “terdapat beberapa linguis yang telah meneliti transposisi dari jenis kata yang satu menjadi jenis kata lain dalam bahasa Jawa ialah Uhlenbeek (1953a. 1969) dan Poedjosoedarmo dkk (1979).proses I : gramatikalisasi Ieksem tidak dan adil (secara berasingan) menjadi kata. 2. proses VII: prefiksasi terhadap sendratarikan menjadi disendratarikan. proses VI : sufiksasi dengan .perlu diteliti lebih lanjut secara lebih luas dan mendalam.D. proses IV : pemendekan (kontraksi) gabungan leksem seni drama tari menjadi sendratari.2 Pandangan Edi Subroto tentang Leksem dan Pembentukan Kata Pandangan yang berbeda tentang leksem dinyatakan oleh Edi Subroto dalam makalah tentang Infleksi dan derivasi. proses V : leksikalisasi kata sendratari menjadi leksem. Konsep Leksem dan Upaya Pengorganisasian Lema dan Sublema dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Namun demikian. perpaduan. drama. proses Ill:leksikalisasi frasa tidak adil menjadi gabungan leksem. dan Me(N)-D-kan dalam Bahasa Indonesia. proses ll: penggabungan kedua kata itu menjadi frase tidak adil (ini terjadi dalam tingkat sintaksis). .kan terhadap leksem sendratari menjadi sendratarikan.terutama di antara jenis-jenis kata utama . Verba Bentuk Me(N). dan sebagainya di luar proses pembentukan kata. dan disertasi tentang Transposisi dari Adjektiva menjadi Verba dan Sebaliknya dalam Bahasa Jawa.an terhadap gabungan leksem tidak adil menjadi kata ketidakadilan. Me(N). proses ll : penggabungan ketiga kata itu menjadi seni drama tari (ini terjadi dalam tingkat sintaksis).D. Kedua contoh tersebut memperlihatkan manfaat pembedaan konsep gramatikalisasi dan leksikalisasi dalam pembentukan kata: semua proses itu berada dalam satu sistem. disendratarikan proses I : gramatikalisasi leksem-leksem seni.i.

(2) secara statistik. sedangkan infleksi adalah proses morfologis yang menghasilkan bentuk-bentuk kata yang berbeda dari sebuah leksem yang sama. Sedangkan Matthews (1974:38) menjelaskan bahwa infleksi adalah bentuk-bentuk kata yang berbeda dari paradigma yang sama. afiks drivasional jumlahnya lebih beragam bila dibandingkan dengan afiks infleksional. sedangkan afiks-afiks infleksional tidak bisa. sedangkan pembentukan infleksional tidak bisa. sebuah kata dapat dipakai sebagai dasar bagi pembentukan kata-kata lain dengan prosede-prosede tertentu. Bauer merumuskan bahwa pembentukan infleksional dapat diramalkan sedangkan pembentukkan derivasional tidak dapat diramalkan. Dengan demikian. apa yang disebut “morfem” bukanlah satuan fingual (satuan bahasa) yang otonom melainkan suatu momen (a dependent feature) yang identitasnya baru diketahui dalam hubungan kata secara keseluruhan. Kata yang dipakai sebagai dasar bersama dengan kata-kata lain yang tersusun di dalam suatu paradigma yang termasuk jenis tertentu. Ancangan yang mengakui kesentralan kata dipandang cocok untuk diterapkan dalam analisis morfologi bahasa Jawa karena terdapat banyak kata yang secara formal sama tetapi dimasukkan dalam kategori yang berbeda karena berhubungan dengan ciri makna yang berbeda. Berdasarkan ancangan itu. Menurut Edi Subroto. Bauer (1988: 12-13) berpendapat bahwa derivasi adalah proses morfologis yang menghasilkan morfem baru. Kata dan prosede morfologis (kaidah atau pola pembentukan kata secara sinkronis) adalah dua konsep utama di dalam ancangan itu. Ciri-ciri yang demikian tidak terdapat pada paradigma yang derivasional (1985: 6). (4) afiks-afiks derivasional mempu-nyai distribusi yang terbatas. sedangkan afiks infleksional mempunyai distribusi yang luas. Perbedaan antara pembentukan secara derivasional dan infleksional diuraikan Nida dalam Edi Subroto (1985: 2): (1) pembentukan derivasional termasuk jenis kata yang sama dengan kata tunggal (dari suatu sistem jenis kata). Posisi satu kategori dalam kaitannya dengan kategori-kategori lain dan kontras atau perbedaan antara kategori yang satu dengan kategori lainnya di dalam paradigma itu dapat diperikan secara lebih jelas. sedangkan derivasi adalah bentuk kata yang berbeda dari paradigma yang berbeda. (5) pembentukan derivasional dapat dijadikan dasar bagi pembentukan berikutnya. Selanjutnya. tetapi strukturalisme yang mengakui kesentralan kata tidak saja di dalam morfologi tetapi juga di dalam bahasa pada umumnya. sebuah afiks akan termasuk infleksional kalau di dalam suatu paradigma dapat diramalkan untuk menggantikan afiks infleksional lainnya. Berdasarkan pola pembentukan kata yang telah ada. (3) afiks-afiks derivasional dapat mengubah jenis kata. setiap proses morfologis.Ancangan (approach) yang digunakan di dalam disertasi itu ialah strukturalisme. Contohnya. paradigma dari dasar”PETIK” -PETIKI __________ -PETIK __________ -PETIKKAN memetiki memetik memetikkan 1 . Lebih lanjut. juga terdapat keteraturan makna gramatikal di dalam paradigma infleksional.

6 ______________________________________________________ II pemetik pemetikan petikan ______________________________________________________ Paradigma I termasuk paradigma kata kerja yang dibentuk dari dasar “petik”. dan kolom -PETIKKAN disebut C. sedangkan baris 2 menyatakan pelaku ‘tidak nampak dalam bentuk’. baris pertama) dapat digantikan dengan di-. ketiga kata itu dide-rivasikan dari kata kerja mememetik(pemetik‘orang yang memetik’. Bentuk baris 1 terdapat apabila kalimat berfokus agentif. pemetikan. Dengan begitu. Maksudnya. baris 3 pelaku adalah O1. dan -PETIKKAN. Perbedaan antara baris 2-6 menytkan ‘keaksidentalan’ (hal tidak disengaja). perdasarkan pertimbangan semantik leksikal.dipetiki dipetik dipetikkan 2 I kupetiki kupetik kupetikkan 3 kaupetiki kaupetik kaupetikkan 4 diapetiki diapetik diapetikkan 5 terpetiki? terpetik . kata memetik. kolom -PETIKI disebut B. Untuk memudahkan pembicaraan paradigma kata kerja kolom -PETIK disebut A. Masing-masing kolom merupakan paradigma infleksional dan masing-masing mempunyai bentuk kata baris 1 . dan memetikkan secara leksikal adalah tiga kata yang berbeda (derivasional) sekalipun termasuk dalam kata kerja. Baris 6 berbeda dengan baris 3-5 karena menyatakan pelaku ‘nampak dalam bentuk’. kolom C dari leksem -PETIKKAN.(sebagai bentuk pertama. 6 yang masih tanda tanya). ku-. -PETIKKAN (dalam oposisinya dengan -PETIK) mengandung ciri ‘kebenefaktifan’. -PETIKI. Selanjutnya perlu dibedakan leksem -PETIK. kau-. memetiki. Terlihat pada masing-masing kolom bahwa bentuk dengan Me(N). masing-masing kolom merupakan paradigma infleksional. baris 5 adalah O3. sedangkan paradigma II adalah paradigma deverbal. Kemunculan masing-asing bentuk dari setiap kolom dapat diramalkan berdasarkan kaidah gramatis tertentu. Kata pemetik. dan kolom PETIKAN. Kolom A dari leksem -PETIK. Oleh karena itu. Leksem -PETIKI bermakna ‘pluralitas perbuatan’. sedangkan baris 2-6 berfokus pasientif.6 (kecuali kolom -PETIKKAN 6 dan kolom -PETIKI. Paradigma kata kerja terbagi atas tiga kolom: kolom PETIK. dia-. dan petikan(II) dikategorikan sebagai kata benda derivasional deverbal. baris 2-5 menyatakan ‘kesengajaan’. baris 4 adalah O2. pemetikan‘hal . kolom PETIKI. kolom B dari leksem -PETIKI.

Dan yang paling menentukan adalah adanya pendekatan terhadap analisis kata-kata dalam Bahasa Indonesia dengan memakai Word and Paradigm (WP). Berdasarkan uraian di atas akhirnya dirumuskan oleh Subroto bahwa leksem adalah “satuan lingual hasil abstraksi dari sebuah paradigma. transposisi dibedakan dalam rangka untuk membedakan identitas leksemnya. KOMENTAR Untuk mengkaji konsep leksem dan kata hendaknya dicermati secara seksama. (Harimurti. Harimurti dalam karya-karyanya sengaja tidak membedakan jenis leksem (yang ada hanya leksem tunggal). petikan ‘hasil memetik’). yaitu kata. khususnya (WP) adalah terdapatnya kenyataan bahwa kata merupakan satuan yang tidak terlalu jelas batas-batasnya. kata sebagai leksem.memetik’. Dengan demikian. leksem dipahami sebagai input dalam proses gramatikal (pembentukan kata). ihwal infleksi dan derivasi yang ada keterkaitanya dengan konsep kata dalam arti leksem dan kata gramatikal. Di samping itu. hal yang amat penting yakni infleksi dan derivasi tidak diakui keberadaannya. misalnya nomina tidak dibedakan nomina dengan ciri semantisnya. leksem adalah satuan abstrak dan satuan terkecil dari sebuah paradigma” (1996:271). Di dalam tulisan-tulisannya. dalam pengertian kata sebagai sesuatu yang sentral. sangat diperlukan pula mengenai ancangan (pendekatan) yang dipakai untuk tata kerja di dalam mengkaji sebuah kata dan proses pembentukannya (proses morfologisnya). Berbeda dengan pendapat Edi Subroto. III. Menurutnya “model proses adalah satu-satunya model yang cocok untuk menyajikan morfologi Bahasa Indonesia” (1997:7). maka akan sangat membantu dan relevan bila kita dapat melacak kembali pendapat Matthews yang membedakan kata secara fonologis. Keberatan Harimurti atas penggunaan model lain. sedangkan outputnya adalah kata. Dalam kaitannya dengan itu. Leksem merupakan satuan fundamental dari leksikon sebuah bahasa. tidak mengenal adanya transposisi dalam derivasi zero. sehingga bila diunggulkan tidak akan mempermudah analisis (padahal dianjurkan untuk mengatasi dilema analisis morfemis). untuk satu kelas kata. Edi Subroto menyetujui gagasan dan pendapat Marchand bahwa “pembentukan kata adalah cabang ilmu bahasa yang mengkaji pola-pola dimana sebuah bahasa membentuk satuan-satuan leksikal baru. leksem dibedakan atas leksem tunggal dan leksem majemuk. dalam tulisan-tulisan yang . 1997:6). Oleh sebab itu. dan kata gramatikal. atau. Dengan demikian yang relevan bagi pembentukan kata adalah morfologi derivasional atau morfologi leksikal (1996:269). misalnya leksem lupa dengan derivasi zero akan menjadi kata lupa tanpa perubahan apa-apa. Sebagai satuan abstrak terkecil leksem dapat diwujudkan dalam bentuk kata gramatikal dalam sebuah paradigma. Berdasarkan perbedaan referennya. Keberatan kedua ialah bahwa penerapannya tidak membuat deskripsi menjadi ekonomis. ketiga kata itu berbeda secara leksikal sekalipun sama-sama termasuk kata benda.

Dengan memahami perbedaan pandangan kedua mazhab itu kiranya akan dapat menerangkan dan menjawab ihwal latar belakang mengapa terdapat perbedaan kajian terhadap morfologi. 1988:170-171). analisis kata dengan Item and Process (IP). yang menempatkan kata sebagai kajian sentral dan morfem hanya sebuah momen (a dependent feature). sebenarnya kita harus kembali kepada pendapat Hockett (1954) seperti yang dikutip oleh Bauer tentang: analisis kata dengan pendekatan Item and Arrangement (IA). dan WP yang dibahas dalam linguistik sebenarnya paling relevan bila dikaitkan dengan pemhahasan tentang morfologi (pembentukan kata). dengan ketentuan kata harus diakui sebagai satuan yang diunggulkan dan konsep morfem ditinggalkan. Yang hal ini berbeda dengan kajian struktural Eropa. (2) Hieraki gramatikal diakui secara eksplisit maupun implisit. kata dalam arti leksem dan kata gramatikal sesuai dengan konsep infleksi dan derivasi (1989:3). sehingga kata tidak dianggap sebagai satuan sentral. Dan beberapa segi dari bahasa fusi memerlukan bantuan dari tata bahasa model WP agar lebih efektif (Bauer. Model IP itu diperkenalkan kembali sejak tahun 60-an dalam teori TG yang . Beberapa keberatan tersebut di atas dicoba untuk diatasi.Bahwa deskripsi yangdibuat dari ketiga model itu dapat dikaitkan dengan satu model yang disarankan. Namun dalam perdebatan tentang model mana yang cocok untuk digunakan sebagai model pengkajian dalam morfologi. Untuk memahami bagaimana kata dapat dikaji dalam bahasa. Model tata kerja IP. Latin.dipublikasikan Edi Subroto memposisikan kata sebagaimana yang dinyatakan oleh Mathews. Selain itu. Perbedaan kedua kajian tentang bahasa ditandai oleh hal-hal seperti berikut: (1) linguistik Amerika berpijak kepada pengalaman dari penelitian babasa-babasa Indian yang mempunyai sifat-sifat yang sangat berlainan dengan bahasa-bahasa Indo-Eropa (Meskipun para pelopor linguistik Amerika awal abad itu semuanya berpendidikkan Eropa. khususnya morfologi. Pada tahun 70-an model WP dimunculkan lagi karena pengaruh teori tata bahasa generatif. hal yang tidak boleh diabaikan adalah terdapatnya perbedaan kajian strukturalisme Amerika dan strukturalisme Eropa. Beberapa segi bahasa fusi dan aglutinasi jauh lebih mudah diterapkan pada tata bahasa dengan model IP. dan Word and Paradigm (WP). seperti bahasa Yunani. Di antara ketiganya model WP adalah model morfologis tertua yang digunakan sebagai kerangka kerja. Ini dapat ditemukan dalam gramatika bahasa-hahasa klasik. Dalam tradisi Amerika model IP lebih dulu lazim daripada model IA. Pada umumnya tampak bahwa bahasa -bahasa isolasi lebih tepat dengan model IA. namun mereka mampu menanggalkan paradigma Eropa dalam penyelidikan babasa). Maka dikenallah apa yang disehut Neo-WP. Robins (1959) yang menganjurkan penggunaan konsep WP itu menyatakan bahwa bila model itu bisa diterapkan maka linguis akan terbebas dari dilema analisis morfemis. istilah itu baru muncul lebih kemudian dibandingkan dengan tata kerja IA dan IP. Mereka menganggap morfem sebagai satuan gramatikal terkecil (dan sentral). IA. Sanskerta. Lihat misalnya karya Boas (191 1) dan Sapir (1921) serta edisi pertama karya Nida Morphology (1942) yang sangat luas digunakan itu. dan Arab.

Sedangkan afiks derivasional tidak dapat ditambahkan pada setiap anggota kelas. Sebagai catatan akhir . dapat ditentukan bahwa afiks-afiks infleksional itu bersifat tidak produktif. miliege ‘jarak mil’. yaitu: (1) terdapat banyak peristiwa bahwa satu formatif dapat mewujudkan atau menghasilkan morfem-morfem yang berbeda di dalam bagian yang berbeda dari suatu paradigma. English Word-Formation. 1983. . Dengan begitu. (2) Dapat mencakup kumulasi morfem-morfem di dalam satu morf-tunggal. yaitu morfologi infleksional. trees. Lain halnya dengan perubahan makna secara derivasional seperti . sebaliknya makna-makna dari afiks-afiks derivasional tidak dapat diramalkan. 1982) membahas analisis morfologi dengan tata kerja atau anacangan WP secara mendasar dengan sebutan kerangka kerja leksikal. (a) Jika sebuah afiks mengubah bentuk bentuk dasarnya. Formalise adalah verba dan formalises juga verba. afiks itu bersifat derivasional. DAFTAR PUSTAKA Bauer. Matthews membuat notasi terhadap tata kerja dengan WP. (c) Terdapat suatu kaidah umum bahwa bila dapat menambahkan afiks infleksional pada salah satu anggota dari sebuah klas kata. seperti : dogs. London: Cambridge University Press. berarti -s tidak mengubah kelas kata sehingga kemungkinan termasuk afiks infleksional. yakni tahun 1972. Ahli morfologi yang bekerja dengan pendekatan WP menurut Bauer (1988:152 setidak-tidaknya akan mempunyai dua keuntungan. Sebagai contoh afiks infleksional -s yang menunjukkan makna jamak dalam Bahasa Inggris. Anderson (1977.age dalam bandage ‘pembalut’. formal adalah ajektiva.seluruhnya menggunakan model proses. maka akan dapat menambah afiks infleksional pada semua anggota kelas yang lain. dan morfologi derivasional atau morfologi leksikal. Pada perkembangan selanjutnya. yakni morfologi yang berkonsentrasi pada kata dan paradigmanya. berarti -al telah mengubah kelas kata sehingga termasuk afiks derivasional. Dalam kaitannya dengan afiks infleksional dan afiks derivasional itu akhirnya terdapat dua bidang morfologi. Contohnya adalah form adalah nomina. sedangkan afiks derivasional bersifat produktif. yaitu adanya sejumlah cara untuk mengetahui apakah sebuah afiks bersifat infleksional atau derivasional. shoes. Laurie. bicycles. cleavage ‘perpecahan’. IV. (b) Afiks-afiks infleksional selalu menampakkan makna yang teratur atau dapat diprediksikan. shortage ‘kekurangan’. akhirnya perlu diperhatikan apa yang dinyatakan oleh Bauer dalam kaitannya dengan studi tentang morfologi (1988:12-13). Model IP sangat luas digunakan oleh kaum Neo-Bloomfieldian yang memiliki landasan filsafat positivisme. Afiks-afiks yang tidak mengubah kelas kata bentuk dasarnya biasanya termasuk afiks infleksional.

Jakarta:UI. Yogyakarta: Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa. Karno Ekowardono.1988.1982. 1996.1989. ” Kata sebagai satuan Sentral dalam Kajian Morfologi” dalam Konferensi dan Musyawarah Nasional VI MLI. Lexeme. “Infleksi dan Derivasi:Kemungkinan Penerapannya dalam Pemerian Morfologi Bahasa Indonesia” dalam PIBSI VII. Edi Subroto. Beberapa Prinsip Perpaduan Leksem dalam Bahasa Indonesia. dan Valensi dalam bahasa Indonesia” dalam Pelangi Bahasa (ed. 1992. Tegal: Universitas Pancasakti. Semarang: UNDIP dan IKIPN. B. Karno Ekowardono. dan Me(N)-D-Kan dalam Bahasa Indonesia” dalam dalam Pelangi Bahasa (ed. Edi Subroto. Jakarta: Bhratara. “Konsep Leksem dan Upaya Pengorganisasian Kembali Lema dan Sublema Kamus Besar Bahasa Indonesia’ dalam Bahasa Nasional Kita. Laurie.1985. ” Konsepsi Morfem Afiks: Sebuah Studi atas Korelasi Bentuk.Bauer. 1995. “Sistem Verba Bahasa Jawa’ dalam Linguistik dan Bahasa Indonesia: Kumpulan Makalah Seminar Linguistik. 1982. Edi Subroto. Jakarta: Gramedia Harimurti Kridalaksana. Makna. Beard. Edi Subroto. “Konsep Leksem dan Upaya Pembaharuan Penyusunan Kamus dalam bahasa Indonesia” dalam PIBSI XI. Edi Subroto.1988. Surakarta: Fakultas Sastra UNS.1996. Jakarta: Bhratara. “Verba Pasif Bentuk Ter-D dalam Kaitannya dengan Verba Pasif Bentuk di-D” dalam PIBSI XIV. Yogyakarta: IKIP Muhammadiyah. Introducing Linguistic Morphology. Dasar-dasar dan Segi-segi Penyusunan Kamus” daalm Seminar dalam rangka Bulan Bahasa.1985. Edi subroto. B. Edi Subroto. 1991. Harimurti dan Anton Moeliono). Surakarta: Fakulas Sastra dan Budaya UNS. 1993. “Verba Bentuk Me(N)-D. Harimurti Kridalaksana.Great Britain: Edinburgh University Press. Transposisi dari Adjektiva Menjadi Verba dan Sebaliknya dalam Bahasa Jawa (Disertasi). Morpheme Base MorphologyUSA: State University Of New York. Harimurti dan Anton Moeliono). Me(N)-D-I. Robert. Bandung: ITB. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Kanisius. .1982. Edi Subroto.

N Matthews.H.1974. “Teori Morfologi dewasa Ini: Morfologi Klasik” dalam PELLBA II.Harimurti Kridalaksana.P. Harimurti Kridalaksana. London: Cambridge University Press. Jakarta: Universitas Atma Jaya.1997. . Morphology: An Introduction to The Theory of Word Structure.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful