LEKSEM DAN KATA DALAM STUDI MORFOLOGI

PERANAN LEKSEM DAN KATA DALAM STUDI MORFOLOGI oleh: Dwi Purnanto l. Pendahuluan Dalam bidang linguistik kita kenal adanya ancangan linguistik struktural. Linguis yang menganut aliran ini dalam pengkajiannya tentang bahasa ternyata tidak memiliki kesamaan dalam tata kerjanya. Para linguis yang menganut atau mengembangkan strukturalisme Bloomfield menggunakan tata kerja taksonomis: tuturan dianggap sebagai wujud pengalaman kejiwaan yang dipenggal-penggal dari satuan-satuan yang terbesar menjadi yang terkecil;dari kalimat-frasa-kata-morfem-fonem-bunyi bahasa. Morfologi dengan begitu akan menganalisis kata atas morfem-morfem yang menjadi unsur pembentuknya. Dengan demikian, pemerian morfologi akan berwujud inventarisasi morfem afiks, pemerian segi morfofonemiknya, dan inventarisasi makna gramatikal sebagai akibat dari proses afiksasi. Berbeda dengan ahli morfologi (linguis) Eropa, penganut dan pengembang strukturalisme De Saussure dan strukturalisme Praha, akan menggunakan tata kerja yang lain. Dalam pandangan linguis Eropa bahasa (langue) terealisasi dalam pemakaian bahasa (parole). Dari seluruh pemakaian bahasa dapat didentifikasi adanya satu bahasa tertentu. Jadi, bahasa dan pemakaian bahasa adalah dua segi seperti permukaan uang yang berpadu erat; yang satu tidak akan ada tanpa yang lain (Uhlenbeck dalam Ekowardono, 1991:2). Sejalan dengan itu, maka akan terdapat dua satuan dasar yang mendukungnya, yaitu kata dan kalimat. Kalimat akan ditempatkan sebagai satuan sentral dalam pemakaian bahasa, sedangkan kata akan diposisikan sebagai satuan sentral dalam bahasa. Selanjutnya dalam penelitian bahasa, kata akan dikaji morfologi, dan kalimat akan dikaji sintaksis. Dalam praktiknya kajian morfologi tidak akan pernah dapat dilepaskan dari kalimat, sebaliknya kajian sintaksis juga tidak akan pernah mengabaikan ihwal kata. Namun demikian, kajian morfologi tetap berkosentrasi pada kata. Analisis morfologi dilakukan dengan cara mengkorelasikan kata-kata dalam suatu bahasa secara proporsional, dalam arti akan memperhitungkan setiap kata dalam paradigmanya. Pendekatan seperti ini akan disebut dengan pendekatan Word and Paradigm (WP). Pengkorelasian itu akan dilakukan secara sistematis terhadap leksikon suatu bahasa. Dengan metode itu akan diketahui apakah anatara kata-kata yang dikorelasikan itu terdapat kesepadanan (korespondensi) dalam tiga aspeknya atau tidak. Aspek itu adalah aspek bentuk, aspek makna, dan aspek valensi sintaktis. Kalau sejumlah kata terdapat kesepadanan aspek makna, aspek bentuk, dan valensi sintakstiknya maka kata-kata itu akan dimasukkan dalam satu kategori morfologis. Sebaliknya kalau sejumlah

studi bahasa yang bermacam-macam yang dipengaruhi oleh aliran struktural. 2.1974:154). Dengan begitu kajian morfologi akan berkaitan juga dengan bagaimana proses infleksi dan derivasinya. 1988:5). sedangkan sintaksis berkaitan dengan fungsi-fungsi eksternal kata dan kaitannya dengan kata lain dalam kalimat. khususnya aliran struktural Amerika yang dipelopori oleh Bloomfield. kata. Posisi Leksem dan Kata dalam Morfologi Morfologi termasuk salah satu studi kebahasaan (linguistik) yang mengkaji kata atau leksikon suatu bahasa. yaitu setidak-tidaknya terdapat tiga sumber utama. tetapi akan dikaji bagaimana unit-unit lain dapat berfungsi untuk mengubah bentuk katanya. Kata sebagai satuan sentral dalam bahasa ditandai oleh adanya mobilitas sintagmatisnya. Pada tingkat gramatikal. Hal itu dapat diambil contoh pasangan-pasangan kata sebagai berikut: desert deserter ‘pembelot’ design designer ‘perancang’ fight fighter ‘pejuang/petinju’ paint painter ‘pengecat’ Kata-kata tersebut tidak hanya akan dikaji bentuk katanya saja. Kedua. dengan intonasi tertentu dapat dipakai sebagai kalimat. 1974:136). Ketiga. maksudnya dalam hubungannya dengan kata lain secara linier. (3) dapat digantian posisisnya oleh kata yang lain (4) dapat disolasikan. Setiap bahasa tentunya dapat dijabarkan ihwal kata itu dan properti-properti morfosintaksisnya (Mathews. (Mathews. Pertama adanya studi filologis terhadap tata bahasa pada akhir abad 19 dan tahun-tahun pertama abad 20.kata itu tidak menunjukkan kesepadanan. Menurut tradisi studi morfologi akan mengkaji struktur internal kata dalam kaitannya dengan kata lain dalam suatu paradigma. Pada abad 19 istilah morfologi sebagai bidang linguistik dipahami sebagai studi tentang perubahan-perubahan secara sistematis tentang bentuk kata yang dihubungkan dengan maknanya (Bauer. yakni kemungkinan-kemungkan yang dimiliki kata untuk berkombinasi dengan kata-kata lain dalam kelompok (Uhlenbeck dalam Ekowardono. secara tradisional akan dipahami sebagai unsur terkecil bahasa yang akan didentifikasikan tentang asal dan bentuknya dalam paradigma. 1982:54). munculnya aliran transformasional yang dikembangkan oleh Noam Chomsky (Bauer. (2) dapat dibalikkan urutannya. . Terdapat latar belakang teoritis mengapa perhatian baru terhadap morfologi diperhatikan lagi. Kata dalam hal ini dipandang sebagai satuan-satuan padu bentuk dan makna yang memperlihatkan aspek valensi sintaksis. atau dalam arti terdapat oposisi antara kata-kata yang dikaji maka dapat dikelompokkan dalam kategori morfologis yang berbeda. 1988:4). kata itu akan memperlihatkan (1) kata itu dapat dipisahkan dari kata yang lain.

Sebenarnya istilah leksem sudah dipergunakan oleh Whorf pada tahun 1938. analisis kata dengan pendekatan Item and Pro-cess (IP). 2. leksemlah yang merupakan “bahan dasar” yang telah mengalami “pengolahan gramatikal” menjadi kata dalam subsistem gramatika. and as a part analyzed or abstracted from sentence. sedangkan sufiks -s bersifat infleksional. Untuk memahami bagaimana kata dapat dikaji dalam morfologi.(1977:19). seperti tertuang dalam tulisan Hockett Two Models of Item and Arrangement (IA) and Item and Process (IP). Jadi prefiks re. dan sebuah sufiks . Afiks infleksional adalah afiks yang mampu menghasilkan bentuk-bentuk kata yang baru dari leksem dasarnya. Matthews.sebuah akar create. Dengan perkataan lain. Pengertian leksem tersebut terbatas pada satuan yang diwujudkan . menyebutkan bahwa leksem sebagai”an ABSTRACT unit” (1974:21) adalah “… the fundamental unit … of the lexicon” (1974:22). Kemudian ia menyatakan.. Pada masa itu. yaitu afiks-afiks infleksional dan afiks-afiks derivasional. dan Word and Paradigm (WP). Prefiks remembentuk leksem baru RECREATE dari bentuk dasar create.lexemes are the words and phrases that a dictionary would list under a separate entry” (1977:23).Dengan tata kerja seperti itu kajian morfologi di dalam suatu bahasa. Dengan demikian. words” (Iihat Carroll 1956:125-33). Di dalam karangan ini pun ia mempergunakan leksem sebagai satuan dasar dalam leksikon dan dibedakan dari kata sebagai satuan gramatikal. Dia berpendapat bahwa kata harus dibedakan dengan leksem dengan mengutip pendapat dari Lyons (1968). IP agak lebih rumit. Lebih lanjut Bauer berpendapat bahwa model IA adalah tipe yang paling sederhana. para linguis bisa mengacu ulang kepada pendapat Hockett (1954) tentang: analisis kata dengan pendekatan Item and Arrangement (IA).bersifat derivasional. dan WP adalah yang paling rumit (1988:170). akan melibatkan kajian tentang afiks sebagai alat pembentuk kata (polimorfemis) atau lexical formatives (istilah Mathews). analisis morfologi terhadap kata lebih didominasi dengan penggunaan model IA dan IP. sedangkan afiks derivasional adalah afiks yang menghasilkan leksem baru dari leksem dasar. “. termasuk bahasa Indonesia.s. . Lyons dalam karangannya yang lain menyatakan.1 Pandangan Harimurti Kridalaksana tentang Leksem dan Pembentukan Kata Pandangan Harimurti Kridalaksana mengenai leksem sebagai input dalam proses pembentukan kata tertuang dalam disertasinya yang telah dibukukan dengan judul Beberapa Prinsip Perpaduan Leksem dalam Bahasa Indonesia (1988) dan Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia (1989). 1997:2). (Kridalaksana. Sarjana lain. Pembicaraaan secara operasional pada bagian ini akan dibandingkan bagaimana konsep leksem dan model tata kerja yang dipahami dan diterapkan oleh Harimurti Kridalaksana dan Edi Subroto. Misalnya kata recreates dapat dianalisis menjadi sebuah prefiks re. pelopor relativitas bahasa itu menerangkan bahwa “The lexeme …” adalah ” …the word or stem as an item of the vocabulary. “… vocabulary words constitute one subclass of what … we are calling lexeme“. sedangkan sufiks -s membentuk kata yang lain dari leksem RECREATE. akan didapati dua jenis afiks. Dalam salah satu karangannya.

Berdasarkan pendapat Harimurti Kridalaksana (1988. sedikit banyak tidak berubah. (3) bahan baku dalam proses morfologis. yang di sini disebut makna gramatikal. merupakan suatu kesatuan yang dapat dianalisis atas komponen-komponen yang disebut morfem. dengan ringkas dapat dinyatakan bahwa leksem adalah: (1) satuan terkecil dalam leksikon. (5) bentuk yang tidak tergolong proleksem atau partikel. Tidak sulit bagi kita untuk menerima bahwa antara ketiga kategorisasi itu terdapat kesepadanan. maupun secara sintaktis. misalnya leksem nominal yang sepadan dengan kata nominal atau nomina.53) “morfologi dapat dipandang sebagai subsistem yang berupa proses yang mengolah leksem menjadi kata atau seperti dikatakan oleh Whorf (dalam Carrol 1956:132) ketika membicarakan derivational types. dalam kepustakaan linguistik dikenal pula kategorisasi semantis sebagaimana dilakukan oleh Chafe. baik secara morfologis. Penentuan kategori leksikal berlainan caranya dari penentuan kategori gramatikal atau kelas kata. Di samping kategorisasi gramatikal dan kategorisasi leksikal tersebut. Penggunaan konsep leksem dan pembedaannya dengan konsep kata dapat menghilangkan keragu-rarguan orang selama ini dalam menentukan kriteria kata. One the area of the verb. Masalah kelas kata dalam bahasa Indonesia telah dibahas secara mendalam dalam karangan lain (Harimurti Kridalaksana 1986). verba dipakai leksem verbal. tetapi dewasa ini satu-satunya tes yang dapat diandalkan hanyalah tes gramatikal (Iihat juga Hopper & Thompson 1984). Satuan lain yang cukup dikenal. (2) satuan yang berperan sebagai input dalam proses morfologis. jadi apa yang secara semantis merupakan nomina biasanya juga nomina secara leksikal dan gramatikal. Lain halnya dengan kategori dari leksem.dalam gramatika dalam bentuk morfem dasar atau kata. Dalam tulisan Harimurti akan banyak dijumpai konsep-konsep seperti leksem nominal. Jadi. Dengan perkataan lain. Berkaitan erat dengan konsep leksem ialah kategorisasi leksem. sedangkan makna semula. qualities) and events. (4) unsur yang diketahui adanya dari bentuk yang setelah disegmentasikan dari bentuk kompleks merupakan bentuk dasar yang lepas dari morfem afiks. Dalam proses ini leksem. the total human conceptual universe is dichotomized initially into two major areas.. Antara lain ia menyatakan. melainkan lexical-formative (Matthews 1974:41). leksem verbal dan sebagainya. Jadi. walaupun ada kesepadanannya. output proses ini. Secara ideal baik sekali bila ada tes untuk menentukan suatu kategori secara leksikal dan semantis. sedangkan kata sebagai satuan gramatikal berperan sebagai output. kecuali dalam satu proses bukan hanya berubah bentuknya melainkan juga memperoleh makna baru. satuan yang disebut morfem yang dalam hierarki gramatikal merupakan satuan terkecil baru dapat ditandai setelah kata terbentuk melalui . Telah menjadi kelaziman dalam linguistik Indonesia bahwa untuk menentukan kelas kata dari sudut intern gramatika. embraces “things” (both physical objects and reified abstractions)” (1970:96). embraces states (conditions. Jadi. ciri-ciri kategorinya tidak dapat ditentukan seperti kelas kata. yang berperan sebagai input dalam proses itu ialah leksem sebagai satuan leksikal. the area of the noun. tidak disebut leksem. yaitu kata. . yakni makna leksikal. yaitu afiks. the other. Karena leksem sebagai satuan dari leksikon ada di luar morfologi maupun sintaksis.

sebuah morfem derivatif. Leksem tidak dan leksem adil masing-masing diderivasikan sebagai kata. “All regular word-formation processes are word-based” (1976:21). signs on signs (words). Kata tersebut berasal dari Ieksem write ‘menulis’ yang berubah menjadi kata writer setelah mengalami proses morfologi leksikal karena mendapat imbuhan er. maka subsistem ini disebut morfologi leksikal atau morfologi derivatif. yaitu masalah proleksem dan klitika. Dengan singkat dapat dinyatakan. sehingga terdapat satuan yang merupakan peralihan di antara keduanya. sebagaimana dikatakan oleh Aronoff. merupakan morfem yang mengalami proses morfologis. Contoh: leksem salah dan leksem guna dapat berpadu menjadi salah guna. yaitu satuan pembentuk kata yang sedikit banyak menyebabkan leksem itu mempunyai makna gramatikal’. sedangkan infleksi terjadi sesudah pembentukan kata selesai dan menutup konstruksi derivasi. Dalam kata terangkat misalnya. Selain itu lazim pula dibedakan antara morfem dasar dan afiks. jadi secara sintaktis bisa langsung menjadi kata. Pandangan yang serupa juga diberikan pula oleh Uhlenbeck (1982:6) bahwa “di dalam kata ada 2 jenis morfem. dan morfem gramatikal. sedangkan morfem terikat tidak dapat. Morfem dasar. Karena bahan dasar kata ialah leksem. dan oleh Dressler: … words are primary signs. dan -s disebut morfem inflektif. Untuk menerangkan bidang ini diambil contoh kata Inggris writers ‘penulis-penulis’. morphemes only secondary signs. dan keduanya dapat memperoleh kombinasi afiks dalam disalahgunakan. i. dan karena proses ini menyangkut pembentukan kata. Perlu dibedakan di sini antara apa yang disebut morfem bebas dan morfem terikat. yang wujudnya sama dengan leksem. yaitu gabungan leksem dan leksem (yang kita sebut paduan leksem) dan gabungan kata dan kata (yang kita sebut frasa). bahwa derivasi terjadi sebelum kata. Proses morfologis dalam bahasa Indonesia. Batas di antara morfem bebas dan morfem terikat tidak selamanya tegas. melainkan juga bentuk yang polimorfemis. bukan hanya morfem dasar yang tunggal atau bentuk yang monomorfemis. Selanjutnya kata itu berubah lagi setelah mendapat sufiks penanda plural -s. yaitu morfem leksikal yang makna dan bentuknya sedikit banyak sama dengan leksem. sedangkan afiks adalah morfem yang membentuk kata.proses morfologis itu. dan perubahan ini terjadi dalam morfologi inflektif. .e. Morfem bebas adalah morfem yang mempunyai potensi untuk berdiri sendiri. Uraian tersebut berlaku bagi proses pembentukan kata sebagai satuan sintaktis. dan kemudian memperoleh konfiks ke-an menjadi ketidakadilan. therefore words are better perceivable than morphemes for motivating derived words” (1 983:75). Di dalam bahasa Indonesia perbedaan di antara derivasi dan infleksi tidak sejelas itu (Kridalaksana (1988:54). terdapat morfem bebas angkat dan morfem terikat ter-. seperti afiksasi misalnya. Afiks selalu merupakan morfem terikat. Ada lagi suatu sektor gramatikal yang menyangkut perubahan kata menjadi satuan yang dapat berperan dalam sintaktis yang disebut morfologi inflektif. sedangkan tidak semua morfem dasar merupakan morfem bebas. kemudian bergabung menjadi frasa tidak adil.

Peristiwa itu dapat digambarkan sebagai berikut: Proses morfologis yang kita kenal ialah: (1) derivasi zero (2) afiksasi (3) reduplikasi (4) pemendekan (5) derivasi balik (6) perpaduan. (2) afiksasi. yaitu Ieksem. serta output.Peristiwa morfologis terjadi dari input. dalam proses ini Icksem berubah menjadi kata kompleks.. dan salah satu proses tersebut di atas. . Ada beberapa jenis pemendekan: (a) pemenggalan (b) kontraksi (c) akronim (d) penyingkatan. (3) reduplikasi: dalam proses ini leksem berubah menjadi kata kompleks dengan bebcrapa macam proses pengulangan. Penjelasan singkat tentang proses itu masing-masing: (1) derivasi zero dalam proses ini leksem menjadi kata tunggal tanpa perubahan apa-apa: leksem derivasi zero kata tunggal tunggal contoh: leksem lupa menjadi kata lupa tanpa perubahan apa-apa. (4) pemendekan: dalam proses ini leksem atau gabungan leksem meniadi kata kompleks atau akronim atau singkatan dengan pelbagai proses pemendekan. berupa kata.

(c) leksem ibu menjadi kata bu setelah mengalami pemendekan dalam bentuk pemenggalan. Singkatan dan akronim itu secara gramatikal berstatus kata. . (b) Ieksem republik dan leksem Indonesia menjadi singkatan RI. jadi dapat digambarkan sebagai berikut: leksem afiksasi kata tunggal reduplikasi kompleks pemenggalan kontraksi Contoh: (a) leksem lupa menjadi kata melupakan setelah mengalami afiksasi dengan me. (d) leksem tak dan leksem akan menjadi takkan setelah mengalami kontraksi. leksem tunggal akronim akronim penyingkatan singkatan leksem tunggal Contoh: (a) leksem peluru dan leksem tunggal kendali menjadi akronim rudal.dan -kan. (b) leksem rumah menjadi kata rumah-rumah setelah mengalami reduplikasi.Dalam pemenggalan dan kontraksi inputnya adalah leksem tunggal dan outputnya kata kqmpleks seperti terdapat pada afiksasi dan reduplikasi.

Dua contoh berikut dapat diamati untuk memahami bagaimana gramatikalisasi dan leksikalisasi itu berinteraksi dalam pembentukan kata: ketidakadilan . Kata majemuk yang dihasilkan oleh proses perpaduan yang bersifat morfologis berbeda dari frasa yang merupakan penggabungan kata yang bersifat sintaktis. dan kembalinya kata menjadi unsur Icksikal lagi itu disebut proses leksikalisasi. dan outputnya berupa kata yang secara historis muncul kemudian dari asalnya itu. Pembentukan kata dalam bahasa Indonesia menurut Harimurti Kridalaksana dapat bersifat rekursif: sebuah leksem atau lebih setelah mengalami proses morfologis menjadi kata. Contoh: Leksem mungkir menjadi pungkir dalam bentuk seperti dipungkiri karena proses derivasi balik. Berubahnya leksem menjadi kata disebut proses gramatikalisasi. (6) perpaduan: dalam proses ini dua leksem atau lebih berpadu dan outputnya adaiah paduan leksem.(5) derivasi balik: dalam proses ini inputnya leksem tunggal. Kejadiannya seperti afiksasi). dan bagannya adalah: leksem tunggal paduan kata perpaduan leksem majemuk leksem tunggal Contoh: Leksem daya dan leksem juang menjadi dayajuang sebagai paduan leksem dalam tingkat morfologi atau kata majemuk dalam tingkat sintaksis. Kita mengetahui leksem mungkir lebih dahulu ada daripada pungkir karena leksem itu merupakan pinjaman dari bahasa Arab dan pungkir hanya ada dalam bahasa Indonesia. dan unsur ini kemudian dapat mengalami proses morfologis lagi dan menjadi kata “baru” (lihat juga Brown 1984:66).

proses Ill: leksikalisasi frasa seni drama tari menjadi gabungan leksem. boleh dikatakan bahwa penelitian mereka baru secara umum atau baru mengenai kategori transposisi tertentu sehingga masalah itu . proses Ill:leksikalisasi frasa tidak adil menjadi gabungan leksem.kan terhadap leksem sendratari menjadi sendratarikan.perlu diteliti lebih lanjut secara lebih luas dan mendalam. Verba Bentuk Me(N). 2. Dalam disertasi itu dinyatakan bahwa “terdapat beberapa linguis yang telah meneliti transposisi dari jenis kata yang satu menjadi jenis kata lain dalam bahasa Jawa ialah Uhlenbeek (1953a. dan Me(N)-D-kan dalam Bahasa Indonesia.an terhadap gabungan leksem tidak adil menjadi kata ketidakadilan. proses ll: penggabungan kedua kata itu menjadi frase tidak adil (ini terjadi dalam tingkat sintaksis). dan disertasi tentang Transposisi dari Adjektiva menjadi Verba dan Sebaliknya dalam Bahasa Jawa.D.2 Pandangan Edi Subroto tentang Leksem dan Pembentukan Kata Pandangan yang berbeda tentang leksem dinyatakan oleh Edi Subroto dalam makalah tentang Infleksi dan derivasi. proses IV : pemendekan (kontraksi) gabungan leksem seni drama tari menjadi sendratari.terutama di antara jenis-jenis kata utama .i. dan sebagainya di luar proses pembentukan kata. proses V : leksikalisasi kata sendratari menjadi leksem. Me(N). dan tidak perlu dibicarakan proses afiksasi. proses ll : penggabungan ketiga kata itu menjadi seni drama tari (ini terjadi dalam tingkat sintaksis). 1969) dan Poedjosoedarmo dkk (1979).D.proses I : gramatikalisasi Ieksem tidak dan adil (secara berasingan) menjadi kata. perpaduan. . proses VI : sufiksasi dengan . disendratarikan proses I : gramatikalisasi leksem-leksem seni. Namun demikian. drama. proses VII: prefiksasi terhadap sendratarikan menjadi disendratarikan. Kedua contoh tersebut memperlihatkan manfaat pembedaan konsep gramatikalisasi dan leksikalisasi dalam pembentukan kata: semua proses itu berada dalam satu sistem. tari (secara berasingan) masing-masing menjadi kata. proses IV : konfiksasi dengan ke . Konsep Leksem dan Upaya Pengorganisasian Lema dan Sublema dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Bauer (1988: 12-13) berpendapat bahwa derivasi adalah proses morfologis yang menghasilkan morfem baru.Ancangan (approach) yang digunakan di dalam disertasi itu ialah strukturalisme. sedangkan pembentukan infleksional tidak bisa. afiks drivasional jumlahnya lebih beragam bila dibandingkan dengan afiks infleksional. Dengan demikian. Perbedaan antara pembentukan secara derivasional dan infleksional diuraikan Nida dalam Edi Subroto (1985: 2): (1) pembentukan derivasional termasuk jenis kata yang sama dengan kata tunggal (dari suatu sistem jenis kata). Berdasarkan pola pembentukan kata yang telah ada. Kata dan prosede morfologis (kaidah atau pola pembentukan kata secara sinkronis) adalah dua konsep utama di dalam ancangan itu. Contohnya. Ancangan yang mengakui kesentralan kata dipandang cocok untuk diterapkan dalam analisis morfologi bahasa Jawa karena terdapat banyak kata yang secara formal sama tetapi dimasukkan dalam kategori yang berbeda karena berhubungan dengan ciri makna yang berbeda. sebuah afiks akan termasuk infleksional kalau di dalam suatu paradigma dapat diramalkan untuk menggantikan afiks infleksional lainnya. Posisi satu kategori dalam kaitannya dengan kategori-kategori lain dan kontras atau perbedaan antara kategori yang satu dengan kategori lainnya di dalam paradigma itu dapat diperikan secara lebih jelas. paradigma dari dasar”PETIK” -PETIKI __________ -PETIK __________ -PETIKKAN memetiki memetik memetikkan 1 . Sedangkan Matthews (1974:38) menjelaskan bahwa infleksi adalah bentuk-bentuk kata yang berbeda dari paradigma yang sama. sedangkan infleksi adalah proses morfologis yang menghasilkan bentuk-bentuk kata yang berbeda dari sebuah leksem yang sama. Menurut Edi Subroto. (5) pembentukan derivasional dapat dijadikan dasar bagi pembentukan berikutnya. Lebih lanjut. setiap proses morfologis. apa yang disebut “morfem” bukanlah satuan fingual (satuan bahasa) yang otonom melainkan suatu momen (a dependent feature) yang identitasnya baru diketahui dalam hubungan kata secara keseluruhan. (4) afiks-afiks derivasional mempu-nyai distribusi yang terbatas. sebuah kata dapat dipakai sebagai dasar bagi pembentukan kata-kata lain dengan prosede-prosede tertentu. sedangkan afiks-afiks infleksional tidak bisa. sedangkan afiks infleksional mempunyai distribusi yang luas. (3) afiks-afiks derivasional dapat mengubah jenis kata. juga terdapat keteraturan makna gramatikal di dalam paradigma infleksional. Bauer merumuskan bahwa pembentukan infleksional dapat diramalkan sedangkan pembentukkan derivasional tidak dapat diramalkan. Kata yang dipakai sebagai dasar bersama dengan kata-kata lain yang tersusun di dalam suatu paradigma yang termasuk jenis tertentu. Selanjutnya. Ciri-ciri yang demikian tidak terdapat pada paradigma yang derivasional (1985: 6). tetapi strukturalisme yang mengakui kesentralan kata tidak saja di dalam morfologi tetapi juga di dalam bahasa pada umumnya. Berdasarkan ancangan itu. sedangkan derivasi adalah bentuk kata yang berbeda dari paradigma yang berbeda. (2) secara statistik.

sedangkan baris 2 menyatakan pelaku ‘tidak nampak dalam bentuk’. dia-. Masing-masing kolom merupakan paradigma infleksional dan masing-masing mempunyai bentuk kata baris 1 . Baris 6 berbeda dengan baris 3-5 karena menyatakan pelaku ‘nampak dalam bentuk’. pemetikan‘hal . Kolom A dari leksem -PETIK. dan -PETIKKAN. Kata pemetik. kolom -PETIKI disebut B. 6 yang masih tanda tanya). dan petikan(II) dikategorikan sebagai kata benda derivasional deverbal. dan kolom -PETIKKAN disebut C.6 ______________________________________________________ II pemetik pemetikan petikan ______________________________________________________ Paradigma I termasuk paradigma kata kerja yang dibentuk dari dasar “petik”. kata memetik. baris 4 adalah O2. kolom PETIKI. dan memetikkan secara leksikal adalah tiga kata yang berbeda (derivasional) sekalipun termasuk dalam kata kerja. Bentuk baris 1 terdapat apabila kalimat berfokus agentif. kolom C dari leksem -PETIKKAN. Paradigma kata kerja terbagi atas tiga kolom: kolom PETIK. Dengan begitu. Selanjutnya perlu dibedakan leksem -PETIK. ku-. kau-. ketiga kata itu dide-rivasikan dari kata kerja mememetik(pemetik‘orang yang memetik’. perdasarkan pertimbangan semantik leksikal. Maksudnya.dipetiki dipetik dipetikkan 2 I kupetiki kupetik kupetikkan 3 kaupetiki kaupetik kaupetikkan 4 diapetiki diapetik diapetikkan 5 terpetiki? terpetik . baris 2-5 menyatakan ‘kesengajaan’. dan kolom PETIKAN. baris pertama) dapat digantikan dengan di-. pemetikan. Perbedaan antara baris 2-6 menytkan ‘keaksidentalan’ (hal tidak disengaja). Leksem -PETIKI bermakna ‘pluralitas perbuatan’. memetiki. baris 5 adalah O3.6 (kecuali kolom -PETIKKAN 6 dan kolom -PETIKI. masing-masing kolom merupakan paradigma infleksional. Terlihat pada masing-masing kolom bahwa bentuk dengan Me(N). -PETIKI. sedangkan paradigma II adalah paradigma deverbal. Oleh karena itu. kolom B dari leksem -PETIKI.(sebagai bentuk pertama. sedangkan baris 2-6 berfokus pasientif. -PETIKKAN (dalam oposisinya dengan -PETIK) mengandung ciri ‘kebenefaktifan’. Untuk memudahkan pembicaraan paradigma kata kerja kolom -PETIK disebut A. baris 3 pelaku adalah O1. Kemunculan masing-asing bentuk dari setiap kolom dapat diramalkan berdasarkan kaidah gramatis tertentu.

Dengan demikian yang relevan bagi pembentukan kata adalah morfologi derivasional atau morfologi leksikal (1996:269). untuk satu kelas kata. maka akan sangat membantu dan relevan bila kita dapat melacak kembali pendapat Matthews yang membedakan kata secara fonologis. Oleh sebab itu. atau. Dalam kaitannya dengan itu. transposisi dibedakan dalam rangka untuk membedakan identitas leksemnya. Berdasarkan perbedaan referennya. Dengan demikian. leksem dibedakan atas leksem tunggal dan leksem majemuk. misalnya nomina tidak dibedakan nomina dengan ciri semantisnya. khususnya (WP) adalah terdapatnya kenyataan bahwa kata merupakan satuan yang tidak terlalu jelas batas-batasnya. sedangkan outputnya adalah kata. Sebagai satuan abstrak terkecil leksem dapat diwujudkan dalam bentuk kata gramatikal dalam sebuah paradigma. Di samping itu. dalam pengertian kata sebagai sesuatu yang sentral. Keberatan Harimurti atas penggunaan model lain. III. Dan yang paling menentukan adalah adanya pendekatan terhadap analisis kata-kata dalam Bahasa Indonesia dengan memakai Word and Paradigm (WP). ketiga kata itu berbeda secara leksikal sekalipun sama-sama termasuk kata benda. KOMENTAR Untuk mengkaji konsep leksem dan kata hendaknya dicermati secara seksama.memetik’. (Harimurti. dan kata gramatikal. yaitu kata. misalnya leksem lupa dengan derivasi zero akan menjadi kata lupa tanpa perubahan apa-apa. Keberatan kedua ialah bahwa penerapannya tidak membuat deskripsi menjadi ekonomis. kata sebagai leksem. Berdasarkan uraian di atas akhirnya dirumuskan oleh Subroto bahwa leksem adalah “satuan lingual hasil abstraksi dari sebuah paradigma. hal yang amat penting yakni infleksi dan derivasi tidak diakui keberadaannya. petikan ‘hasil memetik’). sangat diperlukan pula mengenai ancangan (pendekatan) yang dipakai untuk tata kerja di dalam mengkaji sebuah kata dan proses pembentukannya (proses morfologisnya). Harimurti dalam karya-karyanya sengaja tidak membedakan jenis leksem (yang ada hanya leksem tunggal). tidak mengenal adanya transposisi dalam derivasi zero. leksem dipahami sebagai input dalam proses gramatikal (pembentukan kata). Menurutnya “model proses adalah satu-satunya model yang cocok untuk menyajikan morfologi Bahasa Indonesia” (1997:7). Di dalam tulisan-tulisannya. sehingga bila diunggulkan tidak akan mempermudah analisis (padahal dianjurkan untuk mengatasi dilema analisis morfemis). Edi Subroto menyetujui gagasan dan pendapat Marchand bahwa “pembentukan kata adalah cabang ilmu bahasa yang mengkaji pola-pola dimana sebuah bahasa membentuk satuan-satuan leksikal baru. Berbeda dengan pendapat Edi Subroto. Leksem merupakan satuan fundamental dari leksikon sebuah bahasa. leksem adalah satuan abstrak dan satuan terkecil dari sebuah paradigma” (1996:271). ihwal infleksi dan derivasi yang ada keterkaitanya dengan konsep kata dalam arti leksem dan kata gramatikal. 1997:6). dalam tulisan-tulisan yang .

1988:170-171). Latin. Dengan memahami perbedaan pandangan kedua mazhab itu kiranya akan dapat menerangkan dan menjawab ihwal latar belakang mengapa terdapat perbedaan kajian terhadap morfologi. sehingga kata tidak dianggap sebagai satuan sentral. Dan beberapa segi dari bahasa fusi memerlukan bantuan dari tata bahasa model WP agar lebih efektif (Bauer. Yang hal ini berbeda dengan kajian struktural Eropa. analisis kata dengan Item and Process (IP). Untuk memahami bagaimana kata dapat dikaji dalam bahasa. Dalam tradisi Amerika model IP lebih dulu lazim daripada model IA. seperti bahasa Yunani. Robins (1959) yang menganjurkan penggunaan konsep WP itu menyatakan bahwa bila model itu bisa diterapkan maka linguis akan terbebas dari dilema analisis morfemis. Model IP itu diperkenalkan kembali sejak tahun 60-an dalam teori TG yang . Beberapa keberatan tersebut di atas dicoba untuk diatasi.dipublikasikan Edi Subroto memposisikan kata sebagaimana yang dinyatakan oleh Mathews. Beberapa segi bahasa fusi dan aglutinasi jauh lebih mudah diterapkan pada tata bahasa dengan model IP. namun mereka mampu menanggalkan paradigma Eropa dalam penyelidikan babasa). Model tata kerja IP. Pada umumnya tampak bahwa bahasa -bahasa isolasi lebih tepat dengan model IA. sebenarnya kita harus kembali kepada pendapat Hockett (1954) seperti yang dikutip oleh Bauer tentang: analisis kata dengan pendekatan Item and Arrangement (IA). dan Word and Paradigm (WP). Perbedaan kedua kajian tentang bahasa ditandai oleh hal-hal seperti berikut: (1) linguistik Amerika berpijak kepada pengalaman dari penelitian babasa-babasa Indian yang mempunyai sifat-sifat yang sangat berlainan dengan bahasa-bahasa Indo-Eropa (Meskipun para pelopor linguistik Amerika awal abad itu semuanya berpendidikkan Eropa. Lihat misalnya karya Boas (191 1) dan Sapir (1921) serta edisi pertama karya Nida Morphology (1942) yang sangat luas digunakan itu. istilah itu baru muncul lebih kemudian dibandingkan dengan tata kerja IA dan IP. Maka dikenallah apa yang disehut Neo-WP. IA.Bahwa deskripsi yangdibuat dari ketiga model itu dapat dikaitkan dengan satu model yang disarankan. kata dalam arti leksem dan kata gramatikal sesuai dengan konsep infleksi dan derivasi (1989:3). Pada tahun 70-an model WP dimunculkan lagi karena pengaruh teori tata bahasa generatif. (2) Hieraki gramatikal diakui secara eksplisit maupun implisit. dan WP yang dibahas dalam linguistik sebenarnya paling relevan bila dikaitkan dengan pemhahasan tentang morfologi (pembentukan kata). Di antara ketiganya model WP adalah model morfologis tertua yang digunakan sebagai kerangka kerja. Selain itu. yang menempatkan kata sebagai kajian sentral dan morfem hanya sebuah momen (a dependent feature). hal yang tidak boleh diabaikan adalah terdapatnya perbedaan kajian strukturalisme Amerika dan strukturalisme Eropa. Mereka menganggap morfem sebagai satuan gramatikal terkecil (dan sentral). Sanskerta. dan Arab. Ini dapat ditemukan dalam gramatika bahasa-hahasa klasik. khususnya morfologi. Namun dalam perdebatan tentang model mana yang cocok untuk digunakan sebagai model pengkajian dalam morfologi. dengan ketentuan kata harus diakui sebagai satuan yang diunggulkan dan konsep morfem ditinggalkan.

Lain halnya dengan perubahan makna secara derivasional seperti . DAFTAR PUSTAKA Bauer. shortage ‘kekurangan’. formal adalah ajektiva. Laurie.age dalam bandage ‘pembalut’. bicycles. Matthews membuat notasi terhadap tata kerja dengan WP. miliege ‘jarak mil’. trees. yakni morfologi yang berkonsentrasi pada kata dan paradigmanya. cleavage ‘perpecahan’. English Word-Formation. yakni tahun 1972. Model IP sangat luas digunakan oleh kaum Neo-Bloomfieldian yang memiliki landasan filsafat positivisme. dapat ditentukan bahwa afiks-afiks infleksional itu bersifat tidak produktif. akhirnya perlu diperhatikan apa yang dinyatakan oleh Bauer dalam kaitannya dengan studi tentang morfologi (1988:12-13). afiks itu bersifat derivasional. maka akan dapat menambah afiks infleksional pada semua anggota kelas yang lain. Formalise adalah verba dan formalises juga verba. Ahli morfologi yang bekerja dengan pendekatan WP menurut Bauer (1988:152 setidak-tidaknya akan mempunyai dua keuntungan. (2) Dapat mencakup kumulasi morfem-morfem di dalam satu morf-tunggal. (c) Terdapat suatu kaidah umum bahwa bila dapat menambahkan afiks infleksional pada salah satu anggota dari sebuah klas kata. Sebagai catatan akhir . Sebagai contoh afiks infleksional -s yang menunjukkan makna jamak dalam Bahasa Inggris. berarti -al telah mengubah kelas kata sehingga termasuk afiks derivasional. Sedangkan afiks derivasional tidak dapat ditambahkan pada setiap anggota kelas. Afiks-afiks yang tidak mengubah kelas kata bentuk dasarnya biasanya termasuk afiks infleksional. Contohnya adalah form adalah nomina. Anderson (1977. shoes. London: Cambridge University Press. seperti : dogs. yaitu adanya sejumlah cara untuk mengetahui apakah sebuah afiks bersifat infleksional atau derivasional. IV. dan morfologi derivasional atau morfologi leksikal. Pada perkembangan selanjutnya. Dalam kaitannya dengan afiks infleksional dan afiks derivasional itu akhirnya terdapat dua bidang morfologi. (a) Jika sebuah afiks mengubah bentuk bentuk dasarnya. 1983.seluruhnya menggunakan model proses. 1982) membahas analisis morfologi dengan tata kerja atau anacangan WP secara mendasar dengan sebutan kerangka kerja leksikal. sedangkan afiks derivasional bersifat produktif. . (b) Afiks-afiks infleksional selalu menampakkan makna yang teratur atau dapat diprediksikan. sebaliknya makna-makna dari afiks-afiks derivasional tidak dapat diramalkan. berarti -s tidak mengubah kelas kata sehingga kemungkinan termasuk afiks infleksional. yaitu morfologi infleksional. yaitu: (1) terdapat banyak peristiwa bahwa satu formatif dapat mewujudkan atau menghasilkan morfem-morfem yang berbeda di dalam bagian yang berbeda dari suatu paradigma. Dengan begitu.

1992. dan Me(N)-D-Kan dalam Bahasa Indonesia” dalam dalam Pelangi Bahasa (ed. Jakarta: Gramedia Harimurti Kridalaksana. Surakarta: Fakultas Sastra UNS. Robert.1985. “Verba Pasif Bentuk Ter-D dalam Kaitannya dengan Verba Pasif Bentuk di-D” dalam PIBSI XIV.1989. Bandung: ITB. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia.1988. Introducing Linguistic Morphology.1982. Laurie. “Infleksi dan Derivasi:Kemungkinan Penerapannya dalam Pemerian Morfologi Bahasa Indonesia” dalam PIBSI VII. “Konsep Leksem dan Upaya Pengorganisasian Kembali Lema dan Sublema Kamus Besar Bahasa Indonesia’ dalam Bahasa Nasional Kita. Edi subroto. 1996.Bauer. “Sistem Verba Bahasa Jawa’ dalam Linguistik dan Bahasa Indonesia: Kumpulan Makalah Seminar Linguistik. B. Edi Subroto. Yogyakarta: Kanisius. Morpheme Base MorphologyUSA: State University Of New York. Harimurti dan Anton Moeliono). Me(N)-D-I. ” Konsepsi Morfem Afiks: Sebuah Studi atas Korelasi Bentuk. Lexeme. .1982.1988. Harimurti dan Anton Moeliono). 1982. Karno Ekowardono. Edi Subroto. Jakarta:UI.1996. 1991. “Konsep Leksem dan Upaya Pembaharuan Penyusunan Kamus dalam bahasa Indonesia” dalam PIBSI XI. B. Beard. 1993. Beberapa Prinsip Perpaduan Leksem dalam Bahasa Indonesia. Dasar-dasar dan Segi-segi Penyusunan Kamus” daalm Seminar dalam rangka Bulan Bahasa. 1995. “Verba Bentuk Me(N)-D. Edi Subroto. Edi Subroto. Yogyakarta: Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa. Edi Subroto.Great Britain: Edinburgh University Press. Edi Subroto.1985. dan Valensi dalam bahasa Indonesia” dalam Pelangi Bahasa (ed. Harimurti Kridalaksana. Yogyakarta: IKIP Muhammadiyah. Transposisi dari Adjektiva Menjadi Verba dan Sebaliknya dalam Bahasa Jawa (Disertasi). Semarang: UNDIP dan IKIPN. Makna. Karno Ekowardono. Jakarta: Bhratara. Edi Subroto. Surakarta: Fakulas Sastra dan Budaya UNS. Tegal: Universitas Pancasakti. Jakarta: Bhratara. ” Kata sebagai satuan Sentral dalam Kajian Morfologi” dalam Konferensi dan Musyawarah Nasional VI MLI.

N Matthews. Harimurti Kridalaksana.1997.H. London: Cambridge University Press. “Teori Morfologi dewasa Ini: Morfologi Klasik” dalam PELLBA II. . Jakarta: Universitas Atma Jaya.Harimurti Kridalaksana. Morphology: An Introduction to The Theory of Word Structure.P.1974.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful