LEKSEM DAN KATA DALAM STUDI MORFOLOGI

PERANAN LEKSEM DAN KATA DALAM STUDI MORFOLOGI oleh: Dwi Purnanto l. Pendahuluan Dalam bidang linguistik kita kenal adanya ancangan linguistik struktural. Linguis yang menganut aliran ini dalam pengkajiannya tentang bahasa ternyata tidak memiliki kesamaan dalam tata kerjanya. Para linguis yang menganut atau mengembangkan strukturalisme Bloomfield menggunakan tata kerja taksonomis: tuturan dianggap sebagai wujud pengalaman kejiwaan yang dipenggal-penggal dari satuan-satuan yang terbesar menjadi yang terkecil;dari kalimat-frasa-kata-morfem-fonem-bunyi bahasa. Morfologi dengan begitu akan menganalisis kata atas morfem-morfem yang menjadi unsur pembentuknya. Dengan demikian, pemerian morfologi akan berwujud inventarisasi morfem afiks, pemerian segi morfofonemiknya, dan inventarisasi makna gramatikal sebagai akibat dari proses afiksasi. Berbeda dengan ahli morfologi (linguis) Eropa, penganut dan pengembang strukturalisme De Saussure dan strukturalisme Praha, akan menggunakan tata kerja yang lain. Dalam pandangan linguis Eropa bahasa (langue) terealisasi dalam pemakaian bahasa (parole). Dari seluruh pemakaian bahasa dapat didentifikasi adanya satu bahasa tertentu. Jadi, bahasa dan pemakaian bahasa adalah dua segi seperti permukaan uang yang berpadu erat; yang satu tidak akan ada tanpa yang lain (Uhlenbeck dalam Ekowardono, 1991:2). Sejalan dengan itu, maka akan terdapat dua satuan dasar yang mendukungnya, yaitu kata dan kalimat. Kalimat akan ditempatkan sebagai satuan sentral dalam pemakaian bahasa, sedangkan kata akan diposisikan sebagai satuan sentral dalam bahasa. Selanjutnya dalam penelitian bahasa, kata akan dikaji morfologi, dan kalimat akan dikaji sintaksis. Dalam praktiknya kajian morfologi tidak akan pernah dapat dilepaskan dari kalimat, sebaliknya kajian sintaksis juga tidak akan pernah mengabaikan ihwal kata. Namun demikian, kajian morfologi tetap berkosentrasi pada kata. Analisis morfologi dilakukan dengan cara mengkorelasikan kata-kata dalam suatu bahasa secara proporsional, dalam arti akan memperhitungkan setiap kata dalam paradigmanya. Pendekatan seperti ini akan disebut dengan pendekatan Word and Paradigm (WP). Pengkorelasian itu akan dilakukan secara sistematis terhadap leksikon suatu bahasa. Dengan metode itu akan diketahui apakah anatara kata-kata yang dikorelasikan itu terdapat kesepadanan (korespondensi) dalam tiga aspeknya atau tidak. Aspek itu adalah aspek bentuk, aspek makna, dan aspek valensi sintaktis. Kalau sejumlah kata terdapat kesepadanan aspek makna, aspek bentuk, dan valensi sintakstiknya maka kata-kata itu akan dimasukkan dalam satu kategori morfologis. Sebaliknya kalau sejumlah

1988:5). 1988:4). tetapi akan dikaji bagaimana unit-unit lain dapat berfungsi untuk mengubah bentuk katanya. khususnya aliran struktural Amerika yang dipelopori oleh Bloomfield.1974:154). Hal itu dapat diambil contoh pasangan-pasangan kata sebagai berikut: desert deserter ‘pembelot’ design designer ‘perancang’ fight fighter ‘pejuang/petinju’ paint painter ‘pengecat’ Kata-kata tersebut tidak hanya akan dikaji bentuk katanya saja. Dengan begitu kajian morfologi akan berkaitan juga dengan bagaimana proses infleksi dan derivasinya. (3) dapat digantian posisisnya oleh kata yang lain (4) dapat disolasikan. 2. Pada abad 19 istilah morfologi sebagai bidang linguistik dipahami sebagai studi tentang perubahan-perubahan secara sistematis tentang bentuk kata yang dihubungkan dengan maknanya (Bauer. Terdapat latar belakang teoritis mengapa perhatian baru terhadap morfologi diperhatikan lagi. Ketiga. yakni kemungkinan-kemungkan yang dimiliki kata untuk berkombinasi dengan kata-kata lain dalam kelompok (Uhlenbeck dalam Ekowardono. 1974:136). Pada tingkat gramatikal. sedangkan sintaksis berkaitan dengan fungsi-fungsi eksternal kata dan kaitannya dengan kata lain dalam kalimat. Kedua. . kata itu akan memperlihatkan (1) kata itu dapat dipisahkan dari kata yang lain. Posisi Leksem dan Kata dalam Morfologi Morfologi termasuk salah satu studi kebahasaan (linguistik) yang mengkaji kata atau leksikon suatu bahasa. studi bahasa yang bermacam-macam yang dipengaruhi oleh aliran struktural. kata. Pertama adanya studi filologis terhadap tata bahasa pada akhir abad 19 dan tahun-tahun pertama abad 20. Kata sebagai satuan sentral dalam bahasa ditandai oleh adanya mobilitas sintagmatisnya. atau dalam arti terdapat oposisi antara kata-kata yang dikaji maka dapat dikelompokkan dalam kategori morfologis yang berbeda. yaitu setidak-tidaknya terdapat tiga sumber utama. Setiap bahasa tentunya dapat dijabarkan ihwal kata itu dan properti-properti morfosintaksisnya (Mathews. Kata dalam hal ini dipandang sebagai satuan-satuan padu bentuk dan makna yang memperlihatkan aspek valensi sintaksis. 1982:54). dengan intonasi tertentu dapat dipakai sebagai kalimat. Menurut tradisi studi morfologi akan mengkaji struktur internal kata dalam kaitannya dengan kata lain dalam suatu paradigma. munculnya aliran transformasional yang dikembangkan oleh Noam Chomsky (Bauer.kata itu tidak menunjukkan kesepadanan. secara tradisional akan dipahami sebagai unsur terkecil bahasa yang akan didentifikasikan tentang asal dan bentuknya dalam paradigma. (Mathews. maksudnya dalam hubungannya dengan kata lain secara linier. (2) dapat dibalikkan urutannya.

Sarjana lain. Lebih lanjut Bauer berpendapat bahwa model IA adalah tipe yang paling sederhana. para linguis bisa mengacu ulang kepada pendapat Hockett (1954) tentang: analisis kata dengan pendekatan Item and Arrangement (IA). dan WP adalah yang paling rumit (1988:170). words” (Iihat Carroll 1956:125-33). sedangkan sufiks -s membentuk kata yang lain dari leksem RECREATE.sebuah akar create. seperti tertuang dalam tulisan Hockett Two Models of Item and Arrangement (IA) and Item and Process (IP).lexemes are the words and phrases that a dictionary would list under a separate entry” (1977:23). Pembicaraaan secara operasional pada bagian ini akan dibandingkan bagaimana konsep leksem dan model tata kerja yang dipahami dan diterapkan oleh Harimurti Kridalaksana dan Edi Subroto. analisis morfologi terhadap kata lebih didominasi dengan penggunaan model IA dan IP. termasuk bahasa Indonesia. “.s. 2.. yaitu afiks-afiks infleksional dan afiks-afiks derivasional. Untuk memahami bagaimana kata dapat dikaji dalam morfologi. dan sebuah sufiks . Dalam salah satu karangannya. Jadi prefiks re. IP agak lebih rumit. leksemlah yang merupakan “bahan dasar” yang telah mengalami “pengolahan gramatikal” menjadi kata dalam subsistem gramatika. Dia berpendapat bahwa kata harus dibedakan dengan leksem dengan mengutip pendapat dari Lyons (1968).Dengan tata kerja seperti itu kajian morfologi di dalam suatu bahasa. Prefiks remembentuk leksem baru RECREATE dari bentuk dasar create. Matthews.(1977:19). 1997:2). akan didapati dua jenis afiks. Kemudian ia menyatakan. akan melibatkan kajian tentang afiks sebagai alat pembentuk kata (polimorfemis) atau lexical formatives (istilah Mathews). menyebutkan bahwa leksem sebagai”an ABSTRACT unit” (1974:21) adalah “… the fundamental unit … of the lexicon” (1974:22). Pada masa itu. (Kridalaksana. . sedangkan sufiks -s bersifat infleksional. Lyons dalam karangannya yang lain menyatakan. pelopor relativitas bahasa itu menerangkan bahwa “The lexeme …” adalah ” …the word or stem as an item of the vocabulary. Dengan perkataan lain. Pengertian leksem tersebut terbatas pada satuan yang diwujudkan . Di dalam karangan ini pun ia mempergunakan leksem sebagai satuan dasar dalam leksikon dan dibedakan dari kata sebagai satuan gramatikal. analisis kata dengan pendekatan Item and Pro-cess (IP). Misalnya kata recreates dapat dianalisis menjadi sebuah prefiks re. Dengan demikian. and as a part analyzed or abstracted from sentence. sedangkan afiks derivasional adalah afiks yang menghasilkan leksem baru dari leksem dasar. dan Word and Paradigm (WP). “… vocabulary words constitute one subclass of what … we are calling lexeme“. Afiks infleksional adalah afiks yang mampu menghasilkan bentuk-bentuk kata yang baru dari leksem dasarnya.1 Pandangan Harimurti Kridalaksana tentang Leksem dan Pembentukan Kata Pandangan Harimurti Kridalaksana mengenai leksem sebagai input dalam proses pembentukan kata tertuang dalam disertasinya yang telah dibukukan dengan judul Beberapa Prinsip Perpaduan Leksem dalam Bahasa Indonesia (1988) dan Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia (1989). Sebenarnya istilah leksem sudah dipergunakan oleh Whorf pada tahun 1938.bersifat derivasional.

Masalah kelas kata dalam bahasa Indonesia telah dibahas secara mendalam dalam karangan lain (Harimurti Kridalaksana 1986). output proses ini. Dalam tulisan Harimurti akan banyak dijumpai konsep-konsep seperti leksem nominal. Satuan lain yang cukup dikenal.dalam gramatika dalam bentuk morfem dasar atau kata. baik secara morfologis. leksem verbal dan sebagainya. Berkaitan erat dengan konsep leksem ialah kategorisasi leksem. .53) “morfologi dapat dipandang sebagai subsistem yang berupa proses yang mengolah leksem menjadi kata atau seperti dikatakan oleh Whorf (dalam Carrol 1956:132) ketika membicarakan derivational types. Penentuan kategori leksikal berlainan caranya dari penentuan kategori gramatikal atau kelas kata. walaupun ada kesepadanannya. the other. Berdasarkan pendapat Harimurti Kridalaksana (1988. Tidak sulit bagi kita untuk menerima bahwa antara ketiga kategorisasi itu terdapat kesepadanan. dengan ringkas dapat dinyatakan bahwa leksem adalah: (1) satuan terkecil dalam leksikon. Karena leksem sebagai satuan dari leksikon ada di luar morfologi maupun sintaksis. Secara ideal baik sekali bila ada tes untuk menentukan suatu kategori secara leksikal dan semantis. (2) satuan yang berperan sebagai input dalam proses morfologis. sedikit banyak tidak berubah. verba dipakai leksem verbal. yaitu kata. Penggunaan konsep leksem dan pembedaannya dengan konsep kata dapat menghilangkan keragu-rarguan orang selama ini dalam menentukan kriteria kata. Dengan perkataan lain. Telah menjadi kelaziman dalam linguistik Indonesia bahwa untuk menentukan kelas kata dari sudut intern gramatika. sedangkan kata sebagai satuan gramatikal berperan sebagai output. yakni makna leksikal. the area of the noun. Lain halnya dengan kategori dari leksem. One the area of the verb. Jadi. ciri-ciri kategorinya tidak dapat ditentukan seperti kelas kata. jadi apa yang secara semantis merupakan nomina biasanya juga nomina secara leksikal dan gramatikal. embraces “things” (both physical objects and reified abstractions)” (1970:96). kecuali dalam satu proses bukan hanya berubah bentuknya melainkan juga memperoleh makna baru. dalam kepustakaan linguistik dikenal pula kategorisasi semantis sebagaimana dilakukan oleh Chafe. Jadi. merupakan suatu kesatuan yang dapat dianalisis atas komponen-komponen yang disebut morfem. Di samping kategorisasi gramatikal dan kategorisasi leksikal tersebut.. embraces states (conditions. (3) bahan baku dalam proses morfologis. yang di sini disebut makna gramatikal. misalnya leksem nominal yang sepadan dengan kata nominal atau nomina. Jadi. the total human conceptual universe is dichotomized initially into two major areas. yang berperan sebagai input dalam proses itu ialah leksem sebagai satuan leksikal. satuan yang disebut morfem yang dalam hierarki gramatikal merupakan satuan terkecil baru dapat ditandai setelah kata terbentuk melalui . Antara lain ia menyatakan. Dalam proses ini leksem. tidak disebut leksem. tetapi dewasa ini satu-satunya tes yang dapat diandalkan hanyalah tes gramatikal (Iihat juga Hopper & Thompson 1984). (5) bentuk yang tidak tergolong proleksem atau partikel. qualities) and events. yaitu afiks. melainkan lexical-formative (Matthews 1974:41). maupun secara sintaktis. sedangkan makna semula. (4) unsur yang diketahui adanya dari bentuk yang setelah disegmentasikan dari bentuk kompleks merupakan bentuk dasar yang lepas dari morfem afiks.

maka subsistem ini disebut morfologi leksikal atau morfologi derivatif. dan morfem gramatikal. sedangkan morfem terikat tidak dapat. Contoh: leksem salah dan leksem guna dapat berpadu menjadi salah guna. bukan hanya morfem dasar yang tunggal atau bentuk yang monomorfemis. Kata tersebut berasal dari Ieksem write ‘menulis’ yang berubah menjadi kata writer setelah mengalami proses morfologi leksikal karena mendapat imbuhan er. i. jadi secara sintaktis bisa langsung menjadi kata. terdapat morfem bebas angkat dan morfem terikat ter-. Proses morfologis dalam bahasa Indonesia. merupakan morfem yang mengalami proses morfologis. Morfem dasar. sedangkan tidak semua morfem dasar merupakan morfem bebas. . signs on signs (words). therefore words are better perceivable than morphemes for motivating derived words” (1 983:75). melainkan juga bentuk yang polimorfemis. dan kemudian memperoleh konfiks ke-an menjadi ketidakadilan. sebagaimana dikatakan oleh Aronoff. Selain itu lazim pula dibedakan antara morfem dasar dan afiks. dan -s disebut morfem inflektif. yaitu satuan pembentuk kata yang sedikit banyak menyebabkan leksem itu mempunyai makna gramatikal’. sedangkan infleksi terjadi sesudah pembentukan kata selesai dan menutup konstruksi derivasi. dan oleh Dressler: … words are primary signs. Morfem bebas adalah morfem yang mempunyai potensi untuk berdiri sendiri. Uraian tersebut berlaku bagi proses pembentukan kata sebagai satuan sintaktis. Dengan singkat dapat dinyatakan. dan keduanya dapat memperoleh kombinasi afiks dalam disalahgunakan.e. Ada lagi suatu sektor gramatikal yang menyangkut perubahan kata menjadi satuan yang dapat berperan dalam sintaktis yang disebut morfologi inflektif. Dalam kata terangkat misalnya. sebuah morfem derivatif. morphemes only secondary signs. Leksem tidak dan leksem adil masing-masing diderivasikan sebagai kata. yaitu masalah proleksem dan klitika. sedangkan afiks adalah morfem yang membentuk kata. Pandangan yang serupa juga diberikan pula oleh Uhlenbeck (1982:6) bahwa “di dalam kata ada 2 jenis morfem. seperti afiksasi misalnya. Afiks selalu merupakan morfem terikat. yaitu morfem leksikal yang makna dan bentuknya sedikit banyak sama dengan leksem. Untuk menerangkan bidang ini diambil contoh kata Inggris writers ‘penulis-penulis’. yaitu gabungan leksem dan leksem (yang kita sebut paduan leksem) dan gabungan kata dan kata (yang kita sebut frasa). yang wujudnya sama dengan leksem. bahwa derivasi terjadi sebelum kata. sehingga terdapat satuan yang merupakan peralihan di antara keduanya. dan karena proses ini menyangkut pembentukan kata. dan perubahan ini terjadi dalam morfologi inflektif.proses morfologis itu. Di dalam bahasa Indonesia perbedaan di antara derivasi dan infleksi tidak sejelas itu (Kridalaksana (1988:54). Batas di antara morfem bebas dan morfem terikat tidak selamanya tegas. kemudian bergabung menjadi frasa tidak adil. Perlu dibedakan di sini antara apa yang disebut morfem bebas dan morfem terikat. “All regular word-formation processes are word-based” (1976:21). Selanjutnya kata itu berubah lagi setelah mendapat sufiks penanda plural -s. Karena bahan dasar kata ialah leksem.

berupa kata. serta output. Peristiwa itu dapat digambarkan sebagai berikut: Proses morfologis yang kita kenal ialah: (1) derivasi zero (2) afiksasi (3) reduplikasi (4) pemendekan (5) derivasi balik (6) perpaduan. dan salah satu proses tersebut di atas. (4) pemendekan: dalam proses ini leksem atau gabungan leksem meniadi kata kompleks atau akronim atau singkatan dengan pelbagai proses pemendekan. (2) afiksasi. Penjelasan singkat tentang proses itu masing-masing: (1) derivasi zero dalam proses ini leksem menjadi kata tunggal tanpa perubahan apa-apa: leksem derivasi zero kata tunggal tunggal contoh: leksem lupa menjadi kata lupa tanpa perubahan apa-apa. dalam proses ini Icksem berubah menjadi kata kompleks. yaitu Ieksem.Peristiwa morfologis terjadi dari input. (3) reduplikasi: dalam proses ini leksem berubah menjadi kata kompleks dengan bebcrapa macam proses pengulangan. Ada beberapa jenis pemendekan: (a) pemenggalan (b) kontraksi (c) akronim (d) penyingkatan.. .

Dalam pemenggalan dan kontraksi inputnya adalah leksem tunggal dan outputnya kata kqmpleks seperti terdapat pada afiksasi dan reduplikasi. (b) leksem rumah menjadi kata rumah-rumah setelah mengalami reduplikasi. (c) leksem ibu menjadi kata bu setelah mengalami pemendekan dalam bentuk pemenggalan. leksem tunggal akronim akronim penyingkatan singkatan leksem tunggal Contoh: (a) leksem peluru dan leksem tunggal kendali menjadi akronim rudal. (d) leksem tak dan leksem akan menjadi takkan setelah mengalami kontraksi. jadi dapat digambarkan sebagai berikut: leksem afiksasi kata tunggal reduplikasi kompleks pemenggalan kontraksi Contoh: (a) leksem lupa menjadi kata melupakan setelah mengalami afiksasi dengan me. . Singkatan dan akronim itu secara gramatikal berstatus kata. (b) Ieksem republik dan leksem Indonesia menjadi singkatan RI.dan -kan.

dan outputnya berupa kata yang secara historis muncul kemudian dari asalnya itu. Berubahnya leksem menjadi kata disebut proses gramatikalisasi.(5) derivasi balik: dalam proses ini inputnya leksem tunggal. Pembentukan kata dalam bahasa Indonesia menurut Harimurti Kridalaksana dapat bersifat rekursif: sebuah leksem atau lebih setelah mengalami proses morfologis menjadi kata. (6) perpaduan: dalam proses ini dua leksem atau lebih berpadu dan outputnya adaiah paduan leksem. Dua contoh berikut dapat diamati untuk memahami bagaimana gramatikalisasi dan leksikalisasi itu berinteraksi dalam pembentukan kata: ketidakadilan . dan unsur ini kemudian dapat mengalami proses morfologis lagi dan menjadi kata “baru” (lihat juga Brown 1984:66). Kata majemuk yang dihasilkan oleh proses perpaduan yang bersifat morfologis berbeda dari frasa yang merupakan penggabungan kata yang bersifat sintaktis. Kejadiannya seperti afiksasi). Kita mengetahui leksem mungkir lebih dahulu ada daripada pungkir karena leksem itu merupakan pinjaman dari bahasa Arab dan pungkir hanya ada dalam bahasa Indonesia. dan kembalinya kata menjadi unsur Icksikal lagi itu disebut proses leksikalisasi. Contoh: Leksem mungkir menjadi pungkir dalam bentuk seperti dipungkiri karena proses derivasi balik. dan bagannya adalah: leksem tunggal paduan kata perpaduan leksem majemuk leksem tunggal Contoh: Leksem daya dan leksem juang menjadi dayajuang sebagai paduan leksem dalam tingkat morfologi atau kata majemuk dalam tingkat sintaksis.

. proses VII: prefiksasi terhadap sendratarikan menjadi disendratarikan. proses ll : penggabungan ketiga kata itu menjadi seni drama tari (ini terjadi dalam tingkat sintaksis). perpaduan. tari (secara berasingan) masing-masing menjadi kata. proses IV : pemendekan (kontraksi) gabungan leksem seni drama tari menjadi sendratari. boleh dikatakan bahwa penelitian mereka baru secara umum atau baru mengenai kategori transposisi tertentu sehingga masalah itu . proses ll: penggabungan kedua kata itu menjadi frase tidak adil (ini terjadi dalam tingkat sintaksis).kan terhadap leksem sendratari menjadi sendratarikan. disendratarikan proses I : gramatikalisasi leksem-leksem seni.D. 1969) dan Poedjosoedarmo dkk (1979). Verba Bentuk Me(N).terutama di antara jenis-jenis kata utama . Namun demikian. Konsep Leksem dan Upaya Pengorganisasian Lema dan Sublema dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. proses Ill:leksikalisasi frasa tidak adil menjadi gabungan leksem.proses I : gramatikalisasi Ieksem tidak dan adil (secara berasingan) menjadi kata. proses Ill: leksikalisasi frasa seni drama tari menjadi gabungan leksem. drama. Dalam disertasi itu dinyatakan bahwa “terdapat beberapa linguis yang telah meneliti transposisi dari jenis kata yang satu menjadi jenis kata lain dalam bahasa Jawa ialah Uhlenbeek (1953a.an terhadap gabungan leksem tidak adil menjadi kata ketidakadilan. Me(N). dan disertasi tentang Transposisi dari Adjektiva menjadi Verba dan Sebaliknya dalam Bahasa Jawa. proses V : leksikalisasi kata sendratari menjadi leksem. dan tidak perlu dibicarakan proses afiksasi. proses VI : sufiksasi dengan .perlu diteliti lebih lanjut secara lebih luas dan mendalam. 2. Kedua contoh tersebut memperlihatkan manfaat pembedaan konsep gramatikalisasi dan leksikalisasi dalam pembentukan kata: semua proses itu berada dalam satu sistem. dan Me(N)-D-kan dalam Bahasa Indonesia. dan sebagainya di luar proses pembentukan kata.i.D.2 Pandangan Edi Subroto tentang Leksem dan Pembentukan Kata Pandangan yang berbeda tentang leksem dinyatakan oleh Edi Subroto dalam makalah tentang Infleksi dan derivasi. proses IV : konfiksasi dengan ke .

(5) pembentukan derivasional dapat dijadikan dasar bagi pembentukan berikutnya. Contohnya. Perbedaan antara pembentukan secara derivasional dan infleksional diuraikan Nida dalam Edi Subroto (1985: 2): (1) pembentukan derivasional termasuk jenis kata yang sama dengan kata tunggal (dari suatu sistem jenis kata). (2) secara statistik. paradigma dari dasar”PETIK” -PETIKI __________ -PETIK __________ -PETIKKAN memetiki memetik memetikkan 1 . sebuah afiks akan termasuk infleksional kalau di dalam suatu paradigma dapat diramalkan untuk menggantikan afiks infleksional lainnya. (3) afiks-afiks derivasional dapat mengubah jenis kata.Ancangan (approach) yang digunakan di dalam disertasi itu ialah strukturalisme. Ciri-ciri yang demikian tidak terdapat pada paradigma yang derivasional (1985: 6). Bauer (1988: 12-13) berpendapat bahwa derivasi adalah proses morfologis yang menghasilkan morfem baru. (4) afiks-afiks derivasional mempu-nyai distribusi yang terbatas. Dengan demikian. Berdasarkan ancangan itu. sedangkan pembentukan infleksional tidak bisa. setiap proses morfologis. Sedangkan Matthews (1974:38) menjelaskan bahwa infleksi adalah bentuk-bentuk kata yang berbeda dari paradigma yang sama. Ancangan yang mengakui kesentralan kata dipandang cocok untuk diterapkan dalam analisis morfologi bahasa Jawa karena terdapat banyak kata yang secara formal sama tetapi dimasukkan dalam kategori yang berbeda karena berhubungan dengan ciri makna yang berbeda. Posisi satu kategori dalam kaitannya dengan kategori-kategori lain dan kontras atau perbedaan antara kategori yang satu dengan kategori lainnya di dalam paradigma itu dapat diperikan secara lebih jelas. Kata dan prosede morfologis (kaidah atau pola pembentukan kata secara sinkronis) adalah dua konsep utama di dalam ancangan itu. Berdasarkan pola pembentukan kata yang telah ada. sedangkan afiks-afiks infleksional tidak bisa. Lebih lanjut. Selanjutnya. afiks drivasional jumlahnya lebih beragam bila dibandingkan dengan afiks infleksional. sebuah kata dapat dipakai sebagai dasar bagi pembentukan kata-kata lain dengan prosede-prosede tertentu. sedangkan infleksi adalah proses morfologis yang menghasilkan bentuk-bentuk kata yang berbeda dari sebuah leksem yang sama. sedangkan derivasi adalah bentuk kata yang berbeda dari paradigma yang berbeda. apa yang disebut “morfem” bukanlah satuan fingual (satuan bahasa) yang otonom melainkan suatu momen (a dependent feature) yang identitasnya baru diketahui dalam hubungan kata secara keseluruhan. Bauer merumuskan bahwa pembentukan infleksional dapat diramalkan sedangkan pembentukkan derivasional tidak dapat diramalkan. sedangkan afiks infleksional mempunyai distribusi yang luas. tetapi strukturalisme yang mengakui kesentralan kata tidak saja di dalam morfologi tetapi juga di dalam bahasa pada umumnya. Menurut Edi Subroto. juga terdapat keteraturan makna gramatikal di dalam paradigma infleksional. Kata yang dipakai sebagai dasar bersama dengan kata-kata lain yang tersusun di dalam suatu paradigma yang termasuk jenis tertentu.

kolom C dari leksem -PETIKKAN. dia-. kolom -PETIKI disebut B.dipetiki dipetik dipetikkan 2 I kupetiki kupetik kupetikkan 3 kaupetiki kaupetik kaupetikkan 4 diapetiki diapetik diapetikkan 5 terpetiki? terpetik . -PETIKKAN (dalam oposisinya dengan -PETIK) mengandung ciri ‘kebenefaktifan’. baris 4 adalah O2. baris 3 pelaku adalah O1. memetiki. Bentuk baris 1 terdapat apabila kalimat berfokus agentif.(sebagai bentuk pertama. Kolom A dari leksem -PETIK. ketiga kata itu dide-rivasikan dari kata kerja mememetik(pemetik‘orang yang memetik’. Masing-masing kolom merupakan paradigma infleksional dan masing-masing mempunyai bentuk kata baris 1 . Leksem -PETIKI bermakna ‘pluralitas perbuatan’. dan kolom PETIKAN.6 (kecuali kolom -PETIKKAN 6 dan kolom -PETIKI. baris 5 adalah O3. baris 2-5 menyatakan ‘kesengajaan’. Terlihat pada masing-masing kolom bahwa bentuk dengan Me(N). Maksudnya. Oleh karena itu. dan petikan(II) dikategorikan sebagai kata benda derivasional deverbal. sedangkan baris 2-6 berfokus pasientif. sedangkan paradigma II adalah paradigma deverbal.6 ______________________________________________________ II pemetik pemetikan petikan ______________________________________________________ Paradigma I termasuk paradigma kata kerja yang dibentuk dari dasar “petik”. kolom B dari leksem -PETIKI. Paradigma kata kerja terbagi atas tiga kolom: kolom PETIK. -PETIKI. masing-masing kolom merupakan paradigma infleksional. perdasarkan pertimbangan semantik leksikal. baris pertama) dapat digantikan dengan di-. 6 yang masih tanda tanya). Baris 6 berbeda dengan baris 3-5 karena menyatakan pelaku ‘nampak dalam bentuk’. kolom PETIKI. sedangkan baris 2 menyatakan pelaku ‘tidak nampak dalam bentuk’. dan memetikkan secara leksikal adalah tiga kata yang berbeda (derivasional) sekalipun termasuk dalam kata kerja. Perbedaan antara baris 2-6 menytkan ‘keaksidentalan’ (hal tidak disengaja). pemetikan. Kemunculan masing-asing bentuk dari setiap kolom dapat diramalkan berdasarkan kaidah gramatis tertentu. kata memetik. dan -PETIKKAN. pemetikan‘hal . Untuk memudahkan pembicaraan paradigma kata kerja kolom -PETIK disebut A. dan kolom -PETIKKAN disebut C. kau-. Dengan begitu. ku-. Selanjutnya perlu dibedakan leksem -PETIK. Kata pemetik.

sangat diperlukan pula mengenai ancangan (pendekatan) yang dipakai untuk tata kerja di dalam mengkaji sebuah kata dan proses pembentukannya (proses morfologisnya). tidak mengenal adanya transposisi dalam derivasi zero. Berdasarkan uraian di atas akhirnya dirumuskan oleh Subroto bahwa leksem adalah “satuan lingual hasil abstraksi dari sebuah paradigma. Berdasarkan perbedaan referennya. Menurutnya “model proses adalah satu-satunya model yang cocok untuk menyajikan morfologi Bahasa Indonesia” (1997:7). sehingga bila diunggulkan tidak akan mempermudah analisis (padahal dianjurkan untuk mengatasi dilema analisis morfemis). Dalam kaitannya dengan itu. leksem adalah satuan abstrak dan satuan terkecil dari sebuah paradigma” (1996:271). transposisi dibedakan dalam rangka untuk membedakan identitas leksemnya. Harimurti dalam karya-karyanya sengaja tidak membedakan jenis leksem (yang ada hanya leksem tunggal). untuk satu kelas kata. Keberatan kedua ialah bahwa penerapannya tidak membuat deskripsi menjadi ekonomis. atau. Keberatan Harimurti atas penggunaan model lain. Oleh sebab itu. KOMENTAR Untuk mengkaji konsep leksem dan kata hendaknya dicermati secara seksama. leksem dibedakan atas leksem tunggal dan leksem majemuk. 1997:6). dan kata gramatikal. (Harimurti. misalnya leksem lupa dengan derivasi zero akan menjadi kata lupa tanpa perubahan apa-apa. Dan yang paling menentukan adalah adanya pendekatan terhadap analisis kata-kata dalam Bahasa Indonesia dengan memakai Word and Paradigm (WP). dalam tulisan-tulisan yang . Di dalam tulisan-tulisannya. Leksem merupakan satuan fundamental dari leksikon sebuah bahasa.memetik’. petikan ‘hasil memetik’). Di samping itu. III. yaitu kata. kata sebagai leksem. ihwal infleksi dan derivasi yang ada keterkaitanya dengan konsep kata dalam arti leksem dan kata gramatikal. hal yang amat penting yakni infleksi dan derivasi tidak diakui keberadaannya. Dengan demikian. Sebagai satuan abstrak terkecil leksem dapat diwujudkan dalam bentuk kata gramatikal dalam sebuah paradigma. sedangkan outputnya adalah kata. khususnya (WP) adalah terdapatnya kenyataan bahwa kata merupakan satuan yang tidak terlalu jelas batas-batasnya. leksem dipahami sebagai input dalam proses gramatikal (pembentukan kata). Edi Subroto menyetujui gagasan dan pendapat Marchand bahwa “pembentukan kata adalah cabang ilmu bahasa yang mengkaji pola-pola dimana sebuah bahasa membentuk satuan-satuan leksikal baru. misalnya nomina tidak dibedakan nomina dengan ciri semantisnya. dalam pengertian kata sebagai sesuatu yang sentral. ketiga kata itu berbeda secara leksikal sekalipun sama-sama termasuk kata benda. Dengan demikian yang relevan bagi pembentukan kata adalah morfologi derivasional atau morfologi leksikal (1996:269). maka akan sangat membantu dan relevan bila kita dapat melacak kembali pendapat Matthews yang membedakan kata secara fonologis. Berbeda dengan pendapat Edi Subroto.

Ini dapat ditemukan dalam gramatika bahasa-hahasa klasik. khususnya morfologi. sehingga kata tidak dianggap sebagai satuan sentral. dengan ketentuan kata harus diakui sebagai satuan yang diunggulkan dan konsep morfem ditinggalkan. Pada tahun 70-an model WP dimunculkan lagi karena pengaruh teori tata bahasa generatif.dipublikasikan Edi Subroto memposisikan kata sebagaimana yang dinyatakan oleh Mathews. Pada umumnya tampak bahwa bahasa -bahasa isolasi lebih tepat dengan model IA. Maka dikenallah apa yang disehut Neo-WP. analisis kata dengan Item and Process (IP). seperti bahasa Yunani. Dan beberapa segi dari bahasa fusi memerlukan bantuan dari tata bahasa model WP agar lebih efektif (Bauer. Dengan memahami perbedaan pandangan kedua mazhab itu kiranya akan dapat menerangkan dan menjawab ihwal latar belakang mengapa terdapat perbedaan kajian terhadap morfologi. Perbedaan kedua kajian tentang bahasa ditandai oleh hal-hal seperti berikut: (1) linguistik Amerika berpijak kepada pengalaman dari penelitian babasa-babasa Indian yang mempunyai sifat-sifat yang sangat berlainan dengan bahasa-bahasa Indo-Eropa (Meskipun para pelopor linguistik Amerika awal abad itu semuanya berpendidikkan Eropa. Beberapa segi bahasa fusi dan aglutinasi jauh lebih mudah diterapkan pada tata bahasa dengan model IP.Bahwa deskripsi yangdibuat dari ketiga model itu dapat dikaitkan dengan satu model yang disarankan. Beberapa keberatan tersebut di atas dicoba untuk diatasi. kata dalam arti leksem dan kata gramatikal sesuai dengan konsep infleksi dan derivasi (1989:3). hal yang tidak boleh diabaikan adalah terdapatnya perbedaan kajian strukturalisme Amerika dan strukturalisme Eropa. dan Word and Paradigm (WP). Lihat misalnya karya Boas (191 1) dan Sapir (1921) serta edisi pertama karya Nida Morphology (1942) yang sangat luas digunakan itu. Model IP itu diperkenalkan kembali sejak tahun 60-an dalam teori TG yang . Mereka menganggap morfem sebagai satuan gramatikal terkecil (dan sentral). Selain itu. Namun dalam perdebatan tentang model mana yang cocok untuk digunakan sebagai model pengkajian dalam morfologi. Di antara ketiganya model WP adalah model morfologis tertua yang digunakan sebagai kerangka kerja. namun mereka mampu menanggalkan paradigma Eropa dalam penyelidikan babasa). Yang hal ini berbeda dengan kajian struktural Eropa. sebenarnya kita harus kembali kepada pendapat Hockett (1954) seperti yang dikutip oleh Bauer tentang: analisis kata dengan pendekatan Item and Arrangement (IA). istilah itu baru muncul lebih kemudian dibandingkan dengan tata kerja IA dan IP. 1988:170-171). Sanskerta. Robins (1959) yang menganjurkan penggunaan konsep WP itu menyatakan bahwa bila model itu bisa diterapkan maka linguis akan terbebas dari dilema analisis morfemis. Model tata kerja IP. IA. dan Arab. Untuk memahami bagaimana kata dapat dikaji dalam bahasa. yang menempatkan kata sebagai kajian sentral dan morfem hanya sebuah momen (a dependent feature). dan WP yang dibahas dalam linguistik sebenarnya paling relevan bila dikaitkan dengan pemhahasan tentang morfologi (pembentukan kata). Latin. Dalam tradisi Amerika model IP lebih dulu lazim daripada model IA. (2) Hieraki gramatikal diakui secara eksplisit maupun implisit.

London: Cambridge University Press. miliege ‘jarak mil’. shoes. trees. yaitu adanya sejumlah cara untuk mengetahui apakah sebuah afiks bersifat infleksional atau derivasional. maka akan dapat menambah afiks infleksional pada semua anggota kelas yang lain. (2) Dapat mencakup kumulasi morfem-morfem di dalam satu morf-tunggal. afiks itu bersifat derivasional. IV. 1982) membahas analisis morfologi dengan tata kerja atau anacangan WP secara mendasar dengan sebutan kerangka kerja leksikal. yakni morfologi yang berkonsentrasi pada kata dan paradigmanya. . DAFTAR PUSTAKA Bauer. Sebagai contoh afiks infleksional -s yang menunjukkan makna jamak dalam Bahasa Inggris. 1983. English Word-Formation. yaitu: (1) terdapat banyak peristiwa bahwa satu formatif dapat mewujudkan atau menghasilkan morfem-morfem yang berbeda di dalam bagian yang berbeda dari suatu paradigma. shortage ‘kekurangan’.age dalam bandage ‘pembalut’. Ahli morfologi yang bekerja dengan pendekatan WP menurut Bauer (1988:152 setidak-tidaknya akan mempunyai dua keuntungan. yaitu morfologi infleksional. Anderson (1977. Afiks-afiks yang tidak mengubah kelas kata bentuk dasarnya biasanya termasuk afiks infleksional. Sebagai catatan akhir . Pada perkembangan selanjutnya. Laurie. Formalise adalah verba dan formalises juga verba. Matthews membuat notasi terhadap tata kerja dengan WP. Dengan begitu. akhirnya perlu diperhatikan apa yang dinyatakan oleh Bauer dalam kaitannya dengan studi tentang morfologi (1988:12-13). formal adalah ajektiva. (a) Jika sebuah afiks mengubah bentuk bentuk dasarnya. dan morfologi derivasional atau morfologi leksikal. Dalam kaitannya dengan afiks infleksional dan afiks derivasional itu akhirnya terdapat dua bidang morfologi. Contohnya adalah form adalah nomina. dapat ditentukan bahwa afiks-afiks infleksional itu bersifat tidak produktif. Lain halnya dengan perubahan makna secara derivasional seperti . Sedangkan afiks derivasional tidak dapat ditambahkan pada setiap anggota kelas. sebaliknya makna-makna dari afiks-afiks derivasional tidak dapat diramalkan. Model IP sangat luas digunakan oleh kaum Neo-Bloomfieldian yang memiliki landasan filsafat positivisme. yakni tahun 1972. berarti -al telah mengubah kelas kata sehingga termasuk afiks derivasional. (c) Terdapat suatu kaidah umum bahwa bila dapat menambahkan afiks infleksional pada salah satu anggota dari sebuah klas kata. sedangkan afiks derivasional bersifat produktif. bicycles. cleavage ‘perpecahan’. seperti : dogs. (b) Afiks-afiks infleksional selalu menampakkan makna yang teratur atau dapat diprediksikan.seluruhnya menggunakan model proses. berarti -s tidak mengubah kelas kata sehingga kemungkinan termasuk afiks infleksional.

Tegal: Universitas Pancasakti. Introducing Linguistic Morphology. Surakarta: Fakultas Sastra UNS. 1993. Lexeme. 1995. Makna. “Konsep Leksem dan Upaya Pengorganisasian Kembali Lema dan Sublema Kamus Besar Bahasa Indonesia’ dalam Bahasa Nasional Kita. Jakarta: Bhratara. Jakarta: Bhratara. ” Kata sebagai satuan Sentral dalam Kajian Morfologi” dalam Konferensi dan Musyawarah Nasional VI MLI. Semarang: UNDIP dan IKIPN. Jakarta:UI. Edi Subroto. Robert. Transposisi dari Adjektiva Menjadi Verba dan Sebaliknya dalam Bahasa Jawa (Disertasi). . Bandung: ITB.1996.1988. B. Yogyakarta: IKIP Muhammadiyah. Karno Ekowardono. B. Yogyakarta: Kanisius.1988. “Infleksi dan Derivasi:Kemungkinan Penerapannya dalam Pemerian Morfologi Bahasa Indonesia” dalam PIBSI VII. dan Me(N)-D-Kan dalam Bahasa Indonesia” dalam dalam Pelangi Bahasa (ed. Edi Subroto. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia.1985.1982. “Sistem Verba Bahasa Jawa’ dalam Linguistik dan Bahasa Indonesia: Kumpulan Makalah Seminar Linguistik. “Konsep Leksem dan Upaya Pembaharuan Penyusunan Kamus dalam bahasa Indonesia” dalam PIBSI XI. Morpheme Base MorphologyUSA: State University Of New York. “Verba Bentuk Me(N)-D. Yogyakarta: Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa. Beberapa Prinsip Perpaduan Leksem dalam Bahasa Indonesia.1985. ” Konsepsi Morfem Afiks: Sebuah Studi atas Korelasi Bentuk. Harimurti dan Anton Moeliono). Edi Subroto. “Verba Pasif Bentuk Ter-D dalam Kaitannya dengan Verba Pasif Bentuk di-D” dalam PIBSI XIV. Harimurti dan Anton Moeliono).1982. Jakarta: Gramedia Harimurti Kridalaksana. Edi Subroto. Laurie. Harimurti Kridalaksana. Karno Ekowardono.Great Britain: Edinburgh University Press. Beard. Me(N)-D-I. 1982. 1992. 1996. Surakarta: Fakulas Sastra dan Budaya UNS.1989. 1991. dan Valensi dalam bahasa Indonesia” dalam Pelangi Bahasa (ed.Bauer. Edi Subroto. Edi Subroto. Dasar-dasar dan Segi-segi Penyusunan Kamus” daalm Seminar dalam rangka Bulan Bahasa. Edi subroto. Edi Subroto.

Harimurti Kridalaksana. Jakarta: Universitas Atma Jaya. Harimurti Kridalaksana.P. London: Cambridge University Press.1997. “Teori Morfologi dewasa Ini: Morfologi Klasik” dalam PELLBA II. .1974. Morphology: An Introduction to The Theory of Word Structure. N Matthews.H.