LAPORAN PROBLEM BASED LEARNING 1 BLOK TROPICAL MEDICINE CUTANEUS LARVA MIGRANS

Tutor : dr. Khusnul Muflikhah

Disusun Oleh : Kelompok 5 GALIH RAKASIWI RAHMAH FITRI UTAMI MUFTI AKBAR FAHMY BEN BELLA IRHAM TAHKIK SURYANA JEANITA INDRIASARI AULIA RAHMAWATI DIAN KRISTIANI I.O. ALDILA VIDYA D.A. IKA SUHARTATI ANDHITA CHAIRUNNISA G1A008014 G1A008035 G1A008040 G1A008047 G1A008067 G1A008068 G1A008069 G1A008076 G1A008082 G1A008099 G1A008115

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER PURWOKERTO 2011

BAB I PENDAHULUAN

Problem Based Learning (PBL) merupakan suatu metode pembelajaran yang bertujuan untuk menyiapkan mahasiswa dalam menghadapi suatu kasus yang nantinya akan timbul dalam masyarakat jika kelak sudah menjadi seorang dokter. Selain itu, metode tersebut juga

menyiapkan mahasiswa agar mampu menggunakan prinsip-prinsip komunikasi yang efektif dalam hubungan antar teman saat berdiskusi. Melalui PBL, mahasiswa diharapkan akan mampu menggunakan komunikasi efektif saat berkomuikasi dengan pasien nantinya. Metode pembelajaran tersebut menuntut mahasiswa untuk menggunakan sarana informasi yang sudah tersedia seperti buku, internet, jurnal dan sarana informasi lain untuk mencari bahan dan menjadi acuan dalam mempelajari setiap permasalahan medis yang dimunculkan dalam proses diskusi. Metode PBL menuntut mahasiswa untuk mampu menjelaskan hubungan antara ilmu kedokteran dasar dengan ilmu-ilmu kedokteran klinis yang praktis dan dapat dengan mudah dipahami dan dimengerti serta diaplikasikan dalam praktek. Adapun scenario PBL kasis 1, yaitu :

INFO 1 : Bapak M, 5 tahun, datang ke poliklinik dengan keluhan gatal di telapak kaki kanan. Gatal dirasakan sejak 1 minggu yang lalu. Bapak M bekerja sebagai penebang kayu di hutan dan terbiasa tidak memakai alas kaki pada saat bekerja.

INFO 2 : Telapak kaki kanan gatal, agak nyeri, tampak kemerahan, terdapat terowongan berkelok-kelok. Karena sering gatalpenderita sering menggaruk. 2 hri sebelum datang berobat, pasien mengeluhkan adanya batuk. Pemeriksaan tanda vital: Suhu: 38 C Tekanan darah : normal Pemeriksaan paru: Pada auskultasi terdapat ronki basah halus di kedua lapang paru.

Photomicrograph of skin showing creeping eruption nematoda in burrow X 480 (Kirby – Smith.) . al.INFO 3 : Pemeriksaan darah Px feses 2 x24 jam Ro thoraks : eosinofilia (+) : larva filariform (+) : infiltrate kedua lapang paru (+) Hasil biopsi sebagai berikut. et.

virus. ANALISIS MASALAH 1) Penyebab Gatal Gatal atau pruritus dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah : a. jamur dan parasit b.BAB II ISI DAN PEMBAHASAN A. Infeksi bakteri. Alergi c. Penyakit sistemik . IDENTIFIKASI MASALAH 1) Penyebab Gatal 2) Patofisiologi Gatal 3) Informasi Tambahan yang Dibutuhkan 4) Interpretasi Informasi 2 5) Diagnosa Banding D. KLARIFIKASI ISTILAH Gatal atau pruritus adalah sensasi tidak nyaman di kulit yang menimbulkan keinginan untuk menggaruk daerah tertentu. BATASAN MASALAH Identitas : Nama : Bapak M Usia : 55 tahun : gatal : telapak kaki kanan : 1 minggu yang lalu : : Penebang kayu : tidak memakai alas kaki saat bekerja di hutan Keluhan Utama Lokasi Onset Riwayat Sosek Pekerjaan Kebiasaan C. B.

Secara umum gatal disebabkan oleh 4 hal yaitu alergen. Contohnya adalah sumbatan kantung empedu yang akan meningkatkan kadar senyawa opoid yang akan memicu timbulnya pruritus. 2005) Menurut Twcross.d. Gatal neuropatik : gatal yang terjadi akibat terdapatnya lesi dijaras aferen penghantaran impuls. Pruritus merupakan hasil stimulasi ringan pada sel saraf. (Djuanda. Rangsangan dapat dicetuskan oleh mediator inflamasi diantaranya histamin rasa gatal ditimbulkan oleh serabut ujung saraf bebas dekat perbatasan dermis dan epidermis. c. 2007) 2) Patofisiologi Gatal Mekanisme pasti sampai saat ini belum jelas. b. Saraf yang sensitif terhadap gatal. Misalnya ketakutan terhadap parasit (parasitofobia) dapat menyebabkan sensasi gatal. Diduga banyak neurotransmitter yang berperan dalam proses tersebut diantaranya adalah neuropeptida. Rangsangan tersebut akan sampai ke thalamus akhirnya rangsangan terhubung pada korteks serebral. tidak bermielin dengan konduksi yang lambat. keringat dan elembapan. jenis penyebab pruritus digolongkan menjadi beberapa kelompok : a. iritan. 3) Informasi Tambahan yang Dibutuhkan a. Gatal pruritoseptif : gatal yang berasal dari kulit dan terjadi akibat adanya pruritogen. Kehamilan (Djuanda. d. terjadi inflamasi. kecil. seperti neuralgia dan gangguan serebrovaskuler. Misalkan area rangsang pada central girus belakang. serta terjadi kerusakan kulit. VIP dan calcitonin. RPS . Garukan memperingan rasa gatal karena mengubah ritme impuls efferen pada korpus spinalis. Gatal psikogenik: gatal yang cenderung ditimbulkan akibat aktivitas psikologis dan kebiasaan berulang. Anamnesis 1. Lokasi tersebut akan diketahui dan dirasakan sesuai intensitas dan kualitas gatal tersebut. Dihubungkan secra sentripetal oleh sistem saraf afferent masuk ke corda spinalis melewati dorsal. Gatal neurogenik: gatal yang berasal dari pusat (sentral) disertai keadaan patologis. seperti kulit yang kering.

lemah. ginjal atau hepar? b. RPK a. Adakah gejala penyerta seperti mual. Pemerisaan prick test: mengetahui apakah terdapat alergi 5. Pemeriksaan sputum: akah terdapat penyakit paru yang mendasari 4) Interpretasi Informasi 2 Status lokalis: tampak papul eritem. .letih dan lesu? 2. Apakah ada riwayat penyakit DM? 4. Pemeriksaan penunjang 1. Adakah riwayat penyakit internal seperti DM.a. krusta. Apakah ada riwayat alergi? c.muntah. Apakah ada riwayat kontak dengan bahan irritan? d. Pemeriksaan darah lengkap 2. ginjal dan gula darah untuk mengetahui adanya penyakit interna 3. Bagaimana personal hygene? b. Pemerksaan feses: apakah terdapat telur atau larva cacing 4. ekskoriasi. UKK 2. panjang kanalikuli=6 cm. Dimana tempat tinggalnya dan satu rumah untuk berapa orang? b. Tanda vital 3. Apakah ada anggota keluarga yang mempunyai penyakit yang sama? b. RPD a. Pemeriksaan fungsi hati. RPSOSEk a. Pola penyebaran bagaimana? c. Pemeriksaan fisik semua sistem c. Gejalan gatalnya seperti apa? b. vesikel. canalikuli. Pemeriksaan fisik 1. Riwayat pengobatan? 3.

Pada tempat masuk larva tampak papula yang selnjutnya menjalar dan berkelok-kelok. Penderita akan merasa gatal dan nyeri. Pada hiperinfeksi cacing dewasa yang hidup sebagai parasit dapat ditemukan diseluruh traktus digestivus dan larvanya dapat ditemukan pada paru. Infeksi sedang dapat menyebabkan rasa sakit seperti ditusuk-tusuk didaerah epigastrik dan disertai mual dan muntah. Diagnosis . timbul kelainan kulit yang dinamakan creeping eruption yang sering disertai rasa gatal yang hebat. Ankilostoma caninum c. 2008) 4. Sinonim: Sand Worms Eruption. hati dan kandung empedu. Etiologi: a. Larva menembus kulit tetapi tidak mencapai pembuluh darah dan menyebar disubkutis. Ankilostoma brasiliense b. (Inge sutanto et al. Infeksi ringan terjadi pada umumnya tanpa diketahui hospesnya karena tidak menimbulkan gejala. Patofisiologi Bila larva filariform menembus kulit. pasien mengalami demam dan ditemukan suara ronki basah halus di kedua lapang paru. polisiklis sehingga tampak merupakan garis liniar atau berkelok-kelok di kulit. Cacing dewasa menyebabkan kelainan pada mukosa usus. Necator americanus e. Garcia & David A.Dari info 2 didapatkan: Di telapak kaki pasien ditemukan creeping eruption. 5) Diagnosa Banding a) Cutaneus Larva Migrans 1. diare dan konstipasi saling bergantian. Strongyloides sterconalis ( Lynne S. 1996 ) 3. Ankilostoma duodenale d. Bruckner. Creeping Eruption 2.

Insidensinya di Indonesia masih cukup tinggi. The Itch. diagnosis yang salah. Pengobatan (i) Medikamentosa creeping eruption: Krioterapi dengan liquid nitrogen dan Kloretilen spray. Beberapa sinonim penyakit ini yaitu: Kudis. 1. ekologi dan derajat sensitasi individual. Menggunakan sandal saat keluar rumah 4. Cuci tangan sebelum makan dengan sabun 2. tetapi dapat juga mengenai semua umur. Gudig. Epidemiologi Skabies merupakan penyakit epidemik pada banyak masyarakat. . (Inge sutanto et al. 2000) b) Scabies Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi terhadap Sarcoptes scabiei varian hominis dan produknya. tiabendazol topikal selama 1 minggu. Cuci kaki sampai ke sela-sela jari dengan sabun 3. Beberapa factor yang dapat membantu penyebarannya adalah kemiskinan. Insidensi skabies di negara berkembang menunjukan siklus fluktasi yang sampai saat ini belum dapat dijelaskan. hygiene yang jelek. terendah di Sulawesi Utara dan tertinggi di Jawa Barat. mendapaatkan hasil yang sangat memuaskan. Ada dugaan bahwa setiap siklus 30 tahun terjadi epidemik scabies. Mengobati 18 kasus cutaneus larva migrans dengan albendazol 400 mg selama 5 hari berturut-turut. 2008) 5. Budukan. Interval antara akhir dari suatu epidemic dan permulaan epidemik berikutnya kurang lebih 10-15 tahun. seksual promiskuitas. Membuang kotoran di jamban ( Eric Caumes. demografi. Pada pemeriksaan tinja ditemukan dijumpai larva cacing.Dapat dilakukan dengan mencari larva pada ruam yang menjalar. Insidensi sama pada pria dan wanita. Penyakit ini banyak dijumpai pada anak dan orang dewasa muda. (ii) Non medikamenosa 1. Gatal Agogo.

Pada manusia disebut Sarcoptes scabiei var. sedangkan varietas pada mamalia lain dapat menginfestasi manusia. berwarna putih kotor. berbentuk oval. Tungau betina panjangnya 300-450 mikron. Di dalam terowongan ini tungau betina akan tinggal selama hidupnya yaitu kurang lebih 30 hari dan bertelur sebanyak 2-3 butir telur sehari. Bentuk dewasa mempunyai 4 pasang kaki dan bergerak dengan kecepatan 2. Telur akan menetas setelah 3-4 hari menjadi larva yang akan keluar ke permukaan kulit untuk kemudian masuk kulit lagi dengan menggali terowongan biasanya sekitar folikel rambut untuk melindungi dirinya dan mendapat makanan. sedangkan tungau jantan lebih kecil. Sarcoptes scabiei betina dapat hidup diluar pada suhu kamar selama lebih kurang 7 – 14 hari. Sarcoptes scabiei betina setelah dibuahi mencari lokasi yang tepat di permukaan kulit untuk kemudian membentuk terowongan. dengan kecepatan 0. tetapi tidak dapat hidup lama. kelas Arachnida. contohnya lipatan kulit pada orang dewasa. Pada bayi.5 cm permenit di permukaan kulit. . menjadi bentuk dewasa melalui bentuk nimfa. Biasanya hanya hidup dipermukaan kulit dan akan mati setelah membuahi tungau betina. maka seluruh badan dapat terserang.5 mm – 5 mm per hari. Etiologi Sarcoptes scabiei termasuk filum Arthopoda. Terowongan pada kulit dapat sampai ke perbatasan stratum korneum dan stratum granulosum. Tungau jantan mempunyai masa hidup yang lebih pendek dari pada tungau betina. kurang lebih setengahnya yakni 200 – 240 mikron x 150 – 200 mikron.2. Tungau ini transient. Setelah beberapa hari. hominis. Waktu yang diperlukan dari telur hingga bentuk dewasa sekitar 10-14 hari. ordo Ackarina. karena seluruh kulitnya masih tipis. dan mempunyai peran yang kecil pada patogenesis penyakit. Yang diserang adalah bagian kulit yang tipis dan lembab. Secara morfologik merupakan tungau kecil. superfamili Sarcoptes. punggungnya cembung dan bagian perutnya rata. dan tidak bermata.

Skabies ditularkan oleh kutu betina yang telah dibuahi. menyebabkan kulit timbul pada pergelangan tangan. Gatal yang terjadi disebabkan oleh sensitisasi terhadap sekret dan ekskret tungau yang memerlukan waktu kira-kira sebulan setelah infestasi. 4. melalui kontak fisik yang erat penularan melalui pakaian dalam. Kelainan kulit dan gatal yang terjadi dapat lebih luas dari lokasi tungau. Patogenesis Kelainan kulit dapat disebabkan tidak hanya oleh tungau skabies. Lama hidup kutu betina kira-kira 30 hari. Kelainan kulit dapat disebabkan tidak hanya oleh tungau skabies.3. urtika dan lain-lain. setelah itu kutu betina akan menggali lobang kedalam epidermis kemudian membentu terowongan didalam stratum korneum. vesikel. Terowongan lebih banyak terdapat didaerah yang berkulit tipis dan tidak banyak mengandung folikel pilosebasea. Dengan garukan dapat timbul erosi. menyebabkan kulit timbul pada pergelangan tangan. . Gatal yang terjadi disebabkan oleh sensitisasi terhadap sekret dan ekskret tungau yang memerlukan waktu kira-kira sebulan setelah infestasi. ekskoriasi. Dengan garukan dapat timbul erosi. nimpa dan kemungkinan menjadi kutu dewasa dalam 10-14 hari. Cara Penularan Penyakit skabies dapat ditularkan melalui kontak langsung maupun kontak tak langsung. urtika dan lain-lain. skabies betina mulai mengeluarkan telur yang kemudian berkembang melalui stadium larva. vesikel. tempat tidur. Pada saat itu kelainan kulit menyerupai dermatitis dengan ditemukannya papul. Dua hari setelah fertilisasi. krusta dan infeksi sekunder. Dan karena bersalaman atau bergandengan sehingga terjadi kontak kulit yang kuat. handuk. krusta dan infeksi sekunder. kemudian kutu mati di ujung terowongan. tetapi juga oleh penderita sendiri akibat garukan. Dan karena bersalaman atau bergandengan sehingga terjadi kontak kulit yang kuat. tetapi juga oleh penderita sendiri akibat garukan. Pada saat itu kelainan kulit menyerupai dermatitis dengan ditemukannya papul. ekskoriasi. Kelainan kulit dan gatal yang terjadi dapat lebih luas dari lokasi tungau.

Faktor Predisposisi Kebersihan lingkungan sangat penting pada penularan penyakit ini. asrama. anggota tentara pada saat perang. Begitu pula dalam sebuah perkampungan yang padat penduduknya. Penyakit ini menyerang manusia secara berkelompok. akan menambah panjang permasalahan kesehatan lingkungan yang telah ada. ekskoriasi dan lain-lain). tetapi tidak memberikan gejala. Skabies juga dapat terjangkit pada mereka yang tinggal berdesakan seperti pengungsi. Penyakit ini sangat erat kaitannya dengan kebersihan perseorangan dan lingkungan. Pruritus nokturna. kurangnya pemantauan kesehatan oleh pemerintah. walaupun mengalami infestasi tungau. Penderita ini bersifat sebagai pembawa (carrier). karena itu bila salah satu anggota keluarga terkena. yang seluruh anggota keluarganya terkena. Apabila tingkat kesadaran yang dimiliki oleh banyak kalangan masyarakat masih cukup rendah. artinya gatal pada malam hari yang disebabkan karena aktivitas tungau ini lebih tinggi pada suhu yang lebih lembab dan panas. Tempat predileksinya biasanya merupakan tempat . b. 6. dll. serta kegagalan pelaksanaan program kesehatan yang masih sering kita jumpai. sebagian besar tetangga yang berdekatan akan diserang oleh tungau tersebut. sekolah. maka biasanya anggota keluarga lain akan ikut tertular juga. 5. Scabies pada umumnya terdapat pada komunitas yang berpenghasilan rendah (low income communities) yang kurang memperhatikan kebersihan diri (personal hygiene). misalnya dalam sebuah keluarga biasanya seluruh anggota keluarga terkena infeksi. derajat keterlibatan penduduk dalam melayani kebutuhan akan kesehatan yang masih kurang. pada ujung terowongan ini ditemukan papul atau vesikel.Penyakit ini sangat mudah menular. panti. Dikenal keadaan hiposensitisasi. c. berbentuk garis lurus atau berkelok. Gejala Klinis Terdapat empat tanda kardinal skabies: a. ratarata panjang 1 cm. faktor lingkungan terutama masalah penyediaan air bersih. Adanya terowongan (kunikulus) pada tempat-tempat predileksi yang berwarna putih atau keabu-abuan. Jika timbul infeksi sekunder ruam kulitnya menjadi polimorf (pustule.

sehingga dapat menimbulkan kesalahan diagnosis. b. 7. terutama pada genitalia laki-laki. Pada bayi dapat menyerang telapak tangan dan telapak kaki. Dapat ditemukan satu atau lebih stadium hidup tungau ini. sementara infestasi tetap ada. yaitu sela-sela jari tangan. Pada nodus yang berumur lebih dari satu bulan tungau jarang ditemukan. Biasanya sangat sukar ditemukan terowongan. Bentuk ini ditandai dengan lesi berupa papul dan terowongan yang sedikit jumlahnya sehingga sangat sukar ditemukan. Nodus ini timbul sebagai reaksi hipersensetivitas terhadap tungau scabies. Skabies yang ditularkan melalui hewan . inguinal dan aksila. merupakan hal yang paling diagnostik.dengan stratum korneum yang tipis. Nodus biasanya terdapat di daerah tertutup. Sebaliknya pengobatan dengan steroid topical yang lama dapat pula menyebabkan lesi bertambah hebat. Diagnosis dapat dibuat dengan menemukan 2 dari 4 tanda kardinal tersebut. Hal ini disebabkan mungkin oleh karena penurunan respon imum seluler. siku bagian luar. umbilicus. Nodus mungkin dapat menetap selama beberapa bulan sampai satu tahun meskipun telah diberi pengobatan anti skabies dan kortikosteroid. genitalia eksterna (pria) dan perut bagian bawah. c. d. areola mammae (wanita). d. Beberapa bentuk tersebut antara lain: a. Kutu biasanya hilang akibat mandi secara teratur. Skabies Inkognito Obat steroid topikal atau sistemik dapat menyamarkan gejala dan tanda scabies. Menemukan tungau. pergelangan tangan bagian volar. Skabies pada Orang Bersih Terdapat pada orang yang tingkat kebersihannya cukup. Klasifikasi Skabies Terdapat beberapa bentuk skabies apitik yang jarang ditemukan dan sulit dikenal. Skabies Nodular Pada bentuk ini lesi berupa nodus coklat kemerahan yang agtal. bokong. lipat ketiak bagian depan.

pedikulosis pubis. Skabies Norwegia Skabies Norwegia atau skabies krustosa ditandai oleh lesi yang luas dengan krusta. . skuama generalisata dan hyperkeratosis yang tebal. Penderita penyakit kronis dan orang tua yang terpaksa harus tinggal ditempat tidur dapat menderita skabies yang lesinya terbatas. leher. rasa gatal pada penderita skabies Norwegia tidak menonjol tetapi bentuk ini sangat menular karena jumlah tungau yang menginfestasi sangat banyak (ribuan). sumber utama skabies adalah anjing. Tempat predileksi biasanya kulit kepala yang berambut. Masa inkubasi lebih pendek dan transmisi lebih mudah.Di Amerika. Skabies terbaring ditempat tidur (bed ridden). Berbeda dengan skabies biasa. g. herpes genitalis dan lainnya. lesi di muka. ektima sehingga terowongan jarang ditemukan. Pada bayi. Kelainan ini bersifat sementara (4 – 8 minggu) dan dapat sembuh sendiri karena Sarcoptes scabiei pada binatang tidak dapat melanjutkan siklus hidupnya pada manusia. perut. telinga bokong. telapak kaki dan sering terjadi infeksi sekunder berupa impetigo. Lesi biasanya terdapat pada daerah dimana orang sering kontak/memeluk binatang kesayangannya yaitu paha. Skabies yang disertai penyakit menular seksual yang lain Skabies sering dijumpai bersama penyakit menular seksual yang lain seperti gonore. e. telapak tangan dan kaki yang dapat disertai distrofi kuku. dada dan lengan. Skabies pada bayi dan anak Lesi skabies pada anak dapat mengenai seluruh tubuh. telapak tangan. f. lutut. termasuk seluruh kepala. h. Kelainan ini berbeda dengan skabies manusia yaitu tidak terdapat terowongan. sifilis. Skabies Norwegia terjadi akibat defisiensi imunologik sehingga sistem imun tubuh gagal membatasi proliferasi tungau dapat berkembangbiak dengan mudah. siku. tidak menyerang sela jari dan genitalia eksterna.

Pencegahan Pencegahan skabies dapat dilakukan dengan berbagai cara: a) Mencuci bersih. b) c) Menghindari pemakaian baju. (Djuanda. Erupsi dapat berbentuk impetigo. SASARAN BELAJAR 1) Anatomi dan Histologi Kulit 2) Fisiologi Kulit . Tuberculosis kutis ini dibedakan menjadi beberapa kelompok. limfangitis.8. handuk. Komplikasi Bila skabies tidak diobati selama beberapa minggu atau bulan. oleh sebab itu tempat predileksinya pada tungkai bawah dan kaki. Dermatitis iritan dapat timbul karena penggunaan preparat anti skabies yang berlebihan. Mengobati seluruh anggota keluarga. dapat timbul dermatitis akibat garukan. jadi kuman langsung masuk kedalam kulit. Pada bagian yang cekung terdapat sikatrik. dan furunkel. bahkan sebagian ahli menganjurkan dengan cara direbus. c) Tuberculosis Kutis Tuberculosis kutis adalah tuberculosis pada kulit yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis dan mikobacteria atipikal. 9. 2005) E. yang berarti penyakit menjalar ke satu jurusan diikuti penyembuhan dijurusan yang lain. baik pada terapi awal ataupun pemakaian yang terlalu sering. biasanya berbentuk bulan sabit akibat penjalaran secara serpiginosa. atau masyarakat yang terinfeksi untuk memutuskan rantai penularan. seprai secara bersama-sama. Infeksi bakteri pada bayi dan anak kecil yang diserang scabies dapat menimbulkan komplikasi pada ginjal. ektima. handuk. salah satunya adalah tuberculosis kutis verukosa yang infeksinya terjadi secara eksogen. Gambaran klinisnya khas sekali. Ruam terdiri atas papul-papul lentikular diatas kulit yang eritematosa. kemudian menjemurnya hingga kering. Selain menjalar ke perifer sehingga terbentuk sikatrik ditengah. seprai maupun baju penderita skabies. sellulitis.

Lapisan Malpighi terdiri atas lapisan spinosum dan lapisan germinativum. Lapisan korneum merupakan lapisan kulit mati. sentuhan. Kulit juga berfungsi sebagai alat eksresikarena adanya kelenjar keringat (kelenjar sudorifera) yang terletak di lapisan dermis.Lapisan Malphighi mengandung pigmenmelanin yang memberi warna pada kulit. rasa sakit. ujung lidah. PEMBAHASAN SASARAN BELAJAR 1) Anatomi dan Histologi Kulit Kulit adalah alat indera kita yang mampu menerima rangsangan temperatur suhu. 6) Diagnosa Kerja F. yang dapat mengelupas dan digantikan oleh selsel baru. tekanan. Bagian dari Epidermis . tekstur. mengantikan lapisan sel-sel pada lapisan korneum. 5) Strongyloides sp. dan lain sebagainya. Lapisan spinosum berfungsi menahan gesekan dari luar. dahi. Lapisan germinativum mengandung sel-sel yang aktif membelah diri. Kulit manusia terdiri atas epidermis dan dermis. Epidermis Epidermis tersusun atas lapisan tanduk lapisan korneum dan lapisan Malpighi. dll.3) Ujud Kelainan Kulit Primer dan Sekunder 4) Ancylostoma sp. Pada kulit terdapat reseptor yang merupakan percabangan dendrit dari neuron sensorik yang banyak terdapat di sekitar ujung jari.

Bagian ini juga cikal bakal terbentuknya keratinocit baru. Terdapat melanocyt yaitu sel yang memproduksi melanin untuk memberi warna pada kulit. Mutasi DNA di inti sel kulit karena sinar matahari dapat menyebabkan kerusakan sel sehingga terlihat lebih cepat menua dan dapat menyebabkan kanker. b. Lapisan Stratum spinosum/prickle-cell layer . dan yang paling penting fungsi melanocyt untuk melindungi DNA di inti sel kulit agar tidak bermutasi karena radiasi sinar matahari.inilah contoh kanker kulit pada wajah : Paparan sinar matahari yang sering pada kulit wajah menyebabkan produksi melanin makin meningkat dan sel-sel melanocyt yang memproduksi melanin menggandakan diri lebih cepat yang sebenarnya bertujuan melindungi sel kulit dari kerusakan tapi menjadikan warna kulit lebih gelap dan terbentuk flek. sehingga bagian inilah yang terus menerus membuat sel-sel kulit baru untuk mengantikan bagian sel-sel yang tua dan rusak. namun kortikoid dan flusinolon asetonida dapat menganggu proses regenerasi sel dengan menghambat proses mitosis. gambaran dari lapisan ini adalah: Disusun oleh sel basal aktif yang terus menerus membelah diri. Semua jenis kulit putih mempunyai resiko lebih besar menderita kanker kulit. seperti terlihat pada gambar. Lapisan germinatum / lapisan basal Lapisan terbawah dari lapisan epidermis yang bergerak secara terus menerus menuju keatas memisahkan antara lapisan epidermis dengan lapisan dermis. lapisan ini setiap harinya selalu melakukan pembelahan (mitosis). Proses mitosis ini sendiri dapat dipicu dengan bahan Natrium Lauril sulfat sehingga terjadi peremajaan sel secara terus menerus. sel di bagian ini mempunyai inti (berwarna gelap) yang sangat penting dalam proses pembelahan sel.a. oleh karena itu disebut juga sel induk.

itulah yang menyebabkan kondisi kulit kita terlihat kusam dan tidak sehat. padahal sering sekali pada kenyataannya pembuluh kapiler darah di lapisan dermis yang memberi nutisi pada kulit mudah sekali mengalami hambatan dan gangguan salah satunya disebabkan oleh dinding pembuluh kapiler dan . Karena letak lapisan ini makin jauh dari aliran darah maka sedkit saja pembuluh darah yang ada di lapisan dermis mengalami gangguan aliran darah. Sel-sel dibagian ini ada sebagian yang masih hidup dan aktif membelah diri terutama sel yang paling dekat dengan lapisan sel basal.Adalah lapisan di atas sel basal tersusun dari sel keratinocyt bertugas mengisi sel-sel dengan protein keratin yang bersifat bahan keras sehingga dapat melindungi lapisan sel basal yang aktif membelah agar terhindar dari subtansi yang dapat merusak dan dari infeksi mikroorganisme serta mengurangi kehilangan kelembaban sel kulit. Sel-sel yang sudah penuh terisi keratin secara berangsur-angsur akan mati dan naik kepermukaan. Pada orang kekurangan filaggrin dapat menyebabkan kulit kering bersisik dan mengelupas secara terus menerus. dan banyak terdapat filaggrin merupakan bahan penghubung sel keratin dengan bagian luar sel untuk tetap memberikan nutrisi bagi sel keratin melalui cairan antar sel karena bagian sel ini semakin jauh dari aliran darah. Stratum Granulosum Sel dilapisan ini sudah merupakan sel mati dan tidak dapat membelah diri tersusun dari sel-sel keratin atau sel yang sudah berisi bahan protein dan mengeras. sehingga sel kulit di lapisan ini akan menjadi semakin pipih dan mati sebelum waktunya. maka akan sangat mempengaruhi lapisan ini. Keratinocyt yang ada dilapisan ini juga memproduksi lemak perekat dilapisan tanduk. bila aliran darah kepermukaan kulit tidak lancar. c.

Contohnya adalah pada telapak kaki. e. Stratum corneum /lapisan Horny/ lapisan tanduk/lapisan bersisik Merupakan lapisan paling atas tersusun dari 15 -20 lapisan sel. menjaga kesediaan air untuk kelembaban dengan kemampuan tinggi menyerap air . d. Lemak yang ada di lapisan ini di buat oleh sel keratinocyt di lapisan stratum granulosum seperti yang sudah di jelaskan di atas. diantara sel-selnya terdapat lemak yang berfungsi sebagai perekat antara sel-sel. Selain itu lemak antar sel juga untuk menstabilkan lapisan tanduk. banyak terdapat zat eleidin (lapisan mengeras) yang ditemukan hanya pada lapisan telapak kaki dan tangan sehingga terlihat pada bagian tersebut lebih tebal. tentusaja ketebalan ini berfungsi sebagai pelindung. toksin. 2) Fisiologi Kulit ????????? 3) Ujud Kelainan Kulit Primer dan Sekunder . Stratum Lucidum Adalah lapisan tebal sel berbentuk gepeng yang tidak berwarna dan bening. dan sebagai lapisan yang menyaring serta mencegah sel-sel kontak dengan mikroorganisme. mencegah kulit dari kekeringan dan dehidrasi saat penguapan akibat panasnya matahari. hal itu juga yang menyebabkan mengapa walaupun sudah mencuci muka dengan bersih tapi wajah tidak terlihat bersinar.struktur jaringan kolagen di lapisan dermis tidak adekuat. ibarat seperti susunan batu bata dengan semen. menjaga elastisitas dan kekenyalan kulit. bahan-bahan kimia atau zat alergen yang dapat merusak.

Hiperkeratosis 12. Makula 2. Purpura 11. Krusta 3. Pustula 10. Plaque (Plak) 4. . Papula 3. Skuama 2. Ulkus 5. Sinus  MAKULA : Perubahan warna kulit tanpa disertai perubahan konsistensi dan permukaannya. Komedo Efloresensi sekunder: 1. Teleangiektasi 12. Likenifikasi 11. Kista 8. Sikatriks 9. Fisura 7. Urtika 5. Sklerosis 10. Ekskoriasi 6. Nodul 6. Erosi 4.Dikenal beberapa efloresensi primer : 1. Kunikulus 13. Papiloma 7. Vesikel dan Bula 9. Atropi 8.

FISURA : Defek linier yang dapat mulai dari permukaan samapai lapisan dermis ATROPI : penipisan kulit. sebum dan mikroorganisme tertentu. SKUAMA : lapisan stratum korneum yang terlepas dari kulit. .             KISTA : Suatu rongga yang dibatasi oleh epitel dan di dalamnya beirisi massa cair atau solid. diameternya < 1 cm. tetapi hilangnya juga cepat. vena atau arteri tang nampak pada permukaan kulit KOMEDO : Penonjolan kulit karena adanya pelebaran infundibulum folikel rambut yang berisi masa keratin. baik epidermis maupun dermis. EKSKORIASI : Bila garukan lebih dalam lagi sehingga tergores sampai ujung papil. timbulnya cepat. biasanya berwarna kemerahan dan pucat di bagian tengah. VESIKEL dan BULA : Suatu Penonjolan kulit dengan batas tegas. TELANGIEKTASIS : Terjadinya pelebaran pembuluh darah kapiler. maka akan terlihat darah yang ke luar selain serum. sering terdapat pseudopodia (kaki semut)    NODUL : Penonjolan kulit dengan batas tegas letaknya dalam diameternya 1 cm.   PAPULA : Penonjolan kulit yang solid dengaan diameter < 1 cm PLAK : Kelainan kulit seperti papula dengan permukaan datarr dan diameter > 1 cm URTIKARIA : Penonjolan kulit dengan batas tegas. berisi cairan seous dan diameternya ± 1cm disebut bula PAPILOMA : Penonjolan kulit yang berbentuk seperti jari-jari tangan yang disebabkan karena meningginya papilla dermis dan ditutupi oleh epidermis yang mengalami hiperplasi. PUSTULA : Penonjolan kulit berbatas tegas. KRUSTA : Cairan badan yang mengering. EROSI : Kelainan kulit yang disebabkan kehilangan jaringan yang tidak melampaui stratum basal ULKUS : Hilangnya jaringan yang lebih dalam dari ekskoriasi. berisi cairan pus/nanah PURPURA : Perubahan warna kulit menjadi kemerahan yang terjadi karena perdarahan di dalam kulit.

35-0. biasanya disertai hiperpigmentasi. Insiden Insiden cacing di seluruh dunia cukup tinggi. Cacing betina panjangnya rata-rata 9-13 mm dan diameter 0. Ankilostoma lebih besar daripada nekator americanus. bila mengenai kulit berarti di dalam kutis atau subkutis. Morfologi cacing tambang Cacing tambang dewasa adalah nematoda yang kecil seperti silinder yang bebentuk kumparan berwarna putih keabu-abuan. Perbedaan morfologis utama pada berbagai spesies adalah bentuknya. HIPERKERATOSIS : Penebalan kulit yang terjadi karena stratum korneum. Telur ini belum bersegmen bila baru dikeluarkan dan .       SIKATRIK : Penonjolan kulit akibat penumpukan jaringan fibrosa sebagai pengganti jaringan kolagen normal SKLEROSIS : Mengerasnyaa kulit yang hanya dapat ditemukan dengan palpasi LIKENIFIKASI : Penebalan kulit yang ditandai dengan penegasan gambaran garis-garis permukaan kulit baik longitudinal maupun transfersal. 2002) 4) Ancylostoma sp. ABSES : kumpulan nanah dalam jaringan. Alat kelamin jantan tunggal dan betina berpasangan.rongga mulut. di indonesia mendapatkan 79 % dari 383 anak (Rampengan dan Laurentz. dimana bursa ini dipakai untuk memegang cacing betina pada saat kopulasi (Rampengan dan Laurentz. Pada ujung posterior cacing tambang jantan terdapat bursa caudal yang merupakan membran yang lebar dan jernih dengan garis-garis seperti tulang iga. Cacing ini memiliki kutikula yang relatif tebal. b. sedangkan yang jantan hanya berukuran panjang rata-rata 5-11 mm dengan diameter 0. KUNIKULUS : Suatu lorong yang terdapat pada stratum korneum atau stratum spinosum. a. Vulva terletak anterior pada ankilostoma sedangkan spina caudal tidak ada pada nekator betina.3-0. SINUS : Saluran yang dibatasi oleh epitel dan bermuara pada kulit. yang biasanya terjafi karena adanya infestasi larva suatu parasit tertentu. dan bursa pada caudal.6 mm. Telur mempunyai ujung-ujung yang bulat dan selapiskulit hialin tipis yang transparan. (Adhy. 1993).45 mm. 1993).

Tanah yan basah dan melekat mempermudah penularan. Larva ini paling baik pada tempat yang teduh seperti tanah berpasir atau tanah liat. Cacing ini menghisap darah hospes. tetapi pada infeksi berat cacing dapat ditemukan sampai bagian caudal ileum. Migrasi larva melalui darah dan paru-paru berlangsung selama kira-kira satu minggu.bahkan lebih sedangkan nekator kebanyakan menghilang dalam waktu 2 tahun tetapi ada yang bertahan sampai 4-5 tahun (Rampengan dan Laurentz. Selama periode ini larva . Nekator ditemukan pada duodenum dan jejunum.026 – 0. Cacing tambang melekat pada mukosa usus dengan rongga mulutnya. Larva masuk aliran darah melalui jantung parumenembus kapiler alveoli. Larva ini sering beradadi lapisan tanah dan menonjol ke permukaan dan mempunyai daya tigmotaktis yang kuat sehingga memudahkan larva ini masuk ke dalam kulit hospes (Rampengan dan Laurentz. Infeksi ankilostoma berlagsung 6-8 tahun. Biasanya tempat yang terineksi adalah bagian dorsal kaki atau diantara jari-jari kaki pada penambang dan petani mungkin dapat terinfeksi melalui tangan.didalam tinja segar ditemukan sebagai stadium yangmembagi dalam 2-8 sel. hanya dapat dibedakan dalam hal ukuran (Rampengan dan Laurentz. Telur dikeluarkan tinja dapat menjadi matang dan mengeluarkan larva rabditiformis dalam waktu 1-2 hari pada keadaan yang menguntungkan serta pada suhu yang optimal (230C-330C). 1993). menyebabkan larva – larva ini terlindung terhadap pengeringan atau keadaan basah yang berlebihan.tanah berlumpur yang tertutup oleh daun. Tempat yang paling disukai adalah usus halus. bila larva masuk ke dalam badan dengan perantaraan air minum atau makanan yang terkontaminasi (Rampengan dan Laurentz.200 ml darah dapat dihisap seekor cacing. 1993).sedangkan ankilostoma pada jejunum dan bagian proksimal ileum. Kadang-kadang infeksi dapat terjadi melalui mulut. hanya dapat dibedakan. terutama mengenai sela-sela jari. 1993). Kemudian larva ini berubah untuk keduakalinya menjadi larva filariform. Larva filariform masuk ke dalam hospesnya melaluifolikel rambut dan pori-pori. c. dalam waktu 24 jam sebanyak 0. Telur bebagai spesies ini tidak dapat dibedakan. Larva ini masuk ke bronkus dan trakhea akhirnya tertean masuk ke usus. Manusia hampir selalu merupakan hospes satu-satunya. 1993). Siklus hidup Lingkaran hidup berbagai spesies ankilostomiasis adalah sama.

telur ankilostoma tidak bisa dibedakan dengan telur nekator americanus. Secara praktis.rash. Dalam waktu yang lama mungkin ditemukan larva (Rampengan dan Laurentz. 1993). Pada daerah perlengketan sering menimbulkan ulkus. f. e. Diare dapat terjadi dengan feses yang bervariasi warnanya dari hitam sampai merah tergantung banyaknya darah yang hilang (Rampengan dan Laurentz. Dalam usus halus cacing ini melekatkan diri pada mukosa usus dengan kapsul permanen. Terapi . papula eritematosus yang dapat menjadi vesikel. Cacing betina dewasa yang bertelur ditemukan dalam waktu 5 sampai 6 minggu setelah infeksi (Rampengan dan Laurentz. Kemudian menghisap darah dari jaringan akan tetapi lebih banyak darah yang hilang akibat perdarahan pada tempat perlengketan. yaitu pruritus. d. tetapi larva-larva lain menembus membran mukosa mulut dan faring menyebabkan imigrasi ke paru. Diagnosis Diagnosis yang pasti adalah dengan ditemukannya telur dalam tinja penderita. Dalam beberapa jam dapat timbul reaksi-reaksi alergi terhadap cacing. 1993). Gajala ini lebih sering karena ankilostoma daripada nekator. Patogenesis dan simtompatologi Larva stadium infektif secara aktif menembus kulit kapan saja mereka kontak. Kadang-kadang Ancylostoma masuk ke dalam kulit menyebabkan creeping eruption (cutaneus larva migran) kemudian menembus jaringan yang lebih dalam untuk seterusnya masuk kedalam pembuluh limfe atau vena-vena kecil dan dibawa oleh aliran darah melalui jantung masuk ke paru-paru.yang mengalami perubahan yang ketiga dan mempunyai rongga mulut sementara yang memungkinkan cacing dewasa muda ini mengambil makanan. Pada tempat masuk kerusakan adalah minimal tetapi panetrasi dari larva menyebabkan perasaan gatal. Larva dapat juga tertelan dan langsung masuk ke usus halus. Reaksi ini dikenal sebagai “ground itch”. 1993). 1993). sehingga menyebabkan nyeri perut dan rasa terbakar. ketika keluar dari kapiler masuk ke paru-paru dapat menyebabkan perdarahan-perdarahan kecil terutama pada kasus migrasi yang masif sehingga terjadi pneumonitis (Rampengan dan Laurentz.

Dari paru-paru naik ke epiglotis. semitransparan dengan kutikulum yang bergaris halus. pemberian suplemen Fe dan konsumsi makanan tinggi protein dapat memperbaiaki kosdisi (Rampengan dan Laurentz. Cacing jantan lebih kecil daripada betina dan berekor melingkar. menyerupai seekor nematoda rabditoid khas yang hidup bebas dan mempunyai sepasang alat reproduksi. jernih dan bersegmen. Cacing betina yang hidup bebas. Ancylostomiasis biasanya diterapi dengan pemberian mebendazole. Cacing ini mempunyai ruang mulut esofagus yang panjang.20 x 0. Sepasang uterus berisi sebaris telur yang berbanding tipis. 5) Strongyloides sp. a) Siklus hidup dan morfologi Strongyloides stercoralis Manusia adalah hospes utama Strongyloides stercoralis. menetas menjadi larva rabditiform yang menembus sel epitel kelenjar.04 mm. tertelan dan sampai di usus halus bagian atas dan menjadi dewasa. langsing dan silindrik. tidak berwarna. Terapi biasanya diulang kira-kira dalam 3 minggu untuk membunuh parasit yang masuk pada lumen intestinal dari jaringan. Kadang-kadang beberapa larva melewati barrier paru-paru sehingga masuk ek peredaran arteri dan samapi di . Telur diletakkan di mukosa usus. larva rhabditiform menjadi larva filariform yang langsing tidak makan dan infektif. Larva infektif kemudian menembus kulit manusia. Obat lain yang dapat diberikan antara lain albendazole dan pyrantel. Parasit ini mempunyai 3 macam lingkaran hidup: 1. kemudian masuk ke dalam lumen usus serta keluar bersama tinja. tempat dia akan menembus alveolus. lebih kecil daripada yang hidup sebagai parasit. 1993). Anemia karena difisiensi Fe adalah masalah utama pada ancylostomiasis. Cacing betina yang hidup sebagai parasit. Siklus langsung (seperti cacing tambang) Sesudah periode makan yang pendek selama 2-3 hari di tanah. adalah seekor nematoda filariform yang kecil. masuk ke dalam peredaran vena dan melewati jantung kanan samapai ke paru-paru. dengan ukuran 2.Pemberian bermacam-macam anthelmentika adalah efektif.

cacing betina hidup bebas dan menghasilkan telur dan menjadi larva rhabditiform. Larva rhabditiform ini emnajadi filariform dan dalam beberapa hari amsuk ke tubuh hospes yang abru. BB turun dan disentri menahun yang disertai dengan gejala demam ringan. Autoinfeksi menandakan adanya strongyloidasis yang persisten. b) Gejala klinis Infeksi Strongyloides stercoralis akan terasa rasa sakit di daerah epigastrium.s edangkan cara yang langsung lebih sering terjadi di negara-negara yang lebih dingin dan kurang menguntungkan 3. Siklus tidak langsung Selama siklus tidak langsung larva rhabditiform menjadi cacing jantan dan betina dewasa di dalam tanah. mual muantah. . akan emnimbulkan gelajala2 gatal dan membuat terowongan yang disebut dengan creeping eruption. diare konstripasi yang salaing bergantian. emnagalami siklus perkembangan di dalam hospes. Cacing betina yang bertelur ditemukan 28 hari sesudah permulaan infeksi. Gejala ini juga disertai dengan eosinofilia. mungkin selama 36 tahun. 2.a tau larva ini emngulangi lagi fase hidup bebas. Sindrom ini disebut Loffler Sindrom. Saat baru menembus kulit hospes. di dalam penderita yang hidup di daerah nonendemik. Cara tidak langsung ini berhubingan dengan keadaan sektar yang optimum yang diperlukan untuk kehidupan bebas di negeri tropik. menembus alveolus paru akan emnimbulkan reaksi inflamasi dan menimbulkan pengeluaran mukus dan menimbulkan suara ronkhi basah. Autoinfeksi Kadang-kadang larva menjadi larva dilariform di dalam usus dan menembus mukosa intestinal atau kuit perianal. Infeksi yang lama dan berat dapat menimbulkan anemia. Sesudah pembuahan. Saat cacing ini.berbagai alat tubuh.

6) Diagnosa Kerja Creeping eruption et causa Strongyloides stercoralis Syndrome. Albendazol juga bisa digunakan sebagai obat.c) Diagnosis Diagnosis klinis tidak pasti. Dalam diagnosis laboratorium termasuk pemeriksaan tinja dan isi duodenum dengan cara langsung atau konsentrasi. dengan komplikasi Loffler . sakit di epigastrium. karena hanya 50% yang sembuh menggunakan terapi ini. dan eosinofil. mengarah ke diagnosis penyakit strongyloidasis. akrena strongyloidasis tidak ememberikan gejala klinis yang jelas. Tidak ememerlukan obat pencahar maupun diet yang istimewa. d) Terapi Tiabendazol adalah obat pilihannya (25mg/kgBB) selama 2-3 hari. Terjadinya bronchitits yang tidak khas dan dalam waktu beberapa minggu disusul oleh diare yang berlendir. Diagnosis pasti adalah menemukan larva pada tinja yang segar. namun tidak direkomendasikan untuk emnggunakan mebendazol sebagai obat terapi.

Melalui pemeriksaan tersebut juga dapat diketahui cacing penyebab penyakit sehingga penatalaksanaannya dapat lebih tepat dan komprehensif. Gatal merupaakn suatu sensasi yang tidak nyaman pada kulit dan menimbulkan keinginan untuk menggaruk sebagai kompensasinya. 2. Diagnosis pasti CLM dapat ditegakkan apabila sudah ditemukan larva cacing pada pemeriksaan feses. Dua spesies cacing yang merupakan penyebab tersering penyakit tersebut adalah Strongyloides stercoralis dan Ancylostoma sp. 3. Cutaneus Larva Migrans (CLM) merupakan suatu penyakit akibat larva cacing yang melakukan penetrasi ke kulit manusia dan mengikuti aliran darah. Penyebab penyakit CLM disebabkan oleh berbagai jenis cacing parasit. 6. Penyakit CLM dapat didiagnosa banding dengan beberapa penyakit yang gejala dan tandanya mirip. antara lain scabies dan tuberculosis kutis. pemeriksaan fisik (lokal dan general) serta pemeriksaan penunjang juga berperan sangat penting. riwayat penyakit dahulu.BAB III KESIMPULAN 1. Penegakkan diagnosis penuyakit kulit membutuhkan anamnesis lengkap mengenai riwayat penyakit sekarang. . Selain itu. baik secara medikamentosa maupun non medikamentosa. 5. 4. Penyakit ini dapat menyebabkan kerusakan pada berbagai jaringan tubuh manusia. termasuk dalam menentukan penyebab utamanya. riwayat penyakit keluarga dan riwayat sosial ekonomi.

Saleha. T. Dasar parasitologi klinis. Diagnostik Parasitologi Kedokteran. dan Laurentz.full. Djuanda A.R. Rampengan. Jakarta: EGC. Alsah S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin: edisi keempat. Brown. Hamzah M. Eric. PT Gramedia Adhi.DAFTAR PUSTAKA Djuanda A. Sungkar. Sutanto. Ismid. Hamzah M. Jakarta: fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. Harold W. 2005. 2008. 2007. Prof DR Djuanda. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi Ketiga.org/content/30/5/811. Treatment of Cutaneous Larva Migrans. Jakarta: FKUI. Lynne S. David A. 2000. Caumes. . 4. Alsah S. 1996. Is Suhariah.pdf pada tanggal 14 September 2011. Jakarta: fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta: EGC.oxfordjournals. Diakses dari http://cid. 1982. Buku Ajar Parasitologi Kedokteran ed. Jakarta: FKUI.(1993). Pudji K. Bruckner. 2002. Buku Ajar Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin: edisi keempat.H. Sjarifuddin. Garcia. I. Penyakit Infeksi Tropik pada Anak. Inge.