P. 1
Chapter I

Chapter I

|Views: 121|Likes:
Published by Shindi_Adriyadi_698

More info:

Published by: Shindi_Adriyadi_698 on Sep 22, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/22/2011

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Salah satu dari sembilan bahan pokok yang dikonsumsi oleh seluruh lapisan masyarakat ialah minyak goreng. Minyak goreng adalah minyak yang berasal dari lemak tumbuhan atau hewan yang dimurnikan, berbentuk cair dalam suhu kamar dan biasanya digunakan untuk menggoreng makanan. Minyak goreng dari tumbuhan dihasilkan dari tanaman seperti kelapa, biji-bijian, kacang-kacangan, jagung dan kedelai (Ketaren, 1986). Minyak goreng dapat digunakan hingga 3 - 4 kali penggorengan. Jika digunakan berulang kali, minyak akan berubah warna. Zat warna dalam minyak terdiri dari dua golongan, yaitu zat warna alamiah dan warna dari hasil degradasi zat warna alamiah. Zat warna tersebut terdiri dari α dan β karotein, xanthofil, klorofil dan anthosyanin. Zat warna ini menyebabkan minyak berwarna kuning, kuning kecoklatan dan kemerah – merahan (Djatmiko dan Widjaja, 1973, Ketaren, 1986). Minyak yang baik adalah minyak yang mengandung asam lemak tak jenuh yang lebih banyak dibandingkan dengan kandungan asam lemak jenuhnya. Setelah penggorengan berkali-kali, asam lemak yang terkandung dalam minyak akan semakin jenuh. Dengan demikian minyak tersebut dapat dikatakan telah rusak atau dapat disebut minyak jelantah. Suhu yang semakin tinggi dan pemanasan yang semakin

dengan kadar asam lemak jenuh yang tinggi akan mengakibatkan makanan yang 
Universitas Sumatera Utara

dan berbusa. Sabun dihasilkan oleh proses saponifikasi.2 lama akan meningkatkan kadar asam lemak jenuh dalam minyak. seperti deposit lemak yang tidak normal. kanker. Sabun merupakan senyawa natrium atau kalium dengan asam lemak dari minyak nabati atau lemak hewani bebentuk padat. lunak atau cair. restoran. Minyak goreng bekas ini apabila dikonsumsi dapat menimbulkan penyakit yang membuat tubuh kita kurang sehat dan stamina menurun. Minyak nabati dengan kadar asam lemak jenuh yang tinggi akan mengakibatkan makanan yang digoreng menjadi menjadi berbahaya bagi kesehatan. salah satunya menjadi produk berbasis minyak seperti sabun cair. Ketaren. Karena itu minyak goreng bekas dapat dimanfaatkan kembali. sedangkan basa yang digunakan berupa KOH maka produk reaksi berupa sabun cair (Ketaren. Namun apabila minyak goreng bekas tersebut dibuang sangatlah tidak efisien dan mencemari lingkungan. 1973. Pembuat kondisi basa yang biasa digunakan adalah Natrium Hidroksida (NaOH) dan Kalium Hidroksida (KOH). Jika basa yang digunakan adalah NaOH. kontrol tidak sempurna pada pusat syaraf (Djatmiko dan Widjaja.1986). Universitas Sumatera Utara . serta perkembangan industri. maka produk reaksi berupa sabun keras (padat). 1986). Minyak nabati lama lama akan meningkatkan kadar asam lemak jenuh dalam minyak. yaitu hidrolisis lemak menjadi asam lemak dan gliserol dalam kondisi basa. Pertumbuhan jumlah penduduk. dan usaha fastfood akan menyebabkan dihasilkannya minyak goreng bekas dalam jumlah yang cukup banyak.

Sedangkan bila konsentrasi NaOH yang digunakan < 40% maka sabun yang dihasilkan adalah sabun yang sulit berbusa dan sukar membentuk sabun padat. 2009).5% dari berat minyak goreng yang digunakan. Serta menganalisa kualitas sabun yang dihasilkan dengan penambahan pewarna alami yaitu pandan. sirih. dan kunyit terhadap sabun cuci piring cair. telah berhasil membuat sabun Natrium Hidroksida dengan konsentrasi NaOH 40% dan temperatur proses penyabunan 450 C dari minyak goreng bekas. Pada penelitian ini dilakukan proses yang sama pada penelitian terdahulu (Nur Asyiah.Garam dari alkali asam lemak merupakan sabun dari reaksi saponifikasi dengan cara memanaskan lemak dan Kalium Hidroksida (KOH) sampai terhidrolisis sempurna. Peneliti mencoba untuk mengamati pengaruh minyak jelantah pada beberapa kali pemakaian (1 – 4x) terhadap asam lemak bebas. Pada penelitian terdahulu. Sehingga menghasilkan sabun cuci Universitas Sumatera Utara . Sampel minyak yang digunakan berupa minyak goreng bekas (menggoreng tahu. Nur Asyiah (2009). bilangan iodin dan warna. Nur Asyiah menemukan bahwa konsentrasi NaOH dan temperatur proses pembuatan sabun mandi mempunyai pengaruh yang penting terhadap kualitas sabun yang dihasilkan. yaitu bila konsentrasi NaOH yang digunakan > 40% maka sabun yang dihasilkan adalah sabun keras yang dapat menimbulkan iritasi pada kulit. Untuk proses pemurnian minyak goreng bekas. dilakukan proses netralisasi dengan menambahkan NaOH 15% dan proses bleaching dengan menggunakan arang aktif buatan sendiri dari arang tempurung kelapa sebanyak 7. tempe) setelah pemakaian 1 – 4 kali penggorengan.

4x pemakaian tehadap asam lemak bebas. sirih. Untuk membandingkan daya tahan sabun cuci piring air dengan penambahan pewarna alami yaitu pandan.piring cair dengan karakterisasi yang sesuai syarat mutu sabun cuci piring cair SNI 06-3532-1994. Untuk mengetahui kondisi proses penyabunan yang paling baik. bilangan iodin. 1. c. kadar air. d. b.4 Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat: a.4 kali dalam proses pemurnian. kadar air. Sebagai salah satu alternatif untuk mengurangi limbah rumah tangga. 1. dan kunyit. yang dapat digunakan Universitas Sumatera Utara . 1. Untuk mengetahui kadar asam lemak bebas.2 Perumusan Masalah Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pengaruh minyak jelantah 1. sirih. bilangan iodin. dan warna pada pembuatan sabun cuci piring cair. berupa minyak goreng bekas menggoreng tahu dan tempe. Bagaimana warna sabun cuci piring cair yang dihasilkan dengan penambahan pewarna alami yaitu pandan. dan warna dari minyak jelantah pemakaian 1. dan kunyit. Untuk membuat sabun cuci piring cair.3 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan: a.

Bahan untuk pemurnian minyak goreng bekas berupa KOH 15%. 3. parfum non alkohol sebanyak 1 ml. Agro Jaya Perdana.2093 sebanyak 1 ml.5 % dari berat minyak goreng bekas yang digunakan (Nur Aisyah. pewarna buatan apple green extra no. sirih.5 % dari berat minyak goreng bekas yang digunakan (Nur Asyiah. 2009). 2009).Variabel berubah Variabel berubah dalam penelitian ini adalah: a. 1. . dan PT. karbon aktif dengan ukuran 240 mesh sebanyak 7. Minyak goreng : 1. 4 x pemakaian Universitas Sumatera Utara . YP Shafiyyatul Amaliyyah. Bahan untuk pembuatan sabun cuci piring cair berupa minyak hasil pemurnian. kunyit) sebanyak 10 ml. 2. Bahan – bahan yang digunakan untuk pembuatan sabun cuci piring cair yaitu minyak goreng bekas (menggoreng tahu dan tempe). Sebagai informasi bahwa sabun cuci piring cair dapat dibuat pada percobaan ini dari minyak goreng bekas setelah melalui proses pemurnian yang sesuai dengan syarat mutu sabun cuci SNI 06-3532-1994. dan pewarna alami (pandan.Variable tetap Pemurnian minyak goreng dilakukan menggunakan variabel tetap : karbon aktif ukuran : 240 mesh sebanyak 7.5 Lingkup Penelitian Penelitian pemanfaatan minyak goreng bekas menjadi sabun cuci piring cair ini dilakukan di laboratorium Kimia FMIPA USU. . aquades. b.sebagai bahan baku pembuatan sabun cuci piring cair.

Uji kualitas warna sabun cuci piring cair dengan penambahan pewarna alami (pandan. dan kunyit . Pewarna alami : pandan. 50 c.Parameter Parameter analisa minyak sebelum maupun sesudah hasil pemurnian dan analisa sabun cuci piring cair sebagai berkut: 1. Air 2. sirih. Kadar asam lemak bebas b. Bilangan Iodin c. 45. Analisa uji sabun cuci piring cair (SNI 06 – 2048 – 1990) a. Temperatur proses penyabunan (0 C) : 25. Warna d. 20. 30. 35. Konsentrasi KOH (%b/v) : 10. Analisa minyak sebelum dan sesudah hasil pemurnian a. sirih. kunyit). Universitas Sumatera Utara . 40. Uji banyak busa c.b. 55 d. Uji bilangan penyabunan b. Uji daya cuci d.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->