Tugas Individu Perlindungan dan Pengamanan Hutan

Peraturan Pemerintah No. 10 Tahun 2010

Oleh:

Nama NIM Kelas

: Hulyana : M 111 08 329 : D (Kamis)

FAKULTAS KEHUTANAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2011

Lembaran Negara Nomor 15 Tambahan Lembaran Negara Nomor 5097.Hutan Lindung dan Hutan Produksi. yang terdiri dari: • • • Hutan Produksi Terbatas. sumber daya alam hayati. Fungsi Kawasan Hutan Kawasan Hutan diarahkan untuk memenuhi fungsi hutan melalui penetapan sesuai kriteria tertentu (UU No. Hutan Produksi yang dapat Dikonversi. didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya. 10 Tahun 2010 diundangkan tgl 22 Januari 2010. Perubahan fungsi dan perubahan peruntukan kawasan hutan dimaksudkan untuk memenuhi tuntutan dinamika pembangunan nasional serta aspirasi masyarakat dengan tetap berlandaskan pada optimalisasi distribusi fungsi. .  Kawasan hutan : wilayah tertentu yang ditunjuk dan atau ditetapkan oleh pemerintah dipertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap. Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan). manfaat kawasan hutan secara lestari dan berkelanjutan serta keberadaan kawasan hutan dengan luasan yang cukup dan sebaran yang proporsional. ditetapkan oleh Pemerintah dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. 10 Tahun 2010 tentang Tata Cara Perubahan Peruntukan dan Fungsi Kawasan Hutan Definisi  Hutan : suatu kesatuan ekosistem (hamparan. Hutan Produksi Tetap. yaitu: Hutan Konservasi.yaitu : (1) Perubahan peruntukan dan fungsi kawasan hutan ditetapkan oleh Pemerintah dengan didasarkan pada hasil penelitian terpadu. (2) Perubahan peruntukan kawasan hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang berdampak penting dan cakupan yang luas serta bernilai strategis. Dasar Penerbitan PP Nomor 10 tahun 2010 adalah Pasal 19 UU No. yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan).Ulasan PP No. 41/1999. (3) Ketentuan tentang tata cara perubahan peruntukan kawasan hutan dan perubahan fungsi kawasan hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Perubahan peruntukan kawasan hutan untuk wilayah provinsi dilakukan berdasarkan usulan gubernur kepada Menteri Kehutanan yang diintegrasikan dalam revisi RTRWP. atau 2. 2. TMKH adalah perubahan kawasan HP dan atau HPT menjadi bukan kawasan hutan yang diimbangi dengan memasukkan kawasan lahan pengganti dari bukan kawasan hutan menjadi kawasan hutan. tukar menukar kawasan hutan. 4. pulau. perubahan fungsi kawasan hutan adalah perubahan sebagian atau seluruh fungsi hutan dalam satu atau beberapa kelompok hutan menjadi fungsi kawasan hutan yang lain. pelepasan kawasan hutan. Perubahan peruntukan kawasan hutan adalah perubahan kawasan hutan menjadi bukan kawasan hutan. Tukar Menukar Kawasan Hutan diatur dalam Pasal 10 s/d Pasal 18 Hanya dapat dilakukan pada Hutan Produksi Terbatas dan/atau Hutan Produksi Tetap dilakukan untuk : • • • pembangunan non kehutanan yg permanen menghilangkan enclave memperbaiki kawasan hutan dengan ketentuan : • • tetap terjaminnya luas kh paling sedikit 30% dari luas DAS. dan/atau provinsi dengan sebaran yang proporsional mempertahankan daya dukung kawasan hutan tetap layak kelola. Perubahan peruntukan kawasan hutan secara parsial dilakukan melalui: 1. . Pelepasan kawasan hutan adalah perubahan peruntukan kawasan HPK menjadu bukan Kawasan Hutan. untuk wilayah provinsi. 3.Pengertian Pasal 1 1. Perubahan peruntukan Kawasan Hutan (diatur dalam pasal 6 s/d pasal 32) Perubahan peruntukan kawasan hutan dapat dilakukan: 1. secara parsial. atau 2.

 fasilitas pemakaman. pimpinan badan usaha.  fasilitas pendidikan. atau perkebunan.  Penelitian oleh Tim Terpadu  Persetujuan prinsip tukar menukar kawasan hutan oleh Menteri.  permukiman penduduk bukan real estate.  pelabuhan.  Penetapan lahan pengganti menjadi kawasan hutan dan pelepasan kawasan hutan oleh Menteri. menteri atau pejabat setingkat menteri 2.  Penataan batas kawasan hutan yang dimohon dan lahan pengganti oleh Panitia Tata Batas kawasan hutan.  bendungan. gubernur atau bupati/walikota.  bandar udara.  fasilitas keselamatan umum.  Penunjukan lahan pengganti sebagai kawasan hutan oleh Menteri. Permohonan Perubahan Peruntukan Kawasan Hutan Secara Parsial (Pasal 8) • Diajukan oleh : 1.  waduk. atau .  kantor pemerintah. 18)  Permohonan tukar menukar kawasan hutan yang memuat kawasan hutan yang dimohon dan lahan pengganti.  pengembangan/pemekaran wilayah.  bangunan industri. atau  budidaya pertanian. 3. perikanan.  Berita Acara Tukar Menukar Kawasan Hutan yang ditandatangani oleh Direktur Jenderal Planologi Kehutanan atas nama Menteri dengan pemohon.Pembangunan non kehutanan yg bersifat permanen (Pasal 11) Pembangunan di luar kegiatan kehutanan yang bersifat permanen meliputi pembangunan untuk :  penempatan korban bencana alam. Tahapan Proses Tukar Menukar Kawasan Hutan (Pasal 13 sd.

Kementrian Pekerjaan Umum. dengan mendasarkan pada aspek teknis. Perguruan Tinggi. . • Persetujuan prinsip memuat kewajiban bagi pemohon paling sedikit: • • menyelesaikan clear and clean calon lahan pengganti dengan luasan yang surat pernyataan kesanggupan untuk: cukup dan diketahui oleh instansi pertanahan setempat.  berbatasan langsung dengan kawasan hutan. Kementerian Dalam Negeri. lingkungan. administrasi dan 2. Instansi lain yang ditunjuk  Untuk TMKH dengan luas paling banyak 2 hektar dan untuk kepentingan umum terbatas yang dilaksanakan oleh Pemerintah atau Pemda. sosial.  bebas dari penguasaan lahan oleh pihak ketiga secara fisik di lapangan.  dapat dihutankan kembali dengan cara konvensional. Tim cukup dari kementerian kehutanan  Biaya : ditanggung pemohon Persetujuan prinsip (Pasal 15) • Persetujuan prinsip tukar menukar kawasan hutan diberikan untuk jangka waktu paling lama 2 (dua) tahun dan dapat diperpanjang paling banyak 2 (dua) kali masing-masing untuk jangka waktu paling lama 1 (satu) tahun. luas. Pasal 44 ayat (2) Tugas : melakukan penelitian dan memberikan rekomendasi kepada Menhut terhadap perubahan peruntukan dan fungsi KH. dan batas usulan lahan pengganti jelas.  tidak dalam sengketa dan bebas dari segala jenis pembebanan dan hak tanggungan. pulau. Kementerian LH. dan atau provinsi yang sama. serta hukum. Penelitian Terpadu Pasal 13 ayat (4). ketua yayasan dengan Persyaratan : 1.  dalam DAS. Kementerian Kehutanan. Pasal 31 ayat (3). ekonomi dan budaya.  Anggota : LIPI.4. teknis Persyaratan Teknis Lahan Pengganti (Pasal 12 ayat (4)  letak. Pemerintah Daerah Provinsi/Kab.

Tahapan Pelepasan HPK (Pasal 20 s/d Pasal 24)  Permohonan pelepasan HPK  Persetujuan prinsip pelepasan HPK oleh Menteri. menanggung biaya tata batas terhadap kawasan hutan yang dimohon dan calon lahan pengganti sesuai dengan standar kegiatan dan biaya tata batas yang berlaku.  menanggung biaya reboisasi dan pemeliharaan tanaman terhadap calon lahan pengganti sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.  Tata batas kawasan hutan yang dimohon (BA Hasil Tata Batas  Keputusan pelepasan HPK Pasal 27 Setiap perubahan peruntukan kawasan hutan secara parsial yang memperoleh keputusan pelepasan kawasan hutan dari Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (3) dan Pasal 24 dapat melakukan kegiatan sesuai peraturan perundang-undangan.  Pada provinsi yang luas kawasan hutannya ≤ 30% HPK tidak dapat dilepas kecuali dengan cara TMKH  dilakukan untuk kepentingan pembangunan di luar kegiatan kehutanan yang ditetapkan oleh Menhut. • menyerahkan surat jaminan secara notarial yang berisi bahwa tidak terdapat cacat tersembunyi terhadap calon lahan pengganti.  membayar nilai tegakan. dan pungutan PSDH atas hutan tanaman atau PSDH dan DR atas hutan alam atas kawasan hutan yang dimohon yang tata cara penghitungannya sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 31) . Penjelasan Pasal 27 Yang dimaksud dengan peraturan perundangundangan dalam ketentuan ini adalah peraturan perundang-undangan di bidang kehutanan Perubahan Peruntukan Kawasan Hutan Untuk Wilayah Provinsi (Pasal 30. Pelepasan Kawasan Hutan (Pasal 19 s/d Pasal 28)  hanya dapat dilakukan pada Hutan Produksi yang dapat Dikonversi (HPK) baik dalam keadaan berhutan maupun tidak berhutan.

• Perubahan peruntukan kawasan hutan untuk wilayah provinsi dilakukan berdasarkan usulan dari gubernur kepada Menteri. Perubahan Fungsi Kawasan Hutan Secara Parsial (Pasal 35 – Pasal 44) . Pasal 32 Keputusan Menteri tentang perubahan peruntukan kawasan hutan untuk wilayah provinsi sebagaimanadimaksud dalam Pasal 31 ayat (7) diintegrasikan oleh gubernur dalam revisi rencana tata ruang wilayah provinsi yang dilakukan untuk ditetapkan dalam peraturan daerah provinsi. • Berdasarkan hasil telaahan teknis Menteri membentuk Tim Terpadu. Menteri menerbitkan surat penolakan usulan perubahan peruntukan kawasan hutan wilayah provinsi. Menteri menerbitkan keputusan tentang perubahan peruntukan kawasan hutan wilayah provinsi. • Menteri setelah menerima usulan perubahan peruntukan kawasan hutan untuk wilayah provinsi dari gubernur. • Dalam hal DPR menolak hasil penelitian Tim Terpadu. atau 2. • Dalam hal DPR menyetujui hasil penelitian Tim Terpadu. wajib melaksanakan kajian lingkungan hidup strategis. • Tim Terpadu menyampaikan hasil penelitian dan rekomendasi terhadap perubahan peruntukan kawasan hutan kepada Menteri. secara parsial. Perubahan Fungsi Kawasan Pasal 33 s/d Pasal 47 Perubahan fungsi kawasan hutan dilakukan untuk memantapkan dan mengoptimalisasikan fungsi kawasan hutan. usulan perubahan peruntukan kawasan hutan berpotensi menimbulkan dampak dan/atau risiko lingkungan. untuk wilayah provinsi.  Perubahan fungsi kawasan hutan dilakukan: 1. baik terhadap sebagian atau keseluruhan kawasan hutan yang diusulkan. melakukan telaahan teknis. • Menteri menyampaikan hasil penelitian Tim Terpadu kepada DPR untuk mendapatkan persetujuan. • Dalam hal hasil penelitian.  Perubahan fungsi kawasan hutan menjadi HPK tidak dapat dilakukan pada provinsi yang luas kawasan hutannya kurang dari 30% (tiga puluh perseratus). • Usulan perubahan peruntukan kawasan hutan untuk wilayah provinsi diintegrasikan oleh gubernur dalam revisi rencana tata ruang wilayah provinsi.

• Perubahan fungsi antar fungsi pokok kawasan hutan meliputi perubahan fungsi dari:  kawasan hutan konservasi menjadi kawasan hutan lindung dan/atau kawasan hutan produksi. untuk kawasan hutan yang berada dalam satu kabupaten/kota. atau  cakupan luasnya sangat kecil dan dikelilingi oleh lingkungan sosial dan ekonomi akibat pembangunan di luar kegiatan kehutanan yang tidak mendukung kelangsungan proses ekologi secara alami. untuk kawasan hutan lintas kabupaten/kota. atau  dalam fungsi pokok kawasan hutan. Syarat Perubahan fungsi dalam fungsi pokok kawasan HP (Pasal 42 ayat 2)  untuk memenuhi kebutuhan luas hutan produksi optimal untuk mendukung stabilitas ketersediaan bahan baku industri pengolahan kayu. atau manusia. Pasal 47 Setiap perubahan fungsi kawasan hutan secara parsial yang memperoleh keputusan perubahan fungsi kawasan hutan dari Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 ayat (4) dapat melakukan pengelolaan dan/atau kegiatan sesuai fungsinya sesuai peraturan perundangundangan. atau  Jangka benah fungsi kawasan hutan Usulan Perubahan Fungsi Kawasan Hutan (Pasal 43 ayat 2) Usulan diajukan oleh :  Bupati/Walikota. atau  Gubernur.  kawasan hutan produksi menjadi kawasan hutan konservasi dan/atau kawasan hutan lindung.• Perubahan fungsi kawasan hutan secara parsial dilakukan melalui perubahan fungsi:  antar fungsi pokok kawasan hutan. lingkungan. Penjelasan Pasal 47 : . Syarat Perubahan dalam fungsi pokok Hutan Konservasi (Pasal 41 ayat 2)  sudah terjadi perubahan kondisi biofisik kawasan hutan akibat fenomena alam.  kawasan hutan lindung menjadi kawasan hutan konservasi dan/atau kawasan hutan produksi.  diperlukan jangka benah untuk optimalisasi fungsi dan manfaat kawasan hutan.

Sanksi Pasal 50 • Persetujuan prinsip pelepasan kawasan hutan dapat dibatalkan oleh Menteri apabila: 1. . memindahtangankan persetujuan prinsip pelepasan kawasan hutan kepada pihak lain tanpa persetujuan Menteri atau 3. Perubahan peruntukan kawasan hutan yg berdampak penting dan cakupan yg luas serta bernilai strategis (Pasal 48)  merupakan perubahan peruntukan kawasan hutan yang menimbulkan pengaruh terhadap: kondisi biofisik. Sanksi (Pasal 49) • 2. pemegang persetujuan prinsip pelepasan kawasan hutan membuka kawasan hutan sebelum mendapat dispensasi dari Menteri • Pembatalan persetujuan prinsip pelepasan kawasan hutan dikenai setelah diberikan peringatan tertulis oleh Menteri sebanyak 3 (tiga) kali masing-masing dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari kerja untuk setiap kali peringatan. dan/atau memindahtangankan persetujuan prinsip tukar menukar kawasan hutan kepada pihak lain tanpa persetujuan Menteri.  Perubahan yang menimbulkan pengaruh terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat merupakan perubahan yang mengakibatkan penurunan atau peningkatan sosial dan ekonomi masyarakat bagi kehidupan generasi sekarang dan yang akan datang. tidak memenuhi kewajiban dalam tenggang waktu yang diberikan 2. atau kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. • Persetujuan prinsip tukar menukar kawasan hutan dapat dibatalkan oleh Menteri apabila: 1. tidak memenuhi kewajiban dalam tenggang waktu yangndiberikan.Yang dimaksud dengan peraturan perundangundangan dalam ketentuan ini adalah peraturan perundang-undangan di bidang kehutanan.  Perubahan yang menimbulkan pengaruh terhadap kondisi biofisik merupakan perubahan yang mengakibatkan penurunan atau peningkatan kualitas iklim atau ekosistem dan/atau tata air. Pembatalan persetujuan prinsip tukar menukar kawasan hutan dikenai setelah diberikan peringatan tertulis oleh Menteri sebanyak 3 (tiga) kali masing-masing dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari kerja untuk setiap kali peringatan.

 Perubahan fungsi kawasan hutan yang belum memperoleh Keputusan Menteri. yang belum memperoleh Keputusan Menteri diproses sesuai dengan PP ini. Pasal 52  Kawasan hutan produksi yang telah diberikan persetujuan prinsip pelepasan kawasan hutan untuk usaha perkebunan kepada badan usaha sebelum berlakunya UndangUndang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. yang telah memperoleh Keputusan Menteri sebelum ditetapkannya PP ini dinyatakan tetap berlaku. penyelesaiannya diproses sesuai PP ini. .  pelepasan kawasan hutan yang belum memperoleh persetujuan prinsip. penyelesaiannya diproses sesuai dengan ketentuan dalam PP ini.  perubahan peruntukan kawasan hutan wilayah provinsi atau perubahan fungsi kawasan hutan wilayah provinsi. diproses sesuai dengan Peraturan Pemerintah ini.Ketentuan Peralihan (Pasal 51)  TMKH hutan produksi tetap dan hutan produksi terbatas yang belum memperoleh persetujuan prinsip.  Pelepasan kawasan hutan yang telah memperoleh Keputusan Menteri tentang pelepasan kawasan hutan yang ditetapkan sebelum ditetapkannya PP ini dinyatakan tetap berlaku. maka:  badan usaha wajib menyerahkan lahan pengganti dengan ratio 1:1 dan memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (4) kecuali huruf c.  Perubahan fungsi kawasan hutan yang telah memperoleh Keputusan Menteri tentang perubahan fungsi kawasan hutan yang ditetapkan sebelum ditetapkannya PP ini dinyatakan tetap berlaku.  TMKH atau pelepasan kawasan hutan yang telah memperoleh persetujuan prinsip tetapi belum memperoleh keputusan pelepasan kawasan hutan dari Menteri. wajib menyesuaikan dengan ketentuan dalam PP ini.  Perubahan peruntukan kawasan hutan wilayah provinsi atau perubahan fungsi kawasan hutan wilayah provinsi.  TMKH yang telah memperoleh Keputusan Menteri tentang pelepasan kawasan hutan dan Keputusan Menteri tentang penetapan lahan pengganti sebagai kawasan hutan yang telah ditetapkan sebelum ditetapkannya PP ini dinyatakan tetap berlaku.

PP No 28 tahun 1985 dan beberapa keputusan Menteri Kehutanan serta beberapa keputusan Dirjen PHPA dan Dirjen Pengusahaan Hutan. Pendahuluan Hutan merupakan sumberdaya alam yang tidak ternilai karena didalamnya terkandung keanekaragaman hayati sebagai sumber plasma nutfah. Dampak negatif yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan cukup besar mencakup kerusakan ekologis. pengatur tata air. pada wilayah daerah aliran sungai lain dalam provinsi yang sama. penyerahan lahan pengganti sebagaimana dimaksud pada huruf a dilakukan paling lama 12 (dua belas) tahun sejak berlakunya Peraturan Pemerintah ini. Namun gangguan terhadap sumberdaya hutan terus berlangsung bahkan intensitasnya makin meningkat. pencegah banjir dan erosi serta kesuburan tanah. Gangguan asap karena kebakaran hutan Indonesia akhir-akhir ini telah melintasi batas negara. dan SK Menteri sampai Dirjen). sumber hasil hutan kayu dan non-kayu. pariwisata dan sebagainya. laut dan udara. Sejak kebakaran hutan yang cukup besar tahun 1982/83 di Kalimantan Timur. Karena itu pemanfaatan hutan dan perlindungannya telah diatur dalam UUD 45. Tercatat beberapa . perlindungan alam hayati untuk kepentingan ilmu pengetahuan. Kebakaran hutan merupakan salah satu bentuk gangguan yang makin sering terjadi.  Penyerahan lahan pengganti merupakan dasar pelepasan kawasan hutan dari Menteri. menurunnya keanekaragaman hayati.  Lahan pengganti harus terletak di dalam wilayah daerah aliran sungai yang sama. perubahan iklim mikro maupun global. PP. UU No. kebudayaan. rekreasi. 5 tahun 1990. dan asapnya mengganggu kesehatan masyarakat serta mengganggu transportasi baik darat. UU No. intensitas kebakaran hutan makin sering terjadi dan sebarannya makin meluas. Contoh Studi Kasus Kebakaran Hutan dan Upaya Penanggulangannya I. UU No 23 tahun 1997. merosotnya nilai ekonomi hutan dan produktivitas tanah. danau. 41 tahun 1999. Berbagai upaya pencegahan dan perlindungan kebakaran hutan telah dilakukan termasuk mengefektifkan perangkat hukum (undang-undang. sungai. namun belum memberikan hasil yang optimal. atau provinsi yang lain dalam pulau yang sama.

000 tahun lalu.kebakaran cukup besar berikutnya yaitu tahun 1987. Kebakaran hutan besar terpicu pula oleh munculnya fenomena iklim El-Nino seperti kebakaran yang terjadi pada tahun 1987. pengambil kebijakan dan pengembangan ilmu pengetahuan bagi para pencinta lingkungan dan kehutanan. tetapi hampir di seluruh propinsi. kebakaran hutan dan penanggulangannya yang dikumpulkan dari berbagai sumber dengan harapan dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi para peneliti. 1999). maka api dianggap sebagai modal dasar bagi perkembangan manusia karena dapat digunakan untuk membuka hutan. serta tidak hanya terjadi di kawasan hutan tetapi juga di lahan non hutan.400. Kebakaran besar kemungkinan terjadi secara alamiah selama periode iklim yang lebih kering dari iklim saat itu. Analisis terhadap arang dari tanah Kalimantan menunjukkan bahwa hutan telah terbakar secara berkala dimulai. Namun berdasarkan beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebab utama kebakaran hutan adalah faktor manusia yang berawal dari kegiatan atau permasalahan sebagai berikut: 1. kebakaran karena proses alam tersebut sangat kecil dan untuk kasus Kalimatan kurang dari 1 %. dan tumpukan srasahan. 1. penyebab utama terjadinya kebakaran hutan di Kalimantan Timur adalah karena aktivitas manusia dan hanya sebagian kecil yang disebabkan oleh kejadian alam. Kebakaran Hutan dan Faktor Penyebabnya Api sebagai alat atau teknologi awal yang dikuasai manusia untuk mengubah lingkungan hidup dan sumberdaya alam dimulai pada pertengahan hingga akhir zaman Paleolitik. bisa terjadi karena sambaran petir. singkapan batu bara.500 tahun yang lalu. dan D. Sejak manusia mengenal dan menguasai teknologi api. II. meningkatkan kualitas lahan pengembalaan. 1994 dan 1997 (Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup dan UNDP. J. Proses kebakaran alami menurut Soeriaatmadja (1997). 1991. mengusir satwa liar. memburu satwa liar. benturan longsuran batu. Perkembangan kebakaran tersebut juga memperlihatkan terjadinya perluasan penyebaran lokasi kebakaran yang tidak hanya di Kalimantan Timur. apakah karena alami atau karena kegiatan manusia. 1991. Penyebab kebakaran hutan sampai saat ini masih menjadi topik perdebatan. berkomunikasi sosial disekitar api unggun dan sebagainya (Soeriaatmadja. Tulisan ini merupakan sintesa dari berbagai pengetahuan tentang hutan.000-700. Menurut Danny (2001). manusia juga telah membakar hutan lebih dari 10 ribu tahun yang lalu untuk mempermudah perburuan dan membuka lahan pertanian. Namun menurut Saharjo dan Husaeni (1998). Namun. Oleh karena itu perlu pengkajian yang mendalam untuk mencegah dan menanggulangi kebakaran hutan. . 1997). setidaknya sejak 17. Catatan tertulis satu abad yang lalu dan sejarah lisan dari masyarakat yang tinggal di hutan membenarkan bahwa kebakaran hutan bukanlah hal yang baru bagi hutan Indonesia (Schweithelm. Glover. 1998). 1994 dan 1997 hingga 2003. Sistem perladangan tradisional dari penduduk setempat yang berpindah-pindah.

Pembukaan hutan oleh pemegang HPH dan perusahaan perkebunan untuk pengembangan tanaman industri dan perkebunan umumnya mencakup areal yang cukup luas.5 juta hektar di Kalimantan Timur dan ini merupakan rekor terbesar kebakaran hutan dunia setelah kebakaran hutan di Brazil yang mencapai 2 juta hektar pada tahun 1963 (Soeriaatmadja. 1997). III. 3. Sulawesi dan Jawa masing-masing 2. Namun metoda ini sering berakibat kebakaran tidak hanya terbatas pada areal yang disiapkan untuk pengembangan tanaman industri atau perkebunan. Perladangan berpindah merupakan upaya pertanian tradisional di kawasan hutan dimana pembukaan lahannya selalu dilakukan dengan cara pembakaran karena cepat. yaitu kombinasi antara kemiskinan. 1 juta hektar. Sedangkan penyebab struktural. Akibatnya kekesalan masyarakat dilampiaskan dengan melakukan pembakaran demi mempertahankan lahan yang telah mereka miliki secara turun temurun. Kebakaran liar mungkin terjadi karena kegiatan perladangan hanya sebagai kamuflasa dari penebang liar yang memanfaatkan jalan HPH dan berada di kawasan HPH. hutan dan tanah dikuasai oleh para investor yang diberi pengesahan melalui hukum positif negara. Kebakaran terluas terjadi di Kalimantan dengan total lahan terbakar 8. Areal hutan yang terbakar Beberapa tahun terakhir kebakaran hutan terjadi hampir setiap tahun. Data dari Direktotar Jenderal Perlindungan hutan dan Konservasi Alam menunjukkan bahwa kebakaran hutan yang terjadi tiap tahun sejak tahun 1998 hingga tahun 2002 tercatat berkisar antara 3 ribu hektar sampai 515 ribu hektar (Direktotar Jenderal Perlindungan hutan dan Konservasi Alam. hutan produksi dan lahan lainnya. dengan penduduk asli yang merasa kepemilikan tradisional (adat) mereka atas lahan.1. mudah dan cepat. khususnya pada musim kering. Disini kemiskinan dan ketidak adilan menjadi pemicu kebakaran hutan dan masyarakat tidak akan mau berpartisipasi untuk memadamkannya.07 juta hektar.2. disusul Sumatera.7 juta hektar. Kemudian rekor tersebut dipecahkan lagi oleh kebakaran hutan Indonesia pada tahun 1997/98 yang telah menghanguskan seluas 11. Namun pembukaan lahan untuk perladangan tersebut umumnya sangat terbatas dan terkendali karena telah mengikuti aturan turun temurun (Dove. sehingga menimbulkan konflik antar hukum adat dan hukum positif negara. murah dan praktis. tetapi meluas ke hutan lindung. Selanjutnya kebakaran hutan Indonesia terus berlangsung setiap tahun meskipun luas areal yang terbakar dan kerugian yang ditimbulkannya relatif kecil dan umumnya tidak terdokumentasi dengan baik. Kebakaran yang cukup besar terjadi di Kalimantan Timur yaitu pada tahun 1982/83 dan tahun 1997/98. Metoda pembukaan lahan dengan cara tebang habis dan pembakaran merupakan alternatif pembukaan lahan yang paling murah. Penyebab struktural. 1988). 2003). 400 ribu hektar dan 100 ribu hektar (Tacconi.13 juta hektar. . Papua Barat. 2003). Kerugian dan Dampak Kebakaran Hutan 3. Pembukaan hutan oleh para pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH) untuk insdustri kayu maupun perkebunan kelapa sawit. kebijakan pembangunan dan tata pemerintahan. Pada tahun 1982/83 kebakaran telah menghanguskan hutan sekitar 3. umumnya berawal dari suatu konflik antara para pemilik modal industri perkayuan maupun pertambangan.

3. biaya pengendalian dan sebagainya serta biaya yang terkait dengan kabut asap seperti kesehatan. Dampak kebakaran hutan Indonesia berupa asap tersebut telah melintasi batas negara terutama Singapura.6-2. 2003).2. Hasil perhitungan ulang kerugian ekonomi yang dihimpun Tacconi (2003). sehingga mudah tererosi. kematian pohon. Pada saat kebakaran hutan yang cukup besar banyak kasus penerbangan terpaksa ditunda atau dibatalkan. Kerugian yang ditimbulkannya Kebakaran hutan akhir-akhir ini menjadi perhatian internasional sebagai isu lingkungan dan ekonomi khususnya setelah terjadi kebakaran besar di berbagai belahan dunia tahun 1997/98 yang menghanguskan lahan seluas 25 juta hektar. Kerugian tersebut mencakup kerusakan yang terkait dengan kebakaran seperti kayu.7 milyar dan biaya akibat pencemaran kabut sekitar US $ 674-799 juta. Meskipun demikian. penundaan atau pembatalan penerbangan. tetapi dapat dipastikan cukup besar membebani masyarakat dan pelaku bisnis. dan tidak dapat lagi menahan banjir. bangunan.8 milyar (Tacconi. Dampak negatif yang sampai menjadi isu global adalah asap dari hasil pembakaran yang telah melintasi batas negara. dan di air memang tidak bisa diperhitungkan secara tepat. Sisa pembakaran selain menimbulkan kabut juga mencemari udara dan meningkatkan gas rumah kaca. dan laut. karena struktur tanahnya mengalami kerusakan. Dampak lainnya adalah kerusakan hutan setelah terjadi kebakaran dan hilangnya margasatwa. pariwisata dan transportasi. Kerugian karena terganggunya kesehatan masyarakat. dan kecelakaan transportasi di darat. sering muncul bencana banjir pada musim hujan di berbagai daerah yang hutannya terbakar. sehingga dampak kebakaran hutan sulit diperhitungkan secara tepat. non kayu dan hewan. Malaysia dan Thailand. kebun. Hilangnya tumbuh-tumbuhan menyebabkan lahan terbuka. Sementara pada transportasi darat.3. Selain itu asap tebal juga mengganggu transportasi khususnya tranportasi udara disamping transportasi darat. sungai. danau. pengetahuan tentang ekosistem yang rumit belum berkembang dengan baik dan informasi berupa ambang kritis perubahan ekologis berkaitan dengan kebakaran sangat terbatas. Analisis dampak kebakaran hutan masih dalam tahap pengembangan awal. menunjukkan bahwa kebakaran hutan Indonesia telah menelan kerugian antara US $ 2.86 milyar yang meliputi kerugian yang dinilai dengan uang dan kerugian yang tidak dinilai dengan uang. Dampak Kebakaran Hutan Kebakaran hutan yang cukup besar seperti yang terjadi pada tahun 1997/98 menimbulkan dampak yang sangat luas disamping kerugian material kayu. Brunai Darussalam. berdasarkan perhitungan kasar yang telah diuraikan . danau dan laut terjadi beberapa kasus tabrakan atau kecelakaan yang menyebabkan hilangnya nyawa dan harta benda. Valuasi biaya yang terkait dengan emisi karbon kemungkinan mencapai US $ 2. Asap tebal dari kebakaran hutan berdampak negatif karena dapat mengganggu kesehatan masyarakat terutama gangguan saluran pernapasan. Kerugian yang diderita akibat kebakaran hutan tersebut kemungkinan jauh lebih besar lagi karena perkiraan dampak ekonomi bagi kegiatan bisnis di Indonesia tidak tersedia. Kerugian akibat banjir tersebut juga sulit diperhitungkan. Hutan yang terbakar berat akan sulit dipulihkan. HTI.84 milayar sampai US $ 4. Karena itu setelah hutan terbakar.3. Kebakaran tahun 1997/98 mengakibatkan degradasi hutan dan deforestasi menelan biaya ekonomi sekitar US $ 1. sungai.

perkebunan dan Transmigrasi). Kanwil Dephut. (b) Mobilitas semua sumberdaya (manusia.1. 1997): (a) Memantapkan kelembagaan dengan membentuk dengan membentuk Sub Direktorat Kebakaran Hutan dan Lembaga non struktural berupa Pusdalkarhutnas. (e) (f) Kampanye dan penyuluhan melalui berbagai Apel Siaga pengendalian kebakaran hutan. HTI. IV. 4. (d) Meminta bantuan luar negeri untuk memadamkan kebakaran antara lain: pasukan BOMBA dari Malaysia untuk kebakaran di Riau. Cina dan lain-lain. bahkan dampak tersebut sampai ke negara tetangga. selalu disyaratkan pembukaan hutan tanpa bakar. baik bersifat antisipatif (pencegahan) maupun penanggulangannya. Upaya Penanggulangan Disamping melakukan pencegahan.diatas dapat disimpulkan bahwa kebakaran hutan menimbulkan dampak yang cukup besar bagi masyarakat sekitarnya. maupun perusahaan-perusahaan.2. 4. Jambi. Korea Selatan. (g) Dalam setiap persetujuan pelepasan kawasan hutan bagi pembangunan non kehutanan. dan jajaran Pemda oleh Menteri Kehutanan dan Menteri Negara Lingkungan Hidup.3. 1997): (a) Memberdayakan posko-posko kebakaran hutan di semua tingkat. pemerintah juga nelakukan penanggulangan melalui berbagai kegiatan antara lain (Soemarsono. (b) Melengkapi perangkat lunak berupa pedoman dan petunjuk teknis pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan. Bantuan pesawat AT 130 dari Australia dan Herkulis dari USA untuk kebakaran di Lampung. sebenarnya telah dilaksanakan beberapa langkah. obat-obatan dan sebagainya dari negara-negara Asean. Upaya Pencegahan Upaya yang telah dilakukan untuk mencegah kebakaran hutan dilakukan antara lain (Soemarsono. 4. Bantuan masker. (c) Meningkatkan koordinasi dengan instansi terkait di tingkat pusat melalui PUSDALKARHUTNAS dan di tingkat daerah melalui PUSDALKARHUTDA Tk I dan SATLAK kebakaran hutan dan lahan. Pusdalkarhutda dan Satlak serta Brigade-brigade pemadam kebakaran hutan di masing-masing HPH dan HTI. Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran Hutan Sejak kebakaran hutan yang cukup besar yang terjadi pada tahun 1982/83 yang kemudian diikuti rentetan kebakaran hutan beberapa tahun berikutnya. baik di jajaran Departemen Kehutanan maupun instansi lainnya. Sumsel dan Kalbar. Peningkatan Upaya Pencegahan dan Penanggulangan . (c) (d) Melengkapi perangkat keras berupa peralatan pencegah dan pemadam kebakaran hutan. Pemberian pembekalan kepada pengusaha (HPH. serta melakukan pembinaan mengenai hal-hal yang harus dilakukan selama siaga I dan II. Melakukan pelatihan pengendalian kebakaran hutan bagi aparat pemerintah. peralatan & dana) di semua tingkatan. tenaga BUMN dan perusahaan kehutanan serta masyarakat sekitar hutan.

e. d. terbatasnya kemampuan aparat. Pembukaan program studi penanggulangan kebakaran hutan merupakan alternatif yang bisa ditawarkan. (d) Upaya pendidikan baik formal maupun informal untuk penanggulangan kebakaran hutan belum memadai. Penerapan sangsi hukum pada pelaku pelanggaran dibidang lingkungan khususnya yang memicu atau penyebab langsung terjadinya kebakaran. dan minimnya fasilitas untuk penanggulangan kebakaran. Kondisi ini disebabkan oleh berbagai faktor antara lain: (a) (b) (c) Kemiskinan dan ketidak adilan bagi masyarakat pinggiran atau dalam kawasan hutan. memberikan penyuluhan untuk kesadaran masyarakat. dan melakukan upaya pemadaman kebakaran semak belukar dan hutan masih rendah. b. Penutup Sebagai penutup tulisan ini dapat dikemukakan beberapa hal sebagai berikut: 1. rendahnya kesadaran masyarakat. maka untuk mengoptimalkan upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan di masa depan antara lain: a. Melengkapi fasilitas untuk menanggulagi kebakaran hutan. . sekaligus berupaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya kebakaran hutan dan semak belukar. Kemampuan aparatur pemerintah khususnya untuk koordinasi.Upaya pencegahan dan penanggulangan yang telah dilakukan selama ini ternyata belum memberikan hasil yang optimal dan kebakaran hutan masih terus terjadi pada setiap musim kemarau. maka untuk meningkatkan efektivitas dan optimasi kegiatan pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan perlu upaya penyelesaian masalah yang terkait dengan faktor-faktor tersebut. Di sisi lain belum efektifnya penanggulangan kebakaran disebabkan oleh faktor kemiskinan dan ketidak adilan. Hasil identifikasi dari serentetan kebakaran hutan menunjukkan bahwa penyebab utama kebakaran hutan adalah faktor manusia dan faktor yang memicu meluasnya areal kebakaran adalah kegiatan perladangan. atau merevisi hukum negara dengan mengadopsi hukum adat. Memberikan penghargaan terhadap hukum adat sama seperti hukum negara. pembukaan HTI dan perkebunan serta konflik hukum adat dengan hukum negara. V. Hutan merupakan sumberdaya alam yang tidak ternilai harganya karena didalamnya terkandung keanekaragaman hayati sebagai sumber plasma nutfah. Peningkatan kemampuan sumberdaya aparat pemerintah melalui pelatihan maupun pendidikan formal. baik perangkat lunak maupun perangkat kerasnya. sumber hasil hutan kayu dan non-kayu. Kesadaran semua lapisan masyarakat terhadap bahaya kebakaran masih rendah. Melakukan pembinaan dan penyuluhan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pinggiran atau dalam kawasan hutan. c.

2. Kebakaran hutan menimbulkan kerugian yang sangat besar dan dampaknya sangat luas. peningkatan fasilitas untuk mencegah dan menanggulagi kebakaran hutan. Berbagai upaya perbaikan yang perlu dilakukan antara lain dibidang penyuluhan kepada masyarakat khususnya yang berkaitan dengan faktor-faktor penyebab kebakaran hutan. Kebakaran merupakan salah satu bentuk gangguan terhadap sumberdaya hutan dan akhir-akhir ini makin sering terjadi. Karena itu pemanfaatan dan perlindungannya diatur oleh Undang-undang dan peraturan pemerintah. dan sebagainya.pengatur tata air. pembenahan bidang hukum dan penerapan sangsi secara tegas. . peningkatan kemampuan aparatur pemerintah terutama dari Departemen Kehutanan. pencegah banjir dan erosi serta kesuburan tanah. bahkan melintasi batas negara. 3.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful