i

“PROFIL GURU DAN MURID DALAM PERSPEKTIF AL-GHAZALI”


SKRIPSI

Oleh :
Yanuar Hadi
(05110023)















PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MALANG (UIN)
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG


April, 2009

ii
“PROFIL GURU DAN MURID DALAM PERSPEKTIF AL-GHAZALI”

SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Maulana Malik
Ibrahim Malang
untuk Memenuhi Persyaratan Guna Memperoleh Gelar
Strata Satu Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)

Oleh :
Yanuar Hadi
(05110023)









PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MALANG (UIN)
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

April, 2009


iii

“PROFIL GURU DAN MURID DALAM PERSPEKTIF AL-GHAZALI”


SKRIPSI

Oleh :

Yanuar Hadi
(05110023)


Telah Disetujui
Pada Tanggal: 7 April 2009
Oleh :
Dosen Pembimbing


Drs. H. Moh. Padil, M. Pd.I
NIP. 150 267 235



Mengetahui,
Ketua Jurusan Pendidikan Islam



Drs. H. Moh. Padil, M. Pd.I
NIP. 150 267 235







iv
“PROFIL GURU DAN MURID DALAM PERSPEKTIF AL-GHAZALI”

SKRIPSI
Dipersiapkan dan disusun oleh

Yanuar Hadi (05110023)
Telah dipertahankan di depan dewan penguji pada tanggal
14 April 2009 dengan nilai A
dan telah dinyatakan diterima sebagai salah satu persyaratan
untuk memperoleh gelar strata satu Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)
pada tanggal: 14 April 2009.

Panitia Ujian Tanda Tangan

Ketua Sidang
Drs. H. Moh. Padil, M. Pd.I :__________________________
NIP. 150 267 235

Sekretaris Sidang
Marno, M.Ag :__________________________
NIP. 150 321 639

Pembimbing
Drs. H. Moh. Padil, M. Pd.I :__________________________
NIP. 150 267 235

Penguji Utama
Dr. M. Zainuddin, M.A :__________________________
NIP. 150 275 502

Mengesahkan,
Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Malang


Prof. Dr. H.M. Djunaidi Ghony
NIP. 150 042 031

v

HALAMAN PERSEMBAHAN
Kalaupun karya ini ibarat secawan tirta muksha
Maka biarkanlah orang-orang ini yang menenggaknya

:Ibu dan Bapakku
:Adikku
:Calon Isteriku
:dan Guruku

Siti Amnah dan Khairul Anwar, ibu bapakku, cintanya tiada hingga
Jika aku mati, aku yakin di hatinya adalah kuburku yang sebenarnya
Ria Rahmita, Fauziah & Naisa Hafiza; adik-adikkku, suadara seumur
hidup-Q
Mampu menyesatkan dahaga berabadku
Anifah, calon isteriku, bidadari yang berselendang bianglala
Sesekali mengajakku mendendangkan kidung sorga di garba malam
Sementara di taman Firdaus anak-anak bunga bergetar halus menahan
malu untuk merekah
Guru-Dosen-Q, di hatimu cahaya di atas cahaya merambati segenap tualang
panjangku
dan, Teman-temann-Q Tarbiyah UIN Malang
JIHAD FI SABILILLAH………..!!!


vi
MOTTO



Ν.Ζ. ´¸¯ > ¸πΒ¦ ¸>¸¸>¦ ¸_!Ψ=¸9 βρ'¸∆!. ¸∃ρ`¸-ϑ9!¸, šχ¯θγΨ .´ρ ¸s ¸¸6Ζϑ9¦ βθ`Ζ¸Βσ.´ ρ
¸<!¸, ¯θ9´ρ š∅Β¦´ ™ `≅δ¦ ¸¸≈.¸69¦ βl39 ¦¸¯> Νγ9 `ΝγΖ¸Β šχθ`Ψ¸Βσϑ9¦ `Νδ¸.2¦´ ρ
βθ)¸.≈±9¦ ∩⊇⊇⊃∪


Artinya: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh
kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada
Allah. sekiranya ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di
antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-
orang yang fasik.” (Q.S. Al-Imran: 10)



· ` . ¸ · , · _ · , ¯ ` . ¸ , · _ , ´ , ¯ .
¸ . ` · . , _ · ' ` , . . , ` ' . ¸ ` , `, , ` _ · , `, _ , · ` _ ·
¸ ` , ` _ , · ,
· ` ¸ ' - ` · · , ' - , - , · ¸ , .
, ,_ · ¸·, ,
“Dari Abu Darda’: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: Kelebihan seorang
alim dari seorang abid (orang yang suka beribadah) seperti kelebihan bulan pada bintang-
bintang, dan sesungguhnya para ulama itu pewaris nabi-nabi, mereka (para nabi) tidak
mewariskan dinar, tetapi mewarisi ilmu, siapa yang mengambilnya, maka ambillah dengan
bagian yang cukup.”
(H.R Turrmudzi).
Θ


Θ
Abi Isa Muhammad bin Surah at-Turmudzi, al-Jāmi’ al-Shahīh wa Huwa Sunan al-Turmuzī (Beirut:
Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2000),.hlm. 478.

vii
Drs. H. Moh. Padil, M.Pd.I
Dosen Fakultas Tarbiyah
Universitas Islam Negeri Malang

NOTA DINAS PEMBIMBING

Hal : Skripsi Yanuar Hadi Malang, 7 April 2009
Lampiran : 4 (Empat) Eksemplar


Kepada Yth.
Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
di
Malang


Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Sesudah melakukan beberapa kali bimbingan, baik dari segi isi, bahasa
maupun tehnik penulisan, dan setelah membaca skripsi mahasiswa tersebut di bawah
ini:
Nama : Yanuar Hadi
Nim : 05110023
Jurusan : Pendidikan Agama Islam
Judul Skripsi :Profil Guru dan Murid Dalam Perspektif Al-Ghazali

maka selaku pembimbing, kami berpendapat bahwa skripsi tersebut sudah layak
diajukan untuk diujikan.
Demikian, mohon dimaklumi adanya.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.




Pembimbing,




Drs. H. Moh. Padil, M.Pd.I
NIP. 150 267 235

viii
Surat Pernyataan


Dengan ini saya menyatakan, bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya
yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan pasa suatu perguruan
tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya, juga tidak terdapat karya atau pendapat yang
pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu
dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar rujukan.


Malang, 7 April 2009



Yanuar Hadi
























ix
KATA PENGANTAR



Puji syukur Alhamdulillah, penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang
telah melimpahkan taufiq dan hidayah-Nya. Berkat rahmat dan petunjukNya, penulis
dapat menyelesaikan skripsi ini dengan lancar. Judul Skripsi yang diangkat adalah
“Profil Guru dan Murid Dalam Perspektif Al-Ghazali)”.
Shalawat serta salam, semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita
baginda Nabi Muhammad SAW, para keluarga, sahabat dan para pengikutnya yang
telah membawa petunjuk kebenaran, untuk seluruh umat manusia, yang kita harapkan
syafaatnya di akhirat kelak.
Skripsi ini merupakan salah satu tugas yang wajib ditempuh oleh mahasiswa,
sebagai tugas akhir Studi di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Jurusan Pendidikan
Islam. Skripsi ini disusun dengan bekal ilmu pengetahuan yang sangat terbatas dan
amat jauh dari kesempurnaan, sehingga tanpa bantuan, bimbingan dan petunjuk dari
berbagai pihak, maka sulit bagi penulis untuk menyelesaikannya. Oleh karena itu,
dengan segala kerendahan hati dan penuh rasa syukur, penulis berterima kasih kepada
:
1. Bapak Prof. Dr. H Imam Suprayogo, selaku Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim
Malang, beserta para staffnya.

x
2. Bapak Prof. Dr. H.M. Djunaidi Ghony, selaku Dekan Fakultas Tarbiyah UIN
Maulana Malik Ibrahim Malang
3. Bapak Drs. H. Moh. Padil, M.Pd.I, selaku Ketua Jurusan Pendidikan Islam UIN
Maulana Malik Ibrahim Malang sekaligus Dosen pembimbing yang telah
memberikan arahan dan bimbingan .
4. Ayahanda Khairul Anwar dan Ibunda Siti Amnah sebagai pendidik sejati bagi
penulis. Juga adik-adik penulis; Ria Rahmita, Fauziah & Naisa Hafiza.
5. Para Guru dan Dosen yang telah mendidik serta membimbing penulis hingga bisa
seperti saat sekarang ini
6. Teman-teman dari seluruh penjuru tanah air (khususnya Saokee “Coky” Hayitahe
from: “Negeri gajah putih” Thailand, you are my best friend) yang sama-sama
mengenyam pendidikan di campus tercinta UIN Maulana Malik Ibrahim Malang,
khususnya Fak. Tarbiyah, Jur. PAI.
7. Segenap pihak yang telah memberi banyak motivasi dan semangatnya dalam
pembuatan skripsi ini.
Penulis menyadari, bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh
karena itu, saran dan kritik konstruktif dari berbagai pihak sangat diharapkan demi
terwujudnya karya yang lebih baik di masa mendatang.
Ya Allah SWT… Terima Kasih atas segala rahmat dan karuniaMU sehingga
hamba dapat menyelesaikan karya ini. Semoga dapat bermanfaat bagi siapa saja yang
telah membacanya. Kepada kalian semualah Ku-persembahkan karyaku ini.
Teman-teman Angkatan 2005 & Almamaterku Tercinta

xi
Sebagai ungkapan terima kasih, penulis hanya mampu berdo’a, semoga segala
bantuan yang telah diberikan kepada penulis, diterima di sisi-Nya dan dijadikanNya
sebagai amal shaleh serta mendapatkan imbalan yang setimpal.
Akhirnya, penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada
umumnya dan bagi penulis khususnya. Amin...






Malang, 7 April 2009


Penulis







xii
PEDOMAN TRANSLITERASI
Penulisan transliterasi Arab-Latin dalam skripsi ini menggunakan pedoman
transliterasi berdasarkan keputusan bersama Menteri Agama RI dan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 158 tahun 1987 dan No. 0543 b/U/1987 yang
secara garis besar dapat diuraikan sebagai berikut:
A. Konsonan Tunggal
Huruf
Arab
Nama Huruf Latin Keterangan
ا Alif Tidak dilambangkan Tidak dilambangkan
ب Bā’ B -
ت Tā’ T -
ث Śā’ Ś S (dengan titik di atas)
ج Jīm J -
ح Hā’ H H (dengan titik di bawah)
خ Khā’ Kh -
د Dāl D -
ذ Żāl Ż Z (dengan titik di atas)
ر Rā’ R -
ز Zai Z -
س Sīn S -
ش Syīn Sy -
ص Sād S S (dengan titik di bawah)
ض Dād D D (dengan titik di bawah)
ط Tā’ T T (dengan titik di bawah)
ظ Zā’ Z Z (dengan titik di bawah)
ع ‘Ain ‘ Koma terbalik di atas
غ Gain G -
ف Fā’ F -
ق Qāf Q -
ك Kāf K -
ل Lām L -
م Mīm M -
ن Nūn N -
و Wāwu W -
ه Hā’ H -
- Hamzah ’ Apostrof
ي Yā’ Y Y

xiii
B. Vokal
Vokal bahasa Arab seperti bahasa Indonesia, terdiri dari vokal tunggal atau
monoftong dan fokal rangkap atau diftong.
1. Vokal Tunggal
Vokal tunggal bahasa Arab lambangnya berupa tanda atau harakat yang
transliterasinya dapat diuraikan sebagai berikut:
Tanda Nama Huruf Latin Nama Contoh Ditulis
َ--- Fathah a a
ِ--- Kasrah i i َ ¸ِ-ُ- Munira
ُ--- Dammah u u

2. Vokal Rangkap
Vokal rangkap Bahasa Arab yang lambangnya berupa gabungan antara harkat
dan huruf, transliterasinya sebagai berikut:
Tanda Nama Huruf Latin Nama Contoh Ditulis
ي َ--- Fathah dan ya ai a dan i َ -ْ,َآ Kaifa
و َ--- Kasrah i i َ لْ,َه Haula

C. Maddah (vokal panjang)
Maddah atau vokal panjang yang lambangnya berupa harkat dan huruf,
transliterasinya sebagai berikut:
Fathah + Alif, ditulis ā Contoh َ ل'َ- ditulis Sāla
َfathah + Alif maksūr
ditulis ā
Contoh _َ·ْ-َ, ditulis Yas‘ā
ِKasrah + Yā’ mati
ditulis ī
Contoh -ْ,ِ=َ- ditulis Majīd
Dammah + Wau mati
ditulis ū
Contoh ُ لْ,ُ-َ, ditulis Yaqūlu

D. Ta’ Marbūt ah
1. Bila dimatikan, ditulis h:
ª-ه Ditulis hibah
ª,¸= Ditulis jizyah

xiv
2.
3. Bila dihidupkan karena berangkai dengan kata lain, ditulis t:
-ا ª-·- Ditulis ni‘matullāh
E. Syaddah (Tasydīd)
Untuk konsonan rangkap karena syaddah ditulis rangkap:
ةّ -= Ditulis ‘iddah

F. Kata Sandang Alif + Lām
1. Bila diikuti huruf qamariyah atau syamsiyah ditulus al-
.=¸'ا Ditulis al-rajulu
¸--'ا Ditulis al-Syams

G. Hamzah
Hamzah yang terletak di akhir atau di tengah kalimat ditulis apostrof.
Sedangkan hamzah yang terletak di awal kalimat ditulis alif. Contoh:
_,- Ditulis syai’un
-='- Ditulis ta’khużu
ت¸-أ Ditulis umirtu

H. Huruf Besar
Huruf besar dalam tulisan Latin digunakan sesuai dengan ejaan yang
diperbaharui (EYD).
I. Penulisan kata-kata dalam rangkaian kalimat dapat ditulis menurut bunyi atau
pengucapan atau penulisannya.
ª--'ا .هأ Ditulis ahlussunnah atau ahl al-sunnah
J. Pengecualian
Sistem transliterasi ini tidak penulis berlakukan pada:
a. Kata Arab yang sudah lazim dalam bahasa Indonesia, seperti: al-Qur’an
b. Judul dan nama pengarang yang sudah dilatinkan, seperti Yusuf Qardawi
c. Nama pengarang Indonesia yang menggunakan bahasa Arab, seperti Munir
d. Nama penerbit Indonesia yang menggunakan kata Arab, misalnya al-bayan

xv
DAFTAR TABEL DAN GAMBAR

Gambar b.1: Integrasi Ilmu-ilmu Allah ……………………………………... 69
Tabel 6.1: Konsep Belajar Perspektif Imam al-Ghazali .................................. 75
Tabel 6.2: Lanjutan ......................................................................................... 76
Tabel 6.3: Pendekatan Belajar Perspektif Barat .............................................. 77
Tabel 6.4 Pendekatan Belajar Perspektif Imam al-Ghazali ............................ 78
















xvi
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran I : Bukti Konsultasi .......................................................................
Lampiran II : Naskah Kitab Ihya’ Ulumuddin jilid I (Bab Ilmu)....................
Lampiran III : Naskah Kitab Ringkasan Ihya’ Ulumuddin (Bab Ilmu) ...........
Lampiran IV : Daftar Riwayat Hidup………………………………………...



























xvii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ..................................................................................... i
HALAMAN JUDUL PENGAJUAN ……………………………………… ii
HALAMAN PERSETUJUAN ..................................................................... iii
HALAMAN PENGESAHAN ....................................................................... iv
HALAMAN PERSEMBAHAN ................................................................... v
HALAMAN MOTTO ................................................................................... vi
HALAMAN NOTA DINAS .......................................................................... vii
HALAMAN PERNYATAAN ....................................................................... viii
KATA PENGANTAR ................................................................................... ix
HALAMAN TRANSLITERASI .................................................................. xi
DAFTAR TABEL DAN GAMBAR ............................................................. xiv
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................. xv
DAFTAR ISI .................................................................................................. xvi
ABSTRAK ..................................................................................................... xviii
BAB I :PENDAHULUAN ...................................................................... 1
A. Latar Belakang Masalah ......................................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................................... 14
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ............................................ 14
D. Ruang Lingkup Penelitian ...................................................... 15
E. Penegasan Istilah ..................................................................... 15
F. Metode Penelitian .................................................................... 16
G. Sistematika Pembahasan …………………………………….. 19

BAB II :KAJIAN PUSTAKA .................................................................. 21
A. Studi Terdahulu ....................................................................... 21
B. Pengertian Pendidik ................................................................. 24
C. Pengertian Anak Didik ............................................................ 27

xviii
D. Hubungan Guru dan Murid ..................................................... 29
E. Dasar dan Tujuan Pendidikan Islam......................................... 32


BAB III :PEMAPARAN HASIL PENELITIAN..................................... 38
A. Biografi Imam al-Ghazali ........................................................ 38
1. Riwayat Hidup Imam al-Ghazali .......................................... 38
2. Setting Sosial-politik dan Pengaruhnya bagi Pemikiran
Imam al-Ghazali ................................................................... 46
3. Karya-karya Imam al-Ghazali .............................................. 53
4. Klasifikasi Ilmu Perspektif Imam al-Ghazali ....................... 60
5. Pendidikan dalam Pemikiran Imam al-Ghazali .................... 65
6. Konsep pendidikan menururt al-ghazali……………………..70
7. Pengaruh Imam al-Ghazali dalam Dunia Pendidikan .......... 79
B. Profil Guru Dalam Perspektif Imam al-Ghazali ...................... 80
1. Pengertian Guru ................................................................... 80
2. Syarat Kepribadian Guru ..................................................... 82
3. Tugas dan Kewajiban Guru .................................................. 84
4. Kriteria Dalam Memilih Guru .............................................. 85
C. Profil Murid Dalam Perspektif al-Ghazali ................................ 86
1 Pengertian Murid ................................................................... 86
2. Tugas dan Kewajiban Murid ................................................ 86
3. Akhlak Murid Terhadap Guru .............................................. 89

BAB IV :ANALISIS HASIL PENELITIAN............................................ 90
A. Profil Guru Dalam Perspektif Imam al-Ghazali........................ 90
1. Pengertian Guru .................................................................. 90
2. Syarat Kepribadian Guru .................................................... 97
3. Tugas dan Kewajiban Guru ................................................. 107

xix
4. Kriteria Dalam Memilih Guru ............................................. 111
B. Profil Murid Dalam Perspektif al-Ghazali ................................ 115
1 Pengertian Murid .................................................................. 115
2. Tugas dan Kewajiban Murid ............................................... 118
3. Akhlak Murid Terhadap Guru ............................................. 125

BAB V :PENUTUP ...................................................................................... 129
A. Kesimpulan ............................................................................. 129
B. Saran ........................................................................................ 131

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN















xx
ABSTRAK

Yanuar Hadi. Profil Guru dan Murid Dalam Perspektif Al-Ghazali. Skripsi, Jurusan
Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah, Universitas Islam Negeri (UIN)
Maulana Malik Ibrahim Malang. Drs. H. Moh. Padil, M.Pd.I


Pendidikan merupakan masalah penting yang memperoleh prioritas utama
sejak awal kehidupan manusia. Bahkan Rasulullah Saw sendiri telah mengisyaratkan
bahwa proses belajar bagi setiap manusia adalah sejak ia masih dalam kandungan
ibunya, sampai ia sudah mendekati liang kuburnya. Sebagai agama yang
mengutamakan pendidikan, maka sepanjang kurun kehidupan umat Islam hingga
kini, telah muncul banyak ahli pendidikan yang menyumbangkan buah pikirannya
dalam bidang pendidikan. Dan pada umumnya sepakat menyatakan bahwa dari semua
unsur pendidikan yang ada, guru dan murid menempati unsur yang utama dan taratas
dari yang lain.
Penelitian ini memiliki rumusan masalah dan ruang lingkup yang akan
membahas mengenai bagaimana profil guru dan murid dalam perspektif Al-Ghazali,
sehingga bertujuan untuk mengetahui pandangan Al-Ghazali, tentang profil guru dan
profil murid tersebut, serta dapat pula dijadikan rujukan bagi para guru maupun anak
didik di masa sekarang ini.
Penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif dan lebih spesifiknya adalah
penelitian kepustakaan (library research) dengan menggunakan metode pendekatan
historis dan filosofis serta content analisys sebagai pisau analisisnya, kemudian hasil
dari penelitian ini disajikan dalam bentuk deskriptif.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa; Al-Ghazali memiliki kontribusi
yang besar dalam rangka membangun profil guru dan murid yang baik dan sesuai
dengan syari’at Islam. Hal ini terlihat dari Bagaimana Imam al-Ghazali memberikan
pengertian, syarat, tugas dan kewajiban serta adab yang sejalan dengan tuntutan atau
ajaran agama Islam, baik bagi guru maupun murid. Sehingga secara operasional,
konsepnya dapat diaplikasikan dan dijadikan alternatif acuan bagi seorang guru
maupun murid di masa sekarang, khususnya dalam ruang lingkup pendidikan Islam
itu sendiri, namun harus tetap menggunakan bentuk pendekatan baru serta diperlukan
penyempurnaan yang searah dengan perkembangan dan kemajuan zaman.


Kata Kunci: profil Guru-Murid


1
1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Anak didik merupakan generasi masa depan, pada diri merekalah harapan dan
cita-cita baik bangsa maupun agama terletak. Murid atau anak didik adalah setiap
orang yang menerima pengaruh dari seseorang atau sekelompok orang yang
menjalankan kegiatan pendidikan. Murid bukanlah hewan, namun ia adalah
manusia yang mempunyai akal. Murid adalah salah satu unsur manusiawi yang
sangat penting dalam kegiatan interaksi edukatif. Ia dijadikan pokok persoalan
dalam semua gerak kegiatan pendidikan dan pengajaran. Sebagai pokok
persoalan, murid memiliki kedudukan yang menempati posisi yang menentukan
dalam sebuah interaksi. Guru tidak mempunyai arti apa-apa tanpa kehadiran
murid sebagai subyek pembinaan. Jadi, dari penjelasan tersebut diatas dapat
ditarik kesimpulan bahwa, murid merupakan “kunci” yang menentukan untuk
mewujudkan terjadinya interaksi edukatif.
1

Lapangan pendidikan dimana saja, kegiatan mendidik berlangsung dalam
masyarakat modern ini tidak hanya di lingkungan keluarga, namun disekolahpun
pendidikan terhadap anak dapat dilaksanakan oleh guru-guru yang bersangkutan.
Sekolah disini bahkan merupakan follow up dari pendidikan di lingkungan

1
Drs. Syaiful Bahri Djamarah, M.Ag. Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif (suatu
pendekatan teoritis psiklogis). Jakarta: rineka cipta. 2005, hlm. 51.
1


2
2
keluarga. Pendidikan disekolah ini dapat disebut pendidikan formal, artinya
diselenggarakan atas dasar peraturan dan syarat-syarat tertentu serta alat-alat
tertentu pula. Di sekolah, pendidikan dan pengajaran dilaksanakan secara
bersama-sama, menurut pedoman-pedoman yang telah ditentukan oleh
pemerintah maupun pada lingkup yang lebih kecil, yakni pemimpin sekolah yang
bersangkutan. Misalnya pedoman mengenai: Kurikulumnya, Alat-alatnya,
Organisasi sekolahnya, Sistem serta Metode-Metodenya dan sebagainya.
2

Kesemuanya itu diarahkan kepada cita-cita yang diidam-idamkan oleh tujuan
murni dari pendidikan itu sendiri. Maka dari itu bagi orang Islam yang
mendirikan sekolah, madrasah atau lembaga pendidikan lainnya sudah tentu
pedoman-pedomannya ditentukan ke arah usaha mencapai cita-cita yang mulia,
yaitu membentuk manusia muslim yang bertanggung jawab atas bangsa dan
agamanya untuk kebahagiaan dunia dan akhirat.
3

Dari keseluruhan perangkat pendidikan itu, maka menurut hemat penulis guru
dan murid dapat dikatakan menempati peringkat yang utama dari proses
pendidikan itu sendiri. Untuk itu diperlukan pemahaman yang mendalam dari
keduanya. Guru-guru yang menjalankan tugasnya mendidik anak sudah tentu
harus sanggup menjadi alat dari penyampaian cita-cita kepada anak yang telah
diamanahkan kepadanya. Malah bagi guru agama khususnya harus lebih dari itu
semua yakin harus sanggup menjadi pendukung sebanar-benarnya akan cita-cita

2
Dr. H. Samsul Nizar, M.A. Filsafat Pendidikan Islam, Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis,
(Jakarta:Ciputat Press, 2002), hlm. 25
3
Ibid., hlm. 26


3
3
itu sehingga dirinya dimata anak didiknya betul-betul merupakan personifikasi
dari agama yang diajarkannya. Itulah sebabnya guru sebagai pendidik haruslah
memenuhi syarat-syarat serta tugas dan tangung jawabnya bagi pendidikan yang
dilakukannya tersebut, baik dari segi jasmaniyah maupun rohaniyahnya,
sebagaimana yang juga akan diungkapkan oleh penulis pada skripsi ini dalam
perspektif al-Ghazali pada bab atau pembahasan selanjutnya.
Dalam perspektif pedagogis, murid adalah sejenis makhluk yang
menghajatkan pendidikan. Dalam arti ini murid disebut dengan sejenis makhluk
“homo educandum”. Pendidikan merupakan keharusan yang diberikan kepada
anak didik, ia sebagai manusia berpotensi yang perlu dibina dan dibimbing
dengan perantaraan guru. Potensi anak didik yang bersifat laten perlu
diaktualisasikan agar mereka tidak lagi dikatakan sebagai “animal educable”,
yaitu sejenis hewan yang memungkinkan untuk dididik, tetapi anak didik disini
haruslah tetap dianggap sebagai manusia secara mutlak, sebab anak didik
memang sejatinya manusia. Ia adalah sejenis makhluk manusia yang terlahir dari
rahim seorang ibu. Anak didik adalah manusia yang memiliki potensi akal untuk
dijadikan kekuatan agar menjadi manusia susila yang cakap.
4

Sebagai manusia yang berpotensi, maka didalam diri murid ada suatu daya
yang dapat tumbuh dan berkembang disepanjang usianya. Potensi murid sebagai
daya yang tersedia, sedangkan pendidikan sebagai alat ampuh untuk
mengembangkan daya tersebut. Bila murid adalah sebagai komponen inti dalam

4
Drs. Syaiful Bahri Djamarah, M.Ag, Op.cit, hlm. 52


4
4
kegiatan pendidikan, maka muridlah sebagai pokok persoalan dalam interaksi
edukatif.
Sebagai makhluk manusia, anak didik memiliki karekteristik. Menurut Sutari
Iman Barnadib, Suwarno, dan Siti Mechati,
5
anak didik memiliki karekteristik
tertentu, yakni :
1. Belum memiliki pribadi dewasa susila sehingga masih menjadi tanggung
jawab pendidik (guru) ; atau
2. Masih menyempurnakan aspek tertentu dari kedewasaannya, sehingga masih
menjadi tangung jawab pendidik;
3. Memiliki sifat-sifat dasar manusia yang sedang berkembang secara terpadu
yaitu kebutuhan biologis, rohani, social, inteligensi, emosi, kemampuan
berbicara, anggota tubuh untuk bekerja (kaki, tangan, jari), latar belakang
sosial, latar belakang biologis (warna, kulit, bentuk tubuh, dan lainnya), serta
perbedaan individual.
Guru perlu memahami karekteristik anak didik sehingga mudah melaksanakan
interaksi edukatif, Kegagalan menciptakan interaksi edukatif yang kondusif,
berpangkal dari kedangkalan pemahaman guru terhadap karekteristik anak didik
sebagai individu. Bahan, metode, sarana/alat, dan evaluasi, tidak dapat berperan
lebih banyak, bila guru mengabaikan aspek anak didik. Sebaiknya sebelum guru
mempersiapkan tahapan-tahapan interaksi edukatif, guru memahami keadaan

5
. Drs. Syaiful Bahri Djamarah, M.Ag. Ibid, hlm. 52


5
5
anak didik. Ini penting agar apat mempersiapkan segala sesuatunya secara akurat,
sehingga tercipta interaksi edukatif yang kondusif, efektif, dan efisien.
6

Namun sebagaimana yang kita ketahui pada saat sekarang ini banyak generasi
muda yang telah kehilangan arah yang benar, kehilangan identitas diri dan lain
sebagainya, yang nanti pada akhirnya akan merusak dan menghancurkan bangsa
maupun agama itu sendiri.
Sebagai contoh, hampir disetiap kelas disekolah selalu ada saja murid (peserta
didik) yang jahil, nakal, bandel, sulit untuk dikendalikan, bahkan terlibat dalam
aktivitas yang bernuansa kekerasan, baik itu pembentukan kelompok tertentu
(gank) dengan maksud yang sering tidak jelas, hingga aplikasi dilapangan dengan
adanya tawuran antar murid atau sekolah (sebagaimana yang diberitakan media
cetak maupun elektronik).
Hal serupa juga ternyata terjadi pada kalangan pendidik, penulis tidak
bermaksud memberikan steatmen buruk kepada guru, namun diakui atau tidak
bahwa pada fakta dilapangan memang terdapat penyimpangan yang dilakukan
sebagian pendidik, meskipun jumlahnya dapat dikatakan sedikit (minoritas), hal
ini juga terungkap dan diangkat di media baik cetak maupun elektronik,
sebagaimana kenakalan yang terjadi pada pesrta didik.
Hal ini sangat ironi, mengingat baik bangsa maupun agama itu sendiri tidak
mengingingkan akan terjadinya hal-hal seperti itu. Apabila hal-hal seperti ini
dibiarkan tanpa adanya usaha untuk memperbaikinya, maka perlahan-lahan,

6
Ibid., hlm. 53


6
6
lambat-laun baik disadari ataupun tidak akan menjadi suatu tradisi yang buruk
yang dapat menjadi permasalahan yang sangat serius bagi dunia pendidikan itu
sendiri. Oleh karenanya dibutuhkan usaha bersama dalam menanggulangi
persoalan ini agar dapat mencapai maksud dan tujuan pendidikan yang agung dan
sangat mulia.
Pendidikan sendiri sebagai proses transfer ilmu dan pengetahuan hendaknya
tidak hanya berkuantitas, namun juga berkualitas. Tidak hanya didomonasi oleh
pelajaran-pelajaran ilmu pengetahuan umum, tapi juga harus di ikuti atau di dasari
pengetahuan-pengetahuan mengenai akhlak, moral, budi pekerti, etika dan
khususnya dan paling utama adalah pendidikan agama. Untuk itu sebelumnya
dibutuhkan pemahaman yang mendalam mengenai hakikat pendidik bagi siapa
saja yang menginginkan guru sebagai profesi dalam hidupnya, juga pemahaman
yang mendalam tentunya tentang hakikat peserta didik bagi siapa saja yang
hendak ataupun yang masih dan serta selalu menuntut ilmu, yang kesemuanya
dilandasi oleh ajaran agama, khususnya Islam. Karena pendidikan sendiri
merupakan salah satu aspek yang sangat sakral dan penting untuk membentuk
generasi yang siap mengganti tongkat estafet generasi tua dalam rangka
membangun masa depan.
7
Karena itu tidak hanya guru (pendidik) yang
mempersiapkan diri dengan baik, namun bagi para murid (peserta didik) juga
harus mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya.

7
Tim Dosen IAIN Sunan Ampel-Malang. Dasar-Dasar Kependidikan Islam, Suatu Pengantar Ilmu
Pendidikan Islam, (Surabaya: karya abditama, 1996), hlm. 58.


7
7
Salah satu fungsi pendidikan adalah memindahkan nilai-nilai, ilmu dan
keterampilan dari generasi tua kepada generasi muda untuk melanjutkan dan
memelihara identitas masyarakat tersebut. Dalam hal ini bisa dilalui dengan
proses pengajaran dan belajar. Dahulu orang menyangka bahwa mengajar
sebenarnya tidak lebih dari memindahkan isi kepala seseorang guru, kalaulah
ilmu itu ada di kepala, kepada kepala seseorang atau beberapa murid. Dengan
demikian terjadilah proses belajar. Dengan kata lain belajar sebenarnya, tidak
ubahnya seperti memindahkan isi suatu keranjang kepada keranjang-keranjang
lain.
8

Hasan Langgulung menyebutkan bahwa dalam pendidikan mengandung dua
aspek, Pertama: Aspek mengajar dan Kedua: Aspek belajar. Aspek mengajar itu
hanyalah suatu cara untuk memantapkan proses belajar itu. Sedangkan proses
belajar berlaku apa sebanarnya yang terjadi pada manusia.
9

Di dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003
pasal 37 ayat (1) ditegaskan bahwa:
Kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat: pendidikan
agama, pendidikan kewarganegaraan, bahasa, matematika, ilmu pengetahuan
alam, ilmu pengetahuan sosial, seni dan budaya, pendidikan jasmani dan
olahraga, keterampilan/kejuruan, dan muatan lokal.
10



8
Hasan Langgulung, Asas-Asas Pendidikan Islam (Jakarta: Penerbit Pustaka Al-Husana, 1988), hlm.
250
9
Ibid., hlm. 23
10
Undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 Tentang SISDIKNAS (Bandung: Citra
Umbara, 2003), hlm. 25-26.


8
8
Dalam masa sekarang ini, setiap sekolah memerlukan guru yang tidak hanya
profesional, namun juga memiliki spiritual (religius) yang baik, sehingga masing-
masing anak didik akan mendapat pendidikan dan pembinaan dari berbagai orang
guru yang mempunyai kepribadian dan mental yang baik pula. Setiap guru akan
mempunyai pengaruh terhadap anak didik, pengaruh tersebut akan terjadi melalui
pendidikan dan pengajaran yang dilakukan baik dengan sengaja, maupun tidak
sengaja oleh guru, melalui sikap, gaya, dan macam-macam penampilan
kepribadian guru. Dapat dikatakan, bahwa kepribadian guru akan lebih besar
pengaruhnya dari pada kepandaian dan ilmunya, terutama bagi anak didik yang
masih dalam usia kanak-kanak dan masa meningkat remaja, yaitu tingkat
pendidikan dasar dan menengah, karena anak didik pada tingkat tersebut masih
dalam masa pertumbuhan dan perkembangan kepribadiannya. Oleh karena itu,
setiap guru hendaknya mempunyai kepribadian yang patut dicontoh dan
diteladani oleh anak didik, baik secara sengaja ataupun tidak.
Guru adalah orang yang bekerja dalam bidang pendidikan dan pengajaran,
yang ikut bertanggung jawab dalam mendidik dan mengajar, membantu anak
untuk mencapai kedewasaan.
11
Guru dalam pandangan masyarakat adalah orang
yang melaksanakan pendidikan di tempat-tempat tertentu, tidak terbatas di
lembaga pendidikan formal, tetapi bisa juga di masjid, mushala, di rumah dan
sebagainya.

11
Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), hlm. 62.


9
9
Guru memang menempati kedudukan yang terhormat di masyarakat. Peranan
dan kewibawaan yang menyebabkan seorang guru dihormati, sehingga masyarakat
tidak meragukan figur seorang guru. Masyarakat yakin bahwa gurulah yang
mendidik mereka agar menjadi orang yang berkepribadian mulia.
Guru adalah komponen yang penting dalam pendidikan, yakni orang yang
bertanggung jawab mencerdaskan kehidupan anak didik, dan bertanggung jawab
atas segala sikap, tingkah laku dan perbuatan dalam rangka membina anak didik
agar menjadi orang yang bersusila yang cakap, berguna bagi nusa dan bangsa di
masa yang akan datang.
Pandangan tentang citra guru sebagai orang yang wajib digugu (dipatuhi) dan
ditiru (diteladani) seharusnya tidak perlu diragukan kebenarannya, konsep
keguruan klasik tersebut mengandaikan pribadi guru serta perbuatan
kependidikan atau keguruan adalah tanpa cela, sehinga pantas hadir sebagai
manusia model yang ideal. Hal ini tidak sesuai dengan kenyataan. Jadi, guru
wajib digugu dan ditiru tersebut perlu disikapi secara kritis dan realistis. Benarlah
bahwa guru dituntut menjadi tauladan bagi siswa dan orang-orang sekelilingnya,
tetapi guru adalah orang yang tidak pernah bebas dari cela dan kelemahan, justru
salah satu keutamaan guru hendaknya diukur dari kegigihan usaha guru yang
bersangkutan untuk menyempurnakan diri dan karyanya. Guru yang sempurna,
ideal, selamanya tetap merupakan suatu cita-cita.


10
10
Atas pemikiran di atas, maka upaya menyiapkan tenaga guru merupakan
langkah utama dan pertama yang harus dilakukan. Dalam arti formal tugas
keguruan bersikap profesional, yaitu tugas yang tidak dapat diserahkan kepada
sembarang orang.
12
Dalam artian, guru tersebut harus mempunyai kemampuan
untuk mengerahkan dan membina anak didiknya sesuai dengan nilai-nilai
kehidupan yang luhur dan bermanfaat menurut pandangan agama.
Pendidik yang pertama dan utama adalah orang tua (ayah dan ibu), karena
adanya pertalian darah yang secara langsung bertanggung jawab penuh atas
kemajuan perkembangan anak kandungnya, karena sukses anaknya merupakan
sukses orang tua juga. Orang tua disebut pendidik kodrati. Apabila orang tua tidak
punya kemampuan dan waktu untuk mendidik, maka mereka menyerahkan
sebagian tanggungjawabnya kepada orang lain atau lembaga pendidikan yang
berkompetensi untuk melaksanakan tugas mendidik.
Seorang guru dituntut mampu memainkan peranan dan funginya dalam
menjalankan tugas keguruannya. Dalam Ilmu Pendidikan Islam, membagi tugas
guru ada dua; Pertama, membimbing anak didik mencari pengenalan terhadap
kebutuhan, kesanggupan, bakat, minat dan sebagainya. Kedua, menciptakan
situasi untuk pendidikan, yaitu suatu keadaan dimana tindakan pendidikan dapat
berlangsung dengan baik dan hasil memuaskan.

12
Abuddin Nata, Perspektif Islam Tentang Pola Hubungan Guru dan Murid, (Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 2001), hlm. 1.


11
11
Untuk menjadi guru yang profesional tidaklah mudah, karena ia harus
memiliki berbagai kompetensi keguruan. Kompetensi dasar bagi pendidik
ditentukan oleh tingkat kepekaannya dari bobot potensi dasar dan kecenderungan
yang dimilikinya. Pontensi dasar itu adalah milik individu sebagai hasil proses
yang tumbuh karena adanya inayah Allah SWT, personifikasi ibu waktu
mengandung dan situasi yang mempengaruhinya baik langsung maupun melalui
ibu waktu mengandung atau faktor keturunan. Hal inilah yang digunakan sebagai
pijakan bagi individu dalam menjalankan fungsinya sebagai khalifah dan hamba
Allah.
Sebagaimana telah diuraikan di atas, bahwa dalam ajaran Islam, guru
mendapatkan penghormatan dan kedudukan yang amat tinggi. Penghormatan dan
kedudukan yang tinggi ini amat logis diberikan kepadanya, karena dilihat dari
jasanya yang demikian besar dalam membimbing, mengarahkan, memberikan
pengetahuan, membentuk akhlak dan menyiapkan anak didik agar siap
menghadapi hari depan dengan penuh keyakinan dan percaya diri, sehingga dapat
melaksanakan fungsi kekhalifahannya di muka bumi dengan baik.
Sifat yang dimiliki guru adalah harus memiliki sifat zuhud, yaitu tidak sesuai
dengan pendapat Mohammad Athiyah Al-Abrosyi, salah satu dari mengutamakan
untuk mendapatkan materi dalam tugasnya, melainkan karena mengharapkan
keridhaan Allah semata-mata. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT:
¦θ`-¸,.¦ Β ω ¯/3=↔`.„ ¦¸>¦ Νδ´ρ βρ‰.γ•Β ∩⊄⊇∪


12
12
Artinya: “Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepada-Mu, dan mereka
adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.S. Yasin: 21)
13


Ini tidak berarti bahwa seorang guru harus hidup miskin, melarat, dan
sengsara, melainkan boleh ia memiliki kekayaan sebagaimana lazimnya orang
lain dan ini tidak berarti pula bahwa guru tidak boleh menerima pemberian atau
upah dari muridnya, melainkan ia boleh saja menerimanya pemberian upah
tersebut karena jasanya dalam mengajar, tetapi semua ini jangan diniatkan dari
awal tugasnya. Pada awal tugasnya hendaklah ia niatkan semata-mata karena
Allah. Dengan demikian, maka tugas guru akan dilaksanakan dengan baik, apakah
dalam keadaan punya uang atau tidak ada uang.
Penulis sendiri menjadikan Imam al-Ghazali sebagai tokoh central dalam
penelitian ini karena selain karena memiliki banyak karya (kitab/buku-buku
karangan beliau, maupun hasil-hasil penelitian sebelumnya tentang beliau)
sehingga memudahkan peneliti dalam memperoleh informasi dan data, dan beliau
telah popular dikalangan umat Islam (termasuk dalam dunia pendidikan Islam
khususnya), kemudian Imam al-Ghazali juga memiliki pandangan yang berbeda
dengan para ahli pendidikan yang lain mengenai tujuan pendidikan. Menurutnya,
tujuan pendidikan adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan untuk
mencari kedudukan, kemegahan dan kegagahan atau mendapatkan kedudukan
yang menghasilkan uang.
14


13
DEPAG RI, Al-Quran dan Terjemahnya, op. cit., hlm 708.
14
Abuddin Nata, Op. Cit., hlm. 162.


13
13
Selanjutnya Imam al-Ghazali juga mengklasifikasi ilmu menjadi beberapa
karakteristik, diantaranya ilmu menurut beliau dibagi dalam dua bagian besar,
yaitu: ilmu sebagai proses dan ilmu sebagai obyek. Ilmu sebagai obyek memiliki
tiga bagian, yaitu ilmu yang tercela, ilmu yang terpuji, dan ilmu yang terpuji
dalam batas-batas tertentu. Dari ketiga ilmu ini kemudian Imam al-Ghazali
membagi lagi dalam dua kelompok: ilmu yang fardlu ‘ain dan ilmu yang fardlu
kifayah. Untuk lebih jelasnya akan dipaparkan pada pembahasan/bab selanjutnya.
Kemudian dijumpai pula pendapat al-Ghazali bahwa hendaknya seorang guru
tidak mengharapkan imbalan, balas jasa ataupun ucapan terima kasih, tetapi
dengan mengajar itu bermaksud mencari keridhaan Allah dan mendekatkan diri
kepada-Nya.
15
Mengenai masalah gaji guru, menurutnya, sosok guru ideal adalah
yang memiliki motivasi mengajar yang tulus ikhlas. Dalam mengamalkan
ilmunya semata-mata untuk bekal di akhirat bukan untuk dunianya, sehingga
tidak mengharapkan imbalan, dan menjadi panutan serta mengajak pada jalan
Allah dan mengajar itu harganya lebih tinggi dari pada harta benda.


Selanjutnya menurut pendapat al-Ghazali, untuk menjadi murid yang baik
yaitu yang dapat memenuhi tugas yang dibebankan padanya, salain bertakwa
kepada Allah, bersih jasmaninya, baik akhlaknya dan suci jiwanya, seorang juga
hendaknya menanamkan niat yang benar dalam metuntut ilmu.
16


15
Al-Ghazali, Terj., Zeid Husein Al-Hamid, Ringkasan Ihya’ Ulumuddin, Cet II, (Jakarta: Puastaka
Amani, 2007), hlm. 15.
16
Ibid., hlm. 11


14
14
Dengan melihat sekilas pemaparan atau uraian tentang profil guru, bahwa
sosok guru adalah hal yang paling penting serta yang utama dalam pendidikan,
begitu juga sosok murid sangat urgen dalam pandangan dan pemikiran Al-
Ghazali. Oleh karena itu, sangat relevan kiranya untuk diuji keutamaannya,
karena masing-masing memiliki tugas dan tanggung jawab yang berbeda dalam
sebuah karya ilmiah yang bersifat analisis kritis dalam judul: “PROFIL GURU
DAN MURID DALAM PERSPEKTIF IMAM AL-GHAZALI”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang penulis ungkapkan
meliputi:
1. Bagaimana profil guru dalam perspektif Imam al-Ghazali ?
2. Bagaimana profil murid dalam perspektif Imam al-Ghazali ?
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan yang hendak dicapai
dalam penelititan ini adalah:
1. Untuk mengetahui profil guru dalam perspektif al-Ghazali
2. Untuk mengetahui profil murid dalam perspektif al-Ghazali

Sedangkan kegunaan dari penelitian ini antara lain:
1. Dari hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai tambahan atau masukan
sekaligus sebagai bahan pertimbangan bagi lembaga pendidikan dalam


15
15
meningkatkan prestasi belajar murid maupun para guru itu sendiri dalam
pelaksanaan pendidikan (termasuk Pendidikan Agama Islam)
2. Hasil dari penelitian ini dapat digunakan sebagai pijakan pendidikan Agama
Islam dalam pengembangan pendidikan Agama Islam khususnya bagi tenaga
pengajar dan peserta didik
3. Untuk menambah wawasan praktis sebagai pengalaman bagi penulis sesuai
dengan disipilin ilmu yang telah penulis tekuni selama ini
D. Ruang Lingkup Penelitian
Berdasarkan judul yang penulis angkat dalam karya ilmiah skripsi ini, maka
penelitian ini difokuskan pada obyek kajian tentang profil guru dan juga
pembahasan tantang profil murid dalam perspektif al-Ghazali.
E. Penegasan Istilah
Profil : Keterangan / penjelasan diri, sosok, Figure (bahasa Inggris);
perawakan; postur; bangun badan; tipe; bentuk; wujud; sosok;
tokoh; gambar.
17

Profil Guru : Figur atau wujud (sosok) garis-garis besar sifat dan ciri
Atau keterangan/ penjelasan diri sosok seorang guru.
Profil Murid : Figur atau wujud (sosok) garis-garis besar sifat dan ciri
keterangan / penjelasan diri sosok seorang murid.
Al-Ghazali : Salah seorang tokoh pemikir di dalam dunia Islam yang

17
Pius A. Partanto dan M. Dahlan Al-Banny, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya: Arkola, 1994),
hlm. 177.


16
16
dikenal sebagai seorang teolog, filosof dan sufi, yang
hidup di pemerintahan Bani Saljuk. Dilahirkan tahun 1059
Masehi/450 Hijriyah di Thusia, yang nama lengkapnya
ialah Abu Hamid bin Muhammad Al-Ghazali.
F. Metode Penelitian
1. Pendekatan Penelitian Kualitatif
a. Pendekatan Historis, yaitu pendekatan untuk mengkaji biografi Al-
Ghazali dalam karyanya, khususnya yang berkaitan dengan profil
seorang guru dan profil seorang murid.
b. Pendekatan Filosofis, yaitu pendekatan yang mengkaji pemikiran Al-
Ghazali secara kritis, evaluatif reflektif yang berkaitan dengan profil
seorang guru dan profil seorang murid serta. Sehingga meskipun terdapat
dua pembahasan, dengan pendekatan ini akan ditemukan benang
merahnya, yakni hubungan timbal balik diantara guru dan murid tersebut.
2. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka (library research), yaitu
penelitian yang obyek utamanya adalah buku-buku atau sumber kepustakaan
lain. Maksudnya, data dicari dan ditemukan melalui kajian pustaka dari buku-
buku yang relevan dengan pembahasan.


17
17
Kegiatan studi termasuk kategori penelitian kualitatif dengan prosedur
kegiatan dan teknik penyajian finalnya secara deskriptif.
18
Maksudnya,
penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran utuh dan jelas tentang
profil seorang guru profil seorang murid menurut Al-Ghazali.
3. Sumber dan Jenis Data
Yang dimaksud sumber data adalah subjek dimana data itu diperoleh,
dalam hal ini dibedakan menjadi dua jenis sumber data, yaitu;
1). Sumber Data Primer, yaitu berupa buku karya Imam Al-Ghazali yaitu:
“Ihya’ Ulumuddin” jilid pertama.
2). Sumber Data Sekunder, yaitu buku-buku karya lain yang ditulis oleh Imam
Al-Ghazali yang mendukung dari data primer yang disebutkan diatas.
Diantaranya adalah Ringkasan Ihya’ Ulumuddin, Menghidupkan Kembali
Ilmu-ilmu Agama, Fatihatul Ulum (Buat Pecinta Ilmu), Jalan Mudah
Menggapai Hidayah; 40 prinsip agama, Menuju Labuhan Akhirat.
3). Sumber Data Penunjang, yaitu buku-buku selain pada data primer dan
sekunder karya pengarang lainnya (selain Imam al-Ghazali) yang tentunya
masih relevan dengan pokok permasalahan yang menjadi kaitan dalam
skripsi ini, yaitu seperti. Menjadi Guru Profesional, Guru dan Anak Didik
Dalam Interaksi Edukatif, Perspektif Islam Tentang Pola Hubungan Guru
dan Murid, Filsafat Islam, Asas-Asas Pendidikan Islam, Ilmu Pendidikan

18
Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2002), Cet.
XIX, hlm. 6.


18
18
dalam Perspektif Islam, Dasar-Dasar Kependidikan Islam, Manusia dan
Pendidikan dan lain sebagainya.
4. Metode Pengumpulan Data
Sumber data baik data primer maupun sekunder diperoleh melalui
penelitian pustaka (library research) yaitu dengan menelusuri buku-buku atau
tulisan-tulisan tentang Al-Ghazali. serta buku-buku lain yang mendukung
pendalaman dan ketajaman analisis.
5. Metode Analisis Data
Analisis data merupakan bagian yang terpenting dalam metode ilmiah,
karena dengan analisislah data tersebut dapat berguna dalam memecahkan
masalah penelitian. Analisis data kualitatif yang digunakan dalam skripsi ini
berupa kata-kata bukan berupa angka-angka yang disusun dalam tema yang
luas.
Dalam menganalisis data setelah terkumpul penulis menggunakan
metode Content Analisys, yaitu analisis yang dilakukan langsung terhadap
satuan-satuan isi pada setiap data yang diperoleh atau digunakan,
19
untuk
kemudian dipaparkan secara Diskriptif yaitu

mendiskripsikan segala hal yang
berkaitan dengan pokok pembicaraan secara sistematis, faktual dan akurat
mengenai faktor-faktor sifat-sifat serta hubungan dua fenomena yang

19
Mestika Zed. Metode Penelitian Kepustakaan. (Jakarta: Obor Indonesia, 2008); hlm. 31.


19
19
diselidiki. Dari sinilah akhirnya diambil sebuah kesimpulan umum yang
semula berasal dari data-data yang ada tentang obyek permasalahannya.
20

G. Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan yaitu rangkaian pembahasan yang tercakup dalam isi
skripsi, dimana yang satu dengan yang lain saling berkaitan sebagai satu kesatuan
yang utuh, yang merupakan urutan-uruatan tiap bab.
Agar memperoleh gambaran yang lebih jelas dan menyeluruh mengenai
pembahasan ini. Secara global akan penulis perinci dalam sistematika
pembahasan ini sebagai berikut:
Bab pertama, Pendahuluan, yaitu sebagai gambaran umum mengenai seluruh
isi skripsi yang dijabarkan dalam berbagai sub bab yaitu; latar belakang masalah,
tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi istilah, metode penelitian dan
sistematika pembahasan.
Pada bab dua akan memuat biografi Imam al-Ghazali, karya-karyanya dan
pemikiran Imam al-Ghazali tentang profil seorang guru.
Selanjutnya pada bab tiga akan memuat pemikiran atau pandangan Imam al-
Ghazali tentang profil seorang murid .
Kemudian masuk pembahasan inti yaitu bab empat, membahas tentang
bagaimana hubungan timbal balik antara seorang guru dan murid menurut Imam
al-Ghazali, dan memuat pula tujuan pendidikan dalam perspektif beliau, yang

20
Sutrisno Hadi, Metodologi Research, (Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM,
1987), hlm. 36-42.


20
20
pada prosesnya pendidikan tersebut adalah merupakan interaksi antara pendidik
(guru) dan anak didik (murid).
Akhirnya pembahasan seluruh skripsi ini ditutup dengan kesimpulan dan
saran-saran oleh penulis sendiri dalam bab lima.




















21
21
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Beberapa Studi Tentang Pemikiran Imam al-Ghazali
Studi tentang pemikiran Imam al-Ghazali telah banyak dilakukan oleh
berbagai kalangan. Hal ini membuktikan bahwa Imam al-Ghazali (khususnya di
kalangan umat Islam) sangat berpengaruh, dicintai dan bahkan diagung-
agungkan, pada satu sisi.
Namun demikian, pada sisi lain, Imam al-Ghazali dituding sebagai salah satu
dari keterpurukan umat Islam saat itu. Sebab, menurut M. Zainuddin, sufisme
yang didengung-dengungkan oleh Imam al-Ghazali, dituduh sebagai penghambat
kemajuan zaman sehingga tidak mengherankan kalau kemudian beliau harus
bertanggung jawab atas ketertinggalan dan kemunduran umat Islam.
21

Berkaitan dengan itu, terdapat beberapa literatur hasil penelitian yang dapat
dikemukakan di sini, antara lain: Visiting Post Doctorate Program Abuddin Nata
yang sudah dibukukan dengan judul Perspektif Islam tentang Pola Hubungan
Guru-Murid: Studi Pemikiran Tasawuf al-Ghazali. Karya ini membahas tentang
pola hubungan guru-murid yang bernuansa moral-sufistik. Bahwa pola hubungan
guru-murid menurut al-Ghazali adalah pola hubungan yang bersifat kemitraan

21
M. Zainuddin, Karomah Syaikh Abdul Qadir al-Jailani (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2004), hlm.
2-3.
21


22
22
yang didasarkan pada nilai-nilai demokratis, keterbukaan, kemanusiaan dan saling
pengertian.
22

Siti Fatchurohmah dalam skripsinya berjudul: Sosok Guru menurut al-Ghazali
dan Zakiah Daradjat melihat bahwa seorang guru itu harus bertanggungjawab
dalam hal pendidikan dan pengajaran. Di samping itu, guru juga bertugas untuk
menyempurnakan, mensucikan, dan menjernihkan hati serta membimbing anak
didiknya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Guru tidak boleh meminta
imbalan dalam arti bahwa motifasi yang harus dipegang adalah semata-mata
karena Allah.
23

Sedangkan Rusdianto dalam skripsinya berjudul: Pendekatan Dalam Proses
Belajar Perspektif Imam al-Ghazali (Kajian Kitab Ayyuhā al-Walad fī Nasīhati al-
Muta‘allimīn wa Maw‘izatihim Liya’lamū wa Yumayyizū ‘Ilman Nāfi‘an min
Gayrihi) memandang bahwa pendekatan dalam proses belajar adalah pendekatan
yang penuh dengan nuansa teosentris.
Hal ini dibuktikan dengan pandangannya (yang mengutip dari al-Ghazali)
tentang belajar yang bernilai adalah apabila diniatkan untuk beribadah kepada
Allah, dan motivasi dalam belajar harus demi menghidupkan syari’at Nabi dan
menundukkan hawa nafsu. Kemudian, siswa juga harus memperhatikan kesucian
jiwanya, dan karena itu, ia harus menelaah ilmu agama dan ilmu tauhid, perkataan

22
Abuddin Nata, Perspektif Islam tentang Pola Hubungan Guru-Murid: Studi Pemikiran Tasawuf Al-
GhazaliI (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001), hlm. 3.
23
Siti Fatchurohmah, “Sosok Guru Menurut al-Ghazali dan Zakiah Daradjat”, Skripsi, Fakultas
Tarbiyah UIN Malang, 2006, hlm. 131.


23
23
dan perbuatannya harus sama dengan syara’, lebih memilih fakir dan menjauhi
kehidupan dunia, ikhlas, tawakkal, dan tidak meninggalkan shalat tahajjud.
Siswa juga harus memilih guru yang memiliki akhlak yang baik, bersikap
patuh dan tunduk terhadap guru dalam segala hal, tidak boleh berdebat, tidak
boleh menjadi juru mau’izah, tidak bergaul dengan kalangan eksekutif, serta
berbuat baik terhadap Allah dan sesama manusia. Di samping itu, siswa juga
harus mengamalkan ilmu yang diperolehnya sebab ilmu tanpa diamalkan adalah
kegilaan dan beramal yang tidak didasari oleh ilmu pengetahuan adalah sia-sia.
24

Sementara Syarkowi mengkaji arah sistem pendidikan Islam dalam perspektif
al-Ghazali dalam konteks saat ini. Dalam skripsinya Reorientasi Pendidikan
Islam (ke Arah Aktualisasi Pemikiran Pendidikan al-Ghazali dalam Konteks
Pendidikan Masa Kini), ia mengatakan (menjelaskan) bahwa sistem pendidikan
Islam dalam konteks masa kini harus diarahkan pada pencarian fomat baru
menuju sistem ideal pendidikan Islam. Yaitu dengan menggunakan nilai-nilai
Islam sebagai sudut pandang secara menyeluruh: kebahagiaan dunia akhirat.
25

Menurut hemat penulis, beberapa karya di atas saling mendukung satu sama
lain, sehingga penulis ingin menghimpun sekaligus melengkapinya sehingga
menjadi sebuah konsep yang jelas dan lengkap perihal pendidikan bagi anak didik
khususnya dalam menuntut ilmu atau belajar. Untuk itu, peneliti mencoba

24
Rusdianto, Pendekatan Dalam Proses Belajar Perspektif Imam al-Ghazali (Kajian Kitab Ayyuhā al-
Walad fī Nasīhati al-Muta‘allimīn wa Maw‘izatihim Liya’lamū wa Yumayyizū ‘Ilman Nāfi‘an min
Gayrihi)”, Skripsi, Fakultas Tarbiyah UIN Malang, 2006, hlm. 120.
25
Syarkowi, Reorientasi Pendidikan Islam (ke Arah Aktualisasi Pemikiran Pendidikan al-Ghazali
dalam Konteks Masa Kini)”, Skripsi, Fakultas Tarbiyah UIN Malang, 2005, hlm. 154.


24
24
melakukan penelitian tentang konsep pendidikan dalam perspektif al-Ghazali.
khususnya yang terdapat dalam kitab-kitab karyanya seperti Ihya’ Ulumuddin
(jilid 1), dan beberapa kitab (buku) lain yang berkenaan dengannya . Dan karena
itu, topik penelitian dalam skripsi ini mempunyai kerangka dan bingkai tersendiri
yang memiliki perbedaan dengan kajian yang sebelumnya. Pada penelitian ini
dipaparkan tentang konsep pendidikan dalam perspektif al-Ghazali mulai dari
hakikat ilmu serta arti pentingnya ilmu yang bermanfaat dan tidak bermanfaat
(fardhu ‘ain dan fardhu kifayah), adab pelajar, adap pendidik, cara mendidik
dalam Islam. Selain itu juga akan dipaparkan beberapa faktor yang mempengaruhi
dalam proses belajar.
B. Pengertian Pendidik
Dari segi bahasa, makna pendidik, sebagaimana dijelaskan oleh WJS.
Poerwadarmita adalah orang yang mendidik.
26
Pengertian ini terlihat jelas
memberi kesan bahwa guru adalah orang yang melakukan kegiatan dengan
memberi atau mengajarkan sesuatu (ilmu pengetahuan) kepada obyek didik
(murid) dalam bidang pendidikan. Dalam bahasa Inggris dijumpai pula beberapa
kata yang berdekatan artinya dengan guru. Kata tersebut seperti teacher yang
diterjemahkan sebagai pendidik atau pengajar dan tutor yang berarti guru pribadi
atau guru yang mengajar dirumah.
27
Selanjutnya dalam bahasa Arab, sebagaimana
yang dijelaskan juga oleh Abuddin Nata, juga ditemui kata ustadz, mudarris,

26
WJS. Poerwadarmita, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1991), hlm. 250.
27
John M. Echols dan Hasan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia, (Jakarta: Gramedia, 1980), hlm. 560-
608


25
25
mu’allim dan mu’addib. Kata ustadz jamaknya asatidz yang berarti teacher
(guru), professor dalam gelar akademik, jenjang di bidang intelektual, pelatih,
penulis dan penyair. Adapun kata mudarris berarti teacher (guru), instructor
(pelatih) dan lecturer (dosen). Kemudian kata mu’allim yang juga berarti teacher
(guru), pengajar ilmu. Dan kata mu’addib yang berarti pembina adab (akhlak),
trainer (pemandu) dan educator in koranic school (guru dalam lembaga
pendidikan al-Qur’an).
28

Dalam pengertian yang sederhana, guru adalah orang yang memberikan ilmu
pengetahuan kepada anak didik. Guru dalam pandangan masyarakat adalah orang
yang melaksanakan pendidikan di tempat-tempat tertentu, tidak mesti di lembaga
pendidikan formal, tapi bisa juga di masjid, surau atau mushala, di rumah dan
sebagainya.
29

Menurut Hadari Nawawi, guru adalah orang yang kerjanya mengajar atau
memberikan pelajaran di sekolah atau di kelas. Secara lebih khusus lagi, ia
mengatakan bahwa guru berarti orang yang bekerja dalam bidang pendidikan dan
pengajaran yang ikut bertanggung jawab dalam membantu anak-anak mencapai
kedewasaan masing-masing.
30

Beberapa kata tersebut di atas secara keseluruhan terhimpun dalam pengertian
pendidik (guru), karena seluruh kata tersebut mengacu kepada seseorang yang

28
Dr. H. Abuddin Nata, M.A. Filsafat Pendidikan Islam. (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm.
61.
29
Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta: Rineka Cipta),
1999, hlm. 31.
30
Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, op.cit., hlm. 62.


26
26
memberikan ilmu pengetahuan, keterampilan ataupun pengalaman kepada orang
lain (obyek didik). Kata-kata yang bervariasi tersebut sekaligus menunjukkan
adanya perbedaan ruang gerak dan lingkungan di mana ilmu pengetahuan,
keterampilan dan semacamnya diberikan. Jika ilmu pengetahuan dan
keterampilan tersebut diberikan di sekolah disebut teacher, di perguruan tinggi
disebut lecturer atau professor, dirumah-rumah secara privat (pribadi) disebut
tutor, di pusat-pusat latihan instructor atau trainer dan di lembaga-lembaga
pendidikan yang mengajarkan agama disebut eductor.
Adapun pengertian guru (pendidik) menurut istilah yang lazim digunakan di
masyarakat telah dikemukakan oleh para ahli pendidikan. Ahmad Tafsir misalnya,
mengatakan bahwa pendidik dalam Islam, sama dengan teori di barat, yaitu siapa
saja yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak didik. Namun beliau
selanjutnya menegaskan bahwa dalam Islam, orang yang pertama paling
bertanggung jawab tersebut adalah orang tua (ayah-ibu) anak didik sendiri.
Tanggung jawab itu disebabkan sekurangnya oleh dua hal: pertama karena kodrat,
yakni karena orang tua ditakdirkan bertanggung jawab secara langsung mendidik
anak-anaknya, kedua karena kepentingan kedua orang tua, yaitu orang tua
berkepentingan terhadap kemajuan perkembangan anaknya, sukses anaknya
tersebut adalah juga merupakan keberhasilan orang tua.
31
Dari penjelasan tersebut

31
Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1984), hlm.
74


27
27
berarti guru (pendidik) menempati posisi kedua setelah orang tua sebagai orang
yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak didik.
Dengan demikian , dapat disimpulkan bahwa guru adalah semua orang yang
berwenang dan bertanggung jawab untuk membimbing dan membina anak didik,
baik secara individual maupun klasikal (kelompok-grup), disekolah maupun
diluar sekolah.
C. Pengertian Anak Didik
Dilihat dari segi kedudukannya, murid (anak didik) adalah makhluk yang
sedang berada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan menurut fitrahnya
masing-masing. Mereka memerlukan bimbingan dan pengarahan yang konsisten
menuju kearah titik optimal kemampuan fitrahnya
32
.
Sebagai makhluk manusia, anak didik memiliki karakteristik. Menurut Sutari
Iman Barnadib, Suwarno, dan Siti Mechati, anak didik memiliki karakteristik
tertentu, yaitu:
1. Belum memiliki pribadi dewasa susila sehingga masih menjadi tanggung
jawab pendidik (guru); atau
2. Masih menyempurnakan aspek tertentu dari kedewasaannya, sehingga masih
menjadi tanggung jawab pendidik.
3. Memiliki sifat-sifat dasar manusia yang sedang berkembang secara terpadu,
yaitu kebutuhan biologis, rohani, social, intelegensi, emosi, kemampuan
berbicara, anggota tubuh untuk bekerja (kaki, tangan, jari), latar belakang

32
H. M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), hlm. 144.


28
28
sosial, latar belakang biologis (warna kulit, bentuk tubuh dan lainnya), serta
perbedaan individual.
33

Dalam bahasa Arab dikenal istilah yang sering digunakan untuk menunjukkan
pada anak didik kita. Tiga istilah tersebut adalah murid yang secara harfiah berarti
orang yang menginginkan atau membutuhkan sesuatu; tilmidz (jamaknya)
talamidz yang berarti murid itu sendiri, dan thalib al-‘ilm yang menuntut ilmu,
pelajar ataupun mahasiswa
34
ketiga istilah tersebut seluruhnya mengacu kepada
seseorang yang tengah menempuh pendidikan. Perbedaannya hanya terletak pada
penggunaannya. Pada sekolah yang tingkatannya rendah seperti Sekolah Dasar
(SD) digunakan istilah murid dan tilmidz, sedangakan pada sekolah yang
tingkatannya lebih tinggi seperti SLTP, SLTA dan perguruan tinggi digunakan
istilah thalib al-‘alm.
Berdasarkan pengertian di atas, maka murid (anak didik) dapat dicirikan
sebagai orang yang tengah memerlukan pengetahuan atau ilmu, bimbingan dan
pengarahan. Dalam pandangan Islam sendiri, hakikat ilmu berasal dari Allah Swt,
sedangkan proses untuk memperolehnya dilakukan melalui belajar kepada guru
(pendidik). Karena ilmu itu dari Allah, maka membawa konsekuensi perlunya
seorang anak didik untuk mendekatkan dirinya kepada Allah Swt dengan
beribadah, serta juga menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia, yang baik dan
disenangi oleh Allah Swt, sekaligus tentunya sedapat mungkin berusaha keras

33
Drs. Syaiful Bahri Djamarah, M.Ag. 2005. Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif: suatu
pendekatan teoritis psikologis. (Jakarta: Rineka Cipta), hlm. 52.
34
Dr. H. Abuddin Nata, M.A. op. cit., hlm.79


29
29
untuk menjauhi perbuatan buruk dan segala sesuatu yang dilarang (tidak di sukai)
oleh Allah Swt. Dalam hal ini muncullah aturan normative tentang perlunya
kesucian jiwa bagi seseorang yang akan atau sedang menuntut ilmu, sebab ia
sedang mengharapkan ilmu pengetahuan yang merupakan anugrah Allah Swt. Hal
ini pulalah yang ditegaskan oleh Imam al-Ghazali yang akan dibahas lebih lanjut
oleh penulis dalam pembahasan tentang profil murid dalam karya ilmiah skripsi
ini.
D. Hubungan Antara Guru dan Murid
Proses pendidikan pada dasarnya adalah merupakan interaksi antara pendidik
(guru) dan anak didik (murid) untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan yang
telah ditetapkan
35
. Dalam konteks umum tujuan pendidikan tersebut antara lain
mentrasmisikan ilmu dan pengalaman dari suatu generasi ke generasi berikutnya.
Pendidikan menekankan pengalaman dari seluruh masyarakat, bukan hanya
pengalaman pribadi perorangan. Pengalaman masyarakat tersebut dapat berupa
cerita rakyat, tradisi, adat-istiadat, syair ataupun dalam bentuk lainnya. Defenisi
ini sejalan dengan pendapat John Dewey yang mengatakan bahwa pendidikan
merupakan organisasi pengalaman hidup, pembentukan kembali pengalaman
hidup dan juga pembahasan pengalaman hidup itu sendiri
36
. Sedangkan dalam
konteks Islam, pendidikan dapat diartikan sebagai proses penyiapan generasi
muda untuk mengisi peranan yang akan ditinggalkan generasi tua, memindahkan

35
Prof. Dr. Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum, Teori dan Praktek, (bandung:
remaja rosdakarya, 1997), hlm. 191.
36
Ibid, hlm. 41.


30
30
pengetahuan dan nilai-nilai ajaran agama yang diselaraskan dengan fungsi
manusia untuk beramal di dunia dan menuai hasilnya kelak di akhirat
37
. Dalam
redaksi yang lebih lengkap tujuan pendidikan Islam merupakan program
bimbingan (pimpinan, tuntutan, usulan) oleh subyek didik terhadap
perkembangan jiwa (pikiran, perasaan, intuisi dan sebagainya) dan raga obyek
didik dengan bahan-bahan materi tertentu, pada jangka waktu tertentu, dengan
metode tertentu dan dengan alat perlengkapan yang ada kearah terciptanya pribadi
tertentu disertai evaluasi yang sesuai dengan ajaran Islam itu sendiri
38
.
Dari semua pengertian pendidikan dan tujuannya sebagaimana disebutkan
diatas, terlihat adanya subyek didik (guru) yang memberikan bimbingan, arahan
dan ajaran tersebut. Guru berfungsi sebagai fasilitator dan penunjuk jalan kearah
penggalian potensi anak didik (murid), dan murid sebagai obyek yang diarahkan
dan digali potensi yang dimilikinya. Lebih lanjut menurut konsep pendidikan
klasik, guru atau pendidik adalah ahli dalam bidang ilmu pengetahuan dan juga
sebagai contoh atau model nyata dan pribadi yang ideal. Sedangkan murid
posisinya sebagai penerima bimbingan, arahan dan ajaran yang disampaikan oleh
guru.
Dengan penjelasan tersebut terlihat jelas bahwa dalam proses pendidikan
intinya harus ada tiga unsur, yaitu pendidik (guru), anak didik (murid) dan tujuan
pendidikan. Ketiga hal tersebut membentuk suatu triangle, yang apabila hilang

37
Hasan Langgulung, Beberapa Pemikiran Tentang Pendidikan Islam, (Bandung: Al-Ma’araif, 1980),
hlm. 944.
38
Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Al-Ma’arif, 1980), hlm. 23.


31
31
salah satu komponennya, hilang pulalah hakikat dari pendidikan Islam tersebut.
Sehingga ketiganyalah (terutama guru dan murid) yang mempunyai peranan
penting sekaligus juga kunci dalam kegiatan pendidikan. Meskipun tanpa kelas,
gedung serta peralatan khusus dan sebagainya, proses pendidikan masih tetap
dapat berjalan walau dalam keadaan darurat (kritis) sekalipun. Namun tanpa guru
dan murid, proses pendidikan hampir pasti tidak mungkin dapat berjalan.
Persoalan selanjutnya bagaimanakah agar proses pendidikan yang ada pada
intinya merupakan interaksi antara guru dan murid tersebut dapat berjalan dengan
baik dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan sejak awal. Untuk menjawab
masalah ini menurut hemat penulis adalah terletak pada kegiatan belajar mengajar
yang dilakukan oleh keduanya, yakni guru dan murid tersebut.
Belajar mengajar sendiri adalah sebuah interaksi yang bernilai normatif.
Belajar mengajar adalah sesuatu proses dalam pendidikan yang dilakukan dengan
sadar dan bertujuan. Tujuan adalah sebagai pedoman kearah mana pendidikan
akan dibawa melalui proses belajar mengajar. Proses belajar mengajar akan
disebut sukses bilamana hasilnya mampu membawa perubahan dalam
pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai-sikap, khususnya dalam diri
anak didik (murid)
39
.
Interaksi belajar mengajar dikatakan bernilai normatif karena didalamnya
terdapat sejumlah nilai-nilai. Jadi, adalah wajar apabila interaksi itu kemudian

39
Drs. Syaiful Bahri Djamarah, M.Ag, Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta:
Rineka Cipta, 2005), hlm. 12.


32
32
dianggap bernilai edukatif. Bagaimana sikap dan tingkah laku guru yang
edukatif?, tentu guru yang dengan sadar berusaha sebaik mungkin untuk berupaya
mengubah akhlak, sikap, adab perilaku dan perbuatan anak didik menjadi lebih
baik, bermoral, beretika dan bersusila, serta membawa anak didiknya menjadi
lebih dekat kepada sang pencipta, yaitu Allah SWT. Inilah yang juga
dimaksudkan oleh Imam al-Ghazali sebagaimana yang telah dijelaskan pada
pembahasan sebelumnya tentang profil seorang pendidik (guru).
Pada akhirnya dalam interaksi edukatif tersebut, unsur guru dan murid
haruslah aktif, tidak akan terjadi dengan baik proses interaksi edukatif bila hanya
salah satu dari kedua unsur itu yang aktif. Aktif dalam arti sikap, mental, adab
perbuatan keduanya. Malah dalam sistem pengajaran dengan pendekatan
keterampilan proses yang diterapkan saat sekarang ini, anak didik (murid)
diharuskan lebih aktif dari pada guru. Guru hanya bertindak sebagai pembimbing
dan fasilitator. Dengan demikian hubungan guru dan murid dalam interaksi
kegiatan belajar mengajar yang dimaksudkan penulis disini dapatlah mencapai
tujuan dari pendidikan itu sendiri dengan baik dan benar, tentunya juga sesuai
serta sejalan dengan ajaran (syari’at) agama Islam.
E. Dasar Dan Tujuan Pendidikan Islam
Sebagai aktivitas yang bergerak dalam proses pembinaan kepribadian muslim,
maka pendidikan Islam memerlukan asas atau dasar yang dijadikan landasan
awal. Dengan dasar ini akan memberikan arah bagi pelaksanaan pendidikan yang
telah diprogramkan. Dalam konteks ini, dasar yang menjadi acuan pendidikan


33
33
Islam hendaknya merupakan sumber nilai kebenaran dan kekuatan yang dapat
mengantarkan peserta didik ke arah pencapaian pendidikan. Oleh karena itu, dasar
yang terpenting dari pendidikan Islam adalah al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah
Saw (hadits).
40

Menetapkan al-Qur’an dan hadits sebagai dasar pendidikan Islam bukan
hanya dipandang sebagai kebenaran yang didasarkan pada keimanan semata.
Namun justru karena kebenaran yang terdapat dalam kedua dasar tersebut dapat
diterima oleh nalar manusia dan dapat dibuktikan dalam sejarah atau pengalaman
kemanusiaan. Sebagai pedoman, al-Qur’an tidak ada keraguan padanya (Q.S. Al-
Baqarah/2:2). Ia tetap terpelihara kesucian dan kebenarannya (Q.S. Ar-
Ra’d/15:9), baik dalam pembinaan aspek kehidupan spiritual maupun aspek sosial
budaya dan pendidikan. Demikian pula dengan kebenaran hadits sebagai dasar
kedua bagi pendidikan islam. Secara umum, hadits difahami sebagai segala
sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Saw, baik berupa perkataan, perbuatan
serta ketetapannya. Kepribadian rasul sebagai uswat al-hasanah yaitu sebagai
contoh suru tauladan yang baik (Q.S. Al-Ahzab/33:21). Oleh karena itu,
perilakunya senantiasa terpelihara dan dikontrol oleh Allah Swt (Q.S. An-
Najm/53:34).
41

Dalam pendidikan Islam, sunnah Rasul mempunyai dua fungsi, yaitu:
pertama, menjelaskan sistem pendidikan Islam yang terdapat dalam al-Qur’an

40
Dr. H. Samsul Nizar, M.A. Filsafat Pendidikan Islam, Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis,
(Jakarta:Ciputat Press, 2002), hlm. 34
41
Ibid., hlm. 35


34
34
dan menjelaskan hal-hal yang tidak terdapat didalamnya. Kedua, menyimpulkan
metode pendidikan Islam dari kehidupan Rasulullah bersama sahabat,
perlakuannya terhadap anak-anak, serta pendidikan keimanan yang pernah
dilakukan oleh beliau.
42

Secara lebih luas, dasar pendidikan Islam menurut Sa’id Ismail Ali –
sebagiamana juga dikutip Langgulung dan Samsul Nizar- terdiri atas enam
macam, yaitu; al-Qur’an, sunnah, qaul al-shahabat, masalih al-mursalah, ‘urf,
dan pemikiran hasil ijtihad para intelektual muslim.
43
Seluruh rangkaian dasar
tersebut secara hierarki menjadi acuan pelaksanaan sistem pendidikan Islam.
Dalam merumuskan tujuan pendidikan Islam, paling tidak ada beberapa hal
yang perlu diperhatikan, yaitu;
1. Tujuan dan tugas manusia di muka bumi, baik secara vertikal maupun
horizontal.
2. Sifat-sifat dasar manusia
3. Tuntutan masyarakat dan dinamika peradaban kemanusiaan
4. Dimensi-dimensi kehidupan ideal islam. Dalam aspek ini, setidaknya ada tiga
macam dimensi ideal islam, yaitu;
a. Mengandung nilai yang berupaya meningkatkan kesejahteraan hidup
manusia di muka bumi.

42
Abdurrahman An-Nahlawi, Prinsip-Prinsip Dan Metode Pendidikan Islam, (Bandung: CV.
Diponegoro, 1992), hlm. 47
43
Dr. H. Samsul Nizar, M.A. Op.cit., hlm. 36


35
35
b. Mengandung nilai yang mendorong manusia berusaha keras untuk meraih
kehidupan yang baik.
c. Mengandung nilai yang dapat memadukan antara kepentingan kehidupan
dunia dan akhirat (fi al-dunya hasanah wa fi al-akhirat al-hasanah).
44

Berdasarkan batasan di atas, para ahli pendidikan (muslim) mencoba
merumuskan tujuan pendidikan Islam. Diantaranya al-Syaibani, mengemukakan
bahwa tujuan tertinggi pendidikan Islam adalah mempersiapkan kehidupan dunia
dan akhirat.
45
Sementara tujuan akhir yang akan dicapai adalah mengembangkan
fitrah anak didik, baik ruh, fisik, kemauan dan akalnya secara dinamis, sehingga
akan terbentuk pribadi yang utuh, serta juga mendukung bagi pelaksanaan
fungsinya sebagai kahlifah fi al-ardh.
46
Pendekatan tujuan ini memiliki makna,
bahwa upaya pendidikan islam adalah pembinaan pribadi muslim sejati yang
mengabdi dan merealisasikan “kehendak” Tuhan sesuai dengan syariat Islam,
serta mengisi tugas kehidupannya di dunia dan menjadikan kehidupan akhirat
sebagai tujuan utama pendidikannya.
Menurut Muhammad Fadhil al-Jamaly –sebagaimana juga yang dikutip
Samsul Nizar-, tujuan pendidikan Islam berdasarkan al-Qur’an meliputi;
1. Menjelaskan posisi peserta didik sebagai manusia di antara makhluk Allah
lainnya dan tangungjawabnya dalam kehidupan ini.

44
M. Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bina Aksara, 1987), hlm. 120.
45
Omar Muhammad Al-Thoumy Syaibani, Falsafah Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang,
1979), hlm. 410
46
Hasan Langgulung. Manusia dan Pendidikan; Suatu Analisa Psikologi dan Pendidikan, (Jakarta:
Pustaka Al-Husna, 1989), hlm. 67


36
36
2. Menjelaskan hubungannya sebagai makhluk sosial dan tanggungjawabnya
dalam tatanan kehidupan bermasyarakat.
3. Menjelaskan hubungan manusia dengan alam dan tugasnya untuk mengetahui
hikmah penciptaan dengan cara memakmurkan alam semesta.
4. Menjelaskan hubungannya dengan Khaliq sebagai pencipta alam semesta.
47

Konsepsi di atas secara global mengisyaratkan bahwa ada dua kematian yang
perlu direlisasikan dalam praktek pendidikan Islam, yaitu dimesti dialektika
dalam praktek pendidikan Islam, yaitu dimesti dialektika horizontal dan dimesti
ketundukan vertikal. Pada dimesti dialetika horizontal, pendidikan Islam
hendaknya mampu mengembangkan realitas kehidupan, baik yang menyangkut
dengan dirinya, masyarakat, mampu alam semesta beserta segala isinya.
Sementara dalam dimesti ketundukan vertikal mengisyaratkan bahwa, pendidikan
Islam selain sebagai alat untuk memelihara, memanfaaatkan, dan melestarikan
sumber daya alami, juga hendaknya menjadi jembatan untuuk memahami
fenomena dan misteri kehidupan dalam upayanya mencapai fenomina dan misteri
kehidupan dalam upayanya mencapai hubungan yang abadi dengan Khaliqnya.
Secara praktis, Mohammmad Athiyah al-Abrasyi, menyimpulkan bahwa
tujuan pendidikan Islam terdiri atas 5 sasaran, yaitu:
1. Membentuk akhlak mulia
2. Mempersiapkan kehidupan dunia dan akhirat
3. Persiapan untuk mencari rizki dan memelihara segi kemanfaatannya

47
Dr. H. Samsul Nizar, M.A.. Ibid., hlm. 37.


37
37
4. Menumbuhkan semangat ilmiah di kalangan peserta didik
5. Mempersiapkan tenaga profesional yang trampil.
48

Kongres se-Dunia ke II tentang Pendidikan Islam tahun 1980 di Islamabad,
menyatakan bahwa :
Tujuan pendidikan Islam adalah untuk mencapai keseimbangan pertumbuhan
manusia (peserta didik pen.) secara menyeluruh dan seimbang yang
dilakukan melalui latihan jiwa, akal pikiran (intelektual), diri manusia yang
rasional; perasaan dan indera. Karenan itu, pendidikan hendaknya mencakup
pengembangan seluruh aspek fitrah peserta didik; aspek spiritual, intelektual,
imajinasi, fisik, ilmiah, dan bahasa,baik secara individual maupun kolektif;
dan mendorong semua aspek tersebut berkembang ke arah kebaikan dan
kesempurnaan. Tujuan terakhir pendidikan muslim terletak pada perwujudan
ketundukan yang sempurna kepada Allah Swt, baik secara pribadi, komunitas,
maupun seluruh umat manusia.
49


Berdasarkan rumusan di atas, maka dapat difahami bahwa pendidikan Islam
merupakan proses bimbingan dan membina fitrah anak didik secara maksimal dan
bermuara pada terciptanya pribadi anak didik sebagai muslim paripurna (insan al-
kamil). Melalui sosok pribadi yang demikian, anak didik diharapkan mampu
memadukan fungsi iman, ilmu dan amal (Q.S. Al-Mujadallah/58:11) secara
integral bagi terbinanya kehidupan yang harmonis, baik di dunia maupun di
akhirat.




48
Muhammmad Athiyah al-Abrasyi. Dasar-Dasar Pokok Pendidikan, Terj. Bustami A. Gain dan
Djohar Bahry, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), hlm. 1-4
49
Dr. H. Samsul Nizar, M.A.. Ibid., hlm. 38.


38
38
BAB III
PEMAPARAN HASIL PENELITIAN

B. Biografi Imam al-Ghazali
1. Riwayat Hidup Imam al-Ghazali
Nama lengkap al-Ghazali adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad
al-Ghazali. Sebutan al-Ghazali bukan merupakan nama asli. Zainal Abidin
Ahmad mengungkapkan bahwa sejak kecil, beliau memiliki nama Muhammad
bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad. Kemudian sesudah ia berumah
tangga dan memiliki putra bernama Hamid, maka dia dipanggil Abu Hamid.
50

Beliau terkenal dengan sebutan Hujjatu al-Islām atau argumentator Islam.
Ada dua macam penulisan mengenai nama sebutan al-Ghazali. Pertama
sebutan itu ditulis dengan satu huruf “z” yaitu al-Ghazali. Sedangkan yang
kedua ditulis dengan dua huruf “z” atau dengan tasydid yaitu al-Ghazzali.
Tantang hal ini Ali al-Jumbulati Abdul Futuh at-Tuwaanisi berpendapat bahwa
sebutan al-Ghazzali (dengan dua huruf “z”) dinisbatkan atau dikaitkan kepada
pekerjaan ayahnya sebagai pemintal wool.
51

Abu Sa’ied Sam’an, sebagaimana dikutip oleh Zainal Abidin mengatakan
bahwa sebutan al-Ghazali (dengan satu huruf “z”) berasal dari nama desa
tempat lahirnya yaitu Gazalah. Adapun sebutan al-Ghazzali berasal dari

50
Zainal Abidin Ahmad, Riwayat Hidup Imam al-Ghazali (Surabaya: Bulan Bintang, 1975), hlm. 27.
51
Ali al-Jumbulati Abdul Futuh at-Tuwaanisi, Perbandingan Pendidikan Islam, terj., M. Arifin
(Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1994), hlm. 131.
38


39
39
pekerjaan yang dihadapinya dan dikerjakan oleh ayahnya, yaitu seorang
penenun dan penjual kain tenun yang dinamakan “Gazzal”.
52

Imam al-Ghazali dilahirkan di suatu kampung kecil Gazalah, kota Thus,
propinsi Khurasan, wilayah Persi (sekarang Iran) pada tahun 450 H. atau
bertepatan dengan tahun 1058 M. dari dua ibu bapak yang miskin melarat.
53

Ayahnya seorang pemintal wol yang hasilnya digunakan untuk mencukupi
kebutuhan hidupnya dan para fuqaha dan orang-orang yang membutuhkan
pertolongannya, dan juga seorang pengamal tasawuf yang hidup sederhana.
Dalam beberapa tulisan tidak ditemukan tentang tanggal dan bulan kelahiran
beliau.
Sungguhpun keluarga al-Ghazali hidup dalam kedaan serba kekurangan,
tetapi sang ayah memiliki semangat keilmuan dan cita-cita yang tinggi. Dalam
waktu-waktu senggangnya setelah selesai bekerja, ia selalu mengunjungi
fuqaha, pemberi nasihat, duduk bersamanya, sehingga apabila ia mendengar
nasihat para ulama tersebut ia terkadang menangis dan lebih rendah hati dan
selalu memohon kepada Allah agar dikaruniai anak yang pintar dan memiliki
ilmu yang luas seperti para ulama tersebut. Pada akhirnya Allah mengabulkan
do’a ayahnya dan dia dikaruniai dua putra yaitu Imam al-Ghazali dan yang
kedua adalah Ahmad yang populer sebagai juru dakwah.

52
Zainal Abidin, Op. Cit., hlm. 28.
53
Ibid., hlm. 29.


40
40
Kebahagiaan yang dialami sang ayah tidak berlangsung lama. Saat kedua
anaknya masih kecil, dia kemudian wafat. Pada saat menjelang wafat, ia
berwasiat agar Imam al-Ghazali dan saudaranya diserahkan kepada temannya
yang dikenal sebagai ahli tasawuf dan orang yang baik, sesuai dengan
harapannya agar al-Ghazali kelak menjadi seorang faqih dan ulama besar. Dia
berkata kepada sahabatnya: “Nasib saya sangat malangnya, karena tidak
mempunyai ilmu pengetahuan. Saya ingin supaya kemalangan saya dapat
ditebus oleh kedua anakku ini. Peliharalah mereka, dan pergunakanlah sampai
habis segala harta warisan yang aku tinggalkan untuk mengajar mereka.
54

Sahabat ayahnya segera melaksanakan wasiat yang diterima dari ayah
Imam al-Ghazali. Kedua anak tadi dididik sedemikian rupa sampai akhirnya
harta peninggalan bapaknya habis dan sahabat ayahnya tadi menganjurkan
Imam al-Ghazali dan adiknya untuk tinggal di asrama (tanpa biaya) saja agar
pendidikannya tetap berlangsung. Asrama yang dimaksud didirikan oleh
Perdana Menteri Nizamul Mulk di kota Thus.
Sampai dengan usia dua puluh tahun, Imam al-Ghazali tetap tinggal di
kota kelahirannya, Thus. Dia belajar ilmu fiqih secara mendalam dari al-
Razkani. Kecuali itu, dia belajar ilmu tasawuf dari Yusuf al-Nassaj, seorang sufi
yang terkenal waktu itu. Kedua ilmu itu sangat berkesan di hati Imam al-
Ghazali dan ia bertekad untuk lebih mendalami lagi di kota-kota lain.

54
Ibid., hlm. 30.


41
41
Selanjutnya ia pindah ke Jurjan pada tahun 479 H. namun tidak puas dengan
pelajaran yang diterimanya, akhirnya ia kembali ke Thus selama tiga tahun.
55

Selanjutnya pada tahun 471 H. ia pergi ke Naisabur dan Khurasan yang
pada waktu itu kedua kota tersebut dikenal sebagai pusat ilmu pengetahuan
yang terpenting dalam dunia Islam. Di kota Naisabur, tepatnya di Universitas
Nizamiyah, Imam al-Ghazali belajar dan berguru kepada Imam al-Haramain
Abi al-Ma’ali al-Juwainy, seorang ulama bermadzhab Syafi’i yang pada saat itu
menjadi guru besar di Naisabur.
56

Di antara mata pelajaran yang dipelajari al-Ghazali di kota tersebut adalah
teologi, hukum Islam, filsafat, logika, sufisme, dan ilmu-ilmu alam.
57
Sehingga
ia menjadi cerdas dan pandai mendebat segala sesuatu yang tidak sesuai dengan
penalaran yang jernih. Sehingga keahlian yang dimiliki oleh Imam al-Ghazali
diakui dapat mengimbangi keahlian guru yang sangat dihormati itu.
58
Dan
bahkan al-Juwainy memberi gelar Imam al-Ghazali dengan “lautan yang dalam
dan menenggelamkan”.
Dengan bekal kecerdasan dan ilmu yang mendalam yang dimiliki oleh
Imam al-Ghazali, lalu ia diangkat sebagai dosen di Universitas Nizamiyah
tersebut. Bahkan tidak jarang ia menggantikan gurunya pada waktu berhalangan
dalam mengajar.

55
Ibid., hlm. 31-32.
56
Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme dalam Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1978), hlm. 43.
57
Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), hlm. 159.
58
Zainal Abidin, Op. Cit., hlm. 33.


42
42
Karier Imam al-Ghazali tidak hanya berhenti di situ. Setelah Imam al-
Haromain wafat, oleh Perdana Menteri Nizamul Mulk di bawah pemerintahan
Khalifah Abbasiyah, untuk mengisi lowongan yang terbuka, ia diangkat untuk
menjadi rektor universitas Nizamiyah. Di mana pada waktu itu Imam al-Ghazali
baru berumur 28 (dua puluh delapan) tahun namun kecakapannya mampu
menarik perhatian seorang Perdana Menteri.
Begitu tertariknya seorang Perdana Menteri Nizamul Mulk sehingga ia
meminta Imam Ghazali untuk pindah ke tempat kediaman Perdana Menteri
(kota Mu’askar) dan pembesar-pembesar tinggi negara serta ulama-ulama besar
dari berbagai disiplin ilmu. Dia meminta Imam al-Ghazali untuk memberikan
kuliah dua kali seminggu di hadapan para pembesar dan para ahli, di samping
kedudukannya sebagai Penasehat Agung Perdana Menteri.
Kedekatan Imam al-Ghazali terhadap pemerintah pada waktu itu sangat
mempengaruhi terhadap berbagai kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah.
Pemerintahan Abbasiyah pada masa al-Ma’mun banyak dipengaruhi oleh aliran
Mu’tazilah serta filsafat Yunani, telah dapat dikembalikan oleh Imam al-
Ghazali kepada ajaran Islam yang murni. Di lapangan aqidah diajarkan faham
Asy’ari, sedangkan di lapangan akhlak diperkuatnya ilmu tasawuf.
59
Faham
Asy’ariyah diterima Imam al-Ghazali dari gurunya Imam al-Haramain. Bahkan
Imam al-Ghazali merupakan pemimpin Asy’ariyah yang menentukan bentuk
terakhir dari faham ini.

59
Ibid., hlm. 38.


43
43
Setelah sekitar lima tahun berada di kediaman Perdana Menteri, Mu’askar,
Imam al-Ghazali diminta pindah ke Baghdad untuk menjabat sebagai rektor
Universitas Nizamiyah yang menjadi pusat seluruh perguruan tinggi Nizamiyah.
Imam al-Ghazali diminta untuk menjabat sebagai rektor pada universitas
tersebut karena rektor sebelumnya meninggal dunia.
Semua tugas yang dibebankan kepada Imam al-Ghazali dapat
dilaksanakan dengan baik, sehingga ia memperoleh sukses besar. Bahkan
kesuksesannya dapat menaruh simpati para pembesar Dinasti Saljuk untuk
meminta nasihat dan pendapatnya baik dalam bidang agama, maupun
kenegaraan
Walau demikian besarnya nikmat dan sukses yang telah diraih Imam al-
Ghazali, namun kesemuanya itu tidak mampu mendatangkan ketenangan dan
kebahagiaan baginya. Bahkan selama periode Baghdad ia menderita
kegoncangan batin akibat sikap keragu-raguannya. Setelah empat tahun berada
di Baghdad, Imam al-Ghazali kemudian memutuskan untuk berhenti mengajar.
Beliau pergi menuju tanah Syam di Damaskus untuk menjalani hidup yang
penuh dengan ibadah, mengasingkan diri dari segala bentuk pertemuan dengan
manusia, meninggalkan segala bentuk kehidupan yang mewah untuk kemudian
menjalani masalah keruhanian dan penghayatan agama. Pada waktu ini dikenal
dengan masa skepticism dalam diri Imam al-Ghazali.
Demikianlah Imam al-Ghazali mempersiapkan dirinya dengan persiapan
agama yang benar dan mensucikan jiwanya dari noda-noda keduniaan, sehingga


44
44
beliau menjadi seorang filosof dan ahli tasawuf serta sebagai seorang
pemimipin yang besar di zamannya.
Kemudian, setelah menjalani khalwat, Imam al-Ghazali pulang ke
Baghdad dengan hati yang berbunga-bunga, senang, gembira, ibarat seorang
pahlawan yang meraih kemenangan dalam sebuah pertempuran. Di Baghdad
beliau kembali mengajar dengan penuh semangat. Kesadaran baru yang
dibawanya bahwa paham sufi adalah prinsip yang sejati dan peling baik,
diajarkannya kepada mahasiswanya.
Kitab pertamanya yang beliau karang setelah kembali ke Baghdad adalah
kitab al-Munqiz min al-Dalāl (penyelamat dari kesesatan). Kitab ini disebut
sebagai salah satu buku referensi yang sangat penting. Kitab ini mengandung
keterangan sejarah hidupnya di waktu transisi yang mengubah pandangannya
tetang nila-nilai kehidupan. Dalam kitab ini juga beliau menjelaskan bagaimana
iman dalam jiwa itu tumbuh dan berkembang, bagaimana hakikat ketuhanan itu
dapat tersingkap bagi umat manisia, bagaimana memperoleh pengetahuan sejati
(‘ilmu al-yaqīn) dengan cara tanpa berpikir dan logika namun dengan cara
ilham dan mukasyafah menurut ajaran tasawuf.
Setelah sekitar sepuluh tahun beliau berkhalwat, dan setelah sekembalinya
Imam al-Ghazali ke Baghdad, beliau pindah ke Naisabur sebagai rasa cintanya
terhadap keluarganya. Setelah itu beliau mendapat panggilan lagi dari Perdana
Menteri Nizamul Mulk untuk memimpin kembali Universitas Nizamiyah di
Naisabur yang ditinggalkannya.


45
45
Imam al-Ghazali kembali mengajar dengan penuh semangat. Hanya saja
beliau menjadi guru besar dalam bidang studi lain tidak seperti dulu lagi yaitu
dengan mengajarkan tasawuf yang penuh dengan kehidupan asketik. Di
samping itu, beliau juga mendirikan suatu madrasah fiqih yang khusus
mempelajari ilmu hukum.
60

Hidup di kampung halamannya sendiri membuat Imam al-Ghazali merasa
tenang. Dan di tengah-tengah ketenangan jiwanya, Imam al-Ghazali
memberikan sebuah pengakuan yang jujur yang dapat dijadikan pegangan bagi
segenap orang yang memiliki ilmu pengetahuan, sebagaimana dikutip oleh
Zainal Abidin Ahmad, yaitu:
“Dan aku sekarang meskipun aku bekerja lagi untuk menyebarkan ilmu
pengetahuan, tetapi tidaklah boleh dinamakan aku “kembali”, karena
kembali itu adalah berarti melanjutkan kerja lama. Karena di masa lalu itu,
aku menyebarkan ilmu pengetahuan adalah didorong oleh keinginan
mencari nama, dan untuk itu aku menjalankan dakwah-seruan dengan
ucapan dan dengan amal perbuatan. Memang demikianlah tujuanku dan
niatku di masa itu. Adapun sekarang sangatlah berbeda sekali. Aku
berdakwah dan menyebarakan ilmu adalah untuk melawan hawa nafsu dan
mencari nama dan untuk menghapuskan rasa megah diri dan
kesombongan. Inilah sekarang maksud tujuanku. Semoga Tuhan
mengetahui niatku ini.”
61


Setelah mengabdikan diri untuk pengetahuan sekian puluh tahun lamanya,
dan setelah memperoleh kebenaran yang sejati pada akhir hayatnya, maka pada
tanggal 14 Jumadil Akhir 505 H. atau bertepatan dengan 19 Desember 1111 M.
beliau meninggal dunia di Thus.

60
Ibid., hlm. 52.
61
Ibid., hlm. 53-54.


46
46
Demikianlah yang dapat kita amati mengenai riwayat hidup Imam al-
Ghazali. Beliau dilahirkan di Thus dan kembali ke Thus setelah beliau melakoni
tualang panjang dalam mencari ketenangan bagi jiwanya.
Dari uraian di atas bisa dipahami dengan jelas bahwa Imam al-Ghazali
tergolong ulama yang ta’at berpegang teguh pada al-Qur’an dan Sunnah, ta’at
menjalankan agama dan menghias dirinya dengan tasawuf. Beliau banyak
mempelajari berbagai ilmu pengetahuan seperti ilmu kalam, filsafat, fikih,
hukum, tasawuf, dan sebagainya. Namun demikian, beliau kemudian
menjatuhkan pilihannya untuk mendalami ilmu tasawuf yang sarat dengan
nuansa asketik.
Di samping itu, beliau juga termasuk pemerhati pendidikan sehingga tidak
mengherankan jika beliau memiliki berbagai konsep terkait dengan dunia
pendidikan. Termasuk dalam hal ini adalah konsep beliau tentang pendekatan
dalam proses belajar.
2. Setting Sosial-politik dan Pengaruhnya bagi Pemikiran Imam al-Ghazali
Memahami pemikiran seorang tokoh sekaliber Imam al-Ghazali tanpa
terlebih dahulu memahami dan mempertimbangkan kondisi sosio-kultural dan
politk masa hidupnya yang melingkari pertumbuhan ataupun mobilitas
pemikirannya, boleh jadi akan memberikan citra kurang baik, sebab pada
dasarnya ia merupakan produk sejarah masanya. Oleh karena itu situasi dan
kondisi yang berkembang ikut menentukan perkembangan dan corak pemikiran
Imam al-Ghazali.


47
47
Di lingkungan keluarga sendiri, Imam al-Ghazali banyak bersentuhan
dengan iklim keluarga yang penuh dengan nuansa keagamaan. Walaupun
ayahnya seorang pemintal wol, namun demikian, ia seorang yang cinta terhadap
ilmu pengetahuan dan ulama. Sesekali ia mengunjungi para fuqaha, berkumpul
dengan orang pemberi nasihat. Di samping itu, ia juga dikenal sebagai
pengamal tasawuf yang hidup sederhana.
Pada waktu ayahnya menjelang wafat, ia berwasiat agar Imam al-Ghazali
dan adiknya, Ahmad, dititipkan kepada salah seorang temannya yang dikenal
sebagai orang yang baik dan ahli tasawuf. Tujuannya, agar anak-anak itu kelak
menjadi ulama besar dan memiliki ilmu yang banyak.
Setelah itu, Imam al-Ghazali kemudian melanjutkan studinya ke asrama
(sekolah yang menyediakan beasiswa bagi muridnya) dan di sana ia bertemu
dengan seorang seorang guru yang juga merupakan pengamal tasawuf atau ahli
sufi, Yusuf al-Nassaj, hingga ia berusia dua puluh tahun. Setelah tamat, ia
melanjutkan studinya lagi ke daerah Jurjan. Daerah Jurjan, dan juga Khurasan,
pada saat itu merupakan pusat kegiatan ilmiah.
Abuddin Nata mengungkapkan bahwa;
Di wilayah tersebut adalah wilayah pergerakan tasawuf dan pusat gerakan
anti kebangsaan Arab. Di samping itu, juga terjadi interaksi budaya yang
sangat intens. Filsafat Yunani telah digunakan sebagai pendukung agama
dan kebudayaan asing dengan ide-ide yang mendominasi literatur dan
pengajaran. Kontroversi keagamaan, setelah interpretasi sufi berkembang
ke arah yang lepas dari syari’ah, serta terjadinya kompetisi antara Kristen


48
48
dan Yahudi yang selanjutnya menimbulkan insiden Awlia dan gerakan
sufi.
62


Tertarik untuk melanjutkan studi pada jenjang yang lebih tinggi, Imam al-
Ghazali kemudian pergi ke Naisabur memasuki Madrasah Nizamiyah. Di
sinilah ia bertemu dengan ulama besar, Imam al-Haramain al-Juwaini, yang
merupakan ikon aliran Asy’ariyah. Madrasah Nizamiyah sendiri didirikan oleh
perdana menteri Nizamul Mulk yang hidup pada masa Dinasti Abbasiyah.
Pergolakan politik pada saat Dinasti Abbasiyah cukup tajam dan
meningkat, mulai dari pertarungan ideologi antara aliran Syi’ah dan Sunni
sampai perebutan kekuasaan antara orang-orang yang berkebangsaan Arab,
Persi, dan Turki. Periode pertama kekuasaan Dinasti Abbasiyah berada di
tangan khalifah secara penuh, sedangkan periode selanjutnya, kekuasaan itu
berada di bawah perintah orang atau kebangsaan lain.
Badri Yatim, mengutip pendapat Gajane, mengatakan bahwa,
Periode pemerintahan Bani Abbas, menurut para sejarawan, dibagi
menjadi lima periode. Periode pertama (132-232 H/750-847 M) disebut
pengaruh Persia pertama. Perode kedua (232-334 H/847-945 M), disebut
masa pengaruh Turki pertama. Periode ketiga (334-447 H/945-1055 M),
masa kekuasaan dinasti Buwaih dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah
dan masa ini disebut masa pengaruh Persi kedua. Masa keempat (447-590
H/1055-1194 M), masa kekuasaan dinasti Bani Saljuk dalam
pemerintahan Bani Abbasiyah, biasanya masa ini disebut dengan masa
pengaruh Turki kedua. Periode kelima (590-656 H/1194-1258 M) masa
khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya
efektif di sekitar kota Baghdad.
63



62
Abuddin Nata, Perspektif Islam tentang Pola Hubungan Guru-Murid: Studi Pemikiran Tasawuf al-
Ghazali (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2001), hlm. 56-57.
63
Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: Rajawali Pers, 1993), hlm. 49-50.


49
49
Kembali pada persoalan di atas, sesuai dengan periode pemerintahan Bani
Abbas, Imam al-Ghazali hidup pada masa atau periode keempat (masa
disintegrasi) dari periode pemerintahan Abbasiyah yaitu pada masa dinasti Bani
Saljuk memegang kekuasaan. Adapun pusat pemerintahan Abbasiyah saat itu
berada di Baghdad.
Pada saat dinasti Bani Saljuk memegang kekuasaan pemerintahan
Abbasiyah, kewibawaan dalam bidang agama dikembalikan setelah sekian lama
“dirampas” oleh orang-orang Syi’ah, dinasti-dinasti kecil yang semula
memisahkan diri kembali mengakui kedudukan pemerintah pusat, Baghdad,
bahkan stabilitas dan keutuhan keamanan untuk membendung faham Syi’ah
terus dijaga. Keadaan tersebut tampak terutama pada saat Nizamul Mulk
menjadi perdana menteri.
Namun demikian, di tengah kemajuan yang menggembirakan itu,
terjadilah suatu peristiwa yang sangat menyedihkan, yaitu terbunuhnya perdana
menteri Nidzamul Mulk dan Sultan Malik Syah. Dua orang pentolan Dinasti
Saljuk itu mati di tangan pembunuh yang dibayar oleh Hasan Shabbah, salah
seorang pimpinan Syi’ah Bathiniyah dan merupakan teman satu sekolah dengan
Nizamul Mulk saat itu.
Tidak hanya itu, aliran Syi’ah Bathiniyah yang poliknya berkiblat pada
Negara Fatimiyah di Mesir, semakin melancarkan aksi teror pembunuhannya
pada saat Khalifah Muqtadi meninggal dunia dan digantikan oleh Khalifah
Mustadzir.


50
50
Zainal Abidin mengatakan bahwa,
Imam al-Ghazali hidup pada saat terjadi goncangan politik yang sangat
hebat. Pada tahun lahirnya, 450 H. terjadilah perebutan kekuasaan atas ibu
kota Baghdad antara jenderal Basasiri yang pro Syi’ah dengan Thogrol
Bey, sultan yang pertama dari pemerintahan Seljuk. Pada tahun 478 H.,
dalam usianya meningkat 28 tahun, terjadilah buat pertama kalinya
bentrokan bersenjata antara tentara Abbasiyah dengan laskar pemerintah
tandingan Fatimiyah di dalam pengepungan kota Damaskus, yang
berakhir dengan mundurnya tentara penyerbu ke Mesir. Dan akhrnya pada
tahun 485 H., sewaktu al-Ghazali menduduki jabatan sebagai penasihat
agung pemerintahan Saljuk dan presiden dari Universitas Nizamiyah
Baghdad, terjadi lagi pembunuhan gelap terhadap Perdana Menteri
Nidzamul Mulk dan kemudian diikuti dengan matinya sultan Malik al-
Syah yang semuanya dilakukan oleh golongan Bathiniyah dari partai
ilegal Syi’ah. Tidak lama kemudian pada tahun 487 H. terjadi pergantian
pimpinan Negara dari tangan khalifah ke XXVII Muqtadi yang meninggal
dunia kepada Khalifah Mustazhir. Dan dekrit pertama yang dikeluarkan
oleh khalifah adalah meminta Imam al-Ghazali supaya menulis buku
untuk mempertahankan pemerintahan Abbasiyah yang sah dan membasmi
partai ilegal Syi’ah yang telah mengacau Negara.
64


Karena kegoncangan batinnya yang sangat hebat menghadapi peristiwa-
peristiwa yang berturut-turut maka Imam al-Ghazali jatuh sakit selama enam
bulan. Dengan alasan mengobati penyakitnya, ia meninggalkan Baghdad dan
seluruh jabatannya dengan hati yang kesal.
Bahkan Imam al-Ghazali mulai ragu dengan jalan yang ditempuhnya
selama itu. Ia bertanya apakah jalan yang ditempuhnya sudah benar atau belum,
atau salah? Pada akhirnya ia kemudian menempuh jalan untuk mengasingkan
diri dari keramain manusia dan menfokuskan diri untuk berkhalwat dan
beribadah kepada Allah.

64
Zainal Abidin Ahmad, Op. Cit., hlm 165.


51
51
Selama sepuluh tahun Imam al-Ghazali berkhalwat dan menjalani hidup
yang penuh dengan nuansa asketik dan pada akhirnya ia menemukan jawaban
dari pertanyaan besar yang mengelayuti hatinya selama itu, tasawuf. Ia
berkesimpulan bahwa pengetahuan yang diperolehnya dengan panca indera
seringkali salah dan berdusta. Dan tasawuflah yang kemudian mampu
menghilangkan rasa syak yang menyelimuti hatinya. Pengetahuan yang
diperoleh melalui kalbu ternyata membuat ia merasa yakin mendapat
pengetahuan yang benar.
Nah, dari beberapa pemaparan singkat di atas terkait dengan keadaan
masyarakat Islam sudah mengalami kemunduran. Dalam bidang politik,
kerajaan Abbasiyah telah sedemikian rapuh. Dalam bidang kebudayaan dan
peradaban, meski pernah mengalami zaman kemajuan pada masa sebelumnya,
kini mengalami kemunduran, bahkan nyaris kehilangan kepribadiaannya.
Demikian pula dalam bidang ilmu-ilmu agama Islam dirasakan Imam al-
Ghazali telah mati dalam jiwa umat Islam sehingga perlu dihidupkan kembali
sebagaimana tercermin dalam kitab Ihya’nya. Di bidang-bidang lain, seperti
bidang intelektual, moral dan agama secara umum juga mengalami kemerosotan
dan kemunduran.
Di samping itu, berkuasanya Bani Saljuk yang mengganti Dinasti Buwaihi
pada pertengahan abad XI Masehi, kendati sama-sama berpaham Sunni dengan
kekhalifahan di Baghdad, ternyata tidak mampu mengembalikan kekuatan
politik yang cukup berarti sebab hanya bertahan kurang lebih tiga puluh tahun.


52
52
Memang selama masa tersebut dapat dikatakan sebagai masa kejayaan Dinasti
Saljuk dan berhasil menciptakan stabilitas keamanan dan ketertiban yang
memungkinkan berkembangnya kebudayaan dan ilmu pengetahuan, sehingga
rakyat dapat merasakan ketenangan dan ketentraman. Namun kekacauan
akhirnya timbul kembali yang bermula dari peristiwa terbunuhnya Perdana
Menteri Nizamul Mulk dan Sultan Malik Syah yang hanya berselang satu bulan.
Dengan tiadanya dua orang kuat Dinasti Saljuk ini, maka makin
berpeluang pada kelompok-kelompok oposan yang telah lama memusuhi
Dinasti Saljuk seperti kelompok ekstrimis Syi’ah yang berafiliasi dengan
khilafah Fatimiyah di Mesir. Hal itu kemudian menyebabkan lumpuhnya
kekuasaan Dinasti Saljuk, utamanya setelah dinasti itu terpecah-pecah menjadi
kekuatan-kekuatan kecil dampai akhirnya membawa pada kehancuran.
Pada saat Dinasti Saljuk sudah mengalami kemunduran dan lemahnya
kekuasaan politik serta goyahnya stabilitas nasional, Imam al-Ghazali hidup dan
berjihad menegakkan kembali nilai-nilai keIslaman dalam diri umat. Dengan
demikian tidak mengheranka apabila latar belakang kondisi sosial di atas
mewarnai pemikiran dan perjuangannya. Yang jelas, pada masa kehidupan dan
perjuangannya, kondisi umat telah mengalami kemunduran dalam berbagai
aspeknya.
Demikianlah beberapa kondisi obyektif yang mengitari masa hidup Imam
al-Ghazali. Sebagai seorang yang dikaruniakan padanya kepekaan dan
ketajaman nurani, ia senantiasa berdialog dan bersikap aspiratif dengan


53
53
zamannya yang penuh ketegangan dan fragmentasi sosial politk dan alam
pikiran yang tidak terkontrol dan kurangnya sikap tasamuh di antara sesama
muslim, Imam al-Ghazali dengan sikap kritis serta keberaniannya mengambil
keputusan untuk menentukan pilihan dengan sikap realistis dan mantap. Di
menempuh jalan tasawuf sebagai fondasi teologisnya.
3. Karya-Karya Imam al-Ghazali
Adalah sebuah keistimewaan yang besar dan luar biasa dari diri Imam al-
Ghazali bahwa beliau merupakan seorang penulis yang sangat produktif. Di
dalam setiap masa hidupnya Imam al-Ghazali terus menerus menulis. Sehingga
ratusan kitab telah keluar sebagai hasil karyanya dan dijadikan pedoman oleh
sebagian umat Islam.
Namun demikian, karena keluasan ilmu yang dimiliki oleh beliau, maka
sangat sulit sekali untuk menentukan bidang dan spesialisasi apa yang
digelutinya. Zainal Abidin Ahmad mengatakan bahwa di dalam dunia karang
mengarang, Imam al-Ghazali terkenal sebagai seorang pengarang yang serba
ahli. Di dalam berbagai lapangan, dia menulis secara luas dan tepat, dan begitu
mendalamnya sehingga di merupakan orang ahlinya mengausai yang menguasai
persoalan itu di dalam segala hal.
65

Adapun kitab-kitab Imam al-Ghazali yang paling terkenal, sebagaimana
diungkapkan oleh Zainal Abidin, adalah sebagai berikut:


65
Ibid., hlm. 173.


54
54
a. Dalam Bidang Filsafat
1) ·· .·
Sebagai karangannya yang pertama yang ditulisnya sewaktu pikirannya
masih segar dalam usia di sekitar 25-28 tahun. Isinya menerangkan soal-soal
filsafat menurut wajarnya, dengan tiada kecaman.
2) ·· ···
Dikarangnya sewaktu dia berada di Baghdad, dalam kekacauan oleh
paham skeptis yang sangat hebat, dalam usia 35-38 tahun. Buku ini berisi
kecaman yang sangat hebat terhadap ilmu filsafat yang sudah menggemparkan
ilmu pengetahuan.
3) ·,· _·'
Naskah buku in terdapat dalam perpustakaan Lytton di Aligarh
University, India; perpustakaan Kotapraja di Iskandaiyah. Buku itu diterbitkan
oleh Darul Fikri di Damaskus pada tahun 1963 di bawah penelitian Abdul
Karim al-Utsman.
Sebagaimana namanya, buku ini berisi dan mengungkapkan asal-usul
ilmu yang rasional dan kemudian apa hakekatnya dan tujaun apa yang
dihasilkannya.



55
55
b. Dalam Bidang Pembangunan Agama
1) ¸, ·,· .,-¸
Kitab ini dikarang setelah dia berada kembali di Naisabur dalam usia 50
tahun, sesudah skeptisnya habis dan jiwanya tenteram kembali. Kitab inilah
yang menjadi pegangan umat Islam sampai sekarang, merupakan jalan keluar
dari berbagai faham dan aliran.
2) ¸·. ¸· '
Kitab ini dikarang setelah tiga puluh tahun di dalam kebimbangan dan
merupakan sumber dari kehidupan Imam al-Ghazali. Sebuah kitab yang berisi
tentang autobiografi, tetapi tepatnya bukan hanya autobiografi. Ia memberikan
suatu analisa yang intelektuil mengenai perkembangan spirituilnya, dan juga
memberi alasan-alasan di dalam memberikan pandangan bahwa ada suatu
pengertian yang lebih tinggi dari pengertian rasional, yaitu kepada para nabi
ketika Tuhan mengungkapkan kebenaran kepadanya.
3) ¸,,· _,·
Kitab ini merupakan kitab yang terakhir yang ditulis oleh Imam al-
Ghazali yang berisi tentang nashihat yang terakhir untuk segenap manusia.
Kitab ini diterbitkan di Mesir berulang kali, ada tulisan tangan di Berlin,


56
56
Paris, dan al-Jazair. Kitab ini ada ringkasannya dan syarahnya yang sudah
diterjemahkan ke dalam bahasa Turki.
c. Dalam Bidang Akhlak dan Tasawuf
1) ¸· .,,·
Kitab ini mendampingi kitab Ihya, bahkan isinya lebih teliti dan
merupakan kesimpulan dari kitab Ihya. Imam al-Ghazali sendiri
mengungkapkan bahwa kebanyakan isi dari kitab ini adalah memakai sistem
tasawuf.
2) ··· .,,¯
Dalam kitab ini terdapat beberapa persoalan etika yang dibicarakannya
dari perspektif praktis dan agama. Kitab ini telah banyak diterbitkan sebagai
ilmu moral Islam, tetapi sebenarnya mengandung lebih banyak uraian-uraian
secara praktis menurut hukum dari pada ilmu mural secara ilmiah atau filsafat.
3) .¯ ¸·,_.
Kitab ini berisi tentang prinsip-prinsip agama tentang atau mengenai soal-
soal akhlak-tasawuf.
4) ¸ ·,' _ ·-,. ·,'


57
57
Artinya, mas yang sudah ditata untuk menasihati para penguasa. Kitab ini
berisi soal akhlak di dalam hubungannya dengan pemerintahan.
5) ¸,.. ¸ _.'
(keterangan yang sudah dipilih mengenai soal pokok-poko ilmu hukum).
6) _,. ·´·
Artinya lampu yang bersinar banyak. Kitab ini berisi tentang ilmu akhlak
dalam hubungannya dengan ilmu akidah dan keimanan.
7) ¸·. ¸· '
Pembebasan dari kesesatan. Kitab ini membahas akhlak dalam
hubungannya dengan ilmu psikologi.
8) , ,,'
Kitab ini berisi tentang nasihat yang ia tulis untuk seorang temannya yang
berisi tentang amal perbuatan dan tingkah laku sehari-hari serta banyak
mambahas tentang cara-cara dalam proses belajar.
9) ¸, ¸ .·.
Adab sopan keagamaan. Kitab ini mengupas tentang akhlak di dalam
hubungannya dengan etiket kehidupan manusia.


58
58
10) ·, ·,
Risalah tentang soal-soal bathin. Kitab ini mengupas tantang hubungan
akhlak dengan soal-soal kerohanian, termasuk juga soal-soal wahyu, bisikan
kalbu, dan lainnya.
d. Dalam Bidang Politik
1) ¸,,='
Kitab ini dikarang pada tahun 488 H. di Baghdad atas kehendak dari
khalifah al-Muqtadi yang baru dinobatkan setahun sebelumnya. Isi kitab ini
adalah membongkar prinsip-prinsip politk yang berbahaya dari partai ilegal
Syi’ah Bathiniyah pada saat itu.
2) ¸·. ¸· '
Pembebasan dari kesesatan. Kitab ini berisi tentang autobiografi, namun
di dalamnya juga berisi tentang revolusi mental.
3) ¸, ·,· .,-¸
Kitab ini merupakan puncak arangan Imam al-Ghazali mempunyai fungsi
yang pemting pula tentang teori kenegaraan. Kitab ini pula merupakan
inspirasi yang diperoleh selama petualangan sebagai kesimpulan dari
pandangan revolusi yang sedang bergejolak di Asia.


59
59
4) ·,' ·-,. ¸ ·,' _
Kitab ini dikarangnya sebagai suatu pegangan untuk Sultan Giyastuddin
yang mengantikan kedudukan ayahandanya, Sultan Malik Syah, sahabat
Imam al-Ghazali.
5) ¸'· ,
Sebagaimana namanya, kitab ini berisi tentang perbedaan antara dua
dunia yang harus dipilih oleh para pembesar dan rakyat semuanya: antara
dunia keadilan dan kemakmuran yang menuju kepada akhirat, dan dunia
kezaliman dan kekacauan yang semata-mata keduniaan belaka.
6) ·,· ·-·
Kitab ini pada hakikatnya adalah untuk membuka pintu kepada berbagai
ilmu pengetahuan, sebagai tercantum pada namanya. Namun dalam bagiannya
terdapat ilmu politik.
7) ··¸ ¸ ·.·¸
Kitab inimenyatakan dasar-dasar keimanan yang harus dimiliki oleh
seorang pemegang pemerintahan. Kitab ini juga membahs tentang politik
pemerintahan terkait dengan soal-soal teologi.



60
60
8) ,,-,
Kitab ini menguraikan tentang hukum Islam secara praktis sehingga
dianggap sebagai kitab pegangan dalam ilmu hukum.
9) ·= ·,
Kitab ini berisi tentang bimbingan bagi kepala Negara dalam menjalankan
roda pemerintahannya.
10) ·,· ·,,
Kitab ini berisi tentang ajaran adab dan kesopanan di dalam hidup
manusia, baik dalam hubungannya dengan Tuhan, maupun dalam
hubungannya dengan masyarakat, termasuk soal pemerintahan.
4. Klasifikasi Ilmu Perspektif Imam al-Ghazali
Imam al-Ghazali mengklasifikasikan ilmu dalam bebearapa kelompok
yang masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda antara satu macam
dengan yang lain. Di samping itu, macam-macam ilmu dalam perspektif Imam
al-Ghazali tersebut dapat memberikan nilai-nilai sesuai dengan kepentingan dan
kebutuhan bagi pelajar.
Menurut Hasan Langgulung, sebagaimana dikutip oleh Jalaluddin dan
Usman Said, Imam al-Ghazali memandang ilmu dari dua segi, yaitu ilmu


61
61
sebagai proses dan ilmu sebagai obyek. Dari segi pertama, ilmu dibagi menjadi
ilmu hissiyah, ilmu aqliyah, dan ilmu ladunni.
66

Kemudian ilmu juga dapat dikatakan sebagai obyek. Ilmu-ilmu itu dibagi
dalam tiga golongan pokok yaitu ilmu yang tercela, ilmu yang terpuji, dan ilmu
yang terpuji dalam batas-batas tertentu.
67

Ilmu yang tercela adalah ilmu yang tidak dapat mendatangkan faedah atau
tidak bermanfaat bagi manusia baik di dunia dan akhirat, misalnya ilmu sihir,
ilmu perbintangan, ilmu ramalan atau perdukunan. Bahkan, bila ilmu itu
diamalkan oleh manusia akan mendatangkan mudarat dan akan meragukan
terhadap kebenaran adanya Tuhan. Dan karenanya ilmu itu harus dijauhi.
Adapun ilmu yang terpuji adalah ilmu yang mendatangkan kebersihan
jiwa dari tipu daya dan kerusakan serta akan mengajak manusia untuk
mendekatkan diri kepada Allah dan keridloannya. Ilmu dalam golongan ini
misalnya ilmu tauhid dan ilmu agama.
Selanjutnya, ilmu yang terpuji dalam taraf tertentu, yang tidak boleh
diperdalam, adalah ilmu-ilmu yang apabila manusia mendalami pengkajiannya
pasti menyebabkan kekacauan pemikiran dan keragu-raguan, dan mungkin
mendatangkan kekufuran, seperti ilmu filsafat.

66
Jalaluddin dan Usman Said, Filsafat Pendidikan Islam: Konsep dan Perkembangannya (Jakarta: PT.
RajaGrafindo Persada, 1996), hlm. 140.
67
Imam al-Ghazali, Menghidupkan Kembali Ilmu-ilmu Agama, terj., Ismail Ya’kub (Semarang: CV.
Faizan, 1979), jilid 1, hlm. 126-127.


62
62
Indikasi dari ilmu yang tercela, sebagaimana dikutip oleh Hasan Sulaiman
adalah ada tiga:
Pertama, ilmu-ilmu ini kadang kala dapat menimbulkan mudarat pada
pemiliknya atau orang lain, seperti ilmu sihir, guna-guna yang bertujuan
mencelakakan orang lain. Ilmu sihir seringkali mencoba memisahkan
antara sesama manusia yang akrab atau saling mencintai, menebarkan rasa
untuk membengkitkan kejahatan, bukan untuk menimbulkan kebaikan.
Kedua, kadangkala ilmu itu merusak pemiliknya, seperti ilmu nujum, yang
oleh Imam al-Ghazali dibagi ke dalam dua kelompok; ilmu nujum yang
berdasarkan perhitungan (hisab) atau falak yang menurut pandangan
Imam al-Ghazali tidak tercela. Berikutnya ilmu nujum istidlaly, yaitu
semacam astrologi dan meramal nasib berdasarkan petunjuk bintang. Kata
Imam al-Ghazali, ilmu nujum jenis ini tercela oleh syara’ sebab bisa jadi
ia membuat manusia menjadi ragu pada Allah, lalu ia menjadi kafir.
Misalnya, suatu ketika seorang tukang nujum meramalkan bakal terjadi
sesuatu di langit atau falak dengan berpedoman pada keyakinan langsung
atau melalui studi tentang bintang-bintang, kemudian pas pada waktu
terjadinya peristiwa yang diramalkan itu, secara kebetulan terjadi tepat
pada yang ditentukannya sebelumnya, tentu manusia akan merasa takjub
akan kemampuan tukang nujum itu. Ia karenanya akan percaya dengan
ucapan tukang nujum. Kesempatan ini, bisa jadi dimanfaatkan oleh tukang
nujum untuk mengakaui diri sebagai nabi, memperluas pengaruhnya di
tengah-tengah umat, menunggangi mereka untuk melayani kepentingan-
kepantingannya yang biasanya cenderung tidak baik, sehingga membuat
kekacauan dan kearifan meluas ke mana-mana.
Ketiga, ada kalanya menyelami sebagian ilmu itu tidak membawa
manfaat, karena ilmu itu dimaksudkan tidak terpuji. Ada kalanya pula
mempelajari ilmu seperti itu mengandung suatu bentuk kekufuran kepada
Allah. Contoh ilmu untuk tersebut, kata Imam al-Ghazali, adalah
memplajari bagian-bagian rumit dari suatu ilmu sebelum memahami
bagian-bagiannya yang jelas, atau seperti mempelajari rahasia-rahasia
ilahiyat, bagian dari ilmu filsafat, seperti ilmu metefisika.
68


Jadi, dalam perspektif Imam al-Ghazali, ilmu itu tidak bebas nilai. Ilmu
pengetahuan apapun yang dipelajari harus dikaitkan dengan moral dan nilai

68
Fathiyyah Hasan Sulaiman, Aliran-aliran dalam Pendidikan: Studi tentang Aliran Pendidikan
Menurut al-Ghazali, terj., Said Agil Husin Al-Munawar dan Hadri Hasan (Semarang: Dina Utama,
1993), hlm. 21.


63
63
guna. Dan karena itu, selanjutnya melihat ilmu dalam perspektif nilai dan
membaginya dalam dua kelompok.
Berdasarkan ketiga kelompok ilmu tersebut, Imam al-Ghazali membagi
lagi ilmu tersebut menjadi dua kelompok dari segi moral dan manfaat, yaitu
ilmu yang wajib diketahui oleh setiap muslim (fardlu ‘ain) dan ilmu yang fardlu
kifayah dalam arti tidak wajib diketahui oleh segenap orang Islam, tetapi harus
ada di antara orang Islam yang mempelajarinya.
Ilmu yang tergolong fardlu ‘ain adalah ilmu agama dan macam-
macamnya dengan memulai kitab-kitab Allah kemudian diikuti pokok-pokok
ibadah seperti masalah shalat, puasa, zakat, dan sebagainya.
Sedangkan ilmu yang tergolong fardlu kifayah menurut Imam Ghazali adalah:
Segala ilmu yang digunakan untuk tegaknya perkara-perkara dunia seperti
ilmu kedokteran. Karena hal itu merupakan hajat yang pokok bagi kesehatan
badan. Ilmu hitung karena itu penting dalam mu’amalat, pembagian wasiat,
warisan dan lain-lain. Apabila negara tidak ada orang yang menegakkannya
maka berdosalah seluruh warga negara, bila salah seorang menegakkannya
maka dapat mencukupi dan gugurlah kewajiban yang lain.
69


Adapun ilmu seperti tani, tenun, politik, dan kerja membekam serta kerja
menjahit atau keterampilan yang diperlukan oleh masyarakat merupakan jenis
ilmu yang tergolong pada fardlu kifayah.
70
Adapun mendalami ilmu hitung dan
kedokteran dan hal-hal lain yang tidak dibutuhkan, tidak merupakan fardlu,
tetapi utama, selanjutnya Imam al-Ghazali berkata, adapun yang terhitung
utama namun tidak fardlu adalah mendalami ilmu hitung secara mendetail dan

69
Imam al-Ghazali, Op. Cit., hlm. 84.
70
Ibid., hlm. 84.


64
64
hakikat kedokteran, dan lain-lain yang tidak dihajatkan, akan tetapi berfaedah
menambah kemampuan di dalam kadar yang dibutuhkan.
71

Selanjutnya Imam al-Ghazali membagi ilmu pengetahuan berdasarkan
spesialisasi menjadi dua bidang
72
, yaitu: ilmu syari’ah dan ilmu yang bukan
syari’ah. Adapun ilmu syari’ah semuanya terpuji, dan ia membaginya dalam
empat bagian, yaitu ushul, furu’ muqaddamat, dan mutammimat.
Ilmu ushul terbagi dalam empat bidang ilmu, yaitu al-Qur’an, Hadits,
Ijma’ ummah, dan atsar sahabat. Ilmu furu’ yaitu ilmu fiqih, akhlak, dan hal
ihwal hati. Ilmu muqaddamat terdiri dari ilmu bahasa dan nahwu yang
digunakan sebagai alat untuk mengkaji ilmu ushul.
73

Ilmu mutammimat yaitu ilmu-ilmu yang berhubungan dengan ilmu al-
Qur’an seperti ilmu tajwid, tafsir yang berkaitan dengan arti, nasikh mansukh,
‘am dan khas, dan dhahir dan cara untuk mempergunakannya, ilmu yang
mengkaji tentang khabar-khabar dan sejarah kehidupan sahabat.
74

Sedangkan ilmu yang bukan syari’ah, Imam al-Ghazali membaginya
dalam tiga bagian, yaitu ilmu yang terpuji; ilmu mubahah; dan ilmu
madzmumah. Ilmu yang terpuji adalah ilmu yang diperlukan dalam kehidupan
manusia, baik dalam penghidupan atau dalam pergaulannya. Seperti ilmu
kedokteran, ilmu hitung, dan ilmu keterampilan.

71
Ibid., hlm. 85.
72
Jalaluddin dan Usman Said, Op. Cit., hlm. 142-143.
73
Imam al-Ghazali, Loc. Cit.
74
Ibid., hlm. 86.


65
65
Ilmu-ilmu mubah yaitu ilmu-ilmu kebudayaan seperti sejarah, sastra dan
sya’ir-sya’ir yang tidak ada kelemahan di dalamnya seperti ilmu yang
mendorong pada keutamaan dan akhlak yang suci.
Ilmu-ilmu yang tercela yaitu ilmu yang merugikan dirinya dan merugikan
orang lain apabila mempelajari dan mempraktikkannya seperti ilmu sihir,
azimat dan permainan sulap, dan sebagian dari ilmu filsafat.
5. Pendidikan dalam Pemikiran Imam al-Ghazali
Imam al-Ghazali termasuk ke dalam kelompok sufistik yang banyak
menaruh perhatian yang besar terhadap pendidikan, karena pendidikanlah yang
banyak menentukan corak kehidupan suatu bangsa dan pemikirannya. Selain
itu, menurut Hamdani Ihsan dan Fuad Ihsan, Imam al-Ghazali memiliki
pemikiran dan pandangan yang luas mengenai aspek-aspek pendidikan, dalam
arti bukan hanya memperlihatkan aspek akhlak semata-mata tetapi juga
keimanan, sosial, jasmaniah, dan sebagainya.
75

Pandangan Imam al-Ghazali tentang pendidikan yang sarat dengan nuansa
sufistik itu bisa dilihat dari konsepsi dia mengenai tujuan, pendidik, anak didik,
dan kurikulum pendidikan.
Imam al-Ghazali mempunyai pandangan yang berbeda dengan para ahli
pendidikan yang lain mengenai tujuan pendidikan. Menurutnya, tujuan
pendidikan adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan untuk mencari

75
Hamdani Ihsan dan Fuad Ihsan, Filsafat Pendidikan Islam (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2001), hlm.
235.


66
66
kedudukan, kemegahan dan kegagahan atau mendapatkan kedudukan yang
menghasilkan uang.
76

Samsul Nizar mengatakan bahwa;
Pemikiran tentang tujuan pendidikan Islam dapat diklasifikasikan kepada
tiga, yaitu: tujuan mempelajari ilmu pengetahuan semata-mata untuk ilmu
pengetahuan itu sendiri sebagai wujud ibadah kepada Allah; tujuan utama
pendidikan Islam adalah pembentukan akhlak yang baik; tujuan
pendidikan Islam adalah mengantarkan peserta didik untuk mencapai
kebahagiaan dunia dan akhirat.
77


Menurut Imam al-Ghazali, pendidik adalah orang yang berusaha
membimbing, meningkatkan, menyempurnakan, dan mensucikan hati sehingga
menjadi dekat dengan khaliqnya.
78
Sedangkan seorang pendidik menurut Imam
al-Ghazali, sebagaimana dikutip oleh al-Jumbulati dituntut untuk memiliki sifat-
sifat keutamaan antara lain:
Guru harus mencintai muridnya, tidak boleh mencari bayaran, guru harus
mengingatkan muridnya bahwa tujuan mencari ilmu adalah untuk
mendekatkan diri kepada Allah, guru harus mendorong muridnya untuk
mencari ilmu yang bermanfaat, guru harus memberikan contoh yang baik,
guru harus mengajarkan pelajaran yang sesuai dengan tingkat intelektual
dan daya serap anak didiknya, guru harus memperhatikan perbedaan-
perbedaan individual anak, guru hendaknya mampu mengamalkan
ilmunya agar ucapannya tidak mendustai perbuatannya, dan guru harus
mempelajari keadaan psikologis murid-muridnya.
79


Adapun konsep Imam al-Ghazali mengenai murid, sebagaimana
diungkapkan oleh Abuddin Nata, adalah murid harus memuliakan guru, merasa

76
Abuddin Nata, Op. Cit., hlm. 162.
77
Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam: Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis (Jakarta:
Ciputat Pers, 2002), hlm. 87.
78
.Ibid., hlm 88.
79
Ali al-Jumbulati Abdul Futuh at-Tuwaanisi, Op. Cit., hlm. 137-143.


67
67
satu bangunan dengan murid lainnya, menjauhkan diri dari mempelajari
berbagai mazhab yang dapat mengacaukan pikirannya, mempelajari berbagai
jenis ilmu yang bermanfaat.
80

Nizar mengungkapkan tugas dan kewajiban yang yang harus dimilki oleh
seorang murid, sebagaimana dikehendaki oleh Imam al-Ghazali, antara lain:
a. Belajar dengan niat ibadah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah
sehingga dalam kehidupan sehari-hari peserta didik senantiasa mensucikan
jiwanya dengan akhlak yang baik.
b. Mengurangi kecenderungan pada duniawi dibandingkan masalah ukhrawi.
c. Bersikap rendah hati dengan cara menanggalkan kepentingan pendidikan.
d. Menjaga pikiran dan pertentangan yang timbul dari berbagai aliran.
e. Mempelajari ilmu-ilmu yang terpuji, baik untuk ukhrawi maupun duniawi.
f. Belajar dengan berharap atau berjenjang dengan memulai pelajaran yang
mudah (konkret) menuju pelajaran yang sukar (abstrak) atau dari ilmu-ilmu
fardlu ‘ain manuju ilmu fardlu kifayah
g. Belajar ilmu sampai tuntas untuk kemudian beralih pada ilmu yang lainnya,
sehingga anak didik memiliki spesifikasi ilmu pengetahuan secara mendalam.
h. Mengenal nilai-nilai ilmiah atas ilmu pengetahuan yang dipelajari.
i. Memperioritaskan ilmu diniyah sebelum memasuki ilmu duniawi.
j. Mengenal nila-nilai pragmatis bagi suatu ilmu pengetahuan, yaitu ilmu yang
dapat bermanfaat yang dapat membahagiakan, memsejahterakan, serta
memberi keselamatan hidup dunia akhirat.
81


Selanjutnya, kurikulum yang dikehandaki Imam al-Ghazali dapat
dipahami dari pendangannya mengenai ilmu pengetahuan. Sebagaimana telah
disebutkan di atas, bahwa ilmu dalam perspektif Imam al-Ghazali dibagai dalam
dua bagian besar: ilmu sebagai proses dan ilmu sebagai obyek. Ilmu sebagai
obyek memiliki tiga bagian, yaitu ilmu yang tercela, ilmu yang terpuji, dan
ilmu yang terpuji dalam batas-batas tertentu. Dari ketiga ilmu ini kemudian

80
Abuddin Nata, Op. Cit., hlm. 165-166.
81
Samsul Nizar, Op. Cit., hlm. 89-90.


68
68
Imam al-Ghazali membagi lagi dalam dua kelompok: ilmu yang fardlu ‘ain dan
ilmu yang fardlu kifayah.
Dari sini dapat dipahami bahwa kurikulum juga diakui sebagai salah satu
faktor yang juga menentukan keberhasilan seseorang dalam belajar. Dan yang
tak kalah pentingnya juga bahwa yang menjadi titik tekan Imam al-Ghazali
dalam mengajarkan ilmu pengetahuan kepada anak didik adalah ilmu yang
mendatangkan kebersihan jiwa dari tipu daya dan kerusakan serta akan
mengajak manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah dan keridloannya,
seperti ilmu tauhid dan ilmu agama.
Menurut hemat penulis, kurikulum yang coba ditawarkan oleh Imam al-
Ghazali sebagaimana tersebut di atas tidak diakomudir secara utuh yang pada
gilirannya akan menghasilkan anak didik yang memiliki kepribadian yang
pecah, yaitu anak didik yang hanya memiliki kedalaman spiritual tanpa
dibarengi dengan keluasan ilmu.
Pada dasarnya ilmu pengetahuan itu terintegrasi dan tidak dapat dipisah-
pisahkan antara ilmu-ilmu yang bersifat duniawi dan ilmu-ilmu yang bersifat
ukhrawi. Dan karena itu, ilmu pengetahuan perlu dipelajari secara utuh dan
seimbang antara ilmu-ilmu yang diperlukan untuk mencapai kesejahteraan di
dunia maupun ilmu-ilmu untuk mencapai kebahagiaan di akhirat. Sehingga,
pada gilirannya, akan melahirkan lulusan-lulusan yang yang memiliki pikiran-
pikiran kreatif dan terpadu, memiliki komitmen spiritual dan intelektual yang
mendalam terhadap Islam.


69
69
Jadi, ilmu pengetahuan pada dasarnya adalah satu dan berasal dari Allah
Swt., yang diwahyukan kepada orang yang dipilihnya melalui ayat-ayat
Qur’aniyah dan sebagian lagi melalui ayat-ayat kauniyah yang diperoleh
manusia dengan menggunakan akal, hati, dan inderanya. Untuk lebih jelasnya,
lihatlah skema di bawah ini:









Gambar 5.1 Integrasi Ilmu-ilmu Allah

Menurut Mursi, sebagaimana dikutip Nizar, dari beberapa macam ilmu
yang telah disebutkan tadi, Imam al-Ghazali mengusulkan beberap ilmu
pengetahuan yang harus dipelajari di sekolah, yaitu:
a. Ilmu al-Qur’an dan ilmu agama seperti fiqih, hadits dan tafsir.
b. Sekumpulan bahasa, nahwu dan makhraj serta lafadz-lafadznya, karena ilmu
ini berfungsi membantu ilmu agama.
c. Ilmu-ilmu yang fardu kifayah, yaitu ilmu kedokteran, matematika, teknologi
yang beraneka ragam jenisnya termasuk juga ilmu politik.
Ayat-ayat
Qur’aniyah
Saling
Menjelaskan
Ayat-ayat
Kauniyah
Interpretasi
Manusia
Allah SWT
Ilmu
Pengetahuan


70
70
d. Ilmu kebudayaan, seperti sya’ir, sejarah dan beberapa cabang filsafat..
82


Jadi, kurikulum yang menjadi titik perhatian Imam al-Ghazali adalah
ilmu pengetahuan yang digali dari kandungan al-Qur’an, karena model ini akan
bermanfaat bagi kehidupan manusia di dunia dan akhirat, karena dapat
menenangkan jiwa dan dapat mendekatkan diri kepada Allah.
Jika diamati, corak pendidikan yang dikembangkan oleh Imam al-Ghazali
akan tampak nuansa pendidikan yang sangat kental dengan nilai-nilai tasawuf
yang ia gandrungi. Artinya, bahwa konsep pendidikan yang ditawarkan oleh
Imam al-Ghazali sejalan dengan sikap dan kepribadiannya sebagai seorang sufi.
Namun demikian, pendidikan yang coba diformulasikan oleh Imam al-
Ghazali merupakan konsep yang ia kembangkan dari sebuah dialektika dengan
zaman yang dihadapinya pada waktu itu. Konsep tersebut jika diaplikasikan di
masa sekarang memerlukan sebuah penyempurnaan. Seperti posisi guru yang
menurut Imam al-Ghazali merupakan sentral dalam pendidikan. Pada zaman
sekarang guru dilihat sebagai fasilitator saja.
6. Konsep Pendidikan Menurut Al-Ghazali
Manusia sebagai makluk Tuhan, telah dikaruniai Allah kemampuan-
kemampuan dasar yang bersifat rohaniyah dan jasmaniyah. Agar dengannya,
manusia mampu mempertahankan hidup serta memajukan kesejahteraannya.
Kemampuan dasar manusia tersebut dalam sejarah pertumbuhannya merupakan
modal dasar untuk mengembangkan kehidupannya di segala bidang.

82
Abuddin Nata, Op. Cit., hlm. 167.


71
71
Sarana utama yang dibutuhkan untuk mengembangkan kehidupan
manusia tidak lain adalah pendidikan, dalam dimensi yang setara dengan tingkat
daya cipta, daya rasa dan daya karsa masyarakat beserta anggota-anggotanya.
Oleh karena antara manusia dengan tuntutan hidupnya saling berpacu
berkat dorongan dari ketiga daya tersebut, maka pendidikan menjadi semakin
penting. Bahkan boleh dikatakan, pendidikan merupakan kunci dari segala
bentuk kemajuan hidup sepanjang sejarah.
Imam Ghazali menaruh perhatian yang besar akan penyebarluasan ilmu
dan pendidikan, karena beliau yakin bahwa pendidikan adalah sebagai sarana
untuk menyebarluaskan keutamaan, membersihkan jiwa dan sebagai media
untuk mendekatkan manusia kepada Allah Azza wa Jalla. Dengan itulah,
pendidikan menurut Al-Ghazali adalah suatu ibadah dan sarana kemashlahatan
untuk membina umat. Oleh sebab itu, disamping meningkatkan karirnya sebagai
filosof dan ahli agama, Imam Ghazali juga sebagai reformer masyarakat.
Demikianlah, Al-Ghazali berdiri dalam satu barisan bersama para filosof dan
reformer mayarakat (Sosiolog) sejajarnya yang dikenal sejarah, seperti Plato, J.J
Rousseau dan Pestalozzi yang juga berkeyakinan bahwa perbaikan masyarakat
itu hanya dapat dijangkau melalui pendidikan.
83

Sisi pendidikan yang menarik perhatian dalam studi Al-Ghazali adalah
sikapnya yang sangat mengutamakan ilmu dan pengajaran; kekuatan
pendiriannya dalam mempertahankan pengajaran yang benar sebagai jalan

83
Fathiyah Hasan Sulaiman , Sistem Pendidikan Versi Al-Ghazali, op. cit., hlm. 24.


72
72
untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mencapai kebahagiaan dunia dan
akhirat. Dengan ini Al-Ghazali telah mengangkat status guru dan
menumpukkan kepercayaannya pada guru yang dinilainya sebagai pemberi
petunjuk (mursyid) dan pembina rohani yang baik.
Mengenai keutamaan mencari ilmu, Al-Ghazali berkata dalam kitab
“Fatihatul Ulum”, sebagai berikut:
“………..Kesempurnaan umat manusia dalam mendekatkan diri kepada
Allah SWT hanya dapat dihampiri oleh ilmu pengetahuannya. Oleh karena
itu, selama ilmunya banyak lagi sempurna, maka dia dekat dengan Allah
SWT dan dia lebih mirip seperti malaikat-malaikatNya”.
84


Al-Ghazali termasuk ke dalam kelompok sufistik yang banyak menaruh
perhatiannya yang besar terhadap pendidikan, karena pendidikanlah yang
banyak menentukan corak kehidupan suatu bangsa dan pemikirannya. Menurut
H.M. Arifin (Guru besar dalam dalam bidang pendidikan), mengatakan bila
dipandang dari segi filosofis, Al-Ghazali adalah penganut faham idealisme yang
konsekuen terhadap agama sebagai dasar pandangannya. Dalam masalah
pendidikan, Al-Ghazali lebih cenderung berpaham empirisme. Hal ini antara
lain disebabkan karena ia sangat menekankan pengaruh pendidikan terhadap
peserta didik. Menurutnya, seorang anak tergantung kepada orang tua dan siapa
yang mendidiknya. Hati seorang anak itu bersih, murni laksana permata yang
amat berharga, sederhana dan bersih dari gambaran apapun.
85
Al-Ghazali

84
Ibid., hlm. 23.
85
Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, op. cit., hlm. 161.


73
73
mengatakan, jika anak menerima ajaran dan kebiasaan hidup yang baik, maka
anak itu menjadi baik. Sebaliknya, jika anak itu dibiasakan kepada hal-hal yang
jahat, maka anak itu akan berakhlak jelek.
Pemikiran pendidikan Al-Ghazali dapat dilihat dari dua segi, yaitu:
86

1. Teoritis
Sisi teoritis dari pemikiran ini terfokus pada konsep pengetahuan, yang
mana di sini Al-Ghazali menawarkan ide-ide yang cukup mendetail
tentang bagaimana manusia memperoleh pengetahuan, nilai ilmu
pengetahuan dan kemudian menawarkan klasifikasi ilmu pengetahuan.
Dalam sisi ini, Al-Ghazali melihat ilmu pengetahuan dari berbagai sudut;
nilai intrinsiknya, nilai etisnya dan nilai sosialnya.
2. Praktis
Segi praktis dari pemikiran ini terpusat pada pola hubungan guru dengan
murid. Diskusinya tentang guru dan murid mencakup berbagai kewajiban
bagi kedua belah pihak, yang menurut Al-Ghazali akan menjamin
tercapainya tujuan pendidikan Islam. Bagi Al-Ghazali, tujuan akhir
pendidikan adalah hari akhirat, sebagaimana halnya hari akhirat juga
merupakan tujuan akhir dari kehidupan umat manusia. Konsekuensinya
adalah bahwa keseluruhan proses pendidikan harus menuju tercapainya
tujuan akhir.

86
Hasan Asari, Nukilan Pemikiran Islam Klasik (Gagasan Pendidikan Al-Ghazali), (Yogyakarta:
Tiara Wacana Yogya, 1999), hlm. 4.


74
74
Tujuan pendidikan menurut Al-Ghazali, yaitu:
87

1) Insan purna yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan
untuk mencari kedudukan, kemegahan dan kegagahan atau mendapatkan
kedudukan yang menghasilkan uang. Karena jika tujuan pendidikan
diarahkan bukan pada mendekatkan diri kepada Allah, akan dapat
menimbulkan kedengkian, kebencian dan permusuhan. Hal ini
mencerminkan sikap zuhud Al-Ghazali terhadap dunia, merasa qanaah
(merasa cukup dengan yang ada) dan banyak memikirkan kehidupan
akhirat dari pada kehidupan dunia.
2) Sarana yang bertujuan mendapatkan kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.
Dalam hal ini, Al-Ghazali memandang bahwa dunia ini bukan merupakan
hal pokok, tidak abadi dan akan rusak, sedangkan maut dapat memutuskan
kenikmatan setiap saat. Tujuan pendidikan Al-Ghazali tidak sama sekali
menistakan dunia, melainkan dunia ini hanya sebagai alat .
88

Oleh karena itu, beliau bermaksud ingin mengajar umat manusia sehingga
mereka dapat mencapai tujuan-tujuan yang dimaksudkan.
Karena Imam Al-Ghazali tidak melupakan masalah-masalah duniawi,
maka beliau menyediakan porsinya dalam pendidikan Islam. Akan tetapi,
penyediaan urusan dan kebahagiaan hidup di akhirat yang dikatakan lebih
utama dan lebih abadi. Sebab dunia ini hanyalah sebagai ladang akhirat saja. Ia

87
Fathiyah Hasan Sulaiman, Sistem Pendidikan Versi Al-Ghazali, op. cit., hlm. 24.
88
Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, op.cit., hlm. 162-163.


75
75
merupakan sarana yang dapat mengantarkan kepada Allah Ta’ala, bagi orang
yang memfungsikan dunia ini sebagai tempat peristirahatan, bukan sebagai
tempat tinggal yang permanen dan tumpah darah yang abadi.
Jadi, dari beberapa uraian di atas, dapat diungkapkan bahwa kerangka
pendekatan dalam proses belajar menurut Imam al-Ghazali adalah bersifat
teosentris sedangkan dalam perspektif Barat bersifat antroposentris. Lebih
jelasnya dapat dilihat dalam bagan berikut ini:

Tabel 6.1
Konsep Belajar Perspektif Imam al-Ghazali dan Barat
Aspek Perspektif al-Ghazali Perspektif Barat
• Arti penting
belajar
• Agar Allah tidak berpaling
dari orang tersebut dan agar
umur yang dimiliki tidak sia-
sia
• Untuk memiliki kemampuan
berubah dan melakukan
perubahan (proses
perkembangan yang
berkualitas).
• Sebagai benteng pertahanan
dari pengaruh negatif hasil
belajar.
• Definisi
Belajar
• Perubahan tingkah laku atau
kecakapan afektif dan
• Perubahan tingkah laku atau
kecakapan kognitif, afektif,


76
76
psikomotorik yang relatif
menetap sebagai akibat dari
latihan dan pengalaman.
dan psikomotorik yang relatif
menetap sebagai akibat dari
latihan dan pengalaman.
• Ciri-ciri
Perubahan
Hasil Belajar
• Intensional, Positif, Efektif,
dan Fungsional yang mengarah
pada kehidupan asketik.
• Intensional, Positif, Efektif,
dan Fungsional.
• Teori
Belajar
• Behavior-Transendental • Behavioristik Kognitif, dan
teori Humanistik.
• Tahapan
Belajar
• Acquisition, Storage, dan
Retrieval yang sarat dengan
nuansa isoterik.
• Acquisition, Storage, dan
Retrieval.
• Pendekatan
Belajar
• Pendekatan Hukum Jost, dan
sebagian dari teori Ballard &
Clanchy (surface).
• Pendekatan Hukum Jost,
Ballard & Clanchy, dan
Pendekatan Biggs.

Tabel 6.2 Lanjutan
Faktor-faktor
yang
mempengar-
uhi belajar
• Internal siswa (Jiwa yang
suci).
• Eksternal siswa (lingkungan
sosial, dan faktor
instrumental).
• Internal siswa (fisiologis,
psikologis, dan kematangan
fisiologis dan psikologis).
• Eksternal siswa (lingkungan
sosial, kondisi alam, dan


77
77
faktor instrumental).

Adapun pendekatan dalam proses belajar menurut Imam al-Ghazali dan
Barat dapat diringkas dalam bentuk bagan sebagai berikut:
Tabel 6.3
Pendekatan Belajar Perspektif Barat
Komponen
Proses
Behavioristik Kognitif Humanistik
• Manusia • Bagaikan Kertas
putih
• Pemproses
Informasi
• Memiliki
potensi yang
baik
• Makna Belajar • Stimulus-respon • Proses internal • Proses
memanusiakan
manusia
• Tujuan Belajar • Terbentuknya
kebiasaan sebagai
akibat dari
stimulus-respon
• Terciptanya
pengetahuan baru
dalam rangka
memecahkan
masalah
• Individu
memiliki
kemampuan
mengaktualisa-
sikan dirinya
• Peserta Didik • Netral-pasif • Aktif • Aktif dan bisa
menentukan apa


78
78
yang bisa
dilakukan
• Pendidik • Salah satu penentu • Fasilitator • Fasilitator dan
mediator
• Perilaku • Kebiasaan • Insight • Kesadaran
• Teori Belajar • Koneksionisme,
classical
conditioning,
systematic behavior
theory, contiguous
conditioning, dan
operant
conditioning
• Gestalt, dan Teori
Medan


Tabel 6.4
Pendekatan Belajar Perspektif Imam al-Ghazali
Komponen
Proses
Perspektif Imam al-Ghazali
• Manusia • Manusia adalah individu yang pasif dan memerlukan
bimbingan kepada jalan yang baik serta bisa diisi oleh apa
dan kapan saja.


79
79
• Makna Belajar • Perubahan tingkah laku atau kecakapan afektif dan
psikomotorik yang relatif menetap sebagai akibat dari latihan
dan pengalaman.
• Tujuan Belajar • Dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Yaitu demi
menghidupkan syari’at Nabi dan untuk menundukkan hawa
nafsu yang senantiasa mengajak pada keburukan serta
menghindakan diri dari kehidupan dunia.
• Peserta Didik • Anak didik sebagai individu yang pasif sehingga diperlukan
memiliki seorang guru yang dapat membimbing dan
mengarahkannya secara total.
• Pendidik • Satu-satunya penentu keberhasilan peserta didik dalam
belajar.
• Perilaku • Perilaku seseorang ditentukan oleh adanya kebiasaan.
• Teori Belajar • Behavior-Transendental.

7. Pengaruh Imam al-Ghazali dalam Dunia Pendidikan
Imam al-Ghazali sebagai tokoh yang memiliki kemampuan multi
dimensional dalam arti beragam disiplin ilmu yang dia kembangkan. Ide-ide
yang dia sajikan secara kritis senantiasa dihubungkan atau dilihat dalam
perspektif agama. Pandangan-pandangannya sarat dengan nuansa sufistik. Hal


80
80
tersebut menyebabkan Imam al-Ghazali mempunyai arti tersendiri dalam dunia
pendidikan.
Di Indonesia, pengaruh dari pandangan dan ide-ide Imam al-Ghazali yang
sarat dengan nuansa sufistik itu, bisa dilacak dari lembaga-lembaga pendidikan
agama, khususnya pondok pesantren, yang banyak menggunakan referensi
karangannya dalam berbagai aktifitas pendidikannya. Salah satu karangannya
yang banyak dikonsumsi oleh kalangan pesantren adalah kitab ¸, ·,· .,-.
Paling tidak, pengaruh yang ditimbulkan oleh Imam al-Ghazali adalah
bahwa seseorang kemudian menganggap perlu membaca karya-karyanya,
terutama yang berkaitan dengan persoalan pendidikan. Dari hasil telaah tersebut
kemudian diinternalisasi dalam pola kognisi seseorang dan pada gilirannya,
pemikiran Imam al-Ghazali itu akan melandasi pola pikir, sikap, dan tingkah
laku seseorang sebagai hasil dari adanya pendidikan.

B. Profil Guru Dalam Perspektif Al-Ghazali
1. Pengertian Guru
Imam al-Ghazali berkata:
al-muallim (guru), al-mudarris (pendidik), dan al-walid (orang tua). yaitu
seseorang yang bertugas dan bertanggung jawab atas pendidikan dan
pengajaran. Menurutnya, guru adalah seseorang yang bertanggung jawab atas
pendidikan dan pengajaran, serta bertugas untuk menyempurnakan,
mensucikan dan menjernihkan serta membimbing anak didiknya untuk
mendekatkan diri kepada Allah.
89


89
Lihat Zainuddin, Seluk Beluk Pendidikan dari Al-Ghazali, op. cit., hlm. 50.


81
81

“Dan tidaklah tersembunyi bahwa ilmu agama ialah memahami jalan akhirat,
yang dapat diketahui dengan kesempurnaan akal dan kebersihan kecerdikan.
Akal adalah yang termulia dari sifat-sifat insan sebagaimana akan diterangkan
nanti. Karena dengan akal, manusia menerima amanah Allah. Dan dengan
akal akan sampai ke sisi Allah SWT. Adapun tentang umum kegunaannya,
maka tak diragukan lagi, karena kegunaan dan keberhasilannya ialah
kebahagiaan akhirat. Adapun kemuliaan tempat, maka bagaimana
tersembunyi? Guru itu berpengaruh dalam hati dan jiwa manusia. Yang
termulia di atas bumi, ialah jenis manusia. Yang termulia dari bagian tubuh
manusia ialah hatinya. Guru itu bekerja menyempurnakan, membersihkan,
mensucikan dan membawakan hati itu mendekati Allah Azza wa Jalla.
Mengajarkan ilmu itu dari satu segi adalah ibadah kepada Allah Ta’ala dan
dari segi yang lain adalah menjadi khalifah Allah Ta’ala. Dan itu adalah yang
termulia menjadi khalifah Allah. Bahwa Allah telah membuka pada hati orang
berilmu, akan pengetahuan yang menjadi sifatNya yang teristimewa, maka dia
adalah seperti penjaga gudang terhadap barang gudangannya yang termulia.
Kemudian diizinkan berbelanja dengan barang itu untuk siapa saja yang
membutuhkannya.”
90

“Maka seperti itu pulalah dengan ilmu pengetahuan, dapat disimpan seperti
menyimpan harta benda. Bagi ilmu pengetahuan ada keadaan mencari,
berusaha dan keadaan menghasilkan yang tidak memerlukan lagi kepada
bertanya. Keadaan meneliti (istibshar), yaitu berpikir mencari yang baru dan
mengambil faidah daripadanya. Dan keadaan memberi sinar cemerlang
kepada orang lain. Dan inilah keadaan yang semulia-mulianya. Maka barang
siapa berilmu, beramal dan mengajar, maka dialah yang disebut orang besar
dalam alam malakut tinggi. Dia laksana matahari yang menyinarkan
cahayanya kepada lainnya dan menyinarkan pula kepada dirinya sendiri. Dia
laksana kesturi yang membawa keharuman kepada lainnya dan dia sendiripun
harum.”
91


Orang yang berilmu dan tidak beramal menurut ilmunya, adalah seumpama
suatu daftar yang memberi faidah kepada lainnya dan dia sendiri kosong dari
ilmu pengetahuan. Dan seumpama batu pengasah, menajamkan lainnya dan
dia sendiri tidak dapat memotong. Atau seumpama jarum penjahit yang dapat
menyediakan pakaian untuk lainnya dan dia sendiri telanjang. Atau seumpama
sumbu lampu yang dapat menerangi lainnya dan dia sendiri terbakar,
sebagaimana kata pantun: ”Dia adalah laksana sumbu lampu yang dipasang,
memberi cahaya kepada orang lain, dia sendiri terbakar menyala.
92


90
Al-Ghazali, Terj. Ismail Yakub, op. cit., hlm. 77.
91
Al-Ghazali, Terj. Ismail Yakub, MA. SH., op. cit., hlm. 44.
92
Ibid., hlm. 212.


82
82

Seluruh manusia itu akan binasa kecuali orang-orang yang berilmu, seluruh
orang-orang yang berilmu akan binasa kecuali orang-orang yang
mempraktekkan ilmunya dan seluruh orang-orang yang mempraktekkan
ilmunya itu binasa kecuali orang-orang yang berhati tulus.
93


2. Syarat Kepribadian Guru Menurut Al-Ghazali
Kepribadiaan bagi seorang guru menurut Al-Ghazali sangat penting.
Al-Ghazali berkata:
Guru itu harus mengamalkan sepanjang ilmunya. Jangan perkataannya
membohongi perbuatannya. Karena ilmu dilihat dengan mata hati dan amal
dilihat dengan mata kepala. Yang mempunyai mata kepala adalah lebih
banyak.
94


Perumpamaan guru dengan murid adalah bagaikan ukiran dengan tanah liat
dan bayang-bayang dengan sepotong kayu. Maka bagaimanakah tanah itu bisa
terukir indah, padahal ia adalah material yang tidak sedia diukir dan
bagaimana pula bayang-bayang itu menjadi lurus, sedangkan kayu yang
tersinar itu bengkok.
95


Kemudian Al-Ghazali mengemukakan syarat-syarat kepribadian
seorang guru:
96

1. Bersikap lembut dan kasih sayang kepada anak didiknya dan harus
mencintai muridnya seperti mencintai anaknya sendiri.
2. Tidak menuntut upah dari murid-muridnya. Ia berpandangan bahwa
mengajar itu wajib bagi setiap orang yang berilmu, maka seorang guru
baginya, tidak boleh menuntut upah atas jerih payahnya mengajar dan
mengharapkan pujian, ucapan terima kasih atau balasan bagi murid-
muridnya, karena ia melaksanakan kewajibannya.
3. Tidak menyembunyikan ilmu yang dimilikinya sedikitpun. Ia harus
bersungguh-sungguh dan tampil sebagai penasehat, pembimbing para
pelajar ketika mereka membutuhkannya. Untuk itu perlu diupayakan ilmu
yang sesuai dengan setiap tingkat kecerdasan para siswa. Guru harus

93
Fathiyah Hasan Sulaiman, Sistem Pendidikan Versi Al-Ghazali, op. cit., hlm. 23.
94
Al-Ghazali, Terj. Ismail Yakub, op. cit., hlm. 222.
95
Fathiyah Hasan Sulaiman, Sistem Pendidikan Versi Al-Ghazail, op. cit., hlm. 52.
96
Abuddin Nata, Perspektif Islam Tentang Pola Hubungan Guru-Murid (Studi Pemikiran Tasawuf
Al-Ghazali), op. cit., hlm. 98-101.


83
83
mengamalkan yang diajarkannya, karena ia menjadi idola di mata peserta
didiknya..
4. Menjauhi akhlak yang tercela dengan cara menghindarinya sedapat
mungkin, dan harus memberikan contoh yang baik, seperti berjiwa halus,
sopan, lapang dada, murah hati dan beraklak terpuji lainnya.
5. Tidak mewajibkan kepada para pelajar agar mengikuti guru tertentu dan
kecenderungannya, dan hendaklah seorang guru mendorong muridnya
mencari pula ilmu dari yang lain dengan meninggalkan kefanatikan
kepada salah seorang guru sedang yang lain tidak. Kata Imam Ghazali:
Seorang guru yang bertanggung jawab pada salah satu mata pelajaran,
tidak boleh melecehkan mata pelajaran lain di hadapan muridnya.
Seumpama guru bahasa, biasanya melecehkan ilmu fiqih, guru fiqih
melecehkan ilmu-ilmu hadits dan tafsir dengan sindiran, bahwa ilmu
hadits dan tafsir itu adalah semata-mata menyalin dan mendengar. Cara
yang demikian adalah cara orang yang lemah, tidak memerlukan pikiran
padanya.
97

6. Memperlakukan murid sesuai dengan kesanggupannya, dan memahami
potensi yang dimiliki anak didik Seorang guru harus mamahami minat,
bakat dan jiwa anak didiknya, sehingga disamping tidak akan salah dalam
mendidik, juga akan terjalin hubungan yang akrab dan baik antara guru
dengan anak didiknya.

Al-Ghazali berkata:
Seorang guru hendaklah dapat memperkirakan daya pemahaman muridnya
dan jangan diberi pelajaran yang belum sampai tingkat akal pikirannya
sehingga ia akan lari dari pelajaran atau menjadikan tumpul otaknya.
98


Selain itu, Al-Ghazali juga berkata:
99

Sesungguhnya faktor yang mendorong membekasnya keraguan murid
pada guru adalah perasaan bahwa gurunya kikir ilmu dan tidak
melaksanakan kewajibannya, khusus apabila murid di satu sisi dibohongi
yang biasanya menyertai masa dewasa. Oleh karena itu,hendaklah guru
menyampaikan ilmu pada murid yang hendak kemampuannya secara jelas
yang sesuai dengan umurnya dan jangan menjelaskan bahwa di balik ini
ada rahasia yang tersimpan yang dapat merendahkan keinginannya pada
apa yang nyata dan meragukan hatinya dan menyangka guru kikir
padanya. Setiap orang akan menyangka bahwa dia ahli ilmu-ilmu yang
rahasia. Tiada seorangpun yang tidak memperoleh dari Allah

97
Al-Ghazali, Terj. Ismail Yakub, op. cit., hlm. 218.
98
Al-Ghazali, Al-Ghazali, Terj. Ismail Yakub, op. cit., hlm. 219.
99
Dahlan Tamrin¸ Al-Ghazali dan Pemikiran Pendidikannya, (Malang: 1988), hal. 56.


84
84
kesempurnaan akalnya. Sebab sebodoh-bodoh dan selemah-lemah akal
mereka, mereka bangga dengan kesempurnaan akalnya.

7. Kerja sama dengan para pelajar di dalam membahas dan menjelaskan
suatu pelajaran (ilmu pengetahuan).
8. Guru harus mengingatkan muridnya, agar tujuannya dalam menuntut ilmu
bukan untuk kebanggaan diri atau mencari keuntungan pribadi, tapi untuk
mendekatkan diri kepada Allah. Guru juga harus mendorong muridnya
agar mencari ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu yang membawa pada
kebahagiaan dunia dan akhirat.
9. Guru harus dapat menanamkan keimanan ke dalam pribadi anak didiknya,
sehingga akal pikiran anak didik tersebut akan dijiwai oleh keimanan itu.
Seorang guru harus memegang dasar-dasar agama yang prinsip dan
berusaha merealisirnya, diantaranya adalah bersikap adil.

Al-Ghazali berkata :
Bahwa guru menghardik muridnya dari berperangai jahat dengan cara
sindiran selama mungkin dan tidak dengan cara terus terang. Dan dengan
cara kasih sayang, tidak dengan cara mengejek. Sebab, kalau dengan cara
terus terang, merusakkan takut murid kepada guru dan mengakibatkan dia
lebih berani menentang dan suka meneruskan sifat yang jahat itu.
100


3. Tugas dan Kewajiban Guru menurut Al-Ghazali
Menurut Imam al-Ghazali seorang guru memiliki tugas-tugas tertentu
sebagai berikut:
1. Memberikan kasih sayang kepada anak didik.
Imam al-Ghazali berkata:
Guru hendaknya menunjukkan kasih sayang kepada pelajar dan
memperlakukannya seperti anak sendiri.
101


2. Mengikuti jejak Rasulallah dalam tugas dan kewajibannya.
Al-Ghazali berpendapat:

100
Al-Ghazali, Terj. Ismail Yakub, op. cit., hlm. 217.
101
Imam al-Ghazali. 2007. Ringkasan Ihya’ Ulumuddin. (Jakarta: Pustaka Amani), hal. 14


85
85
seorang guru hendaknya mengikuti ajaran Rasulullah SAW, maka ia tidak
mencari upah, balas jasa dan ucapan terima kasih dalam mengajarkan ilmu
pengetahuan. Tetapi maksud mengajar adalah mencari keridhaan Allah
dan mendekatkan diri kepadaNya.”
102


3. Sebagai Pengarah dan Pembimbing
Imam al-Ghazali berkata:
Hendaklah guru menasihati pelajar (murid) dan melarangnya dari akhlak
tercela, dan tidak menyimpan sesuatu nasihat untuk hari esok; seperti
melarangnya dari mencari kedudukan sebelum patut memperolehnya dan
melarang murid belajar ilmu yang tersembunyi sebelum menyempurnakan
ilmu yang terang.
103


4. Menjadi teladan yang baik bagi anak didik
Imam al-ghazali mengatakan:
Patutlah seorang guru bersikap lurus (istiqamah), kemudian menuntut si murid
bersikap lurus. Kalau tidak, maka nasihat itu tidak berguna, karena
meneladani perbuatan lebih kuat daripada meneladani perkataan.
104


4.Kriteria Dalam Memilih Guru menurut Al-Ghazali
Dalam kitab Ihya’nya, Imam al-Ghazali mengatakan antara lain:
Orang yang menetapkan diri dan bertekad untuk mengambil pekerjaan sebagai
pengajar, ia harus menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai berikut:
pertama, harus mencintai muridnya seperti mencintai anaknya sendiri; kedua,
mengikuti teladan dan contoh Rasulullah dalam arti tidak boleh
mengharapkan imbalan dan upah dari pekerjaannya selain kedekatan diri
kepada Allah; ketiga, harus mengingatkan muridnya bahwa tujuan pendidikan
adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan untuk kekuasaan dan
kebanggan diri; keempat, guru harus mencegah muridnya dari memiliki watak
dan perilaku jahat; kelima, tidak boleh merendahkan ilmu lain di hadapan
muridnya; keenam, mengajar murid-muridnya hingga batas kemampuan
pemahaman mereka; ketujuh, harus mengajarkan kepada murid yang
terbelakang dengan jelas dan sesuai dengan tingkat pemahamannya yang

102
Al-Ghazali, Terj. Ismail Yakub, op. cit., hlm. 214.
103
Al-Ghazali, Terj. Ismail Yakub. Ibid., hlm. 216
104
Al-Ghazali, Terj. Ismail Yakub Ibid., hlm. 218


86
86
terbatas; kedelapan, guru harus melakukan terlebih dahulu apa yang
diajarkannya dan tidak boleh berbohong dengan apa yang disampaikannya.
105



C. Profil Murid Dalam Perspektif Al-Ghazali
1. Pengertian Murid
Dalam hubungan ini Imam al-Ghazali mengatakan:
Al-Thalib adalah bukan kanak-kanak yang belum dapat berdiri sendiri, dan
dapat mencari sesuatu, melainkan ditujukan kepada orang yang memiliki
keahlian, berpengetahuan, mencari jalan dan mendahulukan sesuatu yang
bermanfaat bagi dirinya. Bahwasannya ia adalah seseorang yang telah
mencapai usia dewasa dan telah dapat bekerja dengan baik dengan
menggunakan akal pikirannya. Ia adalah seseorang yang sudah mampu
dimintai pertanggungjawaban dalam melaksanakan aktivitas kewajiban agama
yang dibebankan kepadanya sebagai fardu ‘ain. Seorang al-thalib adalah
manusia yang telah memiliki kesanggupan untuk memilih jalan
kehidupannya, menentukan apa yang dinilainya baik, dan tidak pula
dibebankan kepadanya untuk berusaha dalam mendapatkan ilmu dan
sungguh-sungguh dalam memperolehnya, sebagaimana pula sebaliknya ia
bisa menilai atas sesuatu sebagai yang buruk atau tidak baik untuk
ditinggalkan dan kemudian menyucikan dirinya.
106



2. Tugas dan Kewajiban Murid menurut Al-Ghazali
1. Mendahulukan kebersihan jiwa dari akhlak yang rendah.
Imam al Ghazali mengatakan:
najasah tidak khusus mengenai baju. Maka, selama bathin tidak
dibersihkan dari hal-hal yang keji, ia pun tidak menerima ilmu yang
bermanfaat dalam agama dan tidak diterangi dengan cahaya ilmu. Ibnu
Mas’ud berkata, “Bukanlah ilmu itu karena banyak meriwayatkan, tetapi
ilmu itu adalah cahaya yang dimasukkan ke dalam hati.
Seorang muhaqqiq berkata, “Kami belajar ilmu untuk selain allah, namun
ilmu itu menolak kecuali untuk allah. Yakni, ilmu itu menolak terhadap

105
Imam al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin (Beyrut: Dar al-Fiqrah, 1995), jilid 1, hlm. 76-79.
106
Ibid., hlm. 51


87
87
kami sehingga kami tidak dapat mengetahui hakikatnya, melainkan hanya
kami dapatkan hadist dan lafal-lafalnya.
107


2. Mengurangi kesenangan-kesenangan duniawinya dan menjauh dari
kampung halaman hingga hatinya terpusat pada ilmu.
Imam al-Ghazali mengatakan bahwa:
Allah tidak menjadikan dua hati bagi seseorang di dalam rongga
badannya. Oleh karena itu dikatakan, “Ilmu itu tidak memberikan
sebagiannya hingga engkau memberinya seluruh milikmu.”
108


3. Tidak sombong dalam menuntut ilmu dan tidak membangkang kepada
guru.
Dalam hal ini Imam al-Ghazali memberikan contoh:
Seperti orang sakit yang gawat memberi kebebasan kepada dokter tanpa
berbuat sewenang-wenang terhadapnya, dengan sesuatu dalam menuntut
suatu macam obat tertentu. Patutlah ia terus berkhidmat kepada guru.
Sebagaimana diriwayatkan bahwa Zaid bin Tsabit menyalati jenazah, tiba-
tiba datanglah seekor bagal (keledai) untuk dinaiki, maka ibnu abbas
datang dan memegang kendalinya. Zaid berkata, “Biarkan dia, wahai
putra paman Rasulullah Saw.” Ibnu Abbas berkata, “Demikianlah kami
disuruh memperlakukan para ulama dan orang-orang besar.” Kemudian
Zaid mencium tangannya seraya berkata, “Demikianlah kami disuruh
memperlakukan ahli bait (keluarga) Nabi kita Saw.”
109


4. Menghindar dari mendengarkan perselisihan-perselisihan diantara ulama
atau sesama manusia,
Imam al-Ghazali berasumsi:
Hal yang seperti itu (perselisihan-perselisihan diantara ulama atau sesama
manusia) dapat menimbulkan prasangka yang buruk dan juga dapat
menimbulkan kebingungan, keragu-raguan serta kurang percaya terhadap
kemampuan guru. Pada pertama kali hatinya condong kepada segala yang
disampaikan kepadanya, terutama hal-hal yang menyebabkan kemalasan

107
Ibid., 11
108
Imam al-Ghazali. 2007. Ringkasan Ihya’ Ulumuddin. Op.Cit., hlm. 11
109
Imam al-Ghazali. 2007. Op.Cit., hlm. 11-12


88
88
dan pengangguran, seperti ibadahnya para sufi. Para pemula tidak boleh
mengikuti perbuatan-perbuatan dari orang-orang yang sudah mendalam,
hingga sebagian mereka berkata, “Barangsiapa mengunjungi kami
pertama kali, ia pun menjadi teman. Dan siapa mengunjungi kami pada
akhirnya, ia pun menjadi zindiq.” Pada akhirnya mereka tidak bergerak
kecuali dalam mengerjakan amalan-amalan fardhu. Mereka mengganti
amalan sunnah dengan gerakan hati dan penyaksian yang kekal. Orang
yang lalai menganggapnya pengangguran dan kemalasan.
110


5. Tidak menolak suatu bidang ilmu yang terpuji, tetapi ia menekuninya
hingga mengetahui maksudnya.
Imam al-Ghazali mengatakan:
Seorang pelajar hendaknya tidak berpindah dari suatu ilmu yang terpuji
kepada cabang-cabangnya kecuali setelah ia memahami pelajaran
sebelumnya, mengingat bahwa berbagai ilmu itu saling berkaitan satu
sama lain.

6. Mengalihkan perhatian kepada ilmu yang terpenting, yaitu ilmu akhirat.
Imam al-Ghazali mengatakan:
Jika umur membantunya, ia pun menyempurnakannya (ilmu yang
dipelajarinya). Kalau tidak, ia memilih yang paling penting dan memilih
yang paling penting dapat dilakukan setelah mengetahui seluruhnya.
111


7. Hendaknya tujuan pelajar dalam masa sekarang ialah menghiasi batinnya
dengan sifat yang menyampaikannya kepada Allah Ta’ala.
Imam al-Ghazali mengatakan:
Hendaknya tujuan pelajar dalam masa sekarang ialah menghiasi batinnya
dengan sifat yang menyampaikannya kepada Allah Ta’ala.dan kepada
derajat tertinggi diantara malaikat muqarrabin (yang dekat dengan Allah).
Dan dengan ilmu itu ia tidak mengharapkan kepemimpinan, harta dan
pangkat.
112




110
Imam al-Ghazali. Ibid., hlm. 12.
111
Imam al-Ghazali. Ibid., hlm. 13.
112
Imam al-Ghazali. Ibid., hlm. 14.


89
89
3. Akhlak Murid Terhadap Guru menurut Al-Ghazali
Imam al-Ghazali mengatakan:
Hendaknya (murid) tidak mendebat dan banyak argumentasi meski guru
keliru, tidak menggelar sajadah dihadapannya kecuali pada waktu shalat, tidak
memperbanyak shalat sunnah di hadapnnya, dan mengerjakan apa saja yang
diperintahkan oleh gurunya sebatas kemampuannya, tidak mengingkari apa
yang ia dengar dan terima darinya, baik dalam ucapan maupun tindakan, agar
ia tidak dicap sebagai hipokrit.
113


















113
Ibid., hlm. 26


90
90
BAB IV
ANALISIS HASIL PENELITIAN

A. Profil Guru Dalam Perspektif Al-Ghazali
1. Pengertian Guru
Imam al-Ghazali berkata:
al-muallim (guru), al-mudarris (pendidik), dan al-walid (orang tua). yaitu
seseorang yang bertugas dan bertanggung jawab atas pendidikan dan
pengajaran. Menurutnya, guru adalah seseorang yang bertanggung jawab atas
pendidikan dan pengajaran, serta bertugas untuk menyempurnakan,
mensucikan dan menjernihkan serta membimbing anak didiknya untuk
mendekatkan diri kepada Allah.
114


Dalam mempelajari Imam Al-Ghazali, sesuatu yang sangat penting untuk
dikatakan dari pendidikan adalah perhatiannya yang sangat dalam tentang ilmu
dan pendidikan maupun keyakinannya yang kuat bahwa pendidikan yang baik itu
merupakan suatu jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan untuk
mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Itulah sebabnya beliau memberikan
kedudukan yang tinggi bagi seorang guru dan menaruh kepercayaannya terhadap
seorang guru yang baik sebagai penasehat atau pembimbing yang baik. Sejalan
dengan itu Drs. Syiful Bahri Djamarah, M.Ag mengatakan:
Guru memang menempati kedudukan yang terhormat di masyarakat (sosial)
kewibawaan (keilmuan dan kedekatannya terhadap tuhanlah) yang
menyebabkan guru dihormati dan disegani, sehingga masyarakat tidak

114
Lihat Zainuddin, Seluk Beluk Pendidikan dari Al-Ghazali, op. cit., hlm. 50.


91
91
meragukan figure guru. Masyarakat yakin bahwa gurulah yang dapat
mendidik mereka agar menjadi orang yang berkepribadian mulia.
115


Kata guru berasal dalam bahasa Indonesia yang berarti orang yang mengajar.
Dalam bahasa Inggris, dijumpai kata teacher yang berarti pengajar. Selain itu
terdapat kata tutor yang berarti guru pribadi yang mengajar di rumah, mengajar
ekstra, memberi les tambahan pelajaran, educator, pendidik, ahli didik, lecturer,
pemberi kuliah, penceramah. Dalam bahasa Arab istilah yang mengacu kepada
pengertian guru, yaitu; al-Alim (jamaknya ulama) atau al-Mu’allim, yang berarti
orang yang mengetahui dan banyak digunakan para ulama/ahli pendidikan untuk
menunjuk pada hati guru. Selain itu, adalah al-Mudarris (untuk arti orang yang
mengajar atau orang yang memberi pelajaran) dan al-Muaddib (yang merujuk
kepada guru yang secara khusus mengajar di istana) serta al-Ustadz (untuk
menunjuk kepada guru yang mengajar bidang pengetahuan agama Islam, dan
sebutan ini hanya dipakai oleh masyarakat Indonesia dan Malaysia).
116

Al-Ghazali mempergunakan istilah guru dengan berbagai kata, al-muallim
(guru), al-mudarris (pendidik), dan al-walid (orang tua).
117
Sehingga guru dalam
arti umum, yaitu seseorang yang bertugas dan bertanggung jawab atas pendidikan
dan pengajaran. Menurutnya, guru adalah seseorang yang bertanggung jawab atas
pendidikan dan pengajaran, serta bertugas untuk menyempurnakan, mensucikan

115
Drs. Syiful Bahri Djamarah, M.Ag. 2005. Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif; suatu
pendekatan teoritis psikologis, (Jakarta: Rineka cipta), hlm. 31
116
Abuddin Nata, Perspektif Islam Tentang Pola Hubungan Guru-Murid (Studi Pemikiran Tasawuf
Al-Ghazali),(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001), hal.41.
117
Zainuddin, Seluk Beluk Pendidikan dari Al-Ghazali, op. cit., hlm. 50.


92
92
dan menjernihkan serta membimbing anak didiknya untuk mendekatkan diri
kepada Allah.
Al-Ghazali sering mengemukakan pendapatnya tentang ketinggian derajat dan
kedudukan para guru ini dalam beberapa tempat dikitabnya, Ihya’ Ulumuddin.
Misalnya beliau berkata:
“Dan tidaklah tersembunyi bahwa ilmu agama ialah memahami jalan akhirat,
yang dapat diketahui dengan kesempurnaan akal dan kebersihan kecerdikan.
Akal adalah yang termulia dari sifat-sifat insan sebagaimana akan diterangkan
nanti. Karena dengan akal, manusia menerima amanah Allah. Dan dengan
akal akan sampai ke sisi Allah SWT. Adapun tentang umum kegunaannya,
maka tak diragukan lagi, karena kegunaan dan keberhasilannya ialah
kebahagiaan akhirat. Adapun kemuliaan tempat, maka bagaimana
tersembunyi? Guru itu berpengaruh dalam hati dan jiwa manusia. Yang
termulia di atas bumi, ialah jenis manusia. Yang termulia dari bagian tubuh
manusia ialah hatinya. Guru itu bekerja menyempurnakan, membersihkan,
mensucikan dan membawakan hati itu mendekati Allah Azza wa Jalla.
Mengajarkan ilmu itu dari satu segi adalah ibadah kepada Allah Ta’ala dan
dari segi yang lain adalah menjadi khalifah Allah Ta’ala. Dan itu adalah yang
termulia menjadi khalifah Allah. Bahwa Allah telah membuka pada hati orang
berilmu, akan pengetahuan yang menjadi sifatNya yang teristimewa, maka dia
adalah seperti penjaga gudang terhadap barang gudangannya yang termulia.
Kemudian diizinkan berbelanja dengan barang itu untuk siapa saja yang
membutuhkannya.”
118


Al-Ghazali menyamakan keberhasilan ilmu dengan terhimpunnya harta
kekayaan. Artinya, baik orang yang berhasil memperoleh ilmu maupun orang
berhasil mengumpulkan harta kekayaan berada di dalam salah satu dari empat
jenis berikut ini:
1. Orang yang berhasil memperoleh harta kekayaan atau ilmu lalu disimpannya,
tidak dimanfaatkan untuk kepentingan apapun juga.

118
Al-Ghazali, Terj. Ismail Yakub, op. cit., hlm. 77.


93
93
2. Orang yang menyimpan harta kekayaan atau ilmu sebanyak-banyaknya untuk
dimanfaatkan sendiri, sehingga ia tidak perlu untuk meminta-minta.
3. Orang yang berhasil memperoleh ilmu atau harta kekayaan untuk
dimanfaatkan atau dinafkahkan sendiri.
4. Orang yang berhasil memperoleh ilmu atau harta kekayaan untuk dinafkahkan
atau dengan menyebarkan ilmunya untuk menolong orang lain.
119


Selanjutnya beliau berkata dalam Ihya’ Ulumuddin:
“Maka seperti itu pulalah dengan ilmu pengetahuan, dapat disimpan seperti
menyimpan harta benda. Bagi ilmu pengetahuan ada keadaan mencari,
berusaha dan keadaan menghasilkan yang tidak memerlukan lagi kepada
bertanya. Keadaan meneliti (istibshar), yaitu berpikir mencari yang baru dan
mengambil faidah daripadanya. Dan keadaan memberi sinar cemerlang
kepada orang lain. Dan inilah keadaan yang semulia-mulianya. Maka barang
siapa berilmu, beramal dan mengajar, maka dialah yang disebut orang besar
dalam alam malakut tinggi. Dia laksana matahari yang menyinarkan
cahayanya kepada lainnya dan menyinarkan pula kepada dirinya sendiri. Dia
laksana kesturi yang membawa keharuman kepada lainnya dan dia sendiripun
harum.”
120


Al-Ghazali menganggap orang termasuk dalam jenis keempat adalah orang
yang paling paling mulia. Karena, orang yang berilmu dan mengajarkan ilmunya
hingga orang lain dapat memanfaatkannya diibaratkan sebagai matahari yang
memancarkan sinarnya kepada makhluk lain, sedangkan dirinya sendiri tetap
bersinar dan juga sebagai minyak kasturi yang menyebarkan parfum kepada
sekitarnya, sedangkan dia sendiri masih tetap mempunyai bau yang harum itu.
Dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin beliau juga berkata sebagai berikut:
Orang yang berilmu dan tidak beramal menurut ilmunya, adalah seumpama
suatu daftar yang memberi faidah kepada lainnya dan dia sendiri kosong dari
ilmu pengetahuan. Dan seumpama batu pengasah, menajamkan lainnya dan
dia sendiri tidak dapat memotong. Atau seumpama jarum penjahit yang dapat

119
Fathiyah Hasan Sulaiman, Sistem Pendidikan Versi Al-Ghazali, op. cit., hlm. 43.
120
Al-Ghazali, Terj. Ismail Yakub, MA. SH., op. cit., hlm. 44.


94
94
menyediakan pakaian untuk lainnya dan dia sendiri telanjang. Atau seumpama
sumbu lampu yang dapat menerangi lainnya dan dia sendiri terbakar,
sebagaimana kata pantun: ”Dia adalah laksana sumbu lampu yang dipasang,
memberi cahaya kepada orang lain, dia sendiri terbakar menyala.
121


Dari keempat perumpamaan Al-Ghazali di atas, dapat dipahami bahwa profesi
keguruan merupakan profesi yang paling mulia dan paling agung dibandingkan
dengan profesi yang lain. Hal ini sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Drs.
Moh. Uzer Usman:
bahwa tugas dan peran guru tidaklah terbatas di dalam masyarakat, lebih dari
itu guru pada hakikatnya merupakan komponen strategis yang memiliki peran
yang sangat urgen dalam menentukan gerak maju kehidupan dan peradaban
bangsa.
122


Dan yang utama menurut hemat penulis sendiri dengan profesinya itu pula
seorang guru menjadi perantara antara manusia dalam hal ini murid, dengan
penciptanya yaitu Allah SWT.
Sudah jelas seorang guru telah mengemban pekerjaan yang sangat penting,
karena pendidikan Islam adalah berintikan agama yang mementingkan akhlak,
meskipun ia mempunyai bermacam-macam cabang dan tujuan. Sebagaimana
yang dikatakan Oleh karena itu, ia dianggap sebagai bapak kerohanian, yaitu
seorang yang mempunyai tugas yang sangat tinggi dalam dunia ini, yaitu
memberikan ilmu sebagai makanannya, sebagai kebutuhan manusia yang tinggi,
disamping ia sebagai alat untuk sampai kepada Tuhan.

121
Ibid., hlm. 212.
122
Drs. Moh. Uzer Usman. Menjadi Guru Professional. (Bandung: Rosdakarya, 2007), hlm. 7.


95
95
Dengan ini Al-Ghazali telah mengangkat status guru dan menumpukkan
kepercayaannya kepada guru yang dinilainya sebagai pemberi petunjuk (mursyid)
dan pembina rohani yang terbaik. Guru adalah bekerja menyempurnakan,
mengangkat derajat, membersihkan dan menggiringnya untuk mendekatkan diri
kepada Tuhan. Sebagaimana juga yang dikatakan oleh Zakiyah Darajat:
Guru adalah orang yang menjadi perantara untuk membantu anak didiknya
memiliki ilmu pengetahuan sekaligus agar dekat kepada tuhan sebagai sang
pencipta.
123


Jadi, mengajar ilmu termasuk pengabdian kepada Allah, sekaligus
mengemban amanah Allah SWT yang terbesar. Selanjutnya, ia jelaskan pula
keutamaan mengajar dan kewajiban melaksanakannya bagi orang berilmu. Ia
sebutkan bahwa orang yang mengetahui tapi tidak menyebarkan ilmunya, tidak ia
amalkan dan tidak pula ia ajarkan kepada orang lain, maka ia sama saja seperti
mengumpulkan harta untuk disimpan tanpa dapat dimanfaatkan siapapun.
Al-Ghazali juga menjelaskan arti pentingnya pengajaran dan kewajiban
melaksanakannya dengan keharusan berhati tulus. Dalam melukiskan pentingnya
pengajaran dan kewajiban serta keharusan ikhlas dalam mengajar, Al-Ghazali
berkata dalam Fatihatul Ulum sebagai berikut:
Seluruh manusia itu akan binasa kecuali orang-orang yang berilmu, seluruh
orang-orang yang berilmu akan binasa kecuali orang-orang yang

123
Siti Fatchurohmah. 2006. “Sosok Guru Menurut al-Ghazali dan Zakiah Daradjat”, Skripsi, Fakultas
Tarbiyah UIN Malang. hlm. 73.



96
96
mempraktekkan ilmunya dan seluruh orang-orang yang mempraktekkan
ilmunya itu binasa kecuali orang-orang yang berhati tulus.
124


Yang dimaksud dengan hati tulus adalah orang yang dalam perbuatannya itu
bersih dari campuran dan murni. Maksudnya adalah, bahwa pelakunya itu tidak
menghendaki imbalan atas perbuatnn itu. Jadi, dalam mengajar itu menurut Al-
Ghazali harus dilandasi dengan keikhlasan tanpa mengharap imbalan dari
perbuatan itu.
Tugas guru adalah seperti tugas para utusan Allah, Rasulullah sebagai
mualllimul awwal fil Islam (guru pertama dalam Islam) bertugas membacakan,
menyampaikan dan mengajarkan ayat-ayat Allah (Al-Quran) kepada manusia,
mensucikan diri dari jiwa dan dosa, menjelaskan mana yang halal dan mana yang
haram, serta menceritakan tentang manusia di zaman yang silam, mengaitkan
dengan kehidupan pada zamannya dan memprediksikan pada kehidupan di zaman
yang akan datang.
Dengan demikian tampaklah bahwa secara umum guru bertugas dan
bertanggung jawab seperti Rasul tidaklah terikat dengan ilmu atau bidang studi
yang diajarkannya, yaitu menghantarkan murid dan manusia terdidik yang
mampu menjalankan tugas-tugas ketuhanan. Ia sekedar menyampaikan materi
pelajaran, tetapi bertanggung jawab pula memberikan wawasan kepada murid
agar menjadi manusia yang mampu menggali ilmu pengetahuan dan menciptakan
lingkungannya yang menarik dan menyenangkan. Pendidikan kesusilaan, budi

124
Fathiyah Hasan Sulaiman, Sistem Pendidikan Versi Al-Ghazali, op. cit., hlm. 23.


97
97
pekerti, etika, moral maupun akhlak bagi murid bukan hanya menjadi tanggung
jawab guru bidang studi agama atau yang ada kaitannya dengan budi. Dengan
demikian, pendidikan sebagai proses memanusiakan manusia menuntut adanya
kesamaan arah dari seluruh unsur yang ada, termasuk unsur pendidikannya.
Dari uraian di atas, tampak betapa berat tugas dan tanggung jawab seorang
guru. Jika kita teliti, barang kali jarang dijumpai seorang guru yang dapat
memenuhi segala persyaratan tersebut. Oleh karena itu, perlu penyaringan ketat
terhadap calon guru untuk mengetahui siapa yang berbakat dan memenuhi
persyaratan itu.
2. Syarat Kepribadian Guru Menurut Al-Ghazali
Kepribadiaan bagi seorang guru menurut Al-Ghazali sangat penting. Al-
Ghazali berkata:
Guru itu harus mengamalkan sepanjang ilmunya. Jangan perkataannya
membohongi perbuatannya. Karena ilmu dilihat dengan mata hati dan amal
dilihat dengan mata kepala. Yang mempunyai mata kepala adalah lebih
banyak.
125


Dalam arti sederhana, kepribadian berarti sifat hakiki individu yang tercermin
pada sikap dan perbuatannya yang membedakan dirinya dari orang lain. Mc. Leod
(1989), mengartikan kepribadian (personality) sebagai sifat khas yang dimiliki
seseorang. Menurut tinjauan psikologi, kepribadian pada prinsipnya adalah
susunan atau kesatuan antara aspek perilaku mental (pikiran, perasaan dan
sebagainya) dengan aspek perilaku behavioral (perbuatan nyata). Aspek-aspek ini

125
Al-Ghazali, Terj. Ismail Yakub, op. cit., hlm. 222.


98
98
berkaitan secara fungsional dalam diri seorang individu, sehingga membuatnya
bertingkah laku secara khas dan tetap.
126

Kepribadian adalah faktor yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan
seorang guru sebagai pengembang sumber daya manusia. Hal ini dikarenakan
bahwa disamping ia berperan sebagai pembimbing dan pembantu anak didik
untuk mencapai kedewasaan, guru juga berperan sebagai panutan.
Setiap orang yang akan melaksanakan tugas guru harus mempunyai
kepribadian. Guru adalah seorang yang seharusnya dicintai dan disegani oleh
muridnya. Penampilannya dalam mengajar harus meyakinkan dan tindak-
tanduknya akan ditiru dan diikuti oleh muridnya. Penampilannya dalam mengajar
harus meyakinkan dan tindak-tanduknya akan ditiru dan diteladani.
127
Dalam
melaksanakan tugasnya sebagai pendidik, ia harus tabah dan tahu cara
memecahkan berbagai kesulitan dalam tugasnya sebagai pendidik. Ia juga harus
mau dan rela serta memecahkan berbagai masalah yang dihadapinya, terutama
masalah yang langsung berhubungan dengan proses belajar mengajar
Perkataan Al-Ghazali tersebut dapat disimpulkan bahwa amal perbuatan,
perilaku, akhlak dan kepribadian seorang guru adalah lebih penting dari pada ilmu
pengetahuan yang dimiliki. Karena kepribadian seorang guru akan diteladani dan
ditiru oleh anak didiknya, baik secara sengaja maupun tidak sengaja dan baik
secara langsung maupun tidak langsung. Jadi, Al-Ghazali sangat menganjurkan

126
Muhibbin Syah, M.Ed. op.cit., hlm. 225.
127
Zakiah Daradjat, et. al., Metodologi Pengajaran Agama Islam, op. cit., hlm. 98.


99
99
agar seorang guru mampu menjalankan tindakan, perbuatan dan kepribadiannya
sesuai dengan ajaran dan pengetahuan yang diberikan kepada anak didiknya.
Antara guru dengan anak didik oleh Al-Ghazali diibaratkan bagai tongkat dengan
bayang-bayang. Bagaimana bayang-bayang akan lurus, apabila tongkatnya saja
bengkok.
Kata Imam Al-Ghazali:
Perumpamaan guru dengan murid adalah bagaikan ukiran dengan tanah liat
dan bayang-bayang dengan sepotong kayu. Maka bagaimanakah tanah itu bias
terukir indah, padahal ia adalah material yang tidak sedia diukir dan
bagaimana pula bayang-bayang itu menjadi lurus, sedangkan kayu yang
tersinar itu bengkok.
128


Maka dari itu, kepribadian seorang guru dipandang sangat penting. Karena
tugas guru bukan saja melaksanakan pendidikan, ia juga harus mampu
melaksanakan atau memberi contoh sesuai dengan apa yang telah diberikan atau
yang diajarkan kepada anak didiknya. Sejalan dengan hal tersebut menurut
Fathiyah, syarat-syarat kepribadian (sifat-sifat terpenting) yang harus dimiliki
oleh seorang guru, antara lain:
129

2) Jujur dan tulus dalam berkarya.
3) Santun dan sayang terhadap murid.
4) Toleran dan berlapang dada dalam hal-hal berkaitan dengan ilmu dan abdi
ilmu.
5) Tidak terpaut pada materi.
6) Berilmu luas dan bermakrifah yang dalam serta berpendirian kuat dan
berpegang teguh pada prinsip.


128
Fathiyah Hasan Sulaiman, Sistem Pendidikan Versi Al-Ghazail, op. cit., hlm. 52.
129
Fathiyah Hasan Sulaiman, Aliran-Aliran Dalam Pendidikan (Studi Tentang Aliran Pendidikan
Menurut Al-Ghazali), op. cit., hlm. 45.


100
100
Munurut Zainuddin, syarat-syarat kepribadian guru adalah sebagai berikut:
130

1). Sabar menerima masalah-masalah yang ditanyakan murid dan harus diterima
baik, karena kepandaian murid itu mungkin berbeda-beda. Maka dari itu, guru
harus dapat mengukur kadar dan kemampuan muridnya, sehingga ia tidak
memberi pertanyaan yang terlalu mudah kepada mereka yang pandai, dan ia
bertanya materi yang terlalu sulit bagi mereka yang terlalu pandai. Dengan
demikian guru selalu menjadi pusat perhatian bagi murid, mereka tidak akan
menyepelekan dan tetap menghormatinya.
2). Senantiasa bersifat kasih dan tidak pilih kasih.
3). Jika duduk harus sopan dan tunduk, tidak riya’ atau pamer.
4). Tidak takabur, kecuali terhadap orang yang dhalim, dengan maksud mencegah
dari tindakannya.
5). Bersikap tawadlu’ dalam pertemuan-pertemuan.
6). Sikap dan pembicaraannya tidak main-main.
7). Menanam sifat bersahabat di dalam hatinya terhadap semua murid-muridnya.
8). Menyantuni serta tidak membentak-bemtak orang-orang bodoh.
9). Membimbing dan mendidik murid yang bodoh dengan cara yang sebaik-
baiknya.
10). Berani berkata: saya tidak tahu, terhadap masalah yang tidak dimengerti.
11). Menampilkan hujjah yang benar, apabila ia berada dalam hak yang salah,
bersedia ruju’ pada kebenaran.

Kemudian Al-Ghazali mengemukakan syarat-syarat kepribadian seorang
guru:
131

1. Bersikap lembut dan kasih sayang kepada anak didiknya dan harus mencintai
muridnya seperti mencintai anaknya sendiri.
Seorang yang akan berhasil melaksanakan tugasnya apabila memunyai rasa
tanggung jawab dan kasih sayang terhadap muridnya sebagaimana yang ia
lakukan terhadap anaknya sendiri.

130
Zainuddin, et. al., op. cit., hlm. 56-57.
131
Abuddin Nata, Perspektif Islam Tentang Pola Hubungan Guru-Murid (Studi Pemikiran Tasawuf
Al-Ghazali), op. cit., hlm. 98-101.


101
101
Dalam kaitan ini, Al-Ghazali menilai bahwa seorang guru dibandingkan
dengan orang tua anak, maka guru lebih utama dari orang tua anak tersebut.
Menurutnya, orang tua berperan sebagai penyebab adanya si anak ke dunia yang
hanya sementara ini, sedangkan guru menjadi penyebab bagi keberadaan
kehidupan yang kekal di akhirat. Oleh sebab itu, seorang guru memiliki posisi
yang lebih tinggi dibandingkan dengan posisi orang tua murid. Oleh sebab itu,
seorang guru wajib memperlakukan murid-murid dengan rasa kasih sayang dan
mendorongnya agar mempersiapkan diri untuk mendapatkan kehidupan di akhirat
yang kekal dan bahagia.
2. Tidak menuntut upah dari murid-muridnya. Ia berpandangan bahwa mengajar
itu wajib bagi setiap orang yang berilmu, maka seorang guru baginya, tidak
boleh menuntut upah atas jerih payahnya mengajar dan mengharapkan pujian,
ucapan terima kasih atau balasan bagi murid-muridnya, karena ia
melaksanakan kewajibannya.
3. Tidak menyembunyikan ilmu yang dimilikinya sedikitpun. Ia harus
bersungguh-sungguh dan tampil sebagai penasehat, pembimbing para pelajar
ketika mereka membutuhkannya. Untuk itu perlu diupayakan ilmu yang
sesuai dengan setiap tingkat kecerdasan para siswa. Guru harus mengamalkan
yang diajarkannya, karena ia menjadi idola di mata peserta didiknya..
4. Menjauhi akhlak yang tercela dengan cara menghindarinya sedapat mungkin,
dan harus memberikan contoh yang baik, seperti berjiwa halus, sopan, lapang
dada, murah hati dan beraklak terpuji lainnya.


102
102
Hal itu dikarenakan bahwa teladan yang dijadikan ikutan dan anutan oleh
murid-muridnya, maka kepribadian yang mulia dan kelapangan dada harus
diangkat sebagai sifat-sifat utama bagi seorang guru.
5. Tidak mewajibkan kepada para pelajar agar mengikuti guru tertentu dan
kecenderungannya, dan hendaklah seorang guru mendorong muridnya
mencari pula ilmu dari yang lain dengan meninggalkan kefanatikan kepada
salah seorang guru sedang yang lain tidak. Kata Imam Ghazali:
Seorang guru yang bertanggung jawab pada salah satu mata pelajaran, tidak
boleh melecehkan mata pelajaran lain di hadapan muridnya. Seumpama guru
bahasa, biasanya melecehkan ilmu fiqih, guru fiqih melecehkan ilmu-ilmu
hadits dan tafsir dengan sindiran, bahwa ilmu hadits dan tafsir itu adalah
semata-mata menyalin dan mendengar. Cara yang demikian adalah cara orang
yang lemah, tidak memerlukan pikiran padanya.
132


6. Memperlakukan murid sesuai dengan kesanggupannya, dan memahami
potensi yang dimiliki anak didik Seorang guru harus mamahami minat, bakat
dan jiwa anak didiknya, sehingga disamping tidak akan salah dalam mendidik,
juga akan terjalin hubungan yang akrab dan baik antara guru dengan anak
didiknya.
Seorang guru yang baik juga harus memiliki prinsip mengakui adanya
perbedaan potensi yang dimiliki murid secara individual, dan memperlakukannya
sesuai dengan tingkat perbedaan yang dimiliki murid. Dalam hubungan ini Al-
Ghazali menasehatkan agar guru membatasi diri dalam mengajar sesuai dengan

132
Al-Ghazali, Terj. Ismail Yakub, op. cit., hlm. 218.


103
103
batas pemahaman murid. Dan ia sepantasnya tidak memberikan pelajaran yang
tidak dapat dijangkau oleh akal muridnya. Al-Ghazali berkata:
Seorang guru hendaklah dapat memperkirakan daya pemahaman muridnya
dan jangan diberi pelajaran yang belum sampai tingkat akal pikirannya
sehingga ia akan lari dari pelajaran atau menjadikan tumpul otaknya.
133


Jelaslah bahwa, seorang guru seharusnya dapat memperkirakan mata pelajaran
yang dapat dijangkau oleh pemahaman anak, yaitu memberikan pelajaran dan
sesuatu hakikat pada anak apabila diketahui bahwa anak itu akan sanggup
memahaminya dan menempatkan setiap anak pada tempat yang wajar sesuai
dengan kemampuan akal pikirannya serta memperhatikan tingkat kecerdasan dan
pengetahuan mereka, sehingga mereka dapat mengerti, memahami dan menguasai
mata pelajaran itu dengan sesungguhnya.
Imam Ghazali dalam pemikirannya telah sampai kepada tujuan yang telah
dicapai oleh para tokoh pendidik modern. Yakni, perlu adanya keharmonisan
antara bahan pelajaran dengan Intelligence Quotient (IQ) murid. Karena tanpa
adanya keserasian ini menyebabkan murid meninggalkan pelajaran dan kacau
pikirannya, yang berakhir dengan kecemasan dan kegagalan.
Selain itu, Al-Ghazali juga berkata:
134

Sesungguhnya faktor yang mendorong membekasnya keraguan murid pada
guru adalah perasaan bahwa gurunya kikir ilmu dan tidak melaksanakan
kewajibannya, khusus apabila murid di satu sisi dibohongi yang biasanya
menyertai masa dewasa. Oleh karena itu,hendaklah guru menyampaikan ilmu
pada murid yang hendak kemampuannya secara jelas yang sesuai dengan

133
Al-Ghazali, Al-Ghazali, Terj. Ismail Yakub, op. cit., hlm. 219.
134
Dahlan Tamrin¸ Al-Ghazali dan Pemikiran Pendidikannya, (Malang: 1988), hal. 56.


104
104
umurnya dan jangan menjelaskan bahwa di balik ini ada rahasia yang
tersimpan yang dapat merendahkan keinginannya pada apa yang nyata dan
meragukan hatinya dan menyangka guru kikir padanya. Setiap orang akan
menyangka bahwa dia ahli ilmu-ilmu yang rahasia. Tiada seorangpun yang
tidak memperoleh dari Allah kesempurnaan akalnya. Sebab sebodoh-bodoh
dan selemah-lemah akal mereka, mereka bangga dengan kesempurnaan
akalnya.

7. Kerja sama dengan para pelajar di dalam membahas dan menjelaskan suatu
pelajaran (ilmu pengetahuan).
8. Guru harus mengingatkan muridnya, agar tujuannya dalam menuntut ilmu
bukan untuk kebanggaan diri atau mencari keuntungan pribadi, tapi untuk
mendekatkan diri kepada Allah. Guru juga harus mendorong muridnya agar
mencari ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu yang membawa pada kebahagiaan
dunia dan akhirat.
9. Guru harus dapat menanamkan keimanan ke dalam pribadi anak didiknya,
sehingga akal pikiran anak didik tersebut akan dijiwai oleh keimanan itu.
Seorang guru harus memegang dasar-dasar agama yang prinsip dan berusaha
merealisirnya, diantaranya adalah bersikap adil.
Guru dituntut memiliki sikap adil terhadap seluruh anak didiknya. Artinya, dia
tidak bepihak atau mengutamakan kelompok tertentu. Dalam hal ini dia harus
menyikapi setiap anak didiknya sesuai dengan perbuatan dan bakatnya.
Rasulallah SAW adalah teladan untuk seorang pendidik, sebagaimana perintah
Allah kepada beliau ini .


105
105
!κš‰!≈ƒ š ¸%!¦ ¦θ`ΨΒ¦´™ ¦θΡθ. ¸Β≡¯θ% ¸< š´™¦‰ κ− ¸1`.¸)9!¸, Ÿ ω´ρ ¯Ν6ΖΒ¸¸>ƒ
`β!↔Ψ: ¸Θ¯θ % ´’?s ω¦ ¦θ9¸‰-. ¦θ9¸‰s¦ θδ ´,¸%¦ “´ θ)−.=¸9 ¦θ).¦´ρ ´<¦ χ¸| ´ ´<¦
´¸¸,> !ϑ¸, šχθ=ϑ-. ∩∇∪

Artinya “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang
yang selalu menegakkan (kebenaran) Karena Allah, menjadi saksi
dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap
sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. berlaku
adillah, Karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah
kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang
kamu kerjakan”. (Q.S.. Al-Ma’idah: 8)
135


Dalam pernyataan di atas, dapat dikemukakan bahwa persyaratan bagi
seorang guru meliputi berbagai aspek, yaitu:
1. Tabi’at dan perilaku pendidik.
2. Minat dan perhatian terhadap proses belajar-mengajar.
3. Kecakapan dan keterampilan mengajar.
4. Sikap ilmiah dan cinta terhadap kebenaran.
Dalam suasana tertentu seorang guru pun juga harus berperan sebagai kawan
berani dalam rangka bimbingan ke arah terwujudnya tujuan pendidikan yang
dicita-citakan. Disamping itu, kewibawaan juga sangat menunjang dalam
perannya sebagai pembimbing. Semua perkataan, sikap dan perbuatan yang baik
darinya akan memancar kepada muridnya. Oleh karena itu, seorang guru harus
mempunyai kemampuan intelektual yang tinggi dan senantiasa memperhatikan

135
DEPAG RI, Al-Qur’an Dan Terjemahnya, op. cit., hlm. 159.


106
106
prinsip-prinsip mengajar seperti kasih sayang, tidak membesar-besarkan
kesalahan murid, tidak mengejek atau mencelanya, tidak menggunakan kekerasan
dalam mengubah perilaku murid yang tidak baik menjadi beraklak mulia.
Sedapat mengkin dalam memberi nasihat, seorang guru menggunakan kata-kata
kiasan atau sindiran, tidak secara langsung, karena cara yang kurang bijaksana
dalam mengubah perilaku dapat menyebabkan murid mungkin takut kepada guru,
sungkan, menentang atau berani kepadanya. Al-Ghazali berkata :
Bahwa guru menghardik muridnya dari berperangai jahat dengan cara sindiran
selama mungkin dan tidak dengan cara terus terang. Dan dengan cara kasih
sayang, tidak dengan cara mengejek. Sebab, kalau dengan cara terus terang,
merusakkan takut murid kepada guru dan mengakibatkan dia lebih berani
menentang dan suka meneruskan sifat yang jahat itu.
136


Berdasarkan uraian di atas, terlihat bahwa sosok guru ideal adalah guru yang
memiliki motivasi mengajar yang tulus, yaitu ikhlas dalam mengamalkan
ilmunya, bertindak sebagai orang tua yang penuh kasih sayang kepada anaknya,
dapat mempertimbangkan kemampuan intelektual anaknya, mampu menggali
potensi yang dimiliki para siswa, dapat bekerja sama dengan para siswa dalam
memecahkan masalah. Ia menjadi idola di mata siswanya, sehingga siswa itu
mengikuti perbuatan baik yang dilakukan gurunya menuju jalan akhirat. Di sini
terlihat bahwa pada akhirnya para siswa dibimbing menuju Allah, atau berbagai
upaya yang dilakukan oleh guru terhadap siswanya dalam belajar, namun pada
akhirnya harus dapat membawa siswa menuju Allah. Atas dasar ini, terlihat jelas

136
Al-Ghazali, Terj. Ismail Yakub, op. cit., hlm. 217.


107
107
sekali pengaruh pemikiran Al-Ghazali sebagaimana disebutkan di atas. Demikian
pula sikap guru yang harus berniat ikhlas, tidak mengharapkan imbalan,
berakhlak mulia, mengamalkan ilmu yamg diajarkannya dan menjadi panutan
serta mengajak pada jalan Allah, adalah merupakan nilai-nilai ajaran tasawuf,
yaitu ajaran tentang zuhud, qana’ah, tawakkal, ikhlas dan ridla sebagaimana telah
diuraikan di atas.
3. Tugas dan Kewajiban Guru menurut Al-Ghazali
Menurut Imam al-Ghazali seorang guru memiliki tugas-tugas tertentu sebagai
berikut:
5. Memberikan kasih sayang kepada anak didik.
Imam al-Ghazali berkata:
Guru hendaknya menunjukkan kasih sayang kepada pelajar dan
memperlakukannya seperti anak sendiri.
137


Seorang guru seharusnya menjadi pengganti dan wakil kedua orang tua anak
didiknya, yaitu mencintai anak didiknya seperti memikirkan keadaan anaknya
sendiri. Jadi, hubungan psikologis antara guru dengan anak didiknya seperti
hubungan naluriah antara kedua orang tua dengan anaknya, sehingga hubungan
timbal balik yang harmonis tersebut akan berpengaruh ke dalam proses
pendidikan dan pengajaran. Rasa kasih sayang terhadap murid adalah sifat yang
terpenting yang harus dimiliki oleh seorang guru, dengan ikhlas dan
pengabdiannya.. Karena sifat ini akan dapat menimbulkan rasa percaya diri dan

137
Imam al-Ghazali. 2007. Ringkasan Ihya’ Ulumuddin. (Jakarta: Pustaka Amani), hal. 14


108
108
tenteram pada diri murid terhadap gurunya. Sebagaimana yang dikatakan oleh
Prof. Dr. H. Hadari Nawawi:
Hendaknya sikap tulus ikhlas tampil dari hati yang rela berkurban untuk anak
didik, yang diwarnai juga dengan kejujuran, keterbukaan dan kesabaran.
Sebab tulus ikhlas, merupakan motivasi untuk melakukan pengabdian dalam
mengemban peranan sebagai pendidik.
138


Dalam hal ini Al-Ghazali menilai bahwa seorang guru dibandingkan dengan
seorang anak, maka guru lebih utama dari orang tua tersebut. Menurutnya, orang
tua berperan sebagai penyebab adanya anak di dunia ini, sedangkan guru menjadi
penyebab bagi keberadaan kehidupan kekal di akhirat. Dengan demikian, seorang
guru memiliki posisi yang lebih tinggi dibandingkan dengan posisi orang tua
murid. Demikian seorang guru wajib memperlakukan muridnya dengan penuh
kasih sayang, dan mendorongnya agar mempersiapkan diri untuk mendapatkan
kehidupan di akhirat yang kekal dan bahagia..
6. Mengikuti jejak Rasulallah dalam tugas dan kewajibannya.
Al-Ghazali berpendapat:
seorang guru hendaknya mengikuti ajaran Rasulullah SAW, maka ia tidak
mencari upah, balas jasa dan ucapan terima kasih dalam mengajarkan ilmu
pengetahuan. Tetapi maksud mengajar adalah mencari keridhaan Allah dan
mendekatkan diri kepadaNya.”
139


Dengan demikian seorang guru hendaknya menjadi wakil dan pengganti
Rasulullah yang mewarisi ajaran-ajarannya dan memperjuangkan dalam

138
Prof. Dr. H. Hadari Nawawi. 1993. Pendidikan Dalam Islam. Op. Cit., hlm. 109
139
Al-Ghazali, Terj. Ismail Yakub, op. cit., hlm. 214.


109
109
kehidupan masyarakat. Demikian pula perilaku dan perbuatan, kepribadian
seorang guru harus mencerminkan ajaran-ajarannya, sesuai dengan akhlak
Rasulullah, karena beliau dilahirkan di dunia ini adalah sebagai “uswatun
khasanah atau figur ideal” bagi umat manusia pada umumnya dan bagi seorang
guru pada khususnya.. sebagaimana yang dikatakan pula oleh Zainuddin:
Adapun syarat bagi seorang guru, maka ia layak menjadi pengganti Rasulalluh
Saw; dialah sebenar-benarnya ‘Alim (berilmu, intelektualen). Tetapi tidak
pulalah tiap-tiap orang yang alim itu layak menempati kedudukan sebagai
ganti rasulullah Saw itu.
140


7. Sebagai Pengarah dan Pembimbing
Imam al-ghazali berkata:
Hendaklah guru menasihati pelajar (murid) dan melarangnya dari akhlak
tercela, dan tidak menyimpan sesuatu nasihat untuk hari esok; seperti
melarangnya dari mencari kedudukan sebelum patut memperolehnya dan
melarang murid belajar ilmu yang tersembunyi sebelum menyempurnakan
ilmu yang terang.
141


Dari penjelasan diatas dapatlah difahami, bahwa seorang guru yang baik
hendaknya berfungsi juga sebagai pengarah dan penyuluh yang jujur dan benar di
hadapan murid-muridnya. Ia tidak boleh membiarkan murid-muridnya
mempelajari pelajaran yang lebih tinggi sebelum ia menguasai yang sebelumnya.
Dimana, seorang pelajar tidak boleh mendalami suatu bidang ilmu pengetahuan,
sebelum ia menyelesaikan bidang ilmu pengetahuan yang sebelumnya. Karena
ilmu pengetahuan itu berurutan secara jelas, sebagian menuju sebagian yang lain,

140
Zainuddin, Seluk Beluk Pendidikan dari Al-Ghazali. Ibid., hlm. 61.
141
Al-Ghazali, Terj. Ismail Yakub. Ibid., hlm. 216


110
110
sehingga suatu pelajaran harus dipelajari secara berangsur-angsur. Sejalan dengan
hal tersebut Drs. Moh. User Usman mengatakan:
Tugas guru sebagai profesi meliputi mendidik, mengajar, dan melatih.
Mendidi berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup. Mengajar
berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Sedangkan melatih berarti mengembangkan keterampilan-keterampilan pada
murid.
142


Mempelajari ilmu pengetahuan memang selayaknya memperhatikan
kesesuaiannya, yaitu yang menuntut urutan dalam setiap mata pelajaran dengan
tujuannya yang jelas serta bertingkat menuju tingkat berikutnya, sehingga
diharapkan dapat menimbulkan suatu proses pertumbuhan akal pikiran dan
perkembangan mental yang baik.
8. Menjadi teladan yang baik bagi anak didik
Imam al-ghazali mengatakan:
Patutlah seorang guru bersikap lurus (istiqamah), kemudian menuntut si murid
bersikap lurus. Kalau tidak, maka nasihat itu tidak berguna, karena
meneladani perbuatan lebih kuat daripada meneladani perkataan.
143


Mengingat guru sebagai teladan yang akan dicontoh dan ditiru murid, maka
seorang guru harus konsekuen dan mampu menjaga antara perkataan, ucapan,
perintah, dan larangan dengan amal perbuatan guru, karena yang lebih penting
perbuatannya bukan ucapannya. Seorang guru harus benar-benar dapat digugu
dan ditiru. Artinya, segala tutur katanya, segala anjurannya, segala nasehat-
nasehatnya harus benar-benar dapat dipercaya, harus benar-benar dapat

142
Drs. Moh. User Usman. 2007. Menjadi Guru Professional. (Bandung: Rosdakarya), hlm. 7
143
Al-Ghazali, Terj. Ismail Yakub Ibid., hlm. 218


111
111
dipergunakan sebagai pegangan, sebagai pedoman dan segala gerak-geriknya,
segala tingkah lakunya, segala perbuatannya harus benar-benar menjadi contoh.
Karena segala tingkah laku dari pendidik selalu diamati benar-benar oleh anak
didik. Hal ini dengan tidak sadar ditirunya. Sebagaimana juga dikatakan oleh.
Prof. Dr. H. Hadari Nawawi:
Kehidupan ini sebahagian terbesar dilalui dengan saling meniru atau
mencontoh oleh manusia yang satu pada manusia yang lain. Kecenderungan
mencontoh itu sangat besar pengaruhnya bagi perkembangan anak didik
tersebut.
144


Dengan penjelasan tersebut diatas maka dalam proses pendidikan gurulah
yang menjadi teladan yang tepat bagi murid atau anak didiknya. Dalam rangka
membawa manusia menjadi manusiawi itu pulalah, Rasulullah dijadikan oleh
Allah, dalam pribadinya uswatun hasanah (teladan yang baik). Sebagaimana yang
kita ketahui bersama bahwa apa yang keluar dari lisannya sama dengan apa yang
ada didadanya. Seorang guru seharusnya juga demikian dalam mengamalkan
pengetahuannya, bertindak sesuai dengan apa yang dinasehatkan kepada murid.
Hal yang menonjol adalah berkaitan dengan tugas guru adalah masalah moral,
etika atau akhlak, dimana itu terhimpun dalam ajaran Islam.
4.Kriteria Dalam Memilih Guru menurut Al-Ghazali
Dalam kitab Ihya’nya, Imam al-Ghazali mengatakan antara lain:
Orang yang menetapkan diri dan bertekad untuk mengambil pekerjaan sebagai
pengajar, ia harus menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai berikut:
pertama, harus mencintai muridnya seperti mencintai anaknya sendiri; kedua,
mengikuti teladan dan contoh Rasulullah dalam arti tidak boleh

144
Prof. Dr. H. Hadari Nawawi. 1993. Pendidikan Dalam Islam (Surabaya: Al-Ikhlas), hlm. 213.


112
112
mengharapkan imbalan dan upah dari pekerjaannya selain kedekatan diri
kepada Allah; ketiga, harus mengingatkan muridnya bahwa tujuan pendidikan
adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan untuk kekuasaan dan
kebanggan diri; keempat, guru harus mencegah muridnya dari memiliki watak
dan perilaku jahat; kelima, tidak boleh merendahkan ilmu lain di hadapan
muridnya; keenam, mengajar murid-muridnya hingga batas kemampuan
pemahaman mereka; ketujuh, harus mengajarkan kepada murid yang
terbelakang dengan jelas dan sesuai dengan tingkat pemahamannya yang
terbatas; kedelapan, guru harus melakukan terlebih dahulu apa yang
diajarkannya dan tidak boleh berbohong dengan apa yang disampaikannya.
145


Berdasarkan uraian di atas, dapat dipahami bahwa guru dalam perspektif
Imam al-Ghazali adalah sebagai figur sentral, idola bahkan mempunyai kekuatan
spiritual, di mana murid sangat tergantung kepadanya. Dalam posisi yang
demikian, guru memegang peranan penting dalam belajar atau pendidikan.
Sebagaimana telah disinggung pula sebelumnya, bahwa guru yang
dikehendaki oleh Imam al-Ghazali adalah guru yang terdiri orang yang bisa
membuang akhlak tercela dari dalam diri anak didik dengan tarbiyah dan
menggantinya dengan akhlak yang baik, pintar (alim), tidak tergiur oleh
keindahan dunia dan kehormatan jabatan, memiliki guru yang waspada yang jelas
silsilahnya hingga Rasulullah Saw., memperbaiki diri dengan riyādah dengan
menyedikitkan dalam makan, bicara, tidur, serta memperbanyak melakukan
shalat, sedekah, dan puasa. Di samping itu, seorang guru harus menjadikan
akhlak-akhlak yang baik sebagai landasan perilaku kesehariannya seperti sabar,
membaca shalawat, syukur, tawakkal, yakin, qana’ah, ketentraman jiwa, lemah
lembut, rendah hati, ilmu, jujur, malu, menepati janji, berwibawa, tenang, tidak

145
Imam al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin (Beyrut: Dar al-Fiqrah, 1995), jilid 1, hlm. 76-79.


113
113
terburu-buru, dan lain-lain. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Dr. Ahmad Tafsir,
bahwa:
Pendidik dalam Islam ialah siapa saja yang bertanggung jawab
(berkemampuan) terhadap perkembangan anak didik.
146


Menurut hemat penulis, pemikiran Imam al-Ghazali tentang kriteria dalam
memilih guru perlu ditinjau ulang. Sebab, guru bukan merupakan satu-satunya
faktor penentu keberhasilan seseorang dalam belajar, masih ada orang tua yang
juga memiliki peranan penting bagi perkembangan anak didik. Sebagaimana yang
dikatakan oleh Dr. Ahmad Tafsir:
Dalam Islam, orang yang paling utama (penting) dan bertanggung jawab
adalah orang tua (ayah dan ibu) anak didik.
147


Sehingga meskipun dijelaskan arti pendidik secara umum adalah setiap orang
yang bertanggung jawab atas perkembangan anak didik, namun kedua orang tua
anak didiklah yang paling bertanggung jawab. Hal ini menurut Ahnad Tafsir
disebabkan sekurang-kurangnya oleh dua hal:
Pertama, karena orang tua ditakdirkan menjadi orang tua anaknya, karena itu
pula menjadi orang yang paling bertanggung jawab mendidik anaknya.
Kedua, karena kepentingan kedua orang tua, yaitu orang tua berkepentingan
terhadap kemajuan perkembangan anaknya, sebab sukses anak adalah juga
merupakan sukses orang tuanya.
148


Selanjutnya, anak didik perlu dipandang sebagai manusia yang memiliki satu
kesatuan yang utuh. Artinya bahwa, anak didik merupakan individu yang
memiliki kemampuan dalam mengatasi segala bentuk persoalan yang

146
Dr. Ahmad Tafsir. 2005. Pendidikan Dalam Islam, (Bandung: Rosdakarya), hlm. 74
147
Ibid., hlm. 74.
148
Ibid., hlm. 75.


114
114
melingkupinya. Dan karena itu, manusia adalah makhluk yang otonom dan
merdeka. Implikasi dari hal ini dalam hal belajar akan menghasilkan anak didik
yang memiliki bentuk pemikiran yang penuh dengan ide-ide cerdas dan
mencerdaskan. Sebagaimana yang dikatakan oleh Drs. Syaiful Bahri Djamarah:
Anak yang baru lahir membawa sifat-sifat keturunan, tapi ia tak berdaya dan
tak mampu, baik secara fisik maupun mental. Bakat dan mental yang
diwariskan orang tuanya merupakan benih yang perlu dikembangkan. Semua
anggota jasmani membutuhkan bimbingan untuk tumbuh. Demikian juga
jiwanya, membutuhkan bimbingan untuk berkembang sesuai iramanya
masing-masing, sehingga suatu waktu anak mampu membimbing
(menentukan) dirinya sendiri.

Selanjutnya, menurut hemat penulis, guru yang tidak boleh meminta upah
dalam mengajar dan bahkan niat mengajarnya adalah harus karena Allah (ikhlas),
memiliki dua makna. Pertama, guru harus mengajar dengan ikhlas karena Allah
dan kedua, orang tua yang menitipkan anak-anaknya juga harus ikhlas dalam arti
menggaji guru yang mengajar anak-anaknya tersebut. Sejalan dengan hal itu Prof.
Dr. H. Hadari Nawawi juga mengatakan bahwa:
Peranan sebagai pendidik bukan dijalankan karena terpaksa atau dipaksa,
tetapi didasari oleh kecintaan terhadap anak didik yang memang
membutuhkan bantuan dan bimbingan dalam mewujudkankedewasaannya.
149


Dari pejelasan tersebut menguatkan bahwa dalam menjalankan tugas sebagai
pendidik hendaknya menghindari meminta upah atau imbalan. Sebaliknya
hendaklah berniat ikhlas lillahi ta’ala, tanpa perasaan terpaksa ataupun dipaksa,
meskipun memang hal itu dirasa sangat berat namun itulah dasar tugas dan
tanggung jawab sebagai seorang pendidik.

149
Prof. Dr. H. Hadari Nawawi. Op. Cit., hlm 110


115
115
B. Profil Murid Dalam Perspektif Al-Ghazali
1. Pengertian Murid
Kata murid berasal dari bahasa arab ‘arada, yuridu iradatan, muridan yang
berarti orang yang menginginkan (the willer), dan menjadi salah satu sifat Allah
SWT. yang berarti maha menghendaki. Pengertian seperti ini dapat dimengerti
karena seorang murid adalah orang yang menghendaki agar mendapatkan ilmu
pengetahuan, keterampilan, pengalaman dan kepribadian yang baik untuk bekal
hidupnya agar berbahagia di dunia dan akhirat dengan jalan belajar yang
sungguh-sungguh. Istilah murid ini digunakan dalam ilmu tasawuf sebagai orang
yang belajar mendalami ilmu tasawuf kepada seorang guru yang disebut
syaikh.
150

Selain murid, dijumpai pula kata al-tilmidz yang juga berasal dari bahasa
Arab, namun tidak mempunyai akar kata dan berarti pelajar. Kata ini digunakan
untuk menunjuk kepada murid yang belajar di madrasah. Selanjutnya terdapat
pula kata al-mudarris, berasal dari kata darrasa yang berarti orang yang
mempelajari sesuatu.
151
Kata ini dekat dengan kata madrasah, dan seharusnya
digunakan untuk arti pelajar pada suatu madrasah, namun dalam praktiknya tidak
demikian.

150
Abuddin Nata, Perspektif Islam Tentang Pola Hubungan Guru-Murid (Studi Pemikiran Tasawuf
Al-Ghazali), Op. Cit., hlm. 49
151
Ibid., 49. 101


116
116
Kemudian istilah lain yang berkenaan dengan murid (pelajar) adalah al-thalib,
berasal dari kata thalaba, yathlubu, thalaban, thalibun yang berarti orang yang
mencari sesuatu.
152

Pengertian ini dapat difahami karena seorang pelajar adalah orang yang
tengah menuntut ilmu pengetahuan, pengalaman dan keterampilan dan
pembentukan kepribadiannya untuk bekal kehidupannya di masa depan agar
berbahagia dunia dan akhirat. Ada juga istilah lainnya, yakni al-muta’allimin,
berasal dari kata allama, yuallimu ta’liman yang berarti orang yang mencari ilmu
pengetahuan
153
.
Imam al-Ghazali sendiri lebih sering menggunakan Istilah al-thalib -yang
juga banyak digunakan oleh para ahli pendidikan Islam sejak zaman klasik
sampai hingga zaman sekarang-, Dalam hubungan ini beliau mengatakan:
Al-Thalib adalah bukan kanak-kanak yang belum dapat berdiri sendiri, dan
dapat mencari sesuatu, melainkan ditujukan kepada orang yang memiliki
keahlian, berpengetahuan, mencari jalan dan mendahulukan sesuatu yang
bermanfaat bagi dirinya. Bahwasannya ia adalah seseorang yang telah
mencapai usia dewasa dan telah dapat bekerja dengan baik dengan
menggunakan akal pikirannya. Ia adalah seseorang yang sudah mampu
dimintai pertanggungjawaban dalam melaksanakan aktivitas kewajiban agama
yang dibebankan kepadanya sebagai fardu ‘ain. Seorang al-thalib adalah
manusia yang telah memiliki kesanggupan untuk memilih jalan
kehidupannya, menentukan apa yang dinilainya baik, dan tidak pula
dibebankan kepadanya untuk berusaha dalam mendapatkan ilmu dan
sungguh-sungguh dalam memperolehnya, sebagaimana pula sebaliknya ia
bisa menilai atas sesuatu sebagai yang buruk atau tidak baik untuk
ditinggalkan dan kemudian menyucikan dirinya.
154



152
Ibid., hlm. 50.
153
Ibid, hlm. 50
154
Ibid., hlm. 51


117
117
Hal ini karena anak didik memiliki potensi, maka potensi baiknyalah yang
harus ditumbuh kembangkan. Sebagaimana yang dikatakan oleh Drs. Syiful Bahri
Djamarah, M.Ag:
Sebagai manusia yang berpotensi, maka di dalam diri anak didik ada suatu
daya yang dapat tumbuh dan berkembang di sepanjang usianya.

H. M. Arifin juga mengatakan:
Dilihat dari segi kedudukannya, murid (anak didik) adalah makhluk yang
sedang berada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan menurut
fitrahnya masing-masing. Mereka memerlukan bimbingan dan pengarahan
yang konsisten menuju kearah titik optimal kemampuan fitrahnya
155
.

Selanjutnya sejalan dengan prinsip Imam al-Ghazali yang menyatakan bahwa
menuntut ilmu pengetahuan itu sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada
Allah SWT. maka bagi murid beliau mengkehendaki hal-hal sebagai berikut:
a. Memuliakan guru dan bersikap rendah hati atau tidak takabbur. Hal ini
diperjelas oleh beliau lagi yang mengatakan bahwa menuntut ilmu adalah
merupakan perjuangan yang berat yang memerlukan kesungguhan yang tinggi
serta bimbingan dari guru.
b. Merasa satu bangunan dengan murid lainnya, sehingga satu sama lain dapat
menyatu dan saling menyayangi serta tolong menolong.
c. Menjauhkan diri dari mempelajari berbagai macam mazhab ataupun sesuatu
yang dapat menimbulkan kekacauan dalam pikiran.
d. Mempelajari tidak hanya satu jenis ilmu saja, melainkan juga mempelajari
berbagai ilmu bermanfaat lainnya dan berupaya sungguh-sungguh sehingga
mencapai tujuan dari tiap-tiap ilmu tersebut.
156


Ciri-ciri murid yang dikatakan oleh Imam al-Ghazali tersebut diatas
nampaknya masih dilihat dari perspektif tasawuf beliau yang menempatkan murid
sebagaimana murid tasawuf di hadapan gurunya. Ciri-ciri yang diungkapkan

155
H. M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), hlm. 144.
156
Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam. (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), hal.165-167.


118
118
beliau ini untuk masa sekarang menurut hemat penulis tentunya masih perlu
ditambah dengan ciri-ciri yang lebih membawa kepada kreatifitas dan kegairahan
atau semangat dalam belajar.
2. Tugas dan Kewajiban Murid menurut Al-Ghazali
Selain syarat-syarat kepribadian yang harus dimiliki oleh murid sebagaimana
disebutkan di atas, seorang murid juga harus memiliki tugas-tugas dan kewajiban
tertentu yang dirinci oleh al-Ghazali menjadi 7 point,
157
diantaranya adalah
sebagai berikut:
1. Mendahulukan kebersihan jiwa dari akhlak yang rendah.
Imam al Ghazali mengatakan:
najasah tidak khusus mengenai baju. Maka, selama bathin tidak dibersihkan
dari hal-hal yang keji, ia pun tidak menerima ilmu yang bermanfaat dalam
agama dan tidak diterangi dengan cahaya ilmu. Ibnu Mas’ud berkata,
“Bukanlah ilmu itu karena banyak meriwayatkan, tetapi ilmu itu adalah
cahaya yang dimasukkan ke dalam hati.
Seorang muhaqqiq berkata, “Kami belajar ilmu untuk selain allah, namun
ilmu itu menolak kecuali untuk allah. Yakni, ilmu itu menolak terhadap kami
sehingga kami tidak dapat mengetahui hakikatnya, melainkan hanya kami
dapatkan hadist dan lafal-lafalnya.
158


Hal ini didasarkan pada pandangan beliau bahwa ilmu adalah ibadah hati dan
merupakan shalat secara rahasia dan dapat mendekatkan batin kepada Allah SWT.
Bukanlah yang dimaksud kebersihan baju, tetapi di dalam hati. Hal itu
ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala:

157
Imam al-Ghazali. 2007. Ringkasan Ihya’ Ulumuddin. (Jakarta: Pustaka Amani), hlm. 11
158
Ibid., 11


119
119
!㕃!≈ƒ š¸%!¦ ¦θ`ΖΒ¦´ ™ ! ϑΡ¸| šχθ.¸¸:ϑ9¦ _> Υ Ÿξ· ¦θ,¸) ƒ ‰¸>`.ϑ9¦ Π¦¸>9¦ ‰-,
¯Ν¸γ¸Β!s ¦‹≈ δ β¸|´ ρ `Ο.±¸> '#Šs ∃¯θ . · `Ν3‹¸Ζ-`ƒ ´<¦ ¸Β ¸&¸#. · β¸| ´™!: ´χ¸| ´<¦
'ΟŠ¸=. 'ΟŠ¸6> ∩⊄∇∪
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang
musyrik itu najis
159
, Maka janganlah mereka mendekati
Masjidilharam
160
sesudah tahun ini
161
dan jika kamu khawatir
menjadi miskin
162
. Maka Allah nanti akan memberimu kekayaan
kepadamu dari karuniaNya, jika dia menghendaki. Sesungguhnya
Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Hal ini dapat diperkuat dengan apa yang dikatakan oleh Dr. Mas’ud Haji
Zadeh:
dalam usia dini, pada awalnya anak didik akan mempelajari kepercayaan,
keyakinan atau keimanan secara sederhana yang untuk selanjutnya akan
menemukan pandangan yang lebih luas.
163


Dengan penjesan diatas maka hal yang pertama harus dilakukan oleh murid
(penuntut ilmu) adalah membersihkan jiwanya dengan cara membiasakan,
melakukan dan meyakini hal-hal yang baik agar kemudian memudahkannya
dalam menerima pelajaran (ilmu pengetahuan).

159
Maksudnya: jiwa musyrikin itu dianggap kotor, Karena menyekutukan Allah.
160
Maksudnya: tidak dibenarkan mengerjakan haji dan umrah. menurut pendapat sebagian Mufassirin
yang lain, ialah kaum musyrikin itu tidak boleh masuk daerah Haram baik untuk keperluan haji dan
umrah atau untuk keperluan yang lain.
161
maksudnya setelah tahun 9 Hijrah.
162
Karena tidak membenarkan orang musyrikin mengerjakan haji dan umrah, Karena pencaharian
orang-orang muslim boleh jadi berkurang.
163
Dr. Mas’ud Haji Zadeh. 2006. Membimbing Anak Mengenal. (Jakarta: LDU Al-Husainy&LKAB),
hlm. 147


120
120
2. Mengurangi kesenangan-kesenangan duniawinya dan menjauh dari kampung
halaman hingga hatinya terpusat pada ilmu.
Imam al-Ghazali mengatakan bahwa
Allah tidak menjadikan dua hati bagi seseorang di dalam rongga badannya.
Oleh karena itu dikatakan, “Ilmu itu tidak memberikan sebagiannya hingga
engkau memberinya seluruh milikmu.”
164


Dari perkataan beliau tersebut seorang murid hendaknya mengorbankan apa
yang dimilikinya dengan bersungguh-sungguh dan bekerja keras dalam menuntut
ilmu, meskipun harus jauh dari keluarga dan kampung halamannya. Hal ini
diperkuat oleh Abuddin Nata yang mengatakan:
Dikarenakan banyak berhubungan dengan yang lainnya dalam menuntut ilmu,
dapat menyibukkan hati dan fikirannya, dan apabila hal-hal yang tidak ada
hubungannhya dengan ilmu itu dilakukan, maka di khawatirkan akan
hilangnya semangat dalam menuntut ilmu tersebut dan tujuannya tidak akan
tercapai.
165


3. Tidak sombong dalam menuntut ilmu dan tidak membangkang kepada guru.
Dalam hal ini Imam al-Ghazali memberikan contoh:
Seperti orang sakit yang gawat memberi kebebasan kepada dokter tanpa
berbuat sewenang-wenang terhadapnya, dengan sesuatu dalam menuntut suatu
macam obat tertentu. Patutlah ia terus berkhidmat kepada guru. Sebagaimana
diriwayatkan bahwa Zaid bin Tsabit menyalati jenazah, tiba-tiba datanglah
seekor bagal (keledai) untuk dinaiki, maka ibnu abbas datang dan memegang
kendalinya. Zaid berkata, “Biarkan dia, wahai putra paman Rasulullah Saw.”
Ibnu Abbas berkata, “Demikianlah kami disuruh memperlakukan para ulama
dan orang-orang besar.” Kemudian Zaid mencium tangannya seraya berkata,
“Demikianlah kami disuruh memperlakukan ahli bait (keluarga) Nabi kita
Saw.”
166


164
Imam al-Ghazali. 2007. Ringkasan Ihya’ Ulumuddin. Op.Cit., hlm. 11
165
Abuddin Nata. 2001. Perspektif Islam Tentang Pola Hubungan Guru-Murid (Studi Pemikiran
Tasawuf Al-Ghazali), Op. Cit., hlm. 106
166
Imam al-Ghazali. 2007. Op.Cit., hlm. 11-12


121
121

Dari ungkapan beliau diatas dapat difahami bahwa sesorang yang menuntut
ilmu hendaknya tidak menombongakan dirinya kepada orang lain, terlebih kepada
gurunya sendiri, sebab guru ibarat dokter yang memberikan obat untuk kebaikan
pada pasiennnya, maka murid (sebagai “pasien” guru) hendaknya juga menerima
tanpa harus membangkang. Ilmu itu sendiri enggan kepada orang yang sombong
seperti air yang enggan mengalir ke tempat yang tinggi Sebaliknya seorang murid
haruslah menjaga akhlak (etika), terlebih lagi dihadapan gurunya. Sejalan dengan
hal tersebut
Abuddin Nata yang mengatakan:

Murid memerlukan petunjuk guru menuju keberhasilan dan menjaganya dari
celaka, dan semua itu dapat dicapai dengan ilmu, dan jangan mendahului
suatu pertanyaan, terhadap masalah yang belum dijelaskan oleh guru.
167


4. Menghindar dari mendengarkan perselisihan-perselisihan diantara ulama atau
sesama manusia,
Imam al-Ghazali berasumsi:
Hal yang seperti itu (perselisihan-perselisihan diantara ulama atau sesama
manusia) dapat menimbulkan prasangka yang buruk dan juga dapat
menimbulkan kebingungan, keragu-raguan serta kurang percaya terhadap
kemampuan guru. Pada pertama kali hatinya condong kepada segala yang
disampaikan kepadanya, terutama hal-hal yang menyebabkan kemalasan dan
pengangguran, seperti ibadahnya para sufi. Para pemula tidak boleh mengikuti
perbuatan-perbuatan dari orang-orang yang sudah mendalam, hingga sebagian
mereka berkata, “Barangsiapa mengunjungi kami pertama kali, ia pun
menjadi teman. Dan siapa mengunjungi kami pada akhirnya, ia pun menjadi
zindiq.” Pada akhirnya mereka tidak bergerak kecuali dalam mengerjakan
amalan-amalan fardhu. Mereka mengganti amalan sunnah dengan gerakan

167
Abuddin Nata. 2001. Op. Cit., hlm. 106


122
122
hati dan penyaksian yang kekal. Orang yang lalai menganggapnya
pengangguran dan kemalasan.
168


Disini terlihat bahwa beliau tidak menghendaki seorang yang masih menuntut
ilmu (pelajar) terlibat mendengarkan persilisihan diantara para ulama
(cendikiawan), karena dapat mempengaruhi kepercayaannya atas suatu ilmu.
Dapat pula menimbulkan keraguan, terlebih apabila murid meyakini tata cara
ibadahnya para sufi yang bisa mereka anggap sebagai suatu kemalasan, padahal
tingkatan ilmu antara keduanya (sufi dan murid) sangat jauh berbeda.
5. Tidak menolak suatu bidang ilmu yang terpuji, tetapi ia menekuninya hingga
mengetahui maksudnya.
Imam al-Ghazali mengatakan:
Seorang pelajar hendaknya tidak berpindah dari suatu ilmu yang terpuji
kepada cabang-cabangnya kecuali setelah ia memahami pelajaran
sebelumnya, mengingat bahwa berbagai ilmu itu saling berkaitan satu sama
lain.

Pada hal ini Imam al-Ghazali memaksudkan bahwa seorang murid janganlah
berpindah atau meninggalkan suatu ilmu yang terpuji kepada cabang-cabang
ataupun ilmu lainnya, kecuali ia telah memahami ilmu sebelumnya tersebut,
sebab mengingat bahwa berbagai macam ilmu itu satu sama lain saling berkaitan
dan berhubungan. Itulah salah pesan yang disampaikan oleh Imam al-Ghazali
untuk para pelajar atau penuntut ilmu.
6. Mengalihkan perhatian kepada ilmu yang terpenting, yaitu ilmu akhirat.
Imam al-Ghazali mengatakan:

168
Imam al-Ghazali. Ibid., hlm. 12.


123
123
Jika umur membantunya, ia pun menyempurnakannya (ilmu yang
dipelajarinya). Kalau tidak, ia memilih yang paling penting dan memilih yang
paling penting dapat dilakukan setelah mengetahui seluruhnya.
169


Imam al-Ghazali memaksudkan pernyataan tersebut yaitu mengenai
muamalat dan mukasyafah. Muamalat dapat mendorong kepada mukasyafah
sedangkan mukasyafah adalah ma’rifatullah (mengenal Allah). Itu adalah cahaya
yang dimasukkan Allah Ta’ala di dalam hati yang bersih dengan ibadah dan
mujahadah. Inilah kedudukan yang mencapai tingkat keimanan Abu Bakar ra.
Sebagaimana tersebut dalam hadist, “Andaikata keimanan penduduk bumi
ditimbang dengan keimanan Abu Bakar ra, niscaya unggullah keimanan Abu
Bakar.” Hal itu disebabkan rahasia yang terdapat di dalam dadanya, bukan karena
pengajuan bukti-bukti dan hujjah-hujjah.
170

Sejalan dengan hal itu Abuddin Nata juga mengatakan:
Seorang pelajar jangan hanya menenggelamkan diri pada satu bidang ilmu
saja, melainkan harus mengusai ilmu pendukung lainnya, dan tentu memulai
dengan ilmu yang paling penting, baru mendalami bidang ilmu tertentu.
171


Dari penjelasan-penjelasan diatas dapatlah ditarik kesimpulan bahwa
hendaknya para penuntut ilmu (murid), harus dapat memilah mana ilmu yang
paling dasar dan penting bagi kehidupan, tidak hanya didunia namun juga
diakhirat, sehingga ilmu yang paling penting tersebut tentunya dapat
diprioritaskan terlebih dahulu, setelah itu baru kemudian ilmu pendukung lainnya.

169
Imam al-Ghazali. Ibid., hlm. 13.
170
Ibid., hlm. 13
171
Abuddin Nata. 2001. Ibid., 107.


124
124
sebab jika kita sadari sesungguhnya umur atau usia yang tersedia yang kita miliki
tidaklah cukup untuk menguasai semua bidang ilmu.
7. Hendaknya tujuan pelajar dalam masa sekarang ialah menghiasi batinnya
dengan sifat yang menyampaikannya kepada Allah Ta’ala.
Imam al-Ghazali mengatakan:
Hendaknya tujuan pelajar dalam masa sekarang ialah menghiasi batinnya
dengan sifat yang menyampaikannya kepada Allah Ta’ala.dan kepada derajat
tertinggi diantara malaikat muqarrabin (yang dekat dengan Allah). Dan
dengan ilmu itu ia tidak mengharapkan kepemimpinan, harta dan pangkat.
172


Hal ini didasarkan Iman al-Ghazali pada tujuan belajar untuk memperoleh
kehidupan yang baik di akhirat. Dengan ilmu itu ia tidak mengharapkan
kepemimpinan, harta dan pangkat (kedudukan). Hal itu tidak akan tercapai
kecuali dengan membersihkan jiwa, menghiasi diri dengan keutamaan dan akhlak
yang terpuji, dengan demikian akan memudahkannya mendekatkan diri kepada
Sang pencipta, menjadi hamba Allah yang baik lagi benar. Inilah yang kemudian
menjadi tujuan universal dari pendidikan Islam, sebagaimana yang dikutip
Ahmad Tafsir dari Abdul Fattah Jalal yang mengatakan:
Tujuan umum pendidikan Islam ialah terwujudnya manusia sebagai hamba
Allah, yang hanya mengabdi kepada Allah Swt.
173


Oleh sebab itu sebelum murid memulai sesuatu hendaknya ia terlebih dahulu
memperhatikan masalah bathin yang merupakan pokok penting sekaligus asas
perbuatan akhlak. Oleh karenanya tujuan dari belajar pada hakikatnya adalah

172
Imam al-Ghazali. Ibid., hlm. 14.
173
Lihat Ahmad Tafsir. 2005. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam. Op. Cit., hlm46


125
125
untuk mencapai kebaikan hidup kekal di akhirat, sehingga bukan tujuan duniawi
semata, seperti mengejar atau memperoleh harta dan kekuasaan.
3. Akhlak Murid Terhadap Guru menurut Al-Ghazali
Imam al-Ghazali mengatakan:
Hendaknya (murid) tidak mendebat dan banyak argumentasi meski guru
keliru, tidak menggelar sajadah dihadapannya kecuali pada waktu shalat, tidak
memperbanyak shalat sunnah di hadapnnya, dan mengerjakan apa saja yang
diperintahkan oleh gurunya sebatas kemampuannya, tidak mengingkari apa
yang ia dengar dan terima darinya, baik dalam ucapan maupun tindakan, agar
ia tidak dicap sebagai hipokrit.
174


Dalam kitab Ilmu wa Adab al-Alim wa al-Muta’allim karangan Abdullah
Badran, sebagaimana juga yang dijelaskan Abuddin Nata, disebutkan bahwa;
Sikap atau akhlak murid hampir sama dengan sikap guru, yaitu sikap murid
sebagai pribadi dan juga sebagai penuntut ilmu.
175


Dengan demikian seorang murid haruslah bersih hatinya dari kotoran dan
dosa agar dapat dengan mudah dan benar dalam menangkap pelajaran, menghafal
dan mengamalkannya. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW:
'~ _-~ ~=-~ اذا ª-~- -~=-ا ¸- نا Vا ~---ا _هوVا ª--- ,- '~ -~- ت-~- اذاو ª--- ,-
Artinya: “Ingatlah bahwa dalam jasad terdapat segumpal daging, jika
segumpal daging tersebut sehat, maka sehatlah seluruh
perbuatannya, dan apabila segumpal daging itu rusak, maka rusak
pulalah seluruh awalnya (perbuatannya). Ingatlah bahwa segumpal
daging itu adalah hati”
176


Selanjutnya seorang murid juga harus bersikap rendah hati terhadap ilmu dan
guru. Karena dengan cara demikian akan memudahkan dalam tercapainya cita-

174
Ibid., hlm. 26
175
Abuddin Nata. 2001. Perspektif Islam Tentang Pola Hubungan Guru Murid. Op. Cit., hlm. 102
176
Imam Nawawi. Riyadu as-Shalihin


126
126
cita. Ia juga harus menjaga keridhaan sekaligus memuliakan gurunya, dengan
tidak menggunjing gurunya, juga hendaknya jangan menunjukkan perbuatan yang
buruk, bahkan sebisa mungkin mencegah orang lain dari menggunjing gurunya.
Selanjutnya pandai dalam membagi waktu, memahami tata karma dalam majelis
ilmu, berupaya dekat dan menyenangkan hati sang guru, tidak menunjukkan sikap
yang dapat memancing ketidaksenangan atau kemarahan guru, giat belajar serta
sabar dalam menuntut ilmu. Sehingga ia dapat mencapai dari pada tujuan
pendidikan yang dilakukannya. Sebagaimana Prof. Dr. H. Hadari Nawawi
mengatakan:
Tujuan umum pendidikan secara universal adalah mewujudkan kedewasaan
subyek (anak) didik itu sendiri.
177


Akhlak yang harus dimiliki oleh murid (anak didik), menurut Imam al-
Ghazali sendiri, sebagaimana disebutkan sebelumnya diatas adalah dengan tidak
mendebat dan banyak argumentasi meskipun guru sudah jelas-jelas keliru, tidak
menggelar sajadah dihadapannya kecuali pada waktu shalat, tidak memperbanyak
shalat sunnah di hadapnnya, dan mengerjakan apa saja yang diperintahkan oleh
gurunya sebatas kemampuannya, tidak mengingkari apa yang ia dengar dan
terima darinya, baik dalam ucapan maupun tindakan, agar ia tidak dicap sebagai
hipokrit.
Jika diperhatikan dengan seksama, tampak bahwa pandangan Imam al-
Ghazali terhadap akhlak pelajar juga bersifat sufistik, seperti terlihat pada

177
Prof. Dr. H. Hadari Nawawi. 1993. Pendidikan Dalam Islam. (Surabaya: Al-Ikhlas), hlm. 120


127
127
keharusan berniat mencari ilmu semata-mata untuk beribadah atau dekat dengan
Allah SWT, bersikap zuhud dan memuliakan ilmu akhirat. Selain itu ilmu
tersebut dipelajari secara sistematik, integrated, dimulai dari yang umum
(penting) kemudian yang khusus (lebih spesifik). Namun Imam al-Ghazali kurang
menekankan kepada pelajar untuk terlalu mematuhi syaikh atau guru secara
berlebihan sebagaimana yang biasa terjadi dalam dunia tasawuf, yang
menempatkan syaikh sederajat dengan Nabi bahkan melampauinya. Ibnu Jama’ah
misalnya mengatakan:
Murid harus menaati syaikh, mengagungkan, menempuh cara-cara yang
ditempuh syaikh, sopan dalam majlis ilmu.
178


Dalam hal ini, Imam al-Ghazali memposisikan murid sebagai obyek yang bisa
diisi oleh apa dan kapan saja. Sebagaimana yang dikatakan Drs. Syaiful Bahri
Djamarah:
Anak didik adalah setiap orang yang menerima pengaruh dari seseorang atau
sekelompok orang yang menjalankan kegiatan pendidikan.
179


Sehingga terlihat Imam al-Ghazali masih saja melihat murid sebagai murid
tasawuf di depan gurunya. Hal tersebut sangat membahayakan dan bahkan akan
membunuh terhadap karakter dan kreatifitas pola pikir anak didik. Di masa
sekarang, anak didik sudah bukan lagi merupakan obyek yang pasif yang bisa
diisi oleh apa dan kapan saja. Akan tetapi, anak didik adalah pribadi-pribadi yang

178
Lihat Abuddin Nata, ibid. hlm. 108.
179
Drs. Syaiful Bahri Djamarah. 2005. Guru dan Anak Didik. Op. Cit., hlm. 51



128
128
mempunyai peranan sebagai subyek yang aktif dalam proses pembelajaran.
Sehingga, menurut hemat penulis, murid dalam perspektif Imam al-Ghazali perlu
dikembangkan kepada yang lebih membawa kreatifitas dan gairah dalam belajar.





















129
129
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang dilakukan penulis, dapat diambil kesimpulan bahwa
menurut Imam al-Ghazali sebagai berikut:
1. Profil guru menurut Imam al-Ghazali yaitu seseorang yang bertugas dan
bertanggung jawab atas pendidikan dan pengajaran. Menurutnya, guru adalah
seseorang yang bertanggung jawab atas pendidikan dan pengajaran, serta
bertugas untuk menyempurnakan, mensucikan dan menjernihkan serta
membimbing anak didiknya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Yang
memiliki Syarat-syarat kepribadian sebagai berikut: a). Bersikap lembut dan
kasih sayang kepada anak didiknya dan harus mencintai muridnya seperti
mencintai anaknya sendiri. b). Tidak menuntut upah dari murid-muridnya. c).
Tidak menyembunyikan ilmu yang dimilikinya sedikitpun. d). Menjauhi
akhlak yang tercela dengan cara menghindarinya sedapat mungkin, dan harus
memberikan contoh yang baik, seperti berjiwa halus, sopan, lapang dada,
murah hati dan beraklak terpuji lainnya. e). Tidak mewajibkan kepada para
pelajar agar mengikuti guru tertentu dan kecenderungannya, dan hendaklah
seorang guru mendorong muridnya mencari pula ilmu dari yang lain dengan
meninggalkan kefanatikan kepada salah seorang guru sedang yang lain tidak.
f). Memperlakukan murid sesuai dengan kesanggupannya, dan memahami
129


130
130
potensi yang dimiliki anak didik Seorang guru harus mamahami minat, bakat
dan jiwa anak didiknya, sehingga disamping tidak akan salah dalam mendidik,
juga akan terjalin hubungan yang akrab dan baik antara guru dengan anak
didiknya. g). Kerja sama dengan para pelajar di dalam membahas dan
menjelaskan suatu pelajaran (ilmu pengetahuan). h). Guru harus
mengingatkan muridnya, agar tujuannya dalam menuntut ilmu bukan untuk
kebanggaan diri atau mencari keuntungan pribadi, tapi untuk mendekatkan
diri kepada Allah. Guru juga harus mendorong muridnya agar mencari ilmu
yang bermanfaat, yaitu ilmu yang membawa pada kebahagiaan dunia dan
akhirat. i). Guru harus dapat menanamkan keimanan ke dalam pribadi anak
didiknya, sehingga akal pikiran anak didik tersebut akan dijiwai oleh
keimanan itu. Seorang guru harus memegang dasar-dasar agama yang prinsip
dan berusaha merealisirnya, diantaranya adalah bersikap adil. Kemudian
menurut beliau, guru memiliki tugas dan tangung jawab sebagai berikut: a).
Memberikan kasih sayang kepada anak didik. b). Mengikuti jejak Rasulallah
dalam tugas dan kewajibannya. c). Menjadi teladan yang baik bagi anak didik.
d). Sebagai Pengarah dan Pembimbing.
2. Profil murid menurut Imam Al-Ghazali yaitu seseorang yang telah mencapai
usia dewasa dan telah dapat bekerja dengan baik dengan menggunakan akal
pikirannya. Ia adalah seseorang yang sudah mampu dimintai
pertanggungjawaban dalam melaksanakan aktivitas kewajiban agama yang
dibebankan kepadanya sebagai fardu ‘ain. Seorang al-thalib adalah manusia


131
131
yang telah memiliki kesanggupan untuk memilih jalan kehidupannya,
menentukan apa yang dinilainya baik, dan tidak pula dibebankan kepadanya
untuk berusaha dalam mendapatkan ilmu dan sungguh-sungguh dalam
memperolehnya, sebagaimana pula sebaliknya ia bisa menilai atas sesuatu
sebagai yang buruk atau tidak baik untuk ditinggalkan dan kemudian
menyucikan dirinya.. Kemudian menurut beliau, murid memiliki tugas dan
kewajiban sebagai berikut: a). Mendahulukan kebersihan jiwa dari akhlak
yang rendah. b). Mengurangi kesenangan-kesenangan duniawinya dan
menjauh dari kampung halaman hingga hatinya terpusat pada ilmu. c). Tidak
sombong dalam menuntut ilmu dan tidak membangkang kepada guru, tetapi
memberinya kebebasan. d). Menghindar dari mendengarkan perselisihan-
perselisihan diantara sesame manusia, karena hal itu menimbulkan
kebingungan. e). Tidak menolak suatu bidang ilmu yang terpuji, tetapi ia
menekuninya hingga mengetahui maksudnya. f). Mengalihkan perhatian
kepada ilmu yang terpenting, yaitu ilmu akhirat. g). Hendaknya tujuan pelajar
dalam masa sekarang ialah menghiasi batinnya dengan sifat yang
menyampaikannya kepada Allah Ta’ala dan kepada derajat tertinggi diantara
malaikat muqarrabin (yang dekat dengan Allah). Dan dengan ilmu itu ia tidak
mengharapkan kepemimpinan, harta dan pangkat (kedudukan).
B. Saran-saran
1. Studi pemikiran mengenai pendidikan Islam dari Imam al-Ghazali pada
khususnya dan sarjana-sarjana muslim pada umumnya masih perlu terus


132
132
dilanjutkan, mengingat masih banyak problema pendidikan yang krusial yang
sangat perlu untuk segera diatasi, salah satunya bagaimana kurikulum
pendidikan yang baik dalam ajaran Islam?, sebab kurikulum umum yang
diterapkan saat ini dirasa belum dapat membawa pada tujuan dari hakikat
pendidikan itu sendiri. Penulis disini hanya mengungkapkan sebagian unsur
dari pendidikan tersebut yakni yang terfokus tentang guru dan murid. Dalam
literatur-literatur keIslaman ternyata banyak sekali pemikiran kependidikan
yang dimajukan para filosof Islam dan para ulama yang hingga saat ini belum
digali sepenuhnya. Untuk itu menurut hemat penulis, perlu sekiranya ada mata
kuliah studi naskah tentang sejarah pemikiran pendidikan dari para filosof,
ilmuan dan ulama Islam, sehingga dapat mempermudah nantinya dalam
melakukan kajian atau penelitian yang berhubungan dengan hal tersebut,
terutama pada mahasiswa program pascasarjana sebagai calon “next
generation” pemikir dan mujtahid Islam dimasa yang akan datang.
2. Profil guru dan murid yang bernuansa sufistik atau tasawuf dari Imam al-
Ghazali maupun sarjana muslim lainnya perlu diterapkan, namun tentu
dibarengi dengan penyesuaian-penyesuaian yang ada dimasa sekarang,
terutama dalam membentuk sikap mental kepribadian keagamaan dan akhlak
yang mulia yang merupakan inti tujuan dari pendidikan Islam. Hal ini bagi
penulis, menilai sangatlah penting mengingat sebagian besar pelajar dan juga
para pendidik yang akhir-akhir ini semakin menurun adab dan moralitasnya,
sehingga semakin terasa dampaknya bagi kehidupan bersosial, dan


133
133
kekhawatiran dalam menyiapkan kader “khalifatu fil ard” pemimpin bangsa
dimasa depan.
3. Perlu adanya klarifikasi bagi para pengikut Imam al-Ghazali, yaitu bahwa
sebagai sufi, Imam al-Ghazali ternyata amat bersikap terbuka dalam
menerima paham dari kalangan luar sepanjang tidak bertentangan dengan al-
Qur’an dan as-Sunnah. Imam al-Ghazali tidak anti terhadap logika, filsafat
dan ilmu pengetahuan serta pendapat lainnya yang baik. Namun tentu
berbagai pemikiran dan pandangan dari luar yang kita terima haruslah
disesuaikan dengan syari’at Islam, dan digunakan untuk hal-hal yang
bermanfaat dalam kehidupan sosial maupun keberagamaanya.



134
DAFTAR PUSTAKA

Al-Ghazali, Terj. Ismail Yakub. 1979. Ihya’ Ulumuddin, Cet VI. Semarang: C.V. Faizan.
____________. 1979. Menghidupkan Kembali Ilmu-ilmu Agama, terj., Ismail Ya’kub,
Semarang: CV. Faizan.
____________, Terj. Zaid Husein Al-Hamid. 1995. Ringkasan Ihya’ Ulumuddin, Jakarta:
Pustaka Amani.
____________, Terj. Ma’ruf Asrori, 2002. Fatihatul Ulum (Buat Pecinta Ilmu),
Surabaya: Pustaka Progressif.
____________, Terj. Masyhur Abadi dan Husein Aziz. 2002. Menuju Labuhan Akhirat,
Surabaya: Pustaka Progressif.
____________, Terj. Rojaya. 2008. Jalan Mudah Menggapai Hidayah; 40 prinsip
agama, Bandung: Pustaka Hidayah.
Ahmad, Zainal Abidin. 1975. Riwayat Hidup Imam al-Ghazali, Surabaya: Bulan Bintang
Athiyah al-Abrasyi, Muhammmad. 1984. Dasar-Dasar Pokok Pendidikan, Terj. Bustami
A. Gain dan Djohar Bahry, Jakarta: Bulan Bintang.
A. Partanto, Pius dan M. Dahlan Al-Banny. 1994. Kamus Ilmiah Populer, Surabaya:
Arkola,
Al-Jumbulati Abdul Futuh at-Tuwaanisi, Ali. 1994. Perbandingan Pendidikan Islam,
terj., M. Arifin, Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Al-Zarnuji, Burhanuddin, Ta’līm al-Muta’allim T arīq al-Ta’allum, Syarh. Ibrahim bin
Isma’il, Surabaya: al-Hidayah, t.t
Asari, Hasan. 1999. Nukilan Pemikiran Islam Klasik (Gagasan Pendidikan Al-Ghazali),
Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya
DEPAG RI, Al-Quran dan Terjemahnya. (Semarang: Toha Putra)
Djamarah, Syaiful Bahri. 2005. Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif (suatu
pendekatan teoritis psiklogis). Jakarta: rineka cipta.
D. Marimba, Ahmad, 1980. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: Al-Ma’arif.
Fatchurohmah, Siti. 2006. “Sosok Guru Menurut al-Ghazali dan Zakiah Daradjat”,
Skripsi, Fakultas Tarbiyah UIN Malang.

135
Hadi, Sutrisno. 1987. Metodologi Research, Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas
Psikologi UGM.
Hasan Sulaiman, Fathiyyah. 1993. Aliran-aliran dalam Pendidikan: Studi tentang Aliran
Pendidikan Menurut al-Ghazali, terj., Said Agil Husin Al-Munawar dan Hadri
Hasan, Semarang: Dina Utama.
Hasan Sulaiman, Fathiyah, 1995. Sistem Pendidikan Versi Al-Ghazali, Semarang: Dina
Utama.
Ihsan, Hamdani dan Fuad Ihsan. 2001. Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: CV. Pustaka
Setia.
Jalaluddin dan Usman Said. 1996. Filsafat Pendidikan Islam: Konsep dan
Perkembangannya, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada
J. Moleong, Lexy. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosda
Karya, Cet. XIX.
Langgulung, Hasan. 1980. Beberapa Pemikiran Tentang Pendidikan Islam, Bandung: Al-
Ma’araif.
____________. 1988. Asas-Asas Pendidikan Islam, Jakarta: Penerbit Pustaka Al-Husana.
____________. 1989. Manusia dan Pendidikan; Suatu Analisa Psikologi dan
Pendidikan, Jakarta: Pustaka Al-Husna.
M. Echols, John dan Hasan Shadily. 1980. Kamus Inggris-Indonesia, Jakarta: Gramedia.
M. Arifin. 1987. Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bina Aksara.
M. Zainuddin. 2004. Karomah Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, Yogyakarta: Pustaka
Pesantren.
Muhammad Al-Thoumy Syaibani, Omar. 1979. Falsafah Pendidikan Islam, Jakarta:
Bulan Bintang.
Nasution, Harun, 1978. Filsafat dan Mistisisme dalam Islam, Jakarta: Bulan Bintang,
Nata, Abuddin, 1997. Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Logos Wacana Ilmu.
____________. 2001. Perspektif Islam Tentang Pola Hubungan Guru dan Murid,
Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Nawawi, Hadari. 1993. Pendidikan Dalam Islam. Surabaya: Al-Ikhlas.
Nizar, Samsul. 2002. Filsafat Pendidikan Islam, Pendekatan Historis, Teoritis dan
Praktis, Jakarta:Ciputat Press.

136
Pedoman Penulisan Skripsi. 2009. Fakultas Terbiyah Universitas Islam Negeri (UIN)
Malang.
Rusdianto. 2006. Pendekatan Dalam Proses Belajar Perspektif Imam al-Ghazali (Kajian
Kitab Ayyuhā al-Walad fī Nasīhati al-Muta‘allimīn wa Maw‘izatihim
Liya’lamū wa Yumayyizū ‘Ilman Nāfi‘an min Gayrihi)”, Skripsi, Fakultas
Tarbiyah UIN Malang.
Suryabrata, Sumadi. 1989. Proses Belajar Mengajar di Perguruan Tinggi, Yogyakarta:
Andi Offset.
Syah, Muhibbin 1999. Psikologi Belajar, Jakarta: Logos Wacana Ilmu.
Syaodih Sukmadinata, Nana. 1997. Pengembangan Kurikulum, Teori dan Praktek, ,
Bandung: remaja rosdakarya.
Syarkowi. 2005. “Reorientasi Pendidikan Islam (ke Arah Aktualisasi Pemikiran
Pendidikan al-Ghazali dalam Konteks Masa Kini)”, Skripsi, Fakultas Tarbiyah
UIN Malang.
Tafsir, Ahmad, 1984. Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Tamrin, Dahlan. 1988. Al-Ghazali dan Pemikiran Pendidikannya, Malang
Tim Dosen IAIN Sunan Ampel-Malang. 1996. Dasar-Dasar Kependidikan Islam, Suatu
Pengantar Ilmu Pendidikan Islam, Surabaya: Karya Abditama.
Uzer Usman, Moh. dan Lilis Setiawati. 1993. Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar
Mengajar, Bandung: Remaja Rosdakarya.
WJS. Poerwadarmita, 1991. Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka.
________. 1991. Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara.
An-Nahlawi, Abdurrahman. 1992. Prinsip-Prinsip Dan Metode Pendidikan
Islam, Bandung: CV. Diponegoro.
Yatim, Badri, 1993. Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Rajawali Pers.
Zainuddin. 2003. Seluk Beluk Pendidikan dari Al-Ghazali, Yogyakarta: Pustaka
Pesantren.
Zed, Mestika. 2008. Metode Penelitian Kepustakaan, Jakarta: Obor Indonesia
2003. Undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 Tentang SISDIKNAS,
Bandung: Citra Umbara.

137
DEPARTEMEN AGAMA
UNVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG
FAKULTAS TARBIYAH
Jl. Gajayana 50 Malang Telp. (0341) 551354 Fax (0341) 572533

BUKTI KONSULTASI
1. Nama : Yanuar Hadi

2. NIM/Jurusan : 05110023/Pendidikan Agama Islam

3. Pembimbing : Drs. H. Moh. Padil, M. Pd.I

4. Judul : Profil Guru dan Murid Dalam Perspektif Al-Ghazali

No Tanggal Hal yang dikonsultasikan Tanda Tangan

1

2

3

4

5

6

7

8

10 - 02 – 2009

14 – 02 – 2009

23 – 02 - 2009

02 – 03 - 2009

15 – 03 - 2009

30 – 03 - 2009

06 – 04 - 2009

07 – 04 - 2009



- Proposal skripsi, perbaikan judul

- Persetujuan proposal skripsi

- Bab I, II,

- Revisi Bab I, II dan ACC

- Bab III, IV

- Revisi Bab III, IV dan ACC

- Bab V

- Persetujuan skripsi dan ACC
keseluruhan Bab I, II, III, IV, &
V


Malang, 7 April 2009

Mengetahui,
Dekan



Prof. Dr. H.M. Djunaidi Ghony
NIP.150 042 031

138
Daftar Riwayat Hidup (Biografi)


Nama : Yanuar Hadi
NIM : 05110023
Tempat/Tanggal Lahir: Medan, 10 Januari 1987
Alamat : Simpang Psr II, Sei Sijenggi,
Kec. Perbaungan, Kab.
Serdang Bedagai, Kota
Madya. Medan, Sumatera
Utara.

Riwayat Pendidikan : 1.1993-1998 : M.I. Al-Washliyah Sei Sijenggi
2.1993-1999 : SDN Sei Sijenggi 105367
3.1999-2002 : M.Ts. Al-Washliyah Perbaungan
4.2002-2005 : M.A.N. Lubuk Pakam
5.2005-2009 : Fakultas Tarbiyah, Jurusan Pendidikan
Agama Islam, Universitas Islam Negeri (UIN)
Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pengalaman Organisasi: 1. Pramuka (SD-Anggota),
2. OSIS (MTs-Bidang Olah Raga)
3. OSIS (MAN-Wakil Ketua Bidang Seni&Da’wah),
4. UKM (Campus-Anggota),
5. LDK (Campus-Anggota),
6. FK3 (Campus-Anggota)


“PROFIL GURU DAN MURID DALAM PERSPEKTIF AL-GHAZALI”

SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang untuk Memenuhi Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Strata Satu Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)

Oleh : Yanuar Hadi (05110023)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MALANG (UIN) MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG April, 2009

ii

“PROFIL GURU DAN MURID DALAM PERSPEKTIF AL-GHAZALI”

SKRIPSI
Oleh : Yanuar Hadi (05110023)

Telah Disetujui Pada Tanggal: 7 April 2009 Oleh : Dosen Pembimbing

Drs. H. Moh. Padil, M. Pd.I NIP. 150 267 235

Mengetahui, Ketua Jurusan Pendidikan Islam

Drs. H. Moh. Padil, M. Pd.I NIP. 150 267 235

iii

A NIP.Ag NIP. 150 267 235 Sekretaris Sidang Marno. 150 042 031 iv . H. Pd.“PROFIL GURU DAN MURID DALAM PERSPEKTIF AL-GHAZALI” SKRIPSI Dipersiapkan dan disusun oleh Yanuar Hadi (05110023) Telah dipertahankan di depan dewan penguji pada tanggal 14 April 2009 dengan nilai A dan telah dinyatakan diterima sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar strata satu Sarjana Pendidikan Islam (S. Pd. M. H.I) pada tanggal: 14 April 2009.M.I NIP. M. H. M.Pd. Padil. 150 275 502 Tanda Tangan :__________________________ :__________________________ :__________________________ :__________________________ Mengesahkan. Panitia Ujian Ketua Sidang Drs. M. M. Dr. Padil.I NIP. Djunaidi Ghony NIP. Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Malang Prof. Moh. Moh. 150 321 639 Pembimbing Drs. Zainuddin. 150 267 235 Penguji Utama Dr.

bidadari yang berselendang bianglala Sesekali mengajakku mendendangkan kidung sorga di garba malam Sementara di taman Firdaus anak-anak bunga bergetar halus menahan malu untuk merekah Guru-Dosen-Q. aku yakin di hatinya adalah kuburku yang sebenarnya Ria Rahmita. Fauziah & Naisa Hafiza. suadara seumur hidup-Q Mampu menyesatkan dahaga berabadku Anifah. di hatimu cahaya di atas cahaya merambati segenap tualang panjangku dan. Teman-temann-Q Tarbiyah UIN Malang JIHAD FI SABILILLAH………..HALAMAN PERSEMBAHAN Kalaupun karya ini ibarat secawan tirta muksha Maka biarkanlah orang-orang ini yang menenggaknya :Ibu dan Bapakku :Adikku :Calon Isteriku :dan Guruku Siti Amnah dan Khairul Anwar. calon isteriku. ibu bapakku. adik-adikkku. cintanya tiada hingga Jika aku mati.!!! v .

( ) “Dari Abu Darda’: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: Kelebihan seorang alim dari seorang abid (orang yang suka beribadah) seperti kelebihan bulan pada bintangbintang. tentulah itu lebih baik bagi mereka.MOTTO tβθãΖÏΒ÷σè?uρ ̍x6Ζßϑø9# tã šχöθyγ÷Ψs?uρ Å∃ρã÷èyϑø9$$Î/ tβρâß∆ù's? Ĩ$¨Ψ=Ï9 My_÷zé& >π¨Β& uŽöyz ΝçGΖä. dan beriman kepada Allah. $ Ç ô Ì é ãΝδçŽsYò2r&uρ šχθãΨÏΒ÷σßϑø9$# ãΝßγ÷ΖÏiΒ 4 Νßγ©9 #ZŽöyz tβ%s3s9 É=≈tGÅ6ø9$# ã≅÷δr& š∅Β#u™ öθs9uρ 3 «!$$Î/ è t ∩⊇⊇⊃∪ tβθà)Å¡≈x ø9# $ Artinya: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia. siapa yang mengambilnya. dan kebanyakan mereka adalah orangorang yang fasik. menyuruh kepada yang ma'ruf.” (H. dan sesungguhnya para ulama itu pewaris nabi-nabi. 2000). vi . dan mencegah dari yang munkar.hlm. sekiranya ahli Kitab beriman. tetapi mewarisi ilmu. di antara mereka ada yang beriman. 478.S.Θ Θ Abi Isa Muhammad bin Surah at-Turmudzi. Al-Imran: 10) .R Turrmudzi).. maka ambillah dengan bagian yang cukup.” (Q. al-Jāmi’ al-Shahīh wa Huwa Sunan al-Turmuzī (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah. mereka (para nabi) tidak mewariskan dinar.

bahasa maupun tehnik penulisan. H. Moh. H. M. kami berpendapat bahwa skripsi tersebut sudah layak diajukan untuk diujikan. 150 267 235 vii . Wb. Moh. Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang di Malang Assalamu’alaikum Wr. M.I Dosen Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Malang NOTA DINAS PEMBIMBING Hal : Skripsi Yanuar Hadi Lampiran : 4 (Empat) Eksemplar Malang. Pembimbing. Drs.I NIP. Sesudah melakukan beberapa kali bimbingan. baik dari segi isi. dan setelah membaca skripsi mahasiswa tersebut di bawah ini: Nama : Yanuar Hadi Nim : 05110023 Jurusan : Pendidikan Agama Islam Judul Skripsi :Profil Guru dan Murid Dalam Perspektif Al-Ghazali maka selaku pembimbing.Pd.Drs. Padil. Wassalamu’alaikum Wr.Pd. mohon dimaklumi adanya. 7 April 2009 Kepada Yth. Demikian. Padil. Wb.

7 April 2009 Yanuar Hadi viii . Malang. juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain. bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan pasa suatu perguruan tinggi.Surat Pernyataan Dengan ini saya menyatakan. dan sepanjang pengetahuan saya. kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar rujukan.

ix .KATA PENGANTAR Puji syukur Alhamdulillah. penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT. bimbingan dan petunjuk dari berbagai pihak. dengan segala kerendahan hati dan penuh rasa syukur. maka sulit bagi penulis untuk menyelesaikannya. selaku Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Judul Skripsi yang diangkat adalah “Profil Guru dan Murid Dalam Perspektif Al-Ghazali)”. Skripsi ini disusun dengan bekal ilmu pengetahuan yang sangat terbatas dan amat jauh dari kesempurnaan. para keluarga. sebagai tugas akhir Studi di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Jurusan Pendidikan Islam. penulis berterima kasih kepada : 1. beserta para staffnya. sehingga tanpa bantuan. yang telah melimpahkan taufiq dan hidayah-Nya. yang kita harapkan syafaatnya di akhirat kelak. untuk seluruh umat manusia. Berkat rahmat dan petunjukNya. Oleh karena itu. Bapak Prof. Skripsi ini merupakan salah satu tugas yang wajib ditempuh oleh mahasiswa. H Imam Suprayogo. Shalawat serta salam. sahabat dan para pengikutnya yang telah membawa petunjuk kebenaran. semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita baginda Nabi Muhammad SAW. Dr. penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan lancar.

Para Guru dan Dosen yang telah mendidik serta membimbing penulis hingga bisa seperti saat sekarang ini 6.M. H. Djunaidi Ghony. 5. Fauziah & Naisa Hafiza. Kepada kalian semualah Ku-persembahkan karyaku ini.I. Oleh karena itu. bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Teman-teman Angkatan 2005 & Almamaterku Tercinta x . H. khususnya Fak. you are my best friend) yang sama-sama mengenyam pendidikan di campus tercinta UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Segenap pihak yang telah memberi banyak motivasi dan semangatnya dalam pembuatan skripsi ini. PAI. saran dan kritik konstruktif dari berbagai pihak sangat diharapkan demi terwujudnya karya yang lebih baik di masa mendatang. Ria Rahmita. M. Jur.Pd. Teman-teman dari seluruh penjuru tanah air (khususnya Saokee “Coky” Hayitahe from: “Negeri gajah putih” Thailand. Penulis menyadari. 7. Moh. Ya Allah SWT… Terima Kasih atas segala rahmat dan karuniaMU sehingga hamba dapat menyelesaikan karya ini.2. selaku Ketua Jurusan Pendidikan Islam UIN Maulana Malik Ibrahim Malang sekaligus Dosen pembimbing yang telah memberikan arahan dan bimbingan . Semoga dapat bermanfaat bagi siapa saja yang telah membacanya. Ayahanda Khairul Anwar dan Ibunda Siti Amnah sebagai pendidik sejati bagi penulis. selaku Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang 3. Dr. Tarbiyah. Juga adik-adik penulis. Padil. Bapak Drs. 4. Bapak Prof.

diterima di sisi-Nya dan dijadikanNya sebagai amal shaleh serta mendapatkan imbalan yang setimpal.. penulis hanya mampu berdo’a. 7 April 2009 Penulis xi . semoga segala bantuan yang telah diberikan kepada penulis. Amin..Sebagai ungkapan terima kasih. Malang. penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan bagi penulis khususnya. Akhirnya.

PEDOMAN TRANSLITERASI Penulisan transliterasi Arab-Latin dalam skripsi ini menggunakan pedoman transliterasi berdasarkan keputusan bersama Menteri Agama RI dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 158 tahun 1987 dan No. 0543 b/U/1987 yang secara garis besar dapat diuraikan sebagai berikut: A.Konsonan Tunggal Huruf Arab ‫ا‬ ‫ب‬ ‫ت‬ ‫ث‬ ‫ج‬ ‫ح‬ ‫خ‬ ‫د‬ ‫ذ‬ ‫ر‬ ‫ز‬ ‫س‬ ‫ش‬ ‫ص‬ ‫ض‬ ‫ط‬ ‫ظ‬ ‫ع‬ ‫غ‬ ‫ف‬ ‫ق‬ ‫ك‬ ‫ل‬ ‫م‬ ‫ن‬ ‫و‬ ‫ه‬ ‫ي‬ Nama Alif Bā’ Tā’ Śā’ Jīm Hā’ Khā’ Dāl āl Rā’ Zai Sīn Syīn Sād Dād Tā’ Zā’ ‘Ain Gain Fā’ Qāf Kāf Lām Mīm Nūn Wāwu Hā’ Hamzah Yā’ Huruf Latin Tidak dilambangkan B T Ś J H Kh D R Z S Sy S D T Z ‘ G F Q K L M N W H ’ Y Keterangan Tidak dilambangkan S (dengan titik di atas) H (dengan titik di bawah) Z (dengan titik di atas) S (dengan titik di bawah) D (dengan titik di bawah) T (dengan titik di bawah) Z (dengan titik di bawah) Koma terbalik di atas Apostrof Y xii .

transliterasinya sebagai berikut: Tanda ‫. ditulis ā f َ athah + Alif maksūr ditulis ā K ِ asrah + Yā’ mati ditulis ī Dammah + Wau mati ditulis ū D.B. ditulis h: ‫ه‬ Ditulis hibah Ditulis jizyah Contoh ‫ َ ل‬ditulis Sāla َ Contoh َ ْ َ ditulis Yas‘ā Contoh ْ ِ َ ditulis Majīd Contoh ‫ َ ُ ْل‬ditulis Yaqūlu ُ xiii . Vokal Rangkap Vokal rangkap Bahasa Arab yang lambangnya berupa gabungan antara harkat dan huruf.Ta’ Marbūtah 1. Vokal Tunggal Vokal tunggal bahasa Arab lambangnya berupa tanda atau harakat yang transliterasinya dapat diuraikan sebagai berikut: Tanda َ -ِ -ُ -Nama Fathah Kasrah Dammah Huruf Latin a i u Nama a i u Contoh َ ُِ Ditulis Munira 2. Maddah (vokal panjang) Maddah atau vokal panjang yang lambangnya berupa harkat dan huruf. 1.َ و‬Nama Fathah dan ya Kasrah Huruf Latin ai i Nama a dan i i Contoh َ َْ ‫آ‬ ‫َ ْل‬ َ ‫ه‬ Ditulis Kaifa Haula C.َ ي‬‫. terdiri dari vokal tunggal atau monoftong dan fokal rangkap atau diftong. Vokal Vokal bahasa Arab seperti bahasa Indonesia. Bila dimatikan. transliterasinya sebagai berikut: Fathah + Alif.

Nama penerbit Indonesia yang menggunakan kata Arab.Hamzah Hamzah yang terletak di akhir atau di tengah kalimat ditulis apostrof. Bila dihidupkan karena berangkai dengan kata lain.2. seperti Yusuf Qardawi c. ‫أه ا‬ J. Kata Arab yang sudah lazim dalam bahasa Indonesia. Contoh: Ditulis syai’un Ditulis ta’khu u Ditulis umirtu Ditulis al-rajulu Ditulis al-Syams ‫أ ت‬ H. Penulisan kata-kata dalam rangkaian kalimat dapat ditulis menurut bunyi atau pengucapan atau penulisannya. Sedangkan hamzah yang terletak di awal kalimat ditulis alif. Bila diikuti huruf qamariyah atau syamsiyah ditulus al‫ا‬ ‫ا‬ G. Judul dan nama pengarang yang sudah dilatinkan. I. Kata Sandang Alif + Lām 1. Nama pengarang Indonesia yang menggunakan bahasa Arab. Huruf Besar Huruf besar dalam tulisan Latin digunakan sesuai dengan ejaan yang diperbaharui (EYD). Syaddah (Tasydīd) ‫ّة‬ Ditulis ni‘matullāh Untuk konsonan rangkap karena syaddah ditulis rangkap: Ditulis ‘iddah F. Pengecualian Ditulis ahlussunnah atau ahl al-sunnah Sistem transliterasi ini tidak penulis berlakukan pada: a. 3. misalnya al-bayan xiv . seperti: al-Qur’an b. ditulis t: ‫ا‬ E. seperti Munir d.

.... 76 Tabel 6...2: Lanjutan .............. 78 xv ........... 77 Tabel 6............................................... 69 Tabel 6......1: Konsep Belajar Perspektif Imam al-Ghazali ...4 Pendekatan Belajar Perspektif Imam al-Ghazali ............................................1: Integrasi Ilmu-ilmu Allah ……………………………………....... 75 Tabel 6.................3: Pendekatan Belajar Perspektif Barat .....................................DAFTAR TABEL DAN GAMBAR Gambar b.............

.................. Lampiran III : Naskah Kitab Ringkasan Ihya’ Ulumuddin (Bab Ilmu) ...................... Lampiran IV : Daftar Riwayat Hidup………………………………………..... xvi ..................DAFTAR LAMPIRAN Lampiran I : Bukti Konsultasi ............................. Lampiran II : Naskah Kitab Ihya’ Ulumuddin jilid I (Bab Ilmu)..............

................................................ iv HALAMAN PERSEMBAHAN ............... viii KATA PENGANTAR ................................................................................................................... 14 D.................................... 16 G......................................... Ruang Lingkup Penelitian .......................................................... ix HALAMAN TRANSLITERASI .................................................................... v HALAMAN MOTTO ............................... Pengertian Pendidik ................... iii HALAMAN PENGESAHAN ....... xi DAFTAR TABEL DAN GAMBAR .............................................................................................. i HALAMAN JUDUL PENGAJUAN ……………………………………… ii HALAMAN PERSETUJUAN ..... xiv DAFTAR LAMPIRAN .................... Tujuan dan Kegunaan Penelitian ............. vii HALAMAN PERNYATAAN ...... vi HALAMAN NOTA DINAS ........................ Studi Terdahulu . xvi ABSTRAK ............................................................................................................................................................ 19 BAB II :KAJIAN PUSTAKA .......................................................................................................................................................... Sistematika Pembahasan ……………………………………............................................................ 24 C............ Rumusan Masalah ........ 1 A............................................................................................ Pengertian Anak Didik ................ Metode Penelitian ..................DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL .................. 15 E........................ 14 C.......................... 21 A................. 27 xvii .................................................................................................................................................................................... Latar Belakang Masalah .................................................... 21 B........................................................................................................ 1 B... 15 F............................. Penegasan Istilah ........... xviii BAB I :PENDAHULUAN .............................................. xv DAFTAR ISI .......................................................................................

D. Hubungan Guru dan Murid ..................................................... 29 E. Dasar dan Tujuan Pendidikan Islam ......................................... 32

BAB III

:PEMAPARAN HASIL PENELITIAN ..................................... 38 A. Biografi Imam al-Ghazali ........................................................ 38 1. Riwayat Hidup Imam al-Ghazali .......................................... 38 2. Setting Sosial-politik dan Pengaruhnya bagi Pemikiran Imam al-Ghazali ................................................................... 46 3. Karya-karya Imam al-Ghazali .............................................. 53 4. Klasifikasi Ilmu Perspektif Imam al-Ghazali ....................... 60 5. Pendidikan dalam Pemikiran Imam al-Ghazali .................... 65 6. Konsep pendidikan menururt al-ghazali……………………..70 7. Pengaruh Imam al-Ghazali dalam Dunia Pendidikan .......... 79 B. Profil Guru Dalam Perspektif Imam al-Ghazali ...................... 80 1. Pengertian Guru ................................................................... 80 2. Syarat Kepribadian Guru ..................................................... 82 3. Tugas dan Kewajiban Guru .................................................. 84 4. Kriteria Dalam Memilih Guru .............................................. 85 C. Profil Murid Dalam Perspektif al-Ghazali ................................ 86 1 Pengertian Murid ................................................................... 86 2. Tugas dan Kewajiban Murid ................................................ 86 3. Akhlak Murid Terhadap Guru .............................................. 89

BAB IV

:ANALISIS HASIL PENELITIAN ............................................ 90 A. Profil Guru Dalam Perspektif Imam al-Ghazali........................ 90 1. Pengertian Guru .................................................................. 90 2. Syarat Kepribadian Guru .................................................... 97 3. Tugas dan Kewajiban Guru ................................................. 107

xviii

4. Kriteria Dalam Memilih Guru ............................................. 111 B. Profil Murid Dalam Perspektif al-Ghazali ................................ 115 1 Pengertian Murid .................................................................. 115 2. Tugas dan Kewajiban Murid ............................................... 118 3. Akhlak Murid Terhadap Guru ............................................. 125

BAB V :PENUTUP ...................................................................................... 129 A. Kesimpulan ............................................................................. 129 B. Saran ........................................................................................ 131 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN

xix

ABSTRAK Yanuar Hadi. Profil Guru dan Murid Dalam Perspektif Al-Ghazali. Skripsi, Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah, Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang. Drs. H. Moh. Padil, M.Pd.I

Pendidikan merupakan masalah penting yang memperoleh prioritas utama sejak awal kehidupan manusia. Bahkan Rasulullah Saw sendiri telah mengisyaratkan bahwa proses belajar bagi setiap manusia adalah sejak ia masih dalam kandungan ibunya, sampai ia sudah mendekati liang kuburnya. Sebagai agama yang mengutamakan pendidikan, maka sepanjang kurun kehidupan umat Islam hingga kini, telah muncul banyak ahli pendidikan yang menyumbangkan buah pikirannya dalam bidang pendidikan. Dan pada umumnya sepakat menyatakan bahwa dari semua unsur pendidikan yang ada, guru dan murid menempati unsur yang utama dan taratas dari yang lain. Penelitian ini memiliki rumusan masalah dan ruang lingkup yang akan membahas mengenai bagaimana profil guru dan murid dalam perspektif Al-Ghazali, sehingga bertujuan untuk mengetahui pandangan Al-Ghazali, tentang profil guru dan profil murid tersebut, serta dapat pula dijadikan rujukan bagi para guru maupun anak didik di masa sekarang ini. Penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif dan lebih spesifiknya adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan menggunakan metode pendekatan historis dan filosofis serta content analisys sebagai pisau analisisnya, kemudian hasil dari penelitian ini disajikan dalam bentuk deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa; Al-Ghazali memiliki kontribusi yang besar dalam rangka membangun profil guru dan murid yang baik dan sesuai dengan syari’at Islam. Hal ini terlihat dari Bagaimana Imam al-Ghazali memberikan pengertian, syarat, tugas dan kewajiban serta adab yang sejalan dengan tuntutan atau ajaran agama Islam, baik bagi guru maupun murid. Sehingga secara operasional, konsepnya dapat diaplikasikan dan dijadikan alternatif acuan bagi seorang guru maupun murid di masa sekarang, khususnya dalam ruang lingkup pendidikan Islam itu sendiri, namun harus tetap menggunakan bentuk pendekatan baru serta diperlukan penyempurnaan yang searah dengan perkembangan dan kemajuan zaman.

Kata Kunci: profil Guru-Murid

xx

Sebagai pokok persoalan.1 Lapangan pendidikan dimana saja. pada diri merekalah harapan dan cita-cita baik bangsa maupun agama terletak. 51. kegiatan mendidik berlangsung dalam masyarakat modern ini tidak hanya di lingkungan keluarga. Guru tidak mempunyai arti apa-apa tanpa kehadiran murid sebagai subyek pembinaan. murid merupakan “kunci” yang menentukan untuk mewujudkan terjadinya interaksi edukatif. Jadi. Syaiful Bahri Djamarah. namun disekolahpun pendidikan terhadap anak dapat dilaksanakan oleh guru-guru yang bersangkutan. Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif (suatu pendekatan teoritis psiklogis). Sekolah disini bahkan merupakan follow up dari pendidikan di lingkungan 1 Drs. Murid atau anak didik adalah setiap orang yang menerima pengaruh dari seseorang atau sekelompok orang yang menjalankan kegiatan pendidikan. Latar Belakang Masalah Anak didik merupakan generasi masa depan. Jakarta: rineka cipta. Murid bukanlah hewan. namun ia adalah manusia yang mempunyai akal. murid memiliki kedudukan yang menempati posisi yang menentukan dalam sebuah interaksi. Murid adalah salah satu unsur manusiawi yang sangat penting dalam kegiatan interaksi edukatif. hlm. dari penjelasan tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa. M.Ag. 2005. Ia dijadikan pokok persoalan dalam semua gerak kegiatan pendidikan dan pengajaran.1 BAB I PENDAHULUAN A. 1 1 .

Pendidikan disekolah ini dapat disebut pendidikan formal. Misalnya pedoman mengenai: Kurikulumnya.2 Kesemuanya itu diarahkan kepada cita-cita yang diidam-idamkan oleh tujuan murni dari pendidikan itu sendiri. Maka dari itu bagi orang Islam yang mendirikan sekolah.A. pendidikan dan pengajaran dilaksanakan secara bersama-sama. madrasah atau lembaga pendidikan lainnya sudah tentu pedoman-pedomannya ditentukan ke arah usaha mencapai cita-cita yang mulia. Samsul Nizar. Untuk itu diperlukan pemahaman yang mendalam dari keduanya. Organisasi sekolahnya. Pendekatan Historis.3 Dari keseluruhan perangkat pendidikan itu. hlm. Filsafat Pendidikan Islam. 2002). menurut pedoman-pedoman yang telah ditentukan oleh pemerintah maupun pada lingkup yang lebih kecil. Sistem serta Metode-Metodenya dan sebagainya. Di sekolah. maka menurut hemat penulis guru dan murid dapat dikatakan menempati peringkat yang utama dari proses pendidikan itu sendiri. artinya diselenggarakan atas dasar peraturan dan syarat-syarat tertentu serta alat-alat tertentu pula. Teoritis dan Praktis. 26 2 . Malah bagi guru agama khususnya harus lebih dari itu semua yakin harus sanggup menjadi pendukung sebanar-benarnya akan cita-cita 2 Dr. (Jakarta:Ciputat Press.. yakni pemimpin sekolah yang bersangkutan. Guru-guru yang menjalankan tugasnya mendidik anak sudah tentu harus sanggup menjadi alat dari penyampaian cita-cita kepada anak yang telah diamanahkan kepadanya. hlm. H. yaitu membentuk manusia muslim yang bertanggung jawab atas bangsa dan agamanya untuk kebahagiaan dunia dan akhirat. Alat-alatnya. M. 25 3 Ibid.2 keluarga.

Dalam arti ini murid disebut dengan sejenis makhluk “homo educandum”. ia sebagai manusia berpotensi yang perlu dibina dan dibimbing dengan perantaraan guru. 52 3 . Op. Dalam perspektif pedagogis. murid adalah sejenis makhluk yang menghajatkan pendidikan.cit. sebagaimana yang juga akan diungkapkan oleh penulis pada skripsi ini dalam perspektif al-Ghazali pada bab atau pembahasan selanjutnya. hlm. yaitu sejenis hewan yang memungkinkan untuk dididik. Bila murid adalah sebagai komponen inti dalam 4 Drs. sedangkan pendidikan sebagai alat ampuh untuk mengembangkan daya tersebut. tetapi anak didik disini haruslah tetap dianggap sebagai manusia secara mutlak. Syaiful Bahri Djamarah. Potensi murid sebagai daya yang tersedia. Ia adalah sejenis makhluk manusia yang terlahir dari rahim seorang ibu. Anak didik adalah manusia yang memiliki potensi akal untuk dijadikan kekuatan agar menjadi manusia susila yang cakap. Potensi anak didik yang bersifat laten perlu diaktualisasikan agar mereka tidak lagi dikatakan sebagai “animal educable”. sebab anak didik memang sejatinya manusia. M. maka didalam diri murid ada suatu daya yang dapat tumbuh dan berkembang disepanjang usianya. baik dari segi jasmaniyah maupun rohaniyahnya.4 Sebagai manusia yang berpotensi.3 itu sehingga dirinya dimata anak didiknya betul-betul merupakan personifikasi dari agama yang diajarkannya. Pendidikan merupakan keharusan yang diberikan kepada anak didik. Itulah sebabnya guru sebagai pendidik haruslah memenuhi syarat-syarat serta tugas dan tangung jawabnya bagi pendidikan yang dilakukannya tersebut.Ag.

yakni : 1. Sebaiknya sebelum guru mempersiapkan tahapan-tahapan interaksi edukatif. Memiliki sifat-sifat dasar manusia yang sedang berkembang secara terpadu yaitu kebutuhan biologis. Drs. jari). guru memahami keadaan 5 . dan Siti Mechati. M. kemampuan berbicara. 3. Guru perlu memahami karekteristik anak didik sehingga mudah melaksanakan interaksi edukatif. atau 2. inteligensi. hlm. Masih menyempurnakan aspek tertentu dari kedewasaannya. latar belakang biologis (warna. Ibid. emosi.4 kegiatan pendidikan. anggota tubuh untuk bekerja (kaki. rohani. kulit. Sebagai makhluk manusia. sehingga masih menjadi tangung jawab pendidik. Kegagalan menciptakan interaksi edukatif yang kondusif. metode. Syaiful Bahri Djamarah. maka muridlah sebagai pokok persoalan dalam interaksi edukatif. tangan. Bahan. tidak dapat berperan lebih banyak. berpangkal dari kedangkalan pemahaman guru terhadap karekteristik anak didik sebagai individu. Suwarno. 52 4 . sarana/alat. dan lainnya). bila guru mengabaikan aspek anak didik. serta perbedaan individual. Menurut Sutari Iman Barnadib.5 anak didik memiliki karekteristik tertentu. anak didik memiliki karekteristik. dan evaluasi. latar belakang sosial. social.Ag. Belum memiliki pribadi dewasa susila sehingga masih menjadi tanggung jawab pendidik (guru) . bentuk tubuh.

6 Ibid. dan efisien. meskipun jumlahnya dapat dikatakan sedikit (minoritas).5 anak didik. hingga aplikasi dilapangan dengan adanya tawuran antar murid atau sekolah (sebagaimana yang diberitakan media cetak maupun elektronik). Apabila hal-hal seperti ini dibiarkan tanpa adanya usaha untuk memperbaikinya. yang nanti pada akhirnya akan merusak dan menghancurkan bangsa maupun agama itu sendiri. bandel. efektif. baik itu pembentukan kelompok tertentu (gank) dengan maksud yang sering tidak jelas. Sebagai contoh. hampir disetiap kelas disekolah selalu ada saja murid (peserta didik) yang jahil. sehingga tercipta interaksi edukatif yang kondusif. namun diakui atau tidak bahwa pada fakta dilapangan memang terdapat penyimpangan yang dilakukan sebagian pendidik. hlm.6 Namun sebagaimana yang kita ketahui pada saat sekarang ini banyak generasi muda yang telah kehilangan arah yang benar.. sulit untuk dikendalikan. sebagaimana kenakalan yang terjadi pada pesrta didik. bahkan terlibat dalam aktivitas yang bernuansa kekerasan. penulis tidak bermaksud memberikan steatmen buruk kepada guru. Hal ini sangat ironi. maka perlahan-lahan. kehilangan identitas diri dan lain sebagainya. Hal serupa juga ternyata terjadi pada kalangan pendidik. nakal. 53 5 . hal ini juga terungkap dan diangkat di media baik cetak maupun elektronik. mengingat baik bangsa maupun agama itu sendiri tidak mengingingkan akan terjadinya hal-hal seperti itu. Ini penting agar apat mempersiapkan segala sesuatunya secara akurat.

1996). Tidak hanya didomonasi oleh pelajaran-pelajaran ilmu pengetahuan umum. hlm. tapi juga harus di ikuti atau di dasari pengetahuan-pengetahuan mengenai akhlak. etika dan khususnya dan paling utama adalah pendidikan agama. Untuk itu sebelumnya dibutuhkan pemahaman yang mendalam mengenai hakikat pendidik bagi siapa saja yang menginginkan guru sebagai profesi dalam hidupnya. Oleh karenanya dibutuhkan usaha bersama dalam menanggulangi persoalan ini agar dapat mencapai maksud dan tujuan pendidikan yang agung dan sangat mulia. juga pemahaman yang mendalam tentunya tentang hakikat peserta didik bagi siapa saja yang hendak ataupun yang masih dan serta selalu menuntut ilmu. moral. Dasar-Dasar Kependidikan Islam. Karena pendidikan sendiri merupakan salah satu aspek yang sangat sakral dan penting untuk membentuk generasi yang siap mengganti tongkat estafet generasi tua dalam rangka membangun masa depan.6 lambat-laun baik disadari ataupun tidak akan menjadi suatu tradisi yang buruk yang dapat menjadi permasalahan yang sangat serius bagi dunia pendidikan itu sendiri. 6 . Pendidikan sendiri sebagai proses transfer ilmu dan pengetahuan hendaknya tidak hanya berkuantitas. namun bagi para murid (peserta didik) juga harus mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. namun juga berkualitas. khususnya Islam.7 Karena itu tidak hanya guru (pendidik) yang mempersiapkan diri dengan baik. budi pekerti. (Surabaya: karya abditama. 7 Tim Dosen IAIN Sunan Ampel-Malang. yang kesemuanya dilandasi oleh ajaran agama. Suatu Pengantar Ilmu Pendidikan Islam. 58.

8 Hasan Langgulung menyebutkan bahwa dalam pendidikan mengandung dua aspek. ilmu pengetahuan alam. 23 10 Undang-undang Republik Indonesia No.7 Salah satu fungsi pendidikan adalah memindahkan nilai-nilai. Asas-Asas Pendidikan Islam (Jakarta: Penerbit Pustaka Al-Husana. pendidikan kewarganegaraan. Dengan kata lain belajar sebenarnya. ilmu pengetahuan sosial.9 Di dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. ilmu dan keterampilan dari generasi tua kepada generasi muda untuk melanjutkan dan memelihara identitas masyarakat tersebut. keterampilan/kejuruan. hlm. 250 9 Ibid. 7 . Sedangkan proses belajar berlaku apa sebanarnya yang terjadi pada manusia. tidak ubahnya seperti memindahkan isi suatu keranjang kepada keranjang-keranjang lain. kepada kepala seseorang atau beberapa murid. matematika. hlm. 1988). Pertama: Aspek mengajar dan Kedua: Aspek belajar.. seni dan budaya. pendidikan jasmani dan olahraga. hlm. kalaulah ilmu itu ada di kepala. 20 Tahun 2003 Tentang SISDIKNAS (Bandung: Citra Umbara.10 8 Hasan Langgulung. bahasa. 20 tahun 2003 pasal 37 ayat (1) ditegaskan bahwa: Kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat: pendidikan agama. 25-26. Dengan demikian terjadilah proses belajar. 2003). Dalam hal ini bisa dilalui dengan proses pengajaran dan belajar. dan muatan lokal. Aspek mengajar itu hanyalah suatu cara untuk memantapkan proses belajar itu. Dahulu orang menyangka bahwa mengajar sebenarnya tidak lebih dari memindahkan isi kepala seseorang guru.

62. baik secara sengaja ataupun tidak. sehingga masingmasing anak didik akan mendapat pendidikan dan pembinaan dari berbagai orang guru yang mempunyai kepribadian dan mental yang baik pula. Setiap guru akan mempunyai pengaruh terhadap anak didik. gaya. bahwa kepribadian guru akan lebih besar pengaruhnya dari pada kepandaian dan ilmunya. maupun tidak sengaja oleh guru. Dapat dikatakan. (Jakarta: Logos Wacana Ilmu. terutama bagi anak didik yang masih dalam usia kanak-kanak dan masa meningkat remaja.8 Dalam masa sekarang ini. 1997). setiap sekolah memerlukan guru yang tidak hanya profesional. hlm. di rumah dan sebagainya. namun juga memiliki spiritual (religius) yang baik. pengaruh tersebut akan terjadi melalui pendidikan dan pengajaran yang dilakukan baik dengan sengaja. tidak terbatas di lembaga pendidikan formal. membantu anak untuk mencapai kedewasaan. dan macam-macam penampilan kepribadian guru.11 Guru dalam pandangan masyarakat adalah orang yang melaksanakan pendidikan di tempat-tempat tertentu. tetapi bisa juga di masjid. Oleh karena itu. yaitu tingkat pendidikan dasar dan menengah. Filsafat Pendidikan Islam. 8 . Guru adalah orang yang bekerja dalam bidang pendidikan dan pengajaran. mushala. 11 Abuddin Nata. melalui sikap. setiap guru hendaknya mempunyai kepribadian yang patut dicontoh dan diteladani oleh anak didik. yang ikut bertanggung jawab dalam mendidik dan mengajar. karena anak didik pada tingkat tersebut masih dalam masa pertumbuhan dan perkembangan kepribadiannya.

sehinga pantas hadir sebagai manusia model yang ideal. ideal.9 Guru memang menempati kedudukan yang terhormat di masyarakat. dan bertanggung jawab atas segala sikap. guru wajib digugu dan ditiru tersebut perlu disikapi secara kritis dan realistis. berguna bagi nusa dan bangsa di masa yang akan datang. selamanya tetap merupakan suatu cita-cita. Peranan dan kewibawaan yang menyebabkan seorang guru dihormati. sehingga masyarakat tidak meragukan figur seorang guru. Pandangan tentang citra guru sebagai orang yang wajib digugu (dipatuhi) dan ditiru (diteladani) seharusnya tidak perlu diragukan kebenarannya. Jadi. 9 . Guru yang sempurna. konsep keguruan klasik tersebut mengandaikan pribadi guru serta perbuatan kependidikan atau keguruan adalah tanpa cela. Hal ini tidak sesuai dengan kenyataan. tingkah laku dan perbuatan dalam rangka membina anak didik agar menjadi orang yang bersusila yang cakap. yakni orang yang bertanggung jawab mencerdaskan kehidupan anak didik. Masyarakat yakin bahwa gurulah yang mendidik mereka agar menjadi orang yang berkepribadian mulia. Benarlah bahwa guru dituntut menjadi tauladan bagi siswa dan orang-orang sekelilingnya. tetapi guru adalah orang yang tidak pernah bebas dari cela dan kelemahan. Guru adalah komponen yang penting dalam pendidikan. justru salah satu keutamaan guru hendaknya diukur dari kegigihan usaha guru yang bersangkutan untuk menyempurnakan diri dan karyanya.

karena sukses anaknya merupakan sukses orang tua juga. kesanggupan. 2001). yaitu tugas yang tidak dapat diserahkan kepada sembarang orang. hlm. yaitu suatu keadaan dimana tindakan pendidikan dapat berlangsung dengan baik dan hasil memuaskan.12 Dalam artian. membagi tugas guru ada dua. Orang tua disebut pendidik kodrati. bakat. Pendidik yang pertama dan utama adalah orang tua (ayah dan ibu).10 Atas pemikiran di atas. (Jakarta: Raja Grafindo Persada. Dalam arti formal tugas keguruan bersikap profesional. Dalam Ilmu Pendidikan Islam. karena adanya pertalian darah yang secara langsung bertanggung jawab penuh atas kemajuan perkembangan anak kandungnya. 10 . 1. Apabila orang tua tidak punya kemampuan dan waktu untuk mendidik. menciptakan situasi untuk pendidikan. maka upaya menyiapkan tenaga guru merupakan langkah utama dan pertama yang harus dilakukan. Perspektif Islam Tentang Pola Hubungan Guru dan Murid. 12 Abuddin Nata. Seorang guru dituntut mampu memainkan peranan dan funginya dalam menjalankan tugas keguruannya. Pertama. Kedua. guru tersebut harus mempunyai kemampuan untuk mengerahkan dan membina anak didiknya sesuai dengan nilai-nilai kehidupan yang luhur dan bermanfaat menurut pandangan agama. maka mereka menyerahkan sebagian tanggungjawabnya kepada orang lain atau lembaga pendidikan yang berkompetensi untuk melaksanakan tugas mendidik. minat dan sebagainya. membimbing anak didik mencari pengenalan terhadap kebutuhan.

guru mendapatkan penghormatan dan kedudukan yang amat tinggi. Pontensi dasar itu adalah milik individu sebagai hasil proses yang tumbuh karena adanya inayah Allah SWT. mengarahkan. sehingga dapat melaksanakan fungsi kekhalifahannya di muka bumi dengan baik. Sebagaimana telah diuraikan di atas. salah satu dari mengutamakan untuk mendapatkan materi dalam tugasnya. bahwa dalam ajaran Islam. karena dilihat dari jasanya yang demikian besar dalam membimbing. membentuk akhlak dan menyiapkan anak didik agar siap menghadapi hari depan dengan penuh keyakinan dan percaya diri.11 Untuk menjadi guru yang profesional tidaklah mudah. Penghormatan dan kedudukan yang tinggi ini amat logis diberikan kepadanya. memberikan pengetahuan. Sifat yang dimiliki guru adalah harus memiliki sifat zuhud. melainkan karena mengharapkan keridhaan Allah semata-mata. personifikasi ibu waktu mengandung dan situasi yang mempengaruhinya baik langsung maupun melalui ibu waktu mengandung atau faktor keturunan. karena ia harus memiliki berbagai kompetensi keguruan. Hal inilah yang digunakan sebagai pijakan bagi individu dalam menjalankan fungsinya sebagai khalifah dan hamba Allah. yaitu tidak sesuai dengan pendapat Mohammad Athiyah Al-Abrosyi. Kompetensi dasar bagi pendidik ditentukan oleh tingkat kepekaannya dari bobot potensi dasar dan kecenderungan yang dimilikinya. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT: ∩⊄⊇∪ tβρ߉tGôγ•Β Νèδuρ #\ô_r& ž ö/3=t↔ó¡o„ ω tΒ (#θãèÎ7®?$# ä é 11 .

kemudian Imam al-Ghazali juga memiliki pandangan yang berbeda dengan para ahli pendidikan yang lain mengenai tujuan pendidikan. Menurutnya. apakah dalam keadaan punya uang atau tidak ada uang. Penulis sendiri menjadikan Imam al-Ghazali sebagai tokoh central dalam penelitian ini karena selain karena memiliki banyak karya (kitab/buku-buku karangan beliau. maka tugas guru akan dilaksanakan dengan baik.14 13 14 DEPAG RI. cit. Al-Quran dan Terjemahnya. dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. Pada awal tugasnya hendaklah ia niatkan semata-mata karena Allah. Dengan demikian. hlm 708. melarat.S. bukan untuk mencari kedudukan.” (Q. tetapi semua ini jangan diniatkan dari awal tugasnya. tujuan pendidikan adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah. melainkan boleh ia memiliki kekayaan sebagaimana lazimnya orang lain dan ini tidak berarti pula bahwa guru tidak boleh menerima pemberian atau upah dari muridnya. 162. maupun hasil-hasil penelitian sebelumnya tentang beliau) sehingga memudahkan peneliti dalam memperoleh informasi dan data.12 Artinya: “Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepada-Mu.. Yasin: 21)13 Ini tidak berarti bahwa seorang guru harus hidup miskin. kemegahan dan kegagahan atau mendapatkan kedudukan yang menghasilkan uang. Abuddin Nata.. dan beliau telah popular dikalangan umat Islam (termasuk dalam dunia pendidikan Islam khususnya). Cit. dan sengsara. op. melainkan ia boleh saja menerimanya pemberian upah tersebut karena jasanya dalam mengajar. hlm. 12 . Op.

untuk menjadi murid yang baik yaitu yang dapat memenuhi tugas yang dibebankan padanya. hlm. Untuk lebih jelasnya akan dipaparkan pada pembahasan/bab selanjutnya.16 15 Al-Ghazali. hlm. (Jakarta: Puastaka Amani. bersih jasmaninya. menurutnya. diantaranya ilmu menurut beliau dibagi dalam dua bagian besar. Selanjutnya menurut pendapat al-Ghazali.. salain bertakwa kepada Allah. sosok guru ideal adalah yang memiliki motivasi mengajar yang tulus ikhlas. 16 Ibid.13 Selanjutnya Imam al-Ghazali juga mengklasifikasi ilmu menjadi beberapa karakteristik. Ilmu sebagai obyek memiliki tiga bagian. baik akhlaknya dan suci jiwanya. Terj. Ringkasan Ihya’ Ulumuddin. tetapi dengan mengajar itu bermaksud mencari keridhaan Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya. yaitu: ilmu sebagai proses dan ilmu sebagai obyek. 2007). ilmu yang terpuji. Kemudian dijumpai pula pendapat al-Ghazali bahwa hendaknya seorang guru tidak mengharapkan imbalan. yaitu ilmu yang tercela. seorang juga hendaknya menanamkan niat yang benar dalam metuntut ilmu.15 Mengenai masalah gaji guru. Cet II.. 15. dan ilmu yang terpuji dalam batas-batas tertentu. Dalam mengamalkan ilmunya semata-mata untuk bekal di akhirat bukan untuk dunianya. Dari ketiga ilmu ini kemudian Imam al-Ghazali membagi lagi dalam dua kelompok: ilmu yang fardlu ‘ain dan ilmu yang fardlu kifayah. balas jasa ataupun ucapan terima kasih. Zeid Husein Al-Hamid. 11 13 . sehingga tidak mengharapkan imbalan. dan menjadi panutan serta mengajak pada jalan Allah dan mengajar itu harganya lebih tinggi dari pada harta benda.

Untuk mengetahui profil guru dalam perspektif al-Ghazali 2. Oleh karena itu. maka masalah yang penulis ungkapkan meliputi: 1. Dari hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai tambahan atau masukan sekaligus sebagai bahan pertimbangan bagi lembaga pendidikan dalam 14 . begitu juga sosok murid sangat urgen dalam pandangan dan pemikiran AlGhazali. Bagaimana profil murid dalam perspektif Imam al-Ghazali ? C.14 Dengan melihat sekilas pemaparan atau uraian tentang profil guru. karena masing-masing memiliki tugas dan tanggung jawab yang berbeda dalam sebuah karya ilmiah yang bersifat analisis kritis dalam judul: “PROFIL GURU DAN MURID DALAM PERSPEKTIF IMAM AL-GHAZALI” B. Tujuan dan Kegunaan Penelitian Sesuai dengan rumusan masalah di atas. Untuk mengetahui profil murid dalam perspektif al-Ghazali Sedangkan kegunaan dari penelitian ini antara lain: 1. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas. maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelititan ini adalah: 1. Bagaimana profil guru dalam perspektif Imam al-Ghazali ? 2. bahwa sosok guru adalah hal yang paling penting serta yang utama dalam pendidikan. sangat relevan kiranya untuk diuji keutamaannya.

Al-Ghazali 17 : Salah seorang tokoh pemikir di dalam dunia Islam yang Pius A. 177. sosok. maka penelitian ini difokuskan pada obyek kajian tentang profil guru dan juga pembahasan tantang profil murid dalam perspektif al-Ghazali. postur. Penegasan Istilah Profil : Keterangan / penjelasan diri. hlm. Kamus Ilmiah Populer. sosok. Ruang Lingkup Penelitian Berdasarkan judul yang penulis angkat dalam karya ilmiah skripsi ini. bentuk. 15 . Figure (bahasa Inggris).17 Profil Guru : Figur atau wujud (sosok) garis-garis besar sifat dan ciri Atau keterangan/ penjelasan diri sosok seorang guru. Partanto dan M. Hasil dari penelitian ini dapat digunakan sebagai pijakan pendidikan Agama Islam dalam pengembangan pendidikan Agama Islam khususnya bagi tenaga pengajar dan peserta didik 3. wujud. Untuk menambah wawasan praktis sebagai pengalaman bagi penulis sesuai dengan disipilin ilmu yang telah penulis tekuni selama ini D. Profil Murid : Figur atau wujud (sosok) garis-garis besar sifat dan ciri keterangan / penjelasan diri sosok seorang murid. bangun badan.15 meningkatkan prestasi belajar murid maupun para guru itu sendiri dalam pelaksanaan pendidikan (termasuk Pendidikan Agama Islam) 2. gambar. perawakan. Dahlan Al-Banny. tokoh. (Surabaya: Arkola. E. tipe. 1994).

yaitu penelitian yang obyek utamanya adalah buku-buku atau sumber kepustakaan lain. data dicari dan ditemukan melalui kajian pustaka dari bukubuku yang relevan dengan pembahasan. Metode Penelitian 1. dengan pendekatan ini akan ditemukan benang merahnya. yaitu pendekatan untuk mengkaji biografi AlGhazali dalam karyanya. b. Sehingga meskipun terdapat dua pembahasan. F. filosof dan sufi. Pendekatan Penelitian Kualitatif a. Maksudnya. Dilahirkan tahun 1059 Masehi/450 Hijriyah di Thusia. yang nama lengkapnya ialah Abu Hamid bin Muhammad Al-Ghazali. yakni hubungan timbal balik diantara guru dan murid tersebut. Pendekatan Filosofis. evaluatif reflektif yang berkaitan dengan profil seorang guru dan profil seorang murid serta. 2. yang hidup di pemerintahan Bani Saljuk. yaitu pendekatan yang mengkaji pemikiran AlGhazali secara kritis. Pendekatan Historis.16 dikenal sebagai seorang teolog. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka (library research). khususnya yang berkaitan dengan profil seorang guru dan profil seorang murid. 16 .

Sumber Data Primer. Fatihatul Ulum (Buat Pecinta Ilmu). XIX. Menjadi Guru Profesional. 2002). yaitu buku-buku selain pada data primer dan sekunder karya pengarang lainnya (selain Imam al-Ghazali) yang tentunya masih relevan dengan pokok permasalahan yang menjadi kaitan dalam skripsi ini. 2). Sumber Data Sekunder. Menuju Labuhan Akhirat. 3). Jalan Mudah Menggapai Hidayah. 17 . 6. hlm. 40 prinsip agama. yaitu berupa buku karya Imam Al-Ghazali yaitu: “Ihya’ Ulumuddin” jilid pertama. Filsafat Islam. penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran utuh dan jelas tentang profil seorang guru profil seorang murid menurut Al-Ghazali. Metodologi Penelitian Kualitatif. yaitu seperti. yaitu buku-buku karya lain yang ditulis oleh Imam Al-Ghazali yang mendukung dari data primer yang disebutkan diatas.17 Kegiatan studi termasuk kategori penelitian kualitatif dengan prosedur kegiatan dan teknik penyajian finalnya secara deskriptif. Cet.18 Maksudnya. Ilmu Pendidikan 18 Lexy J. 1). Moleong. yaitu. Menghidupkan Kembali Ilmu-ilmu Agama. Asas-Asas Pendidikan Islam. (Bandung: Remaja Rosda Karya. Sumber Data Penunjang. Sumber dan Jenis Data Yang dimaksud sumber data adalah subjek dimana data itu diperoleh. Perspektif Islam Tentang Pola Hubungan Guru dan Murid. 3. Diantaranya adalah Ringkasan Ihya’ Ulumuddin. dalam hal ini dibedakan menjadi dua jenis sumber data. Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif.

serta buku-buku lain yang mendukung pendalaman dan ketajaman analisis. Manusia dan Pendidikan dan lain sebagainya. (Jakarta: Obor Indonesia. 31. faktual dan akurat mengenai faktor-faktor sifat-sifat serta hubungan dua fenomena yang 19 Mestika Zed. hlm.19 untuk kemudian dipaparkan secara Diskriptif yaitu mendiskripsikan segala hal yang berkaitan dengan pokok pembicaraan secara sistematis. karena dengan analisislah data tersebut dapat berguna dalam memecahkan masalah penelitian. Dalam menganalisis data setelah terkumpul penulis menggunakan metode Content Analisys. 4. yaitu analisis yang dilakukan langsung terhadap satuan-satuan isi pada setiap data yang diperoleh atau digunakan. 5. Dasar-Dasar Kependidikan Islam.18 dalam Perspektif Islam. Metode Analisis Data Analisis data merupakan bagian yang terpenting dalam metode ilmiah. Metode Pengumpulan Data Sumber data baik data primer maupun sekunder diperoleh melalui penelitian pustaka (library research) yaitu dengan menelusuri buku-buku atau tulisan-tulisan tentang Al-Ghazali. Analisis data kualitatif yang digunakan dalam skripsi ini berupa kata-kata bukan berupa angka-angka yang disusun dalam tema yang luas. Metode Penelitian Kepustakaan. 2008). 18 .

(Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM. karya-karyanya dan pemikiran Imam al-Ghazali tentang profil seorang guru. dimana yang satu dengan yang lain saling berkaitan sebagai satu kesatuan yang utuh. Secara global akan penulis perinci dalam sistematika pembahasan ini sebagai berikut: Bab pertama. 19 . Kemudian masuk pembahasan inti yaitu bab empat. yang 20 Sutrisno Hadi. Dari sinilah akhirnya diambil sebuah kesimpulan umum yang semula berasal dari data-data yang ada tentang obyek permasalahannya. latar belakang masalah. definisi istilah. membahas tentang bagaimana hubungan timbal balik antara seorang guru dan murid menurut Imam al-Ghazali.19 diselidiki. Agar memperoleh gambaran yang lebih jelas dan menyeluruh mengenai pembahasan ini. 36-42. yaitu sebagai gambaran umum mengenai seluruh isi skripsi yang dijabarkan dalam berbagai sub bab yaitu. Pendahuluan. 1987). yang merupakan urutan-uruatan tiap bab. Sistematika Pembahasan Sistematika pembahasan yaitu rangkaian pembahasan yang tercakup dalam isi skripsi. Pada bab dua akan memuat biografi Imam al-Ghazali. tujuan penelitian. Metodologi Research. metode penelitian dan sistematika pembahasan. Selanjutnya pada bab tiga akan memuat pemikiran atau pandangan Imam alGhazali tentang profil seorang murid . dan memuat pula tujuan pendidikan dalam perspektif beliau. hlm.20 G. manfaat penelitian.

20 pada prosesnya pendidikan tersebut adalah merupakan interaksi antara pendidik (guru) dan anak didik (murid). Akhirnya pembahasan seluruh skripsi ini ditutup dengan kesimpulan dan saran-saran oleh penulis sendiri dalam bab lima. 20 .

Zainuddin. hlm. Karomah Syaikh Abdul Qadir al-Jailani (Yogyakarta: Pustaka Pesantren. Karya ini membahas tentang pola hubungan guru-murid yang bernuansa moral-sufistik. pada sisi lain. sufisme yang didengung-dengungkan oleh Imam al-Ghazali. 2004). Namun demikian. dituduh sebagai penghambat kemajuan zaman sehingga tidak mengherankan kalau kemudian beliau harus bertanggung jawab atas ketertinggalan dan kemunduran umat Islam. Zainuddin. Imam al-Ghazali dituding sebagai salah satu dari keterpurukan umat Islam saat itu. Beberapa Studi Tentang Pemikiran Imam al-Ghazali Studi tentang pemikiran Imam al-Ghazali telah banyak dilakukan oleh berbagai kalangan. menurut M. Hal ini membuktikan bahwa Imam al-Ghazali (khususnya di kalangan umat Islam) sangat berpengaruh. dicintai dan bahkan diagungagungkan.21 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. 21 21 . Bahwa pola hubungan guru-murid menurut al-Ghazali adalah pola hubungan yang bersifat kemitraan 21 M. terdapat beberapa literatur hasil penelitian yang dapat dikemukakan di sini. pada satu sisi. 2-3. Sebab. antara lain: Visiting Post Doctorate Program Abuddin Nata yang sudah dibukukan dengan judul Perspektif Islam tentang Pola Hubungan Guru-Murid: Studi Pemikiran Tasawuf al-Ghazali.21 Berkaitan dengan itu.

23 Sedangkan Rusdianto dalam skripsinya berjudul: Pendekatan Dalam Proses Belajar Perspektif Imam al-Ghazali (Kajian Kitab Ayyuhā al-Walad fī Nasīhati alMuta‘allimīn wa Maw‘izatihim Liya’lamū wa Yumayyizū ‘Ilman Nāfi‘an min Gayrihi) memandang bahwa pendekatan dalam proses belajar adalah pendekatan yang penuh dengan nuansa teosentris. 22 .22 yang didasarkan pada nilai-nilai demokratis. Perspektif Islam tentang Pola Hubungan Guru-Murid: Studi Pemikiran Tasawuf AlGhazaliI (Jakarta: Raja Grafindo Persada. Fakultas Tarbiyah UIN Malang. hlm. guru juga bertugas untuk menyempurnakan. Guru tidak boleh meminta imbalan dalam arti bahwa motifasi yang harus dipegang adalah semata-mata karena Allah. dan menjernihkan hati serta membimbing anak didiknya untuk mendekatkan diri kepada Allah. 2006. 2001).22 Siti Fatchurohmah dalam skripsinya berjudul: Sosok Guru menurut al-Ghazali dan Zakiah Daradjat melihat bahwa seorang guru itu harus bertanggungjawab dalam hal pendidikan dan pengajaran. dan motivasi dalam belajar harus demi menghidupkan syari’at Nabi dan menundukkan hawa nafsu. “Sosok Guru Menurut al-Ghazali dan Zakiah Daradjat”. mensucikan. 23 Siti Fatchurohmah. perkataan 22 Abuddin Nata. Skripsi. dan karena itu. Hal ini dibuktikan dengan pandangannya (yang mengutip dari al-Ghazali) tentang belajar yang bernilai adalah apabila diniatkan untuk beribadah kepada Allah. ia harus menelaah ilmu agama dan ilmu tauhid. keterbukaan. kemanusiaan dan saling pengertian. 3. siswa juga harus memperhatikan kesucian jiwanya. 131. Kemudian. hlm. Di samping itu.

Skripsi. 23 . Fakultas Tarbiyah UIN Malang. Fakultas Tarbiyah UIN Malang. Pendekatan Dalam Proses Belajar Perspektif Imam al-Ghazali (Kajian Kitab Ayyuhā alWalad fī Nasīhati al-Muta‘allimīn wa Maw‘izatihim Liya’lamū wa Yumayyizū ‘Ilman Nāfi‘an min Gayrihi)”. beberapa karya di atas saling mendukung satu sama lain. dan tidak meninggalkan shalat tahajjud. tawakkal. sehingga penulis ingin menghimpun sekaligus melengkapinya sehingga menjadi sebuah konsep yang jelas dan lengkap perihal pendidikan bagi anak didik khususnya dalam menuntut ilmu atau belajar. ia mengatakan (menjelaskan) bahwa sistem pendidikan Islam dalam konteks masa kini harus diarahkan pada pencarian fomat baru menuju sistem ideal pendidikan Islam. 24 Sementara Syarkowi mengkaji arah sistem pendidikan Islam dalam perspektif al-Ghazali dalam konteks saat ini. tidak bergaul dengan kalangan eksekutif. hlm. peneliti mencoba 24 Rusdianto. Yaitu dengan menggunakan nilai-nilai Islam sebagai sudut pandang secara menyeluruh: kebahagiaan dunia akhirat. Reorientasi Pendidikan Islam (ke Arah Aktualisasi Pemikiran Pendidikan al-Ghazali dalam Konteks Masa Kini)”. Di samping itu. 2006. 120. serta berbuat baik terhadap Allah dan sesama manusia. hlm. ikhlas. Skripsi. Siswa juga harus memilih guru yang memiliki akhlak yang baik.25 Menurut hemat penulis. 25 Syarkowi. tidak boleh menjadi juru mau’izah. 154. 2005.23 dan perbuatannya harus sama dengan syara’. bersikap patuh dan tunduk terhadap guru dalam segala hal. lebih memilih fakir dan menjauhi kehidupan dunia. Untuk itu. Dalam skripsinya Reorientasi Pendidikan Islam (ke Arah Aktualisasi Pemikiran Pendidikan al-Ghazali dalam Konteks Pendidikan Masa Kini). tidak boleh berdebat. siswa juga harus mengamalkan ilmu yang diperolehnya sebab ilmu tanpa diamalkan adalah kegilaan dan beramal yang tidak didasari oleh ilmu pengetahuan adalah sia-sia.

27 Selanjutnya dalam bahasa Arab. cara mendidik dalam Islam. mudarris. Dan karena itu. adap pendidik. Kamus Inggris-Indonesia. sebagaimana yang dijelaskan juga oleh Abuddin Nata. hlm. khususnya yang terdapat dalam kitab-kitab karyanya seperti Ihya’ Ulumuddin (jilid 1). hlm. 250. Kata tersebut seperti teacher yang diterjemahkan sebagai pendidik atau pengajar dan tutor yang berarti guru pribadi atau guru yang mengajar dirumah. makna pendidik. adab pelajar. topik penelitian dalam skripsi ini mempunyai kerangka dan bingkai tersendiri yang memiliki perbedaan dengan kajian yang sebelumnya. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Poerwadarmita adalah orang yang mendidik. dan beberapa kitab (buku) lain yang berkenaan dengannya . 26 WJS. 1980). B. sebagaimana dijelaskan oleh WJS. (Jakarta: Gramedia. Pengertian Pendidik Dari segi bahasa. Dalam bahasa Inggris dijumpai pula beberapa kata yang berdekatan artinya dengan guru. Pada penelitian ini dipaparkan tentang konsep pendidikan dalam perspektif al-Ghazali mulai dari hakikat ilmu serta arti pentingnya ilmu yang bermanfaat dan tidak bermanfaat (fardhu ‘ain dan fardhu kifayah). 1991). John M.24 melakukan penelitian tentang konsep pendidikan dalam perspektif al-Ghazali. 560608 27 24 . Selain itu juga akan dipaparkan beberapa faktor yang mempengaruhi dalam proses belajar. (Jakarta: Balai Pustaka. Echols dan Hasan Shadily.26 Pengertian ini terlihat jelas memberi kesan bahwa guru adalah orang yang melakukan kegiatan dengan memberi atau mengajarkan sesuatu (ilmu pengetahuan) kepada obyek didik (murid) dalam bidang pendidikan. Poerwadarmita. juga ditemui kata ustadz.

25

mu’allim dan mu’addib. Kata ustadz jamaknya asatidz yang berarti teacher (guru), professor dalam gelar akademik, jenjang di bidang intelektual, pelatih, penulis dan penyair. Adapun kata mudarris berarti teacher (guru), instructor (pelatih) dan lecturer (dosen). Kemudian kata mu’allim yang juga berarti teacher (guru), pengajar ilmu. Dan kata mu’addib yang berarti pembina adab (akhlak), trainer (pemandu) dan educator in koranic school (guru dalam lembaga pendidikan al-Qur’an).28 Dalam pengertian yang sederhana, guru adalah orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik. Guru dalam pandangan masyarakat adalah orang yang melaksanakan pendidikan di tempat-tempat tertentu, tidak mesti di lembaga pendidikan formal, tapi bisa juga di masjid, surau atau mushala, di rumah dan sebagainya.29 Menurut Hadari Nawawi, guru adalah orang yang kerjanya mengajar atau memberikan pelajaran di sekolah atau di kelas. Secara lebih khusus lagi, ia mengatakan bahwa guru berarti orang yang bekerja dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang ikut bertanggung jawab dalam membantu anak-anak mencapai kedewasaan masing-masing.30 Beberapa kata tersebut di atas secara keseluruhan terhimpun dalam pengertian pendidik (guru), karena seluruh kata tersebut mengacu kepada seseorang yang
28

Dr. H. Abuddin Nata, M.A. Filsafat Pendidikan Islam. (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm. 61. 29 Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta: Rineka Cipta), 1999, hlm. 31. 30 Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, op.cit., hlm. 62.

25

26

memberikan ilmu pengetahuan, keterampilan ataupun pengalaman kepada orang lain (obyek didik). Kata-kata yang bervariasi tersebut sekaligus menunjukkan adanya perbedaan ruang gerak dan lingkungan di mana ilmu pengetahuan, keterampilan dan semacamnya diberikan. Jika ilmu pengetahuan dan

keterampilan tersebut diberikan di sekolah disebut teacher, di perguruan tinggi disebut lecturer atau professor, dirumah-rumah secara privat (pribadi) disebut tutor, di pusat-pusat latihan instructor atau trainer dan di lembaga-lembaga pendidikan yang mengajarkan agama disebut eductor. Adapun pengertian guru (pendidik) menurut istilah yang lazim digunakan di masyarakat telah dikemukakan oleh para ahli pendidikan. Ahmad Tafsir misalnya, mengatakan bahwa pendidik dalam Islam, sama dengan teori di barat, yaitu siapa saja yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak didik. Namun beliau selanjutnya menegaskan bahwa dalam Islam, orang yang pertama paling bertanggung jawab tersebut adalah orang tua (ayah-ibu) anak didik sendiri. Tanggung jawab itu disebabkan sekurangnya oleh dua hal: pertama karena kodrat, yakni karena orang tua ditakdirkan bertanggung jawab secara langsung mendidik anak-anaknya, kedua karena kepentingan kedua orang tua, yaitu orang tua berkepentingan terhadap kemajuan perkembangan anaknya, sukses anaknya tersebut adalah juga merupakan keberhasilan orang tua.31 Dari penjelasan tersebut

31

Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1984), hlm. 74

26

27

berarti guru (pendidik) menempati posisi kedua setelah orang tua sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak didik. Dengan demikian , dapat disimpulkan bahwa guru adalah semua orang yang berwenang dan bertanggung jawab untuk membimbing dan membina anak didik, baik secara individual maupun klasikal (kelompok-grup), disekolah maupun diluar sekolah. C. Pengertian Anak Didik Dilihat dari segi kedudukannya, murid (anak didik) adalah makhluk yang sedang berada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan menurut fitrahnya masing-masing. Mereka memerlukan bimbingan dan pengarahan yang konsisten menuju kearah titik optimal kemampuan fitrahnya32. Sebagai makhluk manusia, anak didik memiliki karakteristik. Menurut Sutari Iman Barnadib, Suwarno, dan Siti Mechati, anak didik memiliki karakteristik tertentu, yaitu: 1. Belum memiliki pribadi dewasa susila sehingga masih menjadi tanggung jawab pendidik (guru); atau 2. Masih menyempurnakan aspek tertentu dari kedewasaannya, sehingga masih menjadi tanggung jawab pendidik. 3. Memiliki sifat-sifat dasar manusia yang sedang berkembang secara terpadu, yaitu kebutuhan biologis, rohani, social, intelegensi, emosi, kemampuan berbicara, anggota tubuh untuk bekerja (kaki, tangan, jari), latar belakang
32

H. M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), hlm. 144.

27

Tiga istilah tersebut adalah murid yang secara harfiah berarti orang yang menginginkan atau membutuhkan sesuatu. maka membawa konsekuensi perlunya seorang anak didik untuk mendekatkan dirinya kepada Allah Swt dengan beribadah. tilmidz (jamaknya) talamidz yang berarti murid itu sendiri. serta perbedaan individual.79 28 . H.A.. sekaligus tentunya sedapat mungkin berusaha keras 33 Drs. Syaiful Bahri Djamarah. M. hlm. Perbedaannya hanya terletak pada penggunaannya. Pada sekolah yang tingkatannya rendah seperti Sekolah Dasar (SD) digunakan istilah murid dan tilmidz. pelajar ataupun mahasiswa34 ketiga istilah tersebut seluruhnya mengacu kepada seseorang yang tengah menempuh pendidikan. bimbingan dan pengarahan. M. Dalam pandangan Islam sendiri. 52. Abuddin Nata. (Jakarta: Rineka Cipta). maka murid (anak didik) dapat dicirikan sebagai orang yang tengah memerlukan pengetahuan atau ilmu. dan thalib al-‘ilm yang menuntut ilmu. bentuk tubuh dan lainnya). Karena ilmu itu dari Allah.Ag. sedangakan pada sekolah yang tingkatannya lebih tinggi seperti SLTP. op.33 Dalam bahasa Arab dikenal istilah yang sering digunakan untuk menunjukkan pada anak didik kita. sedangkan proses untuk memperolehnya dilakukan melalui belajar kepada guru (pendidik). Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif: suatu pendekatan teoritis psikologis. 2005. 34 Dr. SLTA dan perguruan tinggi digunakan istilah thalib al-‘alm. hakikat ilmu berasal dari Allah Swt.28 sosial. Berdasarkan pengertian di atas. cit. latar belakang biologis (warna kulit. yang baik dan disenangi oleh Allah Swt. hlm. serta juga menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia.

syair ataupun dalam bentuk lainnya. 36 Ibid. hlm. (bandung: remaja rosdakarya. pendidikan dapat diartikan sebagai proses penyiapan generasi muda untuk mengisi peranan yang akan ditinggalkan generasi tua. Sedangkan dalam konteks Islam. Pengembangan Kurikulum. Teori dan Praktek. Defenisi ini sejalan dengan pendapat John Dewey yang mengatakan bahwa pendidikan merupakan organisasi pengalaman hidup.29 untuk menjauhi perbuatan buruk dan segala sesuatu yang dilarang (tidak di sukai) oleh Allah Swt. Pendidikan menekankan pengalaman dari seluruh masyarakat. 41. 1997). adat-istiadat. Dalam hal ini muncullah aturan normative tentang perlunya kesucian jiwa bagi seseorang yang akan atau sedang menuntut ilmu. Pengalaman masyarakat tersebut dapat berupa cerita rakyat. Hubungan Antara Guru dan Murid Proses pendidikan pada dasarnya adalah merupakan interaksi antara pendidik (guru) dan anak didik (murid) untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan yang telah ditetapkan35. pembentukan kembali pengalaman hidup dan juga pembahasan pengalaman hidup itu sendiri36. sebab ia sedang mengharapkan ilmu pengetahuan yang merupakan anugrah Allah Swt. bukan hanya pengalaman pribadi perorangan. hlm. memindahkan 35 Prof. Dr. tradisi. D. Hal ini pulalah yang ditegaskan oleh Imam al-Ghazali yang akan dibahas lebih lanjut oleh penulis dalam pembahasan tentang profil murid dalam karya ilmiah skripsi ini. Dalam konteks umum tujuan pendidikan tersebut antara lain mentrasmisikan ilmu dan pengalaman dari suatu generasi ke generasi berikutnya. 191. Nana Syaodih Sukmadinata. 29 .

intuisi dan sebagainya) dan raga obyek didik dengan bahan-bahan materi tertentu. 30 . dan murid sebagai obyek yang diarahkan dan digali potensi yang dimilikinya. Sedangkan murid posisinya sebagai penerima bimbingan. 23. Dalam redaksi yang lebih lengkap tujuan pendidikan Islam merupakan program bimbingan (pimpinan. 38 Ahmad D. usulan) oleh subyek didik terhadap perkembangan jiwa (pikiran. Dari semua pengertian pendidikan dan tujuannya sebagaimana disebutkan diatas. Ketiga hal tersebut membentuk suatu triangle. dengan metode tertentu dan dengan alat perlengkapan yang ada kearah terciptanya pribadi tertentu disertai evaluasi yang sesuai dengan ajaran Islam itu sendiri38. pada jangka waktu tertentu. yaitu pendidik (guru).30 pengetahuan dan nilai-nilai ajaran agama yang diselaraskan dengan fungsi manusia untuk beramal di dunia dan menuai hasilnya kelak di akhirat37. hlm. guru atau pendidik adalah ahli dalam bidang ilmu pengetahuan dan juga sebagai contoh atau model nyata dan pribadi yang ideal. perasaan. yang apabila hilang 37 Hasan Langgulung. 1980). arahan dan ajaran yang disampaikan oleh guru. Lebih lanjut menurut konsep pendidikan klasik. Beberapa Pemikiran Tentang Pendidikan Islam. Dengan penjelasan tersebut terlihat jelas bahwa dalam proses pendidikan intinya harus ada tiga unsur. anak didik (murid) dan tujuan pendidikan. tuntutan. arahan dan ajaran tersebut. Guru berfungsi sebagai fasilitator dan penunjuk jalan kearah penggalian potensi anak didik (murid). (Bandung: Al-Ma’arif. (Bandung: Al-Ma’araif. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. 944. terlihat adanya subyek didik (guru) yang memberikan bimbingan. hlm. Marimba. 1980).

Untuk menjawab masalah ini menurut hemat penulis adalah terletak pada kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh keduanya. Interaksi belajar mengajar dikatakan bernilai normatif karena didalamnya terdapat sejumlah nilai-nilai. 31 . Sehingga ketiganyalah (terutama guru dan murid) yang mempunyai peranan penting sekaligus juga kunci dalam kegiatan pendidikan. 12. 2005). keterampilan dan nilai-sikap. Jadi. Proses belajar mengajar akan disebut sukses bilamana hasilnya mampu membawa perubahan dalam pengetahuan. hlm. khususnya dalam diri anak didik (murid)39. Belajar mengajar adalah sesuatu proses dalam pendidikan yang dilakukan dengan sadar dan bertujuan. (Jakarta: Rineka Cipta.Ag. proses pendidikan hampir pasti tidak mungkin dapat berjalan. Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif. yakni guru dan murid tersebut. adalah wajar apabila interaksi itu kemudian 39 Drs. gedung serta peralatan khusus dan sebagainya. Namun tanpa guru dan murid.31 salah satu komponennya. Persoalan selanjutnya bagaimanakah agar proses pendidikan yang ada pada intinya merupakan interaksi antara guru dan murid tersebut dapat berjalan dengan baik dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan sejak awal. proses pendidikan masih tetap dapat berjalan walau dalam keadaan darurat (kritis) sekalipun. Tujuan adalah sebagai pedoman kearah mana pendidikan akan dibawa melalui proses belajar mengajar. Syaiful Bahri Djamarah. hilang pulalah hakikat dari pendidikan Islam tersebut. M. Belajar mengajar sendiri adalah sebuah interaksi yang bernilai normatif. pemahaman. Meskipun tanpa kelas.

Inilah yang juga dimaksudkan oleh Imam al-Ghazali sebagaimana yang telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya tentang profil seorang pendidik (guru). maka pendidikan Islam memerlukan asas atau dasar yang dijadikan landasan awal. Dengan dasar ini akan memberikan arah bagi pelaksanaan pendidikan yang telah diprogramkan. tentu guru yang dengan sadar berusaha sebaik mungkin untuk berupaya mengubah akhlak. Bagaimana sikap dan tingkah laku guru yang edukatif?. tidak akan terjadi dengan baik proses interaksi edukatif bila hanya salah satu dari kedua unsur itu yang aktif. adab perbuatan keduanya. mental. sikap. yaitu Allah SWT. anak didik (murid) diharuskan lebih aktif dari pada guru. Malah dalam sistem pengajaran dengan pendekatan keterampilan proses yang diterapkan saat sekarang ini. Aktif dalam arti sikap. adab perilaku dan perbuatan anak didik menjadi lebih baik. Guru hanya bertindak sebagai pembimbing dan fasilitator. E. bermoral. Dasar Dan Tujuan Pendidikan Islam Sebagai aktivitas yang bergerak dalam proses pembinaan kepribadian muslim.32 dianggap bernilai edukatif. dasar yang menjadi acuan pendidikan 32 . Pada akhirnya dalam interaksi edukatif tersebut. Dalam konteks ini. Dengan demikian hubungan guru dan murid dalam interaksi kegiatan belajar mengajar yang dimaksudkan penulis disini dapatlah mencapai tujuan dari pendidikan itu sendiri dengan baik dan benar. beretika dan bersusila. unsur guru dan murid haruslah aktif. serta membawa anak didiknya menjadi lebih dekat kepada sang pencipta. tentunya juga sesuai serta sejalan dengan ajaran (syari’at) agama Islam.

H. menjelaskan sistem pendidikan Islam yang terdapat dalam al-Qur’an 40 Dr.33 Islam hendaknya merupakan sumber nilai kebenaran dan kekuatan yang dapat mengantarkan peserta didik ke arah pencapaian pendidikan. Ia tetap terpelihara kesucian dan kebenarannya (Q. Al-Ahzab/33:21). hadits difahami sebagai segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Saw. hlm.S. hlm. al-Qur’an tidak ada keraguan padanya (Q.A. 34 41 Ibid. AlBaqarah/2:2). yaitu: pertama. 2002). Namun justru karena kebenaran yang terdapat dalam kedua dasar tersebut dapat diterima oleh nalar manusia dan dapat dibuktikan dalam sejarah atau pengalaman kemanusiaan.S.S.41 Dalam pendidikan Islam. Oleh karena itu. AnNajm/53:34). Kepribadian rasul sebagai uswat al-hasanah yaitu sebagai contoh suru tauladan yang baik (Q. ArRa’d/15:9). M.S. Secara umum. perilakunya senantiasa terpelihara dan dikontrol oleh Allah Swt (Q. sunnah Rasul mempunyai dua fungsi. Demikian pula dengan kebenaran hadits sebagai dasar kedua bagi pendidikan islam.. Pendekatan Historis. (Jakarta:Ciputat Press. baik dalam pembinaan aspek kehidupan spiritual maupun aspek sosial budaya dan pendidikan. 35 33 . perbuatan serta ketetapannya. Teoritis dan Praktis. Samsul Nizar. dasar yang terpenting dari pendidikan Islam adalah al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw (hadits). baik berupa perkataan. Sebagai pedoman. Filsafat Pendidikan Islam. Oleh karena itu.40 Menetapkan al-Qur’an dan hadits sebagai dasar pendidikan Islam bukan hanya dipandang sebagai kebenaran yang didasarkan pada keimanan semata.

serta pendidikan keimanan yang pernah dilakukan oleh beliau. Kedua. 47 43 Dr. H. hlm. 1992). Dalam aspek ini. al-Qur’an. yaitu.cit. (Bandung: CV. M. Tuntutan masyarakat dan dinamika peradaban kemanusiaan 4. menyimpulkan metode pendidikan Islam dari kehidupan Rasulullah bersama sahabat.34 dan menjelaskan hal-hal yang tidak terdapat didalamnya. sunnah. Samsul Nizar. Dimensi-dimensi kehidupan ideal islam. 36 34 .terdiri atas enam macam. Dalam merumuskan tujuan pendidikan Islam. qaul al-shahabat. hlm. Tujuan dan tugas manusia di muka bumi. masalih al-mursalah. a. yaitu. Prinsip-Prinsip Dan Metode Pendidikan Islam.42 Secara lebih luas. Mengandung nilai yang berupaya meningkatkan kesejahteraan manusia di muka bumi. baik secara vertikal maupun horizontal.A. dan pemikiran hasil ijtihad para intelektual muslim. Op. 2. Sifat-sifat dasar manusia 3. ‘urf. 1. perlakuannya terhadap anak-anak.43 Seluruh rangkaian dasar tersebut secara hierarki menjadi acuan pelaksanaan sistem pendidikan Islam.. dasar pendidikan Islam menurut Sa’id Ismail Ali – sebagiamana juga dikutip Langgulung dan Samsul Nizar. Diponegoro. yaitu. paling tidak ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. hidup 42 Abdurrahman An-Nahlawi. setidaknya ada tiga macam dimensi ideal islam.

35 b. 44 M. Mengandung nilai yang mendorong manusia berusaha keras untuk meraih kehidupan yang baik. 1987). Diantaranya al-Syaibani. hlm. Menjelaskan posisi peserta didik sebagai manusia di antara makhluk Allah lainnya dan tangungjawabnya dalam kehidupan ini. fisik. kemauan dan akalnya secara dinamis. sehingga akan terbentuk pribadi yang utuh.44 Berdasarkan batasan di atas. Omar Muhammad Al-Thoumy Syaibani. 1979). 1989). serta mengisi tugas kehidupannya di dunia dan menjadikan kehidupan akhirat sebagai tujuan utama pendidikannya. mengemukakan bahwa tujuan tertinggi pendidikan Islam adalah mempersiapkan kehidupan dunia dan akhirat. 67 45 35 . 410 46 Hasan Langgulung. 1. Manusia dan Pendidikan. Filsafat Pendidikan Islam. serta juga mendukung bagi pelaksanaan fungsinya sebagai kahlifah fi al-ardh. Menurut Muhammad Fadhil al-Jamaly –sebagaimana juga yang dikutip Samsul Nizar-. baik ruh. hlm. (Jakarta: Bulan Bintang. hlm. Mengandung nilai yang dapat memadukan antara kepentingan kehidupan dunia dan akhirat (fi al-dunya hasanah wa fi al-akhirat al-hasanah). 120. para ahli pendidikan (muslim) mencoba merumuskan tujuan pendidikan Islam. Arifin. (Jakarta: Bina Aksara. (Jakarta: Pustaka Al-Husna. c. Suatu Analisa Psikologi dan Pendidikan. tujuan pendidikan Islam berdasarkan al-Qur’an meliputi.45 Sementara tujuan akhir yang akan dicapai adalah mengembangkan fitrah anak didik.46 Pendekatan tujuan ini memiliki makna. bahwa upaya pendidikan islam adalah pembinaan pribadi muslim sejati yang mengabdi dan merealisasikan “kehendak” Tuhan sesuai dengan syariat Islam. Falsafah Pendidikan Islam.

pendidikan Islam hendaknya mampu mengembangkan realitas kehidupan. baik yang menyangkut dengan dirinya. yaitu: 1. masyarakat. Samsul Nizar. Membentuk akhlak mulia 2. H. M. Persiapan untuk mencari rizki dan memelihara segi kemanfaatannya 47 Dr. menyimpulkan bahwa tujuan pendidikan Islam terdiri atas 5 sasaran. yaitu dimesti dialektika horizontal dan dimesti ketundukan vertikal. Sementara dalam dimesti ketundukan vertikal mengisyaratkan bahwa. pendidikan Islam selain sebagai alat untuk memelihara.36 2. mampu alam semesta beserta segala isinya. Mohammmad Athiyah al-Abrasyi. 36 . 37.A. juga hendaknya menjadi jembatan untuuk memahami fenomena dan misteri kehidupan dalam upayanya mencapai fenomina dan misteri kehidupan dalam upayanya mencapai hubungan yang abadi dengan Khaliqnya. Menjelaskan hubungan manusia dengan alam dan tugasnya untuk mengetahui hikmah penciptaan dengan cara memakmurkan alam semesta. memanfaaatkan.. Ibid. Menjelaskan hubungannya dengan Khaliq sebagai pencipta alam semesta. yaitu dimesti dialektika dalam praktek pendidikan Islam. Pada dimesti dialetika horizontal.. hlm. Mempersiapkan kehidupan dunia dan akhirat 3. Menjelaskan hubungannya sebagai makhluk sosial dan tanggungjawabnya dalam tatanan kehidupan bermasyarakat. 4. 3. dan melestarikan sumber daya alami. Secara praktis.47 Konsepsi di atas secara global mengisyaratkan bahwa ada dua kematian yang perlu direlisasikan dalam praktek pendidikan Islam.

maka dapat difahami bahwa pendidikan Islam merupakan proses bimbingan dan membina fitrah anak didik secara maksimal dan bermuara pada terciptanya pribadi anak didik sebagai muslim paripurna (insan alkamil). H. baik di dunia maupun di akhirat. intelektual.S. Melalui sosok pribadi yang demikian. 48 Muhammmad Athiyah al-Abrasyi. Bustami A. baik secara pribadi. 1984). Tujuan terakhir pendidikan muslim terletak pada perwujudan ketundukan yang sempurna kepada Allah Swt.. Al-Mujadallah/58:11) secara integral bagi terbinanya kehidupan yang harmonis. pendidikan hendaknya mencakup pengembangan seluruh aspek fitrah peserta didik.48 Kongres se-Dunia ke II tentang Pendidikan Islam tahun 1980 di Islamabad. Gain dan Djohar Bahry. Samsul Nizar. Mempersiapkan tenaga profesional yang trampil.A. komunitas. Dasar-Dasar Pokok Pendidikan. 38. anak didik diharapkan mampu memadukan fungsi iman. aspek spiritual. 1-4 49 Dr. (Jakarta: Bulan Bintang. diri manusia yang rasional. ilmiah. Karenan itu. menyatakan bahwa : Tujuan pendidikan Islam adalah untuk mencapai keseimbangan pertumbuhan manusia (peserta didik pen. ilmu dan amal (Q. M. 37 . Terj.37 4. Menumbuhkan semangat ilmiah di kalangan peserta didik 5. hlm.) secara menyeluruh dan seimbang yang dilakukan melalui latihan jiwa. akal pikiran (intelektual). Ibid.baik secara individual maupun kolektif.49 Berdasarkan rumusan di atas. maupun seluruh umat manusia. fisik. hlm. imajinasi. dan mendorong semua aspek tersebut berkembang ke arah kebaikan dan kesempurnaan.. perasaan dan indera. dan bahasa.

hlm. Ali al-Jumbulati Abdul Futuh at-Tuwaanisi. Sedangkan yang kedua ditulis dengan dua huruf “z” atau dengan tasydid yaitu al-Ghazzali. Ada dua macam penulisan mengenai nama sebutan al-Ghazali. Perbandingan Pendidikan Islam. Arifin (Jakarta: PT. 131. Riwayat Hidup Imam al-Ghazali Nama lengkap al-Ghazali adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali. Biografi Imam al-Ghazali 1.50 Beliau terkenal dengan sebutan Hujjatu al-Islām atau argumentator Islam.38 BAB III PEMAPARAN HASIL PENELITIAN B. Kemudian sesudah ia berumah tangga dan memiliki putra bernama Hamid..51 Abu Sa’ied Sam’an. sebagaimana dikutip oleh Zainal Abidin mengatakan bahwa sebutan al-Ghazali (dengan satu huruf “z”) berasal dari nama desa tempat lahirnya yaitu Gazalah. beliau memiliki nama Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad. terj. Riwayat Hidup Imam al-Ghazali (Surabaya: Bulan Bintang. Tantang hal ini Ali al-Jumbulati Abdul Futuh at-Tuwaanisi berpendapat bahwa sebutan al-Ghazzali (dengan dua huruf “z”) dinisbatkan atau dikaitkan kepada pekerjaan ayahnya sebagai pemintal wool. 1975). Rineka Cipta. Zainal Abidin Ahmad mengungkapkan bahwa sejak kecil. Sebutan al-Ghazali bukan merupakan nama asli. hlm. Adapun sebutan al-Ghazzali berasal dari 50 51 Zainal Abidin Ahmad. 38 38 . Pertama sebutan itu ditulis dengan satu huruf “z” yaitu al-Ghazali. 27. 1994). M. maka dia dipanggil Abu Hamid.

Ibid.53 Ayahnya seorang pemintal wol yang hasilnya digunakan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dan para fuqaha dan orang-orang yang membutuhkan pertolongannya. ia selalu mengunjungi fuqaha. Cit. Op.52 Imam al-Ghazali dilahirkan di suatu kampung kecil Gazalah. sehingga apabila ia mendengar nasihat para ulama tersebut ia terkadang menangis dan lebih rendah hati dan selalu memohon kepada Allah agar dikaruniai anak yang pintar dan memiliki ilmu yang luas seperti para ulama tersebut.39 pekerjaan yang dihadapinya dan dikerjakan oleh ayahnya.. Sungguhpun keluarga al-Ghazali hidup dalam kedaan serba kekurangan. hlm. duduk bersamanya. 29. pemberi nasihat. kota Thus. Dalam waktu-waktu senggangnya setelah selesai bekerja. dari dua ibu bapak yang miskin melarat. yaitu seorang penenun dan penjual kain tenun yang dinamakan “Gazzal”. 39 . 52 53 Zainal Abidin.. atau bertepatan dengan tahun 1058 M. Pada akhirnya Allah mengabulkan do’a ayahnya dan dia dikaruniai dua putra yaitu Imam al-Ghazali dan yang kedua adalah Ahmad yang populer sebagai juru dakwah. Dalam beberapa tulisan tidak ditemukan tentang tanggal dan bulan kelahiran beliau. propinsi Khurasan. 28. hlm. dan juga seorang pengamal tasawuf yang hidup sederhana. wilayah Persi (sekarang Iran) pada tahun 450 H. tetapi sang ayah memiliki semangat keilmuan dan cita-cita yang tinggi.

Kedua anak tadi dididik sedemikian rupa sampai akhirnya harta peninggalan bapaknya habis dan sahabat ayahnya tadi menganjurkan Imam al-Ghazali dan adiknya untuk tinggal di asrama (tanpa biaya) saja agar pendidikannya tetap berlangsung. Imam al-Ghazali tetap tinggal di kota kelahirannya. Asrama yang dimaksud didirikan oleh Perdana Menteri Nizamul Mulk di kota Thus. sesuai dengan harapannya agar al-Ghazali kelak menjadi seorang faqih dan ulama besar. dia kemudian wafat. Dia berkata kepada sahabatnya: “Nasib saya sangat malangnya. 30. Kedua ilmu itu sangat berkesan di hati Imam alGhazali dan ia bertekad untuk lebih mendalami lagi di kota-kota lain. ia berwasiat agar Imam al-Ghazali dan saudaranya diserahkan kepada temannya yang dikenal sebagai ahli tasawuf dan orang yang baik. dan pergunakanlah sampai habis segala harta warisan yang aku tinggalkan untuk mengajar mereka.40 Kebahagiaan yang dialami sang ayah tidak berlangsung lama. hlm. seorang sufi yang terkenal waktu itu. Saat kedua anaknya masih kecil. dia belajar ilmu tasawuf dari Yusuf al-Nassaj. 40 . Kecuali itu. Peliharalah mereka. Dia belajar ilmu fiqih secara mendalam dari alRazkani. Saya ingin supaya kemalangan saya dapat ditebus oleh kedua anakku ini.54” Sahabat ayahnya segera melaksanakan wasiat yang diterima dari ayah Imam al-Ghazali. Sampai dengan usia dua puluh tahun. karena tidak mempunyai ilmu pengetahuan. Pada saat menjelang wafat. 54 Ibid.. Thus.

159. 55 Ibid. Imam al-Ghazali belajar dan berguru kepada Imam al-Haramain Abi al-Ma’ali al-Juwainy. hlm.57 Sehingga ia menjadi cerdas dan pandai mendebat segala sesuatu yang tidak sesuai dengan penalaran yang jernih. Cit. 1978). seorang ulama bermadzhab Syafi’i yang pada saat itu menjadi guru besar di Naisabur. Dengan bekal kecerdasan dan ilmu yang mendalam yang dimiliki oleh Imam al-Ghazali.. 58 Zainal Abidin. akhirnya ia kembali ke Thus selama tiga tahun. Op. Bahkan tidak jarang ia menggantikan gurunya pada waktu berhalangan dalam mengajar. 57 Abuddin Nata. sufisme.. hlm.58 Dan bahkan al-Juwainy memberi gelar Imam al-Ghazali dengan “lautan yang dalam dan menenggelamkan”. 33. 43. Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Logos Wacana Ilmu. tepatnya di Universitas Nizamiyah. hlm. 56 41 . Di kota Naisabur. logika. dan ilmu-ilmu alam.41 Selanjutnya ia pindah ke Jurjan pada tahun 479 H. 1997).55 Selanjutnya pada tahun 471 H. namun tidak puas dengan pelajaran yang diterimanya. Harun Nasution. Filsafat dan Mistisisme dalam Islam (Jakarta: Bulan Bintang. lalu ia diangkat sebagai dosen di Universitas Nizamiyah tersebut.56 Di antara mata pelajaran yang dipelajari al-Ghazali di kota tersebut adalah teologi. 31-32. hukum Islam. hlm. filsafat. ia pergi ke Naisabur dan Khurasan yang pada waktu itu kedua kota tersebut dikenal sebagai pusat ilmu pengetahuan yang terpenting dalam dunia Islam. Sehingga keahlian yang dimiliki oleh Imam al-Ghazali diakui dapat mengimbangi keahlian guru yang sangat dihormati itu.

.42 Karier Imam al-Ghazali tidak hanya berhenti di situ. sedangkan di lapangan akhlak diperkuatnya ilmu tasawuf. Pemerintahan Abbasiyah pada masa al-Ma’mun banyak dipengaruhi oleh aliran Mu’tazilah serta filsafat Yunani. Kedekatan Imam al-Ghazali terhadap pemerintah pada waktu itu sangat mempengaruhi terhadap berbagai kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. 59 Ibid. hlm. Di mana pada waktu itu Imam al-Ghazali baru berumur 28 (dua puluh delapan) tahun namun kecakapannya mampu menarik perhatian seorang Perdana Menteri. oleh Perdana Menteri Nizamul Mulk di bawah pemerintahan Khalifah Abbasiyah. di samping kedudukannya sebagai Penasehat Agung Perdana Menteri. Begitu tertariknya seorang Perdana Menteri Nizamul Mulk sehingga ia meminta Imam Ghazali untuk pindah ke tempat kediaman Perdana Menteri (kota Mu’askar) dan pembesar-pembesar tinggi negara serta ulama-ulama besar dari berbagai disiplin ilmu. Setelah Imam alHaromain wafat. telah dapat dikembalikan oleh Imam alGhazali kepada ajaran Islam yang murni. Di lapangan aqidah diajarkan faham Asy’ari.59 Faham Asy’ariyah diterima Imam al-Ghazali dari gurunya Imam al-Haramain. 42 . 38. untuk mengisi lowongan yang terbuka. Bahkan Imam al-Ghazali merupakan pemimpin Asy’ariyah yang menentukan bentuk terakhir dari faham ini. Dia meminta Imam al-Ghazali untuk memberikan kuliah dua kali seminggu di hadapan para pembesar dan para ahli. ia diangkat untuk menjadi rektor universitas Nizamiyah.

Bahkan selama periode Baghdad ia menderita kegoncangan batin akibat sikap keragu-raguannya. Beliau pergi menuju tanah Syam di Damaskus untuk menjalani hidup yang penuh dengan ibadah. Demikianlah Imam al-Ghazali mempersiapkan dirinya dengan persiapan agama yang benar dan mensucikan jiwanya dari noda-noda keduniaan. Pada waktu ini dikenal dengan masa skepticism dalam diri Imam al-Ghazali. Imam al-Ghazali kemudian memutuskan untuk berhenti mengajar. maupun kenegaraan Walau demikian besarnya nikmat dan sukses yang telah diraih Imam alGhazali. namun kesemuanya itu tidak mampu mendatangkan ketenangan dan kebahagiaan baginya. Bahkan kesuksesannya dapat menaruh simpati para pembesar Dinasti Saljuk untuk meminta nasihat dan pendapatnya baik dalam bidang agama. meninggalkan segala bentuk kehidupan yang mewah untuk kemudian menjalani masalah keruhanian dan penghayatan agama. mengasingkan diri dari segala bentuk pertemuan dengan manusia. Imam al-Ghazali diminta pindah ke Baghdad untuk menjabat sebagai rektor Universitas Nizamiyah yang menjadi pusat seluruh perguruan tinggi Nizamiyah. Setelah empat tahun berada di Baghdad.43 Setelah sekitar lima tahun berada di kediaman Perdana Menteri. sehingga ia memperoleh sukses besar. sehingga 43 . Mu’askar. Imam al-Ghazali diminta untuk menjabat sebagai rektor pada universitas tersebut karena rektor sebelumnya meninggal dunia. Semua tugas yang dibebankan kepada Imam al-Ghazali dapat dilaksanakan dengan baik.

Kemudian. senang. Setelah sekitar sepuluh tahun beliau berkhalwat. Kesadaran baru yang dibawanya bahwa paham sufi adalah prinsip yang sejati dan peling baik. Kitab ini disebut sebagai salah satu buku referensi yang sangat penting. Setelah itu beliau mendapat panggilan lagi dari Perdana Menteri Nizamul Mulk untuk memimpin kembali Universitas Nizamiyah di Naisabur yang ditinggalkannya. Kitab pertamanya yang beliau karang setelah kembali ke Baghdad adalah kitab al-Munqiz min al-Dalāl (penyelamat dari kesesatan). Imam al-Ghazali pulang ke Baghdad dengan hati yang berbunga-bunga. gembira. 44 . setelah menjalani khalwat. beliau pindah ke Naisabur sebagai rasa cintanya terhadap keluarganya. Kitab ini mengandung keterangan sejarah hidupnya di waktu transisi yang mengubah pandangannya tetang nila-nilai kehidupan. bagaimana hakikat ketuhanan itu dapat tersingkap bagi umat manisia.44 beliau menjadi seorang filosof dan ahli tasawuf serta sebagai seorang pemimipin yang besar di zamannya. Di Baghdad beliau kembali mengajar dengan penuh semangat. bagaimana memperoleh pengetahuan sejati (‘ilmu al-yaqīn) dengan cara tanpa berpikir dan logika namun dengan cara ilham dan mukasyafah menurut ajaran tasawuf. diajarkannya kepada mahasiswanya. ibarat seorang pahlawan yang meraih kemenangan dalam sebuah pertempuran. dan setelah sekembalinya Imam al-Ghazali ke Baghdad. Dalam kitab ini juga beliau menjelaskan bagaimana iman dalam jiwa itu tumbuh dan berkembang.

Memang demikianlah tujuanku dan niatku di masa itu. Hanya saja beliau menjadi guru besar dalam bidang studi lain tidak seperti dulu lagi yaitu dengan mengajarkan tasawuf yang penuh dengan kehidupan asketik.. yaitu: “Dan aku sekarang meskipun aku bekerja lagi untuk menyebarkan ilmu pengetahuan. beliau juga mendirikan suatu madrasah fiqih yang khusus mempelajari ilmu hukum. tetapi tidaklah boleh dinamakan aku “kembali”. 53-54. 52. Dan di tengah-tengah ketenangan jiwanya. Ibid.”61 Setelah mengabdikan diri untuk pengetahuan sekian puluh tahun lamanya. atau bertepatan dengan 19 Desember 1111 M. aku menyebarkan ilmu pengetahuan adalah didorong oleh keinginan mencari nama.60 Hidup di kampung halamannya sendiri membuat Imam al-Ghazali merasa tenang. maka pada tanggal 14 Jumadil Akhir 505 H. dan setelah memperoleh kebenaran yang sejati pada akhir hayatnya. Adapun sekarang sangatlah berbeda sekali. Karena di masa lalu itu. 45 .. Imam al-Ghazali memberikan sebuah pengakuan yang jujur yang dapat dijadikan pegangan bagi segenap orang yang memiliki ilmu pengetahuan. hlm. Aku berdakwah dan menyebarakan ilmu adalah untuk melawan hawa nafsu dan mencari nama dan untuk menghapuskan rasa megah diri dan kesombongan. Inilah sekarang maksud tujuanku. Di samping itu.45 Imam al-Ghazali kembali mengajar dengan penuh semangat. Semoga Tuhan mengetahui niatku ini. 60 61 Ibid. dan untuk itu aku menjalankan dakwah-seruan dengan ucapan dan dengan amal perbuatan. beliau meninggal dunia di Thus. hlm. karena kembali itu adalah berarti melanjutkan kerja lama. sebagaimana dikutip oleh Zainal Abidin Ahmad.

hukum. Setting Sosial-politik dan Pengaruhnya bagi Pemikiran Imam al-Ghazali Memahami pemikiran seorang tokoh sekaliber Imam al-Ghazali tanpa terlebih dahulu memahami dan mempertimbangkan kondisi sosio-kultural dan politk masa hidupnya yang melingkari pertumbuhan ataupun mobilitas pemikirannya. filsafat. Namun demikian. 46 . dan sebagainya.46 Demikianlah yang dapat kita amati mengenai riwayat hidup Imam alGhazali. ta’at menjalankan agama dan menghias dirinya dengan tasawuf. Oleh karena itu situasi dan kondisi yang berkembang ikut menentukan perkembangan dan corak pemikiran Imam al-Ghazali. beliau kemudian menjatuhkan pilihannya untuk mendalami ilmu tasawuf yang sarat dengan nuansa asketik. beliau juga termasuk pemerhati pendidikan sehingga tidak mengherankan jika beliau memiliki berbagai konsep terkait dengan dunia pendidikan. tasawuf. boleh jadi akan memberikan citra kurang baik. Di samping itu. fikih. Dari uraian di atas bisa dipahami dengan jelas bahwa Imam al-Ghazali tergolong ulama yang ta’at berpegang teguh pada al-Qur’an dan Sunnah. sebab pada dasarnya ia merupakan produk sejarah masanya. Termasuk dalam hal ini adalah konsep beliau tentang pendekatan dalam proses belajar. Beliau dilahirkan di Thus dan kembali ke Thus setelah beliau melakoni tualang panjang dalam mencari ketenangan bagi jiwanya. 2. Beliau banyak mempelajari berbagai ilmu pengetahuan seperti ilmu kalam.

Setelah itu. serta terjadinya kompetisi antara Kristen 47 . Filsafat Yunani telah digunakan sebagai pendukung agama dan kebudayaan asing dengan ide-ide yang mendominasi literatur dan pengajaran. namun demikian. Daerah Jurjan. Setelah tamat. Abuddin Nata mengungkapkan bahwa. setelah interpretasi sufi berkembang ke arah yang lepas dari syari’ah. Yusuf al-Nassaj. dititipkan kepada salah seorang temannya yang dikenal sebagai orang yang baik dan ahli tasawuf. Imam al-Ghazali banyak bersentuhan dengan iklim keluarga yang penuh dengan nuansa keagamaan. Walaupun ayahnya seorang pemintal wol. Imam al-Ghazali kemudian melanjutkan studinya ke asrama (sekolah yang menyediakan beasiswa bagi muridnya) dan di sana ia bertemu dengan seorang seorang guru yang juga merupakan pengamal tasawuf atau ahli sufi. agar anak-anak itu kelak menjadi ulama besar dan memiliki ilmu yang banyak. pada saat itu merupakan pusat kegiatan ilmiah. Kontroversi keagamaan. ia juga dikenal sebagai pengamal tasawuf yang hidup sederhana. ia seorang yang cinta terhadap ilmu pengetahuan dan ulama. Sesekali ia mengunjungi para fuqaha.47 Di lingkungan keluarga sendiri. hingga ia berusia dua puluh tahun. Ahmad. Pada waktu ayahnya menjelang wafat. dan juga Khurasan. Di samping itu. berkumpul dengan orang pemberi nasihat. Di wilayah tersebut adalah wilayah pergerakan tasawuf dan pusat gerakan anti kebangsaan Arab. ia berwasiat agar Imam al-Ghazali dan adiknya. juga terjadi interaksi budaya yang sangat intens. Tujuannya. Di samping itu. ia melanjutkan studinya lagi ke daerah Jurjan.

63 Badri Yatim. 48 . Imam al-Haramain al-Juwaini. Periode pemerintahan Bani Abbas. Pergolakan politik pada saat Dinasti Abbasiyah cukup tajam dan meningkat. masa kekuasaan dinasti Bani Saljuk dalam pemerintahan Bani Abbasiyah.63 62 Abuddin Nata. dan Turki. Perspektif Islam tentang Pola Hubungan Guru-Murid: Studi Pemikiran Tasawuf alGhazali (Jakarta: PT. Di sinilah ia bertemu dengan ulama besar. menurut para sejarawan.62 Tertarik untuk melanjutkan studi pada jenjang yang lebih tinggi. RajaGrafindo Persada. disebut masa pengaruh Turki pertama. Perode kedua (232-334 H/847-945 M). mengutip pendapat Gajane. 56-57. biasanya masa ini disebut dengan masa pengaruh Turki kedua. kekuasaan itu berada di bawah perintah orang atau kebangsaan lain. Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: Rajawali Pers. Masa keempat (447-590 H/1055-1194 M). Persi. hlm. sedangkan periode selanjutnya. Imam alGhazali kemudian pergi ke Naisabur memasuki Madrasah Nizamiyah. 1993). 2001). masa kekuasaan dinasti Buwaih dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah dan masa ini disebut masa pengaruh Persi kedua. hlm.48 dan Yahudi yang selanjutnya menimbulkan insiden Awlia dan gerakan sufi. Madrasah Nizamiyah sendiri didirikan oleh perdana menteri Nizamul Mulk yang hidup pada masa Dinasti Abbasiyah. 49-50. Periode pertama (132-232 H/750-847 M) disebut pengaruh Persia pertama. Periode ketiga (334-447 H/945-1055 M). Badri Yatim. yang merupakan ikon aliran Asy’ariyah. tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar kota Baghdad. mengatakan bahwa. Periode kelima (590-656 H/1194-1258 M) masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain. Periode pertama kekuasaan Dinasti Abbasiyah berada di tangan khalifah secara penuh. dibagi menjadi lima periode. mulai dari pertarungan ideologi antara aliran Syi’ah dan Sunni sampai perebutan kekuasaan antara orang-orang yang berkebangsaan Arab.

bahkan stabilitas dan keutuhan keamanan untuk membendung faham Syi’ah terus dijaga. dinasti-dinasti kecil yang semula memisahkan diri kembali mengakui kedudukan pemerintah pusat. Imam al-Ghazali hidup pada masa atau periode keempat (masa disintegrasi) dari periode pemerintahan Abbasiyah yaitu pada masa dinasti Bani Saljuk memegang kekuasaan. kewibawaan dalam bidang agama dikembalikan setelah sekian lama “dirampas” oleh orang-orang Syi’ah. 49 . di tengah kemajuan yang menggembirakan itu. terjadilah suatu peristiwa yang sangat menyedihkan. semakin melancarkan aksi teror pembunuhannya pada saat Khalifah Muqtadi meninggal dunia dan digantikan oleh Khalifah Mustadzir. yaitu terbunuhnya perdana menteri Nidzamul Mulk dan Sultan Malik Syah. Namun demikian. sesuai dengan periode pemerintahan Bani Abbas. salah seorang pimpinan Syi’ah Bathiniyah dan merupakan teman satu sekolah dengan Nizamul Mulk saat itu. aliran Syi’ah Bathiniyah yang poliknya berkiblat pada Negara Fatimiyah di Mesir. Pada saat dinasti Bani Saljuk memegang kekuasaan pemerintahan Abbasiyah. Baghdad. Dua orang pentolan Dinasti Saljuk itu mati di tangan pembunuh yang dibayar oleh Hasan Shabbah. Tidak hanya itu. Adapun pusat pemerintahan Abbasiyah saat itu berada di Baghdad. Keadaan tersebut tampak terutama pada saat Nizamul Mulk menjadi perdana menteri.49 Kembali pada persoalan di atas.

50 Zainal Abidin mengatakan bahwa. terjadilah buat pertama kalinya bentrokan bersenjata antara tentara Abbasiyah dengan laskar pemerintah tandingan Fatimiyah di dalam pengepungan kota Damaskus. Pada tahun 478 H. atau salah? Pada akhirnya ia kemudian menempuh jalan untuk mengasingkan diri dari keramain manusia dan menfokuskan diri untuk berkhalwat dan beribadah kepada Allah. dalam usianya meningkat 28 tahun. Tidak lama kemudian pada tahun 487 H. Op. terjadilah perebutan kekuasaan atas ibu kota Baghdad antara jenderal Basasiri yang pro Syi’ah dengan Thogrol Bey. Pada tahun lahirnya. yang berakhir dengan mundurnya tentara penyerbu ke Mesir... Ia bertanya apakah jalan yang ditempuhnya sudah benar atau belum. sultan yang pertama dari pemerintahan Seljuk. sewaktu al-Ghazali menduduki jabatan sebagai penasihat agung pemerintahan Saljuk dan presiden dari Universitas Nizamiyah Baghdad. hlm 165. 450 H. Cit. 64 Zainal Abidin Ahmad. Bahkan Imam al-Ghazali mulai ragu dengan jalan yang ditempuhnya selama itu. Dan akhrnya pada tahun 485 H. terjadi pergantian pimpinan Negara dari tangan khalifah ke XXVII Muqtadi yang meninggal dunia kepada Khalifah Mustazhir.64 Karena kegoncangan batinnya yang sangat hebat menghadapi peristiwaperistiwa yang berturut-turut maka Imam al-Ghazali jatuh sakit selama enam bulan. terjadi lagi pembunuhan gelap terhadap Perdana Menteri Nidzamul Mulk dan kemudian diikuti dengan matinya sultan Malik alSyah yang semuanya dilakukan oleh golongan Bathiniyah dari partai ilegal Syi’ah. Dan dekrit pertama yang dikeluarkan oleh khalifah adalah meminta Imam al-Ghazali supaya menulis buku untuk mempertahankan pemerintahan Abbasiyah yang sah dan membasmi partai ilegal Syi’ah yang telah mengacau Negara. ia meninggalkan Baghdad dan seluruh jabatannya dengan hati yang kesal. Imam al-Ghazali hidup pada saat terjadi goncangan politik yang sangat hebat. Dengan alasan mengobati penyakitnya.. 50 .

Demikian pula dalam bidang ilmu-ilmu agama Islam dirasakan Imam alGhazali telah mati dalam jiwa umat Islam sehingga perlu dihidupkan kembali sebagaimana tercermin dalam kitab Ihya’nya. Nah. Dalam bidang kebudayaan dan peradaban. 51 . ternyata tidak mampu mengembalikan kekuatan politik yang cukup berarti sebab hanya bertahan kurang lebih tiga puluh tahun. dari beberapa pemaparan singkat di atas terkait dengan keadaan masyarakat Islam sudah mengalami kemunduran. meski pernah mengalami zaman kemajuan pada masa sebelumnya. tasawuf. seperti bidang intelektual. Dan tasawuflah yang kemudian mampu menghilangkan rasa syak yang menyelimuti hatinya. Ia berkesimpulan bahwa pengetahuan yang diperolehnya dengan panca indera seringkali salah dan berdusta. Di bidang-bidang lain. moral dan agama secara umum juga mengalami kemerosotan dan kemunduran.51 Selama sepuluh tahun Imam al-Ghazali berkhalwat dan menjalani hidup yang penuh dengan nuansa asketik dan pada akhirnya ia menemukan jawaban dari pertanyaan besar yang mengelayuti hatinya selama itu. kerajaan Abbasiyah telah sedemikian rapuh. bahkan nyaris kehilangan kepribadiaannya. Di samping itu. Pengetahuan yang diperoleh melalui kalbu ternyata membuat ia merasa yakin mendapat pengetahuan yang benar. Dalam bidang politik. kendati sama-sama berpaham Sunni dengan kekhalifahan di Baghdad. kini mengalami kemunduran. berkuasanya Bani Saljuk yang mengganti Dinasti Buwaihi pada pertengahan abad XI Masehi.

Yang jelas. pada masa kehidupan dan perjuangannya. Dengan demikian tidak mengheranka apabila latar belakang kondisi sosial di atas mewarnai pemikiran dan perjuangannya. maka makin berpeluang pada kelompok-kelompok oposan yang telah lama memusuhi Dinasti Saljuk seperti kelompok ekstrimis Syi’ah yang berafiliasi dengan khilafah Fatimiyah di Mesir. Demikianlah beberapa kondisi obyektif yang mengitari masa hidup Imam al-Ghazali. Hal itu kemudian menyebabkan lumpuhnya kekuasaan Dinasti Saljuk. Pada saat Dinasti Saljuk sudah mengalami kemunduran dan lemahnya kekuasaan politik serta goyahnya stabilitas nasional. Sebagai seorang yang dikaruniakan padanya kepekaan dan ketajaman nurani. sehingga rakyat dapat merasakan ketenangan dan ketentraman. ia senantiasa berdialog dan bersikap aspiratif dengan 52 . Dengan tiadanya dua orang kuat Dinasti Saljuk ini. Namun kekacauan akhirnya timbul kembali yang bermula dari peristiwa terbunuhnya Perdana Menteri Nizamul Mulk dan Sultan Malik Syah yang hanya berselang satu bulan. kondisi umat telah mengalami kemunduran dalam berbagai aspeknya.52 Memang selama masa tersebut dapat dikatakan sebagai masa kejayaan Dinasti Saljuk dan berhasil menciptakan stabilitas keamanan dan ketertiban yang memungkinkan berkembangnya kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Imam al-Ghazali hidup dan berjihad menegakkan kembali nilai-nilai keIslaman dalam diri umat. utamanya setelah dinasti itu terpecah-pecah menjadi kekuatan-kekuatan kecil dampai akhirnya membawa pada kehancuran.

53 zamannya yang penuh ketegangan dan fragmentasi sosial politk dan alam pikiran yang tidak terkontrol dan kurangnya sikap tasamuh di antara sesama muslim. Sehingga ratusan kitab telah keluar sebagai hasil karyanya dan dijadikan pedoman oleh sebagian umat Islam. Namun demikian.65 Adapun kitab-kitab Imam al-Ghazali yang paling terkenal.. adalah sebagai berikut: 65 Ibid. 173. 3. 53 . karena keluasan ilmu yang dimiliki oleh beliau. Di dalam setiap masa hidupnya Imam al-Ghazali terus menerus menulis. Karya-Karya Imam al-Ghazali Adalah sebuah keistimewaan yang besar dan luar biasa dari diri Imam alGhazali bahwa beliau merupakan seorang penulis yang sangat produktif. Zainal Abidin Ahmad mengatakan bahwa di dalam dunia karang mengarang. maka sangat sulit sekali untuk menentukan bidang dan spesialisasi apa yang digelutinya. hlm. Imam al-Ghazali dengan sikap kritis serta keberaniannya mengambil keputusan untuk menentukan pilihan dengan sikap realistis dan mantap. sebagaimana diungkapkan oleh Zainal Abidin. Imam al-Ghazali terkenal sebagai seorang pengarang yang serba ahli. Di menempuh jalan tasawuf sebagai fondasi teologisnya. dia menulis secara luas dan tepat. Di dalam berbagai lapangan. dan begitu mendalamnya sehingga di merupakan orang ahlinya mengausai yang menguasai persoalan itu di dalam segala hal.

54 .54 a. 3) Naskah buku in terdapat dalam perpustakaan Lytton di Aligarh University. Sebagaimana namanya. Isinya menerangkan soal-soal filsafat menurut wajarnya. Dalam Bidang Filsafat 1) Sebagai karangannya yang pertama yang ditulisnya sewaktu pikirannya masih segar dalam usia di sekitar 25-28 tahun. buku ini berisi dan mengungkapkan asal-usul ilmu yang rasional dan kemudian apa hakekatnya dan tujaun apa yang dihasilkannya. dalam kekacauan oleh paham skeptis yang sangat hebat. Buku itu diterbitkan oleh Darul Fikri di Damaskus pada tahun 1963 di bawah penelitian Abdul Karim al-Utsman. India. perpustakaan Kotapraja di Iskandaiyah. 2) Dikarangnya sewaktu dia berada di Baghdad. dengan tiada kecaman. dalam usia 35-38 tahun. Buku ini berisi kecaman yang sangat hebat terhadap ilmu filsafat yang sudah menggemparkan ilmu pengetahuan.

3) Kitab ini merupakan kitab yang terakhir yang ditulis oleh Imam alGhazali yang berisi tentang nashihat yang terakhir untuk segenap manusia. ada tulisan tangan di Berlin. dan juga memberi alasan-alasan di dalam memberikan pandangan bahwa ada suatu pengertian yang lebih tinggi dari pengertian rasional. Kitab inilah yang menjadi pegangan umat Islam sampai sekarang. Ia memberikan suatu analisa yang intelektuil mengenai perkembangan spirituilnya. Kitab ini diterbitkan di Mesir berulang kali. Dalam Bidang Pembangunan Agama 1) Kitab ini dikarang setelah dia berada kembali di Naisabur dalam usia 50 tahun. sesudah skeptisnya habis dan jiwanya tenteram kembali. 55 . tetapi tepatnya bukan hanya autobiografi. Sebuah kitab yang berisi tentang autobiografi. yaitu kepada para nabi ketika Tuhan mengungkapkan kebenaran kepadanya. 2) Kitab ini dikarang setelah tiga puluh tahun di dalam kebimbangan dan merupakan sumber dari kehidupan Imam al-Ghazali.55 b. merupakan jalan keluar dari berbagai faham dan aliran.

Kitab ini ada ringkasannya dan syarahnya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Turki. 4) 56 . 3) Kitab ini berisi tentang prinsip-prinsip agama tentang atau mengenai soalsoal akhlak-tasawuf. dan al-Jazair. tetapi sebenarnya mengandung lebih banyak uraian-uraian secara praktis menurut hukum dari pada ilmu mural secara ilmiah atau filsafat. Dalam Bidang Akhlak dan Tasawuf 1) Kitab ini mendampingi kitab Ihya. 2) Dalam kitab ini terdapat beberapa persoalan etika yang dibicarakannya dari perspektif praktis dan agama. c. Imam al-Ghazali sendiri mengungkapkan bahwa kebanyakan isi dari kitab ini adalah memakai sistem tasawuf.56 Paris. bahkan isinya lebih teliti dan merupakan kesimpulan dari kitab Ihya. Kitab ini telah banyak diterbitkan sebagai ilmu moral Islam.

5) (keterangan yang sudah dipilih mengenai soal pokok-poko ilmu hukum). Kitab ini berisi tentang ilmu akhlak dalam hubungannya dengan ilmu akidah dan keimanan. 9) Adab sopan keagamaan. 57 . Kitab ini berisi soal akhlak di dalam hubungannya dengan pemerintahan. Kitab ini membahas akhlak dalam hubungannya dengan ilmu psikologi. mas yang sudah ditata untuk menasihati para penguasa. 6) Artinya lampu yang bersinar banyak. 7) Pembebasan dari kesesatan. Kitab ini mengupas tentang akhlak di dalam hubungannya dengan etiket kehidupan manusia.57 Artinya. 8) Kitab ini berisi tentang nasihat yang ia tulis untuk seorang temannya yang berisi tentang amal perbuatan dan tingkah laku sehari-hari serta banyak mambahas tentang cara-cara dalam proses belajar.

di Baghdad atas kehendak dari khalifah al-Muqtadi yang baru dinobatkan setahun sebelumnya.58 10) Risalah tentang soal-soal bathin. namun di dalamnya juga berisi tentang revolusi mental. 2) Pembebasan dari kesesatan. Kitab ini pula merupakan inspirasi yang diperoleh selama petualangan sebagai kesimpulan dari pandangan revolusi yang sedang bergejolak di Asia. Isi kitab ini adalah membongkar prinsip-prinsip politk yang berbahaya dari partai ilegal Syi’ah Bathiniyah pada saat itu. dan lainnya. d. termasuk juga soal-soal wahyu. Dalam Bidang Politik 1) Kitab ini dikarang pada tahun 488 H. 58 . Kitab ini mengupas tantang hubungan akhlak dengan soal-soal kerohanian. bisikan kalbu. 3) Kitab ini merupakan puncak arangan Imam al-Ghazali mempunyai fungsi yang pemting pula tentang teori kenegaraan. Kitab ini berisi tentang autobiografi.

dan dunia kezaliman dan kekacauan yang semata-mata keduniaan belaka. sebagai tercantum pada namanya. 5) Sebagaimana namanya. Kitab ini juga membahs tentang politik pemerintahan terkait dengan soal-soal teologi. 7) Kitab inimenyatakan dasar-dasar keimanan yang harus dimiliki oleh seorang pemegang pemerintahan.59 4) Kitab ini dikarangnya sebagai suatu pegangan untuk Sultan Giyastuddin yang mengantikan kedudukan ayahandanya. sahabat Imam al-Ghazali. 59 . Sultan Malik Syah. 6) Kitab ini pada hakikatnya adalah untuk membuka pintu kepada berbagai ilmu pengetahuan. Namun dalam bagiannya terdapat ilmu politik. kitab ini berisi tentang perbedaan antara dua dunia yang harus dipilih oleh para pembesar dan rakyat semuanya: antara dunia keadilan dan kemakmuran yang menuju kepada akhirat.

baik dalam hubungannya dengan Tuhan. Klasifikasi Ilmu Perspektif Imam al-Ghazali Imam al-Ghazali mengklasifikasikan ilmu dalam bebearapa kelompok yang masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda antara satu macam dengan yang lain.60 8) Kitab ini menguraikan tentang hukum Islam secara praktis sehingga dianggap sebagai kitab pegangan dalam ilmu hukum. macam-macam ilmu dalam perspektif Imam al-Ghazali tersebut dapat memberikan nilai-nilai sesuai dengan kepentingan dan kebutuhan bagi pelajar. sebagaimana dikutip oleh Jalaluddin dan Usman Said. maupun dalam hubungannya dengan masyarakat. Menurut Hasan Langgulung. yaitu ilmu 60 . 4. 10) Kitab ini berisi tentang ajaran adab dan kesopanan di dalam hidup manusia. 9) Kitab ini berisi tentang bimbingan bagi kepala Negara dalam menjalankan roda pemerintahannya. Di samping itu. Imam al-Ghazali memandang ilmu dari dua segi. termasuk soal pemerintahan.

dan ilmu ladunni. hlm. Dari segi pertama. 67 Imam al-Ghazali. adalah ilmu-ilmu yang apabila manusia mendalami pengkajiannya pasti menyebabkan kekacauan pemikiran dan keragu-raguan.67 Ilmu yang tercela adalah ilmu yang tidak dapat mendatangkan faedah atau tidak bermanfaat bagi manusia baik di dunia dan akhirat. jilid 1. ilmu aqliyah. misalnya ilmu sihir. dan ilmu yang terpuji dalam batas-batas tertentu. ilmu dibagi menjadi ilmu hissiyah. RajaGrafindo Persada.. ilmu yang terpuji dalam taraf tertentu. 126-127.61 sebagai proses dan ilmu sebagai obyek. 66 61 . Adapun ilmu yang terpuji adalah ilmu yang mendatangkan kebersihan jiwa dari tipu daya dan kerusakan serta akan mengajak manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah dan keridloannya. Dan karenanya ilmu itu harus dijauhi. dan mungkin mendatangkan kekufuran. Menghidupkan Kembali Ilmu-ilmu Agama. 140. 1996). Filsafat Pendidikan Islam: Konsep dan Perkembangannya (Jakarta: PT.66 Kemudian ilmu juga dapat dikatakan sebagai obyek. ilmu perbintangan. bila ilmu itu diamalkan oleh manusia akan mendatangkan mudarat dan akan meragukan terhadap kebenaran adanya Tuhan. Selanjutnya. Ilmu dalam golongan ini misalnya ilmu tauhid dan ilmu agama. Faizan. 1979). Jalaluddin dan Usman Said. ilmu ramalan atau perdukunan. Ilmu-ilmu itu dibagi dalam tiga golongan pokok yaitu ilmu yang tercela. terj. ilmu yang terpuji. Bahkan. yang tidak boleh diperdalam. hlm. Ismail Ya’kub (Semarang: CV. seperti ilmu filsafat.

Said Agil Husin Al-Munawar dan Hadri Hasan (Semarang: Dina Utama. hlm. terj. Misalnya. yaitu semacam astrologi dan meramal nasib berdasarkan petunjuk bintang. atau seperti mempelajari rahasia-rahasia ilahiyat. lalu ia menjadi kafir.. secara kebetulan terjadi tepat pada yang ditentukannya sebelumnya. Ada kalanya pula mempelajari ilmu seperti itu mengandung suatu bentuk kekufuran kepada Allah. Ilmu sihir seringkali mencoba memisahkan antara sesama manusia yang akrab atau saling mencintai. ilmu nujum yang berdasarkan perhitungan (hisab) atau falak yang menurut pandangan Imam al-Ghazali tidak tercela. Aliran-aliran dalam Pendidikan: Studi tentang Aliran Pendidikan Menurut al-Ghazali. sebagaimana dikutip oleh Hasan Sulaiman adalah ada tiga: Pertama. Ia karenanya akan percaya dengan ucapan tukang nujum. kemudian pas pada waktu terjadinya peristiwa yang diramalkan itu. suatu ketika seorang tukang nujum meramalkan bakal terjadi sesuatu di langit atau falak dengan berpedoman pada keyakinan langsung atau melalui studi tentang bintang-bintang. Ketiga. memperluas pengaruhnya di tengah-tengah umat. ilmu itu tidak bebas nilai. menunggangi mereka untuk melayani kepentingankepantingannya yang biasanya cenderung tidak baik. Contoh ilmu untuk tersebut. 21.68 Jadi. menebarkan rasa untuk membengkitkan kejahatan. Berikutnya ilmu nujum istidlaly. Kesempatan ini. Kata Imam al-Ghazali. dalam perspektif Imam al-Ghazali. tentu manusia akan merasa takjub akan kemampuan tukang nujum itu. karena ilmu itu dimaksudkan tidak terpuji. ada kalanya menyelami sebagian ilmu itu tidak membawa manfaat. seperti ilmu sihir. bukan untuk menimbulkan kebaikan.62 Indikasi dari ilmu yang tercela. seperti ilmu metefisika. seperti ilmu nujum. kata Imam al-Ghazali. Ilmu pengetahuan apapun yang dipelajari harus dikaitkan dengan moral dan nilai 68 Fathiyyah Hasan Sulaiman. sehingga membuat kekacauan dan kearifan meluas ke mana-mana. bisa jadi dimanfaatkan oleh tukang nujum untuk mengakaui diri sebagai nabi. Kedua. adalah memplajari bagian-bagian rumit dari suatu ilmu sebelum memahami bagian-bagiannya yang jelas. bagian dari ilmu filsafat. kadangkala ilmu itu merusak pemiliknya. 62 . 1993). ilmu nujum jenis ini tercela oleh syara’ sebab bisa jadi ia membuat manusia menjadi ragu pada Allah. yang oleh Imam al-Ghazali dibagi ke dalam dua kelompok. guna-guna yang bertujuan mencelakakan orang lain. ilmu-ilmu ini kadang kala dapat menimbulkan mudarat pada pemiliknya atau orang lain.

selanjutnya melihat ilmu dalam perspektif nilai dan membaginya dalam dua kelompok. dan sebagainya. tetapi harus ada di antara orang Islam yang mempelajarinya. Imam al-Ghazali membagi lagi ilmu tersebut menjadi dua kelompok dari segi moral dan manfaat. 84. tetapi utama. Apabila negara tidak ada orang yang menegakkannya maka berdosalah seluruh warga negara. selanjutnya Imam al-Ghazali berkata. Op. politik. Berdasarkan ketiga kelompok ilmu tersebut. Ibid. Ilmu hitung karena itu penting dalam mu’amalat. bila salah seorang menegakkannya maka dapat mencukupi dan gugurlah kewajiban yang lain. Sedangkan ilmu yang tergolong fardlu kifayah menurut Imam Ghazali adalah: Segala ilmu yang digunakan untuk tegaknya perkara-perkara dunia seperti ilmu kedokteran. Dan karena itu. 63 .69 Adapun ilmu seperti tani. Karena hal itu merupakan hajat yang pokok bagi kesehatan badan. hlm. tenun. hlm. Ilmu yang tergolong fardlu ‘ain adalah ilmu agama dan macammacamnya dengan memulai kitab-kitab Allah kemudian diikuti pokok-pokok ibadah seperti masalah shalat. warisan dan lain-lain. pembagian wasiat. dan kerja membekam serta kerja menjahit atau keterampilan yang diperlukan oleh masyarakat merupakan jenis ilmu yang tergolong pada fardlu kifayah. yaitu ilmu yang wajib diketahui oleh setiap muslim (fardlu ‘ain) dan ilmu yang fardlu kifayah dalam arti tidak wajib diketahui oleh segenap orang Islam. tidak merupakan fardlu.. Cit. zakat.. adapun yang terhitung utama namun tidak fardlu adalah mendalami ilmu hitung secara mendetail dan 69 70 Imam al-Ghazali. 84.70 Adapun mendalami ilmu hitung dan kedokteran dan hal-hal lain yang tidak dibutuhkan.63 guna. puasa.

dan ia membaginya dalam empat bagian. Imam al-Ghazali membaginya dalam tiga bagian. 86. nasikh mansukh. Adapun ilmu syari’ah semuanya terpuji. Cit. akhlak. dan ilmu keterampilan. hlm. Loc. Ilmu yang terpuji adalah ilmu yang diperlukan dalam kehidupan manusia. 71 Ibid.64 hakikat kedokteran. yaitu al-Qur’an. hlm.. Ilmu furu’ yaitu ilmu fiqih. hlm. 72 64 . dan mutammimat. ‘am dan khas. Ijma’ ummah. furu’ muqaddamat. Seperti ilmu kedokteran. dan lain-lain yang tidak dihajatkan. dan ilmu madzmumah.74 Sedangkan ilmu yang bukan syari’ah. yaitu ushul. dan hal ihwal hati. 74 Ibid. baik dalam penghidupan atau dalam pergaulannya. 73 Imam al-Ghazali. dan dhahir dan cara untuk mempergunakannya. Ilmu muqaddamat terdiri dari ilmu bahasa dan nahwu yang digunakan sebagai alat untuk mengkaji ilmu ushul. Op. 142-143.71 Selanjutnya Imam al-Ghazali membagi ilmu pengetahuan berdasarkan spesialisasi menjadi dua bidang72. ilmu mubahah. akan tetapi berfaedah menambah kemampuan di dalam kadar yang dibutuhkan. dan atsar sahabat. Cit. yaitu: ilmu syari’ah dan ilmu yang bukan syari’ah.. yaitu ilmu yang terpuji. Ilmu ushul terbagi dalam empat bidang ilmu. Hadits. tafsir yang berkaitan dengan arti. ilmu yang mengkaji tentang khabar-khabar dan sejarah kehidupan sahabat. ilmu hitung. 85..73 Ilmu mutammimat yaitu ilmu-ilmu yang berhubungan dengan ilmu alQur’an seperti ilmu tajwid. Jalaluddin dan Usman Said.

Menurutnya. dan sebagian dari ilmu filsafat. Pustaka Setia. Ilmu-ilmu yang tercela yaitu ilmu yang merugikan dirinya dan merugikan orang lain apabila mempelajari dan mempraktikkannya seperti ilmu sihir. Selain itu. jasmaniah. 65 . menurut Hamdani Ihsan dan Fuad Ihsan. dalam arti bukan hanya memperlihatkan aspek akhlak semata-mata tetapi juga keimanan. dan sebagainya. Pendidikan dalam Pemikiran Imam al-Ghazali Imam al-Ghazali termasuk ke dalam kelompok sufistik yang banyak menaruh perhatian yang besar terhadap pendidikan. tujuan pendidikan adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Filsafat Pendidikan Islam (Bandung: CV. azimat dan permainan sulap. sosial. 235.75 Pandangan Imam al-Ghazali tentang pendidikan yang sarat dengan nuansa sufistik itu bisa dilihat dari konsepsi dia mengenai tujuan. 5. dan kurikulum pendidikan. Imam al-Ghazali mempunyai pandangan yang berbeda dengan para ahli pendidikan yang lain mengenai tujuan pendidikan. 2001). Imam al-Ghazali memiliki pemikiran dan pandangan yang luas mengenai aspek-aspek pendidikan. sastra dan sya’ir-sya’ir yang tidak ada kelemahan di dalamnya seperti ilmu yang mendorong pada keutamaan dan akhlak yang suci. anak didik.65 Ilmu-ilmu mubah yaitu ilmu-ilmu kebudayaan seperti sejarah. hlm. bukan untuk mencari 75 Hamdani Ihsan dan Fuad Ihsan. pendidik. karena pendidikanlah yang banyak menentukan corak kehidupan suatu bangsa dan pemikirannya.

menyempurnakan. Filsafat Pendidikan Islam: Pendekatan Historis. dan mensucikan hati sehingga menjadi dekat dengan khaliqnya. yaitu: tujuan mempelajari ilmu pengetahuan semata-mata untuk ilmu pengetahuan itu sendiri sebagai wujud ibadah kepada Allah. pendidik adalah orang yang berusaha membimbing. guru hendaknya mampu mengamalkan ilmunya agar ucapannya tidak mendustai perbuatannya. guru harus memperhatikan perbedaanperbedaan individual anak. adalah murid harus memuliakan guru.66 kedudukan. dan guru harus mempelajari keadaan psikologis murid-muridnya. Cit. tujuan pendidikan Islam adalah mengantarkan peserta didik untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.. 87. tujuan utama pendidikan Islam adalah pembentukan akhlak yang baik.79 Adapun konsep Imam al-Ghazali mengenai murid. 2002). 79 Ali al-Jumbulati Abdul Futuh at-Tuwaanisi. guru harus mendorong muridnya untuk mencari ilmu yang bermanfaat. tidak boleh mencari bayaran. hlm. 77 66 .. hlm.78 Sedangkan seorang pendidik menurut Imam al-Ghazali. merasa 76 Abuddin Nata. hlm. guru harus mengajarkan pelajaran yang sesuai dengan tingkat intelektual dan daya serap anak didiknya. Pemikiran tentang tujuan pendidikan Islam dapat diklasifikasikan kepada tiga. 162. sebagaimana diungkapkan oleh Abuddin Nata. meningkatkan. guru harus memberikan contoh yang baik. Op. Op..Ibid.76 Samsul Nizar mengatakan bahwa.77 Menurut Imam al-Ghazali. Teoritis dan Praktis (Jakarta: Ciputat Pers. hlm 88. Samsul Nizar. sebagaimana dikutip oleh al-Jumbulati dituntut untuk memiliki sifatsifat keutamaan antara lain: Guru harus mencintai muridnya. guru harus mengingatkan muridnya bahwa tujuan mencari ilmu adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah. 137-143. kemegahan dan kegagahan atau mendapatkan kedudukan yang menghasilkan uang. Cit. 78 .

sehingga anak didik memiliki spesifikasi ilmu pengetahuan secara mendalam.67 satu bangunan dengan murid lainnya. Cit. Sebagaimana telah disebutkan di atas.80 Nizar mengungkapkan tugas dan kewajiban yang yang harus dimilki oleh seorang murid.. 67 . Op. 89-90. yaitu ilmu yang tercela. Mempelajari ilmu-ilmu yang terpuji. e. kurikulum yang dikehandaki Imam al-Ghazali dapat dipahami dari pendangannya mengenai ilmu pengetahuan. d. menjauhkan diri dari mempelajari berbagai mazhab yang dapat mengacaukan pikirannya. ilmu yang terpuji. hlm. b. memsejahterakan. f. Bersikap rendah hati dengan cara menanggalkan kepentingan pendidikan. Ilmu sebagai obyek memiliki tiga bagian. Belajar ilmu sampai tuntas untuk kemudian beralih pada ilmu yang lainnya. Menjaga pikiran dan pertentangan yang timbul dari berbagai aliran. antara lain: a. hlm.. i. Cit. Belajar dengan berharap atau berjenjang dengan memulai pelajaran yang mudah (konkret) menuju pelajaran yang sukar (abstrak) atau dari ilmu-ilmu fardlu ‘ain manuju ilmu fardlu kifayah g. Mengenal nila-nilai pragmatis bagi suatu ilmu pengetahuan. Samsul Nizar.81 Selanjutnya. Mengurangi kecenderungan pada duniawi dibandingkan masalah ukhrawi. Op. Memperioritaskan ilmu diniyah sebelum memasuki ilmu duniawi. Belajar dengan niat ibadah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah sehingga dalam kehidupan sehari-hari peserta didik senantiasa mensucikan jiwanya dengan akhlak yang baik. yaitu ilmu yang dapat bermanfaat yang dapat membahagiakan. dan ilmu yang terpuji dalam batas-batas tertentu. c. j. Mengenal nilai-nilai ilmiah atas ilmu pengetahuan yang dipelajari. 165-166. baik untuk ukhrawi maupun duniawi. bahwa ilmu dalam perspektif Imam al-Ghazali dibagai dalam dua bagian besar: ilmu sebagai proses dan ilmu sebagai obyek. serta memberi keselamatan hidup dunia akhirat. h. sebagaimana dikehendaki oleh Imam al-Ghazali. Dari ketiga ilmu ini kemudian 80 81 Abuddin Nata. mempelajari berbagai jenis ilmu yang bermanfaat.

Dan karena itu. Sehingga. Menurut hemat penulis. pada gilirannya. 68 . seperti ilmu tauhid dan ilmu agama. Dan yang tak kalah pentingnya juga bahwa yang menjadi titik tekan Imam al-Ghazali dalam mengajarkan ilmu pengetahuan kepada anak didik adalah ilmu yang mendatangkan kebersihan jiwa dari tipu daya dan kerusakan serta akan mengajak manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah dan keridloannya. kurikulum yang coba ditawarkan oleh Imam alGhazali sebagaimana tersebut di atas tidak diakomudir secara utuh yang pada gilirannya akan menghasilkan anak didik yang memiliki kepribadian yang pecah. yaitu anak didik yang hanya memiliki kedalaman spiritual tanpa dibarengi dengan keluasan ilmu. memiliki komitmen spiritual dan intelektual yang mendalam terhadap Islam. Dari sini dapat dipahami bahwa kurikulum juga diakui sebagai salah satu faktor yang juga menentukan keberhasilan seseorang dalam belajar. ilmu pengetahuan perlu dipelajari secara utuh dan seimbang antara ilmu-ilmu yang diperlukan untuk mencapai kesejahteraan di dunia maupun ilmu-ilmu untuk mencapai kebahagiaan di akhirat.68 Imam al-Ghazali membagi lagi dalam dua kelompok: ilmu yang fardlu ‘ain dan ilmu yang fardlu kifayah. Pada dasarnya ilmu pengetahuan itu terintegrasi dan tidak dapat dipisahpisahkan antara ilmu-ilmu yang bersifat duniawi dan ilmu-ilmu yang bersifat ukhrawi. akan melahirkan lulusan-lulusan yang yang memiliki pikiranpikiran kreatif dan terpadu.

lihatlah skema di bawah ini: Allah SWT Ayat-ayat Kauniyah Saling Menjelaskan Ayat-ayat Qur’aniyah Interpretasi Manusia Ilmu Pengetahuan Gambar 5. yaitu: a. karena ilmu ini berfungsi membantu ilmu agama. Sekumpulan bahasa. hadits dan tafsir. yang diwahyukan kepada orang yang dipilihnya melalui ayat-ayat Qur’aniyah dan sebagian lagi melalui ayat-ayat kauniyah yang diperoleh manusia dengan menggunakan akal. Ilmu al-Qur’an dan ilmu agama seperti fiqih. Ilmu-ilmu yang fardu kifayah. hati. Untuk lebih jelasnya. yaitu ilmu kedokteran.1 Integrasi Ilmu-ilmu Allah Menurut Mursi. dari beberapa macam ilmu yang telah disebutkan tadi. Imam al-Ghazali mengusulkan beberap ilmu pengetahuan yang harus dipelajari di sekolah. matematika. teknologi yang beraneka ragam jenisnya termasuk juga ilmu politik. ilmu pengetahuan pada dasarnya adalah satu dan berasal dari Allah Swt.69 Jadi. b. dan inderanya. sebagaimana dikutip Nizar. nahwu dan makhraj serta lafadz-lafadznya. 69 .. c.

Namun demikian. Agar dengannya. karena dapat menenangkan jiwa dan dapat mendekatkan diri kepada Allah. corak pendidikan yang dikembangkan oleh Imam al-Ghazali akan tampak nuansa pendidikan yang sangat kental dengan nilai-nilai tasawuf yang ia gandrungi. kurikulum yang menjadi titik perhatian Imam al-Ghazali adalah ilmu pengetahuan yang digali dari kandungan al-Qur’an. 167. Konsep Pendidikan Menurut Al-Ghazali Manusia sebagai makluk Tuhan. 82 Abuddin Nata. pendidikan yang coba diformulasikan oleh Imam alGhazali merupakan konsep yang ia kembangkan dari sebuah dialektika dengan zaman yang dihadapinya pada waktu itu. Kemampuan dasar manusia tersebut dalam sejarah pertumbuhannya merupakan modal dasar untuk mengembangkan kehidupannya di segala bidang. Jika diamati. Pada zaman sekarang guru dilihat sebagai fasilitator saja. Cit. Artinya. manusia mampu mempertahankan hidup serta memajukan kesejahteraannya. sejarah dan beberapa cabang filsafat. telah dikaruniai Allah kemampuankemampuan dasar yang bersifat rohaniyah dan jasmaniyah.. 6. Op. Ilmu kebudayaan. karena model ini akan bermanfaat bagi kehidupan manusia di dunia dan akhirat. Konsep tersebut jika diaplikasikan di masa sekarang memerlukan sebuah penyempurnaan..82 Jadi. 70 . bahwa konsep pendidikan yang ditawarkan oleh Imam al-Ghazali sejalan dengan sikap dan kepribadiannya sebagai seorang sufi. hlm. Seperti posisi guru yang menurut Imam al-Ghazali merupakan sentral dalam pendidikan. seperti sya’ir.70 d.

maka pendidikan menjadi semakin penting. membersihkan jiwa dan sebagai media untuk mendekatkan manusia kepada Allah Azza wa Jalla. Dengan itulah. 71 . daya rasa dan daya karsa masyarakat beserta anggota-anggotanya.71 Sarana utama yang dibutuhkan untuk mengembangkan kehidupan manusia tidak lain adalah pendidikan. Demikianlah. Oleh sebab itu. pendidikan merupakan kunci dari segala bentuk kemajuan hidup sepanjang sejarah.83 Sisi pendidikan yang menarik perhatian dalam studi Al-Ghazali adalah sikapnya yang sangat mengutamakan ilmu dan pengajaran. Oleh karena antara manusia dengan tuntutan hidupnya saling berpacu berkat dorongan dari ketiga daya tersebut. dalam dimensi yang setara dengan tingkat daya cipta. Sistem Pendidikan Versi Al-Ghazali. hlm. 24. Bahkan boleh dikatakan. J. disamping meningkatkan karirnya sebagai filosof dan ahli agama. cit. karena beliau yakin bahwa pendidikan adalah sebagai sarana untuk menyebarluaskan keutamaan.J Rousseau dan Pestalozzi yang juga berkeyakinan bahwa perbaikan masyarakat itu hanya dapat dijangkau melalui pendidikan. Imam Ghazali juga sebagai reformer masyarakat. seperti Plato. op. kekuatan pendiriannya dalam mempertahankan pengajaran yang benar sebagai jalan 83 Fathiyah Hasan Sulaiman . Al-Ghazali berdiri dalam satu barisan bersama para filosof dan reformer mayarakat (Sosiolog) sejajarnya yang dikenal sejarah. Imam Ghazali menaruh perhatian yang besar akan penyebarluasan ilmu dan pendidikan.. pendidikan menurut Al-Ghazali adalah suatu ibadah dan sarana kemashlahatan untuk membina umat.

Menurut H. hlm. karena pendidikanlah yang banyak menentukan corak kehidupan suatu bangsa dan pemikirannya. seorang anak tergantung kepada orang tua dan siapa yang mendidiknya. 23..84 Al-Ghazali termasuk ke dalam kelompok sufistik yang banyak menaruh perhatiannya yang besar terhadap pendidikan. Oleh karena itu. Hati seorang anak itu bersih. Hal ini antara lain disebabkan karena ia sangat menekankan pengaruh pendidikan terhadap peserta didik.M.Kesempurnaan umat manusia dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT hanya dapat dihampiri oleh ilmu pengetahuannya. murni laksana permata yang amat berharga. cit.72 untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Arifin (Guru besar dalam dalam bidang pendidikan).. 161. sebagai berikut: “………. op. Al-Ghazali adalah penganut faham idealisme yang konsekuen terhadap agama sebagai dasar pandangannya. 72 . Mengenai keutamaan mencari ilmu. Filsafat Pendidikan Islam.85 Al-Ghazali 84 85 Ibid. Al-Ghazali berkata dalam kitab “Fatihatul Ulum”.. Menurutnya. Dalam masalah pendidikan. maka dia dekat dengan Allah SWT dan dia lebih mirip seperti malaikat-malaikatNya”. Abuddin Nata. hlm. Al-Ghazali lebih cenderung berpaham empirisme. mengatakan bila dipandang dari segi filosofis. sederhana dan bersih dari gambaran apapun. Dengan ini Al-Ghazali telah mengangkat status guru dan menumpukkan kepercayaannya pada guru yang dinilainya sebagai pemberi petunjuk (mursyid) dan pembina rohani yang baik. selama ilmunya banyak lagi sempurna.

Konsekuensinya adalah bahwa keseluruhan proses pendidikan harus menuju tercapainya tujuan akhir. nilai etisnya dan nilai sosialnya.73 mengatakan. 2. (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya. yang menurut Al-Ghazali akan menjamin tercapainya tujuan pendidikan Islam. 73 . sebagaimana halnya hari akhirat juga merupakan tujuan akhir dari kehidupan umat manusia. Bagi Al-Ghazali. Pemikiran pendidikan Al-Ghazali dapat dilihat dari dua segi. tujuan akhir pendidikan adalah hari akhirat. Al-Ghazali melihat ilmu pengetahuan dari berbagai sudut. yang mana di sini Al-Ghazali menawarkan ide-ide yang cukup mendetail tentang bagaimana manusia memperoleh pengetahuan. maka anak itu menjadi baik. maka anak itu akan berakhlak jelek. 86 Hasan Asari. nilai intrinsiknya. Praktis Segi praktis dari pemikiran ini terpusat pada pola hubungan guru dengan murid. yaitu:86 1. Diskusinya tentang guru dan murid mencakup berbagai kewajiban bagi kedua belah pihak. Nukilan Pemikiran Islam Klasik (Gagasan Pendidikan Al-Ghazali). Dalam sisi ini. jika anak menerima ajaran dan kebiasaan hidup yang baik. hlm. 4. nilai ilmu pengetahuan dan kemudian menawarkan klasifikasi ilmu pengetahuan. Teoritis Sisi teoritis dari pemikiran ini terfokus pada konsep pengetahuan. 1999). jika anak itu dibiasakan kepada hal-hal yang jahat. Sebaliknya.

74 .. 2) Sarana yang bertujuan mendapatkan kebahagiaan hidup dunia dan akhirat. op. beliau bermaksud ingin mengajar umat manusia sehingga mereka dapat mencapai tujuan-tujuan yang dimaksudkan. maka beliau menyediakan porsinya dalam pendidikan Islam. Abuddin Nata. Akan tetapi.cit. op.88 Oleh karena itu. tidak abadi dan akan rusak. melainkan dunia ini hanya sebagai alat . 24. Karena Imam Al-Ghazali tidak melupakan masalah-masalah duniawi.74 Tujuan pendidikan menurut Al-Ghazali. Ia 87 88 Fathiyah Hasan Sulaiman. Karena jika tujuan pendidikan diarahkan bukan pada mendekatkan diri kepada Allah. kemegahan dan kegagahan atau mendapatkan kedudukan yang menghasilkan uang. akan dapat menimbulkan kedengkian. yaitu:87 1) Insan purna yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT. merasa qanaah (merasa cukup dengan yang ada) dan banyak memikirkan kehidupan akhirat dari pada kehidupan dunia. Sebab dunia ini hanyalah sebagai ladang akhirat saja. Dalam hal ini. hlm. penyediaan urusan dan kebahagiaan hidup di akhirat yang dikatakan lebih utama dan lebih abadi. Sistem Pendidikan Versi Al-Ghazali. Filsafat Pendidikan Islam. kebencian dan permusuhan. hlm. sedangkan maut dapat memutuskan kenikmatan setiap saat.. Al-Ghazali memandang bahwa dunia ini bukan merupakan hal pokok. cit. Hal ini mencerminkan sikap zuhud Al-Ghazali terhadap dunia. Tujuan pendidikan Al-Ghazali tidak sama sekali menistakan dunia. 162-163. bukan untuk mencari kedudukan.

• Arti penting • Agar Allah tidak berpaling belajar dari orang tersebut dan agar umur yang dimiliki tidak siasia 75 . dari beberapa uraian di atas.1 Konsep Belajar Perspektif Imam al-Ghazali dan Barat Aspek Perspektif al-Ghazali Perspektif Barat • Untuk memiliki kemampuan berubah dan melakukan perubahan (proses perkembangan yang berkualitas). dapat diungkapkan bahwa kerangka pendekatan dalam proses belajar menurut Imam al-Ghazali adalah bersifat teosentris sedangkan dalam perspektif Barat bersifat antroposentris. Jadi. • Definisi Belajar • Perubahan tingkah laku atau kecakapan afektif dan • Perubahan tingkah laku atau kecakapan kognitif. • Sebagai benteng pertahanan dari pengaruh negatif hasil belajar. bagi orang yang memfungsikan dunia ini sebagai tempat peristirahatan. bukan sebagai tempat tinggal yang permanen dan tumpah darah yang abadi. afektif.75 merupakan sarana yang dapat mengantarkan kepada Allah Ta’ala. Lebih jelasnya dapat dilihat dalam bagan berikut ini: Tabel 6.

pada kehidupan asketik. Efektif. • Ciri-ciri Perubahan Hasil Belajar • Teori Belajar • Tahapan Belajar • Acquisition. • Pendekatan Hukum Jost. • Internal siswa (fisiologis. dan faktor instrumental). Tabel 6. • Behavior-Transendental • Behavioristik Kognitif. Positif. kondisi alam. dan teori Humanistik. dan Pendekatan Biggs. dan sebagian dari teori Ballard & Clanchy (surface). dan kematangan fisiologis dan psikologis). • Intensional. Storage. dan psikomotorik yang relatif menetap sebagai akibat dari latihan dan pengalaman.2 Lanjutan Faktor-faktor • Internal siswa (Jiwa yang yang mempengaruhi belajar suci). dan 76 . • Eksternal siswa (lingkungan sosial. Efektif. • Intensional. Positif. dan Retrieval. • Eksternal siswa (lingkungan sosial.76 psikomotorik yang relatif menetap sebagai akibat dari latihan dan pengalaman. • Pendekatan Belajar • Pendekatan Hukum Jost. psikologis. Ballard & Clanchy. dan Fungsional yang mengarah dan Fungsional. Storage. dan Retrieval yang sarat dengan nuansa isoterik. • Acquisition.

77 faktor instrumental).3 Pendekatan Belajar Perspektif Barat Komponen Proses • Manusia • Bagaikan Kertas putih • Pemproses Informasi • Memiliki potensi yang baik • Makna Belajar • Stimulus-respon • Proses internal • Proses memanusiakan manusia • Tujuan Belajar • Terbentuknya kebiasaan sebagai akibat dari stimulus-respon • Terciptanya pengetahuan baru dalam rangka memecahkan masalah • Peserta Didik • Netral-pasif • Aktif • Individu memiliki kemampuan mengaktualisasikan dirinya • Aktif dan bisa menentukan apa Behavioristik Kognitif Humanistik 77 . Adapun pendekatan dalam proses belajar menurut Imam al-Ghazali dan Barat dapat diringkas dalam bentuk bagan sebagai berikut: Tabel 6.

78 yang bisa dilakukan • Pendidik • Salah satu penentu • Fasilitator • Fasilitator dan mediator • Perilaku • Teori Belajar • Kebiasaan • Koneksionisme. classical conditioning. systematic behavior theory.4 Pendekatan Belajar Perspektif Imam al-Ghazali Komponen Proses • Manusia • Manusia adalah individu yang pasif dan memerlukan bimbingan kepada jalan yang baik serta bisa diisi oleh apa dan kapan saja. Perspektif Imam al-Ghazali 78 . dan Teori Medan • Kesadaran Tabel 6. dan operant conditioning • Insight • Gestalt. contiguous conditioning.

• Behavior-Transendental. • Tujuan Belajar • Dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. • Pendidik • Satu-satunya penentu keberhasilan peserta didik dalam belajar. Ide-ide yang dia sajikan secara kritis senantiasa dihubungkan atau dilihat dalam perspektif agama. Yaitu demi menghidupkan syari’at Nabi dan untuk menundukkan hawa nafsu yang senantiasa mengajak pada keburukan serta menghindakan diri dari kehidupan dunia. Pandangan-pandangannya sarat dengan nuansa sufistik. • Peserta Didik • Anak didik sebagai individu yang pasif sehingga diperlukan memiliki seorang guru yang dapat membimbing dan mengarahkannya secara total. • Perilaku • Teori Belajar • Perilaku seseorang ditentukan oleh adanya kebiasaan. Pengaruh Imam al-Ghazali dalam Dunia Pendidikan Imam al-Ghazali sebagai tokoh yang memiliki kemampuan multi dimensional dalam arti beragam disiplin ilmu yang dia kembangkan. Hal 79 . 7.79 • Makna Belajar • Perubahan tingkah laku atau kecakapan afektif dan psikomotorik yang relatif menetap sebagai akibat dari latihan dan pengalaman.

pemikiran Imam al-Ghazali itu akan melandasi pola pikir. op. khususnya pondok pesantren. Seluk Beluk Pendidikan dari Al-Ghazali. B. hlm. mensucikan dan menjernihkan serta membimbing anak didiknya untuk mendekatkan diri kepada Allah. 50. pengaruh dari pandangan dan ide-ide Imam al-Ghazali yang sarat dengan nuansa sufistik itu. al-mudarris (pendidik). sikap. dan tingkah laku seseorang sebagai hasil dari adanya pendidikan. Dari hasil telaah tersebut kemudian diinternalisasi dalam pola kognisi seseorang dan pada gilirannya. serta bertugas untuk menyempurnakan. yang banyak menggunakan referensi karangannya dalam berbagai aktifitas pendidikannya. dan al-walid (orang tua). yaitu seseorang yang bertugas dan bertanggung jawab atas pendidikan dan pengajaran. terutama yang berkaitan dengan persoalan pendidikan.89 89 Lihat Zainuddin. bisa dilacak dari lembaga-lembaga pendidikan agama. Di Indonesia. Profil Guru Dalam Perspektif Al-Ghazali 1. Menurutnya.80 tersebut menyebabkan Imam al-Ghazali mempunyai arti tersendiri dalam dunia pendidikan. 80 . guru adalah seseorang yang bertanggung jawab atas pendidikan dan pengajaran. Paling tidak. pengaruh yang ditimbulkan oleh Imam al-Ghazali adalah bahwa seseorang kemudian menganggap perlu membaca karya-karyanya.. Pengertian Guru Imam al-Ghazali berkata: al-muallim (guru). cit. Salah satu karangannya yang banyak dikonsumsi oleh kalangan pesantren adalah kitab .

Ismail Yakub. Terj. Dia laksana matahari yang menyinarkan cahayanya kepada lainnya dan menyinarkan pula kepada dirinya sendiri. maka bagaimana tersembunyi? Guru itu berpengaruh dalam hati dan jiwa manusia. hlm. berusaha dan keadaan menghasilkan yang tidak memerlukan lagi kepada bertanya. dapat disimpan seperti menyimpan harta benda. Akal adalah yang termulia dari sifat-sifat insan sebagaimana akan diterangkan nanti. Bahwa Allah telah membuka pada hati orang berilmu. karena kegunaan dan keberhasilannya ialah kebahagiaan akhirat.”91 Orang yang berilmu dan tidak beramal menurut ilmunya. 77.. Adapun kemuliaan tempat. mensucikan dan membawakan hati itu mendekati Allah Azza wa Jalla. cit. sebagaimana kata pantun: ”Dia adalah laksana sumbu lampu yang dipasang. membersihkan. Terj. hlm.92 90 91 92 Al-Ghazali. Bagi ilmu pengetahuan ada keadaan mencari.81 “Dan tidaklah tersembunyi bahwa ilmu agama ialah memahami jalan akhirat.. Dia laksana kesturi yang membawa keharuman kepada lainnya dan dia sendiripun harum. op. dia sendiri terbakar menyala. Dan keadaan memberi sinar cemerlang kepada orang lain. Dan dengan akal akan sampai ke sisi Allah SWT. Dan inilah keadaan yang semulia-mulianya. Guru itu bekerja menyempurnakan. 212. cit. hlm. op. Dan itu adalah yang termulia menjadi khalifah Allah. Kemudian diizinkan berbelanja dengan barang itu untuk siapa saja yang membutuhkannya. memberi cahaya kepada orang lain. 44. Adapun tentang umum kegunaannya. Karena dengan akal. Maka barang siapa berilmu. maka dialah yang disebut orang besar dalam alam malakut tinggi. Mengajarkan ilmu itu dari satu segi adalah ibadah kepada Allah Ta’ala dan dari segi yang lain adalah menjadi khalifah Allah Ta’ala. maka tak diragukan lagi. Atau seumpama jarum penjahit yang dapat menyediakan pakaian untuk lainnya dan dia sendiri telanjang. adalah seumpama suatu daftar yang memberi faidah kepada lainnya dan dia sendiri kosong dari ilmu pengetahuan. Yang termulia di atas bumi. MA. Al-Ghazali. akan pengetahuan yang menjadi sifatNya yang teristimewa. Keadaan meneliti (istibshar). Ibid. yaitu berpikir mencari yang baru dan mengambil faidah daripadanya. SH. menajamkan lainnya dan dia sendiri tidak dapat memotong. Ismail Yakub. 81 .”90 “Maka seperti itu pulalah dengan ilmu pengetahuan. yang dapat diketahui dengan kesempurnaan akal dan kebersihan kecerdikan. Yang termulia dari bagian tubuh manusia ialah hatinya. ialah jenis manusia. Dan seumpama batu pengasah. maka dia adalah seperti penjaga gudang terhadap barang gudangannya yang termulia. beramal dan mengajar.. Atau seumpama sumbu lampu yang dapat menerangi lainnya dan dia sendiri terbakar. manusia menerima amanah Allah..

Perspektif Islam Tentang Pola Hubungan Guru-Murid (Studi Pemikiran Tasawuf Al-Ghazali). cit. seluruh orang-orang yang berilmu akan binasa kecuali orang-orang yang mempraktekkan ilmunya dan seluruh orang-orang yang mempraktekkan ilmunya itu binasa kecuali orang-orang yang berhati tulus. cit. Guru harus 93 Fathiyah Hasan Sulaiman. Yang mempunyai mata kepala adalah lebih banyak.93 2. karena ia melaksanakan kewajibannya. Al-Ghazali berkata: Guru itu harus mengamalkan sepanjang ilmunya..94 Perumpamaan guru dengan murid adalah bagaikan ukiran dengan tanah liat dan bayang-bayang dengan sepotong kayu.. 222. 98-101. Karena ilmu dilihat dengan mata hati dan amal dilihat dengan mata kepala. 95 Fathiyah Hasan Sulaiman. Tidak menyembunyikan ilmu yang dimilikinya sedikitpun. 23. op. Bersikap lembut dan kasih sayang kepada anak didiknya dan harus mencintai muridnya seperti mencintai anaknya sendiri. tidak boleh menuntut upah atas jerih payahnya mengajar dan mengharapkan pujian. op. Jangan perkataannya membohongi perbuatannya. Al-Ghazali. 52. 2. Syarat Kepribadian Guru Menurut Al-Ghazali Kepribadiaan bagi seorang guru menurut Al-Ghazali sangat penting. pembimbing para pelajar ketika mereka membutuhkannya. op. Ismail Yakub. sedangkan kayu yang tersinar itu bengkok.. Ia harus bersungguh-sungguh dan tampil sebagai penasehat. maka seorang guru baginya. Maka bagaimanakah tanah itu bisa terukir indah.95 Kemudian Al-Ghazali mengemukakan syarat-syarat kepribadian seorang guru:96 1. cit. 96 Abuddin Nata. padahal ia adalah material yang tidak sedia diukir dan bagaimana pula bayang-bayang itu menjadi lurus. 94 82 . cit. hlm. hlm..82 Seluruh manusia itu akan binasa kecuali orang-orang yang berilmu. Ia berpandangan bahwa mengajar itu wajib bagi setiap orang yang berilmu. 3. Tidak menuntut upah dari murid-muridnya. Sistem Pendidikan Versi Al-Ghazali. ucapan terima kasih atau balasan bagi muridmuridnya. Terj. hlm. hlm. Untuk itu perlu diupayakan ilmu yang sesuai dengan setiap tingkat kecerdasan para siswa. op. Sistem Pendidikan Versi Al-Ghazail.

dan harus memberikan contoh yang baik. cit. sopan. Setiap orang akan menyangka bahwa dia ahli ilmu-ilmu yang rahasia. Ismail Yakub. khusus apabila murid di satu sisi dibohongi yang biasanya menyertai masa dewasa..97 6. karena ia menjadi idola di mata peserta didiknya. tidak boleh melecehkan mata pelajaran lain di hadapan muridnya. sehingga disamping tidak akan salah dalam mendidik. Oleh karena itu. seperti berjiwa halus. (Malang: 1988). Memperlakukan murid sesuai dengan kesanggupannya. guru fiqih melecehkan ilmu-ilmu hadits dan tafsir dengan sindiran. Kata Imam Ghazali: Seorang guru yang bertanggung jawab pada salah satu mata pelajaran. hal. 4. Al-Ghazali juga berkata:99 Sesungguhnya faktor yang mendorong membekasnya keraguan murid pada guru adalah perasaan bahwa gurunya kikir ilmu dan tidak melaksanakan kewajibannya. 56. biasanya melecehkan ilmu fiqih. op. Al-Ghazali. dan memahami potensi yang dimiliki anak didik Seorang guru harus mamahami minat. 83 . 219.. Tiada seorangpun yang tidak memperoleh dari Allah 97 98 99 Al-Ghazali. Terj. bahwa ilmu hadits dan tafsir itu adalah semata-mata menyalin dan mendengar. 5. cit. hlm.98 Selain itu. Al-Ghazali. bakat dan jiwa anak didiknya. Seumpama guru bahasa. tidak memerlukan pikiran padanya. dan hendaklah seorang guru mendorong muridnya mencari pula ilmu dari yang lain dengan meninggalkan kefanatikan kepada salah seorang guru sedang yang lain tidak. Cara yang demikian adalah cara orang yang lemah. Tidak mewajibkan kepada para pelajar agar mengikuti guru tertentu dan kecenderungannya. hlm. juga akan terjalin hubungan yang akrab dan baik antara guru dengan anak didiknya.. Dahlan Tamrin¸ Al-Ghazali dan Pemikiran Pendidikannya. Al-Ghazali berkata: Seorang guru hendaklah dapat memperkirakan daya pemahaman muridnya dan jangan diberi pelajaran yang belum sampai tingkat akal pikirannya sehingga ia akan lari dari pelajaran atau menjadikan tumpul otaknya.hendaklah guru menyampaikan ilmu pada murid yang hendak kemampuannya secara jelas yang sesuai dengan umurnya dan jangan menjelaskan bahwa di balik ini ada rahasia yang tersimpan yang dapat merendahkan keinginannya pada apa yang nyata dan meragukan hatinya dan menyangka guru kikir padanya. lapang dada. murah hati dan beraklak terpuji lainnya. op.83 mengamalkan yang diajarkannya. Menjauhi akhlak yang tercela dengan cara menghindarinya sedapat mungkin. Ismail Yakub. Terj. 218.

Sebab. (Jakarta: Pustaka Amani). 8. Sebab sebodoh-bodoh dan selemah-lemah akal mereka. Guru juga harus mendorong muridnya agar mencari ilmu yang bermanfaat. cit. Ringkasan Ihya’ Ulumuddin. 2007. Mengikuti jejak Rasulallah dalam tugas dan kewajibannya. Guru harus mengingatkan muridnya. 14 84 . merusakkan takut murid kepada guru dan mengakibatkan dia lebih berani menentang dan suka meneruskan sifat yang jahat itu. Tugas dan Kewajiban Guru menurut Al-Ghazali Menurut Imam al-Ghazali seorang guru memiliki tugas-tugas tertentu sebagai berikut: 1. agar tujuannya dalam menuntut ilmu bukan untuk kebanggaan diri atau mencari keuntungan pribadi. Kerja sama dengan para pelajar di dalam membahas dan menjelaskan suatu pelajaran (ilmu pengetahuan). sehingga akal pikiran anak didik tersebut akan dijiwai oleh keimanan itu. Terj.. op. mereka bangga dengan kesempurnaan akalnya. hlm.100 3. Dan dengan cara kasih sayang. 217. Seorang guru harus memegang dasar-dasar agama yang prinsip dan berusaha merealisirnya.101 2.84 kesempurnaan akalnya. Ismail Yakub. tapi untuk mendekatkan diri kepada Allah. hal. Imam al-Ghazali berkata: Guru hendaknya menunjukkan kasih sayang kepada pelajar dan memperlakukannya seperti anak sendiri. diantaranya adalah bersikap adil. Guru harus dapat menanamkan keimanan ke dalam pribadi anak didiknya. Memberikan kasih sayang kepada anak didik. 7. Imam al-Ghazali. Al-Ghazali berkata : Bahwa guru menghardik muridnya dari berperangai jahat dengan cara sindiran selama mungkin dan tidak dengan cara terus terang. tidak dengan cara mengejek. 9. yaitu ilmu yang membawa pada kebahagiaan dunia dan akhirat. kalau dengan cara terus terang. Al-Ghazali berpendapat: 100 101 Al-Ghazali.

kelima. Terj.103 4. ketujuh. Terj. 216 Al-Ghazali. maka ia tidak mencari upah. Ismail Yakub. keempat..Kriteria Dalam Memilih Guru menurut Al-Ghazali Dalam kitab Ihya’nya. guru harus mencegah muridnya dari memiliki watak dan perilaku jahat. op. karena meneladani perbuatan lebih kuat daripada meneladani perkataan. Al-Ghazali.”102 3. cit. ia harus menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai berikut: pertama. kedua. Ibid. hlm. maka nasihat itu tidak berguna. Terj. harus mengingatkan muridnya bahwa tujuan pendidikan adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah. dan tidak menyimpan sesuatu nasihat untuk hari esok. Ismail Yakub Ibid.85 seorang guru hendaknya mengikuti ajaran Rasulullah SAW. harus mencintai muridnya seperti mencintai anaknya sendiri. balas jasa dan ucapan terima kasih dalam mengajarkan ilmu pengetahuan. ketiga. Kalau tidak. bukan untuk kekuasaan dan kebanggan diri.. tidak boleh merendahkan ilmu lain di hadapan muridnya.. 214. Tetapi maksud mengajar adalah mencari keridhaan Allah dan mendekatkan diri kepadaNya. 218 85 . Sebagai Pengarah dan Pembimbing Imam al-Ghazali berkata: Hendaklah guru menasihati pelajar (murid) dan melarangnya dari akhlak tercela. Menjadi teladan yang baik bagi anak didik Imam al-ghazali mengatakan: Patutlah seorang guru bersikap lurus (istiqamah). harus mengajarkan kepada murid yang terbelakang dengan jelas dan sesuai dengan tingkat pemahamannya yang 102 103 104 Al-Ghazali.104 4. keenam. hlm. mengajar murid-muridnya hingga batas kemampuan pemahaman mereka. kemudian menuntut si murid bersikap lurus. hlm. seperti melarangnya dari mencari kedudukan sebelum patut memperolehnya dan melarang murid belajar ilmu yang tersembunyi sebelum menyempurnakan ilmu yang terang. Imam al-Ghazali mengatakan antara lain: Orang yang menetapkan diri dan bertekad untuk mengambil pekerjaan sebagai pengajar. mengikuti teladan dan contoh Rasulullah dalam arti tidak boleh mengharapkan imbalan dan upah dari pekerjaannya selain kedekatan diri kepada Allah. Ismail Yakub.

76-79. sebagaimana pula sebaliknya ia bisa menilai atas sesuatu sebagai yang buruk atau tidak baik untuk ditinggalkan dan kemudian menyucikan dirinya. Imam al Ghazali mengatakan: najasah tidak khusus mengenai baju. berpengetahuan. menentukan apa yang dinilainya baik. Pengertian Murid Dalam hubungan ini Imam al-Ghazali mengatakan: Al-Thalib adalah bukan kanak-kanak yang belum dapat berdiri sendiri. Ihya’ Ulumuddin (Beyrut: Dar al-Fiqrah. ilmu itu menolak terhadap 105 106 Imam al-Ghazali. ia pun tidak menerima ilmu yang bermanfaat dalam agama dan tidak diterangi dengan cahaya ilmu. Ia adalah seseorang yang sudah mampu dimintai pertanggungjawaban dalam melaksanakan aktivitas kewajiban agama yang dibebankan kepadanya sebagai fardu ‘ain. dan dapat mencari sesuatu.. jilid 1. melainkan ditujukan kepada orang yang memiliki keahlian. guru harus melakukan terlebih dahulu apa yang diajarkannya dan tidak boleh berbohong dengan apa yang disampaikannya. Yakni.105 C. Mendahulukan kebersihan jiwa dari akhlak yang rendah.106 2. Ibnu Mas’ud berkata. Profil Murid Dalam Perspektif Al-Ghazali 1. namun ilmu itu menolak kecuali untuk allah. hlm. tetapi ilmu itu adalah cahaya yang dimasukkan ke dalam hati. Maka. mencari jalan dan mendahulukan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya. dan tidak pula dibebankan kepadanya untuk berusaha dalam mendapatkan ilmu dan sungguh-sungguh dalam memperolehnya. hlm. Ibid. 51 86 . Seorang al-thalib adalah manusia yang telah memiliki kesanggupan untuk memilih jalan kehidupannya. “Kami belajar ilmu untuk selain allah. Bahwasannya ia adalah seseorang yang telah mencapai usia dewasa dan telah dapat bekerja dengan baik dengan menggunakan akal pikirannya. 1995). Tugas dan Kewajiban Murid menurut Al-Ghazali 1. Seorang muhaqqiq berkata. selama bathin tidak dibersihkan dari hal-hal yang keji. “Bukanlah ilmu itu karena banyak meriwayatkan. kedelapan.86 terbatas.

tibatiba datanglah seekor bagal (keledai) untuk dinaiki. Op.”109 4. 11-12 108 87 . maka ibnu abbas datang dan memegang kendalinya. “Demikianlah kami disuruh memperlakukan ahli bait (keluarga) Nabi kita Saw. keragu-raguan serta kurang percaya terhadap kemampuan guru. Imam al-Ghazali berasumsi: Hal yang seperti itu (perselisihan-perselisihan diantara ulama atau sesama manusia) dapat menimbulkan prasangka yang buruk dan juga dapat menimbulkan kebingungan.87 kami sehingga kami tidak dapat mengetahui hakikatnya. Tidak sombong dalam menuntut ilmu dan tidak membangkang kepada guru. Op.. Imam al-Ghazali mengatakan bahwa: Allah tidak menjadikan dua hati bagi seseorang di dalam rongga badannya. Mengurangi kesenangan-kesenangan duniawinya dan menjauh dari kampung halaman hingga hatinya terpusat pada ilmu. 11 Imam al-Ghazali. hlm.Cit. dengan sesuatu dalam menuntut suatu macam obat tertentu. wahai putra paman Rasulullah Saw. Patutlah ia terus berkhidmat kepada guru. 11 109 Imam al-Ghazali.. Sebagaimana diriwayatkan bahwa Zaid bin Tsabit menyalati jenazah.” Ibnu Abbas berkata. “Ilmu itu tidak memberikan sebagiannya hingga engkau memberinya seluruh milikmu. terutama hal-hal yang menyebabkan kemalasan 107 Ibid.Cit. 2007.” 108 3. hlm. Zaid berkata. Menghindar dari mendengarkan perselisihan-perselisihan diantara ulama atau sesama manusia. “Biarkan dia. Dalam hal ini Imam al-Ghazali memberikan contoh: Seperti orang sakit yang gawat memberi kebebasan kepada dokter tanpa berbuat sewenang-wenang terhadapnya. Oleh karena itu dikatakan.107 2. Ringkasan Ihya’ Ulumuddin.. melainkan hanya kami dapatkan hadist dan lafal-lafalnya. 2007. Pada pertama kali hatinya condong kepada segala yang disampaikan kepadanya. “Demikianlah kami disuruh memperlakukan para ulama dan orang-orang besar.” Kemudian Zaid mencium tangannya seraya berkata.

Hendaknya tujuan pelajar dalam masa sekarang ialah menghiasi batinnya dengan sifat yang menyampaikannya kepada Allah Ta’ala. harta dan pangkat. Tidak menolak suatu bidang ilmu yang terpuji. Mengalihkan perhatian kepada ilmu yang terpenting.dan kepada derajat tertinggi diantara malaikat muqarrabin (yang dekat dengan Allah).” Pada akhirnya mereka tidak bergerak kecuali dalam mengerjakan amalan-amalan fardhu.111 7. seperti ibadahnya para sufi. ia pun menjadi zindiq. Mereka mengganti amalan sunnah dengan gerakan hati dan penyaksian yang kekal. Imam al-Ghazali. mengingat bahwa berbagai ilmu itu saling berkaitan satu sama lain. hlm. Dan siapa mengunjungi kami pada akhirnya. ia memilih yang paling penting dan memilih yang paling penting dapat dilakukan setelah mengetahui seluruhnya. 12... hingga sebagian mereka berkata. Para pemula tidak boleh mengikuti perbuatan-perbuatan dari orang-orang yang sudah mendalam. 14. ia pun menjadi teman. Imam al-Ghazali mengatakan: Jika umur membantunya. “Barangsiapa mengunjungi kami pertama kali. Imam al-Ghazali mengatakan: Hendaknya tujuan pelajar dalam masa sekarang ialah menghiasi batinnya dengan sifat yang menyampaikannya kepada Allah Ta’ala. ia pun menyempurnakannya (ilmu yang dipelajarinya). tetapi ia menekuninya hingga mengetahui maksudnya. Kalau tidak.. Orang yang lalai menganggapnya pengangguran dan kemalasan. 111 88 . Ibid.112 110 Imam al-Ghazali. Ibid. yaitu ilmu akhirat. Ibid.110 5. Imam al-Ghazali mengatakan: Seorang pelajar hendaknya tidak berpindah dari suatu ilmu yang terpuji kepada cabang-cabangnya kecuali setelah ia memahami pelajaran sebelumnya. hlm. 112 Imam al-Ghazali. 13. Dan dengan ilmu itu ia tidak mengharapkan kepemimpinan. 6. hlm.88 dan pengangguran.

dan mengerjakan apa saja yang diperintahkan oleh gurunya sebatas kemampuannya. tidak mengingkari apa yang ia dengar dan terima darinya.113 113 Ibid. tidak menggelar sajadah dihadapannya kecuali pada waktu shalat. hlm. agar ia tidak dicap sebagai hipokrit. baik dalam ucapan maupun tindakan.89 3.. tidak memperbanyak shalat sunnah di hadapnnya. 26 89 . Akhlak Murid Terhadap Guru menurut Al-Ghazali Imam al-Ghazali mengatakan: Hendaknya (murid) tidak mendebat dan banyak argumentasi meski guru keliru.

yaitu seseorang yang bertugas dan bertanggung jawab atas pendidikan dan pengajaran. sehingga masyarakat tidak 114 Lihat Zainuddin. Menurutnya. al-mudarris (pendidik). cit. Sejalan dengan itu Drs. Profil Guru Dalam Perspektif Al-Ghazali 1. hlm. 90 . Seluk Beluk Pendidikan dari Al-Ghazali.. mensucikan dan menjernihkan serta membimbing anak didiknya untuk mendekatkan diri kepada Allah. dan al-walid (orang tua). guru adalah seseorang yang bertanggung jawab atas pendidikan dan pengajaran.114 Dalam mempelajari Imam Al-Ghazali. Itulah sebabnya beliau memberikan kedudukan yang tinggi bagi seorang guru dan menaruh kepercayaannya terhadap seorang guru yang baik sebagai penasehat atau pembimbing yang baik. 50. serta bertugas untuk menyempurnakan. M. sesuatu yang sangat penting untuk dikatakan dari pendidikan adalah perhatiannya yang sangat dalam tentang ilmu dan pendidikan maupun keyakinannya yang kuat bahwa pendidikan yang baik itu merupakan suatu jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Pengertian Guru Imam al-Ghazali berkata: al-muallim (guru). op. Syiful Bahri Djamarah.90 BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN A.Ag mengatakan: Guru memang menempati kedudukan yang terhormat di masyarakat (sosial) kewibawaan (keilmuan dan kedekatannya terhadap tuhanlah) yang menyebabkan guru dihormati dan disegani.

yaitu seseorang yang bertugas dan bertanggung jawab atas pendidikan dan pengajaran. ahli didik. yaitu.Ag. al-muallim (guru).41. guru adalah seseorang yang bertanggung jawab atas pendidikan dan pengajaran. Dalam bahasa Arab istilah yang mengacu kepada pengertian guru. hlm. pendidik. 116 Al-Ghazali mempergunakan istilah guru dengan berbagai kata. dan al-walid (orang tua). yang berarti orang yang mengetahui dan banyak digunakan para ulama/ahli pendidikan untuk menunjuk pada hati guru. M. (Jakarta: Rineka cipta). Dalam bahasa Inggris. op. penceramah. mengajar ekstra. dijumpai kata teacher yang berarti pengajar. Selain itu. 31 116 Abuddin Nata. dan sebutan ini hanya dipakai oleh masyarakat Indonesia dan Malaysia). al-mudarris (pendidik). Perspektif Islam Tentang Pola Hubungan Guru-Murid (Studi Pemikiran Tasawuf Al-Ghazali). 115 91 . Syiful Bahri Djamarah. 50. 2001). 2005. 117 Zainuddin. educator. Selain itu terdapat kata tutor yang berarti guru pribadi yang mengajar di rumah. suatu pendekatan teoritis psikologis. hal. Menurutnya. mensucikan Drs.117 Sehingga guru dalam arti umum. al-Alim (jamaknya ulama) atau al-Mu’allim. serta bertugas untuk menyempurnakan. pemberi kuliah. Masyarakat yakin bahwa gurulah yang dapat mendidik mereka agar menjadi orang yang berkepribadian mulia. adalah al-Mudarris (untuk arti orang yang mengajar atau orang yang memberi pelajaran) dan al-Muaddib (yang merujuk kepada guru yang secara khusus mengajar di istana) serta al-Ustadz (untuk menunjuk kepada guru yang mengajar bidang pengetahuan agama Islam. Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif. Seluk Beluk Pendidikan dari Al-Ghazali. memberi les tambahan pelajaran. hlm. lecturer. cit..115 Kata guru berasal dalam bahasa Indonesia yang berarti orang yang mengajar.(Jakarta: Raja Grafindo Persada.91 meragukan figure guru.

karena kegunaan dan keberhasilannya ialah kebahagiaan akhirat. Misalnya beliau berkata: “Dan tidaklah tersembunyi bahwa ilmu agama ialah memahami jalan akhirat. maka tak diragukan lagi. op. maka bagaimana tersembunyi? Guru itu berpengaruh dalam hati dan jiwa manusia. Ismail Yakub. Al-Ghazali sering mengemukakan pendapatnya tentang ketinggian derajat dan kedudukan para guru ini dalam beberapa tempat dikitabnya. Mengajarkan ilmu itu dari satu segi adalah ibadah kepada Allah Ta’ala dan dari segi yang lain adalah menjadi khalifah Allah Ta’ala. Karena dengan akal. Yang termulia dari bagian tubuh manusia ialah hatinya. mensucikan dan membawakan hati itu mendekati Allah Azza wa Jalla. baik orang yang berhasil memperoleh ilmu maupun orang berhasil mengumpulkan harta kekayaan berada di dalam salah satu dari empat jenis berikut ini: 1. Terj.”118 Al-Ghazali menyamakan keberhasilan ilmu dengan terhimpunnya harta kekayaan.. ialah jenis manusia. Dan itu adalah yang termulia menjadi khalifah Allah. Adapun tentang umum kegunaannya. Bahwa Allah telah membuka pada hati orang berilmu. yang dapat diketahui dengan kesempurnaan akal dan kebersihan kecerdikan. hlm. Akal adalah yang termulia dari sifat-sifat insan sebagaimana akan diterangkan nanti. Dan dengan akal akan sampai ke sisi Allah SWT. 77. Guru itu bekerja menyempurnakan. Artinya. 92 . cit. Orang yang berhasil memperoleh harta kekayaan atau ilmu lalu disimpannya. tidak dimanfaatkan untuk kepentingan apapun juga. membersihkan. Ihya’ Ulumuddin. Kemudian diizinkan berbelanja dengan barang itu untuk siapa saja yang membutuhkannya. 118 Al-Ghazali. manusia menerima amanah Allah. Yang termulia di atas bumi. Adapun kemuliaan tempat. akan pengetahuan yang menjadi sifatNya yang teristimewa.92 dan menjernihkan serta membimbing anak didiknya untuk mendekatkan diri kepada Allah. maka dia adalah seperti penjaga gudang terhadap barang gudangannya yang termulia.

93 2. hlm. Dan keadaan memberi sinar cemerlang kepada orang lain.119 Selanjutnya beliau berkata dalam Ihya’ Ulumuddin: “Maka seperti itu pulalah dengan ilmu pengetahuan. yaitu berpikir mencari yang baru dan mengambil faidah daripadanya. Dan inilah keadaan yang semulia-mulianya. Sistem Pendidikan Versi Al-Ghazali. Karena. Dan seumpama batu pengasah.. op. sedangkan dirinya sendiri tetap bersinar dan juga sebagai minyak kasturi yang menyebarkan parfum kepada sekitarnya. Keadaan meneliti (istibshar). Dia laksana kesturi yang membawa keharuman kepada lainnya dan dia sendiripun harum. berusaha dan keadaan menghasilkan yang tidak memerlukan lagi kepada bertanya. Al-Ghazali.. Orang yang berhasil memperoleh ilmu atau harta kekayaan untuk dimanfaatkan atau dinafkahkan sendiri. MA. Bagi ilmu pengetahuan ada keadaan mencari. 44. beramal dan mengajar. Terj. hlm. Ismail Yakub. dapat disimpan seperti menyimpan harta benda. adalah seumpama suatu daftar yang memberi faidah kepada lainnya dan dia sendiri kosong dari ilmu pengetahuan. cit. Dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin beliau juga berkata sebagai berikut: Orang yang berilmu dan tidak beramal menurut ilmunya. orang yang berilmu dan mengajarkan ilmunya hingga orang lain dapat memanfaatkannya diibaratkan sebagai matahari yang memancarkan sinarnya kepada makhluk lain. 93 . menajamkan lainnya dan dia sendiri tidak dapat memotong. sehingga ia tidak perlu untuk meminta-minta. 43. Dia laksana matahari yang menyinarkan cahayanya kepada lainnya dan menyinarkan pula kepada dirinya sendiri. Orang yang menyimpan harta kekayaan atau ilmu sebanyak-banyaknya untuk dimanfaatkan sendiri.. Atau seumpama jarum penjahit yang dapat 119 120 Fathiyah Hasan Sulaiman. sedangkan dia sendiri masih tetap mempunyai bau yang harum itu. Maka barang siapa berilmu. SH. op. maka dialah yang disebut orang besar dalam alam malakut tinggi. cit.”120 Al-Ghazali menganggap orang termasuk dalam jenis keempat adalah orang yang paling paling mulia. 3. 4. Orang yang berhasil memperoleh ilmu atau harta kekayaan untuk dinafkahkan atau dengan menyebarkan ilmunya untuk menolong orang lain.

dapat dipahami bahwa profesi keguruan merupakan profesi yang paling mulia dan paling agung dibandingkan dengan profesi yang lain. Menjadi Guru Professional. lebih dari itu guru pada hakikatnya merupakan komponen strategis yang memiliki peran yang sangat urgen dalam menentukan gerak maju kehidupan dan peradaban bangsa. Drs. dia sendiri terbakar menyala. Moh. Hal ini sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Drs. sebagaimana kata pantun: ”Dia adalah laksana sumbu lampu yang dipasang. sebagai kebutuhan manusia yang tinggi. yaitu memberikan ilmu sebagai makanannya.121 Dari keempat perumpamaan Al-Ghazali di atas. ia dianggap sebagai bapak kerohanian. 7. memberi cahaya kepada orang lain. 121 122 Ibid. Sudah jelas seorang guru telah mengemban pekerjaan yang sangat penting. Moh.. 2007). 94 . 212. karena pendidikan Islam adalah berintikan agama yang mementingkan akhlak.122 Dan yang utama menurut hemat penulis sendiri dengan profesinya itu pula seorang guru menjadi perantara antara manusia dalam hal ini murid. (Bandung: Rosdakarya. Uzer Usman.94 menyediakan pakaian untuk lainnya dan dia sendiri telanjang. meskipun ia mempunyai bermacam-macam cabang dan tujuan. hlm. Sebagaimana yang dikatakan Oleh karena itu. Atau seumpama sumbu lampu yang dapat menerangi lainnya dan dia sendiri terbakar. dengan penciptanya yaitu Allah SWT. disamping ia sebagai alat untuk sampai kepada Tuhan. Uzer Usman: bahwa tugas dan peran guru tidaklah terbatas di dalam masyarakat. yaitu seorang yang mempunyai tugas yang sangat tinggi dalam dunia ini. hlm.

Sebagaimana juga yang dikatakan oleh Zakiyah Darajat: Guru adalah orang yang menjadi perantara untuk membantu anak didiknya memiliki ilmu pengetahuan sekaligus agar dekat kepada tuhan sebagai sang pencipta. 95 . tidak ia amalkan dan tidak pula ia ajarkan kepada orang lain. Skripsi. “Sosok Guru Menurut al-Ghazali dan Zakiah Daradjat”. membersihkan dan menggiringnya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. sekaligus mengemban amanah Allah SWT yang terbesar. 73. Al-Ghazali juga menjelaskan arti pentingnya pengajaran dan kewajiban melaksanakannya dengan keharusan berhati tulus. Al-Ghazali berkata dalam Fatihatul Ulum sebagai berikut: Seluruh manusia itu akan binasa kecuali orang-orang yang berilmu. hlm. seluruh orang-orang yang berilmu akan binasa kecuali orang-orang yang 123 Siti Fatchurohmah.95 Dengan ini Al-Ghazali telah mengangkat status guru dan menumpukkan kepercayaannya kepada guru yang dinilainya sebagai pemberi petunjuk (mursyid) dan pembina rohani yang terbaik. ia jelaskan pula keutamaan mengajar dan kewajiban melaksanakannya bagi orang berilmu. Guru adalah bekerja menyempurnakan.123 Jadi. Ia sebutkan bahwa orang yang mengetahui tapi tidak menyebarkan ilmunya. 2006. mengajar ilmu termasuk pengabdian kepada Allah. Dalam melukiskan pentingnya pengajaran dan kewajiban serta keharusan ikhlas dalam mengajar. maka ia sama saja seperti mengumpulkan harta untuk disimpan tanpa dapat dimanfaatkan siapapun. Selanjutnya. Fakultas Tarbiyah UIN Malang. mengangkat derajat.

cit. bahwa pelakunya itu tidak menghendaki imbalan atas perbuatnn itu. mengaitkan dengan kehidupan pada zamannya dan memprediksikan pada kehidupan di zaman yang akan datang. serta menceritakan tentang manusia di zaman yang silam. op. tetapi bertanggung jawab pula memberikan wawasan kepada murid agar menjadi manusia yang mampu menggali ilmu pengetahuan dan menciptakan lingkungannya yang menarik dan menyenangkan. Rasulullah sebagai mualllimul awwal fil Islam (guru pertama dalam Islam) bertugas membacakan.96 mempraktekkan ilmunya dan seluruh orang-orang yang mempraktekkan ilmunya itu binasa kecuali orang-orang yang berhati tulus. menjelaskan mana yang halal dan mana yang haram. budi 124 Fathiyah Hasan Sulaiman. mensucikan diri dari jiwa dan dosa. Jadi. Maksudnya adalah. Sistem Pendidikan Versi Al-Ghazali. hlm. Dengan demikian tampaklah bahwa secara umum guru bertugas dan bertanggung jawab seperti Rasul tidaklah terikat dengan ilmu atau bidang studi yang diajarkannya.124 Yang dimaksud dengan hati tulus adalah orang yang dalam perbuatannya itu bersih dari campuran dan murni. Pendidikan kesusilaan. menyampaikan dan mengajarkan ayat-ayat Allah (Al-Quran) kepada manusia.. 96 . yaitu menghantarkan murid dan manusia terdidik yang mampu menjalankan tugas-tugas ketuhanan. Tugas guru adalah seperti tugas para utusan Allah. 23. dalam mengajar itu menurut AlGhazali harus dilandasi dengan keikhlasan tanpa mengharap imbalan dari perbuatan itu. Ia sekedar menyampaikan materi pelajaran.

AlGhazali berkata: Guru itu harus mengamalkan sepanjang ilmunya. tampak betapa berat tugas dan tanggung jawab seorang guru. Mc. Terj. cit. perasaan dan sebagainya) dengan aspek perilaku behavioral (perbuatan nyata). Dengan demikian. kepribadian berarti sifat hakiki individu yang tercermin pada sikap dan perbuatannya yang membedakan dirinya dari orang lain.. kepribadian pada prinsipnya adalah susunan atau kesatuan antara aspek perilaku mental (pikiran. termasuk unsur pendidikannya. Menurut tinjauan psikologi. Syarat Kepribadian Guru Menurut Al-Ghazali Kepribadiaan bagi seorang guru menurut Al-Ghazali sangat penting. moral maupun akhlak bagi murid bukan hanya menjadi tanggung jawab guru bidang studi agama atau yang ada kaitannya dengan budi. Dari uraian di atas. Jika kita teliti. Yang mempunyai mata kepala adalah lebih banyak.97 pekerti. 222. Ismail Yakub. Karena ilmu dilihat dengan mata hati dan amal dilihat dengan mata kepala. pendidikan sebagai proses memanusiakan manusia menuntut adanya kesamaan arah dari seluruh unsur yang ada. Aspek-aspek ini 125 Al-Ghazali. op. barang kali jarang dijumpai seorang guru yang dapat memenuhi segala persyaratan tersebut. 2. hlm. 97 . Leod (1989). perlu penyaringan ketat terhadap calon guru untuk mengetahui siapa yang berbakat dan memenuhi persyaratan itu. Oleh karena itu. etika.125 Dalam arti sederhana. mengartikan kepribadian (personality) sebagai sifat khas yang dimiliki seseorang. Jangan perkataannya membohongi perbuatannya.

Jadi. akhlak dan kepribadian seorang guru adalah lebih penting dari pada ilmu pengetahuan yang dimiliki.. op.98 berkaitan secara fungsional dalam diri seorang individu.127 Dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik. perilaku..Ed. 98 . cit. Guru adalah seorang yang seharusnya dicintai dan disegani oleh muridnya. Al-Ghazali sangat menganjurkan 126 127 Muhibbin Syah. Penampilannya dalam mengajar harus meyakinkan dan tindaktanduknya akan ditiru dan diikuti oleh muridnya.cit. 98. 225. ia harus tabah dan tahu cara memecahkan berbagai kesulitan dalam tugasnya sebagai pendidik. terutama masalah yang langsung berhubungan dengan proses belajar mengajar Perkataan Al-Ghazali tersebut dapat disimpulkan bahwa amal perbuatan. Ia juga harus mau dan rela serta memecahkan berbagai masalah yang dihadapinya. guru juga berperan sebagai panutan.. Zakiah Daradjat. Metodologi Pengajaran Agama Islam.126 Kepribadian adalah faktor yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan seorang guru sebagai pengembang sumber daya manusia. et. hlm. M. baik secara sengaja maupun tidak sengaja dan baik secara langsung maupun tidak langsung. Karena kepribadian seorang guru akan diteladani dan ditiru oleh anak didiknya. Hal ini dikarenakan bahwa disamping ia berperan sebagai pembimbing dan pembantu anak didik untuk mencapai kedewasaan. hlm. Penampilannya dalam mengajar harus meyakinkan dan tindak-tanduknya akan ditiru dan diteladani. sehingga membuatnya bertingkah laku secara khas dan tetap. Setiap orang yang akan melaksanakan tugas guru harus mempunyai kepribadian. op. al.

Antara guru dengan anak didik oleh Al-Ghazali diibaratkan bagai tongkat dengan bayang-bayang. hlm. Kata Imam Al-Ghazali: Perumpamaan guru dengan murid adalah bagaikan ukiran dengan tanah liat dan bayang-bayang dengan sepotong kayu. hlm. op. padahal ia adalah material yang tidak sedia diukir dan bagaimana pula bayang-bayang itu menjadi lurus. cit.99 agar seorang guru mampu menjalankan tindakan. 6) Berilmu luas dan bermakrifah yang dalam serta berpendirian kuat dan berpegang teguh pada prinsip. op. Aliran-Aliran Dalam Pendidikan (Studi Tentang Aliran Pendidikan Menurut Al-Ghazali).128 Maka dari itu. 52. antara lain:129 2) Jujur dan tulus dalam berkarya. syarat-syarat kepribadian (sifat-sifat terpenting) yang harus dimiliki oleh seorang guru. 4) Toleran dan berlapang dada dalam hal-hal berkaitan dengan ilmu dan abdi ilmu. apabila tongkatnya saja bengkok. Sejalan dengan hal tersebut menurut Fathiyah. Bagaimana bayang-bayang akan lurus. 45. perbuatan dan kepribadiannya sesuai dengan ajaran dan pengetahuan yang diberikan kepada anak didiknya. Karena tugas guru bukan saja melaksanakan pendidikan. Maka bagaimanakah tanah itu bias terukir indah. ia juga harus mampu melaksanakan atau memberi contoh sesuai dengan apa yang telah diberikan atau yang diajarkan kepada anak didiknya.. 128 129 Fathiyah Hasan Sulaiman. 5) Tidak terpaut pada materi. Sistem Pendidikan Versi Al-Ghazail. 99 . sedangkan kayu yang tersinar itu bengkok. cit. 3) Santun dan sayang terhadap murid. kepribadian seorang guru dipandang sangat penting. Fathiyah Hasan Sulaiman..

10).100 Munurut Zainuddin. 3). terhadap masalah yang tidak dimengerti. Bersikap tawadlu’ dalam pertemuan-pertemuan. Dengan demikian guru selalu menjadi pusat perhatian bagi murid. 56-57. 8). karena kepandaian murid itu mungkin berbeda-beda. al. guru harus dapat mengukur kadar dan kemampuan muridnya. op. sehingga ia tidak memberi pertanyaan yang terlalu mudah kepada mereka yang pandai.. Sikap dan pembicaraannya tidak main-main. Senantiasa bersifat kasih dan tidak pilih kasih. 7). et. Berani berkata: saya tidak tahu. Abuddin Nata. cit.. hlm. Jika duduk harus sopan dan tunduk. tidak riya’ atau pamer. Tidak takabur. 11). hlm. Kemudian Al-Ghazali mengemukakan syarat-syarat kepribadian seorang guru:131 1. Seorang yang akan berhasil melaksanakan tugasnya apabila memunyai rasa tanggung jawab dan kasih sayang terhadap muridnya sebagaimana yang ia lakukan terhadap anaknya sendiri. Perspektif Islam Tentang Pola Hubungan Guru-Murid (Studi Pemikiran Tasawuf Al-Ghazali). Bersikap lembut dan kasih sayang kepada anak didiknya dan harus mencintai muridnya seperti mencintai anaknya sendiri. dan ia bertanya materi yang terlalu sulit bagi mereka yang terlalu pandai. 5). 4). Menanam sifat bersahabat di dalam hatinya terhadap semua murid-muridnya. Menampilkan hujjah yang benar. 131 130 100 . dengan maksud mencegah dari tindakannya. 98-101. syarat-syarat kepribadian guru adalah sebagai berikut:130 1). kecuali terhadap orang yang dhalim. op. Maka dari itu. cit. Zainuddin. Membimbing dan mendidik murid yang bodoh dengan cara yang sebaikbaiknya. bersedia ruju’ pada kebenaran. 2).. Menyantuni serta tidak membentak-bemtak orang-orang bodoh. Sabar menerima masalah-masalah yang ditanyakan murid dan harus diterima baik. 9). apabila ia berada dalam hak yang salah. mereka tidak akan menyepelekan dan tetap menghormatinya. 6).

Al-Ghazali menilai bahwa seorang guru dibandingkan dengan orang tua anak. 3. Guru harus mengamalkan yang diajarkannya. maka seorang guru baginya. ucapan terima kasih atau balasan bagi murid-muridnya. dan harus memberikan contoh yang baik. pembimbing para pelajar ketika mereka membutuhkannya.101 Dalam kaitan ini. seorang guru wajib memperlakukan murid-murid dengan rasa kasih sayang dan mendorongnya agar mempersiapkan diri untuk mendapatkan kehidupan di akhirat yang kekal dan bahagia. Ia harus bersungguh-sungguh dan tampil sebagai penasehat. Ia berpandangan bahwa mengajar itu wajib bagi setiap orang yang berilmu. seorang guru memiliki posisi yang lebih tinggi dibandingkan dengan posisi orang tua murid. Menjauhi akhlak yang tercela dengan cara menghindarinya sedapat mungkin. murah hati dan beraklak terpuji lainnya.. 4. karena ia melaksanakan kewajibannya. orang tua berperan sebagai penyebab adanya si anak ke dunia yang hanya sementara ini. sedangkan guru menjadi penyebab bagi keberadaan kehidupan yang kekal di akhirat. 101 . maka guru lebih utama dari orang tua anak tersebut. tidak boleh menuntut upah atas jerih payahnya mengajar dan mengharapkan pujian. Untuk itu perlu diupayakan ilmu yang sesuai dengan setiap tingkat kecerdasan para siswa. 2. Oleh sebab itu. Tidak menyembunyikan ilmu yang dimilikinya sedikitpun. Menurutnya. karena ia menjadi idola di mata peserta didiknya. lapang dada. Oleh sebab itu. sopan. seperti berjiwa halus. Tidak menuntut upah dari murid-muridnya.

Terj. tidak boleh melecehkan mata pelajaran lain di hadapan muridnya. Dalam hubungan ini AlGhazali menasehatkan agar guru membatasi diri dalam mengajar sesuai dengan 132 Al-Ghazali. Memperlakukan murid sesuai dengan kesanggupannya. op.. guru fiqih melecehkan ilmu-ilmu hadits dan tafsir dengan sindiran. Tidak mewajibkan kepada para pelajar agar mengikuti guru tertentu dan kecenderungannya. Kata Imam Ghazali: Seorang guru yang bertanggung jawab pada salah satu mata pelajaran. 102 . dan hendaklah seorang guru mendorong muridnya mencari pula ilmu dari yang lain dengan meninggalkan kefanatikan kepada salah seorang guru sedang yang lain tidak. dan memahami potensi yang dimiliki anak didik Seorang guru harus mamahami minat. sehingga disamping tidak akan salah dalam mendidik. dan memperlakukannya sesuai dengan tingkat perbedaan yang dimiliki murid.102 Hal itu dikarenakan bahwa teladan yang dijadikan ikutan dan anutan oleh murid-muridnya. tidak memerlukan pikiran padanya. 218. Ismail Yakub. bahwa ilmu hadits dan tafsir itu adalah semata-mata menyalin dan mendengar. bakat dan jiwa anak didiknya. hlm. Cara yang demikian adalah cara orang yang lemah. biasanya melecehkan ilmu fiqih. 5.132 6. maka kepribadian yang mulia dan kelapangan dada harus diangkat sebagai sifat-sifat utama bagi seorang guru. juga akan terjalin hubungan yang akrab dan baik antara guru dengan anak didiknya. cit. Seorang guru yang baik juga harus memiliki prinsip mengakui adanya perbedaan potensi yang dimiliki murid secara individual. Seumpama guru bahasa.

op. seorang guru seharusnya dapat memperkirakan mata pelajaran yang dapat dijangkau oleh pemahaman anak. yaitu memberikan pelajaran dan sesuatu hakikat pada anak apabila diketahui bahwa anak itu akan sanggup memahaminya dan menempatkan setiap anak pada tempat yang wajar sesuai dengan kemampuan akal pikirannya serta memperhatikan tingkat kecerdasan dan pengetahuan mereka. yang berakhir dengan kecemasan dan kegagalan. perlu adanya keharmonisan antara bahan pelajaran dengan Intelligence Quotient (IQ) murid.103 batas pemahaman murid. sehingga mereka dapat mengerti. Yakni.hendaklah guru menyampaikan ilmu pada murid yang hendak kemampuannya secara jelas yang sesuai dengan 133 134 Al-Ghazali. Dan ia sepantasnya tidak memberikan pelajaran yang tidak dapat dijangkau oleh akal muridnya. Karena tanpa adanya keserasian ini menyebabkan murid meninggalkan pelajaran dan kacau pikirannya.. Selain itu. 56. Terj. 103 . hlm.133 Jelaslah bahwa. Al-Ghazali berkata: Seorang guru hendaklah dapat memperkirakan daya pemahaman muridnya dan jangan diberi pelajaran yang belum sampai tingkat akal pikirannya sehingga ia akan lari dari pelajaran atau menjadikan tumpul otaknya. cit. (Malang: 1988). hal. 219. Ismail Yakub. Dahlan Tamrin¸ Al-Ghazali dan Pemikiran Pendidikannya. Oleh karena itu. Al-Ghazali. Al-Ghazali juga berkata:134 Sesungguhnya faktor yang mendorong membekasnya keraguan murid pada guru adalah perasaan bahwa gurunya kikir ilmu dan tidak melaksanakan kewajibannya. Imam Ghazali dalam pemikirannya telah sampai kepada tujuan yang telah dicapai oleh para tokoh pendidik modern. khusus apabila murid di satu sisi dibohongi yang biasanya menyertai masa dewasa. memahami dan menguasai mata pelajaran itu dengan sesungguhnya.

104

umurnya dan jangan menjelaskan bahwa di balik ini ada rahasia yang tersimpan yang dapat merendahkan keinginannya pada apa yang nyata dan meragukan hatinya dan menyangka guru kikir padanya. Setiap orang akan menyangka bahwa dia ahli ilmu-ilmu yang rahasia. Tiada seorangpun yang tidak memperoleh dari Allah kesempurnaan akalnya. Sebab sebodoh-bodoh dan selemah-lemah akal mereka, mereka bangga dengan kesempurnaan akalnya. 7. Kerja sama dengan para pelajar di dalam membahas dan menjelaskan suatu pelajaran (ilmu pengetahuan). 8. Guru harus mengingatkan muridnya, agar tujuannya dalam menuntut ilmu bukan untuk kebanggaan diri atau mencari keuntungan pribadi, tapi untuk mendekatkan diri kepada Allah. Guru juga harus mendorong muridnya agar mencari ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu yang membawa pada kebahagiaan dunia dan akhirat. 9. Guru harus dapat menanamkan keimanan ke dalam pribadi anak didiknya, sehingga akal pikiran anak didik tersebut akan dijiwai oleh keimanan itu. Seorang guru harus memegang dasar-dasar agama yang prinsip dan berusaha merealisirnya, diantaranya adalah bersikap adil. Guru dituntut memiliki sikap adil terhadap seluruh anak didiknya. Artinya, dia tidak bepihak atau mengutamakan kelompok tertentu. Dalam hal ini dia harus menyikapi setiap anak didiknya sesuai dengan perbuatan dan bakatnya. Rasulallah SAW adalah teladan untuk seorang pendidik, sebagaimana perintah Allah kepada beliau ini .

104

105

öΝà6¨ΖΒ̍ôftƒ ωuρ ( Ÿ ÅÝó¡É)ø9$$Î/ (šu™!#y‰pκà− ¬! ÏΒ≡§θs% #θçΡθä. #θãΨΒ#u™ Ï%©!$# š $pκš‰r'≈tƒ t t ©!# χÎ) 4 ž ©!# (#θà)?$#uρ 3( “uθø)−G=Ï9 Ü>tø%& θèδ #θä9ωôã# ž(#θä9ω÷ès? ωr& #’n?tã BΘöθs% ãβ$t↔oΨx© $ $ ¨ r $ ∩∇∪ šχθè=yϑ÷ès? $yϑÎ/ 7ŽÎ6yz
Artinya “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) Karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. berlaku adillah, Karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang 135 kamu kerjakan”. (Q.S.. Al-Ma’idah: 8) Dalam pernyataan di atas, dapat dikemukakan bahwa persyaratan bagi seorang guru meliputi berbagai aspek, yaitu: 1. Tabi’at dan perilaku pendidik. 2. Minat dan perhatian terhadap proses belajar-mengajar. 3. Kecakapan dan keterampilan mengajar. 4. Sikap ilmiah dan cinta terhadap kebenaran. Dalam suasana tertentu seorang guru pun juga harus berperan sebagai kawan berani dalam rangka bimbingan ke arah terwujudnya tujuan pendidikan yang dicita-citakan. Disamping itu, kewibawaan juga sangat menunjang dalam perannya sebagai pembimbing. Semua perkataan, sikap dan perbuatan yang baik darinya akan memancar kepada muridnya. Oleh karena itu, seorang guru harus mempunyai kemampuan intelektual yang tinggi dan senantiasa memperhatikan
135

DEPAG RI, Al-Qur’an Dan Terjemahnya, op. cit., hlm. 159.

105

106

prinsip-prinsip mengajar seperti kasih sayang, tidak membesar-besarkan kesalahan murid, tidak mengejek atau mencelanya, tidak menggunakan kekerasan dalam mengubah perilaku murid yang tidak baik menjadi beraklak mulia. Sedapat mengkin dalam memberi nasihat, seorang guru menggunakan kata-kata kiasan atau sindiran, tidak secara langsung, karena cara yang kurang bijaksana dalam mengubah perilaku dapat menyebabkan murid mungkin takut kepada guru, sungkan, menentang atau berani kepadanya. Al-Ghazali berkata : Bahwa guru menghardik muridnya dari berperangai jahat dengan cara sindiran selama mungkin dan tidak dengan cara terus terang. Dan dengan cara kasih sayang, tidak dengan cara mengejek. Sebab, kalau dengan cara terus terang, merusakkan takut murid kepada guru dan mengakibatkan dia lebih berani menentang dan suka meneruskan sifat yang jahat itu.136 Berdasarkan uraian di atas, terlihat bahwa sosok guru ideal adalah guru yang memiliki motivasi mengajar yang tulus, yaitu ikhlas dalam mengamalkan ilmunya, bertindak sebagai orang tua yang penuh kasih sayang kepada anaknya, dapat mempertimbangkan kemampuan intelektual anaknya, mampu menggali potensi yang dimiliki para siswa, dapat bekerja sama dengan para siswa dalam memecahkan masalah. Ia menjadi idola di mata siswanya, sehingga siswa itu mengikuti perbuatan baik yang dilakukan gurunya menuju jalan akhirat. Di sini terlihat bahwa pada akhirnya para siswa dibimbing menuju Allah, atau berbagai upaya yang dilakukan oleh guru terhadap siswanya dalam belajar, namun pada akhirnya harus dapat membawa siswa menuju Allah. Atas dasar ini, terlihat jelas

136

Al-Ghazali, Terj. Ismail Yakub, op. cit., hlm. 217.

106

tawakkal. Rasa kasih sayang terhadap murid adalah sifat yang terpenting yang harus dimiliki oleh seorang guru. ikhlas dan ridla sebagaimana telah diuraikan di atas. yaitu ajaran tentang zuhud.. Demikian pula sikap guru yang harus berniat ikhlas. tidak mengharapkan imbalan.137 sayang kepada pelajar dan Seorang guru seharusnya menjadi pengganti dan wakil kedua orang tua anak didiknya.107 sekali pengaruh pemikiran Al-Ghazali sebagaimana disebutkan di atas. hubungan psikologis antara guru dengan anak didiknya seperti hubungan naluriah antara kedua orang tua dengan anaknya. dengan ikhlas dan pengabdiannya. 3. Memberikan kasih sayang kepada anak didik. qana’ah. yaitu mencintai anak didiknya seperti memikirkan keadaan anaknya sendiri. mengamalkan ilmu yamg diajarkannya dan menjadi panutan serta mengajak pada jalan Allah. berakhlak mulia. Jadi. (Jakarta: Pustaka Amani). 14 107 . sehingga hubungan timbal balik yang harmonis tersebut akan berpengaruh ke dalam proses pendidikan dan pengajaran. hal. Imam al-Ghazali berkata: Guru hendaknya menunjukkan kasih memperlakukannya seperti anak sendiri. Karena sifat ini akan dapat menimbulkan rasa percaya diri dan 137 Imam al-Ghazali. Tugas dan Kewajiban Guru menurut Al-Ghazali Menurut Imam al-Ghazali seorang guru memiliki tugas-tugas tertentu sebagai berikut: 5. 2007. adalah merupakan nilai-nilai ajaran tasawuf. Ringkasan Ihya’ Ulumuddin.

Al-Ghazali berpendapat: seorang guru hendaknya mengikuti ajaran Rasulullah SAW. seorang guru memiliki posisi yang lebih tinggi dibandingkan dengan posisi orang tua murid.108 tenteram pada diri murid terhadap gurunya. Menurutnya.138 Dalam hal ini Al-Ghazali menilai bahwa seorang guru dibandingkan dengan seorang anak. 109 Al-Ghazali. maka guru lebih utama dari orang tua tersebut. Op. Ismail Yakub. dan mendorongnya agar mempersiapkan diri untuk mendapatkan kehidupan di akhirat yang kekal dan bahagia. 108 . orang tua berperan sebagai penyebab adanya anak di dunia ini. Hadari Nawawi. Hadari Nawawi: Hendaknya sikap tulus ikhlas tampil dari hati yang rela berkurban untuk anak didik. Sebagaimana yang dikatakan oleh Prof. H. balas jasa dan ucapan terima kasih dalam mengajarkan ilmu pengetahuan. hlm.”139 Dengan demikian seorang guru hendaknya menjadi wakil dan pengganti Rasulullah yang mewarisi ajaran-ajarannya dan memperjuangkan dalam 138 139 Prof. sedangkan guru menjadi penyebab bagi keberadaan kehidupan kekal di akhirat. Demikian seorang guru wajib memperlakukan muridnya dengan penuh kasih sayang. keterbukaan dan kesabaran.. Tetapi maksud mengajar adalah mencari keridhaan Allah dan mendekatkan diri kepadaNya. Dr. cit. Mengikuti jejak Rasulallah dalam tugas dan kewajibannya. yang diwarnai juga dengan kejujuran. 214.. Dr. merupakan motivasi untuk melakukan pengabdian dalam mengemban peranan sebagai pendidik. 6. Cit. op. Dengan demikian. hlm. Sebab tulus ikhlas. 1993. maka ia tidak mencari upah. Terj.. Pendidikan Dalam Islam. H.

Terj. Al-Ghazali. 140 141 Zainuddin. sebelum ia menyelesaikan bidang ilmu pengetahuan yang sebelumnya. Demikian pula perilaku dan perbuatan. seorang pelajar tidak boleh mendalami suatu bidang ilmu pengetahuan. 216 109 .140 7. dialah sebenar-benarnya ‘Alim (berilmu. kepribadian seorang guru harus mencerminkan ajaran-ajarannya. karena beliau dilahirkan di dunia ini adalah sebagai “uswatun khasanah atau figur ideal” bagi umat manusia pada umumnya dan bagi seorang guru pada khususnya.141 Dari penjelasan diatas dapatlah difahami. Ismail Yakub. Ibid. hlm.. Tetapi tidak pulalah tiap-tiap orang yang alim itu layak menempati kedudukan sebagai ganti rasulullah Saw itu... Karena ilmu pengetahuan itu berurutan secara jelas. Dimana. sebagian menuju sebagian yang lain. seperti melarangnya dari mencari kedudukan sebelum patut memperolehnya dan melarang murid belajar ilmu yang tersembunyi sebelum menyempurnakan ilmu yang terang.109 kehidupan masyarakat. sesuai dengan akhlak Rasulullah. dan tidak menyimpan sesuatu nasihat untuk hari esok. Ia tidak boleh membiarkan murid-muridnya mempelajari pelajaran yang lebih tinggi sebelum ia menguasai yang sebelumnya. hlm. sebagaimana yang dikatakan pula oleh Zainuddin: Adapun syarat bagi seorang guru. Seluk Beluk Pendidikan dari Al-Ghazali. Sebagai Pengarah dan Pembimbing Imam al-ghazali berkata: Hendaklah guru menasihati pelajar (murid) dan melarangnya dari akhlak tercela. 61. Ibid. bahwa seorang guru yang baik hendaknya berfungsi juga sebagai pengarah dan penyuluh yang jujur dan benar di hadapan murid-muridnya. intelektualen). maka ia layak menjadi pengganti Rasulalluh Saw.

segala anjurannya. User Usman mengatakan: Tugas guru sebagai profesi meliputi mendidik. mengajar. kemudian menuntut si murid bersikap lurus. maka nasihat itu tidak berguna.143 Mengingat guru sebagai teladan yang akan dicontoh dan ditiru murid. Mendidi berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup. 8. Artinya. Sejalan dengan hal tersebut Drs. yaitu yang menuntut urutan dalam setiap mata pelajaran dengan tujuannya yang jelas serta bertingkat menuju tingkat berikutnya. 7 Al-Ghazali.110 sehingga suatu pelajaran harus dipelajari secara berangsur-angsur. Seorang guru harus benar-benar dapat digugu dan ditiru. (Bandung: Rosdakarya). 218 110 .142 Mempelajari ilmu pengetahuan memang selayaknya memperhatikan kesesuaiannya. ucapan. maka seorang guru harus konsekuen dan mampu menjaga antara perkataan. Terj. perintah. sehingga diharapkan dapat menimbulkan suatu proses pertumbuhan akal pikiran dan perkembangan mental yang baik. dan larangan dengan amal perbuatan guru.. hlm. Moh. Menjadi teladan yang baik bagi anak didik Imam al-ghazali mengatakan: Patutlah seorang guru bersikap lurus (istiqamah). Moh. Sedangkan melatih berarti mengembangkan keterampilan-keterampilan pada murid. 2007. segala tutur katanya. Mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. segala nasehatnasehatnya harus benar-benar dapat dipercaya. karena yang lebih penting perbuatannya bukan ucapannya. Kalau tidak. karena meneladani perbuatan lebih kuat daripada meneladani perkataan. dan melatih. Ismail Yakub Ibid. Menjadi Guru Professional. harus benar-benar dapat 142 143 Drs. hlm. User Usman.

1993.Kriteria Dalam Memilih Guru menurut Al-Ghazali Dalam kitab Ihya’nya. hlm. Imam al-Ghazali mengatakan antara lain: Orang yang menetapkan diri dan bertekad untuk mengambil pekerjaan sebagai pengajar. segala tingkah lakunya. H. Hadari Nawawi. segala perbuatannya harus benar-benar menjadi contoh. ia harus menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai berikut: pertama. H. Kecenderungan mencontoh itu sangat besar pengaruhnya bagi perkembangan anak didik tersebut. Prof. Dalam rangka membawa manusia menjadi manusiawi itu pulalah. sebagai pedoman dan segala gerak-geriknya. Rasulullah dijadikan oleh Allah. harus mencintai muridnya seperti mencintai anaknya sendiri.111 dipergunakan sebagai pegangan. Hal yang menonjol adalah berkaitan dengan tugas guru adalah masalah moral. mengikuti teladan dan contoh Rasulullah dalam arti tidak boleh 144 Prof. Dr. Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa apa yang keluar dari lisannya sama dengan apa yang ada didadanya. 213. Seorang guru seharusnya juga demikian dalam mengamalkan pengetahuannya. 144 Dengan penjelasan tersebut diatas maka dalam proses pendidikan gurulah yang menjadi teladan yang tepat bagi murid atau anak didiknya. Karena segala tingkah laku dari pendidik selalu diamati benar-benar oleh anak didik. 111 . etika atau akhlak. bertindak sesuai dengan apa yang dinasehatkan kepada murid. Hal ini dengan tidak sadar ditirunya. Dr. Sebagaimana juga dikatakan oleh. dalam pribadinya uswatun hasanah (teladan yang baik). 4. kedua. Pendidikan Dalam Islam (Surabaya: Al-Ikhlas). Hadari Nawawi: Kehidupan ini sebahagian terbesar dilalui dengan saling meniru atau mencontoh oleh manusia yang satu pada manusia yang lain. dimana itu terhimpun dalam ajaran Islam.

idola bahkan mempunyai kekuatan spiritual. mengajar murid-muridnya hingga batas kemampuan pemahaman mereka. tidak tergiur oleh keindahan dunia dan kehormatan jabatan. keenam. memiliki guru yang waspada yang jelas silsilahnya hingga Rasulullah Saw. guru harus melakukan terlebih dahulu apa yang diajarkannya dan tidak boleh berbohong dengan apa yang disampaikannya. tawakkal. keempat. tidak 145 Imam al-Ghazali. menepati janji. ketujuh. ilmu. hlm. yakin. di mana murid sangat tergantung kepadanya. rendah hati. harus mengajarkan kepada murid yang terbelakang dengan jelas dan sesuai dengan tingkat pemahamannya yang terbatas. syukur. bukan untuk kekuasaan dan kebanggan diri. ketiga. lemah lembut. memperbaiki diri dengan riyādah dengan menyedikitkan dalam makan. Sebagaimana telah disinggung pula sebelumnya. ketentraman jiwa. sedekah. qana’ah.112 mengharapkan imbalan dan upah dari pekerjaannya selain kedekatan diri kepada Allah. guru memegang peranan penting dalam belajar atau pendidikan. 1995). serta memperbanyak melakukan shalat. tidak boleh merendahkan ilmu lain di hadapan muridnya. membaca shalawat.. Di samping itu. bahwa guru yang dikehendaki oleh Imam al-Ghazali adalah guru yang terdiri orang yang bisa membuang akhlak tercela dari dalam diri anak didik dengan tarbiyah dan menggantinya dengan akhlak yang baik. Ihya’ Ulumuddin (Beyrut: Dar al-Fiqrah. pintar (alim). dan puasa. jilid 1. jujur. bicara.145 Berdasarkan uraian di atas. kelima. tidur. kedelapan. 112 . malu. guru harus mencegah muridnya dari memiliki watak dan perilaku jahat. 76-79. berwibawa. Dalam posisi yang demikian. harus mengingatkan muridnya bahwa tujuan pendidikan adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah. seorang guru harus menjadikan akhlak-akhlak yang baik sebagai landasan perilaku kesehariannya seperti sabar. tenang. dapat dipahami bahwa guru dalam perspektif Imam al-Ghazali adalah sebagai figur sentral.

148 Ibid. sebab sukses anak adalah juga merupakan sukses orang tuanya. Ahmad Tafsir. guru bukan merupakan satu-satunya faktor penentu keberhasilan seseorang dalam belajar. Ahmad Tafsir. dan lain-lain. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Dr.148 Selanjutnya. anak didik perlu dipandang sebagai manusia yang memiliki satu kesatuan yang utuh.. namun kedua orang tua anak didiklah yang paling bertanggung jawab. Ahmad Tafsir: Dalam Islam. 2005. Kedua.146 jawab Menurut hemat penulis. pemikiran Imam al-Ghazali tentang kriteria dalam memilih guru perlu ditinjau ulang. anak didik merupakan individu yang memiliki 146 kemampuan dalam mengatasi segala bentuk persoalan yang Dr. karena kepentingan kedua orang tua.. karena orang tua ditakdirkan menjadi orang tua anaknya. Sebab.113 terburu-buru. yaitu orang tua berkepentingan terhadap kemajuan perkembangan anaknya. Pendidikan Dalam Islam. 74 Ibid. Sebagaimana yang dikatakan oleh Dr. (Bandung: Rosdakarya). 74. hlm.147 Sehingga meskipun dijelaskan arti pendidik secara umum adalah setiap orang yang bertanggung jawab atas perkembangan anak didik. Artinya bahwa. masih ada orang tua yang juga memiliki peranan penting bagi perkembangan anak didik. hlm. hlm. orang yang paling utama (penting) dan bertanggung jawab adalah orang tua (ayah dan ibu) anak didik. 75. bahwa: Pendidik dalam Islam ialah siapa saja yang bertanggung (berkemampuan) terhadap perkembangan anak didik. karena itu pula menjadi orang yang paling bertanggung jawab mendidik anaknya. Hal ini menurut Ahnad Tafsir disebabkan sekurang-kurangnya oleh dua hal: Pertama. 147 113 .

H. Implikasi dari hal ini dalam hal belajar akan menghasilkan anak didik yang memiliki bentuk pemikiran yang penuh dengan ide-ide cerdas dan mencerdaskan. sehingga suatu waktu anak mampu membimbing (menentukan) dirinya sendiri.. Cit.114 melingkupinya. guru yang tidak boleh meminta upah dalam mengajar dan bahkan niat mengajarnya adalah harus karena Allah (ikhlas). Semua anggota jasmani membutuhkan bimbingan untuk tumbuh. meskipun memang hal itu dirasa sangat berat namun itulah dasar tugas dan tanggung jawab sebagai seorang pendidik. H. Sejalan dengan hal itu Prof. tetapi didasari oleh kecintaan terhadap anak didik yang memang membutuhkan bantuan dan bimbingan dalam mewujudkankedewasaannya. 149 Prof. Dan karena itu. manusia adalah makhluk yang otonom dan merdeka.149 Dari pejelasan tersebut menguatkan bahwa dalam menjalankan tugas sebagai pendidik hendaknya menghindari meminta upah atau imbalan. Dr. Sebaliknya hendaklah berniat ikhlas lillahi ta’ala. Selanjutnya. membutuhkan bimbingan untuk berkembang sesuai iramanya masing-masing. Sebagaimana yang dikatakan oleh Drs. Hadari Nawawi juga mengatakan bahwa: Peranan sebagai pendidik bukan dijalankan karena terpaksa atau dipaksa. Hadari Nawawi. Bakat dan mental yang diwariskan orang tuanya merupakan benih yang perlu dikembangkan. tapi ia tak berdaya dan tak mampu. Demikian juga jiwanya. memiliki dua makna. orang tua yang menitipkan anak-anaknya juga harus ikhlas dalam arti menggaji guru yang mengajar anak-anaknya tersebut. baik secara fisik maupun mental. Op. hlm 110 114 . Pertama. menurut hemat penulis. guru harus mengajar dengan ikhlas karena Allah dan kedua. tanpa perasaan terpaksa ataupun dipaksa. Dr. Syaiful Bahri Djamarah: Anak yang baru lahir membawa sifat-sifat keturunan.

yang berarti maha menghendaki.150 Selain murid.. muridan yang berarti orang yang menginginkan (the willer). dan seharusnya digunakan untuk arti pelajar pada suatu madrasah.115 B. 115 . 49 151 101 Ibid. Profil Murid Dalam Perspektif Al-Ghazali 1. dijumpai pula kata al-tilmidz yang juga berasal dari bahasa Arab. Op. Istilah murid ini digunakan dalam ilmu tasawuf sebagai orang yang belajar mendalami ilmu tasawuf kepada seorang guru yang disebut syaikh.151 Kata ini dekat dengan kata madrasah. Pengertian Murid Kata murid berasal dari bahasa arab ‘arada. Perspektif Islam Tentang Pola Hubungan Guru-Murid (Studi Pemikiran Tasawuf Al-Ghazali). 49. dan menjadi salah satu sifat Allah SWT. namun dalam praktiknya tidak demikian. berasal dari kata darrasa yang berarti orang yang mempelajari sesuatu. Pengertian seperti ini dapat dimengerti karena seorang murid adalah orang yang menghendaki agar mendapatkan ilmu pengetahuan. hlm. 150 Abuddin Nata.. yuridu iradatan. namun tidak mempunyai akar kata dan berarti pelajar. Cit. Selanjutnya terdapat pula kata al-mudarris. pengalaman dan kepribadian yang baik untuk bekal hidupnya agar berbahagia di dunia dan akhirat dengan jalan belajar yang sungguh-sungguh. Kata ini digunakan untuk menunjuk kepada murid yang belajar di madrasah. keterampilan.

154 152 Ibid. yakni al-muta’allimin.. berasal dari kata allama. hlm. Bahwasannya ia adalah seseorang yang telah mencapai usia dewasa dan telah dapat bekerja dengan baik dengan menggunakan akal pikirannya. berpengetahuan. menentukan apa yang dinilainya baik. hlm. hlm. Seorang al-thalib adalah manusia yang telah memiliki kesanggupan untuk memilih jalan kehidupannya.152 Pengertian ini dapat difahami karena seorang pelajar adalah orang yang tengah menuntut ilmu pengetahuan. berasal dari kata thalaba. melainkan ditujukan kepada orang yang memiliki keahlian. yuallimu ta’liman yang berarti orang yang mencari ilmu pengetahuan153. pengalaman dan keterampilan dan pembentukan kepribadiannya untuk bekal kehidupannya di masa depan agar berbahagia dunia dan akhirat. mencari jalan dan mendahulukan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya. 50 154 Ibid.116 Kemudian istilah lain yang berkenaan dengan murid (pelajar) adalah al-thalib. sebagaimana pula sebaliknya ia bisa menilai atas sesuatu sebagai yang buruk atau tidak baik untuk ditinggalkan dan kemudian menyucikan dirinya. Ada juga istilah lainnya. 51 153 116 . Ia adalah seseorang yang sudah mampu dimintai pertanggungjawaban dalam melaksanakan aktivitas kewajiban agama yang dibebankan kepadanya sebagai fardu ‘ain. 50.. dan dapat mencari sesuatu. Ibid. thalibun yang berarti orang yang mencari sesuatu. dan tidak pula dibebankan kepadanya untuk berusaha dalam mendapatkan ilmu dan sungguh-sungguh dalam memperolehnya. yathlubu. Dalam hubungan ini beliau mengatakan: Al-Thalib adalah bukan kanak-kanak yang belum dapat berdiri sendiri. thalaban. Imam al-Ghazali sendiri lebih sering menggunakan Istilah al-thalib -yang juga banyak digunakan oleh para ahli pendidikan Islam sejak zaman klasik sampai hingga zaman sekarang-.

maka di dalam diri anak didik ada suatu daya yang dapat tumbuh dan berkembang di sepanjang usianya. 1991). Memuliakan guru dan bersikap rendah hati atau tidak takabbur. H. Merasa satu bangunan dengan murid lainnya.117 Hal ini karena anak didik memiliki potensi.Ag: Sebagai manusia yang berpotensi. Abuddin Nata. maka bagi murid beliau mengkehendaki hal-hal sebagai berikut: a.165-167. Arifin juga mengatakan: Dilihat dari segi kedudukannya. (Jakarta: Logos Wacana Ilmu. Hal ini diperjelas oleh beliau lagi yang mengatakan bahwa menuntut ilmu adalah merupakan perjuangan yang berat yang memerlukan kesungguhan yang tinggi serta bimbingan dari guru. Sebagaimana yang dikatakan oleh Drs. melainkan juga mempelajari berbagai ilmu bermanfaat lainnya dan berupaya sungguh-sungguh sehingga mencapai tujuan dari tiap-tiap ilmu tersebut. d.156 Ciri-ciri murid yang dikatakan oleh Imam al-Ghazali tersebut diatas nampaknya masih dilihat dari perspektif tasawuf beliau yang menempatkan murid sebagaimana murid tasawuf di hadapan gurunya. hlm. Ilmu Pendidikan Islam. (Jakarta: Bumi Aksara. c. Filsafat Pendidikan Islam. Syiful Bahri Djamarah. murid (anak didik) adalah makhluk yang sedang berada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan menurut fitrahnya masing-masing. Arifin. Selanjutnya sejalan dengan prinsip Imam al-Ghazali yang menyatakan bahwa menuntut ilmu pengetahuan itu sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. M. Mempelajari tidak hanya satu jenis ilmu saja. Menjauhkan diri dari mempelajari berbagai macam mazhab ataupun sesuatu yang dapat menimbulkan kekacauan dalam pikiran. b. hal. maka potensi baiknyalah yang harus ditumbuh kembangkan. 117 . Mereka memerlukan bimbingan dan pengarahan yang konsisten menuju kearah titik optimal kemampuan fitrahnya155. 1997). M. M. sehingga satu sama lain dapat menyatu dan saling menyayangi serta tolong menolong. Ciri-ciri yang diungkapkan 155 156 H. 144.

157 diantaranya adalah ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala: 157 158 Imam al-Ghazali. namun ilmu itu menolak kecuali untuk allah. Seorang muhaqqiq berkata. (Jakarta: Pustaka Amani). Bukanlah yang dimaksud kebersihan baju. Yakni. selama bathin tidak dibersihkan dari hal-hal yang keji. ilmu itu menolak terhadap kami sehingga kami tidak dapat mengetahui hakikatnya. tetapi ilmu itu adalah cahaya yang dimasukkan ke dalam hati. Maka. 11 118 . “Bukanlah ilmu itu karena banyak meriwayatkan.. melainkan hanya kami dapatkan hadist dan lafal-lafalnya. Tugas dan Kewajiban Murid menurut Al-Ghazali Selain syarat-syarat kepribadian yang harus dimiliki oleh murid sebagaimana disebutkan di atas. “Kami belajar ilmu untuk selain allah. Ibnu Mas’ud berkata. Ringkasan Ihya’ Ulumuddin.118 beliau ini untuk masa sekarang menurut hemat penulis tentunya masih perlu ditambah dengan ciri-ciri yang lebih membawa kepada kreatifitas dan kegairahan atau semangat dalam belajar. hlm. 11 Ibid. seorang murid juga harus memiliki tugas-tugas dan kewajiban tertentu yang dirinci oleh al-Ghazali sebagai berikut: 1. Mendahulukan kebersihan jiwa dari akhlak yang rendah.158 Hal ini didasarkan pada pandangan beliau bahwa ilmu adalah ibadah hati dan merupakan shalat secara rahasia dan dapat mendekatkan batin kepada Allah SWT. Hal itu menjadi 7 point. ia pun tidak menerima ilmu yang bermanfaat dalam agama dan tidak diterangi dengan cahaya ilmu. Imam al Ghazali mengatakan: najasah tidak khusus mengenai baju. tetapi di dalam hati. 2. 2007.

2006.163 Dengan penjesan diatas maka hal yang pertama harus dilakukan oleh murid (penuntut ilmu) adalah membersihkan jiwanya dengan cara membiasakan. Maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam160 sesudah tahun ini161 dan jika kamu khawatir menjadi miskin162. Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis159. (Jakarta: LDU Al-Husainy&LKAB). pada awalnya anak didik akan mempelajari kepercayaan. Maksudnya: jiwa musyrikin itu dianggap kotor. Karena pencaharian orang-orang muslim boleh jadi berkurang. hlm. Membimbing Anak Mengenal. jika dia menghendaki. 163 Dr. 147 160 159 119 . ialah kaum musyrikin itu tidak boleh masuk daerah Haram baik untuk keperluan haji dan umrah atau untuk keperluan yang lain. Maka Allah nanti akan memberimu kekayaan kepadamu dari karuniaNya.” Hal ini dapat diperkuat dengan apa yang dikatakan oleh Dr. melakukan dan meyakini hal-hal yang baik agar kemudian memudahkannya dalam menerima pelajaran (ilmu pengetahuan).119 ‰÷èt/ tΠ#tysø9$# y‰Éfó¡ϑø9$# (#θç/tø)tƒ Ÿξsù Ó§gwΥ šχθä. Karena menyekutukan Allah. 162 Karena tidak membenarkan orang musyrikin mengerjakan haji dan umrah. menurut pendapat sebagian Mufassirin yang lain. 161 maksudnya setelah tahun 9 Hijrah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. Mas’ud Haji Zadeh. Mas’ud Haji Zadeh: dalam usia dini. Maksudnya: tidak dibenarkan mengerjakan haji dan umrah. keyakinan atau keimanan secara sederhana yang untuk selanjutnya akan menemukan pandangan yang lebih luas.Ύ³ßϑø9$# $yϑΡÎ) (#þθãΖtΒ#u™ šÏ%©!$# $y㕃r'≈tƒ y y p ô ©!# χÎ) 4 ™!$x© βÎ) ÿÏ&Î#ôÒsù ÏΒ ª!$# ãΝ3‹ÏΖøóムt∃θ|¡sù \'s#øŠtã óΟçFø Åz ÷βÎ)uρ 4 #x‹≈yδ öΝÎγÏΒ$tã $ ž u ä ö ∩⊄∇∪ ÒΟŠÅ6ym íΟŠÎ=tæ Artinya: “Hai orang-orang yang beriman.

“Demikianlah kami disuruh memperlakukan para ulama dan orang-orang besar. 11-12 165 120 . dapat menyibukkan hati dan fikirannya. “Demikianlah kami disuruh memperlakukan ahli bait (keluarga) Nabi kita Saw. hlm. Imam al-Ghazali mengatakan bahwa Allah tidak menjadikan dua hati bagi seseorang di dalam rongga badannya. Dalam hal ini Imam al-Ghazali memberikan contoh: Seperti orang sakit yang gawat memberi kebebasan kepada dokter tanpa berbuat sewenang-wenang terhadapnya. Patutlah ia terus berkhidmat kepada guru. Tidak sombong dalam menuntut ilmu dan tidak membangkang kepada guru. maka ibnu abbas datang dan memegang kendalinya. hlm.120 2. Zaid berkata..” Ibnu Abbas berkata. hlm. meskipun harus jauh dari keluarga dan kampung halamannya. Op. wahai putra paman Rasulullah Saw. dan apabila hal-hal yang tidak ada hubungannhya dengan ilmu itu dilakukan. maka di khawatirkan akan hilangnya semangat dalam menuntut ilmu tersebut dan tujuannya tidak akan tercapai. Ringkasan Ihya’ Ulumuddin. 2001.”166 164 Imam al-Ghazali.Cit. Op. “Biarkan dia. Cit. Perspektif Islam Tentang Pola Hubungan Guru-Murid (Studi Pemikiran Tasawuf Al-Ghazali). 11 Abuddin Nata.” Kemudian Zaid mencium tangannya seraya berkata.165 3. dengan sesuatu dalam menuntut suatu macam obat tertentu. Op.. tiba-tiba datanglah seekor bagal (keledai) untuk dinaiki. 2007. 2007. 106 166 Imam al-Ghazali.. Hal ini diperkuat oleh Abuddin Nata yang mengatakan: Dikarenakan banyak berhubungan dengan yang lainnya dalam menuntut ilmu.Cit. Oleh karena itu dikatakan.” 164 Dari perkataan beliau tersebut seorang murid hendaknya mengorbankan apa yang dimilikinya dengan bersungguh-sungguh dan bekerja keras dalam menuntut ilmu. Mengurangi kesenangan-kesenangan duniawinya dan menjauh dari kampung halaman hingga hatinya terpusat pada ilmu. “Ilmu itu tidak memberikan sebagiannya hingga engkau memberinya seluruh milikmu. Sebagaimana diriwayatkan bahwa Zaid bin Tsabit menyalati jenazah.

hlm. seperti ibadahnya para sufi. terlebih lagi dihadapan gurunya. Ilmu itu sendiri enggan kepada orang yang sombong seperti air yang enggan mengalir ke tempat yang tinggi Sebaliknya seorang murid haruslah menjaga akhlak (etika). terhadap masalah yang belum dijelaskan oleh guru. dan semua itu dapat dicapai dengan ilmu. terutama hal-hal yang menyebabkan kemalasan dan pengangguran. Dan siapa mengunjungi kami pada akhirnya. ia pun menjadi teman. hingga sebagian mereka berkata. keragu-raguan serta kurang percaya terhadap kemampuan guru. dan jangan mendahului suatu pertanyaan. terlebih kepada gurunya sendiri. Mereka mengganti amalan sunnah dengan gerakan 167 Abuddin Nata. maka murid (sebagai “pasien” guru) hendaknya juga menerima tanpa harus membangkang. Menghindar dari mendengarkan perselisihan-perselisihan diantara ulama atau sesama manusia. Cit. Sejalan dengan hal tersebut Abuddin Nata yang mengatakan: Murid memerlukan petunjuk guru menuju keberhasilan dan menjaganya dari celaka. Pada pertama kali hatinya condong kepada segala yang disampaikan kepadanya.. Op. 2001.” Pada akhirnya mereka tidak bergerak kecuali dalam mengerjakan amalan-amalan fardhu. “Barangsiapa mengunjungi kami pertama kali. 106 121 .167 4. Imam al-Ghazali berasumsi: Hal yang seperti itu (perselisihan-perselisihan diantara ulama atau sesama manusia) dapat menimbulkan prasangka yang buruk dan juga dapat menimbulkan kebingungan. sebab guru ibarat dokter yang memberikan obat untuk kebaikan pada pasiennnya. ia pun menjadi zindiq. Para pemula tidak boleh mengikuti perbuatan-perbuatan dari orang-orang yang sudah mendalam.121 Dari ungkapan beliau diatas dapat difahami bahwa sesorang yang menuntut ilmu hendaknya tidak menombongakan dirinya kepada orang lain.

12. Mengalihkan perhatian kepada ilmu yang terpenting. 6. yaitu ilmu akhirat. Pada hal ini Imam al-Ghazali memaksudkan bahwa seorang murid janganlah berpindah atau meninggalkan suatu ilmu yang terpuji kepada cabang-cabang ataupun ilmu lainnya. padahal tingkatan ilmu antara keduanya (sufi dan murid) sangat jauh berbeda. Imam al-Ghazali mengatakan: 168 Imam al-Ghazali. mengingat bahwa berbagai ilmu itu saling berkaitan satu sama lain. hlm.122 hati dan penyaksian yang kekal. Itulah salah pesan yang disampaikan oleh Imam al-Ghazali untuk para pelajar atau penuntut ilmu. tetapi ia menekuninya hingga mengetahui maksudnya. karena dapat mempengaruhi kepercayaannya atas suatu ilmu. Dapat pula menimbulkan keraguan. 122 . Tidak menolak suatu bidang ilmu yang terpuji. 5. kecuali ia telah memahami ilmu sebelumnya tersebut.168 Disini terlihat bahwa beliau tidak menghendaki seorang yang masih menuntut ilmu (pelajar) terlibat mendengarkan persilisihan diantara para ulama (cendikiawan). Orang yang lalai menganggapnya pengangguran dan kemalasan.. Ibid. Imam al-Ghazali mengatakan: Seorang pelajar hendaknya tidak berpindah dari suatu ilmu yang terpuji kepada cabang-cabangnya kecuali setelah ia memahami pelajaran sebelumnya. terlebih apabila murid meyakini tata cara ibadahnya para sufi yang bisa mereka anggap sebagai suatu kemalasan. sebab mengingat bahwa berbagai macam ilmu itu satu sama lain saling berkaitan dan berhubungan.

Inilah kedudukan yang mencapai tingkat keimanan Abu Bakar ra. 2001. 169 Imam al-Ghazali.. Kalau tidak.123 Jika umur membantunya. Ibid. “Andaikata keimanan penduduk bumi ditimbang dengan keimanan Abu Bakar ra.170 Sejalan dengan hal itu Abuddin Nata juga mengatakan: Seorang pelajar jangan hanya menenggelamkan diri pada satu bidang ilmu saja.169 Imam al-Ghazali memaksudkan pernyataan tersebut yaitu mengenai muamalat dan mukasyafah.171 Dari penjelasan-penjelasan diatas dapatlah ditarik kesimpulan bahwa hendaknya para penuntut ilmu (murid). Muamalat dapat mendorong kepada mukasyafah sedangkan mukasyafah adalah ma’rifatullah (mengenal Allah). melainkan harus mengusai ilmu pendukung lainnya. baru mendalami bidang ilmu tertentu. ia memilih yang paling penting dan memilih yang paling penting dapat dilakukan setelah mengetahui seluruhnya. ia pun menyempurnakannya (ilmu yang dipelajarinya). Ibid. niscaya unggullah keimanan Abu Bakar. Sebagaimana tersebut dalam hadist.” Hal itu disebabkan rahasia yang terdapat di dalam dadanya. 13. 170 123 .. dan tentu memulai dengan ilmu yang paling penting. 13 171 Abuddin Nata. 107. hlm.. sehingga ilmu yang paling penting tersebut tentunya dapat diprioritaskan terlebih dahulu. Itu adalah cahaya yang dimasukkan Allah Ta’ala di dalam hati yang bersih dengan ibadah dan mujahadah. harus dapat memilah mana ilmu yang paling dasar dan penting bagi kehidupan. tidak hanya didunia namun juga diakhirat. Ibid. setelah itu baru kemudian ilmu pendukung lainnya. bukan karena pengajuan bukti-bukti dan hujjah-hujjah. hlm.

yang hanya mengabdi kepada Allah Swt. menghiasi diri dengan keutamaan dan akhlak yang terpuji. Ibid. harta dan pangkat.. Cit. Hendaknya tujuan pelajar dalam masa sekarang ialah menghiasi batinnya dengan sifat yang menyampaikannya kepada Allah Ta’ala.dan kepada derajat tertinggi diantara malaikat muqarrabin (yang dekat dengan Allah).124 sebab jika kita sadari sesungguhnya umur atau usia yang tersedia yang kita miliki tidaklah cukup untuk menguasai semua bidang ilmu. menjadi hamba Allah yang baik lagi benar. Imam al-Ghazali mengatakan: Hendaknya tujuan pelajar dalam masa sekarang ialah menghiasi batinnya dengan sifat yang menyampaikannya kepada Allah Ta’ala. Lihat Ahmad Tafsir. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam. Hal itu tidak akan tercapai kecuali dengan membersihkan jiwa. 14. hlm46 124 . dengan demikian akan memudahkannya mendekatkan diri kepada Sang pencipta. Oleh karenanya tujuan dari belajar pada hakikatnya adalah 172 173 Imam al-Ghazali. sebagaimana yang dikutip Ahmad Tafsir dari Abdul Fattah Jalal yang mengatakan: Tujuan umum pendidikan Islam ialah terwujudnya manusia sebagai hamba Allah. Dan dengan ilmu itu ia tidak mengharapkan kepemimpinan. Dengan ilmu itu ia tidak mengharapkan kepemimpinan. Inilah yang kemudian menjadi tujuan universal dari pendidikan Islam. hlm.173 Oleh sebab itu sebelum murid memulai sesuatu hendaknya ia terlebih dahulu memperhatikan masalah bathin yang merupakan pokok penting sekaligus asas perbuatan akhlak. Op. 7.172 Hal ini didasarkan Iman al-Ghazali pada tujuan belajar untuk memperoleh kehidupan yang baik di akhirat. harta dan pangkat (kedudukan).. 2005.

175 Dengan demikian seorang murid haruslah bersih hatinya dari kotoran dan dosa agar dapat dengan mudah dan benar dalam menangkap pelajaran..125 untuk mencapai kebaikan hidup kekal di akhirat. 26 Abuddin Nata. Akhlak Murid Terhadap Guru menurut Al-Ghazali Imam al-Ghazali mengatakan: Hendaknya (murid) tidak mendebat dan banyak argumentasi meski guru keliru. 3. jika segumpal daging tersebut sehat. Karena dengan cara demikian akan memudahkan dalam tercapainya cita174 Ibid. sebagaimana juga yang dijelaskan Abuddin Nata. maka rusak pulalah seluruh awalnya (perbuatannya). tidak memperbanyak shalat sunnah di hadapnnya. tidak mengingkari apa yang ia dengar dan terima darinya. Perspektif Islam Tentang Pola Hubungan Guru Murid.174 Dalam kitab Ilmu wa Adab al-Alim wa al-Muta’allim karangan Abdullah Badran. baik dalam ucapan maupun tindakan. yaitu sikap murid sebagai pribadi dan juga sebagai penuntut ilmu. Ingatlah bahwa segumpal daging itu adalah hati”176 Selanjutnya seorang murid juga harus bersikap rendah hati terhadap ilmu dan guru. agar ia tidak dicap sebagai hipokrit. dan apabila segumpal daging itu rusak.. tidak menggelar sajadah dihadapannya kecuali pada waktu shalat. 102 176 Imam Nawawi. dan mengerjakan apa saja yang diperintahkan oleh gurunya sebatas kemampuannya. seperti mengejar atau memperoleh harta dan kekuasaan. maka sehatlah seluruh perbuatannya. sehingga bukan tujuan duniawi semata. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW: ‫ا وه ا‬ ‫ت‬ ‫واذا‬ ‫اذا‬ ‫ا‬ ‫ا ان‬ Artinya: “Ingatlah bahwa dalam jasad terdapat segumpal daging. Op. Riyadu as-Shalihin 175 125 . hlm. Cit. Sikap atau akhlak murid hampir sama dengan sikap guru. 2001. disebutkan bahwa. hlm. menghafal dan mengamalkannya.

1993. Dr. Sebagaimana Prof. menurut Imam alGhazali sendiri. Dr. tidak menunjukkan sikap yang dapat memancing ketidaksenangan atau kemarahan guru.126 cita. juga hendaknya jangan menunjukkan perbuatan yang buruk. H. Selanjutnya pandai dalam membagi waktu. H. tidak menggelar sajadah dihadapannya kecuali pada waktu shalat. Ia juga harus menjaga keridhaan sekaligus memuliakan gurunya.177 Akhlak yang harus dimiliki oleh murid (anak didik). (Surabaya: Al-Ikhlas). sebagaimana disebutkan sebelumnya diatas adalah dengan tidak mendebat dan banyak argumentasi meskipun guru sudah jelas-jelas keliru. 120 126 . bahkan sebisa mungkin mencegah orang lain dari menggunjing gurunya. Pendidikan Dalam Islam. memahami tata karma dalam majelis ilmu. dengan tidak menggunjing gurunya. tidak memperbanyak shalat sunnah di hadapnnya. hlm. Hadari Nawawi mengatakan: Tujuan umum pendidikan secara universal adalah mewujudkan kedewasaan subyek (anak) didik itu sendiri. dan mengerjakan apa saja yang diperintahkan oleh gurunya sebatas kemampuannya. Hadari Nawawi. giat belajar serta sabar dalam menuntut ilmu. seperti terlihat pada 177 Prof. baik dalam ucapan maupun tindakan. Jika diperhatikan dengan seksama. berupaya dekat dan menyenangkan hati sang guru. agar ia tidak dicap sebagai hipokrit. tampak bahwa pandangan Imam alGhazali terhadap akhlak pelajar juga bersifat sufistik. tidak mengingkari apa yang ia dengar dan terima darinya. Sehingga ia dapat mencapai dari pada tujuan pendidikan yang dilakukannya.

Namun Imam al-Ghazali kurang menekankan kepada pelajar untuk terlalu mematuhi syaikh atau guru secara berlebihan sebagaimana yang biasa terjadi dalam dunia tasawuf. ibid. Op. 108.179 Sehingga terlihat Imam al-Ghazali masih saja melihat murid sebagai murid tasawuf di depan gurunya. integrated. anak didik sudah bukan lagi merupakan obyek yang pasif yang bisa diisi oleh apa dan kapan saja.. Cit. yang menempatkan syaikh sederajat dengan Nabi bahkan melampauinya. Drs. Syaiful Bahri Djamarah: Anak didik adalah setiap orang yang menerima pengaruh dari seseorang atau sekelompok orang yang menjalankan kegiatan pendidikan. hlm. 51 127 . Imam al-Ghazali memposisikan murid sebagai obyek yang bisa diisi oleh apa dan kapan saja. Ibnu Jama’ah misalnya mengatakan: Murid harus menaati syaikh.178 Dalam hal ini. Guru dan Anak Didik. Akan tetapi. Syaiful Bahri Djamarah. hlm. Selain itu ilmu tersebut dipelajari secara sistematik. mengagungkan. menempuh cara-cara yang ditempuh syaikh. Hal tersebut sangat membahayakan dan bahkan akan membunuh terhadap karakter dan kreatifitas pola pikir anak didik.127 keharusan berniat mencari ilmu semata-mata untuk beribadah atau dekat dengan Allah SWT. 2005. Sebagaimana yang dikatakan Drs. sopan dalam majlis ilmu. bersikap zuhud dan memuliakan ilmu akhirat. dimulai dari yang umum (penting) kemudian yang khusus (lebih spesifik). anak didik adalah pribadi-pribadi yang 178 179 Lihat Abuddin Nata. Di masa sekarang.

128 mempunyai peranan sebagai subyek yang aktif dalam proses pembelajaran. 128 . Sehingga. menurut hemat penulis. murid dalam perspektif Imam al-Ghazali perlu dikembangkan kepada yang lebih membawa kreatifitas dan gairah dalam belajar.

murah hati dan beraklak terpuji lainnya. mensucikan dan menjernihkan serta membimbing anak didiknya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tidak mewajibkan kepada para pelajar agar mengikuti guru tertentu dan kecenderungannya. sopan.129 BAB V PENUTUP A. dapat diambil kesimpulan bahwa menurut Imam al-Ghazali sebagai berikut: 1. Kesimpulan Dari hasil penelitian yang dilakukan penulis. Tidak menyembunyikan ilmu yang dimilikinya sedikitpun. f). e). Yang memiliki Syarat-syarat kepribadian sebagai berikut: a). dan memahami 129 129 . seperti berjiwa halus. Tidak menuntut upah dari murid-muridnya. Menjauhi akhlak yang tercela dengan cara menghindarinya sedapat mungkin. Profil guru menurut Imam al-Ghazali yaitu seseorang yang bertugas dan bertanggung jawab atas pendidikan dan pengajaran. dan harus memberikan contoh yang baik. dan hendaklah seorang guru mendorong muridnya mencari pula ilmu dari yang lain dengan meninggalkan kefanatikan kepada salah seorang guru sedang yang lain tidak. d). Menurutnya. b). serta bertugas untuk menyempurnakan. Memperlakukan murid sesuai dengan kesanggupannya. lapang dada. Bersikap lembut dan kasih sayang kepada anak didiknya dan harus mencintai muridnya seperti mencintai anaknya sendiri. guru adalah seseorang yang bertanggung jawab atas pendidikan dan pengajaran. c).

130

potensi yang dimiliki anak didik Seorang guru harus mamahami minat, bakat dan jiwa anak didiknya, sehingga disamping tidak akan salah dalam mendidik, juga akan terjalin hubungan yang akrab dan baik antara guru dengan anak didiknya. g). Kerja sama dengan para pelajar di dalam membahas dan menjelaskan suatu pelajaran (ilmu pengetahuan). h). Guru harus

mengingatkan muridnya, agar tujuannya dalam menuntut ilmu bukan untuk kebanggaan diri atau mencari keuntungan pribadi, tapi untuk mendekatkan diri kepada Allah. Guru juga harus mendorong muridnya agar mencari ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu yang membawa pada kebahagiaan dunia dan akhirat. i). Guru harus dapat menanamkan keimanan ke dalam pribadi anak didiknya, sehingga akal pikiran anak didik tersebut akan dijiwai oleh keimanan itu. Seorang guru harus memegang dasar-dasar agama yang prinsip dan berusaha merealisirnya, diantaranya adalah bersikap adil. Kemudian menurut beliau, guru memiliki tugas dan tangung jawab sebagai berikut: a). Memberikan kasih sayang kepada anak didik. b). Mengikuti jejak Rasulallah dalam tugas dan kewajibannya. c). Menjadi teladan yang baik bagi anak didik. d). Sebagai Pengarah dan Pembimbing. 2. Profil murid menurut Imam Al-Ghazali yaitu seseorang yang telah mencapai usia dewasa dan telah dapat bekerja dengan baik dengan menggunakan akal pikirannya. Ia adalah seseorang yang sudah mampu dimintai

pertanggungjawaban dalam melaksanakan aktivitas kewajiban agama yang dibebankan kepadanya sebagai fardu ‘ain. Seorang al-thalib adalah manusia

130

131

yang telah memiliki kesanggupan untuk memilih jalan kehidupannya, menentukan apa yang dinilainya baik, dan tidak pula dibebankan kepadanya untuk berusaha dalam mendapatkan ilmu dan sungguh-sungguh dalam memperolehnya, sebagaimana pula sebaliknya ia bisa menilai atas sesuatu sebagai yang buruk atau tidak baik untuk ditinggalkan dan kemudian menyucikan dirinya.. Kemudian menurut beliau, murid memiliki tugas dan kewajiban sebagai berikut: a). Mendahulukan kebersihan jiwa dari akhlak yang rendah. b). Mengurangi kesenangan-kesenangan duniawinya dan menjauh dari kampung halaman hingga hatinya terpusat pada ilmu. c). Tidak sombong dalam menuntut ilmu dan tidak membangkang kepada guru, tetapi memberinya kebebasan. d). Menghindar dari mendengarkan perselisihanperselisihan diantara sesame manusia, karena hal itu menimbulkan kebingungan. e). Tidak menolak suatu bidang ilmu yang terpuji, tetapi ia menekuninya hingga mengetahui maksudnya. f). Mengalihkan perhatian kepada ilmu yang terpenting, yaitu ilmu akhirat. g). Hendaknya tujuan pelajar dalam masa sekarang ialah menghiasi batinnya dengan sifat yang menyampaikannya kepada Allah Ta’ala dan kepada derajat tertinggi diantara malaikat muqarrabin (yang dekat dengan Allah). Dan dengan ilmu itu ia tidak mengharapkan kepemimpinan, harta dan pangkat (kedudukan). B. Saran-saran 1. Studi pemikiran mengenai pendidikan Islam dari Imam al-Ghazali pada khususnya dan sarjana-sarjana muslim pada umumnya masih perlu terus

131

132

dilanjutkan, mengingat masih banyak problema pendidikan yang krusial yang sangat perlu untuk segera diatasi, salah satunya bagaimana kurikulum pendidikan yang baik dalam ajaran Islam?, sebab kurikulum umum yang diterapkan saat ini dirasa belum dapat membawa pada tujuan dari hakikat pendidikan itu sendiri. Penulis disini hanya mengungkapkan sebagian unsur dari pendidikan tersebut yakni yang terfokus tentang guru dan murid. Dalam literatur-literatur keIslaman ternyata banyak sekali pemikiran kependidikan yang dimajukan para filosof Islam dan para ulama yang hingga saat ini belum digali sepenuhnya. Untuk itu menurut hemat penulis, perlu sekiranya ada mata kuliah studi naskah tentang sejarah pemikiran pendidikan dari para filosof, ilmuan dan ulama Islam, sehingga dapat mempermudah nantinya dalam melakukan kajian atau penelitian yang berhubungan dengan hal tersebut, terutama pada mahasiswa program pascasarjana sebagai calon “next generation” pemikir dan mujtahid Islam dimasa yang akan datang. 2. Profil guru dan murid yang bernuansa sufistik atau tasawuf dari Imam alGhazali maupun sarjana muslim lainnya perlu diterapkan, namun tentu dibarengi dengan penyesuaian-penyesuaian yang ada dimasa sekarang, terutama dalam membentuk sikap mental kepribadian keagamaan dan akhlak yang mulia yang merupakan inti tujuan dari pendidikan Islam. Hal ini bagi penulis, menilai sangatlah penting mengingat sebagian besar pelajar dan juga para pendidik yang akhir-akhir ini semakin menurun adab dan moralitasnya, sehingga semakin terasa dampaknya bagi kehidupan bersosial, dan

132

3.133 kekhawatiran dalam menyiapkan kader “khalifatu fil ard” pemimpin bangsa dimasa depan. yaitu bahwa sebagai sufi. Imam al-Ghazali tidak anti terhadap logika. Namun tentu berbagai pemikiran dan pandangan dari luar yang kita terima haruslah disesuaikan dengan syari’at Islam. filsafat dan ilmu pengetahuan serta pendapat lainnya yang baik. Imam al-Ghazali ternyata amat bersikap terbuka dalam menerima paham dari kalangan luar sepanjang tidak bertentangan dengan alQur’an dan as-Sunnah. dan digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat dalam kehidupan sosial maupun keberagamaanya. Perlu adanya klarifikasi bagi para pengikut Imam al-Ghazali. 133 .

1979. Jakarta: Pustaka Amani. Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif (suatu pendekatan teoritis psiklogis). ____________. Bandung: Pustaka Hidayah. Skripsi. Ihya’ Ulumuddin. 2005. Gain dan Djohar Bahry. Fakultas Tarbiyah UIN Malang. Ismail Yakub. Jakarta: PT. Al-Quran dan Terjemahnya. Jakarta: rineka cipta. terj. Terj. Riwayat Hidup Imam al-Ghazali.. Kamus Ilmiah Populer. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya DEPAG RI. Hasan. 1994. Jakarta: Bulan Bintang.DAFTAR PUSTAKA Al-Ghazali. Terj. Bustami A. ____________. Syaiful Bahri.V. Dahlan Al-Banny. 1980. Faizan. Al-Zarnuji. Perbandingan Pendidikan Islam. Masyhur Abadi dan Husein Aziz. Semarang: CV. ____________. Dasar-Dasar Pokok Pendidikan. Menuju Labuhan Akhirat. 1994. Nukilan Pemikiran Islam Klasik (Gagasan Pendidikan Al-Ghazali). 1979. Marimba. Jalan Mudah Menggapai Hidayah. Ismail Ya’kub. Fatihatul Ulum (Buat Pecinta Ilmu). Partanto. Fatchurohmah. (Semarang: Toha Putra) Djamarah. 1995. Terj. Ma’ruf Asrori. ____________. 2002. Ibrahim bin Isma’il. Menghidupkan Kembali Ilmu-ilmu Agama. Siti. Muhammmad. Surabaya: Bulan Bintang Athiyah al-Abrasyi. Zaid Husein Al-Hamid. “Sosok Guru Menurut al-Ghazali dan Zakiah Daradjat”. Surabaya: Pustaka Progressif.t Asari. Surabaya: al-Hidayah. Ahmad. Burhanuddin. D. Ali. A. Faizan. 2006. 1984. Rojaya. Arifin. 2008. Bandung: Al-Ma’arif. Rineka Cipta. Surabaya: Pustaka Progressif. Terj. Al-Jumbulati Abdul Futuh at-Tuwaanisi. Semarang: C. Syarh. 1999. 40 prinsip agama. Terj. Surabaya: Arkola. 2002. Pius dan M. 1975. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam.. Zainal Abidin. Ta’līm al-Muta’allim Tarīq al-Ta’allum. M. ____________. Ringkasan Ihya’ Ulumuddin. t. Cet VI. Ahmad. 134 . Terj. terj.

135 . Jakarta: Bina Aksara. Sistem Pendidikan Versi Al-Ghazali. 2001. Filsafat Pendidikan Islam: Konsep dan Perkembangannya. Cet. Jakarta: Penerbit Pustaka Al-Husana. Jalaluddin dan Usman Said. Bandung: CV. 1996. Hasan Sulaiman. 1988. 1979. Semarang: Dina Utama. Bandung: Remaja Rosda Karya. Fathiyah. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Pendidikan Dalam Islam. Jakarta: PT. Filsafat Pendidikan Islam. 2004. Yogyakarta: Pustaka Pesantren. Ihsan. Fathiyyah. XIX. 1978. Kamus Inggris-Indonesia. Sutrisno. Hadari. 1989. Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM. Semarang: Dina Utama. Moleong. Manusia dan Pendidikan. Abuddin. Pustaka Setia. Zainuddin. Surabaya: Al-Ikhlas. terj. Nizar. Lexy. Jakarta:Ciputat Press. Jakarta: Pustaka Al-Husna. Echols. Jakarta: Bulan Bintang. Nasution. Samsul. Nata. Metodologi Penelitian Kualitatif. ____________. Jakarta: Bulan Bintang. 2002. Nawawi. 1993. Harun. M. M. 1987. ____________. M. 1980. Filsafat Pendidikan Islam. 1995. Langgulung. Asas-Asas Pendidikan Islam. RajaGrafindo Persada J. Hamdani dan Fuad Ihsan.. Karomah Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Metodologi Research. 1987. Hasan Sulaiman. Jakarta: Gramedia. Arifin. Filsafat Pendidikan Islam. Hasan. 1997. ____________. 1980. Filsafat Pendidikan Islam.Hadi. 2002. Beberapa Pemikiran Tentang Pendidikan Islam. 2001. Pendekatan Historis. 1993. Aliran-aliran dalam Pendidikan: Studi tentang Aliran Pendidikan Menurut al-Ghazali. Perspektif Islam Tentang Pola Hubungan Guru dan Murid. Bandung: AlMa’araif. Said Agil Husin Al-Munawar dan Hadri Hasan. Jakarta: Logos Wacana Ilmu. Omar. Suatu Analisa Psikologi dan Pendidikan. Teoritis dan Praktis. Falsafah Pendidikan Islam. Filsafat dan Mistisisme dalam Islam. Muhammad Al-Thoumy Syaibani. John dan Hasan Shadily.

Dasar-Dasar Kependidikan Islam. Ahmad. Syaodih Sukmadinata. Tafsir. Jakarta: Obor Indonesia 2003. Sejarah Peradaban Islam. Undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 Tentang SISDIKNAS. Dahlan. Fakultas Terbiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Malang. Muhibbin 1999. dan Lilis Setiawati. Zed. . Rusdianto. Jakarta: Balai Pustaka. 1996. Seluk Beluk Pendidikan dari Al-Ghazali. 1984. 2005. Suatu Pengantar Ilmu Pendidikan Islam. 1988. Pendekatan Dalam Proses Belajar Perspektif Imam al-Ghazali (Kajian Kitab Ayyuhā al-Walad fī Nasīhati al-Muta‘allimīn wa Maw‘izatihim Liya’lamū wa Yumayyizū ‘Ilman Nāfi‘an min Gayrihi)”. Malang Tim Dosen IAIN Sunan Ampel-Malang. Prinsip-Prinsip Dan Metode Pendidikan Islam. Yogyakarta: Andi Offset. Yatim. Psikologi Belajar. Syarkowi. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara. Syah. 1993. Ilmu Pendidikan Islam. 136 . 2009. Fakultas Tarbiyah UIN Malang. Bandung: remaja rosdakarya. Al-Ghazali dan Pemikiran Pendidikannya. ________. 1993. 1997.Pedoman Penulisan Skripsi. Proses Belajar Mengajar di Perguruan Tinggi. 2008. 2003. Sumadi. An-Nahlawi. Skripsi. Badri. WJS. Teori dan Praktek. 2006. Bandung: Remaja Rosdakarya. Yogyakarta: Pustaka Pesantren. 1992. 1991. Jakarta: Logos Wacana Ilmu. Bandung: CV. Bandung: Remaja Rosdakarya. Tamrin. Bandung: Citra Umbara. Uzer Usman. Nana. Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Diponegoro. Abdurrahman. Poerwadarmita. Jakarta: Rajawali Pers. Fakultas Tarbiyah UIN Malang. “Reorientasi Pendidikan Islam (ke Arah Aktualisasi Pemikiran Pendidikan al-Ghazali dalam Konteks Masa Kini)”. 1991. Zainuddin. Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar. Pengembangan Kurikulum. Metode Penelitian Kepustakaan. Skripsi. Suryabrata. Moh. Surabaya: Karya Abditama. Mestika. 1989.

Dr.02 – 2009 14 – 02 – 2009 23 – 02 . II. II.Bab I. Nama 2.2009 30 – 03 .Revisi Bab I. IV . 7 April 2009 Mengetahui.Persetujuan proposal skripsi .2009 07 – 04 . M.DEPARTEMEN AGAMA UNVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG FAKULTAS TARBIYAH Jl. perbaikan judul .Bab V . Judul No 1 2 3 4 5 6 7 8 Tanggal 10 .2009 06 – 04 . & V Tanda Tangan Malang. IV dan ACC . Djunaidi Ghony NIP.2009 02 – 03 . Pembimbing 4.Revisi Bab III. NIM/Jurusan 3.M.2009 : Yanuar Hadi : 05110023/Pendidikan Agama Islam : Drs.150 042 031 137 .Bab III. . H. Pd.Persetujuan skripsi dan ACC keseluruhan Bab I. III. II dan ACC . Gajayana 50 Malang Telp.I : Profil Guru dan Murid Dalam Perspektif Al-Ghazali Hal yang dikonsultasikan . Padil. IV. H.Proposal skripsi.2009 15 – 03 . Dekan Prof. (0341) 551354 Fax (0341) 572533 BUKTI KONSULTASI 1. Moh.

I.Ts. Serdang Madya. OSIS (MAN-Wakil Ketua Bidang Seni&Da’wah). 6. Kec. UKM (Campus-Anggota). Sei Sijenggi. 5. Riwayat Pendidikan : 1. Lubuk Pakam 5. Kab. OSIS (MTs-Bidang Olah Raga) 3.N. Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang. 4.2002-2005 : M. Al-Washliyah Perbaungan 4. Medan. FK3 (Campus-Anggota) Perbaungan. 10 Januari 1987 Alamat : Simpang Psr II.A. Bedagai. Kota Sumatera 138 . Pramuka (SD-Anggota).1993-1999 : SDN Sei Sijenggi 105367 3.2005-2009 : Fakultas Tarbiyah. LDK (Campus-Anggota).1993-1998 : M.Daftar Riwayat Hidup (Biografi) Nama NIM : Yanuar Hadi : 05110023 Tempat/Tanggal Lahir: Medan. Jurusan Pendidikan Agama Islam. Al-Washliyah Sei Sijenggi 2.1999-2002 : M. Pengalaman Organisasi: 1. 2. Utara.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful