BUDIDAYA TANAMAN KAKAO

Kakao merupakan salah satu komoditas yang sesuai untuk perkebunan rakyat, karena tanaman ini dapat berbunga dan berbuah sepanjang tahun, sehingga dapat menjadi sumber pendapatan harian atau mingguan bagi pekebun. Tanaman Kakao (Theobroma cacao)merupakan komoditi Perkebunan Primadona, hal ini tergambar dari banyaknya permintaan bibit Kakao yang bermutu dari petani/kelompok tani. Hal ini didukung oleh banyak potensi lahan yang cocok secara ekologis untuk tanaman ini disamping harga yang cukup stabil dan baik sehingga dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani/masyarakat pertanian. Dalam usaha tani Kakao membutuhkan teknik budidaya yang baik dan benar agar memperoleh produksi yang optimal, juga memperhatikan kondisi lingkungan dan agroklimat di lokasi pembukaan kebun kakao harus sesuai dengan kebutuhan tanaman kakao. Syarat Tumbuh Tanaman Kakao Tanaman kakao baik ditanaman pada daerah dengan ketinggian dari muka laut 0 – 600 meter dpl, Curah Hujan 1250 – 3000 mm, Suhu 25 – 300C, Kelembaban Udara 70 – 80 %, Kemiringan 0 – 400, pH tanah 5 – 8 dan Intensitas penyinaran 70 – 80 %.

Sisip tanaman yang rusak dan mati 3. Pemeliharaan Tanaman Kakao 1. Tinggi tanaman tidak lebih dari 4 m Hama Penyakit 1. cabang menggantung. TSP. Cabang utama (Jourget) dipertahankan 3 buah 2. Gunakan pupuk organik (kompos dan pupuk kandang) dan pupuk buatan (Urea. Lakukan penyiangan 1 x 1 bulan untuk tanaman muda dan 1 x 3 bln untuk tanaman produksi 2. ICCRI 02. Buang tunas air. Penggerek Buah Kakao (Conopomorpha spp) a) Menyerang buah kecil dan muda b) Hidup dalah buah dan memakan daging buah c) Buah masak lebih awal dan belang-belang jingga d) Biji hitam dan melekat satu sama lain Pengendalian . KCl atau NPK) Pemangkasan Tanaman Kakao dan Penaung 1.Klon Anjuran : ICCRI 01. DR1. ICS 60 Umur bibit 5 – 8 bln. 2 ICS 13. cabang sakit dan tidak berproduksi lagi (tua) 3.

dariHIJAU KUNING. Pengolahan Kakao 1.Kultur Teknis : Mengatur kelembaban melalui pemangkasan. Panen dan Pasca Penen 1.PsPSP (Panen sering. .Mekanis : Memetik buah yang busuk lalu dikuburkan. ada juga tengah buah. Panenlah buah yang sudah masak/sudah terjadi perubahan warna50–60%. b) Serangan lanjut seluruh buah menjadi hitam. Pemangkasan.. Sanitasi. . Pemeraman Buah (5-7) hari 3. 2. Pemecahan Buah 4.Rampasan (panen besar untuk memutus siklus) 2. Penyakit Busuk Buah (Cendawan Phitopthora Palmivora) a) Buah menjadi coklat-kehitaman mulai dari ujung buah atau pangkal buah dekat tangkai.Sarungisasi . MERAH JINGGA.Karantina benih/bibit . Perendaman (3 jam) dan Pencucian (hingga 1/2 bersih) . Gunakan benda tajam. Pemilihan buah kakao masak 2. Fermentasi (4-6) hari 5. tanpa merusak kulit batang dan buah jangan sampai terluka. Pengendalian : . tangkai buah dipotong dekat bantalan buah.Kimia : Penyemprotan dengan fungisida. Pemupukan) .

com/agromania@yahoogroups.6. Kakao mempunyai nilai jual yang tinggi apabila kita mengolahnya menjadi coklat.com/2008/10/budi-daya-tanamankakao. Kita dapat mengemas cokelat tersebut dengan berbagai bentuk yang menarik.com/msg00037. karena tidak mungkin kita langsung memakan kakao itu tanpa diolah terlebih dahulu.html http://pertanian-centre. sehingga orang-orang tertarik untuk membelinya.blogspot. Daftar Pustaka http://www. Sortasi Biji 8.mail-archive. Penyimpanan dan Pengemasan.html .Selain itu kita juga bisa mengekspor biji kakao ini ke berbagai negara sehingga dapat menjadi salah satu devisa bagi negara Indonesia. Pengeringan (s/d KA 8%) 7.

peluang melakukan diversifikasi horisontal cukup luas karena tanaman ini toleran terhadap penaungan. usaha tani tumpang sari berarti meminimalkan risiko dan memaksimalkan keuntungan. dengan pola ini distribusi tenaga kerja dapat lebih baik sehingga sangat berguna untuk daerah yang padat tanaga. Pola Tanam dan Tumpang Sari Usaha tani kakao selalu menghadapi risiko kegagalan panen akibat serangan hama dan penyakit serta kondisi musim yang tidak mendukung produksi. Dengan kata lain. Konsekuensinya adalah pekebunan kakao menyesuaikan penggunaan faktor input pada tingkat yang optimal. serta modal untuk memberi sarana produksi juga terbatas. Padahal tingkatan ini berisiko menurunkan kesehatan tanaman dan tingkat produksi. air. Tumpang sari menjamin berhasilnya penanaman menghadapi iklim yang tidak menentu. serta fluktuasi harga. Pemakaian pohon naungan yang produktif serta tanaman sela yang tepat merupakan bentuk diversifikasi yang sebaiknya dikembangkan. serangan hama dan penyakit. Fluktuasi harga biji juga kadang-kadang menyebabkan pekebunan kaka menderita kerugian besar. Kompetisi akan lebih para jika salah satu jenis tanaman mengeluarkan zat beracun atau sebagai inang hama dan . dan unsur hara. Risiko kegagalan usaha tersebut dapat ditekan dengan menerapkan diversifikasi (penganekaragaman) tanaman. Selain itu.1. suatu saat tidak bisa diimbangi oleh peningkatan harga jual produk. Satu-satunya cara meningkatkan produktivitas di lahan kering adalah dengan tumpang sari (intercropping). Interaksi ini sering disebut dengan konpetisi (persaingan). Antar-individu tanaman dan antar jenis tanaman yang diusahakan secara tumpang sari terjadi interaksi dalam mencari faktor tumbuh cahaya. Dalam budi daya kakao. Laju peningkatan faktor input yang pelan tetapi pasti. luas lahan pertanian terbatas.

Usaha Pertanian Prosepek bagi Pekebun / Petani Kakao / Coklat : Saat ini harga kakao dunia masih tinggi sehingga petani dan perkebunan dapat memanfaatkan harga yang tinggi ini dengan meningkatkan pemeliharaan tanaman kakaonya sehingga tingkat produktivitasnya meningkat. 2010 in Usaha Perdagangan. Pada tahun 2001 harga ditingkat petani hanya sepertiga harga ditingkat eksportir. cocoa pasta. pemilihan jenis tanaman yang diusahakan dalam tumpang sari merupakan langkah awal yang sangat penting. 2006) Prospek Jangka Pendek Industri Kakao / Coklat Apr. Prospek Bagi Industri Pengolahan : Dengan harga biji kakao yang tinggi industri pengolahan kakao kesulitan mendapat bahan baku. Untuk itu diperlukan penggunaan pupuk dan pembasmi hama secara intensif. Maka dalam jangka pendek industri pengolahan akan menghadapi kesulitan dalam mempertahankan kelangsungan produksinya.penyakit. Selisih harga ditingkat petani dan ditingkat eksportir saat ini membaik karena para eksportir kesulitan pasok. (Sumber : Panduan Lengkap Budidaya Tanaman Kakao. Usaha Perkebunan. Industri pengolahan mempunyai peluang untuk memanfaatkan Rupiah yang lebih kuat karena bisa bersaing dengan eksportir asing dalam memperoleh biji kakao. padahal permintaan pasar untuk kakao olahan ini tinggi. Untuk itu industri pengolahan kakao harus bisa mendapatkan dana perbankan yang cukup untuk membiayai pembelian bahan baku biji kakao dari pengumpul atau eksportir lokal. Dengan demikian mereka akan berpaling kepada industri pengolahan kakao lokal sehingga industri pengolahan kakao kembali bisa memiliki prospek untuk pasar lokal. Selama ini industri makanan dari coklat mengimpor kakao olahan (Cocoa butter. Harga dalam jangka pendek masih akan tetap tinggi karena negara pemasok utama kakao masih kesulitan meningkatkan kembali produksinya.Keragaman penyebaran serta aktivitas sistem perakaran juga menjadi penyebab kompetisi. sekarang sudah meningkat menjadi lebih dari setengah harga ditingkat eksportir. . Akibat menguatnya nilai tukar Rupiah sejak tahun 2002 maka industri makanan olahan dari coklat yang selama ini mengimpor cocoa powder akan menghadapi kesulitan karena harganya naik. Dengan begitu. Memperhatikan faktor penyebab kompetisi dan untuk menghindari dampak negarif yang ditimbulkannya. persaingan tersebut sangat kompleks dan merupakan kumpulan dari semua proses yang mengakibatkan tidak meratanya penyebaran faktor tumbuh antar-individu tanaman.21. cocoa powder) untuk kebutuhan industrinya karena lebih mudah mendapatkannya dari dalam negeri.

Kakao merupakan salah komoditas perkebunan yang sesuai untuk perkebunan rakyat. seperti kelapa sawit dan karet. SP. sehingga dapat menjadi sumber . sebagai komoditi Pengembangan budidaya kakao tentu dengan tujuan untuk mamanfaatkan lahan yang tersedia.Sementara itu permintaan terhadap produk olahan kakao didunia saat ini masih cukup tinggi sehingga peluang ekspor selalu terbuka. karena tanaman ini dapat berbunga dan berbuah sepanjang tahun. Setidaknya dari segi luas areal kepada pertanaman negara maupun sumbangannya ekspor. POTENSI KAKAO DI MASA DEPAN POTENSI KAKAO DI MASA DEPAN OLEH CATHERINE JULIANI T. memenuhi konsumsi dan memperoleh devisa melalaui ekspor serta meningkatkan pendapatan produsen biji kakao.MMA BALAI BESAR PERBENIHAN DAN PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN (BBP2TP) MEDAN Pada masa yang akan datang komoditas kakao diharapkan menduduki tempat yang sejajar dengan komoditi perkebunan lainnya.

sedangkan Perkebunan rakyat terdapat terutama di Maluku. sehingga dapat menjadi sumber pendapatan harian atau mingguan bagi pekebun. Untuk meningkatkan produksi kakao di Indonesia pemerintah telah menggalakkan pertanaman kakao baik oleh perkebunan besar maupun perkebunan rakyat. Pada masa yang akan datang komoditas kakao diharapkan menduduki tempat yang sejajar dengan komoditi perkebunan lainnya. Sulawesi Tenggara dan Nusa Tenggara Timur. memenuhi konsumsi dan memperoleh devisa melalaui ekspor serta meningkatkan pendapatan produsen biji kakao. Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kakao merupakan salah komoditas perkebunan yang sesuai untuk perkebunan rakyat. karena kondisi tanaman selama di pembibitan sangat mempengaruhi pertumbuhan dan produksi kakao. seperti kelapa sawit dan karet. Lokasi Perusahaan Perkebunan skala besar yang diusahakan negara terletak di Sumatera Utara. Irian Jaya. Pengembangan budidaya kakao tentu dengan tujuan untuk mamanfaatkan lahan yang tersedia.pendapatan harian atau mingguan bagi pekebun. karena tanaman ini dapat berbunga dan berbuah sepanjang tahun. Sulawesi Selatan. Sentra penanaman budidaya kakao di Indonesia diusahakan oleh Perusahaan Perkebunan Negara dan Swasta serta Perkebunan Rakyat. Sulawesi Utara. Sentra penanaman budidaya kakao di . Langkah awal yang harus dilakukan dalam pengembangan budidaya kakao untuk menghasilkan produksi yang optimal adalah dengan cara penyediaan bibit yang unggul dan menjaga tanaman selama di pembibitan. Setidaknya dari segi luas areal pertanaman maupun sumbangannya kepada negara sebagai komoditi ekspor.

Jawa Tengah dan Jawa Timur. Perkebunan itu sebagian besar adalah milik pemerintah dan ada juga beberapa kebun milik rakyat. Sampainya di Indonesia dibawa oleh bangsa Portugis dan kemudian tanaman kakao diusahakan dalam bentuk perkebunan. Langkah awal yang harus dilakukan dalam pengembangan budidaya kakao untuk menghasilkan produksi yang optimal adalah dengan cara penyediaan bibit yang unggul dan menjaga tanaman selama di pembibitan. Sulawesi Utara. Untuk meningkatkan produksi kakao di Indonesia pemerintah telah menggalakkan pertanaman kakao baik oleh perkebunan besar maupun perkebunan rakyat. Oleh karena itu kakao bukanlah tanaman asli Indonesia tetapi berasal dari Meksiko (Amerika Selatan). Sulawesi Tenggara dan Nusa Tenggara Timur. karena kondisi tanaman selama di pembibitan sangat mempengaruhi pertumbuhan dan produksi kakao. Dari biji tumbuhan ini dihasilkan produk olahan yang dikenal sebagai cokelat. Lokasi Perusahaan Perkebunan skala besar yang diusahakan negara terletak di Sumatera Utara.Indonesia diusahakan oleh Perusahaan Perkebunan Negara dan Swasta serta Perkebunan Rakyat. Irian Jaya. curah hujan 3000-4000 mm dengan penyebaran hujan yang merata sepanjang tahun dan tanahnya . Kakao (Theobroma cacao) merupakan tumbuhan berwujud pohonyang berasal dari Amerika Selatan. Sulawesi Selatan. sedangkan Perkebunan rakyat terdapat terutama di Maluku. Pada umumnya tanaman kakao tumbuh baik di daerah yang suhu udaranya 27-30oC.

(3) Indonesia (13%. sebagian besar kakao curah). Sedangkan negara-negara lain menghasilkan 9% sisanya. Daerah yang demikian biasanya mempunyai ketinggian tidak lebih dari 500 m di atas permukaan laut Delapan negara penghasil kakao terbesar adalah : (1) Pantai Gading (38%) . (6) Kamerun (5%).berdrainase baik. (4) Nigeria(5%). . (7) Ekuador (4%) dan (8)Malaysia (1%). (2)Ghana (19%). (5) Brasil (5%).

.

42..0 . . 2.7.

.742.4474:58 ..42.3.

28  92 995.

.

3 .42.03970 -48549 .5079.3.

 .

 .

3. ./.2../.480.9:8.3%:25..3.340 5033.-. 203/079.55.9.3 . .3 500-:3.4 .3909.:203.../.43/82:82.7.57840...31.3..203/::3574/:8 :9:. 574/:  4380:0383.3 .303.9.: 5033.35..3.3 2030-.9.3503.3.7./.%.89 8:. /./2-.3 .3 -08. 07:..8.94735:9.-8.4 92      !4.99/. :.3 .. 9.350.7  .-:/ /.2/.3 .9807.2. 500-:3.- :.39/.98079.3$.-.7 &8.

.3 9/../: 9.2.3 207:5. .9. 24/.7.3  02507.7 907.9  8079.5.:3.3 203.3.3 1..3/.9.3 -039:/.2.3 -09:  5078.  .38.3 .3..3 .9./.3 9/.70389....7920232.3.83 8073/80-:9/03.3784/..39.9.4  50:.3  .3202.3 /.3 9:25.2.3 574/:91 8079.::5 :.947 5030-..:.8 503.3 .31.3.3.- 425098 /.2./.0781.7-07.2. 3 /897-:8 903...703....3 574/:9./ 3907.9...8 478439.9.3 :38:7 .3 /.3.9.3.9.2.3  39.3 /03./.9.3 9:  /03.:39:/./.3 3-0784203:7:3.3   $.3080.947 9:2-: .:3.83.3. 203039:  807. 574808 .380.8 .5.3 :39: 2033/.9 207:5. !.7 203.. .9:3. 5030-.2. 503.82.7 802:./.3 8..3.3  :8.3 :.3/:8.23 -07..3.:80-.3.71 .5 2 . 574/:8 :.93.3 20.2.94735:95.7 1. 9./.3 8.  $0.8 /.30.74553  %:25.3 8.3 907.9.9-07:3..3.:3../ 5030-..9 /90.3 905.9.3/.393..32030:.3  !02.5 503.3. .-. :.2.  3907. 2033.3503:3.947 9:2-: .7 /.8  03. /.5. 1:9:..39.33.7.3.3.3 1.8 88902 507..3 8079./02-. 203.3 /.. ./:9. 90780-:9 /. 803.2.07.3  9.8. 30.9 42508 /.3.9:0389.30:39:3.3 :25:.3.8..3 203.7 3/.3. /03.8.3 5443 3..9 07.9.2.3 .8 / . 207.3 503.3435098 5078.9.0781.7 3907.2 203.35./.3 90780-:9 8.380-.7.30-5.3. :39: 202-07 8.. .3 20307.9574/:8   #84 0. 9.9:25.2..93.3 80.7.9: 8..9 0- -.7.7.7.9.3.99.3 503.39.8 8079..3 5030-.3 54.3.8 .3.7.3 9:25..3 3 9407..35079.3.3 073 .3 425098 .7.34592.3..- 425098  03.9-07. 907-.2 -:/ /. 9.7.8.7  /. 8.7 3/..2..3907-..  502.20308:.0781.25.3. 07.3 /92-:. .3 :8.7. /. .

2 9:25..3.2.3 .7 207:5.2.4    !74850.. ...038 9.3.4.%.950393   $:2-07!.3 8.3 .. .303..3 8.3..3/:.3.3..3.!03/03/:897.5://.3 /:8.3 /.

 !00-:3 ..!079..3.3.!070-:3.3 &8.4.3 &8..9 57    3&8..!07/.3 !748050 -.

.3 .4 . !09.

3907. 93./ 0- /. 0- 2:/.4 4.9.7.3 -.9 0854797 8.7 80903.3. .508:9. . 3.3/..84  !.574/:83.-8.7. 9.4 08:9.80..3.9 .4.3.3 .9:.3 5.2 .50:.3 /93.3 /.3 5:5: /.3/.43..7. 3/:897 5034.3 5020.74.3/...3 5070-:3.4 &39:9: 3/:8975034.7.::5:39: 202-..:3   2.3.3 .33.44. .9 202.9:507239.22025079. ..3 3/:8973.7.3 3 93  .4../.9203:.9 3 .32025:3. 509./. /.9 203.:  5.302-.2. 2. 4.5 08:9.3 203/.2.3574/:83.3 203.4 /:3.30854780.3 .3 .84 :9. 3/:897 2.3. .8 93 803..2.  $02039.32033. /93.. 3/:897 !034.7.3:39:202.9..3#:5..9 509.3 4..3 ..808:9.42...7..::5 93803..9.9 0854797  80.3. 2033.9  &39: 9: /507:.4 /...31./.3 .3 502-.3 ./../93.203/.703. .  $0.:907-:.390381  $08 ... .9.3 203...3 .7.3/03...-8.9 .7 503:25: .8 .50:..5.3 8:/.4.3 80.3 -.. 30.9..  !74850 .80..  03. /93. . 502-0.   ! %$ $! ! %$ $! .7.3 2033.703. 803.5.7:8-8..3 /.4 4.3 5.7 :39: .5.-078. 805079.507-.82 ... 3 2032547 .4.. 2033.703.8.93...3 503:3.:3   .7.3 /02.. 5.8.3 9.3..3.  3/:8975034.3 909.83.3./.2. 507239.30./.3.703.8.2.7.3 -.7#:5.38:3.31. 0854797 08:9...89. 5..3 4.9 574/:9. /..90854797  .5.4..  . - .3.: - .3 2070.3 93 3 /03.9 -.4//:3.4.: 0854797 4.220250740-.83/.4 . 54/07  :39: 0-:9:.4./.3.23007 -.9. /93. 803.3 05.9 509..5574/:4.7 . 54/07 .9...7.3.402-.7..3. . 502.3  03.9...9.703..932.-:9907 .9  $.2 .7.9 3 202-. 3/:897 5034.4.7/.33/:8972.5 93 .8.30854797.3 /.4.7.92032547. 503/0 3/:897 5034.4.7..30-:.3 /.3 -075.. 503/0 2.3 .202574850:39:5.3.3 93 3/:897 5034. 203/.

f f°ff f ¾Dff f ¾ ff° f ¾@ °––ff f°-¾f . %#&% $!  $#!#!# %$%!#& !%!    9f f ¯f¾f f°– ff° ff°– ¯ f¾ ff ff½f° ¯ °    ¯½f f°– ¾ ©f©f °–f° ¯  ½  °f° f°°f  ¾ ½   f½f¾f f°f    f°f f¾ –f¾ f f ½ f°f¯f° ¯f½° ¾¯ f°–f°°f  ½f f ° –ff ¾ f–f ¯  ¾½  9 °– ¯ f°–f°   ff ff  ° °–f° ©f°°¯f¯f°€fff°ff°f°– ¾ f ¯ ¯ °°¾¯¾ f°¯ ¯½   ¾f ¯ ff ¾½¾ f¯ °°–ff°½ ° f½ff°½ ¾ ° ©ff  ff ¯ ½ff° ¾ff ¯ f¾ ½  °f° f°– ¾ ¾f ° ½  °f° ff  f °f f°f¯f° ° f½f  °–f f°  f ¾ ½f°©f°– f°  ¾ °––f f½f ¯ °©f  ¾¯  ½ ° f½ff° ff° ff ¯°––f° f– ½  °   °f ½ °f°f¯f°   ff ff  ° ° ¾f ¾fff°   9 ¾fff° 9  °f° - –ff f° f¾f ¾ f 9  °f° ff  f¾ 9 ¾fff° 9  °f° ¾ff ¾f f°– ¾fff° ° –ff   f  ¯f f Dff  ff @ °–f f° ff @¯  ¾ f°–f° 9  °f° ff   f½f  f¯f .

f f°ff f ¾Dff f ¾ ff° f ¾@ °––ff f°-¾f @ °––ff @¯  .@ °––ff @¯  D°¯ °°–ff°½ ¾ff ° ° ¾f½ ¯ °f f¯ °––fff°½ f°f¯f° ff f   ½  °f° ¾f ¯f½° ½  °f° ff  f°–f ff f°– f¾ ff° ff¯ ½ °– ¯ f°–f°   ff ff ° ¯ °–f¾f° ½ ¾ f°– ½¯f f ff °–f°nff½ ° ff°  f°–°–– f°¯ °©f–ff°f¯f°¾ f¯f ½ ¯  f°  f °f ° ¾ f°f¯f° ¾ f¯f  ½ ¯  f° ¾f°–f ¯ ¯½ °–f ½ ¯ f° f° ½ ¾ff  9f f ¯f¾f f°– ff° ff°– ¯ f¾ ff ff½f° ¯ °    ¯½f f°– ¾ ©f©f °–f°¯ ½  °f°f°°f ¾ ½  f½f¾f f°f    f°f f¾ –f¾ f f ½ f°f¯f° ¯f½° ¾¯ f°–f°°f  ½f f ° –ff ¾ f–f ¯  ¾½  9 °– ¯ f°–f°   ffff ° °–f°©f°°¯f¯f°€fff°ff°f°– ¾ f  ¯ ¯ °°¾¯¾ f°¯ ¯½   ¾f¯ ff ¾½¾ f¯ °°–ff°½ ° f½ff° ½ ¾ ° ©ff  ff ¯ ½ff° ¾ff ¯ f¾ ½  °f° f°– ¾ ¾f ° ½  °f° ff  f °f f°f¯f° ° f½f  °–f f°  f ¾ ½f°©f°– f°  ¾ °––f f½f ¯ °©f  ¾¯  ½ ° f½ff° ff° ff ¯°––f° f– ½  °   °f ½ °f°f¯f°   ff ff  ° ° ¾f ¾fff°   9 ¾fff° 9  °f° - –ff f° f¾f ¾ f 9  °f° ff  f¾ 9 ¾fff° 9  °f° ¾ff ¾f f°– ¾fff° ° –ff   f  ¯f f Dff  ff @ °–f f° ff @¯  ¾ f°–f° 9  °f° ff   f½f  f¯f .

D°¯ °°–ff°½ ¾ff ° ° ¾f½ ¯ °f f¯ °––fff°½ f°f¯f° ff f   ½  °f° ¾f ¯f½° ½  °f° ff  f°–f ff f°– f¾ ff° ff¯ ½ °– ¯ f°–f°   ff ff ° ¯ °–f¾f° ½ ¾ f°– ½¯f f ff °–f°nff½ ° ff°  f°–°–– f°¯ °©f–ff°f¯f°¾ f¯f ½ ¯  f°  f °f ° ¾ f°f¯f° ¾ f¯f  ½ ¯  f° ¾f°–f ¯ ¯½ °–f ½ ¯ f° f° ½ ¾ff  ff %@  ¯f nfnf% ¯ ½ff°9:2-:.9    f °f  ff f°f f°f¯f° f¾ ° ° ¾f  f½ f¾f f .9. $0.40.3 © 5443f°– f¾f f207. ¾%¯ f ff°% f¯½f°f ° ° ¾f  ff  f°–¾f9–¾ f° ¯ f° f°f¯f°ff ¾fff° ff¯ °½  °f° 9  °f° ¾ f–f° ¾ff ff ¯½ ¯ °f f°f f©–f f½f °¯ff  9f f ¯¯°f f°f¯f° ff ¯  f  f f f°– ¾  ff°f  .3  f-¯ f° ° f¾f° ½  ff° f°–  °f ¾ f–f.

 ./47% % f° %%..207:3% %  %%:./3% %  %%.3.  nf ©f°   ¯¯ °–f° ½ ° ff° ©f° f°– ¯ ff ¾ ½f°©f°– f° f° f°f°f  f°f¾  f f ff°– ¯f° f¾f°f¯ ¯½°f °––f° f  f¯ ff¾½ ¯ff°f  f½f° ° –ff ½ °–f¾ ff   ¾f f ff  %%!.% %  %%7.39.% %   f°–f° ° –ff ° –ff f° ¯ °–f¾f° ¾¾f°f  .% %  %%3/4308.8.8% %  %%.%  ¾ f–f° ¾f ff nf%  %%07.

   .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful