PENGERTIAN HADIS DAN SUNNAH PENGERTIAN DASAR HADIS DAN SUNNAH Abdul Asep Syaiful Millah (084211001) I.

PENDAHULUAN Banyak diantara kita yang mungkin terjadi kesalah pahaman dalam menyebutkan tentang apakah itu yang dinamakan hadits, sunnah, khabar, atau atsar. Karena pada dasarnya terdapat perbedaan diantara keempat istilah tersebut. Melalui makalah ini kami hanya akan menjelaskan tentang apakah yang dimaksud dengan hadits dan sunnah baik secara etimologis maupun secara terminologi dan menurut para Ulama Ahli, baik Ahli Hadits, Ushul maupun Ahli Fiqh, sehingga tidak terjadi kesalah pahaman mengenai pengertian hadits dan sunnah. II. POKOK PEMBAHASAN 1. Pengertian Hadis 2. Pengertian Sunnah III. PEMBAHASAN A. Pengertian Hadis 1. Pengertian Hadis Secara Etimologis Hadis atau al- hadits menurut bahasa adalah al- jadid yang artinya (sesuatu yang baru) artinya yang berarti menunjukkan kepada waktu yang dekat atau waktu yang singkat seperti ‫( حديث العهد فى ألسلم‬orang yang baru masuk/ memeluk islam). Hadis juga sering ِ َ ْ ِ ْ ِ ِ ْ َ ُ ِْ َ disebut dengan al- khabar, yang berarti berita, yaitu sesuatu yang dipercakapkan dan dipindahkan dari seseorang kepada orang lain, sama maknanya dengan hadis. 2. Pengertian Hadis Secara Terminologi Sedangkan pengertian hadis menurut istilah (terminologi), Para Ahli memberikan definisi (ta’rif) yang berbeda-beda sesuai dengan latar belakang disiplin ilmunya. a. Pengertian hadis menurut Ahli Hadis, ialah: ُ ُ َ ْ ََ ُ ‫اقوال النبي ص م وافعاله واحوا له‬ ُ َ َْ Artinya: “Segala perkataan Nabi, perbuatan, dan hal ihwalnya.” Yang dimaksud dengan hal ihwal ialah segala yang diriwayatkan dari Nabi SAW. Yang berkaitan dengan himmah, karakteristik, sejarah kelahiran, dan kebiasaan-kebiasaan. Ada juga yang memberikan pengertian lain, yakni: ً َ ِ ْ َ ً ْ ِ ْ َْ ً ْ ِ ً َ ‫ماأضيف إلى النبي ص م قول أو فعل أوتقريرا او صفة‬ َ ِْ ُ َ Artinya: “Sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, maupun sifat beliau”. Sebagian Muhaditsin berpendapat bahwa pengertian hadis diatas merupakan pengertian yang sempit. Menurut mereka, hadis mempunyai cakupan pengertian yang lebih luas, tidak terbatas pada apa yang disandarkan kepada Nabi SAW. (hadis marfu’) saja, melainkan termasuk juga yang disandarkan kepada para sahabat (hadis mauquf), dan tabi’in (hadis maqtu’), sebagaimana disebut oleh Al- Tirmisi: Artinya: “Bahwasanya hadis itu bukan hanya untuk sesuatu yang marfu’, yaitu sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW, melainkan bisa juga untuk sesuatu yang maukuf, yaitu yang disandarkan kepada sahabat dan yang maqtu’ yaitu yang disandarkan kepada tabi’in.”

b. Pengertian hadis menurut para ulama ushul, sementara para ulama ushul memberikan pengertian hadis adalah: َ ُ ّ َ ُ ُ َ ْ َ ُ ُْ َ ‫أقوا له وافْعا له وتقريراته التى تثبت ال حكام و تقررها‬ َ ُ ُ َ ِْ ْ َ ُ ُ َ َ ُ ُ َ ْ َ Artinya: “Segala perkataan Nabi SAW, perbuatan, dan taqrirnya yang berkaitan dengan hukum syara’ dan ketetapannya”. Berdasarkan pengertian hadis menurut ahli ushul ini jelas bahwa hadis adalah segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Saw. Baik ucapan, perbuatan maupun ketetapan yang berhubungan dengan hukum atau ketentuan-ketentuan Allah yang disyari’atkan kepada manusia. Selain itu tidak bisa dikatakan hadis. Ini berarti bahwa ahli ushul membedakan diri Muhammad sebagai rasul dan sebagai manusia biasa. Yang dikatan hadis adalah sesuatu yang berkaitan dengan misi dan ajaran Allah yang diemban oleh Nabi Muhammad SAW. Sebagai Rasulullah SAW. Inipun, menurut mereka harus berupa ucapan dan perbuatan beliau serta ketetapan-ketetapannya. Sedangkan kebiasaankebiasaannya, tata cara berpakaian, cara tidur dan sejenisnya merupakan kebiasaan manusia dan sifat kemanusiaan tidak dapat dikategorikan sebagai hadis. B. Pengertian Sunnah 1. Pengertian sunnah menurut bahasa (etimologis) Menurut bahasa sunnah berarti: ً َ ْ ُ ْ َ ْ َ َ ‫َ ّ ِ ْ َ ُ َ ْ ُ ْ َة‬ ‫الطر يقة محمود ً كا نت او مذمو مة‬ Artinya: “Jalan yang terpuji atau yang tercela.” Dalam kaitan sunnah yang diartikan dengan ‫. السيرة‬atau…‫…الطر يقة‬Khalid bin ‘Utbah AlHadzi mengatakan: ‫فل تجز عن من سيرة انت سرتها فاول راض سنة من يسيرها‬ َ ُ ْ ِ َ ْ َ ً ُّ ٍ َ ُ ّ َ َ َ َ َ َ َ ْ َ ٍ َ َ ِ ْ ِ ّ َ َ ْ َ َ َ Artinya: “Janganlah kamu halangi perbuatan yang telah kau lakukan, karena orang yang pertama menyenangi suatu perbuatan adalah orang yang melakukannya”. Bila kata sunnah disebutkan dalam masalah yang berhubungan dengan hukum syara’, maka yang dimaksudkan tiada lain kecuali segala sesuatu yang diperintahkan, dilarang, atau dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Baik berupa perkataan, perbuatan maupun ketetapannya. Dan apa bila dalam dalil hukum syara’ disebutkan al-Kitab dan al-Sunnah, berarti yang dimaksudkan adalah al-Qur’an dan Hadis. 2. Pengertian sunnah menurut istilah (terminologi) Sedang sunnah menurut istilah, dikalangan ulama terdapat perbedaan-perbedaan pendapat. Hal ini disebabkan karena perbedaan latar belakang, persepsi, dan sudut pandang masing-masing terhadap diri Rasulullah SAW. Secara garis besarnya mereka terkelompok menjadi tiga golongan: Ahli Hadis, Ahli Ushul dan Ahli Fikih. a. Pengertian sunnah menurut ahli hadis adalah: ‫ما اثر عن النبى ص م من قول أو فعل أو تقرير أو صفة أو خلقية أوسيرة،سواء كان قبل البعث ِ أو بعدها‬ ‫ِ ْ َة‬ ٍ َ َِ ِّ ْ َ ٍ ِ ِ َِ Artinya: “Segala yang bersumber dari Nabi SAW. Baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, perangai, budi pekerti, perjalanan hidup, baik sebelum diangkat menjadi rasul maupun sesudahnya”. Jadi dengan definisi tersebut, para ahli hadis menyamakan antara sunnah dan hadis. Tampaknya para ahli hadis membawa makna sunnah ini kepada seluruh kebiasaan Nabi SAW. Baik yang melahirkan hukun syara’ maupun tidak. Hal ini bisa dilihat dari definisi

yang diberikan mencakup tradisi Nabi sebelum masa terutusnya sebagai rasul. Akan tetapi bagi ulama Ushuliyyin jika antara sunnah dan hadis dibedakan, maka bagi mereka, hadis adalah sebatas sunnah Nabi SAW saja. Ini berarti sunnah cakupannya lebih luas dibanding hadis. b. Pengertian sunnah menurut ahli ushul mengatakan: Sunnah adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW. Yang berhubungan dengan hukum syara’, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun taqrir Beliau. Berdasarkan pemahaman seperti ini mereka mendefinisikan sunnah sebagai berikut: “Segala sesuatu yang bersumber dari Nabi SAW. Selain al-Qur’an al-karim, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun taqrirnya yang pantas untuk dijadikan dalil bagi hukum syara”. c. Pengertian sunnah menurut ahli fikih sebagai berikut: Artinya: “Segala ketetapan yang berasal dari Nabi SAW selain yang difardukan dan diwajibkan dan termasuk hukum (taklifi) yang lima.” Para ulama ahli fikih apabila mereka berkata perkara ini sunnah, maksudnya mereka memandang bahwa pekerjaan itu mempunyai nilai syariat yang dibebankan oleh Allah SWT. Kepada setiap orang yang baligh dan berakal dengan tuntutan yang tidak mesti. Dengan kata lain tidak fardhu dan tidak wajib (menurut ulama hanafiyah) dan tidak wajib (menurut ulama fikih lainnya). IV. KESIMPULAN A. Pengertian Hadis 1. Pengertian Hadis Secara Etimologis Hadis atau al- hadits menurut bahasa adalah al- jadid yang artinya (sesuatu yang baru) artinya yang berarti menunjukkan kepada waktu yang dekat atau waktu yang singkat seperti ‫( حديث العهد فى ألسلم‬orang yang baru masuk/ memeluk islam). ِ َ ْ ِ ْ ِ ِ ْ َ ُ ِْ َ 2. Pengertian sunnah menurut istilah (terminologi) a. Pengertian hadis menurut Ahli Hadis, ialah: ُ ُ َ ْ ََ ُ ‫اقوال النبي ص م وافعاله واحوا له‬ ُ َ َْ Artinya: “Segala perkataan Nabi, perbuatan, dan hal ihwalnya.” b. Pengertian hadis menurut para ulama ushul, sementara para ulama ushul memberikan pengertian hadis adalah: َ ُ ّ َ ُ ُ َ ْ َ ُ ُْ َ ‫أقوا له وافْعا له وتقريراته التى تثبت ال حكام و تقررها‬ َ ُ ُ َ ِْ ْ َ ُ ُ َ َ ُ ُ َ ْ َ Artinya: “Segala perkataan Nabi SAW, perbuatan, dan taqrirnya yang berkaitan dengan hukum syara’ dan ketetapannya”. B. Pengertian Sunnah 1. Pengertian sunnah menurut bahasa (etimologis) Menurut bahasa sunnah berarti: ً َ ْ ُ ْ َ ْ َ َ ‫َ ّ ِ ْ َ ُ َ ْ ُ ْ َة‬ ‫الطر يقة محمود ً كا نت او مذمو مة‬ Artinya: “Jalan yang terpuji atau yang tercela.” 2. Pengertian sunnah menurut istilah (terminologi) a. Pengertian sunnah menurut ahli hadis adalah: ‫ما اثر عن النبى ص م من قول أو فعل أو تقرير أو صفة أو خلقية أوسيرة،سواء كان قبل البعث ِ أو بعدها‬ ‫ِ ْ َة‬ ٍ َ َِ ِّ ْ َ ٍ ِ ِ َِ Artinya: “Segala yang bersumber dari Nabi SAW. Baik berupa perkataan, perbuatan,

budi pekerti. hlm. Muhammad Mahfudz. Yang berhubungan dengan hukum syara’. perangai. 1998).Mustafa.juz II. Ibnu.taqrir. Ke-I Ajjaj Al-Khatib. 8 Al-Siba’i. Amin. perjalanan hidup. PENUTUP Demikian makalah yang dapat kami susun dan kami sangat menyadari makalah ini jauh dari kesempurnaan maka kritik dan saran yang membangun demi perbaikan dan pengembangan sangat kami harapkan. (Mesir: Dar Al-Mishriyah). cet. Al-Sunnah Wa Makanatuha Fi Al-Tasyri’ Al-Islami. (Beirut: Dar Al-Fikr. DAFTAR PUSTAKA Manzhur. maupun taqrir Beliau. cet. Lisan Al-Arab. baik berupa perkataan. b. Muhammad. hlm. (Kairo: Dar Al-Salam. c. 1997). (Jeddah: AlHaramain. baik sebelum diangkat menjadi rasul maupun sesudahnya”. Dr. 436 Ibn Abdillah Al-Tirmisi. Manhaj Dzawi Al-Nazhar. hlm. Al-Sunnah Qabla Al-Tadwin. perbuatan. 27 . Pengertian sunnah menurut ahli fikih sebagai berikut: Artinya: “Segala ketetapan yang berasal dari Nabi SAW selain yang difardukan dan diwajibkan dan termasuk hukum (taklifi) yang lima. Dan semoga ini dapat menambah pengetahuan kita dan bermanfaat. 1974).” V.ke-3. Pengertian sunnah menurut ahli ushul mengatakan: Sunnah adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW.

Masyarakat Arab di zaman Jahiliyyah telah menggunakan kata hadits ini dengan makna “pembicaraan”. Dalam Syarah al-Bukhari. Dalam makalah ini akan ditelusuri pengertian sunnah dan hadits serta penggunaannya dalam masing-masing disiplin. sedangkan yang “baru” ialah apa yang disandarkan kepada Nabi saw. dengan memaksudkan qodim sebagai Kitab Allah. pengertian kedua istilah tersebut tidaklah serta merta sudah jelas dan dapat dipahami dengan mudah. Di samping itu.Makalah Studi Hadist STUDI HADITS I. Syaikh Islam Ibnu Hajar berkata: “Yang dimaksud . pembicaraan. makalah ini juga akan meninjau kedudukan Sunnah Nabi saw dalam syariat Islam. Para ulama dari masing-masing disiplin ilmu menggunakan istilah tersebut didasarkan pada sudut pandang yang berbeda sehingga mengkonskuensikan munculnya rumusan pengertian keduanya secara berbeda pula. cerita. hal itu bisa dilihat dari kebiasaan mereka untuk menyatakan “hari-hari mereka yang terkenal” dengan sebutan ahadits. percakapan atau komunikasi baik verbal maupun lewat tulisan. Penelusuran ini tentu dimaksudkan untuk memperjelas kekaburan pengertian sunnah dan hadits. perkembangan penggunaan kedua istilah tersebut serta perbedaan keduanya. Bentuk jamak dari hadits yang lebih populer di kalangan ulama muhadditsin adalah ahadits. dibandingkan bentuk lainnya yaitu hutsdan atau hitsdan. Ada sejumlah ulama yang merasakan adanya arti “baru” dalam kata hadits lalu mereka menggunakannya sebagai lawan kata qodim (lama). Meskipun begitu. II. Pendahuluan Istilah Hadits dan Sunnah telah digunakan secara luas dalam studi keislaman untuk merujuk kepada teladan dan otoritas Nabi saw atau sumber kedua hukum Islam setelah al-Qur’an. Pengertian Hadits dan Sunnah a. Hadits Kata hadits merupakan isim (kata benda) yang secara bahasa berarti kisah.

al-Zumar: 23 ‫ال نزل أحسن الحديث كتابا‬ ً َِ ِ ِ َ ْ َ َ ْ َ َ ّ َ ّ ُ Artinya: “Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) al-Qur’an” Juga dalam Hadits Nabi yang diriwiyatkan oleh al-Bukhari: “Sesungguhnya sebaik-baik hadits (cerita) adalah Kitab Allah (al-Qur’an)” 2. Menurutnya. kata hadits yang terdapat dalam al-Qur’an maupun kitab-kitab Hadits secara literal mempunyai beberapa arti sebagai berikut: 1. Juga dalam Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh al-Bukhari: “Dan orang-orang yang mendengar hadits (cerita) sedangkan mereka benci terhadapnya” 3.M. Kata ini juga digunakan dalam kitabkitab Hadits di banyak tempat. Azami. Cerita Sejarah (historical stories) sebagaimana terdapat dalam QS. dan hal itu seakan-akan sebagai bandingan al-Qur’an adalah qodim. atau al-Qur’an. alAn’am: 68: ِ ِ ْ َ ٍ ِ ‫َ ْ ُ ْ َّ َ ُ ُ ِ ح‬ ‫وإذا رأيت الذين يخوضون في آياتنا فأعرضْ عنهم حتى يخوضوا في َديث غيره‬ ِ ْ َ َ َ ِ َ َ ِ َ ُ ُ َ َ ِ ّ َ ْ ََ َ َِ Artinya: “Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami. sebagaimana terdapat dalam QS. seperti dalam al-Qur’an QS. Rahasia atau pecakapan yang masih hangat sebagaimana terdapat dalam QS. maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain”. Di dalam al-Qur’an kata hadits disebut sebanyak 28 kali dengan rincian 23 dalam bentuk mufrad dan 5 dalam bentuk jamak (ahadits). Komunikasi religius. at-Tahrim: 3 ‫وإذ أسر النبي إلى بعض أزواجه حديثا‬ ً ِ َ ِ ِ َ ْ َ ِ ْ َ َ ِ ّ ِ ّ ّ َ َ ْ َِ Artinya: “Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang dari isteri-isterinya suatu peristiwa” . Dan juga terdapat dalam Hadits Nabi: “Ceritakanlah mengenai Bani Israil dan tidak mengapa” 4. Taha: 9 ‫وهل أتاك حديث موسى‬ َ ُ ُ ِ َ َ ََ ْ َ َ Artinya: “Dan apakah telah sampai kepadamu kisah Musa”. Cerita duniawi atau kejadian alam pada umumnya. Di dalam karyanya Studies in Hadith Methodology and Literature.dengan hadits menurut pengertian syara’ ialah apa yang disandarkan kepada Nabi saw. menguraikan pengertian hadits secara lebih rinci. pesan. M.

perbuatan. juga tentang tangkisan Abu Hurairah kepada orang-orang yang menyatakan bahwa dirinya terlalu banyak meriwayatkan Hadits. maka bentuk-bentuk Hadits dapat dibedakan sebagai berikut: 1. Jika kita membuka Kitab-kitab Hadits. perbuatan. Kalangan ulama Ushul mendefinisikan hadits sebagai segala perkataan. menganggap definisi hadits yang paling tepat adalah “apa yang disandarkan kepada Nabi saw. hal ikhwal Nabi saw. Hasbi As-Shiddieqy juga mengutip pendapat At-Thiby yang berpendapat bahwa: “Hadits itu melengkapi sabda. perbuatan. dan hal ikhwal yang disandarkan kepada Nabi Muhammad saw.Juga dalam Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh al-Tirmizy: “Apabila seseorang mengungkapkan hadits (rahasia) kemudian kemudian dia mengembara maka katakatanya adalah suatu amanah” Secara terminologi. yang berkaitan dengan hukum. taqrir (ketetapan). Bahkan ada beberapa riwayat yang berkenaan dengan tabi’in. melainkan berkenaan dengan sahabat-sahabat Nabi. Di kalangan ulama hadits sendiri pada umumnya mendefinisikan hadist sebagai segala sabda. dan taqrir . karena bukan hadits bila tidak berkenaan dengan Nabi. perbuatan. Masuk ke dalam pengertian “hal ikhwal” segala yang diriwayatkan dalam kitab-kita tarikh. dan 4. 2. Hal ini jelas menjadikan definisi hadits di atas tersebut rancu. taqrir Nabi. tidak masuk dalam kategori hadits sesuatu yang tidak bersangkut paut dengan hukum seperti urusan pakaian. taqrir. baik sebelum diutus maupun sesudah diutus. seperti hal kelahirannya. Berdasarkan definisi tersebut. sabda. perbuatan. berupa ucapan. Oleh karena itu. dan hadits maqtu’. dan taqrir Nabi saw. Itulah sebabnya maka muncul istilah hadits mauquf. Di samping itu. dan yang bersangkut paut dengan itu. Akan tetapi definisi ini kurang populer di kalangan Muhadditsin. melengkapi perkataan. ahli hadits dan ahli ushul berbeda pendapat dalam memberikan pengertian hadits. sifat-sifat fisik atau etik dan apa saja yang dinisbatkan kepada para sahabat dan tabi’in”. taqrir. perbuatan. dan taqrir Nabi saw. suatu istilah yang mengandung kontradiksi terma. tempatnya. Nur al-Din ‘Itr misalnya. 3. Jalaluddin Rahmat dalam artikelnya memberikan contoh tentang hal ini melalui hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan an-Nasa’i yang berisi tentang khutbah yang disampaikan oleh Marwan bin Hakam. maka akan segera kita dapatkan banyak riwayat yang tidak berkenaan dengan ucapan. perbuatan. Kenyataan ini kemudian mendorong sebagian ulama memperluas definisi hadits.

apabila mereka menghentikan perbutannya maka dosa-dosa mereka yang telah lalu akan diampuni. dinamai sunnah. Surat al-Anfal: 38 َ ِ ّ َْ ُ ّ ُ ْ َ َ ْ َ َ ُ ُ َ ْ َِ َ َ َ ْ َ َ ْ ُ َ ْ َ ْ ُ ُ َ ْ َ ْ ِ ُ َ َ َ ِ ِّ ْ ُ ‫قل للذين كفروا إن ينتهوا يغفر لهم ما قد سلف وإن يعودوا فقد مضت سنة الولين‬ Artinya: “Katakanlah (wahai Muhammad) kepada orang-orang kafir. M.” 3.M. Di dalam al-Qur’an kita dapat menjumpai beberapa ayat yang menyebutkan kata “sunnah”.” 2. menurutnya kata “sunnah” disebutkan dalam beberapa ayat berikut ini: 1. Azami menelusuri pengertian istilah “sunnah” di dalam al-Qur’an.sahabat. Surat al-Isra’: 77 ً ِ ْ َ َ ِ ّ ُ ِ ُ ِ َ َ َ َ ِ ُ ُ ْ ِ َ َ ْ َ َ ْ َ ْ َ ْ َ ْ َ َ ‫ُن‬ ‫س ّة من قد أرسلنا قبلك من رسلنا ول تجد لسنتنا تحويل‬ Artinya: “(Kami menetapkan hal itu) sebagai suatu ketetapan terhadap rasul-rasul Kami yang Kami utus sebelum kamu.” Dengan demikian. walaupun tidak baik. serta hendak menerima taubatmu.” . Hasbi Ash-Shiddieqy menambahkan bahwa suatu tradisi yang sudah dibiasakan. dan kamu tidak akan menemukan perubahan dalam sunnatullah itu. dan apabila mereka tetap kembali untuk melakukan perbuatan itu maka sunnah (aturan) orang-orang dahulu sudah berlaku. Sunnah berarti tata cara. dan taqrir tabi’in. b. Surat an-Nisa’: 26 ٌ ِ َ ٌ َِ ّ َ ْ ُ ْ ََ َ ُ َ َ ْ ُ ِْ َ ْ ِ َ ِ ّ َ َ ُ ْ ُ َ ِ ْ َ َ ْ ُ َ َ ّ َ ُ ِ ّ ُ ِ ُ ‫يريد ال ليبين لكم ويهديكم سنن الذين من قبلكم ويتوب عليكم وال عليم حكيم‬ ُ ُ Artinya: “Allah hendak menerangkan hukum syari’ah-Nya kepadamu dan menunjukkanmu ke jalan yang orang-orang sebelum kamu (yaitu para nabi dan orang-orang saleh). Surat al-Fath: 23 ً ِ ْ َ ّ ِ ّ ُ ِ َ ِ َ ْ َ َ ُ ْ َ ْ ِ ْ َ َ ْ َ ِ ّ ّ َ ‫ُن‬ ‫س ّة ال التي قد خلت من قبل ولن تجد لسنة ال تبديل‬ ِ ِ Artinya: “Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu. terbagilah hadits kepada sembilan bagian.” 4. Dalam kitab Mukhtar alShihah disebutkan bahwa sunnah secara etimologi berarti tata cara dan tingkah laku atau perilaku hidup. sebagaimana melengkapi pula perkataan. dan kamu tidak akan menemukan perubahan dalam ketetapan Kami. Dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. perbuatan. baik perilaku itu terpuji maupun tercela. Sunnah Secara etimologi.

Perkembangan Pengertian Hadits Istilah “hadits” pada awalnya tidaklah serta merta dipahami sebagai sabda. Berbeda lagi dengan ahli fiqih yang mendefinisikan “sunnah” sebagai hal-hal yang berasal dari Nabi Muhammad saw. III. atau ketetapannya. berikut adanya dampak dari perbedaan-perbedaan itu. Adapun ahli Ushul Fiqih mendefinisikan “sunnah” adalah sabda Nabi Muhammad saw. sebagaimana definisi di awal. Syahudi Ismail mencatat. yakni belum . yang bukan berasal dari al-Qur’an. baik berhubungan dengan masa lampu atau maupun yang baru saja terjadi. yaitu tata cara dan kebiasaan. Jika diperhatikan. mula-mula hadits mengandung pengertian beritaberita atau cerita-cerita (kisah). istilah hadits digunakan untuk menunjuk khabar (beritaberita) yang berkembang dalam masyarakat keagamaan secara umum. ketetapan. Ada juga yang berpendapat bahwa periode-periode pertama sunnah berarti “kebiasaan” atau “hal yang menjadi tradisi masyarakat”. perbuatan. Ada juga yang berpendapat bahwa sunnah berarti “masalah ideal dalam suatu masyarakat”. sifat (watak budi atau jasmani). baik secara etimologi maupun terminologi. pekerjaan. para ulama ahli hadits mendefinisikan “sunnah” sebagai sabda. Diantara mereka ada yang berpendapat bahwa sunnah adalah istilah animisme.Dari ayat-ayat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa dalam al-Qur’an kata-kata “sunnah” dimaknai dengan arti secara etimologis. Perkembangan Pengertian Hadits dan Sunnah a. Secara terminologi. pekerjaan. istilah “hadits” mengalami beberapa perkembangan pengertian yang sangat signifikan. baik ucapan maupun pekerjaan. kemudian pada periode belakangan pengertian sunnah terbatas pada “perbuatan Nabi saw”. Pada tahap selanjutnya. M. Orang-orang orientalis juga memberikan definisi terhadap sunnah. tetapi hal itu tidak wajib dikerjakan. maka perlu diteliti lebih dulu apa sebenarnya maksud kata “sunnah” itu. “Apakah kamu ingin aku ceritakan kepadamu tentang hadits (kisah) dari kisahkisah Jahiliyah”. atau tingkah laku Nabi Muhammad saw. Karena adanya perbedaan-perbedaan dalam menentukan pengertian sunnah.. baik sebelum menjadi Nabi maupun sesudahnya. taqrir dan hal ihwal Nabi saw. Pengertian seperti ini paralel dengan ucapan Abu Hurairah kepada kaum Anshar.

yakni ketika Abu Hurairah bertanya kepada Rasulullah saw. Sampai akhirnya dengan berlalunya waktu. perkataan hadits menjadi khusus dipergunakan untuk segala informasi dan komunikasi yang datang dari Nabi saw. Pada awalnya.dipisahkan antara khabar yang berupa al-Qur’an dan kahabar yang berupa sabda Nabi saw. saja. bahwa pada masa awal Islam. Pengertian ini tetap dipakai dalam masa Islam di Madrasah-madrasah . hadits dimaksudkan sebagai khabar-khabar yang berkembang dalam masyarakat keagamaan tanpa memindahkan maknanya dari konteks yang umum dan pada akhirnya. karena aku melihat dari perhatianmu terhadap Hadits. cerita-cerita dan perkataan Nabi mendominasi atas segala macam komunikasi dan cerita-cerita yang lain di kalangan masyarakat pada waktu itu. Tradisitradisi Arab dan hal-hal yang sesuai dengan kebiasaan nenek moyang. hadits digunakan secara ekslusif untuk menunjuk Hadits-hadits Rasulullah saw. Ibnu Mas’ud mensifatkan al-Qur’an dengan sebaikbaik hadits. sungguh aku telah menyangka bahwa tak ada seorangpun yang bertanya kepadaku mengenai hadits ini yang lebih dahulu dari kamu. Hal ini bisa dilihat dari sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah. oleh mereka disebut sunnah. yakni khusus untuk menunjuk pada Hadits Nabi saja ini. Perkembangan Pengertian Sunnah Istilah sunnah semula telah berkembang dalam masyarakat Arab zaman Jahiliyyah dengan makna jalan yang benar dalam kehidupan personal maupun komunal. hadit dipergunakan untuk menunjuk pada cerita-cerita dan berita-berita secara umum. “Wahai Abu Hurairah.” Dalam Hadits tersebut. Pada akhirnya. “Siapakah orang yang paling berbahagia dengan syafa’atmu di hari kiamat?”…Kemudian Rasul menjawab. hadit secara ekslusif digunakan untuk menunjuk cerita-cerita tentang Rasulullah saw. Mengapa pergeseran pengertian hadits ini terjadi? Mustafa Azami menjelaskan.” Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa penggunaan istilah hadits mengalami perkembangan. kemudian mengalami pergeseran. bahkan telah dimulai pada masa Nabi. b. Kata hadits semakin lama menjadi semakin ekslusif dan sering digunakan di kalangan bangsa Arab untuk memaksudkan hal-hal yang bersumber pada nabi. Hal ini didukung oleh riwayat dari Ibnu Mas’ud yang menyatakan: “Sesungguhnya sebaik-baik hadits adalah Kitab Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Penyempitan makna hadits.

tetapi menurut sunnah adalah begini”. . walaupun bukan sunnah Nabi saw.157). yakni Sufyan at-Tsaury (w. al-Awza’iy (w. maka tentulah demikian. Subhi as-Shalih mencatat. dan ijma’. Sunnah dalam pengertian terminologis inilah yang mempunyai kedudukan hukum dalam syari’at Islam. sedangkan Malik Ibn Anas adalah pakar keduanya. Sunnah dimaknai sebagai praktik yang telah menjadi tradisi. Akan tetapi kajian terhadap berbagai literature awal menunjukkan bahwa sunnah dan hadits merupakan dua hal yang berbeda. Abd al-Rahman al-Mahdi (w. Dan ini tidak berarti pengertiannya yang etimologis itu terhapus tetapi tetap digunakan dalam arti luas.” Pernyataan al-Mahdi ini secara jelas menunjukkan bahwa sunnah dan hadits merupakan dua hal yang berbeda. Ketika memberi penjelasan tentang reputasi dan daya intelektual tiga tokoh. Pada akhir abad kedua Hijriah. Keduanya adalah sinonim sehingga sering digunakan secara bergantian untuk menyebut hal ikhwal tentang Nabi saw. Imam Ahmad Ibn Hanbal ketika mengomentari sabda Rasulullah saw. Adapun pengertian yang khusus asSunnah adalah tata cara dan syari’at Rasulullah saw. yaitu tata cara dan syari’at Rasulullah saw. Demikian juga Aisyah ketika mengomentari hadits tentang barirah (budak wanita) mengatakan dalam barirah terdapat tiga sunnah. Abu Dawud menyatakan: “apabila hadits itu telah disandarkan kepada Rasul. ulama muhadditsin terkadang mengatakan: hadits ini menyalahi qiyas. berpandangan bahwa sunnah dan hadits merupakan dua hal yang identik.lama di Hijaz dan Irak. Perbedaan Hadits dan Sunnah Ulama muhadditsin sebagaimana telah ditunjukkan di awal. sunnah. Ketika menyandarkan suatu hadits kepada Anas Ibn Malik.161). IV.198) mengatakan : “Sufyan atTsaury adalah pakar dalam hadits tapi bukan pakar dalam sunnah dan al-Awza’iy adalah pakar dalam sunnah tetapi bukan pakar dalam hadits. kata sunnah dipakai untuk arti terminologis dengan menambahi “alif dan lam” di depannya. khususnya di masa Imam as-Syafi’i. tentang seorang Muslim yang meninggal dunia dalam keadaan ihram mengatakan: “dalam hadits ini terdapat lima sunnah”. seorang kritikus terkenal.179). dan Malik Ibn Anas (w.

Sunnah dalam Syariat Islam a. Meskipun keduanya berbeda. maka hadits berada di bawah sunnah. Dalam kaitan ini. Hasbi Ash-Shiddieqy menyimpulkan bahwa hadits adalah amrun ‘ilmiyun nawadhirun: berita yang merupakan pengetahuan dan merupakan kunci. kita perlu melihat dasar-dasarnya dalam al-Qur’an yang menjelaskan kedudukan Rasulullah saw.Kutipan-kutipan tersebut menunjukkan secara jelas bahwa sunnah dan hadits merupakan dua hal yang berbeda. Adapun sunnah merupakan amaliyah yang terus-menerus dilaksanakan Nabi beserta para Sahabatnya. hadits berada satu tingkat di bawah sunnah. kemudian seterusnya diamalkan oleh generasi-generasi berikutnya sampai pada kita. dalam syari’at Islam. Menjelaskan Kitabullah Allah berfirman: Artinya: َ ُ ّ َ َ َ ْ ُ ّ َ َ َ ْ ِ ْ َ ِ َ ّ ُ َ ِ ّ ِ َ ّ َ ُ ِ َ ْ ّ َ ْ َ ِ َ ْ َ ْ ََ ‫وأنزلنا إليك الذكر لتبين للناس ما نزل إليهم ولعلهم يتفكرون‬ Dan Kami turunkan kepadamu al-Qur’an. dan supaya mereka memikirkan. maka pengertian keduanya adalah sama. yakni sama-sama berasal dari Rasulullah saw. V. maka ditinjau dari segi kekuatan hukumnya. Kedua: sebagai konsekuensinya. . pertama: bila ditinjau dari segi kualitas amaliyah dan periwayatannya. Senada dengan Hasbi ash-Shiddieqy. tetapi ditilik dari segi subjek yang menjadi sumber asalnya. sebab hadits merupakan suatu berita tentang suatu peristiwa yang disandarkan kepada Nabi walaupun hanya sekali saja Nabi mengerjakannya dan walaupun diriwayatkan oleh seorang saja. Kedudukan Rasulullah dalam Syariat Islam Untuk mengetahui kedudukan sunah Rasulullah saw. dengan dasar inilah jumhur ulama muhadditsin memandang identik antara sunnah dan hadits. Ia membagi kesimpulannya menjadi dua. Syuhudi Ismail juga memberikan kesimpulan yang jelas tentang perbedaan hadits dan sunnah. sedangkan sunnah amrun ‘amaliyun: perbuatan yang sudah berlaku di dalam masyarkat Muslim walaupun mengetahuinya memerlukan riwayat. (anNahl: 44). agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka. Di dalam al-Qur’an kita bisa melihat bahwa Rasulullah mempunyai tugas dan peran sebagai berikut: 1.

para shiddiqin. Nabi yang ummi. قلْ يا أيها الناس إنسسي رسسسول الس إليكسم جميعسسا‬ ً ِ َ ْ ُ ْ َ ِ ّ ُ ُ َ ّ ِ ُ ّ َ ّ َ َ ُ َ ُ ِ ْ ُ ْ ُ ُ َ ِ َ ُ ُ َ َ َ ِ ْ ُ ِ ّ َ ّ ُ َ ّ َ ُ ُ َ َ َ ُ ُ ّ ‫َع‬ ِ ِ ِ ُ ِ ْ ُ ِ ّ ّ ّ ُْ ّ ِ ّ ِ ِ ُ َ َ ّ ِ ُ ِ َ َ ُ ِ ُ َ ِ ْ ُ َ ُ ّ ِ َ َ ِ َ ِ ْ َْ َ ِ َ َ ّ ُ ْ ُ ُ َ ِ ّ ّ ‫الذي له ملك السماوات والرض ل إلسه إل هسو يحيسسي ويميست فسآمنوا بسسال ورسسسوله النبسي المسي السذي يسؤمن بسسا‬ ‫ل‬ ِ َ ُ َ ْ َ ْ ُ َّ َ ُ ُ ِ ّ َ ِ ِ َ ِ َ َ ‫وكلماته واتبعوه لعلكم تهتدون‬ Artinya: Orang-orang yang mengikuti Rasul. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. yang namanya mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka. orang-orang yang mati syahid dan orang-orang yang shalih. maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya. ‫لقد كان لكم في رسول ال أسوة حسنة لمن كان يرجو ال واليوم الخر وذكر ال كثيرا‬ ً ِ َ ّ َ َ َ َ َ ِ َْ َ ْ َ ْ َ ّ ُ ْ َ َ َ ْ َ ِ ٌ َ َ َ ٌ َ ْ ُ ّ ِ ُ َ ِ ْ ُ َ َ َ ْ َ َ َ َ ِ Artinya: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu. Rasulullah Saw mempunyai wewenang (kekuasaan) untuk membuat suatu aturan. memuliakannya. sesungguhnya aku adalah utusan Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi. (al-Anfal: 20) َ ّ َ َ َ ْ ََ َ ُ ّ ِ ِ ُ َ ‫منْ يطع الرسول فقد أطاع ال‬ Artinya: Barangsiapa taat kepada Rasulullah maka berarti ia taat kepada Allah.2. (an-Nisa’: 69) 4. Rasulullah merupakan Teladan Baik yang wajib dicontoh oleh setiap Muslim. (an-Nisa’: 80) َ ِ َ ُ َ ُ َ َ َ ِ ِ ّ َ ِ َ َ ّ َ َ ِ ّ ّ َ َ ّ ِ ّ َ ِ ْ ِ ْ َ َ ّ َ َ ْ َ َ ِ ّ َ َ َ ِ َ ُ َ َ ُ ّ َ ّ ِ ِ ُ ْ ‫َم‬ ‫و َن يطع ال والرسول فأولئك مع الذين أنعم ال عليهم من النبيين والصديقين والشهداء والصالحين وحس سن أولئك‬ ُ َ ‫رفيقا‬ ً َِ Artinya: Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya. yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang munkar. tidak ada Tuhan selain Dia. mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah. ِ َ ْ ُ ‫ّ ِ َ َ ّ ِ ُ َ ّ ُ َ ّ ِ ّ ُْ ّ ّ ّ ِ َ ِ ُ َ ُ َ ْ ُ ً ِ ْ َ ُ ْ ِ ّ ْ َ ِ َ ِْ ْ ِ ِ َ ْ ُ ُ ُ ْ ِ ْ َ ْ ُ ِ َ َ ْه‬ ‫الذين يتبعون الرسول النبي المي الذي يجدونه مكتوبا عندهم في التوراة والنجيل يأمرهم بالمعروف وين َسساهم عسن‬ ِ ِ ُ َ َ َ ِ ّ َ ْ ِ ْ َ َ ْ َ َ ِ ّ َ َ ْ َْ َ ْ ُ َ ْ ِ ْ ُ ْ َ ُ َ َ َ َ ِ َ َ ْ ُ ِ ْ َ َ ُ ّ َ ُ َ ِ َ ّ ّ ُ ُ َ ّ ِ ُ َ ِ َ ْ ُ ْ ‫المنكر ويحل لهم الطيبات ويحرم عليهم الخبائث ويضع عنهم إصرهم والغلل التسي كسانت عليهسم فالسذين آمنسوا بسه‬ ‫و َزروه ونصروه واتبعوا النور الذي أنزل معه أولئك هم المفلحون. Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat- . mereka itulah orang-orang yang beruntung. dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk. yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan Hari Kiamat dan ia banyak menyebut Allah (al-Ahzab: 21) 3. “Hai manusia. Yang menghidupkan dan mematikan. taatlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya. menolongnya dan mengikuti cahaya terang yang diturunkan kepadanya (al-Qur’an). dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Katakanlah. yaitu para nabi. Rasulullah wajib ditaati َُ ُ ََ ّ ‫يا أيها الذين آمنوا أطيعوا ال ورسوله‬ َ ُ ِ َ َُ َ َ ِ ّ َ َّ َ Artinya: Wahai orang yang beriman.

bibi dari jurusan ibu. kemenakannya (anak dari saudara perempuannya).” (al-A’rof: 157-158) Dari keterangan ayat-ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa taat kepada Rasulullah saw adalah suatu kewajiban. dan kemenakannya (anak dari saudara laki-laki). hukum-hukum yang mereka terapkan sejak zaman Nabi tidak pernah menyimpang dari ketentuan-ketentuan itu. Imam Ahmad) Hadits ini menurut Imam Syafi’i. Bentuk penopang tersebut dapat dirumuskan ke dalam tiga hal sebagai berikut: Pertama. Diantara contohcontoh sunnah yang berfungsi sebagai penjelas terhadap al-Qur’an adalah seperti pejelasan tentang shalat. mentakhsis ayat yang umum –meskipun kekuatan sunnah dalam mentakhsis ayat al-Qur’an yang umum masih diperselisihkan ulama. mseki masih diperselisihkan tentang kekuatannya. apakah tergolong hadits ahad atau hadits masyhur. Sunnah datang dengan membawa hukum- . Sebagai perwujudannya. dan menjelaskan ayat al-Qur’an yang nasikh dan mansukh. merinci ayat yang mujmal.menurut jumhur ulama yang berpendapat adanya kemungkinan nasakh pada sebagian hukum-hukum al-Qur’an. Sunnah berfungsi menjelaskan ayat yang masih mubham. (HR. an-Nisa’: 24) Nampaknya Imam-imam yang lain sependapat dengan asy-Syafi’i dalam kaitannya dengan hadits tadi. sunnah menambah kewajiban-kewajiban syara’ yang ketentuan pokoknya telah ditetapkan nash al-Qur’an. b. Misalnya. mentakhsis firman Allah: ْ ُ ِ َ َ َ َ ْ ُ َ ّ ِ َُ ‫واحل لكم ما وراء ذلكم‬ Artinya: Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (QS. Oleh karena itu umat Islam sejak periodeperiode pertama secara praktis telah sepakat untuk menerima dan memakai Sunnahsunnah Rasulullah saw. zakat. dan ikutilah dia supaya kamu mendapatkan petunjuk. dan lain-lainnya. Dan setelah Rasulullah wafat kataatan itu diwujudkan dalam menerima dan mengikuti sunnah-sunnahnya. Misalnya. sebab taat kepada Allah juga disyaratkan taat kepada Rasulullah.kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya). Imam Syafi’i menganggap bahwa hadits di bawah ini Artinya: ‫ل تنكح المرأة على عمتها ول على خالتها ول على ابنة أختها ول ابنة َخيها‬ َ ْ ِ ‫َ ُ ْ َ ُ ْ َ َْ ُ َ َ َ ّ ِ َ َ َ َ َ َ َ ِ َ َ َ َ َ ِ ْ َ ِ ُ ْ ِ َ َ َ ِ ْ َ ِ ا‬ Tidak boleh dinikahi seorang perempuan bersama dengan bibi dari jurusan bapak. Kedua. Kedudukan Sunnah terhadap Al-Qur’an Sunnah berfungsi menopang al-Qur’an dalam menjelaskan syari’at Islam.

Oleh karena itu. Dari keterangan tersebut di atas jelaslah bahwa memakai al-Qur’an saja dan meninggalkan Sunnah adalah sesuatu yang tidak mungkin dan tidak dibenarkan. ia berarti menerima perintah-perintah Allah. Keduanya merupakan satu kesatuan dalam kaitannya dengan kepentingan istidlal dan dipandang sebagai sumber pokok (ashl) yang satu. dan keputusan (ketetapan) Nabi. Jika begitu. Al-Qur’an telah menerangkan dengan jelas dan sempurna masalah ini. tidak seyogyanya hanya membatasi dengan memakai dalil al-Qur’an saja. Keduanya saling menopang secara sempurna dalam menjelaskan syari’ah. Sebab di dalam al-Qur’an terdapat banyak hal yang masih global seperti keterangan tentang sholat.” c. Begitupula orang yang menerima sunnah-sunnah rasul. Dalam konteks ini Imam asy-Syatibi berkata: “Di dalam melakukan istinbath hukum. haji. perbuatan. Dan tidak diragukan lagi. Di antara contoh hadits semacam ini adalah masalah li’an. Ketiga. Sunnah membawa hukum yang tidak ada ketentuan nashnya di dalam alQur’an. Imam Syafi’i mengatakan bahwa setiap orang yang menerima hukum-hukum yang diwajibkan oleh Allah maka berarti ia menerima Sunnah-sunnah Rasul-Nya serta menerima hukum-hukumnya. yakni nash. Perceraian ini mengandung hikmah. tidak pula merupakan tambahan terhadap nash al-Qur’an. karena tsiqoh (kepercayaan) yang menjadi dasar kehidupan berumah tangga telah hilang dari suami-isteri itu. kemudian sunnah memberikan ketetapan untuk memisahkan suami-isteri itu dengan jalan perceraian. Di antara contoh sunnah semacam ini adalah pelarangan memakan keledai kampung (al-humur al-ahliyah). puasa dan lain-lainnya. bahwa setiap perkataan dan keputusan nabi termasuk ajaran dan hujjah dalam agama. zakat. dan beberapa ketentuan tentang diyat. daging binatang buas. sehingga tidak ada jalan lain kecuali harus menengok keterangan dari sunnah. tanpa memperhatikan pejabaran (syarah) dan penjelasannya (bayan).hukum tambahan yang menyempurnakan ketentuan-ketentuan pokok tersebut. Kehidupan Keseharian Nabi Telah dijelaskan di depan bahwa Sunnah Nabi meliputi perkataan. yaitu sunnah. apakah setiap perbuatan Nabi dalam hal pakaian dan makanan juga termasuk ajaran agama? Para ulama telah membagi perbuatan-perbuatan Nabi kepada tiga macam: .

tidak hanya berlaku terbatas pada Nabi saja. perbuatan Nabi yang dikerjakan yang merupakan tuntutan tabi’at kemanusiaan atau adat istiadat yang berlaku di negeri Arab. Mereka menguatkan pendapatnya itu dengan sabda Nabi saw: َ ْ ّ ُْ َ َ ِ ّ ‫قصوا الشارب واعفوا اللحي‬ ّ َ Artinya: Cukurlah kumismu dan biarkanlah tumbuh panjang jenggotmu Dengan dalil hadits ini. yang berdasar dalil dinyatakan bahwa perbuatan itu khusus berlaku untuk Nabi. puasa. seperti shalat. perbuatan yang dilakukan Nabi. setiap perbuatan-perbuatan keagamaan (amal diniyah) yang dilakukan Nabi tidak lain merupakan rincian terhadap ayat-ayat al-Qur’an yang masih mujmal (global). Itu semua merupakan perbuatan-perbuatan Nabi yang dilakukan sesuai dengan tabi’at kemanusiaannya dan adat istiadat kaumnya. makanan. Misalnya. Diantara hal-hal yang masih diperdebatkan oleh sebagian ulama.Pertama. Kedua macam perbuatan ini. haji. Perbuatan-perbuatan yang menjelaskan syari’at yang masih mujmal b. mereka berpendapat bahwa mencukur kumis dan memelihara jenggot bukanlah merupakan adat. Perbuatan-perbuatan Nabi yang menunjukkan bahwa perbuatan itu hukumnya mubah. seperti perbuatan Nabi merawat jenggot. Kedua. Dan. seperti perkawinannya yang lebih dari empat isteri. dan barang-barang halal yang diperoleh serta cara-cara memperolehnya dan sebagainya. dari segi apakah perbuatan atau kebiasaan Nabi itu termasuk dalam konteks menjelaskan hukum syara’ ataukah dalam konteks adat kebiasaan masayarakat Arab. perbuatan yang menyangkut penjelasan syari’at. bahwa perbuatan Nabi yang merupakan penjelasan terhadap syari’at terbagi dua macam : a. aqad muzara’ah (bagi hasil) dan hutang piutang yang dilakukan Nabi. . Aneka ragam perbuatan Nabi semacam itu merupakan syari’at yang harus diikuti. seperti memakai pakaian. Kebanyakan ulama menganggap bahwa perbuatan itu termasuk Sunnah yang harus diikuti. Dengan demikian dapat kita katakan. praktekpraktek jual beli yang dijalankan Nabi berarti menunjukkan bahwa jual beli tersebut hukumnya mubah. hukum-hukumnya berlaku umum. akan tetapi terkait dengan hukum syara’. Ketiga.

Kesimpulan Meskipun istilah Hadits dan Sunnah telah umum di kalangan umat Islam bukan berarti keduanya sudah dipahami dengan baik. yaitu larangan menyerupai atau meniru orang Yahudi dan orang-orang ‘ajam (non-Arab) yang memelihara kumis dan mencukur jenggot. Alasan ini memperkuat bahwa perbuatan Nabi itu dapat dilihat dari segi adat. Belum lagi perbedaan antara Hadits dan Sunnah yang juga terdapat perbedaan di kalangan ulama. Adapun kedudukan Sunnah dan Hadits dalam syari’at Islam tidaklah banyak perbedaan pendapat. Hal itu sudah diakui oleh kalangan ulama Fiqh dan ulama Hadits. kecuali segelintir kelompok yang membantahnya. Perbuatan Nabi itu sebenarnya dilatarbelakangi oleh hal lain. bukan penjelasan hukum syara’. Berdasarkan dalil-dalil al-Qur’an maupun Hadits sendiri. yaitu kelompok inkar-sunnah.Sedang para ulama yang berpendapat bahwa perbuatan Nabi memelihara jenggot itu termasuk adat. . berdasarkan ijma’ ulama. Sebagian ada yang menyamakan antara keduanya dan sebagian yang lain membedakan keduanya dengan menyertai dalil masing-masing. Hal itu Karena disebabkan oleh perbedaan sudut pandang dari para ulama. tidaklah benar hanya berpegang pada al-Qur’an tanpa mempertimbangkan Sunnah-sunnah Rasulullah saw. mengemukakan alasan bahwa larangan (nahi) tidak mesti mengandung arti keharusan. Antara ulama ahli Fiqh dan ulama ahli Hadits mempunyai definisi tersendiri yang berimplikasi pada penyikapan terhadap keduanya. Jumhur ulama sepakat bahwa Sunnah-Hadits merupakan sumber kedua dalam hukum Islam setelah al-Qur’an. VI. Justru terdapat beberapa perbedaan pendapat dalam mendefinisikan Hadits dan Sunnah.

com/index.DAFTAR PUSTAKA http://www.php? option=com_content&view=article&id=415:lebih-dekat-dengan-al-hadist-dan-alsunnah&catid=43:aliran-menyimpang&Itemid=103 .inpasonline.

(cetakan ke-9) (Jakarta: Pustaka Firdaus) Zuhri. (Yogyakarta: Tiara Wacana) . (Jakarta: Bulan Bintang) As Shiddieqy. Fiqih Peradaban: Sunnah Sebagai Paradigma Ilmu Pengetahuan. Hadis Nabi: Telaah Historis dan Metodologi. 1978. 2000. (Jakarta: Akbar) Zahrah. 17 Vo.M. 1997. (Surabaya: Dunia Ilmu) Al-Syafi’i. Daud. Hasbi. 1995. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits. (Edisi Kedua). (terj). “Pemahaman Hadis: Perspektif Historis” dalam Al-Hikmah Jurnal StudiStudi Islam. Islam. As Sunnah Wa Makanatuha fi At Tasyri’ Al Islami. (Jakarta: Bulan Bintang) Munawwir. (edisi kedua). 1981. Membahas Ilmu-Ilmu Hadits (terj). Muh. Introduction to Islamic Theology and Law. 1967. Evolusi Konsep Sunnah: Implikasinya pada Hukum Islam.. (Jakarta: Pustaka Firdaus) As Shiddieqy. (Jakarta: Pustaka Firdaus) Goldziher. (Princeton: Princeton University Press) Ham. Pembaruan Islam dan Orientalisme dalam Sorotan.W. 2005. 1977. 1358/1940. Fazlur. 1997. (Chicago: University of Chicago Press) Rahmat. (Jakarta: Bulan Bintang) As Siba’i. 2006. Mashadi. 1988. (Bandung: Yayasan Muthahhari. ar-Risalah. Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya (terj). Muhammad Mustafa. (Cetakan kedua) (Dimasyq: al-Maktab al-Islami) Azami. M. (Semarang: Aneka Ilmu) Ismail. Kriteria antara Sunnah dan Bid’ah. M. Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap. Ignaz. 1991. Muhammad Abu. Ushul Fiqih. 2003. 2002. (Cairo:) As-Shalih. Kaedah Kesahihan Sanad Hadis. VII / Tahun 1996) Rasyid. Subhi. Studies in Hadith Methodology and Literature (Indianapolis: Islamic Teaching Centre) Azami. (terj). Hasbi. Syuhudi. Editor Ahmad Syakir. Musthafa.DAFTAR PUSTAKA Al-Qaradhawi. 1979. M. M. (Surabaya: Pustaka Progresif) Rahman. Jalaluddin. A. Yusuf.

2000). hlm. hlm. lihat juga M..cit.W. 20 Mashadi Ham. Pengantar. Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap.. 1997). hlm. op. Munawwir. op. “Pemahaman Hadis: Perspektif Historis” dalam Al-Hikmah Jurnal StudiStudi Islam. Imam al-Bukhari M.cit. hlm.A. Hasbi Ash-Shiddieqy.. Sejarah dan Pengantar. op. Evolusi Konsep Sunnah. hlm. Ibid. hlm. hlm. Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya. (Indianapolis: Islamic Teaching Centre.M. 7. 339.35 Ibid. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits. 38 . 1991). Evolusi Konsep Sunnah: Implikasinya pada Hukum Islam. (Jakarta: Pustaka Firdaus. hlm. hlm. 242 M. hlm. op. hlm. (Semarang: Aneka Ilmu. op.cit. (Jakarta: Bulan Bintang. (Bandung: Yayasan Muthahhari. Syuhudi Ismail. Azami. M. 24 M.cit. 33 M. Hasbi Ash Shiddieqy. hlm. hlm. 24. Imam al-Bukhari HR.cit.. hlm.cit. 17 Vo.cit. 1995). 23 Lisanul al-‘Arab: kata “sunan” Mukhtar al-Shihah. VII / Tahun 1996). 37 M. hlm 16 Muhammad Mustafa Azami. (Surabaya: Pustaka Progresif. hlm 41 M Hasbi ash-Shiddieqy. Lihat Juga M. 21-31 Mashadi Ham. 1-2..M. Hasbi Ash-Shiddieqy. Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya (Terj). op. hlm.. Membahas Ilmu-Ilmu Hadits (terj). hlm. Hasbi Ash-Shiddieqy. Edisi Kedua. Hasbi ash-Siddieqy.37 Ibid. hlm. Studies in Hadith Methodology and Literature.cit. Jalaluddin Rahmat. 16-18. (Jakarta: Pustaka Firdaus. 7-8 HR. op. 20 Subhi as-Shalih. 15 Ibid.. 40. 2006). Azami. Hasbi Ash-Shiddieqy. hlm. op. 1977). hlm..

37 M. op. Pengantar. op. hlm. hlm. hlm. 6 M Hasbi ash-Shiddieqy.cit. 2005 cetakan ke-9). ar-Risalah. Ushul Fiqih. hlm. Syuhudi Ismail. Editor Ahmad Syakir.. Sejarah dan Pengantar. op. (Cairo: 1358/1940).cit. (Jakarta: Pusataka Firdaus. 162 Al-Syafi’i. hlm.cit. 16 Muhammad Abu Zahrah.Subhiy as-Shaleh. 33 ..

al-Hadist berarti. jamaknya ahadits.” Sedangkan menurut ahli Ilmu Ushul. Sebagai buktinya kita mengenal Hadits marfu’. yaitu segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW selain alQuran al-Karim.” Dalam khazanah Ilmu Hadits. yaitu Hadits yang dinisbahkan kepada sahabat. dan al-Khabar. Karena merupakan tuntutan Syari’at Islam.” . yaitu Hadits yang dinisbahkan kepada tabi’in. hidtsan dan hudtsan. namun dalam cara-cara berpakaian seperti menutup aurat adalah bagian dari Hadits. yaitu sebagian merupakan tuntutan kebudayaan dan sebagian merupakan tuntutan Syari’at. Secara terminologis. Hadits ialah: “segala ucapan Nabi. sifat-sifat dan hal ihwal Nabi” Menurut istilah ahli Ushul Fiqh. pengajaran. perbuatan dan taqrir Nabi yang berkaitan dengan hokum atau berdampak hukum. kata ini berasal dari kata al-Hadist. Sunnah adalah: ً َ ْ ُ ْ َ ْ َ ْ َ َ ‫ّ ِ ْ َ ُ َ ْ ُ ْ َة‬ ‫الطريقة محمود ً كانت اومذمومة‬ “Jalan yang dilalui. Sementara kalangan ulama ada yang menyatakan bahwa Hadits itu bukan hanya dari Rasul tetapi berasal dari para sahabat juga. Khabar. istilah Hadits juga sering disebut dengan istilah Sunnah. berpakaian itu termasuk Jibiliyah. jadid (baru). Secara etimologis. al-Jadid (yang baru). yaitu Hadits yang dinisbahkan kepada Nabi Saw.Pengertian Hadist Kata hadist berasal dari bahasa Arab. Hadits ialah: “segala perkataan. yang berarti kabar atau berita. al-Hadist berarti. perbuatan. berita atau riwayat. taqrir. Ta’rif Sunnah antara lain sebagaimana dikemukakan oleh Muhammad Ajaj al-Khatib: ‫ما اثر عن النبي صلى ال عليه وسلم من قول او فعل اوتقرير اوصفة خلقية او سير ٍ سواء كان قبل البعث ِ او بعدها‬ َ َ ْ َ ْ َ ‫َ ُ ِ ُ َ ِ ّ ِ ّ َّ ُ ََ ْ ِ َ َّ َ ِ ْ َ ْ ٍ َ ْ ِ ْ ٍ َ ْ َ ْ ِ ْ ٍ َ ْ ِ َ ٍ َ ْ ِ ّ ٍ َ ْ ِ ْ َة َ َ ٌ َ َ َ ْ َ ْ ِ ْ َة‬ “Segala yang dinukilkan dari Nabi Saw. baik berupa perkataan. Hadits mauquf. Ta’rif Sunnah Menurut bahasa. perbuatan.” Adapun menurut istilah. Dalam kajian fiqih. dan Hadits maqtu. Sedangkan menurut Mahmud Yunus.PENGERTIAN HADIST DAN ILMU HADIST 1. sifat. maupun taqrir Nabi yang bersangkut paut dengan Hukun Syara” Tidak termasuk dalam istilah Hadits sesuatu yang tidak bersangkut paut dengan hokum seperti berpakaian karena itu termasuk pada kebudayaan. perbuatan. baik terpuji atau tercela. taqrir dan keadaannya. dan khabar. Menurut Ibn Manzhur. baik sebelum Nabi belum diangkat jadi Rasul atau sesudahnya. pengertian Hadits ialah: ً ْ َِ َ ْ ُ َ ْ َ ُ ُْ َ ّ ِ ٍ ْ ِ ْ َ ْ َ ٍ ْ ِ ْ َ ٍ ْ َ ْ ِ ِ ْ ِ َ ْ ِ ْ ُ ْ ُ ْ َ َ َّ َ ِ ْ ََ ُ َّ ّ ِ ّ ِ َ َ َ َ َ ّ ُ ‫كل ما صدر عن النبي صلى ال عليه وسلم غير القران الكريم من قول او فعل او تقرير مما يصلح ان يكون دليل‬ ّ ِ ْ َ ٍْ ُ ِ ‫لحكم شرعي‬ “ Hadits. kelakuan. jamaknya: al-Hadist al-Haditsan dan al-Hudatsan. taqrir. dan Atsar. Ulama Hadits mendefinisakan Hadits sebagai berikut: ٍ ّ ِ ُُ ْ َ ٍ ّ ِ ْ َ ٍ َ ِ ْ َ ٍ ْ ِ ْ َ ْ َ ٍ ْ ِ ْ َ ٍ ْ َ ْ ِ َ َّ َ ِ ْ ََ ُ َّ ّ ِ ّ ِ َ ُ ِ ُ َ ّ ُ ‫كل ما اثر عن النبي صلى ال عليه وسلم من قو ل او فعل او تقرير او صفة خلقية او خلقية‬ “ Segala sesuatu yang diberitakan Nabi SAW baik berupa sabda. baik berupa perkataan. Menurut ahli Hadits. perjalanan hidup. perbuatan.

dalam bidang atau disiplin tertentu. dan sebagainya. perbuatan. Namun dalam istilah Hadits. kehasanannya dan kedha’ifannya. maupun dari sahabat atau berita dari tabi’in. Dari pembahasan Muhaditsin diatas.Pengertian Ilmu Ilmu Hadits adalah ilmu tentang Hadits. Lafazh Mushthalah. gerak-gerik. dan ilmu pengetahuan untuk membedakan keshahihannya. serta memiliki objek kajian yang jelas. baik segi matan maupun sanadnya”. misalnya: atsar Nabi. Kedua. Adapun secara terminologi. namun Mushthalah dalam pengertian yang luas. pembagiannya pada Ilmu Hadits dan Ilmu Ushul al-Hadits. atsar shabat. Hadits adalah segala peristiwa yang dinisbahkan kepada Nabi Saw walaupun hanya sekali saja beliau mengucapkannya atau mengerjakannya dan mwalaupun diriwayatkan oleh perorangan saja. dinukilkan dari masa ke masa dengan jalan mutawatir. Karena khabar adalah berita. yang berarti berita. menurut bahasa berarti. Sebagian mereka berpendapat bahwa khabar adalah sinonim dari kata Hadits dan sebagian lagi tidak demikian. didefinisikan sebagai berikut: ِ ْ ِ ْ َ َ َ ِ ْ ِ َ َ َ َ ِ ِْ َ َ ِ ِ َ ْ َ َ ِ ِ ْ ِ ْ َ َ ِ ِ َ ْ َ َ َ َّ َ ِ ْ ََ ُ َّ ِ ِ ْ ُ َ ِ َ ْ َ ِ ٌ ْ ِ ‫علم باقوال رسول ال صلى ال عليه وسلم و افعاله وتقريره وهي ءته وشكله مع اسا نيدها وتمييز‬ ‫صحا ِهاوحسانهاوضعافهاعن خلفهامتنااواسنادها‬ َ ِ َ ْ ِْ َ ً ْ َ َ ِ َ ِ ْ َ َ ِ َ ِ َ َ ِ َ ِ َ َ ‫ِ َ ح‬ “Ilmu tentang ucapan. Ta’rif Khabar dan Atsar Secara etimologi khabar berasal dari kata: khabar. Pertama. tabi’in dan lain-lain. dan bentuk jasmaniah Rasulullah Saw beserta sanad-danadnya. Sedangkan Ilmu Ushul al-Hadits didefinisikan sebagai berikut: ‫علم يتوصل الى معرفة صحاح الحاديث وحسانهاوضعافهامتنااو اسناداوتمييزهاعن خلفها‬ َ ِ َ ِ ْ َ َ ِ ْ ِ ْ َ َ ً َ ْ ِ ْ َ ً ْ َ َ ِ َ ِ َ َ ِ َ ِ َ ِ ْ ِ َ َ ْ َِ ِ ِ َ ِ ْ َ َِ ّ َ َ َ ُ ٌ ْ ِ . 2. kata atsar diindentikan kepada yang diterima dari sahabat. ada dua pembagian Ilmu Hadits atau Mushthalah Hadits dalam arti luas. Ilmu adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematis dan sistemik. Sedangkan Sunnah adalah sesuatu yang diucapkan atau dilaksanakan oleh Nabi Saw terus menerus.Namun Hasbi Ash-Shiddieqy menyatakan bahwa antara Sunnah dan Hadits dapat dibedakan. taqrir. “sesuatu yang telah disetujui”. dan lafazh atsar artinya bekas sesuatu. Kata atsar akan lebih jelas pengertiannya apabila diberi keterangan dibelakangnya. baik dari Nabi Saw. para ulama Hadits tidak sepakat dalam menyikapi lafazh-lafazh tersebut. Pembagian yang pertama Ilmu Hadits. Ilmu Hadits sering disebut Ilmu Mushthalah Hadits. Pengertian Mushthalah menurut istilah kalangan Muhaditsin ialah: “lafazhlafazh yang diistilahkan untuk suatu makna oleh ulama Hadits dan dipergunakan di dalam pembahasan mereka”. pembagiannya pada Ilmu Riwayah dan Ilmu Dirayah Hadits.

kehasahan dan kedha’ifan Hadits. ilmu tentang rawi Hadits baik dari shahabat. 3.URGENSI DAN RUANG LINGKUP STUDI HADITS 1. Pengertian yang Kedua Ilmu Hadits Riwayah didefinisikan: ُ ُ َ ِ َ ُ ُ َ ْ ِ ْ َ َ ُ ُ َ ْ ََ َ َّ َ ِ ْ ََ ُ َّ ّ ِ ّ ُ َ ْ َ ِ ِ ُ َ ْ ُ ٌ ْ ِ ‫علم يعرف به اقوال النبي صلى ال عليه وسلم وافعاله وتقريراته وصفاته‬ “Ilmu untuk mengetahui ucapan Nabi Saw. matn. 4. B. 9. 6. taqrir dan sifat-sifatnya. dengan memakai kata-kata yang khusus dan martabat kata-kata itu menunjukan derajat tertentu baik tentang kecatatan maupun keadilan para perawi itu.Ilmu Mushthalah al-Hadits ialah yang menerangkan pengertian dari istilah yang dipergunakan oleh ahli Hadits. . 7.Ilmu Fan al-Mubhamat ialah ilmu yang membahas tentang nama orang-orang yang tidak disebut dalam matan atau dalam sanad. tidak nyata.” Sedangkan definisi Ilmu Hadits Dirayah ialah: َ ِ َ ُ ْ َ َ ِ َ ّ ُ َ ِ َ ِ َ َ َْ ِ ّ َ ّ ُ ِّ ْ َ َ ِ ْ َ ْ َ ِ َ ّ ُ َ ْ َ ِ ِ َ ْ ُ ُ ْ ُ َ ْ ‫القانون يدرى به احوال السندوالمتن وكيفية التحمل والداء وصفة الرجال وغير ذالك‬ “Kaidah-kaidah untuk mengetahui hal ihwal sabad. cara-cara penerimaan dan penyampaian. sifat perawi dan lain sebagainya”.Ilmu Tshhif wa al-Tahrif ialah ilmu yang menerangkan Hadits-hadits yang sudah diubah titiknya (mushhaf) dan bentuknya (muharraf). Dari pembagian dan batasan-batasan secara umum Ilmu Hadits di atas. tabi’in maupun angkatan sesudahnya. dari segi matn atau sanaf. 2.Ilmu Asbab Wurud al-Hadits ialah ilmu yang menerangkan sebab-sebab Nabi menuturkan sabda itu. yang dapat mencatatkan Hadits.Ilmu Talfiq al-Hadits ialah ilmu yang menerangkan tentang cara mengumpulkan antara Hadits-hadits yang saling berlawanan dari segi Zhahirnya. dan untuk membedakan dengan yang lainnya”.“Ilmu yang menjadi sarana untuk mengenal keshahin.Ilmu ‘Ilal al-Hadits ialah ilmu yang menerangkan sebab-sebab yang tersembunyi.Ilmu Nasikh wa al-mansukh ialah ilmu yang menerangkan Hadits-hadits yang sudah dimansukhkan dan menasakhkannya.Ilmu Gharib al-Hadits ialah ilmu yang menerangkan maksud kalimat yang terdapat dalam matan Hadits yang sukar diketahui maknanya dan yang kurang terpakai oleh umum. Karena merupakan salah satu pokok Syari’at. 1.Ilmu Jarh wa al-Ta’dil ialah ilmu yang menerangkan tentang hal kecatatan para rawi Hadits dan tentang penta’dilannya. 5. 8. yakni sebagai sumber Syari’at Islam yang kedua setelah AlQuran. perbuatan. Pentingnya Mempelajari Hadits dan Ilmu Hadits Hadits (Sunnah) merupakan sumber bagi ajaran Ialam. maka terbagilah Ilmu Hadits pada jenis yang dapat dirangkum sebagai berikut: Ilmu Rijal al-Hadits.

basan atau dha’if. baik mengenai aqidah. disebutkan bahwa Hadits adalah perkataan (aqwal). Contoh: ‫كان رسول ال صلى ال عليه وسلم يصلى على راحلته حيث توجهت به فاذا ارادالفريضة نزل فاستقبل القبلة > رواه‬ َ َُ ِ ْ َ َ ْ َ ْ َ َ َ َ َ َ ْ ِ َ ْ َ َ َ َ ِ َ ِ ِ ْ َ ّ َ َ ُ ْ َ ِ ِ َِ َ ََ َّ ُ َ َّ َ ِ ْ ََ ُ َّ ِ َ ْ ُ َ َ َ ‫> البخارى‬ “Rasulullah Saw pernah melakukan shalat di atas kendaraan (dengan menghadap kiblat) meurut arah kendaraan itu menghadap. keadaan. terus menghadap kiblat” Riwayat al-Bukhari.Ruang Lingkup Pembahasan Hadits dan Ilmu Hadits Dari pembahasan tentang ta’rif Hadits di muka.” Riwayat Mutafaq’alaih. Tanda bahwa teks itu qaul Nabi adalah lafazh:‫ قال‬pada : َ َّ َ ِ ْ ََ ُ َّ ِ ُ ْ ُ َ َ َ ‫قال رسول ال صلى ال عليه وسلم‬ b. agar dapat mengetahui dan memahami hal ihwal secara maksimal untuk pengamalan Syari’at Islam.Perkataan (aqwal) ialah perkataan yang pernah beliau ucapkan. sehingga diharapkan mampu meletakkan Hadits pada Proporsi yang sebenarnya. hukum.Pernyataan (taqrir) ialah kesan adanya ketetapan aturan dan ajaran dari keadaan beliau mendiamkan. Melihat kedudukan Hadits yang sangat penting itu. perlu mendalami ilmunya (‘ulum al-Hadits). perbuatan (af’al). Hal ini secara jelas disabdakan sendiri oleh Nabi dalam Hadits: ‫> تركت فيكم شيئين لن تضلوابعدهما كتاب ال وسنتي > رواه الحاكم عن ابى هريرة‬ ّ َ ُ َ ِ َ َ ِ َ ُ َ ْ َ ْ ِّ َ ْ َ ِ ْ َ ْ َ ْ ُ ْ ِ ُ ْ َ َ “Telah kutinggalkan untukmu dua perkara (pusaka). Sehingga kita tahu tentang Hadits yang dipakai dalil itu shahih. selama kamu masih berpegang kepada keduanya. praktek ibadah. adalah lafazh: َ َّ َ ِ ْ ََ ُ َّ ِ َ ْ ُ َ َ َ ‫كان رسول ال صلى ال عليه وسلم‬ c. baik yang berkenaan dengan Ilmu Riwayah maupun Ilmu Diriyahnya. ahklak. tidak mengadakan sanggahan atau menyetujui apa yang telah dilakukan atau diperkatakan oleh para sahabat di hadapan beliau. yakni suatu bunyi yang dilisankan dan mempunyai makna. Karena itu. himmah dan lain-lain yang diidhafahkan kepada Nabi Saw. dan lain-lain. dan setiap orang hanya memperoleh apa yang ia niatkan…. Perbuatan (af’al) ialah apa yang beliau kerjakan yang merupakan penjelasan dan pengamalan praktis terhadap peraturan Syari’at. tidak sekali-kali kamu tersesat selama-lamanya. aktivitas muamalah. Contoh : ‫> قال رسول ال صلى ال عليه وسلم انما العمال بالنيات وانما لكل امرئ مانوى > متفق عليه‬ َ َ َ ٍ ِ ْ ّ ُ ِ َ َ َّ ِ ّ ّ ِ ُ َ ْ َ ْ َ ّ ِ َ َّ َ ِ ْ ََ ُ َّ ِ ُ ْ ُ َ َ َ “Rasulullah Saw telah bersabda: Hanya saja amal-amal perbuatan itu dengan niat. untuk melakukan istinbath hukum dan agar mengetahui problematikanya. pendidikan dan lain-lain. yaitu Kitabullah dan Sunnahku” Riwayat al-Hakim dari Abu Huraira. maka setiap umat Islam harus mempelajari Hadits dan mendalami ilmu-ilmunya. Ciri atau tanda untuk memahami bahwa teks itu merupakan perbuatan (af’al) Rasul. a. pernyataan (taqrir) dan sifat.Hadits merupakan pedoman hidup yang harus diikuti oleh segenap umat Islam. Sebagai contoh: kesan dari sikap Nabi Saw terhadap tindakan Khalid Ibn Walid dalam salah satu jamuan makan menyajikan masakan daging biawak dan . 2. Memahami Hadits secara jelas merupakan keharusan bagi umat Islam. Apabila hendak shalat fardhu beliau turun sebentar.

rawi atau yang meriwayatkan Hadits. d.Sifat. yang letaknya dalam suatu Hadits pada penghujung sanad. yakni rangkaian para rawi keseluruhan yang meriwayatkan suatu Hadits. Contoh: Qais Ibn Marhamah berkata: ‫>ولدت اناورسول ال صلى ال عليه وسلم عام الفيل >رواه الترمذى‬ ِ ْ ِ ْ َ َ َ َّ َ ِ ْ ََ ُ َّ ِ ُ ْ ُ َ َ َ َ ُ ْ ُِ “Aku dan Rasulullah Saw dilahirkan pada tahun gajah”. 3. Tetapi Rasul tidak sempat menjalankan puasa di tahun depannya.Sifat-sifat Nabi yang dilukiskan oleh para sahabat dan ahli Tarikh. memelihara dan menyampaikan Hadits dengan menyertakan sandaran periwayatannya. Beliau menjawab: “(Maaf) tidak.Rawi adalah subyek periwayatan. baik yang diidhafahkan kepada Nabi Saw. mereka berkata: Ya Rasululah! Bahwa hari ini adalah yang diagungkan oleh Yahudi dan Nasrani. para sahabat menghadap ke Nabi. yakni lafazh Haditsnya. 1. antara lain silsilah. Khalid segera memotong dan memakannya. maka pengertian sanad adalah termasuk rawi. nama-nama dan tahun kelahiran yang ditetapkan para sahabat dan ahli tarikh. Rasul bersabda: tahun yang akan datang insya Allah aku akan berpuasa tanggal sembilan”. perbuatan atau taqrir. ruang lingkup pembahasan tentang Hadits dapat kita perinci juga dari periwayatannya. berupa perkataan. Kemudian. 2) sandaran berita (sanad). 1.Matan ialah materi berita. keadaan dan Himmah. yang menyatakan: ‫لما صام رسول ال صلى ال عليه وسلم يوم عاشوراء وامربصيامه قالوا يارسول ال انه يوم يعظمه اليهود والنصارى‬ َ ّ َ ُ ْ ُ َ ْ ُ ُ ّ َ ُ ٌ ْ َ ُ ّ ِ ِ َ ْ ُ َ َ ْ ُ َ ِ ِ َ ِ ِ َ َ ََ ِ َ ْ ُ َ َ ْ َ َ َّ َ ِ ْ ََ ُ َّ ِ ُ ْ ُ َ َ َ ّ َ ‫>فقال فاذاكان عام المقبل ان شاءال صمنا اليوم التاسع >رواه مسلم وابوداود‬ ِ ِ ّْ َ ْ َ ْ َ ْ ُ ُ ِ َ ْ ِ ِ َّ ُ ْ ُ َ َ َ َ َِ َ َ َ “Ketika Rasulullah Saw berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa. karena beliau telah wafat. 3.mempersilahkan kepada Nabi Saw untuk menikmatinya bersama para undangan. Yakni:1) pemberita atau rawi. misalnya hasrat beliau untuk berpuasa pada tanggal 9 ‘Asyura seperti yang diriwayatkan oleh Ibn Abbas. Riwayat Muslim dan Abu Dawud. 2. 2. dan 3) materi berita (matan) atau marwi. Bila dikatakan Hadits terdiri dari sanad dan matan. Beliau bukan orang tinggi dan bukan pula orang pendek”. sedangkan Nabi melihat padanya dan tidak melarangnya. sebab sanad adalah kumpulan atau rangkaian para rawi yang menjadi sandaran matan. seperti sifatsifat dan bentuk jasmaniah beliau.Sanad atau thariq ialah jalan menghubungkan matan Hadits kepada junjunan kita Nabi Muhammad Saw.Himmah.Keadaan. yakni referensi atau sumber yang memberitakan Hadits. berhubung binatang itu tidak terdapat di kampong kaumku. Contoh: ِ ْ ِ َ ْ ِ َ َ ِ ْ ِ ّ ِ َ ْ َ ً ْ ُ ْ ُ ُ َ ْ ََ ً ْ َ ‫َ َ َ ُ ْ ُ ِ َّ ُ ََ ْ ِ َ َّ َ َ ْ َ َ ّ س‬ ‫كان رسول ال صلى ال عليه وسلم احسن النا ِ وجهاواحسنهم خلقاليس بالطويل ولبالقصير‬ <‫>رواه الخارى‬ “Rasulullah itu adalah sebaik-baik manusia mengenai paras mukanya dan bentuk tubuhnya. aku jijik padanya”. . yakni orang yang menerima. shahabat atau tabi’in. Sanad ialah sandaran Hadits. rencana (hasrat) Nabi yang belum direalisasikan.

Ilmu Nasikh Mansukh. hukum keluarga dan lain-lain. pembangkitan di hari akhir dan lain-lain. yaitu tauhid. kesopanan yang tinggi serta pengajaran yang efektif. hikmah. Mamfaat atau tujuan Ilmu Hadits ini ialah untuk menetapkan maqbul (dapat diterima) dan mardud (ditolak)nya suatu Hadits. menyampaikan kepada orang lain dan memindahkan atau mentadwinkan dalam suatu diwan / kitab Hadits. Dalam menyampaikan dan mentadwin Hadits. 2. keadaan sanad dan keadaan marwi (matan)-nya. Cabang Ilmu Hadits dari segi rawi dan sanad. sifat ketuhanan. etika. dan Ilmu Tashhif wa al-Tahrif. antara lain Ilmu Gharib al-Hadits. Adapun ruang lingkup pembahasan ilmu Hadits atau Ilmu Mushthalah Hadits (dalam arti luas) pada garis besarnya meliputi Ilmu Hadits Riwayah dan Ilmu Hadits Dirayah. Ilmu Talfiq al-Hadits. hanya dinukilkan dan dituliskan apa adanya baik mengenai matan maupun sanadnya. keadaan shahabat dan tentang segala usaha dan karya yang dilaksanakan. Adapun cabang Ilmu Hadits dari segi matan. muamalah. Mamfaat mempelajari Ilmu Hadits Riwayah ini ialah untuk menghindari adanya kemungkinan salah kutip terhadap apa yang disandarkan kepada Nabi Muhammad Saw. jinayah. memelihara. 4. Ilmu Thahaqah al-Ruwat. antara lain: Ilmu Rijal al-Hadits.Akidah. dan selanjutnya yang maqbul untuk diamalkan.Ruang lingkup isi kandungan Hadits Nabi itu meliputi: 1. yakni yang menerangkan tentang keadaan Rasulullah Saw.Budi pekerti. Ilmu Fan al-Mubhamat. Obyek Ilmu Hadits Riwayah ialah bagaimana proses menerima.Hukum yang menerangkan ibadah. 3.Sejarah. Ilmu Asbab Wurud al-Hadits. dan Ilmu Jarh wa al-Ta’dil. dan yang mardud ditinggalkan. Adapun objek Ilmu Hadits Dirayah terutama Ilmu Mushthalah yang khas. ialah meneliti kelakuan para perawi. .

mengemukakan sanad adalah : ِ ْ َ ْ َ ِ ‫ِ ْ َِ ُ ّ َ ِ ْ ُ ْ َِة‬ ‫سلسلة الرجال الموصل ِ الى المتن‬ “Mata rantai para perawi hadis yang menghubungkan sampai kepada matan hadis.” (HR. . Begitupun sebaliknya. Al-Bukhori) Dari contoh hadis di atas jika diteliti. )رواه البخاري‬ Artinya: “memberitakan kepada kami Abdullah bin Yusuf ia berkata.Mahmud at Tahhan. maka hadis tersebut dhaif sehingga tidak bisa dijadikan hujjah. taqwa. 2. dan mempunyai daya ingat yang kuat. Pengertian Sanad menurut bahasa artinya sandaran atau sesuatu yang dijadikan sebagai sandaran. sanadnya bersambung dari satu periwayat kepada periwayat lain sampai kepada sumber berita pertama. menulis: ِ ََ ْ ِ ْ ِ َ ْ َ ُ َْ ِ ‫الخبار عن طريق المتن‬ “Berita tentang jalan matan” . hal 41 . diantaranya ialah: . yang menyambungkan kepada Rasulullah SAW. banyak ulama yang mengemukakannya. Matan Dan Mukharrij Diposkan oleh Fathur Rahman al-Aziz jam 22:47 Ditulis Oleh: Ahmad Bukhari Muslim A. Contoh Sanad ‫حدثنا عبد ال بن يوسف قا ل أخبرنا مالك عن ابن شهاب عن محمد بن جبير بن مطعم عن أبيسه قسال : سسمعت رسسول‬ ‫)ال صلى ال عليه قرأ فى المغرب الطور. maka hadisnya dinilai shahih. Sedangkan pengertian sanad menurut istilah ilmu hadis. menjaga kehormatan diri. Agar lebih jelas berikut ini diterangkan dalam bentuk denah periwayatan hadits di atas . andaikan salah seorang dalam sanad ada yang fasik atau yang tertuduh dusta atau setiap para pembawa berita dalam mata rantai sanad tidak bertemu langsung (muttashil). dikatakan demikian karena suatu hadis bersandar kepadanya . Sanad 1. yakni adil.Struktur Hadis : Sanad. maka yang dimaksud dengan sanad adalah dimulai dari haddatsana Abdullah bin Yusuf hingga pada lafadz ‘An biihi qaala. tidak fasik.As Suyuti dalam bukunya Tadrib ar Rawi.” Dalam bidang ilmu hadis sanad itu merupakan salah satu neraca yang menimbang shahih atau dhaifnya suatu hadis. memberitakan kepada kami Malik dari Ibnu Syihab dari Muhammad bin Jubair bin Muth’im dari ayahnya berkata: “aku mendengar Rasulallah SAW membaca surah Ath-Thur pada salat maghrib. Jika para pembawa hadis tersebut orang-orang yang cakap dan cukup persyaratan.

diantaranya: . من أحدث فى أمرنا هسذا مسا ليسس منسه فهسو رد.. 2. menyampaikan atau menuliskan kedalam suatu kitab apa-apa yang pernah didengar dan diterimanya dari seseorang (gurunya) . Matan 1. Seperti pada contoh hadis yang pertama. menampakkan. maka ia tertolak’. Contoh matan ‫عن أم المؤمنين عا ئشة رضى ال عنها قالت : قال رسول ال . . kesangatan. Bukhori dan Muslim) Dari contoh hadist diatas yang dimaksud dengan matan hadis ialah lafadz yang dimulai dengan ‫ من أحدث‬hingga lafadz ‫ فهو رد‬atau dengan kata lain yang dimaksud dengan bagian matan dari contoh hadis di atas ialah lafadz ‫“ من أحدث فى أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد‬barang siapa yang mengada-ngadakan sesuatu yang bukan termasuk dalam urusan (agamaku). Mukharrij Kata Mukharrij merupakan bentuk Isim Fa’il (bentuk pelaku) dari kata takhrij atau istikhraj dan ikhraj yang dalam bahasa diartikan. Di dalam suatu hadis biasanya disebutkan pada bagian terakhir nama dari orang yang telah mengeluarkan hadis tersebut.B. maka ia tertolak’. ” (Hr. Pengertian Kata matan menurut bahasa berarti ‫ ما ارتفع وصلب من الرض‬yang berarti tanah yang tinggi dan keras. ujarnya: ‘Rasulullah SAW telah bersabda: barang siapa yang mengada-ngadakan sesuatu yang bukan termasuk dalam urusan (agamaku). ‘Aisyah ra. sedangkan menurut istilah mukharrij ialah orang yang mengeluarkan.Menurut Muhammad At Tahhan ‫ما ينتهى اليه السند من الكلم‬ “suatu kalimat tempat berakhirnya sanad” . baik itu berupa perkataan Nabi atau perkataan seorang sahabat tentang Nabi.Menurut Ath Thibbi ‫الفاظ الحديث التى تتقوم بها معاني‬ “lafadz hadis yang dengan lafadz itu terbentuk makna” Jadi pada dasarnya sanad itu ialah berupa isi pokok dari sebuah hadis.namun ada pula yang mengartikan kata matan dengan arti kekerasan. mengeluarkan dan menarik.” C. )رواه‬ ‫)متفق عليه‬ “warta dari Ummu Al Mukminin. ialah imam Bukhari atau imam Muslim dan begitu seterusnya. semisal mukharrij terakhir yang termaksud dalam Shahih Bukhari atau dalam Sahih Muslim. sedangkan arti matan menurut istilah ada banyak pendapat yang dikemukakan para ahli dibidangnya. pada bagian paling akhir hadis tersebut disebutkan nama Al-Bukhari (‫ )رواه البخاري‬yang menunjukkan bahwa beliaulah yang telah mengeluarkan hadis tersebut dan termaktub dalam kitabnya yaitu Shahih Al-Bukhari. kekuatan. Posisi matan dalam sebuah hadis amatlah penting karna dari matan hadis tersebutlah adanya berita dari Nabi atau berita dari sahabat tentang Nabi baik itu tentang syariat atau pun yang lainnya.

Tabi’in pertengahan seperti Al-Hasan dan Ibnu Sirin d. Tabaqat al-Ruwwat Secara bahasa kata tabaqat diartikan. D. Tabaqat Al Ruwwah sejak masa sahabat sampai pada akhir periwayatan ada 12 tabaqat yaitu sebagai berikut: a. Murid Tabi’i Tabi’in yunior seperti At-Tirmidzi Di antara faedah mengetahui tabaqat al-ruwwah ini adalah menghindarkan kesamaan antara dua nama atau beberapa nama yang sama atau hampir sama. Tabi’i Tabi’in senior seperti Malik bin Anas dan Sufyan Ats-Tsauri h. Murid Tabi’i Tabi’in senior seperti Ahmad bin Hambal k. Tabi’in yunior tetapi tidak bertemu seorang sahabat seperti Ibnu Juraij g. kalau tidak mengetahui apakah tabi’in yang meriwayatkan hadis dari seorang sahabat itu hidup segenerasi atau tidak. Sahabat dengan berbagai tingkatannya. Sebab suatu hadis tidak dapat ditentukan sebagai hadis muttasil atau mursal.menurut Ibnu Hajar Al-Asaqalani. Tabi’i Tabi’in yunior seperti Abu Dawud Ath-Thayalisi dan Asy-Syafi’i j. Tabi’in dekat pertengahan seperti Az-Zuhri dan Qatadah e. Selain itu faedahnya juga yaitu untuk mengetahui ke-muttashil-an atau ke-mursal-an suatu hadis. Murid Tabi’i Tabi’in pertengahan seperti Adz-Dzuhali dan Al-Bukhori l. b. kaum yang serupa atau sebaya. Tabi’in yunior seperti Al-A’masy f.Begitu juga dengan contoh hadis kedua yang telah mengeluarkan hadis tersebut ialah Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim. Tabi’in senior seperti Sa’id bin Al-Musayyab c. untuk memudahkan pemahaman tentang tabaqat al-ruwwah berikut ini akan dipaparkan denah thabaqat al-ruwwah menurut Al-Atsqalani: TABAQAT AL-RUWWAH MENURUT IBNU HAJAR AL-ATSQALANI . ‫قوم تقاربوا في السن والسناد أوفي ال سناد‬ “Kaum yang berdekatan atau sebaya dalam usia dan dalam isnad atau dalam isnad saja” Tabaqat adalah kelompok beberapa orang yang hidup dalam satu generasi atau satu masa dan dalam periwayatan atau isnad yang sama atau sama dalam periwayatan saja. Tabi’i Tabi’in pertengahan seperti Ibnu Uyaynah dan Ibnu Ulayyah i. Sedangkan menurut istilah tabaqat ialah .

sedangkan yang dimaksud dengan hadis Nazil ialah hadis yang jumlah periwayatnya lebih banyak. Dalam hal ini ada beberapa macam: . yaitu hadis yang dekat atau sedikit jumlah perawinya dalam sanad dengan sesuatu tertentu: 1) Dekat dengna salah seorang Imam Hadis. ‫ما قل عدد رواته الى الرسول صلى ال عليه وسلم بالنسبة لسند اخر‬ “suatu hadis yang sedikit jumlah para perawinya sampai kepada Rasulallah SAW. Dibandingkan dengan sanad lain” Dari pengertian diatas jelaslah bahwa yang dimaksud dengan hadis ‘Ali ialah hadis yang jumlah perawinya lebih sedikit. Misalnya sanad suatu hadis mencapai 9 orang sementara sanad hadis lainnya hanya 7 atau 5 orang. ‘Ali mutlak ini yang paling tinggi diantara macam-macam ‘Ali apabila memiliki sanad yang shahih. ‘Ali mutlak. An-Nazil berasal dari kata An-Nuzul. antonym dari lafadz ‫ = النزول‬rendah dan turun. tentu yang sanadnya hanya 7 atau 5 itu yang disebut dengan hadis ‘Ali dan hadis yang sanadanya mencapai 9 orang yang disebut dengan hadis Nazil. Dibandingkan dengan sanad lain” Sedangkan pengertian hadis Nazil menurut ahli hadis ialah. 2. Sedangkan pengertian hadits ‘Ali menurut para ahli hadis ialah. ‫ما كثر عدد رواته الى الرسول صلى ال عليه وسلم بالنسبة لسند اخر‬ “suatu hadis yang banyak jumlah para perawinya sampai kepada Rasulallah SAW. Macam-Macam Hadis ‘Ali Hadis ‘Ali dibagi menjadi dua macam yaitu sebagai berikut: a. yaitu hadis yang lebih dekat para perawinya dalam sanad dengan Rasulullah karena lebih sedikit jumlahnya dibandingkan dengan sanad lain pada hadis yang sama. ‘Ali Nisbi. b. 2) Dekat dengan salah seorang pengarang kitab induk hadis yang dapat dipedomani.E. Hadis ‘Ali dan Nazil 1. Tinggi dan rendah dapat berlaku pada suatu tempat atau pada status dan kedudukan. Pengertian Dari segi bahasa ‘Ali ialah bentuk isim fa’il dari kata ‫ = العلو‬sesuatu yang tinggi .

Tujuan ulama mutaqaddimin mengetahui Isnad ‘Ali yang dekat dengan Rasulullah. Misalnya dua orang perawi sama-sama mendengar suuatu hadis dari seorang Syaikh. yaitu jika melalui sanad Syaikh (guru) salah seorang penghimpun hadis kedalam kitab hadis lebih dekat atau lebih sedikit dari pada melalui sanad penghimpun tersebut. tetapi salah satu sanad terdapat sebagian perawi yang meninggal terlebih dahulu maka ia di hukumi ‘Ali. e. 4) ‘Ali karena lebih dahulu mendengar. juga dari rawi lain yang menerima dari Syaikh itu. Riwayah Al-Kabir ‘An Ash-Shaghir Yang dimaksud dengan Riwayah al-kabir ‘an ash-shaghir. b) Badal. d) Mushafahah. yaitu persamaan jumlah para perawi dalam sanad dari seorang perawi sampai akhir dengan isnad murid salah seorang penghimpun kitab hadis. yaitu adanya persamaan jumlah isnad dari seorang perawi sampai akhir dengan isnad salah seorang penghimpun hadis ke dalam buku hadis. Sanad yang di dalamnya ada rawi yang mendengar dari seorang Syaikh. Mayoritas ulama menilai hadis ‘Ali lebih utama dari pada hadis Nazil. jumlah perawi dalam sanad sama. yaitu jika melalui sanad Syaikhnya Syaikh (gurunya guru) salah seorang penghimpun kitab hadis lebih dekat atau lebih sedikit dari pada melalui sanad penghimpun tersebut. Tetapi salah satunya telah mendengar sejak 60 tahun yang lalu sementara perawi yang satu lagi telah mendengar sejak 40 tahun yang lalu. Macam-Macam Nazil Hadis Nazil dibagi menjadi beberapa macam yaitu sebagai berikut: a. Sanad yang di dalamnya ada rawi yang menerima dari seorang Syaikh yang kemudian meninggal. 4. b. Sanad yang bilangan rawinya banyak sampai kepada satu kitab hadis yang teranggap d. c) Musawah. Terkadang didapatkan dua isnad yang sama jumlah para perawi dalam sanad. . karena sangat dimungkinkan sedikit kesalahan dibandingkan yang Nazil. karena ia lebih jauh dari kemungkinan-kemungkinan cacat.a) Muwafaqah. ialah periwayatan hadis dari seorang rawi yang lebih tua usianya atau lebih banyak ilmunya dari rawi yang lebih rendah usianya atau yang lebih sedikit ilmunya yang diperoleh dari seorang guru. Sanad yang bilangan rawinya banyak sampai kepada salah seorang Imam Hadis c. 3) ‘Ali karena sebagian perawi meninggal terlebih dahulu. Sanad yang bilangan rawinya banyak sampai kepada Nabi. Contoh Hadis ‫ل يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من نفسه ووالده وولده والناس أجمعين‬ F. kemudian (belakangan) rawi itu menerima dari rawi lain yang juga mendengar dari Syaikh itu. Sanad pertama ‘Ali karena lebih dahulu mendengar. Dinamakan mushafahah karena pada umumnya kedua belah pihak antara perawi sebuah hadis dengan murid salah seorang penghimpun hadis tersebut berjabat tangan. 3.

Kamus Ilmu Hadis.Alma’arif Jumantoro. DAFTAR PUSTAKA Rahman. Abdul.Bumi Aksara 2009 .III. menyampaikan atau menuliskan kedalam suatu kitab apa-apa yang pernah didengar dan diterimanya dari seseorang (gurunya)). Jakarta: Amzah. Bandung: PT. KESIMPULAN Dalam suatu hadis ada tiga macam yang istilah yaitu sanad (Mata rantai para perawi hadis yang menghubungkan sampai kepada matan hadis). 2002 Majid Khon. Ikhtisar Mushthalahu’l Hadis. Ulumul Hadis. dan isi pokok dari hadis tersebut) serta mukharrij (orang yang mengeluarkan. Totok. Fachur. IV. matan (suatu kalimat tempat berakhirnya sanad. Jakarta: PT.