P. 1
Kompilasi Artikel Al-Quran

Kompilasi Artikel Al-Quran

|Views: 1,164|Likes:
Published by alif fikri

More info:

Published by: alif fikri on Sep 23, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

03/30/2013

pdf

Kompilasi Artikel al-Quran

disusun oleh:
alif fikri
1
Judul : Kompilasi Artikel al-Quran
Penyusun : alif fikri
Penyusunan: 9 Januari 2010





Perhatian:
E-book ini bertujuan untuk kepentingan penyebaran ilmu dan da’wah
semata, bukan untuk diperjualbelikan atau tujuan komersial lainnya.
Beberapa artikel tanpa keterangan penulis bukanlah karya penyusun.
Penyusun hanya menyaring artikel tsb karena pertimbangan keilmuan.









م,'·'ا ل'-= ª--´-
23 م 1431 ـه
2
Daftar Isi

1. 1. 1. 1. Pengumpulan al Pengumpulan al Pengumpulan al Pengumpulan al- -- -Quran Pada Masa Nabi saw Quran Pada Masa Nabi saw Quran Pada Masa Nabi saw Quran Pada Masa Nabi saw

2. 2. 2. 2. Al Al Al Al- -- -Quran Adalah Mu'jizat Muhammad saw yang Abadi Quran Adalah Mu'jizat Muhammad saw yang Abadi Quran Adalah Mu'jizat Muhammad saw yang Abadi Quran Adalah Mu'jizat Muhammad saw yang Abadi

3. 3. 3. 3. Asbabun Nuzul Asbabun Nuzul Asbabun Nuzul Asbabun Nuzul

4. 4. 4. 4. Bagaimana Cara Mengetahui Asbabun Nuzul Bagaimana Cara Mengetahui Asbabun Nuzul Bagaimana Cara Mengetahui Asbabun Nuzul Bagaimana Cara Mengetahui Asbabun Nuzul

5. 5. 5. 5. Bebera Bebera Bebera Beberapa Faidah Mengetahui Asbabun Nuzul pa Faidah Mengetahui Asbabun Nuzul pa Faidah Mengetahui Asbabun Nuzul pa Faidah Mengetahui Asbabun Nuzul

6. 6. 6. 6. Beberapa Keistimewaan Mushhaf Abu Bakar ash Beberapa Keistimewaan Mushhaf Abu Bakar ash Beberapa Keistimewaan Mushhaf Abu Bakar ash Beberapa Keistimewaan Mushhaf Abu Bakar ash- -- -Shiddiq ra Shiddiq ra Shiddiq ra Shiddiq ra

7. 7. 7. 7. Beberapa Pertanyaan Sekitar Pengumpulan al Beberapa Pertanyaan Sekitar Pengumpulan al Beberapa Pertanyaan Sekitar Pengumpulan al Beberapa Pertanyaan Sekitar Pengumpulan al- -- -Quran Quran Quran Quran

8. 8. 8. 8. Dalil Dalil Dalil Dalil- -- -dalil Diturunkannya al dalil Diturunkannya al dalil Diturunkannya al dalil Diturunkannya al- -- -Quran dengan Tujuh Huruf Quran dengan Tujuh Huruf Quran dengan Tujuh Huruf Quran dengan Tujuh Huruf

9. 9. 9. 9. Hikmah Diturunkannya al Hikmah Diturunkannya al Hikmah Diturunkannya al Hikmah Diturunkannya al- -- -Quran Dengan Tujuh Huru Quran Dengan Tujuh Huru Quran Dengan Tujuh Huru Quran Dengan Tujuh Huruf ff f

10. 10. 10. 10. Jumlah Qiraat dan Aneka Ragam Pendapat Tentang Qiraat Jumlah Qiraat dan Aneka Ragam Pendapat Tentang Qiraat Jumlah Qiraat dan Aneka Ragam Pendapat Tentang Qiraat Jumlah Qiraat dan Aneka Ragam Pendapat Tentang Qiraat

11. 11. 11. 11. Kenapa al Kenapa al Kenapa al Kenapa al- -- -Quran Tidak Dibukukan dalam Satu Mushhaf (pada Masa Nabi) Quran Tidak Dibukukan dalam Satu Mushhaf (pada Masa Nabi) Quran Tidak Dibukukan dalam Satu Mushhaf (pada Masa Nabi) Quran Tidak Dibukukan dalam Satu Mushhaf (pada Masa Nabi)

12. 12. 12. 12. Langkah yang Tepat dalam Pengumpulan al Langkah yang Tepat dalam Pengumpulan al Langkah yang Tepat dalam Pengumpulan al Langkah yang Tepat dalam Pengumpulan al- -- -Quran Quran Quran Quran

13. 13. 13. 13. Lintasan Sejarah Ilmu al Lintasan Sejarah Ilmu al Lintasan Sejarah Ilmu al Lintasan Sejarah Ilmu al- -- -Quran Quran Quran Quran

14. 14. 14. 14. Nama Nama Nama Nama- -- -nama al nama al nama al nama al- -- -Quran Quran Quran Quran

15. 15. 15. 15. Pengum Pengum Pengum Pengumpulan al pulan al pulan al pulan al- -- -Quran pada Masa Abu Bakar ash Quran pada Masa Abu Bakar ash Quran pada Masa Abu Bakar ash Quran pada Masa Abu Bakar ash- -- -Shiddiq ra Shiddiq ra Shiddiq ra Shiddiq ra

3
16. 16. 16. 16. Pengumpulan al Pengumpulan al Pengumpulan al Pengumpulan al- -- -Quran pada Masa ‘Utsman ra Quran pada Masa ‘Utsman ra Quran pada Masa ‘Utsman ra Quran pada Masa ‘Utsman ra

17. 17. 17. 17. Qari Tujuh yang Masyhur Qari Tujuh yang Masyhur Qari Tujuh yang Masyhur Qari Tujuh yang Masyhur

18. 18. 18. 18. Qiraat Yang Masyhur Qiraat Yang Masyhur Qiraat Yang Masyhur Qiraat Yang Masyhur

19. 19. 19. 19. Tafsir dan Para Mufassir Tafsir dan Para Mufassir Tafsir dan Para Mufassir Tafsir dan Para Mufassir

20. 20. 20. 20. Ahli Tafsir Golongan Sahabat Ahli Tafsir Golongan Sahabat Ahli Tafsir Golongan Sahabat Ahli Tafsir Golongan Sahabat

21. 21. 21. 21. Tafsir Riwayat Tafsir Riwayat Tafsir Riwayat Tafsir Riwayat - -- - Tafsir Sahabat Tafsir Sahabat Tafsir Sahabat Tafsir Sahabat

22 22 22 22. . . . Al Al Al Al- -- -Quran dan Era Baru Tantangan Pemikiran Quran dan Era Baru Tantangan Pemikiran Quran dan Era Baru Tantangan Pemikiran Quran dan Era Baru Tantangan Pemikiran
Lalu Nurul Bayanil Huda Lalu Nurul Bayanil Huda Lalu Nurul Bayanil Huda Lalu Nurul Bayanil Huda

23. 23. 23. 23. Memintal Benang Pakaian Takwa di Ramadhan Memintal Benang Pakaian Takwa di Ramadhan Memintal Benang Pakaian Takwa di Ramadhan Memintal Benang Pakaian Takwa di Ramadhan
Dr. Attabik Luthfi, MA Dr. Attabik Luthfi, MA Dr. Attabik Luthfi, MA Dr. Attabik Luthfi, MA

24. 24. 24. 24. Peran Zakat untuk Kemakmuran Rakyat Peran Zakat untuk Kemakmuran Rakyat Peran Zakat untuk Kemakmuran Rakyat Peran Zakat untuk Kemakmuran Rakyat
Dr. Attabik Luthfi, MA Dr. Attabik Luthfi, MA Dr. Attabik Luthfi, MA Dr. Attabik Luthfi, MA

25. 25. 25. 25. Mendidik Islami Ala Luqman al Mendidik Islami Ala Luqman al Mendidik Islami Ala Luqman al Mendidik Islami Ala Luqman al- -- -Hakim Hakim Hakim Hakim
Dr. Attabik L Dr. Attabik L Dr. Attabik L Dr. Attabik Luthfi, MA uthfi, MA uthfi, MA uthfi, MA


4


Pengumpulan Pengumpulan Pengumpulan Pengumpulan a aa al ll l- -- -Quran Quran Quran Quran P PP Pada Masa Nabi ada Masa Nabi ada Masa Nabi ada Masa Nabi saw saw saw saw


Masa pengumpulan Al-Qur'an dengan menggunakan dua kategori, yaitu: pengumpulan
dalam dada, dan dalam dokumen/ catatan.

Pengumpulan Al-Qur'anul Karim terbagi dalam dua periode:
(1) Periode Nabi SAW.
(2) Periode Khulafaur Rasyidin.

Masing-masing periode tersebut mempunyai beberapa ciri dan keistimewaan. Istilah
pengumpulan kadang-kadang dimaksudkan dengan penghafalan dalam hati, dan kadang-
kadang pula dimaksudkan dengan penulisan dan pencatatan dalam lembaran-lembaran.

Pengumpulan Al-Qur'an di masa Nabi ada dua kategori:
(1) Pengumpulan dalam dada berupa penghafalan dan penghayatan/ pengekspresian, dan
(2) Pengumpulan dalam dokumen atau catatan berupa penulisan pada kitab maupun
berupa ukiran.

Kami akan menjelaskan keduanya secara terurai dan mendetail agar nampak bagi kita
suatu perhatian yang mendalam terhadap al-Quran dan penulisannya serta
pembukuannya. Langkah-langkah semacam ini tidak terjadi pada kitab-kitab samawy
lainnya sebagaimana halnya perhatian terhadap Al-Qur'an, sebagai kitab yang maha
agung dan mu'jizat Muhammad yang abadi.
5


Pengumpulan al-Quran Dalam Dada

Al-Qur'anul Karim turun kepada Nabi yang ummy (tidak bisa baca-tulis). Karena itu
perhatian Nabi hanyalah dituangkan untuk sekedar menghafal dan menghayatinya, agar
ia dapat menguasai al-Quran persis sebagaimana halnya al-Quran yang diturunkan.
Setelah itu ia membacakannya kepada orang-orang dengan begitu terang agar merekapun
dapat menghafal dan memantapkannya. Yang jelas adalah bahwa Nabi seorang yang
ummy dan diutus Allah di kalangan orang-orang yang ummy pula, Allah berfirman:




“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka
yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dengan
mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah”. (QS. Al-Jumu'ah: 2)

Biasanya orang-orang yang ummy itu hanya mengandalkan kekuatan hafalan dan
ingatannya, karena mereka tidak bisa membaca dan menulis. Memang bangsa Arab pada
masa turunnya al-Quran, mereka berada dalam budaya Arab yang begitu tinggi, ingatan
mereka sangat kuat dan hafalannya cepat serta daya fikirnya begitu terbuka.

Orang-orang Arab banyak yang hafal beratus-ratus ribu syair dan mengetahui silsilah serta
nasab keturunannya. Mereka dapat mengungkapkannya di luar kepada, dan mengetahui
sejarahnya. Jarang sekali di antara mereka yang tidak bisa mengungkapkan silsilah dan
nasab tersebut atau tidak hafal al-Muallaqatul Asyar yang begitu banyak syairnya lagi pula
sulit dalam menghafalnya.

Begitu al-Quran datang kepada mereka dengan jelas, tegas ketentuannya dan
kekuasaannya yang luhur, mereka merasa kagum, akal fikiran mereka tertimpa dengan al-
Quran, sehingga perhatiannya dicurahkan kepada al-Quran. Mereka menghafalnya ayat
demi ayat dan surat demi surat. Mereka tinggalkan syair-syair karena merasa memperoleh
ruh/ jiwa dari Al-Qur'an.
6


Pegumpulan Dalam Bentuk Tulisan

Keistimewaan yang kedua dari al-Quranul Karim ialah pengumpulan dan penulisannya
dalam lembaran. Rasulullah SAW mempunyai beberapa orang sekretaris wahyu. Setiap
turun ayat al-Quran beliau memerintahkan kepada mereka menulisnya, untuk
memperkuat catatan dan dokumentasi dalam kehati-hatian beliau terhadap kitab Allah
'Azza Wa Jalla, sehingga penulisan tesebut dapat melahirkan hafalan dan memperkuat
ingatan.

Penulis-penulis tersebut adalah sahabat pilihan yang dipilih oleh Rasul dari kalangan orang
yang terbaik dan indah tulisannya agar mereka dapat mengemban tugas yang mulia ini. Di
antara mereka adalah Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka'ab, Mu’adz bin Jabal, Mu'awiyah bin
Abi Sufyan, Khulafaur Rasyidin dan sahabat-sahabat lain.

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Anas r.a. bahwasanya ia berkata: "Al-
Qur'an dikumpulkan pada masa Rasul SAW oleh 4 (empat) orang yang kesemuanya dari
kaum Anshar: Ubay bin Ka'ab, Mu'adz bin Jabal, Zaid bin Tsabit dan Abu Zaid. Anas
ditanya: "Siapa ayah Zaid?" Ia menjawab: "Salah seorang pamanku".



7
Al Al Al Al- -- -Quran Adalah Mu'jiza Quran Adalah Mu'jiza Quran Adalah Mu'jiza Quran Adalah Mu'jizat Muhammad t Muhammad t Muhammad t Muhammad saw saw saw saw yang Abadi yang Abadi yang Abadi yang Abadi


Beberapa Nabi mendapatkan mu'jizat yang spesial. Tapi dari semua mu'jizat yang turun ke
bumi, hanya mu'jizat Nabi Muhammad SAW yang paling spesial.

Hikmah Allah yang azali telah berjalan untuk menguatkan para Nabi dan Rasul-Nya yaitu
dengan beberapa mu'zijat yang nampak, dalil-dalil tanda-tanda yang nyata, serta hujjah
dan alasan rasional, yang menyatakan bahwa mereka adalah benar dan mereka adalah
para Nabi dan Rasul Allah SWT.

Allah SWT mengistimewakan Nabi kita Muhammad SAW dengan bekal mu'jizat yang luar
biasa yaitu al-Quranul Karim, ia adalah nur ilahi dan wahyu samawy yang diletakkan ke
dalam lubuk hati Nabi-Nya sebagai Qurânan 'Arabiyyan (bacaan berbahasa Arab) yang
mulus dan lempang, ia membacanya sepanjang malam dan siang. Dengannya ia dapat
menghidupkan semangat generasi dari bahaya kemusnahan, dari generasi yang sudah
punah menjadi generasi yang hidup kembali dengan pancaran sinar al-Quran dan
menunjukinya dengan jalan yang teramat lurus serta membangkitkannya kembali, dari
lembah kenistaan menjadi ummat yang terbaik yang ditampilkan untuk ikatan seluruh
manusia. Allah menegaskan dengan firmannya:



”Dan apakah orang sudah mati kemudian dia kami hidupkan dan kami berikan
kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-
tengah masyarakat manusia serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap-
gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya? Demikianlah kami jadikan orang
yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An'âm: 122)

al-Quran telah membangkitkan ummat memperbaharui masyarakat, dan menyusun
generasi yang belum pernah tampil dalam sejarah, ia menampilkan orang Arab dari
kehidupan sebagai penggembala unta dan kambing menjadi pemimpin bangsa-bangsa,
8
yang dapat menguasai dunia bahkan sampai kepada negeri-negeri yang begitu jauh
mengenalnya. Kesemuanya itu berkat al-Quran sebagai mu'jizat (Muhammad) penutup
para Nabi dan Rasul.


9
Asbabun Nuzul Asbabun Nuzul Asbabun Nuzul Asbabun Nuzul


Pentingnya ilmu asbabun nuzul dalam ilmu al-Quran guna mempertegas dan
mempermudah dalam memahami ayat-ayatnya.

Ilmu Asbabun Nuzul mempunyai pengaruh yang penting dalam memahami ayat,
karenanya kebanyakan ulama begitu memperhatikan ilmu tentang Asbabun Nuzul bahkan
ada yang menyusunnya secara khusus. Di antara tokoh (penyusunnya) antara lain Ali ibn
al-Madiny guru Imam al-Bukhari ra.

Kitab yang terkenal dalam hal ini adalah kitab Asbabun Nuzul karangan al-Wahidy
sebagaimana halnya judul yang telah dikarang oleh Syaikhul Islam Ibnu Hajar. Sedangkan
as-Sayuthy juga telah menyusun sebuah kitab yang lengkap lagi pula sangat bernilai
dengan judul Lubabun Nuqul Fi Asbabin Nuzul.

Oleh karena pentingnya ilmu asbabun nuzul dalam ilmu Al-Quran guna mempertegas dan
mempermudah dalam memahami ayat-ayatnya, dapatlah kami katakan bahwa di antara
ayat Al-Quran ada yang tidak mungkin dapat dipahami atau tidak mungkin diketahui
ketentuannya/ hukumnya tanpa ilmu Asbabun Nuzul. Sebagai contoh firman Allah SWT:



“Dan kepunyaan Allahlah timur dan barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah
wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas rahmat-Nya lagi Maha Mengetahui.” (QS.
Al-Baqarah: 115).

Dari ayat tersebut dapat dipahami bolehnya melakukan shalat menghadap ke selain
kiblat. Pemahaman seperti ini adalah salah, karena menghadap kiblat adalah salah satu
syarat sahnya shalat. Dengan ilmu asbabun nuzul dapatlah dipahami secara jelas, di mana
ayat di atas turun sehubungan dengan kasus seseorang yang ada dalam perjalanan dan
tidak mengetahui kiblat serta arah, karena itu ia boleh berijtihad untuk memilih arah dan
selanjutnya ia melakukan shalat. Ke mana saja ia menghadap dalam shalatnya maka
10
sahlah shalatnya. Ia tidak harus mengulangi kembali di saat ia mengetahui arah yang
sebenarnya andaikata salah. Dengan demikian maka ayat di atas tidaklah bersifat umum
tetapi bersifat khusus bagi seseorang yang tidak mengetahui kiblat dan arah.

Contoh lain yang berhubungan dengan pentingnya ilmu Asbabun Nuzul dalam
memahami ayat adalah firman Allah SWT:



“Sesungguhnya khamar, berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan panah,
adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu
agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Mâidah: 90).

Di antara beberapa orang sahabat Rasul bertanya: "Bagaimanakah halnya dengan orang-
orang yang berperang di jalan Allah dan telah meninggal sedang mereka biasa meminum
khamar padahal khamar tersebut adalah keji?". Sehubungan dengan itu maka turunlah
ayat yang menjelaskan bahwa peminum khamar sebelum diharamkan, Allah
memaafkannya. Ia tidak berdosa dan tidak bersalah karena Allah tidak akan memberikan
hukuman atas perbuatan seorang hamba sebelum Islam atau sebelum turunnya
pengharaman. Karena itu maka ayat tersebut berdasarkan susunannya dapat dipahami
secara tegas terhadap haramnya minuman khamar.


Apa Arti Asbabun Nuzul

Terkadang ada satu kasus (kejadian). Dari kasus tersebut turun satu atau beberapa ayat
yang berhubungan dengan kasus tersebut, itulah yang disebut dengan Asbabun Nuzul.
Dari segi lain, kadang-kadang ada suatu pertanyaan yang dilontarkan kepada Nabi SAW,
dengan maksud minta ketegasan tentang hukum syara' atau mohon penjelasan secara
terperinci tentang urusan agama, oleh karena itu turun beberaa ayat, yang demikian juga
disebut Asbabun Nuzul.

11
Contoh peristiwa yaitu hadits yang diriwayatkan Bukhari dari Khabbab ibnul Arat r.a. ia
berkata: "Saya adalah tukang besi, Saya menghutangkan kepada Ash ibn Wail. Suatu ketika
saya datang kepadanya untuk menagih piutangku". Ia menjawab: "Saya tidak akan
membayar hutangku kepadamu sebelum engkau mengkufurkan Muhammad dan beralih
menyembah Lata dan Uzza". Saya menjawab: "Aku tidak akan mengkufurkannya sehingga
engkau dimatikan Allah dan dibangkitkan kembali". Jawab Ash Ibn Wail: "Kalau begitu
kelak aku akan mati dan dibangkitkan kembali?". "Tunggu dulu, hari ini juga akan
kudatangkan harta dan anak untuk membayar hutang kepadamu". Karena kasus ini Allah
menurunkan ayat:



“Maka apakah kamu telah melihat orang yang kafir kepada ayat-ayat kami dan dia
mengatakan pasti aku akan diberi harta dan anak. Adakah ia melihat yang ghaib atau ia
telah membuat perjanjian di sisi Tuhan yang Maha Pemurah?. Sekali-kali tidak, Kami akan
menulis apa yang ia katakan dan benar-benar Kami akan memperpanjang adzab untuknya
dan kami akan mewarisi apa yang ia katakan itu, dan ia akan datang kepada Kami dengan
seorang diri.” (QS. Maryam: 77-80).

12
Bagaimana Cara Mengetahui Asbabun Nuzul Bagaimana Cara Mengetahui Asbabun Nuzul Bagaimana Cara Mengetahui Asbabun Nuzul Bagaimana Cara Mengetahui Asbabun Nuzul


Asbabun Nuzul tidak bisa diketahui semata-mata dengan akal (rasio), tidak lain
mengetahuinya harus berdasarkan riwayat yang shahih dan didengar langsung dari orang-
orang yang mengetahui turunnya al-Quran, atau dari orang-orang yang memahami
asbabun nuzul, lalu mereka menelitinya dengan cermat, baik dari kalangan sahabat, tabi'in
atau lainnya. dengan catatan pengetahuan mereka diperoleh dari ulama-ulama yang
dapat dipercaya.

Ibnu Sirin mengatakan, “Saya pernah bertanya kepada Abidah tentang satu ayat Al-
Qur'an, beliau menjawab: "Bertaqwalah kepada Allah dan berkatalah yang benar
sebagaimana orang-orang yang mengetahui di mana Al-Qur'an turun".”

Cara mengetahui Asbabun Nuzul berupa riwayat yang shahih adalah:
1. Apabila perawi sendiri menyatakan 1afazh sebab secara tegas. Dalam hal ini tentu
merupakan nash yang nyata, seperti kata-kata perawi, "sebab turun ayat ini
begini.........."
2. Bila perawi menyatakan riwayatnya dengan memasukkan huruf "fa' ta'qibiyah"
pada kata "nazala" seperti kata-kata perawi":

riwayat yang demikian juga merupakan nash yang sharih dalam sebab nuzul.

Terkadang ada suatu bentuk ungkapan yang tidak menyatakan Sebab Nuzul yang tegas
seperti kata-kata perawi:



Kadang-kadang yang dimaksud dengan ungkapan tersebut adalah sebab turun, tetapi
kadang-kadang pula menyatakan hukum yang terkandung dalam ayat seperti halnya az-
Zarkasyi dalam kitabnya al-Burhan mengatakan "biasanya tradisi shahabat dan tabi'in bila
" " mengatakan" " maksudnya adalah bahwa ayat ini
13
adalah mengandung hukum ini bukan menyatakan suatu sebab Nuzul. Ibnu Taimiyah
mengatakan: "Kata-kata mereka " " terkadang menyatakan suatu sebab
turun dan terkandung pula menyatakan kandungan hukum meskipun sebabnya tidak ada.

14
Beberapa Fa Beberapa Fa Beberapa Fa Beberapa Fai ii idah Mengetahui Asbabun Nuzul dah Mengetahui Asbabun Nuzul dah Mengetahui Asbabun Nuzul dah Mengetahui Asbabun Nuzul


Sebagian orang ada yang beranggapan bahwa ilmu Asbabun Nuzul tidak ada gunanya
dan tidak ada pengaruhnya karena pembahasannya hanyalah berkisar pada lapangan
sejarah dan cerita.

Menurut anggapan mereka ilmu Asbabun Nuzul tidaklah akan mempermudah bagi orang
yang mau berkecimpung dalam menafsirkan ayat-ayat al-Quran. Anggapan tersebut
adalah salah dan tidaklah patut didengar karena tidak berdasarkan pendapat para ahli al-
Quran yang dikenal dengan ahli tafsir.

Di sini akan diungkap secara sekilas pendapat sebagian ulama dan kemudian akan
disertakan beberapa faedah tentang ilmu Asbabun Nuzul.

Al-Wahidy berpendapat: "Menafsirkan ayat tanpa bertitik tolak dari sejarah dan
penjelasan turunnya tidaklah mungkin."

Ibnu Daqiqil 'Ied berpendapat: "Keterangan tentang Asbabun Nuzul adalah merupakan
salah satu jalan yang tepat dalam memahami al-Quran."

Ibnu Taimiyah berpendapat: "Ilmu Asbabun Nuzul akan membantu dalam memahami
ayat, karena ilmu tentang sebab akan menimbulkan ilmu tentang akibat".

Dengan demikian akan jelaslah pentingnya ilmu Asbabun Nuzul sebagai bagian dari ilmu
al-Quran.

Adapun faedah dari ilmu Asbabun Nuzul dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Mengetahui bentuk hikmah rahasia yang terkandung dalam hukum.
2. Menentukan hukum (takhshish) dengan sebab menurut orang yang berpendapat
bahwa suatu ibarat itu dinyatakan berdasarkan khususnya sebab.
3. Menghindarkan prasangka yang mengatakan arti hashr dalam suatu ayat yang
zhahirnya hashr.
4. Mengetahui siapa orangnya yang menjadi kasus turunnya ayat serta memberikan
ketegasan bila terdapat keragu-raguan.
15
5. Dan lain-lain yang ada hubungannya dengan faedah ilmu Asbaun Nuzul.


Beberapa contoh tentang faedah ilmu Asbabun Nuzul

Pertama:

Marwan ibnul Hakam sulit dalam memahami ayat:



“Janganlah sekali-kali kamu menyangka, bahwa orang-orang yang bergembira dengan
apa yang mereka telah kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang
belum mereka kerjakan janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksaan.”
(QS. Ali Imrân: 188).

Beliau memerintahkan kepada pembantunya: "Pergilah menemui Ibnu Abbas dan katakan
kepadanya, bila semua orang telah merasa puas dengan apa yang telah ada dan ingin
dipuji terhadap perbuatan yang belum terbukti hasilnya pasti ia akan disiksa dan kamipun
akan terkena siksa". Ibnu Abbas menjelaskan kepadanya (pembantu), bahwa ia (Marwan)
merasa kesulitan dalam memahami ayat tersebut dan kemudian Ibnu Abbas
menjelaskannya: "Ayat tersebut turun sehubungan dengan persoalan Ahli Kitab (Yahudi)
tatkala ditanya oleh Nabi SAW, tentang sesuatu persoalan di mana mereka tidak
menjawab pertanyaan yang sebenarnya ditanyakan, mereka mengalihkan kepada
persoalan yang lain serta menganggap bahwa persoalan yang ditanyakan oleh Nabi
kepadanya telah terjawab. Setelah itu mereka meminta pujian kepada Nabi, maka
turunlah ayat tersebut di atas.” (HR. Bukhari, Muslim).

Kedua:

Urwah Ibnu Jubair juga mengalami kesulitan dalam memahami makna firman Allah SWT:

16


“Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah. Barangsiapa yang
beribadah Haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i
antara keduanya.” (QS. Al-Baqarah: 158).

Menurut zhahir ayat dinyatakan bahwa sa'i antara Shafa dan Marwah adalah tidak wajib,
bahkan sampai Urwah ibn Zubair mengatakan kepada bibinya Aisyah r.a.: "Hai bibiku!
sesungguhnya Allah telah berfirman: "Tidak mengapa baginya untuk melakukan sa'i antara
keduanya", karena itu saya berpendapat bahwa tidak apa-apa bagi orang yang melakukan
Haji Umrah sekalipun tidak melakukan sa'i antara keduanya". Aisyah seraya menjawab:
"Hai keponakanku! kata-katamu itu tidak benar. Andaikata maksudnya sebagaimana yang
kau katakan niscaya Allah berfirman "Tidak mengapa kalau tidak melakukan sa'i antara
keduanya".

Setelah itu Aisyah menjelaskan: bahwasanya orang-orang Jahiliyah dahulu melakukan sa'i
antara Shafa dan Marwah sedang mereka dalam sa'inya mengunjungi dua patung yang
bernama Isaar yang berada di bukit Shafa dan Na'ilah yang berada di bukit Marwah.
Tatkala orang-orang masuk Islam di antara kalangan sahabat ada yang merasa
berkeberatan untuk melakukan sa'i antara keduanya karena khawatir campur-baur antara
ibadah Islam dengan ibadah jahiliyah. Dari itu turunlah ayat sebagai bantahan terhadap
keberatan mereka (yang mengatakan) kalau-kalau tercela atau berdosa dan menyatakan
wajib bagi mereka untuk melakukan sa'i karena Allah semata bukan karena berhala. Itulah
sebabnya Aisyah membantah pendapat Urwah berdasarkan sebab turun ayat.

Ketiga:

Sebagian Imam mengalami kesulitan dalam memahami makna syarat dalam
firman Allah SWT:


17

“Dan perempuan-perempuan yang terhenti dari haid di antara perempuan-perempuanmu
jika kamu ragu-ragu (tentang) iddahnya maka iddah mereka adalah 3 bulan.” (QS. Ath-
Thalaq: 4).

Golongan Zhahiriah berpendapat bahwa ayisah (wanita yang tidak lagi haid karena sudah
lanjut usia) mereka tidak perlu masa iddah bila keayisahannya tidak diragukan lagi.
Kesalahpahaman mereka nampak dengan berdasarkan Asbabun Nuzul, di mana ayat
tersebut adalah merupakan khitab (ketentuan) bagi orang yang tidak mengetahui
bagaimana seharusnya dalam masa iddah, serta mereka ragu apakah mereka perlu iddah
atau tidak. Dari itu maka makna " " (bila anda bingung tentang bagaimana
mereka dan tidak mengerti tentang iddah mereka, maka inilah undang-undangnya). Ayat
turun setelah ada sebagian shahabat yang mengatakan bahwa di antara iddah kaum
wanita tidak terdapat dalam al-Quran; yaitu wanita yang masih kecil dan wanita yang
Ayisah. Setelah itu turunlah ayat yang menjelaskan ketentuan tentang mereka. Wallâhu
a'lam.

Keempat:

Di antara contoh tentang ilmu Asbabun Nuzul sebagai sanggahan terhadap dugaan hashr
(batasan tertentu) sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Syafi'i tentang firman Allah SWT:



“Katakanlah! Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku sesuatu
yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu
bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi karena sesungguhnya semua itu kotor
atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah.” (QS. Al-An'âm: 145).

Dalam hal ini beliau mengungkapkan yang maksudnya: bahwa orang kafir ketika
mengharamkan sesuatu yang dihalalkan Allah dan menghala1kan apa yang diharamkan
18
Allah mereka terlalu berlebihan, maka turunlah ayat sebagai bantahan terhadap mereka.
Dengan demikian seolah-olah Allah berfirman "Yang halal hanya yang kamu anggap
haram dan yang haram itu yang kamu anggap halal".

Dalam hal ini Allah tidak bermaksud menetapkan kebalikan dari ketentuan di atas
melainkan sekedar menjelaskan ketentuan yang haram sama sekali tidak menyinggung-
nyinggung yang halal.

Imam al-Haramain berkata "Uslub ayat tersebut sangat indah. Kalau saja Imam Syafi'i tidak
mengatakan pendapat yang demikian niscaya kami tidak dapat menarik kesimpulan
perbedaan Imam Malik dalam hal hashr/ batasan hal yang diharamkan sebagaimana
disebutkan dalam ayat di atas".


Penjelasan dari Makna Ayat

Sekedar penjelasan dari uraian di atas saya berpendapat bahwa zhahir ayat menunjukkan
batasan yang haram, di mana yang haram adalah hanya yang tersebut dalam ayat di atas,
padahal persoalannya tidak demikian, karena di samping yang tersebut pada ayat di atas
masih ada lagi yang lain, hanya saja mengungkapannya yang berbentuk hash sedang
maknanya tidak demikian, yaitu sebagai bantahan terhadap orang-orang musyrik yang
mengharamkan sesuatu yang sebenarnya dihalalkan Allah dan menghalalkan yang
sebenamya diharamkan Allah.

Kelima:

Di antara faedah Asbabun Nuzul adalah untuk mengetahui nama orang yang menjadi
kasus turunnya ayat agar keraguan dan kekaburan menjadi hilang, sebagaimana Marwan
menduga bahwa firman Allah SWT:



Ialah diturunkan sehubungan dengan kasus Abdurrahman ibn Abi Bakar. Aisyah
membantah bahwa anggapan tersebut adalah salah, ia menjelaskan kepada Marwan
19
tentang sebab turunnya. Adapun secara lengkap kisah tersebut sebagaimana diriwayatkan
Bukhari sebagai berikut:

"Marwan adalah seorang amil (Gubernur) wilayah Madinah. Muawiyah menginginkan
agar Yazid menjadi khalifah setelah kemangkatannya. Ia menulis surat kepada Marwan
tentang persoalannya. Karenanya Marwan mengumpulkan rakyat dan berpidato di
hadapan mereka. Dalam pidatonya ia menyebutkan nama Yazid (memfigurkan). Dalil ia
menyeru untuk membaiatnya sambil berkata: "Sesungguhnya Amirul Mukminin telah
diperlihatkan oleh Allah tentang pendapat yang baik dalam diri Yazid. Bila Amirul
Mu'minin mengangkatnya sebagai khalifah, sungguh Abu Bakar dan Umar pun telah
menjadi khalifah". Abdurrahman menjawab: "Bukankah sistem yang demikian itu
merupakan Herakliusisme?" (Maksudnya itu adalah kediktatoran seorang raja
sebagaimana tindakan raja-raja Romawi). Marwan menjawab: ”Itu sama dengan sunah
Abu Bakar dan Umar.” Abdurrahman menjawab lagi "Herakliusisme". Abu Bakar dan
Umar tidak mengangkat keturunan atau familinya sedangkan Muawiyah bertindak
semata-mata untuk kehormatan anaknya seraya Marwan berkata "Tangkaplah ia,
Abdurrahman". Abdurrahman masuk ke rumah Aisyah, karena itu pengejar-pengejarnya
tidak dapat menangkapnya. Setelah itu Marwan mengatakan "Dialah orang yang menjadi
kasus sehingga Allah menurunkan ayat:



“Dan orang yang berkata kepada kedua ibu bapaknya cis bagi kamu keduanya, apakah
kamu keduanya memperingatkan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan padahal
sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumku?” (QS. Al-Ahqaf: 17)

Dari balik tabir Aisyah menjawab, "Allah tidak pernah menurunkan ayat al-Quran tentang
kasus seseorang tertentu di antara kita kecuali ayat yang melepaskan aku dari tuduhan
berbuat jahat, andaikata aku mau menjelaskan orang yang menjadi kasus turunya ayat
tesebut niscaya akan kujelaskan.””

20
Beberapa Keistimewaan Mushhaf Abu Bakar ash Beberapa Keistimewaan Mushhaf Abu Bakar ash Beberapa Keistimewaan Mushhaf Abu Bakar ash Beberapa Keistimewaan Mushhaf Abu Bakar ash- -- -Shiddiq ra Shiddiq ra Shiddiq ra Shiddiq ra


Lembaran-lembaran yang dikumpulkan dalam satu mushhaf pada masa Abu Bakar
memiliki beberapa keistimewaan yang terpenting:
1. Di peroleh dari hasil penelitian yang sangat mendetail dan kemantapan yang
sempurna.
2. Yang tercatat dalam mushhaf banyalah bacaan yang pasti, tidak ada nasakh
bacaannya.
3. Ijma' ummat terhadap mushhaf tersebut secara mutawatir bahwa yang tercatat
adalah ayat-ayat al-Quran.
4. Mushhaf mencakup qiraat sab'ah yang dinukil berdasarkan riwayat yang benar-
benar shahih.

Keistimewaan-keistimewaan tersebut membuat para sahabat kagum dan terpesona
terhadap usaha Abu Bakar, di mana ia memelihara al-Quran dari bahaya kemusnahan,
dan itu berkat taufiq serta hidayah dari Allah Azza wa Jalla.

Ali berkata: "Orang yang paling berjasa dalam hal al-Quran ialah Abu Bakar r.a. ia adalah
orang yang pertama mengumpulkan al-Quran/ Kitabullah.

Pengumpulan al-Quran adalah perbuatan yang mulia lagi abadi. Sejarah senantiasa akan
mengenangnya dengan keindahan dan pujian yang harum terhadap Abu Bakar karena
pengarahan dan pengawasannya, dan kepada Zaid bin Tsabit karena pelaksanaan dan
usahanya.

Pengumpulan al-Quran dalam bentuk satu mushhaf pada masa Abu Bakar tidaklah
dimaksudkan bahwa para sahabat sebelumnya sama sekali tidak ada yang memiliki
lembaran-lembaran kertas yang bertuliskan al-Quran. Tidaklah menyatakan bahwa di
kalangan sahabat tidak ada yang memiliki mushhaf tertentu, hanya saja mushhaf-mushhaf
yang ada pada mereka itu tidak diteliti secara seksama sebagaimana halnya mushhaf Abu
Bakar yang begitu benar-benar dalam penelitiannya, yang tertulis hanyalah yang tidak
dinasakh bacaannya, kepopulerannya sampai mutawatir (menurut semua orang). Semua
orang sependapat untuk menerimanya, lagi pula mencakup bacaan menurut qiraat sab'ah
sebagaimana telah dikemukakan terdahulu.
21

Ali secara pribadi memiliki mushhaf khusus yang ditulisnya pada masa permulaan
pengangkatan khalifah Abu Bakar di mana ia telah bertekad menulisnya dengan tidak
akan keluar-keluar rumah kecuali untuk melakukan shalat sampai ia selesai menulisnya.
Diriwayatkan oleh as-Suyuthy dari Muhammad ibnu Sirin dari 'Ikrimah bahwasanya ia
berkata: "Pada saat pengangkatan Abu Bakar, Ali tetap berada di rumahnya. Kemudian
dikatakan kepada Abu Bakar: Ali tidak menyenangi baiatmu...." Selanjutnya Abu Bakar
mengirim surat kepada Ali.

Dan ia mengatakan: "Apakah anda benci dengan pengangkatanku?" Ali menjawab: "Aku
melihat kitab Allah ada yang diselipi, jiwanya membisikkan padaku agar aku tidak
memakai selendang atau berpakaian kecuali kalau aku melakukan shalat sampai aku
membukukannya". Abu Bakar mengatakan kepadanya: "Benar yang anda lihat itu". Pada
kenyataannya Ali memiliki satu mushhaf, tetapi sebagaimana yang dikemukakan Ibnu
Sirrin di dalamnya masih terdapat nasikh dan mansukh tidak sebagaimana mushhaf Abu
Bakar.

22
Beberapa Pertanyaan Sekitar Pengumpulan Beberapa Pertanyaan Sekitar Pengumpulan Beberapa Pertanyaan Sekitar Pengumpulan Beberapa Pertanyaan Sekitar Pengumpulan a aa al ll l- -- -Quran Quran Quran Quran


Ada beberapa pertanyaan yang perlu dijawab
secara terperinci. Secara ringkas kami
simpulkan sebagai berikut:

Pertama: Mengapa Abu Bakar ragu-ragu
dalam masalah pengumpulan al-Quran
padahal masalahnya sangat baik lagi pula
diwajibkan oleh Islam?

Jawabnya adalah: Abu Bakar khawatir kalau-
kalau orang mempermudah dalam usaha menghayati dan menghafal al-Quran, cukup
dengan hafalan yang tidak mantap dan khawatir kalau-kalau mereka hanya berpegang
dengan apa yang ada pada mushhaf yang akhirnya jiwa mereka lemah untuk menghafal
al-Quran. Minat untuk menghafal dan menghayati al-Quran akan berkurang karena telah
ada tulisan dan terdapat dalam mushhaf-mushhaf yang dicetak untuk standar
membacanya, sedangkan sebelum ada mushhaf-mushhaf mereka begitu mencurahkan
kesungguhannya untuk menghafal al-Quran.

Dari segi yang lain bahwasanya Abu Bakar ash-Shiddiq adalah benar-benar orang yang
bertitik-tolak dari batasan-batasan syari'at, selalu berpegang menurut jejak-jejak Rasulullah
SW, di mana ia khawatir kalau-kalau idenya itu termasuk bid'ah yang tidak dikehendaki
oleh Rasul. Karena itulah maka Abu Bakar mengatakan kepada Umar: "Mengapa saya
harus mengerjakan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW?” Barangkali
ia takut terseret oleh ide-ide dan gagasan yang membawanya untuk menyalahi sunnah
Rasulullah SAW serta membawa kepada bid'ah.

Tetapi tatkala ia menganggap bahwa hal tersebut adalah sangat penting dan pendapat
tersebut pada hakikatnya adalah merupakan suatu sarana yang amat penting demi
kelestarian kitab al-Quran dan demi terpeliharanya dari kemusnahan dan perubahan,
lagipula ia meyakini bahwa hal tersebut tidaklah termasuk masalah yang menyalahi
ketentuan dan bid'ah yang sengaja dibikin-bikin, maka ia bertekad baik untuk
mengumpulkan al-Quran. Akhirnya ia bisa memuaskan Zaid mengenai masalah ini
23
sehingga Allah melapangkan dadanya dan Zaid tampil untuk melaksanakan usaha yang
amat penting ini. wallahu alam.

Kedua: Kenapa Abu Bakar dalam hal ini memilih Zaid bin Tsabit dari shahabat lainnya?.

Jawabnya adalah: Zaid adalah orang yang betul-betul memiliki pembawaan/ kemampuan
yang tidak dimiliki oleh shahabat lainnya dalam hal mengumpulkan al-Quran, ia adalah
orang yang hafal al-Quran, ia seorang sekretaris wahyu bagi Rasulullah SAW, ia
menyamakan sajian yang terakhir dari al-Quran yaitu di kala penutupan masa hayat
Rasulullah SAW.

Di samping itu ia dikenal sebagai orang yang wara' (bersih dari noda), sangat besar
tanggungjawabnya terhadap amanat, baik akhlaknya dan taat dalam agamanya. Lagi pula
ia dikenal sebagai orang yang tangkas (IQ-nya tinggi). Demikianlah kesimpulan kata-kata
Abu Bakar yang diriwayatkan oleh al-Bukhari tatkala ia memanggilnya dengan
mengatakan: "Anda adalah seorang pemuda yang tangkas yang tidak kami ragukan. Anda
adalah penulis wahyu Rasul".

Dengan beberapa sifat dan keistimewaan di atas, Abu Bakar ash-Shiddiq memilih dan
menunjuknya sebagai pengumpul al-Quran. Adapun alasan yang menyatakan bahwa Zaid
bin Tsabit adalah seorang yang sangat teliti, dapat dilihat dari kata-katanya: "Demi Allah,
andaikata saya ditugaskan untuk memindahkan sebuah bukit tidaklah lebih berat jika
dibandingkan degan tugas yang dibebankan kepadaku ini" (al-Hadits).

Ketiga: "Apakah yang dimaksud dengan kata-kata dalam riwayat al-Bukhari "Sampai aku
menemukan akhir surat Taubah pada Abu Khuzaimah, sedangkan pada orang lain tidak
ada?”

Jawabnya adalah: Zaid r.a. tidak menemukan ayat tersebut tertulis pada mushhaf sahabat-
sahabat selain dari Abi Khuzaimah al-Anshary. Bukanlah yang dimaksudkan dalam kata-
kata di atas tidak ada dalam hafalan, karena Zaid sendiri hafal ayat tersebut.

Dan kebanyakan shahabatpun hafal. Hanya saja ia bermaksud hendak mengompromikan
antara hafalan dan tulisan sebagaimana akan kami jelaskan (insya Allah) sekedar untuk
24
menambah argumentasi dan data di samping sebagai rasa kehati-hatian. Dan karena
langkah yang lurus tersebut maka sempurnalah pengumpulan al-Quran.

25
Dalil Dalil Dalil Dalil- -- -dalil Diturunkannya al dalil Diturunkannya al dalil Diturunkannya al dalil Diturunkannya al- -- -Quran dengan Tuju Quran dengan Tuju Quran dengan Tuju Quran dengan Tujuh Huruf h Huruf h Huruf h Huruf


Imam Bukhari dan Imam Muslim

Dalam shahihnya meriwayatkan hadits dari Ibnu Abbas r.a. bahwa ia berkata: Rasulullah
SAW bersabda: "Jibril membacakan al-Quran kepadaku dengan satu huruf kemudian aku
mengulanginya. (Setelah itu) senantiasa aku meminta tambah dan iapun menambahiku
sampai dengan tujuh huruf". Imam Muslim menambahkan: "Ibnu Syihab mengatakan:
Telah sampai berita padaku bahwa tujuh huruf itu untuk perkara yang satu yang tidak
diselisihkan halal haramnya".


Imam Bukhari

Meriwayatkan yang lafazhnya dari Bukhari bahwa; Umar bin Khattab berkata: "Aku
mendengar Hisyam bin Hakim membaca surat al-Furqan di masa hidupya Rasulullah
SAW, aku mendengar bacaannya, tiba-tiba ia membacanya dengan beberapa huruf yang
belum pernah Rasulullah SAW membacakannya kepadaku sehingga aku hampir beranjak
dari shalat, kemudian aku menunggunya sampai salam. Setelah ia salam aku menarik
sorbannya dan bertanya: "Siapa yang membacakan surat ini kepadamu?". Ia menjawab:
"Rasulullah SAW yang membacakannya kepadaku" Aku menyela: "Dusta kau, demi Allah
sesungguhnya Rasulullah SAW telah membacakan surat yang telah kudengar dari yang kau
baca ini".

Setelah itu aku pergi membawa dia menghadap Rasulullah SAW lalu aku bertanya:
"Wahai Rasulullah aku telah mendengar lelaki ini, ia membaca surat al-Furqan dengan
beberapa huruf yang belum pernah engkau bacakan kepadaku, sedangkan engkau sendiri
telah membacakan surat al-Furqan ini kepadaku". Rasulullah SAW menjawab: "Hai Umar!
Lepaskan dia. Bacalah Hisyam!". Kemudian ia membacakan bacaan yang tadi aku dengar
ketika ia membacanya. Rasululllah SAW bersabda: "Begitulah surat itu diturunkan" Sambil
menyambung sabdanya: "Bahwa Al-Qur'an ini diturunkan atas tujuh huruf maka bacalah
yang paling mudah!".

26
Dalam satu riwayat lain disebutkan bahwa
Rasulullah SAW mendengarkan pula
bacaan sahabat Umar r.a. kemudian
beliau bersabda: "Begitulah bacaan itu
diturunkan".


Imam Muslim

Meriwayatkan dengan sanadnya dari Ubay Bin Ka'ab ia berkata: "Aku berada di masjid,
tiba-tiba masuklah lelaki, ia shalat kemudian membaca bacaan yang aku ingkari. Setelah
itu masuk lagi lelaki lain membaca berbeda dengan bacaan kawannya yang pertama.
Setelah kami selesai shalat, kami bersama-sama masuk ke rumah Rasulullah SAW, lalu aku
bercerita: Bahwa si lelaki ini membaca bacaan yang aku ingkari dan kawannya ini
membaca berbeda dengan bacaan kawannya yang pertama. Akhirnya Rasulullah SAW
memerintahkan keduanya untuk membaca. Setelah mereka membaca Rasulullah SAW
menganggap baik bacaannya. Setelah menyaksikan hal itu, terhapuslah dalam diriku sikap
untuk mendustakan, tidak seperti halnya diriku ketika masa jahiliyyah. Nabi menjawab
demikian tatkala beliau melihat diriku bersimbah peluh karena kebingungan, ketika itu
keadaan kami seolah-olah berkelompok-kelompok di hadapan Allah Yang Maha Agung.
Setelah melihat saya dalam keadaan demikian, beliau menegaskan pada diriku dan
berkata: Hai Ubay! Aku diutus untuk membaca al-Quran dengan suatu huruf lahjah
(dialek), kemudian aku meminta pada Jibril untuk memudahkan umatku, dia
membacakannya dengan huruf kedua, akupun meminta lagi padanya untuk memudahkan
umatku, lalu ia menjawab untuk ketiga kalinya: "Hai Muhammad, bacalah Quran dalam 7
lahjah dan terserah padamu Muhammad apakah setiap jawabanku kau susul dengan
pertanyaan permintaan lagi. Kemudian aku menjawabnya: Wahai Allah! Ampunilah
umatku, ampunilah umatku dan akan kutangguhkan yang ketiga kalinya pada saat di
mana semua makhluk mencintaiku sehingga Nabi Ibrahim as.”

Imam Qurthubi berkata: Denyutan hati ini (dalam jiwa Ubay) akibat dari sabda Rasulullah
SAW ketika orang-orang bertanya kepadanya: "Bahwasanya kami mendapatkan sesuatu
dalam diri kami, di mana seseorang merasa berat sekali untuk mengatakannya". Rasulullah
SAW bertanya: "Apakah sudah kalian temui jawabannya?". "Ya" jawab mereka. Rasulullah
SAW bersabda: "Itu adalah iman yang jelas". (HR. Muslim)
27


Al-Hafizh Abu Ya'la

Dalam musnad kabirnya meriwayatkan: "Bahwa Utsman r.a. pada suatu hari ia berkata di
atas mimbar: "Aku sebut nama Allah teringat seorang lelaki yang mendengar Rasulullah
SAW bersabda bahwa Al-Qur'an diturunkan dengan tujuh huruf yang kesemuanya tegas
lagi sempurna". Ketika Umar berdiri para hadirin berkata: "Al-Quran diturunkan dengan
tujuh huruf yang kesemuanya tegas dan lengkap". Kemudian Utsman r.a. berkata: "Saya
menyaksikannya bersama mereka".


Imam Muslim

Dengan sanad dari Ubay bin Ka'ab meriwayatkan bahwa Nabi SAW ketika berada di Oase
Bani Ghaffar didatangi Malaikat Jibril a.s. lalu Jibril berkata: "Sesungguhnya Allah SWT
telah memerintah engkau untuk membacakan al-Quran kepada ummatmu dengan satu
huruf". Nabi menjawab: "Aku meminta dulu kepada Allah sehat dan ampunannya, sebab
ummatku tidak mampu menjalankan perintah itu". Kemudian Jibril datang untuk kedua
kalinya, seraya berkata: "Allah SWT telah memerintahkan kau untuk membacakan al-
Quran dengan dua huruf". Nabi menjawab: "Aku meminta sehat dan ampunan dulu
kepada Allah, karena ummatku tidak kuat menjalankannya". Jibril datang lagi untuk
ketiga kalinya dan berkata: "Allah SWT telah memerintahkan kau untuk membacakan al-
Quran kepada ummatmu dengan tiga huruf”. Nabi menjawab: "Aku minta sehat dan
maghfirah dulu kepada Allah, sebab ummatku tidak sanggup mengerjakannya". Jibril
datang lagi untuk keempat kalinya seraya berkata: "Kau telah diperintahkan Allah untuk
membacakan al-Quran kepada ummatmu dengan tujuh huruf dan huruf mana saja yang
mereka baca berarti benar".


At-Turmudzy

Juga meriwayatkan dari Ubay bin Ka'ab, ia mengatakan: Rasulullah SAW berjumpa
dengan Jibril di gundukan Marwah. Ia (Ka'ab) berkata: "Kemudian Rasul berkata kepada
Jibril bahwa aku ini diutus untuk ummat yang ummy (tidak bisa menulis dan membaca).
28
Di antaranya ada yang kakek-kakek tua, nenek-nenek bangka dan anak-anak". Jibril
menjawab: "Perintahkan, membaca al-Quran dengan tujuh huruf". Imam Turmudzy
mengatakan: "Hadits ini hasan lagi shahih".

Dalam suatu lafazh lain disebutkan: "Barangsiapa membacanya dengan satu huruf saja
berarti telah membaca seperti ia (Nabi) membaca".

Dituturkan dalam lafazh Hudzaifah: Kemudian aku berkata: "Wahai Jibril bahwa aku
diutus untuk ummat yang ummiyah di dalamnya terdapat orang lelaki, perempuan, anak-
anak, pelayan (babu) dan kakek tua yang tidak bisa membaca sama sekali". Jibril balik
berkata: "Bahwa al-Quran diturunkan dengan tujuh huruf".


Imam Ahmad

Mengeluarkan hadits dengan sanadnya dari Abi Qais maula 'Amar bin 'Ash dari 'Amr:
Bahwa ada seseorang ini berdiri sehingga tidak terang membaca satu ayat al-Quran.
Kemudian 'Amr berkata kepadanya, "Sebenarnya ayat itu begini dan begini". Setelah itu ia
mengatakan hal itu kepada Rasulullah SAW. Rasulullah SAW menjawab, "Sesungguhnya
al-Quran itu diturunkan dengan tujuh huruf, mana saja yang kalian baca berarti benar dan
jangan kalian saling meragukan".


Ath-Thabary dan ath-Thabrany

Meriwayatkan dari Zaid bin Arqam. Ia berkata: Ada seseorang datang kepada Rasulullah
SAW lalu berkata, "Ibnu Mas'ud telah membacakan sebuah surat kepadaku seperti yang
telah dibacakan oleh Zaid bin Tsabit dan membacakan pula kepadaku Ubay bin Ka'ab.
Ternyata bacaan mereka berbeda-beda. Maka bacaan siapa yang saya ambil?". Rasulullah
SAW terdiam, sedangkan shahabat 'Ali berada di sampingnya, kemudian 'Ali berkata:
"Setiap orang di antara kalian hendaklah membaca menurut pengetahuannya, karena
kesemuanya baik lagi indah".


Ibnu Jarir ath-Thabary
29

Mengeluarkan hadits dari Abi Hurairah, bahwa ia berkata: Rasulullah SAW bersabda,
"Sesungguhnya al-Quran ini diturunkan dengan tujuh huruf, maka bacalah semampunya
dan tidak berdosa. Tetapi jangan sekali-kali mengakhiri dzikir rahmat dengan adzab atas
dzikir adzab dengan rahmat".

30
Hikmah Diturunkannya al Hikmah Diturunkannya al Hikmah Diturunkannya al Hikmah Diturunkannya al- -- -Quran Dengan Tujuh Huruf Quran Dengan Tujuh Huruf Quran Dengan Tujuh Huruf Quran Dengan Tujuh Huruf


1. Mempermudah ummat Islam khususnya bangsa Arab yang dituruni al-Quran
sedangkan mereka memiliki beberapa dialeks (lahjah) meskipun mereka bisa
disatukan oleh sifat ke-Arabannya. Kami ambil hikmah ini dengan alasan sabda
Rasulullah SAW, "Agar mempermudah ummatku, bahwa ummatku tidak mampu
melaksanakannya", dan lain-lain.

Seorang ahli tahqiq, Ibnu Jazary berkata, "Adapun sebabnya al-Quran didatangkan
dengan tujuh huruf, tujuannya adalah untuk memberikan keringanan kepada
ummat, serta memberikan kemudahan sebagai bukti kemuliaan, keluasan, rahmat
dan spesialisasi yang diberikan kepada ummat utama di samping untuk memenuhi
tujuan Nabinya sebagai makhluk yang paling utama dan kekasih Allah".

Di mana Jibril datang kepadanya sambil berkata, "Bahwa Allah telah
memerintahkan kamu untuk membacakan al-Quran kepada ummatmu dengan
satu huruf". Kemudian Nabi SAW menjawab: "Saya akan minta 'afiyah (kesehatan)
dan pertolongan dulu kepada Allah karena ummatku tidak mampu". Beliau terus
mengulang-ulang pertanyaan sampai dengan tujuh huruf.

2. Menyatukan ummat Islam dalam satu bahasa yang disatukan dengan bahasa
Quraisy yang tersusun dari berbagai bahasa pilihan di kalangan suku-suku bangsa
Arab yang berkunjung ke Makkah pada musim haji dan lainnya.

31
Jumlah Qiraat Jumlah Qiraat Jumlah Qiraat Jumlah Qiraat d dd dan Aneka Ragam Pendapat Tentang Qiraat an Aneka Ragam Pendapat Tentang Qiraat an Aneka Ragam Pendapat Tentang Qiraat an Aneka Ragam Pendapat Tentang Qiraat


Qiraat ada macam-macam jenisnya. Pendapat tentang qiraat itu sendiri juga sangatlah
beragam dan semua pendapat tersebut sangatlah berbobot seperti yang tertera di bawah
ini.

Pengarang kitab Al-Itqan menyebutkan macam-macam qiraat itu ada yang mutawatir,
masyhur, syadz, ahad, maudhu' dan mudarraj.

Qadhi' Jalaluddin al-Bulqiny mengatakan qiraat itu terbagi ke dalam mutawatir, ahad dan
syadz.

Yang mutawatir adalah qiraat tujuh yang masyhur. Yang ahad adalah qiraat tsalatsa (tiga)
yang menjadi pelengkap qiraah 'asyrah (sepuluh), yang kesemuanya dipersamakan dengan
qiraat para sahabat. Adapun qiraat yang syadz ialah qiraat para tabi'in seperti qiraat
A'masy, Yahya ibnu Watsab, Ibnu Jubair dan lain-lain.

Imam as-Suyuthy mengatakan bahwa kata-kata di atas perlu ditinjau kembali. Yang pantas
untuk berbicara dalam bidang ini adalah tokoh qurra' pada masanya yang bernama Syaikh
Abu al-Khair ibnu al-Jazary di mana beliau mengatakan dalam muqaddimah kitabnya An-
Nasyr, "Semua qiraat yang sesuai dengan bacaan Arab walau hanya satu segi saja dan
sesuai dengan salah satu mushhaf Utsmany walaupun hanya sekedar mendekati serta
sanadnya benar maka qiraat tersebut adalah shahih (benar), yang tidak ditolak dan haram
menentangnya, bahkan itu termasuk dalam bagian
huruf yang tujuh di mana al-Quran diturunkan. Wajib
bagi semua orang untuk menerimanya baik timbulnya
dari imam yang tujuh maupun dari yang sepuluh atau
lainnya yang bisa diterima. Apabila salah satu
persyaratan yang tiga tersebut di atas tidak terpenuhi
maka qiraat itu dikatakan qiraat yang syadz atau bathil,
baik datangnya dari aliran yang tujuh maupun dari
tokoh yang lebih ternama lagi. Inilah pendapat yang
benar menurut para muhaqqiq dari kalangan salaf
maupun khalaf.
32

Pengarang kitab ath-Thayyibah dalam memberikan batas diterimanya qiraat mengatakan:
Setiap bacaan yang sesuai dengan nahwu, mirip dengan tulisan mushhaf Utsmany, benar
adanya itulah bacaan. Ketiga sendi ini, bila rusak salah satunya menyatakan itu cacat,
meski dari qiraat sab'ah datangnya.

Qiraat ada yang mengartikan qiraat sab'ah, qiraat sepuluh dan qiraat empat belas.
Semuanya yang paling terkenal dan nilai kedudukannya tinggi ialah qiraat sab'ah.

Qiraat sab'ah (tujuh) adalah qiraat yang dinisbatkan kepada imam yang tujuh dan
terkenal, yaitu: Nafi', Ashim, Hamzah, Abdullah bin Amir, Abdullah ibnu Katsir, Abu Amir
ibnu 'Ala' dan Ali al-Kisaiy.

Qiraat 'asyar (sepuluh) adalah qiraat yang tujuh ditambah dengan qiraat: Abi Ja'far,
Ya'qub dan Khalaf.

Qiraat arba' 'asyar (empat belas) yaitu qiraat yang sepuluh ditambah empat qiraat: Hasan
al-Bashry, Ibnu Mahish, Yahya al-Yazidy dan asy-Syambudzy.

Ilmu qiraat adalah ilmu yang lahir pada masa yang sebelumnya tidak pernah disebut-
sebut. Orang yang pertama menyusunnya adalah Abi Ubaid al-Qasim ibn Sallam, Abu
Hatim as-Sajistany, Abi Ja'far ath-Thabary dan Ismail al-Qadhy.

Bilakah qiraat menjadi populer?

Qiraat sab'ah populer di seluruh negara Islam pada permulaan abad kedua hijriyah. Di
Bashrah orang membaca menurut qiraat Abi Amr dan Ya'qub, di Kufah menurut qiraat
Hamzah dan Ashim, di Syam menurut qiraat Ibnu Amir, di Makkah menurut qiraat Ibnu
Katsir dan di Madinah menurut qiraat Nafi'.

33
Kenapa al Kenapa al Kenapa al Kenapa al- -- -Quran Tidak Dibukukan Quran Tidak Dibukukan Quran Tidak Dibukukan Quran Tidak Dibukukan d dd dalam Satu Mushhaf ( alam Satu Mushhaf ( alam Satu Mushhaf ( alam Satu Mushhaf (p pp pada Masa Nabi) ada Masa Nabi) ada Masa Nabi) ada Masa Nabi)


Pengumpulan al-Quran yang tidak dilakukan secara sekaligus, melainkan melalui beberapa
masa, di mana kemudian menjadi suatu mushhaf yang utuh.

Di sini mungkin ada yang bertanya, "Kenapa al-Quran pada masa Nabi SAW tidak
dikumpulkan dan disusun dalam bentuk satu mushhaf?

Jawabnya adalah:

Pertama: Al-Quran diturunkan tidak sekaligus, tetapi berangsur-angsur dan terpisah-pisah.
Tidaklah mungkin untuk membukukannya sebelum secara keseluruhannya selesai.

Kedua: Sebagian ayat ada yang di mansukh. Bila turun ayat yang menyatakan nasakh,
maka bagaimana mungkin bisa dibukukan datam satu buku.

Ketiga: Susunan ayat dan surat tidaklah berdasarkan urutan turunnya. Sebagian ayat ada
yang turunnya pada saat terakhir wahyu tetapi urutannya ditempatkan pada awal surat.
Yang demikian tentunya menghendaki perubahan susunan tulisan.

Keempat: Masa turunnya wahyu terakhir dengan wafatnya Rasululah SAW adalah sangat
pendek/ dekat. Sebagaimana pembahasan terdahulu bahwa ayat al-Quran yang terakhir
adalah firman Allah SWT:



Kemudian Rasulullah SAW berpulang ke rahmatullah setelah sembilan hari dari turunnya
ayat tersebut. Dengan demikian masanya sangat relatif singkat, yang tidak memungkinkan
untuk menyusun atau membukukannya sebelum sempurna turunnya wahyu.

Kelima: Tidak ada motivasi yang mendorong untuk mengumpulkan al-Quran menjadi
satu mushhaf sebagaimana yang timbul pada masa Abu Bakar. Orang-orang Islam ada
dalam keadaan baik, ahli baca Quran begitu banyak, fitnah-fitnah dapat diatasi. Berbeda
34
pada masa Abu Bakar di mana gejala-gejala telah ada; banyaknya yang gugur, sehingga
khawatir kalau al-Quran akan lenyap.


Kesimpulan

Kalau al-Quran sudah dibukukan dalam satu mushhaf, sedangkan situasi sebagaimana
yang tersebut di atas, niscaya al-Quran akan mengalami perubahan dan pergantian selaras
dengan terjadinya naskh (ralat) atau munculnya sebab di samping perlengkapan menulis
tidak mudah didapat.

Kondisi tidak akan membantu untuk melepaskan mushhaf yang lebih dahulu dan harus
berpegang pada mushhaf yang baru karena tidak mungkin setiap bulan ada satu mushhaf
yang mencakup tiap ayat al-Quran yang diturunkan. Namun setelah masalahnya stabil
yaitu dengan berakhirnya penurunan, wafatnya Rasul, tidak lagi diralat, dan diketahuinya
susunan, maka mungkinlah dibukukan menjadi satu mushhaf. Dan inilah yang dilakukan
oleh Abu Bakar r.a. khalifah yang bijaksana, semoga Allah membalas jasanya atas
perbuatan beliau dalam mengumpulkan al-Quran beserta orang-orang Islam yang
mengikuti jejaknya dengan balasan yang berlipat anda.

35
Langkah Langkah Langkah Langkah y yy yang Tepat ang Tepat ang Tepat ang Tepat d dd dalam Pengumpulan al alam Pengumpulan al alam Pengumpulan al alam Pengumpulan al- -- -Quran Quran Quran Quran


Dalam usaha pengumpulan al-Quran Zaid bin Tsabit telah mengambil langkah yang tepat,
teliti dan mantap. Langkah tersebut adalah suatu jaminan (yang pantas) dalam penulisan
al-Quran dengan mantap dan penuh ketelitian.

Zaid bin Tsabit tidak menganggap cukup menurut yang dihafal dalam hati dan yang ditulis
dengan tangannya serta hasil pendengaran, tetapi ia bertitik-tolak pada penyelidikan yang
mendalam dari dua sumber:
(1). Sumber hafalan yang tersimpan dalam hati para sahabat; dan
(2). Sumber tulisan yang ditulis pada zaman Rasulullah SAW.

Dua hal tersebut yaitu hafalan dan tulisan harus terpenuhi. Karena sangat bersungguh-
sungguh dan berhati-hatinya ia tidak menerima data berupa tulisan sebelum disaksikan
oleh dua orang yang adil bahwa tulisan tersebut ditulis di hadapan Rasulullah SAW.

Hal ini dikemukakan oleh sebuah hadits yang diriwayatkan oleb Abu Daud dalam kitab
sunnahnya di mana ia berkata: Umar datang seraya mengatakan: "Siapa yang menerima
al-Quran dari Rasulullah SAW maka cobalah datangkan, mereka menulisnya dalam
lembaran-lembaran kertas, papan kayu dan pelepah kurma".

Sekalipun demikian ia (Umar) tidak mau menerimanya begitu saja sebelum disaksikan oleh
dua orang saksi. Hadits ini didukung pula oleh hadits lain yang juga diriwayatkan oleb
Abu Daud; bahwa Abu Bakar mengatakan kepada Umar dan Zaid: "Duduklah anda
berdua di pintu masjid. Bila ada orang yang mendatangimu perihal al-Quran (Kitabullah)
dengan membawa dua orang saksi, maka tulislah!"

Ibnu Hajar mengatakan, "Yang dimaksud dengan dua orang saksi adalah hafalan dan
tulisan, sedangkan as-Sakhawy mengatakan bahwa yang dimaksud, adalah mereka berdua
menyaksikan tulisan tersebut di hadapan Rasulullah SAW itu karena benar-benarnya usaha
pemantapan, ketelitian dan kesungguhan yang digariskan oleb Abu Bakar ash-Shiddiq
kepada Zaid bin Tsabit.

36
Lintasan Sejarah Ilmu al Lintasan Sejarah Ilmu al Lintasan Sejarah Ilmu al Lintasan Sejarah Ilmu al- -- -Quran Quran Quran Quran


Al-Quran yang menjadi kitab paling akhir dan yang paling utama, penurunannya tidaklah
secara langsung melainkan secara bertahap, sehingga pihak yang berada di dalam
prosesnya dari awal hingga utuh sangatlah berpengaruh kuat.

Para sahabat nabi adalah orang-orang Arab murni, mampu mencerna kesusastraan
bermutu tinggi. Mereka dapat memahami ayat-ayat al-Quran yang turun kepada
Rasulullah saw. Jika menghadapi kesukaran dalam memahami sesuatu mengenai al-
Qur'an, mereka menanyakannya langsung kepada beliau. Misa1nya, pertanyaan mereka{1}
ketika turun ayat: "dan tidak mencampur iman mereka dengan kedzaliman" (QS. Al-
An'am: 82). Mereka bertanya kepada beliau: "Siapakah di antara kita yang tidak pernah
zhalim terhadap diri sendiri?" Rasulullah dalam jawabannya menafsirkan kata
"kezhaliman" pada ayat tersebut dengan "syirik", dan sebagai da1il beliau menunjuk firman
A11ah Swt dalam surah Luqman: 13 yang menegaskan: "Sungguhlah bahwa syirik adalah
kezhaliman yang amat besar".

Kepada beliau Allah Swt te1ah menurunkan Kitab suci al-Quran dan mengajar dan kepada
beliau segala sesuatu yang tidak beliau ketahui sebelumnya. Karunia Allah kepada beliau
sungguh teramat besar. Pada masa hidup Rasulullah dan masa berikutnya, pada zaman
generasi para sahabat Nabi, tidak ada kebutuhan sama sekali untuk menulis atau
mengarang buku-buku tentang i1mu al-Quran{2}.

Sebagian besar para sahabat Nabi terdiri dari orang-orang buta huruf, dan alat tulis-
menulis pun tidak dapat mereka peroleh dengan mudah. Itu merupakan halangan bagi
kegiatan menulis buku tentang i1mu al-Quran. Selain itu Rasulul1ah sendiri melarang para
sahabatnya menulis sesuatu yang bukan al-Quran. Pada masa permulaan turunnya wahyu
be1iau mewanti-wanti, "Janganlah kalian menulis sesuatu tentang diriku. Siapa yang sudah
menulis tentang diriku, bukan al-Quran, hendaklah menghapusnya. Tak ada salahnya bila
kalian berbicara mengenai diriku. Namun, siapa yang sengaja berbicara bohong mengenai
diriku, hendaknya ia siap menempati tempatnya di dalam neraka"{3}.

Larangan beliau itu didorong kekhawatiran akan terjadinya pencampuran al-Quran
dengan hal-hal lain yang bukan dari al-Quran.
37

Pada zaman hidupnya Rasulullah maupun pada zaman berikutnya, yakni zaman
kekhalifahan Abubakar dan 'Umar radhiyallahu 'anhuma, i1mu al-Quran masih
diriwayatkan melalui penuturan secara lisan. Ketika zaman Kekha1ifahan 'Utsman ra di
mana orang Arab mulai bergaul dengan orang-orang non Arab, pada saat itu 'Utsman
memerintahkan supaya kaum mus1imin berpegang pada mushaf induk dan membuat
reproduksi menjadi beberapa buah naskah untuk dikirim ke daerah-daerah. Bersamaan
dengan itu ia memerintahkan supaya membakar semua mushaf lainnya yang ditulis orang
menurut caranya masing-masing. Yang perlu kita ketahui sekarang, dengan
memerintahkan reproduksi naskah al-Quran berarti 'Utsman ra meletakkan dasar yang di
kemudian hari terkenal dengan nama 'Ilmu Rasmil al-Quran atau 'Ilmu-Rasmil-'Utsmani
(ilmu tentang penulisan al-Quran).

Selain itu 'Ali bin Abi Thalib ra. juga terkenal dengan perintahnya kepada Abul-Aswad ad-
Duali{4} (wafat tahun 69 H) supaya meletakkan kaidah pramasastra bahasa Arab guna
menjaga corak keasliannya. Dengan perintahnya itu berarti pula 'Ali bin Abi Thalib ra.
adalah orang yang meletakkan dasar i1mu I'rabul-Quran.

Dapatlah kami katakan, para perintis i1mu tersebut:
1. Empat orang Khalifah Rasyidun (Abubakar, 'Umar, 'Utsman dan 'Ali), Ibnu ’Abbas,
Ibnu Mas'ud, Zaid bin Tsabit, Ubai bin Ka'ab, Abu Musa al-Asy'ari dan 'Abdullah
bin Zubair{5}. Mereka itu dari ka1angan para sahabat Nabi.
2. Mujahid, 'Atha bin Yassar, 'Ikrimah, Qatadah, Hasan Bashri, Sa'id bin Jubair, dan
Zaid bin Aslam dari kaun tabi 'in di Madinah.
3. Malik bin Anas dari kaum tabi'it-tabi'in (generasi ketiga kaum muslimin). la
memperoleh i1munya dari Zaid bin Aslam.

Mereka itulah orang-orang yang meletakkan apa yang sekarang kita kenal dengan i1mu
Tafsir, ilmu Asbabun-Nuzul, i1mu tentang ayat-ayat yang turun di Mekkah dan yang turun
di Madinah, i1mu tentang Nasikh dan Mansukh dan i1mu gharibul-Qur an (soal-soal yang
memerlukan penta'wilan dan penggalian maknanya).

Pada masa kodifikasi al-Quran, i1mu Tafsir berada di atas segala ilmu yang lain, karena ia
dipandang sebagai induk i1mu al-Quran. Di antara orang-orang yang sibuk menekuni dan
menulis buku mengenai bidang ilmu tersebut ialah:
38

Dari kalangan ulama abad ke-2 H: Syu'bah bin Al-Hajjaj{6}, Sufyan bin 'Uyainah{7} dan
Waki' bin al-Jarrah{8}. Kitab-kitab Tafsir yang mereka tulis pada umumnya memuat
pendapat-pendapat dan apa yang dikatakan oleh para sahabat Nabi dan kaum tabi'in.
Kemudian muncul pada zaman berikutnya: Ibnu Jarir ath-Thabari wafat lahun 310 H.
Kitabnya merupakan kitab yang paling bennutu karena banyak berisi riwayat-riwayat
hadits shahih ditu1is dengan rumusan yang baik. Kecuali itu juga berisi i'rab (pramasastra),
pengkajian dan pendapat-pendapat yang berharga. Di samping tafsir yang ditulis menurut
apa yang dikatakan oleh orang-orang terdahu1u, mulai muncu1 kitab-kitab tafsir yang
ditu1is orang berdasarkan pendapat. Ada yang menafsirkan se1uruh isi al-Quran, ada yang
menafsirkan sebagian saja (yakni satu juz), ada yang menafsirkan sebuah surah dan ada
pula yang menafsirkan hanya satu atau beberapa ayat khusus, seperti ayat-ayat yang
berkaitan dengan hukum.

Kitab-kitab lainnya mengenai i1mu al-Quran yang te1ah ditulis orang ialah:

Dalam abad ke-3 H: 'A1i bin al-Madani{9}, guru Imam Bukhari, menu1is kitab tentang
asbabun-nuzul. Abu 'Ubaid al-Qasim bin Salam menulis tentang nasikh dan mansukh,
qiraat dan fadhailul Quran (keutamaan dan keistimewaan al-Quran). Muhammad bin
Ayyub adh-Dharis (wafat 294 H) menulis tentang kandungan ayat-ayat yang turun di
Mekkah dan di Madinah{10}; dan Muhammad bin Kha1af bin Murzaban (wafat 309 H)
menulis kitab berjudu1 Al-Hawi fi 'Ulumil
Quran{11} (Yang Terkandung Dalam Ilmu
al-Quran).

Dalam abad ke-4 H: Abubakar bin Qasim
al-Anbari (wafat 328 H) menu1is buku
berjudu1 Ajaibu 'Ulumil-Quran (Keajaiban-
keajaiban I1mu al-Quran). Dalam buku
tersebut ia berbicara tentang keutamaan
dan keistimewaan al-Quran, tentang
turunnya al-Quran dalam tujuh huruf',
penu1isan mushaf, jum1ah surah, ayat dan
lafaznya. Abu1-Hasan al-Asy'ari menu1is
kitab berjudu1 al-Mukhtazan fi 'Ulumil-
39
Quran (Yang Tersimpan di Da1am Ilmu a1-Quran), kitab yang berukuran resar seka1i{12}.
Abu Bakar as-Sajistani{13} menulis tentang keanehan-keanehan al-Quran. Abu Muhammad
al-Qashshab Muhammad 'A1i Al-Kurkhi (wafat sekitar tahun 360 H) menulis kitab
berjudul panjang: Nukatul-Quran ad-Daallah 'Alal-Bayan fi Anwaa'il-'Ulumi wal-Ahkam al-
Munabbi'ah 'an Ikhtilafil-Anam{14} (Titik-titik al-Quran Menunjukkan Kejelasan Tentang
Berbagai I1mu dan Hukum yang Memberitakan Perbedaan Fikiran Insan). Muhammad bin
'A1i al-Afdawi (wafat 388 H) menulis kitab terdiri dari 20 jilid berjudul al-Istighna{15}
fi'Ulumil-Quran (Kebutuhan Akan Ilmu al-Quran).

Dalam abad ke-5 H: 'A1i bin Ibrahim bin Sa'id al-Hufi{16} menulis kitab betjudul al-Burhan
fi 'Ulumil-Quran, dan kitab lainnya lagi yang betjudul I'rabul-Qur an. Abu 'Amr ad-Dani
(wafat 444 H) menulis kitab berjudul At-Taisir fil-Qiraatis-Sab'i dan kitab lainnya lagi
berjudul Al-Muhkam fin-Nuqath.

Dalam abad ke-6 H: Abul-Qasim 'Abdurrahman yang tekena1 dengan nama as-Suhaili{17}
menulis kitab tentang soal-soa1 yang samar di dalam al-Quran.

Dalam abad ke-7 H: Ibnu 'Abdus-Salam{18} menulis kitab tentang Majazul-Quran (kata-
kata figuratif dalam al-Qur'an). 'Ilmuddin as-Sakhawi{19} menulis kitab tentang qiraat.

Kemudian muncul i1mu baru mengenai al-Quran, yaitu: llmu Badai'ul-Quran{20}, ilmu
Hujajul-Quran{21}, ilmu Aqsamul-Quran{22} dan ilmu Amtsalul-Quran{23}. Mereka
menempuh cara mendalami beberapa bagian al-Quran sampai ke soal yang sekecil-
kecilnya, karena itu pelbagai jenis ilmu perlu diringkas di dalam suatu ilmu baru yang
terpadu, yaitu yang mereka namai 'Ulumul-Quran (Ilmu-llmu al-Quran).

Dalam sejarah kehidupan Imam Syafi'i ra, ketika ia menghadapi cobaan dituduh sebagai
kepala golongan A'lawiyyin di Yaman, dalam keadaan diborgol ia digiring menghadap
Khalifah Harun al-Rasyid di Baghdad. Harun al-Rasyid bertanya, "Hai Syafi'i, bagaimana
sesungguhnya pengetahuanmu mengenai Kitabullah 'Azza wa Jalla? Karena Kitabullah
adalah yang terbaik untuk memulai segala pembicaraan". Imam Syafi'i balik bertanya, "Yaa
Amirul-Mu'minin, Kitabullah yang manakah yang anda tanyakan kepadaku, sebab Allah
Swt telah menurunkan banyak Kitab Suci". Harun Al-Rasyid menjawab: "Baiklah, yang
kami tanyakan ialah Kitabullah yang diturunkan kepada putra pamanku Muhammad saw"
(Harun al-Rasyid, khalifah dari kaum Bani 'Abbas, karena itu ia menganggap Rasulu11ah
40
sebagai saudara misannya). Imam Syafi'i menjawab, "Ilmu al-Quran itu jumlahnya banyak
sekali. Apakah anda bertanya kepadaku mengenai bagian-bagiannya yang muhkam (ayat-
ayat yang jelas maknanya) dan bagian-bagian yang mutasyabih (yang samar dan
memerlukan penta'wilan), ataukah anda menanyakan bagian-bagiannya yang
didahulukan dan dibelakangkan? Ataukah perihal nasikh dan mansukhnya (ayat-ayat yang
mengesampingkan ayat-ayat lain dan ayat-ayat yang dikesampingkan)? Ataukah anda
menanyakan soal...., soal....., soal......dan seterusnya{24}.

Sebagian para peneliti sejarah al-Quran{25}, istilah 'Ulumul-Quran, dalam arti keseluruhan
baru muncul sebagian kenyataan yang jelas setelah muncu1nya kitab berjudul al-Burhan fi
'Ulumil-Quran (Pembuktian Tentang llmu-llmu al-Quran) tulisan 'Ali bin Ibrahim bin Sa'id,
yang terkenal dengan nama al-Hufi (wafat 430 H), terdiri dari 30 jilid. 15 jilid di
antaranya masih tersimpan di dalarn Darul-Kutub, Kairo, di bawah nomor 59 Tafsir,
dalam keadaan tidak teratur dan tidak urut Kitab tersebut mencakup beberapa bidang
i1mu al-Quran, tetapi sebenarnya ia merupakan kitab Tafsir. Penulis kitab Kasyfudz-
Dzunun mengatakan, "Di dalamnya disebut al-gharib (hal-hal yang aneh), al-i'rab
(pramasastra) dan tafsir". Sebelumnya kami telah mengingatkan adanya beberapa kitab
yang mempelajari berbagai soal al-Quran dengan nama yang jelas, yaitu 'ulumul-Qur'an.
Menurut hemat kami, yang paling terdahulu muncul ialah kitab yang ditulis oleh Ibnul-
Mirzaban pada abad ke-3 H.

Pada abad ke-6 H Ibnul-Jauzi (wafat 597 H) menulis dua buah kitab, satu di antaranya
beljudul Fununul-Afnan fi 'Aja'ibi 'Ulumil Qur'an{26}. Kedua berjudul al-Mujtaba fi
'Ulumin Tata'allaqu bil-Quran. Keduanya berupa naskah tulisan tangan masih tersimpan di
dalam Darul-Kutub, Kairo.

Pada abad ke-7 H 'Ilmuddin as-Sakhawi (wafat 597 H) menulis kitab berjudul Jamalul-
Qurra wa Kamalul-Iqra{27}, dan Abu Syarnah (wafat 665 H) menulis kitab al-Mursyidul-
Wajiz fi ma Yata'allaqu bil-Quranil-'Aziz.

Pada abad ke-8 H Badruddin az-Zarkasyi (wafat 794 H){28} menulis al-Burhan fi ‘Ulumil-
Qur'an. Profesor Muhammad Abul-Fadhl telah berjasa dalam usahanya menerbitkan kitab
tesebut.

41
Pada tahun ke-9 lebih banyak lagi orang menulis. Jalaluddin al-Bulqaini{29} menulis
Mawaqi'ul-'Ulum min Mawaaqi'un-Nujum (lihat al-Itqan, 1 hal 3). Muhammad bin
Sulaiman al-Kafiyaji (wafat 879 H){30} menulis sebuah kitab yang disebut oleh as-Sayuthi
dengan mengutip kata-kata penulisnya, bahwa ia mengatakan, "Belum pernah ada yang
seperti itu"{31}. Tapi judul kitab tersebut tidak pemah sampai kepada kita. Kemudian as-
Sayuthi (wafat 911 H) menulis at-Tahbir fi'Ulumit-Tafsir yang disusul dengan kitab lainnya
al-Itqan fi ‘Ulumil-Quran{32}.

Pada abad-abad berikutnya
banyak ulama yang
berminat menulis tentang
al-Quran, sejarahnya dan
ilmu-ilmu yang menjadi
cakupannya. Syeikh Thahir
al-Jazairi mengeluarkan
buku berjudul at-Tibyan Li
Ba'dhil-Mabahitsi al-
Muta'alliqah bil-Quran". Syaikh Muhammad Jamaluddin al-Qasimi membuat Mahasinut
Ta'wil. Syaikh Muhammad 'Abdul-'Adhim az-Zarqani menulis Manahilul 'Irfan fi 'Ulumil-
Quran. Syaikh Muhammad 'Ali Salamah menulis kitab berjudul Minhajul-Furqan fi 'Ulumil-
Quran. Syaikh Thanthawi dengan bukunya yang terkenal al-Jawahir Fi Tafsiril-Quranil-
Karim. Seorang sastrawan besar bernama Musthafa Shadiq ar-Rafi'i menulis I'jazul-Quran.
Profesor Malik bin Nabi menulis adh-Dhahiratul-Quraniyyah, sebuah kitab yang dengan
kuat dan benar membahas masalah wahyu. Sayyid Imam Muhammad Rasyid Ridha
menulis Tafsirul-Qur'anil-Hakim yang mengandung banyak pembahasan mengenai
berbagai jenis ilmu tentang al-Quran. Kemudian yang terakhir, Doktor Muhammad
Abdullah Draz menulis kitab berjudul an-Naba'ul-'Adzim, berisi pandangan baru mengenai
al-Quran{33}.


Catatan Kaki

1. Al-Burhan, I hal. 14

2. Perihal kisah 'Adi' bin Hatim, itu merupakan peristiwa individual yang tidak dapat dipukul-ratakan pada
semua sahabat Nabi. Karena itu1ah Rasulullah berkata kepadanya: "Bantalmu memang lebar", kata sindiran
42
yang berarti "pandir". Al-Qadhi 'Iyadh tidak membenarkan arti tersebut. Ia berpendapat bahwa yang
dimaksud adalah "Engkau terlalu gemuk", atau sebagaimana yang tercantum dalam Shahih Bukhari, yaitu
"Langkah kakimu sangat lebar". Lihat: Shahih Mus1im dengan syarh (uraian) Nawawi Jilid VII, hal 210. Kisah
peristiwa 'Adi' di dalam Shahih Muslim bab "Shiyam", adalah sebagai berikut: Ketika turun ayat: ".... hingga
tampak jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam, yaitu fajar". 'Adi berkata: "Ya Rasulullah. akan
kuletakkan dua buah 'iqal (semacam ikat kepala) di bawah bantalku, yang satu putih dan yang lain hitam.
dengan begitu aku dapat membedakan siang dari malam". Saat itu Rasulullah menjawab: "Bantalmu memang
lebar! Yang dimaksud "hitam" adalah "malam" dan yang dimaksud "putih" adalah "siang".

3. Hadits diketengahkan oleh Muslim di dalam Shahih-nya Jilid VIII hal.229, berasal dari Abu Sa'id al-Khudri.
Bandingkan dengan Buku kami yang berjudul "Ulumul-Hadits Wa-Mushthalahulu halaman 8.

4 Lihat: Inbahur-Ruwah I, hal. 13-23 dan Tahdzibut-Tahdzib XII ha1. 10-12

5 . Lihat: Al-Fahrasat halaman 23.

6 . Imam ahli Hadits terkemuka di Bashrah. Nama lengkapnya: Syu'bah bin al'Hajjaj bin al-Ward al-'Atki al-
Azdi al-Wasithi. Terkenal dengan nama panggi1an Abu Bustham, la mengalami hidupnya Anas bin Malik ra.
dan mendengarkan pemikiran 400 orang dari kaum Tabi'in. Di kalangan semua imam ahli Hadits, ia
dipandang sebagai hujjah (pendapatnya dini1ai sangat berbobot dan kuat dijadikan dalil). Wafat tahun 160 H.

7 . Seorang ulama ahli tafsir dan hadits di Hijaz. Nama lengkapnya: Sufyan bin 'Uyainah al-Hilali al-Kufi.
Wafat th.198 H. (Lihat Tadzkiratul-Huffadz I, hal. 242).

8 . Waki' bin al-Jarrah bin Malih bin 'Adi'. Nama panggilannya : Abu Sufyan ar-Ruwasi al-Kufl, dari Qeis
'Aailan. Iamendengarkan pendapat-pendapatIbnu Jarij, al-A'masy, al-Auza'i dan Sufyan ats-Tsauri. Hadits yang
berasal darinya diketengahkan oleh 'Abdullah bin al'Mubarak, Yahya bin Adam, Ahmad bin Hanbal dan 'Ali
bin al-Madani. Lahir 128 H. dan wafat 197 H. Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Mu'in mengatakan: "Orang
yang terpercaya di Iraq ada1ah Waki". (Lihat: Tarikh Baghdad XIII, ha1. 466-481).

9 .Ia adalah 'Ali bin 'Abdu1lah bin Ja'far. Nama panggilannya: Abu Ja'far, seorang dari kabilah Sa'ad
berdasarkan wala (Perwalian). Wafat tahun 234 H. (Lihat: Tadzkiratul. Huffadz II ha1. 15- 16,
Syadza,atudz.Dzahab II ha1. 81).

10. Kitabnya berjudul 'Fadha'ilul-Qur'an, naskahnya yang dalam keadaan lengkap tersimpan di Dzahiriyah.

11. Sebagian naskahnya tersimpan di da1am perpustakaan "Baladiyah" di Alexandria, Mesir.

12. Lihat : Ad-Dibaj'195

13. Muhammad bin 'Aziz bin al-'Azizi as-Sajistani. Wafat th. 330 H. (Lihat: Bugh-yatul-Wu'ah, 72). Dalam al-
ltqan 1/195 Sayuthi mengatakan (dalam pembicaraannya mengenai kitab as-Sajistani yang berjudu1 'Gharibul-
Qur'an): "la menulis kitabnya se1ama 15 tahun bersama gurunya. Abubakar bin ai-Anbari".
43

14. Naskahnya tersimpan di Muradmala.

15.Mungkin tulisan tangannya terbaca istifta, tetapi kami anggap lebih tepat dibaca istighna

16. Ia adalah °Ali bin Ibrahim bin Sa'id al-Hufi al-Mishri, penulis kitab Al-Burhan Fi Ulumil-Qur'an dan
kitabrrabul-Qur'an. Wafat 430 H. (Lihat: Husnul-Muhadharah II hal.228 dan Inbahur Ruwah II hal. 219). Pada
bagian mendatang akan kami bicarakan kitabnya yang berjudul al-Burhan, yang masih berupa tulisan tangan.

17.Ia adalah 'Abdurrahman bin .Abdullah bin Ahmad As-Suhail. nama panggilannya: Abul-Qasim. Wafat di
Marakesh pada tahun 581 H. kitabnya berjudul Mubahamatul-Qur'an disebut oleh penulis kitab Kasyfudz-
Dzunun dengan nama: At-Ta'rif Wal-I'lam Bimaa Ubhima Fil-Qur'an Minal-Asma Wal-I'lam (Pengenalan dan
Pemberitahuan Mengenai Nama-Nama Dan Tanda-Tanda Di dalam al-Qur'an). Nama itu menjelaskan maksud
kitab tersebut. Naskahnya yang berupa tulisan tangan tersimpan di Darul-Kutub, Kairo. dan di perpustakaan
at-Timuriyyah. Kitabnya yang lain lagi ialah Ar-Raudhul-Anifu 'Alaa Sirat Ibni Hisyam. (Lihat kutipannya di
dalam Inbahur-Ruwah II hal. l62).

18 .Ia adalah Syeikhul-lslam Imam Abu Muhammad 'Abdul-'Aziz bin 'Abdus-Salam, terkenal dengan nama AI-
'Izz. Wafat 660 Ho (Thabaqalusy-Syafi'iyyah V hal 80-107 dan Syadzaraludz-Dzahab V hal. 330).

19 . Ia adalah 'Ali bin Muhammad bin 'Abdus-Samad, terkenal dengan nama as-Sakhawi. Wafat 643 H.
Kitabnya mengenai qira'at teratur baik dan terkenal dengan nama as-Sakhawiyyah. Judu1 yang sebenarnya
ialah Hidayatul-Murtab Fil-Mutasyabih (Petunjuk Bagi Orang Yang Ragu MengenaiHal Yang Samar). Yang
dimaksud "samar" (mutasyabih) bukan lawannya jelas maknanya" (muhkam), melainkan penyajian satu kisah
dengan berbagai versi dan bagian yang berlainan. Lihat: Kutipan as-Sakhawi di dalam Wafyatul-A'yan I hal.
345 dan al-Burhan I ha1. 112, jenis kelima ilmu mutasyabih.

20 . Ilmu yang membahas berbagai jenis al-badi' (segala yang indah) di dalam al-Qur'an, ditulis secara
tersendiri oleh Ibnu Abil-Ishba'. Kitabnya telah dicetak. (Lihat al-Itqan II hal. 140-160. jenis ke-58).

21 . Dinamakan juga Ilmu Jadal al-Qur'an (llmu Debat al-Qur'an). Maksudnya, a1-Qur'an berbicara mengenai
sega1a macam dalil dan pembuktian, tetapi atas dasar metode Arab, bukan berdasarkan cara-cara para ah1i
ilmu Ka1am. Hal itu ditulis secara tersendiri oleh Najmuddin at-Thufi (Sulaiman at-Thufi (Sulaiman bin 'Abdul-
Qawi bin 'Abdul-Karim), wafat 716 H. sebagaimana tercantum da1am ad-Dararul-Kaminah II hal.154.
Mengenai ilmu tersebut, lihatah al-Itqann ha1. 229-223, jenis ke-68, dan lihat juga: al-Burhan n ha1. 24-27
,jenis ke-11)

22 .Lihat: al-ltqan n hal. 225-228,jenis ke-67 . Ditulis secara tersendiri oleh Al-'Allamah ibnul-Qayyim, dan
oleh penulis zaman berikutnya yang bernama 'Abdul-Hamid Al-Farahi dengan kitabnya yang berjudul lm'an fi
Aqsamil-Our'an.

23 . Lihat beberapa pandangan mengenai ilmu tersebut di dalam al-Itqan II hal. 222-225, jenis ke-66.

44
24 . Hal itu disebut oleh Imam Jalaluddin al-Bulqaini dalam kitabnya Mawaqi'il-'Ulum Min Mawaqi'in-Nujum.
Lihat Manahilul-'Irfan I hal. 26.

25 . Ibid

26 . Naskah asli rertulisan tangan masih tersimpan di dalam Perpustakaan At- Timuriyyah, Kairo. dalam
keadaan tidak lengkap. nomor 222 Tafsir.

27.Dari Kitab Kasyfudz-Dzunun dapat ditarik kesimpulan bahwa kitab Jamalul-Qurra Wa Kamalul-Iqra
mencakup rerbagai bidang ilmu Qira'at, seperti: T ajwid. Waqaf (letak bacaan berhenti) dan ibtida (letak
b~aan dimulai). nasikh dan mansukh.

28 . Imam Badruddin Muhammad bin 'Abdullah bin Bahadur az-Zarkasyih, termasuk jajaran ulama ahli tafsir
dan ah1i ilmu ushuluddin. Lahir tahun 745 H, dan wafat 794 H (Lihat salinannya dan sumber salinan itu
dalam Pendahuluan kitabnya yang berjudul al-Burhan Fi-'Ulumil-Qur'an, diterbitkan oleh Profesor
Muhammad Abul-FadhlIbrahim dalam empat jilid.

29 . Abdurralunan bin Ruslan Abu1-Fadh1 Jalaluddin al-Bulqaini, seorang ulama yang cerdas ahli di bidang
ilmu Fiqh, Ushuluddin. bahasa Arab, Tafsir, Ma'ani danBayan. la Ibham (Memahanri Hal-Hal Yang Samar
Dalam Shahih Al-Bukhari). la berulangkali diangkat sebagai KetUa Mahkamah Islam di Mesir hingga wafatnya
pada tahun 824 H. (Syadzaratudz-Dzahab, vn hal. 166).

30. Muhammad bin Sulaiman bin Sa'ad bin Mas'ud Muhyiddin Abu 'Abdullah al-Kafiyaji. Dialah yang
menekuni sya'ir berakhiran huruf kaf sehingga ia terkenal dengan Kafiyaji. As-Sayuthi pernah magang dengan
mengikutinya selama 14 tahun. Al-Kafiyajimenulis banyak kitab mengnai tafsir, Fiqh, Pokok-pokok Bahasa
Arab dan Nahwu. Kitabnya yang tidak disebut judulnya dalam al-Itqan, ternyata dalam al-Bughyah disebut
oleh Sayuthi berjudul at-Taisir Fi Qawa'i-djt-Tafsir. Sayuthi mengatakan, al-Kafiyaji berkata, ia menemukan
i1mu tersebut sebagai hal yang belum pernah ada sebelumnya. Karenanya al-Kafiyaji tidak membatasi dirinya
pada al-Burhan tulisan Zarkasyi dan tidak pula puas dengan Mawaaqi'ul-'Ulum karya Jalaluddin al-Bulqaini, la
wafat tahun 879 H. (Lihat: Bughyatul-Wu'ah. halaman48).

31 . Dalam al-Itqan I hal. 3 as-Sayuthi mengatakan: "Aku melihatnya sebagai karangan yang halus, sebagai
koleksi yang rapih, berurutan dan punya kesimpulan".

32. Kitab al-Itqan berulang kali dicetak di Kairo. Tulisan as-Sayuthi banyak bersandar pada al-Burhan Fi
'Ulumil-Qur'an karangan Zarkasyi. Bahkan banyak bagiannya yang dikutip. Adakalanya kutipan itU disebut
sumbernya dan ada kalanya juga tidak. Lihat komentar Sayuthi tentang al_burhan dalam Pendahuluan
kitabnya, al-Itqan I hal. 6-8.

33. Pada tahun-tahun terakhir juga bennunculan penelitian soal-soal al-Qur.an yang amat berguna dan
bersifat memberi pengarahan secara umum mengenai agama Islam. Antara lain, kitab yang berjudul Nadzaraat
Fil-Qur'an karangan al-Ustadz Muhammad al-Ghazali. Selain itu,ada juga kitab lain yang bersifat mengarahkan
moral dan menonjolkan segi-segi etika di dalam ungkapan-ungkapan al-Qur,an. Kitab al-Manhalul-Khalid itu
45
adalah karya rekan kami, Profesor Muhammad al-Mubarak, dosen Fakultas Ilmu Syari'at pada Universitas
Damsyik.

46
Nama Nama Nama Nama- -- -nama al nama al nama al nama al- -- -Quran Quran Quran Quran


Al-Quran mempunyai beberapa nama yang kesemuanya menunjukkan kedudukannya
yang tinggi dan luhur, dan secara mutlak al-Quran adalah kitab samawy yang paling
mulia.

Karenanya dinamailah kitab samawy itu dengan: al-Quran, al-Furqan, at-Tanzil, adz-
Dzikr, al-Kitab, dsb. Seperti halnya Allah juga telah memberi sifat tentang al-Quran sifat-
sifat yang luhur antara lain: nur (cahaya), hudan (petunjuk), rahmat, syifa' (obat),
mau'izhah (nasihat), 'aziz (mulia), mubarak (yang diberkahi), basyir (pembawa khabar
baik), nadzir (pembawa khabar buruk) dan sifat-sifat lain yang menunjukkan kebesaran
dan kesuciannya.


Alasan Penamaan

1. Alasan dinamainya dengan Al-Qur'an ialah karena banyak (kata-kata Al-Qur'an)
terdapat dalam ayat, antara lain firman Allah SWT:



“Qâf. Demi al-Quran yang sangat mulia.” (QS. Qâf: 1).

Dan firman-Nya:



“Sesungguhnya Al-Qur'an ini memberi petunjuk pada jalan yang amat lurus.” (QS. Al-Isrâ:
9).

2. Alasan al-Quran dinamai dengan al-Furqan sebagaimana tertera dalam firman Allah
SWT:
47



“Maha suci Allah yang telah menurunkan al-Furqan (al-Quran) kepada hambanya, agar
dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (QS. Al-Furqan: 1).

3. Alasan al-Quran diberi nama dengan at-Tanzil, sebagaimana tertera dalam firman Allah
SWT:



“Dan sesungguhnya al-Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, ia
dibawa turun oleh ar-Ruh Al-Amin (Jibril as).” (QS. Asy-Syu'arâ: 192-193).

4. Alasan dinamakan dengan adz-Dzikr, sebagaimana firman Allah SWT:



“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-
benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9).

5. Sedangkan dinamakan dengan al-Kitab sebagaimana tertera dalam firman Allah SWT:



“Hâ Mîm. Demi Kitab (Al-Qur'an) yang menjelaskan. Sesungguhnya Kami menurunkannya
pada suatu malam yang diberkahi.” (QS. Ad-Dukhân: 1-3).

Adapun mengenai sifat-sifatnya sungguh tertera dalam sejumlah ayat-ayat al-Quran,
bahkan sedikit sekali (jarang) surat-surat dalam al-Quran yang tidak menyebutkan sifat-
sifat yang indah dan mulia terhadap kitab yang diturunkan oleh Tuhan yang Maha Mulia
48
yang dijadikan mu'jizat (tiada tanding) yang abadi bagi seorang Nabi yang terakhir. Kami
sebutkan diantaranya:

a. Firman Allah SWT:



“Hai manusia sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu
(Muhammad dengan mu'jizatnya) dan telah kami turunkan kepadamu cahaya yang terang
benderang/ al-Quran.” (QS. An-Nisâ': 174)

b. Firman Allah SWT:



“Dan Kami turunkan dari al-Quran sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi
orang-orang yang beriman dan al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang
yang zhalim selain kerugian.” (QS. Al-Isrâ': 28).

c. Firman Allah SWT:



“Katakanlah al-Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman.”
(QS. Fushshilat: 44).

d. Firman Allah SWT:


49

“Hai manusia! Sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan
penyembuh bagi penyakit-penyakit yang berada dalam dada dan petunjuk serta rahmat
bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yûnûs: 57).

Kata al-Quran adalah sama halnya dengan kata Qiraat adalah masdar dari kata qaraa,
qiraatan dan qurânan. Demikianlah menurut sebagian ulama dengan mengambil alasan
Firman Allah SWT:



“Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan
(membuatmu pandai) membacanya. Apabila kamu telah selesai membacakannya maka
ikutilah bacaannya itu.” (QS. Al-Qiyâmah: 17-18).

Pengertian qurânahû di sini sama dengan qirâatahû. Maka lafazh quran menurut pendapat
ini adalah musytak (pengambilan dari kata kerja). Sebagian ulama yang lain berpendapat
bahwa lafazh al-Quran bukanlah musytak dari qaraa melainkan isim alam (nama sesuatu)
bagi kitab yang mulia sebagaimana halnya nama Taurat dan Injil. Ini adalah pendapat
Imam Syafi'i (lihat kitab Mabahitsul Qur'an karangan al-Ustadz Manna' al-Qaththan).

50
Pengumpulan al Pengumpulan al Pengumpulan al Pengumpulan al- -- -Quran pada Masa Abu Bakar Quran pada Masa Abu Bakar Quran pada Masa Abu Bakar Quran pada Masa Abu Bakar ash ash ash ash- -- -Shiddiq Shiddiq Shiddiq Shiddiq ra ra ra ra


Rasulullah SAW berpulang ke rahmatullah
setelah beliau selesai menyampaikan risalah
dan amanah, menasehati ummat serta
memberi petunjuk. pada agama yang lurus.
Setelah beliau wafat kekuasaan dipegang
oleh Abu Bakar Siddik ra

Pada masa pemerintahannya Abu Bakar
banyak menghadapi malapetaka, berbagai
kesulitan dan problem yang rumit, di antaranya memerangi orang-orang yang murtad
(keluar dari agama Islam) yang ada di kalangan orang Islam, memerangi pengikut
Musailamah al-Kadzdzab.

Peperangan Yamamah adalah suatu peperangan yang amat dahsyat. Banyak kalangan
sahabat yang hafal al-Quran dan ahli bacanya mati syahid yang jumlahnya lebih dari 70
orang huffazh ternama. Oleh karenanya kaum muslimin menjadi bingung dan khawatir.
Umar sendiri merasa prihatin lalu beliau menemui Abu Bakar yang sedang dalam keadaan
sedih dan sakit. Umar mengajukan usul (bermusyawarah dengannya) supaya
mengumpulkan al-Quran karena khawatir lenyap dengan banyaknya hufazh yang gugur,
Abu Bakar pertama kali merasa ragu.

Setelah dijelaskan oleh Umar tentang nilai-nilai positifnya ia memandang baik untuk
menerima usul dari Umar. Dan Allah melapangkan dada Abu Bakar untuk melaksanakan
tugas yang mulia tersebut, ia mengutus Zaid bin Tsabit dan mengajukan persoalannya,
serta menyuruhnya agar segera menangani dan mengumpulkan al-Quran dalam satu
mushhaf. Mula pertama Zaid pun merasa ragu, kemudian iapun dilapangkan Allah
dadanya sebagaimana halnya Allah melapangkan dada Abu Bakar dan Umar.

Al-Bukhari telah meriwayatkan dalam shahihnya tentang kisah pengumpulan ini. Karena
pentingnya maka di sini kami menukilnya sebagai berikut:

51
Dari Zaid bin Tsabit r.a. bahwa ia berkata: Abu Bakar mengirimkan berita kepadaku
tentang korban pertempuran Yamamah, setelah orang yang hafal al-Quran sejumlah 70
orang gugur. Kala itu Umar berada di samping Abu Bakar. Kemudian Abu Bakar
mengatakan, "Umar telah datang kepadaku dan ia mengatakan: Sesungguhnya
pertumpahan darah pada pertempuran Yamamah banyak mengancam terhadap para
penghafal al-Quran. Aku khawatir kalau pembunuhan terhadap para penghafal al-Quran
terus-menerus terjadi di setiap pertempuran, akan mengakibatkan banyak al-Quran yang
hilang. Saya berpendapat agar anda memerintahkan seseorang untuk mengumpulkan al-
Quran. Aku (Abu Bakar) menjawab: Bagaimana aku harus melakukan suatu perbuatan
sedang Rasul SAW tidak pernah melakukannya? Umar r.a. menjawab: Demi Allah
perbuatan tersebut adalah baik. Dan ia berulangkali mengucapkannya sehingga Allah
melapangkan dadaku sebagaimana ia melapangkan dada Umar. Dalam hal itu aku
sependapat dengan pendapat Umar.”

Zaid berkata: Abu Bakar mengatakan, "Anda adalah seorang pemuda yang tangkas, aku
tidak meragukan kemampuan anda. Anda adalah penulis wahyu dari Rasulullah SAW.
Oleh karena itu telitilah al-Quran dan kumpulkanlah....!" Zaid menjawab, "Demi Allah
andaikata aku dibebani tugas untuk memindahkan gunung tidaklah akan berat bagiku jika
dibandingkan dengan tugas yang dibebankan kepadaku ini".

Saya mengatakan: "Bagaimana anda berdua akan melakukan pekerjaan yang tidak pernah
dilakukan oleh Rasululah SAW?". Abu Bakar menjawab: "Demi Allah hal ini adalah baik",
dan ia mengulanginya berulangkali sampai aku dilapangkan dada oleh Allah SWT
sebagaimana ia telah melapangkan dada Abu Bakar dan Umar.

Selanjutnya aku meneliti dan mengumpulkan al-Quran dari kepingan batu, pelepah kurma
dan dari sahabat-sahabat yang hafal al-Quran, sampai akhirnya aku mendapatkan akhir
surat at-Taubah dari Abu Khuzaimah al-Anshary yang tidak terdapat pada lainnya (yaitu):



52
“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat baginya
apa yang kamu rasakan, ia sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu,
amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Jika mereka berpaling
(dari keimanan) maka katakanlah: Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan selain Dia.
Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arsy yang
agung.” (QS. At-Taubah: 128-129).

Lembaran-lembaran tersebut disimpan pada Abu Bakar sampai ia wafat Kemudian
(diserahkan) kepada Umar sampai wafat dan kemudian disimpan di rumah Hafsah binti
Umar.

Riwayat ini menyatakan tentang sebab pengumpulan al-Quran.

53
Pengumpulan al Pengumpulan al Pengumpulan al Pengumpulan al- -- -Quran pada Masa Quran pada Masa Quran pada Masa Quran pada Masa ‘ ‘‘ ‘Utsman ra Utsman ra Utsman ra Utsman ra


Semakin meluasnya daerah kekuasaan Islam pada masa Utsman membuat perbedaan yang
cukup mendasar dibandingkan dengan pada masa Abu Bakar

Latar belakang pengumpulan al-Quran di masa Utsman r.a. adalah karena beberapa faktor
lain yang berbeda dengan faktor yang ada pada masa Abu Bakar. Daerah kekuasaan Islam
pada masa Utsman telah meluas, orang-orang Islam telah terpencar di berbagai daerah
dan kota. Di setiap daerah telah populer bacaan sahabat yang mengajar mereka.

Penduduk Syam membaca al-Quran mengikuti bacaan Ubay ibnu Ka'ab, penduduk Kufah
mengikuti bacaan Abdullah Ibnu Mas'ud, dan sebagian yang lain mengikuti bacaan Abu
Musa al-Asy'ari. Di antara mereka terdapat perbedaan tentang bunyi huruf, dan bentuk
bacaan. Masalah ini membawa mereka kepada pintu pertikaian dan perpecahan
sesamanya. Hampir satu sama lainnya saling kufur-mengkufurkan karena berbeda
pendapat dalam bacaan.

Diriwayatkan dari Abi Qilabah bahwasanya ia berkata, "Pada masa pemerintahan Utsman
guru-pengajar menyampaikan kepada anak didiknya, guru yang lain juga menyampaikan
kepada anak didiknya. Dua kelompok murid tersebut bertemu dan bacaannya berbeda,
akhirnya masalah tersebut sampai kepada guru/ pengajar sehingga satu sama lain saling
mengkufurkan. Berita tersebut sampai kepada Utsman. Utsman berpidato dan seraya
mengatakan: Kalian yang ada di hadapanku berbeda pendapat, apalagi orang-orang yang
bertempat tinggal jauh dariku pasti lebih-lebih lagi perbedaannya. Karena latar belakang
dari kejadian tersebut Utsman dengan kehebatan pendapatnya dan kebenaran
pandangannya ia berpendapat untuk melakukan tindakan prefentif menambal pakaian
yang sobek sebelum sobeknya meluas dan mencegah penyakit sebelum sulit mendapat
pengobatannya. Ia mengumpulkan sahabat-sababat yang terkemuka dan cerdik
cendekiawan untuk bermusyawarah dalam menanggulangi fitnah (perpecahan) dan
perselisihan. Mereka semua sependapat agar Amirul Mu'minin menyalin dan
memperbanyak mushhaf kemudian mengirimkannya ke segenap daerah dan kota dan
selanjutnya menginstruksikan agar orang-orang membakar mushhaf yang lainnya sehingga
tidak ada lagi jalan yang membawa kepada pertikaian dan perselisihan dalam hal bacaan
al-Quran.”
54

Sahabat Utsman melaksanakan keputusan yang sungguh bijaksana tadi, ia menugaskan
kepada empat orang sahabat pilihan, lagi pula hafalannya dapat diandalkan. Mereka
tersebut adalab Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Said Ibnu al-'Asb dan Abdurrahman
ibn Hisyam. Mereka semua dari suku Quraisy golongan muhajirin kecuali Zaid Ibnu
Tsabit, di mana ia adalah dari kaum Anshar. Pelaksanaan gagasan yang mulia ini adalah
pada tahun kedua puluh empat hijrah.

Utsman mengatakan kepada mereka, "Bila anda sekalian ada perselisihan pendapat
tentang bacaan, maka tulislah berdasarkan bahasa Quraisy, karena al-Quran diturunkan
dengan bahasa Quraisy". Utsman meminta kepada Hafsah binti Umar agar ia sudi
menyerahkan mushhaf yang ada padanya sebagai hasil dari jasa yang telah dikumpulkan
Abu Bakar, untuk ditulis dan diperbanyak. Dan setelah selesai akan dikembalikan lagi,
Hafsah mengabulkannya.


Motif Utsman Mengumpulkan al-Quran

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Anas ibn Malik bahwasanya ia berkata:

Sesungguhnya Hudzaifah Ibnu al-Yaman datang kepada Utsman, ketika itu, penduduk
Syam bersama-sama dengan penduduk Irak sedang berperang menaklukkan daerah
Armenia dan Adzerbaijan. Tiba-tiba Hudzaifah merasa tercengang karena penyebabnya
adalah faktor perbedaan dalam bacaan. Hudzaifah berkata kepada Utsman, "Yaa Amirul
Mu'minin perhatikanlah umat ini sebelum mereka terlibat dalam perselisihan dalam
masalah Kitab sebagaimana perselisihan di antara kaum Yahudi dan Nasrani".

Selanjutnya Utsman mengirim surat kepada Hafsah yang isinya:

"Kirimlah kepada kami lembaran-lembaran yang bertuliskan al-Quran kami akan
menyalinnya dalam bentuk mushhaf dan setelah selesai akan kami kembalikan lagi kepada
anda".

55
Kemudian Hafsah mengirimkannya kepada Utsman. Utsman memerintahkan kepada Zaid
ibn Tsabit, Abdullah ibn Zubair, Said ibn al-'Ash dan Abdurrahman ibn al-Harits ibn
Hisyam lalu mereka menyalinnya dalam mushhaf.

Utsman berpesan kepada ketiga kaum Quraisy, "Bila anda bertiga dan Zaid ibnu Tsabit
berbeda pendapat tentang hal al-Quran maka tulislah dengan ucapan/ lisan Quraisy
karena al-Quran diturunkan dengan lisan Quraisy".

Setelah mereka selesai menyalin ke dalam beberapa mushhaf, Utsman mengembalikan
lembaran/ mushhaf asli kepada Hafsah. Selanjutnya ia menyebarkan mushhaf yang baru
tersebut ke seluruh daerah dan ia memerintahkan agar semua bentuk lembaran/ mushhaf
yang lain dibakar (HR. al-Bukhari).

Perbedaan antara Pengumpulan Mushhaf Abu Bakar dan Mushhaf Utsman

Perbedaan antara pengumpulan (mushhaf) Abu Bakar dan Utsman sebagaimana kami
kemukakan di atas dapat kami ketahui dan kami tandai dari masing-masingnya.

Pengumpulan mushhaf pada masa Abu Bakar adalah bentuk pemindahan dan penulisan
al-Quran ke dalam satu mushhaf yang ayat-ayatnya sudah tersusun, berasal dari tulisan
yang terkumpul pada kepingan-kepingan batu, pelepah kurma dan kulit-kulit binatang.
Adapun latar belakangnya karena banyaknya huffazh yang gugur. Sedangkan
pengumpulan mushhaf pada masa Utsman adalah menyalin kembali yang telah tersusun
pada masa Abu Bakar, dengan tujuan untuk dikirimkan ke seluruh negara Islam. Latar
belakangnya adalah disebabkan karena adanya perbedaan dalam hal membaca al-Quran.
Wallâhu a'lam wa shallallâhu 'alâ sayyidinâ Muhammad wa âlihî washahbihî wa sallam.

56


Qari Tujuh yang Masyhur Qari Tujuh yang Masyhur Qari Tujuh yang Masyhur Qari Tujuh yang Masyhur


Para Qari yang hafal al-Quran dan terkenal dengan hafalan serta ketelitiannya, dan
menyampaikan qiraat kepada kita sesuai dengan yang mereka terima dari sahabat
Rasulullah SAW.

Qiraat yang mutawatir semuanya kita kutip dari para qari yang hafal al-Quran dan
terkenal dengan hafalan serta ketelitiannya. Mereka ialah imam-imam qiraat yang
masyhur yang meyampaikan qiraat kepada kita sesuai dengan yang mereka terima dari
sahabat Rasulullah SAW. Mereka memiliki keutamaan ilmu dan pengajaran tentang
kitabullah al-Quran sebagaimana sabda Rasulullah SAW, "Sebaik-baiknya orang di antara
kalian adalah orang yang mempelajari al-Quran dan mengajarkannya".

Syaikh Abul Yusri 'Abidin telah menyebutkan nama-nama qari dalam dua bait sya'ir:

Nafi', Ibnu Katsir, 'Ashim dan Hamzah, Abu 'Amir, Ibnu 'Amir dan Kisaiy.
Itulah tujuh Imam yang tak diragukan lagi.


Ibnu 'Amir

Nama lengkapnya adalah Abdullah al-Yahshshuby seorang qadhi di Damaskus pada masa
pemerintahan Walid ibnu Abdul Malik. Panggilannya adalah Abu Imran. Dia adalah
57
seorang tabi'in, belajar qiraat dari al-Mughirah ibn Abi Syihab al-Mahzumy dari Utsman
bin Affan dari Rasulullah SAW. Beliau Wafat di Damaskus pada tahun 118 H. Orang yang
menjadi murid, dalam qiraatnya adalah Hisyam dan Ibnu Dzakwan.

Dalam hal ini pengarang asy-Syathiby mengatakan, "Damaskus tempat tinggal Ibnu 'Amir,
di sanalah tempat yang megah buat Abdullah. Hisyam adalah sebagai penerus Abdullah.
Dzakwan juga mengambil dari sanadnya.”


Ibnu Katsir

Nama lengkapnya adalah Abu Muhammad Abdullah Ibnu Katsir ad-Dary al-Makky, ia
adalah imam dalam hal qiraat di Makkah, ia adalah seorang tabi'in yang pernah hidup
bersama shahabat Abdullah ibnu Jubair, Abu Ayyub al-Anshari dan Anas ibnu Malik, dia
wafat di Makkah pada tahun 120 H. Perawinya dan penerusnya adalah al-Bazy wafat
pada tahun 250 H dan Qunbul wafat pada tahun 291 H.

Asy-Syathiby mengemukakan: "Makkah tempat tinggal Abdullah. Ibnu Katsir panggilan
kaumnya. Ahmad al-Bazy sebagai penerusnya. Juga..... Muhammad yang disebut Qumbul
namanya.”


'Ashim al-Kufy

Nama lengkapnya adalah 'Ashim ibn Abi an-Nujud al-Asady. Di sebut juga dengan Ibnu
Bahdalah. Panggilannya adalah Abu Bakar, ia adalah seorang tabi'in yang wafat pada
sekitar tahun 127-128 H di Kufah. Kedua Perawinya adalah: Syu'bah wafat pada tahun 193
H dan Hafsh wafat pada tahun 180 H.

Kitab Syathiby dalam sya'irnya mengatakan, "Di Kufah yang gemilang ada tiga orang.
Keharuman mereka melebihi wangi-wangian dari cengkeh Abu Bakar atau Ashim ibn Iyasy
panggilannya. Syu'ba perawi utamanya lagi terkenal pula si Hafsh yang terkenal dengan
ketelitiannya, itulah murid Ibnu Iyasy atau Abu Bakar yang diridhai.


58
Abu Amr

Nama lengkapnya adalah Abu 'Amr Zabban ibnul 'Ala' ibnu Ammar al-Bashry, sorang guru
besar pada rawi. Di sebut juga sebagai namanya dengan Yahya, menurut sebagian orang
nama Abu Amr itu nama panggilannya. Beliau wafat di Kufah pada tahun 154 H. Kedua
perawinya adalah ad-Dury wafat pada tahun 246 H dan as-Susy wafat pada tahun 261 H.

Asy-Syathiby mengatakan, "Imam Maziny dipanggil orang-orang dengan nama Abu 'Amr
al-Bashry, ayahnya bernama 'Ala. Menurunkan ilmunya pada Yahya al-Yazidy. Namanya
terkenal bagaikan sungai Evfrat. Orang yang paling shaleh di antara mereka, Abu Syua'ib
atau as-Susy berguru padanya.


Hamzah al-Kufy

Nama lengkapnya adalah Hamzah ibn Habib Ibn 'Imarah az-Zayyat al-Fardhi ath-Thaimy
seorang bekas hamba 'Ikrimah ibn Rabi' at-Taimy, dipanggil dengan Ibn 'Imarah, wafat di
Hawan pada masa Khalifah Abu Ja'far al-Manshur tahun 156 H. Kedua perawinya adalah
Khalaf wafat tahun 229 H dan Khallad wafat tahun 220 H dengan perantara Salim.

Syatiby mengemukakan, "Hamzah sungguh imam yang takwa, sabar dan tekun dengan al-
Quran , Khalaf dan Khallad perawinya, perantaraan Salim meriwayatkannya.


Imam Nafi.

Nama lengkapnya adalah Abu Ruwaim Nafi' ibn Abdurrahman ibn Abi Na'im al-Laitsy,
asalnya dari Isfahan. Dengan kemangkatan Nafi' berakhirlah kepemimpinan para qari di
Madinah al-Munawwarah. Beliau wafat pada tahun 169 H. Perawinya adalah Qalun
wafat pada tahun 12 H, dan Warasy wafat pada tahun 197 H.

Syaikh Syathiby mengemukakan, "Nafi' seorang yang mulia lagi harum namanya, memilih
Madinah sebagai tempat tinggalnya. Qolun atau Isa dan Utsman alias Warasy, sahabat
mulia yang mengembangkannya.”

59

Al-Kisaiy

Nama lengkapnya adalah Ali ibn Hamzah, seorang imam nahwu golongan Kufah. Di
panggil dengan nama Abul Hasan, menurut sebagiam orang disebut dengan nama Kisaiy
karena memakai kisa pada waktu ihram. Beliau wafat di Ranbawiyyah yaitu sebuah desa
di Negeri Ray ketika ia dalam perjalanan ke Khurasan bersama ar-Rasyid pada tahun 189
H. Perawinya adalah Abul Harits wafat pada tahun 424 H, dan ad-Dury wafat tahun 246
H.

Syathiby mengatakan, "Adapun Ali panggilannya Kisaiy, karena kisa pakaian ihramnya,
Laits Abul Haris perawinya, Hafsah ad-Dury hilang tuturnya.”

60
Qiraat Yang Masyhur Qiraat Yang Masyhur Qiraat Yang Masyhur Qiraat Yang Masyhur


Pada pembahasan ini kami menganggap penting untuk
membicarakan sekelumit tentang qiraat-qiraat. Bagaimana
timbulnya dan siapa tokohnya yang terkenal.


Pengertian Qiraat

Al-Qiraat adalah jamak dari kata qirat yang berasal dari
qaraa - yaqrau - qirâatan. Menurut istilah qiraat ialah
salah satu aliran dalam mengucapkan al-Quran yang
dipakai oleh salah seorang imam qura' yang berbeda
dengan lainnya dalam hal ucapan al-Quranul Karim. Qiraat ini berdasarkan sanad-
sanadnya sampai kepada Rasulullah SAW.

Apakah pada masa Sahabat sudah ada qari-qari?

Benar ada. Periode qura' yang mengajarkan bacaan al-Quran kepada orang-orang
menurut cara mereka masing-masing adalah dengan standard dari masa sahabat yang
mulia.

Di antara sahabat yang populer dengan bacaannya adalah: Ubay, Aly, Zaid ibn Tsabit,
Ibnu Mas'ud. Abu Musa al-Asy'ary, dan lain-lain.

Dari mereka itulah kebanyakan para sahabat dan tabi'in di seluruh daerah belajar. Mereka
itu semuanya berpedoman kepada Rasulullah SAW sampai dengan datangnya masa tabi'in
pada permulaan abad ke-2 H. Selanjutnya timbul golongan-golongan yang begitu
memperhatikan adanya tanda baca secara sempurna manakala diperlukan dan mereka
menjadikannya sebagai satu cabang dari ilmu sebagaimana halnya ilmu-ilmu syari'at yang
lain.


Sejarah Timbulnya Qiraat
61

Telah kami ketahui terdahulu bahwa periodesasi qurra' adalah sejak zaman sahabat
sampai dengan masa tabi'in. Orang-orang yang menguasai tentang al-Quran ialah yang
menerimanya dari orang-orang yang dipercaya dan dari imam demi imam yang akhirnya
berasal dari Nabi.

Sedangkan mushhaf-mushhaf tersebut tidaklah bertitik dan berbaris, dan bentuk kalimat di
dalamnya mempunyai beberapa kemungkinan berbagai bacaan. Kalau tidak, maka
kalimat itu harus ditulis pada mushhaf dengan satu wajah kemudian ditulis pada mushhaf
lain dengan wajah yang lain dan begitulah seterusnya.

Tidaklah diragukan lagi bahwa penguasaan tentang riwayat dan penerimaan adalah
merupakan pedoman dasar dalam bab qiraat dan al-Quran.

Kalangan sahabat sendiri dalam pengambilannya dari Rasul berbeda-beda. Ada yang
membaca dengan satu huruf sedang yang lain ada yang mengambilnya dan huruf/ bacaan.
Dan bahkan yang lain lagi ada yang lebih dari itu. Kemudian mereka bertebaran ke
seluruh penjuru daerah dalam keadaan semacam ini.

Utsman r.a. ketika mengirim mushhaf-mushhaf ke seluruh penjuru kota ia mengirimkan
pula orang yang sesuai bacaannya mempunyai satu segi bacaan dan yang lainnya ada pula
yang lebih dari itu. Oleh karena itulah timbulnya banyak perbedaan dan kurang adanya
keseragaman antara sesamanya.

Pada masa itu himbauan tokoh-tokoh dan pemimpin ummat untuk bekerja keras sesuai
dengan kemampuan yang dimilikinya sehingga bisa membedakan antara bacaan yang
benar dan yang tidak benar. Mereka mengumpulkan huruf dan qiraat, mengembangkan
wajah-wajah dan dirayah, menjelaskan yang benar dan yang salah serta yang berkembang
dan yang punah dengan pedoman-pedoman yang mereka kembangkan dan segi-segi yang
mereka utamakan.{1}

(1). Manahilul 'Irfan, juz I, hal: 407.

62
Tafsir dan Para Mufassir Tafsir dan Para Mufassir Tafsir dan Para Mufassir Tafsir dan Para Mufassir


Jalan dan lika-liku hidup manusia yang sangat rumit dan berliku, membuat al-Quran
sebagai satu-satunya jalan yang pasti bagi kehidupan yang penuh kedamaian dan
ketentraman.

Allah menurunkan kitab-Nya al-Quran untuk pedoman dan undang-undang bagi kaum
muslimin dalam mengarungi liku-liku hidupnya. Dengan pantulan sinarnya, hati mereka
akan menjadi terang dan petunjuknya mereka akan mendapatkan jalan yang lempang.
Dari ajaran-ajarannya yang lurus serta undang-undangnya yang bijaksana mereka dapat
memetik suatu hal yang membuat mereka dalam puncak kebahagiaan dan keluhuran. Al-
Quran akan mengangkat mereka ke puncak keagungan dan kesempurnaan, membiasakan
mereka untuk mengendalikan roda kemanusiaan, membuat mereka menjadi penghulu
dan leluhur dalam arena kehidupan ini sehingga mereka dapat berjalan bersama-sama
bangsa lain menuju hidup bahagia dan mulia serta mengantarkan mereka menuju lembah
ketenteraman, ketenangan dan kedamaian.

Tidaklah diragukan lagi bahwa nilai hidup manusia dewasa ini berada dalam kegelapan,
kebinasaan dan kejahilan, tenggelam dalam samudra penyelewengan dan terlena dalam
pendewaan pada harta dan benda. Tidak ada lagi jalan yang dapat menyelamatkanya
kecuali Islam, dengan jalan mengambil petunjuk ajaran-ajaran al-Quran dan undang-
undangnya yang sangat bijaksana. Di dalamnya terdapat seluruh aspek dan unsur
kebahagiaan manusiawi yang telah digariskan berdasarkan pengetahuan Allah yang Maha
Bijaksana.

Secara mudah dan jelas bahwa melaksanakan ajaran-ajaran ini tidaklah akan berhasil
kecuali dengan memahami dan menghayati al-Quran terlebih dahulu serta berpedoman
atas nasihat dan petunjuk yang tercakup di dalamnya. Yang demikian tidak akan tercapai
tanpa penjelasan dan perincian hasil yang dikehendaki oleh ayat-ayat Al-Qur'an. Itulah
yang kami maksudkan dengan Ilmu Tafsir, khususnya pada masa kini di mana bakat
retorika bahasa Arab telah rusak dan spesialisasi bidang ini telah lenyap binasa sampai
keturunan-keturunan Arab sendiri.

63
Tafsir adalah kunci untuk membuka gudang simpanan yang tertimbun dalam al-Quran.
Tanpa tafsir orang tidak akan bisa membuka gudang simpanan tersebut untuk
mendapatkan mutiara dan permata yang ada di dalamnya, sekalipun orang-orang
berulangkali mengucapkan lafazh al-Quran dan membacanya disepanjang pagi dan
petang.

64
Ahli Tafsir Golongan Sahabat Ahli Tafsir Golongan Sahabat Ahli Tafsir Golongan Sahabat Ahli Tafsir Golongan Sahabat


Imam Suyuthy dalam kitabnya al-Itqan mengatakan, "Kalangan sahabat yang populer
dengan tafsir ada sepuluh; khalifah yang empat (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali), Ibnu
Mas'ud, Ibnu Abbas, Ubay Ibnu Ka'ab, Zaid Ibnu Tsabit, Abu Musa Al-'Asy'ari dan
Abdullah bin Zubair. Dan dari kalangan khalifah empat yang paling banyak dikenal
riwayatnya tentang tafsir adalah Ali bin Abi Thalib r.a. sedang dari tiga khalifah yang lain
hanya sedikit sekali, karena mereka lebih terdahulu wafatnya.

Sebab sedikitnya riwayat dari ketiga orang sahabat yaitu Abu Bakar, Umar dan Utsman,
dapat ditinjau kembali dari pendapat as-Suyuthy, yaitu karena pendeknya masa jabatan
mereka di samping mereka meninggal lebih dahulu. Dari segi yang lain karena mereka
bertiga hidup pada suatu masa di mana kebanyakan penduduk mengetahui dan pandai
tentang Kitabullah, sebab mereka selalu mendampingi Rasulullah SAW. Karenanya,
mereka mengerti dasar rahasia-rahasia penurunan, lagi pula mengetahui makna dan
hukum-hukum yang terkandung dalam ayatnya. Sedang Ali r.a. hidup berkuasa setelah
khalifah yang ketiga, yaitu pada masa di mana daerah Islam telah meluas. Banyak orang-
orang luar Arab yang memeluk Islam sebagai agama baru. Generasi keturunan shahabat
banyak yang merasa perlu untuk mempelajari al-Quran serta memahami rahasia-rahasia
dan hikmah-hikmahnya. Karena itu wajarlah riwayat daripadanya begitu banyak melebihi
riwayat yang dinukil dari tiga khalifah lainnya.

Berikut ini kami akan membicarakan sedikit terperinci tentang kalangan sahabat yang
terkenal dengan tafsir al-Qurannya.


Abdullah Ibn Abbas

Abdullah ibn Abbas adalah orang yang ternama di kalangan ummat Islam. Ia adalah anak
paman Rasulullah SAW, yang pernah didoakan oleh Nabi Muhammad SAW, dengan kata-
kata, "Ya Allah berilah pemahaman tentang urusan agama dan berilah ilmu kepadanya
tentang ta'wil". Ia dikenal sebagai ahli bahasa/ penterjemah al-Quran. Ibnu Mas'ud
berkata, "Penterjemah al-Quran yang paling baik adalah Abdullah bin Abbas." Dia adalah
sahabat yang paling pandai/ tahu tentang tafsir al-Quran. Pada waktu beliau masih berusia
65
muda, para pemuka sahabat mereka telah
menyaksikan kebolehannya bahkan ia
dapat menandingi mereka pula dapat
menggugah keajaiban mereka dengan
usianya yang sangat muda. Umar r.a.
pernah mengikutsertakan Abdullah dalam
Majelis Permusyawaratan bersama-sama
dengan tokoh-tokoh Sahabat untuk
bermusyawarah. Ia seringkali disodori
permasalahan. Karena Umar menampilkan Ibnu Abbas maka agak sedikit mengundang
perdebatan di kalangan sahabat. Di antara mereka ada yang mengatakan, "Kenapa anak
kecil ini dimasukkan bersama-sama kita". Kami punya anak yang lebih besar/ tua umurnya
dibanding dengan dia.

Dia mempunyai biografi yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahihnya yang
menunjukkan kebolehan ilmunya dan kedudukannya yang tinggi dalam hal penggalian
secara mendalam tentang rahasia-rahasia al-Quran sebagai berikut:

Al-Bukhari meriwayatkan dari Sa'id ibnu Jabir dari Ibnu Abbas r.a. ia berkata, "Umar
mengikutkanku bersama tokoh-tokoh perang Badar. Di kalangan mereka ada yang
bertanya dalam dirinya, lalu mengemukakan pendapat, "Kenapa anak ini diikutsertakan
bersama kami padahal kami sungguh mempunyai anak yang seusia dengannya?" Umar
menjawab: “Dia adalah seorang yang sudah kalian ketahui, ia adalah orang yang terkenal
kecerdasannya dan pengetahuannya.” Pada suatu ketika, Umar memanggil mereka dan
mengikutkanku bersama mereka hanya sekedar diperkenalkan kepada mereka. Tiba-tiba
Umar (memberi kesempatan pada mereka untuk bertanya) berkata, "Apakah pendapat
sekalian tentang firman Allah, "Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.”
(QS. An-Nashr: 1). Sebagian mereka ada yang berpendapat: "Kami diperintah menuju
Allah dan meminta ampun pada-Nya, tatkala kami dibantu oleh-Nya dan diberi
kemenangan". Sebagain mereka yang lain bungkam seribu bahasa. Umar bertanya
kepadaku, “Bagaimana dengan pendapatmu (hai Ibn Abbas). Aku jawab: "Tidak benar!”
“Lalu menurut anda bagaimana?" Aku menjawab, "Persoalannya adalah tentang ajal
Rasulullah SAW di mana Allah memberitahukan kepadanya".

66
Ia (Ibnu Abbas) menafsirkan/ penaklukan Makkah. Itu adalah suatu tanda tentang ajalmu
(hai Muhammad) karena itu bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan istighfarlah
(mohon ampun) kepada-Nya. Sungguh ia adalah Penerima Taubat. Seraya Umar berkata,
"Demi Allah, saya tidak mengetahui kandungannya sebelum engkau jelaskan".

Kisah tersebut menyatakan begitu hebatnya daya kemampuan pemahaman serta
pendapat Ibnu Abbas dalam menyimpulkan petunjuk al-Quran yang tidak dapat diketahui
kecuali oleh orang-orang yang mendalam ilmu pengetahuannya. Tidaklah aneh kalau
Ibnu Abbas menempati kedudukan yang tinggi dalam memahami rahasia kandungan al-
Quran karena Rasul telah mendoakannya agar dia diberi pemahaman dan pendalaman
dalam urusan agama sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas
sendiri di mana ia berkata: Rasul menyekapku seraya beliau bersabda, "Ya Allah berilah ia
pemahaman dalam urusan Agama dan berilah ia pengetahuan tentang ta'wil".

Dalam riwayat lain redaksionalnya, "Ya Allah berilah ia pengetahuan tentang hikmah
pengetahuan yang sungguh mendalam". Ibnu Abbas dikenal dengan sebutan lautan karena
begitu luas ilmunya. Diriwayatkan bahwa salah seorang datang kepada Abdullah bin
Umar, ia menanyakan tentang langit dan bumi semula bersatu kemudian keduanya kami
belah. Ibnu Umar menjawab, "Datanglah kepada Ibnu Abbas dan tanyakanlah kepadanya.
Setelah anda tanyakan, kembali lagi dan jelaskan kepadaku". Orang tersebut pergi
bertanya kepada Ibnu Abbas dan ia memberikan jawaban, "Langit bersatu (ratqan)
maksudnya tidak turun hujan, dan yang dimaksud dengan bumi ratqan tidak tumbuh
tanaman/ gersang, kemudian Ia (Allah) menurunkan hujan dan menumbuhkan tanaman-
tanaman.” Setelah itu orang tersebut kembali kepada Ibnu Umar untuk memberitahukan
hasilnya, seraya berkata, "Aku dulu telah mengatakan dengan geleng kepala karena
keberanian Ibnu Abbas dalam hal menafsirkan al-Quran, sekarang aku telah mengetahui
benar bahwa ia telah dikaruniai ilmu".

Diriwayatkan pula bahwa Umar ibnu Khattab pada suatu ketika bertanya kepada Sahabat-
sahabat Nabi, "Siapa yang menjadi sebab turunnya ayat di bawah ini, menurut pendapat
kalian?" Seraya Umar membacakan ayat: "Apakah ada salah seorang di antaramu yang
ingin mempunyai kebun kurma dan anggur......" (QS. Al-Baqarah: 66) Mereka menjawab:
"Allah Yang Maha Tahu". Umar marah seraya berkata: "Jawab! Tahu atau tidak!" Ibnu
Abbas menjawab: "Ada sedikit yang tergores dalam hatiku". Umar berkata: "Hai anak
saudaraku, katakanlah dan janganlah anda merasa minder/ rendah diri". Ibnu Abbas
67
berkata, "Ayat itu dijadikan suatu contoh perbuatan". Umar berkata, "Perbuatan apa?".
Ibnu Abbas menjawab, "Seorang yang kaya lagi taat kepada Allah, ia didatangi oleh
syaitan, dan terperdaya untuk melakukan maksiat sehingga amal perbuatannya
tenggelam". (HR. Al-Bukhari).

Semuanya itu berikut dengan contoh-contohnya adalah menyatakan tentang
keistimewaan ilmu pengetahuan Ibnu Abbas dan pemahamannya yang begitu luas sejak
beliau berusia muda. Oleh karena itu ia tergolong dalam barisan tokoh pembesar Sahabat,
ia sebagai pemuka umat yang sangat pandai dengan disaksikan oleh kalangan Sahabat itu
sendiri.

Di antara guru-guru besar yang mengajar ilmu kepada Ibnu Abbas selain Rasulullah SAW,
yang mempunyai pengaruh yang menonjol terhadap daya pikiran dan kebudayaannya,
antara lain Umar Ibn Khattab, Ubay ibnu Ka'ab, Ali Ibnu Abi Thalib, dan Zaid Ibnu Tsabit.
Kelima orang tersebut adalah guru-gurunya yang tetap. Dari merekalah hampir semua
ilmu dan budayanya didapat. Mereka sangat berpengaruh dalam mengarahkan Ibnu
Abbas kepada masalah ilmu pengetahuan yang sangat mendalam.

Banyak dari kalangan Tabi'in yang mempelajari ilmu pengetahuan dari Ibnu Abbas. Di
antara mereka yang paling terkenal adalah murid-muridnya yang menukil tafsir dan
ilmunya yang melimpah ruah. yaitu: Sa'id Ibn Jubair, Mujahid ibn Jabar Al-Khazramy,
Thawus ibnu Kysan al-Yamany, Ikrimah maula (hamba) yang dimerdekakan oleh Ibnu
Abbas, Atha' ibn Abi Rabbah. Mereka itu adalah murid-murid yang paling terkenal di
mana mereka memindahkan lembaga ilmiah, buah pena Ibnu Abbas ke dalam tafsir yang
sampai pada kita sekarang.


Abdullah ibn Mas'ud

Sahabat lain yang terkenal sebagai ahli tafsir dan menukilkan atsar (hadits) Rasul kepada
kita ialah Abdullah ibn Mas'ud r.a. Ia adalah salah seorang yang pertama untuk Islam. Usia
beliau pada waktu itu enam tahun, di mana belum ada di muka bumi ini seorang anak
yang masuk Islam selain dia. Ia adalah seorang pembantu Rasulullah SAW, sering
memakaikan sandalnya dan sarung, pergi bersama-sama beliau sebagai penunjuk jalan.
Dari segi hubungan kenabian ia adalah seorang yang sangat baik lagi pula terdidik. Karena
68
pertimbangan itulah sahabat lain memandangnya sebagai seorang sahabat yang lebih
banyak mengetahui bidang Kitabullah al-Quran, mengetahui tentang muhkam dan
mutasyabih, halal dan haram.

As-Suyuthy mengatakan, "Yang diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud tentang tafsir adalah lebih
banyak daripada yang diriwayatan dari Ali.......".

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ibnu Mas'ud, "Demi Allah yang tiada Tuhan
selain-Nya. Tidak ada satu suratpun yang diturunkan oleh Allah yang tidak saya ketahui di
mana turunnya. Tidak ada satu ayat al-Quran pun yang tidak saya ketahui dalam kasus
apa diturunkannya. Kalau aku tahu ada seorang yang lebih tahu dariku tentang Kitab
Allah dan bisa ditempuh dengan kendaraan unta, niscaya akan kudatangi rumahnya.....".
Diriwayatkan oleh para Tabi'in daripadanya.

69


Tafsir Riwayat Tafsir Riwayat Tafsir Riwayat Tafsir Riwayat - -- - Tafsir Sahabat Tafsir Sahabat Tafsir Sahabat Tafsir Sahabat


Tafsir sahabat adalah tafsir yang memiliki kedudukan sebagaimana kedudukan hadits
Nabi.

Masih ada lagi bagian yang ketiga dari pembagian tafsir ma'tsur yaitu "Tafsir Sahabat".
Tafsir ini juga termasuk yang mu'tamad (dapat dijadikan pegangan) dan dapat diterima,
karena shahabat adalah pernah berkumpul/ bertemu dengan Nabi SAW. dan mereka
mengambil dari sumbernya yang asli, mereka menyaksikan turunnya wahyu dan turunnya
al-Quran. Mereka mengetahui asbabunnuzul. Mereka mempunyai tabiat jiwa yang murni,
fitrah yang lurus lagi pula berkedudukan tinggi dalam hal kefasihan dan kejelasan
berbicara. Mereka lebih memiliki kemampuan dalam memahami kalam Allah. Dan hal
lain yang ada pada mereka tentang rahasia-rahasia al-Quran sudah tentu akan melebihi
orang lain yang manapun juga.

Al-Hakim berkata, "Bahwa tafsir shahabat yang menyaksikan wahyu dan turunnya al-
Quran, kedudukan hukumnya adalah marfu'. Pengertiannya bahwa tafsir tersebut
mempunyai kedudukan sebagaimana kedudukan hadits Nabi yang silsilahnya sampai
kepada Nabi. Karena itu maka tafsir Shahaby adalah termasuk ma'tsur.

Adapun Tabi'in kedudukan tafsirnya ada perbedaan pendapat. Sebagian ulama ada yang
berpendapat bahwasanya tafsir Tabi'in itu terimasuk
tafsir ma'tsur karena sebagian besar pengambilannya
secara umum dari shahabat. Sebagian ulama
berpendapat bahwa tafsir Tabi'in adalah termasuk tafsir
dengan ra'yu atau akal, dengan pengertian bahwa
kedudukannya sama dengan kedudukan para mufassir
lainnya (selain Nabi dan Sahabat). Mereka menafsirkan
al-Quran sesuai dengan qaidah-qaidah bahasa Arab
tidak berdasarkan pertimbangan dari atsar (hadits).


70
Catatan

Tafsir dengan ma'tsur adalah termasuk bagian tafsir yang paling baik bila sanadnya benar-
benar berasal dari Nabi SAW. atau sampai pada Sahabat dan sepatutnya hendaklah
meneliti riwayat setiap menyebutkan tafsir dengan ma'tsur. Ibnu Katsir berkata,
"Sesungguhnya kebanyakan tafsir ma'tsur telah banyak terpengaruh oleh perawi-perawi
Zindik, Yahudi, Persi dan ahli kitab yang masuk Islam. Hal itu banyak terdapat dalam
kisah-kisah para Rasul dengan kaumnya, hal-hal yang berhubungan dengan kitab-kitab
dan mukjizatnya, serta sejarah-sejarah lainnya seperti ashhabul kahfi dan lain-lain. Karena
itu perlu penyelidikan dari segi riwayatnya.”


Sebab-sebab Kelemahan Riwayat dengan Ma'tsur

Di atas kami telah kemukakan bahwa penafsiran al-Quran dengan al-Quran dan
penafsiran al-Quran dengan Sunnah yang shahih lagi marfu' sampai kepada Nabi SAW.
adalah tidak perlu diragukan lagi diterimanya dan tidak diperselisihkan. Dan keduanya
adalah tafsir yang mempunyai kedudukan yang tinggi. Adapun penafsiran al-Quran
dengan ma'tsur dari Shahabat atau Tabi'in ada beberapa kelemahan karena berbagai segi:
1. Campur-baur antara yang shahih dengan yang tidak shahih, serta banyak
mengutip kata-kata yang dinisbatkan kepada Sahabat atau Tabi'in dengan tidak
mempunyai sandaran dan ketentuan, yang akan menimbulkan
pencampuradukkan antara yang hak dan yang bathil.
2. Riwayat-riwayat tersebut ada yang dipengaruhi oleh cerita-cerita Israiliyat dan
khurafat/ klenik yang bertentangan dengan aqidah Islamiyah. Dan telah ada dalil
yang menyatakan kesalahan cerita-cerita tersebut, hal ini dibawa masuk ke dalam
kalangan umat Islam dari kelompok Islam yang dahulunya Ahli kitab.
3. Di kalangan Sahabat, ada golongan yang ekstrim. Mereka mengambil beberapa
pendapat dan membuat kebatilan-kebatilan yang dinisbatkan kepada sebagian
Sahabat. Misalnya kelompok Syi'ah yaitu yang fanatik kepada Ali, mereka sering
mengatakan kata Ali padahal Ali sendiri tidak ada urusan apa-apa.
4. Musuh-musuh Islam dari orang-orang Zindik ada yang mengicuh Sahabat dan
Tabi'in sebagaimana Nabi perihal sabdanya.


71
Pendapat az-Zarqany dalam Kitab Manahilul Irfan

Ustadz Az-Zarqany dalam kitabnya Manahilul Irfan menyebutkan dengan kata-kata yang
begitu baik tentang tafsir dengan ma'tsur setelah beliau mengemukakan kutipan dari Imam
Ahmad dan Ibnu Taimiyah. Beliau berkata, "Pendapat yang paling adil dalam hal ini ialah
bahwa tafsir dengan ma'tsur itu ada dua macam:

Pertama: Tafsir yang dalil-dalilnya memenuhi persyaratan shahih dan diterima. Tafsir yang
demikian tidak layak untuk ditolak oleh siapapun, tidaklah dibenarkan untuk
mengabaikan dan melupakannya. Tidak benar kalau dikatakan bahwa tafsir yang
demikian itu tidak bisa dipakai untuk memahami al-Quran bahkan kebalikannya, tafsir
tersebut adalah sarana yang kuat untuk mengambil petunjuk dari al-Quran.

Kedua: Tafsir yang dalil sumbernya tidak shahih karena beberapa faktor (yang telah kami
sebutkan) di atas atau sebab lain. Tafsir yang demikian harus ditolak dan tidak boleh
diterima serta tidak patut untuk dipelajari (ditekuni). Kebanyakan ahli tafsir yang waspada
seperti Ibnu Katsir selalu meneliti/ memperhatikan sampai di mana kebenarannya yang
mereka kutip dan kemudian membuangnya yang tidak benar atau dha'if.”

72
Al Al Al Al- -- -Quran dan Era Baru Tantangan Pemikiran Quran dan Era Baru Tantangan Pemikiran Quran dan Era Baru Tantangan Pemikiran Quran dan Era Baru Tantangan Pemikiran

Jika al-Quran, Kalamullah yang suci dan sekaligus pegangan hidup kaum Muslimin
digugat, maka unsur-unsur agama Islam lain akan ikut runtuh

Oleh:
Lalu Nurul Bayan Lalu Nurul Bayan Lalu Nurul Bayan Lalu Nurul Bayanil Huda il Huda il Huda il Huda
Peserta Program Kaderisasi Ulama - Institut Studi Islam Darussalam Gontor


hidayatullah. com-- Al-Quran adalah kitab suci yang disakralkan dan dijadikan pegangan
hidup oleh umat Islam. Al-Quran adalah kalam Ilahi, diturunkan kepada Nabi
Muhammad saw melalui malaikat Jibril bagi umat manusia di dunia ini. Kaum Muslimin
meyakini bahwa Al-Quran, dari ayat pertama hingga terakhir, merupakan kata-kata Allah
yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw secara verbatim (lafzon) maupun
maknanya (ma'nan), dan meraka meyakini bahwa Al-Quran yang ada saat ini adalah
sama dengan yang ada pada zaman Nabi Muhammad saw.

Karena merupakan kalam Allah swt, maka tidak ada alasan bagi manusia untuk tidak
mensucikannya. Begitu juga halnya dengan ajaran-ajaran, perintah, serta larangan yang
terdapat di dalamnya, harus dipegang teguh dan dilaksanakan oleh semua umat manusia.
Dengan kata lain Al-Quran merupakan Kitab suci yang harus dijadikan pegangan hidup
umat manusia.

Di antara kitab-kitab suci yang Allah swt turunkan kepada nabi-nabi-Nya, Al-Quran lebih
mempunyai keutamaan. Pertama karena Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad
saw, yang merupakan rasul Allah terakhir yang diturunkan kepada semua umat. Maka Al-
Quran pun dengan sendirinya lebih bersifat universal, yaitu diturunkan kepada semua
umat manusia dan tidak terbatas waktu hingga hari akhir.

Berbeda dengan kitab Injil dan Taurat yang diturunkan kepada umat tertentu karena
diterima oleh nabi yang Allah swt utus untuk golongan tertentu saja. Sehingga dengan
datangnya nabi berikut, maka doktrin yang terdapat di dalamnya secara otomatis
tergantikan dengan doktrin baru.

73
Kedua, kandungan Al-Quran tidak hanya berisikan doktrin tentang Aqidah dan Syari'at
saja, tetapi juga berisikan ilmu-ilmu kauniyah seperti sosial, ekonomi, ketatanegaraan,
matematika, hukum, dan lain sebagainya. Selanjutnya dari segi bahasa, tentu saja Al-
Quran tidak ada tandingannya. Maka tidak heran Allah swt "menantang" umat manusia
untuk bisa membuat satu ayat serupa dengan kalam Allah yang termaktub dalam Al-
Quran. Demikian betapa Al-Quran mempunyai banyak keutamaan melebihi kitab-kitab
Allah swt yang diturunkan kepada nabi-nabi lainnya.

Dalam perjalanan sejarah Al-Quran, sejak awal diturunkannya hingga saat ini, gangguan-
gangguan terhadap eksistensi Al-Quran tidak henti-hentinya terjadi. Pada awal turunnya
ayat-ayat Al-Quran, masayrakat Arab saat itu sangat menyukai karya-karya sastra dan
syair. Namun dengan datangnya Al-Quran, para maestro sastra saat itu tak mampu
menandingi kualitas sastra Al-Quran, sehingga Al-Quran dianggap sebagai sihir.

Sepeninggal Nabi Muhammad saw, mulailah lawan-lawan Islam menyerang dengan
berbagai cara. Salah satunya Musailamah Al-Kadzab dengan membuat Al-Quran palsu,
dengan ayat-ayat tandingannya. Dan gangguan terhadap Al-Quran terus berlanjut hingga
era modern. Tercatat Gustav Flugel dengan mushaf "Corani Textus Arabicus" (1384),
Theodor Noldeke dengan Geshichte des
Qor'an ((1860), Arthur Jeffery dengan Al-
Quran Edisi Kritis (1937), dan kasus
terakhir, yaitu kasus Luxenberg dan
bukunya "Die Suro-aramaismshe Lesart des
Koran: Ein Beitrag zur Entschlusselung der
Koransprache" (Cara membaca Al-Quran
dengan bahasa Syiro-aramaik: sebuah
sumbangsih upaya pemecahan kesukaran
memahami bahasa Al-Quran). Ini semua
menunjukkan betapa gangguan terhadap
eksistensi Al-Quran terus-menerus dilakukan
oleh musuh-musuh Islam.

Ironisnya, sakralitas Al-Quran pun berusaha
dihilangkan oleh kalangan umat Islam
sendiri. Sebut saja Dr. Muhammad Arkoun
74
yang menyebutkan bahwa Al-Quran yang suci hanyalah Al-Qur-an pada masa Nabi
Muhammad saw. Sedangkan Al-Quran setelah masa Rasulullah sudah tidak sakral lagi, tak
lebih dari buku-buku karangan manusia biasa.

Demikian juga dengan konsep Al-Quran Nashr Hamid Abu Zaid, seorang pemikir asal
Mesir. Ia mengatakan bahwa Al-Quran adalah produk budaya karena diturunkan selama
dua puluh tiga tahun dalam realitas budaya Arab saat itu, serta ayat-ayat Al-Quran adalah
bahasa Nabi Muhammad saw karena Allah hanya mengirim makna Al-Quran melalui
Jibril.

Dengan statemen ini justru secara tidak langsung mengatakan bahwa Nabi Muhammad
adalah seorang pembohong karena telah menyatakan bahwa Al-Quran merupakan
Kalmullah Lafzon wa Ma'nan. Belum lagi tuduhan bahwa Al-Quran yang kita kenal
sekarang hanyalah Al-Quran yang sudah tidak asli lagi karena menjadi korban hegemoni
Quraisy pada saat kodifikasi pada masa Khalifah 'Utsman bin Affan.

Dan justru kalangan kampus di tanah air, gencar "mempromosikan" isu ini. Sebagaimana
contohnya tulisan-tulisan yang terdapat pada Jurnal Justisia terbitan IAIN Wali Songo,
Semarang. Ini menunjukkan sungguh ironis, Al-Qu'an yang suci justru menjadi obyek
"serangan", yang dilakukan tidak saja oleh para orientalis tetapi juga dari kalangan umat
Islam sendiri.

Diskursus ini merupakan indikasi bahwa kaum muslim di dunia sedang memasuki babak
baru yang sangat dahsyat. Belum pernah terjadi sebelumnya, bagaimana pemikir atau
bahkan Ulama misionaris, Kristen, Yahudi, serta para orientalis beramai-ramai menggugat
serta menyerang Al-Quran secara bersama-sama. Jika Al-Quran yang merupakan
Kalamullah yang suci dan sekaligus pegangan hidup kaum muslimin saja digugat, maka
tentu saja unsur-unsur agama Islam seperti Hadits, Ijma', Sahabat, otoritas ulama-ulama
pun diruntuhkan.

Serangan ini dilakukan mereka dengan sangat serius dan terorganisir, dan tentunya
dengan biaya yang tidak sedikit pula, serta energi yang sangat besar. Sudah ratusan tahun
hal ini disiapkan. Para penyerang itu menguasai ilmi-ilmu tentang Al-Quran, bahasa Arab,
bahkan Inggris, Hebrew, Syirak, dan mungkin bahasa-bahasa lainnya. Tak hanya itu
manuskrip-manuskrip sudah terboyong ke Barat. Jelas nampak bagaimana saat ini kita
75
sedang memasuki era baru yang lebih keras dalam menjawab tantangan Al-Quran.

Menghadapi ini semua tentunya, tidak cukup hanya dengan berfatwa ataupun dengan
berdemonstrasi saja. Tetapi ini merupakan aksi intelektual yang harus dilawan dengan
intelektual juga. Sebagaimana saat ini sejumlah institusi Islam juga turut menyebarkan
pemahaman yang meruntuhkan fondasi agama. Di sini diberikan pendidikan kepada
pemuda-pemuda Islam untuk menguasai "jurus-jurus" serangan terhadap Al-Quran dari
berbagai sudut.

Tentu saja serangan dari dalam tubuh Islam, akan membawa dampak yang jauh lebih
dahsyat terhadap umat. Tapi sayangnya, dalam hal intelektualitas ini justru kita sangat
merasa kurang. Ini karena krikulum yang ada belum mampu menjawab tantangan era ini.
Terbukti dengan ribuan sarjana Islam tercetak setiap tahun, tapi kemampuan yang
dimiliki masih sangat jauh dari harapan. Dengan demikian pola, bentuk, dan metodologi
Pendidikan Agama Islam harus segera dirubah dan dirancang agar tanggung jawab akan
pesan "di bumi manapun engkau berpijak, maka kamu bertanggung jawab akan
keIslamannya" dapat terlaksana.[www.hidayatullah. com]

76
Memintal Benang Pakaian Takwa di Ramadhan Memintal Benang Pakaian Takwa di Ramadhan Memintal Benang Pakaian Takwa di Ramadhan Memintal Benang Pakaian Takwa di Ramadhan

Oleh:
Dr. Attabik Luthfi, MA Dr. Attabik Luthfi, MA Dr. Attabik Luthfi, MA Dr. Attabik Luthfi, MA


dakwatuna.com dakwatuna.com dakwatuna.com dakwatuna.com – –– – “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu
pakaian untuk menutupi `auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian Dan pakaian Dan pakaian Dan pakaian
takwa itulah yang paling baik takwa itulah yang paling baik takwa itulah yang paling baik takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda
kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat” (Al-A’raaf: 26)

Secara umum, ayat ini menjelaskan tentang fungsi esensial dari pakaian yang diwajibkan
oleh Allah swt terhadap seluruh Bani Adam yaitu untuk menutup aurat yang menjadi
pembeda antara manusia dengan binatang sehingga disimpulkan oleh al-Qurthubi bahwa
ayat ini sekaligus merupakan perintah dan kewajiban untuk berpakaian yang menutup
aurat. Selanjutnya melalui ayat ini juga Allah menetapkan pakaian takwa yang merupakan
sebaik-baik pakaian yang dikenakan oleh hambaNya. ‘Pakaian takwa’ yang dimaksud
oleh ayat ini menurut para ulama tafsir seperti yang dikutip oleh Ibnu Katsir dalam kitab
‘Tafsir al-Quran al-‘Azim’ di antaranya seperti yang disepakati oleh Qatadah, Zaid bin Ali
dan Suddi bahwa yang dimaksud adalah keimanan. Sedangkan Al-Aufi memahaminya
sebagai amal shalih. Manakala Urwah bin Zubair mendefinisikan pakaian takwa adalah
rasa takut kepada Allah swt. Berbeda dengan Ikrimah yang memahami bahwa pakaian
takwa adalah pakaian yang akan dikenakan oleh orang-orang bertakwa di surga kelak.
Seluruh makna-makna di atas ini saling berdekatan dan tidak bertentangan yang intinya
pakaian yang mencerminkan, keimanan, keshalihan dan rasa takut kepada Allah swt
sesuai dengan makna takwa itu sendiri.

Dalam konteks Ramadhan, penggalan akhir ayat puasa ‘agar kalian bertakwa’ merupakan
harapan sekaligus jaminan Allah akan hadirnya pakaian takwa seorang beriman pasca
Ramadhan. Jika diilustrasikan dapatlah dikatakan bahwa selama satu bulan penuh seorang
yang beriman ibarat sedang menenun pakaian takwa dengan benang-benang amaliah
ibadah bulan Ramadhan. Sehingga dapat dikatakan bahwa iman seseorang masih dalam
kondisi telanjang sebelum diberi pakaian, dan pakaian iman tersebut adalah takwa.

77
Sebagai contoh misalnya bahan atau benang
pakaian takwa yang bernama ‘imsak’
(menahan diri) dari segala tindakan yang
bertentangan dengan ketentuan agama akan
melahirkan sikap pengendalian diri,
kejujuran dan anti konsumerisme, sehingga
pada gilirannya akan memunculkan gaya
hidup sederhana seorang yang beriman.
Bukankah pengendalian diri, kejujuran , kedisiplinan, kesederhanaan serta kesahajaan
merupakan ujian seorang yang beriman selama ber-Ramadhan yang hasilnya akan
diumumkan tepat pada tanggal 1 Syawal; apakah sifat dan sikap tersebut masih dominan
atau kembali menjadi pribadi yang selalu dikalahkan oleh nafsu dan syahwat.

Kondisi lapar dan dahaga dalam waktu yang relatif lama dengan segala konsekuensinya
akan melahirkan rasa kepedulian sosial yang tinggi. Demikian juga, seorang muslim tetap
memiliki semangat untuk melakukan aktifitas sehari-hari dalam kondisi lapar dan haus
merupakan simbol akan etos kerja dan daya tahan seorang muslim terhadap seluruh
godaan kehidupan.

Ibadah Shalat Tarawih dan ibadah-ibadah yang hadir di bulan Ramadhan akan
meningkatkan keimanan dan ketauhidan seseorang terhadap Allah. Bahwa seluruh amal
ibadah tersebut ia lakukan semata-mata dengan semangat ‘imanan wahtisaban’. Sahur dan
berbuka puasa bersama yang kerap dilakukan bersama keluarga dan saudara sesama
muslim merupakan simbol dari kasih sayang dan keharmonisan ukhuwah di antara sesama
orang beriman yang pada hakikatnya merupakan buah dari keimanan mereka.

Demikian benang-benang yang dirajut selama bulan puasa untuk menghasilkan pakaian
takwa, pakaian yang harus dikenakan oleh setiap orang beriman di manapun dan
kapanpun mereka berada. Jangan sampai kita merusak atau merobek pakaian takwa yang
kita tenun tersebut pasca Ramadhan, seperti yang diilustrasikan oleh Allah swt dalam
firmanNya: “Dan janganlah kalian seperti seorang perempuan yang mengurai kembali
benang yang sudah dipintalnya dengan kuat menjadi cerai berai”. (An-Nahl: 92). Wanita
dalam ayat ini digambarkan oleh Imam al-Qurthubi sebagai wanita jahil yang bernama
Rithah binti Amru bin Ka’ab yang identik dengan mereka yang merusak kembali kebaikan
yang telah dengan susah payah diperjuangkan setahap demi setahap. Sungguh perbuatan
78
yang sangat bertentangan dengan nilai Ramadhan yang seharusnya tetap
mempertahankan dan memelihara pakaian yang indah tersebut setelah berakhirnya
Ramadhan.

Masih tersisa beberapa hari ke depan sampai pada malam puncaknya yang bernama
‘lailatul qadar’ yang merupakan cermin dari puncak prestasi yang dapat ditorehkan oleh
orang yang beriman di hadapan Allah swt. Ia rela mengalokasikan segenap waktu, harta
dan jiwanya untuk mendapatkan keutamaan malam tersebut dengan memaksimalkan
potensi ubudiyah yang dimilikinya. Semoga kita termasuk yang mendapatkan malam
kemuliaan tersebut sehingga ‘pakaian takwa’ kita semakin harum semerbak dan indah
dipandang oleh semua mata yang melihatnya. “Hai orang-orang yang beriman, ta`atlah
kepada Allah dan ta`atlah kepada rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-
amalmu”. (Muhammad: 33)

79
Peran Zakat untuk Kemakmuran Rakyat Peran Zakat untuk Kemakmuran Rakyat Peran Zakat untuk Kemakmuran Rakyat Peran Zakat untuk Kemakmuran Rakyat

Oleh:
Dr. Attabik Luthfi, MA Dr. Attabik Luthfi, MA Dr. Attabik Luthfi, MA Dr. Attabik Luthfi, MA


dakwatuna.com dakwatuna.com dakwatuna.com dakwatuna.com – –– – “Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir dan
miskin, pengurus (amil) zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk memerdekakan
budak, orang-orang yang berhutang, untuk (usaha) di jalan Allah, dan untuk orang-orang
yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah
Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana“. (At-Taubah: 60)

Ayat di atas yang berbicara tentang kelompok yang ditetapkan oleh Allah sebagai yang
berhak mendapat dana zakat (mustahiq), demikian juga surat At-Taubah: 103 yang
berbicara tentang kewajiban zakat yang dikaitkan dengan hikmah dan manfaat zakat bagi
muzakki keduanya menggunakan terminologi ’shadaqah’ yang berasal dari akar kata
’shadaqa’ yang berarti benar dan jujur. Hal ini menunjukkan bahwa indikator ketulusan,
kebenaran dan kejujuran keimanan seseorang terletak pada kesiapannya menunaikan
kewajiban zakat. Zakat berdasarkan ayat di atas dapat dikatakan sebagai ‘jaminan sosial’
bagi kelompok yang sangat membutuhkan huluran bantuan materi. Maknanya, zakat
merupakan ibadah yang mempunyai peran strategis dalam konteks ekonomi keumatan
yang akan memberikan dampak kesejahteraan dan kemakmuran bagi orang banyak.

Menurut asy-Syaukani dalam kitab tafsirnya ‘Fathul Qadir’, ayat di atas telah merinci
pihak yang harus mendapat bantuan keuangan yang berasal dari zakat berdasarkan skala
prioritas dari kelompok yang sangat membutuhkan yaitu faqir dan seterusnya kelompok
yang dikategorikan miskin dalam memenuhi kebutuhan azasi mereka. Apabila kebutuhan
primer mereka telah terpenuhi, maka untuk selanjutnya zakat berperan untuk mengangkat
dan meningkatkan taraf hidup mereka pada standar kehidupan yang layak seperti yang
dialami oleh kelompok muzakki. Tentu mustahiq tidak harus berpuas hati menjadi ‘tangan
yang di bawah’ terus menerus sehingga termotivasi untuk menjadi kelompok muzakki di
masa mendatang. Disinilah peran zakat dalam konteks memberdayakan kelompok
mustahiq agar tercipta kemakmuran dan kesejahteraan yang merata.

80
Berdasarkan pembacaan Fairuz Abadi terhadap seluruh ayat-ayat Al-Quran, terdapat 35
ayat yang berbicara tentang zakat. Tiga puluh di antaranya menggunakan bentuk ma’rifat,
serta 27 ayat di antaranya disandingkan dengan perintah shalat seperti firmanNya:
“Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat serta ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’”. (Al-
Baqarah: 43). Pembicaraan tentang zakat juga tidak hanya terdapat pada ayat-ayat
Madaniyah, tetapi juga pada ayat-ayat Makkiyyah yang notabene terfokus pada
pembentukan keimanan dan keyakinan. Ini menunjukkan bahwa zakat merupakan salah
satu elemen penting dalam pembentukan keimanan. Bahkan dalam surat Ar-Rum: 39
Allah mengkaitkan zakat dengan sistem Ekonomi Ribawi yang jelas kontra kemakmuran
dan kesejahteraan orang banyak (baca: rakyat; umat). Allah swt berfirman: “Dan sesuatu
riba yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak
bertambah di sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan dari zakat yang kamu maksudkan
untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang
melipatgandakan (pahalanya)”.

Pembicaraan tentang zakat tidak dapat dilepaskan dari pembicaraan tentang konsep harta
menurut Al-Quran, terutama tentang konsep kepemilikan yang akan meringankan si
pemilik harta untuk mengeluarkan sebagian hartanya sesuai dengan ketentuan pemilik
hakiki yaitu Allah swt. Dalam banyak ayat Al-Quran ditegaskan bahwa kepemilikian harta
yang hakiki disandarkan kepada Allah swt, “Dan berikanlah kepada mereka dari harta
Allah yang dikarunikan kepadamu…” (An-Nur: 33) Kemudian Allah mengizinkan manusia
untuk menguasai harta tersebut dengan cara-cara yang telah ditetapkan. Artinya, jika
manusia mendapatkan atau menguasai harta tersebut dengan mengabaikan aturan Allah,
maka ia pada hakikatnya tidak berhak untuk memilikinya. inilah konsep kepemilikan
dalam Islam yang membedakan dengan konsep kepemilikan dalam aturan lain. Sehingga
harus disadari betul bahwa pada harta yang dimiliki seseorang ada kewajiban yang
ditetapkan oleh Allah dan hak orang lain yang keduanya bersifat melekat pada harta
tersebut.

Selain tentang konsep kepemilikan harta, pembicaraan tentang zakat juga harus dikaitkan
dengan konsep pengembangan harta dengan cara yang baik sehingga akan menjadi
keberkahan bagi pemiliknya dan orang lain. Justru persoalan keberkahan merupakan
persoalan inti dan esensi bagi seorang muslim dalam mensikapi hartanya. Di antara ciri
harta yang berkah itu adalah harta itu akan bertambah banyak, paling tidak dari segi
dampak manfaat yang ditimbulkannya. Dengan berzakat harta menjadi berkah dalam arti
81
memberi kenyamanan dan keamanan
bagi pemiliknya karena tidak ada yang
perlu dikhawatirkan tentang hartanya.
Bahkan hartanyalah yang akan menjaga
pemiliknya. Dengan menjalankan
kewajiban zakat juga sang pemilik harta
akan berkah karena lebih dekat dengan
Allah karena selalu bersyukur atas
karuniaNya. Harta yang senantiasa
dikeluarkan zakatnya akan
menghindarkan pemiliknya dari sikap
rakus terhadap harta, bahkan selalu
berusaha untuk memberikan manfaat bagi pemilik dan orang lain. Rasulullah saw
menjamin dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim: “Harta tidak akan
berkurang karena sedekah, dan tidaklah Allah menambah bagi hamba yang pemaaf
kecuali kemuliaan dan tidaklah seseorang yang berlaku tawadhu’ karena Allah melainkan
Dia akan meninggikannya“.

Di tinjau dari segi filosofi zakat berdasarkan ayat inti dalam tulisan ini, zakat tidak sekadar
menunaikan kewajiban materiil semata bagi seorang muslim yang memiliki harta, tetapi
bagaimana zakat dapat dijadikan sebagai sistem nilai yang seterusnya terinternalisasi
dalam diri pembayar zakat untuk menjadi seseorang yang peduli kepada yang lemah dan
berpihak pada kaum papa dalam seluruh perilaku dan aktifitas ekonominya. Secara
empiris, kesejahteraan sebuah negara karena zakat terjadi pada masa pemerintahan Umar
bin Abdul Aziz. Meskipun beliau hanya memerintah selama 22 bulan karena meninggal
dunia, negara menjadi sangat makmur, yaitu dengan pemerintahan yang bersih dan jujur
dan zakat yang ditangani dengan baik. Hingga kala itu negara yang cukup luas hampir
sepertiga dunia tidak ada yang berhak menerima zakat karena semua penduduk muslim
sudah menjadi muzakki. Itulah pertama kali ada istilah zakat ditransfer ke negeri lain
karena tidak ada lagi yang patut disantuni. Zakat dapat menumbuhkan etos kerja. Dengan
membayar zakat seseorang akan bekerja dengan baik. Dengan demikian gerakan sadar
zakat pada dasanya adalah gerakan menciptakan etos kerja yang baik yang memberi
kesejahteraan dan kemakmuran yang merata bagi semua.

82
Jelas bahwa keberhasilan Khalifah Umar bin Abdul Aziz pada saat itu tidak hanya dengan
menggunakan zakat dalam arti harfiah materiil semata, tetapi merupakan kebijakan yang
memberikan perhatian yang tinggi pada pengelolaan zakat. Zakat pada kepemimpinan
beliau dijadikan tolok ukur akan kesejahteraaan masyarakat, baik jumlah orang yang
berzakat, besar zakat yang dibayarkan, maupun jumlah penerima zakat. Berbeda dengan
tolok ukur lain yang cenderung bias. Tolak ukur zakat sebagai pengatur kesejahteraan
benar-benar bisa dijadikan pedoman standar, baik dalam konteks ekonomi mikro maupun
makro.

Di sinilah zakat berperan sebagai Ibadah Maaliyah Ijtima’iyyah (ibadah harta yang
berdimensi sosial) yang memiliki posisi penting, strategis dan menentukan, baik dari sisi
pelaksanaan ajaran Islam maupun dari sisi pembanguna kesejahteraan umat. Kesediaan
seseorang untuk berzakat merupakan indikator utama ketundukannya terhadap Allah dan
ciri utama seorang mukmin yang akan mendapatkan rahmat dan pertolongan Allah.
Kesediaan berzakat pula dipandang sebagai ciri orang yang selalu berkeinginan
menyucikan dan mmembersihkan serta mengembangkan harta yang dimilikinya.
Sebaliknya keengganan dan ketidakpedulian seseroang terhadap zakat mendapatkan
peringatan dan ancaman yang berat dari Al-Quran di akhirat kelak. Harta benda yang
disimpan dan tidak dibelanjakan sesuai dengan dengan ketentuan Allah akan berubah
menjadi alat untuk mengazabnya. Dalam beberapa hadits, Rasulullah mengancam orang
yang enggan membayar zakat hartanya akan hancur, dan jika keengganan ini demikian
bersifat massal, maka Allah akan menurunkan azab berupa dihambatnya hujan yang
menurunkan keberkahan seperti tersebut dalam hadits Thabrani dari Ibnu Abbas ra.
Rasulullah juga pernah menghukum Tsa’labah atas keengganannya berzakat dengan isolasi
yang berkepanjangan, tidak ada seorang sahabatpun yang berhubungan dengannya
meskipun hanya bertegur sapa. Khalifah Abu Bakar bahkan mengultimatum perang
terhadap kelompok yang hanya shalat namun tidak mau berzakat sepeninggal kewafatan
Rasulullah. Atas dasar kepentingan inilah, sampai sahabat Abdullah bin Mas’ud
menegaskan bahwa orang yang tidak berzakat, maka tidak ada shalat baginya. Dalam
konteks kemakmuran rakyat (umat), peran zakat dapat dilihat dari beberapa hal berikut
ini: Pertama, zakat akan menumbuhkan akhlak yang mulia berupa kepeduliaan terhadap
nasib kehidupan orang lain, menghilangkan rasa kikir dan egoisme (An-Nisa’: 37). Kedua,
Zakat berfungsi secara sosial untuk mensejahterakan kelompok mustahiq, terutama
golongan fakir miskin ke arah kehidupan yang lebih baik dan sejahtera, dapat
menghilangkan atau memperkecil penyebab kehidupan mereka menjadi miskin dan
83
menderita. Ketiga, zakat akan mendorong umat untk menjadi muzakki sehingga akan
meningkatkan etos kerja dan etika bisnis yang benar. Keempat, zakat merupakan salah
satu instrumen pemerataan pendapatan. Dengan zakat yang dikelola dengan baik
dimungkinkan terciptanya pertumbuhan ekonomi sekaligus pemerataan pendapatan.
Maka zakatlah ibadah satu-satunya yang secara eksplisit disebutkan adanya pengelola
resmi yang dikenal dengan istilah Amil seperti yang diisyaratkan dalam surat At-Taubah:
103 yang bermaksud: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu
membersihkan dan mensucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa
kamu itu menjadi ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui”.

Terkait dengan ini, Monzer Kahl dalam bukunya ‘Ekonomi Islam; Telaah Analitik
Terhadap Fungsi Sistem Ekonomi Islam’ menyatakan bahwa zakat dan sistim pewarisan
dalam Islam cenderung berperan sebagai sistem distribusi harta yang egaliter sehingga
harta akan selalu berputar dan beredar kepada seluruh lapisan rakyat, karena memang
akumulasi harta di tangan seseorang atau suatu kelompok saja sangat ditentang oleh Al-
Quran. Allah menegaskan dalam firmanNya: “….Agar harta tidak hanya beredar di
kalangan orang-orang kaya saja di antara kamu..”. (Al-Hasyr: 7)

Demikian, zakat yang secara bahasa berarti tumbuh, bersih, berkembang dan berkah
merupakan ibadah yang berdimensi vertikal dan horizontal secara bersamaan. Seorang
yang membayar zakat karena keimanannya niscaya akan memperoleh kebaikan yang
banyak dan akan memberikan kemakmuran kepada seluruh umat. Semoga kita termasuk
diantara hambaNya yang senantiasa didoakan oleh MalaikatNya pada setiap pagi dan
petang: “Ya Allah berilah orang berinfak gantinya”, bukan termasuk hambaNya yang
didoakan kehancuran: “Ya Allah jadikanlah orang yang menahan infak kehancuran”.
(H.R. Bukhari dan Muslim) []

84
Mendidik Islami Ala Luqman al Mendidik Islami Ala Luqman al Mendidik Islami Ala Luqman al Mendidik Islami Ala Luqman al- -- -Hakim Hakim Hakim Hakim

Oleh:
Dr. Attabik Lut Dr. Attabik Lut Dr. Attabik Lut Dr. Attabik Luthfi hfi hfi hfi, MA , MA , MA , MA


dakwatuna.com dakwatuna.com dakwatuna.com dakwatuna.com - -- - “Dan (Ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia
memberi nasehat kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah,
Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar …..
Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya
seburuk-buruk suara ialah suara keledai”.” (Luqman: 13-19)

Surat Luqman secara umum, terutama ayat 13-19 difahami sebagai surat yang harus dibaca
saat prosesi aqiqah atau kesyukuran atas kelahiran seorang anak, dengan harapan bahwa
sang ayah nantinya dapat meneladani tokoh Luqman yang diabadikan wasiatnya dan
sang anak juga dapat mengikuti petuah dan nasehat seperti halnya anak Luqman. Tentu
pemahaman ini dapat diterima, mengingat secara tekstual ayat-ayat ini memang berbicara
secara khusus tentang pesan Luqman dalam konteks mendidik anak sesuai dengan pesan
Al-Quran. Apalagi pesan Luqman dalam surat ini sebenarnya adalah pesan Allah yang
dibahasakan melalui lisan Luqman al-Hakim sehingga sifatnya mutlak dan mengikat; pesan
Luqman dalam bentuk perintah berarti perintah Allah, demikian juga nasehatnya dalam
bentuk larangan pada masa yang sama adalah juga larangan Allah yang harus dihindari.

Luqman yang dimaksud dalam ayat-ayat ini menurut Ibnu Katsir adalah Luqman bin
Anqa’ bin Sadun. Ia adalah anak dari seorang bapak yang Tsaaran. Pengabadian kisah
Luqman memang berbeda dengan pengabdian tokoh lain yang lebih komprehensif.
Pengabadian Luqman hanya berkisar seputar nasehat dan petuahnya yang sangat layak
dijadikan acuan dalam mendidik anak secara Islami.

Tentu masih banyak lagi cara Islami dalam mendidik anak berdasarkan ayat-ayat atau
hadits Rasulullah saw yang lain. Namun paling tidak, pesan Luqman ini bukan sekedar
pesan biasa umumnya seorang bapak kepada anaknya, namun merupakan pesan yang
penuh dengan sentuhan kasih sayang dan sarat dengan muatan ideologis serta tersusun
berdasarkan skala prioritas dari pesan agar mengesakan Allah dan tidak
menmpersekutukannya sampai pada pesan untuk bersikap tawadu’ dan santun yang
85
tercermin dalam cara berjalan dan berbicara. Kedua jenis pesan dan nasehat tersebut
ternyata tidak keluar dari dua prinsip utama dalam ajaran Islam yaitu ajaran tentang
akidah dan akhlak.

Menurut Sayid Quthb, rangkaian ayat-ayat berbicara tentang Luqman dan nasihatnya
yang diawali dengan anugerah hikmah kepada Luqman di ayat 12 merupakan
pembahasan kedua dari pembahasan surat Luqman yang masih sangat terkait dengan
pembahasan episode pertama, yaitu persoalan akidah. Pesan Luqman sendiri pada intinya
adalah pesan akidah yang memiliki beberapa konsekuensi; di antaranya berbakti dan
berbuat ma’ruf kepada kedua orang tua sebagai bukti rasa syukur atas kasih sayang dan
pengorbanan mereka merupakan tuntutan atas akidah yang benar kepada Allah swt.
Senantiasa merasakan kehadiran dan pengawasan Allah dalam setiap langkah dan
perbuatan merupakan aktualisasi dari keyakinan akan sifat Allah Yang Mengetahui, Maha
Mendengar dan Maha Mengawasi. Serta menjalankan aktifitas amar ma’ruf dan nahi
munkar yang disertai dengan sikap sabar dalam menghadapi segala rintangan dan
tantangan merupakan bukti akan kekuatan iman yang bersemayam di dalam hati
sanubari, hingga pada pesan untuk senantiasa bersikap tawadu’ dan tidak sombong, baik
dalam bersikap maupun dalam berbicara. Semuanya tidak lepas dari ikatan dan tuntutan
akidah yang benar.

Dominasi pembahasan seputar akidah dalam surat ini memang wajar karena surat Luqman
termasuk surat Makkiyyah yang notabene memberi fokus pada penanaman dan
penguatan akidah secara prioritas..

Terlepas dari pro kontra siapa Luqman sesungguhnya; apakah ia seorang nabi ataukah ia
hanya seorang lelaki shalih yang diberi ilmu dan hikmah, yang jelas jumhur ulama lebih
cenderung memilih pendapat yang mengatakan bahwa ia hanya seorang hamba yang
shalih dan ahli hikmah, bukan seorang nabi seperti yang diperkatakan oleh sebagian
ulama. Gelar al-Hakim di akhir nama Luqman tentu gelar yang tepat untuknya sesuai
dengan ucapannya, perbuatan dan sikapnya yang memang menunjukkan sikap yang
bijaksana. Allah sendiri telah menganugerahinya hikmah seperti yang ditegaskan dalam
ayat sebelumnya: “Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu:
“Bersyukurlah kepada Allah dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka
sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur,
Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji“. (Luqman: 12)
86

Yang menarik di sini bahwa ternyata sosok Luqman bukanlah seorang yang terpandang
atau memiliki pengaruh. Ia hanya seorang hamba Habasyah yang berkulit hitam dan tidak
punya kedudukan sosial yang tinggi di masyarakat. Namun hikmah yang diterimanya
menjadikan ucapannya dalam bentuk pesan dan nasehat layak untuk diikuti oleh seluruh
orang tua tanpa terkecuali. Hal ini terungkap dalam riwayat Ibnu Jarir bahwa seseorang
yang berkulit hitam pernah mengadu kepada Sa’id bin Musayyib. Maka Sa’id
menenangkannya dengan mengatakan: “Janganlah engkau bersedih (berkecil hati) karena
warna kulitmu hitam. Sesungguhnya terdapat tiga orang pilihan yang kesemuanya berkulit
hitam, yaitu Bilal, Mahja’ maula Umar bin Khattab dan Luqman Al-Hakim”.

Rangkaian pesan dan nasehat Luqman yang tersebut dalam 7 ayat di atas secara
redaksional dapat dibagi menjadi dua bentuk, yaitu bentuk larangan yang berjumlah 3
ayat dan redaksi perintah yang berjumlah 3 ayat. Sedangkan yang mengapit antara
keduanya adalah pesan untuk senantiasa muraqabtuLlah karena Allah Maha Mengetahui
apa yang dilakukan oleh setiap hambaNya tanpa terkecuali meskipun hanya sebesar biji
zarrah dan dilakukan di tempat yang sangat mustahil diketahui oleh siapapun melainkan
oleh Allah swt. Tiga larangan yang dimaksud adalah larangan mempersekutukan Allah,
larangan menta’ati perintah kedua orang tua dalam konteks kemaksiatan, serta larangan
bersikap sombong. Sedangkan nasehat dalam bentuk perintah diawali dengan perintah
berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tua dalam keadaan apapun mereka yang
diiringi dengan mensyukuri Allah atas segala anugerah dan limpahan rahmatNya dalam
beragam bentuk, perintah untuk mendirikan shalat, memerintah yang ma’ruf dan
mencegah yang munkar serta perintah bersikap sederhana dalam berjalan dan bersuara
(berbicara).

Dalam menjelaskan secara aplikatif
tafsir ayat 15 dari surat Luqman ini,
Ibnul Atsir dalam kitab Usudul Ghabah
(2: 216) menukil riwayat Thabrani
yang mengetengahkan kisah seorang
anak yang bernama Sa’ad bin Malik
yang tetap berbakti menghadapi
ibundanya yang menentang keras
keislamannya dengan melakukan aksi
87
mogok makan beberapa hari lamanya sehingga terlihat kepenatan menimpa ibundanya.
Namun dengan tegas dan tetap menunjukkan baktinya Sa’ad berkata dengan bijak kepada
ibundanya: “Wahai ibu, sekiranya engkau memiliki seratus nyawa. Lalu satu persatu
nyawa itu keluar dari jasadmu agar aku meninggalkan agama (Islam) ini maka aku tidak
akan pernah menuruti keinginanmu. Jika engkau sudi silahkan makan makanan yang telah
aku sediakan. Namun jika engkau tidak berkenan, maka tidak masalah.”

Akhirnya ibu Sa’ad pun memakan makanan yang dihidangkannya, karena merasa bahwa
upaya yang cukup ekstrim itu tidak akan meluluhkan keteguhan hati anaknya dalam
agama Islam. Tentu sikap yang bijak yang ditunjukkan oleh seorang anak terhadap sikap
memaksa kedua orang tuanya yang digambarkan dalam ayat ke 15 tidak akan hadir secara
instan tanpa didahului oleh pemahaman yang benar akan akidah Islam, terutama akidah
kepada Allah.

Kisah di atas jelas merupakan sebuah kisah yang sangat menarik dan berat untuk difahami
dalam konteks kekinian. Bagaimana secara sinergis seorang anak tetap mampu
menghadirkan sikap bakti kepada orang tua dengan tetap mempertahankan ideologi dan
keyakinan yang dianutnya yang berbeda dengan keyakinan kedua orang tuanya. Pada
ghalibnya seorang anak akan merasakan kesukaran dan keberatan untuk menimbang
antara ketaatan kepada perintah orang tua dan bersikap ihsan serta berbakti kepada
keduanya. Menurut Ibnu Katsir berbakti kepada kedua orang tua adalah dalam konteks
bersilaturahim, mendoakan dan memberikan bantuan yang semestinya yang harus
dibedakan dengan ketaatan yang berujung kepada bermaksiat kepada Allah. Tentang hal
ini, Sufyan bin Uyainah pernah berkata: “Barangsiapa yang menegakkan shalat lima waktu
berarti ia telah mensyukuri Allah dan barangsiapa yang senantiasa berdoa untuk kedua
orang tuanya setiap selesai shalat, maka berarti ia telah mensyukuri kedua orang tuanya.”

Sungguh sebuah sikap yang matang dan bijak yang tentu berawal dari model pendidikan
yang bernuansa ‘akidi dan akhlaqi’ dengan tetap memperhatikan kebutuhan dan tuntutan
kekinian yang seimbang dengan landasan prinsip dalam berIslam secara baik dan benar.
Anak-anak sekarang sangat mendambakan nasehat orang tua yang memperkuat, bukan
memanjakan karena memang mereka hidup untuk zaman yang berbeda dengan zaman
kedua orang tuanya seperti yang diisyaratkan oleh Rasulullah dalam haditsnya: “Pilihlah
tempat nuthfahmu untuk dibuahkan. Karena sesungguhnya anak-anakmu dilahirkan untuk
zaman mereka yang berbeda dengan zamanmu.”
88

Demikian nasehat dan pesan Luqman dalam mendidik anaknya yang didahului oleh
pendidikan akidah tentang keEsaan Allah dan pengetahuanNya yang absolut yang akan
melahirkan sikap mawas diri, hati-hati dan muraqabatuLlah dalam bersikap dan bertindak.
Kekuatan dan kemantapan akidah tersebut akan terespon dan termanifestasikan dalam
berakhlak dan berperilaku kepada orang lain, terutama sekali terhadap kedua orang tua.
Sungguh satu upaya yang serius dari seorang Luqman yang bijak untuk mendekatkan dan
memperkenalkan seorang anak sejak dini dengan RabbNya yang berdampak pada
kebaikan dan kesejahteraan lahir dan bathin, serta menjadikannya memiliki tingkat
imunitas dan pertahanan diri yang kokoh menghadapi beragam godaan kehidupan yang
dirasa kian melalaikan dan menjerumuskan. Allahu a’lam

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->