P. 1
128131-D 00831 Analisis pelayanan

128131-D 00831 Analisis pelayanan

|Views: 1,099|Likes:
Published by Dinno Jonhadi Koto

More info:

Published by: Dinno Jonhadi Koto on Sep 23, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/20/2013

pdf

text

original

UNIVERSITAS INDONESIA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU ADMINISTRASI PROGRAM PASCASARJANA

ANALISIS PELAYANAN PUBLIK DESA DINAS DAN DESA PEKRAMAN WONGAYA GEDE KABUPATEN TABANAN

DESERTASI

Disusun Oleh : I WAYAN SUARJAYA NPM : 8900310053

Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan memperoleh gelar Doktor dalam bidang Ilmu Administrasi Jakarta, 2007

Analisis pelayanan ..., I Wayan Suarjaya, FISIP UI., 2007.

UNIVERSITAS INDONESIA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU ADMINISTRASI PROGRAM PASCASARJANA

TANDA PERSETUJUAN PEMBIMBING DISERTASI

Nama NPM

: I WAYAN SUARJAYA : 8900310053

Judul

: ANALISIS PELAYANAN PUBLIK DESA DINAS DAN DESA PEKRAMAN WONGAYA GEDE KABUPATEN TABANAN

Dosen Pembimbing

Prof.Dr. Bhenyamin Hoessein

Analisis pelayanan ..., I Wayan Suarjaya, FISIP UI., ii 2007.

UNIVERSITAS INDONESIA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU ADMINISTRASI PROGRAM PASCASARJANA

LEMBAR PENGESAHAN

Judul :

ANALISIS PELAYANAN PUBLIK DESA DINAS DAN DESA PEKRAMAN WONGAYA GEDE KABUPATEN TABANAN
Oleh : I WAYAN SUARJAYA NPM : 8900310053

DISETUJUI DAN DISAHKAN OLEH PROMOTOR

Prof.Dr. Bhenyamin Hoessein

Ko-Promotor

Ko-Promotor

Dr. Surya Dharma, MPA

Dr.I Made Suwandi, M.Soc.Sc.

MENGETAHUI: KETUA PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI PROGRAM PASCASARJANA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS INDONESIA

Prof.Dr. Bhenyamin Hoessein

Analisis pelayanan ..., I Wayan Suarjaya, FISIP UI., iii 2007.

MPA Ketua Pelaksana Promotor Ko-Promotor Ko-Promotor Anggota Penguji Anggota Penguji Anggota Penguji Anggota Penguji Analisis pelayanan .I Made Suwandi. FISIP UI. Bhenyamin Hoessein Dr.Publ Prof.Soc.Dr..Dr. M.UNIVERSITAS INDONESIA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU ADMINISTRASI PROGRAM PASCASARJANA TIM PENGUJI Prof.Dr. Surya Dharma. Muchlis Hamdi. Eko Prasojo.Dr. Irfan Ridwan Maskum. MPA Prof. Mag. I Wayan Suarjaya..rer.. iv 2007.Dr. Msi Prof..Sc Dr. . Martani Huseini Dr.Azhar Kasim.MPA Prof.

FISIP UI. ..PERNYATAAN ORISINILITAS Disertasi ini adalah hasil karya sendiri Dan seluruh sumber yang dikutif maupun dirujuk telah dinyatakan dengan benar sesuai dengan ketentuan yang berlaku I WAYAN SUARJAYA v Analisis pelayanan . 2007... I Wayan Suarjaya..

. politcs.. FISIP UI. local custom. vi 2007. The State Administrative Village only gives services in the field of governmental administration Analisis pelayanan . social culture and resources. Tabanan Regency xvii + 275 pages + Bibliography : 215 books + 7 Disertation + 27 Journal + 12 paper Research on villages have been done by esperts from diverse discipline. The Method used in this research in a qualitative method. The main duties and functions of the Traditional Village are to give services to the society especially in the field of the social aspect. The objectives of this research are to describle public services provides by both types of villages. In Bali Many similar researches have been conducted by both local and international experts.. economy. that give services to the public. Bali has two types of villages. Tabanan Regency. to analyze whether the public services geve by those villages can be synergized and how that can be done. (3) and the theory of public services. The State Administrative Village was first formed by the Colonial Government for its own bemefits. At the beginning. The Previous experts have not yet done research on the public services in both types of villages. The State Administrative Village and the Tradisional Village. I Wayan Suarjaya. they are State Administrative Village (desa Dinas) and Traditional Village (Desa pakraman). (2) the theory of decentralitation and local government.. culture and religion. have different historical backgrounds in terms of their formation. The Traditional village is formed by the community for the community itself so it has a true autonomy. These villages have their respective function and duties. Those kinds of research have also been carried out in different places in Indonesia.UNIVERSITY OF INDONESIA FACULTY OF SOCIAL AND POLITICAL SCIENCES DEPARTMENT OF ADMINISTRATIVE SCIENCE GRADUATE PROGRAM ABSTRACT I WAYAN SUARJAYA 89 003 3100 53 The Analysis of Public Services Art State Administrative Village Of Wongaya Gede. However. the previous studies conducted are merely focused on analyzing some aspects of the village such as the governmental administration. The theories used for the analyzis are (1) the theory of administration development and the empowerment of the society.. This present research is focused on analyzing public services by the State Administrative Village an The Tradisional Village in Wongaya Gerde Village.

I Wayan Suarjaya. Because in carrying out in activities. (2) in the field of development. the Traditional Village is guided by the traditional law (Awig-awig). government used the State Administative Village as the centre of government in running the government Administration. In giving public services both villages undergo difficulties. Security. Since the time decentralitation was introduced in Indonesia. and economy. (1) in the field of religion.. the regulation No. development. This can be done through coordination and consultation in implementing those service programs. From the era of old 0rder (Orde Lama) to the New Order (Orde Baru) the Traditional Village was marginalized. Analisis pelayanan . (5) In the field of economy. In this case regulation are needed to control the coordination and consultation between both types of villages so that both of the villages can live in harmony and they can avoid conflicts of interest. The members of the society obey this traditional law because they feel that the social punishment is much severer then the punishment of paying fine. () in the filed of society welfare. 32 Year 2003 was implemented and the existence of the Traditional Village was acknowledged for its role in giving public services in order to improve the welfare of the community. in the society because the society pays more respect to the Traditional Village in terms of the public services given to the society. (3) in the field of environment. government. Those services can be jointly provided by both types of village. . FISIP UI. This is due to the introduction of the unifying concept of villages which was centrally regulated by the government. since the independence era.. The fields that can be synergized in providing services to the society are in the field of religion. The Study shows that the Traditional Village has more privilege position.and other governmental duties. (4) in the field security. (7) in the field of conflicts of custom. they are.. During the reformation era. and (8) in the field of government.vii 2007. It is found that the are nine services provides by the State Administrative and Traditional Village..

bila dikaji berdasarkan teori Stewart yang dikutip oleh Waluyo tidak semua teori partisipasi dapat dilaksanakan sepenuhnya oleh perangkat Desa.Nya. Agama dan kearifan lokal.. (h) Pemerintahan (i). teori Desentralisasi dan pemerintahan lokal. Tata Keagamaan. sejalan dengan pendapatnya Diessedorf. ditemukan bahwa Desa dalam memberikan pelayanan. (2) Tugas pokok dan fungsi dalam memberi pelayanan publik. Desa Pakraman memiliki otonomi asli. dan yang ketiga Sinergi pelayanan publik.KATA PENGANTAR Puja dan puji syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Esa. Desa Dinas. locus. (3) isu Demokrasi Politik Ekonomi. Menurut pendapat masyarakat.. adalah metodologi Kualitatif. terutama. terpusat pada empat isu: (1) isu ketatanegaraan dan kepemerintahan. dan fokusnya. Mendapatkan pelimpahan wewenang untuk mengatur masyarakat setempat dari Pemerintah atau Pemerintah Kabupaten. Partisipasi masyarakat.. I Wayan Suarjaya. masih kurangnya pendidikan dan pelatihan pelayanan publik. Keamanan. Masalah pokok yang diangkat dalam penelitian ini adalah: Bagaimana pelayanan publik oleh Desa Dinas dan Desa Pakraman ? Bagaimana menyinergikan pelayanan publik. didorong Analisis pelayanan . kemampuan Pengurus untuk mendorong masyarakat Bentuk partisipasi masyarakat dikaitkan teori Davis dan teori Khaeruddin. (d) Pembangunan. karya ilmiah dengan Pokok Bahasan “ ANALISIS PELAYANAN PUBLIK DESA DINAS DAN DESA PAKRAMAN dapat diselesaikan dengan baik. yang menyatakan partisipasi masyarakat. melaksanakan desentralisasi. pertama tentang karakteristik Desa Dinas dan Desa Pakraman. ditinjau dari segi sistem pemerintahan teori Desentralisasi dan Pemerintahan Lokal. Hasil penelitian dipilah menjadi tiga.. . dan jenis pelayanan pulik yang mana saja yang dapat disinergikan ? Mengacu pada permasalahan sebagaimana dikemukakan tadi. Hasil berbagai penelitian tentang Desa di Indonesia. didukung sepenuhnya oleh masyarakat. (f). Kedua analisis pelayanan publik oleh Desa Dinas dan Desa Pakraman.viii 2007. Perekonomian. teori pelayanan publik. (4) isu keterbatasan sumber daya. Berdasarkan hasil penelitian. Belum memiliki visi yang jelas. yang dilaksanakan oleh Desa maupun oleh pemerintah. Budaya. Kajian tentang pelayanan publik oleh Desa Dinas dan Desa Pakraman . (3) Wilayah. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan: Pertama. (e). Sosial kemasyarakatan. maka penelitian ini bertujuan untuk: Mendiskripsikan pelayanan publik. Administrasi Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini. FISIP UI. (2) isu Adat. dikaji berdasarkan landasan teori Administrasi Pembangunan dan Pemberdayaan masyarakat. Menganalisis pelayanan publik yang bisa disinergikan oleh Desa Dinas dan Desa Pakraman Pelayanan publik dianalisis dengan landasan teoritik. Sengketa Adat. Penelitian tentang Desa telah banyak dilakukan oleh Para Pakar sesuai dengan Bidang Ilmu masing –masing. belum ada yang menelitinya. Desa Dinas dan Desa Pakraman mempunyai karakteristik tersendiri baik ditinjau dari segi: (1) Historis terbentuknya. bahwa Desa Dinas dan Desa Pakraman mempunyai 9 bidang pelayanan meliputi: (a). b). karena berkat rahmat dan karunia . (g) Kesejahteraan rakyat. Kedua. (c) Lingkungan hidup. Berbagai penelitian tersebut juga berbeda dalam dimensi kurun waktu.

. (8) kepentingan bersama. Adapun bidang-bidang pelayanan publik yang dapat disinergikan meliputi: (1) bidang keamanan. konsekuensinya adalah struktur tetap berbeda. (3) kesadaran sendiri. Jakarta. Keempat. Maka dari itu sangat diharapkan bimbingan dan tutunan serta saran konstruktif dari berbagai pihak demi penyempurnaan disertasi ini. Walaupun menangani bidang yang sama tetapi unit pelayanannya yang berbeda. (4) bidang sosial. jenis pelayanan oleh kedua Desa ini bidangnya sama. (6) ekonomi. 7 Juli 2007 Penulis Analisis pelayanan . Hasi penelitan ini masih jauh dari sempurna mengingat. Ketiga. (3) bidang pemerintahan. dan (5) bidang agama. sedangkan Desa Dinas tunduk pada Undang-undang No. unsur pelayanan dalam bidang yang sama seperti keamanan. keterbatasan peneliti. tenaga dan waktu. (2) bidang ekonomi. Desa Pakraman hanya melayani yang beragama Hindu saja. sosial budaya dan agama dapat disinergikan. Pada bidang pelayanan yang sama . Sebab obyek pelayanan Desa Dinas dan Desa Pakraman adalah anggota masyarakat dan wilayah yang sama. mendapatkan pahala yang setimpa dari Tuhan Yang Maha Esa. 32 tahun 2004. ix 2007. I Wayan Suarjaya.. (5) politik. perekonomian.. (2) ikatan organisasi. FISIP UI.oleh delapan jenis. (7) bakat dan emosional. (4) kharisma pemimpin. adat dan budaya. baik dari segi waktu penelitian dan kekurangan data – data yang menunjang penelitian. (1). kekeluargaan. Kelima. Dengan demikian mengingat dua Desa ini tidak mungkin digabung/disatukan. dapat disinergikan untuk lebih efisien dari segi biaya. Tetapi kalau dikaji secara mendalam. 3 tahun 2003.. apalagi keberadaan masyarakat saat ini sudah hetrogen tidak homogen lagi. Maka perlu adanya payung hukum yang mengatur Desa Dinas dan Desa Pakraman. Saat ini Desa Pakraman diatur berdasarkan Perda No. . pembangunan. kemungkinan untuk manggabungkan Desa Dinas dan Desa Pakraman amat sulit karena sesungguhnya bidang tugasnya berbeda. Semoga amal baik dari berbagai pihak yang telah membantu memberikan kontribusi dalam penyelesaikan kuliah dan disertasi.

.................................... Signifikansi………………………………. Desa Pakraman ....……................... i ii iii iv v vi viii x xii xiii xiv xiv 1 1 10 27 27 28 33 35 35 36 52 58 61 67 81 89 92 101 101 103 116 115 115 117 119 119 119 126 129 135 147 148 153 x Analisis pelayanan ............ DAFTAR GRAFIK……………………........…...........................……….......... d.............………… C.......................................... 3............………….............................................. DAFTAR BAGAN……………………........... D.. BAB IV HASIL PENELITIAN……………........................................ A Pemilihan Obyek Penelitian……............................................…….......... Administrasi Pembangunan ............................... dan Agama..... Keberadaan Desa Dinas …........... A................ D....................................... Karakteristik Desa………………....................... F.............................................………............................................ Desa Dinas ........................ Tahap Penelitian…………………........................ A................................... LEMBAR PENGESAHAN ................................... E................................................................ Administrasi Pembangunan dan Pemberdayaa Masyarakat............…........... Desentralisasi dan Pemerintahan Lokal.............................. Kerangka Pikir........................DAFTAR ISI COVER ....... LEMBAR ORISINIL ....... Pemberdayaan Masyarakat ...............…................................ Permasalahan………………………...........................………........... Teknik Pengumpulan Data……….....………………..................... Jenis Pelayanan Publik………….............. BAB II LANDASAN TEORITIS…………......................... Tujuan Penelitian……... Disain Penelitian………………...................... ABSTRAK .....................................………................ Penduduk dan Mata Pencaharian.................. FISIP UI... Budaya........... DAFTAR TABEL….. 1..................... 2...........…......................................................... Analisis Data………….... B....... Kualitas Pelayanan Publik……............................................................…………………..... Wilayah Desa Pakraman………....... BAB III METODE PENELITIAN………………….............................. BAB I PENDAHULUAN……………...........................................… c................................................................................................ I Wayan Suarjaya.……....... 2........ 1.. a.........………… B............ Pelayanan Publik………..…………....... C.......... D...........… C.......................................................................................................................... LEMBAR TIM PENGUJI .................…….................. 2..........…………….................…………............. DAFTAR GAMBAR………………………... F. Kriteria Pelayanan Publik.......... Proposisi Teoritik ...............................................................................................................…………... E............................................... KATA PENGANTAR……………………………………….............……………………. B....................................................................... A...................... b.……. DAFTAR ISI………………………………………………...................................................... Jenis Penelitian………………............ Sistematika Penelitian…......... a................................ LEMBAR PERSETUJUAN ..............…………………............. Kehidupan Sosial.................................................………............................. Letak dan Luas Wilayah…...... 1.... ....... Latar Belakang ……………………….... 2007............

..... 153 156 160 164 165 167 171 176 193 196 197 198 201 203 208 214 215 219 221 223 224 225 225 233 234 234 237 239 242 Analisis pelayanan ..…. f......... Sinergi Bidang Ekonomi……………...…………………...................…. 1.............................. B.................... c. 6.. Adat dan Budaya…......................... 2............. Sinergi Bidang Agama. 4..……….…………..........…............................ 3......... 5... Pelayanan Publik Desa Dinas dan Desa Pakraman Bidang Pemerintahan…... 5....... I Wayan Suarjaya................................ Sinergi Pelayanan Publik Desa Pakraman dan Desa Dinas.. Kerama / Penduduk……………. Sinergi Pelayanan Publik Desa Pakraman dan Desa Dinas….. Struktur Desa Pakraman………....................................................…...……....…………….... 2....…………............... Pelayanan Publik Desa Dinas dan Desa Pakraman Bidang Perekonomian…....… 8............. 9...... xi 2007.......................... Pelayanan Publik Oleh Desa Pakraman dan Desa Dinas. 1.......... DAFTAR RIWAYAT HIDUP………………………........ Keuangan …….... Hubungan Fungsional Desa Pakraman dan Desa Dinas……………………….......................... Awig – awig Desa Pakraman …........... Pelayanan Publik Desa Dinas dan Desa Pakraman Bidang Sengketa Adat…............ C..……………. Kelembagaan Desa Pakraman dan Desa Dinas…………………………………........… 7. PelayananPublik Desa Dinas dan Desa Pakraman Bidang Keamanan……..... FISIP UI................ 3.....…...b.. ....... 4...………… B. Saran-saran……………………………….......... 2................... Sinergi Bidang Sosial………………...... 10.... d..... PelayananPublik Desa Dinas dan Desa Pakraman Bidang Pembangunan…........ Pelayanan Publik Desa Dinas dan Desa Pakraman Bidang Sosial Kemasyarakatan…….......….................. A............ Analisis Pelayanan Publik Desa Dinas dan Desa Pakraman … 1..... BAB V KESIMPULAN DAN SARAN……………..... Sinergi Bidang Pemerintahan………....... Pelayanan Publik Desa Dinas dan Desa Pakraman Bidang Lingkungan Hidup……..... Kesimpulan……………….…......................….............. e................. DAFTAR PUSTAKA…………………………….... Kahyangan Tiga……………….......…. Pelayanan Publik Desa Dinas dan Desa Pakraman Bidang Kesra……………...................... Pelayanan Publik Desa Dinas dan Desa Pakraman Bidang Keagamaan …………………... Sinergi Bidang Keamanan……………......…........................................................….... 3.................................

............................................ Unsur Tri Hita Karana Dalam Desa Pakraman dan Rumah Tangga…….......................... Jumlah Penduduk Desa Dinas Berdasarkan Umat Beragama ... Kegiatan Pos Yandu dan Jenis Pelayanan Lepada Masyarakat………………………....................................... Analisis pelayanan ............ TABEL 3...xii 2007..……................................... Penduduk Desa Wongaya Gede Berdasarkan Jenis Kelamin................................. TABEL 4................ TABEL 7.....………………… TABEL 11............ .....………………… TABEL 12 Jumlah Sekolah dan Siswa………..... Luas Wilayah Desa Dinas Wongaya Gede Menurut Penggunaan Tanah riil ( Hektar ).................. TABEL 6....................................... Pelayanan Publik Desa Pakraman dan Desa Dinas…………………………….....… TABEL 8............DAFTAR TABEL TABEL 1....... Jumlah Penduduk Desa Dinas Berdasarkan Mata Pencaharian Tahun 2000 .... Tipologi Kelembagaan Masyarakat ........................................................ TABEL 9...... Tahun 2000 ..................... TABEL 2. I Wayan Suarjaya... Unsur Desa Dinas dan Desa Pakraman.................................................. FISIP UI...... Stuktur Wilayah Desa Wongaya Gede…....................... Struktur Wilayah Desa Dinas………. TABEL 5...... TABEL 10...............................

....DAFTAR GAMBAR GAMBAR 1...……………….................... Wilayah Desa Pakraman Sama Dengan Wilayah Desa Dinas………......... FISIP UI... Wilayah Desa Pakraman Terdiri Atas Beberapa Desa Dinas……….................……………….. GAMBAR 2................................. GAMBAR 5 Sumber Penyusunan Awig – Awig …........... ............ GAMBAR 4 Wilayah Desa Pakraman dalam Desa Dinas Wongaya Gede………………………... GAMBAR 3 Wilayah Desa Dinas Terdiri Atas Beberapa Desa Pakraman……...... I Wayan Suarjaya..........……………............................... Analisis pelayanan .......xiii 2007................ GAMBAR 6 Sinergi Pelayanan Publik ……………..…........

.............. ..... BAGAN 2 Struktur Desa Dinas Wongaya Gede….................DAFTAR BAGAN BAGAN 1 Struktur Desa Dinas Dalam Sistem Pemerintahan........................................................ BAGAN 4 Pengaturan Kegiatan Desa ......... BAGAN 5 Hubungan Struktural dan Fungsional Antara Desa Dinas Desa Pakraman dan Banjar Dengan Pola Satu Desa Dinas Mencakup Beberapa Desa Pakraman........…………….... FISIP UI...xiv 2007............................................................ BAGAN 3 Struktur Desa Pakraman .............................................. DAFTAR GRAFIK GRAFIK 1 Jumlah Kunjungan Masyarakat ke Puskesmas Pembantu Tahun 2004 ........................ Analisis pelayanan ............. I Wayan Suarjaya......

Dikatakannya bahwa Inlandsche Gemeente Ordonnantie Java en Madoera . Pasal tersebut mengakui otonomi satuan masyarakat hukum adat. Bagi satuan-satuan masyarakat hukum adat di luar Jawa dan Madura diatur dengan Inlandsche sesuai Gemeente Ordonnantie Buitengeweten. stb 1913 No.Ordonnantie tersebut tidak diberlakukan pada masa penjajahan Jepang. the care of public welfare 4 Ordonans i Pemerintah Hindia Belanda mengakui otonomi desa dan membiarkannya sebagai “ the little republics ” di bawah kepalanya sendiri dan campur tangan Pemerintah Hindia Belanda kecil. A Comparative Study of Burma and Netherlands Indie. Schrieke sebagaimana dikutip Bayu Suryaningrat. ordonansi tersebut dirancang untuk memperkuat satuan masyarakat hukum tersebut. Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara Republik Indonesia. Gubernur Jenderal diperintahkan untuk mempertahankan hak tersebut terhadap segala macam pelanggarannya. masyarakat itu disebut oleh Pemerintah Hindia Inlandsche Belanda dahulu dengan istilah Gemeenten. Satuan-satuan tersebut dengan pelbagai nama. Jakarta: Timun Mas 1960. artinya dari ordonansi atau reglemen dan aturan residen atau peraturan lokal. dan Temukung di NTT.591. hal 284. Pertama.235 dan stb 1919 No.. 1956. 2 . dengan persetujuan pemerintah Gewest .S Furnivall. dengan Stb. Ichtisar Perkembangan Otonomi Daerah 1903–1908. I Wayan Suarjaya. 2007.J. and enable local officials to cope with their main function. (b) peraturan Hoofd van Gewestelijke Bestuur dan (c) peraturan daerah otonom yang terbentuk dengan ordonnantie .J. ‘to stimulate social growth. Kedua. 65 3 Amrah Muslimin. 1976. Wolholf. Gampong di Aceh. ialah wewenang untuk mengatur dan mengurus urusan rumah tangganya. 2 Pengaturan lebih lanjut bagi satuan-satuan masyarakat hukum adat tersebut dilakukan dengan ordonansi yang berbeda. Furnivall. ialah pemilihan kepala desa dan pamong desa.. Marga di Sumatra Selatan. untuk mengatur dan mengurus rumah tangga sendiri dengan memperhatikan (a) peraturan Gouverneur Generaal . Dasan di Satuan-satuan Lombok. hal. . 1 Dalam kaitannya dengan otonomi desa dikatakan oleh J. 241 Analisis pelayanan . Aturan-aturan ini kemudian diganti dengan stb..83 jo stb.256 yang disebut Desa Ordonnantie .. Nagari di Sumatra Barat. Jakarta. Pengakuan Belanda terhadap satuan masyarakat tersebut di wilayah yang dikuasainya tertuang dalam pasal 71 Regeringsreglement 1854 yang kemudian diubah menjadi pasal 128 Indische Staatsregeling 1924. Penerbit Djambatan 1960.BAB I PENDAHULUAN A. misalnya Desa di Jawa dan Bali. Satuan masyarakat hukum adat tersebut terdapat baik di dalam swapraja maupun di wilayah yang dikuasai langsung oleh Belanda ( direct gebied ). New York University Press. dengan memperhatikan 1 G. hal 11 4 JS.217. peraturan yang dibuat oleh Gubernur Jenderal dan pemerintah Gewest .1906 No. Huta di Tapanuli. 3 Masyarakat hukum adat yang beraneka tersebut dalam disertasi ini disebut desa.. Colonial Policy and Practice. hal. 2 Bayu Suryaningrat. Bagi satuan masyarakat hukum adat di Jawa dan Madura diatur dengan sesuai dengan stb. Latar Belakang Di Indonesia terdapat satuan-satuan masyarakat hukum adat yang menyelenggarakan pemerintahan daerah.490.. Menurut J. Pemerintahan dan Administrasi Desa.1910 No. bahwa: Kepada desa dijamin dua hal.1938 No. FISIP UI. Bandung: PT Mekar Djaya.both to strengthen the village community and to adapt it to the modern world.1941 No.

FISIP UI. Daerah-daerah itu mempunyai susunan asli.12 3 Analisis pelayanan . 22 Tahun 1948 akan menggabungkan desa. and the increasing welfare and prosperity must be largely ascribed to the village government. Berbeda dengan kondisi di zaman Hindia Belanda. Risalah Sidang Badan of recent years. Gadjah Mada University Press. maka Undang Undang No. hal 11 . Perubahan Sosial di Yogyakarta. under Dutch practices. Bahkan dalam penjelasan undang-undang tersebut ditegaskan bahwa titik berat otonomi daerah diletakkan pada desa. New York: Cornell University. 1992. Dalam undang-undang ini desa dijadikan 5 Selo Soemardjan. bahwa: The desa is placed within the circle of modern government not drawn out of it as was the case in the past. hal 140 7 Sekrertariat Negara Republik Indonesia. 6 Furnivall. tetapi Belanda membiarkan desa tetap statis. negeri di Minangkabau. Sekretariat Negara RI. dusun dan marga di Palembang dan sebagainya. 4 . Yamin mengenai keberadaan desa di alam kemerdekaan. That the village had been bound. 22 Tahun 1948.” 6 Pemerintah Desa dipandang sebagai “ pemelihara ( palladium ) perdamaian ”. Sementara M.. Penggabungan desa tersebut disarankan oleh Soetardjo Kartohadikoesoemo sebagai desapraja dengan cara penyerahan wewenang di lapangan tatapraja ( staatsrechtelijke bevoegdheden ) kepada desapraja.22 tahun 1948 tentang Pemerintahan Daerah. I Wayan Suarjaya. Cetakan ke II. djelaskan juga oleh Gerald S.. hal 218. Maryanov. and that it often happened that the dead rules were brought to life again. walaupun Belanda mengerti bahwa desa adalah sendi negara. 10 Gerald S.. It is perhaps appropriate to observe here that the struggle in Indonesian life for an adjustment between tradition and innovation is probably not going to be resolved by a clear out victory of one or the another. 10 Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) 29 Mei 1945 – 19 Agustus 1945. Yamin berpendapat perlu pembahasan mengenai desa secara seksama di luar UUD: apakah pemerintah desa perlu diseragamkan di seluruh Indonesia atau akan tetap beraneka ragam diserahkan kepada DPR 8.Dalam pembahasan rancangan undang-undang dasar. Jakarta.. 5 Belanda memegang prinsip bahwa: “the peace (rust) which had been so notable daerah otonom tingkat III di bawah kabupaten. 2007. Kebijakan ini ditempuh agar desa ditarik ke dalam lingkungan pemerintahan modern. . Decentralization in Indonesia: Legislative Aspects... 8 Ibid. Op. Maryanov. by adat rules which were in reality already dead. hal 78.. hal 150 9 Ibid. Penjelasan pasal 18 UUD 1945 butir II menjelaskan bahwa: Dalam teritoir Negara Indonesia terdapat lebih kurang 250 zelfbesturende landschappen dan volksgemeenschappen . 9 Setelah proklamasi kemerdekaan. 1957. Seperti dalam penjelasan Undang Undang No. pengaturan tentang desa tersebut dilakukan dengan Undangundang No. 1981. cit. hal 153 Jumlah desa sangat banyak dan luasnya belum mencukupi untuk dijadikan daerah otonom terbawah. terdapat perbedaan pendapat antara Soepomo dan M. Soepomo berpendapat bahwa desa dengan susunannya yang asli perlu dihormati dan seperti daerah swapraja dijadikan daerah istimewa 7. seperti desa di Jawa dan Bali.. Sesuai dengan aspirasi pasal 33 Undang Undang Dasar 1945 agar tercapai kemakmuran maka kemakmuran dimaksud harus dimulai dari desa. dan oleh karenanya dapat dianggap sebagai daerah yang bersifat istimewa.

b.. It is a territoial unit very different in character from say Nagari of Minangkabau partly based on kindship or the Marga of South Sumatra. peradilan dan bahkan pertahanan. Dalam upaya pembentukan Dati III. melainkan mengakui ( constateren ) kesatuan-kesatuan masyarakat hukum yang telah Soetardjo Kertohadikoesoemo. since the desa of Java has no exact counterpart elsewhere. 1958 hal 178 13 J. melainkan hanyalah sebagai bentuk peralihan untuk mempercepat terwujudnya Daerah Tingkat III dalam rangka Undang Undang tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Daerah. dalam Swatantra. Menurut pasal 1 UU tersebut bahwa desapraja ialah kesatuan masyarakat hukum yang tertentu batas-batas daerahnya. Dalam penjelasan umum UU tersebut dikemukakan bahwa: a. the villagecomplex (kelurahan) which subsumed several hamlets under one roof was not natural one and it took place in different regions at different times. Smith. Legge. 19 Tahun 1965 tentang Desapraja. berhak mengurus rumah tangganya sendiri. Desapraja tidaklah merupakan suatu tujuan tersendiri. or even desa in Bali 13 ada di seluruh Indonesia dengan berbagai macam nama menjadi Desapraja. 1957 hal 8 . hal 89. 11 Otonomi desapraja supaya tetap seperti otonomi desa dahulu yang meliputi perundangundangan. 2007. New York. village-complex headmen who are descendants of earlier kings perceive their 14 Penjelasan Undang-Undang Nomer l9 tahun 1965.Dengan demikian desa hanya menjadi masyarakat hukum adat dalam rangka desentralisasi fungsional. FISIP UI. melainkan kelak dapat langsung dijadikan daerah administrasi dari Daerah Tingak III. Kelak bila telah tiba waktunya semua Desapraja harus ditingkatkan menjadi Daerah Tingkat III dengan atau tanpa menggabungkannya lebih dulu mengingat besar kecilnya berbagai Desapraja itu.9 12 Soetardjo Kertohadikoesoemo. Tahun ke II nomor 3. kepolisian. c. memilih penguasanya dan mempunyai harta benda sendiri. Central Authority and Regional Autonomy in Indonesia: A study in Local Administration 1956-1960. traditional customary law (adat) varies wedely across regions impinging heavily on such important resources at authority and status.. Tahun ke I nomor 2. Konsepsi Hatta. Ithaca. In the Luwu district of South Sulawesi. Legge tentang pemakaian istilah desa. Kesulitan yang dihadapi tercermin pada kritik J D. Pemerintah menghadapi kesulitan besar dalam pembentukan daerah otonom tersebut. I Wayan Suarjaya. 14 Kebijakan penyeragaman desa yang ditempuh oleh Undang Undang No. It was unfortunate that the term desa was used in law 22. 12 Pembentukan desa sebagai Daerah Tingkat III ternyata tidak dapat terealisasikan. First. 11 Generalization concerning Indonesian village structure and functions are risky. Bentuk Pemerintahan Desapraja. 5 Analisis pelayanan . tidak dijadikan Desapraja. 6 . diundangkan UU No. Second. D. 19 Tahun 1965 juga dikritisi oleh Theodore M. There are a number of reasons for this. Undang Undang 1965/19 tidak membentuk baru Desapraja.. pemerintahan.. Cornell University Press 1963. dalam Swatantra. Kesatuan-kesatuan masyarakat hukum lainnya yang tidak bersifat teritorial dan belum mengenal otonomi sebagaimana terdapat di berbagai bagian wilayah Indonesia (daerah administratif).

The Village Community Resilience Board received its funding from the Department of the Interior and is under the jurisdiction of Regional Planning Bureaux (MacAndrews 1986) Third. hal 42 -43 15 16 Hans Antlov. Change and Productivity.. Pertama. Hans Antlov mencatat dua tujuan resmi ditempuhnya kebijakan tersebut. Monograph Series. whose members are approved by higher authorities (Schulte Nordholt 1987b:60). The village head can no longer act independently of the sub-district chairman. the status of the village government in relation to the national and provincial governmental apparatus is still ambiguous in some cases.Dalam masa Orde Baru. that law was promulgated during the “old order” of President Sukarno and all three governors have deviated from it without fear of embarrassment. the autonomous Village Social Board was replaced by the Village Community Resilience Board (Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa-LKMD). 43. 2007.. village councils were replaced by the Village Assembly (Lembaga Musyawarah Desa). There has been pressure to make it part of the national administrative system by designating it the thrird level (tingkat III) of the decentralized system following the province (I) and the regency (II). Dengan Undang-Undang No. 8 .. 1995. ‘faithful and devoted to Pancasila and to the 1945 constitution’. Second. Exemplary Centre. while Indonesia does have a basic law for government at the village-complex level (Law No. The sub-district chairman can reject any decision he regards as conflicting with higher regulations. with members appointed by the village headman and approved by sub-district officials. Desa-desa diseragamkan dan disinkronisasikan. Fourth.. I Wayan Suarjaya. No. The Indonesian Bureucracy: Stability. Menurut Hans Antlov terdapat tiga komponen untuk mencapai tujuan tersebut. 15 First. 68. 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa dibangun hubungan yang jelas antara Pemerintah Desa dengan Pemerintah Pusat. the village headman and his staff were made the government’s direct representatives in the village. The village administration has become miniature replicas of the central government. 16 Reformasi mengakibatkan yang melanda Indonesia pergeseran paradigma dalam Theodore M. dissertation. Smith. the publik interest or Pancasila. menstandardisasi variasi pemerintahan desa di Indonesia. he must seek approval from the sub-district for decisions on a wide range of matters. but this change has not yet materialized except for some experimental attempts in Surakarta and Jogjakarta . hal. 19 of 1965). The village government became dependent on higher authorities for directives and funds. kebijakan penyeragaman desa makin ditingkatkan. Third. Sub-district officials often attend Village Assembly meetings to ensure that decisions are in accord with the demands of higher authorities. FISIP UI. Kedua. Administrative Periphery: Rural Leadership and the New Order in Java. untuk membawa berbagai urusan desa di bawah pengawasan dan kendali pemerintah yang lebih atas. 7 Analisis pelayanan . Nordic Institute of Asian Studies. Decicions taken by the Village Assembly must be approved by the sub-district office before they gain legal status. role and function in term far different from the Minangkabau trader who has become a village headman in West Sumatera. enforcing decrees and policies determined from above.

dan fokusnya. yang mempunyai susunan asli berdasarkan hak asal-usul yang bersifat istimewa. 18 Sirtha. 2007. I Wayan Suarjaya. sehingga berguna bagi masyarakat. Fakultas Hukum Universitas Udayana. Istilah desa dalam undang-undang yang baru disesuaikan dengan kondisi sosial budaya masyarakat setempat seperti nagari. partisipasi. kampung.. 9 Analisis pelayanan . otonomi asli. Penelitian tersebut memberikan sumbangan yang besar untuk penelitian 17 Kerama Desa adalah anggota yang tercatat dalam Desa Pakraman sesuai dengan ketentuan peraturan dalam Awig – awig Desa setempat. huta . yang mempunyai tugas pelayanan publik . Pada masa kemerdekaan lembaga kedinasan tetap berfungsi dalam pemerintahan desa menjadi Desa Dinas 18. Sejak itu terjadi dua jenis Desa yang memberikan pelayanan publik di Bali. Dienst mempunyai tugas mewakili pemerintahan Hindia Belanda dalam melaksanakan pemerintahan kedinasan di Desa. Dampak dari kebijakan nasional terhadap desa-desa tertentu acapkali berbeda.. 5 Tahun 1974 tentang Pemerintahan di Daerah menjadi Undang.. B. 10 . 3 Tahun 1997. Desa Pakraman mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. 17 Pada mulanya Belanda mengakui Desa Pakraman melalui Inlandsche Gemeente Ordonnantie Buitengeweten (IGOB ) . memberikan layanan dalam bidang keagamaan dan sosial budaya kepada masyarakat serta pembangunan. bari dan marga ..penyelenggaraan otonomi daerah. Kebijakan pemerintah bagi desa-desa dalam masyarakat tertentu yang menarik untuk dijadikan objek kajian yaitu Desa Pakraman dan Desa Dinas di Bali. Dua jenis Desa tersebut hingga kini masih berlangsung. FISIP UI. diberdayakan dan dilestarikan serta dikembangkan. Desa Pakraman bekerja dengan hukum adat . Berbagai penelitian tersebut juga berbeda dalam dimensi kurun waktu. Dalam perkembangan selanjutnya. pada pemerintahan Hindia Belanda ( berdinas/bertugas ) yaitu dikenal istilah dienst seorang pejabat di desa. telah banyak dilakukan dari perspektif keilmuan yang berbeda. hal 4. Kebijakan yang tertuang dalam Undang-Undang No. Permasalahan Penelitian tentang desa. Serangkaian kebijakan yang tertuang dalam berbagai undang-undang tentang Desa berlaku secara nasional. 22 Tahun 1999 diteruskan dengan Undang-Undang No. memberikan pengakuan terhadap Desa Adat yang ada. Desa Pakraman. I Nyoman. dan peraturan Daerah setempat. Anggaran bagi kegiatan tersebut diperoleh dari warga / krama desa. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Pengertian Desa dalam undangundang ini adalah Desa atau yang disebut dengan nama lain sebagai suatu kesatuan masyarakat hukum. Paradigma penyeragaman otonomi daerah berubah menjadi paradigma kemajemukan penyelenggaraan otonomi daerah melalui perubahan Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. sedangkan Desa Dinas bekerja dengan hukum tertulis yang telah ditetapkan oleh Pemerintah.Undang No. Hal ini menarik untuk diteliti dari dimensi administrasi publik. demokratisasi dan pemberdayaan masyarakat. nusa dan bangsa. Pada zaman sebelum penjajahan Belanda di Bali terdapat Desa Pakraman . Landasan pemikiran dalam pengaturan mengenai Desa adalah keanekaragaman.Hal yang diatur. locus.

.disertasi ini. 438. melaksanakan desentralisasi. Telaah Ibid.. Berbagai kebijakan dan pengaturan desa ditempuh secara sentralistik. Penelitian Yan Breman menunjukkan bahwa desa di Jawa merupakan konstruksi kolonial. 21 Abdul Rosaki dkk. Yogyakarta. Lebih dari 60 persen penduduk Indonesia bertempat tinggal di desa. otonom. b. Prakarsa Desentralisasi dan otonomi Desa. maka Rosi mengemukakan perlunya Prakarsa Desentralisasi dan Otonomi Desa. pemerintah kolonial mengeluarkan Regeringsreglement 1854. Kebijakan pengaturan tentang Desa secara sentralistik banyak dikritisi dalam berbagai penelitian. 2005 hal xi -xiii 19 c. IRE Press. desa (yang memiliki tanah dan penduduk) selalu menjadi medan tempur antara negara. Hal ini didasari pada berbagai pertimbangan: a. Kekeliruan dalam orientasi pembangunan desa. adil. 20 Berbagai perubahan undang-undang yang mengatur desa semasa kemerdekaan. Sketsa Perjalanan 100 Tahun. Di tingkat desa. Masa Kini dan Masa Depan. kapital. Zaman Orde Lama. melainkan menyerupai patahanpatahan proyek jangka pendek. suara desa membahana di seluruh pelosok negeri. Padahal Indonesia sudah lama masyarakat eneraponesiakan model perencanaan dari bawah Selama lima tahun terakhir ( bottom-up ). c. Penelitian ini kurang mengungkap peran desa dalam menyejahterakan warga desanya. pembangunan desa berarti pembangunan fisik dan kekayaan yang kemudian juga menjadi ukuran sukses bagi kehidupan masyarakat. Selama lima tahun terakhir masalah desa tengah bergolak. 19 Setelah intervensi dan eksploitasi Belanda terhadap desa berlangsung mapan. Design berbagai kebijakan dan program pembangunan desa tidak diterapkan secara berkelanjutan. yang menuntut desentralisasi dan otonomi desa 22. 12 . xvii – xix. Orde Baru. 21 mengemukakan kegagalan kebijakan dan pengaturan tentang desa disebabkan kekeliruan dalam empat hal: a. Konstitusi maupun regulasi negara memang telah memberikan pengakuan terhadap desa sebagai kesatuan masyarakat hukum ( self-governing community ). Berbagai peraturan dan kebijakan pihak kolonial merupakan intervensi yang intensif terhadap desa. 2007. e. Comparative Asian Studies Program Social Science Faculty.. Kekeliruan paradigma (cara pandang) terhadap desa. Yan Breman. Dari sisi ekonomi politik. d. hal. FISIP UI. Erasmus University Rotterdam Hal.. dan masyarakat. Desa jawa dan Negara Kolionial. 1 20 Sutoro Eko.ILD Jakarta 2005 hal. Penelitian Abdul Rosaki dkk. Secara historis desa-desa (atau nama lainnya) telah lama ada di Indonesia sebagai kesatuan self-governing masyarakat hukum atau community yang memiliki sistem pemerintahan lokal berdasarkan pranata lokal yang unik dan beragam. tetapi pengakuan ini masih bersifat formalistik ketimbang substantif. Pasal 71 RR 1854 menegaskan tentang kedudukan dan otonomi desa. I Wayan Suarjaya. 22 11 Analisis pelayanan . d.Dalam Pasang Surut Otonomi Daerah. Mempertimbangkan pelbagai kegagalan tersebut.. pengaturan tentang Desa cenderung menyeragamkan Desa. Hasil penelitian terdahulu akan disajikan sebagian dari penelitian-penelitian tersebut. dan seragam. “ Otomomi Desa Masa Lalu. Pemerintah dianggap tidak mengusung paradigma pembaruan desa untuk membawa perubahan desa menuju kondisi yang lebih sejahtera. b.. mandiri dan demokratis. Pasal tersebut menjadi landasan terbitnya Inlandsche Gemeente Ordonnantie dan Inlandsche Gemeente Ordonnantie Buitengeweten . TIFA .

14 . Disertasi. Ketiga. (2) kontrol negara terhadap pasar. (11) responsibility . Para penganutnya tidak pernah melihat secara kritis bahwa rakyat miskin hidup dalam konteks struktur sosial. APMD Yogyakarta bejkerjasama dengan The Ford marginalisasi desa. 117 28 Fahmi. Dari perspektif administrasi publik penelitian Erwin Fahmi 28. dari perspektif ekonomi politik. Erwin. hal. menunjukkan involusi dan 23 Sumarjono dalam Gregorius Sahdan.. hal.. Jambi. Jawa Barat Pada Masa Awal Penerapan Otonomi Daerah 2000 – 2001. 13 Analisis pelayanan . Dan Kontribusinya Bagi Administrasi Publik. Ada aktor negara dan modal di luar rakyat miskin. hal xv. keterbelakangan. Hasil penelitian tersebut meliputi berbagai perspektif. pembaharuan desa tidak mempunyai model tunggal dan mujarab. Kabupaten Sukabumi. Pertama. penelitian peranan elit dalam pembaruan desa dilakukan oleh Iberamsyah dari sudut ilmu politik.. Hasil penelitian Chandra dkk tersebut dinilai oleh Iberamsyah mengabaikan peranan elit dalam pembangunan desa 26. ketertinggalan. Pertama. (5) di atas desa. fatalisme. Pandangan budaya kemiskinan menyebabkan kaum miskin tidak berdaya untuk berjuang sendiri mengatasi kemiskinan. Persembahan 40 Tahun STPMD APMD. 26 27 Foundation. yang mengatakan bahwa rendahnya kesejahteraan atau tingginya angka kemiskinan rakyat desa akibat dari kebodohan. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Iberamsjah Elit Desa Dalam Perubahan Politik Kajian Kasus Ibid. ekonomi politik yang lebih besar darinya. Ketimpangan posisi dan peran desa misalnya dilihat dari berbagai sudut. yang harus dilihat untuk memahami kemiskinan 24. kelompok elit desa yang posisinya semakin menguat pengaruhnya dalam pembentukan opini dan sikap masyarakat. 2005. Pengaturan Dan Pengurusan-Sendiri Di Desa Pulau Tengah. (3) demokratisasi yang membuat democratic governance development state . Program Pengambilan Keputusan di Desa Gede Pangrango. STPMD. Op. cit hal. Penelitian Iberamsyah di Desa Pangrango. Setidaknya ada dua belas konsep pembaharuan desa yaitu: (1) desentralisasi. 24 Abdul Rosaki dkk. (8) Fair trade .. Kedua. (7) pertumbuhan pemerataan dan keadilan. Kedua. xiv – xv. (10) corporate social pembangunan sosial. Manifesto Pembaharuan Desa. (6) pemberdayaan dan partisipasi. I Wayan Suarjaya. Transformasi Ekonomi Politik Desa. Kajian mengenai pembaharuan desa dikemukakan oleh Chandra dkk 25. kelompok elit desa yang posisinya tetap bertahan seperti sebelum terjadi perubahan. Tetapi pendekatan budaya kemiskinan itu mengandung banyak kelemahan.. xxxi – xli. Disertasi. dan adanya ketimpangan posisi dan peran desa. dan lain-lain. FISIP UI. Dalam mengisi keterbatasan penelitian Chandra dkk tersebut. Kecamatan Kadudampit menemukan perubahan konstelasi desa yang telah mendorong pembangunan baru dalam aspek posisi dan pengaruhnya di masyarakat 27. (12) modal sosial. Kecamatan Kadudampit. APMD Press. dari pandangan budaya ( culture ).mengenai desa juga dilakukan oleh Sumarjono dkk 23 yang mengemukakan bahwa di desa telah terjadi mobilitas sosial tanpa tranformasi. 2002. dilihat dari demografi yang menyatakan bahwa laju pendapatan penduduk mengikuti deret hitung. sehingga dalam meningkatkan kesejahteraan patut didampingi dan dilindungi. Kedua. 2007. (4) pertumbuhan berkelanjutan. xxxviii 25 Ade Chandra dkk dalam Sutoro Eko eds. Lazarus Revassy 29. Kajian mengenai Transformasi Ekonomi Politik Desa juga cenderung mengabaikan wacana desa dalam pelayanan publik yang diberikan kepada masyarakat. kemalasan. Perubahan tersebut terdiri atas pertama. APMD Press. 2003 hal. kelompok elit desa yang posisinya semakin berkurang atau cenderung melemah. (9) ekonomi rakyat. Indonesia. sementara laju pertumbuhan penduduk mengikuti deret ukur jauh lebih cepat.

16 . Revassy. Suku bangsa akan membangun hubungan antar suku bangsa dengan mengacu pada atribut dan 32 33 Fahmi. baik penyepakatan aturan-main maupun pelaksanaannya. yang berada di desa HarapanKwamki Lama. komuniti pada lingkungan yang menempatkan keselamatan dan kelangsungan hidup bersama sebagai tujuan kolektif tersebut 31. v – vi. Selain memiliki aparat adat. FISIP UI. Op. Universitas Indonesia. hal. dan (3) hakikat kesukuan. keluarga. masing-masing varian tadi dilihat sebagai perekat yang memberikan dukungan yang berarti sesuai dengan perannya masing-masing 33. Keterbatasan penelitiannya adalah mengabaikan peranan administrasi desa dalam pelayanan publik di desa. Kontinuumnya wilayah individu. keluarga. Op. hal.. Op. 29 Revassy. 15 Analisis pelayanan . Timika. Penelitian Revassy mengenai Administrasi Pemerintahan Lokal di Papua menemukan tiga varian yang menjadi isu dominan.. 2007. varian program-program pembangunan akan berperan dengan baik apabila mendapat dukungan dan tanggapan dari varian administrasi lokal dan kesukubangsaan. Dasar hukum pengaturan dan pengurusan sendiri adalah DGR. tenaga kerja (anak ladang). Program Studi Ilmu Administrasi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik. yaitu Depati Gento Rajo (DGR) dan perangkatnya. 30 Isworo. Disertasi. cit.dan Walujo Iman Isworo 30 akan melengkapi penelitian tentang desa. Bidang kelola yang luas ini dimungkinkan karena kontinuumnya wilayah privat – publik dan individu.cit. I Wayan Suarjaya. dan adanya komiditi yang relatif menguntungkan 32. Pengaturan dan pengurusan sendiri di desa Pulau Tengah juga berjalan karena keterlibatan warga adat. Artinya varian administrasi pemerintahan lokal akan berjalan secara efektif apabila mendapat dukungan dari varian-varian program pembangunan.. Disertasi. 2002. menyediakan barang/jasa dan CPR ( common-pool resources ). Universitas Indonesia. komuniti juga berimplikasi pada organisasi pengaturan dan pengurusan sendiri. vi. Ketika berbicara tentang efektifitas pemerintahan desa dalam kaitan dengan kepentingan umum ( publik goals ). cit. Penelitian Erwin Fahmi menemukan bahwa pengaturan dan pengurusan-sendiri yang berjalan di desa Pulau Tengah Jambi. Masing-masing (1) administrasi pemerintah lokal. hal.(2) program-program pembangunan yang melekat dengannya. 2002 31 Fahmi. Demikian sebaliknya. dan varian kesukubangsaan.. selain sampai tingkat tertentu barang/jasa privat dan toll goods. Pemberdayaan Organisasi Lokal Tingkat Desa Sebuah Studi Di Desa Harapan – Kwamki Lama. Tiga varian tersebut mempunyai hubungan fungsional yang saling “mumpuni”. Program Studi Ilmu Administrasi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik. 452. Kajian dinamika pengaturan dan pengurusansendiri menunjukkan bahwa reproduksi institusi anak ladang – induk semang (AL-IS) terjadi terutama karena desakan dari dalam yaitu keinginan untuk menarik manfaat dari proses komersialisasi dari proses pertanian yang berlangsung. dan rangsangan dari luar berupa terbukanya pasar. Tarik ulur tiga varian di atas dalam perspektif pembangunan kesukuan dengan mengacu pada konflik sosial yang digelar di desa Harapan Kwamki Lama pada hakikatnya ingin mendeskripsikan secara sistemik atau holistik masing-masing varian.. Administrasi Pemerintahan Lokal Irian Jaya. Lazarus. 2002. Kabupaten Mimika. (Kajian Tentang Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD) di Kabupaten Daerah Tingkat II Banyumas). demikian pula halnya dengan varian suku bangsa. Walujo Iman.. Universitas Indonesia. Keunggulan penelitian Fahmi adalah difokuskan pada pengaturan dan pengurusan sendiri desa dalam menyediakan barang/jasa. ketersediaan Studi Ilmu Administrasi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik.

cit. Perspektif Sosio – Legal. Pustaka Bali Post. tidak sesuai dengan konsep organisasi lokal dengan prinsip dari masyarakat. saling menghormati. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Kelebihan dari penelitian ini adalah menekankan pentingnya modal sosial dalam kerangka otonomi desa. di samping belum terlaksanannya sub-sub elemen yang lain. maka pembangunan akan berhasil 34. 35 34 mengungkapkan. Desertasi Program Doktor Ilmu Hukum. Op. Eksistensi Desa Adat dan desa Dinas di Bali. 2007. tetapi juga otonomi masyarakat desa dalam menentukan diri dan mengelola apa yang dimiliki untuk kesejahteraan sendiri. Semarang. saling berbagi. Hasil penelitiannya menyatakan bahwa 37 38 Surpha. dari berbagai perspektif telah banyak dilakukan. Kenyataannya kebijakan keseragaman sangat dominan.28 tahun 1980. 2004 hal. meneliti tentang Eksistensi Desa Adat dan Desa Dinas di Bali ditinjau dari aspek hukum adat. Baik untuk kalangan masyarakat maupun tokoh masyarakat akan tetapi kadar hubungannya lemah. Organisasi lokal LKMD belum berfungsi dengan baik karena kombinasi faktor kepemimpinan dan campur tangan birokrasi. Pelembagaan kegiatan-kegiatan sosial masyarakat desa juga menunjukkan kemandirian.simbol sebagai upaya mencari jati diri atau identitasnya. 36 Kushandajani.. otonomi desa bukanlah menunjuk pada otonomi pemerintah desa sematamata. Sementara itu penelitian mengenai desa di Bali. .. dan paternalistik.. transformasional. I Wayan Suarjaya. 219. Penguatan modal sosial dilakukan melalui tiga komponen: jaringan sosial. FISIP UI. dalam meneliti Pemberdayaan Isworo 35 Organisasi Lokal Tingkat Desa menemukan terdapatnya hubungan antara elemen organisasi dengan elemen masyarakat. norma sosial. tumbuhnya emosiemosi positif bagi pembangunan desa yang lebih baik. Dimensi sosial masyarakat desa masih memiliki otonomi dalam melaksanakan tradisi nenek moyang sendiri. Universitas Diponogoro. hal. dan sanksi 37. Padahal karakteristik satu daerah dengan daerah lain tidak sama. cit. Organisasi Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa sesuai Keppres No. hal. 24 Ibid. Dalam realitasnya melalui sarana legal atau hukum (dalam bentuk perundang-undangan) pemerintah supra desa (terutama pemerintah kabupaten) mengatur dan menuntut ketaatan desa. hal. Organisasi lokal Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa yang mandiri atau dengan sebutan lain masih diperlukan keberadaannya. Otonomi Desa Berbasis Modal Sosial. Hasil penelitiannya Revassy. bahwa esensi dari otonomi desa adalah manakala kewenangan pembuatan kebijakan sekaligus implementasinya ada di tangan desa. Hal ini perlu dipertahankan dan selanjutnya diberdayakan. Hasil penelitian terbaru yang dilakukan oleh Kushandayani 36 di Semarang dari perspektif ilmu hukum. 18 . Apabila mendapat dukungan dari varian administrasi pemerintahan lokal dan programprogram pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah desa. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. 473. Op. Keterbatasannya adalah belum dikemukakan mengenai bagaimana pola pelayanan publik di Desa yang didasarkan pada modal sosial. Bagi masyarakat desa. I Wayan. Melalui social capital terbentuk rasa saling percaya.. 2006. Pemberdayaan masyarakat desa menuntut adanya tipe kepemimpinan partisipatif. Isworo. 390 – 391. I Wayan Surpha 38. 17 Analisis pelayanan . oleh masyarakat serta untuk masyarakat. Walujo Iman. Kegiatan-kegiatan sosial budaya itulah yang membentuk social capital masyarakat desa.

hal. yaitu mengakui desa sesuai dengan hak asal-usulnya. prinsip wilayah dan memiliki tujuan bersama. Penelitiannya mengungkapkan bahwa desa Trunyan adalah desa yang sangat tradisional. Adanya upaya untuk penyeragaman desa di seluruh Indonesia. mulai sejak itulah ada dua jenis desa di Bali 42.. I Gede. 41 Parimartha.5 tahun 1979.. tugas pokok dan fungsi desa. karena Desa Dinas dibentuk oleh pemerintah kolonial.. lebih banyak dilihat dari persepektif historis.22 tahun 1999. desa dimanfaatkan untuk kepentingan pemerintahan kolonial. FISIP UI. Dalam tulisan ini belum diuraikan tentang pelayanan publik oleh kedua jenis desa tersebut. mulai dari pembentukan desa. Fakultas Sastra Universitas Udayana. diuraikan tentang desa. 43 James Danandjaya. Pada masa pengaruh kekuasaan raja – raja Majapahit. hanya ada Desa Pakraman yang mengatur pemerintahan desa. Desa Pakraman tumbuh dari bawah dibentuk dengan prinsip hubungan kekerabatan atau genealogis. Kelemahannya belum mengangkat secara rinci pelayanan publik yang dilaksanakan oleh Desa Pakraman dan Desa Dinas. hal. Desa Pakraman di Bali Tinjauan Historis Kritis.(2) prinsip tinggal dekat atau teritorial. 14. pengaruh raja semakin kuat masuk ke dalam desa. Jakarta. Desa Dinas. Desa ini mempunyai berbagai macam keunikan. dengan diberlakukannya Undang–Undang Nomer 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Desa Pakraman mendapat kesempatan dan peluang untuk tampil dalam memberikan pelayanan publik. sampai dengan jaman reformasi. 20 . hal 24. 40 Hasil penelitian tersebut hanya menitik beratkan pada kekuasaan serta pengaruh pemimpin Desa Pakraman dan Desa Dinas terhadap pemerintahan desa. sesuai dengan Undang-Undang No. dan diberlakukannya Peraturan Daerah Bali Nomer 3 Tahun 2001 tentang Desa Pakraman . I Gede Parimartha menulis tentang Desa Pakraman dan Desa Dinas ditinjau dari segi historis.490 jo Stb. Sejalan dengan penelitian tersebut di atas. Pada mulanya sebelum kedatangan pemerintah Kolonial Belanda di Bali. Ahli Antropologi James Danandjaya 43 melakukan penelitian tentang petani di Desa Trunyan Bali. 1989.1938 No. Tata cara Ibid. mulai dari terbentuknya desa. pasang surut tugas pokok dan fungsi desa. kedua jenis Desa tersebut diteruskan berjalan berdampingan.. Universitas Indonesia Press. Desa Pakraman diatur berdasarkan awig-awig dan perarem sedangkan Desa Dinas diatur berdasarkan stb. Diberlakukannya Undang-undang No. dan (4) prinsip hubungan dari atas (raja) atau pemerintah. Kedua lembaga itu dibiarkan hidup berdampingan. hal. Pada masa kemerdekaan sampai dengan pemerintahan Orde Baru. I Wayan Suarjaya. 611.. Masuknya penjajahan Belanda. terjadi perubahan sistem pemerintahan. hal 16 42 Ibid. 41 Klasifikasi prinsip hubungan dari atas (pemerintah). Hasil penulisan tentang desa tersebut. 2007. Desa Perkembangan selanjutnya peranan Pakraman agak melemah karena adanya pengaturan secara sentralistik. atau genealogis. Memahami Desa Adat. Denpasar. (1) prinsip hubungan kekerabatan. 2003. 19 Analisis pelayanan .681 39.peranan Desa Pakraman dan Desa Dinas mengalami pasang surut. memenuhi kriteria munculnya Desa Dinas di Bali. Sejak pemerintahan Hindia Belanda. (3) prinsip tujuan bersama. dibentuk lembaga baru yang berfungsi untuk menangani pemerintah Kolonial dengan istilah Inlandsche gemeenten yang saat ini disebut dengan Desa Dinas. 12 Ibid. Munculnya desa ada empat 39 40 klasifikasi pokok yang mendorong yaitu. Kebudayaan Petani Desa Trunyan di Bali.

45 Ibid. 45 Agung dan Purwita 46 meneliti tentang Peranan Adat Dalam Menunjang Usaha-usaha Pembangunan . pola menetap dan sebagainya. serta menunjang pembangunan di segala bidang 47. yang artinya kuburan khusus untuk kerama Desa Pakraman setempat. hal 17 Suardana. Studi kasus desa Ambengan Kabupaten Buleleng. 22 . Majalah Ilmiah pariwisata Universitas Udayana Denpasar Vol. Pengembangan Desa Wisata Berbasis Ekowisata dan Kerajinan Rakyat. 46 Agung. Desa Pakraman berfungsi mengayomi. terutama perijinan. 2007. Peranan Bendesa prajuru dan Kepala Desa dengan beserta perangkatnya mendukung pengembangan Pariwisata Desa Ambengan. Pemantapan Adat dalam Menunjang Usaha-Usaha Pembangunan. FISIP UI. I Wayan. Hal ini dapat dibuktikan dengan keberhasilan sistem Keluarga Berencana. Berdasarkan letaknya yang jauh dari Ibu Kota Kabupaten. Proyek Pemantapan Lembaga Adat dan 44 tersebut ditekankan pula pentingnya pemantapan adat sebagai filter masuknya budaya asing. 49 Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada sinergi yang baik antara Desa Pakraman dan Desa Dinas tetapi belum dikaji/diteliti tentang Pelayanan yang dilaksanakan oleh kedua desa tersebut. Peranan Desa Dinas lebih banyak dalam melakukan pelayanan di bidang administrasi dan pemerintahan. dan mempengaruhi tatanan hidup masyarakat setempat. adat dan budaya setempat. 18 21 Analisis pelayanan . Jenis pelayanan publik yang dilayani. hal. Wisatawan dapat mempersiapkan diri sekaligus menetapkan pilihannya atas berbagai alternatif rangkaian atraksi untuk wisata yang dilaksanakan oleh Desa Pakraman Ambengan. Semua unsur etnografis ini berkaitan. agama dan adat istiadat setempat. maka arah pengembangan pariwisata diselenggarakan dalam bentuk paket wisata. bahwa berdasarkan analisis SWOT. DATI I Bali...7 No. lebih cepat melalui jalur bahasa agama. 1984. dilakukan oleh I Wayan Suardana 48 meneliti Pengembangan Desa Wisata berbasis ekowisata dan kerajinan rakyat (Studi Kasus Desa Ambengan Kabupaten Buleleng). Keunikan yang lebih spesifik adalah upacara perawatan jenazah yang sangat unik. hal 15 Ibid. diteliti oleh Nyoman Sukma 47 48 Pengembangan Museum Subak. dengan meletakkan secara khusus di bawah pohon Taru Menyan yang ada di Setra 44. Denpasar. Dalam penelitian Setra bahasa bali. membina dan mengembangkan adat dan budaya Bali yang dilandasi oleh filsafat Tri Hita Karana . Desa Ambengan berpotensi dikembangkan menjadi desa wisata dengan berbasis ekowisata.. Kekhususan mengenai unsur-unsur kebudayaan Trunyan antara lain: sistem mata pencaharian.pengasuhan anak yang dipengaruhi oleh latar belakang etnografis seperti lingkungan hidup yang berupa habitat. kepercayaan. Penelitian mengemukakan.1 2005 ISSN 1410-3729.. 2005 hal 13 49 Ibid. Majelis Pembinaan Lembaga Adat Prop. Keberhasilan pembangunan. Adapun arah pengembangannya melalui penyajian atraksi-atraksi seni budaya dengan memanfaatkan potensi Desa Adat berupa potensi budaya. Kartu Tanda Penduduk (KTP) perpajakan dan administrasi pertanahan. AA dan IBP Purwita. kemasyarakatan. hal 211. Penelitian mengenai partisipasi masyarakat desa dalam pengembangan pariwisata di Desa Kemenuh dan Tenganan. (Pakraman) menyatakan bahwa Desa Adat mempunyai posisi yang lebih kuat dalam menunjang aspek pembangunan dibandingkan dengan peranan Desa Dinas. I Wayan Suarjaya. Penelitian desa ditinjau dari perspektif pariwisata. upacara keagamaan. kekerabatan. pengentasan buta angka dan aksara melalui sistem Banjar (perangkat terbawah dari Desa Pakraman ) menunjukan hasil yang optimal.

2007. hal. yakni: parhyangan (tempat suci : Pura Puseh.. 50 RI. khususnya pemuda. Institute for Local Development. Situasi dan kondisi sosial politik yang melatarbelakangi perkembangan Ekowisata di Desa Tenganan lebih menunjang.Arida. Jakarta. Suasana reformasi menciptakan masyarakat lebih terbuka dan bersedia menerima ide baru yang datang dari luar. Pura Dalem dan Baleagung ).hal 35 51 Agung.. Partisipasi Masyarakat Desa dalam Pengembangan Pariwisata. Arsana 52 melakukan penelitian mengenai tata laksana dan pergaulan keluarga desa Adat Selunglung Sebayan Taka . IGKG. keharmonisan antara manusia dengan alam. dan palemahan (wilayah desa) 51. Majalah Ilmiah Pariwisata.Dati I Bali. 2005. 1984 Hal 22. studi kasus Desa Tenganan dan Desa Kemenuh. hal. Masalah pokok yang diangkat dalam penelitian ini adalah: 1. krama adat. dapat dinyatakan bahwa. hubungan yang harmonis di kalangan sesama umat manusia. dan keterbatasan sumber daya53. Tingkat partisipasi dan tanggapan masyarakat di Desa Tenganan lebih menonjol dari pada masyarakat di Desa Kemenuh. Yayasan Tifa. dan self – governing community) sebagai wilayah otonom pemerintahan yang paling bawah melahirkan berbagai isu.Tata Laksana di Lingkungan Pergaulan Keluarga dan Masyarakat Setempat Daerah Bali. Materi Pembinaan Desa Adat. FISIP UI. Sentralisasi dan Desentralisasi Pemerintahan masa Pra Kemerdekaan ( 1903 -1945 ) dalam. Keunikannya adalah tradisi perawatan jenasah tidak dilakukan dengan membakar.39 23 Analisis pelayanan . Ketiga. 14 . Pemilihan lokasi Penelitian Desa Pakraman dan Desa Dinas Wongaya Gede. AA.. I Wayan Suarjaya. Disamping penelitian – penelitian yang disajikan tersebut. I Nyoman Sukma. sedangkan pihak luar hanya berperan sebagai pendamping. b. yang diwujudkan dengan menjaga kelestarian lingkungan hidup. pada pemilihan lokasi penelitian. keamanan dan kesejahteraan masyarakat yang dilandasi oleh filsafat Tri Hita Karana . Majelis Pembina Lembaga Adat Prop. pemerintahan. Penelitiannya mengemukakan bahwa pokok-pokok materi pada pembinaan Desa Pakraman diarahkan keharmonisan di kalangan tokoh-tokoh agama.. Desa Pakraman mempunyai visi dan misi yang sama dalam menciptakan ketenteraman. Isu dimaksud mengenai otonomi desa dari perspektif ketatanegaraan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 52 Arida. 24 . Universitas Udayanan Denpasar 2005. Mencermati pelbagai hasil penelitian terdahulu. 50 Penelitian Desa Pakraman ditinjau dari aspek keagamaan. belum ada yang menelitinya. yang telah menciptakan makhluk hidup serta alam semesta. hubungan manusia dengan Tuhan. Bagaimana pelayanan publik oleh Desa Pakraman dan Desa Dinas ? Arsana. Pasang Surut Otonomi Daerah Sketsa Perjalanan 100 tahun. Desa Kemenuh pertama kali muncul dari pihak eksternal (LSM bidang pariwisata Bali) sehingga rasa ikut memiliki dari warga masyarakat agak kurang. Dalam penelitian tersebut dinyatakan kehidupan yang harmonis ditentukan oleh tiga unsur tata hubungan: Pertama . ekonomi politik. Tingkat partisipasi dan tanggapan masyarakat pada kedua desa penelitian tersebut menunjukkan gejala yang berbeda. 1990. karena memiliki kekhususan tradisi adat budaya yang unik. 53 Soetandyo Wignosubroto. Inisiatif untuk mengembangkan Ekowisata di Desa Tenganan pertama kali muncul dari pihak masyarakat. agar masyarakat . Hal ini akan dijelaskan pula dalam metodologi penelitian. 24. adat dan lokalisme. dilaksanakan oleh Agung. Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor: a. kajian institusi lokal desa (local gavermment. Kajian tentang pelayanan publik oleh Desa Pakraman dan Desa Dinas. dibandingkan desa lainnya. Kedua. dan letak geograpisnya ada di pegunungan. pawongan (anggota masyarakat).

bahwa tujuan pemberian otonomi daerah adalah.. terutama yang berkaitan dengan pelayanan publik oleh kesatuan organisasi pemerintahan terendah (desa). Bagaimana menyinergikan pelayanan publik Desa Pakraman dan Desa Dinas dan jenis pelayanan pulik yang mana saja yang dapat disinergikan? C. New York Harvad Institute for International Development. 22 tahun 1999 diperbaharui dengan UndangUndang No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.Harvad University Press.55 Pemberian otonomi daerah salah satu tujuannya adalah peningkatan kualitas pelayanan publik dan Frederickson.54 Kriteria efisien berhubungan dengan biaya. Savas dan Grindle yang terukur secara efisien.. Sebagai bahan masukan dalam mengungkapkan jenis pelayanan publik oleh Desa Pakraman dan Desa Dinas b. Jossey-Bass Publishers. Disamping itu juga diharapkan dapat bermanfaat bagi masyarakat dalam rangka meningkatkan partisipasi dalam pelaksanaan otonomi desa. serta pemeliharaan hubungan yang serasi antara Pusat dan Daerah serta antar Daerah dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam undang – undang No. Pelayanan publik secara teoritis diharapkan dapat meningkatkan pola pelayanan oleh aparatur pemerintah dari budaya yang dilayani menjadi budaya melayani masyarakat. Hasil penelitian ini kiranya dapat mengkritisi teori dan sistem pelayanan publik yang telah ada dalam rangka meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan yang lebih optimal. Menganalisis pelayanan publik yang bisa disinergikan Pakraman dan Desa Dinas di Desa oleh Desa Wongaya Gede. untuk meningkatkan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat semakin baik. Bahan pemikiran mengenai aspek pelayanan yang dapat disinergikan oleh Desa Pakraman dan Desa Dinas E. terdapat teori dan konsep yang telah dikembangkan oleh para ahli antara lain: Frederickson. pemerataan dan keadilan. responsive dan equity. efektivitas berhubungan dengan ketepatan. 55 Undang-undang No. HG. responsive berkaitan dengan daya tanggap pemberi pelayanan kepada masyarakat yang membutuhkan. equity berkaitan dengan kesetaraan atau keadilan yang diterima oleh penerima layanan. D.l997. efektif..2. 26 .S. The Spirit Of Public Administration. 4. l987. Signifikansi Signifikansi teoritis dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan berupa sumbangan pemikiran. dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Signifikansi praktis penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada Pemerintah Daerah Otonom dan Desa ( Desa Pakraman dan Desa Dinas) dalam upaya menyusun konsep dan strategi pelayanan publik agar dapat dilaksanakan lebih optimal. 96. Secara praktis penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat: a.. menambahkan ukuran responsive. 22 tahun l999 yang disempurnakan dengan undang – undang No. Pradnya Pramita Jakarta hal. Mendeskripsikan pelayanan publik oleh Desa Pakraman dan Desa Dinas di Desa Wongaya Gede. Mengembangkan kehidupan demokrasi. berkenaan dengan pelayanan publik. economis. maka penelitian ini bertujuan untuk: 1. dan economis berhubungan dengan biaya penyelenggaraan pelayanan. hal. I Wayan Suarjaya. l967. San Francisco. 32 tahun 2004 tentang pemerintahan Daerah. 2. sementara itu Grindle M. Kerangka Pikir Dalam rangka menganalisis pelayanan publik. dalam Getting Good Gavernment Capacity Building in the Public Sectors of Deploving Countreis. Tujuan Penelitian Mengacu pada permasalahan sebagaimana dikemukakan di atas. 54 25 Analisis pelayanan . 2007. Hal yang sama diungkapkan oleh Savas. FISIP UI. dalam rangka pengembangan ilmu administrasi publik. dengan menambahkan ukuran equity.

LAN. Kajian mengenai pelayanan publik dilakukan berdasarkan pendekatan kualitatif. adanya Desa Pakraman sebagai self-governing community. Paradigma ini oleh Guba dan Lincoln sebagai seperangkat keyakinan mendasar (a set of basic beliefs)61. kedua sektor privat/swasta. Market and Civil Organization. Ygyakarta 2005. 2007. kedua oleh Desa Dinas sebagai local government.government organization (NGO)/grass root organization/civil institution (GRO). 1994. Joko Purnomo. Desa tidak mempunyai posisi yang clear seperti posisi Daerah. London. Abdur Rozaki. Kajian mengenai analisis pelayanan publik oleh Desa Pakraman. maka local government juga bervariasi60. berdasarkan hak dan kewenangan asal-usul atau adat setempat. Variasi desa ditemukan juga di Bali. dengan menggunakan landasan teori. .. I Wayan Suarjaya. Mac Millan Press LTD London. maka paradigma yang digunakan adalah paradigma konstruktivisme (contructivism).57. tetapi sebagai masyarakat setempat. Posisi Desa tampak ganda dan ambigu. hal. pertama oleh Desa Pakraman sebagai self-governing community. Pada sektor ketiga dalam penelitian ini diangkat pelayanan oleh grass root organization yakni organisasi yang tumbuh dari bawah. tanggal 20 Nopember 2003. The Private Provision and Public Service in Developing Countries EDI Series in Economic Development Published 27 Analisis pelayanan . kesejahteraan masyarakat dalam bingkai prinsip-prinsip good government dan national unity. 2001. sehingga tidak jelas dan sulit. Prakarsa Desentralisasi dan Otonomi Desa. dalam Norman K Denzin and Ivonna S Lincoln ed. G. Uphoff. (1) administrasi pembangunan dan pemberdayaan masyarakat. Pelayanan publik yang dilakukan oleh Pemerintah dewasa ini. Alain de et. Pemberi pelayan publik di akar rumput. Desa tidak mempunyai keleluasaan sebesar Daerah. dan Desa Dinas sebagai local government Mengingat tujuan penelitian ini adalah mendiskripsikan pelayanan publik oleh kedua desa tersebut. SAGE Publications. Tata Hubungan Kewenangan Pemerintah Pusat dan Daerah dan Antar Daerah.. Istilah local tidak diartikan sebagai daerah. State. Roth. Grassroots Organization and NGPs in Rural Development. Oleh karena masyarakatnya berbeda-beda. Penerbit IRE Press.. karena alasan hitoris sosiologis. mesti dalam rangka pemberdayaan masyarakat.all. New York. l99 57 Lembaga Administrasi Negara RI. desa merupakan kesatuan masyarakat hukum (self-governing community) sehingga disebut mempunyai otonomi asli. Paradigma ini 58 Team penulis. hal 12. hal 5 61 Guba and Lincoln. (2) desentralisasi dan pemerintahan lokal. Sutoro Eko. serta jenis pelayanan yang mungkin disinergikan.. hal 3 60 Bhenyamin Hoessein. Strategi Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik. Konskwensi dari otonomi asli. bahkan posisi desa berada dalam yurisdiksi (control) Daerah. dan Desa Dinas meneliti bagaimana pelayanan yang diberikan oleh ke dua desa tersebut. PT Raja Grafindo Persada. Norman. Di satu sisi. Oppurtunities with Diminishing States and Rxpanding Market dalam Janvry.. Handbook of Qualitative Research. 28 . yang melekat pada desa. Desa di sisi lain juga mempunyai posisi sebagai unit pemerintahan local (local government) seperti status yang dimiliki oleh Daerah. 56 Para pakar yang di maksud. Oxford University Press. Titik Berat Otonomi pada Daerah Tingkat II. 30 59 Wijaya. ketiga non Pelayanan publik oleh tiga sektor tadi adalah saling melengkapi dan membutuhkan kerjasama dalam mewujudkan pelayanan yang prima. Cetakan pertama 2006. bukan untuk menyuburkan ketergantungan masyarakat kepada pemerintah. Makalah yang disampaikan pada seminar sehari tentang Tata Hubungan Kewenangan Pemerintah Pusat dan Daerah di Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Aparatur Negara. serta menganalisis pelayanan yang bisa disinergikan. maka pelayanan publik di akar rumput menjadi tanggung jawab desa setempat58 Titik berat pelaksanaan desentralisasi ada di Daerah tingkat Kabupaten/Kota59. local government dapat berarti pemerintah local. Menurut Bhenyamin Hoessein. (3) pelayanan publik. hal l5 for the World Bank. Competing Paradigms in Qualitative Research. Para pakar menyebutkan ada tiga sektor yang pertama sektor memberikan pelayanan publik56. FISIP UI. pemerintah/negara. New Theories New Practices and Their Implication for Rural Development. Anang Sabtoni.

maka hasil penelitian ini tidak dimaksudkan untuk mencari generalisasi yang luas.digunakan karena konstruktivisme mentakrifkan ilmu sosial sebagai relativisme. dimulai dari penentuan jenis penelitian. permasalahan. teknik pengumpulan data. serta sistematika penulisan. letak dan luas wilayah. berlaku sesuai konteks spesifik yang dinilai relevan oleh pelaku sosilal. Arah penelitian ini adalah berupaya membangun perpaduan jenis dan kritewria pelayanan publik oleh Desa Dinas dan Desa Pakraman. pemerintahan. F. kelembagaan Desa Dinas dan Desa Pakraman. signifikan penelitian. serta strategi peningkatan kualitas pelayanan publik.. tujuan penelitian. Inti dari hasil penelitian ini dianalisis tentang pelayanan publik oleh Desa Dinas. sosial budaya. disain penelitian. Oleh karena demikian penggunaan paradigma konstruktivisme tepat.62 Selain itu pemahaman paradigma konstruktivisme ini. 4) menggunakan perspective emic. kehidupan sosial. yaitu bagaimana memahami dan menafsirkan desentralisasi dan pelayanan publik dari segi persepsinya. kemasyarakatan. penduduk dan mata pencaharian. tidak bisa dipisahkan antara teori desentralisasi dengan teori pelayanan publik. dengan beberapa alasan: 1) penelitian ini mencoba mengembangkan teori dan menggambarkan realitas yang kompleks. artinya pemahaman tentang sesuatu realitas atau temuan suatu penelitian merupakan produk interaksi antara peneliti dengan yang diteliti. 30 . kemudian dilanjutkan dengan sinergi pelayanan publik Desa Dinas dan Desa Pakraman. karena temuan tergantung pada interaksi antara peneliti dengan informan. realitas bersifat subyektivitas. diakhiri dengan tahapan penelitian. Sistematika Penulisan Penulisan hasil penelitian ini tertuang dalam lima bab. 2) kajian pelayanan publik tidak bisa dipisahkan dengan pemerintah. Paradigma ini dapat digunakan untuk menganalisis pelayanan publik. pelayanan publik oleh Desa Dinas dan Desa Pakraman dengan berbagai dimensi yang ada di dalamnya. budaya dan Agama. kerangka pikir. agama adat dan budaya. FISIP UI. ekonomi. Bab IV memuat tentang hasil penelitian. sinergi bidang keamanan. Relativisme merupakan hasil konstruksi sosial. bidang Agama. keamanan. analisis pelayanan publik Desa Dinas dan Desa Pakraman. sosial. 2007. diawali dengan karakteristik Desa.. Bab I merupakan bab pendahuluan yang berisi uraian mengenai latar belakang masalah. berikutnya khusus membahas tentang Desa Dinas dan Desa Pakraman. sesuai kondisi objektif yang dihadapi yaitu. pelayanan publik. Bab II berisi landasan teori yang memuat tentang desentralisasi dan pemerintahan lokal. analisis data. Pelayanan publik oleh Desa Pakraman. 62 Ibid.. I Wayan Suarjaya. kebenaran suatu realitas bersifat relatif. dan bidang pembangunan. artinya mementingkan pandangan informan. konsep. mulai dari pengertian. pemilihan obyek penelitian.. hal iii 29 Analisis pelayanan . Bab V merupakan bab akhir yang berisi kesimpulan dan sejumlah saran yang diperlukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik oleh Desa Dinas dan Desa Pakraman di Desa Wongaya Gede. 3) oleh karena tidak bisa dipisahkan dari konteks desentralisasi dengan pelayanan publik. Bab III berisi mengenai metode penelitian.

LP3ES. Ferrel. Umumnya pada saat itu. A relatively small portion has been devoted to administrative improvement as such. I Wayan Suarjaya. Riggs. but nearly all of it has been administered. 342 6 Tjokroamidjojo. Henderson mempertegas kegagalan pada masa awal beberapa negara berkembang mengadopsi administrasi negara maju dengan pernyataan berikut: mengisyaratkan bahwa Administrasi Pembangunan merupakan administrasi publik yang memusatkan perannya pada proses pembangunan nasional.Dalam perkembangannya kemudian terdapat kurang lebih empat kecenderungan dasar dalam ilmu administrasi negara.BAB II LANDASAN TEORITIS A. dalam buku editorial Gerald E. Ginanjar..5 Fred W. 2007. FISIP UI. Administrasi Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Penerbitan Perserikatan Bangsa Bangsa di tahun 1975 yang berjudul Development Administration: Current Approaches mengembangkan kapasitas administrasi negaranya. hal 34.. Systematization of Knowledge on Public Administration: The Perspective of Development Administration.. A Dragon: Progress Development Administration in Korea. Sebagaimana Fred W. 1971 hal 6 Analisis pelayanan . cit. Administrasi Pembangunan Administrasi pembangunan lahir sebagai reaksi atas kegagalan reformasi yang dilakukan oleh negara-negara berkembang yang umumnya lepas dari penjajahan untuk 1 2 Reaksi awal kegagalan tersebut dimulai dengan berkembangnya analisis perbandingan administrasi publik melalui alat-alat analisis perbandingannya.. Desa Dinas dan Desa Pakraman. Marcel Dekker: 1991. Kontribusi analisis perbandingan ini yang kemudian melahirkan administrasi pembangunan sebagai suatu pendekatan pembenahan administrasi negara (khususnya administrasi negara berkembang) dan juga sebagai suatu paradigma dalam ilmu Tjokroamidjojo administrasi negara itu sendiri.. Cet. LP3ES. Administrasi Pembangunan dalam disertasi ini dipergunakan sebagai pisau analisis pelayanan publik. Administration of development mencakup policy formulation and planning serta management of development sedangkan development of programs and projects. in the sense of passing through the hands of officials. Riggs 1 dan Hahn Been Lee2. hal 5. Dalam Farazmand. Indigenization Versus Internationalization. hal 5 Development Administration. 1991.. Keith. Caiden dan Bun Woong Kim. 3 United Nations. administration mencakup conduct administrative reform dan institutions building4. 5 “Enormous amounts of money have been transferred to developing countries since the second world war. Hal 6-7 dan juga Heady. Connecticut : Kumarlan Press. Frontiers of Hahn Been Lee. hal 38. and Trends in Public Administration for National Development 1.. Kedua aspek dari administrasi pembangunan dirinci lebih lanjut.6 mengungkapkan hal tersebut sebagai berikut: “Perkembangan studi komparatif ilmu administrasi negara ini dapat pula dilihat dari segi alasan yang mendasarinya . Kedua aspek tersebut adalah Administration of Development dan Development of Administration3. Marcel Dekker. Jakarta: 1994. Introduction. New York: 1991.. IV. USA. hal. New York: 1975. Op. juga dalam Kartasasmita. Administrasi Pembangunan: Perkembangan Pemikiran dan Praktiknya di Indonesia. dalam buku editorialnya. Public Administration: Comparative Perpsective. Jakarta:1997. 32 . Ali. Handbook of Comaparative and Development Public Administration. dalam penerbitan PBB tersebut dibahas dua aspek dari administrasi pembangunan.. Development Administration: Current Approaches and Trends in Public Administration for National Development. Ed. Duke University Press. diadopsi praktek (metode dan prosedur) administrasi negara maju. Inc. hal 3 4 Hahn Been Lee. Pengantar Administrasi Pembangunan. Bintoro. Klasifikasi dalam empat kecenderungan ini Henderson. XVI.

dan fase yang disebut terakhir ditandai dengan meluasnya pendekatan yang digunakan dalam ilmu perbandingan administrasi..Bureaucracy in the Modern State: An Introduction to Comparative Public Administration. Kartasasmita menuliskan sebagai berikut: “Administrasi pembangunan berkembang karena adanya kebutuhan di negara-negara yang sedang membangun untuk mengembangkan lembaga-lembaga dan pranata-pranata sosial. dan ekonominya agar pembangunan dapat berhasil. Marcel Dekker. Formula proses perencanaan (kebijakan) dan reformasi administrasi tidak bisa dilakukan hanya dari satu disiplin ilmu. Administrasi Pembangunan: Perkembangan Pemikiran dan Praktiknya di Indonesia. Edward Elgar. OP. 8 administrasi negara. USA: 1991.. Sebagai sebuah gejala empirik. (3) the performance of the administrative system of developing countries. Duke University Press: 1970. Fase pertama ditandai dengan pendekatan struktural-fungsional yang kuat. (2) fase perkembangan ilmu perilaku. hal 5 10 Neff. (2) the process of development planning. hal 42-65. adalah perhatian administrasi negara terhadap masalah-masalah pelaksanaan dan pencapaian tujuan-tujuan pembangunan...kecenderungan pertama.. fase kedua dengan pendekatan kuantitatif (positivisme). dan Dwivendi. 2007. dalam Development Theory and Administration. Jon. 1982. Pierre9 hampir senada juga mengemukakan perkembangan Comparative Administration Group (CAG) dalam tiga fase: (1) fase konsolidasi.12 7 Karena permasalahan yang cukup luas dan heterogen maka seperti dikemukakan oleh Neff dan Dwivendi di atas. (3) fase ‘middle-range’ theory. hal 6-7 Heady.. atau kedua... 1994. meliputi dua aspek (1) mengelola pembangunan yang 11 Kartasasmita. Kumarian Press. Neff dan Dwivendi pun menggambarkan perkembangan administrasi pembangunan sebagai suatu gerakan reformasi dan pemikiran yang dimulai dari kegagalan ‘administrative state’ baik dengan pendekatan ortodoks ‘scientific management’ maupun neo-ortodoks. Administrasi pembangunan bisa disimpulkan dapat berujud sebagai dua bentuk yakni. Edited by Riggs. Jakarta. Editor Gerald E.“11 Esman lebih rinci menuliskan tiga kelompok masalah dalam administrasi pembangunan sebagai berikut: “I have identified thre clusters of problem: (1) the political dimensions of development administration.. politik. hal 34 12 Esman Milton.Public Administration: Compative perspective. FISIP UI. Oleh karena itu menjadi sangat logis ketika Neff dan Dwivendi menuliskan teori administrasi pembangunan sebagai sebuah ‘a fence around an empty lot’ yakni sebuah pemagaran bagi tanah yang kosong10. 1991. Bintoro. 34 . Development Theory and Administration: A Fence Around an Empty Lot.. New York. Op. Ferrel. Hahn Been Lee juga senada dengan pendapat tersebut dalam tulisannya ‘Systematization of Knowledge on Public Administration: The Perspective of Development Administration’ dalam “A Dragon’s Progress: Development Administration in Korea”. cit. Caiden. hal 38-39 9 Pierre. J. karena memang tidak ada sistematisasi yang diterima. CAG and the Study of Public Administration dalam Frontiers of Development Administration. hal 3-8. Ed IV. LP3ES. 33 Analisis pelayanan . W. 1997. sebagai satu pendekatan dalam ilmu Tjokroamidjojo. administrasi pembangunan yang ditujukan untuk meningkatkan kapasitas administrasi negara dalam pelaksanaan dan pencapaian tujuan pembangunan seperti dikatakan Tjokroamidjojo di atas. J. pertama sebagai gejela empiris yakni gerakan untuk mempengaruhi kemampuan administrasi negara dalam proses pembangunan suatu negara. Fred. Ginanjar. I Wayan Suarjaya.”7 Heady8 di tempat lain menyatakan hal yang sama dalam sub judul ‘prospects and options’ dari studi perbandingan administrasi dengan munculnya area atau fokus-fokus kajian yang salah satunya adalah administrasi pembangunan. administrasi pembangunan menjadi multidisiplin. hal 46.tidak konklusif.... North Carolina.

Hyden18. Bintoro. Tjokroamidjojo. reorganisasi.13 Yang pertama lebih banyak menguraikan pada level proses kebijakan. hal 97 18 Turner. pelaksanaan pembangunan. adalah administrasi bagi pembangunan. Mac Millan Press: 1997. Dituliskannya sebagai berikut: “The decentralization policies that third world “The basis for such transfer is most often territorial. Kartasasmita.. Kartasasmita. privatisasi dan ko-produksi. FISIP UI. kepegawaian.. Turner dan Hulme menyatakan tidak selamanya berhasil.However. Jadi Kartasasmita menyebutkan dua aspek administrasi pembangunan seperti dikemukakan oleh Tjokroamidjojo di atas sebagai dua sisi dari administrasi pembangunan. Hal 152 16 15 35 Analisis pelayanan .15 Bintoro maupun Kartasasmita sama-sama menyampaikan instrumen desentralisasi sebagai bagian dari administrasi pembangunan. serta pengembangan etika birokrasi. hal 47-71. 150 19 Ibid. Governance.. menggerakkan partisipasi masyarakat. 36 . dan (2) fungsional merujuk G. I Wayan Suarjaya. deregulasi dan regulasi. sedangkan yang kedua berkaitan dengan reformasi administrasi walaupun keduanya sama-sama dalam rangka meningkatkan kapasitas administrasi (administrative capacity).16 Kartasasmita menyebutkan penyelenggaraan pemerintahan daerah sebagai salah satu komponen administrasi pembangunan di Indonesia. pembinaan lembaga. that is by transferring authority to an agency that is functionally specialized. sedangkan sisi yang kedua. Op. cit hal 14. pemanfaatan teknologi. Administration. Op cit. Tjokoramidjojo. pengembangan instrumen desentralisasi dalam sebuah administrasi negara berkaitan dengan administrasi pembangunan lebih banyak menyangkut pembangunan administrasi walaupun tidak 13 14 trelepas dari sisi manajemen pembangunan. penguatan kelembagaan. hal 47-71. Sementara itu. sampai evaluasi (perencanaan pembangunan). mengatakan bahwa “Perhatian administrasi pembangunan adalah apakah usaha desentralisasi dalam berbagai bentuknya itu dapat lebih mendorong usaha . Turner dan Hulme. Bintoro. and Devlopment: Making the State Work. dan pengawasan pembangunan.. David. pembangunan administrasi.. 2007. Op. dan Hulme. Sisi pertama yang disebutnya sama saja dengan manajemen pembangunan. Ginanjar.usaha perubahan ke arah pembaharuan dan pembangunan ?”. penganggaran. Ginanjar.”19 nations have pursued have not proven to be a Tjokroamidjojo.. (2) membangun administrasi negara bagi pencapaian tujuan pembangunan yang meliputi penyempurnaan organisasi. Hongkong: hal. terdiri dari kegiatan-kegiatan perencanaan pembangunan. Oleh karena itu kedua lingkup administrasi dua sisi yang tidak terpisahkan satu sama lainnya. di berbagai negara berkembang. Op cit. Op cit. hal 81 17 Kartasasmita. that is grounded in the desire to place authority at lower level in a territorial hierarchy.dapat berupa formulasi kebijakan pembangunan dan pelaksanaannya. Turner dan Hulme menuliskan sebagai berikut: Kaitannya dengan pembangunan. Ginanjar.. menyebutkan jenis-jenis desentralisasi lebih lengkap dengan dua dimensi: (1) territorial. transfer can also be made functionally. koordinasi. pembangunan administrasi menurut Kartasasmita menyangkut reformasi administrasi (pembaharuan administrasi). tata kerja serta pengurusan sarana-sarana administrasi negara lainnya.17 Berbeda dengan kedua pakar. walaupun secara teoritis pengambilan keputusan menjadi tidak sentralistik dan dapat lebih dekat dengan masyarakat. cit. perubahan sikap birokrasi. Pembangunan oleh Kartasasmita disebutnya sebagai ‘sisi’. debirokratisasi. pengerahan sumberdaya pembangunan. serta sistem informasi dalam manajemen pembangunan. Mark. pemantauan dan evaluasi. Jika kita anut pendapat Kartasasmita di atas.14 Sisi pertama.

38 . Laporan Penelitian Kajian Tata Hubungan Kewenangan antara Pemeirntah dan Pemerintah Daerah. Terj. Sebagai bagian dari ilmu sosial. Bryant dan White menyatakan sebagai berikut: “Karena kelemahan yang tampak dengan jelas dalam kontrol sentral. Modernization and Development Administration dalam Journal of Public Administration.” 22 model telah banyak dikemukakan oleh para ahli administrasi pembangunan itu sendiri. I Wayan Suarjaya. Op. Bagi Riggs. 27 Pamudji S. Kepemimpinan Pemerintah di Indonesia.. Volume IX/ January. G.. Hal 7-9. 1982. FISIP UI.. 14 23 Hoessein. J.. Dan Rondinelli. sebuah sistem sosial terdiri dari berbagai unsur ekologis yang saling kait-mengkait satu sama lainnya dan membuat satu susunan struktural fungsional yang menentukan kapasitas sistem tersebut untuk terus-menerus berubah. Elsewhere I have suggested that the increasing capacity of a social system to manipulate its environment so as ti enhance the ability of the system to make free choice among alternative courses of action might be one way to recognize the presence of development change. Bhenyamin. Rusyanto L Simatupang. Lousie. Op cit.Pengembangan desentralisasi dalam sebuah sistem administrasi negara dengan demikian diakui sebagai instrumen untuk memperkuat kapasistas administrasi negara dalam proses pembangunan. Bina Aksara. Shabir. hal. Ditulis oleh Riggs sebagai berikut: “In the same way we might recognize development in social system whenever certain specified consequences or sight are present.25 Lebih khusus lagi alur besar teori ini diikuti dalam kaitannya memahami pembangunan bagi sebuah sistem sosial dalam pendekatan administrasi pembangunan. Manajemen Pembangunan untuk Negara Berkembang. 22 Cheema. Ferrel.. 2007. Sebagai sebuah pendekatan. W. hal 53-57 26 25 37 Analisis pelayanan . Riggs. Namun. Hal 42-65 Ibid. administrasi pembangunan sangat lebar membuka pengembangan model analisis obyek kajiannya dari berbagai disiplin ilmu seperti dikemukakan oleh Neff dan Dwivendi24. Dennis. Riggs mengemukakan kriteria ekologi administrasi untuk menganalisis adanya pembangunan yang diartikannya lebih luas sebagai pembangunan sistem sosial. Jakarta. LP3ES. G.”21 Cheema dan Rondinelli. Model awal yang dikembangkan oleh Riggs seperti ditulis oleh Pamudji27 adalah apa yang dikenal sebagai model). but also to the realization that development is a complex and uncertain process that cannot be easily planned and controlled from the centre.26 Bryant. desentralisasi adalah instrumen yang digunakan untuk menjamin kemampuan administrasi negara dalam meraih tujuan-tujuan pembangunan. berbagai 20 “The growing interest in decentralized planning and administration is attributable not only to the disillusionment with the results of central planning and the shift of emphasis to growth-with-equity policies. Model ini keseimbangan (equilibrium Heady. Coralie.1.. et al. Hal: 213. 1967 No. di tempat lain mengatakannya sebagai berikut: panacea for making state-sponsored interventions more effective in promoting development. desentralisasi makin dipandang sebagai faktor penting dalam administrasi pembangunan. dan White. Bahkan Hoessein23 merujuk Maryanov menyatakan bahwa desentralisasi sudah menjadi semacam keharusan dalam satu tatanan kehidupan negara. OP. Kerjasama antara PKPADK-FISIP-UI dengan Kantor Menpan (2003) 24 Neff. dan Dwivendi.. pendekatan administrasi pembangunan mengikuti alur besar teori (grand theory) ‘struktural fungsional’ seperti ditulis oleh Heady.”20 Secara teoritis dalam administrasi pembangunan. hal 174 21 Terlihat sekali dalam tulisan tersebut pengaruh struktural fungsional. cit. cit. Jakarta. Fred.

(2) developing countries. yakni (1) ‘less developed’.. Oleh karena itu dikembangkan sub-sub model dari model tersebut yang terdiri dari sub-model imperial bureaucratic dan feudalistik dalam model negara Agraria. Eko. Strong Input and output monitoring. Strong Consistent and functional.Balance.menggambarkan faktor-faktor ekologis yang terdiri (1) economic foundation. Kompas. dan. menyebutkan tipologi masyarakat tersebut sebagai satu titik (pola) keteraturan sosial.29 Shah menawarkan tiga pola kelembagaan untuk mengatasi penjelasan berbagai negara yang tidak dapat dimasukkan ke dalam salah satu titik ekstrim tradisional dan modern. (4) ideological/ symbol patterns. 23 Maret 2004.’ dengan kesimpulan bahwa ‘developing countries’ memang ada dalam tahapan transisional melalui berbagai dimensi30. Ciri-ciri dari 39 Analisis pelayanan . Decentraliz ed. Celar and realistic. Peter Waldman yang dirujuk oleh Prasojo. Prasojo merujuk Peter Waldman kemudian menyebut masyarakat seperti ini sebagai masyarakat dalam keadaan transisional yang umumnya ditandai dengan gejala anomi (ketiadaan aturan). Kampanye.. Decentralized. (3) communication networks. nampak negara berkembang dicirikan kapasitas kelembagaan yang ‘disfungsional’ dengan orientasi yang lemah. Perubahan-perubahan antar sub model dalam sebuah negara dapat terjadi dengan catatan pergerakan linear terjadi dari model negara agraria ke model negara industrial dan tidak sebaliknya. Anwar. hal 30 Shah. Operational Capacity. masyarakat prismatik (prismatic society). tujuan tidak jelas. Faktor-faktor ini mempengaruhi secara timbal balik suatu sistem administrasi negara. semi-informal. 40 . comman and control. and Responsiveness: Lesson about decentralization. (2) social structure. Environment. Worldbank Report: 1997. Dapat digambarkan dalam tabel berikut ini: Tabel 1 Tipologi Kelembagaan Masyarakat 28 Prasojo. FISIP UI. baik di negara-negara agraria maupun negara industri. dan tidak terarah dalam evaluasi. Weak Dysfunctional. Accountability. sulitnya mendapatkan realita bahwa beberapa negara terdapat ciriciri yang tidak selalu ekstrim antara model negara agraria (fused society) dan model negara industri (refracted kemudian Riggs mengembangkan model society). (3) ‘Industrial’. dan Anomi Sosial. dan sub-model demokratik dan sub-model totalitarian dalam model Negara industrial. Public Sector orietntation.. hal 3-4 Dimensions Less Developed Countries Developing Countries Industrial Countries Goals Authorizin g environm ent. I Wayan Suarjaya..28 Oleh karena itu. Demokrasi. Formal and legal. ada kesulitan menjelaskan fenomena empirik bagi masyarakat yang sedang berubah (the changing society). Weak or extant Input control. Strong Output Vague and Grandiose. Private Sctor. Clear and Realistic Strong Consistent and functional. 29 Ibid. dan. Public sector decision making. Informality and trust Semi-informality but lack of trust disregard for rule of law. (5) political systems. ‘gitcha’ Learning and improving Evaluation Culture Snake and ladders Berdasarkan tabel ini. Disamping itu. Opini. Centralized. 2007.

ide developmentalisme ini kemudian ditandingi dengan munculnya pendekatan pembangunan yang strukturalis. 32 Misalnya yang ditulis Webster. So.”36 Lahirnya neo-institusional ini didasari CNSW.. Alvin dan Suwarsono dalam Perubahan Sosial dan Pembangunan di Indonesia.. hal 11 31 Pamudji. Hal 10 34 Heady. dan non-struktural . 2007. Op cit. dan (3) overlapping. hal 57-59 seperti diungkap pula oleh Heady. Regime Changes. London: 1984. ethnic clashes. 33 Heady. V. cet I. 41 Analisis pelayanan . 2000 (reprinted).37 Institusi lama mempertentangkan antara siapa yang memerintah dan diperintah agar dicapai satu tujuan yang lebih baik dan untuk itu terdapat kemungkinan tekanan bagi yang memerintah oleh kelompok kepentingan. and more recently.31 Pengembangan kelembagaan dari adanya pola-pola modern di sejumlah negara berkembang tidak menjamin adanya kemajuan dan efektivitas instrumen yang diterapkan. Ferrel. I Wayan Suarjaya. 42 . hal 93 dan Niessen. Ali. Leiden: 1999. bahkan aliran yang diikuti Almond yang dinilai statis34. Guy. “If this larger perspective is accepted. dan principal-agent (agency model). functionalism has been questioned by a variety of neoinstitutionaliests who differ in important respects but are in agreement that the primacy of emphasis on functions should be replaced by increasing attention to structures”33 oleh pandangan perilaku inividu dan pilihan rasional seperti ditulis oleh Peters. and other societal problems. hal 16. yang menghasilkan model sedangkan neo-institusional ‘public choice’.. cit. Jakarta: 1991. Sejumlah riset membuktikan hal tersebut terutama mempertanyakan ide ‘developementalisme’ yang terlalu menekankan rasionalitas. “Finally. seperti dikatakan oleh Heady dikenal juga grand theory Neo-institusional. Continum. Ferrel. FISIP UI. (2) formalisme. Handbook of Comaparative and Development Public Administration. This view continues the liebral assumption of a relatively autonomous state but accepts the Marxist image of a society composed of conflicting groups with unequal economic and political power. Oleh karena itu dalam berbagai lapangan ilmu. S. B. and the Political Development. tending to side with the already priviledge. Andrew dalam Introduction to the Sociology of Development. LP3ES. religious riots. Peran negara pada neo-institusional ini oleh Heady merupakan pandangan lain dari kelompok ‘mainstream’ yakni baik kubu struktural fungsional maupun Marksis. a-historis. hal 731-734 36 Ibid. USA. Marcel Dekker: 1991. hal 732 37 Peters. Negara merupakan satu struktur yang tidak mewakili kepentingan siapapun melainkan kepentingannya sendiri. Carino melukiskan birokrasi dalam pandangan ketiga ini sebagai berikut: “A third view sees the state as the entity forced to decide on labor-capital conflicts. Ledivina. Nicole dalam Muncipal Government in Indonesia.masyarakat seperti ini terjadi apa yang disebut: (1) heterogenitas. Op. membawa adanya negara yang otonom. Op cit. Ferrel. menganggap bahwa pandangan terhadap negara beralih menjadi sebuah institusi yang otonom. The state here practically has the status of ‘playing referee’. Op cit.32 Dalam administrasi pembangunan. dan berbagai buku-buku perihal pembangunan dan perubahan sosial. Institutional Theory in Political Science: ‘The New Institutionalism’. Carino menuliskannya berikut ini: Neo-institusional ini dalam literatur lain. MacMillan.. the Bureaucracy. Ditulis oleh Heady sebagai berikut misalnya. then the state is not only placed in a turbulent environment but the bureaucracy itself has to be recognized as among the 35 Carino. dalam Farazmand. London. hal 15-17.. Carino35 Perhatian terhadap struktur ini ditujukan terutama pada Negara (state) yang dibedakan dengan masyarakat (society).

. with a view to accelerating growth and inducing major changes in the industrial sector. Roy Valiant. 2007. instrumen ini dikembangkan karena negara menganggap penting untuk pengembangan kelembagaannya bukan mewakili kepentingan pihak lain. Jurnal PSPK. J dan Dwivendi. hal 353-354. Februari 2002.42 Konsep ini kemudian mendapat kritikan tajam ketika paradigma ‘welfare state’ berkembang karena membawa akibat dahsyatnya kekuatan negara memasuki banyak aspek kehidupan. Baker menuliskan apa yang dimaksud interventionist state sebagai berikut: groups involve in the struggle . V. Ali... hal 353-354. while in seven nonMarxist African Countries. G. dan Bake. hal 732 Baker. Shabir. Ibid. Op cit. Handbook of Comaparative and Development Public Administration.”40 Apa yang dituliskan Baker sejalan dengan Rondinelli dan Cheema41 bahwa negara banyak berperan dalam tersebut dan secara mengembangkan ‘delegation’ keseluruhan negara banyak mengambil peran dalam berbagai sektor kehidupan. hal 21-22 Salomo... 43 Nef. dan (2) negara terencana (planned state).”39 “After independence Nigeria created over 800 parastatals. Jakarta:1988 hal 43. Edisi 1.43 Pendekatan neo-ortodoks ini sebenarnya tidak jauh berbeda dari pendekatan perilaku dan (atau) hubungan kemanusiaan dalam teori organisasi. Aransemen Kelembagaan dan Reformasi Pelayanan di Tingkat Lokal. at times even as innovator. Ledivina. Baker mengembangkan dua pola perilaku negara yang amat tepat digunakan untuk menganalisis pengembangan desentralisasi dan keterlibatan masyarakat lokal: (1) negara intervensionis (interventionist state). Jamal. Rajawaali Press. Administrasi Publik. Op cit. USA. FISIP UI. 39 38 Cheema. 44 . hampir sejalan dengan konsep ‘the administrative state’ jauh sebelum aliran ‘the new public berkembang. 43 Analisis pelayanan . Luciana D. Dalam ilmu administrasi negara. This could not be left to the private sector.. sebagai berikut: “The government had to act as leader. hal 42-65 44 Henry. Merujuk Das. pendapat Baker di atas. Dalam hal desentralisasi. I Wayan Suarjaya. because the latter not only did not have the resources or imagination for such massive operation but also lacked the detachment and objectivity required for successful implementation of such program. Nef dan Dwivendi menyebutnya sebagai pendekatan ‘Orthodoks’. the state came to Carino.. Pendekatan manajemen ini diakui oleh Nef dan Dwivendi sebagai pendekatan neo-ortodoks.Administrasi pembangunan yang diilhami oleh pendekatan ini tentu menghasilkan analisis yang berbeda. Marcel Dekker: 1991. Kritikan ini membawa administrasi publik banyak mengadopsi teori-teori manajemen dalam studi dan gejalanya. regulate and.. Randall. investor. Sementara itu. Administrasi Negara Berkembang dan Masalah-masalah Kenegaraan.000 in 1960 to 2 million in 1980.”38 employ between 40 and 75% of those in paid employement and Nigeria’s public sector grew from 200. yakni bagaimana negara-negara 40 41 42 Gambaran negara intervensionis dicontohkan dengan pengembangan ‘delegation’ di Nigeria sejak kemerdekaan. Lontoh. The Role of The State and Bureaucracy in Developing Countries Since World War II dalam Farazmand. model negara terencana adalah model status quo. Nicholas. this view regards bureaucratic autonomy from both the state and society as an empirical question. Konsep ‘The sector management’ administrative state’ ini berkembang sejalan dengan munculnya konsep administrasi publik modern yang berkembang pada awal abad 18.44 Belakangan the new public sector management memperbaiki konsep awal manajemen dalam administrasi publik. Terj. Op cit.

melalui pemberdayaan masyarakat. hubunan yang netral. In essence the public administration. perkembangan di bidang kehidupan masyarakat lain.50 Aspek – aspek yang saling mempengaruhi administrasi pembangunan. Keberhasilan pembangunan ditentukan oleh partisipasi. H. administrasi pembangunan cenderung ecological approach. The colonial bureaucracy was ‘taken over’ rather that substantial changed. Administrasi pembangunan dapat juga berarti kemampuan untuk menanggapi akibat-akibat dalam proses perkembangan dan pembangunan. Bintoro. Aspek sosial budaya yang terkait dengan proses administrasi pembangunan banyak dilaksanakan oleh berbagai negara. Jadi apakah administrasi negara dalam berperan mampu meningkatkan keadilan sosial ?47 Sesungguhnya hal ini sama dengan apa yang dikemukakan oleh Tjokroamidjojo sebagai administrasi pembangunan untuk dibedakan dengan administrasi negara (lama) 48. Penerbit LP3ES. hal 10 48 Tjokoramidjojo. Pengantar Administrasi Pembangunan. Dalam penelitian ini. (2) administrasi negara (lama) membawa pada Baker.Jakarta 1974. and its hierarchical priviledge structure and reward by seniority rather than result was fossilized. dan lain – lain. ekonomi.. LP3ES. maupun hubungan yang saling mendukung. hal 54. I Wayan Suarjaya. 46 . berbeda dari administrasi pembangunan sebagai contoh misalnya (1) administrasi negara (lama) lebih banyak terkait dengan lingkungan negara maju. Frederickson. Lembaga Penelitian dan Penerangan Ekonomi dan Sosial. lebih menekankan pada pemberdayaan masyarakat dalam pelayanan publik. sering kali disebut “ turbulence”. Administrasi Negara Baru. sedangkan administrasi pembangunan terkait dan memberi perhatian pada negara berkembang. Pemberdayaan masyarakat tersebut khususnya di Indonesia menjadi isu penting sejak tahun 1970-an. Dituliskan oleh Baker sebagai berikut: Dalam penghampiran seperti ini. Administrasi pembangunan bergerak dalam perkembangan pembaharuan yang cepat (change). iptek dan lingkungan hidup.46 Apa yang dimaksud sebagai administrasi negara baru oleh Frederickson adalah sebuah pandangan administrasi negara yang memasukkan dimensi keadilan sosial dalam analisisnya. Op. Cet IV. Op cit.berkembang melakukan perubahan dilalui dengan satu pola yang teratur.”45 peran sebagai ‘balancing agent’.49 Pada titik ini antara Tjokroamidjojo dengan Frederickson mungkin dapat disamakan. tetapi jika ditelusuri dengan baik apa yang dimaksud oleh Frederickson ternyata administrasi negara bagi negara maju dengan dimensi keadilan sosial. sosial budaya. Hubungan ini dapat saling bertentangan. saling berhubungan dan saling mempengaruhi keadaan dan proses perkembangan politik. Administrasi Pembangunan terkait erat. Pemberdayaan masyarakat melalui Tjokoramidjojo. ekonomi. Terj. under its guise or neutrality and objectivity. George. 2007. cit hal 357 Frederickson. hal 28-45 47 Ibid. sedangkan administrasi pembangunan lebih berperan kepada ‘change agent’... Op cit. hal 9-10 46 45 “The planned state emphasized status quo. administrasi pembangunan tidak bisa terlepas dari ekonomi-politik. Oleh karena itu dalam bukunya. FISIP UI. Administrasi pembangunan memberikan prasarana peralatan dan penggerakan. Jakarta: 1994. (3) administrasi negara cenderung legalistic approach. Bintoro. aspek politik. umumnya melalui pemberdayaan masyarakat. 50 49 45 Analisis pelayanan . administrasi negara baru menguraikan perkembangan ilmu administrasi yang mirip dengan perkembangan ekonomi-politik dimana paradigma yang mutakhir menurut penulis tersebut adalah ‘public choice’.. became an instrument for system maintenance rather than any substantial change. sosial budaya. Randall. dkk. dan. Al-Ghozei-Usman. Administrasi negara (lama) menurut Tjokroamidjojo. hal 10 Sumitro Djojohadikusumo.

hal 28 47 Analisis pelayanan . saat itu muncul gelombang pemikiran baru yang menentang kekuasaan mutlak dari Agama ( gereja dan raja ). barriers. berkembang terus sampai sekarang. menyediakan segala keperluan anggota. (7) evaluate. equip dan ev eluate.. Masyarakat menghendaki adanya alternatif lain yang memerintah melalui proses empowerment. Op. maupun proses pemberdayaan. cit.. hal . dan 3) partisipasi merupakan tanggung jawab terhadap kelompok. 48 . mulai dikaji secara mendalam sejak dekade tahun 1970-an. Davis dalam Khaeruddin54 memberikan pengertian partisipasi sebagai bentuk keterlibatan orang secara mental dan emosional dalam situasi kelompok yang mendorong orang tersebut untuk berbagi tanggung jawab dan memberikan kontribusi terhadap tujuan kelompok. Berdasarkan pandangan tersebut pemerintah dalam merancang program pembangunan maupun dalam bidang pelayanan publik.53 Variabel yang dikemukakan oleh Stewart tadi merupakan tujuh persyaratan dalam meningkatkan pemberdayaan masyarakat dalam menyukseskan program pembangunan Nasional. 2. (2) educate. Partisipasi masyarakat bukan hanya dalam bidang politik. enthuse. Para pakar menyatakan bahwa bentuk pemberdayaan masyarakat dalam program pembangunan adalah dalam bentuk partisipasi. berorientasi kepada masyarakat. 65-66 Khaeruddin. Pemberdayaan masyarakat Konsep pemberdayaan merupakan konsep baru. evaluasi dan manitoring harus dilaksanakan terus menerus. Tetapi yang lebih penting adalah partisipasi dalam pembangunan. a highly practical and productive way to get the best from yourself and your staff. I Wayan Suarjaya. staf organisasi perlu diberi pendidikan 51 52 empowerment is quite simply. eliminate. Sejauh ini mekanisme yang tersedia bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam penyediaan pelayanan publik dan mengemukakan keinginannya terhadap 53 54 Waluyo. Alat dan pelatihan yang cukup tentang program organisasi. apabila anggota/masyarakat mengetahui dengan jelas vissi organisasi.. 2) partisipasi menghendaki adanya kontribusi. Pengertian partisipasi mengandung tiga unsur penting yaitu: 1) partisipasi merupakan keterlibatan mental dan emosional..(6) equip. 65-66 Waluyo. hal. Op.51 Menurut Stewart mengatakan bahwa “ yang dimaksud adalah partisipasi staf atau masyarakat yang dimanfaatkan oleh pimpinan organisasi. cit. (1) envision maksudnya para aktor harus mampu menggambarkan apa yang diingini oleh organisasi. cit. educate. Pranarka yang dikutip Waluyo mengatakan bahwa konsep empowerment muncul di awal gerakan modern di Eropah. express. Keberhasilan empowerment menurut Stewart sebagaimana yang dikutip oleh Waluyo mengatakan bahwa ada tujuh variabel yang perlu diperhatikan oleh organisasi yaitu. ekonomi. maka akan tumbuh sale coordinating. menjamin agar seluruh sistem dan prosedur menjaminpencapaian tujuan. Jadi empowerment merupakan suatu alat bukan tujuan. (3) eliminate . tetapi juga dalam pelayanan publik.52 Tujuh variabel tersebut penjelasannya sebagai berikut. hal. seorang aktor harus mampu mengatasi segala halangan dalam proses pemberdayaan. shared vision. Op. envision. 64 Waluyo. Op. 2007. (5) enthuse . (4) express seorang aktor harus dapat mengekspresikan dengan jelas tentang pemberdayaan.partisipasi masyarakat merupakan salah satu prasyarat untuk keberhasilan pembangunan di Indonesia. FISIP UI. cit. seorang aktor harus mampu membangkitkan semangat pemberdayaan bagi seorang aktor harus mampu organisasi. Bentuk partisipasi masyarakat bukan saja dalam bentuk politik.

yang dikutip oleh Selamet.56 Telah diuraikan sebelumnya bahwa tugas utama pemerintah adalah berkewajiban memberikan pelayanan umum kepada masyarakat. (2) partisipasi berdasarkan cara keterlibatan. S Tangkilisan. 2) keikutsertaan orang dalam berbagai kegiatan karena adanya dorongan untuk memenuhi kepentingan dan kebutuhannya. (8) Hessel Nogi. Diessedorf60 memperkenalkan sembilan kategori bentuk partisipasi. hal 208. Pt Gramedia Widiasarana Indonesia. maka masyarakat dapat mencari jalan keluar seperti berhenti memanfaatkan pelayanan dan mengambil alternatif pelayanan dari penyedia jasa lainnya dalam wilayah hukum yang sama atau dengan pindah ke wilayah hukum lainnya55 Pelayanan publik oleh masyarakat adalah pelayanan umum diberikan kepada masyarakat yang membutuhkan sesuai dengan tingkat partisipasi pelayanan yang diberikan. 3) memiliki kemampuan pendidikan yang dapat mempengaruhi perilaku dan sikap masyarakat untuk berpartisipasi. I Wayan Suarjaya. yaitu: memiliki peluang untuk memberikan pelayanan. cit. Wujud kongkrit pelayanan oleh masyarakat untuk masyarakat adalah gotong royong. mengklasifikasi empat tipe partisipasi. memiliki akses untuk memanfaatkan peluang. hal. Partisipasi masyarakat dalam pelayanan timbul karena adanya. pengele. pengarep. sebagai wujud partisipasi masyarakat dalam kebersamaan.. 50 . 2007.kebijakan publik dapat diwujudkan dalam bentuk pemberian suara. tenaga. Jakarta 2005. terutama pelayanan di bidang sosial keagamaan.. 1) kesadaran orang untuk ikut berpartisipasi. (5) partisipassi berdasarkan intensitas dan frekuensi kegiatan (6) partisipasi berdasarkan lingkup liputan kegiatan. (7) partisipasi berdasarkan tingkat efektivitas. waktu. (4) partisipasi berdasarkan tingkat organisasi. 27 60 Ibid. yaitu: (1) partisipasi berdasarkan derajat kesukarelaan. jajak pendapat. uang dan 5) tujuan partisipasi ialah untuk mencapai kepentingan bersama. (4) partisipasi dalam kegiatan evaluasi. 56 Ibid. adat dan budaya gotong royong masyarakat setempat melibatkan partisipasi masyarakat/Kerama Desa Pakraman. hal.58 Cohen dan Uphoff59 yang dikutip oleh Selamet. Tetapi mengingat keterbatasan dalam berbagai hal sehingga tidak semua kebutuhan masyarakat dapat diberikan pelayanan oleh pemerintah. PAU Studi Sosial. penyade dan memiliki kemampuan untuk berpartisipasi. hal 209 57 Kerama Desa adalah anggota masyarakat yang mempunyai hak dan kewajiban. Manajemen Publik.. (3) partisipasi berdasarkan pada keterlibatan dalam berbagai tahap dan proses pembangunan terencana. (2) partisipasi dalam implementasi kontribusi sumber daya. seperti halnya kebutuhan masyarakat di bidang suka dan duka dilayani oleh masyarakat. Penyaluran aspirasi dapat dilakukan melalui pemilihan umum. yaitu: (1) partisipasi masyarakat dalam pembuatan keputusan. 29 59 58 49 Analisis pelayanan . Konsep-konsep Dasar Partisipasi Sosial.. keterlibatan langsung masyarakat dalam penyediaan pelayanan. untuk mencapai tujuan tertentu yang telah ditetapkan. UGM Yogyakarta. administrasi dan koordinasi kegiatan yang menyangkut tenaga kerja. 1989.57 Guna melengkapi partisipasi masyarakat dalam pelayanan publik pada berbagai sektor diperlukan beberapa syarat. FISIP UI.hal. 55 Hessel Nogi. biaya dan informasi. termasuk keterlibatan dalam proses yang berjalan. (3) partisipasi dalam kegiatan yang memberi keuntungan material. 11 Slamet. Kerama itu ada tiga kelompok. sosial dan personil. Maka dibutuhkan partisipasi masyarakat. S Tangkilisan. Apabila mekanisme tersebut ternyata tidak efektif dan pelayanan yang tersedia tidak memuaskan. 4) berbagai wujud partisipasi masyarakat diarahkan untuk mengembangkan pikiran. sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dalam Awig – awig Desa Pakraman. jalur hukum. Op.

. James J. Op. 57 51 Analisis pelayanan .. Hal serupa juga akan terjadi akibat keberagaman ekonomi dan kepercayaan masyarakat. Desentralisai dan Pemerintahan Lokal Kajian administrasi pembangunan James J. 20 . Heaphey terlihat bahwa salah satu strategi yang ditempuh untuk menangani dimensi spasial adalah desentralisasi dalam organisasi pemerintahan. 1971 hal 5 . there is growing awarenes among many developing nation that their greatest resource in the development process is in their own people”63. et. dan (9) Partisipasi berdasarkan gaya partisipasi. visi elit pembangunan mengenai dimensi spasial. 52 . Op. aspek struktur sosial ini bisa menjadi sumber masalah jika tidak dimanajemeni secara tepat. kepercayaan antar kelompok. Kelompok etnik yang berbeda sifatnya eksklusif. bersaing satu sama lain. yang dikutip oleh Waluyo mengatakan “ James J Heaphey mengkaji administrasi pembangunan dari dimensi spasial dengan pusat perhatian pada tiga hal. hubungan variabel yang penting antara aspek-aspek spasial dan administrasi pembangunan. Pertama. hal. kelompok atau forum. Heaphy tidak menjelaskan konsep yang disebutnya. al .partisipasi berdasarkan siapa yang terlibat. Jadi. Spatial Aspects of Development Administration. I Wayan Suarjaya. hal. FISIP UI. cit. al. 19. Duke University Press.64 B. cit. Heterogenitas sosial penduduk dalam kaitannya dengan etnik. atau melengkapi administrasi daerah dalam mencari tahu pemerintahan yang efektif dan responsif terhadap aspirasi rakyat. bahasa. norma budaya dan tradisi yang berpengaruh terhadap hubungan dalam dan antar masyarakat (kohesivitas). Keberadaan masyarakat madani terlihat dalam bentuk LSM atau organisasi nirlaba seperti kelompok kepentingan yang diwadahi dalam asosiasi. 2007.. James J. Op. dalam buku editorial James J. Sementara berkeinginan untuk lebih mengutamakan kesejahteraan anggota kelompoknya. Aspek struktur sosial meliputi keberagaman sistem dan struktur sosial dan ekonomi masyarakat.et. Pada dewasa ini hampir seluruh proses pembangunan di dunia ketiga sangat tergantung pada partisipasi masyarakat. Philip Mawhood menjelaskan konsep desentralisasi sebagai berikut: 63 64 61 62 Azfar. Heaphy Spatial Dimension of Development Administration. masyarakat madani akan memberikan pedoman dan arah alokasi sumber daya serta membantu menekan pertanggungjawaban (akuntabilitas) yang menghasilkan tekanan eksternal atas pemerintah. Kedua. dekonsentrasi dan desentralisasi. Ketiga. Heaphey. strategi yang dirumuskan untuk menangani dimensi spasial seperti federalisme. Azfar. Orang-orang yang berasal dari latar belakang etnik dan budaya yang berbeda seringkali sulit berkomunikasi dan bertindak secara kolektif. cit. Menurut Azfar et al62. Menurut Azfar et al61. hal..6 Waluyo Imam Isworo. b) heterogenitas etnik sering menyulitkan orang-orangnya untuk melakukan kerjasama dan melahirkan keputusan bersama atas suatu permasalahan. Ada dua alasan yang mendasari efek detrimental aspek struktur budaya. a) heterogenitas etnik akan meningkatkan perburuan rente dan akan mengurangi insentif bagi pengeluaran pelayanan publik produktif. dan first and foremost. Efektifitas partisipasi masyarakat terhadap penyediaan pelayanan publik tergantung pada efektifitas keberadaan masyarakat madani dan struktur sosial dalam masyarakat madani tersebut. Rogers dkk. masyarakat madani yang aktif dapat mempengaruhi proses pemilihan dan hasil pemilihan secara langsung. dan agama dapat berpotensi untuk mengurangi efisiensi alokasi sumber daya dan penyediaan pelayanan publik.

Kelima. Shabbir Cheema & Dennis A. tanggal 20 Nopember 2003. Makalah yang disampaikan pada Seminar Sehari kelembagaan. Sejalan dengan pendapat Meenakshisundaram. New York: John Wiley & Sons. hal 5 70 SS.66 Local government juga memiliki multi fungsi.. subject to the stated limits. hal 58-59 71 G. pola Inggris.. New Delhi.68 Oleh karena masyarakatnya berbedabeda. pemerintah menjalankan sedikit pengawasan kepada pemerintah lokal. Rondenelli. sejumlah kekuasaan dan fungsi yang diberikan atau diakui oleh pemerintah. 5. in which local representatives are given formal power to decide on a range of public matters. ‘Decentralization in Developing Countries. Menurut Philip Mawhood. Pertama.67 Menurut Bhenyamin Hoessein. subdistric. maka local govenment juga bervariasi. London. local government dapat berarti pemerintah lokal dan/atau pemerintahan lokal.. Local Government in Developing Countries.. Decentralization and Development: Policy Implementation in Developing Countries. Toronto. Rondinelli mengemukakan berbagai ciri dari pemerintah (an) lokal. struktur 65 Phillip Mawhood. Keenam. pola Soviet dan pola tradisional.. penduduk dan identitas hukum (legal identity). 2007. 22. Kedua. Atas dasar kekuasaan dan fungsi tersebut tercipta otonomi.69 Perspektif wilayah. pemerintah lokal dipandang sebagai tingkat pemerintahan yang terpisah dari pemerintah. kesatuan hukum yang terpisah. 69 Ibid.71 Local government dalam disertasi ini meliputi kesatuan-kesatuan pemerintahan di bawah Pemerintah Pusat di negara kesatuan atau di bawah negara bagian dalam negara federal.. Tiap pemerintah (an) lokal memiliki wilayah dan penduduk tertentu. pemerintah lokal mempunyai status badan hukum dan kekuasaan untuk menarik sumber daya guna melaksanakan fungsi-fungsinya. 1999. Local Government in the Third World: The Experience of Tropical Africa. tetapi sebagai masyarakat setempat. Meenakshisundaram. mengidentifikasi empat pola pemerintahan lokal: pola Perancis. Sage Publications Ltd. New York. are spent and invested at their own discretion65 Badan yang dibentuk tersebut lazim disebut local government.72 Dalam disertasi ini local government dibatasi pada village (desa). Meenakshisundaram70 mengidentifikasi sejumlah ciri dari pemerintah (an) lokal. the creation of bodies sparated by law from the national centre. Tata Hubungan Kewenangan Pemerintah Pusat dan Daerah dan Antar Daerah. hal 9 67 Ibid. Kesatuan pemerintahan tersebut adalah province. dalam SN Jha & PC Mathur (ed). Their area of outhority is limited but within that area their right to make decision is entrenched by the law and can only be altered by new legislation. 1983 hal. Keempat.. FISIP UI... Decentralization and Local Politices. 72 Harold F. I Wayan Suarjaya. hal. G. local government memiliki anggaran sendiri dengan rekening yang terpisah dari rekening pemerintah dan memiliki wewenang untuk mengalokasikan sumber-sumber daya yang substansial. pemerintah lokal memiliki batas-batas geografi yang jelas dan secara yuridis diakui dimana berlangsung kewenangan dan fungsi publik yang dijalankannya. 2 66 Ibid. London: Sage Publication. London: Mc Graw-Hill Book Company.. Alderfer.. pemerintah lokal dipandang berfungsi menyelenggarakan layanan publik. Alderfer. Istilah local tidak diartikan sebagai daerah. distric. 1983 hal. Ketiga. Shabbir Cheema dan Dennis A. Dikatakan: Exept for the traditional local government as it is to day is a product of Western civilization-even the Soviet with all of its revolutionary and socialistic instituions and practices has features not only from Tentang Tata Hubungan Kewenangan Pemerintah Pusat dan Daerah di Kantor Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara. hal 42 68 Bhenyamin Hoessein. SS. Their political base is the locality and not-as it is with the commisioners and civil servants – the nation. Harold F. 1964 hal 23 53 Analisis pelayanan . pemerintah lokal bersifat otonom dan mandiri. 54 . They have resources which. municipality dan village.

55 Analisis pelayanan . 438 76 Nazeem Ismail. isu ketatanegaraan dan pemerintahan. hal 94 TIFA – 74 73 kebermanfaatan atau kegunaan. there is no other category. Lorenzi. Saheed Bayat dan Ivan Meyer mengamati bahwa: Undoubtedly.Catherine. Op. I Wayan Suarjaya. dalam editorialnya. Otonomi Desa Masa lalu. In other words. sebagai pisau analisis pelayanan publik. Kedua. Terminologi publik di sisi lain. DeVery menyatakan bahwa pelayanan berasal dari kata service yang mengandung dua pengertian yakni “ . Difinisi ini masih ada kelemahannya bahwa pelayanan itu bukan semata – mata tidak kasat mata.. 2005 . FISIP UI. Skiner dan Crosby yang dikutip oleh Ratminto & Winarsih bahwa pelayanan adalah produk yang tidak kasat mata (tidak dapat diraba) yang melibatkan usaha manusia dan menggunakan sarana. there is inadequate literature on indigenous administration. Pustaka Pelajar. Dalam Pasang Surut Otonomi Daerah. hal. Pengertian kedua mengandung suatu Ibid.79 Dengan demikian pelayanan merupakan suatu usaha untuk mempertinggi kepuasan pelanggan. hal.75 Berbagai penelitian dan kajian tentang desa di Indonesia selama ini terpusat pada empat isu kritis. Nazeem Ismail. Lungu (1980)... Manajemen Pelayanan.. it is difficult to point to any governmental system that is unaffacted by Western culture.7 Sample Stratrgies for Success. Masa Kini dan Masa Depan. Sementara. Keempat. isu ekonomi politik.. Pengertian pertama mengandung unsur ikut serta atau tunduk. Management Series.. Saheed Bayat & Ivan Meyer. 14 Ibid. mata (tidak dapat diraba) dan melibatkan upaya orang dan sarana yang disediakan oleh pelayan. But in all the world today. Desa Adat merupakan self governing community (otonomi Asli). Pelayanan Pubblik Menurut Ivancevich. cit.prerevolutionary Russia but also from nineteenth century continental Europe. 118 78 DeVery. isu keterbatasan sumber daya. the Dalam tulisannya. and little from administrative theories. isu adat dan lokalisme. Sutoro Eko menyebut pemerintahan lokal tradisional di Indonesia sebagai Desa Adat atau Desa Pakraman di Bali. Disamping Desa Adat terdapat pula Desa Dinas sebagai local self government. 14 75 Sutoro Eko. AIM. Tahun. C. 56 .. hal 33 2006 hal. for example. Pengertian kedua ini sejalan dengan pendapat Davidow Uttal seperti yang dikutif oleh Endang Wiryatmi Trilestari yang menyatakan bahwa “.whatever enhances customer satisfaction”.74 Selanjutnya dikatakan bahwa Oleh karena itu. tetapi dapat dirasakan oleh kedua belah pihak. hal. Local Government Management.. Competitive Edge. so for our purposes “traditional” means non-Western. observes that existing descriptions of indigenous administration come mainly from anthropologist and historians. Pertama. Mengenai pengertian publik dapat 77 ILD Jakarta. International Thomson Publishing (Southern Africa) (Pty) Ltd. sering diartikan sekelompok masyarakat. Sketsa Perjalanan 100. Gronroos menyatakan bahwa Pelayanan adalah suatu atau serangkaian aktivitas yang bersifat tidak kasat mata yang terjadi sebagai akibat dari adanya interaksi antara konsumen dengan karyawan atau oleh organisasi pemberi 77 Ciri pokok dari pelayanan sifatnya tidak kasat pelayanan. means that a government is indigenous to the place where it exists. 2 Ratminto & Atik Septi Winarsih.73 The term “traditional local government” as far as we are concerned here. all governmental institutions and practices are either Western or traditional. South Africa. Ketiga. hal. Good Cervice is Good Busineess. 2007. l994: 8 79 Endang Wirjatmi Trilestari. 1999. dalam disertasi ini.76 attendance of an inferior upon a superior” atau “to be useful”78. Administrasi Pembangunan dan teori desentralisasi akan digunakan pula. Indigenous/traditional local government.

htm. seperti halnya Desa Pakraman memberikan pelayanan publik. Pelayanan publik yang dimaksud adalah segala bentuk kegiatan pelayanan yang dilakukan oleh suatu organisasi atau individu dalam University Press. berbangsa dan bernegara. T. without disthinguish between them “81. hal 21 82 Endang. dan atau pelayanan administrasi yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik. Padahal pada kenyataannya. Lebih lanjut dinyatakan bahwa jenis pelayanan publik adalah seluruh pelaksanaan tugas dan fungsi institusi yang bermuara pada pelayanan kepada masyarakat. jasa.. hal.The public as a political community the polis-in which all citizens (that is adult males and nonsleves) participated” Artinya publik dilihat dari berbagai perspektif seperti pluralist perspective. Harjoso.. 2007. masyarakat dan stakeholders bukan hanya merasa teralienasi dalam penyelenggaraan pelayanan publik tetapi yang lebih buruk lagi adalah pelayanan tersebut sering tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Kelemahannya adalah pelayanan publik seakan-akan hanya tugas pemerintah/negara saja. Pelayanan publik menurut pandangan Roth adalah “… any services available to the public whether provided the public choice perspective..polis. Oxford 80 bentuk barang dan jasa kepada masyarakat baik secara individu maupun kelompok atau organisasi. yang diberikan oleh pemerintah.. yakni semua penduduk tanpa kecuali dalam suatu komunitas yang ikut berpartisipasi di dalam pemerintahan..80 Frederickson mengungkapkan pengertian publik. hal 12 85 Dwiyanto. Leo. Selain itu. Jurnal Forum Inovasi September Nopember. Menurut Soepodo pelayanan publik adalah segala bentuk kegiatan institusi yang mempresentasikan tugas dan fungsi pemerintah/negara terhadap pemenuhan hak dan kebutuhan masyarakatnya dalam kehidupan bermasyarakat. September – Nopember 2003. H. Partisipasi masyarakat dalam perencanaan. Akibatnya. G. sedangkan pemantauan/pengawasan oleh masyarakat ditempatkan sebagai pengguna layanan yang pasif. pelaksanaan dan evaluasi pelayanan publik. Peran Masyarakat Dalam Reformasi Pelayanan Publik Di Indoensia. Dalam konsep ini peran utama masyarakat hanyalah menerima pelayanan publik. cit. juga didorong oleh 84 Soepodo. Op. cit. the citizen persepective.. institusi di luar negara juga memberikan pelayanan publik. Kelemahan dari pengertian mengenai pelayanan publik juga dinyatakan oleh Dwiyanto85 bahwa pelayanan publik masih dikonsepsikan sebagai pelayanan pemerintah. Masyarakat dan warga pengguna layanan tidak memiliki hak untuk ikut terlibat dalam proses produksi. pengaturan dan penyelenggaraan pelayanan publik. Pengertian publik selanjutnya diungkapkan “ . Publik dalam aneka perspektif: htt://www. memberikan landasan pengertian mengenai pelayanan publik. distribusi.. the public to mean oll the people in a society. Jurnal Forum Inovasi. dan semua penduduk berpartisipasi di dalamnya. “. W. penyelenggaraan. I Wayan Suarjaya.. Pelayanan publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan dasar sesuai dengan hak – hak sipil setiap warga negara dan penduduk atas suatu barang. Agus.adalah suatu masyarakat . 58 . diakses 29 Maret 2006 81 Fredreckson. dimana pemerintah memonopoli pengaturan. The Private Provision of Public Services in Developing Countries EDI Series in Economic Development Published for the World Bank.com/cetak/1204/30/0801. the service providing perspective. penempatan masyarakat sebagai pengguna pelayanan yang pasif. Op.82 Pengertian pelayanan dan pengertian publik tersebut di atas. Agustino. 24..pikiran rkyat . FISIP UI. 57 Analisis pelayanan . publicly (as is a museum) or privately (as is a restaurant meal)83 Any services yang diungkapkan oleh Roth berkaitan dengan barang dan jasa dalam pelayanan. Kedua pengertian ini saling memperkuat pengertian publik atau masyarakat. 1987 hal 1. 2003. hal 33 83 Gabriel Roth.84 Pandangan Soepodo ini memiliki kelemahan dan kelebihan.

Barang dan jasa dalam pelayanan publik oleh Olson dan Lean yang dikutip oleh Endang WT diketagorikan dalam dua kelompok. mengingat biaya pelayanan publik. Pelayanan publik ini terutama diberikan untuk hal hal yang sifatnya mendasar seperti pendidikan. Chatham House Phublishers. cit. l987: 18 89 E. dan setiap orang tidak dapat dicegah untuk mengkosumsinya. Agus. 1996. non rivalness. hal 34. Mengacu pada berbagai pengertian pelayanan publik yang dikemukakan pakar di atas. Jurnal Kebijakan dan Administrasi Publik Vol I. bukanlah pelayanan pelanggan (customer) tetapi melayani warga negara. Lean menyatakan barang publik adalah “. Aspek pelayanan meliputi. 38 86 Hakekat dari pelayanan publik adalah pemberian pemenuhan pelayanan kepada masyarakat yang merupakan perwujudan kewajiban pemerintah atau institusi sebagai abdi masyarakat. 1996. Dwiyanto. 60 . Sedangkan Savas mengembangkan jenis barang tersebut menjadi empat.e. hal 23 Dwiyanto. 1996 . Savas. adalah “. waktu pelayanan.. cit. Kemitraan Peneruntah Swasta dan Relevansi terhadap Reformasi Administrasi Negara. 29. dan indikator kualitas pelayanan. Pendekatan baru yang melibatkan masyarakat dalam pelayanan publik adalah “maklumat pelayanan” (citizen charter)91.90 Implikasi dari konsep pelayanan terhadap pelanggan dan warga negara memiliki perbedaan yang cukup mendasar. 2) barang privat (private good).87 goods”89. Privatization The Key to Bettrr Government.T. toll goods. Public Choice an Introduction. Pelayanan publik yang dilakukan birokrasi. antara lain bersumber dari pajak yang dibebankan kepada setiap warga negara. Op.. New York. perekonomian. W. i. 1) barang publik (public good).T. and non-excludability. “private goods. kependudukan. Agus. hal. Birokrasi publik dibentuk sering bukan untuk melayani warganya tetapi untuk menjalankan kekuasaan negara atas warganya. Secara empiris pelayanan publik dapat pula bersumber dari institusi yang lahir dan berkembang dari masyarakat itu sendiri (self-governing community ) dan bukan atas dasar insititusi bentukan 90 91 Dwiyanto. S. Agus. 86 Pelayanan publik pada umumnya pemerintah melakukan pengaturan terhadap barang publik atau barang setengah publik. Inc.a pure public good. Warga negara yang juga sebagai pembayar pajak memiliki kontribusi yang cukup besar dalam pelayanan publik. cit.. Oleh karena itu semangat organisasi publik dalam memberikan pelayanan tidak hanya mengatur penyediaan pelayanan tetapi lebih mengutamakan memberikan pelayanan kepada masyarakat... people must act collectively”. biaya. I Wayan Suarjaya.orientasi birokrasi yang cenderung lebih terfokus kepada kekuasaan daripada pelayanan. New. and it Pengertian ini memberikan ciri bahwa setiap orang tidak dapat menyediakan kebutuhannya sendiri melainkan harus disediakan secara berkelompok. menuntut instansi penyedia pelayanan lebih bertanggung jawab terhadap pelanggannya tidak hanya sekadar melayani. Pendekatan ini menekankan warga dan stakeholders bersama-sama dengan penyelenggara pelayanan menyepakati keseluruhan aspek pelayanan publik. masih terdapat satu hal yang diabaikan dalam pemberian definisi. 88 Iain Mc Lean. 2007. Sejalan dengan kegiatan pelayanan publik dikatakan oleh Londsdale & Enyedi dikutif oleh Endang. FISIP UI. Pelayanan publik yang merupakan bentuk pelayanan terhadap warga negara. Barang yang satu dengan barang yang lain mempunyai karakteristik yang berbeda. disamping itu tidak dapat dipisahkan antara konsumen dengan produsen. Dalam penyediaan kebutuhan secara berkelompok tersebut dipengaruhi oleh adanya perbedaan secara filosofis barang layanan. ketenaga kerjaan dan pertanahan. aspek prosedur. Op. Op. Jersey. common pool goods and collective involves things which people can not provide for them selves. 1987.something made available to the whole of population. hal 23 87 Endang W. 59 Analisis pelayanan ..”88 Oleh karena demikian barang publik murni dikonsumsi secara bersama...

Blackwell Publishers. penerangan jalan. pertama.. air bersih. pertama sektor pemerintah/negara. pertama.96. pasar. Market and Civil Organizations: New Theories. Endang WT. sertifikat pertanahan dan lain sebagainya. dapat dibedakan menjadi dua. 62 . pemadam kebakaran. hal 8 Davit Mc Kevitt. Jenis Pelayanan Publik Penyediaan pelayanan publik. 92 Davit Mc Kevitt. kelompok pelayanan perkotaan termasuk envrionmental services.94 Berbagai jenis pelayanan yang dibutuhkan masyarakat.. yaitu untuk pelayanan yang bersifat massal disebut public service. kedua. “. a. memeriksa kesehatan.95 Para pengamat mengakui bahwa dalam era reformasi dan kompetisi yang membutuhkan kerja yang transparan dan efisien. kedua pelayanan tersebut merupakan kewajiban pemerintah untuk menyediakan dan hanya dalam hal-hal tertentu yang menyangkut lebih banyak pada kepentingan individu pemerintah dapat melakukan partnership dengan sektor swasta. Op. cit. Alain de. Proses pembelajaran seperti ini serta ditunjang dengan peningkatan kompetensi para aparatur. keamanan dan kesejahteraan. hal. Op. kesehatan. tetapi juga dilaksanakan oleh institusi/organisasi yang tumbuh dan berkembang dari bawah. Pada umumnya jenis pelayanan publik ini lebih bersifat pengaturan. cit. kesehatan. Jenis layanan perkotaan tersebut adalah: jalan. kebersihan sampah. administrasi kependudukan. seperti. pelayanan pendidikan. Managing Core Public Service. hal 79 96 95 92 93 hal 11 Savas E. pembuangan sampah. pelayanan yang bersifat individual (privat service) seperti pelayanan dalam membuat kartu tanda penduduk. cit. penyediaan lembagalembaga pendidikan dan pemeliharaan keamanan. hal 38 94 61 Analisis pelayanan .. lebih jauh memaparkan bahwa Dwiyanto. 2007. 1995. sehingga beban pemerintah tidak terlalu berat. 1998. sedangkan pelayanan yang bersifat individual diberi nama privat service. S. diharapkan pelayanan publik dapat terus ditingkatkan ke arah yang lebih baik. pemerintah harus meningkatkan kualitas aparatnya dan sekaligus perlu belajar dari kalangan swasta yang menyediakan pelayanan yang baik dan mampu menjaga hubungan dengan konsumen. kedua jenis pelayanan ini diberi nomenklatur yang berlainan. Norman. surat izin mengemudi. Dalam beberapa literatur. New Pratices and Their Implications for Rural Development. tetapi kewajiban utama tetap ada di Pemerintah. I Wayan Suarjaya. FISIP UI. pelayanan yang bersifat massal seperti penyediaan transportasi. mengelompokkan Pelayanan ke dalam dua jenis pelayanan.those services. pelayanan di bidang perijinan. secara garis besar dapat dibagi ke dalam dua bagian besar yakni. Menurut Uphoff. perhubungan dan lain sebagainya. kedua. State. Agus. b. Grassroots Organizations and NGOs in Rural Development: Oppurtunities with Diminishing States and Expanding Markets dalam Janvry. pelayanan publik yang hanya dapat dilaksanakan oleh pemerintah. Terlepas dari pembedaan sebutan yang diberikan. Op.. Uphoff. core public sevice dalam pemerintahan didefinisikan sebagai. kedua sektor privat/pasar. sebagai contoh.. listrik. pertamanan. et all. Devas menambahkan penyediaan pertokoan..negara/pemerintah. 1. ketiga NonGovernment Organization (NGO)/Grassroot Organization/Civil institution. pelayanan publik yang penyelenggaraannya di lakukan secara bersama-sama antara pemerintah dengan swasta.93 Devas dalam Endang WT memisahkan pelayanan yang diperlukan atau yang dimungkinkan oleh konsentrasi fisik penduduk.. London. which are important for protection of citizen well-being” termasuk di dalamnya pelayanan pendidikan. 30 Uphoff. terdapat tiga sektor yang terlibat dalam memberikan pelayanan publik. Mac Millan Press LTD. pusat-pusat kesehatan. Pemikiran ini merupakan sebuah pendekatan modern yang dilakukan di negara-negara maju. Di sisi lain pelayanan publik tidak sematamata dilakukan oleh pemerintah.

. Kedua sektor privat: (1) mekanisme pengendali layanan publik mengandalkan proses pasar. hal 23 100 Uphoff. Seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa ada jenis pelayanan yang tidak dapat dilaksanakan oleh pihak lain kecuali oleh pemerintah. FISIP UI... hal 79 Suwondo. tetapi pelayanan publik mencakup persoalan yang lebih mendasar yakni pemenuhan kebutuhan pelanggan. 62.99 Ketiga sektor NGO dan GRO (1) mekanisme pengendali pelayanan adalah suatu asosiasi sukarela. Op. dan (6) modus operandi pelayanan dilakukan dari bawah (bottom up). hal. Op. Es. (3) pedoman perilaku adalah persetujuan anggota. Sedangkan GRO atau organisasi akar rumput adalah suatu organisasi yang tumbuh dari bawah. para penabung dan investor. cit. (4) kriteria keberhasilan keputusan/layanan adalah efisiensi yaitu memaksimalkan keuntungan dan atau kepuasan dan meminimalkan kerugian dan atau ketidak puasan. 2007. (4) kriteria keberhasilan keputusan adalah banyaknya kebijakan yang berhasil diimplementasikan. Norman. (5) sanksi yang berlaku berupa kerugian finansial.. sedangkan pelayanan oleh sektor Grassroot Organization (GRO) yang dilaksanakan oleh Desa Pakraman sebagai Sektor ketiga terdapat perbedaan antara NonGovernment Organiztion (NGO) dan Grassroot Organization (GRO). (6) modus operandi pelayanan dilakukan oleh perorangan. dan (6) modus operandi layanan mendasarkan mekanisme yang berasal dari atas (top down) atau pemerintahan sendiri98. Pelayanan publik merupakan bagian yang tak terpisahkan dari fungsi dan tugas pokok pemerintah. hal 22 99 Uphoff. Op. setara dengan Desa Pakraman di Bali yang tumbuh dan berkembang dari bawah. (3) dalam memberikan layanan berdasarkan kepada aturan birokrasi (perundang-undangan). cit. Jenis pelayanan ini umumnya yang bersifat pengaturan yang telah ditentukan oleh peraturan perundang – undangan yang berlaku. strukturnya juga jelas mulai dari tingkat internasional sampai ke tingkat individual. Hakekat pelayanan publik bukan semata-mata persoalan administratif belaka seperti pemberian ijin dan pengesahannya atau pemenuhan kebutuhan fisik seperti pengadaan pasar dan puskesmas. (2) sebagai pengambil keputusan adalah administrator yang dikelilingi oleh elit ahli. Ketiga sektor tersebut merupakan institusi yang saling melengkapi dan saling berhubungan dalam memberikan pelayanan97. NGO merupakan organisasi yang jaringannya sampai service) Terminologi pelayanan oleh pemerintah (government diartikan sebagai pemberian pelayanan oleh birokrasi pemerintah melalui pegawainya kepada masyarakat101. (5) dalam memberlakukan sanksi mempergunakan kekuasaan negara yang mempunyai sifat memaksa. Norman. cit.keberhasilan pelayanan publik banyak bergantung pada kolaborasi sinergis antara ketiganya. maka dalam penelitian disertasi ini dikaji dua sektor yang memberikan pelayanan publik yakni sektor pemerintah yang dilaksanakan oleh Desa Dinas sebagai local gavermment. self-gaverning community. Berdasarkan pendapat Uphoff yang menyatakan bahwa ada tiga sektor yang memberikan pelayanan publik. Hal ini wajar karena dalam setiap Savas. I Wayan Suarjaya. hal 24 98 97 ke tingkat internasional. Op. 101 63 Analisis pelayanan . Organisasi ini tidak terstruktur sampai ke tingkat internasional. cit. 64 . Oleh karena itu. (3) pedoman perilaku adalah kecocokan harga. (2) pengambilan keputusan dilakukan oleh individu.100 Ibid. (5) sanksi yang ada berupa tekanan sosial anggota. (4) yang dijadikan sebagai kriteria keberhasilan suatu keputusan adalah terakomodasinya kepentingan anggota. (2) pembuatan keputusan pelayanan dilakukan secara bersama-sama oleh pemimpin dan anggota. bahkan tidak jarang GRO tumbuh dengan tingkatan lokal belaka. Pertama sektor pemerintah: (1) yang menjadi mekanisme pengendali pelayanan adalah organisasi birokrasi yang berjenjang mulai dari pusat sampai ke daerah.

strategic terkait dengan kebutuhan dasar manusia untuk merespon suatu kejadian yang sangat penting. pemenuhan dan pemberian pelayanan kepada pelanggan merupakan suatu tuntutan. misalnya pendidikan. WT. hal 38. 66 . Leach & Davis memisahkan pelayanan dalam tiga fungsi. Pemerintah dalam hal ini berperan dalam pengaturan dan pembuatan regulasi yang bertujuan untuk mengatur aktivitas pelayanan barang dan jasa kepada individu maupun kelompok yang berhak menerima pelayanan tersebut. dalam bentuk pelayanan sosial seperti kesehatan. New York: Oxford University Press. IMB. Prasyarat dalam pemberian pelayanan adalah kualitas pelayanan dan kepuasan pelanggan demi kelangsungan dan perkembangan organisasi penyedia layanan. pemerintah berfungsi menyediakan jasa layanan bagi masyarakat. Public protection fungtion merupakan pelayanan yang organisasi. penyelenggaraan jasa pos dan telekomunikasi. FISIP UI. et. BPKB. S. G. Selain regulasi dan pengaturan.infrastructure function. perumahan. pemeliharaan kesehatan. hal.al 1996 Enabling or Disabling Local Government. and local environmental functions. Pelayanan Administrasi. peran yang selama ini suka mengatur dan minta dilayani menjadi suka 105 Roth. I Wayan Suarjaya. pelayanan publik yang dilakukan oleh pemerintah dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok. 104 Endang.. sertifikat kompetensi. transportasi dan sebagainya. seperti jaringan telpon. Dalam penyediaan layanan barang dan jasa. KTP. sesuai dengan ketentuan Adat.”102 Setiap fungsi dilakukan dengan tujuan. yang memberikan perlindungan kepada warga. pelayanan jasa. perlindungan masyarakat dari gangguan keamanan oleh petugas keamanan. personal. Roth105 menjelaskan bahwa pelayanan yang disediakan untuk publik diwujudkan dalam bentuk barang dan jasa. pendidikan. akte kelahiran dan kematian dan lain sebagainya. c). serta bentuk pelayanan yang menunjang perekonomian masyarakat. 36. yaitu pelayanan yang menghasilkan berbagai jasa yang dibutuhkan oleh publik.. kepemilikan atau penguasaan terhadap suatu barang. a). Markets and Community. Pelayanan publik yang diberikan pemerintah dalam kerangka pemberdayaan masyarakat dan bukan untuk menyuburkan ketergantungan masyarakat kepada Pemerintah. EDI Series in Economic Development Published for the World Bank. pertamanan104. menyatakan bahwa. hal. 2007. contoh. 102 Steve Leach. Ketika sumber-sumber daya publik cenderung semakin langka keberadaannya.. 1). air bersih. 65 Analisis pelayanan . maka seyogianya dikembangkan pemberdayaan baik di kalangan masyarakat maupun aparatur. The Private Provision od Public Services in Developing Countries. Pendapat Leach & Davis tentang pelayan publik oleh pemerintah. 1987. Pelayanan barang yaitu pelayanan yang menghasilkan berbagai bentuk/jenis barang yang digunakan oleh publik. yaitu pelayanan yang menghasilkan berbagai bentuk dokumen resmi yang dibutuhkan oleh publik.103 b). guna mengurangi beban pemerintah dalam pelayanan publik. seperti status kewarganegaraan. cit. tenaga listrik. seperti pelayanan dalam bencana alam. pelayanan yang diberikan dalam bentuk pelayanan transportasi. 1996. paspor. 3).public protection functions.. Fungsi Pemerintah dalam pelayanan sangat komprehensip. The Demensions of Analysis Govermance. Strategic infrastructure functions merupakan pelayanan yang diberikan oleh pemerintah yang berkaitan dengan kebutuhan infrastruktur. Choices for thr Future Buckingham Philadelphia Open University Press. “ . dalam Leach.. 2). air bersih. 3 103 Pecalang adalah petugas keamanan yang diangkat oleh Desa Pakraman. seperti hansip dan pecalang di Bali. Personal and local environmental functions adalah pelayanan untuk memenuhi kebutuhan individu dalam suatu masyarakat. Peran dan posisi birokrasi dalam pelaksanaan pelayanan publik harus diubah.. Op.

Pertimbangan politik dalam rangka menghindari kemungkinan masyarakat dirugikan oleh pelayanan yang diberikan pasar yang seringkali kepentingannya berbenturan dengan kepentingan publik. (7) permasalahan dapat diatasi oleh sektor publik. Yogyakarta. kebutuhan dan harapan masyarakat. 67 Analisis pelayanan . maka pemerintah secara selektif mengidentifikasikan barang atau jasa yang dikategorikan barang publik (public goods) dan dikategorikan barang swasta (private goods). dan ketimpangan informasi. c). melimpahkan fungsi kepada sektor swasta yang lebih profesional (privatezing). suka mendengarkan tuntutan. yaitu: a). skala ekonomi. hal 2 108 Ibid.. Kegagalan mekanisme pasar tersebut dimanifestasikan dalam bentuk monopoli. karena terdapat kecenderungan pelayanan yang diterima masyarakat masih jauh dari yang 106 Thoha. dimana masyarakat tidak dapat menyediakan kebutuhan pelayanan secara sendiri-sendiri.106 Pemerintah berperan dalam bentuk pelayanan oleh birokrasi kepada masyarakat didasari pada alasan berikut:107 a). 6.. sebenarnya pemerintah tidak seharusnya mengerjakan yang tidak menyangkut hajat hidup orang banyak110. Desentralisasi pelayanan Publik. Miftah. Dalam kondisi demikian. program. b). Adanya kegagalan mekanisme pasar. hal 13 Suryawikarta. b). Hubungan komplementer antara sector Negara. 5.melayani. Jurnal Admistrasi Negara. maka pertumbuhan beban pemerintah 109 110 Ibid. 2 Maret 2001. mekanisme pasar dan Organisasi Non Pemerintah. Universitas Brawijaya. mempermudah prosedur (steamining). Beberapa aspek kebijakan Birokrasi. hal. hal.109 Pertimbangan filosofis yang mendorong pemerintah untuk privatisasi pelayanan kepada masyarakat. mereduksi ukuran dan jumlah lembaga pemerintah. 2007. (8) keterlibatan pemerintah dikurangi dalam pengambilan keputusan oleh swasta. 68 . (10) tercapainya manfaat politik. Kenyataannya pelayanan yang disesuaikan tuntutan standar dan norma oleh organisasi publik masih perlu diperbaiki lebih lanjut. (9) kepentingan nasional terlindungi. Bila barang dan jasa yang sebenarnya bercirikan swasta masih juga diproduksi atau terlalu banyak disubsidi oleh pemerintah. Organisasi pemerintah mesti dikelola secara baik. 107 Suwondo. FISIP UI. cit. Op. (5) dimungkinkan kepemilikan modal oleh pekerja. dan staf (downsizing). (6) modal pasar diperkuat. I Wayan Suarjaya. hal 12 diharapkan. 1999. sehingga pelaku bisnis tidak tertarik untuk menyelenggarakan pelayanan publik. Zauhar. (2) keadilan. Penerapan konsep privatisasi dalam suatu manajemen pemerintahan akan memiliki implikasi berikut: (1) efisiensi dicapai melalui kompetisi.. Widya Mandala. c). Ada beberapa hal penting yang perlu dipertimbangkan dalam pengelolaan pemerintahan yang baik sekaligus dapat mereduksi biaya operasional dan pemberian pelayanan. (3) utang pemerintah dikurangi (4) kepemilikan modal perusahaan diperluas. Pelayanan yang disediakan oleh pasar belum secara optimal karena adanya barang-barang publik yang dapat dinikmati pada saat yang bersamaan oleh orang lain tanpa mempertimbangkan perannya dalam penyediaan barang publik tersebut. mereformasi lembaga-lembaga secara struktural agar dapat menjalankan misinya dengan baik (re-structuring).108 Uraian di atas menguatkan pemahaman bahwa pelayanan publik merupakan suatu kegiatan yang diselenggarakan oleh institusi baik pemerintah maupun swasta dan lembaga lain dalam menyediakan jasa layanan kepada masyarakat. dan d). adanya eksternalitas yaitu manfaat dan kerugian dari suatu kegiatan produksi tidak diperhitungkan dalam penetapan harga. Soesilo. Malang Vol I No..

sehingga berbagai tuntutan pengguna jasa publik akan lebih cepat dapat direspon. yakni tenaga kerja (SDM).. Adapun ciri-ciri dari struktur yang didesentralisasi (flat) adalah sebagai berikut113: a. Oleh sebab itu. menjadi flat.al. fleksibilitas yang meliputi tugas-tugas dan unit. perlu perubahan struktur dari vertikal menjadi horisontal atau dari tall.. better. 111 Osborne. Kondisi ini dikatakan sebagai pemerintahan desentralisasi dari hirarki maupun partisipasi dan tim kerja. . Insentif yang didasarkan atas prestasi kerja (sistem merit) akan memacu pegawai untuk meningkatkan keterampilan dan kualitas kerjanya sehingga dapat berpengaruh terhadap kualitas pelayanan115. d. dalam konteks pelayanan publik. Modal fisik dan non-fisik memberikan kesempatan kepada organisasi pemda untuk mengembangkan diri sesuai perkembangan jaman agar dapat memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat. hal. hal.akan semakin besar. 2007. 24. f. cit. Pada tipe ini kewenangan pemerintahan Desa Dinas ditekankan sebagai penyedia langsung pelayanan publik pada lapisan grassroot. cit. g. deskripsi tugas secara umum. muncul desakan untuk berubah terhadap peran pemerintah yang lebih dimungkinkan dan menghilangkan otoriter dan sentralistik menuju pemberdayaan masyarakat (desentralisasi) hal ini tampaknya 114 115 116 1991 . dan insentif dalam pemerintahan. cit. e.. 150. menekankan pada kerja sama tim. Leach Op. b. Hal ini dimaksudkan untuk mendekatkan jarak antara pengambil keputusan dengan pelanggan yang oleh Stewart disebut sebagai close to the customer112. pendekatan manajemen yang didesentralisasikan. 151 Asfar.. hal. modal. maka pelayanan dilaksanakan oleh pemerintah daerah114 yang memiliki beberapa varian yaitu: kewenangan birokrasi tradisional. sehingga efesiensi dan efektivitas dalam manajemen pemerintahan dalam pelayanan. Kewenangan birokrasi pemerintah daerah yang dilimpahkan kepada pemerintah lokal ini tidak memberikan perhatian yang cukup dalam mengidentifikasi kebutuhan masyarakat dan tidak melakukan perbaikan pada pola-pola yang tepat dari penyediaan pelayanan pemerintah. Berbagai upaya tersebut pada intinya difokuskan bagi penataan pemerintahan dalam pelayanan publik agar dapat merangsang pertumbuhan sektor swasta dan masyarakat luas. Secara kelembagaan.. Tenaga kerja yang berkualitas tinggi dapat menjadi tidak efektif pemanfaatannya jika yang bersangkutan tidak memiliki akses yang cukup pada penggunaan teknologi yang dibutuhkan dalam melaksanakan pekerjaan.. Asfar. hal. Reinventing Government: How The Entreprenuerial Spirit is Transforming The Public Sector. serta meningkatkan kualitas pelayanan publik. Struktur yang didesentralisasi merupakan suatu solusi yang mendekatkan pembuat keputusan publik dengan pengguna jasa publik. Hak ini mendorong dikembangkan paradigma reinventing govenrment dengan prinsip a smaller. et. c. I Wayan Suarjaya. cit. FISIP UI. Op. h. hal. Kewenangan birokrasi tradisional dalam penelitian ini difokuskan pada kewenangan Desa Dinas. Op. jalur karier fungsional yang melewati berbagai fungsi. cit.. 10. tidak akan tercapai. et. Op. New York. hal.Op.al. jenjang manajemen yang semakin rendah. penyedia kewenangan tersisa. upaya untuk mendekatkan pengambil keputusan dengan pengguna jasa memang diperlukan perubahan kelembagaan dan pembangunan kelembagaan. 24. 283 69 Analisis pelayanan . penyedia yang berorientasi pasar dan penyedia yang berorientasi masyarakat Ada tiga faktor kunci yang menentukan kapasitas pemda daerah. tugas-tugas didefinisikan secara jelas. Tipe ini menurut pandangan Leach dkk116 sangat sulit dipertahankan dalam legislasi pemerintah. faster and cheafer government111. David and Ted Gaebler. 113 Zauhar. Penguin Book. Tanpa mengabaikan konsep privatisasi yang diterapkan. difokuskan terutama pada pelanggan. 112 Zauhar. 70 .

improvement (pengembangan/perbaikan). vision (pandangan ke depan). aspek pelayanan menekankan pada strategi pelayanan yang disebut sebagai The seven Secrets of Service Succes. dengan kata lain pelayanan yang diberikan tidak menimbulkan ketergantungan masyarakat. 8 71 Analisis pelayanan . 119 DeVery. pasar dapat lebih dipercaya sebagai mekanisme yang lebih efisien dan efektif untuk penyediaan barang/kebutuhan dan jasa. Penerapan prinsip ini memerlukan penataan birokrasi pemerintah sebagai organisasi yang menyelengarakan pelayanan. al118. Secara historis.. Sehingga dengan demikian mampu bersaing dalam pemberian pelayanan barang/jasa. masyarakat perlu berpartisipasi. membantu pemerintah mengalokasikan sumber daya yang sesuai dengan pilihan masyarakat. Filosofi dari pandangan ini menempatkan pemerintah lokal perannya yang lebih kuat dan lebih aktif dalam hubungan dengan pemberian pelayanan kepada publik.. exceed expectation (harapan yang berlebih). cit. terlihat sejak akhir tahun 1970-an di berbagai belahan dunia.. l992 hal 27 118 Azfar. Ekonomi dan Perencanaan. Monel pelayanan yang berorientasi pasar. Op. 2). FISIP UI. 2007. disamping itu dapat memanfaatkan partisipasi/potensi masyarakat untuk bersama – sama memberikan pelayanan publik. 15-17. Menurut Azfar et. Tiga model117 berikut ini lebih memungkinkan untuk diterapkan dalam penyediaan jasa layanan publik. Model pelayanan yang berorientasi masyarakat. Demikian pula halnya pada tataran makro. 1) Model Penyedia layanan tersisa. hal. Melalui partisipasi. Partisipasi masyarakat dalam penyediaan pelayanan publik juga dapat mempromosikan akuntabilitas 117 Khaerudin. Menurut pandangan ini. Pelayanan publik yang baik juga didasarkan pada partisipasi masyarakat. Liberty Jakarta. dan empower (pemberdayaan). Tipe ideal ini didasarkan atas pandangan bahwa seharusnya keberadaan pemerintah adalah menemukan berbagai kebutuhan masyarakatnya. Pembangunan Masyarakat ditinjau dari Aspek Sosiologis. Kelebihan pandangan De Vrye adalah memperkenalkan pemberdayaan. 72 . Kecepatan pelayanan dari segi administrasi misalnya merupakan dambaan masyarakat. yang bertanggung jawab hanya pada seperangkat layanan yang terbatas yang tidak dapat disediakan secara langsung melalui mekanisme pasar atau melalui penyediaan jasa yang lain dengan mekanisme yang lebih tepat seperti pengembangan kerja sama atau melalui lembaga perwakilan pemerintah pusat. dan mengembangkan berbagai sarana pelayanan umum di satu sisi dan di sisi lain akan mengurangi beban pemerintah. Tujuh pola pelayanan yang baik adalah self esteem (harga diri). I Wayan Suarjaya. recover (pembenahan). partisipasi masyarakat dalam pelayanan publik adalah keterlibatan masyarakat dalam proses politik memperlancar arus informasi antara pemerintah dengan masyarakat. memelihara. et al. Model ini menekankan pada peran pemerintah daerah sebagai penyedia terakhir (layanan sisa). pemerintah.. Kriteria Pelayanan Publik Menurut Chaterine De Very119. Kelemahan kriteria pelayanan publik yang dipaparkan oleh De Vrye adalah mengabaikan unsur efisiensi dan kecepatan pelayanan. hal. care (peduli atau perhatian).menjadi starting-point untuk melakukan perubahan. masyarakat akan merasa memiliki. Catherine. khususnya di negara-negara maju terjadi perubahan paradigma dalam sektor pelayanan publik. 3). kualitas kontrol 2.. sekaligus meningkatkan masyarakat terhadap Pemda. Op. cit. pelayanan dari segi pembangunan kesejahteraan merupakan sesuatu yang urgen. Guna mereduksi ketergantungan masyarakat akan pelayanan publik oleh pemerintah.

1997. hal. Sementara itu. efektif mengacu kepada kesesuaian program dengan rencana. Keempat. Op. Pelayanan publik yang efektif dan berkualitas dapat menjadi salah satu indikator penting bagi keberhasilan pemerintah dalam menjalankan roda pemerintahan. A. 92 126 Steers Richard. dan (4) baik aparat birokrasi pelayanan publik maupun masyarakat yang dilayani sama-sama tidak mengetahui dan mendapat kesulitan dalam mengevaluasi kualitas pelayanan publik (mutual ignorance)123. (3) masyarakat yang dilayani lebih mudah memahami dan mengevaluasi kualitas pelayanan dari pada aparat birokrasi 120 121 122 yang melayani (recipient knowledge). dalam pemahaman Amstrong dan Baron124 terdapat beberapa faktor determinan yang mempengaruhi kinerja birokrasi dalam memberikan pelayanan publik yang optimal. faktor tim – kualitas dukungan yang disediakan oleh kolega. Sedangkan efektivitas merupakan tingkat pencapaian tujuan suatu organisasi121. serta fokus pada hasil jangka panjang. hal. Penentuan tolok ukur kualitas pelayanan publik dalam praktek tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kedua. Boughton dan Maycunich125 tentang faktor-faktor yang menyebabkan kegagalan organisasi dalam mencapai kinerja pelayanan yaitu disebabkan karena organisasi gagal: menfokuskan diri pada kebutuhan stakeholders. 125 Maycunich. Erlangga. motivasi dan komitmen. hal. faktor kontekstual (situasional) – tekanan dan perubahan lingkungan internal dan eksternal. I Wayan Suarjaya. cit. Kelima.1985. Op.Perubahan paradigma ini menekankan perlunya pelayanan publik yang efisien. G. London. Hasil studi yang dilakukan Giley. Efisien merujuk kepada waktu biaya layanan. (3) variabel karakteristik kebijaksanaan dan (4) 123 124 Frederickson. 16-17. efektif. Performance Management: The New Realities.. responsif menjelaskan tanggung jawab dalam merespon pelayanan masyarakat. yaitu: (1) aparat birokrasi yang melayani dan pihak masyarakat yang dilayani sama-sama dapat dengan mudah memahami kualitas pelayanan tersebut (mutual knowledge). faktor kepemimpinan – kualitas dorongan. Pertama. Efektifitas Organisasi. 74 . Skelcher. Rue and Byars (1981) mengartikannya sebagai the degree of accomplishment. dan setara120. kompetensi.. New York. Armstrong. 73 Analisis pelayanan . Longman. faktor personal – keterampilan individu. 1998. (2) variabel karakteristik aparat. mengurangi kekeliruan praktek kepemimpinan.. pedoman dan dukungan yang diberikan oleh pimpinan. hal. Efektivitas pelayanan menurut Skelcher dapat digunakan untuk pelayanan publik yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah didasari pada pertimbangan bahwa efektivitas pelayanan publik yang dilakukan oleh pemerintah daerah berkaitan dengan ukuran dari luasnya organisasi dalam pencapaian tujuannya122. Institute of Personnel and Development. 2007. Op. Menurut Skelcher menyatakan ada empat alternatif yang terjadi dalam mengukur kepuasan. di antaranya: (1) variabel karakteristik organisasi. hal 78 Endang Wirjatmi Trilestari. Kinerja sendiri diartikan dengan beragam dan luas. 50. FISIP UI. 42. setara mengacu kepada tingkat kesamaan kualitas layanan yang diterima masyarakat. faktor sistem – sistem kerja dan fasilitas yang disediakan oleh organisasi. cit. Cetakan II. sedangkan Trilestari merangkum pendapat para ahli dengan mendefinsikan kinerja pelayanan publik sebagai tingkat keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.. responsif.. cit. (2) aparat birokrasi yang melayani lebih mudah memahami dan mengevaluasi kualitas pelayanan publik dari pada masyarakat pelanggan yang dilayani (provider knowledge). Michael and Baron. 11 Ibid. ekonomis. kualitas dan efektivitas kinerja pelayanan publik. Managing for Service Quality. hal. 42. Efektivitas merupakan salah satu ukuran kinerja pelayanan publik. C.. menghubungkan kinerja organisasi dengan tujuan dan sasaran strategik organisasi. Ketiga. mengidentifikasi rincian kinerja. 1992. Hal ini diperjelas dengan pernyataan Steers Richad126 bahwa ada beberapa faktor yang perlu diperhitungkan dalam mengidentifikasi kualitas pelayanan publik. hal. mendorong pegawai untuk terlibat dan mendukung organisasi. mengelola kinerja.

2001. informasi. efektifitas kinerja juga dapat dilakukan secara internal maupun eksternal organisasi. Informasi terkait dengan ketersediaan informasi untuk membantu meningkatkan kesadaran dalam kualitas layanan. hal 35. kualitas. kesenangan menggunakan. (2) 127 Hoessein.i. sebagai instrumen untuk melihat tingkat responsibilitas dari suatu kegiatan pelayanan kepada publik. birokrasi pelayanan. tujuan dan misi pemerintah berbeda dengan tujuan dan misi organisasi swasta yang terdefinisikan secara jelas. Bhenyamin. Kualitas terkait dengan pelayanan yang bersifat komprehensif. pilihan. Representasi berkaitan dengan akses komunikasi dari pengguna atau semacam suara pelanggan. Sedangkan secara eksternal. 76 . Indikator efektivitas pelayanan masyarakat ini dibangun atas kesepakatan organisasi. representatif. Ekonomi dan efisiensi menyangkut kepentingan ekonomi pengguna dan pembayar pajak. dan masyarakat penerima layanan.. (4) organisasi pelayanan publik harus selalu dan siap beradaptasi dengan perubahan lingkungan (nilai-nilai baru dalam pelayanan publik). (3) masyarakat mempunyai kepercayaan (trust) kepada organisasi penyelenggara pelayanan publik (terkait dengan partisipasi dan komitmen sosial). efektivitas pengukuran kinerja dimaksudkan untuk melihat seberapa besar kepuasan pelanggan yang menerima jasa layanan publik. Menurut Ashari128. Op. Secara internal. Kinerja pemerintah dipandang efektif apabila proses kegiatan mencapai sasaran sesuai dengan tujuan awal. keamanan. Pengukuran kinerja dari aspek internal dan eksternal dipandang cukup komprehensif karena menyentuh kepentingan pemberi layanan (pemerintah) dan yang menerima layanan (masyarakat). Dimensi tersebut menjelaskan uraian komponenkomponen yang lebih terperinci yang dijadikan indikator efektivitas organisasi. Kedua belah pihak inilah yang sepatutnya menjadi penekanan dalam efektivitas pelayanan publik. November.WT129. 2007. dan kenyamanan dalam memberikan layanan. Kompleksitas karakteristik variabel kualitas pelayanan publik ini berpengaruh terhadap tinggi rendahnya kualitas pelayanan publik yang disediakan. Benefit ditujukan untuk keuntungan kedua belah pihak yakni masyarakat dan pemberi layanan. ekonomi dan efisiensi. 2. Efek samping menjelaskan tentang prosedur 129 responsiveness. cit.. 128 Ashari. Organisasi pemerintah memiliki fungsi yang multi dimensional dengan pelanggan yang amat luas dan beragam..T. Endang W. Jurnal Forum Inovasi. hal. Namun demikian. Persyaratan ini menyangkut Efektivitas kinerja layanan publik. Ganti rugi menyangkut jaringan untuk menyalurkan keluhankeluhan. Dalam kaitannya dengan pemerintah daerah. 62-63. Transparansi Pemerintahan. 75 Analisis pelayanan . ganti rugi. Pilihan menyangkut ketetapan akan pilihan masyarakat. Hoessein127 berpandangan bahwa kinerja pemerintah juga tidak dapat dilepaskan dari fenomena global dan nasional dengan menempatkan masyarakat sebagai elemen utamanya Indikator kinerja yang dikeluarkan pemerintah dianggap normatif dan administratif.variabel praktek manajemen.. FISIP UI. Persyaratan ini berhubungan dengan utilisasi fasilitas pelayanan publik. keuntungan. Selain itu. bersifat memperbaiki dan kecepatan layanan. Mencari format dan Konsep Transparansi dalam Praktek Penyelenggaraan Pemerintah Yang Baik. ada sejumlah metodologi yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja organisasi pemerintah. Akses meliputi ketersediaan layanan dan tingkat keadilan pelayanan untuk masyarakat. I Wayan Suarjaya. hal. Op. isi pelayanan harus sesuai dengan kebutuhan (need) masyarakat. secara teoritik ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi agar pelayanan publik efektif yaitu: (1) organisasi harus mempunyai kemampuan untuk melaksanakan pelayanan publik (memenuhi performance). dan efek samping”. dapat digunakan model yang dikemukakan oleh Jowett & Rothwell dan Flynn dikutip oleh Ebdang. Efektivitas kinerja pemerintah mengandung dimensi “akses. Kesenangan menyangkut faktor-faktor yang memberikan kesenangan. serta sulit untuk menggambarkan kinerja yang sesungguhnya. cit.

Dengan demikian.. Maksudnya.. hal 2.133 Pernyataan di atas memberikan semangat untuk melakukan perbaikan terhadap kualitas pelayanan. Op. pertanyaan yang muncul adalah..terlebih lagi dalam hal investasi dan perijinan. (3) proses dalam memberikan layanan.. Hal ini seringkali ditengarai telah terjadi "kekosongan" kebijakan publik dalam penerapan pelayanan publik. konsep publicity sanction artinya masyarakat berhak tahu dan mengerti institusi daerah atau pemerintah daerah mana yang buruk performannya dalam pelayanan publik. Pada dasarnya terdapat tiga perspektif kualitas pelayanan publik. New York. kedua. Hal ini menuntut kesadaran masyarakat untuk peka dan sensitif terhadap pelayanan yang telah diterima. cit. they view quality in light of the experience as a whole. masyarakat harus lebih informatif dalam menyampaikan berbagai koreksi dan evaluasi balik kepada pemerintah daerah. W. 3. koreksi dan evaluasi dalam mengkritisinya.keamanan dan dampak lingkungan. hal 42. hal 295 132 131 77 Analisis pelayanan . Op. berbagi dan adil)130.132 Kebutuhan Pelayanan terhadap barang/jasa berbedabeda. Dimensi-dimensi tersebut akan digunakan dalam melihat efektivitas kinerja pelayanan publik. McGraw Hill/Irwin.. Aturan normatif tentang penerapan pelayanan publik di daerah belum secara tegas memuat tentang sanksi bagi pelanggaran pelayanan pemerintah daerah kepada publiknya. hal. Kualitas Pelayanan Publik Konsep Kualitas bersifat relatif. cit. 2007. Quality does mean somtering differemce to us.. Mengingat masyarakat adalah muara dari penerapan pelayanan publik. (1) pelanggan yang menerima layanan. 3. artinya jika suatu era 130 pemerintahan (di daerah) sangat buruk dalam pelayanan publik maka telah ada mekanisme hukum tentang penggantian pimpinan daerah131. Masyarakat perlu menyikapi hal ini dengan falsafah komunal yang Care. Share and Fair (peduli. cit. Using Technology to Create Value. I Wayan Suarjaya. “. 2003. konsep Pressure to be Competitive. Dalam penerapan konsep pelayanan publik di daerah pada era otonomi. Op. and it even can mean someting difference to the same person in difference service environments. pertama. karena penilaian kualitas tergantung kepada perspektif yang digunakan untuk menentukan kualitas pelayanan publik. Seyogyanya hal tersebut secara kolektif dan terkoordinasi dapat dilakukan melalui sebuah wadah community association tanpa menunggu "korban pelayanan publik" yang semakin bertambah banyak. setiap permasalahan dapat segera terdeteksi dan ditangani secara dini. artinya jika tidak bersentuhan dengan ruang individunya maka seseorang akan bersikap apatis dan tidak mau tahu. Dalam upaya peningkatan kualitas pelayanan publik terdapat Trilestari. Tetapi yang terjadi adalah keluhan maupun kepuasan (satisfaction) yang muncul masih secara individual. 133 Mark M Davis & Janelle Heineke.T. siapakah yang membuat standar pelayanan minimum (SPM)? Jika SPM telah dibuat maka sebelum ditetapkan dalam peraturan daerah (Perda). FISIP UI. 78 . Salah satu teori birokrasi pemerintahan yang berkaitan dengan pelayanan publik dikenal dengan konsep. Rather. Endang. Hal ini dinyatakan oleh Heineke. (2) produk yang dihasilkan. Trilestari. sehingga publik dapat secara komparatif menilai pemda mana saja yang buruk atau baik dalam memberikan pelayanan publik. Managing Services. Custamer of services are not always aware of individual dimensions of quality. seyogyanya dapat dilontarkan kepada masyarakat guna memperoleh informasi.

dan memiliki wawasan dan kemampuan dalam mengantisipasi kecepatan dan umpan balik pelayanan. Struktur organisasi yang pendek misalnya akan menjamin pelayanan yang cepat. dan terus mengembangkan pembelajaran kepemimpinan. 94 Primahendra. Oleh sebab itu. pemulihan. 80 . terutama terkait dengan umpan balik. Selain itu. Jurnal Forum Inovasi. hal. Melalui sistem informasi yang benar para pelayan publik akan mengetahui apa yang diharapkan dan dirasakan publik dalam pelayanan publik. diperoleh pula informasi tentang pelayanan publik yang dirasakan berupa kepuasan atau sebaliknya. dan manusia. perlu dikembangkan kebijakan yang mensyaratkan partisipasi publik dalam setiap proses kebijakan publik termasuk kebijakan yang terkait dengan pelayanan publik. FISIP UI. I Wayan Suarjaya. Menumbuhkan kesadaran pelayanan di antara pegawai bukanlah suatu hal yang mudah. dapat bekerja sama. Jurnal Forum Inovasi. Kedua. Riza.. keakuratan pelayanan. Keenam. Achsan. Implementasi pengukuran dan umpan balik pelayanan dapat diupayakan baik melalui internal organisasi maupun melalui kemitraan seperti public private partnership135. hal. Derajat kepuasan pelanggan terkait dengan strategi pelayanan yang ingin diterapkan yang meliputi reliabilitas.. menekankan pentingnya kolaborasi pegawai. monitoring. Partisipasi masyarakat dalam pelayanan publik dilakukan melalui tahapan perencanaan. 136 135 79 Analisis pelayanan . pengukuran kepuasan publik. Cit. menumbuh kembangkan prinsip kepemimpinan pelayanan. September – Nopember 2003.. Melalui umpan balik akan diketahui model pelayanan berkualitas seperti apa yang diharapkan publik. Demikian halnya teknologi akan mendorong kecepatan dan keakuratan pelayanan. Tanpa adanya kesadaran. Masukan yang diterima mesti ditindak lanjuti dalam rangka memperbaiki. dan daya tanggap kepada publik. Organisasi seyogianya mengembangkan implementasi yang bertumpu pada aspek-aspek struktur. dan kejujuran. September – Nopember 2003. Selain itu. dan evaluasi136. Sementara itu. perubahan arah akuntabilitas dari proses penyediaan pelayanan pubilk. korporatisasi unit pelayanan. 2007. perlu dilakukan perbaikan hubungan masyarakat dengan negara. Di dalam memberikan pelayanan yang berkualitas mesti ditopang oleh sistem informasi yang benar. 93. teknologi. 61. Sejatinya pengukuran kepuasan publik terus dilakukan atas faktor-faktor tersebut. hal. pelaksanaan. penyedia pelayanan publik mesti memberi akuntabilitas pada negara dan masyarakat. Termasuk dalam upaya menumbuh kembangkan kesadaran pelayanan adalah mempromosikan pegawai yang benar pada tempat yang tepat. teknologi. membangun sistem informasi kualitas pelayanan.. Ketiga. Masyarakat dan Pelayanan Publik. dan sumber daya manusia. Kebijakan pelayanan publik antara lain diwujudkan dalam deregulasi dan debirokratisasi bidang pelayanan publik. kejutan. mengembangkan kepercayaan di antara pegawai dan pemimpin. Op. memberdayakan masyarakat agar berpartisipasi dalam pelayanan publik. dibutuhkan pelayan yang berkomitmen. pengembangan dan pemanfaatan Permas. Keempat. dalam Permas. Penggunaan teknologi konvensional mungkin sudah tidak cocok lagi ketika tuntutan pelayanan publik menyangkut ketepatan dan 134 Berry. Selanjutnya.sejumlah strategi yang perlu dipertimbangkan sebagai berikut134 Pertama. Kelima. diperlukan sistem informasi yang akurat untuk mengenali dan mengukur kepuasan pelanggan terhadap pelayanan publik yang diberikan. dimana perubahan dapat dilakukan melalui perubahan sistem politik yang menuntut para politisi memberikan akuntabilitas kepada masyarakat. mempertahankan. implementasi melalui struktur. maka akan sulit bagi organisasi untuk mengembangkan kualitas pelayanan publik yang prima. Negara mesti memberikan akuntabilitas kepada masyarakat. dan meningkatkan pelayanan publik. Keterpaduan Kebijakan dan Strategi Dalam Upaya Meningkatkan Kinerja Pelayanan Publik. peningkatan profesinalisme pejabat pelayanan publik.

Keberadaan Desa Pakraman dibandingkan dengan Desa Dinas. 27 . isu keterbatasan sumber daya (SDA/SDM). al.peningkatan partisipasi masyarakat. teori desentralisasi dan pemerintahan lokal. Op. dalam memberikan layanan yang dilandasi oleh sikap toleransi. juga telah banyak dilaksanakan. Kerangka teori yang mendasari analisis pelayanan publik oleh Desa Dinas dan Desa Pakraman adalah. 25-31. dan pemberian penghargaan dan sanksi kepada unit pelayanan masyarakat.. adat budaya dan agama. Selanjutnya dikembangkan pendekatan baru untuk melibatkan masyarakat dan stakeholders dalam pelayanan publik. Desa Pakraman dalam memberikan pelayanan tidak mengenal waktu pelayanan.. Dalam penelitian ini sebagai aktor pelayanan adalah. Keikut sertaan masyarakat dalam pelayanan sebagai wujud partisipasi masyarakat. Desa Dinas lebih banyak memberikan pelayanan di bidang administrasi pemerintahan. birokrat Desa Dinas yang dibantu oleh perangkat Desa 137 138 government. dari berbagai disiplin ilmu. Data yang digali lebih terfokus pada pokok permasalahan. dari sudut pandang administrasi publik. isu politik dan ekonomi. biaya. mindset. Dalam pendekatan ini warga dan stakeholders bersama menyepakati keseluruhan aspek pelayanan publik yang penting seperti prosedur. waktu pelayanan. isu ketatanegaraan. Proposisi 1b. Penyusunan proposisi penelitian ini dibuat sebelum kegiatan penelitian dilaksanakan. cit. teori Administrasi Pembangunan dan Pemberdayaan masyarakat. pelayanan transportasi. Proposisi 1a. Proposisi yang diajukan dalam penelitian ini adalah: Proposisi 1. budaya. sistem insentif. Proposisi Teoritik Penelitian tentang desa telah banyak dilakukan oleh para pakar. pelayanan publik mesti direformasi baik menyangkut struktur. maupun dari materi kajiannya.. diadakan penyempurnaan baik dari segi jumlah proposisi. Berbagai indikator pelayanan publik tersebut dianggap belum menjadi indikator utama untuk mengukur keadilan dan responsitas pemerintah. Desa Pakraman dalam memberikan pelayanan publik lebih berat. pemerintahan. maka jenis pelayanan publik lebih banyak dibandingkan dengan oleh Desa Pakraman pelayanan publik oleh Desa Dinas. dan cultur pelayanan. terutama pelayanan di bidang sosial. hasil penelitian tersebut meliputi. Proposisi yang disusun masih bersifat sementara.. Pendekatan baru dalam pelayanan publik adalah “maklumat pelayanan publik” (citizen charter)137. pelayanan administrasi. aktor pelayanan. pelayanan kesehatan. gotong royong yang didukung oleh sikap. Pelayanan publik oleh Desa Pakraman dan Desa Dinas. Hasil studi literatur menunjukkan bahwa proses pelayanan publik. Wignosubroto. selunglung sebayantaka . dan Pengurus Desa Pakraman. setelah pengumpulan data selesai dilaksanakan. Op. Menurut pemahaman Dwiyanto. dan indikator kualitas pelayanan publik. Soetandyo et. dan pelayanan lainnya. dan pemberdayaan masyarakat sipil. teori pelayanan publik.. system pelayanan. I Wayan Suarjaya. cit.39. Penelitiam tentang desa di Bali. Hal ini diambil berdasarkan pertimbangan bahwa penelitian kualitatif dilaksanakan dengan mengkaji landasan teori terlebih dahulu. 82 . iisu adat dan lokalisme. hal. 81 Analisis pelayanan . ada tiga dimensi pelayanan. bersama – sama dengan Prajuru Dwiyanto. FISIP UI. Pembuatan proposisi sebelum kegiatan penelitian dilaksanakan dengan maksud agar dalam penelitian bisa lebih terarah dalam pengumpulan data. 2007. hal. belum ada yang menelitinya. 138 D. setiap saat bersedia memberikan masyarakat. lebih dahulu ada. Konteks pelayanan publik di desa di kemukakan beberapa indikator utama pelayanan yaitu pelayanan pendidikan.

Belum ada data yang pasti kapan Desa Pakraman pertama kali dibentuknya. kerja rodi. maka dapat menimbulkan hubungan positif dan negatif. masih tetap dihargai dan diberikan hidup dan berkembang sesuai dengan adat. kebudayaan masyarakat Bali sebagai daya tarik wisata. hal. 84 . Bidang tugas yang sama bisa menumbuhkan adanya sinergi antara Desa Dinas dan Desa Pakraman. Hubungan Desa dalam penyelenggaraan Pakraman dengan Desa Dinas pelayanan dapat terjadi hubungan yang harmonis. tetapi dapat juga terjadi konflik.140 Sistem pemerintahaan desa mengalami pasang surut.desa baru berdasarkan jumlah penduduk. telah menyebutkan adanya desa di Bali. I Wayan Suarjaya. telah ada peninggalan Prasasti Sukawana A (th 804 Saka – 882 Masehi). Zaman reformasi dengan di berlakukan nya Undang Undang No. memungut pajak. sedangkan Desa Dinas ada waktu pelayanan. Zaman kolonilal Belanda baru muncul Desa Dinas. sesuai dengan jam kerja dinas. 2003.sama oleh kedua Desa tersebut. I Gede. Universitas Udayana. .9. statis tetap di pertahankan eksistensi nya dari interpensi pihak lain. 139 Pada masa kolonial pemerintahan Belanda tetap memegang konsep Desa Pekraman yang otonom. pada zaman sebelum kolonial Belanda ke Bali pelayanan publik sepenuhnya di layani oleh desa pekraman. setiap 200 jiwa penduduk wajib pajak di dalam 1 lingkungan desa yang baru. Zaman Bali Kuno sebelum abad ke . Desa Pakraman muncul jauh lebih dahulu dibandingkan dengan Desa Dinas. Proposisi 1. Dienst yaitu seorang pejabat di desa yang mempunyai tugas mewakili pemerintah Hindia Belanda untuk melaksanakan pekerjaan kedinasan dibawah Punggawa. Desa Dinas. desa mendapatkan pembinaan dan pengawasan yang lebih nyata dari raja. Pemerintah Belanda mulai membentuk desa . ada bidang tugas yang sama dan dapat dikerjakan bersama . Masuknya Belanda ke Bali pada awal tahun 1908. hal. mengakui keberadaan desa sesuai dengan asal – usul dan adat – istiadat setempat. dan yang berkaitan dangan pemerintah Belanda. FISIP UI. I Nyoman.pelayanan. sistem pemerintahan desa di Bali dalam bentuk Desa Pakraman. Desa Dinas dan Desa Pakraman dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya... 18 – 21 83 Analisis pelayanan .. 32 Tahun 2003 tentang Pemerintahan Daerah. budaya dan Agama Hindu. Secara politis pemerintah Belanda mempunyai kepentingan untuk tetap mempertahankan tradisi.. Desa Pakraman. Pembentukan desa yang baru ini tidak memperhatikan bentuk desa lama (Pekraman) yang sudah ada. Desa Pakraman menjalankan fungsi sebagai pengemban tradisi kebudayaan dan aktifitas ke agamaan. 2007. Pembentukan desa baru oleh Belanda di harapkan mampu mengakomodasi berbagai kepentingan pemerintah Belanda. semakin nampak pelayanan oleh Desa Dinas. dikenal istilah dienst ( berdinas atau bertugas ). Pengaruh raja terhadap desa mulai semakin kuat. dan Desa Pekraman. Argumentasi Proposisi. Zaman orde baru peranan Desa Dinas lebih dominan karena di atur secara sentralistik oleh pemerintah dengan menyeragamkan fungsi desa seluruh Indonesia. Universitas Udayana. Pada awal abad – l4 ada hubungan Raja – raja Bali dengan Raja – raja Jawa. Proposisi 3. 139 Sirtha. Desa Dinas menjalankan fungsi.. 4 140 Parimartha. Memahami Desa Adat. peranan sebagai wakil pemerintah resmi (Belanda) Terutama memberikan pelayanan di bidang administrasi kependudukan. merdeka. Fakultas Hukum. Belanda dalam melaksanakan tugas pemerintahannya. Dari kata dienst itu kemudian populer istilah Desa Dinas. Sistem ganda dalam pemerintahan desa. 2007. Denpasar. Proposisi 2. Zaman kemerdekaan sampai dengan zaman orde lama peranan pelayanan di laksanakan ber jalan bersama – sama tetapi.

sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat setempat. serta menjaga kelestarian adat budaya dan agama. serta dikembangkan oleh Desa Pakraman. maka pelayanan juga diberikan 24 jam yang diatur secara bergilir diantara Prajuru Desa dan masyarakat. Kadang – kadang Desa Dinas lebih dominan dari pada Desa Pekraman dalam menyelenggarakan pembangunan desa. Dampak negatif keberadaan 2 desa yang sama – sama mempunyai otonomi. kaedah dan keyakinan sosial yang tumbuh dan berkembang bersamaan dengan pertumbuhan dan perkembangan masyarakat desa dan atau satuan masyarakat lainnya. Nilai – nilai luhur warisan budaya bangsa yang tumbuh dan 141 Sirtha. Kenyataan menunjukkan Desa Dinas sering menggunakan fasilitas yang dimilki oleh Desa Pekraman. Kebiasaankebiasaan Masyarakat dan Lembaga Adat di Daerah Pasal 1 c menyatakan: “ Adat istiadat adalah seperangkat nilai dan norma. maka Desa Pekraman dan Desa Dinas dalam menyelenggarakan pemerintahan tampak harmonis. I Nyoman. Upacara keagamaan ada yang dilaksanakan 24 jam. I Wayan Suarjaya. budaya tersebut. ketika perhatian pemerintah hanya menekankan pada kepentingan Desa Dinas saja..Proposisi 1 a Pelayanan publik oleh Desa Pekraman memberikan pelayanan pada seluruh aspek kehidupan manusia. selalu mengikuti permintaan dari masyarakat. FISIP UI. cit. tidak mengenal waktu. Sehingga dapat berperan positif dalam pembangunan nasional dan berguna bagi masyarakat yang bersangkutan. Op. 86 . Ketika Desa Pekraman dan lembaga – lembaga adat di manfaatkan oleh pemerintah dalam menyukseskan pembangunan di segala bidang. Desa Dinas memberikan pelayanan pada bidang Administrasi pemerintahan saja.. Pelayanan pada bidang yang lainnya Desa Dinas hanya bersifat konsultatif dan koordinatif saja. Pemberdayaan adat istiadat. untuk mengtur masyarakat setempat.. 2007. Desa Dinas dalam memberikan pelayanan utama di bidang administrasi dilaksanakan di kantor desa sesuai dengan ketentuan jam kerja kantor pemerintah berdasarkan surat edaran pemerintah daerah kabupaten Tabanan tentang disiplin pegawai dan pemberlakuan jam kerja kantor. Pelestarian dan pengembangan Adat Istiadat. Proposisi 2 Hubungan Desa Pekraman dan Desa Dinas dalam penyelenggaraan pemerintahan dapat terjadi hubungan yang harmonis tetapi dapat juga terjadi konflik. sesuai dengan tingkat kemajuan dan perkembangan zaman. sebaliknya Desa Pekraman beserta Lembaga – lembaga desa adat lainnya kurang mendapat perhatian. tentang Pemberdayaan . Karena azas kerukunan yang bersumber dari kehidupan bersama berubah menjadi kehidupan yang berdasarkan kepentingan individual. Proposisi 1 b Desa Pakraman dalam memberikan pelayanan dalam bidang adat budaya dan agama. budya dan tradisi masyarakat setempat. maka akan terjadi dampak negatif. diberdayakan dan dilestarikan.. dibandingkan dengan Pelayanan publik oleh Desa Dinas. Kegiatan Upacara keagamaan yang diselenggarakan oleh masyarakat. serta nilai atau norma lainnya yang masih dihayati dan dipelihara masyarakat sebagaimana terwujud dalam berbagai pola kelakuan yang merupakan kebiasaan dalam kehidupan masyarakat setempat.141 Adat istiadat. termasuk memberdayakan lembagaannya dimaksudkan agar kondisi dan keberadaannya dapat lestari dan semakin kukuh. Tugas pokok dan fungsi Desa Pakraman dalam pelestarian tersebut cenderung lebih berat. hal 7 85 Analisis pelayanan . Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomer 3 Tahun 1997.

berkembang di bumi Indonesia terdesak oleh nilai – nilai baru yang bersifat matrealistik. 142

Desa Pekraman merupakan organisasi tradisional yang mempunyai sifat otonomi asli berdasarkan atas asal – usulnya. Desa Dinas mempunyai hak dan kewajiban berdasarkan peraturan perundang – undangan yang berlaku. Sinerji Desa Pekraman dan Desa Dinas dapat terjadi dalam berbagai bidang kegiatan sebagai contoh pelaksanaan program pembangunan yang di canangkan oleh pemerintah, di teruskan kepada Kepala Desa melalui Camat. Kepala Desa Dinas dalam mensosialisasikan program pemerintah seperti program keluaraga berencana berkordinasi dengan Desa Pekraman. Sinergi yang dapat di laksanakan dalam program tersebut pemerintah menggunakan fasilitas Desa Pekraman seperti wantilan (balai banjar) di samping itu kegiatan yang ada di desa dapat di kerjakan bersama – sama saling melengkapi, isi - mengisi, dan bahu membahu dalam melaksanakan program. Munculnya dua sistem pemerintahan desa di Bali dimaknai oleh masyarakat sebagai perwujudan konsep dua unsur yang saling melengkapi (rwabhineda)143. Ada pandangan Desa Dinas merupakan bentuk formal dari sistem pemerintahan terbawah, maka Desa Pakraman adalah bentuk informal dari lembaga kemasyarakatan desa.144

Proposisi 3

Sirtha, I Nyoman, Op, cit, hal 6 Rwabhineda adalah filsafat Hindu yang menyatakan dua unsur yang berbeda tetapi saling memberikan arti, seperti siang dan malam, suka-duka, baik buruk . rwabhineda ini bagaikan mata uang dua sisi yang berbeda tapi salah satu sisinya tidak ada maka mata uang tersebut tidak ada nilainya. 144 Parimartha, I Gede, Op, cit, hal, 32
143

142

87 Analisis pelayanan ..., I Wayan Suarjaya, FISIP UI., 2007.

BAB III METODE PENELITIAN A. Pemilihan Objek Penelitian Pemilihan lokasi penelitian di Desa Wongaya Gede Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan Propinsi Bali, di dorong oleh keinginan untuk mendalami keberadaan dua jenis desa yang ada di akar rumput. Sebagaimana diketahui bahwa Propinsi Bali dalam penerapan Otonomi Daerah ternyata dalam pembagian wilayah maupun sistem pemerintahan, mengenal dua institusi Desa (Desa Pakraman dan Desa Dinas) sebagai ciri khas Daerah Bali. Dasar pertimbangan memilih objek penelitian ini sebagai berikut: Pertama, satu-satunya Provinsi di Negara Kesatuan Republik Indonesia yang mempunyai dua kelembagaan organisasi tingkat desa ( Desa Pakraman dan Desa Dinas ), yang memberikan pelayanan publik. Kedua, Kekhususan sistem pemerintahan tersebut sangat menarik untuk dikaji mengingat Desa Pakraman adalah bentuk desa yang sangat tua, tumbuh dan berkembangnya Desa Pakraman bersamaan dengan masyarakat Bali. Desa Dinas dibentuk oleh pemerintah Balanda, pada mulanya memberikan pelayanan di bidang pemerintahan saja. Setelah kemerdekaan sistem Pemerintahan Desa Dinas masih diterapkan sampai sekarang. Undang-Undang Pemerintahan Desa berulang kali berubah tetapi bentuk Desa Dinas dan Desa Pakraman di Bali masih tetap diakui. Ketiga, peneliti memilih Desa Wongaya Gede, karena Desa Wongaya Gede memiliki tradisi adat dan budaya, sangat unik. Keunikannya adalah mempunyai tradisi sendiri dalam upacara Ngaben. Upacara Ngaben di Desa Wongaya Gede, tidak membakar jenazah, tetapi dengan mengubur saja, tradisi ini berbeda dengan Desa lainnya. Pemberian pelayanan pada saat upacara keagamaan juga mempunyai cara dan bentuk pelayanan tersendiri. Keempat, alasan subyektif karena peneliti lahir di Kabupaten Tabanan dan menjadi bagian anggota Desa Pakraman dan Desa Dinas di Kabupaten Tabanan. Sehingga
Analisis pelayanan ..., I Wayan Suarjaya, FISIP UI., 2007.

dengan demikian diharapkan lebih mudah mendapatkan data. Ingin menyumbangkan pokok – pokok pikiran dalam meningkatkan pelayanan publik oleh Desa Dinas dan Desa Pkraman. Kelima, Desa Wongaya Gede pernah diplih sebagai desa percontohan dan sebagai pemenang lomba desa teladan tingkat Propinsi Bali. Keberadaan Desa Pakraman dan Desa Dinas sangat variatif, maka diambil sampel bentuk desa diantara tiga kelompok desa: Pertama, jenis Desa yang wilayah Desa Pakraman berimpit menjadi satu dengan wilayah Desa Dinas. Kedua, jenis Desa yang wilayah Desa Pakraman, mewilayahi beberapa Desa Dinas. Jenis ini biasanya terdapat di wilayah kota Kecamatan. Ketiga, jenis desa yang wilayah Desa Dinas mewilayahi beberapa Desa Pakraman, sedangkan Desa Wongaya Gede tergolong tipe desa yang terakhir. B. Jenis Penelitian Penelitian mengenai analisis pelayanan publik Desa Pakraman dan Desa Dinas Wongoya Gede Kabupaten Tabanan menggunakan pendekatan metode penelitian yang bersifat kualitatif. Pendekatan penelitian kualitatif digunakan didasari beberapa pertimbangan bahwa fenomena pelayanan publik Desa Pakraman dan Desa Dinas dapat digali secara lebih mendalam. Posisi peneliti dalam penelitian adalah sebagai “ instrumen alat ukur” 1 di dalam mengkaji fenomena yang dihadapi. Fenomena mengenai pelayanan publik Desa Pakraman dan Desa Dinas bersifat dinamis. Metode yang digunakan dalam memperoleh data informasi bersumber dari: observasi, wawancara mendalam, catatan lapangan, dan dokumentasi. Hasil data yang diperoleh diharapkan dapat menganalisis mengenai bagaimana pelayanan publik oleh Desa Pakraman dan Desa Dinas, serta bagaimana menyinergikan kedua jenis pelayanan
1

Mohajir, Metodologi Penelitian Kualitatif, Cetakan Kedua, Penerbit Sarasin, Yogyakarta, 1990,hal. 16.

89

tersebut. Kedua masalah tersebut merupakan kajian pokok, sebagai tema dari permasalahan penelitian 2. Pendekatan kualitatif digunakan dalam penelitian ini didasari pertimbangan bahwa peneliti adalah: 1) sebagai bagian dari lingkungan yang dihadapi, dipandang sebagai faktor penting dalam menemukan originalitas (keaslian) hasil penelitian, 2) dapat menggali secara lebih mendalam mengenai kompleksitas fenomena pelayanan publik Desa Pakraman dan Desa Dinas, karena peneliti sebagai bagian dari masyarakat Wongaya Gede Tabanan, 3) sebagai bagian dari masyarakat Wongaya GedeTabanan,maka diharapkan adanya keterbukaan 3 dari subyek yang diteliti, dengan demikian peneliti akan mudah memperoleh data/informasi yang dibutuhkan. Pendekatan kualitatif berada dalam perspektif yang berorientasi pada sistem manajemen yang kini sangat populer sebagai kerangka pikir untuk meneliti manajemen pelayanan publik. Penggunaan pendekatan kualitatif yang berorientasi sistem, didasari oleh beberapa pertimbangan, yaitu; pertama, penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan suatu model pelayanan, sehingga diperlukan pemikiran yang holistik. Checkland yang dikutip oleh Endang WT mengatakan, “... pada umumnya manusia tidak mampu menerjemahkan apa yang dialami dan diobservasinya secara menyeluruh. Juga sering tidak siap menerjemahkan dunia nyata, dalam bentuk atribut diskripsi, cendrung melakukan hal
Bakkar, Anton, Metodologi Penelitian Filsafat, cetakan keempat, Penerbit Kanisius Yogyakarta, 1990.hal. 25. 3 Keterbukaan merupakan faktor penting di dalam memperoleh data kualitatif, dan menganalisis kompleksitas permasalahan penelitian yang dihadapi, lihat Guba, Egon, and Yvonna S. Lincoln, Competing Paradigms I Qualititative Research, in Hanbook of Qualitative Research, edited by N Denzin and Y Lincoln, Macmillan, New York, 1994.hal. 62-67.
2

yang mampu dilakukan dari pada sesuatu yang seharusnya dilakukan.” 4 Dasar pertimbangan penggunaan pendekatan kualitatif, adalah data tertulis berupa dokumentasi pada organisasi pemerintah lebih – lebih pada organisasi tradisional, dalam praktik pada umumnya tidak lengkap. Hal ini diungkapkan oleh Cassel & Simon bahwa “

penggunaan pendekatan kualitatif diharapkan dapat menanggulangi ketidak lengkapan data penelitian, sehingga data yang didapat lebih lengkap dalam praktik penelitian. Dalam menanggulangi keterbatasan dokumen dan data yang dimiliki oleh suatu organisasi, dalam penelitian kualitatif keikut sertaan peneliti dan bantuan orang lain sebagai instrumen atau alat pengumpul data sangat diperlukan 6. Penggunaan jenis penelitian kualitatif, dipandang sangat mendukung kelancaran penelitian. Metode mengenai pananganan data, karakteristik penelitian, serta kemudahan dalam memperoleh data, maka dipandang tepat menggunakan pendekatan kualitatif, baik dalam proses penelitian, maupun dalam penentuan pengumpulan, pengolahan dan analisis data, serta penyusunan konseptualisasi teori 7 Pendekatan metode kualitatif yang bersifat deskriptif tersebut, lebih tepat dalam menggambarkan mengenai pelayanan publik Desa Pakraman dan Desa Dinas. Metode kualitatif deskriptif dapat mendeskripsikan sinergi pelayanan publik serta aspek4 5

...quantitatif methods used in organizational research was not well documented” 5 sehingga dengan demikian

Endang WT, Op, cit, hal 106 Cassel C & Simon, G Reflection on the Use of Qualitative Methods, dalam Cassel C & Simon, G, Qualitative Methods and Amalysis in Organizational Research A Practical Guide Nrw York, Sage Publication, 1998:1 6 Endang WT Op. cit hal 108 7 Bakkar, Anton., Op.cit. hal. 30

90 Analisis pelayanan ..., I Wayan Suarjaya, FISIP UI., 2007.

91

sementara penelitian deskriptif-kualitatif berupaya melahirkan teori tentatif10. dan teori pelayanan publik.8 Informan yang dipilih adalah orang yang memahami tentang pelayanan publik oleh Desa Pakraman Pengambilan data informasi dengan dan Desa Dinas. sehingga diperlukan lokasi dan subyek yang sesuai.Op. Atas dasar pemahaman demikian.. Data dan informasi bersumber dari para informan. Metode-metode Penelitian Sosial. Teknik penelitian yang digunakan dalam mencari data tentang analisa pelayanan publik adalah survei dan observasi. Penelitian deskriptif-kualitatif yang dilakukan ini berbeda dengan penelitian bercirikan hypothetico-deductive. sedangkan Desa Dinas dibentuk oleh Pemerintah dan bertanggung jawab kepada atasan langsung. hal 35 Vanderberg. (2) gejala mengenai pelayanan publik Desa Pakraman dan Desa Dinas dikembangkan melalui teori yang dibangun terutama menyangkut konsep desentralisasi dan pelayanan publik merupakan hipotesis kerja dalam penelitian.. terdapat dua Institusi Desa yang memberikan pelayanan publik. FISIP UI.aspek apa saja yang dapat disenergikan. nilai yang terwujud dari subyek penelitian dan (5) melibatkan diri dalam memproduksikan Nama-nama para informan dapat dilahat pada lampiran Mohajir. pengamatan dan wawancara mendalam ditekankan pada proses hasil. maka data yang berkenaan dengan pelayanan publik Desa Pakraman dan Desa Dinas dapat dikumpulkan secara langsung dengan menggunakan perpaduan metode emic dan etic. yaitu. 93 . Hal ini sejalan pandangan yang menyatakan bahwa dalam fenomena orientasi penelitian kualitatifdeskriptif lebih diarahkan pada pengembangan teori. I Wayan Suarjaya. dan menentukan makna. Penerbit PT. serta upaya-upaya menyinergikan pelayanan publik oleh Desa Pakraman dan Desa Dinas. 8 9 Mengacu pada uraian di atas. Gramedia.. berusaha menggambarkan realitas pelayanan publik Desa Pakraman dan Desa Dinas. Desa Wongaya Gede. cit. Penelitian juga memperhatikan pada kondisi yang alamiah tanpa adanya intervensi. menyingkap. dimana penelitian hypothetic-deductive dimaksudkan menguji teori. Pendekatan analisis deskriptif digunakan didasarkan pada pertimbangan bahwa jenis kualitatif diskripif dianggap sesuai (compatible) dengan permasalahan. mengunakan teknik snowball sampling9. Dua tipe desa tersebut memiliki ciri sangat berbeda dari sisi sejarah pembentukannya. Jakarta. (3) data yang diperoleh bersifat parsial untuk setiap jawaban subyek individu dan tidak dikuantitatif. C. Peneliti sebagai instrumen penelitian. Melalui pola demikian akan diperoleh pemahaman yang mendalam mengenai permasalahan penelitian dan solusinya. serta dalam kerangka menjawab pokok masalah yang dikaji dalam penelitian. Disain Penelitian Disain penelitian kualitatif menggambarkan pelayanan publik Desa Pakraman dan Desa Dinas. sehingga tujuan penelitian dapat dipenuhi. Desa Pakraman dibentuk oleh masyarakat dan bertanggung jawab kepada masyarakat. Penelitian deskriptif-kualitatif tentang analisis pelayanan publik Desa Pakraman dan Desa Dinas juga didasarkan pada pertimbangan bahwa di Provinsi Bali sebagai bagian dari Negara Kesatuan RI.hal 37 10 92 Analisis pelayanan . Penelitian deskriptif dilaksanakan didasarkan pada alasan metodologis. 2007.. Teori tersebut untuk menganalisis pelayanan publik. 1990. (1) objek yang diteliti yakni Desa Pakraman dan Desa Dinas diperlakukan secara utuh sebagai permasalahan yang terintegrasi dan mendalam sifatnya. maka penelitian deskriptif-kualitatif yang dilaksanakan adalah menggambarkan pelayanan publik Desa Pakraman dan Desa Dinas. (4) mencari. Konsep-konsep yang dikembangkan menggunakan landasan teori desentralisasi.

konsep otonomi daerah dan pelayanan publik. dan (4) sumber tertulis yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti. kelompok yang terfokus dengan berbagai tokoh masyarakat seperti Bendesa beserta perangkat Prajuru Desa Pakraman. serta pakar yang menguasai seluk-beluk Desa Pakraman dan Desa Dinas. peneliti memperoleh data dan informasi dengan cara mengamati secara langsung kegiatan pelayanan kepada masyarakat yang diberikan oleh kedua institusi lokal tersebut. data emperis yang diperoleh dari kesamaan sampai detrimentasi lalu dicari lebih mendalam pada nilai logik dan etik mengenai apa maknanya dan apa yang menjadi kebermaknaannya. 68. dan anggota masyarakat yang mempunyai wawasan dan pemahaman tentang pelayanan oleh Desa Pakraman dan Desa Dinas. (2) informasi lain. 2007. Memperhatikan pada disain penelitian kualitatifdeskriptif. 95 . maka penelitian ini dilakukan dalam bentuk pencarian kesamaan. Pertanyaan-pertanyaan diformulasi dan disampaikan dalam bentuk yang lebih mudah dipahami dan seringkali peneliti merubah bentuk pertanyaan ke dalam bahasa ibu responden (bahasa Bali). Melalui teknik ini penelitian membuat pedoman wawancara yang memuat daftar pokok-pokok informasi penting yang dibutuhkan dalam penelitian.cit. (3) dari pakar yang menguasai permasalahan penelitian Desa Pakraman dan Desa Dinas. Selain itu melalui teknik observasi. Kepala Desa serta Perangkat Desa Dinas. Unit pengamatannya adalah aktivitas yang ditunjukkan oleh kedua desa tersebut dalam memberikan pelayanan publik kepada masyarakat. Pedoman ini lalu dikembangkan pada saat wawancara berlangsung untuk mendapatkan informasi yang lebih mendalam dan lengkap. serta mengembangkan diskusi 11 Lincoln and Guba.. Penelitian ini menggunakan disain penelitian pendekatan “deskriptif” dengan maksud untuk menggambarkan secara luas dan mendalam tentang Pelayanan Publik Desa Pakraman dan Dinas Dinas melalui pendekatan emic dan etic11 yang digunakan saling melengkapi. FISIP UI. Satuan analisis penelitian adalah pelayanan publik Desa Pakraman dan Desa Dinas. Cara ini ditempuh karena peneliti berharap dapat melakukan interaksi optimal dan menyelami segala permasalahan yang dihadapi oleh institusi lokal tersebut dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. pola proses. Op. agar lebih sederhana 94 Analisis pelayanan . yang terdiri dari warga masyarakat yang dilayani dan aparat pemerintahan daerah setempat.basis teoritis dari fenomena pelayanan publik oleh kedua tipe desa tersebut.” Tujuannya adalah agar informan dapat memberikan informasi aktual. Selanjutnya. maupun kemungkinan detrimentasi (berlawanan arah) dari berbagai jenis pelayanan publik Desa Pakraman dan Desa Dinas Selanjutnya. yaitu: (1) dari dua institusi lokal yakni Desa Pakraman dan Desa Dinas. latar belakang. Data kualitatif dikumpulkan berasal dari empat macam sumber. Data primer dikumpulkan dari pegawai dan tokoh masyarakat Desa Pakraman dan Desa Dinas dengan suatu proses yang bertahap. hal. dan jenjang analisisnya adalah organisasi Desa Pakraman dan Desa Dinas di Wongaya Gede. Wawancara mendalam dilakukan dalam kaitannya dengan topik khusus untuk menjawab tujuan penelitian. I Wayan Suarjaya.. arah dinamikanya.. sehingga pelayanan publik Desa Pakraman dan Desa Dinas dapat dideskripsikan secara tepat. dan kesejajaran dalam makna individual. serta yang terpenting adalah merealisasikan pemahaman bahwa “instrumen penelitian kualitatif yang utama adalah peneliti sendiri. Mulanya peneliti melakukan observasi dan wawancara mendalam. kemiripan. Teknik wawancara juga digunakan secara simultan dalam penelitian ini. Teknik dokumentasi digunakan sebagai dasar untuk lebih memperkaya data dan informasi tertulis yang diperoleh dari sumber sekunder atau tertier. peneliti mewawancarai sejumlah pakar yang berkompeten dalam bidang otonomi daerah dan pelayanan publik..

Data yang diperlukan dalam penelitian ini dapat dikelompokkan ke dalam lima kelompok. 91. 4) dasar hukum kewenangan pengaturan masyarakat setempat. Teknik Pengumpulan Data Sesuai dengan permasalahan dan tujuan penelitian. Melalui teknik ini data diperoleh dari sejumlah informan-informan kunci dan informan pada umumnya yang dipilih secara selektif.. dan 104 publik yang diberikan oleh Desa Pakaraman dan Desa Dinas. karena melalui teknik ini peneliti dapat mengumpulkan dokumen dari berbagai sumber terpercaya13. FISIP UI. Peneliti juga menggunakan teknik dokumentasi. yaitu: 1) penduduk (pawongan) mencakup populasi. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini beresumber dari informasi atau keterangan dalam bentuk wawancara.. 3) agama. Doing Social Research. dengan urutan logis dari yang sederhana ke yang kompleks dan dari yang konkrit ke yang abstrak.98. 97 . 5) sunber dana/keuangan. peneliti menggunakan catatan harian untuk mengumpulkan data dan informasi yang berkaitan dengan penelitian ini. hal. Hasil kategorisasi data ini lalu dianalisis dan diinterpretasikan secara deskriptif kualitatif. maupun pakar yang menguasai permasalahan yang diteliti. Pada setiap konteks yang digunakan penelitian tentang sinergi Pelayanan Publik Desa Pakraman dan Desa Dinas. penelitian ini difokuskan pada pengembangan model pelayanan publik. ekspresi tindakan maupun data perilaku (non verbal) dengan berfokus pada unit kajian. McGraw-Hill. Selama dilakukan pengumpulan data. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara mendalam (in-depth interview) dan metode Pengamatan-partisipan. Teknik ini sangat membantu peneliti untuk melakukan pengecekan silang data dan informasi yang diperoleh dari kegiatan observasi.dan jelas. maka jumlah informan tidak ditentukan secara ketat. 102. mata pencaharian. Dengan cara demikian diperoleh pemahaman yang mendalam dan komprehensif tentang Pelayanan Publik Desa Pakraman dan Desa Dinas dalam mensinergikan dualisme pelayanan publik di Desa Wongaya Gede Kecamatan Penebel Kabupaten Tabanan Propinsi Bali. Metode Penelitian Masyarakat. Theresa L.. D. 13 96 Analisis pelayanan . berarti menggunakan Baker. serta kegiatan Desa Pakraman dan Desa Dinas. Second Edition. 2007. 1994. peneliti menggunakan alat bantu penelitian berupa tape recorder dan kamera. sumbersumber monografi desa.. Trisnoningtias. I Wayan Suarjaya. hal. adat dan budaya. Kepemimpinan di Desa Pakraman dan Desa Dinas. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan pertanyaan dari dalam. tokohtokoh masyarakat setempat. Data diolah dan dianalisis dengan cara mengkategorisasi dan menyajikan secara komprehensif berdasar pada setting dan peristiwa. New York. PAU-IIS Universitas Indonesia Jakarta. 1995. jenis kelamin. data kejadian interaksi. Selanjutnya.. Informan dipilih dengan cara purposive dan snowball sampling12 yakni semula penentuan responden menurut pertimbangan peneliti karena responden tersebut dipandang mengetahui permasalahan yang diteliti. melalui responden awal tersebut akan diperoleh informasi tentang responden berikutnya yang mengetahui secara mendalam tentang permasalahan yang diteliti. dianalisis dan diinterpretasikan. Selain itu. baik dari aparat Desa Pakraman dan aparat Desa Dinas. melainkan lebih disesuaikan dengan keterkaitan data dan informasi yang dibutuhkan sampai memenuhi syarat untuk diolah. demikian seterusnya sampai permasalahan yang diteliti dianggap tuntas didalami. Data dokumentasi yang dimaksud antara lain mengenai penerapan kebijakan otonomi pada level Desa Pakraman dan Desa Dinas rangkaian kebijakan tentang model pelayanan 12 Manasse Malo dan S. Inc. Pembicaraan (verbal) data persepsi.

Memandang masalah realitas kehidupan masyarakat secara nyata. Selain itu pertanyaan yang diajukan tidak dengan cara memaksa atau bersifat menginterogasi.. Teknik wawancara dapat mengetahui jenis pelayanan publik yang dilakukan oleh kedua Institusi Desa tersebut. bersifat terbuka dan dilakukan secara sistematis. Sehingga data penelitian terjamin dari segi keterpercayaan atau authentic menurut pemahaman di antara unit-unit penelitian15. maka dibantu menetralkan subyek-subyek tersebut. sampai dengan berakhirnya penelitian 14. keterangan dan data persepsi atau interpretasi dari para informan. maupun sumber tertulis yang ditemukan di lokasi penelitian. Informan yang dipilih adalah orang yang memahami permasalahan pelayanan publik Desa Pakraman dan Desa Dinas. Karena itu peneliti perlu menempatkan diri di masyarakat sebagai obyek kajian dan membina hubungan langsung pada masyakarakat. hasil kajian pustaka baik dari perpustakaan. Sebab secara inklusif maupun eklusif. tetapi dilakukan dalam hubungan yang harmonis dan simpatik terhadap informan yang dipandang menguasai permasalahan yang dihadapi. hasil wawancara dan hasil pengamatan langsung di lokasi penelitian. Selain itu.. untuk menjawab permasalahan penelitian serta mendiskripsikan secara mendalam tentang pelayananpublik dan sinergi pelayanan publik Desa Pakraman dengan Desa Dines dibutuhkan data 15 Suparmoko. transaksi dan makna16. Hasil data 14 yang dijaring adalah merupakan data yang relevan digunakan untuk menghubungkan data realitas yang diperoleh dari pesan atau makna non verbal. dan keterpercayaan atau keaslian (authenticity) data. Pengumpulan data dan informasi lebih menggunakan teknik snowball sampling mementingkan makna. hal. jujur tanpa prasangka buruk.D. 99 . cit. Untuk mengarahkan studi secara efektif. Jika dalam pelaksanaan penelitian itu terjadi konflik diantara subyek penelitian. Penerbit BPFE-Yogyakarta 1999. Metodologi Penelitian Praktis. 2007. 35 98 Analisis pelayanan . E.hal. Pengambilan data secara mendalam dilakukan secara langsung agar mudah menyesuaikan dengan tujuan penelitian maupun sesuai untuk pemecahan pokok permasalahan penelitian. Teknik pencatayan data diberi tanda khusus berupa kode-kode secara sistematis sesuai dengan pokok masalah. I Wayan Suarjaya.pertanyaan sebagai intuisi dan memungkinkan interpretasi subyektif aktor dan aktifitas pengumpulan data. data diperoleh dari jawaban informan. maka data yang dibutuhkan disesuaikan dengan masalah penelitian. hal 21 Mohajir. untuk memperoleh data yang lengkap dan akurat. Bahan masukan para informan. FISIP UI. Metode ini bersifat natural dengan memperlakukan teknik pengamatan dalam mengkonstruksi makna. nilai-nilai harapan. data penelitian juga dikumpulkan dengan menggunakan metode pengamatanpartisipan yang juga merupakan metode untuk studi makna aktor. keabsahan. baik menyangkut persepsinya atau nilai-nilai dalam memberikan pelayanan.. digabungkan hasil pengamatan dan pengalaman. Analisis Data Karakteristik data yang dikumpulkan. dengan kajian pustaka penggalian mendalam. Op. Kemudian. Selanjutnya. 20 16 Ibid. Hasil pencatatan data yang baik akan mudah digunakan untuk menjawab pokok masalah penelitian. pencatatan data dilakukan dalam bentuk deskriptif. tetap berpedoman pada pemikiran logic. Data berisi rincian. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan pedoman pertanyaan yang dirancang dalam kerangka pertanyaan tidak berstruktur. data yang diperoleh dari hasil lapangan di Desa Pakraman dan Desa Dinas baik melalui metode wawancara maupun hasil pengamatan akan dilakukan pencatatan. Ph.. dan analisis dilakukan secara induktif sejak awal penelitian. sehingga dapat bahan masukan yang lengkap.

hal. Draft awal penyusunan proposal. Analisis dominan dipergunakan pada tahap eksplorasi menyeluruh. dan pengecekan kepada anggota peneliti. Tahap Penelitian Penelitian ini agar dapat memproleh hasil yang baik.Tahap ketiga. tetapi harus berusaha untuk mencapai pemaknaan logik dan etik. Op. Metodologi Penelitian Kualitatif. Ketiga. maka kegiatan analisis data akan lebih memperhatikan data pemaknaan yang tidak saja menyajikan data sensual semata.. Tahap kedua. komponensial). dilanjutkan dengan proses administrasi mengurus perijinan penelitian di Propinsi Bali. maka analisis akan dilakukan dengan menggunakan analisis dalam beberapa tahap dan berlangsung bersamaan dengan usaha-usaha untuk memperbaiki dan mengembangkan konsep-konsep empiris pelayanan publik Desa Pakraman dan Desa Dinas. kecukupan refrensial. Analisis berfungsi untuk membantu memahami makna yang memiliki esensi dari unit-unit kajian yang benar atau terpercaya (autentik)17. F. Dari hasil masukan dalam colloqium disempurnakan lagi. maka dipandang perlu adanya perencanaan yang matang. taksonomis.. dan 4) analisis tema. kerterangan. kajian kasus negatif. FISIP UI. ketekunan pengamatan. hal 118 100 Analisis pelayanan . cit. yaitu: kredibilitas.. 3) analisis komponensial. kebergantungan.. yaitu: perpanjangan keikutsertaan. cetakan ketiga belas. hal 116 19 Endang WT. dimulai dari diskusi dalam Colloqium. 2) analisis taksonomis. 1) analisis dominan. Dari rumusan masalah tersebut disusun draft proposal dengan berbagai pertimbangan agar tujuan penelitian dapat tercapai dengan baik. Analisis keabsahan data dilakukan berdasarkan empat kriteria. menyususun skala prioritas penelitian dengan merumuskan masalah yang akan diteliti. pengecekan ke lokasi penelitian.19 Analisis data dilakukan dengan beberapa tahapan. dilakukan secara simultan disaat pengumpulan data di lapangan.Remaja Rosdakarya Bandung.18 Selanjutnya untuk tetap memelihara kredibilitas hasil penelitian maupun esensi kebenaran dari data penelitian yang diperoleh. kajian emperik tentang sinergi pelayanan publik. tahap pertama dengan menganalisis data sesuai dengan kajian teoritik tentang pelayanan publik.tentang Desa Pakraman dan Desa Dinas tentang pelayanan untuk dianalisis. Kedua. Op.. Lexy J. trianggulasi. Kriteria keterangan diperiksa dengan uraian rinci hasil data. cit. Pada saat ini usul dan saran serta kritik dari para dosen dan mahasiswa dikaji dengan memadukan landasan teori serta kondisi di Desa Pakraman dan Desa Dinas. Ketiga analisis data (dominan. Penyusunan proposal dikonsultasikan dengan promotor dan kopromotor. setelah draft proposal selesai. sehingga ada masukan dari para dosen maupun peserta (mahasiswa). Data dianalisis secara kualittif melalui. kemudian di Pemda Tabanan karena wilayah Desa Pakraman dan Desa Dinas Wongaya Gede ada di Kabupaten Tabanan. Analisis taksonomis dan komponensial dipergunakan pada tahap eksplorasi terfokus. agar menjadi tahap proposal yang lebih mantap. mencari pembantu peneliti lapangan tiga orang yang bertugas 17 Moleong. Penerbit PT. kebergantungan dikaji dengan teknik ketergantungan dan kepastian dianalisis dengan kepastian data. Hasil penyempurnaan proposal tahap pertama tersebut berikutnya yang dipresentasikan kemudian dihasilkan draft dalam ujian kualifikasi untuk mendapatkan tanggapan dan perbaikan sebagaimana yang diharapkan. 101 . 2000. Untuk memeriksa kredibilitas digunakan tujuh teknik. 2007. Analisis data yang terakhir yaitu analisis tema dilakukan setelah kegiatan pengumpulan dan analisis data di lapangan. Tahapantahapan penelitian yang ditempuh sebagai berikut: pertama. 15. dan kepastian. 18 Endang WT. Berdasarkan pada data yang memenuhi persyaratan metodologi. dengan mengembangkan teori yang berkaitan dengan Desa Pakraman dan Desa Dinas. I Wayan Suarjaya.

dan pelayanan publik yaikni promotor dan para ko-promotor. FISIP UI. Tahap kelima. Tahap akhir dari proses ini adalah melakukan pengujian kredibilitas hasil penelitian kemudian mendiskusikan dengan para pakar tentang desentralisasi.menjajaki ke lapangan untuk menghubungi tokoh agama. tokoh masyarakat. 102 Analisis pelayanan . Tahap Keempat. 2007... dan penyusunan dalam bentuk tulisan. I Wayan Suarjaya. . proses pengolahan dan analisis data .. sehingga berbagai masukkan yang diperoleh digunakan untuk terus melakukan berbagai penyempurnaan. tokoh adat yang diperkirakan mampu menjadi informan. dilanjutkan dengan terjun ke lapangan untuk mencari data yang dibutuhkan untuk penulisan disertasi.. setelah data informan terkumpul.

Kemudian dalam penelitian disertasi ini dibatasi pada desa. Pendapat para pakar tadi.. MasaLlalu. memiliki wilayah dan penduduk tertentu. Wilayah Desa Pakraman Terdiri atas Beberapa Desa Dinas D D D D D Keterangan: DP= D Pakraman DD=Desa Dinas Analisis pelayanan . 1 maupun ditinjau dari segi. New York. local Government dapat berarti pemerintah lokal dan atau pemerintahan lokal. Wilayah Desa Pakraman Sama Dengan wilayah Desa Dinas DD Keterangan: DD= Desa Dinas DP= D Pakraman DP DD Gambar 2. Desa Dinas Pandangan Philip Mawhood bahwa local Government memiliki anggaran sendiri dengan rekening yang terpisah dari rekening pemerintah. 2007. Local Gavemment in the Thid World: The Experience of Tropical Africa. dalam Sketsa Pasang Surut Otonomi Daerah dalam Perjalanan 100 Tahun. Ketiga. luas wilayah Desa Pakraman dengan luas wilayah Desa Dinas berimpit (sama persis). luas wilayah Desa Dinas meliputi beberapa wilayah Desa Pakraman (kebalikan dari tipe desa yang kedua ). dan memiliki wewenang untuk mengalokasikan sumber-sumber daya yang substansial. Karakteristik Desa 1.. struktur kelembagaan. Kabupaten Tabanan.. Tata hubungan Kewenangan Pemerintah Pusat dan Daerah dan Sutoro Eko. yang dinyatakan oleh Philip Mawhood. dan peraturan yang dipergunakan untuk mengikat warganya. Pembahasan Desa Dinas dan Desa Pakraman mengacu pada landasan teori pada bab dua. kesatuan hukum yang terpisah.. Kedua. dan masa depan otonomi Desa. wilayah. istilah lokal diartikan sebagai masyarakat setempat. Ditinjau dari segi wilayah Desa Pakraman dan Desa Dinas dapat dilihat dalam gambar berikut: Gambar 1.BAB IV HASIL PENELITIAN A. sumber dana. TIFA – ILD Jakarta. Umumnya tipe Desa Pakraman ini ada di perkotaan. Masa Kini. dalam penelitian ini dijadikan landasan mengkaji dua jenis desa yang ada di Desa Wongaya Gede. 104 .1 Selanjutnya SS Meenakshisundaram mengidentifikasikan sejumlah ciri dari pemerintahan lokal. Local Government juga memiliki multi fungsi. luas wilayah Desa Pakraman meliputi beberapa wilayah Desa Dinas. Menurut Bhenyamin Hoessein. I Wayan Suarjaya. FISIP UI. sejumlah kekuasaan dan fungsi yang diberikan atau diakui oleh Pemerintah. Local Government meliputi kesatuan-kesatuan pemerintahan di bawah Pemerintah Pusat di Negara Kesatuan atau di bawah negara bagian. Desa Pakraman dan Desa Dinas mempunyai karakteristik tersendiri baik ditinjau dari segi historis pembentukannya. Ditinjau dari segi wilayah Desa Pakraman dan Desa Dinas ada tiga tipe desa: Pertama. bandingkan pula dengan pendapat Bhenyamin Hoessein. penduduk.

.023. yaitu Pura Puseh sebagai tempat pemujaan Tuhan dalam manivestasinya sebagai Dewa Wisnu. dan Pura Dalem sebagai minivestasi Tuhan sebagai Dewa Siwa * Jumlah 3. Penggunaan tanah untuk irigasi tradisional atau irigasi sederhana mencapai 23..Gambar 3.048 93.326 Sumber data: Monografi Desa Wongaya Gede tahun 2004 105 Analisis pelayanan . adalah masyarakat hukum adat. Kondisi geografis berada pada ketinggian sekitar 650 meter dari permukaan laut.. 5. Kuburan Irigasi.048 hektar. 9. sumber daya. bahwa pemerintahan lokal memiliki. Perumahan Tanah. Penelitian ini menyajikan masing masing karakteristik Desa Pakraman dan Desa Dinas sesuai dengan landasan teori para pakar tersebut. Luas wilayah berdasarkan data statistik Kabupaten Tabanan seperti tabel berikut ini: Tabel 2 Luas Wilayah Desa Dinas Wongaya Gede Menurut Penggunaan Tanah Riil (Hektar) No. 106 . 2. Desa Dinas merupakan kesatuan masyarakat hukum yang memiliki wilayah.380 12 23. 3. kewenangan. Perkantoran seluas 0. Letak dan Luas Wilayah Desa Dinas Desa Dinas Wongaya Gede merupakan salah satu Desa di Kabupaten Tabanan secara geografis terletak antara 08`1417– 08`501576 lintang selatan. Jenis Penggunaan Tanah Sawah Tanah Pertanian bukan sawah Tanah Perkebunan Hutan Negara Hutan rakyat Tanah. di samping hutan lindung yang dikuasai oleh negara. Untuk lahan basah (sawah) 653. 8. sumber daya sendiri. 023. a. masih ada areal hutan produksi yang dikelola oleh rakyat seluas 487. Tanah kuburan atau setra seluas 12 hektar. Wilayah nya memiliki luas mencapai 3.860 954.2 Desa Pakraman mempunyai wilayah tertentu dan harta kekayaan sendiri serta berhak mengurus rumah tangganya sendiri. 115`05`02–115`15`24 bujur timur.860 hektar. mempunyai satu kesatuan tradisi dan tata kerama pergaulan hidup Umat Hindu secara turun temurun dalam ikatan Kahyangan Tiga (Kahyangan Desa). tanah pertanian bukan sawah 563. 2007.620 563.160 hektar. kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat. Keperluan bangunan umum dan pemukiman perumahan penduduk 1.636 2 Kayangan Tiga adalah merupakan tempat persembahyangan bagi umat Hindu yang terdiri dari tiga bentuk pura. 7. wilayah.320 1. Selebihnya berupa kawasan hutan lindung 954..180 2.580 hektar. Luas lahan diperuntukkan sebagai prasarana jalan seluas 2. berdasarkan asal-usul dan adat-istiadat setempat yang diakui dalam sistem Pemerintahan Nasional dan berada di bawah Kabupaten.110 hektar.620 hektar. 4. Lahan tegalan/ perkebunan luas 253.380 hektar. 6.320 hektar.110 253. penduduk. sesuai dengan ciri Local yang telah dikemukakan oleh SS Government Meenakshisundaram.160 487. penduduk. 326 hektar. Pura Desa tempat memuja manivestasi Tuhan sebagai Dewa Brahma. 10. Desa Pakraman. 1. FISIP UI. Wilayah Desa Dinas Terdiri atas Beberapa Desa Pakraman D D D D D Keterangan: DD = Desa Dinas DP = D Pakraman Karakteristik desa objek penelitian tergolong tipe ketiga yakni Desa Dina meliputi enam wilayah Desa Pakraman. I Wayan Suarjaya. Jalan Raya Lain-lain Luas Wilayah 653.180 hektar. Berdasarkan pengertian tersebut.

Penebel. (4) Bengkel. (3) Batu Kambing. Wongaya Kaja. 108 . Batu Kambing Batu Kambing Desa Pakraman dan Banjar Dinas berimpit 5. yang dibatasi oleh Sungai Pusut. Monografi Desa Wongaya Gede tahun 2000 107 Analisis pelayanan . Bendesa Adat didampingi oleh Prajuru Desa. sedangkan Desa Pakraman mewilayahi empat Banjar. 75 th. Wongaya Kaja 2.. Hal ini dapat dilihat sesuai dengan tabel Struktur Desa Dinas dan Desa Pakraman sebagai berikut: Tabel 3 Struktur Wilayah Desa Dinas NO 1 DESA PAKRAMAN Wongaya Gede BANJAR 1.. dan (6)Sandan. Sandan. Wongaya Bendul. Wongaya Kelod 3. I Wayan Suarjaya. Wilayah Desa Dinas meliputi 6 enam wilayah Desa Pakraman. berada di wilayah Desa Pakraman Wongaya Gede. Tabanan. Sandan Sandan Desa Pakraman dan Banjar Dinas berimpit Sumber data: Monografi Desa Wongaya Gede tahun 20004 Batas-batas wilayah desa. Keloncing Keloncing Desa Pakraman dan Banjar Dinas berimpit 3. Keloncing. Bengkel Bengkel Desa Pakraman dan Banjar Dinas berimpit 4. Otonomi yang dimiliki oleh Desa Pakraman merupakan otonomi asli. Kedudukan maupun wilayah Banjar Pakraman dengan Banjar Dinas berimpit baik ditinjau dari segi wilayah maupun penduduknya. Kab. FISIP UI. seperti kantor desa. yaitu diperoleh berdasarkan asal-asul berdirinya Desa Pakraman tersebut. Ds.. 4 3 Informan Mastra. Serta dirangkum dari hasil wawancara dengan Kepala Desa. Setelah kemerdekaan. Amplas Amplas Desa Pakraman dan Banjar Dinas berimpit 6. Amplas. Tabanan. Pensiunan Sekda Kab. Wongaya Gede Kec.Berdasakan tabel di atas bahwa luas tanah Hutan Negara menempati urutan pertama. 2007. Organisasi di bawah desa disebut dengan Banjar setingkat dengan (RW) di Jawa. Segala fasilitas desa Dinas. sebelah timur Desa Mengesta dan Desa Jatiluwih. Wilayah Desa Dinas meliputi sembilan wilayah banjar dinas yaitu. karena Wongaya Gede geografisnya berada di bawah kaki Gunung Batukaru. yang berhak untuk mengatur masyarakat setempat. (2) Keloncing.. Hutan Rakyat yang lebih dikenal dengan hutan produksi merupakan luas wilayah nomor dua. Wongaya Kangin 4. Luas persawahan serta pertanian menduduki urutan ketiga. Desa Dinas mewilayahi sembilan Banjar. Bengkel. Keenam Desa Pakraman tersebut masing-masing berdiri sendiri dan merupakan desa yang otonom. I Wayan. (5) Amplas. keenam wilayah Desa Pakraman tersebut dimasukkan dalam satu Desa Dinas Wongaya Gede3. Banjar tersebut merupakan Banjar dari Desa Pakraman. sebelah selatan Desa Tengkudak (Desa Pakraman Penganggahan). yaitu: (1) Wongaya Gede. Wongaya Bendul KETERANGAN Banjar Dinas dan Banjar Pakraman berimpit 2. Wongaya Kelod. Wongaya Kangin. Antara Banjar Dinas dan Banjar Pakraman wilayahnya berhimpit. Batu Kambing.

sedangkan Banjar-Banjar lainnya jumlahnya berimbang. 6. Pensiunan Sekda Kab. 110 . Penduduk dapat dirinci berdasarkan jenis kelamin: penduduk laki-laki 1.738 jiwa dan perempuan 1. 9. populasi penduduk wanita lebih banyak. 5.494 Sumber : Kabupaten Tabanan Tahun 2002 dan Monografi Desa Wongaya Gede Berdasarkan data tersebut bahwa Banjar Batu Kambing dan Keloncing menduduki urutan jumlah penduduk yang paling banyak. 6 Kabupaten Tabanan dalam angka Tahun 2002 dan Monografi Desa Wongaya Gede 1.494 jiwa. wanita jumlahnya lebih banyak dengan penduduk laki. 7. FISIP UI. hal ini dapat dilihat dari tabel berikut : Tabel 4 Jumlah Penduduk Desa Dinas Berdasarkan Umat Beragama 6 No Tabel 5 Penduduk Desa Dinas Wongaya Gede Berdasarkan Jenis Kelamin Tahun 2000 No Banjar/Dusun Wongaya Kaja Wongaya Kelod Wongaya Kangin Wongaya Bendul Keloncing Bengkel Batu kambing Amplas Sandan Banjar/Dusun Agama Total 5 Informan Mastra. Ds. Penduduk merupakan penduduk asli Warga Negara Indonesia (WNI) tidak ada Warga Negara Asing (WNA). Dilihat dari segi jenis kelamin. I Wayan. Kab. Tabanan. Penduduk dan Mata Pencaharian Kalau diperhatikan dari segi populasi penduduk. 4. 5 Sedangkan jumlah kepala keluarga Desa Pakraman 786 kepala keluarga. Jenis Laki Laki 180 170 180 195 234 185 235 185 173 Kelamin Perem puan 196 177 200 191 240 140 240 195 178 Jumlah 376 347 380 386 475 325 475 375 356 109 Analisis pelayanan . 2.sebelah barat Desa Penatahan yang dibatasi Sungai Telengis. Bandingkan dengan data dalam Monografi Desa Wongaya Gede tahun 2004. 2007.. Wongaya Gede Kec. 75 th. 3. Berdasarkan Data Statistik Desa Wongaya Gede tentang jumlah penduduk dan penganut umat beragama seperti tertuang dalam tabel sebagai berikut: Hindu 1 2 3 4 5 6 7 8 9 * Wongaya Kaja Wongaya Kelod Wongaya Kangin Wongaya Bendul Keloncing Bengkel Batu Kambing Amplas Sandan JUMLAH 376 347 380 386 471 325 475 375 356 3.756 jiwa. Masyarakat mayoritas beragama Hindu 3. Penebel. b. I Wayan Suarjaya. jumlah penduduk 3. sebelah utara Hutan Llindung Gunung Batukaru. 3 orang memeluk agama Katholik. yang merupakan daerah perbatasan antara daerah Kabupaten Tabanan dengan Kabupaten Buleleng.491 jiwa.laki.491 Katholik 3 376 347 380 386 474 325 475 375 356 3.... Tabanan. 8.

Kaje W. (1) Subak sawah anggotanya petani yang memiliki sawah. penduduk yang memiliki profesi sebagai petani merupakan penduduk yang paling besar. seperti data sebagai berikut. baik PNS. I Wayan Suarjaya. hal ini menunjukkan bahwa secara umum kondisi wilayah yang ada adalah sebagai daerah pertanian. Lahan kering (ladang) untuk berbagai jenis tanaman perkebunan dan hutan. dapat dibedakan menjadi dua kelompok. 112 . yang subur dan produktif dari berbagai jenis tanaman pertanian.454 376 347 380 386 374 325 475 375 356 3. TNI/POLRI. dan peternakan. h) pensiunan 30 orang.JUMLAH 1. (2) Subak Abian anggotanya petani di lahan kering. f) berprofesi sebagai tukang 277 orang. a) Pegawai Negeri Sipil (PNS) 89 orang. serta karyawan swasta. Kgn W. perkebunan.. wiraswasta atau pedagang. karena wilayahnya merupakan daerah yang sangat strategis dan cocok untuk lahan pertanian. Masyarakat memiliki beragam mata pencaharian. memiliki tata aturan tersendiri yang diatur dalam Awig-Awig Subak yang ditaati 111 Analisis pelayanan . Terlebih lagi bahwa letaknya di daerah Pegunungan Batukaru. Bdl Batu Kbg Klc Bkl Apl Sdn Jml 1 2 3 4 5 6 7 8 9 PNS TNI/POLRI Wiraswasta Pedagang Petani Buruh Tani Tukang Bgn Jasa Pelajar/Bali ta 16 2 45 9 125 18 14 2 145 15 2 25 15 68 75 28 2 117 17 1 78 21 79 40 11 1 134 8 3 48 16 81 14 15 1 200 12 2 32 4 165 18 21 220 6 1 16 7 125 31 28 106 6 1 12 5 180 35 25 210 4 8 2 95 15 60 191 7 7 4 50 38 15 135 89 12 271 83 1. d) pedagang 83 orang. Wilayah desa sebagai daerah pertanian. Mata Pencaharian W.494 Sumber data: Data Statistik Kabupaten Tabanan tahun 2000 Tata kehidupan pertanian melalui organisasi subak.494 orang. dan i) pengusaha di bidang jasa 6 orang. c) penduduk yang bermata pencaharian dalam wiraswasta 271 orang. sedangkan lahan basah untuk persawahan. Tabel 6 Jumlah Penduduk Desa Dinas Berdasarkan Mata Pencaharian Tahun 2000 No . e) petani 1.. Wilayah pertanian yang mencakup lahan kering (ladang) dan lahan basah (sawah).494 Sumber data: Monografi Desa Wongaya Gede tahun 2000 Jumlah penduduk 3. Mata pencaharian yang lainnya. maka masyarakat atau penduduk yang tinggal sebagian terbesar bermata pencaharian sebagai petani. Kondisi daerah pertanian yang sangat subur tersebut. tukang.. b) Angkatan Bersenjata Repuplik Indonesia (ABRI) 12 orang.. Hal ini dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut . g) berprofesi sebagai buruh tani 289 orang.073 289 217 6 1. dan berprofesi dalam bidang jasa. Keld W. Masyarakat yang termasuk anggota/Kerama Subak.738 1.073 orang. FISIP UI. Kemudian selebihnya adalah karyawan.756 3. buruh tani. 2007.

dan 7 Hasil pengamatan langsung di masyarakat. diperuntukkan bagi kepentingan bersama pula. Tata Kehidupan Budaya 9 Rangkuman hasil wawancara dengan Gede Teken. I Wayan Suarjaya. Penataran Pura. Kehidupan sosial ditandai dengan semboyan parasparos. berarti segala kegiatan masyarakat dilakukan secara bersama oleh warga desa. serta pada tempattempat umum lainnya yang ada di Desa. Menunjukkan bahwa warga desa dalam melaksanakan kewajiban dilakukan bersama-sama. Budaya. 26 Februari 2006. Wujud kebersamaan dalam kehidupan masyarakat desa mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan jaman. yang didampingi oleh Perangkat Desa Dinas dan Prajuru Desa Pakraman. tgl. 26 Februari 2006. yang menjunjung tinggi rasa kebersamaan. 113 Analisis pelayanan . Warga desa sebagai individu tidak ada artinya. berat sama dipikul. segala pekerjaan dipikul bersama. Balai Desa. tgl. dan Agama Desa Wongaya Gede merupakan desa tua yang terletak di daerah pegunungan. Tempat pelaksanaan kegiatan sosial menggunakan fasilitas desa yang secara khusus untuk kegiatan sosial. Tata Kehidupan Sosial Tata kehidupan sosial bagi masyarakat masih nampak adanya semangat kebersamaan. Bandingkan pula dengan hasil penelitian Artadi tentang Prilaku Masyarakat Bali. Balai Gong. Bendesa Adat. Setiap orang dapat menjadi kerama desa atau warga desa yang baik. dengan semboyan ringan sama dijinjing. salunglung sabayan taka sarpanaya. sehingga tidak terasa berat baginya. Bahkan kerja fisik dapat berwujud bantuan lain atau dengan sejumlah uang tertentu. dan agama.dan dipatuhi secara bersama-sama. keamanan dan kesejahteraan kehidupan petani. FISIP UI. serta kegiatan sosial lainnya. 1999 Departemen Pendidikan Nasional Jakarta hal 67. Kehidupan bermasyarakat. Kehidupan Sosial. ringan sama dijinjing. Semboyan melandasi kehidupan sosial masyarakat. 10 Rangkuman hasil wawancara dengan Gede Teken. apabila mereka menaati tata kerama dan aturan-aturan yang dibuat oleh desa. dalam arti mereka tidak diikutsertakan dalam kehidupan bersama. c. tepatnya di kaki Gunung Batukaru. secara bersama-sama sebagai cermin tata kehidupan sosial.10 2). tanggal 26 Februari. 114 . Oleh karena itu sistem selunglung sebayantaka kerja sama/gotong-royong mengalami modifikasi. tetapi dapat diganti dengan bentuk lain. Kerja sama tidak semata-mata kerja fisik yang diwujudkan dalam bentuk kehadiran pada saat melaksanakan pekerjaan. Setiap warga desa merasa satu kesatuan dengan warga lainnya. Karena itu. Bentuk tata kehidupan sosial bagi masyarakat beragam. Balai Wantilan Pura. salunglung sabayan taka sarpanaya. dan semangat kegotongroyongan. seperti Balai Banjar. Mengenai tata kehidupan masyarakatnya memiliki kekhasan tersendiri. seperti palemahan yang pemeliharaan lingkungan atau diselenggarakan secara gotong-royong. 1). Sebaliknya setiap orang yang tidak peduli dengan aturan-aturan desa akan ditinggalkan oleh masyarakat. yang menjadi falsafah hidup bermasyarakat. gotong royong.8 Semboyan ini dipakai sebagai landasan dalam kehidupan sosial. Orang yang dikucilkan dari masyarakatnya merupakan hukuman yang sangat berat baginya. demi untuk keadilan. berusaha untuk menaati aturan-aturan desa dengan baik pula..9 Warga Desa Wongaya Gede banyak yang berdomisili di luar desa untuk mencari pekerjaan. semangat persatuan. didampingi Pemangku Pura Luhur Batukaru. didanpingi Pemangku Pura Luhur Batukaru. Sistem kerja sama itu mencerminkan kehidupan komunal yang sangat kental pada masyarakat desa. berkelompok dalam wadah kelompok melaksanakan aktivitas seni keagamaan di Pura. serta berdasarkan rangkuman hasil wawancana dengan Kepala Desa. 2007.7 Setiap kegiatan sosial yang berlangsung selalu melibatkan warga masyarakat.. 2006.. terutama yang berkenaan dengan tata kehidupan sosial.. setiap orang yang ingin menjadi warga desa yang baik. berat sama dipikul. Pelaksanaan berbagai Upacara Agama secara Suka-Duka. bila tidak berada ditengah-tengah kehidupan masyarakatnya. budaya. 8 Paras-paros. namun pinsip kebersamaan tetap menjadi ciri kehidupan sosial masyarakat desa.

Seni tari yang tergolong seni sakral. Beberapa aspek tata kehidupan budaya secara turun temurun dilakukan oleh segenap masyarakat. Upacara Bhuta Yadnya. yaitu. namun budaya petani masih tampak utuh. seperti Pura Bale Agung. hingga kini hidup terus sepanjang zaman. Upacara Rsi Yadnya. (4). tari Rejang. Seni sakral ada beberapa jenis. Pura Hyang Aluh.(2). kopi dan cengkeh menjadi sumber penghidupan bagai masyarakat. Pura Luhur Batukaru. Kombinasi seni musik.Hasil penelitian menunjukkan bahwa tata kehidupan budaya mencakup berbagai aspek kehidupan secara nyata bagi masyarakat. maupun di masing-masing Pura Keluarga. Sedangkan tata kehidupan agama yang tergolong duka yaitu Upacara Pitra Yadnya atau Upacara Ngaben. pemberian dana punia kepada orang suci atau sulinggih.Tata Kehidupan Agama Pelayanan publik di bidang agama dilaksanakan sepenuhnya oleh Desa Pakraman. 26 Februari 2006. budaya masyarakat menerima pengaruh budaya asing. seperti Upacara Pewintenan Pinandita atau Pemangku maupun Jero Kubayan. 3). I Wayan Suarjaya.. Dengan demikian. sampai kini masih dilestarikan. topeng sidakarya. FISIP UI. Sekeha Pesantian. pelaksanaan Upacara Manusa Yadnya. antara lain: dalam aspek pertanian ada budaya bertani melalui wadah Subak. seperti Upacara Pawiwahan. serta kelompok-kelompok kesenian yang lainnya.. Walaupun pengaruh budaya global sudah masuk pada Jenis tari tersebut tergolong sakral yang hanya dipentaskan pada upacara agama di pura di Desa Pakraman 11 kehidupan masyarakat desa. 2007. seolah-olah tidak mengalami perubahan.yang disebut Panca Yadnya. pelaksanaan Upacara Rsi Yadnya. adalah seni yang dipergunakan saat upacara agama berlangsung. Tata kehidupan beragama yang tergolong suka dan duka dilayani oleh Desa Pakraman. Upacara Dewa Yadnya. Sekeha Angklung. pembacaan melafalkan phalawakya. Tanah pertanian yang luas yang cocok dengan berbagai jenis tanaman keras seperti.. Tata keagamaan yang tergolong suka yaitu: Upacara Manusa Yadnya. dipentaskan pada saat upacara agama berlangsung. Apa yang dilakaukan oleh nenek moyangnya sejak dahulu. Nyastra dilakukan dengan melagukan kidung suci. Pura Dalem. yang diolah menjadi wujud budaya yang menarik. sloka. tgl. melagukan tembang macepat atau geguritan. Tata kehidupan beragama Hindu ada dikenal budaya Nyastra yaitu adanya kegiatan masyarakat untuk melakukan pembacaan kitab-kitab suci Hindu melalui kegiatan nyanyian suci agama Hindu. Pura Puseh.12 Secara umum pelayanan publik tata kehidupan agama mencakup lima jenis. Budaya petani masyarakat berkaiatan dengan geografi desa tersebut yang terletak dibawah Gunung Batukaru. pertanian masyarakat yang sudah ada sejak zaman dahulu. serta seni budaya lainnya yang dilaksanakan langsung oleh masyarakat.. Budaya seni melalui berbagai wadah atau Sekeha. Upacara Rangkuman hasil wawancara dengan Gede Teken. (3). pembacaan kekawin. Alam yang bergunung-gunung serta adanya sungai dan berbagai sumber air merupakan karunia Tuhan yang dimanfaatkan menjadi areal persawahan. seni suara dan yang sejenis dari luar negeri dan dalam negeri setelah ditata dengan rapi berwujud seni yang menarik. Pembinaan kerukunan umat beragama dilakukan secara bersama-sama dengan Desa Pakraman. tata Budaya agraris ditandai oleh adanya subak. 116 . seni tari baris memedi 11. (1) pelaksanaan Upacara Dewa Yadnya yang diselenggarakan pada beberapa Pura. pelaksanaan Upacara Pitra Yadnya atau Upacara Ngaben yang bertujuan untuk mengembalikan unsur Panca Maha Bhuta ke asalnya. 12 115 Analisis pelayanan . Pengaruh budaya luar yang cocok diterima sebagai upaya untuk memperkaya budaya sendiri. didanpingi Pemangku Pura Luhur Batukaru. seperti Sekeha Gong. Beberapa contoh pengaruh budaya luar yang diterima dalam kehidupan masyarakat antara lain penggunaan bahan-bahan dari luar negeri untuk melengkapi berbagai upacara keagamaan..

16 1). ada berbagai jenis kesenian sakral yang hanya dipertunjukkan pada saat melaksanakan upacara agama. 2005 hal 217 16 15 13 Sumber data dari beberapa informan hasil wawancara tertanggal 24 Juli 2004 Seni Sakral adalah seni khusus dipergunakan untuk mengiringi rangkaian upacara Agama. Pura Sad Kahyangan Batukaru yang berlokasi di tengah hutan Batukaru. Pengertian Desa mengalami perkembangan sesuai dengan situasi dan kondisi Pemerintah.14 Oleh karena itu. Pura Desa. sesuai dengan Stb l938 Nomer 49015. 118 . atau hidup dari hasil hutan saja. Khusus bagi umat Hindu yang tinggal di wilayah Desa Pakraman. berdasarkan pelimpahan kewenangan dari Pemerintah Kolonial. yang memiliki batas-batas wilayah kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Hal ini terbukti bahwa pengertian kedudukan dan fungsi Desa selalu mengalami perkembangan sampai pada diletakkannya desa sebagai otonomi asli dalam pemerintahan saat ini. cit . yang secara khusus bagi petani sawah untuk melakukan pemujaan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Dewi Sri13. Kewenangan untuk mengatur masyarakat setempat.. upacara tampak semakin semarak. Ketiga. hal 11 Perhatikan penjelasan umum Undang-Undang Nomer 32 tahun 2994 tentang Pemerintahan Daerah. (5). Dari tahun ke tahun pengertian desa itu diberikan definisi sesuai dengan sudut pandang keilmuannya masing-masing. dan Pura Dalem. Op. disebut dengan balih-balihan. maka penyelenggaraan Mapandes ( upacara potong gigi ). Bandingkan pula dengan Sutoro Eko. Keberadaan Desa Dinas Desa Dinas pada awal terbentuknya mempunyai tugas pokok dan fungsi memberikan pelayanan publik.Pelayanan publik dalam berbagai kegiatan keagamaan Hindu adalah menyediakan sarana peribadatan bersama – sama dengan umat. Persembahan 40 tahun STPMD “APMS” Yogyakarta. Beberapa sarana peribadatan penting yang ada: Pertama. Manifesto Pembaharuan Desa. Berdasarkan undang-undang nomer 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah ditegaskan bahwa: Desa atau disebut dengan nama lain.. I Wayan Suarjaya. Pura Subak atau juga dikenal dengan nama Pura Bedugul. Pengertian Desa tidak lagi bisa diartikan suatu perkampungan yang jauh dari kota. d. Tata cara melaksanakan upacara di pura telah dilaksanakan secara turun-temurun sehingga menjadi adat atau tradisi. Sebagai sarana peribadatan yang utama adalah berupa tempat suci secara khusus bagi umat Hindu disebut Pura. Desa Dinas pada awal terbentuknya oleh Pemerintah Hindia Belanda disebut dengan istilah Inladsche Gemeente yang diatur berdasarkan Inladsche Gemeente Ordonnanti Buitengeweten. seperti Pura Puseh. Tata kerama berkaitan dengan pelaksanaan upacara agama seperti dalam Upacara Panca Yadnya selalu diiringi oleh berbagai jenis kesenian yang tergolong Seni Sakral. di bidang administrasi yang berkaitan dengan Pemerintah Kolonial. seni pertunjukkan untuk umum. Perwujudan kegiatan masyarakat dalam melaksanakan Agama Hindu ditandai adanya tempat-tempat pemujaan bersama.. yang berstatus sebagai pura umum bagi seluruh umat Hindu dari manapun mereka berasal.. FISIP UI.. selanjutnya disebut desa adalah kesatuan masyarakat Hukum. khidmat. seperti Upacara Panca Sanak. Pura Kahyangan Desa tujuh buah yang berstatus sebagai pura umum. yang masyarakatnya sangat tradisional. pelaksanaan Upacara Bhuta Yadnya. hidup dari hasil pertanian. Upacara Tawur Agung atau Upacara Tawur Kasanga. 2007. Kedua. Desa Pakraman merupakan wadah yang memberikan pelayanan bagi warga desa dalam melaksanakan kehidupan keagamaan. Struktur Desa Dinas Hasil penelitian menyatakan bahwa Desa Wongaya Gede telah memenuhi persyaratan sesuai dengan teori ciri-ciri Amarah Muslimin. 14 117 Analisis pelayanan . Adanya berbagai jenis kesenian yang menjadi pelengkap dalam kegiatan upacara agama. dan memberi makna yang dalam bagi warga masyarakat.

Sementara tidak ada yang mengisyaratkan tempat ibadah dalam pembentukan desa. Kebijakan pemerintah menganut azas desentralisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan. b) Partisipasi. namun tetap mengindahkan sistem nilai bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena dengan otonomi Desa Dinas yang kuat akan mempengaruhi secara signifikan perwujudan otonomi daerah. merupakan terbentuknya Desa Pakraman ..498 jiwa Bendesa Pakraman Awig-awig. yang dikemukakan oleh para pakar bahwa pemerintahan lokal ( desa ) memiliki: wilayah. yang diatur secara sentralistik. Penebel Desa W. memiliki makna bahwa penyelenggaraan pelayanan publik harus mampu mewujudkan peran aktif masyarakat agar masyarakat merasa memiliki dan turut 17 Pemda Tabanan Dalam Angka. Posisi Desa Dinas yang memiliki otonomi asli sangat strategis sehingga memerlukan perhatian seimbang terhadap penyelenggaraan otonomi Daerah. a) Keanekaragaman. dengan memberikan kesempatan dan keleluasaan kepada daerah untuk menyelenggarakan otonomi daerah. Kedudukan Desa Dinas dalam sistem Pemerintahan NKRI ini nampak dalam gambar sebagai berikut Bagan 1 Berdasarkan bagan struktur Desa Dinas tadi jelaslah bahwa Desa Dinas merupakan struktur Pemerintahan yang paling bawah. yang berhadapan langsung dengan masyarakat. 119 Analisis pelayanan .. Perarem Swadaya Masyarakat Kahyangan Tiga Hasil penelitian menemukan perbedaan prinsip unsur Desa Dinas dengan Desa Pakraman . 2007. PP. penduduk. Sesuai dengan pengertian desa tersebut dinyatakan bahwa desa berhak mengatur rumah tangganya sendiri. 120 . FISIP UI. Mekanisme desa sebagai otonomi daerah kelihatannya seragam untuk wilayah Indonesia karena merupakan warisan pengaturan desa Zaman Orde Baru adanya penyeragaman desa.150 hektar 3. 2001. struktur perangkat desa...pemerintahan lokal. Gede Desa Pakraman Dusun/Banjar Tempek Desa Pakraman 4 Banjar 1.268 hektar 1.494 jiwa Kepala Desa UU. Swadaya - Struktur Desa Dinas Dalam Sistem Pmerintahan17 Propinsi Bali Kabupaten Kabupaten Tabanan Kabupaten Kec. Perda APBN. Unsur dari otonomi daerah baik Desa Dinas maupun Desa Pakraman Wongaya Gede dapat dilihat perbandingannya sebagai berikut: Tabel 7 Unsur Desa Dinas dan Desa Pakraman No 1 2 3 4 5 6 Unsur Desa Wilayah Penduduk Kepala Pemerintahan Dasar Hukum Sumber Dana Tempat Ibadah Desa Dinas 9 Banjar 5. Hal ini berarti pola penyelenggaraan pemerintahan desa akan menghormati sistem nilai yang berlaku dalam adat-istiadat dan Budaya masyarakat setempat. I Wayan Suarjaya. Desa memiliki tugas pokok dan fungsi untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakatnya sesuai kondisi dan sosial budaya setempat. memiliki makna bahwa istilah Desa dapat disesuaikan dengan asal-usul dan kondisi budaya masyarakat setempat. APBD. seperti nampak dalam tabel di atas. Landasan pemikiran pengaturan desa ditegaskan bahwa. aturan dan kewenangan untuk mengatur rumah tangga sendiri serta mempunyai sumber dana sendiri. Unsur kahyangan tiga yang terdapat syarat utama dalam Desa Pakraman .

menumbuhkan kemandirian. (b). Calon Kepala Desa yang terpilih dengan mendapatkan dukungan suara terbanyak ditetapkan oleh Badan Perwakilan Desa dan disyahkan dengan Surat Keputusan oleh Bupati setempat. memiliki makna bahwa kewenangan pemerintah desa dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat didasarkan pada hak asalusul dan nilai-nilai sosial budaya yang ada pada masyarakat setempat.agar tidak ketergantungan masyarakat kepada pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui penetapan kebijakan. memiliki makna bahwa penyelenggaraan Pemerintahan Desa dengan memberdayakan partisipasi masyarakat. Dalam menjalankan sistem pemerintahan di desa dan memberikan pelayanan publik.. serta Sumber Daya Manusia. 2007. I Wayan Suarjaya. yang bertugas untuk menyelenggarakan pelayanan publik dibidang administrasi pemerintahan desa. d) Demokrasi. dan kegiatan. sarana dan prasarana.. membina perekonomian Desa. Pemerintah Propinsi dan atau Pemerintah Kabupaten disertai pembiayaan. kepala desa dibantu oleh seorang sekretaris desa. mewakili desanya di dalam dan diluar Pengadilan dan dapat menunjuk kuasa hukumnya. FISIP UI. dari calon yang memenuhi syarat.. memimpin Pemerintah Desa. Kepala Desa dipilih langsung oleh penduduk Desa. (f). Selain itu. bersama – sama dengan masyarakat sehingga sesuai dengan esensi masalah dan prioritas kebutuhan masyarakat. segala perselisihan yang telah didamaikan oleh Kepala Desa bersifat mengikat pihak-pihak berselisih.20 Kepala Desa dalam memberikan pelayanan publik serta melaksanakan tugas dan kewajiban. Kepala Desa dapat dibantu oleh Lembaga Adat Desa. Tahun 2001 Penjelasan Kepala Desa Dinas Desa Wongaya Gede pada tanggal 18 Februari 2006 20 Dirangkum dari informasi Kepala Desa serta Aparat Desa pada tanggal 18 Februari 2006. kepala desa juga dibantu oleh kepala dusun. namun harus di selenggarakan dalam perspektif administrasi pemerintahan modern. Tugas pokok dan Kewajiban Kepala Desa adalah : (a) memberikan pelayanan publik sesuai dengan ketentuan . e) Pemberdayaan Masyarakat. c) Otonomi Asli. menghendaki masa jabatan Kepala Desa dikembalikan menjadi delapan tahun. membina kehidupan masyarakat Desa. program. (d). Masa jabatan Kepala Desa lima tahun dan dapat dipilih kembali untuk satu kali masa jabatan. dengan tembusan kepada Camat. mendamaikan perselisihan masyarakat Desa. (c). 76.bertanggung jawab terhadap perkembangan kehidupan bersama sebagai sesama warga Desa. dan untuk mendamaikan perselisihan masyarakat di Desa. 122 . Hasil pelaksanaan kegiatan rutin dan pembangunan dilaporkan secara berkala ( semesteran dan tahunan) kepada Bupati. memiliki makna bahwa penyelenggaraan Pemerintahan Desa mengakomodasi aspirasi masyarakat yang diartikulasi dengan diagregasi melalui Badan Perwakilan Desa dan Lembaga Kemasyarakatan sebagai mitra Pemerintahan Desa. dengan 18 pertimbangan program pembangunan dapat dilaksanakan berkelanjutan19. juga dikenal dengan istilah perbekel. Kepala Desa dan Perangkat Desa Pemerintah Desa Dinas Wongaya Gede terdiri atas Kepala Desa dan Perangkat Desa. Aspirasi masyarakat berdasarkan hasil penelitian. Pemerintahan Desa a). Pemerintah Desa menerima tugas pembentukkan dari Pemerintah.18 2). memelihara ketentuan dan ketertiban masyarakat. (g). Kepala Dusun adalah pimpinan di tingkat Perhatikan Penjelasan PP No.. 19 121 Analisis pelayanan . (e). bertanggung jawab kepada rakyat melalui Badan Perwakilan Desa.

dusun yang bertugas untuk melaksanakan dan menyelenggarakan sistem pemerintahan desa di tingkat dusun, sebagai perpanjangan tangan dari pemerintahan desa. Kemudian untuk kelancaran pelaksanaan administrasi desa, maka Kepala Desa dibantu oleh beberapa tenaga administrasi sebagai Kepala Urusan. Pada tingkat desa ada lima Kepala Urusan yaitu: Kepala Urusan Pemerintahan, Kepala Urusan Pembangunan, Kepala Urusan Kesra, Kepala Urusan Keuangan, dan Kepala Urusan Umum. Untuk lebih jelasnya Struktur Organisasi Desa dapat dilihat sesuai dengan bagan sebagai beriku: Bagan 2 Struktur Desa Dinas Wongaya Gede
BPD Kepala Desa Sekretaris

Kaur Pembangunan

Kaur Kesra Kelihan Banjar

Kaur Keu angan

Kaur Umum

Kaur Pemerintahan

Sumber data: Monografi Desa Wongaya Gede tahun 2000 b). Badan Perwakilan Desa Perwujudan demokrasi di tingkat desa diadakan Badan Perwakilan Desa yang berfungsi menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat dan melakukan pengawasan dalam hal penetapan serta pelaksanaan peraturan Desa. Mengawasi pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa dan kebijakan yang ditetapkan oleh Kepala Desa. Keanggotaan Badan Perwakilan Desa, direkrut melalui pemilihan oleh penduduk Desa setempat dari calon – calon yang memenuhi persyaratan. Desa memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berarti terbuka

peluang untuk tumbuh dan berkembangnya lembaga-lembaga kemasyarakatan sesuai kebutuhan dan kondisi sosial budaya setempat. Seperti Desa Pakraman, Subak, Sekeha-Sekeha. Lembaga-lembaga Kemasyarakatan dimaksud merupakan mitra dari pemerintah Desa dalam rangka pemberdayaan masyarakat c). Keuangan Desa Dinas Pemerintah Desa dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya ditopang oleh sumber pendapatan asli Desa. Sumber keuangan Desa yang digali dari wilayah Desa yang bersangkutan. Sumber dana berasal dari hasil usaha Desa, kekayaan Desa, hasil swadaya dan partisipasi, hasil gotongroyong, dan lain-lain. Pendapatan asli Desa dipungut berdasarkan peraturan Desa, sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.21 Disamping sumber dana dari swadaya desa dalam mengatur rumah tangganya sendiri, juga ditopang oleh APBD Kabupaten/Kota, bantuan dari Pemerintah Propinsi atau Pusat yang dipergunakan untuk kegiatan pelaksanaan proyek berupa: (a) Proyek Fisik, diprioritaskan untuk jalan, air bersih dan listrik masuk desa (JALI). Saat ini bantuan pusat yang agak besar jumlahnya adalah bantuan kegiatan untuk pengentasan wajib belajar sembilan tahun, penyelesaian kejar Paket A, B dan C. Pembangunan gedung perkantoran dan sekolah. (b) Proyek Nonfisik, berupa kegiatan pembinaan desa yang meliputi ekonomi, pertanian, sosial budaya, dan agama. (c) Pengadaan sarana dan prasarana penunjang lainnya. Sumber dana dari pemerintah kabupaten dituangkan dalam bentuk DIPA APBD Kabupaten yang diprioritaskan peningkatan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan kesehatan masyarakat (pengobatan gratis). Subsidi dibidang peternakan
Penjelasan Kepala Desa Dinas Desa Wongaya Gede pada tanggal 18 Februari 2006
21

123 Analisis pelayanan ..., I Wayan Suarjaya, FISIP UI., 2007.

124

dengan memberikan kredit lunak ternak. Bantuan operasional sekolah (BOS) untuk Sekolah Dasar. Sebagian dari dana APBN, APBD dan swadaya masyarakat diperuntukkan meningkatkan kualitas pelayanan publik terutama pelayanan kartu KK, KTP, Surat Keterangan dan Perijinan. Peningkatan kualitas pelayanan publik dimulai dari peningkatan kesejahteraan perangkat desa dan pegawai desa, sesuai dengan kemampuan sumber dana keuangan yang ada.22 d). Partisipasi Masyarakat Penyelenggaraan Pemerintahaan Desa, menumbuhkan prakarsa dan kreativitas masyarakat. Mendorong peningkatan partisipasi masyarakat dalam pembangunan dengan memanfaatkan Sumber Daya dan potensi yang tersedia. Desa mampu mengembangkan dan memberdayakan potensi Desa. Meningkatkan pendapat Desa, menghasilkan masyarakat yang berkemampuan untuk mandiri. Berkenaan dengan itu otonomi daerah telah membuka peluang kepada pemerintahan Desa untuk menggali sumber-sumber pendapatan yang cukup potensial. Potensi yang dikembangkan melalui pendirian Badan Usaha milik Desa (BUD) dan Koperasi Unit Desa (KUD), melakukan kerjasama dengan pihak ketiga. Aparat desa memberikan pelayanan publik dengan melibatkan partisipasi masyarakat. Potensi partisipasi masyarakat sangat besar dalam memajukan kesejahteraan masyarakat melalui gotong-royong. Hal ini sejalan dengan teori pelayanan publik, yang melibatkan partisipasi masyarakat, sesuai dengan pendapatnya Dafis dan Kairudin mengatakan bahwa; partisipasi masyarakat sebagai bentuk keterlibatan langsung oleh masyarakat.23 Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat desa Wongaya Gede dapat dikelompokkan menjadi sembilan bentuk partisipasi yakni;

1) partisipasi berdasarkan kesukarelaan, terutama dalam bentuk membantu masyarakat dalam musibah kedukaan, 2) partisipasi berdasarkan keterlibatan langsung, dalam melaksanakan tugas selaku aparat desa maupun Banjar, 3) partisipasi berdasarkan pada keterlibatan dalam pembangunan, melaksanakan berbagai tahap dan proses pembangunan mulai dari segi merencanakan sampai ikut melaksanakan secara langsung, 4) partisipasi berdasarkan kedudukan dalam organisasi, 5) partisipasi berdasarkan intensitas dan frekuensi kegiatan upacara agama, di dorong oleh keyakinan yang tumbuh dari ajaran agama 6) partisipasi berdasarkan ikatan kelompok/tempek yang ada di Banjar, 7) partisipasi berdasarkan tingkat bakat dan kemampuan dalam masyarakat; seperti sekeha gong, pesantian dan lain sebagainya, 8) partisipasi berdasarkan, ikatan kekeluargaan, hubungan kedekatan/kekerabatan, 9) partisipasi berdasarkan pengaruh kharisma dari seorang pemimpin.24 Dari sembilan jenis partisipasi ini jika dirujuk dengan pendapatnya Dafis dan Khaeruddin, maka partisipasi masyarakat desa Wongaya Gede menunjukkan bahwa kesembilan jenis partisipasi tadi, sejalan dengan teori partisipasi, masih sangat relevan untuk dikembangkan dalam peningkatan pelayanan publik oleh Desa Dinas maupun Desa Pakraman. Merujuk teori pelayanan publik oleh Chaterina DeVery, partisipasi masyarakat dalam pelayanan publik tersebut, merupakan sebagian dari aspek psikhologis pelayanan publik. Aspek psikhologis pelayanan menurut DeVery ada tujuh pola strategi pelayanan yang disebut dengan ...”the seven scret of
24 Dirangkum dari informasi Kepala Desa serta Aparat Desa pada tanggal 18 Pebruari 2006. perhatikan pula pendapat Dafis dalam Khaerudiin, dalam bukunya Pembangunan Masyarakat tinjauan Aspek Sosiologis. Ekonomi dan Perencanaan, l992 hal 25

Dirangkum dari informasi Kepala Desa serta Aparat Desa pada tanggal 18 Februari 2006. 23 Dafis dan Khaeruddin, Op. cit. hal 25

22

125 Analisis pelayanan ..., I Wayan Suarjaya, FISIP UI., 2007.

126

service succes, salah satu diantaranya adalah empower.25

Pandangan Dafis dan Khaeruddin dikaitkan dengan partisipasi masyarakat Wongaya Gede sejalan dengan teori Chaterina DeVery. Sama – sama menekankan pada pemberdayaan masyarakat, untuk menyukseskan pelayanan publik dengan baik.26

wajib (sebagai syarat utama) memiliki Kahyangan Tiga. Hal ini tidak diungkap oleh para pakar local government.

2. Desa Pakraman Berdasarkan landasan teori tentang local government27, yang menyatakan bahwa local government, memiliki wilayah, penduduk, sumber daya, kewenangan untuk mengalokasikan sumber – sumber daya. Desa Pakraman sebagai Obyek Penelitian memiliki; (1) palemahan / wilayah tertentu, (2) pawongan / penduduk yang telah ditetapkan sebagai anggota/kerama, (3) parhyangan / Kahyangan Tiga (4) sistem pemerintahan (struktur desa), (5) sumber dana yang berasal dari Pelaba Pura28 dan partisipasi masyarakat dalam bentuk Dana Punia. (6) hukum tertulis dalam bentuk awig-awig sedangkan hukum yang tidak tertulis disebut dengan Perarem.29 Beberapa ciri local government yang dinyatakan Mawhood dibandingkan dengan ciri Desa Pakraman, adalah kelebihan pensyaratan Desa Pakraman memiliki Parhyangan/Kahyangan Tiga. Setiap Desa
25 26

Desa Pakraman merupakan kesatuan masyarakat hukum adat, yang mempunyai satu kesatuan tradisi dan tata kerama pergaulan hidup masyarakat bagi umat Hindu secara turun temurun dalam ikatan Kahyangan Tiga, mempunyai wilayah tertentu dan penduduk sebagai anggota/Kerama desa yang beragama Hindu, mempunyai sumber dana sendiri berhak mengurus masyarakat setempat. Pada saat terbentuknya Desa Pakraman tugas pokok dan fungsinya adalah memberikan pelayanan di bidang Agama, Adat, Budaya, dan gotong royong yang dilandasi filsafat “Selunglung sebayan taka sarpanaya”. Unsur Desa Pakraman tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Wilayah Desa Pakraman Wilayah Desa Pakraman Wongaya Gede, merupakan salah satu Desa Pakraman yang ada di wilayah Desa Dinas. Desa Dinas Wongaya Gede mliputii enam wilayah Desa Pakraman yakni: Wongaya Gede, Batu Kambing, Bengkel, Keloncing, Sandan, dan Amplas, hal ini dapat dilihat pada gambar beriku: Gambar 4 Wilayah Desa Pakraman Dalam Desa Dinas Wongaya Gede30

oleh Philip salah satu kewajiban

Pakraman

Chaterina, DeVery. Op, cit, hal 8 Merujuk pada pendapatnya Dafis dan Khaeruddin dan Chatarine. DeVery, tentang pelayanan public, dikaitkan dengan kondisi alamiah di Desa Wongaya Gede. Kabupaten Tabanan. 27 Merujuk pendapatnya Phillif Mahwood, Bhenyamin Hoessein, dan SS Meenakshisundaram, Decentralization and Local Politices, yang menyatakan cirri – cirri pemerintahan local, memiliki wilayah, penduduk, dasar hokum, kewenangan dan sumber daya yang memadai. 28 Pelabe pura adalah tanah milik Desa Pakraman, hasilnya dipergunakian untuk kepentingan Agama, sejenis dengan tanah bengkok di Jawa. 29 Kayangan Tiga, merupakan salah satu sarat berdirinya Desa Pakraman, setiap Desa Pakraman di Bali wajib memiliki Kayangan Tiga. Kayangan Tiga adalah tempat suci (Pura) tiga jenis Pura sebagai tempat pemujaan Tuhan dalam berbagai manifestasinya. Khusus di Desa Pakraman Wongaya Gede, memiliki dua Pura Puseh, yang menjadi tanggung jawab pengempon masing-masing,

30 Sumber data: Hasil pengamatan langsung di lokasi. Serta hasil wawancara dengan tokoh-tokoh Adat, Agama, Masyarakat, serta Prajuru dan Prangkat Desa.

127 Analisis pelayanan ..., I Wayan Suarjaya, FISIP UI., 2007.

128

.. Madya Mandala. 32 Wilayah Kekeran adalah wilayah yang disakralkan oleh umat Hindu dan diyakini sebagai tempat yang dikeramatkan. Madya Mandala dalam konsep Tri Hita Karana disebut dengan tempat tinggal masyarakat. Wongaya Bendul Keloncing Bengkel Batu Kambing Amplas Sandan KETERANGAN Banjar Dinas dan Pakraman berimpit 5) Sandan 2 6) Amplas Gambar tersebut menunjukkan bahwa Desa Pakraman Wongaya Gede daerahnya yang paling luas meliputi empat Banjar ( Wongaya Kaja. Masing-masing Mandala tata ruangnya dipergunakan sesuai dengan tatanan yang terdapat dalam awig-awig sebagai berikut. karena lima Desa Pakraman tersebut hanya memiliki wilayah satu banjar saja. Wongaya Kelod 3. tetapi terbuka untuk seluruh 31 Tata ruang Tri Mandala. Lima Desa Pakraman lainnya hanya meliputi satu Banjar. Tatanan Utama Mandala diperuntukkan wilayah Parhyangan. Wongaya Kangin. tidak terbatas oleh Umat Hindu dilingkungan Pura saja. Kanistha Mandala ). Wongaya Kelod. I Wayan Suarjaya. di samping itu juga dilandasi oleh filsafat Tri Hita Karana.. 2007. FISIP UI. merupakan nilai filsapat dalam masyarakat Hindu. Wilayan Banjar Desa Pakraman dan Banjar Desa Dinas berimpit. 130 . Hal ini dapat dilihat dalam tabel berikut: Tabel 8 Struktur Wilayah Desa Wongaya Gede Banjar Dinas dan Pakraman berimpit Banjar Dinas dan Pakraman berimpit Banjar Dinas dan Pakraman berimpit Banjar Dinas dan Pakraman berimpit Banjar Dinas dan Pakraman berimpit ber data: Monografi Desa Wongaya Gede tahun 2000 Ssum Wilayah Desa Pakraman tata ruangnya diatur berdasarkan tata nilai filsafat Agama Hindu yang disebut Tri Mandala. Nama lima Desa Pakraman dengan lima Banjar sama.31 ( Utama Mandala. merupakan Pura Khayangan Jagat tempat persembahyangan bagi seluruh umat Hindu. 1) Utama Mandala. Palemahan..DESA PAKRAMAN Wongaya Gede 1) Wongaya Gede 6 5 4 3 1 2) Batu Kambing 3) Bengkel 4) Keloncing Keloncing Bengkel Batu Kambing Amplas Sandan BANJAR 1. Pawongan. Pura Luhur Batukaru. Wongaya Kangin 4. Wongaya Bendul ). Wongaya Kaja 2. Utama Mandala hanya dipergunakan sebagai tempat suci atau wilayah Kekeran32 pada wilayah ini didirikan untuk Pura. 129 Analisis pelayanan . Parhyangan.

a) Pura Kahyangan Jagat. Balai Kesehatan (Poliklinik). d) Pura Keluarga dalam bentuk merajan/sanggah. sarana pendidikan (TK dan SD). merupakan tempat sembahyang bagi umat hindu setempat. perkebunan. semua jenis kegiatan perekonomian tata ruangnya menggunakan wilayah Kanistha Mandala. c) Pura Swagina. 2) dilarang masuk ke pura bagi mereka: wanita dalam keadaan datang bulan.. untuk memuja Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Dewa Brahma (Dewa pencipta alam semesta) c) Pura Dalem. ada beberapa ketentuan sebagai berikut: 1) yang diperkenankan masuk ke Pura adalah mereka yang hendak sembahyang atau petugas yang telah ditentukan. saluran air. Fasilitas umum di Desa Wongaya Gede dipergunakan untuk lapangan olah raga.. untuk memuja Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Dewa Siwa (Dewa pemralina alam semesta) d) Pura Swagina atau Pura yang mempunyai fungsi tertentu seperti. Bagi umat yang ada dilingkungan Utama Mandala tidak diperkenankan berkata-kata kotor seperti memfitnah. Berdasarkan awig-awig Desa Pakraman menyebutkan bahwa untuk menjaga kesucian Utama Mandala serta tempat suci. berkelahi serta perbuatan yang tidak menyenangkan orang lain34. FISIP UI. Dari hasil pengamatan langsung dan wawancara dengan tokoh agama setempat utama mandala ini khusus dipergunakan sebagai tempat sembahyang bagi umat Hindu. Pura Ulunswi sebagai tempat sembahyang para petani (subak). adat dan masyarakat pada tanggal 16 Januari 2006. jalan. parkir. merupakan tempat sembahyang bagi umat hindu setempat.. Sedangkan fasilitas sosial untuk Balai Banjar. Madya Mandala (rumah). 2007. untuk memuja Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Dewa Wisnu (Dewa pemelihara alam semesta) b) Pura Desa/Bale Agung. adalah pura: a) Pura Puseh. I Wayan Suarjaya. e) Merajan dan Sanggah merupakan tempat sembahyang bagi keluarga/rumah tangga masing-masing33. 3) bagi mereka yang mempunyai keluarga dekat meninggal. 132 . mencaci maki.umat Hindu yang berkeinginan untuk bersembahyang di Pura tersebut. wilayah pertanian (subak). Disamping sebagai tempat pemukiman juga diperuntukkan sebagai fasilitas umum (pasum) dan fasilitas sosial (pasos). agrowisata. b) Pura Kahyangan Tiga. Pengaturan tata ruang Desa Pakraman yang dilandasi dengan konsep Tri Mandala tercermin pula pengaturan tata ruang rumah tangga. Pura yang khusus untuk masyarakat setempat. Kanistha Mandala Kanistha Mandala dipergunakan untuk kuburan. 33 2) Madya Mandala madya mandala adalah tempat yang Wilayah dipergunakan sebagai tempat tinggal penduduk. Dirangkum berdasarkan dari informasi yang diperoleh dari hasil wawancara dengan prajuru Desa Pakraman tanggal 16 Januari 2006 34 131 Analisis pelayanan . Dari enam jenis pura tadi dapat diklasifikasikan menjadi. Madya Mandala menjadi wilayah pemukiman bagi anggota masyarakat yang disebut dengan Kerama Desa.. Pura Dadya sebagai tempat persembahyangan keluarga tertentu. perikanan. Pura Melanting untuk para pedagang. dan pasar. Setiap pekarangan dalam rumah tangga tercermin pula adanya Utama Mandala (tempat Sanggah). merupakan tempat sembahyang bagi umat Hindu setempat. Kanistha Mandala (WC/halaman rumah) hal ini dapat dilihat dalam tabel berikut ini: dua hari. Ketentuan yang lain juga dijelaskan bahwa untuk menjaga kesucian Utama Mandala tersebut tidak diperkenankan binatang peliharaan berupa sapi dan babi masuk ke Pura. yang melahirkan sampai bayinya berumur empat puluh Hasil wawancara dengan tokoh-tokoh agama. 3).

2) bagi anggota keluarga yang telah melaksanakan perkawinan. selambat-lambatnya enam bulah setelah upacara perkawinan tersebut wajib menjadi kerama/anggota Desa Pakraman. 3) anggota Desa Pakraman yang karena tugas pokoknya (mata Kerama Desa Pakraman berkewajiban untuk mengeluarkan biaya (pepeson) dan ngayah. sebagai anggota Kerama dengan pensyaratan yang telah ditentukan dalam awig-awig dan perarem. c) Kerama Balu. Mempunyai hak dan kewajiban penuh untuk mendapatkan pelayanan publik dari Desa Pakraman... I Wayan Suarjaya. Unsur Tri Hita Karana Parhyangan Pawongan Palemahan Desa Pakraman Pura Anggota/Kera Desa Wilayah Desa ma Rumah Tangga Sanggah/Merajan Anggota Keluarga Tanah Perumahan Sumber: monografi Desa Wongaya Gede tahun 2000 Berdasarkan tabel tersebut tercermin bahwa tata ruang pekarangan rumah tangga mempunyai unsur yang sama. Berdasarkan ketentuan tentang krama/anggota yang telah ditetapkan tersebut di atas masih dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok yakni: a) Kerama Pengarep. Ada pula satu Desa Pakraman mewilayahi beberapa Desa Dinas. 4) penduduk yang berada diluar wilayah Desa Pakraman masih dimungkinkan menjadi anggota apabila yang bersangkutan mengajukan permohonan untuk menjadi anggota dan sanggup menaati ketentuan yang telah ditetapkan dalam awig-awig setempat. adat dan masyarakat pada tanggal 16 Januari 2006. tidak ada yang sama. 3. menyelenggarakan upacara Panca Yadnya dan Hasil wawancara dengan tokoh-tokoh agama. diatur berdasarkan konsep Tri Desa Pakraman dan tata ruang Mandala. Secara garis besarnya kewajiban Kerama Desa Pakraman meliputi: ”Kewajiban melaksanakan ayahan desa seperti kerja bakti memperbaiki bangunan Pura milik Desa Pakraman. 2. adalah kerama yang putus ikatan perkawinan akibat dari perceraian atau salah satu suami/istrinya meninggal. 2007. tipe ini umumnya ada di Ibu Kota Kabupaten/Propinsi. Ditinjau dari segi luas wilayah Desa Pakraman di Kabupaten Tabanan. adalah kerama Pengarep yang mempunyai anak telah kawin. Sebaliknya satu desa Dinas wilayahnya meliputi beberapa Desa Pakraman hal ini telah diuraikan pada awal karakteristik desa. Kerama / Penduduk Berdasarkan awig-awig dan Perarem Desa Pakraman Wongaya Gede ditetapkan bahwa yang dinyatakan sebagai kerama atau penduduk Desa Pakraman sebagai berikut: 1) setiap penduduk yang berdomisili di wilayah Desa Pakraman wajib menjadi kerama/anggota selambat-lambatnya enam bulan setelah bertempat tinggal di desa tersebut.. Mereka bebas dari kewajiban tetapi masih mempunyai hak untuk mendapatkan pelayanan. juga memiliki kewajiban untuk menaati ketentuan-ketentuan yang berlaku di Desa Pakraman seperti: taat pada awig-awig dan perarem. FISIP UI. b) Kerama Penyada. b. adalah anggota yang masih ada ikatan suami istri serta bertempat tinggal di wilayah desa tersebut. Kerama Balu ini mempunyai kewajiban setengah dari Kerama Ngarep tetapi mempunyai hak penuh untuk mendapatkan pelayanan publik35. 35 pencaharian) ada dirantau masih tetap mempunyai ikatan 133 Analisis pelayanan .. ada satu Desa Pakraman wilayahnya berimpit (sama persis) dengan wilayah Desa Dinas. sehingga tugas pokok orang tuanya digantikan oleh anak. 134 . Kerama Penyada tersebut tidak lagi mendapat beban untuk peturunan/iuran maupun kerja bakti. serta wajib dalam mewujudkan Desa Pakraman yang aman dan tentram.Tabel 9 Unsur Tri Hita Karana dalam Desa Pakraman dan Rumah Tangga N o 1.

tingkah laku. I Wayan Suarjaya. kerama desa adat berhak untuk mendapatkan pelayanan. dan sikap yang menyebabkan patut dijadikan teladan atau panutan oleh desa.memelihara bangunan-bangunan untuk kepentingan desa. menggunakan pendeta untuk menghantarkan Yadnya.. adat. menaati paswara dan sima yang telah berlaku. juga berhak dalam hal sebagai berikut: a). Op. b). Sebagai warga desa yang baik senantiasa memperhatikan kewajibankewajiban tersebut serta selalu taat pada ketentuan-ketentuan yang berlaku di desa setempat. tetapi dalam awig-awig Desa Pakraman Wongaya Gede disebut Bendesa38 dengan demikian berarti mereka yang dituakan oleh desa serta dijadikan panutan dalam tata kehidupan beragama. Kerama desa di samping memiliki kewajiban yang harus dilaksanakan. berhak dipilih sebagai prajuru desa adat. 136 . 3) berhak memakai kuburan milik desa apabila anggota kerama desa adat ditimpa musibah kematian. dan budaya. ikut serta dalam sangkepan (rapat) desa adat.36 Istilah Kelihan berasal dari kata Kelih yang berarti tua. simbul persatuan dari seluruh warga desa yang diharapkan dapat mempersatukan rasa kekeluargaan baik dalam keadaan suka maupun duka.. Sedangkan dalam hal penyelenggaraan upacara Yadnya. berhak untuk memilih Kepala Desa Adat. Dan atau lebih tua. Desa artinya anggota/kerama desa. Kedua istilah ini masih tumbuh dimasyarakat. Maka Bendesa dipandang sebagai pengikat. sering pula disebut dengan Kelihan Desa. 2). adat dan masyarakat pada tanggal 16 Januari 2006. maka sebagai warga yang syah. Hak dalam bidang keorganisasian berupa: keikut sertaan dalam hal pemberian suara untuk memilih Bendesa Adat. Berdasarkan ketentuan pokok Awig-Awig Desa Pakraman Bab II Pasal 11 dinyatakan bahwa Struktur kepengurusan Desa Surpha. Pengertian ini menyebabkan kerama desa pada waktu memilih pimpinan (Bendesa) berusaha untuk memilih warga desa yang disegani karena kepribadian. dapat menggunakan hak bicara untuk menyampaikan aspirasinya dalam kegiatan sangkepan. berbangsa dan bernegara. Sesuai dengan pernyataan di atas. Banda artinya tali pengikat. sudah tentu dapat menuntut haknya baik dalam bidang keorganisasian maupun dalam bidang upacara Yadnya. dan dapat pula menggunakan hak pilih dan dipilihnya sebagai wujud nyata dari pengalaman kehidupan masyarakat adat yang demokratis. cit. oleh karena demikian Kelihan Desa diartikan sebagai orang yang dituakan atau ketua dari Desa Pakraman37. 38 Awig-awig Desa Wongaya Gede 37 36 135 Analisis pelayanan . Kewajiban tersebut dilaksanakan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab tanpa adanya unsur paksaan. kuburan. Hak dalam menyelenggarakan upacara yang meliputi: 1) berhak untuk mendapatkan pelayanan dalam rangka menyelesaikan upacara Panca Yadnya yang mereka adakan. sebab Pendeta itu adalah milik desa adat. Struktur Desa Pakraman Desa Pakraman dalam strukturnya mempunyai pucuk pimpinan yang disebut dengan Bendesa. Istilah Bendesa berasal dari dua kata Banda dan Desa. 2) berhak mendapat pelayanan pinandita untuk mengantarkan yadnya yang mereka selenggarakan. Kewajiban untuk menaati peraturan-peraturan yang berlaku dalam organisasi Desa Pakraman antara lain: menaati awigawig baik tertulis maupun tidak tertulis. terutama yang berkaitan dengan upacara keagamaan.. dengan prajuru 4). bermasyarakat. I Wayan. Hak dalam organisasi meliputi: 1). Disamping syarat tersebut. 3). FISIP UI. karena merupakan milik bersama (Desa Pakraman) c. 2007. ikut serta dalam pemerintahan desa adat bersama lainnya.. diperhatikan juga faktor lain seperti kecakapan dalam bidang agama. Selain itu warga Desa Pakraman berkewajiban menjaga keamanan dan ketentraman bersama. hal 12 Hasil wawancara dengan tokoh-tokoh agama.

. Desa Wongaya Gede terdiri dari beberapa Banjar.disebut dengan Prajuru Desa atau Dulun Desa. dan Banjar terdiri dari beberapa Kelompok / tempekan. 2004. Tugas pokok dan fungsi itu wajib dimusywarahkan dengan Prajuru Desa. kedua. Sekretaris atau Juru Surat (Panyarikan).. Semua Prajuru atau Dulun susunan pengurus tersebut. Struktur Desa Pakraman sebagai tertuang dalam bagan sebagai berikut. tata kemasyarakatan dan sosial budaya. sesuai dengan keputusan rapat (Pararem) (2) memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan tata keagamaan. Bendesa adat dalam melaksanakan tugas pelayanan dibidang agama mempunyai kewajiban untuk berkoordinasi dengan Pemangku desa (pemimpin upacara agama). Banjar Adat Wongaya Kaja. Dalam Awigawig dinyatakan bahwa Prajuru Desa yang terdiri atas Bendesa Adat. 2007. hal 13 Awig-Awig Desa Pakraman Desa Wongaya Gede.39 Desa Pakraman meliputi empat wilayah Banjar Adat. keempat. I Wayan Suarjaya. masingmasing mempunyai pemimpin. sedangkan kelompok/tempek dipimpin oleh Ketua Kelompok/Tempek. Sedangkan dalam mengambil kebijakan yang mengikat 40 41 39 Penjelasan Prajuru Desa. Banjar dipimpin oleh Kelihan Banjar. FISIP UI. Penyarik Petangen Kesiman Kelihan Banjar Tempek Bagan 3 Struktur Desa Pakraman (Prajuru dan Dulun Desa) Dulun Desa Bendesa Adat Pemangku Penyade Berdasarkan awig-awig Desa Pakraman Wongaya Gede Bab II Pasal 12 menyataka bahwa masing-masing Prajuru Desa (Pengurus Desa) mempunyai tugas pokok dan kewajiban : (1) Menjalankan anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (awig-awig). Bab II pasal 14 Awig-Awig Desa Pakraman Desa Wongaya Gede. perhatikan Surpha I Wayan. Petengen (bendahara). disebut Desa. Dalam melaksanakan tugas tersebut Bendesa adat dibantu oleh penyade (wakil).. Juru Arah (Kasinoman). Kesinoman yang bertugas untuk menyampaikan perintah Prajuru desa kepada masyarakat41. Bab II pasal 12-13 137 Analisis pelayanan . 138 . Eksistensi Desa Pakraman dan Desa Dinas di Bali. Banjar Adat Wongaya Kangin . Kepala Desa Dinas. tokoh-tokoh masyarakat. Penyarikan (Sekretaris). Dulun Desa bila ada suatu masalah yang lebih besar hendaknya diselesaikan melalui musyawarah desa. Adat.. ketiga. (4) bertindak atas nama Desa baik ke luar maupun ke dalam40. Bendahara (Petengen). Sesuai dengan ketentuan dalam Awig-Awig Desa Pakraman bahwa susunan pengurus yang aktif dalam secara umum telah kepengurusan Desa Pakraman disosialisasikan dan dikenal oleh warga masyarakat. (3) menyelesaikan perselisihan diantara anggota masyarakat berdasarkan tatakrama Desa Pakraman yang telah ditetapkan dalam awig-awig. Banjar Adat Wongaya Bendul. yakni : pertama. Wakil Bendesa Adat (Penyade). Banjar Adat Wongaya Kelod.

hal 8 44 Desa mawacara adalah istilah dalam bahasa Bali yang bermakna setiap daerah mempunyai tatanan tradisi masing-masing (Lain ladang lain belalang. Fakultas Hukum Universitas Udayanan Denpasar. keharmonisan hubungan antara manusia dengan manusia. Gambar 5 Sumber Penyusunan Awig . antara nilai-nilai Adat dan Budaya yang hidup dalam masyarakat. Tokoh masyarakat. lain lubuk lain ikannya). dengan demikian arti kata awig-awig adalah sesuatu yang menyebabkan tidak rusak. Undang– Undang Dasar l945. Setiap Desa Pakraman dapat membuat awig-awig yang disahkan oleh Desa Pakraman. dan peraturan perundang undangan yang berlaku43. Desa Pakraman. setiap awig – awig mengandung prinsip – prinsip Tri Hita Karana.d. FISIP UI. Awig-awig Desa Pakraman masyarakat wajib minta pertimbangan kepada Dulun desa (penasehat) yang keanggotaannya terdiri dari : Sesepuh desa. Awig-awig menunjukkan ciri khas dari Desa Pakraman masing – masing. 139 Analisis pelayanan . yaitu mengatur keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan. Pengesahan Awig-awig melalui paruman Desa Pakraman sebagai ketentuan peraturan yang bersifat tertulis. dan keharmonisan hubungan anatara manusia dengan alam. mantan Prajuru desa yang telah ditetapkan sebagai Dulun Desa. dan sukerta tata pawongan. 44 Secara etimologis istilah awigawig berasal dari kata “wig” yang artinya rusak atau hancur. Sedangkan para Kelihan Banjar masing-masing memiliki tugas untuk memberikan pelayanan dan pembinaan kepada setiap warga Banjar masing-masing yang menjadi wilayah kerja dan binaannya. Makna yang menunjukkan kebersamaan awig-awig Desa di Bali. Pembinaan tentang adatistiadat dan agama Hindu kepada seluruh warga masyarakat Desa Pakraman Wongaya Gede. Kala. Bendesa Adat Wongaya Gede memiliki tugas utama untuk memberikan pelayanan. didampingi oleh Para Pemangku. sukerta tata palemahan. Tokoh agama. 2007. Penyusunan awig – awig desa bersumber dari falsafah Tri Hita Karana.. 2007. Prajuru Desa Pakraman. lebih dikenal lagi Desa. Awig – awig dipakai sebagai pedoman dalam pelaksanaan Tri Hita situasi dan kondisi masyarakat Karana sesuai dengan setempat (desa mawacara). Patra. I Wayan Suarjaya. tidak boleh bertentangan dengan Pancasila. Awig-awig adalah suatu kata ulang yang sifatnya mengeraskan arti. Dirangkum berdasarkan penjelasan. I Nyoman... yang pasti. 140 . Akar kata “wig” mendapat awalan “a” menjadi kata “awig” yang artinya tidak rusak..42 Desa Pakraman berbeda – beda. Penyusunan awig-awig berdasarkan sumber acuan 42 Desa Pakraman DESA PAKRAMAN PANCASILA ADAT DAN BUDAYA PALEMAHAN Awig-awig adalah aturan yang dibuat oleh kerama Desa Pakraman dan atau kerama Banjar Pakraman .Awig WEDA PARHYANGAN PAWONGAN dalam menyelenggarakan pemerintahan dapat menetapkan aturan – aturan sendiri berupa awig – awig dalam bentuk hukum adat. dalam mengatur dan menata berbagai aspek kehidupan kerama desa adat (Desa Pakraman) dalam rangka mewujudkan sukerta tata agama. dan Kitab Suci Agama Hindu ( Weda ). pada tanggal 20 Januari 2006 43 Sirtha. Kepala Desa Dinas.

Pembentukan aturan-aturan hukumnya sendiri tunduk pada aturan-aturan hukum yang dibuatnya itu. a) hasil Pelaba Pura47. maka awig-awig sehingga nantinya awig-awig tersebut dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.Awig-awig menjadi faktor pendukung utama dari kedudukan Desa Pakraman sebagai persekutuan hukum.. dijiwai oleh nilai – nilai dasar yang tertuang dalam awig – awig. masyarakat dalam kegiatan kesehariannya. Berdasarkan aturan tersebut. disertai segala upacara. Aturan-aturan yang dibuatnya itu menyangkut patokan-patokan yang memelihara ketertiban di tengah-tengah lingkungan masyarakat yang terus-menerus mengalami perubahan. Desa Pakraman yang diwarisi secara turun-temurun hasilnya khusus untuk kepentingan Pura. sehingga dapat mengurangi adanya penyimpanganpenyimpangan terhadap nilai-nilai yang dijunjung tinggi dan berlaku oleh desa adat setempat. e) bantuan dari pemerintah baik dari APBN maupun APBD yang sifatnya berupa insentif dalam pembangunan. 141 Analisis pelayanan .. 48 Sarin Canag adalah uang persembahan dengan ketulusan hati diletakkan pada sesajen setelah upacara selesai diserahkan kepada desa. Adat. terutama dalam bidang Agama. Awig–awig memuat patokanpatokan yang mengatur masyarakat setempat bertujuan memelihara ketertiban. larangan dan sanksi-sanksi. Dana yang terkumpul dihimpun oleh Rangkuman wawancara Tokoh Masyarakat. sosial budaya. Desa berhak membuat peraturan sendiri. Awig-awig merupakan perwujudan dari otonomi asli Desa Pakraman. Awig-awig desa merupakan alat kontrol. berhak mengatur masyarakat setempat sesuai dengan kondisi dan asal usul desa tersebut.45 Mengingat awig-awig memiliki peranan yang penting. Hal ini dilakukan dengan menulis awig-awig di atas daun lontar yang aslinya disimpan di Pura Desa/Bale Agung. Karena itu. Hal ini dapat dituangkan dalam bagan sebagai berikut: Bagan 4 PENGATURAN KEGIATAN DESA AGAMA SOSIAL AWIG-AWIG EKONOMI POLITIK e. pokok-pokok isi saja yang dituliskan di awig-awig. Agama dan Prajuru Desa Pakraman Wongaya Gede tanggal 16 Januari 2006 45 47 Pelaba Pura adalah Tanah persawahan maupun perkebunan milik Desa Adat. petunjuk. Keuangan Sumber dana Desa Pakraman ada lima sumber pokok yakni. dirumuskan pada catatan-catatan musyawarah sebagai penunjang dan pelengkap awig-awig46 Kegiatan Desa dalam memberikan pelayanan diatur dalam awig – awig. pollitik dan ekonomi. Agama dan Prajuru Desa Pakraman Wongaya Gede tanggal 16 Januari 2006 46 Rangkuman wawancara Tokoh Masyarakat. FISIP UI.. Adat. 2007. I Wayan Suarjaya.. ketentraman masyarakat serta mengembalikan keseimbangan yang terganggu agar tidak rusak (awig). d) dana punia yang tak mengikat dari para donatur. b) dari anggota berupa iuran wajib. keamanan. 142 . dana punia (bantuan sukarela). dijaga untuk melestarikan desa adat. karena di dalamnya memuat aturan-aturan yang berisikan. c) sarin canang48 pada saat upacara persembahyangan Purnama dan Tilem serta upacara pada saat piodalan. sedangkan pengkhususannya yang senantiasa mengalami perubahan dan perkembangan menurut situasi. Kemudian salinannya telah dimiliki oleh setiap kerama desa dalam bentuk tercetak.

mengeluarkan biaya (pepeson) untuk kepentingan upacara di Pura Kahyangan Tiga. 51 Surpha I Wayan. Terikatnya warga desa dilandasi pula oleh adanya keyakinan bahwa Sang Hyang Widhi Wasa merupakan asal dan kembalinya semua mahkluk yang disebut dengan istilah “Sang Hyang Sangkan Paran”.Untuk renovasi bangunan pura.. Berdasarkan kenyataan di atas.Dana punia untuk pemangku sebagai imbalan tugas rutin menyiapkan upacara dan memimpin persembahyangan . merupakan tempat memuja Ida Sang Hyang Widhi dalam manifestasinya (Brahma) sebagai “Maha Pencipta”. dupa dan lain-lain) 2) Biaya Pembangunan . cit.. Pemelihara (Stiti). setidaknya dapat dianggap sebagai alat pengikat warga masyarakat (umat Hindu) yang dilandasi oleh kesamaan ikatan moral dan keyakinan untuk senantiasa dekat dengan Sang Hyang Widhi melalui pemujaan/sembahyang di Pura Kahyangan Tiga tersebut. Pura Kahyangan Tiga juga berfungsi sebagai alat pengikat dan menyatukan warga Desa Pakraman bersangkutan dalam ikatan kemasyarakatan. dan Pelebur (Pralina). penggunaannya ditetapkan dalam rapat desa dalam bentuk anggaran belanja rutin dan pembangunan dengan perincian sebagai berikut: 1) Biaya Rutin .. kehidupan. Adanya keyakinan-keyakinan terhadap proses yang kekal tersebut akan dapat mempertebal keyakinan umat Hindu terhadap kekuatan Ida Sang Hyang Widhi sebagai pengatur dan penentu adanya kelahiran. FISIP UI.. Kahyangan Tiga Setiap desa adat di Bali memiliki Pura Kahyangan Tiga 50 Tempat ibadah untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi dalam manifestasinya sebagai Pencipta (Utpeti). dan kematian (pralina). maka dapat dijelaskan bahwa Pura Kahyangan Tiga memiliki dwi fungsi. “Maha Pemelihara”.51 Berdasarkan hasil penelitian. Keyakinan-keyakinan tersebut. Pura Puseh/Pura segara merupakan tempat memuja Ida Sang Hyang Widhi dalam manifestasinya sebagai (Dewa Wisnu). Kewajiban untuk menjaga kelestarian Pura. dan kematian.bendahara/petengen. I Wayan Suarjaya. Pura Desa dan Pura Dalem memuja Ida Sang Hyang Widhi dalam manifestasinya sebagai “Maha Pelebur” yang dikenal sebagai Dewa Siwa. Pura Kahyangan Tiga di samping berfungsi sebagai tempat pemujaan atau penyungsungan dari seluruh warga Desa Pakraman. 2007. Op. balai Banjar.Bakti sosial / pengabdian kepada masyarakat secara berkala. 144 .Untuk membiayai pembuatan sesajen Purnama dan Tilem maupun upacara piodalan di Pura Khayangan Tiga dan Pura-pura lainnya . Agama dan Prajuru Desa Pakraman Wongaya Gede tanggal 16 Januari 2006 50 Kahyangan Tiga adalah tiga jenis Pura yakni Pura Puseh. Adat.Pengadaan sarana dan prasarana untuk pembangunan.Pembelian sarana dan prasarana yang berkaitan dengan kebutuhan rutin (listrik. Akibat adanya keterikatan secara spiritual dapat menimbulkan kewajiban-kewajiban secara riil yang dilakukan oleh desa. Umat Hindu atau warga Desa Pakraman dalam hal ini memiliki keyakinan akan adanya suatu proses yang bersifat kekal yakni adanya kelahiran (utpeti). perbedaan prinsip ciri dari local government seperti yang diutarakan oleh para pakar. Penggunaan dana tersebut dipertanggung jawabkan pada saat Desa secara terbuka sebagai wujud sangkep / rapat akuntabilitas kepada masyarakat49 f. karena di samping sebagai tempat pemujaan juga berfungsi sebagai alat pengikat mempersatukan warganya dalam wilayah Desa Pakraman. . air. kehidupan (sthiti). Pura Dalem merupakan tempat 49 Rangkuman wawancara Tokoh Masyarakat. Pasos dan pasum . hal 27 143 Analisis pelayanan . Pura Kahyangan Tiga adalah Pura Desa/Pura Bale Agung.

Agama dan Prajuru Desa Pakraman Wongaya Gede tanggal 16 Januari 2006 52 Pasang surut sistem pemerintahan. 145 Analisis pelayanan . ekonomi. Pola hubungan Desa Pakraman dan Desa Dinas dapat disajikan dalam bagan berikut: Bagan 5. 2007. kemudian pelayanan berkembang di bidang lainnya seperti keamanan. Sedangkan di Desa Pakraman. Pengentasan buta aksara dan angka dapat dilaksanakan dengan baik. dan pembangunan. maupun dalam Undang-Undang Nomer: 32 Tahun 2004. Pemberian pelayanan oleh Desa Dinas dan Desa Pakraman. namun lebih bersifat konsultatif dan koordinatif. Hal ini dapat dibuktikan keberhasilan Keluarga Berencana di Bali melalui sistem Banjar. budaya dan agama. I Wayan Suarjaya. Pembangunan melalui jalur bahasa Agama. Hubungan Fungsional Desa Pakraman dan Desa Dinas Hubungan antara Desa Pakraman dengan Desa Dinas secara terinci tidak diatur dalam Perda Nomor 06 tahun 1987. Hubungan konsultatif dan koordinatif dibutuhkan dalam menjaga keharmonisan di masyarakat. bahwa dalam local government tidak ada pensyaratan tempat ibadah. Dalam Peraturan Daerah Nomer 3 Tahun 2001 pasal 13. Adat. semua jenis pelayanan publik dilaksanakan juga oleh Desa Dinas. tentang Pemerintahan Daerah. 3. kemudian beriringan. 146 . maka dalam pelayanan. baik pembangunan sosial keagamaan. FISIP UI.dengan ciri Desa Pakraman. juga berpengaruh pada hubungan fungsional dan sistem pelayanan publik oleh Desa Pakraman dan Desa Dinas. pada mulanya Desa Pakraman dimanfaatkan oleh pemerintah untuk menyukseskan Pembangunan Nasional. Desa Dinas adalah desa yang dibentuk dan berkembang atas inisiatif pemerintah. melanjutkan program pemerintah. Pada mulanya tugas pokok dan fungsinya. maupun tugas pokok dan fungsinya... juga melalui sistem Banjar. maupun pembangunan bidang ekonomi52. dan melibatkan masyarakat untuk ikut berpartisipasi.. Zaman Orde Baru pengaturan sistem pemerintahan cendrung sentralistik. memberikan pelayanan kepada masyarakat di bidang adat. budaya dan keagamaan. dan akhirnya bisa terjadi saling tumpang tindih satu dengan yang lainnya.. Kayangan Tiga merupakan syarat mutlak yang harus dimiliki oleh desa tersebut. Desa Dinas pada awalnya memberikan pelayanan di bidang administrasi pemerintahan. dimana Desa Pakraman terpinggirkan. Perbedaan yang dimaksud terutama Desa Pakraman merupakan institusi otonom yang lahir dan berkembang dari masyarakat. Adat dan budaya dirasa sangat ampuh. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa pendapat tokoh masyarakat menjelaskan bahwa hubungan konsultasi dan koordinasi dari kedua perangkat desa tersebut. Pembangunan ditopang oleh berbagai lapisan masyarakat. karena masyarakat yang dilayani sama. Desa Pakraman dimanfaatkan oleh Desa Dinas untuk melaksanakan program pemerintah melalui jalur bahasa adat.. sosial. Konsultasi dan koordinasi hubungan kerja kedua desa atau prajuru itu tidak dijabarkan secara jelas. disebutkan bahwa: “hubungan kerja antara Prajuru Desa Pakraman dengan Kepala Desa/ Perbekel/Kepala Kelurahan adalah bersifat konsultatif dan koordinatif. sangat menentukan dalam rangka pelaksanaan pembangunan. Kedua tipe desa tersebut sesungguhnya berbeda baik dari segi historis. Desa Dinas dibentuk oleh pemerintah. Pola hubungan demikian bukanlah suatu pola hubungan yang bersifat hirarkhis. Perkembangan pelayanan oleh Desa Pakraman. Rangkuman wawancara Tokoh Masyarakat. mendapatkan pelimpahan wewenang untuk mengurus masyarakat setempat.

Desa Pakraman sebagai wadah bagi warga desa untuk melaksanaan berbagai kegiatan yang bersifat sosial religius. d) membina dan mengembangkan nilai-nilai adat setempat dalam rangka memperkaya. Wongaya Kelod.. dapat saling Profil Pembangunan Desa Wongaya Gede. Berdasarkan parasparos salunglung sabayantaka54/musyawarah untuk mufakat. 55 Dirangkum dari informasi Kepala Desa serta Aparat Desa pada tanggal 18 Pebruari 2006. suka dan duka di pikul bersama. Seperti yang telah dijelaskan tadi. Kangin Banjar W. bahwa Desa Pakraman berkewajiban membantu pemerintah.dan kemasyarakatan. Kelod Banjar W. 147 Analisis pelayanan . 2007. kebudayaan. 4.. Selungkung Subayantaka adalah merupakan palsafah hidup kekeluargaan yang artinya hidup harmonnis. 2. dalam rangka lelancaran pembangunan di segala bidang. Segala kegiatan warga desa tercermin dalam berbagai 53 bentuk upacara keagamaan yang dilakukan secara bersamasama.. dan mengembangkan kebudayaan nasional pada umumnya dan kebudayaan Bali pada khususnya. melestarikan.Hubungan Struktural dan Fungsional antara Desa Dinas-Desa Pakraman dan Dusun/Banjar dengan Pola Satu Desa Dinas Mencakup Beberapa Desa Pakraman53 DESA DINAS WONGAYA GEDE Desa Pakraman Kloncing Batu Kambing Desa Pakraman Desa Pakraman Bengkel Desa Pakraman Amplas Desa Pakraman Sandan KLoncing Banjar B Kambing Banjar Bengkel Banjar Amplas Banjar Sandan Banjar Desa Pakraman Wongaya Gede Banjar W. memelihara dan memaanfaatkan kekayaan Desa untuk kesejahteraan masyarakat Desa Pakraman55. 54 Paras-Paros sarpanaya. c) memberikan kedudukan hukum menurut hukum adat terhadap hal-hal yang berhubungan dengan kepentingan hubungan sosial keperdataan dan keagamaan. menurut pandangan masyarakat . b) melaksanakan hukum adat dan adat-istiadat dalam Desa Pakraman. Hubungan konsultatif dan koordinatif kedua desa tersebut. Wongaya Bendul Desa Pakraman merupakan kesatuan masyarakat hukum adat yang bersifat sosial keagamaan dan sosial kemasyarakatan. FISIP UI. 3. seperti tertera dalam point (a) di atas. maka Desa Pakraman mempunyai kewajiban pula membantu Desa Dinas ( sebagai unsur pemerintah yang paling bawah ).1. I Wayan Suarjaya. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa dualisme kepemimpinan di akar rumput. e) menjaga. 2000. Fungsi Desa Pakraman sebagai kesatuan masyarakat hukum adat yaitu: a) membantu Pemerintah dalam kelancaran dan pelaksanaan pembangunan di segala bidang terutama dibidang keagamaan. terjadi hubungan yang harmonis.. Desa Pakraman dalam memajukan memanfaatkan potensi pembangunan di desa. Desa Dinas dalam melaksanakan rugasnya . Banjar Wongaya Kaja. Wongaya Kangin. Bandul Keterangan: Desa Pakraman Wongaya Gede mewilayahi empat Banjar yakni. Kaja Banjar W. 148 .

Desa Dinas sudah punya pdoman bak. a. Ada masalah manak salah atau anak buncing.. Adat. Tetapi pelayanan desa dinas hanya melayani administrasi saja yang sudah ada pedoman baku. Pelayanan Desa Dinas lebih ringan karena jenis pelayanan sudah jelas ada pedomannya dan ada anggaran daei pemerintah dalam melaksamakan tugas tersebut. sama dengan jenis pelayanan oleh desa dinas. Misalnya dalam hal rapat. serta dalam memberikan pelayanan tidak 149 Analisis pelayanan . maka Desa Pakraman juga kut membantu bersama-sama.melengkapi. Konflik yang diakibatkan oleh suhu politik. menurut pendapat saya. missal perkawinan sama-sama menyaksikan. kecemburuan social dalam penggunaan anggaran pemerintah yang pelaksanaannya kurang transparan. sehingga memerlukan kajian baru yang berat oleh Desa Pakraman. FISIP UI. Penjelasan masyarakat menyebutkan pula. Dalam pelaksanaan awig-awig desa serta berbagai kegiatan keagamaan. Informan I Gede Mastra — Br. pembangunan. walaupun bidang tugasnya sama tetapi dari segi aspek 56 Rangkuman wawancara Tokoh Masyarakat. Manakah yang lebih banyak dan lebih berat dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat diantara ke dua desa tersebut ? Pelayanan lebih berat adalah Desa Pakraman. f. Bagaimana pendapat bapak tentang pelayanan yang telah diberikan oleh Desa Pakraman dan Desa Dinas? Pelayanan publik oleh Desa Dinas dan Desa Pakraman. Apa ada gesekan terjadi antara Desa Dinas dan Desa Pakraman. Berikut ini akan dikutip hasil wawancara yang mendalam tentang pelayanan publik yang dilaksanakan oleh dua lembaga pemberi pelayanan sebagai berikut. Bidang tugas yang sama apa bisa disinergikan?. lingkungan hidup dll. Prajuru Desa Pakraman dalam memberikan pelayanan secara tulus di dirong oleh sikap pengabdian. Desa pakraman juga melakuan hal itu. Juga di bidang perekonomian/pertanian. pernah terjadi konflik karena. peternakan melaui kelompok. ya bisa seperti keamanan. Pelayanan desa dinas bentuknya apasaja? Ada administrasi pemerintahan. dalam kegiatan kerja bhakti dalam waktu yg sama. 2007. tergantuing pada kesadaran masyarakat setempat56. e..Ada pelayanan suka dan duka. Desa Pakraman dalam memberikan pelayanan semuanya darei swadaya sendiri c. b. umumnya diakibatkan oleh pengaruh suhu politik praktis menjelang Pemilihan Umum. Wongaya Kaja. karena adanya unsur pribadi yang dibawa dalam organisasi. bahwa munculnya konflik di masyarakat. 1. walaupun demikian pekerjaan Desa Dinas juga dilaksanakan dengan baik oleh masyarakat dengan jalan hal yang bersamaan itu didamaikan yakni sama-sama dilaksanakan.? Hal itu bisa terjadi. 150 . Agama dan Prajuru Desa Pakraman Wongaya Gede tanggal 16 Januari 2006 pelayanan Desa Pakraman lebih berat.. Ketaatan masyarakat terhadap Desa Dinas dan Desa Pakraman. Karena masyarakat takut sepekang desa pakraman. mana yang lebih ditaati ? Masyarakat lebih taat kepada Desa Pakraman. Tokoh Masyarakat. maka masyarakat taat pada rapat yang diselenggarakan oleh desa pakraman dari pada rapat Desa Dinas. tetapi lebi taat kegiatan desa pakraman dari pada kegiatan desa dinas. d. kependudukan/pemerintahan. karena banyak melakukan berbagai macam pelayanan dan tanpa pedoman pelayanan yang pasti. Hal ini disebabkan karena adanya pembagian tugas yang jelas antara Desa Dinas dengan Desa Pakraman . 1930. I Wayan Suarjaya. . Pemilihan Kepala Daerah. mengalami pasang surut. hal ini dapat dibuktikan bahwa semua pelayanan telah dilaksanakan sesuai dengan kemampuannya. seperti dalam pembuatan jalan desa pakraman. pembangunan SD dll. hal ini sulit dicarikan solusinya terlebih lagi ada kegiata upacara di pura..

keagamaan terutama kerukunan umat beragama. sosial kemasyarakatan. Kelemahan Desa Pakraman dalam sistemnya. Apa saja yang dilayani oleh Desa Pakraman dan Desa Dinas. h. SLTA. saling bantu membantu. Kerjasama antar regu sangat bagus. Mandhyasa I Nyoman. walaupun tidak besar ( belum cukup untuk memenuhi kehidupan yang layak ). Adat. j. keamanan. tapi semua dilayani dengan bagus baik Desa Dinas dan Desa Pakraman. ddan yang sejenisnya . sengketa adat.. hal ini terbukti pelayanan publik yang dilaksanaan oleh kelompok sangat solid. Hanya saja ada dana batu-batu saat ada kawin ( sejenis dengan dana bedolan kalau di Jawa. 2007. baik darti segi ketaatan. Saat nebang pohon ada tanda tanaman yang harus ditanam kembali. petani. Ada system ngompog bagi yang tinggal di kota hal ini dapat berakibat lemahnya sistim gotong royong kalau semua anggota minta ngompog ( kerja bhakti diganti dengan system uang ). pembangunan. 152 . Wangaya kelod Penebel Tabanan. FISIP UI. Dapat nandu sawah pelaba pura (menggarap tanah bengkok kalau di Jawa ). saling bantu membantu. Pendapat yang sejenis dan seirama dengan pendapat Bapak Mastera. tetapi untuk Desa Pakraman. perekonomian. budaya. Suartha. Pelayanan lingkungan hidup. pemerintahan. Partisipasi masyarakat yang didorong oleh ikatan kelompok sangat bagus dan kuat. I Gede. pembangunan. Jurka. Monggol I Ketut. Dari segi keadilan dirasakan adil. Tidak ada sengketa adat. I Nyoman. keamanan. Desa Dinas memberikan pelayanan dalam bidang yang sama tetapi pogram kegiatannya yang berbeda.Manakah yang lebih banyak dan lebih berat dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat diantara ke dua desa tersebut ? Pelayanan publik yang dilaksanakan oleh Desa Pekraman jauh lebih berat di bandingkan dengan pelayanan yang diberikan oleh Desa Dinas hal ini disebabkan oleh: a. Pendapat Jurka I Nyoman 60 Th. lingkungan hidup. Budaya dan Sosial kemasyarakatan termasuk dalam pembangunan. Jenis dan jumlah nya pelayanan oleh Desa Pekraman lebih banyak sedangkan Desa Dinas titik berat nya hanya dalam bidang pemerintahan. I Wayan. 3).. didukung oleh pendapatnya. keterbukaan. kalau ada apakah bisa menjadi konflik dalam pelayanan atau bisa bersinergi ? Bidang – bidang yang dilayani oleh Desa Pakraman meliputi sembilan bidang. Ada pelayanan yang tidak bagus ?. Ada rasa kecemburuan soail dari segi upah/gaji antara kelian dinas dan kelian adat. Managemen pelayanan Untuk Desa Dinas sudah memadai ada standar pelayanan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Apa yang anda pahami mengenai pelayanan publik? Yang dimaksud dengan pelayanan publik adalah pelayanan yang diberikan oleh Desa Dinas dan Desa Pakraman ke pada masyarakat dalam rangka meringankan beban masyarakat dalam rangka pelaksanaan upacara Agama. atau uang jasa dari pihak yang terkait.. i. Partisipasi masyarakat berdasarkan unsur kekeluargaan/kekerabatan.. Agama.red ). pola dan jenis pelayanannya masih bersifat tradisional ( gugon tuwon ) perlu ditingkatkan melalui pendidikan dan pelatihan yang lebih mantap lagi. 1). I Gede. 2.. pohon dan tanaman lainnya yang dibangun tempat suci untuk kesucian. Sedangkan Perangkat Desa Dinas dalam memberikan pelayanan dia mendapatkan imbalan berupa gaji/honor dari pemerintah. adat.mengenal payah dan waktu ( 24 jam ) tanpa mendapatkan honor atau gaji dari pemerintah. 2). Yase Negara. seperti penanaman bunga. I Wayan Suarjaya. Kegiatan yang dapat disinergikan adalah pelayanan di bidang . Seperti di bidang Agama semua kegiatan keagamaan mulai dari upacara manusia lahir sampai dengan meninggal di layani oleh Desa Pekraman 151 Analisis pelayanan .. apakah ada jenis pelayanan yang sama diberikan oleh kedua desa tersebut.. g. Tidak demikian. Pelayanan yang paling sering adalah dalam bidang suka duka saja. kejujuran.

Desa Dinas sudah punya pdoman baku. hal ini dapat dibuktikan sampai saat ini tidak ada keluhan yang mendasar terhadap kualitas pelayanan. a. Mengatakan bahwa pelayanan Desa Pekraman jauh lebih banyak dan lebih padat seperti contoh: 1. 3. Desa pakraman juga melakuan hal itu. Arya I Nyoman. 153 Analisis pelayanan . pernah terjadi konflik muncul karena. dan Nurtaya. Tengkudak Penebel. sama dengan jenis pelayanan oleh desa dinas. Manakah yang lebih banyak dan lebih berat dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat diantara ke dua desa tersebut ? Pelayanan lebih berat adalah bendesa adat. Pelayanan Desa Dinas lebih ringan karena jenis pelayanan sudah jelas ada pedomannya dan ada anggaran daei pemerintah dalam melaksamakan tugas tersebut. Jawaban Seregeg I ketut. Pendapat seperti yang di kemukakan oleh Jurke I Nyoman di kemukakan juga oleh tokoh-tokoh masyarakat Desa Wangaya Gede seperi yang di kemukakan oleh Sukarta I Ketut. Apa ada gesekan terjadi antara Desa Dinas dan Desa Pakraman. Rugeg I Ketut. lingkungan hidup dll. ketatan masyarakat terhadap kedua desa tersebut lebih taat dan patuh kepada Desa Pakraman karna Desa Pakraman akan memberikan sehingga takut tidak mendapatkan pelayanan dari Desa Pakraman.. Suwetra I Ketut. Konflik yang muncul pada umumnya menyangkut masalah pengaturan dan penggunaan dan pertanggung jawaban ke uangan Desa saja. sehingga memerlukan kajian baru yang berat oleh desa pakraman. Nurtaya I Ketut. Sudana I Wayan. Dalam pelaksanaan awigawig desa serta berbagai kegiatan keagamaan. karena banyak melakukan berbagai macam pengaruh dan tanpa pedoman. Pegawai Negeri Sipil. lebih – lebih masyarakat sampai demonstrasi kepada perangkat desa maupun kepada prajuru desa. 4). Ada masalah manak salah atau anak buncing.? Hal itu bisa terjadi. b. 3. kecemburuan social dalam penggunaan anggaran pemerintah yang pelaksanaannya kurang transparan. Bagaimana pendapat bapak tentang pelayanan yang telah diberikan oleh Desa Pakraman dan Desa Dinas? Pelayanan yang diberikan oleh Desa Pakraman maupun Desa Dinas telah berjalan sesuai dengan keinginan masyarakat. Warta I Ketut. seperti dalam pembuatan jalan desa pakraman. karena adanya unsure pribadi yang dibawa dalam organisasi. Desa Pekraman dalam memberikan pelayanan tidak mengenal jadwal waktu(pelayanan dilaksanakan 24 jam) sedangkan Desa Dinas memberikan pelayanan sesuai dengan jam kantor. 154 .sedangkan Desa Dinas hanya melayani di bidang kerukunan umat beragama.. Desa Pakraman dalam memberikan pelayanan semuanya darei swadaya sendiri k. Banjar Denuma. hal ini sulit dicarikan solusinya terebih lagi ada kegiata upacara di pura. 2. Hanya saja tuntutan masyarakat adanya keterbukaan dan transparan dalam pengelolaan bantuan maupun dalam pengelolaan kruangan Desa. 57 Th. Sujana I Wayan..Ada pelayanan suka dan duka. walaupun bidang tugasnya sama tetapi dari segi aspek pelayanan Desa Pakraman lebih berat. pembangunan. dan Sangra I Ketut. FISIP UI. Jawaban senada dikemukakan oleh tokoh-tokoh masyarakat Sulasa I Ketut. . pelayanan terhadap masyarakat dilayani bersama-sama dengan parsitipasi masyarakat. 2007. Pelayanan dalam bentuk suka dan duka tidak mengenal waktu terutama dalam rangka menyelenggarakan upacara-upacara keagamaan karna dilakuka 24 jam. Partisipasi masyarakat sangat tinggi hal ini dapat dilihat dari kekompakan dalam melaksanakan program gotong royong. I Wayan Suarjaya. Tabanan. Tetapi pelayanan desa dinas hanya melayani administrasi saja yang sudah ada pedoman baku. Pengaturan parsitipasi masyarakat di atur berdasarkan kelompok atau regu.. b.. Pelayanan desa dinas bentuknya apasaja? Ada administrasi pemerintahan.

Monggol I Ketut..pembangunan SD dll. tidak demikian. 6.. Saat nebang pohon ada tanda tanaman yang harus ditanam kembali.. I Gede. Pelayanan yang paling sering adalah dalam bidang suka duka saja. I Nyoman. I Wayan Suarjaya. maka Desa Pakraman juga kut membantu bersama-sama. kependudukan/pemerintahan. ya bisa seperti keamanan. I Gede. pola dan jenis pelayanannya masih bersifat tradisional ( gugon tuwon ) perlu ditingkatkan melalui pendidikan dan pelatihan yang lebih mantap lagi. q. Ketaatan masyarakat terfhadap Desa Dinas dan Desa Pakraman. Jurka. dalam kegiatan kerja bhakti dalam waktu yg sama. FISIP UI. maka masyarakat taat rapat desa pakraman dari pada rapat Desa Dinas. Ada system ngompog bagi yang tinggal di kota. n. Ada rasa kecemburuan soail dari segi upah/gaji antara kelian dinas dan kelian adat. Partisipasi masyarakat berdasarkan unsur kekeluargaan/kekerabatan. hal ini dapat dibuktikan bahwa semua pelayanan telah dilaksanakan sesuai dengan kemampuannya. 2007. r. 155 Analisis pelayanan . walaupun demikian pekerjaan Desa Dinas juga dilaksanakan dengan baik oleh masyarakat dengan jalan hal yang bersamaan itu didamaikan yakni sama-sama dilaksanakan. l. Bagaimana pendapat bapak tentang pelayanan yang telah diberikan oleh Desa Pakraman dan Desa Dinas? Pelayanan publik oleh Desa Dinas dan Desa Pakraman.... pelayanan terhadap masyarakat dilayani bersama-sama dengan parsitipasi masyarakat. mana yang lebih ditaati ? Masyarakat lebiuh taat kepada Desa Pakraman. tetapi untuk Desa Pakraman. Hanya saja ada dana batu-batu saat ada kawin. seperti penanaman bunga. Karena masyarakat takut sepekang desa pakraman. tetapi lebi taat kegiatan desa pakraman dari ada kegiatan desa dinas. Mandhyasa I Nyoman. 156 . Sedangkan Perangkat Desa Dinas dalam memberikan pelayanan dia mendapatkan imbalan berupa gaji/honor dari pemerintah. Suartha. peternakan melaui kelompok. Bidang tugas yang sama apa bisa disinergikan?. Partisipasi masyarakat yang didorong oleh ikatan kelompok sangat bagus dan kuat. baik darti segi ketaatan. Prajuru Desa dalam memberikan pelayanan secara tulus di dirong oleh sikap pengabdian.. Managemen pelayanan Untuk Desa Dinas sudah memadai ada standar pelayanan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Tidak ada sengketa adat. didukung oleh pendapatnya. Dari segi keadilan dirasakan adil. tapi semua dilayani dengan bagus baik Desa Dinas dan Desa Pakraman. pohon dan tanaman lainnya yang dibangun tempat suci untuk kesucian. o. Dapat nandu sawah pelaba pura. Pelayanan lingkungan hidup. menurut pendapat saya. Pelayanan dalam bentuk suka dan duka tidak mengenal waktu terutama dalam rangka menyelenggarakan upacaraupacara keagamaan karna dilakuka 24 jam. Kelemahan Desa Pakraman dalam sistemnya. ketatan masyarakat terhadap kedua desa tersebut lebih taat dan patuh kepada Desa Pakraman karna Desa Pakraman akan memberikan sehingga takut tidak mendapatkan pelayanan dari Desa Pakraman. walaupun tidak besar ( belum cukup untuk memenuhi kehidupan yang layak ). Misalnya dalam hal rapat. dllnya. atau uang jasa dari pihak yang terkait. serta dalam memberikan pelayanan tidak mengenal payah dan waktu ( 24 jam ) tanpa mendapatkan honor atau gaji dari pemerintah. I Wayan. Kerjasama antar regu sangat bagus. Pengaturan parsitipasi masyarakat di atur berdasarkan kelompok atau regu. Yase Negara. Pendapat yang sejenis dan seirama dengan pendapat Bapak Mastera. 4. Ada pelayanan yang tidak bagus. m. kejujuran. missal perkawinan sama-sama menyaksikan. keterbukaan. saling bantu membantu. Juga di bidang perekonomian/pertanian. saling bantu membantu. p. 5. hal ini terbukti pelayanan publik yang dilaksanaan oleh kelompok sangat solid.

Wangaya Gede mengtakan telah bahwa Desa Pakraman dan Desa Dinas melaksanakan pelayanan public dengan cepat. 158 .. kecil nya kegiatan dengan parsitipasi masyarakat dengan satu regu saja dan seterusnya. Jika upacara kecil cukup dilayani dengan satu regu saja dan seterusnya. parsitipasi masyarakat disesuaikan dengn besar. STPDN. Undang–undang No. eksistensi desa dikembalikan sesuai dengan asal-usul pembentukan desa. maka semua unsur pelayanan pemerintah juga dilaksanakan oleh Desa Dinas. hemat.32 tahun 2004. Wangaya Gede mengtakan bahwa Desa Pakraman dan Desa Dinas telah melaksanakan pelayanan public dengan cepat. Hal ini terbukti: a. memelihara. Hal ini terbukti: b. 45 Th. Analisis Pelayanan Publik Desa Dinas dan Desa Pakraman Pada mulanya Desa Dinas tugas pokok dan fungsinya . Peraturan Pemerintah dan Peraturan Daerah. Selanjutnya Pengempon Pura Batukaru. 19 tahun 1965.57 Setelah kemerdekaan. dan efesien. 2005 hal 441 157 Analisis pelayanan . Pelayanan yang diberikan dengan hemat dan efesien. PT Mekar Jaya. Pelayanan yang diberikan dengan hemat dan dalam memberikan pelayanan. Pendapat seperti tersebut di atas di dukung oleh Sura I Gede. tepat. terakhir diatur berdasarkan Undang–Undang No.Jawaban Subagiasta I Ketut. kepada generasi penerusnya. tentang Desa Praja. serta tugas-tugas tertentu yang diberikan oleh pemerintah kolonial berdasarkan Stb. yang diwariskan oleh para leluhur mereka. Zaman Reformasi. memberikan pelayanan publik yang berkaitan dengan bidang pemerintahan. Masa Kini dan Masa Depan Otonomi Desa. 2007. dan Senadra I Wayan. Berlanjut secara turun-temurun. serta menegakkan adat-istiadat budaya dan agama Hindu. 57 Perhatikan pendapatnya Bayu Suryaningrat. Nurtaya I Ketut. dengan diberlakukannya Undang– Undang No. kecil nya kegiatan dengan parsitipasi masyarakat dalam memberikan pelayanan.. 32 tahun 2004. 5 tahun 1979. L976. Desa Tengkudak. tepat. dan Sangra I Ketut. Jurka I Nyoman. parsitipasi masyarakat disesuaikan dengn besar. Jika upacara kecil ukup dilayani efesien. Undang-Undang No. B. tugas pokok dan fungsinya adalah menghimpun. Pelayanan publik oleh Desa Pakraman pada mula terbentuknya. c. APMD Pres. 4.Jawaban senada dikemukakan oleh tokoh-tokoh masyarakat Sulasa I Ketut. dan Sutoro Eko. tentang Pemerintahan Desa. Pelayanan yang di berikan dengan cepat terbukti semua jenis pelayanan di bidang upacara keagamaan selau di laksankan tepat waktu sesuai dengan ketentuan tata upacara keagamaan. dan efesien. Masa Lalu. Pemerintahan dan Administrasi Desa. I Wayan Suarjaya. 22 tahun l948 tentang Pemerintahan Daerah. Pelayanan yang di berikan dengan cepat terbukti semua jenis pelayanan di bidang upacara keagamaan selau di laksankan tepat waktu sesuai dengan ketentuan tata upacara keagamaan. 490 yang mengatur bagi satuan–satuan masyarakat hukum adat luar Jawa dan Madura. Dosen.. hemat. Desa Dinas merupakan unsur pemerintah yang paling bawah. 1938 No. Pengempon Pura Batukaru. FISIP UI. Tabanan. Pada jaman Orde Baru tugas pokok dan fungsi Desa diseragamkan seluruh Indonesia. Sudana I Wayan. Penebel.. Undang–Undang No. dan tidak pernah upacara keagamaan sampai tertunda demikian pula Desa Dinas dalam memberikan pelayanan administrasi juga tepat waktu. tugas pokok dan fungsi Desa Dinas dilanjutkan oleh Pemerintah RI yang diatur berdasarkan Undang–Undang No. hal 65. dan tidak pernah upacara keagamaan sampai tertunda demikian pula Desa Dinas dalam memberikan pelayanan administrasi juga tepat waktu. Pemberian pelayanan tersebut berdasarkan ketentuan yang ditetapkan oleh pemerintah melalui undang-undang. Warta I Ketut. S3. Keberadaan Desa Pakraman lebih dulu ada di bandingkan Desa Dinas. 32 tahun l999. melindungi.

terutama dalam pelayanan publik di bidang adat. awig.. adat dan agama Desa Wongaya Gede. Pembinaan taruna.7. Penyelesaian masyarakat. dengan diberlakukannya Undang – Undang Nomer 22 Tahun l999 kemudian diperbaharui dengan Undang–Undang Nomer 32 Tahun 2004. 5.Pelayanan publik oleh Desa Dinas dan Desa Pakraman. 12. Menjaga kerukunan umat bergaman. pemerintah berupaya menyeragamkan klasifikasi tipe desa yang telah ada sebelumnya. Desa Dinas 1. peradilan adat. Tiga unsur hubungan ini sebagai pencerminan pelaksanaan filsafat Tri Hita Karana. (3) antar umat manusia dengan alam lingkungannya. 11. Desa Pakraman tidak mendapatkan tempat sesuai dengan peranannya dalam meberikan pelayanan publik. sosial kemasyarakatan. budaya dan agama. Dewa Yadnya Pitra Yadnya Manusa Yadnya Resi Yadnya Butha Yadnya umat II. saling melengkapi dan memberi makna. Pembinaan keluarga sukinah. 59 taruni. pelayanan publik oleh Desa Dinas cenderung lebih dominan dan pengaturannya bersifat sentralistik. FISIP UI. Berdasarkan Undang-Undang No. Penyelesaian kasus konflik masyarakat. 5 tahun l979 tentang Pemerintahan Desa. serta Tokoh masyarakat. Dalam rangka pelaksanaan Otonomi Daerah. 2. (2) hubungan sesama umat manusia. 3.. dan perekonomian. Rangkuman hasil penelitian tentang pelayanan publik oleh Desa Dinas dan Desa Pakraman dapat diuraikan ada sembilan bidang pelayanan yang diberikan kepada masyarakat. I. Budaya dan Agama. duka.25 Maret 2006. mengalami pasang surut. pelayanan dalam menata dan mengatur kehidupan masyarakat/kerama. Agama dilestarikan melalui adat-istiadat dan budaya. berkembang menjadi sembilan bidang pelayanan: agama. sedangkan adat-istiadat dan budaya Desa Pakraman memberikan dijiwai oleh Agama Hindu. 6. 10.. Menetapkan awig- Sangkep Banjar. 159 Analisis pelayanan . Jenis pelayanan Bidang Agama Desa Pakraman 1. menjaga hubungan yang harmonis antara: (1) manusia dengan Tuhan. 2. Menetapkan program desa. karena dimanfaatkan oleh pemerintah untuk mensukseskan program pembangunan melalui jalur bahasa Agama. Berdasarkan undang-undang No. 4. 15. 5 Tahun l979 tersebut. 2007. 13. Tiga unsur pelayanan Adat. Pembinaan mental Kerukunan beragama. pada tanggal 22 _. sukinah. 7. Gotong royong (salunglung sabayan taka). 4. Agama dan Prajuru Desa Pakraman Wongaya Gede tanggal 16 Januari 2006 58 dalam memberikan pelayanan publik. Suka duka. I Wayan Suarjaya. semakin memberikan fungsi dan peran yang lebih besar terhadap organisasi tradisional termasuk Desa Pakraman. Adat dan budaya. serta masing–masing desa mempunyai program pelayanan sebagai tertera dalam tabel berikut: Tabel 10 Pelayanan Publik Desa Pakraman dan Desa Dinas59 No.. Melayani Suka Dirangkum dari informasi Kepala Desa serta Aparat Desa. Zaman Kemerdekaan hingga Orde Baru. 160 . Pembinaan Adat dan 5. pembangunan. Pembinaan kelu 6. 14. . pemerintahan. Rapat desa. Bidang Sosial Kemasyarakata n 8. Desa Pakraman Rangkuman wawancara Tokoh Masyarakat. Desa Pakraman. seiring dengan perjalanan zaman.58 Perkembangan selanjutnya tugas pokok dan fungsi Desa Pakraman tumbuh dan berkembang sesuai dengan sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. 9. Pelayanan dominan diambil alih oleh Desa Dinas. lingkungan hidup. Pembinaan mental. kesra. 3. keamanan. dipinggirkan. Adat. 8.

Koordinasi dengan desa Pakraman. Menjaga kelestarian hutan. Mendukung Program Pariwisata. pertanian.perkebuna n. 19. 20. 25. VI. dan peternakan.. 32. Melayani surat keterangan dan perijinan. Penghijauan desa. penghijauan desa. beragama. Melayani KTP dan KK. Mendorong WAJAR 9 tahun melalui bahasa agama 31. 19. d. c. pembinaan karang taruna. dan kerukunan umat 60 Wawancara dengan Kepala Desa Pakraman (Prajuru) . Menjaga kelestarian sumber air. program pelayanannya60 meliputi: a. Bidang Pemerintahan 33. tata keagamaan. 2007. FISIP UI. 29. Menjaga kelestarian hutan. 15. Koperasi unit desa (KUD). Menjaga keamanan oleh hansip. Bidang Keamanan 12. dan upacara keagamaan. gotong royong (salunglung sebayan taka). yang meliputi upacara-upacara Dewa V. 20. pajak. 26. pembangunan. pembinaan mental. Renovasi Pura 23. Memelihara air bers pura 21.III. 34. Merencanakan pembangunan desa bersama-sama dengan desa Pakraman. 18. Memelihara bang fisik adat. dan Monografi Desa Wongaya Gede. renovasi tempat ibadat. Resi Yadnya. 18. Pitra Yadnya. menjaga kelestarian hutan. Bidang KESRA 14.. Memperhatikan kesejahteraan guru. Bidang Pembangunan Bidang perekonomian Berdasarkan hasil penelitian. penyelesaian kasus masyarakat. menetapkan awigawig. 28. VIII. lingkungan hidup: menjaga kelestarian sumber air. 162 . e. Menyelesaikan konflik di masyarakat. 17. IX. Keamanan: menjaga keamanan desa oleh pecalang.Pertanahan. pendidikan. sosial kemasyarakatan: sangkep Banjar. Butha Yadnya. lihat pula Peraturan Daerah Bali Nomor 3 Tahun 2001. dan membantu pembangunan masyarakat. renovasi balai banjar. Menjaga keamanan pura. hal. b. 30. Membantu program pemerintah melalui bahasa agama seperti: kesehatan. menjaga keamanan pada saat upacara Agama berlangsung Yadnya. suka duka.. Pengembangan pariwisata budaya 9. memelihara bangunan fisik adat. Menjaga kelestarian sumber air. 27. 149. 16. Pelestarian tanaman untuk upacara. 10. Memotipasi kesehatan masyarakat. Bidang Peradilan Adat 13. IV. 17. 11. memelihara air bersih di pura. Menyiapkan gedung SD. Renovasi balai banjar 24. Memelihara jalan selokannya pura 22. memelihara jalan dan selokan lingkungan pura. Menjaga kesehatan masyarakat. Lembaga perkreditan desa (LPD). Manusa Yadnya. I Wayan Suarjaya. Membantu masya membangun . 21. bahwa Desa Pakraman dan Desa Dinas mempunyai sembilan bidang pelayanan publik. 22.. 161 Analisis pelayanan . dan pembangunan. adat dan budaya. pembinaan keluarga sukinah. Mendorong WAJAR 9 tahun. dan pelestarian tanaman untuk upacara. VII. Menjaga keamanan desa oleh pecalang. Tahun 2005. Menyelesaikan sengketa adat. Bidang Lingkungan Hidup 16.

Artinya kebutuhan masyarakat. g. f. Tari dan lain-lain Desa Pakraman mempunyai kewajiban utama untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat (kerama) dalam rangka pelaksanaan Upacara Agama (Panca Yadnya)61. tempek. hal ini jarang terjadi. I Wayan Suarjaya. Korban suci itu meliputi. Pelayanan di bidang keagamaan. Sembilan jenis pelayanan publik. budaya dan agama dari gerusan arus modernisasi dan globalisasi terutama pengaruh barat. dan manusia dengan lingkungan hidup. Menurut penjelasan masyarakat bahwa kerukunan umat beragama telah berjalan. Pemerintahan yaitu: membantu program pemerintah melalui bahasa agama. menjaga kesehatan masyarakat. terutama dari sisi sopan santun. Desa Pakraman dapat menjadi model menarik dan cukup tepat dalam rangka pemberian pelayanan publik yang langsung menyentuh akar rumput. Kesejahteraan rakyat: mendorong wajib belajar 9 tahun. Karena sejak awal terbentuknya. Manusa Yadnya dan Bhuta Yadnya 163 Analisis pelayanan . Upacara Yadnya adalah segala persembahan/korban suci kepada Tuhan Yang Maha Esa (Hyang Widhi Wasa) dalam berbagai 61 Panca Yadnya adalah lima korban suci dalam rangka menjaga keharmonisan antara manusia dengan Tuhan.Fungsi pelayanan bidang agama yang dilaksanakan Desa Dinas. serta pembinaan secara berkala. Sekeha Kidung. Rsi Yadnya. yang berkaitan dengan adat-istiadat secara penuh dijalankan oleh Desa Pakraman tanpa intervensi dari pihak manapun. Pelayanan yang diberikan oleh aparat Desa Dinas dalam menjaga kerukunan umat beragama.. h. budaya dan agama serta nilai-nilai lokal lainnya tetap berdiri tegak 62 Hasil wawancara dengan kepala Desa Pakraman di desa Wongaya Gede tanggal 18 Februari 2006. Dewa Yadnya. peranan Desa Pakraman masih kuat dan dapat diandalkan. melalui musyawarah desa.Sengketa Adat: menyelesaikan konflik dimasyarakat. Hal ini dilandasi oleh filsafat yang dianut umat beragama Hindu adalah menjaga keharmonisan hubungan antara manusia dengan manusia sebagaimana yang termaktub dalam Tri Hita Karana.. manifestasi-Nya untuk menjaga keharmonisan hidup manusia dengan Tuhan. Gong. yang dilaksanakan oleh Desa Pakraman akan diuraikan secara terinci. moral. Peranan Desa Pakraman dalam melestarikan adat.. i. yang diselenggarakan bersama sama dengan anggota masyarakat. Artinya betapapun kecenderungan global mempengaruhi adat. hanya dalam menjaga kerukunan umat beragama. 63 Sekehe adalah organisasi profesi sesuai dengan bidangnya masing-masing seperti. Perekonomian: pengembangan lembaga perkreditan desa. Pemberlakuan Otomoni Daerah. 164 . FISIP UI. Desa Pakraman memiliki peran dan fungsi dalam membentuk karakteristik masyarakat. keharmonisan hidup manusia dengan sesama umat manusia. seperti Banjar. dan mengaja keharmonisan manusia dengan alam lingkungannya62. melestarikan dan menyelenggarakan Upacara keagamaan. Visi dan misinya membina.. sesuai dengan hasil penelitian sebagai berikut: 1. dan menyelesaikan sengketa adat. 2007. Fakta inilah yang mendorong kelestarian budaya (dengan semboyan ajeg Bali ) diperkuat oleh adat-istiadat melalui organisasiorganisasi yang menjadi kepanjangan tangan Desa Pakraman. manusia dengan manusia. tidak ikut masuk dalam bidang upacara Agama. dan pariwisata. merupakan bidang yang paling utama dilayani oleh Desa Pakraman. Pitra Yadnya. Berkoordinasi dengan Desa Pakraman dalam rangka pembinaan mental spiritual dengan menyelenggarakan dharma wacana . Pelayanan Publik Desa Dinas dan Desa Pakraman Bidang Keagamaan Desa Dinas berfungsi memberikan pelayanan bidang agama. mental spiritual. Jadi segala aktivitas yang berkaitan dengan aspek agama pelayanannya menjadi tanggung jawab Desa Pakraman. dan sekeha 63. Hal ini terbukti mulai zaman kolonial sampai sekarang eksistensi Desa Pakraman dalam memberikan pelayanan di bidang agama masih tetap lestari.( jika ada ).menurut penjelasan dari Tokoh masyarakat bahwa.

d). FISIP UI. kahyangan Pura Puseh. dan Pura Desa. Masalah yang timbul 64 Rangkuman wawancara Tokoh Masyarakat. 166 . Karena ke tiga unsur tadi saling melengkapi. didorong oleh ungkapan terima kasih dan bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa. dan memberikan makna64.sepanjang eksistensi Desa Pakraman masih kuat. I Wayan Suarjaya. Pakraman Wongaya Gede tanggal 16 Januari 2006 165 Analisis pelayanan . Dalam manifestasinya sebagai: Utpeti Pencipta. b). menentukan jadwal/susunan acara dan waktu pelaksanaan. menjalankan seluruh aktivitas ritual dari awal hingga berakhirnya pelaksanaan upacara. tetapi diatur oleh pengempon66 masing-masing.. yang diempon oleh sekelompok keluarga. Pura Pengaturan pujawali di Kahyangan Dalem Wisesa. menentukan “pengayah” (pelayan) yang berasal dari pinandita/pemangku. dalam awig-awig adat disebutkan ada pelaksanaan upacara di Pura Dalem. Pura Desa. mekanismenya hampir sama pada saat akan melaksanakan Rsi upacara dilakukan untuk upacara: Dewa Yadnya. pelaba pura.. dalam rangka peringatan pembangunan Pura. Adapun pelayanan yang diberikan dalam pelaksanan Yadnya tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: a). melalui manifestasi-Nya yang disebut dewa-dewi. setiap enam bulan atau setahun. Pura Puseh dan Pura Dalem. Manusa Yadnya dan Bhuta Yadnya. Pelaksanaan agama Hindu tidak dapat melepaskan aspek pendukung utamanya. sarati banten dan unsur masyarakat yang biasanya digilir per-Banjar yang terdapat di Desa Pakraman tersebut. Sementara Desa Desa Pakraman memberikan pelayanan di bidang upacara keagamaaan yang diselenggarakan di Pura Kahyangan Tiga atau Pura Umum di lingkungan Desa Pakraman. dana punia/donatur. Pujawali juga dikenal dengan istilah Piodalan yang bermakna perayaan kehadiran/kelahiran/Peresmian bangunan Pura. Hanya obyek upacaranya yang berbeda. membentuk panitia/pelaksana kegiatan. mempersiapkan dana upacara yang didapat melalui penggalian dana dari iuran seluruh masyarakat. 66 Pengempon adalah organisasi kemasyarakatan di bawah Desa Pakraman yang mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk memelihara kelestarian pura dari segi pembangunan fisik maupun upacara keagamaannya. alam semesta beserta isinya. tetapi tidak sepenuhnya dipegang oleh umat maka pelayanan di bidang upacaranya diserahkan kepada Pengempon Pura Puseh masing-masing. Adat. Puseh. Dewa Yadnya merupakan persembahan kehadapan Sang Hyang Widhi Wasa Tuhan Yang Maha Esa. Bahwa antara pura yang satu dengan yang lainnya tidak sepenuhnya diatur oleh kerama. Ketiga pura ini dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat Desa Pakraman. Oleh karena Pura Puseh yang ada wilayah Desa Pakraman ada dua. Sthiti Pemelihara serta Pemralina mengembalikan kepada asalnya.. Pitra Yadnya. c). Upacara ini disebut dengan Dewa Yadnya. 2007. Pengaturan pujawali 65 di kahyangan tiga. Yadnya. Pemujaan kehadapan para dewa. Pelayanan publik Desa Pakraman pada saat Dewa Yadnya. Pelayanan publik di bidang keagamaan dapat dijelaskan sebagai berikut: 1) Pelayanan dalam Bidang Dewa Yadnya sekarang. yaitu di Kahyangan Tiga. Jenis pelayanan publik Desa Pakraman seperti di atas. yaitu adat dan budaya. upacara Dewa Yadnya dilakukan di pura umum. pengaturan pujawali di kahyangan jagat Pura Luhur Batu Karu. yang mana Desa Wongaya Gede mempunyai dua Pura Puseh. Pelayanan ini dikoordinir oleh Bendesa Adat bersama seluruh Kelihan Banjar dan masyarakat mengikutsertakan pemangku sebagai pemimpin upacara. Pada setiap Desa Pakraman. Jadi seluruh Desa Pakraman di Bali memiliki Kahyangan Tiga-nya masing-masing. Oleh karena demikian setiap pura ada pengempon yang mengurusnya. Agama dan Prajuru Desa 65 Pujawali adalah upacara besar yang dilaksanakan..

otonan. Dirangkum dari informasi Pengurus Desa Pakraman serta Aparat Desa pada tanggal 18 Februari 2006. kepastian. efisien. Dengan adanya warga yang tidak melaporkan diri kepada bendesa adat. gotong-royong dalam rangka keharmonisan hidup antara manusia dengan manusia. efisien.. Raja Swala/upacara meningkat dewasa. 69 Dirangkum dari informasi Kepala Desa serta Aparat Desa pada tanggal 1 Februari 200. keamanan.. maka pihak bendesa adat mengalami kesulitan dalam mendata warganya69. FISIP UI. d). Pelayanan Bidang Rsi Yadnya Desa Pakraman dalam pelayanan publik terhadap upacara Manusa Yadnya ini tidak seluruh upacara tersebut dilayani. turut menandatangani berita acara perkawinan untuk kelengkapan administrasi mendapatkan akta perkawinan. agama dan hukum. memohon kepada Tuhan memohon Wara Nugraha/rahmat agar kehidupannya lebih baik di dunia ini maupun di dunia akhirat (moksa).67 2) Pelayanan Bidang Manusa Yadnya Pelayanan di bidang Manusa Yadnya. keterbukaan. bertujuan untuk menjaga rasa kekeluargaan. b). mengatur prosesi ritual tatanan upacara sampai dengan resepsi perkawinan tersebut berakhir. 2007. I Wayan Suarjaya. Upacara Manusa Yadnya yang lain. sebagai saksi secara adat dan agama. juga tergantung dari partisipasi masyarakat. Jika tingkat upacara diambil tingkatannya besar maka pihak keluarga mengajukan permohonan kepada Prajuru Desa Pakraman untuk membantu penyelenggaraan rangkaian upacara tersebut. mulai dari upacara perkawinan. ekonomis. 67 68 Dirangkum dari informasi Kepala Desa serta Aparat Desa pada tanggal 1 Pebruari 2007. pelayanan akan dilaksanakan oleh Banjar atau tempek/regu masing – masing. Dinyatakan relatif karena kesederhanaan. keadilan. 3). efisien. bayi dalam kandungan yang telah berumur tujuh bulan (Garbhadana)/mitoni. Upacara Manusa Yadnya. melahirkan.68 Permasalahan yang ada di Desa Adat Wongaya Gede yakni adanya beberapa anggota adat. sedangkan dalam Upacara Pawiwahan (perkawinan) selalu disaksikan dan disahkan oleh bendesa adat. sampai dengan anaknya itu kawin lagi. dan ketepatan waktu tak sepenuhnya dapat diberlakukan. Jika tingkat upacaranya kecil. sebagai saksi bahwa si anak tersebut akan menjadi anggota baru bagi Banjar dan Desa Pakraman. sebagai saksi kepada masyarakat luas bahwa si anak tersebut telah menikah secara syah baik menurut adat. tergantung permintaan dari pihak keluarga Pelayanan publik yang utama pada saat keluarga mengawinkan anaknya adalah sebagai berikut: a). pelayanan publik yang diberikan tergantung permintaan keluarga yang bersangkutan. Kriteria kesederhanaan. 167 Analisis pelayanan . bahwa dalam perceraian ada warga yang tidak melaporkan diri ke bendesa adat. Hal ini berarti pelayanan publik oleh Desa Pakraman sebagai sebuah institusi dari perspektif kriteria pelayanan publik seperti kesederhanaan. Manusa adalah upacara yang dilaksanakan untuk Yadnya meningkatkan kesucian secara simbolis. dan keadilan dalam konteks upacara-upacara keagamaan selain sebagiannya dilayani oleh Desa Pakraman. dan keadilan dipandang relatif bagi pelayanan publik oleh Desa Pakraman. c). membantu pihak keluarga untuk mempersiapkan sarana dan prasarana sesajen yang dipergunakan untuk upacara perkawinan. 168 . Diantara upacara Manusa Yadnya tersebut pelayanan publik yang dilaksanakan oleh Desa Pakraman adalah pada saat Upacara Perkawinan.. ekonomis.Dinas untuk bidang sosial keagamaan ini hanya menjadi mitra kerja dan untuk kepentingan koordinasi. dan e). ekonomis..

c) mendukung rangkaian pelaksanaan Upacara Pitra Yadnya. Desa Pakraman. dengan menyuarakan kulkul sebagai pertanda adanya kematian. serta rangkaian upacara mensthanakan dewa pitara (ngelinggihang dewa pitara). 170 . adalah rangkaian terakhir dari Upacara Ngaben. I Wayan Suarjaya. meninggal akan diaben akan membutuhkan waktu yang relatif lama. sesuai “Awig-Awig Desa Pakraman Wongaya Gede” berupa: a) membantu keluarga duka yang melakukan Upacara Pitra yadnya (Ngaben). Jika jenazah di kubur sementara. Apa bila yang 70 Ketentuan pokok yang wajib ditaati oleh setiap warga masyarakat Desa Pakraman. dan ikatan lainnya sebagai kompensasinya pemangku wajib melayani umat dalam memimpin upacara keagamaan.70 antara lain dinyatakan: a) memberikan pelayanan kepada masyarakat yang akan melakukan upacara untuk menjadi pemangku. rapatrapat.71 4). maka pelayanan yang diberikan cukup sampai jenasah itu di kubur. tidak diperkenankan membuat lubang di kuburan lewat dari sehari. baik yang dilaksanakan dengan mengubur (mendem). dalam memantapkan ketertiban dalam pelaksanaan Upacara Pitra Yadnya. baik berlaku sebagai saksi maupun memberikan informasi secara luas kepada masyarakat yang terkait dengan sasana sebagai pemangku. yaitu ketika manusia meninggal. melalui Kelihan Banjar juga memiliki kewajiban untuk melaporkan secara administrasi kematian kepada Desa Dinas. hal 20 Ngelinggihang Dewa Pitara. 2003.. tetapi hanya mengubur saja. Pelayanan Bidang Upacara Pitra Yadnya Upacara Pitra Yadnya adalah upacara terakhir yang ditujukan kepada manusia.Pelayanan yang berkenaan dengan Upacara Resi Yadnya sesuai “Awig-Awig Desa Pakraman Wongaya Gede”. Menurut keyakinan Umat Hindu bahwa pada saat itu Atman yang meninggal telah mndapat tempat yang baik ( Amor ring Hyang Acintya/bersatu dengan Tuhan ) 71 169 Analisis pelayanan . b) memimpin kegiatan rapat masyarakat (sangkepan) untuk menghasilkan keputusan (perarem). FISIP UI. Bentuk upacaranya ada yang dikubur sementara ada yang langsung diaben. d) memberikan pelayanan kepada pemangku dengan membebaskan dari kewajiban-kewajiban selaku anggota Desa Pakraman seperti bebas dari pungutan biaya.. b) memberikan pelayanan... rangkaian upacara pitra yadnya (pengabenan). Jika saat itu ada upacara dewa yadnya dibolehkan tidak melapor. serta mengawasi umat atau masyarakat yang melakukan upacara agama. (b) kewajiban Desa dan Banjar Pakraman menindak lanjuti laporan masyarakat. d) upacara saat dua belas hari (ngerorasin). khusus untuk Desa Pakraman Wongaya Gede upacara ngaben tidak dilaksanakan dengan membakar jenasah. Bentuk Pelayanan publik dalam kaitannya dengan pelaksanaan Upacara Pitra Yadnya (Ngaben). Peran Desa Pakraman sangat vital dalam memberikan pelayanan publik dalam upacara ini. sesuai “Awig-Awig” sebagai berikut: (a) jika ada yang meninggal wajib melapor kepada Prajuru Desa Pakraman. Bendesa Adat akan berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait dengan upacara pengabenan tersebut. 2007. tuntunan. c) memberikan pelayanan kepada masyarakat secara luas agar warga masyarakat sadar dan turut serta melakukan kegiatan amal (dana punia) kepada para pemangku dengan tuntunan dari prajuru Desa pakraman. Awig-awig Desa Pakraman Wongaya Gede.

(d) yang dikategorikan sebagai cuntaka mencakup: kematian. dalam cuntaka dilarang masuk ke pura dan bagi yang melanggar dikenai sanksi. maka dilakukan tindakan pengawasan oleh petugas keamanan Desa Pakraman berupa pecalang. I Wayan Suarjaya. seperti nanggluk merana. Upacara ini sebetulnya dilakukan oleh semua masyarakat. melakukan tindakan seks bebas. amati karya (tidak bekerja). 2007. FISIP UI. Seluruh Kelihan Banjar dan masyarakat Desa Pakraman terlibat secara aktif dalam aktivitas ritual ini. b) bagi masyarakat yang melaksanakan upacara bhuta yadnya wajib mempermaklumkan kepada prajuru Desa pakraman. f) ketentuan brata penyepian berlangsung selama sehari penuh sejak pagi hari sampai besok paginya . (e) ketentuan cuntaka sampai pada wilayah banjar (wilayah dusun) sesuai ketentuan setempat (dresta). (g) ketentuan tentang pelaksanaan Upacara Ngaben mengikuti ketentuan sumber sastra agama serta keputusan bersama dalam sangkepan kerama desa/Banjar berupa perarem. g) demi ketertiban pelaksanaan Catur Brata Penyepian. melakukan perilaku kejahatan serta melakukan perbuatan selingkuh. 172 . h) setiap warga masyarakat wajib melakukan kegiatan sima kerama atau dharma santi (perilaku saling mengunjungi sanak famili dan saling memaafkan satu sama lainnya). Dalam “Awig-Awig Desa Pakraman Wongaya Gede” dinyatakan bahwa pelayanan dibidang Bhuta Yadnya: a) setiap warga masyarakat wajib membantu pelaksanaan upacara bhuta yadnya sesuai sumber satra agama. amati lelanguan (tidak berhura-hura). perkawinan. makelem. e) setiap warga masyarakat diwajibkan untuk melaksanakan ketentuan suci berupa Catur Brata Panyepian yakni amati geni (tidak menyalakan api). antara lain nanggluk merana biasanya melibatkan subak. memanfaatkan partisipasi masyarakat. 72 Yadnya adalah tawur agung kesanga. yaitu upacara Bhuta Yadnya (caru) sehari sebelum pelaksanaan hari raya Nyepi yang datangnya setahun sekali. tawur dan lain-lain. d) pelaksanaan upacara melasti dilaksanakan sesuai ketentuan awig-awig yang berlaku. Pelayanan Bidang Bhuta Yadnya Pelayanan publik oleh Desa Pakraman dalam didang upacara Bhuta Yadnya diwujudkan mulai dari persiapan upacara sampai dengan berakhirnya upacara tersebut.. Banjar. tetapi yang berskala besar dan melibatkan Desa Pakraman hanya tertentu saja. Upacara Bhuta Yadnya adalah upacara yang ditujukan kepada Sang Hyang Widi Wasa agar para bhuta kala tidak mengganggu keharmonisan hidup manusia serta untuk menetralisir kekuatan negatif alam untuk menjadi positif kembali.72 5). melahirkan. menstruasi. melakukan hubungan yang tidak wajar. Pelaksanaanya dilakukan dengan cara me-caru. dikaji berdasarkan landasan teori. ditemukan bahwa pelayanan publik Desa Dinas dan Desa Pakraman di bidang Agama.. Desa Pakraman dalam memberikan pelayanan di bidang Agama didukung 171 Analisis pelayanan ... c) jenis pelaksanaan upacara bhuta yadnya diputuskan dalam pelaksanaan rapat desa maupun banjar melalui keputusan berupa perarem. (f) bagi pemangku tidak terkena ketentuan cuntaka. e) setiap tahun wajib melaksanakan upacara bhuta yadnya berupa Tawur Kasanga serangkaian menyambut perayaan suci agama Hindu yakni Nyepi. Peran utama Desa Pakraman dalam memberikan pelayanan publik yang berkaitan dengan upacara Bhuta Dirangkum dari informasi Pengurus Desa Pakraman serta Aparat Desa pada tanggal 12 Februari 2007. amati lelungaan (tidak bepergian).(c) mentaati ketentuan cuntaka sesuai sastra agama. Berdasarkan uraian tentang pelayanan di bidang Agama .

. moksartham Jagadhira ya ca iti dharma”74 ( krsejahtraan 73 Dirangkum berdasarkan hasil wawancara dengan Tokoh masyarakat. Educate. Menurut mereka ada tiga landasan dalam memberikan pelayanan terutama dalam bidang Agama. variabel ini hambatan dan kesulitan dalam memberikan pelayanan. berorientasi pada pemenuhan kebutuhan masyarakat. (1) mengikuti tradisi yang biasa dilakukan oleh leluhur/pendahulu. Envision. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan ke tujuh variabel (Envision. maka akan tumbuh sale coordinating shared vision.. pelayanan seperti ini disebut dengan “ gugon tuwon”75 (2) Ketentuan yang telah ditetapkan dalam Awig-awig. dalam musyawarah Desa. aktor dapat mengekspresikan dengan jelas pemberdayaan masyarakat. dan Tokoh Agama Wongaya Gede 74 Moksartham Jagadhita ya ca iti dharma. yang diwarisi oleh generasi sekarang. Secara teoritis. Masyarakat menyebutkan bahwa. bagi Prajuru Desa Pakraman dan perangkat Desa Dinas. menyatakan telah melaksanakan variabel ini. 2007. ungkapan dalam bahasa Sanskerta yang bermakna sebagai tujuan hidup kesejahtraan dan kebahagiaan hidup di dunia 173 Analisis pelayanan . Ada dua pendapat masyarakat terhadap variabel ini yang dilakukan oleh perangkat desa dalam memberikan pelayanan publik: (1) Belum sepenuhnya prangkat desa dapat mengekspresikan partisipasi masyarakar dan di Akhirat. sehingga tumbuh partisipasi dari ketulusan hati masyarakat... Pendidikan dan pelatihan bagi generasi muda. ) tersebut dikaitkan dengan partisipasi masyarakat ditemukan sebagai berikut: hidup di dunia. Menurut peneliti ungkapan tersebut sejenis dengan Vissi dan missi. Apabila anggota/masyarakat mengetahui dengan jelas vissi organisasi. bagi umat hindu disebut dengan mencapai Moksha ( Kehidupan kekal abadi di alam Tuhan ( Menyatu dengan Tuhan. dalam Awig-awig telah dituliskan adanya “.sepenuhnya oleh masyarakat. Menurut penjelasan masyarakat menyebutkan bahwa Pendidikan dan pelatihan. Enthuse. sangat jarang melaksanakan pendidikan dan pelatihan secara khusus. I Wayan Suarjaya. Educate. Eliminit. belum memahami betul tentang pengertian dan makna dari visi dan missi.76 Eliminit. Equip Evaluate. bila dikaji berdasarkan pendapat Stewart yang dikutip oleh Waluyo ada tujuh variabel yang dapat dipergunakan untuk menganalisis pelayanan publik.. Partisipasi masyarakat di Desa Wongaya Gede. sesuai dengan jenis upacara agama yang diselenggarakan oleh masyarakat. dan kebahagiaan hidup di alam moksa ). maksudnya para aktor mampu menggambarkan apa yang diingini oleh organisasi. baik tertulis. Pendidikan dan pelatihan nelalui praktek dalam pelayanan di masyarakat ( autodidak ).. (3) Kesepakatan bersama yang ditetapkan dalam perarem ( musyawarah desa ). Berdasarkan hasil wawancara dengan tokoh-tokoh masyarakat. mereka hanya mengikuti kegiatan di masyarakat. aktor mampu mengatasi segala halangan dan kesulitan dalam proses pemberdayaan pemberian pelayanan. 75 Pelayanan public berdasarkan gugon tuwun artinya pelayanan yang diberikan sesuai dengan tradisi yang berlaku secara turun temurun. Express. menyatakan bahwa “ Desa Dinas dalam memberikan pelayanan memang telah mempunyai visi. serta dapat diterima sebagai landasan kebijakan dalam memberikan pelayanan. dan Tokoh Agama Wongaya Gede Desa Pakraman dalam memberikan pelayanan tidak dengan tegas menyatakan visi dan misi dalam memberikan Desa Pakraman memberikan pelayanan pelayanan..73 Beberapa anggota Desa Pakraman. akan tetapi dalam pelaksanaannya. lebih banyak pelayanan yang diberikan sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat setempat. biasanya mampu diatasi oleh prajuru/perangkat desa melalui kerjasama dan memanfaatkan potensi yang ada di masyarakat. maupun yang disampaikan langsung pada saat pertemuan. Aktor Desa Dinas dan Desa Pakraman. FISIP UI. 174 . 76 Dirangkum berdasarkan hasil wawancara dengan Tokoh masyarakat. pendidikan / pelatihan. Express.

baik barang maupun jasa. Karena Desa Pakraman melayani semua kepentingan masyarakat. tergantung pengurus aktipitas pengurus pada saat itu. belum memiliki visi yang jelas. ekonomi. Jenis pelayanan yang diberikan oleh kedua desa tersebut.77. Desa Pakraman belum memiliki Visi dan standar pelayanan yang pasti. Mc. kepentingan bersama. kekeluargaan. dan adanya pendidikan dan pelatihan yang terencana. Kelemahan pelayanan publik oleh Desa Pakraman jika dikaitkan dengan teori Chaterine DeVery. Partisipasi masyarakat Wongaya Gede dalam pelaksanaan Upacara keagamaan. Sedangkan Desa Dinas organisasi modern. tentang jenis pelayanan public. (8) kepentingan bersama.(2) ikatan organisasi. Sedangkan Desa Dinas memberikan pelayanan pada dua jenis pelayanan. dan Tokoh Agama Wongaya Gede Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa tugas pokok Desa Pakraman lebih berat. serta merujuk pula pendapatnya Davit. yaitu pelayanan barang dan jasa. termasuk tidak memiliki hari libur. 176 . telah memenuhi persyaratan tersebut. (7) bakat dan emosional. yang dilaksanakan oleh Desa maupun oleh pemerintah. Roth juga menjelaskan ada dua jenis pelayanan publik. Kevit mengelompokkan ke dalam dua jenis pelayanan. aktor mampu membangkitkan semangat masyarakat dalam melaksanakan tugas. masih kurangnya pendidikan dan pelatihan. yang menyatakan delapan bentuk partisipasi masyarakat. Tujuh variabel yang disebutkan tadi. (3) kesadaran sendiri. sejalan dengan pendapatnya Diessedorf. tidak semuanya dapat dilaksanakan sepenuhnya oleh perangkat desa. dikaitkan dengan pelayanan public di Desa Wongaya Gede.(2) pemberdayaan masyarakat mengalami pasang surut. aktor mampu menyediakan segala keperluan dalam memberikan pelayanan. dilaksanakan terus Evaluate. sesuai dengan teori Davit. serta tumbuh dari kesadaran sendiri.. terutama. (1). 2007. (4) kharisma pemimpin. evaluasi dan monitoring menerus. ikatan organisasi Desa Pakraman yang diikat oleh awig – awig. Equip. partisipasi lebih besar di dorong oleh. Menurut pendapat masyarakat.78 2. Demikian pula ditinjau dari aspek Administrasi Pembangunan. I Wayan Suarjaya. sebagian besar ditopang oleh kharisma pemimpin. ( 786 KK ) mulai dari Upacara kelahiran sampai dengan upacara meninggal ( Ngaben ). Pelayanan publik oleh Desa Pakraman. hal ini terbukti bahwa dalam memberikan pelayanan tidak mengenal jam dinas. Pelayanan Publik Desa Dinas dan Desa Pakraman di Bidang Sosial Kemasyarakatan Pelayanan Desa Dinas dalam bidang sosial kemasyarakatan. didorong oleh. Karena dalam pelaksanaan Upacara keagamaan sarana barang telah disediakan oleh yang punya hajatan. walau tidak sepenuhnya dilaksanakan secara optimal. Kevit... Bentuk partisipasi pelayanan publik oleh Desa Dinas. guna meningkatkan kualitas pelayanan publik. polotik. (5) politik. 78 Dirangkum berdasarkan hasil wawancara dengan Tokoh masyarakat. dari segi perencanaan dan evaluasi kegiatan pelayanan belum memiliki sistim perencanaan yang memadai seperti dalam organisasi modern. cendrung pada pelayanan jasa yang lebih dominan. Enthuse. 77 Analisis pelayanan public merujuk pada pendapatnya Davis dan Khaeruddin. maupun diprediksi sebelumnya. kemampuan Pengurus untuk mendorong masyarakat dalam berpartisipasi. Mc. dalam rangka menyiapkan SDM. mengisyaratkan organisasi pemberi pelayanan hendaknya memiliki Vissi yang jelas dan standar pelayanan yang pasti.. belum maksimal. memberikan motipasi mendorong masyarakat agar tumbuh kesadarannya di bidang sosial 175 Analisis pelayanan . Tugas pelayanan tidak bisa dijadwalkan. FISIP UI. (6) ekonomi. Bentuk partisipasi masyarakat dikaitkan teori Davis yang dikutip oleh Khaeruddin menyatakan ketagori bentuk partisipasi. ikatan organisasi dan kekeluargaan.

Desa Dinas dalam memberikan pelayanan bidang sosial kemasyarakatan melakukan pembinaan keluarga. seni tabuh (gamelan). Seni sakral adalah seni yang dipergunakan pada saat upacara keagamaan. Sangkep Banjar yaitu rapat musyawarah Desa Pakraman yang diadakan 6 (enam) bulan sekali. Desa Pakraman selanjutnya memberikan pelayanan publik yang berkaitan dengan pembinaan adat dan budaya. 3. Keputusan yang diambil merupakan keputusan atas dasar musyawarah mufakat. Rapat Desa Dinas. bencana alam dan sebagainya. telah menetapkan agenda yang akan dibahas bersama. Desa Pakraman telah menyediakan pula pekuburan umum. Sedangkan ketika kedukaan pelayanan yang diberikan adalah menyangkut segala persoalan administratif. Desa Dinas juga menyelesaikan berbagai kasus kemasyarakatan dalam wilayah dan lingkup tugasnya. Sedangkan pada masa duka yaitu pelayanan-pelayanan kedukaan seperti kematian. selalu bergantung kepada orang lain. Desa Pakraman memiliki fungsi pelayanan sosial kemasyarakatan dalam mendorong masyarakat untuk giat bergotong-royong. sebagai wujud dari pelayanan publik. Desa Pakraman memberikan pelayanan publik melalui penyediaan secara cuma-cuma kepada masyarakat yang mempunyai acara hajatan atau syukuran dan lain sebagainya. Dalam rapat desa ini. kebakaran. Pelayanan publik Desa Pakraman di bidang sosial kemasyarakatan yaitu mencakup sangkep Banjar (rapat banjar). dan kepala-kepala urusan. Pada saat suka. 178 . Di dalam masa suka. Berbagai usul peserta rapat dibahas untuk dicari solusinya. 2007. Wujud pelayanan di bidang sosial kemasyarakatan.. semua aspirasi masyarakat peserta rapat ditampung. dan seni lukis yang berkaitan dengan simbol-simbol keagamaan.. Selain itu. umumnya dipimpin oleh Kepala Desa bersama sekretaris desa. Pelayanan publik sosial kemasyarakatan mencakup pula pelayanan dalam aspek karang taruna yaitu memberikan pelatihan keterampilan pada generasi muda. FISIP UI. antara lain rapat secara berkala untuk membahas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat. dan penyediaan sarana dan prasarana olah raga. menampung aspirasi masyarakat dalam rangka menjaga persatuan dan kesatuan di masyarakat. Desa Dinas berkoordinasi dengan Desa Pakraman turut memberikan pelayanan publik. Kearifan yang dimaksud bersumber dari pertautan filsafat Tri Hita Karana yang intinya menekankan keseimbangan/keselarasan 79 Semacam GBHN dulu 177 Analisis pelayanan . Pembinaan keluarga ditujukan pada anggota keluarga yang telah memasuki jenjang perkawinan. juga terkait dengan tanggung jawab anggota masyarakat sebagai warga Desa Dinas. Desa Dinas berpartisipasi memberikan pelayanan dalam bentuk fasilitas yang dibutuhkan dalam pelaksanaan acara hajatan.. Pembinaan adat dan budaya terutama yang berkaitan dengan seni sakral. karena landasan hidup gotong royong tidak bisa ditinggalkan. Menyadarkan bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri.kemasyarakatan. berupa: tari-tarian. Pelayanan Desa Dinas dan Desa Pakraman bidang Lingkungan Hidup Masyarakat sesungguhnya telah memiliki kearifan lokal dalam menjaga kelestarian lingkungan. I Wayan Suarjaya.. Pelayanan publik di bidang sosial kemasyarakatan juga berkenaan dengan menetapkan awig-awig yaitu menetapkan garis-garis besar dalam pengelolaan desa79 yang dituangkan dalam bentuk aturan-aturan desa tertulis dan tidak tertulis mengenai keputusan rapat (perarem). Ketika anggota masyarakat menghadapi persoalan suka-duka. di dalam masyarakat seringkali mengalami masa suka-duka sebagai dinamika kehidupan. Pembinaan dilakukan selain sebagai persiapan mental dalam berumah tangga.

sehingga dapat membantu kemudahan dalam penyiapan sesajen untuk di Pura. jalan-jalan desa. Selanjutnya. yakni menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan alam..hubungan antara manusia dengan Tuhan (unsur Parhyangan). pendataan pertanian (sawah dan perkebunan). penebangan pohon sangat terbatas hanya untuk pembangunan tempat suci. sarana prasarana keagamaan. Upaya pelestarian sumber mata air adalah dengan mendirikan tempat suci di sumber air. 179 Analisis pelayanan . juga bersama Desa Pakraman merencanakan pembangunan desa. pertanian.. 2) menjaga kelestarian hutan. Selain itu. 2007. kegiatankegiatan renovasi tempat ibadat dan renovasi balai Banjar. penyiapan sekolah taman kanak-kanak dan sekolah dasar. hal ini dilakukan dengan memanfaatkan tanah negara dihijaukan menjadi hutan rakyat. baik itu odalan di merajan. bekerjasama dengan Desa Dinas. Desa pakraman dilibatkan dalam perencanaan pembangunan desa dimaksudkan demi suksesnya upaya pembangunan. antara lain : a) mengerjakan profil desa setiap triwulan. kerbau). sapi. hubungan manusia dengan manusia (unsur Pawongan). pemeliharaan bangunan fisik adat seperti sanggah dan gapura. karena antara wilayah dan penduduk Desa Dinas dengan wilayah Desa Pakraman berimpit.merenopasi bangunan pura.. dan besaran dana swadaya ditentukan berdasarkan kesepakatan yang diambil dalam musyawarah desa. I Wayan Suarjaya. ayam buras. perkebunan yang diterima dari kepala dusun per triwulan. Kedua menjaga kebersihan lingkungan sehingga tidak tercemar oleh berbagai penyakit. f) pelaporan untuk profil peternakan. pertama sebagai ungkapan terima kasih kepada Tuhan yang telah menciptakan air memberikan karunia sumber kehidupan. babi.. 4. Dalam rangka pelayanan kepada masyarakat di bidang pembangunan kepala Desa dibantu oleh kepala urusan pembangunan. Desa Pakraman dalam menjaga kelestarian lingkungan. bersama – sama dengan Desa Dinas . Pelayanan publik di bidang pembangunan diwujudkan dalam bentuk. pelayanan di bidang pembangunan diwujudkan pula melalui pemeliharaan jalan dan sekolah. 80 Berdasarkan hasil Wawancara dengan Kepala Desa Pakraman pada tanggal 17 Februari 2006 diperoleh informasi bahwa bantuan dana dari Pemerintah Kabupaten Tabanan sebesar dua puluh juta rupiah per tahun. Pelayanan Desa Dina dan Desa Pakraman Bidang Pembangunan Pelayanan publik Desa Dinas dalam bidang pembangunan selain melakukan pembangunan atau renovasi kantor desa. Koordinasi pembangunan diperlukan. dan e) pendataan peternakan (peternak ayam kampung. Menjaga kelestarian lingkungan hidup. 3) pelestarian tanaman untuk sarana upacara keagamaan. Sumber dana pemeliharaan jalan dan selokan berasal dari bantuan pemerintah Kabupaten Tabanan dan swadaya masyarakat di Desa Pakraman80. merupakan salah satu unsur pelaksanaan dari filsafat Tri Hita Karana. untuk pembangunan di Tri Kahyangan masingmasing Desa Adat. itik. d) pembangunan jalan dan jembatan. Kepala Urusan Pembangunan memiliki beberapa tugas dalam memberikan pelayanan umum kepada masyarakat. dan hubungan manusia dengan alam lingkgungan hidup ( unsur palemahan ). b) pendataan swadaya murni masyarakat mencakup swadaya-swadaya pembangunan. FISIP UI. c) pembangunan balai masyarakat serta pembangunan kantor desa. upaya yang dilaksanakan: 1) menjaga kebersihan mata air dari segala bentuk pencemaran. Upaya pelestarian ini memiliki nilai ganda. 180 .

masyarakat. Pelayanan Desa Dinas dan Desa Pakraman Bidang keamanan Desa Dinas memiliki Pertahanan Sipil ( Hansip) yang menjalankan fungsi keamanan. Melalui siskamling masyarakat merasa aman. dan swasta. Masyarakat memandang bahwa Hansip masih diperlukan dalam menjaga keamanan Desa Dinas81.. sebagai akibat adanya penataranpenataran bagi tokoh-tokoh masyarakat dan anggota masyarakat. didamaikan secara kekeluargaan di tingkat Desa Pakraman. buku tamu. maupun kejahatan lainnya. penganiayaan berat. dan prajuru desa.. Desa Pakraman memiliki pecalang yang bertugas menjaga keamanan desa. Pelayanan masalah keamanan dan ketertiban masyarakat atau gangguan kamtibmas. bendel-bendel surat masuk/keluar. dilaksanakan pula ronda desa yang dilakukan secara bergantian di antara para pecalang. buku absensi latihan. 19 Pebruari 2006. Hansip di dalam menjalankan fungsinya dibiayai dari desa dan partisipasi masyarakat. Pelayanan publik bidang keamanan dilaksanakan oleh pecalang82. penipuan. Pelaksanaannya dikoordinasikan oleh aparat Desa Pakraman seperti Bendesa Adat. meliputi: buku daftar khusus. adalah kepala desa. Dalam melaksanakan tugas Pertahanan Sipil (Hansip). FISIP UI. penggelapan dan lain-lain selama tahun 2004/2005 tidak pernah ada. Hansip dipersiapkan pada saat acara-acara yang berkaitan dengan Desa Dinas seperti. pemilihan kepala Desa. Pelayanan pembangunan yang berskala besar dengan melibatkan Desa Pakraman. Administrasi Hansip sudah ditata sedemikian rupa sesuai dengan petunjuk Adapun buku-buku yang telah ada dalam Sekretariat Hansip. perampokan. pembangunan dibiayai oleh Kabupaten Tabanan sesuai dengan APBD setempat. Model yang dikembangkan dalam pelayanan tersebut adalah melibatkan partisipasi masyarakat dalam bentuk gotong-royong.. Segala bentuk pengamanan pada berbagai upacara adat dan keagamaan 82 Pecalang adalah organisasi tradisional yang kedudukannya di bawah Desa Pakraman yang berkewajiban untuk menjaga keamanan desa.Membantu masyarakat membangun rumah yang kena musibah bencana alam. Umumnya konflik itu dapat diselesaikan. buku daftar umum. tanggapan masyarakat sangat positif. dengan jangka waktu variatif antara 6 bulan sampai 3 tahun. Program Badan Perwakilan Desa (BPD). Pecalang bekerjasama dengan Pertahanan Sipil ( Hansip ). siskamling dan keamanan masyarakat selalu mendapat perhatian terutama pada pelaksanaan bulan bhakti BPD. buku daftar jaga. yang keanggotaannya dipilih oleh masing-masing Banjar sesuai dengan ketentuan awig-awig Desa Pakraman Dirangkum berdasarkan hasil wawancara dengan informan di Desa Dinas Wongaya Gede.. 2007. mengatasi konflik yang terjadi antar individu dan kelompok di masyarakat. Sedangkan penyelesaian konflik itu sendiri dilaksanakan oleh Bendesa dengan melibatkan para pihak yang terkait. Pecalang berfungsi menjaga keamanan dan kelancaran jalannya upacara keagamaan serta menjaga keamanan desa dari gangguan pencurian. Masalah pokok pelayanan yang diberikan oleh pecalang. Hal ini terjadi berkat adanya kesadaran yang tinggi. dan pemilihan umum. Lembaga dan instansi yang bertanggung jawab dalam hal pemeliharaan keamanan di dalam masyarakat. dan buku kejadian. pencurian. dalam mengamankan wilayah dengan Sistem Keamanan Lingkungan (Siskambling). I Wayan Suarjaya. 81 masing. Gangguan Kamtibmas. seperti pembunuhan. penyalahgunaan narkoba. dilengkapi dengan administrasi. dan aparat Desa Pakraman. merupakan bagian dari pelayanan publik yang diberikan oleh Desa Pakraman. buku agenda. 182 . Dengan diterapkannya sistem keamanan lingkungan (siskamling) di masing-masing dusun. Selain pendataan dan pemantauan bagi pendatang dari luar Desa Pakraman. 181 Analisis pelayanan . dapat dilaksanakan secara teratur didasarkan adanya kesadaran yang tinggi di kalangan masyarakat. Pelaksanakan siskamling di tiap dusun/Banjar telah dibuat Pos Kamling yang setiap hari dimanfaatkan oleh warga masyarakat. 5. Daya cegah dan daya tangkal terhadap gangguan kamtibmas cukup mantap. penyarikan.

tuntunan. I Wayan Suarjaya. tetapi juga banyak dari dalam. menantu. Sebagai institusi yang memiliki wilayah kewenangan untuk menangani kehidupan adat masyarakat di Desa Pakraman. 184 . 2007. Segala penyelesaian sengketa/konflik adat yang terjadi di masyarakat diselesaikan berdasarkan awig-awig desa atau hukum adat setempat83.31 Juli 2006 83 bersalah menurut pandangan hukum adat ( awig-awig ). dan jika perbuatan melanggar awig-awig terus diulangi maka sanksi sosial yang paling berat adalah dikucilkan (sepekang Banjar). karena mengingat intensitas kemunculannya seperti konflik suami-istri yang berakibat perceraian dapat mengganggu keharmonisan dalam masyarakat. maka dikenai sanksi menurut berat-ringannya perbuatan. Konplik yang muncul di lingkungan keluarga.. penyelesaian sengketa berupa hak waris. tetapi lebih jauh dari sekedar material. Proses penyelesaiannya melalui para aparat Desa Pakraman dan pihak-pihak yang bersengketa di bawa ke forum perarem Desa Pakraman. Peranan Desa Pakraman dalam menangani masalah ketidak harmonisan ini berupaya memberikan bimbingan. Tugas pokok dan fungsi Desa Pakraman dan Desa Dinas menjalankan Sengketa Adat. bukan karena akibat sanksi yang ditimbulkannya. Permasalahan diselesaikan berdasarkan aturan (awig-awig). Sanksi sosialnya adalah berupa adanya perasaan malu (jengah). Gesekan atau konfilk. biasanya terjadi pada sebuah keluarga besar. jenis pelayanan yang diberikan seperti penyelesaian konflik di masyarakat. pelanggaran batas pekarangan. Berdasatkan hasil prnelitian. Hal ini terjadi karena secara historis Desa Pakraman adalah institusi tradisional yang tumbuh dari masyarakat. 183 Analisis pelayanan . selama lima tahun terakhir. Kasus ini tidak saja datang dari luar.. secara langsung dan tidak langsung amat mempengaruhi peri kehidupan adat masyarakat Desa Pakraman.serta pengamanan pelayanan bidang lainnya ditangani oleh para pecalang. Perarem kemudiaan menyidangkan. perkelahian. Semua permasalahan dilaporkan. tetapi karena masyarakat begitu menghormatinya sebagai produk hukum yang yang mencerminkan nilai – nilai norma agama yang dianutnya. sementara Desa Dinas adalah institusi modern bentukan pemerintah. jika terdapat pihak-pihak yang Dirangkum dari informasi Kepala Desa serta Aparat Desa pada tanggal 28 . Terdapat keyakinan Hukum Karma (causality law) yang dominan jika melanggar. sebagaimana Desa Pakraman dibangun melalui norma dan kebiasaan yang berlaku seperti itu. FISIP UI. dan menasehati yang bersangkutan dengan baik. Kebanyakan kasus ini tidak sampai diselesaikan melalui jalur hukum. 6. 2) kasus ketidak harmonisan dalam rumah tangga antara suami-istri. dan perselingkuhan. maka sangat mungkin terjadi friksi yang banyak melahirkan kasus adat.. yaitu melalui sanksi moral. Awig-awig sangat kuat. sengketa adat yang dilayani oleh Desa Pakraman maupun Desa Dinas belum ada.. Sanksi terhadap sebuah kasus tidak hanya sebatas berupa material. Penyelesaian konflik menjadi tanggung jawab Desa Pakraman. Pelayanan Desa Dinas dan Desa Pakraman Sengketa Adat Bidang Pelayanan publik Desa Dinas dalam hal sengketa adat hanya berkoordinasi dengan Desa Pakraman saja. Kasus adat mendapat perhatian khusus. anak. Beberapa jenis kasus adat yang dilayani Desa Pakraman adalah: 1) sengketa tanah atau warisan. tidak sampai melibatkan aparat desa atau prajuru desa. Para pecalang di dalam menjalankan fungsi pelayanan dibiayai dari dana Desa Pakraman . dapat diselesaikan oleh keluarga yang bersangkutan..

melaksanakan upacara Pitra Yadnya di Desa Pakraman tempat tinggal. Hal ini tidak terlepas dari subtansi pelayanan Kesra itu sendiri. Menyalurkan jatah beras untuk masyarakat miskin (raskin) dan bantuan konpensasi subsidi BBM kepada rakyat miskin. juga masalah kesehatan dilayani oleh Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskemas) Pembantu. Kaje W. pemberian vitamin. Pelayanan Desa Dinas dan Desa Pakraman Bidang Kesejahteraan Rakyat Pelayanan publik oleh Desa Dinas bidang Kesra meliputi pelayanan: kesehatan. tapel.Kambig Amplas Amplas 125 175 165 160 115 165 185 245 135 25 21 18 35 38 24 23 18 24 18 11 9 7 12 8 9 18 15 Jumlah 1. koperasi dan perekonomian. imunisasi kepada anak balita serta merujuk masyarakat yang sakit untuk berobat ke Pusat Kesehatan Masyarakat. Pelayanan di bidang kesra merupakan bentuk pelayanan yang sangat kompleks dan memiliki tingkat urgenitas tinggi. Kantor Puskemas Pembantu Wongaya Gede. Kangin W. 186 . patung. Kegiatan pelayanan Posyandu dapat dilihat dari tabel sebagai berik Tabel 11 Kegiatan Pos yandu dan Jenis Pelayanan Kepada Masyarakat85 Nama N o 1. Kelod W. yaitu: peningkatan gizi anak balita. bidang kesehatan yang diberikan oleh desa adalah menggalakkan pelayanan kesehatan melalui Pos Pelayanan Terpadu Kesehatan (Posyandu). 5. yaitu pencurian harta benda yang ada di dalam tempat suci atau pura. Grafik 1 Jumlah Kunjungan Masyarakat Ke Puskesmas Pembantu Tahun 200486 84 Kasus seperti tersebut dalam kurun waktu 5 tahun terakhir.belum pernah terjadi. emas. 2005.84 7.310 218 107 226 135 11 Di samping pelayanan terpadu yang dilaksanakan oleh Posyandu. pendidikan. I Wayan Suarjaya. dll. 9 Posyandu Gisi Imuni-sasi KB Obat Tambah an 25 15 19 21 45 16 18 35 24 Brosur Kese ha-tan 15 15 15 15 15 15 15 15 15 Rujukan 4 3 2 1 1 - W. yang berhak menangani hhádalah Desa Pakraman dengan melibatkan petugas keamanan yang terkait.. Bendul Kloncing Bengkel B. 2007. Pratima ini dapat berbentuk unen-unen. Tetapi kalau hal tersebut terjadi. 3) Pelayanan kepada masyarakat. 2. Kehadiran masyarakat yang berobat ke Puskesmas pembantu selama tahun 2004 dapat dilihat dalam grafik sebagai berikut. Posyandu ada sembilan yang memberikan pelayanan. yaitu kasus pengasingan terhadap anggota masyarakat yang melanggar awig-awig.. 85 86 Puskesmas Pembantu Desa Wongaya Gede.. FISIP UI. 2004 185 Analisis pelayanan . keris. 4.. 3. keluarga berencana. dikeluarkan dari Banjar atau desa. 6. 7. Contoh bentuk kasepekang ini. 8. 4) kasus pencurian pratima.kasus kasepekang. antara lain tidak boleh menguburkan mayat di kuburan desa.

2. kemudian melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi di luar daerah. 2007..88 Hal ini terbukti sebagian besar anak berusia sekolah di Desa Pakraman Wongaya Gede telah menempuh WAJAR 9 tahun. SD Neg. I Wayan Suarjaya. dan memperhatikan kesejahteraan guru. 1 SD Neg. karena itu kami bersedia mengajak anak-anak kami untuk menempuh WAJAR 9 tahun. murid. 2 SD Neg.Jumlah Murid No. Motivasi yang terus dikembangkan tersebut terutama dilakukan pada berbagai kesempatan musyawarah desa. Adapun jumlah sekolah. Gerakan Nasional Percepatan Penuntasan Wajib Belajar. telah mendapat tanggapan yang positif dari masyarakat. Setelah adanya proyek mulai tahun 1980 baru mendapatkan dana rehab bangunan gedung sekolah. Dalam memberikan pelayanan di bidang pendidikan. Desa Dinas menyediakan gedung sekolah yang dibangun oleh Desa dengan swadaya sendiri mulai dari tahun 1945 sampai dengan tahun 1980. 188 . Pelayanan dalam bidang KESRA juga diwujudkan melalui 88 Hasil Wawancara dengan para informan Desa Pakraman 18 Pebruari 2006 menyatakan bahwa GNPPWB merupakan suatu program yang sangat baik. Saat ini ada 5 sekolah Dasar. 3 SD Neg. 2004 187 Analisis pelayanan . disamping itu desa selalu memberikan motivasi menuntaskan wajib belajar 9 tahun. 87 Monografi Desa Dinas Wongaya Gede th.. Masyarakat Desa Wongaya Gede setelah menamatkan Sekolah Dasar. 4 SD Neg. FISIP UI. Pelayanan publik di bidang pendidikan.. 4. 3. 5. Nama SD LK 1. 5 Jumlah Guru PR 62 48 53 40 45 247 37 Pegawai 50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nop Des 55 45 48 37 42 227 8 7 7 7 8 10 2 2 2 2 2 O ra n g Bulan Desa Dinas juga memberikan pelayanan di bidang pendidikan.. dalam bentuk memotivasi masyarakat untuk turut mensukseskan Gerakan Nasional Percepatan Penuntasan Wajib Belajar 9 tahun (GNPPWB). dan musyawarah khusus bidang KESRA yang diadakan oleh Desa Pakraman. dan guru yang terdapat di wilayah desa Wongaya Gede seperti terlihat pada tabel berikut: Tabel 12 Jumlah Sekolah dan Siswa87 Di samping sekolah Dasar juga ada Sekolah Menengah Tingkat Pertama Swasta yang memberikan pelayanan di bidang pendidikan dalam rangka menuntaskan wajib belajar 9 tahun. semua sekolah dibangun oleh desa. Pelayanan publik Desa Pakraman bidang kesejahteraan yaitu di bidang pendidikan dan kesehatan masyarakat.

dan pencatatan administrasi pertanahan. c) memberikan pelayanan administrasi perkawinan. dan seni tabuh yang dapat menunjang perkembangan pariwisata budaya. Memimpin. melalui musyawarah desa bidang KESRA. administrasi pembangunan. Pelayanan Desa Dinas dan Desa Pakraman Pemerintahan Bidang Pelayanan publik di bidang kesekretariatan. Adat. g) melayani admnistrasi jual-beli tanah dan transaksi lainnya. yang diminati oleh Wisatawan. Kepala Desa dibantu oleh Sekretariat Desa. Menyusun rencana keuangan. Kepala Urusan Kesejahteraan Rakyat. yang bertugas melayani masyarakat di bidang: a) Administrasi kependudukan. sebagai pencatat perkawinan serta memperoses sampai keluarnya akte perkawinan oleh kantor catatan sipil. b) Pembuatan kartu Penduduk/Keterangan Domisili. serta mengawasi semua urusan/kegiatan sekretaris. Langkah yang ditempuh dalam pengembangan pariwisata adalah menjaga kelestarian adat budaya setempat. dan laporan. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Desa Wongaya Gede Dalam struktur Desa Dinas dijelaskan bahwa kepala desa memberikan pelayanan di bidang pemerintahan dibantu oleh kepala urusan Pemerintahan. mengendalikan. serta melegalisir perjanjian yang dibuat oleh antar warga desa. Mengadakan dan melaksanakan persiapan rapat serta mencatat hasil rapat.. luluh menjadi satu kesatuan yang saling melengkapi dan memberi makna. Desa Pakraman memberikan kesadaran kepada masyarakat. Peranan Desa Pakraman dalam menunjang pariwisata di Bali cukup besar. melaksanakan urusan suratmenyurat. mengkoordinasikan. budaya dan Agama inilah yang menopang pariwisata tersebut. yang bercirikan agama Hindu. Penanaman apotik hidup di pekarangan rumah masingmasing. Selanjutnya. untuk menjaga kesehatan. melaksanakan kegiatan pencatatan mutasi tanah. Untuk melaksanakan tugas-tugas Kepala Desa di tingkat dusun. e) mencatat kelahiran/kematian yang dilaporkan oleh kepala Dusun/Kelihan Banjar Dinas. Pariwisata Bali berakar pada pariwisata budaya. telah dimasyarakatkan.. 190 . Kepala Desa dibantu oleh Kepala Dusun definitif. kearsipan. sebagai tanaman obat.. sedangkan budaya yang tumbuh dan berkembang dijiwai oleh filsapat Agama. Pengembangan seni budaya masyarakat setempat seperti seni ukir. Melaksanakan administrasi kepegawaian di wilayahnya. Ritual adat dan keagamaan yang dilaksanakan oleh Desa Pakraman memilik nilai budaya. kebersihan lingkungan.kerjasama dengan Desa Dinas. Kepala Urusan Pemerintahan. sehingga adat budaya dan agama. 2007. d) mencatat keluar masuk kependudukan.. Memberikan informasi mengenai keadaan sekretariat dan keadaan umum di wilayahnya. pelayanan bidang KESRA mencakup pula pengembangan pariwisata. Membuat program kerja. dan administrasi kemasyarakatan. Kepala Urusan Pembangunan. Sekretaris Desa uraian tugasnya adalah memberikan saran dan pendapat kepada Kepala Desa. 189 Analisis pelayanan . 8. Melaksanakan administrasi kependudukan. Berpartisipasi dalam menyiapkan sarana dan prasarana pendidikan pada tingkat taman kanak-kanak dan sekolah dasar. juga ditunjang oleh keindahan alam. seni tari. dan lima orang Kepala Urusan. Obyek pariwisata yang dikembangkan disamping pariwisata spiritual. Pelayanan di bidang kesehatan diwujudkan dengan cara menjaga kesehatan masyarakat yaitu memberantas nyamuk malaria dan sumber penyebab deman berdarah bekerja sama dengan PUSKESMAS setempat. dan keamanan desa. Kepala Urusan Administrasi dan Kepala Urusan Keuangan. FISIP UI. Mendorong masyarakat agar tetap manjalani pola hidup sehat. I Wayan Suarjaya. mengadakan kegiatan inventarisasi. f) Membuat monografi Desa meliputi data statistik desa. Karena adat budaya dan agama tumbuh dan berkembang di Desa Pakraman. satu orang Kepala Dusun persiapan dan satu orang kelihan.

89 Hasil Wawancara dengan Bandesa Adat di Wongaya Gede. Kemudian mengenai uraian tugas Kepala Urusan Umum. Menyusun jadwal serta mengikuti perkembangan pelaksanaan piket. penyimpanan. penerimaan tamu dinas. Dalam pengelolaan keuangan tersebut kepala desa dibantu oleh kepala urusanan keuangan. I Wayan Suarjaya. Kualitas pelayanan telah menjadi faktor yang menentukan dalam menjaga keberlangsungan suatu organisasi birokrasi pemerintah Pelayanan yang baik dan sesuai dengan kebutuhan pengguna jasa publik. 2007. sangat penting dalam upaya mewujudkan kepuasan pengguna jasa publik.Kepala Urusan Kesra memliki beberapa tugas. Melaksanakan tugas lainnya yang diberikan oleh sekretaris desa Maju mundurnya Desa. yang menekankan keharmonisan: keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan (unsur Parhyangan). dan mengendalikan surat-surat masuk dan keluar. antara lain : a) Mengkoordinir dan menyerahkan beras kepada keluarga miskin. antara lain membuat pencatatan uang masuk dan uang keluar.. pendidikan. Mengkoordinasikan pengertian surat-surat hasil persidangan dan rapat-rapat atau naskah-naskah lainnya. 1) dana bantuan dari pemerintah melalui dana proyek serta dana operasional desa yang didapat dari pemerintah kabupaten atau dari provinsi. 3) pendapat asli desa yang diperoleh dari masyarakat melalui dana administrasi jual beli tanah dan sumber dana lainnya dari donatur yang tidak mengikat. serta melaksanakan tata kearsipan. Melaksanakan dan mengusahakan ketertiban/kebersihan kantor dan bangunan lain milik Desa Wongaya Gede. b) Pembuatan surat keterangan untuk keluarga miskin. upaya untuk mendekatkan pengambil keputusan dengan pengguna jasa memang diperlukan perubahan kelembagaan dan pembangunan kelembagaan. antara manusia dengan customer. menjadi flat. hal ini dimaksudkan untuk mendekatkan jarak antara pengambil keputusan dengan pelanggan yang oleh Stewart disebut sebagai close to the Pelayanan publik di bidang pemerintahan yang diberikan oleh Desa Pakraman adalah membantu program pemerintah (kesehatan. sangat ditentukan oleh sumber dana yang dikelola oleh desa. semakin besar pendapatan asli desa akan semakin besar pula tingkat pembangunan masyarakat. Sumber dana pendapatan asli desa ada 3 jenis. dan kegiatan kerumahtanggaan pada umumnya. dan pendistribusian alat-alat tulis kantor. dan pembangunan) melalui bahasa agama.. melaksanakan persiapan penyelenggaraan rapat. Oleh sebab itulah maka perubahan struktur dari vertikal menjadi horisontal atau dari tall. Melaksanakan penyediaan.. Penyelenggaraan pengelolaan buku administrasi umum. serta memelihara dan memperbaiki peralatan kantor. Mencatat inventarisasi kekayaan. c) Pelaporan dan pendataan keluarga miskin yang diambil. Kepala Urusan Keuangan memiliki tugas-tugas. 2) hasil dari tanah kas desa yang dikelola oleh masyarakat. 192 . pemangku. dan keluarga kelihan Banjar dinas.. Secara kelembagaan. pajak. dimana masyarakat tidak dapat menyediakan kebutuhan pelayanan secara sendiri-sendiri. Hal ini didasari pada filsafat Tri Hita Karana. adalah: melaksanakan. menyelenggarakan pengelolaan administrasi kepegawaian. FISIP UI. menerima. 18 Pebruari 191 Analisis pelayanan . 2006. dan lembaga lainnya dalam menyediakan jasa layanan yang berkualitas kepada masyarakat. Selanjutnya didirikan pula koperasi unit desa yang melayani kebutuhan anggota masyarakat. Melalui cara pendekatan bahasa Agama program pemerintah lebih efektif dijalankan89. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa pelayanan publik merupakan suatu kegiatan yang diselenggarakan oleh institusi baik pemerintah maupun swasta.

dan kurangnya infrastruktur teknologi dan infrastruktur fisik dalam menunjang pelaksanaan tugas-tugas pelayanan publik. 2007. Para aparat ini bertugas melayani dalam bidang perkawinan. Merespon prinsip-prinsip pelayanan publik orientasi budaya tersebut mesti menjadi bahan pertimbangan.. Demikian pula halnya dalam memberikan pelayanan seyogianya demi memberi kepuasan kepada pelanggan di satu sisi dan bagi eksistensi organisasi di sisi lain. Pada saat perkawinan menurut hukum agama Hindu dilaksanakan oleh Desa Pakraman. FISIP UI. yang diikuti oleh sikap dan perilaku yang santun. 194 . budaya yang bersifat fatalis dan budaya yang bersifat egaliter. Kurangnya sumber daya manusia yang terlatih dan terampil dalam unit-unit lokal. Desentralisasi merupakan suatu mendekatkan pembuat keputusan publik dengan pengguna jasa publik. keramah tamahan dari aparat pelayanan publik baik dalam cara menyampaikan sesuatu yang berkaitan dengan proses pelayanan maupun dalam hal ketepatan waktu pelayanan. adanya sikap keengganan untuk melakukan delegasi wewenang. Sikap tersebut dikembangkan untuk tercapainya kepuasan bagi berbagai pihak baik yang dilayani maupun yang memberikan pelayanan demi eksistensi organisasi seperti hanya eksistensi Desa Pakraman dan Desa Dinas sebagai dualisme kelembagaan di masyarakat Bali. Jadi pelayanan di bidang pemerintahan adalah melayani masyarakat menyelesaikan administrasi pemerintah seperti Akte Perkawinan.. pelayanan publik yang modelnya kolektif cocok untuk budaya masyarakat fatalis (yang mendukung budaya hirarkhis dan anti budaya individu). Dalam kondisi demikian anggota organisasi dalam menjalankan tugasnya senantiasa berupaya untuk menjaga kelangsungan dan perkembangan organisasi. Pelayanan publik yang modelnya birokratis cocok untuk budaya masyarakat hirarkis. Pelayanan publik ditentukan oleh budaya organisasi yang dianut oleh birokrasi sebagai penyelenggara layanan publik. Penyebab utama kegagalan dalam melaksanakan pelayanan publik melalui tugas desentralisasi adalah lebih berorientasi budaya politik yang bernuansa sempit. Kegagalan pelayanan publik disebabkan pula karena birokrasi tidak menyadari adanya perubahan dan pergeseran yang terjadi dalam budaya masyarakatnya. kurangnya sumber-sumber dana untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab.. Melalui budaya organisasi. Oleh karena itu budaya organisasi merupakan nilai yang dianut dan mengikat anggota organisasi agar anggota organisasi berperilaku dan bertindak sesuai tujuan organisasi. sedangkan pelayanan publik yang modelnya memerlukan pelayanan cepat dan terbuka cocok untuk budaya masyarakat egaliter (yang anti budaya hirarkhis. kependudukan (pendataan anggota masyarakat yang ada di lingkungan Desa Pakraman).manusia (unsur Pawongan). Pelayanan Desa Dinas dan Desa Pakraman Bidang Perekonomian 193 Analisis pelayanan . Desa Pakraman memiliki aparat yang menjalankan roda pemerintahan sesuai dengan bidang pelayanannya di Desa Pakraman. dan antara manusia dengan alam (unsur Palemahan). anggota menjadi menyatu dan merasa memiliki organisasi yang bersangkutan. Berkewajiban melaporkan kepada Desa Dinas. Sedang Desa Dinas meneruskan proses tersebut ke kantor Catatan Sipil sampai mendapatkan akte perkawinan. I Wayan Suarjaya. 9. Dalam prakteknya pemberian pelayanan cenderung mengalami kegagalan dalam memuaskan pelanggannya.. budaya yang bersifat individual. Budaya organisasi (birokrasi) dipahami sebagai suatu konsensus bersama tentang nilai-nilai bersama dalam kehidupan organisasi dan mengikat semua orang dalam organisasi yang bersangkutan. Suatu pergeseran budaya yang bersifat hirarkis. dan menunjang program pemerintah melalui bahasa agama. pelayanan publik yang modelnya privatisasi cocok untuk budaya masyarakat individual (yang anti hirarkhis). anti budaya individu dan anti budaya fatalis). sehingga pada gilirannya berbagai tuntutan pengguna jasa publik akan lebih cepat dapat direspons.

Sebenarnya satu ciri yang dapat dilihat pada model masyarakat yang menuju mengalami proses modernisasi ialah tumpang tindih (Overlapping). Op. membantu dalam rangka perekonomian keluarga pelayanan publik yang diberikan kepada masyarakat dalam bentuk pendirian lembaga perkreditan desa (LPD). ekonomi. Desa Pakraman berfungsi mengatur tata pemerintahan Desa. dan sosial. Desa Pakraman dalam mengatur tata pemerintahan dan rumah tangganya tersebut. Pemberlakuan otonomi daerah ternyata semakin memberikan peranan yang lebih besar terhadap organisasi tradisional termasuk Desa Pakraman. hal 16 195 Analisis pelayanan .” pada masyarakat yang sedang berada dalam proses modernisasi dimana yang lama dan baru berada dalam satu campuran yang hetrogin. Masyarakat dapat menyimpan dan meminjam di LPD. cit. dan dalam undang-undang ini tidak secara eksplisit menyebut otonomi desa. di desa Wongaya Gede Kabupaten Tabanan di jumpai adanya dua jenis kelembagaan yaitu Desa Pakraman dan Desa Dinas. agama.91. Masyarakat memiliki kewajiban untuk melakukan penyetoran modal yang telah disepakati bersama. Desa Dinas cenderung dominan.. Kelangsungan LPD tersebut dimungkinkan oleh adanya pembinaan dan Pengawasan dari Bank Pembangunan Daerah Bali (BPD).. I Wayan Suarjaya.. tata kemasyarakatan dan sosial budaya. FISIP UI. Dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 dipandang tidak mempunyai semangat menghormarti eksistensi desa. dan administrasi yang bersifat modern di sisi lain.. 196 .Desa Pakraman. 2007. 10. anggaran pendapatan dan belanjanya bersumber dari anggota desa ( kerama ). Di Bali terdapat dualisme struktural yang lama dan baru berada dalam satu wilayah. Semua anggota Desa Pakraman wajib menjadi anggota LPD. Hal ini ditandai sebelum penjajahan Belanda telah hidup desa adat yang disebut Desa Pakraman. dalam penyelenggaraan pemerintahan lokal di akar rumput. Kewajiban yang terkait dengan sistem kredit ini berupa pembayaran-pembayaran cicilan modal dan bunga. Apa yang disinyalir oleh Riggs mengenai dualisme kelembagaan 91 Ibid. Orde Baru berkuasa berupaya menyeragamkan klasifikasi tipe desa yang telah ada sebelumnya. sebaliknya peranan Desa Pakraman tersubordinasi pada Desa Dinas. FW Riggs berpendapat bahwa: 90 . Dualisme atau perpaduan tersebut terlihat pada model administrasi yang diterapkan bersifat heterogen yaitu adanya administrasi yang bersifat konvensional di satu sisi. untuk anggota dan oleh anggota. serta pembangunan.. LPD ini menjalankan pelayanan seperti koperasi simpan pinjam. Menurut Riggs ciri dualisme kelembagaan (baca struktural) di masyarakat berkembang adalah perpaduan tradisional dan modern baik di pedesaan maupun di perkotaan90. Dalam konteks pelayanan publik di Desa Wongaya Gede menurut perspektif Riggs sejatinya terdapat dualisme kelembagaan (struktural) yaitu adanya Desa Pakraman dan Desa Dinas yang secara bersama-sama memberikan pelayanan publik. bersifat sentralistik.. melainkan hanya mengenal Otonomi Daerah. Administrasi ini menurut Riggs dipengaruhi oleh sistem politik. dan mempunyai tugas pokok memberikan pelayanan publik di bidang tata keagamaan. LPD ini memiliki modal awal yang bersumber dari pemerintah Propinsi Bali dan tabungan wajib anggota masyarakat. Paparan ini hendak menegaskan bahwa dalam menjalankan fungsi pemerintahan pelayanan publik. Kelembagaan Desa Pakraman dan Desa Dinas Mengacu pada uraian-uraian mengenai pola pelayanan Desa Pakraman dan pola pelayanan Desa Dinas selanjutnya dapat dinyatakan adanya dualisme kelembagaan atau tepatnya dualisme struktural di masyarakat dalam pelayanan publik. Dengan cara demikian maka eksistensi LPD tetap bertahan hingga kini. hal 14 Fred W Riggs.

Saat ini berkembang sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman meliputi sembilan bidang sehingga ikut masuk dalam pemberian pelayanan sesuai dengan kebutuhan masyarakat seperti: bidang pembangunan. 32 tahun 2004. beragama Hindu saja. adanya tumpang tindih (Overlapping) di dalam pemberian pelayanan kepada masyarakat oleh Desa Pakraman dan Desa Dinas. Pelayanan Desa Pakraman tentang agama. apalagi keberadaan masyarakat saat ini sudah hiterogen tidak Desa Pakraman hanya melayani yang homogen lagi.. Desa Dinas pelayanan di bidang agama khusus membina kerukunan antar umat beragama. dan antar umat beragama dengan pemerintah. kemungkinan untuk manggabungkan tugas pokok dan fungsi Desa Pakraman dan Desa Dinas amat sulit karena sesungguhnya bidang tugasnya berbeda. FISIP UI. Adanya dua struktural dalam pelayanan publik. Akibat lanjutannya adalah ada kemungkinan akan terjadi saling sinergi pelayanan karena jenis pelayanan dan masyarakat yang dilayani adalah sama92. Dengan demikian mengingat dua desa ini tidak mungkin digabung/disatukan. intern antar umat. Tetapi kalau dikaji secara mendalam tentang bidang tugas secara menditail sesungguhnya. Keempat. 198 . Sinergi dapat dilakukan dengan saling bantu-membantu dan saling melengkapi dalam percepatan peningkatan kesejahteraan masyarakat sebagai wujud pelaksanaan otonomi daerah dan Demokrasi Pancasila. konsekuensinya adalah struktur tetap berbeda. terdapat dua organisasi yang memberikan pelayanan publik. walaupun menangani bidang yang sama tetapi unit pelayanannya yang berbeda. yang telah dijelaskan pada uraian sebelumnya. 2007. menunjukkan bahwa pelayanan publik oleh dua institusi desa tersebut telah dapat dilaksanakan. maka muncul adanya overlapping dan tumpang tindih. terdapat dua pola institusi yang memberikan pelayanan publik di masyarakat. Kelima. maka melahirkan beberapa implikasi berikut.. mempunyai tugas menyelenggarakan pelayanan mulai dari segi perencanaan. walaupun Riggs tidak mengedepankan mengenai konsep Desa sebagai pelayan publik. yang telah dikaji menunjukkan hasil penelitiannya adalah sebagai berikut: Pertama. Kedua. Dirangkum berdasarkan informasi yang diperoleh dari hasil Wawancara dengan aparat Desa Dinas di Desa Wongaya Gede Gede pada tanggal 14 Juni 2006. Kedua. akibat dari jenis pelayanan oleh kedua institusi ini bidangnya sama. 197 Analisis pelayanan . keamanan. Agama. Saat ini Desa Pakraman diatur berdasarkan Perda No. tetapi saat ini berkembang sesuai dengan kebutuhan pemerintah terutama ikut memberikan pembinaan dan pelayanan di bidang Adat. Data tentang pelayanan publik oleh Desa Pakraman dan Desa Dinas sesuai dengan teori pelayanan. sedangkan Desa Dinas tunduk pada Undang-undang No. dan perekonomian. Desa Dinas tidak masuk memberikan pelayanan ritual tentang keagamaan. Berdasarkan hasil penelitian tentang Analisis Pelayanan Publik Desa Pakraman dan Desa Dinas. dan Budaya. pembangunan. I Wayan Suarjaya.. Tumpang tindih tersebut ditandai adanya bidang yang sama dalam pemberian pelayanan publik kepada masyarakat oleh Desa Pakraman dan Desa Dinas. pelayanan publik oleh Desa Dinas yang pada mula terbentuknya oleh pemerintah untuk melayani di bidang pemerintahan. sosial budaya dan agama dapat disinergikan. khusus mempunyai tugas pokok dan fungsi pelayanan di bidang Agama Hindu. Diperlukan adanya payung hukum yang mengatur Desa Pakraman dan Desa Dinas. Maka perlu adanya penegasan kembali tentang tugas pokok dan fungsi Desa Pakraman dan Desa Dinas. pelayanan publik oleh Desa Pakraman yang pada mula terbentuknya. 31 tahun 2003.berlaku di Bali. Adat dan Budaya. Akibat lanjutannya adalah adanya dua pola kepemimpinan di akar rumput (masyarakat) yang sama-sama memberikan pelayanan kepada masyarakat. pelaksanaan upacara keagamaan. unsur pelayanan dalam bidang yang sama seperti keamanan. C. Sinergi Pelayanan Publik Desa Pakraman dan Desa Dinas Beredasarkan hasil penelitian di Desa Wongaya Gede.. perekonomian. Pertama. 92 Ketiga.

dan kerusuhan. memiliki konsekuensi adanya dua pola kepemimpinan di akar rumput (masyarakat).. Prajuru desa dalam penyelenggaraan pemerintahaan dibantu oleh jagabaya desa yang disebut pecalang yang tugas pokok dan fungsinya untuk menjaga keamanan desa. bernakna lima jenis bencana. dan (5) bidang agama. 2007. FISIP UI. oleh karena itu pecalang dalam melaksanakan tugasnya selalu awas terhadap segala mara bahaya yang mengancam desanya.. kebersihan lingkungan. Implikasi dualisme struktural dalam pelayanan publik. pemeliharaan dan perbaikan sarana dan prasarana lingkungan desa. angin ribut. dan perasaan. sebaliknya dapat bersinergi di dalam pemberian pelayanan kepada masyarakat. bisa saling melempar tanggung jawab terutama pelayanan di bidang keagamaan. adat dan budaya. I Wayan Suarjaya. banjir. Adanya bidang pelayanan yang terabaikan yaitu tidak adanya institusi yang menangani masalah pelestarian hutan lindung. Hal ini dapat digambarkan sinergi pelayanan publik sebagai berikut Gambar 6. Lembaga pecalang merupakan salah satu komponen yang sangat penting.. Kegiatan pecalang berkaitan erat dengan keamanan Desa Pakraman. Sinergi Bidang Pelayanan Publik Desa Dinas dan Desa Pakram 1 5 2 4 3 Keterangan :1. yang dapat memberikan hasil yang lebih optimal pada masyarakat. pendengaran. Sinergi Bidang Keamanan Desa Pakraman berdasarkan hak asal-usulnya mempunyai otonomi asli sehingga berhak mengatur rumah tangganya sendiri. gempa. 1. 5.dalam memberikan pelayanan publik bisa overlapping. 200 . Oleh sebab itu beberapa bidang pelayanan publik Desa Pakraman dan Desa Dinas dapat disinergikan. 2. Dari segi kepemilikan tanah dimiliki oleh Desa Pakraman. 93 199 Analisis pelayanan . banjir.. Pelayanan yang tumpang tindih tersebut cenderung kurang efisien dari segi biaya. 3. (4) bidang sosial. (3) bidang pemerintah. Angina topan. Keamanan.Desa Dinas dan Desa Pakraman wilayah dan penduduknya sama. Sinergi yang dimaksudkan adalah berupa sinkronisasi energi sebagai pola perpaduan pelayanan publik. Pecalang sebagai jagabaya desa mempunyai fungsi menjaga keamanan desa terutama menjaga keamanan dan kelancaran prosesi upacara keagamaan. Sosial. Adapun bidang-bidang pelayanan publik yang dapat disinergikan meliputi: (1) bidang keamanan. Istilah pecalang berasal dari kata celang yang berarti tajam indrianya. maka pecalang mempunyai tugas terdepan untuk menyelamatkan warga masyarakat dan seluruh harta benda. Kedua lembaga tersebut. penciuman. Ekonomi. kebakaran tanah longsor. sementara dari segi wilayah merupakan wilayah kerja Desa Dinas. tenaga dan waktu. Sebab obyek pelayanan Desa Pakraman dan Desa Dinas adalah anggota masyarakat dan wilayah yang sama. kerusuhan. Pemerintahan. karena jenis pelayanan dan obyek yang dilayani adalah sama. sebab jika terjadi pancabaya93 seperti kebakaran. 4. terutama indria pengelihatan. dan selalu tampak dalam kegiatan yang Busana yang dikenakan pecalang Pancabaya istilah dalam bahasa Bali. (2) bidang ekonomi. Dalam penyelenggaraan pemerintahan Desa Pakraman berhak membuat aturan sendiri yang disebut awig-awig. Adat budaya dan agama. Bidang pelayanan yang sama berakibat.

Keberhasilan Pecalang dan petugas keamanan Hansip ditandai oleh terwujudnya ketertiban dan ketenteraman masyarakat. Hal ini bersinergi dengan tugas-tugas yang diemban oleh aparat Desa Dinas atau aparat keamanan negara. Pemerintah dalam usaha untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat telah melaksanakan berbagai program kerja. Dengan semangat kerja sama itu. Usaha tersebut melibatkan aparat pemerintahan Desa Dinas. Semboyan salunglung sebayan taka. kalah bersaing dengan perusahan swasta. yang dibentuk oleh Pemerintah. Pecalang tidak hanya bertugas terbatas pada kegiatan adat dan agama saja. diwujudkan dalam melaksanakan kegiatan sosial. dan perikanan. 2.. 202 . yang berkaitan dengan suksesnya program kependudukan melalui Keluarga Berencana. terutama sosialisasi Akte Perkawinan. Kerjasama lembaga pecalang dengan lembaga keamanan Pertahanan Sipil dalam wujud koordinasi dimaksudkan agar pelaksanaan tugas keamanan dilakukan secara terpadu. dilaksanakan dengan sistem Banjar. I Wayan Suarjaya. Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi sinergi antara aparat Desa Dinas dengan prajuru Desa Pakraman dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat. juga melibatkan Desa Pakraman. seperti pada saat panen hasil pertanian. (4) wastra kancut atau kain yang berujung. pengentasan buta aksara dan angka. yang berfungsi sebagai bank desa. Akta Kelahiran dan KTP. seluruh warga masyarakat dapat mengerjakan pekerjaan besar yang berguna bagi seluruh warga masyarakat. Hal ini terbukti suksesnya program KB. Bagi warga desa yang mempunyai penghasilan lebih. sehingga terjadi sinergi antara Pecalang dengan Hansip dalam melaksanakan tugas keamanan. Desa Dinas dalam meningkatkan kesejahtraan masyarakat. (2) baju sejenis rompi. Pelaksanaan program tersebut Desa Dinas bekerja sama dengan prajuru Desa Pakraman dalam menyalurkan kegiatan proyek yang datang dari pemerintah pusat. Desa Dinas juga mempunyai tugas untuk menjaga keamanan desa. 4. perkebunan. telah dibentuk Koperasi Unit Desa. Dalam mewujudkan tertib administrasi. Tugas pecalang dalam perkembangan masyarakat yang semakin kompleks. Jiwa gotong-royong menjadi inspirasi bagi warga masyarakat dalam melaksanakan berbagai kegiatan sosial. dan (6) mengenakan bunga waringin bang (pucuk merah) pada daun telinga atau pada lipatan udeng. LPD dapat melayani kepentingan perekonomian masyarakat desa. Hasil pertanian ditampung oleh Badan Usaha Unit Desa. 201 Analisis pelayanan . 3.mengandung makna simbolik keagamaan dan tradisi masyarakat. 2007. Dalam tugasnya untuk menjaga keamanan desa. sebagai lembaga simpan pinjam juga. pemerintahan Desa Dinas dan Desa Pakraman bekerja sama memberikan motivasi dan kesadaran masyarakat. Adat. tetapi juga meliputi menjaga ketertiban masyarakat secara luas. mereka dapat menyimpan uangnya di LPD. Pecalang sebagai jagabaya desa mempunyai tugas pokok menjaga keamanan yang berkaiatan dengan pelaksanaan kegiatan adat dan agama. KUD maupun BUUD dalam perjalanannya mengalami pasang surut. yaitu: (1) destar atau udeng atau ikat kepala. Berkaitan dengan kegiatan dalam bidang keamanan. (5) mengenakan keris (kadutan). yang meliputi bidang pertanian.. Sinergi Bidang Ekonomi Dalam bidang ekonomi Desa Pakraman mempunyai wadah yang disebut Lembaga Perkreditan Desa (LPD). Sinergi Bidang Pemerintahan Pelaksanaan program pemerintah. agar tertib administrasi. Budaya menunjukkan hasil yang baik. Secara formal Desa Dinas mempunyai Hansip atau Pertahanan Sipil yang dikoordinir oleh Kepala Desa. Sinergi Bidang Sosial Kegiatan masyarakat desa dalam bidang sosial tercermin pada tata kehidupan yang bersifat kolektif.. FISIP UI. Hansip berkoordinasi dengan Pecalang. (3) kampuh poleng (kain warna loreng).. Penelitian menunjukan bahwa program yang dilaksanakan melalui jalur bahasa Agama.

disambut baik oleh prajuru Desa Pakraman. Oleh karena itu. dan mempunyai hak dan kewajiban yang sama pula terhadap desanya. kedalam budaya masyarakat setempat. dan budaya. dan budaya dimaksudkan untuk memelihara kelestarian Adat. semangat. Mulai saat itu daerah pedesaan. Agama Hindu yang dianut oleh masyarakat di lokasi penelitian. sesungguhnya dipengaruhi oleh budaya yang dianut oleh organisasi yang bersangkutan. mendapatkan tantangan untuk menghadapi perubahan sosial. 2007. organisasi berperan mengadaptasi dinamika faktor eksternal tersebut demi kelangsungannya. FISIP UI. artifak. Ciri-ciri masyarakat desa yang besifat kolektif itu. I Wayan Suarjaya. Sinergi Desa Dinas dan Desa Pakraman dalam bidang agama. dan budaya telah menyatu dalam kehidupan setiap warga masyarakat. Desa Dinas sebagai perpanjangan tangan dari pemerintah pusat.. Sinergi Bidang Agama. Organisasi publik seperti halnya Desa Pakraman dan Desa Dinas dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. menunjukkan adanya kehidupan bersama sesama warga desa yang bersifat kekeluargaan. pelaksanaan kegiatan tidak hanya dilaksanakan oleh prajuru Desa Pakraman saja. bertujuan untuk mewujudkan kehidupan yang sejahtera bagi seluruh warga masyarakat desa. dengan salah satu butir pengembangan itu adalah memacu pusat-pusat kegiatan 203 Analisis pelayanan . adat. Filternya melalui melestarikan adat. meskipun tidak cocok untuk ditiru oleh masyarakat setempat. Desa Dinas dan Desa Pakraman bersama – sama mengantisipasi penetrasi masuknya budaya luar. adat. Sementara itu. 5. seperti Hari Nyepi. Wadah untuk melestarikan adat budaya dan agama tertampung dalam Desa Pakraman. agama. dan dilaksanakan bersama antara pemerintah Desa Pakraman dan Desa Dinas. Hal itu menunjukkan bahwa dalam kegiatan dalam bidang agama. antara lain: 1). sanksi. sesungguhnya menyisakan berbagai persoalan. Dengan demikian sinergi Desa Pakraman dengan Desa Dinas dalam bidang sosial. Hal itu juga tercermin dalam memecahkan masalah yang dilakukan secara kekeluargaan. Wujud sinergi dalam bidang adat budaya dan agama. Demikian pula halnya anggota sebagai sub sistem organisasi masyarakat dalam menjalankan fungsinya sesungguhnya digerakkan oleh budaya organisasi yang bersangkutan dan di dorong oleh dinamika faktor eksternal. dan asumsi yang mengarahkan perilaku anggota dan organisasi. Masuknya budaya asing dapat mempengaruhi budaya masyarakat... dan budaya masyarakat. budaya dan agama. Masuknya proses modernisasi beserta proyek pembangunan masyarakat di pedesaan.Dalam kegiatan sosial yang datangnya dari pemerintah pusat. dan Budaya Dalam pelaksanaan upacara agama. nampak dalam program terpadu dalam rangka pembinaan dan pelestarian adat budaya dan agama. Budaya organisasi ini kemudian direpresentasikan dalam bentuk nilai. Budaya masyarakat yang dijiwai oleh Agama. 204 . Runtuhnya keunikan di desa yang berupa kearifan tradisi maupun pengetahuan lokal (local knowledge). maka dapat dijelaskan bahwa Desa Pakraman dan Desa Dinas sebagai suatu organisasi pada prinsipnya memiliki budaya yang khas terbentuk oleh konteks budaya masyarakatnya. adat. Proyek Pembangunan Berkelanjutan di Bali (Bali Sustainable Development Project). oleh karena demikian kedudukan desa pakraman dijaga eksistensinya di masyarakat. tetapi melibatkan seluruh aparat pemerintah Desa Dinas. aturan. yang meliputi beberapa hal. dalam bebagai program kerjanya berupaya untuk mengembangkan dan melestarikan nilai agama. ternyata menjadi sumber bagi terwujudnya aturanaturan adat yang menjadi pedoman berperilaku bagi warga masyarakat yang disebut awig-awig. sikap.. Pemerintah Daerah Bali telah mengembangkan Desa Pakraman sebagai wahana pembangunan. dilaksanakan secara bersinergi antara prajuru Desa Pakraman dengan aparat Desa Dinas. Adat. Berdasarkan atas penjelasan di atas. Awig-awig itulah mengikat warga masyarakat merasa bersatu dalam satu wilayah yang sama. Karya seni warga masyarakat baik sesara individu maupun secara kolektif menghasilkan karya budaya yang bernilai tinggi. prinsip. adat.

97 Otonomi desa mempunyai tujuan memberikan pengakuan terhadap lokalitas yang eksistensinya jauh lebih tua ketimbang NKRI.. cit. 2005) 97 96 Anom.22/1999 yang berorientasi pada pemberian otonomi yang lebih besar serta pembagian kewenangan dan keuangan kepada desa yang lebih berimbang (dalam Wignosubroto. FISIP UI. karena selama Orde Baru identitas politik dihancurkan dengan proyek penyeragaman Desa95. Desentralisasi juga . seperti kejelasan fisik dan sarana. pelayanan publik oleh Desa Dinas masih menjadi tanggung jawab pemerintah Kabupaten melalui DinasDinas. cit. Sampai sekarang pelayanan publik di desa selalu dimaknai dan dipraktikkan sekedar sebagai pelayanan service) untuk keperluan administratif (administrative mengontrol dan mendisiplinkan warga. Aktivitas kewadahan lainnya menuntut kesiapan perangkat internal dan eksternal Desa Pakraman. pembinaan pemerintah dan hubungan antar Desa Pakraman yang dalam kondisi tertentu dapat mendorong dan atau menghambat tujuan pembangunan. 2). Dalam konteks pelayanan publik. 3). Sebagaimana telah dinyatakan bahwa institusi pemerintah merupakan salah satu lembaga yang berperan dalam menyediakan pelayanan publik kepada masyarakat. Sekeha) terbukti sangat penting agar eksistensi lembaga-lembaga tradisional ini tetap utuh. Perangkat internal berupa piranti keras. membangkitkan Wignosubroto. Belum adanya pembagian kewenangan yang detail mengenai pelayanan publik antara kabupaten dan desa ternyata membuat kesulitan tersendiri dalam menentukan formula Alokasi Dana Desa (ADD) yang betul-betul berpihak kepada rakyat miskin (yang sangat butuh sentuhan pelayanan publik). Sementara. Soetandyo. 4). Banjar. yaitu ”Dalam pelaksanaan pembangunan peranan lembaga-lembaga adat (Desa Pakraman. Loc. Secara sektoral. maka upaya pembinaan kearah keterbukaan.. Pembangunan Bali yang berwawasan budaya dengan salah satu butir pengembangannya. Soetandyo et al. Desentralisasi membawa pemerintah lebih dekat dengan masyarakat. selektif dan adaptif perlu ditingkatkan fungsi ekspresif (regilius. I Wayan Suarjaya. berbagai indikator pelayanan publik dasar di desa seperti kesehatan. 2007. Seiring dengan era Desentralisasi saat ini. Sedangkan perangkat eksternal adalah campur tangan pihak luar seperti gencarnya inovasi pembangunan.yang dilaksanakan oleh kelompok-kelompok sekeha baik di Banjar. hal 491. bukan sebagai pelayanan privat servis (civil service) yang betul-betul menjadi hak warga. Kematangan dan pelarasan Desa Pakraman sebagai wahana pembangunan. fenomena yang muncul adalah bangkitnya identitas lokal di daerah. dan lain-lain belum menjadi indikator utama untuk mengukur keadilan dan responsivitas pemerintah daerah96. hal 506. dan IPTEK) perlu dipacu untuk tumbuh secara berimbang”94. Op. Lihat Sutoro Eko (2004) menyatakan Kepala Desa dan Badan Perwakilan Desa (BPD) masing-masing membentuk asosiasi untuk menyuarakan revisi UU No. masih perlu disiapkan. 206 . menunjukkan bahwa Desa tersebut memiliki otonomi asli. 205 Analisis pelayanan .. dikenal pula Desa Dinas yang dibentuk untuk memberikan pelayanan administrasi bidang kepemerintahan. maupun organisasi lainnya. estetis) dan fungsi orientatif-progresif (ekonomi. Di Bali melalui otonomi daerah terjadi pergeseran yang cukup berarti yang ditandai oleh perubahan nama Desa Adat dikembalikan sebutannya menjadi Desa Pakraman sesuai dengan Peraturan Daeran Nomer 3 Tahun 2001. solidaritas. dan piranti lunak seperti awig-awig yang mengatur dinamika Desa Pakraman. Desa yang tumbuh dan berkembang atas swadaya dan swakarsa oleh masyarakat. hal.. pemerintah kabupaten umumnya belum mempunyai standar pelayanan publik minimal dan belum melakukan distribusi kewenangan kepada desa untuk mengurus pelayanan publik desa. Op. 28 Wignosubroto.. Selain Desa Pakraman. 1991. pendidikan.. cit. Salah satu institusi pemerintah terbawah yang berhubungan langsung dengan pelayanan kepada masyarakat adalah Desa Dinas dan Desa Pakraman. Soetandyo et al. 94 95 tranportasi.

hemat waktu. mempertegas kembali tugas pokok dan fungsi Desa Dinas dan Desa Pakraman. 98 Dirangkum berdasarkan hasil wawancara dengan aparat Desa Pakraman dan Desa Dinas. penyelesaian sengketa adat. Perangkat Desa Dinas adalah termasuk anggota dari Desa Pakraman. membentuk forum bersama yang pengurusnya dapat diambil dari Desa Pakraman dan Desa Dinas. model kerja sama dan koordinasi yaitu bidang pelayanan yang sama seperti pemeliharaan hutan lindung. serta Tokoh-tokoh Desa Pakraman dan Desa Dinas di Desa Wongaya Gede Kabupaten Tabanan.. 208 .. tenaga dan biaya serta terjalin komunikasi dan kerja sama yang harmonis di antara aparat di kedua desa. dan bidang budaya. Pada dasarnya yang dilayani dan yang melayani adalah dari unsur masyarakat yang sama. adat budaya. bidang ekonomi. Model satu atap didasari pada pemikiran yang berkembang di masyarakat bahwa pola pelayanan publik satu atap merupakan sesuatu yang penting perlu diwujudkan sehingga adanya efisiensi dan efektifitas tenaga. pembinaan karang taruna. demikian pula sebaliknya Prajuru Desa Pakraman merupakan bagian dari anggota/penduduk Desa Dinas. Pemilihan tempat pelayanan yang didasarkan pada hasil musyawarah akan dapat dihindari konflik pelayanan. bidang politik. FISIP UI. Melalui forum bersama segala permasalahan pelayanan di desa Wongaya Gede dapat diupayakan bersama. Pola pelayanan publik yang disinergikan atas berbagai bidang tersebut. Pertama. sehingga tidak terjadi tumpang tindih dalam pemberian pelayanan publik. disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat di desa Wongaya Gede Kabupaten Tabanan.. Ketiga. mengadopsi model pola pelayanan publik satu atap dan berbagai varian lainnya. Pada model pelayanan ini bidang-bidang pelayanan yang sama yang mengharuskan kehadiran secara fisik aparat Desa Pakraman dan aparat Desa Dinas serta kehadiran anggota masyarakat seperti menetapkan program. dan pelayanan keamanan serta bidang lainnya dapat dilakukan koordinasi dan kerja sama antar aparat Desa Pakraman dan Desa Dinas. 207 Analisis pelayanan . Kedua. Penetapan jadwal bersama sekaligus pembagian tugas dan pengaturan lainnya dapat ditetapkan dalam musyawarah bersama. diikuti koordinasi dan konsultasi yang lebih mantap. dalam pelaksanaan program masing – masing. Mengacu pada berbagai uraian sebagaimana dikemukakan di atas. bidang sosial. I Wayan Suarjaya. memberdayakan kekuatan rakyat pada tingkat grassroot. memperbaiki kualitas layanan publik yang relevan dengan aspirasi masyarakat. pembinaan keluarga sukinah. dan berbagai urusan administrasi keamanan dapat dilakukan secara bersama .. 13 dan 14 Februari 2006. maka sinergi pelayanan publik Desa Pakraman dan Desa Dinas sebagai suatu pola pelayanan publik yang dapat dilaksanakan secara bersama-sama meliputi bidang keamanan. Tempat pelayanan dapat dimusyawarahkan bersama apakah di kantor Desa Dinas atau di balai Banjar Desa Pakraman. Keempat.potensi dan prakarsa lokal. menciptakan pemerataan dan keadilan. Pola pelayanan satu atap. 2007. waktu dan biaya baik dari pihak penyedia layanan (Desa Pakraman dan Desa Dinas) maupun dari masyarakat yang dilayani98.sama.

Pelayanan Publik Desa Pakraman dan Desa Dinas Desa Pakraman merupakan lembaga tradisional. pertama tentang pelayanan publik. bidang agama. Pada bagian akhir dari hasil penelitian ini. 210 . adat istiadat dan budaya. yang tumbuh dan berkembang dari masyarakat. administrasi pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.. serta hasil penelitian temuan lapangan daril analisis sebagaimana yang telah dituangkan pada bab IV. serta analisis pelayanan yang dapat disinergikan antara pelayanan oleh Desa Pakraman dan Desa Dinas tertuang dalam bab IV. Mengacu pada pokok maslah yang telah diuraikan sebelumnya. berkembang menjadi sembilan bidang pelayanan yakni.BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Bahasan mengenai Analisis Pelayanan Publik oleh Desa Pakraman dan Desa Dinas Wongaya Gede. sosial kemasyarakatan. dan yang kedua tentang sinergi pelayanan publik. pembangunan. Desa Dinas pada mulanya tugas pokok dan fungsi pelayanannya. mempunyai wilayah. 2007. Secara rinci jenis pelayanan publik Desa Pakraman 34 jenis pelayanan. demikian pula saran yang ditujukan kepada pemerintah termasuk Desa Pakraman dan Desa Dinas dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan publik. sedangkan adatistiadat dan budaya dijiwai oleh nilai-nilai Agama Hindu. surutnya sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Desa Pakraman pada saat terbentuknya memberikan pelayanan bidang agama. Sedangkan pelayanan publik yang dilaksanakan oleh desa Dinas 22 jenis pelayanan. serta mensinergikan pelayanan di akar rumput. Selanjutnya disajikan sejumlah saran yang relevan bagi ikhtiar akademik. Perkembangan selanjutnya tugas pokok dan fungsi Desa Pakraman tumbuh dan berkembang sesuai dengan suasana politik. serta antar umat manusia dengan alam lingkungannya. penduduk kewenangan untuk mengatur rumah tangga sendiri serta ditopang oleh dana swadaya masyarakat. Peraturan Pemerintah (PP) dan Peraturan Daerah (Perda). Kedua desa ini tumbuh dan berkembang seirama dengan pasang Analisis pelayanan . hanya yang berkaitan dengan bidang pemerintahan. Desa Pakraman dalam memberikan pelayanan publik.. peradilan adat. keamanan. maka dalam kesimpulan ini akan memuat dua pokok kesimpulan. pemerintahan dan perekonomian. Tiga unsur keharmonisan hubungan ini disebut dengan Tri Hita Karana.. hubungan sesama umat manusia. kesra. I Wayan Suarjaya. Tugas pokok dan fungsi Desa Dinas diatur berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan oleh pemerintah melalui undangundang. maka semua unsur pelayanan pemerintah juga dilayani oleh Desa Dinas.. kepada generasi penerusnya. Tiga unsur ini saling melengkapi dan memberi makna. telah dilakukan secara sistematis. yang diwariskan oleh para leluhur mereka. Kemudian berlanjut secara turun temurun. Analisis pelayanan publik oleh kedua desa tersebut terutama diskripsi pelayanan publik. FISIP UI. Agama dilkemas melalui adat-istiadat dan budaya. Kesimpulan 1. Sedangkan Desa Dinas merupakan lembaga modern yang dibentuk oleh Pemerintah Kolonial. dengan menggunakan pisau analisi. serta tugas-tugas tertentu yang dberikan oleh pemerintah. Mengingat Desa Dinas adalah merupakan unsur pemerintah yang paling bawah. dicoba untuk ditarik sejumlah pokok pikiran yang dapat disimpulkan. desentralisasi dan pemerintahan lokal. Desa Pakraman berfungsi untuk menata dan mengatur kehidupan masyarakat Hindu dalam menjaga hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan. Pada zaman kemerdekaan masih dimanfaatkan dan berkembang sampai sekarang. Pokok masalah yang tertuang dalam bab I ditelaah secara intensif. dan teori pelananan publik. Desa Pakraman dan Desa Dinas Wongaya Gede sebagai berikut: A. serta dimanfaatkan oleh pemerintah untuk mensukseskan program pemerintah (pembangunan) melalui jalur bahasa agama.

(1) pelayanan publik yang dilaksanakan oleh Desa Pakraman menyangkut seluruh aspek kebutuhan masyarakat. I Wayan Suarjaya. FISIP UI. Adapun bidang-bidang pelayanan publik yang dapat disinergikan meliputi: (1) bidang keamanan. (3) bidang pemerintahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa. (4) bidang sosial. Desa Dinas lebih berperan dibandingkan Terutama pelayan surat menyurat. 2007. Desa Pakraman. 212 . Dalam bidang ekonomi Desa Pakraman mempunyai wadah yang disebut Lembaga Perkreditan Desa (LPD). yang berfungsi sebagai koperasi simpan pinjam. adat. aspek pelayanan publik Desa Pakraman dan Desa Dinas ditemukan 5 (lima) bidang yang dapat disinergikan karena jenis pelayanan yang sama dapat dilaksanakan secara terpadu. Jiwa gotong royong menjadi inspirasi bagi warga masyarakat dalam melaksanakan berbagai kegiatan sosial. Secara umum baik Desa Pakraman maupun Desa Dinas cukup kompeten dalam memberikan pelayanan publik. Demikian pula dalam bidang-bidang lain pelayanan publik oleh Desa Pakraman lebih berat. seperti surat keterangan dan KTP. Dalam mewujudkan tertib administrasi pemerintahan. Pakraman. masyarakat akan memilih hadir di kegiatan Desa Dinas.. diwujudkan dalam melaksanakan kegiatan sosial. Kedua institusi ini yang paling dekat dengan masyarakat. Pelaksanaan penertiban penduduk dilakukan kerjasama antara aparat Desa Pakraman dan Desa Dinas sehingga seluruh warga desa yang berdomisili diwilayah Desa pakraman dan Desa Dinas dapat ditertibkan dengan baik.. (2) Desa Pakraman dalam melaksanakan program pelayanan publik. sampai dengan meninggal (Ngaben) ritual keagamaannya dilayani oleh Desa Pakraman. Sementara Desa Dinas melaksanakan desentralisasi atau mendapatkan kewenangan untuk mengatur rumah tangganya sendiri sesuai dengan UU No.Berdasarkan rincian aspek pelayanan publik tersebut dapat disimpulkan bahwa pelayanan publik yang diberikan oleh Desa Pakraman jauh lebih berat daripada pelayanan publik yang diberikan oleh Desa Dinas.32 Tahun 2004.. Desa Dinas mempunyai petugas Pertahanan Sipuil (Hansip) yang bertugas menjaga keamanan. Hal ini tercermin dalam kehidupan sehari hari. masyarakat lebih taat dan patuh kepada Desa Pakraman. sumber dananya murni dari swadaya masyarakat. tetapi sukses tertib administrasi kependudukan peran Desa Pakraman sangat kuat. dan (5) bidang agama. Semboyan salunglung sebayan taka. Kegiatan masyarakat desa dalam bidang sosial tercermin pada tata kehidupan yang bersifat kolektif. (2) bidang ekonomi. memiliki wilayah. budaya dan agama menjadi kewajiban pokok Desa Pakraman. serta pelayanan diberikan atas semangat Tri Hita Karana. Desa Pakraman sebagai organisasi yang tumbuh dari masyarakat memiliki legitimasi yang lebih besar daripada organisasi bentukan (Desa Dinas). (3) dalam pembangunan pekerjaan untuk renopasi Pura sangat banyak. Desa Dinas memiliki Koperasi Unit Desa (KUD). 211 Analisis pelayanan . Desa Pakraman dan desa Dinas memiliki reputasi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat yang didasarkan pada filsafat Tri Hita Karana 2. contoh. dan mengetahui apa yang dibutuhkan masyarakatnya. adat dan budaya Desa Pakraman dalam menjalankan fungsi keamanan dibantu oleh jagabaya desa yang disebut pecalang berfungsi untuk menjaga keamanan desa. mulai dari manusia baru lahir. Oleh karena itu aspek kesopanan di dalam melayani anggota masyarakat dipegang teguh oleh Desa Pakraman dan Desa Sinergi Pelayanan Publik Desa Pakraman dan Desa Dinas Hasil penelitian menunjukan bahwa.(4) pelestarian. Pelayanan yang melanggar kesopanan akan mendatangkan sangsi sosial.. kalau ada kegiatan dalam waktu yang sama dilaksanakan oleh kedua desa tersebut. sumber keuangan yang berasal dari pendapatan asli desa dan dana APBD Kegiatan pembangunan dan pelayanan publik ditunjang oleh dana yang memadai dari pemerintah.

tugas pokok dan fungsinya juga berbeda.Dalam pelaksanaan upacara agama.. seperti yang telah diuraikan tadi. Kedua. seperti hari Nyepi. Model pelayanan dapat dimusyawarakan bersama apakah di balai banjar Desa Pakraman atau di kantor Desa Dinas. dilaksanakan secara bersinergi antara prajuru Desa Pakraman dengan aparat Desa Dinas. hal ini mengakibatkan masyarakat dilayani oleh dua institusi yang berbeda entitasnya. para prajuru desa mestinya berpedoman pada ketentuan yang telah diatur dalam awig-awig. model kerja sama dan koordinasi yaitu bidang pelayanan yang terabaikan seperti pemeliharaan hutan lindung. pelaksanaan kegiatan tidak hanya dilaksanakan oleh prajuru Desa Pakraman saja. Dalam menyinergikan pelayanan publik Desa Pakraman dan Desa Dinas agar lebih ditingkatkan kualitas musyawarah mufakat di antara kedua instansi tersebut sehingga tidak terjadi overlapping dalam mengambil kebijakan dan pemberian pelayanan. dan kesejahtraan masyarakat Wongaya Gede. Peningkatan kualitas pelayanan publik Desa Pakraman dan Desa Dinas. B. urusan keamanan dapat dilakukan secara satu atap. 2. dan budaya. tetapi secara struktural kedua desa itu sulit untuk disatukan. Sebaliknya masyarakat seyogianya patuh dan taat terhadap awig-awig yang telah ditetapkan. serta keputusan rapat (perarem). dihemat waktu. FISIP UI. dibangun atas model pelayanan satu atap. adat. adat. model pelayanan satu atap. pembinaan karang taruna. Pada model pelayanan ini bidang-bidang pelayanan yang sama seperti menetapkan program. Saran-Saran 1. tetapi melibatkan seluruh aparat pemerintah Desa Dinas. Perlu payung hukum dari Pemerintah Propinsi Bali untuk mengatur Desa Pakraman dan Desa Dinas supaya tidak terjadi tumpang tindih pelayanan publik dari kedua institusi 213 Analisis pelayanan . karena adanya kesamaan masyarakat yang dilayani. Dalam rangka peningkatan kualitas pelayanan publik Desa Pakraman. Walaupun dalam perjalanan waktu kemudian terjadi pergeseran tugas pokok dan fungsi pelayanan masing-masing. sebagai ujung tombak pelayanan kepada masyarakat di akar rumput. 3. kenyaman dan lain-lain. dan forum bersama yang dijiwai oleh Tri Hita Karana. dan pelayanan keamanan serta bidang lainnya dapat dilakukan koordinasi dan kerja sama antar aparat Desa Pakraman dan Desa Dinas. Penetapan jadwal bersama sekaligus pembagian tugas dan pengaturan lainnya dapat ditetapkan dalam musyawarah bersama. adat budaya. Desa Pakraman lebih menitik beratkan pelayanan publik pada entitas agama.. ada beberapa model sinergi yang dapat ditempuh: Pertama.. karena pasang surut pemerintahan desa yang cenderung mengarah pada tumpang tindih pelayanan publik. Hal ini disebabkan oleh latar belakang historis pembentukannya berbeda. Walaupun sebagian besar prinsip-prinsip pelayanan publik secara esensial dapat disinergikan. tenaga dan biaya serta terjalin komunikasi dan kerja sama yang harmonis di antara aparat di kedua desa. Pemilihan tempat pelayanan yang didasarkan pada hasil musyawarah akan dapat dihindari konflik pelayanan. keamanan. 214 . I Wayan Suarjaya. budaya. Ketiga. untuk meningkatkan kebersamaan.Dalam rangka menyinergikan pelayana publik Desa Pakraman dan Desa Dinas berdasarkan bidang-bidang yang telah disebutkan di atas. pembinaan keluarga sukinah. penyelesaian sengketa adat. 2007. Sedangkan pembentukan Desa Dinas tugas pokok dan fungsinya memberikan pelayanan pada entitas pemerintahan.. kerjasama dan koordinasi. memanfaatkan semua potensi yang ada serta melibatkan berbagai unsur untuk bersama-sama memberdayakan masyarakat dalam memberikan pelayanan.. Sedangkan peningkatan kualitas pelayanan publik oleh Desa Dinas juga berpedoman pada peraturan perundang-undangan yang berlaku serta hasil musyawarah mufakat desa sehingga dalam memberikan pelayanan tercermin adanya rasa keadilan. Hal ini menunjukkan bahwa dalam kegiatan dalam bidang agama.

tersebut. Walaupun sudah ada Perda Nomer : 3 Tahun 2001 tentang Desa Pakraman tetapi belum mengatur hubungan kerja sama serta pembagian tugas antara Desa Pakraman dan Desa Dinas. 4. Secara teoritis penggabungan dua jenis desa tidak mungkin dapat dilaksanakan akibat dari latar belakang historis pembentukannya berbeda, tugas pokok dan fungsinyapun berbeda. Bagi Desa Pakraman dan Desa Dinas yang tergolong kategori I yaitu wilayah dan penduduknya sama atau berimpit dapat dipertimbangkan untuk pengelolaannya dibawah satu atap/amalgamasi, jika sesuai dengan tuntutan dan kehendak masyarakat. Sedangkan tipe desa II wilayah Desa Dinas meliputi beberapa Desa Pakraman, dan sebaliknya tipe III yang wilayah Desa Pakraman meliputi beberapa Desa Dinas, tetap dipertahankan keberadaannya seperti semula, dengan meningkatkan koordinasi dan kerja sama dalam bidang-bidang pelayanan tertentu, sehingga tidak terjadi tumpang tindih pelayanan.

215 Analisis pelayanan ..., I Wayan Suarjaya, FISIP UI., 2007.

DAFTAR PUSTAKA

Armstrong,

Michael and Baron, 1998, A. Performance Management: The New Realities, New York, Institute of Personnel and Development.

A. Buku – Buku Abdul Rosaki dkk., 2005, Prakarsa Desentralisasi dan Otonomi Desa, IRE Press, Jogyakarta. Abdurachman (ed), 1987,Beberapa Pemikiran Tentang Otonomi Daerah, Media Sarana Press, Jakarta,.

Arsana, IGKG, 1990, Tata Laksana di Lingkungan Pergaulan Keluarga dan Masyarakat Setempat Daerah Bali, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Jakarta. Arsana, IGKG, IB Mayun, 1994, Pembinaan Budaya dalam Keluarga Daerah Bali, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Jakarta. Artadi, I Ketut, 1980. Hukum Adat Bali, Setia Kawan, Denpasar. Astika, KS, 1986, Peranan Banjar pada Masyarakat Bali, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Jakarta. Astika, KS, DP Muka, 1988, Penelitian Banjar sebagai Organ Pembangunan Pedesaan di Bali, Universitas Udayana, Denpasar. Atmosoedirdjo Prajoedi, 1976, Dasar-Dasar Management dan Office Management, Cetakan ke VI, Jakarta. _____, 1976, Beberapa Pandangan Umum Tentang Pengambilan Keputusan, Cetakan ke IV, Jakarta.

Agung, AA dan IBP Purwita, 1984, Pemantapan Adat dalam Proyek Menunjang Usaha-Usaha Pembangunan, Pemantapan Lembaga Adat dan Pengembangan Museum Subak, Majelis Pembinaan Lembaga Adat Prop. DATI I Bali, Denpasar. Agung, AA. 1984, Materi Pembinaan Desa Adat, Majelis Pembina Lembaga Adat Prop.Dati I Bali. _____, 1987, Pokok-Pokok Materi Pembinaan Desa Adat di Bali, Majelis Pembina Lembaga Adat, Tk. Bali, Denpasar. Amrah Muslimin. 1960. Ikhtisar Perkembangan Otonomi Daerah 1903 – 1908. Penerbit Djambatan Jakarta. _____, 1989, Bali pada Abad XIX : Perjuangan Rakyat dan Raja Menentang Kolonialisme Belanda, Gajah Mada University Press, Yogyakarta. Ardika, I Wayan, 1996. Dinamika Kebudayaan Bali, Upada Sastra, Denpasar.

Badri J, 1953, Otonomi Daerah Masalah dan Beberapa Perbandingan, Tanpa Penerbit. Bagus, IGN, 1977, Adat Istiadat Daerah Pengembangan Media Kebudayaa. Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.

Bali, Proyek

Departemen

Baker,Theresa L, 1994, Doing Social Research, Second Edition, McGraw-Hill, Inc, New York.

Analisis pelayanan ..., I Wayan Suarjaya, FISIP UI., 2007.

217

Baker, Randall,1991, The Role of The State and Bureaucracy in Dveloping Countries Since World War II dalam Farazmand, Ali,. Handbook of Comaparative and Development Public Administration. Marcel Dekker:. USA. Bakkar, Anton,1990, Metodologi Penelitian Filsafat, Cetakan Keempat, Penerbit Kanisius, Yogjakarta. Barzelay, Michael., 1992, Breaking Through Bureaucracy A New Vision For Managing in Government, Berkeley, California, University of California Press Bayu Suryaningrat, 1976. Pemerintahan dan Administrasi Desa, Bandung: PT Mekar Djaya. _____, 1981, Decentralisasi dan Deconcentrasi Pemerintahan di Indonesia suatu analisa, jilid I, Dewa Kunci Press, Jakarta. Beni, 1999, Pedoman Penulisan Udayana, Denpasar.

Wibisono, Gajah Mada Pertama, Yogyakarta. Bryant,

University Lousie,

Press,

Cetakan

Pembangunan

Coralie,

dan

Rusyanto L Simatupang. LP3ES. Jakarta.

untuk

White,

Negara

G,. Manajemen Berkembang. Terj.

Budiardjo Miriam, (ed ), 1991, Aneka Pemikiran Tentang Kuasa dan Wibawa, Sinar Harapan, Jakarta. Carino, Ledivina, V, 1991, Regime Changes, the Bureaucracy, and the Political Development, dalam Farazmand, Ali,.

Handbook of Comaparative and Development Public Administration. Marcel Dekker. USA

Carter, April, 1985, Otoritas dan Demokrasi, (Terjemahan), Sahat Simamora, Rajawali, Jakarta, Cheema G Shabbir & Rondinelli Dennis A, 1983, Implementing

Awig-Awig. Universitas

Decentralization Programmes In Asia Local Capacity For Rural Development, Japan, United Nation Center For
Regional Development.

Bintoro,T, dan AR Mustopadijaya, 1984, Teori dan Strategi Pembangunan Nasional, Gunung Agung, Jakarta. ______, 1994 Pengantar Administrasi Pembangunan. LP3ES. Jakarta. Cet. XVI Bintan Regen Saragih, 1974, Himpunan UUD, UU, dan Beberapa Peraturan Perundangan lainnya tentang Pemerintahan Daerah di Indonesia, Fak Hukum Universitas Katolik Atmajaya, Jakarta. Branch Melville C. 1995, Perencanaan Kota Komprehensif Pengantar dan Penjelasan, (Terjemahan), Bambang Hari

Chelimsky

2nd Edition, 1989.

Eleanor, Program Evaluation Patterns and Directions, American Socicty For Public Administration,

Cochrane Glynn, Policies For Strengthening Local Government In Developing Countries, World Bank Staff Working Papers, No.582, Washington DC USA, 1983. Covarubias, M, 1971, Island of Bali, Oxford University Press, Kuala Lumpur. Danurejo, 1976, Otonomi di Iindonesia Ditinjau Dalam Rangka Kedaulatan, Laras, Jakarta.

218 Analisis pelayanan ..., I Wayan Suarjaya, FISIP UI., 2007.

219

Esman . Edisi ke enam. Catherine. UGM. David Silverman. Sage Publication Ltd. Flyn. Jilid 2. Management Series. Public Sector Management. Praktek Internasional dan Relevansinya Bagi Dunia Ketiga. The Spirite of Public Adminsitration. 1975.1970. 1980. Managing Public Organization.. Masri Maris. 1993. UI Press. Filsafat Adat Bali. North Carolina. Amanullah dkk. IMS dan IWK Santika. Manajemen Personalia. J. Jakarta. (Terjemahan). USA. London. LP3ES. Mohamad Masud.Administrasi Negara Baru. Text and Interaction. Devas Nick dkk. Pokok-pokok Pikiran tentang Penyelenggaraan Pemerintah Daerah. Strategi Administrasi dan Pemerataan Akses pada Pelayanan Publik Indonesia. Jakarta.. Administrasi Negara-negara Berkembang. (Terjemahan). 1998. (Terjemahan).. Harvard University Pess. Ghozei. Jakarta. Good Service is Good Busineess. FISIPOL. Keuangan Negara. Elliasen. David Mc Kevitt. Raka.1994. Ccok. Duke University Press.S. Sofian. Mohamad Masud. 2007. CAG and teh Study of Public Administration dalam Frontiers of Development Administration. A Review of Recent Experience. Effendi.. Edited by Riggs. Managing Core Publlic Service. New Public diterjemahkan oleh AAdministration. Ennew Judith. Norman.1994. Washington DC. 1993. AIM.. Interpreting Qualitative Data: Methods for Analysisn Talk. Sage Publications. Departemen Dalam Negeri.. London. 1985. Great Britain. 7 Sample Strategies for Success. UI Press. 1983. V. 1997. Competitive Edge. Decentralisation in Developing Countries. Janin Arief. Pokok-Pokok Organisasi Kemasyarakatan Adat di Bali. CV Rajawali Jakarta. Jakarta. Dennis A Rondinelli. Jakarta. Dherana.. New York. 1991. London. Pembiayaan Pemerintahan Daerah PraktekJakarta.1993. Manajemen Personalia. Jossey-Bass Publishers. Erlangga. Jhon. 1990. Fred W. Laporan Hasil Penelitian. Dharmayuda. Edisi ke enam. Street and Working Children: A Guide to Planning. 2003. (Terjemahan). Riggs 1985.. Upada Sastra. Getting Good Government Capacity Building in the Public Sector of Developing Countries. Save the Children.1988. Milton. Fred. Blackwell Publisher. Iskandarsyah. Denpasar. 1989. 1993. UI Press. Due 220 Analisis pelayanan . M.Davey. F. Jakarta.. John R Nellis dan Shabbir Cheema. (Terjemahan). I Wayan Suarjaya.KJ. _____. San Fransisco. Mavester Wheat Sheaf Frederickson. W. DeVery. FISIP UI. Keuangan Pemerintah Daerah di Indonesia.. Universitas Udayana. 221 .. Jilid 1Frederickson. Yogyakarta. Erlangga. 1997 dan Grindle. H George. Flippo Edwin B. Kjel and Ian Kodiman. Denpasar.

Decentralization in Indonesia: Legislative Aspects. Arsitektur Tradisional Bali dalam Pelestarian dan Pengembangan Kebudayaan Bali.. 2005. The Private Provision of Public Service in the Developing Countries. 1986. Toronto. Wolholf.Ter. Caiden and Bun Woong Kim. New York: Cornell University Gerald E. New York. Handbook of Comaparative and Development Public Administration. 1993. Gerald S. 1 Henderson. Gelebet. Upada Sastra. IV. A Dragon Progress Devlopment Administration in Korea. Jakarta Hahn Been Lee.. Denpasar. 68 Heady. 223 .1983. United Nation Centre for Regional Development. 1960. 1964. Kumarian Press. 1995. 1991. Ferrel. No.. Sage Publications Ltd.. Wayan.. Hans Antlov. Implementing Gregorius Sahdan. Indigenization Versus Internationalization. IN. Frontiers of Development Administration. Mc Millan.-------. K. Timun Mas Jakarta. Handayaningrat Suwarno.J. Duke University Press Gabriel Roth. 1991. and Y. Dalam Farazmand. Egon. terjemahan. STPMD APMD Yogyakarta bejkerjasama dengan The Ford Foundation. Competing Paradigms Qualitative Research. Keith. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. 2007.Ng. New York. London.. Jakarta. Nordic Institute of Asian Studies. Japan Haar. Geniya. Dennis A Rondinelli. Guba. Ali. Exemplary Centre. Marcel Dekker. Systematization of Knowledge on Public Administration.. APMD Press. Pradnya Paramita. 1983. 1982. 1987.S Lincoln. Kumarlan Press. Inc. Oxford University Press. FISIP UI. Asas-asas dan Susunan Hukum Adat. Inc. Harold F. Qualitative Desentralization Program in Asia Local Capacity for Rural Development. Connecticut. Administrative Periphery: Rural Leadership and the New Order in Java. USA 222 Analisis pelayanan . Monograph Series. B. 1994. I Wayan Suarjaya. Gunung Agung. Jakarta. Alderfer. Marcel Dekker. 1957. G. EDI series in Economic Development Published for the World Bank. Maryanov. G. Ed. 1960. _____. Shabbir Chema. Soebakti Poesponoto. 1991 Public Administration: Comparative Perpsective. Local Government in Devloping Countries. Decentralization and Development Policy Implementation in Developing Countries. Administrasi Pemerintah Dalam Pembangunan Nasional. Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara Republik Indonesia. 1991. New York... Model Interaksi Kebudayaan dan Industri Pariwisata pada Masyarakat Bali. London: Mc Graw-Hill Book Company.. In Hanbookof Research.1971. Transformasi Ekonomi Politik Desa.

Jakarta Hofstede. 1971. ______. State. 1994.2003 Laporan Penelitian Kajian Tata Hubungan Kewenangan antara Pemeirntah dan Pemerintah Daerah. 1983. R. I Wayan Suarjaya. Istanto F Sugeng. The Mac Organizations: New Theories.. James Danandjaya. Organization: Creating a Culture of Continuous Growth and Development Through State-of the Art Human 224 Analisis pelayanan . Greta Britain. New Paradigm For Government Issues For The Changing Public Service. Jennie Litvack. Hessel Nogi. 2002. and Richard Bird. London. Public Choice an Introduction. Kebudayaan Petani Desa Trunyan di Bali.. Manajemen Pembangungan. Public Management and Administration An Introduction. G. 2002. Dwen E. 1994. The Mac Millan Press. 2005. James J. Jakarta . Prinsip-Prinsip Perumusan Kebijaksanaan Negara. BP Panca Usaha. Berbagai fakta yang mempengaruhi besarnya otonomi Daerah Tk. S Tangkilisan. Suatu kajian Desentralisasi dan otonomi Daerah dari segi ilmu Administrasi Negara.. Spatial Dimension of Development Administration. dan Gerald S Marynov. FISIP UI. Penyelenggaraan otonomi Daerah. 1998. Jakarta. 2007. Pemerintahan dan Politik Lokal di Indonesia. Asia Pasific. World Bank Washinton D. Pasca sarjana UI. Janvry. Jakarta.. Gilley and Ann Maycunich. 1998. Pusat Studi Politik Indonesia. Mac Millan Press. Desentralisasi dan Otonomi Daerah Dalam Dua Perspektif.. Duke University Press. PT Gramedia Widyasarana Indonesia.1987. University Of Amsterdam. Jakarta. Jakarta. Islami M Irfan. 225 . Colonial Ethnography And Bureaucratic Reproduction. Nursyahid. Bhenyamin.. Ingraham. H. 1980.. Faktor Negatif Pusat Dalam Kebijakan Otonomi Daerah. HN. Jakarta. Alain de et al.1987..II. Market and Civil LTD. Karya Putra. Mc Lean. Amhad Junaid.Universitas Indonesia Press. 1995. _____. The Search for Thr Fillage Community in Southeast Asia. Kerjasama antara PKPADK-FISIP-UI dengan Kantor Menpan. Hoessein. 1971.C. Jakarta. New Practices and Their Implications for Rural Development. The Cultural Dimension in Management and Planning. 1994. Bumi Aksara. Great Britain. Jaweng. 1989. Heaphey. Seductive Mirage.Henk Schulte Nordholt. Beberapa Segi Hubungan Pemerintah Pusat dan Daerah Dalam Negara Kesatuan Indonesia. Jurnal Forum Inovasi Capacity Building & Good Governance. _____. The Making Of Traditional Bali. Manajemen Publik. Rethinking Decentralization in Developing Countries. 1994. 1996. Jeremy H Kemp. Patricia and Barbara Romzek. Yogyakarta. Hughes. Iain. Jerry W.. 1993.E. New York. Beyond the Learning Millan Press. CASA – Centre Of Asian Studies Amsterdam.

. New York. 1994. Republik Iindonesia Identifikasi Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Beberapa Penyelenggaraannya. Identifikasi beberapa faktor yang mempengaruhi Penyelenggaraannya. Rajawali. Jilid 1. 1995. Governance. Prospek Otonomi Daerah di Negara R. McGraw-Hill. Colonial Policy and Practice.1999. Sospol UGM Yogyakarta. Legge. Trisnoningtias. Manasse Malo dan S. FISIP UI. McGregor. Fak.. Pembangunan Masyarakat Tinjauan Aspek Sosiologi. Social Research Methods Qualitative and Quantitative Approaches. Asas-Asas Ilmu Pemerintahan.Teori Pembuatan Keputusan. 1987. 2001.I. Cetakan ke Sembilan. New York University Press. London: Sage Publication. Lawrence W. Neuman. 227 . Lembaga Administrasi Negara RI. Mariun. New York. Practices. 1979. Bandung. Cornell University Press. JS. C... I Wayan Suarjaya. Warren G Bennis and Caroline McGregor. Public Sector: Concepts. Perseus Books Cambridge. Yosef Riwu. the Hague. Liberty.F. Allyn and Bacon. Khaeruddin. International Union of Local Authorities. Josep Riwa Kaho. Changing Patterns of Local Government. 1963.Administrasi Pembangunan: Perkembangan Pemikiran dan Praktiknya di Indonesia. A Comparative Study of Burma and Netherlands Indie. 1995. Christoper. and Development. Cetakan pertama. Furnivall. 1970. Jakarta. Jakarta. Douglas. Pengantar Ke arah Sistem Pemerintahan di Indonesia. 1997. 2000.Resource Massachusetts. 2007. Pradaya Pramita. ST. 2006Strategi peningkatan Kualitas Pelayanan Publik . Jakarta. 1992. Sage Publication. 1993.. Leemans. Product Plus How Product Service Competitive Advantage..Sistem Administrasi Negara Republik Indonesia. New York Mc Graw Hill. LAN. Jakarta. Administration. Models and Approaches. Jakarta. California. Lovelock. 1991. 1956. PAU-IIS Universitas Indonesia Jakarta. LP3ES. Mathur PC and Sn Jha. 1975. CV Haji Mas Agung. JD. Kaho. Kartasasmita. Prospek Otonomi Daerah di Negara Press. Central Authority and Regional Autonomy in Indonesia: A study in Local Administration 1956-1960. A. Lane. Kitab Undang-Undang Otonomi Daerah. Ian Erick. Bina Cipta.. Mark Turner dan David Hulme. jakarta. 226 Analisis pelayanan . Fak Ekonomi UI. Kasim Azhar. New Delhi. Ithaca. 1988. London. Macmillan Press Ltd. Ginanjar. 1994. Decentralization and Local Politices. Ekonomi dan Perencanaan. Jakarta. Metode Penelitian Masyarakat. The Profesional Manager. Rajawali Kansil. _____. Koesoemahatmadja RDH. eds.. 1997.

Denpasar. Iris. Nasution S. 1998. Kritis ). C. _____.. London. Parimartha. I Gede. 1999. 1983. Polidano. Muslimin Amrah. Monografi Desa Wongaya Gede Tahun 2004. FISIP UI.. Osborne C. Bandung.. 1999. New _____. 1984. Banishing Bureucracy The Five Strategies For Reinventing Government. M. Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta. 1994. Norman K. Bina Aksara. Pita Maha. Penguin Book.. 2004. David and Peter Plastrik. 1995. Indigenous/Traditional Local Government. Metode Research (Penelitian Ilmiah). HN. 229 . Interntional Thomson Publishing.. Reinventing York. B. 2006. Guy. Continum.S. Elgar.. Jakarta Ratminto & Atik Septi Winarsih. 2002. Local Government in the Third World: The Experience of Tropical Africa.al. Decentralization. Institutional Theory in Political Science: ‘The New Institutionalism’. New Delhi. Metodologi Pemerintahan Indonesia. Cetakan Ketiga belas. New Public Management: Changing Ideas and Practices in Governance. Jakarta. 1988. and Hulme D. Memahami Desa Adat. PT. Edward. Ekologi Administrasi Negara. Governance and Public Services The Impact of Institutional Arrangements. Kepemimpinan Pemerintah di Indonesia. (reprinted). Yogjakarta. Hanbook of Qualitative Research.. Fakultas Sastra Universitas Udayana. 1983. Decentralization in Devloping Countries. Penerbit Sarasin. and Gaebler Ted. I Wayan Suarjaya. New York. Denzin dan Y. Pamudji S. Jakarta. Cet. 1990. 228 Analisis pelayanan . 2000. Jon. New York. Cet. Penerbit Remaja Rosdakarya. Desa Adat Dalam Perspektif Sejarahi. Pustaka Pelajar. Edward Elgar.Aspek-Aspek Hukum Otonomi Daerah. 1994. Bandung. Penyelenggaraan Otonomi Daerah. Pierre. Lexy J. Nursahid. 1997. Perkawinan Hindu. 1999. UK. Ketiga. Cheltenhamn. South Africa. I Gde. Phillip Mawhood. SAGE Publication. 1986. Minogue. et. _____.Meenakshisundaram.Bureaucracy in the Modern State: An Introduction to Comparative Public Administration. PT. Moleong.. 2007.. Addison Wesley Publishing. 2003. Alumni. A Review of The Literature. Denpasar Peters. Ndraha Taliziduhu. Jakarta. Edisi ke 2. Mohajir.. PT. Bumi Aksara. Nazeem Ismail. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bina Aksara.SS. Bina Aksara. Fakultas Sastra Universitas Udayana. Cetakan Kedua. Panca Usaha Government How The Enterpreneurial Spirit Is Transforming The Public Sector. Saheed Bayat and Ivan Mayer. Jhon Wiley and Sons Pudja. Desa Dinas dan Dedsa Pakraman ( Suatu tinjauan Historis. USA. 1992. 2000. 1982. Lincoln. Manajemen Pelayanan. David. Pertama. Beyond the Omar Azfar.

Risalah Sidang II. 2006. Pelayanan Publik di Era Reformasi. 230 Analisis pelayanan . Administrasi Negara-Negara Berkembang Teori Masyarakat Parismatis. IRE Press. 1992. Dwnpasar. Skelcher. Rusli. 1981. Universitas Udayana. Schein. Number 2..al. Gadjah Mada University Press. Rajawali. Perubahan Sosial di Yogyakarta. Sekrertariat Negara Republik Indonesia. Anwar1997. Institute for Local Development. 1989. Transformasi Ekonomi Politik Desa. California. Accountability. Internatinational Review of Rondinelli. Roth. New York: Oxford University Press. and Lesson about decentralization. 1954.S. Nellis John R. Siagian. Badan Penyelidik Usaka Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) 29 Mei 1945 – 19 Agustus 1945. Jakarta Sirtha. SAGE Publication. Bumi Aksara. PAU Studi Sosial. 1983. 1985. Sondang. W. Endang. 2005. Decentralization In Developing Countries A Review of Recent Experience. et. Soetandyo Wignosubroto et. 1988. Budiman. Jakarta. 231 . Evaluation A Systematic Approach. Washington DC.. USA. 1953. Jossey-Bass. 1981. Jakarta.H. Decentralization in Developing Countries: A Review of Recent Experience. Rondinelli Dennis A. Saleh Safrudin. Shah. Abdur dkk. Freeman Howard E. New Jersey.. World Bank Staff Working Papers. Soenarko. 2005. FISIP UI. Responsiveness: Worldbank Report.al. Jilid IV. USA. Desa Pakraman Hindu. London. Susunan Negara Kita. Rondinelli. Faluttas Hukum. 1995. 2007. UGM Yogyakarta. Adminstrative Science. Savas E. 1987. APMD Press Yogyakarta. Chatham Hause Publishers Inc. dalam Sutoro Eko dan Abdur Rozaki eds. Otonomi dan Daerah Otonom.. Wahington DC. The Private Provision od Public Services in Developing Countries.. I Nyoman.. Dennis A. Longman Slamet. Privatization The Key To Better Government. 1981. Pasang Surut Otonomi Daerah Sketsa Perjalanan 100 tahun. 1991.Riggs Fred. Teori Pengembangan Organisasi. Yayasan Tifa. Managing for Service Quality. Jakarta. Prakarsa Desentralisasi Desa dan Otonomi Desa. San Fransisco. The World Bank. Yogyakarta.. E. C. G. (Terjemahan). EDI Series in Economic Development Published for the World Bank. Cheema G Shabbir. 1992. Sekretariat Negara RI. Government Decentralization in Comparative Perspective: Theory and Practice in Developing Cuontries. Tim Penerjemah Yasogama. Selo Soemardjan. Jembatan. Jakarta. Suhartono dan Sutoro Eko. Rozaki. Cetakan ke ”Balance. 2007. 2005.. I Wayan Suarjaya. 1987. Konsep-konsep Dasar Partisipasi Sosial.. Dennis A. Rossi Peter Henry. Orgazational Culture and Leadership. Jakarta. Volume XLVII.

STPMD APMD Yogyakarta bejkerjasama dengan The Ford Foundation.. APMD Press. 1993. Cakrawala Otonomi Daerah. Udayana Denpasar Theodore M.. Surpha. Cetakan II. Pembinaan Desa Adat di Bali. Team Peneliti Fakultas Hukum. Sumitro Djojohadikusumo. PT. FISIP UI.Sistem Administrasi Pemerintahan di Daerah. 1990. Ph. Pengantar Administrasi Pembangunan. Ltd.. Manifesto Pembaharuan Desa. _____. I Wayan.. Syafrudin Ateng. Persembahan 40 Tahun STPMD APMD. 1985. Agama dan Pembangunan. Denpasar Sutoro Eko eds. Upacara Manusa Yadnya. APMD Press. Desember. Hukum Adat Bali tentang Perkawinan. 1991. Supriatna Tjahya. Jakarta. 1999. Semarang. 1991. London: Macmillan Press. Pustaka Bali Post. 1993. Pradnya Paramita. Suparmoko. Otonomi Birokrasi Partisipasi. 1994. Jakarta.Steer. Jakarta. Smith. dalam Sketsa Pasang Surut Otonom Daerah Dalam Perjalanan 100 Tahun TIFA – ILD. _____. Sudharta. 1998. Penerbit BPFE. LP3ES. 2007. “ Otonomi Desa Masa Lalu.al. Penerbit LP3ES. 1993. 2005. 2003. Masa Kini dan Masa Depan Otonomi Desa..Jakarta Sunendra. Denpasar Suparmi Pamuji. Dissertation Titib. Jakarta. Jakarta. Prespektif Otonomi Daerah. 1983. Sinar Grafika. Upada Sastra Denpasar Daerah yang Nyata dan Sujamto. Tjokorda Rai. PT Dahara Prize. Pelaksanaan Asas Sentralisasi dan asas Desentralisasi dan Otonomi Daerah di dalam Sistem NKRI. _____. Bintoro. 1974. 2005. Jakarta.Transformasi Ekonomi Politik Desa.Yogjakarta.Titik Berat Otonomi Pada Daerah Tingkat II dan Perkembangannya. The Changing Organisation and Management of Local Government. Change and Productivity. Efektivitas Organisasi. Simbol-Simbol Keagamaan Hindu. 1986. Erlangga. 2004. IIP. Hubungan Individu dan Masyarakat dalam Hukum Adat. Jakarta Steve Leach. Suryatni dan Resmini. Jakarta. Sumarjono dalam Gregorius Sahdan. _____. I Made. Richard M. 1992. PT Rineka Cipta.Otonomi Bertanggungjawab. 1980. PT. The Indonesian Bureucracy: Stability. Pengantar Administrasi 232 Analisis pelayanan . Supomo. Bumi Aksara. Mandar Maju. Bandung. 1983. et. 1984. Lembaga Penelitian dan Penerangan Ekonomi dan Sosial. D. dkk 1974. Ghalia Indonesia. 233 . I Wayan Suarjaya.. Metologi Penelitian Praktis. Jakarta. Bali Post. Univ. Upada Sastra.Eksistensi Desa Adat dan desa Dinas di Bali. Paramita Surabaya Tjokroamidjoyo Pembangunan.

Jakarta.. Warren. Universitas Indonesia Jakarta Fahmi. Pengantar dan Asas-asas Hukum Adat. 2002. Comparative Asian Studies Program Social Science Faculty. Iberamsjah. Mark. Desa jawa dan Negara Kolionial. Sage Waters. Wignjodipuro. 2005. Thousand Oaks. Alumni. 1994. Fakultas Ilmu Isworo. Pengaturan Dan Pengurusan-Sendiri Di Rural Development: Opportunities with Diminishing States and Expanding Markets. Adat and Dinas Balinese Communities in the Indonesian State.. Administration. Kabupaten Sukabumi. Jembatan. Program Studi Ilmu Administrasi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik. Disertasi.. 2002. FISIP UI. 1990. Devlopment Administration: Current Delivering Quality Service.. 1993. Soetandyo et al. Jambi. Kasus Pengambilan Keputusan di Desa Gede Pangrango. Program Studi Ilmu Administrasi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik. 1973. 235 . 1995.. Beberapa Aspek Birokrasi. 2007. and Devlopment: Making the State Work. New Delhi. Disertasi.. 1991. Desertasi Endang Wirjatmi Trilestari.. Oxford University Press. David. Malcolm. London. New York. Walujo Iman. Mac Millan Press LTD. The Free Press.. PT Gramedia. Desa Pulau Tengah. Berry. 2003.Thoha. Surojo. Jakarta. 1975. Disertasi. Universitas Indonesia. Miftah. Pasang Surut Otonomi Daerah Sketsa Perjalanan 100 Tahun. A Division of Macmillon. Oxfor Singapore New York. Bandung Wignosubroto. Asas dan Tujuan Pemerintah Daerah. Erwin. Parasuraman-Berry-Leonard L.Grassroots Organizations and NGOsin London B. 2002. Tingkat Desa (Kajian Tentang Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD) di Kabupaten Daerah Tingkat II Banyumas. Dan Kontribusinya Bagi Administrasi Publik. Erasmus University Rotterdam Zeithaml A.. 1975.. Uphoff. 1990. Kuala Lumpur. Modern Publication. Elit Desa Dalam Perubahan Politik Kajian Sosial dan Politik Universitas Indonesia. Kecamatan Kadudampit. Model Kinerja Pelayanan Publik dengan Pendekatan Serbasistem. Metode-Metode Penelitian Sosial. New York. Mac Millan Press. Institute for Local Development Yayasan Tifa. Yogjakarta Kebijaksanaan Turner. Vanderberg. Hongkong. United Nations. Sociological Theory. Widya Mandala.1997Governance.. Pemberdayaan Organisasi Lokal Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik. I Wayan Suarjaya. Program Studi Ilmu Administrasi Fakultas 234 Analisis pelayanan . Wajong J. Carol. dan Hulme. I Approaches and Trends in Public Administration For National Devlopment. Jawa Barat Pada Masa Awal Penerapan Otonomi Daerah 2000 – 2001. Norman. Balancing Customer Percepstions and Expectations. Universitas Indonesia. Yan Breman.

Edi Topo. Universitas Indonesia.O. 2002. Sudarsono. Forum Inovasi. Universitas Udayana Denpasar Ashari. Otonomi Desa Berbasis Modal Sosial (Perspektif Sociolegal). Hoessein Bhenyamin. 2000. Desentralisasi Dan Otonomi Daerah Di Negara Kesatuan Republik Indonesia: Akan Berputarkah Roda Desentralisasi Dari Efisiensi Ke Demokrasi. Hardjosoekarso. November 236 Analisis pelayanan .. 1996. Program Pascasarjana Pembangunan Bali..htm. Institut Pertanian Bogor. dalam Jurnal Bisnis dabn Birokrasi No. Agus. Revassy. September-Nopember. Program Fitzsimmons. Hubungan Penyelenggaraan Pemerintahan Pusat Dengan Pemerintahan Daerah. Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Diponegoro Semarang. Disertasi. Upaya Meningkatkan Kinerja Pelayanan Publik Di Era Persaingan Bebas.1/Vol./September 1994 .. I Nyoman Sukma. Jurnal Forum Inovasi. _____.. Bisinis dan Birokrasi..pikiranrakyat. Makalah yang disampaikan pada Seminar Terbatas dan Seminar Pluralisme Hukum yang diselenggarakan oleh Fakultas Hukum UI bertalian dengan Masa Purnabakti Prof. Isu-isu Seputar Desa Dalam Kaitannya dengan UU No. 2007. Mencari format dan Konsep Transparansi dalam Praktek Penyelenggaraan Pemerintah Yang Baik.. Rusli. Jurnal Forum Inovasi. I Wayan Suarjaya. Budiman. Penerimaan Jabatan Guru Besar Tetap Dalam Ilmu Administrasi Negara Pada Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Indonesia Di Jakarta Pada Tanggal 18 November 1996. Agustino. Pelayanan Publik di Era Reformasi. Edy Topo.2005.1. Beberapa Perspektif Pelayanan Prima. 2003. studi kasus Desa Tenganan dan Desa Kemenuh. Jurnal Ilmu Administrasi dan Organisasi. 1994. _____. Jurnal Kebijakan dan Administrasi Publik Vol I _____.com/cetak/1204/30/0801. Potensi Banjar Sebagai Wahana Disertasi.. 1985. Majalah Ilmiah Pariwisata. Depok _____. Kabupaten Mimika..Partisipasi Masyarakat Desa dalam Pengembangan Pariwisata. Sebuah Studi Di Desa Harapan – Kwamki Lama. Timika. Universitas Indonesia. MA pada tanggal 2 Agustus 2000 di Kampus FH UI.Juli 2001. Jurnal Forum Inovasi September – Nopember 2003. Upaya peningkatan Kinerja Pelayanan Publik di Era Persaingan Bebas. Transparansi Pemerintahan. Ihromi. 237 . FISIP UI. 1997. C Junal dan Makalah Irian Jaya. Kemitraan Pemerintah Swasta dan Relevansi Terhadap Reformasi Administrasi Negara. Dr. Nomor 3/Volume II. 2003.T.22 Tahun 1999. September – Nopember 2003. Ashari. Leo. http://www. diakses 29 Maret 2006. Dwiyanto.Kushandayani. Lazarus. Pidato Pengukuhan Pada Upacara Publik Dalam Aneka Perspektif.. Arida. 2001. Peran Masyarakat Dalam Reformasi Pelayanan Publik Di Indonesia.2003. Yasa. I Made. Administrasi Pemerintahan Lokal Studi Ilmu Administrasi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik.. Disertasi.. SH. 2006.

1 2005 ISSN 1410-3729 238 Analisis pelayanan . Otonomi Daerah dan Perubahan Manajemen Pemda. 2003. Pelaksanaan dan Evaluasi Pelayanan Publik Di Kota Surakarta. diakses 29 Maret 06. diakses 29 Maret.. Jurnal Forum Inovasi Capacity Building & Good Governance. 2003. dan Anomi Sosial. et.nl/web/fsw/lustrum/papaers. 2002. Soetardjo Kertohadikoesoemo.. Prasojo. Kampanye. Peran Masyarakat Dalam Reformasi Pelayanan Publik Di Indonesia. http://spits www. PSKK UGM dalam Dwiyanto. Sinoeng N. Risfan. Prasojo. Jakarta. 2003. 239 . Jurnal Forum Inovasi.. dalam Swatantra. Organizational Culture. 2005. Opini. Demokrasi. Tahun ke I nomor 2. Permas. 2006. dalam Jurnal Forum Inovasi September – Nopember 2003. http://www. Administrasi Publik. rakyat. Eko. Pelayanan http://www.com/cetak/0604/07/teropong/lainnya01.. Tahun 1959 Daerah: Studi Empiris dan Rekomendasi Kebijakan bagi Indonesia serta Implikasinya pada Pembangunan Wilayah dan Kota (Makalah).XII/September/2004.el. Aransemen Kelembagaan dan Reformasi Pelayanan di Tingkat Lokal.uvt. Achsan. dan Bake. Jurnal PSPK. Roy Valiant. Bentuk Pemerintahan Desapraja dalam Swatantra. Tahun II. Studi kasus desa Ambengan Kabupaten Buleleng. Masyarakat dan Pelayanan Publik. Budiman. _____. Harsojo.. Keterpaduan Kebijakan dan Strategi Dalam Upaya Meningkatkan Kinerja Pelayanan Publik. 23 Maret.pikiranPublik di Era Reformasi. Salomo.. 1957. Machfud. Pengembangan Desa Wisata Berbasis Ekowisata dan Kerajinan Rakyat. 2001.suaramerdeka. Disampaikan Pada Seminar Rachmadi.7 No. Agus. Kompas.. 2004. Pelayanan Publik: Muara Suardana. Otonomi. nomor 3. Peran Kepemimpinan Dalam Program Inovasi Daerah: Studi Kasus Kabupaten Jembrana dalam Bisnis dan Birokrasi No..Ikhsan. Perimbangan Keuangan Pusat dan Tantangan Profesi Penilai Menuju Format Indonesia Baru di Millenium Ketiga Soepodo. 1999.2002. Jurnal Forum Inovasi September – Nopember 2003. Eko. I Wayan. Jurnal 03/Vol. Otonomi Daerah Dan Masalah Ketimpangan Ekonomi. Jamal. FISIP UI. Jurnal Forum Inovasi September – Nopember..htm . alliance Capabilities and Social Capital. Primahendra.htm. Forum Inovasi Capacity Building and Good Governance... 2007. Konsepsi Hatta.com/harian/0304/12/kh1. 2004. Partisipasi Mayarakat Dalam Prencanaan. Februari Sjoerd Beugelsdijk.Bentuk Pemerintahan Desapraja. Diakses 29 Maret Sidik. Majalah Ilmiah Pariwisata Universitas Udayana Denpasar Vol. I Wayan Suarjaya. 2006. Munir. Edisi 1. Rusli. M. Riza. 2003. September – Nopember 2003.

Republik Indonesia. Soesilo. Biro Hukum dan Humas Setda Prop. Republik Indonesia. 2001. 241 .. Denpasar Bali.Suwondo.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik. Republik Indonesia. Keputusan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara Nomer 81 Tahun l993 Keputusan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara Nomer 63/ KEP/M. Tentang Pemerintahan Desa. Republiuk Iundonesia. Maret 2001.. tentang Kewenangan Pemerintah dan Propinsi sebagai Daerah Otonom.. Peraturan Pemerintah Nomer 25 tahun 2000. Bali. Intruksi Presiden Nomer 1 tahun l995 tentang Perbaikan dan peningkatan mutu Pelayanan Aparatur Pemerintah Kepada Rakyat. Desentralisasi Pelayanan Publik: Hubungan Komplementer Antara Sektor Negara. 240 Analisis pelayanan . Undang–Undang Nomer 34 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Undang–Undang Nomer 5 Tahun l979. FISIP UI. Keputusan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara Nomer 81 Tahun l993 tentang Pedoman Tata Laksana Pelayanan Umum.. Mekanisme Pasar dan Organisasi Non-pemerintah.. Undang–Undang Nomer 22 Tahun l948. Undang–Undang Nomer 22 tahun 1999. 2007. 2001. I Wayan Suarjaya. Jurnal Administrasi Negara. Unibraw. tentang Desa Praja. 2001. tentang Pemerintahan Daerah. Jurnal Administrasi Negara. Vo I No 2.2 Maret 2001 Zauhar. Unibraw.PAN/2/ 2004 tentang Pedoman Umum Penyusunan Indeks Kepuasan Masyarakat Unit Pelayanan Instansi Pemerintah. D.I No. Peraturan Pemerintah Nomer 84 tahun 2000 tentang Pedoman Organisasi Perangkat Desa.. tentang Pemerintah Desa Republik Indonesia. Peraturan Daerah Tentang Desa Pakraman. Administarsi Pelayanan Publik: Sebuah Perbincangan Awal. Undang–Undang Nomer 19 Tahun l965. Keputusan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara Nomer: 25/KEP/M. Vol. Republik Indonesia. PERATURAN PERUNDANGAN Republik Indonesia.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->