P. 1
Bab 1 Apn 2007 Refmnl

Bab 1 Apn 2007 Refmnl

4.8

|Views: 4,210|Likes:
Published by api-3710806

More info:

Published by: api-3710806 on Oct 14, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/18/2014

pdf

text

original

Bab 1 Lima Benang Merah dalam Asuhan Persalinan dan Kelahiran Bayi

Ada lima aspek dasar atau Lima Benang Merah, yang penting dan saling terkait dalam asuhan persalinan yang bersih dan aman. Berbagai aspek tersebut melekat pada setiap persalinan, baik normal maupun patologis. Lima Benang Merah tersebut adalah: 1. 2. 3. 4. 5. Membuat Keputusan Klinik Asuhan Sayang Ibu dan Sayang Bayi Pencegahan Infeksi Pencatatan (Rekam Medik) asuhan persalinan Rujukan

Lima Benang Merah ini akan selalu berlaku dalam penatalaksanaan persalinan, mulai dari kala satu hingga kala empat, termasuk penatalaksanaan bayi baru lahir.

Tujuan
Setelah mempelajari bab ini, peserta diharapkan dapat : 1. 2. 3. 4. 5. Memahami langkah-langkah pengambilan keputusan klinik Menjelaskan asuhan sayang ibu dan bayi Menjelaskan prinsip dan praktik pencegahan infeksi Menjelaskan manfaat dan cara pencatatan medik asuhan persalinan Menjelaskan hal-hal penting dalam melakukan rujukan

1.1. Membuat Keputusan Klinik
Membuat keputusan merupakan proses yang menentukan untuk menyelesaikan masalah dan menentukan asuhan yang diperlukan oleh pasien. Keputusan itu harus akurat, komprehensif dan aman, baik bagi pasien dan keluarganya maupun petugas yang memberikan pertolongan. Membuat keputusan klinik tersebut dihasilkan melalui serangkaian proses dan metode yang sistematik menggunakan informasi dan hasil dari olah kognitif dan intuitif serta dipadukan dengan kajian teoritis dan intervensi berdasarkan bukti (evidence-based), keterampilan dan pengalaman yang dikembangkan melalui berbagai tahapan yang logis dan diperlukan dalam upaya untuk menyelesaikan masalah dan terfokus pada pasien (Varney, 1997) Semua upaya diatas akan bermuara pada bagaimana kinerja dan perilaku yang diharapkan dari seorang pemberi asuhan dalam menjalankan tugas dan pengamalan ilmunya kepada pasien atau klien. Pengetahuan dan keterampilan saja ternyata tidak dapat menjamin asuhan atau pertolongan yang diberikan dapat memberikan hasil maksimal atau memenuhi standar kualitas pelayanan dan harapan pasien apabila tidak disertai dengan perilaku yang terpuji.

Lima Benang Merah

5

Tujuh langkah dalam membuat keputusan klinik: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Pengumpulan data utama dan relevan untuk membuat keputusan Menginterpretasikan data dan mengidentifikasi masalah Membuat diagnosis atau menentukan masalah yang terjadi/dihadapi Menilai adanya kebutuhan dan kesiapan intervensi untuk mengatasi masalah Menyusun rencana pemberian asuhan atau intervensi untuk solusi masalah Melaksanakan asuhan/intervensi terpilih Memantau dan mengevaluasi efektifitas asuhan atau intervensi

1.1.1 Pengumpulan Data
Semua pihak yang terlibat mempunyai peranan penting dalam setiap langkah untuk membuat keputusan klinik. Data utama (misalnya, riwayat persalinan), data subyektif yang diperoleh dari anamnesis (misalnya, keluhan pasien), dan data obyektif dari pemeriksaan fisik (misalnya, tekanan darah) diperoleh melalui serangkaian upaya sistematik dan terfokus. Validitas dan akurasi data akan sangat membatu pemberi pelayanan untuk melakukan analisis dan pada akhirnya, membuat keputusan klinik yang tepat. Data subyektif adalah informasi yang diceritakan ibu tentang apa yang dirasakannya, apa yang sedang dan telah dialaminya. Data subyektif juga meliputi informasi tambahan yang diceritakan oleh anggota keluarga tentang status ibu, terutama jika ibu merasa sangat nyeri atau sangat sakit. Data obyektif adalah informasi yang dikumpulkan berdasarkan pemeriksaan/pengamatan terhadap ibu atau bayi baru lahir. Pengumpulan data dapat dilakukan dengan cara: • • • • Anamnesis dan observasi langsung : Berbicara dengan ibu, mengajukan pertanyaanpertanyaan mengenai kondisi ibu dan mencatat riwayatnya. Mengamati perilaku ibu dan apakah ibu terlihat sehat atau sakit, merasa nyaman atau nyeri. Pemeriksaan fisik: inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi Pemeriksaan penunjang: pemeriksaan laboratorium, USG, Rontgen, dsb. Catatan medik

1.1.2. Interpretasi data untuk mendukung diagnosis atau identifikasi masalah
Setelah data dikumpulkan, penolong persalinan melakukan analisis untuk mendukung alur algoritma diagnosis. Peralihan dari analisis data menuju pada pembuatan diagnosis bukanlah suatu proses yang linier (berada pada suatu garis lurus) melainkan suatu proses sirkuler (melingkar) yang berlangsung terus-menerus. Suatu diagnosis kerja diuji dan dipertegas atau dikaji ulang berdasarkan pengamatan dan pengumpulan data secara terus-menerus. Untuk membuat diagnosis dan identifikasi masalah, diperlukan:  Data yang lengkap dan akurat  Kemampuan untuk menginterpretasi/analisis data  Pengetahuan esensial, intuisi dan pengalaman yang relevan dengan masalah yang ada

6

Lima Benang Merah

Diagnosis dibuat sesuai dengan istilah atau nomenklatur spesifik kebidanan yang mengacu pada data utama, analisis data subyektif dan obyektif yang diperoleh. Diagnosis menunjukkan variasi kondisi yang berkisar antara normal dan patologik yang memerlukan upaya korektif untuk menyelesaikannya. Masalah memiliki dimensi yang lebih luas dan tidak mempunyai batasan yang tegas sehingga sulit untuk segera diselesaikan. Masalah dapat merupakan bagian dari diagnosis sehingga selain upaya korektif untuk diagnosis, juga diperlukan upaya penyerta untuk mengatasi masalah. Contoh: Diagnosis: G2P1A0, hamil 37 minggu, ketuban pecah dini 2 jam Masalah : kehamilan yang tidak diinginkan atau takut untuk menghadapi persalinan

1.1.3. Menetapkan diagnosis kerja atau merumuskan masalah
Bagian ini dianalogikan dengan proses membuat diagnosis kerja setelah mengembangkan berbagai kemungkinan diagnosis lain (diagnosis banding). Rumusan masalah mungkin saja terkait langsung maupun tidak langsung terhadap diagnosis tetapi dapat pula merupakan masalah utama yang saling terkait dengan beberapa masalah penyerta atau faktor lain yang berkontribusi dalam terjadinya masalah utama Dalam pekerjaan sehari-hari, penolong persalinan telah mengetahui bahwa seorang pasien adalah primigravida dalam fase aktif persalinan (diagnosis). Selain dalam proses tersebut, sang ibu juga memgalami anemia (masalah) dimana hal ini belum jelas apakah akibat defisiensi zat besi (nutrisi) yang ini merupakan data tambahan untuk membuat diagnosis baru atau akibat budaya setempat (faktor sosial yang kontributornya adalah rendahnya pendidikan) yang melarang ibu hamil mengkonsumsi makanan bergizi. Dengan kata lain, walaupun sudah ditegakkan diagnosis kerja tetapi bukan berarti bahwa tidak ada masalah lain yang dapat menyertai atau mengganggu upaya pertolongan yang akan diberikan oleh seorang penolong persalinan Contoh: Ibu hamil dengan hidramnion, bayi makrosomia, kehamilan ganda yang jelas secara diagnosis tetapi masih dibarengi dengan masalah lanjutan walaupun kasus utamanya diselesaikan. Bayi besar yang mungkin dapat dengan selamat dilahirkan oleh penolong persalinan harus tetap diwaspadai sebagai faktor yang potensial untuk menimbulkan masalah, misalnya: bayi tadi mengalami hipoglikemia karena makrosomia diakibatkan oleh ibu dengan diabetes melitus atau terjadi perdarahan pascapersalinan karena makrosomia adalah faktor predisposisi untuk atonia uteri

1.1.4. Menilai adanya menghadapi masalah

kebutuhan

dan

kesiapan

intervensi

untuk

Petugas kesehatan di lini depan seperti bidan di desa, tidak hanya diharapkan terampil untuk membuat diagnosis bagi pasien atau klien yang dilayaninya tetapi juga harus mampu mendeteksi setiap situasi yang dapat mengancam keselamatan jiwa ibu dan bayinya. Untuk

Lima Benang Merah

7

mengenali situasi tersebut, para bidan harus pandai membaca situasi klinik dan masyarakat setempat sehingga mereka tanggap dalam mengenali kebutuhan terhadap tindakan segera sebagai langkah penyelamatan ibu dan bayinya apabila situasi gawatdarurat memang terjadi. Upaya ini dikenal sebagai kesiapan menghadapi persalinan dan tanggap terhadap komplikasi yang mungkin terjadi (birth preparedness and complication readiness). Dalam uraian-uraian berikutnya, petugas pelaksana persalinan akan terbiasa dengan istilah rencana rujukan yang harus selalu disiapkan dan didiskusikan diantara ibu, suami dan penolong persalinan. Contoh: Untuk menghadapi ibu hamil dengan preeklampsia berat dan tekanan darah yang cenderung selalu meningkat maka seorang bidan harus berkonsultasi dengan tenaga ahli di rumah sakit atau spesialis obstetri terdekat untuk menyiapkan tindakan/upaya yang dapat dilakukan bila sang ibu mulai menunjukkan gejala dan tanda gawatdarurat. Pada keadaan tertentu, mungkin saja seorang bidan harus menangani kasus distosia bahu tanpa bantuan siapapun. Apabila ia tidak pernah dilatih untuk mengatasi hal itu atau ia tidak mengetahui tanda-tanda distosia bahu maka ia tidak pernah tahu bahwa perlu disiapkan sesuatu (pengetahuan, keterampilan, dan rujukan) untuk mengatasi hal tersebut. Hal yang paling buruk dan mungkin saja terjadi adalah sang bayi tidak dapat dilahirkan dan kemudian meninggal dunia karena bidan tersebut berupaya melahirkan bayi tetapi ia tidak pernah tahu bagaimana cara mengatasi hal tersebut.

1.1.5. Menyusun rencana asuhan atau intervensi
Rencana asuhan atau intervensi bagi ibu bersalin dikembangkan melalui kajian data yang telah diperoleh, identifikasi kebutuhan atau kesiapan asuhan dan intervensi, dan mengukur sumberdaya atau kemampuan yang dimiliki. Hal ini dilakukan untuk membuat ibu bersalin dapat ditangani secara baik dan melindunginya dari berbagai masalah atau penyulit potensial dapat mengganggu kualitas pelayanan, kenyamanan ibu ataupun mengancam keselamatan ibu dan bayi. Rencana asuhan harus dijelaskan dengan baik kepada ibu dan keluarganya agar mereka mengerti manfaat yang diharapkan dan bagaimana upaya penolong untuk menghindarkan ibu dan bayinya dari berbagai gangguan yang mungkin dapat mengancam keselamatan jiwa atau kualitas hidup mereka.

Contoh: Rencana asuhan kala I:       denyut jantung janin: setiap ½ jam frekuensi dan lamanya kontraksi uterus: setiap ½ jam nadi: setiap ½ jam pembukaan serviks: setiap 4 jam penurunan bagian terbawah janin: setiap 4 jam tekanan darah dan temperatur tubuh: setiap 4 jam

8

Lima Benang Merah

produksi urin, aseton dan protein: setiap 2 sampai 4 jam

Rencana asuhan pada kasus tali pusat menumbung:      Pemberian oksigen nasal 6L/menit Mengatur posisi ibu bersalin Menghubungi rumah sakit rujukan untuk tindakan lanjutan Stabilisasi kondisi ibu dan bayi yang dikandungnya Pemantauan DJJ

1.1.6. Melaksanakan asuhan
Setelah membuat rencana asuhan, laksanakan rencana tersebut secara tepat waktu dan aman. Hal ini akan menghindarkan terjadinya penyulit dan memastikan bahwa ibu dan/atau bayinya yang baru lahir akan menerima asuhan atau perawatan yang mereka butuhkan. Jelaskan pada ibu dan keluarga tentang beberapa intervensi yang dapat dijadikan pilihan untuk kondisi yang sesuai dengan apa yang sedang dihadapi sehingga mereka dapat membuat pilihan yang baik dan benar. Pada beberapa keadaan, penolong sering dihadapkan pada pilihan yang sulit karena ibu dan keluarga meminta penolong yang menentukan intervensi yang terbaik bagi mereka dan hal ini memerlukan upaya dan pengertian lebih agar ibu dan keluarga mengerti bahwa hal ini terkait dengan hak klien dan kewajiban petugas untuk memperoleh hasil terbaik Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pilihan adalah:        Bukti-bukti ilmiah Rasa percaya ibu terhadap penolong persalinan Pengalaman saudara atau kerabat untuk kasus yang serupa Tempat dan kelengkapan fasailitas kesehatan Biaya yang diperlukan Akses ketempat rujukan Luaran dari sistem dan sumberdaya yang ada

1.1.7. Memantau dan mengevaluasi efektifitas asuhan atau intervensi solusi
Penatalaksanaan yang telah dikerjakan kemudian dievaluasi untuk menilai efektivitasnya. Tentukan apakah perlu di kaji ulang atau diteruskan sesuai dengan rencana kebutuhan saat itu. Proses pengumpulan data, membuat diagnosis, memilih intervensi, menilai kemampuan sendiri, melaksanakan asuhan atau intervensi dan evaluasi adalah proses sirkuler (melingkar). Lanjutkan evaluasi asuhan yang diberikan kepada ibu dan bayi baru lahir. Jika pada saat evaluasi ditemukan bahwa status ibu atau bayi baru lahir telah berubah, sesuaikan asuhan yang diberikan untuk memenuhi perubahan kebutuhan tersebut. Asuhan atau intervensi dianggap membawa manfaat dan teruji efektif apabila masalah yang dihadapi dapat diselesaikan atau membawa dampak yang menguntungkan terhadap diagnosis

Lima Benang Merah

9

yang telah ditegakkan. Apapun jenisnya, asuhan dan intervensi yang diberikan harus efisien, efektif, dan dapat diaplikasikan pada kasus serupa dimasa datang. Bila asuhan atau intervensi tidak membawa hasil atau dampak seperti yang diharapkan maka sebaiknya dilakukan kajian ulang dan penyusunan kembali rencana asuhan hingga pada akhirnya dapat memberi dampak seperti yang diharapkan.

10 Lima Benang Merah

Contoh proses pengambilan keputusan klinik Ibu Siti, primigravida berusia 23 tahun, datang pada penolong persalinan dan mengatakan bahwa ia sudah akan melahirkan. Pengumpulan Data ( lihat Bab 2 untuk pembahasan mengenai melengkapi riwayat dan pemeriksaan fisik) Data Subyektif: Pertanyaan dari penolong persalinan: Kapan perkiraan tanggal melahirkan ? Kapan mulai mules-mules ? Berapa lama tenggang waktu antara satu kontraksi dengan kontraksi lainnya ? Apakah ketuban sudah pecah? Apakah ada keluaran darah/bercak? Apakah bayi ibu bergerak seperti biasa? Data Obyektif: Penolong memeriksa: Kontraksi Pemeriksaan abdomen Pemeriksaan dalam Jawaban Ibu: Dua minggu yang akan datang 5 jam yang lalu Antara 7-10 menit Belum Tidak ada Ya

Temuan pemeriksa: Kontraksi uterus teraba satu kali dalam 10 menit dan setiap kontraksi berlangsung kurang dari 20 detik. Janin presentasi kepala, palpasi kepala 5/5, gerakan janin - terasa dan Denyut Jantung Janin (DJJ) 136 kali /menit. Porsio lunak dan tebal, pembukaan 1 jari, teraba selaput ketuban. Tidak terlihat cairan yang keluar dari dalam vagina.

Diagnosis: Diagnosis, berdasarkan pada data yang dikumpulkan, menunjukkan bahwa Ibu Siti adalah primigravida cukup bulan dalam fase laten persalinan, DJJ normal. Asuhan atau intervesni : Asuhan Sayang Ibu, Penatalaksanaan Persalinan Fisiologis, Perawatan Ambulatoir, Dukungan Fisik dan Psikis, Observasi Kemajuan Persalinan Fase Laten Antisipaasi intervensi tambahan atau rujukan : tidak diperlukan karena hasil analisis menunjukkan ini persalinan normal atau fisiologis Penatalaksanaan Asuhan atau Perawatan Penolong persalinan menenteramkan Ibu Siti dan menganjurkannya untuk mandi dan beristirahat. Ibu Siti dianjurkan untuk memberitahu penolong persalinan jika kontraksinya datang setiap 3 sampai 5 menit, jika ketubannya pecah atau jika ibu punya pertanyaan atau kekhawatiran. Penolong persalinan akan mengkaji ulang (evaluasi) Ibu Siti 4 jam lagi dari saat itu, atau lebih cepat jika Ibu Siti menghubunginya. Evaluasi: Tiga jam kemudian Ibu Siti datang lagi. Kontraksinya lebih teratur pada setiap 3 sampai 5 menit selama satu jam. Penolong persalinan memeriksa ibu. Pembukaan serviks 4 cm, ada ‘show’, ketuban utuh, palpasi kepala janin 3/5 dan DJJ 126 x/menit. Berdasarkan data yang dikumpulkan, penolong persalinan mempertegas diagnosis awal dan bahwa rencana asuhan yang telah dilakukan sudah sesuai. Sekarang waktunya membuat diagnosis baru dan rencana asuhan atau perawatan berdasarkan evaluasi terakhir. Ibu Siti adalah primigravida, cukup bulan, dalam fase aktif persalinan, dengan normal DJJ. Rencana untuk asuhan ibu adalah pemantauan kondisi ibu, kondisi bayi serta kemajuan persalinan dengan berpedoman pada partograf (lihat bab 2), membesarkan hati dan memberikan

Lima Benang Merah

11

dukungan, menganjurkan ibu untuk bergerak bebas selama persalinan dan berganti posisi untuk kenyamanan, serta menawarkan makan dan minum..

12 Lima Benang Merah

1.2. Asuhan Sayang Ibu
Asuhan sayang ibu adalah asuhan yang menghargai budaya, kepercayaan dan keinginan sang Ibu. Cara yang paling mudah membayangkan mengenai asuhan sayang ibu adalah dengan menanyakan pada diri kita sendiri, “Seperti inikah asuhan yang ingin saya dapatkan?” atau “Apakah asuhan yang seperti ini yang saya inginkan untuk keluarga saya yang sedang hamil?” Beberapa prinsip dasar asuhan sayang ibu adalah dengan mengikutsertakan suami dan keluarga selama proses persalinan dan kelahiran bayi. Banyak hasil penelitian menunjukkan bahwa jika para ibu diperhatikan dan diberi dukungan selama persalinan dan kelahiran bayi serta mengetahui dengan baik mengenai proses persalinan dan asuhan yang akan mereka terima, mereka akan mendapatkan rasa aman dan hasil yang lebih baik (Enkin, et al, 2000). Disebutkan pula bahwa hal tersebut diatas dapat mengurangi terjadinya persalinan dengan vakum, cunam, dan seksio sesar, dan persalinan berlangsung lebih cepat (Enkin, et al, 2000).

1.2.1. Asuhan Sayang Ibu dalam Proses Persalinan
1. 2. 3. 4. 5. 6. Panggil ibu sesuai namanya, hargai dan perlakukan ibu sesuai martabatnya. Jelaskan semua asuhan dan perawatan kepada ibu sebelum memulai asuhan tersebut. Jelaskan proses persalinan kepada ibu dan keluarganya. Anjurkan ibu untuk bertanya dan membicarakan rasa takut atau khawatir. Dengarkan dan tanggapi pertanyaan dan kekhawatiran ibu. Berikan dukungan, besarkan hatinya dan tenteramkan hati ibu beserta anggota-anggota keluarganya. 7. Anjurkan ibu untuk ditemani suami dan/atau anggota keluarga yang lain selama persalinan dan kelahiran bayinya. 8. Ajarkan suami dan anggota-anggota keluarga mengenai cara-cara bagaimana mereka dapat memperhatikan dan mendukung ibu selama persalinan dan kelahiran bayinya. 9. Secara konsisten lakukan praktik-praktik pencegahan infeksi yang baik. 10. Hargai privasi ibu. 11. Anjurkan ibu untuk mencoba berbagai posisi selama persalinan dan kelahiran bayi. 12. Anjurkan ibu untuk minum dan makan makanan ringan sepanjang ia menginginkannya. 13. Hargai dan perbolehkan praktik-praktik tradisional yang tidak merugikan kesehatan ibu. 14. Hindari tindakan berlebihan dan mungkin membahayakan seperti episiotomi, pencukuran dan klisma. 15. Anjurkan ibu untuk memeluk bayinya sesegera mungkin. 16. Membantu memulai pemberian ASI dalam satu jam pertama setelah bayi lahir. 17. Siapkan rencana rujukan (bila perlu). 18. Mempersiapkan persalinan dan kelahiran bayi dengan baik dan bahan-bahan, perlengkapan dan obat-obatan yang diperlukan. Siap untuk melakukan resusitasi bayi baru lahir pada setiap kelahiran bayi.

1.2.2. Asuhan Sayang Ibu dan Bayi pada Masa Pascapersalinan
1. Anjurkan ibu untuk selalu berdekatan dengan bayinya (rawat gabung).

Lima Benang Merah

13

2. Bantu ibu untuk mulai membiasakan menyusui dan anjurkan pemberian ASI sesuai dengan permintaan. 3. Ajarkan ibu dan keluarganya tentang nutrisi dan istirahat yang cukup setelah melahirkan 4. Anjurkan suami dan anggota keluarganya untuk memeluk bayi dan mensyukuri kelahiran bayi. 5. Ajarkan ibu dan anggota keluarganya tentang gejala dan tanda bahaya yang mungkin terjadi dan anjurkan mereka untuk mencari pertolongan jika timbul masalah atau rasa khawatir. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa banyak ibu di Indonesia yang masih tidak mau meminta pertolongan tenaga penolong persalinan terlatih untuk memberikan asuhan selama persalinan dan kelahiran bayi. Sebagian dari mereka beralasan bahwa penolong persalinan terlatih tidak benar-benar memperhatikan kebutuhan atau kebudayaan, tradisi dan keinginan pribadi para ibu dalam persalinan dan kelahiran bayinya. Alasan lain yang juga berperan adalah bahwa sebagian besar fasilitas kesehatan memiliki peraturan dan prosedur yang tidak bersahabat dan menakutkan bagi para ibu. Peraturan dan prosedur tersebut termasuk: tidak memperkenankan ibu untuk berjalan-jalan selama proses persalinan, tidak mengizinkan anggota keluarga menemani ibu, membatasi ibu hanya pada posisi tertentu selama persalinan dan kelahiran bayi dan memisahkan ibu dari bayi segera setelah bayi dilahirkan.

Lima Benang Merah

14

1.3. Pencegahan Infeksi
1.3.1. Tujuan Pencegahan Infeksi dalam Pelayanan Asuhan Kesehatan
Tindakan pencegahan infeksi (PI) tidak terpisah dari komponen-komponen lain dalam asuhan selama persalinan dan kelahiran bayi. Tindakan ini harus diterapkan dalam setiap aspek asuhan untuk melindungi ibu, bayi baru lahir, keluarga, penolong persalinan dan tenaga kesehatan lainnya dengan mengurangi infeksi karena bakteri, virus dan jamur. Dilakukan pula upaya untuk menurunkan risiko penularan penyakit-penyakit berbahaya yang hingga kini belum ditemukan pengobatannya, seperti misalnya Hepatitis dan HIV/AIDS. Tindakan-tindakan PI dalam pelayanan asuhan kesehatan • • meminimalkan infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme menurunkan risiko penularan penyakit yang mengancam jiwa seperti hepatitis dan HIV/AIDS

Di masa lalu tujuan utama PI adalah untuk mencegah infeksi serius pascabedah. Meskipun infeksi serius pascabedah masih merupakan masalah di banyak negara, munculnya HIV/AIDS dan masalah berkelanjutan yang terkait dengan hepatitis telah mengubah secara dramatis fokus pencegahan infeksi. Karena HIV dan hepatitis semakin sering terjadi, risiko terinfeksi penyakit-penyakit tersebut juga semakin meningkat. Penolong persalinan dapat terpapar hepatitis dan HIV di tempat kerjanya melalui:
• •

percikan darah atau cairan tubuh pada mata, hidung mulut atau melalui diskontinuitas permukaan kulit (misalnya luka atau lecet yang kecil) luka tusuk yang disebabkan oleh jarum yang sudah terkontaminasi atau peralatan tajam lainnya, baik pada saat prosedur dilakukan atau pada saat proses peralatan

Memakai sarung tangan, mengenakan perlengkapan pelindung pribadi (kaca mata, masker, celemek, dll) dapat melindungi petugas terhadap percikan yang dapat mengkontaminasi dan menyebarkan penyakit. Waspada dan berhati-hati dalam menangani benda tajam, melakukan proses dekontaminasi, dan menangani peralatan yang terkontaminasi merupakan cara-cara untuk meminimalkan risiko infeksi. Pencegahan infeksi tersebut, tidak hanya bagi ibu dan bayi baru lahir, tapi juga terhadap penolong persalinan dan staf kesehatan lainnya. PI adalah bagian yang esensial dari semua asuhan yang diberikan kepada ibu dan bayi baru lahir dan harus dilaksanakan secara rutin pada saat menolong persalinan dan kelahiran bayi, saat memberikan asuhan selama kunjungan antenatal atau pascapersalinan/bayi baru lahir atau saat menatalaksana penyulit.

Lima Benang Merah

15

1.3.2. Definisi Tindakan-tindakan dalam Pencegahan Infeksi
• Asepsis atau teknik aseptik adalah istilah umum yang biasa digunakan dalam pelayanaan kesehatan. Istilah ini dipakai untuk menggambarkan semua usaha yang dilakukan dalam mencegah masuknya mikroorganisme ke dalam tubuh dan berpotensi untuk menimbulkan infeksi. Teknik aseptik membuat prosedur lebih aman bagi ibu, bayi baru lahir dan penolong persalinan dengan cara menurunkan jumlah atau menghilangkan seluruh (eradikasi) mikroorganisme pada kulit, jaringan dan instrumen/peralatan hingga tingkat yang aman Antisepsis mengacu pada pencegahan infeksi dengan cara membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada kulit atau jaringan tubuh lainnya. Dekontaminasi adalah tindakan yang dilakukan untuk memastikan bahwa petugas kesehatan dapat menangani secara aman berbagai benda yang terkontaminasi darah dan cairan tubuh. Peralatan medis, sarung tangan dan permukaan (misalnya, meja periksa) harus segera didekontaminasi setelah terpapar darah atau cairan tubuh. Mencuci dan membilas adalah tindakan-tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan semua cemaran darah, cairan tubuh atau benda asing (misalnya debu, kotoran) dari kulit atau instrumen/peralatan. Disinfeksi adalah tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan hampir semua mikroorganisme penyebab penyakit yang mencemari benda-benda mati atau instrumen. Disinfeksi tingkat tinggi (DTT) adalah tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan semua mikroorganisme kecuali endospora bakteri dengan cara merebus atau kimiawi. Sterilisasi adalah tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan semua mikroorganisme (bakteri, jamur, parasit dan virus) termasuk endospora bakteri dari benda-benda mati atau instrumen.

• •

• • • •

1.3.3. Prinsip-prinsip PI
PI yang efektif didasarkan pada prinsip-prinsip berikut: • • • • • Setiap orang (ibu, bayi baru lahir, penolong persalinan) harus dianggap dapat menularkan penyakit karena infeksi dapat bersifat asimptomatik (tanpa gejala). Setiap orang harus dianggap berisiko terkena infeksi. Permukaan benda disekitar kita, peralatan dan benda-benda lainnya yang akan dan telah bersentuhan dengan permukaan kulit yang tak utuh, lecet selaput mukosa atau darah harus dianggap terkontaminasi hingga setelah digunakan, harus diproses secara benar. Jika tidak diketahui apakah permukaan, peralatan atau benda lainnya telah diproses dengan maka semua itu harus dianggap masih terkontaminasi. Risiko infeksi tidak bisa dihilangkan secara total, tapi dapat dikurangi hingga sekecil mungkin dengan menerapkan tindakan-tindakan PI secara benar dan konsisten.

Lima Benang Merah

16

1.3.4. Tindakan-tindakan Pencegahan Infeksi
Ada berbagai praktek PI yang dapat mencegah mikroorganisme berpindah dari satu individu ke individu lainnya (ibu, bayi baru lahir dan para penolong persalinan) sehingga dapat memutus rantai penyebaran infeksi. Tindakan-tindakan PI termasuk hal-hal berikut: • • • • • • cuci tangan memakai sarung tangan dan perlengkapan pelindung lainnya menggunakan teknik asepsis atau aseptik memproses alat bekas pakai menangani peralatan tajam dengan aman menjaga kebersihan dan sanitasi lingkungan (termasuk pengelolaan sampah secara benar)

Cuci Tangan
Cuci tangan adalah prosedur paling penting dari pencegahan penyebaran infeksi yang menyebabkan kesakitan dan kematian ibu dan bayi baru lahir. Cuci tangan harus dilakukan: • • • • • • • • segera setelah tiba di tempat kerja sebelum melakukan kontak fisik secara langsung dengan ibu dan bayi baru lahir setelah kontak fisik langsung dengan ibu atau bayi baru lahir sebelum memakai sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril setelah melepas sarung tangan (kontaminasi melalui lubang atau robekan sarung tangan) setelah menyentuh benda yang mungkin terkontaminasi oleh darah atau cairan tubuh lainnya atau setelah menyentuh selaput mukosa (misalnya hidung, mulut, mata, vagina) meskipun saat itu sedang menggunakan sarung tangan setelah ke kamar mandi sebelum pulang kerja

Untuk Mencuci tangan: • • • • • Lepaskan perhiasan di tangan dan pergelangan. Basahi tangan dengan air bersih dan mengalir. Gosok kedua tangan dengan kuat menggunakan sabun biasa atau yang mengandung anti septik selama 10-15 detik (pastikan sela-sela jari digosok menyeluruh). Tangan yang terlihat kotor harus dicuci lebih lama. Bilas tangan dengan air bersih yang mengalir. Biarkan tangan kering dengan cara diangin-anginkan atau keringkan dengan tisu atau handuk pribadi yang bersih dan kering.

Lima Benang Merah

17

Mikroorganisme tumbuh dan berkembang di lingkungan yang lembab dan air tidak mengalir maka dari itu ingat pedoman berikut pada saat mencuci tangan: • • • Bila menggunakan sabun padat (misalnya, sabun batangan), gunakan potongan-potongan kecil dan tempatkan dalam wadah yang dasarnya berlubang agar air tidak menggenangi potongan sabun tersebut. Jangan mencuci tangan dengan mencelupkannya ke dalam wadah berisi air meskipun air tersebut sudah diberi larutan antiseptik (seperti Dettol® atau Savlon®). Mikroorganisme dapat bertahan hidup dan berkembang biak dalam larutan tersebut. Bila tidak tersedia air mengalir: o Gunakan ember tertutup dengan keran yang bisa ditutup pada saat mencuci tangan dan dibuka kembali jika akan membilas o Gunakan botol yang sudah diberi lubang agar air bisa mengalir o Minta orang lain menyiramkan air ke tangan, atau o Gunakan larutan pencuci tangan yang mengandung alkohol (campurkan 100 ml 6090% alkohol dengan 2 ml gliserin). Gunakan kurang lebih 2 ml dan gosok kedua tangan hingga kering, ulangi tiga kali. Keringkan tangan dengan handuk bersih dan kering. Jangan menggunakan handuk yang juga digunakan oleh orang lain. Handuk basah/lembab adalah tempat yang baik untuk perkembang-biakan mikroorganisme. Bila tidak ada saluran air untuk membuang air yang sudah digunakan, kumpulkan air di baskom dan buang ke saluran limbah atau jamban di kamar mandi.

• •

Memakai Sarung Tangan
Pakai sarung tangan sebelum menyentuh sesuatu yang basah (kulit tak utuh, selaput mukosa, darah atau cairan tubuh lainnya), peralatan, sarung tangan atau sampah yang terkontaminasi. Jika sarung tangan diperlukan, ganti sarung tangan untuk setiap ibu atau bayi baru lahir untuk menghindari kontaminasi silang atau gunakan sarung tangan yang berbeda untuk situasi yang berbeda pula (Tabel 1-1).

• •

Gunakan sarung tangan steril atau disinfeksi tingkat tinggi untuk prosedur apapun yang akan mengakibatkan kontak dengan jaringan dibawah kulit seperti persalinan, penjahitan vagina atau pengambilan darah. Gunakan sarung tangan periksa yang bersih untuk menangani darah atau cairan tubuh. Gunakan sarung tangan rumah tangga atau tebal untuk mencuci peralatan, menangani sampah, juga membersihkan darah dan cairan tubuh.

Tabel 1-1: Prosedur/Tindakan yang Memerlukan Sarung Tangan

Lima Benang Merah

18

Prosedur/Tindakan Memeriksa tekanan darah, temperatur tubuh atau menyuntik Menolong persalinan dan kelahiran bayi, menjahit laserasi atau episiotomi Mengambil contoh darah/pemasangan IV Menghisap lendir dari jalan nafas bayi baru lahir Memegang dan membersihkan peralatan yang terkontaminasi Memegang sampah yang terkontaminasi Membersihkan percikan darah atau cairan tubuh
1 2 3 ini.

Perlu sarung tangan Tidak Ya Ya2 Ya Ya3 Ya Ya3

Sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi Tidak Bisa diterima Tidak Ya Tidak Tidak Tidak

Sarung tangan steril1 Tidak Dianjurkan Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak

Jika sterilisasi tidak memungkinkan, sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi adalah satu-satunya alternatif yang bisa diterima. Dapat gunakan sarung tangan periksa yang bersih. Sarung tangan tebal atau sarung tangan rumah tangga dari lateks adalah yang paling praktis untuk tujuan

Tabel diadaptasi dari CDC, 1989 dan DHIHS. 1988.

Sarung tangan sekali pakai lebih dianjurkan, tapi jika jumlahnya sangat terbatas maka sarung tangan bekas pakai dapat diproses ulang dengan dekontaminasi, cuci dan bilas, disinfeksi tingkat tinggi atau sterilisasi. Jika sarung tangan sekali pakai digunakan ulang, jangan diproses lebih dari tiga kali karena mungkin ada robekan/lubang yang tidak terlihat atau sarung tangan mungkin robek pada saat sedang digunakan Ingat: Jangan gunakan sarung tangan jika sarung tangan tersebut retak, tipis atau ada lubang dan robekan. Buang dan gunakan sarung tangan yang lain.

Menggunakan Teknik Aseptik
Teknik aseptik membuat prosedur menjadi lebih aman bagi ibu, bayi baru lahir dan penolong persalinan. Teknik aseptik meliputi aspek: • • • penggunaan perlengkapan pelindung pribadi antisepsis menjaga tingkat sterilitas atau disinfeksi tingkat tinggi

Perlengkapan Pelindung Pribadi
Perlengkapan pelindung pribadi mencegah petugas terpapar mikoorganisme penyebab infeksi dengan cara menghalangi atau membatasi (kaca mata pelindung, masker wajah, sepatu boot

Lima Benang Merah

19

atau sepatu tertutup, celemek) petugas dari percikan cairan tubuh, darah atau cedera selama melaksanakan prosedur klinik. Masker wajah dan celemek plastik sederhana dapat dibuat sesuai dengan kebutuhan dan sumberdaya yang tersedia di masing-masing daerah jika alat atau perlengkapan sekali pakai tidak tersedia.

Antisepsis
Antisepsis adalah tindakan yang dilakukan untuk mencegah infeksi dengan cara membunuh atau mengurangi mikroorganisme pada jaringan tubuh atau kulit. Karena kulit dan selaput mukosa tidak dapat disterilkan maka penggunaan antiseptik akan sangat mengurangi jumlah mikroorganisme yang dapat mengkontaminasi luka terbuka dan menyebabkan infeksi. Cuci tangan secara teratur di antara kontak dengan setiap ibu dan bayi baru lahir, juga membantu untuk menghilangkan sebagian besar mikroorganisme pada kulit. Antiseptik vs Larutan Disinfektan Meskipun istilah “antiseptik” dan “disinfektan” kadang-kadang digunakan secara bergantian tetapi antiseptik dan disinfektan digunakan untuk tujuan yang berbeda. Larutan antiseptik digunakan pada kulit atau jaringan yang tidak mampu menahan konsentrasi bahan aktif yang terlarut dalam larutan disinfektan. Larutan disinfektan dipakai juga untuk mendekontaminasi peralatan atau instrumen yang digunakan dalam prosedur bedah. Membersihkan permukaan tempat periksa atau meja operasi dengan disinfektan yang sesuai (baik terkontaminasi atau tidak) setidaknya sekali sehari, adalah cara yang mudah dan murah untuk mendisinfeksi suatu peralatan yang memiliki permukaan luas (misalnya, meja instrumen atau ranjang bedah). Larutan antiseptik (seperti alkohol) memerlukan waktu beberapa menit setelah dioleskan pada permukaan tubuh agar dapat mencapai manfaat yang optimal. Karena itu, penggunaan antiseptik tidak diperlukan untuk tindakan kecil dan segera (misalnya, penyuntikan oksitosin secara IM pada penatalaksanaan aktif persalinan kala tiga, memotong tali pusat) asalkan peralatan yang digunakan sudah didisinfeksi tingkat tinggi atau steril. Larutan antiseptik berikut bisa diterima: • • • • • • Alkohol 60-90%: etil, isopropil, atau metil spiritus Setrimid atau klorheksidin glukonat, berbagai konsentrasi (Savlon) Klorheksidin glukonat 4% (Hibiscrub®, Hibitane®, Hibiclens®) Heksaklorofen 3% (Phisohex®) Paraklorometaksilenol (PCMX atau kloroksilenol), berbagai konsentrasi (Dettol) Iodine 1–3%, larutan yang dicampur alkohol atau encer (e.g. Lugol®) atau tinctur (iodine dalam alkohol 70%). Catatan: Iodine tidak boleh digunakan pada selaput mukosa seperti vagina. • Iodofor, berbagai konsentrasi (Betadine) Klorheksidin glukonat dan iodophor adalah antiseptik yang paling baik untuk digunakan pada selaput mukosa. Persiapkan kulit atau jaringan dengan cara mengusapkan kapas atau kasa yang sudah dibasahi larutan antiseptik dengan gerakan melingkar dari tengah ke luar seperti spiral.

Lima Benang Merah

20

Larutan disinfektan berikut ini bisa diterima: • • Klorin pemutih 0,5% (untuk dekontaminasi permukaan dan DTT peralatan) Glutaraldehida 2% (digunakan untuk dekontaminasi tapi karena mahal biasanya hanya digunakan untuk disinfeksi tingkat tinggi)

Catatan: Jangan gunakan disinfektan dengan senyawa fenol untuk disinfeksi peralatan atau bahan yang akan dipakaikan pada bayi baru lahir karena dapat membahayakan kondisi kesehatan bayi tersebut Larutan antiseptik dan disinfektan juga dapat terkontaminasi. Mikroorganisme yang mampu mengkontaminasi larutan tersebut adalah Stafilokokus, baksil Gram-negatif dan beberapa macam endospora. Mikroorganisme tersebut dapat menyebabkan infeksi nosokomial berantai jika larutan yang terkontaminasi digunakan untuk mencuci tangan atau dioleskan pada kulit klien. Cegah kontaminasi larutan antiseptik dan disinfektan dengan cara: • • • • • hanya menggunakan air matang untuk mengencerkan (jika pengenceran diperlukan) berhati-hati untuk tidak mengkontaminasi pinggiran wadah pada saat menuangkan larutan ke wadah yang lebih kecil (pinggiran wadah larutan yang utama tidak boleh bersentuhan dengan wadah yang lebih kecil) mengosongkan dan mencuci wadah dengan sabun dan air serta membiarkannya kering dengan cara diangin-anginkan setidaknya sekali seminggu (tempelkan label bertuliskan tanggal pengisian ulang) menuangkan larutan antiseptik ke gulungan kapas atau kasa (jangan merendam gulungan kapas atau kasa di dalam wadah ataupun mencelupkannya ke larutan antiseptik) menyimpan larutan di tempat yang dingin dan gelap

Pemeliharaan Teknik Steril/Disinfeksi Tingkat Tinggi
Dimanapun prosedur dilakukan, daerah steril harus dibuat dan dipelihara untuk menurunkan risiko kontaminasi di area tindakan. Peralatan atau benda-benda yang disinfeksi tingkat tinggi bisa ditempatkan di area steril. Prinsip menjaga daerah steril harus digunakan untuk prosedur pada area tindakan dengan kondisi disinfeksi tingkat tinggi (AVSC, 1999). Pelihara kondisi steril dengan memisahkan benda-benda steril atau disinfeksi tingkat tinggi (“bersih”) dari benda-benda yang terkontaminasi (“kotor”). Jika mungkin gunakan baju, sarung tangan steril dan sediakan atau pertahankan lingkungan yang steril. Sediakan dan jaga daerah steril/disinfeksi tingkat tinggi: • • • Gunakan kain steril. Berhati-hati jika membuka bungkusan atau memindahkan benda-benda ke daerah yang steril/disinfeksi tingkat tinggi. Hanya benda-benda steril/disinfeksi tingkat tinggi atau petugas dengan atribut yang sesuai

Lima Benang Merah

21

• • •

yang diperkenankan untuk memasuki daerah steril/disinfeksi tingkat tinggi. Anggap benda apapun yang basah, terpotong atau robek sebagai benda terkontaminasi. Tempatkan daerah steril/disinfeksi tingkat tinggi jauh dari pintu atau jendela. Cegah orang-orang yang tidak memakai sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril untuk menyentuh peralatan yang ada di daerah steril.

Memproses alat bekas pakai
Tiga proses pokok yang direkomendasikan untuk proses peralatan dan benda-benda lain dalam upaya pencegahan infeksi adalah: • Dekontaminasi • Cuci dan bilas • Disinfeksi tingkat tinggi atau sterilisasi Benda-benda steril atau DTT harus disimpan dalam keadaan kering dan bebas debu. Jaga agar bungkusan-bungkusan yang tetap kering dan utuh sehingga kondisinya tetap terjaga dan dapat digunakan hingga satu minggu setelah diproses. Peralatan steril yang dibungkus dalam kantong plastik bersegel, tetap kering dan utuh masih dapat digunakan hingga satu bulan setelah proses. Peralatan dan bahan disinfeksi tingkat tinggi dapat disimpan dalam wadah tertutup yang sudah didisinfeksi tingkat tinggi, masih boleh digunakan dalam kisaran waktu satu minggu asalkan tetap kering dan bebas debu. Jika peralatan-peralatan tersebut tidak digunakan dalam tenggang waktu penyimpanan tersebut maka proses kembali dulu sebelum digunakan kembali. Jenis prosedur dan tindakan apapun yang dilakukan, cara pemrosesan peralatan atau perlengkapan tersebut tetap sama seperti digambarkan pada Bagan 1-1.

Lima Benang Merah

22

Bagan 1-1: Proses Peralatan Bekas Pakai DEKONTAMINASI
Rendam dalam larutan klorin 0,5% Selama 10 menit

CUCI DAN BILAS
Gunakan deterjen dan sikat. Pakai sarung tangan tebal untuk menjaga agar tidak terluka oleh benda-benda tajam.

Metode yang dipilih STERILISASI Otoklaf
106 kPa 121 oC 30 menit jika terbungkus 20 menit jika tidak dibungkus

Metode alternatif DISINFEKSI TINGKAT TINGGI Rebus/Kukus
Panci tertutup 20 menit

Panas Kering
170 oC 60 menit

Kimiawi
Rendam 20 menit

DINGINKAN DAN KEMUDIAN SIAP DIGUNAKAN
(Peralatan yang sudah diproses dapat disimpan dalam wadah tertutup yang didisinfeksi tingkat tinggi1 sampai satu minggu jika wadahnya tidak dibuka)
Untuk menyiapkan wadah yang didisinfeksi tingkat tinggi, rebus (jika kecil) atau isi dengan larutan klorin 0,5% selama 20 menit (larutan klorin bisa dipindah ke wadah yang lain untuk digunakan ulang dalam waktu 24 jam). Bilas wadah dengan air matang dan angin-anginkan sampai kering sebelum digunakan.
1

Dekontaminasi
Dekontaminasi adalah langkah penting pertama untuk menangani peralatan, perlengkapan, sarung tangan dan benda-benda lain yang terkontaminasi. Dekontaminasi membuat bendabenda lebih aman untuk ditangani dan dibersihkan oleh petugas. Untuk perlindungan lebih jauh, pakai sarung tangan karet yang tebal atau sarung tangan rumah tangga yang terbuat dari bahan lateks jika akan menangani peralatan bekas pakai atau kotor. Segera setelah digunakan, masukkan benda-benda yang terkontaminasi ke dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit. Prosedur ini dengan cepat mematikan virus Hepatitis B dan HIV. Pastikan bahwa benda-benda yang terkontaminasi terendam seluruhnya oleh larutan klorin. Daya kerja larutan klorin, cepat mengalami penurunan sehingga harus diganti paling sedikit setiap 24 jam, atau lebih cepat jika terlihat kotor atau keruh. Gambar 1-2 dan 1-3 menunjukkan cara menyiapkan larutan klorin. Gambar 1-2: Rumus untuk membuat Larutan Klorin 0,5% dari Larutan Konsentrat Berbentuk Cair

Lima Benang Merah

23

Jumlah bagian air =

% larutan konsentrat –––––––––––––––––––––––––––––––––––––– – 1 % larutan yang diinginkan

Contoh: Untuk membuat larutan klorin 0,5% dari larutan klorin 5.25% (misalkan BAYCLIN®): 5.25% 1. Jumlah bagian air = ––––––– – 1 = 10 – 1 = 9,5 0.5% 2. Tambahkan 9 bagian (pembulatan ke bawah dari 9,5) air ke dalam 1 bagian larutan klorin konsentrat (5.25%). Catatan: air tidak perlu dimasak.
Sumber: Pocket Guide for Family Planning Service Providers, JHPIEGO, 1995

Gambar 1-3: Rumus untuk Membuat Larutan Klorin 0,5% dari Sebuk Kering % larutan yang diinginkan –––––––––––––––––––––––––––––––––––––– X 1000 % konsentrat

Jumlah bagian air =

Contoh: Untuk membuat larutan klorin 0,5% dari serbuk yang bisa melepaskan klorin (seperti kalsium hipoklorida) yang mengandung 35% klorin: 0.5% 1. Gram/liter = ––––––– X 1000 = 14,3 gram/liter 35% 2. Tambahkan 14 gram (pembulatan kebawah dari 14,3) serbuk kedalam 1 liter air mentah yang bersih.
Sumber: Pocket Guide for Family Planning Service Providers, JHPIEGO, 1995

Lima Benang Merah

24

Pencucian dan pembilasan
Pencucian adalah cara paling efektif untuk menghilangkan sebagian besar mikroorganisme pada peralatan/perlengkapan yang kotor atau yang sudah digunakan. Baik sterilisasi maupun disinfeksi tingkat tinggi menjadi kurang efektif tanpa proses pencucian sebelumnya. Jika benda-benda yang terkontaminasi tidak dapat dicuci segera setelah didekontaminasi, bilas peralatan dengan air untuk mencegah korosi dan menghilangkan bahan-bahan organik, lalu cuci dengan seksama secepat mungkin. Seperti yang diperlihatkan pada Tabel 1-2, sebagian besar (hingga 80%) mikroorganisme yang terdapat dalam darah dan bahan-bahan organik lainnya bisa dihilangkan melalui proses pencucian. Pencucian juga dapat menurunkan jumlah endospora bakteri yang menyebabkan tetanus dan gangren, pencucian ini penting karena residu bahan-bahan organik bisa menjadi tempat kolonisasi mikroorganisme (termasuk endospora) dan melindungi mikroorganisme dari proses sterilisasi atau disinfeksi kimiawi. Sebagai contoh virus hepatitis B bisa tetap hidup pada darah yang hanya 10-8 ml (yang tidak bisa dilihat dengan mata biasa) dan bisa menyebabkan infeksi jika terpercik ke mata. Jika perlengkapan untuk proses sterilisasi tidak tersedia, pencucian secara seksama merupakan proses fisik satu-satunya untuk menghilangkan sejumlah endospora bakteri. Tabel 1-2: Efektivitas berbagai proses eradikasi mikroorganisme pada alat bekas pakai
Dekontaminasi Efektivitas (menghilangkan atau menon-aktifkan mikroorganisme) Membunuh virus AIDS dan Hepatitis Rendam selama 10 menit Pencucian (hanya air) Hingga 50% Cuci hingga bersih Pencucian (deterjen dan bilas) Hingga 80% DTT1 95% Sterilisasi1 100%

Waktu yang diperlukan agar proses berjalan efektif
1

Cuci hingga terlihat bersih

Rebus, kukus atau secara kimia: 20 menit

Kukus: 20– 30 menit 106 kPa, 121oC Panas kering: 60 menit pada suhu 170oC

Perlu didahului oleh dekontaminasi dan pencucian.

Perlengkapan/bahan-bahan untuk mencuci peralatan termasuk: • • • • • • sarung tangan karet yang tebal atau sarung tangan rumah tangga dari lateks sikat (boleh menggunakan sikat gigi) tabung suntik (minimal ukuran 10 ml; untuk kateter, termasuk kateter penghisap lendir) wadah plastik atau baja anti-karat (stainless steel) air bersih sabun atau deterjen

Lima Benang Merah

25

Tahap-tahap pencucian dan pembilasan: 1. Pakai sarung tangan karet yang tebal pada kedua tangan. 2. Ambil peralatan bekas pakai yang sudah didekontaminasi (hati-hati bila memegang peratalan yang tajam, seperti gunting dan jarum jahit). 3. Agar tidak merusak benda-benda yang terbuat dari plastik atau karet, jangan dicuci secara bersamaan dengan peralatan dari logam. 4. Cuci setiap benda tajam secara terpisah dan hati-hati: a. Gunakan sikat dengan air dan sabun untuk menghilangkan sisa darah dan kotoran. b. Buka engsel gunting dan klem. c. Sikat dengan seksama terutama di bagian sambungan dan sudut peralatan. d. Pastikan tidak ada sisa darah dan kotoran yang tertinggal pada peralatan. e. Cuci setiap benda sedikitnya tiga kali (atau lebih jika perlu) dengan air dan sabun atau deterjen. f. Bilas benda-benda tersebut dengan air bersih. 5. Ulangi prosedur tersebut pada benda-benda lain. 6. Jika peralatan akan didisinfeksi tingkat tinggi secara kimiawi (misalkan dalam larutan klorin 0,5%) tempatkan peralatan dalam wadah yang bersih dan biarkan kering sebelum memulai proses DTT. Alasan: Jika peralatan masih basah mungkin akan mengencerkan larutan kimia dan membuat larutan menjadi kurang efektif. 7. Peralatan yang akan didisinfeksi tingkat tinggi dengan dikukus atau direbus, atau disterilisasi di dalam otoklaf atau oven panas kering, tidak perlu dikeringkan dulu sebelum proses DTT atau sterilisasi dimulai. 8. Selagi masih memakai sarung tangan, cuci sarung tangan dengan air dan sabun dan kemudian bilas dengan seksama menggunakan air bersih. 9. Gantungkan sarung tangan dan biarkan kering dengan cara diangin-anginkan. Bola karet penghisap tidak boleh dibersihkan dan digunakan ulang untuk lebih dari satu bayi. Bola karet seperti itu harus dibuang setelah digunakan, kecuali jika dirancang untuk dipakai ulang. Secara ideal kateter penghisap lendir DeLee harus dibuang setelah satu kali digunakan; jika hal ini tidak memungkinkan, kateter harus dibersihkan dan didisinfeksi tingkat tinggi dengan seksama. Kateter urin sangat sulit dibersihkan dan didisinfeksi tingkat tinggi. Penggunaan kateter dengan kondisi tersebut diatas pada lebih dari satu ibu dapat meningkatkan risiko infeksi jika tidak diproses dengan benar. Untuk mencuci kateter (termasuk kateter penghisap lendir), ikuti tahap-tahap berikut: 1. Pakai sarung tangan karet yang tebal atau sarung tangan rumah tangga dari lateks pada kedua tangan 2. Lepaskan penutup wadah penampung lendir (untuk kateter penghisap lendir). 3. Gunakan tabung suntik besar untuk mencuci bagian dalam kateter sedikitnya tiga kali (atau lebih jika perlu) dengan air dan sabun atau deterjen. 4. Bilas kateter menggunakan tabung suntik dan air bersih. 5. Letakan kateter dalam wadah yang bersih dan biarkan kering sebelum dilakukan DTT. Catatan: Kateter harus didisinfeksi tingkat tinggi secara kimia (lihat dibawah). Kateter bisa rusak jika didisinfeksi tingkat tinggi dengan direbus.

Lima Benang Merah

26

DTT dan Sterilisasi
Meskipun sterilisasi adalah cara yang paling efektif untuk membunuh mikroorganisme tetapi proses sterilisasi tidak selalu memungkinkan dan praktis. DTT adalah satu-satunya alternatif dalam situasi tersebut. DTT dapat dilakukan dengan cara merebus, mengukus atau kimiawi. Untuk peralatan, perebusan seringkali merupakan metoda DTT yang paling sederhana dan efisien. Ingat: Agar proses DTT atau sterilisasi menjadi efektif, terlebih dulu lakukan dekontaminasi dan cuci-bilas peralatan secara seksama sebelum melakukan proses tersebut. DTT dengan Cara Merebus • • • • • • Gunakan panci dengan penutup yang rapat. Ganti air setiap kali mendisinfeksi peralatan. Rendam peralatan didalam air sehingga semuanya terendam dalam air. Mulai panaskan air. Μulai hitung waktu saat air mulai mendidih. Jangan tambahkan benda apapun ke dalam air mendidih setelah penghitungan waktu dimulai.  Rebus selama 20 menit.  Catat lama waktu perebusan peralatan di dalam buku khusus.  Biarkan peralatan kering dengan cara diangin-anginkan sebelum digunakan atau disimpan (jika peralatan dalam keadaan lembab maka keadaan disinfeksi tingkat tinggi tidak terjaga).  Pada saat peralatan kering, gunakan segera atau simpan dalam wadah disinfeksi tingkat tinggi dan berpenutup. Peralatan bisa disimpan sampai satu minggu asalkan penutupnya tidak dibuka.

Disinfeksi Tingkat Tinggi Sarung Tangan dengan menggunakan Uap Panas Setelah sarung tangan didekontaminasi dan dicuci, maka sarung tangan ini siap untuk DTT menggunakan uap panas (jangan ditaburi dengan bubuk talk). • • Gunakan panci perebus dengan tiga susun nampan pengukus. Gulung bagian atas sarung tangan sehingga setelah DTT selesai sarung tangan dapat dipakaikan tanpa membuat terkontaminasi baru. • Letakkan sarung tangan pada nampan pengukus yang berlubang dibawahnya. Agar mudah dikeluarkan dari bagian atas nampan pengukus, letakkan 5-15 pasang sarung tangan dengan bagian jarinya mengarah ke tengah nampan. Agar proses DTT berjalan efektif, harap perhatikan jumlah maksimal sarung tangan dalam satu nampan (tergantung dari diameter nampan).

Lima Benang Merah

27

• •

• • • • •

Ulangi proses tersebut hingga semua nampan pengukus terisi sarung tangan. Susun tiga nampan pengukus di atas panci perebus yang berisi air. Letakkan sebuah panci perebus kosong di sebelah kompor. Letakkan penutup diatas nampan pengukus paling atas dan panaskan air hingga mendidih. Jika air mendidih perlahan, hanya sedikit uap air yang dihasilkan dan suhunya mungkin tidak cukup tinggi untuk membunuh mikroorganisme. Jika air mendidih terlalu cepat, air akan menguap dengan cepat dan ini merupakan pemborosan bahan bakar. Jika uap mulai keluar dari celah-celah diantara panci pengukus, mulailah penghitungan waktu. Catat lamanya pengukusan sarung tangan dalam buku khusus. Kukus sarung tangan selama 20 menit, buka tutup panci dan letakkan dalam posisi terbalik. Angkat nampan pengukus paling atas yang berisi sarung tangan dan goyangkan perlahan-lahan agar air yang tersisa pada sarung tangan dapat menetes keluar. Letakkan nampan pengukus diatas panci perebus yang kosong di sebelah kompor. Ulangi langkah tersebut hingga semua nampan pengukus yang berisi sarung tangan tersusun diatas panci perebus yang kosong. Letakkan penutup diatasnya agar sarung tangan menjadi dingin dan kering tanpa terkontaminasi (tuang air perebus ke dalam wadah DTT). Ingat: Jangan menempatkan nampan pengukus berlubang yang berisi sarung tangan diatas meja atau tempat lain karena sarung tangan dapat terkontaminasi oleh cemaran dari luar melalui lubang bawah nampan.

Biarkan sarung tangan kering dengan diangin-anginkan sampai kering di dalam nampan selama 4-6 jam. Jika diperlukan segera, biarkan sarung tangan menjadi dingin selama 5-10 menit dan kemudian gunakan dalam waktu 30 menit pada saat masih basah atau lembab (setelah 30 menit bagian jari sarung tangan akan menjadi lengket dan membuat sarung tangan sulit dipakai atau digunakan). Jika sarung tangan tidak akan dipakai segera, setelah kering gunakan penjepit atau pinset disinfeksi tingkat tinggi untuk memindahkan sarung tangan. Letakkan sarung tangan tersebut dalam wadah disinfeksi tingkat tinggi lalu tutup rapat (sarung tangan bisa disimpan didalam panci pengukus yang berpenutup rapat). Sarung tangan tersebut bisa disimpan sampai satu minggu.

DTT Kimiawi Bahan kimia yang dianjurkan untuk DTT adalah klorin dan glutaraldehid (Cidex ®). Alkohol, iodine dan iodofor tidak digolongkan sebagai disinfektan tingkat tinggi. Alkohol tidak membunuh virus dan spesies Pseudomonas bisa tumbuh dalam larutan iodine. Larutanlarutan tersebut hanya boleh digunakan sebagai disinfektan jika disinfektan yang dianjurkan

Lima Benang Merah

28

tidak tersedia. Lysol®, Karbol® dan Densol® (asam karbolik 5% atau fenol 1-2%) digolongkan sebagai disinfektan tingkat rendah dan tidak dapat digunakan untuk dekontaminasi atau proses DTT. Tablet formalin hanya efektif dalam suhu tinggi dan dalam bentuk gas jenuh. Penggunaan tablet formalin sangat tidak dianjurkan. Meletakkan tablet bersama sarung tangan, bahan-bahan atau perlengkapan dalam botol kaca yang tertutup tidak akan bekerja secara efektif. Formaldehid (formalin) merupakan bahan karsinogenik sehingga tidak boleh lagi digunakan sebagai desinfektan. Larutan disinfektan tingkat tinggi yang selalu tersedia dan tidak mahal adalah klorin. Karena larutan klorin bersifat korosif dan proses DTT memerlukan perendaman selama 20 menit maka peralatan yang sudah didisinfeksi tingkat tinggi secara kimiawi harus segera dibilas dengan air matang. Lihat Gambar 1-2 dan 1-3 untuk rumus yang digunakan dalam membuat larutan. Langkah-langkah kunci pada disinfeksi tingkat tinggi secara kimia termasuk: • Letakkan peralatan dalam keadaan kering (sudah didekontaminasi dan cuci-bilas) ke dalam wadah dan tuangkan desinfektan. Ingat: jika peralatan basah sebelum direndam dalam larutan kimia maka akan terjadi pengenceran larutan tersebut sehingga dapat menurangi daya kerja atau efektifitasnya. Pastikan peralatan terendam seluruhnya dalam larutan kimia. Rendam peralatan selama 20 menit. Catat lama waktu peralatan direndam dalam larutan kimia di buku khusus. Bilas peralatan dengan air matang dan angin-anginkan sampai kering di wadah disinfeksi tingkat tinggi yang berpenutup. Setelah kering, peralatan dapat segera digunakan atau disimpan dalam wadah disinfeksi tingkat tinggi berpenutup rapat.

• • • • •

DTT kateter secara kimiawi: • • • • • • Persiapkan larutan klorin 0,5% (lihat Gambar 1-2 dan 1-3). Pakai sarung tangan lateks atau sarung tangan rumah tangga pada kedua tangan. Letakan kateter yang sudah dicuci dan dikeringkan dalam larutan klorin. Gunakan tabung suntik steril atau DTT untuk membilas bagian dalam kateter dengan menggunakan larutan klorin. Ulangi pembilasan tiga kali. Pastikan kateter terendam dalam larutan. Biarkan kateter terendam selama 20 menit. Gunakan tabung suntik steril atau DTT untuk membilas kateter dengan air DTT. Kateter dikeringkan dengan cara diangin-anginkan dan setelah itu dapat segera digunakan atau disimpan dalam wadah DTT yang bersih.

Lima Benang Merah

29

Ingat: Selalu ikuti prinsip-prinsip pemrosesan peralatan yang benar. Sebelum menggunakan kembali benda atau peralatan yang terkontaminasi, lakukan: 1. Dekontaminasi 2. Cuci, bilas dan keringkan jika perlu 3. Sterilisasi atau disinfeksi tingkat tinggi 4. Gunakan segera atau simpan dalam wadah yang sesuai

Penggunaan Peralatan Tajam Secara Aman
Luka tusuk benda tajam (misalnya, jarum) merupakan salah satu alur utama infeksi HIV dan hepatitis B di antara para penolong persalinan. Oleh karena itu, perhatikan pedoman berikut: • Letakkan benda-benda tajam diatas baki steril atau disinfeksi tingkat tinggi atau dengan menggunakan “daerah aman” yang sudah ditentukan (daerah khusus untuk meletakkan dan mengambil peralatan tajam). • Hati-hati saat melakukan penjahitan agar terhindar dari luka tusuk secara tak sengaja. • Gunakan pemegang jarum dan pinset pada saat menjahit. Jangan pernah meraba ujung atau memegang jarum jahit dengan tangan. • Jangan menutup kembali, melengkungkan, mematahkan atau melepaskan jarum yang akan dibuang. • Buang benda-benda tajam dalam wadah tahan bocor dan segel dengan perekat jika sudah dua per tiga penuh. Jangan memindahkan benda-benda tajam tersebut ke wadah lain. Wadah benda tajam yang sudah disegel tadi harus dibakar di dalam insinerator. • Jika benda-benda tajam tidak bisa dibuang secara aman dengan cara insinerasi, bilas tiga kali dengan larutan klorin 0,5% (dekontaminasi), tutup kembali menggunakan teknik satu tangan dan kemudian kuburkan: Cara melakukan teknik satu tangan: o Letakkan penutup jarum pada permukaan yang keras dan rata. o Pegang tabung suntik dengan satu tangan, gunakan ujung jarum untuk “mengait” penutup jarum. Jangan memegang penutup jarum dengan tangan lainnya. o Jika jarum sudah tertutup seluruhnya, pegang bagian bawah jarum dan gunakan tangan yang lain untuk merapatkan penutupnya.

Pengelolaan Sampah dan Mengatur Kebersihan dan Kerapian
Pembuangan Sampah Sampah bisa terkontaminasi atau tidak terkontaminasi. Sampah yang tidak terkontaminasi tidak mengandung risiko bagi petugas yang menanganinya. Tapi sebagian besar limbah persalinan dan kelahiran bayi adalah sampah terkontaminasi. Jika tidak dikelola dengan benar, sampah terkontaminasi berpotensi untuk menginfeksi siapapun yang melakukan kontak atau menangani sampah tersebut termasuk anggota masyarakat. Sampah terkontaminasi termasuk darah, nanah, urin, kotoran manusia dan benda-benda yang kotor oleh cairan tubuh. Tangani pembuangan sampah dengan hati-hati. Tujuan pembuangan sampah secara benar adalah:

Lima Benang Merah

30

• •

mencegah penyebaran infeksi kepada petugas klinik yang menangani sampah dan kepada masyarakat. melindungi petugas pengelola sampah dari luka atau cedera tidak sengaja oleh bendabenda tajam yang sudah terkontaminasi.

Setelah selesai melakukan suatu tindakan (misalnya asuhan persalinan), dan sebelum melepas sarung tangan, letakkan sampah terkontaminasi (kasa, gulungan kapas, perban, dll) ke dalam tempat sampah tahan air/kantung plastik sebelum dibuang. Hindarkan kontaminasi bagian luar kantung dengan sampah yang terkontaminasi. Cara pembuangan yang benar untuk bendabenda tajam terkontaminasi adalah dengan menempatkan benda-benda tersebut dalam wadah tahan bocor (misalnya, botol plastik air mineral atau botol infus) maupun kotak karton yang tebal, kaleng atau wadah yang terbuat dari bahan logam. Singkirkan sampah yang terkontaminasi dengan cara dibakar. Jika hal ini tidak memungkinkan, kuburkan bersama wadahnya. Sampah yang tidak terkontaminasi bisa dibuang ke dalam wadah sampah biasa. Mengatur Kebersihan dan Kerapian Pembersihan yang teratur dan seksama akan mengurangi mikroorganisme yang ada pada bagian permukaan benda-benda tertentu dan menolong mencegah infeksi dan kecelakaan. Ingat hal-hal berikut untuk mengatur kebersihan dan kerapian: • • • • • • • • • Pastikan selalu tersedianya satu ember larutan pemutih (klorin 0,5%) yang belum terpakai Gunakan disinfektan yang sesuai untuk membersihkan peralatan yang tidak bersentuhan dengan darah atau sekresi tubuh (stetoskop, Pinnards, Doppler, termometer, inkubator) di antara pemakaian, terutama sekali diantara ibu atau bayi yang berbeda. Jika menggunakan oksigen, gunakan kanula nasal yang bersih, steril atau DTT setiap kali akan digunakan. Mengusap kanula dengan alkohol tidak mencegah terjadinya infeksi. Segera bersihkan percikan darah. Tuangkan larutan klorin 0,5% pada percikan tersebut kemudian seka dengan kain Bungkus atau tutupi linen bersih dan simpan dalam kereta dorong atau lemari tertutup untuk mencegah kontaminasi dari debu. Setiap selesai menggunakan tempat tidur, meja dan troli prosedur, segera seka permukaan dan bagian-bagian peralatan tersebut dengan kain yang dibasahi klorin 0,5% dan deterjen. Setiap selesai menolong persalinan, seka celemek menggunakan larutan klorin 0,5%. Bersihkan lantai dengan lap kering, jangan disapu. Seka lantai, dinding atau permukaan datar lain (setiap hari atau setelah digunakan) dengan larutan klorin 0,5% dan deterjen. Ikuti pedoman umum kebersihan dan kerapian: o Bersihkan dari atas ke bawah sehingga kotoran yang jatuh dapat dihilangkan. o Selalu gunakan sarung tangan lateks atau sarung tangan rumah tangga. o Seka dan gosok hingga bersih permukaan datar atau lantai setiap setelah digunakan. o Tempelkan petunjuk khusus kebersihan di unit tertentu pada area yang mudah dilihat/ dibaca. Cantumkan secara rinci dan jelas tentang apa dan seberapa sering pedoman kebersihan dilaksanakan dan minta staf ikut bertanggung-jawab untuk mengatur kebersihan dan kerapian. Buat daftar tilik prosedur rutin kebersihan dan kerapian.

Lima Benang Merah

31

o o

Bersihkan sesering mungkin dinding, tirai kain, plastik atau logam vertikal untuk mencegah penumpukan debu. Jika dinding atau tirai terkena percikan darah, segera bersihkan dengan larutan klorin 0,5%.

1.3.5. Pertimbangan-Pertimbangan Mengenai PI di Luar Institusi
Persalinan dan kelahiran bayi dapat terjadi di luar institusi, yaitu di rumah, klinik bersalin swasta, polindes atau puskesmas. Jika berlangsung di rumah, hati-hati agar benda-benda yang terkontaminasi tidak menyentuh daerah yang telah dibersihkan dan disiapkan untuk suatu prosedur. Bagian berikut ini akan membahas beberapa perubahan dan pemikiran tindakantindakan PI dalam beberapa situasi tertentu.

Cuci tangan
Pastikan bahwa teman dan anggota keluarga mencuci tangan mereka.

Sarung tangan
Jika sarung tangan steril atau disinfeksi tingkat tinggi tidak tersedia, gunakan sarung tangan yang bersih.

Pelindung Pribadi
Gunakan penghalang atau pelindung untuk mencegah darah atau cairan tubuh terpercik ke mata atau mulut. Kacamata yang murah bisa digunakan sebagai pelindung mata apabila tidak tersedia kacamata khusus. Jika barier protektif atau pelindung tidak tersedia, hindarkan berbagai kemungkinan terkontaminasi atau terpercik bahan berbahaya. Jika kulit atau mukosa terpercik darah atau cairan tubuh maka lakukan pencucian dan pembilasan dengan segera.

Teknik Aseptik
Terapkan prinsip untuk menjaga daerah steril dengan menjaga benda-benda terkontaminasi atau kotor agar jauh dari benda-benda bersih atau disinfeksi tingkat tinggi. Pastikan bahwa semua peralatan yang ada dalam partus set dan peralatan menjahit serta benda-benda lain yang mungkin kontak dengan jaringan dibawah kulit telah didisinfeksi tingkat tinggi atau upayakan agar tersedia peralatan yang steril.

Penanganan Peralatan Tajam secara Aman
Hati-hati dengan peralatan tajam; jangan tertinggal di rumah pasien setelah menolong persalinan. Gunakan botol plastik bertutup atau wadah yang memadai untuk menampung benda tajam yang telah digunakan. Botol kaca berpenutup dapat sebagai wadah untuk menampung benda tajam yang didekontaminasi dengan larutan klorin 0,5%.

Pembuangan Sampah

Lima Benang Merah

32

Tempatkan plasenta di dalam kantung plastik atau tembikar dan instruksikan kepada keluarga bagaimana menguburkannya. Cuci secara terpisah linen yang terkontaminasi oleh darah dari linen lainnya, kemudian jemur di terik matahari. Bakar atau kubur sampah terkontaminasi lainnya.

1.4. Pencatatan (Dokumentasi)
Catat semua asuhan yang telah diberikan kepada ibu dan/atau bayinya. Jika asuhan tidak dicatat, dapat dianggap bahwa hal tersebut tidak dilakukan. Pencatatan adalah bagian penting dari proses membuat keputusan klinik karena memungkinkan penolong persalinan untuk terus menerus memperhatikan asuhan yang diberikan selama proses persalinan dan kelahiran bayi. Mengkaji ulang catatan memungkinkan untuk menganalisa data yang telah dikumpulkan dan dapat lebih efektif dalam merumuskan suatu diagnosis dan membuat rencana asuhan atau perawatan bagi ibu atau bayinya. Partograf adalah bagian terpenting dari proses pencatatan selama persalinan. Lihat bagian mengenai Partograf di Bab 2 untuk penjelasan lengkap mengenai partograf. Pencatatan rutin adalah penting karena: • Dapat digunakan sebagai alat bantu untuk membuat keputusan klinik dan mengevaluasi apakah asuhan atau perawatan sudah sesuai dan efektif, mengidentifikasi kesenjangan pada asuhan yang diberikan dan untuk membuat perubahan dan peningkatan pada rencana asuhan atau perawatan. Dapat digunakan sebagai tolok-ukur keberhasilan proses membuat keputusan klinik. Dari aspek metode keperawatan, informasi tentang intervensi atau asuhan yang bermanfaat dapat dibagikan atau diteruskan kepada tenaga kesehatan lainnya. Merupakan catatan permanen tentang asuhan, perawatan dan obat yang diberikan. Dapat dibagikan di antara para penolong persalinan. Hal ini menjadi penting jika ternyata rujukan memang diperlukan karena hal ini berarti lebih dari satu penolong persalinan akan memberikan perhatian dan asuhan pada ibu atau bayi baru lahir. Dapat mempermudah kelangsungan asuhan dari satu kunjungan ke kunjungan berikutnya, dari satu penolong persalinan ke penolong persalinan lainnya, atau dari seorang penolong persalinan ke fasilitas kesehatan lainnya. Melalui pencatatan rutin, penolong persalinan akan mendapat informasi yang relevan dari setiap ibu atau bayi baru lahir yang diasuhnya. Dapat digunakan untuk penelitian atau studi kasus. Diperlukan untuk memberi masukan data statistik nasional dan daerah, termasuk catatan kematian dan kesakitan ibu/bayi baru lahir.

• • • •

• •

Aspek-aspek penting dalam pencatatan termasuk: • • • Tanggal dan waktu asuhan tersebut diberikan. Identifikasi penolong persalinan. Paraf atau tanda tangan (dari penolong persalinan) pada semua catatan.

Lima Benang Merah

33

• • •

Mencakup informasi yang berkaitan secara tepat, dicatat dengan jelas, dan dapat dibaca. Suatu sistem untuk memelihara catatan pasien sehingga selalu siap tersedia. Kerahasiaan dokumen-dokumen medis.

Ibu harus diberikan salinan catatannya (catatan klinik antenatal, dokumen-dokumen rujukan, dll) beserta panduan yang jelas: • • • • Maksud dari dokumen-dokumen tersebut. Kapan harus dibawa. Kepada siapa harus diberikan. Bagaimana menyimpan dan mengamankannya, baik di rumah atau selama perjalanan ke tempat rujukan. Ingat: Catat semua data, hasil pemeriksaan, diagnosis, obat-obatan, asuhan/perawatan, dll. Jika tidak dicatat, dapat dianggap bahwa asuhan tersebut tidak dilakukan. Pastikan setiap partograf bagi setiap pasien telah diisi dengan lengkap dan benar

• • •

1.5. Rujukan
Rujukan dalam kondisi optimal dan tepat waktu ke fasilitas rujukan atau fasilitas yang memiliki sarana lebih lengkap, diharapkan mampu menyelamatkan jiwa para ibu dan bayi baru lahir. Meskipun sebagian besar ibu akan mengalami persalinan normal namun sekitar 10-15 % diantaranya akan mengalami masalah selama proses persalinan dan kelahiran bayi sehingga perlu dirujuk ke fasilitas kesehatan rujukan. Sangat sulit untuk menduga kapan penyulit akan terjadi sehingga kesiapan untuk merujuk ibu dan/atau bayinya ke fasilitas kesehatan rujukan secara optimal dan tepat waktu (jika penyulit terjadi) menjadi syarat bagi keberhasilan upaya penyelamatan. Setiap penolong persalinan harus mengetahui lokasi fasilitas rujukan yang mampu untuk menatalaksana kasus gawatdarurat obstetri dan bayi baru lahir seperti: • • • • • Pembedahan, termasuk bedah sesar Transfusi darah Persalinan menggunakan ekstraksi vakum atau cunam Pemberian antibiotik intravena Resusitasi bayi baru lahir dan asuhan lanjutan bayi baru lahir

Informasi tentang pelayanan yang tersedia di tempat rujukan, ketersediaan pelayanan purna waktu, biaya pelayanan dan waktu serta jarak tempuh ke tempat rujukan adalah wajib untuk diketahui oleh setiap penolong persalinan. Jika terjadi penyulit, rujukan akan melalui alur yang singkat dan jelas. Jika ibu bersalin atau bayi baru lahir dirujuk ke tempat yang tidak sesuai maka mereka akan kehilangan waktu yang sangat berharga untuk menangani penyulit atau komplikasi yang dapat mengancam keselamatan jiwa mereka.

Lima Benang Merah

34

Pada saat ibu melakukan kunjungan antenatal, jelaskan bahwa penolong akan selalu berupaya dan meminta kerjasama yang baik dari suami atau keluaraga ibu untuk mendapatkan layanan terbaik dan bermanfaat bagi kesehatan ibu dan bayinya, termasuk kemungkinan perlunya upaya rujukan. Pada waktu terjadi penyulit, seringkali tidak cukup waktu untuk membuat rencana rujukan dan ketidak-siapan ini dapat membahayakan keselamatan jiwa ibu dan bayinya. Anjurkan ibu untuk membahas dan membuat rencana rujukan bersama suami dan keluarganya. Tawarkan agar penolong mempunyai kesempatan untuk berbicara dengan suami dan keluarganya untuk menjelaskan tentang perlunya rencana rujukan apabila diperlukan. Masukkan persiapan-persiapan dan informasi berikut ke dalam rencana rujukan: • • • • • • Siapa yang akan menemani ibu atau bayi baru lahir. Tempat-tempat rujukan mana yang lebih disukai ibu dan keluarga? (Jika ada lebih dari satu kemungkinan tempat rujukan, pilih tempat rujukan yang paling sesuai berdasarkan jenis asuhan yang diperlukan.) Sarana transportasi yang akan digunakan dan siapa yang akan mengendarainya. Ingat bahwa transportasi harus segera tersedia, baik siang maupun malam. Orang yang ditunjuk menjadi donor darah jika transfusi darah diperlukan. Uang yang disisihkan untuk asuhan medik, transportasi, obat-obatan dan bahan-bahan. Siapa yang akan tinggal dan menemani anak-anak yang lain pada saat ibu tidak di rumah.

Kaji ulang rencana rujukan dengan ibu dan keluarganya. Kesempatan ini harus dilakukan selama ibu melakukan kunjungan asuhan antenatal atau di awal persalinan (jika mungkin). Jika ibu belum membuat rencana rujukan selama kehamilannya, penting untuk dapat mendiskusikan rencana tersebut dengan ibu dan keluarganya di awal persalinan. Jika timbul masalah pada saat persalinan dan rencana rujukan belum dibicarakan maka seringkali sulit untuk melakukan semua persiapan-persiapan secara cepat. Rujukan tepat waktu merupakan unggulan asuhan sayang ibu dalam mendukung keselamatan ibu dan bayi baru lahir.

Singkatan BAKSOKU dapat digunakan untuk mengingat hal-hal penting dalam mempersiapkan rujukan untuk ibu dan bayi. B: (Bidan) Pastikan bahwa ibu dan/atau bayi baru lahir didampingi oleh penolong persalinan yang kompeten untuk menatalaksana gawat darurat obstetri dan bayi baru lahir untuk dibawa ke fasilitas rujukan. Bawa perlengkapan dan bahan-bahan untuk asuhan persalinan, masa nifas dan bayi baru lahir (tabung suntik, selang IV, alat

A: (Alat)

Lima Benang Merah

35

resusitasi, dll) bersama ibu ke tempat rujukan. Perlengkapan dan bahan-bahan tersebut mungkin diperlukan jika ibu melahirkan dalam perjalanan menuju fasilitas rujukan. K: (Keluarga) Beritahu ibu dan keluarga mengenai kondisi terakhir ibu dan/atau bayi dan mengapa ibu dan/atau bayi perlu dirujuk. Jelaskan pada mereka alasan dan tujuan merujuk ibu ke fasilitas rujukan tersebut. Suami atau anggota keluarga yang lain harus menemani ibu dan bayi baru lahir hingga ke fasilitas rujukan. Berikan surat ke tempat rujukan. Surat ini harus memberikan identifikasi mengenai ibu dan/atau bayi baru lahir, cantumkan alasan rujukan dan uraikan hasil pemeriksaan, asuhan atau obatobatan yang diterima ibu dan/atau bayi baru lahir. Sertakan juga partograf yang dipakai untuk membuat keputusan klinik. Bawa obat-obatan esensial pada saat mengantar ibu ke fasilitas rujukan. Obat-obatan tersebut mungkin diperlukan selama di perjalanan. Siapkan kendaraan yang paling memungkinkan untuk merujuk ibu dalam kondisi cukup nyaman. Selain itu, pastikan kondisi kendaraan cukup baik untuk mencapai tujuan pada waktu yang tepat. Ingatkan pada keluarga agar membawa uang dalam jumlah yang cukup untuk membeli obat-obatan yang diperlukan dan bahanbahan kesehatan lain yang diperlukan selama ibu dan/atau bayi baru lahir tinggal di fasilitas rujukan.

S: (Surat)

O: (Obat)

K: (Kendaraan)

U: (Uang)

Lima Benang Merah

36

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->