P. 1
Gangguan Eliminasi Urin

Gangguan Eliminasi Urin

|Views: 2,014|Likes:

More info:

Published by: Margaretha Septianingtyas on Sep 24, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/29/2013

pdf

text

original

a. Pengertian

Kegawatdaruratan urologi merupakan kegawatan di bidang urologi

yang bisa disebabkan oleh karena trauma maupun bukan trauma. Pada

trauma urogenitalia, biasanya dokter cepat memberikan pertolongan dan

jika fasilitas yang tersedia tidak memadai, biasanya langsung merujuk ke

tempat yang lebih lengkap. Berbeda halnya dengan kedaruratan

urogenitalia non trauma, yang sering kali tidak terdiagnosis dengan benar,

menyebabkan kesalahan penanganan maupun keterlambatan dalam

melakukan rujukan ke tempat yang lebih lengkap, sehingga menyebabkan

terjadinya kerusakan organ dan bahkan ancaman terhadap jiwa pasien.

b. Beberapa kedaruratan urologi non trauma tersebut diantaranya

adalah:

Urosepsis

Urosepsis adalah infeksi sistemik yang berasal dari fokus

infeksi di traktus urinarius sehingga menyebabkan bakteremia dan

syok septik.Insiden urosepsis 20-30 % dari seluruh kejadian

septikemia dan lebih sering berasal dari komplikasi infeksi di traktus

urinarius. Pasien yang beresiko tinggi urosepsis adalah pasien berusia

lanjut, diabetes dan immunosupresif seperti penerima transplantasi,

pasien dengan AIDS, pasien yang menerima obat-obatan antikanker

dan imunosupresan.

Karena merupakan penyebaran infeksi, maka kuman

penyebabnya sama dengan kuman penyebab infeksi primer di traktus

urinarius yaitu golongan kuman coliform gram negatif

seperti Eschericia coli (50%), Proteus spp (15%), Klebsiella

dan Enterobacter (15%), dan Pseudomonas aeruginosa (5%). Bakteri

gram positif juga terlibat tetapi frekuensinya lebih kecil yaitu sekitar

15%.

Patogenesa dari gejala klinis urosepsis adalah akibat dari

masuknya endotoksin, suatu komponen lipopolisakarida dari dinding

sel bakteri yang masuk ke dalam sirkulasi darah. Lipopolisakarida ini

terdiri dari komponen lipid yang akan menyebabkan:

a. Aktivasi sel-sel makrofag atau monosit sehingga menghasilkan

beberapa sitokin, antara lain tumor necrosis factor alfa (TNF α)

dan interlaukin I (IL I). Sitokin inilah yang memacu reaksi

berantai yang akhirnya dapat menimbulkan sepsis dan jika tidak

segera dikendalikan akan mengarah pada sepsis berat, syok

sepsis, dan akhirnya mengakibatkan disfungsi multiorgan

atau multi organs dysfunction syndrome (MODS).

b. Rangsangan terhadap sistem komplemen C3a dan C5a

menyebabkan terjadinya agregasi trombosit dan produksi radikal

bebas, serta mengaktifkan faktor-faktor koagulasi.

c. Perubahan dalam metabolisme karbohidrat, lemak, protein, dan

oksigen. Karena terdapatnya resistensi sel terhadap insulin maka

glukosa dalam darah tidak dapat masuk ke dalam jaringan

sehingga untuk memenuhi kebutuhan sel akan glukosa terjadi

proses glukoneogenesis yang bahannya berasal dari asam lemak

dan asam amino yang dihasilkan dari katabolisme lemak berupa

lipolisis dan katabolisme protein.

Hematuria

Hematuria berarti didapatkannya sel darah merah pada urine,

pada umumnya dikategorikan baik gross maupun mikroskopik. Untuk

mikroskopik hematuria dikatakan apabila didapatkan >3 s/d 5 sel

darah merah/lapang pandang.

Gross hematuria jika didapatkan darah atau bekuan darah

berwarna merah atau kecoklatan yang dapat berasal dari perdarahan di

ureter/ginjal, buli-buli dan prostat.

Beberapa jenis hematuria berdasarkan penyebab yaitu:

- Inisial hematuria: penyebabnya ada pada proksimal urethra atau di

leher/dasar buli-buli.

- Total hematuria: penyebabnya ada di buli-buli, ureter atau ginjal.

- Idiopatic hematuria adalah hematuria dimana penyebabnya tidak

dapat ditentukan.

- False/pseudohematuria: adalah diskolorasi dari urine karena pigmen

dari pewarna makanan dan myoglobin.

- Hematuria dapat disebabkan oleh faktor renal (infeksi, kongenital

anomali, tumor, trauma, batu), buli (infeksi, batu, tumor, trauma),

urethra (penyakit menular seksual, trauma, benda asing,

instrumentasi), prostat (infeksi, BPH, kanker prostat), atau bleeding

disorder. Adapun sebanyak ± 20 % dari penderita tidak diketahui

penyebabnya meskipun telah dilakukan pemeriksaan urologi lebih

lanjut.

Torsio testis

Torsio testis terjadi karena testis terputar di dalam skrotum

sehingga terjadi obstruksi aliran darah arteri dan vena testis. Angka

kejadiannya 1 diantara 4000 pria yang berumur kurang dari 25 tahun

dan paling banyak diderita oleh anak pada masa pubertas (12-20

tahun). Ada 2 puncak insiden torsio testis, yaitu tahun pertama dan

pubertas. Insiden torsio testis pada 24 jam pertama kelahiran cukup

tinggi dan mungkin sebagian besar darinya terjadi intrauterin

sehingga pada saat lahir penderita ini mempunyai massa intraskrotal

padat, dan akhirnya kehilangan testis karena orchidektomi atau

atropi. Pada masa pubertas resiko meningkat karena mereka

mempunyai deformitas yang disebut dengan “bell-clapper”. Bentuk

deformitas ini berupa perlekatan testis pada tunica vaginalis yang

tidak kuat sehingga testis menggantung bebas dalam skrotum.

Perlekatan yang tidak kuat ini menyebabkan testis mudah bergerak

dan terputar.

Secara fisiologis otot kremaster berfungsi untuk

menggerakkan testis mendekati dan menjauhi rongga abdomen untuk

mempertahankan suhu ideal untuk testis. Adanya kelainan sistem

penyangga testis menyebabkan testis dapat mengalami torsio jika

bergerak secara berlebihan. Beberapa keadaaan yang menyebabkan

pergerakan berlebihan dari testis yaitu adalah perubahan suhu yang

mendadak (saat berenang), ketakutan, latihan yang berlebihan, batuk,

celana yang terlalu ketat, defekasi, atau trauma yang mengenai

skrotum. Terputarnya funikulus spermatikus menyebabkan obstruksi

aliran darah testis sehingga testis mengalami hipoksia, edema testis,

dan iskemia. Pada akhirnya testis akan mengalami nekrosis.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->