P. 1
Hukum Kausalitas (Ghazali vs Ibn Rusyd)

Hukum Kausalitas (Ghazali vs Ibn Rusyd)

|Views: 433|Likes:
Published by Amar Udin

More info:

Published by: Amar Udin on Sep 24, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/14/2014

pdf

text

original

Hukum Kausalitas (Studi atas pemikiran Ghazali dan Ibn Rusdy) Ghazali (1058 M/450 H – 1111 M/505 H) adalah

seorang pemikir yang unik dalam sejarah intelektual Islam. Ia adalah seorang fakih, teolog, filosof, dan sufi. Bahkan gelar hujjatul islam, berkat prestasi Tahafut al-Falasifah dan Ihya’ ‘ulum al-Din, selalu melekat dengan kebesarannya. Lima belas tahun setelah al-Ghazali meninggal dunia, Ibn Rusyd dilahirkan (1126 M/520 H) di Cordova. Ia wafat di Marakash tahun 1192 M/595 H dengan menyandang nama besar sebagai seorang filosof, fakih, dan dokter. Dalam dunia filsafat, al-Ghazali melancarkan kritik terhadap metafisika dan filosoh (tetapi bukan filsafat secara umum, sedangkan Ibn Rusyd berusaha membela filsafat. Al-Ghazali dikenal sebagai “pembunuh filsafat” di dunia Islam, sementara Ibn Rusyd sebagai “filosof besar Islam terakhir”. Keduanya juga sebanding dalam bidang fikih. Bedanya, al-Ghazali bermazhab Syafi’I, tetapi Ibn Rusyd bermazhab Maliki. Perbedaan spesialisasi yang paling penting adalah al-Ghazali seorang sufi, yang pada tahap tertinggi mampu mengemukakan “epistemologi transcendental (al-kasf al’ilm bi alkhudur), sementara Ibn Rusyd adalah sorang dokter. Tentu saja perbedaan keahlian ini mempengaruhi jalan pikiran dan pendekatan mereka dalam membahas banyak hal, khususnya masalah kausalitas. Sikap al-Ghazali terhadap hukum kausalitas Kausalitas, sebagai salah satu teori pengetahuan, pada waktu itu benar-benar menantang prinsip kenabian, khususnya mukjizat. Al-Ghazali menghadapi filosof-filosof Islam semisal al-Kindi, al-Farabi dan Ibn Sina yang menyakini kausalitas sebagai basis epistemologi mereka. Kausalitas, secara harfiah berarti “segala sesuatu yang bertanggungjawab atas terjadinya perubahan gerak dan aksi. Tujuan utama al-Ghazali mengkritik kausalitas adalah untuk menegakkan mukjizat dan kemahakuasaan Tuhan secara mutlak. Mukjizat adalah “kekuatan supranatural yang diberikan kepada manusia sebagai khariq al-‘adah (sesuatu yang di luar kebiasaan). Jadi, al-Ghazali mengambil sikap yang berbeda dengan para filosof-filosof Muslim sebelumnya. Istilah “adah” yang ada dalam definisi mukjizat menjadi, bagi al-Ghazali, fondasi utama untuk mengislamkan kausalitas, yang masa sebelumnya sangat naturalistik. Langkah pertama al-Ghazali adalah mengkritik pendapat para filosof yang mengatakan bahwa “ hubungan antara sebab dengan akibat bersifat niscaya. Ini berarti

menurut Ibn Rusyd. yang fondasi epistemologinya adalah logika Aristotelian. Ibn Rusyd mengemukakan pendapat lain. kata al-Ghazali. yang bagi Ghazali merupakan pengecualian bahkan mampu melampaui kausalitas. Ia terjadi mungkin saja dikarekan oleh sejumlah sebab. atau secara tidak langsung dengan cara mengirimkan malaikat. maka benda ini akan berubah nama. Misalnya. Di sisi lain. Di sinilah. sehingga jika diuji dengan pendekatan kausalitas. sebab yang sama melahirkan akibat yang sama pula dan sebaliknya.s. Hubungan antara sebab dan akibat menurut Ibn Rusyd. merupakan hubungan yang niscaya. menurut al-Ghazali. bukanlah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari keimanan kepada Nabi sebagaimana dipegangi Ghazali. dalam mengatakan bahwa hubungan kausal itu bersifat mungkin dan mengeyampingkan Allah yang mampu bertindak di luar hubungan kausal. tidak harus terjadi dikarekan satu sebab. yaitu 1 Kasus Nabi Ibrahim a. yang berarti “mukjizat yang tidak sesuai dengan karakter seorang nabi sebagai nabi” semisal merubah tongkat menjadi ular. walaupun masih dengan sebab yang sama. melihat dampak negatif dalam serangan al-Ghazali terhadap kausalitas.al-Ghazali meminjam teori teologi. Mukjizat. “Apa yang mengikat sebab dengan akibatnya. Al-Faruqi mengatakan. bukan hubungan mungkin. Hubungan di sini. sehingga harus mengemukakan kritik. Ibn Rusyd membagi mukjizat jadi 2: al-barrani. Artinya. Sehingga mungkin saja ada api tapi tidak membakar1. Allah secara langsung mampu melampaui kausalitas dengan cara merubah sifat yang ada pada suatu benda. Yang kedua adalah mukjizat yang sesuai dengan seorang nabi sebagai nabi. Jika karakter ini dihilangkan. yang dibakar pada masa raja Namrud. Ini berarti bahwa jika ada sebab pasti ada akibat. Mukjizat jenis ini diperuntukkan bagi orang awwam. . Tanggapan Ibn Rusyd Ibn Rusyd. Setiap benda memiliki karakternya sendiri yang membedakannya dengan benda lain. tidak niscaya maupun mustahil tetapi mungkin bisa terjadi dan tidak bisa terjadi.bahwa jika ada sebab pasti ada akibat dan sebaliknya. khususnya teori Asy’ariyah. al-Ghazali memperkenalkan “kausalitas spiritual”. yang pola-polanya pasti dapat terulang kembali karena Tuhan tidak bermaksud untuk menipu kita dan menyesatkan kita. Suatu akibat. walau masih merupakan bukti keberadaannya sebagai seorang nabi. adalah aksi Tuhan. Fungsi mukjizat dalam Islam. maka benda ini akan menimbulkan akibat yang berbeda. al-Ghazali menegaskan. api membakar jika menyentuh sepotong kapas. Langkah kedua al-Ghazali adalah menantang pernyataan para filosof bahwa “hubungan antara satu sebab dengan satu akibat.

........ .. Bersambung .risalah yang ia bawa. walaupun tidak melupakan orang-orang awwam. Jenis mukjizat ini lebih diperuntukkan bagi orang-orang khusus.... yang untuk Nabi Muhammad adalah Al-Qur’an.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->