P. 1
ETIKA LINGKUNGAN

ETIKA LINGKUNGAN

5.0

|Views: 1,680|Likes:
Published by Tasiwa Soendah

More info:

Published by: Tasiwa Soendah on Sep 25, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/15/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN Krisis lingkungan hidup yang dihadapi manusia modern

merupakan akibat langsung dari pengelolaan lingkungan hidup yang “nir-etik”. Artinya, manusia melakukan pengelolaan sumber-sumber alam hampir tanpa peduli pada peran etika. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa krisis ekologis yang dihadapi umat manusia berakar dalam krisis etika atau krisis moral. Umat manusia kurang peduli pada norma-norma kehidupan atau mengganti norma-norma yang seharusnya dengan norma-norma ciptaan dan kepentingannya sendiri. Manusia modern menghadapi alam hampir tanpa menggunakan hati nurani. Alam begitu saja dieksploitasi dan dicemari tanpa merasa bersalah. Akibatnya terjadi penurunan secara drastis kualitas sumber daya alam seperti lenyapnya sebagian spesies dari muka bumi, yang diikuti pula penurunan kualitas alam. Pencemaran dan kerusakan alam pun akhirnya mencuat sebagai masalah yang mempengaruhi kehidupan sehari-hari manusia. Manusia merupakan sumber kelestarian dan kerusakan lingkungan. YB Mangunwijaya memandangnya sebagai oposisi atau konflik antara manusia dan alam. Cara pandang dan sikap manusia terhadap lingkungan hidupnya menyangkut mentalitas manusia itu sendiri yang mempertanyakan eksistensinya di jaman modern ini dalam kaitannya dengan waktu, tujuan hidup, arti materi dan yang ada ”di atas” materi. Kenyataan bahwa manusia sedang berada dalam proses perusakan lingkungan kehidupannya, lama-kelamaan mulai disadari di seluruh dunia. Hutan ditebang dengan akibat tanah longsor yang semakin parah. Eropa dan Amerika Utara mengalami suatu kematian hutan-hutan yang semakin mengkhawatirkan. Hujan asam mematikan kehidupan dalam danau-danau di Kanada. Kemampuan alam untuk membersihkan diri semakin digerogoti. Penggunaan pestisida secara besar-besaran mengakibatkan merajalelanya hama seperti wereng coklat yang kebal terhadap obat pemberantasnya, penyakit malaria di seluruh dunia tropis dan lain-lainnya. (Franz Magnis Suseno). Etika Lingkungan by Tria Sri Wahyuni Page 1

Dengan demikian masalah lingkungan hidup tak lain adalah soal bagaimana mengembangkan falsafah hidup yang dapat mengatur dan mengembangkan eksistensi manusia dalam hubungannya dengan alam. BAB II ISI Isu-isu kerusakan lingkungan menghadirkan persoalan etika yang rumit. Karena meskipun pada dasarnya alam sendiri sudah diakui sungguh memiliki nilai dan berharga, tetapi kenyataannya terus terjadi pencemaran dan perusakan. Keadaan ini memunculkan banyak pertanyaan. Apakah manusia sudah melupakan hal-hal ini atau manusia sudah kehilangan rasa cinta pada alam? Bagaimanakah sesungguhnya manusia memahami alam dan bagaimana cara menggunakannya? Perhatian kita pada isu lingkungan ini juga memunculkan pertanyaan tentang bagaimana keterkaitan dan relasi kita dengan generasi yang akan datang. Kita juga diajak berpikir kedepan. Bagaimana situasi alam atau lingkungan di masa yang akan datang? Kita akan menyadari bahwa relasi kita dengan generasi akan datang, yang memang tidak bisa timbal balik. Karenanya ada teori etika lingkungan yang secara khusus memberi bobot pertimbangan pada kepentingan generasi mendatang dalam membahas isu lingkungan ini. Para penganut utilitirianisme, secara khusus, memandang generasi yang akan datang dipengaruhi oleh apa yang kita lakukan sekarang. Apapun yang kita lakukan pada alam akan mempengaruhi mereka. Pernyataan ini turut memunculkan beberapa pandangan tentang etika lingkungan dengan kekhususannya dalam pendekatannya terhadap alam dan lingkungan. A. PENGERTIAN ETIKA LINGKUNGAN Etika lingkungan dapat diartikan sebagai dasar moralitas yang memberikan pedoman bagi individu atau masyarakat dalam berperilaku atau memilih tindakan yang baik dalam menghadapi dan Etika Lingkungan by Tria Sri Wahyuni Page 2

menyikapi segala sesuatu yang berkaitan dengan lingkungan sebagai kesatuan pendukung kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan umat manusia serta makhluk hidup lainnya. Etika lingkungan yang baik akan dapat ikut menjadikan perilaku kita semakin arif dan ramah terhadap lingkungan.

B. PAHAM ETIKA LINGKUNGAN 1. Etika Ekologi Etika Lingkungan disebut juga Etika Ekologi. Etika Ekologi selanjutnya dibedakan menjadi dua yaitu etika ekologi dalam dan etika ekologi dangkal. Selain itu etika lingkungan juga dibedakan lagi sebagai etika pelestarian dan etika pemeliharaan. Etika pelestarian adalah etika yang menekankan pada mengusahakan pelestarian alam untuk kepentingan manusia, sedangkan etika pemeliharaan dimaksudkan untuk mendukung usaha pemeliharaan lingkungan untuk kepentingan semua mahluk. a) Etika Ekologi Dalam Yang dimaksud Etika ekologi dalam adalah pendekatan terhadap lingkungan yang melihat pentingnya memahami lingkungan sebagai keseluruhan kehidupan yang saling menopang, sehingga semua unsur mempunyai arti dan makna yang sama. Etika Ekologi ini memiliki prinsip yaitu bahwa semua bentuk kehidupan memiliki nilai bawaan dan karena itu memiliki hak untuk menuntut penghargaan karena harga diri, hak untuk hidup dan hak untuk berkembang. Premisnya adalah bahwa lingkungan moral harus melampaui spesies manusia dengan memasukkan komunitas yang lebih luas. Komunitas yang lebih luas disini maksudnya adalah komunitas yang menyertakan binatang dan tumbuhan serta alam. Bagi penopang etika ekologi dalam, itu alam memiliki fungsi sebagai dan kehidupan. Untuk lingkungan patut dihargai

diperlakukan dengan cara yang baik. Etika ini juga disebut etika lingkungan ekstensionisme dan etika lingkungan preservasi. Etika ini Etika Lingkungan by Tria Sri Wahyuni Page 3

menekankan pemeliharaan alam bukan hanya demi manusia tetapi juga demi alam itu sendiri. Karena alam disadari sebagai penopang kehidupan manusia dan seluruh ciptaan. Untuk itu manusia dipanggil untuk memelihara alam demi kepentingan bersama. Etika lingkungan ini dibagi lagi menjadi beberapa macam menurut fokus perhatiannya, yaitu neo-utilitarisme, zoosentrisme, biosentrisme dan ekosentrisme. Etika lingkungan neo-utilitarisme merupakan pengembangan etika utilitarisme Jeremy Bentham yang menekankan kebaikan untuk semua. Dalam konteks etika lingkungan maka kebaikan yang dimaksudkan, ditujukan untuk seluruh mahluk. Tokoh yang mempelopori etika ini adalah Peter Singer. Dia beranggapan bahwa menyakiti binatang dapat dianggap sebagai perbuatan tidak bermoral. Etika lingkungan Zoosentrisme adalah etika yang menekankan perjuangan hak-hak binatang, karenanya etika ini juga disebut etika pembebasan binatang. Tokoh bidang etika ini adalah Charles Brich. Menurut etika ini, binatang mempunyai hak untuk menikmati kesenangan karena mereka dapat merasa senang dan harus dicegah dari penderitaan. Sehingga bagi para penganut etika ini, rasa senang dan penderitaan binatang dijadikan salah satu standar moral. Menurut The Society for the Prevention of Cruelty to Animals, perasaan senang dan menderita mewajibkan manusia secara moral memperlakukan binatang dengan penuh belas kasih. Etika lingkungan Biosentrisme adalah etika lingkungan yang lebih menekankan kehidupan sebagai standar moral. Salah satu tokoh penganutnya adalah Kenneth Goodpaster. Menurut Kenneth rasa senang atau menderita bukanlah tujuan pada dirinya sendiri. Bukan senang atau menderita, akhirnya, melainkan kemampuan untuk hidup atau kepentingan untuk hidup. Kepentingan untuk hidup yang harus dijadikan standar moral. Sehingga bukan hanya manusia dan binatang saja yang harus dihargai secara moral tetapi juga tumbuhan. Menurut Paul Taylor, karenanya tumbuhan dan binatang secara moral dapat dirugikan dan atau diuntungkan dalam proses perjuangan untuk hidup mereka sendiri, seperti bertumbuh dan bereproduksi.

Etika Lingkungan by Tria Sri Wahyuni

Page 4

Etika Lingkungan Ekosentrisme adalah sebutan untuk etika yang menekankan keterkaitan seluruh organisme dan anorganisme dalam ekosistem. Setiap individu dalam ekosistem diyakini terkait satu dengan yang lain secara mutual. Planet bumi menurut pandangan etika ini adalah semacam pabrik integral, suatu keseluruhan organisme yang saling membutuhkan, saling menopang dan saling memerlukan. Sehingga proses hidup-mati harus terjadi dan menjadi bagian dalam tata kehidupan ekosistem. Kematian dan kehidupan haruslah diterima secara seimbang. Hukum alam memungkinkan mahluk saling memangsa diantara semua spesies. Ini menjadi alasan mengapa manusia boleh memakan unsur-unsur yang ada di alam, seperti binatang maupun tumbuhan. antara kepentingan individu dengan kepentingan Menurut salah satu tokohnya, John B. Cobb, etika ini mengusahakan keseimbangan keseluruhan dalam ekosistem. Secara umum etika ekologi dalam ini menekankan hal-hal berikut : 1. Manusia adalah bagian dari alam 2. Menekankan hak hidup mahluk lain, walaupun dapat dimanfaatkan oleh manusia, tidak boleh diperlakukan sewenang-wenang 3. Prihatin akan perasaan semua mahluk dan sedih kalau alam diperlakukan sewenang-wenang 4. Kebijakan manajemen lingkungan bagi semua mahluk 5. Alam harus dilestarikan dan tidak dikuasai 6. Pentingnya melindungi keanekaragaman hayati 7. Menghargai dan memelihara tata alam 8. Mengutamakan tujuan jangka panjang sesuai ekosistem 9. Mengkritik sistem ekonomi dan politik dan menyodorkan sistem alternatif yaitu sistem mengambil sambil memelihara. b) Etika Ekologi Dangkal Sedangkan Etika ekologi dangkal adalah pendekatan terhadap lingkungan yang menekankan bahwa lingkungan sebagai sarana untuk kepentingan manusia, yang bersifat antroposentris. Etika ekologi dangkal ini biasanya diterapkan pada filsafat rasionalisme dan Etika Lingkungan by Tria Sri Wahyuni Page 5

humanisme serta ilmu pengetahuan mekanistik yang kemudian diikuti dan dianut oleh banyak ahli lingkungan. Kebanyakan para ahli lingkungan ini memiliki pandangan bahwa alam bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Etika ini dapat digolongkan menjadi dua yaitu etika antroposentris yang menekankan segi estetika dari alam dan etika antroposentris yang mengutamakan kepentingan generasi penerus. Etika ekologi dangkal yang berkaitan dengan kepentingan estetika didukung oleh dua tokohnya yaitu Eugene Hargrove dan Mark Sagoff. Menurut mereka etika lingkungan harus dicari pada aneka kepentingan manusia, secara khusus kepentingan estetika. Sedangkan etika antroposentris yang mementingkan kesejahteraan generasi penerus mendasarkan pada perlindungan atau konservasi alam yang ditujukan untuk generasi penerus manusia. Etika berikut ini : 1. Manusia terpisah dari alam, 2. Mengutamakan hak-hak manusia atas alam tetapi tidak menekankan tanggung jawab manusia. 3. Mengutamakan perasaan manusia sebagai pusat keprihatinannya 4. Kebijakan dan manajemen sunber daya alam untuk kepentingan manusia 5. Norma utama adalah untung rugi. 6. Mengutamakan rencana jangka pendek. 7. Pemecahan krisis ekologis melalui pengaturan jumlah penduduk khususnya dinegara miskin 8. Menerima secara positif pertumbuhan ekonomi Demikian etika lingkungan dapat digolongkan kedalam dua yang antroposentris ini memahami bahwa alam merupakan sumber hidup manusia. Etika ini menekankan hal-hal

kelompok yaitu etika lingkungan dalam dan etika lingkungan dangkal. Keduanya memiliki beberapa perbedaan – perbedaan seperti diatas. Tetapi bukan berarti munculnya etika lingkungan ini memberi jawab langsung atas pertanyaan mengapa terjadi kerusakan lingkungan. Etika Lingkungan by Tria Sri Wahyuni Page 6

Namun paling tidak dengan adanya gambaran etika lingkungan ini dapat sedikit menguraikan norma-norma mana yang dipakai oleh manusia dalam melakukan pendekatan terhadap alam ini. Dengan demikian etika lingkungan berusaha memberi sumbangan dengan beberapa norma yang ditawarkan untuk mengungkap dan mencegah terjadinya kerusakan lingkungan. 2. Teori Etika Lingkungan Johan Galtung Krisis ekologi dewasa ini telah meluas dan sangat berpengaruh pada pandangan kosmologis yang menimbulkan eksploitasi terhadap lingkungan. Relevansi pemikiran untuk memberikan landasan filosofis yang lebih mahal dan cocok semakin diperlukan. Semuanya ini terfokus pada manusia, sebagai peletak dasar dari semua permasalahan ini, serta mencari kedudukannya dalam seluruh keserasian alam yang menjadi lingkungan hidupnya. Maka, suatu etika yang mampu memberi penjelasan dan pertanggungjawaban rasional tentang nilai-nilai, asas dan normanorma moril bagi sikap dan perilaku manusia terhadap alam lingkungan ini akan sulit didapatkan, tanpa melibatkan manusia. Masalah ekologi tidak cukup dihadapi dengan mengembangkan etika lingkungan hidup. Kalau sudah menyangkut kesejahteraan umum masyarakat, pemikiran etis saja tidak akan berdaya tanpa didukung oleh aturan-aturan hukum yang dapat menjamin pelaksanaan dan menindak pelanggarnya. Untuk itu perlu diketahui berbagai teori yang membangun pemikiran tentang etika lingkungan hidup. Johan Galtung mengetengahkan tiga teori etika dengan berikut di bawah ini, serta menawarkan teori etika yang dapat dijadikan sebagai alternatif dengan kelebihannya (J. Sudriyanto, 1992: 13, lihat juga Jaelani, 1996: 54-59) a) Etika Egosentris Etika ego sentris adalah etaika yang berdasarkan ego (diri). Focus etika ini adalah suatu keharusan untuk melakkukan tindakan yang baik bagi diri, self. Kebaikan individu adalah kebaikan Page 7

Etika Lingkungan by Tria Sri Wahyuni

masyarakat merupakan klaim yang dianggap sah. Orientasi etika egosentris didasarkan pada filsafat individualisme dengan pandangan bahwa individu merupakan atom sosial yang berdiri sendiri (J. Sudriyanto, 1992: 14). Menurut mengejar Sony Keraf (1990: 31) etika egosentrisme dan mempercayai bahwa tindakan setiap orang pada dasarnya bertujuan kepentingannya sendiri dan demi keuntungan kemajuannya pribadi. Dengan demikian manusia merupakan pelaku rasional dalam mengusahakan hidup dengan memanfaatkan alam yang berdasarkan pada kenyataan pandangan yang mekanistik. Teori sosial liberal merupakan penopang utama pandangan atomisme tersebut. Lima point pokok sebagai ajaran bahwa dalam segala atomisme itu yakni: 1) Pengetahuan mekanistik mengasumsikan sesuatu terdiri dari bagian-bagian yang terpisah. Jika atomatom merupakan komponen dari alam, maka manusia sebagai atom merupakan komponen riil dari masyarakat 2) Keseluruhan merupakan hasil penjumlahan dari bagian-bagian. Jika demikian, maka masyarakat pada hakikatnya merupakan penjumlahan rasional 3) Pandangan mekanistik menerima asumsi bahwa sebab yang datang dari luar berlaku dalam bagian-bagian internal. Oleh karena itu hukum dan aturan-aturan yang dating dari penguasa sebagai bagian eksternal akan dipertimbangan oleh masyarakat secara positif 4) Perubahan keseluruhan terjadi karena perubahan pada bagianbagian, sama halnya dengan masyarakat yang perubahan bangunannya dipengaruhi oleh individu-individu yang hidup di situ 5) Pandangan ilmiah yang mekanistik demikian akan berimplikasi pada sifat dualistik. Ada yang utama dan adalyang tidak utama seperti dalam koorporate. Artinya, secara teoritis etika ego sentris menempatkan individu manusia sebagai bagian paling dari individuindividu sebagai pelaku yang

Etika Lingkungan by Tria Sri Wahyuni

Page 8

pokok dalam membangun lingkungan social (J. Sudriyanto, 1992: 15). b) Etika Homosentris Etika homosentris bertolak belakang dengan etika ego sentris dalam arti jika ego sentris lebih menekankan pada individu, maka etika homosentrisme lebih menitikberatkan pada masyarakat. Modelmodel yang dijadikan dasarnya adalah kepentingan social dengan memperhatikan hubungan antara pelaku dengan lingkungan yang mampu melindungi sebagian besar hajat masyarakat. Sony keraf (1990: 34) mensinyalir adanya kesamaan antara etika egosentrisme, etika homosentrisme, dan etika utilitarianisme. Ketiganya sama-sama mendasarkan diri pada tujuan. Peniliana baik buruk suatu tindakan tergantung pada tujuannya dan akibat dati tindakan itu, inilah inti dari utilitarianisme. Tujuan akibat dan akibat pada dan tindakan pada etika egosintrisme dengan mungkin dialamatkan pada tujuan dan manfaat pribadi individu. Tujuan dan tindakan etika akibat homosentrisme baik bagi diukur sajauhmana tujuan sabanyak

masyarakat dapat dicapai. Akan tetapi homosentrisme lebih dekat dengan utilitarianisme bahkan keduanya dapat dijadikan sebagai etika universal. Asumsi yang digunakan oleh etika homosentrisme adalah sifat organis mekanis dari alam. Setiap bagian merupakan bagian-bagian organ dari bagian lainnya. Jika salah satu bagian hilang maka keseluruhan akan kurang bahkan tidak berguna. Antar bagian dari suatu keseluruhan memiliki hubungan yang tidak terpisahkan dan bersifat saling mempengaruhi. Sayangnya, menurut J. Sudriyanto (1990: 16), dengan pandangan demikian sumber-sumber kekayaan alam dikuras terus menerus dengan dalih demi kepentingan dan kemajuan masyarakat.

c)

Etika Ekosentrisme Page 9

Etika Lingkungan by Tria Sri Wahyuni

Etika ekosentris merupakan aliran etika yang ideal sebagai pendekatan dalam mengatasi krisis ekologi dewasa ini. Hal ini disebabkan karena etika ekosentris lebih berpihak pada lingkungan secara keseluruhan, baik biotik maupun abiotik. Hal terpenting dalam pelestarian lingkungan menurut etika ekosentris adalah tetap bertahannya segala yang hidup dan yang tidak hidup sebagai komponen ekosistem yang sehat. Benda-benda kosmis memiliki tanggung jawab moralnya sendiri seperti halnya manusia, oleh karena itu diperkirakan memilliki haknya sendiri juga. Karena pandangan yang demikian maka etika ini sering kali disebut juga deep ecology (J. Sudriyanto, 1992: 243). Deep ecology juga disebut etika bumi. Bumi dianggap memperluas ikatanikatan komunitas secara kolektif yang terdiri atas manusia, tanah, air, tanaman, binatang. Bumi mengubah peran homo sapiens manusia menjadi bagian susunan warga dirinya. Sifat holistik ini menjadikan adanya rasa hormat terhadap bagian yang lain. Etika ekosentris mempercayai bahwa segala sesuatu selalu dalam hubungan dengan yang lain, di samping keseluruhan bukanlah sekedar penjumlahan-penjumlahan. Jika bagian berubah, keseluruhan akan berubah pula. Tidak ada bagian dalam sesuatu ekosistem yang dapat diubah tanpa mengubah bagian yang lain dan keseluruhan. C. PRINSIP-PRINSIP ETIKA LINGKUNGAN Sebagai pegangan dan tuntunan bagi prilaku kita dalam berhadapan dengan alam , terdapat beberapa prinsip etika lingkungan yaitu : 1) Sikap Hormat terhadap Alam Hormat terhadap alam merupakan suatu prinsip dasar bagi manusia sebagai bagian dari alam semesta seluruhnya 2) Prinsip Tanggung Jawab Tanggung jawab ini bukan saja bersifat individu melainkan juga kolektif yang menuntut manusia untuk mengambil prakarsa, usaha, kebijakan dan tindakan bersama secara nyata untuk menjaga alam semesta dengan isinya.

Etika Lingkungan by Tria Sri Wahyuni

Page 10

3) Prinsip Solidaritas Yaitu prinsip yang membangkitkan rasa solider, perasaan sepenanggungan dengan alam dan dengan makluk hidup lainnya sehigga mendorong manusia untuk menyelamatkan lingkungan. 4) Prinsip Kasih Sayang dan Kepedulian Prinsip satu arah , menuju yang lain tanpa mengaharapkan balasan, tidak didasarkan kepada kepentingan pribadi tapi semata-mata untuk alam. 5) Prinsip “No Harm” Yaitu Tidak Merugikan atau merusak, karena manusia mempunyai kewajiban moral dan tanggung jawab terhadap alam, paling tidak manusia tidak akan mau merugikan alam secara tidak perlu 6) Prinsip Hidup Sederhana dan Selaras dengan Alam Ini berarti , pola konsumsi dan produksi manusia modern harus dibatasi. Prinsip ini muncul didasari karena selama ini alam hanya sebagai obyek eksploitasi dan pemuas kepentingan hidup manusia. 7) Prinsip Keadilan Prinsip ini berbicara terhadap akses yang sama bagi semua kelompok dan anggota masyarakat dalam ikut menentukan kebijakan pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian alam, dan dalam ikut menikmati manfaat sumber daya alam secara lestari. 8) Prinsip Demokrasi Prinsip ini didsari terhadap berbagai jenis perbeaan keanekaragaman sehingga prinsip ini terutama berkaitan dengan pengambilan kebijakan didalam menentukan baikburuknya, tusak-tidaknya, suatu sumber daya alam. 9) Prinsip Integritas Moral Prinsip ini menuntut pejabat publik agar mempunyai sikap dan prilaku moral yang terhormat serta memegang teguh untuk mengamankan kepentingan publik yang terkait dengan sumber daya alam. Etika Lingkungan by Tria Sri Wahyuni Page 11

D. PRINSIP ETIKA LINGKUNGAN HIDUP DALAM ISLAM Lingkungan merupakan bagian dari integritas kehidupan manusia. Sehingga lingkungan harus dipandang sebagai salah satu komponen ekosistem yang memiliki nilai untuk dihormati, dihargai, dan tidak disakiti, lingkungan memiliki nilai terhadap dirinya sendiri. Integritas ini menyebabkan setiap perilaku manusia dapat berpengaruh terhadap lingkungan disekitarnya. Perilaku positif dapat menyebabkan lingkungan tetap lestari dan perilaku negatif dapat menyebabkan lingkungan menjadi rusak. Integritas ini pula yang menyebabkan manusia memiliki tanggung jawab untuk berperilaku baik dengan kehidupan di sekitarnya. Kerusakan alam diakibatkan dari sudut pandang manusia yang anthroposentris, memandang bahwa manusia adalah pusat dari alam semesta. Sehingga alam dipandang sebagai objek yang dapat dieksploitasi hanya untuk memuaskan keinginan manusia, hal ini telah disinggung oleh Allah SWT dalam Al Quran surah Ar Ruum ayat 41:

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Luas hutan di Indonesia adalah sebesar 120,35 juta hektar, terdiri dari hutan produksi 66,35 juta hektar, hutan lindung 33,50 juta hektar, hutan konservasi 20,50 juta hektar. Penutupan vegetasi di dalam kawasan hutan mencapai 88 juta hektar (Sinar Harapan, 2008). Tutupan hutan di Indonesia memiliki luas sebesar 130 juta hektar, menurut World Reseach Institute (sebuah lembaga think tank di Amerika Serikat), 72 persen hutan asli Indonesia telah hilang, berarti sisa luasan hutan Indonesia hanya sebesar 28 persen. Kemudian data

Etika Lingkungan by Tria Sri Wahyuni

Page 12

Departemen Kehutanan sendiri mengungkapan bahwa 30 juta hektar hutan di Indonesia telah rusak parah, atau sebesar 25 persen(Khofid, 2004). Data-data ini menunjukan bahwa kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh perilaku manusia, telah mencapai tingkat yang parah. Sehingga berdasarkan hal tersebut perlu dilakukan pendidikan lingkungan untuk mengubah sudut pandang dan perilaku manusia. Ada beberapa prinsip-prinsip yang harus dipenuhi saat manusia berinteraksi dengan lingkungan hidup. Prinsip-prinsip ini terbuka untuk dikembangkan lebih lanjut. Berikut adalah prinsip-prinsip yang dapat menjadi pegangan dengan dan tuntunan baik bagi perilaku manusia dalam alam secara berhadapan alam, perilaku terhadap

langsung maupun perilaku terhadap sesama manusia yang berakibat tertentu terhadap alam: 1. Sikap Hormat terhadap Alam (Respect For Nature) Di dalam AlQur’an surat Al-Anbiya 107, Allah SWT berfirman:

Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. Rahmatan lil alamin bukanlah sekedar motto Islam, tapi

merupakan tujuan dari Islam itu sendiri. Sesuai dengan tujuan tersebut, maka sudah sewajarnya apabila Islam menjadi pelopor bagi pengelolaan alam dan lingkungan sebagai manifestasi dari rasa kasih bagi alam semesta tersebut. Selain melarang membuat kerusakan di muka bumi, Islam juga mempunyai kewajiban untuk menjaga lingkungan dan menghormati alam semesta yang mencakup jagat raya yang didalamya termasuk manusia, tumbuhan, hewan, makhluk hidup lainnya, serta makhluk tidak hidup. Hormat terhadap alam merupakan suatu prinsip dasar bagi manusia sebagai bagian dari alam semesta seluruhnya. Seperti halnya, Etika Lingkungan by Tria Sri Wahyuni Page 13

setiap setiap

anggota anggota

komunitas komunitas

sosial

mempunyai harus

kewajiban menghargai

untuk dan

menghargai kehidupan bersama (kohesivitas sosial), demikian pula ekologis menghormati setiap kehidupan dan spesies dalam komunitas ekologis itu, serta mempunyai kewajiban moral untuk menjaga kohesivitas dan integritas komunitas ekologis, alam tempat hidup manusia ini. Sama halnya dengan setiap anggota keluarga mempunyai kewajiban untuk menjaga keberadaan, kesejahteraan, dan kebersihan keluarga, setiap anggota komunitas ekologis juga mempunyai kewajiban untuk menghargai dan menjaga alam ini sebagai sebuah rumah tangga. 2. Prinsip Tanggung Jawab (Moral Responsibility For Nature) Terkait dengan prinsip hormat terhadap alam di atas adalah tanggung jawab moral terhadap alam, karena manusia diciptakan sebagai khalifah (penanggung jawab) di muka bumi dan secara ontologis manusia adalah bagian integral dari alam. Sesuai dengan firman Allah dalam surah al Baqarah : 30

Ingatlah bumi.

ketika

Tuhanmu

berfirman

kepada

para

malaikat:

"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka

Kenyataan ini saja melahirkan sebuah prinsip moral bahwa manusia mempunyai tanggung jawab baik terhadap alam semesta seluruhnya dan integritasnya, maupun terhadap keberadaan dan kelestariannya Setiap bagian dan benda di alam semesta ini diciptakan oleh Tuhan dengan tujuannya masing-masing, terlepas dari apakah tujuan itu untuk kepentingan manusia atau tidak. Oleh karena itu, manusia sebagai bagian dari alam semesta, bertanggung jawab pula untuk menjaganya.

Etika Lingkungan by Tria Sri Wahyuni

Page 14

3. Solidaritas Kosmis (Cosmic Solidarity) Terkait dengan kedua prinsip moral tersebut adalah prinsip solidaritas. Sama halnya dengan kedua prinsip itu, prinsip solidaritas muncul dari kenyataan bahwa manusia adalah bagian integral dari alam semesta. Lebih dari itu, dalam perspektif ekofeminisme, manusia mempunyai kedudukan sederajat dan setara dengan alam dan semua makhluk lain di alam ini. Kenyataan ini membangkitkan dalam diri manusia perasaan solider, perasaan sepenanggungan dengan alam dan dengan sesama makhluk hidup lain. 4. Prinsip Kasih Sayang dan Kepedulian terhadap Alam (Caring For Nature) Sebagai sesama anggota komunitas ekologis yang setara, manusia digugah untuk mencintai, menyayangi, dan melestarikan alam semesta dan seluruh isinya, tanpa diskriminasi dan tanpa dominasi. Kasih sayang dan kepedulian ini juga muncul dari kenyataan bahwa sebagai sesama anggota komunitas ekologis, semua makhluk hidup mempunyai hak untuk dilindungi, dipelihara, tidak disakiti, dan dirawat. Sebagaimana dimuat dalam sebuah Hadis shahih yang diriwayatkan oleh Shakhihain:

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak seorang pun muslim yang menanam tumbuhan atau bercocok tanam, kemudian buahnya dimakan oleh burung atau manusia atau binatang ternak, kecuali yang dimakan itu akan bernilai sedekah untuknya.”

Dalam hadis lain dijelaskan

Etika Lingkungan by Tria Sri Wahyuni

Page 15

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jauhilah dua perbuatan yang mendatangkan laknat!” Sahabat-sahabat bertanya, ”Apakah dua perbuatan yang mendatangkan laknat itu?” Nabi menjawab, “Orang yang buang air besar di jalan umum atau di tempat berteduh manusia E. POLA PENDEKATAN YANG MERUSAK 1. Pola Dasar Pendekatan Manusia Modern terhadap Alam Pola ingin pendekatan alam. manusia Alam modern sekadar terhadap sebagai alam dapat untuk disebut sebagai pola pendekatan teknokratik, yakni manusia sekadar menguasai sarana memenuhi kebutuhan manusia. Alam hanya sebagai tumpukan kekayaan dan energi untuk dimanfaatkan. Bahwa alam bernilai pada dirinya sendiri sehingga perlu dipelihara, tidak termasuk dalam wawasan teknokratik. Setiap teknokratisme dapat diringkas sebagai sikap merampas dan membuang; alam dibongkar untuk mengambil apa saja yang diperlukan, begitu pula produk-produk samping pekerjaan manusia begitu saja dibuang. (Franz Magnis Suseno, 1993: 197). 2. Sikap Manusia terhadap Lingkungan Ekonomi dewasa ini berpola pada ekonomi kapitalistis. Ini berarti suatu sistem ekonomi didasarkan pada kekuatan pasar bebas. Laba tinggi merupakan tujuan dari aktivitas ekonomi. Franz Magnis Suseno (1993: 198) menjelaskan bahwa tujuan produksi adalah laba perusahaan. Hanya laba itulah yang menjamin bahwa sebuah perusahaan dapat mempertahankan diri dalam alam persaingan bisnis. Untuk meningkatkan laba, biaya produksi perlu ditekan serendah mungkin. Oleh karena itu ekonomi modern condong untuk mengeksploitasi kekayaan alam dengan semurah mungkin, dengan sekadar mengambil, dengan menggali dan membongkar apa yang diperlukan Etika Lingkungan by Tria Sri Wahyuni Page 16

a.Bidang ekonomi Modern

tanpa memikirkan akibat bagi alam itu sendiri dan tanpa usaha untuk memulihkan keadaan semula. Begitu pula asap, berbagai substansi kimia yang beracun dan segala bentuk sampah lain dibuang dengan semurah mungkin, dibuang ke tempat pembuangan sampah, dialirkan ke dalam air sungai, dihembuskan melalui cerobongcerobong ke dalam atmosfer. Mengolah sampai racunnya hilang sehingga dapat dipergunakan lagi hanya menambah biaya. Jadi, kalau proses produksi sendiri, dibiarkan alam dan berjalan menurut hidup mekanisme ekonomisnya lingkungan

manusia semakin rusak. (Franz Magnis Suseno, 1993: 198). b.Bidang kehidupan sehari-hari Masyarakat dalam kehidupan sehari-hari tidak lebih baik sikapnya terhadap lingkungan. Dengan seenaknya pohon ditebang, bunga di alam dipotong, sampah dibuang ke sungai, kotoran ditinggalkan bertebaran di tempat wisata. (Franz Magnis Suseno, 1993: 198). c. Dampak pendekatan terhadap lingkungan hidup Terhadap kelestarian biosfer Mengenai ciri khas kehidupan di bumi, Franz Magnis Suseno (1993: 199) menjelaskan bahwa keberlangsungan dalam berbagai lapisan: di dalam laut, di dekat pantai, di tengah laut, di dekat permukaan atau di kedalamannya, di dalam sungai, danau, empang; daratan: di daerah dingin, panas, kering, basah, di dataran rendah, di pegunungan, dan juga di udara. Keseluruhan lapisan-lapisan kehidupan itu disebut biosfer. Ciri khas biosfer ialah terdiri dari ekosistem-ekosistem yang tak terhitung banyaknya. Dengan ekosi stem dimaksudkan bahwa organismeorganisme sebuah lingkungan, misalnya sebuah rawa, merupakan sebuah sistem. Artinya saling mempengaruhi dan saling tergantung. Seluruh biosfer dapat dianggap sebagai satu ekosistem bumi. (Franz Magnis Suseno, 1993: 199). Jadi, semua unsur dalam biosfer saling tergantung dan saling mempengaruhi, karena ciri khas setiap sistem adalah keseimbangan. Begitu pula alam sebagai ekosistem hanya dapat lestari apabila Etika Lingkungan by Tria Sri Wahyuni Page 17

menjaga keseimbangan antara kekuatan-kekuatan yang merusak dan mempengaruhi antara kematian dan munculnya organisme baru. Keseimbangan itulah yang diganggu oleh campur tangan kasar manusia. Misalnya, penggunaan pestisida secara berlebihan untuk memberantas hama padi, telah mematikan juga serangga dan burung yang merupakan musuh alamiah hama yang dulu tidak membiarkan hama itu sampai merajalela. Dengan penggunaan pestisida yang sedemikian, merajalelanya hama hama justru merajalela. Lebih dari bagi itu, hama dengan untuk tersebut, kemungkinan

mengalami mutasi bertambah dan lahirlah cabang hama. Misalnya, masalah wereng coklat yang tiga puluh tahun lalu belum merupakan masalah. Suatu kerusakan pada biosfer tak pernah terbatas hanya pada kerusakan itu saja. Kerusakan itu mengganggu keseimbangan ekosistem setempat, dan karena ekosistem setempat merupakan unsur dalam ekosistem dunia, kerusakan itu memperlemah daya tahan alam seluruhnya. Kekuatan alam sebagai ekosistem yang paling penting bagi manusia ialah kemampuannya untuk membersihkan diri dan untuk memulihkan kembali bagian yang rusak. Misalnya, hutan yang ditebang lama kelamaan akan bertambah kembali. Air yang kotor dibersihkan kembali oleh alam. Tetapi apabila pengotoran, perusakan, dan peracunan melampaui batas tertentu, kekuatan alam itu ambruk dan alam akan mati. Sebuah danau misalnya, tidak lagi menunjang kehidupan. Daerah subur menjadi padang pasir. Manusia mulai menyadari akibat dari caranya memanfaatkan alam sesudah semakin banyak ekosistem lokal yang ambruk. Baru dengan demikian manusia juga mulai sadar bahwa ia sendiri merupakan bagian dari ekosistem. Apabila ia merusak lingkungan, ia merusak ekosistem tempat ia sendiri bergantung. (Franz Magnis Suseno, 1993: 150). Terhadap generasi-generasi yang akan datang yang hampir belum masuk dalam hitungan, apabila perencanaan manusia dewasa ini membawa dampak akibat bagi generasi-generasi yang akan Etika Lingkungan by Tria Sri Wahyuni Page 18

datang. Setiap kerusakan dan peracunan wilayah yang tidak dapat dipulihkan kehidupan kembali berarti menggerogoti dasar-dasar alamiah generasi-generasi yang akan datang. (Franz Magnis

Suseno, 1993: 350). Manusia tidak ingin merusak dasar-dasar ekosistemnya sendiri, ia harus berubah. Tetapi perubahan itu tidak cukup kalau didasarkan pada pertimbangan pragmatis. Perlu dikembangkan suatu sikap dan kesadaran baru manusia tentang alam sebagai lingkungan hidupnya, tentang hubungannya dengan lingkungan hidup, tentang tanggung jawabnya terhadap kelestarian lingkungan hidup tersebut. (Franz Magnis Suseno, 1993: 151). Diperlukan tidak kurang dari suatu perubahan fundamental dalam sikap manusia modern terhadap lingkungan hidup dan alam. Sikap dasar yang dituntut itu dapat dirumuskan seperti yang dijelaskan oleh Franz Magnis Suseno (1993: 151) sebagai berikut : “Menguasai secara berpartisipasi, menggunakan sambil memelihara. Manusia harus tetap menguasai alam. Ia tetap harus menggunakannya. Yang perlu berubah adalah cara penguasaan, cara pemanfaatannya.” Menguasai tidak sebagai pihak di luar dan di atas alam, melainkan sebagai bagian dari alam, sebagai partisipan dalam ekosistem bumi. Jadi, menguasai sambil menghargai, mencintai, mendukung, dan mengembangkannya. Memanfaatkan, tetapi tidak sebagaimana manusia menghabiskan isi sebuah tambang atau penduduk pantai akan memanfaatkan bangkai kapal yang kandas dan ditinggalkan orang. Melainkan seperti kita memanfaatkan seekor sapi perah, dengan sekaligus memeliharanya. Manusia harus menjadikan sebagai kewajiban bahwa dalam setiap pertemuan dengan alam, ia meninggalkannya dalam keadaan utuh. (Franz Magnis Suseno, 1993: 151). 3. Mentalitas Frontier Banyak kasus membuktikan bahwa kemerosotan mutu lingkungan itu disebabkan oleh teknologi yang mencemari, diikuti oleh konsumsi yang berlebihan, kebijaksanaan pembangunan yang kurang Etika Lingkungan by Tria Sri Wahyuni Page 19

serasi, terutama karena sering kali terjadi benturan kepentingan antar – sektor yang tidak terselesaikan dengan baik, masalah kemiskinan, masalah pertambahan penduduk yang cepat serta masalah kerawanan sosial dan keamanan. Namun dari segala bukti yang telah kita lihat, akar dari banyak permasalahan lingkungan adalah bersumber dari adanya mentalitas “ Frontier “ yang cukup mengakar dalam peradaban manusia, bahkan masih tetap terasakan sampai sekarang ini. Ditandai oleh tiga konsep ajaran dasar, yaitu : 1. Bahwa dunia sebagai penyedia sumber daya yang tak terbatas untuk digunakan oleh manusia, dan tidak perlu berbagi dengan segala bentuk kehidupan lain yang memerlukannya. Dengan kata lain “ segala sesuatunya senantiasa tetap tersedia terus dan itu semua untuk kita manusia “. Sebagaian dari konsep ini, juga terdapat anggapan bahwa bumi ini memiliki kapasitas yang tidak terbatas untuk menerima dan mengolah pencemaran. 2. Bahwa manusia itu terpisah dari alam dan bukan merupakan bagian dari alam itu sendiri. 3. Bahwa alam dilihat sebagai sesuatu yang harus ditundukkan. Teknologi adalah alat ampuh bagi manusia untuk menundukkan alam, dan juga merupakan jawaban bagi banyak permasalahan konflik antara masyarakat manusia dengan alam. Secara lebih rinci mentalitas Frontier ini menegaskan

pemahamannya bahwa : a. Bumi adalah bank sumberdaya yang tak terbatas. b. Bila persediaan sumber daya habis, kita pindah ke tempat lain. c. Hidup akan semakin baik bila kita terus dapat menambahkan kesejahteraan material kita. d. Harga yang harus dibayar untuk setiap usaha adalah penggunaan materi, energi dan tenaga kerja. Ekonomi pada dasarnya adalah ketiga hal tersebut. e. Alam adalah untuk ditundukkan. f. Hukum dan teknologi baru akan memecahkan masalah lingkungan yang kita hadapi.

Etika Lingkungan by Tria Sri Wahyuni

Page 20

g. Kita lebih tinggi dari pada alam, kita terpisah dari alam dan superior terhadap alam. h. Limbah adalah sesuatu yang harus diterima dari setiap usaha manusia. Mentalitas frontier inilah yang bertanggungjawab sebagai akar penyebab dari kerusakan lingkungan yang kita alami sekarang ini. Akibat yang cukup menonjol dari mentalitas yang demikian ini adalah berkembangnya sikap pandangan yang sangat individual dalam masyarakat dalam menghadapi masalah lingkungan, seperti : apatis, berorientasi pada kepentingan diri sendiri, merasa tidak berarti untuk ikut ambil bagian dalam masalah lingkungan, serta menganut nilai – nilai yang terbatas dalam melihat ruang dan waktu dari masalah lingkungan hidup di mana mereka berada. F. MASALAH LINGKUNGAN 1) Pemanasan Global A. Seputar Pemanasan Global Aktivitas kegiatan manusia melibatkan banyak kegiatan, dari kegiatan kecil seperti merokok, merebus air untuk kopi, pergi bekerja naik kendaraan, penggunaan energy untuk melihat TV sampai dengan proses yang lebih besar yaitu industry ternyata memberi dampak pada lingkungan. Pengaruh aktivitas manusia tersebut terhadap fenomena alam yang terjadi belum banyak yang dikenal karena masih begitu asing dan masih ada silang pendapat dari banyak ahli. Pengetahuan ini begitu “maya” karena tidak terlihat secara kasat mata dan dampaknya tidak langsung dirasakan oleh manusia pada saat ini. Dampak pemanasan global akan dirasakan beberapa tahun kemudian dalam jangka panjang. Kalau ditinjau dari kejadiannya, pemanasan global merupakan kejadian yang diakibatkan oleh : 1. Meningkatnya temperatur rata-rata pada lapisan atmosfer. 2. Meningkatnya temperatur pada air laut. 3. Meningkatnya temperatur pada daratan.

Etika Lingkungan by Tria Sri Wahyuni

Page 21

Gejala pemanasan global dapat diamati dan dirasakan dengan adanya : 1. Pergantian musim yang tidak bisa diprediksi. 2. Hujan badai sering terjadi dimana-mana. 3. Sering terjadi angin putin beliung. 4. Banjir dan kekeringan terjadi pada waktu yang bersamaan. 5. Penyakit mewabah di banyak tempat. 6. Terumbu karang memutih. Banyak dari ahli berpendapat bahwa penyebab utama pemanasan bumi adalah aktivitas manusia walau ada penyebab lain yang bersifat alami. Penyebab pemanasan bumi yang disebabkan oleh aktivitas manusia antara lain : 1. Pembakaran 2. Pembakaran bermotor. 3. Pembakaran gas alam, misalnya untuk keperluan memasak. Akibat dari pembakaran itu, karbondioksida dan gas-gas lainnya terlepas ke atmosfer. Gas-gas tersebut disebut dengan gas rumah kaca. Jika gas rumah kaca yang memenuhi atmosfer semakin banyak maka akan semakin kuat juga menjadi insulator yang menyekat panas dari sinar matahari yang dipancarkan ke permukaan bumi. Diperkirakan proses menghangat dan mendinginnya bumi ini telah saling berganti-ganti dan kurang lebih terjadi selama 4 milyar tahun. Temperatur udara adalah keadaan panas atau dinginnya udara di suatu tempat pada waktu tertentu. Temperatur bumi dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Peningkatannya rata-rata 0,6оC, bahkan bisa lebih tinggi hingga 1,4-5,8оC. Saat ini, temperatur permukaan bumi rata-rata 15оC. Adanya kenaikan temperatur permukaan bumi ini akan mengakibatkan mencairnya es di kutub dan meningkatnya kenaikan temperatur air laut. Dampak lebih lanjutnya adalah sebagai berikut : 1. Meningkatnya permukaan air laut sehingga volume air laut akan naik sekitar 9-100 cm. 2. Menimbulkan banjir di daerah pantai. Etika Lingkungan by Tria Sri Wahyuni Page 22 bahan minyak bakar bumi, batu bara, misalnya untuk untuk pembangkit listrik. misalnya kendaraan

3. Dapat menenggelamkan pulau-pulau dan kota-kota besar yang berada di tepi laut. 4. Curah hujan di daerah yang beriklim tropis akan lebih tinggi dari normal. 5. Tanah akan lebih cepat kering, walaupun sering diguyur hujan. Kekeringan tanah ini akan menyebabkan tanaman mati. Dengan demikian, di beberapa tempat dapat mengalami kekurangan makanan. 6. Akan sering terjadi angin besar dimana-mana. 7. Berpindahnya hewan dan tanaman ke daerah yang lebih dingin. 8. Musnahnya hewan dan tanaman yang tidak mampu berpindah atau beradaptasi. Begitu dahsyatnya potensi kerusakan yang ditimbulkan oleh salah satu akibat dari pemanasan global ini sehingga diperlukan tindakan pencegahan. Upaya pencegahan perlu kerja sama antar daerah, antar propinsi, dan antar negara mengingat dampaknya yang terjadi secara global (mendunia). B. Penyebab Utama Pemanasan Global Di Indonesia, pembabatan hutan dan perubahan tata guna lahan akan memberikan kontribusi terbesar dalam peningkatan emisi gas rumah kaca. Kementrian Lingkungan Hidup melaporkan bahwa tingkat emisi CO2 dari kegiatan pembabatan hutan dan perubahan tata guna lahan mencapai 64%. Pendekatan utama untuk memperlambat semakin bertambahnya gas rumah kaca antara lain dengan tiga cara berikut : 1. Mencegah terlepasnya karbondioksida ke atmosfer dengan menyimpan atau menghilangkan gas karbon dan/atau komponen karbonnya. 2. Mengurangi produksi gas rumah kaca. 3. Penanaman pohon secara besar-besaran (dalam jumlah banyak). 1. EFEK RUMAH KACA Etika Lingkungan by Tria Sri Wahyuni Page 23

Efek rumah kaca, pertama kali ditemukan oleh Joseph Fourier pada tahun 1824, merupakan sebuah proses dimana atmosfer memanaskan sebuah planet, seperti Mars, Venus, Saturnus, Titan, dan Bumi. Efek rumah kaca dapat dibedakan menjadi dua hal yaitu : a) Efek rumah kaca alami yang terjadi secara alami di bumi. b) Efek rumah kaca meningkat yang terjadi akibat aktivitas manusia. Matahari adalah sumber utama energi yang menerangi bumi. Dalam waktu sekitar 8 menit, cahaya melakukan perjalanan dari matahari ke bumi. Sesampainya dipermukaan bumi, cahaya diserap oleh tanah, air sungai, laut dan berbagai benda lain. Semakin lama, semakin banyak cahaya yang diserap dan sebagian diubah menjadi panas. Panas itu dipantulkan lagi ke atas, dan terus ke atas. Sampai di atmosfer, sebahagian panas dihadang oleh gas rumah kaca, tidak dapat terus ke atas menuju luar angkasa sehingga bumi ini menjadi hangat. Namun, manusia membuat jumlahnya terus bertambah sehingga menjadi ancaman.

Sinar matahari ke bumi yang datang berupa energi akan mengalami hal sebagai berikut : a) 25% sinar matahari dipantulkan oleh awan atau partikel lain yang berada di atmosfer. b) 25% sinar matahari diserap oleh awan. c) 45% sinar matahari diserap oleh permukaan bumi. d) 5% sinar matahari dipantulkan kembali oleh permukaan bumi. Kenaikan konsentrasi gas CO2 ini disebabkan oleh kenaikan pembakaran Bahan Bakar Minyak (BBM), batu bara, dan bahan bakar organik lainnya untuk menunjang aktivitas manusia. Di sisi lain, jumlah tumbuh-tumbuhan yang menggunakan CO2 hanya sedikit. Dengan demikian gas CO2 semakin meningkat. Efek rumah kaca tidak merugikan apabila tidak berlebihan. Secara alami efek rumah kaca sangat penting karena bumi menjadi Etika Lingkungan by Tria Sri Wahyuni Page 24

cukup hangat sehingga mendukung kehidupan manusia. Tanpa efek rumah kaca, kehidupan manusia di muka bumi ini akan terganggu karena suhu rata-rata bumi akan berkisar -20оC. Menurut Petrucci dan Harwood (1997:260) efek rumah kaca penting untuk menetapkan suhu yang layak bagi kehidupan di bumi. Tanpa efek rumah kaca, bumi secara permanen akan tertutup es dan perbedaan suhu antara siang hari dan malam hari tidak akan jauh berbeda. 2. PENYEBAB EFEK RUMAH KACA Efek rumah kaca disebabkan naiknya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. Ada enam senyawa gas rumah kaca yang di sepakati dalam Protokol Kyoto (Protokol Kyoto adalah perjanjian yang dibuat di Kyoto, Jepang pada tanggal 12 Desember 1997, yang mengharuskan negara-negara maju menjadi pelopor bagi penurunan pembuangan gas rumah kaca), yaitu : a) Karbondioksida (CO2) b) Metana (CH4) c) Nitrooksida (N2O) d) Chloro-Fluoro-Carbon (CFC) e) Hidro-Fluoro-Carbon (HFC) f) Sulfur heksafluorida (SF6) g) Uap air Dengan peningkatan tidak gas mengabaikan kaca gas rumah kaca lainnya, mengikuti

rumah

lebih

sering

diukur

peningkatan jumlah karbondioksida. Wilayah yang paling banyak membuang gas karbondioksida ke angkasa adalah Amerika Utara, Eropa, dan Australasia. China adalah yang terbanyak, diikuti oleh Amerika Serikat. Berikut adalah daftar 10 negara paling banyak menghasilkan gas karbondioksida antara lain : 1. China 2. Amerika Serikat 3. Rusia 4. India 6) Jerman 7) Kanada 8) Inggris 9) Korea Selatan Page 25

Etika Lingkungan by Tria Sri Wahyuni

5. Jepang

10) Italia

Sedangkan Indonesia berada di peringkat ke-21. Buangan gas rumah kaca dari pembangkit listrik di Amerika Serikat masih jauh lebih banyak dibandingkan buangan dari gabungan 146 negara. Negara maju seharusnya lebih bertanggungjawab terhadap pemanasan global ini. Itulah alas an mengapa dibuat perjanjian yang disebut Perjanjian Kyoto. C. Pengaruh Dan Dampak Pemanasan Global Seperti diketahui pemanasan global terjadi akibat adanya peningkatan gas rumah kaca, yaitu gas yang memiliki sifat penyerap panas seperti karbondioksida (CO2), metana (CH4), nitrooksida (N2O), uap air, chloro-fluoro-carbon (CFC), hidro-fluoro-carbon(HFC), dan sulfur heksafluorida (SF6). Pengaruh gas ini mempunyai dampak dan pengaruh terhadap banyak hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia. PENGARUH CUACA Cuaca adalah rata-rata kondisi atmosfer di suatu tempat tertentu dengan waktu yang relative singkat. Adapun iklim adalah keadaan rata-rata cuaca dari suatu wilayah yang luas dan diperhitungkan dalam jangka waktu yang lama. Apabila di daerah bagian utara bumi (Kutub Utara) akan memanas lebih dari daerah-daerah lain di Bumi, maka akan berakibat diantaranya : a) Gunung-gunung es akan mencair b) Daratan akan mengecil c) Akan lebih sedikit es yang terapung di perairan sebelah utara d) Daerah-daerah yang sebelumnya mengalami salju ringan, mungkin tidak akan mengalaminya lagi e) Didaerah subtropis, bagian pegunungan yang tertutupi salju akan semakin sedikit serta salju akan mencair lebih cepat. f) Musim tanam akan menjadi lebih panjang di beberapa area. g) Temperatur pada musim dingin dan malam hari akan cenderung meningkat Etika Lingkungan by Tria Sri Wahyuni Page 26

h) Daerah tropis akan menjadi lebih lembab karena lebih banyak air yang menguap dari lautan Untuk kejadian yang terakhir, para ilmuwan belum begitu yakin apakah kelembapan tersebut justru akan mempercepat peningkatan atau penurunan efek pemanasan. Walaupun uap air merupakan gas rumah kaca yang akan meningkatkan efek penyekatan pada atmosfer, tetapi uap air yang berlimpah juga akan membentuk awan yang lebih banyak sehingga akan memantulkan cahaya matahari kembali ke angkasa. Hal ini akan berakibat menurunkan proses pemanasan di bumi. PENGARUH TERHADAP PERTANIAN Dampak pemanasan global yang mengakibatkan perubahan iklim terhadap ketahanan pangan di Indonesia antara lain sebagai berikut : Menurunkan produktivitas pertanian khususnya pada wilayah pantai akibat naiknya temperatur bumi Terjadinya iklim ekstrim yang meningkat sehingga sektor pertanian akan kehilangan produksi akibat bencana kering dan banjir yang silih berganti. Kerawanan pangan akan meningkat di wilayah yang rawan bencana kering dan banjir. Tanaman pangan dan hutan dapat mengalami serangan hama dan penyakit yang lebih beragam dan lebih hebat PENGARUH TERHADAP HEWAN DAN TUMBUHAN Selain manusia, hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang tidak bisa menghindar dari kejadian ini. Hewan dan tumbuhan tentu akan mengalami kesulitan juga untuk berpindah atau beradaptasi karena sebagian besar lahan telah dikuasai oleh manusia. Dalam menghadapi pemanasan global, hewan akan berpindah mencari tempat yang agak dingin, yaitu ke daerah pegunungan atau kea rah kutub. Adapun tumbuhan yang tidak bisa bergerak sendiri akan menyesuaikan dengan iklim dalam hal pertumbuhannya. Page 27

Etika Lingkungan by Tria Sri Wahyuni

Tumbuhan yang bisa menyesuaikan tentu harus berkembang, tetapi tumbuhan yang tidak dapat menyesuaika diri tentu akan punah. Mencari daerah baru dengan berpindah bukanlah hal yang mudah bagi hewan dan tumbuhan karena akan terhalang oleh daerah pemukiman, perkotaan, daerah industri, atau lahan manusia. Kepunahan tidak dapat dihindarkan jika spesies tersebut tidak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. PENGARUH TERHADAP KESEHATAN MANUSIA Pengaruh pemanasan global terhadap kesehatan manusia antara lain adalah sebagai berikut : a) Mempengaruhi kesehatan tubuh manusia terhadap penyakitpenyakit tular vector seperti Demam Berdarah Dengue (DBD) dan malaria. Khusus DBD dipengaruhi oleh curah hujan dan jumlah hari hujan. Semakin tinggi dan semakin banyak jumlah hari hujan maka semakin tinggi juga kasus DBD. Saat ini, 45% penduduk dunia tinggal di daerah yang rawan terhadap nyamuk pembawa parasit malaria. Persentase ini akan semakin meningkat menjadi 60% jika temperatur meningkat. b) Lebih banyak orang yang terkena penyakit atau meninggal karena stress panas. c) Meningkatnya insiden alergi dan penyakit pernafasan karena udara yang lebih hangat akan memperbanyak polutan. d) Meningkatnya penyakit-penyakit tropis lainnya, seperti demam kuning dan enchepalitis. D. Langkah Antisipasi Beberapa langkah antisipasi yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut : a) Menghemat penggunaan air • Pemakaian air yang terlalu banyak dan boros akan mempercepat habisnya ketersediaan air tanah. Jadi, jangan membiasakan diri membiarkan keran air mengalir tanpa digunakan. Etika Lingkungan by Tria Sri Wahyuni Page 28

• • •

Ada beberapa cara supaya bisa menghemat pemakaian air antara lain sebagai berikut : Mencuci piring dengan baskom yang telah diisi air, bukan di bawah air mengalir Cuci sayuran dan ayam/daging secara terpisah dalam tempat sudah terisi air. Bila mencuci langsung dibawah keran akan diperlukan air 10-15 kali lebih banyak dibandingkan mencuci dengan satu wadah

Berkumur dan menyikat gigi dengan menggunakan gelas atau gayung. Bila menggunakan air mengalir untuk menyikat gigi, akan terjadi pemborosan berliter-liter air.

• •

Sebaiknya gunakan lap dan seember air untuk mencuci kendaraan, jangan menggunakan air mengalir dari selang. Jika mencuci baju dengan menggunakan mesin cuci maka cucilah dengan sejumlah kapasitas maksimal dari mesin cuci tersebut. Hal ini bertujuan agar bisa menghemat penggunaan air dan energi listrik.

Periksa pipa-pipa air secara teratur agar dapat dilakukan perbaikan pipa jika terjadi kebocoran.

b) Hemat listrik Apa hubungan hemat listrik dengan pemanasan global? Pemanasan global terjadi karena terlalu banyak gas rumah kaca yang dilepas ke atmosfer. Dan gas rumah kaca didominasi oleh karbondioksida (CO2). Sebagian besar CO2 dihasilkan oleh pembangkit listrik berbahan bakar fosil. Dengan demikian, hemat listrik, secara tidak langsung juga akan mengurangi kadar CO2 di atmosfer. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menghemat pemakaian listrik antara lain sebagai berikut : • • • • Dimulai dengan memilih alat elektronik yang hemat listrik Memadamkan lampu yang tidak perlu Kurangi pemakaian lampu pada pukul 17.00-22.00 Pilih warna terang untuk dinding rumah anda agar cahaya lebih optimal Etika Lingkungan by Tria Sri Wahyuni Page 29

• • • • • •

Jangan membiarkan televisi terus menyala sementara anda sudah tertidur pulas Mengeringkan pakaian dengan menjemurnya, tidak perlu menggunakan mesin pengering Atur suhu kulkas dengan tingkatan dingin sesuai dengan kondisi normal Hindari membuka dan menutup kulkas secara berlebihan karena mengakibatkan kulkas harus bekerja lebih keras Pada saat menyetrika, aturlah panas yang diperlukan sesuai dengan bahan pakaiannya Biasakan menyetrika sekaligus dan hindari bolak-balik mencabut serta mencolokkan kembali setrikaan ke sumber listrik.

Mematikan AC jika tidak digunakan. karena CO2 dipergunakan oleh tanaman untuk

c) Penanaman pohon Oleh fotosintesis maka penanaman pohon dalam jumlah banyak juga dapat menjadi solusi. Bila setiap orang menanam satu pohon maka di Indonesia akan bertambah lebih dari dua ratus juta pohon yang ikut mengkonsumsi CO2. Dan CO2 akan menghasilkan oksigen. d) Penggunaan mobil dikurangi Mobil sebagai penyumbang CO2 terbesar di wilayah perkotaan juga perlu diantisipasi dengan mengubah perilaku hidup orang. Penggunaan mobil pribadi menjadi penyumbang CO2 terbesar bila tidak ada pengaturan kegiatan mobil pribadi atau mobil dinas dengan baik. Pencemaran udara sekitar 70% dihasilkan oleh kendaraan bermotor. Oleh karena itu ada baiknya mengurangi penggunaan mobil pribadi untuk mengurangi pengaruh pemanasan global. e) Hemat sampah Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk melakukan kegiatan hemat sampah antara lain sebagai berikut : • Menggunakan kertas bekas untuk menulis pesan Page 30

Etika Lingkungan by Tria Sri Wahyuni

• • • •

Mengusahakan membeli kertas daur ulang, atau membuat kertas daur ulang sendiri Tidak menggunakan peralatan sekali pakai seperti gelas dari bahan Styrofoam Ada baiknya mengurangi penggunaan tisu dan membiasakan kembali menggunakan sapu tangan Mengurangi penggunaan kemasan jika tidak perlu, seperti penggunaan kantong plastik, terlebih jika hanya membeli permen yang bisa dikantongi.

2) Hujan Asam Istilah hujan asam pertama kali digunakan oleh Robert A. Smith ( 1872 ) dalam Kupchella ( 1989 ) yang menguraikan tentang keadaan di Manchester, sebuah daerah industri dibagian utara Inggris. Hujan asam ialah turunnya asam dalam bentuk hujan. Hal ini terjadi apabila asam di udara larut dalam butirbutir air di awan. Jika hujan turun dari awan itu, air hujan bersifat asam. Asam itu terhujankan atau rain-out. Hujan asam dapat pula terjadi karena hujan turun melalui udara yang mengandung asam sehingga asam itu terlarut kedalam air hujan dan turun kebumi. Hujan asam didefinisikan sebagai segala macam hujan dengan pH di bawah 5,6. Hujan secara alami bersifat asam (pH sedikit di bawah 6) karena karbondioksida (CO2) di udara yang larut dengan air hujan memiliki bentuk sebagai asam lemah. Jenis asam dalam hujan ini sangat bermanfaat karena membantu melarutkan mineral dalam tanah yang dibutuhkan oleh tumbuhan dan binatang. Istilah Hujan asam pertama kali diperkenalkan oleh Angus Smith ketika ia menulis tentang polusi industri di Inggris). Tetapi istilah hujan asam tidaklah tepat, yang benar adalah deposisi asam. Deposisi asam disebabkan oleh belerang (sulfur) yang merupakan pengotor dalam bahan bakar fosil serta nitrogen di udara yang bereaksi dengan oksigen membentuk surful dioksida dan nitrogen oksida. Zat-zat ini berdifusi ke atmosfer dan bereaksi dengan air untuk membentuk asam sulfat dan asam nitrat yang mudah larut sehingga jatuh bersama air hujan. Air hujan yang asam tersebut akan Etika Lingkungan by Tria Sri Wahyuni Page 31

meningkatkan kadar keasaman tanah dan air permukaan yang terbukti berbahaya bagi kehidupan ikan dan tanaman. Usaha untuk mengatasi hal ini saat ini sedang gencar dilaksanakan. Deposisi asam ada dua jenis, yaitu deposisi kering dan deposisi basah. Deposisi kering ialah peristiwa terkenanya benda dan mahluk hidup oleh asam yang ada dalam udara. Ini dapat terjadi pada daerah perkotaan karena pencemaran udara akibat kendaraan maupun asap pabrik. Selain itu deposisi kering juga dapat terjadi di daerah perbukitan sumber yang terkena angin yang membawa udara yang mengandung asam. Biasanya deposisi jenis ini terjadi dekat dari pencemaran.

Deposisi basah ialah turunnya asam dalam bentuk hujan. Hal ini terjadi apabila asap di dalam udara larut di dalam butir-butir air di awan. Jika turun hujan dari awan tadi, maka air hujan yang turun bersifat asam. Deposisi asam dapat pula terjadi karena hujan turun melalui udara yang mengandung asam sehingga asam itu terlarut ke dalam air hujan dan turun ke bumi. Asam itu tercuci atau wash out. Deposisi jenis ini dapat terjadi sangat jauh dari sumber pencemaran. Hujan secara alami bersifat asam karena Karbon Dioksida (CO2) di udara yang larut dengan air hujan memiliki bentuk sebagai asam lemah. Jenis asam dalam hujan ini sangat bermanfaat karena membantu melarutkan mineral dalam tanah yang dibutuhkan oleh tumbuhan dan binatang. Pada dasarnya Hujan asam disebabkan oleh 2 polutan udara, Sulfur Dioxide (SO2) dan nitrogen oxides (NOx) yang keduanya dihasilkan melalui pembakaran. Akan tetapi sekitar 50% SO2 yang ada di atmosfer diseluruh dunia terjadi secara alami, misalnya dari letusan gunung berapi maupun kebakaran hutan secara alami. Sedangkan 50% lainnya berasal dari kegiatan manusia, misalnya akibat pembakaran bahan bakar fosil (BBF), peleburan logam dan pembangkit listrik. Minyak bumi mengadung belerang antara 0,1% sampai 3% dan batubara 0,4% sampai 5%. Waktu BBF di bakar, belerang tersebut beroksidasi menjadi belerang dioksida (SO2) dan lepas di udara.

Etika Lingkungan by Tria Sri Wahyuni

Page 32

Oksida

belerang

itu

selanjutnya

berubah

menjadi

asam

sulfat

(Soemarwoto O, 1992). DAMPAK HUJAN ASAM Hujan asam berdampak terhadap kesehatan, hutan, pertanian, ekosistem akuatik dan material. a. Kesehatan Hujan asam mempengaruhi kesehatan melalui tiga cara, yaitu pertama efek jangka pendek karena menghirup udara yang tercemar berat; efek jangka panjang karena menghirup udara yang tercemar sedang atau ringan; efek tidak langsung karena ter-exposed pada logam berat seperti alumunium dan logam berat lain yang terbebaskan dari zarah tanah pada pH yang rendah, akumulasi logam berat melalui rantai makanan dan terlarutnya logam berat dari pipa air yang terbuat dari timbal atau tembaga. b. Hutan Dampak terhadap hutan dan pertanian sebagian karena pH tanah turun. Penurunan pH tanah dan air danau dipengaruhi kemampuan tanah dan air untuk menetralisir asam tersebut. Daya netralisasi asam itu ditentukan oleh adanya zat yang dapat menetralisir asam, misalnya, kalsium karbonat (CaCO 3) dan humus. Jika ada kalsium karbonat ion H+ bereaksi dengan zat itu dan diubah menjadi air, karbonat dan CO2. Kerusakan hutan oleh hujan asam gejalanya berbeda dengan gej ala kerusakan oleh kekeringan dan serangan hama atau penyakit. Kerusakan dan kematian hutan disebut Forest Dieback atau Waldsterben. Kematian hutan mengakibatkan naiknya resiko terjadinya tanah longsor dan juga kelonggaran salju pada musim dingin, yang sangat berbahaya bagi penduduk dan wisatawan. Proses terjadinya kerusakan dapat dikelompokan menjadi enam, yaitu (1) stres umum, (2) penurunan pH tanah- keracunan aluminium, (3) peracunan oleh SO2, (4) kekurangan magnesium, (5) kelebihan hara atau nitrogen dan (6) zat organik pengatur tumbuh. 1) Stres Umum Page 33

Etika Lingkungan by Tria Sri Wahyuni

Pencemaran udara telah menghambat fotosintesis dan immobilisasi hasil fotosintesis dengan pembentukan metabolit sekunder yang potensial beracun. Sebagai akibatnya akar kekurangan energi, karena hasil fotosintesis tertahan di tajuk. Sebaliknya tajuk mengakumulasi zat yang potensial beracun. Dengan demikian pertumbuhan akar dan mikoriza (jamur yang tumbuh secara simbiotik dengan akar) terhambat serta daun menguning dan rontok. Pohon menjadi lemah dan mudah terserang oleh penyakit dan hama serta mudah ambruk terkena angin. 2) zarah Penurunan pH tanah-Keracunan Aluminium Penurunan pH menyebabkan tanah dan menimbulkan terlepasnya alumunium dari keracunan. Akar yang halus

mengalami nekrosis sehingga penyerapan hara dan air terhambat. Hal ini menyebabkan pohon kekurangan air dan hara serta akhirnya mati. 3) Peracunan oleh Gas SO2 Gas ini menyebabkan daun menjadi kuning dan coklat. 4) Kekurangan magnesium Pada analisis daun menunjukkan kadar magnesium yang rendah. Magnesium adalah sebuah unsur hara yang esensial sehingga kadar yang rendah dalam daun itu menunjukkan, pohon menderita kekurangan magnesium. Kekurangan magnesium disebabkan oleh pencucian magnesium dari tanah karena pH yang rendah dan rusaknya daun. Kerusakan daun menyebabkan pula tercucinya magnesium dari daun. 5) Kelebihan hara Udara yang tercemar juga mengandung unsur hara sehingga dalam jangka waktu yang panjang terjadilah kelebihan unsur hara, terutama nitrogen. Kelebihan nitrogen memacu pertumbuhan yang berlebihan sehingga pohon membutuhkan lebih banyak unsur hara yang lain dan karena itu dapat menyebabkan kekurangan unsur hara tertentu. Kelebihan nitrogen juga menyebabkan penghambatan atau nekrosis pada mikoriza; kenaikan kepekaan terhadap suhu dibawah Etika Lingkungan by Tria Sri Wahyuni Page 34

titik beku; kenaikan kerentanan terhadap penyakit j amur pada akar; perubahan dalam nitrifikasi dan penambatan nitrogen dari udara. 6) Zat organik pengatur tumbuh

Contoh zat ini ialah etilen dan anilin. Pencemaran ini berasal dari industri yang memproduksi berjenis pestisida, herbisida dan zat pengatur tumbuh. Gejala peracunan oleh zat itu ialah daun menjadi berwarna coklat, rontoknya daun yang masih berwarna hijau dan kematian pohon dewasa. Pengamatan menunjukkan adanya kandungan NH4 dan aluminium lebih tinggi di hutan yang mengalami kerusakan daripada yang sehat dan kandungan Mg, Ca dan Kalium yang lebih rendah. Dalam keadaan demikian hutan yang rusak mengalami kelebihan nitrogen sehingga pertumbuhannya dipacu, sedangkan unsur hara Mg, Ca dan K tidak mencukupi untuk memenuhi laju pertumbuhan yang tinggi itu (ingat hukum minimum). keracunan aluminium. c. Pertanian Hasil padi dapat turun sampai 30% karena hujan asam. Karena besarnya laju pertumbuhan industri dan transpor, ada kemungkinan telah terjadi kenaikan kadar SO2 sampai pada kadar yang menyebabkan keracunan kronik dan penurunan hasil pertanian tanpa adanya gejala morfologik dan kasat mata pada tanaman. d. Ekosistem akuatik Hujan asam yang berkepanjangan akan mempengruhi pH air ekosistem akuatik (Kupchella, 1989). Karena kehidupan organisme hidup akuatik sangat dipengaruhi oleh pH air tempat hidupnya, hujan asam mempunyai pengaruh yang besar terhadap biologi ekosistem akuatik. Hujan asam menurunkan populasi ikan, tumbuhan akuatik dan jasad renik. Menjadi asamnya air danau dapat juga menyebabkan kepunahan jenis. Di samping efeknya terhadap pH, hujan asam juga memperkaya danau dengan unsur hara, khususnya nitrogen. Sebagai akibatnya dapatlah terjadi apa yang disebut eutrofikasi, yaitu Hutan itu juga mengalami

Etika Lingkungan by Tria Sri Wahyuni

Page 35

penyuburan

perairan.

Eutrofikasi

menimbulkan

kesulitan,

karena

terjadinya pertumbuhan plankton yang berlebihan sehingga plankton itu saling meneduhi dari sinar matahari dan terjadilah kematian massal plankton (Odum, 1996). Jika ini terjadi oksigen dalam air habis terpakai dalam proses pembusukan biomassa yang mati itu dan mengakibatkan kematian ikan dan organisme. e. Material Hujan asam mempunyai dampak penting terhadap berbagai jenis material. Logam, bangunan baru, keramik dan gelas, cat, kertas, bahan fotografi, tekstil, kulit dan karet terpengaruh oleh oksida belerang, oksida nitrogen dan zat pencemar udara lainnya. Sebagian kerusakan ini disebabkan oleh deposisi kering asam sulfat yang berasal dari transpor dalam kota dan dari industri. PENGENDALIAN HUJAN ASAM Usaha untuk menanggulangi pencemaran dari pembakaran BBF di pabrik dan instalasi listrik adalah dengan membangun cerobong asap yang tinggi. Dengan cerobong yang tinggi itu daerah sekitar pabrik dan pusat pembangkit listrik menderita sedikit atau bahkan bebas dari pencemaran. Tetapi, zat pencemar itu terbawa oleh angin ke tempat yang jauh. Jika jumlah zat pencemarnya sedikit, cara ini baik karena dengan penyebaran itu terjadi pengenceran zat pencemar. Akan tetapi, dengan makin banyaknya zat pencemar yang diproduksi, efek pengenceran tidak lagi cukup sehingga daerah yang jauh akhirnya menderita juga. Jadi, cerobong tinggi sebenarnya mempunyai efek membuang zat pencemar ke halaman tetangga. Mengendalikan hujan asam ialah menggunakan bahan bakar yang mengandung sedikit zat pencemar, menghindari terjadinya zat pencemar pada waktu pembakaran, menangkap zat pencemar dari gas buangan dan penghematan energi. a.Bahan bakar dengan kandungan belerang rendah Kandungan belerang dalam bahan bakar bervariasi. 11% cadangan minyak dunia, mengandung kandungan belerang yang tinggi Etika Lingkungan by Tria Sri Wahyuni Page 36

antara 1,4-1,6%. Dengan demikian, dunia sebagian besar tergantung pada minyak yang mengandung kadar belerang yang tinggi. Penggunaan gas alam akan mengurangi emisi zat pembentuk asam, akan tetapi kebocoran gas ini melalui pipa dan tempat lain menambah emisi metan, yang merupakan gas rumah kaca yang kuat. Usaha lain lagi ialah untuk menggunakan bahan bakar alternatif yang tidak mengandung belerang dan nitrogen, antara lain, metanol, etanol dan hidrogen. Akan tetapi, penggantian haruslah dilakukan dengan hati-hati, karena penggantian itu dapat memecahkan satu masalah, tetapi menimbulkan masalah lain. Contohnya ialah metanol yang pada pembakaran menghasilkan dua sampai lima kali lebih banyak formaldehide daripada pembakaran bensin. Zat ini diketahui mempunyai sifat karsinogenik (penyebab kanker). Apabila metanol itu diproduksi dari batu bara, proses produksi dan pembakaran metanol menghasilkan 20-160% lebih banyak CO2 daripada bensin, yang juga merupakan gas rumah kaca. b. Mengurangi kandungan belerang sebelum pembakaran Kadar belerang dalam bahan bakar dapat dikurangi dengan menggunakan teknologi tertentu. Dalam proses produksi batubara, batubara biasa dicuci. Proses pencucian itu, yang bertujuan untuk membersihkan batubara dari pasir, tanah dan kotoran lain, juga mengurangi kadar belerang yang berupa pirit (belerang dalam bentuk besi sulfida) sampai 50-90%. Untuk mengurangi kadar belerang organik dalam batubara lebih sulit dan memerlukan teknologi yang lebih canggih. c. Pengendalian pencemaran selama pembakaran Beberapa teknologi untuk mengurangi emisi SO2 dan NOx pada waktu pembakaran telah dikem bangkan. Salah satu teknologi itu ialah lime injection in multiple burners (LIMB). Dengan teknologi ini, emisi SO2 dapat dikurangi sampai 80% dan NOx 50% Dalam teknologi ini, kapur diinjeksikan ke dalam dapur pembakaran dan suhu pembakaran diturunkan dengan menggunakan alat pembakar khusus. Kapur akan bereaksi dengan belerang dan membentuk gypsum (kalsium sulfrat Etika Lingkungan by Tria Sri Wahyuni Page 37

dihidrat). Penurunan suhu mengakibatkan penurunan pembentukan NOx, baik dari nitrogen yang ada dalam bahan bakar maupun dari nitrogen udara. Pengendalian setelah pembakaran Zat pencemar dapat pula dikurangi dari gas limbah hasil pembakaran. Teknologi yang sudah banyak dipakai ialah flue-gas desulfurization (FGD). Prinsip teknologi ini ialah untuk mengikat SO2 di dalam gas limbah di cerobong asap dengan absorben, yaitu yang disebut scrubbing. Dengan cara ini, 70-95% SO2 yang terbentuk dapat diikat. Kerugian cara ini ialah terbentuknya limbah. Akan tetapi, limbah itu dapat pula diubah menjadi gipsum yang dapat digunakan dalam berbagai industri. Sebuah cara lain ialah untuk menggunakan amonia sebagai zat pengikatnya sehingga limbah yang dihasilkan dapat digunakan sebagai pupuk. Cara khusus untuk mengurangi emisi NOx ialah dengan Reduksi Katalitik Selektif ( Selective Catalytic Reduction = SCR ). Dengan cara ini 80 – 90 % Nox diubah menjadi nitrogen elementer yang dapat dilepas ke udara dengan tidak menimbulkan masalah. Akan tetapi SCR lebih mahal dari pada penggunaan pembakaran khusus dengan suhu rendah. Perhatian juga harus diberikan pada pencemaran yang disebabkan oleh transpor, karena transpor merupakan sumber 33 – 50 % dari pencemaran total. Metode yang paling banyak digunakan ialah pengubahan katalitik ( Catalytic Converter ). Akan tetapi alat ini hanya berguna pada kendaraan dengan BBM benzin dan tidak pada mesin diesel. Alat ini juga tidak dapat digunakan pada benzin yang mengandung timbal ( Pb ) sehingga tidak dapat digunakan pada negara yang masih menggunakan bensin ini, seperti di Indonesia. Namun karena Timbal merupakan zat pencemar yang beracun, oleh negara maju kendala ini justru dimanfaatkan untuk mengurangi pencemaran Pb dengan memproduksi benzin tanpa timbal. Beberapa negara malahan melarang penggunaan benzin dengan Pb. Pengubahan catalytic yang dipasang pada knalpot menggunakan campuran platinum dan rhodium sebagai katalisator. Pengubah itu mengubah CO Etika Lingkungan by Tria Sri Wahyuni Page 38

( karbon monoksida ) dan HC ( hidrokarbon) menjadi Carbon dioksida dan air serta mereduksi NOx menjadi gas nitrogen Dengan alat ini emisi CO, HC, dan NOx dapat dikurangi sampai 90 %. Kelemahan pengubah ini ialah alat itu rumit dan memerlukan pengendalian yang baik campuran udara/bahan bakar pada pembakaran, dan alat ini juga cukup mahal. Penghematan energi Semua pengendalian pencemaran seperti diuraikan diatas mempunyai kelemahan yaitu hanya mempunyai efek terhadap SO2 dan NO2 dan tidak terhadap CO 2 yang merupakan gas rumah kaca yang penting. Semua cara pengendalian pencemaran memerlukan biaya. Penghematan energi pun memerlukan biaya. Tetapi penghematan energi mempunyai keuntungan bahwa efeknya juga mengurangi emisi CO2. Biayanya sangat bervariasi dari yang murah sampai yang mahal sehingga terdapat pilihan yang luas yang dapat dilakukan oleh rakyat kecil yang melarat sampai yang kaya. Pilihan tertentu bahkan menguntungkan rakyat kecil seperti pengembangan transpot massal umum ( Budihardjo, 1997 ) dengan bus dan kereta api serta transpot dengan sepeda dan jalan kaki untuk jarak dekat. Oleh karena itu penghematan energi untuk menanggulangi pencemaran merupakan pilihan yang baik untuk negara sedang berkembang, termasuk Indonesia. Yang mengurangi dimaksud dengan penghematan sehingga energi bukanlah laju penggunaan energi menghambat

pembangunan, melainkan menaikan efisiensi energi sehingga per-unit didapatkan pelayanan yang lebih banyak. 3) Banjir Penyebab Banjir Berdasarkan pengamatan, bahwa banjir disebabkan oleh dua katagori yaitu banjir akibat alami dan banjir akibat aktivitas manusia. Banjir akibat alami dipengaruhi oleh curah hujan, fisiografi, erosi dan sedimentasi, kapasitas sungai, kapasitas drainase dan pengaruh air Etika Lingkungan by Tria Sri Wahyuni Page 39

pasang. Sedangkan banjir akibat aktivitas manusia disebabkan karena ulah manusia yang menyebabkan perubahan-perubahan lingkungan seperti : perubahan kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS), kawasan pemukiman di sekitar bantaran, rusaknya drainase lahan, kerusakan bangunan pengendali banjir, rusaknya hutan (vegetasi alami), dan perencanaan sistim pengendali banjir yang tidak tepat. 1. Penyebab Banjir Secara Alami a) Curah Hujan Oleh karena beriklim tropis, Indonesia mempunyai dua musim sepanjang tahun, yakni musim penghujan umumnya terjadi antara bulan Oktober–Maret dan musim kemarau terjadi antara bulan April-September. Pada musim hujan, curah hujan yang tinggi berakibat banjir di sungai dan bila melebihi tebing sungai maka akan timbul banjir atau genangan. b) Pengaruh Fisiografi Fisiografi atau geografi fisik sungai seperti bentuk, fungsi dan kemiringan daerah aliran sungai (DAS), kemiringan sungai, geometrik lokasi hidrolik dan (bentuk lain-lain penampang merupakan seperti hal-hal lebar, yang kedalaman, potongan memanjang, material dasar sungai), sungai mempengaruhi terjadinya banjir. c) Erosi dan Sedimentasi Erosi di DAS berpengaruh terhadap pengurangan kapasitas penampang sungai. Erosi menjadi problem klasik sungaisungai di Indonesia. Besarnya sedimentasi akan mengurangi kapasitas saluran sehingga timbul genangan dan banjir di sungai. Sedimentasi juga merupakan masalah besar pada sungai-sungai di Indonesia. Menurut Rahim (2000), erosi tanah longsor (land-slide) dan erosi pinggir sungai (stream bank erosion) memberikan sumbangan sangat besar

Etika Lingkungan by Tria Sri Wahyuni

Page 40

terhadap sedimentasi di sungai-sungai, bendungan dan akhirnya ke laut. d) Kapasitas Sungai Pengurangan kapasitas aliran banjir pada sungai dapat disebabkan oleh pengendapan berasal dari erosi DAS dan erosi tanggul sungai yang berlebihan. Sedimentasi sungai terjadi karena tidak adanya vegetasi penutup dan adanya penggunaan lahan yang tidak tepat, sedimentasi ini menyebabkan terjadinya agradasi dan pendangkalan pada sungai, hal ini dapat menyebabkan berkurangnya kapasitas tampungan sungai. e) Kapasitas Drainasi yang tidak memadai Sebagian besar kotakota di Indonesia mempunyai drainasi daerah genanga yang tidak memadai, sehingga kota-kota tersebut sering menjadi langganan banjir di musim hujan. f) Pengaruh air pasang Air pasang laut memperlambat aliran sungai ke laut. Pada waktu banjir bersamaan dengan air pasang yang tinggi maka tinggi genangan atau banjir menjadi besar karena terjadi aliran balik (backwater). Fenomena genangan air pasang (Rob) juga rentan terjadi di daerah pesisir sepanjang tahun baik di musim hujan dan maupun di musim kemarau 2. Penyebab Banjir Akibat Aktifitas Manusia a) Perubahan kondisi DAS Perubahan kondisi DAS seperti penggundulan hutan, usaha pertanian yang kurang tepat, perluasan kota, dan perubahan tataguna lainnya dapat memperburuk masalah banjir karena meningkatnya aliran banjir. Dari persamaan-persamaan yang ada, perubahan tata guna lahan berkontribusi besar terhadap naiknya kuantitas dan kualitas banjir.

Etika Lingkungan by Tria Sri Wahyuni

Page 41

b) Kawasan kumuh dan Sampah Perumahan kumuh (slum) di sepanjang bantaran sungai dapat menjadi penghambat aliran. Masalah kawasan kumuh ini menjadi faktor penting terjadinya banjir di daerah perkotaan. Disiplin masyarakat untuk membuang sampah pada tempat yang ditentukan masih kurang baik dan banyak melanggar dengan membuang sampah langsung ke alur sungai, hal ini biasa dijumpai di kota-kota besar. Sehingga dapat meninggikan muka air banjir disebabkan karena aliran air terhalang. c) Drainasi lahan Drainasi perkotaan dan pengembangan pertanian pada daerah bantaran banjir akan mengurangi kemampuan bantaran dalam menampung debit air yang tinggi. d) Kerusakan bangunan pengendali air Pemeliharaan yang kurang memadai dari bangunan pengendali banjir sehingga menimbulkan kerusakan dan akhirnya tidak berfungsi dapat meningkatkan kuantitas banjir. e) Perencanaan sistim pengendalian banjir tidak tepat Beberapa tetapi sistim pengendalian dapat banjir memang dapat selama mengurangi kerusakan akibat banjir kecil sampai sedang, mungkin menambah kerusakan banjir-banjir yang besar. Semisal, bangunan tanggul sungai yang tinggi. Limpasan pada tanggul ketika terjadi banjir yang melebihi banjir rencana dapat menyebabkan keruntuhan tanggul. Hal ini mengakibatkan kecepatan aliran yang sangat besar melalui tanggul yang bobol sehingga menibulkan banjir yang besar. f) Rusaknya hutan (hilangnya vegetasi alami) Penebangan pohon dan tanaman oleh masyarakat secara liar (Illegal Etika Lingkungan by Tria Sri Wahyuni Page 42

logging), tani berpindah-pindah dan permainan rebiosasi hutan untuk bisnis dan sebagainya menjadi salah satu sumber penyebab terganggunya siklus hidrologi dan terjadinya banjir. G. TANGGUNG JAWAB TERHADAP LINGKUNGAN Inti etika lingkungan hidup yang baru adalah sikap tanggung jawab terhadap-nya (Franz Magnis Suseno, 1993: 151). Tanggung jawab itu memiliki dua acuan. Pertama, Keutuhan biosfer yang berarti campur tangan manusia dengan alam yang memang harus berjalan terus selalu dijalankan dalam tanggung jawab terhadap kelestarian semua proses kehidupan yang sedang berlangsung. Terutama manusia, akhirnya menjadi peka terhadap keseimbangan suatu ekosistem. Campur tangan manusia bernafaskan tanggung jawab terhadap kelangsungan semua proses kehidupan. Kedua, Bagaimanapun, manusia tidak mengurangi kabar kehidupan lingkungan. (Franz Magnis Suseno, 1993: 152). Generasi yang akan datang yang sudah disadari keberadaannya dak hakhaknya sebagai tanggung jawab manusia.. Setiap orang tua yang baik berusaha untuk menjaga rumah, perabot dan tanah yang dimiliki sebagai warisan bagi anak cucu mereka. Sikap ini harus menjadi sikap umum manusia terhadap generasi yang akan datang. Manusia diberi beban berat untuk mewariskan ekosistem bumi ini dalam keadaan baik dan utuh pada anak cucu nanti. Sikap tanggung jawab itu dapat dirumuskan dalam prinsip tanggung jawab lingkungan seperti berikut: dalam segala usaha bertindaklah sedemikian rupa sehingga akibat-akibat tindakannya tidak merusak, bahkan tidak dapat membahayakan atau mengurangi kemungkingn-kemungkinan kehidupan manusia dalam lingkung-annya, baik yang hidup masa sekarang, maupun generasi yang akan datang. (Franz Magnis Suseno, 1993: 152). H. UNSUR-UNSUR ETIKA LINGKUNGAN BARU

Etika Lingkungan by Tria Sri Wahyuni

Page 43

Tuntutan suatu etika lingkungan hidup baru dapat dirangkum sebagai berikut :  Manusia harus belajar untuk menghormati alam. Alam dilihat tidak sematamata sebagai sesuatu yang berguna bagi manusia, melainkan yang mempunyai nilai sendiri. Kalau terpaksa manusia men-campuri proses-proses alam, maka tidak seluruhnya dan dengan terus menerus menjaga keutuhannya.  Manusia harus memberikan suatu perasaan tanggung jawab khusus terhadap lingkungan lokal. Agar lingkungan manusia bersih, sehat, alamiah, sejauh mungkin diupayakan agar manusia tidak membuang sampah seenaknya, hendaknya manusia meninggalkan setiap tempat dalam keadaan bersih, tanpa meninggalkan berbagai macam kotoran.  Manusia harus merasa bertanggung jawab terhadap kelestarian biosfer. Untuk itu, diperlukan sikap peka terhadap kehidupan. Sekaligus permanen, sesuatu perlu dikembangkan manusia kesadaran sendiri mendalam dan bahwa halus termasuk yang tidak biosfer, boleh

merupakan bagian dari ekosistem, bahwa ekosistem adalah yang keseimbangannya, diganggu dengan campur tangan dan perencanaan kasar. Karena menyadari dirinya sebagai partisipan dalam biosfer, manusia tidak akan melakukan apapun yang mengancam penyebaran dan kelangsungan hidupnya.  Etika lingkungan hidup baru menuntut larangan keras untuk merusak, mengotori dan meracuni. Terhadap alam atau bagiannya manusia tidak mengambil sikap yang merusak, mematikan, menghabiskan, mengotori, menyia-nyiakan, melumpuhkan, ataupun membuang. Bukan hanya di hutang dan di taman, melainkan juga di rumah, di sekitar rumah, di jalan, di tempat kerja, di tempat rekreasi, manusia tidak membuang kertas, plastik, maupun puntung rokok. “Kerugian materi yang ditimbulkan api selama delapan bulan sungguh memilukan. Intensitas kematian pohon mencapai 50 Etika Lingkungan by Tria Sri Wahyuni Page 44

persen. Yang tragis, pohon-pohon dari kerabat Meranti, yang berkualitas bagus paling tak tahan api”. (Tempo, 19 September 1987: 42). Semboyan etika lingkungan hidup baru adalah: membangun, tetapi tidak dengan merusak. Suatu rencana yang hanya dapat terlaksana dengan menimbulkan kerusakan suatu ekosistem yang tidak terpulihkan, perlu diurungkan. Solidaritas dengan generasi-generasi yang akan datang. Harus

menjadi acuan tetap dalam komunikasi dengan lingkungan. Seperti kakek dan nenek tidak mungkin mengambil tindakan terhadap milik yang mereka kuasai tanpa memperhatikan nasib anak cucunya, begitu pula tanggung jawab manusia untuk meninggalkan ekosistem bumi secara utuh dan baik kepada generasi yang akan datang harus menjadi kesadaran yang tetap pada manusia modern. (Franz Magnis Suseno, 1993: 154).

I. SUSTAINABLE ETHICS Etika baru yang harus merupakan etika masyarakat modern dewasa ini adalah “ sustainable ethics “ yang dikemukakan oleh Chiras, memiliki anggapan dasar bahwa : a. Bumi merupakan sumber persediaan yang memiliki batas. b. Mendaur – ulang dan menggunakan sumber daya yang dapat diganti akan mencegah terjadinya kehabisan persediaan sumber daya. c. Nilai hidup tidak di ukur dari besarnya uang kita di bank.

Etika Lingkungan by Tria Sri Wahyuni

Page 45

d. Harga setiap usaha, bukan hanya penggunaan energi, tenaga kerja dan materi tetapi harga eksternal, seperti : kerusakan lingkungan dan kemerosotan derajat kesehatan manusia harus juga diperhitungkan. e. Kita harus memahami dan bekerja sama dengan alam. f. Usaha – usaha individu dalam mengatasi masalah yang sangat menekan harus dibarengi dengan hukum yang kuat serta teknologi yang tepat. g. Kita adalah bagian dari alam, kita dikuasai oleh hukum alam, oleh karena itu harus menghormati komponen hukum – hukum tersebut. Kita tidak lebih hebat dari alam. h. Limbah adalah tidak dapat ditoleran, sehingga setiap limbah harus punya nilai guna.

BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN  Krisis ekologis yang dihadapi umat manusia berakar dalam krisis etika atau krisis moral.

Etika Lingkungan by Tria Sri Wahyuni

Page 46

 Manusia modern menghadapi alam hampir tanpa menggunakan hati nurani. Alam begitu saja dieksploitasi dan dicemari tanpa merasa bersalah. Akibatnya terjadi penurunan secara drastis kualitas sumber daya alam seperti lenyapnya sebagian spesies dari muka bumi, yang diikuti pula penurunan kualitas alam. Pencemaran dan kerusakan alam pun akhirnya mencuat sebagai masalah yang mempengaruhi kehidupan sehari-hari manusia.  Berdasarkan pandangan agama Islam, ada 4 prinsip etika lingkungan antara lain yaitu : sikap hormat terhadap alam, prinsip tanggung jawab, solidaritas kosmis dan prinsip kasih saying dan kepedulian terhadap alam.  Ada beberapa pola pendekatan yang merusak lingkungan antara lain : pola dasar pendekatan manusia modern terhadap alam, sikap manusia terhadap lingkungan, dan mentalitas frontier.  Masalah yang muncul di bumi akibat ulah manusia modern adalah pemanasan global, hujan asam, banjir dan masih banyak lainnya.  Untuk itu, sebagai manusia modern harus menganut paham sustainable ethics yang mendukung perlindungan bumi dari perbuatan manusia modern.

DAFTAR PUSTAKA Arjaya, D. 2010. Prinsip Etika Lingkungan Hidup dalam Islam.

Etika Lingkungan by Tria Sri Wahyuni

Page 47

http://www.al-hikam.or.id/index.php? option=com_content&view=article&catid=8:artikel&id=27:prinsi p-etika-lingkungan-hidup-dalam-islam Irianto, G. Misteri Banjir Bandang. http://www.litbang.deptan.go.id/artikel/one/60/pdf/Misteri %20Banjir%20Bandang.pdf Joko. 2010. Prinsip-Prinsip Etika Lingkungan. http://joko1234.wordpress.com/2010/03/15/prinsip-prinsip-etikalingkungan/ Keraf, A.S. 2002. Etika Lingkungan. Penerbit Buku Kompas. Rahim, S.E. 2008. Etika Lingkungan dan Persfektif Filsafat. Santosa, H. Refleksi Atas Etika Lingkungan Johan Galtung. http://jurnal.filsafat.ugm.ac.id/index.php/jf/article/viewFile/47/43 Sebastian, L. Pendekatan Pencegahan dan Penanggulangan Banjir. http://eprints.ums.ac.id/1043/2/_9__LIGAL.pdf Somantri, L. 2008. Pemanfaatan Teknik Penginderaan Jauh Untuk Mengidentifikasi Kerentanan dan Resiko Banjir. http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/JUR._PEND._GEOGRAFI/1323145 41-LILI_SOMANTRI/hidrologi-jurnal_GEA.pdf Susanta, G. dan H. Sutjahjo. 2008. Akankah Indonesia Tenggelam Akibat Pemanasan Global. Penerbit Penebar Plus. Jakarta

Etika Lingkungan by Tria Sri Wahyuni

Page 48

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->