P. 1
Sejarah Tektonik Pembentukan Indonesia

Sejarah Tektonik Pembentukan Indonesia

|Views: 361|Likes:
Published by Wahyu Sutrisno

More info:

Published by: Wahyu Sutrisno on Sep 25, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/17/2013

pdf

text

original

Tugas Geodinamika

“Sejarah Tektonik Pembentukan Indonesia dan Studi Kasus Peristiwa Tektonik lempeng yang Terjadi”

Oleh: Wahyu Tri Sutrisno 1109100043

Program Studi Geofisika Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Sepuluh Nopember 2011

Sejarah Tektonik Pembentukan Indonesia
Lempeng tektonik adalah bagian dari kerak bumi dan lapisan paling atas, yang disebut juga lithosphere. Atau menjelaskan tentang gerakan bumi dengan skala besar dari lithoepher bumi. Teori yang meliputi konsep-konsep lama (kontinental drift) dikembangkan selama satu setengah abad sejak abad ke-20 oleh Alfred Wegner tentang lantai samudra (seafloor) pada tahun 1960-an. Lempeng tektonik memiliki tebal sekitar 100 km (60 mill) yang terdiri dari dua jenis bahan pokok yaitu kerak samudra (disebut juga sima yang terdiri dari silikon dan magnesium) dan kerak benua (disebut juga sial yang terdiri dari silicon dan megnesium). Komposisi dari dua jenis lapisan terluar atau kulit dari kerak samudra adalah batuan basalt (mafic) dan kerak benua terdiri dari batuan granitic yang prinsip kepadatannya rendah. Permukaan bumi terdiri dari 15 lempeng besar (mayor) dan 41 lempeng kecil (minor), 11 lempeng kuno dan 3 dalam orogens, dengan jumlah keseluruhan 70 lempeng tektonik yang tersebar di seluruh permukaan bumi . dari ke 70 lempeng tersebut dua ratus juta tahun yang lalu semua berawal dari satu kesatuan. Dalam sejarah pembentukan indonesia, sama halnya seperti pembentukan negara negara lain. Dua ratus juta tahun yang lalu semua berawal dari kesatuan yang disebut Pangae. Namun karena adanya aktivitas plate tektonik continental drift semuanya berubah menjadi seperti ini. Namun setelah berjuta juta tahun akhirnya semuanya itu berpisah dan membentuk negara negara sendiri sesuai lempeng di bawahnya. Indonesia yang awalnya bersama dengan australia akhirnya pisah dan saat ini memiliki 4 lempeng antara lain Lempeng hindia, lempeng pasifik, lempeng eurasia dan lempeng Filiphina. Dengan adanya 4 lempeng sekaligus yang dimiliki indonesia maka banyak ditemui bentukan bentukan hasil pergerakan lempeng tersebut. Diantaranya ialah banyaknya gunung api di sepanjang pantai selatan Indonesia mulai dari aceh hingga ke Nusa tenggara dan ke selatan. Selain itu juga banyak terjadi gempa di daerah indonsia khususnya di daerah selatan pula. Hal ini di karenakan hasil subduksi dari lempeng hindia yang menekan lempeng eurasian.

Akibat subduksi yang ada, juga terbentuk salah satu karakteristtik di sepanjang selatan pantai indonesia bahwa mereka memiliki pantai yang curam, tidak terlau jauh dari bibr pantai ada terbentuk trench yang menyebabkan kawasan pantai memiliki perbedaan kedalaman yang sangat signifikan yang hanya berjarak beberapa meter saja dari bibir pantai. Dan banyak hal yang diakibatkan karena memang indonesia merupakan daerah pertemuan 4 lempeng tektonik besar, yaitu lempeng Lempeng Indo-Australia bertabrakan dengan lempeng Eurasia di lepas pantai Sumatra, Jawa dan Nusatenggara, sedangkan dengan Pasific di utara Irian dan Maluku utara. Di sekitar lokasi pertemuan lempeng ini akumulasi energi tabrakan terkumpul sampai suatu titik dimana lapisan bumi tidak lagi sanggup menahan tumpukan energi sehingga lepas berupa gempa bumi. Pelepasan energi sesaat ini menimbulkan berbagai dampak terhadap bangunan karena percepatan gelombang seismik, tsunami, longsor, dan liquefaction. Besarnya dampak gempa bumi terhadap bangunan bergantung pada beberapa hal; diantaranya adalah skala gempa, jarak epicenter, mekanisme sumber, jenis lapisan tanah di lokasi bangunan dan kualitas bangunan Berikut beberapa studi kasus tetnag sifat lempeng tektonik yang terjadi di indonesia: 1. Kasus Subduksi di Indonesia Lempeng-lempeng tektonik bisa jadi saling bertabrakan, saling menjauh atau bergesekan. Batas-batas lempeng yang menunjukkan gerakan saling menjauh terdapat di sepanjang punggungan-punggungan samudera (terletak di bawah samudera). Di sini, lelehan magma keluar dari astenosfera ke permukaan bumi melalui retakan-retakan, membentuk kerak bumi baru yang disebut kerak samudera. Kerak samudera ini lebih padat sehingga lebih berat daripada kerak benua. Ketika lempeng samudera bertabrakan dengan lempeng benua, lempeng samudera yang lebih berat akan menunjam dan menyelusup di bawah lempeng benua. Inilah yang biasa disebut sebagai proses subduksi. Proses inilah yang terjadi di wilayah Indonesia. Di bagian barat Indonesia, lempeng samudera Indo-Australia menunjam di bawah lempeng samudera Eurasia. Di bagian timur Indonesia, lempeng samudera Pasifik menunjam di bawah lempeng benua Eurasia. Subduksi ini mengakibatkan rantai gunung berapi memanjang dari Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, kemudian berbelok ke utara ke Maluku dan berlanjut ke Sulawesi. Subduksi ini pula yang menyebabkan gempabumi sering terjadi di wilayah Indonesia. Deformasi yang terjadi di overriding plate tergantung dari konfigurasi lempeng subduksi di bawahnya. Selat Sunda yang berada di daerah transisi subduksi tegak ke miring mempunyai karakter geologis yang khas sebagai respons dari bentuk subduksi di bawahnya. Beberapa studi geologi dan geofisika yang dilakukan di Selat Sunda memperlihat adanya rejim tektonik ekstensi. Rejim ini diduga dimulai sejak 28 juta tahun yang lalu, meski sangat lemah, dan semakin nyata pada 13 juta tahun yang lalu dan semakin cepat pada 5 juta tahun yang lalu. Proses ini dibarengi pula oleh penurunan yang sangat cepat dan pembentukan reservoir magma yang cukup besar. Fenomena ini berkaitan erat dengan pergerakan lempeng busur muka Sumatra ke arah barat-laut. 2. Kasus Konvergensi di Indonesia Berbagai peristiwa gempa bumi dan tsunami yang beruntun melanda kawasan barat Pulau Sumatera, dalam perspektif ilmu kebumian aspek tektonik perairan laut (tektonik atau geotektonik), adalah pemeran terjadinya hal tersebut.

Hasil penelitian tektonik di sepanjang perairan barat pulau Sumatera menunjukkan bahwa jalur perairan tersebut, secara geologi sangatlah kompleks. Jalur tersebut merupakan batas (ujung atau tepian) granit benua Eurasia, pada zona konvergensi lempeng tektonik Samudera Hindia dengan lempeng benua Eurasi, dan sekaligus sebagai zona patahan aktif (patahan Mentawai). Kajian tektonik Pulau Sumatera biasa mematok Zaman Perm (280 s/d 235 juta tahun silam) sebagai masa permulaan kegiatan tektonik yang signifikan terhadap aktualitas tektonik Pulau Sumatera. Pada Zaman Perm, belum ada pulau Sumatera, dan kawasan tepian benua Eurasi masih tertutup air laut kondisi dangkal. Pada permulaan munculnya Bukit Barisan, 100 juta tahun silam, arah Pulau Sumatera adalah lurus Utara-Selatan, tidak miring seperti sekarang. Miringnya arah Pulau Sumatera terkait dengan konversi lempeng tektonik skala besar antara benua India dengan benua Eurasia sehingga terjadi Patahan Sumatera (Patahan Semangko) yang mulai aktif untuk pertama kali pada Zaman Kapur Tengah (100 juta tahun silam). Sedimentasi di sepanjang jalur bawah laut di barat Pulau Sumatera, telah berlangsung sejak Zaman Perm, disertai dengan pergeseran lateral dan pengangkatan blok-blok benua berselang-seling susut laut (regresi) dan genang laut (transgresi) selama jutaan tahun. Angkaangka mengerikan tentang zaman geologi demikian, lazim dalam telaah tektonik, namun pasti ditemukan pada bacaan di berbagai jurnal ilmiah dan assesment minyak dan gas bumi. Berbagai unsur minyak bumi dan gas bumi yang produktif di Pulau Sumatera dan perairan sekitarnya, berasal dari reservoir di formasi-formasi sedimen berumur Tersier (kurang dari 70 juta tahun silam). Proses tektonik dan sedimentasi sangat memungkinkan di bawah dasar laut di sepanjang perairan barat Pulau Sumatera, mengandung deposit hidrokarbon. Dari segi eksplorasi dan sains murni tentu saja kawasan perairan barat Pulau Sumatera sangat menarik. Namun, hasil dari suatu eksplorasi bukanlah benda berwujud (minyak bumi dan atau gas bumi). Hasil dari suatu eksplorasi hanyalah pikiran dalam bentuk telaah, kesimpulan dan saran, dan bahkan suatu spekulasi atau hipotesa atau teori. 3. Kasus Transformasi (Transform Faults) di Indonesia Batas transform (transform boundaries) terjadi jika lempeng bergerak dan mengalami gesekan satu sama lain secara menyamping di sepanjang sesar transform (transform fault). Gerakan relatif kedua lempeng bisa sinistral (ke kiri di sisi yang berlawanan dengan pengamat) ataupun dekstral (ke kanan di sisi yang berlawanan dengan pengamat). Salah satu peristiwa akibat transform faults di Indonesia adalah peristiawa pada pagi hari tanggal 4 Januari 2009 di Papua. Saat itu sepasang gempa bumi kuat mengguncang Papua. Gempa pertama, berkekuatan 7,6 acara, tekan jam 04:43, waktu setempat. Yang kedua, sebuah gempa berkekuatan 7,4, diikuti jam 7:33 Gempa bumi yang rusak lebih dari 800 gedung-gedung di Manokwari, kota terdekat epicenters mereka.

Lokasi dari dua gempa bumi dan gempa terkait cluster yang lebih kecil diilustrasikan dalam gambar ini, yang menunjukkan topografi di pulau dan dasar laut di dekatnya.Daerah ini secara geologis kompleks, oleh US Geological Survey (USGS), dan kompleksitas yang tercermin dalam gambar. Pada skala besar, lempengan kerak bumi yang berisi Samudra Pasifik barat daya bergerak ke dalam piring yang membawa Australia dan Papua pada laju sekitar 112 milimeter per tahun, kata USGS. Lempeng Pasifik slip bawah lempeng Australia, menciptakan serangkaian parit yang mendalam di dasar laut tempat lempeng bertemu. Tanggal 4 Januari gempa bumi, kata USGS, terjadi di wilayah di mana lempeng Pasifik tenggelam di bawah zona lempeng Australia-a subduksi. Zona subduksi di daerah ini didefinisikan oleh parit utara New Guinea mendalam Papua. Palung ini merupakan garis utara biru gelap epicenters gempa bumi ', di mana kedalaman laut merosot. Meskipun gempa bumi tidak terjadi pada kesalahan parit, mereka mungkin terkait dengan gerakan besarbesaran dari tenggelamnya lempeng Pasifik di bawah lempeng Australia, kata USGS. Lebih dari kompleksitas geologi wilayah digambarkan oleh transform di selatan zona gempa. Sebuah Transform faults retakan di permukaan bumi yang terbentuk di sepanjang tepi dua lempeng bergerak horizontal melewati satu sama lain. Di Papua transform faults terlihat dalam topografi pulau. Karena satu sisi sesar lebih tinggi daripada yang lain, garis punggungan mendefinisikan patahan. Jika lempeng Pasifik bergerak di bawah lempeng Australia, mengapa ada transform faults? Dalam kenyataannya, batas antara dua piring terdiri dari sejumlah pelat kecil yang mengakomodasi gerakan piring yang lebih besar. Pelat kecil bergerak lebih atau kurang dalam konser dengan piring yang lebih besar, tetapi membuat berantakan kecampuran struktur geologi yang terkait dengan berbagai gerakan tektonik. Wilayah Papua adalah tekateki dari parit bawah air, pegunungan, dan garis kesalahan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->