P. 1
Kube

Kube

|Views: 79|Likes:
Published by Dwi Dharmadayana

More info:

Published by: Dwi Dharmadayana on Sep 25, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/25/2011

pdf

text

original

PEMBERDA YAAN PET ANI- TERNAK MENUJU KEMANDIRIAN MELALUI W AHANA .

KELOMPOK USAHA BERSAMA AGRIBISNIS (Kasus pada usaha ternak itik di Kabupaten Lombok Barat, NTB)
Hendayana, R.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, Bogor

ABSTRAK
Pemberdayaan merupakan suatu sistem pembangunan yang berorientasi pada manusia, dengan mengedepankan azas partisipasi (participatory), demokrasi (inclusive democrasl) dan keadilan (equity), yang dalam prosesnya memberikan sesuatu kemudahan (akses) sehingga pada akhimya dicapai kemajuan dan kemandirian. Penelitian ini bertujuan membahas potensi, peluang dan kendala pengembangan usaha petani temak melalui wahana dinamika Kelompok Usaha Bersama Agribisnis (KUBA) dengan kasus pada usaha ternak itik di Kabupaten Lombok Barat, NfB. Metode penelitian dilakukan melalui pendekatan pemahamam pedesaan secara partisipatif (ppSP = PRA) menggunakan focus group discussion. Pembahasan dilakukan secara deskriptif dengan analisis SWOT dan hasilnya menunjukkan : 1) Adanya kekuatan internal dan peluang eksternal di lingkungan petani ternak itik, mengindikasikan bahwa petani temak itik di Lombok Barat memiliki potensi untuk mandiri, yang slap berkembang dalam mengatasi berbagai kendala/kelemahan yang dimilikinya. 2) Strategi pemberdayaan petani ternak ke arah terbentuknya kemandirian terse but dapat ditempuh melalui wahana kelompok usaha bersama agribisnis (KUBA), 3) Untuk lebih memberdayakan KUBA ternak iti perlu didorong terbentuknya jaringan kelembagaan secara horizontal dengan pelaku agribisnis lainnya dan diciptakan adanya kepemilikan kapital yang dikuasai petani, serta berupaya untuk meningkatkan hubungan kemitraan antar pelaku agribisnis dengan landasan yang bersifat rasional Kata kunci: Pemberdayaan masyarakat, petani-ternak itik, KUBA

PENDAHULUAN
Kelompok Usaha Bersama Agribisnis (KUBA) merupakan rekayasa kelembagaan yang kehadirannya diharapkan dapat mengintegrasikan kelompokkelompok petani/ peternak, pengelola agroindustri dan agroniaga pedesaan yang menangani komoditas yang sarna pada suatu skala ekonomi. Melalui KUBA diharapkan dapat mendorong terwujudnya kelembagaan ekonomi rakyat di pedesaan untuk mendukung kegiatan ekonomi petani, antara lain menyediakan kebutuhan sarana usahatani dan menangani distribusi hasilnya (Badan Agribisnis, 1999). Dengan misi seperti itu wahana KUBA relevan diimplementasikan pada kondisi peternak itik di Lombok Barat yang selalu dihadapkan pada persoalan penyediaan sarana produksi (pakan) dan pendistribusian hasil. Sehingga tingkat kemandirian (keberlanjutan usaha) usahanya terjamin. Upaya untuk memberdayakan petani ternak itik melalui wahana KUBA dihadapkan pada berbagai permasalahan internal dan eksternal, sehingga perlu dilakukan kajian mendalam untuk menentukan strategi pemberdayaannya. Makalah ini bertujuan membahas potensi, peluang dan kendala pengembangan usaha petani ternak melalui wahana Kelompok Usaha Bersama Agribisnis (KUBA). Informasi ini penting dalam upaya pengembangan usaha ternak itik, tidak saja di

Lombok Barat tetapi juga di daerah mempunyai permasalahan sarna.

lain yang

MATERI DAN METODE
Makalah dikembangkan dari hasil penelitian "Kelompok Usaha Bersama Agribisnis (KUBA) Itik" pada TA 1999/2000 di Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat, NTB. Penelitian dilakukan dengan pendekatan pemahaman pedesaan secara partisipatif (PPSP) melalui fokus group discusion terhadap lima kelompok peternak itik. Di samping itu dilakukan pula indepth study untuk lebih memahami persoalan yang dihadapi petani sebagai petarnak itik. Dalam hal indepth study ini digunakan metode snow balling. Bahasan diperkaya dengan data sekunder dari berbagai instansi terkait yang relevan dengan tujuan penelitian. Penganalisaan data sebagian besar dilakukan secara deskriptif menggunakan bantuan tabulasi silang dan untuk mempertajam bahasan dilakukan dengan menerapkan pendekatan SWOT (Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman), mengikuti cara Rangkuti (1998) dan Fardiaz, dkk. (1999).

HASIL DAN PEMBAHASAN
Profil Usaha Ternak Itik Usaha temak itik bagi masyarakat pedesaan di Lombok Barat sudah berlangsung lama, bahkan bisa

21

banyak rumah tangga pemelihara itik yang beralih ke usaha lain.300 (11. 1998)." Telor asin NTB tidak hanya dikonsumsi penduduk setempat.di NTB.900 (9. Kemandirian diartikan sebagai kemampuan usaha untuk tetap eksis atas dasar segala keterbatasan yang menyertainya antara lainseperti ketersediaan sumberdaya lokal untuk mendukungnya. Kondisi demikian menjadi salah satu faktor semakin berkurangnya jumlah rumahtangga yang mengusahakan ternak itik. sebagai sumber pakan. Tabel l.6) 54. Pet Vol. dan Kheki Cambell (Kanwil Deptan 1/ NTB. 2000). Mojosari.3) 64.73 Lombok Barat 0. Korten(1981) dan Uphoff (1992) menjelaskan bahwa keberhasilan dan keberlanjutan pembangunan tidak akan terjamin tanpa memperhati- 22 . Dalam penjualan hasil ternak (telur mentah maupun olahan berupa telor asin). Dampak lebih jauh adalah munculnya penyakit itik yang tidak jarang menyebabkan kematian itik.37 (14.1 disebutkan sudah membudaya sebagai salah satu sumberpendapatan rumah tangga dengan produk unggulannya telor asin. Oleh karena itu ketika terjadi kebijakan peningkatan intensitastanam padi menjadi tiga kali pertahun (IP 300).6) 61.1995 menunjukkan kecenderungan penurunan yang tajam (TabeI1).781 578.5 ) -7.62 Lombok Barat 86.4) 0.7) 0.25 2. Dalam kemandirian itu tercermin makna keberlanjutan (sustainable). akan tetapi juga dijual ke luar NTB (Djauhari.552 536. Akibatnya itik kekurangan pakan dan produktivitasnya jadi berkurang. petani untuk Kemandirian Usaha Ternak Kemandirian usaha ternak dapat ditelusuri paling tidak dari tingkat kemampuan usaha ternak rakyat tersebut untuk dikembangkan secara komersial guna mengatasi krisis daya beli di pedesaan (Pranadji. sudah barang tentu pengembangan usaha ternak rakyat dituntut untuk memperhatikan aspek komersialnya.23 (9.30 2..800 (13.84%)itik lokal Lombok dan selebihnya terdiri dari itik Bali. Pada peradaban ekonomi uang. Kondisi demikian merugikan petani sendiri. umumnya petani melakukan dengan cara masing-masing.• itik semakin singkat. [enis itik yang dipelihara sebagian besar (87.023 546.51 2. Meskipun itik menjadi salah satu komoditas unggulan . 1997 Keterangan: Angka dalam ( ) menunjukkan persentase terhadap data NTB. Kondisi itu diduga antara lain karena terkait dengan pola pemeliharaannya yang mayoritas (92.800 (11. Perubahan pola tanam menjadi IP 300.27 (11. Pada sistem pemeliharaan secara tradisional keberlanjutan usaha ternak itik sangat tergantung pada keberadaan areal panen padi sawah.9 %) masih tradisionil (IPPTP. 24 No. Itik biasanya digembalakan di daerah persawahan yang baruselesai dipanen tersebut untuk mendapatkan makanan.080 556. 1997). 1994).34 -1. tetapi perkembangan populasi itik tersebut dalam kurun waktu 1991 .25 Produksi telur (000 kg) NTB 2. memperpendek jarak waktu antara panen dan tanam padi berikutnya sehingga kesempatan untuk menggembalakan . dkk. Dalam kaitan ini beberapa ahli seperti antara lain Chambers (1987). Komersialisasi ini merupakan salah satu tahapan untuk mendorong ke arah tercapainya tingkat kesejahteraan yang lebih baik. artinya keberlanjutan pemeliharaan itik dengan cara tradisional ini tidak terjamin. Sustainabilitas suatu kegiatan pembangunan ini menurut Tjokrowinoto (1991) memiliki arti kemampuan untuk terjaga atau tidaknya sumberdaya alami.8 ) 0.Med.5 ) 72.44 2.5) -7.900 (14.31113. Perkembangan Populasi Ternak Itik di Lombok Barat NTB periode 1991 -1995 Populasi (ekor) NTB 595.342 -1. karena berdampak pada harga jual yang rendah sehingga akhirnya tidak merangsang berproduksi lebih tinggi.26 (11.3) 0. Sehingga tidak jarang muncul persaingan pasar yang tidak sehat.25 Tahun 1991 1992 1993 1994 1995 Trend (%/ tahun) Sumber: Tim IPB.

kiranya didukung optimisme yang kuat mengingat adanya gejala kecenderungan masyarakat yang berubah ke arah komersiaI. penggerak ekonomi. sehingga akan mendukung pemeliharaan itik yang berorientasi agribisnis. e. Identifikasi Faktor Internal dalam Usaha Ternak Itik Uraian data dan informasi a. kemampuan sumberdaya alam (bio-fisik) dalam memberikan dukungan terhadap kelangsungan hidup masyarakat. skala usaha relatif kecil dan modal usaha yang kurang memadai (TabeI2). Pasar input dan pasar out put. Angkutan/ transportasi c.gikatkan diri dalam wahana kelompok usaha bersama agribisnis (KUBA). Untuk mencapai tingkat kemandirian usaha pembangunan. Untuk mencapai tujuan ke arah itu. Berdasarkan hasil identifikasi faktor-faktor internal dalam usaha ternak itik di lokasi penelitian diperoleh adanya sekitar 9 (sembilan) faktor yang berpengaruh. solidaritas kerja. Peradaban masyarakat umumnya cenderung bergeser dari tradisional . sumber tenaga kerja. Unsur yang menjadi faktor kelemahan internal itu jika dikaji lebih jauh.komersial ("terbuka"). Pengetahuan dan keterampilan petani f.1 kan aspek manusia (sebagai "subyek pembangunan") dan peran institusi Iokal masyarakat sasaran. jangkauan pasar. dan kedua. ciri produk. Artinya jika modal usaha memadai. adanya partisipasi dari institusi lokal. Tabel 2. Modal usaha Kondisi Cukup baik Baik Terbatas Cukup mendukung Baik Cukup tinggi Relatif kecil Cukup baik Kurang memadai S v v W v v v v v v - v . Enam faktor di antaranya merupakan kekuatan petani dan sisanya (3 faktor) merupakan kelemahan yaitu ketersediaan pakan yang terbatas. teknologi dan organisasi produksi yang mendasari aktivitas ekonomi masyarakat. keterkaitannya dengan industri. Untuk memperbesar aksesnya dalam perekonomian pasar pengembangan usaha ternak rakyat tergantung pada seberapa jauh partisipasi peternak bisa didorong untuk men. VoL24 No. Keterangan: S = Strength (kekuatan). sumber kapital. Skala usaha hPembinaan i. termasuk dalam pengembangan usaha ternak rakyat sebagai motor penggeraknya. Dalam kerangka menumbuhkan kemandirian usaha ternak itik di Lombok Barat.Med. komersialisasi usaha ternak dapat dipandang sebagai pilihan yang cukup masuk akal dan dapat menjamin kemandiriannya. sedangkan faktor eksternal berkaitan dengan peluang (opportunities) dan ancaman (threats) terhadap kemandirian usaha ternak. Motivasi beternak g. Faktor internal berkaitan dengan kekuatan (strength) dan kelemahan (weaknesses). Ciri gejala ini dapat ditelusuri dari orientasi ekonomi.subsisten ("tertutup") ke arah modern . selain ditentukan oleh ketersediaan teknologi spesifik Iokasi dan permodalan. ditentukan pula oleh dua faktor yakni pertama. petani ternak itik akan mampu memperbesar skala usahanya secara intensif dengan menyediakan pakan yang cukup. Pet. sebenarnya bermuara pada satu faktor utama yaitu ketersediaan modal usaha. Kemandirian usaha ternak dipengaruhi banyak faktor yang secara garis besar digolongkan ke dalam faktor "internal" yang berasal dari dalam petani sendiri dan faktor" eksternal" yang berasal dariIuar diri petani. Ketersediaan Pakan d. Aksesisibilitas wilayah b. W = Weaknesses (kelemahan) 23 .

Meskipun peluang pengembangan usaha temak itik didukung empat faktor. Friedmann (1992) menyebutnya sebagai alternative development. Dengan kata lain memberdayakan adalah memampukan dan memandirikan masyarakat. Nilai rupiah melemah terhadap dollar h. suatu sumber kreativitas yang ada di dalam setiap orang yang secara luas tidak ditentukan oleh orang lain. yang dalam prosesnya memberikan sesuatu kemudahan (akses) sehingga pada akhirnya dicapai kemajuan dan kemandirian.1 Faktor ekstemal yang diidentifikasi mempengaruhi kinerja usaha temak itik ada sekitar 10 faktor. Optimisme itu didukung oleh adanya upaya yang dapat meminimalkan atau bahkan menghilang- kan pengaruh ancaman faktor ekstemal. Kerjasama dengan pihak ISM i. dengan mengedepankan azas partisipasi (participatory). participatory. 1995). Institusi Lokal Kondisi Belum tumbuh Belum tumbuh Kurang mendukung Baik Relatif Baik Negatip Baik utk ekspor Belumada Kurang menguntungkan Cukup mendukung 0 T v v v - v v v v v v - - v - Keterangan: 0 = Opportunities (peluang). Analisis Faktor Eksternal Dalam Usaha Temak Itik Uraian a. melakukan atau memungkinkan. Pet Vol. gender equality and intergenerational equity". Memberdayakan masyarakat adalah upaya untuk meningkatkan harkat dan martabat lapisan masyarakat yang dalam kondisi sekarang tidak mampu. dan sebagian besar (6 faktor) merupakan ancaman sedangkan peluangnya hanya didukung empat faktor (Tabel 3). Dalam konteks makro. . empowering. Pertumbuhan ekonomi g. appropriate economic growth. yang berarti "di dalamnya. 24 No. (b) mendorong tumbuhnya masyarakat swadaya yang siap berkembang sendiri dalam mengatasi berbagai kendala/kelemahan yang dimilikinya dan (c) 24 "inclusive democracy.Keterkaitan usaha dengan sektor industri b. mencapai. Awalan "em" berasal dari bahasa Latin dan Yunani.Kemitraan dengan pihak swasta c. seperti dukungan ke arah terwujudnya kemitraan. Dalam arti yang lebih dalam.Med. and sustainable" (Chambers. pemberdayaan berarti menciptakan kondisi hingga semua orang dapat menyumbangkan kemampuannya secara maksimal untuk mencapai tujuannya.Kebijakan pemerintah tentang pendanaan d. pemberdayaan adalah sebuah konsep pembangunan ekonomi yang merangkum nilai-nilai sosial.: Threats (ancaman) Strategi Pemberdayaan Petemak Itik Istilah pemberdayaan (empowerment) berasal dari bahasa Inggris dengan kata dasar potoer yang berarti kemampuan berbuat. yakni yang bersifat "peoplecentered. Di samping itu harapan adanya perubahan poUtik di tingkat pusat yang berdampak pada perubahan kebijaksanaan menjadi faktor pertimbangan munculnya optimisme untuk perkembangan usaha temak itik di Lombok Barat. Merujuk pada berbagai konsepsi di atas maka "pemberdayaan" merupakan suatu sistem pembangunan yang berorientasi pada manusia. Pemberdayaan bertujuan (a) meningkatkan kemampuan kelompok-kelompok masyarakat dalam berprakarsa untuk menangkap berbagai peluang ekonomi. yang menghendaki Keberdayaan dalam konteks masyarakat adalah membangun kemampuan individu yang bersenyawa dalam masyarakat dan membangun keberdayaan masyarakat yang bersangkutan. Tabel3. baik dengan pihak swasta maupun ISM. Kebijakan IP 300 j.Pelayanan penyaluran sarana produksi f. Konsep pembangunan ini mencerminkan paradigma baru pembangunan. T." karena itu pemberdayaan dapat berarti kekuatan dalam diri manusia.Kondisi sosial masyarakat e. namun tetap optimis untuk mengembangkan temak itik dengan orientasi agribisnis. demokrasi (inclusive demokrasis dan keadilan (equity).

1997. Sain Teks.Mataram. 1998. serta berupaya untuk meningkatkan hubungan kemitraan antar pelaku agribisnis dengan landasan yang bersifat rasional DAFT AR PuST AKA Badan Agribisnis. R. Institusi Lokaldan Sustainibilitas Pengembangan Peternakan Rakyat di Pedesaan. D.C. dan kelamahan internal petani serta adanya peluang dan aneaman eksternal yang mungkin mempengaruhi pengembangan usaha ternak itik. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. 1994. PRA Participatory Rural Appraisal. 1995. IIPTP Mataram. Bagian Proyek Pengkajian Teknologi Pertanian NTB. yang siapberkembang dalam mengatasi berbagai kendala/kelemahan yang dimilikinya. 41 no. 24 No. in Bureaucracy and the Poor: Closing the yap (Ed. Lokakarya partisipatif Modul Analisis SWOT. Jawa Timur. dalam hal ini petani dianjurkan untuk melakukan diversifikasi usaha (vertikal maupun horizontal) sebagai langkah antisipasi dari kemungkinan gagalnya usaha ternak. Dengan memahami kondisi tersebut.. Depaertemen Pertanian. Majalah Ilmiah Universitas Semarang. Ketiga. . Kantor Wilayah Departemen Pertanian Propinsi Nusa Tenggara Barat. Teknik Membedah Kasus Bisnis. Hartmann. Strategi tersebut seeara terintegrasi akan dapat diwujudkan dalam wahana organisasi Kelompok Usaha Bersama Agribisnis (KUBA). Social Development: Putting People First. Kanisius dan Oxfam dan Yayasan Mitra Tani. Selanjutnya untuk lebih memberdayakan KUBA ternak itik perlu didorong terbentuknya jaringan kelembagaan seeara horizontal dengan pelaku agribisnis lainnya dan diciptakan adanya kepemilikan kapital yang dikuasai petani.. Hendayana. Me Graw. Kasus Kecamatan Panggul dan Kecamatan Pule (Trenggalek). Jakarta. Rangkuti. Korten. mengindikasikan bahwa petani ternak itikdi Lombok Barat memiliki potensi untuk mandiri. 1999. F. & J. untuk meraih peluang yang ada. langkah pemberdayaan dapat dimulai dari adanya pemahaman tentang kekuatan. Rahmanto. Laporan akhir pemaniapan konsep dasar sentra pengembangan agribisnis komoditas unggulan. 2) Strategi pemberdayaan petani ternak ke arah terbentuknya kemandirian tersebut dapat ditempuh melalui wahana kelompok usaha bersama agribisnis (KUBA). Laporan Pengkaiian Sistem Usaha Pertanian Berbasis Itik Di Desa Dasan Tereng. Studi Prospek dan Kendala Pengembangan Kelompok Usaha Bersama Agribisnis (KUBA). 1) Adanya kekuatan 25 . Pet. Laporan Hasil Penelitian. Penekanannya lebih difokuskan pada ekspansi (perluasan usaha). Gramedia Pustaka Utama. 1981. Departemen Pertanian. mengembangkan usaha ternak melalui optimalisasi sumberdaya yang dimiliki. Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian Mataram. KM. Bogor. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Memahami Desa Secara Partisipatif.A 1997/1998. Noekman & B. Kedua. Kerjasama Biro Perencanaan Departemen Pertanian dengan Lembaga Penelitian Institut Pertanian Boger.Korten and Alfonso). Lombok Barat. Vol. Sustainable liveliwoods: Entrepreneurship. 1992. 1998. Jakarta Tim IPB. Badan Agribisnis. 3) Untuk lebih memberdayakan KUBA ternak itik perlu didorong terbentuknya jaringan kelembagaan secara horizontal dengan pelaku agribisnis lainnya dan diciptakan adanya kepemilikan kapital yang dikuasai petani. 1999.HiU. KESIMPULAN DAN SARAN internal dan peluang eksternal di lingkungan petani ternak itik. D.3. T. political strategies and governance Development Vol.1 memperkuat dan mengoptimalkan lembaga-Iembaga formal dan informal di tingkat perdesaan serta meningkatkan peran serta/ partisipasi masyarakat. Pranadji. Dalam kaitan dengan pengembangan usaha ternak itik di Lombok Barat. Singapore. Reorieniasi Konsep Perencanaan Strategis Untuk Menghadapi Abad 21. PT. 1997. Bagian Proyek Pengembangan Agribisnis Propinsi NTB T.Kanwil Deptan NTB. mendorong terjalinnya konsolidasi antar petani sehingga berbagai kelemahan yang ada dapat diatasi. strategi pemberdayaan yang dapat ditempuh adalah: Pertama. Fardiaz.Jnc. Yogyakarta.Med. Friedmann. melakukan diversifikasi usaha. serta berupaya untuk meningkatkan hubungan kemitraan antar pelaku agribisnis dengan landasan yang bersifat rasional. NTB. Djauhari. 2000. . Pedoman Penumbuhan SPAKU dan KUBA sebagai cikal bakal dari KOPAKU. Analisis SWOT. Profil agribisnis ternak itikdi Propinsi Nusa Tenggara Barat. Chambers. A.

Dalam Pembangunan Berkelanjutan: Konsep dan Kasus. M. Pet. PI Tiara Wacana Yogya. Yogyakarta.Med. 1992. Local Institutions and Participation for Sustainable Development. Konsep Pembangunan Berkelanjutan. International Institute for Environment and Development.1 Tjokrowinoto. 26 . Uphoff. Vol. N. 1991. 24 No.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->