Pengertian dan Sejarah Ilmu Hadis

http://istanailmu.com/2011/02/15/pengertian-dan-sejarah-ilmu-hadis/html

MANUSIA dalam hidupnya membutuhkan berbagai macam pengetahuan. Sumber dari pengetahuan tersebut ada dua macam yaitu naqli dan aqli. Sumber yang bersifat naqli ini merupakan pilar dari sebagian besar ilmu pengetahuan yang dibutuhkan oleh manusia baik dalam agamanya secara khusus, maupun masalah dunia pada umumnya. Dan sumber yang sangat otentik bagi umat Islam dalam hal ini adalah Alquran dan Hadis Rasulullah SAW. Allah telah menganugerahkan kepada umat kita para pendahulu yang selalu menjaga Alquran dan hadis Nabi SAW. Mereka adalah orang-orang jujur, amanah, dan memegang janji. Sebagian di antara mereka mencurahkan perhatiannya terhadap Alquran dan ilmunya yaitu para mufassir. Dan sebagian lagi memprioritaskan perhatiannya untuk menjaga hadis Nabi dan ilmunya, mereka adalah para ahli hadis. Salah satu bentuk nyata para ahli hadis ialah dengan lahirnya istilah Ulumul Hadis(Ilmu Hadis) yang merupakan salah satu bidang ilmu yang penting di dalam Islam, terutama dalam mengenal dan memahami hadis-hadis Nabi SAW. Karena hadis merupakan sumber ajaran dan hukum Islam kedua setelah dan berdampingan dengan Alquran. Namun begitu perlu disadari bahwa hadis-hadis yang dapat dijadikan pedoman dalam perumusan hukum dan pelaksanaan ibadah serta sebagai sumber ajaran Islam adalah hadis-hadis yang Maqbul (yang diterima), yaitu hadis sahih dan hadis hasan. Selain hadis maqbul, terdapat pula hadis Mardud, yaitu hadis yang ditolak serta tidak sah penggunaannya sebagai dalil hukum atau sumber ajaran Islam. Bahkan bukan tak mungkin jumlah hadis mardud jauh lebih banyak jumlahnya daripada hadis yang maqbul. Untuk itulah umat Islam harus selalu waspada dalam menerima dan mengamalkan ajaran yang bersumber dari sebuah hadis. Artinya, sebelum meyakini kebenaran sebuah hadis, perlu dikaji dan diteliti keotentikannya

. dan lain-lain. Muhammad ibn Sa’ad (230H/844) menulis Al—Tabaqat. diantaranya baru. sesuatu yang sedikit dan banyak. perbuatan. yaitu Ulumul Hadisyang memiliki pengertian “ilmu-ilmu yang membahas atau berkaitan dengan Hadits Nabi SAW”. Adapun gabungan kata ulum dan al-Hadis ini melahirkan istilah yang selanjutnya dijadikan sebagai suatu disiplin ilmu. Sedangkan menurut istilah Ulama Hadits adalah “apa yang disandarkan kepada Nabi SAW baik berupa ucapan. Kata ulum dalam bahasa Arab adalah bentuk jamak dari ‘ilm. atau sirah beliau. Ilmu al-Mursal. Umpamanya. yang berbicara tentang Hadis Nabi SAW dan para perawinya. sepertiIlmu al-Hadis al-Sahih. Yahya ibn Ma’in (234H/848M) menulis Tarikh al-Rijal. Pada mulanya. sesuatu yang dibicarakan. sedangkan al-Hadis dari segi bahasa mengandung beberapa arti. baik sebelum kenabian atau sesudahnya”. perbuatan.sehingga tidak terjerumus kepada kesia-siaan. khususnya. ilmu hadis memang merupakan beberapa ilmu yang masingmasing berdiri sendiri. Ahmad ibn Hanbal (241H/855M) menulis Al‘Ilaldan Al-Nasikh wal Mansukh. Dan ini tidak dapat dilakukan kecuali dengan apa yang terjadi setelah kenabian. A. Penulisan ilmu-ilmu hadis secara parsial dilakukan. hadis adalah: “perkataan. yaitu ‘ulum’ dan ‘al-Hadis’.” Adapun sebelum kenabian tidak dianggap sebagai hadis. Adapun salah satu cara untuk membedakan antara hadis yang diterima dengan yang ditolak adalah dengan mempelajari dan memahami Ulumul Hadis yang memuat segala permasalahan yang berkaitan dengan hadis. sifat. jadi berarti ilmu-ilmu.Pengertian Ilmu Hadis Ilmu Hadis atau yang sering diistilahkan dalam bahasa Arab dengan Ulumul Hadisyang mengandung dua kata. karena yang dimaksud dengan hadis adalah mengerjakan apa yang menjadi konsekuensinya. penetapan. Ilmu al-Asma’ wa al-Kuna. dan penetapan yang disandarkan kepada Rasulullah SAW setelah kenabian. serta banyak lagi yang lainnya. oleh para ulama abad ke-3 H. Sedangkan menurut ahli ushul fiqh.

Terhadap ilmu yang sudah digabungkan dan menjadi satu kesatuan tersebut tetap dipergunakan nama Ulumul Hadis. pencatatan. dan penguraian lafaz-lafaznya. karena telah terjadi perubahan makna lafaz tersebut dari maknanya yang pertama (beberapa ilmu yang terpisah) menjadi nama dari suatu disiplin ilmu yang khusus yang nama lainnya adalahMusthalahul Hadis. pemeliharaan. sebagaimana halnya sebelum disatukan. karena masing-masing membicarakan tentang Hadis dan para perawinya. serta selanjutnya dipandang sebagai satu disiplin ilmu yang berdiri sendiri. perbuatan. Dari definisi tentang ilmu Hadis Riwayah di atas dapat difahami bahawa Ilmu Hadis Riwayah pada dasarnya adalah membahas tentang tata cara periwayatan. . yaitu Ilmu Hadis Riwayah dan Ilmu Hadis Dirayah. Akan tetapi. pada masa berikutnya. B. ilmu-ilmu yang terpisah itu mulai digabungkan dan dijadikan satu. 1) Ilmu Hadis Riwayah Adapun yang dimaksud dengan Ilmu Hadis Riwayah. Jadi penggunaan lafaz jamak Ulumul Hadis setelah keadaannya menjadi satu adalah mengandung makna mufrad atau tunggal.Pembagian Ilmu Hadits Para Ulama Hadis telah membagi Ilmu Hadis kepada dua bagian. yaitu Ilmu Hadis. dan penulisan atau pembukuan Hadis Nabi SAW. dan keadaan Rasul SAW serta periwayatan.Ilmu-ilmu yang terpisah dan bersifat parsial tersebut disebut dengan Ulumul Hadis. sebagaiamana yang disebutkan oleh Zhafar Ahmad ibn Lathif al-Utsmani al-Tahanawi di dalam Qawa’id fi Ulum al-Hadisseperti yang dikutip oleh Nawir Yuslem dalam Ulumul Hadis adalah sebagai berikut: ُ‫ع ْلم الحديث الخَ اصُّ بِالرِّوايَت هُى: عَلم يُعْرف بِه أَقىال رسُىْ ل هللاِ صلى هللا عليه وسلم وأَفعالُهُ وأَحْ ىالُه‬ َْ َ ِ ِْ َ ْ ُ ِ َ َ ِ َ ُ َْ ِ ُ َ ٌْ َ ِ َ َْ َ ‫وروايَتُهَا وضبطُهَا وتَحْ رير أَ ْلفَاظهَا‬ ُ ِْ َ ِ َِ َ Ilmu Hadis yang khusus dengan riwayah adalah ilmu yang dapat diketahui dengannya perkataan.

penulisan. hadis-hadis Nabi SAW dapat terpelihara kemurniannya dan dapat diamalkan hukum-hukum dan tuntunan yang terkandung di dalamnya. macam-macam. 2. Di sini akan penulis kemukakan dua di antaranya: Ibn al-Akfani memberikan definisi Ilmu Hadis Dirayah sebagai berikut: ُ َ ِ َ ْ َ ِْ ُ َ ٌ ِ ِ َ ‫وع ْلم الَحديث الخَ اصُّ باِلدِّرايَت : ع ْلم يُعْرف منهُ حقِيقَتُ الرِّوايَت وشرُوْ طُهَا وأَنىاعهَا وأَحْ كامهَا وحال الرُّ واة‬ ُ َ َ ُ َ َ ُ َْ َ ِ َ ِ ِْ َ ُ ِ َ ُ َ ُ َ َ َ ِ ِ َْ ُ ‫وشرُوْ طُهُم وأَصْ نَاف المرْ ويَاث ومايَتَعلَّق بِـهَا‬ َ ْ “Dan ilmu hadis yang khusus tentang dirayah adalah ilmu yang bertujuan untuk mengetahui hakikat riwayat. cara pemeliharaan hadis. dan pembukuannya. 1. yaitu: .  Tujuan Ilmu Hadis Riwayah Adapun tujuan ilmu hadis riwayah ini adalah agar tidak lenyap dan sia-sia. syarat-syarat mereka. namun jika dicermati berbagai definisi yang mereka kemukakan. Objek Kajian Ilmu Hadis Riwayah 1. maka akan ditemukan persamaan antara satu dengan lainnya.” Dari definisi ini dapat dijelaskan beberapa hal. baik dari segi cara penerimaan dan demikian juga cara penyampaiannya dari seorang perawi kepada perawi yang lain. hal ini sejalan dengan perintah Allah SAW agar menjadikan Nabi SAW sebagai ikutan dan suri teladan dalam kehidupan ini (QS. Al-Ahzab [33] : 21). serta terhindar dari kekeliruan dan kesalahan dalam proses periwayatannya atau dalam penulisan dan pembukuannya. Dengan demikian. 2) Ilmu Hadis Dirayah Mengenai pengertian Ilmu Hadis Dirayah. syarat-syarat. dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya. para ulama hadis memberikan definisi yang bervariasi. cara periwayatan hadis. terutama dari segi sasaran dan pokok bahasannya. jenis yang diriwayatkan.keadaan para perawi. dan hukum-hukumnya. yaitu dalam bentuk penghafalan.

 Keadaan para Perawi.ataumunqathi’ (periwayatan yang terputus. I’lam (member tahu seseorang bahwah hadis-hadis tertentu adalah koleksinya). yaitu perkataan seorang perawi. yakni al-qabul (diterimannya suatu riwayat karena telah memenuhi persyaratan tertentu. Riwayat. washiyyat(mewasiatkan kepada seseorang koleksi hadis yang dimilikinya). atau ikhbar. yaitu penerimaan para perawi terhadap apa yang diriwayatkannya dengan menggunakan cara-cara tertentu dalam penerimaan riwayat (cara-cara tahammul al-Hadis). kitabah (menuliskan hadis untuk seseorang).  Macam-macam Riwayat.  Hukum Riwayat. baik di awal. . ijazah (member izin kepada seseorang untuk meriwayatkan suatu hadis dari seorang ulama tanpa dibacakan sebelumnya). yaitu seperti periwayatan muttsahil (periwayatan yang bersambung mulai dari perawi pertama sampai kepada perawi terakhir.munawalah (menyerahkan suatu hadis yang tertulis kepada seseorang untuk diriwayatkan). maksudnya adalah keadaan mereka dari segi keadilan mereka (al-‘adalah) dan ketidakadilan mereka (al-jarh). seperti sama’ (perawi mendengar langsung bacaan hadis dari seorang guru). dan al-radd (ditolak. di tengah.  Syarat-Syarat Riwayat. seperti perkataan: “akhbarana fulan” (telah mengabarkan kepada kami si Fulan). “haddasana fulan” (telah menceritakan kepada kami si Fulan). karena adanya persyaratan tertentu yang tidak terpenuhi. atau di akhir. qira’ah (murid membacakan catatan hadis dari gurunya dihadapan guru tersebut). dan wajadah(mendapatkan koleksi tertentu tentang hadis dari seorang guru. dan lainnya. Hakikat yaitu kegiatan periwayatan hadis dan penyandarannya kepada orang yang meriwayatkannya dengan kalimat tahdis.

adanya ‘illat atau tidak.  Jenis yang diriwayatkan (ashnaf al-marwiyyat). Syarat-syarat Mereka. dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya dalam kaitannya dengan periwayatan hadis. ‘Ajjaj al-Khatib mendefinisikan Ilmu Hadis Dirayah sebagai berikut: ْ ِ ِْ َ ْ ُِْ ْ‫فَعلم الحذيث الخاَص بِالذِّرايَة هُى: مجمىعةُ القَىاعذ المسائِل الَّتًِ يُعرفُ بِـها حال الراوي والمروي من‬ ُّ َْ ِ ِّ ِ ْ َ ْ َ ِ َّ ُ َ َ ِ َ َْ ِِ َ ْ َ ُْ ْ َ َ ِ َ ‫حيث القَبُىل والرد‬ ِّ َّ َ ِ ْ ْ ُ ْ َ “Ilmu hadis dirayah adalah kumpulan kaedah-kaedah dan masalah-masalah untuk mengetahui keadaan rawi dan marwi dari segi diterima dan ditolaknya. atau al-ajza’ dan lainnya dari jenis-jenis kitab yang menghimpun hadis-hadis Nabi SAW. yaitu sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW atau kepada yang lainnya. yaitu syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seorang perawi ketika menerima riwayat (syarat-syarat pada tahammul) dan syarat ketika menyampaikan riwayat (syarat pada al-add’). seperti Sahabat atauTabi’in. atau perawi adalah  Keadaan Marwi adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan ittishal al-sanad (persambungan sanad) atau terputusnya. M. adalah mengetahui keadaan para perawi dari segi jarh dan ta’dil ketika tahammul dan adda’ al-hadis. adalah penulisan hadis di dalam kitab al-musnad. Keadaan Perawi dari segi diterima atau ditolaknya.” Definisi ini dapat kita jelaskan lebih lanjut sebagai berikut:  Al-Rawi   orang yang meriwayatkan atau menyampaikan hadis dari satu orang ke orang yang lain. Selain itu. Al-Marwi adalah segala sesuatu yang diriwayatkan. yang menentukan diterima atau ditolaknya suatu hadis. . al-mu’jam.

atau harus selamat dari beberapa hal berikut: 1. Hal tersebut dapat terlihat melalui kesejalannya dengan makna dan tujuan yang terkandung di dalam Al-Qur’an. tidak diketahui identitasnya atau tersamar. 2. atau Ushul al-Hadis. 4. 1. dari segi diterima dan ditolaknya. segi keselamatannya dari kejanggalan (syadz). yaitu kata-kata yang tidak bisa dipahami berdasarkan maknanya yang umum dikenal. Ilmu hadis dirayah inilah yang pada masa selanjutnya secara umum dikenal dengan Ulumul Hadis. Selamat dari cacat atau kejanggalan pada maknanya (fasad alma’na) karena bertentangan dengan akal dan pancaindera. Selamat dari kejanggalan redaksi (rakakat al-fadz). tinggi dan rendahnya martabat suatu sanad. 3. atau dengangan kandungan dan makna Al-Qur’an. namun mempunyai arti dan tujuan yang sama. dan 5. 2. atau dengan fakta sejarah. Sedangkan pembahasan mengenai matan adalah meliputi segi ke-shahih-an atau ke-dha’ifan-nya. Musthalahul Hadis. Keseluruhan nama-nama di atas meskipun bervariasi. 1. Oleh karenanya tidak dibenarkan suatu rangkaian sanad tersebut yang terputus. 3. segi persambungan sanad (ittishal al-sanad).  Tujuan dan Urgensi Ilmu Hadis Diwayah Tujuan dan urgensi ilmu hadis dirayah adalah untuk mengetahui dan menetapkan hadis-hadis yang Maqbul (yang dapat diterima sebagai dalil atau untuk diamalkan) dan yang Mardud (yang ditolak). segi keterpercayaan sanad (siqat al-sanad). yaitu ilmu yang membahas tentang kaidah-kaidah untuk mengetahui keadaanperawi (sanad) dan marwi (matan) suatu hadis. Objek Kajian Ilmu Hadis Dirayah 1. segi keselamatannya dari cacat (‘illat). yaitu bahwa setiap perawi yang terdapat di dalam sanad suatu hadis harus memiliki sifat adil dan dhabith (kuat dan cermat hafalan atau dokumentasi hadisnya). tersembunyi. . yaitu bahwa suatu rangkaian sanad hadis haruslah bersambung mulai dari Sahabat sampai kepada periwayat terakhir yang menuliskan atau membukukan hadis tersebut. Selamat dari kata-kata asing (ghorib).

Al-Hujarat ayat 6. Mereka telah mulai mempergunakan kaidah-kaidah dan metode-metode tertentu dalam menerima hadis.Para Ulama hadis membagi Ilmu Hadis Dirayah atau Ulumul Hadis ini kepada beberapa macam.. Al-Hujurat: 6). seperti: pembahasan tentang pembagian Hadis Shahih. dan periwayatan (adda’) hadis. dan pengklasifikasiannya antara yang tsiqat dan yang dha’if. Imam Al-Suyuthi menyatakan bahwa macam-macam ulumul hadis tersebut banyak sekali.  pembahasan al-jarh dan al-ta’dil serta tingkatan-tingkatannya. Allah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk menelitu dan mempertanyakan berita-berita yang datang dari orang lain. . serta macam-macamnya. Hasan dan Dha’if. bahkan tak terhingga jumlahnya. terutama setelah Rasul SAW wafat.  pembahasan tentang perawi. Dalam QS. Para sahabat mulai giat melakukan pencatatan dan periwayatan hadis.  C. terutama dari orang fasik. sehingga karena banyaknya. Adapun dasar dan landasan periwayatan hadis di dalam Islam dijumpai dalam Alquran dan hadis Nabi SAW. latar belakang kehidupannya. seperti yang dikemukakan di atas. namun mereka belumlah menuliskan kaidah-kaidah tersebut.(QS. Sementara Ibn Al-Shalah menyebutkan ada 65 macam Ulumul Hadis sesuai dengan pembahasannya. Masing-masing pembahasan di atas dipandang sebagai macam-macam dari Ulumul Hadis.  pembahasan tentang tata cara penerimaan (tahammul).  dan lain-lain. jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita maka periksalah berita tersebut dengan teliti agar kamu tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaan (yang sebenarnya) yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu”.Sejarah dan Perkembangan Ulumul Hadis Pada dasarnya Ulumul Hadis telah lahir sejak dimulainya periwayatan hadis di dalam Islam. ketika umat merasakan perlunya menghimpun hadis-hadis Rasul SAW dikarenakan adanya kekhawatiran hadis-hadis tersebut akan hilang atau lenyap. berdasarkan kepada permasalahan yang dibahas padanya. Firman Allah SWT yang artinya: “Hai orang-orang yang telah beriman.

Dalam rangka melaksanakan perintah Allah dan Rasuyl-Nya itu. serta (cara) pembicaraan terhadap rawi-rawi hadis. dari riwayat Ibnu Sirin. mereka baru mempertanyakannya: ‘Sebutkanlah kepada kami orang-orang yang meriwayatkan hadits kepada kamu sekalian‘. lantas dia menyampaikannya (hadis tersebut) sebagaimana dia dengar. sebaliknya. dan mengetahui cacat-cacat yang tersembunyi. dan . Berpijak pada prinsip bahwa suatu hadis itu tidak dapat diterima kecuali sesudah dikatahui sanadnya. jika ternyata memang orang-orang Ahli Bid’ah. serta (cara) mengetahui sanadsanad yang muttasil dan yang munqati’. At-Tirmizi). Dalam ayat al Quran serta dua hadits tersebut jelas terdapat suatu prinsip ketentuan mengenai pengambilan suatu berita sekaligus tata cara dalam menerima suatu berita tertentu. kemudian setelah timbul fitnah. maka nampak jelaslah kedudukan serta nilai sanad dalam rangka untuk menerima atau menolak suatu berita. Dalam muqadimah Shahih Muslim. dikatakan Semula mereka tidak pernah mempertanyakan tentang sanad. tata cara menerimanya serta menyampaikannya. Meskipun masih sangat sedikit sekali. dengan cara melakukan tabayyun (memperjelasnya) serta menelitinya dan agar hati-hati dalam menyampaikan suatu berita kepada orang lain. maka munculah ilmu Jarh wa Ta’dil. Kemudian para ulama lama kelamaan memperluas (jangkauan pembahasan) dalam masalah yang demikian itu. Lalu jika ternyata mereka yang meriwayatkan hadits tersebut adalah orang-orang Ahli Sunnah maka terimalah hadits itu. “(Semoga) Allah membaguskan rupa seseorang yang mendengar dari kami sesuatu (hadis). terutama ketika mereka meragukan terhadap kejujuran dari orang yang menyampaikan berita tersebut. maka para sahabat telah menetapkan ketentuan-ketentuan dalam menyampaikan suatu berita sekaligus dalam hal menerimanya. hingga lahirlah pembahasan dalam beberapa cabang yang berhubungan dengan hadits dari segi pencatatannya. Atas dasar ini. dan (ilmu mengenai) pembicaraan terhadap rawi-rawi hadis. kadangkadang orang yang menyampaikan lebih hafal daripada yang mendengar”. maka janganlah kamu mengambil hadits yang diriwayatkannya. (HR.Sementara dalam hadis disebutkan. Bahkan telah muncul pula pembicaraan pada sebagian rawirawi yang tercela.karena sedikitnya rawi-rawi yang benar-benar tercela pada masa awalnya.

dan hidup umat ini tiada berarti tanpa dengan agama. kaum muslimin mendapat dorongan yang kuat untuk meneliti dan menyelidiki periwayatan hadis. serta mengamalkan isinya. umat manusia banyak dihadapkan pada pertentangan dan halangan sehingga mendorong untuk menjaga warisan mereka dari penyusupan yang menyebabkan terjadinya fitnah dan saling bermusuhan serta tipu muslihat. hingga warisan itu selalu hadir di hadapan mereka. Kedua : Dorongan Sejarah Dalam sejarah. memenuhi kecintaan hati mereka. hafalan.menukil. Jika umat lain begitu perhatian terhadap warisan pemikiran mereka. hanya saja demikian itu dilakukan para ulama secara lisan. dan menyampaikannya. Dari sini. dan mengikuti aturan-aturan periwayatan yang benar. agar mereka . yaitu adanya: (1) dorongan agama. dan salah satu jalannya adalah pemalsuan terhadap hadis. Berikut akan penulis paparkan secara singkat kedua hal pokok tersebut: Pertama: Dorongan Agama Bahwasanya umat manusia memperhatikan warisan pemikiran yang dapat menyentuh dan membangkitkan kehidupan mereka. Dan umat Islam yang telah merobohkan pilar kemusyrikan. Syekh Manna Al-Qaththani menyimpulkan bahwa yang mendasari lahir dan berkembangnya Ilmu Hadis ada 2 (dua) hal pokok. dan tidak dapat dihancurkan kecuali dari agama itu sendiri. dan meneladani kehidupannya. gharibnya dan hal-hal selainnya. lalu mereka terdorong untuk menanamkannya pada anak-anak mereka agar menjadi orang yang memahaminya. dan (2) dorongan sejarah.mengetahui nasikh-mansukhnya. tahu benar bahwa kekuatan umat ini terletak pada kekuatan agamanya. menghadapi musuh-musuh bebuyutan. karena itu bagian dari eksistensinya. Dalam kitab Mabahits Ulumil Hadis. menjadi pijakan kebangkitan mereka. Oleh karenanya Allah mewajibkan dalam agama untuk mengikuti dan menaati Rasul-Nya. dan mendobrak benteng Romawi dan Persia. membimbing langkah dan jalan mereka. menjalani semua apa yang dibawa beliau. maka umat Islam yang mengikuti risalah Nabi Muhammad SAW juga tidak kalah dalam memelihara warisan yang didapatkan dari Nabi SAW dengan cara periwayatan.

dan sikap tersebut semakin ditingkatkan terutama setelah munculnya hadis-hadis palsu. Adapun bentuk kritik terhadap riwayat adalah dengan cara memaparkan dan membandingkan riwayat dengan Al-Qur’an. maka beberapa aktivitas tertentu dilakukan oleh para Ulama Hadis dalam rangka memelihara kemurnian hadis. tidak dikotori oleh aib maupun oleh keraguan. Para sahabat sangat berhati-hati dalam menerima hadis tanpa adanya perawi yang benar-benar dapat dipercaya. jika bertentangan maka mereka tinggalkan dan tidak mengamalkannya.a. yakni sekitar tahun 41 H setelah masa pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib r.Kritik terhadap riwayat. karena mereka sangat takut terjadinya kesalahan dalam periwayatan hadis Nabi SAW. Dan di antara aturan-aturan yang diberlakukan pada masa sahabat adalah: 1. .Ketelitian dalam periwayatan. 3. Semenjak itu mulailah dilakukan penelitian terhadap sanad Hadis dengan mempraktikkan ilmu al-jarah wa al-ta’dil. Selain itu mereka juga khawatir dengan memperbanyak periwayatan akan menyibukkan umat Islam terhadap as-Sunnah dan mengabaikan AlQuran 2. dan menyebabkan kebohongan terhadap Rasul SAW. dan sekaligus mulai pulalah ilmu ini tumbuh dan berkembang. hal yang sebelumnya tidak pernah mereka lakukan. Mereka khawatir dengan banyaknya riwayat akan tergelincir pada kesalahan dan kelalaian. Ketelitian dan sikap hati-hati para Sahabat Nabi SAW tersebut diikuti pula oleh para ulama yang datang sesudah mereka. Setelah munculnya kegiatan pemalsuan hadis dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.dapat menjaga warisan yang agung ini dari penyelewengan dan penyusupan terhadapnya sehingga tetap bersih.Mengurangi periwayatan hadis . yaitu seperti: a) melakukan pembahasan terhadap sanad hadis serta penelitian terhadap keadaan setiap para perawi hadis.

para ulama yang bertugas dalam menghimpun dan membukukan hadis tersebut menerapkan ketentuan-ketentuan Ilmu Hadis yang sudah ada dan berkembang sampai pada masa mereka. Selanjutnya. Pada abad kedua Hijrah. Demikianlah kegiatan para ulama hadis di abad pertama Hijrah yang telah memperlihatkan pertumbuhan dan perkembangan Ilmu Hadis. Dari macam-macam hadis tersebut. Muhammad ibn Sa’ad (w.Yahya ibn Ma’in (w. 230H/844M) menulis Al-Tabaqat. c) melakukan perbandingan antara riwayat seorang perawi dengan riwayat perawi lain yang lebih tsiqat dan terpercaya dalam rangka untuk mengetahui ke-dha’if-an atau kepalsuan suatu hadis. . dan Hadis Mursal. Hal ini dilakukan lantaran semakin banyaknya para penghafal hadis yang telah wafat. Adapun ulama yang pertama kali menyusun kitab dalam bidang ini adalah al Qadhi Abu Muhammad al Hasan bin Abdurrahman bin Chalad ar Ramaharmuzi (wafat pada tahun 360 H). Ahmad ibn Hanbal (241H/855M) menulis Al-‘Ilal. demikian juga keadaan para perawinya. 234H/848M) menulis tentang Tarikh ar-Rijal. Mereka memperhayikan ketentuan-ketentuan hadis shahih. yang pada masa berikutnya disebut dengan hadis shahih dan hadis hasan. Hadis Mawquf. mulailah ketentuan dan perumusan kaidah-kaidah Hadis ditulis dan dibukukan. Bahkan pada akhir abad pertama itu telah terdapat beberapa klasifikasi hadis. Hadis Muttashil. Pada abad keempat dan kelima hijrah mulailah ditulis secara khusus kitabkitab yang membahas tentang Ilmu Hadis yang bersifat komprehensif. serta hadis mardud yang kemudian dikenal dengan hadis dha’if dengan berbagai macamnya. ketika hadis telah dibukukan secara resmi atas prakarsa Khalifah Umar bin Abdul Aziz dan dimotori oleh Muhammad ibn Muslim ibn Syihab al-Zuhri. juga telah dibedakan antara hadis maqbul. dan lain-lain. namun masih bersifat parsial. pada abad setelah itu mulailah bermunculan karya-karya di bidang Ilmu Hadis ini yang sampai saat ini masih menjadi referensi utama dalam membicarakan ilmu hadis. yaitu: Hadis Marfu’. Pada abad ketiga Hijrah yang dikenal dengan masa keemasan dalam sejarah perkembangan Hadis.b) melakukan perjalanan (rihlah) dalam mencari sumber hadis agar dapat mendengar langsung dari perawi asalnya dan meneliti kebenaran riwayat tersebut melaluinya.

Pengantar Studi Ilmu Hadits. Kamus Ilmu Hadis. yakni ilmu hadits. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. Jakarta:Maktabah AlGhuroba’. Taisir Musthalah Hadits.kitabnya Al Muhaddits al Fashil Baina al Rawi wa al Wa’i. Memahami Ilmu Hadis. Penjelasan AlMandhumah Al-Baiquniyah.M. Abu Hudzaifah. Kemudian muncullah beberapa ilmu yang bertalian dengan kajian analisis dan semuanya terangkum dalam satu nama. Ilmu Jarah Wa Al-Ta’dil . Sedangkan definisi lain sebagaimana di sebutkan ibnu hajar. (oleh: Indra L Muda) DAFTAR PUSTAKA Abul-Harits Muhammad bin Ibrahim As-Salafy Al-Jazairi. IV.Al-A’zami. 2002 Ulama lain berpendapat. Cet. 1999 M. a. terj. Munculnya berbagai ilmu tersebut diakibatkan banyaknya topik tentang hadits dirayah tersebut dengan tujuan dan metodenya berbeda-beda. Ulumul Hadis. 2001 Syekh Manna Al-Qaththani. Berikut di antara ilmu-ilmu yang bermunculan dari berbagai ragam topik ilmu dirayah. ilmu hadits dirayah adalah ilmu undang-undang yang dapat mengetahui keadaan sanad dan matan. Bandung: Titian Ilahi Press. II. Zainul Muttaqin. terj. Berbagai definisi di atas banyak kemiripan. macam-macamnya atau hukum-hukumnya. definisi paling baik dari berbagai definisi ilmu hadits dirayah adalah pengetahuan tentang kaidah-kaidah yang dapat memperkenalkan keadaankeadaan rawi dan yang diriwayahkan. 2005 Nawir Yuslem.II. terj. Mifdhol Abdurrahman. Cet. cet. Definisi ini lebih pendek dari definisi di atas. 2009 Totok Jumantoro. Pada mulanya pembahasan yang menyangkut ilmu hadits dirayah sangat beragam. Bandung: Bumi Aksara. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. Jakarta: PT Mutiara Sumber Widya. pada dasarnya semua definisi itu sama yakni pengetahuan tentang rawi dan yang diriwayahkan atau sanad dan matannya baik juga berkaitan dengan pengetahuan tentang syarat-syarat periwayahan. Istilah lain yang dipakai oleh ulama ahli hadits terhadap ilmu hadits dirayah adalah ilmu ushul al-hadits. 2008 Mahmud Thahhan.

Kedua hadits tersebut sama-sama shahih. Ibn Qutaibah (276 H). “Larilah dari penyakit kusta sebagaimana kamu lari singa”. c. Misalnya memuttasilkan hadits yang mungkati’. Misalnya sabda rasulullah SAW. Ilmu Mukhtalaf Al-Hadits Iamam Nawawi berkata dalam kitab al-Taqrib. d. “tiada penyakit menular ” dan sabdanya dalam hadits lain berbunyi.” Ilmu ini membahas hadits-hadits yang secara lahiriyah bertentangan. Ilmu Ilal Al-Hadits Ilmu ini membahas tetentang sebab-sebab tersembunyinya yang dapat merusak keabsahan suatu hadits. “ini adalah salah satu disiplin ilmu dirayah yang terpentinng. Di antara ulama yang menulis tentang ilmu mukhtalaf al-hadits adalah imam syafi’I (204 H). Orang yang pertama di bidang ini adalah al-bukhari (256 H). . ibn sa’ad (230 H) banyak menjelaskannya. b. sekiranya masalah yang membuat mereka tercela atau bersih dalam menggunakan lafad-lafad tertentu.Ilmu ini membahas para rawi. namun ada kemumkinan dapat diterima dengan syarat. Lalu diterapkanlah jalan tengah bahwa sesungguhnya penyakit tersebut tidak menular dengan sendirinya. Abu Yahya Zakariya Bin Yahya al-Saji (307 H) dan Ibnu al-Jauzi (598 H). Ini adalah buah ilmu tersebut dan merupakan bagian terbesarnya. dalam bukunya thabaqat. umpamanya ada dua hadits yang yang makna lahirnya bertentangan. Jelasnya. Dengan demikian menjadi nyata betapa pentingnya ilmu ini posisinya dalam disiplin ilmu hadits. Ilmu Tokoh-Tokoh Hadits Dengan ilmu ini dapat diketahui apakah para rawi layak menjadi perawi atau tidak. atau salah satunya ada yang di utamakan. memarfu’kan hadits yang maukuf dan sebagainya. Akan tetapi allah SWT menjadikan pergaulan orang yang sakit dengan yang sehat sebagai sebab penularan penyakit. kemudian dapat diambil jalan tengah.

ilmu Nasakh Wa Al-Mansukh Al-Hadits ilmu nasakh wa al-mansukh al-hadits adalah ilmu yang membahas tentang hadits-hadits yang bertentangan yang hukumnya tidak dapat dikompromikan antara yang satu dengan yang lain. f. Al-hazimi berkata: disiplin ilmu ini (nasikh mansukh) termasul kesempurnaan ijtihad.com/humanities/religion-studies/2127085hadits-riwayah-dan-dirayah/#ixzz1Yuu9YJiJ . dan sedangkan faidah dari pengetahuan tentang penikilan adalah pengetahuan tentang nasikh dan mansukh. Nasikh adalah yang menghapus atau membatalkan. Ulama yang terdahulu menyusun kitab tentang ilmu ini adalah abu hasan al-nadru ibn syamil al-mazini. rukun yang paling penting dalam beriitihad adalah pengetahuan tentang penulilan hadits. Karena telah berbaur dengan bahasa arab pasar.shvoong. Pengetahuan ilmu tentang nasikh mansukh ini merupakan ilmu yang sangat penting untuk dan wajib dikuasai oleh seorang yang akan mengkaji hokum syariat. wafat pada tahun 203 H. Sebab tidak mungkin bagi seseorang yang akan membahas tentang hokum syar’I sementara ia tidak mengenal dan menguasai ilmu tentang nasikh mansukh.e. Karena. Kadang-kadang nasikh ini di lakukan oleh nabi sendiri. karena itu akan mengingattkanmu pada akhirat. seperti. “Aku pernah melarang ziarah kubur. Ilmu Gharib Al-Hadits ilmu ini membahas tentang kesamaran makna lafad hadits.yang dating dahulu disebut mansukh (hadits yang dihapus) dan yang datang kemudian disebut nasikh (hadits yang menghapus). sabdanya. lalu sekarang berziarahlah.” Sumber: http://id.

T{ WSaSZ \W^SSZSZ {^S{ VSS WZUS^ _aTW^ SV_ SYS^ VS\S` WZVWZYS^ SZY_aZY VS^ \W^Sc S_SZ S VSZ WZW` WTWZS^SZ ^cS S``W^_WTa`WSaZ S U{ WSaSZ \W^TSZVZYSZ SZ`S^S ^cS S` _W[^SZY \W^Sc VWZYSZ ^cS S` \W^Sc SZ SZY WT`_]S`VSZ `W^\W^US S VSS ^SZYS aZ`a WZYW`SaWVSXSZS`SaW\S_aSZ_aS`aSV_ WSZS WYS`SZ \S^SaSSSV_ VSTSV\W^`SS ^S SZY `WS W\W^S`SZ \W^`aTaSZ VSZ \W^WTSZYSZ a SV_ SSZ \SVS S^ STSV \W^`SS `a `WS `W^VS\S` TWTW^S\S S_XS_ SV_ S`a SV_ S^Xa SV_ Sc]aX SV_ a``S_VSZ SV_ a^_SS^ SUSSUS SV_ `W^_WTa` aYS `WS VTWVSSZ SZ`S^S SV_ S]Ta SZY \SVS S_STW^a`Z S V_WTa`VWZYSZSV_ _S VSZSV_ S_SZ _W^`S SV_ S^VaV SZY WaVSZ VWZS VWZYSZ SV_ VSX VWZYSZ TW^TSYSSUSZ S SVS STSV WVaS ^S W`S SV_ `WS VTaaSZ _WUS^S ^W_ S`S_ \^SS^_S SXS S^ TZ TVa    VSZV[`[^ [W aSSV TZ a_TZ STSa^\S^SaSS SZYTW^`aYS_VSSWZY\aZ VSZ WTaaSZ SV_ `W^_WTa` WZW^S\SZ W`WZ`aSZW`WZ`aSZ a SV_ SZY_aVSSVSVSZTW^WTSZY_S\S\SVSS_SW^WS W^WS W\W^S SZW`WZ`aSZW`WZ`aSZSV__SVWSZaYSWSVSSZ \S^S \W^ScZ S S Z VSaSZ SZ`S^SZ _WSZ TSZ SZ S \S^S \WZYSXSSV_ SZY`WScSXS` SVSSTSVW`YS ^S SZYVWZSVWZYSZS_SWWS_SZVSS_WS^S \W^WTSZYSZ SV_ aSS W`WZ`aSZ VSZ \W^aa_SZ SVSSVS SV_V`a_VSZVTaaSZZSaZS_TW^_XS`\S^_SS STZ SZ {c È% % {WZa_`WZ`SZYS^S^S aSSVTZSSV{c È% { WZa_STS]S` SV TZ SZTS { È% { WZa_ SVSZSZSZ SVSSTSVWW\S`VSZWS^SaSSV`a__WUS^Sa_a_`ST `ST SZY WTSS_ `WZ`SZY a SV_ SZY TW^_XS` [\^WWZ_X WSZa`Z S \SVS STSV _W`WS `a aSS TW^aZUaSZ S^ SS^ S V TVSZY a SV_Z SZY _S\S _SS` ZS_ WZSV ^WXW^WZ_a`SS VSS WTUS^SSZ a SV_ VS\aZ aSS SZY \W^`SS S WZ a_aZ`STVSSTVSZYZSVSSSSVTa aSSVS S_SZ TZ TVa^^SSZ TZ SSV S^ SSS^a  {cSXS` \SVS `SaZ  { .

`STZ S  aSVV`_ S S_ SZS S Sc cS S S {[W ZV^S  aVS{      Ta S^`_ aSSV TZ T^S _SSX   S S^ WZWS_SZ  SZVaS S]aZ S `W^ Ta aV SXS SS^`S S`STS  a^[TSW`  % SaVSSZS_^ a_`SS SV`_`W^SZa a``S]ZSZVaZY `SZ S ^W__W`  %%%   S WSS a SV_ SS^`S a_`SS Sa`_S^  Sc^a_Waa SV_ SS^`S  a`S^SaTW^V S   W SZZS S``SZ WZYSZ`S^ `aV a SV`_`W^ XV[ TVa^^SSZ SS^`S a_`SS Sa`_S^UW`  % [`[ aSZ`[^[ Sa_ a SV_SZVaZYa_S^S  SSSZTW^\WZVS\S`aSV`_V^S SSVSSaaZVSZYaZVSZY SZYVS\S`WZYW`SaWSVSSZ_SZSVVSZS`SZWXZ_ZWT\WZVW VS^VWXZ_VS`S_WVSZYSZVWXZ_SZ_WTSYSSZSV_WTa`SZTZa SS^VWXZ_\SZYTSVS^TW^TSYSVWXZ_aSV`_V^S SSVSS \WZYW`SaSZ`WZ`SZYSVSSVS SZYVS\S`W\W^WZSSZWSVSSZ WSVSSZ^ScVSZ SZYV^cS SSZ  W^TSYSVWXZ_VS`S_TSZ SW^\SZ\SVSVS_S^Z S_WaSVWXZ_ `a_SS SZ\WZYW`SaSZ`WZ`SZY^ScVSZ SZYV^cS SSZS`Sa _SZSVVSZS`SZZ STSaYSTW^S`SZVWZYSZ\WZYW`SaSZ`WZ`SZY _ S^S`_ S^S`\W^cS SSZSUSSUSZ SS`SaaaaaZ S _`SSZ SZYV\SS[WaSSSSV`_`W^SVS\aSV`_V^S S SVSSaa_aSSV`_ SVSaSZ S\WTSS_SZ SZYWZ SZYa` aSV`_V^S S_SZYS`TW^SYS WaVSZaZUaSTWTW^S\Sa SZYTW^`SSZVWZYSZSSZSZS__VSZ_WaSZ S`W^SZYaVSS_S`a ZSS SZaSV`_ aZUaZ STW^TSYSa`W^_WTa`VSTS`SZ TSZ SZ S`[\`WZ`SZYSV`_V^S S`W^_WTa`VWZYSZ`aaSZVSZ W`[VWZ STW^TWVSTWVSW^a`VSZ`S^Saa SZYTW^aZUaSZ VS^TW^TSYS^SYS`[\aV^S S  S a S^SSSV .

aZWTSS_\S^S^Sc_W^SZ SS_SS SZYWTaS`W^WS `W^UWSS`SaTW^_VSSWZYYaZSSZSXSVSXSV`W^`WZ`a ZSVSS TaSa`W^_WTa`VSZW^a\SSZTSYSZ`W^TW_S^Z S  T a[[[[ SV`_ WZYSZaZVS\S`VW`SaS\SS\S^S^ScS SWZSV\W^Sc S`Sa`VS.

^SZY SZY\W^`SSVTVSZYZSVSSSTaS^{  { VSSTaaZ S`STS]S`TZ_SSV{  {TSZ SWZWS_SZZ S  U a a`SSX SV`_ SS ScScTW^S`SVSS`STSS]^TZSVSS_SS_S`a V_\ZaV^S S SZY`W^\WZ`ZZY aZWTSS_SV`_SV`_ SZY_WUS^SS^ STW^`WZ`SZYSZZSaZSVSWaZSZVS\S` V`W^SVWZYSZ_ S^S` WS_Z Sa\SSZ SSVSVaSSV`_ SZY SZY SZSS^Z STW^`WZ`SZYSZWaVSZVS\S`VSTSSZ`WZYSS`Sa _SS_S`aZ SSVS SZYVa`SSSZ _SZ S_STVS^S_aaS`SVS\WZ S`WZaS^VSZ_STVSZ S VSSSV`_SZTW^TaZ  S^SVS^\WZ S`a_`S_WTSYSSZSSa S^_ZYS WVaSSV`_`W^_WTa`_SS_SS_S SaV`W^S\SZS SSZ`WZYSTScS_W_aZYYaZ S\WZ S``W^_WTa``VSWZaS^VWZYSZ _WZV^Z SSZ`W`S\SSWZSVSZ\W^YSaSZ[^SZY SZY_S` VWZYSZ SZY_WS`_WTSYS_WTST\WZaS^SZ\WZ S` SZ`S^SaSS SZYWZa_`WZ`SZYaa`SSXSSV`_SVSS S_ SX {  { TZa`STS{  {TaS SSS^ SZS S SS{  {VSZ TZaS Sa { %% {  V a S SV`_  a Z WTSS_ `W`WZ`SZY _WTST_WTST `W^_WTaZ Z S SZY VS\S` W^a_S WST_SSZ _aS`a SV`_ _SZ S Wa``S_SZ SV`_ SZY aZYS` WS^XaSZ SV`_ SZY SaaX VSZ _WTSYSZ S WZYSZ VWSZ WZSV Z S`S TW`S\S \WZ`ZYZ S a Z \[__Z S VSS V_\ZaSV`_ .

 W a S^T SV`_ aZWTSS_`WZ`SZYW_SS^SZSZSSXSVSV`_ S^WZS`WS TW^TSa^VWZYSZTSS_SS^ST\S_S^SS SZY`W^VSaaWZ a_aZ`ST `WZ`SZYaZSVSSSTaS_SZSZSV^aTZ_ SSS ZcSXS`\SVS `SaZ    Xa S_SS SZ_a SV`_ aZS_ScSSSZ_aSSV`_SVSSa SZYWTSS_`WZ`SZY SV`_SV`_ SZYTW^`WZ`SZYSZ SZYaaZ S`VSVS\S` V[\^[SZSZ`S^S SZY_S`aVWZYSZ SZYSZ SZYVS`ZYVSaa V_WTa`SZ_a{SV`_ SZYVS\a_{VSZ SZYVS`SZYWaVSZV_WTa` ZS_{SV`_ SZYWZYS\a_{ WZYW`SaSZa`WZ`SZYZS_SZ_aZW^a\SSZa SZY_SZYS` \WZ`ZYaZ`aVSZcSTVaS_S[W_W[^SZY SZYSSZWZYS[a _ S^S`WTST`VSaZYZTSY_W_W[^SZY SZYSSZWTSS_`WZ`SZY [a_ S^ _WWZ`S^SS`VSWZYWZSVSZWZYaS_Sa`WZ`SZY ZS_SZ_a S TW^S`SV_\ZaZ{ZS_SZ_a{`W^S_a W_W\a^ZSSZ`SV S^WZS^aaZ SZY\SZY\WZ`ZYVSSTW^`SV SVSS\WZYW`SaSZ`WZ`SZY\WZaSZSV`_VSZ_WVSZYSZXSVSVS^ \WZYW`SaSZ`WZ`SZY\WZSZSVSS\WZYW`SaSZ`WZ`SZYZS_VSZ SZ_a S_SVSS SZYWZYS\a_S`SaWTS`SSZ SVSZYSVSZYZS_ ZVSaSZ[WZST_WZV^_W\W^`_STVSZ Sa\W^ZSWS^SZY S^SaTa^Sa_WS^SZYTW^ S^SSS^WZS`aSSZWZYZYS``SZa \SVSS^S`   aTW^``\ÈÈV_b[[ZYU[ÈaSZ`W_È^WY[Z_`aVW_È %  SV`_^cS SVSZV^S SÈ  aa%    .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful