P. 1
Pembelajaran Matematika Realistik (Rme)

Pembelajaran Matematika Realistik (Rme)

|Views: 35|Likes:
Published by El Barca

More info:

Published by: El Barca on Sep 26, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/07/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Matematika adalah salah satu ilmu dasar, yang semakin dirasakan interkasinya dengan bidang-bidang ilmu lainnya seperti ekonomi dan teknologi. Peran matematika dalam interaksi ini terletak pada struktur ilmu dan perlatan yang digunakan. Ilmu matematika sekarang ini masih banyak digunakan dalam berbagai bidang seperti bidang industri, asuransi, ekonomi, pertanian, dan di banyak bidang sosial maupun teknik. Mengingat peranan matematika yang semakin besar dalam tahun-tahun mendatang, tentunya banyak sarjana matematika yang sangat dibutuhkan yang sangat terampil, andal, kompeten, dan berwawasan luas, baik di dalam disiplin ilmunya sendiri maupun dalam disiplin ilmu lainnya yang saling menunjang. Untuk menjadi sarjana matematika tidaklah mudah, harus benar-benar serius dalam belajar, selain harus belajar matematika, kita juga harus mempelajari bidang-bidang ilmu lainnya. Sehingga, jika sudah menjadi sarjana matematika yang dalam segala bidang bisa maka sangat mudah untuk mencari pekerjaan. Kata matematika berasal dari kata “mathema” dalam bahasa Yunani yang diartikan sebagai “sains, ilmu pengetahuan atau belajar.” Disiplin utama dalam matematika di dasarkan pada kebutuhan perhitungan dalam perdagangan, pengukuran tanah, dan memprediksi peristiwa dalam astronomi. Ketiga kebutuhan ini secara umum berkaitan dengan ketiga pembagian umum bidang matematika yaitu studi tentang struktur, ruang, dan perubahan. Pelajaran tentang struktur yang sangat umum dimulai dalam bilangan natural dan bilangan bulat, serta operasi aritmatikanya, yang semuanya dijabarkan dalam aljabar dasar. Sifat bilangan bulat yang lebih mendalam dipelajari dalam teori bilangan. Ilmu tentang ruang berawal dari geometri. Dan pengertian dari perubahan pada kuantitas yang dapat dihitung adalah suatu hal yang biasa dalam ilmu alam dan kalkulus. Dalam perdagangan sangat berkaitan erat dengan matematika karena dalam perdagangan pasti akan ada perhitungan, di mana perhitungan tersebut bagian dari matematika. Secara tidak sadar ternyata semua orang menggunakan matematika dalam kehidupan sehari-hari seperti jika ada orang yang sedang membangun rumah maka pasti orang tersebut akan mengukur dalam

kebanyakan siswa mengalami kesulitan dalam mengaplikasikan matematika ke dalam situasi kehidupan real. Pembelajaran matematika relaistik pertama kali diperkenalkan dan dikembangkan di Belanda pada tahun 1970 oleh Institut Freudenthal. Dalam pembelajaran matematika siswa belum bermakna. Salah satu pembelajaran matematika yang berorientasi pada matematisasi pengalaman sehari-hari dan menerapkan matematika dalam kehidupan sehari-hari adalah pembelajaran matematika realistik. “Menurut Jenning dan Dunne (1999) mengatakan bahwa. Apalagi dengan dijadikannya matematika sebagai salah satu diantara mata pelajaran yang diujikan dalam ujian nasional yang merupakan syarat bagi kelulusan siswa-siswi SMP maupun SMA. Salah satu karakteristik matematika adalah mempunyai objek yang bersifat abstrak ini dapat menyebabkan banyak siswa mengalami kesulitan dalam matematika. Mengaitkan pengalaman kehidupan nyata. Oleh karena itu matematika sangat bermanfaat sekali dalam kehidupan sehari-hari.” Hal ini yang menyebabkan sulitnya matematika bagi siswa adalah karena dalam pembelajaran matematika kurang bermakna. anak dengan ide-ide matematika dalam pembelajaran di kelas sangat penting dilakukan agar pembelajaran matematika bermakna.menyelesaikan pekerjaannya itu. Biasanya ada sebagian siswa yang menganggap belajar matematika harus dengan berjuang mati-matian dengan kata lain harus belajar dengan ekstra keras. maka anak akan cepat lupa dan tidak dapat mengaplikasikan matematika. Akibat dari pemikiran negatif terhadap matematika. Prestasi matematika siswa baik secara nasional maupun internasional belum menggembirakan. sehingga pengertian siswa tentang konsep sangat lemah. dan guru dalam pembelajarannya di kelas tidak mengaitkan dengan skema yang telah dimiliki oleh siswa dan siswa kurang diberikan kesempatan untuk menemukan kembali ide-ide matematika. Menurut Van de Henvel-Panhuizen (2000). Pembelajaran matematika harus dekat dengan anak dan kehidupan nyata sehari-hari. ketakutan siswa pun makin bertambah. bila anak belajar matematika terpisah dari pengalaman mereka sehari-hari. Hal ini menjadikan matematika seperti “monster” yang mesti ditakuti dan malas untuk mempelajari matematika. Ada beberapa pemikiran untuk mengurangi ketakutan siswa terhadap matematika. . perlu kiranya seorang guru yang mengajar matematika melakukan upaya yang dapat membuat proses belajar mengajar bermakna dan menyenangkan.

dimana siswa kurang bebas bergerak. 1. jadinya siswa kurang termotivasi.Salah satunya dengan cara pembelajaran matematika realistik dimana pembelajaran ini mengaitkan dan melibatkan lingkungan sekitar. pengalaman nyata yang pernah dialami siswa dalam kehidupan sehari-hari. memberikan permainan di kelas suatu bilangan dan sebagainya tergantung kreativitas guru. cepat bosan dan lelah. Adapun beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal di atas dengan melakukan inovasi pembelajaran. serta menjadikan matematika sebagai aktivitas siswa. mengerti materi tersebut dari pada banyak materi tetapi siswa tidak mengerti tersebut. Dengan pendekatan RME tersebut. Jadi untuk mempermudah siswa dalam pembelajaran matematika harus dihubungkan dengan kehidupan nyata yang terjadi di dalam kehidupan sehari-hari. yang penting pilihlah topik yang sesuai misalnya mengukur tinggi pohon. Pembelajaran sekarang ini selalu dilaksanakan di dalam kelas. Beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain memberikan kuis atau teka-teki yang harus ditebak baik secara berkelompok ataupun individu. siswa tidak harus dibawa ke dunia nyata. ada cara untuk mempermudah dalam belajar matematika yaitu dengan cara Pembelajaran Matematika Realistik. tetapi berhubungan dengan masalah situasi nyata yang ada dalam pikiran siswa. Meski banyak tuntutan pencapaian terhadap kurikulum sampai daya serap namun dengan alokasi yang terbatas. mengukur lebar pohon dan lain sebagainya. belajar matematika merupakan beban berat dan membosankan. Siswa lebih baik mempelajari sedikit materi sampai siswa memahami. Untuk mempermudah siswa dalam belajar matematika dapat menggunakan dalam pembelajaran matematika realistik. Banyak hal yang bisa kita jadikan sumber belajar matematika. Kebanyakan siswa. sekaligus mempergunakannya sebagai sumber belajar.2 Tujuan Penulisan Suatu pembelajaran matematika tidaklah sulit. . Dalam penulisan makalah ini bertujuan: 1. cobalah untuk memvariasikan strategi pembelajaran yang berhubungan dengan kehidupan dan lingkungan sekitar sekolah secara langsung. Jadi guru harus memberanikan diri menuntaskan siswa dalam belajar sebelum ke materi selanjutnya karena hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi kesalahpahaman siswa dalam belajar matematika. Jadi siswa diajak berfikir bagaimana menyelesaikan masalah yang mungkin atau sering dialami siswa dalam kesehariannya. Dimana pembelajaran ini menghubungkan dengan kehidupan sehari-hari.

sehingga siswa mempunyai kesempatan untuk menemukan kembali konsep-konsep matematika. BAB PEMBAHASAN II 2. 1991. 4. (Trevers. a. Untuk mengetahui lebih jelas lagi tentang pembelajaran matematika realistik. Menggunakan konteks “dunia nyata” yang tidak hanya sebagai sumber matematisasi tetapi juga sebagai tempat untuk mengaplikasikan kembali matematika. Karakteristik RME menggunakan: konteks “dunia nyata”. produksi dan kontruksi siswa. 5.2. Pembelajaran matematika realistik diawali dengan masalah-masalah yang nyata. Dan siswa diberi kesempatan untuk mengaplikasikan konsep-konsep matematika untuk memecahkan masalah sehari-hari. Supaya siswa mengetahui betapa menyenangkan mempelajari matematika. Kaitan antara pembelajaran matematika realistik dengan pengertian. Pembelajaran matematika realistik di kelas berorientasi pada karakteristik RME. 1998). Van Heuvel-Panhuizen. interaktif dan keterkaitan. 6. Untuk pengimplementasian pembelajaran matematika realistik.1 Matematika Realistik (MR) Matematika realistik yang dimaksudkan dalam hal ini adalah matematika sekolah yang dilaksanakan dengan menemaptkan realitas dan pengalaman siswa sebagai titik awal pembelajaran. Di sini akan mencoba menjelaskan tentang karakteristik RME. model-model. supaya siswa tidak bosan dalam pembelajaran matematika. Guru dalam menyampaikan materi harus mempunyai strategi dalam pembelajaran matematika. sehingga siswa dapat menggunakan . 3. Untuk memaparkan secara teori pembelajaran matematika realistik. 7. Masalah-masalah realistik digunakan sebagai sumber munculnya konsep-konsep matematika atau pengetahuan matematika formal.

b. c. Kemudian siswa juga dapat mengaplikasikan konep-konsep matematika ke bidang baru dan dunia nyata. Melalui penalaran matematika model-of akan bergeser menjadi model-for masalah yang sejenis. Menggunakan produksi dan konstruksi streefland (1991) menekankan bahwa dengan pembuatan “produksi bebas” siswa terdorong untuk melakukan refleksi pada bagian yang mereka anggap penting dalam proses belajar. pertanyaan. Menggunakan keterkaitan dalam pembelajaran matematika realistik. Dan berperan sebagai jembatan bagi siswa dari situasi real ke situasi abstrak atau dari matematika informal ke matematika formal. tidak setuju. Pada akhirnya akan menjadi model matematika formal. Dalam pembelajaran ada keterkaitan dengan bidang yang lain. Oleh karena itu untuk membatasi konsep-konsep matematika dengan pengalaman sehari-hari perlu diperhatikan matematisasi pengalaman sehari-hari dan penerapan matematika dalam sehari-hari. Interaktif antara siswa dengan guru merupakan hal yang mendasar dalam pembelajaran matematika realistik. Proses pencarian (inti) dari proses yang sesuai dari situasi nyata yang dinyatakan oleh De Lange (1987) sebagai matematisasi konseptual. d. penjelasan. Generalisasi dan formalisasi model tersebut. Dengan pembelajaran matematika realistik siswa dapat mengembangkan konsep yang lebih komplit. Menggunakan model-model (matematisasi) istilah model ini berkaitan dengan model situasi dan model matematika yang dikembangkan oleh siswa sendiri.pengalaman sebelumnya secara langsung. dan tidak hanya aritmatika. Dalam mengaplikasikan matematika biasanya diperlukan pengetahuan yang kompleks. Strategi-strategi formal siswa yang berupa prosedur pemecahan masalah konstekstual merupakan sumber inspirasi dalam pengembangan pembelajaran lebih lanjut yaitu untuk mengkonstruksi pengetahuan matematika formal. Bentuk-bentuk interaktif antara siswa dengan guru biasanya berupa negoisasi. jadi kita harus memperhatikan juga bidang-bidang yang lainnya karena akan berpengaruh pada pemecahan masalah. Model situasi merupakan model yang dekat dengan dunia nyata siswa. atau . pembenaran. digunakan untuk mencapai bentuk formal dari bentuk-bentuk informal siswa. Menggunakan interaktif. e. setuju. aljabar. Artinya siswa membuat model sendiri dalam menyelesaikan masalah.

bukan apa yang mereka katakan atau tulis. Dalam pengerjaan matematika. mengorganisasikan. 4. setiap langkah siswa dihadapkan kepada apa. Informasi baru harus dikaitkan dengan pengalamannya tentang dunia melalui suatu kerangka logis yang mentransformasikan. Dalam pembelajaran matematika guru memang harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan sendiri konsep-konsep matematika dengan kemampuan siswa sendiri dan guru terus memantau atau mengarahkan siswa dalam pembelajaran walaupun siswa sendiri yang akan menemukan konsep-konsep matematika. pandangan konstruktivis dalam pembelajaran matematika berorientasi pada: 1. Dari pendapat Freudenthal memang benar alangkah baiknya dalam pembelajaran matematika harus ada hubungannya dengan kenyataan dan kehidupan sehari-hari. Menurut Davis (1996). Freudenthal berpendapat bahwa matematika harus diartikan dengan realita dan matematika merupakan aktivitas manusia. Guru dalam hal ini berperan sebagai fasilitator.geometri tetapi juga bidang lain. dan menginterpretasikan pengalamannya.2 Pembelajaran Matematika Realistik Pembelajaran matematika realistik merupakan teori belajar mengajar dalam pendidikan matematika. Pengetahuan dibangun dalam pikiran melalui proses asimilasi atau akomodasi. setidaknya guru harus terus mendampingi siswa dalam pembelajaran matematika. Upaya ini dilihat dari berbagai situasi dan persoalan-persoalan “realistik”. Teori pembelajaran matematika realistik pertama kali diperkenalkan dan dikembangkan di Belanda pada tahun 1970 oleh Institut Freudenthal. Matematika harus dekat dengan anak dan kehidupan sehari-hari. 2. . 2. Oleh karena itu manusia harus diberi kesempatan untuk menemukan ide dan konsep matematika dengan bimbingan orang dewasa. 3. Pusat pembelajaran adalah bagaimana siswa berpikir. Realistik ini dimaksudkan tidak mengacu pada realitas pada realitias tetapi pada sesuatu yang dapat dibayangkan. Adapun menurut pandangan konstruktifis pembelajaran matematika adalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengkonstruksi konsep-konsep matematika dengan kemampuan sendiri melalui proses internalisasi.

siswa juga dapat mempunyai cara tersendiri untuk menyelesaikan masalah. Konstruktivis ini dikritik oleh Vygotsky. Bantuan tersebut dapat berupa petunjuk. dan ada siswa yang menyelesaikan masalah harus dengan persetujuan orang dewasa. dalam pembelajaran awal siswa dibantu. dalam pembelajaran matematika siswa mempunyai pengetahuan dalam berpikir melalui proses akomodasi dan siswa juga harus dapat menyelesaikan masalah yang akan dihadapinya. dorongan. peringatan. Teslow dan Taylor. Prinsip penemuan dapat diinspirasikan oleh prosedur-prosedur pemcahan informal. kemudian mengurangi bantuan dan memberi kesempatan untuk mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar setelah ia dapat melakukannya (Slavin. dalam pembelajaran ini harus bisa memahami dan berpikir sendiri dalam menyelesaikan masalah tersebut. 1998). yang menyatakan bahwa siswa dalam mengkonstruksi suatu konsep perlu memperhatikan lingkungan sosial. Scraffolding merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa untuk belajar memecahkan masalah. jadi tidak tergantung kepada guru. Setelah itu siswa diberikan kesempatan untuk menyelesaikan masalah sendiri dan mempunyai tanggung jawab yang semakin besar setelah siswa dapat melakukannya. memberikan contoh. Konstruktivisme ini oleh Vygotsky disebut konstruktisme sosial (Taylor. 1997). Bleicher dan Cooper. 1997). Ada dua konsep penting dalam teori Vygotsky (Slavin. 1993. Jadi Zone of Proximal Development ini ada siswa yang menyelesaikan masalah secara sendiri. Wilson. Zone of Proximal Development (ZPD) merupakan jarak antara tingkat perkembangan sesungguhnya yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah secara mandiri dan tingkat perkembangan potensial yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau melalui kerja sama dengan teman sejawat yang lebih mampu. Atwel.Pendapat Davis tersebut. 1993. yaitu Zone of Proximal Development (ZPD) dan scaffolding. Scraffolding merupakan pemberian sejumlah bantuan kepada siswa selama tahap-tahap awal pembelajaran. tapi bantuan itu sedikit demi sedikit dikurangi. Siswa mengetahui informasi baru dikaitkan dengan pengalaman sehari-hari secara logis. Sedangkan scraffolding mempunyai tahap-tahap pembelajaran. dan tindakan-tindakan lain yang memungkinkan siswa itu belajar mandiri. menguraikan masalah ke dalam langkahlangkah pemecahan. sedangkan .

Kedua jenis ini mendapat perhatian seimbang. Yackel dan Wood (1992) menyebutnya dengan konstruktivisme sosio. pendekatan dalam pendidikan matematika dibedakan menjadi empat jenis yaitu mekanistik. Melalui aktivitas matematisasi horizontal dan vertilal diharapkan siswa dapat menemukan konsep-konsep matematika. Pendekatan realistik adalah suatu pendekatan yang menggunakan masalah realistik sebagai pangkal tolak pembelajaran. Pendekatan empiristik adalah suatu pendekatan dimana konsep-konsep matematika tidak diajarkan dan siswa diharapkan dapat menemukan sendiri melalui matematisasi horizontal. empiristik. strukturalistik. Berdasarkan matematisasi horizontal dan vertikal. Pendekatan mekanistik adala pendekatan secara tradisional dan didasarkan pada apa yang diketahui dan pengalaman sendiri. perumusan. dan berdasarkan pada pengalaman informal siswa mengembangkan strategi-strategi untuk merespon masalah yang diberikan. Dalam pembelajaran matematika. Filsafat konstruktivis sosial memandang kebenaran matematika tidak bersifat absolut dan mengidentifikasi matematika sebagai hasil dari pemecahan masalah dan pengajuan masalah oleh manusia (Ernest. di dalam pembelajaran matematika realistik disebut dengan penemuan kembali terbimbing. misalnya dalam pengajaran penjumlahan secara panjang perlu didahului dengan nilai tempat. perbaikan dan penyelesaian model matematika. Konsep ZPD dan Scraffolding dalam pendekatan konstruktivis sosio. karena kedua matematisasi ini mempunyai nilai yang sama. Menurut Graevenmeijer (1994) walaupun kedua pendekatan ini mempunyai kesamaan tetapi kedua pendekatan ini dikembangkan secara terpisah. dan penvisualisasian masalah dalam cara-cara yang berbeda dan pentransformasian masalah dunia real ke dunia matematika. Siswa berinteraksi dengan guru. 1991). Perbedaan keduanya adalah pendekatan . Cobb. Contoh matematisasi horizontal adalah pengidentifikasian. sehingga suatu konsep dicapai melalui matematisasi vertikal.proses penemuan kembali menggunakan konsep matematisasi. Ada dua jenis matematisasi diformlasikan oleh Treffers (1991). dan realistik. yaitu matematisasi horizontal dan vertikal. pendekatan strukturalistik adalah suatu pendekatan yang menggunakan sistem formal. Karakteristik pendekatan konstrutivis sosio ini sangat sesuai dengan karakteristik RME. Contoh matematisasi vertikal adalah representasi hubungan-hubungan dalam rumus. penggunaan model-model yang berbeda dan penggeneralisasian.

agar dapat memudahkan siswa dalam belajar matematika.”pak…pada saat di kelas saya mengerti penjelasan bapak. baru diperkenalkan istilah pecahan.tetapi begitu sampai dirumah saya lupa.3 Implementasi pembelajaran Matematika Realistik Untuk memberikan gambaran tentang implementasi pembelajaran matematika realistik.4 Kaitan Antara Pembelajaran Matematik Realistik dengan Pengertian Kalau kita perhatikan para guru dalam mengajarkan matematika senantiasa terlontar kata “bagaimana. apa mengerti?” siswa pun buru-buru menjawab mengerti.”atau” pak…pada saat dikelas saya mengerti contoh yang bapak berikan. kemudian siswa dengan bantuan guru diberikan kesempatan untuk menemukan sendiri konsep-konsep matematika. Sebelum mengenalkan pecahan kepada siswa sebaiknya pembelajaran pecahan dapat diawali dengan pembagian menjadi bilangan yang sama misalnya pembagian kue. seperti berikut.konstruktivis sosio merupakan pendekatan pembelajaran yang bersifat umum. diaplikasikan dalam masalah seharihari atau dalam bidang lain. sedangkan pembelajaran matematika realistik merupakan pendekatan khusus yaitu hanya dalam pembelajaran matematika. . Pembelajaran matematika realistik diawali dengan dunia nyata. Sehingga siswa benar-benar memahami pembagian setelah siswa memahami pembagian menjadi bagian yang sama. Pembelajaran ini sangat berbeda dengan pembelajaran bukan matematika realistik dimana siswa sejak awal dicekoki dengan istilah pecahan dan beberapa jenis pecahan. Setelah itu. supaya siswa memahami pembagian dalam bentuk yang sederhana dan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Siswa yang mengerti konsep dapat menemukan kembali konsep yang mereka lupakan. 2. tetapi saya tidak bisa menyelesaikan soal-soal latihan”. Siswa sering mengeluh. 2. misalnya diberikan contoh tentang pembelajaran pecahan di sekolah dasar (SD). Apa yang dialami oleh siswa pada ilustrasi diatas menunjukkan bahwa siswa belum mengerti atau belum mempunyai pengetahuan konseptual.

Pembelajaran matematika realistik memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan kembali dan memahami konsep-konsep matematika berdasarkan pada masalah realistik yang diberikan oleh guru. bentuk. Hal ini menunjukkan bahwa siswa datang kesekolah bukanlah dengan kepala “kosong” yang siap diisi dengan apa saja. Situasi realistik dalam masalah memungkinkan siswa menggunkan caracara informal untuk menyelesaikan masalah. agar siswa lebih mudah memahami apa yang telah diajarkan. tentunya dalam pembelajaran harus dikaitkan dengan kehidupan nyata untuk memudahkan siswa dalam belajar. Dalam pembelajaran guru haruslah berinteraksi dengan siswa. Cara-cara informal siswa yang merupakan produksi siswa memegang peranan penting dalam penemuan kembali dan memahami konsep. Mengembangkan pengertian merupakan tujuan pengajaran matematika. maka siswa akan mendapatkan suatu pengertian.dan sebagainya. Pengalaman belajar siswa dipengaruhi oleh unjuk kerja guru. Karena tanpa pengertian orang tidak dapat mengaplikasikan prosedur. Hanna dan yackel (NCTM. Dengan kata lain. ataupun proses. Anak sebelum sekolah belajar ide matematika secara alamiah. konsep. Umumnya sejak anak-anak orang telah mengenal ide matematika. ukuran. Hal ini berarti informasi yang diberikan kepada siswa telah dikaitkan dengan skema anak. . data. Melalui pengalaman dalam kehidupan sehari-hari mereka mengembangkan ide-ide yang lebih kompleks. Bila siswa dalam belajarnya bermakna atau terjadi kaitan antara informasi baru dengan jaringan representasi. pola. matematika dimengerti bila representasi mental adalah bagian dari jaringan representasi (Hieber dan carpenter. Melalui interaksi kelas keterkaitan skema anak akan menjadi lebih kuat. pembelajaran matematika realistik akan mempunyai kontribusi yang sangat tinggi dengan pengertian siswa. Dengan demikian.2000) mengatakan bahwa belajar dengan pengertian dapat ditingkatkan melalui interaksi kelas dan interaksi sosial dapat digunakan untuk memperkenalkan keterkaitan di antara ide-ide dan mengorganisasikan pengetahuan kembali. hasil belajar siswa secara langsung dipengaruhi oleh pengalaman siswa dan faktor internal. misalnya tentang bilangan. Pengertian siswa tentang ide matematika dapat dibangun melalui sekolah. jika mereka secara aktif mengaitkan dengan pengetahuan mereka.Mitzell(1982) mengatakan bahwa.1992). Matematika bukan hanya dimengerti tapi harus benar-benar memahami persoalan yang sedang dihadapi. Pembelajaran disekolah akan lebih bermakna bila guru mengaitkan dengan apa yang telah diketahui anak.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->