PENELITIAN

POLA HUBUNGAN ANTARA PUSAT DAN DAERAH

KERJA SAMA ANTARA PUSAT STUDI KAJIAN NEGARA FAkULTAS HUKUM UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG

DENGAN

DEWAN PERWAKILAN DAERAH (DPD) REPUBLIK INDONESIA

JAKARTA, 2009

POLA HUBUNGAN ANTARA PUSAT DAN DAERAH ABSTRAK UUD 1945 telah memberikan dasar-dasar pola hubungan antara Pusat dan Daerah, meliputi desentralisasi teritorial, dengan asas otonomi dan tugas pembantuan, dan memberikan otonomi seluas-luasnya. Namun dengan berbagai peraturan pelaksanaannya, telah mendorong penyeragaman sekaligus sentralisasi tersembunyi melalui undang-undang sektoral. Penelitian ini merupakan kajian bertujuan untuk mengetahui prinsip-prinsip pemikiran yang mendasari pola hubungan antara Pusat dan daerah, dengan pendekatan uraian mengenai dimensi hubungan kewenangan, kelembagaan, keuangan, dan pengawasan. Dengan menggunakan metode pendekatan yuridis normatif, penelitian merupakan penelitian asas-asas hukum, sistematika hukum, dan taraf sinkronisasi vertikal dan horizontal. Pembahasan penelitian ini menunjukkan bahwa terhadap dimensi-dimensi hubungan antara Pusat dan daerah terjadi inkonsistensi, baik dalam perspektif kerangka negara kesatuan, paradigma negara kesejahteraan, demokrastisasi, dan prinsip otonomi yang dimaksudkan dalam Perubahan UUD 1945. Dengan demikian perlu kecermatan lebih lanjut untuk menata kembali harmonisasi berbagai peraturan perundang-undangan sebaga pelaksanaan Pasal 18 UUD 1945, untuk mengembalikan hakikat otonomi daerah.

i

The Pattern of Central and Regional/Local Government Relationship Abstract The 1945 Constitution has provided the basic principles of the relationship between central and regional/local government, including territorial decentralization, with the principle of autonomy and coadministration, and provides wide-ranging autonomy. But with the various implementing regulations, has encouraged uniformity and centralization hidden through sectoral legislation. This research aims to determine the principles that underlie the pattern of relationship between central and regional/local government, with a description of the dimensional approach of authority, concerning: relations, institutional, financial, and supervision relationship. By using the method of normative juridical approach, the research categorized as research on principles of law, systematic of law, and the level of vertical and horizontal synchronization. This research show that the dimensions of the relationship between central and regional/local government, inconsistencies occurred, both in the perspective of the unitary state framework, the welfare state paradigm, democratization, the principle of autonomy which is intended in The Amended 1945 Constitution. Thus the need to further precision to restructure the harmonization of legislation as the implementation of Article 18 UUD 1945, to restore the nature of regional/local autonomy.

ii

Kata Pengantar

Laporan penelitian yang disajikan ini merupakan hasil kerja sama antara Pusat Studi Kebijakan Negara Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran (PSKN FH Unpad) dengan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD – RI). Dari beberapa tema yang ditawarkan, sengaja kami memilih persoalan hubungan keuangan antara pusat daerah karena dalam konteks negara terdesentralisasi seperti Indonesia, persoalan tersebut selalu berkembang. Bagi kalangan juris perkembangan tersebut tampak misalnya dalam hal perkembangan peraturan perundang-undangan di bidang pemerintahan daerah yang sangat dinamis. Bahkan dapat dikatakan bahwa peraturan perundangundangan di bidang ini merupakan peraturan perundang-undangan yang sangat berkembang pesat, dari mulai Indonesia merdeka hingga saat ini. Perkembangan peraturan perundang-undang tersebut akan menggambarkan konsep dinamis antara desentralisasi dan sentralisasi yang seperti “bandul”. Misalnya, sebelum Perubahan UUD 1945 (khususnya Pasal 18), beberapa undang-undang bercorak desentralistis, seperti UU No. 1 Tahun 1945, UU No. 22 Tahun 1948, dan beberapa lagi lebih mencerminkan sifat sentralistis, seperti UU No. 5 Tahun 1974. Hal tersebut sangat mungkin terjadi hingga saat ini di mana Pasal 18 UUD 1945 telah diubah menjadi 3 pasal pada masa Perubahan Kedua UUD 1945, misalnya antara UU No. 22 Tahun 1999 dengan UU No. 32 Tahun 2004. UU No. 22 Tahun 1999 dibentuk sebelum Pasal 18 UUD 1945 berubah namun secara prinsip tidak bertentangan dengan perubahan Pasal 18 tersebut. Sementara itu, UU No. 32 Tahun 2004 dibentuk setelah Perubahan Pasal 18 UUD 1945 dan mengubah ketentuan UU No. 22 Tahun 1999, begitu pula UU lainnya di bidang perimbangan keuangan pusat – daerah. Perkembangan tersebut selalu menarik untuk diteliti, karena format desentralisasi selalu akan berkembang seiring dengan perkembangan masyarakat. Namun demikian, memilih tema hubungan pusat – daerah ini cukup beresiko, khususnya dalam hal kedalaman studi, karena terdapat beberapa dimensi hubungan pusat – daerah. Kami mengambil resiko tersebut dengan tujuan bahwa penelitian ini menghasilkan gambaran persoalan hubungan pusat – daerah ini secara umum (overview). Setidaknya dengan penelitian yang umum ini, diharapkan akan muncul penelitian – penelitian lanjutan yang lebih spesifik lagi, seperti hubungan kewenangan pusat – daerah atau dimensi – dimensi lainnya.
iii

2009 Tim Peneliti iv .Kami sangat berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu pelaksanaan penelitian ini. Akhir kata. Kami sadar laporan penelitian ini banyak kekurangan. khususnya kepada DPD – RI yang telah melakukan kerja sama penelitian ini dengan kami. selama membaca. sehingga kami sangat membuka diri untuk segala kritik dan saran untuk perbaikan ke depan. Bandung.

DAFTAR BAGAN Bagan 1 Bagan 2 Bagan 3 Bagan 4 Bagan 5 Bagan 6 Pembagian desentralisasi menurut Van der Pot Pembagian desentralisasi menurut Irawan Soejito Pembagian desentralisasi menurut Amrah Muslimin Pembagian desentralisasi menurut Hans Kelsen Alur Penelitian Pembagian Urusan Pemerintahan 10 10 11 12 15 75 v .

d. 2006 Sektor Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral Resource) vi 157 .d.DAFTAR TABEL Tabel 1 Ruang lingkup pengawasan Atas penyelenggaraan pemerintahan daerah Tabel 2 Tabel 3 Perbandingan Pengawasan Pusat Terhadap Daerah di Inggris.d. Retribusi Daerah dan Pungutan Lainnya Yang Dibatalkan Oleh Menteri Dalam Negeri Pada Tahun 2007 154 Tabel 10 Tabel 11 Tabel 13 Hasil Evaluasi Peraturan Daerah di Departemen Dalam 156 Negeri Sampai dengan November 2007 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Wilayah Provinsi Jawa Barat Dari Tahun 2002 s. 2006 Sektor Kehutanan (Forestry) Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s. 2006 Sektor Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral Resource) Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s. 2006 Sektor Kelautan dan Perikanan Peraturan Daerah Tentang Pajak Daerah.d.d. 32 Tahun 2004 Perkembangan Pengaturan Pengawasan 69 118 65 Tabel 4 Tabel 5 124 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan 150 Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s. 2006 Sektor Perhubungan 152 Tabel 8 Tabel 9 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan 153 Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s. Perancis dan Belanda Model-Model Pengawasan dan Pengendalian Terhadap Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Menurut UU No.d. 2006 Sektor Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade) 151 Tabel 6 Tabel 7 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan 152 Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s.

Ciamis Provinsi 161 Jawa Barat Yang Dibatalkan(Sektor Kehutanan (Forestry)) 162 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.Tabel 14 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.Karawang Wilayah 160 Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade) ) Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kota Cimahi Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan(Sektor Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade)) 160 Tabel 17 Tabel 18 Tabel 19 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah di Wilayah Provinsi 161 Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Kehutanan (Forestry)) Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.Indramayu 158 Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral Resource)) Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.Garut Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Kehutanan (Forestry)) Jumlah Undang-Undang Pembentukan Daerah (Pemekaran Daerah) 2007 – 2008 Skema Pola Hubungan Pengawasan Pusat-Daerah 163 Tabel 20 Tabel 21 Tabel 22 Tabel 23 173 vii .Tasikmalaya Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral Resource)) 158 Tabel 15 Tabel 16 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Wilayah Provinsi Jawa 158 Barat Yang Dibatalkan(Sektor Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade) Wilayah Provinsi Jawa Barat) Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.

H. C. D. Sistem Rumah Tangga Daerah viii 18 19 23 23 25 26 29 29 36 . F. B. Demokrasi ekonomi D. E. Negara Kesatuan B. Demokrasi sebagai instrumen pengambilan keputusan 3. Latar Belakang Rumusan Masalah Tujuan Penelitian Kerangka Pemikiran Kegunaan Penelitian Metode Penelitian Alur Penelitian Personalia Penelitian Sistematika Penulisan 1 3 3 4 12 12 14 16 16 18 BAB II Prinsip-Prinsip Umum Pola Hubungan Pusat Dan Daerah A. Desentralisasi 2. Demokrasi sebagai instrumen Mekanisme pemerintahan 2.DAFTAR ISI Abstrak Abstract Kata Pengantar Daftar Bagan Daftar Tabel Daftar Isi i ii iii v vi viii 1 BAB I Pendahuluan A. Demokrasi 1. G. Kajian Teori Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah 1. Negara Hukum C. I.

Hakikat Pengawasan Pemerintah Pusat terhadap Daerah 43 47 52 58 BAB III Pengaturan Hubungan Antara Pusat dan Daerah A. dan Pengaturan Sektoral. Hubungan Kewenangan: dari mulai UUD 1945. Saran DAFTAR PUSTAKA 182 183 ix . Dimensi Hubungan Pengawasan Pusat dan Daerah BAB V Kesimpulan dan Saran A. Kesimpulan B. Hubungan Pengawasan 74 74 75 99 112 BAB IV Tinjauan Dimensi-Dimensi Hubungan Antara Pusat dan Daerah A.3. Sumber-Sumber Penerimaan/ Pendapatan Daerah 6. Hubungan Kelembagaan C. B. UU. Dimensi Hubungan Kelembagaan Pusat dan Daerah D. Dimensi Hubungan Kewenangan Pusat dan Daerah 125 126 128 139 149 C. Kelembagaan 4. Dimensi Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah E. Pilar-Pilar Penyelenggaraan Pemerintahan B. Hubungan Keuangan D. Ruang Lingkup dan Prinsip-Prinsip Desentralisasi Fiskal 5.

8 dan 9) prinsip pengakuan dan penghormatan negara terhadap satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa.9 Sebagai pelaksanaan lebih lanjut dari dasar konstitusional tersebut.BAB I PENDAHULUAN A.4 5) prinsip badan perwakilan dipilih langsung dalam suatu pemilu. pelayanan umum. pemanfatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antara pemerintah pusat dan pemerintahan daerah dilaksanakan secara adil dan selaras berdasarkan undang-undang.3 4) prinsip mengakui dan menghormati pemerintahan daerah yang bersifat khusus dan istimewa.6 7) prinsip hubungan wewenang antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus memperhatikan kekhususan dan keragaman daerah.7 8) prinsip hubungan keuangan. Di antara ketentuan tersebut yaitu: 1) prinsip pengakuan dan penghormatan negara terhadap kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat serta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan Indonesia. Latar Belakang Undang-Undang Dasar 1945 beserta perubahannya telah memberikan landasan konstitusional mengenai penyelenggaraan pemerintahan daerah di Indonesia.2 3) prinsip menjalankan otonomi seluas-luasnya. satuan pemerintahan di bawah pemerintah pusat yaitu daerah provinsi dan 1 2 Pasal 18 B ayat (2) Pasal 18 ayat (2) Perubahan Kedua Undang-Undang Dasar 1945. 3 Pasal 18 ayat (5) 4 Pasal 18 B ayat (1) 5 Pasal 18 ayat (3) 6 Pasal 18 A ayat (2) 7 Pasal 18 A ayat (1) 8 Pasal 18 A ayat (2) 9 Pasal 18 B ayat (1) .5 6) prinsip hubungan pusat dan daerah harus dilaksanakan secara selaras dan adil. 1 masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik 2) Prinsip daerah mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan.

untuk dan pengawasan. pembagian kewenangan ini membawa implikasi kepada hubungan keuangan. maka dalam hal ini yang menjadi obyek yang diurusi adalah sama. agar terjaga keutuhan negara Kesatuan. c) keamanan. Kedua. pembagian kelembagaan. yaitu meliputi hubungan kewenangan. implikasi terhadap hubungan kelembagaan antara Pusat dan Daerah mengharuskan kehati-hatian mengenai besaran kelembagaan yang diperlukan untuk melaksanakan tugas-tugas yang menjadi urusan masingmasing. kewenangan keuangan. . menyelenggarakan urusan-urusan pemerintahan tersebut akan sangat mempengaruhi sejauhmana Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah memiliki wewenang untuk menyelenggarakan urusan-urusan Pemerintahan. d) yustisi. b) pertahanan. namun muncul pula pengaturan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2007 yang membagi urusan pemerintahan antara pemerintah. Pasal 13 ayat (1) dan (2) UU Nomor 32 Tahun 2004. Walaupun dengan ketentuan pemberlakuan otonomi seluas-luasnya dalam UUD 194513. Hubungan-hubungan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah memiliki empat dimensi penting untuk dicermati. 13 Pasal 18 ayat (5) Perubahan Kedua Undang-Undang Dasar 1945. Kesemuanya itu.11 Selain itu ditetapkan pula kewenangan pemerintah Pusat menjadi urusan Pemerintahan yang meliputi:12 a) politik luar negeri. juga tersebar pengaturannya dalam berbagai UU sektoral yang 10 11 Pasal 13 ayat (1) dan (2) dan Pasal 14 ayat (1) dan (2) UU Nomor 32 Tahun 2004. 32 Tahun 2004 tersebut. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. yang diatur dalam UU No.10 Provinsi memiliki urusan wajib dan urusan pilihan. karena wilayah kekuasaan Pemerintah Pusat meliputi Pemerintah Daerah. hubungan pengawasan merupakan konsekuensi yang muncul dari pemberian kewenangan. dan f) agama. Keempat. 12 Pasal 10 ayat 3 UU Nomor 32 Tahun 2004. selain diatur dalam UU No. Pertama. dan pemerintahan daerah kabupaten/kota.2 kabupaten/kota memiliki urusan yang bersifat wajib dan pilihan. pemerintahan daerah provinsi. namun kewenangannya yang berbeda. e) moneter dan fiskal nasional. Ketiga.

Hubungan Antara Pusat dan Daerah Menurut UUD 1945. 8. sebagai berikut: 1.. B. b) kewenangan yang didelegasikan dan fungsi-fungsi yang disediakan oleh Departemen kepada daerah. baik aturan di tingkat pusat dan/atau peraturan di tingkat daerah. hlm. 14 . hlm.14 Pengaturan yang demikian menunjukkan bahwa tarik menarik hubungan tersebut kemudian memunculkan apa yang oleh Bagir Manan disebut dengan spanning15 antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. 15 Bagir Manan. Apa dasar-dasar pemikiran yang melandasi terbangunnya pola hubungan antara pusat dan daerah? 2. Bagaimana pola hubungan pusat dan daerah dari dimensi-dimensi kewenangan. Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam penelitian ini dibagi berdasarkan empat dimensi hubungan pemerintahan pusat dan daerah. keuangan. 6. dan c) kewenangan yang dalam menyusun standar operasional prosedur bagi daerah dalam menterjemahkan setiap peraturan perundang-undangan yang ada. Jakarta. Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia. hlm. dan pengawasan? C. Tujuan Penelitian Kerangka Acuan Penelitian Studi Hubungan Pusat Dan Daerah Kerjasama DPD Ri Dengan Perguruan Tinggi Di Daerah. Jakarta 2009. 17 Ibid. Dewan Perwakilan Daerah juga mengidentifikasi adanya kewenangan yang tumpah tindih antar instansi pemerintahan dan aturan yang berlaku.3 pada kenyataannya masing-masing tidak sama dalam pembagian kewenangannya.16 Hal tersebut terutama berhubungan dengan a) otoritas terkait tanggungjawab pemerintah pusat dan daerah. kelembagaan. Pustaka Sinar Harapan. 22-23 16 Ibid. 17 Berdasarkan latar belakang tersebut perlu dilakukan suatu kajian sebagai penelitian payung yang melandasi hubungan antara Pemerintah Pusat dengan daerah. 1994.

Jakarta. Harian Suara Pembaharuan. Kerangka Pemikiran Perubahan ketiga Undang-Undang Dasar 1945 menegaskan bahwa Indonesia adalah negara kesatuan yang berlandaskan hukum atas dasar kedaulatan rakyat. 19 Tim Penyusun.18 Dikatakan bahwa negara kesatuan adalah negara yang diorganisasi di bawah satu pemerintahan pusat. Teori negara kesatuan digunakan untuk membedakan pembagian kekuasaan secara vetikal dengan negara berbentuk federasi. keuangan. Mengetahui bagaimana pola hubungan pusat dan daerah dari dimensidimensi kewenangan. hlm. Nusamedia. sementara provinsi-provinsi menerima kekuasaan dari pemerintah pusat. Sementara itu menurut Apeldoorn. kelembagaan. Strong. yang dikutip oleh Tim Penyusun buku “Otonomi atau Federalisme”. Dalam hal ini dikemukakan pemikiran dari CF Strong mengenai negara kesatuan. ditinjau dari sudut pembagian kewenangan. dan provinsi-provinsi tersebut tidak mempunyai hak mandiri. Mengetahui dasar-dasar pemikiran yang melandasi terbangunnya pola hubungan antara pusat dan daerah? 2. Dampaknya Terhadap Perekonomian. terdapat dua C. “Unitarisme” dalam pengertian politik didefinisikan oleh Dicey sebagai “pelaksanaan kebiasaan otoritas legislatif tertinggi oleh satu kekuasaan pusat”. Bandung. 14. dan pengawasan? D.19 Dalam negara-negara dengan bentuk negara kesatuan (unitary state). Konstitusi-Konstitusi Politik Modern: Studi Perbandingan tentang Sejarah dan Bentuk-Bentuk Konstitusi di Dunia. 2008.F. Kekuasaan pusat adalah kekuasaan tertinggi di atas seluruh negara tanpa ada batasan yang ditetapkan hukum yang memberikan kekuasaan khusus pada bagian-bagiannya. Artinya. suatu negara disebut negara kesatuan apabila kekuasaan hanya dipegang oleh pemerintah pusat. Cetakan Kedua. kekuasaan apapun yang dimiliki berbagai distrik di dalam wilayah yang dikelola sebagai suatu keseluruhan oleh pemerintah pusat harus diselenggarakan menurut kebijakan pemerintah itu. 87. 2000.4 Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini sebagai berikut: 1. 18 . Pustaka Sinar Harapan. hlm. Otonomi atau Federalisme.

Bandung. Strong mengartikan demokrasi secara beragam24 termasuk untuk menyebut suatu bentuk pemerintahan atau kondisi suatu masyarakat. 2007. yang pelaksanaan kedaulatan rakyatnya tidak dilaksanakan oleh rakyat secara langsung 20 Nicole Niessen. 66. hlm. (indirect langsung democracy). law and Practice of Decentralization and Urban Planning.5 kewenangan/urusan pemerintah yakni yang tersentralisasi dan kewenangan/urusan pemerintah yang didesentralisasikan.21Demokrasi yang lazim pula disebut dengan kedaulatan rakyat memandang bahwa kekuasaan itu berasal dari rakyat. media massa. Nusamedia. 23 Ibid. 10. hlm. Municipal Government In Indonesia Policy. program politik partai. artinya. Bandung. hlm. 22 Eddy Purnama. Kedaulatan Rakyat. Hukum Pemerintahan Daerah. konsep demokrasi juga mencari bentuk yang sesuai dengan situasi dan kondisi dari masyarakat modern. Namun di dunia kontemporer. op. Di sinilah letak keterkaitannya dengan demokrasi politik yang mengisyaratkan pemerintah harus bergantung pada persetujuan pihak yang diperintah.25 dikenal sebagai Berdasarkan demokrasi kenyataan tidak demikian. African. 2009. 24 C. hlm. Nusamedia. 21 Ni’matul Huda.23 C. ketika nasionalisme menjadi dasar bagi demokrasi politik maka pemerintahan politik yang demokratis menjadi instrumen kemajuan sosial.F. ekspresi persetujuan maupun ketidaksetujuan rakyat sudah harus memiliki sarana penyaluran yang nyata dalam pemilihan umum. 21. and Amerindian Studies. The Netheralands.22 Sejalan dengan perputaran waktu. Faktor luas wilayah dari suatu negara dan besaran jumlah penduduk serta pertambahan kerumitan masalah kenegaraan merupakan argumen bahwa demokrasi langsung (direct democracy) tidak mungkin muncullah untuk yang dilaksanakan.F. 17.cit. sehingga dalam pelaksanaan tugasnya pemerintah harus berpegang pada kehendak rakyat. 25 Ibid. Konstitusi-Konstitusi …. . Universitiet Leiden. Research School CNWS School of Asian. 1999.Strong. 20 Ni’matul Huda mengatakan bahwa desentralisasi adalah strategi mendemokratisasi sistem politik dan menyelaraskan pencapaian pembangunan berkelanjutan yang merupakan isu yang selalu ada dalam praktik administrasi publik. dan lain-lain.

8-9. Mei 2009. termasuk pada waktu melakukan realisasi rule of law..cit. akomodasi seluruh aspirasi rakyat jauh lebih berguna dari unsur di dalam masyarakat harus terwakili di dalam sistem perwakilan. op. 69. yang tidak netral terhadap politik. hlm. hlm.. . 27 26 .30 Selanjutnya pilar yang lain yang secara konsitusional diakui oleh Indonesia adalah negara hukum.6 melainkan melalui lembaga perwakilan rakyat. Demokrasi Kita. with the balance between the House of Commons. the House of Lords. tidak pernah ada demokrasi yang nyata dan tidak akan pernah ada demokrasi. 9. Yogyakarta. Bandung. hlm. and the king. Neumann yang dikutip oleh Satjipto Rahardjo mengatakan bahwa perkembangan negara hukum di Inggris berbeda daripada Eropa daratan. 70. hlm. Ibid... Muhammad Hatta mengingatkan bahwa masyarakat asli Indonesia mempunyai sifat dasar dalam segala hal mengenai kepentingan hidup bersama. terjemahan Tim Visimedia. sejak semula doktrin Rule of Law tidak dipisahkan dari doktrin supremasi parlemen.27 Rousseau memberi catatan bahwa jika kita menempatkan istilah ini dalam pemahaman yang kaku. yaitu mengambil keputusan secara mufakat dengan musyawarah. 113. Segaarsy. hlm.. cetakan kedua. hlm. adalah dasar dari demokrasi politik. 8 32 Ibid. 30 Ibid.32 Parlemen berhak untuk melakukan apa saja. 2007.29 Sifat pertama. 28 Jean Jacques Rousseau.. “… that the souvereignity of Parliament furthers the rule of the land… prevent those inroads upon the law of the land which a despotic monarch … might effects by ordinance or decrees… “33 Selanjutnya dikatakan. 11.28 Dalam pemikiran mengenai bagaimana demokrasi bagi Indonesia. Du Contract Social (Perjanjian Sosial). 284. also strengthens the power of the judges Eddy Purnama. Pikiran-Pikiran tentang Demokrasi dan Kedaulatan Rakyat. hlm. Visimedia. cetakan II. 29 Mohammad Hatta. Sifat kedua yaitu tolong menolong dan gotong royong adalah sendi yang bagus untuk menegakkan demokrasi ekonomi. “The monopoly of legislation by Parliament. Genta Publishing.31 Di Inggris. Kedaulatan Rakyat. Jakarta. 33 Ibid. Menurut Dicey. Negara Hukum yang Membahagiakan Rakyat.26 Dalam rangka mewujudkan prinsip kedaulatan rakyat. 2009. 31 Satjipto Rahardjo. hlm.

Cita Negara Hukum Indonesia Kontemporer. dan 3) Due Process of Law.hlm. Fichte..cit. Sementara itu A.unsri.36 Pada perkembangannya negara tidak dapat lagi bersikap netral dan membiarkan Di zaman modern. Keempat prinsip ‘rechtsstaat’ yang dikembangkan oleh Julius Stahl tersebut di atas pada pokoknya dapat digabungkan dengan ketiga prinsip ‘Rule of Law’ yang dikembangkan oleh A. Dicey menguraikan adanya tiga ciri penting dalam setiap Negara Hukum yang disebutnya dengan istilah “The Rule of Law”. 1-2. makalah disampaikan dalam acara Orasi ilmiah Pada Wisuda Sarjana HukumFakultas Hukum Universitas Sriwijaya Palembang. hlm. yaitu “rechtsstaat’. konsep Negara Hukum di Eropah Kontinental dikembangkan antara lain oleh Immanuel Kant.Doc. op. Menurut Julius Stahl yang dikutip oleh Jimly Asshidiqie34.V. yaitu: 1) Supremacy of Law. tindakannya dibatasi hanya sampaiu kepada penjaga ketertiban dan keamanan. 2) pembagian kekuasaan. karena dalam tipe tersebut.ac. Dicey dengan sebutan “The Rule of Law”. Bahkan. explains the absence od adiministrative law.35 Negara hukum yang muncul di abad ke-sembilan belas adalah tipe negara hukum sebagai “penjaga malam” (nachtwakersstaat). 3) pemerintahan berdasarkan undang-undang. Negara Hukum …. dan lain-lain dengan menggunakan istilah Jerman.V. lihat Jimly Asshidiqie. 36 Satjipto Rahardjo. Dicey untuk menandai ciri-ciri Negara Hukum modern di zaman sekarang. diunduh dari http://www. 2) Equality before the law. 26. yaitu: 1) perlindungan hak asasi manusia. prinsipprinsip Negara Hukum itu ditambah lagi dengan prinsip peradilan bebas dan tidak memihak (independence and impartiality of judiciary) yang di zaman sekarang makin dirasakan mutlak diperlukan dalam setiap negara demokrasi.. 23 Maret 2004.” Jadi dalam mengartikan “the rule of law” di Inggris. dan 4) Peradilan tata usaha Negara. Sedangkan dalam tradisi Anglo Amerika.V.fh. Disebut sebagai penjaga malam. Paul Laband. konsep Negara hukum dikembangkan atas kepeloporan A. maka parlemen atau rakyatlah merupakan instansi tertinggi. oleh “The International Commission of Jurist”.7 … and finally. 34 . konsep Negara Hukum yang disebutnya dengan istilah ‘rechtsstaat’ itu mencakup empat elemen penting. 35 Ibid. pada 8/24/2009 9:38:03 AM. Julius Stahl.id/old_version/CITANEGARAHUKUMINDONESIA.

yaitu campur tangan negara ke dalam masyarakat. Tetapi sekarang negara harus memasuki aktivitas yang lebih luas. jarak yang jauh antara pusat pemerintahan dengan bagian-bagian daerah yang harus diperintah di sisi lain. tujuan penyelenggaraan negara. di antaranya adalah ”liberty. sangat mengubah pekerjaan-pekerjaan yang biasa dilakukan oleh hukum administrasi tradisional. perencanaan. Ini menimbulkan konsep “negara kesejahteraan” (welfare state). door als neutral toeschouwer op te stellen. Menurut William A. keterbukaan dan penggugatan. . Satjipto kemudian mengutip dari de Haan et al bahwa menyerahkan penyelesaian kepada mekanisme pasar sosial akan menempatkan golongan lapisan bawah (the have not) dalam masyarakat sebagai pihak yang sangat menderita (“De staat mocht niet langer. Perubahan tersebut.8 individu-individu atau masyarakat menyelesaikan sendiri-sendiri problemproblem tersebut. equality. hlm. dan fraternity” (revolusi Perancis) dan “The greates happiness for the greatest number” (Bentham). seperti pembuatan undang-undang dan pembuatan undang-undang semu (pseudo). Robson. yaitu kesejahteraan rakyat di satu sisi. de door het industriele kapitalisme veranderde samenleving ongemoeid laten. kelahiran konsep negara kesejahteraan didahului oleh rentetan ide-ide panjang. dan kepemilikan (eigendom) negara. 27. dan kedua. negara hanya bertindak sesekali dan sebagai pelengkap (incidenteel en aanvullend). Naast de traditionele overheidstaken vroegen nieuwe terreinen om ordening en verzorging van staatswege”). Oleh karena itu menurut Ateng Syafrudin perlu diadakan pembagian 37 Ibid. Dalam hukum administrasi tradisional.37 Penyelenggaraan pemerintahan negara yang baik adalah yang dapat menampung aspirasi dan kebutuhan masyarakat sampai ke pelosok wilayah negara.. maar behoorde zich daadwerkelijk de belangen van de achtergestelde groepen in die samenleving aan te trekken. mempertimbangkan pertama. perjanjian.

cit. Desentralisasi administratif atau dekonsentrasi (ambtelijk decentralisatie) terjadi apabila “Pemerintah melimpahkan sebagian kewenangannya kepada alat perlengkapan atau organ Pemerintah sendiri di daerah. Menurut pakar Hukum Tata Negara Belanda ini. Bagan 1: Pembagian desentralisasi menurut Van der Pot Pendapat dari Van der Pot ini diikuti antara lain oleh FAM Stroink. 39 Bagir Manan. dan Belifante. Desentralisasi teritorial menjelma dalam bentuk badan yang didasarkan pada wilayah (gebeidscorporatis). Yogyakarta. yaitu desentralisasi teritorial dan desentralisasi fungsional. desentralisasi administratif (dekonsentrasi). yakni pejabat-pejabat Pemerintah yang ada di daerah. op. hlm. untuk dilaksanakan. Irawan Soejito membedakan desentralisasi menjadi desentralisasi teretorial. Citra Media Hukum. Steenbeek. 20-21 40 Ibid. JM de Meij. hlm. 72.. Bagir Manan menjelaskan 39 desentralisasi dengan menggunakan pendapat Van Der Pot.. Dengan penggolongan yang sedikit berbeda. hlm 21 38 . desentralisasi fungsional. Hubungan . Desentralisasi teretorial berbentuk otonomi dan tugas pembantuan. desentralisasi dibagi menjadi dua macam. sedangkan desentralisasi fungsional menjelma dalam bentuk badan-badan yang didasarkan pada pada tujuan-tujuan tertentu (doelcorporaties).. 2006.38 Pembagian-pembagian kerja urusan penyelenggaraan pemerintahan tersebut yang kemudian mengarah kepada proses desentralisasi. Kapita Selekta Hakikat Otonomi dan Desentralisasi dalam Pembangunan Daerah.9 kerja secara teritorial di samping pembagian kerja secara fungsional.40 Ateng Syafrudin.

membedakan desentralisasi menjadi desentralisasi politik41. Desentralisasi. Alumni. 43 Ibid. merupakan pelimpahan sebahagian kewenangan pemerintah pusat pada alat-alat pemerintah pusat yang ada di daerah. yaitu :43 1.42 Pembahasan tentang pemerintahan di daerah tidak akan lepas dari asas kedaerahan dalam pemerintahan. Amrah Muslimin. Desentralisasi politik adalah “pelimpahan kewenangan dari Pemerintah Pusat yang menimbulkan hak mengurus rumah tangga sendiri bagi badan-badan politik yang ada di daerah-daerah yang dipilih oleh rakyat dalam daerah-daerah tertentu. desentralisasi fungsional desentralisasi kebudayaan. Dekonsentrasi. 2. Pakar hukum lainnya. Bandung. hlm 5 42 Ibid. 1986. Menurutnya asas kedaerahan mengandung dua macam prinsip pemerintahan.10 Bagan 2. 41 . Aspek-Aspek Hukum Otonomi Daerah. lihat Amrah Muslimin. merupakan pelimpahan wewenang kepada badan-badan dan golongan-golongan dalam masyarakat dalam daerah tertentu untuk mengurus rumah tangganya sendiri. Pembagian desentralisasi menurut Irawan Soejito Irawan Soejito mengatakan bahwa dekonsentrasi merupakan bagian dari desentralisasi. dan merupakan pelunakan sentralisasi menuju desentralisasi.

Syafrudin mengemukakan bahwa desentralisasi dalam arti luas terdiri dari: a. Staatkundige atau Politieke decentralisatie. … 44 .. Program Studi Hukum Tata negara. hlm. 1. Isinya adalah kewenangan membuat peraturan (regelende bevoegheid) dan kewenangan membuat keputusan atau mengurus (bestuurende bevoegheid). Ambtelijke decentralisatie atau deconsentratie.11 Bagan 3. op. 44 desentralisasi. yaitu: 1) territoriale decentralisatie. 2) fungctionele decentralisatie. Bentuk dari territoriale decentralisatie adalah autonomie dan medebewind yang kadang-kadang disebut juga sebagai medebestur. Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. b. Pembagian desentralisasi menurut Amrah Muslimin Sebagai Logemann. Ateng dari aantekemingen. 45 Bagir Manan. tkan bahwa desentralisasi terbagi dalam arti luas dan arti sempit. selfgovernment. hlm.. Handsout dan Course Material Hukum Pemerintahan Daerah. Penelitian ini menggunakan pengertian desentralisasi dalam arti sempit. Lingkup staatkundige decentralisatie dibagi dua. zelfbestuur. Hubungan…. Pengertian otonomi di sini sama dengan isi dari staatkundige atau politiche decentralisatie. Pemilihan tersebut diambil sebagaimana yang digunakan oleh Bagir Manan dalam menggali gagasan-gagasan dasar pola hubungan antara Pusat dan Daerah dalam Undang-Undang Dasar 1945.cit.45 Ateng Syafrudin. tambahan Colloge mengenai pembagian 1947 .

. hlm. Jenis/ Spesifikasi Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analisis.12 Dalam kaitan ini Bagir Manan menguraikan mengenai kaitan desentralisasi. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan langkah-langkah penelitian untuk memperoleh data atau bahan dan analisis sebagai berikut: 1. kerakyatan. 39. E. 2. dan Negara hukum.. F. Penelitian ini menjelaskan dan menganalisa pengaturan beserta asas-asas yang berkenaan dengan hubungan antara Pemerintah Pusat dengan Daerah yang berlaku di Indonesia. Kegunaan Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi para Anggota Dewan Perwakilan Daerah sebagai tambahan pengetahuan mengenai hubungan pusat dan daerah. . Dengan demikian perlu dicari titik temu antara keutuhan Negara Kesatuan di satu sisi. dan demokratisasi di sisi lain sebagai upaya mencapai tujuan bernegara yaitu kesejahteraan rakyat. yang tidak kalah penting untuk dicermati adalah bahwa pola hubungan antara Pusat dan Daerah tidak dapat terlepas dalam bingkai Negara Kesatuan. op. Metode Pendekatan 46 Bagir Manan.cit. hubungan Pusat dan Daerah akan dipengaruhi oleh:46 1) Sampai sejauh manakah desentralisasi diterima sebagai cara terbaik untuk mewujudkan suatu pemerintahan yang berkedaulatan rakyat dengan partisipasi luas dari anggota masyarakat? 2) Sampai sejauh mana desentralisasi dipandang sebagai cara untuk menjamin dan mewujudkan Negara hukum? 3) Sampai sejauh mana desentralisasi dipandang sebagai cara untuk mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat? Lebih dari hal tersebut.. Hubungan Pusat….

48 3.52 b. Menggunakan Teori dan Konsep Dalam Analisis di Bidang Ilmu Hukum. Jakarta. hlm. 3) Bahan hukum tersier. yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat. Di antara cakupan dari penelitian hukum normatif tersebut. dan taraf sinkronisasi vertikal dan horisontal. yaitu bahan yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer. Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Tahun 2007. UI-Press.49 meliputi: 1) Bahan hukum primer. dan tahun penerbitan tidak tercantum. hasil-hasil penelitian. yaitu bahan yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder seperti kamus. Pendekatan yuridis normatif47 adalah pendekatan dengan melakukan penelitian secara mendalam terhadap hukum yang berlaku. penerbit. 47 . Penelitian Lapangan Lili Rasjidi dan Liza Sonia Rasjidi. hlm. 52 Amiruddin dan Zainal Asikin. seperti peraturan terdahulu. Pengantar Penelitian Hukum. 48 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji. atau pendapat para pakar hukum. 6. Jakarta. PT RajaGrafindo. 51 Ibid. hlm. perubahanperubahan. Pengantar Metode Penelitian Hukum. 2) Bahan hukum sekunder. 50 Soerjono Soekanto. Studi Pustaka Penelitian ini dilakukan dengan penelusuran terhadap bahan-bahan hukum. dan ensiklopedia. dan peraturan yang secara tidak langsung terkait.50 Bahan hukum ini meliputi antara lain Undang-Undang Dasar 1945 dan UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 beserta peraturan pelaksana. Teknik Pengumpulan data Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut: a.13 Penelitian ini menggunakan metode pendekatan yuridis normatif. sistematika hukum. hlm. hlm. Jakarta. 31-32. 72. 14 49 Pedoman Penyelenggaraan Program Pendidikan Sarjana (S1). PT RajaGrafindo Persada.51 seperti rancangan undang-undang. 52. 2006. Penelitian Hukum Normatif. Monograf. kota. 2006. penelitian ini akan dilakukan terhadap asas-asas hukum.

hlm. Yogyakarta. hlm. G. 152. Bab-Bab Tentang Penemuan Hukum. Alur Penelitian Penelitian hukum normatif tidak dapat terlepas dari berbagai penafsiran yang dikenal dalam ilmu hukum. 37. Pengolahan dan Analisis Data Bahan penelitian yang telah diperoleh. Penelitian Hukum di Indonesia Pada Akhir Abad Ke-20. Bandung. 1993. yakni dengan menggunakan penafsiran hukum53 dan selanjutnya dituangkan secara deskriptif yaitu bersifat menggambarkan masalah. Lihat juga Sunaryati Hartono. selanjutnya dianalisis dengan menggunakan analisis kualitatif. 53 .14 Penelitian lapangan dilakukan untuk mendukung penelitian kepustakaan dengan cara menyelenggarakan diskusi terfokus (focused group discussion-FGD). 4. 2006. Alumni. Citra Aditya Bakti. dalam Sudikno Mertokusumo dan Pitlo.

Alur Penelitian UU No.32/2004 dan pelaksanaann ya UU No. 33/2004 Hubungan Kewenangan Hubungan Kelembagaan Hubungan Keuangan UU Sektoral Hubungan Pengawasan Pembagian Urusan Pemerintahan • Pembentukan Daerah • Organisasi Perangkat Daerah Dana Perimbangan Dana Tugas Pembantuan • Pengawasan Pembentukan Perda • Pengawasan Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Negara Kesatuan Hubungan Pusat Daerah Demokrasi Negara Hukum D e s e n t r a l i s a s i Otonomi U U D 1 9 4 5 Tugas Pembantuan .15 Bagan 5.

. Bilal Dewansyah. Ph.. demokrasi. S. S.H.H.H. Personalia Penelitian Ketua Wakil Sekretaris Anggota : : : DR. kerangka pemikiran. S. M. LL. rumusan masalah.. Rahayu Prasetianingsih.M.D..H. LL.H..H.S. Kuntana Magnar..H.H. Agus Kusnadi.. I Gde Pantja Astawa. Rosjidi Ranggawidjaja.H. M. Miranda Risang Ayu. H.... DR. S. Negara Hukum. yaitu hubungan . LL. H... Bab III Deskripsi Hubungan Antara Pusat dan Daerah Dalam Bab ini akan dikemukakan mengenai pengaturan mengenai hubungan antara Pusat dan Daerah dalam empat dimensi. Bab II Prinsip-Prinsip Umum Pola Hubungan Pusat Dan Daerah Dalam Bab ini akan dikemukakan mengenai teori-teori umum yang mendasari penyelenggaraan pemerintahan daerah yang meliputi prinsipprinsip negara Kesatuan.16 H. Tenaga Pendukung : Hernadi Affandi.H.H.. S.H. S.H.H. Ali Abdurahman.H.H. I. S.M. M. Sistematika Penulisan Bab I Pendahuluan Dalam Bab ini akan dikemukakan mengenai latar belakang. dan teori desentralisasi. S.H. S. tujuan penelitian. Indra Perwira. M. Prof. S. dan metode penelitian. kegunaan penelitian. S. DR. Inna Junaenah.M. Susi Dwi Harijanti. tujuan penelitian.H.. M. M.

yang akan disertai dengan rekomendasi sebagai gagasan-gagasan reformasi pola hubungan antara Pusat dan Daerah di masa yang akan datang. Bab V Kesimpulan dan Rekomendasi Dalam Bab ini akan digarisbawahi berbagai telaah terhadap hubungan Pusat dan daerah melalui kesimpulan. keuangan. dan pengawasan. kelembagaan. . Bab IV Tinjauan Dimensi-Dimensi Hubungan Antara Pusat dan Daerah Bab ini berisi analisa terhadap pengaturan dan problematika empat dimensi pola hubungan antara Pusat dan Daerah dalam perpektif prinsip-prinsip pemikiran yang mendasarinya. disertai permasalahan hubungan antara Pusat dan Daerah pada empat dimensi tersebut.17 kewenangan.

Dengan demikian perlu dipahami terlebih dahulu mengenai prinsip-prinsip yang terkandung dalam masing-masing dasar pemikiran tersebut untuk menghantarkan kemunculan hubungan antara pemerintah pusat dengan satuan pemerintahan yang lebih rendah. Dalam hal ini dapat dikemukakan pemikiran dari CF Strong mengenai deskripsi suatu negara kesatuan. Negara Kesatuan Uraian mengenai konsep negara kesatuan perlu diketengahkan untuk membedakan pembagian kekuasaan secara vetikal dengan negara berbentuk federasi. “Unitarisme” dalam pengertian politik didefinisikan dengan baik oleh Dicey sebagai “pelaksanaan kebiasaan otoritas legislatif tertinggi oleh satu kekuasaan pusat”. yang dikutip oleh Tim Penyusun buku “Otonomi atau Federalisme”. A. Nusamedia. dan negara hukum. Artinya. Bandung. Cetakan Kedua. Sementara itu menurut Apeldoorn. sementara provinsi-provinsi menerima kekuasaan dari pemerintah pusat. dan provinsi-provinsi tersebut tidak mempunyai hak C. hlm.F.18 BAB II PRINSIP-PRINSIP UMUM POLA HUBUNGAN PUSAT DAN DAERAH Pilar-pilar yang perlu diketengahkan dalam membangun pola hubungan pusat dan daerah sedikitnya dibentuk dari prinsip negara kesatuan. Konstitusi-Konstitusi Politik Modern: Studi Perbandingan tentang Sejarah dan Bentuk-Bentuk Konstitusi di Dunia. 2008. 54 . suatu negara disebut negara kesatuan apabila kekuasaan hanya dipegang oleh pemerintah pusat. 87. Kekuasaan pusat adalah kekuasaan tertinggi di atas seluruh negara tanpa ada batasan yang ditetapkan hukum yang memberikan kekuasaan khusus pada bagian-bagiannya. Strong. kedaulatan rakyat.54 Dikatakan bahwa negara kesatuan adalah negara yang diorganisasi di bawah satu pemerintahan pusat. kekuasaan apapun yang dimiliki berbagai distrik di dalam wilayah yang dikelola sebagai suatu keseluruhan oleh pemerintah pusat harus diselenggarakan menurut kebijakan pemerintah itu.

109. Neumann (1986) yang dikutip oleh Satjipto Rahardjo mengatakan bahwa perkembangan negara hukum di Inggris berbeda daripada Eropa daratan. hlm.57 Sementara itu setelah negara-negara di dunia mengalami perkembangan yang sedemikian pesat. wilayah negara menjadi semakin luas. Jilid III. and Amerindian Studies. Yogyakarta. ditinjau dari sudut pembagian kewenangan. Negara Hukum yang Membahagiakan Rakyat. 1999.59 Parlemen berhak untuk melakukan apa saja. untuk melaksanakan urusan-urusan pemerintahan pusat yang ada di daerah.58 Di Inggris. urusan pemerintahannya menjadi semakin kompleks. terdapat dua kewenangan/urusan pemerintah yakni yang dipusatkan dan atau dipencarkan. yang tidak netral terhadap politik. Harian Suara Pembaharuan. 58 Satjipto Rahardjo. hlm. hlm. 2000. Pustaka Sinar Harapan.55 Dalam negara-negara dengan bentuk negara kesatuan (unitary state). Yogyakarta. 59 Ibid. maka penyelenggaraan pemerintahan di daerah. Municipal Government In Indonesia Policy. Jakarta. cetakan II. B. 55 .19 mandiri. yaitu pelimpahan wewenang dari pemerintah pusat kepada pejabat-pejabatnya di daerah.56 Dalam negaranegara dengan bentuk negara kesatuan (unitary state). dampaknya terhadap Perekonomian. Liberty. Menurut Dicey. lihat pula The Liang Gie. Serta warga negaranya semakin banyak dan heterogen. Research School CNWS School of Asian. termasuk pada waktu melakukan realisasi rule of law. yang terdapat dua dan kewenangan/urusan pemerintah tersentralisasi kewenangan/urusan pemerintah yang didesentralisasikan. “… that the souvereignity of Parliament furthers the rule of the land… prevent those inroads upon the law of the land which a despotic monarch … might effects Tim Penyusun. hlm. 8-9. 21. hlm. 8. 14. law and Practice of Decentralization and Urban Planning. ditinjau dari sudut pembagian yakni kewenangan.. African. Negara Hukum Selanjutnya pilar yang lain yang secara konsitusional diakui oleh Indonesia adalah negara hukum. The Netheralands. Mei 2009.. Genta Publishing. 56 Nicole Niessen. 57 Ibid. Universitiet Leiden. sejak semula doktrin Rule of Law tidak dipisahkan dari doktrin supremasi parlemen. Edisi Kedua. 1995. Pertumbuhan Pemerintahan Daerah di Negara Republik Indonesia. Otonomi atau Federalisme.

pada 8/24/2009 9:38:03 AM.20 by ordinance or decrees… “60 Selanjutnya dikatakan.V. explains the absence od adiministrative law. konsep Negara Hukum yang disebutnya dengan istilah ‘rechtsstaat’ itu mencakup empat elemen penting. 62 Ibid. the House of Lords. prinsipprinsip Negara Hukum itu ditambah lagi dengan prinsip peradilan bebas dan tidak memihak (independence and impartiality of judiciary) yang di zaman sekarang demokrasi. 61 60 . hlm. 1-2. 9. Bahkan.V. Sementara itu A. 2) Equality before the law. maka parlemen atau rakyatlah merupakan instansi tertinggi. Jimly Asshidiqie.. Menurut Julius Stahl yang dikutip oleh Jimly Asshidiqie61. “The monopoly of legislation by Parliament. Dicey untuk menandai ciri-ciri Negara Hukum modern di zaman sekarang.. dan 4) Peradilan tata usaha Negara.unsri.cit.fh. tindakannya dibatasi hanya sampai kepada penjaga ketertiban dan keamanan. 3) pemerintahan berdasarkan undang-undang. diunduh dari http://www. hlm. Dicey menguraikan adanya tiga ciri penting dalam setiap Negara Hukum yang disebutnya dengan istilah “The Rule of Law”. Negara Hukum …. Keempat prinsip ‘rechtsstaat’ yang dikembangkan oleh Julius Stahl tersebut di atas pada pokoknya dapat digabungkan dengan ketiga prinsip ‘Rule of Law’ yang dikembangkan oleh A. 63 Satjipto Rahardjo. op. and the king. dan 3) Due Process of Law.ac.Doc. 26. with the balance between the House of Commons. karena dalam tipe tersebut. yaitu: 1) perlindungan hak asasi manusia.id/old_version/CITANEGARAHUKUMINDONESIA. also strengthens the power of the judges … and finally. makin 62 dirasakan mutlak diperlukan dalam setiap negara Negara hukum yang muncul di abad ke-sembilan belas adalah tipe negara hukum sebagai “penjaga malam” (nachtwakersstaat).63 Pada Ibid. oleh “The International Commission of Jurist”. makalah disampaikan dalam acara Orasi ilmiah Pada Wisuda Sarjana Hukum Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya Palembang.” Jadi dalam mengartikan “the rule of law” di Inggris. 23 Maret 2004. hlm. Cita Negara Hukum Indonesia Kontemporer. Disebut sebagai penjaga malam. 2) pembagian kekuasaan. yaitu: 1) Supremacy of Law.

. door als neutral toeschouwer op te stellen. Teori Negara Hukum Modern (Rechtsstaat). Satjipto kemudian mengutip dari de Haan et al (1978) bahwa menyerahkan penyelesaian kepada mekanisme pasar sosial akan menempatkan golongan lapisan bawah (the have not) dalam masyarakat sebagai pihak yang sangat menderita (“De staat mocht niet langer. dan kepemilikan (eigendom) negara. Naast de traditionele overheidstaken vroegen nieuwe terreinen om ordening en verzorging van staatswege”). yaitu campur tangan negara ke dalam masyarakat. Perubahan tersebut. 9 . equality. 1978). keterbukaan dan penggugatan (de Haan. seperti pembuatan undang-undang dan pembuatan undang-undang semu (pseudo). Menurut William A. sangat mengubah pekerjaan-pekerjaan yang biasa dilakukan oleh hukum administrasi tradisional. Tetapi sekarang negara harus memasuki aktivitas yang lebih luas. perjanjian. 27. perencanaan. de door het industriele kapitalisme veranderde samenleving ongemoeid laten.21 perkembangannya negara tidak dapat lagi bersikap netral dan membiarkan individu-individu atau masyarakat menyelesaikan sendiri-sendiri problemproblem tersebut. 2009. Refika Aditama. Robson. maar behoorde zich daadwerkelijk de belangen van de achtergestelde groepen in die samenleving aan te trekken.64 Kembali kepada pembicaraan mengenai rule of law. Dalam hukum administrasi tradisional. di antaranya adalah ”liberty. kelahiran konsep negara kesejahteraan didahului oleh rentetan ide-ide panjang. Wade yang dikutip oleh Munir Fuadi65 berpendapat bahwa implikasi dari penerapan konsep tersebut dalam suatu negara akan mengarahkan para penyelenggara negara ke dalam prinsip-prinsip dan otoritas sebagaai berikut: 64 65 Ibid. negara hanya bertindak sesekali dan sebagai pelengkap (incidenteel en aanvullend). dan fraternity” (revolusi Perancis) dan “The greates happiness for the greatest number” (Bentham). Bandung. Dalam hukum administrasi tradisional. hlm. Ini menimbulkan konsep “negara kesejahteraan” (welfare state). Munir Fuady. hlm.

66 3. Kedua. serta para stakeholders lainnya. terkait Pertama. . dengan jalan menerapkan atau menafsirkan ketentuan dan semangat dari konstitusi. badan yudikatiflah yang yang harus memutuskannya. efisien. yakni seperangkat mekanisme yang secara langsung mendukung upaya penegakan aturann hukum. warga lingkungan hidup. Badan-badan politik (terutama parlemen) menentukan rincian mekanisme rule of law. sistem pemerintahan yang kondusif terhadap 66 67 Ibid. sehingga hasilnya dapat menguatkan atau menyatakan batal.. Jika ada dispute. dapat ditambahkan bahwa konsep ini tidak dapat dipisahkan dengan konsep good governance. sistem pemerintahan yang efektif. Penyelenggaraan kewenangan oleh penyelenggaran negara haruslah selalu sesuai dengan hukum yang berlaku. Mengenai peran badan peradilan ini. Lebih lanjut mengenai pelaksanaan rule of law dalam penyelenggaraan pemerintahan. accountable. transparan. yakni seperangkat aturan masyarakat. 81. baik yang bersifat substantif. Ketiga. maupun secara prosedural. Kelima. Pelaksanaan konsep rule of law lebih menghendaki adanya suasana penghormatan kepada “hukum dan ketertiban” (law and order). parlemen.. pengadilan. aturan hukum yang baik. sistem pemerintahan yang dapat menciptakan masyarakat yang cerdas dan egaliter. Ibid. pemerintah. dalam rangka untuk menjaga tertib hukum dengan melihat konsistensinya terhadap konsitusi. hlm. Fuady menunjukkan hal tersebut melalui beberapa faktor utama yang berpengaruh satu sama lain dalam menerapkan 67 prinsip good governance ke dalam suatu pemerintahan. hlm. menambah atau mengurangi terhadap suatu tindakan berbuat atau tidak berbuat dari aparat pemerintah (eksekutif) atau dari pihak-pihak lainnya (termasuk parlemen). Keempat. 79. muncul pranata hukum yang disebut judicial review. law enforcement yang baik.22 1. jujur. 2. Munir Fuady menjelaskan lebih jauh pranata ini sebagai lembaga khusus untuk melakukan penunjauan ulang. pers. dan berwawasan hak asasi manusia.

ekspresi persetujuan maupun ketidaksetujuan rakyat sudah harus memiliki sarana penyaluran yang nyata dalam pemilihan umum. Dari penelusuran sementara yang berkaitan dengan demokrasi. Demikian juga sebaliknya bahwa pelaksanaan prinsip negara hukum yang baik harus selalu memperhatikan dan melaksanakan prinsip good governance. Instrumen mekanisme pemerintahan Demokrasi sebagai bentuk penyelenggaraan negara telah dipraktekan hampir di setiap negara.23 pertumbuhan ekonomi dan pemerataan. Peaslee pada tahun 1950.70 Istilah demokrasi71 telah Ibid. Konstitusi Dan Konstitusionalisme Indonesia.F. hlm. artinya. Konstitusi-Konstitusi ….68 C. Strong diartikan secara beragam. 2005.. “demos” berarti rakyat dan “kratia” berarti pemerintahan. Dengan gambaran tersebut Fuady hendak menegaskan bahwa pelaksanaan tata kelola pemerintahan yang baik harus mengindahkan prinsip-prinsip negara hukum. Demokrasi Istilah demokrasi menurut C. 71 Demokrasi berasal dari kata “demokratia”. Di sinilah letak keterkaitannya dengan demokrasi politik yang mengisyaratkan pemerintah harus bergantung pada persetujuan pihak yang diperintah. 140. hlm.Strong. dan lain-lain. dari 83 UUD negara-negara yang diperbandingkannya terdapat 74 negara yang konstitusinya secara resmi menganut prinsip kedaulatan rakyat (90%).cit. 80. op.F. mekanisme pengambilan keputusan serta demokrasi ekonomi. sedikitnya dapat dikemukakan bahwa demokrasi diterapkan dalam dimensidimensi instrumen mekanisme pemerintahan. 1. C. 69 68 . Namun di dunia kontemporer. Konstitusi Press. Jakarta. media massa. 17. ketika nasionalisme menjadi dasar bagi demokrasi politik maka pemerintahan politik yang demokratis menjadi instrumen kemajuan sosial. Melalui penelitian yang dilakukan oleh Amos J. program politik partai. hlm.69 Terkadang digunakan untuk menyebut suatu bentuk pemerintahan dan terkadang dikonotasikan dengan kondisi suatu masyarakat. 70 Jimly Asshiddiqie.

untuk mencapai persamaan (equality) secara politik yang mencakup tiga tujuan utama : kebebasan manusia (secara individu dan kolektif). Kedaulatan Rakyat. untuk rakyat. 72 . oleh rakyat dan bersama rakyat.wikipedia.74 Demokrasi sebagai instrumen mekanisme pemerintahan. 10. Disertasi. 73 Participatory democracy strives to create opportunities for all members of a political group to make meaningful contributions to decision-making.73 Dari pengertian tersebut dapat menunjukan demokrasi sebagai instrumen mekanisme pemerintahan. demokrasi hanyalah sarana. 66. hlm 70. hlm. oleh rakyat dan untuk rakyat. -bukan tujuan. “Participatory democracy” menambahkan kata “bersama” sehingga dari rakyat. dalam perkembangannya sulit dilaksanakan jika secara langsung.24 menjadi bahasa umum yang digunakan oleh negara-negara untuk menunjukan suatu bentuk penyelenggaraan negara yang dianggap ideal. perkembangan diri manusia dan perlindungan terhadap nilai (harkat dan martabat) kemanusiaan. and seeks to broaden the range of people who have access to such opportunities…http://en. I Gde Pantja Astawa. 1999. mengantarkan pengertian demokrasi yaitu. Universitas Padjadjaran Bandung. 75 Eddy Purnama. Nusamedia. pemerintahan dari rakyat.org/wiki/Participatory_democracy diunduh tanggal 27 Agustus 2009 74 I Gde Pantja Astawa. Paham kedaulatan rakyat sebagai embrio demokrasi. dalam penjelasan Eddy Purnama. hlm. Faktor luas wilayah dari suatu negara dan besaran jumlah penduduk serta pertambahan kerumitan masalah kenegaraan merupakan argumen bahwa demokrasi langsung (direct democracy) tidak mungkin untuk dilaksanakan. Op Cit.Hak Angket Dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia Menurut UUD 1945. Bandung. “Pemerintahan dari rakyat yaitu mereka yang duduk sebagai penyelenggara negara atau pemerintahan harus terdiri dari seluruh rakyat itu sendiri atau yang disetujui dan didukung oleh rakyat. Oleh rakyat maksudnya bahwa penyelenggara negara atau pemerintahan dilakukan sendiri oleh rakyat atau atas nama rakyat yang mewakili sedangkan untuk rakyat maksudnya pemerintahan dijalankan atau berjalan sesuai dengan kehendak rakyat. Dalam hubungannya dengan cita-cita.”72 Dalam perkembangan istilah demokrasi kemudian ada yang disebut “participatory democracy”.75 Berdasarkan kenyataan demikian. 2007.

means representative government through elected deputies” Wolfgang Friedmann. sistem politik demokratis (demokrasi perwakilan) adalah suatu bentuk pemerintahan di mana hak untuk membuat keputusan-keputusan politik diselenggarakan oleh warga negara melalui wakil-wakil yang dipilih oleh mereka dan yang bertanggungjawab kepada mereka melalui suatu proses pemilihan yang bebas. Jakarta. Miriam Budiarjo. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Dasar-Dasar Ilmu Politik. PT.cit. hlm. 78 Eddy Purnama. by representatives subject to effective popular control at Ibid.25 muncullah yang dikenal sebagai demokrasi tidak langsung (indirect democracy). hlm 61.78 akomodasi seluruh aspirasi rakyat jauh lebih berguna dari unsur di dalam masyarakat harus terwakili di dalam sistem Menurut International Commision of Jurist. Cetakan kelima belas.80 2. Majo : ”A democratic political system is one in which public policies are made on majority basis. hingga ke pengawasan. 77 Dalam rangka mewujudkan prinsip kedaulatan rakyat. in modern states. hlm. Steven Sons. Gramedia Pustaka Utama. Kedaulatan . hlm.. 79 Miriam Budiarjo. 75..79 Demokrasi perwakilan menjadi alternatif terbaik demi tercapainya Representative Government. 1993. Jakarta. Legal Theory. Hal ini diperjelas dalam pengertianpengertian demokrasi yang dikemukakan oleh beberapa ahli berikut :81 Henry B. the Government of the People. yang pelaksanaan kedaulatan rakyatnya tidak dilaksanakan oleh rakyat secara langsung melainkan melalui lembaga perwakilan rakyat. 77 76 . Rakyat berdaulat terhadap produk hukum mulai dari perencanaan. Op Cit. Mekanisme pengambilan keputusan Ide kedaulatan rakyat yang tercermin dalam demokrasi juga meliputi proses pengambilan keputusan baik di bidang legislatif maupun di bidang eksekutif. 80 In Modern democracy. Gramedia Pustaka Utama. penetapan.. both ideals individual rights and equality pen find their highest fulfillment and justification in the citizen’s right to participation in government. 419. 1993. 81 I Gde Pantja Astawa. op.76 Hal semacam ini lazim dinamakan demokrasi perwakilan (representative democracy). hlm 61. Cetakan kelima belas. 11. 284. PT.. hlm. This. London. 1967. perwakilan.

148. melainkan proses kehidupan kenegaraan sebagai keseluruhan. Modern Political Constitution.83 Proses kehidupan kenegaraan ini termasuk di dalamnya adalah proses pengambilan keputusan. either directly or through chosen representative.. Oleh karena itu.”82 Dalam paham kedaulatan rakyat yang berdaulat dari segi politik bukanlah person rakyat itu sendiri.13 83 Jimly Asshiddiqie.26 periodic election which are conducted on the pinciple of politcal equality and under condition of political freedom. hlm. 1960. Yamin berpandangan bahwa permusyawaratan untuk mencapai mufakat. Di Indonesia sendiri. Op Cit.” Arthur Lewis “all who are affected by a decision should have the chanc to participate in making that decision. 84 I Gde Pantja Astawa...” CF Strong : “a system of government in which the majority of the rule grown members of political community participate through a method of representation which secures that the government is ultimately responsible for its actions to that majority. hlm. London. Demokrasi ekonomi 82 CF Strong. demokrasi dapat juga dikatakan sebagai instrumen pengambilan keputusan. hlm. op. instrumen pengambilan keputusan yang khas diberlakukan adalah melalui musyawarah mufakat.cit. Proses pengambilan keputusan yang demokratis model Indonesia ini disebutkan dengan jelas dalam sila ke – 4 Pancasila. .84 Musyawarah dilakukan untuk menampung dan memperhatikan semua ide atau pandangan yang ada dan permufakatan menjadi output dari apa yang telah dimusyawarahkan. 3. Konstitusi .86. merupakan perpaduan antara dua konsepsi yaitu paham permusyawaratan yang bersumber dari ajaran Islam. Sidgwick & Jackson Limited. sedangkan mufakat bersumber dari tatanan asli Indonesia.

-disemua negeri modern itu rakjat tidak selamat.. pemerintahan rakyat. sehingga politik hanya berlaku secara politik saja. Di sini tampak dasar demokrasi. Lebih jelas lagi Hatta berpendapat bahwa kekurangan demokrasi liberal di Barat adalah karena terlalu dominannya prinsip individualisme. upah dan nasib kaum buruh adalah upah dan nasib kokoro.. 87 I Gde Pantja Astawa.” Tabloid Fikiran Ra’jat..85 Demokrasi politik harus menjamin setiap individu agar memperoleh akses sama dalam setiap kegiatan ekonomi. Demokrasi yang demikian ini menurut Bung Karno adalah Demokrasi sosial yang terdiri dari Demokrasi politik ditambah dengan Demokrasi ekonomi.. Inikah hasilnja “demokrasi” jang dikeramatkan orang?. Ke Arah Indonesia Merdeka. Gramedia. Tetapi. “Disemua negeri modern itu adalah “demokrasi”. No. http://www.com/message/mediacare@yahoogroups. Masalah Kenegaraan.88 Selengkapnya Hatta mengatakan bahwa tiga sifat utama tersebut adalah: Pertama: cita-cita rapat yang hidup dalam sanubari rakyat Indonesia dari zaman dahulu sampai sekarang. dalam Miriam Budiardjo (ed). hlm 42.86 Kedaulatan rakyat tidak hanya di bidang politik namun juga di bidang ekonomi. 18 dan 19 (edisi 4 November). hlm. Op Cit.html diunduh tanggal 27 Agustus 2009. hlm.com/9511217. 86 85 . bahkan sengsara sesengsara-sengsara nja..cit. tahun 1932.opensubscriber.. Kekuasaan bidang politik dan ekonomi dapat dibedakan satu sama lain namun sesungguhnya mempunyai hubungan fungsional yang erat satu sama lain. 1980. op. yang harus dipakai sebagai sendi Perumahan Indonesia Merdeka”. Jimly Asshiddiqie.Disemua negeri modern itu kini hidup miljunan kaum penganggur. Konstitusi .disemua negeri modern itu kapitalisme subur dan meradjalela! Disemua negeri itu kaum proletar ditindas hidupnja.27 Demokrasi sebagai instrumen mekanisme pemerintahan dan instrumen pengambilan keputusan merupakan penjabaran dari demokrasi yang bersifat politik. Jakarta. 147. sehingga negara memegang peranan penting dalam menyejahterakan rakyatnya. 80. 88 Mohammad Hatta. Rapat ialah tempat rakyat atau utusan rakyat bermusyawarah dan mufakat tentang segala urusan yang bersangkutan dengan persekutuan hidup dan keperluan bersama. Demikian yang pengertian demokrasi dari Bung Karno yang tidak sepakat dengan demorkrasi ala barat yang liberal dan didasarkan pada kapitalisme.87 Demokrasi asli yang ada di desa-desa di Indonesia mempunyai tiga sifat yang utama.

Segaarsy. Pikiran-Pikiran tentang Demokrasi dan Kedaulatan Rakyat. 2009. Sanubari rakyat Indonesia penuh dengan rasa-bersama.91 Sifat pertama. hlm. hlm. 90 89 . 84. adalah dasar dari demokrasi politik.92 Dihubungkan dengan desentralisasi. yaitu mengambil keputusan secara mufakat dengan musyawarah. cetakan kedua.28 Kedua: cita-cita massa-protest. Dan demokrasi tidak dapat berlaku. Hukum Pemerintahan Daerah. Di atas sendi yang ketiga dapat didirikan tonggak demokrasi ekonomi. hlm.90 Dalam pemikiran mengenai bagaimana demokrasi bagi Indonesia. I Gde Pantja Astawa.89 Walaupun menolak individualisme pada Demokrasi Barat. yaitu hak rakyat untuk membantah dengan cara umum segala peraturan negeri yang dipandang tidak adil. 66. 69. Bandung. Hak ini besar artinya terhadap kepada pemerintahan despotisme atau autokrasi yang tersusun di atas pundak desa-demokrasi. Muhammad Hatta mengingatkan bahwa masyarakat asli Indonesia mempunyai sifat dasar dalam segala hal mengenai kepentingan hidup bersama. 92 Ibid. Demokrasi Kita. Di atas sendi yang pertama dan kedua dapat didirikan tiang-tiang politik daripada demokrasi yang sebenarnya: satu pemerintahan negeri yang dilakukan oleh rakyat dengan perantaraan wakil-wakilnya atau Badan-badan Perwakilan. kalau tidak ada hak rakyat untuk mengadakan protes bersama. 2009. Sifat kedua yaitu tolong menolong dan gotong royong adalah sendi yang bagus untuk menegakkan demokrasi ekonomi. Ni’matul Huda mengatakannya sebagai mendemokratisasi sistem politik dan menyelaraskan pencapaian pembangunan berkelanjutan yang merupakan isu yang selalu ada dalam praktik administrasi publik. sepeti sifat hak ulayat atas tanah bukan negeri seumumnya yang berhak melainkan desa. Op Cit. 91 Mohammad Hatta. 93 Ni’matul Huda. hlm.93Demokrasi yang lazim pula disebut dengan Ibid. Dalam hak ini tercantum hak rakyat untuk merdeka bergerak dan merdeka berkumpul. melainkan desentralisasi yaitu tiap-tiap bagian berhak menentukan nasibnya sendiri. Ketiga: cita-cita tolong menolong. Nusamedia. kolektiviteit. namun menurut Hatta asas kolektivisme yang dimaksudkannya bukanlah kolektivisme yang berdasar sentralisasi (satu pimpinan dari atas). 70. Bandung. hlm 42-43.

hlm 11. 1. Kajian Teori Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Dalam upaya memahami hubungan kewenangan antara pusat dan daerah akan digunakan dua teori yakni. 1979. 98 Ibid.99 Koesoemahatmadja menguraikan bahwa desentralisasi terbagi dua...95 Dengan demikian menjadi sejalan dengan apa yang dicatat oleh Rousseau bahwa jika kita menempatkan istilah ini dalam pemahaman yang kaku. 100 RDH Koesoemahatmadja.15 95 94 .cit. desentralisasi hanya mencakup pemencaran kekuasaan di bidang otonomi. hlm 10. 99 Ibid. hlm. konsep demokrasi juga mencari bentuk yang sesuai dengan situasi dan kondisi dari masyarakat modern. 10 Ibid. 2007. sehingga dalam pelaksanaan tugasnya pemerintah harus berpegang pada kehendak rakyat. Yogyakarta.97 Lebih lanjut Bagir Manan berpendapat bahwa desentralisasi bukan merupakan asas penyelenggaraan pemerintahan daerah.29 kedaulatan rakyat memandang bahwa kekuasaan itu berasal dari rakyat. op. melainkan suatu proses. Binacipta. hlm. hlm 10. Desentralisasi Bagir Manan menjelaskan bahwa secara umum desentralisasi merupakan ‘bentuk atau tindakan memencarkan kekuasaan atau wewenang dari suatu organisasi. Kedaulatan . 96 Jean Jacques Rousseau. Bandung. Pusat Studi Hukum Fakultas Hukum UII.96 D.94 Sejalan dengan perputaran waktu. Jakarta.. Du Contract Social (Perjanjian Sosial). Menyongsong Fajar Otonomi Daerah.100 Sementara desentralisasi ketatanegaraan yang merupakan penyerahan kekuasaaan Eddy Purnama.98 Dalam kaitan dengan pemerintahan otonom. jabatan. 97 Bagir Manan. 2001. desentralisasi dan sistem rumah tangga daerah. yaitu ambtelijke decentralisati/deconsentratie (dekonsentrasi) dan staatkundige decentralisatie (desentralisasi ketatanegaraan). atau pejabat’.. Visimedia. Pengantar Ke Arah Sistim Pemerintahan Daerah Di Indonesia. hlm.. tidak pernah ada demokrasi yang nyata dan tidak akan pernah ada demokrasi. 113.

Desentralisasi teritorial mencakup autonomie (otonomi) dan medebewind atau zelfbestuur (tugas pembantuan). Bagir Manan. keduanya masuk dalam lingkup desentralisasi. Hubungan . Van der Pot mengemukakan. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah. hlm 21... Selanjutnya dikatakan bahwa terdapat dua 101 102 Bagir Manan. Otonomi merupakan salah satu bentuk desentralisasi. Menempatkan kedudukan yang sejajar antar desentralisasi dan tugas pembantuan sebagai asas-asas yang terpisah merupakan suatu yang keliru. Pemikiran di atas memberi pengertian bahwa tugas pembantuan merupakan salah satu bentuk dari desentralisasi. desentralisasi 103 fungsional dan desentralisasi administratif (dekonsentrasi). juga terbagi dua yakni. Demikian pula. sebagaimana dikutip oleh Bagir Manan. baik otonomi maupun tugas pembantuan. menjelaskan penggolongan desentralisasi yang agak berbeda. Pusat Studi Hukum Fakultas Hukum UII. tidak semua peraturan dan penyelenggaraaan pemerintahan dilakukan dari pusat (central).102 Pelaksanaan pemerintahan dilakukan baik oleh pusat maupun berbagai badan otonom. hlm 10. Hubungan . op. membagi desentralisasi menjadi desentralisasi teritorial yang menjelma dalam bentuk badan yang didasarkan pada wilayah.101 Mengenai desentralisasi. bahwa desentralisasi adalah otonomi. 2001. Bentuk desentralisasi itu dibedakan antara otonomi dan tugas pembantuan. tetapi otonomi tidak sama dengan desentralisasi. Irawan Soejito. yang terdiri atas desentralisasi teritorial. sebagaimana dikutip oleh Bagir Manan.30 perundang-undangan dan pemerintahan (regelende en besturende bevoegheid) kepada daerah otonom. Van Der Pot. 103 Bagir Manan...cit.cit. Yogyakarta.. Dengan perkataan lain. desentralisasi teritorial (territoriale decentralisatie) dan desentralisasi fungsional (functionele decentralisatie).. Badan-badan otonom ini dibedakan antara desentralisasi desentralisasi berdasarkan fungsional teritorial (territoriale decentralisatie) dan (functionaeele decentralisatie). . sedangkan desentralisasi fungsional menjelma dalam bentuk badan-badan yang didasarkan pada tujuan-tujuan tertentu. op.

yaitu desentralisasi politik. hlm 5. Amrah Muslimin. merupakan 104 pelunakan sentralisasi menuju ke arah Ahli lain yang melakukan penggolongan desentralisasi adalah Amrah Muslimin. Pandangan pertama mengatakan bahwa dekonsentrasi sebagai salah satu bentuk desentralisasi sedangkan pandangan kedua beranggapan bahwa dekonsentrasi desentralisasi. Aspek.cit. Dalam kebanyakan Negara kewenangan ini diberikan pada kedutaan-kedutaan asing demi pendidikan warga negara masing-masing negara dari keduataan yang bersangkutan”. hlm 5-6. Amrah Muslimin mengartikan: “memberikan hak pada golongan-golongan kecil dalam masyarakat (minoritas) menyelenggarakan kebudayaannya sendiri (mengatur pendidikan. yang menimbulkan hak mengurus kepentingan rumah tangga sendiri bagi badan-badan politik di daerah-daerah. Bagir Manan berpendapat bahwa desentralisasi pada prinsipnya merupakan bentuk dari susunan organisasi negara dan pemberian atau pengakuan hak minoritas untuk mengatur dan mengurus soal agama dan pendidikan di kalangan mereka sendiri lebih tampak sebagai perwujudan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia daripada 104 105 Ibid.. 106 Ibid.105 Desentralisasi politik adalah “pelimpahan kewenangan dari Pemerintah Pusat. desentralisasi fungsional dan desentralisasi kebudayaan. 1986. op.. agama.107 Mengenai desentralisasi kebudayaan... Menurutnya desentralisasi terbagi ke dalam tiga golongan. Alumni.. 107 Bagir Manan.31 pandangan mengenai hubungan antara desentralisasi dan dekonsentrasi.. hlm 22. yang dipilih oleh rakyat dalam daerah-daerah tertentu”.106 Menurut Bagir Manan pengertian desentralisasi politik tersebut sama dengan desentralisasi teritorial karena faktor ‘daerah’ menjadi salah satu unsurnya. Hubungan . Aspek-aspek Hukum Otonomi Daerah.108 Terhadap pendapat Amrah Muslimin mengenai desentralisasi kebudayaan di atas. . op..cit.. dan lain-lain). 108 Amrah Muslimin. hlm 21-22.. Bandung.

UI-Press. berkonsekuensi terhadap pembiayaan penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah oleh pemerintahan daerah.cit.112 Begitu pula dengan Pheni Chalid yang berpendapat bahwa desentralisasi kewenangan pengelolaan pemerintahan berarti beban pembiayaan harus ditanggung sepenuhnya oleh pemerintahan daerah. desentralisasi fiskal diartikan dalam ukuran – 109 110 Bagir Manan.. Seperti dikatakan oleh B.113 Artinya.. 1985. Kemitraan. 111 B. hlm vii 114 Bachrul Elmi. Bahcrul Elmi mengatakan bahwa desentralisasi fiskal dapat diartikan sebagai pelimpahan kewenangan di bidang penerimaan yang sebelumnya tersentralisasi. Dalam perspektif ilmu ekonomi. Investasi. Hubungan Antara…. Jakarta. Namun demikian. 113 Pheni Chalid.32 sebagai bagian susunan organisasi negara.109 Lebih lanjut dikatakan bahwa pemberian hak kepada kedutaan juga tidak dapat dikategorikan sebagai desentralisasi karena kedutaan bukan bagian dari susunan organisasi di mana kedutaan itu berada.. hlm. ada yang mengartikan desentralisasi fiskal lebih luas dari sekedar pelimpahan kewenangan di bidang penerimaan. 99... hlm. khususnya otonomi. . Smith. Konsekuensi desentralisasi pada pembiayaan urusan pemerintahan daerah pada hakikatnya adalah desentralisasi di bidang keuangan atau desentralisasi fiskal..op. Decentralization The Territorial Dimension of The State. Gerge Allen Unwin.110 Desentralisasi teritorial. Keuangan Pemerintah Daerah Otonom di Indonesia. pemerintahan daerah harus memiliki sumber keuangan sendiri untuk dapat menyelenggarakan rumah tangganya secara mandiri. op. 204. baik secara administrasi dan pemanfaatannya diatur atau dilakukan oleh pemerintah pusat114. dan Desentralisasi. London. hlm 26.2002.cit.111 Hal yang sama juga dikatakan oleh Bagir Manan bahwa hak mengatur dan mengurus rumah tangga sendiri menyiratkan pula makna membelanjai diri sendiri.C. Hubungan . Ibid.C. 2005. Jakarta. Smith bahwa it is obvious that the exercise of governmental powers at the subnational level entails expenditure by subnational governments. Keuangan Daerah. 112 Bagir Manan.

atau ketika sejumlah barang dan jasa dapat dihasikan dengan biaya yang lebih rendah. efisiensi dari aspek produsen didefinisikan sebagai keuntungan ekstra yang didapatkan ketika sejumlah pengeluaran yang sama dapat menghasilkan barang dan jasa dengan kuantitas yang besar atau kualitas yang lebih baik. Disertasi. misalnya Oates (1993) mengatakan bahwa peningkatan efisiensi ekonomi merupakan dasar ekonomis dari desentralisasi. Atlanta. 116 Ibid. A Study of The Relationship Between Fiscal Decentralization and The Composition of Public Expenditures. sepeti dikatakan oleh Bagir Manan bahwa Francisco Javier Arze del Granado. Departement of Economic Andrew Young School of Policy Studies. 118 Misalnya. 2003. telah dirubah dalam suatu pola hubungan yang lebih bersifat desentralisasi. 14. dimanifestasikan melalui dasar hukum Undang . dari “structural efficiency model“ yang menekankan efisiensi dan 115 . 117 Ibid. 25 Tahun 1999).. 13.116 Efisiensi dari aspek konsumen didefinisikan sebagai keuntungan yang didapatkan oleh konsumen dari kebijakan pengeluaran/belanja (negara) yang sesuai dengan preferensi pembayar pajak.hlm. Pengertian desentralisasi fiskal yang tidak hanya pada aspek penerimaan. hlm. Sementara itu. namun juga pada aspek pengeluaran.33 ukuran keuangan seperti expenditure (pengeluaran/belanja) atau revenue (penerimaan/pendapatan). jika tujuan desentralisasi fiskal adalah hanya efisiensi. maka hal tersebut dapat dilakukan dengan skema hubungan pusat daerah yang sentralistik. berhubungan dengan adanya kewenangan daerah atas sumber-sumber penerimaan daerah digunakan untuk membiayai pengeluaran/ belanja sesuai dengan kewenangan daerah. untuk kasus Indonesia dalam fase awal desentralisasi fiskal (2001-masa efektif pemberlakuan UU No. 22 Tahun 1999 dan UU No.117 Persoalannya.118 Padahal.Undang No 22 tahun 1999 serta Undang – Undang No 25 tahun 1999. Georgia State University. Besaran perubahan yang dikehendaki dalam reformasi tersebut dapat disimak dari pergeseran sejumlah model dan paradigma pemerintahan daerah.115 Teori keuangan negara melekatkan desentralisasi dalam rangka mencapai efisiensi pada dua pelaku: konsumen dan produsen. Persoalan desentralisasi fiskal terutama dari aspek ekonomi selalu dikaitkan dengan persoalan efisiensi. dikatakan oleh Joko mengutip pendapat Benyamin Hoesein bahwa “Pola pengaturan hubungan antara Pusat dan Daerah yang semula bersifat sentralistik di masa Orde Baru yang diterjemahkan melalui Undang – Undang No 5 tahun 1974.

.id/webbkf/kajian%5CPAD. pendapat di atas sejalan dengan pendapat Roy Bahl yang mengatakan. op. (cetak tebal oleh Tim Peneliti). No.121 Artinya.. 29.. Renata R Simatupang. melainkan berlainan”.jadi. 2008.cit. karena otonomilah ujung tombak usaha mewujudkan kesejahteraan tersebut. Hubungan Antara…. hak rakyat untuk menentukan nasibnya tidak hanya ada pada pucuk pemerintahan negeri. melainkan juga pada tiap tempat.depkeu. di kota. 122 Ibid. hlm. Seperti dikatakan oleh Moh.salah satu makna dari desentralisasi fiskal dalam bentuk otonomi. di desa.cit. Jakarta.122 Hal ini sejalan dengan pendapat Bahcrul Elmi. op. tanpa tahun. karena keperluan tiap-tiao tempat dalam satu negeri tidak sama.34 hakikat dari otonomi yang merupakan wujud desentralisasi adalah kemandirian walaupun bukan suatu bentuk kebebasan sebuah satuan yang merdeka. Diunduh pada tanggal 20 Agustus 2009. mempunyai hak untuk menentukan nasib sendiri melainkan juga tiap-tiap bagian dari negeri atau bagian dari rakyat yang banyak. 119 Bagir Manan. Joko Tri Haryanto. 1.pdf. 442. makalah. penerimaan otonomi di bidang keuangan (sebagian sumber penerimaan) keseragaman pemerintahan lokal dirubah menjadi “local democracy model“ dengan penekanan pada nilai-nilai demokrasi dan keberagaman di dalam penyelenggaraan pemerintahan lokal”. 4. fiscal decentralization as ”the empowerment of people by fiscal empowerment of their local govenment” (pemberdayaan masyarakat melalui pemberdayaan fiskal dari pemerintah daerahnya). UK-USA. “Fiscal Decentralisation and Empowerment: Evolving Concepts and Alternative Measures” Journal Compilation Institute of Fiscal Studies Vol. bahwa ”as a working definition. 121 Roy Bahl dalam Jameson Boex. “ Potret PAD Dan Relevansinya Terhadap Kemandirian Daerah”. hlm. di daerah. Blackwell Publishing Ltd.. . hlm. bahwa: ”Menurut dasar kedaulatan rakyat.. 26. bukan saja persekutuan yang besar. hlm. Hatta. 33.120 Dalam konteks desentralisasi fiskal.fiskal. rakyat semuanya..go. bahwa : ”. Menyongsong Fajar….119 Otonomi juga berkaitan dengan gagasan demokrasi di mana masyarakat daerah berhak untuk berpartisipasi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerahnya. efisiensi dalam rangka peningkatan kesejahteraan rakyat dalam sistem desentralisasi. hanya memungkinkan jika terdapat kebebasan berotonomi. http://www. 120 Bagir Manan. Keadaan yang seperti itu penting sekali.

35

kepada daerah-daerah merupakan suatu proses mengintensifkan peranan dan sekaligus pemberdayaan daerah dalam pembangunan.123

Desentralisasi fiskal dapat menjadi salah satu ukuran keberhasilan otonomi. Pola dan ukuran dalam desentralisasi fiskal akan mencerminkan derajat otonomi yang dimiliki daerah. Hal ini sejalan dengan pendapat Bird (1986), bahwa: ”...a decentralization measure is the autonomy or power of decision making of regional government. In this context, a fiscal decentralization measure should be able to quantify the amount of independent decesion - making power (or discretion) in the provision of public services at different level of government”.124 Dari berbagai pendapat para ahli di atas mengenai desentralisasi, dapat disimpulkan beberapa hal. Pertama, pengertian desentralisasi yang agak sempit sebagaimana dikemukakan oleh Van Der Pot yang hanya mengklasifikasikan desentralisasi menjadi dua jenis yakni desentralisasi teritorial dan desentralisasi fungsional. Koesoemahatmadja juga termasuk dalam kategori yang membagi desentralisasi agak sempit karena

menurutnya desentralisasi terbagi atas dekonsentrasi dan desentralisasi ketatanegaraan. Kedua, pengertian desentralisasi yang lebih luas dari kategorisasi yang disampaikan oleh Van Der Pot dan Koesoemahatmadja. Dalam kategori kedua ini dijumpai pembagian desentralisasi yang

disampaikan oleh Amrah Muslimin dan Irawan Soejito. Selain desentralisasi teritorial dan fungsional, juga terdapat desentralisasi administratif atau dekonsentrasi. Amrah Muslimin selain membagi kedalam desentralisasi teritorial dan fungsional juga memasukkan desentralisasi kebudayaan. Berbeda dengan kedua ahli lainnya, Amrah Muslimin tidak memasukkan

123

Ibid.

Francisco Javier Arze del Granado, A Study of The Relationship Between Fiscal Decentralization and The Composition of Public Expenditures, Disertasi, Departement of Economic Andrew Young School of Policy Studies, Georgia State University, Atlanta, 2003, hlm.`12.

124

36

dekonsentrasi sebagai salah satu bentuk desentralisasi. Ketiga, pengertian desentralisasi yang lebih sempit dari yang dijelaskan oleh para ahli di atas yakni pengertian desentralisasi menurut UU No. 32 Tahun 2004. Pasal 1 angka 7 menyatakan bahwa desentralisasi adalah “penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Dengan demikian, terlepas dari perdebatan mengenai apakah suatu jenis desentralisasi termasuk pengertian desentralisasi atau bukan, berbagai penggolongan desentralisasi yang disebut-sebut oleh sejumlah ahli tersebut dapat muncul 1) desentralisasi teritorial, 2) desentralisasi fungsional, 3) desentralisasi kebudayaan, dan 4) desentralisasi fiskal. Pertama,

desentralisasi teritorial menjelma dalam bentuk badan yang didasarkan pada wilayah. Kedua, desentralisasi Fungsional125 adalah pemberian hak dan kewenangan pada golongan-golongan mengurus suatu macam atau golongan kepentingan dalam masyarakat, baik terikat maupun tidak pada suatu daerah tertentu,seperti mengurus kepentinganirigasi bagi golongan tani dalam suatu atau beberapa daerah tertentu (waterschap; Subak Bali). Ketiga, desentralisasi hak pada kebudayaan (culturele decentralisatie), dalam sendiri fiskal yaitu

memberikan (minoritas) pendidikan,

golongan-golongan

kecil

masyarakat (mengatur berwujud

menyelenggarakan agama, dll).

kebudayaannya

Keempat,

desentralisasi

perimbangan keuangan antara pusat dan daerah.

2. Sistem Rumah Tangga Daerah Sistem rumah tangga merupakan tatanan yang berkaitan dengan cara-cara membagi wewenang, tugas dan tanggung jawab mengatur dan mengurus urusan pemerintahan antara pusat dan daerah.126 Atas dasar tersebut, daerah akan mempunyai urusan pemerintahan yang didasarkan

125 126

Amrah Muslimin, Pokok-Pokok…, hlm. 119-120 Bagir Manan, Hubungan ..., op.cit., hlm 26.

37

atas penyerahan, pengakuan ataupun yang dibiarkan sebagai urusan rumah tangga daerah. Secara teori, terdapat tiga sistem rumah tangga daerah, yaitu sistem-sistem rumah tangga formal, material, dan nyata (riil).127 a. Sistem rumah tangga formal Berdasarkan sistem ini, urusan pemerintahan pusat dan daerah tidak dibagi secara rinci karena sistem ini berpangkal tolak dari asumsi bahwa secara prinsip tidak terdapat perbedaan antara urusan pusat dan daerah. Apabila terdapat pembagian wewenang, tugas dan tanggung jawab hanyalah didasarkan atas pertimbangan daya guna dan hasil guna.128 Secara teoritik, sistem ini memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada daerah untuk mengatur dan mengurus urusan rumah tangganya dan satu-satunya pembatasannya adalah daerah tidak dapat mengatur dan mengurus suatu urusan yang telah diatur dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, misalnya dengan undang-undang atau peraturan daerah yang lebih tinggi. Sepintas nampak bahwa otonomi formal akan memungkinkan pemerintah daerah bertindak lebih leluasa mengatur, mengurus, dan membela kepentingan daerahnya. Tetapi pelaksanaan otonomi formal menimbulkan kesulitan-kesulitan, antara lain : (1) Tidak adanya ketegasan mengenai urusan pemerintahan yang menjadi urusan rumah tangga daerah, menimbulkan keraguan atau

ketidakpastian untuk mengurus sesuatu urusan pemerintahan. Ada kekhawatiran bahwa urusan tersebut termasuk atau telah diatur dan diurus oleh satuan pemerintahan yang lebih tinggi. Begitu banyaknya peraturan perundang-undangan dari satuan pemerintahan yang lebih tinggi, dengan kemungkinan telah mengatur sesuatu hal yang bertahuntahun yang lang lalu, sehingga tidak diketahui atau dikenal secara pasti. (2) Suatu urusan pemerintahan yang telah diatur, diurus, dan dijalankan sebagai urusan rumah tangga daerah tertentu, kemungkinan kemudian

127 128

Ibid., hlm 26-33. Bagir Manan, ..., op.cit, hlm 26.

38

diatur dan diurus oleh satuan pemerintahan yang lebih tinggi. Keadaan seperti ini dapat menimbulkan kesulitan bagi daerah yang bersangkutan. Dengan perubahan itu daerah yang bersangkutran akan kehilangan berbagai keuntungan yang diperoleh dari urusan tersebut. Juga rakyat dapat merasakan dirugikan apabila dengan perubahan itu pelayanan terhadap rakyat menjadi kurang lancar atau terganggu. (3) Sesuatu urusan pemerintahan oleh daerah tertentu diatur dan diurus sebagai urusan rumah tangga, tetapi daerah lain tidak berani karena beranggapan bahwa hal itu termasuk urusan satuan pemerintahan yang lebih tinggi. Hal ini dapat menimbulkan kesulitan dalam melayani anggota masyarakat yang mempunyai kegiatan atau kepentingan lintas daerah. (4) Setiap urusan rumah tangga itu terutama yang membebankan kewajiban harus disertai dengan daya dukung tertentu terutama (sumber) keuangan. Sumber keuangan itu berada pada pemerintah pusat. Kalau suatu urusan oleh daerah diurus dan diatur, tidak selalu ada jaminan akan ada sumber keuangan untuk menjalankan urusan tersebut dengan sebaik-baiknya. Secara praktik, terdapat beberapa hambatan untuk mencapai daya guna dan hasil guna, antara lain hambatan kreativitas daerah, keuangan daerah serta teknis.129 Kreativitas daerah sangat menentukan karena daerahlah yang dapat menetapkan ukuran kewajaran untuk mengatur dan mengurus suatu urusan tertentu. Kecilnya kreativitas daerah akan

menyebabkan daerah hanya menunggu ‘arahan atau petunjuk’ dari satuan pemerintahan atasnya untuk mengatur dan mengurus urusan-urusan pemerintahan. Hambatan lain ditemukan dalam kaitan dengan keuangan daerah. Meskipun daerah memiliki peluang menyelenggarakan urusan seluas-luasnya namun tanpa dukungan keuangan yang memadai akan menyebabkan urusan-urusan tersebut tidak dapat terselenggara dengan baik. Akhirnya, keberhasilan sistem rumah tangga formal ditentukan sampai

129

Ibid., hlm 27.

130 Atau dengan kata lain. . 130 131 Ibid. hlm 28. Setiap daerah otonom terbentuk disertai dengan perincian urusan rumah tangganya. pemilahan urusan pemerintahan didasarkan pada perbedaan kepentingan. Penyerahan ini dapat terjadi dengan beberapa cara : (1) Urusan-urusan rumah tangga daerah telah diperinci dalam peraturan perundang-undangan tentang pokok-pokok pemerintahan daerah.39 sejauhmana daerah dapat mengatasi hambatan teknis yang menunjuk pada tidak mudahnya mengetahui urusan yang belum diselenggarakan oleh pusat atau pemerintahan daerah tingkat lebih atas. b. Ibid. sistem material ini bertolak dari asumsi bahwa terdapat perbedaan secara mendasar antara urusan pusat dan daerah dan dengan demikian urusan pemerintahan dapat dipilah-pilah dan dapat ditetapkan secara pasti. Daerah otonom secara otomatis berhak mengatur dan mengurus urusan-urusan tersebut..131 Di Belanda. Provinsi dan Gemeente. Di luar urusanurusan itu. urusan rumah tangga daerah itu ditentukan dengan pasti. Untuk memungkinkan pelaksanaan otonomi material harus ada prosedur penyerahan urusan kepada daerah. 132 Ibid. Sistem rumah tangga material Berbeda dengan sistem rumah tangga formal. melainkan dalam peraturan perundang-undangan tentang pembentukan masing-masing daerah otonom. sistem ini dikenal juga sebagai ajaran tiga lingkungan atau de driekriengenleer karena sesuai dengan susunan satuan organisasi pemerintahan Belanda yang terdiri dari Pemerintah Pusat. (2) Urusan-urusan rumah tangga daerah tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan tentang pokok-pokok pmerintahan daerah. daerah tidak berwenang mengurus dan mengaturnya.132 Dalam sistem otonomi material atau rumah tangga material.

40 (3) Urusan-urusan rumah tangga daerah ditentukan dalam peraturan perundang-undangan tentang pokok-pokok pemerintahan daerah. Selama suatu urusan belum diserahkan secara nyata. daerah berhak mengatur dan mengurus setiap urusan . Negara menurut konsep negara kesejahteraan memasuki hampir pada semua sektor kehidupan. tetapi penyerahannya kepada suatu daerah otonom tertentu diatur tersendiri. Setiap perubahan harus menempuh tatacara tertentu yaitu menyerahkan atau menarik urusan harus melalui peraturan perundang-undangan tertentu dan dilakukan dalam suatu peninjauan kembali secara nasional urusan rumah tangga daerah. tidak mudah menampung perubahan sifat suatu urusan dari lokal menjadi tidak lokal atau sebaliknya. maka urusan itu belum menjadi urusan rumah tangga yang bersangkutan. Urusan itu begitu luas sehingga tidak mudah untuk menentukan urusan-urusan diperuntukkan rumah tangga daerah dan yang tidak. Akan tetapi untuk menentukan ukuran lokal dan tidak lokal suatu urusan tidaklah mudah. Kepastian urusan-urusan rumah tangga dalam rumah tangga material lebih memudahkan pemerintah daerah dalam menjalankan tugas dan kewajibannya. Sukar sekali pada saat ini untuk menemukan urusan yang berada di luar kompetensi negara atau pemerintah. Ciri umum yang lazim dipergunakan adalah urusan-urusan rumah tangga daerah adalah urusan-urusan yang bersifat lokal yang membutuhkan penanganan yang mungkin berbeda antara daerah yang satu dengan yang lain. Lebih-lebih dalam zaman modern ini. Sistem otonomi material ini juga tidak lepas dari kesulitan-kesulitan antara lain : (1) Sangat tidak mudah menentukan dan merinci urusan-urusan yang akan dijadikan urusan rumah tangga daerah. antara lain. Berbeda dengan otonomi formal. (2) Sistem otonomi material bersifat rigid. Penanganan secara seragam urusan semacam itu tidak efisien dan tidak efektif bahkan mungkin menimbulkan ketidakadilan. Biasanya penyerahan urusan itu sekaligus disertai dengan sumber keuangan dan alat-alat kelengkapan yang diperlukan.

Karena perkembangan teknologi. misalnya pertahanan keamanan. . urusan karena pemerintahan perkembangan. Mengenai sistem rumah tangga material ini. (2) Sistem ini tidak memberikan peluang untuk secara cepat menyesuaikan dengan perubahan-perubahan yang semula yang adalah terjadi. dapat beralih menjadi urusan pusat. hlm 30. Dengan demikian dalam praktek terdapat kesulitan untuk menentukan secara rinci urusan masing-masing satuan pemerintahan. (3) Kemungkinan urusan-urusan rumah tangga dalam sistem otonomi material sedemikian sempit atau sedemikian luas yang menimbulkan kesulitan dalam pelaksanaannya.134 Memang urusanurusan tertentu. Urusan-urusan rumah tangga dalam sistem otonomi material bersifat seragam. Bagian urusan perrtanian dapat saja dilakukan oleh satuan pemrintahan yang berbeda. urusan-urusan lain banyak juga yang menampakkan sifat ganda. sampah tidak lagi diartikan secara tradisional.133 Hal ini dasarkan pada beberapa argumen yang meliputi: (1) Sistem ini berpangkal tolak dari asumsi yang keliru yaitu anggapan dasar bahwa urusan pemerintahan dapat dipilah-pilah. yang mungkin saja 133 134 Ibid.. hlm 29.41 kecuali hal yang sudah diatur dan diurus atau yang kemudian diatur dan diurusa oleh satuan pemerintahan yang lebih tinggi. luar negeri menampakkan sifat atau karakter sebagai urusan tertentu yang dilaksanakan oleh pusat. moneter. Ibid. sampah nuklir. dan lain-lain. dan kemampuan daerah yang mungkin berbeda-beda.. misalnya urusan pertanian. potensi. Namun. 135 Ibid. Akibatnya sampah-sampah semacam ini berdampak pada lingkungan hidup yang berskala lebih luas dimana penangannya membutuhkan teknologi serta keahlian yang lebih. urusan persampahan.135 urusan Suatu daerah. kurang memperhatikan karakteristik. melainkan meliputi sampah industri. Bagir Manan berpendapat bahwa sistem ini tidak dapat dijadikan patokan obyektif untuk menciptakan hubungan yang serasi antara pusat dan daerah. Misalnya.

141 Ibid. 139 Ibid. yakni:141 (1) Adanya urusan pangkal yang ditetapkan pada saat pembentukan daerah otonom yang memberikan kepastian kepada daerah berkenaan dengan urusan rumah tangganya.139 Fungsi sistem rumah tangga material pada sistem ini ditunjukkan pada adanya urusan pangkal sehingga sejak awal pendirian suatu daerah telah mempunyai kepastian urusan rumah tangga daerahnya. hlm 31. hlm 30.42 tidak dimiliki oleh daerah. sistem rumah tangga nyata memiliki beberapa ciri. 136 137 Ibid.. 140 Ibid.137 c. Ibid. (3) Sistem ini terasa lebih mengekang karena terikat pada urusan yang secara rinci ditetapkan sebagai urusan rumah tangga. (3) Otonomi dalam sistem rumah tangga nyata didasarkan pada faktorfaktor nyata suatu daerah. dapat terjadi perbedaan isi rumah tangga daerah sesuai dengan keadaan masing-masing.136 (4) Sistem ini akan lebih banyak menimbulkan spanning hubungan antara pusat dan daerah.138 Bagir Manan mengutip pendapat Tresna menyatakan bahwa sistem ini merupakan jalan tengah antara sistem formal dan material dengan pengutamaan pada sistem formal. . sepanjang urusan-urusan itu belum diatur dan diurus oleh pusat dan daerah tingkat lebih atas. Dalam hal demikian. Sistem rumah tangga nyata (riil) Disebut ‘nyata’ karena isi rumah tangga daerah didasarkan pada keadaan dan faktor-faktor yang nyata. daerh juga dapat mengatur dan mengurus urusan-urusan lain yang dianggap penting bagi daerah tersebut.. urusan sampah tersebut dapat saja beralih menjadi urusan pusat. 138 Ibid. Dengan demikian. hlm 32.140 Sebagai sistem tengah antara sistem formal dan material. (2) Selain memiliki urusan-urusan awal yang ditetapkan secara material.

tugas pembantuan dapat menjadi jembatan menuju otonomi. Penerbit Mandar Maju.43 Telah dikatakan sebelumnya bahwa sistem rumah tangga merupakan tatanan yang berkaitan dengan cara-cara membagi wewenang.145 Dengan demikian kemudian muncullah dimensi hubungan kelembagaan antara Pusat dan Daerah. Sebagai tatanan ketaanegaraan. hlm. tugas dan tanggung jawab mengatur dan mengurus urusan pemerintahan antara pusat dan daerah. Kelembagaan 142 143 Tim Penyusun. Proses penyelenggaraan pemerintahan dengan desentralisasi teritorial memunculkan bentuk otonomi dan tugas pembantuan. Ateng Syafrudin. Untuk melaksanakan tujuan tersebut maka kepada daerah diberikan kewenangan-kewenangan untuk melaksanakan berbagai urusan pemerintahan sebagai urusan rumah tangganya. 145 Bagir Manan. Titik Berat Otonomi Daerah Pada Daerah Tingkat II. Bandung..143 Sementara itu. op..cit. hlm.. untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna penyelenggaraan pemerintahan dalam rangka pelayanan terhadap masyarakat dan pelaksanaan pembangunan. 24 .. otonomi adalah tatanan ketatanegaraan (staatsrechtelijk).. 14.144 Otonomi bukan sekedar pemencaran penyelenggaraan pemerintahan untuk mencapai efisiensi dan efektivitas pemerintahan. Otonomi atau . 3. Tujuan dari otonomi adalah untuk memunculkan kemandirian daerah dan bukan kedaulatan. op. 9 144 Ibid.. hlm.cit. bukan hanya tatanan administrasi Negara (administratiefrechtelijk). 1990.142 Tujuan pemberian otonomi kepada daerah adalah untuk memungkinkan daerah yang bersangkutan mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. Dari penjelasan tersebut nampaklah bahwa ajaran ini memberikan landasan bagi kemunculan dimensi hubungan kewenangan antara Pusat dan Daerah. otonomi berkaitan dengan dasar-dasar bernegara dan susunan organisasi Negara. Menyongsong .

Dalam kajian sosiologi. lebih menghargai budaya lokal dan lebih humanistis. Makna Kelembagaan Istilah “kelembagaan” merupakan padanan kata “Institution” dalam bahasa Inggris.” Dari segi prosesnya organisasi dapat dirumuskan oleh Herleigh Tecker sebagai. 3. dan hubungan kelembagaan. Dengan diperoleh pengertian dan istilah yang tepat diharapkan dapat lebih mempertegas kajian mengenai hubungan kelembagaan antara pemerintah pusat dan daerah ini. namun secara umum istilah kelembagaan dipergunakan 146 dalam kedua istilah organisasi maupun kelembagaan itu sendiri.pdf 147 Ibid. The structure holds the concepts and furnishes instrumentalis for bringing it into the world of facts and action in a way to serve the interest of men in society”. hlm. Sebagaimana dikutip Syahyuti. notion.. 1 www.com/syahyuti/Rumusan_konsep_kelembagaan. kata kelembagaan lebih memberi kesan sosial. hlm. organisasi dapat dirumuska sebagai. a. “a process of combining the work which individual or group have to performs with the Syahyuti. or apparatus. Tinjauan Sosiologis Terhadap Konsep Kelembagaan dan Upaya Membangun Rumusan yang Lebih Operasional. or perhaps only a number of functionaries set to-operate in prescribed ways at a certain conjuncture. Sumner memasukkan aspek struktur ke dalam pengertian kelembagaan:147 “An institution consist s of a concept (idea. “… a system of actions” atau sebagai “sistem kerjasama sekelompok orang untuk mencapai tujuan bersama. menurut Hadari Nawawi. yang juga sering dipersamakan dengan istilah organisasi (organization). doctrine. The structure is a framework. sedangkan kata organisasi menunjuk kepada suatu social form yang bersifat formal.geocities. 146 . interest) and structure. sehingga saat ini orang lebih suka menggunakan istilah kelembagaan dalam kajian sosial daripada istilah organisasi.44 Sebelum membahas hubungan kelembagaan antara pemerintah pusat dan daerah terlebih dahulu akan dibahas mengenai apa yang dimaksud dengan kelembagaan. Ditinjau dari tujuannya.

“… the act or process of bringing together or arranging the related groups of agency into a working whole”. kewajiban. termasuk dalam organisasi pemerintahan daerah. dan hubungan-hubungan satu sama lain dalam rangka pencapaian tujuan tertentu. organisasi dapat dirumuskan sebagai susunan yang terdiri dari satuan-satuan organisasi beserta segenap pejabat. Pelimpahan wewenang berarti penyerahan sebagian hak yang seharusnya dilakuan oleh seorang pejabat atasan kepada pejabat bawahan. pelimpahan wewenang. hlm. 150 Ibid. systematic. tumpang tindih ataupun kecenderungan menghindari tanggung jawab dapat dielakkan. Atau dapat disebut juga sebagai. 289 151 Ibid . konflik kewenangan/kekuasaan. Raja Grafindo Persada. 148 Sementara itu ditinjau dari segi strukturnya. Pembagian kerja penting karena akan memperjelas batas-batas kewenangan. menurut Kamus Administrasi Negara (The Liang Gie). Asas –asas organisasi paling tidak mencakup enam asas. hak dan tanggung jawab setiap orang dalam suatu organisasi. rentang kontrol dan kesatuan komando. masingmasing: perumusan tujuan yang jelas.151 Asas lain yang harus diterapkan dalam setiap organisasi. adalah koordinasi. koordinasi. Dengan demikian kekacauan. Pembagian kerja harus diikuti oleh adanya pendelegasian wewenang. so that the duties so performed provide the best channels for the efficient. hlm. 232 149 Ibid. pembagian pekerjaan. Jakarta.45 faculties necessary for its execution. tugas. PT.150 Asas pembagian pekerjaan merupakan asas yang harus diterapkan dalam organisasi. positive.149 Dalam kajian ini penulis menggunakan istilah kelembagaan yang menunjuk kepada susunan kelembagaan yang ada dalam sistem pemerintahan daerah di Indonesia. 2001. 148 koordinasi ini secara prinsip merupakan usaha untuk Josef Riwu Kaho. sehingga tanggung jawab pelaksanaan bidang tugas dapat dilakukan sepenuhnya oleh seseorang. kekuasaan. Prospek Otonomi Daerah. and coordinated application of effort”. di Negara Republik Indonesia.

mencegah kesimpangsiuran dan duplikasi. Susunan organisasi pemerintahan daerah merupakan salah satu aspek yang dapat mempengaruhi hubungan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. karena dengan dibentuknya satuan pemerintahan di tingkat daerah tentunya disertai juga dengan penyerahan kewenangan dari pusat kepada daerah dalam bentuk urusan-urusan pemerintahan untuk dijalankan oleh pemerintah daerah.152 b. menurut Bagir Manan153. Susunan luar menunjuk kepada badan-badan pemerintahan (publieklichaam) tingkat daerah seperti daerah tingkat I dan daerah tingkat II. Hubungan . dapat memaksa pejabat untuk bertindak dan berfikir sesuai dengan sasaran dan tujuan organisasi. Urusan-urusan pemerintahan yang akan diserahkan kepada pemerintah daerah sebagai konsekuensi pelaksanaan 152 153 Ibid.cit. tugas dan pejabat dalam organisasi. surat edaran berantai. hlm. 290-291 Bagir Manan. Struktur organisasi pemerintahan daerah menyatakan bahwa struktur organisasi pemerintahan daerah mengandung dua segi. Hubungan Kelembagaan Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya bahwa kelembagaan dimaksud adalah susunan atau struktur organisasi pemerintahan.46 menyelaraskan aktivitas antara satuan-satuan organisasi. sedangkan susunan dalan menunjuk kepada alat kelengkapan (organ) pemerintahan daerah seperti DPRD dan Kepala Daerah.191 . hlm. pertemuan formal. serta dapat mengembangkan prakarsa improvisasi.. op.. Di samping itu koordinasi diperlukan guna mencegah terjadinya konflik. yaitu susunan luar (external structure) dan susunan dalam (internal structure).. Koordinasi ini dapat dilakukan misalnya melalui pertemuan-pertemuan informal antara para pejabat. Adanya koordinasi dimaksudkan untuk kesatuan tindakan dan guna meramalkan dan mencegah terjadinya krisis. buku pedoman dan sebagainya.

dan manajemen.cit.. hlm...155 Ateng Syafrudin menjelaskan yang dimaksud dengan “titik berat” otonomi mengandung arti jumlah atau besarnya tugas.. Ada faktor-faktor lain. 154 155 Ni’matul Huda. Satuan otonomi teritorial merupakan suatu satuan mandiri dalam lingkungan Negara kesatuan yang berhak melakukan tindakan hukum sebagai subjek hukum untuk mengatur dan mengurus fungsi pemerintahan (administrasi Negara) yang menjadi urusan rumah tangganya. Jadi hubungan pusat dan daerah atas dasar otonomi territorial memiliki kesamaan dengan hubungan pusat dan daerah atas dasar federal yaitu hubungan antara dua subjek hukum yang masing-masing berdiri sendiri.cit. hlm.158 Hubungan pusat dan daerah atas dasar otonomi teritorial merupakan konsep dalam Negara kesatuan. Hubungan . 158 Bagir Manan..cit.47 desentralisasi. hak dan wewenang serta tnggung jawab urusan-urusan pemerintahan yang diserahkan oleh pemerintah pusat kepada pemerintah daerah otonomi untuk menjadi isi rumah tangga daerah.cit. titik berat pelaksanaannya akan diletakan pada daerah yang mana?154 Susunan organisasi pemerintahan di daerah akan berpengaruh terhadap hubungan antara pusat dan daerah.156 Titik berat otonomi daerah ini perlu diletakan pada satuan pemerintahan yang lebih dekat kepada dan berhubungan langsung dengan masyarakat. op. op. 24 Bagir Manan. 194-195 156 Ateng Syafrudin. Titik Berat . op. hlm. kewajiban..157 Tetapi dekatnya jarak antara satuan pelayanan bukanlah satu-satunya ukuran untuk menentukan penekanan atau pengutamaan fungsi pada tingkat daerah tertentu. seperti kemampuan keuangan. sehingga diharapkan dapat lebih mengerti dan memenuhi aspirasi-aspirasi masyarakat setempat... Hubungan …. op. 52 157 Ibid. Hal ini dapat dilihat dari peran dan fungsi masing-masing susunan atau tingkatan dalam penyelenggaraan otonomi.. hlm. Hukum Pemerintahan . 197 . Artinya peran dan fungsi tersebut dapat ditentukan oleh pelaksanaan titik berat otonomi sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu : (a) faktor sistem rumah tangga daerah. dan (c) faktor sifat dan kualitas urusan.... (b) faktor ruang lingkup urusan pemerintahan.

The World Bank. hlm. hlm. 35-36 Irawan Soejito. dan (3) design of intergovernmental transfer system (desain sistem transfer antar susunan pemerintahan). yaitu pendapatan yang diperoleh oleh daerah sendiri (pendapatan asli. 1994.pen) dan transfer dana dari pemerintahan tingkat yang lain (pinjaman daerah juga 159 160 Bagir manan. biasanya diperoleh dengan dua cara. 1984. hubungan antara kedua badan hukum publik itu tidaklah seperti hubungan hierarkis yang ada. Washington DC... World Bank Policy and Research Series No. akan disediakan oleh susunan pemerintahan lainnya.. op.23. Journal of Public Budgeting. . hlm. sebagimana dikutip dalam Larry Schroeder.48 Perbedaannya.161 Penetapan tanggung jawab penyelenggaraan pelayanan dibutuhkan agar tidak terjadi hasil yang tidak efektif ketika ada satu susunan pemerintahan atau lebih menyediakan pelayanan yang sama atau ketika satu susunan pemerintahan gagal menyediakan pelayanan dengan harapan. (2) assignment of local government revenue raising authority (penetapan kewenangan pemerintah daerah untuk meningkatkan pendapatan). “Fiscal Decentralization in South East Asia”.. 388. 15 No. 162 Ibid. Hubungan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. 3. misalnya antara Menteri Dalam Negeri dengan Gubernur.159 Oleh karena Negara (Pemerintah Pusat) dan daerah itu masing-masing merupakan badan hukum publik. kewenangan untuk meningkatkan pendapatan daerah untuk membiayai belanja daerah. Ruang Lingkup dan Prinsip-Prinsip Desentralisasi Fiskal Anwar Shah mengatakan bahwa kebijakan desentralisasi fiskal mencakup (1) the assignment of services responsibilities (penetapan tanggung jawab penyelenggaraan pelayanan).160 4. “The Reform of Intergovenmental Fiscal Relation in Developing and Emerging Market Economy”.cit. 2003. pada dasarnya seluruh fungsi kenegaraan dan pemerintahan ada dalam lingkungan pemerintahan pusat yang kemudian dipencarkan kepada satuan-satuan otonomi. Menyongsong. Penerbit Bina Aksara. Vol. Accounting & Financial Management. dalam otonomi territorial.162 Sementara itu. PrAcademic Press. 178 161 Anwar Shah.

164 Bahkan dengan kewenangan atas jenis-jenis pajak terbatas. USA. June 2004. hlm. Shah menegaskan komponen desentralisasi fiskal yang menjadi ukuran keberhasilan desentralisasi fiskal. 165 Ibid.165 Dalam hal ini. hlm. “Implementing Decentralized Local Governance: A Treacherous Road with Potholes. World Bank. 164 163 . daerah hanya memiliki otonomi dalam menentukan tarif pajak dan batas yang telah ditentukan (to rate setting within the limit). misalnya melalui pajak daerah atau retribusi. harus menjadi bagian dari desain transfer dana antara tingkatan pemerintahan. “Fiscal Decentralization in Developing and Transition Economies: Progress. Washington. 168 Era Dabla-Norris. The World Bank. 389.163 Masalah yang umumnya dihadapi adalah kewenangan daerah yang sangat terbatas untuk dapat meningkatkan pendapatan asli (own revenue). Anwar Shah. Detours and Road Closures”. 166 Larry Schroeder. yaitu (a) revenue autonomy and adequacy (otonomi dan kecukupan pendapatan). Problems..cit. 107. Vol. Comparative Economic Studies. op. DC USA. hlm.49 merupakan sumber pendapatan daerah lainnya yang harus dibayar kemudian dengan pendapatan asli atau transfer dana).48. Theresa Thompson. adanya intergovernental fiscal transfer menjadi mekanisme yang diharapkan dapat menciptakan horizontal equity (kesamaan horizontal) antara susunan pemerintahan daerah. 2006. “ The Challenge of Fiscal Decentralisation in Transition Countries”. yang mencakup revenue autonomy. Desentralisasi fiskal bagaimana pun kebijakannya harus dikaitkan dengan upaya membangun kemandirian daerah untuk membiayai urusan pemerintahannya baik dalam hal pendapatan daerah (termasuk alternatif lainnya) maupun kewenangan untuk membelanjakan pendapatan tersebut. April 2004. World Bank Policy Research Working Paper 3353. 8. transfer dan Ibid. (b) expenditure autonomy (otonomi dalam pengeluaran/ belanja) dan. 167 Anwar Shah.. hlm. 18 – 19. 18. (c) borrowing privileges (keleluasaan untuk melakukan pinjaman). expenditure autonomy.166 Hal tersebut (bersama keterbatasan pendapatan asli daerah). Dalam hal ini. and the Promise” World Bank Policy Research Working Paper 3282.167 Hal yang hampir sama juga diungkapkan oleh Era Dabla-Norris mengenai the measure of autonomy168 (ukuran otonomi) dalam desentralisasi fiskal. hlm. Washington DC.

172 Ibid. hlm.. Roy Bahl (eds). Jaime Bonet. Dalam hal ini. More complete revenue autonomy requires a minimum of authority to set tax rates and an assignment of at least one significant tax source.169 Dalam pendapat Shah. karena hal tersebut merupakan kunci keberhasilan dari desentralisasi fiskal. Singapore. “Fiscal decentralization and regional income disparities: evidence from the Colombian experience”. 172 Ibid. 107. 2009. sementara Norris menekankan transfer dana tersebut merupakan komponen tersendiri. 171 Norris.. Loc. Prinsip otonomi dalam pendapatan artinya sejauh mana daerah memiliki sumber-sumber pendapatan yang merupakan pendapatan asli daerah. Bagir Manan. Pte.171 Sementara itu. prinsip otonomi pengeluaran berkaitan dengan alokasi penerimaan daerah dalam anggaran belanja daerah. 170 169 . otonomi pendapatan secara dominan diukur dari kewenangan daerah memungut pajak. termasuk menentukan prioritasprioritas belanja daerah atas pendapatan daerah yang dimiliki. 117 – 123.cit. 3. Seperti dikatakan oleh Norris bahwa: ”this requires subnational budget flexibility to decide – within limits – expenditure priorities and the choice of both the output mix and techniques of production”.op. karena revenue autonomy ditekankan pada pada pendapatan asli daerah.. hlm. 663. ukuran suatu daerah memiliki otonomi dalam pendapatan adalah seberapa besar kewenangan untuk memungut pajak daerah atau pungutan lain. World Scientific Publishing Co. Decentralization: Policies in Asian Development. Ukuran-ukuran tersebut merupakan prinsip desentralisasi fiskal.cit. Ltd.cit. Bahl dalam Shinichi Ichimura. transfer (intergovernmental fiscal transfer).170 Artinya. Hubungan Antara…. 204. prinsip otonomi dalam pengeluaran artinya daerah memiliki keleluasaan untuk membelanjakan. Dalam literatur.. Norris. hlm. Lihat. this requires that subnational governments have the authority to own-finance locally provided services at the margin.50 subnational borrowing. termasuk dalam menentukan tarifnya.. juga termasuk dalam komponen otonomi dan kecukupan pendapatan.. Springer-Verlag Published online: 12 April 2006. Seperti dikatakan oleh Norris bahwa: On the revenue side. loc. hlm.. hlm.

11.. karena bergantung pada pusat. dimensi vertical fiscal balance (keseimbangan fiskal secara veritikal/ pusat-daerah). bukan hanya untuk kepentingan daerah. 80.. Decentralization: Policies in Asian Development. World Scientific Publishing Co. urusan keuangan di mana pun senantiasa dikategorikan sebagian urusan pusat. Singapore. . 175 Alan Norton.51 Prinsip transfer dana antar tingkatan pemerintahan (khususnya dari pusat ke daerah). Edward Elgar Limited – Edaward Elgar Publishing Company. “Promise and Reality of Fiscal Decentralization”.. hlm.op. dimensi horrizontal fiscal balance (keseimbangan fiskal horizontal/antar daerah). hlm. hlm. hlm.178 Daerah hanya boleh mengatur dan mengurus sepanjang ada penyerahan dari pusat yang diatur keuangan antar untuk menyelesaikan masalah daerah. 174 Ibid. Roy Bahl (eds). 2009. 177 Bagir Manan. 1993. Bagir Manan mengatakan bahwa sesuai dengan pembawaannya (karakteristiknya). 205. Pte.177 Terkait dengan hal di atas. di mana transfer tersebut dimaksudkan ketidakseimbangan daerah.cit. International Hand Book of Local and Regional Government A Comparatve Analysis of Advanced Democracies. 178 Ibid. Kedua-duanya harus diperhitungankan dalam desain kebijakan transfer dana dari pusat ke 173 Roy Bahl. juga disebabkan logika bahwa mahalnya pelayanan (publik) yang disediakan oleh pemerintahan daerah adalah untuk memenuhi tujuan (otonomi – pen) yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat. pemerintahan daerah tidak akan dapat mengharapkan (pendapatan) dari sumber dayanya sendiri.173 Pertama. 10.176 Sumbersumber pendapatan sendiri (asli) sangat terbatas. Ltd.174 Pemberian sejumlah dana pusat kepada daerah melalui mekanisme transfer dana.175 Sebagai agen. tercermin dalam dalam dua dimensi. 176 Ibid. di mana transfer tersebut untuk mengurangi ketidakseimbangan keuangan antara pusat dan daerah (vertical fiscal imbalance). England. Kedua. dalam Shinichi Ichimura. Hubungan Antara….. mau tidak mau (namun sering kali mau) untuk memenuhi kepentingan nasional. USA. namun juga kepentingan nasional yang lebih baik.

hlm. terutama dengan melakukan pinjaman. seperti hasil pengelolaan perusahaan daerah.180 Artinya. sumber penerimaan/ pendapatan daerah (revenue sources of local governments) secara umum terdiri dari pendapatan asli daerah (local own revenue). Roy Bahl. Roy Bahl (eds). hlm. 5. op. tanpa bantuan pemerintah pusat. pemerintahan daerah harus mendapatkan sumber penerimaan lainnya untuk menutupi kekurangan anggaran (defisit). hlm.cit. World Scientific Publishing Co. 181 Motohiro Sato.52 dalam peraturan perundang-undangan. Prinsip keleluasaan untuk melakukan pinjaman berkaitan dengan hard budget constraint (pembatasan anggaran secara ketat) di mana pemerintahan daerah harus menyeimbangkan anggarannya tanpa bantuan dari pusat pada akhir tahun anggaran. Ltd. padahal pendapatan asli daerah juga dapat berasal dari sumber lain. Singapore.182 Ibid. Pendapatan Asli Daerah Seperti telah dikemukakan sebelumnya bahwa pendapatan asli daerah selalu dihubungkan dengan kewenangan daerah untuk memungut pajak (daerah) atau pungutan lainnya seperti retribusi. dalam dalam Shinichi Ichimura. transfer dana dari pemerintah pusat ke daerah (intergovernmental fiscal transfers) dan pinjaman daerah (local borrowing). Hubungan Antara…. 2009. “Summary Report of Seminar B: Local Public Finance.. namun dengan hasil yang relatif kecil. 396. Roy Bahl (eds)..179 Adanya transfer dana atau bantuan dari pusat. dalam Shinichi Ichimura..181 a. Pte.cit. 180 179 . Asian Development Conference 2003: Development and Decentralization in Asia”. 182 Lihat Bagir Manan. 15. Sumber-Sumber Penerimaan/ Pendapatan Daerah Secara umum. jika pendapatan daerah (termasuk transfer/bantuan keuangan dari pusat) yang dialokasikan untuk pengeluaran/ belanja daerah tidak mencakupi. Decentralization: Policies in Asian Development. 208. Prinsip-prinsip tersebut akan terlihat dalam pengaturan sumbersumber penerimaan pemerintahan daerah untuk memenuhi belanja daerah. bermaksud untuk menutupi kemampuan keuangan daerah untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan. op.

hlm.. misalnya pajak property (tanah dan bangunan) lebih baik menjadi kewenangan daerah untuk meningkatkan nilai jual objek tersebut di pasaran.. 187 Ibid. sementara di negara-negaa maju mencapai 20%. pajak-pajak yang karena pertimbangan keseragaman secara nasonal dilakukan dengan sistem redistribusi progresif 185 (pajak progresif). pemerintah pusat lebih sedikit menyerahkan kewenangan untuk memungut pajak kepada daerah. “Promise and…. 191 Bahl mengatakan bahwa kontribusi pajak lokal terhadap total pendapatan sektor pajak secara nasional di negara-negara berkembang dan negara-negara dalam transisi hanya mencapai 10%. 188 Ibid. Pemerintahan daerah di negara-negara maju lebih banyak memberikan kewenangan kepada daerah untuk memungut pajak..191 183 184 Anwar Shah. “Fiscal Decentralization….186 Hal ini untuk meminimalisasi biaya administrasi pemungutan.184 Kedua. Ketiga.190 Hal tersebut menyebabkan perbedaan pendapatan daerah dari sektor pajak daerah..187 Keempat. Dalam hal ini.loc. hlm. Ibid. terkait dengan pembagian kewenangan di sektor pajak antara pemerintah pusat dengan pemerintahan daerah. pajak dengan objek bergerak dan barang-barang dagang yang memiliki tingkat efisiensi yang tinggi terhadap pasar domestik harus menjadi kewenangan pemerintah pusat.cit. Ibid. 186 Ibid.. Anwar Shah mengintroduksi 4 prinsip yang harus diperhatikan dalam pembagian kewenangan pemungutan pajak di semua tingkatan pemerintahan. 185 Ibid. pajak harus dipungut pada wilayah yang yang dapat dilakukan pemantauan dan penilaian yang relevan. hlm.189 Sementara itu.10.cit.183 Pertama. hlm. untuk memastikan adanya akuntabilitas. op. pengaturan pajak daerah dan pungutan daerah lainnya sangat beragam. . di negara – negara berkembang dan negara-negara dalam fase transisi. harus menjadi kewenangan pemerintah pusat.”. 9. 189 Roy Bahl.17.53 Persoalan kewenangan pemungutan pajak.17-18. 190 Ibid.188 Dalam praktek. penerimaan dari pajak harus disesuaikan dengan kebutuhan pengeluaran belanja (daerah).

Cesifo Working Paper No. “Fiscal Decentralization…. baik di negara-negara maju maupun negaranegara berkembang. pola transfer dana dari pusat ke daerah juga dialami di negara-negara maju. sementara pemerintahan daerah hanya memiliki sedikit kewenangan terhadap pajakpajak yang secara langsung bersumber pada potensi lokal. Transfer Dana dari Pusat ke Daerah (Intergovernmental Fiscal Transfers) Adanya kecenderungan ketergantungan daerah pada transfer dana dari pemerintah pusat di negara-negara berkembang menimbulkan pertanyaan apakah pemerintahan daerah masih memiliki otonomi dalam kebijakan desentralisasi fiskal? Namun demikian.com/abstract=1029581.663. misalnya.. Ibid.194 Hal tersebut menyebabkan pemerintahan daerah sangat bergantung pada transfer dana dari pusat.193 Dalam hal ini. Seperti dikatakan oleh Anwar Shah. “Partial Fiscal Decentralization”.. hlm.54 Di Asia. 196 Jaime Bonet. 1 195 Ibid. loc. hlm. sistem transfer atau bantuan keuangan antar tingkatan Dalam hal ini Bahl member pengecualian terhadap Filipina di mana konstribusi sektor pajak daerahnya mencapai 1/3 dari total pendapatan sektor pajak secara nasional. 194 K.cit.ssrn. Bahl mengatakan bahwa rendahnya pendapatan daerah dari pajak daerah disebabkan pemerintah pusat tidak rela melepaskan kewenangan terhadap pajak-pajak yang produktif. 2137. 18. 193 Anwar Shah. “Fiscal decentralization and regional income disparities: evidence from the Colombian experience”. pengalaman negara-negara maju menunjukkan bahwa keberhasilan desentralisasi fiskal tidak bisa tercapai tanpa adanya sebuah program transfer dana yang didesain dengan baik (well – designed fiscal transfer program). Springer-Verlag Published online: 12 April 2006.196 Artinya. hlm. Diunduh dari http://www. pemerintah pusat memiliki kewenangan pada jenis-jenis pajak tidak langsung. November 2007. walaupun kewenangan untuk menggunakan pendapatan dana diberikan kepada daerah. Brueckner. menyebabkan daerah tidak dapat membiayai pengeluaran dengan pendapatan sendiri.195 b. Category 1: Public Finance. namun tanpa kewenangan daerah cukup dalam memungut pajak.192 Di negaranegara berkembang dan negara dalam masa transisi. 192 .

55

pemerintahan (khususnya dari pusat ke daerah), menjadi salah mekanisme yang mendukung keberhasilan desentralisasi. Dari paparan di atas, tercermin bahwa transfer dana/ bantuan

keuangan dari pusat ke daerah akan selalu ada. Menurut Bagir Manan, usaha-usaha untuk menghapuskan bantuan keuangan bukan cara terbaik untuk memecahkan masalah keuangan daerah.197 Bagir Manan sendiri lebih menyetujui agar pemecahan masalah keuangan daerah hendaknya ditujukan pada upaya agar bantuan –bantuan pusat tidak akan begitu banyak mengurangi kemandirian daerah untuk mengatur dan mengurus urusan rumah tangga daerahnya sendiri.198 Adanya bantuan dana (subsidi) dari pusat ke daerah merupakan bagian dari mekanisme perimbangan keuangan antara pusat daerah yang merupakan inti dari hubungan keuangan pusat – daerah.199 Seperti dikatakan oleh Bagir Manan, bahwa: ”perimbangan keuangan tidak sekedar diartikan memperbesar sumber lumbung keuangan daerah, namun tidak kalah penting mengatur sistem keuangan daerah seperti subsidi yang tetap menjamin kemandirian, keleluasaan dan kekuasaan daerah mengatur dan mengurus rumah tangganya.”200

Dilihat dari derajat otonomi peruntukan dan pemanfaatannya, Bagir Manan yang mengatakan bahwa bantuan keuangan dari pusat ke daerah, dapat digolongkan ke dalam tiga kategori utama, yaitu bantuan bebas, bantuan:201 1. Bantuan bebas Bantuan yang hanya ditentukan jumlahnya. Peruntukan dan tata cara penggunaannya diserahkan sepenuhnya kepada masing-masing daerah.

197 198

Bagir Manan, Hubungn Antara…, op.cit., hlm. 210. Ibid. 199 Ibid. 200 Ibid., hlm. 42. 201 Ibid.

56

Daerah mempunyai kebebasan untuk menentukan sendiri peruntukan dan tata cara penggunaannya. 2. Bantuan dengan pembatasan tertentu. Bantuan yang ditentukan peruntukannya secara umum.

Peruntukannya secara khusus dan cara-cara pemanfaatannya diserahkan sepenuhnya kepada daerah. Bantuan jenis kedua ini lebih mengikat atau lebih membatasi kemandirian daerah dibandingkan dengan yang pertama. 3. Bantuan terikat Bantuan yang ditentukan secara rinci peruntukan dan tata cara pemanfaatannya. Daerah tidak ada kesempatan untuk menentukan sendiri peruntukan maupun tata cara pemanfaatannya. Bantuan ini sangat mengikat daerah. Sementara itu, Roy Bahl mengatakan, jenis transfer dana yang diberikan, terdiri dari transfer dana yang sifatnya unconditional (tidak bersyarat), conditional (bersyarat), dan Ad-hoc (tidak tetap).202 Pendapat Bahl tersebut hampir sama dengan pendapat Bagir Manan. Perbedaannya, Bagir Manan tidak memasukkan jenis transfer dana (bantuan keuangan) yang sifatnya Ad-hoc, sementara Bahl tidak membagi varian lain dari conditional transfer, sebagaimana dilakukan oleh Bagir Manan yang membaginya menjadi dua kategori, yaitu bantuan dengan pembatasan tertentu dan bantuan terikat. Namun demikian, kedua pendapat tersebut saling melengkapi. Dengan demikian, terdapat 4 jenis tranfer dana (bantuan keuangan) dari pusat ke daerah, yaitu bantuan bebas (unconditional grants), bantuan dengan pembatasan tertentu, bantuan terikat, dan bantuan yang sifatnya Ad-Hoc. Manurut Bahl, unconditional grants (bantuan bebas) dianggap “more consistent with local autonomy goals of decentralization” (lebih konsisten dengan tujuan otonomi daerah dalam kerangka desentralisasi).203 Jika bantuan tersebut berdasarkan pembagian pajak pusat, maka pemerintah pusat memberikan akses kepada pemerintahan daerah dengan dasar

202 203

Roy Bahl, op.cit., hlm. 11 Ibid.

57

perhitungan pajak yang elastis (elastic tax base) yang relative memberikan kepastian jumlah yang akan diterima.204 Sementara itu, conditional grant adalah bantuan yang membolehkan pemerintah pusat untuk mengawasi penggunaan dana tersebut dengan asumi agar daerah menjalankan fungsi yang memiliki eksternalitas positif dan/ atau distribusi keuntungan.205 Distribusi conditional grant, menurut Bahl dilakukan dengan beberapa cara, namun yang paling umum digunakan adalah sistem pembayaran yang didasarkan pada beberapa standar pengeluaran.206 Biasanya pola

conditional grant berhasil mencapai target yang diinginkan. Namun persoalannya, conditional grant diterapkan dengan pola yang seragam di seluruh daerah dan tidak memberikan pertimbangan yang cukup terhadap kondisi daerah.207 Hal tersebut menyebabkan pola pengeluaran (keuangan) pemerintahan daerah menyimpang dari kecenderungan lokal.208 Sementara itu, transfer dana/ bantuan keuangan yang sifatnya AdHoc didasarkan pada pertimbangan politis. Hal tersebut menyebabkan pola bantuan tersebut tidak transparan dan jauh dari ukuran-ukuran objektif. Bahkan Cina dan Thailand, yang mengalokasikan sebagian bantuan dalam bentuk ad-hoc, menghadapi persoalan ketidakpastian anggaran di tingkat daerah.209

c. Pinjaman Daerah Seperti telah dikemukakan sebelumnya, bahwa pinjaman daerah sangat berkatan dengan penerapan hard budget constraint (pembatasan anggaran secara ketat) di mana tidak ada bantuan dari pusat pada saat

204 205

Ibid. Ibid., hlm. 14. 206 Ibid 207 Ibid. 208 Ibid. 209 Ibid.

58

terjadi akhir tahun anggaran. Menurut Davey (1983) ada beberapa alasan pemerintah daerah melakukan pinjaman dana seperti:210 a. untuk menutup defisit keuangan jangka pendek; b. untuk membiayai kekurangan belanja rutin dan penghasilan retribusi dalam anggaran tahunan (annual budget); c. membiayai pembelian perlengkapan dan mesin-mesin; d. membiayai investasi yang akan menghasilkan pendapatan; e. membiayai pembentukan modal jangka panjang (long term capital development).

Menurut J. Glasson, tujuan utama pemanfaatan dana pinjaman daerah adalah untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dan melakukan pembangunan yang menerus (sustainable development).211 Hal tersebut sangat wajar karena dengan penerapan hard budget constraint terbatasnya kemampuan keuangan daerah, maka terselenggaranya progam-program daerah tidak hanya bergantung pada pendapatan daerah dan bantuan dari pusat, namun sangat bergantung pada pinjaman daerah. Oleh karena itu, seperti dikemukakan sebelumnya, bahwa keleluasaan bagi daerah untuk melakukan pinjaman merupakan salah prinsip dari desentralisasi fiskal. Pengaturan mengenai pinjaman daerah di setiap menunjukkan pola yang berbeda-beda. Menurut Shah, di negara-negara berkembang di mana pasar (keuangan) belum terbangun dengan baik untuk kredit jangka panjang dan kemampuan daerah untuk membayar pinjaman, menyebabkan akses daerah untuk melakukan pinjaman sangat terbatas.212 Hal tersebut menyebabkan pengaturan pinjaman daerah lebih menekankan pada pengawasan pemerintah pusat, sementara bantuan pusat untuk mendorong daerah melakukan pinjaman sangat jarang menjadi perhatian. Biasanya yang menjadi ukuran pola pengawasan pusat dalam hal pinjaman daerah adalah
210

Lihat Bachrul Elmi dan Syahrir Ika, “Hutang Sebagai Salah Satu Sumber Pembiayaan Pembangunan Daerah Otonom”, Jurnal Kajian Ekonomi Dan Keuangan, Vol. 6 No. 1, Maret, 2002, hlm. 64. 211 Ibid., hlm. 62. 212 Anwar Shah, “Fiscal Decentralization…., op.cit., hlm. 29

James A. dan sesudah suatu kegiatan dilaksanakan. hlm. Stoner dan Charles Wankel dalam Management (1986) menyebut ketiga macam kontrol itu Pre-action cotrol.cit. F. Jakarta 2003. steering control dan post-action control. bukan hubungan internal dari entitas yang sama.. Sebaliknya pengawasan (toezicht) merupakan kendali terhadap desentralisasi berlebihan. supervision) adalah suatu bentuk hubungan dengan legal entity yang mandiri. perlu diketahui. op. Kebebasan dan kemandirian berotonomi dapat dipandang sebagai pengawasan atau kendali terhadap kecenderungan sentralisasi yang berlebihan. 197. Tidak ada otonomi tanpa sistem pengawasan. Hakikat Pengawasan Pemerintah Pusat terhadap Daerah a.59 apakah daerah berwenang melakukan pinjaman? Jika dibolehkan. Rineka Cipta. sepanjang. 214 Bagir Manan. Menyongsong . Antara kebebasan dan kemandirian berotonomi di satu pihak dan pengawasan di pihak lain. Gobson.. Pengawasan atau kontrol dapat dilakukan sebelum. Kybernology (Ilmu Pemerintahan Baru). supervision) merupakan unsur yang tidak dapat dipisahkan dari kebebasan berotonomi.214 Namun demikian. dan John M. James L. apakah daerah dapat melakukan pinjaman ke luar negeri? 6. Donnelly. merupakan dua sisi dari satu mata uang dalam negara kesatuan dengan sistem otonomi (desentralisasi). pengertian pengawasan (toezicht. “supervision” (Inggris).153. hlm. dan “control” (Belanda dan Inggris).. Jilid I. . Ivancevich dalam Fundamentals of Management (1981) menyebut hal itu Preliminary control. James H. Pengertian dan Tujuan Pengawasan Istilah “pengawasan” sering dipadankan (equivalent) dengan istilah “toezicht” (Belanda).213 Pengawasan (toezicht. Bentuk dan isi pengawasan dilakukan semata-mata menurut atau berdasarkan ketentuan 213 Taliziduhu Ndraha. concurrent control dan feedback control.

Berdasarkan uraian tersebut di atas. pengawasan dalam arti toezicht atau supervision.60 undang-undang..cit. 197. mengalami perkembangan seperti adanya “petunjuk”. mengurus atau mengatur. 2) Pengawasan menunjukkan adanya pengarahan atau pengendalian (aturan) terhadap tindakan pemerintahan yang lebih rendah tingkatannya dari pemerintahan yang lebih atas tingkatannya. apalagi ikut mengurus atau ikut mengatur. “pedoman”.. Kybernology . 215 Taliziduhu Ndraha. dalam kaitan dengan Undang-Undang tentang pemerintahan daerah khususnya desentralisasi istilah pengawasan lebih tepat dipadankan dengan “toezicht” atau “supervision” dan tidak dengan “control”.215 Dengan demikian. maka pengertian umum dari beberapa aspek pengawasan kiranya dapat dirumuskan sebagai berikut : 1) Pengawasan sebagai sarana (instrumen) pemeritahan yang lebih atas tingkatannya untuk memaksakan kehendaknya pada pemerintahan yang lebih rendah tingkatannya. Pengawasan pada desentralisasi dibatasi untuk “menguji” apakah suatu keputusan suatu satuan pemerintahan otonom (yang lebih rendah) bertentangan atau tidak bertentangan dengan peraturan perundangundangan yang lebih tinggi atau kepentingan umum. juga mengandung arti pengendalian.. secara asasi tidak mengandung makna ikut mengarahkan. “bimbingan”.. mengarahkan. Pengawasan (toezicht) pada desentralisasi. . akan besar pengaruhnya pada sifat “kemandirian” (zelf standigheid) daerah otonom. op. Memang perlu disadari bahwa dalam perkembangan. Pengawasan dalam kualitas tertentu menjadi semacam “mencampuri” wewenang daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. Istilah control selain mengandung arti pengawasan. Apabila hal semacam ini jika dibiarkan berjalan tanpa batas. Pengawasan tidak berlaku atau tidak diterapkan terhadap hal yang tidak ditentukan atau berdasarkan undang-undang. hlm. “penentuan syarat-syarat yang harus diikuti”. Perkembangan ini menyebabkan pengawasan tidak lagi sekedar “checking” atau dalam rangka “menjaga keseimbangan”.

The general welfare of public that warrants recognation and protection. dibutuhkan orang banyak. Black Law Dictionary. hlm. mendefinisikan Public Interest. b. pengawasan menurut 216 217 Bryan A.. Menyongsong Fajar…. Penggolongan Pengawasan Pengawasan dapat dibedakan ke dalam berbagai macam. Bagir Manan. bebas dari pengertian di atas adalah bahwa kepentingan umum merupakan kepentingan bagi kesejahteraan umum yang menjamin perlindungan dan merupakan sesuatu di mana publik secara keseluruhan mempunyai suatu pancang/landasan terutama suatu yang membenarkan peraturan yang dibentuk oleh pemerintah). Garner. b. . misalnya pengawasan menurut sifat/bentuk dan tujuannya. tanpa ada pembatasan karena kondisi invidual seseorang. hlm.(Terj. Adapun menurut Bagir Manan. Ketiga. setiap orang dapat menikmati dan memperoleh manfaat. Mengenai kepentingan umum. terdapat beberapa ukuran yang dapat dipergunakan untuk menentukan kepentingan umum. yakni: Pertama.Op.1244. Pengawasan hanya terbatas pada segi oleh satuan pemerintahan yang diawasi.. yaitu: a.61 3) Pengawasan berbeda dengan sarana pengendalian lainnya. pemerintahan yang dilakukan 4) Pengawasan menunjukkan bahwa pelaksanaan tugas dan wewenang satuan pemerintahan yang diawasi tidak boleh bertentangan dengan hukum dan kepentingan umum. harus dalam rangka kesejahteraan umum.141. 1999. Black Law Dictionary.Cit. Something in which the public as a whole has a stake espesially an interest that justifies governmental regulation216. Kedua. baik dalam arti materiil maupun spiritual217.

154 .62 ruang lingkupnya dan pengawasan menurut metodenya. Relevan dengan pembentukan produk hukum di daerah dan tindakan tertentu organ pemerintahan daerah. Pengawasan preventif ini memiliki tujuan yang menurut Revrisond Baswir diidentifikasikan sebagai berikut: a) mencegah terjadinya tindakan-tindakan yang menyimpang dari dasar yang telah ditentukan.218 1) Pengawasan Menurut Sifat/Bentuk dan Tujuannya Secara konsepsional. Bandung. 91-95. b) Pengawasan Represif atau Pengawasan Detektif Sebagian ahli mempergunakan istilah pengawasan ini dengan istilah pengawasan represif. Menyongsong Fajar . Pengawasan Pengelolaan Keuangan Daerah dalam Sistem Pemerintahan Daerah di Indonesia (Disertasi).…Op. maka pengawasan preventif bertujuan untuk mencegah penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di lapangan pemerintahan daerah. hlm. sebagian lainnya mempergunakannya dengan istilah 218 Lihat Elektison Somi. menurut Bagir Manan. hlm. 2006. Berikut ini diidentifikasikan berbagai macam pengertian pengawasan tersebut. a) Pengawasan Preventif Secara umum pengertian pengawasan preventif pada dasarnya dilakukan untuk mencegah terjadinya penyimpangan-penyimpangan dalam pelaksanaan kegiatan. Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. c) menentukan sasaran dan tujuan yang akan dicapai. (2) pengawasan represif atau pengawasan detektif. yaitu: (1) pengawasan preventif dan. 219 Bagir Manan. wewenang mengesahkan 219 pengawasan preventif ini berkaitan dengan (goedkeuring).Cit. b) memberi pedoman bagi terselenggaranya pelaksanaan kegiatan secara efesien dan efektif. dan d) menentukan kewenangan dan tanggung jawab sebagai instansi sehubungan dengan tugas yang harus dilaksanakan. pengawasan menurut sifat/bentuk dan tujuannya dapat dikelompokan menjadi 2 (dua). Dalam konteks penyelenggaraan pemerintahan daerah.

Sebab di dalam melaksanakan tugasnya atau “mission”nya untuk menyelenggarakan kesejahteraan umum dan pelayanan kepentingan umum atau lazim disebut “public service”. Namun demikian. Tujuan pokok dari kontrol ini adalah untuk menghindari terjadinya kekeliruan-kekeliruan. PT. sebagai suatu usaha preventif. Beberapa Sistem tentang Kontrol Segi Hukum terhadap Pemerintah. sebagai suatu usaha represif. atau juga untuk memperbaikinya apabila sudah terjadi kekeliruan itu. 1986. maka terhadap Pemerintah selaku organ administarasi Negara dapat dikenakan bermacam-macam bentuk kontrol atau pengawasan. Bhuana Ilmu Populer. Jakarta. Berkaitan dengan pembentukan produk hukum daerah dan tindakan tertentu organ pemerintah daerah.Cit Paulus Effendie Lotulung. dapatlah dibedakan antara jenis kontrol yang disebut Kontrol Intern dan Kontrol Ekstern. Memang di sinilah letak inti atau hakekat dari suatu pengawasan. kedua istilah ini pada prinsipnya dilaksanakan setelah dilakukannya tindakan yaitu dengan membandingkan antara hal yang telah terjadi dengan hal yang seharusnya terjadi. Paulus Effendie Lotulung mengatakan bahwa salah satu permasalahan pokok dalam studi tentang dasar-dasar hukum Administrasi adalah pelajaran tentang adanya atau dikenalnya berbagai macam kontrol atau pengawasan yang dapat dilakukan terhadap Pemerintah.xv. Dalam praktek. hlm. pengawasan ini menurut Bagir Manan berkaitan dengan wewenang pembatalan (Verneitiging) atau penangguhan (schorsing). misalnya: pengawasan yang 220 221 Bagir Manan.221 Apabila dibandingkan berbagai macam bentuk kontrol yang ada. Ditinjau dari segi kedudukan dari badan/organ yang melaksanakan kontrol itu terhadap badan/organ yang dikontrol.63 pengawasan detektif. maka dapat dibedakannya dari beberapa segi.220 Berkaitan dengan berbagai macam bentuk pengawasan. adanya kontrol itu sering dilihat sebagai sarana unutuk mencegah timbulnya segala bentuk penyimpangan tugas pemerintahan dari apa yang telah digariskan. Suatu Kontrol Intern berarti bahwa pengawasan itu dilakukan oleh suatu badan yang secara oraganisatoris/ struktural masih termasuk dalam lingkungan Pemerintah sendiri. baik yang disengaja maupun tidak disengaja. . op.

dilakukan Dikatakan sebagai Kontrol a-priori adalah bila pengawasan itu sebelum dikeluarkannya suatu keputusan atau ketetapan Pemerintah ataupun peraturan lainnya yang pengeluarannya memang menjadi wewenang Pemerintah. suatu Kontrol Ekstern adalah pengawasan yang dilakukan oleh organ atau lembaga-lembaga yang secara organisatoris/struktural berada di luar Pemerintah dalam arti eksekutif.64 dilakukan oleh pejabat atasan terhadap bawahannya secara hierarkis.222 Ditinjau dari segi saat/waktu dilaksanakannya suatu kontrol atau pengawasan. Bentuk kontrol-kontrol semacam itu dapat digolongkan dalan jenis kontrol teknis-administratif atau lazim pula disebut sebagai suatu bentuk “built-in control”. ataupun pengawasan yang dilakukan oleh tim/ panitia verifikasi yang dibentuk secara insidentil dan biasanya terdiri dari beberapa orang ahli dalam bidang-bidang tertentu. harus terlebih dahulu memperoleh persetujuan dan pengesahan dari instansi atasan. kontrol sosial yang dilakukan oleh masyarakat melalui pers/masmedia. Kontrol a-posteriori adalah jika pengawasan itu baru terjadi 222 Ibid. Sebaliknya. Termasuk pula kontrol ekstern ini adalah kontrol yang dilakukan secara tidak langsung melalui badan-badan peradilan (judicial control) dalam hal timbul persengketaan atau perkara dengan pihak Pemerintah. atau peraturan pemerintah daerah-daerah tingkat II harus mendapat pengesahan terlebih dahulu dari pemerintah daerah tingkat I. demikian seterusnya. Misalnya: pengeluaran suatu yang untuk berlaku sah dan dilaksanakan. Dalam hal ini tampak jelas unsur preventif dari maksud kontrol itu. misalnya: kontrol keuangan yang dilakukan oleh Badan Pengawas Keuangan (BPK). yaitu apa yang disebut sebagai Kontrol a-priori ada yang disebut Kontrol a-posteriori. kontrol politis yang pada umumnya dilakukan oleh lembagalembaga perwakilan rakyat dalam bentuk “hearing” ataupun hak bertanya para anggotanya. Sedangkan sebaliknya. xvi . sebab tujuan utamanya adalah untuk mencegah atau menghindari terjadinya kekeliruan. hlm. dapat pula dibedakan dalam 2 jenis kontrol.

yaitu segi “doelmatigheid”. yaitu segi “rechtmatigheid” dari perbuatan Pemerintah ataukah juga di samping segi “rechtmatigheid” ini dinilai pula benar-tidak benarnya perbuatan itu ditinjau dari segi/pertimbangan kemanfaatannya (opportunitas). Pemerintah Dengan atau kata sesudah lain. Misalnya: Kontrol yang dilakukan oleh badan peradilan (judicial control) pada prinsipnya hanya menitikberatkan pada segi legalitas. sedangkan suatu kontrol teknis administratif intern dalam lingkungan Pemerintah sendiri (built-in control) bersifat selain penilaian legalitas (rechtsmatigsheidtoetsing) juga dan bahkan lebih menitikberatkan pada segi penilaian kemanfaatan. hlm.65 sesudah terjadinya dikeluarkan keputusan/ketetapan Pemerintah. Waktu Pelaksanaan. dan Jangka Waktu Pelaksanaan Pengawasan Preventif berasal dari kata preventie yang berarti pencegahan.223 Di lapangan pemerintahan daerah. Wujud. apakah kontrol itu hanya dimaksudkan untuk menilai segi-segi atau pertimbangan yang bersifat hukum-nya (segi legalitas). instrumen pengawasan. dikenal pula pembedaan yang ditinjau dari segi sifat kontrol itu terhadap objek yang diawasi. Dengan kata lain. baik yang bersifat preventif maupun yang bersifat represif seringkali digunakan. 2) Ruang Lingkup. xvi-xvii . karena selalu dilakukan sesudah terjadinya sustu perbuatan atau tindakan. Jadi dibedakanlah antara Kontrol segi hukum (rechtmatigheidstoetsing) dan Kontrol segi kemanfaatan (doelmatigheidstoetsing). Di samping kedua macam kriteria pembedaan tersebut di atas. Antara keduanya terdapat perbedaan baik dalam ruang 223 Ibid. yaitu Kontrol segi hukum. Peranan badan peradilan melalui suatu judicial control adalah selalu bersifat Kontrol aposteriori. sedangkan represif dari kata repressie yang berarti penekanan atau pengekangan. arti tindakan/perbuatan pengawasan di sini adalah dititikberatkan kepada tujuan yang bersifat korektif dan memulihkan suatu tindakan yang keliru.

Ruang lingkup berlakunya Pengawasan preventif hanya dilaksanakan terhadap beberapa Peraturan Daerah atau Keputusan Kepala Daerah tertentu saja yang menyangkut menimbulkan kepentingaan-kepentingan keresahan-keresahan. keharusan. dan Pemerintah Daerah itu sendiri. Melalui pranata pembatalan (vernietiging) atau berupa penangguhan pemberlakuan 224 Riwu Kaho. Jakarta.149-153 . Analisa Hubungan Pemerintah Pusat Dan Daerah Di Indonesia. baik Pemerintah Pusat. perwujudan maupun jangka waktu Perbedaan-perbedaan itu adalah sebagai berikut:225 a. Peraturan-peraturan dan Keputusan-keputusan Kepala Daerah tertentu yang diawasi secara preventif adalah ketentuan-ketentuan yang memberikan beban kepada rakyat. besar atau yang mungkin dan kegelisahan-kegelisahan gangguan-gangguan dalam pelaksanaan atau penyelenggaraan kepentingan umum. ruang lingkup pengawasan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah dapat dilihat sebagai berikut: Tabel 1: RUANG LINGKUP PENGAWASAN ATAS PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH Pengawasan atas pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah (baik yang menyangkutan urusan otonomi maupun tugas pembantuan). 149. Pengawasan represif dijalankan terhadap semua Peraturan Daerah dan keputusan Kepala Daerah tanpa kecuali. dan yang menyangkut kepentingan rakyat banyak. Melalui pranata pengujian (material dan formal) ke badan peradilan (MA). 1990. larangan. Rineka Cipta. b. 225 Ibid. yang mengandung perintah. hlm. Jika digambarkan dalam suatu bagan. (Inspektorat) a.224 berlakunya. Provinsi. hlm. Jadi pengawasan ini mempunyai ruang lingkup (scope) yang lebih luas dari pengawasan preventif. Dilakukan oleh aparat pengawas intern. ancaman pidana. apabila tidak ditetapkan dengan sebaik-baiknya oleh Pemerintah Daerah.66 lingkup/lingkungan pelaksanaanya. Pengawasan terhadap produk-produk hukum yang ditetapkan oleh pemerintahan daerah ( pengawasan terhadap peraturan daerah dan peraturan kepala daerah).

Melalui proses/prosedur tertentu. Jadi pengawasan ini di satu pihak merupakan hak pengawasan dari pihak pengawas dan di lain pihak merupakan kewajiban untuk meminta 226 UU No. Pengawasan represif dilakukan sesudah Peraturan-peraturan Daerah dan Keputusankeputusan Kepala Daerah berlaku dan dijalankan. Mengenai waktu pelaksanaanya. dsb. 32 Tahun 2004 Pasal 145 (3) dengan secara eksplisit menetapkan bahwa pembatalan Perda ditetapkan dengan Peraturan Presiden. oleh Pemerintah Pusat. kriteria. jadi sebelum peraturan-peraturan/keputusan-keputusan tersebut dijalankan. penetapan pedoman. . Pengawasan preventif berujud kewajiban atau keharusan untuk memperoleh pengesahan lebih dahulu dari pihak pengawas yaitu Menteri Dalam Negeri bagi Peraturan Daerah /Keputusan-keputusan Gubernur Gubernur Kepala Daerah Tingkat I bagi Keputusan-keputusan Kepala Daerah Kepala Daerah Tingkat I. monitoring. misalnya dalam bentuk “evaluasi” terhadap Raperda dan Rancangan Peraturan Kepala Daerah tentang APBD. Wujud dari masing-masing pengawasan. sebelum peratuan-peraturan itu mulai berlaku dan dijalankan.67 (schorsing). c. sementara dalam praktek pembatalan terhadap perda ditetapakn oleh Menteri Dalam Negeri (dalam bentuk Peraturan Menteri?). dan Peraturan-peraturan Daerah dan Tingkat II. b. untuk provinsi oleh Mendagri dan untuk kabupaten/kota oleh Gubernur. Perubahan APBD dan Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD.226 c. Pengawasan preventif dilaksanakan sebelum Peraturan-peraturan dan Keputusan-keputusan Kepala Daerah tersebut mulai berlaku.

diduga atau dianggap mungkin bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi tingkatnya atau dengan kepentingan umum. perintah. Jadi penundaan adalah langkah awal dari pembatalan. maka peraturan yang dimintakan pengesahan tersebut tidak dapat berlaku. . larangan. maka instansi/pejabat yang berwenang dalam pengawasan represif dapat menunda keputusan/peraturan tersebut. Keputusan-keputusan/peraturan-peraturan lain di luar hal-hal yang tersebut di atas (di luar ketentuan-ketentuan yang memberikan beban kepada rakyat. Penundaan bermaksud untuk menahan buat sementara waktu berjalannya Keputusan Kepala Daerah/Peraturan Daerah yang telah berlaku selama masih dalam pertimbangan untuk dibatalkan. Penolakan tersebut dengan disertai alasanalasannya disampaikan kepada Pemerintah Daerah yang bersangkutan. Apabila pihak pengawas beranggapan bahwa peraturan-peraturan dengan yang dimintakan yang lebih pengesahan tinggi tersebut atau bertentangan peraturan tingkatnya bertentangan dengan kepentingan umum. Setelah Keputusan Kepala Daerah/Peraturan Daerah itu ditunda/ditangguhkan berlakunya.68 pengesahan dari pihak yang diawasi. dikenakan pengawasan represif. Pengawasan represif berupa penundaan/penangguhan atau pembatalan oleh pihak pengawas terhadap Peraturan-Peraturan Daerah/Keputusankeputusan Kepala Daerah yang telah berjalan tersebut. Dengan penolakan tersebut. keharusan. maka pengawas menolak untuk memberikan pengesahan. ancaman pidana dan yang menyangkut kepentingan rakyat banyak). maka pihak pengawas akan mengadakan peninjauan atau penyelidikan lebih lanjut apakah memang keputusan tersebut memang perlu dibatalkan ataukah tidak. Penundaan atau pembatalan dilakukan apabila peraturan-peraturan atau keputusan- keputusan Daerah yang telah dijalankan itu bertentanagan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi tingkatnya atau dengan kepentingan umum Apabila sesuatu Peraturan Daerah atau Keputusan Kepala Daerah yang telah berlaku dengan tanpa pengesahan.

.Cit. misalnya 3 bulan.. Hubungan pengawasan hanya dilakukan terhadap hal yang secara 227 Bagir Manan. Mengenai jangka waktu pelaksanaan Pengawasan preventif dijalankan dalam jangka waktu terbatas/tertentu. hlm. supervision) adalah suatu bentuk hubungan dengan sebuah legal entity yang mandiri. merupakan dua sisi dari satu mata uang dalam negara kesatuan dengan sistem otonomi (desentralisasi). maka menurut ketentuan.227 Namun demikian.. bukan hubungan internal dari entitas yang sama. Bilamana sesudah jangka waktu 3 bulan tersebut belum ada pengesahan atau penolakan . Pengawasan (toezicht. Bentuk dan isi pengawasan dilakukan semata-mata menurut atau berdasarkan ketentuan undangundang. Sebaliknya pengawasan (toezicht) merupakan kendali terhadap desentralisasi berlebihan. Antara kebebasan dan kemandirian berotonomi di satu pihak dan pengawasan di pihak lain... Pengawasan represif dilakukan untuk jangka waktu yang tidak terbatas. Tidak ada otonomi tanpa sistem pengawasan. Peraturan Daerah atau Keputusan Kepala Daerah itu dapat diberlakukan.153. Kebebasan dan kemandirian berotonomi dapat dipandang sebagai pengawasan atau kendali terhadap kecenderungan sentralisasi yang berlebihan. Op. Bilamana Daerah berkeberatan atas penolakan tersebut. supervision) merupakan unsur yang tidak dapat dipisahkan dari kebebasan berotonomi. pengertian pengawasan (toezicht. sewaktu-waktu dapat ditangguhkan atau dibatalkan. Kalau ditolak maka alasan-alasan penolakan itu disampaikan kepada Daerah yang bersangkutan. maka Daerah dapat mengajukan keberatan. Jadi dalam waktu 3 bulan itu pejabat yang berwenang untuk memberikan pengesahan harus memberikan pengesahan yang dimintakan atau menolaknya. Menyongsong Fajar. d.. yaitu selama sesuatu Peraturan Daerah/Keputusan Kepala Daerah masih berlaku.69 Keputusan untuk menunda harus disampaikan kepada Daerah beserta alasan-alasannya.

43-114. Ibid. Pengawasan Preventif b. Perancis dan Belanda230 NO 1 KATEGORI 2 INGGRIS 3 a. Pengawasan Yudisial BELANDA 5 a. 2009. Desertasi. Bentuk dan Ruang Lingkup Pengawasan Pusat Terhadap Daerah Dalam Mewujudkan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Yang Demokratis Menurut UUD 1945. hlm. Pengawasan Yudisial Loc.Cit. dibuat Tabel oleh Agus Kusnadi.. Objek-Objek Pengawasan Untuk mengetahui objek-objek pengawasan dalam konteks hubungan pusat dan daerah.228 Ada dua jenis pengawasan baku terhadap satuan pemerintahan otonom yaitu pengawasan preventif (preventief toezicht) dan pengawasan represif (repressief toezicht). Pengawasan tidak berlaku atau tidak diterapkan terhadap hal yang tidak ditentukan atau berdasarkan undang-undang. Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. Perancis.70 tegas ditentukan dalam undang-undang. hlm. dan Belanda. preventif dikatkan dengan 229 wewenang wewenang mengesahkan pembatalan Pengawasan represif adalah (vernietiging) atau penangguhan(schorsing). dapat didekati melalui perbandingan pengawasan yang berlaku di Inggris. Pengawasan ini berkaitan dengan produk hukum daerah dan tindakan tertentu organ pemerintahan daerah. Pengawasan Administratif c. Bandung. Tabel 2: Perbandingan Pengawasan Pusat Terhadap Daerah di Inggris. Jenis/Bentuk Pengawasan b. 229 228 . Pengawasan (goedkeuring). Hubungan Antara Pusat dan Daerah Menurut UUD 1945. 154 230 Sumber : Bagir Manan. c. Pengawasan Represif 1. Pengawasan Administratif b. Pengawasan Legislatif PERANCIS 4 a.

Parlemen a. Kroon (Mahkota). Pembentuk UndangUndang. Subjek Pengawasan b. Peraturan dan Keputusan Daerah a. b) Peraturan daerah (bersifat regeling). Peraturan. baik di bidang otonomi maupun tugas perbantuan. Commissaris van de Koning. Cour des c. Keputusan atau tindakan administrasi negara Dari bagan yang ditunjukkan di atas dapat ditarik suatu kelaziman bahwa objek pengawasan pemerintah pusat terhadap satuan pemerintahan di bawahnya (atau pengawasan pusat terhadap daerah) adalah terhadap: a) Penyelenggaraan pemerintahan daerah sebagai pelaksanaan undangundang nasional. Pengadilan Comptes (Court of Accounts) a. Peraturan/ Kebijakan Commune. dan Gedeputeerde Staten b. c) Tindakan administrasi negara pada pemerintahan daerah (bersifat beschikking dan . Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah berdasarkan undangundang Parlemen b.71 a. Counseil d’Etat. 3. Pusat Tribuneux Administratif. Kroon (Mahkota). Keputusan dan Kebijakan Daerah c. Objek Pengawasan a. Peraturan/ Kebijakan Ekonomi Pemerintah Daerah b. Pemerintah b. KeputusanKeputusan yang harus mendapat pengesahan pemerintahan tingkat atasnya b. Keputusan yang mempunyai akibat hukum. Prefect dan Counseil d’Etat 2. Gedeputeerde Staten a.

4. Tujuan Pengawasan Relevan dengan pengawasan terhadap penyelenggaraan De Guzman dan Artno Pascho231 pemerintahan di daerah. 1. (Terj. f. antara dan diantara berbagai macam tingkatan 231 Ateng Syafrudin. yakni. . To protect the citizens against the abuse of power by local authorities. Untuk mengawasi pengeluaran atau belanja daerah sebagai bagian manajemen dan perencanaan dari perekonomian nasional).untuk memelihara standar-standar minimum dalam melaksanakan pelayanan-pelayanan oleh pemerintah daerah). To control local expenditures as part of the management and planning of the national economy. Untuk memelihara standar-standar administrasi sebaik koordinasi administrasi pemerintahan). dan d) Keputusan yang harus mendapatkan pengesahan dari satuan pemerintahan di atasnya. To maintain minimun standards in the performance of services by local authorities. Makalah untuk pendidikan non-gelar anggota DPRD tingkat II se-Jawa Barat di Fakultas ISIP Unpad. 3. 2. (Terj. 28 Desember 1992. Masalah Hukum dalam Pemerintahan di Daerah. 5. 7. To maintain standards of administration as well as coordinate administrations between and among various levels of government.72 beleidsregel). (Terj. (Terj. (memegang teguh dan menyatukan beraneka ragam rakyat menjadi suatu bangsa). To Wield and integrated the diverse people into a nation. mengisyaratkan setidaknya ada 5 (lima) alasan mengapa pengawasan itu menjadi instrumen penting dalam rangka penyelenggaraan tugas-tugas pemerintahan di daerah. Raul P. hlm. Untuk melindungi para warga negara dari tindakan sewenang-wenang dari (pejabat) pemerintah daerah).

Menurut M. untuk mencegah kelalaian dalam administrasi yang dapat merugikan negara atau daerah. Azmy Akhir. fleksibel. 4) Menjaga agar tugas itu dijalankan berdaya guna (termasuk pengurusan. 5) Melakukan usaha-usaha untuk mengatasi hambatan. Pengawasan tersebut harus bersifat rasional. d. untuk menjaga kewibawaan pemerintah daerah dan kepentingannya.N. berkenaan dengan penyelenggaraan tugas-tugas pemerintahan daerah. Dinna. untuk mencapai hal-hal sebagai berikut : a. Masalah Pengurusan Keuangan Negara : Suatu Pengantar Teknis. dan fragmatis. sehingga tujuan dari kegiatan pengawasan tersebut dapat tercapai. Apa yang diawasi (obyek yang perlu diawasi) b.234 232 233 Ibid. untuk menghindari atau mencegah penyalahgunaan wewenang. c.N. M.233 Kriteria-kriteria di atas penting untuk menjadi pertimbangan dalam melakukan pengawasan. 1. Jakarta. 3. serta akibat-akibatnya. e. 2. maka harus diperhatikan beberapa kriteria sebagai berikut : a. Menurut H. Menjaga agar rencana itu dalam realisasinya tetap terarah pada tujuan yang telah ditentukan. 1986. terus menerus. Bagaimana pengawasan tersebut dapat dilakukan. Bohari. yakni. Azmy Akhir. Mengapa perlu diadakan pengawasan. agar pelaksanaan pengawasan dapat dijadikan sebagai suatu alat (instrumen) yang efektif dalam rangka penyelenggaraan tugas-tugas pemerintahan daerah. mengendalikan penyimpangan-penyimpangan. 71 . 3) Menjaga agar pelaksanaannya itu dijalankan sesuai dengan peraturanperaturan yang telah ditetapkan (peraturan yang berlaku).73 Ateng Syafrudin232 menyebutkan 3 (tiga) tujuan dari pelaksanaan pengawasan. Dimana dan kapan diadakan pengawasan dan oleh siapa pengawasan tersebut harus dilakukan. hlm. CV. pemeliharaan) sesuai dengan tujuan.

Op. Jakarta. kesalahan dan kegagalan dalam pencapaian tujuan dan sasaran serta pelaksanaan tugas-tugas organisasi. 1995. Rajawali Pers. 117-118 Lembaga Administrasi Negara RI. hlm.Cit. Bohari. pemborosan.74 Paling tidak tujuan pengawasan itu adalah untuk mencegah sedini mungkin terjadinya penyimpangan. Hukum Anggaran Negara. penyelewengan. hlm. hambatan. 159 .235 234 235 H.

. 241 Ibid.240 Keenam. prinsip mengakui dan menghormati pemerintahan daerah yang bersifat khusus dan istimewa sebagaimana diatur dalam Pasal 18B ayat (1) UUD 1945. 238 Bagir Manan. hlm 12. hlm 15-16. Yogyakarta. 2001. Menyongsong Fajar . Berdasarkan dasar hukum konstitusional pengaturan pemerintahan daerah dijumpai dalam Pasal-pasal 18.241 Ketujuh. Prinsip kekhususan dan keragaman daerah sebagai diatur dalam Pasal 18 ayat (1) UUD 1945. Prinsip daerah mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan sebagaimana diatur dalam Pasal 18 ayat (2) UUD 1945.. dan Bagir Manan. 242 Ibid. 12-13. hlm 17.. 236 .cit. Karawang.236 Kedua. prinsip mengakui dan menghormati kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sebagaimana diatur dalam Pasal 18B ayat (2) UUD 1945.. UNSIKA. Pusat Studi Hukum Fakultas Hukum UII..238 Keempat. Prinsip badan perwakilan dipilih langsung dalam suatu pemilihan umum sebagaimana diatur dalam Pasal 18 ayat (3) UUD 1945. 18A dan 18B.. prinsip hubungan pusat dan daerah harus dilaksanakan secara selaras dan adil sebagaimana terdapat dalam Pasal 18A ayat (2) UUD 1945. 2001. hlm. hlm. hlm.75 BAB III PENGATURAN HUBUNGAN ANTARA PUSAT DAN DAERAH A. op. Hubungan Kewenangan Perubahan Kedua UUD 1945 yang terjadi pada tahun 2000 mengubah secara mendasar pengaturan pemerintahan daerah di Indonesia. 240 Ibid. Pusat Studi Hukum Fakultas Hukum UII. 32/2004 jo UU No. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah. Yogyakarta. 239 Ibid. hlm 21. Prinsip menjalankan otonomi seluasluasnya yang diatur dalam Pasal 18 ayat (5) UUD 1945. Perjalanan Historis Pasal 18. pemerintahan daerah diselenggarakan berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut: pertama.237 Ketiga.242 Saat ini undang-undang penyelenggaraan pemerintahan daerah sebagai pelaksanaan Pasal 18 ayat (7) didasarkan pada UU No..239 Kelima. 13. 1993. 237 Bagir Manan. 8-9.

Bagan 6 Pembagian Urusan Pemerintahan URUSAN PEMERINTAHAN MUTLAK URUSAN PUSAT MM .Moneter dan Fiskal Nasional. hlm. 197.Yustisi. 38/2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah.perhubunga n Urusan Pilihan Antara lain : . kedua. yang memiliki perbedaan yang signifikan. .Politik Luar Negeri.lingkungan hidup. Kabupaten/Kota Urusan Wajib Antara lain : . . Pertama. dapat di identifikasi dua macam kelompok organ. yaitu urusan pemerintahan yang secara mutlak menjadi urusan pusat dan urusan pemerintahan yang dapat dilaksanakan baik oleh pemerintah.76 12/2008.Agama.pariwisata B. 33/2004 serta berbagai peraturan lain yang relevan. Provinsi. Kedudukan organisasi Negara ini tidak hierarkis sementara organ pemerintahan terdapat baik di tingkat 243 Bhenyamin Hoessein. Jakarta. 32/2004 itu mengandung pengertian bahwa urusan pemerintahan dapat dibagi dalam dua kelompok. . dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota.industri . . . Pemerintahan Daerah Provinsi. Hubungan Kewenangan Pusat dan Daerah. adalah organ-organ Negara (staatsorganen).kelautan . Hubungan Kelembagaan Hakekat Negara adalah organisasi dan dalam organisasi Negara. Ketentuan Pasal 10 UU No. UU No. . . URUSAN ‘BERSAMA’ (concurrent power) Pusat. dan .Pertahanan.243 Dalam Negara kesatuan. . dalam Kumpulan Tulisan pasang surut otonomi Daerah. organ Negara termaksud hanya dijumpai di ibu kota Negara (di tingkat pemerintahan nasional).kesehatan. maupun kabupaten/kota (concurrent power). Peraturan pelaksana yang mengatur hubungan kewenangan antara lain PP No. provinsi.Keamanan. 2005.pertanian . Yayasan Tifa. adalah organ-organ pemerintahan (regeringsorganen).pendidikan.

dan kewajiban yang senyatanya telah ada dan berpotensi untuk tumbuh. terjadi pembentukan dan implementasi kebijakan yang tersebar diberbagai jenjang pemerintahan subnasional.. Dengan perkataan lain. sesuai dengan kondisi dan potensi masyarakat. Asas ini berfungsi untuk menciptakan keanekaragaman dalam penyelenggaraan pemerintahan.246 UUD 1945 menghendaki susunan pemerintahan. khususnya pemerintahan tingkat daerah tersusun dalam satu kesatuan struktural dan 244 245 Ibid. Sejalan dengan prinsip tersebut dilaksanakan pula prinsip otonomi yang nyata dan bertanggungjawab.245 Dalam penjelasan umum UU No. Prinsip otonomi nyata adalah suatu prinsip bahwa untuk menangani urusan pemerintahan dilaksanakan berdasarkan tugas. 197 Ibid. desentralisasi berfungsi untuk mengakomodasi keanekaragaman masyarakat. Daerah memiliki kewenangan membuat kebijakan daerah untuk memberi pelayanan.. Kedudukan organ-organ pemerintahan bersifat hierarkis di bawah Presiden (Pemerintah).77 nasional maupun di subnasional. hlm.244 Dengan desentralisasi. prakarsa. hidup dan berkembang sesuai dengan potensi dan kekhasan daerah. dan pemberdayaan masyarakat yang bertujuan pada peningkatan kesejahteraan rakyat. sehingga terwujud variasi struktur dan politik untuk menyalurkan aspirasi masyarakat setempat.. 198 246 Penjelasan Umum UU No. Dengan demikian isi dan jenis otonomi bagi setiap daerah tidak selalu sama dengan daerah lainnya. yang pada dasarnya untuk memberdayakan daerah termasuk meningkatkan kesejahteraan rakyat yang merupakan bagian utama dari tujuan nasional. Adapun yang dimaksud dengan otonomi yang bertanggungjawab adalah otonomi yang dalam penyelenggaraannya harus benar-benar sejalan dengan tujuan dan maksud pemberian otonomi. peningkatan peran serta. 32 Tahun 2004 dijelaskan bahwa Prinsip otonomi daerah menggunakan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam arti daerah diberikan kewenangan mengurus dan mengatur semua urusan pemerintahan diluar yang menjadi urusan Pemerintah. hlm. 32 Tahun 2004 . wewenang.

1984. Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran. Hubungan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Penerbit Bina Aksara. 1. Atas dasar ketentuan tersebut dapat diketahui bahwa penyelenggaraan pemerintahan dilakukan dengan menggunakan sistem desentralisasi.248 Hubungan antara Pemerintah Pusat dengan daerah otonom diatur dengan cara-cara tertentu yang diatur dengan undang-undang. Bahan diskusi pada Diskusi Terbatas Pusat Studi Hukum Tata Negara.250 247 248 Bagir Manan.247 Negara (pemerintah Pusat) dan daerah kedua-duanya merupakan badan hukum publik yang masing-masing mempunyai badan pemerintahannya sendiri-sendiri dengan hak. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah beserta perubahannya. Hubungan dalam pengaturan organisasi perangkat daerah Sebagaimana diketahui bentuk Negara Indonesia tercantum di dalam Pasal 1 Ayat (1) UUD 1945.78 fungsional yang utuh. meskipun tidak dalam susunan hirarkis satu sama lain. 4 Agustus 2009 250 Pasal 3 Ayat (1) UU No. hlm. Hubungan… hlm. dengan demikian terdapat pemencaran kekuasaan dari pusat kedaerah baik menurut asas otonomi. 32 Tahun 2004 Tentang pemerintahan Daerah beserta peraturan pelaksanaannya. antara pusat dan daerah akan terjadi hubungan antara lain hubungan kelembagaan. hubungan tersebut dalam praktek terlihat misalnya pada pengaturan organisasi perangkat daerah dan pemekaran daerah.249 Menurut UU No. Bandung. 182 249 Kuntana Magnar. Dalam hal ini adalah UU No. 197 Irawan Soejito. tugas pembantuan dan dekonsentrasi. kewenangan dan kewajiban sendiri-sendiri. susunan kelembagaan pemerintahan daerah terdiri dari: 1. yang penyelenggaraannya melalui ketentuan Pasal 18 ayat (1). Berdasarkan kenyataan itu. 32 Tahun 2004 . Susunan luar dibawah Pemerintah Pusat terdapat Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota.

Kepala daerah dibantu oleh satu orang wakil kepala daerah. Dalam memutar roda organisasi pemerintahan. 41 . Bupati/Walikota.253 2. Susunan dalam terdiri dari DPRD dan kepala Daerah beserta perangkat daerah251 a. (4) Tata cara pelantikan dan pengaturan selanjutnya diatur dalam Peraturan Pemerintah Kedudukan dan peranan kepala daerah dengan beragam penyebutan seperti Gubernur. Pasal 19 Ayat (2)UU No. Kepala daerah Pasal 24 UU No. kecamatan. Dalam hal pelantikan terdapat hubungan antara pemerintah dan pemerintah daerah sebagaimana diatur dalam Pasal 111 ayat (1) Gubernur dan wakil Gubernur dilantik oleh Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden. untuk kabupaten disebut bupati. dinas daerah. dan untuk kota disebut walikota. sekretariat DPRD. Perangkat daerah provinsi adalah unsur pembantu kepala daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah yang terdiri dari sekretariat daerah.79 2. (2) Bupati dan wakil bupati atau walikota dan wakil walikota dilantik oleh Gubernur atas nama Presiden. 32 Tahun 2004 Pasal 1 angka 7 PP No. untuk kabupaten disebut wakil bupati dan untuk kota disebut wakil walikota. pembangunan 251 252 Pasal 3 Ayat (2)jo. Perangkat daerah kabupaten/kota adalah unsur pembantu kepala daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah yang terdiri dari sekretariat daerah. lembaga teknis daerah. telah menunjukan eksistensinya. 32 Tahun 2004 menyebutkan pada Setiap daerah dipimpin oleh kepala pemerintah daerah yang disebut kepala daerah. 41 Tahun 2007 253 Pasal 1 angka 8 PP No. melindungi dan melayani masyarakat maupun dalam memimpin organisasi administrasi pemerintahan. Kepala daerah untuk provinsi disebut Gubernur. baik sebagai pemimpin organisasi pemerintahan yang mengayomi. sekretariat DPRD. dinas daerah dan lembaga teknis daerah252 b. dan kelurahan. untuk provinsi disebut wakil Gubernur.

32 Tahun 2004 Hubungan organisasi perangkat daerah antara pemerintah dengan pemerintah daerah terdapat dalam hal melaksanakan tugas dan wewenang kepala daerah dan wakil kepala daerah mempunyai kewajiban menjalin hubungan kerja dengan seluruh instansi vertikal di daerah dan semua perangkat daerah (Pasal 27 Ayat (1)). kepala daerah mempunyai kewajiban juga untuk memberikan laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada Pemerintah.254 3. dan kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur untuk Bupati/Walikota 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun. 2003. 3 . kepala daerah secara terus menerus dihadapkan pada pelbagai tuntutan dan tantangan baik secara internal maupun eksternal yang harus di respon dan diantisipasi sekaligus merupakan ujian terhadap kapabilitias dan kompetensi Kepala Daerah. serta dalam menghadapi konflik. dan kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur untuk Bupati/Walikota 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun. dan memberikan laporan keterangan pertanggungjawaban kepada DPRD. Kepala Daerah. Laporan tersebut digunakan Pemerintah sebagai dasar melakukan evaluasi penyelenggaraan pemerintahan daerah dan sebagai bahan pembinaan lebih lanjut sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Hlm. pada Ayat (3) dikatakan Laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada Pemerintah dimaksud disampaikan kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri untuk Gubernur. Selain itu. Kepala Daerah juga mempunyai kewajiban untuk memberikan laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada Pemerintah Pasal 27 Ayat (2). Penerbit Gramedia Pustaka. gejolak dan permasalahan pemerintahan di daerah. Laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada Pemerintah disampaikan kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri untuk Gubernur. Hubungan Kepala Daerah dengan Pemerintah Menurut UU No. Kaloh. serta menginformasikan laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada masyarakat. 254 J. Jakarta.80 dan pembinaan kemasyarakatan.

255 256 Pasal 37 UU No. tindak pidana terorisme. dan/atau tindak pidana terhadap keamanan Negara. 32 Tahun 2004 ayat (1) Pasal 37 UU No. Gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat Gubernur yang karena jabatannya berkedudukan juga sebagai wakil Pemerintah di wilayah provinsi yang bersangkutan. Pasal 31 ayat (1). 4. c) koordinasi pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan tugas pembantuan di daerah provinsi dan kabupaten/kota. Pasal 30 ayat (1) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah diberhentikan sementara oleh Presiden tanpa melalui usulan DPRD apabila dinyatakan melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun atau lebih berdasarkan putusan pengadilan. 32 Tahun 2004 ayat (2) 257 Pasal 38 Ayat (1) . Pada Ayat (2) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah diberhentikan oleh Presiden tanpa melalui usulan DPRD apabila terbukti melakukan tindak pidana berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Tindak pidana itu antara lain menurut Pasal 31 ayat (1) tindak pidana korupsi. memiliki tugas dan wewenang257 dalam hal a) pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah kabupaten/kota.81 Laporan sebagaimana dimaksud digunakan Pemerintah sebagai dasar melakukan evaluasi penyelenggaraan pemerintahan daerah dan sebagai bahan pembinaan lebih lanjut sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 34 ayat (3) menyebutkan apabila kepala daerah dan wakil kepala daerah diberhentikan sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1).255 Dalam kedudukannya tersebut Gubernur bertanggung jawab kepada Presiden. makar. b) koordinasi penyelenggaraan urusan Pemerintah di daerah provinsi dan kabupaten/kota.256 Gubernur dalam kedudukannya sebagai wakil pusat di daerah. dan Pasal 32 ayat (5). Presiden menetapkan penjabat Gubernur atas usul Menteri Dalam Negeri atau penjabat Bupati/Walikota atas usul Gubernur dengan pertimbangan DPRD sampai dengan adanya putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.

Marbun.82 5. dalam Kumpulan Tulisan “Pasang Surut Otonomi Daerah”. membentuk Perda yang dibahas dengan kepala daerah untuk mendapat persetujuan bersama. melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan Perda dan peraturan perundang-undangan lainnya. artinya. dan kerja sama internasional di daerah. DPRD Konsep perwakilan politik lokal terkait dengan sistem pemerintahan yang dipraktikkan suatu Negara. Dengan kedudukannya seperti tersebut DPRD memiliki fungsi legislasi. 327 258 . peraturan kepala daerah. d. dan pengawasan (Pasal 41). 32 Tahun 2004) dan DPRD sebagai lembaga perwakilan rakyat daerah dipilih melalui pemilihan umum bersamaan dengan pemilihan anggota DPR dan DPD. hlm. mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian kepala daerah/wakil kepala daerah kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri bagi DPRD provinsi dan kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur bagi DPRD kabupaten/kota. APBD. Jakarta 2005. kebijakan pemerintah daerah dalam melaksanakan program pembangunan daerah. Adapun mengenai tugas dan wewenang DPRD sebagaimana diatur dalam Pasal 42 UU 32 Tahun 2004 adalah: a. keterlibatan masyarakat secara langsung dan tidak langsung ikut menentukan urusan urusan rumah tangga daerahnya. anggaran. b. memilih wakil kepala daerah dalam hal terjadi kekosongan jabatan wakil kepala daerah. e. Konsep perwakilan politik lokal merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sistem demokrasi. Institute for Local Development Yayasan TIFA. editor Anhar Gonggong. c. BN. membahas dan menyetujui rancangan Perda tentang APBD bersama dengan kepala daerah.258 Sebagaimana telah disinggung sebelumnya bahwa DPRD merupakan unsur pemerintahan daerah bersama kepala daerah (Pasal 40 UU No. Perwakilan Politik Lokal dan Eksistensi DPRD dalam Konteks Otonomi Daerah.

Dengan adanya PP tersebut menunjukan adanya hubungan . membentuk panitia pengawas pemilihan kepala daerah. Meskipun pengaturan tentang susunan. 32 Tahun 2004. Disamping itu DPRD juga sebenarnya merupakan bagian atau unsur kekuasaan eksekutif pada level pusat karena merupakan bagian dari penyelenggara pemerintahan daerah. j. 41 Tahun 2007. 23 Tahun 2002 sebagaimana disebutkan dalam Pasal 39 UU No. atau dengan perkataan lain DPRD bukan merupakan subordinasi dari DPR RI. namun DPRD tidak mempunyai hubungan secara langsung dengan DPR.83 f. memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama antardaerah dan dengan pihak ketiga yang membebani masyarakat dan daerah. 6. yaitu UU No. memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama internasional yang dilakukan oleh pemerintah daerah. Pengaturan mengenai DPRD ini selain diatur dalam UU No. k. bahkan dalam cara pengisiannyapun sama-sama dipilih secara langsung oleh rakyat melalui pemilu. Bahkan dalam hal pembentukan perda. g. meminta laporan keterangan pertanggungjawaban kepala daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. kedudukan dan fungsi DPR RI. kekuasaan DPRD baik tingkat provinsi maupun Kabupaten/Kota akan melalui sebuah upaya evaluasi peraturan pelaksanaannya. memberikan pendapat dan pertimbangan kepada pemerintah daerah terhadap rencana perjanjian internasional di daerah. Perangkat Daerah Keberadaan perangkat daerah dijumpai pada Pasal 1 Angka 3 dan Pasal 120 UU No. kedudukan serta fungsi DPRD ini berada dalam satu undang-undang yang sama dengan pengaturan mengenai susunan. 32 Tahun 2004 yang pelaksanaannya melalui PP No. h. DPR. melakukan pengawasan dan meminta laporan KPUD dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah. i. DPD dan DPRD. 32 Tahun 2004 juga diatur dalam UU yang mengatur tentang Susunan Kedudukan MPR.

84 kelembagaan antara pusat dan daerah dalam pengaturan organisasi perangkat daerah. sinkronisasi dan simplifikasi antardaerah dan antarsektor. Selanjutnya DPRD dengan Kepala Daerah mencabut perda dimaksud (Ayat (4)). Kepala Daerah dapat mengajukan keberatan pada Mahkamah Agung (Ayat (5)). Dalam ketentuan ini pemerintah dapat membatalkan . Kabupaten/Kota tidak menerima pembatalan tersebut dengan alasan yang dapat dibenarkan oleh peraturan perundang-undangan. Perda yang bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundang-undangan lebih tinggi. dan lembaga teknis daerah. 41 Tahun 2007 dijelaskan bahwa Pembinaan dan pengendalian organisasi dalam Peraturan Pemerintah ini dimaksudkan dalam rangka penerapan koordinasi. Dalam hal tidak ditetapkan Gubernur. dinas daerah. dan/atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi (Pasal 136 Ayat( 4)). Bupati/Walikota dalam jangka waktu tersebut. sekretariat DPRD. Pembentukan organisasi perangkat daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah dengan berpedoman pada PP mengenai Susunan. (3)). Kepala Daerah harus memberhentikan pelaksanaan perda. Tugas Pokok dan Fungsi Perangkat Daerah. dapat dibatalkan oleh pemerintah yang ditetapkan dengan Peraturan Presiden paling lama 60 hari sejak diterimanya perda oleh Pemerintah (Pasal 145 ayat (2). integrasi. Apabila Provinsi. Pada penjelasan umum PP No. raperda itu sah menjadi perda (Ayat 4). Kedudukan. Sedang untuk Kabupaten/Kota ditambah dengan kecamatan dan keluarahan (Pasal 120 UU No. Suatu raperda ditetapkan oleh Gubernur atau Bupati/Walikota paling lama 30 hari sejak disetujui bersama (Pasal 144 Ayat (3)). Apabila keberatan itu dikabulkan sebagian atau seluruhnya putusan Mahkamah Agung tersebut menyatakan Peraturan Presiden menjadi batal dan tidak mempunyai kekuatan hukum. 32 Tahun 2004). Setiap perda dilarang bertentangan dengan kepentingan umum. sehingga masing-masing pemerintah daerah taat asas dan taat norma dalam penataan kelembagaan perangkat daerah. Perangkat daerah provinsi terdiri atas sekretariat daerah. Paling lama 30 hari setelah pembatalan.

yaitu sejak dikeluarkannya UndangUndang Nomor 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah. DPRD Provinsi dan Gubernur dengan Menteri Dalam Negeri. pelatihan. pedoman. kabupaten. Selain akan terkait dengan DPR dan Presiden (dalam hal ini diwakili Mendagri). Hal itu disebabkan diberikannya peluang yang sangat besar (untuk terjadinya pemekaran) oleh undang-undang tersebut yang kemudian 259 260 Penjelasan Umum PP No. Pada Pasal 5 Ayat (2) dan (3) jelas nampak adanya hubungan kelembagaan antara pusat dan daerah dalam pembentukan daerah. Pasal 18 ayat 1 UUD 1945 menganut desentralisasi teritorial sehingga akan dibentuk daerah-daerah baik Provinsi. Sementara pada kelembagaan pusat. bimbingan. juga terdapat celah bagi peran DPD meskipun sangat terbatas terlihat pada Pasal 22 D ayat 1.259 7.2 dan 3 UUD 1945. Dalam pelaksanaan pembinaan dan pengendalian organisasi perangkat daerah. Menurut UU No. Dalam sepuluh tahun terakhir. supervisi. 32 Tahun 2004 antara lain diatur didalam Pasal 4 Ayat (3) dan (4). Bupati dan Walikota. Hubungan dalam pembentukan daerah (pemekaran dan pembubaran daerah)260 Hubungan kelembagaan lainnya terdapat dalam pembentukan daerah (pemekaran dan pembubaran daerah). Pasal 5. telah terjadi banyak sekali pemekaran daerah provinsi. pemberian arahan. serta kerja sama. Demikian pula pada Pasal 7 dan Pasal 8. Kabupaten dan Kota dengan UU. Pasal 7 Ayat (1) dan (2) serta Pasal 8. Pusat Studi HTN . sehingga sinkronisasi dan simplifikasi dapat tercapai secara optimal dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. yaitu dalam hal syarat administratif terkait DRPD Kabupaten dan Kota. pemerintah senantiasa melakukan fasilitasi melalui asistensi. Bahan Diskusi Terbatas. 41 Tahun 2007 Tentang SOTK Kuntana Magnar. maupun kota di Indonesia.85 peraturan daerah tentang perangkat daerah yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan dengan konsekuensi pembatalan hak-hak keuangan dan kepegawaian serta tindakan administratif lainnya.

kecenderungan untuk melakukan pemekaran daerah atau pembentukan daerah baru masih saja berlanjut. Para politisi lokal pun tetap beramai-ramai membentuk daerah baru dengan mengedepankan 261 Pusat Pengkajian dan Pengembangan Wilayah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran. Namun demikian. pelayanan publik (umum). Sebagai akibatnya. Pengkajian Penataan Daerah Otonom Kabupaten/Kota di Jawa Barat. hlm. mengundang kecemasan mengenai keberlanjutan dan kemampuan suatu daerah otonom baru untuk dapat bertahan mengurus rumah tangganya sendiri. kabupaten. Namun di sisi lain. Sekalipun saat ini undang-undang tersebut sudah tidak berlaku. Bahkan sangat mungkin terjadi sebaliknya di mana pemekaran daerah dapat menjadi penyebab persoalan bagi kehidupan masyarakat di daerah yang baru dibentuk tersebut. tampaknya paradigma berpikir masyarakat pun tidak berubah dengan perubahan dasar hukum pemerintahan daerah tersebut.261 Dengan demikian. Adanya fakta banyak daerah baru yang dibentuk. pemekaran daerah belum menjadi jaminan atau obat yang mujarab dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Laporan Penelitian. Dalam hal ini. Pembentukan daerah baru juga dilakukan atas nama kepentingan masyarakat. pelayanan masyarakat (publik). baik provinsi. kecenderungan tersebut dapat diterima dan dipahami sebagai wujud adanya kedewasaan dan harapan untuk mengurus dan mengembangkan potensi daerah dan masyarakatnya. Bahkan. 4. adalah salah satu implikasi negatif berlakunya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999. 2002. pembentukan daerah baru pun banyak terjadi seperti cendawan tumbuh di musim hujan. .86 dimanfaatkan oleh para politisi atau elit lokal (daerah). banyak elit daerah yang mengajukan pemekaran daerah dengan dalih sudah memenuhi syarat yang ditentukan oleh undang-undang. dan daya saing daerah sebagaimana yang diharapkan ketika pembentukan daerah baru. maupun kota. Bandung. Di satu sisi. dan daya saing daerah. yaitu untuk meningkatkan kesejahtraan masyarakat. kecenderungan membentuk daerah otonom baru tidak serta-merta berakhir dengan digantinya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004.

yang tiap-tiap provinsi. 31. UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. yaitu Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah. keharmonisan hubungan pemerintahan.87 alasan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. baik dari segi sumberdaya manusia. seperti keadaan sosial-budaya masyarakat. sekalipun ketentuan UUD 1945 menyebutkan “akan” diatur lebih lanjut dengan undang-undang. Pembentukan daerah (baru) dapat ditafsirkan dari bunyi Pasal 18 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) hasil perubahan kedua pada tanggal 18 Agustus 2000262 yang menyatakan bahwa “Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota. hlm. yang diatur dengan undang-undang”. Alasan tersebut menjadi senjata yang sangat ampuh untuk membentuk daerah baru tanpa mempertimbangkan aspek lain. 8. kabupaten. pelayanan publik. Pengaturan undangan Pemekaran Daerah dalam Peraturan Perundang- Berbicara tentang pengaturan pemekaran daerah. Demikian pula untuk provinsi dapat dibagi ke dalam kabupaten dan kota yang sudah ada maupun dibagi lagi ke dalam kabupaten dan kota yang baru. maupun sumberdaya alamnya. Namun demikian. maupun daya saing daerah. Dari bunyi pasal tersebut dapat diasumsikan bahwa wilayah Indonesia dibagi baik ke dalam provinsi yang sudah ada atau dapat dibagi lagi ke dalam provinsi yang baru melalui pemekaran. penjabarannya (akan) diatur lebih lanjut dengan undangundang. sumberdaya keuangan. dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah. . secara faktual pada saat itu sudah terdapat undang-undang yang mengatur tentang hal tersebut. pada kenyataannya masalah tersebut “sudah” 262 Sekretariat Jenderal Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia. Dengan demikian. Jakarta. Berkaitan dengan hal itu. maupun kemampuan daerah. 2009. sebenarnya tidak ada peraturan perundang-undangan yang secara khusus mengatur hal tersebut.

Daerah yang akan dibentuk. Pasal tersebut berbunyi “Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi dalam Daerah Propinsi. (2) Daerah dapat dimekarkan menjadi lebih dari satu Daerah. penggabungan. penggabungan dan pemekaran Daerah. dan/atau dimekarkan diusulkan oleh Kepala Daerah dengan persetujuan DPRD kepada Pemerintah. dihapus. Kenyataan itu juga turut dipermudah dengan proses dan mekanisme pemekaran yang sangat mudah seperti yang dapat dilihat dalam penjelasan Pasal 115 ayat (1) yang berkaitan dengan tugas Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah. b. dan Daerah Kota yang bersifat otonom”. sehingga tidak ada pembatasan sampai berapa tahap pemekaran itu dapat dilakukan dan sampai berapa jumlah provinsi. rumusan Pasal 18 ayat (1) UUD 1945 adalah hasil adopsi rumusan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999. ditetapkan dengan Undangundang. (3) Kriteria tentang penghapusan. penghapusan. Apabila dilihat rumusannya. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Daerah Kabupaten. Bahkan sebenarnya. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Berkaitan dengan pemekaran daerah. (4) Penghapusan. dan pemekaran Daerah. Pemerintah menugaskan Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah .88 diatur dengan undang-undang yang ada. digabung. sebenarnya rumusan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 lebih baik daripada rumusan Pasal 18 ayat (1) UUD 1945. hal itu diatur dalam Pasal 6 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang berbunyi: (1) Daerah yang tidak mampu menyelenggarakan Otonomi Daerah dapat dihapus dan atau digabung dengan Daerah lain. dan kota yang harus ada di Indonesia. penggabungan. Adapun mekanisme pembentukan. kabupaten. dan/atau pemekaran daerah dijelaskan sebagai berikut: a. ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Dari bunyi pasal di atas. pemekaran daerah sangat dimungkinkan bahkan ketentuannya terkesan sangat longgar.

Sebagai pelaksanaan lebih lanjut perintah Pasal 6 ayat (3) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999. Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah menyampaikan pertimbangan untuk penyusunan rancangan undang-undang yang mengatur pembentukan. sosial budaya. d. berkaitan dengan prosedur pemekaran daerah dianggap sama dengan prosedur pembentukan daerah. g. . b. luas daerah. Pembentukan. terutama dalam Pasal 13 ayat (1) disebutkan bahwa pemekaran daerah dapat dilakukan berdasarkan kriteria sebagai berikut: a. sosial politik. pertimbangan lain yang memungkinkan terselenggaranya Otonomi Daerah. penggabungan. dan Penggabungan Daerah. penghapusan. kemampuan ekonomi. Selanjutnya. yang dituangkan dalam Keputusan DPRD. c. Pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 129 Tahun 2000 tentang Persyaratan. jumlah penduduk. c. e. yaitu: a. f. Dalam BAB IV tentang Kriteria Pemekaran. potensi daerah. dan Kriteria Pemekaran. luas daerah. dan/atau pemekaran Daerah Otonom. Penghapusan. dan pertimbangan lain. usul pembentukan Propinsi disampaikan kepada Pemerintah cq Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah dengan dilampirkan hasil penelitian Daerah dan persetujuan DPRD Propinsi dan DPRD Kabupaten/Kota yang berada dalam wilayah Propinsi dimaksud. Penghapusan. pembentukan Daerah harus didukung oleh penelitian awal yang dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah. ada kemauan politik dari Pemerintah Daerah dan masyarakat yang bersangkutan. c. potensi daerah. jumlah penduduk. dan Penggabungan Daerah. b.89 untuk melakukan penelitian dengan memperhatikan kemampuan ekonomi. sosial-budaya. sosial-politik.

i. para anggota Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah memberikan saran dan pendapat secara tertulis kepada Ketua Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah. yang dituangkan dalam Keputusan DPRD. Rancangan Undangundang pembentukan Daerah disampaikan kepada DPR-RI untuk mendapat persetujuan. tidak mengherankan sampai saat ini proses pemekaran daerah masih . Selanjutnya. dan penggabungan daerah diganti seiring dengan digantinya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah. dan kriteria pemekaran. f. Oleh karena itu. Ketua Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah meminta tanggapan para anggota Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah dan dapat menugaskan Tim Teknis Sekretariat Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah ke Daerah untuk melakukan penelitian lebih lanjut. berdasarkan saran dan pendapat Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah. penghapusan. apabila Presiden menyetujui usul dimaksud. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 juga masih membuka peluang terjadinya pemekaran daerah. h. dengan memperhatikan usulan Gubernur. pembentukan. Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah memproses lebih lanjut dan dapat menugaskan Tim untuk melakukan observasi ke Daerah yang hasilnya menjadi bahan rekomendasi kepada Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah. Hal itu dapat dilihat dari bunyi Pasal 2 ayat (1) yang berbunyi ”Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota yang masing-masing mempunyai pemerintahan daerah”. usul pembentukan suatu daerah diputuskan dalam rapat anggota Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah. apabila berdasarkan hasil keputusan rapat anggota Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah menyetujui usul pembentukan Daerah. usul pembentukan Kabupaten/Kota disampaikan kepada Pemerintah cq Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah melalui Gubernur dengan dilampirkan hasil penelitian Daerah dan persetujuan DPRD Kabupaten/Kota serta persetujuan DPRD Propinsi. j.90 d. Sama halnya dengan undang-undang sebelumnya. peraturan pemerintah yang berkaitan dengan persyaratan. Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah selaku Ketua Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah mengajukan usul pembentukan Daerah tersebut beserta Rancangan Undang-undang Pembentukan Daerah kepada Presiden. e. g. berdasarkan rekomendasi pada huruf e.

lokasi calon ibukota. serta perangkat daerah. (2) Syarat administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk provinsi. sosial politik. pengisian keanggotaan DPRD. kependudukan. meliputi adanya persetujuan DPRD kabupaten/kota dan Bupati/Walikota yang akan menjadi cakupan wilayah provinsi. penunjukan penjabat kepala daerah. serta rekomendasi Menteri Dalam Negeri. Pemekaran dari satu daerah menjadi 2 (dua) daerah atau lebih sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat dilakukan setelah mencapai batas minimal usia penyelenggaraan pemerintahan. Pengaturan tentang pembentukan daerah dan pemekaran daerah diatur dalam Pasal 4. Pembentukan daerah dapat berupa penggabungan beberapa daerah atau bagian daerah yang bersandingan atau pemekaran dari satu daerah menjadi dua daerah atau lebih. dan prasarana pemerintahan. (5) Syarat fisik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi paling sedikit 5 (lima) kabupaten/kota untuk pembentukan provinsi dan paling sedikit 5 (lima) kecamatan untuk pembentukan kabupaten. sosial budaya. dan 4 (empat) kecamatan untuk pembentukan kota. teknis. keamanan. dan dokumen. Undang-undang pembentukan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) antara lain mencakup nama. kewenangan menyelenggarakan urusan pemerintahan. dan fisik kewilayahan. (3) Syarat administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk kabupaten/kota meliputi adanya persetujuan DPRD kabupaten/kota dan Bupati/Walikota yang bersangkutan. persetujuan DPRD provinsi induk dan Gubernur. batas. sarana. persetujuan DPRD provinsi dan Gubernur serta rekomendasi Menteri Dalam Negeri.91 dilakukan dan terus berlangsung karena memang undang-undangnya membuka peluang untuk itu. dan faktor lain yang memungkinkan terselenggaranya otonomi daerah. (3) (4) Pasal 5 (1) Pembentukan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 harus memenuhi syarat administratif. Pasal 6. dan Pasal 7 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang berbunyi sebagai berikut: Pasal 4 (1) (2) Pembentukan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) ditetapkan dengan undang-undang. pengalihan kepegawaian. pendanaan. cakupan wilayah. peralatan. . potensi daerah. luas daerah. (4) Syarat teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi faktor yang menjadi dasar pembentukan daerah yang mencakup faktor kemampuan ekonomi. ibukota. pertahanan.

92 Pasal 6 (1) Daerah dapat dihapus dan digabung dengan daerah lain apabila daerah yang bersangkutan tidak mampu menyelenggarakan otonomi daerah. yaitu DPD dapat menngajukan kepada DPR rancangan undang-undang (RUU) tentang hal dimaksud. dan kepada Menteri Dalam Negari melalui Gubernur untuk Bupati/Walikota dalam satu tahun. (3) Pedoman evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah. perubahan nama daerah. serta perubahannya atau pemindahan ibu kota ditetapkan dengan PP. Selanjutnya laporan dimaksud digunakan pemerintah sebagai dasar melakukan evaluasi penyelenggaraan pemerintahan daerah (Pasal 27 Ayat (2) dan (3) UU 32 Tahun 2004). Sehubungan dengan itu. pemberian nama. atas usul dan persetujuan daerah yang bersangkutan (Ayat (2) dan (3)). Pasal 6 U No. Dalam ketentuan Pasal 8 tidak ditegaskan . Kepala Daerah berkewajiban untuk memberikan laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada Pemerintah (pusat). diatur dengan PP (Pasal 8). dilakukan setelah melalui proses evaluasi. Laporan tersebut disampaikan kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri untuk Gubernur. terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah. (2) Penghapusan dan penggabungan daerah otonom dilakukan setelah melalui proses evaluasi terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah. dalam pembentukan dan pememkaran serta penggabungan daerah terkait juga peran dari Dewan Perwakilan Daerah (DPD) meskipun sangat terbatas. sedangkan mengenai perubahan batas suatu daerah. Tata cara pembentukan penghapusan dan penggabungan daerah. 32 Tahun 2004 menentukan bahwa penghapusan dan penggabungan daerah otonom. Sementara itu dalam Pasal 7 Ayat (1) ditentukan bahwa penghapusan dan penggabungan daerah beserta akibatnya ditetapkan dengan undangundang.

sebab apabila merujuk pada Pasal 4 Ayat (3) dikatakan pembentukan daerah dapat berupa: a. Penggabungan beberapa kecamatan yang bersanding pada wilayah kabupaten/kota yang berbeda. dan penggabungan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. Pada ketentuan ini tidak ditegaskan bagaimana dengan perluasan daerah. Penghapusan. Penggabungan beberapa kabupaten/kota yang bersanding pada wilayah provinsi yang berbeda. Pemekaran dari satu daerah menjadi dua daerah atau lebih. . c. (2) Pembentukan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Adapun peraturan pemerintah yang dimaksud adalah Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2007 Tentang Tata Cara Pembentukan. penghapusan. Penggabungan beberapa provinsi menjadi 1 (satu) provinsi. c.93 bagaimana dengan pemekaran dan perluasan daerah. b. ketentuan tentang tata cara pembentukan. dapat berupa pembentukan daerah provinsi atau daerah kabupaten/kota. b. Selanjutnya. Berkaitan dengan pemekaran daerah menurut Peraturan Pemerintah tersebut sebenarnya hampir sama sebagaimana diatur dalam Pasal 2. Pasal 5. Penggabungan beberapa daerah atau bagian daerah yang bersandingan. (4) Pembentukan daerah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat berupa: a. b. yaitu: (1) Pembentukan daerah dapat berupa penggabungan beberapa daerah atau bagian daerah yang bersandingan atau pemekaran dari satu daerah menjadi dua daerah atau lebih. dan Penggabungan Daerah. (3) Pembentukan daerah provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat berupa: a. dan Pasal 6 diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pemekaran dari 1 (satu) kabupaten/kota menjadi 2 (dua) kabupaten/kota atau lebih. Pemekaran dari 1 (satu) provinsi menjadi 2 (dua) provinsi atau lebih.

Namun demikian. sampai dengan sekarang (2009) telah terjadi banyak sekali pemekaran daerah menjadi daerah otonom baru baik provinsi.94 c. Hal ini sangat penting agar suatu daerah dapat menjalankan roda pemerintahan sebagai daerah yang baru dibentuk. jumlah daerah otonom di Indonesia menjadi 33 provinsi. maka terhadap pengertian pemekaran sebenarnya bukan pemecahan. 164 kabupaten. Apabila ketentuan Pasal 4 Ayat (3) UU No. Hal ini adalah suatu kemajuan dibandingkan dengan peraturan pemerintah sebelumnya. Berdasarkan data yang diajukan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidato pengantar Rancangan Undang-Undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2010 dan Nota Keuangan di depan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tanggal 3 Agustus 2009 diketahui bahwa sejak tahun 1999 sampai dengan 2009 telah terbentuk 205 daerah baru yang terdiri dari 7 provinsi. Penggabungan beberapa kabupaten/kota menjadi 1 (satu) kabupaten/kota. sampai sekarang (2009). 32 Tahun 2004 diteliti. 389 kabupaten. Salah satu perbedaan penting antara kedua peraturan pemerintah tersebut adalah dalam Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2007 diatur tentang batas waktu minimal suatu daerah dapat dimekarkan (lagi) setelah dimekarkan. tetapi mengandung arti bahwa suatu daerah seharusnya dibesarkan bukan . Dengan demikian. kedua peraturan perundang-undangan di atas memiliki kesamaan di mana keduanya sangat membuka peluang terjadinya pemekaran daerah baru. Selengkapnya Pasal 3 berbunyi “Daerah yang dibentuk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3) huruf a dan ayat (4) huruf a dapat dimekarkan setelah mencapai batas minimal usia penyelenggaraan pemerintahan 10 (sepuluh) tahun bagi provinsi dan 7 (tujuh) tahun bagi kabupaten/kota. kabupaten. dan 34 kota. maupun kota. dan 96 kota. Sebagai akibat dari mudahnya prosedur pemekaran daerah seperti yang dijelaskan di atas.

kependudukan. d. e. lokasi calon ibukota. Sementara syarat fisik meliputi paling sedikit 5 Kabupaten/Kota untuk pembentukan Provinsi dan paling sedikit 5 Kecamatan untuk pembentukan Kabupaten. c. 2. 22 Tahun 1999) dapat diketahui bahwa: 1. Melalui PP No. luas daerah. 4 kecamatan untuk Kota. Sebenarnya yang perlu diperhatikan dalam pembentukan pemekaran penhapusan dan penggabungan daerah yaitu tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan melalui: a. Persetujuan DPRD Provinsi induk dan Gubernur serta rekomendasi Menteri Dalam Negeri (Pasal 5 Ayat (2)) adapun untuk Kabupaten/Kota meliputi adanya persetujuan DPRD Kabupaten/Kota dan Bupati/Walikota yang bersangkutan. Peningkatan pelayanan kepada masyarakat. Persetujuan DPRD Provinsi dan Gubernur serta rekomendasi Menteri Dalam Negeri (Ayat 3). dan faktor lain yang memungkinkan terselenggaranya otonomi daerah. Kabupaten dan Kota. Penggabungan daerah adalah pengaturan daerah yang dihapus kepada daerah lain. sarana dan prasarana pemerintahan. pertahanan keamanan. Percepatan pertumbuhan kehidupan demokrasi. b. dan . Percepatan pengelolaan potensi daerah. 129 Tahun 2000 (semasa UU No. Percepatan pelaksanaan pembangunan perekonomian daerah. Pembentukan daerah adalah pemberian status pada wilayah tertentu sebagai Daerah Provinsi. Syarat administrasi untuk Provinsi meliputi adanya persetujuan DPRD Kabupaten/Kota dan Bupati/ Walikota yang akan menjadi cakupan wilayah provinsi. social politik. Pembentukan daerah itu sendiri harus memenuhi syarat administratif dan fisik kewilayahan (Pasal 5 Ayat (1)). Syarat teknis meliputi faktor yang menjadi dasar pembentukan daerah yang mencakup faktor kemampuan ekonomi. peningkatan keamanan dan ketertiban. Pemekaran daerah adalah pemekaran wewenang dari Pemerintah kepada Gubernur sebagai wakil pwemerintah dan/atau perangkat pusat di daerah. 3.95 dipacah. potensi daerah social budaya.

Jumlah provinsi: 8. jumlah penduduk. potensi daerah. Keenam belas negara bagian itu adalah: Republik Indonesia. Antara tahun 1946-1949. Borneo. b. Jawa Barat. f. RIS terdiri atas 16 negara bagian dan 1 Wilayah Federal Batavia. yaitu Sumatera. Belitung. luas daerah. Peningkatan hubungan yang serasi antara pusat dan daerah.php/topic. Negara Madura. terdapat berbagai perubahan wilayah Indonesia karena munculnya negara-negara baru dalam wilayah Indonesia. Pada tahun 1945. Pertimbangan lain yang memungkinkan terselenggaranya ekonomi daerah. Borneo Tenggara. Sunda Kecil. 3. Di bawah ini disajikan data perkembangan jumlah daerah provinsi di Indonesia melalui pemekaran daerah sejak 1945-2009. Riau. kemampuan ekonomi. e. 263 Data diolah dari http://www. Negara Sumatera Selatan. Bangka. dan Maluku. g. Daerah Banjar. Pada akhir tahun 1949. dan Negara Indonesia Timur. Negara Sumatera Timur. Negara Jawa Timur. ketika Belanda mengakui kemerdekaan Republik Indonesia Serikat (RIS) 27 Desember 1949. Sulawesi. Daerah Istimewa Borneo Barat.com/forum/index. Dayak Besar. Jumlah provinsi: 16. sosial politik. Jawa Tengah. Akibatnya tiap-tiap negara bagian mulai menyatukan diri satu per satu dengan Republik Indonesia.lautanindonesia. 2. pemerintah menetapkan Indonesia dibagi menjadi delapan provinsi. Federasi Borneo Timur.0.96 f.263 Daftar Nama dan Jumlah Provinsi di Indonesia Sejak 1945-2009 1. Untuk itu terlebih dahulu harus dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut: a.html . c. Pada awal tahun 1950. muncul gerakan untuk kembali ke negara kesatuan. Jawa Tengah. Jawa Timur. sosial budaya d. Negara Pasundan.5619.

Pada tahun 1953. yaitu Republik Indonesia. yaitu Kalimantan Barat.Jumlah provinsi: 18. Jumlah provinsi: 20. dan Nusa Tenggara Timur. 10. RIS dinyatakan bubar dan diganti dengan NKRI. Pada tahun 1968. RIS hanya terdiri atas 4 negara bagian. 8. Pada tahun 1964. Pada tanggal 17 Agustus 1950. Provinsi Aceh diberi status Daerah Istimewa. Jumlah provinsi: 21. yaitu Bali. 7. Provinsi Bengkulu terbentuk. Sumatera Tengah. Jumlah provinsi: 25. Provinsi Sumatera Tengah dipecah menjadi tiga provinsi. . Jumlah provinsi: 11. Negara Sumatera Timur. 9. yaitu Lampung (dari Sumatera Selatan). Provinsi Sulawesi dipecah menjadi dua provinsi. 5. dan Sulawesi Tenggara (dari Sulawesi Selatan). Provinsi Borneo diganti namanya menjadi Kalimantan. Kemudian Provinsi Sunda Kecil juga dipecah menjadi tiga provinsi. dengan nama Daerah Istimewa Yogyakarta. dan Jambi. Provinsi Sumatera dipecah menjadi tiga provinsi. Pada tahun 1958. Sulawesi Tengah (dari Sulawesi Utara). Pada tahun 1961. yaitu Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan. Kemudian. Riau. dan Sumatera Selatan. Pada tahun 1950. Pada tahun 1960. Kalimantan Selatan. Provinsi Kalimantan Tengah terbentuk. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyerahkan administrasi wilayah Irian Barat kepada Indonesia. dan Kalimantan Timur. yaitu Sumatera Barat. hasil pemekaran dari Sumatera Utara. Jumlah provinsi: 24. Kota Jakarta resmi dikeluarkan dari Jawa Barat dan menjadi provinsi tersendiri dan diberi status Daerah Khusus Ibukota. Pada tahun 1963. dan Negara Indonesia Timur. Provinsi Aceh terbentuk. Nusa Tenggara Barat. Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya secara resmi ditetapkan sebagai ibukota Republik Indonesia. Yogyakarta dikeluarkan dari Jawa Tengah menjadi provinsi tersendiri dan diberi status Daerah Istimewa. tiga provinsi baru terbentuk. hasil pemekaran dari Kalimantan Selatan. Daerah Istimewa Borneo Barat. Pada tahun yang sama. Pada tahun 1956. Jumlah provinsi: 19. dengan nama Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya. Awal Agustus 1950. dengan nama Daerah Istimewa Aceh. Pada akhir tahun 1959. Pada akhir tahun 1956. hasil pemekaran dari Sumatera Selatan. Jumlah provinsi: 14. 6. Pada tahun 1959. yaitu Sumatera Utara. dan ketiga negara bagian selain RI dinyatakan bubar dan dimasukkan ke dalam wilayah NKRI. Kalimantan dipecah menjadi tiga provinsi.97 4.

16. Pada tahun 2003. 14. Apabila dibandingkan dengan masa awal kemerdekaan. Jumlah tersebut juga belum termasuk kabupaten/kota. diadakan jajak pendapat (referendum) di Timor Timur dan Timor Timur secara resmi keluar dari NKRI. dan diberi status Otonomi Khusus. Indonesia menguasai wilayah Timor Timur dan pada tahun 1976. Pada tahun 1999. Pada tahun 2004. Pada tahun 1973. Pada tahun 2001. Provinsi Papua juga diberi status Otonomi Khusus. 13. Daerah Istimewa Aceh diganti namanya menjadi Nanggroe Aceh Darussalam. atau kelurahan/desa yang juga mengalami pemekaran. Dengan semakin bertambahnya jumlah daerah baru tersebut tentu akan membebani anggaran negara dan semakin mengurangi alokasi untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat karena APBN/APBD akan lebih banyak dialokasikan . Provinsi Irian Jaya Barat diubah namanya menjadi Papua Barat. kecamatan. Pada awal tahun 2000. Jumlah tersebut mungkin akan bertambah banyak seiring dengan keinginan banyak pihak yang masih menginginkan pemekaran daerahnya. Jumlah provinsi: 31. pada akhir tahun 1999. Pada tahun 2007. Timor Timur dimasukkan ke dalam wilayah NKRI dan menjadi salah satu provinsi di Indonesia.98 11. Jumlah provinsi: 27. dimekarkan dari Jawa Barat. Provinsi Irian Barat diubah namanya menjadi Irian Jaya. Pada akhir tahun 1975. yaitu Kepulauan Riau (dari Provinsi Riau) dan Sulawesi Barat (dari Sulawesi Selatan). Provinsi Banten resmi berdiri. Pada tahun yang sama. Jumlah provinsi: 30. Irian Barat secara resmi menjadi bagian dari NKRI dan menjadi salah satu provinsi di Indonesia. Kemudian pada akhir tahun 2000. Sama halnya dengan NAD. dua provinsi baru resmi berdiri. Jumlah provinsi: 26. Provinsi Irian Jaya Barat resmi berdiri. jumlah provinsi dalam sepuluh tahun terakhir meningkat menjadi lebih dari 400%. 17. yaitu Kepulauan Bangka Belitung (dari Sumatera Selatan) dan Gorontalo (dari Sulawesi Utara). Tetapi. Jumlah provinsi: 27. Jumlah provinsi: 28. setelah diadakan Penentuan Pendapat Rakyat(Pepera). Provinsi Maluku Utara terbentuk. Pada tahun 1969. hasil pemekaran dari Provinsi Maluku. Jumlah provinsi: 33. 15. 12. hasil pemekaran dari Provinsi Papua. Provinsi Irian Jaya diganti namanya menjadi Papua. dua provinsi baru resmi berdiri.

Hal itu terjadi karena penyelenggaraan pemerintahan daerah yang baru belum memiliki pengalaman yang memadai dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat maupun menjalankan roda pemerintahan. Dengan demikian. kendaraan baru. penghapusan dan penggabungan daerah otonom dilakukan setelah melalui proses evaluasi terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah sebagaimana yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. Di dalam Penjelasan Umum Peraturan Pemerintah tersebut dijelaskan alasan pentingnya dilakukan evaluasi terhadap suatu daerah sebagai berikut: . dan sebagainya. termasuk daerah baru hasil pemekaran. Anggaran tersebut misalnya untuk alokasi pembangunan infrastruktur baru. Pada kenyataannya. untuk mengerem terjadinya pemekaran daerah. Dalam hal ini. gaji pejabat baru. Di lain pihak. untuk daerah tertentu yang dianggap tidak mampu dimungkinkan untuk dihapuskan atau digabungkan dengan daerah lain. Peraturan Pemerintah tersebut sebagai pelaksanaan perintah Pasal 6 ayat (3) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 untuk mengevaluasi keberadaan daerah. Bahkan keadaan yang lebih parah dapat terjadi di daerah baru tersebut dibandingkan dengan pada waktu masih menginduk kepada daerah induknya. Akan tetapi. gedung baru. tunjangan jabatan pejabat baru. keterbatasan sarana dan prasarana atau infrastruktur juga dapat menjadi penyebab terbatasnya pelayanan publik sebagaimana mestinya. masyarakat tetap saja merasakan tidak adanya peningkatan kesejahteraan maupun pelayanan yang diberikan oleh pemerintah daerah barunya.99 dan tersedot untuk daerah-daerah baru tersebut. tujuan utama untuk membentuk daerah baru dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pelayanan publik juga menjadi persoalan yang tidak mudah untuk diwujudkan. secara konseptual dan yuridis formal pemerintah sudah mencoba melakukan upaya tersebut dengan mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2008 Tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. pakaian dinas baru. apakah mampu atau tidak menyelenggarakan otonomi daerah. Selain itu.

khususnya PAD dan dana perimbangan (tidak termasuk mengenai dana otonomi khusus yang diberikan kepada Provinsi Papua dan Aceh). Selain itu. 25 Tahun 1999. 33 Tahun 2004 menitikberatkan pada pengaturan perimbangan keuangan pusat-daerah. Dalam hal jenis dana perimbangan terdapat istilah baru untuk menyebut .100 ”. adalah untuk menilai kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah dalam upaya peningkatan kinerja untuk mendukung pencapaian tujuan penyelenggaraan otonomi daerah berdasarkan prinsip tata kepemerintahan yang baik. sampai saat ini juga belum ada data yang menunjukkan bahwa ada daerah tertentu yang sudah dihapuskan atau digabungkan dengan daerah lainnya karena dianggap tidak mampu menjalankan otonomi daerah. untuk mengetahui keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan daerah dalam memanfaatkan hak yang diperoleh daerah dengan capaian keluaran dan hasil yang telah direncanakan. maupun daya saing daerah. pengaturan tersebut tidak terlepas dari pendapatan daerah untuk membiayai urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya.. 33 Tahun 2004. Padahal. UU No. Namun tampaknya peraturan pemerintah tersebut belum optimal dijalankan mengingat sampai saat ini tidak diperoleh data yang terbuka untuk umum tentang hasil evaluasi yang dilakukan oleh Tim Nasional Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah dalam mengevaluasi daerah-daerah baru hasil pemekaran. serta pembiayaan berupa pinjaman daerah. Hubungan Keuangan UU No. secara faktual banyak sekali daerah.. memperbaiki sistem perimbangan keuangan pusat – daerah yang diatur sebelumnya dalam UU No. terutama daerah baru... Pemerintah berkewajiban mengevaluasi kinerja pemerintahan daerah . Dalam bagian ini yang akan dibahas adalah pendapatan daerah. C. Namun demikian.”.. yang tidak mampu menjalankan pemerintahannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan ataupun tujuan awal pembentukannya yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tujuan utama dilaksanakannya evaluasi.. pelayanan umum.

266 Pasal 6 ayat (1) UU No. Namun demikian. 25 Tahun 2002. dan menetapkan Perda tentang pendapatan yang menghambat mobilitas 264 265 Lihat Pasal 6 ayat (1) huruf a UU No. 33 Tahun 2004.266 Walaupun daerah diberikan kewenangan untuk meningkatkan PAD. namun berbeda dari segi formulanya. Dalam UU No. Sementara itu dalam UU No. Khusus mengenai dana perimbangan lainnya. yaitu dana alokasi umum (DAU). Walaupun inti dari hubungan keuangan pusat daerah adalah perimbangan keuangan. hasil pengelolaan kekayaan Daerah yang dipisahkan. 33 Tahun 2004. DAU dan DAK akan dibahas selanjutnya. dan lain-lain PAD yang sah. 33 Tahun 2004. tidak hanya mengatur dana perimbangan dalam rangka desentralisasi.101 dana perimbangan yang berasal dari pembagian pajak dan sumber daya alam. 1. namun hubungan keuangan pusat-daerah juga berkaitan dengan pembiayaan urusan pusat yang diselenggarakan oleh pemerintahan daerah dan oleh aparat pusat yang juga unsur pemerintah daerah. Perubahan tersebut. namun daerah dilarang menetapkan peraturan daerah (Perda) tentang pendapatan yang menyebabkan ekonomi biaya tinggi. 33 Tahun 2004. 22 Tahun 1999. Dalam UU No. istilah dan substansinya tetap dipertahankan dalam UU No. namun juga ditambah dengan perubahan asal dana yang dibagi. PPh tidak dijadikan pajak yang dibagi ke daerah. . retribusi daerah. Pendapatan Asli Daerah Pendapatan Asli Daerah (PAD) bersumber dari pajak daerah. tidak hanya sekedar penggantian istilah. dana tersebut disebut sebagai Bagian Daerah dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan. sementara dalam UU No. dan dana alokasi khusus (DAK). istilah dana tersebut diubah menjadi dana bagi hasil (DBH).22 Tahun 1999. Mengenai DBH. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan264. Hal ini disebabkan UU No. dalam penelitian ini tidak dibahas mengenai dana tugas pembantuan dan dekonsentrasi karena memerlukan penelitian tersendiri yang lebih mendetail. melainkan juga dana tugas pembantuan dan dana dekonsentrasi. PPh tertentu juga menjadi DBH. yaitu dalam hal jenis pajak265. 33 Tahun 2004.

18 Tahun 1997 tidak mengatur jenis-jenis retribusi daerah seperti halnya pajak daerah. Tahun 1957 tentang Peraturan umum Pajak Daerah dan Undang-Undang Nomor 12 Drt. pengaturan mengenai retribusi daerah diatur dalam PP No. 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah merupakan UU yang penting di bidang ini. UU No.267 Dalam UU No. Perbedaannya. UU No. UU No.102 penduduk. 20 Tahun 1997.18 Tahun 1997 diubah untuk disesuikan.268 Dalam PP No. 33 Tahun 2004. ditentukan 11 jenis dari golongan retribusi jasa umum. Sementara itu. 20 Tahun 1997) dan ditentukan 10 jenis dari golongan jasa retribusi umum. dan 6 jenis golongan retribusi perizinan tertentu.66 Tahun 2001 (menggantikan PP No. dan kegiatan impor/ekspor. 7 pajak daerah untuk kabupaten/ kota. UU N0. 34 Tahun 2000 menambahkan 1 jenis pajak daerah untuk provinsi dan 1 jenis untuk pajak daerah kabupaten/ kota. 22 Tahun 1999. 34 Tahun 2000 sama-sama mengatur bahwa selain jenis pajak daerah yang telah ditentukan dapat ditambahkan jenis pajak daerah lain berdasarkan kriteria yang ditentukan UU tersebut (sistem terbuka). Jenis-jenis retribusi daerah ditentukan dalam Peraturan Pemerintah. 18 Tahun 1997 dan UU No. dan 3 golongan retribusi daerah. UU No. 12 jenis untuk golongan retribusi jasa usaha. yaitu Peraturan Pemerintah No. Setelah berlakunya UU No. dan lahirlah perubahan pertama dari UU tersebut (UU No. . lalu lintas barang dan jasa antardaerah. karena menggantikan UU sebelumnya yang telah berlaku dalam waktu yang cukup lama (UndangUndang Nomor 11 Drt. 20 Tahun 1997. 18 Tahun 1997 mengatur kewenangan daerah untuk memungut 3 pajak daerah untuk provinsi. UU No 18 Tahun 1997 mengatur 267 268 Pasal 7 UU No. 34 Tahun 2000). 13 jenis untuk golongan retribusi jasa usaha. Tahun 1957 tentang Peraturan Umum Retribusi Daerah). dan 4 jenis golongan retribusi perizinan tertentu yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah.

28 Tahun 2009. PP No. 18 Tahun 1997 dan PP No.66 Tahun 2001 menentukan bahwa daerah dapat mengatur jenis retribusi daerah selain yang ditentukan dalam kedua PP tersebut dengan kriteria yang ditentukan dalam UU No. UU No. 20 Tahun 1997 dalam menentukan jenis-jenis pajak daerah dan retribusi daerah. sementara UU No. 20 Tahun 1997 memberikan kewenangan untuk menambahkan jenis-jenis pajak daerah dan retribusi daerah kepada pemerintah pusat.270 Dalam hal retribusi daerah. mencari. 34 Tahun 2000 dan PP No. sementara dalam UU No. memberikan kewenangan tersebut kepada pemerintahan daerah. 34 Tahun 2000). Menggantikan UU sebelumnya. artinya daerah hanya diperbolehkan memungut pajak dan retribusi sesuai undangundang ini sehingga tidak ada lagi daerah yang perlu mengubah.103 bahwa penambahan jenis pajak daerah tersebut ditetapkan dalam PP269. atau berkreasi yang tidak baik dalam arti mencari-cari penghasilan asli daerah. Artinya. 34 Tahun 2000. ketentuan dalam UU No. Sementara itu. daerah tidak dapat memungut pajak daerah selain yang ditentukan dalam UU tersebut. 34 Tahun 2000. 28 Tahun 2009 mulai diberlakukan pada tanggal 1 Januari 2010. . 66 Tahun 2001. 66 Tahun 2001. 269 270 Lihat Pasal 2 ayat (3) UU No.” “Pajak Daerah Dibatasi. 18 Tahun 1997 dan perubahan pertamanya (UU No. Selasa (4/8) mengatakan: ”Sistem yang ditetapkan bersifat daftar tertutup. Perbedaan pengaturan di atas mencerminkan bahwa UU No. 18 Tahun 1997 dan PP No. Dengan demikian. memberikan otonomi yang lebih luas dibandingkan UU No. 20 Tahun 1997 tidak memberikan kewenangan kepada daerah untuk menetapkan jenis retribusi lain selain yang ditetapkan dalam PP tersebut (sistem tertutup). 28 Tahun 2009. Lihat Pasal 2 ayat (4) UU No. UU No. 18 Tahun 1997.271 Berbeda dengan dengan UU No. 272 Menteri Keuangan sekaligus Pelaksana Jabatan Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati di Jakarta. PP No. penambahan tersebut ditetapkan dengan peraturan daerah. Penambahan jenis retribusi daerah ditetapkan dalam bentuk Perda. 34 Tahun 2000 dan PP No. mengatur jenis pajak daerah sistem daftar tertutup272. 271 Lihat Pasal 185 UU No. 34 Tahun 2000 (sistem terbuka).

hanya dikenal pungutan cukai rokok.dibatasi.274 Pungutan atas usaha rokok sebelumnya. 28 Tahun 2009. Pajak rokok sebagai pajak daerah baru ditentukan untuk dipungut instansi pemerintah yang berwenang memungut cukai bersamaan pungutan cukai rokok. namun hal ini merupakan satu kemajuan dalam hal kewenangan daerah memungut pajak. 278 Pasal 94 ayat (1) huruf c UU No. Journal of Public Budgeting. 15 No. Larry Schroeder. Vol. termasuk PBB pedesaan dan perkotaan menjadi kewenangan pusat. Academic Press. 402. Rabu. Walaupun tidak semua jenis PBB diberikan kewenangan kepada daerah. 273 Ibid. pajak sarang burung walet Pelayanan kepada Masyarakat Wajib Ditingkatkan”. seperti Filipina. masing –masing 1 untuk provinsi (pajak rokok) dan 3 untuk kabupaten/ kota (pajak sarang burung wallet. 28 Tahun 2009. 276 Pasal 181 UU No.daerah. Accounting & Financial Management. PBB pedesan dan perkotaan serta BPHTB).com/read/xml/2009/08/05/04112298/pajak.273 Sebelumnya. 28 Tahun 2009. 392. Malaysia PBB atau secara umum dikenal sebagai property tax sudah diberikan kewenangannya kepada daerah sejak lama. Sementara itu. Hasil penerimaan pajak tersebut sebesar 70% dialokasikan untuk kabupaten/kota278. Kompas. selain cukai rokok yang menjadi kewenangan provinsi.275 Pajak rokok ini baru berlaku 1 Januari 2014. 275 Pasal 27 ayat (3) UU No. Padahal jika dibandingkan dengan negara-negara asia tenggara lainnya. . sementara Thailand memberikan kewenangan kepada daerah untuk memungut a single property based tax (1999). 393. 5 Agustus 2009. semua PBB. hlm. 28 Tahun 2009 juga menambahkan jenis pajak daerah baru. BPHTB. cukai rokok pun tetap diberlakukan dan tetap menjadi kewenangan pemerintah pusat. 3. sehingga provinsi menerima sisanya (30%). 28 Tahun 2009. 277 Lihat Pasal 28 dan Pasal 29 UU No. “Fiscal Decentralization in South East Asia”.277 Hasil penerimaan pajak tersebut juga merupakan objek pembagian antara kabupaten/ kota dan provinsi. Thailand. sementara dalam UU No.kompas. 171). diakses dari http://koran. 2003. 274 Filipina memberikan kewenangan kepada daerah untuk memungut the real property tax sejak diundangkannya Local Government Act 1959. Lihat. 28 Tahun 2009.276 Dasar pengenaan pajak rokok adalah cukai rokok yang ditetapkan pemetintah terhadap rokok dan tarif pajak rokok ditentukan sebesar 10% dari cukai rokok. 405.104 UU No. Malaysia juga memberikan kewenangan yang sama kepada daerah (berupa property tax) sejak diundangkannya Local Government Act 1976 (Act No.

pajak kendaraan bermotor menggunakan tarif pajak progresif untuk kepemilikan kendaraan kedua dan seterusnya dengan tarif 2% sampai maksimal 10% di mana ketentuan progresivitasnya ditentukan oleh Perda provinsi. UU tersebut juga menentukan bahwa pajak air tanah menjadi pajak daerah kabupaten/kota. 285 Hasil penerimaan Pajak Air Permukaan diserahkan kepada kabupaten/kota yang bersangkutan sebesar 80% (delapan puluh persen). pemerintah pusat dapat mengubah besaran tarif Perda melalui Perpres. dan Pemerintah Daerah) bersama Kendaraan Bermotor angkutan umum. namun tarif pajak untuk kendaraan umum dapat ditentukan 50% lebih rendah dari tarif kendaraan pribadi. Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor diperluas hingga mencakup kendaraan Pemerintah. dan kendaraan lain yang ditetapkan dengan .283 Ketiga.282 Bila terjadi kenaikan harga tinggi atas BBM. Tidak sekedar menggantikan nomenklatur. 282 Pasal19 ayat(2) UU No.286 Pajak Hotel diperluas hingga 279 280 Pasal 75 ayat (1) UU No.280 Kedua. pemadam kebakaran. Pertama. 28 Tahun 2009. dan Pasal 2 ayat (2) huruf h UU No. kepemilikan pertama ditetapkan tariff minimal 1% dan maksimal 2%. 28 Tahun 2009 juga mengubah beberapa pengaturan pajak daerah yang sebelumnya telah ada dalam UU sebelumnya. 281 Pasal19 ayat(1) UU No. 283 Pasal19 ayat(3) UU No. 28 Tahun 2009. yaitu.279 Selain penambahan jenis pajak baru.284 dan air permukaan yang hanya di satu kabupaten/kota berlaku aturan khusus. Lihat Pasal 94 ayat (2) UU No. Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan yang semula merupakan kewenangan Provinsi. 286 Tarif pajak Kendaraan pemerintah (termasuk TNI/POLRI. 284 Lihat Pasal 2 ayat(1) huruf d. 28 Tahun 2009. 28 Tahun 2009. ambulans. basis pajaknya (tax base) diperluas. digantikan istilahnya dengan pajak pengambilan dan pemanfatan air tanah dan air permukaan. 28 Tahun 2009.285 Keempat. lembaga sosial dan keagamaan. ada beberapa jenis pajak daerah yang sudah ada.105 merupakan pajak daerah yang dipungut bagi daerah-daerah yang memiliki sumber daya tersebut dengan tarif maksimal 10 %. tarif pajak bahan bakar kendaraan bermotor ditetapkan maksimal 10%281. 28 Tahun 2009. Pasal 6 ayat (1) UU No. UU No. sosial keagamaan. 28 Tahun 2009. sementara pajak air permukaan menjadi pajak daerah provinsi.

pesanggrahan. 28 Tahun 2009. panti pijat. dan mandi uap/spa . Pajak pusat yang menjadi sumber DBH dari pajak adalah dari pajak bumi dan bangunan (PBB). Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB).292 2. baik bagian provinsi maupun bagian kabupaten/kota. ditetapkan paling rendah sebesar 0. yaitu Pajak Kendaraan Bermotor (minimal 10% dari hasi penerimaan pajak ini untuk belanja infrastruktur jalan (pembangunan dan/atau pemeliharaan jalan) serta peningkatan Pajak moda dan sarana transportasi umum di daerahnya)290.287 Pajak Restoran diperluas hingga mencakup pelayanan katering.288 tarif Pajak Hiburan untuk hiburan – hiburan tertentu dinaikkan hingga mencapai tariff maksimal 75%. 291 Pasal 31 UU No. 28 Tahun 2009. wisma pariwisata. 292 Pasal 56 ayat (3) UU No. Lihat Pasal 6 ayat(3) UU No.289 Kelima. 28 Tahun 2009. karaoke. 290 Lihat Pasal 8 ayat (5) UU No. losmen. 287 Pengertian hotel menjadi diperluas menjadi: fasilitas penyedia jasa penginapan/peristirahatan termasuk jasa terkait lainnya dengan dipungut bayaran. diskotik. . 28 Tahun 2009. Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 25 dan Pasal 29 Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri dan PPh Pasal 21. dan Pajak Penerangan Jalan juga sebagian dialokasikan untuk penyediaan penerangan jalan. Dana Bagi Hasil Komponen DBH dalam UU No. 28 Tahun 2009.293 Hal tersebut berbeda dengan Bagian Perda. Lihat Pasal 1 angka 21 UU No. 288 Pengertian restoran dalam Pasal 1 angka 23 UU No. klab malam. 28 Tahun 2009. dialokasikan paling sedikit 50% (lima puluh persen) untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat dan penegakan hukum oleh aparat yang berwenang291. 28 Tahun 2009 juga mencakup jasa boga/katering. 293 Pasal 11 ayat (2) UU No.106 mencakup seluruh persewaan di hotel. gubuk pariwisata. kontes kecantikan. yang mencakup juga motel. 33 Tahun 2004 terdiri pembagian beberapa jenis pajak (pusat) dan hasil pengelolaan sumber daya alam. rumah penginapan dan sejenisnya. Dana Perimbangan a. 289 Jenis hiburan yang dimaksud yaitu: pagelaran busana.33 Tahun 2004. serta rumah kos dengan jumlah kamar lebih dari 10 (sepuluh).5% dan paling tinggi sebesar 1%. Rokok. Lihat Pasal 45 ayat (2) UU No. ada beberapa jenis pajak yang hasil penerimaan ditentukan penggunaannya. permainan ketangkasan.

5% yang dibagikan sebagai insentif kepada kabupaten dan/kota. Dengan demikian. mencapai/melampaui rencana penerimaan yang ditetapkan. 55 Tahun 2005. pertambangan gas bumi. yang tidak mencantumkan PPh sebagai salah satu sumber bagian daerah atas pajak. dan 3. 22 Tahun 1999. Dalam DBH pajak ada dua hal yang penting.294 Hal ini juga berbeda dengan bidang –bidang sumber daya alam yang menjadi sumber Bagian Daerah atas sumber daya alam dalam UU No. 295 294 295 Pasal 11 ayat (3) UU No.22 Tahun 1999 yang tidak mencantumkan bidang pertambangan panas bumi. Penerimaan insentif tersebut diberikan kepada kabupaten/ kota yang realisasi penerimaan PBB sektor Pedesaan dan Perkotaan pada tahun anggaran sebelumnya. 33 Tahun 2004. jika dibandingkan dengan UU No. 10% (sepuluh persen) bagian Pemerintah dari penerimaan PBB dibagikan kepada seluruh daerah kabupaten dan kota yang didasarkan atas realisasi penerimaan PBB tahun anggaran berjalan. Dari persentase 10 % bagian pusat dengan imbangan di atas maka persentase riil yang dibagi adalah 6. yaitu: mengenai prosentase alokasi DBH dari sektor pajak. dan pertambangan panas bumi.107 Daerah atas pajak dalam UU No. DBH dari penerimaan sumber daya alam (DBH-SDA) berasal dari 6 bidang sumber daya alam yang menjadi sumber yaitu: kehutanan. Pengaturan persentase perimbangan alokasi DBH PBB dan BPHTB antara pusat dan daerah adalah 10 % : 90 % untuk DBH PBB dan 20% : 80 % untuk DBH BPHTB. Lihat Pasal 6 ayat (2) PP No. serta persentase pembagian DBH antara satuan pemerintahan daerah. . pertambangan minyak bumi. 33 Tahun 2004 menambah penerimaan pusat atas bidang sumber daya alam yang dibagi ke daerah. 22 Tahun 1999. Sementara itu.5% untuk seluruh kabupaten/kota yang dibagikan secara merata. perikanan. pertambangan umum. maka UU No.

sementara 20% (dua puluh persen) bagian Pemerintah dari penerimaan BPHTB dibagikan dengan porsi yang sama besar untuk seluruh kabupaten dan kota.298 Dengan demikian. DBH dari penerimaan BPHTB adalah sebesar 80% (delapan puluh persen)296. dan Dana Reboisasi. Persentase pembagian IHPH dan PSDH yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan adalah 20 % untuk pusat dan 80 % untuk daerah.33 Tahun 2004. penerimaan 6 bidang SDA yang dibagi dengan daerah dilakukan dengan memberikan persentase tertentu yang sifatnya tetap. Pasal 12 ayat (5) UU No. penerimaan kehutanan yang berasal dari Dana Reboisasi dibagi dengan 296 297 Lihat Pasal 13 ayat (4) UU No. dibagi dengan imbangan 60% (enam puluh persen) untuk kabupaten/kota dan 40% (empat puluh persen) untuk provinsi. namun berujung pada pengalokasian DBH dari penerimaan PBB dan BPHTB 100 % pada daerah. 299 Lihat Pasal 8 ayat (2) PP No. 33 Tahun 2004. walauapun pada awalnya terdapat perimbangan alokasi DBH antara pusat dan daerah. .297 Dari pengaturan di atas. Dengan demikian.299 Sementara itu. pendapatan negara dari penerimaan PBB dan BPHTB dibagi habis kepada daerah dengan persentase di atas. 33 Tahun 2004. Berbeda dengan DBH dari PBB dan BPHTB yang dibagi habis pada daerah. alokasi DBH dari penerimaan PPh Pasal 25 dan Pasal 29 Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri dan PPh Pasal 21 hanya 20 % yang menjadi bagian daerah. 80 % penerimaan PPh di atas menjadi bagian pusat.108 Sementara itu. 33 Tahun 2004. Dari 20 % bagian daerah di atas. 55 Tahun 2005. 298 Lihat Pasal 13 ayat (1) UU No. Dengan demikian.300 Sementara itu. 300 Lihat Pasal 14 huruf a UU No. Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH). provinsi mendapatkan bagian sebesar 8 % dan kabupaten/ kota di provinsi bersangkutan mendapatkan 12 % dari bagian daerah. Untuk penerimaan kehutanan. terdapat dua macam sub bidang penerimaan yang dibagi yaitu penerimaan Iuran Hak Pengusahaan Hutan (IHPH).

301 untuk mendanai kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan.5% dialokasikan untuk menambah anggaran pendidikan dasar. 304 Lihat Pasal14 huruf d UU No. dan 15.304 Penerimaan Perikanan tersebut terdiri atas Penerimaan Pungutan Pengusahaan Perikanan.302 Penerimaan pertambangan umum yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan.33 Tahun 2004. persentase pembagian Penerimaan Perikanan yang diterima secara nasional juga sama (20% : 80%).33 Tahun 2004. Sementara itu.306 Penerimaan Pertambangan minyak bumi yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan setelah dikurangi komponen pajak dan pungutan lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan. 33 Tahun 2004.33 Tahun 2004.109 imbangan sebesar 60% untuk pusat dan 40% untuk daerah.5% (lima belas setengah persen) untuk Daerah. tidak kepada provinsi.33 Tahun 2004. 308 Lihat Pasal14 huruf f UU No. dibagi dengan imbangan 20% (dua puluh persen) untuk pusat dan 80% (delapan puluh persen) untuk daerah. dan 30.33 Tahun 2004. UU No. 303 Lihat Pasal 14 huruf c UU No.303 Sementara itu.309 301 302 Lihat Pasal14 huruf b UU No. 33 Tahun 2004 mengatur bahwa sebesar 0.5% (tiga puluh setengah persen) untuk daerah.5% (delapan puluh empat setengah persen) untuk Pemerintah. 305 Lihat Pasal 18 ayat (1) UU No.33 Tahun 2004. dan Penerimaan Pungutan Hasil Perikanan305 dan dibagikan dengan porsi yang sama besar kepada kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Bagi DBH yang berasal dari penerimaan pertambangan minyak bumi dan gas bumi. 307 Lihat Pasal14 huruf e UU No. Lihat Pasal 16 huruf b UU No. namun 80 % bagian daerah hanya diperuntukkan bagi seluruh kabupaten/kota. 306 Lihat Pasal 18 ayat (2) UU No. dibagi dengan imbangan:307 84.5% (enam puluh sembilan setengah persen) untuk pemerintah. 309 Lihat Pasal 20 ayat (1) .33 Tahun 2004. penerimaan dari pertambangan gas bumi dibagi dengan imbangan:308 69.

33 Tahun 2004. 33 Tahun 2004. dan 32% (tiga puluh dua persen) untuk kabupaten/kota lainnya dalam provinsi yang bersangkutan. 33 Tahun 2004 mengatur sanksi administrasi berupa pemotongan atas penyaluran DBH minyak bumi dan gas bumi. 314 dibagikan dengan porsi yang sama besar untuk semua kabupaten/kota dalam provinsi yang bersangkutan.110 Jika ketentuan peruntukkan untuk alokasi pendidikan dasar tersebut dilanggar. Lihat Pasal 21 ayat (1) UU No. 33 Tahun 2004.312 20% DBH tersebut dibagi dengan rincian:313 16% (enam belas persen) untuk provinsi yang bersangkutan. Iuran tetap dan iuran produksi. UU No. 311 310 . berkaitan dengan kemungkinan bertambahnya presentase DAU jika terdapat kelebihan penerimaan negara dari minyak bumi dan gas bumi yang ditetapkan dalam APBN Perubahanyang dialokasikan sebagai DAU tambahan318 berdasarkan formula DAU atas dasar celah fiskal. 312 Lihat Pasal14 huruf g UU No. Dana Alokasi Umum DAU adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar-daerah duntuk mendanai kebutuhan Presentase daerah dalam dana rangka pelaksanaan sekurangdesentralisasi. Lihat Penjelasan Pasal 27 ayat (1) UU No. Lihat Pasal 21 ayat (3) UU No. 318 Lihat Pasal 47 ayat (1) PP No. dan. Lihat Pasal 25 UU No. 315 Pasal 1 angka 21 UU No. 317 Pasal 27 ayat (1) UU No. 55 Tahun 2005.33 Tahun 2004.33 Tahun 2004. 319 Lihat Pasal 47 ayat (2) PP No. 313 Lihat Pasal 21 ayat (2) UU No.33 Tahun 2004. 32% (tiga puluh dua persen) untuk kabupaten/kota penghasil.310 Pertambangan panas bumi yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan yang merupakan Penerimaan Negara Bukan Pajak yang terdiri atas:311 Setoran Bagian Pemerintah.315 APBN.33 Tahun 2004.319 Jika dibandingkan dengan UU No.314 b. Penerimaan tersebut dibagi dengan imbangan 20% untuk pusat dan 80% untuk daerah. 55 Tahun 2005. 33 Tahun 2004.317 keseluruhan tersebut kurangnya 26% dari Pendapatan Dalam Negeri Neto316 yang ditetapkan dalam Istilah “sekurang-kurangnya”. 316 Pendapatan Dalam Negeri Neto adalah Penerimaan Negara yang berasal dari pajak dan bukan pajak setelah dikurangi dengan Penerimaan Negara yang dibagihasilkan kepada Daerah.

jumlah DAU yang diterima setiap daerah adalah celah fiskal ditambah alokasi dasar. 33 Tahun 2004. Sebagaimana disinggung di atas bahwa.322 Sementara itu. 322 Pasal 27 ayat (3) UU No. Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK). 33 Tahun 2004 lebih besar. Kebutuhan fiskal yang merupakan kebutuhan kebutuhan pendanaan daerah untuk melaksanakan fungsi layanan dasar umum324. 33 Tahun 2004.325 Sementara itu. 33 Tahun 2004.323 Dengan demikian. jika dibandingkan dengan penghitungan alokasi dasar yang hanya didasarkan pada gaji PNSD. alokasi dasar dihitung berdasarkan jumlah gaji Pegawai Negeri Sipil Daerah (PNSD). 326 Pasal 28 ayat (3) UU No. Kapasitas fiskal Daerah merupakan sumber pendanaan Daerah yang berasal dari PAD dan Dana Bagi Hasil. 33 Tahun 2004. luas wilayah. 324 Pasal 28 ayat (1) UU No. UU No. Produk Domestik Regional Bruto (PDB) per kapita. Apalagi ditentukan juga bahwa proporsi DAU antara daerah provinsi dan kabupaten/kota ditetapkan berdasarkan imbangan kewenangan antara provinsi dan kabupaten/kota. 323 Pasal 27 ayat (4) UU No.326 Dari pengaturan tersebut. 33 Tahun 2004. terlihat bahwa formula penentuan celah fiskal. 327 Pasal 29 UU No. 321 Pasal 27 ayat (2) UU No.327 320 Dalam Pasal 7 ayat (1) UU No.111 25 Tahun 1999 yang hanya mengatur jumlah DAU sebesar 25 % dengan formula yang hampir sama. 325 Pasal 28 ayat (2) UU No. 25 Tahun 1999 diatur bahwa “Dana Alokasi Umum ditetapkan sekurang-kurangnya 25% (dua puluh lima persen) dari Penerimaan Dalam Negeri yang ditetapkan dalam APBN”. 33 Tahun 2004 menentukan bahwa formula menentukan celah fiskal adalah kebutuhan fiskal dikurangi dengan kapasitas fiskal Daerah. dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). 33 Tahun 2004. presentase DAU berdasarkan UU No. celah fiskal merupakan kebutuhan fiskal dikurangi kapasitas fiskal. 33 Tahun 2004. khususnya formula penghitungan kebutuhan fiskal lebih rumit.320 DAU pada dasarnya yang dialokasikan untuk 321 suatu daerah dialokasikan atas dasar celah fiskal dan alokasi dasar. diukur secara berturut-turut dengan jumlah penduduk. .

332 Hal ini disebabkan DAK dialokasikan kepada daerah tertentu untuk mendanai kegiatan khusus sesuai dengan fungsi yang telah ditetapkan dalam APBN333 yang merupakan urusan daerah.331 Berbeda dengan dana perimbangan lainnya. Besaran DAK ditetapkan setiap tahun dalam APBN. daerah yang memiliki nilai celah fiskal negatif dan nilai negatif tersebut lebih kecil dari alokasi dasar menerima DAU sebesar alokasi dasar setelah dikurangi nilai celah fiskal. 330 Pasal 32 ayat (3) UU No.330 c. Hal ini dapat dimengerti karena pada dasarnya urusan pemerintahan yang dibiayai DAK merupakan kewenangan daerah.328 Sementara itu. 33 Tahun 2004. Dana Alokasi Khusus Dana Alokasi Khusus (DAK) adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional. Pinjaman Daerah 328 329 Pasal 32 ayat (1) UU No. daerah dengan kemampuan fiskal tertentu tidak diwajibkan menyediakan Dana Pendamping.329 Daerah yang memiliki nilai celah fiskal negatif dan nilai negatif tersebut sama atau lebih besar dari alokasi dasar tidak menerima DAU. . 333 Pasal 39 ayat (2) UU No. 33 Tahun 2004. 3. 334 Pasal 39 ayat (1) UU No. 33 Tahun 2004. 332 Pasal 38 UU No. 33 Tahun 2004. Pasal 32 ayat (2) UU No.112 Besarnya jumlah celah fiskal akan mempengaruhi jumlah alokasi DAU yang diperoleh suatu daerah. 335 Pasal 41 ayat (1) UU No. Namun demikian.334 Daerah penerima DAK juga ditentukan wajib menyediakan Dana Pendamping sekurang-kurangnya 10% dari alokasi DAK335. 33 Tahun 2004. 33 Tahun 2004. DAK tidak ditentukan berdasarkan presentase tertentu. 33 Tahun 2004. Daerah yang memiliki nilai celah fiskal sama dengan nol menerima DAU sebesar alokasi dasar. 331 Lihat Pasal 1 angka 23 UU No. 33 Tahun 2004.

33 Tahun 2004. 338 Pasal 49 ayat (3) UU No. 33 Tahun 2004. jenis dan jangka waktu pinjaman. penggunaan pinjaman. UU No.337 Menteri Keuangan menetapkan batas maksimal kumulatif pinjaman Pemerintah Daerah secara keseluruhan selambat-lambatnya bulan Agustus untuk tahun anggaran berikutnya. 342 Pasal 56 ayat (2) UU No.341 Pinjaman kepada pemerintah daerah dilakukan melalui perjanjian penerusan pinjaman kepada pemerintah daerah. bahwa daerah tidak dapat melakukan pinjaman langsung kepada pihak luar negeri.342 Perjanjian penerusan pinjaman dilakukan antara Menteri Keuangan dan Kepala Daerah dan dapat dinyatakan dalam mata uang 336 337 Pasal 49 ayat (1) UU No. dalam 6 batas pinjaman.113 Salah satu sumber pembiayaan daerah (untuk menutupi defisit anggaran) yang diandalkan adalah melalui pinjaman daerah. Mengenai batas pinjaman. maka akan dikenakan sanksi administratif berupa penundaan dan/atau pemotongan atas penyaluran dana perimbangan oleh Menteri Keuangan. persyaratan pinjaman. di mana pemerintah dapat memberikan pinjaman kepada pemerintah daerah yang dananya berasal dari luar negeri. termasuk kewenangan yang tetap dimiliki oleh pusat. 33 Tahun 2004.340 Hal ini berkaitan dengan pengaturan mengenai prosedur pinjaman daerah. 33 Tahun 2004. 33 Tahun 2004. Pasal 49 ayat (2) UU No. 60% (enam puluh Batas maksimal kumulatif pinjaman tidak melebihi dari Produk Domestik Bruto tahun persen) bersangkutan. sumber pinjaman. 341 Pasal 56 ayat (1) UU No. 33 Tahun 2004. yang paling penting dalam hal ini. . 340 Pasal 50 ayat (2) UU No.339 Jika daerah melakuan pelanggaran terhadap ketentuan. 33 Tahun 2004 mengatur sejumlah ketentuan mengenai kewenangan pemerintahan daerah untuk melakukan pinjaman (daerah). prosedur pinjaman.338 Namun demikian. pemerintah pusat menetapkan batas maksimal kumulatif pinjaman pemerintah pusat dan pemerintah daerah dengan memperhatikan 336 keadaan dan prakiraan perkembangan perekonomian nasional. 339 Pasal 50 ayat (1) UU No. 33 Tahun 2004.

33 Tahun 2004. dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. yaitu: 1. untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. C. mencerdaskan kehidupan bangsa. Kemanusiaan yang adil dan beradab.114 Rupiah atau mata uang asing. . landasan berpikir tentang pengawasan Pusat terhadap Daerah dapat ditelusuri di dalam Alinea Keempat UUD 1945. Memang. Pembukaan UUD 1945 (Alinea Keempat). Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara sejak awal telah meletakkan dasar-dasar berpikir tentang keberadaan pengawasan Pusat terhadap Daerah. Rumusan alinea keempat itu adalah: ”Kemudian daripada itu. yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa. maka disusunlah kebangsaan Indonesia itu dalam suatu UndangUndang Dasar Negara Indonesia. dan Batang Tubuh UUD 1945 Di dalam Pembukaan UUD 1945.343 Daerah memang tidak diberikan kewenangan untuk melakukan pinjaman luar negeri. dan untuk memajukan kesejahteraan umum. persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan 343 Pasal 56 ayat (3) dan (4) UU No. Hubungan Pengawasan Pengawasan oleh Pusat terhadap Daerah ternyata secara yuridishistoris telah dilakukan sejak bangsa Indonesia memulai kehidupan bernegaranya sebagai bangsa yang merdeka. ketentuan tentang pengawasan Pusat terhadap Daerah menurut UUD 1945 secara normatif-eksplisit tidak diatur di dalam UUD 1945. namun daerah secara tidak langsung juga dapat melakukan pinjaman luar negeri melalui penerusan pinjaman oleh pemerintah pusat. perdamaian yang abadi dan keadilan sosial. Akan tetapi landasan berpikirnya dapat ditelusuri paling dari 2 (dua) hal.

yaitu Pasal 18. dan kota yang dimaksud tersebut mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan. kiranya dapat dikemukakan pertama. terlebih dahulu dipilah materi hukum Undang-Undang Dasar 1945 sebelum perubahan dilakukan (Naskah Asli). Dikatakan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota. pasal-pasal yang mengatur tentang pemerintahan daerah di dalam Undang-Undang Dasar 1945 dalam beberapa ketentuan sudah mengalami perubahan. menurut Batang Tubuh UUD 1945 Setelah Perubahan. menurut Batang Tubuh UUD 1945 Sebelum Perubahan.” Untuk mengkaji dasar pemikiran pengawasan Pusat terhadap Daerah menurut batang tubuh Undang-Undang Dasar 1945. kajian tentang dasar pengawasan Pusat terhadap Daerah dibedakan menjadi 2 (dua) kategori. dan materi hukum Undang-Undang Dasar 1945 setelah perubahan dilakukan.345 Berdasarkan ketentuan Pasal 18 ini. Pasal 18 UUD 1945 ini dirumuskan sebagai berikut : “Pembagian Daerah Indonesia atas Daerah besar dan kecil. Terdapat ada 1 (satu) pasal yang memungkinkan untuk dikaji. serta dengan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dasar pemikiran tentang pengawasan Pusat terhadap Daerah menurut batang tubuh UUD 1945 setelah perubahan. Untuk itu. yang tiap-tiap provinsi.344 Pemerintahan daerah provinsi.115 /perwakilan. kabupaten. Pertama. Ini disebabkan. dapat dikaji dari beberapa pasal dan ayat. bahwa penggunaan istilah “dibagi atas” menurut Jimly Asshiddiqie. dimaksudkan untuk menegaskan bahwa hubungan antara 344 345 Pasal 18 ayat (1) Perubahan kedua UUD 1945 Pasal 18 ayat (2) Perubahan kedua UUD 1945 . Kedua. dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah yang diatur dengan undang-undang. dengan bentuk susunan pemerintahannya ditetapkan dengan Undang-undang dengan memandang dan mengingat dasar permusyawaratan dalam sistem Pemerintahan Negara dan hak-hak asal-usul dalam daerah yang bersifat Istimewa”. daerah kabupaten.

Ketiga. bahwa tiap-tiap satuan pemerintahan daerah itu oleh UUD 1945 diberi kewenangan untuk mengatur dan mengurusi sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan.349 Berdasarkan ketentuan-ketentuan tersebut maka dapat ditarik beberapa pengertian bahwa pertama. UI. Pemerintahan daerah berhak menetapkan peraturan daerah dan peraturanperaturan lain untuk melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan.116 pemerintah pusat dan daerah bersifat hirarkis dan vertikal. Keempat. Ada beberapa ayat yang penting untuk diidentifikasikan sehubungan dengan dasar pengawasan Pusat terhadap Daerah. Konsolidasi Naskah UUD 1945 Setelah Perubahan Keempat.347 Untuk menjalankan urusan yang diberikan itu. Jimly Ashiddiqie. dengan memahami logika hukum pernyataan pertama dan kedua. Jakarta. 22 Tahun 1999 yang mengembangkan pola hubungan antara pusat dan daerah serta hubungan antara daerah yang dipahami bersifat horizontal. 2002. Pusat Studi Hukum Tata Negara FH. kedua.dapat dikemukakan bahwa ternyata secara konstitusional terdapat pembatasan-pembatasan dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah berdasarkan prinsip otonomi yang seluas-luasnya dan tugas 346 Lihat. peraturan daerah merupakan merupakan instrumen hukum yang dibentuk oleh pemerintahan daerah dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan.348 yang susunan dan tata cara penyelenggaraan pemerintahan daerah diatur dalam undang-undang. kecuali urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan pemerintah pusat. Pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya. tetapi pelaksanaan otonomi itu dibatasi oleh 2 (dua) hal.346 Kedua. pemerintahan daerah memiliki hak untuk menjalankan otonomi seluas-luasnya dan tugas pembantuan. yaitu karena bukan urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan pemerintah pusat dan tata cara penyelenggaraan pemerintahan daerahnya diatur oleh undang-undang. 21 347 Pasal 18 ayat (5) Perubahan kedua UUD 1945 348 Pasal 18 ayat (6) Perubahan kedua UUD 1945 349 Pasal 18 ayat (7) Perubahan kedua UUD 1945 . Hal ini dianggap perlu ditegaskan karena adanya penafsiran yang timbul akibat penerapan kebijakan otonomi daerah berdasarkan UU No. hlm.

termasuk wewenang pembinaan dan pengawasan Pusat terhadap Daerah dalam menyelenggarakan tugas-tugas pemerintahan daerah. maka akan dapat diperoleh petunjuk bahwa lembaga ’pengawasan’ ternyata juga memperoleh dasar pemikiran dalam pasal ini. Selain beberapa ketentuan di atas. pelayanan umum. lembaga ’pengawasan’ Pusat terhadap Daerah dipandang perlu keberadaannya.350 masing-masing daerah diatur dengan Undang-undang. ternyata telah mengatur hubungan wewenang antara Pusat dan Daerah. . yang dapat dicermati adalah dalam Pasal 18A adalah bahwa tidak tercantum secara eksplisit ketentuan yang mengatur tentang pengawasan Pusat terhadap Daerah. Tujuannya tidak adalah dalam rangka mencegah atau menanggulangi lain terjadinya penyimpangan-penyimpangan wewenang oleh Daerah berkenaan dengan implementasi Daerahnya.351 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 sebagai Undang-Undang organik Pasal 18A UUD 1945. pemanfaatan sumberdaya alam dan sumberdaya lainnya antara Pusat dengan Daerah juga diatur dengan Undang-Undang. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah 350 351 Pasal 18 A ayat (1) Perubahan kedua UUD 1945. maka dalam rangka penegakan ketentuan hukum ini. Untuk kepentingan itulah. Pembatasan-pembatasan tersebut dimaksudkan agar Daerah tidak mengatur urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan pemerintah pusat. 2. Akan tetapi. dengan memahami materi hubungan wewenang antara Pusat dan Daerah. Pasal 18 A ayat (2) Perubahan kedua UUD 1945. kebijakannya untuk mengatur urusan rumah tangga Kekhususan dan keragaman dimaksudkan yang ada pada masing-masing Hubungan keuangan. Hubungan wewenang antara Pusat dan Daerah dengan memperhatikan kekhususan dan keragaman daerah.117 pembantuan.

pengawasan terhadap peraturan daerah dan peraturan kepala daerah.353 Bupati dan walikota dalam pembinaan dan pengawasan tersebutdapat melimpahkan pada camat. Pertama. Hasil evaluasi disampaikan oleh Gubernur kepada Bupati/Walikota paling lama 15 (lima belas) hari terhitung sejak diterimanya rancangan Perda kabupaten/kota dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD tersebut. pengawasan atas pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah. Ketentuan pengawasan oleh Gubernur juga tersirat dalam ketentuan mengenai penyusunan APBD kabupaten dan kota. 32 Tahun 2004 Pasal 222 ayat (3) UU No.118 Pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan di daerah pada dasarnya merupakan kewenangan pemerintah pusat yakni mencakup beberapa hal. 32 Tahun 2004 355 Pasal 186 UU No. Bupati/Walikota menetapkan rancangan dimaksud menjadi Perda dan Peraturan Bupati/Walikota. Pasal 222 ayat (1) UU No. 32 Tahun 2004 354 Pasal 222 ayat (4) UU No. Apabila Gubernur menyatakan hasil evaluasi rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD sudah sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.355 Dikatakan bahwa Rancangan Perda kabupaten/kota tentang APBD yang telah disetujui bersama dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD sebelum ditetapkan oleh Bupati/Walikota paling lama 3 (tiga) hari disampaikan kepada Gubernur untuk dievaluasi. Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan dikoordinasikan pemerintahan oleh daerah tersebut Pembinaan untuk dan Gubernur.352 kabupaten/kota pengawasan penyelenggaraan desa dikoordinasikan oleh bupati/walikota.354 Kedua. 32 Tahun 2004 . 32 Tahun 2004 mengatur bahwa pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah secara nasional dikoordinasikan oleh Menteri Dalam Negeri. Apabila Gubernur menyatakan hasil evaluasi rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan 352 353 Pasal 222 ayat (2) UU No.

11. 32 Tahun 2004. dan Bupati/Walikota tetap menetapkan rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD menjadi Perda dan Peraturan Bupati/Walikota. Jika pasal dihubungkan dengan Pasal 222. Bupati/Walikota bersama DPRD melakukan penyempurnaan paling lama 7 (tujuh) hari sejak diterimanya hasil evaluasi. Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh Bupati/Walikota dan DPRD. Lebih lanjut dapat dikemukakan mengenai model-model pengawasan dan pengendalian terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah menurut UU No. Tabel 3 Model-Model Pengawasan dan Pengendalian Terhadap Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Menurut UU No. Jadi dapat dikatakan. 13 dan 14). Gubernur menyampaikan hasil evaluasi rancangan Perda kabupaten/kota tentang APBD dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang APBD dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD kepada Menteri Dalam Negeri. 32 Tahun 2004 NO 1 UMUM Penetapan urusan pemerintahan yang menjadi wewenang Pemerintah Pusat dan Daerah (Pasalpasal 10. puncaknya adalah pemberitahuan oleh Gubernur kepada Menteri Dalam Negeri mengenai tindak lanjut hasil pengawasan. Gubernur memiliki wewenang untuk melakukan pengawasan terhadap rancangan APBD maupun setelah APBD tersebut disahkan oleh kabupaten dan kota. Penentuan adanya PREVENTIF REPRESIF KETERANGAN Ditetapkan UU oleh 2 Ditetapkan oleh . Gubernur membatalkan Perda dan Peraturan Bupati/Walikota dimaksud sekaligus menyatakan berlakunya pagu APBD tahun sebelumnya. Berdasarkan Pasal 186 ini.119 Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD tidak sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. 12. ternyata Gubernur tidak hanya melakukan koordinasi tapi juga memiliki wewenang untuk melakukan tindakan hukum terhadap rancangan Perda APBD dan Perda APBD.

wewenang. kewajiban dan larangan bagi Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah. pemindahan. dan DPRD. antar provinsi.120 3 4 5 6 7 tugas. dan dari provinsi/kabupaten/ko ta perlu memperoleh pertimbangan dari Kepala Badan Kepegawaian Negara Penetapan formasi PNS dilaksanakan oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Pembinaan dan pengawasan manajemen PNS dikoordinasikan pada tingkat daerah oleh Gubernur Larangan Perda bertentangan dengan kepentingan umum dan peraturan perundangundangan yang lebih tinggi Tata cara mempersiapkan Raperda diatur UU Pasal 128 Pasal 130 Pasal 131 Pasal 132 Pasal 135 8 Pasal 136 9 Pasal 140 . dan pemberhentian dari dan dalam jabatan eselon II pada kabupaten/kota perlu berkonsultasi dengan Gubernur Perpindahan PNS antar kabupaten/kota dalam. Pedoman tentang susunan organisasi perangkat daerah dan formasi serta persyaratan jabatan perangkat daerah yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat dalam PP dan berbagai peraturan perundang-undangan Pengangkatan.

dilakukan oleh Presiden (ditetapkan dengan Perpres) Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). dana bagi hasil SDA. supervisi. berpedoman pada PP dan perencanaan pembangunan nasiona. Penetapan Perda tentang Pajak dan Retribusi Daerah berpedoman pada undang-undang dan peraturan perundangundangan lain. monitoring dan evaluasi atas dana bagi hasil pajak.121 10 dengan Perpres Perda yang memuat ancaman pidana dan denda. Pedoman penggunaan. harus sesuai dengan peraturan perundangundangan Perda disampaikan kepada Pemerintah paling lama 7 hari setelah ditetapkan Pembatalan Perda yang bertentangan dengan kepentingan umum dan peraturan perundangundangan yang lebih tinggi. DAU dan DAK diatur dalam Permendagri Belanja daerah harus Pasal 143 11 Pasal 145 ayat (1) 12 Pasal 145 ayat (2) s/d ayat (7) 13 Pasal 150 14 Pasal 158 15 Pasal 163 16 Pasal 167 .

pengelolaan dan pertanggungjawab annya ditetapkan dengan PP Penyertaan modal daerah pada suatu BUMN/swasta. standar harga. dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundangundangan Pengendalian defisit anggaran Pasal 168 18 Pasal 170 19 Pasal 171 20 Pasal 172 21 Pasal 173 22 Pasal 174-175 .122 mempertimbangkan analisis standar belanja. tolok ukur kinerja. 17 Belanja kepala daerah dan wakil kepala daerah dan belanja pimpinan dan anggota DPRD diatur dalam Perda dengan berpedoman pad PP Pertimbangan Mendagri dalam melakukan pinjaman yang berasal dari penrusan pinjaman hutang luar negeri dari Menkeu. dan standar pelayanan minimal yang ditetapkan dengan peraturan perundangundangan. Ketentuan mengenai pinjaman daerah dan obligasi daerah diaatur dengan PP Pengaturan tentang persyaratan pembentukan dana cadangan daerah.

norma. 28 Pasal 221 dan UU tentang BPK 29 Pasal 224 . Tata cara pelaksanaan kerja sama antar daerah diatur dalam PP Pedoman pembinaan dan pengawasan yang meliputi standar. untuk provinsi oleh Mendagri dan untuk kabupaten/kota oleh Gubernur. penatausahaan. Perubahan APBD dan Pertanggungjaw aban Pelaksanaan APBD. penghargaan. pengawasan dan pertanggungjawaban keuangan daerah diatur dalam PP. Pemeriksaan oleh BPK terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah Pembentukan dewan yang bertugas memberikan saran dan pertimbangan terhadap kebijakan otonomi daerah diatur dalam Perpres. dan sanksi ditetapkan dalam PP. pelaporan. Pasal 178 24 Pasal 185 s/d 190 25 Pasal 194 26 Pasal 195 s/d 197 27 Pasal 217 s/d 223. pelaksanaan. Pedoman penyusunan.123 oleh Mendagri 23 Pengelolaan Barang Daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan Evaluasi Raperda dan Peraturan Kepala Daerah tentang APBD. prosedur.

Pengawasan terhadap urusan pemerintahan di 356 Konsiderans PP No. pemantauan dan evaluasi pelaksanaan urusan Pemerintahan. Pembinaan sebagaimana tersebut dilakukan terhadap kepala daerah atau wakil kepala daerah. d) pendidikan dan pelatihan. perangkat daerah. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 Tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Untuk melaksanakan ketentuan Pasal 223 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Peraturan Pemerintah diterbitkan sebagai pedoman pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah. Pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah provinsi tersebut terdiri dari:360 a) pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah yang bersifat wajib. 359 Pasal 20 360 Pasal 21.358 Pada pengaturan mengenai pengawasan. disebutkan bahwa pengawasan pelaksanaan urusan Pemerintahan di daerah meliputi:359 a) pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah provinsi. b) pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah kabupaten/kota. dan c) pelaksanaan urusan pemerintahan desa. . 358 Pasal 2 ayat (2). penelitian. perangkat desa. dan anggota badan permusyawaratan desa. dan c) pelaksanaan urusan pemerintahan menurut dekonsentrasi dan tugas pembantuan. c) pemberian bimbingan. 79 Tahun 2008 Tentang Tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. pengembangan. dan e) perencanaan.356 PP ini memisahkan antara pembinaan dan pengawasan dalam Bab yang berbeda. pegawai negeri sipil daerah. anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. 357 Pasal 2 ayat (1). Mengenai pembinaan dikatakan bahwa Pembinaan atas penyelenggaraan Pemerintahan Daerah dilaksanakan oleh Pemerintah yang meliputi:357 a) koordinasi pemerintahan antar susunan Pemerintahan.124 3. b) pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah yang bersifat pilihan. supervisi dan konsultasi pelaksanaan urusan pemerintahan. b) pemberian pedoman dan standar pelaksanaan urusan Pemerintahan. yaitu Bab II dan Bab III. dan kepala desa.

dapat dilihat pada tabel-tabel di bawah ini: yang ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang- 361 362 Pasal 24 ayat (1).361 yang dilakukan oleh Inspektorat Jenderal Departemen. Inspektorat Provinsi.363 Untuk mengetahui perkembangan sistem pengawasan Pusat terhadap Daerah dalam pengaturan pemerintahan daerah di Indonesia dan di beberapa negara lain.362 Pelaksanan pengawasan tersebut dilakukan oleh pejabat pengawas pemerintah undangan. dan Inspektorat Kabupaten/Kota. Pasal 24 ayat (2). 363 Pasal 24 ayat (3) dan (4). Unit Pengawasan Lembaga Pemerintah Non Departemen. .125 daerah dilaksanakan oleh Aparat Pengawas Intern Pemerintah sesuai dengan fungsi dan kewenangannya.

UU No. 1 Tahun 1957 Penetapan Presiden No. UU No. Preventif 2. 4. Non-yudisial 2. 18 Tahun 1965 6. Umum 1. Preventif 2. Umum Represif 1. Preventif 2. Represif 3. 22 Tahun 1948 Sifat/Bentuk Pengawasan Non-Yudisial 1. UU No. Periode 1. 6 Tahun 1959 UU No. 5. UU No. 1 Tahun 1945 UU No. Represif 3. 5 Tahun 1974 7. Represif Represif 1. Preventif 1. 8. Represif 3. 32 Tahun 2004 . Preventif 2. Represif 3.126 Tabel 4 Perkembangan Pengaturan Pengawasan No. 22 Tahun 1999 UU No. 2.

Disebutkan bahwa bahwa Negara Indonesia ialah Negara Kesatuan. alinea pertama pembukaan. Gagasan kedaulatan Tuhan dianut juga dalam: 1. . ayat (3) kedaulatan hukum. dan (3) UUD 1945 Jimly Asshiddiqie.365 UUD 1945 menggabungkan konsep kedaulatan rakyat. pilar negara kesatuan dinyatakan dalam UUD 1945 terdapat dalam Pasal 1 ayat (1). Lebih dari kedaulatan-kedaulatan tersebut. yang mengatakan “Atas berkat Rahmat Alloh Yang Maha Kuasa…” 2. … (pasal 1 ayat (2)): kedulatan rakyat. PT. Jimly berpendapat bahwa UUD 1945 menganut paham kedaulatan yang unik. yaitu bahwa Negara Indonesia adalah negara hukum. Pilar-Pilar Penyelenggaraan Pemerintahan Pengakuan bahwa Indonesia berkomitmen terhadap pilar-pilar negara kesatuan. kedaulatan hukum. Juga. dan negara hukum telah dituangkan dalam perubahan ketiga Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. 2007. (2). Kelompok Gramedia. yaitu bahwa Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar. pada pokoknya menganut supremasi hukum. dan kedaulatan Tuhan secara sekaligus. Pokok-Pokok Hukum Tata Negara Indonesia Pasca Reformasi. Jakarta. Dari segi internal atau kedaulatan internal. pilar kedaulatan rakyat dinyatakan dalam ayat (2). kedaulatan rakyat. “ kemerdekaan… Negara Ketuhanan Yang Maha Esa. hlm. 150. Bhuana Ilmu Komputer.364 Pertama. Jimly Asshiddiqie menjelaskan bahwa Indonesia pun menganut kedaulatan Tuhan dalam konstitusi.127 BAB IV TINJAUAN DIMENSI-DIMENSI HUBUNGAN ANTARA PUSAT DAN DAERAH A. yang berbentuk Republik. pilar negara hukum dinyatakan oleh UUD 1945 dalam Pasal 1 ayat (3). Kedua. 149. Ketiga. …” … berkedaulatan rakyat berdasarkan 364 365 Pasal 1 ayat (1).

maka urusan pemerintah pusat itu terbatas pada enam urusan ini. Kata kecuali dapat diartikan membatasi. Tujuan-tujuan tersebut sejalan dengan fungsi negara dan pemerintah pada masa modern yang secara umum dikatakan sebagai negara pelayan (the service state). dapat terlihat berbagai ketidakkonsistenan dengan landasan konstitusional ini. 4. Ide kedaulatan Tuhan itu diwujudkan dalam prinsip kebebasan setiap individu dalam sistem demokrasi dan dicerminkan pula dalam sistem hukum berdasarkan Undang-Undang Dasar. Pertama. 32/2004 dapat diambil beberapa hal. Jika ketentuan ini diidentifikasi sebagai rumusan limitatif. Walaupun demikian melalui berbagai peraturan pelaksana. Kedua. dan memberikan otonomi seluas-luasnya. seharusnya sudah memungkinkan bagi daerah-daerah untuk beragam memiliki urusan. Pemahaman seperti ini dikenal dengan pendekatan residual. Di luar enam urusan ini merupakan urusan pemerintahan daerah. Pasal 28J ayat (2): Hanya saja paham kedaulatan Tuhan itu tidak terjelma atau terwujudkan dalam diri Raja atau Ratu seperti dalam paham teokrasi (theocracy) yang pernah dipraktikkan dalam sejarah negara-negara Eropa Masa lalu. B. Dimensi Hubungan Kewenangan Pusat dan Daerah UUD 1945 telah memberikan dasar-dasar pola hubungan antara Pusat dan Daerah. Apa isi pelayanan itu? . pada dimensi-dimensi hubungan pusat dan daerah. pelayanan umum dan daya saing daerah. Dalam hal ini membatasi urusan pemerintahan yang menjadi urusan pemerintah pusat. kedua ketentuan di atas menggunakan kata ‘kecuali’ (exception) dalam hal pembagian kewenangan. Pasal 9 ayat (1) dan (2) menentukan sumpah jabatan presiden … dengan menyatakan “Demi Alloh”. pelaksanaan pemerintahan daerah yang berdasarkan otonomi seluas-luasnya bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dengan pemberian otonomi seluas-luasnya seperti itu. Residual powernya ada pada pemerintahan daerah sehingga pemerintahan daerah memiliki otonomi yang luas. Titinjau dari pola hubungan kewenangan.128 3. dari ketentuan Pasal 18 ayat (5) UUD 1945 dan Pasal 2 ayat (3) UU No. dengan asas otonomi dan tugas pembantuan. meliputi desentralisasi teritorial.

2008. yaitu politik.368 Dengan demikian tidak dapat lagi dijumpai perbedaan mendasar antara ‘khusus’ dan ‘istimewa’ atau dengan kata lain tidak terdapat ‘kriteria baku’ yang dapat digunakan untuk membedakan kedua istilah tersebut. Jika otonomi dijalankan sebagaimana yang dimaksud dalam Perubahan UUD 1945. Makalah. maka akan ditemukan bahwa pada setiap daerah memiliki karakter khusus. maka tidak perlu penyeragaman terlalu banyak baik melalui rincian pembagian urusan maupun pedoman dan standard. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah. 16. Tugas Sosial Pemerintahan Daerah. jika otonomi dimaknai sebagai sebuah pengakuan atas keberagaman.129 Kalau digolongkan terdapat tiga fungsi negara atau pemerintah terhadap rakyat. perangkat di pusat tidak perlu gemuk. dan ketertiban umum yang berkaitan dengan kenyamanan dan ketenteraman warga.367 Untuk Aceh. dan lain-lain). 368 Ibid. 2001. 4.369 Ketiadaan kriteria baku ini mengandung resiko-resiko tertentu karena suatu daerah dapat saja menuntut suatu kekhususan semata-mata didasarkan pada faktor-faktor tertentu. sosial. kemasyarakatan (ekonomi.366 Berkaitan dengan daerah istimewa dan otonomi khusus. 370 Ibid. otonomi khusus berkaitan dengan pelaksanaan syariat Islam sehingga tidak berbeda dengan status Aceh sebagai daerah istimewa. hlm. Yogyakarta. 366 367 Bagir Manan. Pusat Studi Hukum Fakultas Hukum UII. hlm 15-16. tugas utama pemerintahan daerah di bidang kemasyarakatan adalah yang berkaitan dengan penyediaan prasarana dan sarana publik (public utilities).. perkataan ‘khusus’ dalam Pasal 18B UUD 1945 akan memiliki cakupan yang lebih luas karena dimungkinkan membentuk pemerintahan daerah dengan otonomi khusus (Aceh dan Papua).370 Dari persoalan tersebut. Sementara itu pemberian otonomi khusus seperti yang diberlakukan dalam berbagai UU saat ini lebih merupakan anomali. hlm. Bagir Manan. pelayanan umum (public services). Demikian pula penjabaran RPJP saat ini cenderung mengubah kepentingan sektor menjadi kepentingan wilayah. . 369 Ibid. kalau urusan-urusan pemerintahan didesentralisasikan. Berimplikasi kepada kelembagaan. Sebagai ujung tombak mewujudkan negara kesejahteraan. keamanan dan ketertiban (hukum).

Penerbit Gramedia Pustaka. otonomi khusus berkaitan dengan pelaksanaan syariat Islam sehingga tidak berbeda dengan status Aceh sebagai daerah istimewa. Ibid. “penyelundupan” desentralisasi pun terjadi pula melalui UU sektoral yang menarik urusan yang sudah didesentralisasikan. otonomi daerah bukanlah tujuan melainkan suatu instrument untuk mencapai tujuan. Efekivitas pemerintahan Negara bergantung kepada efektivitas penyelenggaraan pemerintahan di daerah. 38 tahun 2007. 15-16. menjadi kewenangan pusat. 16. Instrument tersebut haruslah digunakan secara arif oleh kepala daerah tanpa harus menimbulkan konflik antara pusat 371 372 Ibid. misalnya pada UU Kehutanan.130 Ketidakkonsistenan otonomi kemudian muncul melalui pembagian kewenangan yang dirinci melalui PP No. Kekhususan urusan kemudian terjadi dalam pengaturan Pasal 18B UUD 1945. Dimensi Hubungan Kelembagaan Pusat dan Daerah Pemerintahan daerah merupakan subsistem dari pemerintahan nasional atau Negara. 373 J. . hlm.371 Untuk Aceh. Perkataan ‘khusus’ tersebut akan memiliki cakupan yang lebih luas karena dimungkinkan membentuk pemerintahan daerah dengan otonomi khusus (Aceh dan Papua). Ketidakmampuan Kepala Daerah dalam menyukseskan pembangunan daerah berimplikasi pada rendah atau berkurangnya kinerja dan efektivitas penyelenggaraan pembangunan nasional. Keberhasilan kepemimpinan di daerah menentukan kesuksesan kepemimpinan nasional. karena menurut James W Fesler. Inkonsistensi terjadi pula dalam UU Olah raga dan penyuluhan pertanian yang menghendaki pembentukan semacam lembaga pelaksana di daerah.372 C. Kaloh.. yang mengurangi keberagaman daerah sebagai bagian dari hakikat otonomi. Kepala Daerah..373 Paradigma baru Otonomi Daerah harus diterjemahkan oleh Kepala Daerah sebagai upaya untuk mengatur kewenangan pemerintahan sehingga serasi dan fokus pada tuntutan kebutuhan masyarakat. 2003. 4. Jakarta.

yaitu pelayanan kepada masyarakat (public services).375 Tuntutan reformasi kelembagaan dicirikan oleh asumsi sebagai berikut:376 1. Yang terjadi adalah praktek jual beli “perahu partai politik” dalam proses pencalonan kepala daerah. Bandung. Pidato Pengukuhan Guru Besar Fisip UI. Reformasi objektivitas kelembagaan guna mensyaratkan adanya transparansi dengan dan cara menghindari perbuatan KKN mengutamakan orang-orang yang “dekat” dengan pejabat pengambil 374 375 Ibid. kepala daerah harus waspada terhadap munculnya hubungan antar tingkat pemerintahan yang bergerang dalam saling ketidakpercayaan. Dalam kondisi demikian.com/2008/04/08/konstruksi-ulang-hubungan-pemerintah-pusat-danpemerintah-daerah-di-indonesia-antara-sentripetalisme-dan-sentrifugalisme/ 376 Asep Warlan Yusuf. Klaim partai politik bahwa jika pencalonan dilakukan hanya melalui partai politik akan memperkuat kelembagaan partai politik dalam prakteknya juga tidak menjadi kenyataan. membuatkan pedoman/arah atau ketentuan kepada masyarakat (regulation). Reformasi kelembagaan yang aspiratif dan akseleratif mensyaratkan adanya kemauan. Pusat Studi Hukum Kenegaraan Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran. dan pemberdayaan (empowerment). Proses penjaringan calon kepala daerah menjadi domain ekslusif partai politik. http://ekoprasojo. hlm. Sedangkan masyarakat dipaksa untuk memilih calon yang telah dipilih oleh parpol tanpa proses penjaringan yang partisipatif. 2.131 dan daerah. makna otonomi daerah menjadi kabur. 16 Eko Prasojo. Hubungan Kelembagaan antara Pusat dan Daerah.374 Pemilihan langsung kepala daerah yang diharapkan dapat meningkatkan partisipasi masyarakat. dalam prakteknya tidak terjadi. atau antar provinsi dan kabupaten/Kota karena jika demikian. keberanian. makalah pada Diskusi Terbatas tentang Hubungan Pusat dan daerah. 4 Agustus 2009 . atau suasana kurang harmonis seperti munculnya egoism masing-masing tanpa menyadari bahwa fungsi pemerintahan hanya meliputi tiga hal. dan komitment politik yang kuat dari pemerintah daerah.

pembagian wewenang 377 (atau urusan) antar berbagai tingkatan pemerintahan. 3. Jakarta. hlm. terutama dalam rangka penataan kepegawaian dalam kelembagaan yang baru. partisipasi serta kontribusi dari dan oleh mnasyarakat dapat terakomodasi secara maksimal. Reformasi kelembagaan mensyaratkan adanya penguatan Civil Society (masyarakat madani) agar sukses. artinya tidak dilakukan dengan setengah hati sehingga terjadi tarik ulur antara kewenangan Pemerintah. Reformasi kelembagaan mensyaratkan adanya kepastian dan perlindungan terhadap upaya pemberdayaan daerah. status dan kedudukannya. disarankan agar Pemerintah Pusat mengurangi badan-badan penyelenggara urusan pemerintahan pusat di daerah. Pustaka Sinar Harapan.132 keputusan. 4. semua satuan pemerintahan tingkat daerah harus tersusun dalam satu kesatuan susunan integral. Susunan luar. Reformasi kelembagaan mensyaratkan adanya pengembangan dan pemberdayaan dalam membangun berbagai aliansi strategis dengan pihak manapun. Susunan dalam harus mencerminkan dasar permusyawaratan dalam sistem pemerintahan Negara. 257 . Hubungan Antara Pusat dan Daerah Menurut UUD 1945. 1994. hlm. Provinsi dan Kabupaten/Kota. 2. Agar diusahakan sebanyak mungkin pelaksanaan urusan pemerintahan pusat di daerah dilakukan melalui atau kerjasama dengan Pemerintah Daerah. Mekanisme hubungan pemerintah Pusat dan Pemerintah daerah dalam kelembagaan (susunan organisasi) menurut Bagir Manan:377 1.378 Konstruksi hubungan tersebut paling tidak memuat pemikiran ulang mengenai tingkatan pemerintahan. 256 378 Ibid. Dalam rangka lebih memperkokoh asas desentralisasi sebagai salah satu sendi system ketatanegaraan RI. Bagir Manan. 5.. 3.

Meskipun demikian. Begitu pula kemampuan daerah yang satu belum tentu sama dengan daerah yang lainnya. segala sesuatunya perlu ditempatkan dalam hubungan yang serasi. bahkan sebaliknya dapat menambah beban terlebih-lebih masalah yang dihadapi bukanlah hanya terletak dalam hubungan antara pusat dan daerah. harus diperhatikan bergeraknya pola hubungan tersebut tidak sampai menimbulkan masalah besar khususnya bagi daerah. Dalam hal ini. dan intervensi pusat terhadap daerah. tetapi juga hubungan antar daerah itu sendiri. 379 http://ekoprasojo. sehingga harus dimungkinkan adanya perbedaan susunan organisasi setiap daerah. Hubungan pusat dan daerah dalam sistem otonomi yang bagaimanapun luasnya bukanlah ketentuan statis tetapi harus merupakan ketentuan yang dinamis pola hubungan itu harus selalu bergerak seimbang antara ke pusat dan ke daerah yang mampu menampung kebutuhan masyarakat dan pemerintahan. partisipasi daerah dalam pembuatan keputusan di tingkat nasional. Di samping ada pula yang mengarah pada gabungan keduanya. akan memperbesar organisasi pemerintahan daerah.133 perimbangan keuangan antar tingkatan pemerintahan. Bertambah luasnya urusan Rumah Tangga daerah belum tentu selalu membawa keuntungan bagi daerah. dipihak lain ke arah sentraliasi.com/2008/04/08/konstruksi-ulang-hubungan-pemerintah-pusat-danpemerintah-daerah-di-indonesia-antara-sentripetalisme-dan-sentrifugalisme/ .379 Persoalan hubungan pusat dan daerah dalam Negara Kesatuan dengan sistem desentralisasi lebih luas dari sekedar bertalian dengan caracara penentuan Rumah Tangga daerah. Dengan diterapkannya otonomi luas (terutama di Kabupaten dan Kota). Terlihat perbedaan perwujudan politik otonomi disatu pihak condong kearah desentralisasi. tetapi bersumber pula antara lain pada cara menyusun dan menyelenggarakan organisasi pemerintahan di daerah ditinjau dari macam-macam peraturan perundang-undangan mengenai pemerintahan daerah yang pernah berlaku. kemungkinan demikian harus diantisipasi dengan cermat sehingga tidak terjadi susunan organiasi “yang kegemukan” atau sebaliknya.

327 . Konsep perwakilan politik lokal terkait dengan sistem pemerintahan yang dipraktikkan suatu Negara. 1982. kedudukan dan fungsi DPR RI. Konsep perwakilan politik lokal merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sistem demokrasi. bahkan dalam cara pengisiannyapun sama-sama dipilih secara langsung oleh rakyat melalui pemilu. 382 BN. 32 Tahun 2004. Joeniarto. keterlibatan masyarakat secara langsung dan tidak langsung ikut menentukan urusan urusan rumah tangga daerahnya. karena ada dua kedudukan sebagai alat pemerintah pusat. Begitu pula berkaitan dengan kelembagaan DPRD. yaitu dalam arti sebagai kepala pemerintahan daripada pemerintah lokal administratif umum pusat dan sebagai alat Pemerintah Daerah. artinya. tunduk pada prinsipprinsip dekonsentrasi. hlm. Penerbit Alumni. Perbedaan antara dua macam tugas tersebut tidak hanya terletak pada macam tugasnya. Pasang Surut Otonomi Daerah. Perkembangan Pemerintahan Lokal. Jakarta 2005. editor Anhar Gonggong. kedudukan serta fungsi DPRD ini berada dalam satu undang-undang yang sama dengan pengaturan mengenai susunan. tapi juga pada cara penyelenggaraannya dan pertanggungjawabannya. 215. Perwakilan Politik Lokal dan Eksistensi DPRD dalam Konteks Otonomi Daerah.381 masingmasing sesuai dengan peraturan yang berlaku saat ini yaitu UU No. dengan sendirinya ia mempunyai dua macam tugas yang berbeda satu dengan yang lainnya. Bandung. dalam Kumpulan Tulisan. 381 Ibid.134 Mengenai kedudukan gubernur. namun DPRD tidak mempunyai hubungan secara langsung dengan DPR. yaitu dalam arti sebagai Kepala Pemerintahan dari pada pemerintah lokal yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangga sendiri. hlm.380 Penyelenggaraan dan pertanggungjawaban tugas oleh Gubernur dalam kedudukannya sebagai alat pemerintah Pusat.382 Meskipun pengaturan tentang susunan. Institute for Local Development dan Yayasan TIFA. atau dengan perkataan lain DPRD bukan merupakan subordinasi dari 380 R. Marbun. sedangkan dalam kedudukannya sebagai alat pemerintah daerah tunduk kepada prinsip-prinsip desentralisasi.

baik provinsi. pemerintah daerah induknya. kecenderungan masyarakat untuk membentuk daerah baru juga didukung oleh lembaga formal baik pada tingkat daerah maupun pusat. yang tiap-tiap provinsi. Dalam hal ini. (Kursif dari Tim Peneliti). Di atas sudah dijelaskan bahwa dalam sepuluh tahun terakhir sudah banyak dibentuk atau dimekarkan suatu daerah. Demikian pula halnya keterlibatan pemerintah pusat maupun lembaga negara yang diharapkan akan menjadi penyaring dalam pemekaran daerah juga tidak berjalan dengan baik. Bahkan tidak sedikit di antara daerah yang memekarkan diri itu diketuai oleh kepala daerah atau para anggota DPRD-nya. baik provinsi/kabupaten/kota dan DPRD-nya masing-masing juga menjadi faktor pendukung terjadinya pemekaran daerah dengan mudahnya memberikan persetujuan pemekaran daerah yang bersangkutan. kekuasaan DPRD baik tingkat provinsi maupun Kabupaten/Kota akan melalui sebuah upaya evaluasi peraturan pelaksanaannya.135 DPR RI. Dalam Pasal 18 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa “Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota. atau kota. alasan utama untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Di samping itu DPRD juga sebenarnya merupakan bagian atau unsur kekuasaan eksekutif pada level pusat karena merupakan bagian dari penyelenggara pemerintahan daerah. melalui Menteri Dalam Negeri. Bahkan dalam hal pembentukan perda. banyak di antara mereka yang kemudian mencalonkan diri sebagai kepala daerah yang baru tersebut. memberikan rekomendasi . kabupaten. kabupaten. Hal itu dapat dilihat dari mudahnya pemerintah pusat. dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah. Dengan demikian. pelayanan publik. Sebagai balasannnya. Terjadinya pemekaran daerah yang meluas hampir di seluruh wilayah Indonesia sebenarnya diawali dengan peluang yang diberikan oleh peraturan perundang-undangan. maupun daya saing daerah pun menjadi tersamar dan yang muncul justru adalah kepentingan elit politik lokal tersebut. Di lain pihak. yang diatur dengan undang-undang”.

cit. hal itu dapat diterima karena sangat masuk akal dan berdasar. di mana jika menggunakan istilah “terdiri atas” akan lebih menunjukkan susbtansi federalisme karena istilah itu menunjukkan letak kedaulatan berada di tangan negara-negara bagian. Selain itu. dan provinsi akan selalu dibagi ke dalam kabupaten atau kota. 383 Secara konseptual dan teoretis. Sebagai bukti. hlm. Penafsiran itu mungkin terlalu naïf. peran lembaga formal sangat penting dalam menyaring dan mengendalikan pemekaran daerah agar pemekaran daerah itu dapat dikurangi atau dihentikan. Akan tetapi. Oleh karena itu. Dari bunyi pasal tersebut tampak bahwa memang sangat dimungkinkan suatu daerah untuk dimekarkan bahkan dapat menjadi lebih dari satu daerah (baru).136 dalam pembentukan daerah baru. 31. op. 383 Sekretariat Jenderal Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia. keterlibatan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dalam mengajukan rancangan undang-undang tentang pemekaran daerah sangat memungkinkan dan mendorong terjadinya pemekaran daerah. . hal itu konsisten dengan kesepakatan untuk tetap mempertahankan bentuk negara kesatuan. tetapi faktanya memang seperti itu di mana kemudian pembagian wilayah atau daerah di Indonesia menjadi sangat dipermudah dalam undang-undang pelaksanaannya. hal itu diatur dalam Pasal 6 ayat (2) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang menyatakan “Daerah dapat dimekarkan menjadi lebih dari satu Daerah”. Hal itu ternyata menjadi penyebab pemekaran daerah tidak dapat dikendalikan. Alasan Majelis Permusyawaratan Rakyat menggunakan istilah “dibagi” bukan “terdiri atas” adalah untuk menjelaskan bahwa Indonesia adalah negara kesatuan yang kedaulatan negara berada di tangan Pusat. Hal itu sangat dimungkinkan karena undang-undang yang berkaitan memang membuka peluang seperti dijelaskan di atas. ternyata dari kata “dibagi” tersebut kemudian menimbulkan penafsiran yang berbeda dalam praktik di mana hal itu diartikan Indonesia akan selalu dibagi ke dalam provinsi. Demikian pula halnya.

tidak mengherankan apabila banyak daerah yang mencoba mengajukan usulan pemekaran diri sekalipun secara faktual daerahnya tidak memenuhi persyaratan atau persyaratan formalnya terpenuhi tetapi faktualnya tidak. di sisi lain kriteria dan prosedur tersebut dapat dianggap terlalu mudah dan terkesan formalistik. kondisi. maka tampak seperti tidak ada pembatasan sampai berapa tahap suatu daerah dapat dibagi ke dalam daerah yang lebih kecil. provinsi dapat dibagi terus ke dalam kabupaten atau kota.137 Namun. Pasal tersebut sangat memungkinkan terjadinya pemekaran daerah seperti halnya pemecahan sel yang berlangsung terus-menerus tanpa ada pembatasan. Apabila undang-undang itu dibaca dalam waktu yang berbeda. Keadaan itu dimungkinkan terjadi karena adanya . Oleh karena itu. dalam pemekaran daerah banyak memunculkan data dan fakta yang berbeda dengan situasi. Artinya. Bahkan tidak sedikit pula dalam pemekaran daerah itu dilakukan dengan memaksakan diri padahal situasi dan kondisi daerah itu sebenarnya belum atau tidak layak dimekarkan. dan kota yang dapat dibentuk di Indonesia. sementara dari segi faktual-material banyak yang tidak sesuai dengan situasi dan kondisi nyata di daerah yang bersangkutan. Dengan kata lain. kabupaten. di sisi lain Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tidak membatasi secara tegas sampai berapa banyak jumlah provinsi. kriteria dan prosedur pemekaran daerah yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tersebut sudah cukup baik selama dijalankan secara ketat dan teruji melalui penelitian dan pengkajian yang komprehensif. dan kecamatan pun dapat dipecah lagi ke dalam kelurahan-kelurahan dan desa-desa. ketentuan tersebut sangat membuka peluang kepada semua daerah untuk memekarkan diri tanpa melihat kondisi objektif daerah. sehingga pemenuhannya lebih banyak ditekankan kepada aspek formalnya semata-mata. Secara formal. Namun. Pemenuhan persyaratan yang diajukan dalam pemekaran daerah itu lebih banyak hanya ditekankan dari segi formal dan prosedur. kabupaten atau kota juga dapat dimekarkan terus ke dalam kecamatan-kecamatan. maupun kemampuan daerah yang bersangkutan. wilayah Indonesia dapat dibagi terus ke dalam provinsi-provinsi. Dengan kata lain.

sejarah menunjukkan bahwa pelaksanaan undangundang tersebut ternyata tidak berhasil dengan baik. Hal itu sebagai akibat negatif di mana daerah diberi kewenangan dan keleluasaan yang sangat luas untuk mengurus dan mengatur urusan rumah tangganya sendiri. maupun daya saing daerah. adalah timbulnya berbagai persoalan yang dihadapi oleh daerah. pelaksanaan otonomi daerah yang sangat luas tersebut tidak mampu membawa kesejahteraan bagi masyarakat di daerah. Akibat lain dari berlakunya undang-undang tersebut. dengan diberikannya otonomi yang seluas-luasnya kepada daerah menyebabkan daerah memiliki kekuasaan yang luar biasa besar dalam menentukan dan mengambil kebijakan menyangkut daerahnya. Padahal. sehingga tujuan pemberian otonomi daerah seluas-luasnya tidak berjalan sesuai dengan harapan. Hal itu itu menunjukkan sangat longgarnya persyaratan dan prosedur pemekaran daerah dalam undang-undang. korupsi. kabupaten. pelayanan publik. Sebagai akibatnya. banyak daerah provinsi. termasuk kebebasan daerah dalam memekarkan daerahnya menjadi daerah otonom baru. atau kota yang sibuk melakukan pemekaran daerah baru dengan melupakan keberadaannya sebagai penyelenggara pemerintahan daerah yang memiliki tugas untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. terutama Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan peraturan pelaksananya. selain banyak munculnya daerah baru. hal itu dijadikan peluang untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. seperti adanya kerusakan lingkungan. pelayanan masyarakat. maupun daya saing daerah. Namun yang terjadi justru sebaliknya di mana dengan otonomi yang sangat luas tersebut menimbulkan banyak ekses negatif. Sebagai akibatnya.138 kemudahan yang diberikan oleh ketentuan peraturan perundang-undangan dan dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk mencapai tujuannya. undangundang tersebut yang pada awal kehadirannya disambut dengan harapan yang sangat tinggi agar pelaksanaan otonomi daerah yang sebelumnya dilaksanakan secara sentralistik berubah menjadi lebih desentralistik justru dianggap menimbulkan banyak masalah. konflik . Semestinya. Dengan demikian. Pada gilirannya.

Oleh karena itu.139 masyarakat. sehingga tidak dapat dikontrol oleh provinsi maupun pusat. era otonomi daerah yang sudah mulai dinikmati oleh daerah kemudian menjadi kehilangan momentum karena daerah tidak mampu memelihara dan menjaganya. Dengan demikian. tidak mengherankan dalam kurun waktu 2004 sampai dengan sekarang (2009) pemekaran daerah juga masih berlangsung. Sekalipun banyak pihak yang sudah menganjurkan upaya pemekaran tersebut dihentikan. semangat undang-undang tersebut masih sama dengan semangat undang-undang sebelumnya yang ”akan selalu membagi” wilayah atau daerah Indonesia ke dalam bagian yang lebih kecil. tujuan semula dikeluarkannya undang-undang tersebut tidak berhasil diwujudkan sesuai dengan harapan pembentuk undang-undang sendiri maupun masyarakat. dan sebagainya. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 juga ternyata masih membuka peluang yang cukup besar bagi daerah untuk melakukan pemekaran daerah. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tersebut digantikan oleh Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004. Penggantian tersebut dilakukan untuk mengubah paradigma yang dianut oleh undangundang sebelumnya yang terlalu memberikan keleluasan sepenuhnya kepada daerah tanpa adanya mekanisme kontrol yang proporsional. Selanjutnya. Pada akhirnya. Dengan demikian. Hal itu disebabkan demikian besarnya kewenangan daerah kabupaten dan kota untuk mengambil kebijakan. hal itu tidak dilaksanakan oleh banyak daerah. Hal itu dapat dilihat dari bunyi Pasal 2 ayat (1) yang berbunyi ”Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota yang masing-masing mempunyai pemerintahan daerah”. termasuk dalam hal pemekaran daerah. ada di antaranya dalam proses pemekaran tersebut menimbulkan konflik horizontal di antara masyarakat sendiri atau dengan pemerintah induk (provinsi/kabupaten/ kota) bahkan dengan pemerintah pusat. Hal itu terjadi karena adanya pihak . Hal itu dimungkinkan terjadi dan terus berlangsung karena memang undangundangnya membuka peluang untuk itu. Namun demikian. Dengan demikian.

akan terjadi pemungutan retribusi baru oleh kabupaten/kota baru bagi warganya yang akan melintasi daerah baru tersebut. Demikian pula halnya dalam pembentukan kabupaten/kota baru harus mendapatkan persetujuan dari semua kabupaten/kota yang ada dalam provinsi yang sama. Alasannya.140 tertentu yang menginginkan pemekaran dan di lain pihak justru menentangnya dengan masing-masing alasannya. Misalnya. dan sebagainya. praktiknya hal itu sangat riskan. Hal itu disebabkan persyaratan yang harus dipenuhi tidak ketat. pembentukan daerah baru juga akan menjadi penyebab berubahnya administrasi kependudukan. Apabila dibandingkan antara kedua ketentuan peraturan perundangundangan tersebut. daerah tersebut akan menerapkan ketentuan yang menguntungkan daerahnya sendiri. hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah terjadinya “gangguan” terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakatnya. Sekalipun dalam peraturan perundang-undangan tersebut sudah diatur tentang pembatasan waktu berapa lama suatu daerah yang sudah dimekarkan dapat dimekarkan lagi. termasuk posedurnya juga cukup sederhana. tidak adanya syarat yang mewajibkan persetujuan dari daerah lain dalam pembentukan daerah baru. kepegawaian. apabila akan dibentuk provinsi baru. tampaknya tidak terlalu berbeda di mana keduanya sangat membuka peluang dilakukannya pemekaran daerah. semua provinsi di Indonesia harus menyetujui pembentukan provinsi baru tersebut. potensi daerah. baik untuk daerah lama yang sudah pernah dimekarkan maupun daerah baru yang kemudian akan dimekarkan lagi. di samping akan mempengaruhi alokasi anggaran masingmasing provinsi yang sudah ada. Apabila sudah berdiri sendiri sebagai kabupaten/kota. Hal itu sangat penting. Selain fakto-faktor yang sama dalam pembentukan provinsi. waktu 10 tahun untuk . penghasilan daerah. tidak peduli apakah “korbannya” adalah tetangganya yang sebelumnya adalah sesama warga kabupaten/kota sebelum pemekaran (daerah induk). padahal sebelumnya tidak dipungut retribusi karena masih merupakan bagian daerah kabupaten/kota yang bersangkutan. Sebagai contoh. Misalnya.

penyempurnaan jenis-jenis dana perimbangan. ada beberapa hal yang masih menjadi masalah dalam UU tersebut atau jika dikaitkan dengan UU lainnya. Dimensi Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah a. Pasal 102 ayat (3) UU No. . Demikian pula halnya untuk pembentukan kabupaten/kota baru harus ada penegasan hal yang sama.141 provinsi dan 7 tahun untuk kabupaten/kota dirasakan kurang karena dalam waktu sesingkat itu pemerintahannya belum stabil seperti halnya suatu provinsi atau kabupaten/kota yang sudah lama berdiri. provinsi Jawa Barat sudah pernah dimekarkan dengan dibentuknya provinsi Banten pada tahun 2001. 5% DBH sektor Migas untuk alokasi pendidikan dasar)384 dan sanksinya jika ketentuan tersebut dilanggar385. termasuk asal dananya. UU No. adanya dana perimbangan yang peruntukannya di atur (0. Pasal 83 ayat(4). 33 Tahun 2004. serta dalam mekanisme dana perimbangan sebagai instrumen pengendali pengelolaan keuangan daerah. serta persentase dana perimbangan menjadi perhatian utama dalam UU tersebut. Lihat Pasal 50 ayat(2). Dalam konteks tersebut.386 Namun demikian. persentase yang lebih besar. Tahun 2000) terkait dengan jenis –jenis dana perimbangan. 384 385 Lihat Pasal 20 ayat (1) dan ayat (2) UU No. Berupa pemotongan DBH sektor Migas. kriteria dan batas defisit APBD. 386 Hal tersebut berupa ancaman sanksi penundaan atau pemotongan dana perimbangan jika daerah melanggar larangan melakukan pinjaman luar negeri. 33 Tahun 2004. 33 Tahun 2004. Berapa lama sebenarnya kemudian provinsi Jawa Barat dapat dimekarkan lagi ke dalam provinsi baru? Hal ini sangat penting untuk memperoleh kejelasan karena sekarang ini sudah muncul pembentukan provinsi Cirebon dan provinsi Pantai Utara (Pantura). 33 Tahun 2004 memperbaiki ketentuan UU sebelumnya (UU No. Sebagai contoh. 25. Telaah Terhadap Mekanisme Perimbangan Keuangan Dilihat dari substansi pengaturannya. kewajiban menyampaikan informasi keuangan daerah sesuai dengan standard akuntansi pemerintah. D. Pasal 25 UU No. 33 Tahun 2004 lebih menekan pada pembagian pendapatan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. UU No.

142

Dalam konteks tersebut, UU No. 33 Tahun 2004 lebih menekankan konsep desentralisasi fiskal pada transfer dana pusat ke daerah. Padahal desentralisasi fiskal tidak hanya mencakup hal tersebut, tetapi juga menjamin daerah untuk lebih mandiri mendapatkan sumber-sumber penerimaan daerah sesuai dengan potensinya. Transfer dana pusat ke daerah seharusnya ditempatkan sebagai mekanisme penyeimbang dalam hal mengatasi masalah ketidakseimbangan kemampuan keuangan secara vertikal dan horizontal (vertical and horizontal fiscal imbalance).
387

Padahal

jika dikaitkan dengan konsep desentralisasi fiskal, maka sangat besarnya transfer dana dari pusat ke daerah akan menyebabkan ketergantungan daerah yang tinggi terhadap pusat.388 DAU yang didasarkan pada perhitungan celah fiskal dapat mengatasi persoalan vertical imbalance antara pusat dengan daerah. Daerah-daerah miskin dan terpencil mendapatkan keuntungan yang besar dari pola DAU dalam UU No. 3 Tahun 2004 terutama sejak tahun 2006, yang disebut oleh Fengler dan Hofman sebagai the second big bang.389 Sementara itu, daerahdaerah yang memiliki DBH baik dari sektor pajak, dan terutama DBH sumber daya alam, pasti memiliki DAU lebih kecil sehingga antara daerah-daerah yang kaya dengan daerah-daerah miskin dan terpencil dapat tercipta keseimbangan kemampuan keuangan secara horizontal. Namun demikian, walaupun secara normatif dan perhitungan “di atas kertas” tercipta keseimbangan baik vertikal maupun horizontal, namun kenyataannya danadana tersebut sebagian besar tidak terserap, seperti di Aceh dan daerah Indonesia timur, dana-dana perimbangan tersebut lebih banyak berada di rekening bank,390 atau dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI),391

Roh Bahl, dalam Shinichi Ichimura, Roy Bahl (eds), loc.cit., hlm. 10 – 11. Lihat pendapat K. Brueckner, loc.cit., hlm. 1. 389 Istilah big bang (decentralization) mengacu pada fenomena desentralisasi berdasarkan UU No. 22 Tahun 1999 (efektif pada tahun 2001) yang mengubah Indonesia dari negara sentralistis menjadi negara terdesentralisasi secara drastis. Lihat Wolfgang Fengler, Bert Hofman, “Managing Indonesia’s Rapid Decentralization: Achievements And Challenges”, dalam Shinichi Ichimura, Roy Bahl (eds), op.cit., hlm. 245 – 246. 390 Ibid., hlm. 254. 391 Ibid., hlm. 246.
388

387

143

sementara secara kontras, penyerapan PAD lebih mudah dilakukan. Meminjam istilah Fengler dan Hofman, daerah lebih mudah menyerap “dana rakyat yang lain”392 (PAD). Fengler dan Hofman sendiri menegaskan

persoalan ke depan yang menjadi tantangan bukanlah bagaimana menambah transfer dana dari pusat ke daerah – daerah miskin dan terpencil, tetapi bagaimana mengelola dana-dana transfer tersebut secara efektif.393 Selain menumpuknya dana-dana transfer dari pusat, belanja daerah pun lebih banyak dikeluarkan untuk membiayai gaji pegawai, dibandingkan belanja lain yang terkait dengan penyelenggaraan urusan pemerintah, seperti belanja modal atau infrastruktur.394 Hal-hal di atas menunjukkan bahwa desentralisasi fiskal Indonesia lebih banyak ditekankan pada otonomi pengeluaran, walauapun hasilnya tidak efektif. Dengan kata lain, tantangan desentralisasi Indonesia di kemudian hari tidak hanya ditekankan pada efektifitas penggunaan sumber-sumber keuangan daerah secara efektif. Persoalan yang juga signifikan adalah tingkat otonomi dan kecukupan pendapatan (revenue autonomy and adequacy) untuk mendapatkan PAD. Walaupun daerah diberikan kewenangan untuk memungut pajak daerah dan retribusi daerah, namun hal tersebut tidak efektif. Pajak daerah dan retribusi daerah yang diberikan kewenangannya kepada daerah dalam UU No.18 Tahun 1997 jo UU No. 34 Tahun 2000 sangat terbatas. Pajak daerah dalam UU No. 18 Tahun 1997 jo UU No. 34 Tahun 2000 lebih menekankan pada keseragaman antar daerah, dalam bentuk kewenangan memungut pajak tertentu (positive list) yang basis pajaknya/ objeknya telah ditetapkan dalam undang-undang.395 Walaupun daerah dapat menetapkan jenis pajak daerah lain berdasarkan kriteria yang ditetapkan UU tersebut, namun sangat sulit

Ibid., hlm. 255. Loc.it., hlm. 246. 394 Misalnya pada tahun 2006 APBD Kabupaten/ Kota untuk belanja pegawai termasuk gedung-gedung pemerintah daerah mencapai 32% dari seluruh pengeluaran, yang juga disebabkan karena meningkatnya daerah-daerah baru hasil pemekaran. Sementara itu, belanja infrastruktur yang terkait langsung dengan pelayanan publik hanya mencapai 15%. Lihat World Bank 2007, Spending for Development — Making the Most of Indonesia’s New Opportunities (Public Expenditure Review 2007), Jakarta 2007. www.worldbank.org/id. 395 Tjip Ismail, Pengaturan Pajak Daerah di Indonesia, Yellow Printing, Jakarta, cetakan kedua, 2007, hlm. 264.
393

392

144

ditemukan jenis pajak daerah baru, karena ketatnya kriteria-kriteria tersebut.396 Praktiknya, hasil pajak daerah dan retribusi daerah tidak berkontribusi signifikan terhadap PAD, terutama kepada kabupaten/ kota.397 Bahkan hasil yang diperoleh dari pajak dearah dan retribusi daerah lebih kecil dari pada biaya pemungutannya398 dan sebagian besar akibat dari

pajak daerah dan retribusi daerah tersebut menyebabkan ekonomi berbiaya tinggi sehingga merusak iklim investasi.399 Hal – hal di atas mencerminkan masih rendahnya tingkat otonomi pendapatan dari daerah. Dengan diundangkannya UU No 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah menggantikan UU sebelumnya, terdapat beberapa perubahan signifikan, salah satunya adalah penambahan pajak daerah dan retribusi daerah baru. Namun demikian, dengan diterapkannya sistem penetapan jenis pajak daerah secara tertutup, menimbulkan pertanyaan, apakah otonomi pendapatan dari daerah semakin menguat atau semakin melemah? Salah satu alasan diundangkannya UU No. 28 Tahun 2009 karena selama ini penyerahan kewenangan di bidang perpajakan dan retribusi (daerah) kurang mendukung pelaksanaan otonomi daerah.400 Pemberian kewenangan yang semakin besar kepada Daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat seharusnya diikuti dengan pemberian kewenangan yang besar pula dalam perpajakan.401 Dengan argumentasi demikian, UU No. 28 Tahun 2009 mengatur perluasan basis pajak dengan menambah pajak daerah dan retribusi daerah yang baru. Namun demikian, apakah pajak-pajak daerah yang baru dapat menjamin hasil pungutan pajak daerah yang besar pula dan apakah tersebut dapat

Ibid., hlm. 266. Di tingkat kabupaten/ kota kontribusi PAD hanya menyumbang kurang dari 10% terhadap APBD. Tjip Ismail, op.cit.,hlm. 263. 398 Biaya penyelenggaraaan pajak daerah dan retribusi daerah mencapai lebih dari 50% dari hasil yang diterima. Wolfgang Fengler, Bert Hofman, op.cit.,hlm. 255. 399 Ibid., hlm. 256. 400 Penjelasan Umum paragraf 8 UU No. 28 Tahun 2009. 401 Ibid.
397

396

145

meningkatkan kemandirian daerah dalam upaya peningkatan PAD secara tepat? Dari jenis pajak daerah baru tersebut, hanya pajak rokok yang secara signifikan memberikan kontribusi terhadap PAD dengan tarif 10% dari cukai nasional dan sebagian lagi dari pajak hiburan yang dapat mencapai tariff maksimum 75 % untuk hiburan-hiburan tertentu.402 Namun demikian, khusus mengenai pajak rokok, terdapat kejanggalan dalam konteks pemungutan. Walaupun pajak rokok adalah pajak daerah provinsi, namun yang melakukan pemungutan pajak adalah instansi pemerintah berwenang memungut cukai bersamaan dengan pemungutan cukai rokok403, yang artinya pemerintah pusat. Hal ini merupakan mekanisme yang tidak menciptakan kemandirian daerah untuk melakukan pemungutan pajak daerah. Pajak rokok lebih tampak seperti dana perimbangan dari konsumsi rokok, karena dipungut oleh pemerintah pusat lalu disalurkan ke rekening kas umum daerah provinsi secara proporsional berdasarkan jumlah penduduk.404 Sementara itu, Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Pedesaan dan Perkotaan serta Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan(BPHTB) sebenarnya bukan pajak baru, karena hal tersebut merupakan pajak pusat yang seluruh hasilnya dikembalikan kepada daerah sebagai dana bagi hasil(DBH) dari sektor pajak.405 Sementara itu, Pajak Sarang Burung Walet dipungut bagi daerah-daerah yang memiliki potensi ini. Artinya, tidak semua daerah dapat memungut pajak daerah tersebut, karena tidak setiap daerah memiliki potensi sarang burung walet. Perluasan objek pajak daerah, misalnya untuk pajak hotel dan restoran sebenarnya juga bukan hal baru. Beberapa daerah juga telah

Hiburan tertentu yang dimaksud adalah Khusus untuk Hiburan berupa pagelaran busana, kontes kecantikan, diskotik, karaoke, klab malam, permainan ketangkasan, panti pijat, dan mandi uap/spa. Lihat Pasal 45 ayat (2) UU No. 28 Tahun 2009. 403 Pasal 27 ayat (3) UU No.28 Tahun 2009. 404 Pasal 27 ayat (4) UU No.28 Tahun 2009. 405 Pengaturan persentase perimbangan alokasi DBH PBB dan BPHTB antara pusat dan daerah adalah 10 % : 90 % untuk DBH PBB dan 20% : 80 % untuk DBH BPHTB. 10 % bagian pusat dari PBB dan 20 % bagian pusat dari BPHTB dibagikan seluruhnya kepada daerah dengan formula tertentu. Lihat Pasal 12 ayat (2) dan ayat(5) UU No. 33 Tahun 2004.

402

146

menetapkan jenis pajak daerah di luar UU No. 34 Tahun 2000, yang menyerupai perluasan objek pajak tersebut, misalnya pajak rumah kos di Kabupaten Sumedang. Dengan demikian, perluasan objek pajak tersebut sebenarnya hanya mengambil dan mengukuhkan secara nasional pajakpajak daerah yang sebelum telah dipungut di beberapa daerah. Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) yang tarifnya ditentukan secara progresif pun di mulai dari prosentase tariff 1% untuk kepemilikan kendaraan pribadi yang pertama, walaupun untuk kendaraan kedua dan seterusnya dapat naikkan secara progresif hingga 10%. Secara sepintas, pajak tersebut dapat menghasilkan dana yang besar mengingat tingginya pembelian kendaraan bermotor. Namun demikian, jika mekanisme pengawasan tentang kepemilikan kendaraan bermotor tidak ditetapkan dengan baik, maka kemungkinan terjadinya penyelundupan hukum dapat mengakibatkan hasil pemungutan pajak tersebut tidak signifikan. Begitu pula dengan pemecahan Pajak Air Bawah Tanah dan Air Permukaan menjadi Pajak Air Tanah (kabupaten/ kota) dan Pajak Air Permukaan (untuk provinsi), pada dasarnya memiliki objek pajak yang tidak berubah, dengan tarif yang sama dengan UU sebelumnya untuk Pajak Air Tanah (maksimal 20%406), namun lebih rendah untuk Pajak Air Permukaan (maksimal 10%).407 Hal – hal di atas menunjukkan bahwa pemberian pajak baru, penyesuaian tarif pajak daerah tidak dapat dipastikan dapat meningkatkan PAD. Apalagi jika dikaitkan dengan kemungkinan masalah yang muncul dalam praktik, misalnya mekanisme pengawasan kepemilikan kendaraan bermotor pribadi dengan tariff pajak progresif. Jika mekanisme tersebut tidak dibentuk, maka pelaksanaan pemungutan pajak tersebut, berpotensi menimbulkan ketidakadilan.408 Berdasarkan hal-hal tersebut, maka otonomi

406 407

Pasal 70 ayat (1) UU No. 28 Tahun 2009. Pasal 24 ayat (1) UU No. 28 Tahun 2009. 408 UU No. 28 Tahun 2009 tidak mewajibkan mekanisme balik nama jika terjadi peralihan hak atas kepemilikan kendaraan pribadi. Artinya, jika seseorang telah menjual kendaraannya kepada orang lain tanpa melakukan balik nama, maka orang tersebut akan

147

pendapatan yang diharapkan dapat meningkat dengan adanya UU ini, belum tentu dapat terwujud. Jika asumsi PAD dari sektor pajak daerah belum dapat ditingkatkan dengan adanya UU No. 28 Tahun 2009, maka dengan sistem penetapan jenis pajak yang tertutup, daerah kurang dapat memanfaatkan potensi pajak daerah lain, selain yang telah ditetapkan secara limitatif dalam UU tersebut. Pembentuk UU No. 28 Tahun 2009 berargumen bahwa sistem tertutup tersebut dilakukan untuk memberikan kepastian hukum bagi masyarakat.409 Namun demikian, pembentukan UU tersebut tidak melihat bahwa otonomi daerah yang diterapkan di Indonesia adalah otonomi seluasluasnya di mana urusan pemerintahan daerah sangat luas, mencakup seluruh urusan pemerintahan kecuali urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat.410 Artinya, dibutuhkan biaya yang sangat besar untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan daerah, sehingga hal tersebut harus didukung dengan sumber pendapatan yang juga sangat besar. Pembentuk UU No. 28 Tahun 2009 berargumen bahwa dengan sistem pajak daerah selama ini, banyak daerah yang melanggar kriteria yang telah ditetapkan untuk menetapkan pajak daerah baru, ditambah dengan lemahnya pengawasan penetapan Perda Pajak Daerah dan perilaku banyak daerah yang tidak menyampaikan Perda Pajak Daerah untuk dievaluasi.411 Namun demikian, UU No. 28 Tahun 2009 tetap menerapkan sistem yang semi terbuka untuk retribusi daerah. Artinya, selain retribusi daerah yang ditetapkan dalam UU No. 28 Tahun 2009, daerah dapat menetapkan jenis retribusi daerah lain, berdasarkan kriteria yang ditetapkan.412 Padahal pembentuk UU No. 28 Tahun 2009 juga mengakui bahwa penetapan

dikenakan tariff progresif jika akan membeli kendaraan bermotor lagi untuk jenis yang sama, padahal orang tersebut secara de facto hanya memiliki 1 kendaraan pribadi. 409 Penjelasan Umum UU No. 28 Tahun 2009. 410 Pasal 18 ayat (5) Perubahan Kedua UUD 1945, menyatakan: “Pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya, kecuali urusan pemerintahan yang oleh undangundang ditentukan sebagai urusan Pemerintah Pusat”. 411 Penjelasan Umum UU No. 28 Tahun 2009. 412 Pasal 150 UU No. 28 Tahun 2009.

148

retribusi daerah yang banyak melanggar kriteria yang telah ditetapkan disebabkan, hasil penerimaan dari jenis pajak daerah yang ditetapkan, tidak dapat memenuhi kebutuhan daerah.413 Padahal dengan sistem pajak daerah yang sifatnya tertutup maka, pelangggaran terhadap kriteria jenis retribusi daerah lain kemungkinan akan terulang kembali. Hal tersebut menunjukkan ambiguitas pemikiran para pembentuk UU No. 28 Tahun 2009 dalam mendudukkan pajak daerah dan retribusi daerah. Hal-hal di atas menunjukkan, waluaupun terdapat upaya untuk menambahkan kewenangan pajak daerah dan retribusi daerah dalam UU No. 28 Tahun 2009, namun hal tersebut tidak menjamin terciptanya otonomi dan kecukupan pendapatan bagi daerah. Artinya, jika tujuan meningkatkan otonomi pendapatan dalam UU ini tidak tercapai, maka daerah akan tetap bergantung pada dana perimbangan yang diberikan oleh pusat.

b. Telah Terhadap Pinjaman Daerah Pengaturan pinjaman daerah dalam UU No. 33 Tahun 20004 dalam beberapa hal lebih baik jika dibandingkan dalam UU No. 25 Tahun 1999, misalnya dalam hal batas kumulatif pinjaman yang lebih ketat, dan sanksi bagi daerah yang melanggar ketentuan tersebut. Dengan pengaturan yang lebih ketat, tidak berarti daerah tidak memiliki borrowing previllage yang terbatas. Batas-batas objektif dalam melakukan pinjaman daerah diperlukan agar hal tersebut sesuai dengan maksud pinjaman daerah, khususnya untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dan melakukan pembangunan yang menerus (sustainable development).414 Adanya kategorisasi pinjaman daerah sesuai peruntukkannya dalam UU No. 33 Tahun 2004 merupakan salah satu cara untuk menempatkan pinjaman daerah sesuai dengan kebutuhan pinjaman tersebut dilakukan. Namun demikian, Menurut Shah, di negara-negara berkembang (termasuk Indonesia) di mana pasar (keuangan) belum terbangun dengan

413 414

Penjelasan Umum UU No. 28 Tahun 2009. Glasson dalam Bachrul Elmi dan Syahrir Ika, loc.cit., hlm. 62.

149

baik untuk kredit jangka panjang dan kemampuan daerah untuk membayar pinjaman, menyebabkan akses daerah untuk melakukan pinjaman sangat terbatas.415 Dalam konteks tersebut, maka yang paling mungkin dilakukan di Indonesia adalah pinjaman jangka pendek dan menengah yang tidak ditujukan untuk menghasilkan penerimaan. Artinya, pinjaman daerah di Indonesia hanya berperan untuk mempertahankan struktur APBD agar tetap berimbang seiring dengan diterapkannya hard budget constraints dalam hal APBD. Pinjaman daerah di Indonesia belum dapat diberdayakan untuk dapat menghasilkan penerimaan, walaupun jenis pinjaman tersebut disediakan (pinjaman jangka panjang untuk pembiayaan investasi). Belum berkembangnya pasar keuangan di negara-negara

berkembang, seperti lembaga keuangan bank dan non-bank, termasuk di Indonesia, maka sumber pinjaman daerah sangat terbatas. Otomatis, sumber pinjaman daerah yang secara signifikan diharapkan oleh daerah berasal dari pemerintah, karena pinjaman dari masyarakat (obligasi daerah) dan pinjaman dari pemerintah daerah lain belum banyak diberdayakan. Namun demikian, pemerintah pusat pun tidak selamanya dapat memberikan pinjaman kepada daerah, khususnya selain untuk tujuan menutupi defisit, karena transfer dana pusat ke daerah sudah begitu besar, khususnya dari DAU. Apalagi dalam UU No. 33 Tahun 2004, daerah dilarang melakukan pinjaman luar negeri, kecuali berasal dari penerusan pinjaman dari pusat yang dananya dari pinjaman luar negeri. Artinya sumber dana pinjaman daerah semakin terbatas. Dalam kewenangan melakukan pinjaman, daerah tidak dapat memanfaatkan sumber pinjaman luar negeri secara langsung, namun harus melalui penerusan pinjaman dari pemerintah pusat.416 Dalam hal pinjaman dari luar negeri, UU No. 22 Tahun 1999 memberikan mekanisme yang lebih realistis. Dalam UU No. 22 Tahun 1999, pemerintah daerah dapat melakukan peminjaman dari sumber dalam negeri dan/atau dari sumber luar negeri

415 416

Anwar Shah, “Fiscal Decentralization…., loc.cit., hlm. 29 Lihat Pasal 50 ayat (1) dan Pasal 56 ayat (2) UU No. 33 Tahun 2004.

dalam mekanisme UU No. namun pada prinsipnya hal tersebut tidak sepenuhnya menjadi kewenangan daerah. 22 Tahun 1999.22 Tahun 1999. daerah tetap dapat melakukan penjajakan potensi pinjaman luar negeri. tidak diatur bagaimana mekanisme keterlibatan pemerintah pusat. tidak mengatur kriteria pinjaman yang dananya berasal dari luar negeri.419 Walaupun UU No. Walaupun demikian. daerah tidak memiliki inisiatif untuk menjajaki pinjaman.22 Tahun 1999 . Artinya. prinsip bahwa urusan luar negeri adalah urusan pemerintah pusat sebagaimana diatur dalam UU No. walaupun keputusan akhir ada di tangan pemerintah pusat. 33 Tahun 2004. dalam konteks penjajakan pinjaman luar negeri.150 untuk membiayai kegiatan pemerintahan dengan persetujuan DPRD. Walaupun demikian. Pasal 81 ayat (2) UU No. kebebasan untuk melakukan pinjaman lebih terjamin. proses penjajakan tersebut sebaiknya 417 418 Pasal 81 ayat (1) UU No. Artinya. 32 Tahun 2004. padahal unsur esensial dalam melakukan pinjaman adalah unsur persetujuan dari pemerintah pusat.417 Pinjaman dari dalam negeri diberitahukan kepada Pemerintah dan dilaksanakan sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Pemerintah. Artinya. 25 Tahun 1999). karena harus mendapatkan persetujuan pusat. UU No. Dalam UU No. 22 Tahun 1999 membolehkan daerah melakukan pinjaman luar negeri.418 Peminjaman dan sumber dana pinjaman yang berasal dari luar negeri. 22 Tahun 1999 (dan UU No. Jenis-jenis pinjaman yang diperuntukan untuk menutupi arus kas atau penyediaan pelayanan publik seharusnya tidak berasal dari pinjaman luar negeri. 22 Tahun 1999. seharusnya daerah tetap diberikan kewenangan untuk menjajaki potensi pinjaman dari sumber dana luar negeri.22 Tahun 1999. Kelemahan lainnya. Namun demikian. Pinjaman luar negeri seharusnya ditentukan hanya berupa pinjaman jangka panjang yang diperuntukkan untuk membiayai proyek investasi yang menghasilkan penerimaan. 419 Lihat Pasal 81 ayat (3) UU No. masih tetap dipertahankan. harus mendapatkan persetujuan pemerintah pusat. sehingga hal ini menjadi salah satu kelemahan UU No. Padahal hal tersebut sangat penting.

fungsi pinjaman daerah di kemudian hari tidak ditekankan untuk menutupi defisit APBD. 33 Tahun 2004.151 juga harus melibatkan pemerintah pusat. kemampuan pemerintah pusat untuk memberikan pinjaman kepada daerah tidak dapat diharapkan untuk dapat membiayai proyek-proyek investasi besar yang dapat menghasilkan penerimaan. hal tersebut dimaksudkan untuk menegaskan bahwa hubungan antara pemerintah pusat dan daerah bersifat hirarkis dan vertikal. E. Dengan pengaturan saat ini. khususnya DAU dan DBH. Padahal. adanya keterbatasan pemerintah untuk memberikan pinjaman kepada daerah. Artinya. Menurut Jimly Asshiddiqie. di antaranya . dan penyediaan pelayanan publik yang tidak menghasilkan penerimaan. tetapi adalah untuk melakukan investasi produktif yang dapat dapat menghasilkan penerimaan. karena terkait dengan urusan luar negeri. Pengaturan pinjaman daerah dalam UU No. dalam UU No. tidak terlepas dari transfer dana pusat ke daerah yang sangat besar. dengan besarnya dana perimbangan. maka pinjaman yang dapat diterima oleh daerah dari pusat terbatas pada tujuan untuk menutupi kekurangan arus kas (defisit APBD) atau untuk melakukan penyediaan pelayanan publik yang tidak menghasilkan penerimaan. maka tingkat defisit APBD yang rendah. walaupun dengan PAD yang kecil. 32 Tahun 2004 disebutkan berbagai mekanisme pengawasan. dan kabupaten/kota. dengan dana perimbangan yang besar. Namun pranata ini dapat dilihat sebagai konsekuensi dari pembagian Negara yang “dibagi atas” daerah-daerah provinsi. Artinya. melainkan hanya untuk menutupi defisit. Sebagai pelaksanaan dari Pasal 18. maka diharapkan pinjaman yang dilakukan oleh menjadi tidak besar. Dimensi Hubungan Pengawasan Pusat dan Daerah Perubahan UUD 1945 secara eksplisit tidak menyebutkan mengenai pengawasan. Dengan demikian.

dapat dibatalkan oleh Presiden (ditetapkan dengan Perpres). 1.421 Objek pengawasan lainnya adalah pengawasan terhadap peraturan daerah dan peraturan kepala daerah. 21.420 Pasal 222 ayat (1) UU No.422 Selain itu dalam rangka pengawasan pula. 421 Konsiderans PP No. Pusat Studi Hukum Tata Negara FH. Jakarta. Instrumen Pengawasan Sebagai Fenomena Tarik Ulur Hubungan Pusat-Daerah Untuk mengetahui bahwa dalam praktik pelaksanaan pengawasan dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah di Indonesia pada umumnya dan di Jawa Barat pada khususnya. 32 Tahun 2004.152 terhadap peraturan daerah. yang salah satunya disiratkan melalui ketentuan pengawasan oleh Gubernur mengenai penyusunan APBD kabupaten dan kota. memunculkan pernyataan legitimasi bentuk instrumen hukum tersebut. UI. Jimly Ashiddiqie. . 423 Pasal 145 ayat (2) s/d ayat (7) UU No. hlm. Selanjutnya untuk melaksanakan ketentuan Pasal 223 UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Peraturan Pemerintah diterbitkan sebagai pedoman pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah.423 Persoalan kemudian muncul di antaranya berkaitan dengan apakah pengaturan pengawasan preventif dan represif terhadap perda ditambah pengawasan yudisial sudah tepat? Selain itu adalah bahwa pada kenyataannya setiap perda yang dibatalkan dilaksanakan melalui keputusan Menteri Dalam Negeri. Konsolidasi Naskah UUD 1945 Setelah Perubahan Keempat. disebutkan bahwa perda yang bertentangan dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. 422 Pasal 186 UU No. 32 Tahun 2004 mengatur bahwa pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah secara nasional dikoordinasikan oleh Menteri Dalam Negeri. di bawah ini diuraikan data sebagai berikut: Tabel 5 420 Lihat. 2002. 32 Tahun 2004. 79 Tahun 2008 Tentang Tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah.

d. 2006 Sektor Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral Resource) No Wilayah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Provinsi Sumatera Utara Provinsi Bengkulu Provinsi Jambi Provinsi Riau Provinsi Sumatera Barat Provinsi Sumatera Selatan Provinsi Lampung Provinsi Kepulauan Riau Provinsi Banten Provinsi Jawa Barat Provinsi DKI Jakarta Provinsi Jawa Tengah Provinsi Jawa Timur Provinsi D.Yogyakarta Provinsi Bali Tabel 6 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s.d.153 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s.I. 2006 Sektor Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade) No 1 2 3 4 5 Wilayah Provinsi Sumatera Utara Provinsi Bengkulu Provinsi Jambi Provinsi Riau Jumlah 7 2 0 3 Jumlah 7 2 3 1 0 3 3 1 0 3 0 1 0 0 1 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 0 Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung 0 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 0 .

I.Yogyakarta Provinsi Bali 3 3 3 1 0 2 0 5 2 1 0 Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung 0 Tabel 7 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s. 2006 Sektor Kehutanan (Forestry) No Wilayah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Provinsi Sumatera Utara Provinsi Bengkulu Provinsi Jambi Provinsi Riau Provinsi Sumatera Barat Provinsi Sumatera Selatan Provinsi Lampung Provinsi Kepulauan Riau Provinsi Banten Provinsi Jawa Barat Provinsi DKI Jakarta Jumlah 3 1 4 1 4 2 0 0 1 3 0 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 0 Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung 0 .d.154 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Provinsi Sumatera Barat Provinsi Sumatera Selatan Provinsi Lampung Provinsi Kepulauan Riau Provinsi Banten Provinsi Jawa Barat Provinsi DKI Jakarta Provinsi Jawa Tengah Provinsi Jawa Timur Provinsi D.

d. 2006 Sektor Kelautan dan Perikanan No 1 Wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Jumlah 0 Jumlah 4 0 5 9 2 2 6 0 3 9 0 6 10 0 0 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 1 Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung 1 .155 14 15 16 17 Provinsi Jawa Tengah Provinsi Jawa Timur Provinsi D. 2006 Sektor Perhubungan No Wilayah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Provinsi Sumatera Utara Provinsi Bengkulu Provinsi Jambi Provinsi Riau Provinsi Sumatera Barat Provinsi Sumatera Selatan Provinsi Lampung Provinsi Kepulauan Riau Provinsi Banten Provinsi Jawa Barat Provinsi DKI Jakarta Provinsi Jawa Tengah Provinsi Jawa Timur Provinsi D.d.Yogyakarta Provinsi Bali Tabel 8 4 4 0 1 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s.Yogyakarta Provinsi Bali Tabel 9 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s.I.I.

10/2006 Kepmendagri NO.10/2006 Kepmendagri NO.Muko-muko S-093/MK.Yogyakarta Provinsi Bali 4 0 3 1 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 1 Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung 2 Tabel 10 Peraturan Daerah Tentang Pajak Daerah.12 NO 7 Tahun 2005 Tgl. 29-01-2007 Dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan Dan Holtikultura 2 Kab.10 NO 34 Tahun 2004 Tgl. 23-06-2005 TAHUN 2007 tentang Retribusi Izin Tempat Tgl. 29-01-2007 Usaha Dalam Kabupaten Mukomuko 4 Kab. 23-06-2005 TAHUN 2007 tentang Surat Izin Usaha Tgl. 23-06-2005 TAHUN 2007 tentang Retribusi Pengawasan Tgl.Muaraenim S-093/MK. 29-01-2007 Peraturan Daerah Rekomendasi .11 NO 11 Tahun 2005 Tgl.I.10/2006 Kepmendagri NO. 23-06-2005 TAHUN 2007 tentang Retribusi Surat Izin Usaha Tgl.1 NO 5 TAHUN 2003 Tgl. Retribusi Daerah dan Pungutan Lainnya Yang Dibatalkan Oleh Menteri Dalam Negeri Pada Tahun 2007 Surat SK Mendagri Teguran NO Mendagri 1 Provinsi Sumatera Utara S-093/MK.156 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Provinsi Sumatera Utara Provinsi Bengkulu Provinsi Jambi Provinsi Riau Provinsi Sumatera Barat Provinsi Sumatera Selatan Provinsi Lampung Provinsi Kepulauan Riau Provinsi Banten Provinsi Jawa Barat Provinsi DKI Jakarta Provinsi Jawa Tengah Provinsi Jawa Timur Provinsi D. 29-01-2007 Perdagangan (siup) Dan Retribusi Tanda Daftar Perusahaan (tdp) 3 Kab.Muko-muko S-093/MK.10/2006 Kepmendagri NO.

21 TAHUN 2007 Tgl. 23-06-2005 Kepmendagri NO. 29-01-2007 S-093/MK.Sintang NO 7 TAHUN 2002 tentang Retribusi Pendirian Dan Pengelolaan Badan Hukum Koperasi Kab. 23-06-2005 Kepmendagri NO. 29-01-2007 S-093/MK.10/2006 Tgl. 23-06-2005 S-093/MK.Nunukan NO 8 Tahun 2005 tentang Retribusi Pelayanan Penerbitan Surat-surat. 29-01-2007 Kepmendagri NO.14 TAHUN 2007 Tgl.Tasikmalaya NO 4 Tahun 2003 tentang Retribusi Pelayanan Bidang Koperasi Dan Usaha Kecil Dan Menengah 12 Kab.10/2006 Tgl. 29-01-2007 Kepmendagri NO. 23-06-2005 . Pengusaha Kecil Dan Menengah 14 Kab. 23-06-2005 Kepmendagri NO.15 TAHUN 2007 Tgl.10/2006 NO 12 Tahun 2000 Tgl. 23-06-2005 tentang Retribusi Ijin Undangundang Gangguan (ho) S-093/MK. 29-01-2007 7 S-093/MK.Karawang NO 23 TAHUN 2001 tentang Retribusi Pelayanan Bidang Koperasi. 23-06-2005 Kepmendagri NO.10/2006 Tgl. 23-06-2005 8 S-093/MK. 29-01-2007 6 S-093/MK.16 TAHUN 2007 Tgl.17 TAHUN 2007 Tgl.Deliserdang NO 25 TAHUN 1998 tentang Retribusi Izin Peruntukan Penggunaan Tanah 13 Kab.13 TAHUN 2007 Tgl.10/2006 Tgl. 29-01-2007 10 kab.10/2006 Tgl. Surat Keterangan Kecakapan (skk) Dan Surat Izin Berlayar (sib) Kab. 23-06-2005 Kepmendagri NO. 29-01-2007 9 Kota Tangerang S-093/MK.20 TAHUN 2007 Tgl.Magelang NO 11 Tahun 2005 tentang Retribusi Izin Usaha Kepmendagri NO. 23-06-2005 Kepmendagri NO.10/2006 Tgl.19 TAHUN 2007 Tgl.10/2006 Tgl.Bandung NO 24 Tahun 2001 tentang Retribusi Pelayanan Perizinan Penyelenggaraan Koperasi 11 Kab.10/2006 Tgl.18 TAHUN 2007 Tgl.157 Perdagangan (siup) 5 Kab. 29-01-2007 Kepmendagri NO. 23-06-2005 Kepmendagri NO.2 TAHUN 2007 Tgl.10/2006 Tgl. 29-01-2007 S-093/MK.Hulu Sungai Selatan NO 11 Tahun 2001 tentang Retribusi Dana Pembangunan Daerah Kerja Bagian Sisa Hasil Usaha Koperasi S-093/MK.Nunukan NO 6 Tahun 2005 tentang Retribusi Izin Tempat Usaha Kab.Sukabumi NO 12 TAHUN 2002 tentang Tanda Daftar Industri Dan Izin Usaha Industri 15 Kab. 29-01-2007 S-093/MK.22 TAHUN 2007 Tgl.10/2006 Tgl.

10/2006 Tgl.10/2006 - . 29-01-2007 Kepmendagri NO. 23-06-2005 S-093/MK. 29-01-2007 S-093/MK.Banyuwangi NO 46 Tahun 2002 tentang Retribusi Izin Perkoperasian S-093/MK.23 TAHUN 2007 Tgl.10/2006 Tgl. 23-06-2005 Kepmendagri NO. 23-06-2005 Kepmendagri NO.Bantul NO 13 Tahun 2005 tentang Retribusi Izin Usaha Bengkel Perawatan Kendaraan Bermotor 19 Kab. 23-06-2005 tentang Perubahan Atas Perda Kabupaten Madiun Nomor 16 Tahun 2002 Tentang Retribusi Penggunaan Jalan Kabupaten Kepmendagri NO.30 TAHUN 2007 Tgl. 29-01-2007 Kepmendagri NO.Sumbawa Barat NO 8 Tahun 2005 tentang Retribusi Izin Usaha Perdagangan Dan Industri 23 Kab.28 TAHUN 2007 Tgl. 23-06-2005 Kepmendagri NO.Pangkajene Kepulauan NO 11 TAHUN 2001 tentang Retribusi Izin Peruntukan Penggunaan Tanah 26 Provinsi Sulawesi Tenggara S-093/MK.10/2006 Tgl.26 TAHUN 2007 Tgl.24 TAHUN 2007 Tgl. 29-01-2007 S-093/MK. 23-06-2005 S-093/MK.10/2006 Tgl.10/2006 Tgl. Pengesahan Perubahan Anggaran Dasar Dan Pembubaran Koperasi Di Kabupaten Bantul 18 Kab.10/2006 NO 12 Tahun 2005 Tgl.10/2006 Tgl.Madiun S-093/MK. 29-01-2007 S-093/MK.25 TAHUN 2007 Tgl.32 S-093/MK. 29-01-2007 Kepmendagri NO. 29-01-2007 Kepmendagri NO.29 TAHUN 2007 Tgl. 23-06-2005 S-093/MK.3 TAHUN 2007 Tgl. 23-06-2005 Kepmendagri NO.31 TAHUN 2007 Tgl.10/2006 Tgl.Magelang NO 15 Tahun 2005 tentang Retribusi Perizinan Ketenagakerjaan 17 Kab. 29-01-2007 20 Kab.Jembrana NO 10 TAHUN 2002 tentang Retribusi Izin Usaha Industri Dan Perdagangan 22 Kab.Sumbawa Barat NO 10 Tahun 2005 tentang Retribusi Tanda Daftar Gudang 25 Kab.Dairi NO 14 Tahun 2000 tentang Pengesahan Akta Pendirian Dan Perubahan Anggaran Dasar Koperasi 24 Kab. 23-06-2005 S-093/MK.27 TAHUN 2007 Tgl.158 Pariwisata 16 Kab.Bantul NO 10 Tahun 2002 tentang Pengesahan Akta Pendirian.10/2006 Tgl.10/2006 Tgl. 23-06-2005 Kepmendagri NO. 29-01-2007 Kepmendagri NO. 29-01-2007 21 Kab.

10/2006 NO 5 Tahun 2005 Tgl.depdagri.503 324 1. tanggal 20 Pebruari 2008 .581 792 3. 29-01-2007 Kepmendagri NO.go.com. Perubahan Anggaran Dasar Dan Pembubaran Koperasi 27 Kota Jayapura S-093/MK.096 Batal Perda Raperda 121 3 651 93 191 11 963 107 Hasil Evaluasi Revisi Perda Raperda 2 17 101 361 45 90 148 468 Dalam Proses Layak Perda Raperda 298 12 3.836 2. 23-06-2005 tentang Pengesahan Akta Pendirian. 29-01-2007 Tabel 11 Hasil Evaluasi Peraturan Daerah di Departemen Dalam Negeri Sampai dengan November 2007 Diterima Daerah Provinsi Kab Kota Total Perda 495 6.634 Raperda 32 883 181 1.d.google. Januari 2008 Tabel 12 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Berdasarkan SK Menteri Dalam Negeri No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Sektor Dari Tahun 2002 s.33 TAHUN 2007 Tgl.447 Raperda 0 105 25 130 Sumber: Situs Kementerian Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia. 23-06-2005 tentang Retribusi Penumpang Kapal Laut Dan Pesawat Udara TAHUN 2007 Tgl. 2006424 Jumlah Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral 32 Resource) Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade) Kehutanan (Forestry) Perhubungan Kelautan dan Perikanan Perkebunan (Plantation) Pertanian Sumbangan Pihak Ketiga (Donation From Third Party) Ketenagakerjaan (Labor Force) 77 50 83 37 13 19 21 54 9 189 10 Kimpraswil dan Pekerjaan Umum (Public Work And Housing) 11 Lain-Lain 424 Sumber: bakd.275 55 5.id/www.076 391 Perda 74 2.159 NO 6 Tahun 2002 Tgl.303 9.

Karawang Kab.Ciamis Kab.160 12 Pendidikan 13 Kesehatan 14 Pariwisata 15 Lingkungan Hidup 16 Koperasi 17 Peternakan 18 Pertanian dan Perikanan 1 0 3 14 4 52 1 Tabel 13 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Wilayah Provinsi Jawa Barat Dari Tahun 2002 s. Kabupaten Jumlah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 kab.Tasikmalaya Kota Bandung Kota Banjar Kota Bekasi Kota Bogor 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 .Sukabumi Kab.Sumedang Kab.Cirebon Kab.Bandung Kab.Kuningan Kab.Subang Kab.d.Bogor Kab.Bekasi Kab.Purwakarta Kab.Cianjur Kab.Indramayu Kab.Garut Kab.Majalengka Kab. 2006 Sektor Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral Resource) No.

INDRAMAYU Pajak TAHUN 2002 NOMOR 25 TAHUN 2002 2002 TENTANG PAJAK PENGELOLAAN MINYAK DAN GAS BUMI 2 Batal 05 00-00. TASIKMALAYA Retribusi 2004 2004 NOMOR 13 TAHUN 2004 Jasa TENTANG IZIN USAHA Usaha PERTAMBANGAN Tabel 16 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade) Wilayah Provinsi Jawa Barat) No Kabupaten Jumlah 1 2 3 Kab.PERDA 1 Batal 25 KAB.KETENAGALISTRIKAN Retribusi TAHUN 2002 Jasa 2002 Umum Tabel 15 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.Tasikmalaya Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral Resource)) No Status Nomor Tanggal Tentang Jenis 1 Batal 13 TAHUN 00-00PERDA KAB.Indramayu Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral Resource)) No Status Nomor Tanggal Tentang Jenis 00-00.Bekasi Kab.161 21 22 23 24 25 Kota Cimahi Kota Cirebon Kota Depok Kota Sukabumi Kota Tasikmalaya 0 0 0 0 0 Tabel 14 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.Bandung Kab.Bogor 0 0 0 .

Indramayu Kab.Kuningan Kab.Garut Kab.Cirebon Kab.Purwakarta Kab.Majalengka Kab.162 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Kab.Ciamis Kab.Tasikmalaya 0 Kota Tasikmalaya 0 Tabel 17 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.Sumedang Kota Bandung Kota Banjar Kota Bekasi Kota Bogor Kota Cimahi Kota Cirebon Kota Depok Kota Sukabumi 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 Kab.Subang Kab.Karawang Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade) ) No Status Nomor Tanggal Tentang Jenis 1 Batal 11 TAHUN 00-00.Karawang Kab.Cianjur Kab.RETRIBUSI TERA DAN Retribusi 2001 2001 Jasa TERA ALAT UKUR Umum Tabel 18 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kota Cimahi Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade)) .Sukabumi Kab.

Purwakarta Kab.Indramayu Kab.Sumedang Kota Bandung Kota Banjar Kota Bekasi Kota Bogor Kota Cimahi Kota Cirebon Kota Depok Jumlah 0 0 0 1 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Kab.Ciamis Kab.Garut Kab.Subang Kab.Majalengka Kab.PERDA KOTA CIMAHI NOMOR 26 Retribusi Batal 26 TAHUN 2003 TAHUN 2003 TENTANG Jasa 2003 KETENTUAN DAN TATA CARA Umum PELAYANAN PEMBERIAN IJIN USAHA INDUSTRI Tabel 19 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah di Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Kehutanan (Forestry)) No Kabupaten 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 kab.Cirebon Kab.Sukabumi Kab.Cianjur Kab.Bandung Kab.Tasikmalaya 0 .Kuningan Kab.163 No Status Nomor Tanggal Tentang Jenis 1 00-00.Karawang Kab.Bogor Kab.Bekasi Kab.

Ciamis Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Kehutanan (Forestry)) No Status Nomor Tanggal Tentang Jenis 1 00-00Batal 10 TAHUN 2001 2001 RETRIBUSI PELAYANAN Retribusi TATA USAHA HASIL HUTAN Jasa Usaha MILIK Tabel 21 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab. Lebih dari itu persoalan muncul terkait dengan instrumen penetapan pembatalan suatu Perda. pengawasan Pusat terhadap daerah telah berlangsung efektif dan bermanfaat menyimpang bagi dari pemerintahan tujuan daerah agar pemerintahannya daerah. Sejumlah tabel di atas menunjukkan bahwa dalam praktik. pembatalan perda selalu ditetapkan dengan keputusan Menteri . tidak penyelenggaran otonomi terutama kebijaksaan yang telah ditetapkan Daerah tidak bertentangan dengan kebijaksanaan nasional (Pusat) dan/atau bertentangan dengan kepentingan umum. Kedua. serta tidak ada pelaksanaan bentuk pengawasan umum.Garut Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Kehutanan (Forestry)) No Status Nomor Tanggal Tentang Jenis 1 Batal 09 TAHUN 00-002001 2001 RETRIBUSI PELAYANAN Retribusi IZIN PENGELOLA KAYU Jasa Usaha MILIK sebagaimana tersebut di muka Dari data yang diuraikan dapat dikemukakan hal-hal sebagai berikut: Pertama. bahwa bentuk pengawasan yang berjalan dalam praktik adalah bentuk pengawasan preventif (pengesahan) dan bentuk pengawasan represif (pembatalan atau penangguhan).164 24 25 Kota Sukabumi 0 Kota Tasikmalaya 0 Tabel 20 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.

Perjalanan pemekaran daerah yang dapat terlihat pada tahun 2007 dan 2008 dapat dipetakan sebagai berikut: Tabel 22 Jumlah Undang-Undang Pembentukan Daerah (Pemekaran Daerah) 2007 – 2008 No Tahun Pembentukan UndangUndang UU Pembentukan UU Non Jumlah Daerah/Pemekaran Pemekaran 1. . hampir setengah dari produk legislasi DPR merupakan undang-undang pemekaran daerah. Persoalan lain muncul menyangkut fenomena pemekaran daerah.426 Terhadap persoalan ini. Sementara itu di lain pihak. 425 426 Pasal 145 ayat (2). Pasal 145 ayat (3). 2007 2. dikecualikan 24 terhadap Undang-Undang Tentang Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia 30 26 50 56 Dari tabel di atas dapat terlihat bahwa dalam dua tahun (2007-dan 2008) pembentukan daerah-daerah baru mengalami kenaikan yang pesat. perlu pembahasan di bagian lain.165 dalam negeri (kepmendagri). 2008 21 UU. Artinya bahwa terutama dalam dua tahun tersebut. telah ada pengaturan bahwa Perda yang bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dapat dibatalkan oleh Pemerintah425 dan Keputusan pembatalan Perda tersebut ditetapkan dengan Peraturan Presiden paling lama 60 (enam puluh) hari sejak diterimanya Perda. terkait dengan legitimasi Kepmendagri sebagai instrumen penetapan suatu perda.

2.429 Pertanyaan pun muncul dari sebagian kalangan mengenai dapatkah aturan baru itu memperlambat atau bahkan menghentikan lajunya usulan pemekaran yang semakin marak. Dengan kata lain. Telaah terhadap Pengawasan Peraturan Daerah Berbicara negara kesatuan. Op..430 Satu sisi dinilai bahwa PP tersebut menetapkan syarat yang lebih ketat. Hanya satu kekuasaan legislatif. di sisi lain. sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.428 PP tersebut mengatur pula mengenai kemungkinan pencabutan status daerah jika dinilai tidak mampu. 16 Januari 2008. Dan Penggabungan Daerah 429 Bab IV dan Bab V Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2007. yaitu di tangan pemerintah pusat. Memperlambat …. the supreme legislative power by one central power. dikatakan oleh CF strong.166 Pada tahun 2007 keluar persyaratan baru terhadap pemekaran yang dipandang lebih ketat. Memperlambat Laju Pemekaran Daerah. Persoalan-persoalan di atas sedikitnya memunculkan tantangan mengenai bagaimana pembinaan dan pengawasan dapat menyeimbangkan tarik ulur antara hubungan pusat dan daerah.cit. ada satu sistem hukum yang harus diikuti sampai ke SB. pada 8/12/2009 2:01:32 PM 428 427 Pasal `22 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2007 Tentang Tata Cara Pembentukan. dalam Publikasi Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD). Pengaturan yang berlaku sebagai rangkaian pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan daerah tidak final unuk diarahkan menengahi spanning yang senantiasa memungkinkan muncul dalam hubungan pusat dan daerah.php?option=com_content&task=view&id=329&Itemid=2 .427 Di dalamnya diatur bahwa pemberian status daerah baru didahului dengan evaluasi terhadap kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah dan evaluasi kemampuan penyelenggaraan otonomi daerah. . Rabu. Penghapusan. 430 SB. pembentukan daerah-daerah baru terjadi bahkan melebihi 50 persen jumlah produk undang-undang. Harian KOMPAS. Oleh sebab itu di dalam negara kesatuan kedudukan pemerintah pusat lebih tinggi daripada pemerintah daerah. ternyata pada tahun 2008. http://kppod.org/ind/index.

Bentuk dan lingkup pengawasan oleh Pemerintah Pusat terhadap Daerah berdasarkan berbagai peraturan perundang-undangan tentang pemerintahan daerah. pemerintah menyerahkan sebagian urusan kepada daerah dalam rangka mencapai tujuan itu. baik bentuk maupun lingkup pengawasannya. Sedangkan undang-undang sebelumnya.167 daerah-daerah otonom. Agar tidak menyimpang dari peraturan perundang-undangan secara nasional. pengawasan represif dan pengawasan umum. Pada intinya adalah apakah daerah tidak menyimpang terhadap sistem perundang-undangan. Inilah yang mendasari harus ada pengawasan pusat terhadap daerah. berdasarkan sejarah perkembangan pengawasan Pusat terhadap Daerah menurut UUD 1945. kegara kesatuan. 22 Tahun 1999 hanya mengatur pengawasan represif saja.5 Tahun 1974 mengatur 3 (tiga) bentuk pengawasan yakni pengawasan umum. Undang-Undang No. Dengan demikian. Ini mempertegas bahwa yang diawasi adalah peraturan perundang-undangan. yaitu Undang-Undang No. Untuk mensejahterakan rakyat. Bentuk maupun ruang lingkupnya terus berkembang dinamis mengikuti perkembangan kehidupan sosial politik yang ada pada kurun waktu yang berbeda. pengawasan preventif dilaksanakan melalui tindakan pengesahan terhadap peraturan daerah . Maka harus ada pengawasan pusat terhadap daerah. Ini kaitannya dengan teori negara hukum. ternyata berbeda-beda. Berdasarkan perkembangan pengawasan dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah yang pernah diatur dalam peraturan perundangundangan sampai sekarang terdapat 3 (tiga) bentuk yakni pengawasan preventif. yaitu yang dibuat oleh kekuasaan legislatif tertinggi. dalam implementasinya diatur dan dijabarkan berbeda-beda oleh berbagai undang-undang. Menurut Undang-Undang No. pengawasan preventif. 32 Tahun 2004 mengatur 2 (dua) bentuk pengawasan yakni pengawasan preventif dan pengawasan represif. dan pengawasan represif dan Undang-Undang No. Hanya satu sistem hukum. dan demokratisasi. Yang lebih jelas lagi adalah dalam perundang-undangan adalah perda dan peraturan kepala daerah. 32 Tahun 2004.

…. Dengan adanya pengawasan preventif. namun terlebih dahulu dilakukan evaluasi oleh pemerintah pusat dan/atau pemerintah provinsi. 154. Ibid. Apabila hasil evaluasi tersebut. Hal tersebut sebagaimana dikatakan oleh Bagir Manan. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah.168 bidang tertentu yakni Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. menurut Bagir Manan. Pajak Daerah. ternyata rancangan Peraturan Daerah yang telah disetujui bertentangan dengan peraturan perundang-undangan dan/atau kepentingan umum. pengawasan preventif dapat menjadi daya kendali atau belenggu terhadap inisiatif daerah.432 terdapat segi positif dan negatifnya. Op. Peraturan daerah akan serta merta berlaku karena tidak memerlukan pengesahan. ternyata pengawasan preventif ditiadakan. 431 432 Bagir Manan. Pada masa berlaku Undang-Undang No.431 Terhadap pengawasan preventif ini. Retribusi Daerah dan Rencana Umum Tata Ruang Daerah. Setelah melalui proses tersebut. Jadi. . sebuah peraturan daerah yang telah disetujui bersama oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan Kepala Daerah terlebih dahulu harus dilakukan evaluasi oleh Menteri Dalam Negeri untuk Peraturan Daerah Provinsi dan oleh Gubernur terhadap Peraturan Daerah Kabupaten dan Kota. kecerobohan. maka Peraturan Daerah dapat diberlakukan oleh Daerah. Positifnya. peraturan daerah tidak serta merta berlaku. 22 Tahun 1999 mengambil jalan politik baru yaitu meniadakan pengawasan preventif dalam pembentukan peraturan daerah. Segi negatifnya. UU No. Melalui pengawasan preventif. Cit. tidak ada unsur pencegahan terhadap kekeliruan. daerah “dipaksa” selalu tunduk pada kemauan pihak yang berwenang memberi pengesahan.. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah. hlm. maka daerah yang bersangkutan harus melakukan revisi agar tidak bertentangan dengan perundangan yang lebih tinggi dan/atau kepentingan umum. Yang ada adalah pengawasan represif yaitu wewenang membatalkan atau penundaan.. atau kesalahan suatu peraturan daerah.

yakni dengan cara mengajukan perkara pembatalan ini ke lembaga yudisial. Pembatasan terhadap pengawasan preventif lebih ketat dibanding pengawasan represif. karena telah diatur dengan jelas dan rinci ruang lingkup dari kedua bentuk pengawasan tersebut serta ditentukan dengan tegas batas-batas ruang lingkupnya sehingga diharapkan dapat dicegah tindakan Pemerintah atau Gubernur sebagai wakil Pemerintah di daerah untuk bertindak sewenang-wenang atau melampaui kewenangan. baik dalam rangka desentralisasi maupun tugas pembantuan. terlihat bahwa . Memahami pengaturan dan praktik pengawasan dalam rangka penyelenggaran pemerintahan daerah yang berjalan selama ini. Pengawasan preventif mengandung “prasyarat” agar peraturan daerah atau yang mengandung sifat tertentu dapat dijalankan. Selain itu. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 dapat dikatakan sudah sangat tepat mengatur pengawasan preventif dan pengawasan represif ini. sejalan dengan pelaksanaan pengawasan represif. Pelaksanaan pengawasan preventif berada pada posisi “lebih awal” dari pengawasan represif. bentuk pengawasan yang seyogyanya dikembangkan atau diterapkan dalam Undang-undang yang mengatur pemerintahan ke depan adalah bentuk pengawasan preventif dan pengawasan represif. Jadi pengawasan represif dilakukan setelah suatu peraturan daerah mempunyai akibat hukum. Dengan pengaturan atau peran lembaga Yudisial (Mahkamah Agung) dalam rangka pengawasan (represif) Pusat terhadap Daerah. dalam hal ini Mahkamah Agung. sebagaimana dikemukakan di atas adalah berlakunya peraturan wewenang untuk membatalkan atau penundaan daerah. Daya campur tangan terhadap daerah juga menjadi lebih besar. yang berupa pembatalan terhadap produk-produk hukum daerah. Salah satu pembatasan adalah dengan cara mengatur atau menentukan secara pasti jenis atau macam peraturan daerah yang memerlukan pengesahan. ternyata UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 demi terwujudnya pemerintahan daerah yang demokratis telah memberi saluran hukum ‘judicial review’ kepada Daerah yang keberatan produk-produk hukumnya telah dibatalkan.169 Pengawasan represif.

170 lingkup pengawasan Pemerintah terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah hanya sebatas pengawasan dalam bidang administrasi pemerintahan atau administrasi negara. Atas dasar wewenang pengawasan yang diberikan kepadanya. terhindar timbulnya dominasi eksekutif atas pemerintahan daerah (Kepala Daerah dan DPRD) yang telah menetapkan produk-produk hukum secara demokratis. dapat mengajukan ke mahkamah agung. yang dilengkapi dengan pengawasan yudisial. Pemerintah Pusat juga dapat menerapkan sanksi administratif kepada Daerah yang sengaja atau lalai melaksanakan perintah untuk mencabut dan mengubah peraturan daerah yang telah dibatalkan oleh Mahkamah Agung itu. Pertama. keberadaan pengawasan dilihat dari mekanisme yang diatur di dalam UU Nomor 32 Tahun 2004 itu dapat menghindari 2 (dua) hal yang kontra produktif. maka Pemerintah Pusat dapat memberikan evaluasi serta rekomendasi-rekomendasi yang diperlukan untuk pembenahan. Dengan demikian telah . maka paling tidak dalam praktik penyelenggaran daerah. Apabila berkebaratan perdanya dibatalkan. lembaga Pemerintah (badan eksekutif) terhadap fungsi yudisial Kedua. apabila adanya kejanggalan-kejanggalan atau dugaan penyimpangan dalam materi hukum produk-produk hukum Daerah. Di antara penggolongan pengawasan pemerintah pusat terhadap pemerintah daerah. terhindar adanya intervensi pengadilan. represif (administrative). Itu yang tidak dapat berjalan dalam praktik. Selain itu peran tersebut tidak dalam kerangka memberikan keputusan-keputusan yang bersifat hukum (yudisial). kemudian atas dasar putusan yudisial dari Mahkamah Agung tersebut. Berdasarkan gagasan sebagaimana tersebut di atas. Selanjutnya. Daerah dapat mengajukan keberatan ke Mahkamah Agung. apabila pembatalan oleh Pemerintah Pusat tidak dapat diterima. Dalam hal pengawasan oleh Pemerintah Pusat terhadap Daerah. Pemerintah Pusat apabila memenangkan sengketa melalui Mendagri sesuai dengan wewenangnya dapat mengintruksikan kepada Daerah yang bersangkutan untuk segera mencabut dan mengubahnya. yang dipandang tepat yaitu preventif.

22 tahun 1999. Letak kedaulatan rakyat dalam pola hubungan pengawasan antara pusat-daerah dalam UU ini adalah pemberian ruang bagi pemerintah daerah untuk menyampaikan keberatan kepada Mahkamah Agung atas pembatalan perda. setelah berbagai sisi positif dan negatif yang timbul dari pemberlakuan UU No. dalam hal ini perda atau peraturan kepala daerah. Selama ini yang diverifikasi adalah lebih kepada legislative drafting.171 terlaksana pengawasan secara demokratis. Berdasarkan uraian di atas. yaitu dilakukan oleh DPR/DPRD. maka dapat dikatakan bahwa persoalan mengenai apakah pengaturan pengawasan preventif dan represif terhadap perda. Berbeda dengan legislative review. bukan karena semata-mata bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi dan kepentingan umum. terdapat beberapa hal yang dapat dikemukakan. pengawasan terhadap peraturan daerah dan peraturan kepala daerah. 32 Tahun 2004 dimunculkan kembali pengawasan preventif dan represif. karena yang dikontrol adalah peraturan perundang-undangan. Apakah control sama dengan review? Dapat dikatakan ya. Biarkan setiap norma menjadi sah sampai ditentukan lain. 32 Tahun 2004 nampaknya sejalan dengan otonomi seluas-luasnya daerah diberikan kesempatan untuk banding. di sisi lain dapat dipandang bahwa bentuk pengawasan yang diatur dalam UU No. yang berlaku saat ini dalam UU No. dalam UU No. Berbicara pengawasan dari pusat dan daerah hanya dua macam. Telaah Terhadap Bentuk-Bentuk/ Lingkup dan Objek Pengawasan Telah diuraikan bahwa dari beberapa jenis objek pengawasan. tapi UU No. 32 Tahun 2004 ini sudah mendekati bentuk yang ideal. 32 Tahun 2004. Pada intinya bahwa pengaturan tentang pengawasan saat ini menuju kepada yang ideal. Hal tersebut terkait dengan agenda-agenda pembangunan daerah yang membutuhkan proses yang lebih efisien. represif dan preventif. Dengan demikian apakah cocok pengawasan preventif terhadap empat hal tertentu? Nampaknya pengawasan secara represif untuk semua bidang cenderung lebih baik. . Pertama. Kedua. ditambah pengawasan yudisial sudah tepat. 3.

tanpa kecuali. dengan mekanisme evaluasi dan pengesahannya. 433 . Pajak Daerah. Pengawasan umum sangat luas ruang lingkupnya sehingga betul-betul dapat mematikan atau I Gde Pantja Astawa.433 Pertama. perlu diketahui bahwa pengertian pengawasan adalah suatu bentuk hubungan dengan sebuah legal entity yang mandiri. pengawasan preventif dilakukan sebelum Perda diberlakukan. sebagaimana pada masa lalu diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974. dan lingkungan hidup. UU ini hanya membatasi substansinya pada Perda tentang APBD. Retribusi Daerah. Dalam konteks agar pengawasan tidak menjadi terlampau longgar dan tidak pula terlampau ketat. bukan hubungan internal dari entitas yang sama. Artinya. hlm.172 Namun. Berkaitan dengan hal tersebut I Gde Pantja Astawa memberikan penegasan bahwa baik pengawasan preventif maupun pengawasan represif. bandung. Sementara itu pengawasan represif ditujukan terhadap semua perda. akibat hukumnya. penolakan pengesahan belum menyentuh akibat hukum yang timbul dari Perda tersebut. 2009. sedangkan pengawasan represif harus memperhitungkan akibat hukum yang telah timbul selama Perda tersebut masih berlaku. pengawasan represif harus memperhitungkan akibat hukum yang telah timbul selama Perda tersebut berlaku. khusus yang berkenaan dengan pranata pengawasan preventif terhadap perda. Alumni.. 322-323. Gde Pantja menegaskan kembali bahwa pengawasan tidak berlaku ataupun tidak diterapkan terhadap hal-hal yang tidak ditentukan atau berdasarkan undang-undang.434 Maka dari itu bentuk dan isi pengawasan dilakukan semata-mata menurut berdasarkan ketentuan Undang-Undang. saat pelaksanaannya. Problematika Hukum Otonomi Daerah di Indonesia. mempunyai objek ataupun mengenai hal yang sama. 434 Ibid. Karena Perda belum berlaku. hlm. 322. Sebaliknya. 435 Ibid.435 Maka dari itu salah satu bentuk pengawasan yang menurut tim peneliti harus dihindari dan tidak diatur dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah adalah bentuk/jenis pengawasan yang disebut pengawasan umum. Kedua.

judicial control sama dengan judicial review. Dalam Undang-Undang menyatakan bahwa yang diawasi adalah peraturan perundang-undangan yang bernama perda dan perat kepala daerah. Kegiatan monitoring tersebut pada dasarnya adalah merupakan bagian dari kegiatan pengawasan yang harus dilakukan oleh suatu lembaga/institusi tertentu yang pada lazimnya mempunyai kedudukan lebih tinggi dan mempunyai kewenangan untuk melakukan penilaian untuk memastikan bahwa segala ketentuan yang tercantum di dalam peraturan daerah dimaksud adalah sesuai dengan ketentuan-ketentuan maupun prinsip-prinsip yang harus diikuti pungutan. Hal tersebut sesuai dengan urutan peraturan perundang436 Pengawasan lainnya yang dilakukan terhadap penyelenggaraan Pemerintahan daerah adalah pengawasan atas pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah.173 membelenggu prakarsa atau inisiatif Daerah dalam mengatur dan mengurus rumah tangga daerah sehingga tidak sejalan dengan upaya mewujudkan pemerintahan daerah yang demokratis. . Jadi sudah dapat terlihat bahwa pengaturan pengawasan saat ini lebih mengarah ke demokratis.436 Maka dari itu. proses penyusunan maupun implementasinya perlu dimonitor secara terus menerus untuk memberikan jaminan kepada publik bahwa semua ketentuan yang diatur dalam perda tersebut sudah mengikuti norma-norma/kaidah- kaidah yang berlaku yaitu memenuhi persyaratan sebagai peraturan yang baik. maka pencabutannya pun hanya dapat dilakukan dengan peraturan yang lebih tinggi atau sederajat. merupakan konsekuensi logis jika suatu peraturan daerah dapat dibatalkan atau dicabut hanya dengan peraturan yang lebih tinggi. Telaah Terhadap Instrumen Penetapan Pembatalan Perda Keberadaan pengawasan sebagai konsekuensi dari keberadaan hubungan hirarkis. Peraturan daerah yang berlaku sebagai undang-undang bagi daerah. Sebagai konsekuensi bahwa peraturan daerah tidak boleh berkaitan dengan pengenaan suatu bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi. lihat Pasal 218 ayat (1) huruf a. 4. Dalam rangka pengawasan.

Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang 437 Pasal 7 ayat (1) mengatur bahwa Jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan adalah sebagai berikut : a. 438 kompetensi/kewenangan administrasi negara (pejabat TUN) berdasarkan suatu perundang-undangan formal. melalui PP No. dibuat oleh badan perwakilan desa atau nama lainnya bersama dengan kepala desa atau nama lainnya.174 undangan yang ditetapkan dalam UU No.440 Namun ternyata Presiden pun memberikan delegasi kepada Menteri Dalam Negeri untuk dapat membatalkan Perda. b. Ditambahkan dalam ayat (2) bahwa Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e meliputi: a. lihat Diana Halim Koentjoro. e. 439 Pasal 25A ayat (1) Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 1997 Tentang Pajak dan Retribusi Daerah. hl. Begitu pula dikuatkan bahwa Dalam rangka pengawasan.437 Ketentuan Undang-undang bahwa perda dapat dibatalkan oleh bentuk peraturan presiden dapat dinilai tepat. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang. Ghalia Indonesia. Bogor. Hukum Administrasi Negara. 79 Tahun 2008. Peraturan Daerah provinsi dibuat oleh dewan perwakilan rakyat daerah provinsi bersama dengan gubernur. Pemerintah melakukan pengawasan terhadap Peraturan Daerah dan Peraturan Kepala Daerah. d. Peraturan Daerah. 10 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Pelaksanaan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Menteri. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.439 Dalam hal Peraturan Daerah tersebut bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundangundangan yang lebih tinggi. Peraturan Presiden. Dalam Pasal 37 ayat (1) dikatakan bahwa Peraturan Daerah dan Peraturan Kepala Daerah disampaikan kepada Pemerintah paling lama 7 (tujuh) hari sejak ditetapkan. b. c. 440 Pasal 25A ayat (2) Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000. c. Peraturan Daerah di yang mengatur pajak dan retribusi daerah disampaikan kepada Pemerintah paling lama 15 (lima belas) hari setelah ditetapkan. 2004. . Peraturan Daerah kabupaten/kota dibuat oleh dewan perwakilan rakyat daerah kabupaten/kota bersama bupati/walikota. 10. Pemerintah dapat membatalkan Peraturan Daerah dimaksud. Pasal 145 ayat (3) sudah memberikan atribusi kewenangan438 kepada Presiden untuk dapat membatalkan suatu perda. Peraturan Pemerintah. Peraturan Desa/peraturan yang setingkat.

79 Tahun 2005. Kedua Pasal yang memberikan kemungkinan kepada Menteri untuk membatalkan suatu perda. bukan keputusan menteri sebagai instrument pembatalan perda yang memungkinkan didelegasikan oleh Presiden. Kedua Pasal tersebut hanya menyebutkan nama instrumen berupa peraturan Menteri. yaitu antara UU No. 32 Tahun 2004. Peraturan Kepala Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang bertentangan dengan kepentingan umum.175 bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundangundangan yang lebih tinggi dapat dibatalkan dengan Peraturan Presiden berdasarkan usulan Menteri. belum dicabut. maka ketetuan dalam kedua UU di atasnya seolah-olah menjadi tidak hidup. Kedua Pasal tersebut tidak memberikan kriteria mengenai kapan suatu pembatalan perda ditetapkan oleh peraturan presiden dan kapan dibatalkan oleh menteri. terdapat suatu ketidakharmonisan antara peraturan secara vertikal. terutama UU No. 10 Tahun 2004. 3. Sementara itu PasaI 38 menambahkan bahwa Peraturan Presiden tentang pembatalan Peraturan Daerah ditetapkan paling lambat 60 (enam puluh) hari sejak Peraturan Daerah diterima oleh Pemerintah. sepanjang kedua UU tersebut. dalam rangka pengawasan. untuk menetapkan pembatalan perda. tidak menunjuk secara spesifik menteri apa/bertanggungjawab di bidang apa. Dengan demikian. 79 Tahun 2005 yang terlaksanakan. 32 Tahun 2004 dan UU No. Melihat bahwa pada praktik menunjukkan ketentuan dalam PP No. 2. antara ketentuan-ketentuan yang berlaku terkait dengan pembatalan perda. Peraturan Daerah dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dapat dibatalkan dengan Peraturan Menteri. Baru ditemukan dalam rangka pengawasan terhadap PP yang mengatur pajak dan Retribusi daerah. dibatalkan oleh Menteri Dalam Negeri. Dari ketentuan tersebut dapat dikemukakan bahwa: 1. yang spesifik pertentangannya. maka ketentuan yang . Peraturan Menteri tentang pembatalan Peraturan Kepala Daerah ditetapkan paling lambat 60 (enam puluh) hari setelah Peraturan Kepala Daerah diterima oleh Menteri. Dengan demikian. dengan PP No.

10 Tahun 2004. pengawasan terhadap peraturan daerah dan peraturan kepala daerah yang berlaku saat ini dapat dikemukakan sebagai berikut: Tabel 23 Skema Pola Hubungan Pengawasan Pusat-Daerah NEGARA KESATUAN Pemberian otonomi daerah bukan untuk mengarahkan kepada pembagian kedaulatan. Jaminan HAM yang menjadi salah satu ciri negara hukum menjadi bagian dari kewajiban negara hingga oleh satuan pemerintahan yang lebih rendah. sesuai dengan peraturan nasional (satuan pemerintahan pusat). ke dalam urutan peraturan perundang-undangan. DEMOKRATISASI Terdapat pengawasan hukum dengan judicial review. bahwa jika suatu perda dibatalkan dan pemda berkeberatan terhadap pembatalan tersebut. legislative. Pengawasan menjadi instrumen pemerintah pusat untuk menjamin bahwa penyelenggaraan pemerintahan dapat terlaksana sesuai perencanaan. yaitu dalam kerangka negara kesatuan. Pembagian kekuasaan: tidak saja pembagaian secara horizontal (eksekutif. melainkan hanya satu Kedaulatan. Kecuali jika praktik menghendaki lain. agar KESEJAHTERAAN peraturan perundang-undangan di tingkat satuan pemerintahan yang lebih rendah. pemda dapat mengajukan judicial review instrumenn . Dilihat dari paradigma kerangka Negara Kesatuan. dan yudikatif).176 terkait di dalamnya masih harus ditaati. demokratisasi dan negara hukum. NEGARA HUKUM Pengawasan baik secara preventif dan represif DAN dilaksanakan untuk menjamin supremasi hukum. tetapi juga secara vertikal (satuan pemerintahan pusat dengan pemerintahan daerah). Semua diarahkan bahwa negara menghantarkan kepada pencapaian kesejahteraan rakyat. yang diarahkan untuk memberi kemungkinan tempat bagi peraturan setingkat menteri. maka perlu dilakukan suatu perubahan terhadap UU No. sebagai representasi pemerintah.

290-291. Melihat bahwa pada praktik menunjukkan pembatalan perda selalu dengan Kepmendagri. 79 Tahun 2005. maka ketetuan dalam kedua UU di atasnya seolah-olah menjadi tidak hidup. Di sinilah mengapa kedaulatan negara dengan kedaulatan rakyat dapat saling tarik menarik. Jakarta. Kedua Pasal yang memberikan kemungkinan kepada Menteri untuk membatalkan suatu perda. dibatalkan oleh Menteri Dalam Negeri. yaitu mengatur pajak dan Retribusi daerah. hlm.. 442 Letak kedaulatan rakyat dalam pola hubungan pengawasan antara pusat-daerah adalah pemberian ruang bagi pemerintah daerah untuk menyampaikan keberatan kepada Mahkamah Agung atas pembatalan perda.441 Letak kedaulatan negara dalam hubungan pengawasan adalah pada pengawasan secara preventif dan represif terhadap ranperda dan perda. Baru ditemukan dalam rangka pengawasan terhadap PP lain. 177179. yaitu antara UU No. Frans Magnis-Soeseno. Dalam PP No. Kedaulatan negara tidak untuk menjadikan negara menentukan segalanya (totaliterisme). dapat pula saling menyeimbangkan. dalam rangka pengawasan. untuk menetapkan pembatalan perda. Gramedia Pustaka Utama. dengan PP No. hlm. Kedaulatan rakyat tidak boleh tidak terbatas. 79 Tahun 2005 tentang Pembinaan dan Pengawasan itu sendiri. melainkan harus dengan keseimbangan legitimasi etis dan sosial (normatif-moral). Etika Politik. pada pasal 37 dan Pasal 38 dapat dikemukakan bahwa: 4. 441 . 442 Ibid. terdapat suatu ketidakharmonisan antara peraturan secara vertikal. Persoalan kedua.177 pembatalan tersebut ke Mahkamah Agung. melainkan melalui perwakilan dan keterbukaan (publicity) pemerintah (daerah). 1999. 10 Tahun 2004. tidak menunjuk secara spesifik menteri apa/bertanggungjawab di bidang apa. 32 Tahun 2004 dan UU No.

6. Semakin banyak pedoman dan standard cenderung menjadikan semakin mendorong keseragaman. jelas bahwa konsep bernegara yang diwujudkan dalam penyelenggaraan pemerintahan. Susanto menyatakan. sepanjang kedua UU tersebut. maka keseimbangan (balande) merupakan subtansi pokok yang terkandung didalamnya (maksudnya alinea keempat-penulis). 32 Tahun 2004. Yang perlu lebih didorong dari unsur pembinaan ini adalah berupa koordinasi dan fasilitasi. hal inilah yang seharusnya dihindari karena bertentangan dengan otonomi itu sendiri. Susanto. Kesimbangan yang dijelaskan dalam silanya adalah. belum dicabut. Dasar pemikiran keberadaan pengawasan Pusat terhadap Daerah sangat terkait dengan konsepsi Negara Kesatuan yang dianut di dalam Pasal 1 ayat (1) UUD 1945. terutama UU No. jika akan dikeluarkan semacam pedoman dan standard dalam rangka pembinaan kepada daerah. apabila dilihat secara bulat atau holistik (satu kesatuan). atau awal abad ke XX.178 5. Bandung. bukan keputusan menteri sebagai instrumen pembatalan perda yang memungkinkan didelegasikan oleh Presiden. yang dituntun oleh Sila Ketuhanan. Masih dalam rangka pengawasan yang tidak dapat dilepaskan dari pembinaan. yaitu dengan melihat dasar pikiran dalam sila Pertama. Ketiga. maka ketentuan yang terkait di dalamnya masih harus ditaati. Berdasarkan rumusan alinea keempat Undang-Undang dasar 1945. . Refika Aditama.443 atau meminjam konsep Lemaire negara menjalankan fungsi berstuurszorg. hlm. Kedua Pasal tersebut tidak memberikan kriteria mengenai kapan suatu pembatalan perda ditetapkan oleh peraturan presiden dan kapan dibatalkan oleh menteri. Konsep bernegara yang demikian ini secara teoretikal dianut oleh negara-negara hukum modern menjelang akhir abad ke XIX. 2005. 159. baik di Pusat maupun di Daerah memiliki tujuan yang arahnya untuk memajukan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Teori Hukum: Mengingat. Mengumpulkan dan Membuka Kembali. hendaknya unsur ini tidak perlu terlalu banyak. Adanya pengawasan Pusat terhadap Daerah adalah sebagai 443 Otje Salman dan Anton F. Dengan demikian. Lihat. Otje Salman dan Anton F. Kedua Pasal tersebut hanya menyebutkan nama instrumen berupa peraturan Menteri. yang spesifik pertentangannya. kesimbangan antara kepentingan individu dengan kepentingan masyarakat serta kepentingan penguasa. dan Kelima.

Adanya pembagian kekuasaan secara vertikal antara Pusat dan Daerah sebagaimana diatur Pasal 18 ayat (1) UUD 1945 menyebabkan adanya pengawasan Pusat terhadap Daerah atau dengan lain perkataan adanya penyerahan urusan pemerintahan dari Pusat kepada Daerah mengakibatkan Pusat mempunyai tugas dan wewenang untuk melakukan pengawasan. Dengan demikian pengawasan Pusat terhadap Daerah. terdapat ketentuan yang memberikan kemungkinan untuk menguji tindakan atau keputusan pembatalan suatu Perda melalui apa yang disebut dengan pranata ’keberatan’: Daerah-Daerah yang merasa keberatan atas pembatalan peraturan-peraturan daerahnya dapat mengajukan keberatan kepada Mahkamah Agung. Bagaimanapun dalam No. Mahkamah Agung sebagai institusi yudisial kemudian menguji keputusan pembatalan itu. Oleh karena itu. yang tidak .179 konsekuensi Pemerintah NKRI mempunyai tanggung jawab utama untuk tetap menjamin tercapainya tujuan nasional yang tercantum di dalam Alinea Keempat Pembukaan UUD 1945. Maka. 5 tahun 1974. apabila ditelusuri dari Pembukaan UUD 1945. Bagir Manan. dengan tujuan agar Daerah terhindar dari penyimpangan-penyimpangan terhadap peraturan-perundang-undangan yang lebih tinggi dan kepentingan umum sehingga Daerah dalam menjalankan pemerintahannya senantiasa sejalan dengan tujuan penyelenggaraan otonomi daerah. menemukan dasarnya dari konsep Negara Kesejahteraan sebagaimana telah dirumuskan di dalam alinea keempat UUD 1945. Tindakan atau keputusan pembatalan suatu Perda yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat misalnya. harus dianggap sah menurut hukum (praduga rechtmatig) sampai ada pembuktian sebaliknya secara hukum. 5 tahun 1974. yang dalam desertasinya membahas sampai Undang-Undang No. Di Indonesia pada prinsipnya pengawasan merupakan konsekuensi dari Negara Kesatuan dengan sistem desentralisasi. sejak berlakunya Undang-Undang Pemerintahan Daerah Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004. apakah itu berupa pengawasan preventif atau represif (berupa pembatalan atau penangguhan) suatu produk hukum Daerah. namun tidak mengomentari apakah bentuk pengawasan harus seperti apa.

Bagir Manan setuju hanya satu.. 5 Tahun 1974. pengawasan menghindari pembelengguan daerah. pengawasan yang baik adalah 444 445 I Gde Pantja Astawa. Setelah berlaku UU No. Dengan pengawasan yudisial. .. ada pendapat Bagir Manan.445 Pengawasan demikian tidak sama artinya dengan pengawasan terhadap segala hal. op. bahkan memaksakan kehendaknya kepada satuan pemerintahan yang lebih rendah.180 dibahas dalam desertasinya itu. Pengawasan seperti ini mirip dengan jenis pengawasan umum yang diatur pada masa UU No. Dengan demikian telah terlaksana pengawasan secara demokratis. yaitu segala upaya untuk mengetahui bahwa segala hal yang direncanakan terlaksana. 22 tahun 1999. hlm. Maka dari itu. Pengawasan yang bagaimana yang tidak membelenggu kemandirian daerah? Walaupun diawasi tapi daerah masih ada keleluasaaan. tidak dikehendaki suatu pengawasan yang tidak punya batasan ruang lingkup. walaupun hanya sekadar untuk urusan pemerintahan tertentu. represif. mempengaruhi.cit. Alasan utama yang dikemukakan Gde Pantja444 adalah supaya desentralisasi dengan pemberian otonomi daerah tidak bergeser menjadi semacam kemerdekaan. dapat mengajukan ke Mahkamah Agung. Problematika …. Tanpa mengesampingkan arti penting pengawasan. Apabila suatu daerah berkeberatan perdanya dibatalkan. bahwa yang diatur dalam UU 22 Tahun 1999 dengan menghapus pengawasan preventif. dan preventif. 321. Pengawasan yang disebut terakhir menghendaki dibutuhkan sebagai instrument untuk mencapai hakikat pengawasan. Pengawasan senantiasa diperlukan sebagai pranata bagi pemerintah pusat atau satuan pemerintahan yang lebih tinggi tingkatannya untuk mengendalikan. Ruang lingkup pengawasan terhadap daerah dibatasi pada peraturan daerah dan peraturan kepala daerah. menunjukkan bahwa terdiri dari pengawasan umum. yang dilengkapi dengan pengawasan yudisial. represif (administrative). Itu yang tidak dapat berjalan dalam praktik. Itu pendapat kita yang intinya bahwa pengaturan tentang pengawasan saat ini menuju kepada yang ideal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis pengawasan yang dipandang tepat yaitu preventif.

dipengaruhi dari negeri Belanda. diselenggarakan atas kerja sama antara Dewan Perwakilan Daerah RI dan Fakultas Hukum Unpad. hak menentukan nilai mata uang. Ada juga batas-batasnya. Dengan demikian. Melihat dari paradigma yang cukup mendasar. Tidak heran pada tahun 1974 ada suatu pandangan bahwa otonomi adalah hak prerogatif. Bentuk pengawasan Pusat terhadap Daerah yang seyogyanya dikembangkan dan diterapkan dalam undang-undang yang mengatur pemerintahan daerah adalah bentuk pengawasan preventif dan represif (pengawasan administratif) dan dilengkapi pengawasan yudisial. Ateng Syafrudin446 berpendapat bahwa terdapat benang merah yang sampai sekarang menjadi persoalan. Kemuncullan kembali pengawasan preventif sebagaimana diatur oleh Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tidak menyebabkan membelenggu kemandirian Daerah karena pengawasan preventif telah ditentukan batasbatas ruang lingkupnya serta di dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004. Ditetapkannya tentang bentuk dan ruang lingkup pengawasan di dalam suatu undang-undang merupakan perwujudan dari pemerintahan daerah yang demokratis. Tapi banyak pemikiran-pemikiran di balik pembentukan UU ini. . sedangkan kita berpijak pada kedaulatan rakyat. 4 Agustus 2009. Ateng Stafrudin membantah bahwa itu adalah tugas konstitusional presiden. disampaikan dalam acara Focused Group Discussion (Fgd) Tentang “Hubungan Antara Pemerintah Pusat Dan Daerah”. yang ditetapkan dalam undang-undang. Padahal orang Belanda sendiri berpendapat bahwa ternyata cara membagai otonomi itu bersumber dari kedaulatan negara. melahirkan hak placet: hak penguasa yang lebih tinggi untuk tidak setuju terhadap gagasan dari satuan pemerintahan di bawahnya. Itu bersumber dari abad pertengahan. ketiga.181 pengawasan terhadap segala hal dengan pembatasan ruang lingkup dan bentuk. Paradigma ini tidak diketahui umum. bukan kedaulatan rakyat. berhak memilih kepercayaan sendiri siapa yang mewakilinya. Daerah tetap mempunyai kewenangan untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri atau tetap mempunyai kemandirian. bahwa hak prerogatif dimulai dari ampunan dosa-dosa. Bandung. walaupun terdapat pengawasan. pengawasan administratif (preventif dan represif) dilengkapi dengan pengawasan yudisial. Hal tersebut ditujukan dalam rangka membina dan memelihara 446 Ateng Syafrudin.

Mengenai praktik bahwa semua pembatalan sebagai salah satu bentuk pengawasan selalu ditetapkan dengan kepmendagri. sudah tepat ketentuan bahwa perda dibatalkan oleh perpres. 450 Ibid. Terhadap kedaulatan negara yang menjadi paradigma dasar penyelenggaraan pemerintahan daerah ini. Teori Hukum Murni. hlm. 448 Ibid. Dasar-Dasar Ilmu Hukum Normatif sebagai Ilmu Hukum Empirik-Deskriptif. betulkah bahwa setiap penyelengggaraan 447 Hans Kelsen (alih Bahasa: Somardi). tapi hrs dijelaskan supaya tidak menimbulkan konflik. satu teritorial. Sekarang pemda baru berindikator pada IPM. kedaulatan negara untuk menjamin kesatuan hukum atau dengan kata lain untuk menjaga harmonisasi peraturan perundang-undangan tersebut salah satunya dilaksanakan melalui mekanisme pengawasan terhadap peraturan daerah.182 bawahannya. Konsep dalam UU yang berlaku saat ini selalu mengaitkan pengawasan dengan pembinaan dan koordinasi.448 Kekuasaan negara mesti berupa validitas dan efektifitas tata hukum. Namun ketentuan ini tidak berjalan. Walaupun begitu masih perlu suatu pengujian konsep itu. dapat dikemukakan pendapat Hans Kelsen mengenai kedaulatan.450 Dengan demikian kedaulatan negara dalam hal ini ditempatkan terutama dalam kepentingan untuk menjamin kesatuan hukum dari satuan pemerintahan pusat sampai dengan satuan pemerintahan yang paling rendah. sepanjang suatu peraturan belum diubah atau dicabut. . Hal ini menunjukkan bahwa ketentuan itu tidak dapat dilaksanakan (tidak sesuai dengan asas feasible). 255. jika kedaulatan dipandang sebagai satu kualitas dari kekuasaan ini. satu rakyat. menurut ilmu perundang-undangan. Walaupun demikian. maka ketentuan yang masih berlaku seharusnya diataati. 10 Tahun 2004. yaitu mengacu kepada UU No. Apakah kalau sudah membangun gedung-gedung menjadi sudah berhasil? Sering orang hanya mengukur secara materil. Dalam ketentuan yang berlaku saat ini. 449 Ibid. 1995.447 Kedaulatan dikatakan sebagai karakteristik definitif dari kekuasaan tertentu: satu negara. Yang lainnya harus ada. dan satu kekuasaan. Rimdi Press. Pemerintah pusat punya hak placet.449 Sebab kedaulatan hanya dapat sebagai kualitas dari suatu tata normatif sebagai suatu kekuasaan yang merupakan sumber kewajibankewajiban dan hak-hak.

bahwa dalam sistem negara hukum harus berjalan. demokratisasi. Hal tersebut untuk melihat apakah sebetulnya daerah-daerah yang dimekarkan (terutama yang berbentuk provinsi) mampu memenuhi segala syarat kemandirian. Penetapan pedoman standard dalam rangka pembinaan tidak boleh terlalu rinci agar keberagaman setiap daerah tetap terjaga. Pengawasan tidak dapat terpisahkan dari pembinaan. Dengan demikian kreatifitas daerah tidak terkekang dengan upaya penyeragaman sebagai dampak dari penetapan pedoman standard. Penetapan pemekaran daerah yang sudah marak dan mendominasi produk legislatif beberapa tahun terakhir perlu ditindaklanjuti dengan mekanisme evaluasi. masalah pengawasan mutlak terkait satu sama lain dengan koordinasi dan pembinaan. dan negara hukum dan kesejahteraan. Pembinaan pun dalam rangka pengawasan. dan terutama dapat menjaga keutuhan Negara Kesatuan. apakah menjadi kota atau menjadi kabupaten baru. Ke depan dapat dikembangkan bahwa sebagai tahapan menuju pemberian status daerah baru dilakukan terlebih dahulu pemberian semacam status administratif. Perbedaan yang harus dikembangkan terletak pada tindak lanjut setelah pemberian status administratif. dan tidak dapat terpisah sendiri-sendiri. Bentuk evaluasi dalam rangka pembinaan dan pengawasan perlu dikembangkan. Pada intinya yang menjadi penting adalah bagaimana suatu daerah telah terlatih dan terbina terlebih dahulu untuk menyelenggarakan tugas-tugas pemerintahan sebelum mendapatkan status daerah yang baru dibentuk. Tidak hanya cukup sebelum pemberian status daerah baru. evaluasi dibutuhkan juga setelah pemberian status daerah baru.** . seperti yang pernah berlaku pada masa UU nomor 5 Tahun 1975. terutama terkait dengan pemekaran daerah.183 pemerintahan.

dasar-dasar pola hubungan pusat dijabarkan lebih lanjut melalui berbagai peraturan pelaksana. Dalam implementasinya. demokratisasi. Dengan pemberian berbagai urusan pemerintahan yang didesentralisasikan. seharusnya sudah memungkinkan bagi daerah-daerah untuk beragam memiliki urusan. Hal tersebut menjadikan setiap daerah cenderung menjadi seragam. Dengan paradigma negara kesejahteraan. prinsip otonomi seluas-luasnya menjadi tidak tampak.184 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. dengan asas otonomi dan tugas pembantuan. satuan pemerintahan yang terendah adalah ujung tombak dari upaya menghantarkan kesejahteraan rakyat. Padahal fungsi otonomi sendiri adalah keberagaman. Prinsip-Prinsip Pemikiran Pola Hubungan Antara Pusat Dan Daerah Prinsip-prinsip ini dapat didekati dari paradigma negara kesatuan. Keberadaaan otonomi khusus justru merupakan anomali dari pemberian otonomi seluas-luasnya. Kesimpulan Berdasarkan paparan singkat di atas. yang lebih tampak adalah bahwa yang rumah tangga yang dianut adalah rumah tangga materiil. 38 Tahun 2007. yang dilaksanakan dengan cara desentralisasi. negara hukum (dengan paradigm negara kesejahteraan). Dengan pemberian otonomi seluas-luasnya seperti itu. Dengan konstruksi demikian seperti itu. Kedua. cenderung terjadi . meliputi desentralisasi teritorial. dimensi-dimensi pola hubungan antara pusat dan daerah UUD 1945 telah memberikan dasar-dasar pola hubungan antara Pusat dan Daerah. Pertama. dan memberikan otonomi seluas-luasnya. dapat dikemukakan beberapa hal berkaitan dengan prinsip-prinsip pemikiran dan dimensi-dimensi pola hubungan antara pusat dan daerah. Melalui PP No. Kecenderungan tarik menarik kekuasaan yang didesentralisasikan tersebut dipengaruhi oleh sistem rumah tangga seperti apa yang dianut.

teori. Hal tersebut ditambah pula dengan persoalan instrumen hukum pembatalan perda yang menurut atribusi UU No. sehingga menyerupai piramida terbalik. pengaturan. mencerminkan perlunya upaya untuk mengkaji kembali berbagai peraturan perundang-undangan yang belum harmonis dengan UUD 1945. Saran Dari berbagai telaah mengenai asas. terutama untuk melakukan pinjaman luar negeri.185 ketidakkonsistenan dengan begitu gemuknya kelembagaan di Pusat. belum memungkinkan optimalisasi kerja sama daerah. dan demokratisasi. 32 Tahun 2004 dilakukan oleh perpres. Ketentuan yang berlaku sekarang untuk mengoptimalkan kemampuan daerah masih bergantung kepada perimbangan keuangan. sebagai upaya untuk menegakkan supremasi hukum. B. Pengkajian yang lebih mendalam perlu ditindaklanjuti untuk mengembalikan makna otonomi dalam bingkai negara kesatuan. serta persoalan pola hubungan antara pusat dan daerah.** . menghantarkan kepada kesejahteraan rakyat. Dengan seperti itu menjadikan atribusi kewenangan dalam UU tersebut tidak hidup. Upaya kebergantungan daerah terhadap pusat muncul lagi melalui pranata pengawasan yang tidak berimbang dengan upaya fasilitasi dan koordinasi oleh Pusat. namun praktiknya selalu dengan kepmendagri yang nampaknya lebih memenuhi asas feasible (dapat dilaksanakan) suatu peraturan. Setiap pembentukan kelembagaan di daerah belum sepenuhnya berdasarkan kebutuhan urusan yang riil dan kemampuan SDM serta keuangan daerah.

2002. Jakarta. Bhenyamin Hoessein. 2006. Keuangan Pemerintah Daerah Otonom di Indonesia. Kedaulatan Rakyat. Etika Politik. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah. PT Raja Grafindo. _______. Nusamedia. Yogyakarta. Citra Media Hukum. Anhar Gonggong (ed). Hubungan Antara Pusat dan Daerah Menurut UUD 1945. Jakarta. Frans Magnis-Soeseno. 1999. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Eddy Purnama. Perjalanan Historis Pasal 18. 1990. Rajawali Pers. Bandung. 1994. Atlanta. A Study of The Relationship Between Fiscal Decentralization and The Composition of Public Expenditures. Yogyakarta. Diana Halim Koentjoro. Aspek-Aspek Hukum Otonomi Daerah. Departement of Economic Andrew Young School of Policy Studies. Kapita Selekta Hakikat Otonomi dan Desentralisasi dalam Pembangunan Daerah. 1995. Hubungan Kewenangan Pusat dan Daerah. Bohari. Ateng Syafrudin. Francisco Javier Arze del Granado. Bandung. Bachrul Elmi. Jakarta. 2003. Alumni. Bandung. Pengantar Metode Penelitian Hukum. 2006. UI-Press. Kumpulan Tulisan Pasang Surut Otonomi Daerah. Karawang. _______. UNSIKA. dalam Kumpulan Tulisan pasang surut otonomi Daerah. Penerbit Mandar Maju. 2005. Ghalia Indonesia. Bandung. Titik Berat Otonomi Daerah Pada Daerah Tingkat II. Hukum Administrasi Negara. 1986. Georgia State University. Bagir Manan. Hukum Anggaran Negara. 1993. Bogor. Institute for Local Development dan Yayasan TIFA. Amrah Muslimin. _______. Jakarta. Pustaka Sinar Harapan. 2004. Aspek-aspek Hukum Otonomi Daerah. Pusat Studi Hukum Fakultas Hukum UII. Jakarta. _______. Disertasi. 1986. 2007. editor Jakarta 2005. Alumni. 2001. H. Yayasan Tifa. .DAFTAR PUSTAKA BUKU Amiruddin dan Zainal Asikin.

Pusat Studi Hukum Tata Negara FH. _______. Singapore. Refika Aditama.N. Decentralization: Policies in Asian Development. Hukum Pemerintahan Daerah. bandung. Josef Riwu Kaho. . Dasar-Dasar Ilmu Politik. 2002. Kepala Daerah. di Negara Republik Indonesia. PT. Demokrasi Kita. Lili Rasjidi dan Liza Sonia Rasjidi. Jakarta. Penerbit Bina Aksara. Ltd. Ke Arah Indonesia Merdeka. Dinna. Konsolidasi Naskah UUD 1945 Setelah Perubahan Keempat. CV. law and Practice of Decentralization and Urban Planning. Monograf. Konstitusi Dan Konstitusionalisme Indonesia. Munir Fuady. M. 2005. Hans. cetakan kedua. dan tahun penerbitan tidak tercantum. 2003. Jakarta. Miriam Budiarjo. Alumni. Problematika Hukum Otonomi Daerah di Indonesia. Ichimura. 2009. World Scientific Publishing Co. Roy (eds). 1984. Jakarta. Bandung. Jakarta. Dasar-Dasar Ilmu Hukum Normatif sebagai Ilmu Hukum Empirik-Deskriptif. Nicole. Cetakan kelima belas. _______. 2009. penerbit. Bandung.I Gde Pantja Astawa. Bhuana Ilmu Komputer.. Kaloh. 2001. J. 2009. Penerbit Gramedia Pustaka. Teori Hukum Murni. The Netheralands. Jakarta. Kelompok Gramedia. Masalah Kenegaraan. Pikiran-Pikiran tentang Demokrasi dan Kedaulatan Rakyat. Municipal Government In Indonesia Policy. Masalah Pengurusan Keuangan Negara : Suatu Pengantar Teknis. PT. Menggunakan Teori dan Konsep Dalam Analisis di Bidang Ilmu Hukum. UI. (alih Bahasa: Somardi). Shinichi. dalam Miriam Budiardjo (ed). 1999. Jakarta. and Amerindian Studies. Universitiet Leiden. Jakarta. Irawan Soejito. 1995. Teori Negara Hukum Modern (Rechtsstaat). 1980. Gramedia. _______. 1993. Segaarsy. Nusamedia. kota. 2007. Hubungan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Kelsen. Bahl. Rimdi Press. Mohammad Hatta. Azmy Akhir. Pte. Research School CNWS School of Asian. Niessen. Jakarta. PT. 2009. Raja Grafindo Persada. Bandung. Prospek Otonomi Daerah. African. Ni’matul Huda. Gramedia Pustaka Utama. Pokok-Pokok Hukum Tata Negara Indonesia Pasca Reformasi. 1986. Jimly Ashiddiqie. 2009. Konstitusi Press.

PT RajaGrafindo Persada. Tjip Ismail. Sunaryati Hartono. Penerbit Alumni. Jakarta. Alan. Strong. London. Investasi. Citra Aditya Bakti. Susanto. Binacipta. Edward Elgar Limited – Edaward Elgar Publishing Company. 1985. Jilid III. Sidgwick & Jackson Limited.C. 2006. Sudikno Mertokusumo dan Pitlo. 1986. Bandung. RDH Koesoemahatmadja. 2005. Mengumpulkan dan Membuka Kembali. 2007. Bandung. Legal Theory. England. 1993. 2005. Bhuana Ilmu Populer. Refika Aditama. Yogyakarta. The Liang Gie. dan Desentralisasi. London. Wolfgang Friedmann. 2006. Jakarta. Penelitian Hukum di Indonesia Pada Akhir Abad Ke-20. Steven Sons. Rousseau. Visimedia. Pengantar Ke Arah Sistim Pemerintahan Daerah Di Indonesia. Joeniarto. Satjipto Rahardjo. cetakan II. Decentralization The Territorial Dimension of The State. R. Jakarta. B. Otje Salman dan Anton F. London. Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji. Yellow Printing. Kemitraan. Taliziduhu Ndraha. Jakarta 2003. 1967. cetakan kedua. Jakarta. USA. Bab-Bab Tentang Penemuan Hukum. 1995. 1982. CF. Teori Hukum: Mengingat. International Hand Book of Local and Regional Government A Comparatve Analysis of Advanced Democracies. 1979. Negara Hukum yang Membahagiakan Rakyat. Kybernology (Ilmu Pemerintahan Baru). Pengaturan Pajak Daerah di Indonesia.. Du Contract Social (Perjanjian Sosial). Perkembangan Pemerintahan Lokal. Jilid I. 2007. Alumni. Penelitian Hukum Normatif. Pheni Chalid. Bandung. PT. Edisi Kedua. Genta Publishing. . Bandung. Yogyakarta. Smith. Jakarta. Keuangan Daerah. Pertumbuhan Pemerintahan Daerah di Negara Republik Indonesia. Paulus Effendie Lotulung. Yogyakarta.Norton. Jean Jacques. 1993. Rineka Cipta. Gerge Allen Unwin. Beberapa Sistem tentang Kontrol Segi Hukum terhadap Pemerintah. Liberty. Modern Political Constitution. 1960.

_______. Bandung. Theresa Thompson. and the Promise” World Bank Policy Research Working Paper 3282. Makalah. Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran.. Desertasi. Bachrul Elmi dan Syahrir Ika. Hubungan Kelembagaan antara Pusat dan Daerah. Bandung. USA. “Hutang Sebagai Salah Satu Sumber Pembiayaan Pembangunan Daerah Otonom”. Decentralization: Policies in Asian Development. 2009. . 2008. Pte. 2002. Bentuk dan Ruang Lingkup Pengawasan Pusat Terhadap Daerah Dalam Mewujudkan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Yang Demokratis Menurut UUD 1945. Asep Warlan Yusuf. Springer-Verlag Published online: 12 April 2006. 28 Desember 1992. disampaikan dalam acara Focused Group Discussion (Fgd) Tentang “Hubungan Antara Pemerintah Pusat Dan Daerah”. Bahl dalam Shinichi Ichimura. World Scientific Publishing Co. makalah pada Diskusi Terbatas tentang Hubungan Pusat dan daerah. Washington DC. DC USA. Masalah Hukum dalam Pemerintahan di Daerah. Tugas Sosial Pemerintahan Daerah. World Bank Policy Research Working Paper 3353. Singapore. Detours and Road Closures”. Roy Bahl (eds). Ltd. Anwar Shah. Pusat Studi Hukum Kenegaraan Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran. Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. Vol. Bandung. Jurnal Kajian Ekonomi Dan Keuangan. _______. _______. Handsout dan Course Material Hukum Pemerintahan Daerah. Bagir Manan. 1. Program Studi Hukum Tata negara. “Fiscal Decentralization in Developing and Transition Economies: Progress. Washington. Maret. Problems. World Bank. “Implementing Decentralized Local Governance: A Treacherous Road with Potholes. The World Bank.DESERTASI/TESIS/LAPORAN PENELITIAN/MAKALAH/JURNAL Agus Kusnadi. 2009. June 2004. hlm. 6 No. Jaime Bonet. 4 Agustus 2009. 4 Agustus 2009 Ateng Syafrudin. Makalah untuk pendidikan non-gelar anggota DPRD tingkat II se-Jawa Barat di Fakultas ISIP Unpad. 3. “Fiscal decentralization and regional income disparities: evidence from the Colombian experience”. 2009. diselenggarakan atas kerja sama antara Dewan Perwakilan Daerah RI dan Fakultas Hukum Unpad.. April 2004.

Hak Angket Dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia Menurut UUD 1945. Pengawasan Pengelolaan Keuangan Daerah dalam Sistem Pemerintahan Daerah di Indonesia (Disertasi). Jakarta. Laporan Penelitian. Jakarta 2009. Vol. Universitas Padjadjaran Bandung. No. 29. Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia. Pustaka Sinar Harapan. Jaime. Accounting & Financial Management. 3. Harian Suara Pembaharuan. UK-USA. Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. “Fiscal Decentralization in South East Asia”. Fiscal Decentralization in South East Asia. Vol. 2000. Jameson Boex. 15 No.Bonet. dampaknya terhadap Perekonomian. Kuntana Magnar. Elektison Somi. “Fiscal decentralization and regional income disparities: evidence from the Colombian experience”. Academic Press. 2003. Vol. Blackwell Publishing Ltd. Era Dabla-Norris. Pusat Pengkajian dan Pengembangan Wilayah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran. Bandung. Comparative Economic Studies. Otonomi atau Federalisme. Renata R Simatupang. Bandung. Pengkajian Penataan Daerah Otonom Kabupaten/Kota di Jawa Barat. 2002. Journal of Public Budgeting. 4. 15 No. Accounting & Financial Management. 2003. Kerangka Acuan Penelitian Studi Hubungan Pusat Dan Daerah Kerjasama DPD RI Dengan Perguruan Tinggi Di Daerah. 3. Pedoman Penyelenggaraan Program Pendidikan Sarjana (S1). Bandung. 4 Agustus 2009 Larry Schroeder. Tim Penyusun.48. I Gde Pantja Astawa. 2008. . Springer-Verlag Published online: 12 April 2006. Journal of Public Budgeting. Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Tahun 2007. Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran. 1999. Schroeder. Larry. Academic Press. 2006. Disertasi. “The Challenge of Fiscal Decentralisation in Transition Countries”. Bahan diskusi pada Diskusi Terbatas Pusat Studi Hukum Tata Negara. “Fiscal Decentralisation and Empowerment: Evolving Concepts and Alternative Measures” Journal Compilation Institute of Fiscal Studies Vol. 2006.

http://www. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pemerintahan Daerah Undang-Undang Nomor No.opensubscriber. Sumber Internet http://www.kompas.html www.33 Tahun 2004 Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah Undang-Undang Nomor No.18 Tahun 1997 Tentang Pajak dan Retribusi Daerah.daerah. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2008 Tentang Tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah.ac. Peraturan Pemerintah No.fh.com/read/xml/2009/08/05/04112298/pajak.Peraturan Perundang-Undangan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.com/9511217.geocities. 20 Tahun 1997 Tentang Retribusi Daerah Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005.dibatasi. tentang Pemerintahan Daerah Undang-Undang Nomor No.com/message/mediacare@yahoogroups. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah Undang-Undang Nomor No.pdf http://koran. 25 Tahun 1999 Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004. .Doc. 28 Tahun 2009 tentang Pajak dan Retribusi Daerah Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 1997 Tentang Pajak dan Retribusi Daerah.com/syahyuti/Rumusan_konsep_kelembagaan.unsri.id/old_version/CITANEGARAHUKUMINDONESIA.

http://www.mediaindonesia. http://www.ssrn.depdagri.org/id.com/abstract=1029581 .Doc.com/read/2009/08/08/91036/20/2/RUU-Pajak-dan-RetribusiDaerah-Disahkan-Jadi-UU http://www.org/wiki/Participatory_democracy http://ekoprasojo.org/ind/index.unsri.mediaindonesia.com/read/2009/08/08/91036/20/2/RUU-Pajak-dan-RetribusiDaerah-Disahkan-Jadi-UU http://koran.com/read/2009/08/18/103708/1184734/4/15-poin-uu-pokokpajak-daerah-dan-retribusi-daerah www.com http://kppod.php?option=com_content&task=view&id=329&Itemid=2 http://www.html http://ekoprasojo.php/topic.fh.worldbank.wikipedia.dibatasi.id/ www.go.id/webbkf/kajian%5CPAD.fiskal.google.0.com/read/xml/2009/08/05/04112298/pajak.id/old_version/CITANEGARAHUKUMINDONESIA.com/2008/04/08/konstruksi-ulang-hubungan-pemerintah-pusat-danpemerintah-daerah-di-indonesia-antara-sentripetalisme-dan-sentrifugalisme/ http://www.5619.go.lautanindonesia.daerah.bakd.depkeu. www.com/forum/index.com/2008/04/08/konstruksi-ulang-hubungan-pemerintah-pusat-danpemerintah-daerah-di-indonesia-antara-sentripetalisme-dan-sentrifugalisme/ http://en.pdf. http://www.ac. http://www.detikfinance.kompas.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful