P. 1
Pola Hubungan Antara Pusat Dan Daerah_UNPAD

Pola Hubungan Antara Pusat Dan Daerah_UNPAD

|Views: 1,278|Likes:
Published by Novrianti Palente

More info:

Published by: Novrianti Palente on Sep 26, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/02/2013

pdf

text

original

Sections

  • A. Latar Belakang
  • B. Rumusan Masalah
  • C. Tujuan Penelitian
  • D. Kerangka Pemikiran
  • E. Kegunaan Penelitian
  • F. Metode Penelitian
  • G. Alur Penelitian
  • H. Personalia Penelitian
  • I. Sistematika Penulisan
  • A. Negara Kesatuan
  • B. Negara Hukum
  • C. Demokrasi
  • D. Kajian Teori Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah
  • 3. Kelembagaan
  • 5. Sumber-Sumber Penerimaan/ Pendapatan Daerah
  • B. Dimensi Hubungan Kewenangan Pusat dan Daerah

PENELITIAN

POLA HUBUNGAN ANTARA PUSAT DAN DAERAH

KERJA SAMA ANTARA PUSAT STUDI KAJIAN NEGARA FAkULTAS HUKUM UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG

DENGAN

DEWAN PERWAKILAN DAERAH (DPD) REPUBLIK INDONESIA

JAKARTA, 2009

POLA HUBUNGAN ANTARA PUSAT DAN DAERAH ABSTRAK UUD 1945 telah memberikan dasar-dasar pola hubungan antara Pusat dan Daerah, meliputi desentralisasi teritorial, dengan asas otonomi dan tugas pembantuan, dan memberikan otonomi seluas-luasnya. Namun dengan berbagai peraturan pelaksanaannya, telah mendorong penyeragaman sekaligus sentralisasi tersembunyi melalui undang-undang sektoral. Penelitian ini merupakan kajian bertujuan untuk mengetahui prinsip-prinsip pemikiran yang mendasari pola hubungan antara Pusat dan daerah, dengan pendekatan uraian mengenai dimensi hubungan kewenangan, kelembagaan, keuangan, dan pengawasan. Dengan menggunakan metode pendekatan yuridis normatif, penelitian merupakan penelitian asas-asas hukum, sistematika hukum, dan taraf sinkronisasi vertikal dan horizontal. Pembahasan penelitian ini menunjukkan bahwa terhadap dimensi-dimensi hubungan antara Pusat dan daerah terjadi inkonsistensi, baik dalam perspektif kerangka negara kesatuan, paradigma negara kesejahteraan, demokrastisasi, dan prinsip otonomi yang dimaksudkan dalam Perubahan UUD 1945. Dengan demikian perlu kecermatan lebih lanjut untuk menata kembali harmonisasi berbagai peraturan perundang-undangan sebaga pelaksanaan Pasal 18 UUD 1945, untuk mengembalikan hakikat otonomi daerah.

i

The Pattern of Central and Regional/Local Government Relationship Abstract The 1945 Constitution has provided the basic principles of the relationship between central and regional/local government, including territorial decentralization, with the principle of autonomy and coadministration, and provides wide-ranging autonomy. But with the various implementing regulations, has encouraged uniformity and centralization hidden through sectoral legislation. This research aims to determine the principles that underlie the pattern of relationship between central and regional/local government, with a description of the dimensional approach of authority, concerning: relations, institutional, financial, and supervision relationship. By using the method of normative juridical approach, the research categorized as research on principles of law, systematic of law, and the level of vertical and horizontal synchronization. This research show that the dimensions of the relationship between central and regional/local government, inconsistencies occurred, both in the perspective of the unitary state framework, the welfare state paradigm, democratization, the principle of autonomy which is intended in The Amended 1945 Constitution. Thus the need to further precision to restructure the harmonization of legislation as the implementation of Article 18 UUD 1945, to restore the nature of regional/local autonomy.

ii

Kata Pengantar

Laporan penelitian yang disajikan ini merupakan hasil kerja sama antara Pusat Studi Kebijakan Negara Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran (PSKN FH Unpad) dengan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD – RI). Dari beberapa tema yang ditawarkan, sengaja kami memilih persoalan hubungan keuangan antara pusat daerah karena dalam konteks negara terdesentralisasi seperti Indonesia, persoalan tersebut selalu berkembang. Bagi kalangan juris perkembangan tersebut tampak misalnya dalam hal perkembangan peraturan perundang-undangan di bidang pemerintahan daerah yang sangat dinamis. Bahkan dapat dikatakan bahwa peraturan perundangundangan di bidang ini merupakan peraturan perundang-undangan yang sangat berkembang pesat, dari mulai Indonesia merdeka hingga saat ini. Perkembangan peraturan perundang-undang tersebut akan menggambarkan konsep dinamis antara desentralisasi dan sentralisasi yang seperti “bandul”. Misalnya, sebelum Perubahan UUD 1945 (khususnya Pasal 18), beberapa undang-undang bercorak desentralistis, seperti UU No. 1 Tahun 1945, UU No. 22 Tahun 1948, dan beberapa lagi lebih mencerminkan sifat sentralistis, seperti UU No. 5 Tahun 1974. Hal tersebut sangat mungkin terjadi hingga saat ini di mana Pasal 18 UUD 1945 telah diubah menjadi 3 pasal pada masa Perubahan Kedua UUD 1945, misalnya antara UU No. 22 Tahun 1999 dengan UU No. 32 Tahun 2004. UU No. 22 Tahun 1999 dibentuk sebelum Pasal 18 UUD 1945 berubah namun secara prinsip tidak bertentangan dengan perubahan Pasal 18 tersebut. Sementara itu, UU No. 32 Tahun 2004 dibentuk setelah Perubahan Pasal 18 UUD 1945 dan mengubah ketentuan UU No. 22 Tahun 1999, begitu pula UU lainnya di bidang perimbangan keuangan pusat – daerah. Perkembangan tersebut selalu menarik untuk diteliti, karena format desentralisasi selalu akan berkembang seiring dengan perkembangan masyarakat. Namun demikian, memilih tema hubungan pusat – daerah ini cukup beresiko, khususnya dalam hal kedalaman studi, karena terdapat beberapa dimensi hubungan pusat – daerah. Kami mengambil resiko tersebut dengan tujuan bahwa penelitian ini menghasilkan gambaran persoalan hubungan pusat – daerah ini secara umum (overview). Setidaknya dengan penelitian yang umum ini, diharapkan akan muncul penelitian – penelitian lanjutan yang lebih spesifik lagi, seperti hubungan kewenangan pusat – daerah atau dimensi – dimensi lainnya.
iii

khususnya kepada DPD – RI yang telah melakukan kerja sama penelitian ini dengan kami. Kami sadar laporan penelitian ini banyak kekurangan. Akhir kata. Bandung. 2009 Tim Peneliti iv .Kami sangat berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu pelaksanaan penelitian ini. selama membaca. sehingga kami sangat membuka diri untuk segala kritik dan saran untuk perbaikan ke depan.

DAFTAR BAGAN Bagan 1 Bagan 2 Bagan 3 Bagan 4 Bagan 5 Bagan 6 Pembagian desentralisasi menurut Van der Pot Pembagian desentralisasi menurut Irawan Soejito Pembagian desentralisasi menurut Amrah Muslimin Pembagian desentralisasi menurut Hans Kelsen Alur Penelitian Pembagian Urusan Pemerintahan 10 10 11 12 15 75 v .

2006 Sektor Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade) 151 Tabel 6 Tabel 7 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan 152 Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s.d.d.DAFTAR TABEL Tabel 1 Ruang lingkup pengawasan Atas penyelenggaraan pemerintahan daerah Tabel 2 Tabel 3 Perbandingan Pengawasan Pusat Terhadap Daerah di Inggris. 2006 Sektor Perhubungan 152 Tabel 8 Tabel 9 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan 153 Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s.d.d. Perancis dan Belanda Model-Model Pengawasan dan Pengendalian Terhadap Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Menurut UU No. Retribusi Daerah dan Pungutan Lainnya Yang Dibatalkan Oleh Menteri Dalam Negeri Pada Tahun 2007 154 Tabel 10 Tabel 11 Tabel 13 Hasil Evaluasi Peraturan Daerah di Departemen Dalam 156 Negeri Sampai dengan November 2007 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Wilayah Provinsi Jawa Barat Dari Tahun 2002 s. 2006 Sektor Kehutanan (Forestry) Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s. 2006 Sektor Kelautan dan Perikanan Peraturan Daerah Tentang Pajak Daerah. 32 Tahun 2004 Perkembangan Pengaturan Pengawasan 69 118 65 Tabel 4 Tabel 5 124 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan 150 Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s.d. 2006 Sektor Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral Resource) vi 157 . 2006 Sektor Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral Resource) Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s.d.

Karawang Wilayah 160 Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade) ) Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kota Cimahi Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan(Sektor Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade)) 160 Tabel 17 Tabel 18 Tabel 19 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah di Wilayah Provinsi 161 Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Kehutanan (Forestry)) Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.Tasikmalaya Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral Resource)) 158 Tabel 15 Tabel 16 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Wilayah Provinsi Jawa 158 Barat Yang Dibatalkan(Sektor Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade) Wilayah Provinsi Jawa Barat) Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.Indramayu 158 Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral Resource)) Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.Garut Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Kehutanan (Forestry)) Jumlah Undang-Undang Pembentukan Daerah (Pemekaran Daerah) 2007 – 2008 Skema Pola Hubungan Pengawasan Pusat-Daerah 163 Tabel 20 Tabel 21 Tabel 22 Tabel 23 173 vii .Ciamis Provinsi 161 Jawa Barat Yang Dibatalkan(Sektor Kehutanan (Forestry)) 162 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.Tabel 14 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.

F. C. Latar Belakang Rumusan Masalah Tujuan Penelitian Kerangka Pemikiran Kegunaan Penelitian Metode Penelitian Alur Penelitian Personalia Penelitian Sistematika Penulisan 1 3 3 4 12 12 14 16 16 18 BAB II Prinsip-Prinsip Umum Pola Hubungan Pusat Dan Daerah A.DAFTAR ISI Abstrak Abstract Kata Pengantar Daftar Bagan Daftar Tabel Daftar Isi i ii iii v vi viii 1 BAB I Pendahuluan A. Demokrasi 1. G. D. Desentralisasi 2. E. H. Demokrasi ekonomi D. Negara Hukum C. Sistem Rumah Tangga Daerah viii 18 19 23 23 25 26 29 29 36 . Kajian Teori Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah 1. Demokrasi sebagai instrumen Mekanisme pemerintahan 2. B. Demokrasi sebagai instrumen pengambilan keputusan 3. I. Negara Kesatuan B.

Dimensi Hubungan Pengawasan Pusat dan Daerah BAB V Kesimpulan dan Saran A. Sumber-Sumber Penerimaan/ Pendapatan Daerah 6. Hubungan Kewenangan: dari mulai UUD 1945. Hubungan Pengawasan 74 74 75 99 112 BAB IV Tinjauan Dimensi-Dimensi Hubungan Antara Pusat dan Daerah A.3. Dimensi Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah E. Hakikat Pengawasan Pemerintah Pusat terhadap Daerah 43 47 52 58 BAB III Pengaturan Hubungan Antara Pusat dan Daerah A. Pilar-Pilar Penyelenggaraan Pemerintahan B. Dimensi Hubungan Kewenangan Pusat dan Daerah 125 126 128 139 149 C. UU. Hubungan Kelembagaan C. Dimensi Hubungan Kelembagaan Pusat dan Daerah D. dan Pengaturan Sektoral. Ruang Lingkup dan Prinsip-Prinsip Desentralisasi Fiskal 5. Kesimpulan B. Saran DAFTAR PUSTAKA 182 183 ix . Kelembagaan 4. Hubungan Keuangan D. B.

Latar Belakang Undang-Undang Dasar 1945 beserta perubahannya telah memberikan landasan konstitusional mengenai penyelenggaraan pemerintahan daerah di Indonesia.3 4) prinsip mengakui dan menghormati pemerintahan daerah yang bersifat khusus dan istimewa. 1 masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik 2) Prinsip daerah mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan. Di antara ketentuan tersebut yaitu: 1) prinsip pengakuan dan penghormatan negara terhadap kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat serta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan Indonesia.9 Sebagai pelaksanaan lebih lanjut dari dasar konstitusional tersebut.4 5) prinsip badan perwakilan dipilih langsung dalam suatu pemilu. pemanfatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antara pemerintah pusat dan pemerintahan daerah dilaksanakan secara adil dan selaras berdasarkan undang-undang.5 6) prinsip hubungan pusat dan daerah harus dilaksanakan secara selaras dan adil.6 7) prinsip hubungan wewenang antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus memperhatikan kekhususan dan keragaman daerah. 3 Pasal 18 ayat (5) 4 Pasal 18 B ayat (1) 5 Pasal 18 ayat (3) 6 Pasal 18 A ayat (2) 7 Pasal 18 A ayat (1) 8 Pasal 18 A ayat (2) 9 Pasal 18 B ayat (1) .BAB I PENDAHULUAN A. pelayanan umum. satuan pemerintahan di bawah pemerintah pusat yaitu daerah provinsi dan 1 2 Pasal 18 B ayat (2) Pasal 18 ayat (2) Perubahan Kedua Undang-Undang Dasar 1945.8 dan 9) prinsip pengakuan dan penghormatan negara terhadap satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa.2 3) prinsip menjalankan otonomi seluas-luasnya.7 8) prinsip hubungan keuangan.

menyelenggarakan urusan-urusan pemerintahan tersebut akan sangat mempengaruhi sejauhmana Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah memiliki wewenang untuk menyelenggarakan urusan-urusan Pemerintahan. Kesemuanya itu. juga tersebar pengaturannya dalam berbagai UU sektoral yang 10 11 Pasal 13 ayat (1) dan (2) dan Pasal 14 ayat (1) dan (2) UU Nomor 32 Tahun 2004. c) keamanan. pembagian kelembagaan. untuk dan pengawasan. agar terjaga keutuhan negara Kesatuan. b) pertahanan. d) yustisi. e) moneter dan fiskal nasional. yang diatur dalam UU No. Pertama. dan f) agama. kewenangan keuangan. 32 Tahun 2004 tersebut. .2 kabupaten/kota memiliki urusan yang bersifat wajib dan pilihan. Kedua.11 Selain itu ditetapkan pula kewenangan pemerintah Pusat menjadi urusan Pemerintahan yang meliputi:12 a) politik luar negeri. Hubungan-hubungan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah memiliki empat dimensi penting untuk dicermati. dan pemerintahan daerah kabupaten/kota. implikasi terhadap hubungan kelembagaan antara Pusat dan Daerah mengharuskan kehati-hatian mengenai besaran kelembagaan yang diperlukan untuk melaksanakan tugas-tugas yang menjadi urusan masingmasing. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. namun kewenangannya yang berbeda. maka dalam hal ini yang menjadi obyek yang diurusi adalah sama. pembagian kewenangan ini membawa implikasi kepada hubungan keuangan. hubungan pengawasan merupakan konsekuensi yang muncul dari pemberian kewenangan. Pasal 13 ayat (1) dan (2) UU Nomor 32 Tahun 2004. Keempat. Ketiga. 12 Pasal 10 ayat 3 UU Nomor 32 Tahun 2004. namun muncul pula pengaturan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2007 yang membagi urusan pemerintahan antara pemerintah. selain diatur dalam UU No. Walaupun dengan ketentuan pemberlakuan otonomi seluas-luasnya dalam UUD 194513. karena wilayah kekuasaan Pemerintah Pusat meliputi Pemerintah Daerah. 13 Pasal 18 ayat (5) Perubahan Kedua Undang-Undang Dasar 1945. pemerintahan daerah provinsi. yaitu meliputi hubungan kewenangan.10 Provinsi memiliki urusan wajib dan urusan pilihan.

3 pada kenyataannya masing-masing tidak sama dalam pembagian kewenangannya. keuangan. Bagaimana pola hubungan pusat dan daerah dari dimensi-dimensi kewenangan. Hubungan Antara Pusat dan Daerah Menurut UUD 1945. Apa dasar-dasar pemikiran yang melandasi terbangunnya pola hubungan antara pusat dan daerah? 2. 1994. dan pengawasan? C. sebagai berikut: 1. kelembagaan. hlm. B.. Jakarta.14 Pengaturan yang demikian menunjukkan bahwa tarik menarik hubungan tersebut kemudian memunculkan apa yang oleh Bagir Manan disebut dengan spanning15 antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam penelitian ini dibagi berdasarkan empat dimensi hubungan pemerintahan pusat dan daerah. dan c) kewenangan yang dalam menyusun standar operasional prosedur bagi daerah dalam menterjemahkan setiap peraturan perundang-undangan yang ada. Pustaka Sinar Harapan. b) kewenangan yang didelegasikan dan fungsi-fungsi yang disediakan oleh Departemen kepada daerah. 17 Ibid. 8. 22-23 16 Ibid.16 Hal tersebut terutama berhubungan dengan a) otoritas terkait tanggungjawab pemerintah pusat dan daerah. hlm. Dewan Perwakilan Daerah juga mengidentifikasi adanya kewenangan yang tumpah tindih antar instansi pemerintahan dan aturan yang berlaku. baik aturan di tingkat pusat dan/atau peraturan di tingkat daerah. Jakarta 2009. hlm. 15 Bagir Manan. Tujuan Penelitian Kerangka Acuan Penelitian Studi Hubungan Pusat Dan Daerah Kerjasama DPD Ri Dengan Perguruan Tinggi Di Daerah. 6. Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia. 14 . 17 Berdasarkan latar belakang tersebut perlu dilakukan suatu kajian sebagai penelitian payung yang melandasi hubungan antara Pemerintah Pusat dengan daerah.

2000. Konstitusi-Konstitusi Politik Modern: Studi Perbandingan tentang Sejarah dan Bentuk-Bentuk Konstitusi di Dunia. Nusamedia. sementara provinsi-provinsi menerima kekuasaan dari pemerintah pusat. kekuasaan apapun yang dimiliki berbagai distrik di dalam wilayah yang dikelola sebagai suatu keseluruhan oleh pemerintah pusat harus diselenggarakan menurut kebijakan pemerintah itu. yang dikutip oleh Tim Penyusun buku “Otonomi atau Federalisme”. Cetakan Kedua. Teori negara kesatuan digunakan untuk membedakan pembagian kekuasaan secara vetikal dengan negara berbentuk federasi. 87. Mengetahui bagaimana pola hubungan pusat dan daerah dari dimensidimensi kewenangan.18 Dikatakan bahwa negara kesatuan adalah negara yang diorganisasi di bawah satu pemerintahan pusat. hlm. “Unitarisme” dalam pengertian politik didefinisikan oleh Dicey sebagai “pelaksanaan kebiasaan otoritas legislatif tertinggi oleh satu kekuasaan pusat”. Mengetahui dasar-dasar pemikiran yang melandasi terbangunnya pola hubungan antara pusat dan daerah? 2. dan provinsi-provinsi tersebut tidak mempunyai hak mandiri. Artinya. ditinjau dari sudut pembagian kewenangan. Pustaka Sinar Harapan.4 Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini sebagai berikut: 1. 2008. Sementara itu menurut Apeldoorn. Harian Suara Pembaharuan. 19 Tim Penyusun. Strong. terdapat dua C. hlm. keuangan. Kekuasaan pusat adalah kekuasaan tertinggi di atas seluruh negara tanpa ada batasan yang ditetapkan hukum yang memberikan kekuasaan khusus pada bagian-bagiannya. Dalam hal ini dikemukakan pemikiran dari CF Strong mengenai negara kesatuan. Kerangka Pemikiran Perubahan ketiga Undang-Undang Dasar 1945 menegaskan bahwa Indonesia adalah negara kesatuan yang berlandaskan hukum atas dasar kedaulatan rakyat. Jakarta. 18 . dan pengawasan? D. 14. kelembagaan. suatu negara disebut negara kesatuan apabila kekuasaan hanya dipegang oleh pemerintah pusat. Otonomi atau Federalisme.19 Dalam negara-negara dengan bentuk negara kesatuan (unitary state). Bandung.F. Dampaknya Terhadap Perekonomian.

21. sehingga dalam pelaksanaan tugasnya pemerintah harus berpegang pada kehendak rakyat. 24 C.25 dikenal sebagai Berdasarkan demokrasi kenyataan tidak demikian. 1999. Di sinilah letak keterkaitannya dengan demokrasi politik yang mengisyaratkan pemerintah harus bergantung pada persetujuan pihak yang diperintah.5 kewenangan/urusan pemerintah yakni yang tersentralisasi dan kewenangan/urusan pemerintah yang didesentralisasikan. Nusamedia. media massa. hlm. law and Practice of Decentralization and Urban Planning. 25 Ibid. 23 Ibid.F.cit. yang pelaksanaan kedaulatan rakyatnya tidak dilaksanakan oleh rakyat secara langsung 20 Nicole Niessen. Nusamedia. Universitiet Leiden.23 C. 2007. dan lain-lain. . Strong mengartikan demokrasi secara beragam24 termasuk untuk menyebut suatu bentuk pemerintahan atau kondisi suatu masyarakat. Hukum Pemerintahan Daerah. 10. Faktor luas wilayah dari suatu negara dan besaran jumlah penduduk serta pertambahan kerumitan masalah kenegaraan merupakan argumen bahwa demokrasi langsung (direct democracy) tidak mungkin muncullah untuk yang dilaksanakan. hlm. Bandung. ekspresi persetujuan maupun ketidaksetujuan rakyat sudah harus memiliki sarana penyaluran yang nyata dalam pemilihan umum. and Amerindian Studies. 66. program politik partai. 17.22 Sejalan dengan perputaran waktu. Municipal Government In Indonesia Policy. Research School CNWS School of Asian. Konstitusi-Konstitusi …. ketika nasionalisme menjadi dasar bagi demokrasi politik maka pemerintahan politik yang demokratis menjadi instrumen kemajuan sosial. konsep demokrasi juga mencari bentuk yang sesuai dengan situasi dan kondisi dari masyarakat modern. op. hlm. 20 Ni’matul Huda mengatakan bahwa desentralisasi adalah strategi mendemokratisasi sistem politik dan menyelaraskan pencapaian pembangunan berkelanjutan yang merupakan isu yang selalu ada dalam praktik administrasi publik. artinya.21Demokrasi yang lazim pula disebut dengan kedaulatan rakyat memandang bahwa kekuasaan itu berasal dari rakyat. The Netheralands.Strong.F. 21 Ni’matul Huda. 2009. Kedaulatan Rakyat. (indirect langsung democracy). Bandung. Namun di dunia kontemporer. 22 Eddy Purnama. African. hlm.

113. hlm.. yang tidak netral terhadap politik.. termasuk pada waktu melakukan realisasi rule of law.. Du Contract Social (Perjanjian Sosial). 284. hlm.6 melainkan melalui lembaga perwakilan rakyat.32 Parlemen berhak untuk melakukan apa saja. terjemahan Tim Visimedia.28 Dalam pemikiran mengenai bagaimana demokrasi bagi Indonesia.cit. Mei 2009. cetakan kedua. hlm. cetakan II. tidak pernah ada demokrasi yang nyata dan tidak akan pernah ada demokrasi. Pikiran-Pikiran tentang Demokrasi dan Kedaulatan Rakyat. 8 32 Ibid. 8-9. hlm. 31 Satjipto Rahardjo. Ibid. Segaarsy. hlm. 27 26 . with the balance between the House of Commons. 70.. hlm. 2007.30 Selanjutnya pilar yang lain yang secara konsitusional diakui oleh Indonesia adalah negara hukum. op. Demokrasi Kita. and the king. also strengthens the power of the judges Eddy Purnama. Yogyakarta.. Neumann yang dikutip oleh Satjipto Rahardjo mengatakan bahwa perkembangan negara hukum di Inggris berbeda daripada Eropa daratan. yaitu mengambil keputusan secara mufakat dengan musyawarah. Sifat kedua yaitu tolong menolong dan gotong royong adalah sendi yang bagus untuk menegakkan demokrasi ekonomi. “The monopoly of legislation by Parliament. Muhammad Hatta mengingatkan bahwa masyarakat asli Indonesia mempunyai sifat dasar dalam segala hal mengenai kepentingan hidup bersama. 28 Jean Jacques Rousseau. Genta Publishing. 29 Mohammad Hatta. Kedaulatan Rakyat. hlm.27 Rousseau memberi catatan bahwa jika kita menempatkan istilah ini dalam pemahaman yang kaku. the House of Lords. 11. akomodasi seluruh aspirasi rakyat jauh lebih berguna dari unsur di dalam masyarakat harus terwakili di dalam sistem perwakilan.26 Dalam rangka mewujudkan prinsip kedaulatan rakyat. adalah dasar dari demokrasi politik. 9. Jakarta. 2009.29 Sifat pertama. .. Visimedia. Menurut Dicey.31 Di Inggris. “… that the souvereignity of Parliament furthers the rule of the land… prevent those inroads upon the law of the land which a despotic monarch … might effects by ordinance or decrees… “33 Selanjutnya dikatakan. hlm. 30 Ibid. Negara Hukum yang Membahagiakan Rakyat. sejak semula doktrin Rule of Law tidak dipisahkan dari doktrin supremasi parlemen. 33 Ibid. 69. Bandung.

Sementara itu A. 23 Maret 2004. Bahkan.cit. yaitu “rechtsstaat’.36 Pada perkembangannya negara tidak dapat lagi bersikap netral dan membiarkan Di zaman modern.V. Keempat prinsip ‘rechtsstaat’ yang dikembangkan oleh Julius Stahl tersebut di atas pada pokoknya dapat digabungkan dengan ketiga prinsip ‘Rule of Law’ yang dikembangkan oleh A. diunduh dari http://www. hlm. 1-2.hlm.unsri.ac. dan 3) Due Process of Law. prinsipprinsip Negara Hukum itu ditambah lagi dengan prinsip peradilan bebas dan tidak memihak (independence and impartiality of judiciary) yang di zaman sekarang makin dirasakan mutlak diperlukan dalam setiap negara demokrasi. Paul Laband. Menurut Julius Stahl yang dikutip oleh Jimly Asshidiqie34. Julius Stahl. 2) Equality before the law.. Dicey dengan sebutan “The Rule of Law”.V. Disebut sebagai penjaga malam. 34 . 26. yaitu: 1) perlindungan hak asasi manusia. lihat Jimly Asshidiqie. Dicey untuk menandai ciri-ciri Negara Hukum modern di zaman sekarang.fh. dan lain-lain dengan menggunakan istilah Jerman. pada 8/24/2009 9:38:03 AM. yaitu: 1) Supremacy of Law. 2) pembagian kekuasaan. 36 Satjipto Rahardjo. konsep Negara Hukum yang disebutnya dengan istilah ‘rechtsstaat’ itu mencakup empat elemen penting.V. Fichte. explains the absence od adiministrative law. Negara Hukum ….Doc. dan 4) Peradilan tata usaha Negara. op. maka parlemen atau rakyatlah merupakan instansi tertinggi.35 Negara hukum yang muncul di abad ke-sembilan belas adalah tipe negara hukum sebagai “penjaga malam” (nachtwakersstaat). Sedangkan dalam tradisi Anglo Amerika. konsep Negara hukum dikembangkan atas kepeloporan A. 35 Ibid. tindakannya dibatasi hanya sampaiu kepada penjaga ketertiban dan keamanan. Dicey menguraikan adanya tiga ciri penting dalam setiap Negara Hukum yang disebutnya dengan istilah “The Rule of Law”..7 … and finally. Cita Negara Hukum Indonesia Kontemporer. makalah disampaikan dalam acara Orasi ilmiah Pada Wisuda Sarjana HukumFakultas Hukum Universitas Sriwijaya Palembang. karena dalam tipe tersebut. 3) pemerintahan berdasarkan undang-undang.” Jadi dalam mengartikan “the rule of law” di Inggris. oleh “The International Commission of Jurist”. konsep Negara Hukum di Eropah Kontinental dikembangkan antara lain oleh Immanuel Kant.id/old_version/CITANEGARAHUKUMINDONESIA.

dan kepemilikan (eigendom) negara. Robson. . equality.8 individu-individu atau masyarakat menyelesaikan sendiri-sendiri problemproblem tersebut. Ini menimbulkan konsep “negara kesejahteraan” (welfare state). di antaranya adalah ”liberty. Tetapi sekarang negara harus memasuki aktivitas yang lebih luas. Satjipto kemudian mengutip dari de Haan et al bahwa menyerahkan penyelesaian kepada mekanisme pasar sosial akan menempatkan golongan lapisan bawah (the have not) dalam masyarakat sebagai pihak yang sangat menderita (“De staat mocht niet langer. hlm.. dan fraternity” (revolusi Perancis) dan “The greates happiness for the greatest number” (Bentham). jarak yang jauh antara pusat pemerintahan dengan bagian-bagian daerah yang harus diperintah di sisi lain. yaitu campur tangan negara ke dalam masyarakat. Oleh karena itu menurut Ateng Syafrudin perlu diadakan pembagian 37 Ibid. Menurut William A. de door het industriele kapitalisme veranderde samenleving ongemoeid laten. seperti pembuatan undang-undang dan pembuatan undang-undang semu (pseudo). tujuan penyelenggaraan negara. yaitu kesejahteraan rakyat di satu sisi. negara hanya bertindak sesekali dan sebagai pelengkap (incidenteel en aanvullend). sangat mengubah pekerjaan-pekerjaan yang biasa dilakukan oleh hukum administrasi tradisional. door als neutral toeschouwer op te stellen. kelahiran konsep negara kesejahteraan didahului oleh rentetan ide-ide panjang. mempertimbangkan pertama. Dalam hukum administrasi tradisional. 27. perencanaan. Naast de traditionele overheidstaken vroegen nieuwe terreinen om ordening en verzorging van staatswege”). keterbukaan dan penggugatan. perjanjian. maar behoorde zich daadwerkelijk de belangen van de achtergestelde groepen in die samenleving aan te trekken. Perubahan tersebut.37 Penyelenggaraan pemerintahan negara yang baik adalah yang dapat menampung aspirasi dan kebutuhan masyarakat sampai ke pelosok wilayah negara. dan kedua.

Steenbeek. 72. Bagir Manan menjelaskan 39 desentralisasi dengan menggunakan pendapat Van Der Pot. Kapita Selekta Hakikat Otonomi dan Desentralisasi dalam Pembangunan Daerah. dan Belifante. hlm 21 38 . JM de Meij.. hlm. desentralisasi dibagi menjadi dua macam. Irawan Soejito membedakan desentralisasi menjadi desentralisasi teretorial. yaitu desentralisasi teritorial dan desentralisasi fungsional. sedangkan desentralisasi fungsional menjelma dalam bentuk badan-badan yang didasarkan pada pada tujuan-tujuan tertentu (doelcorporaties). desentralisasi administratif (dekonsentrasi). 20-21 40 Ibid. Yogyakarta.40 Ateng Syafrudin. 39 Bagir Manan. 2006. yakni pejabat-pejabat Pemerintah yang ada di daerah. Hubungan . Desentralisasi teritorial menjelma dalam bentuk badan yang didasarkan pada wilayah (gebeidscorporatis).9 kerja secara teritorial di samping pembagian kerja secara fungsional. Menurut pakar Hukum Tata Negara Belanda ini. Dengan penggolongan yang sedikit berbeda.. hlm. Desentralisasi teretorial berbentuk otonomi dan tugas pembantuan.cit. untuk dilaksanakan. op.38 Pembagian-pembagian kerja urusan penyelenggaraan pemerintahan tersebut yang kemudian mengarah kepada proses desentralisasi. desentralisasi fungsional. Desentralisasi administratif atau dekonsentrasi (ambtelijk decentralisatie) terjadi apabila “Pemerintah melimpahkan sebagian kewenangannya kepada alat perlengkapan atau organ Pemerintah sendiri di daerah. Bagan 1: Pembagian desentralisasi menurut Van der Pot Pendapat dari Van der Pot ini diikuti antara lain oleh FAM Stroink.. Citra Media Hukum.

Bandung. membedakan desentralisasi menjadi desentralisasi politik41. Desentralisasi politik adalah “pelimpahan kewenangan dari Pemerintah Pusat yang menimbulkan hak mengurus rumah tangga sendiri bagi badan-badan politik yang ada di daerah-daerah yang dipilih oleh rakyat dalam daerah-daerah tertentu. Aspek-Aspek Hukum Otonomi Daerah. 1986. Pakar hukum lainnya. Dekonsentrasi.10 Bagan 2. hlm 5 42 Ibid. yaitu :43 1. dan merupakan pelunakan sentralisasi menuju desentralisasi. merupakan pelimpahan sebahagian kewenangan pemerintah pusat pada alat-alat pemerintah pusat yang ada di daerah. 2. merupakan pelimpahan wewenang kepada badan-badan dan golongan-golongan dalam masyarakat dalam daerah tertentu untuk mengurus rumah tangganya sendiri. desentralisasi fungsional desentralisasi kebudayaan. Desentralisasi. 43 Ibid. 41 . Menurutnya asas kedaerahan mengandung dua macam prinsip pemerintahan. Amrah Muslimin. Pembagian desentralisasi menurut Irawan Soejito Irawan Soejito mengatakan bahwa dekonsentrasi merupakan bagian dari desentralisasi. lihat Amrah Muslimin. Alumni.42 Pembahasan tentang pemerintahan di daerah tidak akan lepas dari asas kedaerahan dalam pemerintahan.

Penelitian ini menggunakan pengertian desentralisasi dalam arti sempit. Syafrudin mengemukakan bahwa desentralisasi dalam arti luas terdiri dari: a. hlm. zelfbestuur.. tkan bahwa desentralisasi terbagi dalam arti luas dan arti sempit. Pengertian otonomi di sini sama dengan isi dari staatkundige atau politiche decentralisatie. Ateng dari aantekemingen. b. Hubungan….45 Ateng Syafrudin. Lingkup staatkundige decentralisatie dibagi dua. Staatkundige atau Politieke decentralisatie. Bentuk dari territoriale decentralisatie adalah autonomie dan medebewind yang kadang-kadang disebut juga sebagai medebestur.. 45 Bagir Manan. Isinya adalah kewenangan membuat peraturan (regelende bevoegheid) dan kewenangan membuat keputusan atau mengurus (bestuurende bevoegheid). Pemilihan tersebut diambil sebagaimana yang digunakan oleh Bagir Manan dalam menggali gagasan-gagasan dasar pola hubungan antara Pusat dan Daerah dalam Undang-Undang Dasar 1945. Pembagian desentralisasi menurut Amrah Muslimin Sebagai Logemann. hlm. tambahan Colloge mengenai pembagian 1947 . … 44 .11 Bagan 3. Ambtelijke decentralisatie atau deconsentratie. Handsout dan Course Material Hukum Pemerintahan Daerah. 44 desentralisasi. Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. 2) fungctionele decentralisatie. Program Studi Hukum Tata negara. op. yaitu: 1) territoriale decentralisatie. 1. selfgovernment.cit.

Dengan demikian perlu dicari titik temu antara keutuhan Negara Kesatuan di satu sisi.12 Dalam kaitan ini Bagir Manan menguraikan mengenai kaitan desentralisasi. . Kegunaan Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi para Anggota Dewan Perwakilan Daerah sebagai tambahan pengetahuan mengenai hubungan pusat dan daerah. hlm.... 2. Penelitian ini menjelaskan dan menganalisa pengaturan beserta asas-asas yang berkenaan dengan hubungan antara Pemerintah Pusat dengan Daerah yang berlaku di Indonesia. op. Jenis/ Spesifikasi Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analisis. hubungan Pusat dan Daerah akan dipengaruhi oleh:46 1) Sampai sejauh manakah desentralisasi diterima sebagai cara terbaik untuk mewujudkan suatu pemerintahan yang berkedaulatan rakyat dengan partisipasi luas dari anggota masyarakat? 2) Sampai sejauh mana desentralisasi dipandang sebagai cara untuk menjamin dan mewujudkan Negara hukum? 3) Sampai sejauh mana desentralisasi dipandang sebagai cara untuk mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat? Lebih dari hal tersebut. F. yang tidak kalah penting untuk dicermati adalah bahwa pola hubungan antara Pusat dan Daerah tidak dapat terlepas dalam bingkai Negara Kesatuan. kerakyatan. 39. E.cit. Hubungan Pusat…. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan langkah-langkah penelitian untuk memperoleh data atau bahan dan analisis sebagai berikut: 1. Metode Pendekatan 46 Bagir Manan. dan Negara hukum. dan demokratisasi di sisi lain sebagai upaya mencapai tujuan bernegara yaitu kesejahteraan rakyat.

atau pendapat para pakar hukum. 52. 72. hlm. Penelitian Lapangan Lili Rasjidi dan Liza Sonia Rasjidi. hlm. Pendekatan yuridis normatif47 adalah pendekatan dengan melakukan penelitian secara mendalam terhadap hukum yang berlaku. UI-Press. PT RajaGrafindo. Menggunakan Teori dan Konsep Dalam Analisis di Bidang Ilmu Hukum.48 3. perubahanperubahan. 3) Bahan hukum tersier. 47 . Jakarta. 6. dan ensiklopedia. 2) Bahan hukum sekunder. hlm. penerbit. Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Tahun 2007. hasil-hasil penelitian. yaitu bahan yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder seperti kamus. Jakarta. 52 Amiruddin dan Zainal Asikin. 51 Ibid. yaitu bahan yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer. hlm.49 meliputi: 1) Bahan hukum primer.52 b. Monograf. Di antara cakupan dari penelitian hukum normatif tersebut. Pengantar Metode Penelitian Hukum. 50 Soerjono Soekanto. 48 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji. hlm. 2006. 31-32. seperti peraturan terdahulu. dan peraturan yang secara tidak langsung terkait. yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat. Jakarta. penelitian ini akan dilakukan terhadap asas-asas hukum. sistematika hukum. Studi Pustaka Penelitian ini dilakukan dengan penelusuran terhadap bahan-bahan hukum.51 seperti rancangan undang-undang.13 Penelitian ini menggunakan metode pendekatan yuridis normatif. dan tahun penerbitan tidak tercantum. Teknik Pengumpulan data Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut: a. Penelitian Hukum Normatif. 2006. PT RajaGrafindo Persada. 14 49 Pedoman Penyelenggaraan Program Pendidikan Sarjana (S1). kota. dan taraf sinkronisasi vertikal dan horisontal. Pengantar Penelitian Hukum.50 Bahan hukum ini meliputi antara lain Undang-Undang Dasar 1945 dan UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 beserta peraturan pelaksana.

G. 53 . hlm. Yogyakarta. 152. Citra Aditya Bakti. 2006. Alumni. Bandung. hlm. Bab-Bab Tentang Penemuan Hukum. 4. 37. selanjutnya dianalisis dengan menggunakan analisis kualitatif. Pengolahan dan Analisis Data Bahan penelitian yang telah diperoleh. yakni dengan menggunakan penafsiran hukum53 dan selanjutnya dituangkan secara deskriptif yaitu bersifat menggambarkan masalah. Alur Penelitian Penelitian hukum normatif tidak dapat terlepas dari berbagai penafsiran yang dikenal dalam ilmu hukum.14 Penelitian lapangan dilakukan untuk mendukung penelitian kepustakaan dengan cara menyelenggarakan diskusi terfokus (focused group discussion-FGD). 1993. Lihat juga Sunaryati Hartono. dalam Sudikno Mertokusumo dan Pitlo. Penelitian Hukum di Indonesia Pada Akhir Abad Ke-20.

33/2004 Hubungan Kewenangan Hubungan Kelembagaan Hubungan Keuangan UU Sektoral Hubungan Pengawasan Pembagian Urusan Pemerintahan • Pembentukan Daerah • Organisasi Perangkat Daerah Dana Perimbangan Dana Tugas Pembantuan • Pengawasan Pembentukan Perda • Pengawasan Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Negara Kesatuan Hubungan Pusat Daerah Demokrasi Negara Hukum D e s e n t r a l i s a s i Otonomi U U D 1 9 4 5 Tugas Pembantuan .15 Bagan 5.32/2004 dan pelaksanaann ya UU No. Alur Penelitian UU No.

dan metode penelitian. LL.H. S. Prof. demokrasi.H.. kegunaan penelitian. H. kerangka pemikiran. LL. M. Ali Abdurahman.H.H.H. M.H.M.. rumusan masalah.. Personalia Penelitian Ketua Wakil Sekretaris Anggota : : : DR... H.H.S. S. Miranda Risang Ayu. DR.H. M. M. dan teori desentralisasi.D. Negara Hukum. Bilal Dewansyah.H. yaitu hubungan .16 H. Sistematika Penulisan Bab I Pendahuluan Dalam Bab ini akan dikemukakan mengenai latar belakang. Tenaga Pendukung : Hernadi Affandi. DR.H.H. Bab III Deskripsi Hubungan Antara Pusat dan Daerah Dalam Bab ini akan dikemukakan mengenai pengaturan mengenai hubungan antara Pusat dan Daerah dalam empat dimensi. I Gde Pantja Astawa.. Inna Junaenah.. Rahayu Prasetianingsih. M.H. Susi Dwi Harijanti.H. S. I. tujuan penelitian. Agus Kusnadi. S... M. S. S.M. S. S. Rosjidi Ranggawidjaja.. Kuntana Magnar. Indra Perwira.M. S. LL.H... Bab II Prinsip-Prinsip Umum Pola Hubungan Pusat Dan Daerah Dalam Bab ini akan dikemukakan mengenai teori-teori umum yang mendasari penyelenggaraan pemerintahan daerah yang meliputi prinsipprinsip negara Kesatuan.H. tujuan penelitian.H.. Ph.H. S..H. S.

keuangan. Bab IV Tinjauan Dimensi-Dimensi Hubungan Antara Pusat dan Daerah Bab ini berisi analisa terhadap pengaturan dan problematika empat dimensi pola hubungan antara Pusat dan Daerah dalam perpektif prinsip-prinsip pemikiran yang mendasarinya. disertai permasalahan hubungan antara Pusat dan Daerah pada empat dimensi tersebut.17 kewenangan. dan pengawasan. kelembagaan. . yang akan disertai dengan rekomendasi sebagai gagasan-gagasan reformasi pola hubungan antara Pusat dan Daerah di masa yang akan datang. Bab V Kesimpulan dan Rekomendasi Dalam Bab ini akan digarisbawahi berbagai telaah terhadap hubungan Pusat dan daerah melalui kesimpulan.

kedaulatan rakyat.F. hlm. sementara provinsi-provinsi menerima kekuasaan dari pemerintah pusat. Konstitusi-Konstitusi Politik Modern: Studi Perbandingan tentang Sejarah dan Bentuk-Bentuk Konstitusi di Dunia. dan provinsi-provinsi tersebut tidak mempunyai hak C. 2008.18 BAB II PRINSIP-PRINSIP UMUM POLA HUBUNGAN PUSAT DAN DAERAH Pilar-pilar yang perlu diketengahkan dalam membangun pola hubungan pusat dan daerah sedikitnya dibentuk dari prinsip negara kesatuan. Kekuasaan pusat adalah kekuasaan tertinggi di atas seluruh negara tanpa ada batasan yang ditetapkan hukum yang memberikan kekuasaan khusus pada bagian-bagiannya. Dalam hal ini dapat dikemukakan pemikiran dari CF Strong mengenai deskripsi suatu negara kesatuan.54 Dikatakan bahwa negara kesatuan adalah negara yang diorganisasi di bawah satu pemerintahan pusat. 54 . kekuasaan apapun yang dimiliki berbagai distrik di dalam wilayah yang dikelola sebagai suatu keseluruhan oleh pemerintah pusat harus diselenggarakan menurut kebijakan pemerintah itu. suatu negara disebut negara kesatuan apabila kekuasaan hanya dipegang oleh pemerintah pusat. A. Dengan demikian perlu dipahami terlebih dahulu mengenai prinsip-prinsip yang terkandung dalam masing-masing dasar pemikiran tersebut untuk menghantarkan kemunculan hubungan antara pemerintah pusat dengan satuan pemerintahan yang lebih rendah. dan negara hukum. Bandung. Artinya. Sementara itu menurut Apeldoorn. yang dikutip oleh Tim Penyusun buku “Otonomi atau Federalisme”. Strong. Nusamedia. 87. Negara Kesatuan Uraian mengenai konsep negara kesatuan perlu diketengahkan untuk membedakan pembagian kekuasaan secara vetikal dengan negara berbentuk federasi. “Unitarisme” dalam pengertian politik didefinisikan dengan baik oleh Dicey sebagai “pelaksanaan kebiasaan otoritas legislatif tertinggi oleh satu kekuasaan pusat”. Cetakan Kedua.

. termasuk pada waktu melakukan realisasi rule of law. maka penyelenggaraan pemerintahan di daerah. hlm. wilayah negara menjadi semakin luas. 8-9. hlm. ditinjau dari sudut pembagian kewenangan.58 Di Inggris. African. 8. Genta Publishing. The Netheralands. terdapat dua kewenangan/urusan pemerintah yakni yang dipusatkan dan atau dipencarkan. sejak semula doktrin Rule of Law tidak dipisahkan dari doktrin supremasi parlemen. Edisi Kedua. hlm. ditinjau dari sudut pembagian yakni kewenangan. Mei 2009. Harian Suara Pembaharuan. 14. Menurut Dicey. Negara Hukum Selanjutnya pilar yang lain yang secara konsitusional diakui oleh Indonesia adalah negara hukum. Yogyakarta. 109. “… that the souvereignity of Parliament furthers the rule of the land… prevent those inroads upon the law of the land which a despotic monarch … might effects Tim Penyusun. Neumann (1986) yang dikutip oleh Satjipto Rahardjo mengatakan bahwa perkembangan negara hukum di Inggris berbeda daripada Eropa daratan. Jilid III. Research School CNWS School of Asian.. 57 Ibid. 21. 2000. Otonomi atau Federalisme. and Amerindian Studies. Yogyakarta.59 Parlemen berhak untuk melakukan apa saja. lihat pula The Liang Gie. untuk melaksanakan urusan-urusan pemerintahan pusat yang ada di daerah.57 Sementara itu setelah negara-negara di dunia mengalami perkembangan yang sedemikian pesat. law and Practice of Decentralization and Urban Planning. hlm. 1999. cetakan II. 1995. Pustaka Sinar Harapan. 59 Ibid. yaitu pelimpahan wewenang dari pemerintah pusat kepada pejabat-pejabatnya di daerah. Jakarta. Pertumbuhan Pemerintahan Daerah di Negara Republik Indonesia. Liberty.56 Dalam negaranegara dengan bentuk negara kesatuan (unitary state).19 mandiri. 55 . dampaknya terhadap Perekonomian. yang terdapat dua dan kewenangan/urusan pemerintah tersentralisasi kewenangan/urusan pemerintah yang didesentralisasikan. yang tidak netral terhadap politik. B.55 Dalam negara-negara dengan bentuk negara kesatuan (unitary state). urusan pemerintahannya menjadi semakin kompleks. 56 Nicole Niessen. Serta warga negaranya semakin banyak dan heterogen. Universitiet Leiden. Municipal Government In Indonesia Policy. hlm. 58 Satjipto Rahardjo. Negara Hukum yang Membahagiakan Rakyat.

62 Ibid.fh. 2) Equality before the law.id/old_version/CITANEGARAHUKUMINDONESIA. hlm.Doc.V. 9.20 by ordinance or decrees… “60 Selanjutnya dikatakan. Dicey untuk menandai ciri-ciri Negara Hukum modern di zaman sekarang. diunduh dari http://www.ac. Disebut sebagai penjaga malam. Keempat prinsip ‘rechtsstaat’ yang dikembangkan oleh Julius Stahl tersebut di atas pada pokoknya dapat digabungkan dengan ketiga prinsip ‘Rule of Law’ yang dikembangkan oleh A. 2) pembagian kekuasaan. 3) pemerintahan berdasarkan undang-undang. explains the absence od adiministrative law. hlm. 23 Maret 2004. with the balance between the House of Commons. makin 62 dirasakan mutlak diperlukan dalam setiap negara Negara hukum yang muncul di abad ke-sembilan belas adalah tipe negara hukum sebagai “penjaga malam” (nachtwakersstaat). pada 8/24/2009 9:38:03 AM. maka parlemen atau rakyatlah merupakan instansi tertinggi.63 Pada Ibid. Bahkan. Jimly Asshidiqie.. also strengthens the power of the judges … and finally. Cita Negara Hukum Indonesia Kontemporer.V. dan 4) Peradilan tata usaha Negara. hlm. oleh “The International Commission of Jurist”..” Jadi dalam mengartikan “the rule of law” di Inggris.cit. Menurut Julius Stahl yang dikutip oleh Jimly Asshidiqie61. “The monopoly of legislation by Parliament. op. yaitu: 1) perlindungan hak asasi manusia. yaitu: 1) Supremacy of Law. Negara Hukum …. and the king. karena dalam tipe tersebut. 26. makalah disampaikan dalam acara Orasi ilmiah Pada Wisuda Sarjana Hukum Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya Palembang. 61 60 . 1-2. konsep Negara Hukum yang disebutnya dengan istilah ‘rechtsstaat’ itu mencakup empat elemen penting. prinsipprinsip Negara Hukum itu ditambah lagi dengan prinsip peradilan bebas dan tidak memihak (independence and impartiality of judiciary) yang di zaman sekarang demokrasi. 63 Satjipto Rahardjo. Sementara itu A. dan 3) Due Process of Law.unsri. the House of Lords. tindakannya dibatasi hanya sampai kepada penjaga ketertiban dan keamanan. Dicey menguraikan adanya tiga ciri penting dalam setiap Negara Hukum yang disebutnya dengan istilah “The Rule of Law”.

maar behoorde zich daadwerkelijk de belangen van de achtergestelde groepen in die samenleving aan te trekken. Perubahan tersebut. Ini menimbulkan konsep “negara kesejahteraan” (welfare state). yaitu campur tangan negara ke dalam masyarakat.21 perkembangannya negara tidak dapat lagi bersikap netral dan membiarkan individu-individu atau masyarakat menyelesaikan sendiri-sendiri problemproblem tersebut.64 Kembali kepada pembicaraan mengenai rule of law. Wade yang dikutip oleh Munir Fuadi65 berpendapat bahwa implikasi dari penerapan konsep tersebut dalam suatu negara akan mengarahkan para penyelenggara negara ke dalam prinsip-prinsip dan otoritas sebagaai berikut: 64 65 Ibid. negara hanya bertindak sesekali dan sebagai pelengkap (incidenteel en aanvullend). Refika Aditama. 2009. keterbukaan dan penggugatan (de Haan. hlm. Robson. sangat mengubah pekerjaan-pekerjaan yang biasa dilakukan oleh hukum administrasi tradisional. Tetapi sekarang negara harus memasuki aktivitas yang lebih luas. dan kepemilikan (eigendom) negara. Dalam hukum administrasi tradisional. Naast de traditionele overheidstaken vroegen nieuwe terreinen om ordening en verzorging van staatswege”). kelahiran konsep negara kesejahteraan didahului oleh rentetan ide-ide panjang.. Munir Fuady. dan fraternity” (revolusi Perancis) dan “The greates happiness for the greatest number” (Bentham). seperti pembuatan undang-undang dan pembuatan undang-undang semu (pseudo). perencanaan. Menurut William A. 27. Teori Negara Hukum Modern (Rechtsstaat). Bandung. de door het industriele kapitalisme veranderde samenleving ongemoeid laten. 9 . perjanjian. Dalam hukum administrasi tradisional. 1978). Satjipto kemudian mengutip dari de Haan et al (1978) bahwa menyerahkan penyelesaian kepada mekanisme pasar sosial akan menempatkan golongan lapisan bawah (the have not) dalam masyarakat sebagai pihak yang sangat menderita (“De staat mocht niet langer. equality. di antaranya adalah ”liberty. hlm. door als neutral toeschouwer op te stellen.

warga lingkungan hidup. law enforcement yang baik. 81. 79. baik yang bersifat substantif. Kedua. Keempat. transparan. Kelima. Jika ada dispute. . badan yudikatiflah yang yang harus memutuskannya. sistem pemerintahan yang dapat menciptakan masyarakat yang cerdas dan egaliter. parlemen.22 1.66 3. Fuady menunjukkan hal tersebut melalui beberapa faktor utama yang berpengaruh satu sama lain dalam menerapkan 67 prinsip good governance ke dalam suatu pemerintahan. Ibid. hlm. maupun secara prosedural. 2. pengadilan. yakni seperangkat mekanisme yang secara langsung mendukung upaya penegakan aturann hukum. sistem pemerintahan yang kondusif terhadap 66 67 Ibid. pers. Pelaksanaan konsep rule of law lebih menghendaki adanya suasana penghormatan kepada “hukum dan ketertiban” (law and order). Ketiga. Lebih lanjut mengenai pelaksanaan rule of law dalam penyelenggaraan pemerintahan. sehingga hasilnya dapat menguatkan atau menyatakan batal. Mengenai peran badan peradilan ini. Penyelenggaraan kewenangan oleh penyelenggaran negara haruslah selalu sesuai dengan hukum yang berlaku. dengan jalan menerapkan atau menafsirkan ketentuan dan semangat dari konstitusi. dapat ditambahkan bahwa konsep ini tidak dapat dipisahkan dengan konsep good governance. muncul pranata hukum yang disebut judicial review. dan berwawasan hak asasi manusia. jujur.. dalam rangka untuk menjaga tertib hukum dengan melihat konsistensinya terhadap konsitusi. aturan hukum yang baik. hlm. terkait Pertama. Munir Fuady menjelaskan lebih jauh pranata ini sebagai lembaga khusus untuk melakukan penunjauan ulang. serta para stakeholders lainnya. Badan-badan politik (terutama parlemen) menentukan rincian mekanisme rule of law. pemerintah. accountable. sistem pemerintahan yang efektif. yakni seperangkat aturan masyarakat. menambah atau mengurangi terhadap suatu tindakan berbuat atau tidak berbuat dari aparat pemerintah (eksekutif) atau dari pihak-pihak lainnya (termasuk parlemen).. efisien.

80.70 Istilah demokrasi71 telah Ibid. Dari penelusuran sementara yang berkaitan dengan demokrasi. Strong diartikan secara beragam.. C. Namun di dunia kontemporer. dari 83 UUD negara-negara yang diperbandingkannya terdapat 74 negara yang konstitusinya secara resmi menganut prinsip kedaulatan rakyat (90%). Peaslee pada tahun 1950. hlm. hlm. Demokrasi Istilah demokrasi menurut C.23 pertumbuhan ekonomi dan pemerataan. program politik partai.F. 17. ekspresi persetujuan maupun ketidaksetujuan rakyat sudah harus memiliki sarana penyaluran yang nyata dalam pemilihan umum. artinya. mekanisme pengambilan keputusan serta demokrasi ekonomi. “demos” berarti rakyat dan “kratia” berarti pemerintahan.Strong. Di sinilah letak keterkaitannya dengan demokrasi politik yang mengisyaratkan pemerintah harus bergantung pada persetujuan pihak yang diperintah. ketika nasionalisme menjadi dasar bagi demokrasi politik maka pemerintahan politik yang demokratis menjadi instrumen kemajuan sosial. 71 Demokrasi berasal dari kata “demokratia”. Melalui penelitian yang dilakukan oleh Amos J.69 Terkadang digunakan untuk menyebut suatu bentuk pemerintahan dan terkadang dikonotasikan dengan kondisi suatu masyarakat. Instrumen mekanisme pemerintahan Demokrasi sebagai bentuk penyelenggaraan negara telah dipraktekan hampir di setiap negara.cit. Demikian juga sebaliknya bahwa pelaksanaan prinsip negara hukum yang baik harus selalu memperhatikan dan melaksanakan prinsip good governance. 1. op. Dengan gambaran tersebut Fuady hendak menegaskan bahwa pelaksanaan tata kelola pemerintahan yang baik harus mengindahkan prinsip-prinsip negara hukum. 70 Jimly Asshiddiqie. 2005.F. dan lain-lain. Konstitusi Dan Konstitusionalisme Indonesia. hlm. 140. Konstitusi-Konstitusi …. Jakarta. sedikitnya dapat dikemukakan bahwa demokrasi diterapkan dalam dimensidimensi instrumen mekanisme pemerintahan. Konstitusi Press.68 C. media massa. 69 68 .

Bandung.24 menjadi bahasa umum yang digunakan oleh negara-negara untuk menunjukan suatu bentuk penyelenggaraan negara yang dianggap ideal. hlm 70.73 Dari pengertian tersebut dapat menunjukan demokrasi sebagai instrumen mekanisme pemerintahan. perkembangan diri manusia dan perlindungan terhadap nilai (harkat dan martabat) kemanusiaan. pemerintahan dari rakyat. dalam penjelasan Eddy Purnama. oleh rakyat dan untuk rakyat. Dalam hubungannya dengan cita-cita.Hak Angket Dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia Menurut UUD 1945. hlm. “Pemerintahan dari rakyat yaitu mereka yang duduk sebagai penyelenggara negara atau pemerintahan harus terdiri dari seluruh rakyat itu sendiri atau yang disetujui dan didukung oleh rakyat. demokrasi hanyalah sarana. hlm.74 Demokrasi sebagai instrumen mekanisme pemerintahan.”72 Dalam perkembangan istilah demokrasi kemudian ada yang disebut “participatory democracy”. Op Cit. Paham kedaulatan rakyat sebagai embrio demokrasi. oleh rakyat dan bersama rakyat. 72 . 75 Eddy Purnama.75 Berdasarkan kenyataan demikian. Faktor luas wilayah dari suatu negara dan besaran jumlah penduduk serta pertambahan kerumitan masalah kenegaraan merupakan argumen bahwa demokrasi langsung (direct democracy) tidak mungkin untuk dilaksanakan. Universitas Padjadjaran Bandung. Kedaulatan Rakyat. -bukan tujuan. Nusamedia. mengantarkan pengertian demokrasi yaitu. “Participatory democracy” menambahkan kata “bersama” sehingga dari rakyat. untuk rakyat. Disertasi. and seeks to broaden the range of people who have access to such opportunities…http://en. Oleh rakyat maksudnya bahwa penyelenggara negara atau pemerintahan dilakukan sendiri oleh rakyat atau atas nama rakyat yang mewakili sedangkan untuk rakyat maksudnya pemerintahan dijalankan atau berjalan sesuai dengan kehendak rakyat. 2007.org/wiki/Participatory_democracy diunduh tanggal 27 Agustus 2009 74 I Gde Pantja Astawa. I Gde Pantja Astawa. 73 Participatory democracy strives to create opportunities for all members of a political group to make meaningful contributions to decision-making.wikipedia.untuk mencapai persamaan (equality) secara politik yang mencakup tiga tujuan utama : kebebasan manusia (secara individu dan kolektif). 66. dalam perkembangannya sulit dilaksanakan jika secara langsung. 10. 1999.

.. Miriam Budiarjo. PT.76 Hal semacam ini lazim dinamakan demokrasi perwakilan (representative democracy). hlm 61. 77 76 . 81 I Gde Pantja Astawa. by representatives subject to effective popular control at Ibid. Jakarta.cit. Dasar-Dasar Ilmu Politik. 419. Op Cit. Mekanisme pengambilan keputusan Ide kedaulatan rakyat yang tercermin dalam demokrasi juga meliputi proses pengambilan keputusan baik di bidang legislatif maupun di bidang eksekutif. PT.78 akomodasi seluruh aspirasi rakyat jauh lebih berguna dari unsur di dalam masyarakat harus terwakili di dalam sistem Menurut International Commision of Jurist. This. both ideals individual rights and equality pen find their highest fulfillment and justification in the citizen’s right to participation in government.25 muncullah yang dikenal sebagai demokrasi tidak langsung (indirect democracy). hlm. yang pelaksanaan kedaulatan rakyatnya tidak dilaksanakan oleh rakyat secara langsung melainkan melalui lembaga perwakilan rakyat. in modern states. hlm. hlm. hlm. Jakarta. penetapan. London. op. Legal Theory. 1993.80 2. Steven Sons. Majo : ”A democratic political system is one in which public policies are made on majority basis. 1967.. Gramedia Pustaka Utama. hingga ke pengawasan. Cetakan kelima belas. 80 In Modern democracy. 78 Eddy Purnama. 75. means representative government through elected deputies” Wolfgang Friedmann. the Government of the People.79 Demokrasi perwakilan menjadi alternatif terbaik demi tercapainya Representative Government. Hal ini diperjelas dalam pengertianpengertian demokrasi yang dikemukakan oleh beberapa ahli berikut :81 Henry B. hlm 61.. Dasar-Dasar Ilmu Politik. 284. Rakyat berdaulat terhadap produk hukum mulai dari perencanaan. 77 Dalam rangka mewujudkan prinsip kedaulatan rakyat. 79 Miriam Budiarjo. Gramedia Pustaka Utama. perwakilan. 1993. sistem politik demokratis (demokrasi perwakilan) adalah suatu bentuk pemerintahan di mana hak untuk membuat keputusan-keputusan politik diselenggarakan oleh warga negara melalui wakil-wakil yang dipilih oleh mereka dan yang bertanggungjawab kepada mereka melalui suatu proses pemilihan yang bebas. 11. Kedaulatan . Cetakan kelima belas.

merupakan perpaduan antara dua konsepsi yaitu paham permusyawaratan yang bersumber dari ajaran Islam. Demokrasi ekonomi 82 CF Strong. op.” CF Strong : “a system of government in which the majority of the rule grown members of political community participate through a method of representation which secures that the government is ultimately responsible for its actions to that majority. Yamin berpandangan bahwa permusyawaratan untuk mencapai mufakat.”82 Dalam paham kedaulatan rakyat yang berdaulat dari segi politik bukanlah person rakyat itu sendiri. Oleh karena itu. melainkan proses kehidupan kenegaraan sebagai keseluruhan.. 84 I Gde Pantja Astawa.” Arthur Lewis “all who are affected by a decision should have the chanc to participate in making that decision. Op Cit.84 Musyawarah dilakukan untuk menampung dan memperhatikan semua ide atau pandangan yang ada dan permufakatan menjadi output dari apa yang telah dimusyawarahkan. hlm. London. either directly or through chosen representative. instrumen pengambilan keputusan yang khas diberlakukan adalah melalui musyawarah mufakat.13 83 Jimly Asshiddiqie. 3. 1960. Sidgwick & Jackson Limited. hlm. Di Indonesia sendiri.. sedangkan mufakat bersumber dari tatanan asli Indonesia.cit. Modern Political Constitution. demokrasi dapat juga dikatakan sebagai instrumen pengambilan keputusan. 148.. Konstitusi .83 Proses kehidupan kenegaraan ini termasuk di dalamnya adalah proses pengambilan keputusan. Proses pengambilan keputusan yang demokratis model Indonesia ini disebutkan dengan jelas dalam sila ke – 4 Pancasila.26 periodic election which are conducted on the pinciple of politcal equality and under condition of political freedom. hlm. .86.

Op Cit.. dalam Miriam Budiardjo (ed). Masalah Kenegaraan. Jimly Asshiddiqie. 86 85 . Konstitusi . Lebih jelas lagi Hatta berpendapat bahwa kekurangan demokrasi liberal di Barat adalah karena terlalu dominannya prinsip individualisme. Ke Arah Indonesia Merdeka.-disemua negeri modern itu rakjat tidak selamat.html diunduh tanggal 27 Agustus 2009. Demikian yang pengertian demokrasi dari Bung Karno yang tidak sepakat dengan demorkrasi ala barat yang liberal dan didasarkan pada kapitalisme. http://www.cit. 147. sehingga negara memegang peranan penting dalam menyejahterakan rakyatnya. “Disemua negeri modern itu adalah “demokrasi”.. Rapat ialah tempat rakyat atau utusan rakyat bermusyawarah dan mufakat tentang segala urusan yang bersangkutan dengan persekutuan hidup dan keperluan bersama. upah dan nasib kaum buruh adalah upah dan nasib kokoro.” Tabloid Fikiran Ra’jat. 1980.. bahkan sengsara sesengsara-sengsara nja. Gramedia. op. Demokrasi yang demikian ini menurut Bung Karno adalah Demokrasi sosial yang terdiri dari Demokrasi politik ditambah dengan Demokrasi ekonomi.87 Demokrasi asli yang ada di desa-desa di Indonesia mempunyai tiga sifat yang utama.27 Demokrasi sebagai instrumen mekanisme pemerintahan dan instrumen pengambilan keputusan merupakan penjabaran dari demokrasi yang bersifat politik. Kekuasaan bidang politik dan ekonomi dapat dibedakan satu sama lain namun sesungguhnya mempunyai hubungan fungsional yang erat satu sama lain.com/9511217.disemua negeri modern itu kapitalisme subur dan meradjalela! Disemua negeri itu kaum proletar ditindas hidupnja. Inikah hasilnja “demokrasi” jang dikeramatkan orang?. 18 dan 19 (edisi 4 November).86 Kedaulatan rakyat tidak hanya di bidang politik namun juga di bidang ekonomi..88 Selengkapnya Hatta mengatakan bahwa tiga sifat utama tersebut adalah: Pertama: cita-cita rapat yang hidup dalam sanubari rakyat Indonesia dari zaman dahulu sampai sekarang. hlm.. sehingga politik hanya berlaku secara politik saja. Tetapi. yang harus dipakai sebagai sendi Perumahan Indonesia Merdeka”.Disemua negeri modern itu kini hidup miljunan kaum penganggur. hlm 42. No. 80.85 Demokrasi politik harus menjamin setiap individu agar memperoleh akses sama dalam setiap kegiatan ekonomi. tahun 1932. Di sini tampak dasar demokrasi. hlm. 88 Mohammad Hatta.. 87 I Gde Pantja Astawa.opensubscriber. Jakarta.com/message/mediacare@yahoogroups. pemerintahan rakyat.

Muhammad Hatta mengingatkan bahwa masyarakat asli Indonesia mempunyai sifat dasar dalam segala hal mengenai kepentingan hidup bersama. 90 89 . 69. 66. Hak ini besar artinya terhadap kepada pemerintahan despotisme atau autokrasi yang tersusun di atas pundak desa-demokrasi. sepeti sifat hak ulayat atas tanah bukan negeri seumumnya yang berhak melainkan desa. hlm. kalau tidak ada hak rakyat untuk mengadakan protes bersama. Sanubari rakyat Indonesia penuh dengan rasa-bersama. Segaarsy. Bandung. Hukum Pemerintahan Daerah. 70. Dan demokrasi tidak dapat berlaku. hlm. Bandung. 92 Ibid. namun menurut Hatta asas kolektivisme yang dimaksudkannya bukanlah kolektivisme yang berdasar sentralisasi (satu pimpinan dari atas). 93 Ni’matul Huda. kolektiviteit.90 Dalam pemikiran mengenai bagaimana demokrasi bagi Indonesia. Di atas sendi yang ketiga dapat didirikan tonggak demokrasi ekonomi. 91 Mohammad Hatta. yaitu hak rakyat untuk membantah dengan cara umum segala peraturan negeri yang dipandang tidak adil.89 Walaupun menolak individualisme pada Demokrasi Barat. melainkan desentralisasi yaitu tiap-tiap bagian berhak menentukan nasibnya sendiri.92 Dihubungkan dengan desentralisasi. Sifat kedua yaitu tolong menolong dan gotong royong adalah sendi yang bagus untuk menegakkan demokrasi ekonomi. hlm. hlm 42-43. Ketiga: cita-cita tolong menolong. I Gde Pantja Astawa. Pikiran-Pikiran tentang Demokrasi dan Kedaulatan Rakyat. 2009.93Demokrasi yang lazim pula disebut dengan Ibid. Di atas sendi yang pertama dan kedua dapat didirikan tiang-tiang politik daripada demokrasi yang sebenarnya: satu pemerintahan negeri yang dilakukan oleh rakyat dengan perantaraan wakil-wakilnya atau Badan-badan Perwakilan. 2009. Nusamedia.91 Sifat pertama. yaitu mengambil keputusan secara mufakat dengan musyawarah. hlm. cetakan kedua. 84. Dalam hak ini tercantum hak rakyat untuk merdeka bergerak dan merdeka berkumpul. Demokrasi Kita.28 Kedua: cita-cita massa-protest. Ni’matul Huda mengatakannya sebagai mendemokratisasi sistem politik dan menyelaraskan pencapaian pembangunan berkelanjutan yang merupakan isu yang selalu ada dalam praktik administrasi publik. adalah dasar dari demokrasi politik. Op Cit.

cit. desentralisasi dan sistem rumah tangga daerah. 98 Ibid. Bandung. hlm. 100 RDH Koesoemahatmadja. Visimedia. sehingga dalam pelaksanaan tugasnya pemerintah harus berpegang pada kehendak rakyat. hlm. hlm 11. Kajian Teori Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Dalam upaya memahami hubungan kewenangan antara pusat dan daerah akan digunakan dua teori yakni. 99 Ibid..94 Sejalan dengan perputaran waktu. melainkan suatu proses. op. hlm.96 D. atau pejabat’.99 Koesoemahatmadja menguraikan bahwa desentralisasi terbagi dua. Binacipta.. desentralisasi hanya mencakup pemencaran kekuasaan di bidang otonomi. jabatan. yaitu ambtelijke decentralisati/deconsentratie (dekonsentrasi) dan staatkundige decentralisatie (desentralisasi ketatanegaraan). 96 Jean Jacques Rousseau. 113.29 kedaulatan rakyat memandang bahwa kekuasaan itu berasal dari rakyat. 1979..95 Dengan demikian menjadi sejalan dengan apa yang dicatat oleh Rousseau bahwa jika kita menempatkan istilah ini dalam pemahaman yang kaku. 1.97 Lebih lanjut Bagir Manan berpendapat bahwa desentralisasi bukan merupakan asas penyelenggaraan pemerintahan daerah. tidak pernah ada demokrasi yang nyata dan tidak akan pernah ada demokrasi. Jakarta.98 Dalam kaitan dengan pemerintahan otonom. hlm 10. hlm 10. 2007. 10 Ibid.. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah. Pusat Studi Hukum Fakultas Hukum UII. konsep demokrasi juga mencari bentuk yang sesuai dengan situasi dan kondisi dari masyarakat modern.. Kedaulatan . 97 Bagir Manan. Du Contract Social (Perjanjian Sosial). Desentralisasi Bagir Manan menjelaskan bahwa secara umum desentralisasi merupakan ‘bentuk atau tindakan memencarkan kekuasaan atau wewenang dari suatu organisasi. Yogyakarta.15 95 94 . Pengantar Ke Arah Sistim Pemerintahan Daerah Di Indonesia.100 Sementara desentralisasi ketatanegaraan yang merupakan penyerahan kekuasaaan Eddy Purnama. 2001.

baik otonomi maupun tugas pembantuan.. sebagaimana dikutip oleh Bagir Manan. juga terbagi dua yakni. op. Pemikiran di atas memberi pengertian bahwa tugas pembantuan merupakan salah satu bentuk dari desentralisasi. Selanjutnya dikatakan bahwa terdapat dua 101 102 Bagir Manan. 103 Bagir Manan. Desentralisasi teritorial mencakup autonomie (otonomi) dan medebewind atau zelfbestuur (tugas pembantuan). Menempatkan kedudukan yang sejajar antar desentralisasi dan tugas pembantuan sebagai asas-asas yang terpisah merupakan suatu yang keliru.. Bentuk desentralisasi itu dibedakan antara otonomi dan tugas pembantuan. Irawan Soejito. keduanya masuk dalam lingkup desentralisasi. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah. op. 2001.cit. Yogyakarta.30 perundang-undangan dan pemerintahan (regelende en besturende bevoegheid) kepada daerah otonom. Van Der Pot..101 Mengenai desentralisasi. yang terdiri atas desentralisasi teritorial. desentralisasi teritorial (territoriale decentralisatie) dan desentralisasi fungsional (functionele decentralisatie). Hubungan . Badan-badan otonom ini dibedakan antara desentralisasi desentralisasi berdasarkan fungsional teritorial (territoriale decentralisatie) dan (functionaeele decentralisatie).102 Pelaksanaan pemerintahan dilakukan baik oleh pusat maupun berbagai badan otonom. bahwa desentralisasi adalah otonomi. desentralisasi 103 fungsional dan desentralisasi administratif (dekonsentrasi).cit... Pusat Studi Hukum Fakultas Hukum UII. Otonomi merupakan salah satu bentuk desentralisasi. Demikian pula. Hubungan . . tidak semua peraturan dan penyelenggaraaan pemerintahan dilakukan dari pusat (central). sebagaimana dikutip oleh Bagir Manan. Van der Pot mengemukakan. hlm 21. hlm 10. tetapi otonomi tidak sama dengan desentralisasi. sedangkan desentralisasi fungsional menjelma dalam bentuk badan-badan yang didasarkan pada tujuan-tujuan tertentu. Bagir Manan. membagi desentralisasi menjadi desentralisasi teritorial yang menjelma dalam bentuk badan yang didasarkan pada wilayah. Dengan perkataan lain.. menjelaskan penggolongan desentralisasi yang agak berbeda.

yang dipilih oleh rakyat dalam daerah-daerah tertentu”. Aspek.. Menurutnya desentralisasi terbagi ke dalam tiga golongan.. dan lain-lain). Aspek-aspek Hukum Otonomi Daerah. Bagir Manan berpendapat bahwa desentralisasi pada prinsipnya merupakan bentuk dari susunan organisasi negara dan pemberian atau pengakuan hak minoritas untuk mengatur dan mengurus soal agama dan pendidikan di kalangan mereka sendiri lebih tampak sebagai perwujudan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia daripada 104 105 Ibid. Amrah Muslimin mengartikan: “memberikan hak pada golongan-golongan kecil dalam masyarakat (minoritas) menyelenggarakan kebudayaannya sendiri (mengatur pendidikan. 107 Bagir Manan. Alumni. agama.105 Desentralisasi politik adalah “pelimpahan kewenangan dari Pemerintah Pusat. hlm 5. op. merupakan 104 pelunakan sentralisasi menuju ke arah Ahli lain yang melakukan penggolongan desentralisasi adalah Amrah Muslimin. desentralisasi fungsional dan desentralisasi kebudayaan..106 Menurut Bagir Manan pengertian desentralisasi politik tersebut sama dengan desentralisasi teritorial karena faktor ‘daerah’ menjadi salah satu unsurnya.cit. yang menimbulkan hak mengurus kepentingan rumah tangga sendiri bagi badan-badan politik di daerah-daerah. hlm 5-6.. hlm 22. Amrah Muslimin.cit. Bandung. hlm 21-22.. Pandangan pertama mengatakan bahwa dekonsentrasi sebagai salah satu bentuk desentralisasi sedangkan pandangan kedua beranggapan bahwa dekonsentrasi desentralisasi... op.. . yaitu desentralisasi politik.. 106 Ibid.108 Terhadap pendapat Amrah Muslimin mengenai desentralisasi kebudayaan di atas. Dalam kebanyakan Negara kewenangan ini diberikan pada kedutaan-kedutaan asing demi pendidikan warga negara masing-masing negara dari keduataan yang bersangkutan”. 1986. Hubungan .107 Mengenai desentralisasi kebudayaan. 108 Amrah Muslimin.31 pandangan mengenai hubungan antara desentralisasi dan dekonsentrasi.

Investasi.. Hubungan Antara…. pemerintahan daerah harus memiliki sumber keuangan sendiri untuk dapat menyelenggarakan rumah tangganya secara mandiri. UI-Press.. Gerge Allen Unwin. Jakarta. berkonsekuensi terhadap pembiayaan penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah oleh pemerintahan daerah. London. Dalam perspektif ilmu ekonomi. Ibid.C..111 Hal yang sama juga dikatakan oleh Bagir Manan bahwa hak mengatur dan mengurus rumah tangga sendiri menyiratkan pula makna membelanjai diri sendiri. Smith bahwa it is obvious that the exercise of governmental powers at the subnational level entails expenditure by subnational governments.2002.. Keuangan Daerah. khususnya otonomi. desentralisasi fiskal diartikan dalam ukuran – 109 110 Bagir Manan. dan Desentralisasi. baik secara administrasi dan pemanfaatannya diatur atau dilakukan oleh pemerintah pusat114.109 Lebih lanjut dikatakan bahwa pemberian hak kepada kedutaan juga tidak dapat dikategorikan sebagai desentralisasi karena kedutaan bukan bagian dari susunan organisasi di mana kedutaan itu berada. Decentralization The Territorial Dimension of The State.C. Jakarta. hlm vii 114 Bachrul Elmi.110 Desentralisasi teritorial. hlm 26. ada yang mengartikan desentralisasi fiskal lebih luas dari sekedar pelimpahan kewenangan di bidang penerimaan.. Bahcrul Elmi mengatakan bahwa desentralisasi fiskal dapat diartikan sebagai pelimpahan kewenangan di bidang penerimaan yang sebelumnya tersentralisasi. op. 112 Bagir Manan.32 sebagai bagian susunan organisasi negara. Konsekuensi desentralisasi pada pembiayaan urusan pemerintahan daerah pada hakikatnya adalah desentralisasi di bidang keuangan atau desentralisasi fiskal.op.. 99. 113 Pheni Chalid.112 Begitu pula dengan Pheni Chalid yang berpendapat bahwa desentralisasi kewenangan pengelolaan pemerintahan berarti beban pembiayaan harus ditanggung sepenuhnya oleh pemerintahan daerah. hlm. Hubungan . . 1985. Namun demikian. Seperti dikatakan oleh B.113 Artinya. 2005.cit. 204. 111 B.cit. Keuangan Pemerintah Daerah Otonom di Indonesia. Kemitraan. Smith. hlm.

2003. misalnya Oates (1993) mengatakan bahwa peningkatan efisiensi ekonomi merupakan dasar ekonomis dari desentralisasi.116 Efisiensi dari aspek konsumen didefinisikan sebagai keuntungan yang didapatkan oleh konsumen dari kebijakan pengeluaran/belanja (negara) yang sesuai dengan preferensi pembayar pajak. berhubungan dengan adanya kewenangan daerah atas sumber-sumber penerimaan daerah digunakan untuk membiayai pengeluaran/ belanja sesuai dengan kewenangan daerah. namun juga pada aspek pengeluaran.. dari “structural efficiency model“ yang menekankan efisiensi dan 115 . Atlanta. dikatakan oleh Joko mengutip pendapat Benyamin Hoesein bahwa “Pola pengaturan hubungan antara Pusat dan Daerah yang semula bersifat sentralistik di masa Orde Baru yang diterjemahkan melalui Undang – Undang No 5 tahun 1974.hlm.Undang No 22 tahun 1999 serta Undang – Undang No 25 tahun 1999. 13. 116 Ibid. 118 Misalnya. A Study of The Relationship Between Fiscal Decentralization and The Composition of Public Expenditures.115 Teori keuangan negara melekatkan desentralisasi dalam rangka mencapai efisiensi pada dua pelaku: konsumen dan produsen. Persoalan desentralisasi fiskal terutama dari aspek ekonomi selalu dikaitkan dengan persoalan efisiensi. dimanifestasikan melalui dasar hukum Undang . Departement of Economic Andrew Young School of Policy Studies. Georgia State University. 14. jika tujuan desentralisasi fiskal adalah hanya efisiensi. 25 Tahun 1999). sepeti dikatakan oleh Bagir Manan bahwa Francisco Javier Arze del Granado. atau ketika sejumlah barang dan jasa dapat dihasikan dengan biaya yang lebih rendah. maka hal tersebut dapat dilakukan dengan skema hubungan pusat daerah yang sentralistik. efisiensi dari aspek produsen didefinisikan sebagai keuntungan ekstra yang didapatkan ketika sejumlah pengeluaran yang sama dapat menghasilkan barang dan jasa dengan kuantitas yang besar atau kualitas yang lebih baik. Sementara itu.33 ukuran keuangan seperti expenditure (pengeluaran/belanja) atau revenue (penerimaan/pendapatan). 117 Ibid. untuk kasus Indonesia dalam fase awal desentralisasi fiskal (2001-masa efektif pemberlakuan UU No. hlm. Pengertian desentralisasi fiskal yang tidak hanya pada aspek penerimaan. 22 Tahun 1999 dan UU No. Besaran perubahan yang dikehendaki dalam reformasi tersebut dapat disimak dari pergeseran sejumlah model dan paradigma pemerintahan daerah.118 Padahal.117 Persoalannya. telah dirubah dalam suatu pola hubungan yang lebih bersifat desentralisasi. Disertasi.

bahwa: ”Menurut dasar kedaulatan rakyat.. di daerah. mempunyai hak untuk menentukan nasib sendiri melainkan juga tiap-tiap bagian dari negeri atau bagian dari rakyat yang banyak. op. hak rakyat untuk menentukan nasibnya tidak hanya ada pada pucuk pemerintahan negeri. op.121 Artinya.120 Dalam konteks desentralisasi fiskal. UK-USA. 122 Ibid. hlm. 442. Menyongsong Fajar…. bahwa ”as a working definition. Renata R Simatupang. hlm. 2008. bahwa : ”. bukan saja persekutuan yang besar. “ Potret PAD Dan Relevansinya Terhadap Kemandirian Daerah”. karena otonomilah ujung tombak usaha mewujudkan kesejahteraan tersebut.. Hubungan Antara…. fiscal decentralization as ”the empowerment of people by fiscal empowerment of their local govenment” (pemberdayaan masyarakat melalui pemberdayaan fiskal dari pemerintah daerahnya). 121 Roy Bahl dalam Jameson Boex.fiskal.go. 29.. karena keperluan tiap-tiao tempat dalam satu negeri tidak sama. . Diunduh pada tanggal 20 Agustus 2009.. Hatta. melainkan juga pada tiap tempat. penerimaan otonomi di bidang keuangan (sebagian sumber penerimaan) keseragaman pemerintahan lokal dirubah menjadi “local democracy model“ dengan penekanan pada nilai-nilai demokrasi dan keberagaman di dalam penyelenggaraan pemerintahan lokal”. melainkan berlainan”. tanpa tahun. pendapat di atas sejalan dengan pendapat Roy Bahl yang mengatakan. Seperti dikatakan oleh Moh. 4.119 Otonomi juga berkaitan dengan gagasan demokrasi di mana masyarakat daerah berhak untuk berpartisipasi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerahnya.. hlm.cit.. 119 Bagir Manan. di desa.34 hakikat dari otonomi yang merupakan wujud desentralisasi adalah kemandirian walaupun bukan suatu bentuk kebebasan sebuah satuan yang merdeka. efisiensi dalam rangka peningkatan kesejahteraan rakyat dalam sistem desentralisasi. makalah. rakyat semuanya.id/webbkf/kajian%5CPAD. “Fiscal Decentralisation and Empowerment: Evolving Concepts and Alternative Measures” Journal Compilation Institute of Fiscal Studies Vol. (cetak tebal oleh Tim Peneliti).depkeu. 33. 120 Bagir Manan. 1. Blackwell Publishing Ltd. di kota. 26. No.cit.122 Hal ini sejalan dengan pendapat Bahcrul Elmi. hlm. Joko Tri Haryanto. Keadaan yang seperti itu penting sekali.jadi. hanya memungkinkan jika terdapat kebebasan berotonomi. http://www.pdf.salah satu makna dari desentralisasi fiskal dalam bentuk otonomi. Jakarta.

35

kepada daerah-daerah merupakan suatu proses mengintensifkan peranan dan sekaligus pemberdayaan daerah dalam pembangunan.123

Desentralisasi fiskal dapat menjadi salah satu ukuran keberhasilan otonomi. Pola dan ukuran dalam desentralisasi fiskal akan mencerminkan derajat otonomi yang dimiliki daerah. Hal ini sejalan dengan pendapat Bird (1986), bahwa: ”...a decentralization measure is the autonomy or power of decision making of regional government. In this context, a fiscal decentralization measure should be able to quantify the amount of independent decesion - making power (or discretion) in the provision of public services at different level of government”.124 Dari berbagai pendapat para ahli di atas mengenai desentralisasi, dapat disimpulkan beberapa hal. Pertama, pengertian desentralisasi yang agak sempit sebagaimana dikemukakan oleh Van Der Pot yang hanya mengklasifikasikan desentralisasi menjadi dua jenis yakni desentralisasi teritorial dan desentralisasi fungsional. Koesoemahatmadja juga termasuk dalam kategori yang membagi desentralisasi agak sempit karena

menurutnya desentralisasi terbagi atas dekonsentrasi dan desentralisasi ketatanegaraan. Kedua, pengertian desentralisasi yang lebih luas dari kategorisasi yang disampaikan oleh Van Der Pot dan Koesoemahatmadja. Dalam kategori kedua ini dijumpai pembagian desentralisasi yang

disampaikan oleh Amrah Muslimin dan Irawan Soejito. Selain desentralisasi teritorial dan fungsional, juga terdapat desentralisasi administratif atau dekonsentrasi. Amrah Muslimin selain membagi kedalam desentralisasi teritorial dan fungsional juga memasukkan desentralisasi kebudayaan. Berbeda dengan kedua ahli lainnya, Amrah Muslimin tidak memasukkan

123

Ibid.

Francisco Javier Arze del Granado, A Study of The Relationship Between Fiscal Decentralization and The Composition of Public Expenditures, Disertasi, Departement of Economic Andrew Young School of Policy Studies, Georgia State University, Atlanta, 2003, hlm.`12.

124

36

dekonsentrasi sebagai salah satu bentuk desentralisasi. Ketiga, pengertian desentralisasi yang lebih sempit dari yang dijelaskan oleh para ahli di atas yakni pengertian desentralisasi menurut UU No. 32 Tahun 2004. Pasal 1 angka 7 menyatakan bahwa desentralisasi adalah “penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Dengan demikian, terlepas dari perdebatan mengenai apakah suatu jenis desentralisasi termasuk pengertian desentralisasi atau bukan, berbagai penggolongan desentralisasi yang disebut-sebut oleh sejumlah ahli tersebut dapat muncul 1) desentralisasi teritorial, 2) desentralisasi fungsional, 3) desentralisasi kebudayaan, dan 4) desentralisasi fiskal. Pertama,

desentralisasi teritorial menjelma dalam bentuk badan yang didasarkan pada wilayah. Kedua, desentralisasi Fungsional125 adalah pemberian hak dan kewenangan pada golongan-golongan mengurus suatu macam atau golongan kepentingan dalam masyarakat, baik terikat maupun tidak pada suatu daerah tertentu,seperti mengurus kepentinganirigasi bagi golongan tani dalam suatu atau beberapa daerah tertentu (waterschap; Subak Bali). Ketiga, desentralisasi hak pada kebudayaan (culturele decentralisatie), dalam sendiri fiskal yaitu

memberikan (minoritas) pendidikan,

golongan-golongan

kecil

masyarakat (mengatur berwujud

menyelenggarakan agama, dll).

kebudayaannya

Keempat,

desentralisasi

perimbangan keuangan antara pusat dan daerah.

2. Sistem Rumah Tangga Daerah Sistem rumah tangga merupakan tatanan yang berkaitan dengan cara-cara membagi wewenang, tugas dan tanggung jawab mengatur dan mengurus urusan pemerintahan antara pusat dan daerah.126 Atas dasar tersebut, daerah akan mempunyai urusan pemerintahan yang didasarkan

125 126

Amrah Muslimin, Pokok-Pokok…, hlm. 119-120 Bagir Manan, Hubungan ..., op.cit., hlm 26.

37

atas penyerahan, pengakuan ataupun yang dibiarkan sebagai urusan rumah tangga daerah. Secara teori, terdapat tiga sistem rumah tangga daerah, yaitu sistem-sistem rumah tangga formal, material, dan nyata (riil).127 a. Sistem rumah tangga formal Berdasarkan sistem ini, urusan pemerintahan pusat dan daerah tidak dibagi secara rinci karena sistem ini berpangkal tolak dari asumsi bahwa secara prinsip tidak terdapat perbedaan antara urusan pusat dan daerah. Apabila terdapat pembagian wewenang, tugas dan tanggung jawab hanyalah didasarkan atas pertimbangan daya guna dan hasil guna.128 Secara teoritik, sistem ini memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada daerah untuk mengatur dan mengurus urusan rumah tangganya dan satu-satunya pembatasannya adalah daerah tidak dapat mengatur dan mengurus suatu urusan yang telah diatur dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, misalnya dengan undang-undang atau peraturan daerah yang lebih tinggi. Sepintas nampak bahwa otonomi formal akan memungkinkan pemerintah daerah bertindak lebih leluasa mengatur, mengurus, dan membela kepentingan daerahnya. Tetapi pelaksanaan otonomi formal menimbulkan kesulitan-kesulitan, antara lain : (1) Tidak adanya ketegasan mengenai urusan pemerintahan yang menjadi urusan rumah tangga daerah, menimbulkan keraguan atau

ketidakpastian untuk mengurus sesuatu urusan pemerintahan. Ada kekhawatiran bahwa urusan tersebut termasuk atau telah diatur dan diurus oleh satuan pemerintahan yang lebih tinggi. Begitu banyaknya peraturan perundang-undangan dari satuan pemerintahan yang lebih tinggi, dengan kemungkinan telah mengatur sesuatu hal yang bertahuntahun yang lang lalu, sehingga tidak diketahui atau dikenal secara pasti. (2) Suatu urusan pemerintahan yang telah diatur, diurus, dan dijalankan sebagai urusan rumah tangga daerah tertentu, kemungkinan kemudian

127 128

Ibid., hlm 26-33. Bagir Manan, ..., op.cit, hlm 26.

38

diatur dan diurus oleh satuan pemerintahan yang lebih tinggi. Keadaan seperti ini dapat menimbulkan kesulitan bagi daerah yang bersangkutan. Dengan perubahan itu daerah yang bersangkutran akan kehilangan berbagai keuntungan yang diperoleh dari urusan tersebut. Juga rakyat dapat merasakan dirugikan apabila dengan perubahan itu pelayanan terhadap rakyat menjadi kurang lancar atau terganggu. (3) Sesuatu urusan pemerintahan oleh daerah tertentu diatur dan diurus sebagai urusan rumah tangga, tetapi daerah lain tidak berani karena beranggapan bahwa hal itu termasuk urusan satuan pemerintahan yang lebih tinggi. Hal ini dapat menimbulkan kesulitan dalam melayani anggota masyarakat yang mempunyai kegiatan atau kepentingan lintas daerah. (4) Setiap urusan rumah tangga itu terutama yang membebankan kewajiban harus disertai dengan daya dukung tertentu terutama (sumber) keuangan. Sumber keuangan itu berada pada pemerintah pusat. Kalau suatu urusan oleh daerah diurus dan diatur, tidak selalu ada jaminan akan ada sumber keuangan untuk menjalankan urusan tersebut dengan sebaik-baiknya. Secara praktik, terdapat beberapa hambatan untuk mencapai daya guna dan hasil guna, antara lain hambatan kreativitas daerah, keuangan daerah serta teknis.129 Kreativitas daerah sangat menentukan karena daerahlah yang dapat menetapkan ukuran kewajaran untuk mengatur dan mengurus suatu urusan tertentu. Kecilnya kreativitas daerah akan

menyebabkan daerah hanya menunggu ‘arahan atau petunjuk’ dari satuan pemerintahan atasnya untuk mengatur dan mengurus urusan-urusan pemerintahan. Hambatan lain ditemukan dalam kaitan dengan keuangan daerah. Meskipun daerah memiliki peluang menyelenggarakan urusan seluas-luasnya namun tanpa dukungan keuangan yang memadai akan menyebabkan urusan-urusan tersebut tidak dapat terselenggara dengan baik. Akhirnya, keberhasilan sistem rumah tangga formal ditentukan sampai

129

Ibid., hlm 27.

(2) Urusan-urusan rumah tangga daerah tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan tentang pokok-pokok pmerintahan daerah.39 sejauhmana daerah dapat mengatasi hambatan teknis yang menunjuk pada tidak mudahnya mengetahui urusan yang belum diselenggarakan oleh pusat atau pemerintahan daerah tingkat lebih atas. Daerah otonom secara otomatis berhak mengatur dan mengurus urusan-urusan tersebut. sistem ini dikenal juga sebagai ajaran tiga lingkungan atau de driekriengenleer karena sesuai dengan susunan satuan organisasi pemerintahan Belanda yang terdiri dari Pemerintah Pusat. . Ibid. Penyerahan ini dapat terjadi dengan beberapa cara : (1) Urusan-urusan rumah tangga daerah telah diperinci dalam peraturan perundang-undangan tentang pokok-pokok pemerintahan daerah. Sistem rumah tangga material Berbeda dengan sistem rumah tangga formal. pemilahan urusan pemerintahan didasarkan pada perbedaan kepentingan. 130 131 Ibid. urusan rumah tangga daerah itu ditentukan dengan pasti. melainkan dalam peraturan perundang-undangan tentang pembentukan masing-masing daerah otonom. b. Untuk memungkinkan pelaksanaan otonomi material harus ada prosedur penyerahan urusan kepada daerah. Provinsi dan Gemeente. Di luar urusanurusan itu..131 Di Belanda.132 Dalam sistem otonomi material atau rumah tangga material. sistem material ini bertolak dari asumsi bahwa terdapat perbedaan secara mendasar antara urusan pusat dan daerah dan dengan demikian urusan pemerintahan dapat dipilah-pilah dan dapat ditetapkan secara pasti. Setiap daerah otonom terbentuk disertai dengan perincian urusan rumah tangganya. 132 Ibid. hlm 28. daerah tidak berwenang mengurus dan mengaturnya.130 Atau dengan kata lain.

40 (3) Urusan-urusan rumah tangga daerah ditentukan dalam peraturan perundang-undangan tentang pokok-pokok pemerintahan daerah. Urusan itu begitu luas sehingga tidak mudah untuk menentukan urusan-urusan diperuntukkan rumah tangga daerah dan yang tidak. antara lain. Berbeda dengan otonomi formal. Kepastian urusan-urusan rumah tangga dalam rumah tangga material lebih memudahkan pemerintah daerah dalam menjalankan tugas dan kewajibannya. Selama suatu urusan belum diserahkan secara nyata. tidak mudah menampung perubahan sifat suatu urusan dari lokal menjadi tidak lokal atau sebaliknya. Biasanya penyerahan urusan itu sekaligus disertai dengan sumber keuangan dan alat-alat kelengkapan yang diperlukan. (2) Sistem otonomi material bersifat rigid. Sukar sekali pada saat ini untuk menemukan urusan yang berada di luar kompetensi negara atau pemerintah. daerah berhak mengatur dan mengurus setiap urusan . Lebih-lebih dalam zaman modern ini. tetapi penyerahannya kepada suatu daerah otonom tertentu diatur tersendiri. Penanganan secara seragam urusan semacam itu tidak efisien dan tidak efektif bahkan mungkin menimbulkan ketidakadilan. Akan tetapi untuk menentukan ukuran lokal dan tidak lokal suatu urusan tidaklah mudah. Sistem otonomi material ini juga tidak lepas dari kesulitan-kesulitan antara lain : (1) Sangat tidak mudah menentukan dan merinci urusan-urusan yang akan dijadikan urusan rumah tangga daerah. Ciri umum yang lazim dipergunakan adalah urusan-urusan rumah tangga daerah adalah urusan-urusan yang bersifat lokal yang membutuhkan penanganan yang mungkin berbeda antara daerah yang satu dengan yang lain. maka urusan itu belum menjadi urusan rumah tangga yang bersangkutan. Negara menurut konsep negara kesejahteraan memasuki hampir pada semua sektor kehidupan. Setiap perubahan harus menempuh tatacara tertentu yaitu menyerahkan atau menarik urusan harus melalui peraturan perundang-undangan tertentu dan dilakukan dalam suatu peninjauan kembali secara nasional urusan rumah tangga daerah.

135 Ibid. sampah nuklir.133 Hal ini dasarkan pada beberapa argumen yang meliputi: (1) Sistem ini berpangkal tolak dari asumsi yang keliru yaitu anggapan dasar bahwa urusan pemerintahan dapat dipilah-pilah. (3) Kemungkinan urusan-urusan rumah tangga dalam sistem otonomi material sedemikian sempit atau sedemikian luas yang menimbulkan kesulitan dalam pelaksanaannya. Misalnya.. hlm 30. dapat beralih menjadi urusan pusat.41 kecuali hal yang sudah diatur dan diurus atau yang kemudian diatur dan diurusa oleh satuan pemerintahan yang lebih tinggi. yang mungkin saja 133 134 Ibid.135 urusan Suatu daerah. Ibid. urusan persampahan.. Urusan-urusan rumah tangga dalam sistem otonomi material bersifat seragam. Bagian urusan perrtanian dapat saja dilakukan oleh satuan pemrintahan yang berbeda. luar negeri menampakkan sifat atau karakter sebagai urusan tertentu yang dilaksanakan oleh pusat. moneter. Namun. Mengenai sistem rumah tangga material ini. dan lain-lain. kurang memperhatikan karakteristik. urusan karena pemerintahan perkembangan. misalnya pertahanan keamanan. potensi. Akibatnya sampah-sampah semacam ini berdampak pada lingkungan hidup yang berskala lebih luas dimana penangannya membutuhkan teknologi serta keahlian yang lebih. . Bagir Manan berpendapat bahwa sistem ini tidak dapat dijadikan patokan obyektif untuk menciptakan hubungan yang serasi antara pusat dan daerah. (2) Sistem ini tidak memberikan peluang untuk secara cepat menyesuaikan dengan perubahan-perubahan yang semula yang adalah terjadi. misalnya urusan pertanian.134 Memang urusanurusan tertentu. dan kemampuan daerah yang mungkin berbeda-beda. sampah tidak lagi diartikan secara tradisional. Karena perkembangan teknologi. melainkan meliputi sampah industri. Dengan demikian dalam praktek terdapat kesulitan untuk menentukan secara rinci urusan masing-masing satuan pemerintahan. urusan-urusan lain banyak juga yang menampakkan sifat ganda. hlm 29.

dapat terjadi perbedaan isi rumah tangga daerah sesuai dengan keadaan masing-masing.138 Bagir Manan mengutip pendapat Tresna menyatakan bahwa sistem ini merupakan jalan tengah antara sistem formal dan material dengan pengutamaan pada sistem formal. 136 137 Ibid. Dengan demikian.139 Fungsi sistem rumah tangga material pada sistem ini ditunjukkan pada adanya urusan pangkal sehingga sejak awal pendirian suatu daerah telah mempunyai kepastian urusan rumah tangga daerahnya. daerh juga dapat mengatur dan mengurus urusan-urusan lain yang dianggap penting bagi daerah tersebut. urusan sampah tersebut dapat saja beralih menjadi urusan pusat. (2) Selain memiliki urusan-urusan awal yang ditetapkan secara material. hlm 31. hlm 32. sepanjang urusan-urusan itu belum diatur dan diurus oleh pusat dan daerah tingkat lebih atas. Ibid. Dalam hal demikian..137 c. sistem rumah tangga nyata memiliki beberapa ciri. 138 Ibid. hlm 30. (3) Otonomi dalam sistem rumah tangga nyata didasarkan pada faktorfaktor nyata suatu daerah. 140 Ibid. yakni:141 (1) Adanya urusan pangkal yang ditetapkan pada saat pembentukan daerah otonom yang memberikan kepastian kepada daerah berkenaan dengan urusan rumah tangganya..136 (4) Sistem ini akan lebih banyak menimbulkan spanning hubungan antara pusat dan daerah. Sistem rumah tangga nyata (riil) Disebut ‘nyata’ karena isi rumah tangga daerah didasarkan pada keadaan dan faktor-faktor yang nyata. 139 Ibid. . (3) Sistem ini terasa lebih mengekang karena terikat pada urusan yang secara rinci ditetapkan sebagai urusan rumah tangga.42 tidak dimiliki oleh daerah. 141 Ibid.140 Sebagai sistem tengah antara sistem formal dan material.

14. 1990.... Bandung. 24 .144 Otonomi bukan sekedar pemencaran penyelenggaraan pemerintahan untuk mencapai efisiensi dan efektivitas pemerintahan. untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna penyelenggaraan pemerintahan dalam rangka pelayanan terhadap masyarakat dan pelaksanaan pembangunan..cit. tugas pembantuan dapat menjadi jembatan menuju otonomi. Titik Berat Otonomi Daerah Pada Daerah Tingkat II. 3. tugas dan tanggung jawab mengatur dan mengurus urusan pemerintahan antara pusat dan daerah. 9 144 Ibid. Penerbit Mandar Maju. Sebagai tatanan ketaanegaraan.. Otonomi atau . otonomi berkaitan dengan dasar-dasar bernegara dan susunan organisasi Negara. op. hlm. Kelembagaan 142 143 Tim Penyusun. otonomi adalah tatanan ketatanegaraan (staatsrechtelijk). hlm. Tujuan dari otonomi adalah untuk memunculkan kemandirian daerah dan bukan kedaulatan. Dari penjelasan tersebut nampaklah bahwa ajaran ini memberikan landasan bagi kemunculan dimensi hubungan kewenangan antara Pusat dan Daerah. 145 Bagir Manan. op.43 Telah dikatakan sebelumnya bahwa sistem rumah tangga merupakan tatanan yang berkaitan dengan cara-cara membagi wewenang. hlm. Untuk melaksanakan tujuan tersebut maka kepada daerah diberikan kewenangan-kewenangan untuk melaksanakan berbagai urusan pemerintahan sebagai urusan rumah tangganya. Proses penyelenggaraan pemerintahan dengan desentralisasi teritorial memunculkan bentuk otonomi dan tugas pembantuan.145 Dengan demikian kemudian muncullah dimensi hubungan kelembagaan antara Pusat dan Daerah.cit. Menyongsong ..143 Sementara itu. Ateng Syafrudin. bukan hanya tatanan administrasi Negara (administratiefrechtelijk).142 Tujuan pemberian otonomi kepada daerah adalah untuk memungkinkan daerah yang bersangkutan mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri.

doctrine. Dengan diperoleh pengertian dan istilah yang tepat diharapkan dapat lebih mempertegas kajian mengenai hubungan kelembagaan antara pemerintah pusat dan daerah ini. Sumner memasukkan aspek struktur ke dalam pengertian kelembagaan:147 “An institution consist s of a concept (idea. Dalam kajian sosiologi. organisasi dapat dirumuska sebagai. The structure holds the concepts and furnishes instrumentalis for bringing it into the world of facts and action in a way to serve the interest of men in society”. “… a system of actions” atau sebagai “sistem kerjasama sekelompok orang untuk mencapai tujuan bersama. hlm. interest) and structure. dan hubungan kelembagaan. sehingga saat ini orang lebih suka menggunakan istilah kelembagaan dalam kajian sosial daripada istilah organisasi.. yang juga sering dipersamakan dengan istilah organisasi (organization). 3. menurut Hadari Nawawi.44 Sebelum membahas hubungan kelembagaan antara pemerintah pusat dan daerah terlebih dahulu akan dibahas mengenai apa yang dimaksud dengan kelembagaan. 146 .” Dari segi prosesnya organisasi dapat dirumuskan oleh Herleigh Tecker sebagai. Ditinjau dari tujuannya. or perhaps only a number of functionaries set to-operate in prescribed ways at a certain conjuncture. namun secara umum istilah kelembagaan dipergunakan 146 dalam kedua istilah organisasi maupun kelembagaan itu sendiri. Makna Kelembagaan Istilah “kelembagaan” merupakan padanan kata “Institution” dalam bahasa Inggris. Tinjauan Sosiologis Terhadap Konsep Kelembagaan dan Upaya Membangun Rumusan yang Lebih Operasional. 1 www. The structure is a framework. Sebagaimana dikutip Syahyuti.com/syahyuti/Rumusan_konsep_kelembagaan. hlm. lebih menghargai budaya lokal dan lebih humanistis. notion. “a process of combining the work which individual or group have to performs with the Syahyuti.geocities. sedangkan kata organisasi menunjuk kepada suatu social form yang bersifat formal.pdf 147 Ibid. or apparatus. kata kelembagaan lebih memberi kesan sosial. a.

systematic. “… the act or process of bringing together or arranging the related groups of agency into a working whole”. adalah koordinasi.45 faculties necessary for its execution.150 Asas pembagian pekerjaan merupakan asas yang harus diterapkan dalam organisasi. 150 Ibid.149 Dalam kajian ini penulis menggunakan istilah kelembagaan yang menunjuk kepada susunan kelembagaan yang ada dalam sistem pemerintahan daerah di Indonesia. menurut Kamus Administrasi Negara (The Liang Gie). kewajiban. rentang kontrol dan kesatuan komando. masingmasing: perumusan tujuan yang jelas. Pembagian kerja penting karena akan memperjelas batas-batas kewenangan. hlm. termasuk dalam organisasi pemerintahan daerah. hak dan tanggung jawab setiap orang dalam suatu organisasi. tugas.151 Asas lain yang harus diterapkan dalam setiap organisasi. Prospek Otonomi Daerah. PT. Pembagian kerja harus diikuti oleh adanya pendelegasian wewenang. 148 koordinasi ini secara prinsip merupakan usaha untuk Josef Riwu Kaho. hlm. 2001. organisasi dapat dirumuskan sebagai susunan yang terdiri dari satuan-satuan organisasi beserta segenap pejabat. dan hubungan-hubungan satu sama lain dalam rangka pencapaian tujuan tertentu. 148 Sementara itu ditinjau dari segi strukturnya. positive. 289 151 Ibid . konflik kewenangan/kekuasaan. kekuasaan. pelimpahan wewenang. di Negara Republik Indonesia. Raja Grafindo Persada. Atau dapat disebut juga sebagai. koordinasi. Dengan demikian kekacauan. pembagian pekerjaan. Jakarta. Pelimpahan wewenang berarti penyerahan sebagian hak yang seharusnya dilakuan oleh seorang pejabat atasan kepada pejabat bawahan. Asas –asas organisasi paling tidak mencakup enam asas. 232 149 Ibid. and coordinated application of effort”. tumpang tindih ataupun kecenderungan menghindari tanggung jawab dapat dielakkan. sehingga tanggung jawab pelaksanaan bidang tugas dapat dilakukan sepenuhnya oleh seseorang. so that the duties so performed provide the best channels for the efficient.

Susunan organisasi pemerintahan daerah merupakan salah satu aspek yang dapat mempengaruhi hubungan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Hubungan Kelembagaan Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya bahwa kelembagaan dimaksud adalah susunan atau struktur organisasi pemerintahan. hlm. surat edaran berantai. mencegah kesimpangsiuran dan duplikasi. buku pedoman dan sebagainya.152 b. Hubungan . pertemuan formal. Urusan-urusan pemerintahan yang akan diserahkan kepada pemerintah daerah sebagai konsekuensi pelaksanaan 152 153 Ibid.. Struktur organisasi pemerintahan daerah menyatakan bahwa struktur organisasi pemerintahan daerah mengandung dua segi. 290-291 Bagir Manan. Di samping itu koordinasi diperlukan guna mencegah terjadinya konflik. serta dapat mengembangkan prakarsa improvisasi. Adanya koordinasi dimaksudkan untuk kesatuan tindakan dan guna meramalkan dan mencegah terjadinya krisis. hlm. Koordinasi ini dapat dilakukan misalnya melalui pertemuan-pertemuan informal antara para pejabat. yaitu susunan luar (external structure) dan susunan dalam (internal structure). dapat memaksa pejabat untuk bertindak dan berfikir sesuai dengan sasaran dan tujuan organisasi. karena dengan dibentuknya satuan pemerintahan di tingkat daerah tentunya disertai juga dengan penyerahan kewenangan dari pusat kepada daerah dalam bentuk urusan-urusan pemerintahan untuk dijalankan oleh pemerintah daerah.cit. op..191 .. tugas dan pejabat dalam organisasi. sedangkan susunan dalan menunjuk kepada alat kelengkapan (organ) pemerintahan daerah seperti DPRD dan Kepala Daerah.46 menyelaraskan aktivitas antara satuan-satuan organisasi. Susunan luar menunjuk kepada badan-badan pemerintahan (publieklichaam) tingkat daerah seperti daerah tingkat I dan daerah tingkat II. menurut Bagir Manan153.

24 Bagir Manan. (b) faktor ruang lingkup urusan pemerintahan.cit.47 desentralisasi.. dan manajemen.. 158 Bagir Manan. Satuan otonomi teritorial merupakan suatu satuan mandiri dalam lingkungan Negara kesatuan yang berhak melakukan tindakan hukum sebagai subjek hukum untuk mengatur dan mengurus fungsi pemerintahan (administrasi Negara) yang menjadi urusan rumah tangganya. dan (c) faktor sifat dan kualitas urusan. 52 157 Ibid.cit. hlm. Jadi hubungan pusat dan daerah atas dasar otonomi territorial memiliki kesamaan dengan hubungan pusat dan daerah atas dasar federal yaitu hubungan antara dua subjek hukum yang masing-masing berdiri sendiri. 197 . hlm..155 Ateng Syafrudin menjelaskan yang dimaksud dengan “titik berat” otonomi mengandung arti jumlah atau besarnya tugas. Hal ini dapat dilihat dari peran dan fungsi masing-masing susunan atau tingkatan dalam penyelenggaraan otonomi... op. Artinya peran dan fungsi tersebut dapat ditentukan oleh pelaksanaan titik berat otonomi sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu : (a) faktor sistem rumah tangga daerah. op. op. hak dan wewenang serta tnggung jawab urusan-urusan pemerintahan yang diserahkan oleh pemerintah pusat kepada pemerintah daerah otonomi untuk menjadi isi rumah tangga daerah.. Hukum Pemerintahan . Hubungan …. Ada faktor-faktor lain. Hubungan . op. Titik Berat . sehingga diharapkan dapat lebih mengerti dan memenuhi aspirasi-aspirasi masyarakat setempat. seperti kemampuan keuangan..156 Titik berat otonomi daerah ini perlu diletakan pada satuan pemerintahan yang lebih dekat kepada dan berhubungan langsung dengan masyarakat. hlm.. kewajiban..157 Tetapi dekatnya jarak antara satuan pelayanan bukanlah satu-satunya ukuran untuk menentukan penekanan atau pengutamaan fungsi pada tingkat daerah tertentu.158 Hubungan pusat dan daerah atas dasar otonomi teritorial merupakan konsep dalam Negara kesatuan. 194-195 156 Ateng Syafrudin.cit... titik berat pelaksanaannya akan diletakan pada daerah yang mana?154 Susunan organisasi pemerintahan di daerah akan berpengaruh terhadap hubungan antara pusat dan daerah.cit.. hlm. 154 155 Ni’matul Huda.

2003. (2) assignment of local government revenue raising authority (penetapan kewenangan pemerintah daerah untuk meningkatkan pendapatan).. hlm.162 Sementara itu. 162 Ibid.. Ruang Lingkup dan Prinsip-Prinsip Desentralisasi Fiskal Anwar Shah mengatakan bahwa kebijakan desentralisasi fiskal mencakup (1) the assignment of services responsibilities (penetapan tanggung jawab penyelenggaraan pelayanan). biasanya diperoleh dengan dua cara.23. 35-36 Irawan Soejito. op. Penerbit Bina Aksara. dalam otonomi territorial. misalnya antara Menteri Dalam Negeri dengan Gubernur. Journal of Public Budgeting. sebagimana dikutip dalam Larry Schroeder. 3.cit.161 Penetapan tanggung jawab penyelenggaraan pelayanan dibutuhkan agar tidak terjadi hasil yang tidak efektif ketika ada satu susunan pemerintahan atau lebih menyediakan pelayanan yang sama atau ketika satu susunan pemerintahan gagal menyediakan pelayanan dengan harapan. pada dasarnya seluruh fungsi kenegaraan dan pemerintahan ada dalam lingkungan pemerintahan pusat yang kemudian dipencarkan kepada satuan-satuan otonomi. Accounting & Financial Management. Menyongsong. “Fiscal Decentralization in South East Asia”. .pen) dan transfer dana dari pemerintahan tingkat yang lain (pinjaman daerah juga 159 160 Bagir manan. akan disediakan oleh susunan pemerintahan lainnya. yaitu pendapatan yang diperoleh oleh daerah sendiri (pendapatan asli. 1994.160 4.48 Perbedaannya. 15 No. 178 161 Anwar Shah. Washington DC. dan (3) design of intergovernmental transfer system (desain sistem transfer antar susunan pemerintahan). Vol. World Bank Policy and Research Series No. hubungan antara kedua badan hukum publik itu tidaklah seperti hubungan hierarkis yang ada.159 Oleh karena Negara (Pemerintah Pusat) dan daerah itu masing-masing merupakan badan hukum publik. kewenangan untuk meningkatkan pendapatan daerah untuk membiayai belanja daerah. “The Reform of Intergovenmental Fiscal Relation in Developing and Emerging Market Economy”. PrAcademic Press. 1984... hlm. 388. The World Bank. hlm. Hubungan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.

. transfer dan Ibid. 164 163 .cit. 107. 389. hlm. Dalam hal ini. 168 Era Dabla-Norris. (c) borrowing privileges (keleluasaan untuk melakukan pinjaman). Washington. Anwar Shah. yang mencakup revenue autonomy. expenditure autonomy. “Fiscal Decentralization in Developing and Transition Economies: Progress. The World Bank. “ The Challenge of Fiscal Decentralisation in Transition Countries”. Detours and Road Closures”. Washington DC. harus menjadi bagian dari desain transfer dana antara tingkatan pemerintahan. Theresa Thompson.. hlm. “Implementing Decentralized Local Governance: A Treacherous Road with Potholes. hlm.167 Hal yang hampir sama juga diungkapkan oleh Era Dabla-Norris mengenai the measure of autonomy168 (ukuran otonomi) dalam desentralisasi fiskal.164 Bahkan dengan kewenangan atas jenis-jenis pajak terbatas. Vol. Shah menegaskan komponen desentralisasi fiskal yang menjadi ukuran keberhasilan desentralisasi fiskal. April 2004. op. yaitu (a) revenue autonomy and adequacy (otonomi dan kecukupan pendapatan). 165 Ibid. (b) expenditure autonomy (otonomi dalam pengeluaran/ belanja) dan. 166 Larry Schroeder. adanya intergovernental fiscal transfer menjadi mekanisme yang diharapkan dapat menciptakan horizontal equity (kesamaan horizontal) antara susunan pemerintahan daerah. 2006. World Bank Policy Research Working Paper 3353. hlm. 8. Problems. 18. World Bank.48. USA. DC USA. Comparative Economic Studies. Desentralisasi fiskal bagaimana pun kebijakannya harus dikaitkan dengan upaya membangun kemandirian daerah untuk membiayai urusan pemerintahannya baik dalam hal pendapatan daerah (termasuk alternatif lainnya) maupun kewenangan untuk membelanjakan pendapatan tersebut.49 merupakan sumber pendapatan daerah lainnya yang harus dibayar kemudian dengan pendapatan asli atau transfer dana).166 Hal tersebut (bersama keterbatasan pendapatan asli daerah). 167 Anwar Shah. hlm. misalnya melalui pajak daerah atau retribusi. daerah hanya memiliki otonomi dalam menentukan tarif pajak dan batas yang telah ditentukan (to rate setting within the limit). 18 – 19.163 Masalah yang umumnya dihadapi adalah kewenangan daerah yang sangat terbatas untuk dapat meningkatkan pendapatan asli (own revenue). and the Promise” World Bank Policy Research Working Paper 3282. June 2004.165 Dalam hal ini.

Jaime Bonet. Dalam hal ini.. 2009. juga termasuk dalam komponen otonomi dan kecukupan pendapatan.cit..172 Ibid. 107. 171 Norris. Dalam literatur.cit. Roy Bahl (eds). Singapore. Norris. hlm. Ukuran-ukuran tersebut merupakan prinsip desentralisasi fiskal. hlm. 663.. 170 169 .. prinsip otonomi dalam pengeluaran artinya daerah memiliki keleluasaan untuk membelanjakan.. termasuk dalam menentukan tarifnya. Bahl dalam Shinichi Ichimura. prinsip otonomi pengeluaran berkaitan dengan alokasi penerimaan daerah dalam anggaran belanja daerah. Hubungan Antara…. Loc. this requires that subnational governments have the authority to own-finance locally provided services at the margin. Pte. Decentralization: Policies in Asian Development. 172 Ibid. 117 – 123.op. Bagir Manan.. Prinsip otonomi dalam pendapatan artinya sejauh mana daerah memiliki sumber-sumber pendapatan yang merupakan pendapatan asli daerah.171 Sementara itu. ukuran suatu daerah memiliki otonomi dalam pendapatan adalah seberapa besar kewenangan untuk memungut pajak daerah atau pungutan lain.cit. Seperti dikatakan oleh Norris bahwa: ”this requires subnational budget flexibility to decide – within limits – expenditure priorities and the choice of both the output mix and techniques of production”. karena hal tersebut merupakan kunci keberhasilan dari desentralisasi fiskal. hlm. karena revenue autonomy ditekankan pada pada pendapatan asli daerah. World Scientific Publishing Co. sementara Norris menekankan transfer dana tersebut merupakan komponen tersendiri. otonomi pendapatan secara dominan diukur dari kewenangan daerah memungut pajak. Lihat. hlm. Seperti dikatakan oleh Norris bahwa: On the revenue side. More complete revenue autonomy requires a minimum of authority to set tax rates and an assignment of at least one significant tax source. 3. Ltd. Springer-Verlag Published online: 12 April 2006. 204. “Fiscal decentralization and regional income disparities: evidence from the Colombian experience”. loc.50 subnational borrowing.170 Artinya. hlm..169 Dalam pendapat Shah. transfer (intergovernmental fiscal transfer). termasuk menentukan prioritasprioritas belanja daerah atas pendapatan daerah yang dimiliki.

178 Ibid.51 Prinsip transfer dana antar tingkatan pemerintahan (khususnya dari pusat ke daerah). USA. 1993. 2009. pemerintahan daerah tidak akan dapat mengharapkan (pendapatan) dari sumber dayanya sendiri.cit. Hubungan Antara…. Edward Elgar Limited – Edaward Elgar Publishing Company. Kedua-duanya harus diperhitungankan dalam desain kebijakan transfer dana dari pusat ke 173 Roy Bahl. Bagir Manan mengatakan bahwa sesuai dengan pembawaannya (karakteristiknya). 80. 205. hlm.178 Daerah hanya boleh mengatur dan mengurus sepanjang ada penyerahan dari pusat yang diatur keuangan antar untuk menyelesaikan masalah daerah. Kedua.. tercermin dalam dalam dua dimensi. mau tidak mau (namun sering kali mau) untuk memenuhi kepentingan nasional. namun juga kepentingan nasional yang lebih baik.175 Sebagai agen. karena bergantung pada pusat. England.. . dalam Shinichi Ichimura. Decentralization: Policies in Asian Development.176 Sumbersumber pendapatan sendiri (asli) sangat terbatas. hlm. urusan keuangan di mana pun senantiasa dikategorikan sebagian urusan pusat. dimensi horrizontal fiscal balance (keseimbangan fiskal horizontal/antar daerah). juga disebabkan logika bahwa mahalnya pelayanan (publik) yang disediakan oleh pemerintahan daerah adalah untuk memenuhi tujuan (otonomi – pen) yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat. 177 Bagir Manan. 11. di mana transfer tersebut untuk mengurangi ketidakseimbangan keuangan antara pusat dan daerah (vertical fiscal imbalance)..op. Pte. 174 Ibid. “Promise and Reality of Fiscal Decentralization”. International Hand Book of Local and Regional Government A Comparatve Analysis of Advanced Democracies. hlm. hlm..177 Terkait dengan hal di atas. di mana transfer tersebut dimaksudkan ketidakseimbangan daerah. dimensi vertical fiscal balance (keseimbangan fiskal secara veritikal/ pusat-daerah). Singapore. World Scientific Publishing Co. Ltd. 176 Ibid. 175 Alan Norton.174 Pemberian sejumlah dana pusat kepada daerah melalui mekanisme transfer dana. 10.173 Pertama. Roy Bahl (eds). bukan hanya untuk kepentingan daerah.

namun dengan hasil yang relatif kecil. pemerintahan daerah harus mendapatkan sumber penerimaan lainnya untuk menutupi kekurangan anggaran (defisit). Decentralization: Policies in Asian Development. op. bermaksud untuk menutupi kemampuan keuangan daerah untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan.cit. Sumber-Sumber Penerimaan/ Pendapatan Daerah Secara umum.. hlm. Pendapatan Asli Daerah Seperti telah dikemukakan sebelumnya bahwa pendapatan asli daerah selalu dihubungkan dengan kewenangan daerah untuk memungut pajak (daerah) atau pungutan lainnya seperti retribusi. Hubungan Antara….182 Ibid. hlm. Prinsip keleluasaan untuk melakukan pinjaman berkaitan dengan hard budget constraint (pembatasan anggaran secara ketat) di mana pemerintahan daerah harus menyeimbangkan anggarannya tanpa bantuan dari pusat pada akhir tahun anggaran. 396. padahal pendapatan asli daerah juga dapat berasal dari sumber lain.180 Artinya. transfer dana dari pemerintah pusat ke daerah (intergovernmental fiscal transfers) dan pinjaman daerah (local borrowing).. 181 Motohiro Sato..181 a. Pte. hlm. 182 Lihat Bagir Manan. tanpa bantuan pemerintah pusat.52 dalam peraturan perundang-undangan. 2009. sumber penerimaan/ pendapatan daerah (revenue sources of local governments) secara umum terdiri dari pendapatan asli daerah (local own revenue). Roy Bahl (eds). Roy Bahl. dalam Shinichi Ichimura.179 Adanya transfer dana atau bantuan dari pusat. 208. Prinsip-prinsip tersebut akan terlihat dalam pengaturan sumbersumber penerimaan pemerintahan daerah untuk memenuhi belanja daerah. seperti hasil pengelolaan perusahaan daerah.cit. jika pendapatan daerah (termasuk transfer/bantuan keuangan dari pusat) yang dialokasikan untuk pengeluaran/ belanja daerah tidak mencakupi. 5. World Scientific Publishing Co. terutama dengan melakukan pinjaman. dalam dalam Shinichi Ichimura. 15. Asian Development Conference 2003: Development and Decentralization in Asia”. Singapore. “Summary Report of Seminar B: Local Public Finance. 180 179 . Ltd. op. Roy Bahl (eds).

pajak harus dipungut pada wilayah yang yang dapat dilakukan pemantauan dan penilaian yang relevan. 186 Ibid. 187 Ibid.53 Persoalan kewenangan pemungutan pajak.. hlm. untuk memastikan adanya akuntabilitas. 191 Bahl mengatakan bahwa kontribusi pajak lokal terhadap total pendapatan sektor pajak secara nasional di negara-negara berkembang dan negara-negara dalam transisi hanya mencapai 10%.189 Sementara itu. 188 Ibid. Anwar Shah mengintroduksi 4 prinsip yang harus diperhatikan dalam pembagian kewenangan pemungutan pajak di semua tingkatan pemerintahan.cit. “Fiscal Decentralization….. Ketiga.183 Pertama. “Promise and…. sementara di negara-negaa maju mencapai 20%. pengaturan pajak daerah dan pungutan daerah lainnya sangat beragam.”. Dalam hal ini. pemerintah pusat lebih sedikit menyerahkan kewenangan untuk memungut pajak kepada daerah. .. Ibid.191 183 184 Anwar Shah. 190 Ibid. pajak dengan objek bergerak dan barang-barang dagang yang memiliki tingkat efisiensi yang tinggi terhadap pasar domestik harus menjadi kewenangan pemerintah pusat.. 9.186 Hal ini untuk meminimalisasi biaya administrasi pemungutan. hlm. op. pajak-pajak yang karena pertimbangan keseragaman secara nasonal dilakukan dengan sistem redistribusi progresif 185 (pajak progresif).190 Hal tersebut menyebabkan perbedaan pendapatan daerah dari sektor pajak daerah.184 Kedua.. hlm.cit. harus menjadi kewenangan pemerintah pusat.loc.187 Keempat. terkait dengan pembagian kewenangan di sektor pajak antara pemerintah pusat dengan pemerintahan daerah. misalnya pajak property (tanah dan bangunan) lebih baik menjadi kewenangan daerah untuk meningkatkan nilai jual objek tersebut di pasaran. hlm. Ibid. di negara – negara berkembang dan negara-negara dalam fase transisi.10.17-18. 189 Roy Bahl. Pemerintahan daerah di negara-negara maju lebih banyak memberikan kewenangan kepada daerah untuk memungut pajak.17. 185 Ibid.188 Dalam praktek. penerimaan dari pajak harus disesuaikan dengan kebutuhan pengeluaran belanja (daerah).

walaupun kewenangan untuk menggunakan pendapatan dana diberikan kepada daerah. Brueckner. sistem transfer atau bantuan keuangan antar tingkatan Dalam hal ini Bahl member pengecualian terhadap Filipina di mana konstribusi sektor pajak daerahnya mencapai 1/3 dari total pendapatan sektor pajak secara nasional. misalnya. sementara pemerintahan daerah hanya memiliki sedikit kewenangan terhadap pajakpajak yang secara langsung bersumber pada potensi lokal. Bahl mengatakan bahwa rendahnya pendapatan daerah dari pajak daerah disebabkan pemerintah pusat tidak rela melepaskan kewenangan terhadap pajak-pajak yang produktif.54 Di Asia. Seperti dikatakan oleh Anwar Shah. 1 195 Ibid.193 Dalam hal ini. “Partial Fiscal Decentralization”. 194 K.. Category 1: Public Finance. “Fiscal decentralization and regional income disparities: evidence from the Colombian experience”.196 Artinya. pengalaman negara-negara maju menunjukkan bahwa keberhasilan desentralisasi fiskal tidak bisa tercapai tanpa adanya sebuah program transfer dana yang didesain dengan baik (well – designed fiscal transfer program).194 Hal tersebut menyebabkan pemerintahan daerah sangat bergantung pada transfer dana dari pusat. Cesifo Working Paper No. Transfer Dana dari Pusat ke Daerah (Intergovernmental Fiscal Transfers) Adanya kecenderungan ketergantungan daerah pada transfer dana dari pemerintah pusat di negara-negara berkembang menimbulkan pertanyaan apakah pemerintahan daerah masih memiliki otonomi dalam kebijakan desentralisasi fiskal? Namun demikian.192 Di negaranegara berkembang dan negara dalam masa transisi. menyebabkan daerah tidak dapat membiayai pengeluaran dengan pendapatan sendiri. loc. hlm. Diunduh dari http://www. “Fiscal Decentralization….ssrn. 193 Anwar Shah. hlm. 18. baik di negara-negara maju maupun negaranegara berkembang.com/abstract=1029581. Ibid. namun tanpa kewenangan daerah cukup dalam memungut pajak.195 b.663. 196 Jaime Bonet. pemerintah pusat memiliki kewenangan pada jenis-jenis pajak tidak langsung. pola transfer dana dari pusat ke daerah juga dialami di negara-negara maju. 192 .. 2137. November 2007. Springer-Verlag Published online: 12 April 2006. hlm.cit.

55

pemerintahan (khususnya dari pusat ke daerah), menjadi salah mekanisme yang mendukung keberhasilan desentralisasi. Dari paparan di atas, tercermin bahwa transfer dana/ bantuan

keuangan dari pusat ke daerah akan selalu ada. Menurut Bagir Manan, usaha-usaha untuk menghapuskan bantuan keuangan bukan cara terbaik untuk memecahkan masalah keuangan daerah.197 Bagir Manan sendiri lebih menyetujui agar pemecahan masalah keuangan daerah hendaknya ditujukan pada upaya agar bantuan –bantuan pusat tidak akan begitu banyak mengurangi kemandirian daerah untuk mengatur dan mengurus urusan rumah tangga daerahnya sendiri.198 Adanya bantuan dana (subsidi) dari pusat ke daerah merupakan bagian dari mekanisme perimbangan keuangan antara pusat daerah yang merupakan inti dari hubungan keuangan pusat – daerah.199 Seperti dikatakan oleh Bagir Manan, bahwa: ”perimbangan keuangan tidak sekedar diartikan memperbesar sumber lumbung keuangan daerah, namun tidak kalah penting mengatur sistem keuangan daerah seperti subsidi yang tetap menjamin kemandirian, keleluasaan dan kekuasaan daerah mengatur dan mengurus rumah tangganya.”200

Dilihat dari derajat otonomi peruntukan dan pemanfaatannya, Bagir Manan yang mengatakan bahwa bantuan keuangan dari pusat ke daerah, dapat digolongkan ke dalam tiga kategori utama, yaitu bantuan bebas, bantuan:201 1. Bantuan bebas Bantuan yang hanya ditentukan jumlahnya. Peruntukan dan tata cara penggunaannya diserahkan sepenuhnya kepada masing-masing daerah.

197 198

Bagir Manan, Hubungn Antara…, op.cit., hlm. 210. Ibid. 199 Ibid. 200 Ibid., hlm. 42. 201 Ibid.

56

Daerah mempunyai kebebasan untuk menentukan sendiri peruntukan dan tata cara penggunaannya. 2. Bantuan dengan pembatasan tertentu. Bantuan yang ditentukan peruntukannya secara umum.

Peruntukannya secara khusus dan cara-cara pemanfaatannya diserahkan sepenuhnya kepada daerah. Bantuan jenis kedua ini lebih mengikat atau lebih membatasi kemandirian daerah dibandingkan dengan yang pertama. 3. Bantuan terikat Bantuan yang ditentukan secara rinci peruntukan dan tata cara pemanfaatannya. Daerah tidak ada kesempatan untuk menentukan sendiri peruntukan maupun tata cara pemanfaatannya. Bantuan ini sangat mengikat daerah. Sementara itu, Roy Bahl mengatakan, jenis transfer dana yang diberikan, terdiri dari transfer dana yang sifatnya unconditional (tidak bersyarat), conditional (bersyarat), dan Ad-hoc (tidak tetap).202 Pendapat Bahl tersebut hampir sama dengan pendapat Bagir Manan. Perbedaannya, Bagir Manan tidak memasukkan jenis transfer dana (bantuan keuangan) yang sifatnya Ad-hoc, sementara Bahl tidak membagi varian lain dari conditional transfer, sebagaimana dilakukan oleh Bagir Manan yang membaginya menjadi dua kategori, yaitu bantuan dengan pembatasan tertentu dan bantuan terikat. Namun demikian, kedua pendapat tersebut saling melengkapi. Dengan demikian, terdapat 4 jenis tranfer dana (bantuan keuangan) dari pusat ke daerah, yaitu bantuan bebas (unconditional grants), bantuan dengan pembatasan tertentu, bantuan terikat, dan bantuan yang sifatnya Ad-Hoc. Manurut Bahl, unconditional grants (bantuan bebas) dianggap “more consistent with local autonomy goals of decentralization” (lebih konsisten dengan tujuan otonomi daerah dalam kerangka desentralisasi).203 Jika bantuan tersebut berdasarkan pembagian pajak pusat, maka pemerintah pusat memberikan akses kepada pemerintahan daerah dengan dasar

202 203

Roy Bahl, op.cit., hlm. 11 Ibid.

57

perhitungan pajak yang elastis (elastic tax base) yang relative memberikan kepastian jumlah yang akan diterima.204 Sementara itu, conditional grant adalah bantuan yang membolehkan pemerintah pusat untuk mengawasi penggunaan dana tersebut dengan asumi agar daerah menjalankan fungsi yang memiliki eksternalitas positif dan/ atau distribusi keuntungan.205 Distribusi conditional grant, menurut Bahl dilakukan dengan beberapa cara, namun yang paling umum digunakan adalah sistem pembayaran yang didasarkan pada beberapa standar pengeluaran.206 Biasanya pola

conditional grant berhasil mencapai target yang diinginkan. Namun persoalannya, conditional grant diterapkan dengan pola yang seragam di seluruh daerah dan tidak memberikan pertimbangan yang cukup terhadap kondisi daerah.207 Hal tersebut menyebabkan pola pengeluaran (keuangan) pemerintahan daerah menyimpang dari kecenderungan lokal.208 Sementara itu, transfer dana/ bantuan keuangan yang sifatnya AdHoc didasarkan pada pertimbangan politis. Hal tersebut menyebabkan pola bantuan tersebut tidak transparan dan jauh dari ukuran-ukuran objektif. Bahkan Cina dan Thailand, yang mengalokasikan sebagian bantuan dalam bentuk ad-hoc, menghadapi persoalan ketidakpastian anggaran di tingkat daerah.209

c. Pinjaman Daerah Seperti telah dikemukakan sebelumnya, bahwa pinjaman daerah sangat berkatan dengan penerapan hard budget constraint (pembatasan anggaran secara ketat) di mana tidak ada bantuan dari pusat pada saat

204 205

Ibid. Ibid., hlm. 14. 206 Ibid 207 Ibid. 208 Ibid. 209 Ibid.

58

terjadi akhir tahun anggaran. Menurut Davey (1983) ada beberapa alasan pemerintah daerah melakukan pinjaman dana seperti:210 a. untuk menutup defisit keuangan jangka pendek; b. untuk membiayai kekurangan belanja rutin dan penghasilan retribusi dalam anggaran tahunan (annual budget); c. membiayai pembelian perlengkapan dan mesin-mesin; d. membiayai investasi yang akan menghasilkan pendapatan; e. membiayai pembentukan modal jangka panjang (long term capital development).

Menurut J. Glasson, tujuan utama pemanfaatan dana pinjaman daerah adalah untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dan melakukan pembangunan yang menerus (sustainable development).211 Hal tersebut sangat wajar karena dengan penerapan hard budget constraint terbatasnya kemampuan keuangan daerah, maka terselenggaranya progam-program daerah tidak hanya bergantung pada pendapatan daerah dan bantuan dari pusat, namun sangat bergantung pada pinjaman daerah. Oleh karena itu, seperti dikemukakan sebelumnya, bahwa keleluasaan bagi daerah untuk melakukan pinjaman merupakan salah prinsip dari desentralisasi fiskal. Pengaturan mengenai pinjaman daerah di setiap menunjukkan pola yang berbeda-beda. Menurut Shah, di negara-negara berkembang di mana pasar (keuangan) belum terbangun dengan baik untuk kredit jangka panjang dan kemampuan daerah untuk membayar pinjaman, menyebabkan akses daerah untuk melakukan pinjaman sangat terbatas.212 Hal tersebut menyebabkan pengaturan pinjaman daerah lebih menekankan pada pengawasan pemerintah pusat, sementara bantuan pusat untuk mendorong daerah melakukan pinjaman sangat jarang menjadi perhatian. Biasanya yang menjadi ukuran pola pengawasan pusat dalam hal pinjaman daerah adalah
210

Lihat Bachrul Elmi dan Syahrir Ika, “Hutang Sebagai Salah Satu Sumber Pembiayaan Pembangunan Daerah Otonom”, Jurnal Kajian Ekonomi Dan Keuangan, Vol. 6 No. 1, Maret, 2002, hlm. 64. 211 Ibid., hlm. 62. 212 Anwar Shah, “Fiscal Decentralization…., op.cit., hlm. 29

.cit. Bentuk dan isi pengawasan dilakukan semata-mata menurut atau berdasarkan ketentuan 213 Taliziduhu Ndraha. dan “control” (Belanda dan Inggris). Rineka Cipta. concurrent control dan feedback control. dan John M.. Pengawasan atau kontrol dapat dilakukan sebelum. op. Jilid I. steering control dan post-action control. Hakikat Pengawasan Pemerintah Pusat terhadap Daerah a. hlm. apakah daerah dapat melakukan pinjaman ke luar negeri? 6. James A. bukan hubungan internal dari entitas yang sama.. Ivancevich dalam Fundamentals of Management (1981) menyebut hal itu Preliminary control. “supervision” (Inggris).213 Pengawasan (toezicht. Pengertian dan Tujuan Pengawasan Istilah “pengawasan” sering dipadankan (equivalent) dengan istilah “toezicht” (Belanda). perlu diketahui.214 Namun demikian. supervision) merupakan unsur yang tidak dapat dipisahkan dari kebebasan berotonomi. Donnelly. 214 Bagir Manan. James L. Jakarta 2003. .153. sepanjang. Tidak ada otonomi tanpa sistem pengawasan. merupakan dua sisi dari satu mata uang dalam negara kesatuan dengan sistem otonomi (desentralisasi). supervision) adalah suatu bentuk hubungan dengan legal entity yang mandiri. hlm. Gobson. Stoner dan Charles Wankel dalam Management (1986) menyebut ketiga macam kontrol itu Pre-action cotrol. Kebebasan dan kemandirian berotonomi dapat dipandang sebagai pengawasan atau kendali terhadap kecenderungan sentralisasi yang berlebihan. pengertian pengawasan (toezicht. James H. Sebaliknya pengawasan (toezicht) merupakan kendali terhadap desentralisasi berlebihan. dan sesudah suatu kegiatan dilaksanakan. Menyongsong . 197. F.59 apakah daerah berwenang melakukan pinjaman? Jika dibolehkan. Antara kebebasan dan kemandirian berotonomi di satu pihak dan pengawasan di pihak lain. Kybernology (Ilmu Pemerintahan Baru).

Pengawasan tidak berlaku atau tidak diterapkan terhadap hal yang tidak ditentukan atau berdasarkan undang-undang. 215 Taliziduhu Ndraha. dalam kaitan dengan Undang-Undang tentang pemerintahan daerah khususnya desentralisasi istilah pengawasan lebih tepat dipadankan dengan “toezicht” atau “supervision” dan tidak dengan “control”. Pengawasan dalam kualitas tertentu menjadi semacam “mencampuri” wewenang daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. akan besar pengaruhnya pada sifat “kemandirian” (zelf standigheid) daerah otonom. Berdasarkan uraian tersebut di atas. apalagi ikut mengurus atau ikut mengatur.cit.. “pedoman”. hlm.. mengurus atau mengatur. pengawasan dalam arti toezicht atau supervision.215 Dengan demikian. maka pengertian umum dari beberapa aspek pengawasan kiranya dapat dirumuskan sebagai berikut : 1) Pengawasan sebagai sarana (instrumen) pemeritahan yang lebih atas tingkatannya untuk memaksakan kehendaknya pada pemerintahan yang lebih rendah tingkatannya. secara asasi tidak mengandung makna ikut mengarahkan. “penentuan syarat-syarat yang harus diikuti”. . mengalami perkembangan seperti adanya “petunjuk”.. Istilah control selain mengandung arti pengawasan. Pengawasan pada desentralisasi dibatasi untuk “menguji” apakah suatu keputusan suatu satuan pemerintahan otonom (yang lebih rendah) bertentangan atau tidak bertentangan dengan peraturan perundangundangan yang lebih tinggi atau kepentingan umum. Pengawasan (toezicht) pada desentralisasi.. juga mengandung arti pengendalian. Apabila hal semacam ini jika dibiarkan berjalan tanpa batas. Kybernology .60 undang-undang. op. 197. Memang perlu disadari bahwa dalam perkembangan. mengarahkan. 2) Pengawasan menunjukkan adanya pengarahan atau pengendalian (aturan) terhadap tindakan pemerintahan yang lebih rendah tingkatannya dari pemerintahan yang lebih atas tingkatannya. “bimbingan”. Perkembangan ini menyebabkan pengawasan tidak lagi sekedar “checking” atau dalam rangka “menjaga keseimbangan”.

setiap orang dapat menikmati dan memperoleh manfaat. The general welfare of public that warrants recognation and protection. yaitu: a.Op. 1999. b. pengawasan menurut 216 217 Bryan A.Cit. misalnya pengawasan menurut sifat/bentuk dan tujuannya. Penggolongan Pengawasan Pengawasan dapat dibedakan ke dalam berbagai macam. Bagir Manan. baik dalam arti materiil maupun spiritual217. Ketiga. dibutuhkan orang banyak.. hlm. Garner.. Mengenai kepentingan umum. Kedua. tanpa ada pembatasan karena kondisi invidual seseorang. pemerintahan yang dilakukan 4) Pengawasan menunjukkan bahwa pelaksanaan tugas dan wewenang satuan pemerintahan yang diawasi tidak boleh bertentangan dengan hukum dan kepentingan umum. yakni: Pertama. . Pengawasan hanya terbatas pada segi oleh satuan pemerintahan yang diawasi. bebas dari pengertian di atas adalah bahwa kepentingan umum merupakan kepentingan bagi kesejahteraan umum yang menjamin perlindungan dan merupakan sesuatu di mana publik secara keseluruhan mempunyai suatu pancang/landasan terutama suatu yang membenarkan peraturan yang dibentuk oleh pemerintah). Adapun menurut Bagir Manan. terdapat beberapa ukuran yang dapat dipergunakan untuk menentukan kepentingan umum. Black Law Dictionary. hlm.141. harus dalam rangka kesejahteraan umum.(Terj. Menyongsong Fajar…. mendefinisikan Public Interest. b.1244. Something in which the public as a whole has a stake espesially an interest that justifies governmental regulation216. Black Law Dictionary.61 3) Pengawasan berbeda dengan sarana pengendalian lainnya.

91-95. Bandung. 219 Bagir Manan. dan d) menentukan kewenangan dan tanggung jawab sebagai instansi sehubungan dengan tugas yang harus dilaksanakan. Menyongsong Fajar . a) Pengawasan Preventif Secara umum pengertian pengawasan preventif pada dasarnya dilakukan untuk mencegah terjadinya penyimpangan-penyimpangan dalam pelaksanaan kegiatan. Pengawasan Pengelolaan Keuangan Daerah dalam Sistem Pemerintahan Daerah di Indonesia (Disertasi).…Op. hlm. maka pengawasan preventif bertujuan untuk mencegah penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di lapangan pemerintahan daerah. b) Pengawasan Represif atau Pengawasan Detektif Sebagian ahli mempergunakan istilah pengawasan ini dengan istilah pengawasan represif. Berikut ini diidentifikasikan berbagai macam pengertian pengawasan tersebut. Pengawasan preventif ini memiliki tujuan yang menurut Revrisond Baswir diidentifikasikan sebagai berikut: a) mencegah terjadinya tindakan-tindakan yang menyimpang dari dasar yang telah ditentukan. 2006. wewenang mengesahkan 219 pengawasan preventif ini berkaitan dengan (goedkeuring).Cit. Relevan dengan pembentukan produk hukum di daerah dan tindakan tertentu organ pemerintahan daerah. b) memberi pedoman bagi terselenggaranya pelaksanaan kegiatan secara efesien dan efektif. pengawasan menurut sifat/bentuk dan tujuannya dapat dikelompokan menjadi 2 (dua). sebagian lainnya mempergunakannya dengan istilah 218 Lihat Elektison Somi. yaitu: (1) pengawasan preventif dan. Dalam konteks penyelenggaraan pemerintahan daerah. menurut Bagir Manan. Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. c) menentukan sasaran dan tujuan yang akan dicapai. hlm. 154 .218 1) Pengawasan Menurut Sifat/Bentuk dan Tujuannya Secara konsepsional.62 ruang lingkupnya dan pengawasan menurut metodenya. (2) pengawasan represif atau pengawasan detektif.

Berkaitan dengan pembentukan produk hukum daerah dan tindakan tertentu organ pemerintah daerah.63 pengawasan detektif.xv. 1986. misalnya: pengawasan yang 220 221 Bagir Manan. op. baik yang disengaja maupun tidak disengaja. Jakarta. maka dapat dibedakannya dari beberapa segi. Memang di sinilah letak inti atau hakekat dari suatu pengawasan.Cit Paulus Effendie Lotulung. adanya kontrol itu sering dilihat sebagai sarana unutuk mencegah timbulnya segala bentuk penyimpangan tugas pemerintahan dari apa yang telah digariskan.220 Berkaitan dengan berbagai macam bentuk pengawasan. Beberapa Sistem tentang Kontrol Segi Hukum terhadap Pemerintah. Dalam praktek. Tujuan pokok dari kontrol ini adalah untuk menghindari terjadinya kekeliruan-kekeliruan. Ditinjau dari segi kedudukan dari badan/organ yang melaksanakan kontrol itu terhadap badan/organ yang dikontrol. Suatu Kontrol Intern berarti bahwa pengawasan itu dilakukan oleh suatu badan yang secara oraganisatoris/ struktural masih termasuk dalam lingkungan Pemerintah sendiri. pengawasan ini menurut Bagir Manan berkaitan dengan wewenang pembatalan (Verneitiging) atau penangguhan (schorsing). atau juga untuk memperbaikinya apabila sudah terjadi kekeliruan itu. sebagai suatu usaha represif. Sebab di dalam melaksanakan tugasnya atau “mission”nya untuk menyelenggarakan kesejahteraan umum dan pelayanan kepentingan umum atau lazim disebut “public service”. kedua istilah ini pada prinsipnya dilaksanakan setelah dilakukannya tindakan yaitu dengan membandingkan antara hal yang telah terjadi dengan hal yang seharusnya terjadi. sebagai suatu usaha preventif. PT. . hlm. maka terhadap Pemerintah selaku organ administarasi Negara dapat dikenakan bermacam-macam bentuk kontrol atau pengawasan. dapatlah dibedakan antara jenis kontrol yang disebut Kontrol Intern dan Kontrol Ekstern. Bhuana Ilmu Populer.221 Apabila dibandingkan berbagai macam bentuk kontrol yang ada. Namun demikian. Paulus Effendie Lotulung mengatakan bahwa salah satu permasalahan pokok dalam studi tentang dasar-dasar hukum Administrasi adalah pelajaran tentang adanya atau dikenalnya berbagai macam kontrol atau pengawasan yang dapat dilakukan terhadap Pemerintah.

222 Ditinjau dari segi saat/waktu dilaksanakannya suatu kontrol atau pengawasan. kontrol sosial yang dilakukan oleh masyarakat melalui pers/masmedia. Sebaliknya. sebab tujuan utamanya adalah untuk mencegah atau menghindari terjadinya kekeliruan. harus terlebih dahulu memperoleh persetujuan dan pengesahan dari instansi atasan. Dalam hal ini tampak jelas unsur preventif dari maksud kontrol itu. Kontrol a-posteriori adalah jika pengawasan itu baru terjadi 222 Ibid. dapat pula dibedakan dalam 2 jenis kontrol.64 dilakukan oleh pejabat atasan terhadap bawahannya secara hierarkis. Misalnya: pengeluaran suatu yang untuk berlaku sah dan dilaksanakan. kontrol politis yang pada umumnya dilakukan oleh lembagalembaga perwakilan rakyat dalam bentuk “hearing” ataupun hak bertanya para anggotanya. suatu Kontrol Ekstern adalah pengawasan yang dilakukan oleh organ atau lembaga-lembaga yang secara organisatoris/struktural berada di luar Pemerintah dalam arti eksekutif. demikian seterusnya. atau peraturan pemerintah daerah-daerah tingkat II harus mendapat pengesahan terlebih dahulu dari pemerintah daerah tingkat I. hlm. Termasuk pula kontrol ekstern ini adalah kontrol yang dilakukan secara tidak langsung melalui badan-badan peradilan (judicial control) dalam hal timbul persengketaan atau perkara dengan pihak Pemerintah. yaitu apa yang disebut sebagai Kontrol a-priori ada yang disebut Kontrol a-posteriori. Sedangkan sebaliknya. xvi . ataupun pengawasan yang dilakukan oleh tim/ panitia verifikasi yang dibentuk secara insidentil dan biasanya terdiri dari beberapa orang ahli dalam bidang-bidang tertentu. Bentuk kontrol-kontrol semacam itu dapat digolongkan dalan jenis kontrol teknis-administratif atau lazim pula disebut sebagai suatu bentuk “built-in control”. misalnya: kontrol keuangan yang dilakukan oleh Badan Pengawas Keuangan (BPK). dilakukan Dikatakan sebagai Kontrol a-priori adalah bila pengawasan itu sebelum dikeluarkannya suatu keputusan atau ketetapan Pemerintah ataupun peraturan lainnya yang pengeluarannya memang menjadi wewenang Pemerintah.

yaitu Kontrol segi hukum. dikenal pula pembedaan yang ditinjau dari segi sifat kontrol itu terhadap objek yang diawasi. instrumen pengawasan. 2) Ruang Lingkup. Waktu Pelaksanaan. hlm. Pemerintah Dengan atau kata sesudah lain.65 sesudah terjadinya dikeluarkan keputusan/ketetapan Pemerintah. Peranan badan peradilan melalui suatu judicial control adalah selalu bersifat Kontrol aposteriori. sedangkan suatu kontrol teknis administratif intern dalam lingkungan Pemerintah sendiri (built-in control) bersifat selain penilaian legalitas (rechtsmatigsheidtoetsing) juga dan bahkan lebih menitikberatkan pada segi penilaian kemanfaatan.223 Di lapangan pemerintahan daerah. Jadi dibedakanlah antara Kontrol segi hukum (rechtmatigheidstoetsing) dan Kontrol segi kemanfaatan (doelmatigheidstoetsing). dan Jangka Waktu Pelaksanaan Pengawasan Preventif berasal dari kata preventie yang berarti pencegahan. Dengan kata lain. baik yang bersifat preventif maupun yang bersifat represif seringkali digunakan. karena selalu dilakukan sesudah terjadinya sustu perbuatan atau tindakan. yaitu segi “doelmatigheid”. Wujud. arti tindakan/perbuatan pengawasan di sini adalah dititikberatkan kepada tujuan yang bersifat korektif dan memulihkan suatu tindakan yang keliru. yaitu segi “rechtmatigheid” dari perbuatan Pemerintah ataukah juga di samping segi “rechtmatigheid” ini dinilai pula benar-tidak benarnya perbuatan itu ditinjau dari segi/pertimbangan kemanfaatannya (opportunitas). xvi-xvii . sedangkan represif dari kata repressie yang berarti penekanan atau pengekangan. Di samping kedua macam kriteria pembedaan tersebut di atas. apakah kontrol itu hanya dimaksudkan untuk menilai segi-segi atau pertimbangan yang bersifat hukum-nya (segi legalitas). Misalnya: Kontrol yang dilakukan oleh badan peradilan (judicial control) pada prinsipnya hanya menitikberatkan pada segi legalitas. Antara keduanya terdapat perbedaan baik dalam ruang 223 Ibid.

1990. Peraturan-peraturan dan Keputusan-keputusan Kepala Daerah tertentu yang diawasi secara preventif adalah ketentuan-ketentuan yang memberikan beban kepada rakyat. 149. baik Pemerintah Pusat. Dilakukan oleh aparat pengawas intern.66 lingkup/lingkungan pelaksanaanya. Pengawasan represif dijalankan terhadap semua Peraturan Daerah dan keputusan Kepala Daerah tanpa kecuali. (Inspektorat) a. Jika digambarkan dalam suatu bagan. hlm. Ruang lingkup berlakunya Pengawasan preventif hanya dilaksanakan terhadap beberapa Peraturan Daerah atau Keputusan Kepala Daerah tertentu saja yang menyangkut menimbulkan kepentingaan-kepentingan keresahan-keresahan. hlm. ancaman pidana. perwujudan maupun jangka waktu Perbedaan-perbedaan itu adalah sebagai berikut:225 a. Analisa Hubungan Pemerintah Pusat Dan Daerah Di Indonesia. Jadi pengawasan ini mempunyai ruang lingkup (scope) yang lebih luas dari pengawasan preventif. Provinsi. b. Pengawasan terhadap produk-produk hukum yang ditetapkan oleh pemerintahan daerah ( pengawasan terhadap peraturan daerah dan peraturan kepala daerah).224 berlakunya. 225 Ibid. ruang lingkup pengawasan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah dapat dilihat sebagai berikut: Tabel 1: RUANG LINGKUP PENGAWASAN ATAS PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH Pengawasan atas pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah (baik yang menyangkutan urusan otonomi maupun tugas pembantuan). besar atau yang mungkin dan kegelisahan-kegelisahan gangguan-gangguan dalam pelaksanaan atau penyelenggaraan kepentingan umum. apabila tidak ditetapkan dengan sebaik-baiknya oleh Pemerintah Daerah. Melalui pranata pengujian (material dan formal) ke badan peradilan (MA). Rineka Cipta. keharusan. larangan. Melalui pranata pembatalan (vernietiging) atau berupa penangguhan pemberlakuan 224 Riwu Kaho. Jakarta.149-153 . dan yang menyangkut kepentingan rakyat banyak. dan Pemerintah Daerah itu sendiri. yang mengandung perintah.

Wujud dari masing-masing pengawasan.226 c. penetapan pedoman. sebelum peratuan-peraturan itu mulai berlaku dan dijalankan. c. Perubahan APBD dan Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD. untuk provinsi oleh Mendagri dan untuk kabupaten/kota oleh Gubernur. Melalui proses/prosedur tertentu. jadi sebelum peraturan-peraturan/keputusan-keputusan tersebut dijalankan. dan Peraturan-peraturan Daerah dan Tingkat II. monitoring. Jadi pengawasan ini di satu pihak merupakan hak pengawasan dari pihak pengawas dan di lain pihak merupakan kewajiban untuk meminta 226 UU No. kriteria. oleh Pemerintah Pusat. sementara dalam praktek pembatalan terhadap perda ditetapakn oleh Menteri Dalam Negeri (dalam bentuk Peraturan Menteri?). b. . Pengawasan preventif dilaksanakan sebelum Peraturan-peraturan dan Keputusan-keputusan Kepala Daerah tersebut mulai berlaku. Mengenai waktu pelaksanaanya. dsb. Pengawasan represif dilakukan sesudah Peraturan-peraturan Daerah dan Keputusankeputusan Kepala Daerah berlaku dan dijalankan. 32 Tahun 2004 Pasal 145 (3) dengan secara eksplisit menetapkan bahwa pembatalan Perda ditetapkan dengan Peraturan Presiden. Pengawasan preventif berujud kewajiban atau keharusan untuk memperoleh pengesahan lebih dahulu dari pihak pengawas yaitu Menteri Dalam Negeri bagi Peraturan Daerah /Keputusan-keputusan Gubernur Gubernur Kepala Daerah Tingkat I bagi Keputusan-keputusan Kepala Daerah Kepala Daerah Tingkat I. misalnya dalam bentuk “evaluasi” terhadap Raperda dan Rancangan Peraturan Kepala Daerah tentang APBD.67 (schorsing).

Keputusan-keputusan/peraturan-peraturan lain di luar hal-hal yang tersebut di atas (di luar ketentuan-ketentuan yang memberikan beban kepada rakyat. maka pihak pengawas akan mengadakan peninjauan atau penyelidikan lebih lanjut apakah memang keputusan tersebut memang perlu dibatalkan ataukah tidak. perintah. Penundaan atau pembatalan dilakukan apabila peraturan-peraturan atau keputusan- keputusan Daerah yang telah dijalankan itu bertentanagan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi tingkatnya atau dengan kepentingan umum Apabila sesuatu Peraturan Daerah atau Keputusan Kepala Daerah yang telah berlaku dengan tanpa pengesahan. Pengawasan represif berupa penundaan/penangguhan atau pembatalan oleh pihak pengawas terhadap Peraturan-Peraturan Daerah/Keputusankeputusan Kepala Daerah yang telah berjalan tersebut. Setelah Keputusan Kepala Daerah/Peraturan Daerah itu ditunda/ditangguhkan berlakunya. Dengan penolakan tersebut. . ancaman pidana dan yang menyangkut kepentingan rakyat banyak). keharusan. dikenakan pengawasan represif. larangan. Penundaan bermaksud untuk menahan buat sementara waktu berjalannya Keputusan Kepala Daerah/Peraturan Daerah yang telah berlaku selama masih dalam pertimbangan untuk dibatalkan. Apabila pihak pengawas beranggapan bahwa peraturan-peraturan dengan yang dimintakan yang lebih pengesahan tinggi tersebut atau bertentangan peraturan tingkatnya bertentangan dengan kepentingan umum. maka pengawas menolak untuk memberikan pengesahan. Penolakan tersebut dengan disertai alasanalasannya disampaikan kepada Pemerintah Daerah yang bersangkutan. maka peraturan yang dimintakan pengesahan tersebut tidak dapat berlaku.68 pengesahan dari pihak yang diawasi. diduga atau dianggap mungkin bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi tingkatnya atau dengan kepentingan umum. Jadi penundaan adalah langkah awal dari pembatalan. maka instansi/pejabat yang berwenang dalam pengawasan represif dapat menunda keputusan/peraturan tersebut.

supervision) merupakan unsur yang tidak dapat dipisahkan dari kebebasan berotonomi.. hlm. . Pengawasan (toezicht. Op. maka menurut ketentuan. Jadi dalam waktu 3 bulan itu pejabat yang berwenang untuk memberikan pengesahan harus memberikan pengesahan yang dimintakan atau menolaknya. sewaktu-waktu dapat ditangguhkan atau dibatalkan. Bilamana Daerah berkeberatan atas penolakan tersebut. Kebebasan dan kemandirian berotonomi dapat dipandang sebagai pengawasan atau kendali terhadap kecenderungan sentralisasi yang berlebihan.. Pengawasan represif dilakukan untuk jangka waktu yang tidak terbatas. Bentuk dan isi pengawasan dilakukan semata-mata menurut atau berdasarkan ketentuan undangundang. Antara kebebasan dan kemandirian berotonomi di satu pihak dan pengawasan di pihak lain. supervision) adalah suatu bentuk hubungan dengan sebuah legal entity yang mandiri.153. Peraturan Daerah atau Keputusan Kepala Daerah itu dapat diberlakukan. Bilamana sesudah jangka waktu 3 bulan tersebut belum ada pengesahan atau penolakan .69 Keputusan untuk menunda harus disampaikan kepada Daerah beserta alasan-alasannya. yaitu selama sesuatu Peraturan Daerah/Keputusan Kepala Daerah masih berlaku. Hubungan pengawasan hanya dilakukan terhadap hal yang secara 227 Bagir Manan. Kalau ditolak maka alasan-alasan penolakan itu disampaikan kepada Daerah yang bersangkutan. pengertian pengawasan (toezicht. Sebaliknya pengawasan (toezicht) merupakan kendali terhadap desentralisasi berlebihan. misalnya 3 bulan.227 Namun demikian. maka Daerah dapat mengajukan keberatan..Cit.. d. merupakan dua sisi dari satu mata uang dalam negara kesatuan dengan sistem otonomi (desentralisasi). Mengenai jangka waktu pelaksanaan Pengawasan preventif dijalankan dalam jangka waktu terbatas/tertentu. Tidak ada otonomi tanpa sistem pengawasan. bukan hubungan internal dari entitas yang sama. Menyongsong Fajar..

dibuat Tabel oleh Agus Kusnadi. Bandung. Perancis dan Belanda230 NO 1 KATEGORI 2 INGGRIS 3 a. 154 230 Sumber : Bagir Manan. Pengawasan Represif 1. Pengawasan ini berkaitan dengan produk hukum daerah dan tindakan tertentu organ pemerintahan daerah. Objek-Objek Pengawasan Untuk mengetahui objek-objek pengawasan dalam konteks hubungan pusat dan daerah. preventif dikatkan dengan 229 wewenang wewenang mengesahkan pembatalan Pengawasan represif adalah (vernietiging) atau penangguhan(schorsing). Hubungan Antara Pusat dan Daerah Menurut UUD 1945. 2009. Bentuk dan Ruang Lingkup Pengawasan Pusat Terhadap Daerah Dalam Mewujudkan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Yang Demokratis Menurut UUD 1945. Pengawasan Yudisial Loc. Desertasi. Tabel 2: Perbandingan Pengawasan Pusat Terhadap Daerah di Inggris. hlm. Ibid.43-114. Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran.228 Ada dua jenis pengawasan baku terhadap satuan pemerintahan otonom yaitu pengawasan preventif (preventief toezicht) dan pengawasan represif (repressief toezicht). Pengawasan Legislatif PERANCIS 4 a. Perancis.. Pengawasan Administratif c. dapat didekati melalui perbandingan pengawasan yang berlaku di Inggris. hlm. Pengawasan (goedkeuring). 229 228 . Pengawasan Administratif b. Pengawasan Yudisial BELANDA 5 a. Pengawasan tidak berlaku atau tidak diterapkan terhadap hal yang tidak ditentukan atau berdasarkan undang-undang. c.70 tegas ditentukan dalam undang-undang.Cit. Pengawasan Preventif b. dan Belanda. Jenis/Bentuk Pengawasan b.

Kroon (Mahkota). Pemerintah b. Keputusan dan Kebijakan Daerah c. Objek Pengawasan a. Peraturan dan Keputusan Daerah a. Parlemen a. Cour des c. Pusat Tribuneux Administratif. Peraturan/ Kebijakan Ekonomi Pemerintah Daerah b. Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah berdasarkan undangundang Parlemen b. Pembentuk UndangUndang. Commissaris van de Koning. baik di bidang otonomi maupun tugas perbantuan. dan Gedeputeerde Staten b. 3. Prefect dan Counseil d’Etat 2. Kroon (Mahkota). Pengadilan Comptes (Court of Accounts) a. Counseil d’Etat. Peraturan/ Kebijakan Commune. Peraturan.71 a. KeputusanKeputusan yang harus mendapat pengesahan pemerintahan tingkat atasnya b. b) Peraturan daerah (bersifat regeling). Keputusan atau tindakan administrasi negara Dari bagan yang ditunjukkan di atas dapat ditarik suatu kelaziman bahwa objek pengawasan pemerintah pusat terhadap satuan pemerintahan di bawahnya (atau pengawasan pusat terhadap daerah) adalah terhadap: a) Penyelenggaraan pemerintahan daerah sebagai pelaksanaan undangundang nasional. Gedeputeerde Staten a. c) Tindakan administrasi negara pada pemerintahan daerah (bersifat beschikking dan . Keputusan yang mempunyai akibat hukum. Subjek Pengawasan b.

(memegang teguh dan menyatukan beraneka ragam rakyat menjadi suatu bangsa).72 beleidsregel). 4. Tujuan Pengawasan Relevan dengan pengawasan terhadap penyelenggaraan De Guzman dan Artno Pascho231 pemerintahan di daerah. Untuk melindungi para warga negara dari tindakan sewenang-wenang dari (pejabat) pemerintah daerah). (Terj. dan d) Keputusan yang harus mendapatkan pengesahan dari satuan pemerintahan di atasnya. yakni. 3. 2. (Terj. Masalah Hukum dalam Pemerintahan di Daerah. To maintain minimun standards in the performance of services by local authorities. f. antara dan diantara berbagai macam tingkatan 231 Ateng Syafrudin. 28 Desember 1992. 7. Raul P. To Wield and integrated the diverse people into a nation.untuk memelihara standar-standar minimum dalam melaksanakan pelayanan-pelayanan oleh pemerintah daerah). Makalah untuk pendidikan non-gelar anggota DPRD tingkat II se-Jawa Barat di Fakultas ISIP Unpad. 1. Untuk mengawasi pengeluaran atau belanja daerah sebagai bagian manajemen dan perencanaan dari perekonomian nasional). 5. hlm. To protect the citizens against the abuse of power by local authorities. To maintain standards of administration as well as coordinate administrations between and among various levels of government. (Terj. To control local expenditures as part of the management and planning of the national economy. (Terj. . mengisyaratkan setidaknya ada 5 (lima) alasan mengapa pengawasan itu menjadi instrumen penting dalam rangka penyelenggaraan tugas-tugas pemerintahan di daerah. Untuk memelihara standar-standar administrasi sebaik koordinasi administrasi pemerintahan).

M. untuk mencegah kelalaian dalam administrasi yang dapat merugikan negara atau daerah. dan fragmatis. untuk menjaga kewibawaan pemerintah daerah dan kepentingannya. hlm. 2. Jakarta. agar pelaksanaan pengawasan dapat dijadikan sebagai suatu alat (instrumen) yang efektif dalam rangka penyelenggaraan tugas-tugas pemerintahan daerah. 3) Menjaga agar pelaksanaannya itu dijalankan sesuai dengan peraturanperaturan yang telah ditetapkan (peraturan yang berlaku). fleksibel. Menurut H. Azmy Akhir. c. 4) Menjaga agar tugas itu dijalankan berdaya guna (termasuk pengurusan. Bohari.N. serta akibat-akibatnya. Apa yang diawasi (obyek yang perlu diawasi) b. Menurut M.234 232 233 Ibid. 1986. pemeliharaan) sesuai dengan tujuan.73 Ateng Syafrudin232 menyebutkan 3 (tiga) tujuan dari pelaksanaan pengawasan. 1. Azmy Akhir.N. maka harus diperhatikan beberapa kriteria sebagai berikut : a. untuk menghindari atau mencegah penyalahgunaan wewenang. terus menerus. yakni. 5) Melakukan usaha-usaha untuk mengatasi hambatan. Pengawasan tersebut harus bersifat rasional. Menjaga agar rencana itu dalam realisasinya tetap terarah pada tujuan yang telah ditentukan. e. mengendalikan penyimpangan-penyimpangan. Bagaimana pengawasan tersebut dapat dilakukan. 71 . CV. Dinna. untuk mencapai hal-hal sebagai berikut : a. 3. Dimana dan kapan diadakan pengawasan dan oleh siapa pengawasan tersebut harus dilakukan. Masalah Pengurusan Keuangan Negara : Suatu Pengantar Teknis. berkenaan dengan penyelenggaraan tugas-tugas pemerintahan daerah. sehingga tujuan dari kegiatan pengawasan tersebut dapat tercapai.233 Kriteria-kriteria di atas penting untuk menjadi pertimbangan dalam melakukan pengawasan. d. Mengapa perlu diadakan pengawasan.

Jakarta. hlm.Cit.235 234 235 H. Hukum Anggaran Negara. penyelewengan. Bohari. hlm. hambatan. Op. 1995. kesalahan dan kegagalan dalam pencapaian tujuan dan sasaran serta pelaksanaan tugas-tugas organisasi.74 Paling tidak tujuan pengawasan itu adalah untuk mencegah sedini mungkin terjadinya penyimpangan. pemborosan. Rajawali Pers. 159 . 117-118 Lembaga Administrasi Negara RI.

op.240 Keenam. Perjalanan Historis Pasal 18. hlm 12. dan Bagir Manan. 18A dan 18B.238 Keempat..237 Ketiga. hlm 17. Karawang. Pusat Studi Hukum Fakultas Hukum UII. 236 . Hubungan Kewenangan Perubahan Kedua UUD 1945 yang terjadi pada tahun 2000 mengubah secara mendasar pengaturan pemerintahan daerah di Indonesia. 32/2004 jo UU No. 242 Ibid.. Menyongsong Fajar .236 Kedua. Yogyakarta. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah. UNSIKA... Yogyakarta. 2001.. 238 Bagir Manan. pemerintahan daerah diselenggarakan berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut: pertama. Berdasarkan dasar hukum konstitusional pengaturan pemerintahan daerah dijumpai dalam Pasal-pasal 18. 12-13.241 Ketujuh. hlm. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah. Pusat Studi Hukum Fakultas Hukum UII. 13. hlm.75 BAB III PENGATURAN HUBUNGAN ANTARA PUSAT DAN DAERAH A. 1993. hlm. 8-9. 239 Ibid. Prinsip daerah mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan sebagaimana diatur dalam Pasal 18 ayat (2) UUD 1945. prinsip mengakui dan menghormati pemerintahan daerah yang bersifat khusus dan istimewa sebagaimana diatur dalam Pasal 18B ayat (1) UUD 1945. prinsip hubungan pusat dan daerah harus dilaksanakan secara selaras dan adil sebagaimana terdapat dalam Pasal 18A ayat (2) UUD 1945. Prinsip kekhususan dan keragaman daerah sebagai diatur dalam Pasal 18 ayat (1) UUD 1945. Prinsip menjalankan otonomi seluasluasnya yang diatur dalam Pasal 18 ayat (5) UUD 1945..cit. 241 Ibid. 237 Bagir Manan. 2001. prinsip mengakui dan menghormati kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sebagaimana diatur dalam Pasal 18B ayat (2) UUD 1945. Prinsip badan perwakilan dipilih langsung dalam suatu pemilihan umum sebagaimana diatur dalam Pasal 18 ayat (3) UUD 1945. 240 Ibid.239 Kelima..242 Saat ini undang-undang penyelenggaraan pemerintahan daerah sebagai pelaksanaan Pasal 18 ayat (7) didasarkan pada UU No. hlm 21. hlm 15-16.

kedua. . 38/2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah.Moneter dan Fiskal Nasional. dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. 32/2004 itu mengandung pengertian bahwa urusan pemerintahan dapat dibagi dalam dua kelompok. provinsi.76 12/2008. Bagan 6 Pembagian Urusan Pemerintahan URUSAN PEMERINTAHAN MUTLAK URUSAN PUSAT MM . . URUSAN ‘BERSAMA’ (concurrent power) Pusat. adalah organ-organ pemerintahan (regeringsorganen).Agama. Kedudukan organisasi Negara ini tidak hierarkis sementara organ pemerintahan terdapat baik di tingkat 243 Bhenyamin Hoessein. Peraturan pelaksana yang mengatur hubungan kewenangan antara lain PP No. dan . Hubungan Kewenangan Pusat dan Daerah. Jakarta. adalah organ-organ Negara (staatsorganen).perhubunga n Urusan Pilihan Antara lain : .pendidikan.kelautan .Pertahanan. 2005. Hubungan Kelembagaan Hakekat Negara adalah organisasi dan dalam organisasi Negara. . .Politik Luar Negeri. dapat di identifikasi dua macam kelompok organ. UU No.pertanian .lingkungan hidup.industri .243 Dalam Negara kesatuan. Pertama.pariwisata B. 197. hlm. .Yustisi. Ketentuan Pasal 10 UU No. maupun kabupaten/kota (concurrent power). 33/2004 serta berbagai peraturan lain yang relevan. . Pemerintahan Daerah Provinsi. .Keamanan. yaitu urusan pemerintahan yang secara mutlak menjadi urusan pusat dan urusan pemerintahan yang dapat dilaksanakan baik oleh pemerintah. organ Negara termaksud hanya dijumpai di ibu kota Negara (di tingkat pemerintahan nasional). . Kabupaten/Kota Urusan Wajib Antara lain : . dalam Kumpulan Tulisan pasang surut otonomi Daerah.kesehatan. yang memiliki perbedaan yang signifikan. Provinsi. Yayasan Tifa.

Dengan demikian isi dan jenis otonomi bagi setiap daerah tidak selalu sama dengan daerah lainnya.77 nasional maupun di subnasional. 32 Tahun 2004 dijelaskan bahwa Prinsip otonomi daerah menggunakan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam arti daerah diberikan kewenangan mengurus dan mengatur semua urusan pemerintahan diluar yang menjadi urusan Pemerintah. 198 246 Penjelasan Umum UU No. dan pemberdayaan masyarakat yang bertujuan pada peningkatan kesejahteraan rakyat. Adapun yang dimaksud dengan otonomi yang bertanggungjawab adalah otonomi yang dalam penyelenggaraannya harus benar-benar sejalan dengan tujuan dan maksud pemberian otonomi. peningkatan peran serta. Daerah memiliki kewenangan membuat kebijakan daerah untuk memberi pelayanan. khususnya pemerintahan tingkat daerah tersusun dalam satu kesatuan struktural dan 244 245 Ibid.245 Dalam penjelasan umum UU No. prakarsa. hidup dan berkembang sesuai dengan potensi dan kekhasan daerah. wewenang.246 UUD 1945 menghendaki susunan pemerintahan. Asas ini berfungsi untuk menciptakan keanekaragaman dalam penyelenggaraan pemerintahan. Prinsip otonomi nyata adalah suatu prinsip bahwa untuk menangani urusan pemerintahan dilaksanakan berdasarkan tugas. terjadi pembentukan dan implementasi kebijakan yang tersebar diberbagai jenjang pemerintahan subnasional. hlm.244 Dengan desentralisasi. desentralisasi berfungsi untuk mengakomodasi keanekaragaman masyarakat.. Sejalan dengan prinsip tersebut dilaksanakan pula prinsip otonomi yang nyata dan bertanggungjawab. 32 Tahun 2004 . dan kewajiban yang senyatanya telah ada dan berpotensi untuk tumbuh. hlm. Kedudukan organ-organ pemerintahan bersifat hierarkis di bawah Presiden (Pemerintah).. sesuai dengan kondisi dan potensi masyarakat. yang pada dasarnya untuk memberdayakan daerah termasuk meningkatkan kesejahteraan rakyat yang merupakan bagian utama dari tujuan nasional.. sehingga terwujud variasi struktur dan politik untuk menyalurkan aspirasi masyarakat setempat. Dengan perkataan lain. 197 Ibid.

Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran. 182 249 Kuntana Magnar. tugas pembantuan dan dekonsentrasi. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah beserta perubahannya. dengan demikian terdapat pemencaran kekuasaan dari pusat kedaerah baik menurut asas otonomi. 32 Tahun 2004 Tentang pemerintahan Daerah beserta peraturan pelaksanaannya. 4 Agustus 2009 250 Pasal 3 Ayat (1) UU No. Bandung. Berdasarkan kenyataan itu. Susunan luar dibawah Pemerintah Pusat terdapat Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota.250 247 248 Bagir Manan. Hubungan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. antara pusat dan daerah akan terjadi hubungan antara lain hubungan kelembagaan.247 Negara (pemerintah Pusat) dan daerah kedua-duanya merupakan badan hukum publik yang masing-masing mempunyai badan pemerintahannya sendiri-sendiri dengan hak.78 fungsional yang utuh. susunan kelembagaan pemerintahan daerah terdiri dari: 1.249 Menurut UU No. 1984. hlm. Hubungan… hlm. meskipun tidak dalam susunan hirarkis satu sama lain. 1. Atas dasar ketentuan tersebut dapat diketahui bahwa penyelenggaraan pemerintahan dilakukan dengan menggunakan sistem desentralisasi. 197 Irawan Soejito. Hubungan dalam pengaturan organisasi perangkat daerah Sebagaimana diketahui bentuk Negara Indonesia tercantum di dalam Pasal 1 Ayat (1) UUD 1945. 32 Tahun 2004 . Penerbit Bina Aksara. yang penyelenggaraannya melalui ketentuan Pasal 18 ayat (1).248 Hubungan antara Pemerintah Pusat dengan daerah otonom diatur dengan cara-cara tertentu yang diatur dengan undang-undang. Dalam hal ini adalah UU No. Bahan diskusi pada Diskusi Terbatas Pusat Studi Hukum Tata Negara. hubungan tersebut dalam praktek terlihat misalnya pada pengaturan organisasi perangkat daerah dan pemekaran daerah. kewenangan dan kewajiban sendiri-sendiri.

(2) Bupati dan wakil bupati atau walikota dan wakil walikota dilantik oleh Gubernur atas nama Presiden. dan kelurahan. kecamatan. sekretariat DPRD. untuk kabupaten disebut wakil bupati dan untuk kota disebut wakil walikota. dinas daerah. melindungi dan melayani masyarakat maupun dalam memimpin organisasi administrasi pemerintahan. Kepala daerah Pasal 24 UU No. Dalam hal pelantikan terdapat hubungan antara pemerintah dan pemerintah daerah sebagaimana diatur dalam Pasal 111 ayat (1) Gubernur dan wakil Gubernur dilantik oleh Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden. baik sebagai pemimpin organisasi pemerintahan yang mengayomi. Perangkat daerah provinsi adalah unsur pembantu kepala daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah yang terdiri dari sekretariat daerah. sekretariat DPRD. lembaga teknis daerah. pembangunan 251 252 Pasal 3 Ayat (2)jo. telah menunjukan eksistensinya. untuk kabupaten disebut bupati. untuk provinsi disebut wakil Gubernur. 32 Tahun 2004 menyebutkan pada Setiap daerah dipimpin oleh kepala pemerintah daerah yang disebut kepala daerah. (4) Tata cara pelantikan dan pengaturan selanjutnya diatur dalam Peraturan Pemerintah Kedudukan dan peranan kepala daerah dengan beragam penyebutan seperti Gubernur. dan untuk kota disebut walikota.253 2. 32 Tahun 2004 Pasal 1 angka 7 PP No. Pasal 19 Ayat (2)UU No. Dalam memutar roda organisasi pemerintahan. Susunan dalam terdiri dari DPRD dan kepala Daerah beserta perangkat daerah251 a. Bupati/Walikota. Perangkat daerah kabupaten/kota adalah unsur pembantu kepala daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah yang terdiri dari sekretariat daerah. Kepala daerah dibantu oleh satu orang wakil kepala daerah. 41 . 41 Tahun 2007 253 Pasal 1 angka 8 PP No. dinas daerah dan lembaga teknis daerah252 b.79 2. Kepala daerah untuk provinsi disebut Gubernur.

254 J.254 3. dan kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur untuk Bupati/Walikota 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun. Jakarta. 32 Tahun 2004 Hubungan organisasi perangkat daerah antara pemerintah dengan pemerintah daerah terdapat dalam hal melaksanakan tugas dan wewenang kepala daerah dan wakil kepala daerah mempunyai kewajiban menjalin hubungan kerja dengan seluruh instansi vertikal di daerah dan semua perangkat daerah (Pasal 27 Ayat (1)). dan kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur untuk Bupati/Walikota 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun. dan memberikan laporan keterangan pertanggungjawaban kepada DPRD. 2003. 3 . Penerbit Gramedia Pustaka. Selain itu. Hubungan Kepala Daerah dengan Pemerintah Menurut UU No. Hlm. Kaloh. serta menginformasikan laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada masyarakat. kepala daerah secara terus menerus dihadapkan pada pelbagai tuntutan dan tantangan baik secara internal maupun eksternal yang harus di respon dan diantisipasi sekaligus merupakan ujian terhadap kapabilitias dan kompetensi Kepala Daerah. pada Ayat (3) dikatakan Laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada Pemerintah dimaksud disampaikan kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri untuk Gubernur. serta dalam menghadapi konflik.80 dan pembinaan kemasyarakatan. kepala daerah mempunyai kewajiban juga untuk memberikan laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada Pemerintah. gejolak dan permasalahan pemerintahan di daerah. Laporan tersebut digunakan Pemerintah sebagai dasar melakukan evaluasi penyelenggaraan pemerintahan daerah dan sebagai bahan pembinaan lebih lanjut sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Kepala Daerah juga mempunyai kewajiban untuk memberikan laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada Pemerintah Pasal 27 Ayat (2). Laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada Pemerintah disampaikan kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri untuk Gubernur. Kepala Daerah.

81 Laporan sebagaimana dimaksud digunakan Pemerintah sebagai dasar melakukan evaluasi penyelenggaraan pemerintahan daerah dan sebagai bahan pembinaan lebih lanjut sesuai dengan peraturan perundang-undangan. c) koordinasi pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan tugas pembantuan di daerah provinsi dan kabupaten/kota. dan/atau tindak pidana terhadap keamanan Negara.255 Dalam kedudukannya tersebut Gubernur bertanggung jawab kepada Presiden. 32 Tahun 2004 ayat (2) 257 Pasal 38 Ayat (1) . 255 256 Pasal 37 UU No. Pasal 30 ayat (1) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah diberhentikan sementara oleh Presiden tanpa melalui usulan DPRD apabila dinyatakan melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun atau lebih berdasarkan putusan pengadilan. b) koordinasi penyelenggaraan urusan Pemerintah di daerah provinsi dan kabupaten/kota. 4. dan Pasal 32 ayat (5). Pasal 34 ayat (3) menyebutkan apabila kepala daerah dan wakil kepala daerah diberhentikan sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1). Pada Ayat (2) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah diberhentikan oleh Presiden tanpa melalui usulan DPRD apabila terbukti melakukan tindak pidana berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Presiden menetapkan penjabat Gubernur atas usul Menteri Dalam Negeri atau penjabat Bupati/Walikota atas usul Gubernur dengan pertimbangan DPRD sampai dengan adanya putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.256 Gubernur dalam kedudukannya sebagai wakil pusat di daerah. Tindak pidana itu antara lain menurut Pasal 31 ayat (1) tindak pidana korupsi. Gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat Gubernur yang karena jabatannya berkedudukan juga sebagai wakil Pemerintah di wilayah provinsi yang bersangkutan. 32 Tahun 2004 ayat (1) Pasal 37 UU No. memiliki tugas dan wewenang257 dalam hal a) pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah kabupaten/kota. makar. tindak pidana terorisme. Pasal 31 ayat (1).

DPRD Konsep perwakilan politik lokal terkait dengan sistem pemerintahan yang dipraktikkan suatu Negara. Perwakilan Politik Lokal dan Eksistensi DPRD dalam Konteks Otonomi Daerah. membentuk Perda yang dibahas dengan kepala daerah untuk mendapat persetujuan bersama. Institute for Local Development Yayasan TIFA. anggaran. Marbun. d. c. keterlibatan masyarakat secara langsung dan tidak langsung ikut menentukan urusan urusan rumah tangga daerahnya.82 5. Konsep perwakilan politik lokal merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sistem demokrasi. 32 Tahun 2004) dan DPRD sebagai lembaga perwakilan rakyat daerah dipilih melalui pemilihan umum bersamaan dengan pemilihan anggota DPR dan DPD. 327 258 . dan pengawasan (Pasal 41).258 Sebagaimana telah disinggung sebelumnya bahwa DPRD merupakan unsur pemerintahan daerah bersama kepala daerah (Pasal 40 UU No. kebijakan pemerintah daerah dalam melaksanakan program pembangunan daerah. membahas dan menyetujui rancangan Perda tentang APBD bersama dengan kepala daerah. b. dalam Kumpulan Tulisan “Pasang Surut Otonomi Daerah”. mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian kepala daerah/wakil kepala daerah kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri bagi DPRD provinsi dan kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur bagi DPRD kabupaten/kota. APBD. peraturan kepala daerah. dan kerja sama internasional di daerah. Adapun mengenai tugas dan wewenang DPRD sebagaimana diatur dalam Pasal 42 UU 32 Tahun 2004 adalah: a. Jakarta 2005. BN. editor Anhar Gonggong. hlm. artinya. melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan Perda dan peraturan perundang-undangan lainnya. Dengan kedudukannya seperti tersebut DPRD memiliki fungsi legislasi. e. memilih wakil kepala daerah dalam hal terjadi kekosongan jabatan wakil kepala daerah.

melakukan pengawasan dan meminta laporan KPUD dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah. g. Perangkat Daerah Keberadaan perangkat daerah dijumpai pada Pasal 1 Angka 3 dan Pasal 120 UU No. j. h. Meskipun pengaturan tentang susunan. yaitu UU No. meminta laporan keterangan pertanggungjawaban kepala daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. atau dengan perkataan lain DPRD bukan merupakan subordinasi dari DPR RI. 23 Tahun 2002 sebagaimana disebutkan dalam Pasal 39 UU No. Pengaturan mengenai DPRD ini selain diatur dalam UU No. kedudukan dan fungsi DPR RI. kekuasaan DPRD baik tingkat provinsi maupun Kabupaten/Kota akan melalui sebuah upaya evaluasi peraturan pelaksanaannya. i. memberikan pendapat dan pertimbangan kepada pemerintah daerah terhadap rencana perjanjian internasional di daerah. DPD dan DPRD. k. namun DPRD tidak mempunyai hubungan secara langsung dengan DPR. memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama internasional yang dilakukan oleh pemerintah daerah. memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama antardaerah dan dengan pihak ketiga yang membebani masyarakat dan daerah. membentuk panitia pengawas pemilihan kepala daerah. 32 Tahun 2004 yang pelaksanaannya melalui PP No. Dengan adanya PP tersebut menunjukan adanya hubungan . Disamping itu DPRD juga sebenarnya merupakan bagian atau unsur kekuasaan eksekutif pada level pusat karena merupakan bagian dari penyelenggara pemerintahan daerah. 41 Tahun 2007. 32 Tahun 2004. 6. kedudukan serta fungsi DPRD ini berada dalam satu undang-undang yang sama dengan pengaturan mengenai susunan. 32 Tahun 2004 juga diatur dalam UU yang mengatur tentang Susunan Kedudukan MPR. Bahkan dalam hal pembentukan perda. DPR.83 f. bahkan dalam cara pengisiannyapun sama-sama dipilih secara langsung oleh rakyat melalui pemilu.

Paling lama 30 hari setelah pembatalan. 41 Tahun 2007 dijelaskan bahwa Pembinaan dan pengendalian organisasi dalam Peraturan Pemerintah ini dimaksudkan dalam rangka penerapan koordinasi. Kepala Daerah dapat mengajukan keberatan pada Mahkamah Agung (Ayat (5)). Selanjutnya DPRD dengan Kepala Daerah mencabut perda dimaksud (Ayat (4)). Setiap perda dilarang bertentangan dengan kepentingan umum. sehingga masing-masing pemerintah daerah taat asas dan taat norma dalam penataan kelembagaan perangkat daerah. Bupati/Walikota dalam jangka waktu tersebut. Kabupaten/Kota tidak menerima pembatalan tersebut dengan alasan yang dapat dibenarkan oleh peraturan perundang-undangan. sekretariat DPRD. dan/atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi (Pasal 136 Ayat( 4)). Kepala Daerah harus memberhentikan pelaksanaan perda. Apabila keberatan itu dikabulkan sebagian atau seluruhnya putusan Mahkamah Agung tersebut menyatakan Peraturan Presiden menjadi batal dan tidak mempunyai kekuatan hukum. dapat dibatalkan oleh pemerintah yang ditetapkan dengan Peraturan Presiden paling lama 60 hari sejak diterimanya perda oleh Pemerintah (Pasal 145 ayat (2). Perda yang bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundang-undangan lebih tinggi. Dalam hal tidak ditetapkan Gubernur. Tugas Pokok dan Fungsi Perangkat Daerah. Suatu raperda ditetapkan oleh Gubernur atau Bupati/Walikota paling lama 30 hari sejak disetujui bersama (Pasal 144 Ayat (3)). raperda itu sah menjadi perda (Ayat 4). Sedang untuk Kabupaten/Kota ditambah dengan kecamatan dan keluarahan (Pasal 120 UU No. Dalam ketentuan ini pemerintah dapat membatalkan . Pada penjelasan umum PP No. Apabila Provinsi. Perangkat daerah provinsi terdiri atas sekretariat daerah. 32 Tahun 2004). sinkronisasi dan simplifikasi antardaerah dan antarsektor. (3)). dinas daerah. Kedudukan.84 kelembagaan antara pusat dan daerah dalam pengaturan organisasi perangkat daerah. Pembentukan organisasi perangkat daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah dengan berpedoman pada PP mengenai Susunan. dan lembaga teknis daerah. integrasi.

maupun kota di Indonesia. sehingga sinkronisasi dan simplifikasi dapat tercapai secara optimal dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bupati dan Walikota. Dalam sepuluh tahun terakhir. DPRD Provinsi dan Gubernur dengan Menteri Dalam Negeri. Hubungan dalam pembentukan daerah (pemekaran dan pembubaran daerah)260 Hubungan kelembagaan lainnya terdapat dalam pembentukan daerah (pemekaran dan pembubaran daerah). supervisi. Pada Pasal 5 Ayat (2) dan (3) jelas nampak adanya hubungan kelembagaan antara pusat dan daerah dalam pembentukan daerah. Pasal 18 ayat 1 UUD 1945 menganut desentralisasi teritorial sehingga akan dibentuk daerah-daerah baik Provinsi. pelatihan. 41 Tahun 2007 Tentang SOTK Kuntana Magnar. yaitu dalam hal syarat administratif terkait DRPD Kabupaten dan Kota. Pusat Studi HTN .259 7. Menurut UU No.85 peraturan daerah tentang perangkat daerah yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan dengan konsekuensi pembatalan hak-hak keuangan dan kepegawaian serta tindakan administratif lainnya. telah terjadi banyak sekali pemekaran daerah provinsi. serta kerja sama. juga terdapat celah bagi peran DPD meskipun sangat terbatas terlihat pada Pasal 22 D ayat 1. pemerintah senantiasa melakukan fasilitasi melalui asistensi. 32 Tahun 2004 antara lain diatur didalam Pasal 4 Ayat (3) dan (4). bimbingan. Dalam pelaksanaan pembinaan dan pengendalian organisasi perangkat daerah. pedoman. Hal itu disebabkan diberikannya peluang yang sangat besar (untuk terjadinya pemekaran) oleh undang-undang tersebut yang kemudian 259 260 Penjelasan Umum PP No. Demikian pula pada Pasal 7 dan Pasal 8. Kabupaten dan Kota dengan UU. Sementara pada kelembagaan pusat. Pasal 5.2 dan 3 UUD 1945. pemberian arahan. Selain akan terkait dengan DPR dan Presiden (dalam hal ini diwakili Mendagri). Bahan Diskusi Terbatas. Pasal 7 Ayat (1) dan (2) serta Pasal 8. kabupaten. yaitu sejak dikeluarkannya UndangUndang Nomor 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah.

pelayanan masyarakat (publik). Para politisi lokal pun tetap beramai-ramai membentuk daerah baru dengan mengedepankan 261 Pusat Pengkajian dan Pengembangan Wilayah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran. hlm. adalah salah satu implikasi negatif berlakunya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999. tampaknya paradigma berpikir masyarakat pun tidak berubah dengan perubahan dasar hukum pemerintahan daerah tersebut. yaitu untuk meningkatkan kesejahtraan masyarakat. 4. . Di satu sisi. Bandung. kecenderungan tersebut dapat diterima dan dipahami sebagai wujud adanya kedewasaan dan harapan untuk mengurus dan mengembangkan potensi daerah dan masyarakatnya. Dalam hal ini. Namun di sisi lain. Sebagai akibatnya. Bahkan.261 Dengan demikian. banyak elit daerah yang mengajukan pemekaran daerah dengan dalih sudah memenuhi syarat yang ditentukan oleh undang-undang. pembentukan daerah baru pun banyak terjadi seperti cendawan tumbuh di musim hujan. Bahkan sangat mungkin terjadi sebaliknya di mana pemekaran daerah dapat menjadi penyebab persoalan bagi kehidupan masyarakat di daerah yang baru dibentuk tersebut. kecenderungan membentuk daerah otonom baru tidak serta-merta berakhir dengan digantinya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004.86 dimanfaatkan oleh para politisi atau elit lokal (daerah). pelayanan publik (umum). Namun demikian. Pengkajian Penataan Daerah Otonom Kabupaten/Kota di Jawa Barat. kabupaten. Pembentukan daerah baru juga dilakukan atas nama kepentingan masyarakat. Laporan Penelitian. dan daya saing daerah sebagaimana yang diharapkan ketika pembentukan daerah baru. dan daya saing daerah. Sekalipun saat ini undang-undang tersebut sudah tidak berlaku. mengundang kecemasan mengenai keberlanjutan dan kemampuan suatu daerah otonom baru untuk dapat bertahan mengurus rumah tangganya sendiri. pemekaran daerah belum menjadi jaminan atau obat yang mujarab dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. maupun kota. Adanya fakta banyak daerah baru yang dibentuk. 2002. kecenderungan untuk melakukan pemekaran daerah atau pembentukan daerah baru masih saja berlanjut. baik provinsi.

maupun daya saing daerah. penjabarannya (akan) diatur lebih lanjut dengan undangundang. keharmonisan hubungan pemerintahan. Dari bunyi pasal tersebut dapat diasumsikan bahwa wilayah Indonesia dibagi baik ke dalam provinsi yang sudah ada atau dapat dibagi lagi ke dalam provinsi yang baru melalui pemekaran. 31. . Jakarta. Pengaturan undangan Pemekaran Daerah dalam Peraturan Perundang- Berbicara tentang pengaturan pemekaran daerah. pada kenyataannya masalah tersebut “sudah” 262 Sekretariat Jenderal Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia. seperti keadaan sosial-budaya masyarakat.87 alasan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. sumberdaya keuangan. dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah. 2009. baik dari segi sumberdaya manusia. yang tiap-tiap provinsi. hlm. yaitu Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah. secara faktual pada saat itu sudah terdapat undang-undang yang mengatur tentang hal tersebut. Pembentukan daerah (baru) dapat ditafsirkan dari bunyi Pasal 18 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) hasil perubahan kedua pada tanggal 18 Agustus 2000262 yang menyatakan bahwa “Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota. maupun sumberdaya alamnya. maupun kemampuan daerah. sebenarnya tidak ada peraturan perundang-undangan yang secara khusus mengatur hal tersebut. Dengan demikian. Berkaitan dengan hal itu. Demikian pula untuk provinsi dapat dibagi ke dalam kabupaten dan kota yang sudah ada maupun dibagi lagi ke dalam kabupaten dan kota yang baru. Alasan tersebut menjadi senjata yang sangat ampuh untuk membentuk daerah baru tanpa mempertimbangkan aspek lain. kabupaten. 8. pelayanan publik. Namun demikian. UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. sekalipun ketentuan UUD 1945 menyebutkan “akan” diatur lebih lanjut dengan undang-undang. yang diatur dengan undang-undang”.

dihapus. Berkaitan dengan pemekaran daerah. digabung. dan kota yang harus ada di Indonesia. Bahkan sebenarnya. pemekaran daerah sangat dimungkinkan bahkan ketentuannya terkesan sangat longgar. Pasal tersebut berbunyi “Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi dalam Daerah Propinsi. Daerah yang akan dibentuk. Adapun mekanisme pembentukan. dan Daerah Kota yang bersifat otonom”. Pemerintah menugaskan Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah . hal itu diatur dalam Pasal 6 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang berbunyi: (1) Daerah yang tidak mampu menyelenggarakan Otonomi Daerah dapat dihapus dan atau digabung dengan Daerah lain. (3) Kriteria tentang penghapusan. kabupaten. (4) Penghapusan. Apabila dilihat rumusannya. dan/atau dimekarkan diusulkan oleh Kepala Daerah dengan persetujuan DPRD kepada Pemerintah. Dari bunyi pasal di atas. sehingga tidak ada pembatasan sampai berapa tahap pemekaran itu dapat dilakukan dan sampai berapa jumlah provinsi. (2) Daerah dapat dimekarkan menjadi lebih dari satu Daerah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). dan pemekaran Daerah. b. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Kenyataan itu juga turut dipermudah dengan proses dan mekanisme pemekaran yang sangat mudah seperti yang dapat dilihat dalam penjelasan Pasal 115 ayat (1) yang berkaitan dengan tugas Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah. penggabungan dan pemekaran Daerah.88 diatur dengan undang-undang yang ada. penggabungan. sebenarnya rumusan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 lebih baik daripada rumusan Pasal 18 ayat (1) UUD 1945. penghapusan. rumusan Pasal 18 ayat (1) UUD 1945 adalah hasil adopsi rumusan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999. ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. dan/atau pemekaran daerah dijelaskan sebagai berikut: a. penggabungan. Daerah Kabupaten. ditetapkan dengan Undangundang.

dan/atau pemekaran Daerah Otonom. dan Kriteria Pemekaran. dan Penggabungan Daerah. c. ada kemauan politik dari Pemerintah Daerah dan masyarakat yang bersangkutan. Pembentukan. potensi daerah. penghapusan. luas daerah. yang dituangkan dalam Keputusan DPRD. c. d. . dan pertimbangan lain. yaitu: a. terutama dalam Pasal 13 ayat (1) disebutkan bahwa pemekaran daerah dapat dilakukan berdasarkan kriteria sebagai berikut: a. f. penggabungan. sosial budaya. g. pertimbangan lain yang memungkinkan terselenggaranya Otonomi Daerah. dan Penggabungan Daerah. sosial-politik. sosial politik. Pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 129 Tahun 2000 tentang Persyaratan. e. Selanjutnya. Penghapusan. jumlah penduduk. sosial-budaya. b. berkaitan dengan prosedur pemekaran daerah dianggap sama dengan prosedur pembentukan daerah. Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah menyampaikan pertimbangan untuk penyusunan rancangan undang-undang yang mengatur pembentukan. c. b. kemampuan ekonomi. usul pembentukan Propinsi disampaikan kepada Pemerintah cq Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah dengan dilampirkan hasil penelitian Daerah dan persetujuan DPRD Propinsi dan DPRD Kabupaten/Kota yang berada dalam wilayah Propinsi dimaksud. Dalam BAB IV tentang Kriteria Pemekaran. Sebagai pelaksanaan lebih lanjut perintah Pasal 6 ayat (3) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999. jumlah penduduk. potensi daerah.89 untuk melakukan penelitian dengan memperhatikan kemampuan ekonomi. pembentukan Daerah harus didukung oleh penelitian awal yang dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah. Penghapusan. luas daerah.

90 d. berdasarkan rekomendasi pada huruf e. tidak mengherankan sampai saat ini proses pemekaran daerah masih . para anggota Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah memberikan saran dan pendapat secara tertulis kepada Ketua Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah. i. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 juga masih membuka peluang terjadinya pemekaran daerah. pembentukan. Rancangan Undangundang pembentukan Daerah disampaikan kepada DPR-RI untuk mendapat persetujuan. dan penggabungan daerah diganti seiring dengan digantinya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah. yang dituangkan dalam Keputusan DPRD. apabila Presiden menyetujui usul dimaksud. dengan memperhatikan usulan Gubernur. usul pembentukan Kabupaten/Kota disampaikan kepada Pemerintah cq Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah melalui Gubernur dengan dilampirkan hasil penelitian Daerah dan persetujuan DPRD Kabupaten/Kota serta persetujuan DPRD Propinsi. j. penghapusan. g. usul pembentukan suatu daerah diputuskan dalam rapat anggota Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah. e. Sama halnya dengan undang-undang sebelumnya. berdasarkan saran dan pendapat Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah. Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah memproses lebih lanjut dan dapat menugaskan Tim untuk melakukan observasi ke Daerah yang hasilnya menjadi bahan rekomendasi kepada Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah. Ketua Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah meminta tanggapan para anggota Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah dan dapat menugaskan Tim Teknis Sekretariat Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah ke Daerah untuk melakukan penelitian lebih lanjut. dan kriteria pemekaran. peraturan pemerintah yang berkaitan dengan persyaratan. Hal itu dapat dilihat dari bunyi Pasal 2 ayat (1) yang berbunyi ”Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota yang masing-masing mempunyai pemerintahan daerah”. f. Oleh karena itu. Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah selaku Ketua Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah mengajukan usul pembentukan Daerah tersebut beserta Rancangan Undang-undang Pembentukan Daerah kepada Presiden. h. Selanjutnya. apabila berdasarkan hasil keputusan rapat anggota Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah menyetujui usul pembentukan Daerah.

serta perangkat daerah. peralatan. Pemekaran dari satu daerah menjadi 2 (dua) daerah atau lebih sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat dilakukan setelah mencapai batas minimal usia penyelenggaraan pemerintahan. cakupan wilayah. batas. dan fisik kewilayahan. pendanaan. meliputi adanya persetujuan DPRD kabupaten/kota dan Bupati/Walikota yang akan menjadi cakupan wilayah provinsi. luas daerah. (5) Syarat fisik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi paling sedikit 5 (lima) kabupaten/kota untuk pembentukan provinsi dan paling sedikit 5 (lima) kecamatan untuk pembentukan kabupaten. dan Pasal 7 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang berbunyi sebagai berikut: Pasal 4 (1) (2) Pembentukan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) ditetapkan dengan undang-undang. (3) Syarat administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk kabupaten/kota meliputi adanya persetujuan DPRD kabupaten/kota dan Bupati/Walikota yang bersangkutan. (4) Syarat teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi faktor yang menjadi dasar pembentukan daerah yang mencakup faktor kemampuan ekonomi. teknis. pengalihan kepegawaian. persetujuan DPRD provinsi dan Gubernur serta rekomendasi Menteri Dalam Negeri. (3) (4) Pasal 5 (1) Pembentukan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 harus memenuhi syarat administratif. dan faktor lain yang memungkinkan terselenggaranya otonomi daerah. kependudukan. Undang-undang pembentukan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) antara lain mencakup nama.91 dilakukan dan terus berlangsung karena memang undang-undangnya membuka peluang untuk itu. Pengaturan tentang pembentukan daerah dan pemekaran daerah diatur dalam Pasal 4. pertahanan. sarana. . serta rekomendasi Menteri Dalam Negeri. kewenangan menyelenggarakan urusan pemerintahan. penunjukan penjabat kepala daerah. potensi daerah. dan 4 (empat) kecamatan untuk pembentukan kota. Pasal 6. persetujuan DPRD provinsi induk dan Gubernur. pengisian keanggotaan DPRD. ibukota. dan prasarana pemerintahan. (2) Syarat administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk provinsi. dan dokumen. Pembentukan daerah dapat berupa penggabungan beberapa daerah atau bagian daerah yang bersandingan atau pemekaran dari satu daerah menjadi dua daerah atau lebih. lokasi calon ibukota. sosial budaya. sosial politik. keamanan.

Pasal 6 U No. Sementara itu dalam Pasal 7 Ayat (1) ditentukan bahwa penghapusan dan penggabungan daerah beserta akibatnya ditetapkan dengan undangundang. dilakukan setelah melalui proses evaluasi. pemberian nama. (3) Pedoman evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah. diatur dengan PP (Pasal 8). terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah. sedangkan mengenai perubahan batas suatu daerah. perubahan nama daerah. (2) Penghapusan dan penggabungan daerah otonom dilakukan setelah melalui proses evaluasi terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah. Sehubungan dengan itu. atas usul dan persetujuan daerah yang bersangkutan (Ayat (2) dan (3)). Kepala Daerah berkewajiban untuk memberikan laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada Pemerintah (pusat). serta perubahannya atau pemindahan ibu kota ditetapkan dengan PP. Selanjutnya laporan dimaksud digunakan pemerintah sebagai dasar melakukan evaluasi penyelenggaraan pemerintahan daerah (Pasal 27 Ayat (2) dan (3) UU 32 Tahun 2004).92 Pasal 6 (1) Daerah dapat dihapus dan digabung dengan daerah lain apabila daerah yang bersangkutan tidak mampu menyelenggarakan otonomi daerah. Laporan tersebut disampaikan kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri untuk Gubernur. Tata cara pembentukan penghapusan dan penggabungan daerah. 32 Tahun 2004 menentukan bahwa penghapusan dan penggabungan daerah otonom. Dalam ketentuan Pasal 8 tidak ditegaskan . yaitu DPD dapat menngajukan kepada DPR rancangan undang-undang (RUU) tentang hal dimaksud. dalam pembentukan dan pememkaran serta penggabungan daerah terkait juga peran dari Dewan Perwakilan Daerah (DPD) meskipun sangat terbatas. dan kepada Menteri Dalam Negari melalui Gubernur untuk Bupati/Walikota dalam satu tahun.

b. penghapusan. Pasal 5. Pemekaran dari 1 (satu) kabupaten/kota menjadi 2 (dua) kabupaten/kota atau lebih. c. dan Pasal 6 diatur dengan Peraturan Pemerintah. Adapun peraturan pemerintah yang dimaksud adalah Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2007 Tentang Tata Cara Pembentukan. b. dan Penggabungan Daerah. Berkaitan dengan pemekaran daerah menurut Peraturan Pemerintah tersebut sebenarnya hampir sama sebagaimana diatur dalam Pasal 2. Penggabungan beberapa provinsi menjadi 1 (satu) provinsi.93 bagaimana dengan pemekaran dan perluasan daerah. (4) Pembentukan daerah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat berupa: a. Pada ketentuan ini tidak ditegaskan bagaimana dengan perluasan daerah. . (3) Pembentukan daerah provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat berupa: a. Penghapusan. Pemekaran dari satu daerah menjadi dua daerah atau lebih. sebab apabila merujuk pada Pasal 4 Ayat (3) dikatakan pembentukan daerah dapat berupa: a. dan penggabungan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. ketentuan tentang tata cara pembentukan. (2) Pembentukan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Penggabungan beberapa daerah atau bagian daerah yang bersandingan. Penggabungan beberapa kabupaten/kota yang bersanding pada wilayah provinsi yang berbeda. yaitu: (1) Pembentukan daerah dapat berupa penggabungan beberapa daerah atau bagian daerah yang bersandingan atau pemekaran dari satu daerah menjadi dua daerah atau lebih. b. Pemekaran dari 1 (satu) provinsi menjadi 2 (dua) provinsi atau lebih. Penggabungan beberapa kecamatan yang bersanding pada wilayah kabupaten/kota yang berbeda. Selanjutnya. c. dapat berupa pembentukan daerah provinsi atau daerah kabupaten/kota.

94 c. maka terhadap pengertian pemekaran sebenarnya bukan pemecahan. Salah satu perbedaan penting antara kedua peraturan pemerintah tersebut adalah dalam Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2007 diatur tentang batas waktu minimal suatu daerah dapat dimekarkan (lagi) setelah dimekarkan. Namun demikian. 389 kabupaten. Apabila ketentuan Pasal 4 Ayat (3) UU No. Sebagai akibat dari mudahnya prosedur pemekaran daerah seperti yang dijelaskan di atas. Penggabungan beberapa kabupaten/kota menjadi 1 (satu) kabupaten/kota. kabupaten. 32 Tahun 2004 diteliti. sampai dengan sekarang (2009) telah terjadi banyak sekali pemekaran daerah menjadi daerah otonom baru baik provinsi. jumlah daerah otonom di Indonesia menjadi 33 provinsi. Hal ini sangat penting agar suatu daerah dapat menjalankan roda pemerintahan sebagai daerah yang baru dibentuk. 164 kabupaten. maupun kota. dan 34 kota. Dengan demikian. tetapi mengandung arti bahwa suatu daerah seharusnya dibesarkan bukan . sampai sekarang (2009). dan 96 kota. kedua peraturan perundang-undangan di atas memiliki kesamaan di mana keduanya sangat membuka peluang terjadinya pemekaran daerah baru. Hal ini adalah suatu kemajuan dibandingkan dengan peraturan pemerintah sebelumnya. Selengkapnya Pasal 3 berbunyi “Daerah yang dibentuk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3) huruf a dan ayat (4) huruf a dapat dimekarkan setelah mencapai batas minimal usia penyelenggaraan pemerintahan 10 (sepuluh) tahun bagi provinsi dan 7 (tujuh) tahun bagi kabupaten/kota. Berdasarkan data yang diajukan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidato pengantar Rancangan Undang-Undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2010 dan Nota Keuangan di depan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tanggal 3 Agustus 2009 diketahui bahwa sejak tahun 1999 sampai dengan 2009 telah terbentuk 205 daerah baru yang terdiri dari 7 provinsi.

129 Tahun 2000 (semasa UU No. 22 Tahun 1999) dapat diketahui bahwa: 1. Sementara syarat fisik meliputi paling sedikit 5 Kabupaten/Kota untuk pembentukan Provinsi dan paling sedikit 5 Kecamatan untuk pembentukan Kabupaten. Persetujuan DPRD Provinsi induk dan Gubernur serta rekomendasi Menteri Dalam Negeri (Pasal 5 Ayat (2)) adapun untuk Kabupaten/Kota meliputi adanya persetujuan DPRD Kabupaten/Kota dan Bupati/Walikota yang bersangkutan. dan faktor lain yang memungkinkan terselenggaranya otonomi daerah. Pemekaran daerah adalah pemekaran wewenang dari Pemerintah kepada Gubernur sebagai wakil pwemerintah dan/atau perangkat pusat di daerah. dan . Syarat administrasi untuk Provinsi meliputi adanya persetujuan DPRD Kabupaten/Kota dan Bupati/ Walikota yang akan menjadi cakupan wilayah provinsi. sarana dan prasarana pemerintahan. Syarat teknis meliputi faktor yang menjadi dasar pembentukan daerah yang mencakup faktor kemampuan ekonomi. Peningkatan pelayanan kepada masyarakat. 4 kecamatan untuk Kota. social politik. Sebenarnya yang perlu diperhatikan dalam pembentukan pemekaran penhapusan dan penggabungan daerah yaitu tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan melalui: a. Melalui PP No. Kabupaten dan Kota. Penggabungan daerah adalah pengaturan daerah yang dihapus kepada daerah lain. c. e. Percepatan pertumbuhan kehidupan demokrasi. potensi daerah social budaya. Pembentukan daerah itu sendiri harus memenuhi syarat administratif dan fisik kewilayahan (Pasal 5 Ayat (1)). b. kependudukan. Percepatan pelaksanaan pembangunan perekonomian daerah.95 dipacah. peningkatan keamanan dan ketertiban. Pembentukan daerah adalah pemberian status pada wilayah tertentu sebagai Daerah Provinsi. Percepatan pengelolaan potensi daerah. lokasi calon ibukota. 3. 2. pertahanan keamanan. d. luas daerah. Persetujuan DPRD Provinsi dan Gubernur serta rekomendasi Menteri Dalam Negeri (Ayat 3).

pemerintah menetapkan Indonesia dibagi menjadi delapan provinsi. sosial budaya d. Pertimbangan lain yang memungkinkan terselenggaranya ekonomi daerah. Peningkatan hubungan yang serasi antara pusat dan daerah. 2. yaitu Sumatera.0. Untuk itu terlebih dahulu harus dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut: a. Negara Pasundan. Pada awal tahun 1950. Jawa Tengah. g.5619. terdapat berbagai perubahan wilayah Indonesia karena munculnya negara-negara baru dalam wilayah Indonesia. Jawa Tengah. Jumlah provinsi: 8. Negara Sumatera Selatan. kemampuan ekonomi. potensi daerah. jumlah penduduk. Riau. dan Negara Indonesia Timur. luas daerah. Belitung. e. Borneo Tenggara. 263 Data diolah dari http://www. Sulawesi.php/topic.com/forum/index. 3. Keenam belas negara bagian itu adalah: Republik Indonesia. Negara Jawa Timur. Akibatnya tiap-tiap negara bagian mulai menyatukan diri satu per satu dengan Republik Indonesia. Negara Sumatera Timur. muncul gerakan untuk kembali ke negara kesatuan.lautanindonesia. Antara tahun 1946-1949. Sunda Kecil. Pada akhir tahun 1949. Di bawah ini disajikan data perkembangan jumlah daerah provinsi di Indonesia melalui pemekaran daerah sejak 1945-2009.html . Dayak Besar. sosial politik. dan Maluku. Federasi Borneo Timur. Daerah Istimewa Borneo Barat. Borneo. c. RIS terdiri atas 16 negara bagian dan 1 Wilayah Federal Batavia. Jumlah provinsi: 16. Pada tahun 1945. b. Jawa Barat. Daerah Banjar. ketika Belanda mengakui kemerdekaan Republik Indonesia Serikat (RIS) 27 Desember 1949.263 Daftar Nama dan Jumlah Provinsi di Indonesia Sejak 1945-2009 1. Negara Madura. f.96 f. Jawa Timur. Bangka.

tiga provinsi baru terbentuk. Kemudian. yaitu Sumatera Barat. RIS hanya terdiri atas 4 negara bagian. yaitu Sumatera Utara. dan Kalimantan Timur. 6. Awal Agustus 1950. Jumlah provinsi: 11. Negara Sumatera Timur. Provinsi Aceh terbentuk. Jumlah provinsi: 21. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyerahkan administrasi wilayah Irian Barat kepada Indonesia. Kalimantan Selatan. yaitu Republik Indonesia. Riau. dengan nama Daerah Istimewa Aceh.97 4. dengan nama Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada tahun 1953. Daerah Istimewa Borneo Barat. hasil pemekaran dari Sumatera Utara. Pada tahun yang sama. Kota Jakarta resmi dikeluarkan dari Jawa Barat dan menjadi provinsi tersendiri dan diberi status Daerah Khusus Ibukota. Pada tahun 1963. 8. Pada tahun 1964. dengan nama Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya. Kalimantan dipecah menjadi tiga provinsi. Pada tahun 1968. 5. . Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya secara resmi ditetapkan sebagai ibukota Republik Indonesia. Yogyakarta dikeluarkan dari Jawa Tengah menjadi provinsi tersendiri dan diberi status Daerah Istimewa. Jumlah provinsi: 20. Pada tahun 1960. Provinsi Bengkulu terbentuk. Provinsi Aceh diberi status Daerah Istimewa. yaitu Kalimantan Barat. Pada tahun 1959. dan Sumatera Selatan. Jumlah provinsi: 19. yaitu Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan. Pada tahun 1958. Pada akhir tahun 1956. Jumlah provinsi: 24. yaitu Lampung (dari Sumatera Selatan). dan Negara Indonesia Timur. Jumlah provinsi: 25. dan Sulawesi Tenggara (dari Sulawesi Selatan). Pada tahun 1961. Jumlah provinsi: 14. Pada tahun 1950. Sulawesi Tengah (dari Sulawesi Utara). Provinsi Sulawesi dipecah menjadi dua provinsi. Nusa Tenggara Barat. hasil pemekaran dari Kalimantan Selatan. dan Nusa Tenggara Timur. 10. hasil pemekaran dari Sumatera Selatan. 9. Pada akhir tahun 1959. Provinsi Borneo diganti namanya menjadi Kalimantan. Provinsi Sumatera dipecah menjadi tiga provinsi. Provinsi Kalimantan Tengah terbentuk. dan Jambi.Jumlah provinsi: 18. yaitu Bali. Kemudian Provinsi Sunda Kecil juga dipecah menjadi tiga provinsi. RIS dinyatakan bubar dan diganti dengan NKRI. Pada tahun 1956. Sumatera Tengah. dan ketiga negara bagian selain RI dinyatakan bubar dan dimasukkan ke dalam wilayah NKRI. Pada tanggal 17 Agustus 1950. 7. Provinsi Sumatera Tengah dipecah menjadi tiga provinsi.

pada akhir tahun 1999. yaitu Kepulauan Riau (dari Provinsi Riau) dan Sulawesi Barat (dari Sulawesi Selatan). Jumlah provinsi: 28. Provinsi Papua juga diberi status Otonomi Khusus. Pada tahun 1999.98 11. dan diberi status Otonomi Khusus. hasil pemekaran dari Provinsi Papua. Pada tahun 2004. dua provinsi baru resmi berdiri. Irian Barat secara resmi menjadi bagian dari NKRI dan menjadi salah satu provinsi di Indonesia. Jumlah provinsi: 33. Pada tahun 2001. Provinsi Irian Jaya diganti namanya menjadi Papua. diadakan jajak pendapat (referendum) di Timor Timur dan Timor Timur secara resmi keluar dari NKRI. Jumlah provinsi: 26. 17. Tetapi. Jumlah provinsi: 27. 13. Timor Timur dimasukkan ke dalam wilayah NKRI dan menjadi salah satu provinsi di Indonesia. Pada tahun 1969. dimekarkan dari Jawa Barat. 15. Jumlah provinsi: 27. yaitu Kepulauan Bangka Belitung (dari Sumatera Selatan) dan Gorontalo (dari Sulawesi Utara). Pada tahun yang sama. Provinsi Banten resmi berdiri. Dengan semakin bertambahnya jumlah daerah baru tersebut tentu akan membebani anggaran negara dan semakin mengurangi alokasi untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat karena APBN/APBD akan lebih banyak dialokasikan . Provinsi Irian Jaya Barat resmi berdiri. Sama halnya dengan NAD. Pada akhir tahun 1975. hasil pemekaran dari Provinsi Maluku. Provinsi Irian Jaya Barat diubah namanya menjadi Papua Barat. jumlah provinsi dalam sepuluh tahun terakhir meningkat menjadi lebih dari 400%. 14. Jumlah tersebut juga belum termasuk kabupaten/kota. dua provinsi baru resmi berdiri. Provinsi Maluku Utara terbentuk. 16. Pada tahun 1973. setelah diadakan Penentuan Pendapat Rakyat(Pepera). Kemudian pada akhir tahun 2000. Indonesia menguasai wilayah Timor Timur dan pada tahun 1976. Jumlah tersebut mungkin akan bertambah banyak seiring dengan keinginan banyak pihak yang masih menginginkan pemekaran daerahnya. Pada tahun 2007. Apabila dibandingkan dengan masa awal kemerdekaan. kecamatan. Jumlah provinsi: 31. Pada awal tahun 2000. Daerah Istimewa Aceh diganti namanya menjadi Nanggroe Aceh Darussalam. 12. Provinsi Irian Barat diubah namanya menjadi Irian Jaya. Jumlah provinsi: 30. Pada tahun 2003. atau kelurahan/desa yang juga mengalami pemekaran.

Hal itu terjadi karena penyelenggaraan pemerintahan daerah yang baru belum memiliki pengalaman yang memadai dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat maupun menjalankan roda pemerintahan. termasuk daerah baru hasil pemekaran.99 dan tersedot untuk daerah-daerah baru tersebut. Bahkan keadaan yang lebih parah dapat terjadi di daerah baru tersebut dibandingkan dengan pada waktu masih menginduk kepada daerah induknya. Peraturan Pemerintah tersebut sebagai pelaksanaan perintah Pasal 6 ayat (3) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 untuk mengevaluasi keberadaan daerah. Anggaran tersebut misalnya untuk alokasi pembangunan infrastruktur baru. Di lain pihak. Selain itu. penghapusan dan penggabungan daerah otonom dilakukan setelah melalui proses evaluasi terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah sebagaimana yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. dan sebagainya. keterbatasan sarana dan prasarana atau infrastruktur juga dapat menjadi penyebab terbatasnya pelayanan publik sebagaimana mestinya. Dalam hal ini. apakah mampu atau tidak menyelenggarakan otonomi daerah. Dengan demikian. Di dalam Penjelasan Umum Peraturan Pemerintah tersebut dijelaskan alasan pentingnya dilakukan evaluasi terhadap suatu daerah sebagai berikut: . untuk daerah tertentu yang dianggap tidak mampu dimungkinkan untuk dihapuskan atau digabungkan dengan daerah lain. gaji pejabat baru. tujuan utama untuk membentuk daerah baru dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pelayanan publik juga menjadi persoalan yang tidak mudah untuk diwujudkan. tunjangan jabatan pejabat baru. Pada kenyataannya. untuk mengerem terjadinya pemekaran daerah. secara konseptual dan yuridis formal pemerintah sudah mencoba melakukan upaya tersebut dengan mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2008 Tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. masyarakat tetap saja merasakan tidak adanya peningkatan kesejahteraan maupun pelayanan yang diberikan oleh pemerintah daerah barunya. kendaraan baru. pakaian dinas baru. Akan tetapi. gedung baru.

Dalam hal jenis dana perimbangan terdapat istilah baru untuk menyebut . pelayanan umum. serta pembiayaan berupa pinjaman daerah. adalah untuk menilai kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah dalam upaya peningkatan kinerja untuk mendukung pencapaian tujuan penyelenggaraan otonomi daerah berdasarkan prinsip tata kepemerintahan yang baik. Pemerintah berkewajiban mengevaluasi kinerja pemerintahan daerah .”. Selain itu.. C.. khususnya PAD dan dana perimbangan (tidak termasuk mengenai dana otonomi khusus yang diberikan kepada Provinsi Papua dan Aceh). yang tidak mampu menjalankan pemerintahannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan ataupun tujuan awal pembentukannya yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. pengaturan tersebut tidak terlepas dari pendapatan daerah untuk membiayai urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya. 25 Tahun 1999. Namun tampaknya peraturan pemerintah tersebut belum optimal dijalankan mengingat sampai saat ini tidak diperoleh data yang terbuka untuk umum tentang hasil evaluasi yang dilakukan oleh Tim Nasional Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah dalam mengevaluasi daerah-daerah baru hasil pemekaran. maupun daya saing daerah. memperbaiki sistem perimbangan keuangan pusat – daerah yang diatur sebelumnya dalam UU No.. Dalam bagian ini yang akan dibahas adalah pendapatan daerah. sampai saat ini juga belum ada data yang menunjukkan bahwa ada daerah tertentu yang sudah dihapuskan atau digabungkan dengan daerah lainnya karena dianggap tidak mampu menjalankan otonomi daerah.100 ”. secara faktual banyak sekali daerah. terutama daerah baru. Hubungan Keuangan UU No. 33 Tahun 2004 menitikberatkan pada pengaturan perimbangan keuangan pusat-daerah. untuk mengetahui keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan daerah dalam memanfaatkan hak yang diperoleh daerah dengan capaian keluaran dan hasil yang telah direncanakan. Padahal. Namun demikian.. 33 Tahun 2004.. UU No.. Tujuan utama dilaksanakannya evaluasi.

dalam penelitian ini tidak dibahas mengenai dana tugas pembantuan dan dekonsentrasi karena memerlukan penelitian tersendiri yang lebih mendetail.22 Tahun 1999. DAU dan DAK akan dibahas selanjutnya. Khusus mengenai dana perimbangan lainnya. Dalam UU No. dan lain-lain PAD yang sah. retribusi daerah. namun juga ditambah dengan perubahan asal dana yang dibagi. yaitu dalam hal jenis pajak265. Pendapatan Asli Daerah Pendapatan Asli Daerah (PAD) bersumber dari pajak daerah. dan menetapkan Perda tentang pendapatan yang menghambat mobilitas 264 265 Lihat Pasal 6 ayat (1) huruf a UU No. 25 Tahun 2002. tidak hanya sekedar penggantian istilah. dana tersebut disebut sebagai Bagian Daerah dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan.266 Walaupun daerah diberikan kewenangan untuk meningkatkan PAD. istilah dan substansinya tetap dipertahankan dalam UU No. sementara dalam UU No. namun daerah dilarang menetapkan peraturan daerah (Perda) tentang pendapatan yang menyebabkan ekonomi biaya tinggi. melainkan juga dana tugas pembantuan dan dana dekonsentrasi. Mengenai DBH. tidak hanya mengatur dana perimbangan dalam rangka desentralisasi. yaitu dana alokasi umum (DAU). 22 Tahun 1999. 33 Tahun 2004. Dalam UU No. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan264. 33 Tahun 2004. Sementara itu dalam UU No. 33 Tahun 2004. hasil pengelolaan kekayaan Daerah yang dipisahkan. Perubahan tersebut. 33 Tahun 2004. namun berbeda dari segi formulanya. namun hubungan keuangan pusat-daerah juga berkaitan dengan pembiayaan urusan pusat yang diselenggarakan oleh pemerintahan daerah dan oleh aparat pusat yang juga unsur pemerintah daerah. dan dana alokasi khusus (DAK). 266 Pasal 6 ayat (1) UU No. PPh tidak dijadikan pajak yang dibagi ke daerah. Hal ini disebabkan UU No. PPh tertentu juga menjadi DBH. 1. istilah dana tersebut diubah menjadi dana bagi hasil (DBH).101 dana perimbangan yang berasal dari pembagian pajak dan sumber daya alam. . Walaupun inti dari hubungan keuangan pusat daerah adalah perimbangan keuangan. 33 Tahun 2004. Namun demikian.

karena menggantikan UU sebelumnya yang telah berlaku dalam waktu yang cukup lama (UndangUndang Nomor 11 Drt. ditentukan 11 jenis dari golongan retribusi jasa umum. 20 Tahun 1997. yaitu Peraturan Pemerintah No. UU No. 18 Tahun 1997 dan UU No. UU No. dan 6 jenis golongan retribusi perizinan tertentu.267 Dalam UU No. 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah merupakan UU yang penting di bidang ini. 33 Tahun 2004. dan 3 golongan retribusi daerah. Perbedaannya. 13 jenis untuk golongan retribusi jasa usaha. dan kegiatan impor/ekspor. Tahun 1957 tentang Peraturan umum Pajak Daerah dan Undang-Undang Nomor 12 Drt. Setelah berlakunya UU No. 22 Tahun 1999. Tahun 1957 tentang Peraturan Umum Retribusi Daerah).66 Tahun 2001 (menggantikan PP No. 18 Tahun 1997 mengatur kewenangan daerah untuk memungut 3 pajak daerah untuk provinsi. UU No.18 Tahun 1997 diubah untuk disesuikan.268 Dalam PP No. lalu lintas barang dan jasa antardaerah.18 Tahun 1997 tidak mengatur jenis-jenis retribusi daerah seperti halnya pajak daerah. UU No 18 Tahun 1997 mengatur 267 268 Pasal 7 UU No. 20 Tahun 1997. 34 Tahun 2000 sama-sama mengatur bahwa selain jenis pajak daerah yang telah ditentukan dapat ditambahkan jenis pajak daerah lain berdasarkan kriteria yang ditentukan UU tersebut (sistem terbuka). 34 Tahun 2000 menambahkan 1 jenis pajak daerah untuk provinsi dan 1 jenis untuk pajak daerah kabupaten/ kota. 34 Tahun 2000).102 penduduk. 20 Tahun 1997) dan ditentukan 10 jenis dari golongan jasa retribusi umum. pengaturan mengenai retribusi daerah diatur dalam PP No. dan 4 jenis golongan retribusi perizinan tertentu yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah. UU No. Jenis-jenis retribusi daerah ditentukan dalam Peraturan Pemerintah. dan lahirlah perubahan pertama dari UU tersebut (UU No. 7 pajak daerah untuk kabupaten/ kota. . Sementara itu. UU N0. 12 jenis untuk golongan retribusi jasa usaha.

34 Tahun 2000. 18 Tahun 1997. 34 Tahun 2000 dan PP No.103 bahwa penambahan jenis pajak daerah tersebut ditetapkan dalam PP269.270 Dalam hal retribusi daerah. sementara UU No. 20 Tahun 1997 tidak memberikan kewenangan kepada daerah untuk menetapkan jenis retribusi lain selain yang ditetapkan dalam PP tersebut (sistem tertutup).” “Pajak Daerah Dibatasi. 271 Lihat Pasal 185 UU No. . 34 Tahun 2000). UU No. Penambahan jenis retribusi daerah ditetapkan dalam bentuk Perda. Lihat Pasal 2 ayat (4) UU No. PP No. memberikan kewenangan tersebut kepada pemerintahan daerah. Selasa (4/8) mengatakan: ”Sistem yang ditetapkan bersifat daftar tertutup. 269 270 Lihat Pasal 2 ayat (3) UU No. Dengan demikian. mencari. 20 Tahun 1997 memberikan kewenangan untuk menambahkan jenis-jenis pajak daerah dan retribusi daerah kepada pemerintah pusat. Menggantikan UU sebelumnya. Perbedaan pengaturan di atas mencerminkan bahwa UU No. 18 Tahun 1997 dan PP No. PP No.271 Berbeda dengan dengan UU No. Sementara itu. Artinya. daerah tidak dapat memungut pajak daerah selain yang ditentukan dalam UU tersebut. memberikan otonomi yang lebih luas dibandingkan UU No.66 Tahun 2001 menentukan bahwa daerah dapat mengatur jenis retribusi daerah selain yang ditentukan dalam kedua PP tersebut dengan kriteria yang ditentukan dalam UU No. UU No. 28 Tahun 2009. artinya daerah hanya diperbolehkan memungut pajak dan retribusi sesuai undangundang ini sehingga tidak ada lagi daerah yang perlu mengubah. 18 Tahun 1997 dan perubahan pertamanya (UU No. ketentuan dalam UU No. 28 Tahun 2009. 18 Tahun 1997 dan PP No. 34 Tahun 2000 dan PP No. penambahan tersebut ditetapkan dengan peraturan daerah. 66 Tahun 2001. 34 Tahun 2000. sementara dalam UU No. mengatur jenis pajak daerah sistem daftar tertutup272. 28 Tahun 2009 mulai diberlakukan pada tanggal 1 Januari 2010. atau berkreasi yang tidak baik dalam arti mencari-cari penghasilan asli daerah. 66 Tahun 2001. 34 Tahun 2000 (sistem terbuka). 20 Tahun 1997 dalam menentukan jenis-jenis pajak daerah dan retribusi daerah. 272 Menteri Keuangan sekaligus Pelaksana Jabatan Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati di Jakarta.

. Malaysia juga memberikan kewenangan yang sama kepada daerah (berupa property tax) sejak diundangkannya Local Government Act 1976 (Act No. Vol. 278 Pasal 94 ayat (1) huruf c UU No. 392. Malaysia PBB atau secara umum dikenal sebagai property tax sudah diberikan kewenangannya kepada daerah sejak lama. Larry Schroeder. Rabu. 273 Ibid. Lihat. 28 Tahun 2009 juga menambahkan jenis pajak daerah baru.274 Pungutan atas usaha rokok sebelumnya. 2003. seperti Filipina. 15 No.277 Hasil penerimaan pajak tersebut juga merupakan objek pembagian antara kabupaten/ kota dan provinsi. 171). 274 Filipina memberikan kewenangan kepada daerah untuk memungut the real property tax sejak diundangkannya Local Government Act 1959. diakses dari http://koran. “Fiscal Decentralization in South East Asia”.daerah. 28 Tahun 2009. 405. 3. 28 Tahun 2009. 276 Pasal 181 UU No. PBB pedesan dan perkotaan serta BPHTB). Sementara itu. Walaupun tidak semua jenis PBB diberikan kewenangan kepada daerah. cukai rokok pun tetap diberlakukan dan tetap menjadi kewenangan pemerintah pusat.275 Pajak rokok ini baru berlaku 1 Januari 2014. 275 Pasal 27 ayat (3) UU No. Kompas. Padahal jika dibandingkan dengan negara-negara asia tenggara lainnya. hanya dikenal pungutan cukai rokok. Hasil penerimaan pajak tersebut sebesar 70% dialokasikan untuk kabupaten/kota278. 28 Tahun 2009. masing –masing 1 untuk provinsi (pajak rokok) dan 3 untuk kabupaten/ kota (pajak sarang burung wallet. Journal of Public Budgeting. sementara dalam UU No. hlm. BPHTB. 393.kompas. 402. termasuk PBB pedesaan dan perkotaan menjadi kewenangan pusat. namun hal ini merupakan satu kemajuan dalam hal kewenangan daerah memungut pajak. Academic Press.273 Sebelumnya. 277 Lihat Pasal 28 dan Pasal 29 UU No. 28 Tahun 2009. 28 Tahun 2009.com/read/xml/2009/08/05/04112298/pajak.dibatasi. Accounting & Financial Management. Thailand. pajak sarang burung walet Pelayanan kepada Masyarakat Wajib Ditingkatkan”. semua PBB. 5 Agustus 2009. sehingga provinsi menerima sisanya (30%).276 Dasar pengenaan pajak rokok adalah cukai rokok yang ditetapkan pemetintah terhadap rokok dan tarif pajak rokok ditentukan sebesar 10% dari cukai rokok. sementara Thailand memberikan kewenangan kepada daerah untuk memungut a single property based tax (1999). selain cukai rokok yang menjadi kewenangan provinsi. Pajak rokok sebagai pajak daerah baru ditentukan untuk dipungut instansi pemerintah yang berwenang memungut cukai bersamaan pungutan cukai rokok.104 UU No.

286 Tarif pajak Kendaraan pemerintah (termasuk TNI/POLRI. Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor diperluas hingga mencakup kendaraan Pemerintah. 28 Tahun 2009. pajak kendaraan bermotor menggunakan tarif pajak progresif untuk kepemilikan kendaraan kedua dan seterusnya dengan tarif 2% sampai maksimal 10% di mana ketentuan progresivitasnya ditentukan oleh Perda provinsi. pemadam kebakaran.280 Kedua. pemerintah pusat dapat mengubah besaran tarif Perda melalui Perpres. 28 Tahun 2009. UU No. 28 Tahun 2009. 284 Lihat Pasal 2 ayat(1) huruf d. tarif pajak bahan bakar kendaraan bermotor ditetapkan maksimal 10%281. 28 Tahun 2009 juga mengubah beberapa pengaturan pajak daerah yang sebelumnya telah ada dalam UU sebelumnya. ambulans. 281 Pasal19 ayat(1) UU No. digantikan istilahnya dengan pajak pengambilan dan pemanfatan air tanah dan air permukaan. 28 Tahun 2009. UU tersebut juga menentukan bahwa pajak air tanah menjadi pajak daerah kabupaten/kota. sementara pajak air permukaan menjadi pajak daerah provinsi.283 Ketiga. 28 Tahun 2009. kepemilikan pertama ditetapkan tariff minimal 1% dan maksimal 2%. Pertama. dan Pemerintah Daerah) bersama Kendaraan Bermotor angkutan umum. 283 Pasal19 ayat(3) UU No. Tidak sekedar menggantikan nomenklatur.105 merupakan pajak daerah yang dipungut bagi daerah-daerah yang memiliki sumber daya tersebut dengan tarif maksimal 10 %. Pasal 6 ayat (1) UU No. dan Pasal 2 ayat (2) huruf h UU No. dan kendaraan lain yang ditetapkan dengan . 28 Tahun 2009.282 Bila terjadi kenaikan harga tinggi atas BBM. namun tarif pajak untuk kendaraan umum dapat ditentukan 50% lebih rendah dari tarif kendaraan pribadi. lembaga sosial dan keagamaan. 285 Hasil penerimaan Pajak Air Permukaan diserahkan kepada kabupaten/kota yang bersangkutan sebesar 80% (delapan puluh persen).285 Keempat. ada beberapa jenis pajak daerah yang sudah ada. Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan yang semula merupakan kewenangan Provinsi. 28 Tahun 2009.284 dan air permukaan yang hanya di satu kabupaten/kota berlaku aturan khusus.286 Pajak Hotel diperluas hingga 279 280 Pasal 75 ayat (1) UU No. sosial keagamaan.279 Selain penambahan jenis pajak baru. 282 Pasal19 ayat(2) UU No. yaitu. basis pajaknya (tax base) diperluas. Lihat Pasal 94 ayat (2) UU No.

pesanggrahan. ada beberapa jenis pajak yang hasil penerimaan ditentukan penggunaannya. Dana Bagi Hasil Komponen DBH dalam UU No. . Pajak pusat yang menjadi sumber DBH dari pajak adalah dari pajak bumi dan bangunan (PBB). baik bagian provinsi maupun bagian kabupaten/kota. 28 Tahun 2009. 28 Tahun 2009. 28 Tahun 2009. Lihat Pasal 1 angka 21 UU No. 293 Pasal 11 ayat (2) UU No.5% dan paling tinggi sebesar 1%. 289 Jenis hiburan yang dimaksud yaitu: pagelaran busana. 28 Tahun 2009. Lihat Pasal 6 ayat(3) UU No. 291 Pasal 31 UU No. gubuk pariwisata. rumah penginapan dan sejenisnya. dan Pajak Penerangan Jalan juga sebagian dialokasikan untuk penyediaan penerangan jalan. 28 Tahun 2009. permainan ketangkasan. 28 Tahun 2009. yaitu Pajak Kendaraan Bermotor (minimal 10% dari hasi penerimaan pajak ini untuk belanja infrastruktur jalan (pembangunan dan/atau pemeliharaan jalan) serta peningkatan Pajak moda dan sarana transportasi umum di daerahnya)290. klab malam.289 Kelima. wisma pariwisata. 292 Pasal 56 ayat (3) UU No.288 tarif Pajak Hiburan untuk hiburan – hiburan tertentu dinaikkan hingga mencapai tariff maksimal 75%. Lihat Pasal 45 ayat (2) UU No. 288 Pengertian restoran dalam Pasal 1 angka 23 UU No.33 Tahun 2004. yang mencakup juga motel. Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB).106 mencakup seluruh persewaan di hotel. 28 Tahun 2009 juga mencakup jasa boga/katering. 287 Pengertian hotel menjadi diperluas menjadi: fasilitas penyedia jasa penginapan/peristirahatan termasuk jasa terkait lainnya dengan dipungut bayaran. losmen. Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 25 dan Pasal 29 Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri dan PPh Pasal 21. 290 Lihat Pasal 8 ayat (5) UU No. serta rumah kos dengan jumlah kamar lebih dari 10 (sepuluh). karaoke. Rokok. ditetapkan paling rendah sebesar 0.292 2. Dana Perimbangan a.293 Hal tersebut berbeda dengan Bagian Perda. dan mandi uap/spa . diskotik. dialokasikan paling sedikit 50% (lima puluh persen) untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat dan penegakan hukum oleh aparat yang berwenang291. kontes kecantikan. panti pijat.287 Pajak Restoran diperluas hingga mencakup pelayanan katering. 33 Tahun 2004 terdiri pembagian beberapa jenis pajak (pusat) dan hasil pengelolaan sumber daya alam.

22 Tahun 1999.107 Daerah atas pajak dalam UU No. DBH dari penerimaan sumber daya alam (DBH-SDA) berasal dari 6 bidang sumber daya alam yang menjadi sumber yaitu: kehutanan. serta persentase pembagian DBH antara satuan pemerintahan daerah.5% yang dibagikan sebagai insentif kepada kabupaten dan/kota. yaitu: mengenai prosentase alokasi DBH dari sektor pajak. Penerimaan insentif tersebut diberikan kepada kabupaten/ kota yang realisasi penerimaan PBB sektor Pedesaan dan Perkotaan pada tahun anggaran sebelumnya. Sementara itu. dan pertambangan panas bumi. pertambangan minyak bumi. pertambangan gas bumi. dan 3. Lihat Pasal 6 ayat (2) PP No. . yang tidak mencantumkan PPh sebagai salah satu sumber bagian daerah atas pajak.22 Tahun 1999 yang tidak mencantumkan bidang pertambangan panas bumi.5% untuk seluruh kabupaten/kota yang dibagikan secara merata. Dalam DBH pajak ada dua hal yang penting. 295 294 295 Pasal 11 ayat (3) UU No. maka UU No. 10% (sepuluh persen) bagian Pemerintah dari penerimaan PBB dibagikan kepada seluruh daerah kabupaten dan kota yang didasarkan atas realisasi penerimaan PBB tahun anggaran berjalan. Pengaturan persentase perimbangan alokasi DBH PBB dan BPHTB antara pusat dan daerah adalah 10 % : 90 % untuk DBH PBB dan 20% : 80 % untuk DBH BPHTB.294 Hal ini juga berbeda dengan bidang –bidang sumber daya alam yang menjadi sumber Bagian Daerah atas sumber daya alam dalam UU No. jika dibandingkan dengan UU No. 33 Tahun 2004 menambah penerimaan pusat atas bidang sumber daya alam yang dibagi ke daerah. Dengan demikian. mencapai/melampaui rencana penerimaan yang ditetapkan. 22 Tahun 1999. pertambangan umum. perikanan. Dari persentase 10 % bagian pusat dengan imbangan di atas maka persentase riil yang dibagi adalah 6. 33 Tahun 2004. 55 Tahun 2005.

33 Tahun 2004. walauapun pada awalnya terdapat perimbangan alokasi DBH antara pusat dan daerah. 299 Lihat Pasal 8 ayat (2) PP No. dan Dana Reboisasi. alokasi DBH dari penerimaan PPh Pasal 25 dan Pasal 29 Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri dan PPh Pasal 21 hanya 20 % yang menjadi bagian daerah. Untuk penerimaan kehutanan. penerimaan 6 bidang SDA yang dibagi dengan daerah dilakukan dengan memberikan persentase tertentu yang sifatnya tetap. sementara 20% (dua puluh persen) bagian Pemerintah dari penerimaan BPHTB dibagikan dengan porsi yang sama besar untuk seluruh kabupaten dan kota. 33 Tahun 2004. terdapat dua macam sub bidang penerimaan yang dibagi yaitu penerimaan Iuran Hak Pengusahaan Hutan (IHPH).297 Dari pengaturan di atas. Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH).298 Dengan demikian. Dengan demikian. Persentase pembagian IHPH dan PSDH yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan adalah 20 % untuk pusat dan 80 % untuk daerah. penerimaan kehutanan yang berasal dari Dana Reboisasi dibagi dengan 296 297 Lihat Pasal 13 ayat (4) UU No. 33 Tahun 2004. Berbeda dengan DBH dari PBB dan BPHTB yang dibagi habis pada daerah. Dari 20 % bagian daerah di atas.33 Tahun 2004.300 Sementara itu. 300 Lihat Pasal 14 huruf a UU No. namun berujung pada pengalokasian DBH dari penerimaan PBB dan BPHTB 100 % pada daerah. . 80 % penerimaan PPh di atas menjadi bagian pusat. provinsi mendapatkan bagian sebesar 8 % dan kabupaten/ kota di provinsi bersangkutan mendapatkan 12 % dari bagian daerah.299 Sementara itu. Dengan demikian. 298 Lihat Pasal 13 ayat (1) UU No. Pasal 12 ayat (5) UU No. dibagi dengan imbangan 60% (enam puluh persen) untuk kabupaten/kota dan 40% (empat puluh persen) untuk provinsi. 55 Tahun 2005. pendapatan negara dari penerimaan PBB dan BPHTB dibagi habis kepada daerah dengan persentase di atas.108 Sementara itu. DBH dari penerimaan BPHTB adalah sebesar 80% (delapan puluh persen)296.

dan Penerimaan Pungutan Hasil Perikanan305 dan dibagikan dengan porsi yang sama besar kepada kabupaten/kota di seluruh Indonesia. dan 30. tidak kepada provinsi.33 Tahun 2004.306 Penerimaan Pertambangan minyak bumi yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan setelah dikurangi komponen pajak dan pungutan lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan. 33 Tahun 2004. 309 Lihat Pasal 20 ayat (1) .5% (delapan puluh empat setengah persen) untuk Pemerintah. dan 15.33 Tahun 2004.303 Sementara itu.5% (lima belas setengah persen) untuk Daerah. UU No.5% (tiga puluh setengah persen) untuk daerah.109 imbangan sebesar 60% untuk pusat dan 40% untuk daerah. 305 Lihat Pasal 18 ayat (1) UU No.309 301 302 Lihat Pasal14 huruf b UU No.33 Tahun 2004. 304 Lihat Pasal14 huruf d UU No. 33 Tahun 2004 mengatur bahwa sebesar 0.302 Penerimaan pertambangan umum yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan. namun 80 % bagian daerah hanya diperuntukkan bagi seluruh kabupaten/kota. 306 Lihat Pasal 18 ayat (2) UU No. Lihat Pasal 16 huruf b UU No. Sementara itu.33 Tahun 2004.304 Penerimaan Perikanan tersebut terdiri atas Penerimaan Pungutan Pengusahaan Perikanan. dibagi dengan imbangan 20% (dua puluh persen) untuk pusat dan 80% (delapan puluh persen) untuk daerah. 307 Lihat Pasal14 huruf e UU No. dibagi dengan imbangan:307 84.301 untuk mendanai kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan.5% dialokasikan untuk menambah anggaran pendidikan dasar.5% (enam puluh sembilan setengah persen) untuk pemerintah. persentase pembagian Penerimaan Perikanan yang diterima secara nasional juga sama (20% : 80%).33 Tahun 2004. 303 Lihat Pasal 14 huruf c UU No. penerimaan dari pertambangan gas bumi dibagi dengan imbangan:308 69.33 Tahun 2004. Bagi DBH yang berasal dari penerimaan pertambangan minyak bumi dan gas bumi. 308 Lihat Pasal14 huruf f UU No.33 Tahun 2004.

315 APBN.312 20% DBH tersebut dibagi dengan rincian:313 16% (enam belas persen) untuk provinsi yang bersangkutan.33 Tahun 2004. 316 Pendapatan Dalam Negeri Neto adalah Penerimaan Negara yang berasal dari pajak dan bukan pajak setelah dikurangi dengan Penerimaan Negara yang dibagihasilkan kepada Daerah.310 Pertambangan panas bumi yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan yang merupakan Penerimaan Negara Bukan Pajak yang terdiri atas:311 Setoran Bagian Pemerintah. 32% (tiga puluh dua persen) untuk kabupaten/kota penghasil. 55 Tahun 2005. Lihat Pasal 21 ayat (3) UU No. Lihat Pasal 21 ayat (1) UU No. berkaitan dengan kemungkinan bertambahnya presentase DAU jika terdapat kelebihan penerimaan negara dari minyak bumi dan gas bumi yang ditetapkan dalam APBN Perubahanyang dialokasikan sebagai DAU tambahan318 berdasarkan formula DAU atas dasar celah fiskal.314 b. 319 Lihat Pasal 47 ayat (2) PP No. 313 Lihat Pasal 21 ayat (2) UU No. 55 Tahun 2005. Lihat Penjelasan Pasal 27 ayat (1) UU No. 33 Tahun 2004 mengatur sanksi administrasi berupa pemotongan atas penyaluran DBH minyak bumi dan gas bumi.110 Jika ketentuan peruntukkan untuk alokasi pendidikan dasar tersebut dilanggar. 311 310 . 314 dibagikan dengan porsi yang sama besar untuk semua kabupaten/kota dalam provinsi yang bersangkutan.319 Jika dibandingkan dengan UU No. 33 Tahun 2004. Dana Alokasi Umum DAU adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar-daerah duntuk mendanai kebutuhan Presentase daerah dalam dana rangka pelaksanaan sekurangdesentralisasi. UU No. 312 Lihat Pasal14 huruf g UU No. 33 Tahun 2004. Lihat Pasal 25 UU No. Iuran tetap dan iuran produksi. dan 32% (tiga puluh dua persen) untuk kabupaten/kota lainnya dalam provinsi yang bersangkutan. Penerimaan tersebut dibagi dengan imbangan 20% untuk pusat dan 80% untuk daerah. dan.33 Tahun 2004. 317 Pasal 27 ayat (1) UU No.317 keseluruhan tersebut kurangnya 26% dari Pendapatan Dalam Negeri Neto316 yang ditetapkan dalam Istilah “sekurang-kurangnya”. 318 Lihat Pasal 47 ayat (1) PP No. 33 Tahun 2004.33 Tahun 2004.33 Tahun 2004.33 Tahun 2004. 315 Pasal 1 angka 21 UU No.

327 320 Dalam Pasal 7 ayat (1) UU No. 33 Tahun 2004. presentase DAU berdasarkan UU No.111 25 Tahun 1999 yang hanya mengatur jumlah DAU sebesar 25 % dengan formula yang hampir sama.326 Dari pengaturan tersebut.320 DAU pada dasarnya yang dialokasikan untuk 321 suatu daerah dialokasikan atas dasar celah fiskal dan alokasi dasar. Produk Domestik Regional Bruto (PDB) per kapita. 33 Tahun 2004. diukur secara berturut-turut dengan jumlah penduduk. alokasi dasar dihitung berdasarkan jumlah gaji Pegawai Negeri Sipil Daerah (PNSD). 33 Tahun 2004. jika dibandingkan dengan penghitungan alokasi dasar yang hanya didasarkan pada gaji PNSD. Kapasitas fiskal Daerah merupakan sumber pendanaan Daerah yang berasal dari PAD dan Dana Bagi Hasil. Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK). . 323 Pasal 27 ayat (4) UU No. celah fiskal merupakan kebutuhan fiskal dikurangi kapasitas fiskal. Sebagaimana disinggung di atas bahwa. jumlah DAU yang diterima setiap daerah adalah celah fiskal ditambah alokasi dasar. 325 Pasal 28 ayat (2) UU No. 33 Tahun 2004.323 Dengan demikian. khususnya formula penghitungan kebutuhan fiskal lebih rumit. 25 Tahun 1999 diatur bahwa “Dana Alokasi Umum ditetapkan sekurang-kurangnya 25% (dua puluh lima persen) dari Penerimaan Dalam Negeri yang ditetapkan dalam APBN”. 322 Pasal 27 ayat (3) UU No.322 Sementara itu. Apalagi ditentukan juga bahwa proporsi DAU antara daerah provinsi dan kabupaten/kota ditetapkan berdasarkan imbangan kewenangan antara provinsi dan kabupaten/kota. 326 Pasal 28 ayat (3) UU No. 33 Tahun 2004. 33 Tahun 2004 lebih besar. dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). 33 Tahun 2004. 33 Tahun 2004 menentukan bahwa formula menentukan celah fiskal adalah kebutuhan fiskal dikurangi dengan kapasitas fiskal Daerah. 324 Pasal 28 ayat (1) UU No. luas wilayah. 327 Pasal 29 UU No. UU No. terlihat bahwa formula penentuan celah fiskal. 321 Pasal 27 ayat (2) UU No. 33 Tahun 2004.325 Sementara itu. Kebutuhan fiskal yang merupakan kebutuhan kebutuhan pendanaan daerah untuk melaksanakan fungsi layanan dasar umum324.

330 Pasal 32 ayat (3) UU No. Daerah yang memiliki nilai celah fiskal sama dengan nol menerima DAU sebesar alokasi dasar. . Besaran DAK ditetapkan setiap tahun dalam APBN. 33 Tahun 2004. Namun demikian. 331 Lihat Pasal 1 angka 23 UU No. Pinjaman Daerah 328 329 Pasal 32 ayat (1) UU No.330 c. Hal ini dapat dimengerti karena pada dasarnya urusan pemerintahan yang dibiayai DAK merupakan kewenangan daerah. 33 Tahun 2004. Dana Alokasi Khusus Dana Alokasi Khusus (DAK) adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional. 33 Tahun 2004.112 Besarnya jumlah celah fiskal akan mempengaruhi jumlah alokasi DAU yang diperoleh suatu daerah. 335 Pasal 41 ayat (1) UU No. 33 Tahun 2004. Pasal 32 ayat (2) UU No.332 Hal ini disebabkan DAK dialokasikan kepada daerah tertentu untuk mendanai kegiatan khusus sesuai dengan fungsi yang telah ditetapkan dalam APBN333 yang merupakan urusan daerah. daerah dengan kemampuan fiskal tertentu tidak diwajibkan menyediakan Dana Pendamping.329 Daerah yang memiliki nilai celah fiskal negatif dan nilai negatif tersebut sama atau lebih besar dari alokasi dasar tidak menerima DAU. 33 Tahun 2004. 333 Pasal 39 ayat (2) UU No. 332 Pasal 38 UU No. DAK tidak ditentukan berdasarkan presentase tertentu. 33 Tahun 2004. 33 Tahun 2004. daerah yang memiliki nilai celah fiskal negatif dan nilai negatif tersebut lebih kecil dari alokasi dasar menerima DAU sebesar alokasi dasar setelah dikurangi nilai celah fiskal. 33 Tahun 2004. 3.334 Daerah penerima DAK juga ditentukan wajib menyediakan Dana Pendamping sekurang-kurangnya 10% dari alokasi DAK335. 334 Pasal 39 ayat (1) UU No.331 Berbeda dengan dana perimbangan lainnya.328 Sementara itu.

sumber pinjaman.342 Perjanjian penerusan pinjaman dilakukan antara Menteri Keuangan dan Kepala Daerah dan dapat dinyatakan dalam mata uang 336 337 Pasal 49 ayat (1) UU No. 33 Tahun 2004. dalam 6 batas pinjaman. yang paling penting dalam hal ini. 33 Tahun 2004. 60% (enam puluh Batas maksimal kumulatif pinjaman tidak melebihi dari Produk Domestik Bruto tahun persen) bersangkutan. 340 Pasal 50 ayat (2) UU No.338 Namun demikian. pemerintah pusat menetapkan batas maksimal kumulatif pinjaman pemerintah pusat dan pemerintah daerah dengan memperhatikan 336 keadaan dan prakiraan perkembangan perekonomian nasional. 33 Tahun 2004. . 339 Pasal 50 ayat (1) UU No. 33 Tahun 2004. UU No.339 Jika daerah melakuan pelanggaran terhadap ketentuan. 338 Pasal 49 ayat (3) UU No.337 Menteri Keuangan menetapkan batas maksimal kumulatif pinjaman Pemerintah Daerah secara keseluruhan selambat-lambatnya bulan Agustus untuk tahun anggaran berikutnya.341 Pinjaman kepada pemerintah daerah dilakukan melalui perjanjian penerusan pinjaman kepada pemerintah daerah. 33 Tahun 2004.340 Hal ini berkaitan dengan pengaturan mengenai prosedur pinjaman daerah. maka akan dikenakan sanksi administratif berupa penundaan dan/atau pemotongan atas penyaluran dana perimbangan oleh Menteri Keuangan. 33 Tahun 2004. 33 Tahun 2004. di mana pemerintah dapat memberikan pinjaman kepada pemerintah daerah yang dananya berasal dari luar negeri. 341 Pasal 56 ayat (1) UU No. termasuk kewenangan yang tetap dimiliki oleh pusat. Pasal 49 ayat (2) UU No. Mengenai batas pinjaman. prosedur pinjaman. jenis dan jangka waktu pinjaman. persyaratan pinjaman. penggunaan pinjaman. 342 Pasal 56 ayat (2) UU No. 33 Tahun 2004 mengatur sejumlah ketentuan mengenai kewenangan pemerintahan daerah untuk melakukan pinjaman (daerah).113 Salah satu sumber pembiayaan daerah (untuk menutupi defisit anggaran) yang diandalkan adalah melalui pinjaman daerah. bahwa daerah tidak dapat melakukan pinjaman langsung kepada pihak luar negeri.

dan Batang Tubuh UUD 1945 Di dalam Pembukaan UUD 1945. ketentuan tentang pengawasan Pusat terhadap Daerah menurut UUD 1945 secara normatif-eksplisit tidak diatur di dalam UUD 1945. yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa. Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara sejak awal telah meletakkan dasar-dasar berpikir tentang keberadaan pengawasan Pusat terhadap Daerah. mencerdaskan kehidupan bangsa. Hubungan Pengawasan Pengawasan oleh Pusat terhadap Daerah ternyata secara yuridishistoris telah dilakukan sejak bangsa Indonesia memulai kehidupan bernegaranya sebagai bangsa yang merdeka.343 Daerah memang tidak diberikan kewenangan untuk melakukan pinjaman luar negeri. persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan 343 Pasal 56 ayat (3) dan (4) UU No. landasan berpikir tentang pengawasan Pusat terhadap Daerah dapat ditelusuri di dalam Alinea Keempat UUD 1945. Pembukaan UUD 1945 (Alinea Keempat). namun daerah secara tidak langsung juga dapat melakukan pinjaman luar negeri melalui penerusan pinjaman oleh pemerintah pusat. Memang. yaitu: 1. Rumusan alinea keempat itu adalah: ”Kemudian daripada itu. . C. 33 Tahun 2004. Kemanusiaan yang adil dan beradab. perdamaian yang abadi dan keadilan sosial. dan untuk memajukan kesejahteraan umum. dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia.114 Rupiah atau mata uang asing. maka disusunlah kebangsaan Indonesia itu dalam suatu UndangUndang Dasar Negara Indonesia. Akan tetapi landasan berpikirnya dapat ditelusuri paling dari 2 (dua) hal.

Ini disebabkan. dan materi hukum Undang-Undang Dasar 1945 setelah perubahan dilakukan. yaitu Pasal 18. dapat dikaji dari beberapa pasal dan ayat. serta dengan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah yang diatur dengan undang-undang. kabupaten.” Untuk mengkaji dasar pemikiran pengawasan Pusat terhadap Daerah menurut batang tubuh Undang-Undang Dasar 1945. terlebih dahulu dipilah materi hukum Undang-Undang Dasar 1945 sebelum perubahan dilakukan (Naskah Asli). kiranya dapat dikemukakan pertama. Pasal 18 UUD 1945 ini dirumuskan sebagai berikut : “Pembagian Daerah Indonesia atas Daerah besar dan kecil. daerah kabupaten.345 Berdasarkan ketentuan Pasal 18 ini. Untuk itu. Dasar pemikiran tentang pengawasan Pusat terhadap Daerah menurut batang tubuh UUD 1945 setelah perubahan. kajian tentang dasar pengawasan Pusat terhadap Daerah dibedakan menjadi 2 (dua) kategori. Pertama. dengan bentuk susunan pemerintahannya ditetapkan dengan Undang-undang dengan memandang dan mengingat dasar permusyawaratan dalam sistem Pemerintahan Negara dan hak-hak asal-usul dalam daerah yang bersifat Istimewa”.115 /perwakilan. Dikatakan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota. Kedua. pasal-pasal yang mengatur tentang pemerintahan daerah di dalam Undang-Undang Dasar 1945 dalam beberapa ketentuan sudah mengalami perubahan. yang tiap-tiap provinsi.344 Pemerintahan daerah provinsi. Terdapat ada 1 (satu) pasal yang memungkinkan untuk dikaji. dimaksudkan untuk menegaskan bahwa hubungan antara 344 345 Pasal 18 ayat (1) Perubahan kedua UUD 1945 Pasal 18 ayat (2) Perubahan kedua UUD 1945 . menurut Batang Tubuh UUD 1945 Sebelum Perubahan. menurut Batang Tubuh UUD 1945 Setelah Perubahan. dan kota yang dimaksud tersebut mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan. bahwa penggunaan istilah “dibagi atas” menurut Jimly Asshiddiqie.

22 Tahun 1999 yang mengembangkan pola hubungan antara pusat dan daerah serta hubungan antara daerah yang dipahami bersifat horizontal. pemerintahan daerah memiliki hak untuk menjalankan otonomi seluas-luasnya dan tugas pembantuan.116 pemerintah pusat dan daerah bersifat hirarkis dan vertikal. yaitu karena bukan urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan pemerintah pusat dan tata cara penyelenggaraan pemerintahan daerahnya diatur oleh undang-undang. Pusat Studi Hukum Tata Negara FH. kecuali urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan pemerintah pusat. hlm. bahwa tiap-tiap satuan pemerintahan daerah itu oleh UUD 1945 diberi kewenangan untuk mengatur dan mengurusi sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan. dengan memahami logika hukum pernyataan pertama dan kedua. Ada beberapa ayat yang penting untuk diidentifikasikan sehubungan dengan dasar pengawasan Pusat terhadap Daerah.347 Untuk menjalankan urusan yang diberikan itu. Hal ini dianggap perlu ditegaskan karena adanya penafsiran yang timbul akibat penerapan kebijakan otonomi daerah berdasarkan UU No.dapat dikemukakan bahwa ternyata secara konstitusional terdapat pembatasan-pembatasan dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah berdasarkan prinsip otonomi yang seluas-luasnya dan tugas 346 Lihat. 21 347 Pasal 18 ayat (5) Perubahan kedua UUD 1945 348 Pasal 18 ayat (6) Perubahan kedua UUD 1945 349 Pasal 18 ayat (7) Perubahan kedua UUD 1945 . tetapi pelaksanaan otonomi itu dibatasi oleh 2 (dua) hal. Jimly Ashiddiqie. 2002. kedua. Jakarta. peraturan daerah merupakan merupakan instrumen hukum yang dibentuk oleh pemerintahan daerah dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan. Keempat. Pemerintahan daerah berhak menetapkan peraturan daerah dan peraturanperaturan lain untuk melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan. Konsolidasi Naskah UUD 1945 Setelah Perubahan Keempat.349 Berdasarkan ketentuan-ketentuan tersebut maka dapat ditarik beberapa pengertian bahwa pertama. Ketiga. Pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya. UI.348 yang susunan dan tata cara penyelenggaraan pemerintahan daerah diatur dalam undang-undang.346 Kedua.

kebijakannya untuk mengatur urusan rumah tangga Kekhususan dan keragaman dimaksudkan yang ada pada masing-masing Hubungan keuangan. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah 350 351 Pasal 18 A ayat (1) Perubahan kedua UUD 1945. lembaga ’pengawasan’ Pusat terhadap Daerah dipandang perlu keberadaannya. termasuk wewenang pembinaan dan pengawasan Pusat terhadap Daerah dalam menyelenggarakan tugas-tugas pemerintahan daerah. maka dalam rangka penegakan ketentuan hukum ini. Hubungan wewenang antara Pusat dan Daerah dengan memperhatikan kekhususan dan keragaman daerah.351 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 sebagai Undang-Undang organik Pasal 18A UUD 1945. Untuk kepentingan itulah. 2. yang dapat dicermati adalah dalam Pasal 18A adalah bahwa tidak tercantum secara eksplisit ketentuan yang mengatur tentang pengawasan Pusat terhadap Daerah. dengan memahami materi hubungan wewenang antara Pusat dan Daerah.117 pembantuan. Tujuannya tidak adalah dalam rangka mencegah atau menanggulangi lain terjadinya penyimpangan-penyimpangan wewenang oleh Daerah berkenaan dengan implementasi Daerahnya. ternyata telah mengatur hubungan wewenang antara Pusat dan Daerah. Pasal 18 A ayat (2) Perubahan kedua UUD 1945. maka akan dapat diperoleh petunjuk bahwa lembaga ’pengawasan’ ternyata juga memperoleh dasar pemikiran dalam pasal ini. Selain beberapa ketentuan di atas.350 masing-masing daerah diatur dengan Undang-undang. pelayanan umum. Akan tetapi. Pembatasan-pembatasan tersebut dimaksudkan agar Daerah tidak mengatur urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan pemerintah pusat. . pemanfaatan sumberdaya alam dan sumberdaya lainnya antara Pusat dengan Daerah juga diatur dengan Undang-Undang.

Pertama. Apabila Gubernur menyatakan hasil evaluasi rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD sudah sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Hasil evaluasi disampaikan oleh Gubernur kepada Bupati/Walikota paling lama 15 (lima belas) hari terhitung sejak diterimanya rancangan Perda kabupaten/kota dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD tersebut.354 Kedua. 32 Tahun 2004 354 Pasal 222 ayat (4) UU No. 32 Tahun 2004 355 Pasal 186 UU No. 32 Tahun 2004 Pasal 222 ayat (3) UU No. 32 Tahun 2004 mengatur bahwa pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah secara nasional dikoordinasikan oleh Menteri Dalam Negeri.353 Bupati dan walikota dalam pembinaan dan pengawasan tersebutdapat melimpahkan pada camat. pengawasan terhadap peraturan daerah dan peraturan kepala daerah. 32 Tahun 2004 . Bupati/Walikota menetapkan rancangan dimaksud menjadi Perda dan Peraturan Bupati/Walikota. Apabila Gubernur menyatakan hasil evaluasi rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan 352 353 Pasal 222 ayat (2) UU No.118 Pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan di daerah pada dasarnya merupakan kewenangan pemerintah pusat yakni mencakup beberapa hal. Pasal 222 ayat (1) UU No. Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan dikoordinasikan pemerintahan oleh daerah tersebut Pembinaan untuk dan Gubernur.355 Dikatakan bahwa Rancangan Perda kabupaten/kota tentang APBD yang telah disetujui bersama dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD sebelum ditetapkan oleh Bupati/Walikota paling lama 3 (tiga) hari disampaikan kepada Gubernur untuk dievaluasi. Ketentuan pengawasan oleh Gubernur juga tersirat dalam ketentuan mengenai penyusunan APBD kabupaten dan kota.352 kabupaten/kota pengawasan penyelenggaraan desa dikoordinasikan oleh bupati/walikota. pengawasan atas pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah.

32 Tahun 2004. Bupati/Walikota bersama DPRD melakukan penyempurnaan paling lama 7 (tujuh) hari sejak diterimanya hasil evaluasi. Lebih lanjut dapat dikemukakan mengenai model-model pengawasan dan pengendalian terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah menurut UU No. Jadi dapat dikatakan. Jika pasal dihubungkan dengan Pasal 222. 32 Tahun 2004 NO 1 UMUM Penetapan urusan pemerintahan yang menjadi wewenang Pemerintah Pusat dan Daerah (Pasalpasal 10. Gubernur membatalkan Perda dan Peraturan Bupati/Walikota dimaksud sekaligus menyatakan berlakunya pagu APBD tahun sebelumnya. 13 dan 14).119 Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD tidak sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh Bupati/Walikota dan DPRD. Penentuan adanya PREVENTIF REPRESIF KETERANGAN Ditetapkan UU oleh 2 Ditetapkan oleh . dan Bupati/Walikota tetap menetapkan rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD menjadi Perda dan Peraturan Bupati/Walikota. 11. puncaknya adalah pemberitahuan oleh Gubernur kepada Menteri Dalam Negeri mengenai tindak lanjut hasil pengawasan. Gubernur memiliki wewenang untuk melakukan pengawasan terhadap rancangan APBD maupun setelah APBD tersebut disahkan oleh kabupaten dan kota. ternyata Gubernur tidak hanya melakukan koordinasi tapi juga memiliki wewenang untuk melakukan tindakan hukum terhadap rancangan Perda APBD dan Perda APBD. 12. Gubernur menyampaikan hasil evaluasi rancangan Perda kabupaten/kota tentang APBD dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang APBD dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD kepada Menteri Dalam Negeri. Berdasarkan Pasal 186 ini. Tabel 3 Model-Model Pengawasan dan Pengendalian Terhadap Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Menurut UU No.

antar provinsi.120 3 4 5 6 7 tugas. wewenang. pemindahan. dan pemberhentian dari dan dalam jabatan eselon II pada kabupaten/kota perlu berkonsultasi dengan Gubernur Perpindahan PNS antar kabupaten/kota dalam. dan dari provinsi/kabupaten/ko ta perlu memperoleh pertimbangan dari Kepala Badan Kepegawaian Negara Penetapan formasi PNS dilaksanakan oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Pembinaan dan pengawasan manajemen PNS dikoordinasikan pada tingkat daerah oleh Gubernur Larangan Perda bertentangan dengan kepentingan umum dan peraturan perundangundangan yang lebih tinggi Tata cara mempersiapkan Raperda diatur UU Pasal 128 Pasal 130 Pasal 131 Pasal 132 Pasal 135 8 Pasal 136 9 Pasal 140 . dan DPRD. kewajiban dan larangan bagi Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah. Pedoman tentang susunan organisasi perangkat daerah dan formasi serta persyaratan jabatan perangkat daerah yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat dalam PP dan berbagai peraturan perundang-undangan Pengangkatan.

121 10 dengan Perpres Perda yang memuat ancaman pidana dan denda. monitoring dan evaluasi atas dana bagi hasil pajak. harus sesuai dengan peraturan perundangundangan Perda disampaikan kepada Pemerintah paling lama 7 hari setelah ditetapkan Pembatalan Perda yang bertentangan dengan kepentingan umum dan peraturan perundangundangan yang lebih tinggi. dilakukan oleh Presiden (ditetapkan dengan Perpres) Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). berpedoman pada PP dan perencanaan pembangunan nasiona. supervisi. DAU dan DAK diatur dalam Permendagri Belanja daerah harus Pasal 143 11 Pasal 145 ayat (1) 12 Pasal 145 ayat (2) s/d ayat (7) 13 Pasal 150 14 Pasal 158 15 Pasal 163 16 Pasal 167 . Pedoman penggunaan. dana bagi hasil SDA. Penetapan Perda tentang Pajak dan Retribusi Daerah berpedoman pada undang-undang dan peraturan perundangundangan lain.

dan standar pelayanan minimal yang ditetapkan dengan peraturan perundangundangan.122 mempertimbangkan analisis standar belanja. Ketentuan mengenai pinjaman daerah dan obligasi daerah diaatur dengan PP Pengaturan tentang persyaratan pembentukan dana cadangan daerah. tolok ukur kinerja. dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundangundangan Pengendalian defisit anggaran Pasal 168 18 Pasal 170 19 Pasal 171 20 Pasal 172 21 Pasal 173 22 Pasal 174-175 . pengelolaan dan pertanggungjawab annya ditetapkan dengan PP Penyertaan modal daerah pada suatu BUMN/swasta. standar harga. 17 Belanja kepala daerah dan wakil kepala daerah dan belanja pimpinan dan anggota DPRD diatur dalam Perda dengan berpedoman pad PP Pertimbangan Mendagri dalam melakukan pinjaman yang berasal dari penrusan pinjaman hutang luar negeri dari Menkeu.

pelaporan. 28 Pasal 221 dan UU tentang BPK 29 Pasal 224 . Pedoman penyusunan. Tata cara pelaksanaan kerja sama antar daerah diatur dalam PP Pedoman pembinaan dan pengawasan yang meliputi standar. penghargaan. prosedur. pengawasan dan pertanggungjawaban keuangan daerah diatur dalam PP. dan sanksi ditetapkan dalam PP. Pemeriksaan oleh BPK terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah Pembentukan dewan yang bertugas memberikan saran dan pertimbangan terhadap kebijakan otonomi daerah diatur dalam Perpres. Pasal 178 24 Pasal 185 s/d 190 25 Pasal 194 26 Pasal 195 s/d 197 27 Pasal 217 s/d 223. untuk provinsi oleh Mendagri dan untuk kabupaten/kota oleh Gubernur.123 oleh Mendagri 23 Pengelolaan Barang Daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan Evaluasi Raperda dan Peraturan Kepala Daerah tentang APBD. pelaksanaan. norma. Perubahan APBD dan Pertanggungjaw aban Pelaksanaan APBD. penatausahaan.

Pembinaan sebagaimana tersebut dilakukan terhadap kepala daerah atau wakil kepala daerah. 357 Pasal 2 ayat (1). pemantauan dan evaluasi pelaksanaan urusan Pemerintahan.358 Pada pengaturan mengenai pengawasan.124 3. 79 Tahun 2008 Tentang Tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. penelitian. dan c) pelaksanaan urusan pemerintahan desa. b) pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah yang bersifat pilihan. d) pendidikan dan pelatihan. pegawai negeri sipil daerah. pengembangan. perangkat daerah. anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah provinsi tersebut terdiri dari:360 a) pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah yang bersifat wajib. c) pemberian bimbingan. Mengenai pembinaan dikatakan bahwa Pembinaan atas penyelenggaraan Pemerintahan Daerah dilaksanakan oleh Pemerintah yang meliputi:357 a) koordinasi pemerintahan antar susunan Pemerintahan. 359 Pasal 20 360 Pasal 21. yaitu Bab II dan Bab III. perangkat desa. supervisi dan konsultasi pelaksanaan urusan pemerintahan. Pengawasan terhadap urusan pemerintahan di 356 Konsiderans PP No.356 PP ini memisahkan antara pembinaan dan pengawasan dalam Bab yang berbeda. b) pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah kabupaten/kota. . dan c) pelaksanaan urusan pemerintahan menurut dekonsentrasi dan tugas pembantuan. 358 Pasal 2 ayat (2). Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 Tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Untuk melaksanakan ketentuan Pasal 223 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Peraturan Pemerintah diterbitkan sebagai pedoman pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah. disebutkan bahwa pengawasan pelaksanaan urusan Pemerintahan di daerah meliputi:359 a) pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah provinsi. b) pemberian pedoman dan standar pelaksanaan urusan Pemerintahan. dan anggota badan permusyawaratan desa. dan kepala desa. dan e) perencanaan.

Inspektorat Provinsi. dan Inspektorat Kabupaten/Kota. Unit Pengawasan Lembaga Pemerintah Non Departemen. Pasal 24 ayat (2). .363 Untuk mengetahui perkembangan sistem pengawasan Pusat terhadap Daerah dalam pengaturan pemerintahan daerah di Indonesia dan di beberapa negara lain. 363 Pasal 24 ayat (3) dan (4).362 Pelaksanan pengawasan tersebut dilakukan oleh pejabat pengawas pemerintah undangan.361 yang dilakukan oleh Inspektorat Jenderal Departemen. dapat dilihat pada tabel-tabel di bawah ini: yang ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang- 361 362 Pasal 24 ayat (1).125 daerah dilaksanakan oleh Aparat Pengawas Intern Pemerintah sesuai dengan fungsi dan kewenangannya.

Preventif 2. Umum 1. Represif 3. Non-yudisial 2. 22 Tahun 1999 UU No. 5. Preventif 2. 6 Tahun 1959 UU No. Preventif 2. 2. 32 Tahun 2004 . 22 Tahun 1948 Sifat/Bentuk Pengawasan Non-Yudisial 1. Represif Represif 1. Preventif 2. 5 Tahun 1974 7. 1 Tahun 1945 UU No. 4. UU No. Umum Represif 1. UU No. UU No.126 Tabel 4 Perkembangan Pengaturan Pengawasan No. Preventif 1. 1 Tahun 1957 Penetapan Presiden No. Periode 1. UU No. 8. Represif 3. Represif 3. Represif 3. 18 Tahun 1965 6.

dan kedaulatan Tuhan secara sekaligus. Jakarta. Disebutkan bahwa bahwa Negara Indonesia ialah Negara Kesatuan. dan negara hukum telah dituangkan dalam perubahan ketiga Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Dari segi internal atau kedaulatan internal. Jimly berpendapat bahwa UUD 1945 menganut paham kedaulatan yang unik. 149. pilar negara kesatuan dinyatakan dalam UUD 1945 terdapat dalam Pasal 1 ayat (1). hlm. …” … berkedaulatan rakyat berdasarkan 364 365 Pasal 1 ayat (1). 2007. … (pasal 1 ayat (2)): kedulatan rakyat. kedaulatan rakyat. pilar negara hukum dinyatakan oleh UUD 1945 dalam Pasal 1 ayat (3). Jimly Asshiddiqie menjelaskan bahwa Indonesia pun menganut kedaulatan Tuhan dalam konstitusi. Ketiga. Lebih dari kedaulatan-kedaulatan tersebut. pilar kedaulatan rakyat dinyatakan dalam ayat (2). pada pokoknya menganut supremasi hukum. dan (3) UUD 1945 Jimly Asshiddiqie. yang mengatakan “Atas berkat Rahmat Alloh Yang Maha Kuasa…” 2. Bhuana Ilmu Komputer. yaitu bahwa Negara Indonesia adalah negara hukum. Kedua. alinea pertama pembukaan. Pokok-Pokok Hukum Tata Negara Indonesia Pasca Reformasi.365 UUD 1945 menggabungkan konsep kedaulatan rakyat. Pilar-Pilar Penyelenggaraan Pemerintahan Pengakuan bahwa Indonesia berkomitmen terhadap pilar-pilar negara kesatuan. yang berbentuk Republik. . Juga. “ kemerdekaan… Negara Ketuhanan Yang Maha Esa. PT.364 Pertama. 150. kedaulatan hukum. Kelompok Gramedia. (2).127 BAB IV TINJAUAN DIMENSI-DIMENSI HUBUNGAN ANTARA PUSAT DAN DAERAH A. yaitu bahwa Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar. ayat (3) kedaulatan hukum. Gagasan kedaulatan Tuhan dianut juga dalam: 1.

Kedua. maka urusan pemerintah pusat itu terbatas pada enam urusan ini. Kata kecuali dapat diartikan membatasi. pelayanan umum dan daya saing daerah. Pertama. Walaupun demikian melalui berbagai peraturan pelaksana.128 3. 32/2004 dapat diambil beberapa hal. dan memberikan otonomi seluas-luasnya. Pemahaman seperti ini dikenal dengan pendekatan residual. Dimensi Hubungan Kewenangan Pusat dan Daerah UUD 1945 telah memberikan dasar-dasar pola hubungan antara Pusat dan Daerah. Titinjau dari pola hubungan kewenangan. Residual powernya ada pada pemerintahan daerah sehingga pemerintahan daerah memiliki otonomi yang luas. Dalam hal ini membatasi urusan pemerintahan yang menjadi urusan pemerintah pusat. dari ketentuan Pasal 18 ayat (5) UUD 1945 dan Pasal 2 ayat (3) UU No. dapat terlihat berbagai ketidakkonsistenan dengan landasan konstitusional ini. Dengan pemberian otonomi seluas-luasnya seperti itu. pelaksanaan pemerintahan daerah yang berdasarkan otonomi seluas-luasnya bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. meliputi desentralisasi teritorial. Ide kedaulatan Tuhan itu diwujudkan dalam prinsip kebebasan setiap individu dalam sistem demokrasi dan dicerminkan pula dalam sistem hukum berdasarkan Undang-Undang Dasar. Pasal 9 ayat (1) dan (2) menentukan sumpah jabatan presiden … dengan menyatakan “Demi Alloh”. pada dimensi-dimensi hubungan pusat dan daerah. Tujuan-tujuan tersebut sejalan dengan fungsi negara dan pemerintah pada masa modern yang secara umum dikatakan sebagai negara pelayan (the service state). Apa isi pelayanan itu? . kedua ketentuan di atas menggunakan kata ‘kecuali’ (exception) dalam hal pembagian kewenangan. dengan asas otonomi dan tugas pembantuan. B. Jika ketentuan ini diidentifikasi sebagai rumusan limitatif. seharusnya sudah memungkinkan bagi daerah-daerah untuk beragam memiliki urusan. 4. Di luar enam urusan ini merupakan urusan pemerintahan daerah. Pasal 28J ayat (2): Hanya saja paham kedaulatan Tuhan itu tidak terjelma atau terwujudkan dalam diri Raja atau Ratu seperti dalam paham teokrasi (theocracy) yang pernah dipraktikkan dalam sejarah negara-negara Eropa Masa lalu.

368 Dengan demikian tidak dapat lagi dijumpai perbedaan mendasar antara ‘khusus’ dan ‘istimewa’ atau dengan kata lain tidak terdapat ‘kriteria baku’ yang dapat digunakan untuk membedakan kedua istilah tersebut. 2001. 366 367 Bagir Manan. Demikian pula penjabaran RPJP saat ini cenderung mengubah kepentingan sektor menjadi kepentingan wilayah. Pusat Studi Hukum Fakultas Hukum UII. 2008. sosial. Makalah.367 Untuk Aceh. dan ketertiban umum yang berkaitan dengan kenyamanan dan ketenteraman warga. perangkat di pusat tidak perlu gemuk.369 Ketiadaan kriteria baku ini mengandung resiko-resiko tertentu karena suatu daerah dapat saja menuntut suatu kekhususan semata-mata didasarkan pada faktor-faktor tertentu. maka tidak perlu penyeragaman terlalu banyak baik melalui rincian pembagian urusan maupun pedoman dan standard.129 Kalau digolongkan terdapat tiga fungsi negara atau pemerintah terhadap rakyat. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah. tugas utama pemerintahan daerah di bidang kemasyarakatan adalah yang berkaitan dengan penyediaan prasarana dan sarana publik (public utilities). Sebagai ujung tombak mewujudkan negara kesejahteraan. 369 Ibid. 16. Tugas Sosial Pemerintahan Daerah. perkataan ‘khusus’ dalam Pasal 18B UUD 1945 akan memiliki cakupan yang lebih luas karena dimungkinkan membentuk pemerintahan daerah dengan otonomi khusus (Aceh dan Papua). Sementara itu pemberian otonomi khusus seperti yang diberlakukan dalam berbagai UU saat ini lebih merupakan anomali. 4. 368 Ibid. jika otonomi dimaknai sebagai sebuah pengakuan atas keberagaman. hlm 15-16. yaitu politik. 370 Ibid. dan lain-lain). Bagir Manan. kalau urusan-urusan pemerintahan didesentralisasikan. . hlm. Berimplikasi kepada kelembagaan. keamanan dan ketertiban (hukum).. Yogyakarta.366 Berkaitan dengan daerah istimewa dan otonomi khusus. maka akan ditemukan bahwa pada setiap daerah memiliki karakter khusus. pelayanan umum (public services). kemasyarakatan (ekonomi. otonomi khusus berkaitan dengan pelaksanaan syariat Islam sehingga tidak berbeda dengan status Aceh sebagai daerah istimewa. Jika otonomi dijalankan sebagaimana yang dimaksud dalam Perubahan UUD 1945.370 Dari persoalan tersebut. hlm.

Jakarta.. otonomi daerah bukanlah tujuan melainkan suatu instrument untuk mencapai tujuan.371 Untuk Aceh. Kekhususan urusan kemudian terjadi dalam pengaturan Pasal 18B UUD 1945. 2003. Inkonsistensi terjadi pula dalam UU Olah raga dan penyuluhan pertanian yang menghendaki pembentukan semacam lembaga pelaksana di daerah. Kepala Daerah. menjadi kewenangan pusat. . 373 J. misalnya pada UU Kehutanan. Ketidakmampuan Kepala Daerah dalam menyukseskan pembangunan daerah berimplikasi pada rendah atau berkurangnya kinerja dan efektivitas penyelenggaraan pembangunan nasional.372 C. 15-16. hlm. karena menurut James W Fesler..373 Paradigma baru Otonomi Daerah harus diterjemahkan oleh Kepala Daerah sebagai upaya untuk mengatur kewenangan pemerintahan sehingga serasi dan fokus pada tuntutan kebutuhan masyarakat. Efekivitas pemerintahan Negara bergantung kepada efektivitas penyelenggaraan pemerintahan di daerah. yang mengurangi keberagaman daerah sebagai bagian dari hakikat otonomi. Perkataan ‘khusus’ tersebut akan memiliki cakupan yang lebih luas karena dimungkinkan membentuk pemerintahan daerah dengan otonomi khusus (Aceh dan Papua). Kaloh. Dimensi Hubungan Kelembagaan Pusat dan Daerah Pemerintahan daerah merupakan subsistem dari pemerintahan nasional atau Negara. 4. otonomi khusus berkaitan dengan pelaksanaan syariat Islam sehingga tidak berbeda dengan status Aceh sebagai daerah istimewa. Penerbit Gramedia Pustaka. Keberhasilan kepemimpinan di daerah menentukan kesuksesan kepemimpinan nasional. “penyelundupan” desentralisasi pun terjadi pula melalui UU sektoral yang menarik urusan yang sudah didesentralisasikan. Instrument tersebut haruslah digunakan secara arif oleh kepala daerah tanpa harus menimbulkan konflik antara pusat 371 372 Ibid. 16.130 Ketidakkonsistenan otonomi kemudian muncul melalui pembagian kewenangan yang dirinci melalui PP No. Ibid. 38 tahun 2007.

yaitu pelayanan kepada masyarakat (public services). Dalam kondisi demikian. Pusat Studi Hukum Kenegaraan Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran.375 Tuntutan reformasi kelembagaan dicirikan oleh asumsi sebagai berikut:376 1. Yang terjadi adalah praktek jual beli “perahu partai politik” dalam proses pencalonan kepala daerah. Reformasi objektivitas kelembagaan guna mensyaratkan adanya transparansi dengan dan cara menghindari perbuatan KKN mengutamakan orang-orang yang “dekat” dengan pejabat pengambil 374 375 Ibid. kepala daerah harus waspada terhadap munculnya hubungan antar tingkat pemerintahan yang bergerang dalam saling ketidakpercayaan.374 Pemilihan langsung kepala daerah yang diharapkan dapat meningkatkan partisipasi masyarakat. Reformasi kelembagaan yang aspiratif dan akseleratif mensyaratkan adanya kemauan. 16 Eko Prasojo. Sedangkan masyarakat dipaksa untuk memilih calon yang telah dipilih oleh parpol tanpa proses penjaringan yang partisipatif. dan pemberdayaan (empowerment). atau suasana kurang harmonis seperti munculnya egoism masing-masing tanpa menyadari bahwa fungsi pemerintahan hanya meliputi tiga hal.com/2008/04/08/konstruksi-ulang-hubungan-pemerintah-pusat-danpemerintah-daerah-di-indonesia-antara-sentripetalisme-dan-sentrifugalisme/ 376 Asep Warlan Yusuf. keberanian. Proses penjaringan calon kepala daerah menjadi domain ekslusif partai politik. Hubungan Kelembagaan antara Pusat dan Daerah. hlm. Bandung. http://ekoprasojo. Klaim partai politik bahwa jika pencalonan dilakukan hanya melalui partai politik akan memperkuat kelembagaan partai politik dalam prakteknya juga tidak menjadi kenyataan. atau antar provinsi dan kabupaten/Kota karena jika demikian. makalah pada Diskusi Terbatas tentang Hubungan Pusat dan daerah.131 dan daerah. dalam prakteknya tidak terjadi. 4 Agustus 2009 . Pidato Pengukuhan Guru Besar Fisip UI. membuatkan pedoman/arah atau ketentuan kepada masyarakat (regulation). dan komitment politik yang kuat dari pemerintah daerah. makna otonomi daerah menjadi kabur. 2.

Susunan luar. Jakarta. partisipasi serta kontribusi dari dan oleh mnasyarakat dapat terakomodasi secara maksimal. 3. disarankan agar Pemerintah Pusat mengurangi badan-badan penyelenggara urusan pemerintahan pusat di daerah.378 Konstruksi hubungan tersebut paling tidak memuat pemikiran ulang mengenai tingkatan pemerintahan. semua satuan pemerintahan tingkat daerah harus tersusun dalam satu kesatuan susunan integral. terutama dalam rangka penataan kepegawaian dalam kelembagaan yang baru. Susunan dalam harus mencerminkan dasar permusyawaratan dalam sistem pemerintahan Negara. pembagian wewenang 377 (atau urusan) antar berbagai tingkatan pemerintahan.. Dalam rangka lebih memperkokoh asas desentralisasi sebagai salah satu sendi system ketatanegaraan RI. Reformasi kelembagaan mensyaratkan adanya penguatan Civil Society (masyarakat madani) agar sukses. hlm. 5. status dan kedudukannya. Agar diusahakan sebanyak mungkin pelaksanaan urusan pemerintahan pusat di daerah dilakukan melalui atau kerjasama dengan Pemerintah Daerah. 3. Mekanisme hubungan pemerintah Pusat dan Pemerintah daerah dalam kelembagaan (susunan organisasi) menurut Bagir Manan:377 1. 256 378 Ibid. 4. Reformasi kelembagaan mensyaratkan adanya kepastian dan perlindungan terhadap upaya pemberdayaan daerah. hlm. artinya tidak dilakukan dengan setengah hati sehingga terjadi tarik ulur antara kewenangan Pemerintah. Bagir Manan. 2. Pustaka Sinar Harapan.132 keputusan. Hubungan Antara Pusat dan Daerah Menurut UUD 1945. Reformasi kelembagaan mensyaratkan adanya pengembangan dan pemberdayaan dalam membangun berbagai aliansi strategis dengan pihak manapun. 257 . Provinsi dan Kabupaten/Kota. 1994.

Meskipun demikian. Hubungan pusat dan daerah dalam sistem otonomi yang bagaimanapun luasnya bukanlah ketentuan statis tetapi harus merupakan ketentuan yang dinamis pola hubungan itu harus selalu bergerak seimbang antara ke pusat dan ke daerah yang mampu menampung kebutuhan masyarakat dan pemerintahan. 379 http://ekoprasojo. bahkan sebaliknya dapat menambah beban terlebih-lebih masalah yang dihadapi bukanlah hanya terletak dalam hubungan antara pusat dan daerah. harus diperhatikan bergeraknya pola hubungan tersebut tidak sampai menimbulkan masalah besar khususnya bagi daerah. Di samping ada pula yang mengarah pada gabungan keduanya. Dalam hal ini. segala sesuatunya perlu ditempatkan dalam hubungan yang serasi.133 perimbangan keuangan antar tingkatan pemerintahan. dipihak lain ke arah sentraliasi. Dengan diterapkannya otonomi luas (terutama di Kabupaten dan Kota). dan intervensi pusat terhadap daerah. Begitu pula kemampuan daerah yang satu belum tentu sama dengan daerah yang lainnya. Bertambah luasnya urusan Rumah Tangga daerah belum tentu selalu membawa keuntungan bagi daerah. kemungkinan demikian harus diantisipasi dengan cermat sehingga tidak terjadi susunan organiasi “yang kegemukan” atau sebaliknya. sehingga harus dimungkinkan adanya perbedaan susunan organisasi setiap daerah. Terlihat perbedaan perwujudan politik otonomi disatu pihak condong kearah desentralisasi. akan memperbesar organisasi pemerintahan daerah.379 Persoalan hubungan pusat dan daerah dalam Negara Kesatuan dengan sistem desentralisasi lebih luas dari sekedar bertalian dengan caracara penentuan Rumah Tangga daerah. tetapi bersumber pula antara lain pada cara menyusun dan menyelenggarakan organisasi pemerintahan di daerah ditinjau dari macam-macam peraturan perundang-undangan mengenai pemerintahan daerah yang pernah berlaku. partisipasi daerah dalam pembuatan keputusan di tingkat nasional. tetapi juga hubungan antar daerah itu sendiri.com/2008/04/08/konstruksi-ulang-hubungan-pemerintah-pusat-danpemerintah-daerah-di-indonesia-antara-sentripetalisme-dan-sentrifugalisme/ .

bahkan dalam cara pengisiannyapun sama-sama dipilih secara langsung oleh rakyat melalui pemilu. Institute for Local Development dan Yayasan TIFA. artinya. kedudukan dan fungsi DPR RI. Joeniarto. editor Anhar Gonggong. Jakarta 2005. Perwakilan Politik Lokal dan Eksistensi DPRD dalam Konteks Otonomi Daerah. 32 Tahun 2004. yaitu dalam arti sebagai kepala pemerintahan daripada pemerintah lokal administratif umum pusat dan sebagai alat Pemerintah Daerah. Perkembangan Pemerintahan Lokal. Konsep perwakilan politik lokal merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sistem demokrasi. 1982. Penerbit Alumni. 327 . hlm. keterlibatan masyarakat secara langsung dan tidak langsung ikut menentukan urusan urusan rumah tangga daerahnya.380 Penyelenggaraan dan pertanggungjawaban tugas oleh Gubernur dalam kedudukannya sebagai alat pemerintah Pusat. Begitu pula berkaitan dengan kelembagaan DPRD.381 masingmasing sesuai dengan peraturan yang berlaku saat ini yaitu UU No. sedangkan dalam kedudukannya sebagai alat pemerintah daerah tunduk kepada prinsip-prinsip desentralisasi. 382 BN. 215. tapi juga pada cara penyelenggaraannya dan pertanggungjawabannya.134 Mengenai kedudukan gubernur. namun DPRD tidak mempunyai hubungan secara langsung dengan DPR. 381 Ibid. hlm. tunduk pada prinsipprinsip dekonsentrasi. kedudukan serta fungsi DPRD ini berada dalam satu undang-undang yang sama dengan pengaturan mengenai susunan. Perbedaan antara dua macam tugas tersebut tidak hanya terletak pada macam tugasnya. Pasang Surut Otonomi Daerah. Marbun. atau dengan perkataan lain DPRD bukan merupakan subordinasi dari 380 R.382 Meskipun pengaturan tentang susunan. karena ada dua kedudukan sebagai alat pemerintah pusat. dengan sendirinya ia mempunyai dua macam tugas yang berbeda satu dengan yang lainnya. Bandung. yaitu dalam arti sebagai Kepala Pemerintahan dari pada pemerintah lokal yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangga sendiri. dalam Kumpulan Tulisan. Konsep perwakilan politik lokal terkait dengan sistem pemerintahan yang dipraktikkan suatu Negara.

Di lain pihak. alasan utama untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dalam Pasal 18 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa “Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota. Bahkan dalam hal pembentukan perda. maupun daya saing daerah pun menjadi tersamar dan yang muncul justru adalah kepentingan elit politik lokal tersebut.135 DPR RI. kecenderungan masyarakat untuk membentuk daerah baru juga didukung oleh lembaga formal baik pada tingkat daerah maupun pusat. Di samping itu DPRD juga sebenarnya merupakan bagian atau unsur kekuasaan eksekutif pada level pusat karena merupakan bagian dari penyelenggara pemerintahan daerah. baik provinsi. kekuasaan DPRD baik tingkat provinsi maupun Kabupaten/Kota akan melalui sebuah upaya evaluasi peraturan pelaksanaannya. Hal itu dapat dilihat dari mudahnya pemerintah pusat. (Kursif dari Tim Peneliti). atau kota. Dalam hal ini. Terjadinya pemekaran daerah yang meluas hampir di seluruh wilayah Indonesia sebenarnya diawali dengan peluang yang diberikan oleh peraturan perundang-undangan. banyak di antara mereka yang kemudian mencalonkan diri sebagai kepala daerah yang baru tersebut. baik provinsi/kabupaten/kota dan DPRD-nya masing-masing juga menjadi faktor pendukung terjadinya pemekaran daerah dengan mudahnya memberikan persetujuan pemekaran daerah yang bersangkutan. pemerintah daerah induknya. yang tiap-tiap provinsi. Demikian pula halnya keterlibatan pemerintah pusat maupun lembaga negara yang diharapkan akan menjadi penyaring dalam pemekaran daerah juga tidak berjalan dengan baik. pelayanan publik. melalui Menteri Dalam Negeri. kabupaten. Sebagai balasannnya. dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah. yang diatur dengan undang-undang”. kabupaten. Bahkan tidak sedikit di antara daerah yang memekarkan diri itu diketuai oleh kepala daerah atau para anggota DPRD-nya. memberikan rekomendasi . Dengan demikian. Di atas sudah dijelaskan bahwa dalam sepuluh tahun terakhir sudah banyak dibentuk atau dimekarkan suatu daerah.

Oleh karena itu. peran lembaga formal sangat penting dalam menyaring dan mengendalikan pemekaran daerah agar pemekaran daerah itu dapat dikurangi atau dihentikan. Demikian pula halnya. Alasan Majelis Permusyawaratan Rakyat menggunakan istilah “dibagi” bukan “terdiri atas” adalah untuk menjelaskan bahwa Indonesia adalah negara kesatuan yang kedaulatan negara berada di tangan Pusat. 31. ternyata dari kata “dibagi” tersebut kemudian menimbulkan penafsiran yang berbeda dalam praktik di mana hal itu diartikan Indonesia akan selalu dibagi ke dalam provinsi. Dari bunyi pasal tersebut tampak bahwa memang sangat dimungkinkan suatu daerah untuk dimekarkan bahkan dapat menjadi lebih dari satu daerah (baru). Sebagai bukti.cit. di mana jika menggunakan istilah “terdiri atas” akan lebih menunjukkan susbtansi federalisme karena istilah itu menunjukkan letak kedaulatan berada di tangan negara-negara bagian.136 dalam pembentukan daerah baru. hlm. hal itu dapat diterima karena sangat masuk akal dan berdasar. op. Selain itu. . Akan tetapi. keterlibatan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dalam mengajukan rancangan undang-undang tentang pemekaran daerah sangat memungkinkan dan mendorong terjadinya pemekaran daerah. hal itu diatur dalam Pasal 6 ayat (2) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang menyatakan “Daerah dapat dimekarkan menjadi lebih dari satu Daerah”. 383 Sekretariat Jenderal Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia. Hal itu sangat dimungkinkan karena undang-undang yang berkaitan memang membuka peluang seperti dijelaskan di atas. Hal itu ternyata menjadi penyebab pemekaran daerah tidak dapat dikendalikan. Penafsiran itu mungkin terlalu naïf. tetapi faktanya memang seperti itu di mana kemudian pembagian wilayah atau daerah di Indonesia menjadi sangat dipermudah dalam undang-undang pelaksanaannya. dan provinsi akan selalu dibagi ke dalam kabupaten atau kota. 383 Secara konseptual dan teoretis. hal itu konsisten dengan kesepakatan untuk tetap mempertahankan bentuk negara kesatuan.

ketentuan tersebut sangat membuka peluang kepada semua daerah untuk memekarkan diri tanpa melihat kondisi objektif daerah. Artinya. di sisi lain Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tidak membatasi secara tegas sampai berapa banyak jumlah provinsi. kabupaten. Namun. Bahkan tidak sedikit pula dalam pemekaran daerah itu dilakukan dengan memaksakan diri padahal situasi dan kondisi daerah itu sebenarnya belum atau tidak layak dimekarkan. provinsi dapat dibagi terus ke dalam kabupaten atau kota. kabupaten atau kota juga dapat dimekarkan terus ke dalam kecamatan-kecamatan.137 Namun. dalam pemekaran daerah banyak memunculkan data dan fakta yang berbeda dengan situasi. kriteria dan prosedur pemekaran daerah yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tersebut sudah cukup baik selama dijalankan secara ketat dan teruji melalui penelitian dan pengkajian yang komprehensif. sementara dari segi faktual-material banyak yang tidak sesuai dengan situasi dan kondisi nyata di daerah yang bersangkutan. wilayah Indonesia dapat dibagi terus ke dalam provinsi-provinsi. Secara formal. Pasal tersebut sangat memungkinkan terjadinya pemekaran daerah seperti halnya pemecahan sel yang berlangsung terus-menerus tanpa ada pembatasan. di sisi lain kriteria dan prosedur tersebut dapat dianggap terlalu mudah dan terkesan formalistik. Dengan kata lain. dan kecamatan pun dapat dipecah lagi ke dalam kelurahan-kelurahan dan desa-desa. Oleh karena itu. tidak mengherankan apabila banyak daerah yang mencoba mengajukan usulan pemekaran diri sekalipun secara faktual daerahnya tidak memenuhi persyaratan atau persyaratan formalnya terpenuhi tetapi faktualnya tidak. Apabila undang-undang itu dibaca dalam waktu yang berbeda. Dengan kata lain. Pemenuhan persyaratan yang diajukan dalam pemekaran daerah itu lebih banyak hanya ditekankan dari segi formal dan prosedur. dan kota yang dapat dibentuk di Indonesia. kondisi. Keadaan itu dimungkinkan terjadi karena adanya . maka tampak seperti tidak ada pembatasan sampai berapa tahap suatu daerah dapat dibagi ke dalam daerah yang lebih kecil. sehingga pemenuhannya lebih banyak ditekankan kepada aspek formalnya semata-mata. maupun kemampuan daerah yang bersangkutan.

Pada gilirannya. Sebagai akibatnya. maupun daya saing daerah. sejarah menunjukkan bahwa pelaksanaan undangundang tersebut ternyata tidak berhasil dengan baik. hal itu dijadikan peluang untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. banyak daerah provinsi. Hal itu sebagai akibat negatif di mana daerah diberi kewenangan dan keleluasaan yang sangat luas untuk mengurus dan mengatur urusan rumah tangganya sendiri. kabupaten. adalah timbulnya berbagai persoalan yang dihadapi oleh daerah. Hal itu itu menunjukkan sangat longgarnya persyaratan dan prosedur pemekaran daerah dalam undang-undang. seperti adanya kerusakan lingkungan. pelaksanaan otonomi daerah yang sangat luas tersebut tidak mampu membawa kesejahteraan bagi masyarakat di daerah.138 kemudahan yang diberikan oleh ketentuan peraturan perundang-undangan dan dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk mencapai tujuannya. Akibat lain dari berlakunya undang-undang tersebut. pelayanan publik. korupsi. selain banyak munculnya daerah baru. undangundang tersebut yang pada awal kehadirannya disambut dengan harapan yang sangat tinggi agar pelaksanaan otonomi daerah yang sebelumnya dilaksanakan secara sentralistik berubah menjadi lebih desentralistik justru dianggap menimbulkan banyak masalah. konflik . Semestinya. Padahal. terutama Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan peraturan pelaksananya. atau kota yang sibuk melakukan pemekaran daerah baru dengan melupakan keberadaannya sebagai penyelenggara pemerintahan daerah yang memiliki tugas untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sebagai akibatnya. maupun daya saing daerah. termasuk kebebasan daerah dalam memekarkan daerahnya menjadi daerah otonom baru. pelayanan masyarakat. dengan diberikannya otonomi yang seluas-luasnya kepada daerah menyebabkan daerah memiliki kekuasaan yang luar biasa besar dalam menentukan dan mengambil kebijakan menyangkut daerahnya. Dengan demikian. Namun yang terjadi justru sebaliknya di mana dengan otonomi yang sangat luas tersebut menimbulkan banyak ekses negatif. sehingga tujuan pemberian otonomi daerah seluas-luasnya tidak berjalan sesuai dengan harapan.

Dengan demikian. Selanjutnya. Dengan demikian. Pada akhirnya. termasuk dalam hal pemekaran daerah.139 masyarakat. Hal itu disebabkan demikian besarnya kewenangan daerah kabupaten dan kota untuk mengambil kebijakan. sehingga tidak dapat dikontrol oleh provinsi maupun pusat. Hal itu terjadi karena adanya pihak . Dengan demikian. semangat undang-undang tersebut masih sama dengan semangat undang-undang sebelumnya yang ”akan selalu membagi” wilayah atau daerah Indonesia ke dalam bagian yang lebih kecil. Oleh karena itu. dan sebagainya. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tersebut digantikan oleh Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004. ada di antaranya dalam proses pemekaran tersebut menimbulkan konflik horizontal di antara masyarakat sendiri atau dengan pemerintah induk (provinsi/kabupaten/ kota) bahkan dengan pemerintah pusat. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 juga ternyata masih membuka peluang yang cukup besar bagi daerah untuk melakukan pemekaran daerah. Namun demikian. Penggantian tersebut dilakukan untuk mengubah paradigma yang dianut oleh undangundang sebelumnya yang terlalu memberikan keleluasan sepenuhnya kepada daerah tanpa adanya mekanisme kontrol yang proporsional. hal itu tidak dilaksanakan oleh banyak daerah. Hal itu dapat dilihat dari bunyi Pasal 2 ayat (1) yang berbunyi ”Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota yang masing-masing mempunyai pemerintahan daerah”. tidak mengherankan dalam kurun waktu 2004 sampai dengan sekarang (2009) pemekaran daerah juga masih berlangsung. tujuan semula dikeluarkannya undang-undang tersebut tidak berhasil diwujudkan sesuai dengan harapan pembentuk undang-undang sendiri maupun masyarakat. Hal itu dimungkinkan terjadi dan terus berlangsung karena memang undangundangnya membuka peluang untuk itu. era otonomi daerah yang sudah mulai dinikmati oleh daerah kemudian menjadi kehilangan momentum karena daerah tidak mampu memelihara dan menjaganya. Sekalipun banyak pihak yang sudah menganjurkan upaya pemekaran tersebut dihentikan.

praktiknya hal itu sangat riskan. penghasilan daerah. Apabila dibandingkan antara kedua ketentuan peraturan perundangundangan tersebut. semua provinsi di Indonesia harus menyetujui pembentukan provinsi baru tersebut. tampaknya tidak terlalu berbeda di mana keduanya sangat membuka peluang dilakukannya pemekaran daerah. termasuk posedurnya juga cukup sederhana. tidak adanya syarat yang mewajibkan persetujuan dari daerah lain dalam pembentukan daerah baru. apabila akan dibentuk provinsi baru. Sekalipun dalam peraturan perundang-undangan tersebut sudah diatur tentang pembatasan waktu berapa lama suatu daerah yang sudah dimekarkan dapat dimekarkan lagi. Hal itu disebabkan persyaratan yang harus dipenuhi tidak ketat. potensi daerah. Misalnya. hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah terjadinya “gangguan” terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakatnya. Demikian pula halnya dalam pembentukan kabupaten/kota baru harus mendapatkan persetujuan dari semua kabupaten/kota yang ada dalam provinsi yang sama. Selain fakto-faktor yang sama dalam pembentukan provinsi. di samping akan mempengaruhi alokasi anggaran masingmasing provinsi yang sudah ada. kepegawaian. dan sebagainya. waktu 10 tahun untuk .140 tertentu yang menginginkan pemekaran dan di lain pihak justru menentangnya dengan masing-masing alasannya. Misalnya. akan terjadi pemungutan retribusi baru oleh kabupaten/kota baru bagi warganya yang akan melintasi daerah baru tersebut. Alasannya. padahal sebelumnya tidak dipungut retribusi karena masih merupakan bagian daerah kabupaten/kota yang bersangkutan. baik untuk daerah lama yang sudah pernah dimekarkan maupun daerah baru yang kemudian akan dimekarkan lagi. Hal itu sangat penting. daerah tersebut akan menerapkan ketentuan yang menguntungkan daerahnya sendiri. Sebagai contoh. tidak peduli apakah “korbannya” adalah tetangganya yang sebelumnya adalah sesama warga kabupaten/kota sebelum pemekaran (daerah induk). Apabila sudah berdiri sendiri sebagai kabupaten/kota. pembentukan daerah baru juga akan menjadi penyebab berubahnya administrasi kependudukan.

Demikian pula halnya untuk pembentukan kabupaten/kota baru harus ada penegasan hal yang sama.141 provinsi dan 7 tahun untuk kabupaten/kota dirasakan kurang karena dalam waktu sesingkat itu pemerintahannya belum stabil seperti halnya suatu provinsi atau kabupaten/kota yang sudah lama berdiri.386 Namun demikian. Dalam konteks tersebut. 25. 33 Tahun 2004. persentase yang lebih besar. 33 Tahun 2004. . serta persentase dana perimbangan menjadi perhatian utama dalam UU tersebut. 386 Hal tersebut berupa ancaman sanksi penundaan atau pemotongan dana perimbangan jika daerah melanggar larangan melakukan pinjaman luar negeri. penyempurnaan jenis-jenis dana perimbangan. ada beberapa hal yang masih menjadi masalah dalam UU tersebut atau jika dikaitkan dengan UU lainnya. termasuk asal dananya. Sebagai contoh. Telaah Terhadap Mekanisme Perimbangan Keuangan Dilihat dari substansi pengaturannya. D. Dimensi Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah a. Pasal 25 UU No. 33 Tahun 2004 memperbaiki ketentuan UU sebelumnya (UU No. Tahun 2000) terkait dengan jenis –jenis dana perimbangan. 384 385 Lihat Pasal 20 ayat (1) dan ayat (2) UU No. 5% DBH sektor Migas untuk alokasi pendidikan dasar)384 dan sanksinya jika ketentuan tersebut dilanggar385. Pasal 102 ayat (3) UU No. serta dalam mekanisme dana perimbangan sebagai instrumen pengendali pengelolaan keuangan daerah. Berupa pemotongan DBH sektor Migas. adanya dana perimbangan yang peruntukannya di atur (0. Pasal 83 ayat(4). kewajiban menyampaikan informasi keuangan daerah sesuai dengan standard akuntansi pemerintah. 33 Tahun 2004. Berapa lama sebenarnya kemudian provinsi Jawa Barat dapat dimekarkan lagi ke dalam provinsi baru? Hal ini sangat penting untuk memperoleh kejelasan karena sekarang ini sudah muncul pembentukan provinsi Cirebon dan provinsi Pantai Utara (Pantura). UU No. kriteria dan batas defisit APBD. 33 Tahun 2004 lebih menekan pada pembagian pendapatan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. provinsi Jawa Barat sudah pernah dimekarkan dengan dibentuknya provinsi Banten pada tahun 2001. UU No. Lihat Pasal 50 ayat(2).

142

Dalam konteks tersebut, UU No. 33 Tahun 2004 lebih menekankan konsep desentralisasi fiskal pada transfer dana pusat ke daerah. Padahal desentralisasi fiskal tidak hanya mencakup hal tersebut, tetapi juga menjamin daerah untuk lebih mandiri mendapatkan sumber-sumber penerimaan daerah sesuai dengan potensinya. Transfer dana pusat ke daerah seharusnya ditempatkan sebagai mekanisme penyeimbang dalam hal mengatasi masalah ketidakseimbangan kemampuan keuangan secara vertikal dan horizontal (vertical and horizontal fiscal imbalance).
387

Padahal

jika dikaitkan dengan konsep desentralisasi fiskal, maka sangat besarnya transfer dana dari pusat ke daerah akan menyebabkan ketergantungan daerah yang tinggi terhadap pusat.388 DAU yang didasarkan pada perhitungan celah fiskal dapat mengatasi persoalan vertical imbalance antara pusat dengan daerah. Daerah-daerah miskin dan terpencil mendapatkan keuntungan yang besar dari pola DAU dalam UU No. 3 Tahun 2004 terutama sejak tahun 2006, yang disebut oleh Fengler dan Hofman sebagai the second big bang.389 Sementara itu, daerahdaerah yang memiliki DBH baik dari sektor pajak, dan terutama DBH sumber daya alam, pasti memiliki DAU lebih kecil sehingga antara daerah-daerah yang kaya dengan daerah-daerah miskin dan terpencil dapat tercipta keseimbangan kemampuan keuangan secara horizontal. Namun demikian, walaupun secara normatif dan perhitungan “di atas kertas” tercipta keseimbangan baik vertikal maupun horizontal, namun kenyataannya danadana tersebut sebagian besar tidak terserap, seperti di Aceh dan daerah Indonesia timur, dana-dana perimbangan tersebut lebih banyak berada di rekening bank,390 atau dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI),391

Roh Bahl, dalam Shinichi Ichimura, Roy Bahl (eds), loc.cit., hlm. 10 – 11. Lihat pendapat K. Brueckner, loc.cit., hlm. 1. 389 Istilah big bang (decentralization) mengacu pada fenomena desentralisasi berdasarkan UU No. 22 Tahun 1999 (efektif pada tahun 2001) yang mengubah Indonesia dari negara sentralistis menjadi negara terdesentralisasi secara drastis. Lihat Wolfgang Fengler, Bert Hofman, “Managing Indonesia’s Rapid Decentralization: Achievements And Challenges”, dalam Shinichi Ichimura, Roy Bahl (eds), op.cit., hlm. 245 – 246. 390 Ibid., hlm. 254. 391 Ibid., hlm. 246.
388

387

143

sementara secara kontras, penyerapan PAD lebih mudah dilakukan. Meminjam istilah Fengler dan Hofman, daerah lebih mudah menyerap “dana rakyat yang lain”392 (PAD). Fengler dan Hofman sendiri menegaskan

persoalan ke depan yang menjadi tantangan bukanlah bagaimana menambah transfer dana dari pusat ke daerah – daerah miskin dan terpencil, tetapi bagaimana mengelola dana-dana transfer tersebut secara efektif.393 Selain menumpuknya dana-dana transfer dari pusat, belanja daerah pun lebih banyak dikeluarkan untuk membiayai gaji pegawai, dibandingkan belanja lain yang terkait dengan penyelenggaraan urusan pemerintah, seperti belanja modal atau infrastruktur.394 Hal-hal di atas menunjukkan bahwa desentralisasi fiskal Indonesia lebih banyak ditekankan pada otonomi pengeluaran, walauapun hasilnya tidak efektif. Dengan kata lain, tantangan desentralisasi Indonesia di kemudian hari tidak hanya ditekankan pada efektifitas penggunaan sumber-sumber keuangan daerah secara efektif. Persoalan yang juga signifikan adalah tingkat otonomi dan kecukupan pendapatan (revenue autonomy and adequacy) untuk mendapatkan PAD. Walaupun daerah diberikan kewenangan untuk memungut pajak daerah dan retribusi daerah, namun hal tersebut tidak efektif. Pajak daerah dan retribusi daerah yang diberikan kewenangannya kepada daerah dalam UU No.18 Tahun 1997 jo UU No. 34 Tahun 2000 sangat terbatas. Pajak daerah dalam UU No. 18 Tahun 1997 jo UU No. 34 Tahun 2000 lebih menekankan pada keseragaman antar daerah, dalam bentuk kewenangan memungut pajak tertentu (positive list) yang basis pajaknya/ objeknya telah ditetapkan dalam undang-undang.395 Walaupun daerah dapat menetapkan jenis pajak daerah lain berdasarkan kriteria yang ditetapkan UU tersebut, namun sangat sulit

Ibid., hlm. 255. Loc.it., hlm. 246. 394 Misalnya pada tahun 2006 APBD Kabupaten/ Kota untuk belanja pegawai termasuk gedung-gedung pemerintah daerah mencapai 32% dari seluruh pengeluaran, yang juga disebabkan karena meningkatnya daerah-daerah baru hasil pemekaran. Sementara itu, belanja infrastruktur yang terkait langsung dengan pelayanan publik hanya mencapai 15%. Lihat World Bank 2007, Spending for Development — Making the Most of Indonesia’s New Opportunities (Public Expenditure Review 2007), Jakarta 2007. www.worldbank.org/id. 395 Tjip Ismail, Pengaturan Pajak Daerah di Indonesia, Yellow Printing, Jakarta, cetakan kedua, 2007, hlm. 264.
393

392

144

ditemukan jenis pajak daerah baru, karena ketatnya kriteria-kriteria tersebut.396 Praktiknya, hasil pajak daerah dan retribusi daerah tidak berkontribusi signifikan terhadap PAD, terutama kepada kabupaten/ kota.397 Bahkan hasil yang diperoleh dari pajak dearah dan retribusi daerah lebih kecil dari pada biaya pemungutannya398 dan sebagian besar akibat dari

pajak daerah dan retribusi daerah tersebut menyebabkan ekonomi berbiaya tinggi sehingga merusak iklim investasi.399 Hal – hal di atas mencerminkan masih rendahnya tingkat otonomi pendapatan dari daerah. Dengan diundangkannya UU No 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah menggantikan UU sebelumnya, terdapat beberapa perubahan signifikan, salah satunya adalah penambahan pajak daerah dan retribusi daerah baru. Namun demikian, dengan diterapkannya sistem penetapan jenis pajak daerah secara tertutup, menimbulkan pertanyaan, apakah otonomi pendapatan dari daerah semakin menguat atau semakin melemah? Salah satu alasan diundangkannya UU No. 28 Tahun 2009 karena selama ini penyerahan kewenangan di bidang perpajakan dan retribusi (daerah) kurang mendukung pelaksanaan otonomi daerah.400 Pemberian kewenangan yang semakin besar kepada Daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat seharusnya diikuti dengan pemberian kewenangan yang besar pula dalam perpajakan.401 Dengan argumentasi demikian, UU No. 28 Tahun 2009 mengatur perluasan basis pajak dengan menambah pajak daerah dan retribusi daerah yang baru. Namun demikian, apakah pajak-pajak daerah yang baru dapat menjamin hasil pungutan pajak daerah yang besar pula dan apakah tersebut dapat

Ibid., hlm. 266. Di tingkat kabupaten/ kota kontribusi PAD hanya menyumbang kurang dari 10% terhadap APBD. Tjip Ismail, op.cit.,hlm. 263. 398 Biaya penyelenggaraaan pajak daerah dan retribusi daerah mencapai lebih dari 50% dari hasil yang diterima. Wolfgang Fengler, Bert Hofman, op.cit.,hlm. 255. 399 Ibid., hlm. 256. 400 Penjelasan Umum paragraf 8 UU No. 28 Tahun 2009. 401 Ibid.
397

396

145

meningkatkan kemandirian daerah dalam upaya peningkatan PAD secara tepat? Dari jenis pajak daerah baru tersebut, hanya pajak rokok yang secara signifikan memberikan kontribusi terhadap PAD dengan tarif 10% dari cukai nasional dan sebagian lagi dari pajak hiburan yang dapat mencapai tariff maksimum 75 % untuk hiburan-hiburan tertentu.402 Namun demikian, khusus mengenai pajak rokok, terdapat kejanggalan dalam konteks pemungutan. Walaupun pajak rokok adalah pajak daerah provinsi, namun yang melakukan pemungutan pajak adalah instansi pemerintah berwenang memungut cukai bersamaan dengan pemungutan cukai rokok403, yang artinya pemerintah pusat. Hal ini merupakan mekanisme yang tidak menciptakan kemandirian daerah untuk melakukan pemungutan pajak daerah. Pajak rokok lebih tampak seperti dana perimbangan dari konsumsi rokok, karena dipungut oleh pemerintah pusat lalu disalurkan ke rekening kas umum daerah provinsi secara proporsional berdasarkan jumlah penduduk.404 Sementara itu, Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Pedesaan dan Perkotaan serta Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan(BPHTB) sebenarnya bukan pajak baru, karena hal tersebut merupakan pajak pusat yang seluruh hasilnya dikembalikan kepada daerah sebagai dana bagi hasil(DBH) dari sektor pajak.405 Sementara itu, Pajak Sarang Burung Walet dipungut bagi daerah-daerah yang memiliki potensi ini. Artinya, tidak semua daerah dapat memungut pajak daerah tersebut, karena tidak setiap daerah memiliki potensi sarang burung walet. Perluasan objek pajak daerah, misalnya untuk pajak hotel dan restoran sebenarnya juga bukan hal baru. Beberapa daerah juga telah

Hiburan tertentu yang dimaksud adalah Khusus untuk Hiburan berupa pagelaran busana, kontes kecantikan, diskotik, karaoke, klab malam, permainan ketangkasan, panti pijat, dan mandi uap/spa. Lihat Pasal 45 ayat (2) UU No. 28 Tahun 2009. 403 Pasal 27 ayat (3) UU No.28 Tahun 2009. 404 Pasal 27 ayat (4) UU No.28 Tahun 2009. 405 Pengaturan persentase perimbangan alokasi DBH PBB dan BPHTB antara pusat dan daerah adalah 10 % : 90 % untuk DBH PBB dan 20% : 80 % untuk DBH BPHTB. 10 % bagian pusat dari PBB dan 20 % bagian pusat dari BPHTB dibagikan seluruhnya kepada daerah dengan formula tertentu. Lihat Pasal 12 ayat (2) dan ayat(5) UU No. 33 Tahun 2004.

402

146

menetapkan jenis pajak daerah di luar UU No. 34 Tahun 2000, yang menyerupai perluasan objek pajak tersebut, misalnya pajak rumah kos di Kabupaten Sumedang. Dengan demikian, perluasan objek pajak tersebut sebenarnya hanya mengambil dan mengukuhkan secara nasional pajakpajak daerah yang sebelum telah dipungut di beberapa daerah. Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) yang tarifnya ditentukan secara progresif pun di mulai dari prosentase tariff 1% untuk kepemilikan kendaraan pribadi yang pertama, walaupun untuk kendaraan kedua dan seterusnya dapat naikkan secara progresif hingga 10%. Secara sepintas, pajak tersebut dapat menghasilkan dana yang besar mengingat tingginya pembelian kendaraan bermotor. Namun demikian, jika mekanisme pengawasan tentang kepemilikan kendaraan bermotor tidak ditetapkan dengan baik, maka kemungkinan terjadinya penyelundupan hukum dapat mengakibatkan hasil pemungutan pajak tersebut tidak signifikan. Begitu pula dengan pemecahan Pajak Air Bawah Tanah dan Air Permukaan menjadi Pajak Air Tanah (kabupaten/ kota) dan Pajak Air Permukaan (untuk provinsi), pada dasarnya memiliki objek pajak yang tidak berubah, dengan tarif yang sama dengan UU sebelumnya untuk Pajak Air Tanah (maksimal 20%406), namun lebih rendah untuk Pajak Air Permukaan (maksimal 10%).407 Hal – hal di atas menunjukkan bahwa pemberian pajak baru, penyesuaian tarif pajak daerah tidak dapat dipastikan dapat meningkatkan PAD. Apalagi jika dikaitkan dengan kemungkinan masalah yang muncul dalam praktik, misalnya mekanisme pengawasan kepemilikan kendaraan bermotor pribadi dengan tariff pajak progresif. Jika mekanisme tersebut tidak dibentuk, maka pelaksanaan pemungutan pajak tersebut, berpotensi menimbulkan ketidakadilan.408 Berdasarkan hal-hal tersebut, maka otonomi

406 407

Pasal 70 ayat (1) UU No. 28 Tahun 2009. Pasal 24 ayat (1) UU No. 28 Tahun 2009. 408 UU No. 28 Tahun 2009 tidak mewajibkan mekanisme balik nama jika terjadi peralihan hak atas kepemilikan kendaraan pribadi. Artinya, jika seseorang telah menjual kendaraannya kepada orang lain tanpa melakukan balik nama, maka orang tersebut akan

147

pendapatan yang diharapkan dapat meningkat dengan adanya UU ini, belum tentu dapat terwujud. Jika asumsi PAD dari sektor pajak daerah belum dapat ditingkatkan dengan adanya UU No. 28 Tahun 2009, maka dengan sistem penetapan jenis pajak yang tertutup, daerah kurang dapat memanfaatkan potensi pajak daerah lain, selain yang telah ditetapkan secara limitatif dalam UU tersebut. Pembentuk UU No. 28 Tahun 2009 berargumen bahwa sistem tertutup tersebut dilakukan untuk memberikan kepastian hukum bagi masyarakat.409 Namun demikian, pembentukan UU tersebut tidak melihat bahwa otonomi daerah yang diterapkan di Indonesia adalah otonomi seluasluasnya di mana urusan pemerintahan daerah sangat luas, mencakup seluruh urusan pemerintahan kecuali urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat.410 Artinya, dibutuhkan biaya yang sangat besar untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan daerah, sehingga hal tersebut harus didukung dengan sumber pendapatan yang juga sangat besar. Pembentuk UU No. 28 Tahun 2009 berargumen bahwa dengan sistem pajak daerah selama ini, banyak daerah yang melanggar kriteria yang telah ditetapkan untuk menetapkan pajak daerah baru, ditambah dengan lemahnya pengawasan penetapan Perda Pajak Daerah dan perilaku banyak daerah yang tidak menyampaikan Perda Pajak Daerah untuk dievaluasi.411 Namun demikian, UU No. 28 Tahun 2009 tetap menerapkan sistem yang semi terbuka untuk retribusi daerah. Artinya, selain retribusi daerah yang ditetapkan dalam UU No. 28 Tahun 2009, daerah dapat menetapkan jenis retribusi daerah lain, berdasarkan kriteria yang ditetapkan.412 Padahal pembentuk UU No. 28 Tahun 2009 juga mengakui bahwa penetapan

dikenakan tariff progresif jika akan membeli kendaraan bermotor lagi untuk jenis yang sama, padahal orang tersebut secara de facto hanya memiliki 1 kendaraan pribadi. 409 Penjelasan Umum UU No. 28 Tahun 2009. 410 Pasal 18 ayat (5) Perubahan Kedua UUD 1945, menyatakan: “Pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya, kecuali urusan pemerintahan yang oleh undangundang ditentukan sebagai urusan Pemerintah Pusat”. 411 Penjelasan Umum UU No. 28 Tahun 2009. 412 Pasal 150 UU No. 28 Tahun 2009.

148

retribusi daerah yang banyak melanggar kriteria yang telah ditetapkan disebabkan, hasil penerimaan dari jenis pajak daerah yang ditetapkan, tidak dapat memenuhi kebutuhan daerah.413 Padahal dengan sistem pajak daerah yang sifatnya tertutup maka, pelangggaran terhadap kriteria jenis retribusi daerah lain kemungkinan akan terulang kembali. Hal tersebut menunjukkan ambiguitas pemikiran para pembentuk UU No. 28 Tahun 2009 dalam mendudukkan pajak daerah dan retribusi daerah. Hal-hal di atas menunjukkan, waluaupun terdapat upaya untuk menambahkan kewenangan pajak daerah dan retribusi daerah dalam UU No. 28 Tahun 2009, namun hal tersebut tidak menjamin terciptanya otonomi dan kecukupan pendapatan bagi daerah. Artinya, jika tujuan meningkatkan otonomi pendapatan dalam UU ini tidak tercapai, maka daerah akan tetap bergantung pada dana perimbangan yang diberikan oleh pusat.

b. Telah Terhadap Pinjaman Daerah Pengaturan pinjaman daerah dalam UU No. 33 Tahun 20004 dalam beberapa hal lebih baik jika dibandingkan dalam UU No. 25 Tahun 1999, misalnya dalam hal batas kumulatif pinjaman yang lebih ketat, dan sanksi bagi daerah yang melanggar ketentuan tersebut. Dengan pengaturan yang lebih ketat, tidak berarti daerah tidak memiliki borrowing previllage yang terbatas. Batas-batas objektif dalam melakukan pinjaman daerah diperlukan agar hal tersebut sesuai dengan maksud pinjaman daerah, khususnya untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dan melakukan pembangunan yang menerus (sustainable development).414 Adanya kategorisasi pinjaman daerah sesuai peruntukkannya dalam UU No. 33 Tahun 2004 merupakan salah satu cara untuk menempatkan pinjaman daerah sesuai dengan kebutuhan pinjaman tersebut dilakukan. Namun demikian, Menurut Shah, di negara-negara berkembang (termasuk Indonesia) di mana pasar (keuangan) belum terbangun dengan

413 414

Penjelasan Umum UU No. 28 Tahun 2009. Glasson dalam Bachrul Elmi dan Syahrir Ika, loc.cit., hlm. 62.

149

baik untuk kredit jangka panjang dan kemampuan daerah untuk membayar pinjaman, menyebabkan akses daerah untuk melakukan pinjaman sangat terbatas.415 Dalam konteks tersebut, maka yang paling mungkin dilakukan di Indonesia adalah pinjaman jangka pendek dan menengah yang tidak ditujukan untuk menghasilkan penerimaan. Artinya, pinjaman daerah di Indonesia hanya berperan untuk mempertahankan struktur APBD agar tetap berimbang seiring dengan diterapkannya hard budget constraints dalam hal APBD. Pinjaman daerah di Indonesia belum dapat diberdayakan untuk dapat menghasilkan penerimaan, walaupun jenis pinjaman tersebut disediakan (pinjaman jangka panjang untuk pembiayaan investasi). Belum berkembangnya pasar keuangan di negara-negara

berkembang, seperti lembaga keuangan bank dan non-bank, termasuk di Indonesia, maka sumber pinjaman daerah sangat terbatas. Otomatis, sumber pinjaman daerah yang secara signifikan diharapkan oleh daerah berasal dari pemerintah, karena pinjaman dari masyarakat (obligasi daerah) dan pinjaman dari pemerintah daerah lain belum banyak diberdayakan. Namun demikian, pemerintah pusat pun tidak selamanya dapat memberikan pinjaman kepada daerah, khususnya selain untuk tujuan menutupi defisit, karena transfer dana pusat ke daerah sudah begitu besar, khususnya dari DAU. Apalagi dalam UU No. 33 Tahun 2004, daerah dilarang melakukan pinjaman luar negeri, kecuali berasal dari penerusan pinjaman dari pusat yang dananya dari pinjaman luar negeri. Artinya sumber dana pinjaman daerah semakin terbatas. Dalam kewenangan melakukan pinjaman, daerah tidak dapat memanfaatkan sumber pinjaman luar negeri secara langsung, namun harus melalui penerusan pinjaman dari pemerintah pusat.416 Dalam hal pinjaman dari luar negeri, UU No. 22 Tahun 1999 memberikan mekanisme yang lebih realistis. Dalam UU No. 22 Tahun 1999, pemerintah daerah dapat melakukan peminjaman dari sumber dalam negeri dan/atau dari sumber luar negeri

415 416

Anwar Shah, “Fiscal Decentralization…., loc.cit., hlm. 29 Lihat Pasal 50 ayat (1) dan Pasal 56 ayat (2) UU No. 33 Tahun 2004.

419 Lihat Pasal 81 ayat (3) UU No. proses penjajakan tersebut sebaiknya 417 418 Pasal 81 ayat (1) UU No. seharusnya daerah tetap diberikan kewenangan untuk menjajaki potensi pinjaman dari sumber dana luar negeri. daerah tetap dapat melakukan penjajakan potensi pinjaman luar negeri. Dalam UU No. 22 Tahun 1999 (dan UU No. 33 Tahun 2004. Artinya. Kelemahan lainnya.418 Peminjaman dan sumber dana pinjaman yang berasal dari luar negeri. dalam konteks penjajakan pinjaman luar negeri. 22 Tahun 1999. 32 Tahun 2004. Walaupun demikian.419 Walaupun UU No. sehingga hal ini menjadi salah satu kelemahan UU No. Walaupun demikian. dalam mekanisme UU No. Pasal 81 ayat (2) UU No. 22 Tahun 1999 membolehkan daerah melakukan pinjaman luar negeri. harus mendapatkan persetujuan pemerintah pusat. tidak mengatur kriteria pinjaman yang dananya berasal dari luar negeri. walaupun keputusan akhir ada di tangan pemerintah pusat. Namun demikian. Pinjaman luar negeri seharusnya ditentukan hanya berupa pinjaman jangka panjang yang diperuntukkan untuk membiayai proyek investasi yang menghasilkan penerimaan. 22 Tahun 1999. 25 Tahun 1999). Padahal hal tersebut sangat penting. daerah tidak memiliki inisiatif untuk menjajaki pinjaman. karena harus mendapatkan persetujuan pusat. Jenis-jenis pinjaman yang diperuntukan untuk menutupi arus kas atau penyediaan pelayanan publik seharusnya tidak berasal dari pinjaman luar negeri.150 untuk membiayai kegiatan pemerintahan dengan persetujuan DPRD. tidak diatur bagaimana mekanisme keterlibatan pemerintah pusat.417 Pinjaman dari dalam negeri diberitahukan kepada Pemerintah dan dilaksanakan sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Pemerintah. namun pada prinsipnya hal tersebut tidak sepenuhnya menjadi kewenangan daerah. padahal unsur esensial dalam melakukan pinjaman adalah unsur persetujuan dari pemerintah pusat. Artinya.22 Tahun 1999 . Artinya.22 Tahun 1999. prinsip bahwa urusan luar negeri adalah urusan pemerintah pusat sebagaimana diatur dalam UU No.22 Tahun 1999. kebebasan untuk melakukan pinjaman lebih terjamin. masih tetap dipertahankan. UU No.

hal tersebut dimaksudkan untuk menegaskan bahwa hubungan antara pemerintah pusat dan daerah bersifat hirarkis dan vertikal. maka pinjaman yang dapat diterima oleh daerah dari pusat terbatas pada tujuan untuk menutupi kekurangan arus kas (defisit APBD) atau untuk melakukan penyediaan pelayanan publik yang tidak menghasilkan penerimaan. di antaranya . tetapi adalah untuk melakukan investasi produktif yang dapat dapat menghasilkan penerimaan. Artinya. khususnya DAU dan DBH. walaupun dengan PAD yang kecil. Menurut Jimly Asshiddiqie. Namun pranata ini dapat dilihat sebagai konsekuensi dari pembagian Negara yang “dibagi atas” daerah-daerah provinsi. E. fungsi pinjaman daerah di kemudian hari tidak ditekankan untuk menutupi defisit APBD. tidak terlepas dari transfer dana pusat ke daerah yang sangat besar. 33 Tahun 2004. Pengaturan pinjaman daerah dalam UU No. kemampuan pemerintah pusat untuk memberikan pinjaman kepada daerah tidak dapat diharapkan untuk dapat membiayai proyek-proyek investasi besar yang dapat menghasilkan penerimaan. Padahal. Sebagai pelaksanaan dari Pasal 18. dan penyediaan pelayanan publik yang tidak menghasilkan penerimaan. dengan dana perimbangan yang besar. dan kabupaten/kota. dengan besarnya dana perimbangan. maka diharapkan pinjaman yang dilakukan oleh menjadi tidak besar. 32 Tahun 2004 disebutkan berbagai mekanisme pengawasan. Artinya. adanya keterbatasan pemerintah untuk memberikan pinjaman kepada daerah. karena terkait dengan urusan luar negeri. Dengan pengaturan saat ini. Dimensi Hubungan Pengawasan Pusat dan Daerah Perubahan UUD 1945 secara eksplisit tidak menyebutkan mengenai pengawasan. dalam UU No. Dengan demikian. maka tingkat defisit APBD yang rendah.151 juga harus melibatkan pemerintah pusat. melainkan hanya untuk menutupi defisit.

422 Pasal 186 UU No. Jimly Ashiddiqie. Konsolidasi Naskah UUD 1945 Setelah Perubahan Keempat. 2002. Instrumen Pengawasan Sebagai Fenomena Tarik Ulur Hubungan Pusat-Daerah Untuk mengetahui bahwa dalam praktik pelaksanaan pengawasan dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah di Indonesia pada umumnya dan di Jawa Barat pada khususnya. 32 Tahun 2004 mengatur bahwa pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah secara nasional dikoordinasikan oleh Menteri Dalam Negeri. 32 Tahun 2004.422 Selain itu dalam rangka pengawasan pula.423 Persoalan kemudian muncul di antaranya berkaitan dengan apakah pengaturan pengawasan preventif dan represif terhadap perda ditambah pengawasan yudisial sudah tepat? Selain itu adalah bahwa pada kenyataannya setiap perda yang dibatalkan dilaksanakan melalui keputusan Menteri Dalam Negeri. 79 Tahun 2008 Tentang Tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. Jakarta. 1. memunculkan pernyataan legitimasi bentuk instrumen hukum tersebut.421 Objek pengawasan lainnya adalah pengawasan terhadap peraturan daerah dan peraturan kepala daerah. yang salah satunya disiratkan melalui ketentuan pengawasan oleh Gubernur mengenai penyusunan APBD kabupaten dan kota.420 Pasal 222 ayat (1) UU No. disebutkan bahwa perda yang bertentangan dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Selanjutnya untuk melaksanakan ketentuan Pasal 223 UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Peraturan Pemerintah diterbitkan sebagai pedoman pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah. UI. di bawah ini diuraikan data sebagai berikut: Tabel 5 420 Lihat. hlm.152 terhadap peraturan daerah. . 421 Konsiderans PP No. 21. 423 Pasal 145 ayat (2) s/d ayat (7) UU No. dapat dibatalkan oleh Presiden (ditetapkan dengan Perpres). 32 Tahun 2004. Pusat Studi Hukum Tata Negara FH.

d.Yogyakarta Provinsi Bali Tabel 6 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s.153 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s.d. 2006 Sektor Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral Resource) No Wilayah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Provinsi Sumatera Utara Provinsi Bengkulu Provinsi Jambi Provinsi Riau Provinsi Sumatera Barat Provinsi Sumatera Selatan Provinsi Lampung Provinsi Kepulauan Riau Provinsi Banten Provinsi Jawa Barat Provinsi DKI Jakarta Provinsi Jawa Tengah Provinsi Jawa Timur Provinsi D. 2006 Sektor Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade) No 1 2 3 4 5 Wilayah Provinsi Sumatera Utara Provinsi Bengkulu Provinsi Jambi Provinsi Riau Jumlah 7 2 0 3 Jumlah 7 2 3 1 0 3 3 1 0 3 0 1 0 0 1 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 0 Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung 0 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 0 .I.

154 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Provinsi Sumatera Barat Provinsi Sumatera Selatan Provinsi Lampung Provinsi Kepulauan Riau Provinsi Banten Provinsi Jawa Barat Provinsi DKI Jakarta Provinsi Jawa Tengah Provinsi Jawa Timur Provinsi D.I.Yogyakarta Provinsi Bali 3 3 3 1 0 2 0 5 2 1 0 Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung 0 Tabel 7 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s. 2006 Sektor Kehutanan (Forestry) No Wilayah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Provinsi Sumatera Utara Provinsi Bengkulu Provinsi Jambi Provinsi Riau Provinsi Sumatera Barat Provinsi Sumatera Selatan Provinsi Lampung Provinsi Kepulauan Riau Provinsi Banten Provinsi Jawa Barat Provinsi DKI Jakarta Jumlah 3 1 4 1 4 2 0 0 1 3 0 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 0 Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung 0 .d.

Yogyakarta Provinsi Bali Tabel 8 4 4 0 1 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s.Yogyakarta Provinsi Bali Tabel 9 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s.d.I.155 14 15 16 17 Provinsi Jawa Tengah Provinsi Jawa Timur Provinsi D. 2006 Sektor Perhubungan No Wilayah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Provinsi Sumatera Utara Provinsi Bengkulu Provinsi Jambi Provinsi Riau Provinsi Sumatera Barat Provinsi Sumatera Selatan Provinsi Lampung Provinsi Kepulauan Riau Provinsi Banten Provinsi Jawa Barat Provinsi DKI Jakarta Provinsi Jawa Tengah Provinsi Jawa Timur Provinsi D. 2006 Sektor Kelautan dan Perikanan No 1 Wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Jumlah 0 Jumlah 4 0 5 9 2 2 6 0 3 9 0 6 10 0 0 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 1 Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung 1 .I.d.

29-01-2007 Dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan Dan Holtikultura 2 Kab.10/2006 Kepmendagri NO.12 NO 7 Tahun 2005 Tgl.1 NO 5 TAHUN 2003 Tgl. 23-06-2005 TAHUN 2007 tentang Retribusi Surat Izin Usaha Tgl.10 NO 34 Tahun 2004 Tgl. Retribusi Daerah dan Pungutan Lainnya Yang Dibatalkan Oleh Menteri Dalam Negeri Pada Tahun 2007 Surat SK Mendagri Teguran NO Mendagri 1 Provinsi Sumatera Utara S-093/MK.10/2006 Kepmendagri NO.Muko-muko S-093/MK.11 NO 11 Tahun 2005 Tgl.Muko-muko S-093/MK.Yogyakarta Provinsi Bali 4 0 3 1 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 1 Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung 2 Tabel 10 Peraturan Daerah Tentang Pajak Daerah. 23-06-2005 TAHUN 2007 tentang Surat Izin Usaha Tgl. 29-01-2007 Peraturan Daerah Rekomendasi . 23-06-2005 TAHUN 2007 tentang Retribusi Pengawasan Tgl.156 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Provinsi Sumatera Utara Provinsi Bengkulu Provinsi Jambi Provinsi Riau Provinsi Sumatera Barat Provinsi Sumatera Selatan Provinsi Lampung Provinsi Kepulauan Riau Provinsi Banten Provinsi Jawa Barat Provinsi DKI Jakarta Provinsi Jawa Tengah Provinsi Jawa Timur Provinsi D. 29-01-2007 Usaha Dalam Kabupaten Mukomuko 4 Kab.10/2006 Kepmendagri NO. 23-06-2005 TAHUN 2007 tentang Retribusi Izin Tempat Tgl.I.10/2006 Kepmendagri NO. 29-01-2007 Perdagangan (siup) Dan Retribusi Tanda Daftar Perusahaan (tdp) 3 Kab.Muaraenim S-093/MK.

29-01-2007 S-093/MK. 23-06-2005 Kepmendagri NO. 23-06-2005 Kepmendagri NO.Nunukan NO 6 Tahun 2005 tentang Retribusi Izin Tempat Usaha Kab.2 TAHUN 2007 Tgl. 23-06-2005 Kepmendagri NO.10/2006 Tgl. Pengusaha Kecil Dan Menengah 14 Kab.10/2006 Tgl. 29-01-2007 S-093/MK. 23-06-2005 Kepmendagri NO.10/2006 Tgl.21 TAHUN 2007 Tgl.20 TAHUN 2007 Tgl.22 TAHUN 2007 Tgl.10/2006 Tgl.Nunukan NO 8 Tahun 2005 tentang Retribusi Pelayanan Penerbitan Surat-surat.Bandung NO 24 Tahun 2001 tentang Retribusi Pelayanan Perizinan Penyelenggaraan Koperasi 11 Kab. 29-01-2007 Kepmendagri NO.10/2006 Tgl. 23-06-2005 8 S-093/MK.Karawang NO 23 TAHUN 2001 tentang Retribusi Pelayanan Bidang Koperasi. 29-01-2007 7 S-093/MK.17 TAHUN 2007 Tgl.Magelang NO 11 Tahun 2005 tentang Retribusi Izin Usaha Kepmendagri NO. 23-06-2005 Kepmendagri NO.Deliserdang NO 25 TAHUN 1998 tentang Retribusi Izin Peruntukan Penggunaan Tanah 13 Kab.16 TAHUN 2007 Tgl.10/2006 Tgl. 23-06-2005 S-093/MK.10/2006 Tgl. 29-01-2007 10 kab. 29-01-2007 6 S-093/MK. 29-01-2007 S-093/MK.157 Perdagangan (siup) 5 Kab.19 TAHUN 2007 Tgl.Sintang NO 7 TAHUN 2002 tentang Retribusi Pendirian Dan Pengelolaan Badan Hukum Koperasi Kab.10/2006 Tgl. Surat Keterangan Kecakapan (skk) Dan Surat Izin Berlayar (sib) Kab. 29-01-2007 Kepmendagri NO. 23-06-2005 . 23-06-2005 Kepmendagri NO.14 TAHUN 2007 Tgl.Sukabumi NO 12 TAHUN 2002 tentang Tanda Daftar Industri Dan Izin Usaha Industri 15 Kab.Tasikmalaya NO 4 Tahun 2003 tentang Retribusi Pelayanan Bidang Koperasi Dan Usaha Kecil Dan Menengah 12 Kab.10/2006 NO 12 Tahun 2000 Tgl. 29-01-2007 Kepmendagri NO.13 TAHUN 2007 Tgl.10/2006 Tgl.15 TAHUN 2007 Tgl. 23-06-2005 Kepmendagri NO.18 TAHUN 2007 Tgl. 29-01-2007 S-093/MK.Hulu Sungai Selatan NO 11 Tahun 2001 tentang Retribusi Dana Pembangunan Daerah Kerja Bagian Sisa Hasil Usaha Koperasi S-093/MK.10/2006 Tgl. 29-01-2007 9 Kota Tangerang S-093/MK. 23-06-2005 tentang Retribusi Ijin Undangundang Gangguan (ho) S-093/MK.

23-06-2005 S-093/MK.10/2006 Tgl.10/2006 Tgl. 23-06-2005 S-093/MK.Bantul NO 13 Tahun 2005 tentang Retribusi Izin Usaha Bengkel Perawatan Kendaraan Bermotor 19 Kab.10/2006 NO 12 Tahun 2005 Tgl. 29-01-2007 S-093/MK.Pangkajene Kepulauan NO 11 TAHUN 2001 tentang Retribusi Izin Peruntukan Penggunaan Tanah 26 Provinsi Sulawesi Tenggara S-093/MK. 29-01-2007 Kepmendagri NO.Dairi NO 14 Tahun 2000 tentang Pengesahan Akta Pendirian Dan Perubahan Anggaran Dasar Koperasi 24 Kab.158 Pariwisata 16 Kab. 23-06-2005 Kepmendagri NO.Jembrana NO 10 TAHUN 2002 tentang Retribusi Izin Usaha Industri Dan Perdagangan 22 Kab.Banyuwangi NO 46 Tahun 2002 tentang Retribusi Izin Perkoperasian S-093/MK.10/2006 Tgl.23 TAHUN 2007 Tgl. 23-06-2005 Kepmendagri NO. 29-01-2007 Kepmendagri NO.32 S-093/MK. 29-01-2007 20 Kab.10/2006 Tgl.Magelang NO 15 Tahun 2005 tentang Retribusi Perizinan Ketenagakerjaan 17 Kab. 29-01-2007 Kepmendagri NO.Madiun S-093/MK.30 TAHUN 2007 Tgl.10/2006 Tgl. 23-06-2005 tentang Perubahan Atas Perda Kabupaten Madiun Nomor 16 Tahun 2002 Tentang Retribusi Penggunaan Jalan Kabupaten Kepmendagri NO.10/2006 - .29 TAHUN 2007 Tgl.Sumbawa Barat NO 10 Tahun 2005 tentang Retribusi Tanda Daftar Gudang 25 Kab. 23-06-2005 Kepmendagri NO.Sumbawa Barat NO 8 Tahun 2005 tentang Retribusi Izin Usaha Perdagangan Dan Industri 23 Kab. 29-01-2007 S-093/MK.26 TAHUN 2007 Tgl.10/2006 Tgl. 23-06-2005 S-093/MK. 23-06-2005 Kepmendagri NO. 23-06-2005 Kepmendagri NO.Bantul NO 10 Tahun 2002 tentang Pengesahan Akta Pendirian. 23-06-2005 S-093/MK.3 TAHUN 2007 Tgl. 29-01-2007 Kepmendagri NO.24 TAHUN 2007 Tgl.27 TAHUN 2007 Tgl. 29-01-2007 21 Kab.25 TAHUN 2007 Tgl.31 TAHUN 2007 Tgl. 29-01-2007 Kepmendagri NO.10/2006 Tgl.28 TAHUN 2007 Tgl.10/2006 Tgl. Pengesahan Perubahan Anggaran Dasar Dan Pembubaran Koperasi Di Kabupaten Bantul 18 Kab.10/2006 Tgl. 29-01-2007 S-093/MK.

275 55 5. tanggal 20 Pebruari 2008 . 2006424 Jumlah Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral 32 Resource) Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade) Kehutanan (Forestry) Perhubungan Kelautan dan Perikanan Perkebunan (Plantation) Pertanian Sumbangan Pihak Ketiga (Donation From Third Party) Ketenagakerjaan (Labor Force) 77 50 83 37 13 19 21 54 9 189 10 Kimpraswil dan Pekerjaan Umum (Public Work And Housing) 11 Lain-Lain 424 Sumber: bakd.go.33 TAHUN 2007 Tgl.096 Batal Perda Raperda 121 3 651 93 191 11 963 107 Hasil Evaluasi Revisi Perda Raperda 2 17 101 361 45 90 148 468 Dalam Proses Layak Perda Raperda 298 12 3.159 NO 6 Tahun 2002 Tgl. Perubahan Anggaran Dasar Dan Pembubaran Koperasi 27 Kota Jayapura S-093/MK.076 391 Perda 74 2.303 9.d.836 2.google.503 324 1. 29-01-2007 Kepmendagri NO. Januari 2008 Tabel 12 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Berdasarkan SK Menteri Dalam Negeri No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Sektor Dari Tahun 2002 s.10/2006 NO 5 Tahun 2005 Tgl.depdagri. 23-06-2005 tentang Retribusi Penumpang Kapal Laut Dan Pesawat Udara TAHUN 2007 Tgl.447 Raperda 0 105 25 130 Sumber: Situs Kementerian Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia.id/www.com.634 Raperda 32 883 181 1.581 792 3. 29-01-2007 Tabel 11 Hasil Evaluasi Peraturan Daerah di Departemen Dalam Negeri Sampai dengan November 2007 Diterima Daerah Provinsi Kab Kota Total Perda 495 6. 23-06-2005 tentang Pengesahan Akta Pendirian.

Bekasi Kab.Tasikmalaya Kota Bandung Kota Banjar Kota Bekasi Kota Bogor 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 .Karawang Kab.Purwakarta Kab.Indramayu Kab.d. Kabupaten Jumlah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 kab.Sukabumi Kab.Sumedang Kab.160 12 Pendidikan 13 Kesehatan 14 Pariwisata 15 Lingkungan Hidup 16 Koperasi 17 Peternakan 18 Pertanian dan Perikanan 1 0 3 14 4 52 1 Tabel 13 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Wilayah Provinsi Jawa Barat Dari Tahun 2002 s.Bandung Kab. 2006 Sektor Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral Resource) No.Garut Kab.Ciamis Kab.Bogor Kab.Cianjur Kab.Kuningan Kab.Subang Kab.Cirebon Kab.Majalengka Kab.

161 21 22 23 24 25 Kota Cimahi Kota Cirebon Kota Depok Kota Sukabumi Kota Tasikmalaya 0 0 0 0 0 Tabel 14 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.Bandung Kab.Bekasi Kab.PERDA 1 Batal 25 KAB.Tasikmalaya Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral Resource)) No Status Nomor Tanggal Tentang Jenis 1 Batal 13 TAHUN 00-00PERDA KAB.Indramayu Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral Resource)) No Status Nomor Tanggal Tentang Jenis 00-00.Bogor 0 0 0 .INDRAMAYU Pajak TAHUN 2002 NOMOR 25 TAHUN 2002 2002 TENTANG PAJAK PENGELOLAAN MINYAK DAN GAS BUMI 2 Batal 05 00-00. TASIKMALAYA Retribusi 2004 2004 NOMOR 13 TAHUN 2004 Jasa TENTANG IZIN USAHA Usaha PERTAMBANGAN Tabel 16 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade) Wilayah Provinsi Jawa Barat) No Kabupaten Jumlah 1 2 3 Kab.KETENAGALISTRIKAN Retribusi TAHUN 2002 Jasa 2002 Umum Tabel 15 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.

Indramayu Kab.Cianjur Kab.Cirebon Kab.Kuningan Kab.162 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Kab.Purwakarta Kab.RETRIBUSI TERA DAN Retribusi 2001 2001 Jasa TERA ALAT UKUR Umum Tabel 18 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kota Cimahi Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade)) .Tasikmalaya 0 Kota Tasikmalaya 0 Tabel 17 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.Garut Kab.Karawang Kab.Subang Kab.Sukabumi Kab.Karawang Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade) ) No Status Nomor Tanggal Tentang Jenis 1 Batal 11 TAHUN 00-00.Majalengka Kab.Sumedang Kota Bandung Kota Banjar Kota Bekasi Kota Bogor Kota Cimahi Kota Cirebon Kota Depok Kota Sukabumi 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 Kab.Ciamis Kab.

Bogor Kab.Indramayu Kab.Tasikmalaya 0 .Majalengka Kab.Garut Kab.Bandung Kab.PERDA KOTA CIMAHI NOMOR 26 Retribusi Batal 26 TAHUN 2003 TAHUN 2003 TENTANG Jasa 2003 KETENTUAN DAN TATA CARA Umum PELAYANAN PEMBERIAN IJIN USAHA INDUSTRI Tabel 19 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah di Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Kehutanan (Forestry)) No Kabupaten 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 kab.Cianjur Kab.Ciamis Kab.Kuningan Kab.Sukabumi Kab.Cirebon Kab.Karawang Kab.Sumedang Kota Bandung Kota Banjar Kota Bekasi Kota Bogor Kota Cimahi Kota Cirebon Kota Depok Jumlah 0 0 0 1 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Kab.Purwakarta Kab.Subang Kab.Bekasi Kab.163 No Status Nomor Tanggal Tentang Jenis 1 00-00.

Lebih dari itu persoalan muncul terkait dengan instrumen penetapan pembatalan suatu Perda. Kedua.Garut Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Kehutanan (Forestry)) No Status Nomor Tanggal Tentang Jenis 1 Batal 09 TAHUN 00-002001 2001 RETRIBUSI PELAYANAN Retribusi IZIN PENGELOLA KAYU Jasa Usaha MILIK sebagaimana tersebut di muka Dari data yang diuraikan dapat dikemukakan hal-hal sebagai berikut: Pertama. serta tidak ada pelaksanaan bentuk pengawasan umum. pembatalan perda selalu ditetapkan dengan keputusan Menteri .Ciamis Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Kehutanan (Forestry)) No Status Nomor Tanggal Tentang Jenis 1 00-00Batal 10 TAHUN 2001 2001 RETRIBUSI PELAYANAN Retribusi TATA USAHA HASIL HUTAN Jasa Usaha MILIK Tabel 21 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.164 24 25 Kota Sukabumi 0 Kota Tasikmalaya 0 Tabel 20 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab. pengawasan Pusat terhadap daerah telah berlangsung efektif dan bermanfaat menyimpang bagi dari pemerintahan tujuan daerah agar pemerintahannya daerah. tidak penyelenggaran otonomi terutama kebijaksaan yang telah ditetapkan Daerah tidak bertentangan dengan kebijaksanaan nasional (Pusat) dan/atau bertentangan dengan kepentingan umum. bahwa bentuk pengawasan yang berjalan dalam praktik adalah bentuk pengawasan preventif (pengesahan) dan bentuk pengawasan represif (pembatalan atau penangguhan). Sejumlah tabel di atas menunjukkan bahwa dalam praktik.

Persoalan lain muncul menyangkut fenomena pemekaran daerah. Artinya bahwa terutama dalam dua tahun tersebut.165 dalam negeri (kepmendagri). dikecualikan 24 terhadap Undang-Undang Tentang Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia 30 26 50 56 Dari tabel di atas dapat terlihat bahwa dalam dua tahun (2007-dan 2008) pembentukan daerah-daerah baru mengalami kenaikan yang pesat.426 Terhadap persoalan ini. Pasal 145 ayat (3). 2008 21 UU. terkait dengan legitimasi Kepmendagri sebagai instrumen penetapan suatu perda. . Sementara itu di lain pihak. hampir setengah dari produk legislasi DPR merupakan undang-undang pemekaran daerah. telah ada pengaturan bahwa Perda yang bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dapat dibatalkan oleh Pemerintah425 dan Keputusan pembatalan Perda tersebut ditetapkan dengan Peraturan Presiden paling lama 60 (enam puluh) hari sejak diterimanya Perda. Perjalanan pemekaran daerah yang dapat terlihat pada tahun 2007 dan 2008 dapat dipetakan sebagai berikut: Tabel 22 Jumlah Undang-Undang Pembentukan Daerah (Pemekaran Daerah) 2007 – 2008 No Tahun Pembentukan UndangUndang UU Pembentukan UU Non Jumlah Daerah/Pemekaran Pemekaran 1. 425 426 Pasal 145 ayat (2). perlu pembahasan di bagian lain. 2007 2.

. ada satu sistem hukum yang harus diikuti sampai ke SB. pada 8/12/2009 2:01:32 PM 428 427 Pasal `22 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2007 Tentang Tata Cara Pembentukan. Memperlambat …. dalam Publikasi Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD). Telaah terhadap Pengawasan Peraturan Daerah Berbicara negara kesatuan. Op. the supreme legislative power by one central power.166 Pada tahun 2007 keluar persyaratan baru terhadap pemekaran yang dipandang lebih ketat.php?option=com_content&task=view&id=329&Itemid=2 . Hanya satu kekuasaan legislatif. 16 Januari 2008. Persoalan-persoalan di atas sedikitnya memunculkan tantangan mengenai bagaimana pembinaan dan pengawasan dapat menyeimbangkan tarik ulur antara hubungan pusat dan daerah. Memperlambat Laju Pemekaran Daerah.cit. Dengan kata lain. yaitu di tangan pemerintah pusat. 430 SB..org/ind/index. di sisi lain. 2.430 Satu sisi dinilai bahwa PP tersebut menetapkan syarat yang lebih ketat. dikatakan oleh CF strong. ternyata pada tahun 2008. Rabu. Harian KOMPAS. Penghapusan. Dan Penggabungan Daerah 429 Bab IV dan Bab V Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2007. Oleh sebab itu di dalam negara kesatuan kedudukan pemerintah pusat lebih tinggi daripada pemerintah daerah. Pengaturan yang berlaku sebagai rangkaian pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan daerah tidak final unuk diarahkan menengahi spanning yang senantiasa memungkinkan muncul dalam hubungan pusat dan daerah. http://kppod. sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.428 PP tersebut mengatur pula mengenai kemungkinan pencabutan status daerah jika dinilai tidak mampu.429 Pertanyaan pun muncul dari sebagian kalangan mengenai dapatkah aturan baru itu memperlambat atau bahkan menghentikan lajunya usulan pemekaran yang semakin marak. pembentukan daerah-daerah baru terjadi bahkan melebihi 50 persen jumlah produk undang-undang.427 Di dalamnya diatur bahwa pemberian status daerah baru didahului dengan evaluasi terhadap kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah dan evaluasi kemampuan penyelenggaraan otonomi daerah.

Berdasarkan perkembangan pengawasan dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah yang pernah diatur dalam peraturan perundangundangan sampai sekarang terdapat 3 (tiga) bentuk yakni pengawasan preventif. kegara kesatuan. Bentuk dan lingkup pengawasan oleh Pemerintah Pusat terhadap Daerah berdasarkan berbagai peraturan perundang-undangan tentang pemerintahan daerah. dan pengawasan represif dan Undang-Undang No. dalam implementasinya diatur dan dijabarkan berbeda-beda oleh berbagai undang-undang. Inilah yang mendasari harus ada pengawasan pusat terhadap daerah. Menurut Undang-Undang No. Undang-Undang No. Yang lebih jelas lagi adalah dalam perundang-undangan adalah perda dan peraturan kepala daerah. pengawasan represif dan pengawasan umum. Ini kaitannya dengan teori negara hukum. 22 Tahun 1999 hanya mengatur pengawasan represif saja. baik bentuk maupun lingkup pengawasannya. Ini mempertegas bahwa yang diawasi adalah peraturan perundang-undangan. Sedangkan undang-undang sebelumnya.5 Tahun 1974 mengatur 3 (tiga) bentuk pengawasan yakni pengawasan umum. 32 Tahun 2004 mengatur 2 (dua) bentuk pengawasan yakni pengawasan preventif dan pengawasan represif. Pada intinya adalah apakah daerah tidak menyimpang terhadap sistem perundang-undangan. 32 Tahun 2004. Hanya satu sistem hukum. berdasarkan sejarah perkembangan pengawasan Pusat terhadap Daerah menurut UUD 1945. yaitu yang dibuat oleh kekuasaan legislatif tertinggi. pengawasan preventif dilaksanakan melalui tindakan pengesahan terhadap peraturan daerah . Untuk mensejahterakan rakyat.167 daerah-daerah otonom. Bentuk maupun ruang lingkupnya terus berkembang dinamis mengikuti perkembangan kehidupan sosial politik yang ada pada kurun waktu yang berbeda. pemerintah menyerahkan sebagian urusan kepada daerah dalam rangka mencapai tujuan itu. pengawasan preventif. dan demokratisasi. Agar tidak menyimpang dari peraturan perundang-undangan secara nasional. yaitu Undang-Undang No. ternyata berbeda-beda. Dengan demikian. Maka harus ada pengawasan pusat terhadap daerah.

Melalui pengawasan preventif. Pajak Daerah. 154. Ibid. Positifnya. atau kesalahan suatu peraturan daerah.. 22 Tahun 1999 mengambil jalan politik baru yaitu meniadakan pengawasan preventif dalam pembentukan peraturan daerah. hlm. sebuah peraturan daerah yang telah disetujui bersama oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan Kepala Daerah terlebih dahulu harus dilakukan evaluasi oleh Menteri Dalam Negeri untuk Peraturan Daerah Provinsi dan oleh Gubernur terhadap Peraturan Daerah Kabupaten dan Kota. peraturan daerah tidak serta merta berlaku. ternyata pengawasan preventif ditiadakan. Peraturan daerah akan serta merta berlaku karena tidak memerlukan pengesahan. Segi negatifnya. ternyata rancangan Peraturan Daerah yang telah disetujui bertentangan dengan peraturan perundang-undangan dan/atau kepentingan umum. Pada masa berlaku Undang-Undang No. Apabila hasil evaluasi tersebut. kecerobohan.431 Terhadap pengawasan preventif ini. UU No. tidak ada unsur pencegahan terhadap kekeliruan.432 terdapat segi positif dan negatifnya.….168 bidang tertentu yakni Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Op.. Retribusi Daerah dan Rencana Umum Tata Ruang Daerah. Cit. 431 432 Bagir Manan. Dengan adanya pengawasan preventif. Jadi. namun terlebih dahulu dilakukan evaluasi oleh pemerintah pusat dan/atau pemerintah provinsi. maka Peraturan Daerah dapat diberlakukan oleh Daerah. pengawasan preventif dapat menjadi daya kendali atau belenggu terhadap inisiatif daerah. Hal tersebut sebagaimana dikatakan oleh Bagir Manan. maka daerah yang bersangkutan harus melakukan revisi agar tidak bertentangan dengan perundangan yang lebih tinggi dan/atau kepentingan umum. Yang ada adalah pengawasan represif yaitu wewenang membatalkan atau penundaan. menurut Bagir Manan. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. . Setelah melalui proses tersebut. daerah “dipaksa” selalu tunduk pada kemauan pihak yang berwenang memberi pengesahan.

Salah satu pembatasan adalah dengan cara mengatur atau menentukan secara pasti jenis atau macam peraturan daerah yang memerlukan pengesahan. baik dalam rangka desentralisasi maupun tugas pembantuan. Memahami pengaturan dan praktik pengawasan dalam rangka penyelenggaran pemerintahan daerah yang berjalan selama ini. Pembatasan terhadap pengawasan preventif lebih ketat dibanding pengawasan represif. Daya campur tangan terhadap daerah juga menjadi lebih besar. Dengan pengaturan atau peran lembaga Yudisial (Mahkamah Agung) dalam rangka pengawasan (represif) Pusat terhadap Daerah. sejalan dengan pelaksanaan pengawasan represif. dalam hal ini Mahkamah Agung. Pelaksanaan pengawasan preventif berada pada posisi “lebih awal” dari pengawasan represif. Selain itu. yang berupa pembatalan terhadap produk-produk hukum daerah. Pengawasan preventif mengandung “prasyarat” agar peraturan daerah atau yang mengandung sifat tertentu dapat dijalankan. sebagaimana dikemukakan di atas adalah berlakunya peraturan wewenang untuk membatalkan atau penundaan daerah. terlihat bahwa . Jadi pengawasan represif dilakukan setelah suatu peraturan daerah mempunyai akibat hukum.169 Pengawasan represif. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 dapat dikatakan sudah sangat tepat mengatur pengawasan preventif dan pengawasan represif ini. yakni dengan cara mengajukan perkara pembatalan ini ke lembaga yudisial. bentuk pengawasan yang seyogyanya dikembangkan atau diterapkan dalam Undang-undang yang mengatur pemerintahan ke depan adalah bentuk pengawasan preventif dan pengawasan represif. ternyata UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 demi terwujudnya pemerintahan daerah yang demokratis telah memberi saluran hukum ‘judicial review’ kepada Daerah yang keberatan produk-produk hukumnya telah dibatalkan. karena telah diatur dengan jelas dan rinci ruang lingkup dari kedua bentuk pengawasan tersebut serta ditentukan dengan tegas batas-batas ruang lingkupnya sehingga diharapkan dapat dicegah tindakan Pemerintah atau Gubernur sebagai wakil Pemerintah di daerah untuk bertindak sewenang-wenang atau melampaui kewenangan.

keberadaan pengawasan dilihat dari mekanisme yang diatur di dalam UU Nomor 32 Tahun 2004 itu dapat menghindari 2 (dua) hal yang kontra produktif. Pertama. lembaga Pemerintah (badan eksekutif) terhadap fungsi yudisial Kedua. Selanjutnya. apabila pembatalan oleh Pemerintah Pusat tidak dapat diterima.170 lingkup pengawasan Pemerintah terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah hanya sebatas pengawasan dalam bidang administrasi pemerintahan atau administrasi negara. dapat mengajukan ke mahkamah agung. Pemerintah Pusat apabila memenangkan sengketa melalui Mendagri sesuai dengan wewenangnya dapat mengintruksikan kepada Daerah yang bersangkutan untuk segera mencabut dan mengubahnya. Dengan demikian telah . Apabila berkebaratan perdanya dibatalkan. Atas dasar wewenang pengawasan yang diberikan kepadanya. yang dilengkapi dengan pengawasan yudisial. kemudian atas dasar putusan yudisial dari Mahkamah Agung tersebut. terhindar timbulnya dominasi eksekutif atas pemerintahan daerah (Kepala Daerah dan DPRD) yang telah menetapkan produk-produk hukum secara demokratis. Pemerintah Pusat juga dapat menerapkan sanksi administratif kepada Daerah yang sengaja atau lalai melaksanakan perintah untuk mencabut dan mengubah peraturan daerah yang telah dibatalkan oleh Mahkamah Agung itu. Daerah dapat mengajukan keberatan ke Mahkamah Agung. maka Pemerintah Pusat dapat memberikan evaluasi serta rekomendasi-rekomendasi yang diperlukan untuk pembenahan. maka paling tidak dalam praktik penyelenggaran daerah. represif (administrative). Dalam hal pengawasan oleh Pemerintah Pusat terhadap Daerah. Berdasarkan gagasan sebagaimana tersebut di atas. Itu yang tidak dapat berjalan dalam praktik. yang dipandang tepat yaitu preventif. terhindar adanya intervensi pengadilan. Di antara penggolongan pengawasan pemerintah pusat terhadap pemerintah daerah. Selain itu peran tersebut tidak dalam kerangka memberikan keputusan-keputusan yang bersifat hukum (yudisial). apabila adanya kejanggalan-kejanggalan atau dugaan penyimpangan dalam materi hukum produk-produk hukum Daerah.

. 32 Tahun 2004 dimunculkan kembali pengawasan preventif dan represif. Telaah Terhadap Bentuk-Bentuk/ Lingkup dan Objek Pengawasan Telah diuraikan bahwa dari beberapa jenis objek pengawasan. setelah berbagai sisi positif dan negatif yang timbul dari pemberlakuan UU No. represif dan preventif. 32 Tahun 2004. yang berlaku saat ini dalam UU No. Biarkan setiap norma menjadi sah sampai ditentukan lain. maka dapat dikatakan bahwa persoalan mengenai apakah pengaturan pengawasan preventif dan represif terhadap perda. karena yang dikontrol adalah peraturan perundang-undangan. Letak kedaulatan rakyat dalam pola hubungan pengawasan antara pusat-daerah dalam UU ini adalah pemberian ruang bagi pemerintah daerah untuk menyampaikan keberatan kepada Mahkamah Agung atas pembatalan perda. terdapat beberapa hal yang dapat dikemukakan. dalam UU No. Pada intinya bahwa pengaturan tentang pengawasan saat ini menuju kepada yang ideal.171 terlaksana pengawasan secara demokratis. Hal tersebut terkait dengan agenda-agenda pembangunan daerah yang membutuhkan proses yang lebih efisien. Dengan demikian apakah cocok pengawasan preventif terhadap empat hal tertentu? Nampaknya pengawasan secara represif untuk semua bidang cenderung lebih baik. dalam hal ini perda atau peraturan kepala daerah. tapi UU No. 3. yaitu dilakukan oleh DPR/DPRD. bukan karena semata-mata bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi dan kepentingan umum. Berbeda dengan legislative review. Pertama. 32 Tahun 2004 nampaknya sejalan dengan otonomi seluas-luasnya daerah diberikan kesempatan untuk banding. pengawasan terhadap peraturan daerah dan peraturan kepala daerah. Berbicara pengawasan dari pusat dan daerah hanya dua macam. Apakah control sama dengan review? Dapat dikatakan ya. Selama ini yang diverifikasi adalah lebih kepada legislative drafting. Berdasarkan uraian di atas. Kedua. ditambah pengawasan yudisial sudah tepat. di sisi lain dapat dipandang bahwa bentuk pengawasan yang diatur dalam UU No. 22 tahun 1999. 32 Tahun 2004 ini sudah mendekati bentuk yang ideal.

Retribusi Daerah. penolakan pengesahan belum menyentuh akibat hukum yang timbul dari Perda tersebut. pengawasan preventif dilakukan sebelum Perda diberlakukan. 2009. Pajak Daerah. Pengawasan umum sangat luas ruang lingkupnya sehingga betul-betul dapat mematikan atau I Gde Pantja Astawa. dengan mekanisme evaluasi dan pengesahannya. Kedua. saat pelaksanaannya. Gde Pantja menegaskan kembali bahwa pengawasan tidak berlaku ataupun tidak diterapkan terhadap hal-hal yang tidak ditentukan atau berdasarkan undang-undang. Artinya.434 Maka dari itu bentuk dan isi pengawasan dilakukan semata-mata menurut berdasarkan ketentuan Undang-Undang. pengawasan represif harus memperhitungkan akibat hukum yang telah timbul selama Perda tersebut berlaku. UU ini hanya membatasi substansinya pada Perda tentang APBD. Sebaliknya. hlm. Alumni. bukan hubungan internal dari entitas yang sama. 322-323. 434 Ibid. khusus yang berkenaan dengan pranata pengawasan preventif terhadap perda. Berkaitan dengan hal tersebut I Gde Pantja Astawa memberikan penegasan bahwa baik pengawasan preventif maupun pengawasan represif. hlm. Dalam konteks agar pengawasan tidak menjadi terlampau longgar dan tidak pula terlampau ketat.435 Maka dari itu salah satu bentuk pengawasan yang menurut tim peneliti harus dihindari dan tidak diatur dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah adalah bentuk/jenis pengawasan yang disebut pengawasan umum.. 435 Ibid. tanpa kecuali. Karena Perda belum berlaku. perlu diketahui bahwa pengertian pengawasan adalah suatu bentuk hubungan dengan sebuah legal entity yang mandiri. Problematika Hukum Otonomi Daerah di Indonesia. akibat hukumnya. 322. mempunyai objek ataupun mengenai hal yang sama. dan lingkungan hidup.433 Pertama. Sementara itu pengawasan represif ditujukan terhadap semua perda. bandung. sedangkan pengawasan represif harus memperhitungkan akibat hukum yang telah timbul selama Perda tersebut masih berlaku. 433 . sebagaimana pada masa lalu diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974.172 Namun.

Jadi sudah dapat terlihat bahwa pengaturan pengawasan saat ini lebih mengarah ke demokratis. Telaah Terhadap Instrumen Penetapan Pembatalan Perda Keberadaan pengawasan sebagai konsekuensi dari keberadaan hubungan hirarkis. Peraturan daerah yang berlaku sebagai undang-undang bagi daerah. Sebagai konsekuensi bahwa peraturan daerah tidak boleh berkaitan dengan pengenaan suatu bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi. Dalam Undang-Undang menyatakan bahwa yang diawasi adalah peraturan perundang-undangan yang bernama perda dan perat kepala daerah. judicial control sama dengan judicial review. Hal tersebut sesuai dengan urutan peraturan perundang436 Pengawasan lainnya yang dilakukan terhadap penyelenggaraan Pemerintahan daerah adalah pengawasan atas pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah. . merupakan konsekuensi logis jika suatu peraturan daerah dapat dibatalkan atau dicabut hanya dengan peraturan yang lebih tinggi. maka pencabutannya pun hanya dapat dilakukan dengan peraturan yang lebih tinggi atau sederajat. 4. Dalam rangka pengawasan. lihat Pasal 218 ayat (1) huruf a. Kegiatan monitoring tersebut pada dasarnya adalah merupakan bagian dari kegiatan pengawasan yang harus dilakukan oleh suatu lembaga/institusi tertentu yang pada lazimnya mempunyai kedudukan lebih tinggi dan mempunyai kewenangan untuk melakukan penilaian untuk memastikan bahwa segala ketentuan yang tercantum di dalam peraturan daerah dimaksud adalah sesuai dengan ketentuan-ketentuan maupun prinsip-prinsip yang harus diikuti pungutan.173 membelenggu prakarsa atau inisiatif Daerah dalam mengatur dan mengurus rumah tangga daerah sehingga tidak sejalan dengan upaya mewujudkan pemerintahan daerah yang demokratis.436 Maka dari itu. proses penyusunan maupun implementasinya perlu dimonitor secara terus menerus untuk memberikan jaminan kepada publik bahwa semua ketentuan yang diatur dalam perda tersebut sudah mengikuti norma-norma/kaidah- kaidah yang berlaku yaitu memenuhi persyaratan sebagai peraturan yang baik.

Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang 437 Pasal 7 ayat (1) mengatur bahwa Jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan adalah sebagai berikut : a.437 Ketentuan Undang-undang bahwa perda dapat dibatalkan oleh bentuk peraturan presiden dapat dinilai tepat. Peraturan Daerah kabupaten/kota dibuat oleh dewan perwakilan rakyat daerah kabupaten/kota bersama bupati/walikota. dibuat oleh badan perwakilan desa atau nama lainnya bersama dengan kepala desa atau nama lainnya.439 Dalam hal Peraturan Daerah tersebut bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundangundangan yang lebih tinggi. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang.174 undangan yang ditetapkan dalam UU No. Peraturan Daerah. c. Ditambahkan dalam ayat (2) bahwa Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e meliputi: a. Peraturan Presiden. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pemerintah dapat membatalkan Peraturan Daerah dimaksud. Peraturan Daerah di yang mengatur pajak dan retribusi daerah disampaikan kepada Pemerintah paling lama 15 (lima belas) hari setelah ditetapkan. . 2004. Pelaksanaan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Menteri. 438 kompetensi/kewenangan administrasi negara (pejabat TUN) berdasarkan suatu perundang-undangan formal. Ghalia Indonesia. 440 Pasal 25A ayat (2) Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000.440 Namun ternyata Presiden pun memberikan delegasi kepada Menteri Dalam Negeri untuk dapat membatalkan Perda. 79 Tahun 2008. 439 Pasal 25A ayat (1) Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 1997 Tentang Pajak dan Retribusi Daerah. hl. Peraturan Daerah provinsi dibuat oleh dewan perwakilan rakyat daerah provinsi bersama dengan gubernur. Begitu pula dikuatkan bahwa Dalam rangka pengawasan. b. b. Dalam Pasal 37 ayat (1) dikatakan bahwa Peraturan Daerah dan Peraturan Kepala Daerah disampaikan kepada Pemerintah paling lama 7 (tujuh) hari sejak ditetapkan. Peraturan Pemerintah. lihat Diana Halim Koentjoro. e. Bogor. Pasal 145 ayat (3) sudah memberikan atribusi kewenangan438 kepada Presiden untuk dapat membatalkan suatu perda. 10. Pemerintah melakukan pengawasan terhadap Peraturan Daerah dan Peraturan Kepala Daerah. 10 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. d. c. melalui PP No. Hukum Administrasi Negara. Peraturan Desa/peraturan yang setingkat.

32 Tahun 2004 dan UU No. dalam rangka pengawasan. belum dicabut. untuk menetapkan pembatalan perda. tidak menunjuk secara spesifik menteri apa/bertanggungjawab di bidang apa. 10 Tahun 2004. Kedua Pasal tersebut tidak memberikan kriteria mengenai kapan suatu pembatalan perda ditetapkan oleh peraturan presiden dan kapan dibatalkan oleh menteri. Peraturan Kepala Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang bertentangan dengan kepentingan umum. Kedua Pasal yang memberikan kemungkinan kepada Menteri untuk membatalkan suatu perda. maka ketentuan yang . bukan keputusan menteri sebagai instrument pembatalan perda yang memungkinkan didelegasikan oleh Presiden. Melihat bahwa pada praktik menunjukkan ketentuan dalam PP No. 79 Tahun 2005 yang terlaksanakan. 32 Tahun 2004. Dengan demikian. 79 Tahun 2005. 3.175 bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundangundangan yang lebih tinggi dapat dibatalkan dengan Peraturan Presiden berdasarkan usulan Menteri. terdapat suatu ketidakharmonisan antara peraturan secara vertikal. Sementara itu PasaI 38 menambahkan bahwa Peraturan Presiden tentang pembatalan Peraturan Daerah ditetapkan paling lambat 60 (enam puluh) hari sejak Peraturan Daerah diterima oleh Pemerintah. antara ketentuan-ketentuan yang berlaku terkait dengan pembatalan perda. dibatalkan oleh Menteri Dalam Negeri. Dengan demikian. yaitu antara UU No. dengan PP No. Kedua Pasal tersebut hanya menyebutkan nama instrumen berupa peraturan Menteri. Peraturan Menteri tentang pembatalan Peraturan Kepala Daerah ditetapkan paling lambat 60 (enam puluh) hari setelah Peraturan Kepala Daerah diterima oleh Menteri. Dari ketentuan tersebut dapat dikemukakan bahwa: 1. maka ketetuan dalam kedua UU di atasnya seolah-olah menjadi tidak hidup. Baru ditemukan dalam rangka pengawasan terhadap PP yang mengatur pajak dan Retribusi daerah. yang spesifik pertentangannya. terutama UU No. Peraturan Daerah dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dapat dibatalkan dengan Peraturan Menteri. sepanjang kedua UU tersebut. 2.

Dilihat dari paradigma kerangka Negara Kesatuan. yang diarahkan untuk memberi kemungkinan tempat bagi peraturan setingkat menteri. Jaminan HAM yang menjadi salah satu ciri negara hukum menjadi bagian dari kewajiban negara hingga oleh satuan pemerintahan yang lebih rendah. maka perlu dilakukan suatu perubahan terhadap UU No. Kecuali jika praktik menghendaki lain. Pengawasan menjadi instrumen pemerintah pusat untuk menjamin bahwa penyelenggaraan pemerintahan dapat terlaksana sesuai perencanaan. 10 Tahun 2004. dan yudikatif). ke dalam urutan peraturan perundang-undangan. sesuai dengan peraturan nasional (satuan pemerintahan pusat). pemda dapat mengajukan judicial review instrumenn . legislative.176 terkait di dalamnya masih harus ditaati. Pembagian kekuasaan: tidak saja pembagaian secara horizontal (eksekutif. tetapi juga secara vertikal (satuan pemerintahan pusat dengan pemerintahan daerah). demokratisasi dan negara hukum. Semua diarahkan bahwa negara menghantarkan kepada pencapaian kesejahteraan rakyat. pengawasan terhadap peraturan daerah dan peraturan kepala daerah yang berlaku saat ini dapat dikemukakan sebagai berikut: Tabel 23 Skema Pola Hubungan Pengawasan Pusat-Daerah NEGARA KESATUAN Pemberian otonomi daerah bukan untuk mengarahkan kepada pembagian kedaulatan. yaitu dalam kerangka negara kesatuan. DEMOKRATISASI Terdapat pengawasan hukum dengan judicial review. sebagai representasi pemerintah. melainkan hanya satu Kedaulatan. bahwa jika suatu perda dibatalkan dan pemda berkeberatan terhadap pembatalan tersebut. agar KESEJAHTERAAN peraturan perundang-undangan di tingkat satuan pemerintahan yang lebih rendah. NEGARA HUKUM Pengawasan baik secara preventif dan represif DAN dilaksanakan untuk menjamin supremasi hukum.

Kedua Pasal yang memberikan kemungkinan kepada Menteri untuk membatalkan suatu perda. 10 Tahun 2004. hlm. 441 .441 Letak kedaulatan negara dalam hubungan pengawasan adalah pada pengawasan secara preventif dan represif terhadap ranperda dan perda. Di sinilah mengapa kedaulatan negara dengan kedaulatan rakyat dapat saling tarik menarik. terdapat suatu ketidakharmonisan antara peraturan secara vertikal. Baru ditemukan dalam rangka pengawasan terhadap PP lain. maka ketetuan dalam kedua UU di atasnya seolah-olah menjadi tidak hidup. melainkan harus dengan keseimbangan legitimasi etis dan sosial (normatif-moral). yaitu antara UU No. Persoalan kedua. Dalam PP No. 32 Tahun 2004 dan UU No. pada pasal 37 dan Pasal 38 dapat dikemukakan bahwa: 4. untuk menetapkan pembatalan perda..177 pembatalan tersebut ke Mahkamah Agung. Kedaulatan rakyat tidak boleh tidak terbatas. tidak menunjuk secara spesifik menteri apa/bertanggungjawab di bidang apa. yaitu mengatur pajak dan Retribusi daerah. Kedaulatan negara tidak untuk menjadikan negara menentukan segalanya (totaliterisme). hlm. 79 Tahun 2005 tentang Pembinaan dan Pengawasan itu sendiri. Etika Politik. 79 Tahun 2005. 290-291. dengan PP No. dalam rangka pengawasan. melainkan melalui perwakilan dan keterbukaan (publicity) pemerintah (daerah). 177179. 442 Ibid. Jakarta. 442 Letak kedaulatan rakyat dalam pola hubungan pengawasan antara pusat-daerah adalah pemberian ruang bagi pemerintah daerah untuk menyampaikan keberatan kepada Mahkamah Agung atas pembatalan perda. 1999. Gramedia Pustaka Utama. Melihat bahwa pada praktik menunjukkan pembatalan perda selalu dengan Kepmendagri. Frans Magnis-Soeseno. dibatalkan oleh Menteri Dalam Negeri. dapat pula saling menyeimbangkan.

hlm. Semakin banyak pedoman dan standard cenderung menjadikan semakin mendorong keseragaman. bukan keputusan menteri sebagai instrumen pembatalan perda yang memungkinkan didelegasikan oleh Presiden. 159. Refika Aditama. Berdasarkan rumusan alinea keempat Undang-Undang dasar 1945. 32 Tahun 2004. maka keseimbangan (balande) merupakan subtansi pokok yang terkandung didalamnya (maksudnya alinea keempat-penulis). jika akan dikeluarkan semacam pedoman dan standard dalam rangka pembinaan kepada daerah. Adanya pengawasan Pusat terhadap Daerah adalah sebagai 443 Otje Salman dan Anton F. baik di Pusat maupun di Daerah memiliki tujuan yang arahnya untuk memajukan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. terutama UU No. Mengumpulkan dan Membuka Kembali. Kedua Pasal tersebut tidak memberikan kriteria mengenai kapan suatu pembatalan perda ditetapkan oleh peraturan presiden dan kapan dibatalkan oleh menteri. Kedua Pasal tersebut hanya menyebutkan nama instrumen berupa peraturan Menteri. apabila dilihat secara bulat atau holistik (satu kesatuan). Dasar pemikiran keberadaan pengawasan Pusat terhadap Daerah sangat terkait dengan konsepsi Negara Kesatuan yang dianut di dalam Pasal 1 ayat (1) UUD 1945. hendaknya unsur ini tidak perlu terlalu banyak. Susanto menyatakan. Lihat. hal inilah yang seharusnya dihindari karena bertentangan dengan otonomi itu sendiri. Dengan demikian.443 atau meminjam konsep Lemaire negara menjalankan fungsi berstuurszorg. yang spesifik pertentangannya.178 5. sepanjang kedua UU tersebut. yaitu dengan melihat dasar pikiran dalam sila Pertama. kesimbangan antara kepentingan individu dengan kepentingan masyarakat serta kepentingan penguasa. 2005. belum dicabut. . yang dituntun oleh Sila Ketuhanan. 6. Otje Salman dan Anton F. Teori Hukum: Mengingat. Yang perlu lebih didorong dari unsur pembinaan ini adalah berupa koordinasi dan fasilitasi. maka ketentuan yang terkait di dalamnya masih harus ditaati. Kesimbangan yang dijelaskan dalam silanya adalah. Susanto. Masih dalam rangka pengawasan yang tidak dapat dilepaskan dari pembinaan. Bandung. Konsep bernegara yang demikian ini secara teoretikal dianut oleh negara-negara hukum modern menjelang akhir abad ke XIX. jelas bahwa konsep bernegara yang diwujudkan dalam penyelenggaraan pemerintahan. Ketiga. dan Kelima. atau awal abad ke XX.

yang tidak . Bagaimanapun dalam No. Dengan demikian pengawasan Pusat terhadap Daerah. Mahkamah Agung sebagai institusi yudisial kemudian menguji keputusan pembatalan itu. apabila ditelusuri dari Pembukaan UUD 1945. dengan tujuan agar Daerah terhindar dari penyimpangan-penyimpangan terhadap peraturan-perundang-undangan yang lebih tinggi dan kepentingan umum sehingga Daerah dalam menjalankan pemerintahannya senantiasa sejalan dengan tujuan penyelenggaraan otonomi daerah. harus dianggap sah menurut hukum (praduga rechtmatig) sampai ada pembuktian sebaliknya secara hukum. namun tidak mengomentari apakah bentuk pengawasan harus seperti apa. Tindakan atau keputusan pembatalan suatu Perda yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat misalnya. Adanya pembagian kekuasaan secara vertikal antara Pusat dan Daerah sebagaimana diatur Pasal 18 ayat (1) UUD 1945 menyebabkan adanya pengawasan Pusat terhadap Daerah atau dengan lain perkataan adanya penyerahan urusan pemerintahan dari Pusat kepada Daerah mengakibatkan Pusat mempunyai tugas dan wewenang untuk melakukan pengawasan.179 konsekuensi Pemerintah NKRI mempunyai tanggung jawab utama untuk tetap menjamin tercapainya tujuan nasional yang tercantum di dalam Alinea Keempat Pembukaan UUD 1945. Oleh karena itu. Di Indonesia pada prinsipnya pengawasan merupakan konsekuensi dari Negara Kesatuan dengan sistem desentralisasi. terdapat ketentuan yang memberikan kemungkinan untuk menguji tindakan atau keputusan pembatalan suatu Perda melalui apa yang disebut dengan pranata ’keberatan’: Daerah-Daerah yang merasa keberatan atas pembatalan peraturan-peraturan daerahnya dapat mengajukan keberatan kepada Mahkamah Agung. yang dalam desertasinya membahas sampai Undang-Undang No. sejak berlakunya Undang-Undang Pemerintahan Daerah Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004. 5 tahun 1974. 5 tahun 1974. menemukan dasarnya dari konsep Negara Kesejahteraan sebagaimana telah dirumuskan di dalam alinea keempat UUD 1945. Bagir Manan. Maka. apakah itu berupa pengawasan preventif atau represif (berupa pembatalan atau penangguhan) suatu produk hukum Daerah.

. Ruang lingkup pengawasan terhadap daerah dibatasi pada peraturan daerah dan peraturan kepala daerah. ada pendapat Bagir Manan. Dengan demikian telah terlaksana pengawasan secara demokratis. mempengaruhi. Pengawasan yang disebut terakhir menghendaki dibutuhkan sebagai instrument untuk mencapai hakikat pengawasan. Problematika …. 5 Tahun 1974. walaupun hanya sekadar untuk urusan pemerintahan tertentu. Alasan utama yang dikemukakan Gde Pantja444 adalah supaya desentralisasi dengan pemberian otonomi daerah tidak bergeser menjadi semacam kemerdekaan. Pengawasan seperti ini mirip dengan jenis pengawasan umum yang diatur pada masa UU No. menunjukkan bahwa terdiri dari pengawasan umum. represif (administrative). yang dilengkapi dengan pengawasan yudisial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis pengawasan yang dipandang tepat yaitu preventif.. bahkan memaksakan kehendaknya kepada satuan pemerintahan yang lebih rendah. Itu yang tidak dapat berjalan dalam praktik. Dengan pengawasan yudisial. Setelah berlaku UU No. Itu pendapat kita yang intinya bahwa pengaturan tentang pengawasan saat ini menuju kepada yang ideal. Tanpa mengesampingkan arti penting pengawasan. represif. yaitu segala upaya untuk mengetahui bahwa segala hal yang direncanakan terlaksana.445 Pengawasan demikian tidak sama artinya dengan pengawasan terhadap segala hal. Pengawasan yang bagaimana yang tidak membelenggu kemandirian daerah? Walaupun diawasi tapi daerah masih ada keleluasaaan. hlm. Pengawasan senantiasa diperlukan sebagai pranata bagi pemerintah pusat atau satuan pemerintahan yang lebih tinggi tingkatannya untuk mengendalikan. pengawasan menghindari pembelengguan daerah. 22 tahun 1999.cit. dapat mengajukan ke Mahkamah Agung. Bagir Manan setuju hanya satu. Maka dari itu. dan preventif. Apabila suatu daerah berkeberatan perdanya dibatalkan. 321. op.180 dibahas dalam desertasinya itu. tidak dikehendaki suatu pengawasan yang tidak punya batasan ruang lingkup. bahwa yang diatur dalam UU 22 Tahun 1999 dengan menghapus pengawasan preventif. . pengawasan yang baik adalah 444 445 I Gde Pantja Astawa.

Ada juga batas-batasnya. Bandung. hak menentukan nilai mata uang. Tidak heran pada tahun 1974 ada suatu pandangan bahwa otonomi adalah hak prerogatif. Kemuncullan kembali pengawasan preventif sebagaimana diatur oleh Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tidak menyebabkan membelenggu kemandirian Daerah karena pengawasan preventif telah ditentukan batasbatas ruang lingkupnya serta di dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004. Paradigma ini tidak diketahui umum. bahwa hak prerogatif dimulai dari ampunan dosa-dosa. Melihat dari paradigma yang cukup mendasar. walaupun terdapat pengawasan. Hal tersebut ditujukan dalam rangka membina dan memelihara 446 Ateng Syafrudin. Ateng Stafrudin membantah bahwa itu adalah tugas konstitusional presiden. sedangkan kita berpijak pada kedaulatan rakyat. Bentuk pengawasan Pusat terhadap Daerah yang seyogyanya dikembangkan dan diterapkan dalam undang-undang yang mengatur pemerintahan daerah adalah bentuk pengawasan preventif dan represif (pengawasan administratif) dan dilengkapi pengawasan yudisial. Padahal orang Belanda sendiri berpendapat bahwa ternyata cara membagai otonomi itu bersumber dari kedaulatan negara. diselenggarakan atas kerja sama antara Dewan Perwakilan Daerah RI dan Fakultas Hukum Unpad. dipengaruhi dari negeri Belanda. ketiga. disampaikan dalam acara Focused Group Discussion (Fgd) Tentang “Hubungan Antara Pemerintah Pusat Dan Daerah”. pengawasan administratif (preventif dan represif) dilengkapi dengan pengawasan yudisial. Ateng Syafrudin446 berpendapat bahwa terdapat benang merah yang sampai sekarang menjadi persoalan. 4 Agustus 2009. Dengan demikian. Daerah tetap mempunyai kewenangan untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri atau tetap mempunyai kemandirian. yang ditetapkan dalam undang-undang. melahirkan hak placet: hak penguasa yang lebih tinggi untuk tidak setuju terhadap gagasan dari satuan pemerintahan di bawahnya. . Itu bersumber dari abad pertengahan.181 pengawasan terhadap segala hal dengan pembatasan ruang lingkup dan bentuk. berhak memilih kepercayaan sendiri siapa yang mewakilinya. bukan kedaulatan rakyat. Ditetapkannya tentang bentuk dan ruang lingkup pengawasan di dalam suatu undang-undang merupakan perwujudan dari pemerintahan daerah yang demokratis. Tapi banyak pemikiran-pemikiran di balik pembentukan UU ini.

Terhadap kedaulatan negara yang menjadi paradigma dasar penyelenggaraan pemerintahan daerah ini.449 Sebab kedaulatan hanya dapat sebagai kualitas dari suatu tata normatif sebagai suatu kekuasaan yang merupakan sumber kewajibankewajiban dan hak-hak. sudah tepat ketentuan bahwa perda dibatalkan oleh perpres. Sekarang pemda baru berindikator pada IPM. Yang lainnya harus ada. betulkah bahwa setiap penyelengggaraan 447 Hans Kelsen (alih Bahasa: Somardi). dan satu kekuasaan. Apakah kalau sudah membangun gedung-gedung menjadi sudah berhasil? Sering orang hanya mengukur secara materil. sepanjang suatu peraturan belum diubah atau dicabut. Namun ketentuan ini tidak berjalan.447 Kedaulatan dikatakan sebagai karakteristik definitif dari kekuasaan tertentu: satu negara.450 Dengan demikian kedaulatan negara dalam hal ini ditempatkan terutama dalam kepentingan untuk menjamin kesatuan hukum dari satuan pemerintahan pusat sampai dengan satuan pemerintahan yang paling rendah. Dalam ketentuan yang berlaku saat ini. menurut ilmu perundang-undangan. 1995. hlm. Pemerintah pusat punya hak placet. kedaulatan negara untuk menjamin kesatuan hukum atau dengan kata lain untuk menjaga harmonisasi peraturan perundang-undangan tersebut salah satunya dilaksanakan melalui mekanisme pengawasan terhadap peraturan daerah. Teori Hukum Murni. 448 Ibid.182 bawahannya. dapat dikemukakan pendapat Hans Kelsen mengenai kedaulatan. 450 Ibid. . yaitu mengacu kepada UU No. maka ketentuan yang masih berlaku seharusnya diataati. satu teritorial. Walaupun begitu masih perlu suatu pengujian konsep itu. tapi hrs dijelaskan supaya tidak menimbulkan konflik. Konsep dalam UU yang berlaku saat ini selalu mengaitkan pengawasan dengan pembinaan dan koordinasi. Dasar-Dasar Ilmu Hukum Normatif sebagai Ilmu Hukum Empirik-Deskriptif. Walaupun demikian. 449 Ibid. Hal ini menunjukkan bahwa ketentuan itu tidak dapat dilaksanakan (tidak sesuai dengan asas feasible). Rimdi Press. jika kedaulatan dipandang sebagai satu kualitas dari kekuasaan ini. 10 Tahun 2004.448 Kekuasaan negara mesti berupa validitas dan efektifitas tata hukum. satu rakyat. Mengenai praktik bahwa semua pembatalan sebagai salah satu bentuk pengawasan selalu ditetapkan dengan kepmendagri. 255.

dan tidak dapat terpisah sendiri-sendiri. Bentuk evaluasi dalam rangka pembinaan dan pengawasan perlu dikembangkan. Hal tersebut untuk melihat apakah sebetulnya daerah-daerah yang dimekarkan (terutama yang berbentuk provinsi) mampu memenuhi segala syarat kemandirian. Pada intinya yang menjadi penting adalah bagaimana suatu daerah telah terlatih dan terbina terlebih dahulu untuk menyelenggarakan tugas-tugas pemerintahan sebelum mendapatkan status daerah yang baru dibentuk. Penetapan pedoman standard dalam rangka pembinaan tidak boleh terlalu rinci agar keberagaman setiap daerah tetap terjaga. Perbedaan yang harus dikembangkan terletak pada tindak lanjut setelah pemberian status administratif. Dengan demikian kreatifitas daerah tidak terkekang dengan upaya penyeragaman sebagai dampak dari penetapan pedoman standard. Pembinaan pun dalam rangka pengawasan. Penetapan pemekaran daerah yang sudah marak dan mendominasi produk legislatif beberapa tahun terakhir perlu ditindaklanjuti dengan mekanisme evaluasi.** . masalah pengawasan mutlak terkait satu sama lain dengan koordinasi dan pembinaan. bahwa dalam sistem negara hukum harus berjalan. seperti yang pernah berlaku pada masa UU nomor 5 Tahun 1975. Ke depan dapat dikembangkan bahwa sebagai tahapan menuju pemberian status daerah baru dilakukan terlebih dahulu pemberian semacam status administratif. dan terutama dapat menjaga keutuhan Negara Kesatuan. Pengawasan tidak dapat terpisahkan dari pembinaan. dan negara hukum dan kesejahteraan. apakah menjadi kota atau menjadi kabupaten baru.183 pemerintahan. demokratisasi. evaluasi dibutuhkan juga setelah pemberian status daerah baru. terutama terkait dengan pemekaran daerah. Tidak hanya cukup sebelum pemberian status daerah baru.

dapat dikemukakan beberapa hal berkaitan dengan prinsip-prinsip pemikiran dan dimensi-dimensi pola hubungan antara pusat dan daerah. dasar-dasar pola hubungan pusat dijabarkan lebih lanjut melalui berbagai peraturan pelaksana. Padahal fungsi otonomi sendiri adalah keberagaman. Melalui PP No. Dalam implementasinya. Dengan pemberian otonomi seluas-luasnya seperti itu. cenderung terjadi . Keberadaaan otonomi khusus justru merupakan anomali dari pemberian otonomi seluas-luasnya. dan memberikan otonomi seluas-luasnya. yang lebih tampak adalah bahwa yang rumah tangga yang dianut adalah rumah tangga materiil. Dengan pemberian berbagai urusan pemerintahan yang didesentralisasikan. Hal tersebut menjadikan setiap daerah cenderung menjadi seragam. Prinsip-Prinsip Pemikiran Pola Hubungan Antara Pusat Dan Daerah Prinsip-prinsip ini dapat didekati dari paradigma negara kesatuan. satuan pemerintahan yang terendah adalah ujung tombak dari upaya menghantarkan kesejahteraan rakyat. Kedua. dengan asas otonomi dan tugas pembantuan. 38 Tahun 2007. meliputi desentralisasi teritorial. Pertama. demokratisasi. Dengan konstruksi demikian seperti itu. Dengan paradigma negara kesejahteraan. negara hukum (dengan paradigm negara kesejahteraan). dimensi-dimensi pola hubungan antara pusat dan daerah UUD 1945 telah memberikan dasar-dasar pola hubungan antara Pusat dan Daerah. yang dilaksanakan dengan cara desentralisasi. seharusnya sudah memungkinkan bagi daerah-daerah untuk beragam memiliki urusan. Kesimpulan Berdasarkan paparan singkat di atas. prinsip otonomi seluas-luasnya menjadi tidak tampak.184 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kecenderungan tarik menarik kekuasaan yang didesentralisasikan tersebut dipengaruhi oleh sistem rumah tangga seperti apa yang dianut.

pengaturan. B. namun praktiknya selalu dengan kepmendagri yang nampaknya lebih memenuhi asas feasible (dapat dilaksanakan) suatu peraturan.185 ketidakkonsistenan dengan begitu gemuknya kelembagaan di Pusat. Dengan seperti itu menjadikan atribusi kewenangan dalam UU tersebut tidak hidup. terutama untuk melakukan pinjaman luar negeri. serta persoalan pola hubungan antara pusat dan daerah. sehingga menyerupai piramida terbalik. Setiap pembentukan kelembagaan di daerah belum sepenuhnya berdasarkan kebutuhan urusan yang riil dan kemampuan SDM serta keuangan daerah. sebagai upaya untuk menegakkan supremasi hukum. dan demokratisasi. Saran Dari berbagai telaah mengenai asas. belum memungkinkan optimalisasi kerja sama daerah.** . Ketentuan yang berlaku sekarang untuk mengoptimalkan kemampuan daerah masih bergantung kepada perimbangan keuangan. teori. mencerminkan perlunya upaya untuk mengkaji kembali berbagai peraturan perundang-undangan yang belum harmonis dengan UUD 1945. 32 Tahun 2004 dilakukan oleh perpres. Pengkajian yang lebih mendalam perlu ditindaklanjuti untuk mengembalikan makna otonomi dalam bingkai negara kesatuan. menghantarkan kepada kesejahteraan rakyat. Upaya kebergantungan daerah terhadap pusat muncul lagi melalui pranata pengawasan yang tidak berimbang dengan upaya fasilitasi dan koordinasi oleh Pusat. Hal tersebut ditambah pula dengan persoalan instrumen hukum pembatalan perda yang menurut atribusi UU No.

Bandung. Etika Politik. Yogyakarta. Kumpulan Tulisan Pasang Surut Otonomi Daerah. Bandung. Jakarta. 2004. Hukum Anggaran Negara. Jakarta. Jakarta. Yayasan Tifa. Ghalia Indonesia. dalam Kumpulan Tulisan pasang surut otonomi Daerah. Frans Magnis-Soeseno. 2003. Anhar Gonggong (ed). Alumni. Rajawali Pers. 2007. Diana Halim Koentjoro. Bohari. Gramedia Pustaka Utama. _______. Citra Media Hukum. Atlanta. Jakarta. Jakarta. _______. Alumni. 2005. H. 1994. Georgia State University. 1990. Disertasi. Perjalanan Historis Pasal 18. Bagir Manan. Hukum Administrasi Negara. Pustaka Sinar Harapan. Eddy Purnama. Aspek-aspek Hukum Otonomi Daerah. Kedaulatan Rakyat. Hubungan Kewenangan Pusat dan Daerah. 2002. 1993.DAFTAR PUSTAKA BUKU Amiruddin dan Zainal Asikin. Yogyakarta. PT Raja Grafindo. Bhenyamin Hoessein. 2006. 1986. Aspek-Aspek Hukum Otonomi Daerah. UI-Press. Keuangan Pemerintah Daerah Otonom di Indonesia. Bachrul Elmi. Bandung. _______. UNSIKA. Bandung. Kapita Selekta Hakikat Otonomi dan Desentralisasi dalam Pembangunan Daerah. . Pusat Studi Hukum Fakultas Hukum UII. Karawang. Hubungan Antara Pusat dan Daerah Menurut UUD 1945. 1986. Nusamedia. Departement of Economic Andrew Young School of Policy Studies. Francisco Javier Arze del Granado. Amrah Muslimin. Institute for Local Development dan Yayasan TIFA. editor Jakarta 2005. A Study of The Relationship Between Fiscal Decentralization and The Composition of Public Expenditures. 1995. Bogor. Jakarta. _______. Titik Berat Otonomi Daerah Pada Daerah Tingkat II. Penerbit Mandar Maju. Pengantar Metode Penelitian Hukum. 2001. 2006. Ateng Syafrudin. 1999. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah.

2009. J. Segaarsy. Prospek Otonomi Daerah.. Municipal Government In Indonesia Policy. Decentralization: Policies in Asian Development. 1986. Hukum Pemerintahan Daerah. Monograf.I Gde Pantja Astawa. Jakarta. Hans. 1995. Kaloh. Miriam Budiarjo. Roy (eds). Jakarta. Raja Grafindo Persada. Kepala Daerah. Bhuana Ilmu Komputer. _______. 2009. Pikiran-Pikiran tentang Demokrasi dan Kedaulatan Rakyat. CV. Ni’matul Huda. Ltd. Jakarta. Cetakan kelima belas. Dasar-Dasar Ilmu Hukum Normatif sebagai Ilmu Hukum Empirik-Deskriptif. Konstitusi Press. African. M. Penerbit Gramedia Pustaka. Teori Negara Hukum Modern (Rechtsstaat). Singapore. Masalah Pengurusan Keuangan Negara : Suatu Pengantar Teknis. 2002. dan tahun penerbitan tidak tercantum. PT. kota. The Netheralands. Rimdi Press. Munir Fuady. Menggunakan Teori dan Konsep Dalam Analisis di Bidang Ilmu Hukum. Pusat Studi Hukum Tata Negara FH. Azmy Akhir. Ichimura. Bandung. Refika Aditama. World Scientific Publishing Co. Jakarta. Niessen. _______. Jakarta. 1984. Jakarta. 2009. Konstitusi Dan Konstitusionalisme Indonesia. Shinichi. Jakarta. Irawan Soejito. Bahl. Masalah Kenegaraan. Mohammad Hatta. _______. and Amerindian Studies. 2003. Bandung. Dinna. 2007. dalam Miriam Budiardjo (ed). Gramedia. Konsolidasi Naskah UUD 1945 Setelah Perubahan Keempat. Problematika Hukum Otonomi Daerah di Indonesia. Kelsen. Jimly Ashiddiqie. Penerbit Bina Aksara. Lili Rasjidi dan Liza Sonia Rasjidi. Teori Hukum Murni. Universitiet Leiden. Demokrasi Kita. Jakarta. 1999. Gramedia Pustaka Utama. 2009. cetakan kedua. bandung. Kelompok Gramedia.N. Alumni. Pokok-Pokok Hukum Tata Negara Indonesia Pasca Reformasi. Nusamedia. Nicole. 2009. Pte. PT. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Josef Riwu Kaho. (alih Bahasa: Somardi). UI. 1993. law and Practice of Decentralization and Urban Planning. Hubungan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. PT. Bandung. 2005. penerbit. . 1980. di Negara Republik Indonesia. Research School CNWS School of Asian. Ke Arah Indonesia Merdeka. 2001.

Perkembangan Pemerintahan Lokal. Pengantar Ke Arah Sistim Pemerintahan Daerah Di Indonesia. Kemitraan. London. 1995. Bandung. Genta Publishing. Legal Theory. England. 2006. B. 1982. 1960. Jakarta. dan Desentralisasi. Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji. Rousseau. 1967. Negara Hukum yang Membahagiakan Rakyat. Jakarta. Penerbit Alumni. Rineka Cipta. Mengumpulkan dan Membuka Kembali. Bab-Bab Tentang Penemuan Hukum. Taliziduhu Ndraha. Keuangan Daerah. Sunaryati Hartono. Paulus Effendie Lotulung. Edward Elgar Limited – Edaward Elgar Publishing Company. Sidgwick & Jackson Limited. Alumni. Jakarta. Decentralization The Territorial Dimension of The State. Tjip Ismail. Susanto. 1993. 1993. Du Contract Social (Perjanjian Sosial). Gerge Allen Unwin. Bhuana Ilmu Populer.. Yogyakarta. PT RajaGrafindo Persada. . 1986. PT. Edisi Kedua. 2007. Steven Sons. Otje Salman dan Anton F. Refika Aditama. Jean Jacques. Bandung. 2005. Liberty.Norton. Joeniarto. Penelitian Hukum di Indonesia Pada Akhir Abad Ke-20. 2006. Alan. Beberapa Sistem tentang Kontrol Segi Hukum terhadap Pemerintah. Kybernology (Ilmu Pemerintahan Baru). London. London. Yogyakarta. R. Modern Political Constitution. 1985. Investasi. CF. International Hand Book of Local and Regional Government A Comparatve Analysis of Advanced Democracies. Binacipta. RDH Koesoemahatmadja. Teori Hukum: Mengingat. Jilid I. Jakarta. Jilid III. Citra Aditya Bakti.C. Bandung. Pheni Chalid. Yogyakarta. Smith. cetakan kedua. Wolfgang Friedmann. Visimedia. Satjipto Rahardjo. Jakarta 2003. Jakarta. USA. Pengaturan Pajak Daerah di Indonesia. Strong. Sudikno Mertokusumo dan Pitlo. 2007. Yellow Printing. cetakan II. Penelitian Hukum Normatif. 1979. The Liang Gie. 2005. Pertumbuhan Pemerintahan Daerah di Negara Republik Indonesia. Bandung.

Detours and Road Closures”.. 2008. 2009. Desertasi. 6 No. 4 Agustus 2009 Ateng Syafrudin. _______. Makalah. hlm. 2009. Springer-Verlag Published online: 12 April 2006. “Hutang Sebagai Salah Satu Sumber Pembiayaan Pembangunan Daerah Otonom”. Theresa Thompson. Singapore. Decentralization: Policies in Asian Development. Bahl dalam Shinichi Ichimura. Handsout dan Course Material Hukum Pemerintahan Daerah. USA. Jurnal Kajian Ekonomi Dan Keuangan. Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. Vol. makalah pada Diskusi Terbatas tentang Hubungan Pusat dan daerah. Makalah untuk pendidikan non-gelar anggota DPRD tingkat II se-Jawa Barat di Fakultas ISIP Unpad. “Fiscal decentralization and regional income disparities: evidence from the Colombian experience”. Bagir Manan. . _______. World Scientific Publishing Co. DC USA. Problems. Bentuk dan Ruang Lingkup Pengawasan Pusat Terhadap Daerah Dalam Mewujudkan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Yang Demokratis Menurut UUD 1945. June 2004. 3. disampaikan dalam acara Focused Group Discussion (Fgd) Tentang “Hubungan Antara Pemerintah Pusat Dan Daerah”. Ltd. 28 Desember 1992. Maret. Bandung. Bandung. “Fiscal Decentralization in Developing and Transition Economies: Progress. Roy Bahl (eds). Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. Bachrul Elmi dan Syahrir Ika. World Bank. _______. Washington DC. Hubungan Kelembagaan antara Pusat dan Daerah. Anwar Shah. Masalah Hukum dalam Pemerintahan di Daerah. Pusat Studi Hukum Kenegaraan Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran. “Implementing Decentralized Local Governance: A Treacherous Road with Potholes. Jaime Bonet. 4 Agustus 2009. Washington. April 2004.DESERTASI/TESIS/LAPORAN PENELITIAN/MAKALAH/JURNAL Agus Kusnadi. 1. World Bank Policy Research Working Paper 3353. Program Studi Hukum Tata negara. Bandung. Pte. 2002.. and the Promise” World Bank Policy Research Working Paper 3282. Asep Warlan Yusuf. Tugas Sosial Pemerintahan Daerah. diselenggarakan atas kerja sama antara Dewan Perwakilan Daerah RI dan Fakultas Hukum Unpad. The World Bank. 2009.

Hak Angket Dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia Menurut UUD 1945. Comparative Economic Studies. “The Challenge of Fiscal Decentralisation in Transition Countries”. Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. 1999. Jakarta. Kerangka Acuan Penelitian Studi Hubungan Pusat Dan Daerah Kerjasama DPD RI Dengan Perguruan Tinggi Di Daerah. 2003. Universitas Padjadjaran Bandung. Renata R Simatupang. 15 No. “Fiscal Decentralisation and Empowerment: Evolving Concepts and Alternative Measures” Journal Compilation Institute of Fiscal Studies Vol. Journal of Public Budgeting. Jameson Boex. Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran. Larry. Academic Press. Pengkajian Penataan Daerah Otonom Kabupaten/Kota di Jawa Barat. 2003. Pedoman Penyelenggaraan Program Pendidikan Sarjana (S1). . Journal of Public Budgeting.48. 2006. 4 Agustus 2009 Larry Schroeder. Kuntana Magnar. “Fiscal decentralization and regional income disparities: evidence from the Colombian experience”. Accounting & Financial Management. Bahan diskusi pada Diskusi Terbatas Pusat Studi Hukum Tata Negara. Otonomi atau Federalisme. I Gde Pantja Astawa. Academic Press. Springer-Verlag Published online: 12 April 2006. UK-USA. 2000. Pustaka Sinar Harapan. 2006. Disertasi.Bonet. 2008. dampaknya terhadap Perekonomian. 29. Era Dabla-Norris. Vol. 15 No. Blackwell Publishing Ltd. Fiscal Decentralization in South East Asia. No. Bandung. Harian Suara Pembaharuan. Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Tahun 2007. Jaime. 3. Pusat Pengkajian dan Pengembangan Wilayah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran. Vol. Jakarta 2009. Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia. Bandung. Laporan Penelitian. 4. Tim Penyusun. Pengawasan Pengelolaan Keuangan Daerah dalam Sistem Pemerintahan Daerah di Indonesia (Disertasi). Bandung. Accounting & Financial Management. 2002. “Fiscal Decentralization in South East Asia”. 3. Schroeder. Elektison Somi. Vol.

Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2008 Tentang Tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. 25 Tahun 1999 Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004. .pdf http://koran. http://www.geocities.18 Tahun 1997 Tentang Pajak dan Retribusi Daerah. Sumber Internet http://www.com/read/xml/2009/08/05/04112298/pajak.id/old_version/CITANEGARAHUKUMINDONESIA. Peraturan Pemerintah No.kompas. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pemerintahan Daerah Undang-Undang Nomor No. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah Undang-Undang Nomor No.fh. 20 Tahun 1997 Tentang Retribusi Daerah Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005.Peraturan Perundang-Undangan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.opensubscriber. tentang Pemerintahan Daerah Undang-Undang Nomor No.com/9511217. 28 Tahun 2009 tentang Pajak dan Retribusi Daerah Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 1997 Tentang Pajak dan Retribusi Daerah.html www.dibatasi.Doc.ac.com/syahyuti/Rumusan_konsep_kelembagaan.33 Tahun 2004 Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah Undang-Undang Nomor No.daerah.com/message/mediacare@yahoogroups.unsri.

bakd.http://www.org/ind/index.id/webbkf/kajian%5CPAD.fh.kompas.ac.depdagri.ssrn.com/2008/04/08/konstruksi-ulang-hubungan-pemerintah-pusat-danpemerintah-daerah-di-indonesia-antara-sentripetalisme-dan-sentrifugalisme/ http://www.com/2008/04/08/konstruksi-ulang-hubungan-pemerintah-pusat-danpemerintah-daerah-di-indonesia-antara-sentripetalisme-dan-sentrifugalisme/ http://en.fiskal.daerah. http://www.com/forum/index. http://www.dibatasi.mediaindonesia.go.org/wiki/Participatory_democracy http://ekoprasojo.Doc.unsri.com/read/2009/08/08/91036/20/2/RUU-Pajak-dan-RetribusiDaerah-Disahkan-Jadi-UU http://www. www.com/read/2009/08/08/91036/20/2/RUU-Pajak-dan-RetribusiDaerah-Disahkan-Jadi-UU http://koran.php?option=com_content&task=view&id=329&Itemid=2 http://www.html http://ekoprasojo.pdf.go.worldbank.com/abstract=1029581 .google.org/id.com/read/2009/08/18/103708/1184734/4/15-poin-uu-pokokpajak-daerah-dan-retribusi-daerah www.php/topic.depkeu.0.detikfinance.5619.com/read/xml/2009/08/05/04112298/pajak. http://www.id/old_version/CITANEGARAHUKUMINDONESIA.lautanindonesia.com http://kppod.wikipedia.mediaindonesia.id/ www.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->