PENELITIAN

POLA HUBUNGAN ANTARA PUSAT DAN DAERAH

KERJA SAMA ANTARA PUSAT STUDI KAJIAN NEGARA FAkULTAS HUKUM UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG

DENGAN

DEWAN PERWAKILAN DAERAH (DPD) REPUBLIK INDONESIA

JAKARTA, 2009

POLA HUBUNGAN ANTARA PUSAT DAN DAERAH ABSTRAK UUD 1945 telah memberikan dasar-dasar pola hubungan antara Pusat dan Daerah, meliputi desentralisasi teritorial, dengan asas otonomi dan tugas pembantuan, dan memberikan otonomi seluas-luasnya. Namun dengan berbagai peraturan pelaksanaannya, telah mendorong penyeragaman sekaligus sentralisasi tersembunyi melalui undang-undang sektoral. Penelitian ini merupakan kajian bertujuan untuk mengetahui prinsip-prinsip pemikiran yang mendasari pola hubungan antara Pusat dan daerah, dengan pendekatan uraian mengenai dimensi hubungan kewenangan, kelembagaan, keuangan, dan pengawasan. Dengan menggunakan metode pendekatan yuridis normatif, penelitian merupakan penelitian asas-asas hukum, sistematika hukum, dan taraf sinkronisasi vertikal dan horizontal. Pembahasan penelitian ini menunjukkan bahwa terhadap dimensi-dimensi hubungan antara Pusat dan daerah terjadi inkonsistensi, baik dalam perspektif kerangka negara kesatuan, paradigma negara kesejahteraan, demokrastisasi, dan prinsip otonomi yang dimaksudkan dalam Perubahan UUD 1945. Dengan demikian perlu kecermatan lebih lanjut untuk menata kembali harmonisasi berbagai peraturan perundang-undangan sebaga pelaksanaan Pasal 18 UUD 1945, untuk mengembalikan hakikat otonomi daerah.

i

The Pattern of Central and Regional/Local Government Relationship Abstract The 1945 Constitution has provided the basic principles of the relationship between central and regional/local government, including territorial decentralization, with the principle of autonomy and coadministration, and provides wide-ranging autonomy. But with the various implementing regulations, has encouraged uniformity and centralization hidden through sectoral legislation. This research aims to determine the principles that underlie the pattern of relationship between central and regional/local government, with a description of the dimensional approach of authority, concerning: relations, institutional, financial, and supervision relationship. By using the method of normative juridical approach, the research categorized as research on principles of law, systematic of law, and the level of vertical and horizontal synchronization. This research show that the dimensions of the relationship between central and regional/local government, inconsistencies occurred, both in the perspective of the unitary state framework, the welfare state paradigm, democratization, the principle of autonomy which is intended in The Amended 1945 Constitution. Thus the need to further precision to restructure the harmonization of legislation as the implementation of Article 18 UUD 1945, to restore the nature of regional/local autonomy.

ii

Kata Pengantar

Laporan penelitian yang disajikan ini merupakan hasil kerja sama antara Pusat Studi Kebijakan Negara Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran (PSKN FH Unpad) dengan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD – RI). Dari beberapa tema yang ditawarkan, sengaja kami memilih persoalan hubungan keuangan antara pusat daerah karena dalam konteks negara terdesentralisasi seperti Indonesia, persoalan tersebut selalu berkembang. Bagi kalangan juris perkembangan tersebut tampak misalnya dalam hal perkembangan peraturan perundang-undangan di bidang pemerintahan daerah yang sangat dinamis. Bahkan dapat dikatakan bahwa peraturan perundangundangan di bidang ini merupakan peraturan perundang-undangan yang sangat berkembang pesat, dari mulai Indonesia merdeka hingga saat ini. Perkembangan peraturan perundang-undang tersebut akan menggambarkan konsep dinamis antara desentralisasi dan sentralisasi yang seperti “bandul”. Misalnya, sebelum Perubahan UUD 1945 (khususnya Pasal 18), beberapa undang-undang bercorak desentralistis, seperti UU No. 1 Tahun 1945, UU No. 22 Tahun 1948, dan beberapa lagi lebih mencerminkan sifat sentralistis, seperti UU No. 5 Tahun 1974. Hal tersebut sangat mungkin terjadi hingga saat ini di mana Pasal 18 UUD 1945 telah diubah menjadi 3 pasal pada masa Perubahan Kedua UUD 1945, misalnya antara UU No. 22 Tahun 1999 dengan UU No. 32 Tahun 2004. UU No. 22 Tahun 1999 dibentuk sebelum Pasal 18 UUD 1945 berubah namun secara prinsip tidak bertentangan dengan perubahan Pasal 18 tersebut. Sementara itu, UU No. 32 Tahun 2004 dibentuk setelah Perubahan Pasal 18 UUD 1945 dan mengubah ketentuan UU No. 22 Tahun 1999, begitu pula UU lainnya di bidang perimbangan keuangan pusat – daerah. Perkembangan tersebut selalu menarik untuk diteliti, karena format desentralisasi selalu akan berkembang seiring dengan perkembangan masyarakat. Namun demikian, memilih tema hubungan pusat – daerah ini cukup beresiko, khususnya dalam hal kedalaman studi, karena terdapat beberapa dimensi hubungan pusat – daerah. Kami mengambil resiko tersebut dengan tujuan bahwa penelitian ini menghasilkan gambaran persoalan hubungan pusat – daerah ini secara umum (overview). Setidaknya dengan penelitian yang umum ini, diharapkan akan muncul penelitian – penelitian lanjutan yang lebih spesifik lagi, seperti hubungan kewenangan pusat – daerah atau dimensi – dimensi lainnya.
iii

sehingga kami sangat membuka diri untuk segala kritik dan saran untuk perbaikan ke depan. Akhir kata. khususnya kepada DPD – RI yang telah melakukan kerja sama penelitian ini dengan kami.Kami sangat berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu pelaksanaan penelitian ini. Kami sadar laporan penelitian ini banyak kekurangan. selama membaca. Bandung. 2009 Tim Peneliti iv .

DAFTAR BAGAN Bagan 1 Bagan 2 Bagan 3 Bagan 4 Bagan 5 Bagan 6 Pembagian desentralisasi menurut Van der Pot Pembagian desentralisasi menurut Irawan Soejito Pembagian desentralisasi menurut Amrah Muslimin Pembagian desentralisasi menurut Hans Kelsen Alur Penelitian Pembagian Urusan Pemerintahan 10 10 11 12 15 75 v .

2006 Sektor Kelautan dan Perikanan Peraturan Daerah Tentang Pajak Daerah. 2006 Sektor Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral Resource) vi 157 . 2006 Sektor Kehutanan (Forestry) Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s.d.DAFTAR TABEL Tabel 1 Ruang lingkup pengawasan Atas penyelenggaraan pemerintahan daerah Tabel 2 Tabel 3 Perbandingan Pengawasan Pusat Terhadap Daerah di Inggris. 2006 Sektor Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral Resource) Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s.d.d.d. 2006 Sektor Perhubungan 152 Tabel 8 Tabel 9 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan 153 Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s. Perancis dan Belanda Model-Model Pengawasan dan Pengendalian Terhadap Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Menurut UU No.d.d. Retribusi Daerah dan Pungutan Lainnya Yang Dibatalkan Oleh Menteri Dalam Negeri Pada Tahun 2007 154 Tabel 10 Tabel 11 Tabel 13 Hasil Evaluasi Peraturan Daerah di Departemen Dalam 156 Negeri Sampai dengan November 2007 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Wilayah Provinsi Jawa Barat Dari Tahun 2002 s. 2006 Sektor Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade) 151 Tabel 6 Tabel 7 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan 152 Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s. 32 Tahun 2004 Perkembangan Pengaturan Pengawasan 69 118 65 Tabel 4 Tabel 5 124 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan 150 Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s.

Ciamis Provinsi 161 Jawa Barat Yang Dibatalkan(Sektor Kehutanan (Forestry)) 162 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.Karawang Wilayah 160 Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade) ) Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kota Cimahi Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan(Sektor Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade)) 160 Tabel 17 Tabel 18 Tabel 19 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah di Wilayah Provinsi 161 Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Kehutanan (Forestry)) Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.Tabel 14 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.Garut Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Kehutanan (Forestry)) Jumlah Undang-Undang Pembentukan Daerah (Pemekaran Daerah) 2007 – 2008 Skema Pola Hubungan Pengawasan Pusat-Daerah 163 Tabel 20 Tabel 21 Tabel 22 Tabel 23 173 vii .Tasikmalaya Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral Resource)) 158 Tabel 15 Tabel 16 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Wilayah Provinsi Jawa 158 Barat Yang Dibatalkan(Sektor Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade) Wilayah Provinsi Jawa Barat) Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.Indramayu 158 Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral Resource)) Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.

B. Demokrasi sebagai instrumen pengambilan keputusan 3. D. Sistem Rumah Tangga Daerah viii 18 19 23 23 25 26 29 29 36 . C. Demokrasi ekonomi D. H. Latar Belakang Rumusan Masalah Tujuan Penelitian Kerangka Pemikiran Kegunaan Penelitian Metode Penelitian Alur Penelitian Personalia Penelitian Sistematika Penulisan 1 3 3 4 12 12 14 16 16 18 BAB II Prinsip-Prinsip Umum Pola Hubungan Pusat Dan Daerah A. Kajian Teori Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah 1. Desentralisasi 2. F. Demokrasi sebagai instrumen Mekanisme pemerintahan 2. I.DAFTAR ISI Abstrak Abstract Kata Pengantar Daftar Bagan Daftar Tabel Daftar Isi i ii iii v vi viii 1 BAB I Pendahuluan A. Negara Kesatuan B. Negara Hukum C. Demokrasi 1. G. E.

Kelembagaan 4. Sumber-Sumber Penerimaan/ Pendapatan Daerah 6. UU. Saran DAFTAR PUSTAKA 182 183 ix . Dimensi Hubungan Kelembagaan Pusat dan Daerah D. Hubungan Keuangan D. Hubungan Kewenangan: dari mulai UUD 1945. Dimensi Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah E. Dimensi Hubungan Pengawasan Pusat dan Daerah BAB V Kesimpulan dan Saran A. Dimensi Hubungan Kewenangan Pusat dan Daerah 125 126 128 139 149 C. Hubungan Kelembagaan C. Hakikat Pengawasan Pemerintah Pusat terhadap Daerah 43 47 52 58 BAB III Pengaturan Hubungan Antara Pusat dan Daerah A. Hubungan Pengawasan 74 74 75 99 112 BAB IV Tinjauan Dimensi-Dimensi Hubungan Antara Pusat dan Daerah A.3. dan Pengaturan Sektoral. B. Kesimpulan B. Ruang Lingkup dan Prinsip-Prinsip Desentralisasi Fiskal 5. Pilar-Pilar Penyelenggaraan Pemerintahan B.

5 6) prinsip hubungan pusat dan daerah harus dilaksanakan secara selaras dan adil.6 7) prinsip hubungan wewenang antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus memperhatikan kekhususan dan keragaman daerah.3 4) prinsip mengakui dan menghormati pemerintahan daerah yang bersifat khusus dan istimewa.8 dan 9) prinsip pengakuan dan penghormatan negara terhadap satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa. 3 Pasal 18 ayat (5) 4 Pasal 18 B ayat (1) 5 Pasal 18 ayat (3) 6 Pasal 18 A ayat (2) 7 Pasal 18 A ayat (1) 8 Pasal 18 A ayat (2) 9 Pasal 18 B ayat (1) .BAB I PENDAHULUAN A.2 3) prinsip menjalankan otonomi seluas-luasnya. Latar Belakang Undang-Undang Dasar 1945 beserta perubahannya telah memberikan landasan konstitusional mengenai penyelenggaraan pemerintahan daerah di Indonesia. satuan pemerintahan di bawah pemerintah pusat yaitu daerah provinsi dan 1 2 Pasal 18 B ayat (2) Pasal 18 ayat (2) Perubahan Kedua Undang-Undang Dasar 1945.7 8) prinsip hubungan keuangan. pelayanan umum.9 Sebagai pelaksanaan lebih lanjut dari dasar konstitusional tersebut. 1 masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik 2) Prinsip daerah mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan. Di antara ketentuan tersebut yaitu: 1) prinsip pengakuan dan penghormatan negara terhadap kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat serta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan Indonesia. pemanfatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antara pemerintah pusat dan pemerintahan daerah dilaksanakan secara adil dan selaras berdasarkan undang-undang.4 5) prinsip badan perwakilan dipilih langsung dalam suatu pemilu.

pembagian kelembagaan. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. c) keamanan.10 Provinsi memiliki urusan wajib dan urusan pilihan. 12 Pasal 10 ayat 3 UU Nomor 32 Tahun 2004. yaitu meliputi hubungan kewenangan. pembagian kewenangan ini membawa implikasi kepada hubungan keuangan. dan f) agama. Keempat. juga tersebar pengaturannya dalam berbagai UU sektoral yang 10 11 Pasal 13 ayat (1) dan (2) dan Pasal 14 ayat (1) dan (2) UU Nomor 32 Tahun 2004. d) yustisi. Walaupun dengan ketentuan pemberlakuan otonomi seluas-luasnya dalam UUD 194513. Pertama. . hubungan pengawasan merupakan konsekuensi yang muncul dari pemberian kewenangan. e) moneter dan fiskal nasional. namun kewenangannya yang berbeda. untuk dan pengawasan. kewenangan keuangan. pemerintahan daerah provinsi. b) pertahanan.11 Selain itu ditetapkan pula kewenangan pemerintah Pusat menjadi urusan Pemerintahan yang meliputi:12 a) politik luar negeri. 13 Pasal 18 ayat (5) Perubahan Kedua Undang-Undang Dasar 1945. Kedua. Pasal 13 ayat (1) dan (2) UU Nomor 32 Tahun 2004. dan pemerintahan daerah kabupaten/kota. namun muncul pula pengaturan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2007 yang membagi urusan pemerintahan antara pemerintah. yang diatur dalam UU No. karena wilayah kekuasaan Pemerintah Pusat meliputi Pemerintah Daerah. menyelenggarakan urusan-urusan pemerintahan tersebut akan sangat mempengaruhi sejauhmana Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah memiliki wewenang untuk menyelenggarakan urusan-urusan Pemerintahan. maka dalam hal ini yang menjadi obyek yang diurusi adalah sama. Kesemuanya itu.2 kabupaten/kota memiliki urusan yang bersifat wajib dan pilihan. 32 Tahun 2004 tersebut. Ketiga. selain diatur dalam UU No. agar terjaga keutuhan negara Kesatuan. implikasi terhadap hubungan kelembagaan antara Pusat dan Daerah mengharuskan kehati-hatian mengenai besaran kelembagaan yang diperlukan untuk melaksanakan tugas-tugas yang menjadi urusan masingmasing. Hubungan-hubungan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah memiliki empat dimensi penting untuk dicermati.

Jakarta 2009. 8.3 pada kenyataannya masing-masing tidak sama dalam pembagian kewenangannya. B. Apa dasar-dasar pemikiran yang melandasi terbangunnya pola hubungan antara pusat dan daerah? 2. dan c) kewenangan yang dalam menyusun standar operasional prosedur bagi daerah dalam menterjemahkan setiap peraturan perundang-undangan yang ada. Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam penelitian ini dibagi berdasarkan empat dimensi hubungan pemerintahan pusat dan daerah.. Bagaimana pola hubungan pusat dan daerah dari dimensi-dimensi kewenangan. hlm. 6. Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia. 1994. sebagai berikut: 1. 22-23 16 Ibid. Jakarta. keuangan. Tujuan Penelitian Kerangka Acuan Penelitian Studi Hubungan Pusat Dan Daerah Kerjasama DPD Ri Dengan Perguruan Tinggi Di Daerah. kelembagaan. dan pengawasan? C. Dewan Perwakilan Daerah juga mengidentifikasi adanya kewenangan yang tumpah tindih antar instansi pemerintahan dan aturan yang berlaku. b) kewenangan yang didelegasikan dan fungsi-fungsi yang disediakan oleh Departemen kepada daerah. hlm.14 Pengaturan yang demikian menunjukkan bahwa tarik menarik hubungan tersebut kemudian memunculkan apa yang oleh Bagir Manan disebut dengan spanning15 antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.16 Hal tersebut terutama berhubungan dengan a) otoritas terkait tanggungjawab pemerintah pusat dan daerah. 17 Ibid. Pustaka Sinar Harapan. hlm. Hubungan Antara Pusat dan Daerah Menurut UUD 1945. 14 . 17 Berdasarkan latar belakang tersebut perlu dilakukan suatu kajian sebagai penelitian payung yang melandasi hubungan antara Pemerintah Pusat dengan daerah. 15 Bagir Manan. baik aturan di tingkat pusat dan/atau peraturan di tingkat daerah.

18 Dikatakan bahwa negara kesatuan adalah negara yang diorganisasi di bawah satu pemerintahan pusat. Mengetahui bagaimana pola hubungan pusat dan daerah dari dimensidimensi kewenangan. “Unitarisme” dalam pengertian politik didefinisikan oleh Dicey sebagai “pelaksanaan kebiasaan otoritas legislatif tertinggi oleh satu kekuasaan pusat”. yang dikutip oleh Tim Penyusun buku “Otonomi atau Federalisme”. suatu negara disebut negara kesatuan apabila kekuasaan hanya dipegang oleh pemerintah pusat. terdapat dua C. 87.4 Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini sebagai berikut: 1. sementara provinsi-provinsi menerima kekuasaan dari pemerintah pusat. Kerangka Pemikiran Perubahan ketiga Undang-Undang Dasar 1945 menegaskan bahwa Indonesia adalah negara kesatuan yang berlandaskan hukum atas dasar kedaulatan rakyat. Sementara itu menurut Apeldoorn. Harian Suara Pembaharuan. Dalam hal ini dikemukakan pemikiran dari CF Strong mengenai negara kesatuan. Otonomi atau Federalisme.19 Dalam negara-negara dengan bentuk negara kesatuan (unitary state). hlm. dan pengawasan? D.F. Cetakan Kedua. hlm. 18 . Artinya. kelembagaan. Bandung. Kekuasaan pusat adalah kekuasaan tertinggi di atas seluruh negara tanpa ada batasan yang ditetapkan hukum yang memberikan kekuasaan khusus pada bagian-bagiannya. Nusamedia. 19 Tim Penyusun. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta. kekuasaan apapun yang dimiliki berbagai distrik di dalam wilayah yang dikelola sebagai suatu keseluruhan oleh pemerintah pusat harus diselenggarakan menurut kebijakan pemerintah itu. keuangan. 2008. ditinjau dari sudut pembagian kewenangan. Mengetahui dasar-dasar pemikiran yang melandasi terbangunnya pola hubungan antara pusat dan daerah? 2. 14. Strong. Dampaknya Terhadap Perekonomian. Teori negara kesatuan digunakan untuk membedakan pembagian kekuasaan secara vetikal dengan negara berbentuk federasi. dan provinsi-provinsi tersebut tidak mempunyai hak mandiri. 2000. Konstitusi-Konstitusi Politik Modern: Studi Perbandingan tentang Sejarah dan Bentuk-Bentuk Konstitusi di Dunia.

Faktor luas wilayah dari suatu negara dan besaran jumlah penduduk serta pertambahan kerumitan masalah kenegaraan merupakan argumen bahwa demokrasi langsung (direct democracy) tidak mungkin muncullah untuk yang dilaksanakan. Universitiet Leiden. hlm. program politik partai. Municipal Government In Indonesia Policy. Nusamedia. ekspresi persetujuan maupun ketidaksetujuan rakyat sudah harus memiliki sarana penyaluran yang nyata dalam pemilihan umum. 20 Ni’matul Huda mengatakan bahwa desentralisasi adalah strategi mendemokratisasi sistem politik dan menyelaraskan pencapaian pembangunan berkelanjutan yang merupakan isu yang selalu ada dalam praktik administrasi publik. konsep demokrasi juga mencari bentuk yang sesuai dengan situasi dan kondisi dari masyarakat modern.F.21Demokrasi yang lazim pula disebut dengan kedaulatan rakyat memandang bahwa kekuasaan itu berasal dari rakyat. Di sinilah letak keterkaitannya dengan demokrasi politik yang mengisyaratkan pemerintah harus bergantung pada persetujuan pihak yang diperintah.25 dikenal sebagai Berdasarkan demokrasi kenyataan tidak demikian.23 C. 2007. 22 Eddy Purnama. Namun di dunia kontemporer. . 10. dan lain-lain. Hukum Pemerintahan Daerah. yang pelaksanaan kedaulatan rakyatnya tidak dilaksanakan oleh rakyat secara langsung 20 Nicole Niessen. law and Practice of Decentralization and Urban Planning. Konstitusi-Konstitusi …. hlm. Bandung. op. 2009.F. and Amerindian Studies. Kedaulatan Rakyat. artinya. (indirect langsung democracy). hlm. 21 Ni’matul Huda. media massa. Strong mengartikan demokrasi secara beragam24 termasuk untuk menyebut suatu bentuk pemerintahan atau kondisi suatu masyarakat.5 kewenangan/urusan pemerintah yakni yang tersentralisasi dan kewenangan/urusan pemerintah yang didesentralisasikan. African. Nusamedia. 66. 23 Ibid.cit. sehingga dalam pelaksanaan tugasnya pemerintah harus berpegang pada kehendak rakyat. 17. The Netheralands. 21. 24 C. ketika nasionalisme menjadi dasar bagi demokrasi politik maka pemerintahan politik yang demokratis menjadi instrumen kemajuan sosial. Bandung. 25 Ibid. Research School CNWS School of Asian. hlm.22 Sejalan dengan perputaran waktu.Strong. 1999.

2007.28 Dalam pemikiran mengenai bagaimana demokrasi bagi Indonesia. 69.. Negara Hukum yang Membahagiakan Rakyat. 31 Satjipto Rahardjo. 113. op. 28 Jean Jacques Rousseau. Mei 2009. hlm. hlm. terjemahan Tim Visimedia. and the king.. Kedaulatan Rakyat. “… that the souvereignity of Parliament furthers the rule of the land… prevent those inroads upon the law of the land which a despotic monarch … might effects by ordinance or decrees… “33 Selanjutnya dikatakan. Sifat kedua yaitu tolong menolong dan gotong royong adalah sendi yang bagus untuk menegakkan demokrasi ekonomi. hlm. hlm. 29 Mohammad Hatta. Menurut Dicey. Neumann yang dikutip oleh Satjipto Rahardjo mengatakan bahwa perkembangan negara hukum di Inggris berbeda daripada Eropa daratan.6 melainkan melalui lembaga perwakilan rakyat. “The monopoly of legislation by Parliament. Bandung.. Du Contract Social (Perjanjian Sosial). 9. also strengthens the power of the judges Eddy Purnama. hlm.30 Selanjutnya pilar yang lain yang secara konsitusional diakui oleh Indonesia adalah negara hukum. with the balance between the House of Commons.. yaitu mengambil keputusan secara mufakat dengan musyawarah.26 Dalam rangka mewujudkan prinsip kedaulatan rakyat. yang tidak netral terhadap politik. 284. Pikiran-Pikiran tentang Demokrasi dan Kedaulatan Rakyat. 11. 8 32 Ibid. cetakan II. 8-9. Segaarsy. adalah dasar dari demokrasi politik. . Jakarta.. Demokrasi Kita.cit.29 Sifat pertama. Ibid. cetakan kedua. 27 26 . 33 Ibid.31 Di Inggris. sejak semula doktrin Rule of Law tidak dipisahkan dari doktrin supremasi parlemen. termasuk pada waktu melakukan realisasi rule of law.32 Parlemen berhak untuk melakukan apa saja.27 Rousseau memberi catatan bahwa jika kita menempatkan istilah ini dalam pemahaman yang kaku. hlm. Yogyakarta.. hlm. the House of Lords. 2009. 30 Ibid. hlm. Genta Publishing. tidak pernah ada demokrasi yang nyata dan tidak akan pernah ada demokrasi. 70. Muhammad Hatta mengingatkan bahwa masyarakat asli Indonesia mempunyai sifat dasar dalam segala hal mengenai kepentingan hidup bersama. Visimedia. akomodasi seluruh aspirasi rakyat jauh lebih berguna dari unsur di dalam masyarakat harus terwakili di dalam sistem perwakilan.

konsep Negara Hukum di Eropah Kontinental dikembangkan antara lain oleh Immanuel Kant. yaitu: 1) Supremacy of Law. oleh “The International Commission of Jurist”. yaitu “rechtsstaat’. Paul Laband. Keempat prinsip ‘rechtsstaat’ yang dikembangkan oleh Julius Stahl tersebut di atas pada pokoknya dapat digabungkan dengan ketiga prinsip ‘Rule of Law’ yang dikembangkan oleh A. Dicey dengan sebutan “The Rule of Law”. prinsipprinsip Negara Hukum itu ditambah lagi dengan prinsip peradilan bebas dan tidak memihak (independence and impartiality of judiciary) yang di zaman sekarang makin dirasakan mutlak diperlukan dalam setiap negara demokrasi. 26. tindakannya dibatasi hanya sampaiu kepada penjaga ketertiban dan keamanan. Fichte. 2) pembagian kekuasaan. 34 . Menurut Julius Stahl yang dikutip oleh Jimly Asshidiqie34.Doc. Dicey untuk menandai ciri-ciri Negara Hukum modern di zaman sekarang. Negara Hukum …. dan 3) Due Process of Law. 1-2. Cita Negara Hukum Indonesia Kontemporer. 3) pemerintahan berdasarkan undang-undang. lihat Jimly Asshidiqie.35 Negara hukum yang muncul di abad ke-sembilan belas adalah tipe negara hukum sebagai “penjaga malam” (nachtwakersstaat).cit. 36 Satjipto Rahardjo. dan lain-lain dengan menggunakan istilah Jerman. 35 Ibid. diunduh dari http://www.fh.id/old_version/CITANEGARAHUKUMINDONESIA.hlm. Sementara itu A. yaitu: 1) perlindungan hak asasi manusia.V.7 … and finally. Dicey menguraikan adanya tiga ciri penting dalam setiap Negara Hukum yang disebutnya dengan istilah “The Rule of Law”. op.36 Pada perkembangannya negara tidak dapat lagi bersikap netral dan membiarkan Di zaman modern. konsep Negara hukum dikembangkan atas kepeloporan A. maka parlemen atau rakyatlah merupakan instansi tertinggi. Bahkan. 2) Equality before the law. hlm. karena dalam tipe tersebut.. Disebut sebagai penjaga malam. konsep Negara Hukum yang disebutnya dengan istilah ‘rechtsstaat’ itu mencakup empat elemen penting. pada 8/24/2009 9:38:03 AM. makalah disampaikan dalam acara Orasi ilmiah Pada Wisuda Sarjana HukumFakultas Hukum Universitas Sriwijaya Palembang..” Jadi dalam mengartikan “the rule of law” di Inggris. Julius Stahl.V.V. explains the absence od adiministrative law. 23 Maret 2004.unsri. dan 4) Peradilan tata usaha Negara. Sedangkan dalam tradisi Anglo Amerika.ac.

. tujuan penyelenggaraan negara. Tetapi sekarang negara harus memasuki aktivitas yang lebih luas. jarak yang jauh antara pusat pemerintahan dengan bagian-bagian daerah yang harus diperintah di sisi lain. 27. . negara hanya bertindak sesekali dan sebagai pelengkap (incidenteel en aanvullend). di antaranya adalah ”liberty. dan fraternity” (revolusi Perancis) dan “The greates happiness for the greatest number” (Bentham). yaitu campur tangan negara ke dalam masyarakat. keterbukaan dan penggugatan. Ini menimbulkan konsep “negara kesejahteraan” (welfare state). Robson. dan kepemilikan (eigendom) negara. perencanaan. seperti pembuatan undang-undang dan pembuatan undang-undang semu (pseudo). Dalam hukum administrasi tradisional.8 individu-individu atau masyarakat menyelesaikan sendiri-sendiri problemproblem tersebut. de door het industriele kapitalisme veranderde samenleving ongemoeid laten. kelahiran konsep negara kesejahteraan didahului oleh rentetan ide-ide panjang. sangat mengubah pekerjaan-pekerjaan yang biasa dilakukan oleh hukum administrasi tradisional.37 Penyelenggaraan pemerintahan negara yang baik adalah yang dapat menampung aspirasi dan kebutuhan masyarakat sampai ke pelosok wilayah negara. door als neutral toeschouwer op te stellen. Menurut William A. mempertimbangkan pertama. equality. Satjipto kemudian mengutip dari de Haan et al bahwa menyerahkan penyelesaian kepada mekanisme pasar sosial akan menempatkan golongan lapisan bawah (the have not) dalam masyarakat sebagai pihak yang sangat menderita (“De staat mocht niet langer. yaitu kesejahteraan rakyat di satu sisi. hlm. perjanjian. maar behoorde zich daadwerkelijk de belangen van de achtergestelde groepen in die samenleving aan te trekken. Naast de traditionele overheidstaken vroegen nieuwe terreinen om ordening en verzorging van staatswege”). Perubahan tersebut. dan kedua. Oleh karena itu menurut Ateng Syafrudin perlu diadakan pembagian 37 Ibid.

untuk dilaksanakan. sedangkan desentralisasi fungsional menjelma dalam bentuk badan-badan yang didasarkan pada pada tujuan-tujuan tertentu (doelcorporaties). 39 Bagir Manan. Bagir Manan menjelaskan 39 desentralisasi dengan menggunakan pendapat Van Der Pot.38 Pembagian-pembagian kerja urusan penyelenggaraan pemerintahan tersebut yang kemudian mengarah kepada proses desentralisasi. desentralisasi fungsional. Hubungan .40 Ateng Syafrudin. Desentralisasi teritorial menjelma dalam bentuk badan yang didasarkan pada wilayah (gebeidscorporatis). 72.9 kerja secara teritorial di samping pembagian kerja secara fungsional.. Irawan Soejito membedakan desentralisasi menjadi desentralisasi teretorial. Desentralisasi administratif atau dekonsentrasi (ambtelijk decentralisatie) terjadi apabila “Pemerintah melimpahkan sebagian kewenangannya kepada alat perlengkapan atau organ Pemerintah sendiri di daerah. dan Belifante. Kapita Selekta Hakikat Otonomi dan Desentralisasi dalam Pembangunan Daerah. Dengan penggolongan yang sedikit berbeda. op. 20-21 40 Ibid. desentralisasi administratif (dekonsentrasi). Yogyakarta. yaitu desentralisasi teritorial dan desentralisasi fungsional. hlm. hlm 21 38 .cit.. desentralisasi dibagi menjadi dua macam. hlm. Menurut pakar Hukum Tata Negara Belanda ini. Steenbeek. Citra Media Hukum. Desentralisasi teretorial berbentuk otonomi dan tugas pembantuan. 2006.. yakni pejabat-pejabat Pemerintah yang ada di daerah. JM de Meij. Bagan 1: Pembagian desentralisasi menurut Van der Pot Pendapat dari Van der Pot ini diikuti antara lain oleh FAM Stroink.

Amrah Muslimin. Desentralisasi politik adalah “pelimpahan kewenangan dari Pemerintah Pusat yang menimbulkan hak mengurus rumah tangga sendiri bagi badan-badan politik yang ada di daerah-daerah yang dipilih oleh rakyat dalam daerah-daerah tertentu. 43 Ibid. 1986. Aspek-Aspek Hukum Otonomi Daerah. 2. membedakan desentralisasi menjadi desentralisasi politik41. desentralisasi fungsional desentralisasi kebudayaan. 41 . Dekonsentrasi. Pembagian desentralisasi menurut Irawan Soejito Irawan Soejito mengatakan bahwa dekonsentrasi merupakan bagian dari desentralisasi. dan merupakan pelunakan sentralisasi menuju desentralisasi.42 Pembahasan tentang pemerintahan di daerah tidak akan lepas dari asas kedaerahan dalam pemerintahan. Menurutnya asas kedaerahan mengandung dua macam prinsip pemerintahan. merupakan pelimpahan wewenang kepada badan-badan dan golongan-golongan dalam masyarakat dalam daerah tertentu untuk mengurus rumah tangganya sendiri.10 Bagan 2. Desentralisasi. hlm 5 42 Ibid. Bandung. yaitu :43 1. Pakar hukum lainnya. lihat Amrah Muslimin. Alumni. merupakan pelimpahan sebahagian kewenangan pemerintah pusat pada alat-alat pemerintah pusat yang ada di daerah.

Ambtelijke decentralisatie atau deconsentratie. Penelitian ini menggunakan pengertian desentralisasi dalam arti sempit. b. 44 desentralisasi. tkan bahwa desentralisasi terbagi dalam arti luas dan arti sempit. zelfbestuur. Staatkundige atau Politieke decentralisatie. tambahan Colloge mengenai pembagian 1947 . Pemilihan tersebut diambil sebagaimana yang digunakan oleh Bagir Manan dalam menggali gagasan-gagasan dasar pola hubungan antara Pusat dan Daerah dalam Undang-Undang Dasar 1945. … 44 . Lingkup staatkundige decentralisatie dibagi dua. Handsout dan Course Material Hukum Pemerintahan Daerah. 2) fungctionele decentralisatie. 1.45 Ateng Syafrudin. 45 Bagir Manan. Bentuk dari territoriale decentralisatie adalah autonomie dan medebewind yang kadang-kadang disebut juga sebagai medebestur. Pembagian desentralisasi menurut Amrah Muslimin Sebagai Logemann. Syafrudin mengemukakan bahwa desentralisasi dalam arti luas terdiri dari: a. hlm. Pengertian otonomi di sini sama dengan isi dari staatkundige atau politiche decentralisatie. selfgovernment. hlm. Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. Ateng dari aantekemingen.11 Bagan 3... Hubungan…. op. Isinya adalah kewenangan membuat peraturan (regelende bevoegheid) dan kewenangan membuat keputusan atau mengurus (bestuurende bevoegheid).cit. Program Studi Hukum Tata negara. yaitu: 1) territoriale decentralisatie.

. dan Negara hukum. op..cit. Metode Pendekatan 46 Bagir Manan. dan demokratisasi di sisi lain sebagai upaya mencapai tujuan bernegara yaitu kesejahteraan rakyat. .. Penelitian ini menjelaskan dan menganalisa pengaturan beserta asas-asas yang berkenaan dengan hubungan antara Pemerintah Pusat dengan Daerah yang berlaku di Indonesia. Hubungan Pusat…. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan langkah-langkah penelitian untuk memperoleh data atau bahan dan analisis sebagai berikut: 1.12 Dalam kaitan ini Bagir Manan menguraikan mengenai kaitan desentralisasi. hlm. Jenis/ Spesifikasi Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analisis. E. Dengan demikian perlu dicari titik temu antara keutuhan Negara Kesatuan di satu sisi. Kegunaan Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi para Anggota Dewan Perwakilan Daerah sebagai tambahan pengetahuan mengenai hubungan pusat dan daerah. kerakyatan. yang tidak kalah penting untuk dicermati adalah bahwa pola hubungan antara Pusat dan Daerah tidak dapat terlepas dalam bingkai Negara Kesatuan. F. 2. 39. hubungan Pusat dan Daerah akan dipengaruhi oleh:46 1) Sampai sejauh manakah desentralisasi diterima sebagai cara terbaik untuk mewujudkan suatu pemerintahan yang berkedaulatan rakyat dengan partisipasi luas dari anggota masyarakat? 2) Sampai sejauh mana desentralisasi dipandang sebagai cara untuk menjamin dan mewujudkan Negara hukum? 3) Sampai sejauh mana desentralisasi dipandang sebagai cara untuk mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat? Lebih dari hal tersebut.

hlm. Pendekatan yuridis normatif47 adalah pendekatan dengan melakukan penelitian secara mendalam terhadap hukum yang berlaku. penerbit. dan peraturan yang secara tidak langsung terkait. dan tahun penerbitan tidak tercantum. Pengantar Metode Penelitian Hukum. 2006. yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat. Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Tahun 2007. PT RajaGrafindo. seperti peraturan terdahulu.13 Penelitian ini menggunakan metode pendekatan yuridis normatif. hlm.48 3. yaitu bahan yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer. Penelitian Hukum Normatif.50 Bahan hukum ini meliputi antara lain Undang-Undang Dasar 1945 dan UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 beserta peraturan pelaksana. 14 49 Pedoman Penyelenggaraan Program Pendidikan Sarjana (S1). Jakarta. 31-32. hlm. Teknik Pengumpulan data Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut: a. 72. Pengantar Penelitian Hukum. PT RajaGrafindo Persada. hlm. kota. perubahanperubahan. 2006. 3) Bahan hukum tersier. dan ensiklopedia. Di antara cakupan dari penelitian hukum normatif tersebut. 51 Ibid.51 seperti rancangan undang-undang. Studi Pustaka Penelitian ini dilakukan dengan penelusuran terhadap bahan-bahan hukum. 2) Bahan hukum sekunder. Penelitian Lapangan Lili Rasjidi dan Liza Sonia Rasjidi.49 meliputi: 1) Bahan hukum primer. 52 Amiruddin dan Zainal Asikin. Jakarta. hlm. 52. atau pendapat para pakar hukum. Monograf. yaitu bahan yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder seperti kamus. 48 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji. 47 . penelitian ini akan dilakukan terhadap asas-asas hukum. dan taraf sinkronisasi vertikal dan horisontal. Menggunakan Teori dan Konsep Dalam Analisis di Bidang Ilmu Hukum. 6. Jakarta. hasil-hasil penelitian. 50 Soerjono Soekanto. UI-Press. sistematika hukum.52 b.

Alumni. Pengolahan dan Analisis Data Bahan penelitian yang telah diperoleh. hlm. Bandung. 53 .14 Penelitian lapangan dilakukan untuk mendukung penelitian kepustakaan dengan cara menyelenggarakan diskusi terfokus (focused group discussion-FGD). G. yakni dengan menggunakan penafsiran hukum53 dan selanjutnya dituangkan secara deskriptif yaitu bersifat menggambarkan masalah. dalam Sudikno Mertokusumo dan Pitlo. Yogyakarta. 4. Alur Penelitian Penelitian hukum normatif tidak dapat terlepas dari berbagai penafsiran yang dikenal dalam ilmu hukum. hlm. 2006. Lihat juga Sunaryati Hartono. selanjutnya dianalisis dengan menggunakan analisis kualitatif. Penelitian Hukum di Indonesia Pada Akhir Abad Ke-20. Citra Aditya Bakti. Bab-Bab Tentang Penemuan Hukum. 1993. 37. 152.

33/2004 Hubungan Kewenangan Hubungan Kelembagaan Hubungan Keuangan UU Sektoral Hubungan Pengawasan Pembagian Urusan Pemerintahan • Pembentukan Daerah • Organisasi Perangkat Daerah Dana Perimbangan Dana Tugas Pembantuan • Pengawasan Pembentukan Perda • Pengawasan Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Negara Kesatuan Hubungan Pusat Daerah Demokrasi Negara Hukum D e s e n t r a l i s a s i Otonomi U U D 1 9 4 5 Tugas Pembantuan .15 Bagan 5. Alur Penelitian UU No.32/2004 dan pelaksanaann ya UU No.

S. M.H.H. S. S. Agus Kusnadi. Rahayu Prasetianingsih.H.M.H. tujuan penelitian.H. M. Tenaga Pendukung : Hernadi Affandi.H. rumusan masalah. tujuan penelitian. dan teori desentralisasi.D.H. H. Rosjidi Ranggawidjaja.H. DR. Ph. M. S.H.. M.... demokrasi. Susi Dwi Harijanti.H. Kuntana Magnar.. Personalia Penelitian Ketua Wakil Sekretaris Anggota : : : DR.H.H.H.H.H. Negara Hukum. Ali Abdurahman.. Bab III Deskripsi Hubungan Antara Pusat dan Daerah Dalam Bab ini akan dikemukakan mengenai pengaturan mengenai hubungan antara Pusat dan Daerah dalam empat dimensi... I Gde Pantja Astawa.. yaitu hubungan . I. Sistematika Penulisan Bab I Pendahuluan Dalam Bab ini akan dikemukakan mengenai latar belakang. kerangka pemikiran. DR.16 H. Indra Perwira. LL. S.M. H. S. S. LL.... S.S. Inna Junaenah. Prof. S.. LL. S. Miranda Risang Ayu. M.H. M. Bab II Prinsip-Prinsip Umum Pola Hubungan Pusat Dan Daerah Dalam Bab ini akan dikemukakan mengenai teori-teori umum yang mendasari penyelenggaraan pemerintahan daerah yang meliputi prinsipprinsip negara Kesatuan. S.. Bilal Dewansyah. kegunaan penelitian.M. dan metode penelitian.H.H.

. keuangan. kelembagaan. Bab V Kesimpulan dan Rekomendasi Dalam Bab ini akan digarisbawahi berbagai telaah terhadap hubungan Pusat dan daerah melalui kesimpulan. Bab IV Tinjauan Dimensi-Dimensi Hubungan Antara Pusat dan Daerah Bab ini berisi analisa terhadap pengaturan dan problematika empat dimensi pola hubungan antara Pusat dan Daerah dalam perpektif prinsip-prinsip pemikiran yang mendasarinya. dan pengawasan. yang akan disertai dengan rekomendasi sebagai gagasan-gagasan reformasi pola hubungan antara Pusat dan Daerah di masa yang akan datang.17 kewenangan. disertai permasalahan hubungan antara Pusat dan Daerah pada empat dimensi tersebut.

sementara provinsi-provinsi menerima kekuasaan dari pemerintah pusat.54 Dikatakan bahwa negara kesatuan adalah negara yang diorganisasi di bawah satu pemerintahan pusat. Bandung. suatu negara disebut negara kesatuan apabila kekuasaan hanya dipegang oleh pemerintah pusat. Kekuasaan pusat adalah kekuasaan tertinggi di atas seluruh negara tanpa ada batasan yang ditetapkan hukum yang memberikan kekuasaan khusus pada bagian-bagiannya. Cetakan Kedua. Dalam hal ini dapat dikemukakan pemikiran dari CF Strong mengenai deskripsi suatu negara kesatuan. 87. 2008. dan provinsi-provinsi tersebut tidak mempunyai hak C. A. hlm. Artinya. “Unitarisme” dalam pengertian politik didefinisikan dengan baik oleh Dicey sebagai “pelaksanaan kebiasaan otoritas legislatif tertinggi oleh satu kekuasaan pusat”. Nusamedia.18 BAB II PRINSIP-PRINSIP UMUM POLA HUBUNGAN PUSAT DAN DAERAH Pilar-pilar yang perlu diketengahkan dalam membangun pola hubungan pusat dan daerah sedikitnya dibentuk dari prinsip negara kesatuan. yang dikutip oleh Tim Penyusun buku “Otonomi atau Federalisme”. Konstitusi-Konstitusi Politik Modern: Studi Perbandingan tentang Sejarah dan Bentuk-Bentuk Konstitusi di Dunia. Negara Kesatuan Uraian mengenai konsep negara kesatuan perlu diketengahkan untuk membedakan pembagian kekuasaan secara vetikal dengan negara berbentuk federasi. Sementara itu menurut Apeldoorn. Strong. 54 . kedaulatan rakyat. dan negara hukum. Dengan demikian perlu dipahami terlebih dahulu mengenai prinsip-prinsip yang terkandung dalam masing-masing dasar pemikiran tersebut untuk menghantarkan kemunculan hubungan antara pemerintah pusat dengan satuan pemerintahan yang lebih rendah.F. kekuasaan apapun yang dimiliki berbagai distrik di dalam wilayah yang dikelola sebagai suatu keseluruhan oleh pemerintah pusat harus diselenggarakan menurut kebijakan pemerintah itu.

Municipal Government In Indonesia Policy. Genta Publishing. Pertumbuhan Pemerintahan Daerah di Negara Republik Indonesia..58 Di Inggris.19 mandiri. Yogyakarta. 1999. B. Mei 2009. 58 Satjipto Rahardjo. 21. 55 . terdapat dua kewenangan/urusan pemerintah yakni yang dipusatkan dan atau dipencarkan. wilayah negara menjadi semakin luas. 56 Nicole Niessen. 8. maka penyelenggaraan pemerintahan di daerah. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta. yang tidak netral terhadap politik. untuk melaksanakan urusan-urusan pemerintahan pusat yang ada di daerah. 59 Ibid. 8-9. Neumann (1986) yang dikutip oleh Satjipto Rahardjo mengatakan bahwa perkembangan negara hukum di Inggris berbeda daripada Eropa daratan. hlm. 109. and Amerindian Studies. hlm. hlm. 14.59 Parlemen berhak untuk melakukan apa saja. “… that the souvereignity of Parliament furthers the rule of the land… prevent those inroads upon the law of the land which a despotic monarch … might effects Tim Penyusun. Universitiet Leiden. African. Serta warga negaranya semakin banyak dan heterogen. Menurut Dicey. cetakan II. lihat pula The Liang Gie. ditinjau dari sudut pembagian kewenangan. hlm. Research School CNWS School of Asian. hlm. yang terdapat dua dan kewenangan/urusan pemerintah tersentralisasi kewenangan/urusan pemerintah yang didesentralisasikan. termasuk pada waktu melakukan realisasi rule of law. Yogyakarta. Harian Suara Pembaharuan.56 Dalam negaranegara dengan bentuk negara kesatuan (unitary state).57 Sementara itu setelah negara-negara di dunia mengalami perkembangan yang sedemikian pesat. Liberty. yaitu pelimpahan wewenang dari pemerintah pusat kepada pejabat-pejabatnya di daerah.55 Dalam negara-negara dengan bentuk negara kesatuan (unitary state). dampaknya terhadap Perekonomian.. 1995. sejak semula doktrin Rule of Law tidak dipisahkan dari doktrin supremasi parlemen. Otonomi atau Federalisme. urusan pemerintahannya menjadi semakin kompleks. Edisi Kedua. 57 Ibid. law and Practice of Decentralization and Urban Planning. ditinjau dari sudut pembagian yakni kewenangan. Negara Hukum yang Membahagiakan Rakyat. 2000. Negara Hukum Selanjutnya pilar yang lain yang secara konsitusional diakui oleh Indonesia adalah negara hukum. Jilid III. The Netheralands.

yaitu: 1) perlindungan hak asasi manusia. hlm.V.id/old_version/CITANEGARAHUKUMINDONESIA.V.cit. “The monopoly of legislation by Parliament. 2) Equality before the law.Doc.unsri. the House of Lords. 3) pemerintahan berdasarkan undang-undang. dan 4) Peradilan tata usaha Negara. Sementara itu A. 23 Maret 2004. hlm.20 by ordinance or decrees… “60 Selanjutnya dikatakan. makin 62 dirasakan mutlak diperlukan dalam setiap negara Negara hukum yang muncul di abad ke-sembilan belas adalah tipe negara hukum sebagai “penjaga malam” (nachtwakersstaat). diunduh dari http://www.. makalah disampaikan dalam acara Orasi ilmiah Pada Wisuda Sarjana Hukum Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya Palembang. 9. with the balance between the House of Commons. hlm. Jimly Asshidiqie. Dicey menguraikan adanya tiga ciri penting dalam setiap Negara Hukum yang disebutnya dengan istilah “The Rule of Law”.” Jadi dalam mengartikan “the rule of law” di Inggris.63 Pada Ibid. Menurut Julius Stahl yang dikutip oleh Jimly Asshidiqie61.ac. konsep Negara Hukum yang disebutnya dengan istilah ‘rechtsstaat’ itu mencakup empat elemen penting. tindakannya dibatasi hanya sampai kepada penjaga ketertiban dan keamanan. and the king. oleh “The International Commission of Jurist”. op. Cita Negara Hukum Indonesia Kontemporer. also strengthens the power of the judges … and finally.. 61 60 . 2) pembagian kekuasaan. Negara Hukum ….fh. prinsipprinsip Negara Hukum itu ditambah lagi dengan prinsip peradilan bebas dan tidak memihak (independence and impartiality of judiciary) yang di zaman sekarang demokrasi. Bahkan. Keempat prinsip ‘rechtsstaat’ yang dikembangkan oleh Julius Stahl tersebut di atas pada pokoknya dapat digabungkan dengan ketiga prinsip ‘Rule of Law’ yang dikembangkan oleh A. pada 8/24/2009 9:38:03 AM. yaitu: 1) Supremacy of Law. 63 Satjipto Rahardjo. maka parlemen atau rakyatlah merupakan instansi tertinggi. Dicey untuk menandai ciri-ciri Negara Hukum modern di zaman sekarang. karena dalam tipe tersebut. explains the absence od adiministrative law. 26. 62 Ibid. 1-2. dan 3) Due Process of Law. Disebut sebagai penjaga malam.

Satjipto kemudian mengutip dari de Haan et al (1978) bahwa menyerahkan penyelesaian kepada mekanisme pasar sosial akan menempatkan golongan lapisan bawah (the have not) dalam masyarakat sebagai pihak yang sangat menderita (“De staat mocht niet langer. Wade yang dikutip oleh Munir Fuadi65 berpendapat bahwa implikasi dari penerapan konsep tersebut dalam suatu negara akan mengarahkan para penyelenggara negara ke dalam prinsip-prinsip dan otoritas sebagaai berikut: 64 65 Ibid. seperti pembuatan undang-undang dan pembuatan undang-undang semu (pseudo). di antaranya adalah ”liberty. 1978). equality. Refika Aditama. dan fraternity” (revolusi Perancis) dan “The greates happiness for the greatest number” (Bentham). yaitu campur tangan negara ke dalam masyarakat. 27. hlm. Menurut William A. negara hanya bertindak sesekali dan sebagai pelengkap (incidenteel en aanvullend). Perubahan tersebut. perencanaan. kelahiran konsep negara kesejahteraan didahului oleh rentetan ide-ide panjang. dan kepemilikan (eigendom) negara. maar behoorde zich daadwerkelijk de belangen van de achtergestelde groepen in die samenleving aan te trekken. sangat mengubah pekerjaan-pekerjaan yang biasa dilakukan oleh hukum administrasi tradisional. Ini menimbulkan konsep “negara kesejahteraan” (welfare state). Naast de traditionele overheidstaken vroegen nieuwe terreinen om ordening en verzorging van staatswege”). Teori Negara Hukum Modern (Rechtsstaat). hlm. keterbukaan dan penggugatan (de Haan. Robson..21 perkembangannya negara tidak dapat lagi bersikap netral dan membiarkan individu-individu atau masyarakat menyelesaikan sendiri-sendiri problemproblem tersebut.64 Kembali kepada pembicaraan mengenai rule of law. de door het industriele kapitalisme veranderde samenleving ongemoeid laten. Dalam hukum administrasi tradisional. 2009. Dalam hukum administrasi tradisional. perjanjian. 9 . Tetapi sekarang negara harus memasuki aktivitas yang lebih luas. Munir Fuady. Bandung. door als neutral toeschouwer op te stellen.

sistem pemerintahan yang kondusif terhadap 66 67 Ibid. aturan hukum yang baik. dapat ditambahkan bahwa konsep ini tidak dapat dipisahkan dengan konsep good governance. . sistem pemerintahan yang dapat menciptakan masyarakat yang cerdas dan egaliter. sehingga hasilnya dapat menguatkan atau menyatakan batal. efisien. Munir Fuady menjelaskan lebih jauh pranata ini sebagai lembaga khusus untuk melakukan penunjauan ulang. badan yudikatiflah yang yang harus memutuskannya. Kedua. Lebih lanjut mengenai pelaksanaan rule of law dalam penyelenggaraan pemerintahan. Ibid. serta para stakeholders lainnya. 2. pengadilan. Keempat. accountable. 79. Mengenai peran badan peradilan ini. Badan-badan politik (terutama parlemen) menentukan rincian mekanisme rule of law. Jika ada dispute. hlm. yakni seperangkat mekanisme yang secara langsung mendukung upaya penegakan aturann hukum. pers. Ketiga. transparan. 81. hlm. sistem pemerintahan yang efektif. pemerintah. Penyelenggaraan kewenangan oleh penyelenggaran negara haruslah selalu sesuai dengan hukum yang berlaku.66 3. jujur. law enforcement yang baik. Pelaksanaan konsep rule of law lebih menghendaki adanya suasana penghormatan kepada “hukum dan ketertiban” (law and order). Fuady menunjukkan hal tersebut melalui beberapa faktor utama yang berpengaruh satu sama lain dalam menerapkan 67 prinsip good governance ke dalam suatu pemerintahan. baik yang bersifat substantif.. muncul pranata hukum yang disebut judicial review. parlemen. maupun secara prosedural. dengan jalan menerapkan atau menafsirkan ketentuan dan semangat dari konstitusi.22 1. Kelima. warga lingkungan hidup.. dan berwawasan hak asasi manusia. terkait Pertama. dalam rangka untuk menjaga tertib hukum dengan melihat konsistensinya terhadap konsitusi. menambah atau mengurangi terhadap suatu tindakan berbuat atau tidak berbuat dari aparat pemerintah (eksekutif) atau dari pihak-pihak lainnya (termasuk parlemen). yakni seperangkat aturan masyarakat.

mekanisme pengambilan keputusan serta demokrasi ekonomi. Melalui penelitian yang dilakukan oleh Amos J. 2005. “demos” berarti rakyat dan “kratia” berarti pemerintahan. hlm.F. 69 68 .68 C. sedikitnya dapat dikemukakan bahwa demokrasi diterapkan dalam dimensidimensi instrumen mekanisme pemerintahan. dari 83 UUD negara-negara yang diperbandingkannya terdapat 74 negara yang konstitusinya secara resmi menganut prinsip kedaulatan rakyat (90%). 1. C. Konstitusi Dan Konstitusionalisme Indonesia.69 Terkadang digunakan untuk menyebut suatu bentuk pemerintahan dan terkadang dikonotasikan dengan kondisi suatu masyarakat.cit. artinya. Dari penelusuran sementara yang berkaitan dengan demokrasi. media massa. 80..Strong. op. hlm.F. hlm. program politik partai. dan lain-lain. ketika nasionalisme menjadi dasar bagi demokrasi politik maka pemerintahan politik yang demokratis menjadi instrumen kemajuan sosial. Demokrasi Istilah demokrasi menurut C. Strong diartikan secara beragam. 17. Demikian juga sebaliknya bahwa pelaksanaan prinsip negara hukum yang baik harus selalu memperhatikan dan melaksanakan prinsip good governance. 140.23 pertumbuhan ekonomi dan pemerataan. Peaslee pada tahun 1950. ekspresi persetujuan maupun ketidaksetujuan rakyat sudah harus memiliki sarana penyaluran yang nyata dalam pemilihan umum. 71 Demokrasi berasal dari kata “demokratia”. Konstitusi-Konstitusi …. Namun di dunia kontemporer.70 Istilah demokrasi71 telah Ibid. Jakarta. Dengan gambaran tersebut Fuady hendak menegaskan bahwa pelaksanaan tata kelola pemerintahan yang baik harus mengindahkan prinsip-prinsip negara hukum. 70 Jimly Asshiddiqie. Konstitusi Press. Instrumen mekanisme pemerintahan Demokrasi sebagai bentuk penyelenggaraan negara telah dipraktekan hampir di setiap negara. Di sinilah letak keterkaitannya dengan demokrasi politik yang mengisyaratkan pemerintah harus bergantung pada persetujuan pihak yang diperintah.

oleh rakyat dan bersama rakyat. 2007. perkembangan diri manusia dan perlindungan terhadap nilai (harkat dan martabat) kemanusiaan.”72 Dalam perkembangan istilah demokrasi kemudian ada yang disebut “participatory democracy”.untuk mencapai persamaan (equality) secara politik yang mencakup tiga tujuan utama : kebebasan manusia (secara individu dan kolektif).73 Dari pengertian tersebut dapat menunjukan demokrasi sebagai instrumen mekanisme pemerintahan. and seeks to broaden the range of people who have access to such opportunities…http://en.Hak Angket Dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia Menurut UUD 1945. hlm. “Participatory democracy” menambahkan kata “bersama” sehingga dari rakyat.24 menjadi bahasa umum yang digunakan oleh negara-negara untuk menunjukan suatu bentuk penyelenggaraan negara yang dianggap ideal. mengantarkan pengertian demokrasi yaitu. Nusamedia. Op Cit.wikipedia. 75 Eddy Purnama.org/wiki/Participatory_democracy diunduh tanggal 27 Agustus 2009 74 I Gde Pantja Astawa. oleh rakyat dan untuk rakyat. untuk rakyat. Disertasi. dalam penjelasan Eddy Purnama. hlm 70. 66. demokrasi hanyalah sarana. pemerintahan dari rakyat. “Pemerintahan dari rakyat yaitu mereka yang duduk sebagai penyelenggara negara atau pemerintahan harus terdiri dari seluruh rakyat itu sendiri atau yang disetujui dan didukung oleh rakyat. I Gde Pantja Astawa. Oleh rakyat maksudnya bahwa penyelenggara negara atau pemerintahan dilakukan sendiri oleh rakyat atau atas nama rakyat yang mewakili sedangkan untuk rakyat maksudnya pemerintahan dijalankan atau berjalan sesuai dengan kehendak rakyat. 73 Participatory democracy strives to create opportunities for all members of a political group to make meaningful contributions to decision-making. Bandung. dalam perkembangannya sulit dilaksanakan jika secara langsung.75 Berdasarkan kenyataan demikian. 72 . Universitas Padjadjaran Bandung.74 Demokrasi sebagai instrumen mekanisme pemerintahan. hlm. Faktor luas wilayah dari suatu negara dan besaran jumlah penduduk serta pertambahan kerumitan masalah kenegaraan merupakan argumen bahwa demokrasi langsung (direct democracy) tidak mungkin untuk dilaksanakan. -bukan tujuan. Paham kedaulatan rakyat sebagai embrio demokrasi. 10. Dalam hubungannya dengan cita-cita. Kedaulatan Rakyat. 1999.

by representatives subject to effective popular control at Ibid.25 muncullah yang dikenal sebagai demokrasi tidak langsung (indirect democracy). 1967. op. PT. 79 Miriam Budiarjo. 419. 1993.. penetapan. Rakyat berdaulat terhadap produk hukum mulai dari perencanaan. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Gramedia Pustaka Utama. Kedaulatan . hlm 61. 80 In Modern democracy. 75. Miriam Budiarjo.. 78 Eddy Purnama. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Cetakan kelima belas. means representative government through elected deputies” Wolfgang Friedmann. 1993.cit. hlm 61. PT. Hal ini diperjelas dalam pengertianpengertian demokrasi yang dikemukakan oleh beberapa ahli berikut :81 Henry B. hlm.. 11. Mekanisme pengambilan keputusan Ide kedaulatan rakyat yang tercermin dalam demokrasi juga meliputi proses pengambilan keputusan baik di bidang legislatif maupun di bidang eksekutif..78 akomodasi seluruh aspirasi rakyat jauh lebih berguna dari unsur di dalam masyarakat harus terwakili di dalam sistem Menurut International Commision of Jurist. Jakarta.79 Demokrasi perwakilan menjadi alternatif terbaik demi tercapainya Representative Government. in modern states. 284.76 Hal semacam ini lazim dinamakan demokrasi perwakilan (representative democracy). London. Gramedia Pustaka Utama. Legal Theory. perwakilan. hlm. hlm. Op Cit. hingga ke pengawasan. This. Jakarta. sistem politik demokratis (demokrasi perwakilan) adalah suatu bentuk pemerintahan di mana hak untuk membuat keputusan-keputusan politik diselenggarakan oleh warga negara melalui wakil-wakil yang dipilih oleh mereka dan yang bertanggungjawab kepada mereka melalui suatu proses pemilihan yang bebas. hlm.80 2. 77 Dalam rangka mewujudkan prinsip kedaulatan rakyat. Majo : ”A democratic political system is one in which public policies are made on majority basis. both ideals individual rights and equality pen find their highest fulfillment and justification in the citizen’s right to participation in government. the Government of the People. 77 76 . 81 I Gde Pantja Astawa. Steven Sons. Cetakan kelima belas. yang pelaksanaan kedaulatan rakyatnya tidak dilaksanakan oleh rakyat secara langsung melainkan melalui lembaga perwakilan rakyat.

” CF Strong : “a system of government in which the majority of the rule grown members of political community participate through a method of representation which secures that the government is ultimately responsible for its actions to that majority. Demokrasi ekonomi 82 CF Strong. Di Indonesia sendiri. Sidgwick & Jackson Limited.26 periodic election which are conducted on the pinciple of politcal equality and under condition of political freedom. hlm. 3. hlm. Modern Political Constitution.” Arthur Lewis “all who are affected by a decision should have the chanc to participate in making that decision.. 148. . Yamin berpandangan bahwa permusyawaratan untuk mencapai mufakat.”82 Dalam paham kedaulatan rakyat yang berdaulat dari segi politik bukanlah person rakyat itu sendiri. sedangkan mufakat bersumber dari tatanan asli Indonesia.83 Proses kehidupan kenegaraan ini termasuk di dalamnya adalah proses pengambilan keputusan.. Konstitusi .84 Musyawarah dilakukan untuk menampung dan memperhatikan semua ide atau pandangan yang ada dan permufakatan menjadi output dari apa yang telah dimusyawarahkan. melainkan proses kehidupan kenegaraan sebagai keseluruhan. hlm. Oleh karena itu.13 83 Jimly Asshiddiqie. 1960. 84 I Gde Pantja Astawa. instrumen pengambilan keputusan yang khas diberlakukan adalah melalui musyawarah mufakat. op. merupakan perpaduan antara dua konsepsi yaitu paham permusyawaratan yang bersumber dari ajaran Islam. Op Cit.cit.. Proses pengambilan keputusan yang demokratis model Indonesia ini disebutkan dengan jelas dalam sila ke – 4 Pancasila. demokrasi dapat juga dikatakan sebagai instrumen pengambilan keputusan.86. London. either directly or through chosen representative.

Jakarta.88 Selengkapnya Hatta mengatakan bahwa tiga sifat utama tersebut adalah: Pertama: cita-cita rapat yang hidup dalam sanubari rakyat Indonesia dari zaman dahulu sampai sekarang.. Demikian yang pengertian demokrasi dari Bung Karno yang tidak sepakat dengan demorkrasi ala barat yang liberal dan didasarkan pada kapitalisme.disemua negeri modern itu kapitalisme subur dan meradjalela! Disemua negeri itu kaum proletar ditindas hidupnja..html diunduh tanggal 27 Agustus 2009.Disemua negeri modern itu kini hidup miljunan kaum penganggur. sehingga politik hanya berlaku secara politik saja.com/9511217. hlm. Jimly Asshiddiqie. 88 Mohammad Hatta. upah dan nasib kaum buruh adalah upah dan nasib kokoro. sehingga negara memegang peranan penting dalam menyejahterakan rakyatnya. No. “Disemua negeri modern itu adalah “demokrasi”. bahkan sengsara sesengsara-sengsara nja. 86 85 . 80. Demokrasi yang demikian ini menurut Bung Karno adalah Demokrasi sosial yang terdiri dari Demokrasi politik ditambah dengan Demokrasi ekonomi. hlm 42.opensubscriber. Rapat ialah tempat rakyat atau utusan rakyat bermusyawarah dan mufakat tentang segala urusan yang bersangkutan dengan persekutuan hidup dan keperluan bersama. http://www. 1980. Di sini tampak dasar demokrasi.87 Demokrasi asli yang ada di desa-desa di Indonesia mempunyai tiga sifat yang utama. Inikah hasilnja “demokrasi” jang dikeramatkan orang?. Masalah Kenegaraan.com/message/mediacare@yahoogroups. op.86 Kedaulatan rakyat tidak hanya di bidang politik namun juga di bidang ekonomi. Kekuasaan bidang politik dan ekonomi dapat dibedakan satu sama lain namun sesungguhnya mempunyai hubungan fungsional yang erat satu sama lain.” Tabloid Fikiran Ra’jat.cit. 18 dan 19 (edisi 4 November). Tetapi. Ke Arah Indonesia Merdeka. Op Cit. hlm. Gramedia..85 Demokrasi politik harus menjamin setiap individu agar memperoleh akses sama dalam setiap kegiatan ekonomi. dalam Miriam Budiardjo (ed).27 Demokrasi sebagai instrumen mekanisme pemerintahan dan instrumen pengambilan keputusan merupakan penjabaran dari demokrasi yang bersifat politik.. pemerintahan rakyat... 147. Konstitusi .-disemua negeri modern itu rakjat tidak selamat. 87 I Gde Pantja Astawa. tahun 1932. yang harus dipakai sebagai sendi Perumahan Indonesia Merdeka”. Lebih jelas lagi Hatta berpendapat bahwa kekurangan demokrasi liberal di Barat adalah karena terlalu dominannya prinsip individualisme.

92 Ibid. Bandung. 2009. Dan demokrasi tidak dapat berlaku. 84. Segaarsy. Demokrasi Kita. yaitu hak rakyat untuk membantah dengan cara umum segala peraturan negeri yang dipandang tidak adil. I Gde Pantja Astawa.28 Kedua: cita-cita massa-protest. Nusamedia. Sanubari rakyat Indonesia penuh dengan rasa-bersama. hlm. 2009. Pikiran-Pikiran tentang Demokrasi dan Kedaulatan Rakyat. hlm. Ni’matul Huda mengatakannya sebagai mendemokratisasi sistem politik dan menyelaraskan pencapaian pembangunan berkelanjutan yang merupakan isu yang selalu ada dalam praktik administrasi publik. Ketiga: cita-cita tolong menolong. kolektiviteit. Sifat kedua yaitu tolong menolong dan gotong royong adalah sendi yang bagus untuk menegakkan demokrasi ekonomi. sepeti sifat hak ulayat atas tanah bukan negeri seumumnya yang berhak melainkan desa. 93 Ni’matul Huda. Dalam hak ini tercantum hak rakyat untuk merdeka bergerak dan merdeka berkumpul. cetakan kedua. 70. Bandung. yaitu mengambil keputusan secara mufakat dengan musyawarah. hlm. 91 Mohammad Hatta. Op Cit. namun menurut Hatta asas kolektivisme yang dimaksudkannya bukanlah kolektivisme yang berdasar sentralisasi (satu pimpinan dari atas). hlm 42-43. adalah dasar dari demokrasi politik. Hak ini besar artinya terhadap kepada pemerintahan despotisme atau autokrasi yang tersusun di atas pundak desa-demokrasi.91 Sifat pertama. Di atas sendi yang pertama dan kedua dapat didirikan tiang-tiang politik daripada demokrasi yang sebenarnya: satu pemerintahan negeri yang dilakukan oleh rakyat dengan perantaraan wakil-wakilnya atau Badan-badan Perwakilan.90 Dalam pemikiran mengenai bagaimana demokrasi bagi Indonesia. Muhammad Hatta mengingatkan bahwa masyarakat asli Indonesia mempunyai sifat dasar dalam segala hal mengenai kepentingan hidup bersama. 66. Di atas sendi yang ketiga dapat didirikan tonggak demokrasi ekonomi. 69.89 Walaupun menolak individualisme pada Demokrasi Barat. Hukum Pemerintahan Daerah. melainkan desentralisasi yaitu tiap-tiap bagian berhak menentukan nasibnya sendiri.92 Dihubungkan dengan desentralisasi.93Demokrasi yang lazim pula disebut dengan Ibid. 90 89 . kalau tidak ada hak rakyat untuk mengadakan protes bersama. hlm.

desentralisasi hanya mencakup pemencaran kekuasaan di bidang otonomi. hlm. 2007.94 Sejalan dengan perputaran waktu. 2001. op. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah. 98 Ibid.. yaitu ambtelijke decentralisati/deconsentratie (dekonsentrasi) dan staatkundige decentralisatie (desentralisasi ketatanegaraan).. Visimedia. Du Contract Social (Perjanjian Sosial). hlm 11. 99 Ibid. tidak pernah ada demokrasi yang nyata dan tidak akan pernah ada demokrasi. Desentralisasi Bagir Manan menjelaskan bahwa secara umum desentralisasi merupakan ‘bentuk atau tindakan memencarkan kekuasaan atau wewenang dari suatu organisasi.15 95 94 . hlm 10. hlm 10.29 kedaulatan rakyat memandang bahwa kekuasaan itu berasal dari rakyat.100 Sementara desentralisasi ketatanegaraan yang merupakan penyerahan kekuasaaan Eddy Purnama.cit. 113. Binacipta. Yogyakarta. Kedaulatan . 96 Jean Jacques Rousseau. hlm. sehingga dalam pelaksanaan tugasnya pemerintah harus berpegang pada kehendak rakyat. jabatan.98 Dalam kaitan dengan pemerintahan otonom...96 D. 97 Bagir Manan. Pengantar Ke Arah Sistim Pemerintahan Daerah Di Indonesia. Pusat Studi Hukum Fakultas Hukum UII.99 Koesoemahatmadja menguraikan bahwa desentralisasi terbagi dua. atau pejabat’.. 1.97 Lebih lanjut Bagir Manan berpendapat bahwa desentralisasi bukan merupakan asas penyelenggaraan pemerintahan daerah. desentralisasi dan sistem rumah tangga daerah.95 Dengan demikian menjadi sejalan dengan apa yang dicatat oleh Rousseau bahwa jika kita menempatkan istilah ini dalam pemahaman yang kaku. konsep demokrasi juga mencari bentuk yang sesuai dengan situasi dan kondisi dari masyarakat modern. hlm. 100 RDH Koesoemahatmadja. Jakarta. 10 Ibid. melainkan suatu proses. Bandung. Kajian Teori Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Dalam upaya memahami hubungan kewenangan antara pusat dan daerah akan digunakan dua teori yakni. 1979.

. sebagaimana dikutip oleh Bagir Manan. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah. Demikian pula.. Van Der Pot. tetapi otonomi tidak sama dengan desentralisasi. desentralisasi 103 fungsional dan desentralisasi administratif (dekonsentrasi). op. Pusat Studi Hukum Fakultas Hukum UII.. 103 Bagir Manan. Selanjutnya dikatakan bahwa terdapat dua 101 102 Bagir Manan. membagi desentralisasi menjadi desentralisasi teritorial yang menjelma dalam bentuk badan yang didasarkan pada wilayah. hlm 10. Otonomi merupakan salah satu bentuk desentralisasi.102 Pelaksanaan pemerintahan dilakukan baik oleh pusat maupun berbagai badan otonom.. tidak semua peraturan dan penyelenggaraaan pemerintahan dilakukan dari pusat (central).30 perundang-undangan dan pemerintahan (regelende en besturende bevoegheid) kepada daerah otonom. Irawan Soejito. 2001. . sebagaimana dikutip oleh Bagir Manan. desentralisasi teritorial (territoriale decentralisatie) dan desentralisasi fungsional (functionele decentralisatie). Dengan perkataan lain. keduanya masuk dalam lingkup desentralisasi. Menempatkan kedudukan yang sejajar antar desentralisasi dan tugas pembantuan sebagai asas-asas yang terpisah merupakan suatu yang keliru. juga terbagi dua yakni. bahwa desentralisasi adalah otonomi.. Pemikiran di atas memberi pengertian bahwa tugas pembantuan merupakan salah satu bentuk dari desentralisasi. Van der Pot mengemukakan. baik otonomi maupun tugas pembantuan.101 Mengenai desentralisasi. Desentralisasi teritorial mencakup autonomie (otonomi) dan medebewind atau zelfbestuur (tugas pembantuan). Bagir Manan.. Bentuk desentralisasi itu dibedakan antara otonomi dan tugas pembantuan. menjelaskan penggolongan desentralisasi yang agak berbeda. Yogyakarta.cit. op. sedangkan desentralisasi fungsional menjelma dalam bentuk badan-badan yang didasarkan pada tujuan-tujuan tertentu.cit. Hubungan . yang terdiri atas desentralisasi teritorial. hlm 21. Badan-badan otonom ini dibedakan antara desentralisasi desentralisasi berdasarkan fungsional teritorial (territoriale decentralisatie) dan (functionaeele decentralisatie). Hubungan .

hlm 5.. dan lain-lain).108 Terhadap pendapat Amrah Muslimin mengenai desentralisasi kebudayaan di atas. Bandung. .cit.cit. Bagir Manan berpendapat bahwa desentralisasi pada prinsipnya merupakan bentuk dari susunan organisasi negara dan pemberian atau pengakuan hak minoritas untuk mengatur dan mengurus soal agama dan pendidikan di kalangan mereka sendiri lebih tampak sebagai perwujudan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia daripada 104 105 Ibid. hlm 5-6.106 Menurut Bagir Manan pengertian desentralisasi politik tersebut sama dengan desentralisasi teritorial karena faktor ‘daerah’ menjadi salah satu unsurnya. Alumni. Menurutnya desentralisasi terbagi ke dalam tiga golongan. hlm 22. Hubungan . yaitu desentralisasi politik. agama.. yang menimbulkan hak mengurus kepentingan rumah tangga sendiri bagi badan-badan politik di daerah-daerah. 106 Ibid. 107 Bagir Manan. op. yang dipilih oleh rakyat dalam daerah-daerah tertentu”.. Dalam kebanyakan Negara kewenangan ini diberikan pada kedutaan-kedutaan asing demi pendidikan warga negara masing-masing negara dari keduataan yang bersangkutan”.. 108 Amrah Muslimin. desentralisasi fungsional dan desentralisasi kebudayaan.107 Mengenai desentralisasi kebudayaan. Aspek-aspek Hukum Otonomi Daerah. Pandangan pertama mengatakan bahwa dekonsentrasi sebagai salah satu bentuk desentralisasi sedangkan pandangan kedua beranggapan bahwa dekonsentrasi desentralisasi. 1986. Amrah Muslimin mengartikan: “memberikan hak pada golongan-golongan kecil dalam masyarakat (minoritas) menyelenggarakan kebudayaannya sendiri (mengatur pendidikan. Amrah Muslimin.31 pandangan mengenai hubungan antara desentralisasi dan dekonsentrasi. Aspek.... op.105 Desentralisasi politik adalah “pelimpahan kewenangan dari Pemerintah Pusat. merupakan 104 pelunakan sentralisasi menuju ke arah Ahli lain yang melakukan penggolongan desentralisasi adalah Amrah Muslimin.. hlm 21-22..

op.112 Begitu pula dengan Pheni Chalid yang berpendapat bahwa desentralisasi kewenangan pengelolaan pemerintahan berarti beban pembiayaan harus ditanggung sepenuhnya oleh pemerintahan daerah.2002. Hubungan Antara…. berkonsekuensi terhadap pembiayaan penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah oleh pemerintahan daerah.cit. UI-Press. Dalam perspektif ilmu ekonomi. Smith. hlm.32 sebagai bagian susunan organisasi negara. 111 B. Keuangan Pemerintah Daerah Otonom di Indonesia.cit. 113 Pheni Chalid.. 1985. Hubungan .110 Desentralisasi teritorial. 2005. Namun demikian. hlm 26. desentralisasi fiskal diartikan dalam ukuran – 109 110 Bagir Manan. baik secara administrasi dan pemanfaatannya diatur atau dilakukan oleh pemerintah pusat114. Konsekuensi desentralisasi pada pembiayaan urusan pemerintahan daerah pada hakikatnya adalah desentralisasi di bidang keuangan atau desentralisasi fiskal.109 Lebih lanjut dikatakan bahwa pemberian hak kepada kedutaan juga tidak dapat dikategorikan sebagai desentralisasi karena kedutaan bukan bagian dari susunan organisasi di mana kedutaan itu berada. Jakarta.. Seperti dikatakan oleh B. ada yang mengartikan desentralisasi fiskal lebih luas dari sekedar pelimpahan kewenangan di bidang penerimaan. Decentralization The Territorial Dimension of The State. 112 Bagir Manan..C. London. Smith bahwa it is obvious that the exercise of governmental powers at the subnational level entails expenditure by subnational governments. hlm.C. 204. Gerge Allen Unwin. . Investasi. op. hlm vii 114 Bachrul Elmi.. Jakarta.. pemerintahan daerah harus memiliki sumber keuangan sendiri untuk dapat menyelenggarakan rumah tangganya secara mandiri. 99.. Keuangan Daerah. dan Desentralisasi. Kemitraan.111 Hal yang sama juga dikatakan oleh Bagir Manan bahwa hak mengatur dan mengurus rumah tangga sendiri menyiratkan pula makna membelanjai diri sendiri. khususnya otonomi. Ibid. Bahcrul Elmi mengatakan bahwa desentralisasi fiskal dapat diartikan sebagai pelimpahan kewenangan di bidang penerimaan yang sebelumnya tersentralisasi.113 Artinya.

misalnya Oates (1993) mengatakan bahwa peningkatan efisiensi ekonomi merupakan dasar ekonomis dari desentralisasi. maka hal tersebut dapat dilakukan dengan skema hubungan pusat daerah yang sentralistik. A Study of The Relationship Between Fiscal Decentralization and The Composition of Public Expenditures. 22 Tahun 1999 dan UU No. Disertasi. Persoalan desentralisasi fiskal terutama dari aspek ekonomi selalu dikaitkan dengan persoalan efisiensi. dikatakan oleh Joko mengutip pendapat Benyamin Hoesein bahwa “Pola pengaturan hubungan antara Pusat dan Daerah yang semula bersifat sentralistik di masa Orde Baru yang diterjemahkan melalui Undang – Undang No 5 tahun 1974.115 Teori keuangan negara melekatkan desentralisasi dalam rangka mencapai efisiensi pada dua pelaku: konsumen dan produsen. Sementara itu. dimanifestasikan melalui dasar hukum Undang . sepeti dikatakan oleh Bagir Manan bahwa Francisco Javier Arze del Granado. telah dirubah dalam suatu pola hubungan yang lebih bersifat desentralisasi. 25 Tahun 1999).117 Persoalannya. namun juga pada aspek pengeluaran.. 116 Ibid. Departement of Economic Andrew Young School of Policy Studies. 118 Misalnya.118 Padahal. 117 Ibid.Undang No 22 tahun 1999 serta Undang – Undang No 25 tahun 1999. jika tujuan desentralisasi fiskal adalah hanya efisiensi. berhubungan dengan adanya kewenangan daerah atas sumber-sumber penerimaan daerah digunakan untuk membiayai pengeluaran/ belanja sesuai dengan kewenangan daerah. efisiensi dari aspek produsen didefinisikan sebagai keuntungan ekstra yang didapatkan ketika sejumlah pengeluaran yang sama dapat menghasilkan barang dan jasa dengan kuantitas yang besar atau kualitas yang lebih baik. Besaran perubahan yang dikehendaki dalam reformasi tersebut dapat disimak dari pergeseran sejumlah model dan paradigma pemerintahan daerah. atau ketika sejumlah barang dan jasa dapat dihasikan dengan biaya yang lebih rendah. Georgia State University. 2003.33 ukuran keuangan seperti expenditure (pengeluaran/belanja) atau revenue (penerimaan/pendapatan). untuk kasus Indonesia dalam fase awal desentralisasi fiskal (2001-masa efektif pemberlakuan UU No. Atlanta. 14.116 Efisiensi dari aspek konsumen didefinisikan sebagai keuntungan yang didapatkan oleh konsumen dari kebijakan pengeluaran/belanja (negara) yang sesuai dengan preferensi pembayar pajak.hlm. Pengertian desentralisasi fiskal yang tidak hanya pada aspek penerimaan. 13. hlm. dari “structural efficiency model“ yang menekankan efisiensi dan 115 .

122 Hal ini sejalan dengan pendapat Bahcrul Elmi.121 Artinya. 29.119 Otonomi juga berkaitan dengan gagasan demokrasi di mana masyarakat daerah berhak untuk berpartisipasi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerahnya. (cetak tebal oleh Tim Peneliti). di kota.120 Dalam konteks desentralisasi fiskal. efisiensi dalam rangka peningkatan kesejahteraan rakyat dalam sistem desentralisasi. melainkan juga pada tiap tempat. 120 Bagir Manan. 1. 442. . op. karena keperluan tiap-tiao tempat dalam satu negeri tidak sama.cit. fiscal decentralization as ”the empowerment of people by fiscal empowerment of their local govenment” (pemberdayaan masyarakat melalui pemberdayaan fiskal dari pemerintah daerahnya). Jakarta. 26..salah satu makna dari desentralisasi fiskal dalam bentuk otonomi.jadi. Renata R Simatupang. bahwa : ”.depkeu.id/webbkf/kajian%5CPAD. UK-USA.cit. No. bukan saja persekutuan yang besar. http://www. 33.. 122 Ibid. hak rakyat untuk menentukan nasibnya tidak hanya ada pada pucuk pemerintahan negeri.pdf. op.. Blackwell Publishing Ltd. 2008. hanya memungkinkan jika terdapat kebebasan berotonomi.. hlm. “ Potret PAD Dan Relevansinya Terhadap Kemandirian Daerah”. 121 Roy Bahl dalam Jameson Boex. di daerah. karena otonomilah ujung tombak usaha mewujudkan kesejahteraan tersebut. Joko Tri Haryanto. mempunyai hak untuk menentukan nasib sendiri melainkan juga tiap-tiap bagian dari negeri atau bagian dari rakyat yang banyak. 119 Bagir Manan. hlm. bahwa: ”Menurut dasar kedaulatan rakyat. Hatta. pendapat di atas sejalan dengan pendapat Roy Bahl yang mengatakan. tanpa tahun. 4. penerimaan otonomi di bidang keuangan (sebagian sumber penerimaan) keseragaman pemerintahan lokal dirubah menjadi “local democracy model“ dengan penekanan pada nilai-nilai demokrasi dan keberagaman di dalam penyelenggaraan pemerintahan lokal”.go. Diunduh pada tanggal 20 Agustus 2009.. Menyongsong Fajar….34 hakikat dari otonomi yang merupakan wujud desentralisasi adalah kemandirian walaupun bukan suatu bentuk kebebasan sebuah satuan yang merdeka. hlm.. melainkan berlainan”. di desa.fiskal. Keadaan yang seperti itu penting sekali. hlm. bahwa ”as a working definition. Hubungan Antara…. rakyat semuanya. Seperti dikatakan oleh Moh. “Fiscal Decentralisation and Empowerment: Evolving Concepts and Alternative Measures” Journal Compilation Institute of Fiscal Studies Vol. makalah.

35

kepada daerah-daerah merupakan suatu proses mengintensifkan peranan dan sekaligus pemberdayaan daerah dalam pembangunan.123

Desentralisasi fiskal dapat menjadi salah satu ukuran keberhasilan otonomi. Pola dan ukuran dalam desentralisasi fiskal akan mencerminkan derajat otonomi yang dimiliki daerah. Hal ini sejalan dengan pendapat Bird (1986), bahwa: ”...a decentralization measure is the autonomy or power of decision making of regional government. In this context, a fiscal decentralization measure should be able to quantify the amount of independent decesion - making power (or discretion) in the provision of public services at different level of government”.124 Dari berbagai pendapat para ahli di atas mengenai desentralisasi, dapat disimpulkan beberapa hal. Pertama, pengertian desentralisasi yang agak sempit sebagaimana dikemukakan oleh Van Der Pot yang hanya mengklasifikasikan desentralisasi menjadi dua jenis yakni desentralisasi teritorial dan desentralisasi fungsional. Koesoemahatmadja juga termasuk dalam kategori yang membagi desentralisasi agak sempit karena

menurutnya desentralisasi terbagi atas dekonsentrasi dan desentralisasi ketatanegaraan. Kedua, pengertian desentralisasi yang lebih luas dari kategorisasi yang disampaikan oleh Van Der Pot dan Koesoemahatmadja. Dalam kategori kedua ini dijumpai pembagian desentralisasi yang

disampaikan oleh Amrah Muslimin dan Irawan Soejito. Selain desentralisasi teritorial dan fungsional, juga terdapat desentralisasi administratif atau dekonsentrasi. Amrah Muslimin selain membagi kedalam desentralisasi teritorial dan fungsional juga memasukkan desentralisasi kebudayaan. Berbeda dengan kedua ahli lainnya, Amrah Muslimin tidak memasukkan

123

Ibid.

Francisco Javier Arze del Granado, A Study of The Relationship Between Fiscal Decentralization and The Composition of Public Expenditures, Disertasi, Departement of Economic Andrew Young School of Policy Studies, Georgia State University, Atlanta, 2003, hlm.`12.

124

36

dekonsentrasi sebagai salah satu bentuk desentralisasi. Ketiga, pengertian desentralisasi yang lebih sempit dari yang dijelaskan oleh para ahli di atas yakni pengertian desentralisasi menurut UU No. 32 Tahun 2004. Pasal 1 angka 7 menyatakan bahwa desentralisasi adalah “penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Dengan demikian, terlepas dari perdebatan mengenai apakah suatu jenis desentralisasi termasuk pengertian desentralisasi atau bukan, berbagai penggolongan desentralisasi yang disebut-sebut oleh sejumlah ahli tersebut dapat muncul 1) desentralisasi teritorial, 2) desentralisasi fungsional, 3) desentralisasi kebudayaan, dan 4) desentralisasi fiskal. Pertama,

desentralisasi teritorial menjelma dalam bentuk badan yang didasarkan pada wilayah. Kedua, desentralisasi Fungsional125 adalah pemberian hak dan kewenangan pada golongan-golongan mengurus suatu macam atau golongan kepentingan dalam masyarakat, baik terikat maupun tidak pada suatu daerah tertentu,seperti mengurus kepentinganirigasi bagi golongan tani dalam suatu atau beberapa daerah tertentu (waterschap; Subak Bali). Ketiga, desentralisasi hak pada kebudayaan (culturele decentralisatie), dalam sendiri fiskal yaitu

memberikan (minoritas) pendidikan,

golongan-golongan

kecil

masyarakat (mengatur berwujud

menyelenggarakan agama, dll).

kebudayaannya

Keempat,

desentralisasi

perimbangan keuangan antara pusat dan daerah.

2. Sistem Rumah Tangga Daerah Sistem rumah tangga merupakan tatanan yang berkaitan dengan cara-cara membagi wewenang, tugas dan tanggung jawab mengatur dan mengurus urusan pemerintahan antara pusat dan daerah.126 Atas dasar tersebut, daerah akan mempunyai urusan pemerintahan yang didasarkan

125 126

Amrah Muslimin, Pokok-Pokok…, hlm. 119-120 Bagir Manan, Hubungan ..., op.cit., hlm 26.

37

atas penyerahan, pengakuan ataupun yang dibiarkan sebagai urusan rumah tangga daerah. Secara teori, terdapat tiga sistem rumah tangga daerah, yaitu sistem-sistem rumah tangga formal, material, dan nyata (riil).127 a. Sistem rumah tangga formal Berdasarkan sistem ini, urusan pemerintahan pusat dan daerah tidak dibagi secara rinci karena sistem ini berpangkal tolak dari asumsi bahwa secara prinsip tidak terdapat perbedaan antara urusan pusat dan daerah. Apabila terdapat pembagian wewenang, tugas dan tanggung jawab hanyalah didasarkan atas pertimbangan daya guna dan hasil guna.128 Secara teoritik, sistem ini memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada daerah untuk mengatur dan mengurus urusan rumah tangganya dan satu-satunya pembatasannya adalah daerah tidak dapat mengatur dan mengurus suatu urusan yang telah diatur dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, misalnya dengan undang-undang atau peraturan daerah yang lebih tinggi. Sepintas nampak bahwa otonomi formal akan memungkinkan pemerintah daerah bertindak lebih leluasa mengatur, mengurus, dan membela kepentingan daerahnya. Tetapi pelaksanaan otonomi formal menimbulkan kesulitan-kesulitan, antara lain : (1) Tidak adanya ketegasan mengenai urusan pemerintahan yang menjadi urusan rumah tangga daerah, menimbulkan keraguan atau

ketidakpastian untuk mengurus sesuatu urusan pemerintahan. Ada kekhawatiran bahwa urusan tersebut termasuk atau telah diatur dan diurus oleh satuan pemerintahan yang lebih tinggi. Begitu banyaknya peraturan perundang-undangan dari satuan pemerintahan yang lebih tinggi, dengan kemungkinan telah mengatur sesuatu hal yang bertahuntahun yang lang lalu, sehingga tidak diketahui atau dikenal secara pasti. (2) Suatu urusan pemerintahan yang telah diatur, diurus, dan dijalankan sebagai urusan rumah tangga daerah tertentu, kemungkinan kemudian

127 128

Ibid., hlm 26-33. Bagir Manan, ..., op.cit, hlm 26.

38

diatur dan diurus oleh satuan pemerintahan yang lebih tinggi. Keadaan seperti ini dapat menimbulkan kesulitan bagi daerah yang bersangkutan. Dengan perubahan itu daerah yang bersangkutran akan kehilangan berbagai keuntungan yang diperoleh dari urusan tersebut. Juga rakyat dapat merasakan dirugikan apabila dengan perubahan itu pelayanan terhadap rakyat menjadi kurang lancar atau terganggu. (3) Sesuatu urusan pemerintahan oleh daerah tertentu diatur dan diurus sebagai urusan rumah tangga, tetapi daerah lain tidak berani karena beranggapan bahwa hal itu termasuk urusan satuan pemerintahan yang lebih tinggi. Hal ini dapat menimbulkan kesulitan dalam melayani anggota masyarakat yang mempunyai kegiatan atau kepentingan lintas daerah. (4) Setiap urusan rumah tangga itu terutama yang membebankan kewajiban harus disertai dengan daya dukung tertentu terutama (sumber) keuangan. Sumber keuangan itu berada pada pemerintah pusat. Kalau suatu urusan oleh daerah diurus dan diatur, tidak selalu ada jaminan akan ada sumber keuangan untuk menjalankan urusan tersebut dengan sebaik-baiknya. Secara praktik, terdapat beberapa hambatan untuk mencapai daya guna dan hasil guna, antara lain hambatan kreativitas daerah, keuangan daerah serta teknis.129 Kreativitas daerah sangat menentukan karena daerahlah yang dapat menetapkan ukuran kewajaran untuk mengatur dan mengurus suatu urusan tertentu. Kecilnya kreativitas daerah akan

menyebabkan daerah hanya menunggu ‘arahan atau petunjuk’ dari satuan pemerintahan atasnya untuk mengatur dan mengurus urusan-urusan pemerintahan. Hambatan lain ditemukan dalam kaitan dengan keuangan daerah. Meskipun daerah memiliki peluang menyelenggarakan urusan seluas-luasnya namun tanpa dukungan keuangan yang memadai akan menyebabkan urusan-urusan tersebut tidak dapat terselenggara dengan baik. Akhirnya, keberhasilan sistem rumah tangga formal ditentukan sampai

129

Ibid., hlm 27.

sistem ini dikenal juga sebagai ajaran tiga lingkungan atau de driekriengenleer karena sesuai dengan susunan satuan organisasi pemerintahan Belanda yang terdiri dari Pemerintah Pusat. . Ibid. Setiap daerah otonom terbentuk disertai dengan perincian urusan rumah tangganya. Di luar urusanurusan itu. 130 131 Ibid. 132 Ibid. Untuk memungkinkan pelaksanaan otonomi material harus ada prosedur penyerahan urusan kepada daerah.130 Atau dengan kata lain. hlm 28. b. urusan rumah tangga daerah itu ditentukan dengan pasti.39 sejauhmana daerah dapat mengatasi hambatan teknis yang menunjuk pada tidak mudahnya mengetahui urusan yang belum diselenggarakan oleh pusat atau pemerintahan daerah tingkat lebih atas. Daerah otonom secara otomatis berhak mengatur dan mengurus urusan-urusan tersebut.132 Dalam sistem otonomi material atau rumah tangga material.. pemilahan urusan pemerintahan didasarkan pada perbedaan kepentingan. melainkan dalam peraturan perundang-undangan tentang pembentukan masing-masing daerah otonom. Sistem rumah tangga material Berbeda dengan sistem rumah tangga formal. Provinsi dan Gemeente. sistem material ini bertolak dari asumsi bahwa terdapat perbedaan secara mendasar antara urusan pusat dan daerah dan dengan demikian urusan pemerintahan dapat dipilah-pilah dan dapat ditetapkan secara pasti. Penyerahan ini dapat terjadi dengan beberapa cara : (1) Urusan-urusan rumah tangga daerah telah diperinci dalam peraturan perundang-undangan tentang pokok-pokok pemerintahan daerah. (2) Urusan-urusan rumah tangga daerah tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan tentang pokok-pokok pmerintahan daerah. daerah tidak berwenang mengurus dan mengaturnya.131 Di Belanda.

antara lain. Akan tetapi untuk menentukan ukuran lokal dan tidak lokal suatu urusan tidaklah mudah. Sukar sekali pada saat ini untuk menemukan urusan yang berada di luar kompetensi negara atau pemerintah. Berbeda dengan otonomi formal. Penanganan secara seragam urusan semacam itu tidak efisien dan tidak efektif bahkan mungkin menimbulkan ketidakadilan. daerah berhak mengatur dan mengurus setiap urusan .40 (3) Urusan-urusan rumah tangga daerah ditentukan dalam peraturan perundang-undangan tentang pokok-pokok pemerintahan daerah. tetapi penyerahannya kepada suatu daerah otonom tertentu diatur tersendiri. Urusan itu begitu luas sehingga tidak mudah untuk menentukan urusan-urusan diperuntukkan rumah tangga daerah dan yang tidak. tidak mudah menampung perubahan sifat suatu urusan dari lokal menjadi tidak lokal atau sebaliknya. Setiap perubahan harus menempuh tatacara tertentu yaitu menyerahkan atau menarik urusan harus melalui peraturan perundang-undangan tertentu dan dilakukan dalam suatu peninjauan kembali secara nasional urusan rumah tangga daerah. (2) Sistem otonomi material bersifat rigid. Negara menurut konsep negara kesejahteraan memasuki hampir pada semua sektor kehidupan. Sistem otonomi material ini juga tidak lepas dari kesulitan-kesulitan antara lain : (1) Sangat tidak mudah menentukan dan merinci urusan-urusan yang akan dijadikan urusan rumah tangga daerah. Ciri umum yang lazim dipergunakan adalah urusan-urusan rumah tangga daerah adalah urusan-urusan yang bersifat lokal yang membutuhkan penanganan yang mungkin berbeda antara daerah yang satu dengan yang lain. Kepastian urusan-urusan rumah tangga dalam rumah tangga material lebih memudahkan pemerintah daerah dalam menjalankan tugas dan kewajibannya. Biasanya penyerahan urusan itu sekaligus disertai dengan sumber keuangan dan alat-alat kelengkapan yang diperlukan. Selama suatu urusan belum diserahkan secara nyata. Lebih-lebih dalam zaman modern ini. maka urusan itu belum menjadi urusan rumah tangga yang bersangkutan.

luar negeri menampakkan sifat atau karakter sebagai urusan tertentu yang dilaksanakan oleh pusat.133 Hal ini dasarkan pada beberapa argumen yang meliputi: (1) Sistem ini berpangkal tolak dari asumsi yang keliru yaitu anggapan dasar bahwa urusan pemerintahan dapat dipilah-pilah. misalnya pertahanan keamanan. .. melainkan meliputi sampah industri. sampah tidak lagi diartikan secara tradisional. dan kemampuan daerah yang mungkin berbeda-beda. (3) Kemungkinan urusan-urusan rumah tangga dalam sistem otonomi material sedemikian sempit atau sedemikian luas yang menimbulkan kesulitan dalam pelaksanaannya.. Namun. 135 Ibid. hlm 29. Bagian urusan perrtanian dapat saja dilakukan oleh satuan pemrintahan yang berbeda. Karena perkembangan teknologi. potensi. urusan karena pemerintahan perkembangan. moneter. urusan persampahan.41 kecuali hal yang sudah diatur dan diurus atau yang kemudian diatur dan diurusa oleh satuan pemerintahan yang lebih tinggi. misalnya urusan pertanian. yang mungkin saja 133 134 Ibid.134 Memang urusanurusan tertentu. sampah nuklir. Misalnya. Ibid. dapat beralih menjadi urusan pusat. kurang memperhatikan karakteristik. Mengenai sistem rumah tangga material ini. dan lain-lain. (2) Sistem ini tidak memberikan peluang untuk secara cepat menyesuaikan dengan perubahan-perubahan yang semula yang adalah terjadi. Urusan-urusan rumah tangga dalam sistem otonomi material bersifat seragam. Bagir Manan berpendapat bahwa sistem ini tidak dapat dijadikan patokan obyektif untuk menciptakan hubungan yang serasi antara pusat dan daerah. Akibatnya sampah-sampah semacam ini berdampak pada lingkungan hidup yang berskala lebih luas dimana penangannya membutuhkan teknologi serta keahlian yang lebih. Dengan demikian dalam praktek terdapat kesulitan untuk menentukan secara rinci urusan masing-masing satuan pemerintahan. hlm 30. urusan-urusan lain banyak juga yang menampakkan sifat ganda.135 urusan Suatu daerah.

138 Ibid. Sistem rumah tangga nyata (riil) Disebut ‘nyata’ karena isi rumah tangga daerah didasarkan pada keadaan dan faktor-faktor yang nyata.138 Bagir Manan mengutip pendapat Tresna menyatakan bahwa sistem ini merupakan jalan tengah antara sistem formal dan material dengan pengutamaan pada sistem formal. dapat terjadi perbedaan isi rumah tangga daerah sesuai dengan keadaan masing-masing.136 (4) Sistem ini akan lebih banyak menimbulkan spanning hubungan antara pusat dan daerah. (2) Selain memiliki urusan-urusan awal yang ditetapkan secara material. Ibid.. Dengan demikian. 136 137 Ibid. . sepanjang urusan-urusan itu belum diatur dan diurus oleh pusat dan daerah tingkat lebih atas. 139 Ibid. (3) Sistem ini terasa lebih mengekang karena terikat pada urusan yang secara rinci ditetapkan sebagai urusan rumah tangga. sistem rumah tangga nyata memiliki beberapa ciri. 141 Ibid. yakni:141 (1) Adanya urusan pangkal yang ditetapkan pada saat pembentukan daerah otonom yang memberikan kepastian kepada daerah berkenaan dengan urusan rumah tangganya. hlm 31. (3) Otonomi dalam sistem rumah tangga nyata didasarkan pada faktorfaktor nyata suatu daerah. 140 Ibid. daerh juga dapat mengatur dan mengurus urusan-urusan lain yang dianggap penting bagi daerah tersebut. hlm 30. hlm 32. urusan sampah tersebut dapat saja beralih menjadi urusan pusat.137 c. Dalam hal demikian.139 Fungsi sistem rumah tangga material pada sistem ini ditunjukkan pada adanya urusan pangkal sehingga sejak awal pendirian suatu daerah telah mempunyai kepastian urusan rumah tangga daerahnya.140 Sebagai sistem tengah antara sistem formal dan material..42 tidak dimiliki oleh daerah.

Sebagai tatanan ketaanegaraan. bukan hanya tatanan administrasi Negara (administratiefrechtelijk)..144 Otonomi bukan sekedar pemencaran penyelenggaraan pemerintahan untuk mencapai efisiensi dan efektivitas pemerintahan. hlm.cit.. Ateng Syafrudin. Dari penjelasan tersebut nampaklah bahwa ajaran ini memberikan landasan bagi kemunculan dimensi hubungan kewenangan antara Pusat dan Daerah.. 3. op.43 Telah dikatakan sebelumnya bahwa sistem rumah tangga merupakan tatanan yang berkaitan dengan cara-cara membagi wewenang.143 Sementara itu. Otonomi atau . Titik Berat Otonomi Daerah Pada Daerah Tingkat II.. Menyongsong . hlm. Tujuan dari otonomi adalah untuk memunculkan kemandirian daerah dan bukan kedaulatan. Penerbit Mandar Maju. Proses penyelenggaraan pemerintahan dengan desentralisasi teritorial memunculkan bentuk otonomi dan tugas pembantuan.cit.142 Tujuan pemberian otonomi kepada daerah adalah untuk memungkinkan daerah yang bersangkutan mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. Kelembagaan 142 143 Tim Penyusun. 9 144 Ibid.. tugas pembantuan dapat menjadi jembatan menuju otonomi. 145 Bagir Manan. Bandung. otonomi adalah tatanan ketatanegaraan (staatsrechtelijk).. 14. Untuk melaksanakan tujuan tersebut maka kepada daerah diberikan kewenangan-kewenangan untuk melaksanakan berbagai urusan pemerintahan sebagai urusan rumah tangganya. otonomi berkaitan dengan dasar-dasar bernegara dan susunan organisasi Negara. hlm. 24 . 1990. op. untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna penyelenggaraan pemerintahan dalam rangka pelayanan terhadap masyarakat dan pelaksanaan pembangunan.145 Dengan demikian kemudian muncullah dimensi hubungan kelembagaan antara Pusat dan Daerah. tugas dan tanggung jawab mengatur dan mengurus urusan pemerintahan antara pusat dan daerah.

” Dari segi prosesnya organisasi dapat dirumuskan oleh Herleigh Tecker sebagai. 1 www. “… a system of actions” atau sebagai “sistem kerjasama sekelompok orang untuk mencapai tujuan bersama. doctrine. sedangkan kata organisasi menunjuk kepada suatu social form yang bersifat formal. Dengan diperoleh pengertian dan istilah yang tepat diharapkan dapat lebih mempertegas kajian mengenai hubungan kelembagaan antara pemerintah pusat dan daerah ini. menurut Hadari Nawawi. Sebagaimana dikutip Syahyuti. a. The structure is a framework. kata kelembagaan lebih memberi kesan sosial. or perhaps only a number of functionaries set to-operate in prescribed ways at a certain conjuncture. The structure holds the concepts and furnishes instrumentalis for bringing it into the world of facts and action in a way to serve the interest of men in society”. “a process of combining the work which individual or group have to performs with the Syahyuti. interest) and structure. sehingga saat ini orang lebih suka menggunakan istilah kelembagaan dalam kajian sosial daripada istilah organisasi. yang juga sering dipersamakan dengan istilah organisasi (organization).com/syahyuti/Rumusan_konsep_kelembagaan. hlm. Makna Kelembagaan Istilah “kelembagaan” merupakan padanan kata “Institution” dalam bahasa Inggris. or apparatus. 146 . Sumner memasukkan aspek struktur ke dalam pengertian kelembagaan:147 “An institution consist s of a concept (idea. Tinjauan Sosiologis Terhadap Konsep Kelembagaan dan Upaya Membangun Rumusan yang Lebih Operasional. hlm. notion. lebih menghargai budaya lokal dan lebih humanistis. namun secara umum istilah kelembagaan dipergunakan 146 dalam kedua istilah organisasi maupun kelembagaan itu sendiri. organisasi dapat dirumuska sebagai.pdf 147 Ibid.. dan hubungan kelembagaan. 3. Dalam kajian sosiologi. Ditinjau dari tujuannya.geocities.44 Sebelum membahas hubungan kelembagaan antara pemerintah pusat dan daerah terlebih dahulu akan dibahas mengenai apa yang dimaksud dengan kelembagaan.

150 Ibid. Jakarta. termasuk dalam organisasi pemerintahan daerah. Pelimpahan wewenang berarti penyerahan sebagian hak yang seharusnya dilakuan oleh seorang pejabat atasan kepada pejabat bawahan. tugas. 289 151 Ibid . dan hubungan-hubungan satu sama lain dalam rangka pencapaian tujuan tertentu. “… the act or process of bringing together or arranging the related groups of agency into a working whole”. konflik kewenangan/kekuasaan. so that the duties so performed provide the best channels for the efficient. pembagian pekerjaan. PT. tumpang tindih ataupun kecenderungan menghindari tanggung jawab dapat dielakkan. Asas –asas organisasi paling tidak mencakup enam asas. kekuasaan. Pembagian kerja penting karena akan memperjelas batas-batas kewenangan. and coordinated application of effort”. 148 koordinasi ini secara prinsip merupakan usaha untuk Josef Riwu Kaho.150 Asas pembagian pekerjaan merupakan asas yang harus diterapkan dalam organisasi. 2001. Raja Grafindo Persada.149 Dalam kajian ini penulis menggunakan istilah kelembagaan yang menunjuk kepada susunan kelembagaan yang ada dalam sistem pemerintahan daerah di Indonesia. koordinasi.45 faculties necessary for its execution. organisasi dapat dirumuskan sebagai susunan yang terdiri dari satuan-satuan organisasi beserta segenap pejabat. 148 Sementara itu ditinjau dari segi strukturnya. di Negara Republik Indonesia. kewajiban. rentang kontrol dan kesatuan komando. menurut Kamus Administrasi Negara (The Liang Gie). adalah koordinasi. 232 149 Ibid. pelimpahan wewenang.151 Asas lain yang harus diterapkan dalam setiap organisasi. positive. Dengan demikian kekacauan. Pembagian kerja harus diikuti oleh adanya pendelegasian wewenang. systematic. masingmasing: perumusan tujuan yang jelas. hak dan tanggung jawab setiap orang dalam suatu organisasi. hlm. sehingga tanggung jawab pelaksanaan bidang tugas dapat dilakukan sepenuhnya oleh seseorang. Atau dapat disebut juga sebagai. hlm. Prospek Otonomi Daerah.

152 b. tugas dan pejabat dalam organisasi.. pertemuan formal.. Adanya koordinasi dimaksudkan untuk kesatuan tindakan dan guna meramalkan dan mencegah terjadinya krisis. buku pedoman dan sebagainya.cit. Struktur organisasi pemerintahan daerah menyatakan bahwa struktur organisasi pemerintahan daerah mengandung dua segi. Hubungan Kelembagaan Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya bahwa kelembagaan dimaksud adalah susunan atau struktur organisasi pemerintahan. yaitu susunan luar (external structure) dan susunan dalam (internal structure). karena dengan dibentuknya satuan pemerintahan di tingkat daerah tentunya disertai juga dengan penyerahan kewenangan dari pusat kepada daerah dalam bentuk urusan-urusan pemerintahan untuk dijalankan oleh pemerintah daerah. hlm. Susunan luar menunjuk kepada badan-badan pemerintahan (publieklichaam) tingkat daerah seperti daerah tingkat I dan daerah tingkat II. serta dapat mengembangkan prakarsa improvisasi. hlm.. 290-291 Bagir Manan. Urusan-urusan pemerintahan yang akan diserahkan kepada pemerintah daerah sebagai konsekuensi pelaksanaan 152 153 Ibid. sedangkan susunan dalan menunjuk kepada alat kelengkapan (organ) pemerintahan daerah seperti DPRD dan Kepala Daerah.191 . dapat memaksa pejabat untuk bertindak dan berfikir sesuai dengan sasaran dan tujuan organisasi. Koordinasi ini dapat dilakukan misalnya melalui pertemuan-pertemuan informal antara para pejabat. surat edaran berantai. op. mencegah kesimpangsiuran dan duplikasi.46 menyelaraskan aktivitas antara satuan-satuan organisasi. menurut Bagir Manan153. Di samping itu koordinasi diperlukan guna mencegah terjadinya konflik. Hubungan . Susunan organisasi pemerintahan daerah merupakan salah satu aspek yang dapat mempengaruhi hubungan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Artinya peran dan fungsi tersebut dapat ditentukan oleh pelaksanaan titik berat otonomi sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu : (a) faktor sistem rumah tangga daerah..47 desentralisasi.. Titik Berat . hak dan wewenang serta tnggung jawab urusan-urusan pemerintahan yang diserahkan oleh pemerintah pusat kepada pemerintah daerah otonomi untuk menjadi isi rumah tangga daerah. Hal ini dapat dilihat dari peran dan fungsi masing-masing susunan atau tingkatan dalam penyelenggaraan otonomi.157 Tetapi dekatnya jarak antara satuan pelayanan bukanlah satu-satunya ukuran untuk menentukan penekanan atau pengutamaan fungsi pada tingkat daerah tertentu. Hukum Pemerintahan .156 Titik berat otonomi daerah ini perlu diletakan pada satuan pemerintahan yang lebih dekat kepada dan berhubungan langsung dengan masyarakat. (b) faktor ruang lingkup urusan pemerintahan. 158 Bagir Manan.cit. op.cit... hlm. 197 . hlm.. Hubungan . Satuan otonomi teritorial merupakan suatu satuan mandiri dalam lingkungan Negara kesatuan yang berhak melakukan tindakan hukum sebagai subjek hukum untuk mengatur dan mengurus fungsi pemerintahan (administrasi Negara) yang menjadi urusan rumah tangganya.cit.. seperti kemampuan keuangan. 154 155 Ni’matul Huda. 194-195 156 Ateng Syafrudin..cit.. Ada faktor-faktor lain.. kewajiban.. titik berat pelaksanaannya akan diletakan pada daerah yang mana?154 Susunan organisasi pemerintahan di daerah akan berpengaruh terhadap hubungan antara pusat dan daerah. sehingga diharapkan dapat lebih mengerti dan memenuhi aspirasi-aspirasi masyarakat setempat.158 Hubungan pusat dan daerah atas dasar otonomi teritorial merupakan konsep dalam Negara kesatuan. op. op. Jadi hubungan pusat dan daerah atas dasar otonomi territorial memiliki kesamaan dengan hubungan pusat dan daerah atas dasar federal yaitu hubungan antara dua subjek hukum yang masing-masing berdiri sendiri. op. dan manajemen. Hubungan …. hlm. 52 157 Ibid. dan (c) faktor sifat dan kualitas urusan.. hlm. 24 Bagir Manan.155 Ateng Syafrudin menjelaskan yang dimaksud dengan “titik berat” otonomi mengandung arti jumlah atau besarnya tugas..

159 Oleh karena Negara (Pemerintah Pusat) dan daerah itu masing-masing merupakan badan hukum publik. “Fiscal Decentralization in South East Asia”. 1994. (2) assignment of local government revenue raising authority (penetapan kewenangan pemerintah daerah untuk meningkatkan pendapatan). pada dasarnya seluruh fungsi kenegaraan dan pemerintahan ada dalam lingkungan pemerintahan pusat yang kemudian dipencarkan kepada satuan-satuan otonomi.162 Sementara itu. . 2003.cit. dalam otonomi territorial. akan disediakan oleh susunan pemerintahan lainnya. Hubungan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. hlm. Ruang Lingkup dan Prinsip-Prinsip Desentralisasi Fiskal Anwar Shah mengatakan bahwa kebijakan desentralisasi fiskal mencakup (1) the assignment of services responsibilities (penetapan tanggung jawab penyelenggaraan pelayanan). 35-36 Irawan Soejito. op.. dan (3) design of intergovernmental transfer system (desain sistem transfer antar susunan pemerintahan).pen) dan transfer dana dari pemerintahan tingkat yang lain (pinjaman daerah juga 159 160 Bagir manan.48 Perbedaannya. 178 161 Anwar Shah. hubungan antara kedua badan hukum publik itu tidaklah seperti hubungan hierarkis yang ada.161 Penetapan tanggung jawab penyelenggaraan pelayanan dibutuhkan agar tidak terjadi hasil yang tidak efektif ketika ada satu susunan pemerintahan atau lebih menyediakan pelayanan yang sama atau ketika satu susunan pemerintahan gagal menyediakan pelayanan dengan harapan. Penerbit Bina Aksara.. 1984. The World Bank. PrAcademic Press. 15 No. hlm. hlm. sebagimana dikutip dalam Larry Schroeder.23. Accounting & Financial Management. yaitu pendapatan yang diperoleh oleh daerah sendiri (pendapatan asli.. Journal of Public Budgeting. “The Reform of Intergovenmental Fiscal Relation in Developing and Emerging Market Economy”. Vol. Menyongsong. 162 Ibid. 3. Washington DC. biasanya diperoleh dengan dua cara. kewenangan untuk meningkatkan pendapatan daerah untuk membiayai belanja daerah. World Bank Policy and Research Series No.160 4.. misalnya antara Menteri Dalam Negeri dengan Gubernur. 388.

48. 168 Era Dabla-Norris. yang mencakup revenue autonomy. June 2004. “Fiscal Decentralization in Developing and Transition Economies: Progress. Desentralisasi fiskal bagaimana pun kebijakannya harus dikaitkan dengan upaya membangun kemandirian daerah untuk membiayai urusan pemerintahannya baik dalam hal pendapatan daerah (termasuk alternatif lainnya) maupun kewenangan untuk membelanjakan pendapatan tersebut.166 Hal tersebut (bersama keterbatasan pendapatan asli daerah). Detours and Road Closures”. 107.. 165 Ibid. daerah hanya memiliki otonomi dalam menentukan tarif pajak dan batas yang telah ditentukan (to rate setting within the limit). hlm.cit.165 Dalam hal ini.163 Masalah yang umumnya dihadapi adalah kewenangan daerah yang sangat terbatas untuk dapat meningkatkan pendapatan asli (own revenue). misalnya melalui pajak daerah atau retribusi. “ The Challenge of Fiscal Decentralisation in Transition Countries”. harus menjadi bagian dari desain transfer dana antara tingkatan pemerintahan. Problems. hlm. April 2004. 166 Larry Schroeder. 2006. Comparative Economic Studies. Anwar Shah. adanya intergovernental fiscal transfer menjadi mekanisme yang diharapkan dapat menciptakan horizontal equity (kesamaan horizontal) antara susunan pemerintahan daerah. transfer dan Ibid. Washington. Vol. 18.. Dalam hal ini. The World Bank. hlm.167 Hal yang hampir sama juga diungkapkan oleh Era Dabla-Norris mengenai the measure of autonomy168 (ukuran otonomi) dalam desentralisasi fiskal. Washington DC. World Bank Policy Research Working Paper 3353. Theresa Thompson. 164 163 . (b) expenditure autonomy (otonomi dalam pengeluaran/ belanja) dan.164 Bahkan dengan kewenangan atas jenis-jenis pajak terbatas. hlm.49 merupakan sumber pendapatan daerah lainnya yang harus dibayar kemudian dengan pendapatan asli atau transfer dana). and the Promise” World Bank Policy Research Working Paper 3282. 389. op. hlm. DC USA. 167 Anwar Shah. USA. (c) borrowing privileges (keleluasaan untuk melakukan pinjaman). Shah menegaskan komponen desentralisasi fiskal yang menjadi ukuran keberhasilan desentralisasi fiskal. 8. yaitu (a) revenue autonomy and adequacy (otonomi dan kecukupan pendapatan). 18 – 19. World Bank. expenditure autonomy. “Implementing Decentralized Local Governance: A Treacherous Road with Potholes.

Norris.50 subnational borrowing. Hubungan Antara…. Dalam literatur. hlm. Seperti dikatakan oleh Norris bahwa: On the revenue side. hlm. 204. 171 Norris. hlm. hlm. Loc. transfer (intergovernmental fiscal transfer).cit. “Fiscal decentralization and regional income disparities: evidence from the Colombian experience”. ukuran suatu daerah memiliki otonomi dalam pendapatan adalah seberapa besar kewenangan untuk memungut pajak daerah atau pungutan lain.170 Artinya. Singapore... More complete revenue autonomy requires a minimum of authority to set tax rates and an assignment of at least one significant tax source.. Springer-Verlag Published online: 12 April 2006.171 Sementara itu. World Scientific Publishing Co. Roy Bahl (eds).. 117 – 123. 3. termasuk menentukan prioritasprioritas belanja daerah atas pendapatan daerah yang dimiliki. karena hal tersebut merupakan kunci keberhasilan dari desentralisasi fiskal. 2009. Ltd. Jaime Bonet.cit. hlm. prinsip otonomi pengeluaran berkaitan dengan alokasi penerimaan daerah dalam anggaran belanja daerah. termasuk dalam menentukan tarifnya. 663.169 Dalam pendapat Shah. juga termasuk dalam komponen otonomi dan kecukupan pendapatan..cit. loc. 107. karena revenue autonomy ditekankan pada pada pendapatan asli daerah. this requires that subnational governments have the authority to own-finance locally provided services at the margin. Prinsip otonomi dalam pendapatan artinya sejauh mana daerah memiliki sumber-sumber pendapatan yang merupakan pendapatan asli daerah.. Dalam hal ini. 170 169 . Pte.172 Ibid.op. Decentralization: Policies in Asian Development. otonomi pendapatan secara dominan diukur dari kewenangan daerah memungut pajak.. sementara Norris menekankan transfer dana tersebut merupakan komponen tersendiri. Bahl dalam Shinichi Ichimura. prinsip otonomi dalam pengeluaran artinya daerah memiliki keleluasaan untuk membelanjakan. 172 Ibid. Ukuran-ukuran tersebut merupakan prinsip desentralisasi fiskal. Lihat. Bagir Manan. Seperti dikatakan oleh Norris bahwa: ”this requires subnational budget flexibility to decide – within limits – expenditure priorities and the choice of both the output mix and techniques of production”.

.173 Pertama. Ltd. 175 Alan Norton. Pte. 10. mau tidak mau (namun sering kali mau) untuk memenuhi kepentingan nasional. Roy Bahl (eds).177 Terkait dengan hal di atas.176 Sumbersumber pendapatan sendiri (asli) sangat terbatas. dimensi horrizontal fiscal balance (keseimbangan fiskal horizontal/antar daerah).cit. Edward Elgar Limited – Edaward Elgar Publishing Company. 1993. 2009. hlm. Kedua-duanya harus diperhitungankan dalam desain kebijakan transfer dana dari pusat ke 173 Roy Bahl.51 Prinsip transfer dana antar tingkatan pemerintahan (khususnya dari pusat ke daerah). “Promise and Reality of Fiscal Decentralization”. World Scientific Publishing Co. Bagir Manan mengatakan bahwa sesuai dengan pembawaannya (karakteristiknya). 177 Bagir Manan. hlm. dimensi vertical fiscal balance (keseimbangan fiskal secara veritikal/ pusat-daerah). USA. pemerintahan daerah tidak akan dapat mengharapkan (pendapatan) dari sumber dayanya sendiri. Kedua. 178 Ibid. 174 Ibid. tercermin dalam dalam dua dimensi..175 Sebagai agen. 11. namun juga kepentingan nasional yang lebih baik. hlm. England. hlm. juga disebabkan logika bahwa mahalnya pelayanan (publik) yang disediakan oleh pemerintahan daerah adalah untuk memenuhi tujuan (otonomi – pen) yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat. 176 Ibid. ... di mana transfer tersebut dimaksudkan ketidakseimbangan daerah.178 Daerah hanya boleh mengatur dan mengurus sepanjang ada penyerahan dari pusat yang diatur keuangan antar untuk menyelesaikan masalah daerah. karena bergantung pada pusat.174 Pemberian sejumlah dana pusat kepada daerah melalui mekanisme transfer dana. 80. urusan keuangan di mana pun senantiasa dikategorikan sebagian urusan pusat. 205.op. dalam Shinichi Ichimura. bukan hanya untuk kepentingan daerah. Decentralization: Policies in Asian Development. Singapore. International Hand Book of Local and Regional Government A Comparatve Analysis of Advanced Democracies. di mana transfer tersebut untuk mengurangi ketidakseimbangan keuangan antara pusat dan daerah (vertical fiscal imbalance). Hubungan Antara….

208. Ltd. Singapore. 2009. bermaksud untuk menutupi kemampuan keuangan daerah untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan. Sumber-Sumber Penerimaan/ Pendapatan Daerah Secara umum. op.cit. 180 179 . dalam dalam Shinichi Ichimura. terutama dengan melakukan pinjaman.181 a.cit. tanpa bantuan pemerintah pusat. Pte. 396.180 Artinya. hlm. “Summary Report of Seminar B: Local Public Finance. Pendapatan Asli Daerah Seperti telah dikemukakan sebelumnya bahwa pendapatan asli daerah selalu dihubungkan dengan kewenangan daerah untuk memungut pajak (daerah) atau pungutan lainnya seperti retribusi. Hubungan Antara…. transfer dana dari pemerintah pusat ke daerah (intergovernmental fiscal transfers) dan pinjaman daerah (local borrowing). Prinsip-prinsip tersebut akan terlihat dalam pengaturan sumbersumber penerimaan pemerintahan daerah untuk memenuhi belanja daerah.. namun dengan hasil yang relatif kecil. Roy Bahl (eds). jika pendapatan daerah (termasuk transfer/bantuan keuangan dari pusat) yang dialokasikan untuk pengeluaran/ belanja daerah tidak mencakupi. 15. World Scientific Publishing Co. sumber penerimaan/ pendapatan daerah (revenue sources of local governments) secara umum terdiri dari pendapatan asli daerah (local own revenue). 181 Motohiro Sato.179 Adanya transfer dana atau bantuan dari pusat. Roy Bahl (eds).. dalam Shinichi Ichimura. 5. hlm. 182 Lihat Bagir Manan.52 dalam peraturan perundang-undangan. op. Roy Bahl.182 Ibid. hlm. Decentralization: Policies in Asian Development. seperti hasil pengelolaan perusahaan daerah. Prinsip keleluasaan untuk melakukan pinjaman berkaitan dengan hard budget constraint (pembatasan anggaran secara ketat) di mana pemerintahan daerah harus menyeimbangkan anggarannya tanpa bantuan dari pusat pada akhir tahun anggaran. padahal pendapatan asli daerah juga dapat berasal dari sumber lain.. pemerintahan daerah harus mendapatkan sumber penerimaan lainnya untuk menutupi kekurangan anggaran (defisit). Asian Development Conference 2003: Development and Decentralization in Asia”.

183 Pertama. pemerintah pusat lebih sedikit menyerahkan kewenangan untuk memungut pajak kepada daerah.cit.cit. 187 Ibid. sementara di negara-negaa maju mencapai 20%. Ketiga.190 Hal tersebut menyebabkan perbedaan pendapatan daerah dari sektor pajak daerah. terkait dengan pembagian kewenangan di sektor pajak antara pemerintah pusat dengan pemerintahan daerah. 189 Roy Bahl. hlm. Pemerintahan daerah di negara-negara maju lebih banyak memberikan kewenangan kepada daerah untuk memungut pajak. 190 Ibid.186 Hal ini untuk meminimalisasi biaya administrasi pemungutan.17-18.184 Kedua. op. harus menjadi kewenangan pemerintah pusat. pengaturan pajak daerah dan pungutan daerah lainnya sangat beragam. 186 Ibid. . hlm. 188 Ibid. Ibid. “Fiscal Decentralization…. untuk memastikan adanya akuntabilitas.loc. hlm. “Promise and…..... hlm. 185 Ibid. misalnya pajak property (tanah dan bangunan) lebih baik menjadi kewenangan daerah untuk meningkatkan nilai jual objek tersebut di pasaran.188 Dalam praktek. pajak-pajak yang karena pertimbangan keseragaman secara nasonal dilakukan dengan sistem redistribusi progresif 185 (pajak progresif).53 Persoalan kewenangan pemungutan pajak. 191 Bahl mengatakan bahwa kontribusi pajak lokal terhadap total pendapatan sektor pajak secara nasional di negara-negara berkembang dan negara-negara dalam transisi hanya mencapai 10%. 9. Ibid. Dalam hal ini.10.191 183 184 Anwar Shah. pajak harus dipungut pada wilayah yang yang dapat dilakukan pemantauan dan penilaian yang relevan. di negara – negara berkembang dan negara-negara dalam fase transisi. penerimaan dari pajak harus disesuaikan dengan kebutuhan pengeluaran belanja (daerah).189 Sementara itu. Anwar Shah mengintroduksi 4 prinsip yang harus diperhatikan dalam pembagian kewenangan pemungutan pajak di semua tingkatan pemerintahan. pajak dengan objek bergerak dan barang-barang dagang yang memiliki tingkat efisiensi yang tinggi terhadap pasar domestik harus menjadi kewenangan pemerintah pusat.187 Keempat.”..17.

1 195 Ibid. sementara pemerintahan daerah hanya memiliki sedikit kewenangan terhadap pajakpajak yang secara langsung bersumber pada potensi lokal. sistem transfer atau bantuan keuangan antar tingkatan Dalam hal ini Bahl member pengecualian terhadap Filipina di mana konstribusi sektor pajak daerahnya mencapai 1/3 dari total pendapatan sektor pajak secara nasional. Diunduh dari http://www. “Fiscal decentralization and regional income disparities: evidence from the Colombian experience”.195 b. “Fiscal Decentralization….54 Di Asia. hlm.. Transfer Dana dari Pusat ke Daerah (Intergovernmental Fiscal Transfers) Adanya kecenderungan ketergantungan daerah pada transfer dana dari pemerintah pusat di negara-negara berkembang menimbulkan pertanyaan apakah pemerintahan daerah masih memiliki otonomi dalam kebijakan desentralisasi fiskal? Namun demikian. 18. baik di negara-negara maju maupun negaranegara berkembang.com/abstract=1029581. Bahl mengatakan bahwa rendahnya pendapatan daerah dari pajak daerah disebabkan pemerintah pusat tidak rela melepaskan kewenangan terhadap pajak-pajak yang produktif.cit. Seperti dikatakan oleh Anwar Shah. Ibid. namun tanpa kewenangan daerah cukup dalam memungut pajak. November 2007. loc. menyebabkan daerah tidak dapat membiayai pengeluaran dengan pendapatan sendiri. misalnya. hlm.196 Artinya.ssrn. “Partial Fiscal Decentralization”. pola transfer dana dari pusat ke daerah juga dialami di negara-negara maju.194 Hal tersebut menyebabkan pemerintahan daerah sangat bergantung pada transfer dana dari pusat.. 192 . walaupun kewenangan untuk menggunakan pendapatan dana diberikan kepada daerah. 196 Jaime Bonet. pengalaman negara-negara maju menunjukkan bahwa keberhasilan desentralisasi fiskal tidak bisa tercapai tanpa adanya sebuah program transfer dana yang didesain dengan baik (well – designed fiscal transfer program).663. Brueckner.192 Di negaranegara berkembang dan negara dalam masa transisi. 193 Anwar Shah. hlm.193 Dalam hal ini. 194 K. Springer-Verlag Published online: 12 April 2006. Category 1: Public Finance. Cesifo Working Paper No. pemerintah pusat memiliki kewenangan pada jenis-jenis pajak tidak langsung. 2137.

55

pemerintahan (khususnya dari pusat ke daerah), menjadi salah mekanisme yang mendukung keberhasilan desentralisasi. Dari paparan di atas, tercermin bahwa transfer dana/ bantuan

keuangan dari pusat ke daerah akan selalu ada. Menurut Bagir Manan, usaha-usaha untuk menghapuskan bantuan keuangan bukan cara terbaik untuk memecahkan masalah keuangan daerah.197 Bagir Manan sendiri lebih menyetujui agar pemecahan masalah keuangan daerah hendaknya ditujukan pada upaya agar bantuan –bantuan pusat tidak akan begitu banyak mengurangi kemandirian daerah untuk mengatur dan mengurus urusan rumah tangga daerahnya sendiri.198 Adanya bantuan dana (subsidi) dari pusat ke daerah merupakan bagian dari mekanisme perimbangan keuangan antara pusat daerah yang merupakan inti dari hubungan keuangan pusat – daerah.199 Seperti dikatakan oleh Bagir Manan, bahwa: ”perimbangan keuangan tidak sekedar diartikan memperbesar sumber lumbung keuangan daerah, namun tidak kalah penting mengatur sistem keuangan daerah seperti subsidi yang tetap menjamin kemandirian, keleluasaan dan kekuasaan daerah mengatur dan mengurus rumah tangganya.”200

Dilihat dari derajat otonomi peruntukan dan pemanfaatannya, Bagir Manan yang mengatakan bahwa bantuan keuangan dari pusat ke daerah, dapat digolongkan ke dalam tiga kategori utama, yaitu bantuan bebas, bantuan:201 1. Bantuan bebas Bantuan yang hanya ditentukan jumlahnya. Peruntukan dan tata cara penggunaannya diserahkan sepenuhnya kepada masing-masing daerah.

197 198

Bagir Manan, Hubungn Antara…, op.cit., hlm. 210. Ibid. 199 Ibid. 200 Ibid., hlm. 42. 201 Ibid.

56

Daerah mempunyai kebebasan untuk menentukan sendiri peruntukan dan tata cara penggunaannya. 2. Bantuan dengan pembatasan tertentu. Bantuan yang ditentukan peruntukannya secara umum.

Peruntukannya secara khusus dan cara-cara pemanfaatannya diserahkan sepenuhnya kepada daerah. Bantuan jenis kedua ini lebih mengikat atau lebih membatasi kemandirian daerah dibandingkan dengan yang pertama. 3. Bantuan terikat Bantuan yang ditentukan secara rinci peruntukan dan tata cara pemanfaatannya. Daerah tidak ada kesempatan untuk menentukan sendiri peruntukan maupun tata cara pemanfaatannya. Bantuan ini sangat mengikat daerah. Sementara itu, Roy Bahl mengatakan, jenis transfer dana yang diberikan, terdiri dari transfer dana yang sifatnya unconditional (tidak bersyarat), conditional (bersyarat), dan Ad-hoc (tidak tetap).202 Pendapat Bahl tersebut hampir sama dengan pendapat Bagir Manan. Perbedaannya, Bagir Manan tidak memasukkan jenis transfer dana (bantuan keuangan) yang sifatnya Ad-hoc, sementara Bahl tidak membagi varian lain dari conditional transfer, sebagaimana dilakukan oleh Bagir Manan yang membaginya menjadi dua kategori, yaitu bantuan dengan pembatasan tertentu dan bantuan terikat. Namun demikian, kedua pendapat tersebut saling melengkapi. Dengan demikian, terdapat 4 jenis tranfer dana (bantuan keuangan) dari pusat ke daerah, yaitu bantuan bebas (unconditional grants), bantuan dengan pembatasan tertentu, bantuan terikat, dan bantuan yang sifatnya Ad-Hoc. Manurut Bahl, unconditional grants (bantuan bebas) dianggap “more consistent with local autonomy goals of decentralization” (lebih konsisten dengan tujuan otonomi daerah dalam kerangka desentralisasi).203 Jika bantuan tersebut berdasarkan pembagian pajak pusat, maka pemerintah pusat memberikan akses kepada pemerintahan daerah dengan dasar

202 203

Roy Bahl, op.cit., hlm. 11 Ibid.

57

perhitungan pajak yang elastis (elastic tax base) yang relative memberikan kepastian jumlah yang akan diterima.204 Sementara itu, conditional grant adalah bantuan yang membolehkan pemerintah pusat untuk mengawasi penggunaan dana tersebut dengan asumi agar daerah menjalankan fungsi yang memiliki eksternalitas positif dan/ atau distribusi keuntungan.205 Distribusi conditional grant, menurut Bahl dilakukan dengan beberapa cara, namun yang paling umum digunakan adalah sistem pembayaran yang didasarkan pada beberapa standar pengeluaran.206 Biasanya pola

conditional grant berhasil mencapai target yang diinginkan. Namun persoalannya, conditional grant diterapkan dengan pola yang seragam di seluruh daerah dan tidak memberikan pertimbangan yang cukup terhadap kondisi daerah.207 Hal tersebut menyebabkan pola pengeluaran (keuangan) pemerintahan daerah menyimpang dari kecenderungan lokal.208 Sementara itu, transfer dana/ bantuan keuangan yang sifatnya AdHoc didasarkan pada pertimbangan politis. Hal tersebut menyebabkan pola bantuan tersebut tidak transparan dan jauh dari ukuran-ukuran objektif. Bahkan Cina dan Thailand, yang mengalokasikan sebagian bantuan dalam bentuk ad-hoc, menghadapi persoalan ketidakpastian anggaran di tingkat daerah.209

c. Pinjaman Daerah Seperti telah dikemukakan sebelumnya, bahwa pinjaman daerah sangat berkatan dengan penerapan hard budget constraint (pembatasan anggaran secara ketat) di mana tidak ada bantuan dari pusat pada saat

204 205

Ibid. Ibid., hlm. 14. 206 Ibid 207 Ibid. 208 Ibid. 209 Ibid.

58

terjadi akhir tahun anggaran. Menurut Davey (1983) ada beberapa alasan pemerintah daerah melakukan pinjaman dana seperti:210 a. untuk menutup defisit keuangan jangka pendek; b. untuk membiayai kekurangan belanja rutin dan penghasilan retribusi dalam anggaran tahunan (annual budget); c. membiayai pembelian perlengkapan dan mesin-mesin; d. membiayai investasi yang akan menghasilkan pendapatan; e. membiayai pembentukan modal jangka panjang (long term capital development).

Menurut J. Glasson, tujuan utama pemanfaatan dana pinjaman daerah adalah untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dan melakukan pembangunan yang menerus (sustainable development).211 Hal tersebut sangat wajar karena dengan penerapan hard budget constraint terbatasnya kemampuan keuangan daerah, maka terselenggaranya progam-program daerah tidak hanya bergantung pada pendapatan daerah dan bantuan dari pusat, namun sangat bergantung pada pinjaman daerah. Oleh karena itu, seperti dikemukakan sebelumnya, bahwa keleluasaan bagi daerah untuk melakukan pinjaman merupakan salah prinsip dari desentralisasi fiskal. Pengaturan mengenai pinjaman daerah di setiap menunjukkan pola yang berbeda-beda. Menurut Shah, di negara-negara berkembang di mana pasar (keuangan) belum terbangun dengan baik untuk kredit jangka panjang dan kemampuan daerah untuk membayar pinjaman, menyebabkan akses daerah untuk melakukan pinjaman sangat terbatas.212 Hal tersebut menyebabkan pengaturan pinjaman daerah lebih menekankan pada pengawasan pemerintah pusat, sementara bantuan pusat untuk mendorong daerah melakukan pinjaman sangat jarang menjadi perhatian. Biasanya yang menjadi ukuran pola pengawasan pusat dalam hal pinjaman daerah adalah
210

Lihat Bachrul Elmi dan Syahrir Ika, “Hutang Sebagai Salah Satu Sumber Pembiayaan Pembangunan Daerah Otonom”, Jurnal Kajian Ekonomi Dan Keuangan, Vol. 6 No. 1, Maret, 2002, hlm. 64. 211 Ibid., hlm. 62. 212 Anwar Shah, “Fiscal Decentralization…., op.cit., hlm. 29

dan sesudah suatu kegiatan dilaksanakan. dan “control” (Belanda dan Inggris). merupakan dua sisi dari satu mata uang dalam negara kesatuan dengan sistem otonomi (desentralisasi). Pengertian dan Tujuan Pengawasan Istilah “pengawasan” sering dipadankan (equivalent) dengan istilah “toezicht” (Belanda). James A. pengertian pengawasan (toezicht. Ivancevich dalam Fundamentals of Management (1981) menyebut hal itu Preliminary control. dan John M. Jakarta 2003.59 apakah daerah berwenang melakukan pinjaman? Jika dibolehkan.. sepanjang. Kybernology (Ilmu Pemerintahan Baru). Antara kebebasan dan kemandirian berotonomi di satu pihak dan pengawasan di pihak lain. Kebebasan dan kemandirian berotonomi dapat dipandang sebagai pengawasan atau kendali terhadap kecenderungan sentralisasi yang berlebihan. Menyongsong . supervision) merupakan unsur yang tidak dapat dipisahkan dari kebebasan berotonomi. James H. hlm.153. supervision) adalah suatu bentuk hubungan dengan legal entity yang mandiri. . steering control dan post-action control.214 Namun demikian. 197.. perlu diketahui. concurrent control dan feedback control. op. Tidak ada otonomi tanpa sistem pengawasan. Stoner dan Charles Wankel dalam Management (1986) menyebut ketiga macam kontrol itu Pre-action cotrol. Gobson. Hakikat Pengawasan Pemerintah Pusat terhadap Daerah a.. Pengawasan atau kontrol dapat dilakukan sebelum. Sebaliknya pengawasan (toezicht) merupakan kendali terhadap desentralisasi berlebihan. Rineka Cipta.213 Pengawasan (toezicht. hlm. “supervision” (Inggris).cit. F. bukan hubungan internal dari entitas yang sama. James L. apakah daerah dapat melakukan pinjaman ke luar negeri? 6. Jilid I. 214 Bagir Manan. Bentuk dan isi pengawasan dilakukan semata-mata menurut atau berdasarkan ketentuan 213 Taliziduhu Ndraha. Donnelly.

mengalami perkembangan seperti adanya “petunjuk”.cit. secara asasi tidak mengandung makna ikut mengarahkan.. juga mengandung arti pengendalian.. Pengawasan pada desentralisasi dibatasi untuk “menguji” apakah suatu keputusan suatu satuan pemerintahan otonom (yang lebih rendah) bertentangan atau tidak bertentangan dengan peraturan perundangundangan yang lebih tinggi atau kepentingan umum. apalagi ikut mengurus atau ikut mengatur. mengarahkan. hlm. “pedoman”. Pengawasan (toezicht) pada desentralisasi. Perkembangan ini menyebabkan pengawasan tidak lagi sekedar “checking” atau dalam rangka “menjaga keseimbangan”. op. 197. Apabila hal semacam ini jika dibiarkan berjalan tanpa batas. “bimbingan”. dalam kaitan dengan Undang-Undang tentang pemerintahan daerah khususnya desentralisasi istilah pengawasan lebih tepat dipadankan dengan “toezicht” atau “supervision” dan tidak dengan “control”. Berdasarkan uraian tersebut di atas. Pengawasan tidak berlaku atau tidak diterapkan terhadap hal yang tidak ditentukan atau berdasarkan undang-undang. Istilah control selain mengandung arti pengawasan. akan besar pengaruhnya pada sifat “kemandirian” (zelf standigheid) daerah otonom. Memang perlu disadari bahwa dalam perkembangan. pengawasan dalam arti toezicht atau supervision. . 215 Taliziduhu Ndraha. “penentuan syarat-syarat yang harus diikuti”.60 undang-undang. Kybernology .. Pengawasan dalam kualitas tertentu menjadi semacam “mencampuri” wewenang daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri.215 Dengan demikian. maka pengertian umum dari beberapa aspek pengawasan kiranya dapat dirumuskan sebagai berikut : 1) Pengawasan sebagai sarana (instrumen) pemeritahan yang lebih atas tingkatannya untuk memaksakan kehendaknya pada pemerintahan yang lebih rendah tingkatannya. mengurus atau mengatur.. 2) Pengawasan menunjukkan adanya pengarahan atau pengendalian (aturan) terhadap tindakan pemerintahan yang lebih rendah tingkatannya dari pemerintahan yang lebih atas tingkatannya.

.61 3) Pengawasan berbeda dengan sarana pengendalian lainnya. misalnya pengawasan menurut sifat/bentuk dan tujuannya. Bagir Manan. harus dalam rangka kesejahteraan umum.141. dibutuhkan orang banyak. hlm. Mengenai kepentingan umum. terdapat beberapa ukuran yang dapat dipergunakan untuk menentukan kepentingan umum. Black Law Dictionary. hlm. b. Adapun menurut Bagir Manan. yakni: Pertama.(Terj. pemerintahan yang dilakukan 4) Pengawasan menunjukkan bahwa pelaksanaan tugas dan wewenang satuan pemerintahan yang diawasi tidak boleh bertentangan dengan hukum dan kepentingan umum.. The general welfare of public that warrants recognation and protection. Kedua. pengawasan menurut 216 217 Bryan A. b. .Op. Penggolongan Pengawasan Pengawasan dapat dibedakan ke dalam berbagai macam. Menyongsong Fajar…. Garner. baik dalam arti materiil maupun spiritual217. tanpa ada pembatasan karena kondisi invidual seseorang. bebas dari pengertian di atas adalah bahwa kepentingan umum merupakan kepentingan bagi kesejahteraan umum yang menjamin perlindungan dan merupakan sesuatu di mana publik secara keseluruhan mempunyai suatu pancang/landasan terutama suatu yang membenarkan peraturan yang dibentuk oleh pemerintah). Something in which the public as a whole has a stake espesially an interest that justifies governmental regulation216. yaitu: a. Ketiga. Black Law Dictionary. mendefinisikan Public Interest. 1999. setiap orang dapat menikmati dan memperoleh manfaat.Cit.1244. Pengawasan hanya terbatas pada segi oleh satuan pemerintahan yang diawasi.

Relevan dengan pembentukan produk hukum di daerah dan tindakan tertentu organ pemerintahan daerah. hlm. Dalam konteks penyelenggaraan pemerintahan daerah. Menyongsong Fajar . (2) pengawasan represif atau pengawasan detektif.218 1) Pengawasan Menurut Sifat/Bentuk dan Tujuannya Secara konsepsional. c) menentukan sasaran dan tujuan yang akan dicapai. menurut Bagir Manan. Pengawasan Pengelolaan Keuangan Daerah dalam Sistem Pemerintahan Daerah di Indonesia (Disertasi). a) Pengawasan Preventif Secara umum pengertian pengawasan preventif pada dasarnya dilakukan untuk mencegah terjadinya penyimpangan-penyimpangan dalam pelaksanaan kegiatan. 154 . b) Pengawasan Represif atau Pengawasan Detektif Sebagian ahli mempergunakan istilah pengawasan ini dengan istilah pengawasan represif.Cit. Berikut ini diidentifikasikan berbagai macam pengertian pengawasan tersebut. wewenang mengesahkan 219 pengawasan preventif ini berkaitan dengan (goedkeuring). pengawasan menurut sifat/bentuk dan tujuannya dapat dikelompokan menjadi 2 (dua). Bandung. b) memberi pedoman bagi terselenggaranya pelaksanaan kegiatan secara efesien dan efektif. maka pengawasan preventif bertujuan untuk mencegah penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di lapangan pemerintahan daerah. 219 Bagir Manan.62 ruang lingkupnya dan pengawasan menurut metodenya.…Op. 2006. sebagian lainnya mempergunakannya dengan istilah 218 Lihat Elektison Somi. Pengawasan preventif ini memiliki tujuan yang menurut Revrisond Baswir diidentifikasikan sebagai berikut: a) mencegah terjadinya tindakan-tindakan yang menyimpang dari dasar yang telah ditentukan. Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. yaitu: (1) pengawasan preventif dan. 91-95. dan d) menentukan kewenangan dan tanggung jawab sebagai instansi sehubungan dengan tugas yang harus dilaksanakan. hlm.

kedua istilah ini pada prinsipnya dilaksanakan setelah dilakukannya tindakan yaitu dengan membandingkan antara hal yang telah terjadi dengan hal yang seharusnya terjadi.220 Berkaitan dengan berbagai macam bentuk pengawasan.Cit Paulus Effendie Lotulung. Beberapa Sistem tentang Kontrol Segi Hukum terhadap Pemerintah. 1986. adanya kontrol itu sering dilihat sebagai sarana unutuk mencegah timbulnya segala bentuk penyimpangan tugas pemerintahan dari apa yang telah digariskan. sebagai suatu usaha represif. maka dapat dibedakannya dari beberapa segi. atau juga untuk memperbaikinya apabila sudah terjadi kekeliruan itu. Paulus Effendie Lotulung mengatakan bahwa salah satu permasalahan pokok dalam studi tentang dasar-dasar hukum Administrasi adalah pelajaran tentang adanya atau dikenalnya berbagai macam kontrol atau pengawasan yang dapat dilakukan terhadap Pemerintah. misalnya: pengawasan yang 220 221 Bagir Manan. maka terhadap Pemerintah selaku organ administarasi Negara dapat dikenakan bermacam-macam bentuk kontrol atau pengawasan. Berkaitan dengan pembentukan produk hukum daerah dan tindakan tertentu organ pemerintah daerah.xv. pengawasan ini menurut Bagir Manan berkaitan dengan wewenang pembatalan (Verneitiging) atau penangguhan (schorsing). baik yang disengaja maupun tidak disengaja.221 Apabila dibandingkan berbagai macam bentuk kontrol yang ada.63 pengawasan detektif. op. Bhuana Ilmu Populer. PT. Tujuan pokok dari kontrol ini adalah untuk menghindari terjadinya kekeliruan-kekeliruan. Ditinjau dari segi kedudukan dari badan/organ yang melaksanakan kontrol itu terhadap badan/organ yang dikontrol. dapatlah dibedakan antara jenis kontrol yang disebut Kontrol Intern dan Kontrol Ekstern. hlm. Dalam praktek. Memang di sinilah letak inti atau hakekat dari suatu pengawasan. Jakarta. Sebab di dalam melaksanakan tugasnya atau “mission”nya untuk menyelenggarakan kesejahteraan umum dan pelayanan kepentingan umum atau lazim disebut “public service”. Suatu Kontrol Intern berarti bahwa pengawasan itu dilakukan oleh suatu badan yang secara oraganisatoris/ struktural masih termasuk dalam lingkungan Pemerintah sendiri. . sebagai suatu usaha preventif. Namun demikian.

Sedangkan sebaliknya. demikian seterusnya. ataupun pengawasan yang dilakukan oleh tim/ panitia verifikasi yang dibentuk secara insidentil dan biasanya terdiri dari beberapa orang ahli dalam bidang-bidang tertentu. Dalam hal ini tampak jelas unsur preventif dari maksud kontrol itu. Misalnya: pengeluaran suatu yang untuk berlaku sah dan dilaksanakan. dapat pula dibedakan dalam 2 jenis kontrol. kontrol sosial yang dilakukan oleh masyarakat melalui pers/masmedia. atau peraturan pemerintah daerah-daerah tingkat II harus mendapat pengesahan terlebih dahulu dari pemerintah daerah tingkat I. Bentuk kontrol-kontrol semacam itu dapat digolongkan dalan jenis kontrol teknis-administratif atau lazim pula disebut sebagai suatu bentuk “built-in control”. kontrol politis yang pada umumnya dilakukan oleh lembagalembaga perwakilan rakyat dalam bentuk “hearing” ataupun hak bertanya para anggotanya. hlm. Kontrol a-posteriori adalah jika pengawasan itu baru terjadi 222 Ibid. misalnya: kontrol keuangan yang dilakukan oleh Badan Pengawas Keuangan (BPK). xvi . Sebaliknya. yaitu apa yang disebut sebagai Kontrol a-priori ada yang disebut Kontrol a-posteriori. sebab tujuan utamanya adalah untuk mencegah atau menghindari terjadinya kekeliruan. Termasuk pula kontrol ekstern ini adalah kontrol yang dilakukan secara tidak langsung melalui badan-badan peradilan (judicial control) dalam hal timbul persengketaan atau perkara dengan pihak Pemerintah. dilakukan Dikatakan sebagai Kontrol a-priori adalah bila pengawasan itu sebelum dikeluarkannya suatu keputusan atau ketetapan Pemerintah ataupun peraturan lainnya yang pengeluarannya memang menjadi wewenang Pemerintah.222 Ditinjau dari segi saat/waktu dilaksanakannya suatu kontrol atau pengawasan. suatu Kontrol Ekstern adalah pengawasan yang dilakukan oleh organ atau lembaga-lembaga yang secara organisatoris/struktural berada di luar Pemerintah dalam arti eksekutif.64 dilakukan oleh pejabat atasan terhadap bawahannya secara hierarkis. harus terlebih dahulu memperoleh persetujuan dan pengesahan dari instansi atasan.

Jadi dibedakanlah antara Kontrol segi hukum (rechtmatigheidstoetsing) dan Kontrol segi kemanfaatan (doelmatigheidstoetsing). xvi-xvii . arti tindakan/perbuatan pengawasan di sini adalah dititikberatkan kepada tujuan yang bersifat korektif dan memulihkan suatu tindakan yang keliru. dikenal pula pembedaan yang ditinjau dari segi sifat kontrol itu terhadap objek yang diawasi. karena selalu dilakukan sesudah terjadinya sustu perbuatan atau tindakan. Antara keduanya terdapat perbedaan baik dalam ruang 223 Ibid. dan Jangka Waktu Pelaksanaan Pengawasan Preventif berasal dari kata preventie yang berarti pencegahan. Peranan badan peradilan melalui suatu judicial control adalah selalu bersifat Kontrol aposteriori. baik yang bersifat preventif maupun yang bersifat represif seringkali digunakan. yaitu segi “doelmatigheid”. Wujud. Misalnya: Kontrol yang dilakukan oleh badan peradilan (judicial control) pada prinsipnya hanya menitikberatkan pada segi legalitas. 2) Ruang Lingkup. yaitu Kontrol segi hukum. Waktu Pelaksanaan. Dengan kata lain. Di samping kedua macam kriteria pembedaan tersebut di atas. sedangkan suatu kontrol teknis administratif intern dalam lingkungan Pemerintah sendiri (built-in control) bersifat selain penilaian legalitas (rechtsmatigsheidtoetsing) juga dan bahkan lebih menitikberatkan pada segi penilaian kemanfaatan.65 sesudah terjadinya dikeluarkan keputusan/ketetapan Pemerintah. hlm.223 Di lapangan pemerintahan daerah. instrumen pengawasan. yaitu segi “rechtmatigheid” dari perbuatan Pemerintah ataukah juga di samping segi “rechtmatigheid” ini dinilai pula benar-tidak benarnya perbuatan itu ditinjau dari segi/pertimbangan kemanfaatannya (opportunitas). Pemerintah Dengan atau kata sesudah lain. apakah kontrol itu hanya dimaksudkan untuk menilai segi-segi atau pertimbangan yang bersifat hukum-nya (segi legalitas). sedangkan represif dari kata repressie yang berarti penekanan atau pengekangan.

Jadi pengawasan ini mempunyai ruang lingkup (scope) yang lebih luas dari pengawasan preventif.149-153 . Pengawasan terhadap produk-produk hukum yang ditetapkan oleh pemerintahan daerah ( pengawasan terhadap peraturan daerah dan peraturan kepala daerah). besar atau yang mungkin dan kegelisahan-kegelisahan gangguan-gangguan dalam pelaksanaan atau penyelenggaraan kepentingan umum. perwujudan maupun jangka waktu Perbedaan-perbedaan itu adalah sebagai berikut:225 a. hlm. b. Pengawasan represif dijalankan terhadap semua Peraturan Daerah dan keputusan Kepala Daerah tanpa kecuali. dan yang menyangkut kepentingan rakyat banyak. ruang lingkup pengawasan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah dapat dilihat sebagai berikut: Tabel 1: RUANG LINGKUP PENGAWASAN ATAS PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH Pengawasan atas pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah (baik yang menyangkutan urusan otonomi maupun tugas pembantuan). hlm. Ruang lingkup berlakunya Pengawasan preventif hanya dilaksanakan terhadap beberapa Peraturan Daerah atau Keputusan Kepala Daerah tertentu saja yang menyangkut menimbulkan kepentingaan-kepentingan keresahan-keresahan. Rineka Cipta. yang mengandung perintah. (Inspektorat) a. Melalui pranata pembatalan (vernietiging) atau berupa penangguhan pemberlakuan 224 Riwu Kaho. Analisa Hubungan Pemerintah Pusat Dan Daerah Di Indonesia. dan Pemerintah Daerah itu sendiri. ancaman pidana. 149. Peraturan-peraturan dan Keputusan-keputusan Kepala Daerah tertentu yang diawasi secara preventif adalah ketentuan-ketentuan yang memberikan beban kepada rakyat. Melalui pranata pengujian (material dan formal) ke badan peradilan (MA). 1990.66 lingkup/lingkungan pelaksanaanya. apabila tidak ditetapkan dengan sebaik-baiknya oleh Pemerintah Daerah. 225 Ibid. Jakarta.224 berlakunya. larangan. keharusan. Provinsi. Jika digambarkan dalam suatu bagan. Dilakukan oleh aparat pengawas intern. baik Pemerintah Pusat.

sebelum peratuan-peraturan itu mulai berlaku dan dijalankan. oleh Pemerintah Pusat.226 c. Pengawasan preventif berujud kewajiban atau keharusan untuk memperoleh pengesahan lebih dahulu dari pihak pengawas yaitu Menteri Dalam Negeri bagi Peraturan Daerah /Keputusan-keputusan Gubernur Gubernur Kepala Daerah Tingkat I bagi Keputusan-keputusan Kepala Daerah Kepala Daerah Tingkat I. Pengawasan represif dilakukan sesudah Peraturan-peraturan Daerah dan Keputusankeputusan Kepala Daerah berlaku dan dijalankan. 32 Tahun 2004 Pasal 145 (3) dengan secara eksplisit menetapkan bahwa pembatalan Perda ditetapkan dengan Peraturan Presiden. jadi sebelum peraturan-peraturan/keputusan-keputusan tersebut dijalankan.67 (schorsing). Melalui proses/prosedur tertentu. penetapan pedoman. sementara dalam praktek pembatalan terhadap perda ditetapakn oleh Menteri Dalam Negeri (dalam bentuk Peraturan Menteri?). Mengenai waktu pelaksanaanya. c. . untuk provinsi oleh Mendagri dan untuk kabupaten/kota oleh Gubernur. monitoring. misalnya dalam bentuk “evaluasi” terhadap Raperda dan Rancangan Peraturan Kepala Daerah tentang APBD. Jadi pengawasan ini di satu pihak merupakan hak pengawasan dari pihak pengawas dan di lain pihak merupakan kewajiban untuk meminta 226 UU No. Pengawasan preventif dilaksanakan sebelum Peraturan-peraturan dan Keputusan-keputusan Kepala Daerah tersebut mulai berlaku. Perubahan APBD dan Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD. dan Peraturan-peraturan Daerah dan Tingkat II. b. dsb. Wujud dari masing-masing pengawasan. kriteria.

Penundaan bermaksud untuk menahan buat sementara waktu berjalannya Keputusan Kepala Daerah/Peraturan Daerah yang telah berlaku selama masih dalam pertimbangan untuk dibatalkan. Dengan penolakan tersebut. Setelah Keputusan Kepala Daerah/Peraturan Daerah itu ditunda/ditangguhkan berlakunya.68 pengesahan dari pihak yang diawasi. ancaman pidana dan yang menyangkut kepentingan rakyat banyak). Pengawasan represif berupa penundaan/penangguhan atau pembatalan oleh pihak pengawas terhadap Peraturan-Peraturan Daerah/Keputusankeputusan Kepala Daerah yang telah berjalan tersebut. maka peraturan yang dimintakan pengesahan tersebut tidak dapat berlaku. Apabila pihak pengawas beranggapan bahwa peraturan-peraturan dengan yang dimintakan yang lebih pengesahan tinggi tersebut atau bertentangan peraturan tingkatnya bertentangan dengan kepentingan umum. dikenakan pengawasan represif. maka instansi/pejabat yang berwenang dalam pengawasan represif dapat menunda keputusan/peraturan tersebut. Jadi penundaan adalah langkah awal dari pembatalan. maka pihak pengawas akan mengadakan peninjauan atau penyelidikan lebih lanjut apakah memang keputusan tersebut memang perlu dibatalkan ataukah tidak. Penolakan tersebut dengan disertai alasanalasannya disampaikan kepada Pemerintah Daerah yang bersangkutan. diduga atau dianggap mungkin bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi tingkatnya atau dengan kepentingan umum. maka pengawas menolak untuk memberikan pengesahan. Penundaan atau pembatalan dilakukan apabila peraturan-peraturan atau keputusan- keputusan Daerah yang telah dijalankan itu bertentanagan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi tingkatnya atau dengan kepentingan umum Apabila sesuatu Peraturan Daerah atau Keputusan Kepala Daerah yang telah berlaku dengan tanpa pengesahan. larangan. Keputusan-keputusan/peraturan-peraturan lain di luar hal-hal yang tersebut di atas (di luar ketentuan-ketentuan yang memberikan beban kepada rakyat. . perintah. keharusan.

Bilamana Daerah berkeberatan atas penolakan tersebut. sewaktu-waktu dapat ditangguhkan atau dibatalkan.227 Namun demikian. Mengenai jangka waktu pelaksanaan Pengawasan preventif dijalankan dalam jangka waktu terbatas/tertentu.153. Menyongsong Fajar. Pengawasan (toezicht.69 Keputusan untuk menunda harus disampaikan kepada Daerah beserta alasan-alasannya. Tidak ada otonomi tanpa sistem pengawasan. misalnya 3 bulan. Kalau ditolak maka alasan-alasan penolakan itu disampaikan kepada Daerah yang bersangkutan. merupakan dua sisi dari satu mata uang dalam negara kesatuan dengan sistem otonomi (desentralisasi). maka Daerah dapat mengajukan keberatan. d. pengertian pengawasan (toezicht. Sebaliknya pengawasan (toezicht) merupakan kendali terhadap desentralisasi berlebihan.. Antara kebebasan dan kemandirian berotonomi di satu pihak dan pengawasan di pihak lain. supervision) adalah suatu bentuk hubungan dengan sebuah legal entity yang mandiri. hlm. Hubungan pengawasan hanya dilakukan terhadap hal yang secara 227 Bagir Manan. .. Kebebasan dan kemandirian berotonomi dapat dipandang sebagai pengawasan atau kendali terhadap kecenderungan sentralisasi yang berlebihan. Op. Bilamana sesudah jangka waktu 3 bulan tersebut belum ada pengesahan atau penolakan . Bentuk dan isi pengawasan dilakukan semata-mata menurut atau berdasarkan ketentuan undangundang. yaitu selama sesuatu Peraturan Daerah/Keputusan Kepala Daerah masih berlaku.Cit.. supervision) merupakan unsur yang tidak dapat dipisahkan dari kebebasan berotonomi.. maka menurut ketentuan. Peraturan Daerah atau Keputusan Kepala Daerah itu dapat diberlakukan. Pengawasan represif dilakukan untuk jangka waktu yang tidak terbatas. Jadi dalam waktu 3 bulan itu pejabat yang berwenang untuk memberikan pengesahan harus memberikan pengesahan yang dimintakan atau menolaknya. bukan hubungan internal dari entitas yang sama..

Perancis dan Belanda230 NO 1 KATEGORI 2 INGGRIS 3 a. Pengawasan (goedkeuring). Tabel 2: Perbandingan Pengawasan Pusat Terhadap Daerah di Inggris. Pengawasan Administratif c.228 Ada dua jenis pengawasan baku terhadap satuan pemerintahan otonom yaitu pengawasan preventif (preventief toezicht) dan pengawasan represif (repressief toezicht). Pengawasan Yudisial Loc. Pengawasan Legislatif PERANCIS 4 a. Pengawasan ini berkaitan dengan produk hukum daerah dan tindakan tertentu organ pemerintahan daerah. Hubungan Antara Pusat dan Daerah Menurut UUD 1945. Pengawasan Represif 1. Bentuk dan Ruang Lingkup Pengawasan Pusat Terhadap Daerah Dalam Mewujudkan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Yang Demokratis Menurut UUD 1945.. preventif dikatkan dengan 229 wewenang wewenang mengesahkan pembatalan Pengawasan represif adalah (vernietiging) atau penangguhan(schorsing). Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. dapat didekati melalui perbandingan pengawasan yang berlaku di Inggris. Pengawasan Administratif b. 229 228 . Jenis/Bentuk Pengawasan b. dan Belanda. hlm. 154 230 Sumber : Bagir Manan. hlm. Pengawasan Yudisial BELANDA 5 a. 2009. Desertasi. Ibid. Perancis. Bandung. c. Pengawasan Preventif b. Objek-Objek Pengawasan Untuk mengetahui objek-objek pengawasan dalam konteks hubungan pusat dan daerah.43-114.Cit. Pengawasan tidak berlaku atau tidak diterapkan terhadap hal yang tidak ditentukan atau berdasarkan undang-undang.70 tegas ditentukan dalam undang-undang. dibuat Tabel oleh Agus Kusnadi.

b) Peraturan daerah (bersifat regeling).71 a. Kroon (Mahkota). Gedeputeerde Staten a. KeputusanKeputusan yang harus mendapat pengesahan pemerintahan tingkat atasnya b. Pusat Tribuneux Administratif. Objek Pengawasan a. Peraturan/ Kebijakan Commune. dan Gedeputeerde Staten b. Peraturan dan Keputusan Daerah a. c) Tindakan administrasi negara pada pemerintahan daerah (bersifat beschikking dan . Subjek Pengawasan b. Peraturan/ Kebijakan Ekonomi Pemerintah Daerah b. Counseil d’Etat. Keputusan dan Kebijakan Daerah c. Pembentuk UndangUndang. Peraturan. Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah berdasarkan undangundang Parlemen b. Prefect dan Counseil d’Etat 2. Commissaris van de Koning. Pemerintah b. 3. Pengadilan Comptes (Court of Accounts) a. Keputusan yang mempunyai akibat hukum. Kroon (Mahkota). Keputusan atau tindakan administrasi negara Dari bagan yang ditunjukkan di atas dapat ditarik suatu kelaziman bahwa objek pengawasan pemerintah pusat terhadap satuan pemerintahan di bawahnya (atau pengawasan pusat terhadap daerah) adalah terhadap: a) Penyelenggaraan pemerintahan daerah sebagai pelaksanaan undangundang nasional. Parlemen a. Cour des c. baik di bidang otonomi maupun tugas perbantuan.

2. Untuk mengawasi pengeluaran atau belanja daerah sebagai bagian manajemen dan perencanaan dari perekonomian nasional). Makalah untuk pendidikan non-gelar anggota DPRD tingkat II se-Jawa Barat di Fakultas ISIP Unpad. mengisyaratkan setidaknya ada 5 (lima) alasan mengapa pengawasan itu menjadi instrumen penting dalam rangka penyelenggaraan tugas-tugas pemerintahan di daerah. 3. To Wield and integrated the diverse people into a nation. (Terj. To maintain standards of administration as well as coordinate administrations between and among various levels of government. Untuk melindungi para warga negara dari tindakan sewenang-wenang dari (pejabat) pemerintah daerah). 1. . 4. (memegang teguh dan menyatukan beraneka ragam rakyat menjadi suatu bangsa). Tujuan Pengawasan Relevan dengan pengawasan terhadap penyelenggaraan De Guzman dan Artno Pascho231 pemerintahan di daerah. To maintain minimun standards in the performance of services by local authorities. (Terj. (Terj. yakni. Masalah Hukum dalam Pemerintahan di Daerah. f. To control local expenditures as part of the management and planning of the national economy. dan d) Keputusan yang harus mendapatkan pengesahan dari satuan pemerintahan di atasnya. 5. (Terj. 28 Desember 1992.72 beleidsregel). 7. hlm.untuk memelihara standar-standar minimum dalam melaksanakan pelayanan-pelayanan oleh pemerintah daerah). Untuk memelihara standar-standar administrasi sebaik koordinasi administrasi pemerintahan). To protect the citizens against the abuse of power by local authorities. antara dan diantara berbagai macam tingkatan 231 Ateng Syafrudin. Raul P.

233 Kriteria-kriteria di atas penting untuk menjadi pertimbangan dalam melakukan pengawasan. c. 1986. pemeliharaan) sesuai dengan tujuan.N. Dimana dan kapan diadakan pengawasan dan oleh siapa pengawasan tersebut harus dilakukan. dan fragmatis.234 232 233 Ibid.73 Ateng Syafrudin232 menyebutkan 3 (tiga) tujuan dari pelaksanaan pengawasan. maka harus diperhatikan beberapa kriteria sebagai berikut : a. Menurut H. mengendalikan penyimpangan-penyimpangan. 3) Menjaga agar pelaksanaannya itu dijalankan sesuai dengan peraturanperaturan yang telah ditetapkan (peraturan yang berlaku). 71 . Jakarta. d. yakni. Menurut M. fleksibel. Pengawasan tersebut harus bersifat rasional. Bohari. 1. 3. serta akibat-akibatnya. untuk menghindari atau mencegah penyalahgunaan wewenang. CV. agar pelaksanaan pengawasan dapat dijadikan sebagai suatu alat (instrumen) yang efektif dalam rangka penyelenggaraan tugas-tugas pemerintahan daerah. 4) Menjaga agar tugas itu dijalankan berdaya guna (termasuk pengurusan. Mengapa perlu diadakan pengawasan. Masalah Pengurusan Keuangan Negara : Suatu Pengantar Teknis. untuk mencegah kelalaian dalam administrasi yang dapat merugikan negara atau daerah. untuk mencapai hal-hal sebagai berikut : a. 2. Dinna. 5) Melakukan usaha-usaha untuk mengatasi hambatan. sehingga tujuan dari kegiatan pengawasan tersebut dapat tercapai. untuk menjaga kewibawaan pemerintah daerah dan kepentingannya. berkenaan dengan penyelenggaraan tugas-tugas pemerintahan daerah. Azmy Akhir.N. terus menerus. Menjaga agar rencana itu dalam realisasinya tetap terarah pada tujuan yang telah ditentukan. e. Apa yang diawasi (obyek yang perlu diawasi) b. M. Azmy Akhir. Bagaimana pengawasan tersebut dapat dilakukan. hlm.

117-118 Lembaga Administrasi Negara RI. penyelewengan.Cit. Rajawali Pers. pemborosan. hlm. hlm. Jakarta.74 Paling tidak tujuan pengawasan itu adalah untuk mencegah sedini mungkin terjadinya penyimpangan. kesalahan dan kegagalan dalam pencapaian tujuan dan sasaran serta pelaksanaan tugas-tugas organisasi. 159 . 1995. Hukum Anggaran Negara.235 234 235 H. Op. hambatan. Bohari.

pemerintahan daerah diselenggarakan berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut: pertama. Yogyakarta.. 1993. 238 Bagir Manan. Hubungan Kewenangan Perubahan Kedua UUD 1945 yang terjadi pada tahun 2000 mengubah secara mendasar pengaturan pemerintahan daerah di Indonesia. Prinsip menjalankan otonomi seluasluasnya yang diatur dalam Pasal 18 ayat (5) UUD 1945.236 Kedua. dan Bagir Manan.239 Kelima. Prinsip kekhususan dan keragaman daerah sebagai diatur dalam Pasal 18 ayat (1) UUD 1945. UNSIKA. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah. Prinsip badan perwakilan dipilih langsung dalam suatu pemilihan umum sebagaimana diatur dalam Pasal 18 ayat (3) UUD 1945.240 Keenam.237 Ketiga. prinsip hubungan pusat dan daerah harus dilaksanakan secara selaras dan adil sebagaimana terdapat dalam Pasal 18A ayat (2) UUD 1945. 8-9. hlm 17. Pusat Studi Hukum Fakultas Hukum UII. 32/2004 jo UU No. 2001.238 Keempat. prinsip mengakui dan menghormati kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sebagaimana diatur dalam Pasal 18B ayat (2) UUD 1945. hlm 21. hlm. 237 Bagir Manan. 13.. 12-13. 240 Ibid.. 2001. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah.242 Saat ini undang-undang penyelenggaraan pemerintahan daerah sebagai pelaksanaan Pasal 18 ayat (7) didasarkan pada UU No... 241 Ibid.cit.241 Ketujuh. Perjalanan Historis Pasal 18. hlm. 18A dan 18B. hlm 15-16. 239 Ibid. Berdasarkan dasar hukum konstitusional pengaturan pemerintahan daerah dijumpai dalam Pasal-pasal 18. hlm 12. Menyongsong Fajar .. 236 . prinsip mengakui dan menghormati pemerintahan daerah yang bersifat khusus dan istimewa sebagaimana diatur dalam Pasal 18B ayat (1) UUD 1945. Yogyakarta. op. Prinsip daerah mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan sebagaimana diatur dalam Pasal 18 ayat (2) UUD 1945. Pusat Studi Hukum Fakultas Hukum UII. 242 Ibid. Karawang. hlm..75 BAB III PENGATURAN HUBUNGAN ANTARA PUSAT DAN DAERAH A.

yang memiliki perbedaan yang signifikan.kesehatan. URUSAN ‘BERSAMA’ (concurrent power) Pusat. provinsi.Agama. maupun kabupaten/kota (concurrent power). . Hubungan Kelembagaan Hakekat Negara adalah organisasi dan dalam organisasi Negara.pariwisata B. Yayasan Tifa.243 Dalam Negara kesatuan. Ketentuan Pasal 10 UU No. Bagan 6 Pembagian Urusan Pemerintahan URUSAN PEMERINTAHAN MUTLAK URUSAN PUSAT MM . Pemerintahan Daerah Provinsi. UU No. adalah organ-organ pemerintahan (regeringsorganen). dalam Kumpulan Tulisan pasang surut otonomi Daerah. .Politik Luar Negeri. Pertama. Kedudukan organisasi Negara ini tidak hierarkis sementara organ pemerintahan terdapat baik di tingkat 243 Bhenyamin Hoessein.Keamanan. . 2005.Moneter dan Fiskal Nasional. dan . 32/2004 itu mengandung pengertian bahwa urusan pemerintahan dapat dibagi dalam dua kelompok.pendidikan. . kedua. adalah organ-organ Negara (staatsorganen). Provinsi. 33/2004 serta berbagai peraturan lain yang relevan.industri . . 38/2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah. . dapat di identifikasi dua macam kelompok organ.Yustisi. .pertanian . Jakarta. organ Negara termaksud hanya dijumpai di ibu kota Negara (di tingkat pemerintahan nasional). yaitu urusan pemerintahan yang secara mutlak menjadi urusan pusat dan urusan pemerintahan yang dapat dilaksanakan baik oleh pemerintah. Peraturan pelaksana yang mengatur hubungan kewenangan antara lain PP No. Kabupaten/Kota Urusan Wajib Antara lain : .Pertahanan. 197.76 12/2008.lingkungan hidup. .perhubunga n Urusan Pilihan Antara lain : . dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. Hubungan Kewenangan Pusat dan Daerah.kelautan . hlm.

desentralisasi berfungsi untuk mengakomodasi keanekaragaman masyarakat. prakarsa. sehingga terwujud variasi struktur dan politik untuk menyalurkan aspirasi masyarakat setempat. 32 Tahun 2004 . 197 Ibid. peningkatan peran serta.77 nasional maupun di subnasional. Kedudukan organ-organ pemerintahan bersifat hierarkis di bawah Presiden (Pemerintah).245 Dalam penjelasan umum UU No.244 Dengan desentralisasi. terjadi pembentukan dan implementasi kebijakan yang tersebar diberbagai jenjang pemerintahan subnasional. wewenang. hlm.. Dengan demikian isi dan jenis otonomi bagi setiap daerah tidak selalu sama dengan daerah lainnya. Sejalan dengan prinsip tersebut dilaksanakan pula prinsip otonomi yang nyata dan bertanggungjawab. dan pemberdayaan masyarakat yang bertujuan pada peningkatan kesejahteraan rakyat.. hlm. dan kewajiban yang senyatanya telah ada dan berpotensi untuk tumbuh. Adapun yang dimaksud dengan otonomi yang bertanggungjawab adalah otonomi yang dalam penyelenggaraannya harus benar-benar sejalan dengan tujuan dan maksud pemberian otonomi. Prinsip otonomi nyata adalah suatu prinsip bahwa untuk menangani urusan pemerintahan dilaksanakan berdasarkan tugas. 32 Tahun 2004 dijelaskan bahwa Prinsip otonomi daerah menggunakan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam arti daerah diberikan kewenangan mengurus dan mengatur semua urusan pemerintahan diluar yang menjadi urusan Pemerintah.. khususnya pemerintahan tingkat daerah tersusun dalam satu kesatuan struktural dan 244 245 Ibid. yang pada dasarnya untuk memberdayakan daerah termasuk meningkatkan kesejahteraan rakyat yang merupakan bagian utama dari tujuan nasional. Dengan perkataan lain. Asas ini berfungsi untuk menciptakan keanekaragaman dalam penyelenggaraan pemerintahan.246 UUD 1945 menghendaki susunan pemerintahan. hidup dan berkembang sesuai dengan potensi dan kekhasan daerah. 198 246 Penjelasan Umum UU No. sesuai dengan kondisi dan potensi masyarakat. Daerah memiliki kewenangan membuat kebijakan daerah untuk memberi pelayanan.

197 Irawan Soejito.248 Hubungan antara Pemerintah Pusat dengan daerah otonom diatur dengan cara-cara tertentu yang diatur dengan undang-undang. dengan demikian terdapat pemencaran kekuasaan dari pusat kedaerah baik menurut asas otonomi. Berdasarkan kenyataan itu. 4 Agustus 2009 250 Pasal 3 Ayat (1) UU No. Bahan diskusi pada Diskusi Terbatas Pusat Studi Hukum Tata Negara. 1. 32 Tahun 2004 .249 Menurut UU No. Bandung. Atas dasar ketentuan tersebut dapat diketahui bahwa penyelenggaraan pemerintahan dilakukan dengan menggunakan sistem desentralisasi. Penerbit Bina Aksara. antara pusat dan daerah akan terjadi hubungan antara lain hubungan kelembagaan.247 Negara (pemerintah Pusat) dan daerah kedua-duanya merupakan badan hukum publik yang masing-masing mempunyai badan pemerintahannya sendiri-sendiri dengan hak. hlm.78 fungsional yang utuh. Dalam hal ini adalah UU No. Hubungan… hlm. kewenangan dan kewajiban sendiri-sendiri. Hubungan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. tugas pembantuan dan dekonsentrasi.250 247 248 Bagir Manan. Susunan luar dibawah Pemerintah Pusat terdapat Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. meskipun tidak dalam susunan hirarkis satu sama lain. Hubungan dalam pengaturan organisasi perangkat daerah Sebagaimana diketahui bentuk Negara Indonesia tercantum di dalam Pasal 1 Ayat (1) UUD 1945. yang penyelenggaraannya melalui ketentuan Pasal 18 ayat (1). Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran. 32 Tahun 2004 Tentang pemerintahan Daerah beserta peraturan pelaksanaannya. susunan kelembagaan pemerintahan daerah terdiri dari: 1. 1984. hubungan tersebut dalam praktek terlihat misalnya pada pengaturan organisasi perangkat daerah dan pemekaran daerah. 182 249 Kuntana Magnar. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah beserta perubahannya.

melindungi dan melayani masyarakat maupun dalam memimpin organisasi administrasi pemerintahan.253 2. Dalam hal pelantikan terdapat hubungan antara pemerintah dan pemerintah daerah sebagaimana diatur dalam Pasal 111 ayat (1) Gubernur dan wakil Gubernur dilantik oleh Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden. untuk provinsi disebut wakil Gubernur. kecamatan. untuk kabupaten disebut wakil bupati dan untuk kota disebut wakil walikota. Perangkat daerah provinsi adalah unsur pembantu kepala daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah yang terdiri dari sekretariat daerah. Kepala daerah untuk provinsi disebut Gubernur. baik sebagai pemimpin organisasi pemerintahan yang mengayomi. Kepala daerah Pasal 24 UU No. 32 Tahun 2004 Pasal 1 angka 7 PP No. telah menunjukan eksistensinya. dinas daerah dan lembaga teknis daerah252 b. Dalam memutar roda organisasi pemerintahan. 32 Tahun 2004 menyebutkan pada Setiap daerah dipimpin oleh kepala pemerintah daerah yang disebut kepala daerah. dan untuk kota disebut walikota. Kepala daerah dibantu oleh satu orang wakil kepala daerah. dinas daerah. 41 Tahun 2007 253 Pasal 1 angka 8 PP No. pembangunan 251 252 Pasal 3 Ayat (2)jo. Perangkat daerah kabupaten/kota adalah unsur pembantu kepala daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah yang terdiri dari sekretariat daerah. sekretariat DPRD. lembaga teknis daerah. untuk kabupaten disebut bupati. (2) Bupati dan wakil bupati atau walikota dan wakil walikota dilantik oleh Gubernur atas nama Presiden. Pasal 19 Ayat (2)UU No. Susunan dalam terdiri dari DPRD dan kepala Daerah beserta perangkat daerah251 a. (4) Tata cara pelantikan dan pengaturan selanjutnya diatur dalam Peraturan Pemerintah Kedudukan dan peranan kepala daerah dengan beragam penyebutan seperti Gubernur. dan kelurahan. 41 . Bupati/Walikota. sekretariat DPRD.79 2.

dan kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur untuk Bupati/Walikota 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun.254 3. 2003. serta dalam menghadapi konflik. Hlm. Kepala Daerah juga mempunyai kewajiban untuk memberikan laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada Pemerintah Pasal 27 Ayat (2). Kaloh. Laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada Pemerintah disampaikan kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri untuk Gubernur.80 dan pembinaan kemasyarakatan. dan kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur untuk Bupati/Walikota 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun. Hubungan Kepala Daerah dengan Pemerintah Menurut UU No. 254 J. Jakarta. dan memberikan laporan keterangan pertanggungjawaban kepada DPRD. kepala daerah secara terus menerus dihadapkan pada pelbagai tuntutan dan tantangan baik secara internal maupun eksternal yang harus di respon dan diantisipasi sekaligus merupakan ujian terhadap kapabilitias dan kompetensi Kepala Daerah. gejolak dan permasalahan pemerintahan di daerah. Laporan tersebut digunakan Pemerintah sebagai dasar melakukan evaluasi penyelenggaraan pemerintahan daerah dan sebagai bahan pembinaan lebih lanjut sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Selain itu. Penerbit Gramedia Pustaka. pada Ayat (3) dikatakan Laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada Pemerintah dimaksud disampaikan kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri untuk Gubernur. 3 . serta menginformasikan laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada masyarakat. kepala daerah mempunyai kewajiban juga untuk memberikan laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada Pemerintah. 32 Tahun 2004 Hubungan organisasi perangkat daerah antara pemerintah dengan pemerintah daerah terdapat dalam hal melaksanakan tugas dan wewenang kepala daerah dan wakil kepala daerah mempunyai kewajiban menjalin hubungan kerja dengan seluruh instansi vertikal di daerah dan semua perangkat daerah (Pasal 27 Ayat (1)). Kepala Daerah.

255 256 Pasal 37 UU No. Tindak pidana itu antara lain menurut Pasal 31 ayat (1) tindak pidana korupsi. b) koordinasi penyelenggaraan urusan Pemerintah di daerah provinsi dan kabupaten/kota. Presiden menetapkan penjabat Gubernur atas usul Menteri Dalam Negeri atau penjabat Bupati/Walikota atas usul Gubernur dengan pertimbangan DPRD sampai dengan adanya putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. dan/atau tindak pidana terhadap keamanan Negara. Gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat Gubernur yang karena jabatannya berkedudukan juga sebagai wakil Pemerintah di wilayah provinsi yang bersangkutan. Pada Ayat (2) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah diberhentikan oleh Presiden tanpa melalui usulan DPRD apabila terbukti melakukan tindak pidana berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.81 Laporan sebagaimana dimaksud digunakan Pemerintah sebagai dasar melakukan evaluasi penyelenggaraan pemerintahan daerah dan sebagai bahan pembinaan lebih lanjut sesuai dengan peraturan perundang-undangan.255 Dalam kedudukannya tersebut Gubernur bertanggung jawab kepada Presiden. Pasal 30 ayat (1) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah diberhentikan sementara oleh Presiden tanpa melalui usulan DPRD apabila dinyatakan melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun atau lebih berdasarkan putusan pengadilan. 32 Tahun 2004 ayat (1) Pasal 37 UU No. memiliki tugas dan wewenang257 dalam hal a) pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah kabupaten/kota.256 Gubernur dalam kedudukannya sebagai wakil pusat di daerah. Pasal 31 ayat (1). tindak pidana terorisme. Pasal 34 ayat (3) menyebutkan apabila kepala daerah dan wakil kepala daerah diberhentikan sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1). c) koordinasi pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan tugas pembantuan di daerah provinsi dan kabupaten/kota. 4. 32 Tahun 2004 ayat (2) 257 Pasal 38 Ayat (1) . makar. dan Pasal 32 ayat (5).

memilih wakil kepala daerah dalam hal terjadi kekosongan jabatan wakil kepala daerah. kebijakan pemerintah daerah dalam melaksanakan program pembangunan daerah. b. Marbun. Dengan kedudukannya seperti tersebut DPRD memiliki fungsi legislasi.82 5. 327 258 . DPRD Konsep perwakilan politik lokal terkait dengan sistem pemerintahan yang dipraktikkan suatu Negara. Institute for Local Development Yayasan TIFA. anggaran. peraturan kepala daerah. artinya. d. BN. Perwakilan Politik Lokal dan Eksistensi DPRD dalam Konteks Otonomi Daerah. 32 Tahun 2004) dan DPRD sebagai lembaga perwakilan rakyat daerah dipilih melalui pemilihan umum bersamaan dengan pemilihan anggota DPR dan DPD. membahas dan menyetujui rancangan Perda tentang APBD bersama dengan kepala daerah. c. dan kerja sama internasional di daerah. membentuk Perda yang dibahas dengan kepala daerah untuk mendapat persetujuan bersama. melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan Perda dan peraturan perundang-undangan lainnya. editor Anhar Gonggong. Jakarta 2005.258 Sebagaimana telah disinggung sebelumnya bahwa DPRD merupakan unsur pemerintahan daerah bersama kepala daerah (Pasal 40 UU No. dan pengawasan (Pasal 41). APBD. hlm. mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian kepala daerah/wakil kepala daerah kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri bagi DPRD provinsi dan kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur bagi DPRD kabupaten/kota. keterlibatan masyarakat secara langsung dan tidak langsung ikut menentukan urusan urusan rumah tangga daerahnya. Konsep perwakilan politik lokal merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sistem demokrasi. e. dalam Kumpulan Tulisan “Pasang Surut Otonomi Daerah”. Adapun mengenai tugas dan wewenang DPRD sebagaimana diatur dalam Pasal 42 UU 32 Tahun 2004 adalah: a.

h. Pengaturan mengenai DPRD ini selain diatur dalam UU No. yaitu UU No. Meskipun pengaturan tentang susunan. Perangkat Daerah Keberadaan perangkat daerah dijumpai pada Pasal 1 Angka 3 dan Pasal 120 UU No. bahkan dalam cara pengisiannyapun sama-sama dipilih secara langsung oleh rakyat melalui pemilu. 32 Tahun 2004 juga diatur dalam UU yang mengatur tentang Susunan Kedudukan MPR. atau dengan perkataan lain DPRD bukan merupakan subordinasi dari DPR RI. j.83 f. 32 Tahun 2004. k. DPR. kedudukan dan fungsi DPR RI. 6. membentuk panitia pengawas pemilihan kepala daerah. Dengan adanya PP tersebut menunjukan adanya hubungan . namun DPRD tidak mempunyai hubungan secara langsung dengan DPR. Bahkan dalam hal pembentukan perda. 23 Tahun 2002 sebagaimana disebutkan dalam Pasal 39 UU No. i. melakukan pengawasan dan meminta laporan KPUD dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah. Disamping itu DPRD juga sebenarnya merupakan bagian atau unsur kekuasaan eksekutif pada level pusat karena merupakan bagian dari penyelenggara pemerintahan daerah. 32 Tahun 2004 yang pelaksanaannya melalui PP No. kekuasaan DPRD baik tingkat provinsi maupun Kabupaten/Kota akan melalui sebuah upaya evaluasi peraturan pelaksanaannya. meminta laporan keterangan pertanggungjawaban kepala daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. DPD dan DPRD. g. memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama internasional yang dilakukan oleh pemerintah daerah. kedudukan serta fungsi DPRD ini berada dalam satu undang-undang yang sama dengan pengaturan mengenai susunan. 41 Tahun 2007. memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama antardaerah dan dengan pihak ketiga yang membebani masyarakat dan daerah. memberikan pendapat dan pertimbangan kepada pemerintah daerah terhadap rencana perjanjian internasional di daerah.

41 Tahun 2007 dijelaskan bahwa Pembinaan dan pengendalian organisasi dalam Peraturan Pemerintah ini dimaksudkan dalam rangka penerapan koordinasi. Pada penjelasan umum PP No. Kepala Daerah harus memberhentikan pelaksanaan perda. dapat dibatalkan oleh pemerintah yang ditetapkan dengan Peraturan Presiden paling lama 60 hari sejak diterimanya perda oleh Pemerintah (Pasal 145 ayat (2). Perda yang bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundang-undangan lebih tinggi. Setiap perda dilarang bertentangan dengan kepentingan umum. Sedang untuk Kabupaten/Kota ditambah dengan kecamatan dan keluarahan (Pasal 120 UU No.84 kelembagaan antara pusat dan daerah dalam pengaturan organisasi perangkat daerah. Apabila keberatan itu dikabulkan sebagian atau seluruhnya putusan Mahkamah Agung tersebut menyatakan Peraturan Presiden menjadi batal dan tidak mempunyai kekuatan hukum. sekretariat DPRD. sehingga masing-masing pemerintah daerah taat asas dan taat norma dalam penataan kelembagaan perangkat daerah. Dalam ketentuan ini pemerintah dapat membatalkan . Suatu raperda ditetapkan oleh Gubernur atau Bupati/Walikota paling lama 30 hari sejak disetujui bersama (Pasal 144 Ayat (3)). raperda itu sah menjadi perda (Ayat 4). Kepala Daerah dapat mengajukan keberatan pada Mahkamah Agung (Ayat (5)). dan/atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi (Pasal 136 Ayat( 4)). Kabupaten/Kota tidak menerima pembatalan tersebut dengan alasan yang dapat dibenarkan oleh peraturan perundang-undangan. dan lembaga teknis daerah. 32 Tahun 2004). (3)). Pembentukan organisasi perangkat daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah dengan berpedoman pada PP mengenai Susunan. integrasi. Bupati/Walikota dalam jangka waktu tersebut. Apabila Provinsi. dinas daerah. Tugas Pokok dan Fungsi Perangkat Daerah. Perangkat daerah provinsi terdiri atas sekretariat daerah. Paling lama 30 hari setelah pembatalan. Dalam hal tidak ditetapkan Gubernur. Kedudukan. sinkronisasi dan simplifikasi antardaerah dan antarsektor. Selanjutnya DPRD dengan Kepala Daerah mencabut perda dimaksud (Ayat (4)).

Menurut UU No. yaitu dalam hal syarat administratif terkait DRPD Kabupaten dan Kota. pelatihan. Hal itu disebabkan diberikannya peluang yang sangat besar (untuk terjadinya pemekaran) oleh undang-undang tersebut yang kemudian 259 260 Penjelasan Umum PP No. Bahan Diskusi Terbatas. 41 Tahun 2007 Tentang SOTK Kuntana Magnar. Pasal 7 Ayat (1) dan (2) serta Pasal 8.85 peraturan daerah tentang perangkat daerah yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan dengan konsekuensi pembatalan hak-hak keuangan dan kepegawaian serta tindakan administratif lainnya. 32 Tahun 2004 antara lain diatur didalam Pasal 4 Ayat (3) dan (4). Pasal 18 ayat 1 UUD 1945 menganut desentralisasi teritorial sehingga akan dibentuk daerah-daerah baik Provinsi. sehingga sinkronisasi dan simplifikasi dapat tercapai secara optimal dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bupati dan Walikota.259 7. Pada Pasal 5 Ayat (2) dan (3) jelas nampak adanya hubungan kelembagaan antara pusat dan daerah dalam pembentukan daerah. pedoman. Sementara pada kelembagaan pusat. Selain akan terkait dengan DPR dan Presiden (dalam hal ini diwakili Mendagri). Dalam pelaksanaan pembinaan dan pengendalian organisasi perangkat daerah. Dalam sepuluh tahun terakhir. telah terjadi banyak sekali pemekaran daerah provinsi. Pasal 5. Pusat Studi HTN . serta kerja sama. maupun kota di Indonesia. Hubungan dalam pembentukan daerah (pemekaran dan pembubaran daerah)260 Hubungan kelembagaan lainnya terdapat dalam pembentukan daerah (pemekaran dan pembubaran daerah). Kabupaten dan Kota dengan UU. Demikian pula pada Pasal 7 dan Pasal 8. yaitu sejak dikeluarkannya UndangUndang Nomor 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah. bimbingan. DPRD Provinsi dan Gubernur dengan Menteri Dalam Negeri. pemberian arahan. pemerintah senantiasa melakukan fasilitasi melalui asistensi.2 dan 3 UUD 1945. kabupaten. supervisi. juga terdapat celah bagi peran DPD meskipun sangat terbatas terlihat pada Pasal 22 D ayat 1.

Sebagai akibatnya.86 dimanfaatkan oleh para politisi atau elit lokal (daerah). pembentukan daerah baru pun banyak terjadi seperti cendawan tumbuh di musim hujan. Bandung. dan daya saing daerah. adalah salah satu implikasi negatif berlakunya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999. banyak elit daerah yang mengajukan pemekaran daerah dengan dalih sudah memenuhi syarat yang ditentukan oleh undang-undang. . maupun kota. Pembentukan daerah baru juga dilakukan atas nama kepentingan masyarakat. kabupaten. pelayanan publik (umum). 2002. hlm. 4. kecenderungan membentuk daerah otonom baru tidak serta-merta berakhir dengan digantinya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004. yaitu untuk meningkatkan kesejahtraan masyarakat. Di satu sisi. Sekalipun saat ini undang-undang tersebut sudah tidak berlaku. Namun demikian. pelayanan masyarakat (publik). Laporan Penelitian. mengundang kecemasan mengenai keberlanjutan dan kemampuan suatu daerah otonom baru untuk dapat bertahan mengurus rumah tangganya sendiri. baik provinsi. Bahkan. Namun di sisi lain. Para politisi lokal pun tetap beramai-ramai membentuk daerah baru dengan mengedepankan 261 Pusat Pengkajian dan Pengembangan Wilayah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran. Bahkan sangat mungkin terjadi sebaliknya di mana pemekaran daerah dapat menjadi penyebab persoalan bagi kehidupan masyarakat di daerah yang baru dibentuk tersebut.261 Dengan demikian. Dalam hal ini. tampaknya paradigma berpikir masyarakat pun tidak berubah dengan perubahan dasar hukum pemerintahan daerah tersebut. dan daya saing daerah sebagaimana yang diharapkan ketika pembentukan daerah baru. Pengkajian Penataan Daerah Otonom Kabupaten/Kota di Jawa Barat. kecenderungan untuk melakukan pemekaran daerah atau pembentukan daerah baru masih saja berlanjut. Adanya fakta banyak daerah baru yang dibentuk. pemekaran daerah belum menjadi jaminan atau obat yang mujarab dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. kecenderungan tersebut dapat diterima dan dipahami sebagai wujud adanya kedewasaan dan harapan untuk mengurus dan mengembangkan potensi daerah dan masyarakatnya.

8. sebenarnya tidak ada peraturan perundang-undangan yang secara khusus mengatur hal tersebut. Berkaitan dengan hal itu. Demikian pula untuk provinsi dapat dibagi ke dalam kabupaten dan kota yang sudah ada maupun dibagi lagi ke dalam kabupaten dan kota yang baru. maupun daya saing daerah. Pengaturan undangan Pemekaran Daerah dalam Peraturan Perundang- Berbicara tentang pengaturan pemekaran daerah. pada kenyataannya masalah tersebut “sudah” 262 Sekretariat Jenderal Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia. Pembentukan daerah (baru) dapat ditafsirkan dari bunyi Pasal 18 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) hasil perubahan kedua pada tanggal 18 Agustus 2000262 yang menyatakan bahwa “Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota. 2009. seperti keadaan sosial-budaya masyarakat. yaitu Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah. hlm. UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. secara faktual pada saat itu sudah terdapat undang-undang yang mengatur tentang hal tersebut. Namun demikian. Dengan demikian. penjabarannya (akan) diatur lebih lanjut dengan undangundang. pelayanan publik. . sumberdaya keuangan. sekalipun ketentuan UUD 1945 menyebutkan “akan” diatur lebih lanjut dengan undang-undang. Jakarta. yang diatur dengan undang-undang”. 31. yang tiap-tiap provinsi. dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah. maupun kemampuan daerah. keharmonisan hubungan pemerintahan. Alasan tersebut menjadi senjata yang sangat ampuh untuk membentuk daerah baru tanpa mempertimbangkan aspek lain. maupun sumberdaya alamnya.87 alasan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. baik dari segi sumberdaya manusia. kabupaten. Dari bunyi pasal tersebut dapat diasumsikan bahwa wilayah Indonesia dibagi baik ke dalam provinsi yang sudah ada atau dapat dibagi lagi ke dalam provinsi yang baru melalui pemekaran.

kabupaten. Daerah Kabupaten. Kenyataan itu juga turut dipermudah dengan proses dan mekanisme pemekaran yang sangat mudah seperti yang dapat dilihat dalam penjelasan Pasal 115 ayat (1) yang berkaitan dengan tugas Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah. b. ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. (4) Penghapusan.88 diatur dengan undang-undang yang ada. digabung. Pasal tersebut berbunyi “Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi dalam Daerah Propinsi. rumusan Pasal 18 ayat (1) UUD 1945 adalah hasil adopsi rumusan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999. ditetapkan dengan Undangundang. dan/atau dimekarkan diusulkan oleh Kepala Daerah dengan persetujuan DPRD kepada Pemerintah. Berkaitan dengan pemekaran daerah. dan/atau pemekaran daerah dijelaskan sebagai berikut: a. Adapun mekanisme pembentukan. dan Daerah Kota yang bersifat otonom”. dan kota yang harus ada di Indonesia. penggabungan dan pemekaran Daerah. Dari bunyi pasal di atas. (2) Daerah dapat dimekarkan menjadi lebih dari satu Daerah. dihapus. (3) Kriteria tentang penghapusan. Pemerintah menugaskan Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah . sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). pemekaran daerah sangat dimungkinkan bahkan ketentuannya terkesan sangat longgar. penggabungan. hal itu diatur dalam Pasal 6 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang berbunyi: (1) Daerah yang tidak mampu menyelenggarakan Otonomi Daerah dapat dihapus dan atau digabung dengan Daerah lain. Bahkan sebenarnya. dan pemekaran Daerah. Apabila dilihat rumusannya. penggabungan. sehingga tidak ada pembatasan sampai berapa tahap pemekaran itu dapat dilakukan dan sampai berapa jumlah provinsi. sebenarnya rumusan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 lebih baik daripada rumusan Pasal 18 ayat (1) UUD 1945. penghapusan. Daerah yang akan dibentuk. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2).

e. pertimbangan lain yang memungkinkan terselenggaranya Otonomi Daerah. b. Pembentukan. dan Penggabungan Daerah. terutama dalam Pasal 13 ayat (1) disebutkan bahwa pemekaran daerah dapat dilakukan berdasarkan kriteria sebagai berikut: a. . d. g. Sebagai pelaksanaan lebih lanjut perintah Pasal 6 ayat (3) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999. Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah menyampaikan pertimbangan untuk penyusunan rancangan undang-undang yang mengatur pembentukan. penggabungan. pembentukan Daerah harus didukung oleh penelitian awal yang dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah. dan/atau pemekaran Daerah Otonom. Pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 129 Tahun 2000 tentang Persyaratan. dan Kriteria Pemekaran. potensi daerah. kemampuan ekonomi. dan Penggabungan Daerah. jumlah penduduk. sosial-budaya. penghapusan. luas daerah. c. Selanjutnya. potensi daerah. sosial politik. dan pertimbangan lain. Penghapusan. ada kemauan politik dari Pemerintah Daerah dan masyarakat yang bersangkutan. Penghapusan. b. berkaitan dengan prosedur pemekaran daerah dianggap sama dengan prosedur pembentukan daerah. c. luas daerah. usul pembentukan Propinsi disampaikan kepada Pemerintah cq Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah dengan dilampirkan hasil penelitian Daerah dan persetujuan DPRD Propinsi dan DPRD Kabupaten/Kota yang berada dalam wilayah Propinsi dimaksud. Dalam BAB IV tentang Kriteria Pemekaran.89 untuk melakukan penelitian dengan memperhatikan kemampuan ekonomi. jumlah penduduk. c. sosial-politik. f. yaitu: a. yang dituangkan dalam Keputusan DPRD. sosial budaya.

g. Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah memproses lebih lanjut dan dapat menugaskan Tim untuk melakukan observasi ke Daerah yang hasilnya menjadi bahan rekomendasi kepada Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah. h. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 juga masih membuka peluang terjadinya pemekaran daerah. apabila Presiden menyetujui usul dimaksud. pembentukan. peraturan pemerintah yang berkaitan dengan persyaratan. berdasarkan saran dan pendapat Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah. para anggota Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah memberikan saran dan pendapat secara tertulis kepada Ketua Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah. j. Sama halnya dengan undang-undang sebelumnya. Oleh karena itu. f. dan penggabungan daerah diganti seiring dengan digantinya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah. tidak mengherankan sampai saat ini proses pemekaran daerah masih .90 d. e. dan kriteria pemekaran. i. apabila berdasarkan hasil keputusan rapat anggota Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah menyetujui usul pembentukan Daerah. usul pembentukan suatu daerah diputuskan dalam rapat anggota Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah. berdasarkan rekomendasi pada huruf e. dengan memperhatikan usulan Gubernur. Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah selaku Ketua Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah mengajukan usul pembentukan Daerah tersebut beserta Rancangan Undang-undang Pembentukan Daerah kepada Presiden. Ketua Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah meminta tanggapan para anggota Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah dan dapat menugaskan Tim Teknis Sekretariat Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah ke Daerah untuk melakukan penelitian lebih lanjut. Selanjutnya. penghapusan. Hal itu dapat dilihat dari bunyi Pasal 2 ayat (1) yang berbunyi ”Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota yang masing-masing mempunyai pemerintahan daerah”. Rancangan Undangundang pembentukan Daerah disampaikan kepada DPR-RI untuk mendapat persetujuan. yang dituangkan dalam Keputusan DPRD. usul pembentukan Kabupaten/Kota disampaikan kepada Pemerintah cq Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah melalui Gubernur dengan dilampirkan hasil penelitian Daerah dan persetujuan DPRD Kabupaten/Kota serta persetujuan DPRD Propinsi.

sosial politik. dan faktor lain yang memungkinkan terselenggaranya otonomi daerah. (5) Syarat fisik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi paling sedikit 5 (lima) kabupaten/kota untuk pembentukan provinsi dan paling sedikit 5 (lima) kecamatan untuk pembentukan kabupaten. dan dokumen. serta rekomendasi Menteri Dalam Negeri. Pembentukan daerah dapat berupa penggabungan beberapa daerah atau bagian daerah yang bersandingan atau pemekaran dari satu daerah menjadi dua daerah atau lebih. (4) Syarat teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi faktor yang menjadi dasar pembentukan daerah yang mencakup faktor kemampuan ekonomi. persetujuan DPRD provinsi induk dan Gubernur. peralatan.91 dilakukan dan terus berlangsung karena memang undang-undangnya membuka peluang untuk itu. Pasal 6. pendanaan. keamanan. pertahanan. (2) Syarat administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk provinsi. kewenangan menyelenggarakan urusan pemerintahan. luas daerah. cakupan wilayah. dan prasarana pemerintahan. dan 4 (empat) kecamatan untuk pembentukan kota. lokasi calon ibukota. pengisian keanggotaan DPRD. persetujuan DPRD provinsi dan Gubernur serta rekomendasi Menteri Dalam Negeri. (3) (4) Pasal 5 (1) Pembentukan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 harus memenuhi syarat administratif. teknis. potensi daerah. Pemekaran dari satu daerah menjadi 2 (dua) daerah atau lebih sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat dilakukan setelah mencapai batas minimal usia penyelenggaraan pemerintahan. . meliputi adanya persetujuan DPRD kabupaten/kota dan Bupati/Walikota yang akan menjadi cakupan wilayah provinsi. sosial budaya. batas. (3) Syarat administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk kabupaten/kota meliputi adanya persetujuan DPRD kabupaten/kota dan Bupati/Walikota yang bersangkutan. pengalihan kepegawaian. dan fisik kewilayahan. dan Pasal 7 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang berbunyi sebagai berikut: Pasal 4 (1) (2) Pembentukan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) ditetapkan dengan undang-undang. ibukota. serta perangkat daerah. Undang-undang pembentukan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) antara lain mencakup nama. sarana. kependudukan. Pengaturan tentang pembentukan daerah dan pemekaran daerah diatur dalam Pasal 4. penunjukan penjabat kepala daerah.

32 Tahun 2004 menentukan bahwa penghapusan dan penggabungan daerah otonom. (2) Penghapusan dan penggabungan daerah otonom dilakukan setelah melalui proses evaluasi terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah. dilakukan setelah melalui proses evaluasi. terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah. Selanjutnya laporan dimaksud digunakan pemerintah sebagai dasar melakukan evaluasi penyelenggaraan pemerintahan daerah (Pasal 27 Ayat (2) dan (3) UU 32 Tahun 2004). perubahan nama daerah. (3) Pedoman evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah.92 Pasal 6 (1) Daerah dapat dihapus dan digabung dengan daerah lain apabila daerah yang bersangkutan tidak mampu menyelenggarakan otonomi daerah. sedangkan mengenai perubahan batas suatu daerah. Dalam ketentuan Pasal 8 tidak ditegaskan . Laporan tersebut disampaikan kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri untuk Gubernur. Kepala Daerah berkewajiban untuk memberikan laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada Pemerintah (pusat). Tata cara pembentukan penghapusan dan penggabungan daerah. Sehubungan dengan itu. serta perubahannya atau pemindahan ibu kota ditetapkan dengan PP. pemberian nama. atas usul dan persetujuan daerah yang bersangkutan (Ayat (2) dan (3)). diatur dengan PP (Pasal 8). dan kepada Menteri Dalam Negari melalui Gubernur untuk Bupati/Walikota dalam satu tahun. Pasal 6 U No. Sementara itu dalam Pasal 7 Ayat (1) ditentukan bahwa penghapusan dan penggabungan daerah beserta akibatnya ditetapkan dengan undangundang. dalam pembentukan dan pememkaran serta penggabungan daerah terkait juga peran dari Dewan Perwakilan Daerah (DPD) meskipun sangat terbatas. yaitu DPD dapat menngajukan kepada DPR rancangan undang-undang (RUU) tentang hal dimaksud.

Penggabungan beberapa daerah atau bagian daerah yang bersandingan. (3) Pembentukan daerah provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat berupa: a. dan Penggabungan Daerah. c. Selanjutnya.93 bagaimana dengan pemekaran dan perluasan daerah. Pasal 5. dan penggabungan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. Pemekaran dari 1 (satu) kabupaten/kota menjadi 2 (dua) kabupaten/kota atau lebih. yaitu: (1) Pembentukan daerah dapat berupa penggabungan beberapa daerah atau bagian daerah yang bersandingan atau pemekaran dari satu daerah menjadi dua daerah atau lebih. (4) Pembentukan daerah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat berupa: a. Pada ketentuan ini tidak ditegaskan bagaimana dengan perluasan daerah. Pemekaran dari 1 (satu) provinsi menjadi 2 (dua) provinsi atau lebih. b. Berkaitan dengan pemekaran daerah menurut Peraturan Pemerintah tersebut sebenarnya hampir sama sebagaimana diatur dalam Pasal 2. . Penggabungan beberapa kecamatan yang bersanding pada wilayah kabupaten/kota yang berbeda. Penggabungan beberapa kabupaten/kota yang bersanding pada wilayah provinsi yang berbeda. dan Pasal 6 diatur dengan Peraturan Pemerintah. sebab apabila merujuk pada Pasal 4 Ayat (3) dikatakan pembentukan daerah dapat berupa: a. b. (2) Pembentukan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pemekaran dari satu daerah menjadi dua daerah atau lebih. Penghapusan. b. penghapusan. ketentuan tentang tata cara pembentukan. dapat berupa pembentukan daerah provinsi atau daerah kabupaten/kota. Penggabungan beberapa provinsi menjadi 1 (satu) provinsi. c. Adapun peraturan pemerintah yang dimaksud adalah Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2007 Tentang Tata Cara Pembentukan.

kabupaten. Dengan demikian. Hal ini sangat penting agar suatu daerah dapat menjalankan roda pemerintahan sebagai daerah yang baru dibentuk. kedua peraturan perundang-undangan di atas memiliki kesamaan di mana keduanya sangat membuka peluang terjadinya pemekaran daerah baru. Hal ini adalah suatu kemajuan dibandingkan dengan peraturan pemerintah sebelumnya. 32 Tahun 2004 diteliti. tetapi mengandung arti bahwa suatu daerah seharusnya dibesarkan bukan . Apabila ketentuan Pasal 4 Ayat (3) UU No. maka terhadap pengertian pemekaran sebenarnya bukan pemecahan. maupun kota. sampai dengan sekarang (2009) telah terjadi banyak sekali pemekaran daerah menjadi daerah otonom baru baik provinsi. dan 96 kota. 164 kabupaten.94 c. Selengkapnya Pasal 3 berbunyi “Daerah yang dibentuk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3) huruf a dan ayat (4) huruf a dapat dimekarkan setelah mencapai batas minimal usia penyelenggaraan pemerintahan 10 (sepuluh) tahun bagi provinsi dan 7 (tujuh) tahun bagi kabupaten/kota. Penggabungan beberapa kabupaten/kota menjadi 1 (satu) kabupaten/kota. sampai sekarang (2009). Salah satu perbedaan penting antara kedua peraturan pemerintah tersebut adalah dalam Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2007 diatur tentang batas waktu minimal suatu daerah dapat dimekarkan (lagi) setelah dimekarkan. 389 kabupaten. Berdasarkan data yang diajukan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidato pengantar Rancangan Undang-Undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2010 dan Nota Keuangan di depan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tanggal 3 Agustus 2009 diketahui bahwa sejak tahun 1999 sampai dengan 2009 telah terbentuk 205 daerah baru yang terdiri dari 7 provinsi. Sebagai akibat dari mudahnya prosedur pemekaran daerah seperti yang dijelaskan di atas. jumlah daerah otonom di Indonesia menjadi 33 provinsi. dan 34 kota. Namun demikian.

Sementara syarat fisik meliputi paling sedikit 5 Kabupaten/Kota untuk pembentukan Provinsi dan paling sedikit 5 Kecamatan untuk pembentukan Kabupaten. kependudukan.95 dipacah. Syarat teknis meliputi faktor yang menjadi dasar pembentukan daerah yang mencakup faktor kemampuan ekonomi. 3. lokasi calon ibukota. 4 kecamatan untuk Kota. c. peningkatan keamanan dan ketertiban. dan faktor lain yang memungkinkan terselenggaranya otonomi daerah. 129 Tahun 2000 (semasa UU No. Sebenarnya yang perlu diperhatikan dalam pembentukan pemekaran penhapusan dan penggabungan daerah yaitu tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan melalui: a. Peningkatan pelayanan kepada masyarakat. Percepatan pengelolaan potensi daerah. b. Kabupaten dan Kota. 22 Tahun 1999) dapat diketahui bahwa: 1. Penggabungan daerah adalah pengaturan daerah yang dihapus kepada daerah lain. pertahanan keamanan. Pemekaran daerah adalah pemekaran wewenang dari Pemerintah kepada Gubernur sebagai wakil pwemerintah dan/atau perangkat pusat di daerah. social politik. Percepatan pelaksanaan pembangunan perekonomian daerah. Pembentukan daerah adalah pemberian status pada wilayah tertentu sebagai Daerah Provinsi. sarana dan prasarana pemerintahan. luas daerah. 2. Pembentukan daerah itu sendiri harus memenuhi syarat administratif dan fisik kewilayahan (Pasal 5 Ayat (1)). dan . Melalui PP No. Syarat administrasi untuk Provinsi meliputi adanya persetujuan DPRD Kabupaten/Kota dan Bupati/ Walikota yang akan menjadi cakupan wilayah provinsi. e. Persetujuan DPRD Provinsi dan Gubernur serta rekomendasi Menteri Dalam Negeri (Ayat 3). d. potensi daerah social budaya. Persetujuan DPRD Provinsi induk dan Gubernur serta rekomendasi Menteri Dalam Negeri (Pasal 5 Ayat (2)) adapun untuk Kabupaten/Kota meliputi adanya persetujuan DPRD Kabupaten/Kota dan Bupati/Walikota yang bersangkutan. Percepatan pertumbuhan kehidupan demokrasi.

html . Dayak Besar.lautanindonesia. e. Negara Madura.0. Negara Sumatera Selatan. Federasi Borneo Timur. Borneo Tenggara. g. Daerah Banjar. dan Maluku. muncul gerakan untuk kembali ke negara kesatuan. Akibatnya tiap-tiap negara bagian mulai menyatukan diri satu per satu dengan Republik Indonesia.php/topic. luas daerah. potensi daerah. Peningkatan hubungan yang serasi antara pusat dan daerah. Keenam belas negara bagian itu adalah: Republik Indonesia. Pada tahun 1945.5619. jumlah penduduk. Untuk itu terlebih dahulu harus dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut: a. yaitu Sumatera. Sulawesi. Pertimbangan lain yang memungkinkan terselenggaranya ekonomi daerah. ketika Belanda mengakui kemerdekaan Republik Indonesia Serikat (RIS) 27 Desember 1949. f. 263 Data diolah dari http://www. Negara Jawa Timur.96 f. Pada akhir tahun 1949. Jawa Tengah. kemampuan ekonomi. Borneo. Jumlah provinsi: 8. Negara Pasundan. b. Di bawah ini disajikan data perkembangan jumlah daerah provinsi di Indonesia melalui pemekaran daerah sejak 1945-2009. Jumlah provinsi: 16. pemerintah menetapkan Indonesia dibagi menjadi delapan provinsi. Antara tahun 1946-1949. Jawa Barat. Sunda Kecil. Pada awal tahun 1950. Jawa Tengah. sosial budaya d. Bangka.com/forum/index. 2. RIS terdiri atas 16 negara bagian dan 1 Wilayah Federal Batavia. sosial politik. Jawa Timur. Riau. Belitung. c.263 Daftar Nama dan Jumlah Provinsi di Indonesia Sejak 1945-2009 1. Daerah Istimewa Borneo Barat. dan Negara Indonesia Timur. Negara Sumatera Timur. 3. terdapat berbagai perubahan wilayah Indonesia karena munculnya negara-negara baru dalam wilayah Indonesia.

Pada tahun yang sama. 5. Provinsi Bengkulu terbentuk. Jumlah provinsi: 19. dengan nama Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya. Pada tahun 1961. 7. dan Negara Indonesia Timur. Provinsi Sulawesi dipecah menjadi dua provinsi. Pada tahun 1953. Pada tahun 1956. Pada akhir tahun 1956.Jumlah provinsi: 18. RIS hanya terdiri atas 4 negara bagian. 9. dengan nama Daerah Istimewa Aceh. Provinsi Sumatera Tengah dipecah menjadi tiga provinsi. yaitu Lampung (dari Sumatera Selatan). Pada tanggal 17 Agustus 1950. Kemudian. dan ketiga negara bagian selain RI dinyatakan bubar dan dimasukkan ke dalam wilayah NKRI. hasil pemekaran dari Sumatera Utara. Negara Sumatera Timur. yaitu Kalimantan Barat. Kemudian Provinsi Sunda Kecil juga dipecah menjadi tiga provinsi. Nusa Tenggara Barat. Jumlah provinsi: 14. dan Jambi. Sumatera Tengah. Pada tahun 1963. hasil pemekaran dari Sumatera Selatan. Pada tahun 1950. Pada tahun 1968. Provinsi Borneo diganti namanya menjadi Kalimantan. yaitu Sumatera Utara. 8. Pada tahun 1959. Provinsi Sumatera dipecah menjadi tiga provinsi. dan Nusa Tenggara Timur. yaitu Bali. Daerah Istimewa Borneo Barat. . dan Sumatera Selatan. RIS dinyatakan bubar dan diganti dengan NKRI.97 4. Provinsi Aceh diberi status Daerah Istimewa. Pada tahun 1958. dan Kalimantan Timur. 10. Jumlah provinsi: 24. yaitu Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan. Kota Jakarta resmi dikeluarkan dari Jawa Barat dan menjadi provinsi tersendiri dan diberi status Daerah Khusus Ibukota. Pada akhir tahun 1959. Riau. dan Sulawesi Tenggara (dari Sulawesi Selatan). Awal Agustus 1950. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyerahkan administrasi wilayah Irian Barat kepada Indonesia. Pada tahun 1964. Jumlah provinsi: 21. Pada tahun 1960. Provinsi Kalimantan Tengah terbentuk. yaitu Republik Indonesia. Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya secara resmi ditetapkan sebagai ibukota Republik Indonesia. Jumlah provinsi: 25. Kalimantan Selatan. 6. Kalimantan dipecah menjadi tiga provinsi. dengan nama Daerah Istimewa Yogyakarta. tiga provinsi baru terbentuk. Jumlah provinsi: 20. Jumlah provinsi: 11. yaitu Sumatera Barat. Yogyakarta dikeluarkan dari Jawa Tengah menjadi provinsi tersendiri dan diberi status Daerah Istimewa. Sulawesi Tengah (dari Sulawesi Utara). hasil pemekaran dari Kalimantan Selatan. Provinsi Aceh terbentuk.

Pada tahun 2007. Pada tahun 1969. Provinsi Irian Barat diubah namanya menjadi Irian Jaya. Kemudian pada akhir tahun 2000. dimekarkan dari Jawa Barat. Provinsi Papua juga diberi status Otonomi Khusus. Pada akhir tahun 1975. Provinsi Banten resmi berdiri. Irian Barat secara resmi menjadi bagian dari NKRI dan menjadi salah satu provinsi di Indonesia. Tetapi. Pada tahun 1973. Jumlah provinsi: 30. yaitu Kepulauan Bangka Belitung (dari Sumatera Selatan) dan Gorontalo (dari Sulawesi Utara). Jumlah provinsi: 26. Jumlah provinsi: 33.98 11. dan diberi status Otonomi Khusus. Timor Timur dimasukkan ke dalam wilayah NKRI dan menjadi salah satu provinsi di Indonesia. Jumlah provinsi: 27. dua provinsi baru resmi berdiri. Apabila dibandingkan dengan masa awal kemerdekaan. Jumlah tersebut mungkin akan bertambah banyak seiring dengan keinginan banyak pihak yang masih menginginkan pemekaran daerahnya. Provinsi Irian Jaya diganti namanya menjadi Papua. setelah diadakan Penentuan Pendapat Rakyat(Pepera). 15. yaitu Kepulauan Riau (dari Provinsi Riau) dan Sulawesi Barat (dari Sulawesi Selatan). Provinsi Maluku Utara terbentuk. Dengan semakin bertambahnya jumlah daerah baru tersebut tentu akan membebani anggaran negara dan semakin mengurangi alokasi untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat karena APBN/APBD akan lebih banyak dialokasikan . pada akhir tahun 1999. 13. 12. dua provinsi baru resmi berdiri. Jumlah provinsi: 28. Pada tahun 2001. Provinsi Irian Jaya Barat resmi berdiri. 16. Pada tahun 1999. Provinsi Irian Jaya Barat diubah namanya menjadi Papua Barat. Sama halnya dengan NAD. kecamatan. Jumlah provinsi: 27. Indonesia menguasai wilayah Timor Timur dan pada tahun 1976. Pada tahun yang sama. 14. Jumlah provinsi: 31. jumlah provinsi dalam sepuluh tahun terakhir meningkat menjadi lebih dari 400%. diadakan jajak pendapat (referendum) di Timor Timur dan Timor Timur secara resmi keluar dari NKRI. Pada tahun 2003. Daerah Istimewa Aceh diganti namanya menjadi Nanggroe Aceh Darussalam. Pada tahun 2004. atau kelurahan/desa yang juga mengalami pemekaran. hasil pemekaran dari Provinsi Papua. Jumlah tersebut juga belum termasuk kabupaten/kota. Pada awal tahun 2000. hasil pemekaran dari Provinsi Maluku. 17.

Bahkan keadaan yang lebih parah dapat terjadi di daerah baru tersebut dibandingkan dengan pada waktu masih menginduk kepada daerah induknya. Di dalam Penjelasan Umum Peraturan Pemerintah tersebut dijelaskan alasan pentingnya dilakukan evaluasi terhadap suatu daerah sebagai berikut: . keterbatasan sarana dan prasarana atau infrastruktur juga dapat menjadi penyebab terbatasnya pelayanan publik sebagaimana mestinya. untuk mengerem terjadinya pemekaran daerah. Anggaran tersebut misalnya untuk alokasi pembangunan infrastruktur baru. Dalam hal ini. penghapusan dan penggabungan daerah otonom dilakukan setelah melalui proses evaluasi terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah sebagaimana yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. tujuan utama untuk membentuk daerah baru dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pelayanan publik juga menjadi persoalan yang tidak mudah untuk diwujudkan. Hal itu terjadi karena penyelenggaraan pemerintahan daerah yang baru belum memiliki pengalaman yang memadai dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat maupun menjalankan roda pemerintahan. pakaian dinas baru. tunjangan jabatan pejabat baru. Di lain pihak. gaji pejabat baru. Dengan demikian. secara konseptual dan yuridis formal pemerintah sudah mencoba melakukan upaya tersebut dengan mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2008 Tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. kendaraan baru. Peraturan Pemerintah tersebut sebagai pelaksanaan perintah Pasal 6 ayat (3) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 untuk mengevaluasi keberadaan daerah. termasuk daerah baru hasil pemekaran. Selain itu. masyarakat tetap saja merasakan tidak adanya peningkatan kesejahteraan maupun pelayanan yang diberikan oleh pemerintah daerah barunya. gedung baru.99 dan tersedot untuk daerah-daerah baru tersebut. untuk daerah tertentu yang dianggap tidak mampu dimungkinkan untuk dihapuskan atau digabungkan dengan daerah lain. Pada kenyataannya. dan sebagainya. apakah mampu atau tidak menyelenggarakan otonomi daerah. Akan tetapi.

Padahal. khususnya PAD dan dana perimbangan (tidak termasuk mengenai dana otonomi khusus yang diberikan kepada Provinsi Papua dan Aceh). memperbaiki sistem perimbangan keuangan pusat – daerah yang diatur sebelumnya dalam UU No. serta pembiayaan berupa pinjaman daerah. secara faktual banyak sekali daerah. yang tidak mampu menjalankan pemerintahannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan ataupun tujuan awal pembentukannya yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. terutama daerah baru.100 ”. adalah untuk menilai kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah dalam upaya peningkatan kinerja untuk mendukung pencapaian tujuan penyelenggaraan otonomi daerah berdasarkan prinsip tata kepemerintahan yang baik. Namun demikian. 33 Tahun 2004.. Pemerintah berkewajiban mengevaluasi kinerja pemerintahan daerah .”. pengaturan tersebut tidak terlepas dari pendapatan daerah untuk membiayai urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya. 25 Tahun 1999.. sampai saat ini juga belum ada data yang menunjukkan bahwa ada daerah tertentu yang sudah dihapuskan atau digabungkan dengan daerah lainnya karena dianggap tidak mampu menjalankan otonomi daerah. Selain itu. C.. Hubungan Keuangan UU No. maupun daya saing daerah. Dalam bagian ini yang akan dibahas adalah pendapatan daerah. untuk mengetahui keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan daerah dalam memanfaatkan hak yang diperoleh daerah dengan capaian keluaran dan hasil yang telah direncanakan. Dalam hal jenis dana perimbangan terdapat istilah baru untuk menyebut . 33 Tahun 2004 menitikberatkan pada pengaturan perimbangan keuangan pusat-daerah.. Tujuan utama dilaksanakannya evaluasi... UU No. pelayanan umum. Namun tampaknya peraturan pemerintah tersebut belum optimal dijalankan mengingat sampai saat ini tidak diperoleh data yang terbuka untuk umum tentang hasil evaluasi yang dilakukan oleh Tim Nasional Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah dalam mengevaluasi daerah-daerah baru hasil pemekaran.

Dalam UU No. yaitu dalam hal jenis pajak265. Khusus mengenai dana perimbangan lainnya. 25 Tahun 2002. 266 Pasal 6 ayat (1) UU No.22 Tahun 1999.266 Walaupun daerah diberikan kewenangan untuk meningkatkan PAD. dalam penelitian ini tidak dibahas mengenai dana tugas pembantuan dan dekonsentrasi karena memerlukan penelitian tersendiri yang lebih mendetail. dan dana alokasi khusus (DAK). Dalam UU No. Pendapatan Asli Daerah Pendapatan Asli Daerah (PAD) bersumber dari pajak daerah. PPh tidak dijadikan pajak yang dibagi ke daerah. 22 Tahun 1999. Mengenai DBH. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan264.101 dana perimbangan yang berasal dari pembagian pajak dan sumber daya alam. istilah dana tersebut diubah menjadi dana bagi hasil (DBH). istilah dan substansinya tetap dipertahankan dalam UU No. . 33 Tahun 2004. 33 Tahun 2004. Namun demikian. namun daerah dilarang menetapkan peraturan daerah (Perda) tentang pendapatan yang menyebabkan ekonomi biaya tinggi. 33 Tahun 2004. sementara dalam UU No. dana tersebut disebut sebagai Bagian Daerah dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan. Walaupun inti dari hubungan keuangan pusat daerah adalah perimbangan keuangan. melainkan juga dana tugas pembantuan dan dana dekonsentrasi. Sementara itu dalam UU No. 33 Tahun 2004. dan menetapkan Perda tentang pendapatan yang menghambat mobilitas 264 265 Lihat Pasal 6 ayat (1) huruf a UU No. 33 Tahun 2004. PPh tertentu juga menjadi DBH. yaitu dana alokasi umum (DAU). 1. namun juga ditambah dengan perubahan asal dana yang dibagi. Hal ini disebabkan UU No. namun hubungan keuangan pusat-daerah juga berkaitan dengan pembiayaan urusan pusat yang diselenggarakan oleh pemerintahan daerah dan oleh aparat pusat yang juga unsur pemerintah daerah. retribusi daerah. tidak hanya sekedar penggantian istilah. hasil pengelolaan kekayaan Daerah yang dipisahkan. DAU dan DAK akan dibahas selanjutnya. tidak hanya mengatur dana perimbangan dalam rangka desentralisasi. dan lain-lain PAD yang sah. Perubahan tersebut. namun berbeda dari segi formulanya.

20 Tahun 1997. UU No. 33 Tahun 2004.18 Tahun 1997 diubah untuk disesuikan. Setelah berlakunya UU No. 18 Tahun 1997 mengatur kewenangan daerah untuk memungut 3 pajak daerah untuk provinsi. Jenis-jenis retribusi daerah ditentukan dalam Peraturan Pemerintah. Tahun 1957 tentang Peraturan Umum Retribusi Daerah). 13 jenis untuk golongan retribusi jasa usaha. UU N0.102 penduduk. yaitu Peraturan Pemerintah No. lalu lintas barang dan jasa antardaerah. dan 6 jenis golongan retribusi perizinan tertentu. dan lahirlah perubahan pertama dari UU tersebut (UU No. UU No. dan 3 golongan retribusi daerah. UU No 18 Tahun 1997 mengatur 267 268 Pasal 7 UU No. dan 4 jenis golongan retribusi perizinan tertentu yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah. Tahun 1957 tentang Peraturan umum Pajak Daerah dan Undang-Undang Nomor 12 Drt.66 Tahun 2001 (menggantikan PP No. 20 Tahun 1997. Perbedaannya. ditentukan 11 jenis dari golongan retribusi jasa umum. 12 jenis untuk golongan retribusi jasa usaha.268 Dalam PP No. 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah merupakan UU yang penting di bidang ini. 18 Tahun 1997 dan UU No. Sementara itu. 34 Tahun 2000 menambahkan 1 jenis pajak daerah untuk provinsi dan 1 jenis untuk pajak daerah kabupaten/ kota.18 Tahun 1997 tidak mengatur jenis-jenis retribusi daerah seperti halnya pajak daerah. 34 Tahun 2000 sama-sama mengatur bahwa selain jenis pajak daerah yang telah ditentukan dapat ditambahkan jenis pajak daerah lain berdasarkan kriteria yang ditentukan UU tersebut (sistem terbuka). pengaturan mengenai retribusi daerah diatur dalam PP No. 20 Tahun 1997) dan ditentukan 10 jenis dari golongan jasa retribusi umum. karena menggantikan UU sebelumnya yang telah berlaku dalam waktu yang cukup lama (UndangUndang Nomor 11 Drt. UU No. 7 pajak daerah untuk kabupaten/ kota.267 Dalam UU No. dan kegiatan impor/ekspor. . 22 Tahun 1999. 34 Tahun 2000). UU No.

UU No. 18 Tahun 1997 dan perubahan pertamanya (UU No. 20 Tahun 1997 memberikan kewenangan untuk menambahkan jenis-jenis pajak daerah dan retribusi daerah kepada pemerintah pusat. memberikan kewenangan tersebut kepada pemerintahan daerah. Menggantikan UU sebelumnya. 20 Tahun 1997 dalam menentukan jenis-jenis pajak daerah dan retribusi daerah. 34 Tahun 2000. daerah tidak dapat memungut pajak daerah selain yang ditentukan dalam UU tersebut. 34 Tahun 2000 dan PP No. 34 Tahun 2000). sementara UU No. 18 Tahun 1997 dan PP No. mengatur jenis pajak daerah sistem daftar tertutup272. Lihat Pasal 2 ayat (4) UU No. Penambahan jenis retribusi daerah ditetapkan dalam bentuk Perda. 20 Tahun 1997 tidak memberikan kewenangan kepada daerah untuk menetapkan jenis retribusi lain selain yang ditetapkan dalam PP tersebut (sistem tertutup). Perbedaan pengaturan di atas mencerminkan bahwa UU No.271 Berbeda dengan dengan UU No. UU No. 28 Tahun 2009. 18 Tahun 1997. .103 bahwa penambahan jenis pajak daerah tersebut ditetapkan dalam PP269. PP No.66 Tahun 2001 menentukan bahwa daerah dapat mengatur jenis retribusi daerah selain yang ditentukan dalam kedua PP tersebut dengan kriteria yang ditentukan dalam UU No. 18 Tahun 1997 dan PP No. Selasa (4/8) mengatakan: ”Sistem yang ditetapkan bersifat daftar tertutup. sementara dalam UU No. 66 Tahun 2001. 28 Tahun 2009. Sementara itu. 28 Tahun 2009 mulai diberlakukan pada tanggal 1 Januari 2010. atau berkreasi yang tidak baik dalam arti mencari-cari penghasilan asli daerah. mencari. 34 Tahun 2000 dan PP No. memberikan otonomi yang lebih luas dibandingkan UU No.270 Dalam hal retribusi daerah. penambahan tersebut ditetapkan dengan peraturan daerah. Dengan demikian. 66 Tahun 2001.” “Pajak Daerah Dibatasi. Artinya. 34 Tahun 2000 (sistem terbuka). 271 Lihat Pasal 185 UU No. 269 270 Lihat Pasal 2 ayat (3) UU No. 272 Menteri Keuangan sekaligus Pelaksana Jabatan Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati di Jakarta. artinya daerah hanya diperbolehkan memungut pajak dan retribusi sesuai undangundang ini sehingga tidak ada lagi daerah yang perlu mengubah. ketentuan dalam UU No. PP No. 34 Tahun 2000.

Vol. sementara Thailand memberikan kewenangan kepada daerah untuk memungut a single property based tax (1999). masing –masing 1 untuk provinsi (pajak rokok) dan 3 untuk kabupaten/ kota (pajak sarang burung wallet. 392.daerah. hanya dikenal pungutan cukai rokok. Journal of Public Budgeting. Kompas. diakses dari http://koran. 28 Tahun 2009. sehingga provinsi menerima sisanya (30%). 15 No. Accounting & Financial Management. hlm.273 Sebelumnya. cukai rokok pun tetap diberlakukan dan tetap menjadi kewenangan pemerintah pusat.com/read/xml/2009/08/05/04112298/pajak. 3. 405. seperti Filipina.274 Pungutan atas usaha rokok sebelumnya. 28 Tahun 2009. 5 Agustus 2009. 276 Pasal 181 UU No. 278 Pasal 94 ayat (1) huruf c UU No. 28 Tahun 2009. Lihat.kompas.dibatasi.104 UU No. Malaysia juga memberikan kewenangan yang sama kepada daerah (berupa property tax) sejak diundangkannya Local Government Act 1976 (Act No. 274 Filipina memberikan kewenangan kepada daerah untuk memungut the real property tax sejak diundangkannya Local Government Act 1959. Larry Schroeder. 171). pajak sarang burung walet Pelayanan kepada Masyarakat Wajib Ditingkatkan”. “Fiscal Decentralization in South East Asia”. Walaupun tidak semua jenis PBB diberikan kewenangan kepada daerah. Rabu. sementara dalam UU No. selain cukai rokok yang menjadi kewenangan provinsi. semua PBB. PBB pedesan dan perkotaan serta BPHTB). 402. termasuk PBB pedesaan dan perkotaan menjadi kewenangan pusat. Hasil penerimaan pajak tersebut sebesar 70% dialokasikan untuk kabupaten/kota278. Padahal jika dibandingkan dengan negara-negara asia tenggara lainnya. 28 Tahun 2009 juga menambahkan jenis pajak daerah baru. 28 Tahun 2009. Sementara itu. 393.277 Hasil penerimaan pajak tersebut juga merupakan objek pembagian antara kabupaten/ kota dan provinsi. Thailand. 2003. 28 Tahun 2009. Malaysia PBB atau secara umum dikenal sebagai property tax sudah diberikan kewenangannya kepada daerah sejak lama. 273 Ibid. 275 Pasal 27 ayat (3) UU No. . Academic Press. namun hal ini merupakan satu kemajuan dalam hal kewenangan daerah memungut pajak.276 Dasar pengenaan pajak rokok adalah cukai rokok yang ditetapkan pemetintah terhadap rokok dan tarif pajak rokok ditentukan sebesar 10% dari cukai rokok.275 Pajak rokok ini baru berlaku 1 Januari 2014. Pajak rokok sebagai pajak daerah baru ditentukan untuk dipungut instansi pemerintah yang berwenang memungut cukai bersamaan pungutan cukai rokok. 277 Lihat Pasal 28 dan Pasal 29 UU No. BPHTB.

28 Tahun 2009. UU No. 28 Tahun 2009.105 merupakan pajak daerah yang dipungut bagi daerah-daerah yang memiliki sumber daya tersebut dengan tarif maksimal 10 %. Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan yang semula merupakan kewenangan Provinsi. sementara pajak air permukaan menjadi pajak daerah provinsi. 28 Tahun 2009. 282 Pasal19 ayat(2) UU No. digantikan istilahnya dengan pajak pengambilan dan pemanfatan air tanah dan air permukaan. dan Pasal 2 ayat (2) huruf h UU No. 28 Tahun 2009 juga mengubah beberapa pengaturan pajak daerah yang sebelumnya telah ada dalam UU sebelumnya. ada beberapa jenis pajak daerah yang sudah ada. tarif pajak bahan bakar kendaraan bermotor ditetapkan maksimal 10%281. 286 Tarif pajak Kendaraan pemerintah (termasuk TNI/POLRI. lembaga sosial dan keagamaan. pemadam kebakaran. 28 Tahun 2009. Tidak sekedar menggantikan nomenklatur.279 Selain penambahan jenis pajak baru. 28 Tahun 2009.280 Kedua. UU tersebut juga menentukan bahwa pajak air tanah menjadi pajak daerah kabupaten/kota. 28 Tahun 2009. ambulans. 284 Lihat Pasal 2 ayat(1) huruf d.286 Pajak Hotel diperluas hingga 279 280 Pasal 75 ayat (1) UU No.284 dan air permukaan yang hanya di satu kabupaten/kota berlaku aturan khusus. dan kendaraan lain yang ditetapkan dengan . 283 Pasal19 ayat(3) UU No. 285 Hasil penerimaan Pajak Air Permukaan diserahkan kepada kabupaten/kota yang bersangkutan sebesar 80% (delapan puluh persen). kepemilikan pertama ditetapkan tariff minimal 1% dan maksimal 2%.283 Ketiga.282 Bila terjadi kenaikan harga tinggi atas BBM. pemerintah pusat dapat mengubah besaran tarif Perda melalui Perpres. sosial keagamaan. Pertama.285 Keempat. pajak kendaraan bermotor menggunakan tarif pajak progresif untuk kepemilikan kendaraan kedua dan seterusnya dengan tarif 2% sampai maksimal 10% di mana ketentuan progresivitasnya ditentukan oleh Perda provinsi. dan Pemerintah Daerah) bersama Kendaraan Bermotor angkutan umum. Pasal 6 ayat (1) UU No. 28 Tahun 2009. 281 Pasal19 ayat(1) UU No. namun tarif pajak untuk kendaraan umum dapat ditentukan 50% lebih rendah dari tarif kendaraan pribadi. Lihat Pasal 94 ayat (2) UU No. basis pajaknya (tax base) diperluas. yaitu. Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor diperluas hingga mencakup kendaraan Pemerintah.

289 Jenis hiburan yang dimaksud yaitu: pagelaran busana. Rokok. klab malam. karaoke. 28 Tahun 2009 juga mencakup jasa boga/katering. 291 Pasal 31 UU No. Lihat Pasal 6 ayat(3) UU No. ditetapkan paling rendah sebesar 0.5% dan paling tinggi sebesar 1%. dan Pajak Penerangan Jalan juga sebagian dialokasikan untuk penyediaan penerangan jalan. diskotik.288 tarif Pajak Hiburan untuk hiburan – hiburan tertentu dinaikkan hingga mencapai tariff maksimal 75%. 290 Lihat Pasal 8 ayat (5) UU No. 28 Tahun 2009. 287 Pengertian hotel menjadi diperluas menjadi: fasilitas penyedia jasa penginapan/peristirahatan termasuk jasa terkait lainnya dengan dipungut bayaran. Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB). 293 Pasal 11 ayat (2) UU No.33 Tahun 2004.287 Pajak Restoran diperluas hingga mencakup pelayanan katering. permainan ketangkasan. baik bagian provinsi maupun bagian kabupaten/kota.292 2. wisma pariwisata. Dana Bagi Hasil Komponen DBH dalam UU No. yang mencakup juga motel. rumah penginapan dan sejenisnya. Lihat Pasal 1 angka 21 UU No. . 292 Pasal 56 ayat (3) UU No. 33 Tahun 2004 terdiri pembagian beberapa jenis pajak (pusat) dan hasil pengelolaan sumber daya alam. Dana Perimbangan a. ada beberapa jenis pajak yang hasil penerimaan ditentukan penggunaannya. dialokasikan paling sedikit 50% (lima puluh persen) untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat dan penegakan hukum oleh aparat yang berwenang291. yaitu Pajak Kendaraan Bermotor (minimal 10% dari hasi penerimaan pajak ini untuk belanja infrastruktur jalan (pembangunan dan/atau pemeliharaan jalan) serta peningkatan Pajak moda dan sarana transportasi umum di daerahnya)290.293 Hal tersebut berbeda dengan Bagian Perda.289 Kelima. 28 Tahun 2009.pesanggrahan. 28 Tahun 2009. Lihat Pasal 45 ayat (2) UU No. serta rumah kos dengan jumlah kamar lebih dari 10 (sepuluh). kontes kecantikan. 28 Tahun 2009. Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 25 dan Pasal 29 Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri dan PPh Pasal 21.106 mencakup seluruh persewaan di hotel. 28 Tahun 2009. Pajak pusat yang menjadi sumber DBH dari pajak adalah dari pajak bumi dan bangunan (PBB). gubuk pariwisata. panti pijat. 28 Tahun 2009. 288 Pengertian restoran dalam Pasal 1 angka 23 UU No. dan mandi uap/spa . losmen.

5% untuk seluruh kabupaten/kota yang dibagikan secara merata.5% yang dibagikan sebagai insentif kepada kabupaten dan/kota. 33 Tahun 2004 menambah penerimaan pusat atas bidang sumber daya alam yang dibagi ke daerah. perikanan. 22 Tahun 1999. . maka UU No. Dengan demikian. 295 294 295 Pasal 11 ayat (3) UU No.22 Tahun 1999 yang tidak mencantumkan bidang pertambangan panas bumi. pertambangan gas bumi. yang tidak mencantumkan PPh sebagai salah satu sumber bagian daerah atas pajak. Pengaturan persentase perimbangan alokasi DBH PBB dan BPHTB antara pusat dan daerah adalah 10 % : 90 % untuk DBH PBB dan 20% : 80 % untuk DBH BPHTB. Sementara itu. yaitu: mengenai prosentase alokasi DBH dari sektor pajak. 10% (sepuluh persen) bagian Pemerintah dari penerimaan PBB dibagikan kepada seluruh daerah kabupaten dan kota yang didasarkan atas realisasi penerimaan PBB tahun anggaran berjalan. pertambangan minyak bumi. 33 Tahun 2004. 55 Tahun 2005. dan pertambangan panas bumi. DBH dari penerimaan sumber daya alam (DBH-SDA) berasal dari 6 bidang sumber daya alam yang menjadi sumber yaitu: kehutanan. dan 3. mencapai/melampaui rencana penerimaan yang ditetapkan. Penerimaan insentif tersebut diberikan kepada kabupaten/ kota yang realisasi penerimaan PBB sektor Pedesaan dan Perkotaan pada tahun anggaran sebelumnya. Lihat Pasal 6 ayat (2) PP No. serta persentase pembagian DBH antara satuan pemerintahan daerah. pertambangan umum. Dari persentase 10 % bagian pusat dengan imbangan di atas maka persentase riil yang dibagi adalah 6. Dalam DBH pajak ada dua hal yang penting. 22 Tahun 1999. jika dibandingkan dengan UU No.294 Hal ini juga berbeda dengan bidang –bidang sumber daya alam yang menjadi sumber Bagian Daerah atas sumber daya alam dalam UU No.107 Daerah atas pajak dalam UU No.

DBH dari penerimaan BPHTB adalah sebesar 80% (delapan puluh persen)296. Dari 20 % bagian daerah di atas. Untuk penerimaan kehutanan. sementara 20% (dua puluh persen) bagian Pemerintah dari penerimaan BPHTB dibagikan dengan porsi yang sama besar untuk seluruh kabupaten dan kota. terdapat dua macam sub bidang penerimaan yang dibagi yaitu penerimaan Iuran Hak Pengusahaan Hutan (IHPH). pendapatan negara dari penerimaan PBB dan BPHTB dibagi habis kepada daerah dengan persentase di atas.108 Sementara itu. . walauapun pada awalnya terdapat perimbangan alokasi DBH antara pusat dan daerah. 298 Lihat Pasal 13 ayat (1) UU No. dibagi dengan imbangan 60% (enam puluh persen) untuk kabupaten/kota dan 40% (empat puluh persen) untuk provinsi. Dengan demikian.33 Tahun 2004. dan Dana Reboisasi. penerimaan 6 bidang SDA yang dibagi dengan daerah dilakukan dengan memberikan persentase tertentu yang sifatnya tetap. Dengan demikian. 299 Lihat Pasal 8 ayat (2) PP No. Berbeda dengan DBH dari PBB dan BPHTB yang dibagi habis pada daerah. penerimaan kehutanan yang berasal dari Dana Reboisasi dibagi dengan 296 297 Lihat Pasal 13 ayat (4) UU No. alokasi DBH dari penerimaan PPh Pasal 25 dan Pasal 29 Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri dan PPh Pasal 21 hanya 20 % yang menjadi bagian daerah.300 Sementara itu.297 Dari pengaturan di atas. 80 % penerimaan PPh di atas menjadi bagian pusat. namun berujung pada pengalokasian DBH dari penerimaan PBB dan BPHTB 100 % pada daerah. Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH). 33 Tahun 2004.299 Sementara itu. provinsi mendapatkan bagian sebesar 8 % dan kabupaten/ kota di provinsi bersangkutan mendapatkan 12 % dari bagian daerah. 33 Tahun 2004. 300 Lihat Pasal 14 huruf a UU No.298 Dengan demikian. Pasal 12 ayat (5) UU No. 55 Tahun 2005. Persentase pembagian IHPH dan PSDH yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan adalah 20 % untuk pusat dan 80 % untuk daerah. 33 Tahun 2004.

309 Lihat Pasal 20 ayat (1) . 307 Lihat Pasal14 huruf e UU No. namun 80 % bagian daerah hanya diperuntukkan bagi seluruh kabupaten/kota.5% (tiga puluh setengah persen) untuk daerah. UU No.304 Penerimaan Perikanan tersebut terdiri atas Penerimaan Pungutan Pengusahaan Perikanan. 303 Lihat Pasal 14 huruf c UU No. 308 Lihat Pasal14 huruf f UU No.33 Tahun 2004.109 imbangan sebesar 60% untuk pusat dan 40% untuk daerah.306 Penerimaan Pertambangan minyak bumi yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan setelah dikurangi komponen pajak dan pungutan lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan. tidak kepada provinsi.33 Tahun 2004. 304 Lihat Pasal14 huruf d UU No. Bagi DBH yang berasal dari penerimaan pertambangan minyak bumi dan gas bumi. dibagi dengan imbangan 20% (dua puluh persen) untuk pusat dan 80% (delapan puluh persen) untuk daerah.303 Sementara itu.5% (delapan puluh empat setengah persen) untuk Pemerintah. 306 Lihat Pasal 18 ayat (2) UU No. dibagi dengan imbangan:307 84. 33 Tahun 2004. Lihat Pasal 16 huruf b UU No.33 Tahun 2004. persentase pembagian Penerimaan Perikanan yang diterima secara nasional juga sama (20% : 80%).33 Tahun 2004. 33 Tahun 2004 mengatur bahwa sebesar 0.5% dialokasikan untuk menambah anggaran pendidikan dasar. Sementara itu.5% (lima belas setengah persen) untuk Daerah. penerimaan dari pertambangan gas bumi dibagi dengan imbangan:308 69.309 301 302 Lihat Pasal14 huruf b UU No. 305 Lihat Pasal 18 ayat (1) UU No. dan 15.33 Tahun 2004.33 Tahun 2004.301 untuk mendanai kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan.302 Penerimaan pertambangan umum yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan. dan 30. dan Penerimaan Pungutan Hasil Perikanan305 dan dibagikan dengan porsi yang sama besar kepada kabupaten/kota di seluruh Indonesia.5% (enam puluh sembilan setengah persen) untuk pemerintah.33 Tahun 2004.

315 APBN. 319 Lihat Pasal 47 ayat (2) PP No.33 Tahun 2004.110 Jika ketentuan peruntukkan untuk alokasi pendidikan dasar tersebut dilanggar. 33 Tahun 2004. 315 Pasal 1 angka 21 UU No. dan.33 Tahun 2004.312 20% DBH tersebut dibagi dengan rincian:313 16% (enam belas persen) untuk provinsi yang bersangkutan. 314 dibagikan dengan porsi yang sama besar untuk semua kabupaten/kota dalam provinsi yang bersangkutan. 311 310 .319 Jika dibandingkan dengan UU No. Dana Alokasi Umum DAU adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar-daerah duntuk mendanai kebutuhan Presentase daerah dalam dana rangka pelaksanaan sekurangdesentralisasi. 32% (tiga puluh dua persen) untuk kabupaten/kota penghasil. 318 Lihat Pasal 47 ayat (1) PP No. 317 Pasal 27 ayat (1) UU No. 316 Pendapatan Dalam Negeri Neto adalah Penerimaan Negara yang berasal dari pajak dan bukan pajak setelah dikurangi dengan Penerimaan Negara yang dibagihasilkan kepada Daerah. berkaitan dengan kemungkinan bertambahnya presentase DAU jika terdapat kelebihan penerimaan negara dari minyak bumi dan gas bumi yang ditetapkan dalam APBN Perubahanyang dialokasikan sebagai DAU tambahan318 berdasarkan formula DAU atas dasar celah fiskal.310 Pertambangan panas bumi yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan yang merupakan Penerimaan Negara Bukan Pajak yang terdiri atas:311 Setoran Bagian Pemerintah. 55 Tahun 2005. UU No. 312 Lihat Pasal14 huruf g UU No.317 keseluruhan tersebut kurangnya 26% dari Pendapatan Dalam Negeri Neto316 yang ditetapkan dalam Istilah “sekurang-kurangnya”. Iuran tetap dan iuran produksi. Lihat Pasal 21 ayat (3) UU No.33 Tahun 2004.33 Tahun 2004. 313 Lihat Pasal 21 ayat (2) UU No. Penerimaan tersebut dibagi dengan imbangan 20% untuk pusat dan 80% untuk daerah. Lihat Penjelasan Pasal 27 ayat (1) UU No. 55 Tahun 2005. dan 32% (tiga puluh dua persen) untuk kabupaten/kota lainnya dalam provinsi yang bersangkutan.314 b. 33 Tahun 2004 mengatur sanksi administrasi berupa pemotongan atas penyaluran DBH minyak bumi dan gas bumi. 33 Tahun 2004. Lihat Pasal 25 UU No. 33 Tahun 2004. Lihat Pasal 21 ayat (1) UU No.33 Tahun 2004.

33 Tahun 2004. 33 Tahun 2004. celah fiskal merupakan kebutuhan fiskal dikurangi kapasitas fiskal. Sebagaimana disinggung di atas bahwa. 322 Pasal 27 ayat (3) UU No. luas wilayah. Apalagi ditentukan juga bahwa proporsi DAU antara daerah provinsi dan kabupaten/kota ditetapkan berdasarkan imbangan kewenangan antara provinsi dan kabupaten/kota. Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK). Kapasitas fiskal Daerah merupakan sumber pendanaan Daerah yang berasal dari PAD dan Dana Bagi Hasil. jumlah DAU yang diterima setiap daerah adalah celah fiskal ditambah alokasi dasar.325 Sementara itu. . 326 Pasal 28 ayat (3) UU No. 325 Pasal 28 ayat (2) UU No. 321 Pasal 27 ayat (2) UU No. UU No. 33 Tahun 2004. jika dibandingkan dengan penghitungan alokasi dasar yang hanya didasarkan pada gaji PNSD.327 320 Dalam Pasal 7 ayat (1) UU No. 25 Tahun 1999 diatur bahwa “Dana Alokasi Umum ditetapkan sekurang-kurangnya 25% (dua puluh lima persen) dari Penerimaan Dalam Negeri yang ditetapkan dalam APBN”.320 DAU pada dasarnya yang dialokasikan untuk 321 suatu daerah dialokasikan atas dasar celah fiskal dan alokasi dasar.322 Sementara itu. 33 Tahun 2004 lebih besar. 33 Tahun 2004. presentase DAU berdasarkan UU No. 33 Tahun 2004. Produk Domestik Regional Bruto (PDB) per kapita. 324 Pasal 28 ayat (1) UU No. terlihat bahwa formula penentuan celah fiskal. 327 Pasal 29 UU No. 33 Tahun 2004 menentukan bahwa formula menentukan celah fiskal adalah kebutuhan fiskal dikurangi dengan kapasitas fiskal Daerah. alokasi dasar dihitung berdasarkan jumlah gaji Pegawai Negeri Sipil Daerah (PNSD). Kebutuhan fiskal yang merupakan kebutuhan kebutuhan pendanaan daerah untuk melaksanakan fungsi layanan dasar umum324. 33 Tahun 2004.111 25 Tahun 1999 yang hanya mengatur jumlah DAU sebesar 25 % dengan formula yang hampir sama. khususnya formula penghitungan kebutuhan fiskal lebih rumit. diukur secara berturut-turut dengan jumlah penduduk.326 Dari pengaturan tersebut.323 Dengan demikian. 323 Pasal 27 ayat (4) UU No. dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). 33 Tahun 2004.

33 Tahun 2004. 33 Tahun 2004. 33 Tahun 2004. Namun demikian. 332 Pasal 38 UU No. 33 Tahun 2004. 330 Pasal 32 ayat (3) UU No.334 Daerah penerima DAK juga ditentukan wajib menyediakan Dana Pendamping sekurang-kurangnya 10% dari alokasi DAK335. 334 Pasal 39 ayat (1) UU No. 3. Dana Alokasi Khusus Dana Alokasi Khusus (DAK) adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional.332 Hal ini disebabkan DAK dialokasikan kepada daerah tertentu untuk mendanai kegiatan khusus sesuai dengan fungsi yang telah ditetapkan dalam APBN333 yang merupakan urusan daerah. DAK tidak ditentukan berdasarkan presentase tertentu.328 Sementara itu. . Hal ini dapat dimengerti karena pada dasarnya urusan pemerintahan yang dibiayai DAK merupakan kewenangan daerah. 333 Pasal 39 ayat (2) UU No. Pasal 32 ayat (2) UU No. 33 Tahun 2004. 33 Tahun 2004. daerah yang memiliki nilai celah fiskal negatif dan nilai negatif tersebut lebih kecil dari alokasi dasar menerima DAU sebesar alokasi dasar setelah dikurangi nilai celah fiskal. Pinjaman Daerah 328 329 Pasal 32 ayat (1) UU No. 335 Pasal 41 ayat (1) UU No.330 c. Daerah yang memiliki nilai celah fiskal sama dengan nol menerima DAU sebesar alokasi dasar. 331 Lihat Pasal 1 angka 23 UU No. 33 Tahun 2004. daerah dengan kemampuan fiskal tertentu tidak diwajibkan menyediakan Dana Pendamping.112 Besarnya jumlah celah fiskal akan mempengaruhi jumlah alokasi DAU yang diperoleh suatu daerah.331 Berbeda dengan dana perimbangan lainnya. 33 Tahun 2004. Besaran DAK ditetapkan setiap tahun dalam APBN.329 Daerah yang memiliki nilai celah fiskal negatif dan nilai negatif tersebut sama atau lebih besar dari alokasi dasar tidak menerima DAU.

60% (enam puluh Batas maksimal kumulatif pinjaman tidak melebihi dari Produk Domestik Bruto tahun persen) bersangkutan.113 Salah satu sumber pembiayaan daerah (untuk menutupi defisit anggaran) yang diandalkan adalah melalui pinjaman daerah. persyaratan pinjaman. Pasal 49 ayat (2) UU No. dalam 6 batas pinjaman. 339 Pasal 50 ayat (1) UU No. prosedur pinjaman. 33 Tahun 2004.337 Menteri Keuangan menetapkan batas maksimal kumulatif pinjaman Pemerintah Daerah secara keseluruhan selambat-lambatnya bulan Agustus untuk tahun anggaran berikutnya.340 Hal ini berkaitan dengan pengaturan mengenai prosedur pinjaman daerah. 33 Tahun 2004. yang paling penting dalam hal ini. sumber pinjaman.341 Pinjaman kepada pemerintah daerah dilakukan melalui perjanjian penerusan pinjaman kepada pemerintah daerah. maka akan dikenakan sanksi administratif berupa penundaan dan/atau pemotongan atas penyaluran dana perimbangan oleh Menteri Keuangan. 33 Tahun 2004. 340 Pasal 50 ayat (2) UU No. 33 Tahun 2004 mengatur sejumlah ketentuan mengenai kewenangan pemerintahan daerah untuk melakukan pinjaman (daerah). 33 Tahun 2004. termasuk kewenangan yang tetap dimiliki oleh pusat. 33 Tahun 2004. Mengenai batas pinjaman. di mana pemerintah dapat memberikan pinjaman kepada pemerintah daerah yang dananya berasal dari luar negeri. bahwa daerah tidak dapat melakukan pinjaman langsung kepada pihak luar negeri. 33 Tahun 2004.339 Jika daerah melakuan pelanggaran terhadap ketentuan.342 Perjanjian penerusan pinjaman dilakukan antara Menteri Keuangan dan Kepala Daerah dan dapat dinyatakan dalam mata uang 336 337 Pasal 49 ayat (1) UU No. UU No. 33 Tahun 2004. 338 Pasal 49 ayat (3) UU No. pemerintah pusat menetapkan batas maksimal kumulatif pinjaman pemerintah pusat dan pemerintah daerah dengan memperhatikan 336 keadaan dan prakiraan perkembangan perekonomian nasional.338 Namun demikian. 341 Pasal 56 ayat (1) UU No. penggunaan pinjaman. . jenis dan jangka waktu pinjaman. 342 Pasal 56 ayat (2) UU No.

maka disusunlah kebangsaan Indonesia itu dalam suatu UndangUndang Dasar Negara Indonesia. yaitu: 1. namun daerah secara tidak langsung juga dapat melakukan pinjaman luar negeri melalui penerusan pinjaman oleh pemerintah pusat. mencerdaskan kehidupan bangsa. . Rumusan alinea keempat itu adalah: ”Kemudian daripada itu. Kemanusiaan yang adil dan beradab. Pembukaan UUD 1945 (Alinea Keempat). Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara sejak awal telah meletakkan dasar-dasar berpikir tentang keberadaan pengawasan Pusat terhadap Daerah. C. dan untuk memajukan kesejahteraan umum.114 Rupiah atau mata uang asing. 33 Tahun 2004.343 Daerah memang tidak diberikan kewenangan untuk melakukan pinjaman luar negeri. perdamaian yang abadi dan keadilan sosial. untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. dan Batang Tubuh UUD 1945 Di dalam Pembukaan UUD 1945. Memang. ketentuan tentang pengawasan Pusat terhadap Daerah menurut UUD 1945 secara normatif-eksplisit tidak diatur di dalam UUD 1945. yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa. dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan 343 Pasal 56 ayat (3) dan (4) UU No. landasan berpikir tentang pengawasan Pusat terhadap Daerah dapat ditelusuri di dalam Alinea Keempat UUD 1945. Hubungan Pengawasan Pengawasan oleh Pusat terhadap Daerah ternyata secara yuridishistoris telah dilakukan sejak bangsa Indonesia memulai kehidupan bernegaranya sebagai bangsa yang merdeka. Akan tetapi landasan berpikirnya dapat ditelusuri paling dari 2 (dua) hal.

Kedua. yang tiap-tiap provinsi. Untuk itu.115 /perwakilan.345 Berdasarkan ketentuan Pasal 18 ini. dimaksudkan untuk menegaskan bahwa hubungan antara 344 345 Pasal 18 ayat (1) Perubahan kedua UUD 1945 Pasal 18 ayat (2) Perubahan kedua UUD 1945 . yaitu Pasal 18. dan kota yang dimaksud tersebut mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan. serta dengan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. dengan bentuk susunan pemerintahannya ditetapkan dengan Undang-undang dengan memandang dan mengingat dasar permusyawaratan dalam sistem Pemerintahan Negara dan hak-hak asal-usul dalam daerah yang bersifat Istimewa”. pasal-pasal yang mengatur tentang pemerintahan daerah di dalam Undang-Undang Dasar 1945 dalam beberapa ketentuan sudah mengalami perubahan. menurut Batang Tubuh UUD 1945 Sebelum Perubahan. bahwa penggunaan istilah “dibagi atas” menurut Jimly Asshiddiqie. terlebih dahulu dipilah materi hukum Undang-Undang Dasar 1945 sebelum perubahan dilakukan (Naskah Asli). kabupaten. dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah yang diatur dengan undang-undang.” Untuk mengkaji dasar pemikiran pengawasan Pusat terhadap Daerah menurut batang tubuh Undang-Undang Dasar 1945. Dikatakan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota. Terdapat ada 1 (satu) pasal yang memungkinkan untuk dikaji. dan materi hukum Undang-Undang Dasar 1945 setelah perubahan dilakukan. daerah kabupaten. dapat dikaji dari beberapa pasal dan ayat. Pertama. Dasar pemikiran tentang pengawasan Pusat terhadap Daerah menurut batang tubuh UUD 1945 setelah perubahan. Ini disebabkan. kajian tentang dasar pengawasan Pusat terhadap Daerah dibedakan menjadi 2 (dua) kategori. menurut Batang Tubuh UUD 1945 Setelah Perubahan. Pasal 18 UUD 1945 ini dirumuskan sebagai berikut : “Pembagian Daerah Indonesia atas Daerah besar dan kecil.344 Pemerintahan daerah provinsi. kiranya dapat dikemukakan pertama.

Ada beberapa ayat yang penting untuk diidentifikasikan sehubungan dengan dasar pengawasan Pusat terhadap Daerah.dapat dikemukakan bahwa ternyata secara konstitusional terdapat pembatasan-pembatasan dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah berdasarkan prinsip otonomi yang seluas-luasnya dan tugas 346 Lihat.347 Untuk menjalankan urusan yang diberikan itu. Keempat. Pusat Studi Hukum Tata Negara FH. kedua. 21 347 Pasal 18 ayat (5) Perubahan kedua UUD 1945 348 Pasal 18 ayat (6) Perubahan kedua UUD 1945 349 Pasal 18 ayat (7) Perubahan kedua UUD 1945 . Pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya. dengan memahami logika hukum pernyataan pertama dan kedua. Ketiga. Jimly Ashiddiqie. Hal ini dianggap perlu ditegaskan karena adanya penafsiran yang timbul akibat penerapan kebijakan otonomi daerah berdasarkan UU No.116 pemerintah pusat dan daerah bersifat hirarkis dan vertikal. bahwa tiap-tiap satuan pemerintahan daerah itu oleh UUD 1945 diberi kewenangan untuk mengatur dan mengurusi sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan. hlm. peraturan daerah merupakan merupakan instrumen hukum yang dibentuk oleh pemerintahan daerah dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan. yaitu karena bukan urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan pemerintah pusat dan tata cara penyelenggaraan pemerintahan daerahnya diatur oleh undang-undang. tetapi pelaksanaan otonomi itu dibatasi oleh 2 (dua) hal.348 yang susunan dan tata cara penyelenggaraan pemerintahan daerah diatur dalam undang-undang. Jakarta.349 Berdasarkan ketentuan-ketentuan tersebut maka dapat ditarik beberapa pengertian bahwa pertama. Konsolidasi Naskah UUD 1945 Setelah Perubahan Keempat. 2002. UI. kecuali urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan pemerintah pusat. 22 Tahun 1999 yang mengembangkan pola hubungan antara pusat dan daerah serta hubungan antara daerah yang dipahami bersifat horizontal. pemerintahan daerah memiliki hak untuk menjalankan otonomi seluas-luasnya dan tugas pembantuan. Pemerintahan daerah berhak menetapkan peraturan daerah dan peraturanperaturan lain untuk melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan.346 Kedua.

pelayanan umum. yang dapat dicermati adalah dalam Pasal 18A adalah bahwa tidak tercantum secara eksplisit ketentuan yang mengatur tentang pengawasan Pusat terhadap Daerah. Akan tetapi. dengan memahami materi hubungan wewenang antara Pusat dan Daerah. ternyata telah mengatur hubungan wewenang antara Pusat dan Daerah. Tujuannya tidak adalah dalam rangka mencegah atau menanggulangi lain terjadinya penyimpangan-penyimpangan wewenang oleh Daerah berkenaan dengan implementasi Daerahnya. Pembatasan-pembatasan tersebut dimaksudkan agar Daerah tidak mengatur urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan pemerintah pusat. lembaga ’pengawasan’ Pusat terhadap Daerah dipandang perlu keberadaannya. 2. kebijakannya untuk mengatur urusan rumah tangga Kekhususan dan keragaman dimaksudkan yang ada pada masing-masing Hubungan keuangan. Hubungan wewenang antara Pusat dan Daerah dengan memperhatikan kekhususan dan keragaman daerah. maka dalam rangka penegakan ketentuan hukum ini.350 masing-masing daerah diatur dengan Undang-undang.117 pembantuan. maka akan dapat diperoleh petunjuk bahwa lembaga ’pengawasan’ ternyata juga memperoleh dasar pemikiran dalam pasal ini. Untuk kepentingan itulah. termasuk wewenang pembinaan dan pengawasan Pusat terhadap Daerah dalam menyelenggarakan tugas-tugas pemerintahan daerah. Selain beberapa ketentuan di atas.351 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 sebagai Undang-Undang organik Pasal 18A UUD 1945. pemanfaatan sumberdaya alam dan sumberdaya lainnya antara Pusat dengan Daerah juga diatur dengan Undang-Undang. Pasal 18 A ayat (2) Perubahan kedua UUD 1945. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah 350 351 Pasal 18 A ayat (1) Perubahan kedua UUD 1945. .

355 Dikatakan bahwa Rancangan Perda kabupaten/kota tentang APBD yang telah disetujui bersama dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD sebelum ditetapkan oleh Bupati/Walikota paling lama 3 (tiga) hari disampaikan kepada Gubernur untuk dievaluasi. 32 Tahun 2004 355 Pasal 186 UU No.118 Pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan di daerah pada dasarnya merupakan kewenangan pemerintah pusat yakni mencakup beberapa hal.354 Kedua. 32 Tahun 2004 354 Pasal 222 ayat (4) UU No. Pasal 222 ayat (1) UU No.353 Bupati dan walikota dalam pembinaan dan pengawasan tersebutdapat melimpahkan pada camat. 32 Tahun 2004 Pasal 222 ayat (3) UU No. Apabila Gubernur menyatakan hasil evaluasi rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan 352 353 Pasal 222 ayat (2) UU No. Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan dikoordinasikan pemerintahan oleh daerah tersebut Pembinaan untuk dan Gubernur. pengawasan atas pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah. Bupati/Walikota menetapkan rancangan dimaksud menjadi Perda dan Peraturan Bupati/Walikota. Hasil evaluasi disampaikan oleh Gubernur kepada Bupati/Walikota paling lama 15 (lima belas) hari terhitung sejak diterimanya rancangan Perda kabupaten/kota dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD tersebut. Apabila Gubernur menyatakan hasil evaluasi rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD sudah sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Pertama. 32 Tahun 2004 mengatur bahwa pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah secara nasional dikoordinasikan oleh Menteri Dalam Negeri.352 kabupaten/kota pengawasan penyelenggaraan desa dikoordinasikan oleh bupati/walikota. 32 Tahun 2004 . Ketentuan pengawasan oleh Gubernur juga tersirat dalam ketentuan mengenai penyusunan APBD kabupaten dan kota. pengawasan terhadap peraturan daerah dan peraturan kepala daerah.

Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh Bupati/Walikota dan DPRD. Bupati/Walikota bersama DPRD melakukan penyempurnaan paling lama 7 (tujuh) hari sejak diterimanya hasil evaluasi. Jika pasal dihubungkan dengan Pasal 222. 13 dan 14). 32 Tahun 2004 NO 1 UMUM Penetapan urusan pemerintahan yang menjadi wewenang Pemerintah Pusat dan Daerah (Pasalpasal 10. Gubernur membatalkan Perda dan Peraturan Bupati/Walikota dimaksud sekaligus menyatakan berlakunya pagu APBD tahun sebelumnya. Jadi dapat dikatakan.119 Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD tidak sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. 32 Tahun 2004. ternyata Gubernur tidak hanya melakukan koordinasi tapi juga memiliki wewenang untuk melakukan tindakan hukum terhadap rancangan Perda APBD dan Perda APBD. Penentuan adanya PREVENTIF REPRESIF KETERANGAN Ditetapkan UU oleh 2 Ditetapkan oleh . Gubernur menyampaikan hasil evaluasi rancangan Perda kabupaten/kota tentang APBD dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang APBD dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD kepada Menteri Dalam Negeri. Lebih lanjut dapat dikemukakan mengenai model-model pengawasan dan pengendalian terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah menurut UU No. Gubernur memiliki wewenang untuk melakukan pengawasan terhadap rancangan APBD maupun setelah APBD tersebut disahkan oleh kabupaten dan kota. 11. Berdasarkan Pasal 186 ini. Tabel 3 Model-Model Pengawasan dan Pengendalian Terhadap Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Menurut UU No. puncaknya adalah pemberitahuan oleh Gubernur kepada Menteri Dalam Negeri mengenai tindak lanjut hasil pengawasan. 12. dan Bupati/Walikota tetap menetapkan rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD menjadi Perda dan Peraturan Bupati/Walikota.

kewajiban dan larangan bagi Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah. dan DPRD. dan pemberhentian dari dan dalam jabatan eselon II pada kabupaten/kota perlu berkonsultasi dengan Gubernur Perpindahan PNS antar kabupaten/kota dalam. antar provinsi.120 3 4 5 6 7 tugas. dan dari provinsi/kabupaten/ko ta perlu memperoleh pertimbangan dari Kepala Badan Kepegawaian Negara Penetapan formasi PNS dilaksanakan oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Pembinaan dan pengawasan manajemen PNS dikoordinasikan pada tingkat daerah oleh Gubernur Larangan Perda bertentangan dengan kepentingan umum dan peraturan perundangundangan yang lebih tinggi Tata cara mempersiapkan Raperda diatur UU Pasal 128 Pasal 130 Pasal 131 Pasal 132 Pasal 135 8 Pasal 136 9 Pasal 140 . Pedoman tentang susunan organisasi perangkat daerah dan formasi serta persyaratan jabatan perangkat daerah yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat dalam PP dan berbagai peraturan perundang-undangan Pengangkatan. wewenang. pemindahan.

DAU dan DAK diatur dalam Permendagri Belanja daerah harus Pasal 143 11 Pasal 145 ayat (1) 12 Pasal 145 ayat (2) s/d ayat (7) 13 Pasal 150 14 Pasal 158 15 Pasal 163 16 Pasal 167 . Penetapan Perda tentang Pajak dan Retribusi Daerah berpedoman pada undang-undang dan peraturan perundangundangan lain. dilakukan oleh Presiden (ditetapkan dengan Perpres) Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Pedoman penggunaan. berpedoman pada PP dan perencanaan pembangunan nasiona. harus sesuai dengan peraturan perundangundangan Perda disampaikan kepada Pemerintah paling lama 7 hari setelah ditetapkan Pembatalan Perda yang bertentangan dengan kepentingan umum dan peraturan perundangundangan yang lebih tinggi. supervisi.121 10 dengan Perpres Perda yang memuat ancaman pidana dan denda. dana bagi hasil SDA. monitoring dan evaluasi atas dana bagi hasil pajak.

dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundangundangan Pengendalian defisit anggaran Pasal 168 18 Pasal 170 19 Pasal 171 20 Pasal 172 21 Pasal 173 22 Pasal 174-175 . pengelolaan dan pertanggungjawab annya ditetapkan dengan PP Penyertaan modal daerah pada suatu BUMN/swasta. standar harga.122 mempertimbangkan analisis standar belanja. tolok ukur kinerja. Ketentuan mengenai pinjaman daerah dan obligasi daerah diaatur dengan PP Pengaturan tentang persyaratan pembentukan dana cadangan daerah. dan standar pelayanan minimal yang ditetapkan dengan peraturan perundangundangan. 17 Belanja kepala daerah dan wakil kepala daerah dan belanja pimpinan dan anggota DPRD diatur dalam Perda dengan berpedoman pad PP Pertimbangan Mendagri dalam melakukan pinjaman yang berasal dari penrusan pinjaman hutang luar negeri dari Menkeu.

dan sanksi ditetapkan dalam PP. norma. Pasal 178 24 Pasal 185 s/d 190 25 Pasal 194 26 Pasal 195 s/d 197 27 Pasal 217 s/d 223. penatausahaan. untuk provinsi oleh Mendagri dan untuk kabupaten/kota oleh Gubernur. Pemeriksaan oleh BPK terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah Pembentukan dewan yang bertugas memberikan saran dan pertimbangan terhadap kebijakan otonomi daerah diatur dalam Perpres. Tata cara pelaksanaan kerja sama antar daerah diatur dalam PP Pedoman pembinaan dan pengawasan yang meliputi standar. pelaporan. prosedur. 28 Pasal 221 dan UU tentang BPK 29 Pasal 224 . Pedoman penyusunan. pengawasan dan pertanggungjawaban keuangan daerah diatur dalam PP. pelaksanaan. penghargaan.123 oleh Mendagri 23 Pengelolaan Barang Daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan Evaluasi Raperda dan Peraturan Kepala Daerah tentang APBD. Perubahan APBD dan Pertanggungjaw aban Pelaksanaan APBD.

358 Pasal 2 ayat (2). dan c) pelaksanaan urusan pemerintahan desa. b) pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah kabupaten/kota. pegawai negeri sipil daerah. perangkat desa. 359 Pasal 20 360 Pasal 21. dan anggota badan permusyawaratan desa. penelitian. 357 Pasal 2 ayat (1).124 3. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 Tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Untuk melaksanakan ketentuan Pasal 223 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Peraturan Pemerintah diterbitkan sebagai pedoman pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah. pemantauan dan evaluasi pelaksanaan urusan Pemerintahan. yaitu Bab II dan Bab III. dan kepala desa. c) pemberian bimbingan. dan c) pelaksanaan urusan pemerintahan menurut dekonsentrasi dan tugas pembantuan. disebutkan bahwa pengawasan pelaksanaan urusan Pemerintahan di daerah meliputi:359 a) pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah provinsi.356 PP ini memisahkan antara pembinaan dan pengawasan dalam Bab yang berbeda. Pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah provinsi tersebut terdiri dari:360 a) pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah yang bersifat wajib. b) pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah yang bersifat pilihan.358 Pada pengaturan mengenai pengawasan. Mengenai pembinaan dikatakan bahwa Pembinaan atas penyelenggaraan Pemerintahan Daerah dilaksanakan oleh Pemerintah yang meliputi:357 a) koordinasi pemerintahan antar susunan Pemerintahan. supervisi dan konsultasi pelaksanaan urusan pemerintahan. b) pemberian pedoman dan standar pelaksanaan urusan Pemerintahan. . 79 Tahun 2008 Tentang Tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. dan e) perencanaan. Pembinaan sebagaimana tersebut dilakukan terhadap kepala daerah atau wakil kepala daerah. Pengawasan terhadap urusan pemerintahan di 356 Konsiderans PP No. perangkat daerah. d) pendidikan dan pelatihan. pengembangan. anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

363 Pasal 24 ayat (3) dan (4).362 Pelaksanan pengawasan tersebut dilakukan oleh pejabat pengawas pemerintah undangan. dan Inspektorat Kabupaten/Kota. Pasal 24 ayat (2).361 yang dilakukan oleh Inspektorat Jenderal Departemen. Inspektorat Provinsi. dapat dilihat pada tabel-tabel di bawah ini: yang ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang- 361 362 Pasal 24 ayat (1). Unit Pengawasan Lembaga Pemerintah Non Departemen.363 Untuk mengetahui perkembangan sistem pengawasan Pusat terhadap Daerah dalam pengaturan pemerintahan daerah di Indonesia dan di beberapa negara lain.125 daerah dilaksanakan oleh Aparat Pengawas Intern Pemerintah sesuai dengan fungsi dan kewenangannya. .

Preventif 2. 22 Tahun 1999 UU No. Periode 1. Preventif 1. Represif 3. UU No. Preventif 2. Represif 3. 6 Tahun 1959 UU No. Umum 1. 22 Tahun 1948 Sifat/Bentuk Pengawasan Non-Yudisial 1. 8. UU No. 2. 5 Tahun 1974 7. Represif 3.126 Tabel 4 Perkembangan Pengaturan Pengawasan No. UU No. 18 Tahun 1965 6. 5. 1 Tahun 1945 UU No. Represif 3. Preventif 2. Represif Represif 1. 32 Tahun 2004 . 1 Tahun 1957 Penetapan Presiden No. UU No. Preventif 2. 4. Umum Represif 1. Non-yudisial 2.

alinea pertama pembukaan. dan kedaulatan Tuhan secara sekaligus. “ kemerdekaan… Negara Ketuhanan Yang Maha Esa. yaitu bahwa Negara Indonesia adalah negara hukum. 2007. dan (3) UUD 1945 Jimly Asshiddiqie. yaitu bahwa Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar. yang berbentuk Republik. Jimly berpendapat bahwa UUD 1945 menganut paham kedaulatan yang unik.127 BAB IV TINJAUAN DIMENSI-DIMENSI HUBUNGAN ANTARA PUSAT DAN DAERAH A. Jakarta. PT. Ketiga. Lebih dari kedaulatan-kedaulatan tersebut. hlm. pilar kedaulatan rakyat dinyatakan dalam ayat (2). 150. Pokok-Pokok Hukum Tata Negara Indonesia Pasca Reformasi. Pilar-Pilar Penyelenggaraan Pemerintahan Pengakuan bahwa Indonesia berkomitmen terhadap pilar-pilar negara kesatuan. 149. kedaulatan hukum. Bhuana Ilmu Komputer. pilar negara hukum dinyatakan oleh UUD 1945 dalam Pasal 1 ayat (3). Dari segi internal atau kedaulatan internal. . Gagasan kedaulatan Tuhan dianut juga dalam: 1. yang mengatakan “Atas berkat Rahmat Alloh Yang Maha Kuasa…” 2. (2).365 UUD 1945 menggabungkan konsep kedaulatan rakyat. ayat (3) kedaulatan hukum. Juga. kedaulatan rakyat. …” … berkedaulatan rakyat berdasarkan 364 365 Pasal 1 ayat (1). Jimly Asshiddiqie menjelaskan bahwa Indonesia pun menganut kedaulatan Tuhan dalam konstitusi. pada pokoknya menganut supremasi hukum. dan negara hukum telah dituangkan dalam perubahan ketiga Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Kelompok Gramedia. pilar negara kesatuan dinyatakan dalam UUD 1945 terdapat dalam Pasal 1 ayat (1). Kedua. … (pasal 1 ayat (2)): kedulatan rakyat.364 Pertama. Disebutkan bahwa bahwa Negara Indonesia ialah Negara Kesatuan.

B. kedua ketentuan di atas menggunakan kata ‘kecuali’ (exception) dalam hal pembagian kewenangan. dari ketentuan Pasal 18 ayat (5) UUD 1945 dan Pasal 2 ayat (3) UU No. seharusnya sudah memungkinkan bagi daerah-daerah untuk beragam memiliki urusan.128 3. Pasal 9 ayat (1) dan (2) menentukan sumpah jabatan presiden … dengan menyatakan “Demi Alloh”. dapat terlihat berbagai ketidakkonsistenan dengan landasan konstitusional ini. pada dimensi-dimensi hubungan pusat dan daerah. Kedua. Kata kecuali dapat diartikan membatasi. Jika ketentuan ini diidentifikasi sebagai rumusan limitatif. Apa isi pelayanan itu? . Titinjau dari pola hubungan kewenangan. Pertama. maka urusan pemerintah pusat itu terbatas pada enam urusan ini. Dalam hal ini membatasi urusan pemerintahan yang menjadi urusan pemerintah pusat. meliputi desentralisasi teritorial. pelaksanaan pemerintahan daerah yang berdasarkan otonomi seluas-luasnya bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. dan memberikan otonomi seluas-luasnya. Dengan pemberian otonomi seluas-luasnya seperti itu. dengan asas otonomi dan tugas pembantuan. pelayanan umum dan daya saing daerah. Tujuan-tujuan tersebut sejalan dengan fungsi negara dan pemerintah pada masa modern yang secara umum dikatakan sebagai negara pelayan (the service state). Residual powernya ada pada pemerintahan daerah sehingga pemerintahan daerah memiliki otonomi yang luas. Pemahaman seperti ini dikenal dengan pendekatan residual. Pasal 28J ayat (2): Hanya saja paham kedaulatan Tuhan itu tidak terjelma atau terwujudkan dalam diri Raja atau Ratu seperti dalam paham teokrasi (theocracy) yang pernah dipraktikkan dalam sejarah negara-negara Eropa Masa lalu. 32/2004 dapat diambil beberapa hal. 4. Dimensi Hubungan Kewenangan Pusat dan Daerah UUD 1945 telah memberikan dasar-dasar pola hubungan antara Pusat dan Daerah. Ide kedaulatan Tuhan itu diwujudkan dalam prinsip kebebasan setiap individu dalam sistem demokrasi dan dicerminkan pula dalam sistem hukum berdasarkan Undang-Undang Dasar. Walaupun demikian melalui berbagai peraturan pelaksana. Di luar enam urusan ini merupakan urusan pemerintahan daerah.

Makalah. 366 367 Bagir Manan. 4. Bagir Manan. maka tidak perlu penyeragaman terlalu banyak baik melalui rincian pembagian urusan maupun pedoman dan standard. Jika otonomi dijalankan sebagaimana yang dimaksud dalam Perubahan UUD 1945. 16. dan lain-lain). maka akan ditemukan bahwa pada setiap daerah memiliki karakter khusus.367 Untuk Aceh. Pusat Studi Hukum Fakultas Hukum UII. Berimplikasi kepada kelembagaan. pelayanan umum (public services).369 Ketiadaan kriteria baku ini mengandung resiko-resiko tertentu karena suatu daerah dapat saja menuntut suatu kekhususan semata-mata didasarkan pada faktor-faktor tertentu. jika otonomi dimaknai sebagai sebuah pengakuan atas keberagaman. tugas utama pemerintahan daerah di bidang kemasyarakatan adalah yang berkaitan dengan penyediaan prasarana dan sarana publik (public utilities). perangkat di pusat tidak perlu gemuk. otonomi khusus berkaitan dengan pelaksanaan syariat Islam sehingga tidak berbeda dengan status Aceh sebagai daerah istimewa. Sebagai ujung tombak mewujudkan negara kesejahteraan. Yogyakarta..368 Dengan demikian tidak dapat lagi dijumpai perbedaan mendasar antara ‘khusus’ dan ‘istimewa’ atau dengan kata lain tidak terdapat ‘kriteria baku’ yang dapat digunakan untuk membedakan kedua istilah tersebut. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah. hlm. Sementara itu pemberian otonomi khusus seperti yang diberlakukan dalam berbagai UU saat ini lebih merupakan anomali. Demikian pula penjabaran RPJP saat ini cenderung mengubah kepentingan sektor menjadi kepentingan wilayah. Tugas Sosial Pemerintahan Daerah. kemasyarakatan (ekonomi. sosial. 369 Ibid. hlm. dan ketertiban umum yang berkaitan dengan kenyamanan dan ketenteraman warga. .366 Berkaitan dengan daerah istimewa dan otonomi khusus. perkataan ‘khusus’ dalam Pasal 18B UUD 1945 akan memiliki cakupan yang lebih luas karena dimungkinkan membentuk pemerintahan daerah dengan otonomi khusus (Aceh dan Papua). 2008. 2001.129 Kalau digolongkan terdapat tiga fungsi negara atau pemerintah terhadap rakyat. 370 Ibid. 368 Ibid. yaitu politik. keamanan dan ketertiban (hukum). hlm 15-16.370 Dari persoalan tersebut. kalau urusan-urusan pemerintahan didesentralisasikan.

38 tahun 2007. 16.. 2003. Dimensi Hubungan Kelembagaan Pusat dan Daerah Pemerintahan daerah merupakan subsistem dari pemerintahan nasional atau Negara.130 Ketidakkonsistenan otonomi kemudian muncul melalui pembagian kewenangan yang dirinci melalui PP No. . yang mengurangi keberagaman daerah sebagai bagian dari hakikat otonomi. Ibid. Ketidakmampuan Kepala Daerah dalam menyukseskan pembangunan daerah berimplikasi pada rendah atau berkurangnya kinerja dan efektivitas penyelenggaraan pembangunan nasional. menjadi kewenangan pusat. Kekhususan urusan kemudian terjadi dalam pengaturan Pasal 18B UUD 1945. Perkataan ‘khusus’ tersebut akan memiliki cakupan yang lebih luas karena dimungkinkan membentuk pemerintahan daerah dengan otonomi khusus (Aceh dan Papua). “penyelundupan” desentralisasi pun terjadi pula melalui UU sektoral yang menarik urusan yang sudah didesentralisasikan. 15-16. Inkonsistensi terjadi pula dalam UU Olah raga dan penyuluhan pertanian yang menghendaki pembentukan semacam lembaga pelaksana di daerah. otonomi khusus berkaitan dengan pelaksanaan syariat Islam sehingga tidak berbeda dengan status Aceh sebagai daerah istimewa. karena menurut James W Fesler. Keberhasilan kepemimpinan di daerah menentukan kesuksesan kepemimpinan nasional. Instrument tersebut haruslah digunakan secara arif oleh kepala daerah tanpa harus menimbulkan konflik antara pusat 371 372 Ibid. hlm. Jakarta. Penerbit Gramedia Pustaka. misalnya pada UU Kehutanan. otonomi daerah bukanlah tujuan melainkan suatu instrument untuk mencapai tujuan.. Kaloh.373 Paradigma baru Otonomi Daerah harus diterjemahkan oleh Kepala Daerah sebagai upaya untuk mengatur kewenangan pemerintahan sehingga serasi dan fokus pada tuntutan kebutuhan masyarakat. 373 J.371 Untuk Aceh. 4.372 C. Efekivitas pemerintahan Negara bergantung kepada efektivitas penyelenggaraan pemerintahan di daerah. Kepala Daerah.

2.374 Pemilihan langsung kepala daerah yang diharapkan dapat meningkatkan partisipasi masyarakat. atau antar provinsi dan kabupaten/Kota karena jika demikian. Bandung. hlm. Proses penjaringan calon kepala daerah menjadi domain ekslusif partai politik. Dalam kondisi demikian. 16 Eko Prasojo. makna otonomi daerah menjadi kabur. http://ekoprasojo. keberanian. Klaim partai politik bahwa jika pencalonan dilakukan hanya melalui partai politik akan memperkuat kelembagaan partai politik dalam prakteknya juga tidak menjadi kenyataan. atau suasana kurang harmonis seperti munculnya egoism masing-masing tanpa menyadari bahwa fungsi pemerintahan hanya meliputi tiga hal. Pusat Studi Hukum Kenegaraan Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran. Pidato Pengukuhan Guru Besar Fisip UI. Reformasi kelembagaan yang aspiratif dan akseleratif mensyaratkan adanya kemauan.131 dan daerah. dan pemberdayaan (empowerment). Yang terjadi adalah praktek jual beli “perahu partai politik” dalam proses pencalonan kepala daerah. Hubungan Kelembagaan antara Pusat dan Daerah. dalam prakteknya tidak terjadi. 4 Agustus 2009 . yaitu pelayanan kepada masyarakat (public services). Sedangkan masyarakat dipaksa untuk memilih calon yang telah dipilih oleh parpol tanpa proses penjaringan yang partisipatif. Reformasi objektivitas kelembagaan guna mensyaratkan adanya transparansi dengan dan cara menghindari perbuatan KKN mengutamakan orang-orang yang “dekat” dengan pejabat pengambil 374 375 Ibid. dan komitment politik yang kuat dari pemerintah daerah. makalah pada Diskusi Terbatas tentang Hubungan Pusat dan daerah.com/2008/04/08/konstruksi-ulang-hubungan-pemerintah-pusat-danpemerintah-daerah-di-indonesia-antara-sentripetalisme-dan-sentrifugalisme/ 376 Asep Warlan Yusuf. kepala daerah harus waspada terhadap munculnya hubungan antar tingkat pemerintahan yang bergerang dalam saling ketidakpercayaan.375 Tuntutan reformasi kelembagaan dicirikan oleh asumsi sebagai berikut:376 1. membuatkan pedoman/arah atau ketentuan kepada masyarakat (regulation).

378 Konstruksi hubungan tersebut paling tidak memuat pemikiran ulang mengenai tingkatan pemerintahan. 1994. semua satuan pemerintahan tingkat daerah harus tersusun dalam satu kesatuan susunan integral. 5. 257 .. status dan kedudukannya. Hubungan Antara Pusat dan Daerah Menurut UUD 1945. Reformasi kelembagaan mensyaratkan adanya pengembangan dan pemberdayaan dalam membangun berbagai aliansi strategis dengan pihak manapun. Reformasi kelembagaan mensyaratkan adanya kepastian dan perlindungan terhadap upaya pemberdayaan daerah. disarankan agar Pemerintah Pusat mengurangi badan-badan penyelenggara urusan pemerintahan pusat di daerah. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta. hlm. Bagir Manan. Agar diusahakan sebanyak mungkin pelaksanaan urusan pemerintahan pusat di daerah dilakukan melalui atau kerjasama dengan Pemerintah Daerah. 256 378 Ibid. Reformasi kelembagaan mensyaratkan adanya penguatan Civil Society (masyarakat madani) agar sukses. 2. Susunan dalam harus mencerminkan dasar permusyawaratan dalam sistem pemerintahan Negara. 3. Provinsi dan Kabupaten/Kota. 3. hlm. pembagian wewenang 377 (atau urusan) antar berbagai tingkatan pemerintahan. terutama dalam rangka penataan kepegawaian dalam kelembagaan yang baru. artinya tidak dilakukan dengan setengah hati sehingga terjadi tarik ulur antara kewenangan Pemerintah.132 keputusan. Susunan luar. 4. partisipasi serta kontribusi dari dan oleh mnasyarakat dapat terakomodasi secara maksimal. Dalam rangka lebih memperkokoh asas desentralisasi sebagai salah satu sendi system ketatanegaraan RI. Mekanisme hubungan pemerintah Pusat dan Pemerintah daerah dalam kelembagaan (susunan organisasi) menurut Bagir Manan:377 1.

Di samping ada pula yang mengarah pada gabungan keduanya. dipihak lain ke arah sentraliasi. Bertambah luasnya urusan Rumah Tangga daerah belum tentu selalu membawa keuntungan bagi daerah.379 Persoalan hubungan pusat dan daerah dalam Negara Kesatuan dengan sistem desentralisasi lebih luas dari sekedar bertalian dengan caracara penentuan Rumah Tangga daerah. harus diperhatikan bergeraknya pola hubungan tersebut tidak sampai menimbulkan masalah besar khususnya bagi daerah. kemungkinan demikian harus diantisipasi dengan cermat sehingga tidak terjadi susunan organiasi “yang kegemukan” atau sebaliknya. dan intervensi pusat terhadap daerah. 379 http://ekoprasojo. bahkan sebaliknya dapat menambah beban terlebih-lebih masalah yang dihadapi bukanlah hanya terletak dalam hubungan antara pusat dan daerah. tetapi juga hubungan antar daerah itu sendiri. Hubungan pusat dan daerah dalam sistem otonomi yang bagaimanapun luasnya bukanlah ketentuan statis tetapi harus merupakan ketentuan yang dinamis pola hubungan itu harus selalu bergerak seimbang antara ke pusat dan ke daerah yang mampu menampung kebutuhan masyarakat dan pemerintahan. Dalam hal ini. sehingga harus dimungkinkan adanya perbedaan susunan organisasi setiap daerah. partisipasi daerah dalam pembuatan keputusan di tingkat nasional. Terlihat perbedaan perwujudan politik otonomi disatu pihak condong kearah desentralisasi.133 perimbangan keuangan antar tingkatan pemerintahan. segala sesuatunya perlu ditempatkan dalam hubungan yang serasi.com/2008/04/08/konstruksi-ulang-hubungan-pemerintah-pusat-danpemerintah-daerah-di-indonesia-antara-sentripetalisme-dan-sentrifugalisme/ . Dengan diterapkannya otonomi luas (terutama di Kabupaten dan Kota). akan memperbesar organisasi pemerintahan daerah. Meskipun demikian. tetapi bersumber pula antara lain pada cara menyusun dan menyelenggarakan organisasi pemerintahan di daerah ditinjau dari macam-macam peraturan perundang-undangan mengenai pemerintahan daerah yang pernah berlaku. Begitu pula kemampuan daerah yang satu belum tentu sama dengan daerah yang lainnya.

Perbedaan antara dua macam tugas tersebut tidak hanya terletak pada macam tugasnya. Perkembangan Pemerintahan Lokal. karena ada dua kedudukan sebagai alat pemerintah pusat. Jakarta 2005. dengan sendirinya ia mempunyai dua macam tugas yang berbeda satu dengan yang lainnya.134 Mengenai kedudukan gubernur.380 Penyelenggaraan dan pertanggungjawaban tugas oleh Gubernur dalam kedudukannya sebagai alat pemerintah Pusat.382 Meskipun pengaturan tentang susunan. namun DPRD tidak mempunyai hubungan secara langsung dengan DPR. hlm. tunduk pada prinsipprinsip dekonsentrasi. Begitu pula berkaitan dengan kelembagaan DPRD. hlm. dalam Kumpulan Tulisan. yaitu dalam arti sebagai kepala pemerintahan daripada pemerintah lokal administratif umum pusat dan sebagai alat Pemerintah Daerah. keterlibatan masyarakat secara langsung dan tidak langsung ikut menentukan urusan urusan rumah tangga daerahnya. kedudukan dan fungsi DPR RI. Pasang Surut Otonomi Daerah. 1982. Konsep perwakilan politik lokal terkait dengan sistem pemerintahan yang dipraktikkan suatu Negara. editor Anhar Gonggong. Joeniarto. Marbun. sedangkan dalam kedudukannya sebagai alat pemerintah daerah tunduk kepada prinsip-prinsip desentralisasi. tapi juga pada cara penyelenggaraannya dan pertanggungjawabannya. 32 Tahun 2004. 381 Ibid. Penerbit Alumni. Perwakilan Politik Lokal dan Eksistensi DPRD dalam Konteks Otonomi Daerah. Konsep perwakilan politik lokal merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sistem demokrasi.381 masingmasing sesuai dengan peraturan yang berlaku saat ini yaitu UU No. 382 BN. atau dengan perkataan lain DPRD bukan merupakan subordinasi dari 380 R. 327 . kedudukan serta fungsi DPRD ini berada dalam satu undang-undang yang sama dengan pengaturan mengenai susunan. Bandung. 215. Institute for Local Development dan Yayasan TIFA. bahkan dalam cara pengisiannyapun sama-sama dipilih secara langsung oleh rakyat melalui pemilu. artinya. yaitu dalam arti sebagai Kepala Pemerintahan dari pada pemerintah lokal yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangga sendiri.

Sebagai balasannnya. baik provinsi/kabupaten/kota dan DPRD-nya masing-masing juga menjadi faktor pendukung terjadinya pemekaran daerah dengan mudahnya memberikan persetujuan pemekaran daerah yang bersangkutan. yang diatur dengan undang-undang”. maupun daya saing daerah pun menjadi tersamar dan yang muncul justru adalah kepentingan elit politik lokal tersebut. pelayanan publik. Dalam Pasal 18 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa “Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota. kabupaten. kekuasaan DPRD baik tingkat provinsi maupun Kabupaten/Kota akan melalui sebuah upaya evaluasi peraturan pelaksanaannya. Terjadinya pemekaran daerah yang meluas hampir di seluruh wilayah Indonesia sebenarnya diawali dengan peluang yang diberikan oleh peraturan perundang-undangan. pemerintah daerah induknya. atau kota. kecenderungan masyarakat untuk membentuk daerah baru juga didukung oleh lembaga formal baik pada tingkat daerah maupun pusat. alasan utama untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. melalui Menteri Dalam Negeri. (Kursif dari Tim Peneliti). Di lain pihak. Di atas sudah dijelaskan bahwa dalam sepuluh tahun terakhir sudah banyak dibentuk atau dimekarkan suatu daerah. Di samping itu DPRD juga sebenarnya merupakan bagian atau unsur kekuasaan eksekutif pada level pusat karena merupakan bagian dari penyelenggara pemerintahan daerah. memberikan rekomendasi . Bahkan dalam hal pembentukan perda.135 DPR RI. yang tiap-tiap provinsi. Dalam hal ini. Hal itu dapat dilihat dari mudahnya pemerintah pusat. kabupaten. baik provinsi. Dengan demikian. banyak di antara mereka yang kemudian mencalonkan diri sebagai kepala daerah yang baru tersebut. dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah. Bahkan tidak sedikit di antara daerah yang memekarkan diri itu diketuai oleh kepala daerah atau para anggota DPRD-nya. Demikian pula halnya keterlibatan pemerintah pusat maupun lembaga negara yang diharapkan akan menjadi penyaring dalam pemekaran daerah juga tidak berjalan dengan baik.

383 Secara konseptual dan teoretis. dan provinsi akan selalu dibagi ke dalam kabupaten atau kota.cit.136 dalam pembentukan daerah baru. Dari bunyi pasal tersebut tampak bahwa memang sangat dimungkinkan suatu daerah untuk dimekarkan bahkan dapat menjadi lebih dari satu daerah (baru). keterlibatan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dalam mengajukan rancangan undang-undang tentang pemekaran daerah sangat memungkinkan dan mendorong terjadinya pemekaran daerah. hlm. tetapi faktanya memang seperti itu di mana kemudian pembagian wilayah atau daerah di Indonesia menjadi sangat dipermudah dalam undang-undang pelaksanaannya. hal itu dapat diterima karena sangat masuk akal dan berdasar. 31. Demikian pula halnya. Sebagai bukti. 383 Sekretariat Jenderal Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia. hal itu konsisten dengan kesepakatan untuk tetap mempertahankan bentuk negara kesatuan. Akan tetapi. Oleh karena itu. Hal itu sangat dimungkinkan karena undang-undang yang berkaitan memang membuka peluang seperti dijelaskan di atas. di mana jika menggunakan istilah “terdiri atas” akan lebih menunjukkan susbtansi federalisme karena istilah itu menunjukkan letak kedaulatan berada di tangan negara-negara bagian. Alasan Majelis Permusyawaratan Rakyat menggunakan istilah “dibagi” bukan “terdiri atas” adalah untuk menjelaskan bahwa Indonesia adalah negara kesatuan yang kedaulatan negara berada di tangan Pusat. hal itu diatur dalam Pasal 6 ayat (2) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang menyatakan “Daerah dapat dimekarkan menjadi lebih dari satu Daerah”. . op. peran lembaga formal sangat penting dalam menyaring dan mengendalikan pemekaran daerah agar pemekaran daerah itu dapat dikurangi atau dihentikan. Selain itu. ternyata dari kata “dibagi” tersebut kemudian menimbulkan penafsiran yang berbeda dalam praktik di mana hal itu diartikan Indonesia akan selalu dibagi ke dalam provinsi. Hal itu ternyata menjadi penyebab pemekaran daerah tidak dapat dikendalikan. Penafsiran itu mungkin terlalu naïf.

Namun. tidak mengherankan apabila banyak daerah yang mencoba mengajukan usulan pemekaran diri sekalipun secara faktual daerahnya tidak memenuhi persyaratan atau persyaratan formalnya terpenuhi tetapi faktualnya tidak. kabupaten. maka tampak seperti tidak ada pembatasan sampai berapa tahap suatu daerah dapat dibagi ke dalam daerah yang lebih kecil. Dengan kata lain. Secara formal. dan kota yang dapat dibentuk di Indonesia. dalam pemekaran daerah banyak memunculkan data dan fakta yang berbeda dengan situasi. Apabila undang-undang itu dibaca dalam waktu yang berbeda. maupun kemampuan daerah yang bersangkutan. di sisi lain Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tidak membatasi secara tegas sampai berapa banyak jumlah provinsi. wilayah Indonesia dapat dibagi terus ke dalam provinsi-provinsi. sehingga pemenuhannya lebih banyak ditekankan kepada aspek formalnya semata-mata. kriteria dan prosedur pemekaran daerah yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tersebut sudah cukup baik selama dijalankan secara ketat dan teruji melalui penelitian dan pengkajian yang komprehensif. provinsi dapat dibagi terus ke dalam kabupaten atau kota. Pasal tersebut sangat memungkinkan terjadinya pemekaran daerah seperti halnya pemecahan sel yang berlangsung terus-menerus tanpa ada pembatasan. kabupaten atau kota juga dapat dimekarkan terus ke dalam kecamatan-kecamatan. Dengan kata lain. sementara dari segi faktual-material banyak yang tidak sesuai dengan situasi dan kondisi nyata di daerah yang bersangkutan. di sisi lain kriteria dan prosedur tersebut dapat dianggap terlalu mudah dan terkesan formalistik.137 Namun. dan kecamatan pun dapat dipecah lagi ke dalam kelurahan-kelurahan dan desa-desa. ketentuan tersebut sangat membuka peluang kepada semua daerah untuk memekarkan diri tanpa melihat kondisi objektif daerah. Bahkan tidak sedikit pula dalam pemekaran daerah itu dilakukan dengan memaksakan diri padahal situasi dan kondisi daerah itu sebenarnya belum atau tidak layak dimekarkan. Pemenuhan persyaratan yang diajukan dalam pemekaran daerah itu lebih banyak hanya ditekankan dari segi formal dan prosedur. Keadaan itu dimungkinkan terjadi karena adanya . kondisi. Oleh karena itu. Artinya.

Semestinya. pelayanan masyarakat. Dengan demikian. maupun daya saing daerah. maupun daya saing daerah. pelaksanaan otonomi daerah yang sangat luas tersebut tidak mampu membawa kesejahteraan bagi masyarakat di daerah. sehingga tujuan pemberian otonomi daerah seluas-luasnya tidak berjalan sesuai dengan harapan. pelayanan publik. banyak daerah provinsi. Sebagai akibatnya. terutama Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan peraturan pelaksananya. undangundang tersebut yang pada awal kehadirannya disambut dengan harapan yang sangat tinggi agar pelaksanaan otonomi daerah yang sebelumnya dilaksanakan secara sentralistik berubah menjadi lebih desentralistik justru dianggap menimbulkan banyak masalah. sejarah menunjukkan bahwa pelaksanaan undangundang tersebut ternyata tidak berhasil dengan baik. Hal itu itu menunjukkan sangat longgarnya persyaratan dan prosedur pemekaran daerah dalam undang-undang. Namun yang terjadi justru sebaliknya di mana dengan otonomi yang sangat luas tersebut menimbulkan banyak ekses negatif. termasuk kebebasan daerah dalam memekarkan daerahnya menjadi daerah otonom baru. Akibat lain dari berlakunya undang-undang tersebut. adalah timbulnya berbagai persoalan yang dihadapi oleh daerah. konflik . Padahal. Pada gilirannya. kabupaten.138 kemudahan yang diberikan oleh ketentuan peraturan perundang-undangan dan dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk mencapai tujuannya. Sebagai akibatnya. hal itu dijadikan peluang untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. dengan diberikannya otonomi yang seluas-luasnya kepada daerah menyebabkan daerah memiliki kekuasaan yang luar biasa besar dalam menentukan dan mengambil kebijakan menyangkut daerahnya. korupsi. selain banyak munculnya daerah baru. seperti adanya kerusakan lingkungan. atau kota yang sibuk melakukan pemekaran daerah baru dengan melupakan keberadaannya sebagai penyelenggara pemerintahan daerah yang memiliki tugas untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hal itu sebagai akibat negatif di mana daerah diberi kewenangan dan keleluasaan yang sangat luas untuk mengurus dan mengatur urusan rumah tangganya sendiri.

Hal itu terjadi karena adanya pihak . tidak mengherankan dalam kurun waktu 2004 sampai dengan sekarang (2009) pemekaran daerah juga masih berlangsung. Hal itu dapat dilihat dari bunyi Pasal 2 ayat (1) yang berbunyi ”Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota yang masing-masing mempunyai pemerintahan daerah”. era otonomi daerah yang sudah mulai dinikmati oleh daerah kemudian menjadi kehilangan momentum karena daerah tidak mampu memelihara dan menjaganya. Sekalipun banyak pihak yang sudah menganjurkan upaya pemekaran tersebut dihentikan. tujuan semula dikeluarkannya undang-undang tersebut tidak berhasil diwujudkan sesuai dengan harapan pembentuk undang-undang sendiri maupun masyarakat. Namun demikian. Hal itu dimungkinkan terjadi dan terus berlangsung karena memang undangundangnya membuka peluang untuk itu. Dengan demikian. Dengan demikian. sehingga tidak dapat dikontrol oleh provinsi maupun pusat. semangat undang-undang tersebut masih sama dengan semangat undang-undang sebelumnya yang ”akan selalu membagi” wilayah atau daerah Indonesia ke dalam bagian yang lebih kecil. Selanjutnya. Oleh karena itu. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 juga ternyata masih membuka peluang yang cukup besar bagi daerah untuk melakukan pemekaran daerah. Hal itu disebabkan demikian besarnya kewenangan daerah kabupaten dan kota untuk mengambil kebijakan. Penggantian tersebut dilakukan untuk mengubah paradigma yang dianut oleh undangundang sebelumnya yang terlalu memberikan keleluasan sepenuhnya kepada daerah tanpa adanya mekanisme kontrol yang proporsional. dan sebagainya. ada di antaranya dalam proses pemekaran tersebut menimbulkan konflik horizontal di antara masyarakat sendiri atau dengan pemerintah induk (provinsi/kabupaten/ kota) bahkan dengan pemerintah pusat. termasuk dalam hal pemekaran daerah. hal itu tidak dilaksanakan oleh banyak daerah. Pada akhirnya.139 masyarakat. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tersebut digantikan oleh Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004. Dengan demikian.

termasuk posedurnya juga cukup sederhana. Alasannya. Sebagai contoh. Apabila sudah berdiri sendiri sebagai kabupaten/kota. di samping akan mempengaruhi alokasi anggaran masingmasing provinsi yang sudah ada. Sekalipun dalam peraturan perundang-undangan tersebut sudah diatur tentang pembatasan waktu berapa lama suatu daerah yang sudah dimekarkan dapat dimekarkan lagi. Misalnya. apabila akan dibentuk provinsi baru. Demikian pula halnya dalam pembentukan kabupaten/kota baru harus mendapatkan persetujuan dari semua kabupaten/kota yang ada dalam provinsi yang sama. padahal sebelumnya tidak dipungut retribusi karena masih merupakan bagian daerah kabupaten/kota yang bersangkutan. waktu 10 tahun untuk . praktiknya hal itu sangat riskan. daerah tersebut akan menerapkan ketentuan yang menguntungkan daerahnya sendiri. Misalnya. akan terjadi pemungutan retribusi baru oleh kabupaten/kota baru bagi warganya yang akan melintasi daerah baru tersebut. Selain fakto-faktor yang sama dalam pembentukan provinsi. pembentukan daerah baru juga akan menjadi penyebab berubahnya administrasi kependudukan. Hal itu sangat penting. baik untuk daerah lama yang sudah pernah dimekarkan maupun daerah baru yang kemudian akan dimekarkan lagi. Apabila dibandingkan antara kedua ketentuan peraturan perundangundangan tersebut. hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah terjadinya “gangguan” terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakatnya. tampaknya tidak terlalu berbeda di mana keduanya sangat membuka peluang dilakukannya pemekaran daerah. kepegawaian. Hal itu disebabkan persyaratan yang harus dipenuhi tidak ketat. penghasilan daerah.140 tertentu yang menginginkan pemekaran dan di lain pihak justru menentangnya dengan masing-masing alasannya. dan sebagainya. semua provinsi di Indonesia harus menyetujui pembentukan provinsi baru tersebut. tidak adanya syarat yang mewajibkan persetujuan dari daerah lain dalam pembentukan daerah baru. potensi daerah. tidak peduli apakah “korbannya” adalah tetangganya yang sebelumnya adalah sesama warga kabupaten/kota sebelum pemekaran (daerah induk).

Dimensi Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah a. D. termasuk asal dananya. adanya dana perimbangan yang peruntukannya di atur (0. provinsi Jawa Barat sudah pernah dimekarkan dengan dibentuknya provinsi Banten pada tahun 2001. 33 Tahun 2004. 33 Tahun 2004. UU No. UU No. Telaah Terhadap Mekanisme Perimbangan Keuangan Dilihat dari substansi pengaturannya. 386 Hal tersebut berupa ancaman sanksi penundaan atau pemotongan dana perimbangan jika daerah melanggar larangan melakukan pinjaman luar negeri. Berupa pemotongan DBH sektor Migas. Lihat Pasal 50 ayat(2). Pasal 83 ayat(4). Berapa lama sebenarnya kemudian provinsi Jawa Barat dapat dimekarkan lagi ke dalam provinsi baru? Hal ini sangat penting untuk memperoleh kejelasan karena sekarang ini sudah muncul pembentukan provinsi Cirebon dan provinsi Pantai Utara (Pantura). Pasal 102 ayat (3) UU No. 5% DBH sektor Migas untuk alokasi pendidikan dasar)384 dan sanksinya jika ketentuan tersebut dilanggar385. serta dalam mekanisme dana perimbangan sebagai instrumen pengendali pengelolaan keuangan daerah. 25. 33 Tahun 2004 lebih menekan pada pembagian pendapatan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. Tahun 2000) terkait dengan jenis –jenis dana perimbangan. Demikian pula halnya untuk pembentukan kabupaten/kota baru harus ada penegasan hal yang sama. ada beberapa hal yang masih menjadi masalah dalam UU tersebut atau jika dikaitkan dengan UU lainnya. 33 Tahun 2004 memperbaiki ketentuan UU sebelumnya (UU No.386 Namun demikian. serta persentase dana perimbangan menjadi perhatian utama dalam UU tersebut. .141 provinsi dan 7 tahun untuk kabupaten/kota dirasakan kurang karena dalam waktu sesingkat itu pemerintahannya belum stabil seperti halnya suatu provinsi atau kabupaten/kota yang sudah lama berdiri. persentase yang lebih besar. Pasal 25 UU No. Dalam konteks tersebut. kriteria dan batas defisit APBD. kewajiban menyampaikan informasi keuangan daerah sesuai dengan standard akuntansi pemerintah. 384 385 Lihat Pasal 20 ayat (1) dan ayat (2) UU No. 33 Tahun 2004. Sebagai contoh. penyempurnaan jenis-jenis dana perimbangan.

142

Dalam konteks tersebut, UU No. 33 Tahun 2004 lebih menekankan konsep desentralisasi fiskal pada transfer dana pusat ke daerah. Padahal desentralisasi fiskal tidak hanya mencakup hal tersebut, tetapi juga menjamin daerah untuk lebih mandiri mendapatkan sumber-sumber penerimaan daerah sesuai dengan potensinya. Transfer dana pusat ke daerah seharusnya ditempatkan sebagai mekanisme penyeimbang dalam hal mengatasi masalah ketidakseimbangan kemampuan keuangan secara vertikal dan horizontal (vertical and horizontal fiscal imbalance).
387

Padahal

jika dikaitkan dengan konsep desentralisasi fiskal, maka sangat besarnya transfer dana dari pusat ke daerah akan menyebabkan ketergantungan daerah yang tinggi terhadap pusat.388 DAU yang didasarkan pada perhitungan celah fiskal dapat mengatasi persoalan vertical imbalance antara pusat dengan daerah. Daerah-daerah miskin dan terpencil mendapatkan keuntungan yang besar dari pola DAU dalam UU No. 3 Tahun 2004 terutama sejak tahun 2006, yang disebut oleh Fengler dan Hofman sebagai the second big bang.389 Sementara itu, daerahdaerah yang memiliki DBH baik dari sektor pajak, dan terutama DBH sumber daya alam, pasti memiliki DAU lebih kecil sehingga antara daerah-daerah yang kaya dengan daerah-daerah miskin dan terpencil dapat tercipta keseimbangan kemampuan keuangan secara horizontal. Namun demikian, walaupun secara normatif dan perhitungan “di atas kertas” tercipta keseimbangan baik vertikal maupun horizontal, namun kenyataannya danadana tersebut sebagian besar tidak terserap, seperti di Aceh dan daerah Indonesia timur, dana-dana perimbangan tersebut lebih banyak berada di rekening bank,390 atau dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI),391

Roh Bahl, dalam Shinichi Ichimura, Roy Bahl (eds), loc.cit., hlm. 10 – 11. Lihat pendapat K. Brueckner, loc.cit., hlm. 1. 389 Istilah big bang (decentralization) mengacu pada fenomena desentralisasi berdasarkan UU No. 22 Tahun 1999 (efektif pada tahun 2001) yang mengubah Indonesia dari negara sentralistis menjadi negara terdesentralisasi secara drastis. Lihat Wolfgang Fengler, Bert Hofman, “Managing Indonesia’s Rapid Decentralization: Achievements And Challenges”, dalam Shinichi Ichimura, Roy Bahl (eds), op.cit., hlm. 245 – 246. 390 Ibid., hlm. 254. 391 Ibid., hlm. 246.
388

387

143

sementara secara kontras, penyerapan PAD lebih mudah dilakukan. Meminjam istilah Fengler dan Hofman, daerah lebih mudah menyerap “dana rakyat yang lain”392 (PAD). Fengler dan Hofman sendiri menegaskan

persoalan ke depan yang menjadi tantangan bukanlah bagaimana menambah transfer dana dari pusat ke daerah – daerah miskin dan terpencil, tetapi bagaimana mengelola dana-dana transfer tersebut secara efektif.393 Selain menumpuknya dana-dana transfer dari pusat, belanja daerah pun lebih banyak dikeluarkan untuk membiayai gaji pegawai, dibandingkan belanja lain yang terkait dengan penyelenggaraan urusan pemerintah, seperti belanja modal atau infrastruktur.394 Hal-hal di atas menunjukkan bahwa desentralisasi fiskal Indonesia lebih banyak ditekankan pada otonomi pengeluaran, walauapun hasilnya tidak efektif. Dengan kata lain, tantangan desentralisasi Indonesia di kemudian hari tidak hanya ditekankan pada efektifitas penggunaan sumber-sumber keuangan daerah secara efektif. Persoalan yang juga signifikan adalah tingkat otonomi dan kecukupan pendapatan (revenue autonomy and adequacy) untuk mendapatkan PAD. Walaupun daerah diberikan kewenangan untuk memungut pajak daerah dan retribusi daerah, namun hal tersebut tidak efektif. Pajak daerah dan retribusi daerah yang diberikan kewenangannya kepada daerah dalam UU No.18 Tahun 1997 jo UU No. 34 Tahun 2000 sangat terbatas. Pajak daerah dalam UU No. 18 Tahun 1997 jo UU No. 34 Tahun 2000 lebih menekankan pada keseragaman antar daerah, dalam bentuk kewenangan memungut pajak tertentu (positive list) yang basis pajaknya/ objeknya telah ditetapkan dalam undang-undang.395 Walaupun daerah dapat menetapkan jenis pajak daerah lain berdasarkan kriteria yang ditetapkan UU tersebut, namun sangat sulit

Ibid., hlm. 255. Loc.it., hlm. 246. 394 Misalnya pada tahun 2006 APBD Kabupaten/ Kota untuk belanja pegawai termasuk gedung-gedung pemerintah daerah mencapai 32% dari seluruh pengeluaran, yang juga disebabkan karena meningkatnya daerah-daerah baru hasil pemekaran. Sementara itu, belanja infrastruktur yang terkait langsung dengan pelayanan publik hanya mencapai 15%. Lihat World Bank 2007, Spending for Development — Making the Most of Indonesia’s New Opportunities (Public Expenditure Review 2007), Jakarta 2007. www.worldbank.org/id. 395 Tjip Ismail, Pengaturan Pajak Daerah di Indonesia, Yellow Printing, Jakarta, cetakan kedua, 2007, hlm. 264.
393

392

144

ditemukan jenis pajak daerah baru, karena ketatnya kriteria-kriteria tersebut.396 Praktiknya, hasil pajak daerah dan retribusi daerah tidak berkontribusi signifikan terhadap PAD, terutama kepada kabupaten/ kota.397 Bahkan hasil yang diperoleh dari pajak dearah dan retribusi daerah lebih kecil dari pada biaya pemungutannya398 dan sebagian besar akibat dari

pajak daerah dan retribusi daerah tersebut menyebabkan ekonomi berbiaya tinggi sehingga merusak iklim investasi.399 Hal – hal di atas mencerminkan masih rendahnya tingkat otonomi pendapatan dari daerah. Dengan diundangkannya UU No 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah menggantikan UU sebelumnya, terdapat beberapa perubahan signifikan, salah satunya adalah penambahan pajak daerah dan retribusi daerah baru. Namun demikian, dengan diterapkannya sistem penetapan jenis pajak daerah secara tertutup, menimbulkan pertanyaan, apakah otonomi pendapatan dari daerah semakin menguat atau semakin melemah? Salah satu alasan diundangkannya UU No. 28 Tahun 2009 karena selama ini penyerahan kewenangan di bidang perpajakan dan retribusi (daerah) kurang mendukung pelaksanaan otonomi daerah.400 Pemberian kewenangan yang semakin besar kepada Daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat seharusnya diikuti dengan pemberian kewenangan yang besar pula dalam perpajakan.401 Dengan argumentasi demikian, UU No. 28 Tahun 2009 mengatur perluasan basis pajak dengan menambah pajak daerah dan retribusi daerah yang baru. Namun demikian, apakah pajak-pajak daerah yang baru dapat menjamin hasil pungutan pajak daerah yang besar pula dan apakah tersebut dapat

Ibid., hlm. 266. Di tingkat kabupaten/ kota kontribusi PAD hanya menyumbang kurang dari 10% terhadap APBD. Tjip Ismail, op.cit.,hlm. 263. 398 Biaya penyelenggaraaan pajak daerah dan retribusi daerah mencapai lebih dari 50% dari hasil yang diterima. Wolfgang Fengler, Bert Hofman, op.cit.,hlm. 255. 399 Ibid., hlm. 256. 400 Penjelasan Umum paragraf 8 UU No. 28 Tahun 2009. 401 Ibid.
397

396

145

meningkatkan kemandirian daerah dalam upaya peningkatan PAD secara tepat? Dari jenis pajak daerah baru tersebut, hanya pajak rokok yang secara signifikan memberikan kontribusi terhadap PAD dengan tarif 10% dari cukai nasional dan sebagian lagi dari pajak hiburan yang dapat mencapai tariff maksimum 75 % untuk hiburan-hiburan tertentu.402 Namun demikian, khusus mengenai pajak rokok, terdapat kejanggalan dalam konteks pemungutan. Walaupun pajak rokok adalah pajak daerah provinsi, namun yang melakukan pemungutan pajak adalah instansi pemerintah berwenang memungut cukai bersamaan dengan pemungutan cukai rokok403, yang artinya pemerintah pusat. Hal ini merupakan mekanisme yang tidak menciptakan kemandirian daerah untuk melakukan pemungutan pajak daerah. Pajak rokok lebih tampak seperti dana perimbangan dari konsumsi rokok, karena dipungut oleh pemerintah pusat lalu disalurkan ke rekening kas umum daerah provinsi secara proporsional berdasarkan jumlah penduduk.404 Sementara itu, Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Pedesaan dan Perkotaan serta Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan(BPHTB) sebenarnya bukan pajak baru, karena hal tersebut merupakan pajak pusat yang seluruh hasilnya dikembalikan kepada daerah sebagai dana bagi hasil(DBH) dari sektor pajak.405 Sementara itu, Pajak Sarang Burung Walet dipungut bagi daerah-daerah yang memiliki potensi ini. Artinya, tidak semua daerah dapat memungut pajak daerah tersebut, karena tidak setiap daerah memiliki potensi sarang burung walet. Perluasan objek pajak daerah, misalnya untuk pajak hotel dan restoran sebenarnya juga bukan hal baru. Beberapa daerah juga telah

Hiburan tertentu yang dimaksud adalah Khusus untuk Hiburan berupa pagelaran busana, kontes kecantikan, diskotik, karaoke, klab malam, permainan ketangkasan, panti pijat, dan mandi uap/spa. Lihat Pasal 45 ayat (2) UU No. 28 Tahun 2009. 403 Pasal 27 ayat (3) UU No.28 Tahun 2009. 404 Pasal 27 ayat (4) UU No.28 Tahun 2009. 405 Pengaturan persentase perimbangan alokasi DBH PBB dan BPHTB antara pusat dan daerah adalah 10 % : 90 % untuk DBH PBB dan 20% : 80 % untuk DBH BPHTB. 10 % bagian pusat dari PBB dan 20 % bagian pusat dari BPHTB dibagikan seluruhnya kepada daerah dengan formula tertentu. Lihat Pasal 12 ayat (2) dan ayat(5) UU No. 33 Tahun 2004.

402

146

menetapkan jenis pajak daerah di luar UU No. 34 Tahun 2000, yang menyerupai perluasan objek pajak tersebut, misalnya pajak rumah kos di Kabupaten Sumedang. Dengan demikian, perluasan objek pajak tersebut sebenarnya hanya mengambil dan mengukuhkan secara nasional pajakpajak daerah yang sebelum telah dipungut di beberapa daerah. Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) yang tarifnya ditentukan secara progresif pun di mulai dari prosentase tariff 1% untuk kepemilikan kendaraan pribadi yang pertama, walaupun untuk kendaraan kedua dan seterusnya dapat naikkan secara progresif hingga 10%. Secara sepintas, pajak tersebut dapat menghasilkan dana yang besar mengingat tingginya pembelian kendaraan bermotor. Namun demikian, jika mekanisme pengawasan tentang kepemilikan kendaraan bermotor tidak ditetapkan dengan baik, maka kemungkinan terjadinya penyelundupan hukum dapat mengakibatkan hasil pemungutan pajak tersebut tidak signifikan. Begitu pula dengan pemecahan Pajak Air Bawah Tanah dan Air Permukaan menjadi Pajak Air Tanah (kabupaten/ kota) dan Pajak Air Permukaan (untuk provinsi), pada dasarnya memiliki objek pajak yang tidak berubah, dengan tarif yang sama dengan UU sebelumnya untuk Pajak Air Tanah (maksimal 20%406), namun lebih rendah untuk Pajak Air Permukaan (maksimal 10%).407 Hal – hal di atas menunjukkan bahwa pemberian pajak baru, penyesuaian tarif pajak daerah tidak dapat dipastikan dapat meningkatkan PAD. Apalagi jika dikaitkan dengan kemungkinan masalah yang muncul dalam praktik, misalnya mekanisme pengawasan kepemilikan kendaraan bermotor pribadi dengan tariff pajak progresif. Jika mekanisme tersebut tidak dibentuk, maka pelaksanaan pemungutan pajak tersebut, berpotensi menimbulkan ketidakadilan.408 Berdasarkan hal-hal tersebut, maka otonomi

406 407

Pasal 70 ayat (1) UU No. 28 Tahun 2009. Pasal 24 ayat (1) UU No. 28 Tahun 2009. 408 UU No. 28 Tahun 2009 tidak mewajibkan mekanisme balik nama jika terjadi peralihan hak atas kepemilikan kendaraan pribadi. Artinya, jika seseorang telah menjual kendaraannya kepada orang lain tanpa melakukan balik nama, maka orang tersebut akan

147

pendapatan yang diharapkan dapat meningkat dengan adanya UU ini, belum tentu dapat terwujud. Jika asumsi PAD dari sektor pajak daerah belum dapat ditingkatkan dengan adanya UU No. 28 Tahun 2009, maka dengan sistem penetapan jenis pajak yang tertutup, daerah kurang dapat memanfaatkan potensi pajak daerah lain, selain yang telah ditetapkan secara limitatif dalam UU tersebut. Pembentuk UU No. 28 Tahun 2009 berargumen bahwa sistem tertutup tersebut dilakukan untuk memberikan kepastian hukum bagi masyarakat.409 Namun demikian, pembentukan UU tersebut tidak melihat bahwa otonomi daerah yang diterapkan di Indonesia adalah otonomi seluasluasnya di mana urusan pemerintahan daerah sangat luas, mencakup seluruh urusan pemerintahan kecuali urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat.410 Artinya, dibutuhkan biaya yang sangat besar untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan daerah, sehingga hal tersebut harus didukung dengan sumber pendapatan yang juga sangat besar. Pembentuk UU No. 28 Tahun 2009 berargumen bahwa dengan sistem pajak daerah selama ini, banyak daerah yang melanggar kriteria yang telah ditetapkan untuk menetapkan pajak daerah baru, ditambah dengan lemahnya pengawasan penetapan Perda Pajak Daerah dan perilaku banyak daerah yang tidak menyampaikan Perda Pajak Daerah untuk dievaluasi.411 Namun demikian, UU No. 28 Tahun 2009 tetap menerapkan sistem yang semi terbuka untuk retribusi daerah. Artinya, selain retribusi daerah yang ditetapkan dalam UU No. 28 Tahun 2009, daerah dapat menetapkan jenis retribusi daerah lain, berdasarkan kriteria yang ditetapkan.412 Padahal pembentuk UU No. 28 Tahun 2009 juga mengakui bahwa penetapan

dikenakan tariff progresif jika akan membeli kendaraan bermotor lagi untuk jenis yang sama, padahal orang tersebut secara de facto hanya memiliki 1 kendaraan pribadi. 409 Penjelasan Umum UU No. 28 Tahun 2009. 410 Pasal 18 ayat (5) Perubahan Kedua UUD 1945, menyatakan: “Pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya, kecuali urusan pemerintahan yang oleh undangundang ditentukan sebagai urusan Pemerintah Pusat”. 411 Penjelasan Umum UU No. 28 Tahun 2009. 412 Pasal 150 UU No. 28 Tahun 2009.

148

retribusi daerah yang banyak melanggar kriteria yang telah ditetapkan disebabkan, hasil penerimaan dari jenis pajak daerah yang ditetapkan, tidak dapat memenuhi kebutuhan daerah.413 Padahal dengan sistem pajak daerah yang sifatnya tertutup maka, pelangggaran terhadap kriteria jenis retribusi daerah lain kemungkinan akan terulang kembali. Hal tersebut menunjukkan ambiguitas pemikiran para pembentuk UU No. 28 Tahun 2009 dalam mendudukkan pajak daerah dan retribusi daerah. Hal-hal di atas menunjukkan, waluaupun terdapat upaya untuk menambahkan kewenangan pajak daerah dan retribusi daerah dalam UU No. 28 Tahun 2009, namun hal tersebut tidak menjamin terciptanya otonomi dan kecukupan pendapatan bagi daerah. Artinya, jika tujuan meningkatkan otonomi pendapatan dalam UU ini tidak tercapai, maka daerah akan tetap bergantung pada dana perimbangan yang diberikan oleh pusat.

b. Telah Terhadap Pinjaman Daerah Pengaturan pinjaman daerah dalam UU No. 33 Tahun 20004 dalam beberapa hal lebih baik jika dibandingkan dalam UU No. 25 Tahun 1999, misalnya dalam hal batas kumulatif pinjaman yang lebih ketat, dan sanksi bagi daerah yang melanggar ketentuan tersebut. Dengan pengaturan yang lebih ketat, tidak berarti daerah tidak memiliki borrowing previllage yang terbatas. Batas-batas objektif dalam melakukan pinjaman daerah diperlukan agar hal tersebut sesuai dengan maksud pinjaman daerah, khususnya untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dan melakukan pembangunan yang menerus (sustainable development).414 Adanya kategorisasi pinjaman daerah sesuai peruntukkannya dalam UU No. 33 Tahun 2004 merupakan salah satu cara untuk menempatkan pinjaman daerah sesuai dengan kebutuhan pinjaman tersebut dilakukan. Namun demikian, Menurut Shah, di negara-negara berkembang (termasuk Indonesia) di mana pasar (keuangan) belum terbangun dengan

413 414

Penjelasan Umum UU No. 28 Tahun 2009. Glasson dalam Bachrul Elmi dan Syahrir Ika, loc.cit., hlm. 62.

149

baik untuk kredit jangka panjang dan kemampuan daerah untuk membayar pinjaman, menyebabkan akses daerah untuk melakukan pinjaman sangat terbatas.415 Dalam konteks tersebut, maka yang paling mungkin dilakukan di Indonesia adalah pinjaman jangka pendek dan menengah yang tidak ditujukan untuk menghasilkan penerimaan. Artinya, pinjaman daerah di Indonesia hanya berperan untuk mempertahankan struktur APBD agar tetap berimbang seiring dengan diterapkannya hard budget constraints dalam hal APBD. Pinjaman daerah di Indonesia belum dapat diberdayakan untuk dapat menghasilkan penerimaan, walaupun jenis pinjaman tersebut disediakan (pinjaman jangka panjang untuk pembiayaan investasi). Belum berkembangnya pasar keuangan di negara-negara

berkembang, seperti lembaga keuangan bank dan non-bank, termasuk di Indonesia, maka sumber pinjaman daerah sangat terbatas. Otomatis, sumber pinjaman daerah yang secara signifikan diharapkan oleh daerah berasal dari pemerintah, karena pinjaman dari masyarakat (obligasi daerah) dan pinjaman dari pemerintah daerah lain belum banyak diberdayakan. Namun demikian, pemerintah pusat pun tidak selamanya dapat memberikan pinjaman kepada daerah, khususnya selain untuk tujuan menutupi defisit, karena transfer dana pusat ke daerah sudah begitu besar, khususnya dari DAU. Apalagi dalam UU No. 33 Tahun 2004, daerah dilarang melakukan pinjaman luar negeri, kecuali berasal dari penerusan pinjaman dari pusat yang dananya dari pinjaman luar negeri. Artinya sumber dana pinjaman daerah semakin terbatas. Dalam kewenangan melakukan pinjaman, daerah tidak dapat memanfaatkan sumber pinjaman luar negeri secara langsung, namun harus melalui penerusan pinjaman dari pemerintah pusat.416 Dalam hal pinjaman dari luar negeri, UU No. 22 Tahun 1999 memberikan mekanisme yang lebih realistis. Dalam UU No. 22 Tahun 1999, pemerintah daerah dapat melakukan peminjaman dari sumber dalam negeri dan/atau dari sumber luar negeri

415 416

Anwar Shah, “Fiscal Decentralization…., loc.cit., hlm. 29 Lihat Pasal 50 ayat (1) dan Pasal 56 ayat (2) UU No. 33 Tahun 2004.

32 Tahun 2004. Artinya. Namun demikian. daerah tidak memiliki inisiatif untuk menjajaki pinjaman. padahal unsur esensial dalam melakukan pinjaman adalah unsur persetujuan dari pemerintah pusat. tidak diatur bagaimana mekanisme keterlibatan pemerintah pusat.22 Tahun 1999. dalam mekanisme UU No. daerah tetap dapat melakukan penjajakan potensi pinjaman luar negeri. Walaupun demikian. 33 Tahun 2004. 22 Tahun 1999 membolehkan daerah melakukan pinjaman luar negeri. harus mendapatkan persetujuan pemerintah pusat.22 Tahun 1999 . walaupun keputusan akhir ada di tangan pemerintah pusat.419 Walaupun UU No. Walaupun demikian. Dalam UU No. Jenis-jenis pinjaman yang diperuntukan untuk menutupi arus kas atau penyediaan pelayanan publik seharusnya tidak berasal dari pinjaman luar negeri. kebebasan untuk melakukan pinjaman lebih terjamin. Padahal hal tersebut sangat penting. sehingga hal ini menjadi salah satu kelemahan UU No.150 untuk membiayai kegiatan pemerintahan dengan persetujuan DPRD. masih tetap dipertahankan. 22 Tahun 1999. Pasal 81 ayat (2) UU No. dalam konteks penjajakan pinjaman luar negeri. Artinya. karena harus mendapatkan persetujuan pusat. seharusnya daerah tetap diberikan kewenangan untuk menjajaki potensi pinjaman dari sumber dana luar negeri. proses penjajakan tersebut sebaiknya 417 418 Pasal 81 ayat (1) UU No. 22 Tahun 1999. UU No. Pinjaman luar negeri seharusnya ditentukan hanya berupa pinjaman jangka panjang yang diperuntukkan untuk membiayai proyek investasi yang menghasilkan penerimaan. 25 Tahun 1999).418 Peminjaman dan sumber dana pinjaman yang berasal dari luar negeri. Artinya.417 Pinjaman dari dalam negeri diberitahukan kepada Pemerintah dan dilaksanakan sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Pemerintah. tidak mengatur kriteria pinjaman yang dananya berasal dari luar negeri.22 Tahun 1999. namun pada prinsipnya hal tersebut tidak sepenuhnya menjadi kewenangan daerah. prinsip bahwa urusan luar negeri adalah urusan pemerintah pusat sebagaimana diatur dalam UU No. 22 Tahun 1999 (dan UU No. 419 Lihat Pasal 81 ayat (3) UU No. Kelemahan lainnya.

tidak terlepas dari transfer dana pusat ke daerah yang sangat besar. dengan besarnya dana perimbangan. di antaranya . fungsi pinjaman daerah di kemudian hari tidak ditekankan untuk menutupi defisit APBD.151 juga harus melibatkan pemerintah pusat. Dengan demikian. Namun pranata ini dapat dilihat sebagai konsekuensi dari pembagian Negara yang “dibagi atas” daerah-daerah provinsi. Padahal. Sebagai pelaksanaan dari Pasal 18. Dengan pengaturan saat ini. maka tingkat defisit APBD yang rendah. khususnya DAU dan DBH. E. Menurut Jimly Asshiddiqie. tetapi adalah untuk melakukan investasi produktif yang dapat dapat menghasilkan penerimaan. Artinya. Artinya. dengan dana perimbangan yang besar. walaupun dengan PAD yang kecil. Dimensi Hubungan Pengawasan Pusat dan Daerah Perubahan UUD 1945 secara eksplisit tidak menyebutkan mengenai pengawasan. Pengaturan pinjaman daerah dalam UU No. karena terkait dengan urusan luar negeri. kemampuan pemerintah pusat untuk memberikan pinjaman kepada daerah tidak dapat diharapkan untuk dapat membiayai proyek-proyek investasi besar yang dapat menghasilkan penerimaan. melainkan hanya untuk menutupi defisit. dan kabupaten/kota. 32 Tahun 2004 disebutkan berbagai mekanisme pengawasan. dan penyediaan pelayanan publik yang tidak menghasilkan penerimaan. adanya keterbatasan pemerintah untuk memberikan pinjaman kepada daerah. dalam UU No. hal tersebut dimaksudkan untuk menegaskan bahwa hubungan antara pemerintah pusat dan daerah bersifat hirarkis dan vertikal. 33 Tahun 2004. maka diharapkan pinjaman yang dilakukan oleh menjadi tidak besar. maka pinjaman yang dapat diterima oleh daerah dari pusat terbatas pada tujuan untuk menutupi kekurangan arus kas (defisit APBD) atau untuk melakukan penyediaan pelayanan publik yang tidak menghasilkan penerimaan.

2002. Instrumen Pengawasan Sebagai Fenomena Tarik Ulur Hubungan Pusat-Daerah Untuk mengetahui bahwa dalam praktik pelaksanaan pengawasan dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah di Indonesia pada umumnya dan di Jawa Barat pada khususnya. 422 Pasal 186 UU No. 79 Tahun 2008 Tentang Tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. Selanjutnya untuk melaksanakan ketentuan Pasal 223 UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Peraturan Pemerintah diterbitkan sebagai pedoman pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah. dapat dibatalkan oleh Presiden (ditetapkan dengan Perpres). . hlm. 1.423 Persoalan kemudian muncul di antaranya berkaitan dengan apakah pengaturan pengawasan preventif dan represif terhadap perda ditambah pengawasan yudisial sudah tepat? Selain itu adalah bahwa pada kenyataannya setiap perda yang dibatalkan dilaksanakan melalui keputusan Menteri Dalam Negeri.422 Selain itu dalam rangka pengawasan pula.420 Pasal 222 ayat (1) UU No.152 terhadap peraturan daerah. Jakarta. memunculkan pernyataan legitimasi bentuk instrumen hukum tersebut. 32 Tahun 2004.421 Objek pengawasan lainnya adalah pengawasan terhadap peraturan daerah dan peraturan kepala daerah. UI. disebutkan bahwa perda yang bertentangan dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Jimly Ashiddiqie. Pusat Studi Hukum Tata Negara FH. 32 Tahun 2004. 21. di bawah ini diuraikan data sebagai berikut: Tabel 5 420 Lihat. yang salah satunya disiratkan melalui ketentuan pengawasan oleh Gubernur mengenai penyusunan APBD kabupaten dan kota. Konsolidasi Naskah UUD 1945 Setelah Perubahan Keempat. 32 Tahun 2004 mengatur bahwa pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah secara nasional dikoordinasikan oleh Menteri Dalam Negeri. 421 Konsiderans PP No. 423 Pasal 145 ayat (2) s/d ayat (7) UU No.

d.I.153 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s.d. 2006 Sektor Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade) No 1 2 3 4 5 Wilayah Provinsi Sumatera Utara Provinsi Bengkulu Provinsi Jambi Provinsi Riau Jumlah 7 2 0 3 Jumlah 7 2 3 1 0 3 3 1 0 3 0 1 0 0 1 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 0 Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung 0 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 0 . 2006 Sektor Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral Resource) No Wilayah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Provinsi Sumatera Utara Provinsi Bengkulu Provinsi Jambi Provinsi Riau Provinsi Sumatera Barat Provinsi Sumatera Selatan Provinsi Lampung Provinsi Kepulauan Riau Provinsi Banten Provinsi Jawa Barat Provinsi DKI Jakarta Provinsi Jawa Tengah Provinsi Jawa Timur Provinsi D.Yogyakarta Provinsi Bali Tabel 6 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s.

2006 Sektor Kehutanan (Forestry) No Wilayah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Provinsi Sumatera Utara Provinsi Bengkulu Provinsi Jambi Provinsi Riau Provinsi Sumatera Barat Provinsi Sumatera Selatan Provinsi Lampung Provinsi Kepulauan Riau Provinsi Banten Provinsi Jawa Barat Provinsi DKI Jakarta Jumlah 3 1 4 1 4 2 0 0 1 3 0 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 0 Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung 0 .Yogyakarta Provinsi Bali 3 3 3 1 0 2 0 5 2 1 0 Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung 0 Tabel 7 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s.154 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Provinsi Sumatera Barat Provinsi Sumatera Selatan Provinsi Lampung Provinsi Kepulauan Riau Provinsi Banten Provinsi Jawa Barat Provinsi DKI Jakarta Provinsi Jawa Tengah Provinsi Jawa Timur Provinsi D.I.d.

d.I.d.Yogyakarta Provinsi Bali Tabel 9 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s.155 14 15 16 17 Provinsi Jawa Tengah Provinsi Jawa Timur Provinsi D. 2006 Sektor Perhubungan No Wilayah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Provinsi Sumatera Utara Provinsi Bengkulu Provinsi Jambi Provinsi Riau Provinsi Sumatera Barat Provinsi Sumatera Selatan Provinsi Lampung Provinsi Kepulauan Riau Provinsi Banten Provinsi Jawa Barat Provinsi DKI Jakarta Provinsi Jawa Tengah Provinsi Jawa Timur Provinsi D. 2006 Sektor Kelautan dan Perikanan No 1 Wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Jumlah 0 Jumlah 4 0 5 9 2 2 6 0 3 9 0 6 10 0 0 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 1 Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung 1 .Yogyakarta Provinsi Bali Tabel 8 4 4 0 1 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s.I.

23-06-2005 TAHUN 2007 tentang Retribusi Pengawasan Tgl. 23-06-2005 TAHUN 2007 tentang Retribusi Izin Tempat Tgl. 29-01-2007 Perdagangan (siup) Dan Retribusi Tanda Daftar Perusahaan (tdp) 3 Kab.1 NO 5 TAHUN 2003 Tgl. 29-01-2007 Usaha Dalam Kabupaten Mukomuko 4 Kab. Retribusi Daerah dan Pungutan Lainnya Yang Dibatalkan Oleh Menteri Dalam Negeri Pada Tahun 2007 Surat SK Mendagri Teguran NO Mendagri 1 Provinsi Sumatera Utara S-093/MK.12 NO 7 Tahun 2005 Tgl.10/2006 Kepmendagri NO.11 NO 11 Tahun 2005 Tgl.Yogyakarta Provinsi Bali 4 0 3 1 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 1 Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung 2 Tabel 10 Peraturan Daerah Tentang Pajak Daerah.I. 23-06-2005 TAHUN 2007 tentang Surat Izin Usaha Tgl.Muaraenim S-093/MK.10/2006 Kepmendagri NO.Muko-muko S-093/MK. 23-06-2005 TAHUN 2007 tentang Retribusi Surat Izin Usaha Tgl.10/2006 Kepmendagri NO. 29-01-2007 Dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan Dan Holtikultura 2 Kab.10/2006 Kepmendagri NO.10 NO 34 Tahun 2004 Tgl.Muko-muko S-093/MK. 29-01-2007 Peraturan Daerah Rekomendasi .156 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Provinsi Sumatera Utara Provinsi Bengkulu Provinsi Jambi Provinsi Riau Provinsi Sumatera Barat Provinsi Sumatera Selatan Provinsi Lampung Provinsi Kepulauan Riau Provinsi Banten Provinsi Jawa Barat Provinsi DKI Jakarta Provinsi Jawa Tengah Provinsi Jawa Timur Provinsi D.

29-01-2007 S-093/MK.19 TAHUN 2007 Tgl.10/2006 Tgl.22 TAHUN 2007 Tgl.14 TAHUN 2007 Tgl.10/2006 NO 12 Tahun 2000 Tgl.18 TAHUN 2007 Tgl. 23-06-2005 Kepmendagri NO.15 TAHUN 2007 Tgl. 23-06-2005 Kepmendagri NO. 23-06-2005 .10/2006 Tgl. 23-06-2005 tentang Retribusi Ijin Undangundang Gangguan (ho) S-093/MK. 29-01-2007 10 kab.2 TAHUN 2007 Tgl.Hulu Sungai Selatan NO 11 Tahun 2001 tentang Retribusi Dana Pembangunan Daerah Kerja Bagian Sisa Hasil Usaha Koperasi S-093/MK. 23-06-2005 Kepmendagri NO.16 TAHUN 2007 Tgl. 29-01-2007 6 S-093/MK. Surat Keterangan Kecakapan (skk) Dan Surat Izin Berlayar (sib) Kab.10/2006 Tgl.20 TAHUN 2007 Tgl.10/2006 Tgl.Deliserdang NO 25 TAHUN 1998 tentang Retribusi Izin Peruntukan Penggunaan Tanah 13 Kab. 23-06-2005 S-093/MK.Nunukan NO 8 Tahun 2005 tentang Retribusi Pelayanan Penerbitan Surat-surat. 23-06-2005 Kepmendagri NO.Magelang NO 11 Tahun 2005 tentang Retribusi Izin Usaha Kepmendagri NO.Sintang NO 7 TAHUN 2002 tentang Retribusi Pendirian Dan Pengelolaan Badan Hukum Koperasi Kab.10/2006 Tgl. Pengusaha Kecil Dan Menengah 14 Kab.157 Perdagangan (siup) 5 Kab.Sukabumi NO 12 TAHUN 2002 tentang Tanda Daftar Industri Dan Izin Usaha Industri 15 Kab. 23-06-2005 Kepmendagri NO. 29-01-2007 S-093/MK.Nunukan NO 6 Tahun 2005 tentang Retribusi Izin Tempat Usaha Kab. 23-06-2005 Kepmendagri NO.21 TAHUN 2007 Tgl.10/2006 Tgl. 29-01-2007 Kepmendagri NO. 29-01-2007 Kepmendagri NO.Karawang NO 23 TAHUN 2001 tentang Retribusi Pelayanan Bidang Koperasi. 29-01-2007 9 Kota Tangerang S-093/MK. 29-01-2007 S-093/MK.10/2006 Tgl.13 TAHUN 2007 Tgl.10/2006 Tgl.Tasikmalaya NO 4 Tahun 2003 tentang Retribusi Pelayanan Bidang Koperasi Dan Usaha Kecil Dan Menengah 12 Kab. 29-01-2007 7 S-093/MK. 29-01-2007 Kepmendagri NO. 29-01-2007 S-093/MK.17 TAHUN 2007 Tgl. 23-06-2005 8 S-093/MK.Bandung NO 24 Tahun 2001 tentang Retribusi Pelayanan Perizinan Penyelenggaraan Koperasi 11 Kab. 23-06-2005 Kepmendagri NO.10/2006 Tgl.10/2006 Tgl.

29-01-2007 20 Kab.Madiun S-093/MK.Sumbawa Barat NO 8 Tahun 2005 tentang Retribusi Izin Usaha Perdagangan Dan Industri 23 Kab.Bantul NO 13 Tahun 2005 tentang Retribusi Izin Usaha Bengkel Perawatan Kendaraan Bermotor 19 Kab.Dairi NO 14 Tahun 2000 tentang Pengesahan Akta Pendirian Dan Perubahan Anggaran Dasar Koperasi 24 Kab.Banyuwangi NO 46 Tahun 2002 tentang Retribusi Izin Perkoperasian S-093/MK. 23-06-2005 S-093/MK.23 TAHUN 2007 Tgl. 23-06-2005 Kepmendagri NO.10/2006 Tgl.27 TAHUN 2007 Tgl.158 Pariwisata 16 Kab.Bantul NO 10 Tahun 2002 tentang Pengesahan Akta Pendirian.10/2006 - . 29-01-2007 Kepmendagri NO.Pangkajene Kepulauan NO 11 TAHUN 2001 tentang Retribusi Izin Peruntukan Penggunaan Tanah 26 Provinsi Sulawesi Tenggara S-093/MK. 23-06-2005 S-093/MK. 23-06-2005 Kepmendagri NO.Magelang NO 15 Tahun 2005 tentang Retribusi Perizinan Ketenagakerjaan 17 Kab. 23-06-2005 Kepmendagri NO.25 TAHUN 2007 Tgl.10/2006 Tgl. 29-01-2007 Kepmendagri NO.10/2006 NO 12 Tahun 2005 Tgl.30 TAHUN 2007 Tgl.32 S-093/MK. 29-01-2007 Kepmendagri NO. 23-06-2005 Kepmendagri NO. 23-06-2005 S-093/MK.Sumbawa Barat NO 10 Tahun 2005 tentang Retribusi Tanda Daftar Gudang 25 Kab.10/2006 Tgl. 23-06-2005 Kepmendagri NO. 23-06-2005 tentang Perubahan Atas Perda Kabupaten Madiun Nomor 16 Tahun 2002 Tentang Retribusi Penggunaan Jalan Kabupaten Kepmendagri NO.10/2006 Tgl. 29-01-2007 Kepmendagri NO.29 TAHUN 2007 Tgl.Jembrana NO 10 TAHUN 2002 tentang Retribusi Izin Usaha Industri Dan Perdagangan 22 Kab.26 TAHUN 2007 Tgl.10/2006 Tgl.10/2006 Tgl.10/2006 Tgl. 29-01-2007 S-093/MK.10/2006 Tgl. 23-06-2005 S-093/MK.3 TAHUN 2007 Tgl.10/2006 Tgl. 29-01-2007 21 Kab.28 TAHUN 2007 Tgl.24 TAHUN 2007 Tgl. 29-01-2007 S-093/MK. 29-01-2007 S-093/MK. 29-01-2007 Kepmendagri NO.31 TAHUN 2007 Tgl. Pengesahan Perubahan Anggaran Dasar Dan Pembubaran Koperasi Di Kabupaten Bantul 18 Kab.

29-01-2007 Tabel 11 Hasil Evaluasi Peraturan Daerah di Departemen Dalam Negeri Sampai dengan November 2007 Diterima Daerah Provinsi Kab Kota Total Perda 495 6. Perubahan Anggaran Dasar Dan Pembubaran Koperasi 27 Kota Jayapura S-093/MK.447 Raperda 0 105 25 130 Sumber: Situs Kementerian Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia.159 NO 6 Tahun 2002 Tgl. 23-06-2005 tentang Retribusi Penumpang Kapal Laut Dan Pesawat Udara TAHUN 2007 Tgl.go.275 55 5. 2006424 Jumlah Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral 32 Resource) Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade) Kehutanan (Forestry) Perhubungan Kelautan dan Perikanan Perkebunan (Plantation) Pertanian Sumbangan Pihak Ketiga (Donation From Third Party) Ketenagakerjaan (Labor Force) 77 50 83 37 13 19 21 54 9 189 10 Kimpraswil dan Pekerjaan Umum (Public Work And Housing) 11 Lain-Lain 424 Sumber: bakd. Januari 2008 Tabel 12 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Berdasarkan SK Menteri Dalam Negeri No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Sektor Dari Tahun 2002 s. 29-01-2007 Kepmendagri NO.33 TAHUN 2007 Tgl.076 391 Perda 74 2.d.836 2.503 324 1.303 9.634 Raperda 32 883 181 1.id/www.10/2006 NO 5 Tahun 2005 Tgl.depdagri. 23-06-2005 tentang Pengesahan Akta Pendirian.com.096 Batal Perda Raperda 121 3 651 93 191 11 963 107 Hasil Evaluasi Revisi Perda Raperda 2 17 101 361 45 90 148 468 Dalam Proses Layak Perda Raperda 298 12 3.google.581 792 3. tanggal 20 Pebruari 2008 .

Subang Kab.d.160 12 Pendidikan 13 Kesehatan 14 Pariwisata 15 Lingkungan Hidup 16 Koperasi 17 Peternakan 18 Pertanian dan Perikanan 1 0 3 14 4 52 1 Tabel 13 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Wilayah Provinsi Jawa Barat Dari Tahun 2002 s.Bogor Kab.Garut Kab.Sumedang Kab. 2006 Sektor Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral Resource) No.Indramayu Kab.Bekasi Kab.Majalengka Kab.Bandung Kab.Karawang Kab.Ciamis Kab.Cirebon Kab.Purwakarta Kab.Kuningan Kab. Kabupaten Jumlah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 kab.Sukabumi Kab.Cianjur Kab.Tasikmalaya Kota Bandung Kota Banjar Kota Bekasi Kota Bogor 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 .

INDRAMAYU Pajak TAHUN 2002 NOMOR 25 TAHUN 2002 2002 TENTANG PAJAK PENGELOLAAN MINYAK DAN GAS BUMI 2 Batal 05 00-00.Tasikmalaya Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral Resource)) No Status Nomor Tanggal Tentang Jenis 1 Batal 13 TAHUN 00-00PERDA KAB.Bekasi Kab.PERDA 1 Batal 25 KAB. TASIKMALAYA Retribusi 2004 2004 NOMOR 13 TAHUN 2004 Jasa TENTANG IZIN USAHA Usaha PERTAMBANGAN Tabel 16 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade) Wilayah Provinsi Jawa Barat) No Kabupaten Jumlah 1 2 3 Kab.161 21 22 23 24 25 Kota Cimahi Kota Cirebon Kota Depok Kota Sukabumi Kota Tasikmalaya 0 0 0 0 0 Tabel 14 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.KETENAGALISTRIKAN Retribusi TAHUN 2002 Jasa 2002 Umum Tabel 15 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.Bandung Kab.Indramayu Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral Resource)) No Status Nomor Tanggal Tentang Jenis 00-00.Bogor 0 0 0 .

Garut Kab.Majalengka Kab.Karawang Kab.RETRIBUSI TERA DAN Retribusi 2001 2001 Jasa TERA ALAT UKUR Umum Tabel 18 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kota Cimahi Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade)) .Kuningan Kab.Sukabumi Kab.162 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Kab.Ciamis Kab.Cianjur Kab.Indramayu Kab.Cirebon Kab.Karawang Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade) ) No Status Nomor Tanggal Tentang Jenis 1 Batal 11 TAHUN 00-00.Sumedang Kota Bandung Kota Banjar Kota Bekasi Kota Bogor Kota Cimahi Kota Cirebon Kota Depok Kota Sukabumi 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 Kab.Tasikmalaya 0 Kota Tasikmalaya 0 Tabel 17 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.Purwakarta Kab.Subang Kab.

Purwakarta Kab.Tasikmalaya 0 .Bekasi Kab.PERDA KOTA CIMAHI NOMOR 26 Retribusi Batal 26 TAHUN 2003 TAHUN 2003 TENTANG Jasa 2003 KETENTUAN DAN TATA CARA Umum PELAYANAN PEMBERIAN IJIN USAHA INDUSTRI Tabel 19 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah di Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Kehutanan (Forestry)) No Kabupaten 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 kab.Bogor Kab.Ciamis Kab.Sumedang Kota Bandung Kota Banjar Kota Bekasi Kota Bogor Kota Cimahi Kota Cirebon Kota Depok Jumlah 0 0 0 1 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Kab.Karawang Kab.Garut Kab.Cianjur Kab.Cirebon Kab.163 No Status Nomor Tanggal Tentang Jenis 1 00-00.Bandung Kab.Sukabumi Kab.Indramayu Kab.Subang Kab.Majalengka Kab.Kuningan Kab.

pengawasan Pusat terhadap daerah telah berlangsung efektif dan bermanfaat menyimpang bagi dari pemerintahan tujuan daerah agar pemerintahannya daerah. tidak penyelenggaran otonomi terutama kebijaksaan yang telah ditetapkan Daerah tidak bertentangan dengan kebijaksanaan nasional (Pusat) dan/atau bertentangan dengan kepentingan umum.164 24 25 Kota Sukabumi 0 Kota Tasikmalaya 0 Tabel 20 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab. Sejumlah tabel di atas menunjukkan bahwa dalam praktik.Ciamis Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Kehutanan (Forestry)) No Status Nomor Tanggal Tentang Jenis 1 00-00Batal 10 TAHUN 2001 2001 RETRIBUSI PELAYANAN Retribusi TATA USAHA HASIL HUTAN Jasa Usaha MILIK Tabel 21 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab. bahwa bentuk pengawasan yang berjalan dalam praktik adalah bentuk pengawasan preventif (pengesahan) dan bentuk pengawasan represif (pembatalan atau penangguhan). Lebih dari itu persoalan muncul terkait dengan instrumen penetapan pembatalan suatu Perda. pembatalan perda selalu ditetapkan dengan keputusan Menteri . serta tidak ada pelaksanaan bentuk pengawasan umum. Kedua.Garut Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Kehutanan (Forestry)) No Status Nomor Tanggal Tentang Jenis 1 Batal 09 TAHUN 00-002001 2001 RETRIBUSI PELAYANAN Retribusi IZIN PENGELOLA KAYU Jasa Usaha MILIK sebagaimana tersebut di muka Dari data yang diuraikan dapat dikemukakan hal-hal sebagai berikut: Pertama.

Persoalan lain muncul menyangkut fenomena pemekaran daerah. . hampir setengah dari produk legislasi DPR merupakan undang-undang pemekaran daerah.165 dalam negeri (kepmendagri). 2008 21 UU. perlu pembahasan di bagian lain. Perjalanan pemekaran daerah yang dapat terlihat pada tahun 2007 dan 2008 dapat dipetakan sebagai berikut: Tabel 22 Jumlah Undang-Undang Pembentukan Daerah (Pemekaran Daerah) 2007 – 2008 No Tahun Pembentukan UndangUndang UU Pembentukan UU Non Jumlah Daerah/Pemekaran Pemekaran 1. Sementara itu di lain pihak. telah ada pengaturan bahwa Perda yang bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dapat dibatalkan oleh Pemerintah425 dan Keputusan pembatalan Perda tersebut ditetapkan dengan Peraturan Presiden paling lama 60 (enam puluh) hari sejak diterimanya Perda. Pasal 145 ayat (3).426 Terhadap persoalan ini. terkait dengan legitimasi Kepmendagri sebagai instrumen penetapan suatu perda. dikecualikan 24 terhadap Undang-Undang Tentang Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia 30 26 50 56 Dari tabel di atas dapat terlihat bahwa dalam dua tahun (2007-dan 2008) pembentukan daerah-daerah baru mengalami kenaikan yang pesat. 2007 2. Artinya bahwa terutama dalam dua tahun tersebut. 425 426 Pasal 145 ayat (2).

Harian KOMPAS. Op. the supreme legislative power by one central power. dalam Publikasi Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD). Dan Penggabungan Daerah 429 Bab IV dan Bab V Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2007. Memperlambat …. 2. Pengaturan yang berlaku sebagai rangkaian pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan daerah tidak final unuk diarahkan menengahi spanning yang senantiasa memungkinkan muncul dalam hubungan pusat dan daerah. Hanya satu kekuasaan legislatif. 16 Januari 2008. ternyata pada tahun 2008. pembentukan daerah-daerah baru terjadi bahkan melebihi 50 persen jumlah produk undang-undang. Persoalan-persoalan di atas sedikitnya memunculkan tantangan mengenai bagaimana pembinaan dan pengawasan dapat menyeimbangkan tarik ulur antara hubungan pusat dan daerah. dikatakan oleh CF strong. ada satu sistem hukum yang harus diikuti sampai ke SB. sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Dengan kata lain. di sisi lain. Telaah terhadap Pengawasan Peraturan Daerah Berbicara negara kesatuan. yaitu di tangan pemerintah pusat. 430 SB. .cit.org/ind/index. Penghapusan..428 PP tersebut mengatur pula mengenai kemungkinan pencabutan status daerah jika dinilai tidak mampu.166 Pada tahun 2007 keluar persyaratan baru terhadap pemekaran yang dipandang lebih ketat. pada 8/12/2009 2:01:32 PM 428 427 Pasal `22 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2007 Tentang Tata Cara Pembentukan. Memperlambat Laju Pemekaran Daerah.427 Di dalamnya diatur bahwa pemberian status daerah baru didahului dengan evaluasi terhadap kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah dan evaluasi kemampuan penyelenggaraan otonomi daerah.php?option=com_content&task=view&id=329&Itemid=2 . Rabu.430 Satu sisi dinilai bahwa PP tersebut menetapkan syarat yang lebih ketat. http://kppod.429 Pertanyaan pun muncul dari sebagian kalangan mengenai dapatkah aturan baru itu memperlambat atau bahkan menghentikan lajunya usulan pemekaran yang semakin marak. Oleh sebab itu di dalam negara kesatuan kedudukan pemerintah pusat lebih tinggi daripada pemerintah daerah.

32 Tahun 2004 mengatur 2 (dua) bentuk pengawasan yakni pengawasan preventif dan pengawasan represif. baik bentuk maupun lingkup pengawasannya. Menurut Undang-Undang No. 32 Tahun 2004. Bentuk maupun ruang lingkupnya terus berkembang dinamis mengikuti perkembangan kehidupan sosial politik yang ada pada kurun waktu yang berbeda. pengawasan preventif dilaksanakan melalui tindakan pengesahan terhadap peraturan daerah . Maka harus ada pengawasan pusat terhadap daerah. Ini kaitannya dengan teori negara hukum. dan demokratisasi. Ini mempertegas bahwa yang diawasi adalah peraturan perundang-undangan.167 daerah-daerah otonom. pengawasan preventif. Dengan demikian. pemerintah menyerahkan sebagian urusan kepada daerah dalam rangka mencapai tujuan itu. Pada intinya adalah apakah daerah tidak menyimpang terhadap sistem perundang-undangan. Yang lebih jelas lagi adalah dalam perundang-undangan adalah perda dan peraturan kepala daerah. berdasarkan sejarah perkembangan pengawasan Pusat terhadap Daerah menurut UUD 1945. Berdasarkan perkembangan pengawasan dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah yang pernah diatur dalam peraturan perundangundangan sampai sekarang terdapat 3 (tiga) bentuk yakni pengawasan preventif. pengawasan represif dan pengawasan umum. Bentuk dan lingkup pengawasan oleh Pemerintah Pusat terhadap Daerah berdasarkan berbagai peraturan perundang-undangan tentang pemerintahan daerah. yaitu yang dibuat oleh kekuasaan legislatif tertinggi. Undang-Undang No. dalam implementasinya diatur dan dijabarkan berbeda-beda oleh berbagai undang-undang.5 Tahun 1974 mengatur 3 (tiga) bentuk pengawasan yakni pengawasan umum. 22 Tahun 1999 hanya mengatur pengawasan represif saja. Hanya satu sistem hukum. Untuk mensejahterakan rakyat. Agar tidak menyimpang dari peraturan perundang-undangan secara nasional. Inilah yang mendasari harus ada pengawasan pusat terhadap daerah. ternyata berbeda-beda. dan pengawasan represif dan Undang-Undang No. Sedangkan undang-undang sebelumnya. kegara kesatuan. yaitu Undang-Undang No.

namun terlebih dahulu dilakukan evaluasi oleh pemerintah pusat dan/atau pemerintah provinsi. hlm. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Jadi. maka Peraturan Daerah dapat diberlakukan oleh Daerah.168 bidang tertentu yakni Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Cit. Pajak Daerah. 431 432 Bagir Manan. 22 Tahun 1999 mengambil jalan politik baru yaitu meniadakan pengawasan preventif dalam pembentukan peraturan daerah. Segi negatifnya. atau kesalahan suatu peraturan daerah. pengawasan preventif dapat menjadi daya kendali atau belenggu terhadap inisiatif daerah. ternyata pengawasan preventif ditiadakan. Pada masa berlaku Undang-Undang No. maka daerah yang bersangkutan harus melakukan revisi agar tidak bertentangan dengan perundangan yang lebih tinggi dan/atau kepentingan umum. Op. 154. Yang ada adalah pengawasan represif yaitu wewenang membatalkan atau penundaan. kecerobohan.. Positifnya. menurut Bagir Manan. Dengan adanya pengawasan preventif. Setelah melalui proses tersebut. ternyata rancangan Peraturan Daerah yang telah disetujui bertentangan dengan peraturan perundang-undangan dan/atau kepentingan umum. sebuah peraturan daerah yang telah disetujui bersama oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan Kepala Daerah terlebih dahulu harus dilakukan evaluasi oleh Menteri Dalam Negeri untuk Peraturan Daerah Provinsi dan oleh Gubernur terhadap Peraturan Daerah Kabupaten dan Kota. Retribusi Daerah dan Rencana Umum Tata Ruang Daerah. tidak ada unsur pencegahan terhadap kekeliruan. UU No. daerah “dipaksa” selalu tunduk pada kemauan pihak yang berwenang memberi pengesahan.. Peraturan daerah akan serta merta berlaku karena tidak memerlukan pengesahan. .…. Melalui pengawasan preventif.432 terdapat segi positif dan negatifnya. Apabila hasil evaluasi tersebut. Ibid.431 Terhadap pengawasan preventif ini. Hal tersebut sebagaimana dikatakan oleh Bagir Manan. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah. peraturan daerah tidak serta merta berlaku.

sejalan dengan pelaksanaan pengawasan represif. sebagaimana dikemukakan di atas adalah berlakunya peraturan wewenang untuk membatalkan atau penundaan daerah. bentuk pengawasan yang seyogyanya dikembangkan atau diterapkan dalam Undang-undang yang mengatur pemerintahan ke depan adalah bentuk pengawasan preventif dan pengawasan represif. ternyata UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 demi terwujudnya pemerintahan daerah yang demokratis telah memberi saluran hukum ‘judicial review’ kepada Daerah yang keberatan produk-produk hukumnya telah dibatalkan. yang berupa pembatalan terhadap produk-produk hukum daerah. Pembatasan terhadap pengawasan preventif lebih ketat dibanding pengawasan represif. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 dapat dikatakan sudah sangat tepat mengatur pengawasan preventif dan pengawasan represif ini. Daya campur tangan terhadap daerah juga menjadi lebih besar. Salah satu pembatasan adalah dengan cara mengatur atau menentukan secara pasti jenis atau macam peraturan daerah yang memerlukan pengesahan. terlihat bahwa . dalam hal ini Mahkamah Agung. Pengawasan preventif mengandung “prasyarat” agar peraturan daerah atau yang mengandung sifat tertentu dapat dijalankan. yakni dengan cara mengajukan perkara pembatalan ini ke lembaga yudisial. Pelaksanaan pengawasan preventif berada pada posisi “lebih awal” dari pengawasan represif. baik dalam rangka desentralisasi maupun tugas pembantuan. Dengan pengaturan atau peran lembaga Yudisial (Mahkamah Agung) dalam rangka pengawasan (represif) Pusat terhadap Daerah. karena telah diatur dengan jelas dan rinci ruang lingkup dari kedua bentuk pengawasan tersebut serta ditentukan dengan tegas batas-batas ruang lingkupnya sehingga diharapkan dapat dicegah tindakan Pemerintah atau Gubernur sebagai wakil Pemerintah di daerah untuk bertindak sewenang-wenang atau melampaui kewenangan. Selain itu.169 Pengawasan represif. Memahami pengaturan dan praktik pengawasan dalam rangka penyelenggaran pemerintahan daerah yang berjalan selama ini. Jadi pengawasan represif dilakukan setelah suatu peraturan daerah mempunyai akibat hukum.

keberadaan pengawasan dilihat dari mekanisme yang diatur di dalam UU Nomor 32 Tahun 2004 itu dapat menghindari 2 (dua) hal yang kontra produktif. Dalam hal pengawasan oleh Pemerintah Pusat terhadap Daerah. yang dilengkapi dengan pengawasan yudisial. Berdasarkan gagasan sebagaimana tersebut di atas. Selanjutnya. maka Pemerintah Pusat dapat memberikan evaluasi serta rekomendasi-rekomendasi yang diperlukan untuk pembenahan. lembaga Pemerintah (badan eksekutif) terhadap fungsi yudisial Kedua. represif (administrative). maka paling tidak dalam praktik penyelenggaran daerah. apabila pembatalan oleh Pemerintah Pusat tidak dapat diterima. apabila adanya kejanggalan-kejanggalan atau dugaan penyimpangan dalam materi hukum produk-produk hukum Daerah. Pemerintah Pusat apabila memenangkan sengketa melalui Mendagri sesuai dengan wewenangnya dapat mengintruksikan kepada Daerah yang bersangkutan untuk segera mencabut dan mengubahnya. Di antara penggolongan pengawasan pemerintah pusat terhadap pemerintah daerah. kemudian atas dasar putusan yudisial dari Mahkamah Agung tersebut. Selain itu peran tersebut tidak dalam kerangka memberikan keputusan-keputusan yang bersifat hukum (yudisial).170 lingkup pengawasan Pemerintah terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah hanya sebatas pengawasan dalam bidang administrasi pemerintahan atau administrasi negara. Atas dasar wewenang pengawasan yang diberikan kepadanya. Pemerintah Pusat juga dapat menerapkan sanksi administratif kepada Daerah yang sengaja atau lalai melaksanakan perintah untuk mencabut dan mengubah peraturan daerah yang telah dibatalkan oleh Mahkamah Agung itu. Pertama. dapat mengajukan ke mahkamah agung. Itu yang tidak dapat berjalan dalam praktik. terhindar adanya intervensi pengadilan. Daerah dapat mengajukan keberatan ke Mahkamah Agung. Dengan demikian telah . Apabila berkebaratan perdanya dibatalkan. yang dipandang tepat yaitu preventif. terhindar timbulnya dominasi eksekutif atas pemerintahan daerah (Kepala Daerah dan DPRD) yang telah menetapkan produk-produk hukum secara demokratis.

represif dan preventif. 32 Tahun 2004 dimunculkan kembali pengawasan preventif dan represif. bukan karena semata-mata bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi dan kepentingan umum. Biarkan setiap norma menjadi sah sampai ditentukan lain. tapi UU No. terdapat beberapa hal yang dapat dikemukakan. Berbeda dengan legislative review. dalam UU No. ditambah pengawasan yudisial sudah tepat. Apakah control sama dengan review? Dapat dikatakan ya. Selama ini yang diverifikasi adalah lebih kepada legislative drafting. Pertama. . dalam hal ini perda atau peraturan kepala daerah. 3.171 terlaksana pengawasan secara demokratis. 32 Tahun 2004 nampaknya sejalan dengan otonomi seluas-luasnya daerah diberikan kesempatan untuk banding. yaitu dilakukan oleh DPR/DPRD. 32 Tahun 2004. yang berlaku saat ini dalam UU No. maka dapat dikatakan bahwa persoalan mengenai apakah pengaturan pengawasan preventif dan represif terhadap perda. Berbicara pengawasan dari pusat dan daerah hanya dua macam. Dengan demikian apakah cocok pengawasan preventif terhadap empat hal tertentu? Nampaknya pengawasan secara represif untuk semua bidang cenderung lebih baik. Kedua. 22 tahun 1999. Letak kedaulatan rakyat dalam pola hubungan pengawasan antara pusat-daerah dalam UU ini adalah pemberian ruang bagi pemerintah daerah untuk menyampaikan keberatan kepada Mahkamah Agung atas pembatalan perda. 32 Tahun 2004 ini sudah mendekati bentuk yang ideal. Berdasarkan uraian di atas. pengawasan terhadap peraturan daerah dan peraturan kepala daerah. Telaah Terhadap Bentuk-Bentuk/ Lingkup dan Objek Pengawasan Telah diuraikan bahwa dari beberapa jenis objek pengawasan. karena yang dikontrol adalah peraturan perundang-undangan. Hal tersebut terkait dengan agenda-agenda pembangunan daerah yang membutuhkan proses yang lebih efisien. di sisi lain dapat dipandang bahwa bentuk pengawasan yang diatur dalam UU No. Pada intinya bahwa pengaturan tentang pengawasan saat ini menuju kepada yang ideal. setelah berbagai sisi positif dan negatif yang timbul dari pemberlakuan UU No.

434 Ibid. Sebaliknya. hlm. 2009. perlu diketahui bahwa pengertian pengawasan adalah suatu bentuk hubungan dengan sebuah legal entity yang mandiri. pengawasan represif harus memperhitungkan akibat hukum yang telah timbul selama Perda tersebut berlaku. penolakan pengesahan belum menyentuh akibat hukum yang timbul dari Perda tersebut. mempunyai objek ataupun mengenai hal yang sama.. Berkaitan dengan hal tersebut I Gde Pantja Astawa memberikan penegasan bahwa baik pengawasan preventif maupun pengawasan represif. Karena Perda belum berlaku. dan lingkungan hidup. Retribusi Daerah. Pajak Daerah. Dalam konteks agar pengawasan tidak menjadi terlampau longgar dan tidak pula terlampau ketat. 322-323. sebagaimana pada masa lalu diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974.434 Maka dari itu bentuk dan isi pengawasan dilakukan semata-mata menurut berdasarkan ketentuan Undang-Undang. Kedua. Pengawasan umum sangat luas ruang lingkupnya sehingga betul-betul dapat mematikan atau I Gde Pantja Astawa. tanpa kecuali.172 Namun. akibat hukumnya. 435 Ibid. dengan mekanisme evaluasi dan pengesahannya. 322.433 Pertama. UU ini hanya membatasi substansinya pada Perda tentang APBD.435 Maka dari itu salah satu bentuk pengawasan yang menurut tim peneliti harus dihindari dan tidak diatur dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah adalah bentuk/jenis pengawasan yang disebut pengawasan umum. Gde Pantja menegaskan kembali bahwa pengawasan tidak berlaku ataupun tidak diterapkan terhadap hal-hal yang tidak ditentukan atau berdasarkan undang-undang. bukan hubungan internal dari entitas yang sama. Problematika Hukum Otonomi Daerah di Indonesia. sedangkan pengawasan represif harus memperhitungkan akibat hukum yang telah timbul selama Perda tersebut masih berlaku. Alumni. Sementara itu pengawasan represif ditujukan terhadap semua perda. Artinya. saat pelaksanaannya. pengawasan preventif dilakukan sebelum Perda diberlakukan. bandung. hlm. 433 . khusus yang berkenaan dengan pranata pengawasan preventif terhadap perda.

maka pencabutannya pun hanya dapat dilakukan dengan peraturan yang lebih tinggi atau sederajat. Telaah Terhadap Instrumen Penetapan Pembatalan Perda Keberadaan pengawasan sebagai konsekuensi dari keberadaan hubungan hirarkis. Kegiatan monitoring tersebut pada dasarnya adalah merupakan bagian dari kegiatan pengawasan yang harus dilakukan oleh suatu lembaga/institusi tertentu yang pada lazimnya mempunyai kedudukan lebih tinggi dan mempunyai kewenangan untuk melakukan penilaian untuk memastikan bahwa segala ketentuan yang tercantum di dalam peraturan daerah dimaksud adalah sesuai dengan ketentuan-ketentuan maupun prinsip-prinsip yang harus diikuti pungutan. Dalam Undang-Undang menyatakan bahwa yang diawasi adalah peraturan perundang-undangan yang bernama perda dan perat kepala daerah. 4. lihat Pasal 218 ayat (1) huruf a. proses penyusunan maupun implementasinya perlu dimonitor secara terus menerus untuk memberikan jaminan kepada publik bahwa semua ketentuan yang diatur dalam perda tersebut sudah mengikuti norma-norma/kaidah- kaidah yang berlaku yaitu memenuhi persyaratan sebagai peraturan yang baik.173 membelenggu prakarsa atau inisiatif Daerah dalam mengatur dan mengurus rumah tangga daerah sehingga tidak sejalan dengan upaya mewujudkan pemerintahan daerah yang demokratis.436 Maka dari itu. Hal tersebut sesuai dengan urutan peraturan perundang436 Pengawasan lainnya yang dilakukan terhadap penyelenggaraan Pemerintahan daerah adalah pengawasan atas pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah. Jadi sudah dapat terlihat bahwa pengaturan pengawasan saat ini lebih mengarah ke demokratis. Sebagai konsekuensi bahwa peraturan daerah tidak boleh berkaitan dengan pengenaan suatu bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi. judicial control sama dengan judicial review. merupakan konsekuensi logis jika suatu peraturan daerah dapat dibatalkan atau dicabut hanya dengan peraturan yang lebih tinggi. . Dalam rangka pengawasan. Peraturan daerah yang berlaku sebagai undang-undang bagi daerah.

2004. hl. . Pasal 145 ayat (3) sudah memberikan atribusi kewenangan438 kepada Presiden untuk dapat membatalkan suatu perda.437 Ketentuan Undang-undang bahwa perda dapat dibatalkan oleh bentuk peraturan presiden dapat dinilai tepat. Hukum Administrasi Negara. b. 79 Tahun 2008. Peraturan Desa/peraturan yang setingkat. 10 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Ghalia Indonesia. 440 Pasal 25A ayat (2) Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000. 439 Pasal 25A ayat (1) Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 1997 Tentang Pajak dan Retribusi Daerah. b. 10. Begitu pula dikuatkan bahwa Dalam rangka pengawasan. Ditambahkan dalam ayat (2) bahwa Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e meliputi: a. d. 438 kompetensi/kewenangan administrasi negara (pejabat TUN) berdasarkan suatu perundang-undangan formal. Peraturan Pemerintah. e. Peraturan Daerah kabupaten/kota dibuat oleh dewan perwakilan rakyat daerah kabupaten/kota bersama bupati/walikota. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. c.440 Namun ternyata Presiden pun memberikan delegasi kepada Menteri Dalam Negeri untuk dapat membatalkan Perda. Pemerintah melakukan pengawasan terhadap Peraturan Daerah dan Peraturan Kepala Daerah. Bogor. Pelaksanaan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Menteri. c. melalui PP No. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang. Peraturan Daerah. Peraturan Daerah di yang mengatur pajak dan retribusi daerah disampaikan kepada Pemerintah paling lama 15 (lima belas) hari setelah ditetapkan. dibuat oleh badan perwakilan desa atau nama lainnya bersama dengan kepala desa atau nama lainnya.174 undangan yang ditetapkan dalam UU No. Peraturan Presiden. Peraturan Daerah provinsi dibuat oleh dewan perwakilan rakyat daerah provinsi bersama dengan gubernur. lihat Diana Halim Koentjoro. Dalam Pasal 37 ayat (1) dikatakan bahwa Peraturan Daerah dan Peraturan Kepala Daerah disampaikan kepada Pemerintah paling lama 7 (tujuh) hari sejak ditetapkan.439 Dalam hal Peraturan Daerah tersebut bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundangundangan yang lebih tinggi. Pemerintah dapat membatalkan Peraturan Daerah dimaksud. Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang 437 Pasal 7 ayat (1) mengatur bahwa Jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan adalah sebagai berikut : a.

Kedua Pasal tersebut tidak memberikan kriteria mengenai kapan suatu pembatalan perda ditetapkan oleh peraturan presiden dan kapan dibatalkan oleh menteri. Kedua Pasal yang memberikan kemungkinan kepada Menteri untuk membatalkan suatu perda. 10 Tahun 2004. bukan keputusan menteri sebagai instrument pembatalan perda yang memungkinkan didelegasikan oleh Presiden. 32 Tahun 2004. Dengan demikian. sepanjang kedua UU tersebut. 32 Tahun 2004 dan UU No. Peraturan Daerah dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dapat dibatalkan dengan Peraturan Menteri. 79 Tahun 2005 yang terlaksanakan. yaitu antara UU No. 3. untuk menetapkan pembatalan perda. 2. Kedua Pasal tersebut hanya menyebutkan nama instrumen berupa peraturan Menteri. dalam rangka pengawasan. Peraturan Menteri tentang pembatalan Peraturan Kepala Daerah ditetapkan paling lambat 60 (enam puluh) hari setelah Peraturan Kepala Daerah diterima oleh Menteri. maka ketetuan dalam kedua UU di atasnya seolah-olah menjadi tidak hidup. belum dicabut. tidak menunjuk secara spesifik menteri apa/bertanggungjawab di bidang apa. Peraturan Kepala Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang bertentangan dengan kepentingan umum. Dari ketentuan tersebut dapat dikemukakan bahwa: 1. Melihat bahwa pada praktik menunjukkan ketentuan dalam PP No.175 bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundangundangan yang lebih tinggi dapat dibatalkan dengan Peraturan Presiden berdasarkan usulan Menteri. 79 Tahun 2005. dengan PP No. Dengan demikian. terutama UU No. maka ketentuan yang . yang spesifik pertentangannya. terdapat suatu ketidakharmonisan antara peraturan secara vertikal. Baru ditemukan dalam rangka pengawasan terhadap PP yang mengatur pajak dan Retribusi daerah. antara ketentuan-ketentuan yang berlaku terkait dengan pembatalan perda. Sementara itu PasaI 38 menambahkan bahwa Peraturan Presiden tentang pembatalan Peraturan Daerah ditetapkan paling lambat 60 (enam puluh) hari sejak Peraturan Daerah diterima oleh Pemerintah. dibatalkan oleh Menteri Dalam Negeri.

sesuai dengan peraturan nasional (satuan pemerintahan pusat). maka perlu dilakukan suatu perubahan terhadap UU No. Semua diarahkan bahwa negara menghantarkan kepada pencapaian kesejahteraan rakyat. tetapi juga secara vertikal (satuan pemerintahan pusat dengan pemerintahan daerah). Jaminan HAM yang menjadi salah satu ciri negara hukum menjadi bagian dari kewajiban negara hingga oleh satuan pemerintahan yang lebih rendah. melainkan hanya satu Kedaulatan. Dilihat dari paradigma kerangka Negara Kesatuan. yaitu dalam kerangka negara kesatuan. Pembagian kekuasaan: tidak saja pembagaian secara horizontal (eksekutif. NEGARA HUKUM Pengawasan baik secara preventif dan represif DAN dilaksanakan untuk menjamin supremasi hukum. DEMOKRATISASI Terdapat pengawasan hukum dengan judicial review. agar KESEJAHTERAAN peraturan perundang-undangan di tingkat satuan pemerintahan yang lebih rendah. demokratisasi dan negara hukum. Pengawasan menjadi instrumen pemerintah pusat untuk menjamin bahwa penyelenggaraan pemerintahan dapat terlaksana sesuai perencanaan. yang diarahkan untuk memberi kemungkinan tempat bagi peraturan setingkat menteri. pengawasan terhadap peraturan daerah dan peraturan kepala daerah yang berlaku saat ini dapat dikemukakan sebagai berikut: Tabel 23 Skema Pola Hubungan Pengawasan Pusat-Daerah NEGARA KESATUAN Pemberian otonomi daerah bukan untuk mengarahkan kepada pembagian kedaulatan. Kecuali jika praktik menghendaki lain. sebagai representasi pemerintah. 10 Tahun 2004. ke dalam urutan peraturan perundang-undangan. legislative. pemda dapat mengajukan judicial review instrumenn . dan yudikatif). bahwa jika suatu perda dibatalkan dan pemda berkeberatan terhadap pembatalan tersebut.176 terkait di dalamnya masih harus ditaati.

79 Tahun 2005 tentang Pembinaan dan Pengawasan itu sendiri. 442 Letak kedaulatan rakyat dalam pola hubungan pengawasan antara pusat-daerah adalah pemberian ruang bagi pemerintah daerah untuk menyampaikan keberatan kepada Mahkamah Agung atas pembatalan perda. 79 Tahun 2005. Melihat bahwa pada praktik menunjukkan pembatalan perda selalu dengan Kepmendagri. Frans Magnis-Soeseno. 10 Tahun 2004. melainkan harus dengan keseimbangan legitimasi etis dan sosial (normatif-moral). Gramedia Pustaka Utama. 290-291.441 Letak kedaulatan negara dalam hubungan pengawasan adalah pada pengawasan secara preventif dan represif terhadap ranperda dan perda. untuk menetapkan pembatalan perda. dapat pula saling menyeimbangkan. dibatalkan oleh Menteri Dalam Negeri. 1999. Kedaulatan rakyat tidak boleh tidak terbatas. Etika Politik.. melainkan melalui perwakilan dan keterbukaan (publicity) pemerintah (daerah). Di sinilah mengapa kedaulatan negara dengan kedaulatan rakyat dapat saling tarik menarik. Kedua Pasal yang memberikan kemungkinan kepada Menteri untuk membatalkan suatu perda. hlm. dengan PP No. Jakarta. Dalam PP No. 177179. pada pasal 37 dan Pasal 38 dapat dikemukakan bahwa: 4. tidak menunjuk secara spesifik menteri apa/bertanggungjawab di bidang apa. 441 . yaitu mengatur pajak dan Retribusi daerah. hlm. 442 Ibid. 32 Tahun 2004 dan UU No. dalam rangka pengawasan. Kedaulatan negara tidak untuk menjadikan negara menentukan segalanya (totaliterisme).177 pembatalan tersebut ke Mahkamah Agung. yaitu antara UU No. terdapat suatu ketidakharmonisan antara peraturan secara vertikal. Persoalan kedua. Baru ditemukan dalam rangka pengawasan terhadap PP lain. maka ketetuan dalam kedua UU di atasnya seolah-olah menjadi tidak hidup.

Kesimbangan yang dijelaskan dalam silanya adalah. apabila dilihat secara bulat atau holistik (satu kesatuan). Semakin banyak pedoman dan standard cenderung menjadikan semakin mendorong keseragaman. dan Kelima. Teori Hukum: Mengingat. belum dicabut. Konsep bernegara yang demikian ini secara teoretikal dianut oleh negara-negara hukum modern menjelang akhir abad ke XIX. Yang perlu lebih didorong dari unsur pembinaan ini adalah berupa koordinasi dan fasilitasi.178 5. Ketiga. bukan keputusan menteri sebagai instrumen pembatalan perda yang memungkinkan didelegasikan oleh Presiden. Otje Salman dan Anton F. yang dituntun oleh Sila Ketuhanan. Susanto menyatakan. Mengumpulkan dan Membuka Kembali. yang spesifik pertentangannya. Lihat. kesimbangan antara kepentingan individu dengan kepentingan masyarakat serta kepentingan penguasa.443 atau meminjam konsep Lemaire negara menjalankan fungsi berstuurszorg. hlm. 2005. terutama UU No. Adanya pengawasan Pusat terhadap Daerah adalah sebagai 443 Otje Salman dan Anton F. Kedua Pasal tersebut hanya menyebutkan nama instrumen berupa peraturan Menteri. Refika Aditama. Kedua Pasal tersebut tidak memberikan kriteria mengenai kapan suatu pembatalan perda ditetapkan oleh peraturan presiden dan kapan dibatalkan oleh menteri. Masih dalam rangka pengawasan yang tidak dapat dilepaskan dari pembinaan. Bandung. baik di Pusat maupun di Daerah memiliki tujuan yang arahnya untuk memajukan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. atau awal abad ke XX. Dasar pemikiran keberadaan pengawasan Pusat terhadap Daerah sangat terkait dengan konsepsi Negara Kesatuan yang dianut di dalam Pasal 1 ayat (1) UUD 1945. 159. hal inilah yang seharusnya dihindari karena bertentangan dengan otonomi itu sendiri. yaitu dengan melihat dasar pikiran dalam sila Pertama. sepanjang kedua UU tersebut. maka ketentuan yang terkait di dalamnya masih harus ditaati. jika akan dikeluarkan semacam pedoman dan standard dalam rangka pembinaan kepada daerah. 6. Dengan demikian. Susanto. 32 Tahun 2004. Berdasarkan rumusan alinea keempat Undang-Undang dasar 1945. hendaknya unsur ini tidak perlu terlalu banyak. maka keseimbangan (balande) merupakan subtansi pokok yang terkandung didalamnya (maksudnya alinea keempat-penulis). . jelas bahwa konsep bernegara yang diwujudkan dalam penyelenggaraan pemerintahan.

harus dianggap sah menurut hukum (praduga rechtmatig) sampai ada pembuktian sebaliknya secara hukum. 5 tahun 1974. Maka. apabila ditelusuri dari Pembukaan UUD 1945. sejak berlakunya Undang-Undang Pemerintahan Daerah Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004. Dengan demikian pengawasan Pusat terhadap Daerah. Oleh karena itu. Tindakan atau keputusan pembatalan suatu Perda yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat misalnya. Adanya pembagian kekuasaan secara vertikal antara Pusat dan Daerah sebagaimana diatur Pasal 18 ayat (1) UUD 1945 menyebabkan adanya pengawasan Pusat terhadap Daerah atau dengan lain perkataan adanya penyerahan urusan pemerintahan dari Pusat kepada Daerah mengakibatkan Pusat mempunyai tugas dan wewenang untuk melakukan pengawasan. terdapat ketentuan yang memberikan kemungkinan untuk menguji tindakan atau keputusan pembatalan suatu Perda melalui apa yang disebut dengan pranata ’keberatan’: Daerah-Daerah yang merasa keberatan atas pembatalan peraturan-peraturan daerahnya dapat mengajukan keberatan kepada Mahkamah Agung. dengan tujuan agar Daerah terhindar dari penyimpangan-penyimpangan terhadap peraturan-perundang-undangan yang lebih tinggi dan kepentingan umum sehingga Daerah dalam menjalankan pemerintahannya senantiasa sejalan dengan tujuan penyelenggaraan otonomi daerah. Mahkamah Agung sebagai institusi yudisial kemudian menguji keputusan pembatalan itu. yang tidak . Bagir Manan. 5 tahun 1974. namun tidak mengomentari apakah bentuk pengawasan harus seperti apa. yang dalam desertasinya membahas sampai Undang-Undang No. Bagaimanapun dalam No. apakah itu berupa pengawasan preventif atau represif (berupa pembatalan atau penangguhan) suatu produk hukum Daerah. menemukan dasarnya dari konsep Negara Kesejahteraan sebagaimana telah dirumuskan di dalam alinea keempat UUD 1945.179 konsekuensi Pemerintah NKRI mempunyai tanggung jawab utama untuk tetap menjamin tercapainya tujuan nasional yang tercantum di dalam Alinea Keempat Pembukaan UUD 1945. Di Indonesia pada prinsipnya pengawasan merupakan konsekuensi dari Negara Kesatuan dengan sistem desentralisasi.

Pengawasan seperti ini mirip dengan jenis pengawasan umum yang diatur pada masa UU No. mempengaruhi. pengawasan menghindari pembelengguan daerah. ada pendapat Bagir Manan. Pengawasan yang disebut terakhir menghendaki dibutuhkan sebagai instrument untuk mencapai hakikat pengawasan. dapat mengajukan ke Mahkamah Agung. Setelah berlaku UU No. dan preventif. Pengawasan senantiasa diperlukan sebagai pranata bagi pemerintah pusat atau satuan pemerintahan yang lebih tinggi tingkatannya untuk mengendalikan. Tanpa mengesampingkan arti penting pengawasan. Apabila suatu daerah berkeberatan perdanya dibatalkan. bahwa yang diatur dalam UU 22 Tahun 1999 dengan menghapus pengawasan preventif.. 321. hlm. op. Itu yang tidak dapat berjalan dalam praktik. Dengan demikian telah terlaksana pengawasan secara demokratis. pengawasan yang baik adalah 444 445 I Gde Pantja Astawa. walaupun hanya sekadar untuk urusan pemerintahan tertentu. tidak dikehendaki suatu pengawasan yang tidak punya batasan ruang lingkup. Problematika …. Maka dari itu. yang dilengkapi dengan pengawasan yudisial. bahkan memaksakan kehendaknya kepada satuan pemerintahan yang lebih rendah. menunjukkan bahwa terdiri dari pengawasan umum. Pengawasan yang bagaimana yang tidak membelenggu kemandirian daerah? Walaupun diawasi tapi daerah masih ada keleluasaaan. Ruang lingkup pengawasan terhadap daerah dibatasi pada peraturan daerah dan peraturan kepala daerah. Dengan pengawasan yudisial. Bagir Manan setuju hanya satu. Alasan utama yang dikemukakan Gde Pantja444 adalah supaya desentralisasi dengan pemberian otonomi daerah tidak bergeser menjadi semacam kemerdekaan. 5 Tahun 1974.445 Pengawasan demikian tidak sama artinya dengan pengawasan terhadap segala hal. 22 tahun 1999. . Itu pendapat kita yang intinya bahwa pengaturan tentang pengawasan saat ini menuju kepada yang ideal. yaitu segala upaya untuk mengetahui bahwa segala hal yang direncanakan terlaksana.cit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis pengawasan yang dipandang tepat yaitu preventif. represif (administrative). represif.180 dibahas dalam desertasinya itu..

Daerah tetap mempunyai kewenangan untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri atau tetap mempunyai kemandirian. Bentuk pengawasan Pusat terhadap Daerah yang seyogyanya dikembangkan dan diterapkan dalam undang-undang yang mengatur pemerintahan daerah adalah bentuk pengawasan preventif dan represif (pengawasan administratif) dan dilengkapi pengawasan yudisial. walaupun terdapat pengawasan. melahirkan hak placet: hak penguasa yang lebih tinggi untuk tidak setuju terhadap gagasan dari satuan pemerintahan di bawahnya. Kemuncullan kembali pengawasan preventif sebagaimana diatur oleh Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tidak menyebabkan membelenggu kemandirian Daerah karena pengawasan preventif telah ditentukan batasbatas ruang lingkupnya serta di dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004. Dengan demikian. Ada juga batas-batasnya. dipengaruhi dari negeri Belanda. hak menentukan nilai mata uang. Hal tersebut ditujukan dalam rangka membina dan memelihara 446 Ateng Syafrudin. Tapi banyak pemikiran-pemikiran di balik pembentukan UU ini. Itu bersumber dari abad pertengahan. Melihat dari paradigma yang cukup mendasar. sedangkan kita berpijak pada kedaulatan rakyat. berhak memilih kepercayaan sendiri siapa yang mewakilinya. Ateng Syafrudin446 berpendapat bahwa terdapat benang merah yang sampai sekarang menjadi persoalan. . disampaikan dalam acara Focused Group Discussion (Fgd) Tentang “Hubungan Antara Pemerintah Pusat Dan Daerah”. Ditetapkannya tentang bentuk dan ruang lingkup pengawasan di dalam suatu undang-undang merupakan perwujudan dari pemerintahan daerah yang demokratis. Tidak heran pada tahun 1974 ada suatu pandangan bahwa otonomi adalah hak prerogatif. Bandung. yang ditetapkan dalam undang-undang. diselenggarakan atas kerja sama antara Dewan Perwakilan Daerah RI dan Fakultas Hukum Unpad. 4 Agustus 2009. pengawasan administratif (preventif dan represif) dilengkapi dengan pengawasan yudisial. ketiga. bukan kedaulatan rakyat. bahwa hak prerogatif dimulai dari ampunan dosa-dosa. Padahal orang Belanda sendiri berpendapat bahwa ternyata cara membagai otonomi itu bersumber dari kedaulatan negara. Paradigma ini tidak diketahui umum.181 pengawasan terhadap segala hal dengan pembatasan ruang lingkup dan bentuk. Ateng Stafrudin membantah bahwa itu adalah tugas konstitusional presiden.

Terhadap kedaulatan negara yang menjadi paradigma dasar penyelenggaraan pemerintahan daerah ini. Apakah kalau sudah membangun gedung-gedung menjadi sudah berhasil? Sering orang hanya mengukur secara materil.448 Kekuasaan negara mesti berupa validitas dan efektifitas tata hukum. Walaupun begitu masih perlu suatu pengujian konsep itu. 255. Yang lainnya harus ada. Sekarang pemda baru berindikator pada IPM.450 Dengan demikian kedaulatan negara dalam hal ini ditempatkan terutama dalam kepentingan untuk menjamin kesatuan hukum dari satuan pemerintahan pusat sampai dengan satuan pemerintahan yang paling rendah. dan satu kekuasaan. jika kedaulatan dipandang sebagai satu kualitas dari kekuasaan ini.447 Kedaulatan dikatakan sebagai karakteristik definitif dari kekuasaan tertentu: satu negara. sepanjang suatu peraturan belum diubah atau dicabut. 10 Tahun 2004. Namun ketentuan ini tidak berjalan. 450 Ibid. Dalam ketentuan yang berlaku saat ini. Teori Hukum Murni. yaitu mengacu kepada UU No. maka ketentuan yang masih berlaku seharusnya diataati. 1995. hlm. satu rakyat.182 bawahannya. kedaulatan negara untuk menjamin kesatuan hukum atau dengan kata lain untuk menjaga harmonisasi peraturan perundang-undangan tersebut salah satunya dilaksanakan melalui mekanisme pengawasan terhadap peraturan daerah. Mengenai praktik bahwa semua pembatalan sebagai salah satu bentuk pengawasan selalu ditetapkan dengan kepmendagri. Walaupun demikian. dapat dikemukakan pendapat Hans Kelsen mengenai kedaulatan. tapi hrs dijelaskan supaya tidak menimbulkan konflik. Hal ini menunjukkan bahwa ketentuan itu tidak dapat dilaksanakan (tidak sesuai dengan asas feasible). Rimdi Press. satu teritorial.449 Sebab kedaulatan hanya dapat sebagai kualitas dari suatu tata normatif sebagai suatu kekuasaan yang merupakan sumber kewajibankewajiban dan hak-hak. Konsep dalam UU yang berlaku saat ini selalu mengaitkan pengawasan dengan pembinaan dan koordinasi. sudah tepat ketentuan bahwa perda dibatalkan oleh perpres. 448 Ibid. . menurut ilmu perundang-undangan. 449 Ibid. betulkah bahwa setiap penyelengggaraan 447 Hans Kelsen (alih Bahasa: Somardi). Pemerintah pusat punya hak placet. Dasar-Dasar Ilmu Hukum Normatif sebagai Ilmu Hukum Empirik-Deskriptif.

Dengan demikian kreatifitas daerah tidak terkekang dengan upaya penyeragaman sebagai dampak dari penetapan pedoman standard. Penetapan pemekaran daerah yang sudah marak dan mendominasi produk legislatif beberapa tahun terakhir perlu ditindaklanjuti dengan mekanisme evaluasi. dan tidak dapat terpisah sendiri-sendiri. Perbedaan yang harus dikembangkan terletak pada tindak lanjut setelah pemberian status administratif. Pada intinya yang menjadi penting adalah bagaimana suatu daerah telah terlatih dan terbina terlebih dahulu untuk menyelenggarakan tugas-tugas pemerintahan sebelum mendapatkan status daerah yang baru dibentuk. evaluasi dibutuhkan juga setelah pemberian status daerah baru. bahwa dalam sistem negara hukum harus berjalan. Penetapan pedoman standard dalam rangka pembinaan tidak boleh terlalu rinci agar keberagaman setiap daerah tetap terjaga. Pengawasan tidak dapat terpisahkan dari pembinaan. Hal tersebut untuk melihat apakah sebetulnya daerah-daerah yang dimekarkan (terutama yang berbentuk provinsi) mampu memenuhi segala syarat kemandirian. Bentuk evaluasi dalam rangka pembinaan dan pengawasan perlu dikembangkan. dan terutama dapat menjaga keutuhan Negara Kesatuan. seperti yang pernah berlaku pada masa UU nomor 5 Tahun 1975. Tidak hanya cukup sebelum pemberian status daerah baru. masalah pengawasan mutlak terkait satu sama lain dengan koordinasi dan pembinaan.183 pemerintahan. demokratisasi.** . dan negara hukum dan kesejahteraan. terutama terkait dengan pemekaran daerah. apakah menjadi kota atau menjadi kabupaten baru. Ke depan dapat dikembangkan bahwa sebagai tahapan menuju pemberian status daerah baru dilakukan terlebih dahulu pemberian semacam status administratif. Pembinaan pun dalam rangka pengawasan.

Kesimpulan Berdasarkan paparan singkat di atas.184 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. satuan pemerintahan yang terendah adalah ujung tombak dari upaya menghantarkan kesejahteraan rakyat. Padahal fungsi otonomi sendiri adalah keberagaman. Kedua. cenderung terjadi . Dengan pemberian berbagai urusan pemerintahan yang didesentralisasikan. prinsip otonomi seluas-luasnya menjadi tidak tampak. negara hukum (dengan paradigm negara kesejahteraan). dasar-dasar pola hubungan pusat dijabarkan lebih lanjut melalui berbagai peraturan pelaksana. Kecenderungan tarik menarik kekuasaan yang didesentralisasikan tersebut dipengaruhi oleh sistem rumah tangga seperti apa yang dianut. meliputi desentralisasi teritorial. Pertama. Hal tersebut menjadikan setiap daerah cenderung menjadi seragam. Dalam implementasinya. demokratisasi. dapat dikemukakan beberapa hal berkaitan dengan prinsip-prinsip pemikiran dan dimensi-dimensi pola hubungan antara pusat dan daerah. dimensi-dimensi pola hubungan antara pusat dan daerah UUD 1945 telah memberikan dasar-dasar pola hubungan antara Pusat dan Daerah. seharusnya sudah memungkinkan bagi daerah-daerah untuk beragam memiliki urusan. yang lebih tampak adalah bahwa yang rumah tangga yang dianut adalah rumah tangga materiil. Keberadaaan otonomi khusus justru merupakan anomali dari pemberian otonomi seluas-luasnya. Melalui PP No. Dengan paradigma negara kesejahteraan. dengan asas otonomi dan tugas pembantuan. Dengan pemberian otonomi seluas-luasnya seperti itu. Prinsip-Prinsip Pemikiran Pola Hubungan Antara Pusat Dan Daerah Prinsip-prinsip ini dapat didekati dari paradigma negara kesatuan. yang dilaksanakan dengan cara desentralisasi. Dengan konstruksi demikian seperti itu. dan memberikan otonomi seluas-luasnya. 38 Tahun 2007.

185 ketidakkonsistenan dengan begitu gemuknya kelembagaan di Pusat. pengaturan. Ketentuan yang berlaku sekarang untuk mengoptimalkan kemampuan daerah masih bergantung kepada perimbangan keuangan. terutama untuk melakukan pinjaman luar negeri. Setiap pembentukan kelembagaan di daerah belum sepenuhnya berdasarkan kebutuhan urusan yang riil dan kemampuan SDM serta keuangan daerah. Pengkajian yang lebih mendalam perlu ditindaklanjuti untuk mengembalikan makna otonomi dalam bingkai negara kesatuan. belum memungkinkan optimalisasi kerja sama daerah. Saran Dari berbagai telaah mengenai asas. namun praktiknya selalu dengan kepmendagri yang nampaknya lebih memenuhi asas feasible (dapat dilaksanakan) suatu peraturan. 32 Tahun 2004 dilakukan oleh perpres. menghantarkan kepada kesejahteraan rakyat. Dengan seperti itu menjadikan atribusi kewenangan dalam UU tersebut tidak hidup. sehingga menyerupai piramida terbalik. teori. mencerminkan perlunya upaya untuk mengkaji kembali berbagai peraturan perundang-undangan yang belum harmonis dengan UUD 1945. serta persoalan pola hubungan antara pusat dan daerah.** . sebagai upaya untuk menegakkan supremasi hukum. B. Hal tersebut ditambah pula dengan persoalan instrumen hukum pembatalan perda yang menurut atribusi UU No. Upaya kebergantungan daerah terhadap pusat muncul lagi melalui pranata pengawasan yang tidak berimbang dengan upaya fasilitasi dan koordinasi oleh Pusat. dan demokratisasi.

Jakarta. Bandung. 1994. dalam Kumpulan Tulisan pasang surut otonomi Daerah. Keuangan Pemerintah Daerah Otonom di Indonesia. 1986. Hubungan Kewenangan Pusat dan Daerah. Frans Magnis-Soeseno. Aspek-Aspek Hukum Otonomi Daerah. editor Jakarta 2005. Pustaka Sinar Harapan. 2005. 1993. Bogor. 2006. Jakarta. _______. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah. 1995. Disertasi. 1986. Diana Halim Koentjoro. Bachrul Elmi. Nusamedia.DAFTAR PUSTAKA BUKU Amiruddin dan Zainal Asikin. 2006. 2003. Hukum Administrasi Negara. Pusat Studi Hukum Fakultas Hukum UII. Hukum Anggaran Negara. Pengantar Metode Penelitian Hukum. UNSIKA. Atlanta. Titik Berat Otonomi Daerah Pada Daerah Tingkat II. A Study of The Relationship Between Fiscal Decentralization and The Composition of Public Expenditures. Jakarta. 2004. Alumni. Georgia State University. Institute for Local Development dan Yayasan TIFA. 1990. Yogyakarta. Etika Politik. UI-Press. . Kedaulatan Rakyat. 1999. Alumni. Penerbit Mandar Maju. Jakarta. Francisco Javier Arze del Granado. Anhar Gonggong (ed). Bandung. PT Raja Grafindo. Eddy Purnama. Gramedia Pustaka Utama. Bandung. Ateng Syafrudin. _______. Hubungan Antara Pusat dan Daerah Menurut UUD 1945. 2001. Bhenyamin Hoessein. Jakarta. Rajawali Pers. Aspek-aspek Hukum Otonomi Daerah. Bandung. Bohari. H. 2002. Yogyakarta. Kapita Selekta Hakikat Otonomi dan Desentralisasi dalam Pembangunan Daerah. Kumpulan Tulisan Pasang Surut Otonomi Daerah. Citra Media Hukum. Yayasan Tifa. _______. _______. Karawang. Jakarta. Amrah Muslimin. Bagir Manan. 2007. Perjalanan Historis Pasal 18. Departement of Economic Andrew Young School of Policy Studies. Ghalia Indonesia.

Pte. 1999. Cetakan kelima belas. . UI. Penerbit Gramedia Pustaka. PT. Monograf. Kelsen. Jakarta. PT. World Scientific Publishing Co. 2009. Teori Negara Hukum Modern (Rechtsstaat). Jakarta. CV. Ni’matul Huda. Josef Riwu Kaho. Mohammad Hatta. Masalah Pengurusan Keuangan Negara : Suatu Pengantar Teknis. Demokrasi Kita. _______. Alumni. Raja Grafindo Persada. and Amerindian Studies. Municipal Government In Indonesia Policy. 2009. Nusamedia. _______. 2009.. Refika Aditama. Konstitusi Press. Decentralization: Policies in Asian Development. 2009. 1980. law and Practice of Decentralization and Urban Planning. 1986. Bandung. Ltd. Ichimura. Pusat Studi Hukum Tata Negara FH. dan tahun penerbitan tidak tercantum. Menggunakan Teori dan Konsep Dalam Analisis di Bidang Ilmu Hukum. Dinna. Gramedia. 1995. 1984. di Negara Republik Indonesia. Munir Fuady. Hans. Prospek Otonomi Daerah. Niessen. Singapore. bandung. Dasar-Dasar Ilmu Hukum Normatif sebagai Ilmu Hukum Empirik-Deskriptif. Rimdi Press.N. penerbit. Hubungan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Segaarsy. Jakarta. Jakarta. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Research School CNWS School of Asian. kota. 1993. 2007. African. Bandung. Bhuana Ilmu Komputer. Jakarta. The Netheralands. 2003. Azmy Akhir. Gramedia Pustaka Utama. Konstitusi Dan Konstitusionalisme Indonesia. Konsolidasi Naskah UUD 1945 Setelah Perubahan Keempat. Kaloh. 2002. _______. Penerbit Bina Aksara. Jimly Ashiddiqie. 2009. Masalah Kenegaraan. Bandung. J. M. 2001. Pikiran-Pikiran tentang Demokrasi dan Kedaulatan Rakyat. Miriam Budiarjo. Bahl. Pokok-Pokok Hukum Tata Negara Indonesia Pasca Reformasi. Jakarta. Lili Rasjidi dan Liza Sonia Rasjidi. dalam Miriam Budiardjo (ed). Kelompok Gramedia. (alih Bahasa: Somardi). Nicole. Teori Hukum Murni. Jakarta. Irawan Soejito. 2005. Roy (eds). Universitiet Leiden. Ke Arah Indonesia Merdeka. Hukum Pemerintahan Daerah. cetakan kedua. Shinichi. Kepala Daerah.I Gde Pantja Astawa. PT. Problematika Hukum Otonomi Daerah di Indonesia. Jakarta.

Tjip Ismail. Refika Aditama. Decentralization The Territorial Dimension of The State. R. Smith. Modern Political Constitution. Sidgwick & Jackson Limited. Edisi Kedua. 1986. Joeniarto. Jakarta. 2006. Pheni Chalid. Paulus Effendie Lotulung. Legal Theory. Alumni. Bandung.Norton. London. 2005. Keuangan Daerah. 1985. Jakarta. Yogyakarta. Taliziduhu Ndraha. 2007. Liberty. 1995. Steven Sons. Edward Elgar Limited – Edaward Elgar Publishing Company. Yellow Printing. Mengumpulkan dan Membuka Kembali. cetakan kedua. PT. B. Wolfgang Friedmann. Penelitian Hukum di Indonesia Pada Akhir Abad Ke-20. Bandung. Bab-Bab Tentang Penemuan Hukum. Penelitian Hukum Normatif. Perkembangan Pemerintahan Lokal. 1979. Penerbit Alumni. 1982. CF. Strong. Jakarta. Beberapa Sistem tentang Kontrol Segi Hukum terhadap Pemerintah. . Negara Hukum yang Membahagiakan Rakyat. 2005. Yogyakarta. PT RajaGrafindo Persada. Binacipta. Sunaryati Hartono. Kybernology (Ilmu Pemerintahan Baru). Sudikno Mertokusumo dan Pitlo. RDH Koesoemahatmadja. Pengaturan Pajak Daerah di Indonesia. Jilid I. Du Contract Social (Perjanjian Sosial). Satjipto Rahardjo. 1993. Pertumbuhan Pemerintahan Daerah di Negara Republik Indonesia.. Teori Hukum: Mengingat. The Liang Gie. Bandung. Otje Salman dan Anton F. England. USA. Rousseau. 2006. Pengantar Ke Arah Sistim Pemerintahan Daerah Di Indonesia. Kemitraan. Visimedia. Jilid III. Jakarta 2003. 1993. Genta Publishing. Susanto. Citra Aditya Bakti. cetakan II. Jean Jacques. Investasi. Rineka Cipta. Jakarta. Yogyakarta. Alan. Jakarta. Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji. 1967. Bhuana Ilmu Populer. Gerge Allen Unwin. Bandung. International Hand Book of Local and Regional Government A Comparatve Analysis of Advanced Democracies. dan Desentralisasi. 2007. London. 1960. London.C.

Makalah untuk pendidikan non-gelar anggota DPRD tingkat II se-Jawa Barat di Fakultas ISIP Unpad. World Bank Policy Research Working Paper 3353. Pusat Studi Hukum Kenegaraan Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran. Masalah Hukum dalam Pemerintahan di Daerah. Roy Bahl (eds).DESERTASI/TESIS/LAPORAN PENELITIAN/MAKALAH/JURNAL Agus Kusnadi. 2008. _______. 4 Agustus 2009 Ateng Syafrudin. Jaime Bonet. Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. 2002. makalah pada Diskusi Terbatas tentang Hubungan Pusat dan daerah. DC USA. Desertasi. Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. Bandung. “Hutang Sebagai Salah Satu Sumber Pembiayaan Pembangunan Daerah Otonom”. 6 No. . Vol. and the Promise” World Bank Policy Research Working Paper 3282. Bandung. Decentralization: Policies in Asian Development. 1. USA. World Bank. Washington. diselenggarakan atas kerja sama antara Dewan Perwakilan Daerah RI dan Fakultas Hukum Unpad. Hubungan Kelembagaan antara Pusat dan Daerah. Makalah. Tugas Sosial Pemerintahan Daerah. Bentuk dan Ruang Lingkup Pengawasan Pusat Terhadap Daerah Dalam Mewujudkan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Yang Demokratis Menurut UUD 1945. Bachrul Elmi dan Syahrir Ika. April 2004. 2009. Singapore. June 2004. Program Studi Hukum Tata negara. hlm. Jurnal Kajian Ekonomi Dan Keuangan. 2009. Springer-Verlag Published online: 12 April 2006. Pte. Bandung. Detours and Road Closures”. World Scientific Publishing Co. Maret.. Handsout dan Course Material Hukum Pemerintahan Daerah. 28 Desember 1992. Bagir Manan. disampaikan dalam acara Focused Group Discussion (Fgd) Tentang “Hubungan Antara Pemerintah Pusat Dan Daerah”. 2009. “Fiscal Decentralization in Developing and Transition Economies: Progress. 3. Ltd. 4 Agustus 2009. The World Bank. “Implementing Decentralized Local Governance: A Treacherous Road with Potholes. Asep Warlan Yusuf. Bahl dalam Shinichi Ichimura. Theresa Thompson. Washington DC. _______. _______.. Problems. Anwar Shah. “Fiscal decentralization and regional income disparities: evidence from the Colombian experience”.

Springer-Verlag Published online: 12 April 2006. Blackwell Publishing Ltd. Renata R Simatupang. Comparative Economic Studies. “Fiscal Decentralisation and Empowerment: Evolving Concepts and Alternative Measures” Journal Compilation Institute of Fiscal Studies Vol. Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran.Hak Angket Dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia Menurut UUD 1945. 4. “The Challenge of Fiscal Decentralisation in Transition Countries”. Schroeder. No. Tim Penyusun. Jakarta. Pengawasan Pengelolaan Keuangan Daerah dalam Sistem Pemerintahan Daerah di Indonesia (Disertasi).Bonet. Kerangka Acuan Penelitian Studi Hubungan Pusat Dan Daerah Kerjasama DPD RI Dengan Perguruan Tinggi Di Daerah. Disertasi. Academic Press. 15 No. I Gde Pantja Astawa. Era Dabla-Norris. 2006.48. Vol. Jakarta 2009. 2006. “Fiscal Decentralization in South East Asia”. Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Tahun 2007. Pengkajian Penataan Daerah Otonom Kabupaten/Kota di Jawa Barat. Accounting & Financial Management. Vol. Fiscal Decentralization in South East Asia. Bandung. “Fiscal decentralization and regional income disparities: evidence from the Colombian experience”. 2003. Elektison Somi. Universitas Padjadjaran Bandung. Journal of Public Budgeting. 2008. 3. Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. Larry. 15 No. Jaime. dampaknya terhadap Perekonomian. Otonomi atau Federalisme. 29. 4 Agustus 2009 Larry Schroeder. Laporan Penelitian. Journal of Public Budgeting. Bandung. Harian Suara Pembaharuan. Vol. 2000. Kuntana Magnar. . Accounting & Financial Management. 1999. Pedoman Penyelenggaraan Program Pendidikan Sarjana (S1). Pusat Pengkajian dan Pengembangan Wilayah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran. Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia. 3. Bandung. 2003. Academic Press. Bahan diskusi pada Diskusi Terbatas Pusat Studi Hukum Tata Negara. UK-USA. 2002. Jameson Boex. Pustaka Sinar Harapan.

http://www.com/read/xml/2009/08/05/04112298/pajak.html www.daerah. tentang Pemerintahan Daerah Undang-Undang Nomor No.Peraturan Perundang-Undangan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah Undang-Undang Nomor No.opensubscriber. .18 Tahun 1997 Tentang Pajak dan Retribusi Daerah. Peraturan Pemerintah No.com/syahyuti/Rumusan_konsep_kelembagaan. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2008 Tentang Tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah.kompas.geocities.ac. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pemerintahan Daerah Undang-Undang Nomor No. 28 Tahun 2009 tentang Pajak dan Retribusi Daerah Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 1997 Tentang Pajak dan Retribusi Daerah.com/message/mediacare@yahoogroups. 20 Tahun 1997 Tentang Retribusi Daerah Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005.33 Tahun 2004 Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah Undang-Undang Nomor No.pdf http://koran.com/9511217.unsri.id/old_version/CITANEGARAHUKUMINDONESIA.fh. 25 Tahun 1999 Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004.dibatasi.Doc. Sumber Internet http://www.

depkeu.id/webbkf/kajian%5CPAD.ssrn.detikfinance. http://www.html http://ekoprasojo.ac.kompas.pdf.worldbank.unsri. www.id/ www.0.id/old_version/CITANEGARAHUKUMINDONESIA.daerah.php/topic.com/read/2009/08/08/91036/20/2/RUU-Pajak-dan-RetribusiDaerah-Disahkan-Jadi-UU http://www.com/read/xml/2009/08/05/04112298/pajak.mediaindonesia.5619.dibatasi.lautanindonesia.go.mediaindonesia. http://www.wikipedia.http://www.fiskal.org/id.org/wiki/Participatory_democracy http://ekoprasojo.google.com http://kppod.com/read/2009/08/08/91036/20/2/RUU-Pajak-dan-RetribusiDaerah-Disahkan-Jadi-UU http://koran.com/2008/04/08/konstruksi-ulang-hubungan-pemerintah-pusat-danpemerintah-daerah-di-indonesia-antara-sentripetalisme-dan-sentrifugalisme/ http://www.com/abstract=1029581 .Doc.org/ind/index.com/forum/index.php?option=com_content&task=view&id=329&Itemid=2 http://www.fh.com/2008/04/08/konstruksi-ulang-hubungan-pemerintah-pusat-danpemerintah-daerah-di-indonesia-antara-sentripetalisme-dan-sentrifugalisme/ http://en.depdagri.com/read/2009/08/18/103708/1184734/4/15-poin-uu-pokokpajak-daerah-dan-retribusi-daerah www. http://www.bakd.go.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful