PENELITIAN

POLA HUBUNGAN ANTARA PUSAT DAN DAERAH

KERJA SAMA ANTARA PUSAT STUDI KAJIAN NEGARA FAkULTAS HUKUM UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG

DENGAN

DEWAN PERWAKILAN DAERAH (DPD) REPUBLIK INDONESIA

JAKARTA, 2009

POLA HUBUNGAN ANTARA PUSAT DAN DAERAH ABSTRAK UUD 1945 telah memberikan dasar-dasar pola hubungan antara Pusat dan Daerah, meliputi desentralisasi teritorial, dengan asas otonomi dan tugas pembantuan, dan memberikan otonomi seluas-luasnya. Namun dengan berbagai peraturan pelaksanaannya, telah mendorong penyeragaman sekaligus sentralisasi tersembunyi melalui undang-undang sektoral. Penelitian ini merupakan kajian bertujuan untuk mengetahui prinsip-prinsip pemikiran yang mendasari pola hubungan antara Pusat dan daerah, dengan pendekatan uraian mengenai dimensi hubungan kewenangan, kelembagaan, keuangan, dan pengawasan. Dengan menggunakan metode pendekatan yuridis normatif, penelitian merupakan penelitian asas-asas hukum, sistematika hukum, dan taraf sinkronisasi vertikal dan horizontal. Pembahasan penelitian ini menunjukkan bahwa terhadap dimensi-dimensi hubungan antara Pusat dan daerah terjadi inkonsistensi, baik dalam perspektif kerangka negara kesatuan, paradigma negara kesejahteraan, demokrastisasi, dan prinsip otonomi yang dimaksudkan dalam Perubahan UUD 1945. Dengan demikian perlu kecermatan lebih lanjut untuk menata kembali harmonisasi berbagai peraturan perundang-undangan sebaga pelaksanaan Pasal 18 UUD 1945, untuk mengembalikan hakikat otonomi daerah.

i

The Pattern of Central and Regional/Local Government Relationship Abstract The 1945 Constitution has provided the basic principles of the relationship between central and regional/local government, including territorial decentralization, with the principle of autonomy and coadministration, and provides wide-ranging autonomy. But with the various implementing regulations, has encouraged uniformity and centralization hidden through sectoral legislation. This research aims to determine the principles that underlie the pattern of relationship between central and regional/local government, with a description of the dimensional approach of authority, concerning: relations, institutional, financial, and supervision relationship. By using the method of normative juridical approach, the research categorized as research on principles of law, systematic of law, and the level of vertical and horizontal synchronization. This research show that the dimensions of the relationship between central and regional/local government, inconsistencies occurred, both in the perspective of the unitary state framework, the welfare state paradigm, democratization, the principle of autonomy which is intended in The Amended 1945 Constitution. Thus the need to further precision to restructure the harmonization of legislation as the implementation of Article 18 UUD 1945, to restore the nature of regional/local autonomy.

ii

Kata Pengantar

Laporan penelitian yang disajikan ini merupakan hasil kerja sama antara Pusat Studi Kebijakan Negara Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran (PSKN FH Unpad) dengan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD – RI). Dari beberapa tema yang ditawarkan, sengaja kami memilih persoalan hubungan keuangan antara pusat daerah karena dalam konteks negara terdesentralisasi seperti Indonesia, persoalan tersebut selalu berkembang. Bagi kalangan juris perkembangan tersebut tampak misalnya dalam hal perkembangan peraturan perundang-undangan di bidang pemerintahan daerah yang sangat dinamis. Bahkan dapat dikatakan bahwa peraturan perundangundangan di bidang ini merupakan peraturan perundang-undangan yang sangat berkembang pesat, dari mulai Indonesia merdeka hingga saat ini. Perkembangan peraturan perundang-undang tersebut akan menggambarkan konsep dinamis antara desentralisasi dan sentralisasi yang seperti “bandul”. Misalnya, sebelum Perubahan UUD 1945 (khususnya Pasal 18), beberapa undang-undang bercorak desentralistis, seperti UU No. 1 Tahun 1945, UU No. 22 Tahun 1948, dan beberapa lagi lebih mencerminkan sifat sentralistis, seperti UU No. 5 Tahun 1974. Hal tersebut sangat mungkin terjadi hingga saat ini di mana Pasal 18 UUD 1945 telah diubah menjadi 3 pasal pada masa Perubahan Kedua UUD 1945, misalnya antara UU No. 22 Tahun 1999 dengan UU No. 32 Tahun 2004. UU No. 22 Tahun 1999 dibentuk sebelum Pasal 18 UUD 1945 berubah namun secara prinsip tidak bertentangan dengan perubahan Pasal 18 tersebut. Sementara itu, UU No. 32 Tahun 2004 dibentuk setelah Perubahan Pasal 18 UUD 1945 dan mengubah ketentuan UU No. 22 Tahun 1999, begitu pula UU lainnya di bidang perimbangan keuangan pusat – daerah. Perkembangan tersebut selalu menarik untuk diteliti, karena format desentralisasi selalu akan berkembang seiring dengan perkembangan masyarakat. Namun demikian, memilih tema hubungan pusat – daerah ini cukup beresiko, khususnya dalam hal kedalaman studi, karena terdapat beberapa dimensi hubungan pusat – daerah. Kami mengambil resiko tersebut dengan tujuan bahwa penelitian ini menghasilkan gambaran persoalan hubungan pusat – daerah ini secara umum (overview). Setidaknya dengan penelitian yang umum ini, diharapkan akan muncul penelitian – penelitian lanjutan yang lebih spesifik lagi, seperti hubungan kewenangan pusat – daerah atau dimensi – dimensi lainnya.
iii

Bandung. 2009 Tim Peneliti iv . Kami sadar laporan penelitian ini banyak kekurangan. khususnya kepada DPD – RI yang telah melakukan kerja sama penelitian ini dengan kami. selama membaca. Akhir kata.Kami sangat berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu pelaksanaan penelitian ini. sehingga kami sangat membuka diri untuk segala kritik dan saran untuk perbaikan ke depan.

DAFTAR BAGAN Bagan 1 Bagan 2 Bagan 3 Bagan 4 Bagan 5 Bagan 6 Pembagian desentralisasi menurut Van der Pot Pembagian desentralisasi menurut Irawan Soejito Pembagian desentralisasi menurut Amrah Muslimin Pembagian desentralisasi menurut Hans Kelsen Alur Penelitian Pembagian Urusan Pemerintahan 10 10 11 12 15 75 v .

d.d.d. 2006 Sektor Kelautan dan Perikanan Peraturan Daerah Tentang Pajak Daerah. 2006 Sektor Perhubungan 152 Tabel 8 Tabel 9 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan 153 Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s. 2006 Sektor Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral Resource) vi 157 .d. 2006 Sektor Kehutanan (Forestry) Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s.d. Retribusi Daerah dan Pungutan Lainnya Yang Dibatalkan Oleh Menteri Dalam Negeri Pada Tahun 2007 154 Tabel 10 Tabel 11 Tabel 13 Hasil Evaluasi Peraturan Daerah di Departemen Dalam 156 Negeri Sampai dengan November 2007 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Wilayah Provinsi Jawa Barat Dari Tahun 2002 s. Perancis dan Belanda Model-Model Pengawasan dan Pengendalian Terhadap Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Menurut UU No. 2006 Sektor Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral Resource) Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s.d. 32 Tahun 2004 Perkembangan Pengaturan Pengawasan 69 118 65 Tabel 4 Tabel 5 124 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan 150 Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s.DAFTAR TABEL Tabel 1 Ruang lingkup pengawasan Atas penyelenggaraan pemerintahan daerah Tabel 2 Tabel 3 Perbandingan Pengawasan Pusat Terhadap Daerah di Inggris. 2006 Sektor Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade) 151 Tabel 6 Tabel 7 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan 152 Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s.

Indramayu 158 Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral Resource)) Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.Tasikmalaya Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral Resource)) 158 Tabel 15 Tabel 16 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Wilayah Provinsi Jawa 158 Barat Yang Dibatalkan(Sektor Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade) Wilayah Provinsi Jawa Barat) Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.Garut Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Kehutanan (Forestry)) Jumlah Undang-Undang Pembentukan Daerah (Pemekaran Daerah) 2007 – 2008 Skema Pola Hubungan Pengawasan Pusat-Daerah 163 Tabel 20 Tabel 21 Tabel 22 Tabel 23 173 vii .Tabel 14 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.Karawang Wilayah 160 Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade) ) Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kota Cimahi Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan(Sektor Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade)) 160 Tabel 17 Tabel 18 Tabel 19 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah di Wilayah Provinsi 161 Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Kehutanan (Forestry)) Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.Ciamis Provinsi 161 Jawa Barat Yang Dibatalkan(Sektor Kehutanan (Forestry)) 162 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.

H. Demokrasi sebagai instrumen Mekanisme pemerintahan 2. C. G. Kajian Teori Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah 1.DAFTAR ISI Abstrak Abstract Kata Pengantar Daftar Bagan Daftar Tabel Daftar Isi i ii iii v vi viii 1 BAB I Pendahuluan A. F. Demokrasi 1. B. E. I. Demokrasi ekonomi D. Negara Kesatuan B. D. Sistem Rumah Tangga Daerah viii 18 19 23 23 25 26 29 29 36 . Negara Hukum C. Desentralisasi 2. Latar Belakang Rumusan Masalah Tujuan Penelitian Kerangka Pemikiran Kegunaan Penelitian Metode Penelitian Alur Penelitian Personalia Penelitian Sistematika Penulisan 1 3 3 4 12 12 14 16 16 18 BAB II Prinsip-Prinsip Umum Pola Hubungan Pusat Dan Daerah A. Demokrasi sebagai instrumen pengambilan keputusan 3.

Dimensi Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah E. Hakikat Pengawasan Pemerintah Pusat terhadap Daerah 43 47 52 58 BAB III Pengaturan Hubungan Antara Pusat dan Daerah A. Kesimpulan B. B. UU. Dimensi Hubungan Pengawasan Pusat dan Daerah BAB V Kesimpulan dan Saran A.3. Hubungan Keuangan D. Ruang Lingkup dan Prinsip-Prinsip Desentralisasi Fiskal 5. Kelembagaan 4. Hubungan Pengawasan 74 74 75 99 112 BAB IV Tinjauan Dimensi-Dimensi Hubungan Antara Pusat dan Daerah A. dan Pengaturan Sektoral. Dimensi Hubungan Kewenangan Pusat dan Daerah 125 126 128 139 149 C. Saran DAFTAR PUSTAKA 182 183 ix . Sumber-Sumber Penerimaan/ Pendapatan Daerah 6. Hubungan Kelembagaan C. Pilar-Pilar Penyelenggaraan Pemerintahan B. Hubungan Kewenangan: dari mulai UUD 1945. Dimensi Hubungan Kelembagaan Pusat dan Daerah D.

2 3) prinsip menjalankan otonomi seluas-luasnya.7 8) prinsip hubungan keuangan. Latar Belakang Undang-Undang Dasar 1945 beserta perubahannya telah memberikan landasan konstitusional mengenai penyelenggaraan pemerintahan daerah di Indonesia.5 6) prinsip hubungan pusat dan daerah harus dilaksanakan secara selaras dan adil. Di antara ketentuan tersebut yaitu: 1) prinsip pengakuan dan penghormatan negara terhadap kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat serta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan Indonesia.BAB I PENDAHULUAN A. 1 masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik 2) Prinsip daerah mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan. 3 Pasal 18 ayat (5) 4 Pasal 18 B ayat (1) 5 Pasal 18 ayat (3) 6 Pasal 18 A ayat (2) 7 Pasal 18 A ayat (1) 8 Pasal 18 A ayat (2) 9 Pasal 18 B ayat (1) . pelayanan umum.3 4) prinsip mengakui dan menghormati pemerintahan daerah yang bersifat khusus dan istimewa.8 dan 9) prinsip pengakuan dan penghormatan negara terhadap satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa.6 7) prinsip hubungan wewenang antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus memperhatikan kekhususan dan keragaman daerah. pemanfatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antara pemerintah pusat dan pemerintahan daerah dilaksanakan secara adil dan selaras berdasarkan undang-undang.9 Sebagai pelaksanaan lebih lanjut dari dasar konstitusional tersebut. satuan pemerintahan di bawah pemerintah pusat yaitu daerah provinsi dan 1 2 Pasal 18 B ayat (2) Pasal 18 ayat (2) Perubahan Kedua Undang-Undang Dasar 1945.4 5) prinsip badan perwakilan dipilih langsung dalam suatu pemilu.

juga tersebar pengaturannya dalam berbagai UU sektoral yang 10 11 Pasal 13 ayat (1) dan (2) dan Pasal 14 ayat (1) dan (2) UU Nomor 32 Tahun 2004. dan f) agama.2 kabupaten/kota memiliki urusan yang bersifat wajib dan pilihan. Pertama. kewenangan keuangan. e) moneter dan fiskal nasional. namun kewenangannya yang berbeda. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Pasal 13 ayat (1) dan (2) UU Nomor 32 Tahun 2004. b) pertahanan. namun muncul pula pengaturan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2007 yang membagi urusan pemerintahan antara pemerintah. pembagian kewenangan ini membawa implikasi kepada hubungan keuangan. untuk dan pengawasan. Ketiga. menyelenggarakan urusan-urusan pemerintahan tersebut akan sangat mempengaruhi sejauhmana Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah memiliki wewenang untuk menyelenggarakan urusan-urusan Pemerintahan.11 Selain itu ditetapkan pula kewenangan pemerintah Pusat menjadi urusan Pemerintahan yang meliputi:12 a) politik luar negeri.10 Provinsi memiliki urusan wajib dan urusan pilihan. d) yustisi. yaitu meliputi hubungan kewenangan. Kedua. pemerintahan daerah provinsi. agar terjaga keutuhan negara Kesatuan. Walaupun dengan ketentuan pemberlakuan otonomi seluas-luasnya dalam UUD 194513. Hubungan-hubungan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah memiliki empat dimensi penting untuk dicermati. implikasi terhadap hubungan kelembagaan antara Pusat dan Daerah mengharuskan kehati-hatian mengenai besaran kelembagaan yang diperlukan untuk melaksanakan tugas-tugas yang menjadi urusan masingmasing. karena wilayah kekuasaan Pemerintah Pusat meliputi Pemerintah Daerah. Keempat. Kesemuanya itu. c) keamanan. yang diatur dalam UU No. maka dalam hal ini yang menjadi obyek yang diurusi adalah sama. dan pemerintahan daerah kabupaten/kota. 13 Pasal 18 ayat (5) Perubahan Kedua Undang-Undang Dasar 1945. pembagian kelembagaan. selain diatur dalam UU No. hubungan pengawasan merupakan konsekuensi yang muncul dari pemberian kewenangan. 32 Tahun 2004 tersebut. . 12 Pasal 10 ayat 3 UU Nomor 32 Tahun 2004.

22-23 16 Ibid. B. dan c) kewenangan yang dalam menyusun standar operasional prosedur bagi daerah dalam menterjemahkan setiap peraturan perundang-undangan yang ada. baik aturan di tingkat pusat dan/atau peraturan di tingkat daerah. hlm. Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia. Apa dasar-dasar pemikiran yang melandasi terbangunnya pola hubungan antara pusat dan daerah? 2.14 Pengaturan yang demikian menunjukkan bahwa tarik menarik hubungan tersebut kemudian memunculkan apa yang oleh Bagir Manan disebut dengan spanning15 antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. keuangan.3 pada kenyataannya masing-masing tidak sama dalam pembagian kewenangannya. Bagaimana pola hubungan pusat dan daerah dari dimensi-dimensi kewenangan. 15 Bagir Manan. Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam penelitian ini dibagi berdasarkan empat dimensi hubungan pemerintahan pusat dan daerah.. hlm. Hubungan Antara Pusat dan Daerah Menurut UUD 1945. hlm. Tujuan Penelitian Kerangka Acuan Penelitian Studi Hubungan Pusat Dan Daerah Kerjasama DPD Ri Dengan Perguruan Tinggi Di Daerah. 6. Jakarta 2009. 1994. Dewan Perwakilan Daerah juga mengidentifikasi adanya kewenangan yang tumpah tindih antar instansi pemerintahan dan aturan yang berlaku. 8. 17 Ibid. 14 . b) kewenangan yang didelegasikan dan fungsi-fungsi yang disediakan oleh Departemen kepada daerah.16 Hal tersebut terutama berhubungan dengan a) otoritas terkait tanggungjawab pemerintah pusat dan daerah. sebagai berikut: 1. kelembagaan. dan pengawasan? C. Pustaka Sinar Harapan. 17 Berdasarkan latar belakang tersebut perlu dilakukan suatu kajian sebagai penelitian payung yang melandasi hubungan antara Pemerintah Pusat dengan daerah. Jakarta.

terdapat dua C. dan provinsi-provinsi tersebut tidak mempunyai hak mandiri. hlm. suatu negara disebut negara kesatuan apabila kekuasaan hanya dipegang oleh pemerintah pusat. Pustaka Sinar Harapan. Dampaknya Terhadap Perekonomian. yang dikutip oleh Tim Penyusun buku “Otonomi atau Federalisme”. kelembagaan. Kerangka Pemikiran Perubahan ketiga Undang-Undang Dasar 1945 menegaskan bahwa Indonesia adalah negara kesatuan yang berlandaskan hukum atas dasar kedaulatan rakyat. Konstitusi-Konstitusi Politik Modern: Studi Perbandingan tentang Sejarah dan Bentuk-Bentuk Konstitusi di Dunia. Harian Suara Pembaharuan. Artinya. Mengetahui dasar-dasar pemikiran yang melandasi terbangunnya pola hubungan antara pusat dan daerah? 2. Mengetahui bagaimana pola hubungan pusat dan daerah dari dimensidimensi kewenangan. Sementara itu menurut Apeldoorn. Bandung. 2008. 19 Tim Penyusun. “Unitarisme” dalam pengertian politik didefinisikan oleh Dicey sebagai “pelaksanaan kebiasaan otoritas legislatif tertinggi oleh satu kekuasaan pusat”. 2000. 14.18 Dikatakan bahwa negara kesatuan adalah negara yang diorganisasi di bawah satu pemerintahan pusat. kekuasaan apapun yang dimiliki berbagai distrik di dalam wilayah yang dikelola sebagai suatu keseluruhan oleh pemerintah pusat harus diselenggarakan menurut kebijakan pemerintah itu. Otonomi atau Federalisme. keuangan. 87. ditinjau dari sudut pembagian kewenangan. Strong. Jakarta.19 Dalam negara-negara dengan bentuk negara kesatuan (unitary state). sementara provinsi-provinsi menerima kekuasaan dari pemerintah pusat. Teori negara kesatuan digunakan untuk membedakan pembagian kekuasaan secara vetikal dengan negara berbentuk federasi. dan pengawasan? D. 18 . Dalam hal ini dikemukakan pemikiran dari CF Strong mengenai negara kesatuan. Kekuasaan pusat adalah kekuasaan tertinggi di atas seluruh negara tanpa ada batasan yang ditetapkan hukum yang memberikan kekuasaan khusus pada bagian-bagiannya. Nusamedia. Cetakan Kedua. hlm.4 Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini sebagai berikut: 1.F.

25 dikenal sebagai Berdasarkan demokrasi kenyataan tidak demikian. 66. 10. 21 Ni’matul Huda. African. op. Nusamedia. . Di sinilah letak keterkaitannya dengan demokrasi politik yang mengisyaratkan pemerintah harus bergantung pada persetujuan pihak yang diperintah. dan lain-lain. 21. Namun di dunia kontemporer. yang pelaksanaan kedaulatan rakyatnya tidak dilaksanakan oleh rakyat secara langsung 20 Nicole Niessen.F. 23 Ibid. artinya. hlm. konsep demokrasi juga mencari bentuk yang sesuai dengan situasi dan kondisi dari masyarakat modern. Bandung.21Demokrasi yang lazim pula disebut dengan kedaulatan rakyat memandang bahwa kekuasaan itu berasal dari rakyat. Research School CNWS School of Asian. Kedaulatan Rakyat.cit. 20 Ni’matul Huda mengatakan bahwa desentralisasi adalah strategi mendemokratisasi sistem politik dan menyelaraskan pencapaian pembangunan berkelanjutan yang merupakan isu yang selalu ada dalam praktik administrasi publik. 1999. (indirect langsung democracy).22 Sejalan dengan perputaran waktu.23 C. 22 Eddy Purnama. law and Practice of Decentralization and Urban Planning. ketika nasionalisme menjadi dasar bagi demokrasi politik maka pemerintahan politik yang demokratis menjadi instrumen kemajuan sosial. 2009. Bandung.Strong. sehingga dalam pelaksanaan tugasnya pemerintah harus berpegang pada kehendak rakyat. Konstitusi-Konstitusi …. and Amerindian Studies. program politik partai. Hukum Pemerintahan Daerah. Universitiet Leiden. hlm. Faktor luas wilayah dari suatu negara dan besaran jumlah penduduk serta pertambahan kerumitan masalah kenegaraan merupakan argumen bahwa demokrasi langsung (direct democracy) tidak mungkin muncullah untuk yang dilaksanakan. 24 C.F. Nusamedia. media massa. 2007. The Netheralands. Strong mengartikan demokrasi secara beragam24 termasuk untuk menyebut suatu bentuk pemerintahan atau kondisi suatu masyarakat. hlm. 25 Ibid. 17. ekspresi persetujuan maupun ketidaksetujuan rakyat sudah harus memiliki sarana penyaluran yang nyata dalam pemilihan umum. Municipal Government In Indonesia Policy.5 kewenangan/urusan pemerintah yakni yang tersentralisasi dan kewenangan/urusan pemerintah yang didesentralisasikan. hlm.

op. hlm. Segaarsy. . Jakarta. 2009. 28 Jean Jacques Rousseau.. Demokrasi Kita. hlm. also strengthens the power of the judges Eddy Purnama. hlm. 8 32 Ibid. Ibid. akomodasi seluruh aspirasi rakyat jauh lebih berguna dari unsur di dalam masyarakat harus terwakili di dalam sistem perwakilan..31 Di Inggris. 8-9. 33 Ibid. Negara Hukum yang Membahagiakan Rakyat. Menurut Dicey.. hlm. Pikiran-Pikiran tentang Demokrasi dan Kedaulatan Rakyat.6 melainkan melalui lembaga perwakilan rakyat.29 Sifat pertama. cetakan kedua. adalah dasar dari demokrasi politik.32 Parlemen berhak untuk melakukan apa saja. 29 Mohammad Hatta. 31 Satjipto Rahardjo. Visimedia.cit. with the balance between the House of Commons. hlm. termasuk pada waktu melakukan realisasi rule of law. hlm. Genta Publishing. 284. 2007. hlm. yaitu mengambil keputusan secara mufakat dengan musyawarah. Kedaulatan Rakyat. cetakan II.30 Selanjutnya pilar yang lain yang secara konsitusional diakui oleh Indonesia adalah negara hukum. “The monopoly of legislation by Parliament. Muhammad Hatta mengingatkan bahwa masyarakat asli Indonesia mempunyai sifat dasar dalam segala hal mengenai kepentingan hidup bersama. Yogyakarta. 27 26 . 113... 9. hlm. 11. tidak pernah ada demokrasi yang nyata dan tidak akan pernah ada demokrasi. yang tidak netral terhadap politik. 30 Ibid. Neumann yang dikutip oleh Satjipto Rahardjo mengatakan bahwa perkembangan negara hukum di Inggris berbeda daripada Eropa daratan. Bandung. 69. Sifat kedua yaitu tolong menolong dan gotong royong adalah sendi yang bagus untuk menegakkan demokrasi ekonomi. sejak semula doktrin Rule of Law tidak dipisahkan dari doktrin supremasi parlemen. “… that the souvereignity of Parliament furthers the rule of the land… prevent those inroads upon the law of the land which a despotic monarch … might effects by ordinance or decrees… “33 Selanjutnya dikatakan. terjemahan Tim Visimedia.26 Dalam rangka mewujudkan prinsip kedaulatan rakyat. and the king. Du Contract Social (Perjanjian Sosial). the House of Lords.28 Dalam pemikiran mengenai bagaimana demokrasi bagi Indonesia.27 Rousseau memberi catatan bahwa jika kita menempatkan istilah ini dalam pemahaman yang kaku.. 70. Mei 2009.

23 Maret 2004. Paul Laband.. Fichte. maka parlemen atau rakyatlah merupakan instansi tertinggi. konsep Negara Hukum yang disebutnya dengan istilah ‘rechtsstaat’ itu mencakup empat elemen penting. karena dalam tipe tersebut. tindakannya dibatasi hanya sampaiu kepada penjaga ketertiban dan keamanan. makalah disampaikan dalam acara Orasi ilmiah Pada Wisuda Sarjana HukumFakultas Hukum Universitas Sriwijaya Palembang.35 Negara hukum yang muncul di abad ke-sembilan belas adalah tipe negara hukum sebagai “penjaga malam” (nachtwakersstaat). pada 8/24/2009 9:38:03 AM. lihat Jimly Asshidiqie.cit. Dicey menguraikan adanya tiga ciri penting dalam setiap Negara Hukum yang disebutnya dengan istilah “The Rule of Law”. Negara Hukum …. Sedangkan dalam tradisi Anglo Amerika. Julius Stahl. prinsipprinsip Negara Hukum itu ditambah lagi dengan prinsip peradilan bebas dan tidak memihak (independence and impartiality of judiciary) yang di zaman sekarang makin dirasakan mutlak diperlukan dalam setiap negara demokrasi.unsri.V.id/old_version/CITANEGARAHUKUMINDONESIA.ac. Bahkan.V.hlm. oleh “The International Commission of Jurist”.V. yaitu: 1) Supremacy of Law. 35 Ibid. Dicey untuk menandai ciri-ciri Negara Hukum modern di zaman sekarang. op. 3) pemerintahan berdasarkan undang-undang. 34 .fh.36 Pada perkembangannya negara tidak dapat lagi bersikap netral dan membiarkan Di zaman modern. konsep Negara Hukum di Eropah Kontinental dikembangkan antara lain oleh Immanuel Kant.” Jadi dalam mengartikan “the rule of law” di Inggris. 2) pembagian kekuasaan.Doc. Dicey dengan sebutan “The Rule of Law”.. dan lain-lain dengan menggunakan istilah Jerman. Cita Negara Hukum Indonesia Kontemporer. yaitu: 1) perlindungan hak asasi manusia. 1-2. Keempat prinsip ‘rechtsstaat’ yang dikembangkan oleh Julius Stahl tersebut di atas pada pokoknya dapat digabungkan dengan ketiga prinsip ‘Rule of Law’ yang dikembangkan oleh A.7 … and finally. 36 Satjipto Rahardjo. dan 4) Peradilan tata usaha Negara. explains the absence od adiministrative law. diunduh dari http://www. dan 3) Due Process of Law. Disebut sebagai penjaga malam. Menurut Julius Stahl yang dikutip oleh Jimly Asshidiqie34. 26. 2) Equality before the law. konsep Negara hukum dikembangkan atas kepeloporan A. yaitu “rechtsstaat’. Sementara itu A. hlm.

dan kepemilikan (eigendom) negara. yaitu campur tangan negara ke dalam masyarakat. mempertimbangkan pertama. Satjipto kemudian mengutip dari de Haan et al bahwa menyerahkan penyelesaian kepada mekanisme pasar sosial akan menempatkan golongan lapisan bawah (the have not) dalam masyarakat sebagai pihak yang sangat menderita (“De staat mocht niet langer. kelahiran konsep negara kesejahteraan didahului oleh rentetan ide-ide panjang. Perubahan tersebut. tujuan penyelenggaraan negara. door als neutral toeschouwer op te stellen. Oleh karena itu menurut Ateng Syafrudin perlu diadakan pembagian 37 Ibid. Robson. maar behoorde zich daadwerkelijk de belangen van de achtergestelde groepen in die samenleving aan te trekken. di antaranya adalah ”liberty. Naast de traditionele overheidstaken vroegen nieuwe terreinen om ordening en verzorging van staatswege”). equality. dan fraternity” (revolusi Perancis) dan “The greates happiness for the greatest number” (Bentham). Ini menimbulkan konsep “negara kesejahteraan” (welfare state). hlm. Dalam hukum administrasi tradisional. dan kedua. seperti pembuatan undang-undang dan pembuatan undang-undang semu (pseudo). yaitu kesejahteraan rakyat di satu sisi.. perencanaan. negara hanya bertindak sesekali dan sebagai pelengkap (incidenteel en aanvullend). de door het industriele kapitalisme veranderde samenleving ongemoeid laten.8 individu-individu atau masyarakat menyelesaikan sendiri-sendiri problemproblem tersebut. 27. sangat mengubah pekerjaan-pekerjaan yang biasa dilakukan oleh hukum administrasi tradisional. . jarak yang jauh antara pusat pemerintahan dengan bagian-bagian daerah yang harus diperintah di sisi lain. keterbukaan dan penggugatan. Menurut William A.37 Penyelenggaraan pemerintahan negara yang baik adalah yang dapat menampung aspirasi dan kebutuhan masyarakat sampai ke pelosok wilayah negara. Tetapi sekarang negara harus memasuki aktivitas yang lebih luas. perjanjian.

Bagan 1: Pembagian desentralisasi menurut Van der Pot Pendapat dari Van der Pot ini diikuti antara lain oleh FAM Stroink. yaitu desentralisasi teritorial dan desentralisasi fungsional. desentralisasi administratif (dekonsentrasi). Citra Media Hukum. yakni pejabat-pejabat Pemerintah yang ada di daerah.9 kerja secara teritorial di samping pembagian kerja secara fungsional... hlm 21 38 . Kapita Selekta Hakikat Otonomi dan Desentralisasi dalam Pembangunan Daerah. Dengan penggolongan yang sedikit berbeda. untuk dilaksanakan. Yogyakarta. desentralisasi fungsional. Steenbeek. sedangkan desentralisasi fungsional menjelma dalam bentuk badan-badan yang didasarkan pada pada tujuan-tujuan tertentu (doelcorporaties). Irawan Soejito membedakan desentralisasi menjadi desentralisasi teretorial.cit. op. 2006. Hubungan . Bagir Manan menjelaskan 39 desentralisasi dengan menggunakan pendapat Van Der Pot. hlm. JM de Meij.38 Pembagian-pembagian kerja urusan penyelenggaraan pemerintahan tersebut yang kemudian mengarah kepada proses desentralisasi. 39 Bagir Manan. Desentralisasi teritorial menjelma dalam bentuk badan yang didasarkan pada wilayah (gebeidscorporatis). hlm. dan Belifante. Desentralisasi teretorial berbentuk otonomi dan tugas pembantuan. Menurut pakar Hukum Tata Negara Belanda ini. Desentralisasi administratif atau dekonsentrasi (ambtelijk decentralisatie) terjadi apabila “Pemerintah melimpahkan sebagian kewenangannya kepada alat perlengkapan atau organ Pemerintah sendiri di daerah. 20-21 40 Ibid. 72.. desentralisasi dibagi menjadi dua macam.40 Ateng Syafrudin.

Pembagian desentralisasi menurut Irawan Soejito Irawan Soejito mengatakan bahwa dekonsentrasi merupakan bagian dari desentralisasi. 43 Ibid. Aspek-Aspek Hukum Otonomi Daerah.10 Bagan 2. desentralisasi fungsional desentralisasi kebudayaan. merupakan pelimpahan sebahagian kewenangan pemerintah pusat pada alat-alat pemerintah pusat yang ada di daerah. lihat Amrah Muslimin. dan merupakan pelunakan sentralisasi menuju desentralisasi. Alumni.42 Pembahasan tentang pemerintahan di daerah tidak akan lepas dari asas kedaerahan dalam pemerintahan. Bandung. hlm 5 42 Ibid. Dekonsentrasi. Pakar hukum lainnya. Desentralisasi. Desentralisasi politik adalah “pelimpahan kewenangan dari Pemerintah Pusat yang menimbulkan hak mengurus rumah tangga sendiri bagi badan-badan politik yang ada di daerah-daerah yang dipilih oleh rakyat dalam daerah-daerah tertentu. Amrah Muslimin. yaitu :43 1. Menurutnya asas kedaerahan mengandung dua macam prinsip pemerintahan. merupakan pelimpahan wewenang kepada badan-badan dan golongan-golongan dalam masyarakat dalam daerah tertentu untuk mengurus rumah tangganya sendiri. 2. 1986. membedakan desentralisasi menjadi desentralisasi politik41. 41 .

. Ateng dari aantekemingen. 1. Handsout dan Course Material Hukum Pemerintahan Daerah. hlm. Pemilihan tersebut diambil sebagaimana yang digunakan oleh Bagir Manan dalam menggali gagasan-gagasan dasar pola hubungan antara Pusat dan Daerah dalam Undang-Undang Dasar 1945. tambahan Colloge mengenai pembagian 1947 . hlm. Pembagian desentralisasi menurut Amrah Muslimin Sebagai Logemann.45 Ateng Syafrudin. zelfbestuur. Staatkundige atau Politieke decentralisatie. selfgovernment. tkan bahwa desentralisasi terbagi dalam arti luas dan arti sempit. Syafrudin mengemukakan bahwa desentralisasi dalam arti luas terdiri dari: a. Hubungan…. 45 Bagir Manan. b. yaitu: 1) territoriale decentralisatie. Pengertian otonomi di sini sama dengan isi dari staatkundige atau politiche decentralisatie. 44 desentralisasi. 2) fungctionele decentralisatie.cit. Isinya adalah kewenangan membuat peraturan (regelende bevoegheid) dan kewenangan membuat keputusan atau mengurus (bestuurende bevoegheid). op. Program Studi Hukum Tata negara.. … 44 .11 Bagan 3. Bentuk dari territoriale decentralisatie adalah autonomie dan medebewind yang kadang-kadang disebut juga sebagai medebestur. Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. Lingkup staatkundige decentralisatie dibagi dua. Ambtelijke decentralisatie atau deconsentratie. Penelitian ini menggunakan pengertian desentralisasi dalam arti sempit.

. Dengan demikian perlu dicari titik temu antara keutuhan Negara Kesatuan di satu sisi. Kegunaan Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi para Anggota Dewan Perwakilan Daerah sebagai tambahan pengetahuan mengenai hubungan pusat dan daerah. dan Negara hukum. E. dan demokratisasi di sisi lain sebagai upaya mencapai tujuan bernegara yaitu kesejahteraan rakyat. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan langkah-langkah penelitian untuk memperoleh data atau bahan dan analisis sebagai berikut: 1.. Jenis/ Spesifikasi Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analisis. hlm.. 39. yang tidak kalah penting untuk dicermati adalah bahwa pola hubungan antara Pusat dan Daerah tidak dapat terlepas dalam bingkai Negara Kesatuan.cit. kerakyatan.. op. Penelitian ini menjelaskan dan menganalisa pengaturan beserta asas-asas yang berkenaan dengan hubungan antara Pemerintah Pusat dengan Daerah yang berlaku di Indonesia. hubungan Pusat dan Daerah akan dipengaruhi oleh:46 1) Sampai sejauh manakah desentralisasi diterima sebagai cara terbaik untuk mewujudkan suatu pemerintahan yang berkedaulatan rakyat dengan partisipasi luas dari anggota masyarakat? 2) Sampai sejauh mana desentralisasi dipandang sebagai cara untuk menjamin dan mewujudkan Negara hukum? 3) Sampai sejauh mana desentralisasi dipandang sebagai cara untuk mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat? Lebih dari hal tersebut. Metode Pendekatan 46 Bagir Manan. Hubungan Pusat…. 2. F.12 Dalam kaitan ini Bagir Manan menguraikan mengenai kaitan desentralisasi.

2006. penelitian ini akan dilakukan terhadap asas-asas hukum. Menggunakan Teori dan Konsep Dalam Analisis di Bidang Ilmu Hukum. Studi Pustaka Penelitian ini dilakukan dengan penelusuran terhadap bahan-bahan hukum. Teknik Pengumpulan data Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut: a. 2006. 6.52 b. 2) Bahan hukum sekunder.48 3. atau pendapat para pakar hukum. hlm. hlm. hlm. Penelitian Lapangan Lili Rasjidi dan Liza Sonia Rasjidi. dan ensiklopedia. dan tahun penerbitan tidak tercantum. UI-Press. 50 Soerjono Soekanto. Pengantar Metode Penelitian Hukum. yaitu bahan yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder seperti kamus. perubahanperubahan. yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat. Jakarta. seperti peraturan terdahulu. sistematika hukum. Pendekatan yuridis normatif47 adalah pendekatan dengan melakukan penelitian secara mendalam terhadap hukum yang berlaku.50 Bahan hukum ini meliputi antara lain Undang-Undang Dasar 1945 dan UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 beserta peraturan pelaksana. hasil-hasil penelitian. 72. 14 49 Pedoman Penyelenggaraan Program Pendidikan Sarjana (S1). 52 Amiruddin dan Zainal Asikin. 31-32. yaitu bahan yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer. 51 Ibid. 47 . PT RajaGrafindo. 3) Bahan hukum tersier. dan peraturan yang secara tidak langsung terkait.13 Penelitian ini menggunakan metode pendekatan yuridis normatif. Pengantar Penelitian Hukum. penerbit. kota. 48 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji. hlm.49 meliputi: 1) Bahan hukum primer. Penelitian Hukum Normatif. 52. hlm. dan taraf sinkronisasi vertikal dan horisontal. Di antara cakupan dari penelitian hukum normatif tersebut.51 seperti rancangan undang-undang. Jakarta. PT RajaGrafindo Persada. Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Tahun 2007. Monograf. Jakarta.

Bandung. 2006. Alur Penelitian Penelitian hukum normatif tidak dapat terlepas dari berbagai penafsiran yang dikenal dalam ilmu hukum. 37. 152. Penelitian Hukum di Indonesia Pada Akhir Abad Ke-20. dalam Sudikno Mertokusumo dan Pitlo. Bab-Bab Tentang Penemuan Hukum. Alumni. Lihat juga Sunaryati Hartono.14 Penelitian lapangan dilakukan untuk mendukung penelitian kepustakaan dengan cara menyelenggarakan diskusi terfokus (focused group discussion-FGD). Yogyakarta. 4. selanjutnya dianalisis dengan menggunakan analisis kualitatif. hlm. Pengolahan dan Analisis Data Bahan penelitian yang telah diperoleh. G. hlm. Citra Aditya Bakti. 53 . 1993. yakni dengan menggunakan penafsiran hukum53 dan selanjutnya dituangkan secara deskriptif yaitu bersifat menggambarkan masalah.

32/2004 dan pelaksanaann ya UU No.15 Bagan 5. 33/2004 Hubungan Kewenangan Hubungan Kelembagaan Hubungan Keuangan UU Sektoral Hubungan Pengawasan Pembagian Urusan Pemerintahan • Pembentukan Daerah • Organisasi Perangkat Daerah Dana Perimbangan Dana Tugas Pembantuan • Pengawasan Pembentukan Perda • Pengawasan Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Negara Kesatuan Hubungan Pusat Daerah Demokrasi Negara Hukum D e s e n t r a l i s a s i Otonomi U U D 1 9 4 5 Tugas Pembantuan . Alur Penelitian UU No.

Bab II Prinsip-Prinsip Umum Pola Hubungan Pusat Dan Daerah Dalam Bab ini akan dikemukakan mengenai teori-teori umum yang mendasari penyelenggaraan pemerintahan daerah yang meliputi prinsipprinsip negara Kesatuan. S. M.H. Ali Abdurahman. Inna Junaenah. rumusan masalah.. H.. Rosjidi Ranggawidjaja.M. M.H..... Rahayu Prasetianingsih.H.. S. dan metode penelitian.S. S.H.. S.D. M. S.H. Ph. kegunaan penelitian.H. tujuan penelitian. LL. Agus Kusnadi. Susi Dwi Harijanti.. Miranda Risang Ayu. S.M.. Personalia Penelitian Ketua Wakil Sekretaris Anggota : : : DR. S. kerangka pemikiran. S. yaitu hubungan . Tenaga Pendukung : Hernadi Affandi.M. Indra Perwira.H. LL.H. I Gde Pantja Astawa. Sistematika Penulisan Bab I Pendahuluan Dalam Bab ini akan dikemukakan mengenai latar belakang.H. S. Prof. M.. Negara Hukum. M. S. Bilal Dewansyah. dan teori desentralisasi.H. S. H. Bab III Deskripsi Hubungan Antara Pusat dan Daerah Dalam Bab ini akan dikemukakan mengenai pengaturan mengenai hubungan antara Pusat dan Daerah dalam empat dimensi. LL. DR. tujuan penelitian.H. DR.H.H..H.H.H. demokrasi.. I..H.H. M.16 H. Kuntana Magnar.

yang akan disertai dengan rekomendasi sebagai gagasan-gagasan reformasi pola hubungan antara Pusat dan Daerah di masa yang akan datang. . Bab V Kesimpulan dan Rekomendasi Dalam Bab ini akan digarisbawahi berbagai telaah terhadap hubungan Pusat dan daerah melalui kesimpulan.17 kewenangan. kelembagaan. disertai permasalahan hubungan antara Pusat dan Daerah pada empat dimensi tersebut. keuangan. Bab IV Tinjauan Dimensi-Dimensi Hubungan Antara Pusat dan Daerah Bab ini berisi analisa terhadap pengaturan dan problematika empat dimensi pola hubungan antara Pusat dan Daerah dalam perpektif prinsip-prinsip pemikiran yang mendasarinya. dan pengawasan.

Sementara itu menurut Apeldoorn. Konstitusi-Konstitusi Politik Modern: Studi Perbandingan tentang Sejarah dan Bentuk-Bentuk Konstitusi di Dunia.F. Kekuasaan pusat adalah kekuasaan tertinggi di atas seluruh negara tanpa ada batasan yang ditetapkan hukum yang memberikan kekuasaan khusus pada bagian-bagiannya. Artinya. 54 . Nusamedia. dan provinsi-provinsi tersebut tidak mempunyai hak C. kekuasaan apapun yang dimiliki berbagai distrik di dalam wilayah yang dikelola sebagai suatu keseluruhan oleh pemerintah pusat harus diselenggarakan menurut kebijakan pemerintah itu. suatu negara disebut negara kesatuan apabila kekuasaan hanya dipegang oleh pemerintah pusat. dan negara hukum. Bandung.54 Dikatakan bahwa negara kesatuan adalah negara yang diorganisasi di bawah satu pemerintahan pusat. 2008. sementara provinsi-provinsi menerima kekuasaan dari pemerintah pusat. kedaulatan rakyat. Negara Kesatuan Uraian mengenai konsep negara kesatuan perlu diketengahkan untuk membedakan pembagian kekuasaan secara vetikal dengan negara berbentuk federasi. “Unitarisme” dalam pengertian politik didefinisikan dengan baik oleh Dicey sebagai “pelaksanaan kebiasaan otoritas legislatif tertinggi oleh satu kekuasaan pusat”. Dengan demikian perlu dipahami terlebih dahulu mengenai prinsip-prinsip yang terkandung dalam masing-masing dasar pemikiran tersebut untuk menghantarkan kemunculan hubungan antara pemerintah pusat dengan satuan pemerintahan yang lebih rendah. hlm. Strong. 87. yang dikutip oleh Tim Penyusun buku “Otonomi atau Federalisme”. Cetakan Kedua.18 BAB II PRINSIP-PRINSIP UMUM POLA HUBUNGAN PUSAT DAN DAERAH Pilar-pilar yang perlu diketengahkan dalam membangun pola hubungan pusat dan daerah sedikitnya dibentuk dari prinsip negara kesatuan. A. Dalam hal ini dapat dikemukakan pemikiran dari CF Strong mengenai deskripsi suatu negara kesatuan.

untuk melaksanakan urusan-urusan pemerintahan pusat yang ada di daerah. Liberty.55 Dalam negara-negara dengan bentuk negara kesatuan (unitary state). 1995. Genta Publishing. “… that the souvereignity of Parliament furthers the rule of the land… prevent those inroads upon the law of the land which a despotic monarch … might effects Tim Penyusun. 58 Satjipto Rahardjo. terdapat dua kewenangan/urusan pemerintah yakni yang dipusatkan dan atau dipencarkan. 14. hlm. hlm. Negara Hukum Selanjutnya pilar yang lain yang secara konsitusional diakui oleh Indonesia adalah negara hukum. Negara Hukum yang Membahagiakan Rakyat. hlm. wilayah negara menjadi semakin luas. dampaknya terhadap Perekonomian. ditinjau dari sudut pembagian yakni kewenangan. hlm. 57 Ibid. Jakarta. 56 Nicole Niessen. 1999.19 mandiri. lihat pula The Liang Gie. 2000.59 Parlemen berhak untuk melakukan apa saja. Yogyakarta. Yogyakarta. urusan pemerintahannya menjadi semakin kompleks. 55 ... 21. Mei 2009. Edisi Kedua.58 Di Inggris. African. Serta warga negaranya semakin banyak dan heterogen. Pertumbuhan Pemerintahan Daerah di Negara Republik Indonesia. Jilid III. The Netheralands.56 Dalam negaranegara dengan bentuk negara kesatuan (unitary state). sejak semula doktrin Rule of Law tidak dipisahkan dari doktrin supremasi parlemen. Harian Suara Pembaharuan. yang terdapat dua dan kewenangan/urusan pemerintah tersentralisasi kewenangan/urusan pemerintah yang didesentralisasikan. Otonomi atau Federalisme. ditinjau dari sudut pembagian kewenangan. Pustaka Sinar Harapan. Neumann (1986) yang dikutip oleh Satjipto Rahardjo mengatakan bahwa perkembangan negara hukum di Inggris berbeda daripada Eropa daratan. hlm.57 Sementara itu setelah negara-negara di dunia mengalami perkembangan yang sedemikian pesat. Universitiet Leiden. maka penyelenggaraan pemerintahan di daerah. Research School CNWS School of Asian. Municipal Government In Indonesia Policy. B. cetakan II. yaitu pelimpahan wewenang dari pemerintah pusat kepada pejabat-pejabatnya di daerah. 8. and Amerindian Studies. 8-9. Menurut Dicey. law and Practice of Decentralization and Urban Planning. yang tidak netral terhadap politik. 59 Ibid. termasuk pada waktu melakukan realisasi rule of law. 109.

2) Equality before the law.. diunduh dari http://www. with the balance between the House of Commons.Doc. tindakannya dibatasi hanya sampai kepada penjaga ketertiban dan keamanan.fh. explains the absence od adiministrative law. op.20 by ordinance or decrees… “60 Selanjutnya dikatakan. karena dalam tipe tersebut.63 Pada Ibid. “The monopoly of legislation by Parliament. Jimly Asshidiqie. 3) pemerintahan berdasarkan undang-undang. oleh “The International Commission of Jurist”. pada 8/24/2009 9:38:03 AM.” Jadi dalam mengartikan “the rule of law” di Inggris. 61 60 . Bahkan. 2) pembagian kekuasaan. hlm. yaitu: 1) perlindungan hak asasi manusia.id/old_version/CITANEGARAHUKUMINDONESIA. maka parlemen atau rakyatlah merupakan instansi tertinggi. hlm.cit. the House of Lords. 26. Dicey menguraikan adanya tiga ciri penting dalam setiap Negara Hukum yang disebutnya dengan istilah “The Rule of Law”. Sementara itu A.V. Menurut Julius Stahl yang dikutip oleh Jimly Asshidiqie61. dan 4) Peradilan tata usaha Negara.V. hlm. also strengthens the power of the judges … and finally. Negara Hukum …. prinsipprinsip Negara Hukum itu ditambah lagi dengan prinsip peradilan bebas dan tidak memihak (independence and impartiality of judiciary) yang di zaman sekarang demokrasi. dan 3) Due Process of Law.. Cita Negara Hukum Indonesia Kontemporer. makin 62 dirasakan mutlak diperlukan dalam setiap negara Negara hukum yang muncul di abad ke-sembilan belas adalah tipe negara hukum sebagai “penjaga malam” (nachtwakersstaat). 63 Satjipto Rahardjo. Dicey untuk menandai ciri-ciri Negara Hukum modern di zaman sekarang. 1-2. and the king. Disebut sebagai penjaga malam. yaitu: 1) Supremacy of Law.unsri. Keempat prinsip ‘rechtsstaat’ yang dikembangkan oleh Julius Stahl tersebut di atas pada pokoknya dapat digabungkan dengan ketiga prinsip ‘Rule of Law’ yang dikembangkan oleh A.ac. 9. makalah disampaikan dalam acara Orasi ilmiah Pada Wisuda Sarjana Hukum Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya Palembang. 62 Ibid. konsep Negara Hukum yang disebutnya dengan istilah ‘rechtsstaat’ itu mencakup empat elemen penting. 23 Maret 2004.

. 9 . equality. perjanjian. 27. Tetapi sekarang negara harus memasuki aktivitas yang lebih luas. Refika Aditama. Wade yang dikutip oleh Munir Fuadi65 berpendapat bahwa implikasi dari penerapan konsep tersebut dalam suatu negara akan mengarahkan para penyelenggara negara ke dalam prinsip-prinsip dan otoritas sebagaai berikut: 64 65 Ibid. Dalam hukum administrasi tradisional. sangat mengubah pekerjaan-pekerjaan yang biasa dilakukan oleh hukum administrasi tradisional. dan fraternity” (revolusi Perancis) dan “The greates happiness for the greatest number” (Bentham). maar behoorde zich daadwerkelijk de belangen van de achtergestelde groepen in die samenleving aan te trekken. Ini menimbulkan konsep “negara kesejahteraan” (welfare state). door als neutral toeschouwer op te stellen. Munir Fuady. Naast de traditionele overheidstaken vroegen nieuwe terreinen om ordening en verzorging van staatswege”). Robson. 1978). di antaranya adalah ”liberty. 2009. hlm. dan kepemilikan (eigendom) negara. Menurut William A. Teori Negara Hukum Modern (Rechtsstaat). kelahiran konsep negara kesejahteraan didahului oleh rentetan ide-ide panjang.64 Kembali kepada pembicaraan mengenai rule of law. Bandung. Satjipto kemudian mengutip dari de Haan et al (1978) bahwa menyerahkan penyelesaian kepada mekanisme pasar sosial akan menempatkan golongan lapisan bawah (the have not) dalam masyarakat sebagai pihak yang sangat menderita (“De staat mocht niet langer. seperti pembuatan undang-undang dan pembuatan undang-undang semu (pseudo). de door het industriele kapitalisme veranderde samenleving ongemoeid laten. Perubahan tersebut. Dalam hukum administrasi tradisional. yaitu campur tangan negara ke dalam masyarakat. hlm. negara hanya bertindak sesekali dan sebagai pelengkap (incidenteel en aanvullend).21 perkembangannya negara tidak dapat lagi bersikap netral dan membiarkan individu-individu atau masyarakat menyelesaikan sendiri-sendiri problemproblem tersebut. perencanaan. keterbukaan dan penggugatan (de Haan.

. Ibid. yakni seperangkat aturan masyarakat. hlm. maupun secara prosedural.22 1. pengadilan. parlemen. 2. serta para stakeholders lainnya. sistem pemerintahan yang kondusif terhadap 66 67 Ibid. pemerintah. dalam rangka untuk menjaga tertib hukum dengan melihat konsistensinya terhadap konsitusi. law enforcement yang baik. dengan jalan menerapkan atau menafsirkan ketentuan dan semangat dari konstitusi. Kedua. Jika ada dispute. sehingga hasilnya dapat menguatkan atau menyatakan batal. Pelaksanaan konsep rule of law lebih menghendaki adanya suasana penghormatan kepada “hukum dan ketertiban” (law and order). sistem pemerintahan yang dapat menciptakan masyarakat yang cerdas dan egaliter. yakni seperangkat mekanisme yang secara langsung mendukung upaya penegakan aturann hukum. aturan hukum yang baik. pers. . Fuady menunjukkan hal tersebut melalui beberapa faktor utama yang berpengaruh satu sama lain dalam menerapkan 67 prinsip good governance ke dalam suatu pemerintahan.66 3. sistem pemerintahan yang efektif. Keempat. Penyelenggaraan kewenangan oleh penyelenggaran negara haruslah selalu sesuai dengan hukum yang berlaku. Badan-badan politik (terutama parlemen) menentukan rincian mekanisme rule of law. muncul pranata hukum yang disebut judicial review. badan yudikatiflah yang yang harus memutuskannya. Ketiga. terkait Pertama. menambah atau mengurangi terhadap suatu tindakan berbuat atau tidak berbuat dari aparat pemerintah (eksekutif) atau dari pihak-pihak lainnya (termasuk parlemen). hlm. Munir Fuady menjelaskan lebih jauh pranata ini sebagai lembaga khusus untuk melakukan penunjauan ulang. Mengenai peran badan peradilan ini. warga lingkungan hidup. transparan. accountable. Lebih lanjut mengenai pelaksanaan rule of law dalam penyelenggaraan pemerintahan. efisien.. baik yang bersifat substantif. dan berwawasan hak asasi manusia. dapat ditambahkan bahwa konsep ini tidak dapat dipisahkan dengan konsep good governance. 81. jujur. Kelima. 79.

Namun di dunia kontemporer. 1. Strong diartikan secara beragam. op.23 pertumbuhan ekonomi dan pemerataan. dari 83 UUD negara-negara yang diperbandingkannya terdapat 74 negara yang konstitusinya secara resmi menganut prinsip kedaulatan rakyat (90%).F. 69 68 . hlm. 17. Jakarta. 140. Peaslee pada tahun 1950. ekspresi persetujuan maupun ketidaksetujuan rakyat sudah harus memiliki sarana penyaluran yang nyata dalam pemilihan umum. ketika nasionalisme menjadi dasar bagi demokrasi politik maka pemerintahan politik yang demokratis menjadi instrumen kemajuan sosial.Strong. 70 Jimly Asshiddiqie. dan lain-lain. 80. Instrumen mekanisme pemerintahan Demokrasi sebagai bentuk penyelenggaraan negara telah dipraktekan hampir di setiap negara. program politik partai.68 C. artinya. Konstitusi-Konstitusi …. Melalui penelitian yang dilakukan oleh Amos J. Dari penelusuran sementara yang berkaitan dengan demokrasi. 2005. hlm.70 Istilah demokrasi71 telah Ibid. Demikian juga sebaliknya bahwa pelaksanaan prinsip negara hukum yang baik harus selalu memperhatikan dan melaksanakan prinsip good governance.F. hlm. Konstitusi Dan Konstitusionalisme Indonesia. Demokrasi Istilah demokrasi menurut C. Dengan gambaran tersebut Fuady hendak menegaskan bahwa pelaksanaan tata kelola pemerintahan yang baik harus mengindahkan prinsip-prinsip negara hukum. Konstitusi Press. C. mekanisme pengambilan keputusan serta demokrasi ekonomi. 71 Demokrasi berasal dari kata “demokratia”. Di sinilah letak keterkaitannya dengan demokrasi politik yang mengisyaratkan pemerintah harus bergantung pada persetujuan pihak yang diperintah. media massa.cit. “demos” berarti rakyat dan “kratia” berarti pemerintahan.69 Terkadang digunakan untuk menyebut suatu bentuk pemerintahan dan terkadang dikonotasikan dengan kondisi suatu masyarakat. sedikitnya dapat dikemukakan bahwa demokrasi diterapkan dalam dimensidimensi instrumen mekanisme pemerintahan..

hlm 70. 73 Participatory democracy strives to create opportunities for all members of a political group to make meaningful contributions to decision-making. Paham kedaulatan rakyat sebagai embrio demokrasi. 75 Eddy Purnama. Dalam hubungannya dengan cita-cita. 72 . “Participatory democracy” menambahkan kata “bersama” sehingga dari rakyat.75 Berdasarkan kenyataan demikian. Op Cit. Kedaulatan Rakyat. Oleh rakyat maksudnya bahwa penyelenggara negara atau pemerintahan dilakukan sendiri oleh rakyat atau atas nama rakyat yang mewakili sedangkan untuk rakyat maksudnya pemerintahan dijalankan atau berjalan sesuai dengan kehendak rakyat.”72 Dalam perkembangan istilah demokrasi kemudian ada yang disebut “participatory democracy”. “Pemerintahan dari rakyat yaitu mereka yang duduk sebagai penyelenggara negara atau pemerintahan harus terdiri dari seluruh rakyat itu sendiri atau yang disetujui dan didukung oleh rakyat. oleh rakyat dan untuk rakyat. 10. 1999. Nusamedia. hlm. mengantarkan pengertian demokrasi yaitu.untuk mencapai persamaan (equality) secara politik yang mencakup tiga tujuan utama : kebebasan manusia (secara individu dan kolektif). Universitas Padjadjaran Bandung. Faktor luas wilayah dari suatu negara dan besaran jumlah penduduk serta pertambahan kerumitan masalah kenegaraan merupakan argumen bahwa demokrasi langsung (direct democracy) tidak mungkin untuk dilaksanakan. 2007.74 Demokrasi sebagai instrumen mekanisme pemerintahan.73 Dari pengertian tersebut dapat menunjukan demokrasi sebagai instrumen mekanisme pemerintahan. oleh rakyat dan bersama rakyat. 66. dalam perkembangannya sulit dilaksanakan jika secara langsung.24 menjadi bahasa umum yang digunakan oleh negara-negara untuk menunjukan suatu bentuk penyelenggaraan negara yang dianggap ideal. demokrasi hanyalah sarana. Bandung. untuk rakyat. dalam penjelasan Eddy Purnama.Hak Angket Dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia Menurut UUD 1945. hlm.wikipedia. perkembangan diri manusia dan perlindungan terhadap nilai (harkat dan martabat) kemanusiaan.org/wiki/Participatory_democracy diunduh tanggal 27 Agustus 2009 74 I Gde Pantja Astawa. and seeks to broaden the range of people who have access to such opportunities…http://en. -bukan tujuan. pemerintahan dari rakyat. Disertasi. I Gde Pantja Astawa.

Op Cit. Legal Theory. Mekanisme pengambilan keputusan Ide kedaulatan rakyat yang tercermin dalam demokrasi juga meliputi proses pengambilan keputusan baik di bidang legislatif maupun di bidang eksekutif. Dasar-Dasar Ilmu Politik. 1993. means representative government through elected deputies” Wolfgang Friedmann. London. perwakilan. op. 75. hlm. sistem politik demokratis (demokrasi perwakilan) adalah suatu bentuk pemerintahan di mana hak untuk membuat keputusan-keputusan politik diselenggarakan oleh warga negara melalui wakil-wakil yang dipilih oleh mereka dan yang bertanggungjawab kepada mereka melalui suatu proses pemilihan yang bebas. hlm.80 2. This. 1993. hlm. in modern states. Majo : ”A democratic political system is one in which public policies are made on majority basis. 1967. 284. hingga ke pengawasan.25 muncullah yang dikenal sebagai demokrasi tidak langsung (indirect democracy). 81 I Gde Pantja Astawa. yang pelaksanaan kedaulatan rakyatnya tidak dilaksanakan oleh rakyat secara langsung melainkan melalui lembaga perwakilan rakyat. 80 In Modern democracy.. by representatives subject to effective popular control at Ibid. 79 Miriam Budiarjo. Cetakan kelima belas. 78 Eddy Purnama. Gramedia Pustaka Utama. both ideals individual rights and equality pen find their highest fulfillment and justification in the citizen’s right to participation in government.. Hal ini diperjelas dalam pengertianpengertian demokrasi yang dikemukakan oleh beberapa ahli berikut :81 Henry B. hlm. PT. hlm 61. 77 76 . 77 Dalam rangka mewujudkan prinsip kedaulatan rakyat.. Dasar-Dasar Ilmu Politik.79 Demokrasi perwakilan menjadi alternatif terbaik demi tercapainya Representative Government. Rakyat berdaulat terhadap produk hukum mulai dari perencanaan.76 Hal semacam ini lazim dinamakan demokrasi perwakilan (representative democracy). Steven Sons. hlm 61. Jakarta. Kedaulatan . Miriam Budiarjo. Jakarta..78 akomodasi seluruh aspirasi rakyat jauh lebih berguna dari unsur di dalam masyarakat harus terwakili di dalam sistem Menurut International Commision of Jurist. 11. Cetakan kelima belas.cit. the Government of the People. Gramedia Pustaka Utama. penetapan. PT. 419.

Oleh karena itu.” Arthur Lewis “all who are affected by a decision should have the chanc to participate in making that decision. either directly or through chosen representative.84 Musyawarah dilakukan untuk menampung dan memperhatikan semua ide atau pandangan yang ada dan permufakatan menjadi output dari apa yang telah dimusyawarahkan. hlm. Demokrasi ekonomi 82 CF Strong. merupakan perpaduan antara dua konsepsi yaitu paham permusyawaratan yang bersumber dari ajaran Islam.” CF Strong : “a system of government in which the majority of the rule grown members of political community participate through a method of representation which secures that the government is ultimately responsible for its actions to that majority.13 83 Jimly Asshiddiqie.. melainkan proses kehidupan kenegaraan sebagai keseluruhan. Proses pengambilan keputusan yang demokratis model Indonesia ini disebutkan dengan jelas dalam sila ke – 4 Pancasila. Konstitusi . . Op Cit. instrumen pengambilan keputusan yang khas diberlakukan adalah melalui musyawarah mufakat.26 periodic election which are conducted on the pinciple of politcal equality and under condition of political freedom.. Modern Political Constitution. sedangkan mufakat bersumber dari tatanan asli Indonesia.. op. 84 I Gde Pantja Astawa. 3. Di Indonesia sendiri. Sidgwick & Jackson Limited. London. hlm.cit. hlm. 148.”82 Dalam paham kedaulatan rakyat yang berdaulat dari segi politik bukanlah person rakyat itu sendiri. demokrasi dapat juga dikatakan sebagai instrumen pengambilan keputusan.86. Yamin berpandangan bahwa permusyawaratan untuk mencapai mufakat. 1960.83 Proses kehidupan kenegaraan ini termasuk di dalamnya adalah proses pengambilan keputusan.

87 I Gde Pantja Astawa.27 Demokrasi sebagai instrumen mekanisme pemerintahan dan instrumen pengambilan keputusan merupakan penjabaran dari demokrasi yang bersifat politik.disemua negeri modern itu kapitalisme subur dan meradjalela! Disemua negeri itu kaum proletar ditindas hidupnja. dalam Miriam Budiardjo (ed). 88 Mohammad Hatta.87 Demokrasi asli yang ada di desa-desa di Indonesia mempunyai tiga sifat yang utama.html diunduh tanggal 27 Agustus 2009. bahkan sengsara sesengsara-sengsara nja. 80. Op Cit. Tetapi..cit.85 Demokrasi politik harus menjamin setiap individu agar memperoleh akses sama dalam setiap kegiatan ekonomi.com/message/mediacare@yahoogroups..Disemua negeri modern itu kini hidup miljunan kaum penganggur. Lebih jelas lagi Hatta berpendapat bahwa kekurangan demokrasi liberal di Barat adalah karena terlalu dominannya prinsip individualisme. http://www. 147. Inikah hasilnja “demokrasi” jang dikeramatkan orang?.” Tabloid Fikiran Ra’jat. op. upah dan nasib kaum buruh adalah upah dan nasib kokoro. Konstitusi . Jimly Asshiddiqie. sehingga politik hanya berlaku secara politik saja.. Masalah Kenegaraan.. 86 85 . 18 dan 19 (edisi 4 November). tahun 1932.. Di sini tampak dasar demokrasi. yang harus dipakai sebagai sendi Perumahan Indonesia Merdeka”.opensubscriber.-disemua negeri modern itu rakjat tidak selamat. hlm. Demikian yang pengertian demokrasi dari Bung Karno yang tidak sepakat dengan demorkrasi ala barat yang liberal dan didasarkan pada kapitalisme. hlm 42.88 Selengkapnya Hatta mengatakan bahwa tiga sifat utama tersebut adalah: Pertama: cita-cita rapat yang hidup dalam sanubari rakyat Indonesia dari zaman dahulu sampai sekarang. No. hlm. sehingga negara memegang peranan penting dalam menyejahterakan rakyatnya. Ke Arah Indonesia Merdeka. Jakarta. Demokrasi yang demikian ini menurut Bung Karno adalah Demokrasi sosial yang terdiri dari Demokrasi politik ditambah dengan Demokrasi ekonomi. Kekuasaan bidang politik dan ekonomi dapat dibedakan satu sama lain namun sesungguhnya mempunyai hubungan fungsional yang erat satu sama lain. 1980.com/9511217. Rapat ialah tempat rakyat atau utusan rakyat bermusyawarah dan mufakat tentang segala urusan yang bersangkutan dengan persekutuan hidup dan keperluan bersama. pemerintahan rakyat. Gramedia.. “Disemua negeri modern itu adalah “demokrasi”.86 Kedaulatan rakyat tidak hanya di bidang politik namun juga di bidang ekonomi.

2009. hlm. Demokrasi Kita. adalah dasar dari demokrasi politik. Ni’matul Huda mengatakannya sebagai mendemokratisasi sistem politik dan menyelaraskan pencapaian pembangunan berkelanjutan yang merupakan isu yang selalu ada dalam praktik administrasi publik. 66.91 Sifat pertama. Hukum Pemerintahan Daerah. Hak ini besar artinya terhadap kepada pemerintahan despotisme atau autokrasi yang tersusun di atas pundak desa-demokrasi. 90 89 . Bandung. melainkan desentralisasi yaitu tiap-tiap bagian berhak menentukan nasibnya sendiri.92 Dihubungkan dengan desentralisasi. hlm 42-43. 70. yaitu mengambil keputusan secara mufakat dengan musyawarah. 84. Muhammad Hatta mengingatkan bahwa masyarakat asli Indonesia mempunyai sifat dasar dalam segala hal mengenai kepentingan hidup bersama. cetakan kedua. Di atas sendi yang pertama dan kedua dapat didirikan tiang-tiang politik daripada demokrasi yang sebenarnya: satu pemerintahan negeri yang dilakukan oleh rakyat dengan perantaraan wakil-wakilnya atau Badan-badan Perwakilan. namun menurut Hatta asas kolektivisme yang dimaksudkannya bukanlah kolektivisme yang berdasar sentralisasi (satu pimpinan dari atas).90 Dalam pemikiran mengenai bagaimana demokrasi bagi Indonesia. Sifat kedua yaitu tolong menolong dan gotong royong adalah sendi yang bagus untuk menegakkan demokrasi ekonomi. Dan demokrasi tidak dapat berlaku. yaitu hak rakyat untuk membantah dengan cara umum segala peraturan negeri yang dipandang tidak adil. sepeti sifat hak ulayat atas tanah bukan negeri seumumnya yang berhak melainkan desa. Segaarsy. Di atas sendi yang ketiga dapat didirikan tonggak demokrasi ekonomi. kalau tidak ada hak rakyat untuk mengadakan protes bersama. 93 Ni’matul Huda. kolektiviteit. I Gde Pantja Astawa. Dalam hak ini tercantum hak rakyat untuk merdeka bergerak dan merdeka berkumpul. hlm. Pikiran-Pikiran tentang Demokrasi dan Kedaulatan Rakyat. 69. Sanubari rakyat Indonesia penuh dengan rasa-bersama. hlm. hlm. 92 Ibid. Op Cit.89 Walaupun menolak individualisme pada Demokrasi Barat. Ketiga: cita-cita tolong menolong.93Demokrasi yang lazim pula disebut dengan Ibid. Nusamedia. 2009.28 Kedua: cita-cita massa-protest. 91 Mohammad Hatta. Bandung.

hlm. atau pejabat’. 99 Ibid. Visimedia. hlm 11.97 Lebih lanjut Bagir Manan berpendapat bahwa desentralisasi bukan merupakan asas penyelenggaraan pemerintahan daerah. desentralisasi dan sistem rumah tangga daerah. Yogyakarta. 1. konsep demokrasi juga mencari bentuk yang sesuai dengan situasi dan kondisi dari masyarakat modern. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah.95 Dengan demikian menjadi sejalan dengan apa yang dicatat oleh Rousseau bahwa jika kita menempatkan istilah ini dalam pemahaman yang kaku. hlm. Binacipta. 10 Ibid. sehingga dalam pelaksanaan tugasnya pemerintah harus berpegang pada kehendak rakyat. melainkan suatu proses. 1979. 2007. desentralisasi hanya mencakup pemencaran kekuasaan di bidang otonomi. yaitu ambtelijke decentralisati/deconsentratie (dekonsentrasi) dan staatkundige decentralisatie (desentralisasi ketatanegaraan). Kajian Teori Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Dalam upaya memahami hubungan kewenangan antara pusat dan daerah akan digunakan dua teori yakni.. 100 RDH Koesoemahatmadja. Du Contract Social (Perjanjian Sosial). Bandung..98 Dalam kaitan dengan pemerintahan otonom. 2001.99 Koesoemahatmadja menguraikan bahwa desentralisasi terbagi dua. hlm.29 kedaulatan rakyat memandang bahwa kekuasaan itu berasal dari rakyat. op. 113. hlm 10.100 Sementara desentralisasi ketatanegaraan yang merupakan penyerahan kekuasaaan Eddy Purnama. Pusat Studi Hukum Fakultas Hukum UII.96 D.cit. tidak pernah ada demokrasi yang nyata dan tidak akan pernah ada demokrasi. Kedaulatan .. jabatan. 97 Bagir Manan. Jakarta. 96 Jean Jacques Rousseau. 98 Ibid.94 Sejalan dengan perputaran waktu. Desentralisasi Bagir Manan menjelaskan bahwa secara umum desentralisasi merupakan ‘bentuk atau tindakan memencarkan kekuasaan atau wewenang dari suatu organisasi. Pengantar Ke Arah Sistim Pemerintahan Daerah Di Indonesia... hlm 10.15 95 94 .

Otonomi merupakan salah satu bentuk desentralisasi. Selanjutnya dikatakan bahwa terdapat dua 101 102 Bagir Manan.30 perundang-undangan dan pemerintahan (regelende en besturende bevoegheid) kepada daerah otonom. Van der Pot mengemukakan. Pusat Studi Hukum Fakultas Hukum UII.. baik otonomi maupun tugas pembantuan. Bagir Manan. sedangkan desentralisasi fungsional menjelma dalam bentuk badan-badan yang didasarkan pada tujuan-tujuan tertentu. hlm 10. tidak semua peraturan dan penyelenggaraaan pemerintahan dilakukan dari pusat (central). Hubungan . sebagaimana dikutip oleh Bagir Manan. juga terbagi dua yakni. membagi desentralisasi menjadi desentralisasi teritorial yang menjelma dalam bentuk badan yang didasarkan pada wilayah. 2001. tetapi otonomi tidak sama dengan desentralisasi. desentralisasi teritorial (territoriale decentralisatie) dan desentralisasi fungsional (functionele decentralisatie). Hubungan . Irawan Soejito. op. Badan-badan otonom ini dibedakan antara desentralisasi desentralisasi berdasarkan fungsional teritorial (territoriale decentralisatie) dan (functionaeele decentralisatie). Menyongsong Fajar Otonomi Daerah. op. Dengan perkataan lain. 103 Bagir Manan. Desentralisasi teritorial mencakup autonomie (otonomi) dan medebewind atau zelfbestuur (tugas pembantuan).. keduanya masuk dalam lingkup desentralisasi.. sebagaimana dikutip oleh Bagir Manan.101 Mengenai desentralisasi. Bentuk desentralisasi itu dibedakan antara otonomi dan tugas pembantuan. Demikian pula. Van Der Pot.cit.. . yang terdiri atas desentralisasi teritorial. desentralisasi 103 fungsional dan desentralisasi administratif (dekonsentrasi).102 Pelaksanaan pemerintahan dilakukan baik oleh pusat maupun berbagai badan otonom. Pemikiran di atas memberi pengertian bahwa tugas pembantuan merupakan salah satu bentuk dari desentralisasi. bahwa desentralisasi adalah otonomi.. Yogyakarta.cit. hlm 21.. menjelaskan penggolongan desentralisasi yang agak berbeda. Menempatkan kedudukan yang sejajar antar desentralisasi dan tugas pembantuan sebagai asas-asas yang terpisah merupakan suatu yang keliru.

op. Menurutnya desentralisasi terbagi ke dalam tiga golongan. 106 Ibid. Bandung.31 pandangan mengenai hubungan antara desentralisasi dan dekonsentrasi.. Pandangan pertama mengatakan bahwa dekonsentrasi sebagai salah satu bentuk desentralisasi sedangkan pandangan kedua beranggapan bahwa dekonsentrasi desentralisasi. op. Aspek. Aspek-aspek Hukum Otonomi Daerah...cit.. Amrah Muslimin.cit.. yang menimbulkan hak mengurus kepentingan rumah tangga sendiri bagi badan-badan politik di daerah-daerah.108 Terhadap pendapat Amrah Muslimin mengenai desentralisasi kebudayaan di atas.107 Mengenai desentralisasi kebudayaan. 107 Bagir Manan.. yaitu desentralisasi politik. Amrah Muslimin mengartikan: “memberikan hak pada golongan-golongan kecil dalam masyarakat (minoritas) menyelenggarakan kebudayaannya sendiri (mengatur pendidikan.106 Menurut Bagir Manan pengertian desentralisasi politik tersebut sama dengan desentralisasi teritorial karena faktor ‘daerah’ menjadi salah satu unsurnya. 108 Amrah Muslimin.. desentralisasi fungsional dan desentralisasi kebudayaan.. Dalam kebanyakan Negara kewenangan ini diberikan pada kedutaan-kedutaan asing demi pendidikan warga negara masing-masing negara dari keduataan yang bersangkutan”. hlm 5. Bagir Manan berpendapat bahwa desentralisasi pada prinsipnya merupakan bentuk dari susunan organisasi negara dan pemberian atau pengakuan hak minoritas untuk mengatur dan mengurus soal agama dan pendidikan di kalangan mereka sendiri lebih tampak sebagai perwujudan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia daripada 104 105 Ibid. . yang dipilih oleh rakyat dalam daerah-daerah tertentu”. Hubungan . Alumni. hlm 21-22. hlm 22. merupakan 104 pelunakan sentralisasi menuju ke arah Ahli lain yang melakukan penggolongan desentralisasi adalah Amrah Muslimin. hlm 5-6. agama.. 1986.105 Desentralisasi politik adalah “pelimpahan kewenangan dari Pemerintah Pusat. dan lain-lain).

32 sebagai bagian susunan organisasi negara. Jakarta. Gerge Allen Unwin. Hubungan Antara….cit. 111 B. Keuangan Pemerintah Daerah Otonom di Indonesia. Investasi. hlm.C. Decentralization The Territorial Dimension of The State. Keuangan Daerah. 2005. 113 Pheni Chalid. Dalam perspektif ilmu ekonomi. Smith bahwa it is obvious that the exercise of governmental powers at the subnational level entails expenditure by subnational governments. Jakarta. 1985.109 Lebih lanjut dikatakan bahwa pemberian hak kepada kedutaan juga tidak dapat dikategorikan sebagai desentralisasi karena kedutaan bukan bagian dari susunan organisasi di mana kedutaan itu berada. 99. Konsekuensi desentralisasi pada pembiayaan urusan pemerintahan daerah pada hakikatnya adalah desentralisasi di bidang keuangan atau desentralisasi fiskal.110 Desentralisasi teritorial. hlm 26. baik secara administrasi dan pemanfaatannya diatur atau dilakukan oleh pemerintah pusat114. desentralisasi fiskal diartikan dalam ukuran – 109 110 Bagir Manan.C. Smith..113 Artinya.. London. . Ibid. op. UI-Press.. Seperti dikatakan oleh B.2002. 112 Bagir Manan. berkonsekuensi terhadap pembiayaan penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah oleh pemerintahan daerah. dan Desentralisasi. ada yang mengartikan desentralisasi fiskal lebih luas dari sekedar pelimpahan kewenangan di bidang penerimaan.112 Begitu pula dengan Pheni Chalid yang berpendapat bahwa desentralisasi kewenangan pengelolaan pemerintahan berarti beban pembiayaan harus ditanggung sepenuhnya oleh pemerintahan daerah.. pemerintahan daerah harus memiliki sumber keuangan sendiri untuk dapat menyelenggarakan rumah tangganya secara mandiri.cit. hlm vii 114 Bachrul Elmi. hlm.. Bahcrul Elmi mengatakan bahwa desentralisasi fiskal dapat diartikan sebagai pelimpahan kewenangan di bidang penerimaan yang sebelumnya tersentralisasi. Namun demikian. Hubungan . 204. khususnya otonomi..op.111 Hal yang sama juga dikatakan oleh Bagir Manan bahwa hak mengatur dan mengurus rumah tangga sendiri menyiratkan pula makna membelanjai diri sendiri. Kemitraan.

Atlanta. efisiensi dari aspek produsen didefinisikan sebagai keuntungan ekstra yang didapatkan ketika sejumlah pengeluaran yang sama dapat menghasilkan barang dan jasa dengan kuantitas yang besar atau kualitas yang lebih baik.117 Persoalannya. Pengertian desentralisasi fiskal yang tidak hanya pada aspek penerimaan. misalnya Oates (1993) mengatakan bahwa peningkatan efisiensi ekonomi merupakan dasar ekonomis dari desentralisasi. 116 Ibid. atau ketika sejumlah barang dan jasa dapat dihasikan dengan biaya yang lebih rendah. Departement of Economic Andrew Young School of Policy Studies. 22 Tahun 1999 dan UU No. 2003. namun juga pada aspek pengeluaran. Disertasi.116 Efisiensi dari aspek konsumen didefinisikan sebagai keuntungan yang didapatkan oleh konsumen dari kebijakan pengeluaran/belanja (negara) yang sesuai dengan preferensi pembayar pajak. dari “structural efficiency model“ yang menekankan efisiensi dan 115 . Sementara itu. telah dirubah dalam suatu pola hubungan yang lebih bersifat desentralisasi. 14. dikatakan oleh Joko mengutip pendapat Benyamin Hoesein bahwa “Pola pengaturan hubungan antara Pusat dan Daerah yang semula bersifat sentralistik di masa Orde Baru yang diterjemahkan melalui Undang – Undang No 5 tahun 1974. 117 Ibid. 13. maka hal tersebut dapat dilakukan dengan skema hubungan pusat daerah yang sentralistik. Georgia State University.Undang No 22 tahun 1999 serta Undang – Undang No 25 tahun 1999. berhubungan dengan adanya kewenangan daerah atas sumber-sumber penerimaan daerah digunakan untuk membiayai pengeluaran/ belanja sesuai dengan kewenangan daerah.115 Teori keuangan negara melekatkan desentralisasi dalam rangka mencapai efisiensi pada dua pelaku: konsumen dan produsen. sepeti dikatakan oleh Bagir Manan bahwa Francisco Javier Arze del Granado. Persoalan desentralisasi fiskal terutama dari aspek ekonomi selalu dikaitkan dengan persoalan efisiensi. Besaran perubahan yang dikehendaki dalam reformasi tersebut dapat disimak dari pergeseran sejumlah model dan paradigma pemerintahan daerah. untuk kasus Indonesia dalam fase awal desentralisasi fiskal (2001-masa efektif pemberlakuan UU No.33 ukuran keuangan seperti expenditure (pengeluaran/belanja) atau revenue (penerimaan/pendapatan). hlm. A Study of The Relationship Between Fiscal Decentralization and The Composition of Public Expenditures. 118 Misalnya. dimanifestasikan melalui dasar hukum Undang . jika tujuan desentralisasi fiskal adalah hanya efisiensi.118 Padahal.hlm. 25 Tahun 1999)..

http://www. Diunduh pada tanggal 20 Agustus 2009. Hubungan Antara…. hlm. 122 Ibid. melainkan juga pada tiap tempat.fiskal. karena otonomilah ujung tombak usaha mewujudkan kesejahteraan tersebut. 1.. bukan saja persekutuan yang besar.pdf. pendapat di atas sejalan dengan pendapat Roy Bahl yang mengatakan. UK-USA. 119 Bagir Manan. Renata R Simatupang. tanpa tahun.cit. mempunyai hak untuk menentukan nasib sendiri melainkan juga tiap-tiap bagian dari negeri atau bagian dari rakyat yang banyak. karena keperluan tiap-tiao tempat dalam satu negeri tidak sama. Jakarta. hlm.jadi. op.cit. 121 Roy Bahl dalam Jameson Boex. Hatta.119 Otonomi juga berkaitan dengan gagasan demokrasi di mana masyarakat daerah berhak untuk berpartisipasi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerahnya. di desa. 4. hanya memungkinkan jika terdapat kebebasan berotonomi. Blackwell Publishing Ltd.. Seperti dikatakan oleh Moh.id/webbkf/kajian%5CPAD. hak rakyat untuk menentukan nasibnya tidak hanya ada pada pucuk pemerintahan negeri. . 442.. hlm. penerimaan otonomi di bidang keuangan (sebagian sumber penerimaan) keseragaman pemerintahan lokal dirubah menjadi “local democracy model“ dengan penekanan pada nilai-nilai demokrasi dan keberagaman di dalam penyelenggaraan pemerintahan lokal”. melainkan berlainan”. 2008. (cetak tebal oleh Tim Peneliti).. No.salah satu makna dari desentralisasi fiskal dalam bentuk otonomi. 33. hlm.122 Hal ini sejalan dengan pendapat Bahcrul Elmi. 120 Bagir Manan.. di daerah. efisiensi dalam rangka peningkatan kesejahteraan rakyat dalam sistem desentralisasi.depkeu. di kota.. bahwa: ”Menurut dasar kedaulatan rakyat.34 hakikat dari otonomi yang merupakan wujud desentralisasi adalah kemandirian walaupun bukan suatu bentuk kebebasan sebuah satuan yang merdeka. bahwa ”as a working definition. Menyongsong Fajar…. makalah. op. fiscal decentralization as ”the empowerment of people by fiscal empowerment of their local govenment” (pemberdayaan masyarakat melalui pemberdayaan fiskal dari pemerintah daerahnya). bahwa : ”. 26.120 Dalam konteks desentralisasi fiskal. Joko Tri Haryanto. 29. rakyat semuanya. “Fiscal Decentralisation and Empowerment: Evolving Concepts and Alternative Measures” Journal Compilation Institute of Fiscal Studies Vol. Keadaan yang seperti itu penting sekali.go. “ Potret PAD Dan Relevansinya Terhadap Kemandirian Daerah”.121 Artinya.

35

kepada daerah-daerah merupakan suatu proses mengintensifkan peranan dan sekaligus pemberdayaan daerah dalam pembangunan.123

Desentralisasi fiskal dapat menjadi salah satu ukuran keberhasilan otonomi. Pola dan ukuran dalam desentralisasi fiskal akan mencerminkan derajat otonomi yang dimiliki daerah. Hal ini sejalan dengan pendapat Bird (1986), bahwa: ”...a decentralization measure is the autonomy or power of decision making of regional government. In this context, a fiscal decentralization measure should be able to quantify the amount of independent decesion - making power (or discretion) in the provision of public services at different level of government”.124 Dari berbagai pendapat para ahli di atas mengenai desentralisasi, dapat disimpulkan beberapa hal. Pertama, pengertian desentralisasi yang agak sempit sebagaimana dikemukakan oleh Van Der Pot yang hanya mengklasifikasikan desentralisasi menjadi dua jenis yakni desentralisasi teritorial dan desentralisasi fungsional. Koesoemahatmadja juga termasuk dalam kategori yang membagi desentralisasi agak sempit karena

menurutnya desentralisasi terbagi atas dekonsentrasi dan desentralisasi ketatanegaraan. Kedua, pengertian desentralisasi yang lebih luas dari kategorisasi yang disampaikan oleh Van Der Pot dan Koesoemahatmadja. Dalam kategori kedua ini dijumpai pembagian desentralisasi yang

disampaikan oleh Amrah Muslimin dan Irawan Soejito. Selain desentralisasi teritorial dan fungsional, juga terdapat desentralisasi administratif atau dekonsentrasi. Amrah Muslimin selain membagi kedalam desentralisasi teritorial dan fungsional juga memasukkan desentralisasi kebudayaan. Berbeda dengan kedua ahli lainnya, Amrah Muslimin tidak memasukkan

123

Ibid.

Francisco Javier Arze del Granado, A Study of The Relationship Between Fiscal Decentralization and The Composition of Public Expenditures, Disertasi, Departement of Economic Andrew Young School of Policy Studies, Georgia State University, Atlanta, 2003, hlm.`12.

124

36

dekonsentrasi sebagai salah satu bentuk desentralisasi. Ketiga, pengertian desentralisasi yang lebih sempit dari yang dijelaskan oleh para ahli di atas yakni pengertian desentralisasi menurut UU No. 32 Tahun 2004. Pasal 1 angka 7 menyatakan bahwa desentralisasi adalah “penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Dengan demikian, terlepas dari perdebatan mengenai apakah suatu jenis desentralisasi termasuk pengertian desentralisasi atau bukan, berbagai penggolongan desentralisasi yang disebut-sebut oleh sejumlah ahli tersebut dapat muncul 1) desentralisasi teritorial, 2) desentralisasi fungsional, 3) desentralisasi kebudayaan, dan 4) desentralisasi fiskal. Pertama,

desentralisasi teritorial menjelma dalam bentuk badan yang didasarkan pada wilayah. Kedua, desentralisasi Fungsional125 adalah pemberian hak dan kewenangan pada golongan-golongan mengurus suatu macam atau golongan kepentingan dalam masyarakat, baik terikat maupun tidak pada suatu daerah tertentu,seperti mengurus kepentinganirigasi bagi golongan tani dalam suatu atau beberapa daerah tertentu (waterschap; Subak Bali). Ketiga, desentralisasi hak pada kebudayaan (culturele decentralisatie), dalam sendiri fiskal yaitu

memberikan (minoritas) pendidikan,

golongan-golongan

kecil

masyarakat (mengatur berwujud

menyelenggarakan agama, dll).

kebudayaannya

Keempat,

desentralisasi

perimbangan keuangan antara pusat dan daerah.

2. Sistem Rumah Tangga Daerah Sistem rumah tangga merupakan tatanan yang berkaitan dengan cara-cara membagi wewenang, tugas dan tanggung jawab mengatur dan mengurus urusan pemerintahan antara pusat dan daerah.126 Atas dasar tersebut, daerah akan mempunyai urusan pemerintahan yang didasarkan

125 126

Amrah Muslimin, Pokok-Pokok…, hlm. 119-120 Bagir Manan, Hubungan ..., op.cit., hlm 26.

37

atas penyerahan, pengakuan ataupun yang dibiarkan sebagai urusan rumah tangga daerah. Secara teori, terdapat tiga sistem rumah tangga daerah, yaitu sistem-sistem rumah tangga formal, material, dan nyata (riil).127 a. Sistem rumah tangga formal Berdasarkan sistem ini, urusan pemerintahan pusat dan daerah tidak dibagi secara rinci karena sistem ini berpangkal tolak dari asumsi bahwa secara prinsip tidak terdapat perbedaan antara urusan pusat dan daerah. Apabila terdapat pembagian wewenang, tugas dan tanggung jawab hanyalah didasarkan atas pertimbangan daya guna dan hasil guna.128 Secara teoritik, sistem ini memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada daerah untuk mengatur dan mengurus urusan rumah tangganya dan satu-satunya pembatasannya adalah daerah tidak dapat mengatur dan mengurus suatu urusan yang telah diatur dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, misalnya dengan undang-undang atau peraturan daerah yang lebih tinggi. Sepintas nampak bahwa otonomi formal akan memungkinkan pemerintah daerah bertindak lebih leluasa mengatur, mengurus, dan membela kepentingan daerahnya. Tetapi pelaksanaan otonomi formal menimbulkan kesulitan-kesulitan, antara lain : (1) Tidak adanya ketegasan mengenai urusan pemerintahan yang menjadi urusan rumah tangga daerah, menimbulkan keraguan atau

ketidakpastian untuk mengurus sesuatu urusan pemerintahan. Ada kekhawatiran bahwa urusan tersebut termasuk atau telah diatur dan diurus oleh satuan pemerintahan yang lebih tinggi. Begitu banyaknya peraturan perundang-undangan dari satuan pemerintahan yang lebih tinggi, dengan kemungkinan telah mengatur sesuatu hal yang bertahuntahun yang lang lalu, sehingga tidak diketahui atau dikenal secara pasti. (2) Suatu urusan pemerintahan yang telah diatur, diurus, dan dijalankan sebagai urusan rumah tangga daerah tertentu, kemungkinan kemudian

127 128

Ibid., hlm 26-33. Bagir Manan, ..., op.cit, hlm 26.

38

diatur dan diurus oleh satuan pemerintahan yang lebih tinggi. Keadaan seperti ini dapat menimbulkan kesulitan bagi daerah yang bersangkutan. Dengan perubahan itu daerah yang bersangkutran akan kehilangan berbagai keuntungan yang diperoleh dari urusan tersebut. Juga rakyat dapat merasakan dirugikan apabila dengan perubahan itu pelayanan terhadap rakyat menjadi kurang lancar atau terganggu. (3) Sesuatu urusan pemerintahan oleh daerah tertentu diatur dan diurus sebagai urusan rumah tangga, tetapi daerah lain tidak berani karena beranggapan bahwa hal itu termasuk urusan satuan pemerintahan yang lebih tinggi. Hal ini dapat menimbulkan kesulitan dalam melayani anggota masyarakat yang mempunyai kegiatan atau kepentingan lintas daerah. (4) Setiap urusan rumah tangga itu terutama yang membebankan kewajiban harus disertai dengan daya dukung tertentu terutama (sumber) keuangan. Sumber keuangan itu berada pada pemerintah pusat. Kalau suatu urusan oleh daerah diurus dan diatur, tidak selalu ada jaminan akan ada sumber keuangan untuk menjalankan urusan tersebut dengan sebaik-baiknya. Secara praktik, terdapat beberapa hambatan untuk mencapai daya guna dan hasil guna, antara lain hambatan kreativitas daerah, keuangan daerah serta teknis.129 Kreativitas daerah sangat menentukan karena daerahlah yang dapat menetapkan ukuran kewajaran untuk mengatur dan mengurus suatu urusan tertentu. Kecilnya kreativitas daerah akan

menyebabkan daerah hanya menunggu ‘arahan atau petunjuk’ dari satuan pemerintahan atasnya untuk mengatur dan mengurus urusan-urusan pemerintahan. Hambatan lain ditemukan dalam kaitan dengan keuangan daerah. Meskipun daerah memiliki peluang menyelenggarakan urusan seluas-luasnya namun tanpa dukungan keuangan yang memadai akan menyebabkan urusan-urusan tersebut tidak dapat terselenggara dengan baik. Akhirnya, keberhasilan sistem rumah tangga formal ditentukan sampai

129

Ibid., hlm 27.

130 131 Ibid.131 Di Belanda. Penyerahan ini dapat terjadi dengan beberapa cara : (1) Urusan-urusan rumah tangga daerah telah diperinci dalam peraturan perundang-undangan tentang pokok-pokok pemerintahan daerah. Setiap daerah otonom terbentuk disertai dengan perincian urusan rumah tangganya.130 Atau dengan kata lain. Ibid.39 sejauhmana daerah dapat mengatasi hambatan teknis yang menunjuk pada tidak mudahnya mengetahui urusan yang belum diselenggarakan oleh pusat atau pemerintahan daerah tingkat lebih atas. . Provinsi dan Gemeente. b. daerah tidak berwenang mengurus dan mengaturnya. urusan rumah tangga daerah itu ditentukan dengan pasti.. Sistem rumah tangga material Berbeda dengan sistem rumah tangga formal. 132 Ibid. hlm 28. sistem ini dikenal juga sebagai ajaran tiga lingkungan atau de driekriengenleer karena sesuai dengan susunan satuan organisasi pemerintahan Belanda yang terdiri dari Pemerintah Pusat. Daerah otonom secara otomatis berhak mengatur dan mengurus urusan-urusan tersebut.132 Dalam sistem otonomi material atau rumah tangga material. melainkan dalam peraturan perundang-undangan tentang pembentukan masing-masing daerah otonom. Untuk memungkinkan pelaksanaan otonomi material harus ada prosedur penyerahan urusan kepada daerah. sistem material ini bertolak dari asumsi bahwa terdapat perbedaan secara mendasar antara urusan pusat dan daerah dan dengan demikian urusan pemerintahan dapat dipilah-pilah dan dapat ditetapkan secara pasti. pemilahan urusan pemerintahan didasarkan pada perbedaan kepentingan. (2) Urusan-urusan rumah tangga daerah tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan tentang pokok-pokok pmerintahan daerah. Di luar urusanurusan itu.

Kepastian urusan-urusan rumah tangga dalam rumah tangga material lebih memudahkan pemerintah daerah dalam menjalankan tugas dan kewajibannya. Setiap perubahan harus menempuh tatacara tertentu yaitu menyerahkan atau menarik urusan harus melalui peraturan perundang-undangan tertentu dan dilakukan dalam suatu peninjauan kembali secara nasional urusan rumah tangga daerah. Penanganan secara seragam urusan semacam itu tidak efisien dan tidak efektif bahkan mungkin menimbulkan ketidakadilan. Sistem otonomi material ini juga tidak lepas dari kesulitan-kesulitan antara lain : (1) Sangat tidak mudah menentukan dan merinci urusan-urusan yang akan dijadikan urusan rumah tangga daerah. Urusan itu begitu luas sehingga tidak mudah untuk menentukan urusan-urusan diperuntukkan rumah tangga daerah dan yang tidak. daerah berhak mengatur dan mengurus setiap urusan . Ciri umum yang lazim dipergunakan adalah urusan-urusan rumah tangga daerah adalah urusan-urusan yang bersifat lokal yang membutuhkan penanganan yang mungkin berbeda antara daerah yang satu dengan yang lain. Selama suatu urusan belum diserahkan secara nyata. Lebih-lebih dalam zaman modern ini. antara lain. maka urusan itu belum menjadi urusan rumah tangga yang bersangkutan. Berbeda dengan otonomi formal. tidak mudah menampung perubahan sifat suatu urusan dari lokal menjadi tidak lokal atau sebaliknya. Sukar sekali pada saat ini untuk menemukan urusan yang berada di luar kompetensi negara atau pemerintah. Negara menurut konsep negara kesejahteraan memasuki hampir pada semua sektor kehidupan. Biasanya penyerahan urusan itu sekaligus disertai dengan sumber keuangan dan alat-alat kelengkapan yang diperlukan. Akan tetapi untuk menentukan ukuran lokal dan tidak lokal suatu urusan tidaklah mudah. tetapi penyerahannya kepada suatu daerah otonom tertentu diatur tersendiri. (2) Sistem otonomi material bersifat rigid.40 (3) Urusan-urusan rumah tangga daerah ditentukan dalam peraturan perundang-undangan tentang pokok-pokok pemerintahan daerah.

sampah tidak lagi diartikan secara tradisional. Dengan demikian dalam praktek terdapat kesulitan untuk menentukan secara rinci urusan masing-masing satuan pemerintahan.41 kecuali hal yang sudah diatur dan diurus atau yang kemudian diatur dan diurusa oleh satuan pemerintahan yang lebih tinggi. melainkan meliputi sampah industri. misalnya pertahanan keamanan. Akibatnya sampah-sampah semacam ini berdampak pada lingkungan hidup yang berskala lebih luas dimana penangannya membutuhkan teknologi serta keahlian yang lebih. potensi. Bagir Manan berpendapat bahwa sistem ini tidak dapat dijadikan patokan obyektif untuk menciptakan hubungan yang serasi antara pusat dan daerah. kurang memperhatikan karakteristik. (2) Sistem ini tidak memberikan peluang untuk secara cepat menyesuaikan dengan perubahan-perubahan yang semula yang adalah terjadi.135 urusan Suatu daerah. Misalnya. moneter. yang mungkin saja 133 134 Ibid. 135 Ibid. dan lain-lain. hlm 30. urusan persampahan. Urusan-urusan rumah tangga dalam sistem otonomi material bersifat seragam. hlm 29. misalnya urusan pertanian. Mengenai sistem rumah tangga material ini.. urusan karena pemerintahan perkembangan. Ibid. luar negeri menampakkan sifat atau karakter sebagai urusan tertentu yang dilaksanakan oleh pusat.. dan kemampuan daerah yang mungkin berbeda-beda. sampah nuklir.134 Memang urusanurusan tertentu.133 Hal ini dasarkan pada beberapa argumen yang meliputi: (1) Sistem ini berpangkal tolak dari asumsi yang keliru yaitu anggapan dasar bahwa urusan pemerintahan dapat dipilah-pilah. dapat beralih menjadi urusan pusat. Karena perkembangan teknologi. . (3) Kemungkinan urusan-urusan rumah tangga dalam sistem otonomi material sedemikian sempit atau sedemikian luas yang menimbulkan kesulitan dalam pelaksanaannya. urusan-urusan lain banyak juga yang menampakkan sifat ganda. Bagian urusan perrtanian dapat saja dilakukan oleh satuan pemrintahan yang berbeda. Namun.

140 Sebagai sistem tengah antara sistem formal dan material. sepanjang urusan-urusan itu belum diatur dan diurus oleh pusat dan daerah tingkat lebih atas. Dalam hal demikian. Dengan demikian. .139 Fungsi sistem rumah tangga material pada sistem ini ditunjukkan pada adanya urusan pangkal sehingga sejak awal pendirian suatu daerah telah mempunyai kepastian urusan rumah tangga daerahnya. Sistem rumah tangga nyata (riil) Disebut ‘nyata’ karena isi rumah tangga daerah didasarkan pada keadaan dan faktor-faktor yang nyata.42 tidak dimiliki oleh daerah. sistem rumah tangga nyata memiliki beberapa ciri.137 c. daerh juga dapat mengatur dan mengurus urusan-urusan lain yang dianggap penting bagi daerah tersebut. 136 137 Ibid. 141 Ibid. 139 Ibid.138 Bagir Manan mengutip pendapat Tresna menyatakan bahwa sistem ini merupakan jalan tengah antara sistem formal dan material dengan pengutamaan pada sistem formal. 138 Ibid. (2) Selain memiliki urusan-urusan awal yang ditetapkan secara material. hlm 32. 140 Ibid..136 (4) Sistem ini akan lebih banyak menimbulkan spanning hubungan antara pusat dan daerah. hlm 31. urusan sampah tersebut dapat saja beralih menjadi urusan pusat. Ibid.. (3) Sistem ini terasa lebih mengekang karena terikat pada urusan yang secara rinci ditetapkan sebagai urusan rumah tangga. dapat terjadi perbedaan isi rumah tangga daerah sesuai dengan keadaan masing-masing. (3) Otonomi dalam sistem rumah tangga nyata didasarkan pada faktorfaktor nyata suatu daerah. hlm 30. yakni:141 (1) Adanya urusan pangkal yang ditetapkan pada saat pembentukan daerah otonom yang memberikan kepastian kepada daerah berkenaan dengan urusan rumah tangganya.

op. hlm. Titik Berat Otonomi Daerah Pada Daerah Tingkat II. tugas pembantuan dapat menjadi jembatan menuju otonomi.145 Dengan demikian kemudian muncullah dimensi hubungan kelembagaan antara Pusat dan Daerah. bukan hanya tatanan administrasi Negara (administratiefrechtelijk). Proses penyelenggaraan pemerintahan dengan desentralisasi teritorial memunculkan bentuk otonomi dan tugas pembantuan. Dari penjelasan tersebut nampaklah bahwa ajaran ini memberikan landasan bagi kemunculan dimensi hubungan kewenangan antara Pusat dan Daerah.cit.. Untuk melaksanakan tujuan tersebut maka kepada daerah diberikan kewenangan-kewenangan untuk melaksanakan berbagai urusan pemerintahan sebagai urusan rumah tangganya. 1990. 3. hlm. op. otonomi adalah tatanan ketatanegaraan (staatsrechtelijk). Penerbit Mandar Maju. 24 . Kelembagaan 142 143 Tim Penyusun.. tugas dan tanggung jawab mengatur dan mengurus urusan pemerintahan antara pusat dan daerah. hlm.. Bandung.142 Tujuan pemberian otonomi kepada daerah adalah untuk memungkinkan daerah yang bersangkutan mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna penyelenggaraan pemerintahan dalam rangka pelayanan terhadap masyarakat dan pelaksanaan pembangunan. Tujuan dari otonomi adalah untuk memunculkan kemandirian daerah dan bukan kedaulatan.. Sebagai tatanan ketaanegaraan. 14.43 Telah dikatakan sebelumnya bahwa sistem rumah tangga merupakan tatanan yang berkaitan dengan cara-cara membagi wewenang. Otonomi atau .cit. Ateng Syafrudin.143 Sementara itu..144 Otonomi bukan sekedar pemencaran penyelenggaraan pemerintahan untuk mencapai efisiensi dan efektivitas pemerintahan. 9 144 Ibid. 145 Bagir Manan. otonomi berkaitan dengan dasar-dasar bernegara dan susunan organisasi Negara.. Menyongsong .

Makna Kelembagaan Istilah “kelembagaan” merupakan padanan kata “Institution” dalam bahasa Inggris. 146 .com/syahyuti/Rumusan_konsep_kelembagaan. kata kelembagaan lebih memberi kesan sosial. “a process of combining the work which individual or group have to performs with the Syahyuti. 3. notion.. Dalam kajian sosiologi. sehingga saat ini orang lebih suka menggunakan istilah kelembagaan dalam kajian sosial daripada istilah organisasi.pdf 147 Ibid. namun secara umum istilah kelembagaan dipergunakan 146 dalam kedua istilah organisasi maupun kelembagaan itu sendiri. “… a system of actions” atau sebagai “sistem kerjasama sekelompok orang untuk mencapai tujuan bersama. or apparatus.” Dari segi prosesnya organisasi dapat dirumuskan oleh Herleigh Tecker sebagai. organisasi dapat dirumuska sebagai. lebih menghargai budaya lokal dan lebih humanistis. yang juga sering dipersamakan dengan istilah organisasi (organization). 1 www. sedangkan kata organisasi menunjuk kepada suatu social form yang bersifat formal. Ditinjau dari tujuannya.44 Sebelum membahas hubungan kelembagaan antara pemerintah pusat dan daerah terlebih dahulu akan dibahas mengenai apa yang dimaksud dengan kelembagaan. a. hlm. Tinjauan Sosiologis Terhadap Konsep Kelembagaan dan Upaya Membangun Rumusan yang Lebih Operasional. interest) and structure. Sumner memasukkan aspek struktur ke dalam pengertian kelembagaan:147 “An institution consist s of a concept (idea. hlm. The structure is a framework. The structure holds the concepts and furnishes instrumentalis for bringing it into the world of facts and action in a way to serve the interest of men in society”.geocities. doctrine. Sebagaimana dikutip Syahyuti. dan hubungan kelembagaan. or perhaps only a number of functionaries set to-operate in prescribed ways at a certain conjuncture. menurut Hadari Nawawi. Dengan diperoleh pengertian dan istilah yang tepat diharapkan dapat lebih mempertegas kajian mengenai hubungan kelembagaan antara pemerintah pusat dan daerah ini.

systematic. Jakarta. rentang kontrol dan kesatuan komando. koordinasi. and coordinated application of effort”. kewajiban. so that the duties so performed provide the best channels for the efficient. Pelimpahan wewenang berarti penyerahan sebagian hak yang seharusnya dilakuan oleh seorang pejabat atasan kepada pejabat bawahan. di Negara Republik Indonesia. pembagian pekerjaan. termasuk dalam organisasi pemerintahan daerah. menurut Kamus Administrasi Negara (The Liang Gie). hlm. Prospek Otonomi Daerah. 148 koordinasi ini secara prinsip merupakan usaha untuk Josef Riwu Kaho.45 faculties necessary for its execution. tugas. Dengan demikian kekacauan. 232 149 Ibid. pelimpahan wewenang. Raja Grafindo Persada. “… the act or process of bringing together or arranging the related groups of agency into a working whole”. adalah koordinasi.151 Asas lain yang harus diterapkan dalam setiap organisasi. hak dan tanggung jawab setiap orang dalam suatu organisasi. Atau dapat disebut juga sebagai.150 Asas pembagian pekerjaan merupakan asas yang harus diterapkan dalam organisasi. 150 Ibid. Pembagian kerja harus diikuti oleh adanya pendelegasian wewenang. sehingga tanggung jawab pelaksanaan bidang tugas dapat dilakukan sepenuhnya oleh seseorang. hlm. kekuasaan. tumpang tindih ataupun kecenderungan menghindari tanggung jawab dapat dielakkan. organisasi dapat dirumuskan sebagai susunan yang terdiri dari satuan-satuan organisasi beserta segenap pejabat. 148 Sementara itu ditinjau dari segi strukturnya. dan hubungan-hubungan satu sama lain dalam rangka pencapaian tujuan tertentu. PT. konflik kewenangan/kekuasaan. Pembagian kerja penting karena akan memperjelas batas-batas kewenangan.149 Dalam kajian ini penulis menggunakan istilah kelembagaan yang menunjuk kepada susunan kelembagaan yang ada dalam sistem pemerintahan daerah di Indonesia. 2001. masingmasing: perumusan tujuan yang jelas. Asas –asas organisasi paling tidak mencakup enam asas. positive. 289 151 Ibid .

Struktur organisasi pemerintahan daerah menyatakan bahwa struktur organisasi pemerintahan daerah mengandung dua segi. Hubungan Kelembagaan Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya bahwa kelembagaan dimaksud adalah susunan atau struktur organisasi pemerintahan. 290-291 Bagir Manan.191 .. hlm. Susunan organisasi pemerintahan daerah merupakan salah satu aspek yang dapat mempengaruhi hubungan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. tugas dan pejabat dalam organisasi. yaitu susunan luar (external structure) dan susunan dalam (internal structure). hlm. serta dapat mengembangkan prakarsa improvisasi. karena dengan dibentuknya satuan pemerintahan di tingkat daerah tentunya disertai juga dengan penyerahan kewenangan dari pusat kepada daerah dalam bentuk urusan-urusan pemerintahan untuk dijalankan oleh pemerintah daerah.. Di samping itu koordinasi diperlukan guna mencegah terjadinya konflik.cit. pertemuan formal. surat edaran berantai. Adanya koordinasi dimaksudkan untuk kesatuan tindakan dan guna meramalkan dan mencegah terjadinya krisis. Urusan-urusan pemerintahan yang akan diserahkan kepada pemerintah daerah sebagai konsekuensi pelaksanaan 152 153 Ibid.152 b. mencegah kesimpangsiuran dan duplikasi. op. sedangkan susunan dalan menunjuk kepada alat kelengkapan (organ) pemerintahan daerah seperti DPRD dan Kepala Daerah. Susunan luar menunjuk kepada badan-badan pemerintahan (publieklichaam) tingkat daerah seperti daerah tingkat I dan daerah tingkat II. dapat memaksa pejabat untuk bertindak dan berfikir sesuai dengan sasaran dan tujuan organisasi. Hubungan . menurut Bagir Manan153.46 menyelaraskan aktivitas antara satuan-satuan organisasi. Koordinasi ini dapat dilakukan misalnya melalui pertemuan-pertemuan informal antara para pejabat. buku pedoman dan sebagainya..

Titik Berat . sehingga diharapkan dapat lebih mengerti dan memenuhi aspirasi-aspirasi masyarakat setempat. 52 157 Ibid. hak dan wewenang serta tnggung jawab urusan-urusan pemerintahan yang diserahkan oleh pemerintah pusat kepada pemerintah daerah otonomi untuk menjadi isi rumah tangga daerah.... seperti kemampuan keuangan... hlm. 24 Bagir Manan. Hubungan …. Hal ini dapat dilihat dari peran dan fungsi masing-masing susunan atau tingkatan dalam penyelenggaraan otonomi.. Ada faktor-faktor lain. Artinya peran dan fungsi tersebut dapat ditentukan oleh pelaksanaan titik berat otonomi sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu : (a) faktor sistem rumah tangga daerah. hlm. 197 . kewajiban.158 Hubungan pusat dan daerah atas dasar otonomi teritorial merupakan konsep dalam Negara kesatuan.cit. dan manajemen. 194-195 156 Ateng Syafrudin. op. hlm.cit.156 Titik berat otonomi daerah ini perlu diletakan pada satuan pemerintahan yang lebih dekat kepada dan berhubungan langsung dengan masyarakat.. Satuan otonomi teritorial merupakan suatu satuan mandiri dalam lingkungan Negara kesatuan yang berhak melakukan tindakan hukum sebagai subjek hukum untuk mengatur dan mengurus fungsi pemerintahan (administrasi Negara) yang menjadi urusan rumah tangganya. dan (c) faktor sifat dan kualitas urusan. op.. Hubungan .155 Ateng Syafrudin menjelaskan yang dimaksud dengan “titik berat” otonomi mengandung arti jumlah atau besarnya tugas.157 Tetapi dekatnya jarak antara satuan pelayanan bukanlah satu-satunya ukuran untuk menentukan penekanan atau pengutamaan fungsi pada tingkat daerah tertentu. (b) faktor ruang lingkup urusan pemerintahan. titik berat pelaksanaannya akan diletakan pada daerah yang mana?154 Susunan organisasi pemerintahan di daerah akan berpengaruh terhadap hubungan antara pusat dan daerah.47 desentralisasi. hlm... op.. op. Hukum Pemerintahan . 158 Bagir Manan.cit. 154 155 Ni’matul Huda. Jadi hubungan pusat dan daerah atas dasar otonomi territorial memiliki kesamaan dengan hubungan pusat dan daerah atas dasar federal yaitu hubungan antara dua subjek hukum yang masing-masing berdiri sendiri.cit..

15 No. hubungan antara kedua badan hukum publik itu tidaklah seperti hubungan hierarkis yang ada. pada dasarnya seluruh fungsi kenegaraan dan pemerintahan ada dalam lingkungan pemerintahan pusat yang kemudian dipencarkan kepada satuan-satuan otonomi. “The Reform of Intergovenmental Fiscal Relation in Developing and Emerging Market Economy”. akan disediakan oleh susunan pemerintahan lainnya. Menyongsong.cit.161 Penetapan tanggung jawab penyelenggaraan pelayanan dibutuhkan agar tidak terjadi hasil yang tidak efektif ketika ada satu susunan pemerintahan atau lebih menyediakan pelayanan yang sama atau ketika satu susunan pemerintahan gagal menyediakan pelayanan dengan harapan. Accounting & Financial Management. Ruang Lingkup dan Prinsip-Prinsip Desentralisasi Fiskal Anwar Shah mengatakan bahwa kebijakan desentralisasi fiskal mencakup (1) the assignment of services responsibilities (penetapan tanggung jawab penyelenggaraan pelayanan). hlm.pen) dan transfer dana dari pemerintahan tingkat yang lain (pinjaman daerah juga 159 160 Bagir manan. dan (3) design of intergovernmental transfer system (desain sistem transfer antar susunan pemerintahan). 3. 1984. The World Bank. Vol. kewenangan untuk meningkatkan pendapatan daerah untuk membiayai belanja daerah. Washington DC. hlm. 1994. World Bank Policy and Research Series No. 388. (2) assignment of local government revenue raising authority (penetapan kewenangan pemerintah daerah untuk meningkatkan pendapatan). PrAcademic Press.162 Sementara itu. 178 161 Anwar Shah. 162 Ibid. biasanya diperoleh dengan dua cara.159 Oleh karena Negara (Pemerintah Pusat) dan daerah itu masing-masing merupakan badan hukum publik. Journal of Public Budgeting. 2003.. yaitu pendapatan yang diperoleh oleh daerah sendiri (pendapatan asli. misalnya antara Menteri Dalam Negeri dengan Gubernur.23.. 35-36 Irawan Soejito..160 4. dalam otonomi territorial. op. . “Fiscal Decentralization in South East Asia”. hlm. Hubungan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Penerbit Bina Aksara.48 Perbedaannya. sebagimana dikutip dalam Larry Schroeder..

expenditure autonomy.49 merupakan sumber pendapatan daerah lainnya yang harus dibayar kemudian dengan pendapatan asli atau transfer dana). daerah hanya memiliki otonomi dalam menentukan tarif pajak dan batas yang telah ditentukan (to rate setting within the limit). “Fiscal Decentralization in Developing and Transition Economies: Progress.166 Hal tersebut (bersama keterbatasan pendapatan asli daerah).165 Dalam hal ini. hlm. April 2004.167 Hal yang hampir sama juga diungkapkan oleh Era Dabla-Norris mengenai the measure of autonomy168 (ukuran otonomi) dalam desentralisasi fiskal.164 Bahkan dengan kewenangan atas jenis-jenis pajak terbatas. 389. misalnya melalui pajak daerah atau retribusi. USA. World Bank Policy Research Working Paper 3353. hlm. Comparative Economic Studies.. op. Desentralisasi fiskal bagaimana pun kebijakannya harus dikaitkan dengan upaya membangun kemandirian daerah untuk membiayai urusan pemerintahannya baik dalam hal pendapatan daerah (termasuk alternatif lainnya) maupun kewenangan untuk membelanjakan pendapatan tersebut. World Bank. (c) borrowing privileges (keleluasaan untuk melakukan pinjaman). 166 Larry Schroeder. 167 Anwar Shah. 18 – 19. adanya intergovernental fiscal transfer menjadi mekanisme yang diharapkan dapat menciptakan horizontal equity (kesamaan horizontal) antara susunan pemerintahan daerah.. harus menjadi bagian dari desain transfer dana antara tingkatan pemerintahan. Anwar Shah. and the Promise” World Bank Policy Research Working Paper 3282. 168 Era Dabla-Norris. yaitu (a) revenue autonomy and adequacy (otonomi dan kecukupan pendapatan). 2006. hlm. yang mencakup revenue autonomy. Washington DC. The World Bank. Washington. Dalam hal ini. 107. 164 163 . hlm. transfer dan Ibid. 18. Vol.48. Theresa Thompson. June 2004. Detours and Road Closures”. 165 Ibid. “Implementing Decentralized Local Governance: A Treacherous Road with Potholes. (b) expenditure autonomy (otonomi dalam pengeluaran/ belanja) dan. 8. hlm.163 Masalah yang umumnya dihadapi adalah kewenangan daerah yang sangat terbatas untuk dapat meningkatkan pendapatan asli (own revenue).cit. Problems. DC USA. Shah menegaskan komponen desentralisasi fiskal yang menjadi ukuran keberhasilan desentralisasi fiskal. “ The Challenge of Fiscal Decentralisation in Transition Countries”.

. Pte.op. transfer (intergovernmental fiscal transfer)..cit. Bagir Manan. sementara Norris menekankan transfer dana tersebut merupakan komponen tersendiri. this requires that subnational governments have the authority to own-finance locally provided services at the margin. Seperti dikatakan oleh Norris bahwa: ”this requires subnational budget flexibility to decide – within limits – expenditure priorities and the choice of both the output mix and techniques of production”. Springer-Verlag Published online: 12 April 2006. hlm. karena revenue autonomy ditekankan pada pada pendapatan asli daerah. Singapore. Dalam hal ini. Bahl dalam Shinichi Ichimura... hlm. 663. 117 – 123. Decentralization: Policies in Asian Development. 107. 2009. 172 Ibid. 3.169 Dalam pendapat Shah. ukuran suatu daerah memiliki otonomi dalam pendapatan adalah seberapa besar kewenangan untuk memungut pajak daerah atau pungutan lain. termasuk dalam menentukan tarifnya.50 subnational borrowing. 204. Prinsip otonomi dalam pendapatan artinya sejauh mana daerah memiliki sumber-sumber pendapatan yang merupakan pendapatan asli daerah.cit. Hubungan Antara…. 171 Norris. World Scientific Publishing Co. otonomi pendapatan secara dominan diukur dari kewenangan daerah memungut pajak. hlm. Jaime Bonet.. Seperti dikatakan oleh Norris bahwa: On the revenue side. karena hal tersebut merupakan kunci keberhasilan dari desentralisasi fiskal.171 Sementara itu. 170 169 .. hlm. juga termasuk dalam komponen otonomi dan kecukupan pendapatan. prinsip otonomi dalam pengeluaran artinya daerah memiliki keleluasaan untuk membelanjakan. loc.cit. Ltd. Dalam literatur. Ukuran-ukuran tersebut merupakan prinsip desentralisasi fiskal.170 Artinya. hlm. More complete revenue autonomy requires a minimum of authority to set tax rates and an assignment of at least one significant tax source.172 Ibid.. termasuk menentukan prioritasprioritas belanja daerah atas pendapatan daerah yang dimiliki. Loc. “Fiscal decentralization and regional income disparities: evidence from the Colombian experience”. Lihat. prinsip otonomi pengeluaran berkaitan dengan alokasi penerimaan daerah dalam anggaran belanja daerah. Roy Bahl (eds). Norris.

10. 2009. di mana transfer tersebut untuk mengurangi ketidakseimbangan keuangan antara pusat dan daerah (vertical fiscal imbalance).173 Pertama... Hubungan Antara…. Roy Bahl (eds). hlm. dimensi vertical fiscal balance (keseimbangan fiskal secara veritikal/ pusat-daerah). 176 Ibid. “Promise and Reality of Fiscal Decentralization”. 11. dalam Shinichi Ichimura. Pte.51 Prinsip transfer dana antar tingkatan pemerintahan (khususnya dari pusat ke daerah).176 Sumbersumber pendapatan sendiri (asli) sangat terbatas.175 Sebagai agen..177 Terkait dengan hal di atas. 80. Bagir Manan mengatakan bahwa sesuai dengan pembawaannya (karakteristiknya). hlm. 177 Bagir Manan. . di mana transfer tersebut dimaksudkan ketidakseimbangan daerah. USA. namun juga kepentingan nasional yang lebih baik. Singapore. urusan keuangan di mana pun senantiasa dikategorikan sebagian urusan pusat. pemerintahan daerah tidak akan dapat mengharapkan (pendapatan) dari sumber dayanya sendiri. World Scientific Publishing Co. Edward Elgar Limited – Edaward Elgar Publishing Company. 174 Ibid. hlm. Ltd. Kedua-duanya harus diperhitungankan dalam desain kebijakan transfer dana dari pusat ke 173 Roy Bahl. hlm. karena bergantung pada pusat. tercermin dalam dalam dua dimensi. Decentralization: Policies in Asian Development..178 Daerah hanya boleh mengatur dan mengurus sepanjang ada penyerahan dari pusat yang diatur keuangan antar untuk menyelesaikan masalah daerah. 178 Ibid. Kedua. 175 Alan Norton.cit. bukan hanya untuk kepentingan daerah. 205.op.174 Pemberian sejumlah dana pusat kepada daerah melalui mekanisme transfer dana. juga disebabkan logika bahwa mahalnya pelayanan (publik) yang disediakan oleh pemerintahan daerah adalah untuk memenuhi tujuan (otonomi – pen) yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat. England. mau tidak mau (namun sering kali mau) untuk memenuhi kepentingan nasional. 1993. International Hand Book of Local and Regional Government A Comparatve Analysis of Advanced Democracies. dimensi horrizontal fiscal balance (keseimbangan fiskal horizontal/antar daerah).

182 Ibid. Roy Bahl (eds). Roy Bahl. hlm.cit. 2009. dalam Shinichi Ichimura. Ltd. Asian Development Conference 2003: Development and Decentralization in Asia”. Pte. dalam dalam Shinichi Ichimura. tanpa bantuan pemerintah pusat. World Scientific Publishing Co. Pendapatan Asli Daerah Seperti telah dikemukakan sebelumnya bahwa pendapatan asli daerah selalu dihubungkan dengan kewenangan daerah untuk memungut pajak (daerah) atau pungutan lainnya seperti retribusi. hlm. seperti hasil pengelolaan perusahaan daerah. 181 Motohiro Sato.179 Adanya transfer dana atau bantuan dari pusat..181 a. Decentralization: Policies in Asian Development. op.cit. 396. namun dengan hasil yang relatif kecil. terutama dengan melakukan pinjaman.. Singapore. 5.52 dalam peraturan perundang-undangan. hlm. sumber penerimaan/ pendapatan daerah (revenue sources of local governments) secara umum terdiri dari pendapatan asli daerah (local own revenue). Prinsip-prinsip tersebut akan terlihat dalam pengaturan sumbersumber penerimaan pemerintahan daerah untuk memenuhi belanja daerah. “Summary Report of Seminar B: Local Public Finance. 208.180 Artinya. pemerintahan daerah harus mendapatkan sumber penerimaan lainnya untuk menutupi kekurangan anggaran (defisit). transfer dana dari pemerintah pusat ke daerah (intergovernmental fiscal transfers) dan pinjaman daerah (local borrowing). bermaksud untuk menutupi kemampuan keuangan daerah untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan. op. 180 179 . jika pendapatan daerah (termasuk transfer/bantuan keuangan dari pusat) yang dialokasikan untuk pengeluaran/ belanja daerah tidak mencakupi. Prinsip keleluasaan untuk melakukan pinjaman berkaitan dengan hard budget constraint (pembatasan anggaran secara ketat) di mana pemerintahan daerah harus menyeimbangkan anggarannya tanpa bantuan dari pusat pada akhir tahun anggaran. padahal pendapatan asli daerah juga dapat berasal dari sumber lain. Roy Bahl (eds). 15. Sumber-Sumber Penerimaan/ Pendapatan Daerah Secara umum. Hubungan Antara…. 182 Lihat Bagir Manan..

189 Sementara itu. pajak-pajak yang karena pertimbangan keseragaman secara nasonal dilakukan dengan sistem redistribusi progresif 185 (pajak progresif).cit.53 Persoalan kewenangan pemungutan pajak. sementara di negara-negaa maju mencapai 20%. op. Dalam hal ini. misalnya pajak property (tanah dan bangunan) lebih baik menjadi kewenangan daerah untuk meningkatkan nilai jual objek tersebut di pasaran. 185 Ibid. “Promise and…. hlm. Ibid. 187 Ibid. penerimaan dari pajak harus disesuaikan dengan kebutuhan pengeluaran belanja (daerah).190 Hal tersebut menyebabkan perbedaan pendapatan daerah dari sektor pajak daerah.17. untuk memastikan adanya akuntabilitas.186 Hal ini untuk meminimalisasi biaya administrasi pemungutan. 191 Bahl mengatakan bahwa kontribusi pajak lokal terhadap total pendapatan sektor pajak secara nasional di negara-negara berkembang dan negara-negara dalam transisi hanya mencapai 10%.17-18.188 Dalam praktek. di negara – negara berkembang dan negara-negara dalam fase transisi.10. terkait dengan pembagian kewenangan di sektor pajak antara pemerintah pusat dengan pemerintahan daerah. 189 Roy Bahl... 9. hlm.191 183 184 Anwar Shah. pajak dengan objek bergerak dan barang-barang dagang yang memiliki tingkat efisiensi yang tinggi terhadap pasar domestik harus menjadi kewenangan pemerintah pusat. Pemerintahan daerah di negara-negara maju lebih banyak memberikan kewenangan kepada daerah untuk memungut pajak. pemerintah pusat lebih sedikit menyerahkan kewenangan untuk memungut pajak kepada daerah. “Fiscal Decentralization…. Anwar Shah mengintroduksi 4 prinsip yang harus diperhatikan dalam pembagian kewenangan pemungutan pajak di semua tingkatan pemerintahan. 190 Ibid. Ketiga. .187 Keempat. hlm. Ibid.. pengaturan pajak daerah dan pungutan daerah lainnya sangat beragam.. hlm. 186 Ibid.”. pajak harus dipungut pada wilayah yang yang dapat dilakukan pemantauan dan penilaian yang relevan. 188 Ibid. harus menjadi kewenangan pemerintah pusat.loc..cit.184 Kedua.183 Pertama.

2137. loc. Cesifo Working Paper No. sementara pemerintahan daerah hanya memiliki sedikit kewenangan terhadap pajakpajak yang secara langsung bersumber pada potensi lokal.193 Dalam hal ini.. misalnya. Brueckner. Springer-Verlag Published online: 12 April 2006. namun tanpa kewenangan daerah cukup dalam memungut pajak. Transfer Dana dari Pusat ke Daerah (Intergovernmental Fiscal Transfers) Adanya kecenderungan ketergantungan daerah pada transfer dana dari pemerintah pusat di negara-negara berkembang menimbulkan pertanyaan apakah pemerintahan daerah masih memiliki otonomi dalam kebijakan desentralisasi fiskal? Namun demikian. 192 . pemerintah pusat memiliki kewenangan pada jenis-jenis pajak tidak langsung. 196 Jaime Bonet.com/abstract=1029581. 193 Anwar Shah.54 Di Asia. walaupun kewenangan untuk menggunakan pendapatan dana diberikan kepada daerah. Bahl mengatakan bahwa rendahnya pendapatan daerah dari pajak daerah disebabkan pemerintah pusat tidak rela melepaskan kewenangan terhadap pajak-pajak yang produktif.195 b. 1 195 Ibid. November 2007. menyebabkan daerah tidak dapat membiayai pengeluaran dengan pendapatan sendiri.192 Di negaranegara berkembang dan negara dalam masa transisi. 18. baik di negara-negara maju maupun negaranegara berkembang.cit. pola transfer dana dari pusat ke daerah juga dialami di negara-negara maju. “Fiscal Decentralization…. 194 K. hlm. Seperti dikatakan oleh Anwar Shah. Category 1: Public Finance.196 Artinya. pengalaman negara-negara maju menunjukkan bahwa keberhasilan desentralisasi fiskal tidak bisa tercapai tanpa adanya sebuah program transfer dana yang didesain dengan baik (well – designed fiscal transfer program).194 Hal tersebut menyebabkan pemerintahan daerah sangat bergantung pada transfer dana dari pusat. “Fiscal decentralization and regional income disparities: evidence from the Colombian experience”. Diunduh dari http://www. hlm.663.. hlm. “Partial Fiscal Decentralization”.ssrn. sistem transfer atau bantuan keuangan antar tingkatan Dalam hal ini Bahl member pengecualian terhadap Filipina di mana konstribusi sektor pajak daerahnya mencapai 1/3 dari total pendapatan sektor pajak secara nasional. Ibid.

55

pemerintahan (khususnya dari pusat ke daerah), menjadi salah mekanisme yang mendukung keberhasilan desentralisasi. Dari paparan di atas, tercermin bahwa transfer dana/ bantuan

keuangan dari pusat ke daerah akan selalu ada. Menurut Bagir Manan, usaha-usaha untuk menghapuskan bantuan keuangan bukan cara terbaik untuk memecahkan masalah keuangan daerah.197 Bagir Manan sendiri lebih menyetujui agar pemecahan masalah keuangan daerah hendaknya ditujukan pada upaya agar bantuan –bantuan pusat tidak akan begitu banyak mengurangi kemandirian daerah untuk mengatur dan mengurus urusan rumah tangga daerahnya sendiri.198 Adanya bantuan dana (subsidi) dari pusat ke daerah merupakan bagian dari mekanisme perimbangan keuangan antara pusat daerah yang merupakan inti dari hubungan keuangan pusat – daerah.199 Seperti dikatakan oleh Bagir Manan, bahwa: ”perimbangan keuangan tidak sekedar diartikan memperbesar sumber lumbung keuangan daerah, namun tidak kalah penting mengatur sistem keuangan daerah seperti subsidi yang tetap menjamin kemandirian, keleluasaan dan kekuasaan daerah mengatur dan mengurus rumah tangganya.”200

Dilihat dari derajat otonomi peruntukan dan pemanfaatannya, Bagir Manan yang mengatakan bahwa bantuan keuangan dari pusat ke daerah, dapat digolongkan ke dalam tiga kategori utama, yaitu bantuan bebas, bantuan:201 1. Bantuan bebas Bantuan yang hanya ditentukan jumlahnya. Peruntukan dan tata cara penggunaannya diserahkan sepenuhnya kepada masing-masing daerah.

197 198

Bagir Manan, Hubungn Antara…, op.cit., hlm. 210. Ibid. 199 Ibid. 200 Ibid., hlm. 42. 201 Ibid.

56

Daerah mempunyai kebebasan untuk menentukan sendiri peruntukan dan tata cara penggunaannya. 2. Bantuan dengan pembatasan tertentu. Bantuan yang ditentukan peruntukannya secara umum.

Peruntukannya secara khusus dan cara-cara pemanfaatannya diserahkan sepenuhnya kepada daerah. Bantuan jenis kedua ini lebih mengikat atau lebih membatasi kemandirian daerah dibandingkan dengan yang pertama. 3. Bantuan terikat Bantuan yang ditentukan secara rinci peruntukan dan tata cara pemanfaatannya. Daerah tidak ada kesempatan untuk menentukan sendiri peruntukan maupun tata cara pemanfaatannya. Bantuan ini sangat mengikat daerah. Sementara itu, Roy Bahl mengatakan, jenis transfer dana yang diberikan, terdiri dari transfer dana yang sifatnya unconditional (tidak bersyarat), conditional (bersyarat), dan Ad-hoc (tidak tetap).202 Pendapat Bahl tersebut hampir sama dengan pendapat Bagir Manan. Perbedaannya, Bagir Manan tidak memasukkan jenis transfer dana (bantuan keuangan) yang sifatnya Ad-hoc, sementara Bahl tidak membagi varian lain dari conditional transfer, sebagaimana dilakukan oleh Bagir Manan yang membaginya menjadi dua kategori, yaitu bantuan dengan pembatasan tertentu dan bantuan terikat. Namun demikian, kedua pendapat tersebut saling melengkapi. Dengan demikian, terdapat 4 jenis tranfer dana (bantuan keuangan) dari pusat ke daerah, yaitu bantuan bebas (unconditional grants), bantuan dengan pembatasan tertentu, bantuan terikat, dan bantuan yang sifatnya Ad-Hoc. Manurut Bahl, unconditional grants (bantuan bebas) dianggap “more consistent with local autonomy goals of decentralization” (lebih konsisten dengan tujuan otonomi daerah dalam kerangka desentralisasi).203 Jika bantuan tersebut berdasarkan pembagian pajak pusat, maka pemerintah pusat memberikan akses kepada pemerintahan daerah dengan dasar

202 203

Roy Bahl, op.cit., hlm. 11 Ibid.

57

perhitungan pajak yang elastis (elastic tax base) yang relative memberikan kepastian jumlah yang akan diterima.204 Sementara itu, conditional grant adalah bantuan yang membolehkan pemerintah pusat untuk mengawasi penggunaan dana tersebut dengan asumi agar daerah menjalankan fungsi yang memiliki eksternalitas positif dan/ atau distribusi keuntungan.205 Distribusi conditional grant, menurut Bahl dilakukan dengan beberapa cara, namun yang paling umum digunakan adalah sistem pembayaran yang didasarkan pada beberapa standar pengeluaran.206 Biasanya pola

conditional grant berhasil mencapai target yang diinginkan. Namun persoalannya, conditional grant diterapkan dengan pola yang seragam di seluruh daerah dan tidak memberikan pertimbangan yang cukup terhadap kondisi daerah.207 Hal tersebut menyebabkan pola pengeluaran (keuangan) pemerintahan daerah menyimpang dari kecenderungan lokal.208 Sementara itu, transfer dana/ bantuan keuangan yang sifatnya AdHoc didasarkan pada pertimbangan politis. Hal tersebut menyebabkan pola bantuan tersebut tidak transparan dan jauh dari ukuran-ukuran objektif. Bahkan Cina dan Thailand, yang mengalokasikan sebagian bantuan dalam bentuk ad-hoc, menghadapi persoalan ketidakpastian anggaran di tingkat daerah.209

c. Pinjaman Daerah Seperti telah dikemukakan sebelumnya, bahwa pinjaman daerah sangat berkatan dengan penerapan hard budget constraint (pembatasan anggaran secara ketat) di mana tidak ada bantuan dari pusat pada saat

204 205

Ibid. Ibid., hlm. 14. 206 Ibid 207 Ibid. 208 Ibid. 209 Ibid.

58

terjadi akhir tahun anggaran. Menurut Davey (1983) ada beberapa alasan pemerintah daerah melakukan pinjaman dana seperti:210 a. untuk menutup defisit keuangan jangka pendek; b. untuk membiayai kekurangan belanja rutin dan penghasilan retribusi dalam anggaran tahunan (annual budget); c. membiayai pembelian perlengkapan dan mesin-mesin; d. membiayai investasi yang akan menghasilkan pendapatan; e. membiayai pembentukan modal jangka panjang (long term capital development).

Menurut J. Glasson, tujuan utama pemanfaatan dana pinjaman daerah adalah untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dan melakukan pembangunan yang menerus (sustainable development).211 Hal tersebut sangat wajar karena dengan penerapan hard budget constraint terbatasnya kemampuan keuangan daerah, maka terselenggaranya progam-program daerah tidak hanya bergantung pada pendapatan daerah dan bantuan dari pusat, namun sangat bergantung pada pinjaman daerah. Oleh karena itu, seperti dikemukakan sebelumnya, bahwa keleluasaan bagi daerah untuk melakukan pinjaman merupakan salah prinsip dari desentralisasi fiskal. Pengaturan mengenai pinjaman daerah di setiap menunjukkan pola yang berbeda-beda. Menurut Shah, di negara-negara berkembang di mana pasar (keuangan) belum terbangun dengan baik untuk kredit jangka panjang dan kemampuan daerah untuk membayar pinjaman, menyebabkan akses daerah untuk melakukan pinjaman sangat terbatas.212 Hal tersebut menyebabkan pengaturan pinjaman daerah lebih menekankan pada pengawasan pemerintah pusat, sementara bantuan pusat untuk mendorong daerah melakukan pinjaman sangat jarang menjadi perhatian. Biasanya yang menjadi ukuran pola pengawasan pusat dalam hal pinjaman daerah adalah
210

Lihat Bachrul Elmi dan Syahrir Ika, “Hutang Sebagai Salah Satu Sumber Pembiayaan Pembangunan Daerah Otonom”, Jurnal Kajian Ekonomi Dan Keuangan, Vol. 6 No. 1, Maret, 2002, hlm. 64. 211 Ibid., hlm. 62. 212 Anwar Shah, “Fiscal Decentralization…., op.cit., hlm. 29

merupakan dua sisi dari satu mata uang dalam negara kesatuan dengan sistem otonomi (desentralisasi). F.153. Menyongsong . dan John M. James A. Bentuk dan isi pengawasan dilakukan semata-mata menurut atau berdasarkan ketentuan 213 Taliziduhu Ndraha. Antara kebebasan dan kemandirian berotonomi di satu pihak dan pengawasan di pihak lain. Kebebasan dan kemandirian berotonomi dapat dipandang sebagai pengawasan atau kendali terhadap kecenderungan sentralisasi yang berlebihan. steering control dan post-action control.. 197. supervision) adalah suatu bentuk hubungan dengan legal entity yang mandiri. 214 Bagir Manan. bukan hubungan internal dari entitas yang sama. James H.59 apakah daerah berwenang melakukan pinjaman? Jika dibolehkan. Kybernology (Ilmu Pemerintahan Baru). concurrent control dan feedback control. . Rineka Cipta. Donnelly. Jakarta 2003. apakah daerah dapat melakukan pinjaman ke luar negeri? 6. dan “control” (Belanda dan Inggris).. Pengawasan atau kontrol dapat dilakukan sebelum. Jilid I. Pengertian dan Tujuan Pengawasan Istilah “pengawasan” sering dipadankan (equivalent) dengan istilah “toezicht” (Belanda). Sebaliknya pengawasan (toezicht) merupakan kendali terhadap desentralisasi berlebihan. “supervision” (Inggris). Tidak ada otonomi tanpa sistem pengawasan. Hakikat Pengawasan Pemerintah Pusat terhadap Daerah a.cit. dan sesudah suatu kegiatan dilaksanakan. Stoner dan Charles Wankel dalam Management (1986) menyebut ketiga macam kontrol itu Pre-action cotrol. Ivancevich dalam Fundamentals of Management (1981) menyebut hal itu Preliminary control. supervision) merupakan unsur yang tidak dapat dipisahkan dari kebebasan berotonomi. James L. hlm. hlm.213 Pengawasan (toezicht.214 Namun demikian. pengertian pengawasan (toezicht. op. Gobson.. perlu diketahui. sepanjang.

juga mengandung arti pengendalian. maka pengertian umum dari beberapa aspek pengawasan kiranya dapat dirumuskan sebagai berikut : 1) Pengawasan sebagai sarana (instrumen) pemeritahan yang lebih atas tingkatannya untuk memaksakan kehendaknya pada pemerintahan yang lebih rendah tingkatannya. Pengawasan tidak berlaku atau tidak diterapkan terhadap hal yang tidak ditentukan atau berdasarkan undang-undang. “bimbingan”. Pengawasan (toezicht) pada desentralisasi.. Pengawasan pada desentralisasi dibatasi untuk “menguji” apakah suatu keputusan suatu satuan pemerintahan otonom (yang lebih rendah) bertentangan atau tidak bertentangan dengan peraturan perundangundangan yang lebih tinggi atau kepentingan umum. 197. 2) Pengawasan menunjukkan adanya pengarahan atau pengendalian (aturan) terhadap tindakan pemerintahan yang lebih rendah tingkatannya dari pemerintahan yang lebih atas tingkatannya. 215 Taliziduhu Ndraha. Memang perlu disadari bahwa dalam perkembangan. dalam kaitan dengan Undang-Undang tentang pemerintahan daerah khususnya desentralisasi istilah pengawasan lebih tepat dipadankan dengan “toezicht” atau “supervision” dan tidak dengan “control”..60 undang-undang. op. mengarahkan. apalagi ikut mengurus atau ikut mengatur. Pengawasan dalam kualitas tertentu menjadi semacam “mencampuri” wewenang daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri.cit. pengawasan dalam arti toezicht atau supervision. mengalami perkembangan seperti adanya “petunjuk”..215 Dengan demikian. . “pedoman”. Berdasarkan uraian tersebut di atas. Kybernology . secara asasi tidak mengandung makna ikut mengarahkan. Istilah control selain mengandung arti pengawasan. “penentuan syarat-syarat yang harus diikuti”. Apabila hal semacam ini jika dibiarkan berjalan tanpa batas. Perkembangan ini menyebabkan pengawasan tidak lagi sekedar “checking” atau dalam rangka “menjaga keseimbangan”. hlm. mengurus atau mengatur. akan besar pengaruhnya pada sifat “kemandirian” (zelf standigheid) daerah otonom..

pemerintahan yang dilakukan 4) Pengawasan menunjukkan bahwa pelaksanaan tugas dan wewenang satuan pemerintahan yang diawasi tidak boleh bertentangan dengan hukum dan kepentingan umum. misalnya pengawasan menurut sifat/bentuk dan tujuannya.Cit. Menyongsong Fajar…. Black Law Dictionary. b. The general welfare of public that warrants recognation and protection. tanpa ada pembatasan karena kondisi invidual seseorang.1244. terdapat beberapa ukuran yang dapat dipergunakan untuk menentukan kepentingan umum. Bagir Manan. setiap orang dapat menikmati dan memperoleh manfaat. 1999.. . pengawasan menurut 216 217 Bryan A. Black Law Dictionary. Garner..141. dibutuhkan orang banyak. Kedua. hlm.(Terj. b. Mengenai kepentingan umum. harus dalam rangka kesejahteraan umum. mendefinisikan Public Interest. Penggolongan Pengawasan Pengawasan dapat dibedakan ke dalam berbagai macam. Something in which the public as a whole has a stake espesially an interest that justifies governmental regulation216. baik dalam arti materiil maupun spiritual217. yakni: Pertama. bebas dari pengertian di atas adalah bahwa kepentingan umum merupakan kepentingan bagi kesejahteraan umum yang menjamin perlindungan dan merupakan sesuatu di mana publik secara keseluruhan mempunyai suatu pancang/landasan terutama suatu yang membenarkan peraturan yang dibentuk oleh pemerintah).Op. Adapun menurut Bagir Manan. Ketiga. hlm. Pengawasan hanya terbatas pada segi oleh satuan pemerintahan yang diawasi.61 3) Pengawasan berbeda dengan sarana pengendalian lainnya. yaitu: a.

154 . a) Pengawasan Preventif Secara umum pengertian pengawasan preventif pada dasarnya dilakukan untuk mencegah terjadinya penyimpangan-penyimpangan dalam pelaksanaan kegiatan. c) menentukan sasaran dan tujuan yang akan dicapai. yaitu: (1) pengawasan preventif dan. Relevan dengan pembentukan produk hukum di daerah dan tindakan tertentu organ pemerintahan daerah.Cit. hlm. Pengawasan preventif ini memiliki tujuan yang menurut Revrisond Baswir diidentifikasikan sebagai berikut: a) mencegah terjadinya tindakan-tindakan yang menyimpang dari dasar yang telah ditentukan. pengawasan menurut sifat/bentuk dan tujuannya dapat dikelompokan menjadi 2 (dua). b) memberi pedoman bagi terselenggaranya pelaksanaan kegiatan secara efesien dan efektif. (2) pengawasan represif atau pengawasan detektif. dan d) menentukan kewenangan dan tanggung jawab sebagai instansi sehubungan dengan tugas yang harus dilaksanakan.62 ruang lingkupnya dan pengawasan menurut metodenya. Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. Menyongsong Fajar . 91-95. b) Pengawasan Represif atau Pengawasan Detektif Sebagian ahli mempergunakan istilah pengawasan ini dengan istilah pengawasan represif. Pengawasan Pengelolaan Keuangan Daerah dalam Sistem Pemerintahan Daerah di Indonesia (Disertasi). menurut Bagir Manan. 219 Bagir Manan. 2006. wewenang mengesahkan 219 pengawasan preventif ini berkaitan dengan (goedkeuring). hlm. Berikut ini diidentifikasikan berbagai macam pengertian pengawasan tersebut. sebagian lainnya mempergunakannya dengan istilah 218 Lihat Elektison Somi. Dalam konteks penyelenggaraan pemerintahan daerah.218 1) Pengawasan Menurut Sifat/Bentuk dan Tujuannya Secara konsepsional.…Op. maka pengawasan preventif bertujuan untuk mencegah penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di lapangan pemerintahan daerah. Bandung.

Berkaitan dengan pembentukan produk hukum daerah dan tindakan tertentu organ pemerintah daerah. hlm. Memang di sinilah letak inti atau hakekat dari suatu pengawasan. . sebagai suatu usaha represif. Beberapa Sistem tentang Kontrol Segi Hukum terhadap Pemerintah. Bhuana Ilmu Populer. Jakarta. kedua istilah ini pada prinsipnya dilaksanakan setelah dilakukannya tindakan yaitu dengan membandingkan antara hal yang telah terjadi dengan hal yang seharusnya terjadi. Suatu Kontrol Intern berarti bahwa pengawasan itu dilakukan oleh suatu badan yang secara oraganisatoris/ struktural masih termasuk dalam lingkungan Pemerintah sendiri. maka terhadap Pemerintah selaku organ administarasi Negara dapat dikenakan bermacam-macam bentuk kontrol atau pengawasan. dapatlah dibedakan antara jenis kontrol yang disebut Kontrol Intern dan Kontrol Ekstern.63 pengawasan detektif. atau juga untuk memperbaikinya apabila sudah terjadi kekeliruan itu. misalnya: pengawasan yang 220 221 Bagir Manan. baik yang disengaja maupun tidak disengaja. sebagai suatu usaha preventif.Cit Paulus Effendie Lotulung. op. adanya kontrol itu sering dilihat sebagai sarana unutuk mencegah timbulnya segala bentuk penyimpangan tugas pemerintahan dari apa yang telah digariskan. Sebab di dalam melaksanakan tugasnya atau “mission”nya untuk menyelenggarakan kesejahteraan umum dan pelayanan kepentingan umum atau lazim disebut “public service”.221 Apabila dibandingkan berbagai macam bentuk kontrol yang ada. Dalam praktek. Ditinjau dari segi kedudukan dari badan/organ yang melaksanakan kontrol itu terhadap badan/organ yang dikontrol.220 Berkaitan dengan berbagai macam bentuk pengawasan. Paulus Effendie Lotulung mengatakan bahwa salah satu permasalahan pokok dalam studi tentang dasar-dasar hukum Administrasi adalah pelajaran tentang adanya atau dikenalnya berbagai macam kontrol atau pengawasan yang dapat dilakukan terhadap Pemerintah. pengawasan ini menurut Bagir Manan berkaitan dengan wewenang pembatalan (Verneitiging) atau penangguhan (schorsing).xv. maka dapat dibedakannya dari beberapa segi. Namun demikian. Tujuan pokok dari kontrol ini adalah untuk menghindari terjadinya kekeliruan-kekeliruan. PT. 1986.

demikian seterusnya. Misalnya: pengeluaran suatu yang untuk berlaku sah dan dilaksanakan. dilakukan Dikatakan sebagai Kontrol a-priori adalah bila pengawasan itu sebelum dikeluarkannya suatu keputusan atau ketetapan Pemerintah ataupun peraturan lainnya yang pengeluarannya memang menjadi wewenang Pemerintah. Sedangkan sebaliknya. Dalam hal ini tampak jelas unsur preventif dari maksud kontrol itu. Termasuk pula kontrol ekstern ini adalah kontrol yang dilakukan secara tidak langsung melalui badan-badan peradilan (judicial control) dalam hal timbul persengketaan atau perkara dengan pihak Pemerintah. harus terlebih dahulu memperoleh persetujuan dan pengesahan dari instansi atasan. kontrol politis yang pada umumnya dilakukan oleh lembagalembaga perwakilan rakyat dalam bentuk “hearing” ataupun hak bertanya para anggotanya.222 Ditinjau dari segi saat/waktu dilaksanakannya suatu kontrol atau pengawasan. misalnya: kontrol keuangan yang dilakukan oleh Badan Pengawas Keuangan (BPK). atau peraturan pemerintah daerah-daerah tingkat II harus mendapat pengesahan terlebih dahulu dari pemerintah daerah tingkat I. dapat pula dibedakan dalam 2 jenis kontrol. ataupun pengawasan yang dilakukan oleh tim/ panitia verifikasi yang dibentuk secara insidentil dan biasanya terdiri dari beberapa orang ahli dalam bidang-bidang tertentu. kontrol sosial yang dilakukan oleh masyarakat melalui pers/masmedia. Sebaliknya. Kontrol a-posteriori adalah jika pengawasan itu baru terjadi 222 Ibid. sebab tujuan utamanya adalah untuk mencegah atau menghindari terjadinya kekeliruan. yaitu apa yang disebut sebagai Kontrol a-priori ada yang disebut Kontrol a-posteriori. suatu Kontrol Ekstern adalah pengawasan yang dilakukan oleh organ atau lembaga-lembaga yang secara organisatoris/struktural berada di luar Pemerintah dalam arti eksekutif. hlm. Bentuk kontrol-kontrol semacam itu dapat digolongkan dalan jenis kontrol teknis-administratif atau lazim pula disebut sebagai suatu bentuk “built-in control”. xvi .64 dilakukan oleh pejabat atasan terhadap bawahannya secara hierarkis.

baik yang bersifat preventif maupun yang bersifat represif seringkali digunakan. yaitu segi “rechtmatigheid” dari perbuatan Pemerintah ataukah juga di samping segi “rechtmatigheid” ini dinilai pula benar-tidak benarnya perbuatan itu ditinjau dari segi/pertimbangan kemanfaatannya (opportunitas). hlm. apakah kontrol itu hanya dimaksudkan untuk menilai segi-segi atau pertimbangan yang bersifat hukum-nya (segi legalitas). xvi-xvii . dikenal pula pembedaan yang ditinjau dari segi sifat kontrol itu terhadap objek yang diawasi. Antara keduanya terdapat perbedaan baik dalam ruang 223 Ibid. karena selalu dilakukan sesudah terjadinya sustu perbuatan atau tindakan. 2) Ruang Lingkup. Waktu Pelaksanaan. Di samping kedua macam kriteria pembedaan tersebut di atas. arti tindakan/perbuatan pengawasan di sini adalah dititikberatkan kepada tujuan yang bersifat korektif dan memulihkan suatu tindakan yang keliru. Jadi dibedakanlah antara Kontrol segi hukum (rechtmatigheidstoetsing) dan Kontrol segi kemanfaatan (doelmatigheidstoetsing).223 Di lapangan pemerintahan daerah. sedangkan represif dari kata repressie yang berarti penekanan atau pengekangan. Misalnya: Kontrol yang dilakukan oleh badan peradilan (judicial control) pada prinsipnya hanya menitikberatkan pada segi legalitas. Pemerintah Dengan atau kata sesudah lain. yaitu Kontrol segi hukum. instrumen pengawasan. yaitu segi “doelmatigheid”. dan Jangka Waktu Pelaksanaan Pengawasan Preventif berasal dari kata preventie yang berarti pencegahan.65 sesudah terjadinya dikeluarkan keputusan/ketetapan Pemerintah. Wujud. Dengan kata lain. Peranan badan peradilan melalui suatu judicial control adalah selalu bersifat Kontrol aposteriori. sedangkan suatu kontrol teknis administratif intern dalam lingkungan Pemerintah sendiri (built-in control) bersifat selain penilaian legalitas (rechtsmatigsheidtoetsing) juga dan bahkan lebih menitikberatkan pada segi penilaian kemanfaatan.

Analisa Hubungan Pemerintah Pusat Dan Daerah Di Indonesia. Peraturan-peraturan dan Keputusan-keputusan Kepala Daerah tertentu yang diawasi secara preventif adalah ketentuan-ketentuan yang memberikan beban kepada rakyat.149-153 . dan yang menyangkut kepentingan rakyat banyak. Dilakukan oleh aparat pengawas intern. Melalui pranata pengujian (material dan formal) ke badan peradilan (MA). Jika digambarkan dalam suatu bagan. perwujudan maupun jangka waktu Perbedaan-perbedaan itu adalah sebagai berikut:225 a. 149. yang mengandung perintah. Ruang lingkup berlakunya Pengawasan preventif hanya dilaksanakan terhadap beberapa Peraturan Daerah atau Keputusan Kepala Daerah tertentu saja yang menyangkut menimbulkan kepentingaan-kepentingan keresahan-keresahan. hlm. ancaman pidana. apabila tidak ditetapkan dengan sebaik-baiknya oleh Pemerintah Daerah. ruang lingkup pengawasan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah dapat dilihat sebagai berikut: Tabel 1: RUANG LINGKUP PENGAWASAN ATAS PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH Pengawasan atas pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah (baik yang menyangkutan urusan otonomi maupun tugas pembantuan). Jakarta. Pengawasan terhadap produk-produk hukum yang ditetapkan oleh pemerintahan daerah ( pengawasan terhadap peraturan daerah dan peraturan kepala daerah). dan Pemerintah Daerah itu sendiri. b. Melalui pranata pembatalan (vernietiging) atau berupa penangguhan pemberlakuan 224 Riwu Kaho.224 berlakunya. Rineka Cipta. 225 Ibid. Provinsi. (Inspektorat) a. hlm. 1990. keharusan. besar atau yang mungkin dan kegelisahan-kegelisahan gangguan-gangguan dalam pelaksanaan atau penyelenggaraan kepentingan umum.66 lingkup/lingkungan pelaksanaanya. Pengawasan represif dijalankan terhadap semua Peraturan Daerah dan keputusan Kepala Daerah tanpa kecuali. baik Pemerintah Pusat. Jadi pengawasan ini mempunyai ruang lingkup (scope) yang lebih luas dari pengawasan preventif. larangan.

oleh Pemerintah Pusat. Jadi pengawasan ini di satu pihak merupakan hak pengawasan dari pihak pengawas dan di lain pihak merupakan kewajiban untuk meminta 226 UU No. Melalui proses/prosedur tertentu. dan Peraturan-peraturan Daerah dan Tingkat II. sementara dalam praktek pembatalan terhadap perda ditetapakn oleh Menteri Dalam Negeri (dalam bentuk Peraturan Menteri?). Mengenai waktu pelaksanaanya. monitoring. 32 Tahun 2004 Pasal 145 (3) dengan secara eksplisit menetapkan bahwa pembatalan Perda ditetapkan dengan Peraturan Presiden. Pengawasan preventif dilaksanakan sebelum Peraturan-peraturan dan Keputusan-keputusan Kepala Daerah tersebut mulai berlaku. jadi sebelum peraturan-peraturan/keputusan-keputusan tersebut dijalankan. misalnya dalam bentuk “evaluasi” terhadap Raperda dan Rancangan Peraturan Kepala Daerah tentang APBD. penetapan pedoman. b. Pengawasan preventif berujud kewajiban atau keharusan untuk memperoleh pengesahan lebih dahulu dari pihak pengawas yaitu Menteri Dalam Negeri bagi Peraturan Daerah /Keputusan-keputusan Gubernur Gubernur Kepala Daerah Tingkat I bagi Keputusan-keputusan Kepala Daerah Kepala Daerah Tingkat I.226 c. kriteria.67 (schorsing). untuk provinsi oleh Mendagri dan untuk kabupaten/kota oleh Gubernur. Wujud dari masing-masing pengawasan. c. . Pengawasan represif dilakukan sesudah Peraturan-peraturan Daerah dan Keputusankeputusan Kepala Daerah berlaku dan dijalankan. Perubahan APBD dan Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD. sebelum peratuan-peraturan itu mulai berlaku dan dijalankan. dsb.

Keputusan-keputusan/peraturan-peraturan lain di luar hal-hal yang tersebut di atas (di luar ketentuan-ketentuan yang memberikan beban kepada rakyat. maka pengawas menolak untuk memberikan pengesahan. Dengan penolakan tersebut. larangan. Setelah Keputusan Kepala Daerah/Peraturan Daerah itu ditunda/ditangguhkan berlakunya. Jadi penundaan adalah langkah awal dari pembatalan.68 pengesahan dari pihak yang diawasi. perintah. Apabila pihak pengawas beranggapan bahwa peraturan-peraturan dengan yang dimintakan yang lebih pengesahan tinggi tersebut atau bertentangan peraturan tingkatnya bertentangan dengan kepentingan umum. ancaman pidana dan yang menyangkut kepentingan rakyat banyak). . Pengawasan represif berupa penundaan/penangguhan atau pembatalan oleh pihak pengawas terhadap Peraturan-Peraturan Daerah/Keputusankeputusan Kepala Daerah yang telah berjalan tersebut. maka instansi/pejabat yang berwenang dalam pengawasan represif dapat menunda keputusan/peraturan tersebut. dikenakan pengawasan represif. Penundaan bermaksud untuk menahan buat sementara waktu berjalannya Keputusan Kepala Daerah/Peraturan Daerah yang telah berlaku selama masih dalam pertimbangan untuk dibatalkan. Penolakan tersebut dengan disertai alasanalasannya disampaikan kepada Pemerintah Daerah yang bersangkutan. diduga atau dianggap mungkin bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi tingkatnya atau dengan kepentingan umum. maka pihak pengawas akan mengadakan peninjauan atau penyelidikan lebih lanjut apakah memang keputusan tersebut memang perlu dibatalkan ataukah tidak. keharusan. Penundaan atau pembatalan dilakukan apabila peraturan-peraturan atau keputusan- keputusan Daerah yang telah dijalankan itu bertentanagan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi tingkatnya atau dengan kepentingan umum Apabila sesuatu Peraturan Daerah atau Keputusan Kepala Daerah yang telah berlaku dengan tanpa pengesahan. maka peraturan yang dimintakan pengesahan tersebut tidak dapat berlaku.

Tidak ada otonomi tanpa sistem pengawasan. Jadi dalam waktu 3 bulan itu pejabat yang berwenang untuk memberikan pengesahan harus memberikan pengesahan yang dimintakan atau menolaknya. yaitu selama sesuatu Peraturan Daerah/Keputusan Kepala Daerah masih berlaku. Bilamana sesudah jangka waktu 3 bulan tersebut belum ada pengesahan atau penolakan . merupakan dua sisi dari satu mata uang dalam negara kesatuan dengan sistem otonomi (desentralisasi).227 Namun demikian. misalnya 3 bulan. Kalau ditolak maka alasan-alasan penolakan itu disampaikan kepada Daerah yang bersangkutan. Peraturan Daerah atau Keputusan Kepala Daerah itu dapat diberlakukan. d. Antara kebebasan dan kemandirian berotonomi di satu pihak dan pengawasan di pihak lain.. Pengawasan (toezicht. Sebaliknya pengawasan (toezicht) merupakan kendali terhadap desentralisasi berlebihan. maka menurut ketentuan. Mengenai jangka waktu pelaksanaan Pengawasan preventif dijalankan dalam jangka waktu terbatas/tertentu.. supervision) merupakan unsur yang tidak dapat dipisahkan dari kebebasan berotonomi. Hubungan pengawasan hanya dilakukan terhadap hal yang secara 227 Bagir Manan. hlm. sewaktu-waktu dapat ditangguhkan atau dibatalkan. bukan hubungan internal dari entitas yang sama. . Bilamana Daerah berkeberatan atas penolakan tersebut.. supervision) adalah suatu bentuk hubungan dengan sebuah legal entity yang mandiri. pengertian pengawasan (toezicht.Cit. Pengawasan represif dilakukan untuk jangka waktu yang tidak terbatas.69 Keputusan untuk menunda harus disampaikan kepada Daerah beserta alasan-alasannya. Bentuk dan isi pengawasan dilakukan semata-mata menurut atau berdasarkan ketentuan undangundang.. Kebebasan dan kemandirian berotonomi dapat dipandang sebagai pengawasan atau kendali terhadap kecenderungan sentralisasi yang berlebihan.. Menyongsong Fajar. maka Daerah dapat mengajukan keberatan. Op.153.

dapat didekati melalui perbandingan pengawasan yang berlaku di Inggris. Pengawasan Administratif c. Jenis/Bentuk Pengawasan b. Pengawasan Administratif b. 229 228 . Pengawasan (goedkeuring). Hubungan Antara Pusat dan Daerah Menurut UUD 1945. Pengawasan tidak berlaku atau tidak diterapkan terhadap hal yang tidak ditentukan atau berdasarkan undang-undang.228 Ada dua jenis pengawasan baku terhadap satuan pemerintahan otonom yaitu pengawasan preventif (preventief toezicht) dan pengawasan represif (repressief toezicht). 2009. dan Belanda. Tabel 2: Perbandingan Pengawasan Pusat Terhadap Daerah di Inggris. Bandung. c.70 tegas ditentukan dalam undang-undang. Pengawasan Represif 1. Pengawasan Yudisial BELANDA 5 a. Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. dibuat Tabel oleh Agus Kusnadi. Pengawasan Yudisial Loc. preventif dikatkan dengan 229 wewenang wewenang mengesahkan pembatalan Pengawasan represif adalah (vernietiging) atau penangguhan(schorsing).43-114. Bentuk dan Ruang Lingkup Pengawasan Pusat Terhadap Daerah Dalam Mewujudkan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Yang Demokratis Menurut UUD 1945.Cit.. Objek-Objek Pengawasan Untuk mengetahui objek-objek pengawasan dalam konteks hubungan pusat dan daerah. Ibid. 154 230 Sumber : Bagir Manan. Pengawasan Legislatif PERANCIS 4 a. Pengawasan ini berkaitan dengan produk hukum daerah dan tindakan tertentu organ pemerintahan daerah. hlm. Pengawasan Preventif b. Perancis. Desertasi. hlm. Perancis dan Belanda230 NO 1 KATEGORI 2 INGGRIS 3 a.

Gedeputeerde Staten a. Parlemen a. Keputusan dan Kebijakan Daerah c. Commissaris van de Koning. Prefect dan Counseil d’Etat 2.71 a. KeputusanKeputusan yang harus mendapat pengesahan pemerintahan tingkat atasnya b. Peraturan dan Keputusan Daerah a. Keputusan yang mempunyai akibat hukum. Peraturan/ Kebijakan Ekonomi Pemerintah Daerah b. c) Tindakan administrasi negara pada pemerintahan daerah (bersifat beschikking dan . Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah berdasarkan undangundang Parlemen b. Pemerintah b. Kroon (Mahkota). Cour des c. b) Peraturan daerah (bersifat regeling). Pengadilan Comptes (Court of Accounts) a. Pembentuk UndangUndang. baik di bidang otonomi maupun tugas perbantuan. Peraturan. Subjek Pengawasan b. Counseil d’Etat. Objek Pengawasan a. Kroon (Mahkota). Pusat Tribuneux Administratif. Peraturan/ Kebijakan Commune. Keputusan atau tindakan administrasi negara Dari bagan yang ditunjukkan di atas dapat ditarik suatu kelaziman bahwa objek pengawasan pemerintah pusat terhadap satuan pemerintahan di bawahnya (atau pengawasan pusat terhadap daerah) adalah terhadap: a) Penyelenggaraan pemerintahan daerah sebagai pelaksanaan undangundang nasional. 3. dan Gedeputeerde Staten b.

3. To control local expenditures as part of the management and planning of the national economy. 7. Untuk memelihara standar-standar administrasi sebaik koordinasi administrasi pemerintahan). (Terj. Tujuan Pengawasan Relevan dengan pengawasan terhadap penyelenggaraan De Guzman dan Artno Pascho231 pemerintahan di daerah. 4. 28 Desember 1992. (Terj. 5. Raul P. 1. (Terj. f. (Terj. . antara dan diantara berbagai macam tingkatan 231 Ateng Syafrudin. To maintain minimun standards in the performance of services by local authorities. (memegang teguh dan menyatukan beraneka ragam rakyat menjadi suatu bangsa). To protect the citizens against the abuse of power by local authorities. Untuk mengawasi pengeluaran atau belanja daerah sebagai bagian manajemen dan perencanaan dari perekonomian nasional). yakni.72 beleidsregel). mengisyaratkan setidaknya ada 5 (lima) alasan mengapa pengawasan itu menjadi instrumen penting dalam rangka penyelenggaraan tugas-tugas pemerintahan di daerah. To maintain standards of administration as well as coordinate administrations between and among various levels of government. Masalah Hukum dalam Pemerintahan di Daerah. Makalah untuk pendidikan non-gelar anggota DPRD tingkat II se-Jawa Barat di Fakultas ISIP Unpad. Untuk melindungi para warga negara dari tindakan sewenang-wenang dari (pejabat) pemerintah daerah). hlm.untuk memelihara standar-standar minimum dalam melaksanakan pelayanan-pelayanan oleh pemerintah daerah). 2. dan d) Keputusan yang harus mendapatkan pengesahan dari satuan pemerintahan di atasnya. To Wield and integrated the diverse people into a nation.

Dinna. c. untuk menjaga kewibawaan pemerintah daerah dan kepentingannya. 71 . 1986.234 232 233 Ibid. 4) Menjaga agar tugas itu dijalankan berdaya guna (termasuk pengurusan. CV. Apa yang diawasi (obyek yang perlu diawasi) b. mengendalikan penyimpangan-penyimpangan. untuk mencegah kelalaian dalam administrasi yang dapat merugikan negara atau daerah. agar pelaksanaan pengawasan dapat dijadikan sebagai suatu alat (instrumen) yang efektif dalam rangka penyelenggaraan tugas-tugas pemerintahan daerah. Bohari. terus menerus. Menjaga agar rencana itu dalam realisasinya tetap terarah pada tujuan yang telah ditentukan. hlm. 3) Menjaga agar pelaksanaannya itu dijalankan sesuai dengan peraturanperaturan yang telah ditetapkan (peraturan yang berlaku). Masalah Pengurusan Keuangan Negara : Suatu Pengantar Teknis. berkenaan dengan penyelenggaraan tugas-tugas pemerintahan daerah. Azmy Akhir. sehingga tujuan dari kegiatan pengawasan tersebut dapat tercapai. Pengawasan tersebut harus bersifat rasional. dan fragmatis. yakni. Bagaimana pengawasan tersebut dapat dilakukan. Azmy Akhir. untuk mencapai hal-hal sebagai berikut : a. 3. serta akibat-akibatnya. d. untuk menghindari atau mencegah penyalahgunaan wewenang.N. Menurut M. 5) Melakukan usaha-usaha untuk mengatasi hambatan. e. Mengapa perlu diadakan pengawasan.N. 2.73 Ateng Syafrudin232 menyebutkan 3 (tiga) tujuan dari pelaksanaan pengawasan. maka harus diperhatikan beberapa kriteria sebagai berikut : a. fleksibel.233 Kriteria-kriteria di atas penting untuk menjadi pertimbangan dalam melakukan pengawasan. pemeliharaan) sesuai dengan tujuan. Menurut H. Dimana dan kapan diadakan pengawasan dan oleh siapa pengawasan tersebut harus dilakukan. 1. M. Jakarta.

159 . hlm. penyelewengan. hambatan.Cit. kesalahan dan kegagalan dalam pencapaian tujuan dan sasaran serta pelaksanaan tugas-tugas organisasi. 1995. Rajawali Pers.235 234 235 H. Jakarta. hlm. Op. 117-118 Lembaga Administrasi Negara RI. Bohari. pemborosan.74 Paling tidak tujuan pengawasan itu adalah untuk mencegah sedini mungkin terjadinya penyimpangan. Hukum Anggaran Negara.

238 Bagir Manan. Hubungan Kewenangan Perubahan Kedua UUD 1945 yang terjadi pada tahun 2000 mengubah secara mendasar pengaturan pemerintahan daerah di Indonesia. 32/2004 jo UU No.cit.241 Ketujuh. Yogyakarta.. 13.238 Keempat.237 Ketiga. 236 . Yogyakarta. 2001. 241 Ibid. hlm. 239 Ibid. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah. Prinsip menjalankan otonomi seluasluasnya yang diatur dalam Pasal 18 ayat (5) UUD 1945. 242 Ibid. UNSIKA. Prinsip badan perwakilan dipilih langsung dalam suatu pemilihan umum sebagaimana diatur dalam Pasal 18 ayat (3) UUD 1945.239 Kelima.. Prinsip daerah mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan sebagaimana diatur dalam Pasal 18 ayat (2) UUD 1945.75 BAB III PENGATURAN HUBUNGAN ANTARA PUSAT DAN DAERAH A. prinsip mengakui dan menghormati kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sebagaimana diatur dalam Pasal 18B ayat (2) UUD 1945. hlm 21. Menyongsong Fajar . Perjalanan Historis Pasal 18. hlm.. hlm. Karawang. prinsip mengakui dan menghormati pemerintahan daerah yang bersifat khusus dan istimewa sebagaimana diatur dalam Pasal 18B ayat (1) UUD 1945. hlm 15-16.236 Kedua. dan Bagir Manan. hlm 12.. Berdasarkan dasar hukum konstitusional pengaturan pemerintahan daerah dijumpai dalam Pasal-pasal 18. 1993.. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah. 8-9. pemerintahan daerah diselenggarakan berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut: pertama. 12-13. prinsip hubungan pusat dan daerah harus dilaksanakan secara selaras dan adil sebagaimana terdapat dalam Pasal 18A ayat (2) UUD 1945. 240 Ibid. Pusat Studi Hukum Fakultas Hukum UII. op.242 Saat ini undang-undang penyelenggaraan pemerintahan daerah sebagai pelaksanaan Pasal 18 ayat (7) didasarkan pada UU No.. 2001. 18A dan 18B. 237 Bagir Manan. Prinsip kekhususan dan keragaman daerah sebagai diatur dalam Pasal 18 ayat (1) UUD 1945.. hlm 17. Pusat Studi Hukum Fakultas Hukum UII.240 Keenam.

provinsi. dapat di identifikasi dua macam kelompok organ.kelautan . dalam Kumpulan Tulisan pasang surut otonomi Daerah. Provinsi. hlm. 2005. adalah organ-organ pemerintahan (regeringsorganen).pariwisata B. Kedudukan organisasi Negara ini tidak hierarkis sementara organ pemerintahan terdapat baik di tingkat 243 Bhenyamin Hoessein. 33/2004 serta berbagai peraturan lain yang relevan. yaitu urusan pemerintahan yang secara mutlak menjadi urusan pusat dan urusan pemerintahan yang dapat dilaksanakan baik oleh pemerintah. Yayasan Tifa. 197.Pertahanan.Yustisi. organ Negara termaksud hanya dijumpai di ibu kota Negara (di tingkat pemerintahan nasional). 38/2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah.pertanian . . dan .243 Dalam Negara kesatuan. kedua. . . Kabupaten/Kota Urusan Wajib Antara lain : . UU No. . Ketentuan Pasal 10 UU No. Pertama.pendidikan.Agama.76 12/2008.lingkungan hidup. . Pemerintahan Daerah Provinsi. Jakarta. yang memiliki perbedaan yang signifikan.Keamanan.Moneter dan Fiskal Nasional.perhubunga n Urusan Pilihan Antara lain : . .industri . Hubungan Kelembagaan Hakekat Negara adalah organisasi dan dalam organisasi Negara. dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. URUSAN ‘BERSAMA’ (concurrent power) Pusat. 32/2004 itu mengandung pengertian bahwa urusan pemerintahan dapat dibagi dalam dua kelompok. . maupun kabupaten/kota (concurrent power). . Hubungan Kewenangan Pusat dan Daerah. Bagan 6 Pembagian Urusan Pemerintahan URUSAN PEMERINTAHAN MUTLAK URUSAN PUSAT MM .Politik Luar Negeri.kesehatan. adalah organ-organ Negara (staatsorganen). Peraturan pelaksana yang mengatur hubungan kewenangan antara lain PP No.

khususnya pemerintahan tingkat daerah tersusun dalam satu kesatuan struktural dan 244 245 Ibid... Asas ini berfungsi untuk menciptakan keanekaragaman dalam penyelenggaraan pemerintahan.245 Dalam penjelasan umum UU No. prakarsa. Sejalan dengan prinsip tersebut dilaksanakan pula prinsip otonomi yang nyata dan bertanggungjawab. yang pada dasarnya untuk memberdayakan daerah termasuk meningkatkan kesejahteraan rakyat yang merupakan bagian utama dari tujuan nasional. wewenang. peningkatan peran serta. terjadi pembentukan dan implementasi kebijakan yang tersebar diberbagai jenjang pemerintahan subnasional. dan pemberdayaan masyarakat yang bertujuan pada peningkatan kesejahteraan rakyat. Adapun yang dimaksud dengan otonomi yang bertanggungjawab adalah otonomi yang dalam penyelenggaraannya harus benar-benar sejalan dengan tujuan dan maksud pemberian otonomi..77 nasional maupun di subnasional. desentralisasi berfungsi untuk mengakomodasi keanekaragaman masyarakat. 32 Tahun 2004 dijelaskan bahwa Prinsip otonomi daerah menggunakan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam arti daerah diberikan kewenangan mengurus dan mengatur semua urusan pemerintahan diluar yang menjadi urusan Pemerintah. Daerah memiliki kewenangan membuat kebijakan daerah untuk memberi pelayanan. 198 246 Penjelasan Umum UU No. sehingga terwujud variasi struktur dan politik untuk menyalurkan aspirasi masyarakat setempat. Prinsip otonomi nyata adalah suatu prinsip bahwa untuk menangani urusan pemerintahan dilaksanakan berdasarkan tugas. 197 Ibid.246 UUD 1945 menghendaki susunan pemerintahan. sesuai dengan kondisi dan potensi masyarakat. hlm. 32 Tahun 2004 .244 Dengan desentralisasi. hidup dan berkembang sesuai dengan potensi dan kekhasan daerah. Dengan perkataan lain. hlm. dan kewajiban yang senyatanya telah ada dan berpotensi untuk tumbuh. Dengan demikian isi dan jenis otonomi bagi setiap daerah tidak selalu sama dengan daerah lainnya. Kedudukan organ-organ pemerintahan bersifat hierarkis di bawah Presiden (Pemerintah).

Hubungan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Bandung. 197 Irawan Soejito. Atas dasar ketentuan tersebut dapat diketahui bahwa penyelenggaraan pemerintahan dilakukan dengan menggunakan sistem desentralisasi. 1. Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran. 182 249 Kuntana Magnar. Dalam hal ini adalah UU No. 32 Tahun 2004 . kewenangan dan kewajiban sendiri-sendiri. 4 Agustus 2009 250 Pasal 3 Ayat (1) UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah beserta perubahannya. antara pusat dan daerah akan terjadi hubungan antara lain hubungan kelembagaan. hubungan tersebut dalam praktek terlihat misalnya pada pengaturan organisasi perangkat daerah dan pemekaran daerah. hlm.250 247 248 Bagir Manan. meskipun tidak dalam susunan hirarkis satu sama lain. yang penyelenggaraannya melalui ketentuan Pasal 18 ayat (1).248 Hubungan antara Pemerintah Pusat dengan daerah otonom diatur dengan cara-cara tertentu yang diatur dengan undang-undang.78 fungsional yang utuh. Penerbit Bina Aksara. Hubungan dalam pengaturan organisasi perangkat daerah Sebagaimana diketahui bentuk Negara Indonesia tercantum di dalam Pasal 1 Ayat (1) UUD 1945. Hubungan… hlm.247 Negara (pemerintah Pusat) dan daerah kedua-duanya merupakan badan hukum publik yang masing-masing mempunyai badan pemerintahannya sendiri-sendiri dengan hak. 1984. susunan kelembagaan pemerintahan daerah terdiri dari: 1. tugas pembantuan dan dekonsentrasi.249 Menurut UU No. 32 Tahun 2004 Tentang pemerintahan Daerah beserta peraturan pelaksanaannya. dengan demikian terdapat pemencaran kekuasaan dari pusat kedaerah baik menurut asas otonomi. Bahan diskusi pada Diskusi Terbatas Pusat Studi Hukum Tata Negara. Berdasarkan kenyataan itu. Susunan luar dibawah Pemerintah Pusat terdapat Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota.

Susunan dalam terdiri dari DPRD dan kepala Daerah beserta perangkat daerah251 a. Kepala daerah dibantu oleh satu orang wakil kepala daerah. Perangkat daerah provinsi adalah unsur pembantu kepala daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah yang terdiri dari sekretariat daerah. Kepala daerah untuk provinsi disebut Gubernur. lembaga teknis daerah. baik sebagai pemimpin organisasi pemerintahan yang mengayomi. untuk kabupaten disebut bupati. sekretariat DPRD. dinas daerah dan lembaga teknis daerah252 b.253 2. Pasal 19 Ayat (2)UU No. melindungi dan melayani masyarakat maupun dalam memimpin organisasi administrasi pemerintahan. telah menunjukan eksistensinya. 41 Tahun 2007 253 Pasal 1 angka 8 PP No. Dalam hal pelantikan terdapat hubungan antara pemerintah dan pemerintah daerah sebagaimana diatur dalam Pasal 111 ayat (1) Gubernur dan wakil Gubernur dilantik oleh Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden. 32 Tahun 2004 Pasal 1 angka 7 PP No. untuk provinsi disebut wakil Gubernur. dan kelurahan. 41 . Bupati/Walikota. (4) Tata cara pelantikan dan pengaturan selanjutnya diatur dalam Peraturan Pemerintah Kedudukan dan peranan kepala daerah dengan beragam penyebutan seperti Gubernur. kecamatan. pembangunan 251 252 Pasal 3 Ayat (2)jo. Perangkat daerah kabupaten/kota adalah unsur pembantu kepala daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah yang terdiri dari sekretariat daerah. Dalam memutar roda organisasi pemerintahan. dinas daerah. 32 Tahun 2004 menyebutkan pada Setiap daerah dipimpin oleh kepala pemerintah daerah yang disebut kepala daerah. untuk kabupaten disebut wakil bupati dan untuk kota disebut wakil walikota. (2) Bupati dan wakil bupati atau walikota dan wakil walikota dilantik oleh Gubernur atas nama Presiden. Kepala daerah Pasal 24 UU No. dan untuk kota disebut walikota. sekretariat DPRD.79 2.

gejolak dan permasalahan pemerintahan di daerah. Jakarta. serta menginformasikan laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada masyarakat. Kaloh. pada Ayat (3) dikatakan Laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada Pemerintah dimaksud disampaikan kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri untuk Gubernur. Laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada Pemerintah disampaikan kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri untuk Gubernur. Kepala Daerah juga mempunyai kewajiban untuk memberikan laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada Pemerintah Pasal 27 Ayat (2). 32 Tahun 2004 Hubungan organisasi perangkat daerah antara pemerintah dengan pemerintah daerah terdapat dalam hal melaksanakan tugas dan wewenang kepala daerah dan wakil kepala daerah mempunyai kewajiban menjalin hubungan kerja dengan seluruh instansi vertikal di daerah dan semua perangkat daerah (Pasal 27 Ayat (1)). dan kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur untuk Bupati/Walikota 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun. kepala daerah secara terus menerus dihadapkan pada pelbagai tuntutan dan tantangan baik secara internal maupun eksternal yang harus di respon dan diantisipasi sekaligus merupakan ujian terhadap kapabilitias dan kompetensi Kepala Daerah. 254 J. Laporan tersebut digunakan Pemerintah sebagai dasar melakukan evaluasi penyelenggaraan pemerintahan daerah dan sebagai bahan pembinaan lebih lanjut sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Hubungan Kepala Daerah dengan Pemerintah Menurut UU No.254 3. 3 . Kepala Daerah. dan memberikan laporan keterangan pertanggungjawaban kepada DPRD. serta dalam menghadapi konflik. dan kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur untuk Bupati/Walikota 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun. Hlm. Selain itu.80 dan pembinaan kemasyarakatan. 2003. Penerbit Gramedia Pustaka. kepala daerah mempunyai kewajiban juga untuk memberikan laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada Pemerintah.

81 Laporan sebagaimana dimaksud digunakan Pemerintah sebagai dasar melakukan evaluasi penyelenggaraan pemerintahan daerah dan sebagai bahan pembinaan lebih lanjut sesuai dengan peraturan perundang-undangan. c) koordinasi pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan tugas pembantuan di daerah provinsi dan kabupaten/kota. dan/atau tindak pidana terhadap keamanan Negara. 4. makar. Pada Ayat (2) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah diberhentikan oleh Presiden tanpa melalui usulan DPRD apabila terbukti melakukan tindak pidana berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. 32 Tahun 2004 ayat (1) Pasal 37 UU No. Gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat Gubernur yang karena jabatannya berkedudukan juga sebagai wakil Pemerintah di wilayah provinsi yang bersangkutan. dan Pasal 32 ayat (5). Tindak pidana itu antara lain menurut Pasal 31 ayat (1) tindak pidana korupsi.256 Gubernur dalam kedudukannya sebagai wakil pusat di daerah. Pasal 31 ayat (1). 255 256 Pasal 37 UU No. Pasal 34 ayat (3) menyebutkan apabila kepala daerah dan wakil kepala daerah diberhentikan sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1). memiliki tugas dan wewenang257 dalam hal a) pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah kabupaten/kota. 32 Tahun 2004 ayat (2) 257 Pasal 38 Ayat (1) .255 Dalam kedudukannya tersebut Gubernur bertanggung jawab kepada Presiden. tindak pidana terorisme. Presiden menetapkan penjabat Gubernur atas usul Menteri Dalam Negeri atau penjabat Bupati/Walikota atas usul Gubernur dengan pertimbangan DPRD sampai dengan adanya putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. b) koordinasi penyelenggaraan urusan Pemerintah di daerah provinsi dan kabupaten/kota. Pasal 30 ayat (1) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah diberhentikan sementara oleh Presiden tanpa melalui usulan DPRD apabila dinyatakan melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun atau lebih berdasarkan putusan pengadilan.

Jakarta 2005. hlm. mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian kepala daerah/wakil kepala daerah kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri bagi DPRD provinsi dan kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur bagi DPRD kabupaten/kota. e. b. Adapun mengenai tugas dan wewenang DPRD sebagaimana diatur dalam Pasal 42 UU 32 Tahun 2004 adalah: a. kebijakan pemerintah daerah dalam melaksanakan program pembangunan daerah. DPRD Konsep perwakilan politik lokal terkait dengan sistem pemerintahan yang dipraktikkan suatu Negara. Institute for Local Development Yayasan TIFA. memilih wakil kepala daerah dalam hal terjadi kekosongan jabatan wakil kepala daerah. BN. membentuk Perda yang dibahas dengan kepala daerah untuk mendapat persetujuan bersama. melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan Perda dan peraturan perundang-undangan lainnya. keterlibatan masyarakat secara langsung dan tidak langsung ikut menentukan urusan urusan rumah tangga daerahnya. artinya. dalam Kumpulan Tulisan “Pasang Surut Otonomi Daerah”. Marbun. membahas dan menyetujui rancangan Perda tentang APBD bersama dengan kepala daerah. dan pengawasan (Pasal 41).82 5. anggaran. Dengan kedudukannya seperti tersebut DPRD memiliki fungsi legislasi. 32 Tahun 2004) dan DPRD sebagai lembaga perwakilan rakyat daerah dipilih melalui pemilihan umum bersamaan dengan pemilihan anggota DPR dan DPD. dan kerja sama internasional di daerah. c.258 Sebagaimana telah disinggung sebelumnya bahwa DPRD merupakan unsur pemerintahan daerah bersama kepala daerah (Pasal 40 UU No. d. editor Anhar Gonggong. APBD. Perwakilan Politik Lokal dan Eksistensi DPRD dalam Konteks Otonomi Daerah. Konsep perwakilan politik lokal merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sistem demokrasi. peraturan kepala daerah. 327 258 .

memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama internasional yang dilakukan oleh pemerintah daerah. g. memberikan pendapat dan pertimbangan kepada pemerintah daerah terhadap rencana perjanjian internasional di daerah. 32 Tahun 2004 yang pelaksanaannya melalui PP No. atau dengan perkataan lain DPRD bukan merupakan subordinasi dari DPR RI. namun DPRD tidak mempunyai hubungan secara langsung dengan DPR. kekuasaan DPRD baik tingkat provinsi maupun Kabupaten/Kota akan melalui sebuah upaya evaluasi peraturan pelaksanaannya. yaitu UU No. membentuk panitia pengawas pemilihan kepala daerah. j. Bahkan dalam hal pembentukan perda. kedudukan dan fungsi DPR RI. kedudukan serta fungsi DPRD ini berada dalam satu undang-undang yang sama dengan pengaturan mengenai susunan. Meskipun pengaturan tentang susunan. meminta laporan keterangan pertanggungjawaban kepala daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. 32 Tahun 2004. DPR. 23 Tahun 2002 sebagaimana disebutkan dalam Pasal 39 UU No. k. h. bahkan dalam cara pengisiannyapun sama-sama dipilih secara langsung oleh rakyat melalui pemilu. 6.83 f. Dengan adanya PP tersebut menunjukan adanya hubungan . Perangkat Daerah Keberadaan perangkat daerah dijumpai pada Pasal 1 Angka 3 dan Pasal 120 UU No. 41 Tahun 2007. Disamping itu DPRD juga sebenarnya merupakan bagian atau unsur kekuasaan eksekutif pada level pusat karena merupakan bagian dari penyelenggara pemerintahan daerah. melakukan pengawasan dan meminta laporan KPUD dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah. Pengaturan mengenai DPRD ini selain diatur dalam UU No. DPD dan DPRD. memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama antardaerah dan dengan pihak ketiga yang membebani masyarakat dan daerah. 32 Tahun 2004 juga diatur dalam UU yang mengatur tentang Susunan Kedudukan MPR. i.

Dalam ketentuan ini pemerintah dapat membatalkan . integrasi. Perangkat daerah provinsi terdiri atas sekretariat daerah. Paling lama 30 hari setelah pembatalan. sinkronisasi dan simplifikasi antardaerah dan antarsektor. dinas daerah. Dalam hal tidak ditetapkan Gubernur. (3)). Pembentukan organisasi perangkat daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah dengan berpedoman pada PP mengenai Susunan. dan lembaga teknis daerah. sekretariat DPRD. Kepala Daerah dapat mengajukan keberatan pada Mahkamah Agung (Ayat (5)). Selanjutnya DPRD dengan Kepala Daerah mencabut perda dimaksud (Ayat (4)). Setiap perda dilarang bertentangan dengan kepentingan umum. Kedudukan.84 kelembagaan antara pusat dan daerah dalam pengaturan organisasi perangkat daerah. 41 Tahun 2007 dijelaskan bahwa Pembinaan dan pengendalian organisasi dalam Peraturan Pemerintah ini dimaksudkan dalam rangka penerapan koordinasi. 32 Tahun 2004). Perda yang bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundang-undangan lebih tinggi. dan/atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi (Pasal 136 Ayat( 4)). Apabila Provinsi. Sedang untuk Kabupaten/Kota ditambah dengan kecamatan dan keluarahan (Pasal 120 UU No. Suatu raperda ditetapkan oleh Gubernur atau Bupati/Walikota paling lama 30 hari sejak disetujui bersama (Pasal 144 Ayat (3)). Tugas Pokok dan Fungsi Perangkat Daerah. Kepala Daerah harus memberhentikan pelaksanaan perda. raperda itu sah menjadi perda (Ayat 4). Apabila keberatan itu dikabulkan sebagian atau seluruhnya putusan Mahkamah Agung tersebut menyatakan Peraturan Presiden menjadi batal dan tidak mempunyai kekuatan hukum. Pada penjelasan umum PP No. Kabupaten/Kota tidak menerima pembatalan tersebut dengan alasan yang dapat dibenarkan oleh peraturan perundang-undangan. dapat dibatalkan oleh pemerintah yang ditetapkan dengan Peraturan Presiden paling lama 60 hari sejak diterimanya perda oleh Pemerintah (Pasal 145 ayat (2). Bupati/Walikota dalam jangka waktu tersebut. sehingga masing-masing pemerintah daerah taat asas dan taat norma dalam penataan kelembagaan perangkat daerah.

juga terdapat celah bagi peran DPD meskipun sangat terbatas terlihat pada Pasal 22 D ayat 1. pemerintah senantiasa melakukan fasilitasi melalui asistensi. 32 Tahun 2004 antara lain diatur didalam Pasal 4 Ayat (3) dan (4). pedoman.2 dan 3 UUD 1945. bimbingan. Hubungan dalam pembentukan daerah (pemekaran dan pembubaran daerah)260 Hubungan kelembagaan lainnya terdapat dalam pembentukan daerah (pemekaran dan pembubaran daerah). supervisi. serta kerja sama. Pada Pasal 5 Ayat (2) dan (3) jelas nampak adanya hubungan kelembagaan antara pusat dan daerah dalam pembentukan daerah. Dalam pelaksanaan pembinaan dan pengendalian organisasi perangkat daerah. kabupaten. 41 Tahun 2007 Tentang SOTK Kuntana Magnar. Pusat Studi HTN . telah terjadi banyak sekali pemekaran daerah provinsi. Selain akan terkait dengan DPR dan Presiden (dalam hal ini diwakili Mendagri). Kabupaten dan Kota dengan UU. yaitu sejak dikeluarkannya UndangUndang Nomor 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah. Menurut UU No.259 7. Pasal 5. Demikian pula pada Pasal 7 dan Pasal 8. Bahan Diskusi Terbatas. Sementara pada kelembagaan pusat. pemberian arahan. Dalam sepuluh tahun terakhir. yaitu dalam hal syarat administratif terkait DRPD Kabupaten dan Kota. Hal itu disebabkan diberikannya peluang yang sangat besar (untuk terjadinya pemekaran) oleh undang-undang tersebut yang kemudian 259 260 Penjelasan Umum PP No. Pasal 18 ayat 1 UUD 1945 menganut desentralisasi teritorial sehingga akan dibentuk daerah-daerah baik Provinsi. maupun kota di Indonesia. sehingga sinkronisasi dan simplifikasi dapat tercapai secara optimal dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bupati dan Walikota. Pasal 7 Ayat (1) dan (2) serta Pasal 8. pelatihan. DPRD Provinsi dan Gubernur dengan Menteri Dalam Negeri.85 peraturan daerah tentang perangkat daerah yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan dengan konsekuensi pembatalan hak-hak keuangan dan kepegawaian serta tindakan administratif lainnya.

dan daya saing daerah sebagaimana yang diharapkan ketika pembentukan daerah baru. Sebagai akibatnya. Pembentukan daerah baru juga dilakukan atas nama kepentingan masyarakat. baik provinsi. pemekaran daerah belum menjadi jaminan atau obat yang mujarab dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. mengundang kecemasan mengenai keberlanjutan dan kemampuan suatu daerah otonom baru untuk dapat bertahan mengurus rumah tangganya sendiri. 4. dan daya saing daerah. Pengkajian Penataan Daerah Otonom Kabupaten/Kota di Jawa Barat. Namun demikian. Namun di sisi lain. pembentukan daerah baru pun banyak terjadi seperti cendawan tumbuh di musim hujan. maupun kota. Dalam hal ini. kecenderungan untuk melakukan pemekaran daerah atau pembentukan daerah baru masih saja berlanjut. Di satu sisi. Bahkan. banyak elit daerah yang mengajukan pemekaran daerah dengan dalih sudah memenuhi syarat yang ditentukan oleh undang-undang. . kabupaten. Laporan Penelitian. Sekalipun saat ini undang-undang tersebut sudah tidak berlaku. yaitu untuk meningkatkan kesejahtraan masyarakat. pelayanan masyarakat (publik). 2002. Para politisi lokal pun tetap beramai-ramai membentuk daerah baru dengan mengedepankan 261 Pusat Pengkajian dan Pengembangan Wilayah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran. pelayanan publik (umum). hlm. tampaknya paradigma berpikir masyarakat pun tidak berubah dengan perubahan dasar hukum pemerintahan daerah tersebut.261 Dengan demikian. kecenderungan tersebut dapat diterima dan dipahami sebagai wujud adanya kedewasaan dan harapan untuk mengurus dan mengembangkan potensi daerah dan masyarakatnya. Bahkan sangat mungkin terjadi sebaliknya di mana pemekaran daerah dapat menjadi penyebab persoalan bagi kehidupan masyarakat di daerah yang baru dibentuk tersebut. Bandung. Adanya fakta banyak daerah baru yang dibentuk. adalah salah satu implikasi negatif berlakunya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999.86 dimanfaatkan oleh para politisi atau elit lokal (daerah). kecenderungan membentuk daerah otonom baru tidak serta-merta berakhir dengan digantinya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004.

Berkaitan dengan hal itu. 8.87 alasan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. yaitu Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah. Jakarta. 2009. hlm. pelayanan publik. maupun kemampuan daerah. pada kenyataannya masalah tersebut “sudah” 262 Sekretariat Jenderal Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia. sebenarnya tidak ada peraturan perundang-undangan yang secara khusus mengatur hal tersebut. kabupaten. Pengaturan undangan Pemekaran Daerah dalam Peraturan Perundang- Berbicara tentang pengaturan pemekaran daerah. baik dari segi sumberdaya manusia. Dari bunyi pasal tersebut dapat diasumsikan bahwa wilayah Indonesia dibagi baik ke dalam provinsi yang sudah ada atau dapat dibagi lagi ke dalam provinsi yang baru melalui pemekaran. . Namun demikian. sumberdaya keuangan. sekalipun ketentuan UUD 1945 menyebutkan “akan” diatur lebih lanjut dengan undang-undang. yang diatur dengan undang-undang”. Pembentukan daerah (baru) dapat ditafsirkan dari bunyi Pasal 18 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) hasil perubahan kedua pada tanggal 18 Agustus 2000262 yang menyatakan bahwa “Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota. maupun sumberdaya alamnya. UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Dengan demikian. secara faktual pada saat itu sudah terdapat undang-undang yang mengatur tentang hal tersebut. penjabarannya (akan) diatur lebih lanjut dengan undangundang. dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah. Alasan tersebut menjadi senjata yang sangat ampuh untuk membentuk daerah baru tanpa mempertimbangkan aspek lain. seperti keadaan sosial-budaya masyarakat. 31. keharmonisan hubungan pemerintahan. yang tiap-tiap provinsi. maupun daya saing daerah. Demikian pula untuk provinsi dapat dibagi ke dalam kabupaten dan kota yang sudah ada maupun dibagi lagi ke dalam kabupaten dan kota yang baru.

penggabungan dan pemekaran Daerah. Apabila dilihat rumusannya. ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Pasal tersebut berbunyi “Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi dalam Daerah Propinsi. b. dan Daerah Kota yang bersifat otonom”. penggabungan. Adapun mekanisme pembentukan. dan/atau pemekaran daerah dijelaskan sebagai berikut: a. Bahkan sebenarnya. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Daerah Kabupaten. Pemerintah menugaskan Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah . dihapus. dan pemekaran Daerah. (2) Daerah dapat dimekarkan menjadi lebih dari satu Daerah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). hal itu diatur dalam Pasal 6 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang berbunyi: (1) Daerah yang tidak mampu menyelenggarakan Otonomi Daerah dapat dihapus dan atau digabung dengan Daerah lain. digabung. Dari bunyi pasal di atas.88 diatur dengan undang-undang yang ada. sebenarnya rumusan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 lebih baik daripada rumusan Pasal 18 ayat (1) UUD 1945. kabupaten. Daerah yang akan dibentuk. penghapusan. dan kota yang harus ada di Indonesia. (3) Kriteria tentang penghapusan. rumusan Pasal 18 ayat (1) UUD 1945 adalah hasil adopsi rumusan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999. (4) Penghapusan. Berkaitan dengan pemekaran daerah. penggabungan. sehingga tidak ada pembatasan sampai berapa tahap pemekaran itu dapat dilakukan dan sampai berapa jumlah provinsi. pemekaran daerah sangat dimungkinkan bahkan ketentuannya terkesan sangat longgar. Kenyataan itu juga turut dipermudah dengan proses dan mekanisme pemekaran yang sangat mudah seperti yang dapat dilihat dalam penjelasan Pasal 115 ayat (1) yang berkaitan dengan tugas Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah. dan/atau dimekarkan diusulkan oleh Kepala Daerah dengan persetujuan DPRD kepada Pemerintah. ditetapkan dengan Undangundang.

terutama dalam Pasal 13 ayat (1) disebutkan bahwa pemekaran daerah dapat dilakukan berdasarkan kriteria sebagai berikut: a. luas daerah. pertimbangan lain yang memungkinkan terselenggaranya Otonomi Daerah. c. dan Penggabungan Daerah. sosial-budaya. kemampuan ekonomi. usul pembentukan Propinsi disampaikan kepada Pemerintah cq Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah dengan dilampirkan hasil penelitian Daerah dan persetujuan DPRD Propinsi dan DPRD Kabupaten/Kota yang berada dalam wilayah Propinsi dimaksud. Penghapusan. g. luas daerah. penghapusan. penggabungan. dan/atau pemekaran Daerah Otonom. dan Penggabungan Daerah. Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah menyampaikan pertimbangan untuk penyusunan rancangan undang-undang yang mengatur pembentukan. jumlah penduduk. Pembentukan. ada kemauan politik dari Pemerintah Daerah dan masyarakat yang bersangkutan. potensi daerah. yang dituangkan dalam Keputusan DPRD. dan pertimbangan lain. Penghapusan. e. potensi daerah. yaitu: a. c. Pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 129 Tahun 2000 tentang Persyaratan. pembentukan Daerah harus didukung oleh penelitian awal yang dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah. d. Dalam BAB IV tentang Kriteria Pemekaran. jumlah penduduk. sosial budaya.89 untuk melakukan penelitian dengan memperhatikan kemampuan ekonomi. sosial politik. f. c. b. Selanjutnya. b. berkaitan dengan prosedur pemekaran daerah dianggap sama dengan prosedur pembentukan daerah. . Sebagai pelaksanaan lebih lanjut perintah Pasal 6 ayat (3) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999. sosial-politik. dan Kriteria Pemekaran.

apabila berdasarkan hasil keputusan rapat anggota Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah menyetujui usul pembentukan Daerah. penghapusan. Oleh karena itu. i. dan penggabungan daerah diganti seiring dengan digantinya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah. tidak mengherankan sampai saat ini proses pemekaran daerah masih . peraturan pemerintah yang berkaitan dengan persyaratan. yang dituangkan dalam Keputusan DPRD. g. e. Rancangan Undangundang pembentukan Daerah disampaikan kepada DPR-RI untuk mendapat persetujuan. berdasarkan saran dan pendapat Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah. f. Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah selaku Ketua Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah mengajukan usul pembentukan Daerah tersebut beserta Rancangan Undang-undang Pembentukan Daerah kepada Presiden. Sama halnya dengan undang-undang sebelumnya. apabila Presiden menyetujui usul dimaksud. para anggota Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah memberikan saran dan pendapat secara tertulis kepada Ketua Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah. usul pembentukan suatu daerah diputuskan dalam rapat anggota Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah. Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah memproses lebih lanjut dan dapat menugaskan Tim untuk melakukan observasi ke Daerah yang hasilnya menjadi bahan rekomendasi kepada Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah. h. Ketua Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah meminta tanggapan para anggota Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah dan dapat menugaskan Tim Teknis Sekretariat Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah ke Daerah untuk melakukan penelitian lebih lanjut. dan kriteria pemekaran. dengan memperhatikan usulan Gubernur. usul pembentukan Kabupaten/Kota disampaikan kepada Pemerintah cq Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah melalui Gubernur dengan dilampirkan hasil penelitian Daerah dan persetujuan DPRD Kabupaten/Kota serta persetujuan DPRD Propinsi. pembentukan.90 d. j. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 juga masih membuka peluang terjadinya pemekaran daerah. Hal itu dapat dilihat dari bunyi Pasal 2 ayat (1) yang berbunyi ”Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota yang masing-masing mempunyai pemerintahan daerah”. Selanjutnya. berdasarkan rekomendasi pada huruf e.

(2) Syarat administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk provinsi. sarana. serta perangkat daerah. cakupan wilayah. peralatan. sosial budaya. (5) Syarat fisik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi paling sedikit 5 (lima) kabupaten/kota untuk pembentukan provinsi dan paling sedikit 5 (lima) kecamatan untuk pembentukan kabupaten. . Pembentukan daerah dapat berupa penggabungan beberapa daerah atau bagian daerah yang bersandingan atau pemekaran dari satu daerah menjadi dua daerah atau lebih. (4) Syarat teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi faktor yang menjadi dasar pembentukan daerah yang mencakup faktor kemampuan ekonomi. ibukota. (3) Syarat administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk kabupaten/kota meliputi adanya persetujuan DPRD kabupaten/kota dan Bupati/Walikota yang bersangkutan. kependudukan.91 dilakukan dan terus berlangsung karena memang undang-undangnya membuka peluang untuk itu. Pengaturan tentang pembentukan daerah dan pemekaran daerah diatur dalam Pasal 4. dan prasarana pemerintahan. keamanan. lokasi calon ibukota. Pemekaran dari satu daerah menjadi 2 (dua) daerah atau lebih sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat dilakukan setelah mencapai batas minimal usia penyelenggaraan pemerintahan. Undang-undang pembentukan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) antara lain mencakup nama. sosial politik. dan dokumen. teknis. persetujuan DPRD provinsi dan Gubernur serta rekomendasi Menteri Dalam Negeri. meliputi adanya persetujuan DPRD kabupaten/kota dan Bupati/Walikota yang akan menjadi cakupan wilayah provinsi. pendanaan. pertahanan. luas daerah. Pasal 6. dan fisik kewilayahan. (3) (4) Pasal 5 (1) Pembentukan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 harus memenuhi syarat administratif. persetujuan DPRD provinsi induk dan Gubernur. pengisian keanggotaan DPRD. dan Pasal 7 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang berbunyi sebagai berikut: Pasal 4 (1) (2) Pembentukan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) ditetapkan dengan undang-undang. penunjukan penjabat kepala daerah. serta rekomendasi Menteri Dalam Negeri. dan 4 (empat) kecamatan untuk pembentukan kota. dan faktor lain yang memungkinkan terselenggaranya otonomi daerah. pengalihan kepegawaian. kewenangan menyelenggarakan urusan pemerintahan. batas. potensi daerah.

terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah. (2) Penghapusan dan penggabungan daerah otonom dilakukan setelah melalui proses evaluasi terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah. Sementara itu dalam Pasal 7 Ayat (1) ditentukan bahwa penghapusan dan penggabungan daerah beserta akibatnya ditetapkan dengan undangundang. Dalam ketentuan Pasal 8 tidak ditegaskan . 32 Tahun 2004 menentukan bahwa penghapusan dan penggabungan daerah otonom. dalam pembentukan dan pememkaran serta penggabungan daerah terkait juga peran dari Dewan Perwakilan Daerah (DPD) meskipun sangat terbatas. Tata cara pembentukan penghapusan dan penggabungan daerah. dilakukan setelah melalui proses evaluasi. dan kepada Menteri Dalam Negari melalui Gubernur untuk Bupati/Walikota dalam satu tahun. perubahan nama daerah. Sehubungan dengan itu. Pasal 6 U No. yaitu DPD dapat menngajukan kepada DPR rancangan undang-undang (RUU) tentang hal dimaksud. Laporan tersebut disampaikan kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri untuk Gubernur. diatur dengan PP (Pasal 8). pemberian nama. Selanjutnya laporan dimaksud digunakan pemerintah sebagai dasar melakukan evaluasi penyelenggaraan pemerintahan daerah (Pasal 27 Ayat (2) dan (3) UU 32 Tahun 2004). atas usul dan persetujuan daerah yang bersangkutan (Ayat (2) dan (3)). (3) Pedoman evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah. serta perubahannya atau pemindahan ibu kota ditetapkan dengan PP. sedangkan mengenai perubahan batas suatu daerah. Kepala Daerah berkewajiban untuk memberikan laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada Pemerintah (pusat).92 Pasal 6 (1) Daerah dapat dihapus dan digabung dengan daerah lain apabila daerah yang bersangkutan tidak mampu menyelenggarakan otonomi daerah.

sebab apabila merujuk pada Pasal 4 Ayat (3) dikatakan pembentukan daerah dapat berupa: a. Penggabungan beberapa kecamatan yang bersanding pada wilayah kabupaten/kota yang berbeda. Pemekaran dari 1 (satu) kabupaten/kota menjadi 2 (dua) kabupaten/kota atau lebih. (3) Pembentukan daerah provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat berupa: a. Pemekaran dari 1 (satu) provinsi menjadi 2 (dua) provinsi atau lebih. Selanjutnya. c. Adapun peraturan pemerintah yang dimaksud adalah Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2007 Tentang Tata Cara Pembentukan. dan Penggabungan Daerah. (4) Pembentukan daerah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat berupa: a. Penggabungan beberapa provinsi menjadi 1 (satu) provinsi. Penghapusan. Penggabungan beberapa kabupaten/kota yang bersanding pada wilayah provinsi yang berbeda. . Pasal 5. Pada ketentuan ini tidak ditegaskan bagaimana dengan perluasan daerah. dapat berupa pembentukan daerah provinsi atau daerah kabupaten/kota.93 bagaimana dengan pemekaran dan perluasan daerah. Berkaitan dengan pemekaran daerah menurut Peraturan Pemerintah tersebut sebenarnya hampir sama sebagaimana diatur dalam Pasal 2. (2) Pembentukan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). b. penghapusan. dan penggabungan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. dan Pasal 6 diatur dengan Peraturan Pemerintah. c. Pemekaran dari satu daerah menjadi dua daerah atau lebih. b. Penggabungan beberapa daerah atau bagian daerah yang bersandingan. yaitu: (1) Pembentukan daerah dapat berupa penggabungan beberapa daerah atau bagian daerah yang bersandingan atau pemekaran dari satu daerah menjadi dua daerah atau lebih. b. ketentuan tentang tata cara pembentukan.

Penggabungan beberapa kabupaten/kota menjadi 1 (satu) kabupaten/kota. Hal ini adalah suatu kemajuan dibandingkan dengan peraturan pemerintah sebelumnya. maka terhadap pengertian pemekaran sebenarnya bukan pemecahan. Namun demikian. Hal ini sangat penting agar suatu daerah dapat menjalankan roda pemerintahan sebagai daerah yang baru dibentuk.94 c. Berdasarkan data yang diajukan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidato pengantar Rancangan Undang-Undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2010 dan Nota Keuangan di depan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tanggal 3 Agustus 2009 diketahui bahwa sejak tahun 1999 sampai dengan 2009 telah terbentuk 205 daerah baru yang terdiri dari 7 provinsi. Apabila ketentuan Pasal 4 Ayat (3) UU No. Dengan demikian. kabupaten. 164 kabupaten. jumlah daerah otonom di Indonesia menjadi 33 provinsi. 389 kabupaten. Salah satu perbedaan penting antara kedua peraturan pemerintah tersebut adalah dalam Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2007 diatur tentang batas waktu minimal suatu daerah dapat dimekarkan (lagi) setelah dimekarkan. sampai sekarang (2009). dan 34 kota. Sebagai akibat dari mudahnya prosedur pemekaran daerah seperti yang dijelaskan di atas. kedua peraturan perundang-undangan di atas memiliki kesamaan di mana keduanya sangat membuka peluang terjadinya pemekaran daerah baru. dan 96 kota. Selengkapnya Pasal 3 berbunyi “Daerah yang dibentuk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3) huruf a dan ayat (4) huruf a dapat dimekarkan setelah mencapai batas minimal usia penyelenggaraan pemerintahan 10 (sepuluh) tahun bagi provinsi dan 7 (tujuh) tahun bagi kabupaten/kota. maupun kota. 32 Tahun 2004 diteliti. tetapi mengandung arti bahwa suatu daerah seharusnya dibesarkan bukan . sampai dengan sekarang (2009) telah terjadi banyak sekali pemekaran daerah menjadi daerah otonom baru baik provinsi.

Peningkatan pelayanan kepada masyarakat. Percepatan pertumbuhan kehidupan demokrasi. 2. peningkatan keamanan dan ketertiban. Persetujuan DPRD Provinsi dan Gubernur serta rekomendasi Menteri Dalam Negeri (Ayat 3). dan faktor lain yang memungkinkan terselenggaranya otonomi daerah. e. 3. 22 Tahun 1999) dapat diketahui bahwa: 1. Pembentukan daerah adalah pemberian status pada wilayah tertentu sebagai Daerah Provinsi. Syarat teknis meliputi faktor yang menjadi dasar pembentukan daerah yang mencakup faktor kemampuan ekonomi. dan . lokasi calon ibukota. 4 kecamatan untuk Kota. Percepatan pengelolaan potensi daerah. Syarat administrasi untuk Provinsi meliputi adanya persetujuan DPRD Kabupaten/Kota dan Bupati/ Walikota yang akan menjadi cakupan wilayah provinsi. Melalui PP No. Sebenarnya yang perlu diperhatikan dalam pembentukan pemekaran penhapusan dan penggabungan daerah yaitu tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan melalui: a. social politik. d. luas daerah. Kabupaten dan Kota. potensi daerah social budaya.95 dipacah. b. pertahanan keamanan. c. Pemekaran daerah adalah pemekaran wewenang dari Pemerintah kepada Gubernur sebagai wakil pwemerintah dan/atau perangkat pusat di daerah. Penggabungan daerah adalah pengaturan daerah yang dihapus kepada daerah lain. sarana dan prasarana pemerintahan. Percepatan pelaksanaan pembangunan perekonomian daerah. Pembentukan daerah itu sendiri harus memenuhi syarat administratif dan fisik kewilayahan (Pasal 5 Ayat (1)). 129 Tahun 2000 (semasa UU No. Persetujuan DPRD Provinsi induk dan Gubernur serta rekomendasi Menteri Dalam Negeri (Pasal 5 Ayat (2)) adapun untuk Kabupaten/Kota meliputi adanya persetujuan DPRD Kabupaten/Kota dan Bupati/Walikota yang bersangkutan. Sementara syarat fisik meliputi paling sedikit 5 Kabupaten/Kota untuk pembentukan Provinsi dan paling sedikit 5 Kecamatan untuk pembentukan Kabupaten. kependudukan.

Bangka. sosial politik. pemerintah menetapkan Indonesia dibagi menjadi delapan provinsi. c. Pada awal tahun 1950. Untuk itu terlebih dahulu harus dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut: a. Jawa Barat. dan Negara Indonesia Timur. g. Dayak Besar. Pada akhir tahun 1949. Akibatnya tiap-tiap negara bagian mulai menyatukan diri satu per satu dengan Republik Indonesia.html .96 f. Borneo. Riau. Keenam belas negara bagian itu adalah: Republik Indonesia. Sunda Kecil. Jumlah provinsi: 8. Negara Jawa Timur.php/topic. jumlah penduduk. Negara Sumatera Timur. Jumlah provinsi: 16. e. Peningkatan hubungan yang serasi antara pusat dan daerah.com/forum/index. Borneo Tenggara. ketika Belanda mengakui kemerdekaan Republik Indonesia Serikat (RIS) 27 Desember 1949. 263 Data diolah dari http://www. Jawa Tengah.0.263 Daftar Nama dan Jumlah Provinsi di Indonesia Sejak 1945-2009 1. Negara Madura. Jawa Timur. RIS terdiri atas 16 negara bagian dan 1 Wilayah Federal Batavia. terdapat berbagai perubahan wilayah Indonesia karena munculnya negara-negara baru dalam wilayah Indonesia. potensi daerah. 3. dan Maluku. Pertimbangan lain yang memungkinkan terselenggaranya ekonomi daerah. Negara Pasundan. sosial budaya d. Di bawah ini disajikan data perkembangan jumlah daerah provinsi di Indonesia melalui pemekaran daerah sejak 1945-2009. Pada tahun 1945. muncul gerakan untuk kembali ke negara kesatuan. kemampuan ekonomi.lautanindonesia. 2. Daerah Istimewa Borneo Barat. b. f. Daerah Banjar. Jawa Tengah. Sulawesi. Belitung.5619. luas daerah. yaitu Sumatera. Negara Sumatera Selatan. Antara tahun 1946-1949. Federasi Borneo Timur.

yaitu Republik Indonesia. 6. Pada tahun 1956. 8. Pada tahun 1968. dan ketiga negara bagian selain RI dinyatakan bubar dan dimasukkan ke dalam wilayah NKRI. dan Nusa Tenggara Timur. Pada akhir tahun 1959. 5. Daerah Istimewa Borneo Barat. Riau. 10. dengan nama Daerah Istimewa Yogyakarta. Provinsi Sumatera dipecah menjadi tiga provinsi. yaitu Kalimantan Barat. Jumlah provinsi: 11. dan Negara Indonesia Timur. Kalimantan Selatan. Kemudian. dengan nama Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya. Kalimantan dipecah menjadi tiga provinsi. Provinsi Aceh diberi status Daerah Istimewa.97 4. Pada tahun 1950. Jumlah provinsi: 19. RIS hanya terdiri atas 4 negara bagian. Nusa Tenggara Barat. Jumlah provinsi: 20. Pada tahun 1964. hasil pemekaran dari Sumatera Utara. dan Jambi. Kemudian Provinsi Sunda Kecil juga dipecah menjadi tiga provinsi. yaitu Bali. RIS dinyatakan bubar dan diganti dengan NKRI. Provinsi Sulawesi dipecah menjadi dua provinsi. tiga provinsi baru terbentuk. Sulawesi Tengah (dari Sulawesi Utara). Pada tahun 1960. Pada tahun yang sama. . Pada tanggal 17 Agustus 1950. yaitu Sumatera Utara. Pada tahun 1953. hasil pemekaran dari Sumatera Selatan. dengan nama Daerah Istimewa Aceh. Jumlah provinsi: 21. 9. Negara Sumatera Timur. Provinsi Kalimantan Tengah terbentuk. Provinsi Borneo diganti namanya menjadi Kalimantan. Jumlah provinsi: 25. dan Sumatera Selatan. 7. Pada tahun 1963. Provinsi Sumatera Tengah dipecah menjadi tiga provinsi. yaitu Sumatera Barat. Awal Agustus 1950.Jumlah provinsi: 18. Jumlah provinsi: 24. Provinsi Bengkulu terbentuk. Kota Jakarta resmi dikeluarkan dari Jawa Barat dan menjadi provinsi tersendiri dan diberi status Daerah Khusus Ibukota. Sumatera Tengah. dan Kalimantan Timur. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyerahkan administrasi wilayah Irian Barat kepada Indonesia. Pada tahun 1958. yaitu Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan. Pada tahun 1961. dan Sulawesi Tenggara (dari Sulawesi Selatan). hasil pemekaran dari Kalimantan Selatan. Jumlah provinsi: 14. Pada tahun 1959. Yogyakarta dikeluarkan dari Jawa Tengah menjadi provinsi tersendiri dan diberi status Daerah Istimewa. Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya secara resmi ditetapkan sebagai ibukota Republik Indonesia. Pada akhir tahun 1956. yaitu Lampung (dari Sumatera Selatan). Provinsi Aceh terbentuk.

Sama halnya dengan NAD. Jumlah provinsi: 33. Pada tahun 2001. Pada awal tahun 2000. Tetapi. Indonesia menguasai wilayah Timor Timur dan pada tahun 1976. Jumlah provinsi: 27. Provinsi Irian Jaya diganti namanya menjadi Papua.98 11. Pada tahun yang sama. Pada tahun 2004. 14. yaitu Kepulauan Bangka Belitung (dari Sumatera Selatan) dan Gorontalo (dari Sulawesi Utara). Pada tahun 2007. Provinsi Maluku Utara terbentuk. dan diberi status Otonomi Khusus. Kemudian pada akhir tahun 2000. Apabila dibandingkan dengan masa awal kemerdekaan. Provinsi Irian Jaya Barat diubah namanya menjadi Papua Barat. 12. Jumlah tersebut juga belum termasuk kabupaten/kota. dua provinsi baru resmi berdiri. dimekarkan dari Jawa Barat. Dengan semakin bertambahnya jumlah daerah baru tersebut tentu akan membebani anggaran negara dan semakin mengurangi alokasi untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat karena APBN/APBD akan lebih banyak dialokasikan . Jumlah provinsi: 27. Provinsi Papua juga diberi status Otonomi Khusus. 17. hasil pemekaran dari Provinsi Papua. atau kelurahan/desa yang juga mengalami pemekaran. Jumlah provinsi: 28. Timor Timur dimasukkan ke dalam wilayah NKRI dan menjadi salah satu provinsi di Indonesia. dua provinsi baru resmi berdiri. setelah diadakan Penentuan Pendapat Rakyat(Pepera). Jumlah tersebut mungkin akan bertambah banyak seiring dengan keinginan banyak pihak yang masih menginginkan pemekaran daerahnya. Provinsi Banten resmi berdiri. kecamatan. yaitu Kepulauan Riau (dari Provinsi Riau) dan Sulawesi Barat (dari Sulawesi Selatan). Jumlah provinsi: 26. Pada tahun 1973. Daerah Istimewa Aceh diganti namanya menjadi Nanggroe Aceh Darussalam. Pada tahun 2003. diadakan jajak pendapat (referendum) di Timor Timur dan Timor Timur secara resmi keluar dari NKRI. Pada tahun 1969. jumlah provinsi dalam sepuluh tahun terakhir meningkat menjadi lebih dari 400%. Jumlah provinsi: 31. Provinsi Irian Jaya Barat resmi berdiri. 16. Provinsi Irian Barat diubah namanya menjadi Irian Jaya. Pada akhir tahun 1975. 13. Pada tahun 1999. pada akhir tahun 1999. Irian Barat secara resmi menjadi bagian dari NKRI dan menjadi salah satu provinsi di Indonesia. Jumlah provinsi: 30. 15. hasil pemekaran dari Provinsi Maluku.

termasuk daerah baru hasil pemekaran. masyarakat tetap saja merasakan tidak adanya peningkatan kesejahteraan maupun pelayanan yang diberikan oleh pemerintah daerah barunya. Pada kenyataannya. dan sebagainya. pakaian dinas baru. gaji pejabat baru. Di lain pihak. Anggaran tersebut misalnya untuk alokasi pembangunan infrastruktur baru. untuk mengerem terjadinya pemekaran daerah.99 dan tersedot untuk daerah-daerah baru tersebut. Dalam hal ini. tunjangan jabatan pejabat baru. Bahkan keadaan yang lebih parah dapat terjadi di daerah baru tersebut dibandingkan dengan pada waktu masih menginduk kepada daerah induknya. Selain itu. Hal itu terjadi karena penyelenggaraan pemerintahan daerah yang baru belum memiliki pengalaman yang memadai dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat maupun menjalankan roda pemerintahan. Di dalam Penjelasan Umum Peraturan Pemerintah tersebut dijelaskan alasan pentingnya dilakukan evaluasi terhadap suatu daerah sebagai berikut: . Dengan demikian. apakah mampu atau tidak menyelenggarakan otonomi daerah. Peraturan Pemerintah tersebut sebagai pelaksanaan perintah Pasal 6 ayat (3) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 untuk mengevaluasi keberadaan daerah. gedung baru. keterbatasan sarana dan prasarana atau infrastruktur juga dapat menjadi penyebab terbatasnya pelayanan publik sebagaimana mestinya. kendaraan baru. penghapusan dan penggabungan daerah otonom dilakukan setelah melalui proses evaluasi terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah sebagaimana yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. secara konseptual dan yuridis formal pemerintah sudah mencoba melakukan upaya tersebut dengan mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2008 Tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. Akan tetapi. untuk daerah tertentu yang dianggap tidak mampu dimungkinkan untuk dihapuskan atau digabungkan dengan daerah lain. tujuan utama untuk membentuk daerah baru dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pelayanan publik juga menjadi persoalan yang tidak mudah untuk diwujudkan.

Namun demikian.100 ”. UU No. yang tidak mampu menjalankan pemerintahannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan ataupun tujuan awal pembentukannya yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Selain itu. untuk mengetahui keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan daerah dalam memanfaatkan hak yang diperoleh daerah dengan capaian keluaran dan hasil yang telah direncanakan.. Hubungan Keuangan UU No. khususnya PAD dan dana perimbangan (tidak termasuk mengenai dana otonomi khusus yang diberikan kepada Provinsi Papua dan Aceh). serta pembiayaan berupa pinjaman daerah. pengaturan tersebut tidak terlepas dari pendapatan daerah untuk membiayai urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya. Padahal. Pemerintah berkewajiban mengevaluasi kinerja pemerintahan daerah . sampai saat ini juga belum ada data yang menunjukkan bahwa ada daerah tertentu yang sudah dihapuskan atau digabungkan dengan daerah lainnya karena dianggap tidak mampu menjalankan otonomi daerah. adalah untuk menilai kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah dalam upaya peningkatan kinerja untuk mendukung pencapaian tujuan penyelenggaraan otonomi daerah berdasarkan prinsip tata kepemerintahan yang baik. pelayanan umum.. 25 Tahun 1999. C. terutama daerah baru. maupun daya saing daerah. Dalam bagian ini yang akan dibahas adalah pendapatan daerah. 33 Tahun 2004 menitikberatkan pada pengaturan perimbangan keuangan pusat-daerah.. Namun tampaknya peraturan pemerintah tersebut belum optimal dijalankan mengingat sampai saat ini tidak diperoleh data yang terbuka untuk umum tentang hasil evaluasi yang dilakukan oleh Tim Nasional Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah dalam mengevaluasi daerah-daerah baru hasil pemekaran.. 33 Tahun 2004.. memperbaiki sistem perimbangan keuangan pusat – daerah yang diatur sebelumnya dalam UU No. Tujuan utama dilaksanakannya evaluasi.. Dalam hal jenis dana perimbangan terdapat istilah baru untuk menyebut . secara faktual banyak sekali daerah.”.

tidak hanya mengatur dana perimbangan dalam rangka desentralisasi. . dan lain-lain PAD yang sah. dan menetapkan Perda tentang pendapatan yang menghambat mobilitas 264 265 Lihat Pasal 6 ayat (1) huruf a UU No. Pendapatan Asli Daerah Pendapatan Asli Daerah (PAD) bersumber dari pajak daerah. 22 Tahun 1999. 33 Tahun 2004. istilah dan substansinya tetap dipertahankan dalam UU No. tidak hanya sekedar penggantian istilah. Dalam UU No. 33 Tahun 2004. DAU dan DAK akan dibahas selanjutnya. Mengenai DBH. Walaupun inti dari hubungan keuangan pusat daerah adalah perimbangan keuangan. Khusus mengenai dana perimbangan lainnya. namun berbeda dari segi formulanya.266 Walaupun daerah diberikan kewenangan untuk meningkatkan PAD. 1. yaitu dalam hal jenis pajak265. PPh tertentu juga menjadi DBH. 25 Tahun 2002. 33 Tahun 2004. Namun demikian. 33 Tahun 2004. PPh tidak dijadikan pajak yang dibagi ke daerah. retribusi daerah.101 dana perimbangan yang berasal dari pembagian pajak dan sumber daya alam. namun juga ditambah dengan perubahan asal dana yang dibagi. namun hubungan keuangan pusat-daerah juga berkaitan dengan pembiayaan urusan pusat yang diselenggarakan oleh pemerintahan daerah dan oleh aparat pusat yang juga unsur pemerintah daerah. 33 Tahun 2004. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan264. Perubahan tersebut. Sementara itu dalam UU No. Dalam UU No. namun daerah dilarang menetapkan peraturan daerah (Perda) tentang pendapatan yang menyebabkan ekonomi biaya tinggi. melainkan juga dana tugas pembantuan dan dana dekonsentrasi. sementara dalam UU No. istilah dana tersebut diubah menjadi dana bagi hasil (DBH). dan dana alokasi khusus (DAK). hasil pengelolaan kekayaan Daerah yang dipisahkan.22 Tahun 1999. 266 Pasal 6 ayat (1) UU No. dalam penelitian ini tidak dibahas mengenai dana tugas pembantuan dan dekonsentrasi karena memerlukan penelitian tersendiri yang lebih mendetail. yaitu dana alokasi umum (DAU). dana tersebut disebut sebagai Bagian Daerah dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan. Hal ini disebabkan UU No.

Tahun 1957 tentang Peraturan Umum Retribusi Daerah). Perbedaannya. ditentukan 11 jenis dari golongan retribusi jasa umum. 34 Tahun 2000). 20 Tahun 1997. 12 jenis untuk golongan retribusi jasa usaha. Sementara itu. dan 4 jenis golongan retribusi perizinan tertentu yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah.268 Dalam PP No. 20 Tahun 1997) dan ditentukan 10 jenis dari golongan jasa retribusi umum. UU No. pengaturan mengenai retribusi daerah diatur dalam PP No. Tahun 1957 tentang Peraturan umum Pajak Daerah dan Undang-Undang Nomor 12 Drt. dan kegiatan impor/ekspor. 33 Tahun 2004. 22 Tahun 1999. dan lahirlah perubahan pertama dari UU tersebut (UU No. dan 3 golongan retribusi daerah. 34 Tahun 2000 menambahkan 1 jenis pajak daerah untuk provinsi dan 1 jenis untuk pajak daerah kabupaten/ kota.102 penduduk. karena menggantikan UU sebelumnya yang telah berlaku dalam waktu yang cukup lama (UndangUndang Nomor 11 Drt. Jenis-jenis retribusi daerah ditentukan dalam Peraturan Pemerintah. lalu lintas barang dan jasa antardaerah. 18 Tahun 1997 dan UU No. . UU No. UU No. 18 Tahun 1997 mengatur kewenangan daerah untuk memungut 3 pajak daerah untuk provinsi. 34 Tahun 2000 sama-sama mengatur bahwa selain jenis pajak daerah yang telah ditentukan dapat ditambahkan jenis pajak daerah lain berdasarkan kriteria yang ditentukan UU tersebut (sistem terbuka). 7 pajak daerah untuk kabupaten/ kota.18 Tahun 1997 diubah untuk disesuikan. UU No.18 Tahun 1997 tidak mengatur jenis-jenis retribusi daerah seperti halnya pajak daerah. 13 jenis untuk golongan retribusi jasa usaha.267 Dalam UU No. yaitu Peraturan Pemerintah No. Setelah berlakunya UU No. UU No 18 Tahun 1997 mengatur 267 268 Pasal 7 UU No. dan 6 jenis golongan retribusi perizinan tertentu.66 Tahun 2001 (menggantikan PP No. UU N0. 20 Tahun 1997. 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah merupakan UU yang penting di bidang ini.

18 Tahun 1997 dan PP No.270 Dalam hal retribusi daerah. 66 Tahun 2001. Selasa (4/8) mengatakan: ”Sistem yang ditetapkan bersifat daftar tertutup.” “Pajak Daerah Dibatasi. mencari. ketentuan dalam UU No. Dengan demikian. Sementara itu. 271 Lihat Pasal 185 UU No. 28 Tahun 2009. 34 Tahun 2000 dan PP No. 269 270 Lihat Pasal 2 ayat (3) UU No. 18 Tahun 1997. Penambahan jenis retribusi daerah ditetapkan dalam bentuk Perda.271 Berbeda dengan dengan UU No.66 Tahun 2001 menentukan bahwa daerah dapat mengatur jenis retribusi daerah selain yang ditentukan dalam kedua PP tersebut dengan kriteria yang ditentukan dalam UU No. 34 Tahun 2000. sementara UU No. 18 Tahun 1997 dan PP No. 20 Tahun 1997 tidak memberikan kewenangan kepada daerah untuk menetapkan jenis retribusi lain selain yang ditetapkan dalam PP tersebut (sistem tertutup). daerah tidak dapat memungut pajak daerah selain yang ditentukan dalam UU tersebut. sementara dalam UU No. 66 Tahun 2001. PP No. 34 Tahun 2000. Lihat Pasal 2 ayat (4) UU No. 34 Tahun 2000 dan PP No. Perbedaan pengaturan di atas mencerminkan bahwa UU No. 272 Menteri Keuangan sekaligus Pelaksana Jabatan Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati di Jakarta. UU No. mengatur jenis pajak daerah sistem daftar tertutup272. 28 Tahun 2009 mulai diberlakukan pada tanggal 1 Januari 2010. penambahan tersebut ditetapkan dengan peraturan daerah. 34 Tahun 2000 (sistem terbuka). . atau berkreasi yang tidak baik dalam arti mencari-cari penghasilan asli daerah. 34 Tahun 2000).103 bahwa penambahan jenis pajak daerah tersebut ditetapkan dalam PP269. UU No. 28 Tahun 2009. 20 Tahun 1997 memberikan kewenangan untuk menambahkan jenis-jenis pajak daerah dan retribusi daerah kepada pemerintah pusat. Artinya. PP No. 18 Tahun 1997 dan perubahan pertamanya (UU No. artinya daerah hanya diperbolehkan memungut pajak dan retribusi sesuai undangundang ini sehingga tidak ada lagi daerah yang perlu mengubah. memberikan kewenangan tersebut kepada pemerintahan daerah. memberikan otonomi yang lebih luas dibandingkan UU No. 20 Tahun 1997 dalam menentukan jenis-jenis pajak daerah dan retribusi daerah. Menggantikan UU sebelumnya.

PBB pedesan dan perkotaan serta BPHTB). masing –masing 1 untuk provinsi (pajak rokok) dan 3 untuk kabupaten/ kota (pajak sarang burung wallet. diakses dari http://koran. sementara Thailand memberikan kewenangan kepada daerah untuk memungut a single property based tax (1999). Lihat. Malaysia juga memberikan kewenangan yang sama kepada daerah (berupa property tax) sejak diundangkannya Local Government Act 1976 (Act No. 275 Pasal 27 ayat (3) UU No.275 Pajak rokok ini baru berlaku 1 Januari 2014.com/read/xml/2009/08/05/04112298/pajak. BPHTB. Journal of Public Budgeting. 2003. pajak sarang burung walet Pelayanan kepada Masyarakat Wajib Ditingkatkan”. 28 Tahun 2009. Sementara itu. semua PBB. Walaupun tidak semua jenis PBB diberikan kewenangan kepada daerah. 5 Agustus 2009. Larry Schroeder. Malaysia PBB atau secara umum dikenal sebagai property tax sudah diberikan kewenangannya kepada daerah sejak lama. 28 Tahun 2009. hlm. seperti Filipina. Vol. Kompas. namun hal ini merupakan satu kemajuan dalam hal kewenangan daerah memungut pajak. sehingga provinsi menerima sisanya (30%). termasuk PBB pedesaan dan perkotaan menjadi kewenangan pusat.kompas.dibatasi. 28 Tahun 2009. 171). selain cukai rokok yang menjadi kewenangan provinsi.104 UU No. hanya dikenal pungutan cukai rokok. Accounting & Financial Management. Rabu. 405. . 273 Ibid. “Fiscal Decentralization in South East Asia”. Pajak rokok sebagai pajak daerah baru ditentukan untuk dipungut instansi pemerintah yang berwenang memungut cukai bersamaan pungutan cukai rokok. Hasil penerimaan pajak tersebut sebesar 70% dialokasikan untuk kabupaten/kota278.274 Pungutan atas usaha rokok sebelumnya. 276 Pasal 181 UU No. 274 Filipina memberikan kewenangan kepada daerah untuk memungut the real property tax sejak diundangkannya Local Government Act 1959. 277 Lihat Pasal 28 dan Pasal 29 UU No. 28 Tahun 2009. Academic Press. sementara dalam UU No.277 Hasil penerimaan pajak tersebut juga merupakan objek pembagian antara kabupaten/ kota dan provinsi. 28 Tahun 2009. 402.273 Sebelumnya. 393. 28 Tahun 2009 juga menambahkan jenis pajak daerah baru. 15 No.276 Dasar pengenaan pajak rokok adalah cukai rokok yang ditetapkan pemetintah terhadap rokok dan tarif pajak rokok ditentukan sebesar 10% dari cukai rokok. Thailand. 278 Pasal 94 ayat (1) huruf c UU No. Padahal jika dibandingkan dengan negara-negara asia tenggara lainnya. 3. 392.daerah. cukai rokok pun tetap diberlakukan dan tetap menjadi kewenangan pemerintah pusat.

Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan yang semula merupakan kewenangan Provinsi. dan kendaraan lain yang ditetapkan dengan . 28 Tahun 2009.282 Bila terjadi kenaikan harga tinggi atas BBM. 28 Tahun 2009. 28 Tahun 2009.279 Selain penambahan jenis pajak baru. UU No.286 Pajak Hotel diperluas hingga 279 280 Pasal 75 ayat (1) UU No. 285 Hasil penerimaan Pajak Air Permukaan diserahkan kepada kabupaten/kota yang bersangkutan sebesar 80% (delapan puluh persen). pemerintah pusat dapat mengubah besaran tarif Perda melalui Perpres. namun tarif pajak untuk kendaraan umum dapat ditentukan 50% lebih rendah dari tarif kendaraan pribadi. tarif pajak bahan bakar kendaraan bermotor ditetapkan maksimal 10%281. dan Pasal 2 ayat (2) huruf h UU No. Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor diperluas hingga mencakup kendaraan Pemerintah. Pertama. ada beberapa jenis pajak daerah yang sudah ada. 28 Tahun 2009.284 dan air permukaan yang hanya di satu kabupaten/kota berlaku aturan khusus. yaitu. 28 Tahun 2009. 286 Tarif pajak Kendaraan pemerintah (termasuk TNI/POLRI. lembaga sosial dan keagamaan. 28 Tahun 2009.105 merupakan pajak daerah yang dipungut bagi daerah-daerah yang memiliki sumber daya tersebut dengan tarif maksimal 10 %. UU tersebut juga menentukan bahwa pajak air tanah menjadi pajak daerah kabupaten/kota. sosial keagamaan. Pasal 6 ayat (1) UU No. 284 Lihat Pasal 2 ayat(1) huruf d. digantikan istilahnya dengan pajak pengambilan dan pemanfatan air tanah dan air permukaan. basis pajaknya (tax base) diperluas. 283 Pasal19 ayat(3) UU No. 282 Pasal19 ayat(2) UU No. Lihat Pasal 94 ayat (2) UU No. kepemilikan pertama ditetapkan tariff minimal 1% dan maksimal 2%. ambulans. 28 Tahun 2009 juga mengubah beberapa pengaturan pajak daerah yang sebelumnya telah ada dalam UU sebelumnya.285 Keempat. 28 Tahun 2009.280 Kedua.283 Ketiga. pemadam kebakaran. 281 Pasal19 ayat(1) UU No. sementara pajak air permukaan menjadi pajak daerah provinsi. pajak kendaraan bermotor menggunakan tarif pajak progresif untuk kepemilikan kendaraan kedua dan seterusnya dengan tarif 2% sampai maksimal 10% di mana ketentuan progresivitasnya ditentukan oleh Perda provinsi. Tidak sekedar menggantikan nomenklatur. dan Pemerintah Daerah) bersama Kendaraan Bermotor angkutan umum.

karaoke. Lihat Pasal 45 ayat (2) UU No. 28 Tahun 2009. dan mandi uap/spa . 28 Tahun 2009. dialokasikan paling sedikit 50% (lima puluh persen) untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat dan penegakan hukum oleh aparat yang berwenang291.pesanggrahan.289 Kelima. Lihat Pasal 6 ayat(3) UU No. Pajak pusat yang menjadi sumber DBH dari pajak adalah dari pajak bumi dan bangunan (PBB). 289 Jenis hiburan yang dimaksud yaitu: pagelaran busana. dan Pajak Penerangan Jalan juga sebagian dialokasikan untuk penyediaan penerangan jalan. Dana Bagi Hasil Komponen DBH dalam UU No. yaitu Pajak Kendaraan Bermotor (minimal 10% dari hasi penerimaan pajak ini untuk belanja infrastruktur jalan (pembangunan dan/atau pemeliharaan jalan) serta peningkatan Pajak moda dan sarana transportasi umum di daerahnya)290. Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB).287 Pajak Restoran diperluas hingga mencakup pelayanan katering. 33 Tahun 2004 terdiri pembagian beberapa jenis pajak (pusat) dan hasil pengelolaan sumber daya alam. klab malam. 287 Pengertian hotel menjadi diperluas menjadi: fasilitas penyedia jasa penginapan/peristirahatan termasuk jasa terkait lainnya dengan dipungut bayaran. Dana Perimbangan a. 28 Tahun 2009. ada beberapa jenis pajak yang hasil penerimaan ditentukan penggunaannya. gubuk pariwisata.288 tarif Pajak Hiburan untuk hiburan – hiburan tertentu dinaikkan hingga mencapai tariff maksimal 75%.292 2. 291 Pasal 31 UU No.293 Hal tersebut berbeda dengan Bagian Perda. 288 Pengertian restoran dalam Pasal 1 angka 23 UU No. 292 Pasal 56 ayat (3) UU No. kontes kecantikan. . rumah penginapan dan sejenisnya.5% dan paling tinggi sebesar 1%. Rokok. panti pijat. wisma pariwisata. 28 Tahun 2009. 290 Lihat Pasal 8 ayat (5) UU No. 28 Tahun 2009. 28 Tahun 2009 juga mencakup jasa boga/katering. serta rumah kos dengan jumlah kamar lebih dari 10 (sepuluh). diskotik. ditetapkan paling rendah sebesar 0. Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 25 dan Pasal 29 Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri dan PPh Pasal 21. Lihat Pasal 1 angka 21 UU No.106 mencakup seluruh persewaan di hotel. baik bagian provinsi maupun bagian kabupaten/kota. 293 Pasal 11 ayat (2) UU No. 28 Tahun 2009. permainan ketangkasan. losmen.33 Tahun 2004. yang mencakup juga motel.

10% (sepuluh persen) bagian Pemerintah dari penerimaan PBB dibagikan kepada seluruh daerah kabupaten dan kota yang didasarkan atas realisasi penerimaan PBB tahun anggaran berjalan. Dengan demikian. 33 Tahun 2004. . Penerimaan insentif tersebut diberikan kepada kabupaten/ kota yang realisasi penerimaan PBB sektor Pedesaan dan Perkotaan pada tahun anggaran sebelumnya. yang tidak mencantumkan PPh sebagai salah satu sumber bagian daerah atas pajak. pertambangan umum. dan pertambangan panas bumi. yaitu: mengenai prosentase alokasi DBH dari sektor pajak.107 Daerah atas pajak dalam UU No. pertambangan gas bumi.5% yang dibagikan sebagai insentif kepada kabupaten dan/kota. 22 Tahun 1999. 295 294 295 Pasal 11 ayat (3) UU No. mencapai/melampaui rencana penerimaan yang ditetapkan. Lihat Pasal 6 ayat (2) PP No. 33 Tahun 2004 menambah penerimaan pusat atas bidang sumber daya alam yang dibagi ke daerah.294 Hal ini juga berbeda dengan bidang –bidang sumber daya alam yang menjadi sumber Bagian Daerah atas sumber daya alam dalam UU No. 55 Tahun 2005. DBH dari penerimaan sumber daya alam (DBH-SDA) berasal dari 6 bidang sumber daya alam yang menjadi sumber yaitu: kehutanan.22 Tahun 1999 yang tidak mencantumkan bidang pertambangan panas bumi. pertambangan minyak bumi. Dalam DBH pajak ada dua hal yang penting. perikanan. jika dibandingkan dengan UU No.5% untuk seluruh kabupaten/kota yang dibagikan secara merata. 22 Tahun 1999. Dari persentase 10 % bagian pusat dengan imbangan di atas maka persentase riil yang dibagi adalah 6. Sementara itu. serta persentase pembagian DBH antara satuan pemerintahan daerah. maka UU No. Pengaturan persentase perimbangan alokasi DBH PBB dan BPHTB antara pusat dan daerah adalah 10 % : 90 % untuk DBH PBB dan 20% : 80 % untuk DBH BPHTB. dan 3.

33 Tahun 2004. Untuk penerimaan kehutanan. 80 % penerimaan PPh di atas menjadi bagian pusat.108 Sementara itu.297 Dari pengaturan di atas. Pasal 12 ayat (5) UU No. 33 Tahun 2004. terdapat dua macam sub bidang penerimaan yang dibagi yaitu penerimaan Iuran Hak Pengusahaan Hutan (IHPH). dibagi dengan imbangan 60% (enam puluh persen) untuk kabupaten/kota dan 40% (empat puluh persen) untuk provinsi. Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH). sementara 20% (dua puluh persen) bagian Pemerintah dari penerimaan BPHTB dibagikan dengan porsi yang sama besar untuk seluruh kabupaten dan kota. 298 Lihat Pasal 13 ayat (1) UU No. alokasi DBH dari penerimaan PPh Pasal 25 dan Pasal 29 Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri dan PPh Pasal 21 hanya 20 % yang menjadi bagian daerah.33 Tahun 2004. DBH dari penerimaan BPHTB adalah sebesar 80% (delapan puluh persen)296. Persentase pembagian IHPH dan PSDH yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan adalah 20 % untuk pusat dan 80 % untuk daerah. namun berujung pada pengalokasian DBH dari penerimaan PBB dan BPHTB 100 % pada daerah.298 Dengan demikian. penerimaan kehutanan yang berasal dari Dana Reboisasi dibagi dengan 296 297 Lihat Pasal 13 ayat (4) UU No. Dari 20 % bagian daerah di atas. dan Dana Reboisasi. 300 Lihat Pasal 14 huruf a UU No.299 Sementara itu. penerimaan 6 bidang SDA yang dibagi dengan daerah dilakukan dengan memberikan persentase tertentu yang sifatnya tetap. . 55 Tahun 2005.300 Sementara itu. walauapun pada awalnya terdapat perimbangan alokasi DBH antara pusat dan daerah. Berbeda dengan DBH dari PBB dan BPHTB yang dibagi habis pada daerah. Dengan demikian. Dengan demikian. 299 Lihat Pasal 8 ayat (2) PP No. pendapatan negara dari penerimaan PBB dan BPHTB dibagi habis kepada daerah dengan persentase di atas. provinsi mendapatkan bagian sebesar 8 % dan kabupaten/ kota di provinsi bersangkutan mendapatkan 12 % dari bagian daerah. 33 Tahun 2004.

33 Tahun 2004. Lihat Pasal 16 huruf b UU No. 305 Lihat Pasal 18 ayat (1) UU No. 308 Lihat Pasal14 huruf f UU No. namun 80 % bagian daerah hanya diperuntukkan bagi seluruh kabupaten/kota. Sementara itu. 304 Lihat Pasal14 huruf d UU No. dan 30. 33 Tahun 2004 mengatur bahwa sebesar 0. 309 Lihat Pasal 20 ayat (1) . 307 Lihat Pasal14 huruf e UU No.33 Tahun 2004.33 Tahun 2004. 33 Tahun 2004. persentase pembagian Penerimaan Perikanan yang diterima secara nasional juga sama (20% : 80%). Bagi DBH yang berasal dari penerimaan pertambangan minyak bumi dan gas bumi.309 301 302 Lihat Pasal14 huruf b UU No.301 untuk mendanai kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan.302 Penerimaan pertambangan umum yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan. dan Penerimaan Pungutan Hasil Perikanan305 dan dibagikan dengan porsi yang sama besar kepada kabupaten/kota di seluruh Indonesia.5% (tiga puluh setengah persen) untuk daerah.5% dialokasikan untuk menambah anggaran pendidikan dasar.109 imbangan sebesar 60% untuk pusat dan 40% untuk daerah.33 Tahun 2004. tidak kepada provinsi.5% (delapan puluh empat setengah persen) untuk Pemerintah. 306 Lihat Pasal 18 ayat (2) UU No.33 Tahun 2004.306 Penerimaan Pertambangan minyak bumi yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan setelah dikurangi komponen pajak dan pungutan lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan.5% (lima belas setengah persen) untuk Daerah.33 Tahun 2004.5% (enam puluh sembilan setengah persen) untuk pemerintah. penerimaan dari pertambangan gas bumi dibagi dengan imbangan:308 69.33 Tahun 2004. dibagi dengan imbangan 20% (dua puluh persen) untuk pusat dan 80% (delapan puluh persen) untuk daerah.304 Penerimaan Perikanan tersebut terdiri atas Penerimaan Pungutan Pengusahaan Perikanan.303 Sementara itu. 303 Lihat Pasal 14 huruf c UU No. dibagi dengan imbangan:307 84. dan 15. UU No.

55 Tahun 2005. 33 Tahun 2004 mengatur sanksi administrasi berupa pemotongan atas penyaluran DBH minyak bumi dan gas bumi.33 Tahun 2004. 317 Pasal 27 ayat (1) UU No.312 20% DBH tersebut dibagi dengan rincian:313 16% (enam belas persen) untuk provinsi yang bersangkutan. 315 Pasal 1 angka 21 UU No. 55 Tahun 2005.33 Tahun 2004.33 Tahun 2004. 318 Lihat Pasal 47 ayat (1) PP No.315 APBN. 33 Tahun 2004. Dana Alokasi Umum DAU adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar-daerah duntuk mendanai kebutuhan Presentase daerah dalam dana rangka pelaksanaan sekurangdesentralisasi. 32% (tiga puluh dua persen) untuk kabupaten/kota penghasil. 33 Tahun 2004.314 b. dan 32% (tiga puluh dua persen) untuk kabupaten/kota lainnya dalam provinsi yang bersangkutan.310 Pertambangan panas bumi yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan yang merupakan Penerimaan Negara Bukan Pajak yang terdiri atas:311 Setoran Bagian Pemerintah.33 Tahun 2004.317 keseluruhan tersebut kurangnya 26% dari Pendapatan Dalam Negeri Neto316 yang ditetapkan dalam Istilah “sekurang-kurangnya”. Lihat Penjelasan Pasal 27 ayat (1) UU No. Lihat Pasal 25 UU No. Lihat Pasal 21 ayat (3) UU No. Penerimaan tersebut dibagi dengan imbangan 20% untuk pusat dan 80% untuk daerah.33 Tahun 2004.319 Jika dibandingkan dengan UU No. 311 310 . dan. 319 Lihat Pasal 47 ayat (2) PP No.110 Jika ketentuan peruntukkan untuk alokasi pendidikan dasar tersebut dilanggar. 313 Lihat Pasal 21 ayat (2) UU No. berkaitan dengan kemungkinan bertambahnya presentase DAU jika terdapat kelebihan penerimaan negara dari minyak bumi dan gas bumi yang ditetapkan dalam APBN Perubahanyang dialokasikan sebagai DAU tambahan318 berdasarkan formula DAU atas dasar celah fiskal. 314 dibagikan dengan porsi yang sama besar untuk semua kabupaten/kota dalam provinsi yang bersangkutan. 316 Pendapatan Dalam Negeri Neto adalah Penerimaan Negara yang berasal dari pajak dan bukan pajak setelah dikurangi dengan Penerimaan Negara yang dibagihasilkan kepada Daerah. UU No. 33 Tahun 2004. Iuran tetap dan iuran produksi. 312 Lihat Pasal14 huruf g UU No. Lihat Pasal 21 ayat (1) UU No.

Sebagaimana disinggung di atas bahwa. luas wilayah. 33 Tahun 2004.322 Sementara itu. celah fiskal merupakan kebutuhan fiskal dikurangi kapasitas fiskal. 326 Pasal 28 ayat (3) UU No. .327 320 Dalam Pasal 7 ayat (1) UU No. Kebutuhan fiskal yang merupakan kebutuhan kebutuhan pendanaan daerah untuk melaksanakan fungsi layanan dasar umum324.320 DAU pada dasarnya yang dialokasikan untuk 321 suatu daerah dialokasikan atas dasar celah fiskal dan alokasi dasar. 327 Pasal 29 UU No. 33 Tahun 2004. 33 Tahun 2004 menentukan bahwa formula menentukan celah fiskal adalah kebutuhan fiskal dikurangi dengan kapasitas fiskal Daerah. 33 Tahun 2004. khususnya formula penghitungan kebutuhan fiskal lebih rumit. 25 Tahun 1999 diatur bahwa “Dana Alokasi Umum ditetapkan sekurang-kurangnya 25% (dua puluh lima persen) dari Penerimaan Dalam Negeri yang ditetapkan dalam APBN”. 33 Tahun 2004. Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK). jumlah DAU yang diterima setiap daerah adalah celah fiskal ditambah alokasi dasar. 321 Pasal 27 ayat (2) UU No. alokasi dasar dihitung berdasarkan jumlah gaji Pegawai Negeri Sipil Daerah (PNSD). Apalagi ditentukan juga bahwa proporsi DAU antara daerah provinsi dan kabupaten/kota ditetapkan berdasarkan imbangan kewenangan antara provinsi dan kabupaten/kota.111 25 Tahun 1999 yang hanya mengatur jumlah DAU sebesar 25 % dengan formula yang hampir sama. 324 Pasal 28 ayat (1) UU No. 33 Tahun 2004. Produk Domestik Regional Bruto (PDB) per kapita. UU No. presentase DAU berdasarkan UU No. 322 Pasal 27 ayat (3) UU No. diukur secara berturut-turut dengan jumlah penduduk. jika dibandingkan dengan penghitungan alokasi dasar yang hanya didasarkan pada gaji PNSD. 33 Tahun 2004 lebih besar.325 Sementara itu. 325 Pasal 28 ayat (2) UU No. Kapasitas fiskal Daerah merupakan sumber pendanaan Daerah yang berasal dari PAD dan Dana Bagi Hasil.326 Dari pengaturan tersebut.323 Dengan demikian. terlihat bahwa formula penentuan celah fiskal. 33 Tahun 2004. dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). 323 Pasal 27 ayat (4) UU No. 33 Tahun 2004.

330 Pasal 32 ayat (3) UU No. 334 Pasal 39 ayat (1) UU No. Besaran DAK ditetapkan setiap tahun dalam APBN. daerah dengan kemampuan fiskal tertentu tidak diwajibkan menyediakan Dana Pendamping.332 Hal ini disebabkan DAK dialokasikan kepada daerah tertentu untuk mendanai kegiatan khusus sesuai dengan fungsi yang telah ditetapkan dalam APBN333 yang merupakan urusan daerah. 335 Pasal 41 ayat (1) UU No. 33 Tahun 2004. 33 Tahun 2004. 332 Pasal 38 UU No.112 Besarnya jumlah celah fiskal akan mempengaruhi jumlah alokasi DAU yang diperoleh suatu daerah. 333 Pasal 39 ayat (2) UU No. 331 Lihat Pasal 1 angka 23 UU No. Daerah yang memiliki nilai celah fiskal sama dengan nol menerima DAU sebesar alokasi dasar. Pinjaman Daerah 328 329 Pasal 32 ayat (1) UU No. 33 Tahun 2004.329 Daerah yang memiliki nilai celah fiskal negatif dan nilai negatif tersebut sama atau lebih besar dari alokasi dasar tidak menerima DAU. 33 Tahun 2004. 33 Tahun 2004. 33 Tahun 2004. 33 Tahun 2004. Namun demikian.331 Berbeda dengan dana perimbangan lainnya. Hal ini dapat dimengerti karena pada dasarnya urusan pemerintahan yang dibiayai DAK merupakan kewenangan daerah. .328 Sementara itu. 33 Tahun 2004.334 Daerah penerima DAK juga ditentukan wajib menyediakan Dana Pendamping sekurang-kurangnya 10% dari alokasi DAK335. Dana Alokasi Khusus Dana Alokasi Khusus (DAK) adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional. 3.330 c. Pasal 32 ayat (2) UU No. DAK tidak ditentukan berdasarkan presentase tertentu. daerah yang memiliki nilai celah fiskal negatif dan nilai negatif tersebut lebih kecil dari alokasi dasar menerima DAU sebesar alokasi dasar setelah dikurangi nilai celah fiskal.

UU No.342 Perjanjian penerusan pinjaman dilakukan antara Menteri Keuangan dan Kepala Daerah dan dapat dinyatakan dalam mata uang 336 337 Pasal 49 ayat (1) UU No. 33 Tahun 2004. termasuk kewenangan yang tetap dimiliki oleh pusat. 33 Tahun 2004. 339 Pasal 50 ayat (1) UU No. yang paling penting dalam hal ini. 33 Tahun 2004. penggunaan pinjaman. pemerintah pusat menetapkan batas maksimal kumulatif pinjaman pemerintah pusat dan pemerintah daerah dengan memperhatikan 336 keadaan dan prakiraan perkembangan perekonomian nasional. di mana pemerintah dapat memberikan pinjaman kepada pemerintah daerah yang dananya berasal dari luar negeri. prosedur pinjaman. 33 Tahun 2004. Pasal 49 ayat (2) UU No.113 Salah satu sumber pembiayaan daerah (untuk menutupi defisit anggaran) yang diandalkan adalah melalui pinjaman daerah. 60% (enam puluh Batas maksimal kumulatif pinjaman tidak melebihi dari Produk Domestik Bruto tahun persen) bersangkutan.337 Menteri Keuangan menetapkan batas maksimal kumulatif pinjaman Pemerintah Daerah secara keseluruhan selambat-lambatnya bulan Agustus untuk tahun anggaran berikutnya.340 Hal ini berkaitan dengan pengaturan mengenai prosedur pinjaman daerah. 340 Pasal 50 ayat (2) UU No. dalam 6 batas pinjaman. maka akan dikenakan sanksi administratif berupa penundaan dan/atau pemotongan atas penyaluran dana perimbangan oleh Menteri Keuangan. sumber pinjaman. Mengenai batas pinjaman.338 Namun demikian. persyaratan pinjaman. . 342 Pasal 56 ayat (2) UU No. jenis dan jangka waktu pinjaman. bahwa daerah tidak dapat melakukan pinjaman langsung kepada pihak luar negeri. 33 Tahun 2004 mengatur sejumlah ketentuan mengenai kewenangan pemerintahan daerah untuk melakukan pinjaman (daerah). 33 Tahun 2004.341 Pinjaman kepada pemerintah daerah dilakukan melalui perjanjian penerusan pinjaman kepada pemerintah daerah. 338 Pasal 49 ayat (3) UU No. 33 Tahun 2004. 33 Tahun 2004. 341 Pasal 56 ayat (1) UU No.339 Jika daerah melakuan pelanggaran terhadap ketentuan.

untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara sejak awal telah meletakkan dasar-dasar berpikir tentang keberadaan pengawasan Pusat terhadap Daerah. ketentuan tentang pengawasan Pusat terhadap Daerah menurut UUD 1945 secara normatif-eksplisit tidak diatur di dalam UUD 1945. persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan 343 Pasal 56 ayat (3) dan (4) UU No. namun daerah secara tidak langsung juga dapat melakukan pinjaman luar negeri melalui penerusan pinjaman oleh pemerintah pusat. Rumusan alinea keempat itu adalah: ”Kemudian daripada itu. Hubungan Pengawasan Pengawasan oleh Pusat terhadap Daerah ternyata secara yuridishistoris telah dilakukan sejak bangsa Indonesia memulai kehidupan bernegaranya sebagai bangsa yang merdeka. 33 Tahun 2004.114 Rupiah atau mata uang asing. perdamaian yang abadi dan keadilan sosial.343 Daerah memang tidak diberikan kewenangan untuk melakukan pinjaman luar negeri. maka disusunlah kebangsaan Indonesia itu dalam suatu UndangUndang Dasar Negara Indonesia. Pembukaan UUD 1945 (Alinea Keempat). dan Batang Tubuh UUD 1945 Di dalam Pembukaan UUD 1945. Kemanusiaan yang adil dan beradab. C. . Memang. dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. dan untuk memajukan kesejahteraan umum. mencerdaskan kehidupan bangsa. Akan tetapi landasan berpikirnya dapat ditelusuri paling dari 2 (dua) hal. yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa. yaitu: 1. landasan berpikir tentang pengawasan Pusat terhadap Daerah dapat ditelusuri di dalam Alinea Keempat UUD 1945.

Untuk itu.345 Berdasarkan ketentuan Pasal 18 ini. dimaksudkan untuk menegaskan bahwa hubungan antara 344 345 Pasal 18 ayat (1) Perubahan kedua UUD 1945 Pasal 18 ayat (2) Perubahan kedua UUD 1945 . dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah yang diatur dengan undang-undang. Ini disebabkan. menurut Batang Tubuh UUD 1945 Sebelum Perubahan. serta dengan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. bahwa penggunaan istilah “dibagi atas” menurut Jimly Asshiddiqie. Pertama. Kedua. yang tiap-tiap provinsi. kajian tentang dasar pengawasan Pusat terhadap Daerah dibedakan menjadi 2 (dua) kategori. daerah kabupaten. Dasar pemikiran tentang pengawasan Pusat terhadap Daerah menurut batang tubuh UUD 1945 setelah perubahan. yaitu Pasal 18.344 Pemerintahan daerah provinsi. kabupaten. dengan bentuk susunan pemerintahannya ditetapkan dengan Undang-undang dengan memandang dan mengingat dasar permusyawaratan dalam sistem Pemerintahan Negara dan hak-hak asal-usul dalam daerah yang bersifat Istimewa”. dan materi hukum Undang-Undang Dasar 1945 setelah perubahan dilakukan. kiranya dapat dikemukakan pertama. Pasal 18 UUD 1945 ini dirumuskan sebagai berikut : “Pembagian Daerah Indonesia atas Daerah besar dan kecil. pasal-pasal yang mengatur tentang pemerintahan daerah di dalam Undang-Undang Dasar 1945 dalam beberapa ketentuan sudah mengalami perubahan.115 /perwakilan. dan kota yang dimaksud tersebut mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan. menurut Batang Tubuh UUD 1945 Setelah Perubahan. terlebih dahulu dipilah materi hukum Undang-Undang Dasar 1945 sebelum perubahan dilakukan (Naskah Asli). Terdapat ada 1 (satu) pasal yang memungkinkan untuk dikaji. dapat dikaji dari beberapa pasal dan ayat.” Untuk mengkaji dasar pemikiran pengawasan Pusat terhadap Daerah menurut batang tubuh Undang-Undang Dasar 1945. Dikatakan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota.

dengan memahami logika hukum pernyataan pertama dan kedua. tetapi pelaksanaan otonomi itu dibatasi oleh 2 (dua) hal. yaitu karena bukan urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan pemerintah pusat dan tata cara penyelenggaraan pemerintahan daerahnya diatur oleh undang-undang.346 Kedua. bahwa tiap-tiap satuan pemerintahan daerah itu oleh UUD 1945 diberi kewenangan untuk mengatur dan mengurusi sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan. Pemerintahan daerah berhak menetapkan peraturan daerah dan peraturanperaturan lain untuk melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan. Jakarta.347 Untuk menjalankan urusan yang diberikan itu. 22 Tahun 1999 yang mengembangkan pola hubungan antara pusat dan daerah serta hubungan antara daerah yang dipahami bersifat horizontal. Ada beberapa ayat yang penting untuk diidentifikasikan sehubungan dengan dasar pengawasan Pusat terhadap Daerah. peraturan daerah merupakan merupakan instrumen hukum yang dibentuk oleh pemerintahan daerah dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan.348 yang susunan dan tata cara penyelenggaraan pemerintahan daerah diatur dalam undang-undang.dapat dikemukakan bahwa ternyata secara konstitusional terdapat pembatasan-pembatasan dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah berdasarkan prinsip otonomi yang seluas-luasnya dan tugas 346 Lihat. 2002. UI. Hal ini dianggap perlu ditegaskan karena adanya penafsiran yang timbul akibat penerapan kebijakan otonomi daerah berdasarkan UU No. Pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya.116 pemerintah pusat dan daerah bersifat hirarkis dan vertikal. Ketiga.349 Berdasarkan ketentuan-ketentuan tersebut maka dapat ditarik beberapa pengertian bahwa pertama. pemerintahan daerah memiliki hak untuk menjalankan otonomi seluas-luasnya dan tugas pembantuan. Jimly Ashiddiqie. Keempat. Konsolidasi Naskah UUD 1945 Setelah Perubahan Keempat. Pusat Studi Hukum Tata Negara FH. hlm. kedua. kecuali urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan pemerintah pusat. 21 347 Pasal 18 ayat (5) Perubahan kedua UUD 1945 348 Pasal 18 ayat (6) Perubahan kedua UUD 1945 349 Pasal 18 ayat (7) Perubahan kedua UUD 1945 .

350 masing-masing daerah diatur dengan Undang-undang. Pembatasan-pembatasan tersebut dimaksudkan agar Daerah tidak mengatur urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan pemerintah pusat. pelayanan umum. pemanfaatan sumberdaya alam dan sumberdaya lainnya antara Pusat dengan Daerah juga diatur dengan Undang-Undang. maka akan dapat diperoleh petunjuk bahwa lembaga ’pengawasan’ ternyata juga memperoleh dasar pemikiran dalam pasal ini. ternyata telah mengatur hubungan wewenang antara Pusat dan Daerah. . 2. Pasal 18 A ayat (2) Perubahan kedua UUD 1945.117 pembantuan. Selain beberapa ketentuan di atas. lembaga ’pengawasan’ Pusat terhadap Daerah dipandang perlu keberadaannya. yang dapat dicermati adalah dalam Pasal 18A adalah bahwa tidak tercantum secara eksplisit ketentuan yang mengatur tentang pengawasan Pusat terhadap Daerah. dengan memahami materi hubungan wewenang antara Pusat dan Daerah. Tujuannya tidak adalah dalam rangka mencegah atau menanggulangi lain terjadinya penyimpangan-penyimpangan wewenang oleh Daerah berkenaan dengan implementasi Daerahnya. Untuk kepentingan itulah. Akan tetapi.351 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 sebagai Undang-Undang organik Pasal 18A UUD 1945. Hubungan wewenang antara Pusat dan Daerah dengan memperhatikan kekhususan dan keragaman daerah. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah 350 351 Pasal 18 A ayat (1) Perubahan kedua UUD 1945. termasuk wewenang pembinaan dan pengawasan Pusat terhadap Daerah dalam menyelenggarakan tugas-tugas pemerintahan daerah. kebijakannya untuk mengatur urusan rumah tangga Kekhususan dan keragaman dimaksudkan yang ada pada masing-masing Hubungan keuangan. maka dalam rangka penegakan ketentuan hukum ini.

353 Bupati dan walikota dalam pembinaan dan pengawasan tersebutdapat melimpahkan pada camat. Pasal 222 ayat (1) UU No. Apabila Gubernur menyatakan hasil evaluasi rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan 352 353 Pasal 222 ayat (2) UU No.355 Dikatakan bahwa Rancangan Perda kabupaten/kota tentang APBD yang telah disetujui bersama dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD sebelum ditetapkan oleh Bupati/Walikota paling lama 3 (tiga) hari disampaikan kepada Gubernur untuk dievaluasi. 32 Tahun 2004 mengatur bahwa pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah secara nasional dikoordinasikan oleh Menteri Dalam Negeri.354 Kedua. 32 Tahun 2004 Pasal 222 ayat (3) UU No. Pertama. pengawasan atas pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah.352 kabupaten/kota pengawasan penyelenggaraan desa dikoordinasikan oleh bupati/walikota. Bupati/Walikota menetapkan rancangan dimaksud menjadi Perda dan Peraturan Bupati/Walikota. 32 Tahun 2004 . 32 Tahun 2004 354 Pasal 222 ayat (4) UU No. Ketentuan pengawasan oleh Gubernur juga tersirat dalam ketentuan mengenai penyusunan APBD kabupaten dan kota.118 Pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan di daerah pada dasarnya merupakan kewenangan pemerintah pusat yakni mencakup beberapa hal. 32 Tahun 2004 355 Pasal 186 UU No. Hasil evaluasi disampaikan oleh Gubernur kepada Bupati/Walikota paling lama 15 (lima belas) hari terhitung sejak diterimanya rancangan Perda kabupaten/kota dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD tersebut. pengawasan terhadap peraturan daerah dan peraturan kepala daerah. Apabila Gubernur menyatakan hasil evaluasi rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD sudah sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan dikoordinasikan pemerintahan oleh daerah tersebut Pembinaan untuk dan Gubernur.

Bupati/Walikota bersama DPRD melakukan penyempurnaan paling lama 7 (tujuh) hari sejak diterimanya hasil evaluasi. puncaknya adalah pemberitahuan oleh Gubernur kepada Menteri Dalam Negeri mengenai tindak lanjut hasil pengawasan. dan Bupati/Walikota tetap menetapkan rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD menjadi Perda dan Peraturan Bupati/Walikota. Berdasarkan Pasal 186 ini. Tabel 3 Model-Model Pengawasan dan Pengendalian Terhadap Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Menurut UU No. 32 Tahun 2004. Gubernur membatalkan Perda dan Peraturan Bupati/Walikota dimaksud sekaligus menyatakan berlakunya pagu APBD tahun sebelumnya.119 Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD tidak sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. ternyata Gubernur tidak hanya melakukan koordinasi tapi juga memiliki wewenang untuk melakukan tindakan hukum terhadap rancangan Perda APBD dan Perda APBD. Gubernur menyampaikan hasil evaluasi rancangan Perda kabupaten/kota tentang APBD dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang APBD dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD kepada Menteri Dalam Negeri. Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh Bupati/Walikota dan DPRD. 32 Tahun 2004 NO 1 UMUM Penetapan urusan pemerintahan yang menjadi wewenang Pemerintah Pusat dan Daerah (Pasalpasal 10. Jadi dapat dikatakan. 11. 12. Penentuan adanya PREVENTIF REPRESIF KETERANGAN Ditetapkan UU oleh 2 Ditetapkan oleh . Gubernur memiliki wewenang untuk melakukan pengawasan terhadap rancangan APBD maupun setelah APBD tersebut disahkan oleh kabupaten dan kota. Jika pasal dihubungkan dengan Pasal 222. Lebih lanjut dapat dikemukakan mengenai model-model pengawasan dan pengendalian terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah menurut UU No. 13 dan 14).

dan pemberhentian dari dan dalam jabatan eselon II pada kabupaten/kota perlu berkonsultasi dengan Gubernur Perpindahan PNS antar kabupaten/kota dalam. dan dari provinsi/kabupaten/ko ta perlu memperoleh pertimbangan dari Kepala Badan Kepegawaian Negara Penetapan formasi PNS dilaksanakan oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Pembinaan dan pengawasan manajemen PNS dikoordinasikan pada tingkat daerah oleh Gubernur Larangan Perda bertentangan dengan kepentingan umum dan peraturan perundangundangan yang lebih tinggi Tata cara mempersiapkan Raperda diatur UU Pasal 128 Pasal 130 Pasal 131 Pasal 132 Pasal 135 8 Pasal 136 9 Pasal 140 . pemindahan. Pedoman tentang susunan organisasi perangkat daerah dan formasi serta persyaratan jabatan perangkat daerah yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat dalam PP dan berbagai peraturan perundang-undangan Pengangkatan.120 3 4 5 6 7 tugas. dan DPRD. kewajiban dan larangan bagi Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah. antar provinsi. wewenang.

berpedoman pada PP dan perencanaan pembangunan nasiona. harus sesuai dengan peraturan perundangundangan Perda disampaikan kepada Pemerintah paling lama 7 hari setelah ditetapkan Pembatalan Perda yang bertentangan dengan kepentingan umum dan peraturan perundangundangan yang lebih tinggi. supervisi. Pedoman penggunaan. dana bagi hasil SDA. DAU dan DAK diatur dalam Permendagri Belanja daerah harus Pasal 143 11 Pasal 145 ayat (1) 12 Pasal 145 ayat (2) s/d ayat (7) 13 Pasal 150 14 Pasal 158 15 Pasal 163 16 Pasal 167 . monitoring dan evaluasi atas dana bagi hasil pajak. Penetapan Perda tentang Pajak dan Retribusi Daerah berpedoman pada undang-undang dan peraturan perundangundangan lain. dilakukan oleh Presiden (ditetapkan dengan Perpres) Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).121 10 dengan Perpres Perda yang memuat ancaman pidana dan denda.

Ketentuan mengenai pinjaman daerah dan obligasi daerah diaatur dengan PP Pengaturan tentang persyaratan pembentukan dana cadangan daerah. pengelolaan dan pertanggungjawab annya ditetapkan dengan PP Penyertaan modal daerah pada suatu BUMN/swasta. 17 Belanja kepala daerah dan wakil kepala daerah dan belanja pimpinan dan anggota DPRD diatur dalam Perda dengan berpedoman pad PP Pertimbangan Mendagri dalam melakukan pinjaman yang berasal dari penrusan pinjaman hutang luar negeri dari Menkeu. dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundangundangan Pengendalian defisit anggaran Pasal 168 18 Pasal 170 19 Pasal 171 20 Pasal 172 21 Pasal 173 22 Pasal 174-175 . tolok ukur kinerja. dan standar pelayanan minimal yang ditetapkan dengan peraturan perundangundangan.122 mempertimbangkan analisis standar belanja. standar harga.

28 Pasal 221 dan UU tentang BPK 29 Pasal 224 . penatausahaan. Pasal 178 24 Pasal 185 s/d 190 25 Pasal 194 26 Pasal 195 s/d 197 27 Pasal 217 s/d 223. prosedur. pelaporan. dan sanksi ditetapkan dalam PP. penghargaan. Tata cara pelaksanaan kerja sama antar daerah diatur dalam PP Pedoman pembinaan dan pengawasan yang meliputi standar. Pemeriksaan oleh BPK terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah Pembentukan dewan yang bertugas memberikan saran dan pertimbangan terhadap kebijakan otonomi daerah diatur dalam Perpres.123 oleh Mendagri 23 Pengelolaan Barang Daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan Evaluasi Raperda dan Peraturan Kepala Daerah tentang APBD. pelaksanaan. norma. untuk provinsi oleh Mendagri dan untuk kabupaten/kota oleh Gubernur. Perubahan APBD dan Pertanggungjaw aban Pelaksanaan APBD. Pedoman penyusunan. pengawasan dan pertanggungjawaban keuangan daerah diatur dalam PP.

pengembangan. dan kepala desa. b) pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah yang bersifat pilihan. penelitian. pemantauan dan evaluasi pelaksanaan urusan Pemerintahan. 357 Pasal 2 ayat (1). disebutkan bahwa pengawasan pelaksanaan urusan Pemerintahan di daerah meliputi:359 a) pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah provinsi. b) pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah kabupaten/kota. supervisi dan konsultasi pelaksanaan urusan pemerintahan. c) pemberian bimbingan. Pembinaan sebagaimana tersebut dilakukan terhadap kepala daerah atau wakil kepala daerah. b) pemberian pedoman dan standar pelaksanaan urusan Pemerintahan. Mengenai pembinaan dikatakan bahwa Pembinaan atas penyelenggaraan Pemerintahan Daerah dilaksanakan oleh Pemerintah yang meliputi:357 a) koordinasi pemerintahan antar susunan Pemerintahan. d) pendidikan dan pelatihan. dan anggota badan permusyawaratan desa. Pengawasan terhadap urusan pemerintahan di 356 Konsiderans PP No.356 PP ini memisahkan antara pembinaan dan pengawasan dalam Bab yang berbeda. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 Tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Untuk melaksanakan ketentuan Pasal 223 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Peraturan Pemerintah diterbitkan sebagai pedoman pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah. . yaitu Bab II dan Bab III.124 3. pegawai negeri sipil daerah. perangkat daerah. dan c) pelaksanaan urusan pemerintahan menurut dekonsentrasi dan tugas pembantuan. 79 Tahun 2008 Tentang Tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah provinsi tersebut terdiri dari:360 a) pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah yang bersifat wajib. 359 Pasal 20 360 Pasal 21. dan e) perencanaan. perangkat desa. 358 Pasal 2 ayat (2). dan c) pelaksanaan urusan pemerintahan desa.358 Pada pengaturan mengenai pengawasan.

.361 yang dilakukan oleh Inspektorat Jenderal Departemen. Pasal 24 ayat (2). Inspektorat Provinsi.125 daerah dilaksanakan oleh Aparat Pengawas Intern Pemerintah sesuai dengan fungsi dan kewenangannya. 363 Pasal 24 ayat (3) dan (4). Unit Pengawasan Lembaga Pemerintah Non Departemen. dapat dilihat pada tabel-tabel di bawah ini: yang ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang- 361 362 Pasal 24 ayat (1).362 Pelaksanan pengawasan tersebut dilakukan oleh pejabat pengawas pemerintah undangan. dan Inspektorat Kabupaten/Kota.363 Untuk mengetahui perkembangan sistem pengawasan Pusat terhadap Daerah dalam pengaturan pemerintahan daerah di Indonesia dan di beberapa negara lain.

Preventif 2. 22 Tahun 1999 UU No. Preventif 1. Preventif 2.126 Tabel 4 Perkembangan Pengaturan Pengawasan No. Umum Represif 1. 5 Tahun 1974 7. Umum 1. Represif Represif 1. UU No. UU No. 1 Tahun 1957 Penetapan Presiden No. UU No. 2. Preventif 2. 8. 32 Tahun 2004 . Periode 1. 22 Tahun 1948 Sifat/Bentuk Pengawasan Non-Yudisial 1. 5. UU No. Represif 3. Preventif 2. 4. 1 Tahun 1945 UU No. Represif 3. 6 Tahun 1959 UU No. 18 Tahun 1965 6. Represif 3. Non-yudisial 2. Represif 3.

yaitu bahwa Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar. . dan (3) UUD 1945 Jimly Asshiddiqie.365 UUD 1945 menggabungkan konsep kedaulatan rakyat. Gagasan kedaulatan Tuhan dianut juga dalam: 1. pada pokoknya menganut supremasi hukum. ayat (3) kedaulatan hukum. Jimly berpendapat bahwa UUD 1945 menganut paham kedaulatan yang unik.364 Pertama. hlm. pilar negara hukum dinyatakan oleh UUD 1945 dalam Pasal 1 ayat (3). Pokok-Pokok Hukum Tata Negara Indonesia Pasca Reformasi. Lebih dari kedaulatan-kedaulatan tersebut. kedaulatan rakyat. yaitu bahwa Negara Indonesia adalah negara hukum. Kelompok Gramedia. pilar negara kesatuan dinyatakan dalam UUD 1945 terdapat dalam Pasal 1 ayat (1). 150. 149. …” … berkedaulatan rakyat berdasarkan 364 365 Pasal 1 ayat (1). Disebutkan bahwa bahwa Negara Indonesia ialah Negara Kesatuan. Juga. yang mengatakan “Atas berkat Rahmat Alloh Yang Maha Kuasa…” 2. Pilar-Pilar Penyelenggaraan Pemerintahan Pengakuan bahwa Indonesia berkomitmen terhadap pilar-pilar negara kesatuan. Ketiga. Kedua. pilar kedaulatan rakyat dinyatakan dalam ayat (2). dan negara hukum telah dituangkan dalam perubahan ketiga Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Bhuana Ilmu Komputer. “ kemerdekaan… Negara Ketuhanan Yang Maha Esa. Jakarta. alinea pertama pembukaan. dan kedaulatan Tuhan secara sekaligus. (2). yang berbentuk Republik. kedaulatan hukum. PT. Jimly Asshiddiqie menjelaskan bahwa Indonesia pun menganut kedaulatan Tuhan dalam konstitusi. … (pasal 1 ayat (2)): kedulatan rakyat. Dari segi internal atau kedaulatan internal.127 BAB IV TINJAUAN DIMENSI-DIMENSI HUBUNGAN ANTARA PUSAT DAN DAERAH A. 2007.

Ide kedaulatan Tuhan itu diwujudkan dalam prinsip kebebasan setiap individu dalam sistem demokrasi dan dicerminkan pula dalam sistem hukum berdasarkan Undang-Undang Dasar. Apa isi pelayanan itu? . Walaupun demikian melalui berbagai peraturan pelaksana. Titinjau dari pola hubungan kewenangan. seharusnya sudah memungkinkan bagi daerah-daerah untuk beragam memiliki urusan. dengan asas otonomi dan tugas pembantuan. dapat terlihat berbagai ketidakkonsistenan dengan landasan konstitusional ini. B. dari ketentuan Pasal 18 ayat (5) UUD 1945 dan Pasal 2 ayat (3) UU No. Di luar enam urusan ini merupakan urusan pemerintahan daerah. maka urusan pemerintah pusat itu terbatas pada enam urusan ini. Dalam hal ini membatasi urusan pemerintahan yang menjadi urusan pemerintah pusat. Pertama. pelaksanaan pemerintahan daerah yang berdasarkan otonomi seluas-luasnya bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.128 3. Dengan pemberian otonomi seluas-luasnya seperti itu. 32/2004 dapat diambil beberapa hal. Residual powernya ada pada pemerintahan daerah sehingga pemerintahan daerah memiliki otonomi yang luas. meliputi desentralisasi teritorial. kedua ketentuan di atas menggunakan kata ‘kecuali’ (exception) dalam hal pembagian kewenangan. pada dimensi-dimensi hubungan pusat dan daerah. Dimensi Hubungan Kewenangan Pusat dan Daerah UUD 1945 telah memberikan dasar-dasar pola hubungan antara Pusat dan Daerah. Kedua. Jika ketentuan ini diidentifikasi sebagai rumusan limitatif. Tujuan-tujuan tersebut sejalan dengan fungsi negara dan pemerintah pada masa modern yang secara umum dikatakan sebagai negara pelayan (the service state). Pasal 9 ayat (1) dan (2) menentukan sumpah jabatan presiden … dengan menyatakan “Demi Alloh”. Pemahaman seperti ini dikenal dengan pendekatan residual. Pasal 28J ayat (2): Hanya saja paham kedaulatan Tuhan itu tidak terjelma atau terwujudkan dalam diri Raja atau Ratu seperti dalam paham teokrasi (theocracy) yang pernah dipraktikkan dalam sejarah negara-negara Eropa Masa lalu. pelayanan umum dan daya saing daerah. 4. Kata kecuali dapat diartikan membatasi. dan memberikan otonomi seluas-luasnya.

maka akan ditemukan bahwa pada setiap daerah memiliki karakter khusus. dan lain-lain). 4. Makalah.. Bagir Manan. 2001. Sementara itu pemberian otonomi khusus seperti yang diberlakukan dalam berbagai UU saat ini lebih merupakan anomali. 370 Ibid. jika otonomi dimaknai sebagai sebuah pengakuan atas keberagaman. 369 Ibid.129 Kalau digolongkan terdapat tiga fungsi negara atau pemerintah terhadap rakyat. kalau urusan-urusan pemerintahan didesentralisasikan. perangkat di pusat tidak perlu gemuk. Demikian pula penjabaran RPJP saat ini cenderung mengubah kepentingan sektor menjadi kepentingan wilayah. yaitu politik. hlm. dan ketertiban umum yang berkaitan dengan kenyamanan dan ketenteraman warga. otonomi khusus berkaitan dengan pelaksanaan syariat Islam sehingga tidak berbeda dengan status Aceh sebagai daerah istimewa. hlm. pelayanan umum (public services). Sebagai ujung tombak mewujudkan negara kesejahteraan. Berimplikasi kepada kelembagaan. keamanan dan ketertiban (hukum). 366 367 Bagir Manan. 2008. Jika otonomi dijalankan sebagaimana yang dimaksud dalam Perubahan UUD 1945. sosial. Tugas Sosial Pemerintahan Daerah. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah. 16. perkataan ‘khusus’ dalam Pasal 18B UUD 1945 akan memiliki cakupan yang lebih luas karena dimungkinkan membentuk pemerintahan daerah dengan otonomi khusus (Aceh dan Papua).367 Untuk Aceh.366 Berkaitan dengan daerah istimewa dan otonomi khusus. tugas utama pemerintahan daerah di bidang kemasyarakatan adalah yang berkaitan dengan penyediaan prasarana dan sarana publik (public utilities). Pusat Studi Hukum Fakultas Hukum UII.369 Ketiadaan kriteria baku ini mengandung resiko-resiko tertentu karena suatu daerah dapat saja menuntut suatu kekhususan semata-mata didasarkan pada faktor-faktor tertentu. kemasyarakatan (ekonomi. Yogyakarta.370 Dari persoalan tersebut. hlm 15-16. maka tidak perlu penyeragaman terlalu banyak baik melalui rincian pembagian urusan maupun pedoman dan standard. .368 Dengan demikian tidak dapat lagi dijumpai perbedaan mendasar antara ‘khusus’ dan ‘istimewa’ atau dengan kata lain tidak terdapat ‘kriteria baku’ yang dapat digunakan untuk membedakan kedua istilah tersebut. 368 Ibid.

Dimensi Hubungan Kelembagaan Pusat dan Daerah Pemerintahan daerah merupakan subsistem dari pemerintahan nasional atau Negara. Inkonsistensi terjadi pula dalam UU Olah raga dan penyuluhan pertanian yang menghendaki pembentukan semacam lembaga pelaksana di daerah. “penyelundupan” desentralisasi pun terjadi pula melalui UU sektoral yang menarik urusan yang sudah didesentralisasikan. misalnya pada UU Kehutanan. 373 J. Instrument tersebut haruslah digunakan secara arif oleh kepala daerah tanpa harus menimbulkan konflik antara pusat 371 372 Ibid.372 C. 38 tahun 2007. otonomi daerah bukanlah tujuan melainkan suatu instrument untuk mencapai tujuan. karena menurut James W Fesler. 4.. menjadi kewenangan pusat. 16.. Ibid. Kaloh. Penerbit Gramedia Pustaka. yang mengurangi keberagaman daerah sebagai bagian dari hakikat otonomi. Jakarta. otonomi khusus berkaitan dengan pelaksanaan syariat Islam sehingga tidak berbeda dengan status Aceh sebagai daerah istimewa.130 Ketidakkonsistenan otonomi kemudian muncul melalui pembagian kewenangan yang dirinci melalui PP No. . Efekivitas pemerintahan Negara bergantung kepada efektivitas penyelenggaraan pemerintahan di daerah. 15-16. Kekhususan urusan kemudian terjadi dalam pengaturan Pasal 18B UUD 1945. Ketidakmampuan Kepala Daerah dalam menyukseskan pembangunan daerah berimplikasi pada rendah atau berkurangnya kinerja dan efektivitas penyelenggaraan pembangunan nasional. Keberhasilan kepemimpinan di daerah menentukan kesuksesan kepemimpinan nasional.371 Untuk Aceh. Kepala Daerah. hlm. Perkataan ‘khusus’ tersebut akan memiliki cakupan yang lebih luas karena dimungkinkan membentuk pemerintahan daerah dengan otonomi khusus (Aceh dan Papua). 2003.373 Paradigma baru Otonomi Daerah harus diterjemahkan oleh Kepala Daerah sebagai upaya untuk mengatur kewenangan pemerintahan sehingga serasi dan fokus pada tuntutan kebutuhan masyarakat.

kepala daerah harus waspada terhadap munculnya hubungan antar tingkat pemerintahan yang bergerang dalam saling ketidakpercayaan. Reformasi kelembagaan yang aspiratif dan akseleratif mensyaratkan adanya kemauan. Yang terjadi adalah praktek jual beli “perahu partai politik” dalam proses pencalonan kepala daerah. 16 Eko Prasojo. Sedangkan masyarakat dipaksa untuk memilih calon yang telah dipilih oleh parpol tanpa proses penjaringan yang partisipatif. Reformasi objektivitas kelembagaan guna mensyaratkan adanya transparansi dengan dan cara menghindari perbuatan KKN mengutamakan orang-orang yang “dekat” dengan pejabat pengambil 374 375 Ibid. dan komitment politik yang kuat dari pemerintah daerah. atau antar provinsi dan kabupaten/Kota karena jika demikian. http://ekoprasojo. Hubungan Kelembagaan antara Pusat dan Daerah.131 dan daerah.374 Pemilihan langsung kepala daerah yang diharapkan dapat meningkatkan partisipasi masyarakat. Bandung. atau suasana kurang harmonis seperti munculnya egoism masing-masing tanpa menyadari bahwa fungsi pemerintahan hanya meliputi tiga hal. dan pemberdayaan (empowerment). yaitu pelayanan kepada masyarakat (public services). Pidato Pengukuhan Guru Besar Fisip UI. dalam prakteknya tidak terjadi.375 Tuntutan reformasi kelembagaan dicirikan oleh asumsi sebagai berikut:376 1. Pusat Studi Hukum Kenegaraan Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran. Proses penjaringan calon kepala daerah menjadi domain ekslusif partai politik. makalah pada Diskusi Terbatas tentang Hubungan Pusat dan daerah. Dalam kondisi demikian.com/2008/04/08/konstruksi-ulang-hubungan-pemerintah-pusat-danpemerintah-daerah-di-indonesia-antara-sentripetalisme-dan-sentrifugalisme/ 376 Asep Warlan Yusuf. membuatkan pedoman/arah atau ketentuan kepada masyarakat (regulation). 4 Agustus 2009 . Klaim partai politik bahwa jika pencalonan dilakukan hanya melalui partai politik akan memperkuat kelembagaan partai politik dalam prakteknya juga tidak menjadi kenyataan. makna otonomi daerah menjadi kabur. keberanian. hlm. 2.

partisipasi serta kontribusi dari dan oleh mnasyarakat dapat terakomodasi secara maksimal. Jakarta. hlm. hlm.132 keputusan. Reformasi kelembagaan mensyaratkan adanya kepastian dan perlindungan terhadap upaya pemberdayaan daerah. Susunan dalam harus mencerminkan dasar permusyawaratan dalam sistem pemerintahan Negara. status dan kedudukannya. pembagian wewenang 377 (atau urusan) antar berbagai tingkatan pemerintahan.. semua satuan pemerintahan tingkat daerah harus tersusun dalam satu kesatuan susunan integral. Bagir Manan. 1994. Reformasi kelembagaan mensyaratkan adanya pengembangan dan pemberdayaan dalam membangun berbagai aliansi strategis dengan pihak manapun. Reformasi kelembagaan mensyaratkan adanya penguatan Civil Society (masyarakat madani) agar sukses. 4. Dalam rangka lebih memperkokoh asas desentralisasi sebagai salah satu sendi system ketatanegaraan RI. 257 . Hubungan Antara Pusat dan Daerah Menurut UUD 1945.378 Konstruksi hubungan tersebut paling tidak memuat pemikiran ulang mengenai tingkatan pemerintahan. Susunan luar. Agar diusahakan sebanyak mungkin pelaksanaan urusan pemerintahan pusat di daerah dilakukan melalui atau kerjasama dengan Pemerintah Daerah. Provinsi dan Kabupaten/Kota. Pustaka Sinar Harapan. 3. artinya tidak dilakukan dengan setengah hati sehingga terjadi tarik ulur antara kewenangan Pemerintah. 256 378 Ibid. Mekanisme hubungan pemerintah Pusat dan Pemerintah daerah dalam kelembagaan (susunan organisasi) menurut Bagir Manan:377 1. 3. 2. disarankan agar Pemerintah Pusat mengurangi badan-badan penyelenggara urusan pemerintahan pusat di daerah. 5. terutama dalam rangka penataan kepegawaian dalam kelembagaan yang baru.

Di samping ada pula yang mengarah pada gabungan keduanya. Dengan diterapkannya otonomi luas (terutama di Kabupaten dan Kota). Dalam hal ini. Hubungan pusat dan daerah dalam sistem otonomi yang bagaimanapun luasnya bukanlah ketentuan statis tetapi harus merupakan ketentuan yang dinamis pola hubungan itu harus selalu bergerak seimbang antara ke pusat dan ke daerah yang mampu menampung kebutuhan masyarakat dan pemerintahan. segala sesuatunya perlu ditempatkan dalam hubungan yang serasi. 379 http://ekoprasojo. bahkan sebaliknya dapat menambah beban terlebih-lebih masalah yang dihadapi bukanlah hanya terletak dalam hubungan antara pusat dan daerah.133 perimbangan keuangan antar tingkatan pemerintahan. partisipasi daerah dalam pembuatan keputusan di tingkat nasional.379 Persoalan hubungan pusat dan daerah dalam Negara Kesatuan dengan sistem desentralisasi lebih luas dari sekedar bertalian dengan caracara penentuan Rumah Tangga daerah. akan memperbesar organisasi pemerintahan daerah. Terlihat perbedaan perwujudan politik otonomi disatu pihak condong kearah desentralisasi. Begitu pula kemampuan daerah yang satu belum tentu sama dengan daerah yang lainnya. Bertambah luasnya urusan Rumah Tangga daerah belum tentu selalu membawa keuntungan bagi daerah. dan intervensi pusat terhadap daerah. tetapi juga hubungan antar daerah itu sendiri. kemungkinan demikian harus diantisipasi dengan cermat sehingga tidak terjadi susunan organiasi “yang kegemukan” atau sebaliknya. harus diperhatikan bergeraknya pola hubungan tersebut tidak sampai menimbulkan masalah besar khususnya bagi daerah. dipihak lain ke arah sentraliasi. sehingga harus dimungkinkan adanya perbedaan susunan organisasi setiap daerah. Meskipun demikian. tetapi bersumber pula antara lain pada cara menyusun dan menyelenggarakan organisasi pemerintahan di daerah ditinjau dari macam-macam peraturan perundang-undangan mengenai pemerintahan daerah yang pernah berlaku.com/2008/04/08/konstruksi-ulang-hubungan-pemerintah-pusat-danpemerintah-daerah-di-indonesia-antara-sentripetalisme-dan-sentrifugalisme/ .

Penerbit Alumni.381 masingmasing sesuai dengan peraturan yang berlaku saat ini yaitu UU No. Perbedaan antara dua macam tugas tersebut tidak hanya terletak pada macam tugasnya. karena ada dua kedudukan sebagai alat pemerintah pusat. kedudukan serta fungsi DPRD ini berada dalam satu undang-undang yang sama dengan pengaturan mengenai susunan. hlm. Perwakilan Politik Lokal dan Eksistensi DPRD dalam Konteks Otonomi Daerah. atau dengan perkataan lain DPRD bukan merupakan subordinasi dari 380 R. sedangkan dalam kedudukannya sebagai alat pemerintah daerah tunduk kepada prinsip-prinsip desentralisasi. Begitu pula berkaitan dengan kelembagaan DPRD. Jakarta 2005. tapi juga pada cara penyelenggaraannya dan pertanggungjawabannya. 32 Tahun 2004. dalam Kumpulan Tulisan. Perkembangan Pemerintahan Lokal. bahkan dalam cara pengisiannyapun sama-sama dipilih secara langsung oleh rakyat melalui pemilu. Marbun. kedudukan dan fungsi DPR RI. namun DPRD tidak mempunyai hubungan secara langsung dengan DPR. yaitu dalam arti sebagai Kepala Pemerintahan dari pada pemerintah lokal yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangga sendiri. dengan sendirinya ia mempunyai dua macam tugas yang berbeda satu dengan yang lainnya. artinya. 1982. keterlibatan masyarakat secara langsung dan tidak langsung ikut menentukan urusan urusan rumah tangga daerahnya. 327 . yaitu dalam arti sebagai kepala pemerintahan daripada pemerintah lokal administratif umum pusat dan sebagai alat Pemerintah Daerah. 215. 382 BN. editor Anhar Gonggong.382 Meskipun pengaturan tentang susunan. Pasang Surut Otonomi Daerah.380 Penyelenggaraan dan pertanggungjawaban tugas oleh Gubernur dalam kedudukannya sebagai alat pemerintah Pusat. Konsep perwakilan politik lokal merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sistem demokrasi. hlm. tunduk pada prinsipprinsip dekonsentrasi. Bandung. Konsep perwakilan politik lokal terkait dengan sistem pemerintahan yang dipraktikkan suatu Negara. Joeniarto. Institute for Local Development dan Yayasan TIFA.134 Mengenai kedudukan gubernur. 381 Ibid.

Di samping itu DPRD juga sebenarnya merupakan bagian atau unsur kekuasaan eksekutif pada level pusat karena merupakan bagian dari penyelenggara pemerintahan daerah. Dalam Pasal 18 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa “Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota. yang tiap-tiap provinsi. pemerintah daerah induknya. Demikian pula halnya keterlibatan pemerintah pusat maupun lembaga negara yang diharapkan akan menjadi penyaring dalam pemekaran daerah juga tidak berjalan dengan baik. alasan utama untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. kekuasaan DPRD baik tingkat provinsi maupun Kabupaten/Kota akan melalui sebuah upaya evaluasi peraturan pelaksanaannya. Sebagai balasannnya. memberikan rekomendasi . baik provinsi. Bahkan tidak sedikit di antara daerah yang memekarkan diri itu diketuai oleh kepala daerah atau para anggota DPRD-nya. Terjadinya pemekaran daerah yang meluas hampir di seluruh wilayah Indonesia sebenarnya diawali dengan peluang yang diberikan oleh peraturan perundang-undangan. (Kursif dari Tim Peneliti). Di atas sudah dijelaskan bahwa dalam sepuluh tahun terakhir sudah banyak dibentuk atau dimekarkan suatu daerah. pelayanan publik. yang diatur dengan undang-undang”. Di lain pihak. atau kota. maupun daya saing daerah pun menjadi tersamar dan yang muncul justru adalah kepentingan elit politik lokal tersebut. Dalam hal ini. Hal itu dapat dilihat dari mudahnya pemerintah pusat. baik provinsi/kabupaten/kota dan DPRD-nya masing-masing juga menjadi faktor pendukung terjadinya pemekaran daerah dengan mudahnya memberikan persetujuan pemekaran daerah yang bersangkutan. melalui Menteri Dalam Negeri. banyak di antara mereka yang kemudian mencalonkan diri sebagai kepala daerah yang baru tersebut.135 DPR RI. dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah. kecenderungan masyarakat untuk membentuk daerah baru juga didukung oleh lembaga formal baik pada tingkat daerah maupun pusat. Dengan demikian. kabupaten. kabupaten. Bahkan dalam hal pembentukan perda.

cit. Penafsiran itu mungkin terlalu naïf. Hal itu ternyata menjadi penyebab pemekaran daerah tidak dapat dikendalikan. . 383 Sekretariat Jenderal Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia. hal itu diatur dalam Pasal 6 ayat (2) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang menyatakan “Daerah dapat dimekarkan menjadi lebih dari satu Daerah”. hal itu konsisten dengan kesepakatan untuk tetap mempertahankan bentuk negara kesatuan. di mana jika menggunakan istilah “terdiri atas” akan lebih menunjukkan susbtansi federalisme karena istilah itu menunjukkan letak kedaulatan berada di tangan negara-negara bagian. op. 31. Demikian pula halnya. Alasan Majelis Permusyawaratan Rakyat menggunakan istilah “dibagi” bukan “terdiri atas” adalah untuk menjelaskan bahwa Indonesia adalah negara kesatuan yang kedaulatan negara berada di tangan Pusat. Akan tetapi. Dari bunyi pasal tersebut tampak bahwa memang sangat dimungkinkan suatu daerah untuk dimekarkan bahkan dapat menjadi lebih dari satu daerah (baru). Oleh karena itu. Selain itu. Sebagai bukti. keterlibatan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dalam mengajukan rancangan undang-undang tentang pemekaran daerah sangat memungkinkan dan mendorong terjadinya pemekaran daerah. tetapi faktanya memang seperti itu di mana kemudian pembagian wilayah atau daerah di Indonesia menjadi sangat dipermudah dalam undang-undang pelaksanaannya. peran lembaga formal sangat penting dalam menyaring dan mengendalikan pemekaran daerah agar pemekaran daerah itu dapat dikurangi atau dihentikan. dan provinsi akan selalu dibagi ke dalam kabupaten atau kota. hal itu dapat diterima karena sangat masuk akal dan berdasar.136 dalam pembentukan daerah baru. ternyata dari kata “dibagi” tersebut kemudian menimbulkan penafsiran yang berbeda dalam praktik di mana hal itu diartikan Indonesia akan selalu dibagi ke dalam provinsi. Hal itu sangat dimungkinkan karena undang-undang yang berkaitan memang membuka peluang seperti dijelaskan di atas. 383 Secara konseptual dan teoretis. hlm.

dalam pemekaran daerah banyak memunculkan data dan fakta yang berbeda dengan situasi. dan kecamatan pun dapat dipecah lagi ke dalam kelurahan-kelurahan dan desa-desa. Apabila undang-undang itu dibaca dalam waktu yang berbeda. di sisi lain Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tidak membatasi secara tegas sampai berapa banyak jumlah provinsi. tidak mengherankan apabila banyak daerah yang mencoba mengajukan usulan pemekaran diri sekalipun secara faktual daerahnya tidak memenuhi persyaratan atau persyaratan formalnya terpenuhi tetapi faktualnya tidak. Dengan kata lain. wilayah Indonesia dapat dibagi terus ke dalam provinsi-provinsi.137 Namun. Pemenuhan persyaratan yang diajukan dalam pemekaran daerah itu lebih banyak hanya ditekankan dari segi formal dan prosedur. Namun. Keadaan itu dimungkinkan terjadi karena adanya . provinsi dapat dibagi terus ke dalam kabupaten atau kota. ketentuan tersebut sangat membuka peluang kepada semua daerah untuk memekarkan diri tanpa melihat kondisi objektif daerah. kabupaten atau kota juga dapat dimekarkan terus ke dalam kecamatan-kecamatan. kabupaten. di sisi lain kriteria dan prosedur tersebut dapat dianggap terlalu mudah dan terkesan formalistik. Artinya. sementara dari segi faktual-material banyak yang tidak sesuai dengan situasi dan kondisi nyata di daerah yang bersangkutan. Bahkan tidak sedikit pula dalam pemekaran daerah itu dilakukan dengan memaksakan diri padahal situasi dan kondisi daerah itu sebenarnya belum atau tidak layak dimekarkan. kondisi. sehingga pemenuhannya lebih banyak ditekankan kepada aspek formalnya semata-mata. maka tampak seperti tidak ada pembatasan sampai berapa tahap suatu daerah dapat dibagi ke dalam daerah yang lebih kecil. kriteria dan prosedur pemekaran daerah yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tersebut sudah cukup baik selama dijalankan secara ketat dan teruji melalui penelitian dan pengkajian yang komprehensif. Oleh karena itu. Pasal tersebut sangat memungkinkan terjadinya pemekaran daerah seperti halnya pemecahan sel yang berlangsung terus-menerus tanpa ada pembatasan. maupun kemampuan daerah yang bersangkutan. Secara formal. dan kota yang dapat dibentuk di Indonesia. Dengan kata lain.

termasuk kebebasan daerah dalam memekarkan daerahnya menjadi daerah otonom baru. Sebagai akibatnya. selain banyak munculnya daerah baru. seperti adanya kerusakan lingkungan. atau kota yang sibuk melakukan pemekaran daerah baru dengan melupakan keberadaannya sebagai penyelenggara pemerintahan daerah yang memiliki tugas untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Semestinya. pelaksanaan otonomi daerah yang sangat luas tersebut tidak mampu membawa kesejahteraan bagi masyarakat di daerah. hal itu dijadikan peluang untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. korupsi. sejarah menunjukkan bahwa pelaksanaan undangundang tersebut ternyata tidak berhasil dengan baik. Dengan demikian. dengan diberikannya otonomi yang seluas-luasnya kepada daerah menyebabkan daerah memiliki kekuasaan yang luar biasa besar dalam menentukan dan mengambil kebijakan menyangkut daerahnya.138 kemudahan yang diberikan oleh ketentuan peraturan perundang-undangan dan dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk mencapai tujuannya. kabupaten. Hal itu itu menunjukkan sangat longgarnya persyaratan dan prosedur pemekaran daerah dalam undang-undang. pelayanan masyarakat. sehingga tujuan pemberian otonomi daerah seluas-luasnya tidak berjalan sesuai dengan harapan. terutama Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan peraturan pelaksananya. Pada gilirannya. Hal itu sebagai akibat negatif di mana daerah diberi kewenangan dan keleluasaan yang sangat luas untuk mengurus dan mengatur urusan rumah tangganya sendiri. Namun yang terjadi justru sebaliknya di mana dengan otonomi yang sangat luas tersebut menimbulkan banyak ekses negatif. Padahal. maupun daya saing daerah. konflik . Sebagai akibatnya. adalah timbulnya berbagai persoalan yang dihadapi oleh daerah. undangundang tersebut yang pada awal kehadirannya disambut dengan harapan yang sangat tinggi agar pelaksanaan otonomi daerah yang sebelumnya dilaksanakan secara sentralistik berubah menjadi lebih desentralistik justru dianggap menimbulkan banyak masalah. maupun daya saing daerah. Akibat lain dari berlakunya undang-undang tersebut. pelayanan publik. banyak daerah provinsi.

Sekalipun banyak pihak yang sudah menganjurkan upaya pemekaran tersebut dihentikan. tidak mengherankan dalam kurun waktu 2004 sampai dengan sekarang (2009) pemekaran daerah juga masih berlangsung. Selanjutnya. sehingga tidak dapat dikontrol oleh provinsi maupun pusat. ada di antaranya dalam proses pemekaran tersebut menimbulkan konflik horizontal di antara masyarakat sendiri atau dengan pemerintah induk (provinsi/kabupaten/ kota) bahkan dengan pemerintah pusat. Hal itu terjadi karena adanya pihak . Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tersebut digantikan oleh Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004. hal itu tidak dilaksanakan oleh banyak daerah. Hal itu dapat dilihat dari bunyi Pasal 2 ayat (1) yang berbunyi ”Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota yang masing-masing mempunyai pemerintahan daerah”. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 juga ternyata masih membuka peluang yang cukup besar bagi daerah untuk melakukan pemekaran daerah. Hal itu dimungkinkan terjadi dan terus berlangsung karena memang undangundangnya membuka peluang untuk itu. Penggantian tersebut dilakukan untuk mengubah paradigma yang dianut oleh undangundang sebelumnya yang terlalu memberikan keleluasan sepenuhnya kepada daerah tanpa adanya mekanisme kontrol yang proporsional. termasuk dalam hal pemekaran daerah. Dengan demikian. dan sebagainya. tujuan semula dikeluarkannya undang-undang tersebut tidak berhasil diwujudkan sesuai dengan harapan pembentuk undang-undang sendiri maupun masyarakat. Hal itu disebabkan demikian besarnya kewenangan daerah kabupaten dan kota untuk mengambil kebijakan. Dengan demikian. Pada akhirnya.139 masyarakat. Namun demikian. Dengan demikian. Oleh karena itu. semangat undang-undang tersebut masih sama dengan semangat undang-undang sebelumnya yang ”akan selalu membagi” wilayah atau daerah Indonesia ke dalam bagian yang lebih kecil. era otonomi daerah yang sudah mulai dinikmati oleh daerah kemudian menjadi kehilangan momentum karena daerah tidak mampu memelihara dan menjaganya.

akan terjadi pemungutan retribusi baru oleh kabupaten/kota baru bagi warganya yang akan melintasi daerah baru tersebut. semua provinsi di Indonesia harus menyetujui pembentukan provinsi baru tersebut. termasuk posedurnya juga cukup sederhana. tampaknya tidak terlalu berbeda di mana keduanya sangat membuka peluang dilakukannya pemekaran daerah. tidak adanya syarat yang mewajibkan persetujuan dari daerah lain dalam pembentukan daerah baru. Sekalipun dalam peraturan perundang-undangan tersebut sudah diatur tentang pembatasan waktu berapa lama suatu daerah yang sudah dimekarkan dapat dimekarkan lagi. Hal itu sangat penting. penghasilan daerah. praktiknya hal itu sangat riskan. daerah tersebut akan menerapkan ketentuan yang menguntungkan daerahnya sendiri. pembentukan daerah baru juga akan menjadi penyebab berubahnya administrasi kependudukan. Sebagai contoh. tidak peduli apakah “korbannya” adalah tetangganya yang sebelumnya adalah sesama warga kabupaten/kota sebelum pemekaran (daerah induk). Alasannya. Misalnya. kepegawaian. Misalnya. Selain fakto-faktor yang sama dalam pembentukan provinsi. baik untuk daerah lama yang sudah pernah dimekarkan maupun daerah baru yang kemudian akan dimekarkan lagi. Demikian pula halnya dalam pembentukan kabupaten/kota baru harus mendapatkan persetujuan dari semua kabupaten/kota yang ada dalam provinsi yang sama. dan sebagainya. waktu 10 tahun untuk . di samping akan mempengaruhi alokasi anggaran masingmasing provinsi yang sudah ada.140 tertentu yang menginginkan pemekaran dan di lain pihak justru menentangnya dengan masing-masing alasannya. apabila akan dibentuk provinsi baru. padahal sebelumnya tidak dipungut retribusi karena masih merupakan bagian daerah kabupaten/kota yang bersangkutan. Hal itu disebabkan persyaratan yang harus dipenuhi tidak ketat. potensi daerah. Apabila dibandingkan antara kedua ketentuan peraturan perundangundangan tersebut. Apabila sudah berdiri sendiri sebagai kabupaten/kota. hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah terjadinya “gangguan” terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakatnya.

UU No. provinsi Jawa Barat sudah pernah dimekarkan dengan dibentuknya provinsi Banten pada tahun 2001. Pasal 25 UU No. D. serta dalam mekanisme dana perimbangan sebagai instrumen pengendali pengelolaan keuangan daerah. kriteria dan batas defisit APBD. Dalam konteks tersebut.141 provinsi dan 7 tahun untuk kabupaten/kota dirasakan kurang karena dalam waktu sesingkat itu pemerintahannya belum stabil seperti halnya suatu provinsi atau kabupaten/kota yang sudah lama berdiri. 33 Tahun 2004. 33 Tahun 2004 lebih menekan pada pembagian pendapatan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. persentase yang lebih besar. Dimensi Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah a. 33 Tahun 2004. Pasal 83 ayat(4). 25. Demikian pula halnya untuk pembentukan kabupaten/kota baru harus ada penegasan hal yang sama. Berupa pemotongan DBH sektor Migas. UU No. serta persentase dana perimbangan menjadi perhatian utama dalam UU tersebut. kewajiban menyampaikan informasi keuangan daerah sesuai dengan standard akuntansi pemerintah.386 Namun demikian. 384 385 Lihat Pasal 20 ayat (1) dan ayat (2) UU No. 33 Tahun 2004 memperbaiki ketentuan UU sebelumnya (UU No. Telaah Terhadap Mekanisme Perimbangan Keuangan Dilihat dari substansi pengaturannya. Pasal 102 ayat (3) UU No. Tahun 2000) terkait dengan jenis –jenis dana perimbangan. Berapa lama sebenarnya kemudian provinsi Jawa Barat dapat dimekarkan lagi ke dalam provinsi baru? Hal ini sangat penting untuk memperoleh kejelasan karena sekarang ini sudah muncul pembentukan provinsi Cirebon dan provinsi Pantai Utara (Pantura). . termasuk asal dananya. 386 Hal tersebut berupa ancaman sanksi penundaan atau pemotongan dana perimbangan jika daerah melanggar larangan melakukan pinjaman luar negeri. Lihat Pasal 50 ayat(2). Sebagai contoh. penyempurnaan jenis-jenis dana perimbangan. 5% DBH sektor Migas untuk alokasi pendidikan dasar)384 dan sanksinya jika ketentuan tersebut dilanggar385. 33 Tahun 2004. adanya dana perimbangan yang peruntukannya di atur (0. ada beberapa hal yang masih menjadi masalah dalam UU tersebut atau jika dikaitkan dengan UU lainnya.

142

Dalam konteks tersebut, UU No. 33 Tahun 2004 lebih menekankan konsep desentralisasi fiskal pada transfer dana pusat ke daerah. Padahal desentralisasi fiskal tidak hanya mencakup hal tersebut, tetapi juga menjamin daerah untuk lebih mandiri mendapatkan sumber-sumber penerimaan daerah sesuai dengan potensinya. Transfer dana pusat ke daerah seharusnya ditempatkan sebagai mekanisme penyeimbang dalam hal mengatasi masalah ketidakseimbangan kemampuan keuangan secara vertikal dan horizontal (vertical and horizontal fiscal imbalance).
387

Padahal

jika dikaitkan dengan konsep desentralisasi fiskal, maka sangat besarnya transfer dana dari pusat ke daerah akan menyebabkan ketergantungan daerah yang tinggi terhadap pusat.388 DAU yang didasarkan pada perhitungan celah fiskal dapat mengatasi persoalan vertical imbalance antara pusat dengan daerah. Daerah-daerah miskin dan terpencil mendapatkan keuntungan yang besar dari pola DAU dalam UU No. 3 Tahun 2004 terutama sejak tahun 2006, yang disebut oleh Fengler dan Hofman sebagai the second big bang.389 Sementara itu, daerahdaerah yang memiliki DBH baik dari sektor pajak, dan terutama DBH sumber daya alam, pasti memiliki DAU lebih kecil sehingga antara daerah-daerah yang kaya dengan daerah-daerah miskin dan terpencil dapat tercipta keseimbangan kemampuan keuangan secara horizontal. Namun demikian, walaupun secara normatif dan perhitungan “di atas kertas” tercipta keseimbangan baik vertikal maupun horizontal, namun kenyataannya danadana tersebut sebagian besar tidak terserap, seperti di Aceh dan daerah Indonesia timur, dana-dana perimbangan tersebut lebih banyak berada di rekening bank,390 atau dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI),391

Roh Bahl, dalam Shinichi Ichimura, Roy Bahl (eds), loc.cit., hlm. 10 – 11. Lihat pendapat K. Brueckner, loc.cit., hlm. 1. 389 Istilah big bang (decentralization) mengacu pada fenomena desentralisasi berdasarkan UU No. 22 Tahun 1999 (efektif pada tahun 2001) yang mengubah Indonesia dari negara sentralistis menjadi negara terdesentralisasi secara drastis. Lihat Wolfgang Fengler, Bert Hofman, “Managing Indonesia’s Rapid Decentralization: Achievements And Challenges”, dalam Shinichi Ichimura, Roy Bahl (eds), op.cit., hlm. 245 – 246. 390 Ibid., hlm. 254. 391 Ibid., hlm. 246.
388

387

143

sementara secara kontras, penyerapan PAD lebih mudah dilakukan. Meminjam istilah Fengler dan Hofman, daerah lebih mudah menyerap “dana rakyat yang lain”392 (PAD). Fengler dan Hofman sendiri menegaskan

persoalan ke depan yang menjadi tantangan bukanlah bagaimana menambah transfer dana dari pusat ke daerah – daerah miskin dan terpencil, tetapi bagaimana mengelola dana-dana transfer tersebut secara efektif.393 Selain menumpuknya dana-dana transfer dari pusat, belanja daerah pun lebih banyak dikeluarkan untuk membiayai gaji pegawai, dibandingkan belanja lain yang terkait dengan penyelenggaraan urusan pemerintah, seperti belanja modal atau infrastruktur.394 Hal-hal di atas menunjukkan bahwa desentralisasi fiskal Indonesia lebih banyak ditekankan pada otonomi pengeluaran, walauapun hasilnya tidak efektif. Dengan kata lain, tantangan desentralisasi Indonesia di kemudian hari tidak hanya ditekankan pada efektifitas penggunaan sumber-sumber keuangan daerah secara efektif. Persoalan yang juga signifikan adalah tingkat otonomi dan kecukupan pendapatan (revenue autonomy and adequacy) untuk mendapatkan PAD. Walaupun daerah diberikan kewenangan untuk memungut pajak daerah dan retribusi daerah, namun hal tersebut tidak efektif. Pajak daerah dan retribusi daerah yang diberikan kewenangannya kepada daerah dalam UU No.18 Tahun 1997 jo UU No. 34 Tahun 2000 sangat terbatas. Pajak daerah dalam UU No. 18 Tahun 1997 jo UU No. 34 Tahun 2000 lebih menekankan pada keseragaman antar daerah, dalam bentuk kewenangan memungut pajak tertentu (positive list) yang basis pajaknya/ objeknya telah ditetapkan dalam undang-undang.395 Walaupun daerah dapat menetapkan jenis pajak daerah lain berdasarkan kriteria yang ditetapkan UU tersebut, namun sangat sulit

Ibid., hlm. 255. Loc.it., hlm. 246. 394 Misalnya pada tahun 2006 APBD Kabupaten/ Kota untuk belanja pegawai termasuk gedung-gedung pemerintah daerah mencapai 32% dari seluruh pengeluaran, yang juga disebabkan karena meningkatnya daerah-daerah baru hasil pemekaran. Sementara itu, belanja infrastruktur yang terkait langsung dengan pelayanan publik hanya mencapai 15%. Lihat World Bank 2007, Spending for Development — Making the Most of Indonesia’s New Opportunities (Public Expenditure Review 2007), Jakarta 2007. www.worldbank.org/id. 395 Tjip Ismail, Pengaturan Pajak Daerah di Indonesia, Yellow Printing, Jakarta, cetakan kedua, 2007, hlm. 264.
393

392

144

ditemukan jenis pajak daerah baru, karena ketatnya kriteria-kriteria tersebut.396 Praktiknya, hasil pajak daerah dan retribusi daerah tidak berkontribusi signifikan terhadap PAD, terutama kepada kabupaten/ kota.397 Bahkan hasil yang diperoleh dari pajak dearah dan retribusi daerah lebih kecil dari pada biaya pemungutannya398 dan sebagian besar akibat dari

pajak daerah dan retribusi daerah tersebut menyebabkan ekonomi berbiaya tinggi sehingga merusak iklim investasi.399 Hal – hal di atas mencerminkan masih rendahnya tingkat otonomi pendapatan dari daerah. Dengan diundangkannya UU No 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah menggantikan UU sebelumnya, terdapat beberapa perubahan signifikan, salah satunya adalah penambahan pajak daerah dan retribusi daerah baru. Namun demikian, dengan diterapkannya sistem penetapan jenis pajak daerah secara tertutup, menimbulkan pertanyaan, apakah otonomi pendapatan dari daerah semakin menguat atau semakin melemah? Salah satu alasan diundangkannya UU No. 28 Tahun 2009 karena selama ini penyerahan kewenangan di bidang perpajakan dan retribusi (daerah) kurang mendukung pelaksanaan otonomi daerah.400 Pemberian kewenangan yang semakin besar kepada Daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat seharusnya diikuti dengan pemberian kewenangan yang besar pula dalam perpajakan.401 Dengan argumentasi demikian, UU No. 28 Tahun 2009 mengatur perluasan basis pajak dengan menambah pajak daerah dan retribusi daerah yang baru. Namun demikian, apakah pajak-pajak daerah yang baru dapat menjamin hasil pungutan pajak daerah yang besar pula dan apakah tersebut dapat

Ibid., hlm. 266. Di tingkat kabupaten/ kota kontribusi PAD hanya menyumbang kurang dari 10% terhadap APBD. Tjip Ismail, op.cit.,hlm. 263. 398 Biaya penyelenggaraaan pajak daerah dan retribusi daerah mencapai lebih dari 50% dari hasil yang diterima. Wolfgang Fengler, Bert Hofman, op.cit.,hlm. 255. 399 Ibid., hlm. 256. 400 Penjelasan Umum paragraf 8 UU No. 28 Tahun 2009. 401 Ibid.
397

396

145

meningkatkan kemandirian daerah dalam upaya peningkatan PAD secara tepat? Dari jenis pajak daerah baru tersebut, hanya pajak rokok yang secara signifikan memberikan kontribusi terhadap PAD dengan tarif 10% dari cukai nasional dan sebagian lagi dari pajak hiburan yang dapat mencapai tariff maksimum 75 % untuk hiburan-hiburan tertentu.402 Namun demikian, khusus mengenai pajak rokok, terdapat kejanggalan dalam konteks pemungutan. Walaupun pajak rokok adalah pajak daerah provinsi, namun yang melakukan pemungutan pajak adalah instansi pemerintah berwenang memungut cukai bersamaan dengan pemungutan cukai rokok403, yang artinya pemerintah pusat. Hal ini merupakan mekanisme yang tidak menciptakan kemandirian daerah untuk melakukan pemungutan pajak daerah. Pajak rokok lebih tampak seperti dana perimbangan dari konsumsi rokok, karena dipungut oleh pemerintah pusat lalu disalurkan ke rekening kas umum daerah provinsi secara proporsional berdasarkan jumlah penduduk.404 Sementara itu, Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Pedesaan dan Perkotaan serta Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan(BPHTB) sebenarnya bukan pajak baru, karena hal tersebut merupakan pajak pusat yang seluruh hasilnya dikembalikan kepada daerah sebagai dana bagi hasil(DBH) dari sektor pajak.405 Sementara itu, Pajak Sarang Burung Walet dipungut bagi daerah-daerah yang memiliki potensi ini. Artinya, tidak semua daerah dapat memungut pajak daerah tersebut, karena tidak setiap daerah memiliki potensi sarang burung walet. Perluasan objek pajak daerah, misalnya untuk pajak hotel dan restoran sebenarnya juga bukan hal baru. Beberapa daerah juga telah

Hiburan tertentu yang dimaksud adalah Khusus untuk Hiburan berupa pagelaran busana, kontes kecantikan, diskotik, karaoke, klab malam, permainan ketangkasan, panti pijat, dan mandi uap/spa. Lihat Pasal 45 ayat (2) UU No. 28 Tahun 2009. 403 Pasal 27 ayat (3) UU No.28 Tahun 2009. 404 Pasal 27 ayat (4) UU No.28 Tahun 2009. 405 Pengaturan persentase perimbangan alokasi DBH PBB dan BPHTB antara pusat dan daerah adalah 10 % : 90 % untuk DBH PBB dan 20% : 80 % untuk DBH BPHTB. 10 % bagian pusat dari PBB dan 20 % bagian pusat dari BPHTB dibagikan seluruhnya kepada daerah dengan formula tertentu. Lihat Pasal 12 ayat (2) dan ayat(5) UU No. 33 Tahun 2004.

402

146

menetapkan jenis pajak daerah di luar UU No. 34 Tahun 2000, yang menyerupai perluasan objek pajak tersebut, misalnya pajak rumah kos di Kabupaten Sumedang. Dengan demikian, perluasan objek pajak tersebut sebenarnya hanya mengambil dan mengukuhkan secara nasional pajakpajak daerah yang sebelum telah dipungut di beberapa daerah. Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) yang tarifnya ditentukan secara progresif pun di mulai dari prosentase tariff 1% untuk kepemilikan kendaraan pribadi yang pertama, walaupun untuk kendaraan kedua dan seterusnya dapat naikkan secara progresif hingga 10%. Secara sepintas, pajak tersebut dapat menghasilkan dana yang besar mengingat tingginya pembelian kendaraan bermotor. Namun demikian, jika mekanisme pengawasan tentang kepemilikan kendaraan bermotor tidak ditetapkan dengan baik, maka kemungkinan terjadinya penyelundupan hukum dapat mengakibatkan hasil pemungutan pajak tersebut tidak signifikan. Begitu pula dengan pemecahan Pajak Air Bawah Tanah dan Air Permukaan menjadi Pajak Air Tanah (kabupaten/ kota) dan Pajak Air Permukaan (untuk provinsi), pada dasarnya memiliki objek pajak yang tidak berubah, dengan tarif yang sama dengan UU sebelumnya untuk Pajak Air Tanah (maksimal 20%406), namun lebih rendah untuk Pajak Air Permukaan (maksimal 10%).407 Hal – hal di atas menunjukkan bahwa pemberian pajak baru, penyesuaian tarif pajak daerah tidak dapat dipastikan dapat meningkatkan PAD. Apalagi jika dikaitkan dengan kemungkinan masalah yang muncul dalam praktik, misalnya mekanisme pengawasan kepemilikan kendaraan bermotor pribadi dengan tariff pajak progresif. Jika mekanisme tersebut tidak dibentuk, maka pelaksanaan pemungutan pajak tersebut, berpotensi menimbulkan ketidakadilan.408 Berdasarkan hal-hal tersebut, maka otonomi

406 407

Pasal 70 ayat (1) UU No. 28 Tahun 2009. Pasal 24 ayat (1) UU No. 28 Tahun 2009. 408 UU No. 28 Tahun 2009 tidak mewajibkan mekanisme balik nama jika terjadi peralihan hak atas kepemilikan kendaraan pribadi. Artinya, jika seseorang telah menjual kendaraannya kepada orang lain tanpa melakukan balik nama, maka orang tersebut akan

147

pendapatan yang diharapkan dapat meningkat dengan adanya UU ini, belum tentu dapat terwujud. Jika asumsi PAD dari sektor pajak daerah belum dapat ditingkatkan dengan adanya UU No. 28 Tahun 2009, maka dengan sistem penetapan jenis pajak yang tertutup, daerah kurang dapat memanfaatkan potensi pajak daerah lain, selain yang telah ditetapkan secara limitatif dalam UU tersebut. Pembentuk UU No. 28 Tahun 2009 berargumen bahwa sistem tertutup tersebut dilakukan untuk memberikan kepastian hukum bagi masyarakat.409 Namun demikian, pembentukan UU tersebut tidak melihat bahwa otonomi daerah yang diterapkan di Indonesia adalah otonomi seluasluasnya di mana urusan pemerintahan daerah sangat luas, mencakup seluruh urusan pemerintahan kecuali urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat.410 Artinya, dibutuhkan biaya yang sangat besar untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan daerah, sehingga hal tersebut harus didukung dengan sumber pendapatan yang juga sangat besar. Pembentuk UU No. 28 Tahun 2009 berargumen bahwa dengan sistem pajak daerah selama ini, banyak daerah yang melanggar kriteria yang telah ditetapkan untuk menetapkan pajak daerah baru, ditambah dengan lemahnya pengawasan penetapan Perda Pajak Daerah dan perilaku banyak daerah yang tidak menyampaikan Perda Pajak Daerah untuk dievaluasi.411 Namun demikian, UU No. 28 Tahun 2009 tetap menerapkan sistem yang semi terbuka untuk retribusi daerah. Artinya, selain retribusi daerah yang ditetapkan dalam UU No. 28 Tahun 2009, daerah dapat menetapkan jenis retribusi daerah lain, berdasarkan kriteria yang ditetapkan.412 Padahal pembentuk UU No. 28 Tahun 2009 juga mengakui bahwa penetapan

dikenakan tariff progresif jika akan membeli kendaraan bermotor lagi untuk jenis yang sama, padahal orang tersebut secara de facto hanya memiliki 1 kendaraan pribadi. 409 Penjelasan Umum UU No. 28 Tahun 2009. 410 Pasal 18 ayat (5) Perubahan Kedua UUD 1945, menyatakan: “Pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya, kecuali urusan pemerintahan yang oleh undangundang ditentukan sebagai urusan Pemerintah Pusat”. 411 Penjelasan Umum UU No. 28 Tahun 2009. 412 Pasal 150 UU No. 28 Tahun 2009.

148

retribusi daerah yang banyak melanggar kriteria yang telah ditetapkan disebabkan, hasil penerimaan dari jenis pajak daerah yang ditetapkan, tidak dapat memenuhi kebutuhan daerah.413 Padahal dengan sistem pajak daerah yang sifatnya tertutup maka, pelangggaran terhadap kriteria jenis retribusi daerah lain kemungkinan akan terulang kembali. Hal tersebut menunjukkan ambiguitas pemikiran para pembentuk UU No. 28 Tahun 2009 dalam mendudukkan pajak daerah dan retribusi daerah. Hal-hal di atas menunjukkan, waluaupun terdapat upaya untuk menambahkan kewenangan pajak daerah dan retribusi daerah dalam UU No. 28 Tahun 2009, namun hal tersebut tidak menjamin terciptanya otonomi dan kecukupan pendapatan bagi daerah. Artinya, jika tujuan meningkatkan otonomi pendapatan dalam UU ini tidak tercapai, maka daerah akan tetap bergantung pada dana perimbangan yang diberikan oleh pusat.

b. Telah Terhadap Pinjaman Daerah Pengaturan pinjaman daerah dalam UU No. 33 Tahun 20004 dalam beberapa hal lebih baik jika dibandingkan dalam UU No. 25 Tahun 1999, misalnya dalam hal batas kumulatif pinjaman yang lebih ketat, dan sanksi bagi daerah yang melanggar ketentuan tersebut. Dengan pengaturan yang lebih ketat, tidak berarti daerah tidak memiliki borrowing previllage yang terbatas. Batas-batas objektif dalam melakukan pinjaman daerah diperlukan agar hal tersebut sesuai dengan maksud pinjaman daerah, khususnya untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dan melakukan pembangunan yang menerus (sustainable development).414 Adanya kategorisasi pinjaman daerah sesuai peruntukkannya dalam UU No. 33 Tahun 2004 merupakan salah satu cara untuk menempatkan pinjaman daerah sesuai dengan kebutuhan pinjaman tersebut dilakukan. Namun demikian, Menurut Shah, di negara-negara berkembang (termasuk Indonesia) di mana pasar (keuangan) belum terbangun dengan

413 414

Penjelasan Umum UU No. 28 Tahun 2009. Glasson dalam Bachrul Elmi dan Syahrir Ika, loc.cit., hlm. 62.

149

baik untuk kredit jangka panjang dan kemampuan daerah untuk membayar pinjaman, menyebabkan akses daerah untuk melakukan pinjaman sangat terbatas.415 Dalam konteks tersebut, maka yang paling mungkin dilakukan di Indonesia adalah pinjaman jangka pendek dan menengah yang tidak ditujukan untuk menghasilkan penerimaan. Artinya, pinjaman daerah di Indonesia hanya berperan untuk mempertahankan struktur APBD agar tetap berimbang seiring dengan diterapkannya hard budget constraints dalam hal APBD. Pinjaman daerah di Indonesia belum dapat diberdayakan untuk dapat menghasilkan penerimaan, walaupun jenis pinjaman tersebut disediakan (pinjaman jangka panjang untuk pembiayaan investasi). Belum berkembangnya pasar keuangan di negara-negara

berkembang, seperti lembaga keuangan bank dan non-bank, termasuk di Indonesia, maka sumber pinjaman daerah sangat terbatas. Otomatis, sumber pinjaman daerah yang secara signifikan diharapkan oleh daerah berasal dari pemerintah, karena pinjaman dari masyarakat (obligasi daerah) dan pinjaman dari pemerintah daerah lain belum banyak diberdayakan. Namun demikian, pemerintah pusat pun tidak selamanya dapat memberikan pinjaman kepada daerah, khususnya selain untuk tujuan menutupi defisit, karena transfer dana pusat ke daerah sudah begitu besar, khususnya dari DAU. Apalagi dalam UU No. 33 Tahun 2004, daerah dilarang melakukan pinjaman luar negeri, kecuali berasal dari penerusan pinjaman dari pusat yang dananya dari pinjaman luar negeri. Artinya sumber dana pinjaman daerah semakin terbatas. Dalam kewenangan melakukan pinjaman, daerah tidak dapat memanfaatkan sumber pinjaman luar negeri secara langsung, namun harus melalui penerusan pinjaman dari pemerintah pusat.416 Dalam hal pinjaman dari luar negeri, UU No. 22 Tahun 1999 memberikan mekanisme yang lebih realistis. Dalam UU No. 22 Tahun 1999, pemerintah daerah dapat melakukan peminjaman dari sumber dalam negeri dan/atau dari sumber luar negeri

415 416

Anwar Shah, “Fiscal Decentralization…., loc.cit., hlm. 29 Lihat Pasal 50 ayat (1) dan Pasal 56 ayat (2) UU No. 33 Tahun 2004.

Kelemahan lainnya.418 Peminjaman dan sumber dana pinjaman yang berasal dari luar negeri. 33 Tahun 2004. Jenis-jenis pinjaman yang diperuntukan untuk menutupi arus kas atau penyediaan pelayanan publik seharusnya tidak berasal dari pinjaman luar negeri. Pinjaman luar negeri seharusnya ditentukan hanya berupa pinjaman jangka panjang yang diperuntukkan untuk membiayai proyek investasi yang menghasilkan penerimaan.417 Pinjaman dari dalam negeri diberitahukan kepada Pemerintah dan dilaksanakan sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Pemerintah. padahal unsur esensial dalam melakukan pinjaman adalah unsur persetujuan dari pemerintah pusat.419 Walaupun UU No. 22 Tahun 1999 membolehkan daerah melakukan pinjaman luar negeri. 22 Tahun 1999. 25 Tahun 1999). Artinya. 22 Tahun 1999 (dan UU No. karena harus mendapatkan persetujuan pusat. 32 Tahun 2004. walaupun keputusan akhir ada di tangan pemerintah pusat. 419 Lihat Pasal 81 ayat (3) UU No. Artinya.22 Tahun 1999 . UU No. dalam mekanisme UU No. harus mendapatkan persetujuan pemerintah pusat. dalam konteks penjajakan pinjaman luar negeri.22 Tahun 1999. masih tetap dipertahankan.150 untuk membiayai kegiatan pemerintahan dengan persetujuan DPRD. prinsip bahwa urusan luar negeri adalah urusan pemerintah pusat sebagaimana diatur dalam UU No. proses penjajakan tersebut sebaiknya 417 418 Pasal 81 ayat (1) UU No. Walaupun demikian. namun pada prinsipnya hal tersebut tidak sepenuhnya menjadi kewenangan daerah. sehingga hal ini menjadi salah satu kelemahan UU No. 22 Tahun 1999. daerah tidak memiliki inisiatif untuk menjajaki pinjaman. Namun demikian. seharusnya daerah tetap diberikan kewenangan untuk menjajaki potensi pinjaman dari sumber dana luar negeri. Dalam UU No. kebebasan untuk melakukan pinjaman lebih terjamin.22 Tahun 1999. Walaupun demikian. tidak mengatur kriteria pinjaman yang dananya berasal dari luar negeri. Artinya. Padahal hal tersebut sangat penting. daerah tetap dapat melakukan penjajakan potensi pinjaman luar negeri. Pasal 81 ayat (2) UU No. tidak diatur bagaimana mekanisme keterlibatan pemerintah pusat.

kemampuan pemerintah pusat untuk memberikan pinjaman kepada daerah tidak dapat diharapkan untuk dapat membiayai proyek-proyek investasi besar yang dapat menghasilkan penerimaan. dan kabupaten/kota. E. maka diharapkan pinjaman yang dilakukan oleh menjadi tidak besar. hal tersebut dimaksudkan untuk menegaskan bahwa hubungan antara pemerintah pusat dan daerah bersifat hirarkis dan vertikal. 33 Tahun 2004. 32 Tahun 2004 disebutkan berbagai mekanisme pengawasan. di antaranya . melainkan hanya untuk menutupi defisit. khususnya DAU dan DBH. tetapi adalah untuk melakukan investasi produktif yang dapat dapat menghasilkan penerimaan. maka tingkat defisit APBD yang rendah. adanya keterbatasan pemerintah untuk memberikan pinjaman kepada daerah. tidak terlepas dari transfer dana pusat ke daerah yang sangat besar. dan penyediaan pelayanan publik yang tidak menghasilkan penerimaan. walaupun dengan PAD yang kecil.151 juga harus melibatkan pemerintah pusat. Pengaturan pinjaman daerah dalam UU No. Dengan demikian. Artinya. Dengan pengaturan saat ini. dengan dana perimbangan yang besar. Sebagai pelaksanaan dari Pasal 18. Menurut Jimly Asshiddiqie. dalam UU No. Padahal. dengan besarnya dana perimbangan. maka pinjaman yang dapat diterima oleh daerah dari pusat terbatas pada tujuan untuk menutupi kekurangan arus kas (defisit APBD) atau untuk melakukan penyediaan pelayanan publik yang tidak menghasilkan penerimaan. Dimensi Hubungan Pengawasan Pusat dan Daerah Perubahan UUD 1945 secara eksplisit tidak menyebutkan mengenai pengawasan. Artinya. fungsi pinjaman daerah di kemudian hari tidak ditekankan untuk menutupi defisit APBD. karena terkait dengan urusan luar negeri. Namun pranata ini dapat dilihat sebagai konsekuensi dari pembagian Negara yang “dibagi atas” daerah-daerah provinsi.

421 Konsiderans PP No. memunculkan pernyataan legitimasi bentuk instrumen hukum tersebut. dapat dibatalkan oleh Presiden (ditetapkan dengan Perpres). hlm. Konsolidasi Naskah UUD 1945 Setelah Perubahan Keempat. 21. Jimly Ashiddiqie. Jakarta. UI. 422 Pasal 186 UU No. 32 Tahun 2004 mengatur bahwa pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah secara nasional dikoordinasikan oleh Menteri Dalam Negeri. disebutkan bahwa perda yang bertentangan dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.423 Persoalan kemudian muncul di antaranya berkaitan dengan apakah pengaturan pengawasan preventif dan represif terhadap perda ditambah pengawasan yudisial sudah tepat? Selain itu adalah bahwa pada kenyataannya setiap perda yang dibatalkan dilaksanakan melalui keputusan Menteri Dalam Negeri. Pusat Studi Hukum Tata Negara FH.152 terhadap peraturan daerah. Instrumen Pengawasan Sebagai Fenomena Tarik Ulur Hubungan Pusat-Daerah Untuk mengetahui bahwa dalam praktik pelaksanaan pengawasan dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah di Indonesia pada umumnya dan di Jawa Barat pada khususnya.420 Pasal 222 ayat (1) UU No.421 Objek pengawasan lainnya adalah pengawasan terhadap peraturan daerah dan peraturan kepala daerah. . Selanjutnya untuk melaksanakan ketentuan Pasal 223 UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Peraturan Pemerintah diterbitkan sebagai pedoman pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah. 2002. yang salah satunya disiratkan melalui ketentuan pengawasan oleh Gubernur mengenai penyusunan APBD kabupaten dan kota. 32 Tahun 2004. di bawah ini diuraikan data sebagai berikut: Tabel 5 420 Lihat.422 Selain itu dalam rangka pengawasan pula. 79 Tahun 2008 Tentang Tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. 1. 32 Tahun 2004. 423 Pasal 145 ayat (2) s/d ayat (7) UU No.

d.Yogyakarta Provinsi Bali Tabel 6 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s.d.153 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s.I. 2006 Sektor Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade) No 1 2 3 4 5 Wilayah Provinsi Sumatera Utara Provinsi Bengkulu Provinsi Jambi Provinsi Riau Jumlah 7 2 0 3 Jumlah 7 2 3 1 0 3 3 1 0 3 0 1 0 0 1 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 0 Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung 0 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 0 . 2006 Sektor Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral Resource) No Wilayah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Provinsi Sumatera Utara Provinsi Bengkulu Provinsi Jambi Provinsi Riau Provinsi Sumatera Barat Provinsi Sumatera Selatan Provinsi Lampung Provinsi Kepulauan Riau Provinsi Banten Provinsi Jawa Barat Provinsi DKI Jakarta Provinsi Jawa Tengah Provinsi Jawa Timur Provinsi D.

154 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Provinsi Sumatera Barat Provinsi Sumatera Selatan Provinsi Lampung Provinsi Kepulauan Riau Provinsi Banten Provinsi Jawa Barat Provinsi DKI Jakarta Provinsi Jawa Tengah Provinsi Jawa Timur Provinsi D.d.Yogyakarta Provinsi Bali 3 3 3 1 0 2 0 5 2 1 0 Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung 0 Tabel 7 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s. 2006 Sektor Kehutanan (Forestry) No Wilayah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Provinsi Sumatera Utara Provinsi Bengkulu Provinsi Jambi Provinsi Riau Provinsi Sumatera Barat Provinsi Sumatera Selatan Provinsi Lampung Provinsi Kepulauan Riau Provinsi Banten Provinsi Jawa Barat Provinsi DKI Jakarta Jumlah 3 1 4 1 4 2 0 0 1 3 0 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 0 Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung 0 .I.

155 14 15 16 17 Provinsi Jawa Tengah Provinsi Jawa Timur Provinsi D.I.I.d. 2006 Sektor Kelautan dan Perikanan No 1 Wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Jumlah 0 Jumlah 4 0 5 9 2 2 6 0 3 9 0 6 10 0 0 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 1 Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung 1 .Yogyakarta Provinsi Bali Tabel 8 4 4 0 1 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s.Yogyakarta Provinsi Bali Tabel 9 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s.d. 2006 Sektor Perhubungan No Wilayah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Provinsi Sumatera Utara Provinsi Bengkulu Provinsi Jambi Provinsi Riau Provinsi Sumatera Barat Provinsi Sumatera Selatan Provinsi Lampung Provinsi Kepulauan Riau Provinsi Banten Provinsi Jawa Barat Provinsi DKI Jakarta Provinsi Jawa Tengah Provinsi Jawa Timur Provinsi D.

I.12 NO 7 Tahun 2005 Tgl. 29-01-2007 Dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan Dan Holtikultura 2 Kab. 29-01-2007 Perdagangan (siup) Dan Retribusi Tanda Daftar Perusahaan (tdp) 3 Kab.10/2006 Kepmendagri NO.11 NO 11 Tahun 2005 Tgl.156 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Provinsi Sumatera Utara Provinsi Bengkulu Provinsi Jambi Provinsi Riau Provinsi Sumatera Barat Provinsi Sumatera Selatan Provinsi Lampung Provinsi Kepulauan Riau Provinsi Banten Provinsi Jawa Barat Provinsi DKI Jakarta Provinsi Jawa Tengah Provinsi Jawa Timur Provinsi D.Muaraenim S-093/MK. 23-06-2005 TAHUN 2007 tentang Retribusi Izin Tempat Tgl. 29-01-2007 Usaha Dalam Kabupaten Mukomuko 4 Kab.Muko-muko S-093/MK. 23-06-2005 TAHUN 2007 tentang Retribusi Surat Izin Usaha Tgl.10/2006 Kepmendagri NO. Retribusi Daerah dan Pungutan Lainnya Yang Dibatalkan Oleh Menteri Dalam Negeri Pada Tahun 2007 Surat SK Mendagri Teguran NO Mendagri 1 Provinsi Sumatera Utara S-093/MK.10/2006 Kepmendagri NO. 29-01-2007 Peraturan Daerah Rekomendasi .Yogyakarta Provinsi Bali 4 0 3 1 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 1 Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung 2 Tabel 10 Peraturan Daerah Tentang Pajak Daerah.10/2006 Kepmendagri NO.10 NO 34 Tahun 2004 Tgl. 23-06-2005 TAHUN 2007 tentang Surat Izin Usaha Tgl.1 NO 5 TAHUN 2003 Tgl. 23-06-2005 TAHUN 2007 tentang Retribusi Pengawasan Tgl.Muko-muko S-093/MK.

22 TAHUN 2007 Tgl. 23-06-2005 Kepmendagri NO. 23-06-2005 S-093/MK.10/2006 Tgl. 29-01-2007 S-093/MK.18 TAHUN 2007 Tgl.10/2006 Tgl.Sintang NO 7 TAHUN 2002 tentang Retribusi Pendirian Dan Pengelolaan Badan Hukum Koperasi Kab.10/2006 Tgl. 29-01-2007 10 kab.Hulu Sungai Selatan NO 11 Tahun 2001 tentang Retribusi Dana Pembangunan Daerah Kerja Bagian Sisa Hasil Usaha Koperasi S-093/MK.10/2006 Tgl. 23-06-2005 Kepmendagri NO.10/2006 Tgl.Tasikmalaya NO 4 Tahun 2003 tentang Retribusi Pelayanan Bidang Koperasi Dan Usaha Kecil Dan Menengah 12 Kab.2 TAHUN 2007 Tgl. 29-01-2007 6 S-093/MK. 29-01-2007 S-093/MK. 23-06-2005 Kepmendagri NO.20 TAHUN 2007 Tgl.10/2006 NO 12 Tahun 2000 Tgl. 29-01-2007 S-093/MK. 23-06-2005 Kepmendagri NO.14 TAHUN 2007 Tgl. 23-06-2005 Kepmendagri NO. 29-01-2007 7 S-093/MK.10/2006 Tgl.17 TAHUN 2007 Tgl. Surat Keterangan Kecakapan (skk) Dan Surat Izin Berlayar (sib) Kab.13 TAHUN 2007 Tgl.Karawang NO 23 TAHUN 2001 tentang Retribusi Pelayanan Bidang Koperasi. 29-01-2007 Kepmendagri NO. 29-01-2007 S-093/MK.Sukabumi NO 12 TAHUN 2002 tentang Tanda Daftar Industri Dan Izin Usaha Industri 15 Kab. 29-01-2007 9 Kota Tangerang S-093/MK.16 TAHUN 2007 Tgl.10/2006 Tgl. 29-01-2007 Kepmendagri NO. 29-01-2007 Kepmendagri NO. 23-06-2005 tentang Retribusi Ijin Undangundang Gangguan (ho) S-093/MK.10/2006 Tgl.Nunukan NO 6 Tahun 2005 tentang Retribusi Izin Tempat Usaha Kab.Magelang NO 11 Tahun 2005 tentang Retribusi Izin Usaha Kepmendagri NO.10/2006 Tgl. 23-06-2005 8 S-093/MK.Deliserdang NO 25 TAHUN 1998 tentang Retribusi Izin Peruntukan Penggunaan Tanah 13 Kab.19 TAHUN 2007 Tgl.Nunukan NO 8 Tahun 2005 tentang Retribusi Pelayanan Penerbitan Surat-surat.21 TAHUN 2007 Tgl.15 TAHUN 2007 Tgl.157 Perdagangan (siup) 5 Kab.Bandung NO 24 Tahun 2001 tentang Retribusi Pelayanan Perizinan Penyelenggaraan Koperasi 11 Kab. 23-06-2005 Kepmendagri NO. 23-06-2005 .10/2006 Tgl. 23-06-2005 Kepmendagri NO. Pengusaha Kecil Dan Menengah 14 Kab.

29-01-2007 S-093/MK.29 TAHUN 2007 Tgl.10/2006 Tgl.10/2006 Tgl.Bantul NO 13 Tahun 2005 tentang Retribusi Izin Usaha Bengkel Perawatan Kendaraan Bermotor 19 Kab.158 Pariwisata 16 Kab.Jembrana NO 10 TAHUN 2002 tentang Retribusi Izin Usaha Industri Dan Perdagangan 22 Kab. 23-06-2005 S-093/MK.31 TAHUN 2007 Tgl.Dairi NO 14 Tahun 2000 tentang Pengesahan Akta Pendirian Dan Perubahan Anggaran Dasar Koperasi 24 Kab. 29-01-2007 S-093/MK.10/2006 Tgl.Magelang NO 15 Tahun 2005 tentang Retribusi Perizinan Ketenagakerjaan 17 Kab. 29-01-2007 Kepmendagri NO.10/2006 Tgl. 23-06-2005 tentang Perubahan Atas Perda Kabupaten Madiun Nomor 16 Tahun 2002 Tentang Retribusi Penggunaan Jalan Kabupaten Kepmendagri NO.27 TAHUN 2007 Tgl.10/2006 Tgl. 29-01-2007 Kepmendagri NO. Pengesahan Perubahan Anggaran Dasar Dan Pembubaran Koperasi Di Kabupaten Bantul 18 Kab.10/2006 Tgl. 29-01-2007 S-093/MK. 23-06-2005 Kepmendagri NO.32 S-093/MK. 29-01-2007 20 Kab.23 TAHUN 2007 Tgl.26 TAHUN 2007 Tgl.30 TAHUN 2007 Tgl.3 TAHUN 2007 Tgl. 23-06-2005 S-093/MK.Banyuwangi NO 46 Tahun 2002 tentang Retribusi Izin Perkoperasian S-093/MK. 29-01-2007 Kepmendagri NO. 23-06-2005 Kepmendagri NO.10/2006 Tgl. 23-06-2005 Kepmendagri NO. 29-01-2007 21 Kab.10/2006 - .10/2006 Tgl. 23-06-2005 Kepmendagri NO. 23-06-2005 Kepmendagri NO.10/2006 NO 12 Tahun 2005 Tgl.24 TAHUN 2007 Tgl. 29-01-2007 Kepmendagri NO.25 TAHUN 2007 Tgl.Sumbawa Barat NO 8 Tahun 2005 tentang Retribusi Izin Usaha Perdagangan Dan Industri 23 Kab. 23-06-2005 S-093/MK.28 TAHUN 2007 Tgl.Sumbawa Barat NO 10 Tahun 2005 tentang Retribusi Tanda Daftar Gudang 25 Kab.10/2006 Tgl.Madiun S-093/MK. 23-06-2005 S-093/MK.Bantul NO 10 Tahun 2002 tentang Pengesahan Akta Pendirian.Pangkajene Kepulauan NO 11 TAHUN 2001 tentang Retribusi Izin Peruntukan Penggunaan Tanah 26 Provinsi Sulawesi Tenggara S-093/MK. 29-01-2007 Kepmendagri NO.

159 NO 6 Tahun 2002 Tgl.10/2006 NO 5 Tahun 2005 Tgl. Perubahan Anggaran Dasar Dan Pembubaran Koperasi 27 Kota Jayapura S-093/MK.33 TAHUN 2007 Tgl.com.096 Batal Perda Raperda 121 3 651 93 191 11 963 107 Hasil Evaluasi Revisi Perda Raperda 2 17 101 361 45 90 148 468 Dalam Proses Layak Perda Raperda 298 12 3. 2006424 Jumlah Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral 32 Resource) Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade) Kehutanan (Forestry) Perhubungan Kelautan dan Perikanan Perkebunan (Plantation) Pertanian Sumbangan Pihak Ketiga (Donation From Third Party) Ketenagakerjaan (Labor Force) 77 50 83 37 13 19 21 54 9 189 10 Kimpraswil dan Pekerjaan Umum (Public Work And Housing) 11 Lain-Lain 424 Sumber: bakd.d.go.076 391 Perda 74 2.id/www.google.634 Raperda 32 883 181 1.depdagri.275 55 5. 23-06-2005 tentang Retribusi Penumpang Kapal Laut Dan Pesawat Udara TAHUN 2007 Tgl.503 324 1.303 9.836 2. Januari 2008 Tabel 12 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Berdasarkan SK Menteri Dalam Negeri No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Sektor Dari Tahun 2002 s.447 Raperda 0 105 25 130 Sumber: Situs Kementerian Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia. tanggal 20 Pebruari 2008 . 29-01-2007 Tabel 11 Hasil Evaluasi Peraturan Daerah di Departemen Dalam Negeri Sampai dengan November 2007 Diterima Daerah Provinsi Kab Kota Total Perda 495 6. 23-06-2005 tentang Pengesahan Akta Pendirian. 29-01-2007 Kepmendagri NO.581 792 3.

Karawang Kab.Cirebon Kab. Kabupaten Jumlah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 kab.Kuningan Kab.160 12 Pendidikan 13 Kesehatan 14 Pariwisata 15 Lingkungan Hidup 16 Koperasi 17 Peternakan 18 Pertanian dan Perikanan 1 0 3 14 4 52 1 Tabel 13 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Wilayah Provinsi Jawa Barat Dari Tahun 2002 s.Cianjur Kab.d.Subang Kab.Purwakarta Kab. 2006 Sektor Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral Resource) No.Ciamis Kab.Bekasi Kab.Bogor Kab.Majalengka Kab.Sumedang Kab.Indramayu Kab.Bandung Kab.Tasikmalaya Kota Bandung Kota Banjar Kota Bekasi Kota Bogor 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 .Garut Kab.Sukabumi Kab.

161 21 22 23 24 25 Kota Cimahi Kota Cirebon Kota Depok Kota Sukabumi Kota Tasikmalaya 0 0 0 0 0 Tabel 14 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab. TASIKMALAYA Retribusi 2004 2004 NOMOR 13 TAHUN 2004 Jasa TENTANG IZIN USAHA Usaha PERTAMBANGAN Tabel 16 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade) Wilayah Provinsi Jawa Barat) No Kabupaten Jumlah 1 2 3 Kab.KETENAGALISTRIKAN Retribusi TAHUN 2002 Jasa 2002 Umum Tabel 15 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.Indramayu Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral Resource)) No Status Nomor Tanggal Tentang Jenis 00-00.Bogor 0 0 0 .Bandung Kab.INDRAMAYU Pajak TAHUN 2002 NOMOR 25 TAHUN 2002 2002 TENTANG PAJAK PENGELOLAAN MINYAK DAN GAS BUMI 2 Batal 05 00-00.Tasikmalaya Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral Resource)) No Status Nomor Tanggal Tentang Jenis 1 Batal 13 TAHUN 00-00PERDA KAB.PERDA 1 Batal 25 KAB.Bekasi Kab.

Karawang Kab.162 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Kab.RETRIBUSI TERA DAN Retribusi 2001 2001 Jasa TERA ALAT UKUR Umum Tabel 18 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kota Cimahi Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade)) .Purwakarta Kab.Indramayu Kab.Cianjur Kab.Tasikmalaya 0 Kota Tasikmalaya 0 Tabel 17 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.Subang Kab.Kuningan Kab.Garut Kab.Ciamis Kab.Karawang Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade) ) No Status Nomor Tanggal Tentang Jenis 1 Batal 11 TAHUN 00-00.Sukabumi Kab.Sumedang Kota Bandung Kota Banjar Kota Bekasi Kota Bogor Kota Cimahi Kota Cirebon Kota Depok Kota Sukabumi 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 Kab.Majalengka Kab.Cirebon Kab.

Garut Kab.Bogor Kab.Bandung Kab.PERDA KOTA CIMAHI NOMOR 26 Retribusi Batal 26 TAHUN 2003 TAHUN 2003 TENTANG Jasa 2003 KETENTUAN DAN TATA CARA Umum PELAYANAN PEMBERIAN IJIN USAHA INDUSTRI Tabel 19 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah di Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Kehutanan (Forestry)) No Kabupaten 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 kab.Sumedang Kota Bandung Kota Banjar Kota Bekasi Kota Bogor Kota Cimahi Kota Cirebon Kota Depok Jumlah 0 0 0 1 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Kab.Sukabumi Kab.Subang Kab.Ciamis Kab.Bekasi Kab.Majalengka Kab.Cirebon Kab.163 No Status Nomor Tanggal Tentang Jenis 1 00-00.Purwakarta Kab.Indramayu Kab.Cianjur Kab.Tasikmalaya 0 .Kuningan Kab.Karawang Kab.

pengawasan Pusat terhadap daerah telah berlangsung efektif dan bermanfaat menyimpang bagi dari pemerintahan tujuan daerah agar pemerintahannya daerah. Lebih dari itu persoalan muncul terkait dengan instrumen penetapan pembatalan suatu Perda.164 24 25 Kota Sukabumi 0 Kota Tasikmalaya 0 Tabel 20 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab. Sejumlah tabel di atas menunjukkan bahwa dalam praktik. pembatalan perda selalu ditetapkan dengan keputusan Menteri . serta tidak ada pelaksanaan bentuk pengawasan umum.Garut Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Kehutanan (Forestry)) No Status Nomor Tanggal Tentang Jenis 1 Batal 09 TAHUN 00-002001 2001 RETRIBUSI PELAYANAN Retribusi IZIN PENGELOLA KAYU Jasa Usaha MILIK sebagaimana tersebut di muka Dari data yang diuraikan dapat dikemukakan hal-hal sebagai berikut: Pertama. tidak penyelenggaran otonomi terutama kebijaksaan yang telah ditetapkan Daerah tidak bertentangan dengan kebijaksanaan nasional (Pusat) dan/atau bertentangan dengan kepentingan umum. Kedua. bahwa bentuk pengawasan yang berjalan dalam praktik adalah bentuk pengawasan preventif (pengesahan) dan bentuk pengawasan represif (pembatalan atau penangguhan).Ciamis Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Kehutanan (Forestry)) No Status Nomor Tanggal Tentang Jenis 1 00-00Batal 10 TAHUN 2001 2001 RETRIBUSI PELAYANAN Retribusi TATA USAHA HASIL HUTAN Jasa Usaha MILIK Tabel 21 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.

hampir setengah dari produk legislasi DPR merupakan undang-undang pemekaran daerah.426 Terhadap persoalan ini. perlu pembahasan di bagian lain. terkait dengan legitimasi Kepmendagri sebagai instrumen penetapan suatu perda. 2008 21 UU. . dikecualikan 24 terhadap Undang-Undang Tentang Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia 30 26 50 56 Dari tabel di atas dapat terlihat bahwa dalam dua tahun (2007-dan 2008) pembentukan daerah-daerah baru mengalami kenaikan yang pesat. Pasal 145 ayat (3). Sementara itu di lain pihak. Persoalan lain muncul menyangkut fenomena pemekaran daerah. 2007 2.165 dalam negeri (kepmendagri). 425 426 Pasal 145 ayat (2). Perjalanan pemekaran daerah yang dapat terlihat pada tahun 2007 dan 2008 dapat dipetakan sebagai berikut: Tabel 22 Jumlah Undang-Undang Pembentukan Daerah (Pemekaran Daerah) 2007 – 2008 No Tahun Pembentukan UndangUndang UU Pembentukan UU Non Jumlah Daerah/Pemekaran Pemekaran 1. Artinya bahwa terutama dalam dua tahun tersebut. telah ada pengaturan bahwa Perda yang bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dapat dibatalkan oleh Pemerintah425 dan Keputusan pembatalan Perda tersebut ditetapkan dengan Peraturan Presiden paling lama 60 (enam puluh) hari sejak diterimanya Perda.

Harian KOMPAS.166 Pada tahun 2007 keluar persyaratan baru terhadap pemekaran yang dipandang lebih ketat.. pada 8/12/2009 2:01:32 PM 428 427 Pasal `22 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2007 Tentang Tata Cara Pembentukan. 2. Persoalan-persoalan di atas sedikitnya memunculkan tantangan mengenai bagaimana pembinaan dan pengawasan dapat menyeimbangkan tarik ulur antara hubungan pusat dan daerah.org/ind/index.430 Satu sisi dinilai bahwa PP tersebut menetapkan syarat yang lebih ketat.429 Pertanyaan pun muncul dari sebagian kalangan mengenai dapatkah aturan baru itu memperlambat atau bahkan menghentikan lajunya usulan pemekaran yang semakin marak. dikatakan oleh CF strong. ada satu sistem hukum yang harus diikuti sampai ke SB. Dan Penggabungan Daerah 429 Bab IV dan Bab V Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2007. Penghapusan. yaitu di tangan pemerintah pusat. di sisi lain. sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.427 Di dalamnya diatur bahwa pemberian status daerah baru didahului dengan evaluasi terhadap kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah dan evaluasi kemampuan penyelenggaraan otonomi daerah. Pengaturan yang berlaku sebagai rangkaian pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan daerah tidak final unuk diarahkan menengahi spanning yang senantiasa memungkinkan muncul dalam hubungan pusat dan daerah. 430 SB. dalam Publikasi Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD).428 PP tersebut mengatur pula mengenai kemungkinan pencabutan status daerah jika dinilai tidak mampu. . Op. pembentukan daerah-daerah baru terjadi bahkan melebihi 50 persen jumlah produk undang-undang. Memperlambat …. http://kppod. Rabu. 16 Januari 2008. Hanya satu kekuasaan legislatif.php?option=com_content&task=view&id=329&Itemid=2 . Memperlambat Laju Pemekaran Daerah. Dengan kata lain. the supreme legislative power by one central power. Oleh sebab itu di dalam negara kesatuan kedudukan pemerintah pusat lebih tinggi daripada pemerintah daerah. ternyata pada tahun 2008.cit. Telaah terhadap Pengawasan Peraturan Daerah Berbicara negara kesatuan.

Yang lebih jelas lagi adalah dalam perundang-undangan adalah perda dan peraturan kepala daerah. dan demokratisasi. yaitu yang dibuat oleh kekuasaan legislatif tertinggi. 32 Tahun 2004. Untuk mensejahterakan rakyat. Ini kaitannya dengan teori negara hukum.5 Tahun 1974 mengatur 3 (tiga) bentuk pengawasan yakni pengawasan umum. Berdasarkan perkembangan pengawasan dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah yang pernah diatur dalam peraturan perundangundangan sampai sekarang terdapat 3 (tiga) bentuk yakni pengawasan preventif. 22 Tahun 1999 hanya mengatur pengawasan represif saja. yaitu Undang-Undang No. Bentuk dan lingkup pengawasan oleh Pemerintah Pusat terhadap Daerah berdasarkan berbagai peraturan perundang-undangan tentang pemerintahan daerah. 32 Tahun 2004 mengatur 2 (dua) bentuk pengawasan yakni pengawasan preventif dan pengawasan represif. berdasarkan sejarah perkembangan pengawasan Pusat terhadap Daerah menurut UUD 1945. Undang-Undang No. Bentuk maupun ruang lingkupnya terus berkembang dinamis mengikuti perkembangan kehidupan sosial politik yang ada pada kurun waktu yang berbeda. kegara kesatuan. pengawasan represif dan pengawasan umum. pemerintah menyerahkan sebagian urusan kepada daerah dalam rangka mencapai tujuan itu. Sedangkan undang-undang sebelumnya. Hanya satu sistem hukum. Menurut Undang-Undang No. pengawasan preventif. dan pengawasan represif dan Undang-Undang No. dalam implementasinya diatur dan dijabarkan berbeda-beda oleh berbagai undang-undang.167 daerah-daerah otonom. pengawasan preventif dilaksanakan melalui tindakan pengesahan terhadap peraturan daerah . Maka harus ada pengawasan pusat terhadap daerah. Ini mempertegas bahwa yang diawasi adalah peraturan perundang-undangan. ternyata berbeda-beda. Dengan demikian. Agar tidak menyimpang dari peraturan perundang-undangan secara nasional. baik bentuk maupun lingkup pengawasannya. Inilah yang mendasari harus ada pengawasan pusat terhadap daerah. Pada intinya adalah apakah daerah tidak menyimpang terhadap sistem perundang-undangan.

menurut Bagir Manan. Yang ada adalah pengawasan represif yaitu wewenang membatalkan atau penundaan. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah. 22 Tahun 1999 mengambil jalan politik baru yaitu meniadakan pengawasan preventif dalam pembentukan peraturan daerah. kecerobohan. Peraturan daerah akan serta merta berlaku karena tidak memerlukan pengesahan. sebuah peraturan daerah yang telah disetujui bersama oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan Kepala Daerah terlebih dahulu harus dilakukan evaluasi oleh Menteri Dalam Negeri untuk Peraturan Daerah Provinsi dan oleh Gubernur terhadap Peraturan Daerah Kabupaten dan Kota. 431 432 Bagir Manan. Jadi. Ibid. ternyata pengawasan preventif ditiadakan.432 terdapat segi positif dan negatifnya.. ternyata rancangan Peraturan Daerah yang telah disetujui bertentangan dengan peraturan perundang-undangan dan/atau kepentingan umum. atau kesalahan suatu peraturan daerah.…. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Retribusi Daerah dan Rencana Umum Tata Ruang Daerah.. Setelah melalui proses tersebut. hlm. Op. maka daerah yang bersangkutan harus melakukan revisi agar tidak bertentangan dengan perundangan yang lebih tinggi dan/atau kepentingan umum. Apabila hasil evaluasi tersebut. peraturan daerah tidak serta merta berlaku. Melalui pengawasan preventif. Pada masa berlaku Undang-Undang No. . UU No. Segi negatifnya. 154. tidak ada unsur pencegahan terhadap kekeliruan. Hal tersebut sebagaimana dikatakan oleh Bagir Manan. namun terlebih dahulu dilakukan evaluasi oleh pemerintah pusat dan/atau pemerintah provinsi.168 bidang tertentu yakni Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.431 Terhadap pengawasan preventif ini. Positifnya. daerah “dipaksa” selalu tunduk pada kemauan pihak yang berwenang memberi pengesahan. Dengan adanya pengawasan preventif. Pajak Daerah. maka Peraturan Daerah dapat diberlakukan oleh Daerah. Cit. pengawasan preventif dapat menjadi daya kendali atau belenggu terhadap inisiatif daerah.

Jadi pengawasan represif dilakukan setelah suatu peraturan daerah mempunyai akibat hukum. Pembatasan terhadap pengawasan preventif lebih ketat dibanding pengawasan represif. Memahami pengaturan dan praktik pengawasan dalam rangka penyelenggaran pemerintahan daerah yang berjalan selama ini. Dengan pengaturan atau peran lembaga Yudisial (Mahkamah Agung) dalam rangka pengawasan (represif) Pusat terhadap Daerah. Pengawasan preventif mengandung “prasyarat” agar peraturan daerah atau yang mengandung sifat tertentu dapat dijalankan. terlihat bahwa . yang berupa pembatalan terhadap produk-produk hukum daerah. Selain itu. ternyata UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 demi terwujudnya pemerintahan daerah yang demokratis telah memberi saluran hukum ‘judicial review’ kepada Daerah yang keberatan produk-produk hukumnya telah dibatalkan. dalam hal ini Mahkamah Agung. yakni dengan cara mengajukan perkara pembatalan ini ke lembaga yudisial. Daya campur tangan terhadap daerah juga menjadi lebih besar. sejalan dengan pelaksanaan pengawasan represif. karena telah diatur dengan jelas dan rinci ruang lingkup dari kedua bentuk pengawasan tersebut serta ditentukan dengan tegas batas-batas ruang lingkupnya sehingga diharapkan dapat dicegah tindakan Pemerintah atau Gubernur sebagai wakil Pemerintah di daerah untuk bertindak sewenang-wenang atau melampaui kewenangan. Pelaksanaan pengawasan preventif berada pada posisi “lebih awal” dari pengawasan represif. sebagaimana dikemukakan di atas adalah berlakunya peraturan wewenang untuk membatalkan atau penundaan daerah. Salah satu pembatasan adalah dengan cara mengatur atau menentukan secara pasti jenis atau macam peraturan daerah yang memerlukan pengesahan. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 dapat dikatakan sudah sangat tepat mengatur pengawasan preventif dan pengawasan represif ini. baik dalam rangka desentralisasi maupun tugas pembantuan.169 Pengawasan represif. bentuk pengawasan yang seyogyanya dikembangkan atau diterapkan dalam Undang-undang yang mengatur pemerintahan ke depan adalah bentuk pengawasan preventif dan pengawasan represif.

terhindar adanya intervensi pengadilan. represif (administrative). Selanjutnya. keberadaan pengawasan dilihat dari mekanisme yang diatur di dalam UU Nomor 32 Tahun 2004 itu dapat menghindari 2 (dua) hal yang kontra produktif. Pemerintah Pusat apabila memenangkan sengketa melalui Mendagri sesuai dengan wewenangnya dapat mengintruksikan kepada Daerah yang bersangkutan untuk segera mencabut dan mengubahnya. Itu yang tidak dapat berjalan dalam praktik. yang dipandang tepat yaitu preventif. Daerah dapat mengajukan keberatan ke Mahkamah Agung. Berdasarkan gagasan sebagaimana tersebut di atas. Apabila berkebaratan perdanya dibatalkan. Dengan demikian telah . apabila pembatalan oleh Pemerintah Pusat tidak dapat diterima. kemudian atas dasar putusan yudisial dari Mahkamah Agung tersebut. yang dilengkapi dengan pengawasan yudisial. maka Pemerintah Pusat dapat memberikan evaluasi serta rekomendasi-rekomendasi yang diperlukan untuk pembenahan. maka paling tidak dalam praktik penyelenggaran daerah. Dalam hal pengawasan oleh Pemerintah Pusat terhadap Daerah. Atas dasar wewenang pengawasan yang diberikan kepadanya. Pertama.170 lingkup pengawasan Pemerintah terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah hanya sebatas pengawasan dalam bidang administrasi pemerintahan atau administrasi negara. lembaga Pemerintah (badan eksekutif) terhadap fungsi yudisial Kedua. terhindar timbulnya dominasi eksekutif atas pemerintahan daerah (Kepala Daerah dan DPRD) yang telah menetapkan produk-produk hukum secara demokratis. dapat mengajukan ke mahkamah agung. Pemerintah Pusat juga dapat menerapkan sanksi administratif kepada Daerah yang sengaja atau lalai melaksanakan perintah untuk mencabut dan mengubah peraturan daerah yang telah dibatalkan oleh Mahkamah Agung itu. Di antara penggolongan pengawasan pemerintah pusat terhadap pemerintah daerah. Selain itu peran tersebut tidak dalam kerangka memberikan keputusan-keputusan yang bersifat hukum (yudisial). apabila adanya kejanggalan-kejanggalan atau dugaan penyimpangan dalam materi hukum produk-produk hukum Daerah.

Letak kedaulatan rakyat dalam pola hubungan pengawasan antara pusat-daerah dalam UU ini adalah pemberian ruang bagi pemerintah daerah untuk menyampaikan keberatan kepada Mahkamah Agung atas pembatalan perda. 32 Tahun 2004 ini sudah mendekati bentuk yang ideal. 3. bukan karena semata-mata bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi dan kepentingan umum. dalam UU No. 32 Tahun 2004 dimunculkan kembali pengawasan preventif dan represif. Kedua. yang berlaku saat ini dalam UU No. 32 Tahun 2004.171 terlaksana pengawasan secara demokratis. karena yang dikontrol adalah peraturan perundang-undangan. represif dan preventif. dalam hal ini perda atau peraturan kepala daerah. 22 tahun 1999. 32 Tahun 2004 nampaknya sejalan dengan otonomi seluas-luasnya daerah diberikan kesempatan untuk banding. Berbeda dengan legislative review. terdapat beberapa hal yang dapat dikemukakan. di sisi lain dapat dipandang bahwa bentuk pengawasan yang diatur dalam UU No. maka dapat dikatakan bahwa persoalan mengenai apakah pengaturan pengawasan preventif dan represif terhadap perda. ditambah pengawasan yudisial sudah tepat. Apakah control sama dengan review? Dapat dikatakan ya. Pertama. yaitu dilakukan oleh DPR/DPRD. Telaah Terhadap Bentuk-Bentuk/ Lingkup dan Objek Pengawasan Telah diuraikan bahwa dari beberapa jenis objek pengawasan. Selama ini yang diverifikasi adalah lebih kepada legislative drafting. pengawasan terhadap peraturan daerah dan peraturan kepala daerah. Berdasarkan uraian di atas. Dengan demikian apakah cocok pengawasan preventif terhadap empat hal tertentu? Nampaknya pengawasan secara represif untuk semua bidang cenderung lebih baik. Berbicara pengawasan dari pusat dan daerah hanya dua macam. setelah berbagai sisi positif dan negatif yang timbul dari pemberlakuan UU No. Biarkan setiap norma menjadi sah sampai ditentukan lain. . tapi UU No. Pada intinya bahwa pengaturan tentang pengawasan saat ini menuju kepada yang ideal. Hal tersebut terkait dengan agenda-agenda pembangunan daerah yang membutuhkan proses yang lebih efisien.

433 Pertama. Gde Pantja menegaskan kembali bahwa pengawasan tidak berlaku ataupun tidak diterapkan terhadap hal-hal yang tidak ditentukan atau berdasarkan undang-undang. Artinya. hlm. bukan hubungan internal dari entitas yang sama. bandung.434 Maka dari itu bentuk dan isi pengawasan dilakukan semata-mata menurut berdasarkan ketentuan Undang-Undang. 435 Ibid. Retribusi Daerah. pengawasan represif harus memperhitungkan akibat hukum yang telah timbul selama Perda tersebut berlaku. tanpa kecuali. Kedua. 434 Ibid. 322-323. saat pelaksanaannya. 322. dan lingkungan hidup. UU ini hanya membatasi substansinya pada Perda tentang APBD. Berkaitan dengan hal tersebut I Gde Pantja Astawa memberikan penegasan bahwa baik pengawasan preventif maupun pengawasan represif. mempunyai objek ataupun mengenai hal yang sama. sebagaimana pada masa lalu diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974. 433 . Karena Perda belum berlaku. Sebaliknya. sedangkan pengawasan represif harus memperhitungkan akibat hukum yang telah timbul selama Perda tersebut masih berlaku. Problematika Hukum Otonomi Daerah di Indonesia. Pengawasan umum sangat luas ruang lingkupnya sehingga betul-betul dapat mematikan atau I Gde Pantja Astawa. Pajak Daerah.435 Maka dari itu salah satu bentuk pengawasan yang menurut tim peneliti harus dihindari dan tidak diatur dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah adalah bentuk/jenis pengawasan yang disebut pengawasan umum.172 Namun. 2009. penolakan pengesahan belum menyentuh akibat hukum yang timbul dari Perda tersebut. pengawasan preventif dilakukan sebelum Perda diberlakukan. Sementara itu pengawasan represif ditujukan terhadap semua perda. Alumni. hlm.. Dalam konteks agar pengawasan tidak menjadi terlampau longgar dan tidak pula terlampau ketat. dengan mekanisme evaluasi dan pengesahannya. khusus yang berkenaan dengan pranata pengawasan preventif terhadap perda. perlu diketahui bahwa pengertian pengawasan adalah suatu bentuk hubungan dengan sebuah legal entity yang mandiri. akibat hukumnya.

Sebagai konsekuensi bahwa peraturan daerah tidak boleh berkaitan dengan pengenaan suatu bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi. lihat Pasal 218 ayat (1) huruf a. Kegiatan monitoring tersebut pada dasarnya adalah merupakan bagian dari kegiatan pengawasan yang harus dilakukan oleh suatu lembaga/institusi tertentu yang pada lazimnya mempunyai kedudukan lebih tinggi dan mempunyai kewenangan untuk melakukan penilaian untuk memastikan bahwa segala ketentuan yang tercantum di dalam peraturan daerah dimaksud adalah sesuai dengan ketentuan-ketentuan maupun prinsip-prinsip yang harus diikuti pungutan. merupakan konsekuensi logis jika suatu peraturan daerah dapat dibatalkan atau dicabut hanya dengan peraturan yang lebih tinggi. judicial control sama dengan judicial review. proses penyusunan maupun implementasinya perlu dimonitor secara terus menerus untuk memberikan jaminan kepada publik bahwa semua ketentuan yang diatur dalam perda tersebut sudah mengikuti norma-norma/kaidah- kaidah yang berlaku yaitu memenuhi persyaratan sebagai peraturan yang baik. Telaah Terhadap Instrumen Penetapan Pembatalan Perda Keberadaan pengawasan sebagai konsekuensi dari keberadaan hubungan hirarkis. maka pencabutannya pun hanya dapat dilakukan dengan peraturan yang lebih tinggi atau sederajat. Jadi sudah dapat terlihat bahwa pengaturan pengawasan saat ini lebih mengarah ke demokratis. Dalam Undang-Undang menyatakan bahwa yang diawasi adalah peraturan perundang-undangan yang bernama perda dan perat kepala daerah.173 membelenggu prakarsa atau inisiatif Daerah dalam mengatur dan mengurus rumah tangga daerah sehingga tidak sejalan dengan upaya mewujudkan pemerintahan daerah yang demokratis. Hal tersebut sesuai dengan urutan peraturan perundang436 Pengawasan lainnya yang dilakukan terhadap penyelenggaraan Pemerintahan daerah adalah pengawasan atas pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah. Peraturan daerah yang berlaku sebagai undang-undang bagi daerah.436 Maka dari itu. . 4. Dalam rangka pengawasan.

Peraturan Daerah di yang mengatur pajak dan retribusi daerah disampaikan kepada Pemerintah paling lama 15 (lima belas) hari setelah ditetapkan. Peraturan Pemerintah. c. 440 Pasal 25A ayat (2) Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000. 10 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Peraturan Daerah. 79 Tahun 2008. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.440 Namun ternyata Presiden pun memberikan delegasi kepada Menteri Dalam Negeri untuk dapat membatalkan Perda. lihat Diana Halim Koentjoro. Peraturan Presiden. 439 Pasal 25A ayat (1) Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 1997 Tentang Pajak dan Retribusi Daerah. Bogor. b. Peraturan Desa/peraturan yang setingkat. hl. dibuat oleh badan perwakilan desa atau nama lainnya bersama dengan kepala desa atau nama lainnya. . Peraturan Daerah provinsi dibuat oleh dewan perwakilan rakyat daerah provinsi bersama dengan gubernur. 10. b.174 undangan yang ditetapkan dalam UU No. Ghalia Indonesia.439 Dalam hal Peraturan Daerah tersebut bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundangundangan yang lebih tinggi. Pasal 145 ayat (3) sudah memberikan atribusi kewenangan438 kepada Presiden untuk dapat membatalkan suatu perda. Hukum Administrasi Negara. 2004.437 Ketentuan Undang-undang bahwa perda dapat dibatalkan oleh bentuk peraturan presiden dapat dinilai tepat. c. Pemerintah melakukan pengawasan terhadap Peraturan Daerah dan Peraturan Kepala Daerah. Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang 437 Pasal 7 ayat (1) mengatur bahwa Jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan adalah sebagai berikut : a. Pemerintah dapat membatalkan Peraturan Daerah dimaksud. Ditambahkan dalam ayat (2) bahwa Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e meliputi: a. 438 kompetensi/kewenangan administrasi negara (pejabat TUN) berdasarkan suatu perundang-undangan formal. Peraturan Daerah kabupaten/kota dibuat oleh dewan perwakilan rakyat daerah kabupaten/kota bersama bupati/walikota. melalui PP No. d. Begitu pula dikuatkan bahwa Dalam rangka pengawasan. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang. Dalam Pasal 37 ayat (1) dikatakan bahwa Peraturan Daerah dan Peraturan Kepala Daerah disampaikan kepada Pemerintah paling lama 7 (tujuh) hari sejak ditetapkan. e. Pelaksanaan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Menteri.

2. antara ketentuan-ketentuan yang berlaku terkait dengan pembatalan perda. Peraturan Menteri tentang pembatalan Peraturan Kepala Daerah ditetapkan paling lambat 60 (enam puluh) hari setelah Peraturan Kepala Daerah diterima oleh Menteri. dalam rangka pengawasan. maka ketentuan yang . Dengan demikian. 10 Tahun 2004. 79 Tahun 2005 yang terlaksanakan. Dari ketentuan tersebut dapat dikemukakan bahwa: 1. belum dicabut. dengan PP No. Melihat bahwa pada praktik menunjukkan ketentuan dalam PP No. 32 Tahun 2004 dan UU No. yaitu antara UU No. Dengan demikian. terutama UU No. Baru ditemukan dalam rangka pengawasan terhadap PP yang mengatur pajak dan Retribusi daerah. 3. 32 Tahun 2004. 79 Tahun 2005. Kedua Pasal tersebut tidak memberikan kriteria mengenai kapan suatu pembatalan perda ditetapkan oleh peraturan presiden dan kapan dibatalkan oleh menteri. tidak menunjuk secara spesifik menteri apa/bertanggungjawab di bidang apa. dibatalkan oleh Menteri Dalam Negeri. untuk menetapkan pembatalan perda. sepanjang kedua UU tersebut. bukan keputusan menteri sebagai instrument pembatalan perda yang memungkinkan didelegasikan oleh Presiden. Kedua Pasal tersebut hanya menyebutkan nama instrumen berupa peraturan Menteri. Peraturan Kepala Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang bertentangan dengan kepentingan umum. Peraturan Daerah dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dapat dibatalkan dengan Peraturan Menteri. Sementara itu PasaI 38 menambahkan bahwa Peraturan Presiden tentang pembatalan Peraturan Daerah ditetapkan paling lambat 60 (enam puluh) hari sejak Peraturan Daerah diterima oleh Pemerintah. Kedua Pasal yang memberikan kemungkinan kepada Menteri untuk membatalkan suatu perda. yang spesifik pertentangannya. maka ketetuan dalam kedua UU di atasnya seolah-olah menjadi tidak hidup.175 bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundangundangan yang lebih tinggi dapat dibatalkan dengan Peraturan Presiden berdasarkan usulan Menteri. terdapat suatu ketidakharmonisan antara peraturan secara vertikal.

sesuai dengan peraturan nasional (satuan pemerintahan pusat). maka perlu dilakukan suatu perubahan terhadap UU No. dan yudikatif). Pengawasan menjadi instrumen pemerintah pusat untuk menjamin bahwa penyelenggaraan pemerintahan dapat terlaksana sesuai perencanaan. Jaminan HAM yang menjadi salah satu ciri negara hukum menjadi bagian dari kewajiban negara hingga oleh satuan pemerintahan yang lebih rendah. tetapi juga secara vertikal (satuan pemerintahan pusat dengan pemerintahan daerah). Semua diarahkan bahwa negara menghantarkan kepada pencapaian kesejahteraan rakyat. pemda dapat mengajukan judicial review instrumenn . yang diarahkan untuk memberi kemungkinan tempat bagi peraturan setingkat menteri. sebagai representasi pemerintah. Pembagian kekuasaan: tidak saja pembagaian secara horizontal (eksekutif.176 terkait di dalamnya masih harus ditaati. Dilihat dari paradigma kerangka Negara Kesatuan. 10 Tahun 2004. demokratisasi dan negara hukum. DEMOKRATISASI Terdapat pengawasan hukum dengan judicial review. yaitu dalam kerangka negara kesatuan. ke dalam urutan peraturan perundang-undangan. melainkan hanya satu Kedaulatan. pengawasan terhadap peraturan daerah dan peraturan kepala daerah yang berlaku saat ini dapat dikemukakan sebagai berikut: Tabel 23 Skema Pola Hubungan Pengawasan Pusat-Daerah NEGARA KESATUAN Pemberian otonomi daerah bukan untuk mengarahkan kepada pembagian kedaulatan. agar KESEJAHTERAAN peraturan perundang-undangan di tingkat satuan pemerintahan yang lebih rendah. NEGARA HUKUM Pengawasan baik secara preventif dan represif DAN dilaksanakan untuk menjamin supremasi hukum. bahwa jika suatu perda dibatalkan dan pemda berkeberatan terhadap pembatalan tersebut. Kecuali jika praktik menghendaki lain. legislative.

79 Tahun 2005 tentang Pembinaan dan Pengawasan itu sendiri. Persoalan kedua. yaitu mengatur pajak dan Retribusi daerah. Baru ditemukan dalam rangka pengawasan terhadap PP lain. 79 Tahun 2005. maka ketetuan dalam kedua UU di atasnya seolah-olah menjadi tidak hidup. terdapat suatu ketidakharmonisan antara peraturan secara vertikal. 1999. 10 Tahun 2004. dalam rangka pengawasan. Etika Politik.. Frans Magnis-Soeseno. 32 Tahun 2004 dan UU No. 177179. pada pasal 37 dan Pasal 38 dapat dikemukakan bahwa: 4. untuk menetapkan pembatalan perda. hlm. Jakarta. tidak menunjuk secara spesifik menteri apa/bertanggungjawab di bidang apa.441 Letak kedaulatan negara dalam hubungan pengawasan adalah pada pengawasan secara preventif dan represif terhadap ranperda dan perda. Kedaulatan negara tidak untuk menjadikan negara menentukan segalanya (totaliterisme). dibatalkan oleh Menteri Dalam Negeri. melainkan melalui perwakilan dan keterbukaan (publicity) pemerintah (daerah). 442 Letak kedaulatan rakyat dalam pola hubungan pengawasan antara pusat-daerah adalah pemberian ruang bagi pemerintah daerah untuk menyampaikan keberatan kepada Mahkamah Agung atas pembatalan perda. hlm. Gramedia Pustaka Utama. Melihat bahwa pada praktik menunjukkan pembatalan perda selalu dengan Kepmendagri. Kedaulatan rakyat tidak boleh tidak terbatas. dapat pula saling menyeimbangkan. Di sinilah mengapa kedaulatan negara dengan kedaulatan rakyat dapat saling tarik menarik. melainkan harus dengan keseimbangan legitimasi etis dan sosial (normatif-moral). yaitu antara UU No. dengan PP No. Dalam PP No. 441 . Kedua Pasal yang memberikan kemungkinan kepada Menteri untuk membatalkan suatu perda.177 pembatalan tersebut ke Mahkamah Agung. 442 Ibid. 290-291.

terutama UU No. atau awal abad ke XX. Kesimbangan yang dijelaskan dalam silanya adalah. Berdasarkan rumusan alinea keempat Undang-Undang dasar 1945. Lihat. kesimbangan antara kepentingan individu dengan kepentingan masyarakat serta kepentingan penguasa. Refika Aditama. yang spesifik pertentangannya. belum dicabut. hal inilah yang seharusnya dihindari karena bertentangan dengan otonomi itu sendiri. . dan Kelima. Adanya pengawasan Pusat terhadap Daerah adalah sebagai 443 Otje Salman dan Anton F. jelas bahwa konsep bernegara yang diwujudkan dalam penyelenggaraan pemerintahan. Otje Salman dan Anton F. Dengan demikian. Susanto. Kedua Pasal tersebut tidak memberikan kriteria mengenai kapan suatu pembatalan perda ditetapkan oleh peraturan presiden dan kapan dibatalkan oleh menteri. jika akan dikeluarkan semacam pedoman dan standard dalam rangka pembinaan kepada daerah. 6. yaitu dengan melihat dasar pikiran dalam sila Pertama. bukan keputusan menteri sebagai instrumen pembatalan perda yang memungkinkan didelegasikan oleh Presiden. Teori Hukum: Mengingat.443 atau meminjam konsep Lemaire negara menjalankan fungsi berstuurszorg.178 5. sepanjang kedua UU tersebut. Kedua Pasal tersebut hanya menyebutkan nama instrumen berupa peraturan Menteri. hendaknya unsur ini tidak perlu terlalu banyak. maka keseimbangan (balande) merupakan subtansi pokok yang terkandung didalamnya (maksudnya alinea keempat-penulis). 32 Tahun 2004. Bandung. Dasar pemikiran keberadaan pengawasan Pusat terhadap Daerah sangat terkait dengan konsepsi Negara Kesatuan yang dianut di dalam Pasal 1 ayat (1) UUD 1945. 159. yang dituntun oleh Sila Ketuhanan. 2005. Susanto menyatakan. Yang perlu lebih didorong dari unsur pembinaan ini adalah berupa koordinasi dan fasilitasi. Masih dalam rangka pengawasan yang tidak dapat dilepaskan dari pembinaan. Mengumpulkan dan Membuka Kembali. apabila dilihat secara bulat atau holistik (satu kesatuan). Semakin banyak pedoman dan standard cenderung menjadikan semakin mendorong keseragaman. hlm. Ketiga. Konsep bernegara yang demikian ini secara teoretikal dianut oleh negara-negara hukum modern menjelang akhir abad ke XIX. maka ketentuan yang terkait di dalamnya masih harus ditaati. baik di Pusat maupun di Daerah memiliki tujuan yang arahnya untuk memajukan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.

Tindakan atau keputusan pembatalan suatu Perda yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat misalnya. sejak berlakunya Undang-Undang Pemerintahan Daerah Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004. apakah itu berupa pengawasan preventif atau represif (berupa pembatalan atau penangguhan) suatu produk hukum Daerah. yang dalam desertasinya membahas sampai Undang-Undang No. apabila ditelusuri dari Pembukaan UUD 1945. Dengan demikian pengawasan Pusat terhadap Daerah. 5 tahun 1974. Maka. Adanya pembagian kekuasaan secara vertikal antara Pusat dan Daerah sebagaimana diatur Pasal 18 ayat (1) UUD 1945 menyebabkan adanya pengawasan Pusat terhadap Daerah atau dengan lain perkataan adanya penyerahan urusan pemerintahan dari Pusat kepada Daerah mengakibatkan Pusat mempunyai tugas dan wewenang untuk melakukan pengawasan. terdapat ketentuan yang memberikan kemungkinan untuk menguji tindakan atau keputusan pembatalan suatu Perda melalui apa yang disebut dengan pranata ’keberatan’: Daerah-Daerah yang merasa keberatan atas pembatalan peraturan-peraturan daerahnya dapat mengajukan keberatan kepada Mahkamah Agung. menemukan dasarnya dari konsep Negara Kesejahteraan sebagaimana telah dirumuskan di dalam alinea keempat UUD 1945. namun tidak mengomentari apakah bentuk pengawasan harus seperti apa. dengan tujuan agar Daerah terhindar dari penyimpangan-penyimpangan terhadap peraturan-perundang-undangan yang lebih tinggi dan kepentingan umum sehingga Daerah dalam menjalankan pemerintahannya senantiasa sejalan dengan tujuan penyelenggaraan otonomi daerah. Mahkamah Agung sebagai institusi yudisial kemudian menguji keputusan pembatalan itu.179 konsekuensi Pemerintah NKRI mempunyai tanggung jawab utama untuk tetap menjamin tercapainya tujuan nasional yang tercantum di dalam Alinea Keempat Pembukaan UUD 1945. Bagaimanapun dalam No. yang tidak . Bagir Manan. 5 tahun 1974. Oleh karena itu. Di Indonesia pada prinsipnya pengawasan merupakan konsekuensi dari Negara Kesatuan dengan sistem desentralisasi. harus dianggap sah menurut hukum (praduga rechtmatig) sampai ada pembuktian sebaliknya secara hukum.

yaitu segala upaya untuk mengetahui bahwa segala hal yang direncanakan terlaksana. pengawasan yang baik adalah 444 445 I Gde Pantja Astawa.. dan preventif. Dengan pengawasan yudisial. represif (administrative). bahwa yang diatur dalam UU 22 Tahun 1999 dengan menghapus pengawasan preventif. pengawasan menghindari pembelengguan daerah. dapat mengajukan ke Mahkamah Agung. tidak dikehendaki suatu pengawasan yang tidak punya batasan ruang lingkup. Pengawasan yang disebut terakhir menghendaki dibutuhkan sebagai instrument untuk mencapai hakikat pengawasan. Setelah berlaku UU No. Ruang lingkup pengawasan terhadap daerah dibatasi pada peraturan daerah dan peraturan kepala daerah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis pengawasan yang dipandang tepat yaitu preventif. 5 Tahun 1974. mempengaruhi. Itu pendapat kita yang intinya bahwa pengaturan tentang pengawasan saat ini menuju kepada yang ideal. 22 tahun 1999.180 dibahas dalam desertasinya itu. Itu yang tidak dapat berjalan dalam praktik. Tanpa mengesampingkan arti penting pengawasan. yang dilengkapi dengan pengawasan yudisial. hlm. Problematika …. Alasan utama yang dikemukakan Gde Pantja444 adalah supaya desentralisasi dengan pemberian otonomi daerah tidak bergeser menjadi semacam kemerdekaan.cit. represif. Pengawasan seperti ini mirip dengan jenis pengawasan umum yang diatur pada masa UU No. menunjukkan bahwa terdiri dari pengawasan umum. 321. Dengan demikian telah terlaksana pengawasan secara demokratis. op. Bagir Manan setuju hanya satu. Maka dari itu.. ada pendapat Bagir Manan.445 Pengawasan demikian tidak sama artinya dengan pengawasan terhadap segala hal. Pengawasan senantiasa diperlukan sebagai pranata bagi pemerintah pusat atau satuan pemerintahan yang lebih tinggi tingkatannya untuk mengendalikan. Apabila suatu daerah berkeberatan perdanya dibatalkan. walaupun hanya sekadar untuk urusan pemerintahan tertentu. Pengawasan yang bagaimana yang tidak membelenggu kemandirian daerah? Walaupun diawasi tapi daerah masih ada keleluasaaan. bahkan memaksakan kehendaknya kepada satuan pemerintahan yang lebih rendah. .

181 pengawasan terhadap segala hal dengan pembatasan ruang lingkup dan bentuk. Kemuncullan kembali pengawasan preventif sebagaimana diatur oleh Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tidak menyebabkan membelenggu kemandirian Daerah karena pengawasan preventif telah ditentukan batasbatas ruang lingkupnya serta di dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004. . melahirkan hak placet: hak penguasa yang lebih tinggi untuk tidak setuju terhadap gagasan dari satuan pemerintahan di bawahnya. diselenggarakan atas kerja sama antara Dewan Perwakilan Daerah RI dan Fakultas Hukum Unpad. bukan kedaulatan rakyat. Ateng Syafrudin446 berpendapat bahwa terdapat benang merah yang sampai sekarang menjadi persoalan. Daerah tetap mempunyai kewenangan untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri atau tetap mempunyai kemandirian. Melihat dari paradigma yang cukup mendasar. sedangkan kita berpijak pada kedaulatan rakyat. Ateng Stafrudin membantah bahwa itu adalah tugas konstitusional presiden. Ada juga batas-batasnya. yang ditetapkan dalam undang-undang. hak menentukan nilai mata uang. ketiga. Tidak heran pada tahun 1974 ada suatu pandangan bahwa otonomi adalah hak prerogatif. pengawasan administratif (preventif dan represif) dilengkapi dengan pengawasan yudisial. Tapi banyak pemikiran-pemikiran di balik pembentukan UU ini. disampaikan dalam acara Focused Group Discussion (Fgd) Tentang “Hubungan Antara Pemerintah Pusat Dan Daerah”. Paradigma ini tidak diketahui umum. berhak memilih kepercayaan sendiri siapa yang mewakilinya. Bentuk pengawasan Pusat terhadap Daerah yang seyogyanya dikembangkan dan diterapkan dalam undang-undang yang mengatur pemerintahan daerah adalah bentuk pengawasan preventif dan represif (pengawasan administratif) dan dilengkapi pengawasan yudisial. 4 Agustus 2009. Hal tersebut ditujukan dalam rangka membina dan memelihara 446 Ateng Syafrudin. Padahal orang Belanda sendiri berpendapat bahwa ternyata cara membagai otonomi itu bersumber dari kedaulatan negara. bahwa hak prerogatif dimulai dari ampunan dosa-dosa. Ditetapkannya tentang bentuk dan ruang lingkup pengawasan di dalam suatu undang-undang merupakan perwujudan dari pemerintahan daerah yang demokratis. dipengaruhi dari negeri Belanda. Dengan demikian. Bandung. Itu bersumber dari abad pertengahan. walaupun terdapat pengawasan.

Dalam ketentuan yang berlaku saat ini. Apakah kalau sudah membangun gedung-gedung menjadi sudah berhasil? Sering orang hanya mengukur secara materil. Dasar-Dasar Ilmu Hukum Normatif sebagai Ilmu Hukum Empirik-Deskriptif. 1995.447 Kedaulatan dikatakan sebagai karakteristik definitif dari kekuasaan tertentu: satu negara. 450 Ibid. Hal ini menunjukkan bahwa ketentuan itu tidak dapat dilaksanakan (tidak sesuai dengan asas feasible). Mengenai praktik bahwa semua pembatalan sebagai salah satu bentuk pengawasan selalu ditetapkan dengan kepmendagri.449 Sebab kedaulatan hanya dapat sebagai kualitas dari suatu tata normatif sebagai suatu kekuasaan yang merupakan sumber kewajibankewajiban dan hak-hak. 255. sepanjang suatu peraturan belum diubah atau dicabut. Konsep dalam UU yang berlaku saat ini selalu mengaitkan pengawasan dengan pembinaan dan koordinasi. satu rakyat.450 Dengan demikian kedaulatan negara dalam hal ini ditempatkan terutama dalam kepentingan untuk menjamin kesatuan hukum dari satuan pemerintahan pusat sampai dengan satuan pemerintahan yang paling rendah. . sudah tepat ketentuan bahwa perda dibatalkan oleh perpres. Yang lainnya harus ada. dan satu kekuasaan. Pemerintah pusat punya hak placet. Teori Hukum Murni. hlm. satu teritorial. tapi hrs dijelaskan supaya tidak menimbulkan konflik. menurut ilmu perundang-undangan. Sekarang pemda baru berindikator pada IPM. Terhadap kedaulatan negara yang menjadi paradigma dasar penyelenggaraan pemerintahan daerah ini. Walaupun begitu masih perlu suatu pengujian konsep itu. Namun ketentuan ini tidak berjalan. yaitu mengacu kepada UU No. kedaulatan negara untuk menjamin kesatuan hukum atau dengan kata lain untuk menjaga harmonisasi peraturan perundang-undangan tersebut salah satunya dilaksanakan melalui mekanisme pengawasan terhadap peraturan daerah. 449 Ibid. 10 Tahun 2004. jika kedaulatan dipandang sebagai satu kualitas dari kekuasaan ini. betulkah bahwa setiap penyelengggaraan 447 Hans Kelsen (alih Bahasa: Somardi).182 bawahannya.448 Kekuasaan negara mesti berupa validitas dan efektifitas tata hukum. dapat dikemukakan pendapat Hans Kelsen mengenai kedaulatan. 448 Ibid. maka ketentuan yang masih berlaku seharusnya diataati. Walaupun demikian. Rimdi Press.

Bentuk evaluasi dalam rangka pembinaan dan pengawasan perlu dikembangkan. dan negara hukum dan kesejahteraan. demokratisasi. dan tidak dapat terpisah sendiri-sendiri. terutama terkait dengan pemekaran daerah. Pembinaan pun dalam rangka pengawasan. apakah menjadi kota atau menjadi kabupaten baru. seperti yang pernah berlaku pada masa UU nomor 5 Tahun 1975. Penetapan pedoman standard dalam rangka pembinaan tidak boleh terlalu rinci agar keberagaman setiap daerah tetap terjaga.183 pemerintahan. Dengan demikian kreatifitas daerah tidak terkekang dengan upaya penyeragaman sebagai dampak dari penetapan pedoman standard. Tidak hanya cukup sebelum pemberian status daerah baru. bahwa dalam sistem negara hukum harus berjalan. evaluasi dibutuhkan juga setelah pemberian status daerah baru. Pengawasan tidak dapat terpisahkan dari pembinaan. dan terutama dapat menjaga keutuhan Negara Kesatuan. Hal tersebut untuk melihat apakah sebetulnya daerah-daerah yang dimekarkan (terutama yang berbentuk provinsi) mampu memenuhi segala syarat kemandirian. Perbedaan yang harus dikembangkan terletak pada tindak lanjut setelah pemberian status administratif. Penetapan pemekaran daerah yang sudah marak dan mendominasi produk legislatif beberapa tahun terakhir perlu ditindaklanjuti dengan mekanisme evaluasi. Pada intinya yang menjadi penting adalah bagaimana suatu daerah telah terlatih dan terbina terlebih dahulu untuk menyelenggarakan tugas-tugas pemerintahan sebelum mendapatkan status daerah yang baru dibentuk. Ke depan dapat dikembangkan bahwa sebagai tahapan menuju pemberian status daerah baru dilakukan terlebih dahulu pemberian semacam status administratif.** . masalah pengawasan mutlak terkait satu sama lain dengan koordinasi dan pembinaan.

Dengan pemberian otonomi seluas-luasnya seperti itu. satuan pemerintahan yang terendah adalah ujung tombak dari upaya menghantarkan kesejahteraan rakyat. meliputi desentralisasi teritorial. Prinsip-Prinsip Pemikiran Pola Hubungan Antara Pusat Dan Daerah Prinsip-prinsip ini dapat didekati dari paradigma negara kesatuan. Kecenderungan tarik menarik kekuasaan yang didesentralisasikan tersebut dipengaruhi oleh sistem rumah tangga seperti apa yang dianut. Dalam implementasinya. prinsip otonomi seluas-luasnya menjadi tidak tampak. dasar-dasar pola hubungan pusat dijabarkan lebih lanjut melalui berbagai peraturan pelaksana. 38 Tahun 2007. Dengan konstruksi demikian seperti itu. demokratisasi. dapat dikemukakan beberapa hal berkaitan dengan prinsip-prinsip pemikiran dan dimensi-dimensi pola hubungan antara pusat dan daerah. Pertama.184 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. negara hukum (dengan paradigm negara kesejahteraan). dimensi-dimensi pola hubungan antara pusat dan daerah UUD 1945 telah memberikan dasar-dasar pola hubungan antara Pusat dan Daerah. Dengan pemberian berbagai urusan pemerintahan yang didesentralisasikan. Melalui PP No. dengan asas otonomi dan tugas pembantuan. Kedua. Keberadaaan otonomi khusus justru merupakan anomali dari pemberian otonomi seluas-luasnya. Hal tersebut menjadikan setiap daerah cenderung menjadi seragam. dan memberikan otonomi seluas-luasnya. Padahal fungsi otonomi sendiri adalah keberagaman. Kesimpulan Berdasarkan paparan singkat di atas. cenderung terjadi . yang lebih tampak adalah bahwa yang rumah tangga yang dianut adalah rumah tangga materiil. Dengan paradigma negara kesejahteraan. seharusnya sudah memungkinkan bagi daerah-daerah untuk beragam memiliki urusan. yang dilaksanakan dengan cara desentralisasi.

namun praktiknya selalu dengan kepmendagri yang nampaknya lebih memenuhi asas feasible (dapat dilaksanakan) suatu peraturan. Pengkajian yang lebih mendalam perlu ditindaklanjuti untuk mengembalikan makna otonomi dalam bingkai negara kesatuan. dan demokratisasi. serta persoalan pola hubungan antara pusat dan daerah. pengaturan. B. mencerminkan perlunya upaya untuk mengkaji kembali berbagai peraturan perundang-undangan yang belum harmonis dengan UUD 1945. Upaya kebergantungan daerah terhadap pusat muncul lagi melalui pranata pengawasan yang tidak berimbang dengan upaya fasilitasi dan koordinasi oleh Pusat.185 ketidakkonsistenan dengan begitu gemuknya kelembagaan di Pusat. menghantarkan kepada kesejahteraan rakyat.** . sebagai upaya untuk menegakkan supremasi hukum. 32 Tahun 2004 dilakukan oleh perpres. belum memungkinkan optimalisasi kerja sama daerah. Hal tersebut ditambah pula dengan persoalan instrumen hukum pembatalan perda yang menurut atribusi UU No. Ketentuan yang berlaku sekarang untuk mengoptimalkan kemampuan daerah masih bergantung kepada perimbangan keuangan. teori. terutama untuk melakukan pinjaman luar negeri. Saran Dari berbagai telaah mengenai asas. Dengan seperti itu menjadikan atribusi kewenangan dalam UU tersebut tidak hidup. Setiap pembentukan kelembagaan di daerah belum sepenuhnya berdasarkan kebutuhan urusan yang riil dan kemampuan SDM serta keuangan daerah. sehingga menyerupai piramida terbalik.

Bogor. Departement of Economic Andrew Young School of Policy Studies. 2004. Pustaka Sinar Harapan. Karawang. Hubungan Kewenangan Pusat dan Daerah. Eddy Purnama. Jakarta. 2005. Alumni. Pengantar Metode Penelitian Hukum. Yogyakarta. 1986. 1993. 1986. _______. Perjalanan Historis Pasal 18. Disertasi. _______. Bohari. UI-Press. 2002. Bandung. 1990. Amrah Muslimin. UNSIKA. Nusamedia. Yayasan Tifa. Penerbit Mandar Maju. dalam Kumpulan Tulisan pasang surut otonomi Daerah. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah. Hukum Anggaran Negara. Rajawali Pers. editor Jakarta 2005. 2003. Titik Berat Otonomi Daerah Pada Daerah Tingkat II. Anhar Gonggong (ed). Jakarta. Bandung. Etika Politik. Ghalia Indonesia. 1999. Ateng Syafrudin. Jakarta. Kumpulan Tulisan Pasang Surut Otonomi Daerah. Atlanta. Hubungan Antara Pusat dan Daerah Menurut UUD 1945. Jakarta. 1994. Bachrul Elmi. Keuangan Pemerintah Daerah Otonom di Indonesia.DAFTAR PUSTAKA BUKU Amiruddin dan Zainal Asikin. 1995. Diana Halim Koentjoro. Hukum Administrasi Negara. A Study of The Relationship Between Fiscal Decentralization and The Composition of Public Expenditures. Gramedia Pustaka Utama. PT Raja Grafindo. . 2006. Jakarta. Kedaulatan Rakyat. Bagir Manan. Bhenyamin Hoessein. Francisco Javier Arze del Granado. Georgia State University. 2007. Alumni. Frans Magnis-Soeseno. H. 2001. Pusat Studi Hukum Fakultas Hukum UII. Jakarta. 2006. _______. Yogyakarta. Kapita Selekta Hakikat Otonomi dan Desentralisasi dalam Pembangunan Daerah. Citra Media Hukum. Bandung. Institute for Local Development dan Yayasan TIFA. Aspek-Aspek Hukum Otonomi Daerah. Aspek-aspek Hukum Otonomi Daerah. Bandung. _______.

Jakarta. 1993. Universitiet Leiden. Kelompok Gramedia. 1999. Penerbit Bina Aksara. Shinichi. African. Jakarta. 2009. Jakarta. Pusat Studi Hukum Tata Negara FH. Dinna. 2005. Research School CNWS School of Asian. Ichimura. Dasar-Dasar Ilmu Politik. 2009. Hans. _______. Teori Hukum Murni. Roy (eds). Decentralization: Policies in Asian Development. Masalah Pengurusan Keuangan Negara : Suatu Pengantar Teknis. Alumni. Pokok-Pokok Hukum Tata Negara Indonesia Pasca Reformasi. _______. 2007. Nicole. Municipal Government In Indonesia Policy. Segaarsy. PT. Ltd. Mohammad Hatta. Demokrasi Kita. World Scientific Publishing Co. Bandung. Problematika Hukum Otonomi Daerah di Indonesia. Hubungan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Irawan Soejito. Pikiran-Pikiran tentang Demokrasi dan Kedaulatan Rakyat. 2003. Jakarta. Jimly Ashiddiqie. Jakarta.N. Kaloh. penerbit. Kelsen. PT. Masalah Kenegaraan. Penerbit Gramedia Pustaka. Dasar-Dasar Ilmu Hukum Normatif sebagai Ilmu Hukum Empirik-Deskriptif. Bahl. 1986. dalam Miriam Budiardjo (ed).. Cetakan kelima belas. 2002. bandung. Ke Arah Indonesia Merdeka. Bandung. law and Practice of Decentralization and Urban Planning. Bandung. PT. 1984. (alih Bahasa: Somardi). 2001. Azmy Akhir. J. dan tahun penerbitan tidak tercantum. Konsolidasi Naskah UUD 1945 Setelah Perubahan Keempat. Prospek Otonomi Daerah. 1995. Kepala Daerah. Munir Fuady. Monograf. Gramedia Pustaka Utama. Raja Grafindo Persada.I Gde Pantja Astawa. Rimdi Press. kota. cetakan kedua. Jakarta. _______. Bhuana Ilmu Komputer. and Amerindian Studies. M. The Netheralands. Jakarta. Teori Negara Hukum Modern (Rechtsstaat). CV. Josef Riwu Kaho. Lili Rasjidi dan Liza Sonia Rasjidi. Singapore. Jakarta. Menggunakan Teori dan Konsep Dalam Analisis di Bidang Ilmu Hukum. 1980. di Negara Republik Indonesia. 2009. Hukum Pemerintahan Daerah. Nusamedia. Pte. 2009. Konstitusi Dan Konstitusionalisme Indonesia. . Ni’matul Huda. Gramedia. Refika Aditama. 2009. UI. Miriam Budiarjo. Niessen. Konstitusi Press.

RDH Koesoemahatmadja. The Liang Gie. Bhuana Ilmu Populer.Norton. Sidgwick & Jackson Limited. 1960. Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji. England. Rineka Cipta. Pengantar Ke Arah Sistim Pemerintahan Daerah Di Indonesia. Visimedia. Pengaturan Pajak Daerah di Indonesia. Bab-Bab Tentang Penemuan Hukum. Yogyakarta. cetakan II. Jakarta. Gerge Allen Unwin. Otje Salman dan Anton F. USA. 1986. Paulus Effendie Lotulung. Tjip Ismail. Mengumpulkan dan Membuka Kembali. Jilid III. Strong. Sunaryati Hartono. 2005. Jakarta. Du Contract Social (Perjanjian Sosial). Yogyakarta. Kemitraan. 1967. Yogyakarta. Jakarta 2003. Pertumbuhan Pemerintahan Daerah di Negara Republik Indonesia. 2007. Citra Aditya Bakti. 1979. Beberapa Sistem tentang Kontrol Segi Hukum terhadap Pemerintah. Susanto. Bandung. B. . Investasi. Decentralization The Territorial Dimension of The State. Edward Elgar Limited – Edaward Elgar Publishing Company. Steven Sons. Jean Jacques. Penelitian Hukum Normatif. Penelitian Hukum di Indonesia Pada Akhir Abad Ke-20. PT RajaGrafindo Persada. Wolfgang Friedmann. Kybernology (Ilmu Pemerintahan Baru).C. London. Edisi Kedua. Bandung. 2005. Jakarta. 1993. Penerbit Alumni. Jakarta. Yellow Printing. Modern Political Constitution.. Keuangan Daerah. International Hand Book of Local and Regional Government A Comparatve Analysis of Advanced Democracies. Binacipta. Jakarta. Bandung. Joeniarto. Taliziduhu Ndraha. Negara Hukum yang Membahagiakan Rakyat. Refika Aditama. 2006. R. Bandung. Alan. Teori Hukum: Mengingat. Satjipto Rahardjo. London. Perkembangan Pemerintahan Lokal. Genta Publishing. Legal Theory. 2006. 1985. 1993. 1982. CF. Sudikno Mertokusumo dan Pitlo. PT. Rousseau. 1995. dan Desentralisasi. London. Alumni. cetakan kedua. Liberty. Smith. 2007. Pheni Chalid. Jilid I.

DESERTASI/TESIS/LAPORAN PENELITIAN/MAKALAH/JURNAL Agus Kusnadi. World Bank Policy Research Working Paper 3353. 1. _______. 2009. Bandung.. 4 Agustus 2009. Pusat Studi Hukum Kenegaraan Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran. Makalah untuk pendidikan non-gelar anggota DPRD tingkat II se-Jawa Barat di Fakultas ISIP Unpad. disampaikan dalam acara Focused Group Discussion (Fgd) Tentang “Hubungan Antara Pemerintah Pusat Dan Daerah”. Problems. and the Promise” World Bank Policy Research Working Paper 3282. Jaime Bonet. The World Bank. June 2004. Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. _______. Singapore. 4 Agustus 2009 Ateng Syafrudin. Tugas Sosial Pemerintahan Daerah. Ltd. Decentralization: Policies in Asian Development. 3. “Hutang Sebagai Salah Satu Sumber Pembiayaan Pembangunan Daerah Otonom”. Hubungan Kelembagaan antara Pusat dan Daerah. Bentuk dan Ruang Lingkup Pengawasan Pusat Terhadap Daerah Dalam Mewujudkan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Yang Demokratis Menurut UUD 1945. Asep Warlan Yusuf. Desertasi. Bachrul Elmi dan Syahrir Ika. World Bank. Pte. Bagir Manan. “Implementing Decentralized Local Governance: A Treacherous Road with Potholes. “Fiscal decentralization and regional income disparities: evidence from the Colombian experience”. Bandung. World Scientific Publishing Co. Program Studi Hukum Tata negara. 2009. Masalah Hukum dalam Pemerintahan di Daerah. April 2004. Vol. Detours and Road Closures”.. DC USA. Springer-Verlag Published online: 12 April 2006. makalah pada Diskusi Terbatas tentang Hubungan Pusat dan daerah. Maret. Washington. Roy Bahl (eds). 2009. 2008. Jurnal Kajian Ekonomi Dan Keuangan. hlm. Bandung. Handsout dan Course Material Hukum Pemerintahan Daerah. 6 No. . 2002. Anwar Shah. diselenggarakan atas kerja sama antara Dewan Perwakilan Daerah RI dan Fakultas Hukum Unpad. USA. Washington DC. Bahl dalam Shinichi Ichimura. _______. 28 Desember 1992. Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. Makalah. Theresa Thompson. “Fiscal Decentralization in Developing and Transition Economies: Progress.

Kuntana Magnar. Blackwell Publishing Ltd. Renata R Simatupang. 4. 15 No.Bonet. “Fiscal Decentralisation and Empowerment: Evolving Concepts and Alternative Measures” Journal Compilation Institute of Fiscal Studies Vol. 3. Pedoman Penyelenggaraan Program Pendidikan Sarjana (S1). Bandung. 2000. Comparative Economic Studies. Academic Press.Hak Angket Dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia Menurut UUD 1945. Era Dabla-Norris. Accounting & Financial Management. 2006. Disertasi. 3. Journal of Public Budgeting. “Fiscal Decentralization in South East Asia”. 29. Larry. 2003. Bandung.48. 2006. Elektison Somi. 15 No. No. Academic Press. Tim Penyusun. Fiscal Decentralization in South East Asia. Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Tahun 2007. Vol. Pusat Pengkajian dan Pengembangan Wilayah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran. 2008. Laporan Penelitian. Jakarta 2009. 2003. Bahan diskusi pada Diskusi Terbatas Pusat Studi Hukum Tata Negara. Springer-Verlag Published online: 12 April 2006. Universitas Padjadjaran Bandung. “Fiscal decentralization and regional income disparities: evidence from the Colombian experience”. Vol. Accounting & Financial Management. 2002. Jameson Boex. 1999. Pengawasan Pengelolaan Keuangan Daerah dalam Sistem Pemerintahan Daerah di Indonesia (Disertasi). Vol. Jaime. . Pengkajian Penataan Daerah Otonom Kabupaten/Kota di Jawa Barat. Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia. Otonomi atau Federalisme. dampaknya terhadap Perekonomian. Journal of Public Budgeting. Harian Suara Pembaharuan. Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. I Gde Pantja Astawa. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta. Bandung. 4 Agustus 2009 Larry Schroeder. “The Challenge of Fiscal Decentralisation in Transition Countries”. UK-USA. Kerangka Acuan Penelitian Studi Hubungan Pusat Dan Daerah Kerjasama DPD RI Dengan Perguruan Tinggi Di Daerah. Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran. Schroeder.

dibatasi. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pemerintahan Daerah Undang-Undang Nomor No.id/old_version/CITANEGARAHUKUMINDONESIA.33 Tahun 2004 Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah Undang-Undang Nomor No. tentang Pemerintahan Daerah Undang-Undang Nomor No. Sumber Internet http://www. Peraturan Pemerintah No.pdf http://koran. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah Undang-Undang Nomor No.html www.Peraturan Perundang-Undangan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.geocities.com/read/xml/2009/08/05/04112298/pajak. .com/9511217.fh. 25 Tahun 1999 Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004.daerah. 28 Tahun 2009 tentang Pajak dan Retribusi Daerah Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 1997 Tentang Pajak dan Retribusi Daerah.unsri.opensubscriber.kompas.com/syahyuti/Rumusan_konsep_kelembagaan.18 Tahun 1997 Tentang Pajak dan Retribusi Daerah. http://www.Doc.com/message/mediacare@yahoogroups.ac. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2008 Tentang Tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. 20 Tahun 1997 Tentang Retribusi Daerah Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005.

php?option=com_content&task=view&id=329&Itemid=2 http://www.com/abstract=1029581 .Doc.com/read/2009/08/08/91036/20/2/RUU-Pajak-dan-RetribusiDaerah-Disahkan-Jadi-UU http://koran.mediaindonesia.detikfinance. http://www.go.html http://ekoprasojo.depkeu.fh.google.lautanindonesia.ac.org/ind/index.com/read/2009/08/08/91036/20/2/RUU-Pajak-dan-RetribusiDaerah-Disahkan-Jadi-UU http://www.kompas.org/id.0.com/forum/index.com/read/xml/2009/08/05/04112298/pajak.fiskal.dibatasi.pdf. http://www.id/ www.bakd. http://www.daerah.com/2008/04/08/konstruksi-ulang-hubungan-pemerintah-pusat-danpemerintah-daerah-di-indonesia-antara-sentripetalisme-dan-sentrifugalisme/ http://www.com/read/2009/08/18/103708/1184734/4/15-poin-uu-pokokpajak-daerah-dan-retribusi-daerah www.ssrn.worldbank. www.go.wikipedia.com/2008/04/08/konstruksi-ulang-hubungan-pemerintah-pusat-danpemerintah-daerah-di-indonesia-antara-sentripetalisme-dan-sentrifugalisme/ http://en.com http://kppod.http://www.php/topic.org/wiki/Participatory_democracy http://ekoprasojo.5619.depdagri.mediaindonesia.id/old_version/CITANEGARAHUKUMINDONESIA.id/webbkf/kajian%5CPAD.unsri.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful