PENELITIAN

POLA HUBUNGAN ANTARA PUSAT DAN DAERAH

KERJA SAMA ANTARA PUSAT STUDI KAJIAN NEGARA FAkULTAS HUKUM UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG

DENGAN

DEWAN PERWAKILAN DAERAH (DPD) REPUBLIK INDONESIA

JAKARTA, 2009

POLA HUBUNGAN ANTARA PUSAT DAN DAERAH ABSTRAK UUD 1945 telah memberikan dasar-dasar pola hubungan antara Pusat dan Daerah, meliputi desentralisasi teritorial, dengan asas otonomi dan tugas pembantuan, dan memberikan otonomi seluas-luasnya. Namun dengan berbagai peraturan pelaksanaannya, telah mendorong penyeragaman sekaligus sentralisasi tersembunyi melalui undang-undang sektoral. Penelitian ini merupakan kajian bertujuan untuk mengetahui prinsip-prinsip pemikiran yang mendasari pola hubungan antara Pusat dan daerah, dengan pendekatan uraian mengenai dimensi hubungan kewenangan, kelembagaan, keuangan, dan pengawasan. Dengan menggunakan metode pendekatan yuridis normatif, penelitian merupakan penelitian asas-asas hukum, sistematika hukum, dan taraf sinkronisasi vertikal dan horizontal. Pembahasan penelitian ini menunjukkan bahwa terhadap dimensi-dimensi hubungan antara Pusat dan daerah terjadi inkonsistensi, baik dalam perspektif kerangka negara kesatuan, paradigma negara kesejahteraan, demokrastisasi, dan prinsip otonomi yang dimaksudkan dalam Perubahan UUD 1945. Dengan demikian perlu kecermatan lebih lanjut untuk menata kembali harmonisasi berbagai peraturan perundang-undangan sebaga pelaksanaan Pasal 18 UUD 1945, untuk mengembalikan hakikat otonomi daerah.

i

The Pattern of Central and Regional/Local Government Relationship Abstract The 1945 Constitution has provided the basic principles of the relationship between central and regional/local government, including territorial decentralization, with the principle of autonomy and coadministration, and provides wide-ranging autonomy. But with the various implementing regulations, has encouraged uniformity and centralization hidden through sectoral legislation. This research aims to determine the principles that underlie the pattern of relationship between central and regional/local government, with a description of the dimensional approach of authority, concerning: relations, institutional, financial, and supervision relationship. By using the method of normative juridical approach, the research categorized as research on principles of law, systematic of law, and the level of vertical and horizontal synchronization. This research show that the dimensions of the relationship between central and regional/local government, inconsistencies occurred, both in the perspective of the unitary state framework, the welfare state paradigm, democratization, the principle of autonomy which is intended in The Amended 1945 Constitution. Thus the need to further precision to restructure the harmonization of legislation as the implementation of Article 18 UUD 1945, to restore the nature of regional/local autonomy.

ii

Kata Pengantar

Laporan penelitian yang disajikan ini merupakan hasil kerja sama antara Pusat Studi Kebijakan Negara Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran (PSKN FH Unpad) dengan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD – RI). Dari beberapa tema yang ditawarkan, sengaja kami memilih persoalan hubungan keuangan antara pusat daerah karena dalam konteks negara terdesentralisasi seperti Indonesia, persoalan tersebut selalu berkembang. Bagi kalangan juris perkembangan tersebut tampak misalnya dalam hal perkembangan peraturan perundang-undangan di bidang pemerintahan daerah yang sangat dinamis. Bahkan dapat dikatakan bahwa peraturan perundangundangan di bidang ini merupakan peraturan perundang-undangan yang sangat berkembang pesat, dari mulai Indonesia merdeka hingga saat ini. Perkembangan peraturan perundang-undang tersebut akan menggambarkan konsep dinamis antara desentralisasi dan sentralisasi yang seperti “bandul”. Misalnya, sebelum Perubahan UUD 1945 (khususnya Pasal 18), beberapa undang-undang bercorak desentralistis, seperti UU No. 1 Tahun 1945, UU No. 22 Tahun 1948, dan beberapa lagi lebih mencerminkan sifat sentralistis, seperti UU No. 5 Tahun 1974. Hal tersebut sangat mungkin terjadi hingga saat ini di mana Pasal 18 UUD 1945 telah diubah menjadi 3 pasal pada masa Perubahan Kedua UUD 1945, misalnya antara UU No. 22 Tahun 1999 dengan UU No. 32 Tahun 2004. UU No. 22 Tahun 1999 dibentuk sebelum Pasal 18 UUD 1945 berubah namun secara prinsip tidak bertentangan dengan perubahan Pasal 18 tersebut. Sementara itu, UU No. 32 Tahun 2004 dibentuk setelah Perubahan Pasal 18 UUD 1945 dan mengubah ketentuan UU No. 22 Tahun 1999, begitu pula UU lainnya di bidang perimbangan keuangan pusat – daerah. Perkembangan tersebut selalu menarik untuk diteliti, karena format desentralisasi selalu akan berkembang seiring dengan perkembangan masyarakat. Namun demikian, memilih tema hubungan pusat – daerah ini cukup beresiko, khususnya dalam hal kedalaman studi, karena terdapat beberapa dimensi hubungan pusat – daerah. Kami mengambil resiko tersebut dengan tujuan bahwa penelitian ini menghasilkan gambaran persoalan hubungan pusat – daerah ini secara umum (overview). Setidaknya dengan penelitian yang umum ini, diharapkan akan muncul penelitian – penelitian lanjutan yang lebih spesifik lagi, seperti hubungan kewenangan pusat – daerah atau dimensi – dimensi lainnya.
iii

khususnya kepada DPD – RI yang telah melakukan kerja sama penelitian ini dengan kami. sehingga kami sangat membuka diri untuk segala kritik dan saran untuk perbaikan ke depan. Kami sadar laporan penelitian ini banyak kekurangan.Kami sangat berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu pelaksanaan penelitian ini. Akhir kata. selama membaca. Bandung. 2009 Tim Peneliti iv .

DAFTAR BAGAN Bagan 1 Bagan 2 Bagan 3 Bagan 4 Bagan 5 Bagan 6 Pembagian desentralisasi menurut Van der Pot Pembagian desentralisasi menurut Irawan Soejito Pembagian desentralisasi menurut Amrah Muslimin Pembagian desentralisasi menurut Hans Kelsen Alur Penelitian Pembagian Urusan Pemerintahan 10 10 11 12 15 75 v .

Perancis dan Belanda Model-Model Pengawasan dan Pengendalian Terhadap Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Menurut UU No. 2006 Sektor Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade) 151 Tabel 6 Tabel 7 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan 152 Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s. 2006 Sektor Kelautan dan Perikanan Peraturan Daerah Tentang Pajak Daerah.d. 2006 Sektor Kehutanan (Forestry) Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s.d.d.DAFTAR TABEL Tabel 1 Ruang lingkup pengawasan Atas penyelenggaraan pemerintahan daerah Tabel 2 Tabel 3 Perbandingan Pengawasan Pusat Terhadap Daerah di Inggris.d. Retribusi Daerah dan Pungutan Lainnya Yang Dibatalkan Oleh Menteri Dalam Negeri Pada Tahun 2007 154 Tabel 10 Tabel 11 Tabel 13 Hasil Evaluasi Peraturan Daerah di Departemen Dalam 156 Negeri Sampai dengan November 2007 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Wilayah Provinsi Jawa Barat Dari Tahun 2002 s. 2006 Sektor Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral Resource) Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s. 2006 Sektor Perhubungan 152 Tabel 8 Tabel 9 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan 153 Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s. 2006 Sektor Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral Resource) vi 157 . 32 Tahun 2004 Perkembangan Pengaturan Pengawasan 69 118 65 Tabel 4 Tabel 5 124 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan 150 Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s.d.d.

Ciamis Provinsi 161 Jawa Barat Yang Dibatalkan(Sektor Kehutanan (Forestry)) 162 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.Garut Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Kehutanan (Forestry)) Jumlah Undang-Undang Pembentukan Daerah (Pemekaran Daerah) 2007 – 2008 Skema Pola Hubungan Pengawasan Pusat-Daerah 163 Tabel 20 Tabel 21 Tabel 22 Tabel 23 173 vii .Karawang Wilayah 160 Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade) ) Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kota Cimahi Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan(Sektor Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade)) 160 Tabel 17 Tabel 18 Tabel 19 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah di Wilayah Provinsi 161 Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Kehutanan (Forestry)) Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.Tabel 14 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.Tasikmalaya Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral Resource)) 158 Tabel 15 Tabel 16 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Wilayah Provinsi Jawa 158 Barat Yang Dibatalkan(Sektor Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade) Wilayah Provinsi Jawa Barat) Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.Indramayu 158 Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral Resource)) Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.

B. Latar Belakang Rumusan Masalah Tujuan Penelitian Kerangka Pemikiran Kegunaan Penelitian Metode Penelitian Alur Penelitian Personalia Penelitian Sistematika Penulisan 1 3 3 4 12 12 14 16 16 18 BAB II Prinsip-Prinsip Umum Pola Hubungan Pusat Dan Daerah A. Negara Kesatuan B. E. Kajian Teori Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah 1. G. F. Demokrasi 1. D. H. I. Negara Hukum C. C. Demokrasi sebagai instrumen Mekanisme pemerintahan 2. Demokrasi ekonomi D. Desentralisasi 2. Demokrasi sebagai instrumen pengambilan keputusan 3.DAFTAR ISI Abstrak Abstract Kata Pengantar Daftar Bagan Daftar Tabel Daftar Isi i ii iii v vi viii 1 BAB I Pendahuluan A. Sistem Rumah Tangga Daerah viii 18 19 23 23 25 26 29 29 36 .

dan Pengaturan Sektoral. Kesimpulan B. Kelembagaan 4. Ruang Lingkup dan Prinsip-Prinsip Desentralisasi Fiskal 5. Dimensi Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah E. Hubungan Pengawasan 74 74 75 99 112 BAB IV Tinjauan Dimensi-Dimensi Hubungan Antara Pusat dan Daerah A. B. Dimensi Hubungan Kelembagaan Pusat dan Daerah D. Hubungan Kewenangan: dari mulai UUD 1945.3. Hubungan Keuangan D. Pilar-Pilar Penyelenggaraan Pemerintahan B. Sumber-Sumber Penerimaan/ Pendapatan Daerah 6. Dimensi Hubungan Pengawasan Pusat dan Daerah BAB V Kesimpulan dan Saran A. Hakikat Pengawasan Pemerintah Pusat terhadap Daerah 43 47 52 58 BAB III Pengaturan Hubungan Antara Pusat dan Daerah A. Saran DAFTAR PUSTAKA 182 183 ix . UU. Hubungan Kelembagaan C. Dimensi Hubungan Kewenangan Pusat dan Daerah 125 126 128 139 149 C.

3 4) prinsip mengakui dan menghormati pemerintahan daerah yang bersifat khusus dan istimewa. satuan pemerintahan di bawah pemerintah pusat yaitu daerah provinsi dan 1 2 Pasal 18 B ayat (2) Pasal 18 ayat (2) Perubahan Kedua Undang-Undang Dasar 1945. 1 masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik 2) Prinsip daerah mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan.9 Sebagai pelaksanaan lebih lanjut dari dasar konstitusional tersebut.2 3) prinsip menjalankan otonomi seluas-luasnya. pemanfatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antara pemerintah pusat dan pemerintahan daerah dilaksanakan secara adil dan selaras berdasarkan undang-undang.4 5) prinsip badan perwakilan dipilih langsung dalam suatu pemilu. pelayanan umum.BAB I PENDAHULUAN A.8 dan 9) prinsip pengakuan dan penghormatan negara terhadap satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa.7 8) prinsip hubungan keuangan. Latar Belakang Undang-Undang Dasar 1945 beserta perubahannya telah memberikan landasan konstitusional mengenai penyelenggaraan pemerintahan daerah di Indonesia.5 6) prinsip hubungan pusat dan daerah harus dilaksanakan secara selaras dan adil.6 7) prinsip hubungan wewenang antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus memperhatikan kekhususan dan keragaman daerah. Di antara ketentuan tersebut yaitu: 1) prinsip pengakuan dan penghormatan negara terhadap kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat serta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan Indonesia. 3 Pasal 18 ayat (5) 4 Pasal 18 B ayat (1) 5 Pasal 18 ayat (3) 6 Pasal 18 A ayat (2) 7 Pasal 18 A ayat (1) 8 Pasal 18 A ayat (2) 9 Pasal 18 B ayat (1) .

menyelenggarakan urusan-urusan pemerintahan tersebut akan sangat mempengaruhi sejauhmana Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah memiliki wewenang untuk menyelenggarakan urusan-urusan Pemerintahan. selain diatur dalam UU No. maka dalam hal ini yang menjadi obyek yang diurusi adalah sama. Walaupun dengan ketentuan pemberlakuan otonomi seluas-luasnya dalam UUD 194513. d) yustisi. Ketiga. pemerintahan daerah provinsi. e) moneter dan fiskal nasional.2 kabupaten/kota memiliki urusan yang bersifat wajib dan pilihan. dan pemerintahan daerah kabupaten/kota. untuk dan pengawasan. b) pertahanan. Kesemuanya itu. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. 13 Pasal 18 ayat (5) Perubahan Kedua Undang-Undang Dasar 1945. c) keamanan. juga tersebar pengaturannya dalam berbagai UU sektoral yang 10 11 Pasal 13 ayat (1) dan (2) dan Pasal 14 ayat (1) dan (2) UU Nomor 32 Tahun 2004. Pertama. namun muncul pula pengaturan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2007 yang membagi urusan pemerintahan antara pemerintah. karena wilayah kekuasaan Pemerintah Pusat meliputi Pemerintah Daerah.10 Provinsi memiliki urusan wajib dan urusan pilihan. pembagian kelembagaan. Hubungan-hubungan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah memiliki empat dimensi penting untuk dicermati. 12 Pasal 10 ayat 3 UU Nomor 32 Tahun 2004. dan f) agama. yang diatur dalam UU No. yaitu meliputi hubungan kewenangan. Keempat. Kedua.11 Selain itu ditetapkan pula kewenangan pemerintah Pusat menjadi urusan Pemerintahan yang meliputi:12 a) politik luar negeri. hubungan pengawasan merupakan konsekuensi yang muncul dari pemberian kewenangan. implikasi terhadap hubungan kelembagaan antara Pusat dan Daerah mengharuskan kehati-hatian mengenai besaran kelembagaan yang diperlukan untuk melaksanakan tugas-tugas yang menjadi urusan masingmasing. kewenangan keuangan. namun kewenangannya yang berbeda. . 32 Tahun 2004 tersebut. Pasal 13 ayat (1) dan (2) UU Nomor 32 Tahun 2004. pembagian kewenangan ini membawa implikasi kepada hubungan keuangan. agar terjaga keutuhan negara Kesatuan.

hlm.3 pada kenyataannya masing-masing tidak sama dalam pembagian kewenangannya. keuangan. kelembagaan. Tujuan Penelitian Kerangka Acuan Penelitian Studi Hubungan Pusat Dan Daerah Kerjasama DPD Ri Dengan Perguruan Tinggi Di Daerah. 17 Berdasarkan latar belakang tersebut perlu dilakukan suatu kajian sebagai penelitian payung yang melandasi hubungan antara Pemerintah Pusat dengan daerah. Dewan Perwakilan Daerah juga mengidentifikasi adanya kewenangan yang tumpah tindih antar instansi pemerintahan dan aturan yang berlaku. 17 Ibid. 1994. hlm. Jakarta. Jakarta 2009. Apa dasar-dasar pemikiran yang melandasi terbangunnya pola hubungan antara pusat dan daerah? 2. 15 Bagir Manan. 6. baik aturan di tingkat pusat dan/atau peraturan di tingkat daerah. dan c) kewenangan yang dalam menyusun standar operasional prosedur bagi daerah dalam menterjemahkan setiap peraturan perundang-undangan yang ada. Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia. hlm. Pustaka Sinar Harapan.16 Hal tersebut terutama berhubungan dengan a) otoritas terkait tanggungjawab pemerintah pusat dan daerah. Bagaimana pola hubungan pusat dan daerah dari dimensi-dimensi kewenangan.14 Pengaturan yang demikian menunjukkan bahwa tarik menarik hubungan tersebut kemudian memunculkan apa yang oleh Bagir Manan disebut dengan spanning15 antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. 8. Hubungan Antara Pusat dan Daerah Menurut UUD 1945. sebagai berikut: 1. b) kewenangan yang didelegasikan dan fungsi-fungsi yang disediakan oleh Departemen kepada daerah. B.. Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam penelitian ini dibagi berdasarkan empat dimensi hubungan pemerintahan pusat dan daerah. dan pengawasan? C. 22-23 16 Ibid. 14 .

Bandung. 14. 2008. kekuasaan apapun yang dimiliki berbagai distrik di dalam wilayah yang dikelola sebagai suatu keseluruhan oleh pemerintah pusat harus diselenggarakan menurut kebijakan pemerintah itu. Artinya. 2000. Cetakan Kedua. sementara provinsi-provinsi menerima kekuasaan dari pemerintah pusat.19 Dalam negara-negara dengan bentuk negara kesatuan (unitary state). Sementara itu menurut Apeldoorn. keuangan. Kekuasaan pusat adalah kekuasaan tertinggi di atas seluruh negara tanpa ada batasan yang ditetapkan hukum yang memberikan kekuasaan khusus pada bagian-bagiannya. Otonomi atau Federalisme. dan provinsi-provinsi tersebut tidak mempunyai hak mandiri.F. Dalam hal ini dikemukakan pemikiran dari CF Strong mengenai negara kesatuan. hlm. “Unitarisme” dalam pengertian politik didefinisikan oleh Dicey sebagai “pelaksanaan kebiasaan otoritas legislatif tertinggi oleh satu kekuasaan pusat”. hlm. Harian Suara Pembaharuan. dan pengawasan? D. suatu negara disebut negara kesatuan apabila kekuasaan hanya dipegang oleh pemerintah pusat. Pustaka Sinar Harapan. Nusamedia. terdapat dua C. 87. 19 Tim Penyusun. kelembagaan. Mengetahui dasar-dasar pemikiran yang melandasi terbangunnya pola hubungan antara pusat dan daerah? 2. Jakarta.4 Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini sebagai berikut: 1. Teori negara kesatuan digunakan untuk membedakan pembagian kekuasaan secara vetikal dengan negara berbentuk federasi. Dampaknya Terhadap Perekonomian. Konstitusi-Konstitusi Politik Modern: Studi Perbandingan tentang Sejarah dan Bentuk-Bentuk Konstitusi di Dunia. ditinjau dari sudut pembagian kewenangan. Kerangka Pemikiran Perubahan ketiga Undang-Undang Dasar 1945 menegaskan bahwa Indonesia adalah negara kesatuan yang berlandaskan hukum atas dasar kedaulatan rakyat. Strong. Mengetahui bagaimana pola hubungan pusat dan daerah dari dimensidimensi kewenangan.18 Dikatakan bahwa negara kesatuan adalah negara yang diorganisasi di bawah satu pemerintahan pusat. 18 . yang dikutip oleh Tim Penyusun buku “Otonomi atau Federalisme”.

ketika nasionalisme menjadi dasar bagi demokrasi politik maka pemerintahan politik yang demokratis menjadi instrumen kemajuan sosial. 20 Ni’matul Huda mengatakan bahwa desentralisasi adalah strategi mendemokratisasi sistem politik dan menyelaraskan pencapaian pembangunan berkelanjutan yang merupakan isu yang selalu ada dalam praktik administrasi publik. Di sinilah letak keterkaitannya dengan demokrasi politik yang mengisyaratkan pemerintah harus bergantung pada persetujuan pihak yang diperintah. Kedaulatan Rakyat. Nusamedia. hlm. 66. ekspresi persetujuan maupun ketidaksetujuan rakyat sudah harus memiliki sarana penyaluran yang nyata dalam pemilihan umum.23 C. hlm. 25 Ibid. yang pelaksanaan kedaulatan rakyatnya tidak dilaksanakan oleh rakyat secara langsung 20 Nicole Niessen. 17. 21 Ni’matul Huda.Strong. (indirect langsung democracy). 21.5 kewenangan/urusan pemerintah yakni yang tersentralisasi dan kewenangan/urusan pemerintah yang didesentralisasikan.21Demokrasi yang lazim pula disebut dengan kedaulatan rakyat memandang bahwa kekuasaan itu berasal dari rakyat. program politik partai. sehingga dalam pelaksanaan tugasnya pemerintah harus berpegang pada kehendak rakyat. Universitiet Leiden. Municipal Government In Indonesia Policy. and Amerindian Studies. 23 Ibid. . Faktor luas wilayah dari suatu negara dan besaran jumlah penduduk serta pertambahan kerumitan masalah kenegaraan merupakan argumen bahwa demokrasi langsung (direct democracy) tidak mungkin muncullah untuk yang dilaksanakan. Strong mengartikan demokrasi secara beragam24 termasuk untuk menyebut suatu bentuk pemerintahan atau kondisi suatu masyarakat.cit.22 Sejalan dengan perputaran waktu. Nusamedia. Research School CNWS School of Asian. 2007. Bandung. hlm.F. The Netheralands. media massa.F. 2009. dan lain-lain. law and Practice of Decentralization and Urban Planning. African. 10. 1999. hlm. Bandung. op. Namun di dunia kontemporer. Hukum Pemerintahan Daerah. Konstitusi-Konstitusi …. 24 C. 22 Eddy Purnama. konsep demokrasi juga mencari bentuk yang sesuai dengan situasi dan kondisi dari masyarakat modern.25 dikenal sebagai Berdasarkan demokrasi kenyataan tidak demikian. artinya.

11. Segaarsy.cit. terjemahan Tim Visimedia. . 2007. cetakan kedua. “… that the souvereignity of Parliament furthers the rule of the land… prevent those inroads upon the law of the land which a despotic monarch … might effects by ordinance or decrees… “33 Selanjutnya dikatakan.32 Parlemen berhak untuk melakukan apa saja. Demokrasi Kita. 70. and the king. hlm. hlm. Menurut Dicey. hlm. Genta Publishing. 8 32 Ibid.. 9. 8-9.26 Dalam rangka mewujudkan prinsip kedaulatan rakyat. 27 26 . Yogyakarta. Pikiran-Pikiran tentang Demokrasi dan Kedaulatan Rakyat.. the House of Lords. hlm. 284. sejak semula doktrin Rule of Law tidak dipisahkan dari doktrin supremasi parlemen. 29 Mohammad Hatta. Mei 2009. 33 Ibid.... 31 Satjipto Rahardjo. Bandung. op. akomodasi seluruh aspirasi rakyat jauh lebih berguna dari unsur di dalam masyarakat harus terwakili di dalam sistem perwakilan. yang tidak netral terhadap politik. hlm. “The monopoly of legislation by Parliament..6 melainkan melalui lembaga perwakilan rakyat. yaitu mengambil keputusan secara mufakat dengan musyawarah. hlm. 2009.29 Sifat pertama.30 Selanjutnya pilar yang lain yang secara konsitusional diakui oleh Indonesia adalah negara hukum. Ibid. Muhammad Hatta mengingatkan bahwa masyarakat asli Indonesia mempunyai sifat dasar dalam segala hal mengenai kepentingan hidup bersama. Jakarta. termasuk pada waktu melakukan realisasi rule of law. Neumann yang dikutip oleh Satjipto Rahardjo mengatakan bahwa perkembangan negara hukum di Inggris berbeda daripada Eropa daratan. 30 Ibid. Sifat kedua yaitu tolong menolong dan gotong royong adalah sendi yang bagus untuk menegakkan demokrasi ekonomi. tidak pernah ada demokrasi yang nyata dan tidak akan pernah ada demokrasi. also strengthens the power of the judges Eddy Purnama.31 Di Inggris. hlm. Du Contract Social (Perjanjian Sosial). Kedaulatan Rakyat. hlm. with the balance between the House of Commons. adalah dasar dari demokrasi politik.27 Rousseau memberi catatan bahwa jika kita menempatkan istilah ini dalam pemahaman yang kaku. cetakan II.28 Dalam pemikiran mengenai bagaimana demokrasi bagi Indonesia. 28 Jean Jacques Rousseau. 113. Visimedia. 69. Negara Hukum yang Membahagiakan Rakyat.

Julius Stahl.V. 34 . 23 Maret 2004.36 Pada perkembangannya negara tidak dapat lagi bersikap netral dan membiarkan Di zaman modern. Cita Negara Hukum Indonesia Kontemporer. Bahkan. dan 3) Due Process of Law. konsep Negara Hukum yang disebutnya dengan istilah ‘rechtsstaat’ itu mencakup empat elemen penting. karena dalam tipe tersebut.V. pada 8/24/2009 9:38:03 AM. konsep Negara hukum dikembangkan atas kepeloporan A. Sedangkan dalam tradisi Anglo Amerika.. Dicey menguraikan adanya tiga ciri penting dalam setiap Negara Hukum yang disebutnya dengan istilah “The Rule of Law”.hlm. oleh “The International Commission of Jurist”.7 … and finally.ac. diunduh dari http://www. Fichte. Dicey dengan sebutan “The Rule of Law”.unsri.. 1-2.id/old_version/CITANEGARAHUKUMINDONESIA. Disebut sebagai penjaga malam. tindakannya dibatasi hanya sampaiu kepada penjaga ketertiban dan keamanan. Menurut Julius Stahl yang dikutip oleh Jimly Asshidiqie34. op. 3) pemerintahan berdasarkan undang-undang.Doc. Dicey untuk menandai ciri-ciri Negara Hukum modern di zaman sekarang. Sementara itu A. yaitu: 1) perlindungan hak asasi manusia. hlm. dan lain-lain dengan menggunakan istilah Jerman. 26.35 Negara hukum yang muncul di abad ke-sembilan belas adalah tipe negara hukum sebagai “penjaga malam” (nachtwakersstaat). yaitu “rechtsstaat’. dan 4) Peradilan tata usaha Negara. makalah disampaikan dalam acara Orasi ilmiah Pada Wisuda Sarjana HukumFakultas Hukum Universitas Sriwijaya Palembang. maka parlemen atau rakyatlah merupakan instansi tertinggi. 2) pembagian kekuasaan. Keempat prinsip ‘rechtsstaat’ yang dikembangkan oleh Julius Stahl tersebut di atas pada pokoknya dapat digabungkan dengan ketiga prinsip ‘Rule of Law’ yang dikembangkan oleh A. 2) Equality before the law. prinsipprinsip Negara Hukum itu ditambah lagi dengan prinsip peradilan bebas dan tidak memihak (independence and impartiality of judiciary) yang di zaman sekarang makin dirasakan mutlak diperlukan dalam setiap negara demokrasi. konsep Negara Hukum di Eropah Kontinental dikembangkan antara lain oleh Immanuel Kant. Negara Hukum ….cit. explains the absence od adiministrative law. lihat Jimly Asshidiqie.V.” Jadi dalam mengartikan “the rule of law” di Inggris.fh. 35 Ibid. 36 Satjipto Rahardjo. Paul Laband. yaitu: 1) Supremacy of Law.

maar behoorde zich daadwerkelijk de belangen van de achtergestelde groepen in die samenleving aan te trekken. dan kedua. kelahiran konsep negara kesejahteraan didahului oleh rentetan ide-ide panjang. mempertimbangkan pertama. dan fraternity” (revolusi Perancis) dan “The greates happiness for the greatest number” (Bentham). Dalam hukum administrasi tradisional. perjanjian. negara hanya bertindak sesekali dan sebagai pelengkap (incidenteel en aanvullend). perencanaan. keterbukaan dan penggugatan. 27. equality. . Satjipto kemudian mengutip dari de Haan et al bahwa menyerahkan penyelesaian kepada mekanisme pasar sosial akan menempatkan golongan lapisan bawah (the have not) dalam masyarakat sebagai pihak yang sangat menderita (“De staat mocht niet langer.. tujuan penyelenggaraan negara.37 Penyelenggaraan pemerintahan negara yang baik adalah yang dapat menampung aspirasi dan kebutuhan masyarakat sampai ke pelosok wilayah negara. seperti pembuatan undang-undang dan pembuatan undang-undang semu (pseudo). de door het industriele kapitalisme veranderde samenleving ongemoeid laten. yaitu campur tangan negara ke dalam masyarakat.8 individu-individu atau masyarakat menyelesaikan sendiri-sendiri problemproblem tersebut. di antaranya adalah ”liberty. sangat mengubah pekerjaan-pekerjaan yang biasa dilakukan oleh hukum administrasi tradisional. Robson. yaitu kesejahteraan rakyat di satu sisi. Tetapi sekarang negara harus memasuki aktivitas yang lebih luas. Perubahan tersebut. Menurut William A. hlm. Naast de traditionele overheidstaken vroegen nieuwe terreinen om ordening en verzorging van staatswege”). dan kepemilikan (eigendom) negara. door als neutral toeschouwer op te stellen. Ini menimbulkan konsep “negara kesejahteraan” (welfare state). Oleh karena itu menurut Ateng Syafrudin perlu diadakan pembagian 37 Ibid. jarak yang jauh antara pusat pemerintahan dengan bagian-bagian daerah yang harus diperintah di sisi lain.

Desentralisasi teretorial berbentuk otonomi dan tugas pembantuan. desentralisasi administratif (dekonsentrasi). Irawan Soejito membedakan desentralisasi menjadi desentralisasi teretorial. hlm.40 Ateng Syafrudin..cit. yakni pejabat-pejabat Pemerintah yang ada di daerah.. Desentralisasi administratif atau dekonsentrasi (ambtelijk decentralisatie) terjadi apabila “Pemerintah melimpahkan sebagian kewenangannya kepada alat perlengkapan atau organ Pemerintah sendiri di daerah. Desentralisasi teritorial menjelma dalam bentuk badan yang didasarkan pada wilayah (gebeidscorporatis). Yogyakarta. sedangkan desentralisasi fungsional menjelma dalam bentuk badan-badan yang didasarkan pada pada tujuan-tujuan tertentu (doelcorporaties). Kapita Selekta Hakikat Otonomi dan Desentralisasi dalam Pembangunan Daerah. 20-21 40 Ibid. Citra Media Hukum. Bagir Manan menjelaskan 39 desentralisasi dengan menggunakan pendapat Van Der Pot. yaitu desentralisasi teritorial dan desentralisasi fungsional. untuk dilaksanakan. 2006. Dengan penggolongan yang sedikit berbeda. desentralisasi dibagi menjadi dua macam. desentralisasi fungsional. dan Belifante. hlm 21 38 .9 kerja secara teritorial di samping pembagian kerja secara fungsional.. Menurut pakar Hukum Tata Negara Belanda ini. Steenbeek. JM de Meij. 72. Hubungan . op. hlm. Bagan 1: Pembagian desentralisasi menurut Van der Pot Pendapat dari Van der Pot ini diikuti antara lain oleh FAM Stroink. 39 Bagir Manan.38 Pembagian-pembagian kerja urusan penyelenggaraan pemerintahan tersebut yang kemudian mengarah kepada proses desentralisasi.

Amrah Muslimin. desentralisasi fungsional desentralisasi kebudayaan. merupakan pelimpahan sebahagian kewenangan pemerintah pusat pada alat-alat pemerintah pusat yang ada di daerah. membedakan desentralisasi menjadi desentralisasi politik41. dan merupakan pelunakan sentralisasi menuju desentralisasi. hlm 5 42 Ibid. 1986. Pakar hukum lainnya. Menurutnya asas kedaerahan mengandung dua macam prinsip pemerintahan. Aspek-Aspek Hukum Otonomi Daerah. yaitu :43 1. 2. Bandung. Pembagian desentralisasi menurut Irawan Soejito Irawan Soejito mengatakan bahwa dekonsentrasi merupakan bagian dari desentralisasi. 41 . Desentralisasi.10 Bagan 2. Desentralisasi politik adalah “pelimpahan kewenangan dari Pemerintah Pusat yang menimbulkan hak mengurus rumah tangga sendiri bagi badan-badan politik yang ada di daerah-daerah yang dipilih oleh rakyat dalam daerah-daerah tertentu. Alumni. Dekonsentrasi. 43 Ibid. merupakan pelimpahan wewenang kepada badan-badan dan golongan-golongan dalam masyarakat dalam daerah tertentu untuk mengurus rumah tangganya sendiri.42 Pembahasan tentang pemerintahan di daerah tidak akan lepas dari asas kedaerahan dalam pemerintahan. lihat Amrah Muslimin.

Lingkup staatkundige decentralisatie dibagi dua. Isinya adalah kewenangan membuat peraturan (regelende bevoegheid) dan kewenangan membuat keputusan atau mengurus (bestuurende bevoegheid). zelfbestuur. Hubungan…. 2) fungctionele decentralisatie. Program Studi Hukum Tata negara. Pemilihan tersebut diambil sebagaimana yang digunakan oleh Bagir Manan dalam menggali gagasan-gagasan dasar pola hubungan antara Pusat dan Daerah dalam Undang-Undang Dasar 1945. yaitu: 1) territoriale decentralisatie. hlm. selfgovernment.11 Bagan 3. Pengertian otonomi di sini sama dengan isi dari staatkundige atau politiche decentralisatie. 45 Bagir Manan. Pembagian desentralisasi menurut Amrah Muslimin Sebagai Logemann. tkan bahwa desentralisasi terbagi dalam arti luas dan arti sempit. 44 desentralisasi. op.45 Ateng Syafrudin. 1.. Bentuk dari territoriale decentralisatie adalah autonomie dan medebewind yang kadang-kadang disebut juga sebagai medebestur. Syafrudin mengemukakan bahwa desentralisasi dalam arti luas terdiri dari: a.. tambahan Colloge mengenai pembagian 1947 . Ambtelijke decentralisatie atau deconsentratie. b. Staatkundige atau Politieke decentralisatie. Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. Handsout dan Course Material Hukum Pemerintahan Daerah. Ateng dari aantekemingen.cit. hlm. … 44 . Penelitian ini menggunakan pengertian desentralisasi dalam arti sempit.

. dan Negara hukum. kerakyatan. dan demokratisasi di sisi lain sebagai upaya mencapai tujuan bernegara yaitu kesejahteraan rakyat. Metode Pendekatan 46 Bagir Manan. 2. hubungan Pusat dan Daerah akan dipengaruhi oleh:46 1) Sampai sejauh manakah desentralisasi diterima sebagai cara terbaik untuk mewujudkan suatu pemerintahan yang berkedaulatan rakyat dengan partisipasi luas dari anggota masyarakat? 2) Sampai sejauh mana desentralisasi dipandang sebagai cara untuk menjamin dan mewujudkan Negara hukum? 3) Sampai sejauh mana desentralisasi dipandang sebagai cara untuk mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat? Lebih dari hal tersebut.. 39.cit. Dengan demikian perlu dicari titik temu antara keutuhan Negara Kesatuan di satu sisi. op.. . yang tidak kalah penting untuk dicermati adalah bahwa pola hubungan antara Pusat dan Daerah tidak dapat terlepas dalam bingkai Negara Kesatuan.12 Dalam kaitan ini Bagir Manan menguraikan mengenai kaitan desentralisasi. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan langkah-langkah penelitian untuk memperoleh data atau bahan dan analisis sebagai berikut: 1. hlm. Penelitian ini menjelaskan dan menganalisa pengaturan beserta asas-asas yang berkenaan dengan hubungan antara Pemerintah Pusat dengan Daerah yang berlaku di Indonesia. Kegunaan Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi para Anggota Dewan Perwakilan Daerah sebagai tambahan pengetahuan mengenai hubungan pusat dan daerah. Jenis/ Spesifikasi Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analisis. Hubungan Pusat…. E. F.

dan ensiklopedia. PT RajaGrafindo Persada. Pendekatan yuridis normatif47 adalah pendekatan dengan melakukan penelitian secara mendalam terhadap hukum yang berlaku.48 3. PT RajaGrafindo. 48 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji. 2006. 50 Soerjono Soekanto. Menggunakan Teori dan Konsep Dalam Analisis di Bidang Ilmu Hukum. seperti peraturan terdahulu. Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Tahun 2007. hlm. Penelitian Lapangan Lili Rasjidi dan Liza Sonia Rasjidi.49 meliputi: 1) Bahan hukum primer. 52. Di antara cakupan dari penelitian hukum normatif tersebut. 52 Amiruddin dan Zainal Asikin. 51 Ibid.51 seperti rancangan undang-undang. yaitu bahan yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer.52 b. hlm. Studi Pustaka Penelitian ini dilakukan dengan penelusuran terhadap bahan-bahan hukum.13 Penelitian ini menggunakan metode pendekatan yuridis normatif. hlm. dan peraturan yang secara tidak langsung terkait. Teknik Pengumpulan data Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut: a. 6. Pengantar Metode Penelitian Hukum. Penelitian Hukum Normatif. 47 . 14 49 Pedoman Penyelenggaraan Program Pendidikan Sarjana (S1). Jakarta. dan tahun penerbitan tidak tercantum. sistematika hukum. penelitian ini akan dilakukan terhadap asas-asas hukum. hlm. 31-32. atau pendapat para pakar hukum. dan taraf sinkronisasi vertikal dan horisontal. Monograf. 3) Bahan hukum tersier. penerbit. perubahanperubahan.50 Bahan hukum ini meliputi antara lain Undang-Undang Dasar 1945 dan UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 beserta peraturan pelaksana. yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat. 72. kota. 2006. 2) Bahan hukum sekunder. Jakarta. Pengantar Penelitian Hukum. Jakarta. hasil-hasil penelitian. yaitu bahan yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder seperti kamus. hlm. UI-Press.

14 Penelitian lapangan dilakukan untuk mendukung penelitian kepustakaan dengan cara menyelenggarakan diskusi terfokus (focused group discussion-FGD). 4. Bab-Bab Tentang Penemuan Hukum. 1993. Bandung. Citra Aditya Bakti. Alur Penelitian Penelitian hukum normatif tidak dapat terlepas dari berbagai penafsiran yang dikenal dalam ilmu hukum. 152. hlm. Yogyakarta. 37. Lihat juga Sunaryati Hartono. yakni dengan menggunakan penafsiran hukum53 dan selanjutnya dituangkan secara deskriptif yaitu bersifat menggambarkan masalah. Alumni. Pengolahan dan Analisis Data Bahan penelitian yang telah diperoleh. 53 . Penelitian Hukum di Indonesia Pada Akhir Abad Ke-20. selanjutnya dianalisis dengan menggunakan analisis kualitatif. dalam Sudikno Mertokusumo dan Pitlo. hlm. G. 2006.

Alur Penelitian UU No.15 Bagan 5. 33/2004 Hubungan Kewenangan Hubungan Kelembagaan Hubungan Keuangan UU Sektoral Hubungan Pengawasan Pembagian Urusan Pemerintahan • Pembentukan Daerah • Organisasi Perangkat Daerah Dana Perimbangan Dana Tugas Pembantuan • Pengawasan Pembentukan Perda • Pengawasan Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Negara Kesatuan Hubungan Pusat Daerah Demokrasi Negara Hukum D e s e n t r a l i s a s i Otonomi U U D 1 9 4 5 Tugas Pembantuan .32/2004 dan pelaksanaann ya UU No.

S.M. H. M. demokrasi.. LL..H. M.H.D..H.. Bilal Dewansyah. S. S. DR. M. S.H.H. H.H.H. LL.. Sistematika Penulisan Bab I Pendahuluan Dalam Bab ini akan dikemukakan mengenai latar belakang.H. Ph. Tenaga Pendukung : Hernadi Affandi. Rosjidi Ranggawidjaja.16 H. Susi Dwi Harijanti. Negara Hukum.. I. Agus Kusnadi. yaitu hubungan . S.H.H.H. S. S.H.. M. I Gde Pantja Astawa.. dan teori desentralisasi. Miranda Risang Ayu. Indra Perwira. Prof.M. Kuntana Magnar. Ali Abdurahman. Bab II Prinsip-Prinsip Umum Pola Hubungan Pusat Dan Daerah Dalam Bab ini akan dikemukakan mengenai teori-teori umum yang mendasari penyelenggaraan pemerintahan daerah yang meliputi prinsipprinsip negara Kesatuan.H. Bab III Deskripsi Hubungan Antara Pusat dan Daerah Dalam Bab ini akan dikemukakan mengenai pengaturan mengenai hubungan antara Pusat dan Daerah dalam empat dimensi.. rumusan masalah.H..H.H. Personalia Penelitian Ketua Wakil Sekretaris Anggota : : : DR. S. S. dan metode penelitian.H. LL. S. kegunaan penelitian.. kerangka pemikiran.S. tujuan penelitian... S. M. M.H. Inna Junaenah.. tujuan penelitian.M. Rahayu Prasetianingsih. DR.

. Bab IV Tinjauan Dimensi-Dimensi Hubungan Antara Pusat dan Daerah Bab ini berisi analisa terhadap pengaturan dan problematika empat dimensi pola hubungan antara Pusat dan Daerah dalam perpektif prinsip-prinsip pemikiran yang mendasarinya. disertai permasalahan hubungan antara Pusat dan Daerah pada empat dimensi tersebut.17 kewenangan. yang akan disertai dengan rekomendasi sebagai gagasan-gagasan reformasi pola hubungan antara Pusat dan Daerah di masa yang akan datang. keuangan. kelembagaan. dan pengawasan. Bab V Kesimpulan dan Rekomendasi Dalam Bab ini akan digarisbawahi berbagai telaah terhadap hubungan Pusat dan daerah melalui kesimpulan.

kedaulatan rakyat. 54 . Strong. Negara Kesatuan Uraian mengenai konsep negara kesatuan perlu diketengahkan untuk membedakan pembagian kekuasaan secara vetikal dengan negara berbentuk federasi. 87. hlm. yang dikutip oleh Tim Penyusun buku “Otonomi atau Federalisme”. dan negara hukum. kekuasaan apapun yang dimiliki berbagai distrik di dalam wilayah yang dikelola sebagai suatu keseluruhan oleh pemerintah pusat harus diselenggarakan menurut kebijakan pemerintah itu.54 Dikatakan bahwa negara kesatuan adalah negara yang diorganisasi di bawah satu pemerintahan pusat. 2008. Dengan demikian perlu dipahami terlebih dahulu mengenai prinsip-prinsip yang terkandung dalam masing-masing dasar pemikiran tersebut untuk menghantarkan kemunculan hubungan antara pemerintah pusat dengan satuan pemerintahan yang lebih rendah. Bandung. Konstitusi-Konstitusi Politik Modern: Studi Perbandingan tentang Sejarah dan Bentuk-Bentuk Konstitusi di Dunia. Cetakan Kedua. dan provinsi-provinsi tersebut tidak mempunyai hak C. suatu negara disebut negara kesatuan apabila kekuasaan hanya dipegang oleh pemerintah pusat. “Unitarisme” dalam pengertian politik didefinisikan dengan baik oleh Dicey sebagai “pelaksanaan kebiasaan otoritas legislatif tertinggi oleh satu kekuasaan pusat”. sementara provinsi-provinsi menerima kekuasaan dari pemerintah pusat.F.18 BAB II PRINSIP-PRINSIP UMUM POLA HUBUNGAN PUSAT DAN DAERAH Pilar-pilar yang perlu diketengahkan dalam membangun pola hubungan pusat dan daerah sedikitnya dibentuk dari prinsip negara kesatuan. A. Nusamedia. Kekuasaan pusat adalah kekuasaan tertinggi di atas seluruh negara tanpa ada batasan yang ditetapkan hukum yang memberikan kekuasaan khusus pada bagian-bagiannya. Dalam hal ini dapat dikemukakan pemikiran dari CF Strong mengenai deskripsi suatu negara kesatuan. Sementara itu menurut Apeldoorn. Artinya.

55 . Municipal Government In Indonesia Policy. hlm.. untuk melaksanakan urusan-urusan pemerintahan pusat yang ada di daerah. Harian Suara Pembaharuan. Negara Hukum Selanjutnya pilar yang lain yang secara konsitusional diakui oleh Indonesia adalah negara hukum. Jilid III. Universitiet Leiden. 2000. 1999. 56 Nicole Niessen. urusan pemerintahannya menjadi semakin kompleks. lihat pula The Liang Gie.59 Parlemen berhak untuk melakukan apa saja. hlm.56 Dalam negaranegara dengan bentuk negara kesatuan (unitary state). maka penyelenggaraan pemerintahan di daerah. “… that the souvereignity of Parliament furthers the rule of the land… prevent those inroads upon the law of the land which a despotic monarch … might effects Tim Penyusun. 57 Ibid. Pustaka Sinar Harapan. law and Practice of Decentralization and Urban Planning. 8. yang tidak netral terhadap politik. B.57 Sementara itu setelah negara-negara di dunia mengalami perkembangan yang sedemikian pesat.58 Di Inggris.. Otonomi atau Federalisme. terdapat dua kewenangan/urusan pemerintah yakni yang dipusatkan dan atau dipencarkan. Liberty. 109. cetakan II. yang terdapat dua dan kewenangan/urusan pemerintah tersentralisasi kewenangan/urusan pemerintah yang didesentralisasikan. Genta Publishing.19 mandiri. Pertumbuhan Pemerintahan Daerah di Negara Republik Indonesia. 1995. Edisi Kedua. yaitu pelimpahan wewenang dari pemerintah pusat kepada pejabat-pejabatnya di daerah.55 Dalam negara-negara dengan bentuk negara kesatuan (unitary state). ditinjau dari sudut pembagian kewenangan. termasuk pada waktu melakukan realisasi rule of law. Yogyakarta. 14. hlm. Mei 2009. African. 8-9. 58 Satjipto Rahardjo. ditinjau dari sudut pembagian yakni kewenangan. wilayah negara menjadi semakin luas. Negara Hukum yang Membahagiakan Rakyat. hlm. The Netheralands. and Amerindian Studies. Neumann (1986) yang dikutip oleh Satjipto Rahardjo mengatakan bahwa perkembangan negara hukum di Inggris berbeda daripada Eropa daratan. 21. 59 Ibid. sejak semula doktrin Rule of Law tidak dipisahkan dari doktrin supremasi parlemen. hlm. dampaknya terhadap Perekonomian. Yogyakarta. Research School CNWS School of Asian. Menurut Dicey. Serta warga negaranya semakin banyak dan heterogen. Jakarta.

dan 3) Due Process of Law. Cita Negara Hukum Indonesia Kontemporer. Sementara itu A. 9.Doc. yaitu: 1) perlindungan hak asasi manusia. hlm. diunduh dari http://www. Dicey menguraikan adanya tiga ciri penting dalam setiap Negara Hukum yang disebutnya dengan istilah “The Rule of Law”. Dicey untuk menandai ciri-ciri Negara Hukum modern di zaman sekarang. konsep Negara Hukum yang disebutnya dengan istilah ‘rechtsstaat’ itu mencakup empat elemen penting. “The monopoly of legislation by Parliament. oleh “The International Commission of Jurist”. 23 Maret 2004. Negara Hukum …. makalah disampaikan dalam acara Orasi ilmiah Pada Wisuda Sarjana Hukum Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya Palembang.unsri. op. pada 8/24/2009 9:38:03 AM.cit.. karena dalam tipe tersebut. yaitu: 1) Supremacy of Law. Disebut sebagai penjaga malam. and the king.. 61 60 . 3) pemerintahan berdasarkan undang-undang.V. Keempat prinsip ‘rechtsstaat’ yang dikembangkan oleh Julius Stahl tersebut di atas pada pokoknya dapat digabungkan dengan ketiga prinsip ‘Rule of Law’ yang dikembangkan oleh A. Bahkan. Jimly Asshidiqie. tindakannya dibatasi hanya sampai kepada penjaga ketertiban dan keamanan. explains the absence od adiministrative law. also strengthens the power of the judges … and finally. prinsipprinsip Negara Hukum itu ditambah lagi dengan prinsip peradilan bebas dan tidak memihak (independence and impartiality of judiciary) yang di zaman sekarang demokrasi. with the balance between the House of Commons.id/old_version/CITANEGARAHUKUMINDONESIA.63 Pada Ibid.fh.” Jadi dalam mengartikan “the rule of law” di Inggris.20 by ordinance or decrees… “60 Selanjutnya dikatakan. hlm.V. 1-2. Menurut Julius Stahl yang dikutip oleh Jimly Asshidiqie61. the House of Lords. 63 Satjipto Rahardjo. 2) Equality before the law. 62 Ibid.ac. makin 62 dirasakan mutlak diperlukan dalam setiap negara Negara hukum yang muncul di abad ke-sembilan belas adalah tipe negara hukum sebagai “penjaga malam” (nachtwakersstaat). dan 4) Peradilan tata usaha Negara. hlm. 26. 2) pembagian kekuasaan. maka parlemen atau rakyatlah merupakan instansi tertinggi.

de door het industriele kapitalisme veranderde samenleving ongemoeid laten. 2009. Robson. 9 . Wade yang dikutip oleh Munir Fuadi65 berpendapat bahwa implikasi dari penerapan konsep tersebut dalam suatu negara akan mengarahkan para penyelenggara negara ke dalam prinsip-prinsip dan otoritas sebagaai berikut: 64 65 Ibid. Dalam hukum administrasi tradisional. negara hanya bertindak sesekali dan sebagai pelengkap (incidenteel en aanvullend)..64 Kembali kepada pembicaraan mengenai rule of law.21 perkembangannya negara tidak dapat lagi bersikap netral dan membiarkan individu-individu atau masyarakat menyelesaikan sendiri-sendiri problemproblem tersebut. Satjipto kemudian mengutip dari de Haan et al (1978) bahwa menyerahkan penyelesaian kepada mekanisme pasar sosial akan menempatkan golongan lapisan bawah (the have not) dalam masyarakat sebagai pihak yang sangat menderita (“De staat mocht niet langer. dan kepemilikan (eigendom) negara. hlm. Ini menimbulkan konsep “negara kesejahteraan” (welfare state). equality. sangat mengubah pekerjaan-pekerjaan yang biasa dilakukan oleh hukum administrasi tradisional. keterbukaan dan penggugatan (de Haan. 1978). 27. door als neutral toeschouwer op te stellen. dan fraternity” (revolusi Perancis) dan “The greates happiness for the greatest number” (Bentham). Refika Aditama. Tetapi sekarang negara harus memasuki aktivitas yang lebih luas. perjanjian. perencanaan. Munir Fuady. Naast de traditionele overheidstaken vroegen nieuwe terreinen om ordening en verzorging van staatswege”). Perubahan tersebut. yaitu campur tangan negara ke dalam masyarakat. seperti pembuatan undang-undang dan pembuatan undang-undang semu (pseudo). kelahiran konsep negara kesejahteraan didahului oleh rentetan ide-ide panjang. Menurut William A. maar behoorde zich daadwerkelijk de belangen van de achtergestelde groepen in die samenleving aan te trekken. Bandung. Dalam hukum administrasi tradisional. di antaranya adalah ”liberty. Teori Negara Hukum Modern (Rechtsstaat). hlm.

Munir Fuady menjelaskan lebih jauh pranata ini sebagai lembaga khusus untuk melakukan penunjauan ulang.. Keempat. pemerintah. hlm. Kelima. yakni seperangkat mekanisme yang secara langsung mendukung upaya penegakan aturann hukum. pers. efisien. parlemen. muncul pranata hukum yang disebut judicial review. Lebih lanjut mengenai pelaksanaan rule of law dalam penyelenggaraan pemerintahan. dalam rangka untuk menjaga tertib hukum dengan melihat konsistensinya terhadap konsitusi. aturan hukum yang baik. menambah atau mengurangi terhadap suatu tindakan berbuat atau tidak berbuat dari aparat pemerintah (eksekutif) atau dari pihak-pihak lainnya (termasuk parlemen). 79. sistem pemerintahan yang dapat menciptakan masyarakat yang cerdas dan egaliter. Kedua. Pelaksanaan konsep rule of law lebih menghendaki adanya suasana penghormatan kepada “hukum dan ketertiban” (law and order). serta para stakeholders lainnya. terkait Pertama. Mengenai peran badan peradilan ini. baik yang bersifat substantif. Ibid. law enforcement yang baik.. dengan jalan menerapkan atau menafsirkan ketentuan dan semangat dari konstitusi. 81.22 1. Jika ada dispute. sehingga hasilnya dapat menguatkan atau menyatakan batal. accountable. . Badan-badan politik (terutama parlemen) menentukan rincian mekanisme rule of law. Ketiga. sistem pemerintahan yang efektif. warga lingkungan hidup. pengadilan. Fuady menunjukkan hal tersebut melalui beberapa faktor utama yang berpengaruh satu sama lain dalam menerapkan 67 prinsip good governance ke dalam suatu pemerintahan. yakni seperangkat aturan masyarakat. 2. jujur. badan yudikatiflah yang yang harus memutuskannya. Penyelenggaraan kewenangan oleh penyelenggaran negara haruslah selalu sesuai dengan hukum yang berlaku. maupun secara prosedural. dan berwawasan hak asasi manusia. dapat ditambahkan bahwa konsep ini tidak dapat dipisahkan dengan konsep good governance. hlm. sistem pemerintahan yang kondusif terhadap 66 67 Ibid.66 3. transparan.

Namun di dunia kontemporer. hlm. Konstitusi-Konstitusi …. Demikian juga sebaliknya bahwa pelaksanaan prinsip negara hukum yang baik harus selalu memperhatikan dan melaksanakan prinsip good governance. program politik partai. Jakarta. Konstitusi Press. 80. dari 83 UUD negara-negara yang diperbandingkannya terdapat 74 negara yang konstitusinya secara resmi menganut prinsip kedaulatan rakyat (90%). 69 68 . Konstitusi Dan Konstitusionalisme Indonesia. Dengan gambaran tersebut Fuady hendak menegaskan bahwa pelaksanaan tata kelola pemerintahan yang baik harus mengindahkan prinsip-prinsip negara hukum. 71 Demokrasi berasal dari kata “demokratia”. Demokrasi Istilah demokrasi menurut C.69 Terkadang digunakan untuk menyebut suatu bentuk pemerintahan dan terkadang dikonotasikan dengan kondisi suatu masyarakat. Dari penelusuran sementara yang berkaitan dengan demokrasi. “demos” berarti rakyat dan “kratia” berarti pemerintahan.cit. hlm. media massa. sedikitnya dapat dikemukakan bahwa demokrasi diterapkan dalam dimensidimensi instrumen mekanisme pemerintahan. Peaslee pada tahun 1950.F. mekanisme pengambilan keputusan serta demokrasi ekonomi. ketika nasionalisme menjadi dasar bagi demokrasi politik maka pemerintahan politik yang demokratis menjadi instrumen kemajuan sosial. artinya. Strong diartikan secara beragam. op.F. 17. 1. hlm. 2005. Melalui penelitian yang dilakukan oleh Amos J. C. Instrumen mekanisme pemerintahan Demokrasi sebagai bentuk penyelenggaraan negara telah dipraktekan hampir di setiap negara.68 C.23 pertumbuhan ekonomi dan pemerataan. 70 Jimly Asshiddiqie. dan lain-lain. 140.. ekspresi persetujuan maupun ketidaksetujuan rakyat sudah harus memiliki sarana penyaluran yang nyata dalam pemilihan umum.Strong.70 Istilah demokrasi71 telah Ibid. Di sinilah letak keterkaitannya dengan demokrasi politik yang mengisyaratkan pemerintah harus bergantung pada persetujuan pihak yang diperintah.

Oleh rakyat maksudnya bahwa penyelenggara negara atau pemerintahan dilakukan sendiri oleh rakyat atau atas nama rakyat yang mewakili sedangkan untuk rakyat maksudnya pemerintahan dijalankan atau berjalan sesuai dengan kehendak rakyat.74 Demokrasi sebagai instrumen mekanisme pemerintahan. dalam penjelasan Eddy Purnama. “Participatory democracy” menambahkan kata “bersama” sehingga dari rakyat.Hak Angket Dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia Menurut UUD 1945.24 menjadi bahasa umum yang digunakan oleh negara-negara untuk menunjukan suatu bentuk penyelenggaraan negara yang dianggap ideal. Dalam hubungannya dengan cita-cita. 75 Eddy Purnama. Universitas Padjadjaran Bandung. 72 . oleh rakyat dan bersama rakyat. untuk rakyat. hlm. -bukan tujuan. 73 Participatory democracy strives to create opportunities for all members of a political group to make meaningful contributions to decision-making. 1999. oleh rakyat dan untuk rakyat.wikipedia. and seeks to broaden the range of people who have access to such opportunities…http://en. Kedaulatan Rakyat. hlm.”72 Dalam perkembangan istilah demokrasi kemudian ada yang disebut “participatory democracy”. 66. Disertasi. Nusamedia. pemerintahan dari rakyat. I Gde Pantja Astawa.untuk mencapai persamaan (equality) secara politik yang mencakup tiga tujuan utama : kebebasan manusia (secara individu dan kolektif). “Pemerintahan dari rakyat yaitu mereka yang duduk sebagai penyelenggara negara atau pemerintahan harus terdiri dari seluruh rakyat itu sendiri atau yang disetujui dan didukung oleh rakyat.org/wiki/Participatory_democracy diunduh tanggal 27 Agustus 2009 74 I Gde Pantja Astawa. Paham kedaulatan rakyat sebagai embrio demokrasi. 10. mengantarkan pengertian demokrasi yaitu. hlm 70. demokrasi hanyalah sarana. perkembangan diri manusia dan perlindungan terhadap nilai (harkat dan martabat) kemanusiaan. 2007. dalam perkembangannya sulit dilaksanakan jika secara langsung. Bandung. Faktor luas wilayah dari suatu negara dan besaran jumlah penduduk serta pertambahan kerumitan masalah kenegaraan merupakan argumen bahwa demokrasi langsung (direct democracy) tidak mungkin untuk dilaksanakan. Op Cit.75 Berdasarkan kenyataan demikian.73 Dari pengertian tersebut dapat menunjukan demokrasi sebagai instrumen mekanisme pemerintahan.

PT. both ideals individual rights and equality pen find their highest fulfillment and justification in the citizen’s right to participation in government. PT. yang pelaksanaan kedaulatan rakyatnya tidak dilaksanakan oleh rakyat secara langsung melainkan melalui lembaga perwakilan rakyat. 81 I Gde Pantja Astawa. Dasar-Dasar Ilmu Politik. 80 In Modern democracy. Legal Theory. Jakarta. 284.cit. Steven Sons. op.76 Hal semacam ini lazim dinamakan demokrasi perwakilan (representative democracy). hlm. hlm 61. Mekanisme pengambilan keputusan Ide kedaulatan rakyat yang tercermin dalam demokrasi juga meliputi proses pengambilan keputusan baik di bidang legislatif maupun di bidang eksekutif. Op Cit. by representatives subject to effective popular control at Ibid. Cetakan kelima belas. means representative government through elected deputies” Wolfgang Friedmann.. 1967.79 Demokrasi perwakilan menjadi alternatif terbaik demi tercapainya Representative Government. hingga ke pengawasan.78 akomodasi seluruh aspirasi rakyat jauh lebih berguna dari unsur di dalam masyarakat harus terwakili di dalam sistem Menurut International Commision of Jurist. 77 76 .. Hal ini diperjelas dalam pengertianpengertian demokrasi yang dikemukakan oleh beberapa ahli berikut :81 Henry B. 1993.25 muncullah yang dikenal sebagai demokrasi tidak langsung (indirect democracy). This. in modern states. perwakilan. the Government of the People. hlm. Gramedia Pustaka Utama. Kedaulatan . Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Miriam Budiarjo. Dasar-Dasar Ilmu Politik. 78 Eddy Purnama. hlm.. hlm. 77 Dalam rangka mewujudkan prinsip kedaulatan rakyat. 11. Cetakan kelima belas. 75. London. hlm 61. sistem politik demokratis (demokrasi perwakilan) adalah suatu bentuk pemerintahan di mana hak untuk membuat keputusan-keputusan politik diselenggarakan oleh warga negara melalui wakil-wakil yang dipilih oleh mereka dan yang bertanggungjawab kepada mereka melalui suatu proses pemilihan yang bebas. penetapan. 1993. Rakyat berdaulat terhadap produk hukum mulai dari perencanaan.80 2. Majo : ”A democratic political system is one in which public policies are made on majority basis.. 419. 79 Miriam Budiarjo.

” Arthur Lewis “all who are affected by a decision should have the chanc to participate in making that decision. melainkan proses kehidupan kenegaraan sebagai keseluruhan. demokrasi dapat juga dikatakan sebagai instrumen pengambilan keputusan. Demokrasi ekonomi 82 CF Strong.26 periodic election which are conducted on the pinciple of politcal equality and under condition of political freedom.. Yamin berpandangan bahwa permusyawaratan untuk mencapai mufakat. op. Di Indonesia sendiri.83 Proses kehidupan kenegaraan ini termasuk di dalamnya adalah proses pengambilan keputusan.. 3. Proses pengambilan keputusan yang demokratis model Indonesia ini disebutkan dengan jelas dalam sila ke – 4 Pancasila.” CF Strong : “a system of government in which the majority of the rule grown members of political community participate through a method of representation which secures that the government is ultimately responsible for its actions to that majority.86. hlm. either directly or through chosen representative. . Modern Political Constitution. sedangkan mufakat bersumber dari tatanan asli Indonesia.84 Musyawarah dilakukan untuk menampung dan memperhatikan semua ide atau pandangan yang ada dan permufakatan menjadi output dari apa yang telah dimusyawarahkan. Op Cit. Sidgwick & Jackson Limited. hlm. merupakan perpaduan antara dua konsepsi yaitu paham permusyawaratan yang bersumber dari ajaran Islam. 84 I Gde Pantja Astawa. 148.cit.13 83 Jimly Asshiddiqie. instrumen pengambilan keputusan yang khas diberlakukan adalah melalui musyawarah mufakat.. London. Oleh karena itu.”82 Dalam paham kedaulatan rakyat yang berdaulat dari segi politik bukanlah person rakyat itu sendiri. 1960. Konstitusi . hlm.

sehingga negara memegang peranan penting dalam menyejahterakan rakyatnya.com/9511217. upah dan nasib kaum buruh adalah upah dan nasib kokoro. 88 Mohammad Hatta.. Lebih jelas lagi Hatta berpendapat bahwa kekurangan demokrasi liberal di Barat adalah karena terlalu dominannya prinsip individualisme.85 Demokrasi politik harus menjamin setiap individu agar memperoleh akses sama dalam setiap kegiatan ekonomi.. Demikian yang pengertian demokrasi dari Bung Karno yang tidak sepakat dengan demorkrasi ala barat yang liberal dan didasarkan pada kapitalisme. Op Cit. sehingga politik hanya berlaku secara politik saja. hlm.com/message/mediacare@yahoogroups.. http://www. tahun 1932.-disemua negeri modern itu rakjat tidak selamat. 18 dan 19 (edisi 4 November). Jakarta.88 Selengkapnya Hatta mengatakan bahwa tiga sifat utama tersebut adalah: Pertama: cita-cita rapat yang hidup dalam sanubari rakyat Indonesia dari zaman dahulu sampai sekarang. 86 85 .Disemua negeri modern itu kini hidup miljunan kaum penganggur. No. hlm 42. Kekuasaan bidang politik dan ekonomi dapat dibedakan satu sama lain namun sesungguhnya mempunyai hubungan fungsional yang erat satu sama lain.87 Demokrasi asli yang ada di desa-desa di Indonesia mempunyai tiga sifat yang utama.. Ke Arah Indonesia Merdeka. yang harus dipakai sebagai sendi Perumahan Indonesia Merdeka”. 80.27 Demokrasi sebagai instrumen mekanisme pemerintahan dan instrumen pengambilan keputusan merupakan penjabaran dari demokrasi yang bersifat politik. Jimly Asshiddiqie. Konstitusi . Gramedia.cit. 1980. 87 I Gde Pantja Astawa. Di sini tampak dasar demokrasi. Demokrasi yang demikian ini menurut Bung Karno adalah Demokrasi sosial yang terdiri dari Demokrasi politik ditambah dengan Demokrasi ekonomi.html diunduh tanggal 27 Agustus 2009. dalam Miriam Budiardjo (ed). 147. op.disemua negeri modern itu kapitalisme subur dan meradjalela! Disemua negeri itu kaum proletar ditindas hidupnja.” Tabloid Fikiran Ra’jat. Masalah Kenegaraan. “Disemua negeri modern itu adalah “demokrasi”.86 Kedaulatan rakyat tidak hanya di bidang politik namun juga di bidang ekonomi. pemerintahan rakyat.opensubscriber. hlm. Rapat ialah tempat rakyat atau utusan rakyat bermusyawarah dan mufakat tentang segala urusan yang bersangkutan dengan persekutuan hidup dan keperluan bersama. bahkan sengsara sesengsara-sengsara nja.. Tetapi. Inikah hasilnja “demokrasi” jang dikeramatkan orang?..

cetakan kedua. 66. Nusamedia. Bandung. 84. adalah dasar dari demokrasi politik. 2009.89 Walaupun menolak individualisme pada Demokrasi Barat. 92 Ibid. 90 89 . Ketiga: cita-cita tolong menolong. Sanubari rakyat Indonesia penuh dengan rasa-bersama. 91 Mohammad Hatta. 2009. hlm. Sifat kedua yaitu tolong menolong dan gotong royong adalah sendi yang bagus untuk menegakkan demokrasi ekonomi. Pikiran-Pikiran tentang Demokrasi dan Kedaulatan Rakyat. I Gde Pantja Astawa. hlm 42-43. 93 Ni’matul Huda. Hak ini besar artinya terhadap kepada pemerintahan despotisme atau autokrasi yang tersusun di atas pundak desa-demokrasi. yaitu hak rakyat untuk membantah dengan cara umum segala peraturan negeri yang dipandang tidak adil.90 Dalam pemikiran mengenai bagaimana demokrasi bagi Indonesia. namun menurut Hatta asas kolektivisme yang dimaksudkannya bukanlah kolektivisme yang berdasar sentralisasi (satu pimpinan dari atas). yaitu mengambil keputusan secara mufakat dengan musyawarah. hlm. Ni’matul Huda mengatakannya sebagai mendemokratisasi sistem politik dan menyelaraskan pencapaian pembangunan berkelanjutan yang merupakan isu yang selalu ada dalam praktik administrasi publik. Di atas sendi yang pertama dan kedua dapat didirikan tiang-tiang politik daripada demokrasi yang sebenarnya: satu pemerintahan negeri yang dilakukan oleh rakyat dengan perantaraan wakil-wakilnya atau Badan-badan Perwakilan. Di atas sendi yang ketiga dapat didirikan tonggak demokrasi ekonomi.91 Sifat pertama. 70. melainkan desentralisasi yaitu tiap-tiap bagian berhak menentukan nasibnya sendiri.28 Kedua: cita-cita massa-protest. Hukum Pemerintahan Daerah. Dalam hak ini tercantum hak rakyat untuk merdeka bergerak dan merdeka berkumpul. Op Cit. 69. sepeti sifat hak ulayat atas tanah bukan negeri seumumnya yang berhak melainkan desa.93Demokrasi yang lazim pula disebut dengan Ibid.92 Dihubungkan dengan desentralisasi. Muhammad Hatta mengingatkan bahwa masyarakat asli Indonesia mempunyai sifat dasar dalam segala hal mengenai kepentingan hidup bersama. hlm. Dan demokrasi tidak dapat berlaku. kalau tidak ada hak rakyat untuk mengadakan protes bersama. Demokrasi Kita. Bandung. hlm. Segaarsy. kolektiviteit.

98 Ibid. hlm. hlm. Pusat Studi Hukum Fakultas Hukum UII. desentralisasi hanya mencakup pemencaran kekuasaan di bidang otonomi. sehingga dalam pelaksanaan tugasnya pemerintah harus berpegang pada kehendak rakyat. hlm. yaitu ambtelijke decentralisati/deconsentratie (dekonsentrasi) dan staatkundige decentralisatie (desentralisasi ketatanegaraan). Du Contract Social (Perjanjian Sosial).. 96 Jean Jacques Rousseau. 1979. jabatan.29 kedaulatan rakyat memandang bahwa kekuasaan itu berasal dari rakyat. atau pejabat’. Kajian Teori Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Dalam upaya memahami hubungan kewenangan antara pusat dan daerah akan digunakan dua teori yakni. tidak pernah ada demokrasi yang nyata dan tidak akan pernah ada demokrasi.98 Dalam kaitan dengan pemerintahan otonom..96 D. konsep demokrasi juga mencari bentuk yang sesuai dengan situasi dan kondisi dari masyarakat modern. hlm 10. Pengantar Ke Arah Sistim Pemerintahan Daerah Di Indonesia. 113. 2001. 100 RDH Koesoemahatmadja. Yogyakarta. Binacipta.97 Lebih lanjut Bagir Manan berpendapat bahwa desentralisasi bukan merupakan asas penyelenggaraan pemerintahan daerah. desentralisasi dan sistem rumah tangga daerah. 2007. Kedaulatan .95 Dengan demikian menjadi sejalan dengan apa yang dicatat oleh Rousseau bahwa jika kita menempatkan istilah ini dalam pemahaman yang kaku. Jakarta. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah.cit.. hlm 11.94 Sejalan dengan perputaran waktu. Visimedia. Bandung. 10 Ibid. Desentralisasi Bagir Manan menjelaskan bahwa secara umum desentralisasi merupakan ‘bentuk atau tindakan memencarkan kekuasaan atau wewenang dari suatu organisasi... 97 Bagir Manan.99 Koesoemahatmadja menguraikan bahwa desentralisasi terbagi dua. 1.100 Sementara desentralisasi ketatanegaraan yang merupakan penyerahan kekuasaaan Eddy Purnama. 99 Ibid.15 95 94 . hlm 10. melainkan suatu proses. op.

Irawan Soejito. sebagaimana dikutip oleh Bagir Manan. hlm 21. Demikian pula. Dengan perkataan lain. sebagaimana dikutip oleh Bagir Manan. .101 Mengenai desentralisasi. op. yang terdiri atas desentralisasi teritorial. Desentralisasi teritorial mencakup autonomie (otonomi) dan medebewind atau zelfbestuur (tugas pembantuan). desentralisasi 103 fungsional dan desentralisasi administratif (dekonsentrasi)... menjelaskan penggolongan desentralisasi yang agak berbeda.30 perundang-undangan dan pemerintahan (regelende en besturende bevoegheid) kepada daerah otonom. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah. Van Der Pot. hlm 10. keduanya masuk dalam lingkup desentralisasi. Otonomi merupakan salah satu bentuk desentralisasi. Yogyakarta. Bentuk desentralisasi itu dibedakan antara otonomi dan tugas pembantuan. Bagir Manan.cit. Selanjutnya dikatakan bahwa terdapat dua 101 102 Bagir Manan. Hubungan .102 Pelaksanaan pemerintahan dilakukan baik oleh pusat maupun berbagai badan otonom. Badan-badan otonom ini dibedakan antara desentralisasi desentralisasi berdasarkan fungsional teritorial (territoriale decentralisatie) dan (functionaeele decentralisatie). op. sedangkan desentralisasi fungsional menjelma dalam bentuk badan-badan yang didasarkan pada tujuan-tujuan tertentu. tetapi otonomi tidak sama dengan desentralisasi. 2001.. Pusat Studi Hukum Fakultas Hukum UII. membagi desentralisasi menjadi desentralisasi teritorial yang menjelma dalam bentuk badan yang didasarkan pada wilayah.cit. Hubungan . baik otonomi maupun tugas pembantuan. bahwa desentralisasi adalah otonomi. Pemikiran di atas memberi pengertian bahwa tugas pembantuan merupakan salah satu bentuk dari desentralisasi. 103 Bagir Manan. tidak semua peraturan dan penyelenggaraaan pemerintahan dilakukan dari pusat (central). Van der Pot mengemukakan.. desentralisasi teritorial (territoriale decentralisatie) dan desentralisasi fungsional (functionele decentralisatie). Menempatkan kedudukan yang sejajar antar desentralisasi dan tugas pembantuan sebagai asas-asas yang terpisah merupakan suatu yang keliru.. juga terbagi dua yakni..

Amrah Muslimin.. hlm 5-6. dan lain-lain).cit.. yaitu desentralisasi politik..107 Mengenai desentralisasi kebudayaan.106 Menurut Bagir Manan pengertian desentralisasi politik tersebut sama dengan desentralisasi teritorial karena faktor ‘daerah’ menjadi salah satu unsurnya. Menurutnya desentralisasi terbagi ke dalam tiga golongan. Hubungan . Aspek-aspek Hukum Otonomi Daerah. desentralisasi fungsional dan desentralisasi kebudayaan. hlm 21-22. Bagir Manan berpendapat bahwa desentralisasi pada prinsipnya merupakan bentuk dari susunan organisasi negara dan pemberian atau pengakuan hak minoritas untuk mengatur dan mengurus soal agama dan pendidikan di kalangan mereka sendiri lebih tampak sebagai perwujudan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia daripada 104 105 Ibid. merupakan 104 pelunakan sentralisasi menuju ke arah Ahli lain yang melakukan penggolongan desentralisasi adalah Amrah Muslimin. 1986. Alumni.cit. op.. agama.. .31 pandangan mengenai hubungan antara desentralisasi dan dekonsentrasi. Pandangan pertama mengatakan bahwa dekonsentrasi sebagai salah satu bentuk desentralisasi sedangkan pandangan kedua beranggapan bahwa dekonsentrasi desentralisasi. 106 Ibid. Aspek. hlm 22. hlm 5. Amrah Muslimin mengartikan: “memberikan hak pada golongan-golongan kecil dalam masyarakat (minoritas) menyelenggarakan kebudayaannya sendiri (mengatur pendidikan. Dalam kebanyakan Negara kewenangan ini diberikan pada kedutaan-kedutaan asing demi pendidikan warga negara masing-masing negara dari keduataan yang bersangkutan”. yang menimbulkan hak mengurus kepentingan rumah tangga sendiri bagi badan-badan politik di daerah-daerah.108 Terhadap pendapat Amrah Muslimin mengenai desentralisasi kebudayaan di atas.. Bandung. 108 Amrah Muslimin. 107 Bagir Manan.. op. yang dipilih oleh rakyat dalam daerah-daerah tertentu”...105 Desentralisasi politik adalah “pelimpahan kewenangan dari Pemerintah Pusat.

Dalam perspektif ilmu ekonomi. Gerge Allen Unwin. Decentralization The Territorial Dimension of The State. 1985. ada yang mengartikan desentralisasi fiskal lebih luas dari sekedar pelimpahan kewenangan di bidang penerimaan.. hlm. desentralisasi fiskal diartikan dalam ukuran – 109 110 Bagir Manan.cit.. hlm 26. Namun demikian. khususnya otonomi. Hubungan Antara….2002.111 Hal yang sama juga dikatakan oleh Bagir Manan bahwa hak mengatur dan mengurus rumah tangga sendiri menyiratkan pula makna membelanjai diri sendiri. . Smith bahwa it is obvious that the exercise of governmental powers at the subnational level entails expenditure by subnational governments.C. Smith...112 Begitu pula dengan Pheni Chalid yang berpendapat bahwa desentralisasi kewenangan pengelolaan pemerintahan berarti beban pembiayaan harus ditanggung sepenuhnya oleh pemerintahan daerah. op. Keuangan Pemerintah Daerah Otonom di Indonesia. 99. 112 Bagir Manan.110 Desentralisasi teritorial. Ibid. Keuangan Daerah. Jakarta. Bahcrul Elmi mengatakan bahwa desentralisasi fiskal dapat diartikan sebagai pelimpahan kewenangan di bidang penerimaan yang sebelumnya tersentralisasi. Jakarta. 111 B.113 Artinya. baik secara administrasi dan pemanfaatannya diatur atau dilakukan oleh pemerintah pusat114.cit. Konsekuensi desentralisasi pada pembiayaan urusan pemerintahan daerah pada hakikatnya adalah desentralisasi di bidang keuangan atau desentralisasi fiskal.. UI-Press. Hubungan .op.. 2005.32 sebagai bagian susunan organisasi negara. 113 Pheni Chalid. Seperti dikatakan oleh B. hlm vii 114 Bachrul Elmi. 204.109 Lebih lanjut dikatakan bahwa pemberian hak kepada kedutaan juga tidak dapat dikategorikan sebagai desentralisasi karena kedutaan bukan bagian dari susunan organisasi di mana kedutaan itu berada. dan Desentralisasi. berkonsekuensi terhadap pembiayaan penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah oleh pemerintahan daerah. Kemitraan. pemerintahan daerah harus memiliki sumber keuangan sendiri untuk dapat menyelenggarakan rumah tangganya secara mandiri. Investasi. hlm.C. London.

2003. atau ketika sejumlah barang dan jasa dapat dihasikan dengan biaya yang lebih rendah. dari “structural efficiency model“ yang menekankan efisiensi dan 115 . A Study of The Relationship Between Fiscal Decentralization and The Composition of Public Expenditures. efisiensi dari aspek produsen didefinisikan sebagai keuntungan ekstra yang didapatkan ketika sejumlah pengeluaran yang sama dapat menghasilkan barang dan jasa dengan kuantitas yang besar atau kualitas yang lebih baik.33 ukuran keuangan seperti expenditure (pengeluaran/belanja) atau revenue (penerimaan/pendapatan). dimanifestasikan melalui dasar hukum Undang .. Departement of Economic Andrew Young School of Policy Studies. 14. misalnya Oates (1993) mengatakan bahwa peningkatan efisiensi ekonomi merupakan dasar ekonomis dari desentralisasi. 118 Misalnya. 117 Ibid.Undang No 22 tahun 1999 serta Undang – Undang No 25 tahun 1999.118 Padahal.117 Persoalannya.hlm. Pengertian desentralisasi fiskal yang tidak hanya pada aspek penerimaan. dikatakan oleh Joko mengutip pendapat Benyamin Hoesein bahwa “Pola pengaturan hubungan antara Pusat dan Daerah yang semula bersifat sentralistik di masa Orde Baru yang diterjemahkan melalui Undang – Undang No 5 tahun 1974. Disertasi. 22 Tahun 1999 dan UU No. Atlanta. namun juga pada aspek pengeluaran. Besaran perubahan yang dikehendaki dalam reformasi tersebut dapat disimak dari pergeseran sejumlah model dan paradigma pemerintahan daerah. Sementara itu. Georgia State University. berhubungan dengan adanya kewenangan daerah atas sumber-sumber penerimaan daerah digunakan untuk membiayai pengeluaran/ belanja sesuai dengan kewenangan daerah. sepeti dikatakan oleh Bagir Manan bahwa Francisco Javier Arze del Granado. 116 Ibid. 25 Tahun 1999). hlm. Persoalan desentralisasi fiskal terutama dari aspek ekonomi selalu dikaitkan dengan persoalan efisiensi. 13. jika tujuan desentralisasi fiskal adalah hanya efisiensi.116 Efisiensi dari aspek konsumen didefinisikan sebagai keuntungan yang didapatkan oleh konsumen dari kebijakan pengeluaran/belanja (negara) yang sesuai dengan preferensi pembayar pajak. untuk kasus Indonesia dalam fase awal desentralisasi fiskal (2001-masa efektif pemberlakuan UU No. telah dirubah dalam suatu pola hubungan yang lebih bersifat desentralisasi.115 Teori keuangan negara melekatkan desentralisasi dalam rangka mencapai efisiensi pada dua pelaku: konsumen dan produsen. maka hal tersebut dapat dilakukan dengan skema hubungan pusat daerah yang sentralistik.

.jadi. http://www. efisiensi dalam rangka peningkatan kesejahteraan rakyat dalam sistem desentralisasi. pendapat di atas sejalan dengan pendapat Roy Bahl yang mengatakan. hlm.salah satu makna dari desentralisasi fiskal dalam bentuk otonomi. . Joko Tri Haryanto. Diunduh pada tanggal 20 Agustus 2009..121 Artinya. Menyongsong Fajar…. 33. tanpa tahun.120 Dalam konteks desentralisasi fiskal. 119 Bagir Manan.122 Hal ini sejalan dengan pendapat Bahcrul Elmi. bukan saja persekutuan yang besar. melainkan berlainan”. 29. Keadaan yang seperti itu penting sekali. No. Hubungan Antara….119 Otonomi juga berkaitan dengan gagasan demokrasi di mana masyarakat daerah berhak untuk berpartisipasi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerahnya. (cetak tebal oleh Tim Peneliti). penerimaan otonomi di bidang keuangan (sebagian sumber penerimaan) keseragaman pemerintahan lokal dirubah menjadi “local democracy model“ dengan penekanan pada nilai-nilai demokrasi dan keberagaman di dalam penyelenggaraan pemerintahan lokal”. “Fiscal Decentralisation and Empowerment: Evolving Concepts and Alternative Measures” Journal Compilation Institute of Fiscal Studies Vol. op. 122 Ibid.pdf. hak rakyat untuk menentukan nasibnya tidak hanya ada pada pucuk pemerintahan negeri.. melainkan juga pada tiap tempat. bahwa : ”. di desa. rakyat semuanya.cit.34 hakikat dari otonomi yang merupakan wujud desentralisasi adalah kemandirian walaupun bukan suatu bentuk kebebasan sebuah satuan yang merdeka. 121 Roy Bahl dalam Jameson Boex.. 2008. Seperti dikatakan oleh Moh. bahwa: ”Menurut dasar kedaulatan rakyat.fiskal.. bahwa ”as a working definition. Hatta. fiscal decentralization as ”the empowerment of people by fiscal empowerment of their local govenment” (pemberdayaan masyarakat melalui pemberdayaan fiskal dari pemerintah daerahnya). Blackwell Publishing Ltd.id/webbkf/kajian%5CPAD. Renata R Simatupang. hlm. mempunyai hak untuk menentukan nasib sendiri melainkan juga tiap-tiap bagian dari negeri atau bagian dari rakyat yang banyak. di daerah. karena otonomilah ujung tombak usaha mewujudkan kesejahteraan tersebut. op.depkeu.. 26. hanya memungkinkan jika terdapat kebebasan berotonomi.cit. hlm. 120 Bagir Manan. di kota. UK-USA. makalah. karena keperluan tiap-tiao tempat dalam satu negeri tidak sama. 442. 4.go. “ Potret PAD Dan Relevansinya Terhadap Kemandirian Daerah”. 1. Jakarta. hlm.

35

kepada daerah-daerah merupakan suatu proses mengintensifkan peranan dan sekaligus pemberdayaan daerah dalam pembangunan.123

Desentralisasi fiskal dapat menjadi salah satu ukuran keberhasilan otonomi. Pola dan ukuran dalam desentralisasi fiskal akan mencerminkan derajat otonomi yang dimiliki daerah. Hal ini sejalan dengan pendapat Bird (1986), bahwa: ”...a decentralization measure is the autonomy or power of decision making of regional government. In this context, a fiscal decentralization measure should be able to quantify the amount of independent decesion - making power (or discretion) in the provision of public services at different level of government”.124 Dari berbagai pendapat para ahli di atas mengenai desentralisasi, dapat disimpulkan beberapa hal. Pertama, pengertian desentralisasi yang agak sempit sebagaimana dikemukakan oleh Van Der Pot yang hanya mengklasifikasikan desentralisasi menjadi dua jenis yakni desentralisasi teritorial dan desentralisasi fungsional. Koesoemahatmadja juga termasuk dalam kategori yang membagi desentralisasi agak sempit karena

menurutnya desentralisasi terbagi atas dekonsentrasi dan desentralisasi ketatanegaraan. Kedua, pengertian desentralisasi yang lebih luas dari kategorisasi yang disampaikan oleh Van Der Pot dan Koesoemahatmadja. Dalam kategori kedua ini dijumpai pembagian desentralisasi yang

disampaikan oleh Amrah Muslimin dan Irawan Soejito. Selain desentralisasi teritorial dan fungsional, juga terdapat desentralisasi administratif atau dekonsentrasi. Amrah Muslimin selain membagi kedalam desentralisasi teritorial dan fungsional juga memasukkan desentralisasi kebudayaan. Berbeda dengan kedua ahli lainnya, Amrah Muslimin tidak memasukkan

123

Ibid.

Francisco Javier Arze del Granado, A Study of The Relationship Between Fiscal Decentralization and The Composition of Public Expenditures, Disertasi, Departement of Economic Andrew Young School of Policy Studies, Georgia State University, Atlanta, 2003, hlm.`12.

124

36

dekonsentrasi sebagai salah satu bentuk desentralisasi. Ketiga, pengertian desentralisasi yang lebih sempit dari yang dijelaskan oleh para ahli di atas yakni pengertian desentralisasi menurut UU No. 32 Tahun 2004. Pasal 1 angka 7 menyatakan bahwa desentralisasi adalah “penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Dengan demikian, terlepas dari perdebatan mengenai apakah suatu jenis desentralisasi termasuk pengertian desentralisasi atau bukan, berbagai penggolongan desentralisasi yang disebut-sebut oleh sejumlah ahli tersebut dapat muncul 1) desentralisasi teritorial, 2) desentralisasi fungsional, 3) desentralisasi kebudayaan, dan 4) desentralisasi fiskal. Pertama,

desentralisasi teritorial menjelma dalam bentuk badan yang didasarkan pada wilayah. Kedua, desentralisasi Fungsional125 adalah pemberian hak dan kewenangan pada golongan-golongan mengurus suatu macam atau golongan kepentingan dalam masyarakat, baik terikat maupun tidak pada suatu daerah tertentu,seperti mengurus kepentinganirigasi bagi golongan tani dalam suatu atau beberapa daerah tertentu (waterschap; Subak Bali). Ketiga, desentralisasi hak pada kebudayaan (culturele decentralisatie), dalam sendiri fiskal yaitu

memberikan (minoritas) pendidikan,

golongan-golongan

kecil

masyarakat (mengatur berwujud

menyelenggarakan agama, dll).

kebudayaannya

Keempat,

desentralisasi

perimbangan keuangan antara pusat dan daerah.

2. Sistem Rumah Tangga Daerah Sistem rumah tangga merupakan tatanan yang berkaitan dengan cara-cara membagi wewenang, tugas dan tanggung jawab mengatur dan mengurus urusan pemerintahan antara pusat dan daerah.126 Atas dasar tersebut, daerah akan mempunyai urusan pemerintahan yang didasarkan

125 126

Amrah Muslimin, Pokok-Pokok…, hlm. 119-120 Bagir Manan, Hubungan ..., op.cit., hlm 26.

37

atas penyerahan, pengakuan ataupun yang dibiarkan sebagai urusan rumah tangga daerah. Secara teori, terdapat tiga sistem rumah tangga daerah, yaitu sistem-sistem rumah tangga formal, material, dan nyata (riil).127 a. Sistem rumah tangga formal Berdasarkan sistem ini, urusan pemerintahan pusat dan daerah tidak dibagi secara rinci karena sistem ini berpangkal tolak dari asumsi bahwa secara prinsip tidak terdapat perbedaan antara urusan pusat dan daerah. Apabila terdapat pembagian wewenang, tugas dan tanggung jawab hanyalah didasarkan atas pertimbangan daya guna dan hasil guna.128 Secara teoritik, sistem ini memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada daerah untuk mengatur dan mengurus urusan rumah tangganya dan satu-satunya pembatasannya adalah daerah tidak dapat mengatur dan mengurus suatu urusan yang telah diatur dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, misalnya dengan undang-undang atau peraturan daerah yang lebih tinggi. Sepintas nampak bahwa otonomi formal akan memungkinkan pemerintah daerah bertindak lebih leluasa mengatur, mengurus, dan membela kepentingan daerahnya. Tetapi pelaksanaan otonomi formal menimbulkan kesulitan-kesulitan, antara lain : (1) Tidak adanya ketegasan mengenai urusan pemerintahan yang menjadi urusan rumah tangga daerah, menimbulkan keraguan atau

ketidakpastian untuk mengurus sesuatu urusan pemerintahan. Ada kekhawatiran bahwa urusan tersebut termasuk atau telah diatur dan diurus oleh satuan pemerintahan yang lebih tinggi. Begitu banyaknya peraturan perundang-undangan dari satuan pemerintahan yang lebih tinggi, dengan kemungkinan telah mengatur sesuatu hal yang bertahuntahun yang lang lalu, sehingga tidak diketahui atau dikenal secara pasti. (2) Suatu urusan pemerintahan yang telah diatur, diurus, dan dijalankan sebagai urusan rumah tangga daerah tertentu, kemungkinan kemudian

127 128

Ibid., hlm 26-33. Bagir Manan, ..., op.cit, hlm 26.

38

diatur dan diurus oleh satuan pemerintahan yang lebih tinggi. Keadaan seperti ini dapat menimbulkan kesulitan bagi daerah yang bersangkutan. Dengan perubahan itu daerah yang bersangkutran akan kehilangan berbagai keuntungan yang diperoleh dari urusan tersebut. Juga rakyat dapat merasakan dirugikan apabila dengan perubahan itu pelayanan terhadap rakyat menjadi kurang lancar atau terganggu. (3) Sesuatu urusan pemerintahan oleh daerah tertentu diatur dan diurus sebagai urusan rumah tangga, tetapi daerah lain tidak berani karena beranggapan bahwa hal itu termasuk urusan satuan pemerintahan yang lebih tinggi. Hal ini dapat menimbulkan kesulitan dalam melayani anggota masyarakat yang mempunyai kegiatan atau kepentingan lintas daerah. (4) Setiap urusan rumah tangga itu terutama yang membebankan kewajiban harus disertai dengan daya dukung tertentu terutama (sumber) keuangan. Sumber keuangan itu berada pada pemerintah pusat. Kalau suatu urusan oleh daerah diurus dan diatur, tidak selalu ada jaminan akan ada sumber keuangan untuk menjalankan urusan tersebut dengan sebaik-baiknya. Secara praktik, terdapat beberapa hambatan untuk mencapai daya guna dan hasil guna, antara lain hambatan kreativitas daerah, keuangan daerah serta teknis.129 Kreativitas daerah sangat menentukan karena daerahlah yang dapat menetapkan ukuran kewajaran untuk mengatur dan mengurus suatu urusan tertentu. Kecilnya kreativitas daerah akan

menyebabkan daerah hanya menunggu ‘arahan atau petunjuk’ dari satuan pemerintahan atasnya untuk mengatur dan mengurus urusan-urusan pemerintahan. Hambatan lain ditemukan dalam kaitan dengan keuangan daerah. Meskipun daerah memiliki peluang menyelenggarakan urusan seluas-luasnya namun tanpa dukungan keuangan yang memadai akan menyebabkan urusan-urusan tersebut tidak dapat terselenggara dengan baik. Akhirnya, keberhasilan sistem rumah tangga formal ditentukan sampai

129

Ibid., hlm 27.

Untuk memungkinkan pelaksanaan otonomi material harus ada prosedur penyerahan urusan kepada daerah. Setiap daerah otonom terbentuk disertai dengan perincian urusan rumah tangganya. urusan rumah tangga daerah itu ditentukan dengan pasti. (2) Urusan-urusan rumah tangga daerah tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan tentang pokok-pokok pmerintahan daerah.132 Dalam sistem otonomi material atau rumah tangga material. sistem ini dikenal juga sebagai ajaran tiga lingkungan atau de driekriengenleer karena sesuai dengan susunan satuan organisasi pemerintahan Belanda yang terdiri dari Pemerintah Pusat.130 Atau dengan kata lain. b. Ibid. sistem material ini bertolak dari asumsi bahwa terdapat perbedaan secara mendasar antara urusan pusat dan daerah dan dengan demikian urusan pemerintahan dapat dipilah-pilah dan dapat ditetapkan secara pasti.. Di luar urusanurusan itu. 130 131 Ibid.131 Di Belanda. daerah tidak berwenang mengurus dan mengaturnya. melainkan dalam peraturan perundang-undangan tentang pembentukan masing-masing daerah otonom. pemilahan urusan pemerintahan didasarkan pada perbedaan kepentingan. . hlm 28. 132 Ibid.39 sejauhmana daerah dapat mengatasi hambatan teknis yang menunjuk pada tidak mudahnya mengetahui urusan yang belum diselenggarakan oleh pusat atau pemerintahan daerah tingkat lebih atas. Sistem rumah tangga material Berbeda dengan sistem rumah tangga formal. Penyerahan ini dapat terjadi dengan beberapa cara : (1) Urusan-urusan rumah tangga daerah telah diperinci dalam peraturan perundang-undangan tentang pokok-pokok pemerintahan daerah. Provinsi dan Gemeente. Daerah otonom secara otomatis berhak mengatur dan mengurus urusan-urusan tersebut.

40 (3) Urusan-urusan rumah tangga daerah ditentukan dalam peraturan perundang-undangan tentang pokok-pokok pemerintahan daerah. Sukar sekali pada saat ini untuk menemukan urusan yang berada di luar kompetensi negara atau pemerintah. (2) Sistem otonomi material bersifat rigid. Biasanya penyerahan urusan itu sekaligus disertai dengan sumber keuangan dan alat-alat kelengkapan yang diperlukan. Ciri umum yang lazim dipergunakan adalah urusan-urusan rumah tangga daerah adalah urusan-urusan yang bersifat lokal yang membutuhkan penanganan yang mungkin berbeda antara daerah yang satu dengan yang lain. Negara menurut konsep negara kesejahteraan memasuki hampir pada semua sektor kehidupan. Berbeda dengan otonomi formal. Lebih-lebih dalam zaman modern ini. tidak mudah menampung perubahan sifat suatu urusan dari lokal menjadi tidak lokal atau sebaliknya. Setiap perubahan harus menempuh tatacara tertentu yaitu menyerahkan atau menarik urusan harus melalui peraturan perundang-undangan tertentu dan dilakukan dalam suatu peninjauan kembali secara nasional urusan rumah tangga daerah. antara lain. tetapi penyerahannya kepada suatu daerah otonom tertentu diatur tersendiri. Sistem otonomi material ini juga tidak lepas dari kesulitan-kesulitan antara lain : (1) Sangat tidak mudah menentukan dan merinci urusan-urusan yang akan dijadikan urusan rumah tangga daerah. Urusan itu begitu luas sehingga tidak mudah untuk menentukan urusan-urusan diperuntukkan rumah tangga daerah dan yang tidak. maka urusan itu belum menjadi urusan rumah tangga yang bersangkutan. daerah berhak mengatur dan mengurus setiap urusan . Kepastian urusan-urusan rumah tangga dalam rumah tangga material lebih memudahkan pemerintah daerah dalam menjalankan tugas dan kewajibannya. Selama suatu urusan belum diserahkan secara nyata. Penanganan secara seragam urusan semacam itu tidak efisien dan tidak efektif bahkan mungkin menimbulkan ketidakadilan. Akan tetapi untuk menentukan ukuran lokal dan tidak lokal suatu urusan tidaklah mudah.

135 Ibid. sampah tidak lagi diartikan secara tradisional. urusan karena pemerintahan perkembangan. (3) Kemungkinan urusan-urusan rumah tangga dalam sistem otonomi material sedemikian sempit atau sedemikian luas yang menimbulkan kesulitan dalam pelaksanaannya. Namun. misalnya urusan pertanian. Bagir Manan berpendapat bahwa sistem ini tidak dapat dijadikan patokan obyektif untuk menciptakan hubungan yang serasi antara pusat dan daerah. luar negeri menampakkan sifat atau karakter sebagai urusan tertentu yang dilaksanakan oleh pusat. Bagian urusan perrtanian dapat saja dilakukan oleh satuan pemrintahan yang berbeda. misalnya pertahanan keamanan.133 Hal ini dasarkan pada beberapa argumen yang meliputi: (1) Sistem ini berpangkal tolak dari asumsi yang keliru yaitu anggapan dasar bahwa urusan pemerintahan dapat dipilah-pilah. Akibatnya sampah-sampah semacam ini berdampak pada lingkungan hidup yang berskala lebih luas dimana penangannya membutuhkan teknologi serta keahlian yang lebih. urusan persampahan. Dengan demikian dalam praktek terdapat kesulitan untuk menentukan secara rinci urusan masing-masing satuan pemerintahan. yang mungkin saja 133 134 Ibid. sampah nuklir. dan lain-lain..135 urusan Suatu daerah.134 Memang urusanurusan tertentu. melainkan meliputi sampah industri. . (2) Sistem ini tidak memberikan peluang untuk secara cepat menyesuaikan dengan perubahan-perubahan yang semula yang adalah terjadi. dan kemampuan daerah yang mungkin berbeda-beda. Urusan-urusan rumah tangga dalam sistem otonomi material bersifat seragam. Ibid. Karena perkembangan teknologi. kurang memperhatikan karakteristik. Mengenai sistem rumah tangga material ini. dapat beralih menjadi urusan pusat. potensi. moneter.41 kecuali hal yang sudah diatur dan diurus atau yang kemudian diatur dan diurusa oleh satuan pemerintahan yang lebih tinggi.. hlm 30. hlm 29. urusan-urusan lain banyak juga yang menampakkan sifat ganda. Misalnya.

(3) Otonomi dalam sistem rumah tangga nyata didasarkan pada faktorfaktor nyata suatu daerah. Dalam hal demikian.140 Sebagai sistem tengah antara sistem formal dan material. sistem rumah tangga nyata memiliki beberapa ciri..137 c. (3) Sistem ini terasa lebih mengekang karena terikat pada urusan yang secara rinci ditetapkan sebagai urusan rumah tangga. . (2) Selain memiliki urusan-urusan awal yang ditetapkan secara material. Sistem rumah tangga nyata (riil) Disebut ‘nyata’ karena isi rumah tangga daerah didasarkan pada keadaan dan faktor-faktor yang nyata. urusan sampah tersebut dapat saja beralih menjadi urusan pusat. dapat terjadi perbedaan isi rumah tangga daerah sesuai dengan keadaan masing-masing. sepanjang urusan-urusan itu belum diatur dan diurus oleh pusat dan daerah tingkat lebih atas.139 Fungsi sistem rumah tangga material pada sistem ini ditunjukkan pada adanya urusan pangkal sehingga sejak awal pendirian suatu daerah telah mempunyai kepastian urusan rumah tangga daerahnya. hlm 31.42 tidak dimiliki oleh daerah.138 Bagir Manan mengutip pendapat Tresna menyatakan bahwa sistem ini merupakan jalan tengah antara sistem formal dan material dengan pengutamaan pada sistem formal. 141 Ibid. hlm 32. 136 137 Ibid. 139 Ibid. yakni:141 (1) Adanya urusan pangkal yang ditetapkan pada saat pembentukan daerah otonom yang memberikan kepastian kepada daerah berkenaan dengan urusan rumah tangganya.136 (4) Sistem ini akan lebih banyak menimbulkan spanning hubungan antara pusat dan daerah. 140 Ibid. 138 Ibid. Ibid. hlm 30.. daerh juga dapat mengatur dan mengurus urusan-urusan lain yang dianggap penting bagi daerah tersebut. Dengan demikian.

Penerbit Mandar Maju.. Dari penjelasan tersebut nampaklah bahwa ajaran ini memberikan landasan bagi kemunculan dimensi hubungan kewenangan antara Pusat dan Daerah.. tugas dan tanggung jawab mengatur dan mengurus urusan pemerintahan antara pusat dan daerah. op.143 Sementara itu. Otonomi atau . Proses penyelenggaraan pemerintahan dengan desentralisasi teritorial memunculkan bentuk otonomi dan tugas pembantuan. 24 . Tujuan dari otonomi adalah untuk memunculkan kemandirian daerah dan bukan kedaulatan. Titik Berat Otonomi Daerah Pada Daerah Tingkat II.144 Otonomi bukan sekedar pemencaran penyelenggaraan pemerintahan untuk mencapai efisiensi dan efektivitas pemerintahan.cit.cit. op. hlm. hlm. otonomi adalah tatanan ketatanegaraan (staatsrechtelijk). Bandung. untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna penyelenggaraan pemerintahan dalam rangka pelayanan terhadap masyarakat dan pelaksanaan pembangunan. Sebagai tatanan ketaanegaraan. 3. Ateng Syafrudin. 9 144 Ibid. bukan hanya tatanan administrasi Negara (administratiefrechtelijk). 1990. tugas pembantuan dapat menjadi jembatan menuju otonomi. 14.. otonomi berkaitan dengan dasar-dasar bernegara dan susunan organisasi Negara. Untuk melaksanakan tujuan tersebut maka kepada daerah diberikan kewenangan-kewenangan untuk melaksanakan berbagai urusan pemerintahan sebagai urusan rumah tangganya. Menyongsong . Kelembagaan 142 143 Tim Penyusun.43 Telah dikatakan sebelumnya bahwa sistem rumah tangga merupakan tatanan yang berkaitan dengan cara-cara membagi wewenang..145 Dengan demikian kemudian muncullah dimensi hubungan kelembagaan antara Pusat dan Daerah..142 Tujuan pemberian otonomi kepada daerah adalah untuk memungkinkan daerah yang bersangkutan mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. hlm. 145 Bagir Manan..

. Tinjauan Sosiologis Terhadap Konsep Kelembagaan dan Upaya Membangun Rumusan yang Lebih Operasional.” Dari segi prosesnya organisasi dapat dirumuskan oleh Herleigh Tecker sebagai. kata kelembagaan lebih memberi kesan sosial.geocities. dan hubungan kelembagaan. sedangkan kata organisasi menunjuk kepada suatu social form yang bersifat formal. Sumner memasukkan aspek struktur ke dalam pengertian kelembagaan:147 “An institution consist s of a concept (idea. menurut Hadari Nawawi. a. 1 www. lebih menghargai budaya lokal dan lebih humanistis.44 Sebelum membahas hubungan kelembagaan antara pemerintah pusat dan daerah terlebih dahulu akan dibahas mengenai apa yang dimaksud dengan kelembagaan. Ditinjau dari tujuannya.pdf 147 Ibid. hlm. Dengan diperoleh pengertian dan istilah yang tepat diharapkan dapat lebih mempertegas kajian mengenai hubungan kelembagaan antara pemerintah pusat dan daerah ini. or perhaps only a number of functionaries set to-operate in prescribed ways at a certain conjuncture. interest) and structure. yang juga sering dipersamakan dengan istilah organisasi (organization). sehingga saat ini orang lebih suka menggunakan istilah kelembagaan dalam kajian sosial daripada istilah organisasi. 146 . 3. “a process of combining the work which individual or group have to performs with the Syahyuti. “… a system of actions” atau sebagai “sistem kerjasama sekelompok orang untuk mencapai tujuan bersama. or apparatus. doctrine. Sebagaimana dikutip Syahyuti. The structure holds the concepts and furnishes instrumentalis for bringing it into the world of facts and action in a way to serve the interest of men in society”. Makna Kelembagaan Istilah “kelembagaan” merupakan padanan kata “Institution” dalam bahasa Inggris.com/syahyuti/Rumusan_konsep_kelembagaan. hlm. organisasi dapat dirumuska sebagai. namun secara umum istilah kelembagaan dipergunakan 146 dalam kedua istilah organisasi maupun kelembagaan itu sendiri. Dalam kajian sosiologi. The structure is a framework. notion.

Pelimpahan wewenang berarti penyerahan sebagian hak yang seharusnya dilakuan oleh seorang pejabat atasan kepada pejabat bawahan. tugas. 2001. systematic. 232 149 Ibid. di Negara Republik Indonesia. organisasi dapat dirumuskan sebagai susunan yang terdiri dari satuan-satuan organisasi beserta segenap pejabat. 289 151 Ibid . tumpang tindih ataupun kecenderungan menghindari tanggung jawab dapat dielakkan. kekuasaan. hlm. Jakarta. “… the act or process of bringing together or arranging the related groups of agency into a working whole”. 148 Sementara itu ditinjau dari segi strukturnya. Atau dapat disebut juga sebagai. termasuk dalam organisasi pemerintahan daerah. and coordinated application of effort”.149 Dalam kajian ini penulis menggunakan istilah kelembagaan yang menunjuk kepada susunan kelembagaan yang ada dalam sistem pemerintahan daerah di Indonesia. adalah koordinasi. 150 Ibid. sehingga tanggung jawab pelaksanaan bidang tugas dapat dilakukan sepenuhnya oleh seseorang. so that the duties so performed provide the best channels for the efficient. Asas –asas organisasi paling tidak mencakup enam asas. Dengan demikian kekacauan.150 Asas pembagian pekerjaan merupakan asas yang harus diterapkan dalam organisasi. positive. rentang kontrol dan kesatuan komando. Pembagian kerja harus diikuti oleh adanya pendelegasian wewenang. PT. koordinasi. menurut Kamus Administrasi Negara (The Liang Gie).151 Asas lain yang harus diterapkan dalam setiap organisasi. kewajiban. hak dan tanggung jawab setiap orang dalam suatu organisasi. masingmasing: perumusan tujuan yang jelas. 148 koordinasi ini secara prinsip merupakan usaha untuk Josef Riwu Kaho. Prospek Otonomi Daerah. Pembagian kerja penting karena akan memperjelas batas-batas kewenangan.45 faculties necessary for its execution. pembagian pekerjaan. Raja Grafindo Persada. pelimpahan wewenang. hlm. dan hubungan-hubungan satu sama lain dalam rangka pencapaian tujuan tertentu. konflik kewenangan/kekuasaan.

. pertemuan formal. buku pedoman dan sebagainya. dapat memaksa pejabat untuk bertindak dan berfikir sesuai dengan sasaran dan tujuan organisasi. hlm. Susunan luar menunjuk kepada badan-badan pemerintahan (publieklichaam) tingkat daerah seperti daerah tingkat I dan daerah tingkat II. serta dapat mengembangkan prakarsa improvisasi. hlm. Koordinasi ini dapat dilakukan misalnya melalui pertemuan-pertemuan informal antara para pejabat. Hubungan . yaitu susunan luar (external structure) dan susunan dalam (internal structure). Di samping itu koordinasi diperlukan guna mencegah terjadinya konflik. menurut Bagir Manan153. 290-291 Bagir Manan. Urusan-urusan pemerintahan yang akan diserahkan kepada pemerintah daerah sebagai konsekuensi pelaksanaan 152 153 Ibid. op. Adanya koordinasi dimaksudkan untuk kesatuan tindakan dan guna meramalkan dan mencegah terjadinya krisis. sedangkan susunan dalan menunjuk kepada alat kelengkapan (organ) pemerintahan daerah seperti DPRD dan Kepala Daerah.. Hubungan Kelembagaan Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya bahwa kelembagaan dimaksud adalah susunan atau struktur organisasi pemerintahan.46 menyelaraskan aktivitas antara satuan-satuan organisasi. tugas dan pejabat dalam organisasi.191 . surat edaran berantai. karena dengan dibentuknya satuan pemerintahan di tingkat daerah tentunya disertai juga dengan penyerahan kewenangan dari pusat kepada daerah dalam bentuk urusan-urusan pemerintahan untuk dijalankan oleh pemerintah daerah.cit.. mencegah kesimpangsiuran dan duplikasi. Struktur organisasi pemerintahan daerah menyatakan bahwa struktur organisasi pemerintahan daerah mengandung dua segi.152 b. Susunan organisasi pemerintahan daerah merupakan salah satu aspek yang dapat mempengaruhi hubungan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

.156 Titik berat otonomi daerah ini perlu diletakan pada satuan pemerintahan yang lebih dekat kepada dan berhubungan langsung dengan masyarakat. Hukum Pemerintahan . hlm. Satuan otonomi teritorial merupakan suatu satuan mandiri dalam lingkungan Negara kesatuan yang berhak melakukan tindakan hukum sebagai subjek hukum untuk mengatur dan mengurus fungsi pemerintahan (administrasi Negara) yang menjadi urusan rumah tangganya. op. Ada faktor-faktor lain.157 Tetapi dekatnya jarak antara satuan pelayanan bukanlah satu-satunya ukuran untuk menentukan penekanan atau pengutamaan fungsi pada tingkat daerah tertentu. op. 52 157 Ibid. Titik Berat . 154 155 Ni’matul Huda. Hal ini dapat dilihat dari peran dan fungsi masing-masing susunan atau tingkatan dalam penyelenggaraan otonomi. sehingga diharapkan dapat lebih mengerti dan memenuhi aspirasi-aspirasi masyarakat setempat. hlm. Hubungan ... hlm. Hubungan …..cit. op.. 197 .cit. seperti kemampuan keuangan.. hak dan wewenang serta tnggung jawab urusan-urusan pemerintahan yang diserahkan oleh pemerintah pusat kepada pemerintah daerah otonomi untuk menjadi isi rumah tangga daerah. (b) faktor ruang lingkup urusan pemerintahan. hlm. titik berat pelaksanaannya akan diletakan pada daerah yang mana?154 Susunan organisasi pemerintahan di daerah akan berpengaruh terhadap hubungan antara pusat dan daerah. 24 Bagir Manan..155 Ateng Syafrudin menjelaskan yang dimaksud dengan “titik berat” otonomi mengandung arti jumlah atau besarnya tugas. Jadi hubungan pusat dan daerah atas dasar otonomi territorial memiliki kesamaan dengan hubungan pusat dan daerah atas dasar federal yaitu hubungan antara dua subjek hukum yang masing-masing berdiri sendiri. dan manajemen... kewajiban.158 Hubungan pusat dan daerah atas dasar otonomi teritorial merupakan konsep dalam Negara kesatuan..47 desentralisasi. 158 Bagir Manan.. dan (c) faktor sifat dan kualitas urusan. 194-195 156 Ateng Syafrudin.cit. op..cit. Artinya peran dan fungsi tersebut dapat ditentukan oleh pelaksanaan titik berat otonomi sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu : (a) faktor sistem rumah tangga daerah.

388. 3. hlm. dalam otonomi territorial. Vol... pada dasarnya seluruh fungsi kenegaraan dan pemerintahan ada dalam lingkungan pemerintahan pusat yang kemudian dipencarkan kepada satuan-satuan otonomi. 1984. PrAcademic Press. akan disediakan oleh susunan pemerintahan lainnya. yaitu pendapatan yang diperoleh oleh daerah sendiri (pendapatan asli. Menyongsong. misalnya antara Menteri Dalam Negeri dengan Gubernur.161 Penetapan tanggung jawab penyelenggaraan pelayanan dibutuhkan agar tidak terjadi hasil yang tidak efektif ketika ada satu susunan pemerintahan atau lebih menyediakan pelayanan yang sama atau ketika satu susunan pemerintahan gagal menyediakan pelayanan dengan harapan. Accounting & Financial Management. 178 161 Anwar Shah. (2) assignment of local government revenue raising authority (penetapan kewenangan pemerintah daerah untuk meningkatkan pendapatan).160 4..cit. hubungan antara kedua badan hukum publik itu tidaklah seperti hubungan hierarkis yang ada.48 Perbedaannya.162 Sementara itu. Washington DC. Ruang Lingkup dan Prinsip-Prinsip Desentralisasi Fiskal Anwar Shah mengatakan bahwa kebijakan desentralisasi fiskal mencakup (1) the assignment of services responsibilities (penetapan tanggung jawab penyelenggaraan pelayanan). 1994. hlm. 2003. Journal of Public Budgeting. “Fiscal Decentralization in South East Asia”.. The World Bank. 162 Ibid. Hubungan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. hlm. 35-36 Irawan Soejito. op. biasanya diperoleh dengan dua cara.pen) dan transfer dana dari pemerintahan tingkat yang lain (pinjaman daerah juga 159 160 Bagir manan. .159 Oleh karena Negara (Pemerintah Pusat) dan daerah itu masing-masing merupakan badan hukum publik. Penerbit Bina Aksara. “The Reform of Intergovenmental Fiscal Relation in Developing and Emerging Market Economy”. sebagimana dikutip dalam Larry Schroeder. 15 No. World Bank Policy and Research Series No. dan (3) design of intergovernmental transfer system (desain sistem transfer antar susunan pemerintahan). kewenangan untuk meningkatkan pendapatan daerah untuk membiayai belanja daerah.23.

yaitu (a) revenue autonomy and adequacy (otonomi dan kecukupan pendapatan). 166 Larry Schroeder. op. “ The Challenge of Fiscal Decentralisation in Transition Countries”. 8. transfer dan Ibid. Detours and Road Closures”. DC USA. 168 Era Dabla-Norris.165 Dalam hal ini. April 2004.163 Masalah yang umumnya dihadapi adalah kewenangan daerah yang sangat terbatas untuk dapat meningkatkan pendapatan asli (own revenue). (c) borrowing privileges (keleluasaan untuk melakukan pinjaman).48..166 Hal tersebut (bersama keterbatasan pendapatan asli daerah). World Bank. Comparative Economic Studies. harus menjadi bagian dari desain transfer dana antara tingkatan pemerintahan. Washington DC. 164 163 . 107. Anwar Shah. Desentralisasi fiskal bagaimana pun kebijakannya harus dikaitkan dengan upaya membangun kemandirian daerah untuk membiayai urusan pemerintahannya baik dalam hal pendapatan daerah (termasuk alternatif lainnya) maupun kewenangan untuk membelanjakan pendapatan tersebut. expenditure autonomy. 167 Anwar Shah. Problems..49 merupakan sumber pendapatan daerah lainnya yang harus dibayar kemudian dengan pendapatan asli atau transfer dana). 389. “Implementing Decentralized Local Governance: A Treacherous Road with Potholes. (b) expenditure autonomy (otonomi dalam pengeluaran/ belanja) dan. hlm. hlm. June 2004. hlm. USA. Vol. Shah menegaskan komponen desentralisasi fiskal yang menjadi ukuran keberhasilan desentralisasi fiskal.cit. misalnya melalui pajak daerah atau retribusi. 2006.164 Bahkan dengan kewenangan atas jenis-jenis pajak terbatas. and the Promise” World Bank Policy Research Working Paper 3282. hlm. daerah hanya memiliki otonomi dalam menentukan tarif pajak dan batas yang telah ditentukan (to rate setting within the limit). hlm. Dalam hal ini. yang mencakup revenue autonomy. “Fiscal Decentralization in Developing and Transition Economies: Progress. Washington. The World Bank. Theresa Thompson. 18 – 19. World Bank Policy Research Working Paper 3353. 18.167 Hal yang hampir sama juga diungkapkan oleh Era Dabla-Norris mengenai the measure of autonomy168 (ukuran otonomi) dalam desentralisasi fiskal. adanya intergovernental fiscal transfer menjadi mekanisme yang diharapkan dapat menciptakan horizontal equity (kesamaan horizontal) antara susunan pemerintahan daerah. 165 Ibid.

171 Sementara itu. Seperti dikatakan oleh Norris bahwa: On the revenue side. 172 Ibid.. karena hal tersebut merupakan kunci keberhasilan dari desentralisasi fiskal. 3. Singapore. otonomi pendapatan secara dominan diukur dari kewenangan daerah memungut pajak.172 Ibid. sementara Norris menekankan transfer dana tersebut merupakan komponen tersendiri. 107. Jaime Bonet. More complete revenue autonomy requires a minimum of authority to set tax rates and an assignment of at least one significant tax source.50 subnational borrowing. Dalam hal ini. this requires that subnational governments have the authority to own-finance locally provided services at the margin.170 Artinya. hlm. transfer (intergovernmental fiscal transfer).. Lihat. 2009. 171 Norris. Bahl dalam Shinichi Ichimura. hlm. Dalam literatur. Prinsip otonomi dalam pendapatan artinya sejauh mana daerah memiliki sumber-sumber pendapatan yang merupakan pendapatan asli daerah. 204.. Pte. termasuk menentukan prioritasprioritas belanja daerah atas pendapatan daerah yang dimiliki. prinsip otonomi pengeluaran berkaitan dengan alokasi penerimaan daerah dalam anggaran belanja daerah. Ltd. Decentralization: Policies in Asian Development. loc.169 Dalam pendapat Shah. hlm. 117 – 123.. Hubungan Antara….. juga termasuk dalam komponen otonomi dan kecukupan pendapatan. ukuran suatu daerah memiliki otonomi dalam pendapatan adalah seberapa besar kewenangan untuk memungut pajak daerah atau pungutan lain. Loc. Roy Bahl (eds). Seperti dikatakan oleh Norris bahwa: ”this requires subnational budget flexibility to decide – within limits – expenditure priorities and the choice of both the output mix and techniques of production”.. karena revenue autonomy ditekankan pada pada pendapatan asli daerah. Springer-Verlag Published online: 12 April 2006. prinsip otonomi dalam pengeluaran artinya daerah memiliki keleluasaan untuk membelanjakan. 663. termasuk dalam menentukan tarifnya. World Scientific Publishing Co. 170 169 . hlm.op. Ukuran-ukuran tersebut merupakan prinsip desentralisasi fiskal.cit.. Bagir Manan. “Fiscal decentralization and regional income disparities: evidence from the Colombian experience”.cit. Norris. hlm.cit.

. hlm. 2009. Singapore. hlm. World Scientific Publishing Co. England.173 Pertama.175 Sebagai agen.174 Pemberian sejumlah dana pusat kepada daerah melalui mekanisme transfer dana. 176 Ibid. 174 Ibid.176 Sumbersumber pendapatan sendiri (asli) sangat terbatas. karena bergantung pada pusat. mau tidak mau (namun sering kali mau) untuk memenuhi kepentingan nasional..177 Terkait dengan hal di atas.. 205. Edward Elgar Limited – Edaward Elgar Publishing Company. Bagir Manan mengatakan bahwa sesuai dengan pembawaannya (karakteristiknya). Hubungan Antara…. 1993. 10. International Hand Book of Local and Regional Government A Comparatve Analysis of Advanced Democracies. Kedua. hlm. 11.. Ltd. 175 Alan Norton. dimensi horrizontal fiscal balance (keseimbangan fiskal horizontal/antar daerah).. “Promise and Reality of Fiscal Decentralization”. pemerintahan daerah tidak akan dapat mengharapkan (pendapatan) dari sumber dayanya sendiri. bukan hanya untuk kepentingan daerah. urusan keuangan di mana pun senantiasa dikategorikan sebagian urusan pusat. di mana transfer tersebut dimaksudkan ketidakseimbangan daerah. 177 Bagir Manan. hlm.op.cit. dalam Shinichi Ichimura. Kedua-duanya harus diperhitungankan dalam desain kebijakan transfer dana dari pusat ke 173 Roy Bahl. 178 Ibid. Decentralization: Policies in Asian Development. 80. dimensi vertical fiscal balance (keseimbangan fiskal secara veritikal/ pusat-daerah). Roy Bahl (eds).178 Daerah hanya boleh mengatur dan mengurus sepanjang ada penyerahan dari pusat yang diatur keuangan antar untuk menyelesaikan masalah daerah. juga disebabkan logika bahwa mahalnya pelayanan (publik) yang disediakan oleh pemerintahan daerah adalah untuk memenuhi tujuan (otonomi – pen) yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat. USA. Pte. di mana transfer tersebut untuk mengurangi ketidakseimbangan keuangan antara pusat dan daerah (vertical fiscal imbalance). namun juga kepentingan nasional yang lebih baik.51 Prinsip transfer dana antar tingkatan pemerintahan (khususnya dari pusat ke daerah). tercermin dalam dalam dua dimensi.

sumber penerimaan/ pendapatan daerah (revenue sources of local governments) secara umum terdiri dari pendapatan asli daerah (local own revenue). 182 Lihat Bagir Manan. Singapore. 5. dalam dalam Shinichi Ichimura. Pte. Sumber-Sumber Penerimaan/ Pendapatan Daerah Secara umum. Prinsip keleluasaan untuk melakukan pinjaman berkaitan dengan hard budget constraint (pembatasan anggaran secara ketat) di mana pemerintahan daerah harus menyeimbangkan anggarannya tanpa bantuan dari pusat pada akhir tahun anggaran. namun dengan hasil yang relatif kecil..181 a. 208. hlm. hlm.180 Artinya. 181 Motohiro Sato. padahal pendapatan asli daerah juga dapat berasal dari sumber lain. Asian Development Conference 2003: Development and Decentralization in Asia”. 15. “Summary Report of Seminar B: Local Public Finance. op. tanpa bantuan pemerintah pusat.cit. dalam Shinichi Ichimura. jika pendapatan daerah (termasuk transfer/bantuan keuangan dari pusat) yang dialokasikan untuk pengeluaran/ belanja daerah tidak mencakupi. World Scientific Publishing Co. Prinsip-prinsip tersebut akan terlihat dalam pengaturan sumbersumber penerimaan pemerintahan daerah untuk memenuhi belanja daerah.. 396. Decentralization: Policies in Asian Development..179 Adanya transfer dana atau bantuan dari pusat. Roy Bahl (eds). Hubungan Antara…. seperti hasil pengelolaan perusahaan daerah. 180 179 .cit.182 Ibid. op.52 dalam peraturan perundang-undangan. pemerintahan daerah harus mendapatkan sumber penerimaan lainnya untuk menutupi kekurangan anggaran (defisit). terutama dengan melakukan pinjaman. 2009. transfer dana dari pemerintah pusat ke daerah (intergovernmental fiscal transfers) dan pinjaman daerah (local borrowing). hlm. Ltd. Pendapatan Asli Daerah Seperti telah dikemukakan sebelumnya bahwa pendapatan asli daerah selalu dihubungkan dengan kewenangan daerah untuk memungut pajak (daerah) atau pungutan lainnya seperti retribusi. Roy Bahl. bermaksud untuk menutupi kemampuan keuangan daerah untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan. Roy Bahl (eds).

Anwar Shah mengintroduksi 4 prinsip yang harus diperhatikan dalam pembagian kewenangan pemungutan pajak di semua tingkatan pemerintahan. 185 Ibid. penerimaan dari pajak harus disesuaikan dengan kebutuhan pengeluaran belanja (daerah). pajak harus dipungut pada wilayah yang yang dapat dilakukan pemantauan dan penilaian yang relevan.188 Dalam praktek. sementara di negara-negaa maju mencapai 20%. untuk memastikan adanya akuntabilitas.186 Hal ini untuk meminimalisasi biaya administrasi pemungutan.17.187 Keempat.. . pengaturan pajak daerah dan pungutan daerah lainnya sangat beragam. Pemerintahan daerah di negara-negara maju lebih banyak memberikan kewenangan kepada daerah untuk memungut pajak.53 Persoalan kewenangan pemungutan pajak.190 Hal tersebut menyebabkan perbedaan pendapatan daerah dari sektor pajak daerah. pemerintah pusat lebih sedikit menyerahkan kewenangan untuk memungut pajak kepada daerah.. 186 Ibid.. hlm.17-18. hlm. 9. hlm. hlm.183 Pertama. Ibid. terkait dengan pembagian kewenangan di sektor pajak antara pemerintah pusat dengan pemerintahan daerah.. “Fiscal Decentralization….loc.cit. Dalam hal ini.184 Kedua.cit. pajak-pajak yang karena pertimbangan keseragaman secara nasonal dilakukan dengan sistem redistribusi progresif 185 (pajak progresif).. misalnya pajak property (tanah dan bangunan) lebih baik menjadi kewenangan daerah untuk meningkatkan nilai jual objek tersebut di pasaran.191 183 184 Anwar Shah. 191 Bahl mengatakan bahwa kontribusi pajak lokal terhadap total pendapatan sektor pajak secara nasional di negara-negara berkembang dan negara-negara dalam transisi hanya mencapai 10%. 187 Ibid. “Promise and…. Ketiga. 189 Roy Bahl. 188 Ibid. op. di negara – negara berkembang dan negara-negara dalam fase transisi.”.189 Sementara itu. pajak dengan objek bergerak dan barang-barang dagang yang memiliki tingkat efisiensi yang tinggi terhadap pasar domestik harus menjadi kewenangan pemerintah pusat. Ibid. harus menjadi kewenangan pemerintah pusat. 190 Ibid.10.

Cesifo Working Paper No. Seperti dikatakan oleh Anwar Shah. “Partial Fiscal Decentralization”. namun tanpa kewenangan daerah cukup dalam memungut pajak. hlm. loc. pemerintah pusat memiliki kewenangan pada jenis-jenis pajak tidak langsung. menyebabkan daerah tidak dapat membiayai pengeluaran dengan pendapatan sendiri. Category 1: Public Finance. 193 Anwar Shah.cit. Springer-Verlag Published online: 12 April 2006. pola transfer dana dari pusat ke daerah juga dialami di negara-negara maju. baik di negara-negara maju maupun negaranegara berkembang. sistem transfer atau bantuan keuangan antar tingkatan Dalam hal ini Bahl member pengecualian terhadap Filipina di mana konstribusi sektor pajak daerahnya mencapai 1/3 dari total pendapatan sektor pajak secara nasional. Transfer Dana dari Pusat ke Daerah (Intergovernmental Fiscal Transfers) Adanya kecenderungan ketergantungan daerah pada transfer dana dari pemerintah pusat di negara-negara berkembang menimbulkan pertanyaan apakah pemerintahan daerah masih memiliki otonomi dalam kebijakan desentralisasi fiskal? Namun demikian.com/abstract=1029581. 18. November 2007.194 Hal tersebut menyebabkan pemerintahan daerah sangat bergantung pada transfer dana dari pusat. 196 Jaime Bonet. Brueckner. Diunduh dari http://www. walaupun kewenangan untuk menggunakan pendapatan dana diberikan kepada daerah. 194 K. 192 . Bahl mengatakan bahwa rendahnya pendapatan daerah dari pajak daerah disebabkan pemerintah pusat tidak rela melepaskan kewenangan terhadap pajak-pajak yang produktif..663.193 Dalam hal ini. sementara pemerintahan daerah hanya memiliki sedikit kewenangan terhadap pajakpajak yang secara langsung bersumber pada potensi lokal. 2137.54 Di Asia.. “Fiscal Decentralization….ssrn. pengalaman negara-negara maju menunjukkan bahwa keberhasilan desentralisasi fiskal tidak bisa tercapai tanpa adanya sebuah program transfer dana yang didesain dengan baik (well – designed fiscal transfer program). Ibid. misalnya. “Fiscal decentralization and regional income disparities: evidence from the Colombian experience”. 1 195 Ibid.192 Di negaranegara berkembang dan negara dalam masa transisi. hlm. hlm.196 Artinya.195 b.

55

pemerintahan (khususnya dari pusat ke daerah), menjadi salah mekanisme yang mendukung keberhasilan desentralisasi. Dari paparan di atas, tercermin bahwa transfer dana/ bantuan

keuangan dari pusat ke daerah akan selalu ada. Menurut Bagir Manan, usaha-usaha untuk menghapuskan bantuan keuangan bukan cara terbaik untuk memecahkan masalah keuangan daerah.197 Bagir Manan sendiri lebih menyetujui agar pemecahan masalah keuangan daerah hendaknya ditujukan pada upaya agar bantuan –bantuan pusat tidak akan begitu banyak mengurangi kemandirian daerah untuk mengatur dan mengurus urusan rumah tangga daerahnya sendiri.198 Adanya bantuan dana (subsidi) dari pusat ke daerah merupakan bagian dari mekanisme perimbangan keuangan antara pusat daerah yang merupakan inti dari hubungan keuangan pusat – daerah.199 Seperti dikatakan oleh Bagir Manan, bahwa: ”perimbangan keuangan tidak sekedar diartikan memperbesar sumber lumbung keuangan daerah, namun tidak kalah penting mengatur sistem keuangan daerah seperti subsidi yang tetap menjamin kemandirian, keleluasaan dan kekuasaan daerah mengatur dan mengurus rumah tangganya.”200

Dilihat dari derajat otonomi peruntukan dan pemanfaatannya, Bagir Manan yang mengatakan bahwa bantuan keuangan dari pusat ke daerah, dapat digolongkan ke dalam tiga kategori utama, yaitu bantuan bebas, bantuan:201 1. Bantuan bebas Bantuan yang hanya ditentukan jumlahnya. Peruntukan dan tata cara penggunaannya diserahkan sepenuhnya kepada masing-masing daerah.

197 198

Bagir Manan, Hubungn Antara…, op.cit., hlm. 210. Ibid. 199 Ibid. 200 Ibid., hlm. 42. 201 Ibid.

56

Daerah mempunyai kebebasan untuk menentukan sendiri peruntukan dan tata cara penggunaannya. 2. Bantuan dengan pembatasan tertentu. Bantuan yang ditentukan peruntukannya secara umum.

Peruntukannya secara khusus dan cara-cara pemanfaatannya diserahkan sepenuhnya kepada daerah. Bantuan jenis kedua ini lebih mengikat atau lebih membatasi kemandirian daerah dibandingkan dengan yang pertama. 3. Bantuan terikat Bantuan yang ditentukan secara rinci peruntukan dan tata cara pemanfaatannya. Daerah tidak ada kesempatan untuk menentukan sendiri peruntukan maupun tata cara pemanfaatannya. Bantuan ini sangat mengikat daerah. Sementara itu, Roy Bahl mengatakan, jenis transfer dana yang diberikan, terdiri dari transfer dana yang sifatnya unconditional (tidak bersyarat), conditional (bersyarat), dan Ad-hoc (tidak tetap).202 Pendapat Bahl tersebut hampir sama dengan pendapat Bagir Manan. Perbedaannya, Bagir Manan tidak memasukkan jenis transfer dana (bantuan keuangan) yang sifatnya Ad-hoc, sementara Bahl tidak membagi varian lain dari conditional transfer, sebagaimana dilakukan oleh Bagir Manan yang membaginya menjadi dua kategori, yaitu bantuan dengan pembatasan tertentu dan bantuan terikat. Namun demikian, kedua pendapat tersebut saling melengkapi. Dengan demikian, terdapat 4 jenis tranfer dana (bantuan keuangan) dari pusat ke daerah, yaitu bantuan bebas (unconditional grants), bantuan dengan pembatasan tertentu, bantuan terikat, dan bantuan yang sifatnya Ad-Hoc. Manurut Bahl, unconditional grants (bantuan bebas) dianggap “more consistent with local autonomy goals of decentralization” (lebih konsisten dengan tujuan otonomi daerah dalam kerangka desentralisasi).203 Jika bantuan tersebut berdasarkan pembagian pajak pusat, maka pemerintah pusat memberikan akses kepada pemerintahan daerah dengan dasar

202 203

Roy Bahl, op.cit., hlm. 11 Ibid.

57

perhitungan pajak yang elastis (elastic tax base) yang relative memberikan kepastian jumlah yang akan diterima.204 Sementara itu, conditional grant adalah bantuan yang membolehkan pemerintah pusat untuk mengawasi penggunaan dana tersebut dengan asumi agar daerah menjalankan fungsi yang memiliki eksternalitas positif dan/ atau distribusi keuntungan.205 Distribusi conditional grant, menurut Bahl dilakukan dengan beberapa cara, namun yang paling umum digunakan adalah sistem pembayaran yang didasarkan pada beberapa standar pengeluaran.206 Biasanya pola

conditional grant berhasil mencapai target yang diinginkan. Namun persoalannya, conditional grant diterapkan dengan pola yang seragam di seluruh daerah dan tidak memberikan pertimbangan yang cukup terhadap kondisi daerah.207 Hal tersebut menyebabkan pola pengeluaran (keuangan) pemerintahan daerah menyimpang dari kecenderungan lokal.208 Sementara itu, transfer dana/ bantuan keuangan yang sifatnya AdHoc didasarkan pada pertimbangan politis. Hal tersebut menyebabkan pola bantuan tersebut tidak transparan dan jauh dari ukuran-ukuran objektif. Bahkan Cina dan Thailand, yang mengalokasikan sebagian bantuan dalam bentuk ad-hoc, menghadapi persoalan ketidakpastian anggaran di tingkat daerah.209

c. Pinjaman Daerah Seperti telah dikemukakan sebelumnya, bahwa pinjaman daerah sangat berkatan dengan penerapan hard budget constraint (pembatasan anggaran secara ketat) di mana tidak ada bantuan dari pusat pada saat

204 205

Ibid. Ibid., hlm. 14. 206 Ibid 207 Ibid. 208 Ibid. 209 Ibid.

58

terjadi akhir tahun anggaran. Menurut Davey (1983) ada beberapa alasan pemerintah daerah melakukan pinjaman dana seperti:210 a. untuk menutup defisit keuangan jangka pendek; b. untuk membiayai kekurangan belanja rutin dan penghasilan retribusi dalam anggaran tahunan (annual budget); c. membiayai pembelian perlengkapan dan mesin-mesin; d. membiayai investasi yang akan menghasilkan pendapatan; e. membiayai pembentukan modal jangka panjang (long term capital development).

Menurut J. Glasson, tujuan utama pemanfaatan dana pinjaman daerah adalah untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dan melakukan pembangunan yang menerus (sustainable development).211 Hal tersebut sangat wajar karena dengan penerapan hard budget constraint terbatasnya kemampuan keuangan daerah, maka terselenggaranya progam-program daerah tidak hanya bergantung pada pendapatan daerah dan bantuan dari pusat, namun sangat bergantung pada pinjaman daerah. Oleh karena itu, seperti dikemukakan sebelumnya, bahwa keleluasaan bagi daerah untuk melakukan pinjaman merupakan salah prinsip dari desentralisasi fiskal. Pengaturan mengenai pinjaman daerah di setiap menunjukkan pola yang berbeda-beda. Menurut Shah, di negara-negara berkembang di mana pasar (keuangan) belum terbangun dengan baik untuk kredit jangka panjang dan kemampuan daerah untuk membayar pinjaman, menyebabkan akses daerah untuk melakukan pinjaman sangat terbatas.212 Hal tersebut menyebabkan pengaturan pinjaman daerah lebih menekankan pada pengawasan pemerintah pusat, sementara bantuan pusat untuk mendorong daerah melakukan pinjaman sangat jarang menjadi perhatian. Biasanya yang menjadi ukuran pola pengawasan pusat dalam hal pinjaman daerah adalah
210

Lihat Bachrul Elmi dan Syahrir Ika, “Hutang Sebagai Salah Satu Sumber Pembiayaan Pembangunan Daerah Otonom”, Jurnal Kajian Ekonomi Dan Keuangan, Vol. 6 No. 1, Maret, 2002, hlm. 64. 211 Ibid., hlm. 62. 212 Anwar Shah, “Fiscal Decentralization…., op.cit., hlm. 29

Stoner dan Charles Wankel dalam Management (1986) menyebut ketiga macam kontrol itu Pre-action cotrol. F. sepanjang. 197. hlm. James A. Pengawasan atau kontrol dapat dilakukan sebelum.. Jakarta 2003.. bukan hubungan internal dari entitas yang sama.153. Hakikat Pengawasan Pemerintah Pusat terhadap Daerah a.213 Pengawasan (toezicht. perlu diketahui. “supervision” (Inggris). Gobson. Kebebasan dan kemandirian berotonomi dapat dipandang sebagai pengawasan atau kendali terhadap kecenderungan sentralisasi yang berlebihan. Sebaliknya pengawasan (toezicht) merupakan kendali terhadap desentralisasi berlebihan. Ivancevich dalam Fundamentals of Management (1981) menyebut hal itu Preliminary control. op.59 apakah daerah berwenang melakukan pinjaman? Jika dibolehkan. . James H. Tidak ada otonomi tanpa sistem pengawasan. Jilid I. Donnelly.cit. Bentuk dan isi pengawasan dilakukan semata-mata menurut atau berdasarkan ketentuan 213 Taliziduhu Ndraha. steering control dan post-action control. Kybernology (Ilmu Pemerintahan Baru). dan “control” (Belanda dan Inggris). apakah daerah dapat melakukan pinjaman ke luar negeri? 6. hlm.. supervision) merupakan unsur yang tidak dapat dipisahkan dari kebebasan berotonomi. pengertian pengawasan (toezicht. James L. 214 Bagir Manan. Rineka Cipta. merupakan dua sisi dari satu mata uang dalam negara kesatuan dengan sistem otonomi (desentralisasi). dan sesudah suatu kegiatan dilaksanakan. dan John M. Pengertian dan Tujuan Pengawasan Istilah “pengawasan” sering dipadankan (equivalent) dengan istilah “toezicht” (Belanda). concurrent control dan feedback control. Menyongsong . Antara kebebasan dan kemandirian berotonomi di satu pihak dan pengawasan di pihak lain.214 Namun demikian. supervision) adalah suatu bentuk hubungan dengan legal entity yang mandiri.

Apabila hal semacam ini jika dibiarkan berjalan tanpa batas.. maka pengertian umum dari beberapa aspek pengawasan kiranya dapat dirumuskan sebagai berikut : 1) Pengawasan sebagai sarana (instrumen) pemeritahan yang lebih atas tingkatannya untuk memaksakan kehendaknya pada pemerintahan yang lebih rendah tingkatannya.. mengarahkan. Pengawasan (toezicht) pada desentralisasi. apalagi ikut mengurus atau ikut mengatur. . Pengawasan dalam kualitas tertentu menjadi semacam “mencampuri” wewenang daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. 2) Pengawasan menunjukkan adanya pengarahan atau pengendalian (aturan) terhadap tindakan pemerintahan yang lebih rendah tingkatannya dari pemerintahan yang lebih atas tingkatannya. secara asasi tidak mengandung makna ikut mengarahkan. Berdasarkan uraian tersebut di atas.215 Dengan demikian. 215 Taliziduhu Ndraha. pengawasan dalam arti toezicht atau supervision. juga mengandung arti pengendalian. dalam kaitan dengan Undang-Undang tentang pemerintahan daerah khususnya desentralisasi istilah pengawasan lebih tepat dipadankan dengan “toezicht” atau “supervision” dan tidak dengan “control”. Kybernology . “pedoman”. 197. akan besar pengaruhnya pada sifat “kemandirian” (zelf standigheid) daerah otonom. mengurus atau mengatur. mengalami perkembangan seperti adanya “petunjuk”. op. Memang perlu disadari bahwa dalam perkembangan. “penentuan syarat-syarat yang harus diikuti”. Istilah control selain mengandung arti pengawasan. Perkembangan ini menyebabkan pengawasan tidak lagi sekedar “checking” atau dalam rangka “menjaga keseimbangan”..cit. “bimbingan”.. hlm. Pengawasan pada desentralisasi dibatasi untuk “menguji” apakah suatu keputusan suatu satuan pemerintahan otonom (yang lebih rendah) bertentangan atau tidak bertentangan dengan peraturan perundangundangan yang lebih tinggi atau kepentingan umum. Pengawasan tidak berlaku atau tidak diterapkan terhadap hal yang tidak ditentukan atau berdasarkan undang-undang.60 undang-undang.

yakni: Pertama. Adapun menurut Bagir Manan. hlm. bebas dari pengertian di atas adalah bahwa kepentingan umum merupakan kepentingan bagi kesejahteraan umum yang menjamin perlindungan dan merupakan sesuatu di mana publik secara keseluruhan mempunyai suatu pancang/landasan terutama suatu yang membenarkan peraturan yang dibentuk oleh pemerintah).(Terj. b. misalnya pengawasan menurut sifat/bentuk dan tujuannya. Garner.. 1999.61 3) Pengawasan berbeda dengan sarana pengendalian lainnya. Ketiga.. pemerintahan yang dilakukan 4) Pengawasan menunjukkan bahwa pelaksanaan tugas dan wewenang satuan pemerintahan yang diawasi tidak boleh bertentangan dengan hukum dan kepentingan umum. Mengenai kepentingan umum. pengawasan menurut 216 217 Bryan A. tanpa ada pembatasan karena kondisi invidual seseorang. b. dibutuhkan orang banyak. terdapat beberapa ukuran yang dapat dipergunakan untuk menentukan kepentingan umum.141. Pengawasan hanya terbatas pada segi oleh satuan pemerintahan yang diawasi. Black Law Dictionary. mendefinisikan Public Interest. Black Law Dictionary. setiap orang dapat menikmati dan memperoleh manfaat.Op. Penggolongan Pengawasan Pengawasan dapat dibedakan ke dalam berbagai macam. harus dalam rangka kesejahteraan umum.1244. yaitu: a. Something in which the public as a whole has a stake espesially an interest that justifies governmental regulation216. . hlm. Bagir Manan. Kedua. baik dalam arti materiil maupun spiritual217.Cit. The general welfare of public that warrants recognation and protection. Menyongsong Fajar….

Pengawasan preventif ini memiliki tujuan yang menurut Revrisond Baswir diidentifikasikan sebagai berikut: a) mencegah terjadinya tindakan-tindakan yang menyimpang dari dasar yang telah ditentukan. Dalam konteks penyelenggaraan pemerintahan daerah. 219 Bagir Manan. wewenang mengesahkan 219 pengawasan preventif ini berkaitan dengan (goedkeuring). menurut Bagir Manan.218 1) Pengawasan Menurut Sifat/Bentuk dan Tujuannya Secara konsepsional. b) memberi pedoman bagi terselenggaranya pelaksanaan kegiatan secara efesien dan efektif. Bandung. hlm. Menyongsong Fajar . c) menentukan sasaran dan tujuan yang akan dicapai. Berikut ini diidentifikasikan berbagai macam pengertian pengawasan tersebut. Pengawasan Pengelolaan Keuangan Daerah dalam Sistem Pemerintahan Daerah di Indonesia (Disertasi). dan d) menentukan kewenangan dan tanggung jawab sebagai instansi sehubungan dengan tugas yang harus dilaksanakan. 91-95.…Op. 2006. a) Pengawasan Preventif Secara umum pengertian pengawasan preventif pada dasarnya dilakukan untuk mencegah terjadinya penyimpangan-penyimpangan dalam pelaksanaan kegiatan. hlm. Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. Relevan dengan pembentukan produk hukum di daerah dan tindakan tertentu organ pemerintahan daerah. (2) pengawasan represif atau pengawasan detektif. 154 . pengawasan menurut sifat/bentuk dan tujuannya dapat dikelompokan menjadi 2 (dua). maka pengawasan preventif bertujuan untuk mencegah penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di lapangan pemerintahan daerah. yaitu: (1) pengawasan preventif dan. b) Pengawasan Represif atau Pengawasan Detektif Sebagian ahli mempergunakan istilah pengawasan ini dengan istilah pengawasan represif.62 ruang lingkupnya dan pengawasan menurut metodenya.Cit. sebagian lainnya mempergunakannya dengan istilah 218 Lihat Elektison Somi.

kedua istilah ini pada prinsipnya dilaksanakan setelah dilakukannya tindakan yaitu dengan membandingkan antara hal yang telah terjadi dengan hal yang seharusnya terjadi.Cit Paulus Effendie Lotulung. dapatlah dibedakan antara jenis kontrol yang disebut Kontrol Intern dan Kontrol Ekstern. maka terhadap Pemerintah selaku organ administarasi Negara dapat dikenakan bermacam-macam bentuk kontrol atau pengawasan. Tujuan pokok dari kontrol ini adalah untuk menghindari terjadinya kekeliruan-kekeliruan.xv. Paulus Effendie Lotulung mengatakan bahwa salah satu permasalahan pokok dalam studi tentang dasar-dasar hukum Administrasi adalah pelajaran tentang adanya atau dikenalnya berbagai macam kontrol atau pengawasan yang dapat dilakukan terhadap Pemerintah. pengawasan ini menurut Bagir Manan berkaitan dengan wewenang pembatalan (Verneitiging) atau penangguhan (schorsing).221 Apabila dibandingkan berbagai macam bentuk kontrol yang ada. Bhuana Ilmu Populer. Beberapa Sistem tentang Kontrol Segi Hukum terhadap Pemerintah. Memang di sinilah letak inti atau hakekat dari suatu pengawasan. . misalnya: pengawasan yang 220 221 Bagir Manan. 1986. sebagai suatu usaha represif. Berkaitan dengan pembentukan produk hukum daerah dan tindakan tertentu organ pemerintah daerah. Ditinjau dari segi kedudukan dari badan/organ yang melaksanakan kontrol itu terhadap badan/organ yang dikontrol.63 pengawasan detektif. Namun demikian. Suatu Kontrol Intern berarti bahwa pengawasan itu dilakukan oleh suatu badan yang secara oraganisatoris/ struktural masih termasuk dalam lingkungan Pemerintah sendiri. op. sebagai suatu usaha preventif. adanya kontrol itu sering dilihat sebagai sarana unutuk mencegah timbulnya segala bentuk penyimpangan tugas pemerintahan dari apa yang telah digariskan. baik yang disengaja maupun tidak disengaja. hlm. PT. maka dapat dibedakannya dari beberapa segi. Jakarta. Dalam praktek. atau juga untuk memperbaikinya apabila sudah terjadi kekeliruan itu.220 Berkaitan dengan berbagai macam bentuk pengawasan. Sebab di dalam melaksanakan tugasnya atau “mission”nya untuk menyelenggarakan kesejahteraan umum dan pelayanan kepentingan umum atau lazim disebut “public service”.

ataupun pengawasan yang dilakukan oleh tim/ panitia verifikasi yang dibentuk secara insidentil dan biasanya terdiri dari beberapa orang ahli dalam bidang-bidang tertentu. Dalam hal ini tampak jelas unsur preventif dari maksud kontrol itu. sebab tujuan utamanya adalah untuk mencegah atau menghindari terjadinya kekeliruan.64 dilakukan oleh pejabat atasan terhadap bawahannya secara hierarkis. misalnya: kontrol keuangan yang dilakukan oleh Badan Pengawas Keuangan (BPK). yaitu apa yang disebut sebagai Kontrol a-priori ada yang disebut Kontrol a-posteriori. atau peraturan pemerintah daerah-daerah tingkat II harus mendapat pengesahan terlebih dahulu dari pemerintah daerah tingkat I.222 Ditinjau dari segi saat/waktu dilaksanakannya suatu kontrol atau pengawasan. Sedangkan sebaliknya. kontrol politis yang pada umumnya dilakukan oleh lembagalembaga perwakilan rakyat dalam bentuk “hearing” ataupun hak bertanya para anggotanya. xvi . hlm. harus terlebih dahulu memperoleh persetujuan dan pengesahan dari instansi atasan. Misalnya: pengeluaran suatu yang untuk berlaku sah dan dilaksanakan. demikian seterusnya. Bentuk kontrol-kontrol semacam itu dapat digolongkan dalan jenis kontrol teknis-administratif atau lazim pula disebut sebagai suatu bentuk “built-in control”. suatu Kontrol Ekstern adalah pengawasan yang dilakukan oleh organ atau lembaga-lembaga yang secara organisatoris/struktural berada di luar Pemerintah dalam arti eksekutif. Sebaliknya. Kontrol a-posteriori adalah jika pengawasan itu baru terjadi 222 Ibid. kontrol sosial yang dilakukan oleh masyarakat melalui pers/masmedia. dilakukan Dikatakan sebagai Kontrol a-priori adalah bila pengawasan itu sebelum dikeluarkannya suatu keputusan atau ketetapan Pemerintah ataupun peraturan lainnya yang pengeluarannya memang menjadi wewenang Pemerintah. dapat pula dibedakan dalam 2 jenis kontrol. Termasuk pula kontrol ekstern ini adalah kontrol yang dilakukan secara tidak langsung melalui badan-badan peradilan (judicial control) dalam hal timbul persengketaan atau perkara dengan pihak Pemerintah.

223 Di lapangan pemerintahan daerah. yaitu segi “rechtmatigheid” dari perbuatan Pemerintah ataukah juga di samping segi “rechtmatigheid” ini dinilai pula benar-tidak benarnya perbuatan itu ditinjau dari segi/pertimbangan kemanfaatannya (opportunitas). instrumen pengawasan. yaitu Kontrol segi hukum. Di samping kedua macam kriteria pembedaan tersebut di atas. 2) Ruang Lingkup. Jadi dibedakanlah antara Kontrol segi hukum (rechtmatigheidstoetsing) dan Kontrol segi kemanfaatan (doelmatigheidstoetsing). xvi-xvii . dikenal pula pembedaan yang ditinjau dari segi sifat kontrol itu terhadap objek yang diawasi. apakah kontrol itu hanya dimaksudkan untuk menilai segi-segi atau pertimbangan yang bersifat hukum-nya (segi legalitas). arti tindakan/perbuatan pengawasan di sini adalah dititikberatkan kepada tujuan yang bersifat korektif dan memulihkan suatu tindakan yang keliru. sedangkan suatu kontrol teknis administratif intern dalam lingkungan Pemerintah sendiri (built-in control) bersifat selain penilaian legalitas (rechtsmatigsheidtoetsing) juga dan bahkan lebih menitikberatkan pada segi penilaian kemanfaatan. Antara keduanya terdapat perbedaan baik dalam ruang 223 Ibid. Dengan kata lain.65 sesudah terjadinya dikeluarkan keputusan/ketetapan Pemerintah. Waktu Pelaksanaan. karena selalu dilakukan sesudah terjadinya sustu perbuatan atau tindakan. Peranan badan peradilan melalui suatu judicial control adalah selalu bersifat Kontrol aposteriori. baik yang bersifat preventif maupun yang bersifat represif seringkali digunakan. dan Jangka Waktu Pelaksanaan Pengawasan Preventif berasal dari kata preventie yang berarti pencegahan. Wujud. Misalnya: Kontrol yang dilakukan oleh badan peradilan (judicial control) pada prinsipnya hanya menitikberatkan pada segi legalitas. sedangkan represif dari kata repressie yang berarti penekanan atau pengekangan. yaitu segi “doelmatigheid”. Pemerintah Dengan atau kata sesudah lain. hlm.

ancaman pidana. Ruang lingkup berlakunya Pengawasan preventif hanya dilaksanakan terhadap beberapa Peraturan Daerah atau Keputusan Kepala Daerah tertentu saja yang menyangkut menimbulkan kepentingaan-kepentingan keresahan-keresahan. 1990. Pengawasan terhadap produk-produk hukum yang ditetapkan oleh pemerintahan daerah ( pengawasan terhadap peraturan daerah dan peraturan kepala daerah). Jakarta. dan Pemerintah Daerah itu sendiri. dan yang menyangkut kepentingan rakyat banyak. larangan.149-153 . Dilakukan oleh aparat pengawas intern. keharusan. Jika digambarkan dalam suatu bagan. hlm. Melalui pranata pembatalan (vernietiging) atau berupa penangguhan pemberlakuan 224 Riwu Kaho. Provinsi. b. apabila tidak ditetapkan dengan sebaik-baiknya oleh Pemerintah Daerah. 225 Ibid. Rineka Cipta. (Inspektorat) a. 149. hlm. baik Pemerintah Pusat. Peraturan-peraturan dan Keputusan-keputusan Kepala Daerah tertentu yang diawasi secara preventif adalah ketentuan-ketentuan yang memberikan beban kepada rakyat. perwujudan maupun jangka waktu Perbedaan-perbedaan itu adalah sebagai berikut:225 a. Pengawasan represif dijalankan terhadap semua Peraturan Daerah dan keputusan Kepala Daerah tanpa kecuali. yang mengandung perintah.66 lingkup/lingkungan pelaksanaanya. Analisa Hubungan Pemerintah Pusat Dan Daerah Di Indonesia. ruang lingkup pengawasan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah dapat dilihat sebagai berikut: Tabel 1: RUANG LINGKUP PENGAWASAN ATAS PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH Pengawasan atas pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah (baik yang menyangkutan urusan otonomi maupun tugas pembantuan). besar atau yang mungkin dan kegelisahan-kegelisahan gangguan-gangguan dalam pelaksanaan atau penyelenggaraan kepentingan umum. Melalui pranata pengujian (material dan formal) ke badan peradilan (MA). Jadi pengawasan ini mempunyai ruang lingkup (scope) yang lebih luas dari pengawasan preventif.224 berlakunya.

Mengenai waktu pelaksanaanya. penetapan pedoman. jadi sebelum peraturan-peraturan/keputusan-keputusan tersebut dijalankan. Wujud dari masing-masing pengawasan. misalnya dalam bentuk “evaluasi” terhadap Raperda dan Rancangan Peraturan Kepala Daerah tentang APBD. dan Peraturan-peraturan Daerah dan Tingkat II. c. 32 Tahun 2004 Pasal 145 (3) dengan secara eksplisit menetapkan bahwa pembatalan Perda ditetapkan dengan Peraturan Presiden. sementara dalam praktek pembatalan terhadap perda ditetapakn oleh Menteri Dalam Negeri (dalam bentuk Peraturan Menteri?). kriteria. untuk provinsi oleh Mendagri dan untuk kabupaten/kota oleh Gubernur. dsb.226 c. b. Pengawasan preventif berujud kewajiban atau keharusan untuk memperoleh pengesahan lebih dahulu dari pihak pengawas yaitu Menteri Dalam Negeri bagi Peraturan Daerah /Keputusan-keputusan Gubernur Gubernur Kepala Daerah Tingkat I bagi Keputusan-keputusan Kepala Daerah Kepala Daerah Tingkat I. Pengawasan preventif dilaksanakan sebelum Peraturan-peraturan dan Keputusan-keputusan Kepala Daerah tersebut mulai berlaku. . Pengawasan represif dilakukan sesudah Peraturan-peraturan Daerah dan Keputusankeputusan Kepala Daerah berlaku dan dijalankan. sebelum peratuan-peraturan itu mulai berlaku dan dijalankan. monitoring. oleh Pemerintah Pusat. Jadi pengawasan ini di satu pihak merupakan hak pengawasan dari pihak pengawas dan di lain pihak merupakan kewajiban untuk meminta 226 UU No.67 (schorsing). Melalui proses/prosedur tertentu. Perubahan APBD dan Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD.

maka instansi/pejabat yang berwenang dalam pengawasan represif dapat menunda keputusan/peraturan tersebut. Penundaan bermaksud untuk menahan buat sementara waktu berjalannya Keputusan Kepala Daerah/Peraturan Daerah yang telah berlaku selama masih dalam pertimbangan untuk dibatalkan. maka pihak pengawas akan mengadakan peninjauan atau penyelidikan lebih lanjut apakah memang keputusan tersebut memang perlu dibatalkan ataukah tidak. Keputusan-keputusan/peraturan-peraturan lain di luar hal-hal yang tersebut di atas (di luar ketentuan-ketentuan yang memberikan beban kepada rakyat. Penolakan tersebut dengan disertai alasanalasannya disampaikan kepada Pemerintah Daerah yang bersangkutan. maka peraturan yang dimintakan pengesahan tersebut tidak dapat berlaku. Penundaan atau pembatalan dilakukan apabila peraturan-peraturan atau keputusan- keputusan Daerah yang telah dijalankan itu bertentanagan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi tingkatnya atau dengan kepentingan umum Apabila sesuatu Peraturan Daerah atau Keputusan Kepala Daerah yang telah berlaku dengan tanpa pengesahan. ancaman pidana dan yang menyangkut kepentingan rakyat banyak). . Pengawasan represif berupa penundaan/penangguhan atau pembatalan oleh pihak pengawas terhadap Peraturan-Peraturan Daerah/Keputusankeputusan Kepala Daerah yang telah berjalan tersebut. Apabila pihak pengawas beranggapan bahwa peraturan-peraturan dengan yang dimintakan yang lebih pengesahan tinggi tersebut atau bertentangan peraturan tingkatnya bertentangan dengan kepentingan umum. Dengan penolakan tersebut. larangan.68 pengesahan dari pihak yang diawasi. Jadi penundaan adalah langkah awal dari pembatalan. keharusan. perintah. dikenakan pengawasan represif. maka pengawas menolak untuk memberikan pengesahan. diduga atau dianggap mungkin bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi tingkatnya atau dengan kepentingan umum. Setelah Keputusan Kepala Daerah/Peraturan Daerah itu ditunda/ditangguhkan berlakunya.

merupakan dua sisi dari satu mata uang dalam negara kesatuan dengan sistem otonomi (desentralisasi). Antara kebebasan dan kemandirian berotonomi di satu pihak dan pengawasan di pihak lain. Hubungan pengawasan hanya dilakukan terhadap hal yang secara 227 Bagir Manan. .227 Namun demikian. Bentuk dan isi pengawasan dilakukan semata-mata menurut atau berdasarkan ketentuan undangundang. Sebaliknya pengawasan (toezicht) merupakan kendali terhadap desentralisasi berlebihan. Bilamana sesudah jangka waktu 3 bulan tersebut belum ada pengesahan atau penolakan .Cit. misalnya 3 bulan. Op. Pengawasan (toezicht. Peraturan Daerah atau Keputusan Kepala Daerah itu dapat diberlakukan. Kalau ditolak maka alasan-alasan penolakan itu disampaikan kepada Daerah yang bersangkutan. maka menurut ketentuan. Menyongsong Fajar. supervision) adalah suatu bentuk hubungan dengan sebuah legal entity yang mandiri.. pengertian pengawasan (toezicht.. Jadi dalam waktu 3 bulan itu pejabat yang berwenang untuk memberikan pengesahan harus memberikan pengesahan yang dimintakan atau menolaknya.. Mengenai jangka waktu pelaksanaan Pengawasan preventif dijalankan dalam jangka waktu terbatas/tertentu. Tidak ada otonomi tanpa sistem pengawasan. d..69 Keputusan untuk menunda harus disampaikan kepada Daerah beserta alasan-alasannya. yaitu selama sesuatu Peraturan Daerah/Keputusan Kepala Daerah masih berlaku. Kebebasan dan kemandirian berotonomi dapat dipandang sebagai pengawasan atau kendali terhadap kecenderungan sentralisasi yang berlebihan.. sewaktu-waktu dapat ditangguhkan atau dibatalkan. supervision) merupakan unsur yang tidak dapat dipisahkan dari kebebasan berotonomi. bukan hubungan internal dari entitas yang sama.153. hlm. Pengawasan represif dilakukan untuk jangka waktu yang tidak terbatas. maka Daerah dapat mengajukan keberatan. Bilamana Daerah berkeberatan atas penolakan tersebut.

Jenis/Bentuk Pengawasan b.. Pengawasan Administratif b. Pengawasan Legislatif PERANCIS 4 a. dibuat Tabel oleh Agus Kusnadi. Pengawasan tidak berlaku atau tidak diterapkan terhadap hal yang tidak ditentukan atau berdasarkan undang-undang. Desertasi. Objek-Objek Pengawasan Untuk mengetahui objek-objek pengawasan dalam konteks hubungan pusat dan daerah. dan Belanda. Bandung. Pengawasan ini berkaitan dengan produk hukum daerah dan tindakan tertentu organ pemerintahan daerah. Perancis. 2009. preventif dikatkan dengan 229 wewenang wewenang mengesahkan pembatalan Pengawasan represif adalah (vernietiging) atau penangguhan(schorsing). Pengawasan Represif 1. Pengawasan Administratif c.Cit. dapat didekati melalui perbandingan pengawasan yang berlaku di Inggris. Pengawasan Preventif b. 154 230 Sumber : Bagir Manan. Tabel 2: Perbandingan Pengawasan Pusat Terhadap Daerah di Inggris. 229 228 . hlm. Pengawasan (goedkeuring). Hubungan Antara Pusat dan Daerah Menurut UUD 1945. Ibid. Pengawasan Yudisial Loc. Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran.70 tegas ditentukan dalam undang-undang. c.228 Ada dua jenis pengawasan baku terhadap satuan pemerintahan otonom yaitu pengawasan preventif (preventief toezicht) dan pengawasan represif (repressief toezicht). Perancis dan Belanda230 NO 1 KATEGORI 2 INGGRIS 3 a. Bentuk dan Ruang Lingkup Pengawasan Pusat Terhadap Daerah Dalam Mewujudkan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Yang Demokratis Menurut UUD 1945. Pengawasan Yudisial BELANDA 5 a.43-114. hlm.

Gedeputeerde Staten a.71 a. b) Peraturan daerah (bersifat regeling). Peraturan dan Keputusan Daerah a. Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah berdasarkan undangundang Parlemen b. Keputusan atau tindakan administrasi negara Dari bagan yang ditunjukkan di atas dapat ditarik suatu kelaziman bahwa objek pengawasan pemerintah pusat terhadap satuan pemerintahan di bawahnya (atau pengawasan pusat terhadap daerah) adalah terhadap: a) Penyelenggaraan pemerintahan daerah sebagai pelaksanaan undangundang nasional. Keputusan dan Kebijakan Daerah c. Commissaris van de Koning. Pemerintah b. Kroon (Mahkota). Keputusan yang mempunyai akibat hukum. Cour des c. c) Tindakan administrasi negara pada pemerintahan daerah (bersifat beschikking dan . 3. dan Gedeputeerde Staten b. Subjek Pengawasan b. Prefect dan Counseil d’Etat 2. Counseil d’Etat. KeputusanKeputusan yang harus mendapat pengesahan pemerintahan tingkat atasnya b. Objek Pengawasan a. Pengadilan Comptes (Court of Accounts) a. baik di bidang otonomi maupun tugas perbantuan. Pusat Tribuneux Administratif. Peraturan. Kroon (Mahkota). Parlemen a. Peraturan/ Kebijakan Commune. Peraturan/ Kebijakan Ekonomi Pemerintah Daerah b. Pembentuk UndangUndang.

antara dan diantara berbagai macam tingkatan 231 Ateng Syafrudin. mengisyaratkan setidaknya ada 5 (lima) alasan mengapa pengawasan itu menjadi instrumen penting dalam rangka penyelenggaraan tugas-tugas pemerintahan di daerah. (Terj. (Terj. Untuk melindungi para warga negara dari tindakan sewenang-wenang dari (pejabat) pemerintah daerah). dan d) Keputusan yang harus mendapatkan pengesahan dari satuan pemerintahan di atasnya.72 beleidsregel). 28 Desember 1992. 3. To maintain minimun standards in the performance of services by local authorities. Makalah untuk pendidikan non-gelar anggota DPRD tingkat II se-Jawa Barat di Fakultas ISIP Unpad. To Wield and integrated the diverse people into a nation. To control local expenditures as part of the management and planning of the national economy. Masalah Hukum dalam Pemerintahan di Daerah. Tujuan Pengawasan Relevan dengan pengawasan terhadap penyelenggaraan De Guzman dan Artno Pascho231 pemerintahan di daerah. Raul P. 4. (Terj. hlm. 1. To maintain standards of administration as well as coordinate administrations between and among various levels of government. .untuk memelihara standar-standar minimum dalam melaksanakan pelayanan-pelayanan oleh pemerintah daerah). 2. Untuk memelihara standar-standar administrasi sebaik koordinasi administrasi pemerintahan). (memegang teguh dan menyatukan beraneka ragam rakyat menjadi suatu bangsa). To protect the citizens against the abuse of power by local authorities. Untuk mengawasi pengeluaran atau belanja daerah sebagai bagian manajemen dan perencanaan dari perekonomian nasional). (Terj. 5. 7. f. yakni.

Dinna. Masalah Pengurusan Keuangan Negara : Suatu Pengantar Teknis. pemeliharaan) sesuai dengan tujuan. agar pelaksanaan pengawasan dapat dijadikan sebagai suatu alat (instrumen) yang efektif dalam rangka penyelenggaraan tugas-tugas pemerintahan daerah. Menurut H. Apa yang diawasi (obyek yang perlu diawasi) b. terus menerus. CV. Menurut M. 1986.N. 4) Menjaga agar tugas itu dijalankan berdaya guna (termasuk pengurusan.73 Ateng Syafrudin232 menyebutkan 3 (tiga) tujuan dari pelaksanaan pengawasan. untuk menghindari atau mencegah penyalahgunaan wewenang. 2.N. c. 3) Menjaga agar pelaksanaannya itu dijalankan sesuai dengan peraturanperaturan yang telah ditetapkan (peraturan yang berlaku). 5) Melakukan usaha-usaha untuk mengatasi hambatan. Jakarta.233 Kriteria-kriteria di atas penting untuk menjadi pertimbangan dalam melakukan pengawasan. dan fragmatis. 3. untuk menjaga kewibawaan pemerintah daerah dan kepentingannya. Bagaimana pengawasan tersebut dapat dilakukan. hlm. untuk mencegah kelalaian dalam administrasi yang dapat merugikan negara atau daerah. Pengawasan tersebut harus bersifat rasional. yakni. untuk mencapai hal-hal sebagai berikut : a. fleksibel. maka harus diperhatikan beberapa kriteria sebagai berikut : a. serta akibat-akibatnya. mengendalikan penyimpangan-penyimpangan.234 232 233 Ibid. berkenaan dengan penyelenggaraan tugas-tugas pemerintahan daerah. Mengapa perlu diadakan pengawasan. 71 . Azmy Akhir. e. 1. Menjaga agar rencana itu dalam realisasinya tetap terarah pada tujuan yang telah ditentukan. sehingga tujuan dari kegiatan pengawasan tersebut dapat tercapai. Bohari. d. Dimana dan kapan diadakan pengawasan dan oleh siapa pengawasan tersebut harus dilakukan. Azmy Akhir. M.

Op. penyelewengan. hlm.235 234 235 H.74 Paling tidak tujuan pengawasan itu adalah untuk mencegah sedini mungkin terjadinya penyimpangan.Cit. 1995. hambatan. pemborosan. Jakarta. hlm. kesalahan dan kegagalan dalam pencapaian tujuan dan sasaran serta pelaksanaan tugas-tugas organisasi. 159 . Rajawali Pers. Bohari. Hukum Anggaran Negara. 117-118 Lembaga Administrasi Negara RI.

. 2001.238 Keempat. 1993. Pusat Studi Hukum Fakultas Hukum UII. hlm 21.240 Keenam. hlm 15-16. Karawang.236 Kedua. hlm 17.237 Ketiga. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah. pemerintahan daerah diselenggarakan berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut: pertama. op..242 Saat ini undang-undang penyelenggaraan pemerintahan daerah sebagai pelaksanaan Pasal 18 ayat (7) didasarkan pada UU No..75 BAB III PENGATURAN HUBUNGAN ANTARA PUSAT DAN DAERAH A. prinsip mengakui dan menghormati kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sebagaimana diatur dalam Pasal 18B ayat (2) UUD 1945. Prinsip badan perwakilan dipilih langsung dalam suatu pemilihan umum sebagaimana diatur dalam Pasal 18 ayat (3) UUD 1945. 240 Ibid. prinsip mengakui dan menghormati pemerintahan daerah yang bersifat khusus dan istimewa sebagaimana diatur dalam Pasal 18B ayat (1) UUD 1945. 13. 238 Bagir Manan.cit. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah.. UNSIKA.. hlm 12. hlm. dan Bagir Manan.. 12-13. Prinsip kekhususan dan keragaman daerah sebagai diatur dalam Pasal 18 ayat (1) UUD 1945. 32/2004 jo UU No. prinsip hubungan pusat dan daerah harus dilaksanakan secara selaras dan adil sebagaimana terdapat dalam Pasal 18A ayat (2) UUD 1945. Yogyakarta. Yogyakarta. 242 Ibid. Perjalanan Historis Pasal 18. Menyongsong Fajar . 8-9. 237 Bagir Manan. 239 Ibid.239 Kelima.241 Ketujuh. Hubungan Kewenangan Perubahan Kedua UUD 1945 yang terjadi pada tahun 2000 mengubah secara mendasar pengaturan pemerintahan daerah di Indonesia. hlm. 18A dan 18B. hlm. Prinsip menjalankan otonomi seluasluasnya yang diatur dalam Pasal 18 ayat (5) UUD 1945. Pusat Studi Hukum Fakultas Hukum UII. Prinsip daerah mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan sebagaimana diatur dalam Pasal 18 ayat (2) UUD 1945. 2001. Berdasarkan dasar hukum konstitusional pengaturan pemerintahan daerah dijumpai dalam Pasal-pasal 18. 236 . 241 Ibid..

Peraturan pelaksana yang mengatur hubungan kewenangan antara lain PP No.76 12/2008. . dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. Yayasan Tifa. 38/2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah. Pertama.pariwisata B. organ Negara termaksud hanya dijumpai di ibu kota Negara (di tingkat pemerintahan nasional). Jakarta. adalah organ-organ Negara (staatsorganen). Kabupaten/Kota Urusan Wajib Antara lain : . URUSAN ‘BERSAMA’ (concurrent power) Pusat. . dan .Agama. UU No. hlm.Yustisi. . . .Politik Luar Negeri. yang memiliki perbedaan yang signifikan. provinsi.pendidikan. . yaitu urusan pemerintahan yang secara mutlak menjadi urusan pusat dan urusan pemerintahan yang dapat dilaksanakan baik oleh pemerintah. Pemerintahan Daerah Provinsi.kesehatan. 2005.Keamanan. maupun kabupaten/kota (concurrent power). Kedudukan organisasi Negara ini tidak hierarkis sementara organ pemerintahan terdapat baik di tingkat 243 Bhenyamin Hoessein.lingkungan hidup. dalam Kumpulan Tulisan pasang surut otonomi Daerah. Bagan 6 Pembagian Urusan Pemerintahan URUSAN PEMERINTAHAN MUTLAK URUSAN PUSAT MM .industri .243 Dalam Negara kesatuan.kelautan .Moneter dan Fiskal Nasional. 197.Pertahanan. . . Ketentuan Pasal 10 UU No. Hubungan Kelembagaan Hakekat Negara adalah organisasi dan dalam organisasi Negara. 32/2004 itu mengandung pengertian bahwa urusan pemerintahan dapat dibagi dalam dua kelompok.pertanian . Provinsi. Hubungan Kewenangan Pusat dan Daerah.perhubunga n Urusan Pilihan Antara lain : . kedua. adalah organ-organ pemerintahan (regeringsorganen). dapat di identifikasi dua macam kelompok organ. 33/2004 serta berbagai peraturan lain yang relevan.

hlm. wewenang. sehingga terwujud variasi struktur dan politik untuk menyalurkan aspirasi masyarakat setempat. sesuai dengan kondisi dan potensi masyarakat. dan pemberdayaan masyarakat yang bertujuan pada peningkatan kesejahteraan rakyat. Kedudukan organ-organ pemerintahan bersifat hierarkis di bawah Presiden (Pemerintah)..244 Dengan desentralisasi. Adapun yang dimaksud dengan otonomi yang bertanggungjawab adalah otonomi yang dalam penyelenggaraannya harus benar-benar sejalan dengan tujuan dan maksud pemberian otonomi. 198 246 Penjelasan Umum UU No.245 Dalam penjelasan umum UU No.. Asas ini berfungsi untuk menciptakan keanekaragaman dalam penyelenggaraan pemerintahan. prakarsa. khususnya pemerintahan tingkat daerah tersusun dalam satu kesatuan struktural dan 244 245 Ibid. Dengan perkataan lain. Daerah memiliki kewenangan membuat kebijakan daerah untuk memberi pelayanan. terjadi pembentukan dan implementasi kebijakan yang tersebar diberbagai jenjang pemerintahan subnasional. 32 Tahun 2004 dijelaskan bahwa Prinsip otonomi daerah menggunakan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam arti daerah diberikan kewenangan mengurus dan mengatur semua urusan pemerintahan diluar yang menjadi urusan Pemerintah. hidup dan berkembang sesuai dengan potensi dan kekhasan daerah. desentralisasi berfungsi untuk mengakomodasi keanekaragaman masyarakat. dan kewajiban yang senyatanya telah ada dan berpotensi untuk tumbuh. Dengan demikian isi dan jenis otonomi bagi setiap daerah tidak selalu sama dengan daerah lainnya. Sejalan dengan prinsip tersebut dilaksanakan pula prinsip otonomi yang nyata dan bertanggungjawab. Prinsip otonomi nyata adalah suatu prinsip bahwa untuk menangani urusan pemerintahan dilaksanakan berdasarkan tugas. 32 Tahun 2004 . 197 Ibid. peningkatan peran serta.. hlm.246 UUD 1945 menghendaki susunan pemerintahan. yang pada dasarnya untuk memberdayakan daerah termasuk meningkatkan kesejahteraan rakyat yang merupakan bagian utama dari tujuan nasional.77 nasional maupun di subnasional.

250 247 248 Bagir Manan. Berdasarkan kenyataan itu. 4 Agustus 2009 250 Pasal 3 Ayat (1) UU No. Dalam hal ini adalah UU No. meskipun tidak dalam susunan hirarkis satu sama lain.247 Negara (pemerintah Pusat) dan daerah kedua-duanya merupakan badan hukum publik yang masing-masing mempunyai badan pemerintahannya sendiri-sendiri dengan hak. antara pusat dan daerah akan terjadi hubungan antara lain hubungan kelembagaan. 1984. Hubungan dalam pengaturan organisasi perangkat daerah Sebagaimana diketahui bentuk Negara Indonesia tercantum di dalam Pasal 1 Ayat (1) UUD 1945. hlm. 1. 32 Tahun 2004 . Bandung. Bahan diskusi pada Diskusi Terbatas Pusat Studi Hukum Tata Negara. susunan kelembagaan pemerintahan daerah terdiri dari: 1. Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran. 32 Tahun 2004 Tentang pemerintahan Daerah beserta peraturan pelaksanaannya. kewenangan dan kewajiban sendiri-sendiri. 197 Irawan Soejito. Hubungan… hlm. Susunan luar dibawah Pemerintah Pusat terdapat Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. Atas dasar ketentuan tersebut dapat diketahui bahwa penyelenggaraan pemerintahan dilakukan dengan menggunakan sistem desentralisasi. dengan demikian terdapat pemencaran kekuasaan dari pusat kedaerah baik menurut asas otonomi. 182 249 Kuntana Magnar.78 fungsional yang utuh. hubungan tersebut dalam praktek terlihat misalnya pada pengaturan organisasi perangkat daerah dan pemekaran daerah.248 Hubungan antara Pemerintah Pusat dengan daerah otonom diatur dengan cara-cara tertentu yang diatur dengan undang-undang. Penerbit Bina Aksara. tugas pembantuan dan dekonsentrasi. yang penyelenggaraannya melalui ketentuan Pasal 18 ayat (1). 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah beserta perubahannya.249 Menurut UU No. Hubungan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.

dan untuk kota disebut walikota. dan kelurahan. Pasal 19 Ayat (2)UU No. (4) Tata cara pelantikan dan pengaturan selanjutnya diatur dalam Peraturan Pemerintah Kedudukan dan peranan kepala daerah dengan beragam penyebutan seperti Gubernur. kecamatan. Kepala daerah dibantu oleh satu orang wakil kepala daerah. (2) Bupati dan wakil bupati atau walikota dan wakil walikota dilantik oleh Gubernur atas nama Presiden.79 2. melindungi dan melayani masyarakat maupun dalam memimpin organisasi administrasi pemerintahan. dinas daerah. dinas daerah dan lembaga teknis daerah252 b. Bupati/Walikota. Kepala daerah untuk provinsi disebut Gubernur. 41 . Perangkat daerah kabupaten/kota adalah unsur pembantu kepala daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah yang terdiri dari sekretariat daerah. lembaga teknis daerah. 32 Tahun 2004 Pasal 1 angka 7 PP No. baik sebagai pemimpin organisasi pemerintahan yang mengayomi. Dalam hal pelantikan terdapat hubungan antara pemerintah dan pemerintah daerah sebagaimana diatur dalam Pasal 111 ayat (1) Gubernur dan wakil Gubernur dilantik oleh Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden. untuk provinsi disebut wakil Gubernur. 32 Tahun 2004 menyebutkan pada Setiap daerah dipimpin oleh kepala pemerintah daerah yang disebut kepala daerah. Perangkat daerah provinsi adalah unsur pembantu kepala daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah yang terdiri dari sekretariat daerah. untuk kabupaten disebut wakil bupati dan untuk kota disebut wakil walikota. telah menunjukan eksistensinya. sekretariat DPRD. Dalam memutar roda organisasi pemerintahan.253 2. Kepala daerah Pasal 24 UU No. Susunan dalam terdiri dari DPRD dan kepala Daerah beserta perangkat daerah251 a. sekretariat DPRD. untuk kabupaten disebut bupati. pembangunan 251 252 Pasal 3 Ayat (2)jo. 41 Tahun 2007 253 Pasal 1 angka 8 PP No.

32 Tahun 2004 Hubungan organisasi perangkat daerah antara pemerintah dengan pemerintah daerah terdapat dalam hal melaksanakan tugas dan wewenang kepala daerah dan wakil kepala daerah mempunyai kewajiban menjalin hubungan kerja dengan seluruh instansi vertikal di daerah dan semua perangkat daerah (Pasal 27 Ayat (1)). kepala daerah secara terus menerus dihadapkan pada pelbagai tuntutan dan tantangan baik secara internal maupun eksternal yang harus di respon dan diantisipasi sekaligus merupakan ujian terhadap kapabilitias dan kompetensi Kepala Daerah. Hlm. dan kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur untuk Bupati/Walikota 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun. Jakarta. serta dalam menghadapi konflik. pada Ayat (3) dikatakan Laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada Pemerintah dimaksud disampaikan kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri untuk Gubernur. Hubungan Kepala Daerah dengan Pemerintah Menurut UU No. dan memberikan laporan keterangan pertanggungjawaban kepada DPRD. Penerbit Gramedia Pustaka. Kaloh. 254 J.254 3. Kepala Daerah juga mempunyai kewajiban untuk memberikan laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada Pemerintah Pasal 27 Ayat (2). 2003. Kepala Daerah. serta menginformasikan laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada masyarakat. gejolak dan permasalahan pemerintahan di daerah. Laporan tersebut digunakan Pemerintah sebagai dasar melakukan evaluasi penyelenggaraan pemerintahan daerah dan sebagai bahan pembinaan lebih lanjut sesuai dengan peraturan perundang-undangan. kepala daerah mempunyai kewajiban juga untuk memberikan laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada Pemerintah.80 dan pembinaan kemasyarakatan. 3 . Selain itu. dan kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur untuk Bupati/Walikota 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun. Laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada Pemerintah disampaikan kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri untuk Gubernur.

32 Tahun 2004 ayat (1) Pasal 37 UU No. 32 Tahun 2004 ayat (2) 257 Pasal 38 Ayat (1) . tindak pidana terorisme. memiliki tugas dan wewenang257 dalam hal a) pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah kabupaten/kota. dan Pasal 32 ayat (5).81 Laporan sebagaimana dimaksud digunakan Pemerintah sebagai dasar melakukan evaluasi penyelenggaraan pemerintahan daerah dan sebagai bahan pembinaan lebih lanjut sesuai dengan peraturan perundang-undangan. b) koordinasi penyelenggaraan urusan Pemerintah di daerah provinsi dan kabupaten/kota. Pasal 34 ayat (3) menyebutkan apabila kepala daerah dan wakil kepala daerah diberhentikan sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1). Tindak pidana itu antara lain menurut Pasal 31 ayat (1) tindak pidana korupsi. Presiden menetapkan penjabat Gubernur atas usul Menteri Dalam Negeri atau penjabat Bupati/Walikota atas usul Gubernur dengan pertimbangan DPRD sampai dengan adanya putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Pasal 30 ayat (1) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah diberhentikan sementara oleh Presiden tanpa melalui usulan DPRD apabila dinyatakan melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun atau lebih berdasarkan putusan pengadilan. Pasal 31 ayat (1).255 Dalam kedudukannya tersebut Gubernur bertanggung jawab kepada Presiden. 4. c) koordinasi pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan tugas pembantuan di daerah provinsi dan kabupaten/kota. 255 256 Pasal 37 UU No.256 Gubernur dalam kedudukannya sebagai wakil pusat di daerah. Gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat Gubernur yang karena jabatannya berkedudukan juga sebagai wakil Pemerintah di wilayah provinsi yang bersangkutan. dan/atau tindak pidana terhadap keamanan Negara. makar. Pada Ayat (2) Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah diberhentikan oleh Presiden tanpa melalui usulan DPRD apabila terbukti melakukan tindak pidana berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.

32 Tahun 2004) dan DPRD sebagai lembaga perwakilan rakyat daerah dipilih melalui pemilihan umum bersamaan dengan pemilihan anggota DPR dan DPD. hlm. APBD. anggaran. BN. Jakarta 2005. d. DPRD Konsep perwakilan politik lokal terkait dengan sistem pemerintahan yang dipraktikkan suatu Negara. dan kerja sama internasional di daerah. keterlibatan masyarakat secara langsung dan tidak langsung ikut menentukan urusan urusan rumah tangga daerahnya. kebijakan pemerintah daerah dalam melaksanakan program pembangunan daerah. dalam Kumpulan Tulisan “Pasang Surut Otonomi Daerah”. peraturan kepala daerah. Adapun mengenai tugas dan wewenang DPRD sebagaimana diatur dalam Pasal 42 UU 32 Tahun 2004 adalah: a. membahas dan menyetujui rancangan Perda tentang APBD bersama dengan kepala daerah. editor Anhar Gonggong. Perwakilan Politik Lokal dan Eksistensi DPRD dalam Konteks Otonomi Daerah.82 5. Dengan kedudukannya seperti tersebut DPRD memiliki fungsi legislasi. melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan Perda dan peraturan perundang-undangan lainnya. e. b. Konsep perwakilan politik lokal merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sistem demokrasi. membentuk Perda yang dibahas dengan kepala daerah untuk mendapat persetujuan bersama.258 Sebagaimana telah disinggung sebelumnya bahwa DPRD merupakan unsur pemerintahan daerah bersama kepala daerah (Pasal 40 UU No. artinya. Marbun. Institute for Local Development Yayasan TIFA. mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian kepala daerah/wakil kepala daerah kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri bagi DPRD provinsi dan kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur bagi DPRD kabupaten/kota. dan pengawasan (Pasal 41). memilih wakil kepala daerah dalam hal terjadi kekosongan jabatan wakil kepala daerah. 327 258 . c.

32 Tahun 2004. DPD dan DPRD. Pengaturan mengenai DPRD ini selain diatur dalam UU No. kekuasaan DPRD baik tingkat provinsi maupun Kabupaten/Kota akan melalui sebuah upaya evaluasi peraturan pelaksanaannya. g. 32 Tahun 2004 yang pelaksanaannya melalui PP No. bahkan dalam cara pengisiannyapun sama-sama dipilih secara langsung oleh rakyat melalui pemilu. 6. 41 Tahun 2007. Perangkat Daerah Keberadaan perangkat daerah dijumpai pada Pasal 1 Angka 3 dan Pasal 120 UU No. memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama antardaerah dan dengan pihak ketiga yang membebani masyarakat dan daerah. i. Bahkan dalam hal pembentukan perda. Disamping itu DPRD juga sebenarnya merupakan bagian atau unsur kekuasaan eksekutif pada level pusat karena merupakan bagian dari penyelenggara pemerintahan daerah. 32 Tahun 2004 juga diatur dalam UU yang mengatur tentang Susunan Kedudukan MPR. Dengan adanya PP tersebut menunjukan adanya hubungan . h. yaitu UU No. 23 Tahun 2002 sebagaimana disebutkan dalam Pasal 39 UU No. k. meminta laporan keterangan pertanggungjawaban kepala daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. namun DPRD tidak mempunyai hubungan secara langsung dengan DPR. membentuk panitia pengawas pemilihan kepala daerah. kedudukan dan fungsi DPR RI. j. kedudukan serta fungsi DPRD ini berada dalam satu undang-undang yang sama dengan pengaturan mengenai susunan. melakukan pengawasan dan meminta laporan KPUD dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah. DPR. memberikan pendapat dan pertimbangan kepada pemerintah daerah terhadap rencana perjanjian internasional di daerah.83 f. memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama internasional yang dilakukan oleh pemerintah daerah. atau dengan perkataan lain DPRD bukan merupakan subordinasi dari DPR RI. Meskipun pengaturan tentang susunan.

Dalam hal tidak ditetapkan Gubernur. Setiap perda dilarang bertentangan dengan kepentingan umum. Sedang untuk Kabupaten/Kota ditambah dengan kecamatan dan keluarahan (Pasal 120 UU No. Suatu raperda ditetapkan oleh Gubernur atau Bupati/Walikota paling lama 30 hari sejak disetujui bersama (Pasal 144 Ayat (3)). integrasi. Dalam ketentuan ini pemerintah dapat membatalkan . Kabupaten/Kota tidak menerima pembatalan tersebut dengan alasan yang dapat dibenarkan oleh peraturan perundang-undangan. sinkronisasi dan simplifikasi antardaerah dan antarsektor. Apabila Provinsi. Kepala Daerah harus memberhentikan pelaksanaan perda. sehingga masing-masing pemerintah daerah taat asas dan taat norma dalam penataan kelembagaan perangkat daerah. 41 Tahun 2007 dijelaskan bahwa Pembinaan dan pengendalian organisasi dalam Peraturan Pemerintah ini dimaksudkan dalam rangka penerapan koordinasi. Perda yang bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundang-undangan lebih tinggi. 32 Tahun 2004). sekretariat DPRD. Paling lama 30 hari setelah pembatalan. Apabila keberatan itu dikabulkan sebagian atau seluruhnya putusan Mahkamah Agung tersebut menyatakan Peraturan Presiden menjadi batal dan tidak mempunyai kekuatan hukum. Pada penjelasan umum PP No. Pembentukan organisasi perangkat daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah dengan berpedoman pada PP mengenai Susunan. Kedudukan. (3)). Perangkat daerah provinsi terdiri atas sekretariat daerah. Kepala Daerah dapat mengajukan keberatan pada Mahkamah Agung (Ayat (5)). Tugas Pokok dan Fungsi Perangkat Daerah. dan/atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi (Pasal 136 Ayat( 4)).84 kelembagaan antara pusat dan daerah dalam pengaturan organisasi perangkat daerah. raperda itu sah menjadi perda (Ayat 4). dan lembaga teknis daerah. Bupati/Walikota dalam jangka waktu tersebut. Selanjutnya DPRD dengan Kepala Daerah mencabut perda dimaksud (Ayat (4)). dinas daerah. dapat dibatalkan oleh pemerintah yang ditetapkan dengan Peraturan Presiden paling lama 60 hari sejak diterimanya perda oleh Pemerintah (Pasal 145 ayat (2).

32 Tahun 2004 antara lain diatur didalam Pasal 4 Ayat (3) dan (4). kabupaten. pemerintah senantiasa melakukan fasilitasi melalui asistensi. maupun kota di Indonesia. Pasal 18 ayat 1 UUD 1945 menganut desentralisasi teritorial sehingga akan dibentuk daerah-daerah baik Provinsi. DPRD Provinsi dan Gubernur dengan Menteri Dalam Negeri. pelatihan. Pusat Studi HTN . Bupati dan Walikota. telah terjadi banyak sekali pemekaran daerah provinsi.85 peraturan daerah tentang perangkat daerah yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan dengan konsekuensi pembatalan hak-hak keuangan dan kepegawaian serta tindakan administratif lainnya. yaitu sejak dikeluarkannya UndangUndang Nomor 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah. Dalam pelaksanaan pembinaan dan pengendalian organisasi perangkat daerah. pedoman. 41 Tahun 2007 Tentang SOTK Kuntana Magnar. Sementara pada kelembagaan pusat. Bahan Diskusi Terbatas.259 7. Demikian pula pada Pasal 7 dan Pasal 8. sehingga sinkronisasi dan simplifikasi dapat tercapai secara optimal dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.2 dan 3 UUD 1945. bimbingan. yaitu dalam hal syarat administratif terkait DRPD Kabupaten dan Kota. Hubungan dalam pembentukan daerah (pemekaran dan pembubaran daerah)260 Hubungan kelembagaan lainnya terdapat dalam pembentukan daerah (pemekaran dan pembubaran daerah). Pasal 5. serta kerja sama. Dalam sepuluh tahun terakhir. Pasal 7 Ayat (1) dan (2) serta Pasal 8. Menurut UU No. Selain akan terkait dengan DPR dan Presiden (dalam hal ini diwakili Mendagri). pemberian arahan. Kabupaten dan Kota dengan UU. Hal itu disebabkan diberikannya peluang yang sangat besar (untuk terjadinya pemekaran) oleh undang-undang tersebut yang kemudian 259 260 Penjelasan Umum PP No. Pada Pasal 5 Ayat (2) dan (3) jelas nampak adanya hubungan kelembagaan antara pusat dan daerah dalam pembentukan daerah. juga terdapat celah bagi peran DPD meskipun sangat terbatas terlihat pada Pasal 22 D ayat 1. supervisi.

banyak elit daerah yang mengajukan pemekaran daerah dengan dalih sudah memenuhi syarat yang ditentukan oleh undang-undang. maupun kota. Pembentukan daerah baru juga dilakukan atas nama kepentingan masyarakat. Di satu sisi. adalah salah satu implikasi negatif berlakunya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999. baik provinsi. yaitu untuk meningkatkan kesejahtraan masyarakat. Bahkan sangat mungkin terjadi sebaliknya di mana pemekaran daerah dapat menjadi penyebab persoalan bagi kehidupan masyarakat di daerah yang baru dibentuk tersebut. kecenderungan membentuk daerah otonom baru tidak serta-merta berakhir dengan digantinya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004. 4. Adanya fakta banyak daerah baru yang dibentuk. pelayanan publik (umum). Bandung. dan daya saing daerah. mengundang kecemasan mengenai keberlanjutan dan kemampuan suatu daerah otonom baru untuk dapat bertahan mengurus rumah tangganya sendiri. Namun demikian. tampaknya paradigma berpikir masyarakat pun tidak berubah dengan perubahan dasar hukum pemerintahan daerah tersebut. kabupaten. Pengkajian Penataan Daerah Otonom Kabupaten/Kota di Jawa Barat.86 dimanfaatkan oleh para politisi atau elit lokal (daerah). Para politisi lokal pun tetap beramai-ramai membentuk daerah baru dengan mengedepankan 261 Pusat Pengkajian dan Pengembangan Wilayah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran. pemekaran daerah belum menjadi jaminan atau obat yang mujarab dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sekalipun saat ini undang-undang tersebut sudah tidak berlaku. pembentukan daerah baru pun banyak terjadi seperti cendawan tumbuh di musim hujan. Sebagai akibatnya. kecenderungan untuk melakukan pemekaran daerah atau pembentukan daerah baru masih saja berlanjut. Bahkan. hlm. kecenderungan tersebut dapat diterima dan dipahami sebagai wujud adanya kedewasaan dan harapan untuk mengurus dan mengembangkan potensi daerah dan masyarakatnya. dan daya saing daerah sebagaimana yang diharapkan ketika pembentukan daerah baru. Namun di sisi lain. Laporan Penelitian.261 Dengan demikian. pelayanan masyarakat (publik). 2002. . Dalam hal ini.

Pengaturan undangan Pemekaran Daerah dalam Peraturan Perundang- Berbicara tentang pengaturan pemekaran daerah. yang diatur dengan undang-undang”. dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah. yang tiap-tiap provinsi. sumberdaya keuangan. secara faktual pada saat itu sudah terdapat undang-undang yang mengatur tentang hal tersebut. Pembentukan daerah (baru) dapat ditafsirkan dari bunyi Pasal 18 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) hasil perubahan kedua pada tanggal 18 Agustus 2000262 yang menyatakan bahwa “Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota. 8. 31. sebenarnya tidak ada peraturan perundang-undangan yang secara khusus mengatur hal tersebut. Alasan tersebut menjadi senjata yang sangat ampuh untuk membentuk daerah baru tanpa mempertimbangkan aspek lain. Berkaitan dengan hal itu. sekalipun ketentuan UUD 1945 menyebutkan “akan” diatur lebih lanjut dengan undang-undang. pelayanan publik. Dengan demikian. maupun kemampuan daerah. hlm. 2009. Namun demikian. . Dari bunyi pasal tersebut dapat diasumsikan bahwa wilayah Indonesia dibagi baik ke dalam provinsi yang sudah ada atau dapat dibagi lagi ke dalam provinsi yang baru melalui pemekaran. maupun sumberdaya alamnya. penjabarannya (akan) diatur lebih lanjut dengan undangundang. Demikian pula untuk provinsi dapat dibagi ke dalam kabupaten dan kota yang sudah ada maupun dibagi lagi ke dalam kabupaten dan kota yang baru.87 alasan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. kabupaten. baik dari segi sumberdaya manusia. seperti keadaan sosial-budaya masyarakat. keharmonisan hubungan pemerintahan. UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Jakarta. pada kenyataannya masalah tersebut “sudah” 262 Sekretariat Jenderal Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia. yaitu Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah. maupun daya saing daerah.

88 diatur dengan undang-undang yang ada. dan/atau dimekarkan diusulkan oleh Kepala Daerah dengan persetujuan DPRD kepada Pemerintah. sebenarnya rumusan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 lebih baik daripada rumusan Pasal 18 ayat (1) UUD 1945. Apabila dilihat rumusannya. dan/atau pemekaran daerah dijelaskan sebagai berikut: a. Adapun mekanisme pembentukan. Berkaitan dengan pemekaran daerah. (4) Penghapusan. (2) Daerah dapat dimekarkan menjadi lebih dari satu Daerah. dan kota yang harus ada di Indonesia. rumusan Pasal 18 ayat (1) UUD 1945 adalah hasil adopsi rumusan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). dan Daerah Kota yang bersifat otonom”. b. Daerah yang akan dibentuk. pemekaran daerah sangat dimungkinkan bahkan ketentuannya terkesan sangat longgar. penghapusan. penggabungan. penggabungan dan pemekaran Daerah. dan pemekaran Daerah. sehingga tidak ada pembatasan sampai berapa tahap pemekaran itu dapat dilakukan dan sampai berapa jumlah provinsi. Pasal tersebut berbunyi “Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi dalam Daerah Propinsi. penggabungan. kabupaten. Daerah Kabupaten. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. dihapus. digabung. Kenyataan itu juga turut dipermudah dengan proses dan mekanisme pemekaran yang sangat mudah seperti yang dapat dilihat dalam penjelasan Pasal 115 ayat (1) yang berkaitan dengan tugas Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah. hal itu diatur dalam Pasal 6 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang berbunyi: (1) Daerah yang tidak mampu menyelenggarakan Otonomi Daerah dapat dihapus dan atau digabung dengan Daerah lain. Bahkan sebenarnya. (3) Kriteria tentang penghapusan. ditetapkan dengan Undangundang. Dari bunyi pasal di atas. Pemerintah menugaskan Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah .

luas daerah. dan pertimbangan lain. penghapusan. Pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 129 Tahun 2000 tentang Persyaratan. Dalam BAB IV tentang Kriteria Pemekaran. g. b. terutama dalam Pasal 13 ayat (1) disebutkan bahwa pemekaran daerah dapat dilakukan berdasarkan kriteria sebagai berikut: a. dan Penggabungan Daerah. dan Penggabungan Daerah. pertimbangan lain yang memungkinkan terselenggaranya Otonomi Daerah. sosial politik. kemampuan ekonomi.89 untuk melakukan penelitian dengan memperhatikan kemampuan ekonomi. Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah menyampaikan pertimbangan untuk penyusunan rancangan undang-undang yang mengatur pembentukan. Selanjutnya. Sebagai pelaksanaan lebih lanjut perintah Pasal 6 ayat (3) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999. yaitu: a. d. dan Kriteria Pemekaran. c. penggabungan. b. c. yang dituangkan dalam Keputusan DPRD. sosial-politik. Pembentukan. potensi daerah. Penghapusan. sosial budaya. potensi daerah. Penghapusan. usul pembentukan Propinsi disampaikan kepada Pemerintah cq Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah dengan dilampirkan hasil penelitian Daerah dan persetujuan DPRD Propinsi dan DPRD Kabupaten/Kota yang berada dalam wilayah Propinsi dimaksud. pembentukan Daerah harus didukung oleh penelitian awal yang dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah. dan/atau pemekaran Daerah Otonom. sosial-budaya. e. luas daerah. . jumlah penduduk. jumlah penduduk. c. ada kemauan politik dari Pemerintah Daerah dan masyarakat yang bersangkutan. f. berkaitan dengan prosedur pemekaran daerah dianggap sama dengan prosedur pembentukan daerah.

tidak mengherankan sampai saat ini proses pemekaran daerah masih . para anggota Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah memberikan saran dan pendapat secara tertulis kepada Ketua Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah. h. usul pembentukan Kabupaten/Kota disampaikan kepada Pemerintah cq Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah melalui Gubernur dengan dilampirkan hasil penelitian Daerah dan persetujuan DPRD Kabupaten/Kota serta persetujuan DPRD Propinsi. j. dan penggabungan daerah diganti seiring dengan digantinya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah. Rancangan Undangundang pembentukan Daerah disampaikan kepada DPR-RI untuk mendapat persetujuan. usul pembentukan suatu daerah diputuskan dalam rapat anggota Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah. Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah selaku Ketua Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah mengajukan usul pembentukan Daerah tersebut beserta Rancangan Undang-undang Pembentukan Daerah kepada Presiden. Selanjutnya. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 juga masih membuka peluang terjadinya pemekaran daerah. i. Sama halnya dengan undang-undang sebelumnya. pembentukan. g. Ketua Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah meminta tanggapan para anggota Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah dan dapat menugaskan Tim Teknis Sekretariat Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah ke Daerah untuk melakukan penelitian lebih lanjut. apabila berdasarkan hasil keputusan rapat anggota Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah menyetujui usul pembentukan Daerah. dan kriteria pemekaran. penghapusan. Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah memproses lebih lanjut dan dapat menugaskan Tim untuk melakukan observasi ke Daerah yang hasilnya menjadi bahan rekomendasi kepada Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah. berdasarkan saran dan pendapat Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah. Hal itu dapat dilihat dari bunyi Pasal 2 ayat (1) yang berbunyi ”Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota yang masing-masing mempunyai pemerintahan daerah”. yang dituangkan dalam Keputusan DPRD. peraturan pemerintah yang berkaitan dengan persyaratan. berdasarkan rekomendasi pada huruf e. apabila Presiden menyetujui usul dimaksud. dengan memperhatikan usulan Gubernur. Oleh karena itu.90 d. e. f.

persetujuan DPRD provinsi dan Gubernur serta rekomendasi Menteri Dalam Negeri. ibukota. meliputi adanya persetujuan DPRD kabupaten/kota dan Bupati/Walikota yang akan menjadi cakupan wilayah provinsi. pendanaan. teknis. (2) Syarat administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk provinsi. sarana. penunjukan penjabat kepala daerah. batas. Pemekaran dari satu daerah menjadi 2 (dua) daerah atau lebih sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat dilakukan setelah mencapai batas minimal usia penyelenggaraan pemerintahan. Undang-undang pembentukan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) antara lain mencakup nama. sosial politik. pengalihan kepegawaian. pengisian keanggotaan DPRD. dan faktor lain yang memungkinkan terselenggaranya otonomi daerah. potensi daerah. (3) Syarat administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk kabupaten/kota meliputi adanya persetujuan DPRD kabupaten/kota dan Bupati/Walikota yang bersangkutan. lokasi calon ibukota. (3) (4) Pasal 5 (1) Pembentukan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 harus memenuhi syarat administratif. kewenangan menyelenggarakan urusan pemerintahan. sosial budaya. keamanan. . (4) Syarat teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi faktor yang menjadi dasar pembentukan daerah yang mencakup faktor kemampuan ekonomi. dan fisik kewilayahan. luas daerah. dan Pasal 7 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang berbunyi sebagai berikut: Pasal 4 (1) (2) Pembentukan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) ditetapkan dengan undang-undang. Pengaturan tentang pembentukan daerah dan pemekaran daerah diatur dalam Pasal 4. dan dokumen.91 dilakukan dan terus berlangsung karena memang undang-undangnya membuka peluang untuk itu. Pembentukan daerah dapat berupa penggabungan beberapa daerah atau bagian daerah yang bersandingan atau pemekaran dari satu daerah menjadi dua daerah atau lebih. (5) Syarat fisik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi paling sedikit 5 (lima) kabupaten/kota untuk pembentukan provinsi dan paling sedikit 5 (lima) kecamatan untuk pembentukan kabupaten. peralatan. serta perangkat daerah. dan 4 (empat) kecamatan untuk pembentukan kota. serta rekomendasi Menteri Dalam Negeri. Pasal 6. cakupan wilayah. persetujuan DPRD provinsi induk dan Gubernur. pertahanan. kependudukan. dan prasarana pemerintahan.

diatur dengan PP (Pasal 8). Selanjutnya laporan dimaksud digunakan pemerintah sebagai dasar melakukan evaluasi penyelenggaraan pemerintahan daerah (Pasal 27 Ayat (2) dan (3) UU 32 Tahun 2004). perubahan nama daerah. atas usul dan persetujuan daerah yang bersangkutan (Ayat (2) dan (3)). 32 Tahun 2004 menentukan bahwa penghapusan dan penggabungan daerah otonom. dilakukan setelah melalui proses evaluasi. Tata cara pembentukan penghapusan dan penggabungan daerah. sedangkan mengenai perubahan batas suatu daerah. dalam pembentukan dan pememkaran serta penggabungan daerah terkait juga peran dari Dewan Perwakilan Daerah (DPD) meskipun sangat terbatas. Kepala Daerah berkewajiban untuk memberikan laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada Pemerintah (pusat).92 Pasal 6 (1) Daerah dapat dihapus dan digabung dengan daerah lain apabila daerah yang bersangkutan tidak mampu menyelenggarakan otonomi daerah. serta perubahannya atau pemindahan ibu kota ditetapkan dengan PP. dan kepada Menteri Dalam Negari melalui Gubernur untuk Bupati/Walikota dalam satu tahun. yaitu DPD dapat menngajukan kepada DPR rancangan undang-undang (RUU) tentang hal dimaksud. (2) Penghapusan dan penggabungan daerah otonom dilakukan setelah melalui proses evaluasi terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah. Laporan tersebut disampaikan kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri untuk Gubernur. Sementara itu dalam Pasal 7 Ayat (1) ditentukan bahwa penghapusan dan penggabungan daerah beserta akibatnya ditetapkan dengan undangundang. Sehubungan dengan itu. pemberian nama. Dalam ketentuan Pasal 8 tidak ditegaskan . Pasal 6 U No. (3) Pedoman evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah. terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah.

Selanjutnya.93 bagaimana dengan pemekaran dan perluasan daerah. b. c. b. yaitu: (1) Pembentukan daerah dapat berupa penggabungan beberapa daerah atau bagian daerah yang bersandingan atau pemekaran dari satu daerah menjadi dua daerah atau lebih. Penggabungan beberapa daerah atau bagian daerah yang bersandingan. Adapun peraturan pemerintah yang dimaksud adalah Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2007 Tentang Tata Cara Pembentukan. c. Pemekaran dari 1 (satu) provinsi menjadi 2 (dua) provinsi atau lebih. dan Penggabungan Daerah. penghapusan. Pemekaran dari 1 (satu) kabupaten/kota menjadi 2 (dua) kabupaten/kota atau lebih. Pemekaran dari satu daerah menjadi dua daerah atau lebih. (4) Pembentukan daerah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat berupa: a. b. Penggabungan beberapa provinsi menjadi 1 (satu) provinsi. Pasal 5. (3) Pembentukan daerah provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat berupa: a. dan Pasal 6 diatur dengan Peraturan Pemerintah. Penghapusan. Penggabungan beberapa kecamatan yang bersanding pada wilayah kabupaten/kota yang berbeda. ketentuan tentang tata cara pembentukan. sebab apabila merujuk pada Pasal 4 Ayat (3) dikatakan pembentukan daerah dapat berupa: a. dan penggabungan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. (2) Pembentukan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Berkaitan dengan pemekaran daerah menurut Peraturan Pemerintah tersebut sebenarnya hampir sama sebagaimana diatur dalam Pasal 2. . Pada ketentuan ini tidak ditegaskan bagaimana dengan perluasan daerah. Penggabungan beberapa kabupaten/kota yang bersanding pada wilayah provinsi yang berbeda. dapat berupa pembentukan daerah provinsi atau daerah kabupaten/kota.

Penggabungan beberapa kabupaten/kota menjadi 1 (satu) kabupaten/kota. maka terhadap pengertian pemekaran sebenarnya bukan pemecahan. tetapi mengandung arti bahwa suatu daerah seharusnya dibesarkan bukan . kabupaten. Apabila ketentuan Pasal 4 Ayat (3) UU No. jumlah daerah otonom di Indonesia menjadi 33 provinsi. Hal ini sangat penting agar suatu daerah dapat menjalankan roda pemerintahan sebagai daerah yang baru dibentuk. dan 34 kota. 164 kabupaten. sampai sekarang (2009). Salah satu perbedaan penting antara kedua peraturan pemerintah tersebut adalah dalam Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2007 diatur tentang batas waktu minimal suatu daerah dapat dimekarkan (lagi) setelah dimekarkan. sampai dengan sekarang (2009) telah terjadi banyak sekali pemekaran daerah menjadi daerah otonom baru baik provinsi. kedua peraturan perundang-undangan di atas memiliki kesamaan di mana keduanya sangat membuka peluang terjadinya pemekaran daerah baru. dan 96 kota. Dengan demikian. Sebagai akibat dari mudahnya prosedur pemekaran daerah seperti yang dijelaskan di atas. Berdasarkan data yang diajukan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidato pengantar Rancangan Undang-Undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2010 dan Nota Keuangan di depan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tanggal 3 Agustus 2009 diketahui bahwa sejak tahun 1999 sampai dengan 2009 telah terbentuk 205 daerah baru yang terdiri dari 7 provinsi. Namun demikian. 32 Tahun 2004 diteliti. 389 kabupaten.94 c. maupun kota. Selengkapnya Pasal 3 berbunyi “Daerah yang dibentuk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3) huruf a dan ayat (4) huruf a dapat dimekarkan setelah mencapai batas minimal usia penyelenggaraan pemerintahan 10 (sepuluh) tahun bagi provinsi dan 7 (tujuh) tahun bagi kabupaten/kota. Hal ini adalah suatu kemajuan dibandingkan dengan peraturan pemerintah sebelumnya.

Kabupaten dan Kota. sarana dan prasarana pemerintahan. e. dan faktor lain yang memungkinkan terselenggaranya otonomi daerah. Persetujuan DPRD Provinsi dan Gubernur serta rekomendasi Menteri Dalam Negeri (Ayat 3). c. Melalui PP No. dan . Sementara syarat fisik meliputi paling sedikit 5 Kabupaten/Kota untuk pembentukan Provinsi dan paling sedikit 5 Kecamatan untuk pembentukan Kabupaten. Pemekaran daerah adalah pemekaran wewenang dari Pemerintah kepada Gubernur sebagai wakil pwemerintah dan/atau perangkat pusat di daerah. Syarat teknis meliputi faktor yang menjadi dasar pembentukan daerah yang mencakup faktor kemampuan ekonomi. b. luas daerah. Peningkatan pelayanan kepada masyarakat. Pembentukan daerah itu sendiri harus memenuhi syarat administratif dan fisik kewilayahan (Pasal 5 Ayat (1)). lokasi calon ibukota. potensi daerah social budaya. Syarat administrasi untuk Provinsi meliputi adanya persetujuan DPRD Kabupaten/Kota dan Bupati/ Walikota yang akan menjadi cakupan wilayah provinsi. Penggabungan daerah adalah pengaturan daerah yang dihapus kepada daerah lain. 4 kecamatan untuk Kota. 3. d. pertahanan keamanan. Percepatan pelaksanaan pembangunan perekonomian daerah. Percepatan pertumbuhan kehidupan demokrasi.95 dipacah. Pembentukan daerah adalah pemberian status pada wilayah tertentu sebagai Daerah Provinsi. 129 Tahun 2000 (semasa UU No. peningkatan keamanan dan ketertiban. 2. Sebenarnya yang perlu diperhatikan dalam pembentukan pemekaran penhapusan dan penggabungan daerah yaitu tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan melalui: a. 22 Tahun 1999) dapat diketahui bahwa: 1. social politik. kependudukan. Persetujuan DPRD Provinsi induk dan Gubernur serta rekomendasi Menteri Dalam Negeri (Pasal 5 Ayat (2)) adapun untuk Kabupaten/Kota meliputi adanya persetujuan DPRD Kabupaten/Kota dan Bupati/Walikota yang bersangkutan. Percepatan pengelolaan potensi daerah.

c. RIS terdiri atas 16 negara bagian dan 1 Wilayah Federal Batavia. Akibatnya tiap-tiap negara bagian mulai menyatukan diri satu per satu dengan Republik Indonesia. ketika Belanda mengakui kemerdekaan Republik Indonesia Serikat (RIS) 27 Desember 1949. kemampuan ekonomi. Pada akhir tahun 1949. jumlah penduduk. Bangka. Antara tahun 1946-1949.com/forum/index. Pada tahun 1945.0. luas daerah.php/topic. Negara Pasundan. 2. Daerah Banjar. Jawa Tengah. sosial politik. pemerintah menetapkan Indonesia dibagi menjadi delapan provinsi. Sunda Kecil.lautanindonesia. Negara Sumatera Timur. Peningkatan hubungan yang serasi antara pusat dan daerah. muncul gerakan untuk kembali ke negara kesatuan.5619. Negara Madura. Belitung. Pertimbangan lain yang memungkinkan terselenggaranya ekonomi daerah. Jawa Timur. Daerah Istimewa Borneo Barat. Jumlah provinsi: 8.html . Sulawesi. dan Maluku. b. Jumlah provinsi: 16. Jawa Barat. g. 3. yaitu Sumatera. Borneo. Di bawah ini disajikan data perkembangan jumlah daerah provinsi di Indonesia melalui pemekaran daerah sejak 1945-2009. Dayak Besar. Untuk itu terlebih dahulu harus dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut: a.263 Daftar Nama dan Jumlah Provinsi di Indonesia Sejak 1945-2009 1. Negara Sumatera Selatan. f. dan Negara Indonesia Timur. Federasi Borneo Timur. Riau.96 f. e. Borneo Tenggara. sosial budaya d. terdapat berbagai perubahan wilayah Indonesia karena munculnya negara-negara baru dalam wilayah Indonesia. Negara Jawa Timur. potensi daerah. 263 Data diolah dari http://www. Keenam belas negara bagian itu adalah: Republik Indonesia. Pada awal tahun 1950. Jawa Tengah.

Pada akhir tahun 1956. yaitu Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan. yaitu Sumatera Utara. Pada tahun 1964. 7. Awal Agustus 1950. hasil pemekaran dari Kalimantan Selatan. Kalimantan Selatan. yaitu Lampung (dari Sumatera Selatan). Provinsi Sulawesi dipecah menjadi dua provinsi. Riau. hasil pemekaran dari Sumatera Selatan. RIS hanya terdiri atas 4 negara bagian. Pada tahun 1956. yaitu Republik Indonesia. dan Jambi. dan Nusa Tenggara Timur. Pada tahun 1968. Daerah Istimewa Borneo Barat. tiga provinsi baru terbentuk. Pada tahun 1960. 5. yaitu Kalimantan Barat. Yogyakarta dikeluarkan dari Jawa Tengah menjadi provinsi tersendiri dan diberi status Daerah Istimewa. Jumlah provinsi: 11. yaitu Bali. Pada tahun 1959. RIS dinyatakan bubar dan diganti dengan NKRI. 8. yaitu Sumatera Barat. 9. Jumlah provinsi: 19. Pada tahun 1950. . Kemudian Provinsi Sunda Kecil juga dipecah menjadi tiga provinsi. dan Negara Indonesia Timur. Jumlah provinsi: 24. Sulawesi Tengah (dari Sulawesi Utara). Kemudian. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyerahkan administrasi wilayah Irian Barat kepada Indonesia. Provinsi Aceh terbentuk. dengan nama Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya. Pada tahun yang sama. Kalimantan dipecah menjadi tiga provinsi. Pada tanggal 17 Agustus 1950. 6. dengan nama Daerah Istimewa Aceh. Jumlah provinsi: 20. Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya secara resmi ditetapkan sebagai ibukota Republik Indonesia. Sumatera Tengah. dan Kalimantan Timur. Pada tahun 1961. dengan nama Daerah Istimewa Yogyakarta. Nusa Tenggara Barat. Pada tahun 1953. dan Sulawesi Tenggara (dari Sulawesi Selatan). 10. Provinsi Aceh diberi status Daerah Istimewa. Pada tahun 1963. Negara Sumatera Timur. Kota Jakarta resmi dikeluarkan dari Jawa Barat dan menjadi provinsi tersendiri dan diberi status Daerah Khusus Ibukota.97 4. Pada tahun 1958. Jumlah provinsi: 21. dan Sumatera Selatan. Provinsi Kalimantan Tengah terbentuk.Jumlah provinsi: 18. Jumlah provinsi: 14. Provinsi Bengkulu terbentuk. Pada akhir tahun 1959. dan ketiga negara bagian selain RI dinyatakan bubar dan dimasukkan ke dalam wilayah NKRI. Provinsi Sumatera Tengah dipecah menjadi tiga provinsi. Provinsi Sumatera dipecah menjadi tiga provinsi. Provinsi Borneo diganti namanya menjadi Kalimantan. hasil pemekaran dari Sumatera Utara. Jumlah provinsi: 25.

pada akhir tahun 1999. hasil pemekaran dari Provinsi Papua. diadakan jajak pendapat (referendum) di Timor Timur dan Timor Timur secara resmi keluar dari NKRI. 14. Pada tahun 1969. Timor Timur dimasukkan ke dalam wilayah NKRI dan menjadi salah satu provinsi di Indonesia. yaitu Kepulauan Riau (dari Provinsi Riau) dan Sulawesi Barat (dari Sulawesi Selatan). Provinsi Irian Jaya Barat resmi berdiri. 17. atau kelurahan/desa yang juga mengalami pemekaran. hasil pemekaran dari Provinsi Maluku. Kemudian pada akhir tahun 2000. Dengan semakin bertambahnya jumlah daerah baru tersebut tentu akan membebani anggaran negara dan semakin mengurangi alokasi untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat karena APBN/APBD akan lebih banyak dialokasikan . Pada tahun 2004. jumlah provinsi dalam sepuluh tahun terakhir meningkat menjadi lebih dari 400%. Pada tahun 2007. Tetapi. dua provinsi baru resmi berdiri. Pada tahun 1973. Jumlah tersebut juga belum termasuk kabupaten/kota. Jumlah provinsi: 27. yaitu Kepulauan Bangka Belitung (dari Sumatera Selatan) dan Gorontalo (dari Sulawesi Utara). dan diberi status Otonomi Khusus. Indonesia menguasai wilayah Timor Timur dan pada tahun 1976. Jumlah provinsi: 31. Pada tahun 2003. Pada akhir tahun 1975. Pada tahun yang sama. kecamatan. dimekarkan dari Jawa Barat. Jumlah provinsi: 30. Jumlah provinsi: 28. Pada tahun 2001. 15. 16. Jumlah provinsi: 26. Provinsi Irian Jaya diganti namanya menjadi Papua. Provinsi Maluku Utara terbentuk. 12. 13. Irian Barat secara resmi menjadi bagian dari NKRI dan menjadi salah satu provinsi di Indonesia. setelah diadakan Penentuan Pendapat Rakyat(Pepera). Jumlah provinsi: 33. Provinsi Irian Jaya Barat diubah namanya menjadi Papua Barat. Apabila dibandingkan dengan masa awal kemerdekaan. Pada tahun 1999. Jumlah tersebut mungkin akan bertambah banyak seiring dengan keinginan banyak pihak yang masih menginginkan pemekaran daerahnya. Provinsi Papua juga diberi status Otonomi Khusus. Daerah Istimewa Aceh diganti namanya menjadi Nanggroe Aceh Darussalam. Sama halnya dengan NAD. Pada awal tahun 2000. Jumlah provinsi: 27. Provinsi Banten resmi berdiri. Provinsi Irian Barat diubah namanya menjadi Irian Jaya.98 11. dua provinsi baru resmi berdiri.

apakah mampu atau tidak menyelenggarakan otonomi daerah. Akan tetapi. Hal itu terjadi karena penyelenggaraan pemerintahan daerah yang baru belum memiliki pengalaman yang memadai dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat maupun menjalankan roda pemerintahan. Bahkan keadaan yang lebih parah dapat terjadi di daerah baru tersebut dibandingkan dengan pada waktu masih menginduk kepada daerah induknya. termasuk daerah baru hasil pemekaran. Anggaran tersebut misalnya untuk alokasi pembangunan infrastruktur baru. penghapusan dan penggabungan daerah otonom dilakukan setelah melalui proses evaluasi terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah sebagaimana yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. Pada kenyataannya. untuk mengerem terjadinya pemekaran daerah. tujuan utama untuk membentuk daerah baru dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pelayanan publik juga menjadi persoalan yang tidak mudah untuk diwujudkan. Di dalam Penjelasan Umum Peraturan Pemerintah tersebut dijelaskan alasan pentingnya dilakukan evaluasi terhadap suatu daerah sebagai berikut: . Di lain pihak. gaji pejabat baru. Dengan demikian. dan sebagainya. untuk daerah tertentu yang dianggap tidak mampu dimungkinkan untuk dihapuskan atau digabungkan dengan daerah lain.99 dan tersedot untuk daerah-daerah baru tersebut. gedung baru. Peraturan Pemerintah tersebut sebagai pelaksanaan perintah Pasal 6 ayat (3) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 untuk mengevaluasi keberadaan daerah. tunjangan jabatan pejabat baru. keterbatasan sarana dan prasarana atau infrastruktur juga dapat menjadi penyebab terbatasnya pelayanan publik sebagaimana mestinya. pakaian dinas baru. Dalam hal ini. kendaraan baru. masyarakat tetap saja merasakan tidak adanya peningkatan kesejahteraan maupun pelayanan yang diberikan oleh pemerintah daerah barunya. secara konseptual dan yuridis formal pemerintah sudah mencoba melakukan upaya tersebut dengan mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2008 Tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. Selain itu.

Dalam bagian ini yang akan dibahas adalah pendapatan daerah.. Namun demikian. Hubungan Keuangan UU No. adalah untuk menilai kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah dalam upaya peningkatan kinerja untuk mendukung pencapaian tujuan penyelenggaraan otonomi daerah berdasarkan prinsip tata kepemerintahan yang baik. memperbaiki sistem perimbangan keuangan pusat – daerah yang diatur sebelumnya dalam UU No. untuk mengetahui keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan daerah dalam memanfaatkan hak yang diperoleh daerah dengan capaian keluaran dan hasil yang telah direncanakan. 25 Tahun 1999. sampai saat ini juga belum ada data yang menunjukkan bahwa ada daerah tertentu yang sudah dihapuskan atau digabungkan dengan daerah lainnya karena dianggap tidak mampu menjalankan otonomi daerah. terutama daerah baru... Tujuan utama dilaksanakannya evaluasi. pelayanan umum. maupun daya saing daerah. Namun tampaknya peraturan pemerintah tersebut belum optimal dijalankan mengingat sampai saat ini tidak diperoleh data yang terbuka untuk umum tentang hasil evaluasi yang dilakukan oleh Tim Nasional Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah dalam mengevaluasi daerah-daerah baru hasil pemekaran.100 ”. serta pembiayaan berupa pinjaman daerah. yang tidak mampu menjalankan pemerintahannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan ataupun tujuan awal pembentukannya yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. UU No. 33 Tahun 2004 menitikberatkan pada pengaturan perimbangan keuangan pusat-daerah. secara faktual banyak sekali daerah. khususnya PAD dan dana perimbangan (tidak termasuk mengenai dana otonomi khusus yang diberikan kepada Provinsi Papua dan Aceh). pengaturan tersebut tidak terlepas dari pendapatan daerah untuk membiayai urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya. 33 Tahun 2004. Selain itu. Padahal.. C. Dalam hal jenis dana perimbangan terdapat istilah baru untuk menyebut ...”. Pemerintah berkewajiban mengevaluasi kinerja pemerintahan daerah .

namun hubungan keuangan pusat-daerah juga berkaitan dengan pembiayaan urusan pusat yang diselenggarakan oleh pemerintahan daerah dan oleh aparat pusat yang juga unsur pemerintah daerah. tidak hanya mengatur dana perimbangan dalam rangka desentralisasi. Pendapatan Asli Daerah Pendapatan Asli Daerah (PAD) bersumber dari pajak daerah. Mengenai DBH. 33 Tahun 2004. sementara dalam UU No.101 dana perimbangan yang berasal dari pembagian pajak dan sumber daya alam. dan lain-lain PAD yang sah.266 Walaupun daerah diberikan kewenangan untuk meningkatkan PAD. namun daerah dilarang menetapkan peraturan daerah (Perda) tentang pendapatan yang menyebabkan ekonomi biaya tinggi. 266 Pasal 6 ayat (1) UU No. namun juga ditambah dengan perubahan asal dana yang dibagi. Walaupun inti dari hubungan keuangan pusat daerah adalah perimbangan keuangan. 33 Tahun 2004. dan dana alokasi khusus (DAK). istilah dana tersebut diubah menjadi dana bagi hasil (DBH). dana tersebut disebut sebagai Bagian Daerah dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan. hasil pengelolaan kekayaan Daerah yang dipisahkan. Dalam UU No. Perubahan tersebut. dan menetapkan Perda tentang pendapatan yang menghambat mobilitas 264 265 Lihat Pasal 6 ayat (1) huruf a UU No. Khusus mengenai dana perimbangan lainnya. DAU dan DAK akan dibahas selanjutnya. namun berbeda dari segi formulanya. yaitu dana alokasi umum (DAU). Namun demikian. tidak hanya sekedar penggantian istilah. istilah dan substansinya tetap dipertahankan dalam UU No. melainkan juga dana tugas pembantuan dan dana dekonsentrasi. 33 Tahun 2004. 33 Tahun 2004. Dalam UU No. 33 Tahun 2004. 1.22 Tahun 1999. PPh tidak dijadikan pajak yang dibagi ke daerah. yaitu dalam hal jenis pajak265. 25 Tahun 2002. dalam penelitian ini tidak dibahas mengenai dana tugas pembantuan dan dekonsentrasi karena memerlukan penelitian tersendiri yang lebih mendetail. Hal ini disebabkan UU No. 22 Tahun 1999. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan264. Sementara itu dalam UU No. . PPh tertentu juga menjadi DBH. retribusi daerah.

lalu lintas barang dan jasa antardaerah. UU No. dan 3 golongan retribusi daerah.268 Dalam PP No. dan lahirlah perubahan pertama dari UU tersebut (UU No. UU No 18 Tahun 1997 mengatur 267 268 Pasal 7 UU No.267 Dalam UU No. 20 Tahun 1997) dan ditentukan 10 jenis dari golongan jasa retribusi umum. 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah merupakan UU yang penting di bidang ini. 18 Tahun 1997 dan UU No.102 penduduk.18 Tahun 1997 tidak mengatur jenis-jenis retribusi daerah seperti halnya pajak daerah. UU No. ditentukan 11 jenis dari golongan retribusi jasa umum. 13 jenis untuk golongan retribusi jasa usaha. 20 Tahun 1997. dan 6 jenis golongan retribusi perizinan tertentu. 7 pajak daerah untuk kabupaten/ kota. 12 jenis untuk golongan retribusi jasa usaha. Tahun 1957 tentang Peraturan umum Pajak Daerah dan Undang-Undang Nomor 12 Drt. pengaturan mengenai retribusi daerah diatur dalam PP No. 18 Tahun 1997 mengatur kewenangan daerah untuk memungut 3 pajak daerah untuk provinsi. UU No. dan kegiatan impor/ekspor.66 Tahun 2001 (menggantikan PP No. UU N0. Sementara itu. dan 4 jenis golongan retribusi perizinan tertentu yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah. yaitu Peraturan Pemerintah No.18 Tahun 1997 diubah untuk disesuikan. 34 Tahun 2000 sama-sama mengatur bahwa selain jenis pajak daerah yang telah ditentukan dapat ditambahkan jenis pajak daerah lain berdasarkan kriteria yang ditentukan UU tersebut (sistem terbuka). 33 Tahun 2004. Setelah berlakunya UU No. UU No. 20 Tahun 1997. 22 Tahun 1999. 34 Tahun 2000 menambahkan 1 jenis pajak daerah untuk provinsi dan 1 jenis untuk pajak daerah kabupaten/ kota. Jenis-jenis retribusi daerah ditentukan dalam Peraturan Pemerintah. karena menggantikan UU sebelumnya yang telah berlaku dalam waktu yang cukup lama (UndangUndang Nomor 11 Drt. 34 Tahun 2000). Perbedaannya. Tahun 1957 tentang Peraturan Umum Retribusi Daerah). .

Penambahan jenis retribusi daerah ditetapkan dalam bentuk Perda. mencari. 34 Tahun 2000 dan PP No. 34 Tahun 2000. 20 Tahun 1997 memberikan kewenangan untuk menambahkan jenis-jenis pajak daerah dan retribusi daerah kepada pemerintah pusat. 272 Menteri Keuangan sekaligus Pelaksana Jabatan Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati di Jakarta. memberikan kewenangan tersebut kepada pemerintahan daerah. daerah tidak dapat memungut pajak daerah selain yang ditentukan dalam UU tersebut.270 Dalam hal retribusi daerah. memberikan otonomi yang lebih luas dibandingkan UU No. . 34 Tahun 2000). ketentuan dalam UU No. Dengan demikian.103 bahwa penambahan jenis pajak daerah tersebut ditetapkan dalam PP269. Menggantikan UU sebelumnya. atau berkreasi yang tidak baik dalam arti mencari-cari penghasilan asli daerah. 28 Tahun 2009 mulai diberlakukan pada tanggal 1 Januari 2010. 20 Tahun 1997 tidak memberikan kewenangan kepada daerah untuk menetapkan jenis retribusi lain selain yang ditetapkan dalam PP tersebut (sistem tertutup). sementara UU No. 34 Tahun 2000. 66 Tahun 2001. 18 Tahun 1997 dan PP No. 18 Tahun 1997. Selasa (4/8) mengatakan: ”Sistem yang ditetapkan bersifat daftar tertutup. 269 270 Lihat Pasal 2 ayat (3) UU No. Sementara itu. Lihat Pasal 2 ayat (4) UU No. mengatur jenis pajak daerah sistem daftar tertutup272. 28 Tahun 2009. Perbedaan pengaturan di atas mencerminkan bahwa UU No. 66 Tahun 2001. 34 Tahun 2000 dan PP No. 28 Tahun 2009. artinya daerah hanya diperbolehkan memungut pajak dan retribusi sesuai undangundang ini sehingga tidak ada lagi daerah yang perlu mengubah. PP No. 34 Tahun 2000 (sistem terbuka).66 Tahun 2001 menentukan bahwa daerah dapat mengatur jenis retribusi daerah selain yang ditentukan dalam kedua PP tersebut dengan kriteria yang ditentukan dalam UU No. PP No.” “Pajak Daerah Dibatasi. 271 Lihat Pasal 185 UU No. 20 Tahun 1997 dalam menentukan jenis-jenis pajak daerah dan retribusi daerah. 18 Tahun 1997 dan PP No. 18 Tahun 1997 dan perubahan pertamanya (UU No. sementara dalam UU No. Artinya. UU No. penambahan tersebut ditetapkan dengan peraturan daerah. UU No.271 Berbeda dengan dengan UU No.

kompas. 28 Tahun 2009. 15 No. 273 Ibid. 277 Lihat Pasal 28 dan Pasal 29 UU No. 405. Journal of Public Budgeting. 2003. sementara Thailand memberikan kewenangan kepada daerah untuk memungut a single property based tax (1999). Academic Press. 393. 5 Agustus 2009. 171). BPHTB.275 Pajak rokok ini baru berlaku 1 Januari 2014. pajak sarang burung walet Pelayanan kepada Masyarakat Wajib Ditingkatkan”. Kompas. Larry Schroeder. seperti Filipina.274 Pungutan atas usaha rokok sebelumnya. 28 Tahun 2009. Pajak rokok sebagai pajak daerah baru ditentukan untuk dipungut instansi pemerintah yang berwenang memungut cukai bersamaan pungutan cukai rokok. Vol. sehingga provinsi menerima sisanya (30%). selain cukai rokok yang menjadi kewenangan provinsi. 3. diakses dari http://koran.273 Sebelumnya. . 28 Tahun 2009 juga menambahkan jenis pajak daerah baru. 28 Tahun 2009. 275 Pasal 27 ayat (3) UU No. Lihat. Sementara itu. masing –masing 1 untuk provinsi (pajak rokok) dan 3 untuk kabupaten/ kota (pajak sarang burung wallet. Thailand. Walaupun tidak semua jenis PBB diberikan kewenangan kepada daerah. cukai rokok pun tetap diberlakukan dan tetap menjadi kewenangan pemerintah pusat.277 Hasil penerimaan pajak tersebut juga merupakan objek pembagian antara kabupaten/ kota dan provinsi. namun hal ini merupakan satu kemajuan dalam hal kewenangan daerah memungut pajak. sementara dalam UU No. 392. 274 Filipina memberikan kewenangan kepada daerah untuk memungut the real property tax sejak diundangkannya Local Government Act 1959. 276 Pasal 181 UU No. PBB pedesan dan perkotaan serta BPHTB). Rabu. termasuk PBB pedesaan dan perkotaan menjadi kewenangan pusat. Accounting & Financial Management. “Fiscal Decentralization in South East Asia”. hlm. hanya dikenal pungutan cukai rokok.104 UU No. 28 Tahun 2009. Hasil penerimaan pajak tersebut sebesar 70% dialokasikan untuk kabupaten/kota278. 278 Pasal 94 ayat (1) huruf c UU No. 28 Tahun 2009. Malaysia juga memberikan kewenangan yang sama kepada daerah (berupa property tax) sejak diundangkannya Local Government Act 1976 (Act No. semua PBB. 402.dibatasi.daerah. Padahal jika dibandingkan dengan negara-negara asia tenggara lainnya.com/read/xml/2009/08/05/04112298/pajak. Malaysia PBB atau secara umum dikenal sebagai property tax sudah diberikan kewenangannya kepada daerah sejak lama.276 Dasar pengenaan pajak rokok adalah cukai rokok yang ditetapkan pemetintah terhadap rokok dan tarif pajak rokok ditentukan sebesar 10% dari cukai rokok.

286 Pajak Hotel diperluas hingga 279 280 Pasal 75 ayat (1) UU No. 28 Tahun 2009. Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan yang semula merupakan kewenangan Provinsi.285 Keempat.283 Ketiga. 285 Hasil penerimaan Pajak Air Permukaan diserahkan kepada kabupaten/kota yang bersangkutan sebesar 80% (delapan puluh persen).284 dan air permukaan yang hanya di satu kabupaten/kota berlaku aturan khusus. pajak kendaraan bermotor menggunakan tarif pajak progresif untuk kepemilikan kendaraan kedua dan seterusnya dengan tarif 2% sampai maksimal 10% di mana ketentuan progresivitasnya ditentukan oleh Perda provinsi.282 Bila terjadi kenaikan harga tinggi atas BBM. Lihat Pasal 94 ayat (2) UU No. pemadam kebakaran. ada beberapa jenis pajak daerah yang sudah ada.105 merupakan pajak daerah yang dipungut bagi daerah-daerah yang memiliki sumber daya tersebut dengan tarif maksimal 10 %. 28 Tahun 2009. basis pajaknya (tax base) diperluas. 28 Tahun 2009 juga mengubah beberapa pengaturan pajak daerah yang sebelumnya telah ada dalam UU sebelumnya. namun tarif pajak untuk kendaraan umum dapat ditentukan 50% lebih rendah dari tarif kendaraan pribadi. 283 Pasal19 ayat(3) UU No. 28 Tahun 2009. UU No. sosial keagamaan. dan kendaraan lain yang ditetapkan dengan . UU tersebut juga menentukan bahwa pajak air tanah menjadi pajak daerah kabupaten/kota. lembaga sosial dan keagamaan. sementara pajak air permukaan menjadi pajak daerah provinsi. 28 Tahun 2009. 282 Pasal19 ayat(2) UU No. ambulans. 28 Tahun 2009. dan Pemerintah Daerah) bersama Kendaraan Bermotor angkutan umum. tarif pajak bahan bakar kendaraan bermotor ditetapkan maksimal 10%281. Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor diperluas hingga mencakup kendaraan Pemerintah. kepemilikan pertama ditetapkan tariff minimal 1% dan maksimal 2%. dan Pasal 2 ayat (2) huruf h UU No. Pertama. Pasal 6 ayat (1) UU No. yaitu. Tidak sekedar menggantikan nomenklatur. 28 Tahun 2009.279 Selain penambahan jenis pajak baru. digantikan istilahnya dengan pajak pengambilan dan pemanfatan air tanah dan air permukaan.280 Kedua. 28 Tahun 2009. pemerintah pusat dapat mengubah besaran tarif Perda melalui Perpres. 281 Pasal19 ayat(1) UU No. 286 Tarif pajak Kendaraan pemerintah (termasuk TNI/POLRI. 284 Lihat Pasal 2 ayat(1) huruf d.

288 tarif Pajak Hiburan untuk hiburan – hiburan tertentu dinaikkan hingga mencapai tariff maksimal 75%. dan mandi uap/spa .289 Kelima. Dana Perimbangan a. dan Pajak Penerangan Jalan juga sebagian dialokasikan untuk penyediaan penerangan jalan.292 2. Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB). Lihat Pasal 1 angka 21 UU No. panti pijat. Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 25 dan Pasal 29 Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri dan PPh Pasal 21.106 mencakup seluruh persewaan di hotel. Pajak pusat yang menjadi sumber DBH dari pajak adalah dari pajak bumi dan bangunan (PBB). 292 Pasal 56 ayat (3) UU No. Rokok. 28 Tahun 2009. 288 Pengertian restoran dalam Pasal 1 angka 23 UU No.293 Hal tersebut berbeda dengan Bagian Perda. losmen. wisma pariwisata. karaoke.pesanggrahan. gubuk pariwisata. 28 Tahun 2009 juga mencakup jasa boga/katering. ditetapkan paling rendah sebesar 0. 28 Tahun 2009. 33 Tahun 2004 terdiri pembagian beberapa jenis pajak (pusat) dan hasil pengelolaan sumber daya alam. kontes kecantikan. 28 Tahun 2009. Dana Bagi Hasil Komponen DBH dalam UU No. 293 Pasal 11 ayat (2) UU No. 28 Tahun 2009. diskotik. ada beberapa jenis pajak yang hasil penerimaan ditentukan penggunaannya. serta rumah kos dengan jumlah kamar lebih dari 10 (sepuluh). 287 Pengertian hotel menjadi diperluas menjadi: fasilitas penyedia jasa penginapan/peristirahatan termasuk jasa terkait lainnya dengan dipungut bayaran. baik bagian provinsi maupun bagian kabupaten/kota. 290 Lihat Pasal 8 ayat (5) UU No. Lihat Pasal 6 ayat(3) UU No. dialokasikan paling sedikit 50% (lima puluh persen) untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat dan penegakan hukum oleh aparat yang berwenang291. yang mencakup juga motel. 291 Pasal 31 UU No.287 Pajak Restoran diperluas hingga mencakup pelayanan katering. 289 Jenis hiburan yang dimaksud yaitu: pagelaran busana. yaitu Pajak Kendaraan Bermotor (minimal 10% dari hasi penerimaan pajak ini untuk belanja infrastruktur jalan (pembangunan dan/atau pemeliharaan jalan) serta peningkatan Pajak moda dan sarana transportasi umum di daerahnya)290. 28 Tahun 2009. rumah penginapan dan sejenisnya. Lihat Pasal 45 ayat (2) UU No.5% dan paling tinggi sebesar 1%. 28 Tahun 2009. klab malam. . permainan ketangkasan.33 Tahun 2004.

10% (sepuluh persen) bagian Pemerintah dari penerimaan PBB dibagikan kepada seluruh daerah kabupaten dan kota yang didasarkan atas realisasi penerimaan PBB tahun anggaran berjalan. Dengan demikian. 295 294 295 Pasal 11 ayat (3) UU No. 22 Tahun 1999. 33 Tahun 2004 menambah penerimaan pusat atas bidang sumber daya alam yang dibagi ke daerah. 33 Tahun 2004. Dari persentase 10 % bagian pusat dengan imbangan di atas maka persentase riil yang dibagi adalah 6. DBH dari penerimaan sumber daya alam (DBH-SDA) berasal dari 6 bidang sumber daya alam yang menjadi sumber yaitu: kehutanan. pertambangan gas bumi. jika dibandingkan dengan UU No.22 Tahun 1999 yang tidak mencantumkan bidang pertambangan panas bumi.5% untuk seluruh kabupaten/kota yang dibagikan secara merata. 22 Tahun 1999.5% yang dibagikan sebagai insentif kepada kabupaten dan/kota. dan 3. 55 Tahun 2005. mencapai/melampaui rencana penerimaan yang ditetapkan. pertambangan umum. Pengaturan persentase perimbangan alokasi DBH PBB dan BPHTB antara pusat dan daerah adalah 10 % : 90 % untuk DBH PBB dan 20% : 80 % untuk DBH BPHTB.294 Hal ini juga berbeda dengan bidang –bidang sumber daya alam yang menjadi sumber Bagian Daerah atas sumber daya alam dalam UU No. Penerimaan insentif tersebut diberikan kepada kabupaten/ kota yang realisasi penerimaan PBB sektor Pedesaan dan Perkotaan pada tahun anggaran sebelumnya. pertambangan minyak bumi. Sementara itu. maka UU No. yang tidak mencantumkan PPh sebagai salah satu sumber bagian daerah atas pajak. serta persentase pembagian DBH antara satuan pemerintahan daerah. dan pertambangan panas bumi. Lihat Pasal 6 ayat (2) PP No. Dalam DBH pajak ada dua hal yang penting. perikanan.107 Daerah atas pajak dalam UU No. . yaitu: mengenai prosentase alokasi DBH dari sektor pajak.

DBH dari penerimaan BPHTB adalah sebesar 80% (delapan puluh persen)296. Dari 20 % bagian daerah di atas. Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH). 33 Tahun 2004.299 Sementara itu. 300 Lihat Pasal 14 huruf a UU No. Untuk penerimaan kehutanan. 55 Tahun 2005.33 Tahun 2004.108 Sementara itu. Pasal 12 ayat (5) UU No. dan Dana Reboisasi. penerimaan 6 bidang SDA yang dibagi dengan daerah dilakukan dengan memberikan persentase tertentu yang sifatnya tetap. namun berujung pada pengalokasian DBH dari penerimaan PBB dan BPHTB 100 % pada daerah. Persentase pembagian IHPH dan PSDH yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan adalah 20 % untuk pusat dan 80 % untuk daerah.298 Dengan demikian. penerimaan kehutanan yang berasal dari Dana Reboisasi dibagi dengan 296 297 Lihat Pasal 13 ayat (4) UU No. 299 Lihat Pasal 8 ayat (2) PP No. terdapat dua macam sub bidang penerimaan yang dibagi yaitu penerimaan Iuran Hak Pengusahaan Hutan (IHPH). Dengan demikian. Berbeda dengan DBH dari PBB dan BPHTB yang dibagi habis pada daerah. provinsi mendapatkan bagian sebesar 8 % dan kabupaten/ kota di provinsi bersangkutan mendapatkan 12 % dari bagian daerah.300 Sementara itu. 33 Tahun 2004. 33 Tahun 2004. pendapatan negara dari penerimaan PBB dan BPHTB dibagi habis kepada daerah dengan persentase di atas. walauapun pada awalnya terdapat perimbangan alokasi DBH antara pusat dan daerah. . dibagi dengan imbangan 60% (enam puluh persen) untuk kabupaten/kota dan 40% (empat puluh persen) untuk provinsi. Dengan demikian. 80 % penerimaan PPh di atas menjadi bagian pusat. sementara 20% (dua puluh persen) bagian Pemerintah dari penerimaan BPHTB dibagikan dengan porsi yang sama besar untuk seluruh kabupaten dan kota. alokasi DBH dari penerimaan PPh Pasal 25 dan Pasal 29 Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri dan PPh Pasal 21 hanya 20 % yang menjadi bagian daerah. 298 Lihat Pasal 13 ayat (1) UU No.297 Dari pengaturan di atas.

Bagi DBH yang berasal dari penerimaan pertambangan minyak bumi dan gas bumi.5% (lima belas setengah persen) untuk Daerah. dibagi dengan imbangan 20% (dua puluh persen) untuk pusat dan 80% (delapan puluh persen) untuk daerah.33 Tahun 2004. persentase pembagian Penerimaan Perikanan yang diterima secara nasional juga sama (20% : 80%). 305 Lihat Pasal 18 ayat (1) UU No. 306 Lihat Pasal 18 ayat (2) UU No.303 Sementara itu.5% (tiga puluh setengah persen) untuk daerah.33 Tahun 2004.5% (delapan puluh empat setengah persen) untuk Pemerintah. 304 Lihat Pasal14 huruf d UU No.33 Tahun 2004.33 Tahun 2004. Sementara itu. 307 Lihat Pasal14 huruf e UU No. 308 Lihat Pasal14 huruf f UU No. 309 Lihat Pasal 20 ayat (1) . UU No. tidak kepada provinsi.304 Penerimaan Perikanan tersebut terdiri atas Penerimaan Pungutan Pengusahaan Perikanan. dan Penerimaan Pungutan Hasil Perikanan305 dan dibagikan dengan porsi yang sama besar kepada kabupaten/kota di seluruh Indonesia.302 Penerimaan pertambangan umum yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan. 33 Tahun 2004.301 untuk mendanai kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan.309 301 302 Lihat Pasal14 huruf b UU No.109 imbangan sebesar 60% untuk pusat dan 40% untuk daerah.5% dialokasikan untuk menambah anggaran pendidikan dasar. dan 15.33 Tahun 2004.33 Tahun 2004. 303 Lihat Pasal 14 huruf c UU No.306 Penerimaan Pertambangan minyak bumi yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan setelah dikurangi komponen pajak dan pungutan lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan. 33 Tahun 2004 mengatur bahwa sebesar 0.5% (enam puluh sembilan setengah persen) untuk pemerintah. dibagi dengan imbangan:307 84. penerimaan dari pertambangan gas bumi dibagi dengan imbangan:308 69. namun 80 % bagian daerah hanya diperuntukkan bagi seluruh kabupaten/kota. Lihat Pasal 16 huruf b UU No.33 Tahun 2004. dan 30.

33 Tahun 2004. 312 Lihat Pasal14 huruf g UU No. 313 Lihat Pasal 21 ayat (2) UU No.319 Jika dibandingkan dengan UU No. 33 Tahun 2004. Lihat Pasal 21 ayat (1) UU No. Iuran tetap dan iuran produksi. 55 Tahun 2005. Lihat Penjelasan Pasal 27 ayat (1) UU No. Penerimaan tersebut dibagi dengan imbangan 20% untuk pusat dan 80% untuk daerah.33 Tahun 2004.310 Pertambangan panas bumi yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan yang merupakan Penerimaan Negara Bukan Pajak yang terdiri atas:311 Setoran Bagian Pemerintah. Lihat Pasal 25 UU No. 33 Tahun 2004 mengatur sanksi administrasi berupa pemotongan atas penyaluran DBH minyak bumi dan gas bumi.315 APBN. berkaitan dengan kemungkinan bertambahnya presentase DAU jika terdapat kelebihan penerimaan negara dari minyak bumi dan gas bumi yang ditetapkan dalam APBN Perubahanyang dialokasikan sebagai DAU tambahan318 berdasarkan formula DAU atas dasar celah fiskal. dan 32% (tiga puluh dua persen) untuk kabupaten/kota lainnya dalam provinsi yang bersangkutan.110 Jika ketentuan peruntukkan untuk alokasi pendidikan dasar tersebut dilanggar. Lihat Pasal 21 ayat (3) UU No. dan. 319 Lihat Pasal 47 ayat (2) PP No. 33 Tahun 2004.33 Tahun 2004.33 Tahun 2004. 311 310 .312 20% DBH tersebut dibagi dengan rincian:313 16% (enam belas persen) untuk provinsi yang bersangkutan.317 keseluruhan tersebut kurangnya 26% dari Pendapatan Dalam Negeri Neto316 yang ditetapkan dalam Istilah “sekurang-kurangnya”. 315 Pasal 1 angka 21 UU No. Dana Alokasi Umum DAU adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar-daerah duntuk mendanai kebutuhan Presentase daerah dalam dana rangka pelaksanaan sekurangdesentralisasi. UU No. 32% (tiga puluh dua persen) untuk kabupaten/kota penghasil.33 Tahun 2004. 316 Pendapatan Dalam Negeri Neto adalah Penerimaan Negara yang berasal dari pajak dan bukan pajak setelah dikurangi dengan Penerimaan Negara yang dibagihasilkan kepada Daerah.314 b. 314 dibagikan dengan porsi yang sama besar untuk semua kabupaten/kota dalam provinsi yang bersangkutan. 317 Pasal 27 ayat (1) UU No. 55 Tahun 2005. 318 Lihat Pasal 47 ayat (1) PP No.33 Tahun 2004.

33 Tahun 2004. 321 Pasal 27 ayat (2) UU No. 33 Tahun 2004 menentukan bahwa formula menentukan celah fiskal adalah kebutuhan fiskal dikurangi dengan kapasitas fiskal Daerah. Produk Domestik Regional Bruto (PDB) per kapita. 25 Tahun 1999 diatur bahwa “Dana Alokasi Umum ditetapkan sekurang-kurangnya 25% (dua puluh lima persen) dari Penerimaan Dalam Negeri yang ditetapkan dalam APBN”. 323 Pasal 27 ayat (4) UU No. 327 Pasal 29 UU No. 33 Tahun 2004. Apalagi ditentukan juga bahwa proporsi DAU antara daerah provinsi dan kabupaten/kota ditetapkan berdasarkan imbangan kewenangan antara provinsi dan kabupaten/kota. alokasi dasar dihitung berdasarkan jumlah gaji Pegawai Negeri Sipil Daerah (PNSD). jika dibandingkan dengan penghitungan alokasi dasar yang hanya didasarkan pada gaji PNSD. diukur secara berturut-turut dengan jumlah penduduk. 33 Tahun 2004. 324 Pasal 28 ayat (1) UU No. . khususnya formula penghitungan kebutuhan fiskal lebih rumit. 33 Tahun 2004.111 25 Tahun 1999 yang hanya mengatur jumlah DAU sebesar 25 % dengan formula yang hampir sama. 325 Pasal 28 ayat (2) UU No. 33 Tahun 2004. UU No.322 Sementara itu.326 Dari pengaturan tersebut.325 Sementara itu. jumlah DAU yang diterima setiap daerah adalah celah fiskal ditambah alokasi dasar. Kebutuhan fiskal yang merupakan kebutuhan kebutuhan pendanaan daerah untuk melaksanakan fungsi layanan dasar umum324. dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). 326 Pasal 28 ayat (3) UU No. celah fiskal merupakan kebutuhan fiskal dikurangi kapasitas fiskal.320 DAU pada dasarnya yang dialokasikan untuk 321 suatu daerah dialokasikan atas dasar celah fiskal dan alokasi dasar. luas wilayah. terlihat bahwa formula penentuan celah fiskal. Kapasitas fiskal Daerah merupakan sumber pendanaan Daerah yang berasal dari PAD dan Dana Bagi Hasil. 322 Pasal 27 ayat (3) UU No. Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK).323 Dengan demikian. Sebagaimana disinggung di atas bahwa. 33 Tahun 2004. 33 Tahun 2004.327 320 Dalam Pasal 7 ayat (1) UU No. presentase DAU berdasarkan UU No. 33 Tahun 2004 lebih besar.

330 Pasal 32 ayat (3) UU No. Daerah yang memiliki nilai celah fiskal sama dengan nol menerima DAU sebesar alokasi dasar. 33 Tahun 2004. 333 Pasal 39 ayat (2) UU No.329 Daerah yang memiliki nilai celah fiskal negatif dan nilai negatif tersebut sama atau lebih besar dari alokasi dasar tidak menerima DAU. 33 Tahun 2004. 334 Pasal 39 ayat (1) UU No. 33 Tahun 2004. 33 Tahun 2004.331 Berbeda dengan dana perimbangan lainnya.330 c. Pinjaman Daerah 328 329 Pasal 32 ayat (1) UU No. 33 Tahun 2004. Hal ini dapat dimengerti karena pada dasarnya urusan pemerintahan yang dibiayai DAK merupakan kewenangan daerah. Pasal 32 ayat (2) UU No.328 Sementara itu. 33 Tahun 2004.332 Hal ini disebabkan DAK dialokasikan kepada daerah tertentu untuk mendanai kegiatan khusus sesuai dengan fungsi yang telah ditetapkan dalam APBN333 yang merupakan urusan daerah. Dana Alokasi Khusus Dana Alokasi Khusus (DAK) adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional. . 331 Lihat Pasal 1 angka 23 UU No. daerah yang memiliki nilai celah fiskal negatif dan nilai negatif tersebut lebih kecil dari alokasi dasar menerima DAU sebesar alokasi dasar setelah dikurangi nilai celah fiskal. 335 Pasal 41 ayat (1) UU No.334 Daerah penerima DAK juga ditentukan wajib menyediakan Dana Pendamping sekurang-kurangnya 10% dari alokasi DAK335. 3. 33 Tahun 2004.112 Besarnya jumlah celah fiskal akan mempengaruhi jumlah alokasi DAU yang diperoleh suatu daerah. Namun demikian. Besaran DAK ditetapkan setiap tahun dalam APBN. DAK tidak ditentukan berdasarkan presentase tertentu. 33 Tahun 2004. daerah dengan kemampuan fiskal tertentu tidak diwajibkan menyediakan Dana Pendamping. 332 Pasal 38 UU No.

bahwa daerah tidak dapat melakukan pinjaman langsung kepada pihak luar negeri. 33 Tahun 2004 mengatur sejumlah ketentuan mengenai kewenangan pemerintahan daerah untuk melakukan pinjaman (daerah). 339 Pasal 50 ayat (1) UU No. yang paling penting dalam hal ini. persyaratan pinjaman.338 Namun demikian. Pasal 49 ayat (2) UU No. jenis dan jangka waktu pinjaman. . 33 Tahun 2004. maka akan dikenakan sanksi administratif berupa penundaan dan/atau pemotongan atas penyaluran dana perimbangan oleh Menteri Keuangan.113 Salah satu sumber pembiayaan daerah (untuk menutupi defisit anggaran) yang diandalkan adalah melalui pinjaman daerah.342 Perjanjian penerusan pinjaman dilakukan antara Menteri Keuangan dan Kepala Daerah dan dapat dinyatakan dalam mata uang 336 337 Pasal 49 ayat (1) UU No. 340 Pasal 50 ayat (2) UU No. dalam 6 batas pinjaman. sumber pinjaman. 33 Tahun 2004. 33 Tahun 2004.340 Hal ini berkaitan dengan pengaturan mengenai prosedur pinjaman daerah.339 Jika daerah melakuan pelanggaran terhadap ketentuan. penggunaan pinjaman. 33 Tahun 2004. termasuk kewenangan yang tetap dimiliki oleh pusat. prosedur pinjaman. pemerintah pusat menetapkan batas maksimal kumulatif pinjaman pemerintah pusat dan pemerintah daerah dengan memperhatikan 336 keadaan dan prakiraan perkembangan perekonomian nasional. 33 Tahun 2004. 338 Pasal 49 ayat (3) UU No. di mana pemerintah dapat memberikan pinjaman kepada pemerintah daerah yang dananya berasal dari luar negeri.337 Menteri Keuangan menetapkan batas maksimal kumulatif pinjaman Pemerintah Daerah secara keseluruhan selambat-lambatnya bulan Agustus untuk tahun anggaran berikutnya. 342 Pasal 56 ayat (2) UU No. 60% (enam puluh Batas maksimal kumulatif pinjaman tidak melebihi dari Produk Domestik Bruto tahun persen) bersangkutan. UU No. 33 Tahun 2004. 33 Tahun 2004. Mengenai batas pinjaman.341 Pinjaman kepada pemerintah daerah dilakukan melalui perjanjian penerusan pinjaman kepada pemerintah daerah. 341 Pasal 56 ayat (1) UU No.

dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. 33 Tahun 2004. C. namun daerah secara tidak langsung juga dapat melakukan pinjaman luar negeri melalui penerusan pinjaman oleh pemerintah pusat. yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa. untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Pembukaan UUD 1945 (Alinea Keempat). Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara sejak awal telah meletakkan dasar-dasar berpikir tentang keberadaan pengawasan Pusat terhadap Daerah. mencerdaskan kehidupan bangsa. landasan berpikir tentang pengawasan Pusat terhadap Daerah dapat ditelusuri di dalam Alinea Keempat UUD 1945. persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan 343 Pasal 56 ayat (3) dan (4) UU No. yaitu: 1. Memang. Akan tetapi landasan berpikirnya dapat ditelusuri paling dari 2 (dua) hal.114 Rupiah atau mata uang asing. perdamaian yang abadi dan keadilan sosial. dan untuk memajukan kesejahteraan umum. Hubungan Pengawasan Pengawasan oleh Pusat terhadap Daerah ternyata secara yuridishistoris telah dilakukan sejak bangsa Indonesia memulai kehidupan bernegaranya sebagai bangsa yang merdeka. Rumusan alinea keempat itu adalah: ”Kemudian daripada itu. Kemanusiaan yang adil dan beradab. dan Batang Tubuh UUD 1945 Di dalam Pembukaan UUD 1945. . maka disusunlah kebangsaan Indonesia itu dalam suatu UndangUndang Dasar Negara Indonesia.343 Daerah memang tidak diberikan kewenangan untuk melakukan pinjaman luar negeri. ketentuan tentang pengawasan Pusat terhadap Daerah menurut UUD 1945 secara normatif-eksplisit tidak diatur di dalam UUD 1945.

Untuk itu.344 Pemerintahan daerah provinsi. Pertama. pasal-pasal yang mengatur tentang pemerintahan daerah di dalam Undang-Undang Dasar 1945 dalam beberapa ketentuan sudah mengalami perubahan. Dasar pemikiran tentang pengawasan Pusat terhadap Daerah menurut batang tubuh UUD 1945 setelah perubahan.115 /perwakilan. bahwa penggunaan istilah “dibagi atas” menurut Jimly Asshiddiqie. Kedua. dan kota yang dimaksud tersebut mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan. dan materi hukum Undang-Undang Dasar 1945 setelah perubahan dilakukan. daerah kabupaten. yaitu Pasal 18. dengan bentuk susunan pemerintahannya ditetapkan dengan Undang-undang dengan memandang dan mengingat dasar permusyawaratan dalam sistem Pemerintahan Negara dan hak-hak asal-usul dalam daerah yang bersifat Istimewa”. menurut Batang Tubuh UUD 1945 Setelah Perubahan. Ini disebabkan. kajian tentang dasar pengawasan Pusat terhadap Daerah dibedakan menjadi 2 (dua) kategori. dapat dikaji dari beberapa pasal dan ayat. terlebih dahulu dipilah materi hukum Undang-Undang Dasar 1945 sebelum perubahan dilakukan (Naskah Asli). kiranya dapat dikemukakan pertama. serta dengan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. dimaksudkan untuk menegaskan bahwa hubungan antara 344 345 Pasal 18 ayat (1) Perubahan kedua UUD 1945 Pasal 18 ayat (2) Perubahan kedua UUD 1945 . Pasal 18 UUD 1945 ini dirumuskan sebagai berikut : “Pembagian Daerah Indonesia atas Daerah besar dan kecil. dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah yang diatur dengan undang-undang. menurut Batang Tubuh UUD 1945 Sebelum Perubahan. Dikatakan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota. Terdapat ada 1 (satu) pasal yang memungkinkan untuk dikaji. yang tiap-tiap provinsi. kabupaten.345 Berdasarkan ketentuan Pasal 18 ini.” Untuk mengkaji dasar pemikiran pengawasan Pusat terhadap Daerah menurut batang tubuh Undang-Undang Dasar 1945.

Keempat. UI. bahwa tiap-tiap satuan pemerintahan daerah itu oleh UUD 1945 diberi kewenangan untuk mengatur dan mengurusi sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan. kedua. Hal ini dianggap perlu ditegaskan karena adanya penafsiran yang timbul akibat penerapan kebijakan otonomi daerah berdasarkan UU No.346 Kedua.347 Untuk menjalankan urusan yang diberikan itu. 21 347 Pasal 18 ayat (5) Perubahan kedua UUD 1945 348 Pasal 18 ayat (6) Perubahan kedua UUD 1945 349 Pasal 18 ayat (7) Perubahan kedua UUD 1945 . Pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya. 2002.349 Berdasarkan ketentuan-ketentuan tersebut maka dapat ditarik beberapa pengertian bahwa pertama. hlm.dapat dikemukakan bahwa ternyata secara konstitusional terdapat pembatasan-pembatasan dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah berdasarkan prinsip otonomi yang seluas-luasnya dan tugas 346 Lihat. dengan memahami logika hukum pernyataan pertama dan kedua. Jakarta. peraturan daerah merupakan merupakan instrumen hukum yang dibentuk oleh pemerintahan daerah dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan. Ada beberapa ayat yang penting untuk diidentifikasikan sehubungan dengan dasar pengawasan Pusat terhadap Daerah.116 pemerintah pusat dan daerah bersifat hirarkis dan vertikal. kecuali urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan pemerintah pusat. Pusat Studi Hukum Tata Negara FH. pemerintahan daerah memiliki hak untuk menjalankan otonomi seluas-luasnya dan tugas pembantuan. yaitu karena bukan urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan pemerintah pusat dan tata cara penyelenggaraan pemerintahan daerahnya diatur oleh undang-undang. Ketiga. Jimly Ashiddiqie. Pemerintahan daerah berhak menetapkan peraturan daerah dan peraturanperaturan lain untuk melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan. tetapi pelaksanaan otonomi itu dibatasi oleh 2 (dua) hal. Konsolidasi Naskah UUD 1945 Setelah Perubahan Keempat.348 yang susunan dan tata cara penyelenggaraan pemerintahan daerah diatur dalam undang-undang. 22 Tahun 1999 yang mengembangkan pola hubungan antara pusat dan daerah serta hubungan antara daerah yang dipahami bersifat horizontal.

maka akan dapat diperoleh petunjuk bahwa lembaga ’pengawasan’ ternyata juga memperoleh dasar pemikiran dalam pasal ini. maka dalam rangka penegakan ketentuan hukum ini. 2. . Pasal 18 A ayat (2) Perubahan kedua UUD 1945. termasuk wewenang pembinaan dan pengawasan Pusat terhadap Daerah dalam menyelenggarakan tugas-tugas pemerintahan daerah. Pembatasan-pembatasan tersebut dimaksudkan agar Daerah tidak mengatur urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan pemerintah pusat. yang dapat dicermati adalah dalam Pasal 18A adalah bahwa tidak tercantum secara eksplisit ketentuan yang mengatur tentang pengawasan Pusat terhadap Daerah. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah 350 351 Pasal 18 A ayat (1) Perubahan kedua UUD 1945. Tujuannya tidak adalah dalam rangka mencegah atau menanggulangi lain terjadinya penyimpangan-penyimpangan wewenang oleh Daerah berkenaan dengan implementasi Daerahnya. lembaga ’pengawasan’ Pusat terhadap Daerah dipandang perlu keberadaannya. pemanfaatan sumberdaya alam dan sumberdaya lainnya antara Pusat dengan Daerah juga diatur dengan Undang-Undang.117 pembantuan. Selain beberapa ketentuan di atas. Akan tetapi. dengan memahami materi hubungan wewenang antara Pusat dan Daerah. kebijakannya untuk mengatur urusan rumah tangga Kekhususan dan keragaman dimaksudkan yang ada pada masing-masing Hubungan keuangan. Hubungan wewenang antara Pusat dan Daerah dengan memperhatikan kekhususan dan keragaman daerah.351 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 sebagai Undang-Undang organik Pasal 18A UUD 1945. ternyata telah mengatur hubungan wewenang antara Pusat dan Daerah. Untuk kepentingan itulah.350 masing-masing daerah diatur dengan Undang-undang. pelayanan umum.

32 Tahun 2004 . pengawasan terhadap peraturan daerah dan peraturan kepala daerah. Apabila Gubernur menyatakan hasil evaluasi rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD sudah sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Hasil evaluasi disampaikan oleh Gubernur kepada Bupati/Walikota paling lama 15 (lima belas) hari terhitung sejak diterimanya rancangan Perda kabupaten/kota dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD tersebut. Bupati/Walikota menetapkan rancangan dimaksud menjadi Perda dan Peraturan Bupati/Walikota.354 Kedua. Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan dikoordinasikan pemerintahan oleh daerah tersebut Pembinaan untuk dan Gubernur.355 Dikatakan bahwa Rancangan Perda kabupaten/kota tentang APBD yang telah disetujui bersama dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD sebelum ditetapkan oleh Bupati/Walikota paling lama 3 (tiga) hari disampaikan kepada Gubernur untuk dievaluasi. Ketentuan pengawasan oleh Gubernur juga tersirat dalam ketentuan mengenai penyusunan APBD kabupaten dan kota. pengawasan atas pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah.353 Bupati dan walikota dalam pembinaan dan pengawasan tersebutdapat melimpahkan pada camat. 32 Tahun 2004 mengatur bahwa pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah secara nasional dikoordinasikan oleh Menteri Dalam Negeri. 32 Tahun 2004 354 Pasal 222 ayat (4) UU No.118 Pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan di daerah pada dasarnya merupakan kewenangan pemerintah pusat yakni mencakup beberapa hal.352 kabupaten/kota pengawasan penyelenggaraan desa dikoordinasikan oleh bupati/walikota. 32 Tahun 2004 Pasal 222 ayat (3) UU No. 32 Tahun 2004 355 Pasal 186 UU No. Pasal 222 ayat (1) UU No. Pertama. Apabila Gubernur menyatakan hasil evaluasi rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan 352 353 Pasal 222 ayat (2) UU No.

Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh Bupati/Walikota dan DPRD. ternyata Gubernur tidak hanya melakukan koordinasi tapi juga memiliki wewenang untuk melakukan tindakan hukum terhadap rancangan Perda APBD dan Perda APBD. 32 Tahun 2004.119 Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD tidak sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Gubernur membatalkan Perda dan Peraturan Bupati/Walikota dimaksud sekaligus menyatakan berlakunya pagu APBD tahun sebelumnya. 32 Tahun 2004 NO 1 UMUM Penetapan urusan pemerintahan yang menjadi wewenang Pemerintah Pusat dan Daerah (Pasalpasal 10. Gubernur memiliki wewenang untuk melakukan pengawasan terhadap rancangan APBD maupun setelah APBD tersebut disahkan oleh kabupaten dan kota. 11. Jika pasal dihubungkan dengan Pasal 222. Bupati/Walikota bersama DPRD melakukan penyempurnaan paling lama 7 (tujuh) hari sejak diterimanya hasil evaluasi. Gubernur menyampaikan hasil evaluasi rancangan Perda kabupaten/kota tentang APBD dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang APBD dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD kepada Menteri Dalam Negeri. Jadi dapat dikatakan. Lebih lanjut dapat dikemukakan mengenai model-model pengawasan dan pengendalian terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah menurut UU No. Berdasarkan Pasal 186 ini. dan Bupati/Walikota tetap menetapkan rancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD menjadi Perda dan Peraturan Bupati/Walikota. 12. puncaknya adalah pemberitahuan oleh Gubernur kepada Menteri Dalam Negeri mengenai tindak lanjut hasil pengawasan. 13 dan 14). Tabel 3 Model-Model Pengawasan dan Pengendalian Terhadap Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Menurut UU No. Penentuan adanya PREVENTIF REPRESIF KETERANGAN Ditetapkan UU oleh 2 Ditetapkan oleh .

pemindahan. kewajiban dan larangan bagi Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah. wewenang. Pedoman tentang susunan organisasi perangkat daerah dan formasi serta persyaratan jabatan perangkat daerah yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat dalam PP dan berbagai peraturan perundang-undangan Pengangkatan.120 3 4 5 6 7 tugas. dan DPRD. dan pemberhentian dari dan dalam jabatan eselon II pada kabupaten/kota perlu berkonsultasi dengan Gubernur Perpindahan PNS antar kabupaten/kota dalam. antar provinsi. dan dari provinsi/kabupaten/ko ta perlu memperoleh pertimbangan dari Kepala Badan Kepegawaian Negara Penetapan formasi PNS dilaksanakan oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Pembinaan dan pengawasan manajemen PNS dikoordinasikan pada tingkat daerah oleh Gubernur Larangan Perda bertentangan dengan kepentingan umum dan peraturan perundangundangan yang lebih tinggi Tata cara mempersiapkan Raperda diatur UU Pasal 128 Pasal 130 Pasal 131 Pasal 132 Pasal 135 8 Pasal 136 9 Pasal 140 .

supervisi. harus sesuai dengan peraturan perundangundangan Perda disampaikan kepada Pemerintah paling lama 7 hari setelah ditetapkan Pembatalan Perda yang bertentangan dengan kepentingan umum dan peraturan perundangundangan yang lebih tinggi. Pedoman penggunaan. monitoring dan evaluasi atas dana bagi hasil pajak. berpedoman pada PP dan perencanaan pembangunan nasiona. dilakukan oleh Presiden (ditetapkan dengan Perpres) Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).121 10 dengan Perpres Perda yang memuat ancaman pidana dan denda. DAU dan DAK diatur dalam Permendagri Belanja daerah harus Pasal 143 11 Pasal 145 ayat (1) 12 Pasal 145 ayat (2) s/d ayat (7) 13 Pasal 150 14 Pasal 158 15 Pasal 163 16 Pasal 167 . Penetapan Perda tentang Pajak dan Retribusi Daerah berpedoman pada undang-undang dan peraturan perundangundangan lain. dana bagi hasil SDA.

122 mempertimbangkan analisis standar belanja. 17 Belanja kepala daerah dan wakil kepala daerah dan belanja pimpinan dan anggota DPRD diatur dalam Perda dengan berpedoman pad PP Pertimbangan Mendagri dalam melakukan pinjaman yang berasal dari penrusan pinjaman hutang luar negeri dari Menkeu. Ketentuan mengenai pinjaman daerah dan obligasi daerah diaatur dengan PP Pengaturan tentang persyaratan pembentukan dana cadangan daerah. tolok ukur kinerja. dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundangundangan Pengendalian defisit anggaran Pasal 168 18 Pasal 170 19 Pasal 171 20 Pasal 172 21 Pasal 173 22 Pasal 174-175 . standar harga. dan standar pelayanan minimal yang ditetapkan dengan peraturan perundangundangan. pengelolaan dan pertanggungjawab annya ditetapkan dengan PP Penyertaan modal daerah pada suatu BUMN/swasta.

Pemeriksaan oleh BPK terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah Pembentukan dewan yang bertugas memberikan saran dan pertimbangan terhadap kebijakan otonomi daerah diatur dalam Perpres. prosedur.123 oleh Mendagri 23 Pengelolaan Barang Daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan Evaluasi Raperda dan Peraturan Kepala Daerah tentang APBD. penatausahaan. pelaporan. pelaksanaan. penghargaan. 28 Pasal 221 dan UU tentang BPK 29 Pasal 224 . dan sanksi ditetapkan dalam PP. Tata cara pelaksanaan kerja sama antar daerah diatur dalam PP Pedoman pembinaan dan pengawasan yang meliputi standar. Pedoman penyusunan. Perubahan APBD dan Pertanggungjaw aban Pelaksanaan APBD. pengawasan dan pertanggungjawaban keuangan daerah diatur dalam PP. Pasal 178 24 Pasal 185 s/d 190 25 Pasal 194 26 Pasal 195 s/d 197 27 Pasal 217 s/d 223. norma. untuk provinsi oleh Mendagri dan untuk kabupaten/kota oleh Gubernur.

Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 Tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Untuk melaksanakan ketentuan Pasal 223 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Peraturan Pemerintah diterbitkan sebagai pedoman pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah. pemantauan dan evaluasi pelaksanaan urusan Pemerintahan. anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.124 3. pegawai negeri sipil daerah. penelitian. perangkat desa. d) pendidikan dan pelatihan. 357 Pasal 2 ayat (1). 359 Pasal 20 360 Pasal 21. yaitu Bab II dan Bab III. perangkat daerah. b) pemberian pedoman dan standar pelaksanaan urusan Pemerintahan. 79 Tahun 2008 Tentang Tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. Pembinaan sebagaimana tersebut dilakukan terhadap kepala daerah atau wakil kepala daerah. b) pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah kabupaten/kota.358 Pada pengaturan mengenai pengawasan. Pengawasan terhadap urusan pemerintahan di 356 Konsiderans PP No. dan kepala desa. b) pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah yang bersifat pilihan. dan e) perencanaan.356 PP ini memisahkan antara pembinaan dan pengawasan dalam Bab yang berbeda. supervisi dan konsultasi pelaksanaan urusan pemerintahan. dan anggota badan permusyawaratan desa. dan c) pelaksanaan urusan pemerintahan desa. . 358 Pasal 2 ayat (2). disebutkan bahwa pengawasan pelaksanaan urusan Pemerintahan di daerah meliputi:359 a) pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah provinsi. c) pemberian bimbingan. dan c) pelaksanaan urusan pemerintahan menurut dekonsentrasi dan tugas pembantuan. Pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah provinsi tersebut terdiri dari:360 a) pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah yang bersifat wajib. pengembangan. Mengenai pembinaan dikatakan bahwa Pembinaan atas penyelenggaraan Pemerintahan Daerah dilaksanakan oleh Pemerintah yang meliputi:357 a) koordinasi pemerintahan antar susunan Pemerintahan.

. Unit Pengawasan Lembaga Pemerintah Non Departemen.125 daerah dilaksanakan oleh Aparat Pengawas Intern Pemerintah sesuai dengan fungsi dan kewenangannya. 363 Pasal 24 ayat (3) dan (4). dan Inspektorat Kabupaten/Kota.363 Untuk mengetahui perkembangan sistem pengawasan Pusat terhadap Daerah dalam pengaturan pemerintahan daerah di Indonesia dan di beberapa negara lain. dapat dilihat pada tabel-tabel di bawah ini: yang ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang- 361 362 Pasal 24 ayat (1).361 yang dilakukan oleh Inspektorat Jenderal Departemen. Inspektorat Provinsi.362 Pelaksanan pengawasan tersebut dilakukan oleh pejabat pengawas pemerintah undangan. Pasal 24 ayat (2).

18 Tahun 1965 6. 5 Tahun 1974 7. Periode 1. Represif 3. 4. 1 Tahun 1957 Penetapan Presiden No. Represif 3. Preventif 2. 5. UU No. Non-yudisial 2. UU No. 8. Represif Represif 1. Umum Represif 1. Umum 1. 22 Tahun 1999 UU No. 32 Tahun 2004 . 6 Tahun 1959 UU No. 2. Represif 3. 1 Tahun 1945 UU No. UU No. Preventif 2. UU No. 22 Tahun 1948 Sifat/Bentuk Pengawasan Non-Yudisial 1. Preventif 2. Preventif 2. Represif 3.126 Tabel 4 Perkembangan Pengaturan Pengawasan No. Preventif 1.

yang berbentuk Republik. Jimly Asshiddiqie menjelaskan bahwa Indonesia pun menganut kedaulatan Tuhan dalam konstitusi. yaitu bahwa Negara Indonesia adalah negara hukum. dan (3) UUD 1945 Jimly Asshiddiqie. yang mengatakan “Atas berkat Rahmat Alloh Yang Maha Kuasa…” 2. Bhuana Ilmu Komputer. pilar negara hukum dinyatakan oleh UUD 1945 dalam Pasal 1 ayat (3). … (pasal 1 ayat (2)): kedulatan rakyat. (2). Kelompok Gramedia. hlm.127 BAB IV TINJAUAN DIMENSI-DIMENSI HUBUNGAN ANTARA PUSAT DAN DAERAH A. “ kemerdekaan… Negara Ketuhanan Yang Maha Esa. 149. Ketiga.364 Pertama. dan kedaulatan Tuhan secara sekaligus. kedaulatan hukum. kedaulatan rakyat.365 UUD 1945 menggabungkan konsep kedaulatan rakyat. dan negara hukum telah dituangkan dalam perubahan ketiga Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. pilar kedaulatan rakyat dinyatakan dalam ayat (2). …” … berkedaulatan rakyat berdasarkan 364 365 Pasal 1 ayat (1). Pokok-Pokok Hukum Tata Negara Indonesia Pasca Reformasi. Kedua. Jakarta. Juga. 2007. yaitu bahwa Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar. pilar negara kesatuan dinyatakan dalam UUD 1945 terdapat dalam Pasal 1 ayat (1). Dari segi internal atau kedaulatan internal. pada pokoknya menganut supremasi hukum. Lebih dari kedaulatan-kedaulatan tersebut. Gagasan kedaulatan Tuhan dianut juga dalam: 1. alinea pertama pembukaan. ayat (3) kedaulatan hukum. Pilar-Pilar Penyelenggaraan Pemerintahan Pengakuan bahwa Indonesia berkomitmen terhadap pilar-pilar negara kesatuan. . Disebutkan bahwa bahwa Negara Indonesia ialah Negara Kesatuan. 150. Jimly berpendapat bahwa UUD 1945 menganut paham kedaulatan yang unik. PT.

32/2004 dapat diambil beberapa hal. Walaupun demikian melalui berbagai peraturan pelaksana. Tujuan-tujuan tersebut sejalan dengan fungsi negara dan pemerintah pada masa modern yang secara umum dikatakan sebagai negara pelayan (the service state). seharusnya sudah memungkinkan bagi daerah-daerah untuk beragam memiliki urusan. dan memberikan otonomi seluas-luasnya. Jika ketentuan ini diidentifikasi sebagai rumusan limitatif. Dalam hal ini membatasi urusan pemerintahan yang menjadi urusan pemerintah pusat. dapat terlihat berbagai ketidakkonsistenan dengan landasan konstitusional ini. Residual powernya ada pada pemerintahan daerah sehingga pemerintahan daerah memiliki otonomi yang luas. Pasal 9 ayat (1) dan (2) menentukan sumpah jabatan presiden … dengan menyatakan “Demi Alloh”. 4. kedua ketentuan di atas menggunakan kata ‘kecuali’ (exception) dalam hal pembagian kewenangan. dari ketentuan Pasal 18 ayat (5) UUD 1945 dan Pasal 2 ayat (3) UU No. Ide kedaulatan Tuhan itu diwujudkan dalam prinsip kebebasan setiap individu dalam sistem demokrasi dan dicerminkan pula dalam sistem hukum berdasarkan Undang-Undang Dasar. Dengan pemberian otonomi seluas-luasnya seperti itu. pelayanan umum dan daya saing daerah. dengan asas otonomi dan tugas pembantuan. maka urusan pemerintah pusat itu terbatas pada enam urusan ini. B. Di luar enam urusan ini merupakan urusan pemerintahan daerah. pada dimensi-dimensi hubungan pusat dan daerah. Kata kecuali dapat diartikan membatasi. Titinjau dari pola hubungan kewenangan. Pertama. Pasal 28J ayat (2): Hanya saja paham kedaulatan Tuhan itu tidak terjelma atau terwujudkan dalam diri Raja atau Ratu seperti dalam paham teokrasi (theocracy) yang pernah dipraktikkan dalam sejarah negara-negara Eropa Masa lalu. Pemahaman seperti ini dikenal dengan pendekatan residual. Kedua. meliputi desentralisasi teritorial. pelaksanaan pemerintahan daerah yang berdasarkan otonomi seluas-luasnya bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Apa isi pelayanan itu? . Dimensi Hubungan Kewenangan Pusat dan Daerah UUD 1945 telah memberikan dasar-dasar pola hubungan antara Pusat dan Daerah.128 3.

maka akan ditemukan bahwa pada setiap daerah memiliki karakter khusus. maka tidak perlu penyeragaman terlalu banyak baik melalui rincian pembagian urusan maupun pedoman dan standard. hlm. Jika otonomi dijalankan sebagaimana yang dimaksud dalam Perubahan UUD 1945.366 Berkaitan dengan daerah istimewa dan otonomi khusus. 2001. keamanan dan ketertiban (hukum). 369 Ibid. Pusat Studi Hukum Fakultas Hukum UII.. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah. Bagir Manan. Sementara itu pemberian otonomi khusus seperti yang diberlakukan dalam berbagai UU saat ini lebih merupakan anomali.370 Dari persoalan tersebut. hlm 15-16. 366 367 Bagir Manan. tugas utama pemerintahan daerah di bidang kemasyarakatan adalah yang berkaitan dengan penyediaan prasarana dan sarana publik (public utilities). sosial. hlm.369 Ketiadaan kriteria baku ini mengandung resiko-resiko tertentu karena suatu daerah dapat saja menuntut suatu kekhususan semata-mata didasarkan pada faktor-faktor tertentu. yaitu politik. 370 Ibid. Tugas Sosial Pemerintahan Daerah. perangkat di pusat tidak perlu gemuk. Sebagai ujung tombak mewujudkan negara kesejahteraan. 16. Demikian pula penjabaran RPJP saat ini cenderung mengubah kepentingan sektor menjadi kepentingan wilayah. kemasyarakatan (ekonomi. pelayanan umum (public services). otonomi khusus berkaitan dengan pelaksanaan syariat Islam sehingga tidak berbeda dengan status Aceh sebagai daerah istimewa. kalau urusan-urusan pemerintahan didesentralisasikan. dan lain-lain). 2008. Yogyakarta.368 Dengan demikian tidak dapat lagi dijumpai perbedaan mendasar antara ‘khusus’ dan ‘istimewa’ atau dengan kata lain tidak terdapat ‘kriteria baku’ yang dapat digunakan untuk membedakan kedua istilah tersebut. 4. Makalah. dan ketertiban umum yang berkaitan dengan kenyamanan dan ketenteraman warga. . perkataan ‘khusus’ dalam Pasal 18B UUD 1945 akan memiliki cakupan yang lebih luas karena dimungkinkan membentuk pemerintahan daerah dengan otonomi khusus (Aceh dan Papua).129 Kalau digolongkan terdapat tiga fungsi negara atau pemerintah terhadap rakyat. 368 Ibid. jika otonomi dimaknai sebagai sebuah pengakuan atas keberagaman. Berimplikasi kepada kelembagaan.367 Untuk Aceh.

372 C.373 Paradigma baru Otonomi Daerah harus diterjemahkan oleh Kepala Daerah sebagai upaya untuk mengatur kewenangan pemerintahan sehingga serasi dan fokus pada tuntutan kebutuhan masyarakat. Ketidakmampuan Kepala Daerah dalam menyukseskan pembangunan daerah berimplikasi pada rendah atau berkurangnya kinerja dan efektivitas penyelenggaraan pembangunan nasional.371 Untuk Aceh. yang mengurangi keberagaman daerah sebagai bagian dari hakikat otonomi. Kepala Daerah. 15-16. Kekhususan urusan kemudian terjadi dalam pengaturan Pasal 18B UUD 1945. Perkataan ‘khusus’ tersebut akan memiliki cakupan yang lebih luas karena dimungkinkan membentuk pemerintahan daerah dengan otonomi khusus (Aceh dan Papua). Inkonsistensi terjadi pula dalam UU Olah raga dan penyuluhan pertanian yang menghendaki pembentukan semacam lembaga pelaksana di daerah. Penerbit Gramedia Pustaka. 4.130 Ketidakkonsistenan otonomi kemudian muncul melalui pembagian kewenangan yang dirinci melalui PP No.. 16. misalnya pada UU Kehutanan. Keberhasilan kepemimpinan di daerah menentukan kesuksesan kepemimpinan nasional. “penyelundupan” desentralisasi pun terjadi pula melalui UU sektoral yang menarik urusan yang sudah didesentralisasikan. Ibid.. Efekivitas pemerintahan Negara bergantung kepada efektivitas penyelenggaraan pemerintahan di daerah. Dimensi Hubungan Kelembagaan Pusat dan Daerah Pemerintahan daerah merupakan subsistem dari pemerintahan nasional atau Negara. Jakarta. menjadi kewenangan pusat. hlm. otonomi daerah bukanlah tujuan melainkan suatu instrument untuk mencapai tujuan. 373 J. Instrument tersebut haruslah digunakan secara arif oleh kepala daerah tanpa harus menimbulkan konflik antara pusat 371 372 Ibid. . 2003. Kaloh. otonomi khusus berkaitan dengan pelaksanaan syariat Islam sehingga tidak berbeda dengan status Aceh sebagai daerah istimewa. 38 tahun 2007. karena menurut James W Fesler.

http://ekoprasojo. dan komitment politik yang kuat dari pemerintah daerah. hlm. dalam prakteknya tidak terjadi. Klaim partai politik bahwa jika pencalonan dilakukan hanya melalui partai politik akan memperkuat kelembagaan partai politik dalam prakteknya juga tidak menjadi kenyataan. Sedangkan masyarakat dipaksa untuk memilih calon yang telah dipilih oleh parpol tanpa proses penjaringan yang partisipatif.374 Pemilihan langsung kepala daerah yang diharapkan dapat meningkatkan partisipasi masyarakat. keberanian. atau antar provinsi dan kabupaten/Kota karena jika demikian. Pidato Pengukuhan Guru Besar Fisip UI. Bandung. 4 Agustus 2009 . membuatkan pedoman/arah atau ketentuan kepada masyarakat (regulation). atau suasana kurang harmonis seperti munculnya egoism masing-masing tanpa menyadari bahwa fungsi pemerintahan hanya meliputi tiga hal. Reformasi objektivitas kelembagaan guna mensyaratkan adanya transparansi dengan dan cara menghindari perbuatan KKN mengutamakan orang-orang yang “dekat” dengan pejabat pengambil 374 375 Ibid. yaitu pelayanan kepada masyarakat (public services). Hubungan Kelembagaan antara Pusat dan Daerah.com/2008/04/08/konstruksi-ulang-hubungan-pemerintah-pusat-danpemerintah-daerah-di-indonesia-antara-sentripetalisme-dan-sentrifugalisme/ 376 Asep Warlan Yusuf.375 Tuntutan reformasi kelembagaan dicirikan oleh asumsi sebagai berikut:376 1. Proses penjaringan calon kepala daerah menjadi domain ekslusif partai politik. makna otonomi daerah menjadi kabur. Dalam kondisi demikian.131 dan daerah. dan pemberdayaan (empowerment). Reformasi kelembagaan yang aspiratif dan akseleratif mensyaratkan adanya kemauan. Pusat Studi Hukum Kenegaraan Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran. kepala daerah harus waspada terhadap munculnya hubungan antar tingkat pemerintahan yang bergerang dalam saling ketidakpercayaan. 2. 16 Eko Prasojo. makalah pada Diskusi Terbatas tentang Hubungan Pusat dan daerah. Yang terjadi adalah praktek jual beli “perahu partai politik” dalam proses pencalonan kepala daerah.

2.378 Konstruksi hubungan tersebut paling tidak memuat pemikiran ulang mengenai tingkatan pemerintahan. disarankan agar Pemerintah Pusat mengurangi badan-badan penyelenggara urusan pemerintahan pusat di daerah. pembagian wewenang 377 (atau urusan) antar berbagai tingkatan pemerintahan. Pustaka Sinar Harapan. partisipasi serta kontribusi dari dan oleh mnasyarakat dapat terakomodasi secara maksimal. semua satuan pemerintahan tingkat daerah harus tersusun dalam satu kesatuan susunan integral. Provinsi dan Kabupaten/Kota.. Agar diusahakan sebanyak mungkin pelaksanaan urusan pemerintahan pusat di daerah dilakukan melalui atau kerjasama dengan Pemerintah Daerah. terutama dalam rangka penataan kepegawaian dalam kelembagaan yang baru. hlm. Hubungan Antara Pusat dan Daerah Menurut UUD 1945. Dalam rangka lebih memperkokoh asas desentralisasi sebagai salah satu sendi system ketatanegaraan RI. hlm. Mekanisme hubungan pemerintah Pusat dan Pemerintah daerah dalam kelembagaan (susunan organisasi) menurut Bagir Manan:377 1. 3. Bagir Manan. Reformasi kelembagaan mensyaratkan adanya pengembangan dan pemberdayaan dalam membangun berbagai aliansi strategis dengan pihak manapun.132 keputusan. 4. status dan kedudukannya. 3. Susunan luar. 257 . artinya tidak dilakukan dengan setengah hati sehingga terjadi tarik ulur antara kewenangan Pemerintah. 1994. 5. Susunan dalam harus mencerminkan dasar permusyawaratan dalam sistem pemerintahan Negara. 256 378 Ibid. Reformasi kelembagaan mensyaratkan adanya kepastian dan perlindungan terhadap upaya pemberdayaan daerah. Jakarta. Reformasi kelembagaan mensyaratkan adanya penguatan Civil Society (masyarakat madani) agar sukses.

dipihak lain ke arah sentraliasi. Dalam hal ini. Meskipun demikian. Bertambah luasnya urusan Rumah Tangga daerah belum tentu selalu membawa keuntungan bagi daerah.133 perimbangan keuangan antar tingkatan pemerintahan. bahkan sebaliknya dapat menambah beban terlebih-lebih masalah yang dihadapi bukanlah hanya terletak dalam hubungan antara pusat dan daerah.379 Persoalan hubungan pusat dan daerah dalam Negara Kesatuan dengan sistem desentralisasi lebih luas dari sekedar bertalian dengan caracara penentuan Rumah Tangga daerah. partisipasi daerah dalam pembuatan keputusan di tingkat nasional. tetapi bersumber pula antara lain pada cara menyusun dan menyelenggarakan organisasi pemerintahan di daerah ditinjau dari macam-macam peraturan perundang-undangan mengenai pemerintahan daerah yang pernah berlaku. sehingga harus dimungkinkan adanya perbedaan susunan organisasi setiap daerah. 379 http://ekoprasojo. harus diperhatikan bergeraknya pola hubungan tersebut tidak sampai menimbulkan masalah besar khususnya bagi daerah. dan intervensi pusat terhadap daerah. segala sesuatunya perlu ditempatkan dalam hubungan yang serasi.com/2008/04/08/konstruksi-ulang-hubungan-pemerintah-pusat-danpemerintah-daerah-di-indonesia-antara-sentripetalisme-dan-sentrifugalisme/ . Begitu pula kemampuan daerah yang satu belum tentu sama dengan daerah yang lainnya. Terlihat perbedaan perwujudan politik otonomi disatu pihak condong kearah desentralisasi. akan memperbesar organisasi pemerintahan daerah. Di samping ada pula yang mengarah pada gabungan keduanya. Dengan diterapkannya otonomi luas (terutama di Kabupaten dan Kota). Hubungan pusat dan daerah dalam sistem otonomi yang bagaimanapun luasnya bukanlah ketentuan statis tetapi harus merupakan ketentuan yang dinamis pola hubungan itu harus selalu bergerak seimbang antara ke pusat dan ke daerah yang mampu menampung kebutuhan masyarakat dan pemerintahan. kemungkinan demikian harus diantisipasi dengan cermat sehingga tidak terjadi susunan organiasi “yang kegemukan” atau sebaliknya. tetapi juga hubungan antar daerah itu sendiri.

artinya. editor Anhar Gonggong. Jakarta 2005. 381 Ibid. dengan sendirinya ia mempunyai dua macam tugas yang berbeda satu dengan yang lainnya. 1982. bahkan dalam cara pengisiannyapun sama-sama dipilih secara langsung oleh rakyat melalui pemilu. karena ada dua kedudukan sebagai alat pemerintah pusat. Bandung. 382 BN. Konsep perwakilan politik lokal terkait dengan sistem pemerintahan yang dipraktikkan suatu Negara. Konsep perwakilan politik lokal merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sistem demokrasi. tapi juga pada cara penyelenggaraannya dan pertanggungjawabannya.134 Mengenai kedudukan gubernur. kedudukan dan fungsi DPR RI. hlm. 327 . Perkembangan Pemerintahan Lokal.381 masingmasing sesuai dengan peraturan yang berlaku saat ini yaitu UU No.380 Penyelenggaraan dan pertanggungjawaban tugas oleh Gubernur dalam kedudukannya sebagai alat pemerintah Pusat. Pasang Surut Otonomi Daerah. yaitu dalam arti sebagai kepala pemerintahan daripada pemerintah lokal administratif umum pusat dan sebagai alat Pemerintah Daerah.382 Meskipun pengaturan tentang susunan. hlm. atau dengan perkataan lain DPRD bukan merupakan subordinasi dari 380 R. keterlibatan masyarakat secara langsung dan tidak langsung ikut menentukan urusan urusan rumah tangga daerahnya. namun DPRD tidak mempunyai hubungan secara langsung dengan DPR. 215. Begitu pula berkaitan dengan kelembagaan DPRD. Penerbit Alumni. kedudukan serta fungsi DPRD ini berada dalam satu undang-undang yang sama dengan pengaturan mengenai susunan. Joeniarto. tunduk pada prinsipprinsip dekonsentrasi. sedangkan dalam kedudukannya sebagai alat pemerintah daerah tunduk kepada prinsip-prinsip desentralisasi. yaitu dalam arti sebagai Kepala Pemerintahan dari pada pemerintah lokal yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangga sendiri. Marbun. Institute for Local Development dan Yayasan TIFA. Perbedaan antara dua macam tugas tersebut tidak hanya terletak pada macam tugasnya. 32 Tahun 2004. dalam Kumpulan Tulisan. Perwakilan Politik Lokal dan Eksistensi DPRD dalam Konteks Otonomi Daerah.

kekuasaan DPRD baik tingkat provinsi maupun Kabupaten/Kota akan melalui sebuah upaya evaluasi peraturan pelaksanaannya. baik provinsi. Bahkan tidak sedikit di antara daerah yang memekarkan diri itu diketuai oleh kepala daerah atau para anggota DPRD-nya.135 DPR RI. kabupaten. yang diatur dengan undang-undang”. Dalam hal ini. kecenderungan masyarakat untuk membentuk daerah baru juga didukung oleh lembaga formal baik pada tingkat daerah maupun pusat. Hal itu dapat dilihat dari mudahnya pemerintah pusat. Terjadinya pemekaran daerah yang meluas hampir di seluruh wilayah Indonesia sebenarnya diawali dengan peluang yang diberikan oleh peraturan perundang-undangan. maupun daya saing daerah pun menjadi tersamar dan yang muncul justru adalah kepentingan elit politik lokal tersebut. Bahkan dalam hal pembentukan perda. Dalam Pasal 18 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa “Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota. atau kota. dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah. memberikan rekomendasi . melalui Menteri Dalam Negeri. Sebagai balasannnya. kabupaten. alasan utama untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. pemerintah daerah induknya. Demikian pula halnya keterlibatan pemerintah pusat maupun lembaga negara yang diharapkan akan menjadi penyaring dalam pemekaran daerah juga tidak berjalan dengan baik. baik provinsi/kabupaten/kota dan DPRD-nya masing-masing juga menjadi faktor pendukung terjadinya pemekaran daerah dengan mudahnya memberikan persetujuan pemekaran daerah yang bersangkutan. Dengan demikian. (Kursif dari Tim Peneliti). pelayanan publik. Di atas sudah dijelaskan bahwa dalam sepuluh tahun terakhir sudah banyak dibentuk atau dimekarkan suatu daerah. Di lain pihak. yang tiap-tiap provinsi. banyak di antara mereka yang kemudian mencalonkan diri sebagai kepala daerah yang baru tersebut. Di samping itu DPRD juga sebenarnya merupakan bagian atau unsur kekuasaan eksekutif pada level pusat karena merupakan bagian dari penyelenggara pemerintahan daerah.

Oleh karena itu. op. Hal itu sangat dimungkinkan karena undang-undang yang berkaitan memang membuka peluang seperti dijelaskan di atas. keterlibatan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dalam mengajukan rancangan undang-undang tentang pemekaran daerah sangat memungkinkan dan mendorong terjadinya pemekaran daerah. Penafsiran itu mungkin terlalu naïf. 31. Dari bunyi pasal tersebut tampak bahwa memang sangat dimungkinkan suatu daerah untuk dimekarkan bahkan dapat menjadi lebih dari satu daerah (baru). hal itu konsisten dengan kesepakatan untuk tetap mempertahankan bentuk negara kesatuan. hal itu diatur dalam Pasal 6 ayat (2) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang menyatakan “Daerah dapat dimekarkan menjadi lebih dari satu Daerah”.136 dalam pembentukan daerah baru. Demikian pula halnya. hal itu dapat diterima karena sangat masuk akal dan berdasar. Sebagai bukti. hlm. dan provinsi akan selalu dibagi ke dalam kabupaten atau kota. Alasan Majelis Permusyawaratan Rakyat menggunakan istilah “dibagi” bukan “terdiri atas” adalah untuk menjelaskan bahwa Indonesia adalah negara kesatuan yang kedaulatan negara berada di tangan Pusat. tetapi faktanya memang seperti itu di mana kemudian pembagian wilayah atau daerah di Indonesia menjadi sangat dipermudah dalam undang-undang pelaksanaannya. ternyata dari kata “dibagi” tersebut kemudian menimbulkan penafsiran yang berbeda dalam praktik di mana hal itu diartikan Indonesia akan selalu dibagi ke dalam provinsi. Selain itu. 383 Sekretariat Jenderal Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia.cit. 383 Secara konseptual dan teoretis. . peran lembaga formal sangat penting dalam menyaring dan mengendalikan pemekaran daerah agar pemekaran daerah itu dapat dikurangi atau dihentikan. Hal itu ternyata menjadi penyebab pemekaran daerah tidak dapat dikendalikan. di mana jika menggunakan istilah “terdiri atas” akan lebih menunjukkan susbtansi federalisme karena istilah itu menunjukkan letak kedaulatan berada di tangan negara-negara bagian. Akan tetapi.

kriteria dan prosedur pemekaran daerah yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tersebut sudah cukup baik selama dijalankan secara ketat dan teruji melalui penelitian dan pengkajian yang komprehensif. maupun kemampuan daerah yang bersangkutan. sementara dari segi faktual-material banyak yang tidak sesuai dengan situasi dan kondisi nyata di daerah yang bersangkutan. di sisi lain Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tidak membatasi secara tegas sampai berapa banyak jumlah provinsi. kabupaten atau kota juga dapat dimekarkan terus ke dalam kecamatan-kecamatan. provinsi dapat dibagi terus ke dalam kabupaten atau kota. Bahkan tidak sedikit pula dalam pemekaran daerah itu dilakukan dengan memaksakan diri padahal situasi dan kondisi daerah itu sebenarnya belum atau tidak layak dimekarkan. wilayah Indonesia dapat dibagi terus ke dalam provinsi-provinsi. Pemenuhan persyaratan yang diajukan dalam pemekaran daerah itu lebih banyak hanya ditekankan dari segi formal dan prosedur. Namun. ketentuan tersebut sangat membuka peluang kepada semua daerah untuk memekarkan diri tanpa melihat kondisi objektif daerah. Keadaan itu dimungkinkan terjadi karena adanya . tidak mengherankan apabila banyak daerah yang mencoba mengajukan usulan pemekaran diri sekalipun secara faktual daerahnya tidak memenuhi persyaratan atau persyaratan formalnya terpenuhi tetapi faktualnya tidak. kondisi. dan kota yang dapat dibentuk di Indonesia. maka tampak seperti tidak ada pembatasan sampai berapa tahap suatu daerah dapat dibagi ke dalam daerah yang lebih kecil. dalam pemekaran daerah banyak memunculkan data dan fakta yang berbeda dengan situasi. Oleh karena itu. Artinya. Apabila undang-undang itu dibaca dalam waktu yang berbeda. Secara formal.137 Namun. Dengan kata lain. sehingga pemenuhannya lebih banyak ditekankan kepada aspek formalnya semata-mata. di sisi lain kriteria dan prosedur tersebut dapat dianggap terlalu mudah dan terkesan formalistik. Pasal tersebut sangat memungkinkan terjadinya pemekaran daerah seperti halnya pemecahan sel yang berlangsung terus-menerus tanpa ada pembatasan. dan kecamatan pun dapat dipecah lagi ke dalam kelurahan-kelurahan dan desa-desa. kabupaten. Dengan kata lain.

Pada gilirannya. Padahal. korupsi. konflik . termasuk kebebasan daerah dalam memekarkan daerahnya menjadi daerah otonom baru. banyak daerah provinsi. Akibat lain dari berlakunya undang-undang tersebut. kabupaten. seperti adanya kerusakan lingkungan. Sebagai akibatnya. undangundang tersebut yang pada awal kehadirannya disambut dengan harapan yang sangat tinggi agar pelaksanaan otonomi daerah yang sebelumnya dilaksanakan secara sentralistik berubah menjadi lebih desentralistik justru dianggap menimbulkan banyak masalah. Hal itu itu menunjukkan sangat longgarnya persyaratan dan prosedur pemekaran daerah dalam undang-undang. selain banyak munculnya daerah baru. Sebagai akibatnya. atau kota yang sibuk melakukan pemekaran daerah baru dengan melupakan keberadaannya sebagai penyelenggara pemerintahan daerah yang memiliki tugas untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. maupun daya saing daerah. adalah timbulnya berbagai persoalan yang dihadapi oleh daerah. pelayanan publik. hal itu dijadikan peluang untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. pelayanan masyarakat. sejarah menunjukkan bahwa pelaksanaan undangundang tersebut ternyata tidak berhasil dengan baik. Namun yang terjadi justru sebaliknya di mana dengan otonomi yang sangat luas tersebut menimbulkan banyak ekses negatif. sehingga tujuan pemberian otonomi daerah seluas-luasnya tidak berjalan sesuai dengan harapan. Dengan demikian. Hal itu sebagai akibat negatif di mana daerah diberi kewenangan dan keleluasaan yang sangat luas untuk mengurus dan mengatur urusan rumah tangganya sendiri. pelaksanaan otonomi daerah yang sangat luas tersebut tidak mampu membawa kesejahteraan bagi masyarakat di daerah. maupun daya saing daerah. terutama Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan peraturan pelaksananya. Semestinya.138 kemudahan yang diberikan oleh ketentuan peraturan perundang-undangan dan dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk mencapai tujuannya. dengan diberikannya otonomi yang seluas-luasnya kepada daerah menyebabkan daerah memiliki kekuasaan yang luar biasa besar dalam menentukan dan mengambil kebijakan menyangkut daerahnya.

Namun demikian. Penggantian tersebut dilakukan untuk mengubah paradigma yang dianut oleh undangundang sebelumnya yang terlalu memberikan keleluasan sepenuhnya kepada daerah tanpa adanya mekanisme kontrol yang proporsional. Hal itu terjadi karena adanya pihak . tujuan semula dikeluarkannya undang-undang tersebut tidak berhasil diwujudkan sesuai dengan harapan pembentuk undang-undang sendiri maupun masyarakat. tidak mengherankan dalam kurun waktu 2004 sampai dengan sekarang (2009) pemekaran daerah juga masih berlangsung. Hal itu dapat dilihat dari bunyi Pasal 2 ayat (1) yang berbunyi ”Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota yang masing-masing mempunyai pemerintahan daerah”. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 juga ternyata masih membuka peluang yang cukup besar bagi daerah untuk melakukan pemekaran daerah. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tersebut digantikan oleh Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004. Dengan demikian. ada di antaranya dalam proses pemekaran tersebut menimbulkan konflik horizontal di antara masyarakat sendiri atau dengan pemerintah induk (provinsi/kabupaten/ kota) bahkan dengan pemerintah pusat. dan sebagainya. Hal itu disebabkan demikian besarnya kewenangan daerah kabupaten dan kota untuk mengambil kebijakan. Dengan demikian. semangat undang-undang tersebut masih sama dengan semangat undang-undang sebelumnya yang ”akan selalu membagi” wilayah atau daerah Indonesia ke dalam bagian yang lebih kecil. termasuk dalam hal pemekaran daerah. Hal itu dimungkinkan terjadi dan terus berlangsung karena memang undangundangnya membuka peluang untuk itu. Dengan demikian. sehingga tidak dapat dikontrol oleh provinsi maupun pusat. hal itu tidak dilaksanakan oleh banyak daerah. era otonomi daerah yang sudah mulai dinikmati oleh daerah kemudian menjadi kehilangan momentum karena daerah tidak mampu memelihara dan menjaganya. Selanjutnya.139 masyarakat. Pada akhirnya. Oleh karena itu. Sekalipun banyak pihak yang sudah menganjurkan upaya pemekaran tersebut dihentikan.

Sekalipun dalam peraturan perundang-undangan tersebut sudah diatur tentang pembatasan waktu berapa lama suatu daerah yang sudah dimekarkan dapat dimekarkan lagi. pembentukan daerah baru juga akan menjadi penyebab berubahnya administrasi kependudukan. dan sebagainya. baik untuk daerah lama yang sudah pernah dimekarkan maupun daerah baru yang kemudian akan dimekarkan lagi. Misalnya. Hal itu disebabkan persyaratan yang harus dipenuhi tidak ketat. Apabila dibandingkan antara kedua ketentuan peraturan perundangundangan tersebut. akan terjadi pemungutan retribusi baru oleh kabupaten/kota baru bagi warganya yang akan melintasi daerah baru tersebut. Selain fakto-faktor yang sama dalam pembentukan provinsi. praktiknya hal itu sangat riskan. potensi daerah. Demikian pula halnya dalam pembentukan kabupaten/kota baru harus mendapatkan persetujuan dari semua kabupaten/kota yang ada dalam provinsi yang sama. tampaknya tidak terlalu berbeda di mana keduanya sangat membuka peluang dilakukannya pemekaran daerah. tidak peduli apakah “korbannya” adalah tetangganya yang sebelumnya adalah sesama warga kabupaten/kota sebelum pemekaran (daerah induk). daerah tersebut akan menerapkan ketentuan yang menguntungkan daerahnya sendiri. Sebagai contoh. waktu 10 tahun untuk .140 tertentu yang menginginkan pemekaran dan di lain pihak justru menentangnya dengan masing-masing alasannya. Apabila sudah berdiri sendiri sebagai kabupaten/kota. Alasannya. hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah terjadinya “gangguan” terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakatnya. Misalnya. termasuk posedurnya juga cukup sederhana. kepegawaian. Hal itu sangat penting. tidak adanya syarat yang mewajibkan persetujuan dari daerah lain dalam pembentukan daerah baru. penghasilan daerah. padahal sebelumnya tidak dipungut retribusi karena masih merupakan bagian daerah kabupaten/kota yang bersangkutan. apabila akan dibentuk provinsi baru. di samping akan mempengaruhi alokasi anggaran masingmasing provinsi yang sudah ada. semua provinsi di Indonesia harus menyetujui pembentukan provinsi baru tersebut.

. 33 Tahun 2004. kriteria dan batas defisit APBD. UU No.386 Namun demikian. 5% DBH sektor Migas untuk alokasi pendidikan dasar)384 dan sanksinya jika ketentuan tersebut dilanggar385. Berupa pemotongan DBH sektor Migas.141 provinsi dan 7 tahun untuk kabupaten/kota dirasakan kurang karena dalam waktu sesingkat itu pemerintahannya belum stabil seperti halnya suatu provinsi atau kabupaten/kota yang sudah lama berdiri. Lihat Pasal 50 ayat(2). 25. penyempurnaan jenis-jenis dana perimbangan. Dalam konteks tersebut. Dimensi Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah a. serta dalam mekanisme dana perimbangan sebagai instrumen pengendali pengelolaan keuangan daerah. Sebagai contoh. UU No. Pasal 102 ayat (3) UU No. Telaah Terhadap Mekanisme Perimbangan Keuangan Dilihat dari substansi pengaturannya. D. kewajiban menyampaikan informasi keuangan daerah sesuai dengan standard akuntansi pemerintah. Demikian pula halnya untuk pembentukan kabupaten/kota baru harus ada penegasan hal yang sama. adanya dana perimbangan yang peruntukannya di atur (0. Berapa lama sebenarnya kemudian provinsi Jawa Barat dapat dimekarkan lagi ke dalam provinsi baru? Hal ini sangat penting untuk memperoleh kejelasan karena sekarang ini sudah muncul pembentukan provinsi Cirebon dan provinsi Pantai Utara (Pantura). 33 Tahun 2004. termasuk asal dananya. 33 Tahun 2004 lebih menekan pada pembagian pendapatan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. Pasal 83 ayat(4). 33 Tahun 2004 memperbaiki ketentuan UU sebelumnya (UU No. 386 Hal tersebut berupa ancaman sanksi penundaan atau pemotongan dana perimbangan jika daerah melanggar larangan melakukan pinjaman luar negeri. ada beberapa hal yang masih menjadi masalah dalam UU tersebut atau jika dikaitkan dengan UU lainnya. 384 385 Lihat Pasal 20 ayat (1) dan ayat (2) UU No. serta persentase dana perimbangan menjadi perhatian utama dalam UU tersebut. Pasal 25 UU No. persentase yang lebih besar. 33 Tahun 2004. Tahun 2000) terkait dengan jenis –jenis dana perimbangan. provinsi Jawa Barat sudah pernah dimekarkan dengan dibentuknya provinsi Banten pada tahun 2001.

142

Dalam konteks tersebut, UU No. 33 Tahun 2004 lebih menekankan konsep desentralisasi fiskal pada transfer dana pusat ke daerah. Padahal desentralisasi fiskal tidak hanya mencakup hal tersebut, tetapi juga menjamin daerah untuk lebih mandiri mendapatkan sumber-sumber penerimaan daerah sesuai dengan potensinya. Transfer dana pusat ke daerah seharusnya ditempatkan sebagai mekanisme penyeimbang dalam hal mengatasi masalah ketidakseimbangan kemampuan keuangan secara vertikal dan horizontal (vertical and horizontal fiscal imbalance).
387

Padahal

jika dikaitkan dengan konsep desentralisasi fiskal, maka sangat besarnya transfer dana dari pusat ke daerah akan menyebabkan ketergantungan daerah yang tinggi terhadap pusat.388 DAU yang didasarkan pada perhitungan celah fiskal dapat mengatasi persoalan vertical imbalance antara pusat dengan daerah. Daerah-daerah miskin dan terpencil mendapatkan keuntungan yang besar dari pola DAU dalam UU No. 3 Tahun 2004 terutama sejak tahun 2006, yang disebut oleh Fengler dan Hofman sebagai the second big bang.389 Sementara itu, daerahdaerah yang memiliki DBH baik dari sektor pajak, dan terutama DBH sumber daya alam, pasti memiliki DAU lebih kecil sehingga antara daerah-daerah yang kaya dengan daerah-daerah miskin dan terpencil dapat tercipta keseimbangan kemampuan keuangan secara horizontal. Namun demikian, walaupun secara normatif dan perhitungan “di atas kertas” tercipta keseimbangan baik vertikal maupun horizontal, namun kenyataannya danadana tersebut sebagian besar tidak terserap, seperti di Aceh dan daerah Indonesia timur, dana-dana perimbangan tersebut lebih banyak berada di rekening bank,390 atau dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI),391

Roh Bahl, dalam Shinichi Ichimura, Roy Bahl (eds), loc.cit., hlm. 10 – 11. Lihat pendapat K. Brueckner, loc.cit., hlm. 1. 389 Istilah big bang (decentralization) mengacu pada fenomena desentralisasi berdasarkan UU No. 22 Tahun 1999 (efektif pada tahun 2001) yang mengubah Indonesia dari negara sentralistis menjadi negara terdesentralisasi secara drastis. Lihat Wolfgang Fengler, Bert Hofman, “Managing Indonesia’s Rapid Decentralization: Achievements And Challenges”, dalam Shinichi Ichimura, Roy Bahl (eds), op.cit., hlm. 245 – 246. 390 Ibid., hlm. 254. 391 Ibid., hlm. 246.
388

387

143

sementara secara kontras, penyerapan PAD lebih mudah dilakukan. Meminjam istilah Fengler dan Hofman, daerah lebih mudah menyerap “dana rakyat yang lain”392 (PAD). Fengler dan Hofman sendiri menegaskan

persoalan ke depan yang menjadi tantangan bukanlah bagaimana menambah transfer dana dari pusat ke daerah – daerah miskin dan terpencil, tetapi bagaimana mengelola dana-dana transfer tersebut secara efektif.393 Selain menumpuknya dana-dana transfer dari pusat, belanja daerah pun lebih banyak dikeluarkan untuk membiayai gaji pegawai, dibandingkan belanja lain yang terkait dengan penyelenggaraan urusan pemerintah, seperti belanja modal atau infrastruktur.394 Hal-hal di atas menunjukkan bahwa desentralisasi fiskal Indonesia lebih banyak ditekankan pada otonomi pengeluaran, walauapun hasilnya tidak efektif. Dengan kata lain, tantangan desentralisasi Indonesia di kemudian hari tidak hanya ditekankan pada efektifitas penggunaan sumber-sumber keuangan daerah secara efektif. Persoalan yang juga signifikan adalah tingkat otonomi dan kecukupan pendapatan (revenue autonomy and adequacy) untuk mendapatkan PAD. Walaupun daerah diberikan kewenangan untuk memungut pajak daerah dan retribusi daerah, namun hal tersebut tidak efektif. Pajak daerah dan retribusi daerah yang diberikan kewenangannya kepada daerah dalam UU No.18 Tahun 1997 jo UU No. 34 Tahun 2000 sangat terbatas. Pajak daerah dalam UU No. 18 Tahun 1997 jo UU No. 34 Tahun 2000 lebih menekankan pada keseragaman antar daerah, dalam bentuk kewenangan memungut pajak tertentu (positive list) yang basis pajaknya/ objeknya telah ditetapkan dalam undang-undang.395 Walaupun daerah dapat menetapkan jenis pajak daerah lain berdasarkan kriteria yang ditetapkan UU tersebut, namun sangat sulit

Ibid., hlm. 255. Loc.it., hlm. 246. 394 Misalnya pada tahun 2006 APBD Kabupaten/ Kota untuk belanja pegawai termasuk gedung-gedung pemerintah daerah mencapai 32% dari seluruh pengeluaran, yang juga disebabkan karena meningkatnya daerah-daerah baru hasil pemekaran. Sementara itu, belanja infrastruktur yang terkait langsung dengan pelayanan publik hanya mencapai 15%. Lihat World Bank 2007, Spending for Development — Making the Most of Indonesia’s New Opportunities (Public Expenditure Review 2007), Jakarta 2007. www.worldbank.org/id. 395 Tjip Ismail, Pengaturan Pajak Daerah di Indonesia, Yellow Printing, Jakarta, cetakan kedua, 2007, hlm. 264.
393

392

144

ditemukan jenis pajak daerah baru, karena ketatnya kriteria-kriteria tersebut.396 Praktiknya, hasil pajak daerah dan retribusi daerah tidak berkontribusi signifikan terhadap PAD, terutama kepada kabupaten/ kota.397 Bahkan hasil yang diperoleh dari pajak dearah dan retribusi daerah lebih kecil dari pada biaya pemungutannya398 dan sebagian besar akibat dari

pajak daerah dan retribusi daerah tersebut menyebabkan ekonomi berbiaya tinggi sehingga merusak iklim investasi.399 Hal – hal di atas mencerminkan masih rendahnya tingkat otonomi pendapatan dari daerah. Dengan diundangkannya UU No 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah menggantikan UU sebelumnya, terdapat beberapa perubahan signifikan, salah satunya adalah penambahan pajak daerah dan retribusi daerah baru. Namun demikian, dengan diterapkannya sistem penetapan jenis pajak daerah secara tertutup, menimbulkan pertanyaan, apakah otonomi pendapatan dari daerah semakin menguat atau semakin melemah? Salah satu alasan diundangkannya UU No. 28 Tahun 2009 karena selama ini penyerahan kewenangan di bidang perpajakan dan retribusi (daerah) kurang mendukung pelaksanaan otonomi daerah.400 Pemberian kewenangan yang semakin besar kepada Daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat seharusnya diikuti dengan pemberian kewenangan yang besar pula dalam perpajakan.401 Dengan argumentasi demikian, UU No. 28 Tahun 2009 mengatur perluasan basis pajak dengan menambah pajak daerah dan retribusi daerah yang baru. Namun demikian, apakah pajak-pajak daerah yang baru dapat menjamin hasil pungutan pajak daerah yang besar pula dan apakah tersebut dapat

Ibid., hlm. 266. Di tingkat kabupaten/ kota kontribusi PAD hanya menyumbang kurang dari 10% terhadap APBD. Tjip Ismail, op.cit.,hlm. 263. 398 Biaya penyelenggaraaan pajak daerah dan retribusi daerah mencapai lebih dari 50% dari hasil yang diterima. Wolfgang Fengler, Bert Hofman, op.cit.,hlm. 255. 399 Ibid., hlm. 256. 400 Penjelasan Umum paragraf 8 UU No. 28 Tahun 2009. 401 Ibid.
397

396

145

meningkatkan kemandirian daerah dalam upaya peningkatan PAD secara tepat? Dari jenis pajak daerah baru tersebut, hanya pajak rokok yang secara signifikan memberikan kontribusi terhadap PAD dengan tarif 10% dari cukai nasional dan sebagian lagi dari pajak hiburan yang dapat mencapai tariff maksimum 75 % untuk hiburan-hiburan tertentu.402 Namun demikian, khusus mengenai pajak rokok, terdapat kejanggalan dalam konteks pemungutan. Walaupun pajak rokok adalah pajak daerah provinsi, namun yang melakukan pemungutan pajak adalah instansi pemerintah berwenang memungut cukai bersamaan dengan pemungutan cukai rokok403, yang artinya pemerintah pusat. Hal ini merupakan mekanisme yang tidak menciptakan kemandirian daerah untuk melakukan pemungutan pajak daerah. Pajak rokok lebih tampak seperti dana perimbangan dari konsumsi rokok, karena dipungut oleh pemerintah pusat lalu disalurkan ke rekening kas umum daerah provinsi secara proporsional berdasarkan jumlah penduduk.404 Sementara itu, Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Pedesaan dan Perkotaan serta Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan(BPHTB) sebenarnya bukan pajak baru, karena hal tersebut merupakan pajak pusat yang seluruh hasilnya dikembalikan kepada daerah sebagai dana bagi hasil(DBH) dari sektor pajak.405 Sementara itu, Pajak Sarang Burung Walet dipungut bagi daerah-daerah yang memiliki potensi ini. Artinya, tidak semua daerah dapat memungut pajak daerah tersebut, karena tidak setiap daerah memiliki potensi sarang burung walet. Perluasan objek pajak daerah, misalnya untuk pajak hotel dan restoran sebenarnya juga bukan hal baru. Beberapa daerah juga telah

Hiburan tertentu yang dimaksud adalah Khusus untuk Hiburan berupa pagelaran busana, kontes kecantikan, diskotik, karaoke, klab malam, permainan ketangkasan, panti pijat, dan mandi uap/spa. Lihat Pasal 45 ayat (2) UU No. 28 Tahun 2009. 403 Pasal 27 ayat (3) UU No.28 Tahun 2009. 404 Pasal 27 ayat (4) UU No.28 Tahun 2009. 405 Pengaturan persentase perimbangan alokasi DBH PBB dan BPHTB antara pusat dan daerah adalah 10 % : 90 % untuk DBH PBB dan 20% : 80 % untuk DBH BPHTB. 10 % bagian pusat dari PBB dan 20 % bagian pusat dari BPHTB dibagikan seluruhnya kepada daerah dengan formula tertentu. Lihat Pasal 12 ayat (2) dan ayat(5) UU No. 33 Tahun 2004.

402

146

menetapkan jenis pajak daerah di luar UU No. 34 Tahun 2000, yang menyerupai perluasan objek pajak tersebut, misalnya pajak rumah kos di Kabupaten Sumedang. Dengan demikian, perluasan objek pajak tersebut sebenarnya hanya mengambil dan mengukuhkan secara nasional pajakpajak daerah yang sebelum telah dipungut di beberapa daerah. Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) yang tarifnya ditentukan secara progresif pun di mulai dari prosentase tariff 1% untuk kepemilikan kendaraan pribadi yang pertama, walaupun untuk kendaraan kedua dan seterusnya dapat naikkan secara progresif hingga 10%. Secara sepintas, pajak tersebut dapat menghasilkan dana yang besar mengingat tingginya pembelian kendaraan bermotor. Namun demikian, jika mekanisme pengawasan tentang kepemilikan kendaraan bermotor tidak ditetapkan dengan baik, maka kemungkinan terjadinya penyelundupan hukum dapat mengakibatkan hasil pemungutan pajak tersebut tidak signifikan. Begitu pula dengan pemecahan Pajak Air Bawah Tanah dan Air Permukaan menjadi Pajak Air Tanah (kabupaten/ kota) dan Pajak Air Permukaan (untuk provinsi), pada dasarnya memiliki objek pajak yang tidak berubah, dengan tarif yang sama dengan UU sebelumnya untuk Pajak Air Tanah (maksimal 20%406), namun lebih rendah untuk Pajak Air Permukaan (maksimal 10%).407 Hal – hal di atas menunjukkan bahwa pemberian pajak baru, penyesuaian tarif pajak daerah tidak dapat dipastikan dapat meningkatkan PAD. Apalagi jika dikaitkan dengan kemungkinan masalah yang muncul dalam praktik, misalnya mekanisme pengawasan kepemilikan kendaraan bermotor pribadi dengan tariff pajak progresif. Jika mekanisme tersebut tidak dibentuk, maka pelaksanaan pemungutan pajak tersebut, berpotensi menimbulkan ketidakadilan.408 Berdasarkan hal-hal tersebut, maka otonomi

406 407

Pasal 70 ayat (1) UU No. 28 Tahun 2009. Pasal 24 ayat (1) UU No. 28 Tahun 2009. 408 UU No. 28 Tahun 2009 tidak mewajibkan mekanisme balik nama jika terjadi peralihan hak atas kepemilikan kendaraan pribadi. Artinya, jika seseorang telah menjual kendaraannya kepada orang lain tanpa melakukan balik nama, maka orang tersebut akan

147

pendapatan yang diharapkan dapat meningkat dengan adanya UU ini, belum tentu dapat terwujud. Jika asumsi PAD dari sektor pajak daerah belum dapat ditingkatkan dengan adanya UU No. 28 Tahun 2009, maka dengan sistem penetapan jenis pajak yang tertutup, daerah kurang dapat memanfaatkan potensi pajak daerah lain, selain yang telah ditetapkan secara limitatif dalam UU tersebut. Pembentuk UU No. 28 Tahun 2009 berargumen bahwa sistem tertutup tersebut dilakukan untuk memberikan kepastian hukum bagi masyarakat.409 Namun demikian, pembentukan UU tersebut tidak melihat bahwa otonomi daerah yang diterapkan di Indonesia adalah otonomi seluasluasnya di mana urusan pemerintahan daerah sangat luas, mencakup seluruh urusan pemerintahan kecuali urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat.410 Artinya, dibutuhkan biaya yang sangat besar untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan daerah, sehingga hal tersebut harus didukung dengan sumber pendapatan yang juga sangat besar. Pembentuk UU No. 28 Tahun 2009 berargumen bahwa dengan sistem pajak daerah selama ini, banyak daerah yang melanggar kriteria yang telah ditetapkan untuk menetapkan pajak daerah baru, ditambah dengan lemahnya pengawasan penetapan Perda Pajak Daerah dan perilaku banyak daerah yang tidak menyampaikan Perda Pajak Daerah untuk dievaluasi.411 Namun demikian, UU No. 28 Tahun 2009 tetap menerapkan sistem yang semi terbuka untuk retribusi daerah. Artinya, selain retribusi daerah yang ditetapkan dalam UU No. 28 Tahun 2009, daerah dapat menetapkan jenis retribusi daerah lain, berdasarkan kriteria yang ditetapkan.412 Padahal pembentuk UU No. 28 Tahun 2009 juga mengakui bahwa penetapan

dikenakan tariff progresif jika akan membeli kendaraan bermotor lagi untuk jenis yang sama, padahal orang tersebut secara de facto hanya memiliki 1 kendaraan pribadi. 409 Penjelasan Umum UU No. 28 Tahun 2009. 410 Pasal 18 ayat (5) Perubahan Kedua UUD 1945, menyatakan: “Pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya, kecuali urusan pemerintahan yang oleh undangundang ditentukan sebagai urusan Pemerintah Pusat”. 411 Penjelasan Umum UU No. 28 Tahun 2009. 412 Pasal 150 UU No. 28 Tahun 2009.

148

retribusi daerah yang banyak melanggar kriteria yang telah ditetapkan disebabkan, hasil penerimaan dari jenis pajak daerah yang ditetapkan, tidak dapat memenuhi kebutuhan daerah.413 Padahal dengan sistem pajak daerah yang sifatnya tertutup maka, pelangggaran terhadap kriteria jenis retribusi daerah lain kemungkinan akan terulang kembali. Hal tersebut menunjukkan ambiguitas pemikiran para pembentuk UU No. 28 Tahun 2009 dalam mendudukkan pajak daerah dan retribusi daerah. Hal-hal di atas menunjukkan, waluaupun terdapat upaya untuk menambahkan kewenangan pajak daerah dan retribusi daerah dalam UU No. 28 Tahun 2009, namun hal tersebut tidak menjamin terciptanya otonomi dan kecukupan pendapatan bagi daerah. Artinya, jika tujuan meningkatkan otonomi pendapatan dalam UU ini tidak tercapai, maka daerah akan tetap bergantung pada dana perimbangan yang diberikan oleh pusat.

b. Telah Terhadap Pinjaman Daerah Pengaturan pinjaman daerah dalam UU No. 33 Tahun 20004 dalam beberapa hal lebih baik jika dibandingkan dalam UU No. 25 Tahun 1999, misalnya dalam hal batas kumulatif pinjaman yang lebih ketat, dan sanksi bagi daerah yang melanggar ketentuan tersebut. Dengan pengaturan yang lebih ketat, tidak berarti daerah tidak memiliki borrowing previllage yang terbatas. Batas-batas objektif dalam melakukan pinjaman daerah diperlukan agar hal tersebut sesuai dengan maksud pinjaman daerah, khususnya untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dan melakukan pembangunan yang menerus (sustainable development).414 Adanya kategorisasi pinjaman daerah sesuai peruntukkannya dalam UU No. 33 Tahun 2004 merupakan salah satu cara untuk menempatkan pinjaman daerah sesuai dengan kebutuhan pinjaman tersebut dilakukan. Namun demikian, Menurut Shah, di negara-negara berkembang (termasuk Indonesia) di mana pasar (keuangan) belum terbangun dengan

413 414

Penjelasan Umum UU No. 28 Tahun 2009. Glasson dalam Bachrul Elmi dan Syahrir Ika, loc.cit., hlm. 62.

149

baik untuk kredit jangka panjang dan kemampuan daerah untuk membayar pinjaman, menyebabkan akses daerah untuk melakukan pinjaman sangat terbatas.415 Dalam konteks tersebut, maka yang paling mungkin dilakukan di Indonesia adalah pinjaman jangka pendek dan menengah yang tidak ditujukan untuk menghasilkan penerimaan. Artinya, pinjaman daerah di Indonesia hanya berperan untuk mempertahankan struktur APBD agar tetap berimbang seiring dengan diterapkannya hard budget constraints dalam hal APBD. Pinjaman daerah di Indonesia belum dapat diberdayakan untuk dapat menghasilkan penerimaan, walaupun jenis pinjaman tersebut disediakan (pinjaman jangka panjang untuk pembiayaan investasi). Belum berkembangnya pasar keuangan di negara-negara

berkembang, seperti lembaga keuangan bank dan non-bank, termasuk di Indonesia, maka sumber pinjaman daerah sangat terbatas. Otomatis, sumber pinjaman daerah yang secara signifikan diharapkan oleh daerah berasal dari pemerintah, karena pinjaman dari masyarakat (obligasi daerah) dan pinjaman dari pemerintah daerah lain belum banyak diberdayakan. Namun demikian, pemerintah pusat pun tidak selamanya dapat memberikan pinjaman kepada daerah, khususnya selain untuk tujuan menutupi defisit, karena transfer dana pusat ke daerah sudah begitu besar, khususnya dari DAU. Apalagi dalam UU No. 33 Tahun 2004, daerah dilarang melakukan pinjaman luar negeri, kecuali berasal dari penerusan pinjaman dari pusat yang dananya dari pinjaman luar negeri. Artinya sumber dana pinjaman daerah semakin terbatas. Dalam kewenangan melakukan pinjaman, daerah tidak dapat memanfaatkan sumber pinjaman luar negeri secara langsung, namun harus melalui penerusan pinjaman dari pemerintah pusat.416 Dalam hal pinjaman dari luar negeri, UU No. 22 Tahun 1999 memberikan mekanisme yang lebih realistis. Dalam UU No. 22 Tahun 1999, pemerintah daerah dapat melakukan peminjaman dari sumber dalam negeri dan/atau dari sumber luar negeri

415 416

Anwar Shah, “Fiscal Decentralization…., loc.cit., hlm. 29 Lihat Pasal 50 ayat (1) dan Pasal 56 ayat (2) UU No. 33 Tahun 2004.

harus mendapatkan persetujuan pemerintah pusat. dalam konteks penjajakan pinjaman luar negeri. tidak diatur bagaimana mekanisme keterlibatan pemerintah pusat. 32 Tahun 2004. Walaupun demikian.419 Walaupun UU No. Walaupun demikian. masih tetap dipertahankan.22 Tahun 1999 . proses penjajakan tersebut sebaiknya 417 418 Pasal 81 ayat (1) UU No. 419 Lihat Pasal 81 ayat (3) UU No.150 untuk membiayai kegiatan pemerintahan dengan persetujuan DPRD. Artinya. UU No. Padahal hal tersebut sangat penting. 25 Tahun 1999). Dalam UU No. kebebasan untuk melakukan pinjaman lebih terjamin. Pasal 81 ayat (2) UU No. Jenis-jenis pinjaman yang diperuntukan untuk menutupi arus kas atau penyediaan pelayanan publik seharusnya tidak berasal dari pinjaman luar negeri. prinsip bahwa urusan luar negeri adalah urusan pemerintah pusat sebagaimana diatur dalam UU No. padahal unsur esensial dalam melakukan pinjaman adalah unsur persetujuan dari pemerintah pusat. Pinjaman luar negeri seharusnya ditentukan hanya berupa pinjaman jangka panjang yang diperuntukkan untuk membiayai proyek investasi yang menghasilkan penerimaan. Namun demikian. walaupun keputusan akhir ada di tangan pemerintah pusat. daerah tetap dapat melakukan penjajakan potensi pinjaman luar negeri. karena harus mendapatkan persetujuan pusat.417 Pinjaman dari dalam negeri diberitahukan kepada Pemerintah dan dilaksanakan sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Pemerintah.22 Tahun 1999.22 Tahun 1999. Artinya. daerah tidak memiliki inisiatif untuk menjajaki pinjaman. namun pada prinsipnya hal tersebut tidak sepenuhnya menjadi kewenangan daerah. tidak mengatur kriteria pinjaman yang dananya berasal dari luar negeri. sehingga hal ini menjadi salah satu kelemahan UU No. 22 Tahun 1999. Kelemahan lainnya. seharusnya daerah tetap diberikan kewenangan untuk menjajaki potensi pinjaman dari sumber dana luar negeri.418 Peminjaman dan sumber dana pinjaman yang berasal dari luar negeri. dalam mekanisme UU No. Artinya. 22 Tahun 1999 (dan UU No. 33 Tahun 2004. 22 Tahun 1999. 22 Tahun 1999 membolehkan daerah melakukan pinjaman luar negeri.

Artinya. tidak terlepas dari transfer dana pusat ke daerah yang sangat besar. fungsi pinjaman daerah di kemudian hari tidak ditekankan untuk menutupi defisit APBD. karena terkait dengan urusan luar negeri. khususnya DAU dan DBH. dalam UU No. tetapi adalah untuk melakukan investasi produktif yang dapat dapat menghasilkan penerimaan. dan penyediaan pelayanan publik yang tidak menghasilkan penerimaan. Menurut Jimly Asshiddiqie. kemampuan pemerintah pusat untuk memberikan pinjaman kepada daerah tidak dapat diharapkan untuk dapat membiayai proyek-proyek investasi besar yang dapat menghasilkan penerimaan. hal tersebut dimaksudkan untuk menegaskan bahwa hubungan antara pemerintah pusat dan daerah bersifat hirarkis dan vertikal. maka diharapkan pinjaman yang dilakukan oleh menjadi tidak besar. dengan besarnya dana perimbangan. dan kabupaten/kota. di antaranya . Dengan demikian. Sebagai pelaksanaan dari Pasal 18. 33 Tahun 2004. E.151 juga harus melibatkan pemerintah pusat. Padahal. adanya keterbatasan pemerintah untuk memberikan pinjaman kepada daerah. Namun pranata ini dapat dilihat sebagai konsekuensi dari pembagian Negara yang “dibagi atas” daerah-daerah provinsi. maka pinjaman yang dapat diterima oleh daerah dari pusat terbatas pada tujuan untuk menutupi kekurangan arus kas (defisit APBD) atau untuk melakukan penyediaan pelayanan publik yang tidak menghasilkan penerimaan. Artinya. dengan dana perimbangan yang besar. maka tingkat defisit APBD yang rendah. 32 Tahun 2004 disebutkan berbagai mekanisme pengawasan. walaupun dengan PAD yang kecil. Dengan pengaturan saat ini. melainkan hanya untuk menutupi defisit. Pengaturan pinjaman daerah dalam UU No. Dimensi Hubungan Pengawasan Pusat dan Daerah Perubahan UUD 1945 secara eksplisit tidak menyebutkan mengenai pengawasan.

21. . Jakarta. di bawah ini diuraikan data sebagai berikut: Tabel 5 420 Lihat. 421 Konsiderans PP No. 1. memunculkan pernyataan legitimasi bentuk instrumen hukum tersebut. hlm. disebutkan bahwa perda yang bertentangan dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.421 Objek pengawasan lainnya adalah pengawasan terhadap peraturan daerah dan peraturan kepala daerah.422 Selain itu dalam rangka pengawasan pula.423 Persoalan kemudian muncul di antaranya berkaitan dengan apakah pengaturan pengawasan preventif dan represif terhadap perda ditambah pengawasan yudisial sudah tepat? Selain itu adalah bahwa pada kenyataannya setiap perda yang dibatalkan dilaksanakan melalui keputusan Menteri Dalam Negeri. 423 Pasal 145 ayat (2) s/d ayat (7) UU No. Selanjutnya untuk melaksanakan ketentuan Pasal 223 UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Peraturan Pemerintah diterbitkan sebagai pedoman pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah. UI. Jimly Ashiddiqie. 422 Pasal 186 UU No. Konsolidasi Naskah UUD 1945 Setelah Perubahan Keempat. dapat dibatalkan oleh Presiden (ditetapkan dengan Perpres). Instrumen Pengawasan Sebagai Fenomena Tarik Ulur Hubungan Pusat-Daerah Untuk mengetahui bahwa dalam praktik pelaksanaan pengawasan dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah di Indonesia pada umumnya dan di Jawa Barat pada khususnya. 32 Tahun 2004 mengatur bahwa pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah secara nasional dikoordinasikan oleh Menteri Dalam Negeri. yang salah satunya disiratkan melalui ketentuan pengawasan oleh Gubernur mengenai penyusunan APBD kabupaten dan kota.152 terhadap peraturan daerah. 79 Tahun 2008 Tentang Tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. Pusat Studi Hukum Tata Negara FH. 32 Tahun 2004. 32 Tahun 2004.420 Pasal 222 ayat (1) UU No. 2002.

2006 Sektor Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral Resource) No Wilayah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Provinsi Sumatera Utara Provinsi Bengkulu Provinsi Jambi Provinsi Riau Provinsi Sumatera Barat Provinsi Sumatera Selatan Provinsi Lampung Provinsi Kepulauan Riau Provinsi Banten Provinsi Jawa Barat Provinsi DKI Jakarta Provinsi Jawa Tengah Provinsi Jawa Timur Provinsi D.153 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s.Yogyakarta Provinsi Bali Tabel 6 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s. 2006 Sektor Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade) No 1 2 3 4 5 Wilayah Provinsi Sumatera Utara Provinsi Bengkulu Provinsi Jambi Provinsi Riau Jumlah 7 2 0 3 Jumlah 7 2 3 1 0 3 3 1 0 3 0 1 0 0 1 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 0 Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung 0 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 0 .d.I.d.

d. 2006 Sektor Kehutanan (Forestry) No Wilayah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Provinsi Sumatera Utara Provinsi Bengkulu Provinsi Jambi Provinsi Riau Provinsi Sumatera Barat Provinsi Sumatera Selatan Provinsi Lampung Provinsi Kepulauan Riau Provinsi Banten Provinsi Jawa Barat Provinsi DKI Jakarta Jumlah 3 1 4 1 4 2 0 0 1 3 0 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 0 Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung 0 .I.Yogyakarta Provinsi Bali 3 3 3 1 0 2 0 5 2 1 0 Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung 0 Tabel 7 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s.154 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Provinsi Sumatera Barat Provinsi Sumatera Selatan Provinsi Lampung Provinsi Kepulauan Riau Provinsi Banten Provinsi Jawa Barat Provinsi DKI Jakarta Provinsi Jawa Tengah Provinsi Jawa Timur Provinsi D.

d.Yogyakarta Provinsi Bali Tabel 8 4 4 0 1 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s.Yogyakarta Provinsi Bali Tabel 9 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dari Tahun 2002 s. 2006 Sektor Kelautan dan Perikanan No 1 Wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Jumlah 0 Jumlah 4 0 5 9 2 2 6 0 3 9 0 6 10 0 0 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 1 Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung 1 .I. 2006 Sektor Perhubungan No Wilayah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Provinsi Sumatera Utara Provinsi Bengkulu Provinsi Jambi Provinsi Riau Provinsi Sumatera Barat Provinsi Sumatera Selatan Provinsi Lampung Provinsi Kepulauan Riau Provinsi Banten Provinsi Jawa Barat Provinsi DKI Jakarta Provinsi Jawa Tengah Provinsi Jawa Timur Provinsi D.I.d.155 14 15 16 17 Provinsi Jawa Tengah Provinsi Jawa Timur Provinsi D.

I.10 NO 34 Tahun 2004 Tgl.Yogyakarta Provinsi Bali 4 0 3 1 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 1 Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung 2 Tabel 10 Peraturan Daerah Tentang Pajak Daerah.Muaraenim S-093/MK.10/2006 Kepmendagri NO.11 NO 11 Tahun 2005 Tgl.Muko-muko S-093/MK. 29-01-2007 Dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan Dan Holtikultura 2 Kab.10/2006 Kepmendagri NO. 23-06-2005 TAHUN 2007 tentang Retribusi Pengawasan Tgl. 23-06-2005 TAHUN 2007 tentang Surat Izin Usaha Tgl. 29-01-2007 Peraturan Daerah Rekomendasi . Retribusi Daerah dan Pungutan Lainnya Yang Dibatalkan Oleh Menteri Dalam Negeri Pada Tahun 2007 Surat SK Mendagri Teguran NO Mendagri 1 Provinsi Sumatera Utara S-093/MK.10/2006 Kepmendagri NO. 23-06-2005 TAHUN 2007 tentang Retribusi Surat Izin Usaha Tgl.156 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Provinsi Sumatera Utara Provinsi Bengkulu Provinsi Jambi Provinsi Riau Provinsi Sumatera Barat Provinsi Sumatera Selatan Provinsi Lampung Provinsi Kepulauan Riau Provinsi Banten Provinsi Jawa Barat Provinsi DKI Jakarta Provinsi Jawa Tengah Provinsi Jawa Timur Provinsi D.1 NO 5 TAHUN 2003 Tgl. 29-01-2007 Perdagangan (siup) Dan Retribusi Tanda Daftar Perusahaan (tdp) 3 Kab.Muko-muko S-093/MK. 29-01-2007 Usaha Dalam Kabupaten Mukomuko 4 Kab.12 NO 7 Tahun 2005 Tgl.10/2006 Kepmendagri NO. 23-06-2005 TAHUN 2007 tentang Retribusi Izin Tempat Tgl.

Sukabumi NO 12 TAHUN 2002 tentang Tanda Daftar Industri Dan Izin Usaha Industri 15 Kab. 29-01-2007 S-093/MK. 23-06-2005 Kepmendagri NO. 29-01-2007 S-093/MK.13 TAHUN 2007 Tgl. 23-06-2005 Kepmendagri NO.10/2006 NO 12 Tahun 2000 Tgl.2 TAHUN 2007 Tgl. 29-01-2007 S-093/MK.21 TAHUN 2007 Tgl.10/2006 Tgl. 29-01-2007 6 S-093/MK.10/2006 Tgl. Surat Keterangan Kecakapan (skk) Dan Surat Izin Berlayar (sib) Kab.15 TAHUN 2007 Tgl. 23-06-2005 .Deliserdang NO 25 TAHUN 1998 tentang Retribusi Izin Peruntukan Penggunaan Tanah 13 Kab.Hulu Sungai Selatan NO 11 Tahun 2001 tentang Retribusi Dana Pembangunan Daerah Kerja Bagian Sisa Hasil Usaha Koperasi S-093/MK.Nunukan NO 6 Tahun 2005 tentang Retribusi Izin Tempat Usaha Kab.14 TAHUN 2007 Tgl.19 TAHUN 2007 Tgl. 23-06-2005 Kepmendagri NO. 23-06-2005 tentang Retribusi Ijin Undangundang Gangguan (ho) S-093/MK. 29-01-2007 Kepmendagri NO. 23-06-2005 8 S-093/MK.Sintang NO 7 TAHUN 2002 tentang Retribusi Pendirian Dan Pengelolaan Badan Hukum Koperasi Kab. 23-06-2005 S-093/MK. 23-06-2005 Kepmendagri NO.22 TAHUN 2007 Tgl.10/2006 Tgl.Bandung NO 24 Tahun 2001 tentang Retribusi Pelayanan Perizinan Penyelenggaraan Koperasi 11 Kab.10/2006 Tgl. 29-01-2007 10 kab. 23-06-2005 Kepmendagri NO. 29-01-2007 Kepmendagri NO.17 TAHUN 2007 Tgl.10/2006 Tgl.20 TAHUN 2007 Tgl.Karawang NO 23 TAHUN 2001 tentang Retribusi Pelayanan Bidang Koperasi.16 TAHUN 2007 Tgl.10/2006 Tgl.10/2006 Tgl.Nunukan NO 8 Tahun 2005 tentang Retribusi Pelayanan Penerbitan Surat-surat.18 TAHUN 2007 Tgl. 29-01-2007 9 Kota Tangerang S-093/MK. 23-06-2005 Kepmendagri NO.10/2006 Tgl. Pengusaha Kecil Dan Menengah 14 Kab.Tasikmalaya NO 4 Tahun 2003 tentang Retribusi Pelayanan Bidang Koperasi Dan Usaha Kecil Dan Menengah 12 Kab. 23-06-2005 Kepmendagri NO. 29-01-2007 7 S-093/MK.10/2006 Tgl. 29-01-2007 Kepmendagri NO.Magelang NO 11 Tahun 2005 tentang Retribusi Izin Usaha Kepmendagri NO.157 Perdagangan (siup) 5 Kab. 29-01-2007 S-093/MK.10/2006 Tgl.

29-01-2007 21 Kab. 23-06-2005 S-093/MK. 23-06-2005 Kepmendagri NO.Pangkajene Kepulauan NO 11 TAHUN 2001 tentang Retribusi Izin Peruntukan Penggunaan Tanah 26 Provinsi Sulawesi Tenggara S-093/MK.31 TAHUN 2007 Tgl.Bantul NO 13 Tahun 2005 tentang Retribusi Izin Usaha Bengkel Perawatan Kendaraan Bermotor 19 Kab.10/2006 Tgl.10/2006 Tgl. 23-06-2005 Kepmendagri NO.26 TAHUN 2007 Tgl. Pengesahan Perubahan Anggaran Dasar Dan Pembubaran Koperasi Di Kabupaten Bantul 18 Kab.Madiun S-093/MK.Sumbawa Barat NO 8 Tahun 2005 tentang Retribusi Izin Usaha Perdagangan Dan Industri 23 Kab.30 TAHUN 2007 Tgl. 29-01-2007 S-093/MK. 29-01-2007 S-093/MK.24 TAHUN 2007 Tgl. 29-01-2007 Kepmendagri NO.23 TAHUN 2007 Tgl.32 S-093/MK.Sumbawa Barat NO 10 Tahun 2005 tentang Retribusi Tanda Daftar Gudang 25 Kab.158 Pariwisata 16 Kab. 23-06-2005 tentang Perubahan Atas Perda Kabupaten Madiun Nomor 16 Tahun 2002 Tentang Retribusi Penggunaan Jalan Kabupaten Kepmendagri NO. 23-06-2005 Kepmendagri NO. 29-01-2007 S-093/MK.Magelang NO 15 Tahun 2005 tentang Retribusi Perizinan Ketenagakerjaan 17 Kab.27 TAHUN 2007 Tgl. 23-06-2005 S-093/MK. 23-06-2005 S-093/MK.Bantul NO 10 Tahun 2002 tentang Pengesahan Akta Pendirian.10/2006 Tgl. 23-06-2005 S-093/MK.10/2006 Tgl.10/2006 Tgl. 23-06-2005 Kepmendagri NO. 23-06-2005 Kepmendagri NO.25 TAHUN 2007 Tgl.28 TAHUN 2007 Tgl. 29-01-2007 20 Kab.10/2006 - .10/2006 Tgl. 29-01-2007 Kepmendagri NO.29 TAHUN 2007 Tgl. 29-01-2007 Kepmendagri NO.10/2006 Tgl.Dairi NO 14 Tahun 2000 tentang Pengesahan Akta Pendirian Dan Perubahan Anggaran Dasar Koperasi 24 Kab.Jembrana NO 10 TAHUN 2002 tentang Retribusi Izin Usaha Industri Dan Perdagangan 22 Kab.10/2006 NO 12 Tahun 2005 Tgl.10/2006 Tgl. 29-01-2007 Kepmendagri NO.10/2006 Tgl.Banyuwangi NO 46 Tahun 2002 tentang Retribusi Izin Perkoperasian S-093/MK. 29-01-2007 Kepmendagri NO.3 TAHUN 2007 Tgl.

29-01-2007 Tabel 11 Hasil Evaluasi Peraturan Daerah di Departemen Dalam Negeri Sampai dengan November 2007 Diterima Daerah Provinsi Kab Kota Total Perda 495 6.depdagri. 23-06-2005 tentang Retribusi Penumpang Kapal Laut Dan Pesawat Udara TAHUN 2007 Tgl.447 Raperda 0 105 25 130 Sumber: Situs Kementerian Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia.google. 29-01-2007 Kepmendagri NO.303 9. 23-06-2005 tentang Pengesahan Akta Pendirian.id/www.33 TAHUN 2007 Tgl. 2006424 Jumlah Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral 32 Resource) Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade) Kehutanan (Forestry) Perhubungan Kelautan dan Perikanan Perkebunan (Plantation) Pertanian Sumbangan Pihak Ketiga (Donation From Third Party) Ketenagakerjaan (Labor Force) 77 50 83 37 13 19 21 54 9 189 10 Kimpraswil dan Pekerjaan Umum (Public Work And Housing) 11 Lain-Lain 424 Sumber: bakd.096 Batal Perda Raperda 121 3 651 93 191 11 963 107 Hasil Evaluasi Revisi Perda Raperda 2 17 101 361 45 90 148 468 Dalam Proses Layak Perda Raperda 298 12 3.com.836 2. Perubahan Anggaran Dasar Dan Pembubaran Koperasi 27 Kota Jayapura S-093/MK.go.076 391 Perda 74 2. tanggal 20 Pebruari 2008 .d. Januari 2008 Tabel 12 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Berdasarkan SK Menteri Dalam Negeri No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Sektor Dari Tahun 2002 s.10/2006 NO 5 Tahun 2005 Tgl.159 NO 6 Tahun 2002 Tgl.503 324 1.581 792 3.275 55 5.634 Raperda 32 883 181 1.

Majalengka Kab.Sumedang Kab.160 12 Pendidikan 13 Kesehatan 14 Pariwisata 15 Lingkungan Hidup 16 Koperasi 17 Peternakan 18 Pertanian dan Perikanan 1 0 3 14 4 52 1 Tabel 13 Rekap Pembatalan Perda Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Wilayah Provinsi Jawa Barat Dari Tahun 2002 s. 2006 Sektor Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral Resource) No.Bekasi Kab.d.Bandung Kab.Cirebon Kab.Tasikmalaya Kota Bandung Kota Banjar Kota Bekasi Kota Bogor 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 . Kabupaten Jumlah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 kab.Kuningan Kab.Subang Kab.Indramayu Kab.Karawang Kab.Bogor Kab.Purwakarta Kab.Ciamis Kab.Sukabumi Kab.Cianjur Kab.Garut Kab.

Indramayu Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral Resource)) No Status Nomor Tanggal Tentang Jenis 00-00. TASIKMALAYA Retribusi 2004 2004 NOMOR 13 TAHUN 2004 Jasa TENTANG IZIN USAHA Usaha PERTAMBANGAN Tabel 16 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade) Wilayah Provinsi Jawa Barat) No Kabupaten Jumlah 1 2 3 Kab.INDRAMAYU Pajak TAHUN 2002 NOMOR 25 TAHUN 2002 2002 TENTANG PAJAK PENGELOLAAN MINYAK DAN GAS BUMI 2 Batal 05 00-00.Bekasi Kab.Bogor 0 0 0 .Tasikmalaya Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Energi Dan Sumber Daya Mineral (Energy And Mineral Resource)) No Status Nomor Tanggal Tentang Jenis 1 Batal 13 TAHUN 00-00PERDA KAB.Bandung Kab.KETENAGALISTRIKAN Retribusi TAHUN 2002 Jasa 2002 Umum Tabel 15 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.161 21 22 23 24 25 Kota Cimahi Kota Cirebon Kota Depok Kota Sukabumi Kota Tasikmalaya 0 0 0 0 0 Tabel 14 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.PERDA 1 Batal 25 KAB.

162 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Kab.Sukabumi Kab.Karawang Kab.Kuningan Kab.Tasikmalaya 0 Kota Tasikmalaya 0 Tabel 17 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.Ciamis Kab.Karawang Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade) ) No Status Nomor Tanggal Tentang Jenis 1 Batal 11 TAHUN 00-00.Sumedang Kota Bandung Kota Banjar Kota Bekasi Kota Bogor Kota Cimahi Kota Cirebon Kota Depok Kota Sukabumi 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 Kab.Indramayu Kab.Cirebon Kab.Purwakarta Kab.Subang Kab.Cianjur Kab.Majalengka Kab.RETRIBUSI TERA DAN Retribusi 2001 2001 Jasa TERA ALAT UKUR Umum Tabel 18 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kota Cimahi Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Industri Dan Perdagangan (Industry And Trade)) .Garut Kab.

Cirebon Kab.Indramayu Kab.Sukabumi Kab.Tasikmalaya 0 .163 No Status Nomor Tanggal Tentang Jenis 1 00-00.Cianjur Kab.Ciamis Kab.Purwakarta Kab.Bandung Kab.Garut Kab.Bogor Kab.Karawang Kab.Sumedang Kota Bandung Kota Banjar Kota Bekasi Kota Bogor Kota Cimahi Kota Cirebon Kota Depok Jumlah 0 0 0 1 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Kab.Bekasi Kab.Subang Kab.PERDA KOTA CIMAHI NOMOR 26 Retribusi Batal 26 TAHUN 2003 TAHUN 2003 TENTANG Jasa 2003 KETENTUAN DAN TATA CARA Umum PELAYANAN PEMBERIAN IJIN USAHA INDUSTRI Tabel 19 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah di Wilayah Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Kehutanan (Forestry)) No Kabupaten 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 kab.Kuningan Kab.Majalengka Kab.

serta tidak ada pelaksanaan bentuk pengawasan umum. tidak penyelenggaran otonomi terutama kebijaksaan yang telah ditetapkan Daerah tidak bertentangan dengan kebijaksanaan nasional (Pusat) dan/atau bertentangan dengan kepentingan umum. Sejumlah tabel di atas menunjukkan bahwa dalam praktik. Lebih dari itu persoalan muncul terkait dengan instrumen penetapan pembatalan suatu Perda. pengawasan Pusat terhadap daerah telah berlangsung efektif dan bermanfaat menyimpang bagi dari pemerintahan tujuan daerah agar pemerintahannya daerah.164 24 25 Kota Sukabumi 0 Kota Tasikmalaya 0 Tabel 20 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab. bahwa bentuk pengawasan yang berjalan dalam praktik adalah bentuk pengawasan preventif (pengesahan) dan bentuk pengawasan represif (pembatalan atau penangguhan). pembatalan perda selalu ditetapkan dengan keputusan Menteri .Garut Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Kehutanan (Forestry)) No Status Nomor Tanggal Tentang Jenis 1 Batal 09 TAHUN 00-002001 2001 RETRIBUSI PELAYANAN Retribusi IZIN PENGELOLA KAYU Jasa Usaha MILIK sebagaimana tersebut di muka Dari data yang diuraikan dapat dikemukakan hal-hal sebagai berikut: Pertama. Kedua.Ciamis Provinsi Jawa Barat Yang Dibatalkan (Sektor Kehutanan (Forestry)) No Status Nomor Tanggal Tentang Jenis 1 00-00Batal 10 TAHUN 2001 2001 RETRIBUSI PELAYANAN Retribusi TATA USAHA HASIL HUTAN Jasa Usaha MILIK Tabel 21 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kab.

. terkait dengan legitimasi Kepmendagri sebagai instrumen penetapan suatu perda. Persoalan lain muncul menyangkut fenomena pemekaran daerah. 2008 21 UU. Artinya bahwa terutama dalam dua tahun tersebut. Perjalanan pemekaran daerah yang dapat terlihat pada tahun 2007 dan 2008 dapat dipetakan sebagai berikut: Tabel 22 Jumlah Undang-Undang Pembentukan Daerah (Pemekaran Daerah) 2007 – 2008 No Tahun Pembentukan UndangUndang UU Pembentukan UU Non Jumlah Daerah/Pemekaran Pemekaran 1. dikecualikan 24 terhadap Undang-Undang Tentang Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia 30 26 50 56 Dari tabel di atas dapat terlihat bahwa dalam dua tahun (2007-dan 2008) pembentukan daerah-daerah baru mengalami kenaikan yang pesat. Pasal 145 ayat (3). 2007 2. perlu pembahasan di bagian lain.426 Terhadap persoalan ini. hampir setengah dari produk legislasi DPR merupakan undang-undang pemekaran daerah. Sementara itu di lain pihak. telah ada pengaturan bahwa Perda yang bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dapat dibatalkan oleh Pemerintah425 dan Keputusan pembatalan Perda tersebut ditetapkan dengan Peraturan Presiden paling lama 60 (enam puluh) hari sejak diterimanya Perda.165 dalam negeri (kepmendagri). 425 426 Pasal 145 ayat (2).

di sisi lain. ternyata pada tahun 2008. Memperlambat Laju Pemekaran Daerah. Oleh sebab itu di dalam negara kesatuan kedudukan pemerintah pusat lebih tinggi daripada pemerintah daerah.166 Pada tahun 2007 keluar persyaratan baru terhadap pemekaran yang dipandang lebih ketat. . Op. 16 Januari 2008. dalam Publikasi Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD). yaitu di tangan pemerintah pusat. Penghapusan. 2. 430 SB.php?option=com_content&task=view&id=329&Itemid=2 . Pengaturan yang berlaku sebagai rangkaian pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan daerah tidak final unuk diarahkan menengahi spanning yang senantiasa memungkinkan muncul dalam hubungan pusat dan daerah. Rabu. pada 8/12/2009 2:01:32 PM 428 427 Pasal `22 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2007 Tentang Tata Cara Pembentukan.cit. Persoalan-persoalan di atas sedikitnya memunculkan tantangan mengenai bagaimana pembinaan dan pengawasan dapat menyeimbangkan tarik ulur antara hubungan pusat dan daerah. Dengan kata lain. sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.427 Di dalamnya diatur bahwa pemberian status daerah baru didahului dengan evaluasi terhadap kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah dan evaluasi kemampuan penyelenggaraan otonomi daerah.430 Satu sisi dinilai bahwa PP tersebut menetapkan syarat yang lebih ketat. Memperlambat …. Harian KOMPAS. pembentukan daerah-daerah baru terjadi bahkan melebihi 50 persen jumlah produk undang-undang.428 PP tersebut mengatur pula mengenai kemungkinan pencabutan status daerah jika dinilai tidak mampu..429 Pertanyaan pun muncul dari sebagian kalangan mengenai dapatkah aturan baru itu memperlambat atau bahkan menghentikan lajunya usulan pemekaran yang semakin marak. http://kppod. ada satu sistem hukum yang harus diikuti sampai ke SB. Telaah terhadap Pengawasan Peraturan Daerah Berbicara negara kesatuan. Dan Penggabungan Daerah 429 Bab IV dan Bab V Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2007. dikatakan oleh CF strong. Hanya satu kekuasaan legislatif.org/ind/index. the supreme legislative power by one central power.

dan demokratisasi. Untuk mensejahterakan rakyat. Bentuk maupun ruang lingkupnya terus berkembang dinamis mengikuti perkembangan kehidupan sosial politik yang ada pada kurun waktu yang berbeda. Dengan demikian. pemerintah menyerahkan sebagian urusan kepada daerah dalam rangka mencapai tujuan itu. berdasarkan sejarah perkembangan pengawasan Pusat terhadap Daerah menurut UUD 1945. Agar tidak menyimpang dari peraturan perundang-undangan secara nasional. Pada intinya adalah apakah daerah tidak menyimpang terhadap sistem perundang-undangan. Maka harus ada pengawasan pusat terhadap daerah. ternyata berbeda-beda. Hanya satu sistem hukum. Sedangkan undang-undang sebelumnya. kegara kesatuan. dan pengawasan represif dan Undang-Undang No. pengawasan represif dan pengawasan umum. 32 Tahun 2004 mengatur 2 (dua) bentuk pengawasan yakni pengawasan preventif dan pengawasan represif. yaitu yang dibuat oleh kekuasaan legislatif tertinggi. baik bentuk maupun lingkup pengawasannya. 32 Tahun 2004. Yang lebih jelas lagi adalah dalam perundang-undangan adalah perda dan peraturan kepala daerah.5 Tahun 1974 mengatur 3 (tiga) bentuk pengawasan yakni pengawasan umum. 22 Tahun 1999 hanya mengatur pengawasan represif saja.167 daerah-daerah otonom. yaitu Undang-Undang No. pengawasan preventif dilaksanakan melalui tindakan pengesahan terhadap peraturan daerah . Ini kaitannya dengan teori negara hukum. Bentuk dan lingkup pengawasan oleh Pemerintah Pusat terhadap Daerah berdasarkan berbagai peraturan perundang-undangan tentang pemerintahan daerah. dalam implementasinya diatur dan dijabarkan berbeda-beda oleh berbagai undang-undang. Undang-Undang No. Ini mempertegas bahwa yang diawasi adalah peraturan perundang-undangan. Menurut Undang-Undang No. pengawasan preventif. Berdasarkan perkembangan pengawasan dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah yang pernah diatur dalam peraturan perundangundangan sampai sekarang terdapat 3 (tiga) bentuk yakni pengawasan preventif. Inilah yang mendasari harus ada pengawasan pusat terhadap daerah.

Setelah melalui proses tersebut.432 terdapat segi positif dan negatifnya. Ibid. 431 432 Bagir Manan. . daerah “dipaksa” selalu tunduk pada kemauan pihak yang berwenang memberi pengesahan. Apabila hasil evaluasi tersebut. pengawasan preventif dapat menjadi daya kendali atau belenggu terhadap inisiatif daerah.168 bidang tertentu yakni Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. maka daerah yang bersangkutan harus melakukan revisi agar tidak bertentangan dengan perundangan yang lebih tinggi dan/atau kepentingan umum. Positifnya. Retribusi Daerah dan Rencana Umum Tata Ruang Daerah. atau kesalahan suatu peraturan daerah. Op. Segi negatifnya. UU No. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah. tidak ada unsur pencegahan terhadap kekeliruan.431 Terhadap pengawasan preventif ini. Dengan adanya pengawasan preventif. kecerobohan. maka Peraturan Daerah dapat diberlakukan oleh Daerah. namun terlebih dahulu dilakukan evaluasi oleh pemerintah pusat dan/atau pemerintah provinsi. sebuah peraturan daerah yang telah disetujui bersama oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan Kepala Daerah terlebih dahulu harus dilakukan evaluasi oleh Menteri Dalam Negeri untuk Peraturan Daerah Provinsi dan oleh Gubernur terhadap Peraturan Daerah Kabupaten dan Kota. ternyata rancangan Peraturan Daerah yang telah disetujui bertentangan dengan peraturan perundang-undangan dan/atau kepentingan umum. peraturan daerah tidak serta merta berlaku. Cit. Pajak Daerah. hlm. menurut Bagir Manan. Pada masa berlaku Undang-Undang No.…. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah.. 22 Tahun 1999 mengambil jalan politik baru yaitu meniadakan pengawasan preventif dalam pembentukan peraturan daerah. 154. Hal tersebut sebagaimana dikatakan oleh Bagir Manan. Melalui pengawasan preventif. ternyata pengawasan preventif ditiadakan. Peraturan daerah akan serta merta berlaku karena tidak memerlukan pengesahan.. Yang ada adalah pengawasan represif yaitu wewenang membatalkan atau penundaan. Jadi.

dalam hal ini Mahkamah Agung.169 Pengawasan represif. Selain itu. baik dalam rangka desentralisasi maupun tugas pembantuan. Pengawasan preventif mengandung “prasyarat” agar peraturan daerah atau yang mengandung sifat tertentu dapat dijalankan. ternyata UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 demi terwujudnya pemerintahan daerah yang demokratis telah memberi saluran hukum ‘judicial review’ kepada Daerah yang keberatan produk-produk hukumnya telah dibatalkan. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 dapat dikatakan sudah sangat tepat mengatur pengawasan preventif dan pengawasan represif ini. yang berupa pembatalan terhadap produk-produk hukum daerah. yakni dengan cara mengajukan perkara pembatalan ini ke lembaga yudisial. Dengan pengaturan atau peran lembaga Yudisial (Mahkamah Agung) dalam rangka pengawasan (represif) Pusat terhadap Daerah. Salah satu pembatasan adalah dengan cara mengatur atau menentukan secara pasti jenis atau macam peraturan daerah yang memerlukan pengesahan. Pembatasan terhadap pengawasan preventif lebih ketat dibanding pengawasan represif. karena telah diatur dengan jelas dan rinci ruang lingkup dari kedua bentuk pengawasan tersebut serta ditentukan dengan tegas batas-batas ruang lingkupnya sehingga diharapkan dapat dicegah tindakan Pemerintah atau Gubernur sebagai wakil Pemerintah di daerah untuk bertindak sewenang-wenang atau melampaui kewenangan. bentuk pengawasan yang seyogyanya dikembangkan atau diterapkan dalam Undang-undang yang mengatur pemerintahan ke depan adalah bentuk pengawasan preventif dan pengawasan represif. Jadi pengawasan represif dilakukan setelah suatu peraturan daerah mempunyai akibat hukum. Daya campur tangan terhadap daerah juga menjadi lebih besar. sejalan dengan pelaksanaan pengawasan represif. terlihat bahwa . sebagaimana dikemukakan di atas adalah berlakunya peraturan wewenang untuk membatalkan atau penundaan daerah. Pelaksanaan pengawasan preventif berada pada posisi “lebih awal” dari pengawasan represif. Memahami pengaturan dan praktik pengawasan dalam rangka penyelenggaran pemerintahan daerah yang berjalan selama ini.

Dalam hal pengawasan oleh Pemerintah Pusat terhadap Daerah. apabila pembatalan oleh Pemerintah Pusat tidak dapat diterima. Itu yang tidak dapat berjalan dalam praktik. yang dilengkapi dengan pengawasan yudisial. Apabila berkebaratan perdanya dibatalkan. maka Pemerintah Pusat dapat memberikan evaluasi serta rekomendasi-rekomendasi yang diperlukan untuk pembenahan. Selanjutnya. terhindar timbulnya dominasi eksekutif atas pemerintahan daerah (Kepala Daerah dan DPRD) yang telah menetapkan produk-produk hukum secara demokratis. maka paling tidak dalam praktik penyelenggaran daerah. Berdasarkan gagasan sebagaimana tersebut di atas. Pertama. Di antara penggolongan pengawasan pemerintah pusat terhadap pemerintah daerah. apabila adanya kejanggalan-kejanggalan atau dugaan penyimpangan dalam materi hukum produk-produk hukum Daerah. kemudian atas dasar putusan yudisial dari Mahkamah Agung tersebut. lembaga Pemerintah (badan eksekutif) terhadap fungsi yudisial Kedua. terhindar adanya intervensi pengadilan. Selain itu peran tersebut tidak dalam kerangka memberikan keputusan-keputusan yang bersifat hukum (yudisial).170 lingkup pengawasan Pemerintah terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah hanya sebatas pengawasan dalam bidang administrasi pemerintahan atau administrasi negara. Atas dasar wewenang pengawasan yang diberikan kepadanya. Dengan demikian telah . represif (administrative). yang dipandang tepat yaitu preventif. Daerah dapat mengajukan keberatan ke Mahkamah Agung. Pemerintah Pusat apabila memenangkan sengketa melalui Mendagri sesuai dengan wewenangnya dapat mengintruksikan kepada Daerah yang bersangkutan untuk segera mencabut dan mengubahnya. keberadaan pengawasan dilihat dari mekanisme yang diatur di dalam UU Nomor 32 Tahun 2004 itu dapat menghindari 2 (dua) hal yang kontra produktif. dapat mengajukan ke mahkamah agung. Pemerintah Pusat juga dapat menerapkan sanksi administratif kepada Daerah yang sengaja atau lalai melaksanakan perintah untuk mencabut dan mengubah peraturan daerah yang telah dibatalkan oleh Mahkamah Agung itu.

Apakah control sama dengan review? Dapat dikatakan ya. 32 Tahun 2004.171 terlaksana pengawasan secara demokratis. Berbicara pengawasan dari pusat dan daerah hanya dua macam. represif dan preventif. 3. Letak kedaulatan rakyat dalam pola hubungan pengawasan antara pusat-daerah dalam UU ini adalah pemberian ruang bagi pemerintah daerah untuk menyampaikan keberatan kepada Mahkamah Agung atas pembatalan perda. dalam UU No. bukan karena semata-mata bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi dan kepentingan umum. tapi UU No. Selama ini yang diverifikasi adalah lebih kepada legislative drafting. pengawasan terhadap peraturan daerah dan peraturan kepala daerah. Hal tersebut terkait dengan agenda-agenda pembangunan daerah yang membutuhkan proses yang lebih efisien. Kedua. 32 Tahun 2004 nampaknya sejalan dengan otonomi seluas-luasnya daerah diberikan kesempatan untuk banding. setelah berbagai sisi positif dan negatif yang timbul dari pemberlakuan UU No. yaitu dilakukan oleh DPR/DPRD. Berbeda dengan legislative review. dalam hal ini perda atau peraturan kepala daerah. Dengan demikian apakah cocok pengawasan preventif terhadap empat hal tertentu? Nampaknya pengawasan secara represif untuk semua bidang cenderung lebih baik. Pertama. maka dapat dikatakan bahwa persoalan mengenai apakah pengaturan pengawasan preventif dan represif terhadap perda. ditambah pengawasan yudisial sudah tepat. Pada intinya bahwa pengaturan tentang pengawasan saat ini menuju kepada yang ideal. 32 Tahun 2004 ini sudah mendekati bentuk yang ideal. Berdasarkan uraian di atas. terdapat beberapa hal yang dapat dikemukakan. karena yang dikontrol adalah peraturan perundang-undangan. 32 Tahun 2004 dimunculkan kembali pengawasan preventif dan represif. Biarkan setiap norma menjadi sah sampai ditentukan lain. Telaah Terhadap Bentuk-Bentuk/ Lingkup dan Objek Pengawasan Telah diuraikan bahwa dari beberapa jenis objek pengawasan. 22 tahun 1999. di sisi lain dapat dipandang bahwa bentuk pengawasan yang diatur dalam UU No. . yang berlaku saat ini dalam UU No.

433 Pertama. sedangkan pengawasan represif harus memperhitungkan akibat hukum yang telah timbul selama Perda tersebut masih berlaku. Retribusi Daerah.434 Maka dari itu bentuk dan isi pengawasan dilakukan semata-mata menurut berdasarkan ketentuan Undang-Undang. 433 . 435 Ibid. dengan mekanisme evaluasi dan pengesahannya.172 Namun. pengawasan preventif dilakukan sebelum Perda diberlakukan. 322. UU ini hanya membatasi substansinya pada Perda tentang APBD.435 Maka dari itu salah satu bentuk pengawasan yang menurut tim peneliti harus dihindari dan tidak diatur dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah adalah bentuk/jenis pengawasan yang disebut pengawasan umum. Sementara itu pengawasan represif ditujukan terhadap semua perda. khusus yang berkenaan dengan pranata pengawasan preventif terhadap perda. Dalam konteks agar pengawasan tidak menjadi terlampau longgar dan tidak pula terlampau ketat. Karena Perda belum berlaku. Problematika Hukum Otonomi Daerah di Indonesia. pengawasan represif harus memperhitungkan akibat hukum yang telah timbul selama Perda tersebut berlaku.. 434 Ibid. Kedua. mempunyai objek ataupun mengenai hal yang sama. Alumni. tanpa kecuali. perlu diketahui bahwa pengertian pengawasan adalah suatu bentuk hubungan dengan sebuah legal entity yang mandiri. bukan hubungan internal dari entitas yang sama. akibat hukumnya. Berkaitan dengan hal tersebut I Gde Pantja Astawa memberikan penegasan bahwa baik pengawasan preventif maupun pengawasan represif. Artinya. Sebaliknya. hlm. bandung. sebagaimana pada masa lalu diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974. Pajak Daerah. hlm. 2009. 322-323. dan lingkungan hidup. penolakan pengesahan belum menyentuh akibat hukum yang timbul dari Perda tersebut. Pengawasan umum sangat luas ruang lingkupnya sehingga betul-betul dapat mematikan atau I Gde Pantja Astawa. Gde Pantja menegaskan kembali bahwa pengawasan tidak berlaku ataupun tidak diterapkan terhadap hal-hal yang tidak ditentukan atau berdasarkan undang-undang. saat pelaksanaannya.

Jadi sudah dapat terlihat bahwa pengaturan pengawasan saat ini lebih mengarah ke demokratis. Kegiatan monitoring tersebut pada dasarnya adalah merupakan bagian dari kegiatan pengawasan yang harus dilakukan oleh suatu lembaga/institusi tertentu yang pada lazimnya mempunyai kedudukan lebih tinggi dan mempunyai kewenangan untuk melakukan penilaian untuk memastikan bahwa segala ketentuan yang tercantum di dalam peraturan daerah dimaksud adalah sesuai dengan ketentuan-ketentuan maupun prinsip-prinsip yang harus diikuti pungutan. Hal tersebut sesuai dengan urutan peraturan perundang436 Pengawasan lainnya yang dilakukan terhadap penyelenggaraan Pemerintahan daerah adalah pengawasan atas pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah. lihat Pasal 218 ayat (1) huruf a. Sebagai konsekuensi bahwa peraturan daerah tidak boleh berkaitan dengan pengenaan suatu bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi. .173 membelenggu prakarsa atau inisiatif Daerah dalam mengatur dan mengurus rumah tangga daerah sehingga tidak sejalan dengan upaya mewujudkan pemerintahan daerah yang demokratis. 4. Dalam Undang-Undang menyatakan bahwa yang diawasi adalah peraturan perundang-undangan yang bernama perda dan perat kepala daerah.436 Maka dari itu. merupakan konsekuensi logis jika suatu peraturan daerah dapat dibatalkan atau dicabut hanya dengan peraturan yang lebih tinggi. maka pencabutannya pun hanya dapat dilakukan dengan peraturan yang lebih tinggi atau sederajat. Dalam rangka pengawasan. Peraturan daerah yang berlaku sebagai undang-undang bagi daerah. proses penyusunan maupun implementasinya perlu dimonitor secara terus menerus untuk memberikan jaminan kepada publik bahwa semua ketentuan yang diatur dalam perda tersebut sudah mengikuti norma-norma/kaidah- kaidah yang berlaku yaitu memenuhi persyaratan sebagai peraturan yang baik. judicial control sama dengan judicial review. Telaah Terhadap Instrumen Penetapan Pembatalan Perda Keberadaan pengawasan sebagai konsekuensi dari keberadaan hubungan hirarkis.

Begitu pula dikuatkan bahwa Dalam rangka pengawasan. 438 kompetensi/kewenangan administrasi negara (pejabat TUN) berdasarkan suatu perundang-undangan formal. Bogor. 2004. c. Peraturan Pemerintah. Pelaksanaan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Menteri.439 Dalam hal Peraturan Daerah tersebut bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundangundangan yang lebih tinggi. d. Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang 437 Pasal 7 ayat (1) mengatur bahwa Jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan adalah sebagai berikut : a. 10 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Peraturan Daerah provinsi dibuat oleh dewan perwakilan rakyat daerah provinsi bersama dengan gubernur. . e. Dalam Pasal 37 ayat (1) dikatakan bahwa Peraturan Daerah dan Peraturan Kepala Daerah disampaikan kepada Pemerintah paling lama 7 (tujuh) hari sejak ditetapkan. hl. Peraturan Daerah. dibuat oleh badan perwakilan desa atau nama lainnya bersama dengan kepala desa atau nama lainnya.440 Namun ternyata Presiden pun memberikan delegasi kepada Menteri Dalam Negeri untuk dapat membatalkan Perda. Ditambahkan dalam ayat (2) bahwa Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e meliputi: a. 440 Pasal 25A ayat (2) Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000. Peraturan Presiden. 439 Pasal 25A ayat (1) Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 1997 Tentang Pajak dan Retribusi Daerah. melalui PP No. Hukum Administrasi Negara. Ghalia Indonesia. Pemerintah dapat membatalkan Peraturan Daerah dimaksud. Peraturan Daerah di yang mengatur pajak dan retribusi daerah disampaikan kepada Pemerintah paling lama 15 (lima belas) hari setelah ditetapkan. c.174 undangan yang ditetapkan dalam UU No. 10. Peraturan Daerah kabupaten/kota dibuat oleh dewan perwakilan rakyat daerah kabupaten/kota bersama bupati/walikota. b. lihat Diana Halim Koentjoro. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang. Peraturan Desa/peraturan yang setingkat.437 Ketentuan Undang-undang bahwa perda dapat dibatalkan oleh bentuk peraturan presiden dapat dinilai tepat. Pasal 145 ayat (3) sudah memberikan atribusi kewenangan438 kepada Presiden untuk dapat membatalkan suatu perda. Pemerintah melakukan pengawasan terhadap Peraturan Daerah dan Peraturan Kepala Daerah. b. 79 Tahun 2008.

belum dicabut. 2. antara ketentuan-ketentuan yang berlaku terkait dengan pembatalan perda. Peraturan Daerah dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dapat dibatalkan dengan Peraturan Menteri. 79 Tahun 2005 yang terlaksanakan. terdapat suatu ketidakharmonisan antara peraturan secara vertikal. tidak menunjuk secara spesifik menteri apa/bertanggungjawab di bidang apa. 3. Sementara itu PasaI 38 menambahkan bahwa Peraturan Presiden tentang pembatalan Peraturan Daerah ditetapkan paling lambat 60 (enam puluh) hari sejak Peraturan Daerah diterima oleh Pemerintah. 32 Tahun 2004. dengan PP No. dalam rangka pengawasan. Peraturan Kepala Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang bertentangan dengan kepentingan umum. Kedua Pasal yang memberikan kemungkinan kepada Menteri untuk membatalkan suatu perda. terutama UU No. Melihat bahwa pada praktik menunjukkan ketentuan dalam PP No. untuk menetapkan pembatalan perda. 10 Tahun 2004. Kedua Pasal tersebut hanya menyebutkan nama instrumen berupa peraturan Menteri. Dengan demikian. maka ketentuan yang . Dari ketentuan tersebut dapat dikemukakan bahwa: 1.175 bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundangundangan yang lebih tinggi dapat dibatalkan dengan Peraturan Presiden berdasarkan usulan Menteri. yang spesifik pertentangannya. bukan keputusan menteri sebagai instrument pembatalan perda yang memungkinkan didelegasikan oleh Presiden. Kedua Pasal tersebut tidak memberikan kriteria mengenai kapan suatu pembatalan perda ditetapkan oleh peraturan presiden dan kapan dibatalkan oleh menteri. Baru ditemukan dalam rangka pengawasan terhadap PP yang mengatur pajak dan Retribusi daerah. sepanjang kedua UU tersebut. 32 Tahun 2004 dan UU No. dibatalkan oleh Menteri Dalam Negeri. Peraturan Menteri tentang pembatalan Peraturan Kepala Daerah ditetapkan paling lambat 60 (enam puluh) hari setelah Peraturan Kepala Daerah diterima oleh Menteri. yaitu antara UU No. Dengan demikian. maka ketetuan dalam kedua UU di atasnya seolah-olah menjadi tidak hidup. 79 Tahun 2005.

176 terkait di dalamnya masih harus ditaati. Kecuali jika praktik menghendaki lain. Jaminan HAM yang menjadi salah satu ciri negara hukum menjadi bagian dari kewajiban negara hingga oleh satuan pemerintahan yang lebih rendah. Pembagian kekuasaan: tidak saja pembagaian secara horizontal (eksekutif. dan yudikatif). Pengawasan menjadi instrumen pemerintah pusat untuk menjamin bahwa penyelenggaraan pemerintahan dapat terlaksana sesuai perencanaan. bahwa jika suatu perda dibatalkan dan pemda berkeberatan terhadap pembatalan tersebut. Semua diarahkan bahwa negara menghantarkan kepada pencapaian kesejahteraan rakyat. maka perlu dilakukan suatu perubahan terhadap UU No. ke dalam urutan peraturan perundang-undangan. agar KESEJAHTERAAN peraturan perundang-undangan di tingkat satuan pemerintahan yang lebih rendah. tetapi juga secara vertikal (satuan pemerintahan pusat dengan pemerintahan daerah). 10 Tahun 2004. yang diarahkan untuk memberi kemungkinan tempat bagi peraturan setingkat menteri. sesuai dengan peraturan nasional (satuan pemerintahan pusat). legislative. demokratisasi dan negara hukum. melainkan hanya satu Kedaulatan. yaitu dalam kerangka negara kesatuan. Dilihat dari paradigma kerangka Negara Kesatuan. sebagai representasi pemerintah. pengawasan terhadap peraturan daerah dan peraturan kepala daerah yang berlaku saat ini dapat dikemukakan sebagai berikut: Tabel 23 Skema Pola Hubungan Pengawasan Pusat-Daerah NEGARA KESATUAN Pemberian otonomi daerah bukan untuk mengarahkan kepada pembagian kedaulatan. NEGARA HUKUM Pengawasan baik secara preventif dan represif DAN dilaksanakan untuk menjamin supremasi hukum. pemda dapat mengajukan judicial review instrumenn . DEMOKRATISASI Terdapat pengawasan hukum dengan judicial review.

441 . Di sinilah mengapa kedaulatan negara dengan kedaulatan rakyat dapat saling tarik menarik.177 pembatalan tersebut ke Mahkamah Agung. 79 Tahun 2005. maka ketetuan dalam kedua UU di atasnya seolah-olah menjadi tidak hidup. untuk menetapkan pembatalan perda. hlm. hlm. 290-291. 442 Ibid. Kedaulatan negara tidak untuk menjadikan negara menentukan segalanya (totaliterisme). 79 Tahun 2005 tentang Pembinaan dan Pengawasan itu sendiri. 1999. 442 Letak kedaulatan rakyat dalam pola hubungan pengawasan antara pusat-daerah adalah pemberian ruang bagi pemerintah daerah untuk menyampaikan keberatan kepada Mahkamah Agung atas pembatalan perda. 32 Tahun 2004 dan UU No. dalam rangka pengawasan. dibatalkan oleh Menteri Dalam Negeri. yaitu mengatur pajak dan Retribusi daerah. dengan PP No. melainkan harus dengan keseimbangan legitimasi etis dan sosial (normatif-moral). Frans Magnis-Soeseno. Persoalan kedua. Jakarta. Etika Politik. Kedaulatan rakyat tidak boleh tidak terbatas. Melihat bahwa pada praktik menunjukkan pembatalan perda selalu dengan Kepmendagri. Dalam PP No. melainkan melalui perwakilan dan keterbukaan (publicity) pemerintah (daerah).. Kedua Pasal yang memberikan kemungkinan kepada Menteri untuk membatalkan suatu perda. Baru ditemukan dalam rangka pengawasan terhadap PP lain. pada pasal 37 dan Pasal 38 dapat dikemukakan bahwa: 4. terdapat suatu ketidakharmonisan antara peraturan secara vertikal.441 Letak kedaulatan negara dalam hubungan pengawasan adalah pada pengawasan secara preventif dan represif terhadap ranperda dan perda. 10 Tahun 2004. tidak menunjuk secara spesifik menteri apa/bertanggungjawab di bidang apa. dapat pula saling menyeimbangkan. 177179. yaitu antara UU No. Gramedia Pustaka Utama.

yang spesifik pertentangannya. 6. 159. Masih dalam rangka pengawasan yang tidak dapat dilepaskan dari pembinaan. sepanjang kedua UU tersebut. Mengumpulkan dan Membuka Kembali.178 5. Susanto menyatakan. Dengan demikian. hlm. hendaknya unsur ini tidak perlu terlalu banyak.443 atau meminjam konsep Lemaire negara menjalankan fungsi berstuurszorg. belum dicabut. baik di Pusat maupun di Daerah memiliki tujuan yang arahnya untuk memajukan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. kesimbangan antara kepentingan individu dengan kepentingan masyarakat serta kepentingan penguasa. Kesimbangan yang dijelaskan dalam silanya adalah. yaitu dengan melihat dasar pikiran dalam sila Pertama. dan Kelima. bukan keputusan menteri sebagai instrumen pembatalan perda yang memungkinkan didelegasikan oleh Presiden. Bandung. Refika Aditama. Adanya pengawasan Pusat terhadap Daerah adalah sebagai 443 Otje Salman dan Anton F. 32 Tahun 2004. Yang perlu lebih didorong dari unsur pembinaan ini adalah berupa koordinasi dan fasilitasi. Kedua Pasal tersebut tidak memberikan kriteria mengenai kapan suatu pembatalan perda ditetapkan oleh peraturan presiden dan kapan dibatalkan oleh menteri. Susanto. yang dituntun oleh Sila Ketuhanan. Semakin banyak pedoman dan standard cenderung menjadikan semakin mendorong keseragaman. Dasar pemikiran keberadaan pengawasan Pusat terhadap Daerah sangat terkait dengan konsepsi Negara Kesatuan yang dianut di dalam Pasal 1 ayat (1) UUD 1945. Ketiga. terutama UU No. maka keseimbangan (balande) merupakan subtansi pokok yang terkandung didalamnya (maksudnya alinea keempat-penulis). Otje Salman dan Anton F. maka ketentuan yang terkait di dalamnya masih harus ditaati. Kedua Pasal tersebut hanya menyebutkan nama instrumen berupa peraturan Menteri. jika akan dikeluarkan semacam pedoman dan standard dalam rangka pembinaan kepada daerah. Teori Hukum: Mengingat. Lihat. . Berdasarkan rumusan alinea keempat Undang-Undang dasar 1945. jelas bahwa konsep bernegara yang diwujudkan dalam penyelenggaraan pemerintahan. hal inilah yang seharusnya dihindari karena bertentangan dengan otonomi itu sendiri. 2005. Konsep bernegara yang demikian ini secara teoretikal dianut oleh negara-negara hukum modern menjelang akhir abad ke XIX. apabila dilihat secara bulat atau holistik (satu kesatuan). atau awal abad ke XX.

179 konsekuensi Pemerintah NKRI mempunyai tanggung jawab utama untuk tetap menjamin tercapainya tujuan nasional yang tercantum di dalam Alinea Keempat Pembukaan UUD 1945. namun tidak mengomentari apakah bentuk pengawasan harus seperti apa. apabila ditelusuri dari Pembukaan UUD 1945. menemukan dasarnya dari konsep Negara Kesejahteraan sebagaimana telah dirumuskan di dalam alinea keempat UUD 1945. 5 tahun 1974. sejak berlakunya Undang-Undang Pemerintahan Daerah Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004. dengan tujuan agar Daerah terhindar dari penyimpangan-penyimpangan terhadap peraturan-perundang-undangan yang lebih tinggi dan kepentingan umum sehingga Daerah dalam menjalankan pemerintahannya senantiasa sejalan dengan tujuan penyelenggaraan otonomi daerah. harus dianggap sah menurut hukum (praduga rechtmatig) sampai ada pembuktian sebaliknya secara hukum. Dengan demikian pengawasan Pusat terhadap Daerah. yang dalam desertasinya membahas sampai Undang-Undang No. Maka. Oleh karena itu. yang tidak . Mahkamah Agung sebagai institusi yudisial kemudian menguji keputusan pembatalan itu. apakah itu berupa pengawasan preventif atau represif (berupa pembatalan atau penangguhan) suatu produk hukum Daerah. Bagir Manan. Tindakan atau keputusan pembatalan suatu Perda yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat misalnya. 5 tahun 1974. Di Indonesia pada prinsipnya pengawasan merupakan konsekuensi dari Negara Kesatuan dengan sistem desentralisasi. Adanya pembagian kekuasaan secara vertikal antara Pusat dan Daerah sebagaimana diatur Pasal 18 ayat (1) UUD 1945 menyebabkan adanya pengawasan Pusat terhadap Daerah atau dengan lain perkataan adanya penyerahan urusan pemerintahan dari Pusat kepada Daerah mengakibatkan Pusat mempunyai tugas dan wewenang untuk melakukan pengawasan. terdapat ketentuan yang memberikan kemungkinan untuk menguji tindakan atau keputusan pembatalan suatu Perda melalui apa yang disebut dengan pranata ’keberatan’: Daerah-Daerah yang merasa keberatan atas pembatalan peraturan-peraturan daerahnya dapat mengajukan keberatan kepada Mahkamah Agung. Bagaimanapun dalam No.

cit. 5 Tahun 1974. bahwa yang diatur dalam UU 22 Tahun 1999 dengan menghapus pengawasan preventif. Pengawasan yang disebut terakhir menghendaki dibutuhkan sebagai instrument untuk mencapai hakikat pengawasan. pengawasan menghindari pembelengguan daerah. Bagir Manan setuju hanya satu. . Pengawasan seperti ini mirip dengan jenis pengawasan umum yang diatur pada masa UU No. tidak dikehendaki suatu pengawasan yang tidak punya batasan ruang lingkup. ada pendapat Bagir Manan. bahkan memaksakan kehendaknya kepada satuan pemerintahan yang lebih rendah.. Pengawasan senantiasa diperlukan sebagai pranata bagi pemerintah pusat atau satuan pemerintahan yang lebih tinggi tingkatannya untuk mengendalikan. Itu yang tidak dapat berjalan dalam praktik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis pengawasan yang dipandang tepat yaitu preventif. Ruang lingkup pengawasan terhadap daerah dibatasi pada peraturan daerah dan peraturan kepala daerah. menunjukkan bahwa terdiri dari pengawasan umum. Dengan demikian telah terlaksana pengawasan secara demokratis. Setelah berlaku UU No. mempengaruhi. pengawasan yang baik adalah 444 445 I Gde Pantja Astawa. op. walaupun hanya sekadar untuk urusan pemerintahan tertentu. Tanpa mengesampingkan arti penting pengawasan. dan preventif. Alasan utama yang dikemukakan Gde Pantja444 adalah supaya desentralisasi dengan pemberian otonomi daerah tidak bergeser menjadi semacam kemerdekaan. Problematika …. hlm. yang dilengkapi dengan pengawasan yudisial. Apabila suatu daerah berkeberatan perdanya dibatalkan. Maka dari itu. 22 tahun 1999. Itu pendapat kita yang intinya bahwa pengaturan tentang pengawasan saat ini menuju kepada yang ideal. dapat mengajukan ke Mahkamah Agung. yaitu segala upaya untuk mengetahui bahwa segala hal yang direncanakan terlaksana. Dengan pengawasan yudisial.445 Pengawasan demikian tidak sama artinya dengan pengawasan terhadap segala hal. Pengawasan yang bagaimana yang tidak membelenggu kemandirian daerah? Walaupun diawasi tapi daerah masih ada keleluasaaan. 321. represif..180 dibahas dalam desertasinya itu. represif (administrative).

walaupun terdapat pengawasan. bahwa hak prerogatif dimulai dari ampunan dosa-dosa. diselenggarakan atas kerja sama antara Dewan Perwakilan Daerah RI dan Fakultas Hukum Unpad. berhak memilih kepercayaan sendiri siapa yang mewakilinya. melahirkan hak placet: hak penguasa yang lebih tinggi untuk tidak setuju terhadap gagasan dari satuan pemerintahan di bawahnya. Kemuncullan kembali pengawasan preventif sebagaimana diatur oleh Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tidak menyebabkan membelenggu kemandirian Daerah karena pengawasan preventif telah ditentukan batasbatas ruang lingkupnya serta di dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004. Ditetapkannya tentang bentuk dan ruang lingkup pengawasan di dalam suatu undang-undang merupakan perwujudan dari pemerintahan daerah yang demokratis. Dengan demikian. pengawasan administratif (preventif dan represif) dilengkapi dengan pengawasan yudisial. ketiga. Daerah tetap mempunyai kewenangan untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri atau tetap mempunyai kemandirian. Itu bersumber dari abad pertengahan. dipengaruhi dari negeri Belanda. yang ditetapkan dalam undang-undang. bukan kedaulatan rakyat. Bentuk pengawasan Pusat terhadap Daerah yang seyogyanya dikembangkan dan diterapkan dalam undang-undang yang mengatur pemerintahan daerah adalah bentuk pengawasan preventif dan represif (pengawasan administratif) dan dilengkapi pengawasan yudisial. sedangkan kita berpijak pada kedaulatan rakyat. disampaikan dalam acara Focused Group Discussion (Fgd) Tentang “Hubungan Antara Pemerintah Pusat Dan Daerah”. Padahal orang Belanda sendiri berpendapat bahwa ternyata cara membagai otonomi itu bersumber dari kedaulatan negara. Melihat dari paradigma yang cukup mendasar.181 pengawasan terhadap segala hal dengan pembatasan ruang lingkup dan bentuk. Paradigma ini tidak diketahui umum. hak menentukan nilai mata uang. Ateng Syafrudin446 berpendapat bahwa terdapat benang merah yang sampai sekarang menjadi persoalan. Hal tersebut ditujukan dalam rangka membina dan memelihara 446 Ateng Syafrudin. Ada juga batas-batasnya. Tapi banyak pemikiran-pemikiran di balik pembentukan UU ini. Ateng Stafrudin membantah bahwa itu adalah tugas konstitusional presiden. . Tidak heran pada tahun 1974 ada suatu pandangan bahwa otonomi adalah hak prerogatif. 4 Agustus 2009. Bandung.

Walaupun begitu masih perlu suatu pengujian konsep itu.182 bawahannya.450 Dengan demikian kedaulatan negara dalam hal ini ditempatkan terutama dalam kepentingan untuk menjamin kesatuan hukum dari satuan pemerintahan pusat sampai dengan satuan pemerintahan yang paling rendah. tapi hrs dijelaskan supaya tidak menimbulkan konflik. Pemerintah pusat punya hak placet. Walaupun demikian. 448 Ibid.449 Sebab kedaulatan hanya dapat sebagai kualitas dari suatu tata normatif sebagai suatu kekuasaan yang merupakan sumber kewajibankewajiban dan hak-hak. Dalam ketentuan yang berlaku saat ini.447 Kedaulatan dikatakan sebagai karakteristik definitif dari kekuasaan tertentu: satu negara. betulkah bahwa setiap penyelengggaraan 447 Hans Kelsen (alih Bahasa: Somardi). Namun ketentuan ini tidak berjalan. 450 Ibid. Konsep dalam UU yang berlaku saat ini selalu mengaitkan pengawasan dengan pembinaan dan koordinasi. Rimdi Press. Mengenai praktik bahwa semua pembatalan sebagai salah satu bentuk pengawasan selalu ditetapkan dengan kepmendagri. Teori Hukum Murni. Sekarang pemda baru berindikator pada IPM. . hlm. yaitu mengacu kepada UU No. Hal ini menunjukkan bahwa ketentuan itu tidak dapat dilaksanakan (tidak sesuai dengan asas feasible). Terhadap kedaulatan negara yang menjadi paradigma dasar penyelenggaraan pemerintahan daerah ini.448 Kekuasaan negara mesti berupa validitas dan efektifitas tata hukum. satu teritorial. dapat dikemukakan pendapat Hans Kelsen mengenai kedaulatan. jika kedaulatan dipandang sebagai satu kualitas dari kekuasaan ini. maka ketentuan yang masih berlaku seharusnya diataati. kedaulatan negara untuk menjamin kesatuan hukum atau dengan kata lain untuk menjaga harmonisasi peraturan perundang-undangan tersebut salah satunya dilaksanakan melalui mekanisme pengawasan terhadap peraturan daerah. 449 Ibid. Yang lainnya harus ada. satu rakyat. sudah tepat ketentuan bahwa perda dibatalkan oleh perpres. Dasar-Dasar Ilmu Hukum Normatif sebagai Ilmu Hukum Empirik-Deskriptif. menurut ilmu perundang-undangan. 1995. 10 Tahun 2004. sepanjang suatu peraturan belum diubah atau dicabut. Apakah kalau sudah membangun gedung-gedung menjadi sudah berhasil? Sering orang hanya mengukur secara materil. dan satu kekuasaan. 255.

apakah menjadi kota atau menjadi kabupaten baru. seperti yang pernah berlaku pada masa UU nomor 5 Tahun 1975. masalah pengawasan mutlak terkait satu sama lain dengan koordinasi dan pembinaan. Hal tersebut untuk melihat apakah sebetulnya daerah-daerah yang dimekarkan (terutama yang berbentuk provinsi) mampu memenuhi segala syarat kemandirian. demokratisasi. Pembinaan pun dalam rangka pengawasan. dan tidak dapat terpisah sendiri-sendiri. dan terutama dapat menjaga keutuhan Negara Kesatuan. Perbedaan yang harus dikembangkan terletak pada tindak lanjut setelah pemberian status administratif. Tidak hanya cukup sebelum pemberian status daerah baru. evaluasi dibutuhkan juga setelah pemberian status daerah baru. Pengawasan tidak dapat terpisahkan dari pembinaan. Penetapan pemekaran daerah yang sudah marak dan mendominasi produk legislatif beberapa tahun terakhir perlu ditindaklanjuti dengan mekanisme evaluasi. Penetapan pedoman standard dalam rangka pembinaan tidak boleh terlalu rinci agar keberagaman setiap daerah tetap terjaga.** . Dengan demikian kreatifitas daerah tidak terkekang dengan upaya penyeragaman sebagai dampak dari penetapan pedoman standard. dan negara hukum dan kesejahteraan. bahwa dalam sistem negara hukum harus berjalan. Ke depan dapat dikembangkan bahwa sebagai tahapan menuju pemberian status daerah baru dilakukan terlebih dahulu pemberian semacam status administratif. terutama terkait dengan pemekaran daerah. Pada intinya yang menjadi penting adalah bagaimana suatu daerah telah terlatih dan terbina terlebih dahulu untuk menyelenggarakan tugas-tugas pemerintahan sebelum mendapatkan status daerah yang baru dibentuk. Bentuk evaluasi dalam rangka pembinaan dan pengawasan perlu dikembangkan.183 pemerintahan.

satuan pemerintahan yang terendah adalah ujung tombak dari upaya menghantarkan kesejahteraan rakyat. Dengan pemberian berbagai urusan pemerintahan yang didesentralisasikan. Pertama. Dengan paradigma negara kesejahteraan. Dalam implementasinya.184 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. cenderung terjadi . prinsip otonomi seluas-luasnya menjadi tidak tampak. Kedua. negara hukum (dengan paradigm negara kesejahteraan). Dengan konstruksi demikian seperti itu. meliputi desentralisasi teritorial. 38 Tahun 2007. Hal tersebut menjadikan setiap daerah cenderung menjadi seragam. Kecenderungan tarik menarik kekuasaan yang didesentralisasikan tersebut dipengaruhi oleh sistem rumah tangga seperti apa yang dianut. dapat dikemukakan beberapa hal berkaitan dengan prinsip-prinsip pemikiran dan dimensi-dimensi pola hubungan antara pusat dan daerah. dimensi-dimensi pola hubungan antara pusat dan daerah UUD 1945 telah memberikan dasar-dasar pola hubungan antara Pusat dan Daerah. dengan asas otonomi dan tugas pembantuan. Keberadaaan otonomi khusus justru merupakan anomali dari pemberian otonomi seluas-luasnya. Prinsip-Prinsip Pemikiran Pola Hubungan Antara Pusat Dan Daerah Prinsip-prinsip ini dapat didekati dari paradigma negara kesatuan. yang lebih tampak adalah bahwa yang rumah tangga yang dianut adalah rumah tangga materiil. Kesimpulan Berdasarkan paparan singkat di atas. Dengan pemberian otonomi seluas-luasnya seperti itu. dasar-dasar pola hubungan pusat dijabarkan lebih lanjut melalui berbagai peraturan pelaksana. seharusnya sudah memungkinkan bagi daerah-daerah untuk beragam memiliki urusan. demokratisasi. Melalui PP No. dan memberikan otonomi seluas-luasnya. yang dilaksanakan dengan cara desentralisasi. Padahal fungsi otonomi sendiri adalah keberagaman.

sebagai upaya untuk menegakkan supremasi hukum. 32 Tahun 2004 dilakukan oleh perpres. Ketentuan yang berlaku sekarang untuk mengoptimalkan kemampuan daerah masih bergantung kepada perimbangan keuangan. Saran Dari berbagai telaah mengenai asas. serta persoalan pola hubungan antara pusat dan daerah. Upaya kebergantungan daerah terhadap pusat muncul lagi melalui pranata pengawasan yang tidak berimbang dengan upaya fasilitasi dan koordinasi oleh Pusat. namun praktiknya selalu dengan kepmendagri yang nampaknya lebih memenuhi asas feasible (dapat dilaksanakan) suatu peraturan. Dengan seperti itu menjadikan atribusi kewenangan dalam UU tersebut tidak hidup. mencerminkan perlunya upaya untuk mengkaji kembali berbagai peraturan perundang-undangan yang belum harmonis dengan UUD 1945. B. terutama untuk melakukan pinjaman luar negeri.185 ketidakkonsistenan dengan begitu gemuknya kelembagaan di Pusat. Hal tersebut ditambah pula dengan persoalan instrumen hukum pembatalan perda yang menurut atribusi UU No. Pengkajian yang lebih mendalam perlu ditindaklanjuti untuk mengembalikan makna otonomi dalam bingkai negara kesatuan. dan demokratisasi.** . pengaturan. sehingga menyerupai piramida terbalik. Setiap pembentukan kelembagaan di daerah belum sepenuhnya berdasarkan kebutuhan urusan yang riil dan kemampuan SDM serta keuangan daerah. belum memungkinkan optimalisasi kerja sama daerah. menghantarkan kepada kesejahteraan rakyat. teori.

Nusamedia. Ghalia Indonesia. dalam Kumpulan Tulisan pasang surut otonomi Daerah. Bagir Manan. H. editor Jakarta 2005.DAFTAR PUSTAKA BUKU Amiruddin dan Zainal Asikin. 2006. A Study of The Relationship Between Fiscal Decentralization and The Composition of Public Expenditures. Bandung. 2004. 1986. Etika Politik. 1993. Karawang. 2003. Bogor. Diana Halim Koentjoro. 2006. Penerbit Mandar Maju. 1986. Jakarta. Kedaulatan Rakyat. Amrah Muslimin. 1990. Bohari. _______. 2005. . Rajawali Pers. Jakarta. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah. Perjalanan Historis Pasal 18. Aspek-Aspek Hukum Otonomi Daerah. Yogyakarta. Pengantar Metode Penelitian Hukum. 2002. 2007. Hubungan Kewenangan Pusat dan Daerah. Jakarta. Bachrul Elmi. _______. Citra Media Hukum. Bhenyamin Hoessein. Bandung. Georgia State University. Jakarta. 1994. Pusat Studi Hukum Fakultas Hukum UII. Disertasi. 2001. Pustaka Sinar Harapan. Ateng Syafrudin. Frans Magnis-Soeseno. Hukum Administrasi Negara. Gramedia Pustaka Utama. Hukum Anggaran Negara. Atlanta. Bandung. Keuangan Pemerintah Daerah Otonom di Indonesia. Aspek-aspek Hukum Otonomi Daerah. Alumni. Yogyakarta. _______. UNSIKA. Yayasan Tifa. Departement of Economic Andrew Young School of Policy Studies. Jakarta. PT Raja Grafindo. Jakarta. Kapita Selekta Hakikat Otonomi dan Desentralisasi dalam Pembangunan Daerah. 1995. _______. Titik Berat Otonomi Daerah Pada Daerah Tingkat II. Institute for Local Development dan Yayasan TIFA. 1999. Kumpulan Tulisan Pasang Surut Otonomi Daerah. Bandung. Hubungan Antara Pusat dan Daerah Menurut UUD 1945. UI-Press. Francisco Javier Arze del Granado. Anhar Gonggong (ed). Eddy Purnama. Alumni.

2009. Konsolidasi Naskah UUD 1945 Setelah Perubahan Keempat.N. Decentralization: Policies in Asian Development. 1986. 1995. Ni’matul Huda. Konstitusi Dan Konstitusionalisme Indonesia. Jakarta. Kaloh. Jakarta. Refika Aditama. Monograf. dan tahun penerbitan tidak tercantum. Bandung. Bhuana Ilmu Komputer. Research School CNWS School of Asian. Segaarsy. Shinichi. Nusamedia. Alumni. Municipal Government In Indonesia Policy. Dinna.I Gde Pantja Astawa. PT. UI. 2003. Pokok-Pokok Hukum Tata Negara Indonesia Pasca Reformasi. Roy (eds). Ichimura. Jakarta. Bandung. dalam Miriam Budiardjo (ed). Singapore. African. Jakarta. The Netheralands. Teori Negara Hukum Modern (Rechtsstaat). PT. Hans. 2009. bandung. Konstitusi Press. 2001. 1980. kota. Gramedia. Bahl. di Negara Republik Indonesia. Hukum Pemerintahan Daerah. 2002. 2009. Hubungan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. . (alih Bahasa: Somardi). _______. Menggunakan Teori dan Konsep Dalam Analisis di Bidang Ilmu Hukum. Josef Riwu Kaho. Niessen. 2007. penerbit. Lili Rasjidi dan Liza Sonia Rasjidi. Masalah Pengurusan Keuangan Negara : Suatu Pengantar Teknis.. _______. 2009. 1984. J. PT. Jakarta. law and Practice of Decentralization and Urban Planning. Universitiet Leiden. and Amerindian Studies. Kelsen. Pte. Pusat Studi Hukum Tata Negara FH. Miriam Budiarjo. Jakarta. Penerbit Bina Aksara. Rimdi Press. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Raja Grafindo Persada. Gramedia Pustaka Utama. Mohammad Hatta. 2005. World Scientific Publishing Co. Jakarta. Kelompok Gramedia. Ke Arah Indonesia Merdeka. M. Irawan Soejito. Problematika Hukum Otonomi Daerah di Indonesia. Azmy Akhir. CV. cetakan kedua. _______. Demokrasi Kita. Masalah Kenegaraan. Prospek Otonomi Daerah. Nicole. 1999. Pikiran-Pikiran tentang Demokrasi dan Kedaulatan Rakyat. Teori Hukum Murni. Kepala Daerah. Cetakan kelima belas. Jimly Ashiddiqie. Ltd. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Hukum Normatif sebagai Ilmu Hukum Empirik-Deskriptif. Jakarta. Penerbit Gramedia Pustaka. 1993. Bandung. Munir Fuady.

Teori Hukum: Mengingat. Pheni Chalid. Du Contract Social (Perjanjian Sosial). Modern Political Constitution. Joeniarto. Visimedia. Bandung. Strong. . Legal Theory. R. Bandung. 2005. Otje Salman dan Anton F. Gerge Allen Unwin. Sudikno Mertokusumo dan Pitlo. PT RajaGrafindo Persada. London. Beberapa Sistem tentang Kontrol Segi Hukum terhadap Pemerintah. Rineka Cipta. Wolfgang Friedmann. Perkembangan Pemerintahan Lokal.C. PT. cetakan II. Smith. 1993. Taliziduhu Ndraha. Pengaturan Pajak Daerah di Indonesia. Jakarta. Bandung. USA. Jakarta. Yogyakarta. Sidgwick & Jackson Limited.. Decentralization The Territorial Dimension of The State. 2005. Alumni. Pertumbuhan Pemerintahan Daerah di Negara Republik Indonesia. Jilid III. 2006. 1993. 1960. Susanto. Alan. Jakarta. Yogyakarta. The Liang Gie. Genta Publishing. 1986. Steven Sons. 1985. Pengantar Ke Arah Sistim Pemerintahan Daerah Di Indonesia. Jilid I. Tjip Ismail. 2007. 1995. Kybernology (Ilmu Pemerintahan Baru). Yellow Printing. Jakarta 2003. Investasi. Bandung. Edward Elgar Limited – Edaward Elgar Publishing Company.Norton. Satjipto Rahardjo. Penelitian Hukum Normatif. Edisi Kedua. Penelitian Hukum di Indonesia Pada Akhir Abad Ke-20. England. Jean Jacques. B. Kemitraan. Rousseau. dan Desentralisasi. Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji. CF. 1967. RDH Koesoemahatmadja. Paulus Effendie Lotulung. 1979. cetakan kedua. 1982. Penerbit Alumni. Mengumpulkan dan Membuka Kembali. Binacipta. Liberty. Jakarta. Negara Hukum yang Membahagiakan Rakyat. Bab-Bab Tentang Penemuan Hukum. Yogyakarta. London. Keuangan Daerah. Bhuana Ilmu Populer. 2007. Citra Aditya Bakti. London. 2006. Jakarta. Refika Aditama. Sunaryati Hartono. International Hand Book of Local and Regional Government A Comparatve Analysis of Advanced Democracies.

June 2004. _______. “Fiscal decentralization and regional income disparities: evidence from the Colombian experience”. Bentuk dan Ruang Lingkup Pengawasan Pusat Terhadap Daerah Dalam Mewujudkan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Yang Demokratis Menurut UUD 1945. Roy Bahl (eds). Singapore. USA. “Hutang Sebagai Salah Satu Sumber Pembiayaan Pembangunan Daerah Otonom”. 2009. 4 Agustus 2009 Ateng Syafrudin. World Bank. Washington. 2002. 2009. 1. 28 Desember 1992. The World Bank. . Asep Warlan Yusuf. 6 No. Bandung. DC USA. 4 Agustus 2009. makalah pada Diskusi Terbatas tentang Hubungan Pusat dan daerah. Bandung. Bachrul Elmi dan Syahrir Ika. “Implementing Decentralized Local Governance: A Treacherous Road with Potholes. Makalah untuk pendidikan non-gelar anggota DPRD tingkat II se-Jawa Barat di Fakultas ISIP Unpad. Anwar Shah. Tugas Sosial Pemerintahan Daerah. Maret. 3. Program Studi Hukum Tata negara. World Bank Policy Research Working Paper 3353. Pusat Studi Hukum Kenegaraan Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran. Problems. Washington DC. Jaime Bonet. Vol. Bandung. Masalah Hukum dalam Pemerintahan di Daerah.. Springer-Verlag Published online: 12 April 2006. Bagir Manan.. 2009. Bahl dalam Shinichi Ichimura. _______. Makalah. disampaikan dalam acara Focused Group Discussion (Fgd) Tentang “Hubungan Antara Pemerintah Pusat Dan Daerah”. Desertasi. Theresa Thompson. 2008. “Fiscal Decentralization in Developing and Transition Economies: Progress. hlm. Detours and Road Closures”. Ltd. Jurnal Kajian Ekonomi Dan Keuangan.DESERTASI/TESIS/LAPORAN PENELITIAN/MAKALAH/JURNAL Agus Kusnadi. Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. Pte. Handsout dan Course Material Hukum Pemerintahan Daerah. and the Promise” World Bank Policy Research Working Paper 3282. _______. diselenggarakan atas kerja sama antara Dewan Perwakilan Daerah RI dan Fakultas Hukum Unpad. April 2004. World Scientific Publishing Co. Decentralization: Policies in Asian Development. Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. Hubungan Kelembagaan antara Pusat dan Daerah.

“Fiscal Decentralisation and Empowerment: Evolving Concepts and Alternative Measures” Journal Compilation Institute of Fiscal Studies Vol. 3. Pusat Pengkajian dan Pengembangan Wilayah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran. 4 Agustus 2009 Larry Schroeder. Academic Press. Kuntana Magnar. No.Bonet. . dampaknya terhadap Perekonomian. Bandung. 1999.48. Era Dabla-Norris. 2003. Blackwell Publishing Ltd. Journal of Public Budgeting. Jakarta. Jaime. Tim Penyusun. “Fiscal decentralization and regional income disparities: evidence from the Colombian experience”. UK-USA. 15 No. Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. 15 No. Pedoman Penyelenggaraan Program Pendidikan Sarjana (S1). Academic Press. Larry. Bahan diskusi pada Diskusi Terbatas Pusat Studi Hukum Tata Negara. Accounting & Financial Management. Vol. Harian Suara Pembaharuan. Fiscal Decentralization in South East Asia. Disertasi. Bandung. Vol. I Gde Pantja Astawa. Kerangka Acuan Penelitian Studi Hubungan Pusat Dan Daerah Kerjasama DPD RI Dengan Perguruan Tinggi Di Daerah. Bandung. “Fiscal Decentralization in South East Asia”. Accounting & Financial Management. Universitas Padjadjaran Bandung. Vol. Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran. 2000. “The Challenge of Fiscal Decentralisation in Transition Countries”. Pengawasan Pengelolaan Keuangan Daerah dalam Sistem Pemerintahan Daerah di Indonesia (Disertasi). Journal of Public Budgeting. Pustaka Sinar Harapan. Schroeder. 4. Laporan Penelitian. 29. 3. Jakarta 2009.Hak Angket Dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia Menurut UUD 1945. Springer-Verlag Published online: 12 April 2006. 2002. 2006. Jameson Boex. 2003. Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia. Renata R Simatupang. Otonomi atau Federalisme. 2008. Pengkajian Penataan Daerah Otonom Kabupaten/Kota di Jawa Barat. 2006. Elektison Somi. Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Tahun 2007. Comparative Economic Studies.

http://www.unsri.opensubscriber. Sumber Internet http://www.Doc.html www. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2008 Tentang Tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. tentang Pemerintahan Daerah Undang-Undang Nomor No.com/9511217.18 Tahun 1997 Tentang Pajak dan Retribusi Daerah. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah Undang-Undang Nomor No.id/old_version/CITANEGARAHUKUMINDONESIA.daerah.com/message/mediacare@yahoogroups. .Peraturan Perundang-Undangan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.fh. Peraturan Pemerintah No.geocities. 28 Tahun 2009 tentang Pajak dan Retribusi Daerah Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 1997 Tentang Pajak dan Retribusi Daerah.ac.pdf http://koran. 20 Tahun 1997 Tentang Retribusi Daerah Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005.33 Tahun 2004 Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah Undang-Undang Nomor No. 25 Tahun 1999 Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004.com/syahyuti/Rumusan_konsep_kelembagaan. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pemerintahan Daerah Undang-Undang Nomor No.kompas.dibatasi.com/read/xml/2009/08/05/04112298/pajak.

com/read/2009/08/18/103708/1184734/4/15-poin-uu-pokokpajak-daerah-dan-retribusi-daerah www.id/ www.ssrn.bakd.Doc.com http://kppod.lautanindonesia.com/2008/04/08/konstruksi-ulang-hubungan-pemerintah-pusat-danpemerintah-daerah-di-indonesia-antara-sentripetalisme-dan-sentrifugalisme/ http://www.com/read/2009/08/08/91036/20/2/RUU-Pajak-dan-RetribusiDaerah-Disahkan-Jadi-UU http://koran.kompas.mediaindonesia.com/read/2009/08/08/91036/20/2/RUU-Pajak-dan-RetribusiDaerah-Disahkan-Jadi-UU http://www.worldbank. http://www.depdagri. www.ac.go.com/read/xml/2009/08/05/04112298/pajak.google.php?option=com_content&task=view&id=329&Itemid=2 http://www. http://www.org/wiki/Participatory_democracy http://ekoprasojo.0.org/id.html http://ekoprasojo.org/ind/index.com/2008/04/08/konstruksi-ulang-hubungan-pemerintah-pusat-danpemerintah-daerah-di-indonesia-antara-sentripetalisme-dan-sentrifugalisme/ http://en.dibatasi.go.fh.com/forum/index.daerah.com/abstract=1029581 .depkeu.5619.php/topic. http://www.http://www.mediaindonesia.id/old_version/CITANEGARAHUKUMINDONESIA.detikfinance.fiskal.wikipedia.pdf.id/webbkf/kajian%5CPAD.unsri.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful