P. 1
III. Bahan Ajar Mk Analisis Transien s1 Sem Vii-2 Sks [ Bab i ]

III. Bahan Ajar Mk Analisis Transien s1 Sem Vii-2 Sks [ Bab i ]

|Views: 130|Likes:
Published by Ittox Mautinho

More info:

Published by: Ittox Mautinho on Sep 26, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/04/2012

pdf

text

original

Revisi: 0

BAHAN AJAR
Mata Kuliah : Analisis Transien
Kode/SKS : ES-7441 / 2 sks
Semester : VII
Program Studi : Teknik Elektro S1
PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRO S1
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NASIONAL (STTNAS)
YOGYAKARTA
2009
1
BAHAN AJAR
Mata Kuliah : Analisis Transien
Kode/SKS : ES-7441 / 2 SKS
Semester : VII
Program Studi : Teknik Elektro S1
Disahkan oleh
Ketua Jurusan Teknik Elektro
Disusun oleh
Dosen Pengampu
Joko Prasojo, S.T., M.T. Ir. Budi Utama, MT
NIK. 1973 0069 NIP : 19580611 198702 1 001
PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRO S1
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NASIONAL (STTNAS)
YOGYAKARTA
2009
2
PERTEMUAN : I
IDE FUNDAMENTAL TENTANG TRANSIENT LISTRIK
I.1 Pendahuluan
Sebuah transient listrik adalah merupakan perwujudan/manifestasi akibat dari
perubahan mendadak di dalam sirkuit, seperti ketika sebuah saklar/switch membuka
atau menutup atau kesalahan/gangguan (yang sedang) terjadi pada sistem. Periode
transient (peralihan) biasanya sangat singkat sekali. Sedikit waktu operasi transient
disebagian besar pada rangkaian dihabiskan di dalam kondisi transient tidak signify
kans dibandingkan dengan waktu yang dihabiskan dalam kondisi mapan (steady
state). Namun, periode transient ini secara ekstrim penting, pada waktu saat terjadi
transient dimana komponen rangkaian menjadi sasaran tekanan yang paling besar
dari arus atau nilai tegangan yang berlebih. Dalam kasus yang ekstrim akan menga-
kibatkan kerusakan. Prosses transient ini dapat melumpuhkan mesin, sebuah pabrik
dapat tutup (shut down), atau akan terjadi pemadaman (black-out) total sebuah kota,
yang semuanya itu bergantung pada kerumitan rangkaian/jaringan listrik yang me-
ngalami transient tersebut. Namun transien dapat dipahami : transien dapat dihi-
tung dan kadang-kadang dicegah, atau setidaknya dikendalikan, sehingga menjadi ti-
dak berbahaya terhadap sirkuit atau sistem daya di mana transient itu muncul. Beri-
kut di bawah ini akan dideskripsikan beberapa ide dasar mengenai transient (ke) lis-
trik (an).
I.2 Parameter Rangkaian
Pengujian dari beberapa rangkaian listrik menunjukan bahwa parameter rangkai-
an dapat terdiri dari tiga jenis parameter :
a. Resistans, R
b. Induktans , L
c. Kapasitans, C
Resistan, induktans, dan kapasitans dari suatu rangkaian nilainya terdistribusi ;
yaitu, setiap bagian kecil dari rangkaian memiliki bagiannya.(resistan, induktans, dan
kapasitans). Namun resistan, induktans, dan kapasitans ini dapat sering ditentukan
dan diperlakukan sebagai konstanta yang tergumpalkan (lumped), yang terkonsen
3
trasi pada suatu cabang rangkaian tertentu yang secara serius tidak mempengaruhi
keakuratan perhitungan.
Parameter L dan C dikarakteristikan dengan kemampuannya untuk menyimpan
energi, parameter L dapat menyimpan energi medan magnet dan parameter C dapat
menyimpan energi medan listrik melalui suatu rangkaian listrik. Energi yang tersim
pan tersebut merupakan fungsi besarnya arus sesaat I dan tegangan V. dengan demiki
an energi yang tersimpan di dalam parameter induktans dan kapasitans masing ma
sing dapat di tulis,
2
I L ) 2 / 1 ( ⋅ ⋅ dan
2
V L ) 2 / 1 ( ⋅ ⋅
Sebaliknya, parameter R adalah sebuah parameter listrik yang mampu menghilang
kan energi (panas), jadi resistan berupa penghilang energi (dissipater of energy), nilai
angka kehilangan adalah (
2
I R⋅
) untuk saat kapanpun juga.
Di bawah kondisi mantap (steady state) energi yang tersimpan di berbagai induk
tans dan kapasitans pada suatu rangkaian arus searah adalah konstan, sedangkan di
dalam rangkaian arus bolak balik energi secara siklus bertransfer antara Ls dan Cs
(dalam domain frequensi) pada suatu rangkaian sebagaimana naik dan turunya (rise
and fall) nilai tegangan dan arus pada frequensi pasokan (supply). Pada prosses
terakhir ini muncul kerugian yang besarnya tertentu, bergantung pada nilai resistan
(R) yang ada. Nilai kerugian akan diberikan oleh berbagai sumber dalam sistem.
Ketika perubahan (besaran listrik : I dan V) tiba tiba terjadi di dalam rangkaian,
biasanya ada redistribusi energi untuk memenuhi kondisi yang baru itu, dan dalam
cara inilah pembelajaran (transient) dilakukan saat menyelidiki sifat transient. Hal
ini sangat penting untuk mamaklumi (to realize) bahwa redistribusi energi ini tidak
dapat berlangsung secara cepat (instantaneously), ini dikarenakan ada dua alasan
yaitu :
1. Untuk merubah energi magnetik memerlukan perubahan arus (I). Namun pe-
rubahan di dalam sebuah induktor dilawan/ditantang oleh besarnya ggl de-
ngan magnitude (L/dI/dt). Oleh karena itu, perubahan sesaat arus memerlu
kan suatu tegangan yang tak berhingga untuk membawaknnya. Karena ini
tak dapat dicapai dalam prakteknya, arus di dalam rangkaian induktiv tidak
bisa berubah secara tiba tiba dan akibatnya tidak akan ada perubahan yang
mendadak pada energi magnetic yang tersimpan.
4
2. Untuk merubah energi listrik memerlukan suatu perubahan dalam nilai te-
gangan. Tegangan yang melintasi sebuah kapasitor diberikan dengan
C / Q V ·
dengan Q adalah muatan, dan angka perubahannya,
C
I
dt
dQ
C
1
dt
dV
· ⋅ ·
Untuk suatu perubahan tegangan yang seketika (cepat sekali) suatu arus tak
berhingga harus mengalir. Ini juga merupakan sesuatu hal yang tidak dapat
dicapai dalam prakteknya ; akibatnya tegangan yang melintasi kapasitor tidak
dapat berubah dengan tiba tiba (abruptly) dan energi tidak dapat tersimpan di
dalam medan listriknya yang terkait.
Redistribusi energi mengikuti sebuah perubahan rangkaian yang mengambil
waktu berhingga, dan prosses selama interval ini, sebagaimana dengan waktu yang
lainnya, diatur oleh prinsil konservasi energi, yaitu, nilai angka pasokan energi sama
dengan nilai angka penyimpanan energi plus (ditambahkan dengan) energi yang
hilang.
Ada tiga fakta sederhana – arus yang melewati sebuah inductor secara tiba tiba
tidak dapat berubah ; tegangan yang melintasi sebuah kapasitor secara tiba tiba tidak
dapat berubah ; konservasi energi harus dijaga/dipertahankan/dipelihara setiap saat –
merupakan fumdamental untuk prosses pengertian tentang transien listrik (electrical
transients). Implikasi dari fakta fakta ini merupakan hal yang dapat menyentuh intisa
ri pokok persoalannya (the subject).
I.3 Statement Matematik Problem dan Interpretasi Physical-nya
Pernyataan dari beberapa rangkaian problem transient sepantasnya dimulai de-
ngan menurunkan (setting down) persamaan differensial atau persamaan yang melu-
kiskan kelakuan (behavior) dari sistemnya ketika dieksitasi oleh stimulus tertentu
yang sedang dipelajari. Biasanya, ini dikerjakan cukup gampang/mudah dengan
bantuan hukum Kirchhoff. Tinjau problem yang sangat sederhana yang digambarkan
pada gambar I-1. Sebagai akibat dari prosses penutupan sebuah switch, maka sebuah
kapasitor menjadi termuati (terisi) melalui sebuah resistor. Untuk menentukan arus-
nya, tentunya dapat mengekspressikan persamaan rangkaian dengan menggunakan
hukum Kirchhoff – I (pertama) yang dapat ditulis,
5
(I-
1)
Untuk menentukan tegangan pada (yang melintasi) kapasitor, persamaan differensial-
nya dapat dituliskan,

1
1
V
dt
dV
RC V + ⋅ · (I-
2)
I
R
V
C V
1
Gambar : I-1
dt
dV
C
dt
dQ
I
1
⋅ · ·
Dengan menyelesaikan persamaan (I-2) melalui pemisahan variable,
C R
dt
V V
dV
1
1

·

( ) tan Kons
C R
t
V V ln
1
+

− · −
atau

,
_

¸
¸

⋅ − ·
RC
t
1
e A V V
(I-
3)
Dengan A adalah sebuah konstantayang dievaluasi dari kondisi awaldalam
rangkaian. Jika C sebelum dimuati (precharged) melalui besaran V
1
(0) sebelum
switch ditutup, dengan menset t = 0 maka akan menghasilkan :
6

⋅ + ⋅ · dt I
C
1
R I V

( )

,
_

¸
¸

⋅ − − ·
RC
t
1 1
e ) 0 ( V V V V
(I-
4)
Solusi ini ditunjukan dalam grafik gambar I-2, yang meillustrasikan sebuah titik.
Ketika kapasitor terhubung dengan batere maka secara sesaat ini tidak akan meneri-
ma potensial battere tapi meneruskan nilai tersebut melalui transient yang mempu-
nyai bentuk eksponensial.
Ada dua bagian solusi yang dikenali yang diberikan persamaan (I-4). Istilah
pertama, V, menggambarkan kondisi steady state akhir ketika kapasitor dimuati oleh
tegangan battere. Istilah kedua merupakan transient yang sebenarnya yang menhu-
bungkan kondisi awal dengan kondisi steady state akhir yang halus, yang secara
terus menerus konsisten dengan pembatasan physical dari rangkaiannya. Istilah
bentuk transient ini bergantung pada rangkaian itu sendiri. Magnitudnya bergantung
cara energi yang disimpannya diatur pada waktu t = 0.
Waktu
V
1
(0)
V
1
V
Gambar : 1-2
Tegangan Kapasitor dalam rangkaian gambar
I-1 setelah switch ditutup
Eksponensial ini akan memanisfestasikan dirinya sendiri tampa memperhatikan sti-
mulus atau gerakan dari pemunculan (sumber) gangguan. Memang, seperti rangkaian
tampa stimulus sama sekali, meninggalkan energynya yang tersimpan, akan melaku-
kan sedemikian rupa dengan cara karakteristik yang sama : tegangan kapasitor akan
berkurang secara eksponensial jika battere dihubung singkat. Untuk gambar I-1, ini
akan diperoleh dari persamaan yang lebih sederhana.
0 V
dt
dV
C R
1
1
· + ⋅ (I-5)
7
dengan suatu solusinya,

,
_

¸
¸


⋅ ·
) C R
t
1 1
e ) 0 ( V V
Text matematik yang diberikan dengan persamaan persamaan differensial bereferensi
dengan solusinya yang diperoleh saat pengerjaan di setting sama dengan nol sebagai
suatu solusi complementary. Kesignifikanan physical-nya sekarang jelas ; kondisi ini
menggambarkan / melukiskan suatu jembatan transient antara kondisi steady state
awal dan kondisi steady state akhir. Sebagaimana yang telah ditetapkan sebelumnya,
kondisi ini mencerminkan karakter dari rangkaian. Dalam contoh ini istilah (bentuk)
1
]
1

¸

,
_

¸
¸


C R
t
e
dapat dilukiskan sebagai “trademark” atau sebagai “karakteristik” dari suatu rangkai
an RC. Disisi lain, solusi particular adalah solusi yang mencerminkan gerakan
(drive) atau stimulus yang menciptakan gangguan. Ketika mengapplikasikan metoda
analytical untuk suatu solusi problem pada suatu rangkaian, ini adalah merupakan
sesuatu hal yang penting untuk meninjau interpretasi physical dari suatu solusi yang
telah dicapai.
I.4 Karakteristik Rangkaian atau Trademarks
Tentang karakteristik rangkaian atau trademark ini sudah dijelaskan pada sub-
bab I-3 di atas dengan karakteristik tunggal rangkaian RC yang membedakannya dari
rangkaian rangkaian yang lainnya adalah respons eksponensialnya,
1
]
1

¸

,
_

¸
¸


C R
t
e
terhadap gangguan apa saja. Karena (-t/R.C) harus tampa satuan (dimensionless),
maka nilai (RC) harus mempunyai dimensi (satuan) waktu ; karenanya ini direferen-
sikan sebagai konstanta waktu (time constant). Sebagaimana yang telah dijelaskan,
bahwa sebuah rangkaian mengambil suatu waktu yang terbatas untuk menyesuaikan
dari satu kondisi ke kondisi lainnya dalam mengikuti gangguan apa saja. Contoh, pa-
da saat prosses penutupan atau prosses pembukaan sebuah saklar (switch) perlu mene
tapkan suatu waktu yang disebut kondisi awal (certain initial condition). Pada akhir-
nya, tercapai suatu kondisi steady state yang baru. Konstanta waktu (time constant)
merupakan suatu ukuran seberapa cepat perubahan (terjadi transient) ini berlangsung
8
di dalam suatu rangkaian tertentu. Setelah konstanta waktu satu, maka ini berarti
akan menimbulkan angka sebesar (1/e) dari suatu perubahan yang harus tetap disele-
saikan, atau nilai sebesar (1 – 1/e) telah berlangsung. Ini merupakan suatu waktu
yang pantas (untuk disediakan) untuk melihat ke dalam karakteristik dari kombinasi
elemen elemen rangkaian yang lainnya. Rangkaian dasar (yang merupakan kombina-
si elemen rangkaian) ditunjukan dalam gambar I-3, sebagaimana disajikan di bawah
ini.
R
C
R
L
C
L

,
_

¸
¸

RC
t
e

,
_

¸
¸ ⋅

L
t R
e

,
_

¸
¸

,
_

¸
¸

t
LC
t j
LC
t j
e e

Gambar : I-3
Karakteristik untuk beberapa rangkaian sedehana
Pengujian tutupan (saklar) dari beberapa rangkaian ini mengungkapkan bebe-
rapa fakta yang mengejutkan. Satu satunya jenis respons yang ditimbulkan ketika se-
buah rangkaian listrik yang terdiri dari elemen elemen tergumpal (lumped) menga-
lami kondisi terganggu dengan mengambil fungsi (gangguan) berbentuk eksponen
sial atau kombinasi daripadanya dengan eksponen real atau imaginary. Fungsi ini ka-
dang kadang bergabung untuk memberikan fungsi sinus atau fungsi cosinus. Ini
merupakan suatu kasus dalam rangkaian yang terdiri dari parameter L dan C (rangkai
an LC). Sinus dan cosinus ini merupakan fungsi periodik, yang menganjurkan suatu
ide frequensi. Ini disebut sebagai frequensi natural yang merupakan karakteristik dari
rangkaian LC. Jadi ditemukan bahwa ketika rangkaian semacam itu di eksitasi, tidak
peduli seberapa besar eksitasi tsb, maka rangkaian itu berossilasi pada frequensi
natural. Rangkaian LC tidak mempunyai konstanta waktu sebab ketika rangkaian LC
ini di stimulus rangkaian tidak mencapai suatu kondisi steady state akhir melainkan
terus berossilasi disekitar posisi tersebut. Periode ossilasinya sebesar ( ) LC . 2 π ,
9
menggantikan besaran angka konstanta waktu. Rangkaian RL serupa dengan rangkai
an RC yang disertai kostanta waktunya (L/R).
PERTEMUAN : II
II.1 Deskripsi Parameter Induktans dan Kapasitan
Resistan (R) masuk parameter yang dapat diabaikan dalam studi analisis tran-
sient. Dengan demikian yang akan di diskussikan di bawah ini adalah parameter in-
duktans (L) dan kapasitan (C).
(i). Induktans
Induktans didefinisikan sebagai,

(Henry)
dt
d
L
Λ
·
(II-
1)
dengan,
L = Induktans rangkaian/jaringan, dengan satuan Henry.
Λ = garis fluks yang disebabkan arus I, dengan satuan Weber-turn
i = Arus yang mengalir di dalam rangkaian, dengan satuan Amper.
Gaya gerak listrik (ggl) yang terinduksi di dalam inductor diberikan,

dt
di
L
dt
d
e ⋅ ·
Λ
·
(Volt) (II-2)
Energi di dalam induktans L (Henry) pada saat arus mengalir di dalamnya
sebesar i Amper diberikan dengan,

2
m
i L ) 2 / 1 ( W ⋅ ⋅ · (Joule) (II-3)
Catatan : 1 joule = 1 watt-detik.
(ii). Kapasitans
Definisi yang terkenal mengenai kapasitor adalah : dua atau lebih konduktor
yang dipisah dengan medium (bahan) dielektrik (insulating). Nilai kapasitans dari
suatu kapasitor diberikan,
(Farad)
dV
dq
C · (II-
4)
Dengan,
10
C = Nilai kapasitan, dengan satuan Farad (F).
q = muatan listrik, dengan satuan Coulomb (C).
v = nilai tegangan, dengan satuan Volt (V)
Dari definisi di atas, dapat dimengerti bahwa saluran transmissi, bushing, circuit
breaker, dlsb. mempunyai nilai kapasitans yang menjadi sifatnya antar phasa-phasa
dan antara phasa dan tanah (bumi). Dalam beberapa kasus nilai kapasitans dapat
diabaikan. Dalam jaringan tegangan tinggi ini menjadi penting dan tidak dapat diabai
kan. Didalam fenomena circuit breaker (CB), nilai kapasitans memainkan peranan
penting. Tegangan yang melewati kapasitor diberikan,
(Volt)
C
dq
dv ·

⋅ · dq
C
1
v

⋅ ⋅ · dt i
C
1
Energi di dalam kapasitans berupa energi medan listrik yang diberikan,

(Joule) v C ) 2 / 1 ( W
2
C
⋅ ·
(II-
5)
dengan C dalam satuan farad, dan v dalam satuan (Volt).
Terdapat nilai kapasitans antar konduktor-kondiktor dan antara konduktor dan
tanah (bumi) di dalam kasus jaringan saluran transmissi. Aliran arus bolak balik di
dalam saluran transmissi dikaitkan dengan pengisian (muatan) dan pelepasan (muat-
an) bolak balik. Aruis yang diambil oleh nilai kapasitans untuk pengisian (charging)
disebut arus pengisian (charging current). Aliran arus pengisian di dalam suatu
saluran transmissi, sekalipun diujung penerimaan berupa hubungan yang terbuka.
Tegangan yang melintasi sebuah kapasitor tidak dapat berubah dengan cepat (instant
taneously).
Sementara prosses penutupan circuit breaker (CB) didominasi oleh rangkaian
yang bersifat kapasitiv seperti sebuah kapasitor bank, arus yang mengalir di dalam
kapasitans diberikan oleh,
dt
dv
C i ⋅ ·
11
dengan,
i = nilai sesaat untuk arus , dengan satuan Amper (A)
C = nilai kapasitans, dengan satuan Farad (F).
(dv/dt) = Angka perubahan nilai tegangan setiap satuan waktu atau dengan kata lain
dapat disebut sebagai kecuraman ge;lombang pada titik waktu tertentu.
Arus inrush selama prosses penutupan (switch) utk arus yang bersifat kapasitiv
dapat menyebabkan pre-arcing (pra busur api listrik) di antara kontak kontak circuit
breaker (CB). Semua fenomena di atas dapat menyebabkan sistem mempunyai poten
si dapat mengalami transient. Berikut ada beberapa tugas yang dapat menghasilkan
penekanan (stressing) pada circuit breaker (CB), dan oleh karena itu, perlu suatu per
hatian yang khusus dalam :
- prosses penutupan dan pembukaan sebuah kapasitor bank
- Prosses penutupan dan pembukaan pada saluran transmissi yang tak di
bebani (no-load).
Perlakuan dua prosses di atas berpotensi untuk menimbulkan fenomena transient
pada sistem, oleh karena itu pekerjaan ini perlu mendapatkan perhatian khusus bagi
pekerjka lapangan.
II.2 Persamaan Tegangan pada rangkaian seri RLC
Persamaan tegangan untuk sebuah rangkaian seri RLC diberikan :


⋅ ⋅ + ⋅ + ⋅ · (Volt) dt i
C
1
i R
dt
di
L e

(II.6)
dengan,
e = Tegangan dipasok (Volt)

,
_

¸
¸
dt
di
L
= Tegangan yang melintasi inductor L, (Volt)
(R.i) = Tegangan yang melintasi resistor, R (Volt)

,
_

¸
¸


dt i
C
1
= Tegangan yang melintasi kapasitor (Volt)
untuk ggl bolak balik, maka tegangan induksi e diberikan oleh :

) t ( Sin E e
m
θ + ⋅ ω ⋅ ·
(II-7)
12
Em adalah nilai maksimum gelombang tegangan = √2 × E
rms
; ω aaah kecepatan
sudut dalam satuan radian per detik yang diberikan (2π f). Sudut θ bergantung
pada magnitude e pada saat t = 0. Jika e nol pada t = 0. Jika e = E
m
pada t = 0 maka
θ = (π /2).
II.3 Hubung singkat secara tiba tiba pada rangkaian RLC
Akan diamati, apa yang akan terjadi bila switch S dari rangkaian ditutup secara
tiba tiba.
i
) t ( Sin E e
m
θ ω + ⋅ ⋅ ·
S R L
Gambar : II-1
Rangkaian Seri RL untuk Studi Transien
Denman menulis persamaan untuk arus I pada rangkaian di atas maka akan
diperoleh,

) t ( sin E e i R
dt
di
L
m
θ + ω ⋅ · · ⋅ + ⋅
(II-8)
Persamaan ini akan diselesaikan supaya di dapat persamaan arusnya (i). Persamaan
(II-8) adalah persamaan differensial tak-homogen berorder pertama. Solusi lengkap
berupa penjumlahan solusi complementary (i
C
) dan penyelesaian particular (i
P
), yaitu

P C
i i i + ·
(II-9)
(i). Solusi Complementary
Persamaan bantu didapat dengan meletkan sisi sebelah kanan persamaan (II-8)
sama dengan nol, jadi
0 i R
dt
di
L · ⋅ + ⋅
Susun kembali bentuk persam,aan di atas maka akan diperoleh,
13
0 dt
L
R
i
di
· ⋅ +
Dengan melakukan integral maka diperoleh,
k t
L
R
i log
0 dt
L
R
i
di
· ⋅ +
· +
∫ ∫ ∫
k t
L
R
i log + ⋅ − ·
K adalah sebuah konstanta integrasi diberikan dengan k = log
e
A, dimana A adalah
konstanta yang lain. Selanjutnya, kita mengetahui bahwa log
e
e
x
= x oleh karena itu,
A log e log i log
L
t R
e e
+ ·

,
_

¸
¸ ⋅

Dengan mengambil anti log maka diperoleh,

,
_

¸
¸ ⋅

⋅ ·
L
t R
e A i
(II-10)
Ini merupakan solusi complementary untuk arus (i). Persamaannya berupa fungsi
eksponensial dengan komponen peluluhan (decaying component), disebut sebagai
komponen DC. Magnitud konstanta A bergantung pada pemberian angka pada kon-
disi awal. Nilai A menjadi nol, positive.
(ii). Solusi Particular
Ambil suatu solusi coba :

) t sin( D ) t cos( C i θ + ω + θ + ω ·

(II.11)
Dapatkan nilai (di/dt) dan (d
2
i/dt
2
) dari persamaan (II.11) dan substitusikan ke dalam
persamaan

(II-8) menyamakan koeffisien seperti bentuk dari dua sisi persamaan,
maka diperoleh :

2 2 2
m
L R
L
E C
ω +
⋅ ω
⋅ − ·
(II.12)

2 2 2
m
L R
R
E D
ω +
⋅ ·
(II.13)
Dengan mensubstitusi nilai nilai C dan D seperti di atas ke dalam persamaan (II.8),
maka diperoleh :
14

) t sin( E
L R
R
) t cos( E
L R
L
i
m
2 2 2
m
2 2 2
θ + ω ⋅
ω +
+ θ + ω ⋅
ω +
⋅ ω
·
(II.14)
Andaikan φ adalah sudut segitiga imepedans, maka :

,
_

¸
¸ ⋅ ω
· φ

R
L
tan
1

,
_

¸
¸
ω +
⋅ ω
· φ
2 2 2
L R
L
sin
2 2 2
L R
R
cos
⋅ ω +
· φ
Dengan mensubstitusikan sinφ dan cos φ ke dalam persamaan (II-14) maka :

) t ( sin cos
L R
E
) t ( cos sin
L R
E
i
2 2 2
m
2 2 2
m
θ + ω φ
ω +
+ θ + ω φ
ω +
− ·
(II-
15)
Bentuk persamaan di atas adalah simetris dengan :
B sin A cos B cos A sin ) B A ( sin − · −

) t ( sin
L R
E
i
2 2 2
m
φ − θ + ω
ω +
· ∴
(II-
16)
Persamaan (II-16) merupakan solusi particular persamaan (II-8) persamaan ini
mengandung sinusoidal yang disebut komponen AC.
(iii). Solusi Lengkap
C P
i i i + ·
Dari persamaan (II-10) dan (II-16) diperoleh,
) t sin(
L R
E
e A i
2 2 2
m L
t R
φ − θ + ω ⋅
ω +
+ ⋅ ·

,
_

¸
¸ ⋅

(II-17)
Ini merupakan suatu solusi lengkap dari persamaan (II-8). Pada t = 0 ; I = 0.
Sebab arus didalam rangkaian inductive tidak berubah sesaat.
Denman mengasumsikan R jadi terlalu kecil dibandingkan dengan (ω L) :
L L R
2 2 2
ω · ω +
dan
O 1
90
R
L
tan ≈
ω
· ω

15
Kasus I. Switch ditutup saat e = 0
Oleh karena itu e = 0 pada t = 0
Jadi θ =0 juga : I = 0 pada t = 0. Dari persamaan (II-17) maka :
) 90 sin(
L R
E
A 0
O
2 2
m
− ⋅
ω +
+ ·
L
E
A
ω
+ ·
Ini adalah nilai maksimum dari A, oleh kartena itu komponen DC maksimum
bi- la switch ditutup pada tegangan nol. Kasus ini disebut effek ganda. Sebab nilai
pun- cak (2.Em/ω L), pada nilai puncak dari loop arus. Ada sedikit jatuh tegangan di
dalam nilai sesaat arus, mulai dari t = 0 sampai t = π /2. Oleh karena itu, nilai
puncak dapat ditinjau secara perkiraan (1.8 Em/ω L) sebagai pengganti (2.Em/ω L).
Kasus II : switch ditutup saat e = E
mak
e = E
maks
pada saat t = 0 ; θ = π /2 ; i = 0 pada saat t = 0, sehingga
diperoleh
0 A
2 2
sin
L
E
A 0
m
· ∴ ⇒
,
_

¸
¸ π

π
⋅ ω
+ ·
Dari kasus I dan Kasus II teramati bahwa magnitude nilai awal dari komponen
(DC)

,
_

¸
¸ ⋅


L
t R
e A
bergantung pada saat penutupan saklar , atau tegangan pada saat
ter- jadinya hubung singkat.
Intepretasi dari hasil Solusi
Ketika rangkaian seri RL ditutup dengan suatu sumber tegangan bolak balik, ma
ka akan menghasilkan arus yang terdiri dari dua komponen, komponen dc dan kom-
ponen ac. Komponen ac bertumpang tindih (superimposed) dengan komponen dc.
Magnitud komponen dc bergantung pada tegangan pada saat prosses penutupan
switch. Ketika switch ditutup pada tegangan nol, maka komponen dc menjadi maksi
mum (gambar : II-2) :
16
i
Komponen DC
i
t
Gambar : II-2
Switch tertutup pada “ Voltage Zero” Komponen DC
Jika switch ditutup psaat tegangan mencapai maksimum, maka komponen dc nol dan
bentuk gelombang simetris disekitar axis normal nol sebagaimana ditunjukan dalam
gambar II-3
i
t
i
Gambar : II-3
Switch Tertutup pada tegangan maksimum,
Komponen DC-nya tidak ada
II.4 Sub-transien, Transien, dan Steady state pada Alternator
Analisis hubung singkat secara tiba tiba pada rangkaian seri RL yuang akan diap
plikasikan pada hubung singkat tiga phasa dari sebuah alternator. Sebuah alter-
17
nator yang mempunyai belitan stator dengan nilai resistans dan reaktans tertentu. Ji-
ka diabaikan reaksi jangkar dan variasi arus medan, maka arus akan mengalir di da-
lam phasa alternator selama hubung singkat menjadi bentuk gelombang yang serupa
dengan hubung singkat dengan rangkaian RL. Bentuk gelombang arus hubung sing
kat di berikan dalam gambar II-2 dan II-3 sebagaimana terlihat seperti di atas. Akan
tetapi, di dalam alternator, bentuk gelombang termodifikasi oleh reaksi jangkar. Be-
rikut di bawah ini diperlihatkan sebuah arus 3 phasa yang terekam di suatu ossilo-
gram :
Gambar : II-4 = 3-4
Bila alternator dihubung singkat, maka arus di dalam semua phasanya akan naik
dengan cepat sampai dengan kesuatu nilai yang tinggi (10 sampai dengan 18 kali a-
rus beban penuh), selama seperempat siklus pertama.Fluksi yang melintasi celah uda
ra menjadi besar jumlah dan kerapatannya selama beberapa siklus pertama (a first
couple of cycle). Paling tidak nilai reaktans selama dua atau tiga siklus pertama (ti-
dak ada jumlah yang pasti, bergantung pada mesin listriknya) dan arus hubung sing-
katnya mempunyai nilai yang tinggi. Reaktans ini disebut sebagai reaktans sub-tran-
18
sien dan ditandai dengan notasi X’’. Saat beberapa siklus pertama berada di bawah
kondisi sub-transien.
Pada akhirnya transient ini menghilang dan arus mencapai kondisi sinusoidal
steady yang disebut kondisi steady state (kondisi mantap). Nilai reaktans pada kondi-
si ini disebut dengan reaktans steady state yang dinotasikan dengan X
d
.
Karena arus hubung singkat alternator lagging dibelakang tegangan sebesar 90
0
maka reaktans yang terlibat adalah reaktansi axis langsung.
Dengan meninjau gambar : II-4 ; komponen dc di dalam sistem 3 phasa
berbeda ; karena bentuk gelombang untuk 3 phasa tidak identik. Jika tegangan phasa,
kata- kanlah pada phasa Y, bernilai maksimum pada saat hubung singkat, maka
komponen dc arus hubung singkat adalah nol. Karena itu bentuk gelombang simetris
sebagai- mana ditunjukan dalam gambar : II-5.
Gambar II-5
Dengan bereferensi gambar II-5, gambar sebuah amplop yang menutup bentuk
gelombang. Dengan memperluas bagian amplop, NM diperluas untuk memenuhi ordi
nat saat t = 0 di titik A. ML diperluas untuk memenuhi ordinat saat t = 0 pada titik B
dan LC memotong ordinat saat t = 0 di titik C. Ukur OC, OB dan OA.
NM adalah bagian anplop dalam kawasan yang sudah steady state (mantap). LM
adalah bagian anplop dalam kondisi transient dan LC bagian anplop dam kondisi
subtransien.
Arus dan reaktan diberikan denga ekspressi berikut ini :
19

d
a
X
E
2
OA
I · ·
(II-18)

d
a
' X
E
2
OB
' I · ·
(II-
19)

d
a
' ' X
E
2
OC
' ' I · ·
(II-
20)
dengan,
I = Arus Steady State, nilai rms
I’ = Arus transient, nilai rms
I’’ = Arus sub-transien, nilai rms
E
a
= ggl Induksi per phasa
X
d
= Reaktans sinkron “Direct-Axis”
X’
d
= Reaktans transient “Direct-Axis”
X’’
d
= Reaktans sib-transien “Direct-Axis”
OA, OB dan OC berpotongan ditunjukan gambar II-5
Sebagaimana hubung singkat terjadi, arus hubung singkat mencapai nilai yang
tinggi. Kontak kontak circuit breaker (CB) mulai memisahkan setelah pengoperasi
rele proteksi. Kontak kontak CB memisah selama kondisi transient. Nilai rms arus pa
da saat kontak memisah disebut arus pemutusan untuk CB dan diekspressikan da-
lam satuan kA.
Jika CB menutup saat ada gangguan, maka arus akan bertambah menjadi nilai
yang tinggi selama setengah siklus pertama sebagaimana ditunjuikan dalam gambar
II-2 dan II-3. Nilai arus puncak yang sangat tinggi tercapai selama puncak loop arus
pertamanya, Nilai puncak ini disebut “making current” untuk CB dan diekspressikan
dalam kA. Istilah dan pengertian tentang Breaking Current dan Making Current ba-
ca referensi nomor : a.3 halaman 81.
Meskipun arus hubung singkat bervariasi secara kontinyus selama kondisi sub-
transien, dan kondisi transient, nilai nilai yang representative bisa dihitung dari per-
samaan (II-18), (II-19), dan (II-20). Reaktans kondisi sub-transien, transient dan reak
20
tans dalam kondisi steady state dapat ditentukan secara percobaan dengan test hu-
bung singkat.
21

2

BAHAN AJAR
Mata Kuliah Kode/SKS Semester : Analisis Transien : ES-7441 / 2 SKS : VII

Program Studi : Teknik Elektro S1

Disahkan oleh Ketua Jurusan Teknik Elektro

Disusun oleh Dosen Pengampu

Joko Prasojo, S.T., M.T. NIK. 1973 0069

Ir. Budi Utama, MT NIP : 19580611 198702 1 001

PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRO S1 SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NASIONAL (STTNAS) YOGYAKARTA 2009

setiap bagian kecil dari rangkaian memiliki bagiannya. Namun transien dapat dipahami : transien dapat dihitung dan kadang-kadang dicegah. atau setidaknya dikendalikan.3 PERTEMUAN : I IDE FUNDAMENTAL TENTANG TRANSIENT LISTRIK I. atau akan terjadi pemadaman (black-out) total sebuah kota. Namun.2 Parameter Rangkaian Pengujian dari beberapa rangkaian listrik menunjukan bahwa parameter rangkaian dapat terdiri dari tiga jenis parameter : a. yang semuanya itu bergantung pada kerumitan rangkaian/jaringan listrik yang mengalami transient tersebut. dan kapasitans ini dapat sering ditentukan dan diperlakukan sebagai konstanta yang tergumpalkan (lumped). Berikut di bawah ini akan dideskripsikan beberapa ide dasar mengenai transient (ke) listrik (an). I. Sedikit waktu operasi transient disebagian besar pada rangkaian dihabiskan di dalam kondisi transient tidak signify kans dibandingkan dengan waktu yang dihabiskan dalam kondisi mapan (steady state). sebuah pabrik dapat tutup (shut down). induktans. yang terkonsen . Induktans .1 Pendahuluan Sebuah transient listrik adalah merupakan perwujudan/manifestasi akibat dari perubahan mendadak di dalam sirkuit. yaitu. Periode transient (peralihan) biasanya sangat singkat sekali. sehingga menjadi tidak berbahaya terhadap sirkuit atau sistem daya di mana transient itu muncul. L c. Prosses transient ini dapat melumpuhkan mesin. C Resistan.(resistan. R b. Resistans. Kapasitans. pada waktu saat terjadi transient dimana komponen rangkaian menjadi sasaran tekanan yang paling besar dari arus atau nilai tegangan yang berlebih. Namun resistan. Dalam kasus yang ekstrim akan mengakibatkan kerusakan. induktans. induktans. periode transient ini secara ekstrim penting. seperti ketika sebuah saklar/switch membuka atau menutup atau kesalahan/gangguan (yang sedang) terjadi pada sistem. dan kapasitans dari suatu rangkaian nilainya terdistribusi . dan kapasitans).

bergantung pada nilai resistan (R) yang ada. dengan demiki an energi yang tersimpan di dalam parameter induktans dan kapasitans masing ma sing dapat di tulis. Karena ini tak dapat dicapai dalam prakteknya. Untuk merubah energi magnetik memerlukan perubahan arus (I). . jadi resistan berupa penghilang energi (dissipater of energy).4 trasi pada suatu cabang rangkaian tertentu yang secara serius tidak mempengaruhi keakuratan perhitungan. parameter R adalah sebuah parameter listrik yang mampu menghilang kan energi (panas). Nilai kerugian akan diberikan oleh berbagai sumber dalam sistem. dan dalam cara inilah pembelajaran (transient) dilakukan saat menyelidiki sifat transient. biasanya ada redistribusi energi untuk memenuhi kondisi yang baru itu. perubahan sesaat arus memerlu kan suatu tegangan yang tak berhingga untuk membawaknnya. Oleh karena itu. Pada prosses terakhir ini muncul kerugian yang besarnya tertentu. parameter L dapat menyimpan energi medan magnet dan parameter C dapat menyimpan energi medan listrik melalui suatu rangkaian listrik. ini dikarenakan ada dua alasan yaitu : 1. sedangkan di dalam rangkaian arus bolak balik energi secara siklus bertransfer antara Ls dan Cs (dalam domain frequensi) pada suatu rangkaian sebagaimana naik dan turunya (rise and fall) nilai tegangan dan arus pada frequensi pasokan (supply). Ketika perubahan (besaran listrik : I dan V) tiba tiba terjadi di dalam rangkaian. Namun perubahan di dalam sebuah induktor dilawan/ditantang oleh besarnya ggl dengan magnitude (L/dI/dt). Hal ini sangat penting untuk mamaklumi (to realize) bahwa redistribusi energi ini tidak dapat berlangsung secara cepat (instantaneously). Di bawah kondisi mantap (steady state) energi yang tersimpan di berbagai induk tans dan kapasitans pada suatu rangkaian arus searah adalah konstan. Parameter L dan C dikarakteristikan dengan kemampuannya untuk menyimpan energi. nilai angka kehilangan adalah ( R ⋅ I 2 ) untuk saat kapanpun juga. arus di dalam rangkaian induktiv tidak bisa berubah secara tiba tiba dan akibatnya tidak akan ada perubahan yang mendadak pada energi magnetic yang tersimpan. Energi yang tersim pan tersebut merupakan fungsi besarnya arus sesaat I dan tegangan V. (1 / 2) ⋅ L ⋅ I 2 dan (1 / 2) ⋅ L ⋅ V 2 Sebaliknya.

sebagaimana dengan waktu yang lainnya. Sebagai akibat dari prosses penutupan sebuah switch. tegangan yang melintasi sebuah kapasitor secara tiba tiba tidak dapat berubah . Redistribusi energi mengikuti sebuah perubahan rangkaian yang mengambil waktu berhingga. Ada tiga fakta sederhana – arus yang melewati sebuah inductor secara tiba tiba tidak dapat berubah . tentunya dapat mengekspressikan persamaan rangkaian dengan menggunakan hukum Kirchhoff – I (pertama) yang dapat ditulis. Biasanya. konservasi energi harus dijaga/dipertahankan/dipelihara setiap saat – merupakan fumdamental untuk prosses pengertian tentang transien listrik (electrical transients). Tinjau problem yang sangat sederhana yang digambarkan pada gambar I-1. dV 1 dQ I = ⋅ = dt C dt C Untuk suatu perubahan tegangan yang seketika (cepat sekali) suatu arus tak berhingga harus mengalir. Implikasi dari fakta fakta ini merupakan hal yang dapat menyentuh intisa ri pokok persoalannya (the subject). dan prosses selama interval ini. Untuk merubah energi listrik memerlukan suatu perubahan dalam nilai tegangan. yaitu. I. Ini juga merupakan sesuatu hal yang tidak dapat dicapai dalam prakteknya . Untuk menentukan arusnya. dan angka perubahannya.3 Statement Matematik Problem dan Interpretasi Physical-nya Pernyataan dari beberapa rangkaian problem transient sepantasnya dimulai dengan menurunkan (setting down) persamaan differensial atau persamaan yang melukiskan kelakuan (behavior) dari sistemnya ketika dieksitasi oleh stimulus tertentu yang sedang dipelajari. ini dikerjakan cukup gampang/mudah dengan bantuan hukum Kirchhoff.5 2. Tegangan yang melintasi sebuah kapasitor diberikan dengan V = Q / C dengan Q adalah muatan. nilai angka pasokan energi sama dengan nilai angka penyimpanan energi plus (ditambahkan dengan) energi yang hilang. . akibatnya tegangan yang melintasi kapasitor tidak dapat berubah dengan tiba tiba (abruptly) dan energi tidak dapat tersimpan di dalam medan listriknya yang terkait. diatur oleh prinsil konservasi energi. maka sebuah kapasitor menjadi termuati (terisi) melalui sebuah resistor.

V = RC ⋅ dV1 + V1 dt (I- 2) R I V C V1 Gambar : I-1 I= dV dQ = C⋅ 1 dt dt Dengan menyelesaikan persamaan (I-2) melalui pemisahan variable. dV1 dt = V − V1 R ⋅ C ln ( V − V1 ) = − t + Kons tan R ⋅C atau V1 = V − A ⋅ e 3)  t  −   RC  (I- Dengan A adalah sebuah konstantayang dievaluasi dari kondisi awaldalam rangkaian. dengan menset t = 0 maka akan menghasilkan : . persamaan differensialnya dapat dituliskan.6 V = I ⋅R + 1 I ⋅ dt C∫ (I- 1) Untuk menentukan tegangan pada (yang melintasi) kapasitor. Jika C sebelum dimuati (precharged) melalui besaran V1(0) sebelum switch ditutup.

meninggalkan energynya yang tersimpan. Ketika kapasitor terhubung dengan batere maka secara sesaat ini tidak akan menerima potensial battere tapi meneruskan nilai tersebut melalui transient yang mempunyai bentuk eksponensial. Ada dua bagian solusi yang dikenali yang diberikan persamaan (I-4). Magnitudnya bergantung cara energi yang disimpannya diatur pada waktu t = 0. menggambarkan kondisi steady state akhir ketika kapasitor dimuati oleh tegangan battere. R ⋅C dV1 + V1 = 0 dt (I-5) . yang meillustrasikan sebuah titik.7 V1 = V − ( V − V1 (0) ) ⋅ e 4)  t  −   RC  (I- Solusi ini ditunjukan dalam grafik gambar I-2. Untuk gambar I-1. Istilah pertama. Memang. yang secara terus menerus konsisten dengan pembatasan physical dari rangkaiannya. Istilah kedua merupakan transient yang sebenarnya yang menhubungkan kondisi awal dengan kondisi steady state akhir yang halus. seperti rangkaian tampa stimulus sama sekali. Istilah bentuk transient ini bergantung pada rangkaian itu sendiri. V V1 V1(0) Waktu Gambar : 1-2 Tegangan Kapasitor dalam rangkaian gambar I-1 setelah switch ditutup Eksponensial ini akan memanisfestasikan dirinya sendiri tampa memperhatikan stimulus atau gerakan dari pemunculan (sumber) gangguan. V. ini akan diperoleh dari persamaan yang lebih sederhana. akan melakukan sedemikian rupa dengan cara karakteristik yang sama : tegangan kapasitor akan berkurang secara eksponensial jika battere dihubung singkat.

Sebagaimana yang telah dijelaskan. kondisi ini mencerminkan karakter dari rangkaian.8 dengan suatu solusinya. karenanya ini direferensikan sebagai konstanta waktu (time constant). Sebagaimana yang telah ditetapkan sebelumnya.4 Karakteristik Rangkaian atau Trademarks Tentang karakteristik rangkaian atau trademark ini sudah dijelaskan pada subbab I-3 di atas dengan karakteristik tunggal rangkaian RC yang membedakannya dari rangkaian rangkaian yang lainnya adalah respons eksponensialnya. ini adalah merupakan sesuatu hal yang penting untuk meninjau interpretasi physical dari suatu solusi yang telah dicapai. Dalam contoh ini istilah (bentuk)    − Rt⋅C     e    dapat dilukiskan sebagai “trademark” atau sebagai “karakteristik” dari suatu rangkai an RC. maka nilai (RC) harus mempunyai dimensi (satuan) waktu . V1 = V1 (0) ⋅ e  t  −  R ⋅C )     Text matematik yang diberikan dengan persamaan persamaan differensial bereferensi dengan solusinya yang diperoleh saat pengerjaan di setting sama dengan nol sebagai suatu solusi complementary. kondisi ini menggambarkan / melukiskan suatu jembatan transient antara kondisi steady state awal dan kondisi steady state akhir. Pada akhirnya. pada saat prosses penutupan atau prosses pembukaan sebuah saklar (switch) perlu mene tapkan suatu waktu yang disebut kondisi awal (certain initial condition). tercapai suatu kondisi steady state yang baru. bahwa sebuah rangkaian mengambil suatu waktu yang terbatas untuk menyesuaikan dari satu kondisi ke kondisi lainnya dalam mengikuti gangguan apa saja. I. Kesignifikanan physical-nya sekarang jelas . Contoh. Ketika mengapplikasikan metoda analytical untuk suatu solusi problem pada suatu rangkaian.    − Rt⋅C     e    terhadap gangguan apa saja. Konstanta waktu (time constant) merupakan suatu ukuran seberapa cepat perubahan (terjadi transient) ini berlangsung . Karena (-t/R. Disisi lain. solusi particular adalah solusi yang mencerminkan gerakan (drive) atau stimulus yang menciptakan gangguan.C) harus tampa satuan (dimensionless).

Periode ossilasinya sebesar (2. Ini disebut sebagai frequensi natural yang merupakan karakteristik dari rangkaian LC. Rangkaian LC tidak mempunyai konstanta waktu sebab ketika rangkaian LC ini di stimulus rangkaian tidak mencapai suatu kondisi steady state akhir melainkan terus berossilasi disekitar posisi tersebut. sebagaimana disajikan di bawah ini. Fungsi ini kadang kadang bergabung untuk memberikan fungsi sinus atau fungsi cosinus. maka ini berarti akan menimbulkan angka sebesar (1/e) dari suatu perubahan yang harus tetap diselesaikan.π LC ) . atau nilai sebesar (1 – 1/e) telah berlangsung. . Jadi ditemukan bahwa ketika rangkaian semacam itu di eksitasi. L R t   −   RC  R  R ⋅t  −   L  e e L e jt   −  LC  ± e jt   −  LC  C C Gambar : I-3 Karakteristik untuk beberapa rangkaian sedehana Pengujian tutupan (saklar) dari beberapa rangkaian ini mengungkapkan beberapa fakta yang mengejutkan. Ini merupakan suatu waktu yang pantas (untuk disediakan) untuk melihat ke dalam karakteristik dari kombinasi elemen elemen rangkaian yang lainnya. Satu satunya jenis respons yang ditimbulkan ketika sebuah rangkaian listrik yang terdiri dari elemen elemen tergumpal (lumped) mengalami kondisi terganggu dengan mengambil fungsi (gangguan) berbentuk eksponen sial atau kombinasi daripadanya dengan eksponen real atau imaginary. tidak peduli seberapa besar eksitasi tsb. yang menganjurkan suatu ide frequensi.9 di dalam suatu rangkaian tertentu. Sinus dan cosinus ini merupakan fungsi periodik. maka rangkaian itu berossilasi pada frequensi natural. Setelah konstanta waktu satu. Ini merupakan suatu kasus dalam rangkaian yang terdiri dari parameter L dan C (rangkai an LC). Rangkaian dasar (yang merupakan kombinasi elemen rangkaian) ditunjukan dalam gambar I-3.

Wm = (1 / 2) ⋅ L ⋅ i 2 (Joule) (II-3) Catatan : 1 joule = 1 watt-detik. dengan satuan Amper. dengan satuan Henry. (ii). Kapasitans Definisi yang terkenal mengenai kapasitor adalah : dua atau lebih konduktor yang dipisah dengan medium (bahan) dielektrik (insulating). e= dΛ di = L⋅ dt dt (Volt) (II-2) Energi di dalam induktans L (Henry) pada saat arus mengalir di dalamnya sebesar i Amper diberikan dengan. Rangkaian RL serupa dengan rangkai an RC yang disertai kostanta waktunya (L/R). Λ = garis fluks yang disebabkan arus I. PERTEMUAN : II II. . Dengan demikian yang akan di diskussikan di bawah ini adalah parameter induktans (L) dan kapasitan (C).1 Deskripsi Parameter Induktans dan Kapasitan Resistan (R) masuk parameter yang dapat diabaikan dalam studi analisis transient. Nilai kapasitans dari suatu kapasitor diberikan. L = Induktans rangkaian/jaringan. Gaya gerak listrik (ggl) yang terinduksi di dalam inductor diberikan. (i). L= dΛ dt (Henry) (II- 1) dengan. dengan satuan Weber-turn i = Arus yang mengalir di dalam rangkaian.10 menggantikan besaran angka konstanta waktu. C= dq dV (Farad) (II- 4) Dengan. Induktans Induktans didefinisikan sebagai.

dengan satuan Coulomb (C). Dalam beberapa kasus nilai kapasitans dapat diabaikan. v = nilai tegangan. dlsb. Sementara prosses penutupan circuit breaker (CB) didominasi oleh rangkaian yang bersifat kapasitiv seperti sebuah kapasitor bank. nilai kapasitans memainkan peranan penting. Terdapat nilai kapasitans antar konduktor-kondiktor dan antara konduktor dan tanah (bumi) di dalam kasus jaringan saluran transmissi. Aliran arus bolak balik di dalam saluran transmissi dikaitkan dengan pengisian (muatan) dan pelepasan (muatan) bolak balik.11 C = Nilai kapasitan. Didalam fenomena circuit breaker (CB). WC = (1 / 2) C ⋅ v 2 (Joule) (II- 5) dengan C dalam satuan farad. dengan satuan Farad (F). dv = dq C (Volt) v= = 1 ⋅ dq C ∫ 1 ⋅ i ⋅ dt C ∫ Energi di dalam kapasitans berupa energi medan listrik yang diberikan. Tegangan yang melintasi sebuah kapasitor tidak dapat berubah dengan cepat (instant taneously). arus yang mengalir di dalam kapasitans diberikan oleh. dan v dalam satuan (Volt). Tegangan yang melewati kapasitor diberikan. dapat dimengerti bahwa saluran transmissi. Aruis yang diambil oleh nilai kapasitans untuk pengisian (charging) disebut arus pengisian (charging current). sekalipun diujung penerimaan berupa hubungan yang terbuka. mempunyai nilai kapasitans yang menjadi sifatnya antar phasa-phasa dan antara phasa dan tanah (bumi). Dalam jaringan tegangan tinggi ini menjadi penting dan tidak dapat diabai kan. circuit breaker. bushing. i = C⋅ dv dt . dengan satuan Volt (V) Dari definisi di atas. q = muatan listrik. Aliran arus pengisian di dalam suatu saluran transmissi.

dengan satuan Amper (A) C = nilai kapasitans. Berikut ada beberapa tugas yang dapat menghasilkan penekanan (stressing) pada circuit breaker (CB).2 Persamaan Tegangan pada rangkaian seri RLC Persamaan tegangan untuk sebuah rangkaian seri RLC diberikan : e = L⋅ di 1 + R ⋅ i + ⋅ ∫ i ⋅ dt dt C (Volt) (II. e  di  L   dt  = Tegangan dipasok (Volt) = Tegangan yang melintasi inductor L. Arus inrush selama prosses penutupan (switch) utk arus yang bersifat kapasitiv dapat menyebabkan pre-arcing (pra busur api listrik) di antara kontak kontak circuit breaker (CB). Perlakuan dua prosses di atas berpotensi untuk menimbulkan fenomena transient pada sistem. i = nilai sesaat untuk arus . (dv/dt) = Angka perubahan nilai tegangan setiap satuan waktu atau dengan kata lain dapat disebut sebagai kecuraman ge.i) 1  C ∫ i ⋅ dt  =  Tegangan yang melintasi kapasitor (Volt) untuk ggl bolak balik.6) dengan. R (Volt)  (R. perlu suatu per hatian yang khusus dalam : prosses penutupan dan pembukaan sebuah kapasitor bank Prosses penutupan dan pembukaan pada saluran transmissi yang tak di bebani (no-load). dan oleh karena itu.12 dengan. maka tegangan induksi e diberikan oleh : e = E m ⋅ Sin (ω ⋅ t + θ) (II-7) .lombang pada titik waktu tertentu. oleh karena itu pekerjaan ini perlu mendapatkan perhatian khusus bagi pekerjka lapangan. II. (Volt) = Tegangan yang melintasi resistor. dengan satuan Farad (F). Semua fenomena di atas dapat menyebabkan sistem mempunyai poten si dapat mengalami transient.

Jika e = E m pada t = 0 maka θ = (π /2).aan di atas maka akan diperoleh. L R S e = E m ⋅ Sin (ω ⋅ t + θ ) i Gambar : II-1 Rangkaian Seri RL untuk Studi Transien Denman menulis persamaan untuk arus I pada rangkaian di atas maka akan diperoleh. Persamaan (II-8) adalah persamaan differensial tak-homogen berorder pertama.3 Hubung singkat secara tiba tiba pada rangkaian RLC Akan diamati. jadi L⋅ di + R ⋅i = 0 dt Susun kembali bentuk persam. Jika e nol pada t = 0. II. Solusi Complementary Persamaan bantu didapat dengan meletkan sisi sebelah kanan persamaan (II-8) sama dengan nol. . Sudut θ bergantung pada magnitude e pada saat t = 0. yaitu i = i C +i P (II-9) (i). L⋅ di + R ⋅ i = e = E m ⋅ sin (ωt + θ) dt (II-8) Persamaan ini akan diselesaikan supaya di dapat persamaan arusnya (i). Solusi lengkap berupa penjumlahan solusi complementary (iC) dan penyelesaian particular (iP). apa yang akan terjadi bila switch S dari rangkaian ditutup secara tiba tiba.13 Em adalah nilai maksimum gelombang tegangan = √2 × Erms . ω aaah kecepatan sudut dalam satuan radian per detik yang diberikan (2π f).

8). kita mengetahui bahwa loge ex = x oleh karena itu. maka diperoleh : . Persamaannya berupa fungsi eksponensial dengan komponen peluluhan (decaying component).12) (II. (ii). i = A⋅e  R ⋅t  −   L  (II-10) Ini merupakan solusi complementary untuk arus (i). Magnitud konstanta A bergantung pada pemberian angka pada kondisi awal. maka diperoleh : C = −E m ⋅ D = Em ⋅ ω⋅ L R + ω 2 L2 2 2 (II. disebut sebagai komponen DC.14 di R + ⋅ dt = 0 i L Dengan melakukan integral maka diperoleh. Nilai A menjadi nol. Selanjutnya. dimana A adalah konstanta yang lain. Solusi Particular Ambil suatu solusi coba : i = C cos( ωt + θ) + D sin( ωt + θ) (II.13) R R + ω 2 L2 Dengan mensubstitusi nilai nilai C dan D seperti di atas ke dalam persamaan (II. di R + ∫ dt = ∫ 0 i L R log i + ⋅ t = k L ∫ log i = − R ⋅t +k L K adalah sebuah konstanta integrasi diberikan dengan k = loge A. positive.11) Dapatkan nilai (di/dt) dan (d2i/dt2) dari persamaan (II.11) dan substitusikan ke dalam persamaan (II-8) menyamakan koeffisien seperti bentuk dari dua sisi persamaan. log e i = log e e  R ⋅t  −   L  + log A Dengan mengambil anti log maka diperoleh.

Solusi Lengkap i = i P +i C Dari persamaan (II-10) dan (II-16) diperoleh. (iii). maka :  ω⋅ L  φ = tan −1    R   ω⋅ L sin φ =   2 2 2  R +ω L     cos φ = R R + ω 2 ⋅ L2 2 Dengan mensubstitusikan sinφ dan cos φ ke dalam persamaan (II-14) maka : i=− Em R 2 + ω2 L2 sin φ cos (ωt + θ) + Em R 2 + ω2 L2 cos φ sin (ωt + θ) (II- 15) Bentuk persamaan di atas adalah simetris dengan : sin ( A − B) = sin A cos B − cos A sin B ∴ i= Em R 2 + ω2 L2 sin (ωt + θ − φ) (II- 16) Persamaan (II-16) merupakan solusi particular persamaan (II-8) persamaan ini mengandung sinusoidal yang disebut komponen AC. i = A⋅e  R ⋅t  −   L  + Em R 2 + ω 2 L2 ⋅ sin( ωt + θ − φ) (II-17) Ini merupakan suatu solusi lengkap dari persamaan (II-8). Sebab arus didalam rangkaian inductive tidak berubah sesaat. Pada t = 0 . Denman mengasumsikan R jadi terlalu kecil dibandingkan dengan (ω L) : R 2 + ω2 L2 = ωL dan ω = tan −1 ωL ≈ 90 O R . I = 0.14) Andaikan φ adalah sudut segitiga imepedans.15 i= ω⋅ L R ⋅ E m cos( ωt + θ) + 2 ⋅ E m sin( ωt + θ) 2 2 R +ω L R + ω 2 L2 2 (II.

mulai dari t = 0 sampai t = π /2. sehingga Dari kasus I dan Kasus II teramati bahwa magnitude nilai awal dari komponen (DC) A⋅e  R ⋅t  −   L  bergantung pada saat penutupan saklar . Magnitud komponen dc bergantung pada tegangan pada saat prosses penutupan switch. Komponen ac bertumpang tindih (superimposed) dengan komponen dc. Ada sedikit jatuh tegangan di dalam nilai sesaat arus. maka komponen dc menjadi maksi mum (gambar : II-2) : . θ = π /2 .8 Em/ω L) sebagai pengganti (2. nilai puncak dapat ditinjau secara perkiraan (1. Kasus ini disebut effek ganda.la switch ditutup pada tegangan nol. atau tegangan pada saat ter.jadinya hubung singkat. Sebab nilai pun. diperoleh 0 =A + Em  π π sin  −  ⇒ ∴ A = 0 ω⋅ L 2 2 i = 0 pada saat t = 0.cak (2. pada nilai puncak dari loop arus.16 Kasus I. ma ka akan menghasilkan arus yang terdiri dari dua komponen. Switch ditutup saat e = 0 Oleh karena itu e = 0 pada t = 0 Jadi θ =0 juga : I = 0 pada t = 0. Ketika switch ditutup pada tegangan nol. Dari persamaan (II-17) maka : 0=A+ Em R +ω L 2 2 ⋅ sin( −90 O ) A=+ E ωL Ini adalah nilai maksimum dari A. komponen dc dan komponen ac. Kasus II : switch ditutup saat e = Emak e = Emaks pada saat t = 0 . Oleh karena itu. oleh kartena itu komponen DC maksimum bi.Em/ω L).Em/ω L). Intepretasi dari hasil Solusi Ketika rangkaian seri RL ditutup dengan suatu sumber tegangan bolak balik.

Komponen DC-nya tidak ada II. maka komponen dc nol dan bentuk gelombang simetris disekitar axis normal nol sebagaimana ditunjukan dalam gambar II-3 i i t Gambar : II-3 Switch Tertutup pada tegangan maksimum .4 Sub-transien. Transien. dan Steady state pada Alternator Analisis hubung singkat secara tiba tiba pada rangkaian seri RL yuang akan diap plikasikan pada hubung singkat tiga phasa dari sebuah alternator.17 i Komponen DC i t Gambar : II-2 Switch tertutup pada “ Voltage Zero” Komponen DC Jika switch ditutup psaat tegangan mencapai maksimum. Sebuah alter- .

Fluksi yang melintasi celah uda ra menjadi besar jumlah dan kerapatannya selama beberapa siklus pertama (a first couple of cycle). maka arus di dalam semua phasanya akan naik dengan cepat sampai dengan kesuatu nilai yang tinggi (10 sampai dengan 18 kali arus beban penuh). Bentuk gelombang arus hubung sing kat di berikan dalam gambar II-2 dan II-3 sebagaimana terlihat seperti di atas. selama seperempat siklus pertama. Jika diabaikan reaksi jangkar dan variasi arus medan. Akan tetapi. Paling tidak nilai reaktans selama dua atau tiga siklus pertama (tidak ada jumlah yang pasti. Reaktans ini disebut sebagai reaktans sub-tran- . di dalam alternator. bentuk gelombang termodifikasi oleh reaksi jangkar. maka arus akan mengalir di dalam phasa alternator selama hubung singkat menjadi bentuk gelombang yang serupa dengan hubung singkat dengan rangkaian RL. Berikut di bawah ini diperlihatkan sebuah arus 3 phasa yang terekam di suatu ossilogram : Gambar : II-4 = 3-4 Bila alternator dihubung singkat. bergantung pada mesin listriknya) dan arus hubung singkatnya mempunyai nilai yang tinggi.18 nator yang mempunyai belitan stator dengan nilai resistans dan reaktans tertentu.

Arus dan reaktan diberikan denga ekspressi berikut ini : . Jika tegangan phasa. karena bentuk gelombang untuk 3 phasa tidak identik. LM adalah bagian anplop dalam kondisi transient dan LC bagian anplop dam kondisi subtransien. Karena itu bentuk gelombang simetris sebagai.mana ditunjukan dalam gambar : II-5. Karena arus hubung singkat alternator lagging dibelakang tegangan sebesar 900 maka reaktans yang terlibat adalah reaktansi axis langsung.19 sien dan ditandai dengan notasi X’’. komponen dc di dalam sistem 3 phasa berbeda . gambar sebuah amplop yang menutup bentuk gelombang. kata. ML diperluas untuk memenuhi ordinat saat t = 0 pada titik B dan LC memotong ordinat saat t = 0 di titik C. Pada akhirnya transient ini menghilang dan arus mencapai kondisi sinusoidal steady yang disebut kondisi steady state (kondisi mantap). bernilai maksimum pada saat hubung singkat. Nilai reaktans pada kondisi ini disebut dengan reaktans steady state yang dinotasikan dengan Xd. Ukur OC. Dengan memperluas bagian amplop. OB dan OA. NM adalah bagian anplop dalam kawasan yang sudah steady state (mantap). NM diperluas untuk memenuhi ordi nat saat t = 0 di titik A.kanlah pada phasa Y. Gambar II-5 Dengan bereferensi gambar II-5. Saat beberapa siklus pertama berada di bawah kondisi sub-transien. Dengan meninjau gambar : II-4 . maka komponen dc arus hubung singkat adalah nol.

arus hubung singkat mencapai nilai yang tinggi. Meskipun arus hubung singkat bervariasi secara kontinyus selama kondisi subtransien. Reaktans kondisi sub-transien. dan kondisi transient. Kontak kontak circuit breaker (CB) mulai memisahkan setelah pengoperasi rele proteksi.20 I= OA 2 = Ea Xd = Ea X' d (II-18) (II- I' = OB 2 19) I' ' = OC 2 = Ea X' ' d (II- 20) dengan. Kontak kontak CB memisah selama kondisi transient. nilai rms = ggl Induksi per phasa = Reaktans sinkron “Direct-Axis” X’d = Reaktans transient “Direct-Axis” X’’d = Reaktans sib-transien “Direct-Axis” OA. maka arus akan bertambah menjadi nilai yang tinggi selama setengah siklus pertama sebagaimana ditunjuikan dalam gambar II-2 dan II-3. nilai nilai yang representative bisa dihitung dari persamaan (II-18). nilai rms = Arus sub-transien. Jika CB menutup saat ada gangguan.3 halaman 81. Nilai puncak ini disebut “making current” untuk CB dan diekspressikan dalam kA. transient dan reak . OB dan OC berpotongan ditunjukan gambar II-5 Sebagaimana hubung singkat terjadi. Istilah dan pengertian tentang Breaking Current dan Making Current baca referensi nomor : a. I I’ I’’ Ea Xd = Arus Steady State. dan (II-20). (II-19). Nilai arus puncak yang sangat tinggi tercapai selama puncak loop arus pertamanya. Nilai rms arus pa da saat kontak memisah disebut arus pemutusan untuk CB dan diekspressikan dalam satuan kA. nilai rms = Arus transient.

21 tans dalam kondisi steady state dapat ditentukan secara percobaan dengan test hubung singkat. .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->