1 KONSEPSI RESTORASI EKOLOGI KAWASAN PENYANGGA SEMPADAN SUNGAI DI DKI JAKARTA

*)
Oleh: Tarsoen Waryono **)

Abstrak
Urgensi pengelolaan kawasan konservasi bantaran sungai di DKI Jakarta ditinjau dari segi penataan ruang wilayah perkotaan, nampaknya tidak mungkin ditunda bahkan di kesampingkan; karena berbagai alasan yang kurang mendasar bahkan kurangnya pengetahuan atas peranan fungsi jasa vegetasi riparian. Bagi para perencana tata ruang bukan saatnya lagi membahas perlu tidaknya tindakan konservasi, akan tetapi bagaimana mengimplementasikan tindakan pengelolaan dalam memulihkan peranan fungsi ekosistem bantaran sungai, agar fungsi lindungnya berperan optimal secara berkelanjutan.

Pendahuluan Secara fisik daratan DKI Jakarta 65.500 ha, dilintasi oleh 13 aliran sungai (± 295,0 kilometer), dengan luas bantaran sungai efektif 1.384,21 ha, dan merupakan bagian hilir dari beberapa DAS di bagian hulunya (± 780.000 ha). Fenomena genangan dan atau banjir di wilayah DKI Jakarta, semakin diperburuk dengan meningkatnya luas bangunan beton dan aspal ± 18.798,5 ha: hingga menyebabkan tingginya laju limpasan air hujan (84,12%), dan besaran laju erosi pada wilayah kikisan ± 82,7 ton/ha/tahun. Akumulai hasil sedimentasi, serta meningkatnya peman-faatan air tanah dangkal, dan penerapan teknologi pancang bangunan tinggi, secara alamiah menyebabkan terganggunya sirkulasi dan sistem tata air tanah (hidrologis), hingga menyusupnya (intrusi) air laut yang kini telah mencapai 11,3% dari luas daratan DKI Jakarta. Kesadaran Pemerintah DKI Jakarta, dalam upaya pengendalian terhadap lingkungan fisik kritis perkotaan dan kecenderungannya, telah dilakukan sejak tahun 1981. Dibentuknya susunan organisasi Dinas-dinas teknis pengelola kawasan hijau, pada dasarnya merupakan langkah awal yang ditempuhnya; seperti tertuang dalam Perda No. 8 tahun 1981. Dalam Perda tersebut, salah satu embanan tugas pokoknya adalah melaksanakan pemangkuan hutan yang ada, dan membangun serta mengelola kawasan hijau penyangga lingkungan hidup wilayah perkotaan sebagai penopang kenyamanan lingkungan hidup. Adapun alasan yang cukup mendasar, atas keyakinan bahwa peranan fungsi dan jasa bio-eko-hidrologis komunitas pepohonan, terbukti dan dinilai mampu melerai serta mengendalikan berbagai bentuk cemaran.
*). Seminar Nasional Evaluasi Pasca dan Rancang Tindak Penanggulangan Banjir Wilayah Perkotaan. Kedutaan Belanda (Kuningan Jakarta), 12 Juni 2002, Kerjasama Dept. Kimpraswil, Masyarakat Air Indonesia, dan Kedutaan Belanda. **). Staf Pengajar Jurusan Geografi dan Program Pasca sarjana Biologi Universitas Indonesia (Depok)

Kumpulan Makalah Periode 1987-2008

tentang pengelolaan kawasan lindung. Kondisi eksis Ruang Terbuka Hijau (RTH) DKI Jakarta tahun 2001. Kumpulan Makalah Periode 1987-2008 . Kondisi Bantaran Sungai di Wilayah DKI Jakarta Bantaran sungai merupakan kawasan (buffer) penyangga daerah pengelolaan air. dan sisanya 42. Terbitnya Kepres 32 Tahun 1990. tercatat 7. penunjang keindahan kota. berada pada kanan dan kiri badan sungai. juga sebagai pusat kesegaran jasmani. juga merupakan habitat bagi kehidupan satwa liar seperti mamalia terbang.23% (792. binatang melata. burung. atas dasar pertimbangan prediksi jumlah penduduk sebesar 12. pengatur tata air tanah dan pengendali laju erosi. membentuk satuan ekologik terkecil. Berdasarkan hasil pemantapan data kawasan lindung yang dilakukan tahun 1997 oleh Dinas Kehutanan. dan dipengaruhi oleh ketinggian tempat dan jenis batuannya.544. Pada hal seperti halnya hutan. Dengan demikian. Kerusakan ekositem bantaran sungai menyebabkan peranan fungsinya menjadi terganggu. sebagai upaya untuk mengembalian habitat tertentu atau ekosistem. kondisi bantaran sungai di DKI Jakarta 57. hingga kadang kala bentuknya berkelok-kelok. pelestarian plasma nutfah dan sumber genetik.77% (592. rekreasi alam dan sumber produksi terbatas. permasalahan kekurangan areal. pereda unsurunsur iklim. Hal ini mengingat bahwa restorasi ekologi pada dasarnya merupakan bentuk dari manajemen konservasi. Mencermati akan kondisi lingkungan fisik kritis perkotaan. dan tempat berlangsungnya evolusi secara alamiah. reptil. Penutupan vegetasinya spesifik (riparian). 6 Tahun 1999) ditetapkan 9. berfungsi sebagai tanggul sungai. bagi Pemda DKI Jakarta nampaknya merupakan jalan keluar untuk memecahkan fenomena permasalahan kebutuan RTH. bantaran sungai merupakan jalur koridor hijau alur badan sungai yang memberikan jasa ekologi sebagai penyaring air limpasan. sebagai salah satu bentuk tindakan konservasi biologis daerah dilindungi. 83 ha.18 ha) dikuasai oleh penduduk untuk kepentingan pemukiman.79 ha. sedangkan target RTH berdasarkan RTRW-2010 (Perda DKI No. untuk itu upaya pemulihan peranan fungsi ekosistem “restorasi ekologi” kawasan sempadan sungai dinilai strategis.03 ha) dalam kondisi yang mulai terganggu. habitat satwa liar. wahana dunia ilmu pengetahuan alam. menjadi lebih dominan sebagai salah satu di antara faktor-faktor penyebab belum berhasilnya upaya pengendalian terhadap lingkungan fisik kritis perkotaan secara kongkrit. penghalau angin dan pelerai silau cahaya. ke suatu kondisi semirip mungkin dengan keadaan sebelum terjadi degradasi. dan beberapa jenis satwa lainnya.426. komunitas vegetasi riparian secara teoritis berfungsi sebagai pusat terjadinya keanekaragaman genetik. penahan nutrien dan sedimen. dimana bantaran sungai merupakan salah satu di antaranya yang ditetapkan sebagai kawasan lindung sempadan sungai. Kawasan ini dicirikan oleh batuan dasar yang keras yang secara alami air tidak mampu lagi untuk menerobosnya.5 juta jiwa pada tahun 2010.2 Selain berfungsi sebagai paru-paru kota dan kenyamanan lingkungan. serta semakin terdegradasinya kawasan sempadan sungai.

pada tahun 1986 masih dijumpai kera ekor panjang ± 4-5 group (32-50 ekor). keindahan dan kebersihan. Pengembangan wilayah perkotaan umumnya bertujuan untuk meningkatkan mutu lingkungan hidup dan kenyamanan. serta menciptakan keserasian Kumpulan Makalah Periode 1987-2008 . vegetasi budidaya wilayah pedesaan (rural). dan gagak) yang bertengger di rumpun bambu. sedangkan pada tahun 1997 tidak jenis tersebut tidak dijumpai lagi. Hasil pemantauan kehidupan satwa liar yang dilakukan oleh Tim Pengelola Hutan Kota Universitas Indonesia (1998) di bantaran sungai Ciliwung (Kampung Srengseng . Daerah riparian umumnya mempunyai ciri spesifik dalam hal struktur vegetasi. berfungsi sebagai penyangga pengaliran air. di samping merupakan ekoton antara ekosistem daratan dengan perairan. karena terbukanya peluang bantaran sungai (sempadan sungai) dan sempadan pantai sebagai kawasan konservasi untuk memenuhi kebutuhan RTH. Di Bantaran sungai Pesanggrahan pada tahun 1986 masih dijumpai beberapa jenis burung (sirgunting. biawak dan kadal).3 Terdesak dan hilangnya kawasan hijau bantaran sungai menyebabkan peranan fungsinya terganggu baik untuk perlindungan daerah pengaliran sungai maupun sebagai habitat dan sangtuari satwa liar. Kedudukan Bantaran Sungai Dalam RTH DKI Jakarta Mencermati realisasi hasil pembangunan kawasan hijau selama jangka waktu 30 tahun (1965-1995) tercatat 29. Bantaran sungai dan sepandan pantai. demikian halnya dengan beberapa Jenis terbang (kalong. karena kombinasi yang mungkin terjadi antara sumberdaya air dan karakteristik fisik wilayahnya. namun sejak tahun 1993. tentang pengelolaan kawasan lindung. nampaknya hampir tidak terdengar lagi walaupun sebenarnya masih sering dijumpai oleh masyarakat. dan vegetasi alami (natural). serta masih ditemukan puluhan ekor buaya. pada hakekatnya merupakan satu kesatuan ekosistem dalam pengelolaan daerah aliran sungai (DAS).Cijantung). kuntul. disebabkan keterbatasan pemerintah daerah dalam aset kepemilikan lahan. berbeda halnya dengan kawasan sepandan sungai. kelelawar dan sejenisnya). sekaligus juga merupakan ekoton antara ekosistem riparian dengan vegetasi binaan dalam wilayah perkotaan (urban).7% dari rencana RTH DKI Jakarta. termasuk binatang melata (ular. karena semakin meningkatnya harga tanah. dinamika dan peranan fungsi ekologis daerah riparian belum banyak dilakukan di Indonesia. Bukti-bukti penelitian tersebut menunjukan bahwa daerah riparian sangat bervariasi dalam hal ukuran dan jenis vegetasi. Kawasan sepandan pantai merupakan ekoton antara ekosistem laut dan daratan yang dicirikan oleh penutupan vegetasi mangrove. nampaknya memacu pemerintah daerah DKI Jakarta untuk meningkatkan penanganan pembangunan kawasan hijau. dan sifat-sifat tanah yang dapat dikembangkan sebagai penciri dalam penetapan kawasan lindung sempadan sungai di wilayah perkotaan. Penelitian tentang karakteristik. Rendahnya hasil pembangunan kawasan hijau ini. Kepres 32 tahun 1990. namun berbagai penelitian mengenai pentingnya ekosistem riparian telah banyak dipublikasikan.

proses pertumbuhannya berawal dari pemukiman kecil tumbuh dan berkembang menjadi pedesaan. dapat dirancang hingga memberikan peranan fungsi dan manfaat sebagai penyangga dan perlindungan lingkungan hidup perkotaan. serta pelestarian nilai-nilai keragaman hayati secara berkelanjutan. secara jelas (a) menempatkan lingkungan kawasan hijau dalam struktur ruang wilayah sebagaimana diatur dalam Undang-undang No. keberadaan tersebut nampaknya kurang seimbangnya antara sumber-sumber penyebab lingkungan fisik kritis dengan upaya pengendaliannya. dan meningkatnya jumlah kendaraan bermotor. Upaya dan pemberdayaan melalui penanaman pepohonan dan rerumputan. akan tetapi hasil-hasil yang dicapai belum dapat menjamin atas terciptanya kenyamanan lingkungan perkotaan. perubahan dan degradasi habitat. memacu terhadap tumbuh berkembangnya bangunan gedung berdiding kaca. betonan. sehingga mampu berfungsi sebagai zona penyangga yang mendukung keberadaan keragaman hayati. plesteran. bahkan tidak sesuai untuk dihuni oleh berbagai biota kehidupan seperti sebelumnya. yang menyebabkan fenomena lingkungan fisik kritis perkotaan. Penataan ruang untuk tujuan keseimbangan dan keserasian wilayah perkotaan. Terciptanya penghalang buatan menyebabkan terbentuknya populasi-populasi yang terisolasi. Aktivitas manusia telah banyak menciptakan penghalang buatan (artificial barrier). kotadesasi (peralihan kota dan desa). Kota-kota di Indonesia. 24 tahun 1992. Pemanfaatan setiap jengkal tanah untuk bangunan aspal. Meningkatnya aktivitas perkotaan. dan akhirnya menjadi kota. dan atau sebagai koridor yang mampu menghubungkan pusat-pusat pemencaran berbagai kehidupan satwa liar. Tumbuh berkembangnya wilayah Kumpulan Makalah Periode 1987-2008 . untuk tujuan pemulihan peranan fungsi ekosistem bantaran sungai perlu dikembangkan dengan pertimbangan berbagai kepentingan pengembangan wilayah. dan pancang bangunan menyebabkan terganggunya sistem tata air tanah. hal ini mengingat bahwa bantaran sungai dipandang sebagai kawasan lindung penyangga pengaliran air yang harus diolahdayakan (ditata). hingga tumbulnya pulau-pulau habitat dengan beberapa jenis yang masih mampu beradaptasi. dalam kasus ini cenderung menghilangkan penghalang alamiah (natural barrier) bagi pemencaran organisme. Konsepsi Dasar Pemulihan Ekosistem Bantaran Sungai Pengembangan Wilayah Kota Dampak penting pengembangan wilayah terhadap kondisi fisik bantaran sungai menyebabkan perubahan-perubahan terhadap habitat dan fenomena bio-hidro-ekologisnya. telah banyak dilakukan. Ditinjau dari letak strategisnya berada di wilayah pantai (pesisir). dan pedalaman baik tepian sungai dan atau dataran tinggi. 32 tahun 1990. penggunaan sistem pendingin ruangan. seperti yang ditekankan dalam Kepres No. Penyerasian sistem penataan ruang perkotaan secara terpadu. (b) memberikan pandangan bahwa kawasan hijau perkotaan merupakan bagian tak terpisahkan dari struktur bentang alam secara regional.4 antara lingkungan alam dengan lingkungan binaan yang secara langsung maupun tidak langsung bermanfaat bagi kepentingan masyarakat luas.

Ket-duhan-keteduhan yang semula dari kerindangan naungan pepohonan. bahwa perubahan penutupan vegetasi untuk kepentingan pengembangan wilayah perkotaan. fasilitas kota. Hambatan lebih jauh. bahwa pepohonan sesungguhnya telah senantiasa merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan lingkungan hidupnya. Strategi konsepsinya selalu dihubungkan dengan upaya pengendalian lingkungan fisik kritis. Penilaian kekurang seimbangan dari salah satu dan atau ketiga unsur di atas. seperti tempat-tempat rekreasi dan wisata. dan pantai). butir-butir air hujan dan kekuatan-kekuatan angin. sebagai penopang pusat-pusat kegiatan kota. Keberadaan ini menyebabkan terganggunya arah-arah sirkulasi air tanah dangkal. wilayah dan lingkungannya. arah-arah drainase alam yang berkelak-kelok diluruskan. telah banyak dilakukan dan kini populer melalui pendekatan teori ambang batas dalam perencanaan kota. dianalisis untuk kemudian diaplikasikan sebagai dasar pemberdayaan pembangunannya. dan disebut sebagai perencanaan lingkungan rasional berdasar konsep IUCN tahun 1982 yang pada hakekatnya merupakan satu proses bagaimana konservasi sumberdaya regional dan Kumpulan Makalah Periode 1987-2008 . cenderung mendesak sebidang penutupan vegetasi baik dalam bentuk pesawahan. Aplikasi programnya. akan tetapi sekala prioritasnya selalu dika-lahkan. tiba-tiba dibuka sehingga permukaan tanah langsung dipengaruhi oleh sinar matahari. serta di beberapa lokasi yang memerlukan dukungan lingkungan hijau. bahkan diganti dengan tanah urugan yang berasal dari luar lokasi.5 perkotaan. kanan dan kiri bantaran sungai. tanah dirombak dengan cara pemadatan. mewujudkan kenyamanan lingkungan. yaitu pohon (vegetasi berkayu) dan penduduk kota. kehidupan flora dan faunanya. Tanah memberikan pengertian kecenderungan yang erat dengan kehidupan (biologis) dan air. Walaupun kawasan hijau baik dalam bentuk taman dan atau hutan kota merupakan kebutuhan esensial bagi masyarakat dan penopang wajah perkotaan. lebih diarahkan untuk memberikan peranan fungsi jasa biologis pepohonan. maupun pendukung lingkungan yang erat kaitannya dengan tanah dan ruang. Penanganan dan pengendalian degradasi lingkungan perkotaan. Bentuk medan dimanipulasi. Aspek Pengelolaan Bantaran Sungai Program pembangunan kawasan hijau di lingkungan bertolak dari dua pengertian kunci. di sekitar ekosistem (situ-situ. yang erat kaitannya dengan pelindungan dan penyangga sepanjang jalan (road site). dan pola drainase baik di dalam tanah itu sendiri maupun di atas permukaan. menyebabkan terganggunya habitat dan ekosistem kehidupan satwa liar. baik di pedesaan maupun di perkotaan. Konsepsi ambang batas yang dipraktekan pada hakekatnya menekankan gejala perubahan sebagai penyebab yang ditimbulkannya. sedangkan ruang bagi peren-cana memberikan arti untuk pengalokasian bentuk-bentuk bangunan yang dipaduserasikan sebagai penyangga kehidupan lingkungan hidup perkotaan. Dalam pendekatannya lebih meningkatkan rasio-nalitas strategi pembangunan alternatif dalam perencanaan kota atas dasar evaluasi unsur-unsur perkotaan baik fisik wilayah. Padahal sejak awal sejarah kebudayaan umat manusia yang tercatat. untuk tujuan terciptanya kenyaman lingkungan. pekarangan maupun kebun yang akhirnya dikorbankan untuk dibangun dan dirombak guna memenuhi kepentingan bangunan fasilitas perkotaan.

terlihat ada dua komponen penting yaitu (a) satu rencana institusional yang dirancang bersama-sama dengan masyarakat. Restorasi Ekologi Bantaran Sungai Mencermati atas uraian di atas. 22 tahun 1998. bahwa pengelolaan ideal kawasan sempadan sungai seyogianya dipertahankan selebar 1. Pembangunan kawasan hijau di DKI Jakarta. tentang RTRW tahun 2010. seperti tertuang Renstrada 2002. dimana bantaran sungai di seluruh wilayah DKI Jakarta. untuk itu penanganan bantaran sungai di DKI Jakarta. karena penyelewengan terbesar yang terjadi di seluruh dunia. Konsepsi pendekatan pemulihan peranan fungsi ekosistem bantaran sungai. secara tegas ditekankan sebagai upaya dasar implementasi pemulihan suatu kawasan berdasarkan peranan fungsinya. menjadi salah satu faktor penyebab terganggunya tata air tanah dan terdesaknya habitat beberapa satwa burung di wilayah perkotaan. Pengalokasian setiap bidang tanah dalam penataan ruang wilayah perkotaan didasarkan atas penetapan Perda No. Dengan demikian jelas bahwa pengembalian peranan fungsi atas keberadaan bantaran sungai seperti kondisi sediakala. sedangkan penyangga pantai minimal dipertahankan 100 meter dari tepian pantai kearah daratan. atau melalui proses suksesi hingga dapat pulih secara alamiah. 6 DKI Jakarta tahun 1999. pada hakekatnya telah didukung oleh Kepres 32 tahun 1990 dan Undang-undang No. di kota-kota pantai. sebagai pemacu program pembenahan dan perbaikan lingkungan hidup perkotaan. Pendekatan tersebut meliputi: (a) tanpa tindakan. (b) rencana fisik yang dirancang untuk menunjukkan hubungan fisik yang tepat antara aktivitas lingkungan dan pembangunan untuk mencapai tujuan melalui tindakan konservasi. serta vegetasi pantai yang secara alami merupakan penyeimbangan lingkungan perkotaan. setidaknya ada empat pilihan pendekatan berdasarkan penerapan teknik silvikultur atas dasar pertimbangan kondisi fisik wilayahnya. Hilangnya kawasan penyangga strategis bantaran sungai dan sempadan pantai. Implementasi pena-taan ruang ini pada hakekatnya merupakan langkah awal penanganan. dan pemulihannya diserahkan kepada alam. tentang Penataan Ruang Wilayah. Dalam prosesnya. serta meningkatnya pencemaran udara dari pusat-pusat industri yang dekat dengan pusat kota. (c) rehabilitasi dan Kumpulan Makalah Periode 1987-2008 . Untuk itu. (b) enrichment planting (perkayaan jenis asli yang ada). lembaga-lembaga dan pembiayaan lebih diarahkan terhadap masalah konservasi yang spesifik. adanya pemanfaatan yang berlebihan bahkan menjamah kawasankawasan lindung wilayah perkotaan seperti vegetasi riparian dan vegetasi penyangga situsitu.6 nasional atau rencana pembangunan dibuat dalam satu cara secara sadar guna meminimalkan efek negatif jangka panjang pada tingkat kualitas lingkungannya. Tentunya bagi para perencana fisik menyadari atas masalah-masalah degradasi lingkungan akibat pengembangan wilayah perkotaan. pelaksanaan programnya telah dirancang sebelumnya.5 kali badan sungai yang berada pada kanan dan kiri sungai. merupakan sasaran utamanya.

000 unit bangunan ilegal di bantaran sungai. 5 tahun 1990. baik masyarakat maupun pihak yang berkepentingan lainnya. Uraian Penutup Nampaknya sangat sederhana tidak terlalu rumit untuk merancang. Penilaian hasil-hasil pembangunan kawasan hijau bukan saja dinilai secara fisik. (b) resetlement penduduk. Atas dasar itulah konsepsi pemulihan peranan fungsi bantaran sungai tampaknya perlu mengacu terhadap hasil konvensi dan ratifikasi Biodiversitas seperti tertuang dalam Undang-undang No. Hal ini mengingat bahwa tanpa keiikutsertaan masyarakat program pembangunan kawasan hijau di mana dan kapan saja akan membuahkan hasil yang kurang memenuhi harapan baik bagi pemerintah maupun masyarakat secara luas. Mencermati atas uraian di atas. 1994.. Research and Management Technique for Wildlife and Habitats.7 reklamasi habitat. akan tetapi peranan dan kepedulian masyarakat memiliki proporsi yang tidak kalah pentingnya. hidrologis dan ekologisnya.C and Warner. Hal ini mengingat bahwa jumlah penduduk yang tinggal di kawasan konservasi bantaran sungai DKI Jakarta tercatat >71. yang pada prisipsinya bahwa reboisasi dan penghijauan merupakan bagian dari kegiatan konservasi. T. 1997. Namun demikian tidaklah sederhana dalam implementasinya apabila okupasi penduduk yang tinggal di bantaran sungai tidak diperhitungkan sebagai fenomena pemabatas yang sangat rumit dipecahkan.E.A. Daftar Pustaka Brandy.. Dinas Kehutanan DKI Jakarta.). sebagai dasar acuan dalam penyusunan rancangan model restorasi ekologi bantaran sungai. Dinas Kehutanan DKI Jakarta.000 jiwa. Managing Farmland for Wildlife. dan atau menyusun anggaran pemulihan kawasan bantaran sungai. (c) inventarisasi pula-pulau habitat guna menetapkan tindakan yang hendak dilakukan. dengan penambahan top soil dan inokulasi biota tanah penanaman jenis pioner legum erichment planting. Bethesda. The Wildlife Society. dan (d) pentingnya keterlibatan stake holder. Pemantapan Data Kawasan Lindung Wilayah DKI Jakarta. R. (b) kajian dasar atas peranan fungsi jasa biologis. 134 hal. termasuk kajian potensi baku habitat dan kesesuaian jenisnya. menetapkan unitunit perencanaan yang rasional dan mampu mengakomodasikan pemulihan peranan fungsi jasa ekosistemnya melalui: (a) pemberdayaan habitat vegetasi riparian. langkah awal yang harus ditempuh dalam merumuskan implementasi pengelolaan kawasan konservasi bantaran sungai. Kumpulan Makalah Periode 1987-2008 . Bookhout (Ed. Untuk itu prioritas pemulihan bantaran sungai harus diawali dengan: (a) pengukuhan kawasan sempadan sungai. N. menyusun model. (c) serta mengkaji secara mendalam terhadap nilai kualitas kawasan konservasi. dan > 14. Maryland.

1975. Forest Service General Techical Report NE-22. Urban Ecosystem. Hough. 12 hal _________.K. Wind breaks and Shelterbelts for improved Urban enviroment. W.Tokyo. Manajemen Pengelolaan Daerah Riparian Dalam Pengelolaan DAS. 1992. Wein-heim. New York-Chichester-BrisbaneToronto-Singapore.). A synthetic approach to ecological research. Capability Metropolitan trees to reduce atmospheric contaminants. A synthetic approach to ecological research.R. Restoration Ecology. W.. Dochinger 1976. Kerjasama Bapedalda dan PPST-UI.. ________. Laporan Penelitian Tahun Anggaran 1997/1998. Restoration Ecology.. et all. I. Krugman.New York. Safei. Kumpulan Makalah Periode 1987-2008 . L. Penataan Ruang Dalam Pembangunan Wilayah. 1990. Fakultas Kehu-tanan Institut Pertanian Bogor. Struktur Kota Pantai di Indonesia. H... Kajian Spatial Daerah Kumuh DKI Jakarta. 1998. (Eds. Jordan.S. Landscape Ecology. pp 123-131. 1995. Jakarta (pp-16) Manan. 142 hal. Hutan Kota DKI Jakarta. 1976. Direktorat Tata Guna Tanah Departemen Dalam Negeri. Manajemen Hutan dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS). Pusat Penelitian Sain dan Teknologi-UI. 98 hal (tidak diterbitkan). Aspek dan Urgensinya. London.M. (suatu kajian akademis). Publikasi TGT No...R. Chapman & Hall.8 Forman and Gordon. Publikasi Direktorat Taguna Tanah Departemen Dalam Negeri (Publikasi 437). 1976. Badan Pengendalian Dampak Lingkungan DKI Jakarta. W. (pp-23). pp 114-320. (Eds. (pp 1-29). Wirakusumah. Seminar Pengelolaan Kawasan Lindung Pemda DKI Jakarta. Stanley. J. 1987.. DAS-Ekosistem-Penggunaan Tanah. 1986. Jurusan Geografi FMIPA Universitas Indonesia (pp-9) Smith.. Fakultas Kehu-tanan Institut Pertanian Bogor. (pp 1-29). 1878. John Wiley & Son. Special paper in World Forestry Congress VIII. Sambas. Perencanaan Kota (Penanganan dan Pengendalian Degradasi Lingkungan) dengan Teori Ambang Batas (Terjemahan) LP3S Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (234 hal). 346. Manan. J.. Sandy.. et all. Koziowski. 1992. W and L. Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia. 1997. Jordan. ___________.. Safei. (Tidak diterbitkan). Cambridge University Press. 1978. Cambridge University Press.). 1993. USDA. Manajemen Pengelolaan Kawasan Penyangga Sempadan Sungai dan Pantai.

9 Kumpulan Makalah Periode 1987-2008 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful