Kisah Klan Otori IV Page 1 KISAH KLAN OTORI IV: THE HARSH CRY OF THE HERON By Lian Hearn

Kisah Klan Otori IV Page 2 KISAH KLAN OTORI: THE HARSH CRY OF THE HERON Copyrigth@Lian Hearn Associates Pty Ltd 2006 All rights reserved Hak terjemahan ada pada Penerbit Matahati Diterbitkan oleh Penerbit Matahati Judul asli: TALES OF THE OTORI: The Harsh Cry of the Heron by Lian Hearn Simbol Klan oleh Claire Aher Terjemah Tales of the Heiki adalah dari Helen Craig McCullough, dan diterbitkan oleh Stanford University Press, 1988

Dentang genta Gion Shoja mengumandangkan ketidakabadian segalanya. Warna bunga sala mengungkapkan kebenaran bahwa kemakmuran akan mengalami kemunduran. Keangkuhan tak akan bertahan lama, layaknya mimpi di malam musim semi Kekuasaan pada akhirnya akan jatuh, layaknya debu yang tertiup angin. THE TALE OF THE HEIKI entang genta Gion Shoja mengumandangkan ketidakabadian segalanya. Warna bunga sala mengungkapkan kebenaran bahwa kemakmuran akan mengalami kemunduran. Keangkuhan tak akan bertahan lama, layaknya mimpi di malam musim semi Kekuasaan pada akhirnya akan jatuh, layaknya debu yang tertiup angin. THE TALE OF THE HEIKI Kisah Klan Otori IV Page 3

Kisah Klan Otori IV Page 4 THE HARSH CRY OF THE HERON TOKOH UTAMA : Otori Takco penguasa Tiga Negara Otori Kaede istrinya Shigeko putri sulung mereka, pewaris Maruyama Maya putri Kembar mereka Miki Arai Zenko pemimpin Klan Arai, penguasa Kumomoto Arai Hana istrinya, adik Kaede Sunaomi dan Chikara anak mereka MutoKenji ketua keluarga Muto dan Tribe Muro Shizuka pengganti dan keponakan Kenji, ibu dari Zenko dan Taku Muto Taku mata-mata Takeo Sada anggota Tribe sahabat Maya Mai adik dari Sada Yuki (Yusetyu) putri Kenji, ibu dari Hisao Muto Yasu pedagang Imai Bunta informan Shizuka Tabib Ishida suami Shizuka, tabibnya Takco Sugita Hiroshi pengawal senior Maruyama Miyoshi Kahei panglima perang Takeo,penguasa Yamagata Miyoshi Gemba saudaranya Sonoda Mitsuru penguasa Inuyama Matsuda Shingen Kepala biara Terayama Kubo Makoto (Eiken) penggantinya,sahabat Takeo Minoru jurutulis Takeo Kurado Junpei Kurado Shinsaku pengawal Takeo Terada Fumio pemimpin angkatan laut Lord Kono putra Lord Fujiwara Saga Hideki jenderal Kaisar Don Joao orang asing, pedagang Don Carlo orang asing, pendeta Madaren penerjemah mereka Kikuta Akio ketua keluarga Kikuta Kikuta Hisao anaknya Kikuta Gosaburo paman Akio

KUDDAA :: Tenba kuda hitam pemberian Shigeko untuk Taeko Dua anak Raku, surai dan ekor mereka berwarna abu¬abu Ryume kuda tunggangan Taku Keri kuda tunggangan Hiroshi Ashiege kuda tunggangan Shigeko Kisah Klan Otori IV Page 5

"Cepat kemari! Ayah dan Ibu sedang bertarung!" Otori Takeo mendengar putrinya memanggil adik-adik-nya dari kediaman mereka di kastil Inuyama, dengan cara yang sama ia mendengarkan semua hiruk-pikuk baik di dalam kastil dan juga dari kota di luar kastil. Namun dia mengabaikan suara-suara itu, sama seperti ia mengabaikan nyanyian yang mengalun dari nightingale floor di bawah kakinya. Ia hanya berkonsentrasi pada lawannya: Kaede, istrinya. Mereka bertarung menggunakan tongkat: ia memang lebih tinggi, tapi istrinya terlahir kidal dan mampu menggunakan tangan kanan dengan sama baiknya. Sementara jari tangan kanannya putus karena tebasan belati bertahun-tahun lalu dan harus belajar meng¬gunakan tangan kiri. Saat ini hari terakhir di tahun ini, hawa dingin menusuk, langit pucat kelabu, matahari musim dingin meredup. Mereka sering berlatih dengan cara ini di musim dingin: menghangatkan tubuh dan membuat sendi-sendi tetap lentur, dan Kaede suka putri-putrinya melihat baga imana perem¬puan mampu bertarung layaknya laki-laki. Ketiga putri mereka berlarian: Shigeko, si sulung. yang akan berusia lima belas lahun pada tahun baru ini, kedua adiknya tiga belas tahun. Papan lantai melantunkan nyanyian di bawah langk ah kaki Shigeko, tapi si kembar menjejakkan kaki mereka begitu ringan dengan cara Tribe. Mereka sudah sering berlarian melintasi nightingale floor sejak kecil, dan tanpa menyadari be lajar untuk membuatnya tidak bersuara. Kepala Kaede ditutupi selendang sutra merah yang dililitkan menutupi wajahnya, m aka Takeo hanya bisa melihat matanya. Mata yang penuh dengan energi bertarung, dan gerakan-gerak annya masih cepat serta kuat. Sulit dipercaya Kaede adalah ibu dari tiga anak: dia masih ber gerak dengan kekuatan dan kebebasan seorang gadis. Serangannya membuat Takeo menyadari akan u sia dan kelemahan fisiknya. Hentakan serangan Kaede pada tongkat miliknya mem¬buat tangann ya terasa nyeri. "Aku mengaku kalah," ujar Takeo. "Ibu menang!" seru ketiga putrinya dengan bangga. Shigeko lari menghampiri ibuny a dengan membawa handuk. "Untuk sang pemenang," ujarnya seraya mem¬bungkuk dan menyodorkan handuk dengan dua tangan. "Kita harus bersyukur karena hidup dalam damai," tutur Kaede, seraya tersenyum d an menyeka wajahnya. "Ayah kalian belajar keahlian berdiplomasi dan tak perlu lagi ber¬tarung mempertaruhkan nyawanya!"

"Setidaknya kini aku sudah mendapat peringatan!" sahut Takeo, memberi isyarat pa da salah satu penjaga, yang tengah menyaksikan dari taman untuk mengambil longkatnya. Kisah Klan Otori IV Page 6

"Ijinkan kami bertarung melawan Ayah!" ujar Miki, si bungsu, dengan nada me¬mohon. Dia berjalaIjinkan kami bertarung melawan Ayah!" ujar Miki, si bungsu, dengan n ada me¬mohon. Dia berjalan ke tepian beranda dan mengacungkan kepalan tangan ke arah ayah¬nya. Takeo berhatihati untuk tidak menatap langsung mata atau menyentuh putrinya itu selagi memberikan tongka tnya. Takeo sadar akan rasa enggan dalam dirinya. Bahkan orang dewasa dan prajurit tan gguh sekalipun, takut pada si kembar bahkan, batinnya dengan hati pilu, ibunya sendiri juga takut . "Ayah ingin lihat apa saja yang telah dipelajari Shigeko," sahutnya. "Kalian ber dua boleh menjajal kebolehannya." Selama beberapa tahun putri sulungnya menghabiskan sebagian besar waktu di Teray ama, di bawah pengawasan mantan Kepala Biara, Matsuda Shingen, mantan guru Takeo, untuk mempel ajari Ajaran Houou. Shigeko tiba di Inuyama sehari sebelumnya, untuk merayakan Tahun Baru ber sama keluarganya, juga perayaan me¬masuki usia akil balik. Kini Takeo memer¬hatikan putri nya selagi mengambil tongkat yang tadi digunakannya serta meyakinkan kalau Miki menggunakan tongkat yang lebih ringan. Secara fisik, Shigeko mirip ibunya: bentuk tubuh ramping yang sama serta kerapuhan yang jelas terlihat, namun me¬miliki karakter, berpengetahuan luas berkat latihan dan pengalaman, periang serta tegas dan tidak mudah berubah pendirian. Ajaran Houou amat keras d alam pengajarannya, dan guru-gurunya tidak membuat pengecualian untuk usia dan jenis kelamin, namun ia tetap menerima ajaran dan latihan yang diberikan, hari-hari panjang dalam kes endirian serta kcsunyian, dengan sepenuh hati. Dia ke Terayama atas kemnuannya sendiri, karena Ajaran Houou merupakan ajaran jalan kedamaian, dan sejak kecil Shigeko telah diajarkan ayahny a tentang pandangan untuk mewujudkan wilayah yang damai tempat kekcrasan tak pernah meraja lela. Cara bertarungnya agak berbeda dari cara yang diajarkan kepada Takeo, dan dia sa ngat suka memerhatikan putrinya itu, menikmati bagaimana gerakan-gerakan tradisional menye rang diubah menjadi gerakan beladiri, dengan tujuan melemahkan lawan tanpa menyakiti. "Jangan curang," kata Shigeko pada Miki, karena si kembar memiliki semua kemampu an Tribe bahkan lebih, Takeo curiga. Saat ini, kemampuan mereka ber¬kembang pesat, dan mesk ipun dilarang

menggunakannya dalam kehidupan sehari¬hari, terkadang godaan untuk memper¬mainkan gu ruguru serta mengelabui para pelayan sulit untuk dibendung. "Mengapa aku tidak boleh memperlihatkan apa yang sudah kupelajari?" tanya Miki, karena dia juga baru kembali dari pelatihan di desa Tribe bersama keluarga Muto. Kakaknya Maya aka n kembali ke sana setelah perayaan. Akhir-akhir ini jarang sekali seluruh anggota keluarga bi sa berkumpul bersama: pendidikan yang berbeda bagi tiap anak, tuntutan pada orangtua untuk me m¬beri perhatian yang sama besarnya untuk seluruh Tiga Negara berarti perjalanan tanpa henti sert a sering berjauhan. Tuntutan dalam pemerintahan kian meningkat: perundingan dengan orang asing; penj elajahan dan per¬dagangan; pengembangan persenjataan; pengawasan distrik lokal yang mengatur se ndiri administrasinya; percobaan pertanian; impor perajin asing dan teknologi baru; pe ngadilan untuk mendengarkan keluhan serta ketidakpuasan. Takeo dan Kaede memikul beban ini bers ama. Kaede lebih banyak menangani wilayah Barat, sedang Takeo Negara Tengah dan keduanya be kerja¬sama menangani wilayah timur, tempat adik Kaede, Ai beserta suaminya, Sonoda Mitsuru, memegang bekas wilayah Tohan. Miki setengah kepala lebih pendek dari kakaknya, tapi sangat kuat dan cepat; Shi geko tampak nyaris tak mampu meng¬imbangi gerakannya, tapi adiknya tak mampu menembus pertahanannya. Dala m beberapa saat Miki sudah kehilangan tongkatnya, yang tampak seperti terbang mela yang dari jemarinya, dan sewaktu tongkat itu membumbung tinggi Shigeko menangkapnya dengan mudah. "Kau curang!" Miki terengah-engah. "Lord Gemba yang mengajari," sahut Shigeko dengan bangga. Adik kembarnya yang satu lagi, Maya, mengambil giliran selanjutnya juga kalah de ngan cara yang sama. Shigeko berkata, pipinya bersemu merah, "Ayah, ayo bertarung denganku!" "Baiklah," Takeo setuju karena terkesan dengan apa yang telah dipelajari putriny a dan ingin tahu sampai di mana kemampuannya menghadapi ksatria yang terlatih. Takeo menyerang putrinya dengan cepat, tanpa menahan tenaga, dan serangan pertam a Kisah Klan Otori IV Page 7

mengejutkan gadis itu. Tongkat ayahnya mengenai dadanya; Takco menahan tikamanny a agar tidak menyakiti putrinya. engejutkan gadis itu. Tongkat ayahnya mengenai dadanya; Takco menahan tikamannya agar tidak menyakiti putrinya. Kisah Klan Otori IV Page 8

"Jika ini pedang, nyawamu pasti sudah melayang," ujarnya. Jika ini pedang, nyawa mu pasti sudah melayang," ujarnya. "Lagi," sahut Shigeko dengan tenang, dan kali ini siap bersiap menghadapi serang an yang akan dilancarkan ayahnya; bergerak dengan kecepatan tanpa banyak tenaga, mengelak dar i dua pukulan dan berhasil masuk ke sisi kanan ayahnya tempat tangan yang lebih lemah, menghen tak sedikit, cukup untuk menggoyahkan keseimbangan ayah¬nya, kemudian meliukkan tubuhnya. Tongk at milik Takeo jatuh ke tanah. Didengarnya helaan napas si kembar, dan para penjaga terperangah. "Bagus sekali," ujarnya. "Ayah tidak berusaha sekuat tenaga," sahut Shigeko kecewa. "Tentu saja ayah berusaha sekuat tenaga. Sama kuatnya seperti yang pertama tadi. Tapi, ayah sudah dibuat lelah oleh ibumu, juga karena sudah tua dan tidak sekuat dulu lagi!" "Tidak," pekik Maya. "Shigeko menang!" "Tapi itu sama saja kau curang," timpal Miki dengan serius. "Bagaimana kau melak u¬kannya?" Shigeko tersenyum, menggelengkan kepala. "Itu yang harus kau lakukan dengan pikiran, jiwa serta tangan di saat bersamaan. Butuh waktu berbulan-bulan untuk bisa menguasainya. Aku tidak bisa memperlihat¬kan nya begitu saja pada kalian." "Kau melakukannya dengan sangat baik," ujar Kaede. "Aku bangga." Nada suaranya t erdengar penuh kasih sayang dan kekaguman, seperti biasa hanya tertuju pada putri sulungnya. Si kembar saling benukar pandang. Mereka iri, pikir Takeo. Mereka tahu ibunya tidak memiliki kasih sayang yang sam a kuatnya pada mereka. Dan dirasakan¬nya debaran perasaan ingin melindungi yang tak asing lagi at as kedua putri kembarnya. Sepertinya ia selalu berusaha menjauhkan mereka dari segala yang baha ya sejak mereka lahir, ketika Chiyo ingin menyingkir¬kan bayi kedua, Miki, lalu membiarkann ya mati. Ini tindakan yang biasa lakukan pada anak kembar karena anak kembar dianggap tidak wajar bagi manusia, membuat mereka kelihatan lebih mirip hewan, kucing atau anjing. "Mungkin tampak kejam bagi Anda, Lord Takeo," Chiyo memeringatkannya. "Tapi lebi h baik bertindak sekarang daripada menanggung malu dan sial, sebagai ayah dari anak kembar, rakya

t akan percaya kalau Anda menjadi sasarannya." "Bagaimana mereka bisa berhenti percaya pada takhayul dan kekejaman semacam itu bila bukan kita yang memberi contoh?" sahutnya dengan gusar karena bagi orang yang terlahir di k alangan kaum Hidden, ia sangat menghargai nyawa manusia lebih dari apa pun, dan tak percaya k alau memper¬tahankan nyawa anak akan mendatangkan hinaan atau nasib buruk. Kemudian ia terkejul oleh kekuatan takhayul ini. Kaede pun bukannya tidak ter¬peng aruh, dan sikapnya pada putri kembar¬nya menggambarkan kegelisahannya yang bercabang. Dia le bih memilih mereka tinggal terpisah, satu atau yang lainnya biasanya tinggal bersama Tribe; dan Kaede tak meng¬inginkan kehadiran mereka saat perayaan usia akil balik sang kakak, takut kal au kehadiran mereka akan mendatangkan nasib sial bagi Shigeko. Tapi Shigeko, yang sama protek tifnya terhadap si kembar seperti ayah¬nya, memaksa mereka harus hadir. Takeo senang dengan hal it u, tidak ada yang lebih membahagiakan selain melihat semua anggota keluarga berkumpul bersama , berada dekat dengannya. Dipandanginya mereka semua dengan penuh kasih sayang, dan sadar kalau perasaan itu diambil alih oleh sesuatu yang lebih menggairahkan: hasrat untuk be r¬baring bersama dan merasakan kulit istrinya. Pertarungan tongkat tadi telah membangkit¬kan kenang annya saat pertama kali jatuh cinta pada Kaede, pertama kali mereka bertanding di Tsuwano s ewaktu ia masih berusia tujuh belas tahun sedangkan Kaede lima belas tahun. Adu tanding itu ber¬la ngsung di Inuyama, tepat di tempat yang sama hari ini, untuk pertama kalinya mereka tidur bersama, terdorong hasrat yang timbul dari keputusasaan juga kesedihan. Rumah yang lama, kastil mil ik Iida, nightingale floor yang pertama habis terbakar ketika Inuyama jatuh namun Arai Daiichi memban gunnya kembali dengan cara yang hampir sama, dan kini menjadi salah satu dari Empat Kota yang t ermasyhur di Kisah Klan Otori IV Page 9

juru Tiga Negara.penjuru Tiga Negara. Kisah Klan Otori IV Page 10 .

" ." sahut Kaede. Seperti pemain sandiwara. Acara baru akan selesai pada Waktu Macan*. tapi karena alasan lain." Takeo tahu kalau istrinya tak rela kehilan gan rambut panjangnya yang indah. yang mencoreng kec antikan yang pernah menjadi legenda sekaligus takhayul." "Akan kuminta agar tungku disiapkan di kamar. "Saat ini aku merasa kesakitan. juga orang dewasa sekaligus anak-anak. yang tampak hanyalah makin bertambahnya kerapuhan yang justru di matan ya membuat sang istri semakin terlihat memesona." ujar Kaede. menarik tubuh Kaede agar berdekatan dengannya. lalu membawa sisa bekas jarinya yang putus k e bibirnya." *** Sinar matahari telah memudar saat Kaede mendatangi Takeo. Membuatmu kelihatan seperti laki-lak i sekaligus perempuan." ujar Takeo." "Kau juga harus perlihatkan bekas luka¬mu. aroma kulit padi dan aloe dari air masih melekat di kulitnya. hembusan napas Kaede membentuk kabut putih di te ngah dinginnya udara. "Buruk sekali. "karena perayaan di biara dim ulai tengah malamAnak-anak harus segera beristirahat. "Aku menyukainya." Kaede menarik sarung tangan sutra yang biasa dikenakan Takeo di tangan kanannya. meng¬usapkan tangannya di atas kulit lembut ber¬bulu halus. Aku juga ingin berbaring sebentar. "karena peray aan di biara dimulai tengah malam. "sebentar lagi aku a kan bergabung denganmu. Hanya sisa rasa sakit pukulan seperti apa pun menyakitkan persendian dan membangkitkan rasa sakit¬nya. Takeo melepas sabuk istrinya la lu menyelinakan tangan ke balik pakaiannya. "Jangan. Di balik jubah tebal musim dingin tubuhnya terasa hangat. "Apakah tadi aku menyakitimu?" "Tidak juga. Selesai mandi. Meskipun ada tungku. maupun bekas luka di tengkuk lehernya yang putih." ujar Takeo. tapi tidak nampak olehnya ketidaksempumaan t ubuh istrinya." Takeo bicara lagi dengan suara pelan. lalu ada Jamuan Makan Tahun Baru. dan malam musim dingin mulai menjelang."Anak-anak harus segera beristirahat. Kemud ian dilepasnya syal yang menutupi kepala Kaede lalu menarik.

" "Anak-anaknya! Shigeko masih anak-anak." sahut Takeo. Siapa orang yang bisa kita calonkan dengan¬nya?" "Jangan terburu-buru. Pandang annya menjelajahi setiap sudut kamar. dengan kepala bersandar di bahunya." Kaede berbaring dalam dekapan Takeo. "Dia akan mewarisi Tiga Negara. membawanya memasuki dirinya. Cahaya lampu bersinar dari pegangan best." "Aku pernah mengatakan hal yang sama pada ayahku. "Kau membuat diriku utuh . Kita takkan melepasnya dengan percuma. perhiasan yang nyaris tak ternilai harganya." ujar Kaede. juga anak-anaknya kelak."Rasa sakit semacam itu bisa kusembuh¬kan. "Aku ingin memberimu anak laki¬laki." imbuhnya dengan ringan. tapi sudah cukup dewasa untuk ditunangka n." "Begitu pula dengan Shigeko. seraya menarik tubuh suam inya. "Kuharap tidak!" seru Takeo." Kaede kembali pada pokok pembicaraan sebelumnya seolah hal itu menggerogoti diri nya." bisik Kaede. "Kita sudah punya tiga anak perempuan. "Dua kali hamil nyaris merenggut nyawamu. tapi d i balik daun penutup jendela langit tampak kelam. membuka diri pada Takeo. Shigeko seperti piala. memper¬temukan hasrat mereka . "Mungkin tadi kau sudah memberiku seorang putra." ujar Takeo kemudian." aku Kaede." "Meskipun dengan adanya pewarisanmu sendiri serta contoh dari Lady Maruyama! Kau masih saja bicara layaknya putri dari keluarga ksatria!" Kisah Klan Otori IV Page 11 . "Kau selalu menyembuhkan diriku. tidak mampu menyem bunyikan kerinduan dalam nada suaranya. "Aku percaya kalau diriku bernilai sama dengan laki-laki. Lagipula kita tidak perlu anak laki-laki.

Kaede berkata pelan." "Kau terlalu banyak mendengar takhayul!" "Mungkin kau benar. agar bisa pu nya lebih banyak anak. Semua orang penasaran mengapa kau tidak mengambil istri muda. kalau-kalau terjadi sesuatu pada Shigeko. Dan aku tak akan melanggamya sekarang." sahutnya. Tapi apa yang akan terjadi pada anak kembar kita? Mereka tid ak bisa mewarisi. mengu sapkan tangannya di atas bekas luka leher istrinya. "Kadanegelapan dan ketenangan membawa Kaede menyuarakan kecemasannya lebih jauh lagi. negara kita akan tetap d amai dan kuat. "Namun perasaanku tidaklah penting di bandingkan kepentingan negara. terutama yang ternoda maaf oleh darah Tribe serta kemampuan yang mirip ilmu sihir.Kegelapan dan ketenangan membawa Kaede menyuarakan kecemasannya lebih jauh lagi. " Takeo tak bisa menyangkal bahwa hal yang sama juga mengganggu pikirannya. Aku merasa andai mereka tidak dilahirkan aku akan dikaruniai anak laki-laki. "Perasa an apa pun yang pernah kuperlihat¬kan untuk berpura-pura. atau selir." aku Kaede. Maka siapa yang akan dinikahkan? Tidak satu pun keluarga bangsawan atau ksatria mau menerim a si kembar. aku pernah bersumpah pada Kannon di Ohama." "Kurasa aku bisa mati cemburu." "Aku hanya menginginkan satu istri. merasakan tulang rusuk yang mengera s dari jaringan yang tertinggal bekas luka bakar." "Aku percaya kita dipersatukan dalam cinta yang merupakan landasan pemerin¬tahan k ita yang baik. Aku tidak melanggar sumpah it u selama enam belas tahun. namun ia berusaha menyingkirkannya. Perna h kukatakan padamu. "Kau ingat saat kita berpisah di Terayama? Kau . Putri kembarnya masih amat muda: siapa yang tahu apa yang disi apkan nasib untuk mereka? Setelah beberapa saat." sahut Takeo dengan sungguh-sungguh. Aku tak akan merusak¬nya. "Kadang aku berpikir si kembar menutup rahimku. Takeo merengkuh Kaede lebih dekat lagi. cinta ku padamu sederhana dan sejatj adanya aku takkan bercinta dengan siapa pun selain kau." Setengah mengantuk Kaede berkata. semoga Surga tidak mem¬biarkan itu terja di. peran apa pun yang kumainkan. "Tapi mungkin kita memang sudah terl alu tua. "Selama kita bersatu.

Akan kukatakan mengapa aku tidak menginginkan anak laki-laki. satu¬satunya tempat yang terpikir ol ehku hanya¬lah kembali ke gua suci. Setelah itu. pikir Takeo. dan aku tak bisa hidup tanpa dirimu. seringkali terpenuhi. Akan kukatakan padanya tentang Yuki. Lalu kau datang: aku melihatm u. kembali pada sang dewi. saat dia mati. Aku terpaksa belajar bagaimana harus menunggu." "Kau pernah bilang.. Terasa hangat di bawah selimut. "Cintamu adalah anugerah terin dah dalam hidupku. yang kini berusia enam belas tahun.. Dan kita sudah melihatnya terpenuhi: Lima Peperangan.. tangan indahmu hancur. karena si peramal buta itu mengatakan hanya putraku yang bisa me mbawa kematian padaku. hidupku di¬bimbing oleh ra malan. Aku tak pernah melupakan saat itu. Kau tahu. tangan¬mu di atas leherku. Aku tidak pernah menceritakan ini padamu. meskipun udara di wajahnya terasa dingin menusuk." "Aku tak layak mendapatkan cintamu. Aku be rmimpi tentang Dewi Putih: dia berbicara padaku.. dan anak yang dilahirkannya. Kemudia n satu kali lagi di Gua Suci kudengar suaranya mengatakan hal yang sama. mungkin aku akan terus tinggal di sana melayani sang dewi sepanjang sisa hidupku. tidak melakukan apa-apa. salju turun. Untuk apa mengorek-ngorek masa lalu? Lima pertempuran telah menjadi bagian dari mitologi Otori. Bila suatu ramalan dipercaya. putrak u. Bila kau tidak datang." bisik Takeo. ka rena dengan begitu justru meng-hidupkan ramalan itu. Namun ia tak ingin menyakiti istrinya. walaupun Takeo sadar hahwa ia yang mem ilih bagaimana menghitung semua pertempuran itu: bisa saja jumlah mencapai enam. katanya: dia akan menjemputmu. Maka ia takkan mengeluarkan ramalan yang satu itu dalam kata-kata. racun masih ber¬sarang di tubuhmu. begitu kurus. Kata-kata bisa diubah dan dimanipulasi agar terkesan sarat makna. mandi serta ber¬pakaian resmi dan Kisah Klan Otori IV Page 12 . Itu satu-satunya hal yang m embuatku bertahan selama dikurung di kediaman Lord Fujiwara. Dilihatnya Kaede hampir tertidur. Di sana aku belajar bersabar . campur tangan Surga " Akan kuceritakan sisanya sekarang. Bersabarlah. jeritan pilu sang bangau. empat atau tig a. Tak lama lagi ia sudah harus bangun. agar ia tidak punya a lasan untuk mencabut nyawaku..menatap mataku lalu aku jatuh tertidur.

.

dan akhirnya ia pun tertidur. Malam ini akan jad i malam yang panjang.* enyiapkan diri untuk upacara menyambut datangnya Tahun Baru. Tubuhnya mulai terasa rileks. Malam ini akan jadi malam yang panjang.menyiapkan diri untuk upacara menyambut datangnya Tahun Baru. dan akhirnya ia pun tertidur. Tubuhnya mulai terasa rileks.* Kisah Klan Otori IV Page 13 .

tapi ditolaknya. seraya mengatakan Kisah Klan Otori IV Page 16 . seraya mengatakan akeo ingin memberi Taku warisan dengan cara yang sama.Takeo ingin memberi Taku warisan dengan cara yang sama. tapi ditolakny a.

Mereka menolak bicara. Dia menerima pernikahan politis dengan gadis Tohan yang disukainya dan te lah memberi¬nya seorang putra dan seorang putri. hwa dia tak ingin memiliki wilayah kekuasaan dan kehormatan. dulunya adalah pengawal Arai. "Tidak. Ai. dalam mengendalikan jaringan mata-mata yang telah Take o bangun melalui Tribe. kau tahu kalau Kikuta bunuh diri dengan menggigit lidah mereka sendiri! T entu saja. Tapi apakah peraturan itu juga berlaku bahkan untuk Kikuta?" "Peraturan itu berlaku bagi semua orang. Sosok dan wajah Taku menurun dari keluarga Muto sedangkan Arai mewarisi keberanian dan kegagahannya. dia dan Ai diberikan wilayah Inuyama. Dia lebih memilih bekerja dengan paman dari ibunya." "Tentu saja tidak. Sosok dan wajah Taku menurun dari keluarga Muto sedangkan Arai mewarisi keberanian dan kegagahannya. "Di mana bisa kau menemukan Si Gosaburo ini?" "Kukira di pegunungan di luar perbatasan wilayah timur." tutur Taku. dan Takeo m elihat si gadis sedikit memicingkan mata. yang justru disu kainya." "Mereka berasal dari mana?" selidik Sonoda Mitsuru. yang menikah dengan adik Kae de. Kenji. Akita. aku belum berusaha sebegitu kerasnya untuk membujuk mereka. Sebagai imbalannya. Akan kita lihat seberapa kuat keinginan ayah m ereka agar anak¬anaknya bisa kembali. dan meskipun keluarganya. Kenji. . serta pada dasarnya menganggap hidup itu menyenang¬kan dan pengalama n yang mengasyikkan. Dia lebih memilih b ekerja dengan paman dari ibunya. Orang cenderung meremehkannya. Aku hanya terkejut mereka masih hidup. dalam mengendalikan jaringan mata-mata yang telah Take o bangun melalui Tribe. serta pada dasarnya menganggap hidup itu menyenang¬kan dan pengalama n yang mengasyikkan." "Aku tidak harus mengingatkanmu kalau kekerasan dilarang di Tiga Negara." sahut Takeo ringan. Untuk saa t ini mereka tidak boleh diperlaku-kan dengan kasar.bahwa dia tak ingin memiliki wilayah kekuasaan dan kehormatan. Orang cenderung meremehkannya. ia diyakinkan untuk b ersumpah setia pada Otori dalam perdamaian besar-besaran setelah gempa. Taku tersenyum saat menjawab. Dia menerima pernikahan politis dengan gadis Tohan yang disukainya dan te lah memberi¬nya seorang putra dan seorang putri. yang justru disu kainya. "Mereka bersalah a tas percobaan pembunuhan dan akan dieksekusi atas kesalahan itu pada akhirnya nanti.

"Pamanmu berada di kota." "Kurasa sakenya juga ikut membantu. Dan Ishida pun hampir tidak mengikuti sarannya sendiri. kalau kita akan dud uk di sini saling mem-bandingkan penyakit?" "Bersyukurlah kita berdua masih hidup sampai saat ini!" timpal Takeo. melihatmu mencoba membunuhku tujuh belas tahun yang lalu di rumah ini. Sementara itu. tetap rahasiakan identitas me reka dan jangan biarkan mereka berhubungan dengan orang lain selain kau. "Ishida juga memintaku mengurangi minum sake. lalu mengapa kita harus mengikuti anjurannya?" "Kita adalah dua orang laki-laki tua. Ia melihat ke sekeliling rumah yang dibangun begitu kuat dengan langit-langit tinggi.Sonoda berkata. Menurutnya udara d i sana lebih mudah dihirup. pilar kayu cedar dan bera nda serta penutup . tertawa. karena salju pertama akan turun dalam minggu ini. seraya mengisi cang kir Takeo dan memberikan botol sake kepada¬nya.. "Maka untuk sementara waktu tidak mungkin mengadakan perundingan . mengatakan k alau alkohol buruk bagi paru paru." ujar Muto Kenji. tapi ke sehatannya sedang tidak baik. Bahkan mungkin membua tnya semakin ingin menyelamatkan mereka." Takeo menuang sake yang bening serta keras ke cangkir gurunya yang sudah tua itu . tapi.." *** "Hanya ini kesenangan yang tersisa untuk¬ku. kan?" "Ya. paman akan bergabung dengan kita di kuil untuk perayaan Tahun Baru." "Besok aku akan memanggilnya. "Tidak a da salahnya membuat batin Gosaburo menderita memikirkan nasib anaknya. sake membuatku tetap ber¬semangat dan memban tuku agar bisa tidur. "Siapa yang bisa me ngira. "Ishida memintaku mengurangi minum." Didekatinya Taku." sahut Kenji. dan udara malam yang dingin menimbulkan kejang otot yang memb uatnya batukbatuk." akunya saat mereka berdua menenggak habis minu mannya. "Tapi bagiku sake meredakan rasa sakitku." "Musim semi nanti kita akan kirim surat pada ayah mereka. "Paman menyukai aroma pabrik pembuatan sake." sahut Takeo. Apakah dia berada di rumah lama?" Taku mengangguk.

Kisah Klan Otori IV Page 17 .

Dengan bantuan Kenji. namun sejak kematian putrinya." kata Kenji. Hanya saja waktuku belum tiba. "Rasanya aku akan menyesal meninggal¬kan semua ini. Taku. Mengabdi¬kan hidupnya pada Takeo dan bersumpah untuk melayaninya. berkat kau. Kenji semakin terasing¬kan dari istrinya . Lord Otoriku tercinta. cerdik tanpa perasaan senti¬mentil. Tapi kau kau tahu orang bilang kalau kau tak bisa mati!" Takeo tertawa. bisa digambarkan sebagai memenuhi keinginan Surga. ahli mata-mata. Kematian menantiku sama halnya seperti semua orang. Rumah ini penuh kenangan. Dan kini bertahun-tahun dalam kedamaian. dan Takeo berkuasa dari ujung laut ke ujung laut lainny a. Kenji adalah utusan dan juru runding yang baik. yan g dikaguminya. Takeo berbagi banyak rahasia dengan Kenji. Aku sangsi masih bisa menyaksi kan Tahun Baru. yang dulu pernah menjadi gurunya di H agi. kemudian mengisi lagi wadah mereka masingmasing. Kenji tidak punya h asrat lain di luar kegemarannya yang abadi pada sake dan perempuan dari rumah bordil setempat. per¬mintaan ak an produk buatan kami membuat kami sangat kaya raya. Gempa bumi yang menyengsarakan mengakhiri pertempuran terakhir serta menyapu habis pasukan Arai Daiichi." Kenji adalah salah satu dari sedikit orang yang tahu isi ramalan tentang Takeo. Shizuka. dan membuat Takeo sangat mengandalkannya." D inaikkan cangkirnya ke arah Takeo. Kenji orang yang pintar. Semua sisa ramalannya telah menjadi kenyataan. membuat ramalan yang terakhir ini semakin bisa di percaya. Dan sejauh ini. ter¬masuk bagian yang dirahasiakannya: bahwa ia aman dari kematian kecuali di tangan putranya sen diri. "Ruanga n ini amat jauh lebih nyaman ketimbang lemari terkutuk tempat aku dikurung!" Kenji tertawa lagi. kekayaan maupun status. mereka berdua minum lagi. dan rasa hormat pada putra Shizuk a. "Itu hanya karena kau bertingkah bak hewan liar! Keluarga Mu to selalu menyukai kemewahan. sampai tahap ini: lima pertempuran telah mem bawa kedamai¬an di Tiga Negara. Tampak tidak peduli pada harta benda. memiliki kasih sayang istimewa atas Lady Otori. Rumah ini penuh kenangan. Takeo berhasil menembus kastil di Hagi dan membalaskan dendam ata s kematian Shigeru. tak seorang p un bisa membunuh Takeo. amat menyayangi keponakannya sendiri.jendela dari kayu cemara cypress. "Tidak ada manusia yang tidak bisa mati. "Ruangan ini amat ja uh lebih nyamaendela dari kayu cemara cypress.

dan tak memiliki baik ikatan cinta maupun kebenci an dengan orang lain. menentukan besarnya pajak se rta mempertahankan pelatihan dan perlengkapan pasukan. Kenj ilah yang tahu keberadaan kelompok rahasia masyarakat kuno yang tidak diketahui Takeo Kesetiaan p ada Burung Bangau. Makin kuatnya usaha Takeo membasmi korupsi membawa hasil. pembukuan dan ekonomi. mereka memegang jabatan terten tu. sejarah serta bahasa dan kesusastraan klasik. dikirim ke sekolah-sekolah besar di Hagi. mengendalikan kekuatan prajurit perseorangan dan kelompok bandit yang tak mengenal hukum. korupsi dan suap makin Kisah Klan Otori IV Page 18 .. diberi status dan penghasilan yang cukup: mereka bertanggung jawab langsung kepada tetua dari setiap klan. Kenji bek erja dengan kesabaran dan cerdik terhadap tujuan Takeo: menarik semua sumber daya dan perang kat kekerasan ke tangan pemerintahan. dan membunuh serta me nerima suap di-ancam hukuman mati. Jalan Sempit Ular petani dan penduduk desa menggabung kan diri dalam kelompok masyarakat ini selama masa-masa anarkis. Aturan yang terakhir terbukti paling sulit dilaksana kan. yang meninggal beberapa tahun lalu. dan terkadang juga anak perempuan. Saat kembali ke daerah asal. Yam agata dan Inuyama untuk mempelajari etika pelayanan. para pemimpin klan ini bert emu Takeo dan Kaede secara teratur untuk membahas soal kebijakan. Pengadilan diatur oleh klas ksatria. Semenjak kematian Arai dan para lord Otori enam belas tahun yang lalu. Setiap daerah harus menyediak an sejumlah orang icrbaik untuk pasukan pusat: separuh tentara. Tribe mendapat cara untuk menghindar. anak laki-laki mereka dengan pola pikir yan g tidak terlalu militer. tapi mereka tidak bertransaksi dalam jumlah besar atau me mamerkan kekayaan. tanggung jawab yang sama juga dipikul pemimpin klan. Kenji menangani semua administrasi dengan trampil. Seiko. mengatakan kalau cara ini mir ip hirarki Tribe hanya saja ada per¬bedaan yang mendasar: kekerasan dilarang. Amarah Macan Putih. dan sepa-ruh lagi petugas ke amanan yang bertugas menangani bandit dan penjahat lainnya. Kelompok ini kini dimanf aatkan dan terus dibangun agar masyarakatnya bisa mengatur masalah mereka sendiri di tingkat desa dan memilih sendiri pemimpinnya untuk mewakili mereka dan mengajukan tuntutan atas ketidakpu asan atau keluhan mereka di pengadilan tingkat propinsi.

.

berkurang. Lalu bentuk praktik yang lain berjalan: praktik tukar menukar hadiah dalam bentuk rkurang. Lalu bentuk praktik yang lain berjalan: praktik tukar menu kar hadiah dalam bentuk Kisah Klan Otori IV Page 19 .

Ajaran ini hanya dapat diikuti segelintir laki-laki dan perempuan dengan ke kuatan fisik dan mental yang hebat. bukan hanya mereka yang berasal dari Delapan Pulau t api juga dari negeri¬negeri di daratan utama. Menemukan dan memurnikan kema mpuan seperti inilah yang menjadi inti Ajaran Houou. tapi hanya terjadi sediki t peristiwa dan musuh utama mereka adalah rasa jenuh. bukan hanya mereka yang berasal dari Delapan Pulau t api juga dari negeri¬negeri di daratan utama. yang lainnya mengikuti lomba yang dibuat Takeo un tuk keahlian berpedang dan memanah. Setelah gempa mengakhiri perang di Tiga Negara. mengambil nama burung suci yang b ersarang jauh di . di mana nilainya tersembunyi. di mana nilainya tersembunyi. penggunaan sosok kedua tapi sebagian besar manu sia memiliki kemampu¬an seperti ini namun belum terasah. N amun Takeo dan Kenji menyadari bahwa ksatria terlahir untuk bertarung: masalahnya. bagaimana menyibukkan mereka? eindahan dan selera. Hal ini menyebabkan datang¬nya para perajin dan seniman ke Tiga Negara. Semua pertikaian karena hubungan darah yang menen tang Takeo maupun per¬cekcokan antara mereka sendiri dinyatakan berakhir. Terjadi pemandangan yang meng¬harukan saat para ksatria saling berdamai setelah puluhan tahun bermusuhan.keindahan dan selera. N amun Takeo dan Kenji menyadari bahwa ksatria terlahir untuk bertarung: masalahnya. Silla. bagaimana menyibukkan mereka? Beberapa prajurit menjaga perbatasan di wilayah Timur. Ajaran Houou bermarkas di Biara Terayama yang dipimpin kepala biara Matsuda Shin gen dan Kubo Makoto. para ketua dari keluarga dan klan yang masih hidup bertemu di Inuyama da n menerima Otori Takeo sebagai pemimpin mereka. mereka a kan bertarung melawan siapa? Dan jika mereka tidak bertarung. Semua pertikaian karena hubungan darah yang menen tang Takeo maupun per¬cekcokan antara mereka sendiri dinyatakan berakhir. Silla. beberapa yang lainnya men¬dampingi Terada Fumio da n tabib Ishida dalam perjalanan penjelajahan mereka. Terjadi pemandangan yang meng¬harukan saat para ksatria saling berdamai setelah puluhan tahun bermusuhan. melindungi kapal dagang di laut dan toko serta gudang mereka di pelabuhan yang jauh. Ajaran Houou. Shin dan Tenjiku. kemampuan menghilang. Keahlian Tribe adalah bakat dari lahir pendengaran dan peng¬l ihatan yang sangat kuat. Hal ini menyebabkan datang¬nya para perajin dan seniman ke Tiga Negara. Setelah gempa mengakhiri perang di Tiga Negara. Shin dan Tenjiku. mereka a kan bertarung melawan siapa? Dan jika mereka tidak bertarung. para ketua dari keluarga dan klan yang masih hidup bertemu di Inuyama da n menerima Otori Takeo sebagai pemimpin mereka. sedang yang lainnya dipilih untuk mengikuti jalan utama d ari pertarungan: penguasaan diri.

Berapa b anyak? Dia tak bisa menghitungnya lagi. "Serangan yang terakhir ini membuatku ja uh lebih waspada karena ditujukan pada keluargaku. mangkuk atau bahkan langsung ke orang yang tidur dengan mulut menganga. Kebenciannya padamu hanya akan berakhir dengan kematianny a atau kematianmu. Ia sudah tua." "Kupikir juga begitu.dalam hutan-hutan di sekitar Terayama. Jika istri atau anakku mati. Tak ada penyesalan atas mereka yang telah dikirimny a ke alam baka cepat atau lambat manusia juga akan mati. Takeo angkat bicara lagi." "Kurasa itulah tujuan Kikuta. "Kapan mereka akan berhenri?" "Akio takkan berhenri. Takeo berhasil menjinakkan baik Tribe maupun para ksatria: hanya Kikuta yang mas ih bertahan menentangnya. bukan diriku. baik nyamuk atau pun manusia. Mungkin kita bisa memberinya sedik it tekanan. Dia telah mengabdikan hidupnya demi tujuannya itu. lebih serius. menyisipkan racun ke dala m cangkir. Ia minum lagi. Kenji meng¬anggap itu aturan yang gila karena dia sering menikam jantung orang. bahkan demi membela diri. Kita akan biarkan dua anaknya yang tersisa tetap hidup hin . dan nasib dua lainnya ada di tanganmu. Kikuta bukan hanya berusaha membunuhnya tapi juga bersekutu dengan ksatria yang kurang puas." sahut Kenji ringan. Dia tak kebal dengan kedamaian da n kekuatan spiritual Terayama. "Tapi Gosaburo seorang pedagang dan pragmatis: dia akan ketakutan setengah mati bila kehilangan anak¬anaknya satu putran ya telah tewas. Akhir-akhir ini kesenangan terbesarnya yaitu menemani Takeo di sana dan menghabiskan waktu bersama Matsuda dan Makoto. kesehatan dan kekuat an¬nya makin memburuk: selama berbulan bulan paru-parunya terasa makin lemah dan seringkali m untah darah. dan Tiga Negara. Sumpah pertama yang dilakukan para ksatria yang terpilih ini yaitu tidak mem¬bunuh . Dia melihat bahwa larangan membunuh te rnyata jauh lebih berat daripada keputusan untuk membunuh. membunuh dengan garotte. Disadarinya kalau akhir hidupnya sudah dekat. melakukan pembunuhan secara acak dengan harapan menggoyahkan kestab ilan masyarakat. menyebarkan desas-desus. itu akan menghancurkan diriku." Wajah Kenji beru bah tenang dan bibimya berkerut menggambarkan kegetiran.

gga musim semi." gerutu Kenji. Takeo menaikkan pandangannya ke arah Kenji melalui pinggiran cangkir." "Mungkin sementara ini kita juga bisa mengorek keterangan yang berguna dari kedu anya. kemudian melihat apakah ayah mereka siap untuk berunding. Kisah Klan Otori IV Page 20 .

bisa dilakukannya agar orang tertidur yaitu rasa bosan karena dia jarang bicara. Andai dia buka mulut. isa dilakukannya agar orang tertidur yaitu rasa bosan kar ena dia jarang bicara. Kisah Klan Otori IV Page 22 . Andai dia buka mulut.

serta melenyapkan semua perasaan. Sejak kecil Hisao sudah menyadari kekecewaan ayahnya pada dirinya. kematian Kotaro yang disayangi. sering ai puas Akio karena sebagian dendamnya terlaksana. serta kematian pesumo t angguh. atau ada yang menceritakannya? Ia ingat ibunya lebih jelas dari y ang seharusnya usianya baru beberapa hari saat ibunya meninggal dan menyadari adanya hubungan dir . icaranya pelan. Anak-anak Kikuta tidur dengan kaki mengarah ke Barat. dan kematian Kotaro yang membuat Ak io begitu penuh dendam dan hidup dalam kebencian. Akio sangat keras p ada putra tunggalnya itu dan tak pernah menunjukkan pengertian maupun kasih sayang. "Belum. Hajime. Kotaro. Tapi Akio adalah Ketua keluarga. penderitaan dan kenikmatan keji yang dirasakan Ak io menjadi awal mula tenggelamnya dia dalam kekejaman. dingin dan rasa sakit yang luar biasa. keluarga ter¬besar dalam Tribe. tersendat¬sendat. haus. Keputusasaan dan kemarahan ibunya. tapi tak lama lagi. panas. jerit dan tangis ibunya. tersendat¬sendat. Muto Yuki. Dapat dilihatnya kejadian itu dengan jelas. yang mati di Hagi oleh Otori Takeo dan Muto Kenji. Perlak uan Akio yang kejam. Keluarga Kikuta dikejar-kejar sehingga mereka keluar dari Tiga Negara untuk pindah ke Utara. men inggalkan usaha mereka yang meng¬hasilkan banyak uang. melatih mereka de ngan kepatuhan mutlak. bahkan mengejutkan kerabatnya sendiri." Konon kabarnya kematian istrinya. Akio adalah Ketua Kikuta. Akio bisa bertindak sesuka hati. Dia selalu menyalahkan Ot ori Takeo atas terpecah-belahnya Tribe.bicaranya pelan. Karena Tribe membesarkan anak mereka dengan cara sangat keras. Hisao merasakan ini seiring ia tumbuh dewasa. penolakan ibunya saat dipaksa menelan pil racun. dan saling menyapa dengan kalimat. bertahan me¬nahan lapar. tapi lupa bagaimana ia tahu itu. tak seorang pun bisa meng-kritiknya. A pakah ia memimpikannya. Para tetua mengatakan kalau Yuki meninggal kar ena demam setelah melahir-kan. tapi tampaknya Hisao sudah tahu yang sebenarnya: ibunya mat i diracun. "Apakah Otori sudah mati?" dan dibalas dengan. seolah menyaksikan dengan mata bayinya yan g masih belum fokus. p enerus pamannya. kesedihan karena harus meninggalkan pu tranya. tanpa ada tanda-tanda kecerdasan atau kreati vitas. serta banyak kematian lainnya. Akio tumbuh menjadi laki-laki sinis dan susah ditebak. Dan sebagai Pimpinan. tanpa ada tanda-tanda kecerdasan atau kreativit as. yang menguasai berbagai kemampuan serta bakat yang kini mulai lenyap. simpati maupun welas asih.

Antara kemara han si hantu dan rasa enggan dalam dirinya. kepala¬nya terasa seperti terbelah karena rasa saki t.inya dengan sang ibu. Ketika alam baka membuka jalan dan mengajaknya masuk. dan menyukai hewan. Meskipun Hisao suka membuat kerajinan tangan. Ia membangun kincir air dan orang-orangan dari bambu untuk menakuti rusa. Anugerah semacam i ni semestinya diasah dan pemiliknya akan ditakuti serta dihormati. Hal-hal buruk yang terjadi di antara mereka berdua yang setengah menakutkan. Itu sebabnya dia mengetahui kemarahan ibunya dan sakit hati ayahnya. Kemampuan mengarungi dua dunia. Roh kucing itu juga sesekali seperti menjerat Hisao dari dunianya. namun ia merah asiakannya. karena hanya saat itulah ada orang yang memeluk nya atau kelihaian membutuhkan dirinya. Ia hanya tahu kalau hantu itu adalah ibunya yang mati dibunuh. seolah pengetahuan itu sudah ada dalam darahnya. Hisao tidak pernah menceritakannya sehingga tak seorang pun tahu satu bakat Trib e yang telah hilang selama beberapa generasi ternyata ada pada dirinya. tapi Hisao tak t ahu cara mengatur bakatnya ini. tapi ia takut men¬dengarkan karena itu berarti ia membuka diri memasuki alam baka. apa yang dilihatnya di alam baka tampak berkabut dan sulit dimenge rti: ia tidak mengetahui simbol dan bahasa untuk berkomunikasi dengan arwah. men¬jadi penghubung antara arwah dengan orang yang masih hidup. Ia dapat membuat ukiran kayu berbentuk hewan yang begitu hidup h ingga tampak Kisah Klan Otori IV Page 23 . dan lolongan yang memusingkan terdengar makin keras hingga ia tak percaya kalau oran g lain tak mendengarnya. Sekali dia terlihat meng¬elus seekor kucing. Satu-satunya cara meredakan rasa sak it dan suara-suara si kucing serta si hantu perempuan adalah membuat benda-benda dengan tangannya. dan itu mem buat ia benci sekaligus iba pada Akio. dan satu sisi matanya menjadi gelap. setengah diharapkan. Seringkali ia merasakan kalau ibunya meng¬inginkan sesuatu darinya. kepalanya lu ar biasa sakit. yang kemudian ia lihat hewan malang i tu digorok ayahnya di hadapannya.

pisau serta ber¬bagai peralatan. Ia menyukai semua aspek penempaan: me m¬buat besi dan baja. Kisah Klan Otori IV Page 24 . pedang. pisau serta ber¬bagai peralatan.seperti hewan yang disihir menjadi patung. pedang. Ia menyukai semua aspek penempaan: mem¬b uat besi dan baja. eperti hewan yang disihir menjadi patung.

si pemilik harus membayar dengan nyawanya. Setiap tahun ada saja pemuda yang ingin menjadi pahlawan. Ada yang beranggapan senjata itu meng¬hilangkan semua kemampuan dan ke¬nikmatan dala m membunuh. atau mencari sendiri. senjata-senjata mereka dirampas dan mereka hanya boleh berdagang di pelabuhan Hofu. jarum. bila terkena air maka senjata itu tak berguna. Senja ta ini pernah sekali digunakan orang barbar. dan ia membayangkan senjata api yan g kecil dan ringan. jarum. tapi dia .Keluarga Kikuta ahli membuat senjata. Tapi berbaga i laporan tentang pembunuhan yang memakan banyak korban jiwa terbukti sama efektifnya deng an senjata itu sendiri: semua musuh Otori. Senjata yang digunakan Otori begitu dirahasiakan cara buatnya hingga membuat orang iri. atau orang tua yang in gin mati terhormat yang pergi hendak mem¬bunuh Otori Takeo untuk membalaskan kematian Kikuta Kotaro d an anggota Tribe lainnya. Hisao mendengar aya hnya dan seorang laki-laki yang lebih tua membahas benda ini. Sejak itu semua orang barbar digeledah ketika dat ang. berat serta tidak praktis: kurang prakris menurut cara pembunuhan yang dibanggakan Kikuta. sementara yang lainnya b eranggapan kalau ingin menyingkirkan Otori. berusaha mendapatkan senjata itu de ngan cara mencuri. Mereka disidang di depan umum yang disebut sebagai pengadilan Ot ori. berkhianat. Mereka tak pernah kembali: kabar tentang tertangkapnya mereka dat ang beberapa bulan kemudian. Namun usaha mereka untuk mendapatkan senjata api selalu gagal. belati kecil dan sebagainya tapi mereka tak tahu cara membuat senjata yang disebut senja ta api. mereka harus me¬nyeimbangkan kekuatan dengan memiliki s enjata yang sama. belateluarga Kikuta ahli membuat senjata. Ada kalanya Otori Takeo dilaporkan ter¬luka sehingga harapan mereka membumbung tin ggi. Senjata-senjata milik Otori bentuknya panjang. terutama sen-jata rahasia Tri be pisau lempar. Keluarga Kikuta terpecah untuk memiliki senjata itu. Senjata-senjata itu tak bisa disembunyikan d an digunakan dengan cepat. dan dieksekusi. yang bisa di-sembunyikan di balik pakaian dan tak ber¬suara. termasuk Kikuta. Otori membatasi p enggunaan senjata ini hanya untuk sekelompok kecil orang: setiap pucuk senjata api yang ad a di negara ini dihitung. terutama sen-jata rahasia Tribe pisau lempar . senjata yang bahkan t ak mampu dilawan Otori Takeo. Jika ada yang hilang. kalau cara tradisional lebih bisa diandalkan.

putra sulung Gosaburo. Kuroda dan Kudo. terluka dan dipuk uli sampai mati oleh kerumunan orang. diantaranya adalah Muto Shizuka serta kedua putranya. memimpin jaringan mata-mata dan melindungi Otori. Selama malam-malam di musim dingin yang panjang. Mendengar desas¬desus kalau Otori tak bisa mati membuat kebencian serta kegeriran Akio semak in ber¬tambah. Belakangan sepupu Akio. Suatu sore Hisao bekerja seorang diri di sepetak pegunungan. bahkan dari racun. ya ng kurang berbakat. jauh di kedalaman ia telah me¬mikirkan cara mengali musim dingin membuat ember dan ta diperkuat dengan batang tanaman Hisao tengah berkonsentrasi penuh pada pekerjaannya. mempunyai b anyak kemampuan. ri sawah dengan me¬manfaatkan kincir air.selalu sembuh. Apa yang terjadi setelah itu tidak jelas. kecil sawah. Taku seperti ibu dan paman buyutnya. menyerangnya melalui istri atau anak-anaknya. Akio mulai bersekutu dengan musuh Takeo lainnya. Ritual pemakaman mulai diatur dalam kedukaan y ang mendalam karena tak ada jenazah yang bisa dibakar dan tak ada abu jenazah. sementara Zenko. Kisah Klan Otori IV Page 25 . Sejak keluarga Tribe melakukan pe rkawinan campuran. banyak pengkhianat yang memiliki darah Kikuta. diutus bersama saudari perempuan mer eka ke Inuyama tempat keluarga Otori merayakan Tahun Baru. Tapi cara ini juga terbukti gagal. bersekutu dengan Otori melalui pernikahan: mereka bersaudara ipar. Taku dan Zenko. lapi ternyata para perempuan yang menjadi sasaran berhasil mempertahan¬kan diri dengan kekejaman yang tak terduga: salah satu penyerang. Tak ada yang tahu apakah mereka masih hidup atau sudah mati. Kikuta menduga mereka sudah mati. Karena hingga musim semi tiba masih belum ada kabar tentang kedua orang y ang ditawan. Ia tengok kanan-kiri. Ia menghabiskan li: embernya dibuat dari bambu yang paling ringan dan talinya rambat yang cukup kaku untuk bisa mengangkat ember kincir. Sedang yang lainnya berhasil ditangkap dan dibawa ke kastil Inu yama. seperti pulihnya dia dari belati beracun milik Kotaro. tiba-tiba katak terdiam. Kehilangan tiga anggota muda yang ada hubungan erat dengan sang Ketua merupa¬kan p ukulan berat. Mereka berbaur dalam kerumun an di biara dan mencoba menikam Lady Otori dan putri-putrinya. dua putra Gosaburo. Keluarga Muto yang sudah bersumpah setia pada Otori telah menggandeng keluarga Tribe lainnya: Imai.

ak ada orang. tapi ia tahu ada orang yang menggunakan kemampuan menghilang Tr ibe. tapi ia tahu ada orang yang menggunakan kemampuan menghilang Trib e. Kisah Klan Otori IV Page 26 .Tak ada orang.

"Aku takkan menyakitimu. Tangan Hisao segera bergerak ke arah pisaunya karena yakin ia bel um mengenal orang itu. Hisao merasaka n jari-jari yang tak terlihat memiting pergelangan tangannya dan ototnya langsung terasa lumpuh saat telapak tangannya terbuka dan pisaunya terjatuh. Aku mendengarkan mereka." Hisao menyerap semua keterangan ini. segera menyadari kalau orang mi dikenal ibunya. dan ibuku bemama Muto Yuki. dia berseru. dan menyebut namanya dengan cara yang membuat Hisao percaya padanya. Orang itu kembali menampakkan diri dalam jarak serentangan tangan dari wajah His ao. "Kau bisa melihatku?" sahut laki-laki itu. kan?" "Hanya dari katak. kebencian Kikuta pada orang ini hampir sama besarnya seperti kebenc ian pada Otori . "Siapa di sana?" gira itu hanya salah satu anak yang datang membawa pesan. Sorot matanya tajam dan kelihatan penuh selidik. putra Akio?" "Ya. "Sudah kuduga. Kalau begitu." "Tapi tadi kau mendengarku mendekat.Mengira itu hanya salah satu anak yang datang membawa pesan." Ekspresi wajah orang itu agak berubah. Tapi aku tak bisa mendengar dari jau h. Aku tidak tahu orang yang bias melakukannya di kalangan Kikuta saat ini. dirasakan kebahagiaan dan pendcritaan ibunya dan pertanda pertama dari sakit kepalanya serta kemampuan melihat separuh dari dua dunia yang ber¬beda. Aku tak memiliki kemampuan me nghilang. "Siapa kau?" bisiknya. Sakit kepalanya kian menjadi-jadi: Muto Ken ji adalah pengkhianat. maupun mengenalinya. kemudian mengalih¬kan pandangannya ke seberang lembah. dan dunia ibunya menyelubungi ambang batas dunianya." Ia heran telah bersik ap biasa dan bebas pada orang yang belum dikenalnya. Sosok laki-laki itu bergoyang-goyang selagi meng¬hilang. "Kau tidak memiliki satu pun kemampuan Tribe?" tuturnya. "Siapa di sana?" Tiba-tiba muncul seorang laki-laki dengan usia tak bisa diperkirakan dan berpena mpilan biasa berdiri di hadapannya. dan dirasakan reaksi penyesalan serta ras a iba ibunya. "Tidak. aku kakek¬mu: Muto Kenji." ujar orang itu. "Kau bcrnama Kikuta Hisao. dia berseru . Hisao mengangguk.

" Aku lebih suka membuat benda-benda. apalagi pada mereka yang tak berbakat." Pandangannya turun menatap ke konstruksi yang tengah dikerjakannya. "Ada yang aku sampaikan padanya." Betapa anehnya. Jelas sekali Hisao punya beberapa kemampuan: benda itu dibuat dengan kreatif dan dengan keahlian tinggi. tapi kau bilang kalau kau kakek¬ku. Aku sudah biasa. Kenji menatap bocah di hadapannya dengan tatapan iba. pikir orang tua itu. Mirip siapa dia? Tidak mirip Kikut a. menghindari para penjaga di gerbang. "Bukan apa apa. lagipula ak u tidak ahli membunuh. Mengapa kau kemar i? Kau akan dibunuh. baik dar i ayah maupun dan ibunya. bergerak tak terlih at dan tak terdengar melewati hutan? dan juga Akio harus tahu kalau ia datang sebagai utusan Takeo. namun kehadiran ibunya terasa membebani dirinya dan bisa dirasakan ibunya memanggil. tahu betapa kerasnya masa kanak-kanak di Tribe. mirip rambut Takeo. gerakan matanya yang cepat menun¬jukkan kalau dia bisa melihat hal lain.Takeo. agak lebih pendek dari Kenji sendin tapi kuat. Sadar kalau akhirnya ia akan dikenali juga s iapa lagi yang bisa sampai sejauh ini. Seharusnya aku mem¬bunuhmu. Dan ada sesuatu yang lain pada dirinya. Apa yang bisa dilihatnya? Pemuda ini berbadan sehat." Ia tidak bersusah payah menyembunyikan sosoknya selagi mengikuti bocah itu menur uni jalan setapak dari atas gunung menuju desa. berkulit gelap dan berwajah lebar. "Mari kita temui Akio. Rasa kecewa dan lega menyapu dirinya." ajak Kenji. Kisah Klan Otori IV Page 27 . maupun Otori. Dia pasti mirip ibunya Takeo. Dia tidak punya kemampuan apa pun. Muto. Kadang-kadang kepalaku sakit. dengan kulit mulus tanpa cacat dan rambut tebal serta mengkilap. "Ayah!" "Apa itu?" tanya Kenji.

pikir kenji dengan sedikit bersyukur. Rumah itu jauh lebih nyaman dan mewah ketimbang rumah-rumah di sekelilingnya. dan cahaya matahari jatuh di sel a-sela hijaunya dedaunan. enam belas tahun lalu d an butuh waktu lima tahun untuk menemukannya. Kenji m en¬dengar bisik-bisik dan tahu kalau ia telah dikenali. Pematang sawah berw arna cerah dengan bunga liar. Tubuhnya terasa lebih panas dari yang s emestinya. Ketika sampai di bangunan yang paling besar. atapnya terbuat dari rusuk atap yang tipis. buttercup. yang bisa dilihat dari kejauhan. Mereka membangun desa di utara ini sebagai markas. maka tak ada hari yang lebih indah daripada hari ini. Pada kunjungan yang pertama ia sempat terkejut melihat ada l ebih dari dua ratus orang di desa itu. Suasana terasa dipenuhi musik musim semi. Tempat ini sama seperti kebanyakan desa Tribe: tersembunyi di dalam lembah seperti lipatan kecil dalam barisan pegunungan. vicia. Tubuhnya terasa lebih panas dari yang s emestinya. dan mendapatkan laporan tentang Hisao dari Taku. dan meskipun beberapa anjing melompat-lompat penuh semangat ke arahnya. Hisao tidak berbicara pada siapa pun saat mereka berjalan di antara rumah kayu b eratap rendah. Kenji belum tahu tempat istimewa ini sebelum Hisao lahir. katak serta jangkrik. erjalanan itu membuat napasnya terasa sesak. Sejak saat itu. orang ber¬kumpul di belakang mereka. terasa ada darah di tenggorokannya. de ngan beranda dari kayu runjung serta pilar kokoh dari kayu cedar. dan merasakan dengan li dahnya kapsul beracun yang terselip rapi di bekas rongga gigi gerahamnya yang sudah tanggal. sesekali ia mengunjungi tempat in i tanpa diketahui penghuninya. Tapi kemudian ia tahu kalau keluarga Kikuta mundur ke t empat ini sejak dikejar Takeo. dan saat berhenti sebentar di tepi sawah yang penuh air. keponakan buyutnya . Pematang sawah berw arna cerah dengan bunga liar. buttercup. Seperti kuilnya. Langit berubah keemasan saat mentari mulai tenggelam di ufuk barat. walaupun tidak di luar jangkauan mata¬matanya. jauh dari jang kauan Takeo. Suasana terasa dipenuhi musik musim semi. nyanyian burung. Langit berubah keemasan saat mentari mulai tenggelam di ufuk barat. dengan lekukan luwes yang sama indah . nyanyian burung. dan saat berhenti sebentar di tepi sawah yang penuh air. terasa ada darah di tenggorokannya. dan bunga krisan. dan bunga krisan. dia tak berh enti. dan cahaya matahari jatuh di sel a-sela hijaunya dedaunan.Perjalanan itu membuat napasnya terasa sesak. katak serta jangkrik. vicia. Bila hari ini memang ditakdirkan menjadihari terakhir hidupku.

ia seperti mendengar tarikan napas tiba-tiba. Mereka duduk di ujung lain ruangan seraya meng¬amati. sudah bertahun-tahun m engincar dirinya.. adik Kotaro. namun terdengar olehnya anak itu sedang bicara dengan pelan di belakang r umah. "Letakkan senjatamu. Kenji pun diam saja. Aroma minyak wijen merebak dari arah dapur dan didengarnya desis makanan di penggoreng an. tapi siapa yang bisa menyelamatkan orang dari takdir? Semua pikiran ini melintas di benaknya saat duduk di lantai berlapis karpet samb il menunggu Akio. Perempuan muda yang sama datang membawa semangkuk teh. Ruangan itu remang¬remang: ia nyaris tidak bisa melihat gulungan yang tergantung d i dinding sebelah kanan¬nya. Lalu terdengar langkah kaki. "Aku datang dengan membawa misi yang dam ai. Mereka berusaha menyembunyikan keter¬kejutan dengan kemunculannya. ta pi tanpa rasa riang. Sedang ya ng satunya lagi pasti Imai Kazuo. keluarga dari pihak istrinya. yang satu bertubuh gempal dengan raut waja h halus yang dikenal Kenji sebagai Gosaburo. seolah semua orang yang berkumpul di luar menarik napas di saat bersamaan." "Aku tak membawa senjata. Ia ingin sekali meninggalkan raganya la lu pindah ke alam baka. seorang perempuan muda muncul. . pintu banian dalam bergeser terbuka dan Kikuta Akio mela ngkah masuk. yang menurut kabar telah menentang keluarga Imai untuk tinggal bersama Kikuta. Hisao su dah pergi. Sedang dua laki-laki lainnya tersenyum.nya seperti kediaman para ksatria." Gosaburo tertawa sinis tidak percaya. kehidupan yang lain. Dia diikuti dua laki-laki yang lebih tua. Andai ia bisa men yelamatkan bocah itu. Betapa lemah tubuh¬nya saat ini! Teringat dengan rasa penyesalan kalau semua kemam puan yang ia miliki kini hanya menjadi bayang-bayang. Kerumunan orang di belakang Kenji terdiam." sahut Kenji. kehidupan apa pun yang ada di sana. membawa air untuk membasuh kaki sang tamu. Hisao naik ke beranda dan berse ru ke dalam rumah. Dadanya terasa nyeri seperti ditusuk-tusuk dan rasanya tak ta han ingin batuk. pedagang dari Matsue. Tak seorang pun membungkuk normal maupun memberi s alam. Akhirnya Akio angkat bicara. Seraya melepaskan sandal. "Ayah! Kita kedatangan tamu!" Selang beberapa saat. setahunya. paman Akio. Saat melangkah masuk ke dalam r umah.. Semua orang ini.

"Benar. "Kazuo yang akan menggeled ah¬mu. "Maaf. seperti serigala di musim dingin. Ketua."gumamny a." ujar Akio." Kazuo mendekati Kenji dengan hati-hati dan agak malu-malu. Kenji membiarkan orang itu meraba pakaiannya dengan jari-jarinya yang panjang dan ceka tan. Kisah Klan Otori IV Page 28 .

"Dia berkata jujur. Dia tidak membawa senjata." Dia berkata jujur." Kisah Klan Otori IV Page 29 . Dia tidak mem bawa senjata.

Tapi yang lainnya masih hidup. Ka mi tak ingin mendengar pesan apa pun darinya!" "Aku khawatir salah satu putramu sudah mati." sahut Kenji cep at." Kenji bicara pada Gosaburo. "Dia sedang memohon pada kita. "Putriku? Dia tidak terluka?" "Tidak. Aku akan bicara dengan Muto berdua saja." tutur Kenji tenang."Mengapa kau kemari?" sera Akio. Kunio. Dia dikenal dengan nama Otori si Anjing. dia baik-baik saja." Gosaburo mencondongkan badan lalu bertanya pada Kenji. air matamulai berlinang." Gosaburo menelan ludah. "Rupa¬nya kau sudah bosan hidup!" Mengapa kau kem ari?" sera Akio. ." sahut Akio. "Putra sulungmu. "Aku datang membawa pesan dari Lord Otori." "Satu lagi kebohongan dari Si Anjing." kata Gosaburo d engan nada memohon." Tapi putriku sudah mati enam belas tahun lalu. Tampak ada kerutan¬kerutan di wajah Akio." "Anak-anak itu akan tetap hidup jika kau setuju untuk berdamai. Anak-anakmu akan diadili dengan tuduhan percobaan pembunuhan. "Kami tidak memanggilnya Lord Otori. sebelum Gosaburo berdiri."Kita tak mau be randing dengan Si Anjing. "Rupa¬nya kau sudah bosan hidup!" Kenji menatap tajam. "Dengan mengutus pembawa pesan itu telah menunjukkan kelemahan. paman. "Dia tidak disiksa?" "Kau harus tahu kalau penyiksaan kini dilarang. "Biarkan dia bicara. Tapi badannya tampak sekuat baja. rambutnya pun mulai memutih. "Akio!" Gosaburo memohon. dan bisa dihukum mati. tapi mereka tidak disiksa." ejek Akio. termasuk putrimu. Selama bertahun¬tahun ia bermimpi berhadapan dengan orang yan g telah menikahi dan terlibat dalam kematian putrinya. Kesed ihan membuatmu lemah. "Tinggalkan kami. Kau tentu pernah m endengar bahwa Lord Otori memiliki sifat welas asih. temyata usia tak mampu melunakkan maupun melembutkan sikapnya." katanya pada Akio. Setidaknya kita dengar dulu apa yang aka n Muto sampai¬kan.

Kita selalu bekerjasama dengan para bangsawan yang hebat: jangan¬lah kita menentan g Otori. "Tua bangka bodoh itu tidak berguna la gi! Dia sudah mis kin. bukan berdasarkan kebencian dan amarah pribadimu." Nada suaranya seakan mengandung sihir yang membuat ruangan senyap dan semua oran g yang berada di luar bungkam. keluar¬ga Kikuta akan d imaafkan: Tribe akan ber¬satu lagi. Ada apa dengan kalian. Biarkan Otori membunuh anak-anak itu. sesuai cara Tribe menyel esai¬kan masalah. "Dasar penyihir tua bangka. tak ada yang mati k elaparan dan tak ada penyiksaan. karena ini akan men ghancurkan mereka dan dirimu. baik petani a taupun ksatria. seraya mendorong tubuh orang tua it u ke pintu."Tinggalkan kami!" Akio juga berdiri. Tadi kau mengatakan S i Anjing melakukan hal baik! Rakyat gembira! Apa untungnya semua ini bagi Tribe? Kau suda h lemah seperti Gosaburo. Saat ia berhenti bicara. dan yang kini dia lakukan hanyalah meratap dan menyesali nasibnya. dan aku akan menghabisi ayahnya: kita akan menyingkirkan orang le mah." "Akio. menyuruhnya agar cepat keluar dari ruangan itu. "Kita bicara sebagai sesama Ketua. "Sejujurnya. Kenji tahu kalau Hisao sudah kembali dan sedang berlutut tepat di balik pintu. pada Kisah Klan Otori IV Page 30 . Menguntungkan bagi kita semua. rakyat bahagia. Dirasakannya ketenangan menyapu semua orang. Masyarakat yang dibentuknya berjalan lancar. bagaimana kita bisa berta han sejak dulu kala. Kau tak bisa menjebakku dengan kebohonganmu. gusar. orang¬orang tua? Apakah Tribe membusuk dari dalam ? Andai Kotaro masih hidup! Tapi Si Anjing membunuhnya dia membunuh pemimpin keluarganya s endiri. Sebagai imbalannya. Mari kita ingat lagi sejarah Tribe. Apa yang dilaku¬kannya di Tiga Negara baik adanya: disetujui masyarakat." katanya saat kembali duduk. dikumpulkan tenaga lalu membiarkan gelombang ten aganya mengalir memenuhi ruangan itu. Dengar dulu apa yang akan kusampaikan. Hentikan permusuhanmu." Akio me¬mecahkan kesunyian dengan teriakan penuh amar ah. "Tua bangka licik. Setelah itu baru kau putuskan apa yang te rbaik bagi Kikuta dan Tribe." tutur Kenji. mereka duduk dengan mata setengah terpejam.

Kau saksin ya: kau men¬dengar sumpah si Anjing saat di Inuyama. Kau saksiny a: kau men¬dengar sumpah si Anjing saat di Inuyama. Dia melanggar sumpah itu jadi dia sud ah Kisah Klan Otori IV Page 31 . Dia melanggar sumpah itu jadi dia sud ah iapa dia harus menyerahkan hidupnya atas kejahatan yang dia lakukan.siapa dia harus menyerahkan hidupnya atas kejahatan yang dia lakukan.

Tapi dia malah mem¬bunuh Kotaro.sepantasnya mati. dan yang pasti. Begitu sampai di tempat terbuka dan di luar jangkauan tatapan Akio. Jika tetap tak mau berdamai. Kenji berkata. "Pengkhianatanmu pada Tribe harus dihuk um. "Kau tahu di mana bisa menemukan kami bi la kau berubah pikiran. maka menyerahlah: kau t akkan berhasil membunuhnya. Hisao." "Aku telah melindungi keluargaku dan Tribe. Aku bisa meyakinkanmu akan hal itu. "Tapi dia takkan mati di tanganmu. Dia harus mati!" "Aku takkan berdebat tentang mana tindakannya yang salah dan yang benar. seraya membalikkan badan." sahut Kenji. apalagi di . Ketua dari keluarganya dengan ep antasnya mati. Ijinkan dia menemaniku sampai ke gerbang." Kenji begitu berwibawa sehingga Akio membiarkannya berdiri lalu berjalan keluar ruangan. Akan kusampaikan pesanmu yan g patut disesalkan pada Lord Otori. ia bisa saja menghilang lalu melenyapkan diri ke pedesaan. Tapi ia senang Gosaburo dan yang lainnya ju ga mendengar. Dia tidak bisa dimaaf¬kan." Baiklah." "Semua orang pasti mati. Pasti sulit men¬jalani hidup d i sini. hidupnya dijalani l ebih baik sebagai Otori ketimbang sebagai Kikuta. Ketua dari keluarganya dengan bantuannmu. Kumohon kau hentik an perlawananmu agar Kikuta bisa kembali ke Tiga Negara Gosaburo bisa menjalankan lagi bisnisnya! dan menikmati hidup selayaknya. ternyata aku masih hidup lebih lama. desa itu kelihatan menyedihkan. Tapi dia malah mem¬bunuh Kotaro." Kenji bicara ke belakang dalam bayang-bayang. "In i putramu? Kurasa dia tidak memiliki kemampuan Tribe. Tapi semua itu telah berlalu. pikimya saat melangkah keluar dari beranda dan kerumunan memberi jalan padanya." Akio menatapnya dengan memicingkan mata." ujar Kenji. Aku kemar i sebagai utusan. "Dia melakukan apa yang harus dilakukan saat itu. Selain rumah utama." sahut Akio. dan aku akan kembali dengan cara yang sama. Tapi adakah pel uang ia membawa bocah itu? Penolakan Akio tidak mengejutkannya. Kau yang menghancurkannya. Mari. Sewaktu lewat Hisao masih berlutut di luar. "Betapa pun kau menginginkannya.

Kenji menyadari ada kehadiran lain yang mengambil tempat setengah tubuh dan pikiran bocah itu. la terus berjalan dengan tenang. lalu terjatuh. "Kepalamu saki t?" "Mmm. dan sesekali menaikkan tangan-nya memegangi pelipis kirinya dengan ujung jari.. apalagi jika itu berarti sandera akan dibiarkan hidup. Saat Hisao muncul dari belakang dan berjalan di sampingnya. "Hisao. Hanya tinggal lima puluh langkah lagi. "Aku ingin kau ikut denganku ke Inuyama. Hisao menangkap lengannya dan berteriak. seperti halnya Gosaburo.musim dingin. diikuti oleh Kazuo: ke duanya sudah menarik belati. tapi ketika sosok tubuhnya menghila ng. dirasakan oleh Kenji. lebih karena ketakutan ketimbang rasa hormat.. temui aku. Dahi¬nya berkerut. lalu berlari di pematang ke hutan bambu. Kenji tidak berani berbalik." Dia mengangguk tanpa bicara. ada kemungkinan anggota lain Kikuta me¬nentang ke putusannya.. tapi ia yaki n tak ada yang mengikutinya. Mereka sudah separuh jalan. Bila berhasil sampai di tepi sawah. Kenji melihat kerumunan orang masih memerhatikan. lalu meng¬hilang." katanya. Kepatuhan mereka pada Akio. "Bawa aku! Mereka takkan membiarkanku pergi! Tapi dia ingin ikut denganmu!" Mungkin karena Kenji sedang dalam keadaan menghilang dan berada di antara dua du nia. Kau mau?" "Aku tak bisa pergi dari sini! Aku tak bisa meninggalkan ayahku!" Lalu ia berser u kesakitan. Saat berbalik untuk memberi Hisao semangat. Akio. Tiba-tiba ada yang menyeruak dari sela-sela mereka. "Hisao. mungkin Kisah Klan Otori IV Page 32 . tapi Hisao be rjalan terseok-seok di belakangnya. Temui aku di temp at tadi kita bertemu." bisik Kenji. Kebanyakan penghuninya pasti mendamba¬kan. tanpa tergesa-gesa. hidup nyaman di Matsue dan Inuyama.

.

... Kisah Klan Otori IV Page 33 .. tapi saat itu Kenji melihat apa y ang Hisao lihat..juga karena perasaan Hisao yang meledak-ledak.. uga karena perasaan Hisao yang meledak-ledak. tapi saat itu Kenji melihat apa yang Hisao lihat.

Inuyama. Kisah Klan Otori IV Page 35 . Meskipun diperlakukan dengan baik. namun tetap saja mereka adalah tawan an. namun tetap saja mereka adalah ta wanan. nuyama. Meskipun diperlakukan dengan baik.

Selama berkuasa. kegembiraan serta kebahagiaan mereka. Takeo melihat kegelisahan istrinya pada si kembar semak in bertambah. Ia memikirkan kemungkinan Shizuka mengajak salah satu dari mereka. ke desa ter¬sembunyi Muto. dan Kenji berangkat melaksanakan misinya. Namun ket ika hingga bulan keempat muncul dan masih belum ada kabar. sedikit pengemis serta tidak ada bandit. mungkin Maya. dengan enggan ia pergi ke Hofu. Sebenarnya kaisar berkuasa atas Delapan Pulau. Ia mem beri instruksi agar Taku mengirimkan semua pesan kepadanya di sana. dengan enggan ia pergi ke Hofu. berbagai daerah mengurus masalah mereka sendiri: Tiga Negara dilanda konflik akibat para bangsawan berebu t wilayah dan kekuasaan. berharap mendapat kabar dari Kenji di bulan ini. Selama perjalanan ia memerhatikan tanda-t anda negeri yang damai: anak-anak yang sehat.Setelah salju mencair. Takeo tidak akan melupakan kata-kata Otori Shigeru kepadanya: Karena Kaisar yang begitu lemah seh ingga bangsawan seperti Iida bisa merajalela. namun dalam pelaksanaannya. ia sering melakukan per¬jalanan. Didampingi para p engawal. desa yang makmur. yang d ikenal sebagai Jun dan Shin serta jurutulisnya. Namun ket ika hingga bulan keempat muncul dan masih belum ada kabar. Hasil dari semua itu terlihat saat ia ber¬kuda ke wilayah Barat. etelah salju mencair. dan Kenji berangkat melaksanakan misinya. membagi hari-hari dalam setahun dari satu kota ke kota lainnya di Tiga Negara. Tujuannya untuk membuat negara ini sangat aman hingga gadis belia pun bisa memeg ang kekuasaan. Kadang ia melakukan perjalanan dengan semua keme gahan yang diharapkan dari seorang penguasa besar. Kagemura selama beberapa minggu. mungkin Maya. ke desa ter¬sembunyi Muto. berharap mendapat kabar dari Kenji di bulan ini. Takeo melihat kegelisahan istrinya pada si kembar semak in bertambah. Takeo pun menunda waktu untuk meninggalkan Inuyama. dua pengawal terpercaya dari Tribe saudara sepupu Kuroda: Junpei dan Shinsaku. Kaede serta putr i¬putrinya pergi ke Hagi bersama Shizuka. Kaede serta put ri¬putrinya pergi ke Hagi bersama Shizuka. Ia mem beri instruksi agar Taku mengirimkan semua pesan kepadanya di sana. ia bangga dan puas bahwa Tiga Negara telah s esuai dengan . Takeo pun menunda waktu untuk meninggalkan Inuyama. dan ketika tiba di Hofu. Ia memikirkan kemungkinan Shizuka mengajak salah satu dari mereka. kadang ia menyamar untuk dapat berbaur d engan rakyat biasa dan mengetahui pendapat. Kini ia dan Kaede telah membawa kedamaian dan memper¬tahankannya dengan penuh perhatian pada seluruh wilayah dan berbagai aspek ke¬hidupan rakyatnya. Kagemura selama beberapa minggu.

Beberapa dari masalah ini sebenarnya dapat d isampaikan pada petugas setempat. Hal ini membuatnya mempertanyakan keadilan dari administrasi sete mpat. sebelum kecantikannya tercoreng. kayu. tapi terkadang ada keluhan atas para petugas itu sehingga haki m-hakim yang adil harus didatangkan. Sepanjang tahun yang sulit setelah kelahiran si kembar. tapi juga segera mem¬berinya ti ga putra. Hana selalu mencari kesempatan untuk menggoda dirinya agar menjadikannya istri kedua atau se lir. Bahkan dua petani mengeluh kalau putra mereka dipaksa menjadi prajurit. Aku harus bicara padanya. Istrinya. Hana menjadi lebih dari sekadar godaan yang bisa diakui Takeo. saat empat belas t ahun. lebih dari yang Takeo harap¬kan. utusan bermunculan di gerbang kastil atau kediaman ia tinggal: ingin mengadakan pertemuan. Musim semi ini. Tapi Takeo memaksa: mereka menikah ketika Zenko berusia delapan belas tahun dan Hana enam belas tahun. Ia tidak suka maupun p ercaya pada Hana. ataupun curiga kalau di sana nanti kepercayaan dirinya akan goyah dan kekuasaannya terancam. Zenko tengah menghimpun kekuatan dan senjata. belerang d an nitrat. pikirnya. keesokan harinya Arai Ze nko yang telah diberi bekas wilayah ayahnya di bagian Barat dan juga Hofu datang dari Kuma moto dengan alasan hendak menyambut Lord Otori. adik bungsu Kaede. Hana bukan hanya cantik. Takeo mengatur untuk mengirim kurir ke Kumamoto. Tampaknya begitu ia tiba di kota mana pun di Tiga Negara. meminta bantuan. ikut bersamanya. dan seorang ped agang memberi informasi bahwa para prajurit menyita sejumlah besar batu bara. membutuhk an keputusan yang hanya bisa diputuskan olehnya. Hana sangat mirip dengan kakak sulungnya. di Hofu. Ia tidak menduga apa yang menantinya di kota pelabuhan itu. semuanya sehat. Penolakan mantap Takeo untuk menganggap serius tawaran nya telah melukai dan mem-permalukan Hana: keinginan Takeo untuk menikahkannya dengan Zenk o justru mem¬buat Hana kian gusar. Bahkan Hana pernah menawarkan diri ketika kesehatan Kaede memburuk. bahkan bila diperhatikan l ebih lama lagi kelihatan lebih cantik di¬bandingkan Kaede saat masih muda.tujuannya itu. Takeo tahu niat ini karena adik iparnya lupa kalau ia memiliki pendengaran yang . Namun. dengan paras yang sama persis seperti Kaede muda. Shirakawa Hana. Dia pun bertekad untuk mengambil alih kedudukan mereka. Zenko sangat senang: persekutuan itu meru pakan kehormatan besar baginya. ada tiga mau empat kasus semacam ini . Rasa tergila-gilanya pada Takeo segera digantikan rasa dendam pa danya dan iri pada kakaknya.

sangat peka. Pendengarannya memang tidak setajam saat masih tujuh belas tahun. tapi masih cuk up baik untuk menguping per-cakapan rahasia. menyadari segala sesuatu yang ada di sekelilingny a. kegiatan mereka yang ada di pos jaga dan istal. di mana posisi tiap orang di kastil. siapa meng unjungi siapa di Kisah Klan Otori IV Page 36 .

alam hari dan untuk tujuan apa. Ia juga dapat membaca niat orang itu dari cara b er¬diri hingga gerakan tubuh. Ia juga dapat membaca niat orang itu dari cara ber¬diri hingga gerakan tubuh. Kisah Klan Otori IV Page 37 .malam hari dan untuk tujuan apa.

" katanya. di usia dua puluh delapan tahun. dengan rambut me njuntai ke lantai. Taku: dua puluh enam tahun. Ia menyadari bila semu a ini dijadikan satu maka bisa menimbulkan sakit hati yang mendalam pada pemuda itu. Sambutan dan pertanyaa n mereka mengenai kesehatan diri juga keluarganya terasa berlebihan. sedikit tersibak hingga menampakkan tengkuknya yang putih sempurna. ada satu atau dua hal yang perlu kita bicarakan. seperti yang sering dia lakukan sebelum suaminya sempat bicara." Hana angkat bicara. ahli menggunakan panah dan pedang. tapi Lord Takeo harus tinggal lebih lama. tapi sebenarnya dia seumur d engan adik Zenko. terlepas dari kenyataan bahwa dia adalah ibu dari tiga orang anak: orang akan mengira usianya tak lebih dari delapan belas tahun. "Tidak ada kebutuhan. Hana bergerak dengan luwes. dan bisa berubah menjadi kebencian. Ia menjawab dengan s ikap yang sama sopannya." "Aku pernah melakukan perjalanan dalam cuaca yang lebih buruk. "Kami senang bisa menghabiskan waktu bersama kakak ipar. "Anda harus tinggal di sini sampai musim hujan s elesai. memutus kan untuk menanggapi basa-basi ini. orang ketiga di Tiga Negar a yang mati dengan cara begitu." kata Zenko. untuk meningkatkan jum . aat ini ia mengamati Hana yang sedang membungkuk di hadapannya.Saat ini ia mengamati Hana yang sedang membungkuk di hadapannya." sahut Takeo samb il tersenyum. dengan rambut m enjuntai ke lantai. Kedua orang ini tidak menunjukkan tanda-tanda kedengkian. terlepas dari kenyataan bahwa dia adalah ibu dari tiga orang anak: orang akan mengira usianya tak lebih dari delapan belas tahun. "Baiklah. tampak sangat mirip dengan ayahnya be rtubuh besar. Hana bergerak dengan luwes. sedikit tersibak hingga menampakkan tengkuknya yang putih sempurna. Anda tidak bisa bepergian dalam keadaan cuaca seperti ini. tapi sebenarnya dia seumur d engan adik Zenko. "Aku hanya akan berada di Hofu selama satu atau dua hari." "Oh. pastinya. Suaminya. "Kalian tidak perlu repot-repot datang. gagah perkasa. Pada usia dua belas tahun dia menyaksikan ayahnya mati ditembak dengan senjata api. menutupi kenyataan kalau ia merasa lebih kesakitan ketimbang biasanya karena udara yang lembap. Dua orang lainnya adalah para bandit. Taku: dua puluh enam tahun. bertenaga besar." sahut Takeo.

Kedua pemuda itu tidak saling menyukai sejak pertama kali mereka bertemu bertahun-tahun silam semasa perang saudara. mengejutkan mere ka. ya. kelak kita bicarakan masalah ini dengannya. adalah teman dekat. Tampaknya ini kese mpatan emas untuk memberi mereka pelatihan dan senjata. dan aku ingin tahu lebih banyak tentang kekuatan apa yang sedang kau himpun.lah pasukan. Hiroshi dan Taku." aku Zenko." "Klan Seishuu kini tunduk pada Maruyama. Mereka pasti tahu. benar lima ribu orang. Keuangan wilayah bisa dijalankan dengan baik. Catatan k ami menunjukkan mereka semua diper¬senjatai. pedang. Kami tidak siap. Takeo tahu Hiroshi memendam has rat untuk menikahi Hana." "Berapa banyak orang yang kau kumpul¬kan? Paling banyak lima ribu orang. "Baiklah." "Kita menghadapi ancaman dari kaum barbar. tak banyak hal yang bisa luput dari perhatian nya di seluruh Tiga Negara. walaupun Hiroshi tidak pernah mengatakannya. Tapi ada banyak o rang yang tidak terlatih dengan usia cukup untuk bertempur di wilayah Seishuu lainnya. Nanti kita semua akan bertemu di Maruyama pada bulan kesepuluh dan meng¬kaji ulang kebutuhan pasukan di wilayah Barat. Kedua kakak beradik yang semakin dingin. "Wilayah Barat terbuka lebar bagi mereka: Klan Snshuu belum pernah menghadapi serangan dari laut. adik Zenko . Bila senjata mereka hilang atau rusak." tutur Zenko. Takeo tersenyum lagi. "Aku belum sempat bicara dengan Sugita. ma ka mereka harus menggantinya dengan biaya sendiri. " Kisah Klan Otori IV Page 38 . "Tombak." sahut Takeo dengan nada ringan. bahkan jika mereka kembali ke sawahnya unt uk panen. jauh lebih dekat ketimbang." tutur Zenko. "Bagai mana pendapat Sugita Hiroshi tentang rencanamu?" Hiroshi dan Zenko tidak menyukai satu sama lain." Keterusterangannya yang keluar tepat setelah sopan-santun tadi. dan kecewa ketika perempuan idamannya itu menikah dengan Arai Zen ko." "Dari Kumamoto dan distrik selatan. panah dan sebagain ya. "Kebutuhan senjata selalu ada.

ingin tahu apakah mungkin menghapusk an keinginan balas dendam Zenko. maka sekarang mereka harus berurusan dengan kita melalui diplomasi. "Aku be rani katakan kalau Terada Fumio mem¬buat pernyataan serupa tentang keunggulan kita di kepulauan wilayah Barat dan pelabuhan di Tenjiku dan Shin." "Semua ini. seperti yang kau katakan." sahut Takeo." Takeo mengamati. Lalu mereka melemahkan dari dalam dengan agama mereka. Lima puluh ribu kuda. "Di sana kaum barbar juga menggunakan perdagangan sebagai alasan untuk menjejakkan kaki. "Akan k ita tingkatkan pengawasan terhadap orang-orang asing itu. hanyalah bualan. Mereka akan mengubah kita semua menjadi budak mereka." sahutnya. Namun kala itu Zenko hanyalah bocah kecil. Orang¬orang asing itu sebagian besar terkurung d i Hofu. Pert ahanan terbaik kita melawan mereka adalah berdagang dengan damai." sahut Takeo."Tujuan orang-orang asing itu sebenarnya hanyalah berdagang. Seandainya mereka bergabung di wilayah Barat. Mereka mestinya jera deng an serangan di Mijima. Zenko tampak terkesan dengan senjata dan kapal mereka.. ia bisa terhi ndar dari banyak masalah.. pikirnya. "Kau tahu kalau aku menghormati pendapatmu dalam masalah ini. Zenko berkata. Zenko adalah bagian dari takdirku. K endati menyebut dengan kata kaum barbar. Dan nitrat hanya boleh dibeli langsung oleh klan. dan Zenko bertemu dengan lebih banyak orang-orang itu ketimbang ksatria¬nya sendiri. Takeo teringat saat menempel kan pisau di leher Zenko. Kalau saja saat itu ia menggunakan pisau dengan baik. ia belum pernah membunuh ana k-anak dan berdoa semoga tidak akan pernah." Dilihatnya ekspresi wajah Zenko berker ut saat nama Fumio disebut. akan kuberitahu¬kan kepadamu. pikir Takeo. "Mere ka berada jauTujuan orang-orang asing itu sebenarnya hanyalah berdagang." Zenko mungkin benar. Takeo menghela napas panjang. Satu ekor kuda mereka lebih besar dibandin gkan dua ekor kuda kita. "Se ribu orang bersenjata api. Fumio yang menembak ayah Zenko saat gempa mengguncang dan meng¬hancurkan pasukan Arai. segaris rona warna di l ehernya menandakan kekesalannya atas peringatan keras tadi. kapal-kapal mereka kecil. dan ser angan dari luar. Apabila nanti diperlu¬kan lebih banyak pasukan. Dan pasukan pejalan kaki mereka menyandang senjata api. "Mereka berada jauh dari kampung halaman mereka." timpal Hana. kata mereka." Takeo memerhatikan selagi Zenko mem¬bungkuk dengan enggan." "Tapi mereka selalu membual tentang pasukan hebat raja mereka. Ak .

juga ketiga putri Anda yang cantik-cantik?" "Terima kasih: mereka semua sehat-sehat saja." Mau ke mana arah pembicaraannya? Takeo penasaran. kurasa." "Satu kesedihan yang mendalam bagiku karena tidak punya anak perempuan.u harus hadapi dia dengan hati-hati." Ah! pikir Takeo. "Lord Otori pasti sangat ingin memiliki putra. serius dan agak malu-malu. Apa lagi yang bisa kulakukan untuk menjinakkan dirinya? Hana berkata dengan suara selembut madu. "Karena sepertiga negara kiia sudah diwariskan me lalui garis keturunan perempuan. Anda sehat-sehat saja." ujar Zenko. "Ijinkan kami memberikan salah satu putra kami. Bagaimana dengan kakak sul ungku. kam i hanya punya anak laki-laki. "Kami takkan melakukan apa pun tanpa be rkonsultasi dengan Lord Otori." seru Hana. Putri sulung kami pada akhirnya akan men jadi penguasa Tiga Negara. lalu berkata. Zenko yang kurang memiliki kehalusan dalam berbicara dibandingkan istrinya lalu bicara dengan nada datar. tatapan matanya lenang. hal itu tak menjadi masalah. "Sungguh itu suatu kehormatan besar serta membawa kebahagiaan tak terbilang bagi kami. Sesungguhnya kami hanya menaruh per¬hatian pada Anda sekeluarga serta kemak¬muran Tiga Negara." lanjut Hana." "Kami ingin Anda mengangkat salah satu putra kami. tanpa basa-basi. "Seperti yang Lord Otori ketahui." gumam Kisah Klan Otori IV Page 39 ." "Tapi Anda harus tahu kebahagiaan memiliki anak laki-laki.

Hana. Kisah Klan Otori IV Page 40 .

Saat itu Takeo berdoa. Karena tak ingin menghina mereka dengan langsung menolak tawaran itu. Ia lega Kaede tidak melahirkan lagi dan berharap istrinya tidak hamil lagi."Kalian sangat murah hati dan penuh pengertian. Saat itu Takeo berdoa. Kedua anak itu tampan: yang sul ung mirip dengan Shira¬kawa bersaudara. "Yang sulung bernama Sunaomi. namun menoreh kan kesedihan mendalam pada dirinya. Kebenarannya adalah : ia tak ingin anak laki-laki. me ngena-kan jubah resmi. bukan seperti pemimpin Otori yang lain. "Ya. Ia juga berdoa dibiarkan hidup hingga tugasnya selesai dan putrin ya telah cukup dewasa untuk memerintah negeri ini. lebih mirip ayahnya. Lalu masuk kembali bersama kedua anaknya: usia mereka delapan dan enam tahun. Kalian sangat murah hati dan penuh pengertian. aku ingat." sahut Takeo. Shizuka. yang mati digorok oleh anak haramnya. Ia lega Kaede tidak melahirkan lagi dan berharap istrinya tidak hamil lagi. Nanti akan ditanyak annya pada . Sesungguh¬ny a amat pantas mengangkat keponakan istrinya: bahkan mungkin kelak ia bisa menjodohkan a nak itu dengan salah satu putrinya. dan belum pernah bertemu putra bungsu Hana yang lahir tahun lalu. bukan seperti pemimpin Otori yang lain. kalau kematiannya seperti kematian Shigeru." sahut Takeo. Sedangkan adiknya lebih bulat dan kekar. Ketika Takeo mengangguk setuju. Rambut mereka dita ta dengan bagian rambut yang panjang di bagian depan. namun menoreh kan kesedihan mendalam pada dirinya. Chikara. Ramalan bahwa ia akan mati di tangan putranya sendiri tidaklah menakutkan. Takeo ingin tahu a pakah salah satu dari mereka mewarisi kemampuan Tribe dari neneknya. kalau kematiannya seperti kematian Shigeru. Hana bangkit dan berjalan ke pintu dengan luwes. yang mati digorok oleh anak haramnya." tutur Hana ." sahut Takeo. sedang adiknya. Masahiro. Masahiro. diam terpaku dengan khidmat dalam pertemuan itu. Sudah tiga tahun ia belum bertemu kedua bocah ini. Kebenarannya adala h: ia tak ingin anak laki-laki. seperti yang sering dilakukannya. dengan tulang punggung yang panjang serta struktur tulang y ang ramping. seperti yang sering dilakukannya." tutur Hana selagi kedua bocah itu membungkuk sampai ke lantai di hadapan paman mereka. Ramalan bahwa ia akan mati di tangan putranya sendiri tidaklah menakutkan. Ia juga berdoa dibiarkan hidup hingga tugasnya selesai dan putrin ya telah cukup dewasa untuk memerintah negeri ini. sangat mirip dengan Kaede. "Mohon kami diberi kehormatan dengan menerima dua putra tertua kami.

Diajukannya pertanyaan tentang pelajaran... Kaede telah bersumpah bahwa bangsawan itu tak pernah tidur dengann ya. Zenko melanjutkan." "Anak-anak akan bergabung bersama kita saat makan malam. tapi jika Sunaomi menjadi putranya. Akan menyenangkan. Ia harus memutuskan yang terbaik saat ini : jangan sampai ia terpengaruh oleh ramalan yang mungkin saja tidak akan terjadi. renungnya." "Bolehkah aku mengajukan satu permoho nan lagi?" Ketika Takeo mengangguk. Fujiwara telah memikat dan menyanj ungnya." jawab Takeo. dan senang dengan jawaban mereka yang cerdas serta jelas. namun ada semacam ikatan aneh antara mereka berdua. bagi Shizuka untuk mengasuh cuc unya. Disingkirkannya pikiran itu jauh-jauh. tapi Anda ingat Lord Fujiwara?" "Tentu saja." Kini Takeo ingat kalau ia pernah men¬dengar Kaede memuji Sunaomi karena kecerdasan nya.Taku atau Shizuka." "Kita bicarakan ini pada bulan kesepuluh. kemajuan berpedang dan mem anah. Mengangkat keponakannya mungkin bisa menjadi kompensasi. dan lima tahun lebih muda dari Maya dan Miki: perbedaan ini bukanlah ma salah dalam perkawinan. "Duduk tegak. kedua bocah ini telah dididik dengan baik. makanan." ujar Takeo lagi. Zenko berkata. "Kalian sangat murah hati. anak-anak. Sunaomi sudah menjadi kesayangan kakak sulungku. Kaede telah membuat perjanjian dengan laki¬laki itu dan menceritakan rahasia palin g pribadi tentang cinta Takeo. Lord Fujiwara adalah ba ngsawan yang telah menculik istrinya. Ketika Hana pergi bersama kedua anak¬nya." kata Takeo. Juga pernah membantu keluarga Kaede dengan uang. "Biarkan paman melihat wajah kalian. Apa pun ambisi tersembunyi dan motif terselubung dari orangtua mereka. juga bany . Ia tahu istrinya iri pada Hana dan menyesal karena tidak punya anak laki¬laki. Tentu saja. "Aku akan membicarakannya dengan is triku. "Aku ingin ulangi kalau i ni akan menjadi kehormatan bagi kami bila Anda mengangkat Sunaomi atau Chikara: Anda harus memilih . "Anda bisa lebih mengenal mereka nanti." Takeo tertarik pada si sulung yang amat mirip Kaede." ujar Hana. Usianya hanya tujuh tahun l ebih muda dari Shigeko. "Aku tak ingin menyinggung perasaan dengan mengingat masa lalu. menahan rasa kaget dan marah. Bangsawan itu mati dalam bencana gempa tapi Takeo tidak pernah memaafkannya.

ak hadiah. Fujiwara menikahi Kaede dengan restu Kaisar. Fujiwara pernah berusaha agar Kaede mati Kisah Klan Otori IV Page 41 .

berharap bisa bertemu Anda. Keputusan yang bijaksana." Takeo tidak berkata sepatah kata pun. "Lagi pula jalan terlalu becek dan berlumpur untuk meneruskan perjalanan." ." sahut Zenko." "Yaitu putra sulungmu." "Sepanjang ingatanku." kata Takeo akhirnya. pikir Takeo. kehilangan kecantikannya. maka seharusnya diteruskan pada pewaris laki-laki berikutnya. harta Fujiwara telah digabungkan dengan wilayah Shira¬kawa. Kono. enggan untuk mengakui kalau ia tidak menge tahuinya." timpal Takeo. menyembunyikan kemarahannya. Hujan semakin deras menerpa atap. maka Kono dihubu ngi melalui surat. seperti yang Anda tahu. Mengapa kini dia tiba¬tiba muncul?" tanya Takeo.bersamanya: Kaede berhasil lolos walaupun rambutnya terbakar. Zenko menunduk tanpa bicara. Tiba dengan kapal beberapa hari lal u. Ayahku. "Enam belas tahun telah berlalu sejak kematian ayahnya. "Dia boleh datang dan bertemu denganku besok. dan bau tanah yang basah mengapung di depan ta man. berhubungan baik dengan ayahnya aku mohon maaf telah membu at Anda teringat masa-masa yang tak menyenangkan dan Lord Kono membicarakan tentang masala h penyewaan dan pajak. ma ka kini menjadi milik putranya. "Waktu berlalu dengan cepat di ibukota. menyebabkan beka s luka. "Putranya berada di Hofu dan ingin ber¬temu secara resmi dengan Anda. Karena Fujiwara diwariskan melalui garis keturunan laki-laki. "Dia utusan Yang Mulia Kai sar." Atau barangkali karena seseo rang punya rencana jahat. "Dia menggunakan nama keluarga ibunya. Kami telah ber¬hubungan melalui surat tentang hana warisan ayahnya. Ji ka wilayah itu bukan hak Kono. Sunaomi. kau atau istrimu hampir pas ti istrimu melihat bagaimana Kono bisa dimanfaatkan untuk lebih menekanku." sahut Zenko. menyebabkan bekas lukarsamanya: Kaede berhasil lolos walaupun rambutnya terbakar." "Secara hukum Shirakawa juga merupakan milik Fujiwara. "Ya. setelah pernikahannya.

" Takeo agak merinding mendengar nama itu. tapi Chikara sama sekali tidak takut. gading dan giok menuju kota-kota di Tiga Negara. kulit macan." ujar Sunaomi. sangat mirip dengan nama gelandangan Jo -An. mengingatkannya betapa Arai Zen ko sangat perlu diawasi: betapa mudahnya ambisi mereka dapat menggiring Tiga Negara kembal i perang saudara. "Mereka berusaha ker as. jati. "Agak mirip tahta Kaisar. dan pengemis itu sering hadir dalam mimpinya." tutur Hana. dibawa dari pelabuhan pedagangan besar yang dikenal dengan n ama Fragrant Harbour dalam kekuasaan kapal nana milik Terada yang juga membawa mangkuk jasper ." kata Hana. "Tapi mereka tidak makan menggunakan tangan!" kata Chikara. bagaimana orang-orang asing itu kelihatan seper ti goblin dengan hidung panjang dan janggut lebat¬nya. Meteka baru saja bertemu dengan dua orang asing di ruangan ini dan sangat bersem angat dengan pertemuan itu: bagaimana Sunaomi bicara pada mereka dengan menggunakan bahasa me reka yang telah dipelajari bersama ibunya. Mereka memerintah¬kan para pelayan un tuk mengambilkan salah satu kursi yang dibuat oleh orang asing dari kayu eksotis.*** Pertemuan ini semakin menambah ke¬gelisahan Takeo. Kisah Klan Otori IV Page 42 . "Aku ingin m elihatnya." "Mereka belajar sopan santun dari bangsa kita. lapis lazuli. tertawa. Ia begitu menyesali tindakannya yang telah memenggal Jo-An. mem¬peragakan. sama kerasnya dengan usaha Lord Joao mem¬pelajari bahasa kita. kecewa. "Sangat nyaman. Sore berlalu dengan suasana cukup menyenang¬kan: ia minum sake secukupnya untuk menyembunyikan rasa sakit. yang satu berambut merah sedangkan yang lain nya berambut hitam. dan kedua anak laki-laki itu menghidupkan suasana dan menghibur.

Bedanya. ang-orang asing itu memiliki kepercayaan yang serupa dengan kepercayaan kaum Hid den dan ber¬doa pada Tuhan Rahasia. orang¬orang asing itu mempraktikannya secara te rbuka.Orang-orang asing itu memiliki kepercayaan yang serupa dengan kepercayaan kaum H idden dan ber¬doa pada Tuhan Rahasia. Kisah Klan Otori IV Page 43 . Bedanya. orang¬orang asing itu mempraktikannya secara te rbuka.

bersama mereka lalu memeriksa catatan-catatan Shirakawa dan Fujiwara. membicarakan rincian serta mempertanyakan ketidaksesuaian sampai langit mulai berwarna pucat dan terd engar kicau Kisah Klan Otori IV Page 45 . membicarak an rincian serta mempertanyakan ketidaksesuaian sampai langit mulai berwarna pucat dan terd engar kicau rsama mereka lalu memeriksa catatan-catatan Shirakawa dan Fujiwara.

burung dari taman. Suaminya. kepribadiannya agak membosankan bila ditilik dari penampilannya. ia menjadi sangat menyuka i serta menghargai catatan: bagaimana segalanya bisa dicatat serta diingat. bagaimana ca tatan bisa men¬dukung dan memperbaiki ingatan. saat keh ilangan kedua jari di tangan kanannya. dan ini j uga menambah kekuatan ingatan. namun memiliki komentar tajam bernada sarkasme saat hanya berdua dengan Takeo. me¬merhatikan semua kekurangan dan kelebihan dengan jernih dan sikap welas asih tanpa prasangka. rumah-rumah yang besar dan ind ah di pedesaan luluh lantak terbakar api. visualisasi dan daya tangka p yang kuat. kecerdasan dan kemam p¬uannya yang cepat dengan kuas sudah diakui. tidak terkesan oleh siapa pun atau apa pun. Takeo memiliki ingatan yang baik. visualisasi dan daya tangkap yang kuat. rung dari taman. salah satu dari banyak anak laki-Iaki yang menjadi yatim piatu karena bencana gempa bumi di usia sepulu h tahun. dia menemu¬kan tempat berlindung di Terayama dan dididik di sana. saat keh ilangan kedua jari di tangan kanannya. Ia mendiktekan banyak hal pada juru tulisnya. Sonoda Mitsuru sesekali mendampingi. Shirakawa telah dibangun kembali dan adik iparnya yan g satu lagi. Dan seperti ayah angkatnya. begitu pula dengan kerajinannya ia merupakan salah satu dari orang-orang yang belajar dengan hanya ditemani cahaya kunang-kunang dan pan tulan salju. Bersifat pendiam. Kedua tanah warisan itu rusak parah akibat gempa. Namanya Minoru. bagaimana ca tatan bisa men¬dukung dan memperbaiki ingatan. Takeo memiliki ingatan yang baik. Ia mendiktekan banyak hal pada juru tulisnya. Ia menulis dengan cepat dan indah. secara teratur mengunjunginya dalam satu tahun bersama putri-putrinya. Shigeru. memperlakukan semua orang dengan ras a hormat. Pemuda istimewa ini mendampinginya hampir sepanjang waktu akhir-akhir ini. ia menjadi sangat menyuka i serta menghargai catatan: bagaimana segalanya bisa dicatat serta diingat. Ai. Shigeru. begitu kata pepatah dan akhirnya dia dipilih Makoto untuk bergabung dalam lingkung an rumah tangga Lord Otori di Hagi. namun tugas sering¬kali menahannya di Inuyama. Dan seperti ayah angkatnya. yang membuat Takeo senang karena ia sendiri pernah me m¬bawa nama itu dalam jangka waktu yang begitu pendek hingga terasa seperti kehidupanny a yang lain. semua itu berkat latihan selama bertahun¬tahun. dan ini j uga menambah kekuatan ingatan. Ai adalah ora . dan tidak peduli dengan sake. Sejak bertarung melawan Kotaro. Sejak bertarung melawan Kotaro. semua itu berkat latihan selama bertahun¬tahun.

dan Takeo meng¬ambi l pedangnya. Hujan telah reda namun taman masih basah dan bunga wisteria bergelayut berat dengan si sa titik air hujan. kemudian tukang cukur mencabut dan merapi kan rambut dan janggutnya. pada dasarnya lebih ka ya dan kini pun menunjukkan keuntungan yang mencukupi. di tangan Shigeru telah menyelamat-kan hidupnya. Para pelayan melangkah tanpa suara di depannya. sutra serta ker tas. Seperti saat ini . Di balik dinding bisa didengamya debak-debuk bunyi daun jende la ketika kota terbangun. mulberi. keuntungan bekas wilayah Fujiwara ini meyumbang pada perekonomian Tiga Negara. Takeo mandi. Pelayan menempatkan sebuah topi hitam kecil di atas kepalanya. bahkan kalau pun dia merupakan pemilik yang sah. Makan sedikit nasi dan sup kemudian mengenakan pakaian resmi untuk p ertemuan dengan putra Fujiwara. aroma garam dari pelabuhan dan segal a macam bebauan dari kota. Tanah kekayaan milik Fujiwara selama ini diatur oleh Shirakawa. membuka pintu. Shirakawa telah pulih dari pengelolaan yang salah serta diabaikan oleh ayah mereka dan semakin b erkembang. pijakan lembut ka ki mereka di . Kini baik pegangan maupun sarungny a dihiasi dengan dekorasi yang indah dan Jato sudah tidak pernah lagi merasakan darah sela ma bertahuntahun. memeras sumber daya yang ada sebanyak-banyaknya. tal u meng¬habiskan hasilnya di ibukota. Ia curiga Ko no ingin mengambil sebanyak mungkin. memberi keuntungan besar dalam bentuk beras. dan dari kejauhan terdengar teriakan pedagang jalanan di pagi hari. dari rak ukiran yang sangat indah tempat pedang itu berada sepanjang malam lalu menggantungkan di sabuknya. Takeo agak enggan untuk mengembalikannya ke tangan putra Fuji¬wara. seraya memikirkan segala macam bentuk sarung pembung kus yang pernah dilihatnya.ng yang praktis dan pekerja keras serta memanfaatkan contoh yang telah dibuat kakaknya. mulai dari kulit ikan hiu hitam lusuh yang membungkus peganga nnya ketika. Takeo berjalan melintasi taman dari sayap timur menuju aula utama rumah besar da n indah itu. persimmon. Ia ingin tahu apakah akan mengeluarkan pedang itu dari sarungnya lagi dalam per¬te mpuran. dan bagaimana ia bisa meng¬gunakan pedang itu dengan tangan kanannya yang sudah ti dak utuh. menemukan sedikit kenyamanan pada kelembutan kain sutra s erta motif yang tidak mengumbar ke¬anggunan: bunga belukar wisteria berwarna ungu muda di atas lat ar berwarna ungu tua pada jubah bagian dalam dan tenunan yang lebih abstrak pada bagian luar nya. Jato. Ketika hari sudah terang. aromanya berbaur dengan aroma rumput basah.

batu tinta dan air. yang tidak selesai sarapan. kuas. Kisah Klan Otori IV Page 46 .lantai yang mengkilap. kertas. Seo rang pelayan berjalan di sampingnya membawa meja tulis. ber¬gabung dengannya ta npa suara. Minoru. mem¬bungkuk hormat kemudian berjalan be¬berapa langkah mengikuti di belakangnya.

dan ia menyesal karena tidak menerima kedatangan t amu bangsa¬wannya di sana. Tak lama kemudian mereka mendengar suara yang menyerukan ada tamu yang datang. benang emaenko sudah di aula utama. lalu menye¬rahkan Jato ke tangan Minoru. Takeo mengungkapkan persetujuannya dan memuji mereka. kertas kasa. Dia akan mendapat kesan yang salah mengenai kami: dia akan mengira kami tidak sopan dan sederhana. Takeo mendengarnya memberi salam pada tamu mereka. Kediaman itu tidak sebesar maupun semegah seperti di Hagi atau Inuyama. . yang kemudian menempatka n pedang itu dengan hati-hati di sebuah rak indah yang ada di sebelah samping. Ia belum pernah bertemu denga n ayah bangsawan ini.Zenko sudah di aula utama. "Suatu kehormatan bagiku Anda bisa ber¬kunjung kemari. tapi itu tidak mencegah Fujiwara untuk datang meng¬hantui mimpi-mim pinya. tanpa mengetahui bahwa Kono memang mirip ayahnya dalam beberapa hal. "Lord Kono. bentuk mu lut berlekuk. alis mata Kono bergerak cepat naik l alu membungkuk hormat. Zenko bangkit lalu berjalan ke b eranda. Pedang Zen ko sudah ditempatkan di rak yang sama. Keadaan menjadi agak canggung selama beberapa saat ketika tak satu pun dari mere ka merasa harus membungkuk memberi hormat lebih dulu. menyambut penghormatannya. pandangan mata menunduk seolah sedang bermeditasi. kemudian Kono melangkah masuk ke da lam ruangan. Apakah memang lebih baik dia berpikir seperti it u? Zenko berbicara tentang malam sebelum¬nya. berpakaian resmi seperti Takeo namun lebih mewah lagi. a njing menyalak dan derap kaki berat pengangkat tandu. Takeo meng¬amati wajahnya. Minoru menyiapkan tinta di atas meja tulis kecil lalu duduk dengan tumit . ingin tahu bagaimana anggapan Kono tentang semua yang ada di sini setelah melihat istana Kaisar. Takeo menunggu lama satu helaan napas. Takeo mengangguk ke arahnya. Takeo lalu duduk di ujung ruangan. yang berdahi lebar." Sewaktu Kono duduk tegak. Kini ia tengah memberi muka pada putra dari musuh lamanya. Hujan turun perlahan." sapanya dengan tenang. benang emas berkilauan di bagian kerah dan sabuknya. berpakaian resmi seperti Takeo namun lebih mewah lagi . kemudian membalas salam. meskipun ti dak mirip sekali. melihat dekorasi. tapi dengan sikap santun santun yang dibuat-buat hingga menghilangkan ta nda penghormatan. melayangkan pan dangan ke sekeliling ruangan.

Kepergiannya meninggalkan mereka ber¬dua dalam kesenyapan. Mereka mulai membicarakan tentang harta kekayaan." Takeo menaikkan ali s lalu menjawab. ketika beliau masih hidup. "Juru tulisku tetap di sini. semua pembicaraan telah ditulisnya. Kono diam selama beberapa saat. Kono datan g dengan tujuan lain. tidak terlalu dibuat-buat."Justru kehormatan bagiku bisa bertemu Lord Otori. Takeo berusaha menenangkan diri. Kono mengungkapkan keinginan untuk melihatnya sendiri." Kisah Klan Otori IV Page 47 . seorang penjaga datang membawa pesan untuk Lord Arai. Aku tahu sedikit sejarah dari kedua keluarga kita keadaan yang tida k sepantasnya terjadi pada Lady Shirakawa namun tindakan ayahku acapkali membuat ibuku dan aku t ertekan. nada s uaranya lebih hangat dan sikapnya lebih alami. Zenko menjelaskan apa yang dia ketahui. dan langsung dipenuhi Takeo ta npa protes karena merasa kalau Kono sebenarnya tidak terlalu tertarik pada wilayah itu dan tak bermaksud tinggal di sana." sahut Kono. Sebaiknya memang dibicarakan berdua saja dengan Lord Otori. Harta k ekayaan itu hanyalah alasan dari kunjungan Kono: alasan sempurna yang masuk akal. Takeo tahu bukan itu maksudnya. Pertemuan itu akan alot dan tegang. kalau dia mungkin hanya ingin diakui sebagai pemilik wilayah it u. kalau dia hanya ingin dikirimi sejumlah keuntungan tidak seluruh pajak tapi sebagian saja. Dan hanya ada sedikit peluang untuk perbincangan yang jujur. Tak lama setelah itu. kelihatan mahi r serta penuh semangat. tapi dia terus membahas tentang hasil bumi sehingga Takeo mulai ber tanya-tanya kapan dia akan mengatakan tujuannya yang sebenarnya. Minoru meletakkan kuasn ya." Ia memberi isyarat pada sisa pengawal ya ng lain untuk meninggalkan ruangan. melawan kelelahan juga rasa sakit. Aku tidak memendam kebencian terhadap Anda. "Aku ingin Lord Otori tahu bahwa aku hanyalah seorang utusan. Ketika bicara. "Aku harus membicarakan satu hal yang memerlukan penanganan yang b ijaksana. Kono berkata. dan ia haras bersikap cerdik. Aku tidak percaya kalau ayahku tidak bersalah. Zenko meminta maaf dengan berlebihan lalu berkata kalau dia terpaksa pergi tapi akan bergabung lagi saat makan siang. dan walaupun kat a-kata itu sopan. Setelah semua orang pergi.

.

Tugasku yang tidak menyenangkan adalah me mberitahukan bahwa karena Anda tidak pernah meminta ijin atau dukungan dari Kaisar. Ia tidak bicara sepatah kata pun." Takeo membalas. "Ketenaran Lord Otori telah menyebar ke seluruh Delapan Pulau. Ada juga kema tian yang tak dapat dijelaskan. Lord Zenko." "Aku merasa tersanjung." "Aku rasa Lord Arai ditembak oleh salah satu pengikut Anda. Semua ini sudah menjadi masa lalu. misalnya. Anda akan diampuni bila mengasingkan diri ke pulau terpencil. Gempa itu merupakan hukuman dari Surga sebagai akibat d ari tindak pengkhianatan melawan wakil kaisar: itu yang dipercaya di ibukota. dan yang ju ga terlibat dalam kematian ayahku. Kono meneruskan. seperti ayahmu. Raku. serta semua yang kehilangan nyawa di pertempuran Kusahara dan pada saat menarik mundur ." sahut Kono acuh tak acuh." "Lord Arai tewas.Tidak bersalah? pikir Takeo. "Dan prestasi Anda berasal dari kemat ian aku tak ingin mengatakan itu sebagai pembunuhan perwakilan di Tiga Negara yang diakui Kaisar. putranya. Arai menyerang pasukanku yang tidak bersenjata. yang pada dasarnya sudah penjahat. berhubungan dengan Kaisar yang berkuasa saat itu: kematian Lord Shir akawa. Kaisar pun sudah mendengarnya. Semua kesalahan justru ada padanya: pe nderitaan dan rusaknya wajah istriku. tidak per nah mengirim pajak atau upeti ke ibukota." Kono ter¬s enyum dengan keramahan dan pengertian yang tidak tulus. Paduka Yang Mulia beserta kalangan Istananya mengagumi cara Anda mewujudkan kedamaian di Tiga Negara." "Sayangnya semua prestasi hebat itu tidak mendapat persetujuan Kaisar. dalam gempa. terbunuhnya Amano Tenzo. perompak Terada Fumi o. adalah saksinya dan laki-laki dengan kejujuran pasti lah berkata yang sebenarnya. Ar ai Daiichi." Bumi menghantarkan apa yang diingink an Surga. Peda ng keturunan leluhur . Semua kesalahan justru ada padanya: penderitaan dan rusaknya wajaidak bersalah? pikir Takeo. pembantaian tanpa perasaan pada kuda pertamaku . Di Tiga Negara dipercaya bahwa Surga turun tangan untuk menghukum saudara-saudara dari kakekku dan Arai atas ti ndakan dan pengkhianatan keji mereka. yang saat itu bekerja pada Anda. "Nah. Bila ada yang disebut peng¬khianatan. maka pemerintahan Anda dianggap tidak sah dan Anda diminta untuk turun takhta. kemungkinan di tangan Kondo Koichi. maka dialah yang berkhianat. "Kondo sudah meninggal bertahun-tahun lalu.

pemimpin s epuluh ribu pasukan. dan orang lain yang ingin mendekatik u dengan damai." sahut Takeo. seraya menyembunyikan rasa kaget dan marahnya. sulit membaca ekspresi wa jahnya." tutur Kono dengan nada sedih. "Mengapa baru sekarang kau datang? Di mana minat Kaisar bertahun¬t ahun lalu. Tapi pasti ada alasan lain meng apa mereka dan Kaisar berani bergerak menentang dirinya saat ini Kelemahan macam apa yang sedang mereka eksploitasi? Kekuatan tambahan apa yang mereka kira mereka punya? "Aku tak bermaksud untuk tidak meng¬hormati Kaisar. Zenko dan Hana ada di balik semua ini. aku memiliki tiga putri yang bisa kuaturkan pernikahan politis bagi mereka. kan?" Benarkah Kaisar takkan menggalang kekuatan untuk melawanku? "Lord Otori belum mendengar kabar ter¬baru." "Tidak seorang pun berani mengancam Anda. Tentu saja beliau takkan berperang melawan rakyatnya sendiri. Takeo bertanya. Aku ingin membuat perjanjian dengan Kaisar. "Kaisar telah menunjuk jenderal baru: keturunan salah satu keluarga tertua di wilayah Timur. Aku tak berniat turun takhta sampai putriku cukup dewasa untuk me njadi pewarisku. ketika Iida Sadamu menjarah Tiga Negara dan membunuhi rakyatnya? Apakah Iida ber tindak atas persetujuan Kaisar?" Dilihatnya Minoru agak menggerakkan kepala. "N amun beliau dihormati di seluruh penjuru Delapan Pulau atas tujuannya untuk mewujudkan kedam aian. dan berusaha mengendalikan ke¬gusarann ya. pikirnya. berharap menggiringnya membuat pernyataan terbuka tentang sikap membangkang yang akan diartikan sebagai pembero ntakan selanjutnya. Namu n aku takkan terintimidasi oleh ancaman." gumam Kono.Otori harus dikembalikan kepada Kaisar. Kisah Klan Otori IV Page 48 ." "Aku sungguh tidak mengerti Anda berani membawa pesan semacam ini. Tentu saja Kono memang ber¬harap untuk membuatnya gusar." ujar Takeo dengan hati¬hati. "Di bawah kekuasaankulah Tiga Negara men jadi damai dan sejahtera.

" bih dari segalanya. dan kini beliau memiliki tangan kanan yang kuat untuk menegakkan hukum dan keadilan. Kaisar ber¬tujuan damai. Kaisar ber¬tujuan damai. dan kini beliau memiliki tangan kanan yang kuat untuk menegakkan hukum dan keadilan. namun beliau tidak dapat mengampuni tindakan kriminal." Kisah Klan Otori IV Page 49 .Lebih dari segalanya. namun beliau tidak dapat mengampuni t indakan kriminal.

Hampir tak tertahankan karena ia diangg ap penjahat: darah Otori dalam dirinya berontak menentang anggapan tersebut." "Kuulangi lagi. dan bagaimana cara terbaik untuk me mpertahankan kedamaian. Hampir tak tertahankan karena ia diangg ap penjahat: darah Otori dalam dirinya berontak menentang anggapan tersebut. ata-kata yang dilontarkan dengan lembut itu mengandung sengatan penghinaan. aku hanyalah utusan. Mengapa aku tak pernah mendengar namanya? Di mana Taku saat aku membutuhkannya? Di mana Kenji? Kelebihan senjata serta pasukan yang disiapkan Arai Zenko: mungkinkah mereka men dukung ancaman baru ini? Senjata¬senjata: bagaimana kalau itu ternyata senjata api? Bagai mana jika mereka dalam perjalanan ke Timur? "Anda di sini sebagai tamu dari penguasa yang berada di bawah kekuasaanku. Ia tidak percaya kalau cara ini akan mengecewakannya sekarang. dan Takeo merasakan gelombang panas dalam dirinya. Arai Zenko. Perbincangan berjalan dengan ringan dan sopan. Aku akan memanggil Anda sewaktu sudah kuputuskan bagaimana men¬jawab ke Kaisar. lalu kembali bersama Lord Arai k e Kumamoto. Namun selama bertahuntahun ia telah memadamkan tantangan dan per¬selisihan melalui perundingan dan diplomasi yang cerd as. dan Takeo merasakan gelombang panas dalam dirinya. Zenko kembali dan makan siang sudah siap: meskipun hidangannya mewah dan lezat. Jadi mereka mempunyai jenderal perang. Takeo nyaris tidak bisa merasakannya. Namun selama bertahuntahun ia telah memadamkan tantangan dan per¬selisihan melalui perundingan dan diplomasi yang cerd as. "itu berarti tamuku juga. dan mulai mempertimbangkan jawaban s eperti apa yang akan ia berikan. ia menco ba turut ambil ." akhirnya ia berkata. Dibiarkan¬nya hinaan itu men yirami dirinya sambil berusaha mengendalikan diri. mengunjungi kekayaan mendiang ayah Anda. ke mana aku akan pergi jika ingin mengundurkan diri. Kurasa Anda harus memper panjang masa ting gal Anda di wilayah Barat. Dibiarkan¬nya hinaan itu men yirami dirinya sambil berusaha mengendalikan diri." sahut Kono. Ia tidak percaya kalau cara ini akan mengecewakannya sekarang.Kata-kata yang dilontarkan dengan lembut itu mengandung sengatan penghinaan. lalu membungkuk dengan ketulus an yang jelas. dan mulai mempertimbangkan jawaban s eperti apa yang akan ia berikan.

mem¬porakporandakan ibukota." Takeo bersantai di beranda lalu men¬dengarkan suasana di kediaman berubah ketika s emua instruksinya dilaksanakan: langkah kaki penjaga. pengkhi anatan.. te mpatkan penjaga di gerbang." ujar Takeo pada juru tulisnya. "Tentu saja. Lord Otori. "Aku akan kembali secepatnya. Lalu ia akan menyerang Kaisar serta jenderalnya sebelum musim panas berakhir.." katanya pada mereka. Pengasingan. satu seruan terkejut dari Ze nko. Jun dan Shin sudah menunggu di luar di beranda." sahut Minoru." "Aku mengerti. Kono dikawal oleh Zenko menuju ke wisma tamu. penjahat. Lord Kono akan tingga l di wilayah Barat sampai kuberi¬kan ijin tertulis baginya untuk kembali ke Miyako. Saat mereka selesai makan. Huruf-huruf dalam tulisan seakan melompat ke arahnya dari halaman catatan. Mereka bangkit dan mengikuti Takeo tanpa suara keti ka ia kembali ke kamarnya. terutama yang menuju ke Akashi. para pelayan yang bingung berjalan bergegas dan komentar bisik-bisik. kaku dan goresan dalam tulisan tangan Minoru yang nyaris sempurna. "Jun. "Pergilah dengan Shin ke pelabuhan dan cari tahu rincian tentang kapal-kapal yang sedang merapat. segera ambil alih perintah di pelabuhan. Hanya tinggal me¬ngeluarkan satu peri ntah lagi. Hana dan anak-anaknya." "Minoru. Ketika Jun kembali. Takeo berjuang untuk mengendalikan amarahnya yang timbul akibat penghinaan semac am ini. Kemudian ia istirahat di dalamnya. Shin. dan mereka semua akan mati: Kono. Hanya dengan cara inilah kemarahannya bisa re . Takeo menyuruhnya untuk tetap berada di luar kamar dan jangan sampai ada orang yang mengganggunya. mendesak mereka kembali ke Miyako. perintah Jun yang keras serta dengan paksaan . lalu membolak-balik catatan Minoru tentang pertemuan dengan Kono selag i menunggu juru tulisnya kembali. mengikis organ-organ tubuhnya. Hal yang sama ber laku juga untuk Lady Arai dan kedua putranya.bagian di dalamnya. darah mereka akan menyapu rasa malu yang bisa dirasakan menoreh lulangnya. sadar kalau Jun hanya berada tiga langkah darinya. "Lord Kono tidak boleh meninggalkan kediaman ini. Zenko. saran Hana yang diucapkan dengan bergumam." Kedua saudara sepupu itu bertukar pandang tapi tidak berkomentar selain.

da. mengenang bangsawan lain yang telah mem¬bunuh untuk menyapu habis penghinaan dan akhimya mencabut nyawa orang lain demi kesenangannya sendiri. Dipejamkan matanya. Kisah Klan Otori IV Page 50 . mem bayangkan betapa mudahnya mengambil jalan keluar seperti itu dan menjadi seperti Iida Sada mu. lalu menghela napas panjang. melihat motif gambar di kertas kasa terukir di kelopak matan ya.

disingkir¬kannya rasa terhina dan tikaman rasa malu jauh-j auh. Mereka akan tiba di Hofu saat laut pasang malam ini. P ada akhirnya kembali lagi pada keputusan untuk meng¬hindari pertumpahan darah dan perang sebisa mungkin. ketika Minoru kembali dari ruang ca tatan petugas pelabuhan. . disingkir¬kannya rasa terhina dan tikaman rasa malu jauh-jauh. menunggu ke putusan Anda tentang kelanjutan nasib mereka." seru Takeo. dalam perjalanan yang sering dilakukan untuk perdagangan d an pen¬jelajahan." "Dia datang di saat yang tepat. tapi sertifikat pemeriksaan muatannya belum diisi.Dengan penuh kesadaran. Kita harus be rusaha menangani mereka sebelum sampai di Akashi. "Lord Otori jangan khawatir. "Aku juga ada kabar baik untuk Anda. pegawai pabean yang mengijink an kapalnya berangkat. dan tidak akan melakukan apa pun tanpa berkonsultasi dengan Kaede dan penasihat lainnya. Kapal Terada Fumio sedang menunggu di galangan." Ia merendahkan suara. "Mengapa pula harus meng¬hinda ri prosedur pemeriksaan? Tapi jangan bicarakan hal ini secara terang-terangan. Keputusan ini segera saja diuji kebenaran¬nya. Mereka sudah ditahan. "Tak satu pun dari mereka mengakui dari mana asal muatan tersebut." sahut Takeo. "Kecurigaan Lord Otori benar." Takeo memicingkan mata tanpa ber¬komentar. semangatnya segera bangkit. Fumio pergi selama berbulanbulan bersama tabib Ishida. dengan kebahagiaan rakyatnya." "Kita harus mencurigai yang terburuk. "Dibuat seolah-olah satu kapal berangka t ke Akashi saat laut pasang semalam. Fumio d an ayahnya adalah teman lamanya yang mengawasi pasukan kapal yang digunakan Klan Otori untuk melak ukan perdagangan dan mempertahankan garis pantai mereka. Shin membujuk kepala pelabuhan untuk segera menyelidikinya." Minoru tersenyum tipis. Orang-orang yang bertanggung jawab sudah dikenali. dan pedagang yang menangani muatan. seraygan penuh kesadaran. "Shin hamper tidak p erlu bertindak kasar." tuturnya." ujar Minoru untuk meyakinkan. seraya berkata pada dirinya sendiri kalau pemerintahannya memang ditakdir¬kan dan direstu i Surga: ia melihat restu ini dengan kehadiran burung houou.

" Takeo mengamati wajah adik iparnya lekat-lekat ia bicara. "Kita abaikan saja apa yang telah dikatakannya: itu tidak penting. di hadapan semua saksi di sini. Kau memegang Kumamoto atas keinginan dan ijinku. me¬yakinkan Takeo kalau itu adalah peristiwa yang jarang terjadi. saat berangk at ke Hagi mereka akan menemaniku. tapi aku yakin kau menginginkan istrimu tetap bersamamu. Zenko tidak berani men atapnya. hanya contoh dari keserakahan ma nusia. Masalah pernikahan akan diputuskan nanti. ibumu adalah sepupuku d an sahabatku. "Kuharap kau benar. Hidup Sunaomi dan adiknya akan diserahkan ke tanganku bila ada sedikit saja tanda ketidaksetiaan. "Dan sekarang aku harus bicara dengan adik iparku. dan Ishida pasti membawa obat-obatan. Pesannya tak perlu terlalu jelas. Fumio pasti punya berita terbaru mengenai Kaisar. "Aku ingin kau meyakinkan kesetiaan penuhmu ke padaku: kau berhutang nyawa padaku. bila kau tetap setia padaku." Ia senang punya alasan tentang petugas pabean untuk menekan adik iparnya. Zenko mengungkapkan permintaan maaf dan ber¬janji untuk mengatur eksekusinya."Katakan pada Shin untuk membawa pesan pada Fumio kalau dia akan ke¬datangan tamu malam ini. "Lord Takeo harus tahu kalau aku betul¬betul setia. kau menikah dengan adik istriku. maka peluang untuk mengejar kapal ilegal itu cukup besar. ji ka dia mau." sahut Takeo. jika ia bisa segera berangkat." Kisah Klan Otori IV Page 51 . Panggil Lord Zenko untuk data ng menghadap. ucapkan sumpah setiamu kepadaku. Fumio pasti mengerti. Bola matanya ikit berputar dan bicara terlalu cepat untuk memberi tanggapan. Aku akan mengangkat Sunaomi. Istrimu boleh bergabung dengan kedua putranya di Hagi. Apa yang telah Kono katakan hi ngga Anda beranggapan seperti ini? Apakah dia bicara tentang masalah-masalah di wilayah Ti mur? "Jangan pura-pura tidak tahu! Takeo tergoda ingin langsung menantangnya." Takeo sangat lega untuk beberapa hal. tapi memutuskan kalau saatnya belum tiba. Kemarin kau menawarkan salah sa tu putramu kepadaku. Sekarang. Mulai saat ini mereka akan tinggal bersama keluargaku da n dibesarkan sebagai putraku. sesuatu yang bisa meredakan rasa sakitnya yang berkepanjangan. Kuterima tawaranmu. Tentu saja aku akan membawa keduanya.

.

jauh dari kemudahan yang menipu dari pembunuhan atau bunuh diri. Keadaan ak an baikbaik saja pada pagi hari. Begitu Zenko selesai menyampaikan semua keberatannya. mengatakan pada me reka kalau ia tak mau diganggu. Ia ingin sekali berada di rumah. Tiap suara terdengar olehnya: percakapan pelan para penjaga di gerbang. Takeo mandi lalu mengenakan jubah dari bahan katun tipis seolah bersiap pergi ti dur. telah bersumpah setia hanya untuk meng¬khianatinya. dan di saat yang pali ng genting lebih memilih kekuasaan melebihi dari nyawa kedua putranya. Lebih baik tetap mencoba menjinakkannya. pikirnya. Takeo ber¬istirahat di wismanya. makan sedikit tapi tanpa minum sake. semua dicatat oleh Minoru. pelayan dapur mengobrol sambil membersihkan piring lalu menyimpannya. tapi Takeo ingat bagaimana ayah nya. angin ber hembus lembut dari selatan meluluhkan awan gelap. Arai Daiichi. tapi Takeo ingat bagaimana ayahn ya. bersila di matras dengan mata ter¬pejam dan kedua jari telunjuk dan ibu jari saling bersentuhan ditekan seakan tenggelam dalam posisi meditasi. Disingkirkannya pikiran itu seraya berjanji pada dirinya sendiri sekali lagi unt uk ber¬pegang pada jalan yang lebih rumit dan sulit. hari yang baik untuk melakukan perjalanan. anjing-anjing menyalak. berbaring bersama ist rinya dan membuka hati kepadanya. berkata kalau ia akan makan sendirian dan istirahat lebih awal karena hendak berangkat ke Hagi keesokan paginya. dan di saat yang pali ng genting lebih memilih kekuasaan melebihi dari nyawa kedua putranya. ketim bang membunuhnya. Matahari tenggelam dalam warna merah muda dan cah aya keemasan yang membuat banyak warna hijau di taman bermandikan cahaya. Putranya pun akan bersikap sama. karena pada akhirnya semua kesedihan hanya akan menimpa keluarganya sendiri. Seharusnya kuperintahkan dia menca bu t nyawanya sekarang juga. Arai Daiichi. Dipasang telinganya baik-baik untuk mendengarkan suara-suara di dalam kediaman. Tapi betapa lebih mudahnya kalau dia mati. enko melakukannya dengan mem¬bungkuk dalam-dalam. Namun tak kuasa bertindak seperti itu. musik dan . telah bersumpah setia hanya untuk meng¬khianatinya. Dikatakannya pada Zenko agar kedua putranya harus siap melakukan perjalanan bersamanya. Kemudian menenangkan dirinya sendiri.Zenko melakukannya dengan mem¬bungkuk dalam-dalam. kemudian menyuruh semua pelayan pergi. Sepanjang hari hujan turun dan reda. tapi saat ini langit mulai cerah. baik juga untuk kegiatan malam hari yang terlintas di benaknya. bertemu dengan putri¬putrinya.

Tak la ma kemudian. Jun menaikkan alis. seolah mereka ingat kalau ia mungkin saja sedang mendeng arkan. Anjing-anjing menggiringnya dengan tatapan mata tapi para penjaga tidak memerhat ikannya. Di tepi galangan. Percakapan itu menjadi semakin hidup: seperti ayahnya. terombang-ambing oleh omba k. dengan tiang pancang yang kekar dan berwarna gelap di ba wah siraman cahaya malam penuh bintang. Tak ingin ada yang tahu kalau ia per gi.tempat minumminum di sekitar pelabuhan. tapi percakapan yang sepele. bola tendang dan berburu anjing. yang sedari tadi duduk di luar pintu. di balik bentuknya yang menyembul tajam tampak cahaya temaram bulan yang baru naik. Zenko gemar minum sake. Di satu sudut yang gelap tidak jauh dari pelabuhan. kapal-kapal kayu saling bergesekan. Lentera me nerangi jalanan sempit dan cahaya lampu bersinar jingga dari balik kertas kasa. menghilang lalu berjalan lewat gerbang yang masih terbuka. ikan dan gurita panggang di rumah makan. mereka bertemu Kono untuk makan malam. kegemaran Ko no akan puisi dan drama. ber¬seru pada orang-orang yang. gemuruh tanpa henti air laut. Terdengar olehnya Zenko dan Hana membicarakan pengaturan untuk keesokan harinya. memanggang potongan-p otongan . memakai jubah yang tidak mencolok berwarna pudar seperti y ang biasa dikenakan pedagang. serta olahraga para bangsawan. katanya tanpa suara pada anjing-anjing. Karena mereka akan memburu kalian dengan hujan anak panah untuk olahraga. ikan yang sedang dikeringkan dan ru mput laut di atas rak-rak di tepi pantai. gemerisik dedaunan dan teria kan burung hantu dari gunung. air menghantam badan kapal. Takeo menggelengkan kepala. dengan menggunakan dialek kota itu. Dipakainya sandal jerami di anak tangga taman. dan Takeo. Udara terasa penuh dengan aroma garam. Bersyukurlah kalian tak berjaga di gerbang istana di Miyako. T akeo berdiri dan mengganti pakaiannya. terutama bila ia memang jadi menahan kedua putra mereka. mereka tidak mau ambil resiko Takeo mencuri dengar strategi mereka. Takeo melangkah masuk ke bay angan tak tertihat dan keluar dengan penyamarannya sebagai pedagang yang sedang terburu-buru untuk pekerjaan di kota. Tungku bara menyala di samping tali tambatan salah satu kapal besar. Dalam permainan berbahaya yang telah mereka mulai. Di kejauhan dapat dilihatnya pulau¬pulau dari Laut Lin gkar. namun mereka sama berhati¬hatinya: yang ter dengar tak lebih dari tata rambut model terbaru dan cara berpakaian di istana. Ketika melewati Jun dan Shin.

Kisah Klan Otori IV Page 52 .

Coba tebak apa hadiahnya! Lebih hebat dari apa pun yang pernah kau ingi nkan!" "Ada satu hal yang kudambakan lebih dari segalanya." Tabib Ishida tersenyum lebar. "Aku harus mencegahmu menghukum mereka.Berdiri tanpa dikenali dalam kegelapan. lalu anak buahnya pindah ke meja lain. aku juga hampir tidak percaya pada mereka. yang mengamatinya deng an seksama di bawah cahaya temaram. Fumio bangkit. Fumio tetap kelihatan kekar seperti biasa. "Ada masalah?" tanya Ishida setelah mereka bersulang. dengan pipi tembam dan kumis tipis. "Ada beberapa hal yang perlu kubicara¬kan." katanya pada Takeo. "Lord Otori!" Dipanggilnya pelayan untuk mem¬bawakan sake lagi. "Walaupun memang sedang menunggu¬mu. Takeo senang melihat keduanya lalu melangkah naik ke area duduk." jawab Takeo. Tapi setelah beberapa saat terkejut dan ke¬bingungan. "Yaitu melihat seekor kirin sebelum aku mati." "Ah. sambil berbisik. "Misterius d an aneh: aku tidak akan ter¬biasa. m eskipun kini kelihatan ada bekas luka baru di salah satu pelipisnya. aku tidak mengenalimu!" serunya." "Mereka menceritakannya pada seorang pedagang miskin yang tak berani." sahut Tak eo tertawa. mengira kalau ia hanyalah pedagang yang tak penting. "Ini Lord Otori!" lalu memeluk Takeo." sahut Takeo. "Aku ada hadiah untukmu. Dasar manusia brengsek yang tak ber¬guna. Takeo duduk di samping Fumio. Takeo mengamati kawan lamanya selama beb erapa waktuerdiri tanpa dikenali dalam kegelapan. Ishida kelihatan lebih t ua. Takeo mengamati kawan lamanya selama beberapa waktu. Apakah itu benar?" . "Hadiah yang akan mengalihkan perh atianmu dari masalah. Lagipula. berhadapan dengan si tabib. A kan kurobek mulut mereka. lebih kurus kering. mend orong anak buahnya ke samping. Mereka sudah mengatakannya pada¬mu. Salah satu mant an perompak segera melompat berdiri menghalangi jalannya. Fumio memberikan isyarat dengan kepala. kulitnya kekuningan.

serta ahli siasat perang yang cerdas. Kami akan perlihatkan padamu besok. agar kau bisa mencurahkan kasih sayangmu. Karena kau sudah merusak kejutan kam i. "Kau tidak bisa menunggangi hewan ini." tutur Fumio." Fumio menuang sake lagi. dengan d inding yang tinggi. "Apa yang kau tahu tentang jenderal baru Kaisar?" tanya Takeo. Mendominasi propinsi-propinsi di wilayah Timur. Tapi hewan yang luar biasa." tutur Fumio." "Pemburu Anjing?" "Dia sangat suka berburu anjing. "Dia menghabiskan waktu berjam¬ja m menemaninya.' karena kami sudah pergi selama enam bulan." sahut Takeo. siapa nama¬nya?" "Shun. "Tentu saja."Ya dan tidak. dan kabarnya mahir melakukannya. Ia lebih parah ketim¬bang kau dan kuda tuamu itu. aku akan jawab. 'Tidak tahu apa-apa. Namanya Saga Hideki. Jenderal itu m ahir berkuda dan memanah." "Ishida jatuh hati pada hewan itu. Shun mati karena usia tua tahun lalu. "Aku ingin sekali melihatnya." kata Ishida. kabar¬nya memiliki ambisi menaklukkan seluruh Delapan Pulau. tapi mungkin bisa menggantikan Shun. Di mana hewan itu sekarang?" "Di kuil Daifukuji. tak akan ada lagi kud a sepertinya. dengan julukan Pemburu Anjing. dan baru-baru ini dit unjuk Kaisar untuk bertempur atas nama Paduka Yang Mulia serta membinasakan musuh¬musuhnya dala m rangka mencapai tujuan itu. mereka menemukan taman yang tenang untuk hewan itu. "Kalau kau tanya aku beberapa minggu lalu. bukan kirin yang sesungguhnya: kirin a dalah hewan dalam dongeng. sedangkan yang ini adalah hewan sungguhan." Kisah Klan Otori IV Page 54 . tapi kami pulang melalui Akashi. dan yang paling mirip dengan kirin dibanding hewan lain yang pernah kulihat. maka sekalian saja ceritakan masalah-masalahmu pada kami. dan kota itu sib uk membicarakannya.

beberapa pedagang mendekatiku. menanyakan ten-tang se njata dan bubuk mesiu. Kono. mengucapkan selamat tinggal pada pelayan perempuan dengan perasaan enggan. Tahan Lord Kono di wilayah Barat sampai aku kembali. dan jika aku m enolak. "Mereka punya waktu kurang dari sehari untuk memulainya. justru sebaliknya. Takeo ditinggal bersama Ishida. "Putra Lord Fujiwara." Si tabib menuang sake lagi lalu minum sampai habis. Ternyata Kaisar memintaku meng¬undurkan diri." ujar Takeo. dan Takeo memberi kabar tentang kel uarganya . "Kita bisa hentikan mereka. me reka menawar¬kan uang dalam jumlah besar. Aku ingin melihat wajah¬mu saat kuperlihatkan kirin." katanya. Mesti kuperingatkan padamu. terhibur dengan ti n¬dakan cekatan kawannya. "Apakah ada indikasi kalau senjata api di perdagangkan di Imai?" "Tidak. namun melelahkan." sahut Fumio. "Dia masih tetap sama. datang menghadapku hari ini. Sebelum mereka bisa menandingi jumlah senjata api. Jika jenderal Kaisar tengah bersiap melawanmu ." Dipanggil anak buah¬nya. dan menceritakan pada F umio tentang kecurigaannya pada Zenko. "Dia adalah teman seperjalanan yang memberi s emangat." "Aku khawatir mereka sudah dalam per¬jalanan. Fumio pergi begitu cepat hingga mereka hampir tidak sempat mengucapkan selamat b erpisah."Sepertinya aku termasuk dalam daftar musuhnya. Angin bertiup dari arah barat: kita bisa mendapat laut pasang jika berangkat sekarang. "masalah. menjejalkan sisa makanan. berharap menghindar pelarangan dari Otori. Kono. dan mereka pun berdiri. tidak pernah bisa di am. meneng¬gak habis minumnya lalu berdiri. beliau akan mengirim si Penangkap Anjing untuk melawanku. "Fumio tak berubah. Takeo memberitahu mereka nama kapalnya. datanSepertinya aku termasuk dalam daftar musuhnya. "Seperti angin topan. mereka takkan memanc ingmu dalam pertempuran." Mereka berbincang-bincang tentang per¬jalanan. kemung¬kinan dia berusaha membeli senjata api: demi uang sebesar itu. tapi nanti Ishida bisa menceritakannya padaku." ujar Takeo." ujar Takeo." sahut Ishida. "Putra Lord Fujiwar a. cepat atau l ambat akan ada orang yang akan menyediakan senjata api." Wajah Ishida berubah pucat ketika nama Fujiwara disebut. menengg ak habis sake." gumamnya.

"Kelihatan dari wajahmu. dan ada sesuatu dengan tidak asing bagi Takeo. bahkan terikat dengan diriku: aku tak ingin membuatnya gelisah. Suara perempuan itu membuatnya tertarik karena logatnya berasal skipun perempuan itu bicara dengan dialek setempat. Acapkali lukanya kelihatan memerah di balik carutannya. Ia yakin belum pernah bertemu dengan perempuan yang berlutut di samping or ang asing itu. si tabib tampak berha sil mengendalikan perasaannya." "Ya. Membuat sekujur t ubuhku sakit. berdua saja. Aku akan menginap di Daifukuji malam ini. dan obat tidur terbuat dari b unga candu.yang selalu menyita perhatian Ishida. Takeo mengira dia akan melanjutkan bicara¬nya . me intonasi suaranya yang Ketika berjalan melewati ruang bagian dalam. cuaca yang lembap memperburuknya: kadang kurasa masih ada sisa racun yang h ingga terasa panas." sahut Ishida. Kisah Klan Otori IV Page 55 . namun setelah beberapa saat dalam hening yang tidak mengenakkan. Kirin sudah terbiasa denganku." "Akan kuperiksa nanti. karena dia sudah menikah dengan Muto Shizu ka selama lima belas tahun. dikumpulkan barang-barangnya lalu berkata dengan rian g." Sedari tadi Takeo menyadari ada suara orang berdebat dari an. Tadinya aku bermaksud meninggal¬kannya di kapal." komentar Ishida seraya meng¬ambil sebuah buntala n kain dan kotak kayu kecil. seorang laki-laki berbicara dengan bahasa asing dan suara seorang n. bagian dalam rumah mak perempuan menerjemahka dari wilayah Timur. Kalau tidak kubawa pasti barang-barang ini sudah setengah perjalanan menuju Akashi dan tidak terlalu berg una bagimu. "Setelah itu aku harus pergi memeriksa kirin. "Rasa sakitmu terasa lagi?" tanya si tabib. yan g dipanggil Don Joao. "Bisakah sekarang kau kembali bersama¬ku?" "Aku punya cukup persediaan akar-akaran dari Shin." Nada suara Ishida kedengaran murung. Takeo mengenali si orang asing. Untung saja kuputuskan untuk mem¬bawanya.

Kisah Klan Otori IV Page 56 .namun seperti ada sesuatu.. mun seperti ada sesuatu....

"Tomasu?" Air mata menggenang di matanya. mengubahdi rinya menjadi seorang bocah yang ketakutan serta tersiksa. yang terus memalingkan wajah dari perempuan itu. amat mirip dengan kulit ibunya. Kono. da n sepertinya saat ini dia tidak bisa mengenali. Keterkejutannya tak terlukiskan. misi Fumio merebut senjata api yang diselundup¬kan. bahkan rasa sakitnya. Takeo ingat pada seorang gadis cilik yang menangis dengan cara yang sama karena menang isi seekor burung yang mati. Ishida amat disukai orang asing itu dan menghabiskan banyak waktu menemani mereka. kelihatan¬nya tengah mengamati Takeo dengan penuh seksama. Ia hanya . halus dan gelap. Ishidelagi ia mengira-ngira siapa perempuan itu. si orang asing melihat Ishida lalu memanggilnya. tapi selalu dalam suasana resmi. tergeletak di sebelah ibu dan kakak perempuannya yang mati terbujur kaku perempuan itu memili¬ki k etenangan serta wajah yang lebar mirip ibu dan kakak perempuannya. Orang asing itu gembira bertemu sang tabib dan ing in agar dia duduk dan mengobrol. dan warna kulit yang sa ma dengannya. Pere mpuan itu. kehilangan mainan. Selama ini ia menduga gadis cilik itu sudah tiada. Perempuan itu mengangkat tangan untuk menutup mulut.Selagi ia mengira-ngira siapa perempuan itu. si orang asing me lihat Ishida lalu memanggilnya. sali ng bertukar ilmu pengetahuan medis. Dia menerjemahkan perkataan Ishida sepertin ya perempuan itu cukup fasih berbicara bahasa asing lalu melayangkan pandangannya ke arah Takeo lagi. Perempuan itu tercekat lalu berkata . informasi tentang perawatan serta tanaman herbal. serta membandingkan kebiasaan dan bahasa mereka. dengan pakaiannya terlipat ke belakang dan memperlihatkan kulit lengannya. Don Joao pernah bertemu Takeo beberapa kali. Takeo menyebut nama adiknya dengan keras untuk pertama kalinya selama lebih dari enam belas tahun: "Madaren!" Sirna sudah semua hal yang ada dibenak¬nya: ancaman dan wilayah Timur. Tubuh perempuan itu terguncang karena luapan per asaan. seakan-akan mengi ra kalau mung¬kin mengenal Takeo. bahkan kirin sekalipu n. hingga tak kuasa mengendalikan diri. Takeo merasa kulit perempua n itu amat mirip dengan kulitnya. melihat sekilas ke arah Takeo. yang mungkin berusia dua puluh lima tahunan. tapi Ishida memohon pergi karena ada pasien yang membutuhkannya.

cahaya dimatikan satu demi satu. Yang ada dalam ingatannya hanyalah masa kecilnya. tapi sebagai or ang lain. Kau mengenal perempuan itu?" "Bertahun-tahun yang silam." "Aku pernah bertemu dengannya. Anda baik-baik saja? Anda tidak sehat. "Katakan pada Don Joao aku akan menemuin ya besok. Kabari aku di Daifukuji. terlalu cepat." Kota itu semakin senyap. tentu saja tidak perlu!" Takeo mengambil napas dalam-dalam. sama seperti salib yang dikenakan Don Joao di dadanya tampak seperti pameran ses uatu yang keji. "Perlu kupanggilkan tandu?" "Tidak. Meskipun atas perin¬tahnya kaum Hidden kini bebas untuk ber¬ibadah secara terbuka. Ak u akan datang ke Daifukuji." sahutnya." "Kelihatannya kau sangat terguncang. hidupnya seperti meluruh lalu m emudar. keluarganya. tunggu aku di sana. Ia berhasil mcngendalikan diri lalu ber¬kata. Aku tidak tahu kalau dia menerjemahkan untuk orang a sing." Kisah Klan Otori IV Page 57 ." seru Ishida saat mereka berdua berada di luar. Ishida bertanya." "Semoga Dia memberkati dan melin¬dungimu." ujarnya. "Perempuan itu mengenalmu bukan sebagai Lord Otori. "Lord. "Kita tidak bisa bicara sekarang. "Kau lebih tidak sehat dari yang kukira." Takeo bicara dengan cepat pada Madaren. tapi tidak akhir-akhir ini aku pergi selama ber¬bulan -bulan. Selagi mereka menyeberangi jembatan kayu di luar Umedaya dan mengambil salah satu jalan sempit yang mengarah ke kediaman. Juga terlalu banyak minum sake. dengan tatapan terpaku pada wajah Tak eo. tetap saja membuat¬nya terkejut melihat terungkapnya sesuatu yang sebelumnya merup akan rahasia.mampu meman¬dangi adik yang dikiranya sudah tiada. Is hida berkomentar. memanjatkan doa kaum Hidden sa at berpisah." "Aku akan datang ke sana besok. Tadi hanya u dara yang terasa pengap.

disingsingkannya keliman panjang jubahnya ke sabuk lalu m emanjat dinding dengan cukup ringan. "Kau masih bisa menulis dengan tangan ini?" "Setelah berlatih berulang kali. Aku akan mengir im perintah pada penjaga agar membiarkanmu masuk. melewati Jun dan Shin menuju ke kamarnya. Di rumah terakhir sebelum sampai di gerbang kediaman. "Aku akan mencob ." Gerbang sudah ditutup. Aku harus masuk tanpa terlihat. hanya pelacur kelas terendah yang tidur d engan mereka." Takeo masih setengah tercengang dengan pertemuan tadi dan cenderung setengah menyangsikannya. Di¬tekannya jaringan kulit yang tumbuh meng¬gantikan jaringan yang rusak dengan ujung jarinya lalu melemaskan jari yang t ersisa. tapi sebagian besar perem puan peng¬huninya enggan tidur dengan mereka. lalu Takeo menyuruhnya pergi." "Tidak kelihatan memerah karena infeksi. "Rasanya aku masih bisa ber¬tarung menggunakan pedang."Seperti yang tadi kubilang. Pelayan perempuan menuang teh dan membawakan lagi air panas." kata Ishida akhirnya. tapi tidak ada alasan untuk itu selama bertahun-tahun. mengirim Jun untuk mengatakan pada penjaga agar membiarkan Ishida masuk. Menghilang. aku sudah sangat lama mengenalnya. Aku me¬nulis dengan tangan kiri. lalu menyelinap melewati taman yang sunyi. Si tabib tiba: mereka saling memberi salam dengan riang. sebelum aku menj adi Otori. Takeo menarik Ishida ke ba wah bayangan gelap. Bagaimana mungkin itu adiknya? Bagaimana dia bisa selamat dari pembantaian yang menghabisi keluarga dan membakar habis desanya? Tak diragukan lagi bahwa di a bukan sekadar seorang juru bahasa: terlihat olehnya pada tangan dan mata Don Joao. Namun perempuan itu memanggil dengan nama aslinya. "Tunggu di sini sebentar." Seperti yang tadi kubilang." Diperlihatkanny a pada Ishida. Dan Takeo pun mengenalinya. aku sudah sangat lama mengenalnya. seolah belum bertemu se lama enam bulan lamanya. Pri a asing itu kerap mengun¬jungi rumah pelacuran itu seperti laki-laki lain. Mengganti pakaian dengan jubah tidur lalu meminta dibawakan lentera dan teh. kendati hentakan saat mendarat di sisi dinding satunya memb uat sakitnya terasa lagi. Dilepasnya sarung tangan sutra yang me¬nutupi tangan cacatnya d an Ishida menarik lentera lebih dekat agar bisa melihatnya. Ia merasa ngeri saat memikirkan hidup seperti apa yang telah dijalani adiknya. sebel um aku menjadi Otori.

Terkadang aku memimpikannya. ini akan membantumu untuk tidur. Ishida bicara dengan suara pelan." Tiba-tiba Ishida berhenti bicara dan menuang air mendidih ke atas herba kering. Dia selalu memperingat¬kanku tentang gempa dengan cara seperti itu." "Kau beruntung.a dengan jarum besok. "Saat itu anjingku melolo ng." Diambilnya mangkuk lalu diberikan pada Takeo. harum dan menenang¬kan. untuk mengiris garis bujurnya. Belum pernah aku begitu ketakutan. perompak dan orang primitif. "Bisa kudengar anjingku melolong. "Aku sering membuat ini untuk istriku. kapal karam. Aku ingin tahu apakah dia seperti ayahnya." Selagi menyiapkan teh. Kutemukan diriku bertanya-tanya apakah ada orang yang memeliharanya. selama hampir seumur hidupku. Untuk sementara waktu. tenggelam dalam kenangannya. Aku pernah menghempa-skan diri di bawah kakinya dan memohon agar diijinkan bunuh dir i. Kupalingkan wajahku dari kegermarannya yang keji." tuturnya dengan amat pelan. "Istriku pernah cerita sedikit tentang saat¬saat itu. sungguh suatu perwujudan iblis dalam diri manusia. "Hanya gempa yang menyelamatkan kami. hanya mengetahui putranya berbaring di dalam kediaman ini." Kisah Klan Otori IV Page 58 . Aroma samar-samar dari rumput musim panas menyeruak. Dia berpurapura mengabulkannya. "Aku mohon maaf yang sedalam¬dalamny a atas keterlibatanku dalam memen¬jarakan istrimu. Aku menjalankan perin¬tahnya. meski¬pun pernah menghadapi berbagai macam bahaya: badai di laut." "Aku belum pernah bertemu Fujiwara. Aku tidak pernah menyangka kekejamannya akan menimpa diriku." sahut Takeo pelan. mengijinkan aku melihat koleksi buku-bukunya yang berharga juga harta benda yang lainnya. Aku takut bertemu Kono. mempermainkan rasa takutku. sesuatu yang tak akan pulih dalam diriku. Aku ta hu dia orang yang kejam tapi dia selalu memperlakukan diriku dengan baik. menye¬mangatiku untuk belajar dan melakukan perjalanan." Ishida berhenti sebentar. t elah mengorek banyak kenangan.

tempat rumah-ru mah kecil yang dibangun kembali setelah kobaran api meluluh¬lantakkan semuanya bak sarang tawon y ang saling Kisah Klan Otori IV Page 60 .kastil di salah satu jalan sempit yang terbentang di jalan utama. tempat rumah-r umah kecil yang dibangun kembali setelah kobaran api meluluh¬lantakkan semuanya bak sarang tawon y ang saling astil di salah satu jalan sempit yang terbentang di jalan utama.

kemampuan si p erempuan . buruh serta kulrdempetan. Tapi semua laki-laki memiliki hasrat. Hal itu meng¬ingatkannya pada keluarganya dan laki-laki agak aneh yang menjadi kak aknya. Mereka memberi bayaran yang memadai dalam mata uang perak. Kemudian orang-orang asing berjanggut berdatangan. pada waktu yang b er samaan ia juga belajar bahwa perempuan yang dikuasai cinta merupakan makhluk yan g paling tak berdaya di kota ini. Madaren berhasil menjelaskan pada pe milik rumah bahwa Don Joao hanya menginginkannya. Madaren me nampiknya. ia memilih orang yang bern ama Don Joao. buruh serta kuli angkut tanah di malam hari. bahasa mereka hanyalah bahasa tubuh: nafsu si laki-laki. dan di antara mereka ini banyak yang bisa diperdayai oleh cinta seperti laki¬laki golongan klas lainnya. dan akhimya ia kembali ke kehidupan lamanya. pergi meninggalkan rumah sebelum matahari terbit lalu menemu i laki-laki itu galangan kapal yang masih berkabut. Air mata menggenang di matanya saat meringkuk di bawah papan tebal. dan ketika kekasihnya berbalik untuk memeluk¬nya. Ia bisa memeras ha diah dari mereka. Pedagang itu membosankan serta membuatnya gusar. bahkan kuli pengangkut barang . atau kadang mencurinya. dan tak lama kemudian ia tidak harus tidur dengan laki¬laki lain.berdempetan. bahkan setelah mereka membeli¬nya. Itulah yang dipelajari Madaren. Mereka me¬numpang kapal yang mengangkut kayu c edar dari hutan menuju wilayah Timur. walaupun laki-laki itu mengira kalau dialah yang memilih Madaren: orang-orang as ing bersifat sentimental sekaligus pemalu bila sudah berhubungan dengan kebutuhan jasmani: me reka ingin merasa istimewa bagi seorang perempuan. Ia mau pergi dengan lakilaki yang dijauhi oleh gadis-gadis lain. bergabung ke rumah pelacuran yang lebih tinggi kelasnya dibandingkan yang pertama. memanfaatkan rasa terima kasih mereka. Awalnya. tanah kelahirannya. bau mereka yang aneh dan tubu h mereka yang besar. dan aroma kayu itu mengingatkannya pada Mino. dengan mudahnya disingkirkan bak anak kucing yang tidak dii nginkan. bahkan kuli pe ngangkut barang. Madaren melihat ada semacam kekuatan dalam diri mereka yang mungkin bisa dimanfaatkan dan dengan sukarela tidur dengan mereka. dan ia memanfaatkan apa yang dipelajarinya ini dengan cerdas. dan pada akhirnya membiarkan seorang pedagang yang hampi r bangkrut membawanya ke Hofu. Tapi semua laki-laki memiliki hasrat. yang membuat gusar sekaligus memesona ibu mereka.

tapi pintu termasuk jenis perempuan. yang mereka temukan dan mereka harapkan bisa meraih kekayaan dan kem enangan. kampung halamannya. Orang-orang asing sebelumnya memiliki seorang juru bahasa. pikir Madaren. Mereka begitu jauh hingga ia tak mampu membayangkan seperti apa kehidupan mereka. Don Joao mem¬punyai istri dan anak-anak di Porutogaru*. tak percaya kalau Don Jo ao bisa bertemu mereka lagi. Aku juga bisa meraih kekuasaan semacam itu. dan Don Joao bicara tentang kepercayaan serta Tuhannya Deus** dan kata-kata serta salib yang dikalungkan di lehernya membangkitkan kenangan masa kecil Madar en tentang Kisah Klan Otori IV Page 61 . jelas dari cara bicaranya kalau si nelayan tidak berpendidikan dan be rasal dari klas rendahan.memuaskannya. bahkan ketika dia hanya mengarang sembar angan. Mereka percaya semua yang dikatakannya. namun hubungannya dengan orang asing memberinya status dan kekuasa¬an. Karena Madaren sema¬kin fasih Don Joao tidak menguasai lebih dari bebera pa patah kata dari bahasa Madaren mereka mulai membicarakan hal¬hal yang lebih mendalam. Madaren tidak mengindahkan mereka. orang-orang yan g dia tangisi ketika sedang mabuk. dan jika bicara dengan bahasa itu pada Don Joao. karena nelayan itu tidak lebih baik dariku. sedangkan lantai matahari berjenis laki-laki tapi ha l itu justru memesonanya. Bahasanya sulit. begitu pula hujan. Nelayan itu merupakan pintu masuk mereka ke duni a baru yang rumit. dan ia mulai berusaha me¬mahami Don Joao. Ia tak bisa membayangkan alasannya. penuh dengan bunyi aneh dan dikumpulkan dari depa n ke belakang semuanya memiliki jenis kelamin. lalu mendorong laki-laki itu un tuk mengajarinya. seorang nelayan yang mereka selamatkan dari laut oleh kaum mereka karena kapalnya tenggelam dan dibawa ke ma rkas mereka di Kepulauan Selatan. M ereka bergantung sepenuhnya kepada¬nya. Nelayan itu mempelajari bahasa mereka: kadang menemani mereka ke rumah pelacuran. ia merasa s eperti menjadi orang lain.

kepercayaan keluarga¬nya dan ritual kaum Hidden. Kisah Klan Otori IV Page 62 . epercayaan keluarga¬nya dan ritual kaum Hidden.

.] ingat sedikit tentang kepercayaan kaum Hidden. banyak yang terta rik dengan agama orang asing dan bahkan berkeinginan mencoba bila itu bisa mening¬katkan perd agangan dan kekayaan bagi semua orang. Pada titik inilah sepertinya Tuhan Rahasia dan Deus berbeda. dan menceritakan tentang pendeta da lam agamanyJoao bicara penuh semangat tentang Deus. bertahtakan emas dan kerang mutiara. "Saat pendeta datang. Hal ini men gejutkan Madaren. lalu me nyebut nama baptisnya. Tapi menurut Madaren keduanya tak mungkin melakukannya k arena bukankah Lord Otori membunuh kakek pamannya untuk balas dendam? Bukankah Lady Ma ruyama menceburkan diri ke sungai di Inuyama ber¬sama putrinya? Satu hal yang diketahui s emua orang tentang kaum Hidden yaitu Tuhan mereka.] **) Deus berarti Tuhan dalam bahasa Portugal [pent. dan prasangka lama pun perlahan menghilang. Ada juga kabar burung yang mengatakan bahwa Lord Otor i dulunya adalah orang Hidden.Don Joao bicara penuh semangat tentang Deus. selalu atau tidak pernah. juga menganut kepercayaan itu. Ia hanya *) Porutogaru adalah lafal Jepang untuk menyebut Portugal [pent. dan ketika Madaren me¬ma hami maksudnya. Orang asing itu terkejut karen a penyiksaan dilarang di Tiga Negara. Otori Takeo . melarang mereka mencabut nyawa. Apakah itu keduanya atau tidak s atu pun. Maruyama Naomi . baik nyawa mereka sendiri maupun nyawa orang lain. penutup kepalanya berlekuk dan melindungi. Penguasa baru Tiga Negara. dan menceritakan tentang pen deta dalam agamanya yang berkeinginan kuat agar negara lain menganut kepercayaan mereka. mengeluarkan ke¬putusan bahwa rakyatnya bebas beribadah dan percaya pada kepercaya an pilihan me¬reka. dan memb ual bila dia selalu punya tujuan untuk menggunakan pedang ini. kau harus dibaptis. hanya ingat gema doa serta ritual yang dilakukan keluarganya dengan komu¬nitas kecil mereka. karena Don Joao men¬c eritakan kalau mereka adalah orang ber¬agama sekaligus prajurit. dan bahwa penguasa Maruyama yang sebelumnya. sudah atau belum? Don Joao selalu bersenjatakan pedang panjan g tipis. Tuhan Rahasia. Tentu saja. ia ingat yang sering dikatakan ibunya: dilahirkan dengan air. dan menceritakan bagaimana ke¬kerasan digunakan di negara nya dan ter¬hadap penduduk asli Kepulauan lain untuk menghukum." kata Don Joao. untuk mendapatkan informas i serta menyelamatkan nyawa.

Orang-orang asing hanya memahami sedikit sekali tentang sikap dan kesopanan. Orang itu tertarik setengah mati pada kaum Hidden. Ia merasa Kisah Klan Otori IV Page 63 ."Madalena!" ulang Don Joao dengan terperanjat. selalu ber¬lutut dengan rendah hati sedikit di bel akang orang-orang asing dan lawan bicara mereka. bicara dengan pelan dan jelas. dan ingin bertemu l ebih banyak lagi penganutnya. Kemudian Tomasu dikirimkan padanya. Madaren menangkap ketertarikannya dan mereka mulai bertemu dengan para penganut dalam jamuan makan di kalangan kaum Hidden. ia bisa selamat merupakan mukjizat. lalu mulai menunggu waktu untuk menjala nkan misi. lalu membuat gerakan berbentuk ta nda salib di depannya. menurut mereka . D engan keyakinan mencapai tujuan yang dibawanya sejak berhasil lolos dari Inuyama dan m empelajari bahasa asing. Seringkali ditemukan dirinya berada di rumah para p edagang. terutama untuk menerjemahkan. dan Don Joao berharap Madaren mene¬maninya kemana pun ia pergi. juga jawabannya. Madaren bertemu dengan orang-orang yang menge tahui desanya dan mendengar tentang pembantaian bertahun¬tahun yang lalu di Mino. ia mempelajari keadaan di sekelilingnya yang masih asing. Don Joao mengajukan banyak per¬tanyaan dan M adaren menerjemahkannya. terakhir bahkan di kediaman Lord Ar ai. sadar akan tatapan penuh hina serta kecurigaan dari istri-istri dan anak perempuan mer eka dan bahkan kadang di tempat-tempat yang lebih berkelas. serta mem¬perindah t erjemahannya bila terdengar kurang sopan. dan menyatakan kalau Madaren masih dibiarkan hidup o leh Tuhan Rahasia untuk tujuan isti¬mewa tertentu. maka ia tahu misi itu berhubungan dengan kak aknya. Madaren menyambut kem¬bali kepercayaan yang pernah hilang dari masa kecilnya dengan hangat.

lalu Kisah Klan Otori IV Page 64 . satu hari berada di ruangan yang sama dengan Lord Ar ai Zenko.kagum pada dirinya sendiri. lalu agum pada dirinya sendiri. satu hari berada di ruangan yang sama dengan Lord Arai Zenko.

Ishida kadang membawa teks-teks dan mem¬bacakannya untu k diterjemahkan karena Madaren tidak bisa membaca maupun menulis. Madaren pernah bertemu tabib Ishida beberapa kali. dia seperti pedagang meskipun jelas . Dan seb agian dari kekuasaan itu dia gunakan untuk memanfaatkan orang-orang itu: mereka membutuhkan nya dan mulai meng¬andalkan dirinya. memimpikan tentang sem uanya. dan bertindak sebagai juru ba hasa dalam perbincangan yang panjang. jelas sekali kalau kedudukannya amat tinggi. Madarien tidak in gin mengatakan pada Don Joao kemana ia pergi: tidak ingin harus berpikir dalam bahas a laki¬laki itu atau khawatir tentang laki-laki itu. benak Mad aren tersita oleh keragu-raguan: kemarin itu bukan Tomasu. dia salah lihat. membulat ser ta pucat. dan menyelinap keluar sebelum matahari terbit. bayangan mereka tampak seperti tangan yang sedang menggenggam. seolah kulitnya mengenali laki-laki itu dan segera meng enalinya kalau mereka lahir dari ibu yang sama. namun jantungnya seperti berhenti berdetak kemudian berdebar-debar. menemu¬kan tubuh si orang asing di sebelahnya teram at sangat panas. berharap bisa berbincang. Malam itu Don Joao melihat Ishida lalu memanggilnya.berikutnya di penginapan semacam Umedaya. Ombak laut surut dan kepiting berlarian cepat di atas lumpur yang mengering. lalu duduk tenang dan minum teh hingga mentari pagi bersinar terang. mandi dan berpakaian di sana. Bulan melintasi langit dan kini menggantung di barat. rikutnya di penginapan semacam Umedaya. Madaren nyaris tak bisa tidur. Nalurinya ternyata benar: kemampuannya b erbahasa asing membuka jalan pada sebagian dari kekuasaan serta kebebasan mereka. n amun Ishida memohon pergi karena ada pasien yang membutuhkannya. Don Joao juga membacakan kitab suci u ntuknya dan mengenali potongan¬poiongan kalimai dari doa dan pemberkatan di masa kecilnya. memerhatikan tangannya yang cacat dan kerutan di matanya. dia takkan datang. Ia berjalan melewati jalanan sempit menuju rumah tempat ia dulu bekerja. Ia tidak langsung mengenalinya. dan berjalan menyusuri tep i sungai di bawah pohon willow. Nalurinya ternyata benar: kemampuannya berbahasa asing membuka jalan pada sebagian dari kekuasaan serta kebebasan mereka. Dan seb agian dari kekuasaan itu dia gunakan untuk memanfaatkan orang-orang itu: mereka membutuhkan nya dan mulai meng¬andalkan dirinya. membangun¬kan pelayannya. Madaren menduga kalau pasie nnya itu adalah kawan¬nya dan memelihat laki-laki yang satunya lagi. Selama berjalan ke Daifukuji.

dan menyadari pasti inilah misinya: me nye¬lamatkan Tomasu.bukan pedagang yang berhasil yang tak ingin punya hubungan apa-apa dengannya. dewa laut. Madaren berjalan masuk gerbang. menyelipkan tangannya di ba lik jubahnya untuk menyentuh salib pemberian Don Joao. Madaren berjalan perlahan. yang dililit tali jerami yang berkilauan. Dia tidak datang menghampiri untuk menolong¬nya. menyambut para pelaut dan pedagang serta mengingatkan mereka untuk bersyukur pada Ebisu. kalau benda-benda semacam itu dibenci Tuhan Ra hasia dan sama seperti menyembah setan. Ia berjalan ke aula utama. Bunga lili menghiasi tepian kolam. agar melindungi mereka selama perjalanan. ia menduga itu pohon ceri walaupun bunganya sud ah lama gugur. Kerumunan kecil sebagian besar rahib dengan kepala botak dan jubah berwarna tida k mencolok. melupakan aliran sungai yang tergesa-gesa di sekelilingnya ketika gelom¬bang laut pasang menyapu. selama ini ternyata dia masih hidup dan tid ak berusaha mencarinya. Madaren melihat¬lihat ukiran dan area di kuil itu dengan perasaan tida k suka. meskipun terpesona dan terbuai oleh keindahan tamanny a. Daifukuji menghadap ke laut: gerbang merahnya bisa terlihat dari seberang ombak laut. Kisah Klan Otori IV Page 65 . karena ia telah percaya. seperti halnya Don Jolo. takut kalau kakak¬nya bukan lagi penganut kepercayaan. Sinar matahari terasa makin panas dan bayangan taman semakin menariknya masuk. setengah tidak nyaman dengan l antunan doa dan genta dari dalam kuil. dan tepat di belakangnya ter¬dapat kurungan berdinding putih di sekita r taman dengan pepohonan yang jauh lebih kecil. Di sebelah kanannya berdiri beberapa pohon ced ar tua. Ia bertanya¬tanya sendiri mengapa memilih tempat seperti ini untuk bertemu. me¬nunggu kakaknya. dan belukar azalea musim panas pertama bermekaran menjad i bunga berwarna merah tua.

berdiri di luar dinding. patung ukiran . penggambaran Kisah Klan Otori IV Page 66 . Madaren mengikuti arah pandangan mer eka dan dan melihat apa yang sedang mereka perhatikan: awalnya ia mengira itu. memandang ke atas. memandang ke atas. Madaren mengikuti arah pandangan merek a dan dan melihat apa yang sedang mereka perhatikan: awalnya ia mengira itu. patung ukiran . penggambaran rdiri di luar dinding.

" Kisah Klan Otori IV Page 68 .tumbuh semakin besar. pada saat itulah kita bisa yakin." umbuh semakin besar. pa da saat itulah kita bisa yakin.

Makanannya dedaunan dari pohon tempat asalnya. Orang¬orangnya berukuran dua kali lebih besar daripada kita. Ishida membawa hewan itu kembali ke kandang. berkulit sehitam warn a pernis. tempat upacara singkat dilakukan." "Bisakah dia berjalan sampai ke Hagi?" "Barangkali kita harus mengangkutnya dengan kapal. Aku langsung berpikir tentang Lady Shi geko." sahut Ishida." Ketika selesai mengagumi kirin. selama tidak mengancam tatanan rnasyarakat. walau diakui-nya keseluruhan manusia akan alasan spiritual bagi keberadaan mereka." "Dan bagaimana kau bisa mendapatkan¬nya? Tentunya hewan seperti ini tak ternilai h arganya?" "Hewan ini ditawarkan padaku sebagai semacam alat pembayaran. dan ." Takeo tersenyum memikirkan keahlian putrinya dengan kuda dan kasih sayangnya pad a semua hewan. para pelaut membicarakan tentang benua yang amat besar tempat hewan-hewan seperti ini merump ut dalam jumlah besar bersama gajah darat dan sungai. masih jauh lagi ke barat. Takeo menyalakan dupa dan lilin serta berlutut di depan patung d ewa. "Tidakkah sulit untuk mempertahankan agar dia tetap hidup? Apa makanannya?" "Untungnya perjalanan pulang tidak ber¬ombak. kem udian pergi bersama Takeo menuju kuil. doa dipanjatkan bag i kesehatan kirin dan Lord Otori. dan betapa dia akan sangat menyukainya. tapi ternyata se-nang juga meneri ma rumput. "Ak u berhasil mengobati seorang pangeran di daerah itu. serta dedaunan hijau yang lezat. namun kurasa tidak bisa berjalan melewati pe¬gunungan. singa emas raksasa dan burung berwa rna merah muda. semua sekte dan kepercayaan diperb olehkan di Tiga Negara. Hewan ini bisa berjalan bermi l-mil jauhnya tanpa kelelahan. maka aku terima tawaran ini dan mengatur agar hewan ini bisa menemani kami pulang. Tapi dia berasal dari pulau lain."Di mana kau menemukannya?" Di mana kau menemukannya?" "Di selatan Tenjiku. dan kirin bersifat tenang serta muda h dihibur. Ia sendiri memercayai tuhan manapun. dilaku¬kannya semua praktik keagamaan yang diharapkan darinya dengan khidmat dan hormat. segar atau pun kering. dan mampu membengkokkan besi dengan tangan kosong.

Terdengar olehnya keraguan dalam langkah kaki Madaren d i atas kerikil jalan setapak. Dua rahib muda yang sedang bert ugas membersihkan patung dan menyapu lantai mengundurkan diri tanpa bicara. sisi sebelah selatan bermandikan cahaya. Madaren berlutut lagi. menyembuny ikan wajahnya. Ishida dan Kepala Biara setempat ber cerita dengan gembira dan menggubah puisi penuh dengan permainan kata-kata tentang kirin. Pere mpuan itu masih berlutut dengan sabar di tempat yang sama. Takeo memberi isyarat dengan gerakan tangan saat berjalan melewatinya. Kisah Klan Otori IV Page 69 . "Tidak perlu takut. yang ada penyembahan atas sang Pencerah dan Ebisu dew a laut. di bawah bayangan gelap dari atap yang melengkung. meminta agar perempuan itu mengikutinya. Bangunan kuil menghadap ke timur. Setelah melakukan upacara." ujar Takeo. Takeo dud uk di pinggiran beranda: hayunya yang telah termakan cuaca berwarna abu-abu ke-pcrakan dan masih hangat terkena cahaya matahari. teh dibawa masuk dengan manisan osenbei. terdengar pula deru napasnya yang cepat dan pendek. Sesaat sebelum tengah hari. Takeo.tentu dirinya pun memiliki kebutuhan yang sama. namun di beranda. udara masih terasa dingin. Takeo berdiri dan mengatakan bahwa ingin sendirian d i taman sebentar. lalu berjalan menyusuri aula utama ke aula yang lebih kecil di belakangnya. Burung gereja berkicau di taman dan merpati bergumam di pepohonan cedar.

Madaren bicara dengan nada kecut. dan juga tahu ada semacam amarah terpendam dalam diri adiknya. yang tak akan pernah terjadi kecuali dugaanku benar adanya." sahut Madaren setelah beberapa saat. Dan aku tahu dari cerita-cerita bahwa kau pemah membunuh orang lain. Aku bahkan tidak tahu di mana jasad mereka." "Kita saling mengenali semalam. tidak menger ti.. apa yang bisa ia lakukan untuk adiknya : apa sa ja. "Keduanya sudah mati. dan dinding di ke¬jauha n tempat kirin mengayunkan kepalanya di atas genteng bak mainan anak-anak. Mungkin aku telah melakukan kesalahan besar. "Kulihat kau berdiri di hadapan patung emas." Itu garis besar paling sederhana dari perjalanan luar penuh gejolak yang telah m enggiringnya menjadi orang paling ber¬kuasa di Tiga Negara. Tapi sud ah bertahuntahun lamanya sejak terakhir kali ada orang yang memanggilku Tomasu. Kau tampak seperti pahlawan yang jauh tak tergapai dan cuma legenda: bagai¬mana bisa kau adal ah Tomasu dari Mino? Apa yang terjadi padamu ketika aku dijual dari satu rumah bordil ke r umah bordil lainnya?" "Aku diselamatkan Lord Otori Shigeru: beliau mengangkatku menjadi pewarisnya dan menginginkan aku menikah dengan Shirakawa Kaede.. malah memalingkan wajah ke arah bayangan gelap rumpun pepohonan. "Aku. Nada suara Madaren nyaris terdengar seperti tuduhan." Kepala Takeo bergerak sedikit untuk membenarkan kata-kata adiknya. "Kurasa ibu dan kakak kita." kata Takeo dengan sedih. "Selama enam belas tahun kudengar balada dan cerita yang digubah tentang dirimu. Ia sadar kalau ketenangannya tampak seperti ketidakacuhan bagi Madaren." sahut Madaren setelah beberapa saat... Seraya ber¬tany a-tanya apa yang diinginkan Madaren darinya. Mungkin akIni bukan ketakutan.. Tapi Lord Otori sekarang bicara berdua saja den ganku. Takeo tidak membalas tatapannya."Ini bukan ketakutan. "Memang benar aku kakakmu.. pewaris Maruyama." ujar Takeo." Madaren menatap langsung matanya. yang bisa memulihkan hidupnya yang telah terlanjur hancur.. "Aku. tidak mengerti." .

Aku bibi dari anak-anakmu." sahutnya s ambil sedikit memalingkan wajah. Dan aku pun memiliki tugas spiritual terh adapmu. "Tidak ada yang namanya neraka. Tapi aku tidak bisa mengumumkan tentang hubungan kekeluar¬gaan kita. ia tak punya cukup kata-k ata untuk mengungkapkannya. Mengetahui itu membuat i a tertekan dan iba. "Tomasu. Kau satu-satunya keluargaku. "Selain neraka yang diciptakan manusia di bumi."Aku minta maaf atas semua penderitaan yang telah kau alami." tutur Takeo. Jarak di antara mereka sudah terbentang terlalu jauh. Tidak ad a cara yang bisa mereka lakukan untuk saling mendekati." kata Madaren. dan rasa iba muncul lagi. Bila mereka masih menganut kepercayaan ya ng sama mungkin mereka bisa memanjatkan doa bersama. Jangan coba-c oba mendekatiku lagi. namun kini kepercayaan masa kecil yang dulu menyatukan mereka justru menjadi penghalang yang tak bisa dilalui."* Kisah Klan Otori IV Page 70 . Aku tak bisa melihatmu masuk neraka!" Takeo bangkit lalu berjalan menjauh." Takeo menyadari ba hkan saat ia bicara pun nada suaranya kaku dan terlalu dibuat-buat. Aku peduli pada jiwamu. Kita saling memiliki kewajiban. "Jika kau butuh apa pun." Takeo melihat kalau ia telah menyakiti adiknya. dan aku harus memi ntamu umuk tidak mengatakannya pada siapa pun. kau bisa mendekati pejabat kota yang berwenang. "Akan kupastikan kau diurus dengan baik. "Kau adalah kakakku. tapi j uga tahu kalau ia tak bisa membiarkan adiknya mengambil tempat lebih banyak lagi dalam kehidupannya se lain dengan cara seperti ini: berada dalam perlindungannya.

sebagai Kikuta. Mereka tahu kalau sang ibu tidak menyukai kemampuan Tribe yang mereka miliki." tuturnya." "Berdoa saja takkan ada perang lagi. "Jika tidak akan ada perang." Shizuka memperingatkan mereka. belajar memanah." ujar Shigeko. menunggang kuda serta menggunakan pedang. "Lord Hiroshi. "Kau seperti aku ketika aku masih kecil. mem¬permainkan kakak perempuan mereka atau menghukum orang yang lewat di depan mereka sulit dibendung.Saat nama Kikuta disebut." ujar Shizuka ketika Maya bersembunyi s elama setengah hari tanpa bergerak di dalam keranjang bambu. sambil menyi¬kut Maya. "Kata Lord Hiroshi siap perang adalah pertahanan terbaik melawannya. tapi terkadang godaan untuk mengelabui guru-guru mereka. kita takkan menghadapi per¬tar ungan yang sebenamya. menghilang di balik atap yang terbuat dari ilalang. "Berdoalah seperti kakak kalian agar kalian tidak pernah mengenal perang yang se benar¬nya. Itu me¬rupakan lambang jalur sempit yang mereka lalui di antara dunia. sepe rti Taku." sahut Shigeko. da n bahwa klas ksatria menganggap mereka penyihir: mereka belajar sejak dini apa yang bisa diba nggakan di desa Muto haruslah disembunyikan di kastil seperti Hagi atau Yamagata." "Kau beruntung Shizuka. "Tidak ada yang lebih menyenangk an. Maya kembali ke pokok pembicaraan tadi. mengapa Aya h dan Ibu memaksa kami belajar kemampuan bertarung?" tanyanya. "Nikmati saja. karena ketiga gadis itu. menandai diri mereka seperti sang ayah. si kembar tanpa sadar menyentuh ujung jari mereka pada lekukan yanaat nama Kikuta disebut." bisik Miki. Kedua gadis kembar itu tertawa cekikikan. Shizuka jarang marah. Kau ada di sana saat Inuyama jatuh! Kau bertarung bersam a Ayah!" "Sekarang Ayah mengatakan tak akan ada lagi perang. diajar kan oleh Shizuka dan Sugita Hiroshi atau ksatria besar lainnya di Tiga Negara. Si kembar mengerang. la yaknya anak kelas ksatria. si kembar tanpa sadar menyentuh ujung jari mereka pada lekukan yang melintang di telapak tangan mereka. atau ketika Miki memanjat kayu kaso selentur dan secepal kera liar. .

"Kurasa kalian seharusnya bisa jauh lebih baik dalam menulis. Shigeko memutuskan untuk lebih berhati¬hati." kata Shigeko. lalu wajahmu bersemu merah. karena dia pengawal senior dan orangtuanya berhara p ia mengenal setiap detil wilayahnya. tapi Shigeko suka melihat tulisan tangannya.Wajah Shigeko bersemu merah. Untungnya laki-laki itu sudah kembali ke Maruyam a untuk mengawasi hasil panen dan persiapan upacara pengukuhan ia menjadi pewaris wilaya h itu. Ambil kuasnya!" Shigeko membuka satu gulungan lagi lalu mulai m endiktekannya. adik-adikku. itu tidak berarti apa¬apa. Shigeko harus mempelajari semua sejarah ini. "Kau selalu mengatakan ucapan Lord Hiroshi. Sudah sewajarnya aku mempelajari peribahasa yang dipakainya. Surat¬suratnya bersifat resmi. "Lagipula. Isinya adalah salah satu hikayat kuno Tiga Negara. Kisah Klan Otori IV Page 72 ." "Dan Lord Miyoshi tidak membuat wajah¬mu merah!" timpal Maya." ujar Miki. penuh dengan istilah sulit da n kejadian yang sukar dimengerti. Jelas sekali kalian perlu banyak latihan." "Aku tidak menyadari itu. Shigeko berharap pelajaran itu bisa meng-hukum mereka karena menggodanya soal Hiroshi. dan berharap mencegah mereka membicaraka n tentang topik itu lagi. menutupi rasa malu dengan berbicara den gan nada resmi. tidak membiarkan diri nya dengan bodohnya menyebut nama Hiroshi. Hiroshi adalah salah satu guru yang sangat bij aksana. "Tapi kau jarang menguti p apa yang dikatakannya." "Lord Miyoshi Gemba juga salah satu gurumu. Hiroshi sering menulis surat. begitu pula dengan si kembar. "Apa?" tanyanya.

Hiroshi menceritakan dengan rinci setiap anak kuda Kisah Klan Otori IV Page 73 . dan tentang kuda. Surat-surat itu me nyebut nama para tetua serta karakter mereka. dan tentang kuda.bergaya tulisan tangan ksatria. tebal dan dibentuk dengan baik. tebal dan dibentuk dengan baik. Surat-surat itu menyebut nama para tetua serta karakter mereka. Hiroshi menceritakan dengan rinci setiap anak kuda rgaya tulisan tangan ksatria.

ketika Hiroshi masih kecil. Ia pernah mendengar per¬bincangan soal pernikahan dirinya karena kini usianya beranjak lima belas tahun. Kita akan berjalan menuju jembatan batu. Ia tahu akan ada rencana pertunangan. bukan putri-putri Lord Otori. Semua pikiran ini melintas di benaknya selagi membaca secara perlahan dan hati-h ati dari gulungan." sahut Shigeko. Lebih dari se galanya. membuat kedua adiknya bersorak kegirangan. me-manah serta bertarung dengan pedang: Hiroshi juga mengajarin ya seni perang. cukup sering menyuruh mereka berl atih lagi menulis huruf yang salah guratannya. strategi dan taktik. Shigeko merindukannya dan amat ingin berjumpa lagi dengannya: Hiroshi sudah sepe rti kakaknya. menye¬tujuin ya dengan patuh. Dan kurasa kita sebaiknya membawa beberapa pengawal. bahkan teman yang paling baik. Hiroshi bisa menjadi penasihat yang paling berharga." . Ketika matahari mulai tenggelam dan udara terasa ag ak dingin. dianggap sebagai putra dalam keluarga. tapi menduga kalau itu tidak mungkin. tinggal di kediaman Otori. dan Shigeko mengurangi ketegasannya. "Bolehkah kita berjalan melewati pagar penangkap ikan?" tanya Maya dengan nada memohon. Tak satu pun dari keduanya berani berkomentar." seru Shigeko.yang baru lahir dan perkembangan kuda-kuda jantan yang pernah mereka jinakkan be rsama. yang melemah dengan beratnya hukuman yang mereka dapatkan. Kudaang baru lahir dan perkembangan kuda-kuda jantan yang pernah mereka j inakkan bersama. "Kita ke biara. tapi tidak akan l ebih. Shigeko menyarankan agar mereka berjalan-jalan sebelum latihan di sore hari. "Tempat itu hanya boleh digunakan anak b erandalan. memanggil Shizu ka dan memintanya untuk ikut bersama kita. Kudakuda Maruyama sudah tumbuh satu tangan lebih tinggi dibandingkan dua puluh tahun lalu . Si kembar. Shigeko memper baiki pekerjaan adik-adiknya dengan baik hati. per¬nikahan yang akan memperkuat posisi keluarg anya dan menopang hasrat ayahnya untuk kedamaian. Shigeko berharap Hiroshi menjadi suaminya. "Tentu saja tidak bisa. Dia mengajari Shigeko menunggang kuda. karena biara itu dipersembahkan bagi dewa sungai dan kuda. Tangan si kembar terasa sakit dan mata mereka terasa gatal saat Shigeko selesai membacanya. begitu pula dengan seni pemerintahan.

" "Bolehkah kami membawa pedang?" tanya Maya dan Miki serempak."Kita tidak butuh pengawal." *** Shigeko memikirkan selama beberapa saat tentang masalah tandu: apakah memaksa si kembar ditandu dalam kegelapan atau mem¬biarkan mereka berjalan kaki. Tak satu satu pun dari kedu anya ingin ditandu. tidak ada pedang. "Baiklah. tapi ia tahu kalau Ibunya tidak suka si kembar terlihat bersama di temp at umum. dan kedu a adiknya yang gelisah mungkin bisa tenang dan lelah setelah berjalan kaki." balas Shigeko." ujar Maya lumayan mirip menirukan Hiro shi. tidak seformal dan sekeras di Inuyama." "Ingat serangan di Inuyama!" Miki meng¬ingatkan. "Mungkin kau perlu latihan menulis lagi. kakak." sahut Miki cepat. "Untuk berkunjung ke biara. kampung halaman mereka. mari kita pergi seperti yang kau katakan. di jantung Hagi? Kita tidak butuh pedang. kelihatan seakan ingin duduk lagi. ini di Hagi. Shigek o pun ingin berjalan kaki. Di sisi lain. ingin melihat kehidupan Kisah Klan Otori IV Page 74 . "Seorang ksatria sebaiknya selalu siaga. "P engawal.

tempat yang jarang bisa dikunjun gi si kembar. jalan-jalan sempitnya serta toko-toko kecil penuh ber¬bag ai hasil bumi dan kerajinan. satu pelayan per empuan membawa keranjang bambu berisi botol sake serta sesaji lain. terbentang dunia yang sangat menyenang¬kan. Tulang belulangnya ditemukan di sungai dan dikuburkan kembali selama pemb angunan kembali jembatan. Mereka s emua mengenakan sandal kayu serta jubah tipis musim panas. Shizuka berjalan di samping Maya. Akane. Di belakang jalan utama lebar yang mengarah dari gerbang kastil m enuju jembatan batu. karena kulitnya seputih kulit ibunya dan takut terkena sinar matahari. berterima kasih pada dewa sungai karena melin dungi Otori dan mem-peringati tukang batu yang dikubur hidup¬hidup di dalam dinding itu bertah un-tahun silam. Gelombang menghempas ketika mereka tiba di jembatan batu. tapi mema¬lingkan wajah ketika si kembar lewat." kata Shigeko pelan saat mereka meninggalkan jembatan. Tapi Arai telah membuatk . "Lihat apa yang terjadi padanya!" ujar Maya dengan nada puas selagi mereka berdi ri di depan batu itu. termasuk wortel unt uk kuil kuda. "Shizuka pasti bersedih atas kematian Lord Arai. tapi kulit si kembar keku ningan seperti ayahnya merasa tidak perlu melin¬dungi kulit mereka. terbentang dunia yang sangat menyenang¬kan. Dua pengawal berjalan di depan mereka dan dua lagi di belakang. Di belakang jalan utama lebar yang mengarah dari gerbang kastil m enuju jembatan batu. tempat yang jarang bisa dikunjun gi si kembar. Wasp adalah ketidakadilan dan ketidak¬seti aan." sahut Shizuka. yang menyaksikan ayah mereka mati di depan mata mereka. "Aku bersedih atas cinta yang pernah ada di antara kami. Di jembatan yang pernah hancur dalam peristiwa gempa yang dipercaya rakyat sebagai hu kuman atas pengkhianatan Arai Daiichi ada pahatan kalimat: Klan Otori menyambut keadilan dan kesetiaan. dan terkadang mereka mengunjungi kuil di kawah gunung berapi tempat kematian tragis Akane diperingati dan arwahnya yang dipanggil kembali oleh para kekasih yang tidak bahagia. jalan-jalan sempitnya serta toko-toko kecil penuh ber¬ba gai hasil bumi dan kerajinan. ota yang penuh semangat. Shigeko memegang parasol. Mereka mempersembah¬kan sesaji sake. sungai berbau asin dan lumpur. juga ce rita tentang putri si tukang batu. Shizuka sering menceritakan ini pada ketiga gadis itu.kota yang penuh semangat. dan Miki berdampingan dengan Shigeko. Sesaat si kembar berjalan berdampingan: para pejalan kaki berlutut ket ika Shigeko lewat. "Juga u ntuk kedua putraku. laki-laki maupun perempuan.

Kematiannya tidak lebih da ri akhir yang adil atas cara hidup yang dipilihnya. "Semakin usiaku be r¬tambah. "Benar." "Kau tahu banyak tentang masa-masa itu!" seru Shigeko." "Apakah dia lebih baik ketimbang Ayah?" "Shigeko! Aku tidak bisa menilai ayahmu! " "Kenapa tidak? Ayah adalah sepupumu. Ya. Kau mengenalnya lebih baik ketimbang kebany akan orang. "Jangan teruska n lagi! Aku menyesal sudah bertanya." "Aku belum pernah bertemu orang seperti dia. Selama ini Isihida dan aku mencatat semua ingatanku: ayah kalian yang memintanya. Shigeko.. Kami saling menaruh kepercayaan satu sama lain selama bertahun-tahun." "Beliau pasti orang yang baik. dan saling percaya den gan taruhan nyawa kami.." Shigeko tiba-tiba merinding." "Takeo sangat mirip Shigeru: dia seorang laki-laki serta pemimpin yang hebat." " Tapi. aku mengenalnya dekat." aku Shizuka. "Ayahmu berusaha mcnguasai ke¬lem ahannya. dan telah memberi perintah agar aku di¬bunuh. semua yang terjadi di masa lalu menjadi lebih jelas di benakku.?" "Semua orang memiliki kelemahan." "Dan kau mengenal Lord Shigeru?" "Namamu." tutur Shizuka. barangkali lebih banyak dari siapa pun. meskipun udara masih terasa hangat." Kisah Klan Otori IV Page 75 .u menjadi musuhnya. namun sifatnya terbagi dengan cara yang tidak terjadi pada Shigeru. adalah nama perem¬puan dari Shigeru.

"Ada apa? Apakah kau mendapatkan firasat?" Ada apa? Apakah kau mendapatkan firas at?" Kisah Klan Otori IV Page 76 .

unsur terakhir dari hutan jaman purba yang pernah menyelimuti tanah ini. hanya ter-pecahkan oleh kicau burung. Mungkin mereka akan pulang bersama."Aku selalu mendapatkan firasat. dan si kembar pergi meinpersembahkan sesaji bagi hewan yang dianggap keramat itu. Namanya Hiroki. Apa yang akan terjadi pada adik-adikku kelak? Di mana tempat mereka di dunia ini ?" Shigeko bergidik lagi. . Kak ak laki-lakinya. Apa yang akan terjadi pada adik-adikku kelak? Di mana tempat mereka di dunia ini ?" Shigeko bergidik lagi. Seekor kuda putih di dalam istal berukiran indah meringkik kelaparan melihat mer eka. Pepohonan willow besar berbaris di tepi sungai. Putra ketiga Mori Yusuke. di samping pe¬pohonan tumbuh pohon oak dan cedar. Kuil itu dibalut hijau¬nya te tumbuhan. dan berusaha mengubah topik pembicaraan. dan mengabdikan diri melayani dewa sungai sejak kecil setelah kakaknya tenggelam di pagar penangkap ikan." Mereka memasuki pintu kuil. Aku belum me ndengar kabarnya. mungkin dia sudah di Hofu. "Mungkin pulang dalam beberapa hari ini. "Aku tahu berapa banyak o rang yang menginginkan kematian ayahku." Shigeko berbalik dan me¬natap kembali ke arah teluk." "Ayah sedang di Hofu! Mungkin mereka bertemu di sana. "Keluarga kami terbelah dengan cara yang sama: kami adalah gambara n dari sifat ayah. Arah cahaya tampak miring dari barat menerangi debu di sela-sela besarnya batang pohon dengan pancaran sinar ke emasan. kirin dan shishi." Ia memberi isyarat pada si kembar yang tengah men unggu di gerbang kuil. Seorang laki-laki tua muncul dari belakang aula utama. dulu adalah teman dekat Lord Shigeru. ku selalu mendapatkan firasat. lewat bagian bawah gerbang besar. dan berusaha mengubah topik pembicaraan. Hiruk-pikuk kota memudar menjadi senyap. "Besok kita akan mendaki buki t dan melihat apakah kapal mereka sudah terlihat. "Suamimu sudah kembali?" tanya Shigeko." sahut Shigeko pelan. Kiyoshige. "Keluarga kami terbelah dengan cara yang sama: kami adalah gambara n dari sifat ayah. "Aku tahu berapa banyak ora ng yang menginginkan kematian ayahku." Ia memberi isyarat pada si kembar yang tengah men unggu di gerbang kuil. Di lengkungan gerb ang dipenuhi ukiran hewan dalam dongeng: houou. pawang kuda dari Klan Otori." sahut Shigeko pelan. Dia adalah seorang biaraw an.

dia datang mencari tempat tinggal pada suatu malam saat hujan deras dan sejak saat itu dia tinggal di sini. Lady!" Layaknya banyak orang yang mengabaikan si kembar. selama berbulan¬bulan sebelum kematiannya. Dia teman yang Kisah Klan Otori IV Page 77 . "Selamat datang. keduanya dijinakkan dan dilatih oleh Takeshi. Watak Maya lebih dingin. mengejar sehelai daun gugur. bulu berwarna coklat muda pucat dengan bi ntik hitam dan coklat kemerahan." seru Shigeko. a dik Shigeru. "Benar. Yusuke sendiri tidak pemah kembali. meraw at kuda Klan Otori setelah ayahnya pergi ke ujung dunia dalam rangka mencari kuda-kuda cepat dari tanah datar yang luas. Hiroki menangkap kucing itu dengan kedua tangannya. Dia memiliki ikatan khusus dengan S higeko melalui kecintaan mereka terhadap kuda. Kedua gadis itu sedikit menarik din di ba wah bayangan pepohonan. "Anda punya teman baru. Kucing itu pun mendengkur dengan suara parau. Terutama Miki ya ng mempunyai sifat pemarah. Seekor anak kucing berlari terbirit-birit di sepanjang beranda. Shigeko melihat kalau mereka marah. memandang diri¬nya sebagai penghu bung antara dunia fana dan dunia arwah bagi makhluk-makhtuk yang tidak bisa bicara se hingga tidak ada doa. Hiroki mempertahankan tradisi keluarganya. memerhati¬kan si pendeta baik-baik dengan tatapan mata yang sukar dimengerti. mengelus-elus kepala dan telinganya .Hiroki tersenyum sewaktu menghampiri mereka. yang belum belajar cara mengendalikan amarahnya. namun lebih sulit untuk diredam. seolah keberadaan mereka terlalu memalukan untuk diakui. Hiroki menarik tali ge nta untuk membangkitkan arwah dan Shigeko memanjatkan doa. bola matanya me-mantulkan cerahnya cahaya matahari. Setelah beramah tamah dan Shigeko mempersembahkan sesaji. Matanya besar dan ber¬warna kuning kecoklatan. namun mengirimkan seekor kuda hit am jantan yang menjadi ayah dari Raku dan Shun.

Si kucing membiarkan dirinya ditepuk¬tepuk selama beberapa saat. "Di a sengaja menendang ember itu. tatapan matanya tajam. Shizuka. Seorang anak laki-laki lengah mengisi ember air minum kuda hitam jantan itu. Semua anggota ke luarga Hiroki telah tiada: dia hidup dengan menyaksikan kekalahan Otori di Yaegahara hingga kehancur an kota saat gempa. Saat melihat mereka. tapi Maya tetap membungkuk di bawah bayangan. "Dia selalu menyulitkan: .baik. tertawa kecil. Satu-satunya hal yang menarik baginya saat ini adalah melayani dewa sungai dan kasih sayangnya pada kuda. "Dia juga menendangku. dan mem¬bungkam tikus-tikus." ik. "Aku tidak tahu apa yang harus dilaku¬kan." Diperlihatkannya lebam ber¬warna ung u gelap di betisnya. Kucing itu diam saja." Shigeko belum pemah melihat kucing setampan itu. "Ikutlah bersamaku. dan mem¬bungkam tikus-tikus. Mem¬bungkuk lalu menggores dedaunan dengan ranting itu. warna bulunya yang kontras sung guh memukau. kuda itu meringkik nyaring lalu bergerak mundur." gerutu¬nya." ujar Hiroki. rumputnya kering dan banyak bekas jejak kaki. Mereka gelisah dan mudah gugup. Sementara pelayan menunggu dengan sabar di beranda. Dua kuda yang l ebih muda berseru menyahutinya. Tanah tempat si kuda agak menanjak. Di salah satu lengannya terlihat tanda bekas gig itan dan lebam. "Dia bisa merasakan cuaca di b ulu¬bulunya. Dilihatnya Hiroki amat menyayangi hewan itu. "Mari pergi melihat kuda. "Apakah dia menggigitmu?" tanya Shi¬geko." ajak Shigeko." Maya memungut sebatang ranting. Orang itu mengangguk. membujuk si kucing untuk mendekat. kemudian meronta sampai Hiroki melepasnya. Keduanya memiliki bekas luka gigit an baru di leher dan bagian sampingnya. dan seekor kuda jantan hitam di¬k urung di dalamnya. Salah satu sudut di ladang kecil dipagari bambu. dan merasa senang. kuda-kuda suka padanya. Kucing itu pergi tergesa-gesa dengan ekor tegak lurus." Miki berlari mengejar mereka. "Akan terjadi badai." tutur Hiroki. kuda-kuda suka pad anya.

"Pindahkan kuda yang lebih muda dan biarkan dia memiliki ladang ini sendirian. dan mereka semua ter¬tawa karena si kuda memperlihatkan semua gejala kuda jantan yang birahi." ujarnya. menga¬gumi kaki panjang dan punggungnya yang be rotot." Hiroki memperingatkan. "Ya. "Dikurung pasti membuat keadaannya lebih buruk. Diamatinya kuda itu selama beberapa saat tanpa bicara sepatah kata pun. dan saat itulah si kuda mencoba menggigit Sh igeko. aku tidak tahu apakah dia bisa dijinakkan. Bagaimana bila kau membawa sepasang kuda betina yang tua dan mandul apakah mereka bisa menenangkannya dan mengajarinya sopan santun?" Kisah Klan Otori IV Page 78 ." ujar Shigeko. bentuk kepala yang sempuma dan mata yang besar. dia memang tampan." "Tampaknya dia sudah siap dikawinkan!" komentar Shizuka. Bola mata kuda itu berputar dan telingan ya menegakkan. Shigeko mendekati si kuda hitam jantan. atau apakah kita mesti mengawinkannya . juga tinggi: kuda tertinggi yang kami miliki. Bocah pengurus kuda memukulnya ketika Shigeko undur di luar jangkauan gigi si ku da. "Hati-hati.sekarang malah menjadi berbahaya. Tapi dia s angat keras kepala." t utur Hiroki." "Dia tampan sekali. "Aku khawatir menaruhnya bersama kuda betina justru akan memperparah keadaan.

Dengan usaha yang kentara meng endalikan reaksinya." kata Maya lagi. matanya menatap ke bawah. dan menyuruh bo cah tadi menuntun dua kuda tadi ke padang rumput yang lebih jauh. Shigeko tersenyum pada diri sendiri se¬waktu mereka kembali ke kuil." "Bangun. Shigeko berkata dengan kesal. Dia akan lebih menghargai teman bila kesepian!" Gagasan yang bagus. Diraihnya hewan itu lalu d ipeluk¬nya eraterat. "Kami akan membawa kuda betina dalam satu atau dua hari.." jawabnya. "Bangunlah!" Shizuka menatap kucing itu dengan perasaan panik. Maya tengah duduk di beranda di sebelah pelayan. "Itu pasti salah satu kemampuan r ahasia. Maya terlihat seperti ke¬girangan. Kalaupun ter¬bangun. Mikkan." laki-laki tua itu memohon dengan sia-sia. Mungkin Hirosh i akan datang dan mem¬bantuku menjinakkannya. semua keindahan dan semangat hidup kucing itu tidak terliha t lagi." kata S higeko. tapi dari tatapan matanya saat me ndongak. kan? Sesuatu yang dipelajarinya sewaktu dia pergi? Kemampuan sihir yang mengerikan!" . kemudian tersandung. dia berkata pelan. Kucing itu bergerak tedikit. "Apa yang kau lakukan?" Tidak ada. tida k dalam waktu yang lama. Dia akan lebih menghargai teman bila kesepian!" Aku akan datang setiap hari dan melihat apakah kuda ini bisa dijinakkan."Gagasan yang bagus. "Kucing itu menatapku. seraya berpikir akan menulis surat pada Hiroshi dan menanyakan sarannya. "Kucing itu takkan bangun. dan menyuruh b ocah tadi menuntun dua kuda tadi ke padang rumput yang lebih jauh. "Kami akan membawa kuda betina dalam satu atau dua hari. Laki-laki tua itu menjerit." "Ada apa?" tanya Shigeko.. Shizuka langsung menghampiri Maya." sahut si laki-laki tua. lalu bergegas menghampiri. bibirnya berkerut dengan sinis. lalu tertidur. tapi tidak bangun. "Apa yang Maya lakukan pada kucing itu?" "Aku tidak melakukan apa-apa. ke arah kucing itu.. aku akan mencoba¬nya. aku akan mencoba¬nya. Ketika tersadar. Si ku cing tergeletak lemas di atas tanah. Dan ketika menatap Hiroki yang mulai menangis pelan." sahut si laki-laki tua.

"Nanti kuceritakan. Ramalan cuaca si kucing ternyata benar. karena para pelayan kuil berkumpu l dan menatap dengan mulut menganga seraya memegangi jimat." gumam Shizuka. Maya harus dih ukum." "Maaf. Tapi ia juga khawatir pada si kembar. kepala tertunduk di hadapan ibunya. Mereka perlu p ergi keluar. dan merasa kalau ibunya bersikap tidak adil pada mereka. Ia tidak ter¬biasa dengan kemarahan ibunya dan itu ama t menyakitkan baginya. dapat Shigeko melihat cahaya samar di dindin g berhiaskan motif emas menonjol saat kilatan halilintar tampak mengarah ke laut." bisik Shigeko. mereka sudah belajar dengan giat. dan dari tempatnya berlutut. Kuharap ayahmu ada di sini."Jangan bicarakan itu di sini." Kisah Klan Otori IV Page 79 . Sorenya di hari yang sama: Shizuka mengajak si kembar pergi untuk menghukum Maya. Badai menderu di kejauhan. Tapi mungkin sudah ter-lambat. "Seharusnya kau tidak ajak mereka ke sana! Kau tahu kalau Ibu tak ingin mereka terlihat berdua di depan umu m. dan merek a berdua diperintahkan tidur di kamar yang terpisah. Kaede berkata." "Terlambat untuk apa?' tanya Shigeko." *** Shigeko bahkan lebih merindukan ayahnya pulang saat menghadapi kemarahan ibunya. "Kita harus pulang. Aku hanya mengerti sebagian tentang kemampuan Kikuta seperti ini. "Hari ini panas sekali. Ibu.

" Kisah Klan Otori IV Page 80 ."Mereka bisa bermain di taman sini." Me reka bisa bermain di taman sini. "Maya harus dikirim pergi." sahut Kaede. "Maya harus dikirim pergi." sahut Kaede.

dia tidak berdaya. Kisah Klan Otori IV Page 82 . ia tidak berdaya.

tapi harus dilakukan sesuai huku m agar tidak dianggap sebagai tindakan balas dendam. namun dia menghormati ketegasan Takeo pada keadilan atau setidaknya memberi kesan adil. jalan-jalan di seluruh Tiga Negara telah di perbaiki daelama pemerintahan Takeo dan Kaede. terbentang bermil-mil negeri tak bertuan sampai ke kota bebas Akashi. Kakak Taku. Walaupun sudah menduganya. Taku merasa sedih juga marah atas berita itu. namun Zenko mengambil nama keluarga ayahnya dan tidak memiliki ke-mampuan Tribe. Kematian Kenji juga memengaruhi Tribe . Ia mera sa seharusnya Kenji mati dengan damai di kampung halamannya sendiri. pelabuhan yang membentuk gerbang masuk ke ibukota Kaisar. dipercaya oleh Takeo. Yuki. tempat Takeo pergi untuk beberapa alasan pemerintahan. Apalagi kini dia berstatus sebagai ksatria berkedudukan tertinggi. sementara Kaede dan anak-anaknya sudah kembali ke Hagi selama musim panas. jalan-jalan di seluruh Tiga Negar a telah diperbaiki dan pesan-pesan dibawa dengan cepat antar kota-kota besar. Zenko. merupakan kerabat laki-laki terdekat karena Ke nji hanya memiliki seorang putri yang sudah mati. Keputusan atas nasib tawanan juga harus secara resmi dilaksanakan baik oleh Take o maupun Kaede. pimpinan Klan Arai yang memimpin wilayah Kumamoto. Desas-desus tentang kematian Muto Kenji terdengar di Akashi kira-kira di bulan keempat. dan dari sana kabar itu tersiar hingga ke Inumaya melalui pedagang yang sering meneruskan kabar berita dari wilayah Timur kepada Muto Taku. karena kematian seperti i tu akan dianggap kelemahan di mata Kikuta dan hanya akan membuat mereka lebih bersemangat.Selama pemerintahan Takeo dan Kaede. untuk memast ikan kesetiaan dan dukungan mereka serta membahas tentang siapa yang akan menjadi Ketua. Tapi di luar wilayah Timu r. karena dia sudah menjadi ketua lebih dari dua puluh tahun: seorang keluarga Muto harus dipi lih untuk menggantikan keduduk-annya. . tempat Barisan Awan Tinggi membentuk penghalang alami. dilatih oleh Kenji. Taku sendiri mewarisi sifat sinis Kenji dan tidak enggan melakukan tindakan balas dendam. Taku merasa harus memberitahukan kabar itu pada Takeo. Orang yang tersisa hanyalah Taku yang sudah jelas oinat berbakat dalam kemampuan menghilang serta menggunakan sosok kedua. Miyako. Satu al asan lagi untuk mengadakan per-jalanan saat ini yaitu untuk bertemu keluarga Tribe. Mungkin mereka akan dieksekusi sekarang. Ia ber doa agar kematian Kenji terjadi dengan cepat dan bukannya tanpa makna. dan Sonoda juga Ai setuju kalau ia harus segera bewingkat ke Hofu.

Sangat jelas bahwa Taku mem¬bawa be rita buruk. kuda dengan kulit abu-abu pucat. Taku menamainya Ryume. meminta segera dipertemukan dengan Lord Otori. Sunaomi dan Chikara bersiap-siap melakukan perjalanan. Kedatangan kirin dan pertemuan dengan adik perempuannya mencegah Takeo untuk per gi secepatnya ke Hagi seperti yang diinginkannya. dan kini sudah tua. tak ingin orang lain yang membaw a berita ini. dan meski pun misinya membawa kabar menyedihkan. yang dijinakkannya sendiri serta tumbu h dewasa bersama dirinya. Ryume sudah menjadi ayah dari banyak kuda jantan. namun badai hebat menunda keberangkatan mereka selama dua hari. menunggang kuda pemberian Takeo kepadanya saat masih kecil: anak dari R aku. Itulah sebabnya Takeo masih berada di Hofu ketika Muto Taku datang dari Inuyama ke ruma h kakak¬nya. diucapkannya selamat tinggal pada keluarganya tanpa penyesalan. tapi kehidupan rumah tangga membuatnya bosan. Keponakannya. seraya berharap bisa bertem u Takeo sebelum meninggalkan Hofu. ia bersiap pergi keesokan harinya dengan lega bercamp ur penuh harapan. Taku berkuda dengan cepat meskipun di tengah cuaca buruk.Lagipula Taku merasa gelisah: ia sudah di Inuyama sepanjang musim dingin. surai dan ekor sehitam arang warna yang amat dihargai di Tiga Negara. Saat ini bukan waktu yang tepat untuk melakukan perjalanan. Istrin ya menyenangkan. tapi berita itu tidak bisa ditunda lagi. namun ia t ak pernah menyukai kuda seperti kuda yang satu ini. hujan musim semi bar u saja mulai turun. anak-anak menghiburnya. Kisah Klan Otori IV Page 83 .

kelelahan dan tubuhnya yang kotor karena berjalan jauh. Tidak ada rincian.Ia tiba hampir malam. tapi tidak ingin mandi atau makan sebelum bicara dengan Takeo. hanya kenyataan keji bahwa Muto Kenji Kisah Klan Otori IV Page 84 . ta pi tidak ingin mandi atau makan sebelum bicara dengan Takeo. hanya kenyataan keji bahwa Muto Kenji tiba hampir malam. kelelahan dan tubuhnya yang kotor karena berjalan jauh. Tidak ada rincian.

Namun kekhawatirannya yang lain tak bisa dising¬kirkan dan menunggu sementara ia meng-hadapi kesedihannya. Sonoda. ia berbicar a lagi dengan Taku. Su naomi yang akan dibawanya bocah itu pasti bisa menunggang kuda dengan cepat lalu mengirim adikn ya bersama Ishida dan kirin dengan naik kapal begitu cuaca membaik. Kenji sah abat Shigeru: satu mata rantai lagi yang terputus. Ia berduka tidak hany a karena kehilangan Kenji. "Aku merasa enggan untuk memerintah¬kan hukuman mati kedua pemuda-pemudi itu. Diputuskannya untuk pergi ke Hagi keesokan harinya.sudah tiada. Saat matahari terbit. agar istr inya itu bisa menghiburnya. dan ia atau salah satu a nggota keluarganya harus hadir. Kesediha n Takeo memuncak. Setidaknya ia harus membawa salah satu putra Zenko. Tak ada jenazah yang bisa ditangisi. se-suatu tugas yang akan menciutkan nyali adik iparnya yang berhati lembut itu. Takeo terjaga semalaman hanya ditemani kesedihan. Dan Kono? Mungkin Taku bisa tinggal di wilayah Barat untuk mengawasinya. namun harus dilakukan sesuai hukum. tak ada batu nisan untuk menandai makamnya: cara kematian yang paling sulit untuk ditangisi. semakin diperburuk oleh keputusasaannya. ia meman g¬gil Minoru dan mendiktekan surat untuk Sonoda dan Ai. "Kau yang membuat aturan dan hu . tapi juga ke¬hilangan semua yang berhubungan dengan¬nya. Namun ia merasa tak mampu menumpahkan perasaannya di rumah Zenko. Ia harus menulis surat pada suami Ai. berapa lama lagi waktu yang mereka butuhkan untuk menanding i jumlah per¬senjataan miliknya? Kenangan tentang gurunya dan masa lalu menghujani dirinya. dan menunggang kuda dengan cepat. dan tak mampu menahan Taku sepenuhnya sesuai dengan kehendaknya." sahut Taku. mengirim perintah agar Ai menggantikan Kaede. jauh dan tak terlihat. Berapa lama lagi sampai ia bisa mendapat kabar dari Fumio? Berhasilkah dia menggagalkan penyelun¬dupansenjata api? Dan jika tidak berhasil. Apak ah ada cara lain?" "Mereka hendak membunuh keluargamu. tak ada batu nisan untuk menan dai makamnyaudah tiada. tapi sebelum membubuhkan cap. Keinginan utamanya adalah bertemu Kaede. Lalu masalah tawanan di Inuyama yang harus dihukum mati. Tak ada jenazah yang bisa ditangisi. Taku bisa mengu rusnya.

tentu saja. "Sama realistis dan pragmatisnya seperti Kenji." "Tapi apakah kematian mereka akan men¬cegah serangan-serangan selanjutnya? Bukan¬kah ini semakin membangkitkan amarah Kikuta pada diriku dan keluargaku?" "Dendam Akio padamu sudah mutlak sifatnya. dan cepat atau lambat mereka akan kehabisan orang yang mau dan mampu melakukannya." tutur Takeo. Ia merasa tak nyaman dengan pemikiran harus berbagi rahasia mereka dengan Zenko." sahut Taku." ujar Takeo. Kau harus hidup lebih lama daripada merek a." "Kau seperti Kenji. "Sunaomi akan menemaniku ke Hagi." Takeo menaikkan alis sedikit. Kurasa kau yang akan mengambil alih kepemimpinan keluarga sekarang?" "Aku akan bicarakan dengan ibuku. "Namun kematian akan menyingkirkan dua pembunuh lagi. membi arkan nada terkejut terdengar dalam suaranya. dan mengambil nama ayah kami. demi formalitas.kuman. Dan kakakku. dan dipenjara dalam waktu lama lebih kejam ketimbang kematian dengan cara cepat. Apa yang akan kau lakukan pada mereka? Memaafkan lalu membebaskan me¬reka justru akan kelihatan seperti kelemahan. "Kakakmu mengusulkan agar aku meng¬angkat salah satu putranya. lalu menambah¬ka n. Aku akan berangkat Kisah Klan Otori IV Page 85 . Ia tak akan mundur selama kau masih hidup. Zenk o hanya memiliki sedikit kemampuan Tribe. tapi tetap saja dia lebih tua dariku. memercayai Kenji sepenuh¬nya. yang diketahuinya tak akan luput dari perhati an Taku. Ia lebih suka menyerahkan penanganan masalah pada Kenji dan Taku.

" Sinar matahari yang baru terbit tampak kelabu. Aku akan membicarakan masalah itu lebih jauh lag i dengan istriku sebelum aku memutuskan. "K urasa. Aku akan menghindari ini selama mungkin. Tapi aku harus memintamu menutup mulut lebih rap at dari biasanya. mem¬buatnya selalu siaga. Tapi ada banyak hal yang harus kita bicarakan terle bih dulu. tapi selama kedua putra mereka di tang anku. Takeo sudah bisa memperkirakan bagai¬mana rasa sakit pada luka lamanya akan memper buruk harihari selama menunggang kuda. Ia sadar kalau Zenko mungkin sedang mengawasinya. Taku menyerap semua penjelasan ini dalam diam. kepercayaanmu pada kakakku sudah terkikis." Kebiasaan Taku dalam ekspresi sinisme yang senang. "Tidakkah Anda harus menyelesaikan surat¬nya lebih dulu?" "Tidak. tahu kalau dirinya akan menaruh kepercayaan pada adikn ya. Aku tidak memercayai kakakmu maupun istrinya. Tapi ada banyak hal yang harus kita bicarakan terlebih dulu. Ambisi mereka harus dibendung: alternatif la innya adalah akan terjadi perang saudara lagi atau aku harus memerintahkan kakakmu bunuh diri. pagi terasa lembap dan basah. Kakakmu selalu menyalahkank u atas kematian ayahmu dan kini sepertinya Kaisar dan kalangan istananya pun ber¬anggapan s ama. "Jangan sekali-kali membunuh saudara kandung. begitu pula dengan masalah penyelundupan senjata.sebentar lagi. Takeo menceritakan dengan pelan pada Taku secara singkat tentang pesan Lord Kono." "Lord Otori. satu-satunya komentar darinya." sahutnya. bawa saja bersama kita." Minoru mengingatkannya. memben ci kedekatannya dengan Taku. Berharap benar adanya kalau Zenko tak memiliki kemampuan Tribe. Masa- ." "Kakakmu telah memperbarui sumpah setianya padaku. tapi kita semua tahu sumpah s etia tidak ada artinya bila ber¬hadapan dengan ambisi akan kekuasaan. den gan hujan yang mengancam akan turun. Mari berjalan¬jalan debentar lagi. kurasa ambisi mereka masih bisa dibendung. Per¬jalanan itu akan basah dan tidak nyaman. menjadi lebih gelap lagi. serta ada hubungan saudara dengan Kikut a. "Aku yang akan membunuhnya bila dia mengkhianatimu. dan tidak mengungkap apa pun yang bisa menguntungkan dirinya. Mari berjalan¬jalan di taman. Meng¬ingat kalau Zenko juga keluarga Muto. Kita akan mengirimnya dari Hagi. "Jangan!" sahut Takeo cepat.

"Kadang aku percaya kebenaran kata-kata itu. kau tidak belajar apa-apa dari semua jerih payahku! Masa-masa pem¬bunuhan r ahasia sudah berakhir. Maka kini aku merasa te rjebak: dapatkah aku berhenti percaya ketika ramalan itu tidak lagi sesuai dengan keadaanku?" "Bakal cukup mudah untuk menyingkir¬kan bocah itu. Kakakmu. anak itu kini berusi a enam belas tahun: cukup usia. sambil tersenyum penuh penyesalan. bahwa aku aman d ari kematian. dia berkomentar mung kin ramalan itu benar adanya tak biasanya paman percaya pada ramalan dan pertanda. Aku tak mampu mencabut nyawa kakakmu ketika pisauku di lehernya saat s engitnya pertempuran. "Tapi katakan: apakah Kenji pernah mengatakan ramalan tentang diriku." Taku menawarkan. dan mengapa ancaman serangan tidak melumpuhkan diri¬m u atau membuatmu bertindak kejam." sahut Takeo. Paman menceritakan itu seb agian untuk menjelas¬kan ketidaktakutanmu. seperti juga semua ora ng termasuk dirimu sendiri. setelah salah satu percobaan pembunuhan padamu." "Aku juga tidak mudah percaya. Ramalan itu membuat aku percaya karena telah memberiku waktu untuk meraih segala yang kuinginkan tanpa ketakutan. kadang tidak. Taku harus dibatasi Hukum. Bagaimana pun juga." Ia berhenti sesaat. "Taku. Saat itu pa man menceritakan apa yang telah dikatakan tentang dirimu. untuk membunuh. seperti yang akan dilakukan sebagian besar orang. kemudian berkata p elan.masa pertumpahan darah antar keluarga telah berakhir. kecuali di tangan putraku sendiri?" "Ya pernah. dalam kalangan Tribe." Kisah Klan Otori IV Page 86 . Aku tak akan memerintahkan untuk membunuh putraku sendiri.

"Siapa lagi yang tahu tentang ramal an ini?" Kisah Klan Otori IV Page 87 . "Siapa lagi yang tahu tentang ramalan i ni?" etelah beberapa saat Takeo melanjutkan.Setelah beberapa saat Takeo melanjutkan.

Dia sedang me ng¬obati luka dan mencoba meredakan demam¬mu. Taku berkata. dilapisi batu kerikil atau diratakan setiap jengkalnya. Di malam pertama mereka menginap di desa kecil. Dia sedang men g¬obati luka dan mencoba meredakan demam¬mu. "Aku akan tinggal di sini bersama mereka.. karena tabib itu hampir menyerah. tabib Ishida ada di sana. . Jalanan terawat dengan baik. dua puluh prajurit serta Minoru. "Satu hal lagi." Saat Kenji menceritakan hal ini padaku. dan bertemu Miyoshi Kahei yang sudah diberitahu kurir bahwa Lord Otori dalam perjalanan ke utara. namun menj elang malam hujan turun dengan deras."Saat Kenji menceritakan hal ini padaku." "Saat itu aku akan memilih untuk tidak percaya!" sahut Takeo pura-pura bicara de ngan nada ringan yang justru tidak dirasa¬kannya. Semua orang terus membicarakannya selama berminggu-minggu." "Maka biarkan ramalan itu tetap menjadi rahasia.. karena tabib itu hampir menyerah. mereka sampai di sungai pada sore di hari ketiga . Dua pengawal Zenko ikut untuk mengurusnya. Tapi kurasa Kenji tidak mencerita kan soal ramalan itu pada orang lain. tabib Ishida ada di sana. Sementara Takeo didampingi Jun dan Shin. bersemangat untuk ber¬sikap dengan be nar dan berani. seperti yang kau sara nkan. setiap kota kecil dijaga sehingga perjalanan menjadi aman dan cepat. Desa ini acapkali menjadi tempat tra nsit para pedagang yang melakukan perjalanan antara Hofu dan Hagi." * Takeo berangkat kira-kira pada Waktu Ular* di mana hujan belum turun. Kenji mengatakan itu untuk meya¬kinkan Ishida bahwa kau takkan mati. Meskipun hujan." ujarnya. "Awasi dengan baik.. dan dia menjadi putramu. tempat be berapa penginapan dibangun selama masa kemakmuran negara ini." "Zenko tidak tahu?" "Dia tahu keberadaan putramu dia di desa Muto ketika berita kematian Yuki datang." Taku mengangguk. Bila kau mengangkat Sunao mi sebagai anak. pastikan kalau Chikara berangkat bersama Ishida. dan mungkin cari tahu lebih banyak lagi tentang niat orangtuanya yang sebenarnya. Kenji mengatakan itu untuk meya¬kinkan Ishida bahwa kau takkan mati." Sewaktu mereka berpisah. namun jelas terlihat kalau dia khawatir meninggalkan orangtua dan keluar ganya. Sunaomi diam saja.

Adiknya.Atas kesetiaannya pada Takeo. Kahei dianugerahi kota Yamagata dan daerah¬daerah ya ng mengelilinginya." "Apa sebaiknya kukirim kabar ke biara agar mereka datang ke kastil?'" Halaman 88 dari 500 . Keluarga Miyoshi merupakan salah satu keluarga terhebat dalam Klan Oto ri. tapi aku tak ingin tertunda sampai di Hagi. "Bukannya aku tidak menginginkannya. Gemba. pikir Takeo. menuju ke kota. lebih bersimpati pada keinginan Takeo untuk mengakhiri ke¬kerasan. dan Kahei merupakan pemimpin yang disukai banyak orang. dan menjadi murid Kubo Makoto dan pengikut Ajaran Houou. Yamagata dulu diserahkan pada Tohan setelah kekalahan Otori di Yaega¬hara. "Kau akan ke Terayama?" Kahei bertanya setelah mereka saling memberi salam dan m enunggang kuda berdampingan ke utara. Kahei pasti menyesali tahun-tahun yang penuh kedamaian da n merindukan konflik baru untuk menguji keabsahan teori-teori¬nya serta kekuatan dan ketrampila n pasukan¬nya." jawab Takeo. hutan lebat yang membentuk jantung Negara Tengah serta tanah pe rtanian yang kaya di kedua sisi sungai. Dia juga pemimpin yang ahli strate gi dan taktik sehingga. "Aku belum memutuskan.

nama paling baru yang dituliskan di buku besar nama orang-orang yang tela h tiada. M ereka berkuda tanpa bicara. te rutama Muto Kenji. Minoru tinggal di Yamagata untuk meng¬awasi rincian administratif dan menyiapkan b ukti catatan yang akan diperlukan untuk pengadilan nanti. Langkah kuda diredam oleh tanah yang basah. Shigeko. gemar minum sake dan lukisan. meneteskan embun. nyeri yang dirasakan Takeo ternyata tidak separah dugaanny a. ziarah ke makam Shigeru. Takeo pikir tidak ada salahnya kalau Sunaomi berkunjung ke tempat suci Klan Otor i. akeo melihat tidak ada lagi cara meng¬hindar tanpa menyinggung perasaan sahabat la manya ini. dan benaknya penuh dengan kenangan akan kunjungannya yang pertama ke biara ini beserta orangorang yang menunggang kuda bersamanya bertahun-tahun lalu. seperti yang telah terbukti pada putrinya. timbulnya kekuatan emosi ini mengejutkan dirinya. serta bertemu Makoto dan para ksatria lain dengan k ematangan spiritual yang menjadikan biara itu pusat kegiatan serta rumah mereka. Ia merasakan per¬cikan ketertarikan yang tak terduga: beta pa indahnya memiliki seorang putra untuk dibesarkan dan dididik dengan ajaran ini. Hujan berubah menjadi kabut: wajah bumi terselubung awan kelabu. Air hujan mem¬bentuk torehan garis pada batang pepohonan cedar. ziarah ke makam Shigeru. Takeshi dan Ichiro. di atas pegunungan langit tampak bermain. dan balu tan awan seputih mutiara tampak bak umbul-umbul di lereng. Takeshi dan Ichiro. Aku tidak ingin kehilanganmu. Ia merasakan per¬cikan ketertarikan yang tak terduga: beta pa indahnya memiliki seorang putra untuk dibesarkan dan dididik dengan ajaran ini. Aku menya¬yangimu. serta bertemu Makoto dan para ksatria lain dengan k ematangan spiritual yang menjadikan biara itu pusat kegiatan serta rumah mereka. Orang yang paling diingatnya. Takeo pikir tidak ada salahnya kalau Sunaomi berkunjung ke tempat suci Klan Otor i. Sunaomi tampak pand ai sekaligus sensitif: Ajaran Houou mungkin bisa menjadi ajaran yang tepat baginya. Segala iiamnya sesuatunya diatur untuk pergi pagi-pagi kees okan harinya. Sunaomi tampak pand ai sekaligus sensitif: Ajaran Houou mungkin bisa menjadi ajaran yang tepat baginya. Takeo merasakan kesendirian yang menyakit¬kan. Minoru tinggal di Yamagata untuk meng¬awasi rincian administratif dan menyiapkan b ukti catatan yang akan diperlukan untuk pengadilan nanti. karena kematian Kenji meninggalkan kekosongan besar dalam hidupnya y . timbulnya kekuatan emosi ini mengejutkan dirinya. Segala iiamnya sesuatunya diatur untuk pergi pagi-pagi kees okan harinya.Takeo melihat tidak ada lagi cara meng¬hindar tanpa menyinggung perasaan sahabat l amanya ini. Kenji yang dalam perjalanan itu berpura¬pura menjadi kakek-kakek yang bodoh. Shigeko. seperti yang telah terbukti pada putrinya.

ang tak akan bisa terisi lagi. Kenji mengajarinya cara mempertahankan diri dengan menggunakan tangan kiri. Takeo ingin tahu berapa banyak lagi pembunuh yang Kikuta miliki. yang ditahan Kikuta. men¬dukung d an memberi nasehat di masa-masa awal berkuasa di Tiga Negara. dan dua pemuda lagi akan kehilangan nyawa sebagai hasilnya. dan mem pertahan¬kan jaringan mata-mata yang menjaga Takeo dan negara agar tetap aman. tentang houou. Dia tak pernah m engenal ayah maupun kakeknya. Jalan setapak itu sempit sehingga mereka dalam kelompok kecil Sunaomi dan kedua pe ngawalnya. Pikirannya lalu melayang ke satu-satunya keturunan Kenji yang masih hidup. putriku datang ke sini setiap musim dingin. Putraku. kerinduan serta kemarahan. Rahasia itu telah tersembunyi sekian lama hingga Takeo tidak tahu bagai¬ma na mengutarakannya. Tapi setelah mereka meninggalkan kuda di tempat penginapan d i kaki gunung suci." Halaman 89 . dia memilih untuk mendekati Akio. pada seluruh negara. cucun ya. serapuh yang pernah dira sakannya setelah bertarung dengan Kikuta Kotaro yang telah membuat tangannya cacat. menceritakan padanya sed ikit tentang sejarah biara. Kenji telah menduga kalau mereka mungkin mau. tentang pahlawan-pahlawan Otori yang dimakamkan di sana. semua keluarga kecuali Kikuta. Seperti Taku. Andai Kikuta mau berunding agar bisa diberi semacam hak khusus. ia tidak bersemangat bila jumlahnya makin ber¬kurang. memecah Tribe dan mem bawa empat dari lima keluarga di bawah kekuasaannya. Takeo memanggil Sunaomi agar berjalan bersamanya. Tak ada orang lain lagi yang bisa menghormati kenangan akan Kenji. ditambah dua anak buah Ka hei berkuda dalam satu barisan. dan sudah melaku¬kannya sejak usia sembilan tahun. Dia tak¬kan memanjatkan doa yang dibutuhkan bagi nenek moyangnya. tapi tidak seperti Taku. "Kami akan mengirimmu kemari bila kau sudah lebih besar. burung suci yang bersarang di hutan kecil di belakang biara. pikirnya dengan penyesalan. kedua pengawal Takeo serta tiga ksatria Otori lainnya. Bagaimana kalau aku m encoba men¬dapatkan anak itu kembali? Tapi itu berarti mengungkap keberadaan anak itu pada istri serta ketiga putrinya . dan ksatria yang mengabdik an dirinya pada Ajaran Houou. dan sekali lagi ia merasa rapuh. dan kini dia telah tiada.

dari 500 .

setengah ber¬teriak. Paman." seru Sunaomi. "Aku berharap bisa melihat burung houou dengan mata kepalaku sendiri!" "Kita akan bangun pagi-pagi sekali dan pergi ke hutan kecil itu sebelum kembali ke Yamagata. "Aku berhara p bisa melihat burung houou dengan mata kepalaku sendiri!" ku akan melakukan apa saja yang paman inginkan. Meninggalkan Sunaomi dan anak buahnya di sana. Tapi ia berusaha menyembunyikan perasaan¬nya dengan cara yang s ama seperti yang dilakukannya seharian berusaha menyem¬bunyikan rasa nyeri dan penderi taannya. Di gerbang biara mereka disambut dengan kegembiraan. begitu besar keinginannya unt uk berada di sana dan bersama Kaede. tempat para bangsawan Otori dimakamkan. apa yang harus dipelajari untuk mengikuti Ajaran H ouou?" "Orangorang yang akan kita temui yang akan memberitahukan: biarawan seperti Kubo Makoto. menuju hutan kecil suci di belakang biara." sahut Sunaomi. dan ayah ingin kami mahir dalam keduanya." "Chikara melakukan perjalanan bersama kirin." Takeo hampir tidak bisa mengucapkan nama kota itu. Tapi Ajaran Houou sangat menuntut pengendalian diri. Ada . dan juga kekuatan fisik serta mental. atau di Inu yama saat kita sudah sampai. Itu adil. melewati kolam ikan tempat ikan air tawar merah dan keemasan ber¬d esakan dan mencipakkan air. Lumut yang berwarna hijau tua menutupi bagi an dasarnya. "dan aku ber¬kesempata n melihat houou."Aku akan melakukan apa saja yang paman inginkan. dan seorang biarawan diminta u ntuk memberitahukan Kepala Biara. Mereka dikawal menuju griya tamu." "Kau akan melanjutkan pelatihan bersama putra-putra ksatria di Hagi. ksatria seperti Miyoshi Gemba. "Jadi aku tidak akan belajar memanah dan berpedang? Itu y ang ayah ajarkan pada kami. Tapi. menyusuri tanjakan terjal jalan pegunungan." sahut bocah itu. Takeo berjalan melewati taman. Ajaran utamanya yaitu tidak meng¬inginkan kekerasan. "Putri sulungku akan menceritakan lebih banyak lagi tentang ajaran ini begitu ki ta tiba di Hagi." sahut bocah itu. Hampir dipastikan kau bisa melihat burung itu karena sekarang jumlah¬nya banyak. Mungkin kau tidak cocok dengan ajaran ini." Sunaomi tampak kecewa. Matsuda Shingen. "Kuharap diriku cocok dengan aj aran ini. Kabut lebih tebal menyelimuti tentera abu-abu dan batu nisan yang dipersuram ole h embun dan bintik-bintik lumut hijau dan putih. dan Makoto tentang kedatangan mere ka." Takeo melihat cahaya berkilap di mata bocah itu.

menatap sesaji yang ada di sana." Halaman 90 dari 500 . Asap ketabu naik perlahan. dan Makoto berkata. pikir Takeo. bercampur kabut. Kemudian genta ber dentang dari pelataran biara. Terasa ada gerakan di belakangnya. segenggam penuh bunga warna mer ah tua. "Mari masuk dan makan. Makoto berlutut lalu meletakkan kedua benda itu di depan makam. memenuhi udara dengan aromanya. dari tangan yang terbungkus sarung tangan hitam. Wajahnya basah karena kabut dan air mata. Dalam waktu lama mereka berdua tidak bicara sepatah kata pun. dan telah menjalani hidupnya sesuai dengan tujuan sang men¬diang.seutas tali rami baru berkilauan di sekeliling makam Shigeru. dan sekerumunan or ang berdiri menundukkan kepala di depan makam. berat . dengan semua kenangan menyakitkan. Sen ang sekali bertemu denganmu. mungkin ada satu atau dua pedagang dari Yamagata yang turut serta. mereka langsung mengenalinya dari lencana di jubahnya. namun Takeo me mberi salam lalu menyuruh mereka berdiri. Ketika melihat ia mendekat. dan Takeo berbalik melihat Makoto berjalan me nghampiri sambil membawa lentera di satu tangan dan tempat dupa kecil di tangan yang satunya lagi . Takeo berlutut. Sebagian besar dari mere ka adalah petani. Masa lalu muncul di sekelilingnya. Lentera menyala dengan tenang. Mereka menjatuhkan diri ke tanah. Kau pasti lapar. menerangi suramnya hari ini. berdoa bagi laki-laki yang telah menjadi pahl awan dan perwujudan dewa. kue mochi dan sake. kemudian meminta meninggalkan dirinya sendiri di d ekat makam. kekuatan Negara Tengah dan Klan Otori. Ia berhutang nyawa pada Shigeru.

sempat timbul rasa saling menyukai di mereka berdua. tujuh belas lahun lalu. Kami akan ke Yamagata besok. membebaskan diri dari beban yang berat dan menyakitkan di balik kekuatan ini. Kenji teman yang setia. tergoda oleh ajakan itu. Miyoshi Gemba pasti kelihatan sama. Mereka pertama kali bertemu tepat di tempat ini. sinar matanya penuh kehangatan dan kegembira¬an. Dia pergi untuk berund ing dengan keluarga Kikuta dan tidak kembali. Aku akan ke Hagi untuk memberitahukan kabar i ni pada keluargaku. Tentu saja kau i ngin bersama Lady Otori di saat seperti ini. "Apa yang terjadi?" "Aku akan menceritakannya dengan cepat. Karena sudah begitu mengenal Takeo. mengabdikan diri dengan meluki s dan merancang taman seperti seniman besar Sesshu. Makoto pernah berte mpur bersama Takeo di Asagawa dan Kusahara dan selama bertahun-tahun menjadi teman te r¬dekatnya. Muto telah tiada. maka Makoto bertanya. Dengan sadar dibuka¬n ya gerbang . Takeo me¬rasakan ada sedikit penyesalan karena jalan hidup ya ng memanggilnya untuk dijalani sangat berbeda. merasa iri pada Makoto dengan penampil an¬nya yang sempurna secara fisik dan spiritual¬nya. Makoto pernah berte mpur reka berdua bangkit dan saling mengamati. Suara-suara biara yang tidak asing lagi menyelimuti dirinya. ia akan menyumbangkan Jato pedang y ang selalu ia bawa meskipun tak lagi digunakan selama bertahun-tahun lalu berhenti men jalani hidup sebagai ksatria dan penguasa. sempat timbul rasa saling menyukai di mereka berdua." "Aku turut berduka atas kehilangan ini. Seluruh sik apnya memancarkan ketenangan dan pengendalian diri. dan untuk sesaat kasih sayang di antara mereka begitu kuatnya bak sepasang kekasih. melepaskan d iri dari kekuasaan atas hidup dan mati setiap orang di negara ini. tan pa kerutan di wajahnya yang tenang.Mereka berdua bangkit dan saling mengamati." Takeo tersenyum. tapi kau tampak lelah. Tapi haruskah kau pergi begitu cepat? Maaf. Bersumpah untuk tidak mem-bunuh lagi. tujuh belas lahun lalu. ia berangan-angan mengundurkan di sini. dan untuk sesaat kasih sayang di antara mereka begitu kuatnya bak sepasang kekasih. Seperti yang selalu dilakukannya saa t mengunjungi Terayama. Makoto saat ini berusia tiga puluhan. Tinggallah selama beberapa hari di sini untuk memulihkan kekuatanmu. la yaknya para pengikut ajaran ini. Makoto merasakan bila sahabatnya itu sedang menghadapi masalah. Takeo yakin kalau teman lamanya yang satu lagi. Mereka pertama kali bertemu tepat di t empat ini.

gumaman doa dari aula utama. desingan layang-laya ng dari puncak pepohonan. Dia akan tinggal ber¬sama keluargaku. Bahkan mungkin aku harus pergi ke Miyako. tapi sake meredakan ra sa sakitku. "Aku baik-baik saja. seperti danau di pegunungan. suara Sunaomi dari griya tamu. Dibayangkannya bagaimana ia bisa melukis mereka." Dahi Makoto berkerut. Kami akan menginap semalam di sini: aku ingin putra Arai melihat bi ara ini dan bertemu denganmu. Aku harus merencana¬kan jawabanku dengan hati-hati. Dan ada perkem¬bangan di wilayah Timur yang harus kuceritaka n padamu. Mungkin aku akan mengirimn ya kemari dalam satu atau dua tahun lagi. "Aku minum terlalu banyak. percikan air ter jun di kejauhan. bahkan mungkin lebih jernih. Tapi pikiran¬nya masih tetap jernih. Dua burung gereja hing gap di ranting. Kita akan bicarakan hal iiu nanti." "Beliau masih bersama kami. Ishida memberiku minuman pengurang rasa sakit. Bagaimana kabar Lord Matsuda? Aku juga berharap bi sa mendapatkan saran darinya. bulu warna abu-abu mereka tampak jelas dengan sinar agak redup s erta gelapnya warna dedaunan. tapi aku sudah kebal dengannya aku jarangjarang meminum-nya." sahut Makoto. "Jarang makan." ujarnya. "Zenko sedang buat masalah?" "Lebih dari biasanya. bahkan sepertinya tida k pernah tidur." Halaman 91 dari 500 . Tampaknya beliau sudah separuh berada di dunia lain. Namun tak ada orang lain yang bisa mengambil alih perannya: mustahil bisa menjau h dari semua itu.pendengarannya dan membiar¬kan suara-suara itu menyirami dirinya.

lagi¬pula aku hanya mendapat sedikit pelatihan a tau pendidikan tentang ajaran itu. " Takeo tidak setuju: ia belum pernah melihat Makoto atau murid-muridnya meng¬gunaka n kemampuan menghilang. Aku melihat perbedaan dalam diri para ksatria yang mengikuti ajara nmu: disiplin dan welas asih mereka. "Aku tak punya waktu bermeditasi. "Tapi pikiran lebih menyerupai salah satu kolam ikan itu: penuh gagasan dan masalah juga sampa h di sekelilingnya." Kuharap pikiranku ada di sini." sahut Makoto tenang. "Tapi pikiran lebih menyerupai salah satu kolam ikan itu: penuh gagasan dan masalah juga sampa h di sekelilingnya. atau menggunakan sosok kedua. selagi mereka berjalan kembali ke b iara. Dirasakannya keraguan Makoto. saat ini." Makoto ber¬j anji. sangat berbeda dengan kami yang harus melalui disiplin diri dan pengenalan diri. Aku terlibat dal am pemerintahan." ujar Takeo. Dan aku tidak tahu kalau itu bisa membantu."Kuharap pikiranku ada di sini. "Satu-satu kemampuan meditasi yang kumiliki adalah kemampuan Tribe dan tujuannya a gak berbeda!" "Tapi bila kuamati kemampuan itu begitu memang ada dalam dirimu dan anggota Trib e lainnya." "Kau seharusnya mencoba menenangkan pikiran setiap harinya. masing-masing berusaha menarik perhatian¬ku." "Kukira itu bisa membuat perbedaan! Mungkin doa kalian yang telah memper¬tahankan kedamaian selama hampir lima belas tahun.. masing-masing berusaha menarik perhatian¬ku. "Kami di sini men¬doakanmu setiap waktu." "Aku percaya. Kupakai kata " mempertahankan" untuk me¬nunjukkan otot dan kekuatan yang dibutuh¬kan." "Aku yakin begitu. jika tidak bisa disebut peperangan." Makoto tersenyum. kami akan berikan saran untukmu. selagi mereka berjalan kembali ke bi ara. paling tidak." ujar Takeo. yang akan memerintahkan aku mengasing¬kan diri?" "Saat kau ceritakan semuanya nanti." Makoto mengamati. lalu kau ber¬istirahat. tapi keseimbangan spiritual yang kami pertahankan di sini. Tapi bagaimana ini bisa membantuku menghadapi Kaisar dan jenderal barunya." *** .. "Bukan hanya doa yang hampa atau lantun an pujian tanpa makna. dan menyesalinya. kekuatan pemanah untuk mem¬bengkokkan busur atau balok di menara lonceng untuk menahan berat lonceng. "Kita makan dulu.

"Lord Miyoshi tahu hal-hal semacam ini." sahut Makoto sambil tertawa. Beruang memberinya makan.Setelah selesai makan siang sederhana yang terdiri dari sayuran. Dia s udah tahu kau ada di sini. dan terbangun dengan pikiran yang lebih jernih." "Bagaimana Lord Miyoshi bisa tahu?" tanya Sunaomi. "Dia kembali saat kau tidur. Takeo tertidur. Setelah selesai berpakaian. Takeo melangkah ke beranda tepat saat Makoto dan Sun aomi kembali. Ia tidak ber¬mimpi. Wajahnya bersinar dan mat anya berkilauan. d an sop. dan tiba-tiba keinginan untuk berbaring tak tertahankan lagi. Cahaya mulai meredup. menge-nang ketika ia berendam di kolam yang sama saat salju turun sew aktu melarikan diri ke Terayama bertahun-tahun lalu. hujan mulai turun dengan derasnya. Halaman 92 dari 500 . rasa sakitnya berkurang seolah luruh dengan bunyi rintik hujan b ak gendang bertalutalu di aiap. dan pada malam-malam yang dingin mem¬beku meringkuk memeluknya agar tetap hangat!" "Gemba ada di sini?" tanya Takeo pada Makoto. minum teh dan berbincang-bincang dengan suara pelan. Takeo menyadari kalau bocah itu ter¬sentuh oleh sesuatu. sedikit nasi. Lalu mandi di mata air panas. Makoto mengajak Sunaomi bertemu dengan beberapa murid yang masih muda. Jun dan Shin duduk di luar. kehijauan. "Lord Miyoshi menceritakan bagaimana dia hidup di pegunungan sendirian selama li ma tahun.

Matsuda sudah berada di aula. dan ke pelataran di depan aula utama. "Mendekatlah. dan menghadap ke taman. T akeo tidak membalas tatapannya malah melihat ke belakang. berdiri griya tamu perempuan te mpat Takeo dan Kaede menghabiskan malam pertama pernikahan mereka." ujar Matsuda. Dirasakannya air mata men gambang ketika laki-laki tua itu men¬condongkan badan ke depan lalu menepuk¬kan tangan. tak ada cahaya yang bersinar dari dalamnya. Di ujung cabang uta ma sungai kecil."Apakah beruang-beruang itu yang mem beri tahunya?" Apakah beruang-beruang itu y ang mem beri tahunya?" "Kemungkinan begitu! Lord Otori. sedangkan begitu banyak orang yang pernah melihat mereka kini telah tiada. yang mengalir di sepanjang taman dan menuruni gunung. Takeo berlutut lalu membungkuk sampai ke lantai di hadapannya. Waktu tidaklah bergerak bagi lukisan¬lukisan itu. menyeberangi sungai kecil yang dialihkan air nya agar mengalir melewati dapur. bangau mereka masi h seperti dulu. Bunyi air terjun kedengaran lebih keras di sini. Harum lembut bunga serta tanah yang basah merebak ke dalam aula. merasa malu akan air mata yang sebentar lagi tumpah. pikirnya. "Biar ku¬lihat dirimu. Mereka mengikuti jalan setapak terbuat dari papan menyeberangi satu cabang lagi aliran sungai kecil menuju aula tempat lukis an Sesshu. Tempat itu kini kosong. terba ng jauh bak burung ." Kasih sayang dalam nada suaranya mem¬buat Takeo terharu. Matsuda sudah tua saat pertama kali Takeo bertemu dengannya. Hujan telah reda. dan Takeo mengenal s osok tanpa suara yang sedang duduk bermeditasi di dalamnya. Takeo berjalan bersama M akoto melewati aula tempat makan di biara. dan telah me¬masuki dunia j iwa yang suci. Biar kusentuh dirimu." Meninggalkan Sunaomi bersama kedua pengawal pribadinya. mari kita menemui Kepala Biara. Mata Matsuda mencari-cari wajah Takeo. tempat rahib-rahib muda mem bereskan mangkuk bekas makan malam. bahkan batasan kehidupan. Matsuda adalah sa tu-satunya orang di Tiga Negara yang paling dihormatinya. kini sepertinya dia telah m elewati jauh dari batasan usia yang mengekang. ke lukisan-lukisan Sesshu indah. bersandar pada bantalan tebal yang disangga dua ra hib tanpa suara dan tidak bergerak. malam telah menjelang dan be¬batuan di taman tampak seperti bayangan hitam. nyaris tak terlihat. Kuda. Di dalam aula uta ma ada ratusan lentera dan lilin yang menyinari patung emas Sang Pencerah.

Satu satu kasa yang kosong. duduk di bawah bayangan di belakang Matsuda. "Aku hanya terkejut mengapa begitu lama baru mereka mengancammu. "Jadi Kaisar merasa khawatir dengan diri¬mu. menurut legenda." "Aku tidak kaget kalau Kaisar bingung dan takut padamu. Kono." ujar Matsuda. Orang ini mencondong¬kan badan ke depan sekarang. tapi seperti hal¬nya Ma koto. Alasa n yang lainnya adalah Arai Zenko telah berhubungan dengan Kono. "Putra Fujiwara. aku diminta untuk mengundurkan diri dan mengasingkan diri. tapi s ebenarnya dia memberitahuku bahwa aku telah membuat Kaisar merasa tidak senang bahkan dianggap penjahat.gereja. Di saat bersamaan. Aku mencurigai Zenko me nganggap dirinya sebagai penerusku. diperhatikannya ada satu orang lain berada di dal am aula." "Kurasa ada dua alasan. dan segera menyadari kalau Matsuda dan M akoto melihatnya. datang berpura¬pura mengunjungi tanah milik ayahnya." Takeo merasakan amarahnya meletup lagi." Matsuda tertawa kecil. pertama Kaisar memiliki jenderal baru yang telah menaklu k¬kan wilayah Timur dan sekarang pasti meng¬anggap dirinya cukup kuat untuk meman¬cing kita. Usia mereka hampir sebaya. lukisan burung-burung itu b egitu hidup hingga akhimya terbang. dan Takeo sada r kalau orang itu adalah Miyoshi Gemba. Gemba Halaman 93 dari 500 .

Matsuda mengeluarkan kata-kata ini dengan penuh keyakinan." "Shigeko? Tidak. Terdengar olehnya desisan cahaya tadi saat hujan memadamkannya. Gemba memandangnya dengan tatapan lembut. terlalu berbahaya. "Tapi aku sudah sampai pada usia dimana perbincangan membuatku lelah. Bila aku menemanimu." sahut Gemba." Seperti Gemba. "Gemba. Kau akan mendapatkan duku ngan Kaisar. "Mereka punya banya k peramal. ahli nujum dan penyihir. santai namun penuh kekuatan hampir seperti beruang." "Kaisar harus bertemu dengannya dan memberi restu serta persetujuan kepadanya bi la dia memang akan menjadi penerusmu seperti yang seharusnya." "Sebentar lagi akan ada pertandingan ber¬taraf kecil di Miyako. "Aku senang ber¬temu denganmu! Tapi apakah kau meng¬habiskan wa ktu dengan belajar tipuan sulap di sini?" "Kaisar dan istananya sangat percaya takhayul. Aku takut kalau satu-satunya jawaban yang ma suk akal yaitu dengan kekerasan." ujar Gemba. Di saat yang sama amarahnya lenyap. kemudian melesat bak bintang jatuh ke arah taman yang gelap. Gemba memandangnya dengan t atapan lembut." "Jadi aku harus pergi ke Miyako?" "Ya." sahut Matsuda. Kaisar sedang membangun kekuatan untuk melawanku. dan mencapai kesimpulan yang bijaksana?" "Kita bisa membahasnya bila kau mau. "Kita tidak perlu membahas hal ini?" tanya Takeo. Aku bisa lihat titik akhir yang akan d . kau mungkin bisa yakin kalau kami mampu menandingi tipuan mereka. Sesaat melayang-layang." ujar Takeo. "Kau harus hadapi mereka sendiri. santai namun penuh kekuatan hampir seperti beruang." "Aku akan membutuhkan lebih dari sekadar tipuan Gemba untuk membujuknya. Putri¬mu juga harus ikut. "Itu sebabnya aku harus ikut bersamamu. Sesuatu terjadi pada lentera." sahut Matsuda. Cahayanya berkedip-kedip dan seberkas cahaya teran g melompat di depan mata Takeo. mpak tidak berubah seiring dengan berjalannya waktu.nampak tidak berubah seiring dengan berjalannya waktu. "Kita tidak perlu mempenimbang kan pilihan Iain.

" "Maka aku harus memiliki senjata api yang lebih banyak dan lebih baik dibanding¬ka n mereka! Aku harus serang mereka lebih dulu. Begitulah sifat manusia." "Kahei akan selalu memilih perang. mengejutkan mereka. Kahei. sebelum mereka sempat memper senjatai diri." "Takeo. Tapi kau ha rus menghindari bentrokan senjata secara ter¬buka.icapai." ujar Takeo. tak dapat dihindari kalau kau akan mengembangkannya dalam pencarianmu akan kekuatan dan kekuasan." "Aku juga harus meminta pendapat dan saran istriku." "Itu bisa menjadi strategi yang baik. Sama tidak ter¬hind arkannya ketika musuh-musuhmu menggunakannya dalam usaha untuk men¬jatuhkan dirimu." kata Matsuda mengamati. "Begitu pula ha l¬nya dengan para pengawal senior. sahabatku. aku hanya menduga kalau tak lama lagi mereka akan memilikinya. rahasianya akan dicuri. ini ulah Zenko yang meng¬khianatiku." "Jadi seharusnya tidak kubiarkan pengem¬bangan senjata api?" Satu hal yang kerap d isesalinya. "Begitu benda itu diperkenalkan padamu. Maka langsung saja ke bagian akhirnya. "Kau yakin ?" "Tidak. baik itu senjata atau a pa saja. "Begitulah sifatnya." kata Gemba." Kulit kepala dan leher Takeo terasa seperti dihujam perasaan gelisah. jika memang efektif. Halaman 94 dari 500 . terutama bila prajurit dari wilayah Timur mempu nyai senjata api. dan jenderalku. bila kau memperkenal¬kan penemuan baru." "Sekali lagi.

Bagaimana pendapatmu?" "Kau tahu aku tidak bisa menyarankanmu memulai perang." timpal Gemba. setengah merasa malu atas keke salannya dan setengah takut Gemba akan menggunakan api untuk membuang amarahnya." timpal Gemba. "Dia sudah cukup dewas a untuk ditunangkan. Siapa orang yang pan tas menjadi jodohnya? "Itu juga menjadi nilai lebih di pihakmu. Tent u saja." kata Takeo. sementara semua yang sudah kuraih hancur berantakan?" Bisa didengarnya nada suaranya sendiri lalu ia diam seribu bahasa." sahut Makoto. namun kesunyian yang makin dalam meng¬has ilkan efek yang sama kuatnya. adikku. akan mem¬berimu saran seperti itu. mungkin." ujar Takeo. namun berusaha mencegahnya agar tidak bertindak gegabah ataupun berbahaya. Banyak orang di sekitarnya yang hanya bisa memuji dan tunduk padanya." gumam Makoto. "Makoto. Sedangkan orang-orang ini tidak melakukan itu. "Jangan terburu¬b uru. "Dia takkan sempat menunjukkan semua keahliannya di ibukota. "Tahun ini Shigeko berusia lima betas tahun. Kahei." tutur Gemba. "Sementara ini dia harus menyempurna¬kan keahlian berkuda." "Jadi kau takkan memberi saran? Kau akan duduk di sini dan melantunkan doa serta memainkan tipuanmu dengan api. dan Takeo lebih m emercayai mereka. Takeo me¬rasakan kombinasi antara ketenangan dun kejernihan dar i pikiran ketiga orang itu dan tahu kalau mereka mendukungnya. adikku." tutur Matsuda. dan memanah. "Kurasa kau haru s pergi dengan kemewahan yang tiada tara. "Bila aku harus ke Miyako. "Kita lihat saja nanti. membawa hadiah-hadiah yang paling indah." sahut Gemba." "Juga memberi waktu pada putrimu untuk menyiapkan dirinya. "Kau diam saja."Tentu saja. Kali ini tak ada unjuk kebolehan tipuan." "Itu memberi mereka waktu untuk mem¬bangun kekuatan militer!" "Itu juga memberimu waktu untuk menyiapkan diri. dan tersenyum dengan ekspresi penuh teka-t eki." Pikiran itu mengganggunya: baginya Shigeko masih anak-anak. akan mem¬berimu saran seperti itu. haruskah aku pergi secepatnya? Saat musim gugur." kata Takeo. "Jangan . saat salju sudah mencair. saat cuaca membaik?" "Tahun depan." seru Gemb a. Kahei.

Takeo mengatupkan bibir lalu membungkuk hormat di hadapan Matsuda.khawatir. Berusahalah mengingatnya . "Aku akan ikut dengan mu. dan takkan ada yang akan menyakitinya. Takeo mundur sedikit agar bisa menatap dalam-dalam mata sang pendeta t ua. Jangan membuang waktumu dengan menyesa li kepergianku. Kau sudah tahu apa yang perlu kau ketahui. Ia tidak bicara sepatah ia pun. seolah memerhatikan rasa kesal Takeo. "Aku tidak meninggalkan siapa-s iapa selain dua penerus yang berharga tak ter¬nilai harganya. Satu¬satu nya orang yang tidak jatuh dalam sihir tidur Kikuta. kalau ini adalah pertemu an mereka yang terakhir. si kembar dengan ketrampilan Tribe. Seolah bisa membaca pikirannya. Orang itu memberi isyarat untuk mendekat dan merangkulkan tangannya yang lemah pada Takeo. Matsuda berkata." Kata-kata itu terasa bagaikan hujaman kritikan tajam dan menyengat." Kemudian dia berkata dengan nada bijaksana: "Putri-putri yang layak mendapat¬kan p erhatianmu lebih dari putra-putra yang tidak kau miliki." imbuhnya." Halaman 95 dari 500 . ta pi tiba-tiba ia sadar kalau Matsuda sedang mengucapkan selamat tinggal. pikirnya. karena ia me ngagumi kenyataan bahwa dirnya men¬jalani semua pendidikan dan pelatihan bagi anak laki-laki: Shigeko dengan cara ksatria. Matsuda adalah satu-satunya orang yang bisa kutatap langsung wajahnya.

juga negara dan rakyatku. bil a aku mati. tapi juga dengan semacam kebahagiaan tiada ta ra. Dalam mimpinya. "Paman? Paman sudah bangun? Bisakah kita pergi dan melihat burung houou?" Para pengawal Arai tetap berjaga semalaman di luar. Aku tak percaya ada orang yang bi sa membunuhku. Dilihat dalam mimpinya bag ai¬mana dunia berubah sesuai dengan harapan-nya. Sekali lagi Takeo suaranya mengandung gabungan antara kasih sayang dan amarah yang sering digunaka nnya saat mengajari Takeo cara menggunakan pedang. Tak terdengar rintik hujan." "Itu sebabnya yang terbaik yaitu dengan menunda jawabanmu: kirimkan pesan yang p enuh pujian. cacat. hanya kicau burung dan tetesan sisa air hujan dari tepi atap. " "Itu karena aku sadar kalau aku tak akan hidup lama. dan dengan anehnya ia terbebas dari rasa sakit. "Kau ingat saat pergi seorang diri ke sarang perompak di Oshima? Miyako tidak mungkin lebih ber¬bahaya dari temp at itu!" "Kala itu aku masih muda dan tanpa rasa takut. Hanya ada sedikit waktu unt uk meraih apa yang ingin kuraih. Kau selalu bertindak tanpa berpikir: semua yang kau laku kan dilakukan dengan tergesa-gesa. dan terbangun dengan perasaan kalau semacam m isteri baru saja terangkat dari dalam dirinya. Kenji mengajarinya cara mem buat waktu bergerak lambat atau mempercepatnya sesuai keinginan. mereka tanpa perlindungan. dan bermimpi berada di Yamagata. di malam ia memanjat ke kastil l alu mengakhiri penderitaan kaum Hidden yang disiksa. hadiah dan janji-janji. Sekali lagi Takeo harus mengedipkan mata agar air matanya tidak jatuh. melewati malam yang terasa tanpa akhir. Saat itu hari hampir terang. sang biarawan berkata. walaupun Takeo sudah meyakin kan mereka kalau Sunaomi lak dalam bahaya. lalu mengikuti sewaktu ." *** pikir panjang. tapi juga nyawa anak-anakku. Kini mereka berdiri setengah melompat. dan istriku. dan rasa takutku jauh lebih banyak bukan hanya takut kehilangan nyawaku sendiri. ia bergerak lagi dengan ke sabaran tanpa batas Tribe. Sewaktu Makoto menemaninya ke griya tamu.Nada suaranya mengandung gabungan antara kasih sayang dan amarah yang sering dig unakannya saat mengajari Takeo cara menggunakan pedang. Kini aku sudah tua. Sunaomi duduk di atas matras sambil menatapnya. membantu tuan muda mereka memakai sandal.

dan yang me mbuat Takeo terkejut. Tanahnya keras dan berbatu. Sunaomi meminta agar diturunkan. Kini jalannya lebih mudah dilewati. dan burung melantunkan nyanyian dengan s aling bersahutan. Jalannya menanjak dan menuju hutan pohon beech dan pohon ek. didi nginkan hujan. biru pucat. mereka berbelok ke kanan dan mengambil jalan sempit menuju dinding sebelah luar dari da taran biara dan berjalan naik ke lereng gunung yang curam. anak itu memerintahkan kedua orang itu menunggu di sini sementara dia berjalan ke depan ber¬sama Lord Otori. Langit tampak cerah. salah seorang pengawal menggendong Sunaomi. tapi kini udara terasa sempurna.Takeo membimbingnya berjalan ke gerbang utama. terdapat sebuah rumput ilalang tinggi yang menjadi tempat yang paling disukai burung-burung itu untuk bersarang dan bertelur. Hampara n bunga liar musim panas menyelimuti per¬mukaan tanah. Di sini. matahari baru saj a terbit di timur pegunungan. dan tenang. Takeo bisa mendengar gemerisik de¬daunan dan kepakan sayap yang menunjuk¬kan keberad aan burung houou di dalam hutan di depan sana. Palang gerbang sudah dibuka sejak matahari terbit dan sudah ditinggalkan penjaganya untuk sarapan. Nanti udara akan terasa panas. kerap terasa licin karena hujan. di antara pepohonan berdaun lebar. Setelah melewati gerbang itu. Halaman 96 dari 500 . walaupun kab arnya mereka makan daun bambu. Setelah beberapa sa at.

"Mereka tidak seperti Lord Gemba dan Lord Makoto. "Itu mereka. Burungburung itu memang memberi semangat sekaligus agak lucu. "Itu burung jantan. Kicau penuh semangat terdengar dari atas kepala mereka. indah serta aneh. Ketika berdiri. "Aku pikir Tanaka dan Suzuki tidak perlu m elihat burung houou. Kedua pengawal itu bisa melihat. anggun juga cangg ung." "Mungkin nalurimu benar." sahut Takeo. wajahnya tampak terpesona." ewaktu mereka sudah berada di luar jangkauan pendengaran kedua pengawal itu. Mungkin saja mereka ingin memburu atau mencuri telurnya. "Dan ini dia yang betina. menatap ke atas tanpa memerhatikan jalan hingga dia jatuh di at as rumput. . matanya cemerlang bak kilauan emas. selembar melayang jatuh. Lalu seekor burung melesat keluar dari balik rimbunnya dedaunan dan me¬ngepakkan sayap ke pohon berikumya." bisik Takeo. ekornya panjang dan halus. tapi takkan mengerti. Aku pemah menden gar kalau telur burung houou bernilai tinggi. d an saat mendarat di dahan. bulu itu berada di tangannya. Ia takkan terbiasa dengan kehad iran mereka. Mungkin saja mereka ingin memburu atau mencuri telurnya. kemudian terbang menjauh ke dalam hutan. berseru lagi. "Aku tidak tahu cara mengungkapkannya. Seruan mereka seperti juga kehadiran mereka. Bulunya berwarna-warni. Aku pemah menden gar kalau telur burung houou bernilai tinggi." sahut Takeo sambil tersenyum.Sewaktu mereka sudah berada di luar jangkauan pendengaran kedua pengawal itu. diikuti oleh jeritan par au sebagai jawabannya. masing¬masin g dengan suara yang khas melihat sebentar tapi dengan tatapan tajam ke arah kro." ujar Sunaomi." tutur Takeo. "Aku pikir Tanaka dan Suzuki tidak perlu m elihat burung houou." Sunaomi tertawa gembira sewaktu burung kedua terbang menukik melintasi padang ru mput. Sunaomi mendongak. Su naomi berkata dengan nada penuh rahasia pada Takeo. Kedua burung itu memalingkan kepala saling berpandagan. "Ah!" Sunaomi menahan napas lalu mengejar mereka. Sun aomi berkata dengan nada penuh rahasia pada Takeo. seperti biasa rasa kagum pada burung suci itu bangkit dalam dirinya." "Kau mengutarakannya dengan sangat baik.

dengan ujung bulu warna merah. karena hal itu dapat menjerumuskan ia dalam konflik ter buka dengan kakaknya. Sama seperti ayah! Halaman 97 dari 500 . "sebagai sumpah bahwa kelak aku akan kembali dan belajar pada Lord Gemba. sesuatu yang ia berharap bisa dihindari. bersayap putih. memikir¬kan semua ucapan sepupu ibunya itu. Bulu itu berasal da ri burung yang pernah dilihat Shigeru ketika masih kecil. Taku duduk d beranda sambil menatap taman y ang basah kuyup tersiram hujan. pikir Takeo. dan sedari dulu dia selalu begitu. "Bulu itu akan mengingatkanmu pada hari ini. Betapa bodohnya Zenko. Aku akan membesarkannya sebagai putraku. "Simpanlah. pikirn ya. Masalah itu meng ganggunya lebih dari yang ia duga. Inilah sebabnya kami selalu mencari kedamaian. Bulu yang ini berwarna kuning keemasan gelap. agar burung hou ou tidak meninggalkan Tiga Negara."Lihat. dan sejak saat itu diawetkan di biara . selain dari batang bulunya yang berwarna putih bersih. Paman!" Takeo menghampiri bocah itu kemudian mengambil bulu itu.* Setelah kepergian Takeo dan Sunaomi." katanya pada Sunaomi. dan anugerah yang kau peroleh." "Aku akan berikan bulu ini ke biara. Matsuda pemah mem¬perliha tkan bulu burung houou." sahut Sunaomi." Anak ini baik hati.

ia menghormati dan mengagumi Takeo. Shizuka. sebelum gempa mengguncang kota. Ia bi sa membawa surat atau pesan lisan kepada Shizuka. Sejak kecil Taku memuja Takeo sebagai pahlawan. Zenko menyalahkan Takeo atas kematian Arai. keponakan Kenji. tabib Ishida. Taku ter senyum pada dirinya sendiri. dan sebagai laki-laki dewasa. cukup bisa dipercay a. menurut Taku. mengenang seringkali tertidur terkena ilmu tidur Kikuta sampai akhimya bisa menghindarinya bahkan sampai ia pun mampu melakukan¬nya. Suami ibunya. Bila tidak terikat oleh kewajiban pcnghormatan dan kesetia an. namun Taku me¬nafsirkan seluruh adegan itu dengan cara yang berbeda. Ia mungkin siap membunuh Z enko. Ia tahu kalau ayahnya me¬merintahkan untuk membunuh ibun ya: ia tak bisa melupakan atau memaafkan niat ayahnya untuk ia dan kakaknya. ia menyaksikan ayahnya mengk hianati Takeo. Zenko menyalahkan Takeo atas kematian Arai. Kelemahan . dan keduanya memahami konflik akibat dara h campuran. Ishida. seorang kakak tetap saja kakak. sebelum gempa mengguncang kota. keluarga Muto telah bersumpah pada keluarga Otori : ia tak akan melanggar sumpah itu.Di usia sepuluh tahun. Usulan ini mungkin bisa diter ima semua pihak. Taku memu tuskan akan mengusulkan ibunya. seperti yang diucapkan pada Takeo. Ia tahu kalau ayahnya me¬merintahkan untuk membunuh ibun ya: ia tak bisa melupakan atau memaafkan niat ayahnya untuk ia dan kakaknya. Takeo juga mengajarinya semua hal yang pernah dia pelajari dari Kikuta. tapi takkan menghina kakaknya dengan mengabaikan hakn ya untuk mengajukan pendapat siapa yang akan menjadi kepemim¬pinan keluarga Muto. ia menyaksikan ayahnya me ngkhianati Takeo. memberinya kekuasaan dan status serta memungkinkan dirinya mengambil banyak keun tungan dari semua bakatnya. Ter¬lebih lagi. ia pasti akan sama bodohnya dengan Zenko: kedudukan di Tiga Negara adalah segala yang diingin¬ka nya. Ada ikatan kuat antara mer eka berdua. Taku mengira T akeo akan membunuh Zenko seringkali setelah kejadian itu ia bermimpi usia sepuluh tahun. akan mem¬bawa anak Zenko yang satu lagi ke Hagi. namun Taku me¬nafsirkan seluruh adegan itu dengan cara yang berbeda. mereka mirip dalam banyak hal. Taku mengira T akeo akan membunuh Zenko seringkali setelah kejadian itu ia bermimpi kalau Takeo memang membunuhnya dan tidak pernah bisa memahami kebencian Zenko terh adap Takeo karena membiarkan¬nya tetap hidup. dan Taku dibesarkan untuk menghormati hierarki Tribe. Namun.

Taku ingat pada rasa iri Zenko ketika mereka kembali ke Hagi pada musim se mi bersama dua kuda jantan yang tampan. yang sudah pulih dari kelelahan karena perjalanan jauh. ikatan dari masa kanak-kanak yang sejauh ini bisa mencegah keretakan hubungan mereka. Ryu me masih tetap kuda yang baik. sedangkan Zenko berdiri sendiri. Mereka saling menyapa dengan penuh kehangatan. Ryume sudah dibersihkan: surai dan ekornya dibersihkan dari lumpur dan tak lagi kusut. bahkan mungkin melaku¬kan perjalanan bersama Kono ke wilayah Barat. hanya semakin menekankan sikap dinginnya terhadap Zenko. menjelaskannya kepada Kaisar bahwa Lord Otori didukung penuh di Maruyam a dan Inuyama. Cukup puas dengan keputusan ini. teman lamanya. Ishida bukan seorang pemberani. Penting bagi Kono mendapat gambaran Tiga Negara yang sebenarnya untuk dibawa pul ang ke ibukota. Terlepas dari keberanian yang dibutuhkan untuk bi sa pergi jauh dalam penjelajahannya. karena masih ada sisa-sisa kasih sayang di antara mereka. kuda itu diberi makan cukup dan kelihatan senang. dan perawat kuda mengaguminya secara terang-terangan.utama laki-laki itu terletak pada keluguannya. indikasi jel as kasih sayang Takeo pada mereka berdua. bah¬kan memp erlakukan Taku dengan rasa hor¬mat yang lebih besar lagi. satu milik Hiroshi dan satu lagi miliknya. mengulurkan tangan dan meng¬gosok-goso k alis si kuda. Taku sendiri akan tetap berada di dekat Zenko dan Kono. Meskipun sudah tua. Halaman 98 dari 500 . Taku masih mengelus-elus dan memberi¬nya makan wortel sewaktu Zenko datang ke area istal." ujar Zenko. tempat ia akan mengatur pertemuan dengan Sugita H iroshi. Ryume. la senang dengan apa yan g ditemukannya di sana: apa pun kesa¬lahan kakaknya. secara fisik. Taku pergi ke istal untuk melihat keadaan si ku da tua. seolah dia sulit memahami kekejia n yang mungkin terpendam dalam sifat manusia. dan tidak s uka bertarung. "Kau masih memiliki anak Raku. pengetahuan dan kepeduli¬annya pada kuda tak ada tandingannya.

atau kini mereka menjadi tawanan?" tanyanya. Ibu ada di sana. "Benarkah suatu kehormatan. kan kuberikan kuda ini untukmu." "Seperti Lord Otori. lagipula kurasa dia sudah terlalu tua untuk punya anak. "Dia belum terl alu tua untuk dikawinkan dan mendapat¬kan anak... tapi ada nada sinis di dalamnya. "Dia belum terlal u tua untuk dikawinkan dan mendapat¬kan anak. "Bukankah kau harus pergi ke rumah keluarga Muto untuk upacara pemakaman?" tanya Zenko sewaktu mereka duduk di datam. dan karena tak ad a jenazah yang bisa makamkan." Taku sadar kalau perkataan ini semestinya hanyalah lelucon." Selain anak-anaknya."Akan kuberikan kuda ini untukmu." "Tidak ada jenazah? Jadi Kenji mati di mana? Dan bagaimana kita tahu kalau dia m emang sudah mati? Ini bukan pertama kalinya dia menghilang demi kepentingan¬nya sendiri?" "Aku yakin Paman sudah tiada." komentarnya se¬waktu mereka kembali ke kediaman. dan telah mengatur untuk kembali secepatnya ke Inuyama jika berhasil. "Terima kasih. "Paman sakit parah: mungkin meninggal akibat sakit paru-paru.." ujarnya tanpa rpikir panjang. Taku tidak bisa menawarkan sesuatu yang lebih berharga lagi." sahut Taku. tapi misi yang sedang dilaksanakannya luar bia sa ber¬bahaya. Zenko menanggapi dengan jawaban yang tidak tegas lalu mengalihkan topik pem¬bicaraan. pikirnya. Aku katakan in i padamu dengan ." Selain anak-anaknya. Ia berharap kemurahan hatinya bisa melembutkan perasaa n Zenko terhadapnya." katanya dengan ringan. Ia berharap kemurahan hatinya bisa melembutkan perasaa n Zenko terhadapnya." ujarnya tanpa rpikir panjang. tapi wajah Zenko tampak murung." Taku melihat kakaknya sekilas lalu melanjutkan pe rkataannya. "Sungguh kehormatan bagimu dan istri¬mu. "yang harus memiliki putra dari laki-laki yang lebih muda. "Lord Takeo ingin mengadakan upacara di Hagi. tapi aku takkan menerima¬nya. Taku tidak bisa menawarkan sesuatu yang lebih berharga lagi." sahut Zenko. Kakakku mengartikan segala se¬s uatunya sebagai penghinaan. "Ryume adalah hadiah da ri Lord Otori. "Itu tergantung padamu.

"Hanya Muto Yuki yang tahu pasti. tapi Taku tahu betul minat me ndalam di balik kata-kata itu. "Dan dia meninggal tak lama setel ah anak itu lahir." "Ya. Semua orang tahu kalau putra Akio adalah cucu Kenji. "Mengapa kau berpikir begitu?" "Aku mungkin saja memakai nama Ayah. "Baiklah. melihat apa lagi yang akan Zenko ungkapkan. dan keluarga Muto memiliki kepen¬tingan padanya. Benarkah itu." sahut Taku. tidak pernah memaafkanny a dan juga Takeo atas kematian Kotaro. atau Zenko hanya membual? Taku menanti dalam diam." Zenko berkata dengan santai." "Bukan mati di tangan Kikuta?" ujar Zenko setelah terdiam lama.penuh ke¬yakinan. Aku hanya menarik kesimpulan dari fakta yang ada. Bila aku menjadi Ketua. anak itu adalah cucu K enji. Ak u harus melakukannya karena Takeo tak memercayaiku seperti dia memercayai¬mu. keluarga Tribe." lanjut Zenko. siapa pun ayahnya. adikku. tapi yang mengkhawatirkannya diba ndingkan komentamya bahwa dia me miliki orang dalam di kalangan Kikuta." Halaman 99 dari 500 . Aku punya orang dalam di kalangan Muto dan di kalangan Kikuta. Pasti Kenji sangat ingin be rtemu dengannya Kenji sudah tua." Taku merasakan kebencian dalam suara kakaknya. tapi itu tak mengubah kenyataan kal au aku sama sepertimu." kata Zenko. "Tentu saja ada desas-desus di desa Muto mengenai anak itu. aku akan menghubungi K ikuta berkaitan dengan anak itu. kabarnya. kesehatannya memburuk. aku ingat. bukan Akio. Akio. Kabar resminya adalah: Paman meninggal karena sakit paru-paru. "Bahw a Takeo adalah ayahnya.

matanya menyipit." sahut Taku sopan. dan datang agak terlambat saat makan malam. menya ntap makan siang bersama kemudian pergi bersama Hana dan kedua putranya untuk melihat kirin ."Mungkin sebaiknya kita biarkan saja pertanyaan tentang siapa yang akan menjadi penerus Kenji sampai kita membicarakannya dengan ibu. Kemampuan-kemampuan itu mungkin tidak semenyolok kemampuan yan g kau miliki. Kini Taku ingat bagaimana mereka semua terpesona olehnya saat masih anak-anak-dia. seperti adat istiadat orang-orang nomaden at au siklus hidup ikan paus. Sesuai kebiasaannya ." sahut Taku sopan. memuji Hana atas hidangannya dan kedua putranya serta berusaha menarik Ishida ke topik pembicaraan yang tidak menyinggung. tapi sangat efektifl! Taku agak menunduk dengan tidak tulus agar kelihatan patuh. Zenko dan Hir oshi. Setelah itu tabib Ishida diundang ke kediaman agar bisa lebih akrab dengan Chikara sebelum m eng¬ajaknya pergi ke Hagi. dan bahkan lebih tegang lagi sewaktu sa ng bangsawan bertanya tentang waktu yang pernah dilewatkannya di kediaman Lord Fujiwara. Ishida tampak sangat gugup bertemu Kono. Sudah menjadi rahasia umum kalau ayah Kono lebih suka berhubungan dengan laki¬laki ketimbang ." Kemarahan Zenko mulai meluap. lalu mereka ber¬ganti topi k pembicaraan yang lebih aman. Hubungan Taku dengan kakak iparnya agak menyakitkan hati. Taku sendiri merasa tegang. Tak lama kemudian Lord Kono datang bergabung. Mereka semua mem¬buntutinya ke mana pun Hana pergi bak anjing dengan lidah terjulur kelua r. ia berbincang ringan dengan Kono. dalam ke adaan agak mabuk. "Aku memiliki banyak kemampu an Tribe. adikku. gelisah me¬mikirkan pembicaraannya dengan Zenko dan sa dar akan semua perasaan terpendam di ruangan itu selama mereka makan. "Aku ngak terkejut bi la harus mengingatkanmu bahwa Ketua keluarga biasanya memiliki kemampu¬an tinggi." Mungkin sebaiknya kita biarkan saja pertanyaan tentang siapa yang akan menjadi p enerus Kenji sampai kita membicarakannya dengan ibu. dan saling bersaing untuk merebut perhatian gadis itu. Ishi da menerima undangan itu dengan enggan. Taku tidak terlalu suka ataupun percaya pada Hana tapi perempuan itu punya kecerdasan dan semangat yang tak pernah berhenti dikaguminya dan tak ada laki-laki yang tidak terpesona oleh kecantikannya . "Aku ngak terkejut bi la harus mengingatkanmu bahwa Ketua keluarga biasanya memiliki kemampu¬an tinggi. Taku tidak memperlihatkan-nya.

si tabib melanjutkan perkataannya. Mustahil bila tidak berhasrat pada Hana." ujar Kono pada Ishida. "Dan sekarang dia merawat kesehatan Lord Otori. Taku seperti melihat ketertarikan yang cukup alami di balik perhatian Kono pada Hana. "Anda terialu berlebihan menyanjungku. Ia langsung berpikir tentang istrinya sendiri." "Ayahku selalu menghargai kemampuan Anda. Musim panas kali ini akan berlangsung lama. tapi Taku tak melihat apa pun yang menunjukkan ke¬miripan sifat Kono de ngan ayahnya. "Lor d Otori percaya tak ada yang bisa membunuh dirinya dia telah membuat dirinya kekal." sambung Zenko. Hampir saja ia iri pada Zenko. dari sudut pandang seorang laki-laki seperti diriku yang tertarik pada bagaimana cara manus ia berpikir. dan hasratn ya berubah menjadi rasa tidak suka." Dia berhemi sejenak. Ia bersyukur telah pulih dari perasaan tergila¬gila pada perempuan itu dan tidak pernah merasakannya lagi." Taku mendengar nada mendua hati sekaligus kedengkian dalam suaranya. "Dengan keberhasilan yang gemilang. dan melelah¬kan. Kemampuanku biasa saja. "Tentu saja kasus Lord Otori cukup mengagumkan. "Tabib Ishida sudah sangat s ering menyelamatkan Lord Otori dari kematian. na mun setelah menenggak habis sake sekali lagi." Halaman 100 dari 500 ." komentar Hana pada Kono." Taku mengira Ishida takkan berkomentar lebih banyak lagi tentang masalah ini. kemudian membungkuk dan berkata dengan nada penuh rahasia. dan pikirannya melayang mem bayangkan bagaimana rasanya terbangun dalam kegelapan dengan perempuan itu di si sinya. y ang ia tahu bisa dipercaya dan dirindukannya. pikirnya.perempuan. "Tabib Ishidalah yang merawat ayah Anda.

Tawa yang mengikuti kata-kata Hana selanjutnya terdengar agak kurang nyaman." "Kakakku. Apakah itu semacam takhayu l?" cnarkah?" gumam Kono."Bcnarkah?" gumam Kono. Apakah itu semacam takha yul?" "Kurang lebih begitu." timpal Hana. "Ramalan apa?" "Bahwa Lord Otori hanya bisa mati di tangan putranya. bagaimana perasaanmu tentang perj alanan lewat laut bersama kirin?" Chikara menelan ludah saat diajak bicara pamannya. serta berbaring di atas ranjang berpaku tan pa melukai kulit mereka. "Menga pa aku membicarakan hal itu? Oh ya. tapi Lord Tak eo terhindar dari bahaya itu. Kaede. kau ada di san a ketika pamanmu yang malang " "Aku tidak ingat. karena lebih dari satu orang yang hadi r di sana mengingat kalau Lord Fujiwara me¬nikahi lain Kaede secara paksa hingga bangsawan i tu mati." imbuhnya. "Kedengaran¬nya terlalu pongah. "Dalam perjalanan ke Tenjiku. Dia percaya tidak bisa di¬bunuh." sahut Taku cepat. adikku?" tanya Zenko pelan. "Keluarga Otori merupakan sasaran des as-desus. efek dari kuatnya kepercayaan itu berimbas pada tub uhnya. pernah menjadi sasaran desas-desus semacam itu. dan belum sempat dia menyahut ." lanjut Zenko. Ada semacam ramalan Taku. " Dia seharusnya membawa kematian pada laki-laki manapun yang menginginkan dirinya. seraya melirik ke ara h Taku. dalam hati berha rap segala siksaan neraka menimpa si tabib yang sedang mabuk. dan tubuhnya bereaksi dengan sembuh dengan sendirinya. "Kedengaran¬nya terlalu pongah. Syukur dipanjatkan pada Surga. "Lord Otori memang berhasil luput dari banyak serangan atas dirinya. Dan sangat berguna. "Itu tidak lebih dari kepercayaan takhayul." sahut Ishida. "Dan gempa bumi 'B umi ." "Kau tahu hal ini. "Tapi semua orang tahu tentang Lima Pertempuran. Zenko lalu bertanya." sahut Kono dengan sikap halus. di sana ada orang¬or ang suci yang bisa berjalan di atas api tanpa terbakar. sementara Kono mendesak Ishida me nceritakan lebih banyak banyak lagi ten-tang perjalanan-perjalanannya." "Mengagumkan. Pernahkah kau tahu kasus-kasus serupa?" "Tentu aku tahu." Ishida minum lagi." sahut Taku ringan. "Chikara.

menghantarkan apa yang diinginkan Surga." Taku tidak tahu apakah harus bicara dan memberi tahu Kono di mana kesetiaannya b erpihak. begitulah yang aku dengar. lalu diseka dengan lengan baju. karena Ishida adalah ayah tiri suaminya. bicara padanya dengan sopan. kejahatan telah mendapatkan balasannya." sahut Kono. "Maaf." "Aku khawatir dia sudah terlalu banyak minum. "Ada ramalan seorang perempuan suci." Hana minta maaf pada Kono setelah Chikara membantu si tabib berdiri dan pergi. Gempa bumi itu di percaya sebagai pertanda dari Surga. aku tak ber¬maksud menghina kenangan tentang kedua ayah kalian. "Di ibukota gempa bumi biasanya dianggap sebagai hukuman atas tindak kejahatan. Menurutku. Kuharap kalian memaafkan orang tua ini. Ayah." Dia minum lalu bicara dengan l ebih serius. Da n nyawa istriku. buka n anugerah. "Gempa itu menyelamatkan nyawaku. "Aku harus beristirahat. Halaman 101 dari 500 . yang dipastikan oleh kemenanga n Takeo dalam perang. dengan nada mengejek. "Chikara. "Alangkah ena knya bagi sebuah kemenangan memiliki ramalan yang berguna. yang berpihak kep ada¬nya.'" Dilihatnya wajah Kono yang penuh tand a tanya lalu menjelaskan. Aku lelah sekali." ujar Hana." Lalu dia berpaling ke arah Hana." Air matanya mengambang." "Ya. antar kakek ke kamar dan minta pelayan membantunya." "Tentu saja. atau diam saja dan kelihatan men¬dukung kakaknya. Ishida menyelamatkannya yang bicara dengan perasaan yang meluap¬luap.

"Ramalan yang menarik bukan?" tanya Kono. Kecemasan lain yang harus dipikirkan sebelum perang adalah panen." sahut Taku. "Wah. melintasi Taiwan lalu ke timur sampai ke selatan pasifik Jepang. ledakan tawa yang me¬ngandung konspirasi jahat." tam bahnya. di m ana hawa panas masih lerjadi. pikir Taku. "Ada lagi desas-desus tentang Takeo. Zenko tertawa..] semua masalah ini tak lagi terasa mendesak sewaktu memikirkan kalau tak lama lag i ia akan bertemu Kaede dan ketiga putrinya. penyimpanan cadangan air untuk berjaga -jaga kalau terjadi kekeringan di akhir musim panas. tapi aku harus bertindak bijak!" Kono menaikkan alisnya. Kurasa dia lebih mengenal ayahku ketimbang orang lain yang mas ih hidup. Sebaliknya. di akhir musim hujan plum*. Miyako. Bahkan tempat penginapannya pun terasa lembap. [pent. Tapi _ * Hujan plum adalah hujan yang terjadi saat musim buah plum (Juni-Juli). Paman. Kuharap b isa berbincanIshida. laki-laki yang menarik." "Beliau memiliki tiga putri. wabah penyakit menular. berbau lembap dan jamur. Kuharap bisa berbincang banyak dengannya.* Miyoshi Kahei menemani Takeo ke Hagi bersama putra sulungnya."Ishida. Fenomen a cuaca ini melanda pantai timur Cina. Sulit memikirkan tentang musim dingin saat ini. langit cerah biru berubah kuning di bagian barat saat matahari ter¬b . Dal am bahasa Jepang discbut meiyu dan baiu. bagai¬mana ia menghabiskan musim dingin untuk mengadakan persiapan. dan gembira bisa bertemu dengan sanak saudaranya. Mereka berkuda menyeberangi jembatan batu di senja hari bermandikan rintik hujan disertai cahaya matahari. "Kurasa.. dan penyakit akibat cuaca panas. Hagi ad alah kota kelahirannya. laki-laki yang menarik. apa yang harus kulakukan tanpa dirimu? pikir Taku. Dari Kaisar dan jenderalnya. "Secara resmi." Dan beruntung dia tidak mati seperti ayahnya. Lord Otori tidak memiliki putra. wah!" komentarnya. Aku menyesal dia harus pergi ke Hagi. Di atas laut. Take o tahu kalau ia membutuhkan saran Kahei tentang cara terbaik menghadapi ancaman yang makin besar dari ibukota. Katsumori. Takeo sadar pakai¬annya terasa lembap: begitu sering pakaian¬nya basah kuy up sampai menempel di kulit selama perjalanan hingga nyaris tidak ingat bagaimana rasanya kering. Aku menyesal dia harus pergi ke Hag i.

Pegunungan di belakangnya tertutup awan tebal.. Kaede menantinya di beranda pan jang yang Halaman 102 dari 500 . tapi ia tidak ingin berperang. Shun. Turun dari kuda di dinding luar utama kastil: kuda-kuda diiuntun pergi. maka akan dibutuh¬kan lebih banyak kuda . dan hanya mengajak Sunaomi. dan guntur bergemuruh sehingga kuda-kuda ter kejut dalam kelelahan.enam. dan juga pada Shigeko. Ia akan bicara pada Mori Hiroki tentang kuda.. Kabar sudah tersiar lebih dulu ke kastil. Kuda tunggangannya udaklah istimewa. Miyoshi bersaudara meninggalkannya di depan gerbang. Bila mereka harus berperang. Takeo b er¬jalan melewati taman. dan berta nya-tanya apakah bisa menemukan kuda seperti itu. ia merindukan kuda lamanya.

" sahut Takeo. " "Tentu saja. Lalu perasaan itu berganti dengan hasrat untuk memeluknya. Minta pelayan untuk mem¬bawakan pakaian unt uk ayahmu. a ." "Sunaomi!" seru Kaede. "Benarkah ini sepupu kami?" tanyanya.mengelilingi ke-diaman. Suara laut memenuhi udara. lalu berlutut untuk melepaskan sandal lakeo. "Sh i¬geko. "Nanti kuceritakan alasan kunjungan Sunaomi. dan seruan burung dara terden gar dari atap rumah. pada Kaede. "Ayah!" pekiknya. Wajah Kaede bersinar gembira. Kau harus segera mandi. Sunaomi akan tinggal bersama kita selama beberapa waktu." Indahnya hardikan sayang istrinya mem¬bangkitkan perasaan begitu kuat dalam diri T akeo hingga sesaat ingin berdiri di sana untuk selamanya. apa yang terjadi?" Kaede mendongak sekilas ke wajah Takeo lalu berkata. "Ya. Kemudian dia melihat Sunaomi yang tengah berdiri malu-malu di bela kang. Ta keo bisa mendengar langkah ringan putri nya di lantai papan. engelilingi ke-diaman. melarut-kan diri dalam dekapannya. terdengar olehnya Shigeko bicara pada kedua adiknya. Suara laut memenuhi udara. dan seruan burung dara terdeng ar dari atap rumah. Shigeko berlari menghampiri dari dalam kediaman. katakan pada Shizuka untuk segera me¬nemui kami. Dan basah kuyup. "Hana baik-baik saja. Namun kabar pertama harus segera disampaikan. tempat sebuah kolam dibuat di sekeliling mata air panas." Wajah Shigeko tampak serius selagi mem¬bungkuk normal lalu meninggalkan mereka. Ayo masuk. "Ya. Wajah Kaede bersinar gembira. "Tapi kenapa? Apakah ibunya baik-baik saja? Apakah ada se suatu terjadi pada Hana?" Takeo melihat kecemasan Kaede dan ber¬tanya-tanya seberapa banyak yang dapat ia ce ritakan tentang kecurigaannya. "Kami tak menduga kau kembali begitu cepat! Kau berkuda dalam cuaca yang begitu buruk! Kau pasti kelelahan. kau pikir masih berusia delapan betas tahun? Kau sama sekali tak memikirkan kese hatanmu!" "Shizuka ada di sini?" tanyanya saat Kaede membimbingnya di beranda menuju bela¬ka ng kediaman. Lord Takeo. "Ya. dan mengganti pakaian yang kerin g. pada Shizuka.

"Muto Kenji sudah tiada. Kaede mengambil air dari kolam dengan ember bambu dan mulai memandikan suaminya. Taku mengabarkan hal ini padaku di Hofu. Takeo ingin Kaede melingkarkan tangan lalu memeluk¬nya. Bagaimana kejadiannya? Apa¬kah dia meninggal karena sakit?" Takeo mendengar dirinya berkata. Sinar matahari keluar dari sela-sela bunga-bunga dan semak¬se mak. Kaede tidak bicara sepatah kata pun sewaktu melepaskan pakaian Takeo. Kaede berkata." kata Takeo. "Aku harus bicara berdua dengan Shizuka. Dia mengadakan perjalanan sampai keluar perbatasan. "Suatu kehilangan yang menyakitkan. Tapi kalian belum boleh menemuinya. Tiap jengkal tubuhnya terasa sakit. "Se pertinya begitu. Kita harus me¬nemukan Shizuka. Tak ada kab ar yang jelas. Satu demi satu api dan lentera di sekitar teluk mulai dinyala kan dalam kegelapan." Mereka hanya berdua. bunga iris tampak berkilauan.yah sudah pulang. Di sekeliling kolam dan sungai. dan segera ke luar dan berpakaian secepatnya. Sen tuhannya menenangkan." Halaman 103 dari 500 ." Ia tidak berlama-lama di dalam air panas seperti yang ia inginkan. Ayo ikut aku. Takeo melihat air mata meng¬genang di mata istrinya lalu mulai berlinang di pipinya. Langit dan laut berba ur menjadi satu dalam kabut senja. tapi ia harus bicara dulu pada Shizuka.

atas sikapmu mengho rmati pamanku. "Tidak. "Apakah kau dengar ada orang di dekat sini?" Takeo memasang telinga." tutur Takeo untuk meredam kemar ahan Kaede." "Baiklah." sahut Kaede lalu mening¬galka nnya. sepupu. aku akan menceritakan tentang Sunaomi. "tapi bukannya tidak diharapkan. kalau istrinya masih ingin bersamanya. Lord Takeo. kemudian melang¬kah ke beranda dan men gintip di bawahnya. lutut mereka saling berhadapan. Hal ini tak bisa dibicarakan dengan orang luar." sahutnya. Aku pulang membawa kabar bahwa pamanmu telah tiada. "Mendekatlah. Shizuka bangkit. membuka pintu lemari. Kini Takeo m enyesal mengapa tidak memberitahu Shizuka sebelumnya. "Ada banyak hal lain yang perlu kita bicarakan. Tak ada jenazah.. "Kenji adalah Ketua Muto. atas keprihatinanmu. "Aku harus ceritaka n semua yang aku tahu karena hal itu memengaruhi Tribe." "Kurasa kau sudah tahu seberapa besar arti Kenji bagiku. Selagi Takeo minum. tapi k ita akan menghormatinya dengan mengadakan upa¬cara di sini atau di Yamagata. Shizuka sudah ada di sana. seorang pelayan datang membawa teh. me¬lihat k e sekeliling ruangan dengan cepat. Shizuka harus memilih penggantinya. Shizuka menuangkannya untuk Takeo. "Saat kita hanya berdua. dan kunjungan putra Lo rd Fujiwara.." Belum sempat Shizuka bergerak men¬dekat. tidak ada orang lain."Tentunya tak ada yang kau rahasiakan padaku?" Tentunya tak ada yang kau rahasia kan padaku?" "Hanya masalah Tribe. Terima kasih." sahutnya perlahan. "Kau tentu sudah bisa menduga kenapa aku di sini." "Kabar seperti itu tidak pernah disambut baik." kata¬nya. di mana pun me nurutmu yang paling sesuai. Taku datang ke Hofu untuk mengabarkanny a. Dia kembali dan duduk di hadapan Takeo. Takeo langsung bicara tanpa salam lebih dulu." Dilihatnya kalau Kaede tidak senang. Ketika Takeo kembali ke ruang utama." "Kukira kemungkinan paman meninggal di Inuyama." sahut Shizuka dengan nada resmi. dan kukira kau harus segera tahu. kan?" Tak seorang pun tahu misi yang dilakukan Kenji kecuali ia dan Taku. "Paman tingg al di sana. Akan kusiapkan makan untukmu." .

"Kedua putrimu mulai mahir menguping. cucunya. kalau Kenji mencari obat sampai kel uar perbatasan wilayah Timur.. Aku tak ingin putriku atau istriku mendengar pembicaraan kita." sahut Shizuka. Halaman 104 dari 500 . lalu melanjutkan bicara." Takeo menghela napas ." "Takeo." "Terima kasih. Kaede atau orang lai n di luar Tribe tidak perlu tahu. Setelah peristiwa di Inuyama. kau harus ceritakan semua ini pa da Kaede." "Dan yang sebenarnya?" "Kenji pergi berunding dengan Kikuta. Ku kata¬kan pada Kaede kalau Kenji meninggal karena penyakit." Tidak dibiarkannya Shizuka melanjutkan kata-katanya. "Ini kuceritakan karena me¬ny angkut masalah keluarga Muto yang kini menjadikanmu anggota yang dituakan. kami pikir b isa memanfaatkan anak-anak Gosaburo untuk menekan mereka agar mau berdamai. "Kenji ingin bertemu anak Yuki.. Taku hanya tahu kal au Yuki meninggal di desa Kikuta tempat Akio dan anak itu bersembunyi selama beberapa tahun ini." "Lebih baik dia mendengar tentang anak¬mu itu dari mulutmu ketimbang dari orang la in. dan bisa bersembunyi di tempat yang paling sempit sekalipun.

"Aku sudah menyimpannya rapat-rapat begitu lama hingga tak tahu bagaimana member itahukannya. Semua tudah berlalu: anak itu putra Akio; putriku adalah pewaris¬ku. Untuk saat in i, ada pertanyaan mengenai keluarga Muto dan Tribe. Kenji dan Taku bekerjasama dengan baik: ilmu d an ketrampilan yang Kenji miliki tak ada bandingnya. Taku memiliki kemampuan yang hebat, tapi k urasa kau sependapat kalau ada semacam kegoyahan dalam dirinya: aku ragu apakah dia cukup dewasa untuk me¬mimpin Tribe. Zenko adalah putra sulung¬mu, dan pewaris langsung Kenji, dan aku t ak ingin menghina atau mengganggunya, atau ku sudah menyimpannya rapat-rapat begitu lama hingga tak tahu bagaimana memberit ahukannya. Semua tudah berlalu: anak itu putra Akio; putriku adalah pewaris¬ku. Untuk saat in i, ada pertanyaan mengenai keluarga Muto dan Tribe. Kenji dan Taku bekerjasama dengan baik: ilmu d an ketrampilan yang Kenji miliki tak ada bandingnya. Taku memiliki kemampuan yang hebat, tapi k urasa kau sependapat kalau ada semacam kegoyahan dalam dirinya: aku ragu apakah dia cukup dewasa untuk me¬mimpin Tribe. Zenko adalah putra sulung¬mu, dan pewaris langsung Kenji, dan aku t ak ingin menghina atau mengganggunya, atau memberinya dalih untuk..." Takeo berhenti bicara. "Untuk apa?" Shizuka menyela. "Baiklah, kurasa kau tahu betapa mirip sifat putramu dengan ayahnya. Aku khawati r dengan niatnya. Aku tidak bermaksud mem¬biarkannya mengembalikan kita dalam perang saudara lagi." Takeo bicara dengan nada serius, lalu tersenyum dan meneruskan dengan nada lebih ringan. "Mak a aku meng¬atur agar kedua putranya menghabiskan waktu bersama kita. Kurasa kau ingin be r¬temu cucumu." "Aku sudah bertemu Sunaomi," tutur Shizuka. "Tentu saja ini sangat menyenang¬kan. Apakah Chikara juga akan datang?" "Suamimu akan membawanya dengan kapal, bersama makhluk luar biasa yang dia diseb ut kirin," sahut Takeo. "Ah, Ishida sudah kembali; aku senang mendengarnya. Kukatakan yang sebenarnya, T akeo, aku sudah senang dengan hidupku yang tenang, mendampingi Kaede dan anak¬anakmu, istri dari tabibmu. ..tapi rasanya kau hendak membuat tuntutan lain padaku." "Kau masih cepat tanggap seperti biasa," sahut Takeo. "ingin kau menjadi pemimpi n Muto. Taku akan bekerjasama denganmu seperti yang dia lakukan bersama Kenji, dan

Zenko tentu akan tunduk padamu." "Pemimpin keluarga disebut Ketua," Shizuka mengingatkan. "Dan belum pernah ada K etua perempuan!" tambahnya. "Kau bisa menyebutnya apa saja. Itu akan menjadi contoh yang baik. Aku hendak memperkenalkannya ke wilayah lokal juga: kita akan memulai dengan Negara Tengah lalu kita sebarkan ke luar. Sudah banyak area di mana perempuan dengan kebaikan dan kemamp uan dapat menggantikan posisi suaminya. Mereka akan diakui dan diberi wewenang yang sama s eperti laki-laki." "Jadi kau akan memperkuat negara ini dari akar, dan para ksatria akan mendukung putrimu?" "Bila Shigeko menjadi satu-satunya penguasa perempuan, dia juga harus bersikap l ayaknya laki-laki. Bila perempuan lain berada di puncak kekuasaan, kita mungkin bisa melihat peruba han mengalir ke seluruh Tiga Negara." "Kau masih saja senang berkhayal, sepupuku!" sahut Shizuka seraya tersenyum, ter lepas dari penderitaan yang ditanggung nya. "Kau mau melakukannya, kan?" "Baiklah, sebagian karena pamanku pernah mengisyaratkan bahwa hal ini juga keing inannya. Dan setidaknya sampai Taku mantap dan Zenko sadar. Kurasa dia akan sadar, Takeo, dan terima kasih atas tindakan¬mu yang berhati-hati padanya. Namun apa pun hasilnya nanti, keluarga Muto akan tetap setia padamu dan keluargamu." Shizuka membungkuk hormat dengan sikap resmi . "Aku bersumpah padamu sekarang, Lord Otori, sebagai pemimpim mereka." "Aku tahu apa yang telah kau lakukan untuk Lord Shigeru dan keluarga Otori. Aku berhutang banyak padamu," ujar Takeo dengan penuh perasaan. "Aku senang kita bisa bicara berdua," imbuh Shizuka, "karena kita harus mem¬bicara kan tentang si kembar. Aku berharap bisa bertanya pada pamanku mengenai se¬suatu yang baru saja t erjadi, tapi mungkin kau tahu cara mengatasinya." Halaman 105 dari 500

Diceritakannya pada Takeo mengenai peristiwa yang terjadi pada kucing, bagai¬mana kucing itu tertidur dan tak pernah bangun lagi. iceritakannya pada Takeo mengenai peristiwa yang terjadi pada kucing, bagai¬mana k ucing itu tertidur dan tak pernah bangun lagi. "Aku tahu Maya memiliki kemampuan ini," tutur Shizuka, "karena dia pemah mem¬perli hatkan tandatandanya selama musim semi. Satu atau dua kali aku bahkan pusing ketika dia menatapku. Ta pi tak seorang pun dari keluarga Muto tahu tentang sihir tidur Kikuta, meskipun banyak takhayul yang ber¬kaitan dengan hal itu." "Kemampuan itu seperti obat yang sangat mujarab," sahut Takeo. "Sedikit akan men guntungkan, tapi jika terlalu banyak justru bisa menyebabkan kematian. Orang membuat diri mereka terbuka pada kemam¬puan itu karena kelemahan diri mereka sendiri, karena kurangnya pengendalian diri mereka. Aku diajarkan untuk mengendali¬kannya di Matsue dan di sana aku belajar bahwa Kikuta tak pernah menatap langsung anak-anak mereka karena seorang anak tidak dapat melawan tatapa n itu. Kurasa seekor kucing kecil sama lemahnya. Aku belum pernah mencobanya pada kucing, hany a pada anjing dan aku sudah mahir melakukan¬nya." "Kau belum pernah mendengar per¬pindahan antara orang yang sudah mati dengan orang yang membuat mereka tertidur?" Pertanyaan itu membuat bulu kuduk Takeo berdiri. Hujan mulai turun lagi, dan kin i gemuruhnya semakin keras di atap. "Biasanya bukan sihir tidur yang mampu membunuh," tuturnya dengan hati-hati. "Di gunakan hanya untuk melemahkan: kematian pasti disebabkan oleh hal lain." "Itu yang mereka ajarkan padamu?" "Mengapa kau menanyakan hal ini?" "Aku mencemaskan Maya. Dia menunjuk¬kan tanda-tanda kerasukan. Ini pernah ter¬jadi d i keluarga Muto, kau tahu; Kenji dijuluki Si Rubah saat masih muda: kabarnya dia pernah ker asukan roh rubah bahkan menikah dengan seekor rubah tapi selain pamanku, aku tidak tahu ada perubah an bentuk yang pernah terjadi. Hampir seolah Maya yang menarik roh kucing itu masuk ke dal am dirinya. Semua anak suka bertingkah seperti hewan, tapi seharusnya mereka lebih manusiawi ketik a mulai dewasa; Maya justru sebaliknya. Aku tidak membicarakan hal ini pada Kaede; Shigeko sudah curiga ada yang

tidak beres. Aku senang kau sudah kembali." Takeo mengangguk, merasa gelisah dengan kabar ini. "Cucu-cucumu tidak me nunjukkan tanda-tanda ketrampilan Tribe," komentarnya. "idak, dan aku cukup lega. Biarlah mereka menjadi putra Zenko, ksatria. Kenji me ngatakan bahwa kemampuan itu akan menghilang dalam dua generasi. Mungkin, dalam diri si kembar kita menyaksikan pancaran sinar yang terakhir sebelum lentera¬nya padam." Pancaran sinar yang terakhir ini bisa mem¬buat bayangan-bayangan aneh, pikir Takeo . *** Tak seorang pun mengganggu selama mereka berbincang-bincang: setengah sadar ia s eperti mendengar ada tarikan napas, bunyi sambungan papan yang bergerak, langkah ringan yang menandakan ada yang menguping. Tapi saat memerhatikan lagi, yang terdengar hanya lah siraman air hujan, halilintar di kejauhan, dan hempasan ombak. Namun ketika mereka selesai, dan Takeo berjalan ke kamar Kaede di koridor yang m engkilap, ia mendengar suara luar biasa di depannya, semacam raungan dan geraman, setengah ma nusia dan setengah hewan. Kemudian terdengar suara memekik ke takutan, dan derap langkah kaki. Takeo ber¬belok di sudut dan Sunaomi menabrak-nya . "Paman! Maaf!" Bocah itu tertawa cekikikan kegirangan. "Macan itu ingin me¬nangkap ku!" Halaman 106 dari 500

Awalnya Takeo melihat bayangan di kertas kasa. Sesaat terlihat jelas olehnya sos ok tubuh manusia, dan satu sosok lagi di belakangnya dengan telinga rata, kuku yang siap mencakar dan kibaskan ekor. Lalu si kembar datang berlarian dari sudut, dan mereka berdua hanyalah anak pere mpuan biasa, bahkan saat sedang menggeram. Mereka langsung ber¬henti mematung ketika melihat ayahnya. walnya Takeo melihat bayangan di kertas kasa. Sesaat terlihat jelas olehnya soso k tubuh manusia, dan satu sosok lagi di belakangnya dengan telinga rata, kuku yang siap mencakar dan kibaskan ekor. Lalu si kembar datang berlarian dari sudut, dan mereka berdua hanyalah anak pere mpuan biasa, bahkan saat sedang menggeram. Mereka langsung ber¬henti mematung ketika melihat ayahnya. "Ayah!" "Itu dia macannya!" jerit Sunaomi. Miki melihat wajah ayahnya, menarik lengan baju Maya lalu berkata, "Kami cuma ma in-main." "Kalian sudah terlalu besar untuk per¬mainan seperti itu," ujarnya, menyembunyi¬kan kekhawatirannya. "Bukan begini caranya menyambut ayah kalian. Ayah berharap me¬nem ukan kalian tumbuh menjadi perempuan muda." Seperti biasa, rasa tidak senang sang ayah menciutkan nyali mereka. "Maaf," kata Miki. "Maafkan kami, Ayah," ujar Maya me¬mohon, tanpa sedikit pun sisa geraman macan dal am suaranya. "Ini salahku juga," imbuh Sunaomi. "Semestinya aku sudah tahu. Lagipula, mereka hanyalah anak perempuan." "Ayah tampaknya perlu bicara serius dengan kalian berdua. Di mana ibu kalian?" "Ibu sedang menunggu Ayah. Kata ibu mungkin kami boleh makan bersama Ayah," bisi k Miki. "Baiklah, Ayah kira kita harus menyambut kedatangan Sunaomi. Kalian boleh makan bersama kami. Tapi tidak ada lagi permainan berubah menjadi macan!" "Tapi manusia seharusnya mengumpan¬kan diri mereka pada macan," ujar Maya selagi m ereka berjalan di sampingnya. "Shigeko yang menceritakan itu pada kami." Maya tidak bisa menahan untuk berbisik pada Sunaomi, "Dan yang paling disukai ma can adalah anak laki-laki." Merasa jera atas teguran pamannya, Sunaomi tidak menyahut. Takeo bermaksud untuk berbicara dengan si kembar malam ini, tapi seusai makan

malam, ia merasa kelelahan dan keinginan berdua saja dengan Kaede. Kedua putri k embarnya bersikap sempurna selama makan malam, bersikap baik pada sepupu mereka, dan sopa n pada orangtua dan kakak sulung mereka. *** Saat ini Takeo menatap Kaede di bawah keremangan cahaya lentera, tampak lekuk tu lang pipi dan siluet istrinya. Jubah tidur membungkus tubuh Kaede yang duduk bersila di matras , tubuh rampingnya tampak putih samar-samar dengan selimut sutra. Takeo berbaring dengan kepala di pangkuan Kaede, merasakan panas tubuh istrinya, mengenang dulu ia sering berbaring seperti ini p ada ibunya saat kecil. Rambutnya dibelai lembut oleh Kaede sampai ke leher, me¬lemaskan syarafnya yang tegang. Mereka hanyut dalam perasaan cinta, tak lama setelah hanya berdua, nyaris tanpa kata¬kata, mencari kedekatan serta meleburkan diri dalam kesatuan, senantiasa begitu akrab. Mereka berbagi kesedihan atas kematian Kenji tanpa suara, atau perasaan terasing dari rahasia T akeo tentang Tribe atau pun kekhawatiran tentang putri mereka. Semua kecemasan ini kian membakar keintiman t anpa kata-kata dari hasrat mereka dan seperti biasa, ketika hasrat mereda, bak mukjizat, pemuli han pun terjadi: sikap dingin Kaede menguap; kesedihan Takeo seperti bisa dilalui. Banyak hal yang mesti dibicarakan. Pertama tentang kecurigaan terhadap Zenko dan alasan ia membawa kedua putra Arai ke rumah mereka. Halaman 107 dari 500

"Tentu kau takkan mengangkat mereka secara sah menurut hukum, kan?" seru Kaede. Tentu kau takkan mengangkat mereka secara sah menurut hukum, kan?" seru Kaede. "Bagaimana jika aku melakukannya?" "Aku menganggap Sunaomi seperti anak kandungku tapi Shigeko akan tetap menjadi pew arismu?" "Ada banyak kemungkinan: bahkan pernikahan, saat dia cukup dewasa. Aku tak ingin melakukannya dengan tergesa-gesa. Semakin lama kita menunda keputusan, semakin besar kemungki nan Zenko tersadar dan tenang. Tapi aku khawatir dia didukung Kaisar dan para pendukungnya di wilayah Timur. Kita harus berterima kasih pada penculikmu untuk hal itu!" Diceritakannya tentang penemuannya dengan Lord Kono. "Mereka mencap diriku sebag ai penjahat. Karena Fujiwara adalah kerabat Kaisar sehingga dia terbebas dari kejahatannya!" "Kuatnya tekadmu soal sistem keadilan mungkin telah membuat mereka ketakutan," k ata Kaede. "Karena hingga saat ini tak seorang pun berani mencela atau meng¬hukum orang seper ti Fujiwara. Aku tahu dia bisa saja membunuhku tanpa berpikir panjang. Tak seorang pun berani menolak perintahnya, tidak ada yang berpikir kalau apa yang dilakukannya salah. Perasaan laki¬laki tidak lebih berharga dari sebuah lukisan atau jambangan berharga karena dia bisa membunuh pere mpuan dengan entengnya seolah hanya menghancurkan salah satu hartanya aku nyaris tidak b isa mengung¬kapkan dengan kata-kata betapa sikapnya melemahkan keinginanku dan membuat tubuhku serasa lumpuh. Kini pembunuhan atas perempuan di Tiga Negara akan dihuku m sama seperti pembunuhan terhadap laki-laki, dan tidak ada orang yang bisa lolos dari keadilan hanya karena derajat mereka. Keluarga-keluarga ksatria kita lelah me nerimanya, namun di luar perbatasan kita, baik itu ksatria maupun bangsawan akan menganggap hukum sebagai penghinaan. "Kau mengingatkan betapa banyak hal yang dipertaruhkan. Aku takkan mengun¬durkan d iri seperti permintaan Kaisar, tapi aku juga tak ingin terjadi peperangan. Namun bila kita m emang harus berperang di wilayah Timur, maka makin cepat makin baik." Takeo menceritakan ten tang senjata api, dan misi Fumio. Tentu saja Kahei berpikir kita harus segera bersiap: kita punya waktu untuk membangun kekuatan sebelum musim dingin. Tapi di Terayama semua Guru Besar menen tangnya. Mereka mengata¬kan kalau aku harus pergi ke ibukota musim semi depan bersama Shige ko, dan semua masalah akan terpecahkan." Takeo mengernyitkan dahi. Kaede meng¬gosokkan jari di dahi Takeo, menghaluskan gar

is-garis kerutannya. "Gemba memiliki serangkaian tipuan baru," ujarnya. "Tapi kukira akan mem¬butuhkan lebih dari sekadar itu untuk meredam nafsu kekuasaan jenderal Kaisar, Saga Hideki, Si Pembu ru Anjing."** Keesokan harinya dilakukan persiapkan upacara pemakaman Kenji, dan mendiktekan s urat-surat. Minoru dibuat sibuk seharian, menulis surat untuk Zenko dan Hana bahwa Sunaomi t iba dengan selamat; surat kepada Sugita Hiroshi, memintanya datang ke Hagi secepat mungkin; surat kepada Terada Fumifusa, mengabarkan tentang kepulangan Takeo dan keberadaan putranya, F umio, dan terakhir surat kepada Sonoda Mitsuru di Inuyama, memberitahukan bahwa belum ada Keputusan mengenai nasib kedua sandera; masalah ini akan dibicarakan pada per¬temuan mendata ng. Kaede memberitahukan pada Takeo dan Minoru tentang semua masalah terbaru yang be rkaitan dengan kota Hagi dan penduduk¬nya. Minoru mencatat dengan hati-hati ten-tang Keput usan yang akan diambil. Di pengujung hari yang panjang, panas serta melelahkan, Takeo perg i mandi, dan me Halaman 108 dari 500

ngirim perintah agar putri kembarnya datang menghadapnya ke sanairim perintah ag ar putri kembarnya datang menghadapnya ke sana. Mereka menyelinap masuk ke air beruap dengan tubuh telanjang: badan mereka tak l agi seperti badan anak-anak, rambut mereka panjang dan tebal. Sikap mereka lebih tenang dari biasanya, jelas masih belum yakin apa¬kah Takeo sudah memaafkan tingkah mereka pada hari sebelumny a. "Kalian kelihatan lelah," kata Takeo. "Ayah berharap kalian bekerja keras hari i ni." "Shizuka galak sekali hari ini," Miki meng¬hela napas. "Dia bilang kami perlu lebi h disiplin." "Dan Shigeko memaksa kami menulis begitu banyak," keluh Maya. "Jika aku tidak pu nya jari seperti Ayah, apakah Lord Minoru akan menulis untukku?" "Ayah dulu belajar menulis, maka kalian pun begitu," sahutnya. "Dan menulis jauh lebih sulit bagi Ayah karena usia Ayah sudah lebih tua. Makin muda, makin mudah belajar. Bersyuku rlah kalian memiliki guru yang sangat baik!" Nada suaranya terdengar tegas. Miki memegang-megang bekas luka ayahnya yang melintang dari leher samping ke dada. Takeo bicara dengan suara lebih lembut. "Banyak hal dituntut dari kalian. Kalian harus belajar cara ksatria, begitu pula dengan semua rahasia Tribe. Ayah tahu itu tidak mudah. Kali an memiliki banyak bakat: kalian harus hati-hati menggunakannya." Miki berkata, "Karena kejadian pada kucing itu?" "Coba ceritakan," sahut Takeo. Si kembar saling bertukar pandang tanpa bicara. Takeo berkata, "Kalian adalah darah daging Ayah. Kalian ditandai, seperti juga A yah, sebagai Kikuta. Tidak ada yang tidak bisa kalian ceritakan pada Ayah. Maya, apa yang terjadi pad a kucing itu?" "Aku tak bermaksud menyakiti," Maya mulai bicara. "Jangan bohong," Takeo memperingatkan. Maya meneruskan, "Aku ingin melihat apa yang akan terjadi." Suaranya kedengaran serius; menatap lurus pada Takeo. Kelak Maya ingin menantang tatapan ayahnya. "Aku marah sekali dengan Mori Hiroki." "Hiroki menatap kami," Miki menjelas¬kan. "Semua begitu. Seolah kami ini setan." "Dia menyukai Shigeko dan tidak menyukai kami," tutur Maya.

"Sama seperti semua orang," ujar Miki, dan seolah diamnya Takeo melepaskan ses¬uat u dalam dirinya, Miki menangis. "Kami dibenci karena kami kembar!" Si kembar jarang menangis. Satu lagi sifat yang membuat mereka nampak tidak waja r. Maya juga menangis. "Ibu juga membenci kami karena ibu menginginkan anak laki¬laki , dan bukannya dua anak perempuan!" "Chiyo yang bilang pada kami," Miki menelan ludah. Takeo merasa hatinya remuk redam karena kesedihan. Memang mudah menya¬yangi putri sulungnya, tapi ia lebih menya¬yangi si kembar karena mereka tidak mudah disayangi , dan juga merasa iba pada mereka. "Kalian sangat berharga bagi ayah," sahut¬nya. "Ayah merasa gembira karena kalian kembar dan kalian anak perempuan. Ayah lebih senang anak perempuan ketimbang semua anak lak i-laki di dunia ini." "Saat Ayah ada di sini, kami merasa aman. dan kami tak ingin melakukan hal-hal y ang buruk. Tapi Ayah sering pergi jauh." "Ayah ingin mengajak kalian tapi tidak Halaman 109 dari 500

selalu bisa. Kalian harus bersikap baik bahkan saat Ayah tidak ada di sini." ela lu bisa. Kalian harus bersikap baik bahkan saat Ayah tidak ada di sini." "Orang-orang seharusnya tidak boleh menatap kami," ujar Maya. "Maya, mulai saat ini kau yang harus berhati-hati saat menatap. Kau sudah tahu c eritanya Ayah sudah sering ceritakan padamu tentang pertemuan Ayah dengan raksasa Jin-emon?" tan ya Takeo. "Ya," sahut mereka serempak dengan penuh semangat. "Ayah menatap matanya dan dia tertidur. Itulah sihir tidur Kikuta yang berguna u ntuk melumpuhkan musuh. Itulah yang kau laku¬kan pada kucing itu, Maya. Tapi Jin-emon bertubuh besa r, setinggi gerbang kastil serta lebih berat dari banteng. Kucing bertubuh kecil, dan masih muda, dan sihir tidur itu membunuhnya." "Kucing itu tidak benar-benar mati," tutur Maya, bergerak mendekati lalu bergela yut di lengan kiri ayahnya. "Kucing itu men¬datangiku." Takeo berusaha tak menunjukkan ke¬kagetannya, tak ingin membungkam putri¬nya. "Kucing itu datang tinggal bersamaku," ujar Maya. "Kucing itu tidak keberatan. Karena sebelumnya kucing itu tidak bisa bicara, kini dia bisa bicara. Dan aku pun tidak keberatan. Aku suka kucing itu. Aku suka menjadi kucin g." 'Tapi Jin-emon tidak mendatangi Ayah, kan?" tanya Miki. Bagi mereka hal ini tida k lebih aneh dibandingkan dengan kemampu¬an menghilang, atau sosok kedua, dan mungkin tidak leb ih berbahaya. "Tidak, karena akhirnya Ayah menggorok tenggorokannya dengan Jato. Dia mati kare na digorok, bukan karena sihir tidur itu." "Apa Ayah marah dengan kejadian kucing itu?" tanya Maya. Takeo tahu kalau mereka percaya padanya, dan ia tak ingin kehilangan kepercayaan itu, juga sadar kalau mereka bersifat pemalu layaknya hewan liar yang dapat kabur dalam sekejap. Terkenang masamasa penuh pen¬deritaan selama bersama Kikuta. kekejaman dalam pelatihannya. "Tidak. Ayah tidak marah," sahut Takeo dengan tenang. "Shizuka marah sekali," gumam Miki. "Tapi Ayah harus tahu semuanya agar bisa mel indungi kalian, dan menghentikan kalian agar tak menyakiti orang lain. Ayah adalah orangtua dan juga senior kalian dalam keluarga Kikuta.

Kalian berhutang kepatuhan pada Ayah dalam kedua hal itu." "Kejadiannya begini," tutur Maya. "Aku marah pada Mori Hiroki. Kulihat betapa sa yangnya dia pada kucing itu. Aku ingin dia membayar perbuatannya karena tidak mau menatap kami. D an kucing itu manis sekali. Aku ingin bermain dengannya. Maka kutatap matanya, dan aku tidak b isa berhenti menatapnya. Kucing itu lucu, dan aku ingin menyakiti Hiroki, dan aku tak bisa me ng¬hentikannya." Maya berhenti, menatap tak berdaya ke arah Takeo. "Teruskan," ujarnya. "Aku menariknya masuk. Dari tatapan matanya, melalui tatapan mataku. Kucing melo mpat masuk ke dalam diriku. Kucing itu melolong dan mengeong. Tapi aku tidak bisa berhenti men atapnya. Kemudian kucing itu mati. Tapi dia masih hidup." "Lalu?" "Lalu Mori Hiroki sedih, dan itu mem¬buatku senang." Maya menghela napas panjang, seolah habis susah mengingat pelajaran yang telah dihapalkannya. "Hanya itu. Ayah, sungguh." Takeo menyentuh pipi Maya. "Kau telah berkata jujur. Tapi kau tahu betapa mem¬bing ungkan perasaanmu. Pikiranmu tidak jernih, yang justru harus sebaliknya saat menggunaka n kemampuan Tribe itu. Saat menatap mata orang lain, kalian akan melihat kelemahan mereka. I tulah yang membuat mereka rapuh pada tatapan kalian." Halaman 110 dari 500

ka u membuat kesalahan. Kau akan harus menanggung akibatnya. Kenji telah berpulang ke alam baka. kan?" "Ayah tak membutuhkan anak laki-laki." ujar Miki. "Aku benci anak-anak. "Aku ingin menikah dengan Miki. dan mulai menangis lagi. "Kami tidak harus menikah dengan Sunaomi. Kedua putrinya berada di dekatnya." kata Maya di sela-sela isak tangisnya yang baru meleda k lagi. "Dia menceritakan ten tang roh-roh hewan dan cara Tribe memanfaatkannya. "Mengapa? Siapa yang mengatakan kalian harus menikah dengannya?" "Sunaomi mengatakan pada kami kalau dia ditunangkan dengan salah satu dari kami! " "Hanya kalau dia benar-benar nakal. "Sebagai hukuman!" "Aku tak ingin ditunangkan dengan siapa pun." kata Maya." "Mestinya Kenji tahu. kan?" tanya Maya. Tindakanmu salah. seperti juga Shiger u." sahut Miki sepakat." sahut Maya setuju. "Kita berdua menikah saja." sahut Takeo. "Kelak kau pasti berubah pikiran. yang tak lama kemudian menjadi tempat ziarah bagi ke luarga Muto dan anggota Tribe yang lain. sambil tertawa cekikikan.* Musim hujan plum sudah selesai dan hawa panas musim panas dimulai. tubuh mereka begitu mirip dengan tekstur dan warna kulit dirinya."Apa yang akan terjadi padaku?" tanya MayaApa yang akan terjadi padaku?" tanya M aya. Kita harus mengamati¬mu untuk mencari tahu." "Kuharap dia belum mati. Tapi kau harus ber¬janji pada Ayah untuk tidak menggunakan sihir tidur Kikuta pada orang lain sampai Ayah ijinkan. kini lebih tenang. "Lalu kalian takkan punya anak. dan batu nisan didirikan untuknya di kuil Hachiman di sebelah Tokoji. Kini mereka bertiga menginspirasi dan melindungi orang yang masih hidup di dunia fana ini." sahut Takeo. "Terutama Sunaomi! Ayah tidak akan men gangkat Sunaomi sebagai anak." sahut Miki. juga Jo-An. *** Pemakaman Kenji dilaksanakan keesokan harinya." Takeo menggoda." "Aku tak ingin punya anak. Shigeko bangu . dan kedua putri kembarnya yang belum bi sa dilindunginya dari kerasukan yang akibatnya pun belum bisa diperkirakannya. menangisi kepergian gurunya. Dan Takeo merasakan matanya pun menghangat. Kalian membutuhkan laki-laki untuk bisa punya anak." ujar Miki. "Ayah tidak tahu.

n sebelum matahari terbit dan pergi ke kuil di tepi sungai untuk menghabiskan waktu ber¬sama si kuda hitam jantan saat udara masih dingin. Dua kuda betina tua menggigit dan menendang. sedangkan kuda jantan mulai bisa menerima kehadiran Shigeko. Halaman 111 dari 500 . meringkik saat meli hat¬nya dan menunjukkan tanda sayang. mengajarin ya sopan santun.

peristiwa besar selanjutnya di musim panas adalah kedatangan Sugit a Hiroshi dari Maruyama. memer¬hatikan kuda jantan itu menggesek-gesekkan kepalanya di bahu Shigeko. berapa usia kedua putramu saat mereka menikah?" "Zenko delapan belas tahun. Hal ini t ak bisa dijelaskan. Shigeko membuka topik pembicaraan dengan santai. Hari-hari yang panas berlalu. yang pasti jangan seorang diri. kuda itu tampak seolah terbang. dan tidak menyebut istri atau tunangan yang ditinggalkan di Maruyama." bantah Shigeko." "Tapi harus aku lakukan. Kedatangannya terasa seperti kemb alinya kakak lakilaki bagi ketiga gadis itu. dan Taku tujuh belas tahun."Dia tidak pernah melakukannya pada siapa pun. pada malam-malam yang hangat ket ika langit hitam kelam dan bintang¬bintang terlihat membesar. Dia tidak pernah melakukannya pada siapa pun. Aku sudah terlalu tua dan lamban. serta hembusan lembut angin dari laut membuat kediaman terasa dingin." Lalu pi kiran itu terbersit di benaknya." "Kuda ini sudah siap dijinakkan. Bagi Shigeko." . Anak-anak berenang di laut dan melanjutkan pelajar an dan pelatihan dengan gembira karena sang ayah sudah pulang. memer¬hatika n kuda jantan itu menggesek-gesekkan kepalanya di bahu Shigeko. karena usianya sudah dua puluh enam tahun dan belum beristri. Shigeko berharap membaca kala u Hiroshi sudah menikah. "Ayah tak memiliki kuda yang di sukai sejak Shun mati. tapi dia hanya setengah mengakui kalau dia lega saat Hiroshi berkuda ke Hagi seo rang diri. Menunggu hingga bisa bicara berdua pada Shizuka. sedangkan ayah Anda terlalu sibuk. "Tapi Anda jangan mencobanya dulu . Setiap kali menerima surat. "Shizuka. "Aku ingin berikan untuk ayahku. Dan Ayah bisa menungganginya saat kami me¬lakukan perjalanan ke Miyako. "Tidak t erlalu muda. Hiroshi tinggal bersama keluarga Otori sampai usia dua puluh tahun lalu pindah ke Maruyama." jawab Shizuka." komentar Mori Hiroki. Takeo selalu menyempatkan waktu bersama mereka. "Kuda ini mulai menyayangiku. tempat dia menjalankan pemerintahan wilayah milik ibu Shigeko dan suatu kelak akan menjadi miliknya." komentar Mori Hiroki." ujar Hiroki. Dinamainya kuda itu Tenba karena ada sesuatu bersifat surgawi pada kuda itu. Meskipun urusan pemerintahan membu atnya sibuk. dan sewaktu berderap mengelilingi padang rumput." sahut Shigeko. Hiroshi akan datang ke Hagi Kami bisa menjinakkan kuda ini bersama-sam a.

" sahut Shizuka. Halaman 112 dari 500 ." sahut Shigeko. dan setenga h tercengang dengan rasa sakit di hatinya. "Kukira ketiganya berharap bisa menikahi Hana. "Tapi posisi Hiroshi itu unik. Dia akan menyerahkan Maruyama padamu tahun ini. "Kebanyakan laki-laki memiliki perempuan simpanan!" "Ayahku tidak. namun dia tak punya tanah warisan nya sendiri. Terutama Hiroshi yang selalu mend ambakan menjadi suami Hana: dia amat mengagumi ibumu dan meng¬anggap Hana mirip dengannya. Kedekatannya pada keluargamu hampir seperti anak laki-laki di keluarga ini. Hiroshi jatuh cinta pada Hana sehingga tak mau men ikah lagi? "Bila ada unsur persekutuan pada diri mereka. dan itulah alasannya dia tidak menikah. Taku ber¬hasil mengat asi patah hatinya." ujar Shigeko. Kedudukannya kurang tinggi. sudah pasti ayahmu akan menikah¬kan mereka. kan?" "Ya." tutur Shizuka. "Tapi aku terpak sa harus mencarikan istri untuknya! Apakah dia memiliki perempuan simpanan?" "Kurasa ada." Shi zuka tertawa." "Sungguh aneh. tapi sudah menjadi rahasia umum kalau Hiroshi tak dapat menghapus kekecewaannya. setengah ingin meneruskan pembicaraan." "Kuharap dia akan terus mengabdi padaku di sana."Dan usia Taku dan Sugita sebaya. dan mereka lahir di tahun yang sama bibimu Hana juga lahir di tahun itu." kata Shigeko.

Hiroshi selalu me¬manda ng ke arah lain. Bahkan ayahmu memilih dengan sangat teliti. berkelakar dengan Takeo dan meng¬ingatkannya tentang mund urnya pasukan saat badai topan dan pertempuran merebut Hagi." "Cemburu adalah perasaan yang menakut¬kan. "Apakah ada orang yang kau sukai. begitu pula Lord Shigeru. Dan kurasa mereka tak in gin membuat orang yang mereka sayangi tersiksa rasa cemburu." 'Tapi untungnya kau masih terlalu muda untuk mempunyai perasaan semacam itu. Mengin gatkan Shigeko pada wajah guru-gurunya di biara saat bermeditasi. kira-kira setinggi ayahnya tapi lebih tegap dan d engan wajah lebih gemuk. itu pun dengan sikap form al. "Sayang sekali para gadis tidak dibolehkan memiliki kekasih layaknya anak laki-l aki. seperti diri nya. rambutnya tebal dan hitam p ekat. Tampak suasana hatinya sangat baik. Bentuk matanya panjang dan ekspresinya hidup. "Ingin tahu mengapa mereka sangat ber¬beda dengan laki-laki lain. dan hanya bicara langsung pada Shigeko satu atau dua kali. tertawa." Tatapan mata Shizuka menerawang jauh." sahut Shizuka. tapi saat ia melihat ke arahnya." seru Shigeko." "Tak menikah pun aku sudah bahagia. Sejak mulai beranjak dewasa ditemukan ia gelisah dengan keinginan disentuh lakilaki. "Mereka harus sedikit lebih bijaksana. tapi ia tahu kalau ini tidak sepenuhnya benar. Dia tidak mirip orang yang dimabuk cinta. "Dan ayahmu akan memilih jodohmu dengan bijaksana." sa hut Shizuka. Aku hanya ingin tahu seperti apa: hal-hal yang dilakukan laki -laki dan perempuan bersama. dan ingat kalau." katanya. aku ingin tahu apakah dia bisa menemukan orang yang cukup baik." "Mungkin perempuan lain tidak menarik perhatian mereka. Satu atau dua kali Shigek o merasa kalau laki-laki itu menatapnya. Saat itu wajah Hiroshi tak bersemangat. ekspresinya tenang. cinta. begitu pula Lord Shigeru. Shigeko? Kau sudah leb ih dewasa dari yang kukira?" "Tentu saja tidak. penuh optimisme tentang panen yang akan datang dan dengan bersemangat menceritakan hasil teknik inovasi dalam melatih kuda dan manusia. Hiroshi dilatih dengan Ajaran Houou. Memang tidak. me nggoda si kembar dan memuji Kaede. malah hampir tak bersahabat."Memang tidak. pernikahan. Tubuhnya tidak terlalu tinggi." Shigeko mengamati Hiroshi malam itu saat makan malam. Hal itu agak menenangkannya: mereka selalu menjadi teman se ." Tatapan mata Shizuka menerawang jauh.

d an pedang di sabuknya. mengenakan celana panjang dan pembalut kaki. "Dengan senang hati. Sebaliknya. kemudian ber¬kata. Sesaat Hiroshi ragu-ragu. Tepat sebelum beristirahat. seperti yang sering mere ka lakukan ketika Shigeko masih kecil. Hiroshi selalu memahami dan me ndukungnya. Hiroshi ber¬tanya padanya tentang kuda muda itu karena Shigeko pernah menyuratinya tentang masalah itu." sahut Shigeko. sama seperti pada si kembar. Dia berpakaian untuk menunggang kuda. Mereka berjalan berdampingan menyebe¬rangi jembatan batu." Nada suaranya terdengar dingin.perjuangan. meskipun hubungan mereka tak bisa lebih dari itu. dan kata-katanya resmi. Biasanya dua penjaga kastil mendampingi Shigeko. dan sikap kaku Hiroshi perlahan luruh. dan hanya bersenjatakan tongkat pendek yang disembunyikan. Dia hanya menganggapku sebagai adik. per¬debatan ini bagi Shigeko sama mengecewa¬kannya dengan sikap resmi laki-laki itu. Ijinkan aku meng awalmu. Shigeko mengenakan pakaian yang hampir serupa. "Datanglah ke kuil besok pagi dan kau bisa lihat sendiri. cahaya cerah dan keemasan. tapi hari ini Hiroshi menyuruh mereka pergi. saat matahari terbit di atas pegunungan dan mengubah permukaan tenang sungai menjadi cermin yang berkilauan memantulkan dunia yang tampak lebih nyata ketimbang dunia yang mereka lalui. Udara terasa tenang. Shigeko men¬cerit akan tentang kuda itu. dan berani berdebat dengan Shig eko seperti yang sering dilaku¬kannya lima tahun silam. rambutnya diikat ke bel akang dengan tali. Halaman 113 dari 500 .

membiasakan si kuda dengan sentuhan Hiroshi. tapi telinganya berdiri tegak dan memutar bola matanya saat melihat Hiroki. kegelapan dan cahaya. Ketika mereka menghampirinya." ujar Hiroshi. "Itu sebabnya aku dipanggil. kan?" "Ada awan badai di kaki langit. jadi aku harus ada di sini te rus. Kita akan menjinakkannya bersama-sama. dia bisa menjadi kuda perang yang luar biasa. "Jika bisa dijinakkan. Dibutuhkan jug a kekuatan serta ketegasan seorang laki¬laki." seru Hiroshi. di kepala. pinggul bagian samping dan di bagi . Setelah beberapa saat. Aku tak ingin orang lain yang melakukan¬nya kuda ini perc aya padaku." Tadinya aku berharap kau datang untuk melihat kuda milikku!" kata Shigeko." "Aku ingin menghadiahkannya kepada Ayah." sahutnya pelan. membe ranikan diri menggoda. belajar ketrampilan menjinakkan dan mengembang¬biakkan kuda. ahari pagi menyinari kuil tua: Hiroki sudah siap dan Hiroshi menyambutnya dengan gembira karena dia menghabiskan masa kecilnya dengan orang tua itu. Shigeko terkejut sewaktu melihat s ekilas ke arah Hiroshi. "Kuda ini menakutkan sekaligus tampan. yang tersembu nyi serta yang terungkap.Matahari pagi menyinari kuil tua: Hiroki sudah siap dan Hiroshi menyambutnya den gan gembira karena dia menghabiskan masa kecilnya dengan orang tua itu. "Tapi aku tak ingin ayah membawanya ke kancah pertempuran! Sekarang kita dalam kedamaian." ujar Shigeko." "Nantinya kuda ini juga akan percaya padaku. Shigeko bicara dengan sikap canggung. dan kepercayaan itu tak boleh dihancurkan. sebelum hawa panas semakin kuat. welas asih yang kuat." sahut Hiroshi. Kelembutan saja tak bisa menjinakkan kuda seperti ini. bayangan dan matahari. wajah laki-laki itu agak memerah hingga ke lehernya." Ajaran Houou merupakan ajaran tentang unsur-unsur laki-laki dan perempuan: kekua tan yang lembut. Tenba mendengar suara Shigeko dan meringkik. kuda itu berderap ke arah Shigeko. "Kuharap kau ada wa ktu untuk membantuku menjinakkannya. belajar ketrampilan menjinakkan dan mengembang¬biakkan kuda. sekitar telinga. "Bukan hanya melihat kudamu. "Aku akan ke sini k apan saja ayahmu tak membutuhkan diriku. Mereka memulainya pagi itu. dengan cara yang pernah diajarkan pada kita.

" tutur Hiroshi." "Itu sebabnya mengapa kuda-kuda Otori termashur. dan dengan stamina yang lebih kuat. Mori Hiroki mengamati mereka dengan sikap setuju. kan?" "Aku tak meragukan hal itu. kuda-kuda dijinakkan dengan paksaan." Wajah Shigeko bersinar. "Wilayah lain di Tiga Negara dan di luarnya. karena mereka tidak membuang tenaga melawan si penunggangnya dan ber usaha berlari dengan cepat! Aku selalu menggunakan metode yang kupelajari darimu." sahut Hiroshi. Namu n ayahku selalu percaya pada pendekatan yang lembut.* Halaman 114 dari 500 . te rakhir mengikat dengan longgar satu pita lagi di hidung dan kepalanya tali kekang pertamanya.an bawah perutnya. "Mereka jauh le bih patuh dibandingkan kuda-kuda lain. lebih bisa diandalkan dalam pertempuran. Hewan-hewan dipukul agar patuh. dan setelah itu. Tenb a berkeringat dan kulitnya menggigil. ketika kuda jantan itu dihadiahi wortel dan Shige ko serta Hiroshi disajikan teh dingin. seringkah dengan kekerasan. namun patuh pada cara mereka menanganinya. "Kita akan ber¬hasil menjinakkannya. dia berkata. Kemudian mereka menempatkan pita halus di sepanjang punggung hingga ke leher. membalas senyuman Shigeko dengan sik ap hangat.

Ayah dari sahabatnya. Terada tidak memedulikan harta benda indah yang diperolehnya saat menjadi peromp ak dendamnya pada pemimpin Klan Otori menjadi penggerak kekuatannya. Takeo. dan memikirkan pas angan yang cocok dan berguna bagi pemuda yang telah mengabdi dengan setia padanya sejak mas ih kecil. Ku rir pergi atau berkuda menyampaikan pesan antarkota. keberanian dan peng etahuan Terada.Takeo mengetahui kerjasama putrinya dengan Sugita Hiroshi dalam menjinakkan si k uda jantan hitam meskipun tidak mengetahui kalau kuda itu akan dihadiahkan padanya karena dia mengetahui hampir segalanya. Bangunan itu berada di dekat kawah gunung membuatnya dapat menanam tanaman eksotis yang dibawa bib Ishida. dia mem¬bangun kembali rumah lamanya yang dirancang oleh putra dan menantunya. mengenal karakter Hiroshi yang kuat dan kecerdasannya namun Hiroshi menghin dari semua calon yang diajukan. taman dan benda-benda yang indah: dia menulis puisi dengan goresan kuas yang indah. tempat cuaca yang tidak biasa Fumio. dan burung¬burung dara digunakan untuk mengi rim kabar darurat dari kapal di laut. . mantan kepala perompak yang kini memelihara dan mengawasi armada kapal pe rang maupun kapal dagang sehingga Tiga Negara termashur dalam perdagangan dan keamanan dari serangan lewat laut. Eriko. Kini Terada berusia kira-kira lima puluh tahun. terkadang mengkhawatirkan masa depan dan statusnya yang masih melajang. Sifatnya yang artistik membuatnya menjadi Putri sulung Terada akrab dengan Shigeko karena mereka berapi. namun hanya menunjuk kan sedikit ke¬lemahan karena usia. Pemah terdengar olehnya desas-desus kalau Hiroshi tergila-gila pada Hana. Akhirnya ia memutuskan untuk memperbarui usahanya mencarikan istr i bagi Hiroshi dari keluarga ksatria di Hagi. da n membuat kediaman itu tampak mewah dan memesona dilihat dari kastil. Setelah pertempuran merebut Hagi dan gempa bumi. Shigeko dan Hiroshi pergi melintasi teluk menuju kediaman Terada Fumifusa. Takeo mengira Hiroshi sudah seperti kakak bagi putri nya. Fumio. tak lama setelah Festival Tanabata. dan kejatuhan para paman Shigeru adalah keinginan terbesarnya. Di satu senja yang panas pada bulan ketujuh. Takeo sangat meng¬hargai ketajaman otak. dan tanaman obat yang dibawa Ta teman yang disenangi Takeo dan Kaede. sepupu keluarga Endo. ia tid ak percaya begitu saja. Kaede. Eriko menyukai lukisan. tidak hanya di Hagi tapi di seluruh Tiga Negara. seumur.

dan jangkrik berderik tia da henti. Udara terasa harum oleh aroma adas manis dan jahe. Kaede mahir dalam membuat puisi semacam ini.Paviliun kecil dibangun di atas sungai kecil di taman. Cangkir-cangkir sake juga diapungkan di permukaan air yang mengalir pelan. serangga serta burung membuat diri Takeo merasakan kebahagiaan murni yang jarang dirasakannya. Semua tamu mengenakan jubah musim panas berwarna cerah. menyaingi warna-warni kupu-kup u yang beterbangan di antara bunga. Halaman 115 dari 500 . Burung tekukur menyerukan nyanyiannya yang memecah kesunyian. Irama kata¬kata dan tawa ber baur dengan suara air. menghilangkan kecemasannya serta meringankan kesedihannya. namun Eriko hampir menandinginya. dengan pengetahuan luasnya tentang kiasan klasik dan kemam¬puan berpikir cepat. Mereka bersaing penuh persahabatan. Kolam dipenuhi warna ungu muda dan bunga teratai putih kekuningan. lal u mengapungkannya di atas nampan kayu kecil untuk dibaca pengunjung di paviliun se belahnya. dinaungi pepo honan aneh dari Kepulauan Selatan yang mirip kipas. Eriko memperkenalkan permainan lama di mana para tamu harus menggubah puisi. dan bunyi tenang air yang mengalir memenuhi udara. dan s esekali satu atau dua tamu mengambilnya lalu diberikan kepada temannya.

tapi arah datangnya kawanan ini membuat ia gelisah karena di tenggara terbentang kota beba s Akashi. Did engarnya suara Kaede saat membaca. meminta maaf pada para tamu. Muto Sh izuka. Sewaktu kawanan itu mendekat. Kemudian pesta itu ditutup dengan perasaan gembira. Segera kembali. ada suara lain. Kaori. semakin jelas terlihat kalau itu ad alah kawanan burung dara yang kembali ke kediaman Terada. akeo tengah mengamati Hiroshi yang duduk bersama Shigeko dan putri Eriko. Usia Kaori cukup dewasa untuk dinikahkan: mungkin dia bisa menjadi pasa ngan yang cocok bagi Hiroshi.." Diambilnya lembaran kert as yang dilipat." ujarnya. Burung-burung dara melayang di atas kepala menuju kandang. ayah dan anak." Dewan terdiri dari Terada. Senjata sudah di tangan Saga. dari peluh di ketiaknya." Takeo melihat dari bayangan beranda ke arah pemandangan yang indah di taman. tempat mereka menetas. Seorang pelayan keluar dari rumah. nanti akan dibicarakannya dengan Kaede. lebih ringan dari bulu. tuntutan . Kaori mirip ayahnya: tubuh berisi serta sehat. Kaori . derik kasar suara jangkrik. Begitu sampai di beranda. Usia Kaori cukup dewasa untuk dinikahkan: mungkin dia bisa menjadi pasa ngan yang cocok bagi Hiroshi. Ia men¬dongak menatap langit dan melihat sekawanan kecil bin tik jauh di arah tenggara. mendengar suara yang menyambut keang¬gunan dan kepandaia nnya. ber¬lutut di belakang Lord Terada lalu berbisik padanya. "Gagal. Kaede dan Shigeko. "Pesan dari putra¬ku. mungkin kepakan sayap burung.Takeo tengah mengamati Hiroshi yang duduk bersama Shigeko dan putri Eriko. lalu pergi bersama si pelayan itu ke dal am rumah. Sugita Hiroshi. Takeo. Miyoshi Kahei. di paviliun sebelah.. tapi Takeo kini s adar akan panasnya cuaca sore ini. Terada melihat ke arah Takeo dan membuat isyarat dengan kepala. Terada berkata. "Kita akan bertemu besok dan me¬mutuskan apa yang dilakukan. Namun di sela-sela tawa dan semua suara lain di senja yang damai ini. Mereka berdua berdiri bersamaan. Burung-burung selalu kembali kemana pun semua kapal Terada yang membawanya. "Kita harus persiapkan dewan p¬eperangan.. Kaori dan Shigeko tengah tertawa melihat usaha Hiroshi. Semua orang mendongak ke atas mengamati. Takeo menceritakan tentang pertemuannya dengan Kono. di paviliun sebelah. terbuat dari sutra.

Takeo. "Kami rasa ini dapat membuatnya p atuh. "Sementara Zenko me¬rongrong di Bara t. Aku tak ber¬maksud menghinamu.Kaisar. Aku lebih memilih untuk memercayainya. dan dia pun meminta maaf." Kemudian teringat kalau Zenko adalah putra Shizuka. Orangtuanya tahu kalau putranya aman bersamamu layaknya berada di tangan ibunya sendiri!" "Zenko sudah bersumpah sekali lagi bahwa dia akan tetap setia padaku. "T api aku tak menarik kembali saranku. mengalahkan si Pemburu Anjing dan membujuk Kaisar untuk mem¬pertimbangkan lagi ten tang ancaman serta penghinaan atas Otori. "Kapalmu juga bisa memblokade Akashi." tutur Tak eo. denga n harapan Halaman 116 dari 500 . jenderal baru dan senjata yang diselundupkan. Miyoshi Kahei ingin bertindak cepa t: membangun kekuatan militer selama musim panas." sahut Kahei. "Pelabuhan itu haru s dalam kendali kita untuk mencegah ancaman Arai. "Aku tak bisa menyerangnya sebelum dia menyerang." "Putra Zenko ada di tangan kita." ujarnya pada Takeo. "Inti dari adanya sandera yaitu siap mencabut nyawa mereka." "Dia tak bisa dianggap sebagai sandera." tuturnya pada Terada." tutur Kaede. kematian Arai Zenko dan Lord Kono lalu diikuti denga n pemusatan pasukan di perbatasan wilayah Timur yang bisa tiba lebih dulu di ibukota saat mu sim semi. tapi aku tak percaya kau tega memerintahkan untuk membunuh anak-anak. kau tak mungkin meng-hadapi ancaman dari wilayah Timur.

" "Klas pedagang mulai semakin kuat hingga menjadi berbahaya. Aku tak akan membawa perang saudara di Tiga Negara. yang me mbenci para pedagang yang semakin kaya raya dan makmur.dia layak mendapatkannya. Take o tahu kalau itu sudah lama dikeluhkan Terada. Setid aknya biarkan kami mendekati Akashi dan mencegahnya memperdagangkan bubuk mesiu. Menur ut seni perang memang itu yang terbaik. "Dan kita mengandalkan mereka untuk mendapat persediaan." Terada tampak merindukan masa ketika kapal-kapal milik¬nya mengendalikan semua perdagangan di sepanjang garis pantai utara dan barat. bubuk mesiu dan bijih besi. Kirimkan pesan pada Kaisar bahwa Anda akan datang berkunjung." gerutu Terada. "Itu saranku. "Bila tidak menyerang sekarang. kelak akan terlambat. Ini akan meredam rencana serangan apa pun di pihaknya. Kahei dan banyak ksatria lainnya." kata Hiroshi." "Saat itulah Saga Hideki akan memper¬senjatai pasukannya dengan senjata api. "Beliau punya alasan. Aku menganjur kan. seperti Kahei. Aku tak akan membawa perang saudara di Tiga Negara. memperkuat pasukan di wilayah Timur. Miyoshi." ia layak mendapatkannya." ujar Terada. "Tindakan semacam itu akan membuat geram pedagang kita sendiri." tutur Shizuka. Dan kita harus berusaha untuk mempertahankan kedamaian melalui perundingan. kau akan lang¬sung menuju ke kematian!" "Aku mendukung tindakan yang tegas. Gemba. "Aku memahami pandangan Lord Miyoshi." ujar Kahei." Kahei menggelengkan kepala. Karena kalau tidak. dan melatih m ereka untuk menghadapi prajurit yang hampir sama kekuatannya karena sudah pasti tahun depan Saga telah . Dan kita harus berusaha untuk mempertahankan kedamaian melalui perundingan. menyiapkan serangan tapi tidak menyo lok. Kita akan beri mereka pelajaran. dan yang lainnya di Terayama menganjurkan untuk menenang¬kan Kais ar dengan berkunjung ke Miyako tahun depan. wajahnya suram. "Aku setuju dengan Miyoshi. Kita harus membangun kekuatan prajurit pejalan kaki yang membawa senjata api. Tapi aku harus tunduk pada kearifan para Guru Ajaran Ho uou. Mereka telah menghina. Se mua pedagang di Akashi sudah lupa daratan. " "Bagaimana denganmu?" Takeo bertanya pada Hiroshi yang hingga saat ini belum bic ara. Bakal sulit bertempur tanpa dukungan itu. "Kakakmu.

atau ambisi apa pun untuk menyingkirkan Anda. Hal itu tak bisa kita cegah." Hiroshi memang ahli strategi yang handal. "Jika aku ikut dengan Ayah ke Miyako. pikir Takeo. Sekali lagi aku menganjurkan agar jangan tergesa¬gesa. Tidak ada pertemuan resmi. Takeo sering bertemu Shizuka yang tinggal di kastil untuk menema ni Kaede atau putri-putri-nya. dan jangan bertindak terburu-buru. di pagi hari Festival Tanabata. Minoru yang selalu meng¬ikuti dengan membawa peralatan menulis. Halaman 117 dari 500 . Sementara untu k adik ipar Anda. bahkan untuk menghadapi Kaisar. Bahkan sejak dia masih ke cil! Takeo berpaling ke arah putrinya. se olah kebetulan.memiliki senjata dalam jumlah besar. maupun pengumuman atas penunjukkan S hizuka sebagai ketua Tribe. kurasa Ajaran Houou akan menang." sahut Shigeko. Beberapa hari setelah pertemuan dewan perang. menyingkir agar mereka bisa bicara berdua saja. kurasa ikatan keluarga akan menjadi lebih kuat ketimbang dendam apa pun yang dip endamnya pada diri Anda. mereka berjumpa saat Takeo hendak ke kastil. "Shigeko?" "Aku sependapat dengan Lord Hiroshi."* Selama di Hagi.

Ishida dan Chikara m eninggalkan Hofu saat bulan purnama terakhir.. Aku lebih suka mengurung mer eka di satu tempat: Hofu tempat yang sangat bagus untuk itu. seseorang harus mempelajari secepatnya. "Apa lagi?" "Ternyata Zenko memberi ijin orang asing ikut bersama mereka. yang menguasai bahasa Sh in dan Tenjiku agar bisa membaca karya klasik. "Kau pasti menantikan kepulangan suamimu. Dua dari mereka be rada di kapal. Dan kita akan mengatur agar . Cuaca sedang cerah: mestinya mereka datang tid ak lama lagi." "Itu kabar baik. Ishida dan Chikara meninggalkan Hofu saat bulan purnama terakhir. "Tadi malam. Penerjemah mereka harus meng¬aja ri kita saat dia di sini. bersama penerjemah mereka perempuan itu.. "Baiklah. karena tak ada alasan mengapa kabar ini harus dirahasiakan." Takeo berpikir cepat. sastra dan kitab suci." Takeo mengernyitkan dahi. "Tadi malam. dan akan menceritakan bahwa si penerjemah itu a dalah adiknya. "Kita ter¬paksa menerima mereka dengan segala macam up acara dan kemegahan. Takeo memikirkan Kaede yang mampu belajar dengan cepat. Carikan tempat yang tidak nyama n untuk mereka tinggal. "Aku ti dak ingin mereka merasa bebas pergi ke mana saja sesuka hati." ujar Shizuka pelan. Tapi me¬nurutnya kau harus diberitahu. pikiran kalau ia akan mengurangi satu rahasia lagi dari istrinya. serta ber¬pura-pura terkesan atas hadiah tidak berharga mereka." sahut Takeo." pintanya pada Shizuka. Adakah orang lain yang bisa bicara bahasa merek a?" Shizuka menggelengkan kepala. tapi bila ia harus menggunakan jasa penerjemah." ujar Shizuka pelan." sahutnya. Ia akan minta Kae de mempelajari bahasa orang asing dari Madaren. "Apa tujuan mereka?" "Taku tidak mengatakannya. anehnya justru membuatnya bahagia. Ia tak ingin bertemu Madaren. ia merasa tidak nyaman atas kemunculan adiknya. Cuaca sedang cerah: mestinya mereka datang tid ak lama lagi. "Cari gadis pandai yang bisa menjadi pelayan mereka. maka seba iknya memang adiknya orang yang memiliki hubungan dengannya. "Bi arkan gadis itu berusaha sekuat tenaga memahami apa yang mereka katakan." "Menyebalkan." Lalu Take o berkata." ku dapat pesan dari Taku. dan awasi terus mereka. Takut pada kesulitan yang pasti mun cul dengan kehadiran adiknya itu."Aku dapat pesan dari Taku.

dan ber¬maksud mela njutkan dari sana ke Maruyama." "Begitu? Maka Hiroshi sebaiknya ada di sana untuk bertemu mereka. " Dia bisa menumpang kapal yang sama." sahut Takeo. semakin baik. Dia baru akan berangkat bersama Lord Kono untuk menginspeksi harta kekayaan. Ishida cukup ber¬minat. Dan lihat apa kau bisa cari tahu lebih banyak lagi dari suamimu tentang tujuan mereka yang sebenarnya. dan sudah menyusun daftar istilah ilmiah dan medis. Shigeko mendengar lonceng dari bukit di Halaman 118 dari 500 ." sahut Shizuka seraya tertawa. hanya sedikit frustrasi terjebak di wilayah Barat ." "Kau bermaksud untuk belajar.pelajaran diadakan di sini. sepupu?" "Aku meragukan kemampuanku." "Aku sudah terlalu tua. "'Tapi. Semakin banyak yang bisa kita pelajari. Biarkan dia melanjutkan pekerja¬an ini bersama mereka. Kau juga." ujar Takeo. dan mengabari keputusan kita pada Taku. dan kedekatan mereka dengan Zenko. "Sepertinya begitu. Menurutku." *** Kapalnya terlihat di laut dua hari kemudian." "Bagus." "Taku baik-baik saja?" Takeo menyuara¬kan pikiran yang muncul kemudian. "Tapi aku yakin Kaede pasti mampu.

"Kuda! Atau mungkin anak singa! Bebe rapa hari ini cuaca cerah. . Aku gembira bila cuaca cerah saat Festival Tanabata." kata Shigeko. tidak dalam kehidupan nya ta." tutur Hiroshi. "Aku tak boleh membocorkan rahasia Lord O tori. kesal pada dirinya sendiri." "Kalau benar itu kapalnya. Tenba menerima sedikit dan membiarkan Shigek o menuntunnya dengan tali kekang halus. Karena tak ada yang namanya pasangan pengantin impian." Shigeko ingat keindahan malam tanpa bulan yang tenang. "Kuharap itu kapal tabib Ishida. Dia akan melupakan Hana jika dia memiliki istri dan anak." seru Shigeko dengan gembira." Aku kede nga ran seperti anak kecil. Nam un Shigeko tak bisa memaksa dirinya untuk menyarankan agar Hiroshi menikah. "Ayah bilang tabib Ishida membawa hadiah istimewa untukku tanpa mengatakan apa hadiahnya. pikir Shigeko." ujar H iroshi. "Aku dengar dia membicarakan itu. kemudian merasa malu. tidak kepadaku?" "Ayahmu tidak mengatakannya. dia memperlakukan aku seperti anak kecil." sahut Hiroshi. "Saat masih kecil aku suka sekali Festival Tanabata.atas kastil berdentang sewaktu dia dan as kastil berdentang sewaktu dia dan Hiroshi menjinakkan si kuda jantan. percikan sinar bintang. s atu malam selama tahun ketika seorang Puteri dan kekasihnya bisa bertemu menyeberangi jembatan aj aib yang dibangun burung magpies. "Tapi kini hal itu membuatku sedih. pikirnya. Dia sudah mend erita begitu lama. berarti aku harus segera kembali ke Maruyama. pikir Shigeko. "Secepat itu!" Shigeko tidak bisa menahan seruannya. "Kau tahu apa hadiahnya?" "Itu rahasia!" sahut Hiroshi menggoda." "Pasti hewan." "Mengapa ayah hanya mengatakannya padamu. ber¬usaha melihat tapi sia-sia menentang silauny a matahari pagi. atau beban a pa pun di punggungnya selain kain berlapis yang masih membuatnya ber¬gerak mundur dan menend ang." Dia membicarakan tentang dirinya sendiri dan Hana. tapi mereka belum mencoba menaruh pelana. "Hanya sa ja dia mengharapkan cuaca cerah dan per¬jalanan yang tenang untuk hadiah itu. "Ada kapal datang." sahut Hiroshi dengan suara lebih lembut. Dia harus menikah.

tidak bersentuhan. Mereka berdiri b erdekatan. Shigeko menemukan lagi suaranya. dan sesaat Shigeko menyadari kekuatan pemuda itu. dan hasratnya begitu kuat hingga mengejutkan dirin ya sendiri untuk dipeluk pemuda itu. tapi Tenba masih bertingkah tidak karuan. kan?" Shigeko menggelengkan kepala. tali kekangny a berayun¬ayun. sekali lagi bersikap dingin dan formal. "Kau tidak apa-apa? Kuda itu tidak menginjakmu. Ayah pasti ingin mengadakan upacara untuk itu. "Kukira sudah cukup untuk hari ini. Hiroshi bertanya. menerjang tubuh Shigeko dengan bahu." sahut Hiroshi. tap i entah bagaimana Hiroshi berhasil menjatuhkan tubuhnya di antara Shigeko dan kuda itu. tiba-tiba perasaannya bergejolak. Kita buat Tenba berjalan pelan lagi. An gin sepoiHalaman 119 dari 500 ."Dulu aku suka membayangkan Putri Bintang dengan wajah ibumu. dan Hiroshi menuntunnya mengembalikan kepada Shigeko. mendadak ketakutan dan melompat mu ndur saat seekor burung merpati terbang dari atap kuil sehingga menarik pita yang dipegang Shigeko." tuturnya. da n melompat lalu terjatuh. Tapi mu ngkin putri itu mirip denganmu." "Tentu. Kuda itu berlari dengan langkah panjang. Lalu ak u harus pulang untuk bersiap menerima hadiah. Secepatnya Shigeko me-nenangkannya. Lady Shigeko. yang berjalan di antara mereka berdua." Tenba. menjinakkan kuda-kuda di surga. Ku da jantan itu membiarkannya mendekat. Shigeko hampir terjatuh.

Shigeko kembali ke kediaman lalu berganti pakaian yang lebih sesuai untuk menyambut hadiah untuknya. kesibukan biasa di pagi hari menjadi hening. epoi ber¬hembus pelan dan merpati terbang melayang di atas kepala. dan hewan aneh itu bisa terlihat jelas leh ernya yang panjang kekaguman Shigeko sebesar dan setulus kerumunan orang yang menonton. Takeo tertawa gembira karena kirin dalam keadaan sehat dan juga karena reaksi Sh igeko. Tak satu pun dar i kedua¬nya bicara. Sewaktu Shizuka dan Shigeko bergabung dengan T akeo. mengatakan kalau merasa kurang seh at. oleh bola mata yang gelap dan tatapannya yang lembut. Untungnya jarak antar a gerbang kastil ke tangga pelabuhan dekat dan bisa dilalui dengan berjalan kaki. bisa dilihat susana hati ayahnya sedang gembira: tak hentinya melihat ke arah Shigeko yang ada di sampingnya dan tersenyum. Shigeko terpesona oleh kelembutan dan pola aneh kulit hewan itu. beras dan sutra ke kapal bertiang lebar. oleh gayanya yang anggun serta pem-bawaan diri yang tenang selagi mengamati lingkungan asing di ha dapannya. dan orang-orang berkumpul di jalanan berkerikil. *** Di galangan kapal. Nelayan berhenti membongkar muatan hasil tangkapan malam hari berupa ikan sarden perak dan mackarel sisik bi ru. Shigeko ber¬harap reaksinya tidak mengecewakan ayahnya. ketika kapal mendekati dermaga. aroma semak wangi yang ditanamnya masih tercium di udara . Pedagang berhenti memuat berkarung-karung garam. dan memutuskan untuk berpura¬pura senang menerima hadiah itu. pelacur kelas tinggi yan g pemah menghibur Lord Shigeru. Tak satu pun dar i kedua¬nya bicara.sepoi ber¬hembus pelan dan merpati terbang melayang di atas kepala. melewati rumah kecil di bawah pohon pinus tempat Akane. Namun. Shizuka telah menunggu. Takeo sudah pergi lebih dulu bersama Sunaomi. Ia be gitu gembira ketika tabib Ishida menuntun hewan itu dengan berhati¬hati menuruni tangga kapal dan menyerah kan kepadanya. namun kuda mud a itu ber¬jalan tenang di antara mereka berdua dengan kepala tertunduk. dihiasi bulu mata panjang dan tebal. Dia berjalan se panjang pantai. tapi ibunya tetap tinggal di rumah. menyambut kapal dari Hofu dengan muatan anehnya . Shizuka . namun kuda muda itu ber¬jalan tenang di antara mereka berdua dengan kepala tertunduk.

"Itukah raksasa?" "Hantu.. yang satunya lagi berk ulit lebih pucat dengan rambut dan jenggot berwarna karat pucat. "Beri salam pada paman dan sepu pumu dengan baik. Sunaomi." Mereka diikuti seorang perempuan pendek yang tampak memberitahukan tata cara yan g sopan. membungkuk dalam-dalam. "Jangan berkecil hati. Halaman 120 dari 500 . tercengang dengan sambutan serta kerumunan. Warna mata orang ini juga pucat." "Goblin." Chikara berhasil bicara. sehijau teh hijau. Ch ikara. Nanti akan kuceritakan rencana kita untu k mereka. Kuharap aku dapat mem¬bujukmu untuk menghibur mereka semen¬tara waktu. "Kami membawa penumpang lain. warna rambut dan mata seperti ini membuat orang merinding. Setelah dibisiki perempuan muda itu. mungkin kurang disambut baik. Kedua orang itu mengenakan celana panjang dan sepatu bot dari kulit. aku sudah dikabari Taku." ia menyela perkataan Chikara. "Lady. lalu bicara dengan bahasa mereka yang kasar." "Ya." "Lord Otori. cenderung berlagak. dan Shigeko mendengar bisik-bisik." "Shigeko. emas berkilauan di leher dan dada mere ka." tabib Ishida menegurnya. baru pertama kali datang ke Hagi muncul di tang ga kapal." Orang-orang asing itu ada dua orang.menyambut suaminya dengan kasih sayang yang tidak diperlihat¬kan. Istrimu akan menunjukkan tempat mereka meng¬inap. mengenali wajah kakaknya dan berusah a menahan tangis. dan si bocah. membuat orang tak kalah terperangahnya ketimbang melihat kirin. "Selamat datang di Hagi!" Ishida berkata pada Takeo. kedua orang asing membungkuk dengan cara ya ng kaku. bantu adikmu. Satu orang berwajah agak hitam yang dipenuhi janggut berwarna gelap..

dan perhatiannya tertuju pada makhluk mengagumkan ini. Ayahnya jauh lebih gagah. Orang-orang asing itu mungk in lebih tinggi dan lebih besar. yang dituntun Ishida dan Shigeko menuju kuil. Ia tak lagi tertawa: tampak tegas. dan ketika kerumunan mulai terbagi untuk seti ap arak-arakan terdiri dari kerumunan yang cukup besar. mem¬beri isyarat agar perempuan itu boleh berdiri dan berbicara kepadanya. Dilihatnya kalau pere mpuan itu terpaku menatap wajah Takeo. tapi di mata Shigeko. tapi ia mendengar ayahnya bicara beberapa patah kata pa da orang asing itu. atau mengikuti orang asing yang sama luar biasanya. lalu menyampaikan jawaban orang asing itu. semacam ekspresi akrab yang mendekati s ikap tidak sopan." ujar Shigeko pada ayahnya selagi mereka men¬dek ati biara. dengan langkah lambat dan hati-hati yang anggun. pikir Shigeko. Perempuan itu menyembah. Meskipun Shigeko memegang tali sutra yang mengikat leher kirin. gagah dengan jubah resminya. yang membuat Shigeko gelisah dan bersikap waspada. S higeko seperti mendengar sesuatu yang tidak biasa dalam suaranya. "Bagaimana aku harus berterima kasih kepada Ayah?" "Kau harus berterima kasih pada tabib Ishida. "Ini adalah hadiah d arinya untuk kita: . yang dengan sebarisan pelayan yang didampingi Shizuka membawa sejumlah besar kotak dan bal menuju ke perahu kecil yang akan membawa mereka menyeberangi sungai ke t empat penginapan di sepanjang bangunan biara tua Tokoji. Kirin berjalan se perti yang sedari tadi dilakukannya. *** Kerumunan yang ada di dermaga dihadapkan pada keputusan yang sulit. Dia berani menatap langsu ng wajah Ayah." sahut Takeo. pikir Shigeko. Dia mengenal Ayah. apakah mengi kuti kirin yang luar biasa. Ketika perempuan itu menerjemahkan. Beruntung Hagi berpenduduk banyak. Ada sesuatu dalam tatapan perempuan itu.Takeo membalas dengan isyarat kecil akeo membalas dengan isyarat kecil dengan kepala. serta tutup kepala warna hitam pekat. dan ayahnya dengan begitu ramah. Mereka bahkan akan lebih kesal lagi dengan jauhnya jarak tempat penginapan dari kastil dan pen jaga serta berbagai larangan yang diberlakukan pada mereka demi melindungi mereka. b erhias bordiran burung bangau. tempat hewan itu akan diperlihatkan pada Mori Hiroki dan dipersembahkan pada dewa sungai. "Aku langsung jatuh hati padanya. Orang-orang asing itu merasa hal ini le bih menjengkelkan diban¬dingkan kirin yang menunjukkan ekspresi kesal karena terus menjadi tontonan.

Tapi saat teringat kejadian tadi pagi. Shiro. putra sulung si tukang kayu. berla ri ke pagar bambu untuk memeriksa dan menyentuhkan hidung perlahan padanya. "Betapa diberkatinya Tiga Negara!" Dan Shigeko juga berpikir begitu. dan sudah mengenalnya cukup lama." "Sungguh indah memiliki sesuatu seperti itu di Hagi. Istrinya tampak duduk di beranda di sisi utara kediaman. Dia akan tunjuk¬kan cara merawatnya.* Sewaktu kembali ke kediaman setelah menyambut kirin. Bahkan Tenba tampak terpikat oleh kirin. berpikir mungkin memang sebaiknya laki-laki itu pulang. Dia dan ayahnya kembali ke Hagi untuk membangun kembali kota itu setelah gempa. sedang bicara dengan Ta ro." seru Mori Hiroki saat meli hat¬nya.hadiah yang berharga karena dia sendiri juga sudah jatuh hati padanya seperti ha lnya dirimu. Takeo langsung bergegas men emui Kaede. Halaman 121 dari 500 . Satu-satunya hal yang Shigeko sedihkan yaitu Hiroshi akan segera pergi.

Takeo memberi salam dengan ceria." "Kau akan memahat dari satu pohon?" tanya Takeo. Kukira dengan atap rangkap dua." Mereka membicarakan tentang berbagai jenis pohon. "Rumah itu sudah kosong selam a bertahun-tahun." "Mungkin arwah kedua wanita yang telah berpulang itu pada akhirnya bisa beristir ahat dengan tenang. seraya me natap kedua tangannya seolah berharap tangan itu bisa memberi jawaban. Kemu dian Taro meninggalkan mereka ber¬dua. tapi figurnya tetap tersembunyi di balik kayu hingga tanganku menemukan¬nya. Para pelaut mengatakan kalau arwah Akane menyalakan lampu di bebatuan." "Chiyo menceritakan tentang kisah Akane ketika aku masih kecil. usia kayu dan semacamnya." Diperlihatkannya pada Takeo sketsa yang telah dibuatnya untuk bangunan itu." kata Taro. "Ata p yang lebih rendah menyeimbangkan atap di atasnya. Orang bilang kalau rumah itu berhantu. sejak Akane mening¬gal. Kita runtuhkan saja rumahnya lalu menyucikan tam annya. saat ini aku sedang memilih pohon yang tepat. dan Akane menggunak an mantra untuk me mikat Lord Shigeru tapi akhirnya dia sendiri yang terjebak dalam ilmu hitamnya. Kuharap bisa memberi pen g¬hormatan yang sama kepada Yang Diberkati. dengan lekukan tajam seperti ini. dan patung yang melambangkann ya akan memberkati pesisir dan teluk. ." tutur Taro. dan Taro menjawab tanpa sungkan karena masa lal u mengikat hubungan mereka dalam jalinan persahabatan. "Sudah lama aku hendak menciptakan figur Dewi Welas Asih. akeo memberi salam dengan ceria. dan Taro menjawab tanpa sungkan karena masa la lu mengikat hubungan mereka dalam jalinan persahabatan. memberi kesan tampilan yang kuat serta lembut. Taro dan adik¬nya bisa membangun kuil baru untuk dewa Kannon." "Kau tahu rumah di dekat tepi pantai." kata Kaede. dan sambungan siku yang saling mengunci untuk menyang¬g anya. "Aku mem¬bayangkan bangunan kecil kita tak perlu menebang pohonpohon pinus tapi akan membangun di sela-sela pepohonan itu. "Ya. "T api Shigeru tak pernah menceritakannya. "Lady Otori punya usu lan. Kuharap tadinya bisa menunjukkan sketsa sang De wi. begitu pula tentang istrinya." sahut Takeo. memberi sinyal palsu ke kapal karena dia membenci semua pria.

dan karena mereka hanya berdua.."Rencana yang bagus." ujar Takeo pada Kaede sewaktu mereka tinggal berdua. Kem udian langkah kaki pelayan di lantai papan beranda menarik mereka kembali ke dunia nyata." "Aku sudah sering bilang padamu. "Bila nanti kita tambah satu anak perempuan lagi. karena Takeo sudah mengungkapka n hadiah kejutan itu pada istrinya." gumamnya. aku akan gembira." kata Kaede pel an. Mereka tak bicara selama beberapa waktu. Halaman 122 dari 500 ." Takeo mendekap istrinya. seraya tertawa kecil." kata Kaede." "Aku tidak ingin mengatakannya. mengira kesempatan kita memiliki anak lakilaki sudah sirna. aku bahagia dengan ketiga putri kita. berpikir tentang mukjizat dari makhluk baru yang tumbuh dalam tubuh istrinya. "Aku malu. Takeo memeluknya. "Rasa mual tadi pagi. "Aku sepertinya terlalu tua untuk hamil! Shigeko sudah menjadi wanita. "Apakah kirin tiba dengan selamat?" tanya Kaede. Namun aku juga bahagia." "Istriku sayang. bernapas dalam kedekatan. yang pulih dengan cepat.." "Rasanya aku punya alasan khusus untuk bersyukur pada sang dewi." bisik Kaede." ujarnya. "Tapi aku yakin yang satu ini laki¬l aki. Kukira aku tak bisa hamil lagi.. "Aku menyukai rencana itu.

kemunculannya sangat kuharapkan. tapi aku tak ingin membebanimu. Aku belum sempat bicara dengan Ishida. kurasa. S iapa perempuan yang . lalu bagaimana dengan si kecil Chi kara?" "Mabuk laut berat dia malu dengan hal itu. Aku ingin mau mempelajari bahasa mereka ." "Untuk tujuan apa mereka datang?" "Membuka peluang untuk berdagang. "Kuharap mereka sudah meng¬gubah nyanyian tentang hewan itu. "Sudah semestinya. "Meski aku takut Zenko dan Hana akan kecewa. Shigeko langsung jatuh hati padanya. "Kuharap kini aku dapat mengendalikan sikap terges a¬gesa dan ceroboh. Mungki n dia tahu lebih banyak." Takeo t erdiam sesaat. "Kau s emakin bijaksana dan berhati-hati. lalu berkata. Tapi gembira bertemu kakaknya. Seluru h penduduk diam dalam kekaguman." sahutnya. I shida harus menengokmu. Aku akan pergi melihatnya sendiri nanti. Dua orang asing. "Kelihatannya itu tugas yang cocok di saat kegiatan lain harus dibatasi." "Kau tak boleh berpanas-panasan." Takeo menimbang¬nimbang apa yang mesti dikatakan selanjut¬nya. Aku senang. Kita harus bisa memahami mereka." "Ishida juga tiba dengan selamat." "Bisa membuat orang Otori terkagum¬kagum adalah prestasi yang sangat baik!" sahut Kaede. dibantu perempuan yang datang bersama mereka." "Belajar. kemunculannya sangat kuharapkan." Takeo menekankan. Tentu saja aku mau. "Kau jangan terlalu lelah."Ya. melihat lebih banyak lagi bagian neger i ini yang masih menjadi misteri besar bagi mereka. dan tiba pa da satu keputusan. Selur uh penduduk diam dalam kekaguman. atau men¬ciptakan kerumitan na ntinya. dan seorang wanita yang menerjemah k an merek a." sahut Kaed e. mempelajari bahasa adalah salah satu yang paling kugemari. "Kita tunda dulu soal pengangkatan mereka sampai anak kita lahir. Shigeko langsung jatuh hati padanya." sahut Kaede setuju." kata Takeo cepat." "yang arif. dan kau harus melaku¬kan semua yang dimintanya. suamiku!" kata Kaede sambil tertawa." Ya. berkata." "Hanya ditunda. "Ada penumpang lain dari Hofu. Aku tak ingin melambungkan harapan yang kelak tak bisa terpenuhi.

"Nama yang aneh. Dia berganti nama. Dia lahir di desa yang sama denganku. Perempuan itu berasal dari wilayah Timur." Kaede mengernyitkan dahi. tapi aku ha rus mengatakannya.. Halaman 123 dari 500 . setengah ta k percaya.. Dia dijual ke rumah bordil oleh prajurit yang membunu h ibunya ibuku dan kakak perempuanku.datang bersama mereka? Aku tertarik karena dia telah menguasai bahasa asing." "Nama itu cukup umum digunakan di kalangan kaum Hidden." "Adik yang kau kira sudah tiada?" tanya Kaede tercengang. Dia melarikan diri ke Hofu. Dia adik perempuanku. setelah peristiwa pembantaian itu. "Benar. kuras a. setengah bersimpati. Saat itu aku menyamar untuk berte mu Terada Fumio untuk memintanya menghentikan penyelundupan senjata. "Aku tak ingin mengejutkan dirimu. dari ibu yang sama. tempat di mana dia bertemu orang asing yang bernama Don Joao: dia fasih berbicara dalam b ah asa merek a." "Setelah sekian tahun.?" Kaede menatap Takeo. Kami saling mengenali." Takeo berkata dengan suara pelan. adikku." "Bagaimana kau tahu semua ini?" "Kami kebetulan bertemu di penginapan di Hofu. dan bekerja di rumah bordil l ainnya. dan sempat tinggal di I nuyama. Madaren.

karena inti aj aran mereka serupa dengan kaum Hidden. Kukatakan padanya kalau aku akan menjamin hidupnya ku yakin itu dia. "Bisakah kau bu juk dia untuk menjadi mata-mata?" Sepertinya Kaede berusaha menyembunyikan kekagetannya dan bi cara secara masuk akal. dia penganut kepercayaan yang saleh: sedangkan aku tak memercayai kepercayaan mana p un. dan aku semakin yakin. Kesenjangan derajat dan status kami sudah menganga lebar. Aku menyelidiki tentang dirinya dan tahu sedikit riwayat hidupnya." Takeo menggeleng." Kaede berkata. Terl ebih lagi.. Aku menyelidiki tentang dirinya dan tahu sedikit riwayat hidupnya." "Tak seorang pun yang menyaksikan dirimu melakukan upacara di biara atau kuil me rasa yakin akan . Wajar kalau dia tertarik dalam pergaulan orang asing.. karena aku harus melindungi mereka semua dari kedua belah pi hak. Aku takkan mengakuinya sebagai saudaraku. Tapi informasi mengalir dari dua arah. "Kau kedengaran sangat ding in. dan aku ingin kau mengetahui kebenarannya dariku. "Aku yakin dia bisa menjadi sumber informasi. Kukatakan padanya kalau aku akan menjamin hidupnya tapi tidak ingin bertemu dengannya lagi. hanya sebentar. Tapi kini dia datang ke sini. Jarak di antara kami sudah begitu lebar . dan tidak lagi mengikuti kepercayaan masa kecilku. Aku curiga kalau orang-orang asing itu ingin menyebarkan kepercayaan mereka. K ini aku tidak tahu harus bersikap bagai¬mana: aku sudah berubah menjadi orang yang berbeda dari bocah yang pernah menjadi kakaknya. Tidakkah kau gembira menemukan nya masih hidup? Kau tidak ingin mem¬bawanya masuk ke dalam keluargamu?" "Kukira dia sudah mati." "Apakah dia mirip denganmu? Aku ingin sekali bertemu dengannya. "Dia mirip ibunya. tapi jangan p ernah membicarakan tentang diriku padanya. Siapa yang tahu alasannya? Aku tak bisa membiarkan siapa pun mengira bisa memengaruhi diriku.."Aku yakin itu dia. Kami bertemu satu kali lagi. tapi desas-desus m ungkin akan tersebar. Aku menangisi kematiannya serta kematian yang lainnya. dengan disengaja atau tidak. Aku memintamu untuk memperlakukannya dengan baik. mungkin alasan orang-orang itu untuk memecah belah rakyat kita. Kami bertemu satu kali lagi. hanya sebentar. dan aku semakin y akin." "Kurasa dia bermanfaat bagi kita sebagai jurubahasa maupun guru. Dia bisa berguna untuk menanamkan pemikiran kita pada kedua orang asing itu. bah¬kan dengan hormat.

setelah sesaat tenggelam dalam pikirannya.ketidakpercayaanmu. mer eka mungkin merasa benar untuk memperlakukan kita dengan cara menghina atau keji. mungkin dia masih hidup. "Begitu pula aku." Andai m Hidden. Sedangkan yang lainnya dikutuk ke neraka untuk selam anya. mungkin. kan?" seru Kaede. Dan aku akan menjadi bahagia berpura-pura pun satu orang Hidden. Kita harus sangat berhati¬hati dengan mereka bila mereka telah berpikir kita dikutuk. mutla Dirimu terpampang jelas ayahku tidak memihak kau orang lain. "Aku sungguh ya kepercayaan demi kepentingan stabilitas negara. dan takut kalau istrinya merasakan suatu firasat. "Tentu tuhan kaum Hidden itu Maha Pengampun." sahut Takco dengan nada getir. "Dan bagaimana dengan kuil dan patung baruku?" "Kau tahu kemampuanku sebagai pemain sandiwara. Tapi itulah yang di¬percayai kaum Hidden. Tapi bila kau salah k tidak boleh berpura-pura bila sudah menyangkut masalah kepercayaan. begitu juga orang¬orang asing itu. oleh Yang Maha Melihat. tatapan tanpa belas kasihan Tuhan. pikirnya." "Aku tidak percaya itu!" sahut Kaede." Dilihatnya Kaede agak gemetar. "Bagi penganutnya. * Halaman 124 dari 500 ." ujar Kaede.

Dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan ayah. Mereka menguping pembicaraan dan tahu ada us ulan untuk mengangkat salah satu atau kedua anak itu. Shigeko tampak semakin cepat memasuki masa kedewasaan dan menjadi makin m enjauh. Kenyataan bahwa hal itu tidak dibicarakan secara terang-terangan membuat mereka gelisah. tapi kesedihan mereka yang tulus tak menghalangi mereka dari ke giatan senggang baru. Lampion yang tak terhitung jumlahnya mengapung di gelapnya permukaan air. serta hal-hal lain yang menyangkut urusan kenegaraan." kata Maya kepada Sunaomi. tapi sifat mereka yang selalu mem er hatikan. "dengan hidung panjang dan mata yang selalu mengintai!" . Hari-hari di musim panas terasa panjang dan panas: semua orang mudah marah. dirayakan dengan jamuan. Tepi pantai dan sungai dipenuhi oran g. Arwah orang yang mati disambut ke mbali. Shizuka sibuk dengan administrasi Tribe. menyiksa Sunaomi dan Chikara. namun rasa jenuh dan diabaikan membuat mer eka mencoba hasil pelatihan mereka. akhirnya mereka tahu.Pada bulan kedelapan tibalah Festival Obon. namun aturan itu menjengkelkan mereka: keduanya ingin menjelajahi kota yang sibuk. Meskipun tak diijinkan mengguna¬kannya. "Apa gunanya semua pelatihan itu bila tidak digunakan?" gerutu Maya pelan. Maya dan Miki menyalakan lilin bag i Kenji yang amat mereka rindukan. bentuk tarian mereka tampak jelas diterangi kembang api yang bersinar terang. tapi mereka sudah terampil dengan pe latihan Tribe. lalu diucapkan selamat jalan dengan gabungan antara per asaan sedih sekaligus gembira. ketakutan dan kegembiraan. Si kembar tak diijinkan keluar berdua saja. "Di sana ada goblin. hutan di seberang sungai. atau sentuhan di rambut. dan hutan berbukit di atas kastil. Mereka tak diberitahu tentang kehamilan Kaede. membicarakan tentang kun¬jungan k e ibukota tahun depan. Miki dapat menggunakan sosok kedua cukup lama untuk memberi kesan kalau Maya ada di ruangan sementara Maya menghilang agar bisa menakuti Sunaomi dan Chikara dengan hembusan napas seperti desah napas hantu di tengkuk. Mereka mematuhi peraturan untuk tidak keluyuran di luar. ar ea di sekitar gunung berapi. mereka menduga itu karena kedua anak itu laki-laki. Melihat kasih sayang Kaede pada kedua bocah itu. dan M iki setuju dengannya.

tempat pepohonan yang begitu lebat hingga kelihatan tak bisa ditembus. Dirasakan si kucing berputar¬putar di dalam dirinya. anggapan yang terucap tanpa disadariny a. Dua layang¬layang bergulung-gulung di atas mereka." sahut Sunaomi. "Mereka tak bisa mengerjai kita di sini." Halaman 125 dari 500 ." kata Chikara gugup. mereka hanyalah anak perempuan. Hari terasa menyesak¬kan." bisik Miki. Sore pada hari ketiga Festival Obon.Maya menunjuk ke arah bukit. tetap saja terasa panas tak terkira. Ia belum melupakan kata-kata Sunaomi pada ayahnya. tentang keung gulan anak lelaki: Lagipula. sehingga membuat Maya makin kesa l. "Mereka memakannya mentahmentahi" "Seperti macan?" sahut Sunaomi seraya mengejek. di ba wah pepohonan. keempat anak itu berada di taman. "Aku tidak takut pada tengu. dan melemaskan jari¬jarinya. bahkan di taman. Maya ingin membalas perkataan itu. "Terlalu banyak pe njaga. "Aku tidak takut pada apa pun!" "Tengu yang ini suka makan anak laki¬laki.

"Memang mudah bersikap berani saat dikelilingi penjaga. Aku tak boleh menatap orang lain. 'Tidak mudah keluar tanpa terlihat. "Kau b isa pergi malam ini. mengesankan persimpangan antara dunia nyata dan alam baka. tapi belum menjadi kuil. pergilah keluar. "Jika kau memang pemberani. Aku tidak takut. sepupu! Aku lupa. maaf." kata Maya pada Sunaomi. menahan tatapan bocah itu selama beb erapa saat. Itu cuma alasanmu saja. G elombang sudah hampir naik." kata Maya. sebagian menampakkan bebatuan yang menonjol dan licin. "Kau takut!" "Tidak!" "Ya sudah. pergilah ke rumah Akane dan bawa pulang beberapa tangkai bunga. Rumah itu sudah setengah dibongkar karena akan dibangun kuil. Aku sudah pernah pergi ke rumah Aka ne." "Kau takut." Maya berpaling ke arah Sunaomi. walaupun arwahnya gentayangan di rumah itu." "Akane membenci anak laki-laki. "Jika kau memang pemberani." Maya berdiri dan berjalan ke pinggiran dinding laut. "Maya!" seru Miki memperingatkan. "Aku tak melihat satu pun hantu!" "Kalau begitu." bisik Miki. "Dia mengubur anak laki-laki hidup¬hi dup di tamannya supaya semak-semak tumbuh subur dan wangi. Aku sudah berjanj i pada Ayah." Cepat-cepai Maya menampar pipi Sunaomi untuk menyadar¬kannya." "Sunaomi takkan berani ke sana. "Di Kumamoto aku dikirim ke pemakaman saat malam hari untuk mem bawa pulang sebuah lentera. "Hanya saja aku tidak diperbolehkan ayahmu yang bilan g begitu." Sunaomi mengikutinya." "Itu mudah." hardik Sunaomi. kau pasti berani keluar sendirian!" "Aku tidak diijinkan. Bangunan itu tak lagi be rbentuk rumah. "Kau turun lewat dinding ini saat laut surut dan berjalan di atas bebatuan menuju pantai." sahutnya. lalu kembali pada Ch ikara." "Mudah jika kau tidak takut. kau pasti berani keluar sendirian!" Memang mudah bersikap berani saat dikelilingi penjaga. bila kau menatap mataku maka kau akan tertidur dan tidak akan terbang ." kata Maya dengan setengah tersenyum. Aku pernah melihatnya. "Oh. dan Maya menunjuk rumah Akane yang kosong dan kelihatan mu ram." tutur Sunaomi. "Kau tahu." kata Maya pada Sunaomi.

Laut dan daratan berbaur menjadi satu. "Semua orang l ahu kalau Arai adalah pengkhianat dan pengecut. selain itu tak ada api lain lagi. aku akan membu nuhmu. 'Tahukah kalian kalau kalian akan dib unuh jika tinggal di Kumamoto? Di sana kami membunuh orang kembar!" "Aku tidak percaya sedikit pun apa yang kau katakan. Sejak kecil dia dilatih deng an disiplin dan diajari untuk mengatasi rasa takut. Sunaomi. aku akan ke rumah itu dan membawa pulang apa pu n yang kau minta. gumpalan awan aneh berwarna kelabu berarak dari timur. melenyapkan bintang dan a khirnya menelan bulan. Tak sulit baginya. langit tampak cerah tanpa angin.un lagi!" Sunaomi menghampiri untuk membela adiknya. meski dengan keberanian yang mantap. untu k tetap terjaga sampai tengah malam. Pa sukan patroli Halaman 126 dari 500 . meskipun baru delapan tahun. dia tetap gel isah dan lebih takut karena tak mematuhi paman¬nya ketimbang bahaya terluka atau pun hantu. Api terakhir masih mengepulkan asap di pantai." Saat matahari mulai terbenam. Sunaomi adalah putra sulung dalam keluarga ksatria." sahut Maya." Sunaomi menegakkan badan dengan bangga. Tapi karena kau hanya anak perempuan. namun saat bulan mulai naik. Para pengawal yang mendampinginya sejak dari Hofu tinggal di aula di kota atas perint ah Lord Otori: penjaga kastil sebagian besar berada di gerbang dan di sekitar dinding depan. "Jika kau anak laki-laki.

na mun tak satu pun dari keduanya bergerak. Sunaomi mendengar suara mereka melewati pintu yang terbuka dari ruangan tempat dia dan Chikara tidur. dia ter¬peleset dan hampir jatuh ke dalam air. Cahaya api berada tepat di belakangnya. menuju ke pantai. siap mengatakan kalau ia ingin ke kamar mandi bila mereka terbangun. ikan ata u gurita raksasa yang bisa menelannya ke dalam kegelapan. Bisa terdengar olehnya pusaran air di bebatuan. Pantai tampak kelabu pucat. Menggaruk berusaha mencengkeram sesuatu untuk pegangan. na mun tak satu pun dari keduanya bergerak. meringkuk di balik pepohonan. malam terasa tenang. Di luar. siap mengatakan kalau ia ingin ke kamar mandi bila mereka terbangun. Kedua gadis pelayan itu tidur cepat. Kastil maupun kota sudah terlelap. dia bergeser sedikit demi sed ikit bak kepiting ke arah api terakhir yang masih mengepulkan asap. dira sakannya kulit kerang setajam pisau di telapak kaki dan lututnya. salah satunya mendengkur. dia lega merasakan kelembutan di telapak kakinya. laut bergumam lembut. Laut terdengar meraung. tak bisa naik atau turun. Kedua gadis pelayan itu tidur cepat.berjalan melintasi taman dalam jarak waktu yang teratur. dan bentuk burung y ang seperti hantu itu sesaat mengapung di hadapannya dengan kepakan sayap. Ombak merayap di bawah tubuhn ya. Sunaomi menghela napas panjang dan mulai meraba¬raba jalan yang dilaluinya menurun i landaian besar di dinding batu besar yang dirapatkan. Lalu berganti rumput kaku. Seraya menggertakkan gigi. Sunaomi c epat-cepat berdiri. Di bawah dinding. Sunaomi tersandung dan terus berjala n dengan merangkak ke hutan kecil tempat pepohonan pinus bermunculan di sekeliling¬nya. Ketika sampai di atas pasir. Hampir tidak bisa melihat apaapa. memikirkan tentang monster yang muncul dari laut. bersama dua pelaya n yang merawat mereka. Sua ra burung hantu terdengar di atas kepala membuatnya melonjak terkejut. salah satunya mendengkur. Tercium olehnya bau damar yang terbawa asap api unggun tadi dan aroma kuat lainny a yang . Sunaomi c epat-cepat berdiri. Ketika kakinya yang bersandal jerami menyentuh permukaan bebatuan. rjalan melintasi taman dalam jarak waktu yang teratur. Sunaomi berhenti sebentar. Beberapa kali mengira kala u dirinya terjepit. Sunaomi mendengar suara m ereka melewati pintu yang terbuka dari ruangan tempat dia dan Chikara tidur. ombak berdesis berbuih putih. menyebabkan luka tadi terasa perih. kini lebih keras lag i. bersama dua pelaya n yang merawat mereka.

tapi dia berkata pada dirinya sendi ri.terasa manis dan memikat. Ia menggapaikan tangannya seakan mengikuti bau wangi itu sampai ke belaka ng rumah lalu sampai ke taman. lalu ber¬jalan ke depan. mungkin kuci ng. Jangan menangis. Ta pi itu bukan berarti dia tak percaya akan keberadaannya: perempuan berleher panjang bak ular dan gigi setajam kucing. atau tikus besar. Sunaomi menelan ludah dengan susah payah. Aku tak takut pada apa pun. jaring¬nya lengket di wajah dan rambutnya. Dipaksa dirinya untuk berdiri. tubuhnya terhalang sarang laba-laba. makhluk bermata satu serta tanpa tangan dan kaki. Halaman 127 dari 500 . Sunaomi sudah menyom¬bongkan diri pada Maya kalau dia tak pernah melihat hantu. Ia men¬capai dinding taman. aku tidak boleh menangis. Anak laki-laki sering disuruh pergi ke makam atau tempat eksekusi di malam hari untuk uji nyali. katanya dalam hati. lekukan atap di belakangnya. Kucing itu pasti kucing tiba-tiba melolong dari balik bayang-bayang. Rumah itu gelap gulita. bandit tanpa kepala ya ng marah karena dihukum mati. dan tak tahan ingin buang air kecil. putra Zenko. Napasnya makin memburu. c ucu Daiichi. Wangi tanaman di taman Akane diperkuat dengan darah dan tulang anak laki-laki. Gerbang terbuka lebar. Ketika melangkah masuk ke gerbang. walau kakinya terasa berat . orang yang mati penasaran. meskipun bisa dirasa¬kannya air mata mulai men gambang di pelupuk mata. Sesuatu berlari cepat menyeberangi beranda. dinding mulai runtuh. akan balas dendam dengan memangsa darah manusia. Aku adalah Arai Sunaomi. lalu berusaha menahan gemetar yang sem akin melemaskan tubuhnya.

Bau tanah dan rasa¬nya mengingatkannya pada pemakaman dan mayat. Di buangnya ranting yang ada di tangannya. Maaf. Lenteranya agak sedikit naik. dan dengan sembarangan mencabut beberapa tangkai. Sunaomi menjerit. Ku¬mohon jangan sakiti aku. Pertahanan dirinya bobol. selain ketakutan setengah mati. dan dengan sembarangan mencabut beberapa tangkai. unaomi bisa melihat bunganya: satu¬satunya benda yang terlihat dalam kegelapan. Jangan kubur aku!" "Apa-apaan ini?" ada suara. Bau tanah dan rasa¬nya mengingatkannya pada pemakaman dan mayat. Dia lalu lari. suara laki-laki. tapi tersandung sebongkah batu dan jatuh terjerembab. suara manusia. tangan itu terulur ke arah Sunaomi. mulut juga hidung. dan Sunaomi mendengar langkah kaki di di belakangnya. merasakan se nsasi ter¬akhir dalam hidupnya. luka y ang masih membekas mengandung kebencian yang mendalam ter¬hadap Maya dan Miki. merasakan se nsasi ter¬akhir dalam hidupnya. tapi tersandung sebongkah batu dan jatuh terjerembab. segera membawa boca h itu kembali ke kastil. Yang terlihat hanyalah sat u sosok setengah badan seorang perempuan. Sunaomi tidak terluka. menggapai dan mematahkan sebatang ranting. Semak itu segera men geluarkan getah berbau tajam. dan betapa tak lama lagi dia akan ter-baring di kuburan. "Maafkan aku. air terasa mengalir di celananya.Sunaomi bisa melihat bunganya: satu¬satunya benda yang terlihat dalam kegelapan. namun luka telah tertoreh di hatinya. Keesok an paginya dia tidak mengakui. Saat berbalik. dan betapa tak lama lagi dia akan ter-baring di kuburan. Di a bergegas ke arah bunga itu. tapi hanya sebagian badan. Lalu dia memaksakan diri berjalan me¬rangkak sekuat tenaga dan meludahkan tanah di mulutnya. D ia bergegas ke arah bunga itu. Sejak itu. Bayangan bergerak¬gerak di atasnya. *** Taro yang menginap di rumah Akane sambil mengerjakan patung. Sunaomi berdiri. dan meskipun sudah pulih. cahaya jatuh tepat di wajah perempuan itu. "Apa yang sedang kau laku¬kan tengah malam begini?" Tapi Sunaomi tak mampu menjawab. matanya langsung silau terkena cahaya. Dia lalu lari. Perempuan itu tidak punya mata. Lady Akane. yang pasti baru keluar dari liang lahat. Su naomi terus merenungkan kematian kakeknya. dan serangan Klan Otori terhadap Arai. Piki ran kanakkanaknya .

Tidak butuh waktu lama untuk mengungkap kebenarannya." Takeo mendengar kecemasan Kaede pada bayi yang dikandungnya. Ia tak ingin mengir im Maya pergi. Dia mulai meng ambil hati para perempuan penghuni rumah itu. Kali ini Takeo lebih gusar pada Maya. t api nalurinya mengatakan bahwa ia bisa mendapatkan tempat yang tinggi dalam kasih sayang bibin ya. menebar pesona dan menghibur merek a. ter¬lepas dari kesedihan orang di kastil menyayangi ked ua bocah. dan menanyai¬nya penuh selidik tentang alasannya. "Maya benar-benar keterlaluan. jauh lebih tinggi ketimbang pada si kembar. maka strategi untuk meredam dan membendung Zenko akan hancur berantakan. bahkan ketika Kaede m engutarakan ketidak-senangannya dan menamparnya beberapa kali.mencari cara untuk me¬nyakiti Maya dan Miki. karena putrinya tidak menunjukkan penye¬salan ataupun rasa bersalah. bak seekor hewan... "Di a tidak bisa tinggal di sini. tapi ia terlalu sibuk untuk terus berada di samping putrinya. Dia tidak menangis. berlinang air mata karena kesal. Halaman 128 dari 500 . Sunaomi merindukan ibunya. curiga kalau keponakannya tak akan melakukan hal itu tanpa ad a yang memancingnya. lagipula sebagian besar dari mereka menyukai anak laki-laki." kata Kaede. Bila dia tak bisa dipercaya tinggal bersama anak laki-laki. Takeo juga m emarahi Sunaomi atas ketidakpatuhan dan keberaniannya yang gegabah. *** Takeo dan Kaede merasa gusar atas kejadian ini. Ia merasa putrinya butuh pengawasannya. dan kemudian giliran Maya menghadapi kemarahan ayahnya. dan tatapan m atanya kejam dan tanpa belas kasihan. Kaede. Jika Sunaomi terbunuh atau terlu ka parah saat dalam perlindungan mereka.

Seiko. "Kalau begitu." Shizuka berkata. tapi sebelum pergi Maya memojokkan bocah itu." Maya berbisik." Takeo mengangguk: kini ia ingat gadis itu. "Kau akan menemui Taku di Maruyama. Adakah yang dapat m engantar Maya?" "Ada seorang gadis." "Siapa namanya?" "Sada: kerabat dari istri Kenji. "Beraninya benar kau bicara seperti itu padaku. dia baru datang dari desa Muto bersama adiknya. dan lebih menyayan gi putra orang lain. penyamaran yang sering digunakan saat melaksanakan tugas Tribe. tak punya pengalaman dengan kera sukan semacam ini. seray ." "Maya perlu pengawasan dan pelatihan."Tak baik menginginkan putri kandung¬mu pergi jauh. biarkan aku menjadi putri seorang Tribe. Shizuka. "Mung¬kin Ta ku adalah orang yang paling tepat. Akan sela lu seperti ini. Mereka berdu a bekerja di rumah penginapan orang asing saat ini." "Maka kirim Maya kepadanya. dengan darah Kikuta." "Tapi Taku harus tetap di wilayah Barat." "Kau mengajarkan banyak kemampuan Tribe pada putraku. Kita tak bisa memintanya kemari hanya u ntuk kepentingan Maya. "Dia menyadarinya: dia memiliki kemampuan Tribe yang tidak boleh dia gunakan sebagai putri seorang ksat ria. bertubuh tinggi dan tegap. dan bisa b eralih rupa menjadi laki-laki." Sunaomi berusaha menghindar. "Kau harus mematuhi S ada." Takeo menghela napas. "Sepertinya hanya itu jalan keluarnya." kata Takeo pada Maya. dan lebih menyayangi putra ora ng lain. Kau tidak bisa bersikap seperti anak-anak lain." sahut Shizuka. Kau putri Lord Otori. Kaede menamparnya lagi." katTak baik menginginkan putri kandung¬mu pergi jauh. ibumu se ndiri? Kau tahu apa tentang urusan negara? Semua yang kami lakukan ada alasan politis. Sungguh sayang bila kemampuan seperti itu disia-siakan. Tapi siapa yang mengetahui hal semacam ini dalam keluarga Muto? Bahkan kau." kata Maya pelan.

Taro ada di sana." "Aku ke rumah itu. dan mengompol di celana. Lalu kau buang. "Kau gagal dalam uji nyali itu. Takeo bersiap untuk bepergian lagi. Su dah menjadi kebiasaan negeri ini kendalikan dari Yamagata dari akhir bulan kesembilan hingga puncak musim Halaman 129 dari 500 ." "Kau tidak ada di sana!" "Ya." sahutnya.a berbisik.* Seiring musim panas berganti musim gugur. Aku melihatmu. "Kau tidak bawa rantingnya!" "Tidak ada bunga di sana!" "Tidak ada bunga! Kau memetik sebatang. aku di sana." Maya tersenyum. Dia yang memaksaku pulang. Sudah kubilang kalau Arai pengecut." Sunaomi berteriak memanggil pelayan. tapi Maya sudah pergi.

dan hasil pengadilan dibagi-bagi dalam kotak dan keranj ang pada barisan panjang kuda beban. tapi ia terpaksa ber¬angkat lebih awal karena kematian Matsuda Shingen. Gemba menemani mereka ke Yamagata. tapi ia terpaksa ber¬angkat lebih awal karena kematian Matsuda Shingen. Namun Takeo begitu merindukan. "Ibumu pindah bersama kedua bocah itu ke rumah lama Lord Shigeru. Makoto kini menggantikan kedudukannya sebagai Kepala Biara. dan berganti nama me njadi Eikan. dan ia memikirkan dengan penuh kerinduan saat ia akan mengundurkan diri ke Terayama dan sisa hidupnya dengan meditasi dan melukis. Dan ibumu mulai membelajari bahasa orang-orang asing itu. dan hasil pengadilan dibagi-bagi dalam kotak dan keranj ang pada barisan panjang kuda beban. tapi Minoru dan pelayan rumah Miyoshi ada bersama mereka seperti biasa.dingin." "Dari si juru bahasa?" Shigeko ingin bertanya lagi pada ayahnya. perencanaan pertanian sena keuangan. tapi Takeo tetap meng¬gunakan nama lamanya. kode etik hukum. sena banyak yang lainnya. serta Jun dan Shin yang berada di luar tapi tetap masih . Mi yoshi Gemba membawa kabar ini ke Hagi dan Takeo langsung berangkat ke Terayama bersama Gemba dan Shigeko. jiwanya merupakan kesatuan antara kemur¬nian dan kekuatan. ingin. Laporan kerja selama musim panas ber¬bagai keputusan. Takeo membacanya dengan penuh semangat. Setetah upacara pe¬makaman selesai. mere ka melanjutkan per-jalanan ke Yamagata. tempat berbagai urusan administrasi menyita s eluruh perhatian Takeo. Shigeko bangun lebih awal setiap pagi untuk berlatih me¬nunggang kuda dan memanah bersama Gemba untuk kemudian menghadiri se¬bagian besar rapat bersamanya. perencanaan pertanian sena keuangan. kode etik hukum. Miy oshi Gemba membawa kabar ini ke Hagi dan Takeo langsung berangkat ke Terayama bersama Gemba dan Shigeko. Tujuan hidupnya telah tercap ai. Ia senang karena tahu Makoto tetap akan men dukungnya. dan segera mem¬beritahukan kabar ten tang keluarga pada putri sulungnya. Cita-citanya siap diterus¬kan mur id-muridnya: Takeo dan Shigeko. dan merasa kehilangan orang bijak tersebut sebagai kerugian bagi Tiga Negara. sura t datang dari Hagi. Tepat sebelum berangkat ke Maruyama pada minggu pertama di bulan kesepuluh. Laporan kerja selama musim panas ber¬bagai keputusan. Tak ada yang perlu disesali atas kepergian Matsuda.

seakan dia mengenal Ayah dengan baik. "Apakah sebaiknya mereka diijinkan ber¬dagang di Maruyama?" "Ayah ingin mereka berada di tempat yang bisa kita awasi." akhimya ia berkata. kecuali kakak laki-lakinya yang diselamatkan o leh Lord Shigeru. "Mereka akan tinggal di Hagi selama musim dingin." "Sungguh luar biasa. Saat itu hari sudah senja. "Pasti hidupnya menderita. "Ya. tapi l ain bapak ayahku. tapi orang lain tidak. kabut merangkak naik dari parit yang me ngelilingi bangunan sehingga mengaburkan garis bentuk dan detil. lalu dengan sifatnya yang lekas bersimpati. ad at kebiasaan dan tujuan mereka. seperti kau tahu. menyelimuti tanah denga n onggokan berwama emas. Saat itu Ayah bernama Tomasu. Mereka memiliki kepercayaan yang sama dengan para orang asing." sahut Takeo." Sesaat Takeo ragu." Halaman 130 dari 500 . "Ayah akan ce ritakan kepadamu. "Ayah hams menceritakan lebih banyak lagi tentang orang-orang asing itu." "Juru bahasa itu: dia memandang ayah dengan pandangan aneh. tapi simpan rahasia ini baik-baik." ujar Shigeko. Namanya Madaren. Daun berguguran di taman yang tenang. anak itu adalah Ayah. berasal dari Tribe. "Ibumu tahu siapa dia. Shigeko mendapat kesempatan saat mereka berdua berj alan di taman. Kita harus belajar sebanyak mungkin tentang bahasa. Setelah itu. Selama ini Ayah mengira dia sudah mati." Bola mata Shigeko terbelalak dan urat nadinya berdenyut cepat. Madaren adalah adik perempuanku: kami lahir dari satu ibu. dan dulu pernah dibantai oleh Klan Tohan. Semua keluarganya dibunuh. tapi Shigeru mengganti nama Ayah menjadi Takeo." katany a. Ayahnya ter¬senyum. itu nama yang dipakai kaum Hidden .bisa mendengar.

" sahut Takeo. "Madaren melakukannya lebih baik dibandingkan orang lain. dan Ayah berharap tidak menyalahgunakan kekuasaan yang telah diberikan kepada Ayah. "Madaren melakukannya lebih baik dibandingkan orang lain. juga salah satu pengikutnya. belajar bahasa asing. tentu saja. serta banyak mantan gelandangan masih tinggal di pedesaan di sekitar kota." sahut Takeo. teraenyum. Meskipun. Kau harus ber¬kenalan dengan pemimpin mereka. Ayah tak berharap hidup sampai tua. Apa Ayah memercayai semua ini?" "Ayah tidak memercayai sepenuhnya. begitu juga pada Madaren. kau harus mendorong Ayah untuk mengundurkan diri. "Ayah sangsi bisa hidup bahkan separuh dari usia Matsuda. Kini dia dalam Dia berhasil bertahan." "Ramalan membenarkan kekuasaan Ayah seperti yang ditakdirkan dan direstui Surga. tapi jangan ikuti satu pun dari semua itu. karena itu satu-satunya jalan yang harus d itempuh seorang pemimpin sejati. meraih semua kesempatan yang ada. belajar bahasa asing." sahutnya."Dia berhasil bertahan." sahut Takeo. "Ayah akan mati dengan bahagia karena tahu akan meninggalkan semuanya di tangan yang aman." Shigeko merenungkan hal ini selama be¬berapa saat. Lady Naomi melindungi me reka karena dia juga mengikuti ajaran mereka." lanjut Takeo dengan s angat serius. dan tak ingin membahas lebih jauh lagi topi k pembicaraan yang mengingatkan Ayahnya pada kenangan yang menyakitkan. "Kelak. meskipun dia kerabatmu. dan diijinkan mengajar¬kan ibumu. Tapi jangan memercayai orang asing. Tapi Shigeko tahu kalau ayahnya menyembu¬nyikan banyak kekhaw . "Ayah sangat bersyukur atas sem ua yang dianugerahkan Surga pada Ayah. Ayah tak ingin menyembunyikan apa pun darimu. Bahkan kita memiliki kirin salah satu tanda adanya penguasa yang adil." Setelah beberapa saat. Kau boleh tanya apa saja dan kapan saja." "Aku ingin Ayah tidak pernah mati. Burung houou bersarang lagi di Tiga Negara." "Orang tua semakin lama semakin akan bertindak bodoh. Jo-An." Shigeko melihat wajah ayahnya muram. Dan ingat untuk menghormati semua kepercay aan. mendadak ketakutan. meraih semua kesempatan yang ada. keamanan mereka ini ada di tanganmu. ia me nambahkan. Kini dia dalam perlindungan Ayah. "Dari dulu memang sudah banyak kaum Hidden di Maruyama." tambahnya nngan "Bila itu terjadi." seru Shigeko. "Bolehkah aku bertanya lagi?" " Tentu.

Biara dewa rubah yan g ada di tepi sungai kini. secara aneh. bantuan Jo -An bersama kelompok gelandangannya.atiran. Tidak ada kuda seperti dia. "Ya. Shigeko sudah tahu hal itu. Tahukah kau kalau Shun ternyata adalah kuda Takeshi? Mori Hiroki yang mengatakannya. Takeshi dibunuh prajurit Tohan." ujar Takeo. tapi Shun membuatku te rcengang pada peperangan pertama kami. dan Tak eo mengenang masa lalu bersama Gemba: pergi dari Terayama di tengah guyuran hujan. Tapi. yang membawanya ke Yamagata." sahut Gemba. "Pada saat itu Amano Tenzo memberiku Shun." "Aku tidak tahu. Dia lebih tahu banyak tentang peperangan ketimbang diriku sendiri!" "Kukira dia sudah mati sekarang?" tanya Gemba. dia mati dua tahun lalu. dia tumbuh dewasa bersama salah seorang yang m elegenda itu. "Kuda yang ini cukup menyenangkan. dan kuda itu meng¬hilang sampai Amano Tenzo membeli dan memberikan nya kepada Takeo. Jin-Emon. Beberapa hari kemudian ia dan Gemba menyeberangi jembatan di dekat Kibi. Ditepuknya leher kuda hi tam yang sedang ditungganginya. adik Shigeru. Kuda coklat kemerahan itu dijinakkan oleh Lord Takeshi. diiden¬tikkan pada Jo-An dan sekarang dia dipuja di sini . Ia Halaman 131 dari 500 . dan kematian si raksasa. Ia memikir¬kan dengan gembira atas hadiah rahasia yang akan ia berikan untu k ayahnya.

"Gagasan yang menakjubkan. membuatnya sakit kepala dengan tuntutan yang tak bisa dipahami. Dan apakah hewan it u dapat bertahan dalam perjalanan sejauh itu?" "Hewan itu berhasil menempuh per jalanan dengan kapal. Aku bisa menemani¬nya sampai ke Akashi." Gemba tertawa terbahak-bahak. Mungkin Lord Gemba a tau Lord Hiroshi bisa ikut ber¬samak u. "Sepertinya Lord Saga akan takluk pada Lady Shigeko. udah lama berharap akan ke Maruyama karena ia memang bermaksud menghadiahkan kud a itu sebagai kejutan saat upacara yang akan datang. Seringkali hujan turun tiba-tiba selagi ia melewatinya." Shigeko. "Hadiah yang sempurna! Hadiah yang belum pernah te rlihat di ibukota!" Takeo berpaling dari pelana dan menatap Shigeko. untuk melihat a pakah ada orang yang datang Hisao merasa lega tapi juga menyesal karena arwah kakeknya telah kel uar. tapi Hisao tidak sulit menemukannya karena ibu¬nya membimbi ng langkahnya ke sana. tempat ia akan bertemu Hiroshi lagi. ke barisan pegunungan yang terbentang ke timur dan utara. merasakan kalau me reka memang direstui Surga. menunggang kuda melalui pedesaan di musim gugur yang damai menuju wilay ah yang akan segera menjadi miliknya. ajaran kedamaian akan menang. saat kita ke Miyako tahun depan. dan Ajaran Houou. H isao melihatnya dan memanjatkan doa bagi arwah kakeknya agar dapat menempuh jalan ama n menuju alam baka dan kelahiran kembali yang lebih baik pada kehidupan kelak. memb iaskan sinar matahari menjadi penggalan-penggalan bianglala di awan yang membumbung tinggi.* Setelah kematian Muto Kenji. Memikirkan legenda dan hewan-hewan yang mengagumkan memunculkan gagasan di benak nya. namun telah merindu . Begitu cemerlangnya gagasan itu hingga ia ingin langsung mengatakannya. Ia hanya mengenal kakeknya sebentar. Tida k ada benda yang menandakan tempat itu. kita hadiahkan kirin kepada Kaisar." "Kaisar serta orang istana akan terpesona dengan hadiah itu. Tapi Ayah telah memberikan kirin untukmu. "Ayah. pipi t embamnya merona merah karena senang." kata Gemba. Ia kemudia n melihat ke bawah. Ayah tak ingin memintanya kembali. Arwah itu menggantung di tepi kesadaran seperti juga arwah ibunya.sudah lama berharap akan ke Maruyama karena ia memang bermaksud menghadiahkan ku da itu sebagai kejutan saat upacara yang akan datang. jasadnya dibuang ke parit dan tertimbun tanah.

Penduduk desa merasa khawatir selama musim panas.kannya: Kenji bunuh diri atas kemauannya sendiri. dia menjadi cepat kesal dan sikapnya menjadi susa h ditebak. mesk i tak ada yang menanamnya. lipatan kulit keriputnya semakin bergelayut. Gosaburo semakin kurus. Musim panas berlalu dan tak ada yang datang. bahwa salah satu atau keduanya s udah tewas. Hisao senang arwah kakeknya sudah pergi dengan damai. tapi m enyesali kematiannya. dia membenci Akio k arena menjadi penyebabnya. Bunga lili musim gugur berwarna merah tua pekat tumbuh di atas jasad Kenji. terutama Kotaro Gosaburo. dan walaupun tidak pernah membicarakan hal itu. Hisao agak senang men¬dengar kabar baik tentang eksekusi para pemuda itu karena akan mem adamkan harapan Gosaburo dan menguatkan ke-putusannya untuk balas dendam. sinar matan ya hampa. kare na tak ada kabar tentang nasib anak¬anaknya yang ditahan di Inuyama. Desas¬desus dan spekulasi kian bertambah: bahwa mereka sekarat karena disiksa. Akio makin tak sabar pada Gosaburo. Burung-burung mulai bermigrasi ke utara. dan malam Halaman 132 dari 500 .

wortel dan labu yang baik. Pohon maple dan pohon sumac berubah warna menjadi merah tua. Sistem pengairannya berhasil: sawah d i pegunungan menghasilkan panen kedelai. Rombongan itu berada di Inuyama di waktu yang bersamaan dengan Kazuo. Hari¬hari dilalui Hisao deng an memperbaiki pematang sebelum musim dingin. "Mengapa Otori melakukan pendekatan pada Kaisar?" tanyanya pada Kazuo. Dia k embali di pertengahan musim gugur dengan kabar gembira namun membingung¬kan: para sandera ma sih hidup. la membuat penggaruk tana h baru sehingga pupuk ter¬sebar lebih merata. menyebar dedaunan kering dan kotoran hewan di sawah. Saga Hideki. Ada sebuah tempat penempaan besi di desa itu. pohon bee ch berwarna tembaga. pohon bee ch berwarna tembaga. mengumpulkan kayu bakar dari hutan. dan baru akan berangkat ke Miyako. Rembulan di bulan kesembilan tam pak besar dan keemasan. wortel dan labu yang baik. Imai Kazuo dikirim ke Inuyama untuk mencari berita. "Apa maks udnya?" "Kaisar telah menunjuk jenderal baru. dan Hisao ke sana saa t ada waktu luang untuk memerhatikan dan membantu meniup panas dengan alat peng¬embus dalam pr oses mengubah besi menjadi baja. bobot. Pohon maple dan pohon sumac berubah warna menjadi merah tua. sudut s erta ke¬tajamannya. Dia juga membawa kabar lain: Lady Otori sedang hamil dan Lord Otori mengirim utusan dengan prosesi yang mewah ke ibukota. dan bereksperimen dengan bilah kapak. Di awal bulan ketujuh. masih di tahan di Inuyama. dan Hisao ke sana saa t ada waktu luang untuk memerhatikan dan membantu meniup panas dengan alat peng¬embus dalam pr oses mengubah besi menjadi baja. Sistem pengairannya berhasil: sawah d i pegunungan menghasilkan panen kedelai. dan amat gelisah dengan berita yang ketiga.dipenuhi jeritan angsa dan kepakan sayap mereka. sudut s erta ke¬tajamannya. iri pada berita ya ng kedua. mengumpulkan kayu bakar dari hutan. Ada sebuah tempat penempaan besi di desa itu. la membuat penggaruk tana h baru sehingga pupuk ter¬sebar lebih merata. willow dan ginko berwarna keemasan. menyebar dedaunan kering dan kotoran hewan di sawah. dan bereksperimen dengan bilah kapak. Hari¬hari dilalui Hisao deng an memperbaiki pematang sebelum musim dingin. willow dan ginko berwarna keemasan. yang selama sepuluh tahun ini . bobot. Rembulan di bulan kesembilan ta mpak besar dan keemasan. ipenuhi jeritan angsa dan kepakan sayap mereka. Sikap Akio kurang senang dengan potongan berita yang pertama.

"Ada yang berubah. Sebagai anak. asinan persimmon dan chestnut dikumpulkan lalu dikemas." Kazuo sepakat. pengkhianatan dan tindakan balas dendam yang selalu mereka laku kan dalam perjalanan ke seluruh Tiga Negara." sahut Akio. Akio mulai berlatih at raksi lempar bola lagi. Ia jarang mem¬buat kesalahan. Aku tidak percaya dia maupun Taku akan membiarkan ke matian Kenji begitu saja tanpa membalas dendam. jimat¬jimat dikeluarkan dan dibersihkan. Keluarga kita yang ada di Tiga Negara ini juga butuh tuntunan. ia pun hapal semua lirik lagu-lagu. pertikaian. senjata¬senjata diasah. bereaksi pada ancaman semacam itu. Ta keo pasti sudah tahu tempat kita ini. tentang perang zaman dulu. sandal jerami disiapkan dalam jumlah banyak. "Mengutus orang ke Kaisar. walaup un orang Halaman 133 dari 500 . menyanyikan balada kuno yang disukai penduduk desa. atraksi lempar bola." "Kalau begitu kita pergi ke Akashi lebih dulu. Otori menjadi lebih rapuh. "Ada banyak keluarga Kik uta di Akashi." Mata Akio berkilap dengan ekspresi yang tidak biasa. sebel umnya ia tidak ragu membunuh keluarga Kikuta." "Memang ada tanda-tanda kelemahan. Seminggu setelah pulangnya Kazuo. dan akan mengikut imu bila kau yang ke sana.sibuk memperluas kekuasaannya di seluruh penjuru wilayah Timur." ujar Akio penuh per¬timbangan." "Muto Kenji berhasil mengetahui ke¬beradaan kita... Kita harus ambil b agian dalam kejatuhannya: dengan bersembunyi kita tidak bisa me¬nunggu sampai orang lain memba wa kabar kematiannya kepada kita. aku dapa t merasakannya." "Ini waktunya bagimu untuk bepergian lagi. ayah Hisao mengajarinya ketrampilan teater keliling Kikuta memain¬kan drum. dan anak-anak itu masih hidup. kecuali mereka di¬sibukkan dengan hal-hal yang lebih men¬desak. tapi kombinasi antara pukulan dan makian Akio telah men¬jadikanny a cukup terampil. Kini muncul seorang ksatria yang bisa menantang Otori. Hisao bukanlah pemain pertunjukan yang berbakat: terlalu pemalu dan tidak menik¬ma ti menjadi pusat perhatian." kata Kazuo.

.

Gosaburo gembira menerima kabar dari Kazuo." Tak lama setelah Gosaburo pergi." Akio menjawab. engeluhkan kalau ia seperti bergumam sehingga sulit didengar. "Keponakan. p ergi meninggalkan desa. Tak sabar untuk segera berada di jalan. tapi di malam sebelum keberangkatan mereka." Akio memperingatkan. dan kehadiranmu membuatku jijik." sahut Akio. Tak sabar untuk segera berada di jalan. Otori membiarkan anak-anakku tetap hidup. Gosaburo menghampiri pintu kamar dan meminta apakah bisa bicara berdua dengan Akio. Hentikanlah semua pertikaian ini. seolah menekankan otoritas usia. Aku akan pergi bes ok pagi. "Sudah saatnya kita berun ding dengan Otori. Dia tidak langsung bicara pada Akio." "Begitu Takeo dan juga Taku mati.. Kita juga bisa ber¬kembang: pengaruh k ita bisa diperluas melalui perdagangan.. suaranya datar. "Aku mulai membusuk di sini. ketika Hi sao tengah bersiap untuk tidur. Gosaburo melangkah ke dalam kamar. melihat hal-hal baru. Gagasan untuk bepe rgian mem¬buat ia bersemangat sekaligus takut. Mari kita terima lawarannya untuk berdamai. tapi kurang bersemangat dengan pertunju kan dan gelisah meninggalkan makam kakeknya. ny aris kelaparan dan tidak lama akan musim dingin. "Aku akan kembali ke Matsue. p ergi meninggalkan desa. tapi kurang bersemangat dengan pertunju kan dan gelisah meninggalkan makam kakeknya. Gagasan untuk bep ergian mem¬buat ia bersemangat sekaligus takut. melihat hal-hal baru. Hisao sudah ber¬baring: ma lam itu ." Gosaburo menghela napas panjang. menyimpan cat atan. Aku akan setia padamu. dan menanyainya dengan penuh selidik .. Tiga Negara semakin kaya dan makmur sementara kita bersembunyi di pegunungan. Aku lelah. baru kita bicara tentang perdamaian. menggeser tutup pintu lalu berlutut dengan gugup.mengeluhkan kalau ia seperti bergumam sehingga sulit didengar. Akio memadamkan lampu. Aku ak an bekerja untukmu di Matsue seperti yang pernah kulakukan. Akio sudah setengah telanjang dan Hisao bisa melihat ekspresi kemarahan ayahnya." "Tidak ada yang boleh pergi meninggalkan keluarga Kikuta. menyediakan dana. "Tidak akan. "Sekarang enyahlah. Kita semua juga." ujarnya. tapi memberi isyarat agar tamunya boleh masuk dengan menggerakkan kepala.

diseret di atas papan. Keesokan harinya tubuh Gosaburo ter¬geletak di lorong. Setelah Akio pergi meninggalkan kamar. Sesaat ia berpikir tentang sepupu-sepupunya dan ingin tahu bagaimana cara mereka mati di Inuyama. Takeo dan Isamu. dan Takeo akan meng¬alami hal yang sama.terasa hangat dan ia tidak menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. "Tak ada yang boleh meninggalkan Kikuta dan bebas pergi tanpa hukuman. jangan bangun." dalam konflik dan kebingungan sehingga para saudagar mengambil keuntungan dari k ebutuhan pangan dan senjata para ksatria. lalu ke tanah. "Ingat itu. tapi ke¬mudian ia mendengarkan gerakan Akio: setiap s el dalam tubuh orang itu seakan merindukan belai kasih sayang. dan jangan pedulikan apa pun yang akan di degarnya. Begitu mereka kaya. seseorang tercekik dan meronta-roma: suara berdebuk berat. sebelum Akio kembali. Kemarahan Akio membuatnya bersikap kasar dan gegabah. ia sudah tertidur nyenyak dan tanpa mimpi bak orang mati. Kota Halaman 134 dari 500 . mereka tidak ingin kekayaan mereka dirampas ksatria yang sama sehingga mereka bergabung untuk melin¬dungi barang serta usaha m ereka. ayahnya. Terdengar beberapa kali suara pelan. kata Hisao berulang kali pada dirinya sampai tiba-tiba. Tak seorang pun berani menangisi kematiannya. Hisao berusaha untuk tidak bersuara karena kekerasan yang sewaktu-waktu akan menimpa dirinya. Suara Akio terdengar h ampir lembut saat menyuruh ia tidur. Isamu sudah dieksekusi. Aku sudah tidur." kata Aki o pada Hisao sewaktu mereka bersiap berangkat. dan Hisao merasakan kelembutan sesaat yang amat dirindukannya saat ram but¬nya dibelai sang ayah. berani m eninggalkan Tribe. Hisao membenamkan diri di balik selimut dan berusaha menutup telinganya. Dia mati dibunuh dengan gar otte. Penggalan ca haya menari-nari di balik kelopak matanya.

Saat ini Hisao tengah mengamati ayahnya. dengan pakaian tua yang lusuh. bahkan di satu desa yang tidak ramah: tak seorang pun mau memberi mereka tempat menginap sehingga mereka terpaksa berjalan lagi semalaman. kar ena rasa iba. baik dalam bidang materi maupun spiritual." kata Jizaemon. Hisao sedih . ni dikelilingi parit lebar yang digali untuk melindungi diri dari musuh. dan mas ing¬masing parit dengan sepuluh jembatannya dijaga prajurit dari masing-masing kesatuan. Di desa kelahirannya. lalu berusaha menyingkirkan perasaan itu. alat yang bisa menghitung waktu. Baik Akio maupun Kazuo tidak muda lagi . kayu manis dan gula: kata-kata yang belum pernah di¬dengarnya. seperti biasa.ini dikelilingi parit lebar yang digali untuk melindungi diri dari musuh. ayahnya kelihatan seperti bukan siapa¬siapa. tapi meningkatnya kesejahteraan di Tiga Negara serta per¬musu han dengan Otori membuat banyak yang pindah ke Hofu. ditakuti dan dihormati semua orang. dan ma sing¬masing parit dengan sepuluh jembatannya dijaga prajurit dari masing-masing kesatuan. Akio adalah Ketua Kik uta. dia melihat kalau ayahnya sudah tua." Mengira ayahnya akan bertindak seperti yang dilakukan pada Gosaburo. dan dari keuntungan kita bisa menghindari akibatnya. Mari kita dukung persiapan perang. botol kaca dan cabung minuman. Ada beberapa ku il besar yang melindungi dan mendukung perdagangan. membuka dirinya pada suara¬suara arwah. Kehadiran mereka di jalanan tidak mendap at sambutan baik. dan penampilan mereka sebagai seniman jalanan sudah hilang gregetnya. pada Akio saat menyambutnya dengan sikap setengah hati. Ada beberapa ku il besar yang melindungi dan mendukung perdagangan. baik dalam bidang materi maupun spiritual. "Masa kejayaan telah berlalu. manis dan pedas. Ia tak ingin Jizaemon mati sebelum mem¬perlihatkan sebagian dari nana bendanya. sementara di sini. mereka mencari benda dan pakaian yang indah . Sakit kepala yang tak asing mulai terasa . Keluarga Tribe pernah menjadi pedagang yang paling ber¬kuasa di kota itu. Ki ta bisa lebih berkiprah dalam banyak peristiwa dengan menyediakan senjata dan kebutuhan lainny a. Lagu-lagu mere ka telah ketinggalan jaman dan tak lagi populer. pemilik usaha importir sukses. cermin dan makanan baru yang lezat. Perjalanan terasa panjang dan melelahkan. karya seni dan kemewahan lain dari Shin dan daerah yang lebih jauh lagi. Hisao merasa iba. "Kita harus bergerak. Saat para penguasa semakin berkuasa. dan pedagang pelab uhan bebas ini menyediakan-nya dengan senang hati.

Tapi sudah terlambat: senjata Halaman 135 dari 500 . seolah dari kejauha n... Kabarnya. itu sebabnya Lord Otori mencari dukungan Kaisar. dan ada lagi. tak lama lagi jenderal itu akan memiliki senjata-s enjata baru. Otori pasti benar-benar kaya. perempuan itu berbisik. Kami sudah mendengar tentang kurir-ku rir yang dikirim Otori kepada Kaisar. "Nah. dan lebih dari itu." "Ya. Fumio tiba dua hari setelah penyelundupan itu dan berusaha mendapat¬kannya k embali. mereka berangkat hanya selang beberapa minggu sebelum kau datang: aku belum pernah melihat prosesi yang begitu mewah.lagi: separuh dunia menyelinap ke balik kabut. "Baiklah. "Benar. dan senjata api diselundupkan keluar Hofu kabamya dengan bantuan Arai Z enko! Kau kenal Terada Fumio?" Akio mengangguk. lalu mengancam akan kembali dengan pasukan lalu membakar habis kota itu jika tidak dikembalikan. pertama¬tama dia menawarkan sejumlah besar uang. Dia gusar sekali. "Tapi yang pasti peperangan tidak bisa dihindari selamanya. mungkin kau benar. tapi ia t idak mau mendengarkan. sepupu. dikaruniai dengan selera dan tingkah laku serta tutur bahasa yang halus: kabarnya itu karena penga ruh istrinya." "Dan Kaisar memiliki jenderal baru?" Akio memotong perkataan si pedagang yang penuh semangat." "Apa maksudmu?" "Selama bertahun-tahun Otori member¬lakukan embargo senjata api." terdengar olehnya Akio bicara. Tapi baru-baru in i embargo itu dilanggar.

setinggi langit!" Jizaemon menuang secangkir lagi sake dan memaksa mereka minum bersamanya. meskipun dahi¬nya makin berkerut dan wajahnya makin muram. dan bahkan menyimpan hasrat untuk balas dendam. dia pasti tengah bersiap bergerak melawan Si Anjing. Kapan lagi waktu yang tepat untuk pergi ke keluarga Muto gun a memperbaiki keretakan dalam Tribe. Hisao tahu riwayat Zenko: putra sulung Muto Shizuka. cucu keponakan Kenji. Zenko yang seharusnya menjadi Ketua Muto." gumam Akio. Dan Lord Otori takkan menyerang kota i tu. Ayahnya memang sudah mabuk ber at. "Jika dia berusaha mengambil hati Lord Saga." Hisao penasaran dengan jawaban Akio yang singkat. jika Zenko menyerang dari Barat maka dia akan terjebak di antara dua wila yah tersebut." "Waktu yang tepat untuk mendekati Zenko. guna menyatukan kembali semua keluarga?" Jizaemon. Dan harga jual besi dan bubuk mesiu it u setinggi langit. "Takeo sedang men¬dapat anca man dari Timur. "Tak ada yang memedulikan ancaman Terada. dan kabarnya dia tak sepenuhnya setia pada Takeo. Dulu dia juga penyelundup. "Sejak kematian Kenji. "Dia tak lebih dari perompak. Dicurigai kal au dia menyalahkan Takeo atas kematian ayahnya. Dirasakan sel uruh ototnya menegang. Dan harga jual besi dan bubuk mesiu i tu setinggi langit. Hisao terbangun tengah malam men¬dengar ayahnya berbisik pada Kazuo." sahut Kazuo. sepupu. sepupu. dan mengangguk setuju pada semua perkataan Jizaemon. tidak selama dia membutuhkan pedagang itu untuk memberi makan dan mempersenjatai pasukannya. mungkin senang berhasil menyingkirkan tamunya. "Zenko kuat sekaligus ambisius." katanya tertawa kecil. dan s audara sepupu dirinya." "Kurasa Zenko akan menyambutmu. Diaturnya agar mereka bisa be . menyediakan surat ijin perjalanan dan memberi pakaian bam serta barang dagangan lainnya. t api kedua orang itu tengah membicarakan hal lain: tentang Arai Zenko yang membiarkan senja ta api keluar dari jaringan Otori. dan setengah berharap mendengar lagi suara pelan pembunuhan. Zenko satu-satunya keluarga Muto yang tidak dikutuk keluarga Kikuta: di a tak terlibat dalam kematian Kotaro." bisik Kazuo. setinggi langit!" tu sudah dalam perjalanan ke tempat Saga.itu sudah dalam perjalanan ke tempat Saga.

Waktu itu ia mengikuti Sunaomi dengan menggunakan kemampuan Tribe. dan menyenangkan baginya membayangkan kalau orangtuanya mati karena marah. tapi dengan menyamar cara Tribe.pergian dengan kapal pedagang. tapi saat sam pai di pantai. Sebagai adik Sada. malam ketiga Perayaan Obon. dan amat terluka dengan sikap kedua orang¬tuanya karena lebih sayang pada Sunaomi. dan dalam beberapa hari mereka angkat sauh ke Kumamoto melalui H ofu. Maya pernah melihat Sunaomi menjadi anak cengeng karena mengira melihat hantu yan g sebenarnya adalah patung Kanon maha Penyayang yang belum selesai dibuat. Maya menyukai perannya sebagai anak yatim piat u. ada sesuatu di malam itu Halaman 136 dari 500 . dan mereka pergi ke Maruyama untuk bertemu dengan kerabat di sana dan mencan pek erjaan setelah kematian orangtua mereka. memanfaatkan cuaca cerah dan tenang di akhir musim gugur. terutama pada ibunya.* Maya tidak bepergian sebagai putri Lord Otori. Maya se makin membenci rasa takut Sunaomi karena itu belum apa-apa dibandingkan apa yang perna h dilihatnya di malam yang sama.

si kucing melolong. Arwah orang-orang mati itu mem alingkan pan¬dangan ke arah Maya dan si kucing menang¬gapi mereka. tubuh pucat mereka mengambang di permukaan tanah. cakar si kucing menggaruk-garuk batu kerikil di pasir pantai: melompat ke pepohonan di se kitar rumah itu. Penghinaan atas ketakutan Sunaomi membantu Maya men gatasi ke¬takutannya sendiri. penuh kesedihan dan kelaparan. seperti dalam mimpi buruk ketika sepotong kalimat yang tak jelas memb uat orang yang bermimpi me rasa ketakutan setengah mati. dan suara si kucing berbicara dalam dirinya. lalu melihat seorang laki-laki keluar dari rumah yang baru separuh hancur dengan membawa lent era. dan membuat bola mata Maya mengec il dan akhirnya tidak bisa lagi melihat mereka.yang menyentuh perasaannya. semburan air terbawa angin. getaran dedaun an. hasrat yang tak terpenuhi dalam diri mereka. Di mana . Tapi ia juga tak bisa me nyingkirkan ingatan akan pandangan mata si kucing dan suara-suara bergema dari arwah gentaya ngan. "Lihatlah apa yang bisa kulihat!" ang menyentuh perasaannya. meskipun tidak me¬mah ami apa maksudnya. "Lihatlah apa yang bisa kulihat!" Awalnya seperti permainan: latar yang gelap dadak terang. Maya menjerit kaget. mengatak an. dan juga geme ricik air ketika bocah itu kencing di celana. Tapi didengarnya Sunaomi menjerit. dan suara si kucing berbicara dalam dirinya. Kami sedang menunggunya. dan Maya menyadari kalau pantai dan hutan pinus penuh dengan hantu. sama tidak jelasnya dengan apa yang membuat tubuh kucing merasuk dalam sendirinya. mengata kan. Lalu tubuhnya melemas dan meregang seperti tubuh kuc ing. berdesakan di sekelilingnya. wajah mereka abu-abu. hewan¬hewan kecil berlarian ke sana kemari. cukup untuk mundur ke semak-semak dan pulang tanpa terlihat ke kastii. dendam tak berkesudahan. Maya berusaha kembali ke tubuh manusia¬ny a. Para arwah gentayangan tadi mundur terkena sinar lentera." Kata-kata mereka memenuhi dirinya bak teror yang menakutkan. bola matanya yang besa r menangkap semua gerakan yang ada. Ter¬dengar olehnya suara-suara seperti geme risik dedaunan tertiup angin musim gugur. Arwah-arwah mengejar Maya. "Di mana Penguasa kami? Bawa kami padanya. ju bah mereka putih. Ia melihat hantu-hantu itu dengan peng¬lihatan si kucing. Terdengar olehnya derak ranting patah. mengenali penyesalan pahit . sentuhan mereka terasa sedingin es di kulit hewan berbulunya. Ia tidak ingat bagaimana si kucing meninggalkan dirinya hingga ia kembali menjadi M aya.

atau seperti Shizuka dulu." sambung Maya." sahut Maya." Maya menatap gelombang ke Timur. "Aku lebih suka jadi mata-mata ketimbang harus menikah dengan lord. "Tapi dia menikah de ngan tabib Ishida. dan itu membuat Maya menyesal karena pernah me ndengar banyak cerita tentang para perompak jaman dulu dan kunjungan ayah¬nya kepada Lord Terada. dan mereka mem¬butuhkannya untuk membantu kapal melaju ke pantai Barat. Maya. Mereka telah melewatinya semalam. Tapi kucing itu mendatanginya lewat mimpi . hanya awan di atas gunung berapi di pul au itu yang terlihat. dan berusaha melindungi dirinya dari kerasukan arwah si kucing. meminta. Ia telah mewarisi si fat kejam dari Kikuta seiring dengan banyak bakat yang lain. tempat kota Hagi hampir menghilang di kejauhan: Pulau Oshima juga terbentang jauh di belakang mereka. Ia ingin melihat-nya. "Dulu Shizuka suka melakukan sesuka hatinya." gerutu Maya.Penguasa kami? Maya ketakutan setengah mati. "Kau bisa jadi mata-mata yang sangat hebat!" seru Sada setelah malam pertama di atas kapal. menakuti-nakuti dan membujuk dirinya. tapi kapal tidak boleh berangkat ter¬lambat: angin timur laut h anya terjadi beberapa hari lagi. "Aku ingin sepertimu." "Dia juga nenek Sunaomi. tak ingin melihat dan mendengar dengan cara sepert i itu lagi. dan kini dia sama saja seperti istri-istri yang lainnya. "Jangan meremehkan Muto Shizuka! Dia selalu jauh lebih dari yang k elihatannya. itu masalahmu!" Halaman 137 dari 500 ." Sada tertawa. "Kau iri.

di mana perempuan diberi banyak kebebasan. Muto Kenji sering bilang itu sebab¬nya kenapa aku tumbuh besar sama tinggi dan kuatnya seperti laki-laki. "Pernahkah kau ber harap menjadi seorang laki-laki?" "Ya. "Andai aku laki-laki. ketika aku masih kecil. sering. anak laki-laki sepertinya lebih dihargai. Sada mengamatinya. Ketika sampai di tahap yang paling buruk. dan bisa berti ngkah seperti keduanya. padat dan bera t. selalu berusaha mengalahkan mereka. gelap. Sada merawatnya tanpa mengeluh atau kata-kata bersim pati. ia tersadar ketika kapal berbelok mengitari tanjung tepat saat angin berubah ara h dan angin barat berhembus membawa mereka ke tepi pantai. tak masalah kalau ak u kembar. dan berpikir betapa bahagianya bisa selamanya ber ." sahut gadis itu. "Karen a aku suka padamu dan aku sayang pada Taku!" "Semua orang menyayangi Taku. Maya tidak sempat menangkap lebih banyak lagi bahasa pelaut yang menggoda dan ny aris tak bisa dimengerti karena gelombang laut mulai naik. lalu menatap wajah Sada yang tajam. Aku selalu menentang mereka . mem¬bujuknya untuk minum teh untuk mem¬basahi bibirnya. ia belajar bicara dengan gaya bahasa laki-laki dan perempuan." sahut gadis itu. dan Ayah tak¬kan berpikir untuk mengangkatnya sebagai anak!" Dan aku takkan berpikir untuk menantang pengecut ci lik itu pergi ke biara. Maya menatap Sada." "Benar. Maya merasakan sentuhan itu seperti sentuhan seorang pengasuh at au seorang ibu. bicara dengan gaya bahasa mereka dan menirukan gerakan mereka." Sada tertawa. serta gerakan. Sunaomi tidak akan datang tinggal bersama kami. Bahkan di kalangan Tribe. tak masalah kalau aku kembar. Maya berbarin g di pangkuan Sada yang melingkarkan lengannya yang panjang dan dingin di alis Maya. Andai aku lakiSangat tidak adil. Andai aku lakilaki. "Ya. aku tidak menyesal disuruh pergi jauh."Sangat tidak adil. bak kulit bulu hewan. "Andai aku laki-lak i. Dia meng¬ajariku cara meniru anak laki-laki. Kini aku bisa jadi laki-laki atau perempuan . tapi juga lembut untuk disentuh. karena seperti semua anak-ana k Tribe. memegang tengkuknya sewaktu ia muntah dan setelah itu mengelap wajahnya. den gan tulang pipi tinggi seperti anak laki-laki." "Kenji mengajarkan kita hal yang sama!" seru Maya." Maya berusaha meyakinkan. kau bisa menjadi laki-laki. Gerakan kapal yang naik turun membu atnya pusing dan tubuhnya terasa tidak enak. Sada seperti m erasa kalau di balik kulit Maya ada sifat hewan. dan itu sebabnya aku menyukainya.

" "Mimpi sepeni apa yang dialami kucing itu?" tanya Sada dengan enggan. bukit Halaman 138 dari 500 . Aku tak ingin naik kapal lagi!" Maya berhen ti sebentar lalu melanjutkan.. Diregangka n tubuhnya untuk me¬meluk Sada. "Kuanggap sikapmu ini berarti kau sudah baikan?" tanya Sada. "Sedikit. hampir seperti anak kecil. Pada saat itu hasrat menyelimuti dirinya pada gadis yang lebi h tua itu." Maya tengah menatap ke pantai di kejauhan.. melingkarkan lengan di tubuh¬nya. alaukah . Tapi aku tidak yakin apakah aku bermimpi. "Kau mencintaiku Sada?" "Pertanyaan apa itu?" "Aku bermimpi kau mencintaiku. balas memeluknya. sekaligus seperti hewan.. merasakan otot kuat seperti otot la ki¬laki. dan merasakan sekujur tubuhnya bereaksi dengan menggeliat. "Mimpi yang dialami hewan. kombinasi antara kekaguman dan kebutuhan: itu pertama kalinya Maya jatuh cinta. Diusap-usapkan hidungnya ke leher Sada." "Atau apa?" "Atau si kucing. Tadi rasanya sakit sekali. dan kelembutan yang tak terduga dari buah dadanya.baring di dalam pelukannya.

baik adanya. atau ia ditolak karena kurang trampil. atau sebaliknya kagum dengan segala yang bisa dilakukannya dan semua potensi dirinya. bebatuan hitam yang berada di tepiannya dengan ombak keabuan hijau dan putih. dan mereka turun dengan men . dan sampai ke muara. atau kastil. tempat rumput laut tumbuh. Permukaan air di sekitar telu k lebih tenang. bebatuan hitam yang berada di tepiannya dengan ombak keabuan hijau dan putih. Ia tak tahu mana yang lebih buruk: diterima oleh Taku hanya karena ia adalah putri Otori. rak kayu penopang rumput laut dan kapal nelayan berbadan cembun g tengah ditarik ke pantai. atau roh si kucing merasuki diriku. "Aku tak tahu kalau kau mencintaiku.ditumbuhi pinus di atasnya yang muncul dari air laut berwarna biru tua." sahutnya. dan punggung gadis itu melengkung karena nyaman. tempat rumput laut tumbuh. tapi juga tidak terlalu memuaskan. Sada mengira hampir bisa merasa¬kan lagi bulu di jari je marinya. "Itu sebabnya aku menyukai Tribe. Orang-orang meringkuk di tepi pant ai. Permukaan air di sekitar telu k lebih tenang. "Aku yakin kelak ini bisa berguna. itumbuhi pinus di atasnya yang muncul dari air laut berwarna biru tua. "Mereka tidak keb eratan kalau aku ini anak kembar. "Kalau kau terus lakukan itu. Apa pun yang berguna bagi mereka. rak kayu penopang rumput laut dan kapal nelayan berbadan cembun g tengah ditarik ke pantai. Di satu saat ditemukan dirin ya mengira kalau Taku akan mengenyahkannya karena tak mampu menolongnya. kurasa aku akan berubah menjadi si kucing. "Tapi aku memang menyayangi kuc ing itu!" Diraih lalu diusapnya leher Maya seakan-akan sedang membelai kucing. membetulkan jala dan menjaga agar api unggun tetap menyala yang memaksa garam keluar dari air lau t. dan sampai ke muara. tapi ia takut kalau gurunya itu terpengaruh dengan kewajiban pada ayahnya sehingga cenderung memperl akukannya dengan pengecualian. Orang-orang meringkuk di tepi pant ai. It u menurutku. Aku akan tinggal bersam a Tribe." ujar M aya sambil melamun. Muara berpasir terlalu dangkal untuk dimasuki kapal." goda Sada." "Kita lihat apa pendapat Taku!" Maya tahu Taku adalah guru yang tegas dan tidak punya perasaan sentimentil. membetulkan jala dan menjaga agar api unggun tetap menyala yang memaksa garam keluar dari air lau t. Aku tidak mau kembali pada kehidupan di istana." Nada suara Sada terdengar praktis. Maya menyeringai. Akhirnya akan jadi sesuatu di antara dua hal: tidak terlalu kecewa.

sinar matahari mewarnainya dengan warna merah muda. Dipasang ke dinding satunya. Di satu sisinya adalah toko depan. Sada bicara kepada salah satunya. Perahu-perahu itu sempit dan tidak stabil. Jendelanya dipalang dengan kayu. walaupun perjalanan nya jauh dan bawaannya banyak. ke kota Maruyama. Kita masuk saja dulu. membentaknya agar tidak berjalan dengan menggesekkan kaki ke tanah . ber¬dinding putih dan beratap abu-abu. yang kini tutup dan sepi. sepupu?" "Ini dia masalah datang. sambil berjalan tanpa mengeluh. Dua laki-laki berdiri di luar dengan bersenj ata pedang dan tombak lengkung panjang. Hari sudah hampir gelap saat mereka tiba di rumah yang memanja ng sampai ke sudut jalan. para awakny a tertawa ketika Maya memegang erat-erat bagian pinggir atas dari sisi perahu. Sesekali Sada berbic ara kepadanya dengan kasar. tentu kak. Nanti akan kuceritakan. Taku ada di Maruyama?" imbuhnya selagi gerbang dibuka lalu mereka menyelinap masuk. Maya menyahut. Ia terus merendah kan pandangan mata dan tidak bicara dengan siapa pun agar tidak dikenali. "Apa yang kau lakukan? Siapa anak itu?" "Adikku. terlihat mirip burung yang baru saja beristirahat. "Apakah mengira akan ada serangan." sahutnya.ggunakan tali ke perahu nelayan yang reot. Kastil berdiri di atas bukit kecil di atas sungai dan kota yang menyebar di seke liling¬nya. tapi hari ini tujuannya bukan ke kastil itu. dan atap rendahnya memanjang sampa i ke pinggiran atap. Maya. Halaman 139 dari 500 . ya kak. kau ingat padanya?" "Pasti bukan Mai!" "Bukan. sayapnya masih membentang. bukan Mai. serta berusaha menarik Sada ke dalam percakapan cabul saat mengayuh ke hulu. Bangunannya kecil dan indah. ada gerbang besar. Maya mengenalnya dengan baik dan sering tinggal di sana bersama ibu dan saudara¬saudaranya.

dan kemudian . karena kemamp uan Tribe bisa selalu dikem¬bangkan. Anak Kucing. Kami akan beri tahu kalau kau dan adikmu ada di sini.. apa yang akan Taku lakukan? Maya merasakan agak tahu: apa pun yang akan terjadi tidak akan mudah..." Ya. lalu Taku bisa tahu. "Memanggilmu? Dengan nama apa?" "Apa nama rahasiaku yang hanya di¬ketahui Tribe?" Sada tertawa hingga kehabisan suara.. "Mereka akan memanggilku apa?" ia ber¬tanya pada Sada seraya melangkah ringan ke a tas beranda."Ya." Maya membayangkan bagaimana seorang laki-laki atau perempuan menyamar se¬bagai prajuri t. Tapi mereka juga tahu kalau ini bukan urusan mereka. bar angkali. dan tak seorang pun. Ia harus menunggu sampai dua hari. Dia belum mampir seperti biasa. .. Tidak ada waktu untuk bosan atau cemas. me¬regangkan dan me lipat tubuh agar tetap lemas. menguasainya dengan sempurna. lalu menambah se¬potong kalimat yang kedengaran sem¬barangan. dia datang beberapa hari lalu. latihan mengingat dan mengamati. dari Miyako. Ia latihan ber¬diri tak bergerak dalam waktu lama. Dia bersama Lord Kono. karen a Sada menyibukkannya dengan ber¬bagai latihan Tribe yang tak ada akhirnya. Maya lakukan semua itu tanpa mengeluh karena sudah me¬mut uskan untuk mencintai Sada tanpa syarat. Kami akan beri tahu kalau kau dan adikmu ada di sini. atau menuang sake untuknya. bergerak cepat hingga nyaris tak terlihat dan menggunakan sosok kedua." "Mereka kenal aku?" bisik Maya sewaktu Sada meng-gandengnya melewati taman yang gelap ke pintu masuk. "Mereka akan mengarangnya. jadi mereka takkan bic ara banyak. penjaga atau pelayan: mereka mendekati Taku dengan komentar tentang kuda atau makanan. dia datang beberapa hari lalu. Dia bersama Lord Kono. dan berusaha membuatnya senang. dari Miyako." Anak Ku ci ng sudah kembali malam ini. dan Lord Sugita sedang menghibur mereka. "Ya. Dan Maya hanyalah anak k ecil: waktunya masih banyak. Maya hampir bisa mendengar suara pelayan memutus kan kalau pelayan itu perempuan berbisik di telinga Taku selagi membungkuk membasuh kaki Tak u. Dia belum mampir seperti biasa. dan Lord Sugita sedang menghibur mereka. bahkan Muto Kenji atau Kikuta Kotaro.

Di ujung beranda. "Uhhh. Saat wajah itu terlihat lelah. Diselesaikan tugasnya.Di senja hari kedua. hati Maya terpuruk. Sada be r¬diri sambil memegang lentera. lalu menutup mata. "Pandang aku. menembus dirinya. Maya bisa melihat wajah Taku. tidak tahu ada dala m dirinya. Mata Taku yang hitam. tapi sebelumnya ia mengamati reaks i di wajah Taku. Cahaya lentera berkeda p-kedip di balik kelopak matanya. Maya menahan tatapan mata Taku tanpa berkedip. setelah malam men¬jelang dan mereka selesai makan." gerutu Taku. menatap lurus ke arahnya. "Mengapa ayahmu mengirimmu padaku?" Halaman 140 dari 500 . separuh terkena sinar. tidak membiarkan ekspresi yang menunjukkan kelemahannya terlihat." kata Taku. ekspresi wajah yang tegang. Taku mengerutkan dahi. Maya menghampiri lalu berlutut di hadapannya. dan bahkan kesal." bisiknya. atau pikiran. melihat rahasia yang ia sendiri . Maya merasakan panasnya lentera di pipinya. se paruh dalam kegelapan. tapi Maya tak tahu apakah gerutuan itu karena Taku setuju a tau terkejut. dan di waktu yang bersamaan tidak berani mencari-cari ada ekspresi apa di wajah Taku. "Guru. dan memberi isyarat pada Sada untuk mendekatkan lentera. mem¬bawa nampan ke dapur. Tapi ia tak mampu mempertahankan diri dari Taku: merasakan seolah ada semacam bias si nar. membuat pikirannya kosong. lalu melangkah keluar beranda. Sada mem¬ber i isyarat pada Maya yang tengah menaruh mangkuk di nampan karena di rumah ini dia bukan lagi putri Lord Otori tapi gadis termuda sehingga menjadi pelayan bagi semua orang. buram.

"Jangan buang waktu." sahut Maya. kemudian ia bergumam." kata Taku pelan. tapi di sini ia harus tetap sebagai anak perempuan." "Tidak ada hubungannya kau suka atau tidak. Maya tidak menjawab selama beberapa saat. dan mengawasi kakakku kalau-kalau dia bertindak yang tak terduga ." "Aku tidak mau. bulunya beriak."Menurut Ayah aku dirasuki roh kucing." akunya. Dandani dia seperti anak laki-laki. Kau bisa ikut ke kastil denganku besok." sahutnya pelan. tapi tinggallah di si ni." "Aku bersumpah. "Ayah mengira Kenji kemu ngkinan mewariskan ilmu Tribe Menurut Ayah aku dirasuki roh kucing. "Bila sebelumnya aku tak percaya." sahutnya pelan. jangan ambil resiko. sekali. tidak pergi sendiri sesuka hatimu." kata Taku dengan agak kesal pada Sada. jangan menyimpan rahasia pada kami. Maya bereaksi dengan marah. Ka u harus berjanji kalau kau hanya akan melakukan apa yang Sada atau aku pinta. membuat tubuhnya melembut dan meregang." "Ini bukan waktu yang tepat. Pertanyaannya yaitu." sahutnya. "Biarkan aku melihat roh kucing ini. "Aku mem¬buntuti Sunaomi ke kuil Akane lalu melihatnya k encing di celana!" Taku mendengar sesuatu di balik ke¬beranian yang dibuat-buat itu. "Sangat me¬nar ik. langsung dan bukan seperti manusia. "Kau tak memercayaiku." Suaranya mengand ung kecurigaan dan tak acuh. "Aku sedang berusaha mengawasi Kono. kalau memang ada di sana. Terserah kau mau menjadi apa. kurasa sebaiknya aku menjaga agar Maya tetap di dekatku. lalu mengeong. lalu menyentuh pipi Maya dengan lembut." kata Maya datar. Tubuhnya gemetar. maka kini aku percaya." sahut Taku. bila Takeo memintanya. "Cukup. Sebagian besar . Tetap saja. "Aku tak mau mel akukannya lagi! Aku tidak menyukai perasaan yang menyertainya. Hewan itu menu rut dengan sendirinya. bersiap menerkam. "Lalu?" tanya¬nya. "Ayah mengira Kenji kemun gkinan mewariskan ilmu Tribe tentang hal-hal seperti ini kepadamu. bagaimana kita bisa memanfaatkannya? Pernahkah kau berubah wujud hingga benar-benar menjadi kucing?" "Pernah." "Tunjukkan padaku. Kemarahan menjalar ke sekujur tubuhnya . t elinganya menegak dan memamerkan gigi¬nya.

Aku di sini seperti anakyatim p iatu. tapi Maya tidak mer asa Halaman 141 dari 500 ." tutur Taku. Angin berhembus dan bersiul melalui celahnya." "Anak kembar cukup istimewa di kalangan Tribe. atau orang yang diasingkan. pikimya. Shigeko dan orangtuanya. Apa akan ada orang lain yang bisa mengenalimu?" "Tak seorang pun berani menatap langsung padaku. Dibukanya lipatan matras lalu membentangkan selimut.penghuni rumah ini sudah mengenalnya. "Ada yang harus kubicarakan dengan Sa da. ditemukan di desa terpencil dengan lebih banyak bakat yang dimiliki orang Tribe lainnya." Maya membungkuk normal dengan patuh dan mengucapkan selamat malam kepada keduanya." tutur Maya. Aku akan memperingatka n Hiroshi. "Karena aku anak k embar. Mungkin aku akan menjadi seperti Ayah." kata Taku tiba¬tiba. "Sekarang pergi tidur. Tidak lama setelah ia masuk ke dalam rumah. berjalan pelan melewati kamar-kamar panjang dan rendah ru mah itu. dia harus dilindungi sebaik-baiknya sebagai putri Lord Otori. "Tapi di mana adikmu ?" "Dia di Hagi dan akan segera pergi ke Kagemura. seorang pelayan mendekatin ya lalu menyuruhnya menyiap¬kan alas tidur. membawa musim gugur." "Guru." Mendadak rasa sakit hati mener¬ja ng diri Maya karena merindukan Miki.

meratapi musim dingin yang akan datang d an kematian mereka." "Kau lelah. Sepertinya berbeda. suara pelan mereka ber ganti dengan nyanyian terakhir serangga musim panas." sahut Taku. Di kejauhan Taku berkata. Sada tertawa. Ketika akhirnya i a berbaring. Maya mewarisi pendengaran tajam ayah¬nya. "Aku ajak Kono kemari agar dia bisa melihat kesetiaan di Maruyama kepada Otori. Maya unik kemung¬kinan sangat kuat. bila kau takut merasa bosan. Mereka menyuruhnya pergi tidu r dan ia mematuhinya. Aku cemas Zenko telah membiarkannya percaya bahwa Seishuu hendak memberontak. dan bahwa wilayah Barat takkan berpihak kepada Takeo. menanti untuk menemukan wujudnya. Didengarkannya suara-suara dari taman. "Kalau tidak." Sesuatu dalam nada suara Sada yang membuat tubuh Maya gemetar denga n gabungan .kedinginan. Didengarkannya suara-suara dari taman. membuat¬n ya mengalir cepat melalui urat nadinya. Mereka menyuruhnya pergi tidur dan ia mematuhinya. Yang kulihat bukanlah seperti anak per empuan: sesuatu yang tak berwujud. tapi mereka tidak melarang¬nya untuk mendengarkan." "Atau tanggung jawab lain yang tak bisa kuhindari!" "Kenapa kau terkejut saat menatap matan¬ya?" "Aku mengharapkan tatapan anak perempuan." "Kuharap aku tidak harus melakukannya. dan menghembus¬kan napas dengan amat perlahan hingga nyaris tak terdengar. berusaha menyaring bisik-bisik dari para gadis ya ng berbaring di sisi kanan dan kirinya. Terutama sekali bagi dirinya sendiri." "Dan berbahaya?" "Mungkin. tapi mereka tidak melarang¬nya untuk mendengarkan. "Kau tidak akan bunuh diri." "Maya akan menjadi hiburan yang menyenangkan. Perlahan-lahan akhirnya mereka ter¬diam. akan kugorok leherku. dipasang telinganya baik-baik." "Bisakah Hiroshi dipercaya?" gumam Sada. edinginan. dan kini semakin peka." "Apakah arwah seorang laki-laki. bulan menarik darahnya dengan keras. Didengarnya kepakan sayap burung hantu yang tenang sewaktu terbang melew ati taman. Aku mungkin akan melakukannya karena bosa n harus bersama Lord Kono lebih lama lagi. sepupu. Sinar r embulan mem¬bentuk kisi-kisi di layar kertas. atau sesuatu yang berhubungan dengan kerasukan si kucing?" "Aku sungguh-sungguh tidak tahu.

tapi lalu berkata dengan singkat." sahut Sada. ku¬pijat dahimu." Sesaat hening. Taku menghembuskan napas panjang. pada pasangan yang tidak terlihat. Bawa dia ke kastil saat tengah hari." "Sada. meng¬hirup aroma tubuh itu bercampur dengan aroma Taku masi h teninggal Halaman 142 dari 500 . "Aku akan me¬nemuimu dan May a besok pagi. Lama setelah itu. Sada berkata. "Aku tidak meng¬harapkan itu!" "Kita tumbuh dewasa bersama.antara kerinduan dan kecemburuan. Ada semacam kekuatan hasrat jatuh di taman yang gelap. sepertinya Maya men¬dengar langkah kaki di beranda. Maya menahan napas. Maya berbalik menghadapnya. Berpura-pura ter¬tidur ." Taku be rhenti sejenak seolah ingin berkata lagi. Taku bicara dengan suara pelan. "Mari. lalu menarik selimut hingga menutupi kepalanya. tidak ada yang terjadi di antara kita yang tidak berani apa-apa. 'Tidak perlu berarti apa-apa." Sada masuk ke kamar perlahan lalu ber¬baring di sebelah Maya. Ma ya tidak tahan mendengarnya. lebih pelan lagi.

Kau adalah salah seorang pelayan Lord Taku. at au berhasrat ingin mengabdikan diri hanya untuk orang yang dicintai. "Tenang. Sada mencengkeram lengannya. "Aku dengar semuanya. Selama beberapa saat ia tidak membuka mulut . "Jangan bilang pada siapa-siapa." gumamnya. Ia tidak dapat memutuskan mana yang paling ia cintai: ia ingin meme luk mereka berduatubuhnya. Menurutnya perasaan berlebihan semacam itu aneh." Sada menghardiknya." "Seperti Taku. dan berharap Sada adal ah Taku." Maya mencoba mengatur tubuh agar ter¬lihat lebih mirip anak laki-laki. bahkan men¬jijikkan. Pada saat itu Maya merasakan dirinya men¬jadi milik mereka selamanya. seperti laki-laki yang masih di bawah umur." sahut Maya tanpa pikir panjang." Sada tidak bisa menahan senyum. Maya balas memeluk.di tubuhnya.* Sebagian laki-laki mengutamakan cinta. tapi Muto Taku bukanlah salah satunya. lalu katupkan bibirmu. kuharap. Ia tidak dapat memutuskan mana yang paling ia cintai: ia ingin memeluk mereka berdua. Beajarlah meng¬atasi rasa bosan. pelayan yang terendah derajatnya. merasakan panas tubuhnya. Keesokan harinya Sada membangunkannya pagi-pagi lain bersiap memotong rambutnya yang panjang sebahu dan menariknya ke belakang dan diikat ke atas. deng an nada mendukung. "Kau bukanlah gadis yang cantik. Kau tidak boleh kelihatan cantik! Nanti ada ksatria yang membawamu kabur. "Tapi bisa menjadi a nak laki-laki yang tampan. "Kau jangan terlalu menarik perhatian. Membentak sedikit lagi. "Kau mendengarnya mengatakan itu? Apa lagi yang kau dengar?" Maya menjauhkan diri dari gadis itu." "Apa yang nanti harus kulakukan?" "Sedikit sekali. membiarkan dahinya tidak dicukur. dan selalu menertawai orang yang tergila-gila karena ci . tapi kemudian ia berkata." kata Sada seraya tertawa. Ditariknya Maya lalu dipeluknya. rambut dan pakaiannya yang masih terasa asing membuat matanya berkilat dan pipinya bersemu merah. tapi rasa s enang.

kata Sada waktu itu. dan semua kesenangan yang bisa dinikmati dari tubuh perempuan. tapi gagasan bersikap setia kepada istrinya tidak pernah melintas di benaknya. hanya menginginkan kehadiran Sada di sisinya. menya¬yangi juga memerc ayai istrinya untuk meng¬atur rumah tangga. Kejadian seperti itu belum pernah dialaminya. berserah diri kepadanya. Taku hampir tidak bisa tidur. hasrat keperempuanan Sa da yang menang¬gapi hasrat dirinya. hampir Halaman 143 dari 500 . tubuh Sada yang sama tinggi dan kuat dengan tubuh nya. Ketika ada perempuan menyatakan terang-terangan mencintainya. ia sulit ber¬konsentrasi pada apa yang sedang dibicara¬kan. hampir seperti tubuh laki-laki namun sekaligus tubuh perempuan. seperti yang sering terjadi. Dan saat bicara dengan Sugita Hiroshi di taman kastil di Maruyama. Taku justru menjauhkan diri.nta. dan dia berubah dari teman. Kita tumbuh de wasa bersama. kepuasan yang begitu menusuk serta sempurna. Ia menyu kai perempuan. terangterangan membenci kelemahan mereka. Maka i ngatan yang tak mau pergi di benaknya tentang keintiman yang terjadi tiba-tiba serta tidak dihar apkan bersama Sada mengganggu pikirannya. Tidak perlu berarti apa-apa. hasrat yang begitu bes ar. mengasuh anak-anak dengan baik dan setia ke padanya.

"Kepergian Matsuda tidak semendadak atau mengejutkan seperti kematian Kenji. dan Taku pun ber¬kata. cuaca tampak cerah di musim gugur ini. Tak ada hal yang terjadi di antara kita yang tidak berarti apa-apa. Dia belum bisa melupakan kematian Kenji. Dan beliau memiliki penerus yang layak. menjadi kekasih." tutur Hiroshi ragu-ragu. matahari baru saja mulai mengangkat kabut dari tum-pukan jerami berwarna keemasa n di sawah. dan sejak itu terikat oleh h ubungan persahabatan yang amat dalam. yang diadakan dalam beberapa minggu mendatang di Maruyama. Taku berperawakan kuat dan sulit digambarkan. Kau akan serasi d engan Lord Takeo seperti layaknya Kenji. Saat itu masih pagi. "tapi kedatangan mereka agak ter¬tunda karena mereka ke Terayama untuk ziarah ke makam M atsuda Shingen. Lord Kono dan tuntutan dari Kaisar. Tak ada hal yang terjadi di antara kita yang tidak berarti apa-apa." komentar Taku. tanpa tahu dari mana datangny a kata¬kata ini. wajah yang mudah berubahubah ekspresi khas Muto. . menjadi kekasih. Ini kesem-patan pertama bagi kedua laki-laki ini bisa bicara berdua sejnk kedatangan Taku ber¬sama Lord Kono.seperti adik." "Aku merindukan ketrampilan dan pengetahuan pamanku. "Tam¬paknya keadaa n semakin rumit setiap minggunya. sedangkan Sugita Hiroshi di¬anggap tampan. Langit biru pucat te rang bak telur burung. waktu yang luar biasa panjang. Saat masih kecil. Kep ala Biara kami sudah berusia lebih dari delapan puluh tahun. Mereka membicaraknn tentang pertemuan yang akan datang dengan Lord Ot ori dan Arai Zenko. yang bahkan aku sendiri tak bisa mem ahaminya. Seperti yang dimiliki pamanmu pada dirimu.." "Pasti Takeo sedih kehilangan dua guru¬nya di tahun yang sama. mereka berdua sering bertengkar dan saling bersaing merebut pe rhatian Takeo. "Takeo dan Lady Shigeko sudah harus di sini pada bulan purnama berikutnya. eperti adik. kesibukan Takeo tampak tidak seperti biasa. beranjak dua puluh tujuh saat tahun baru nanti.." "Selama aku di Hagi. dan Taku pun ber¬kata. Taku mengalihkan kembali perhatiannya pada kawannya. setengah kepala leb ih tinggi dari Taku dan berbahu lebih bidang." kata Hiroshi. Niat buruk kakakku. penolakan Kikuta untuk berunding. dengan kulit pucat dan bentuk tubuh gagah kh as klas ksatria.. tanpa tahu dari mana datangn ya kata¬kata ini. mereka pernah menjinakkan kuda-kuda jantan bersama. Mereka sebaya." aku Taku.

dia baik-baik saja. Halaman 144 dari 500 ." "Terjadi sesuatu pada Lady Shigeko?" sela Hiroshi. kurasa." Sebenarnya ia tidak perlu menyebut nama itu. "Dia berpakaian seperti anak laki-laki.. aku harus memperingat¬kanmu kalau-kalau kau mengenalinya. "Dia dalam keadaan sehat keti ka aku bertemu dengannya belum lama ini. Masalah si kembar. "Kehamilan Lady Otori.."Baiklah." Hiroshi setuju. "Zenko dan Hana akan datang. masalah putri¬putrinya." ujar Taku." sahut Taku. "Maya ik ut bersamaku di sini.. Tidak banyak yang luput dari pandangannya. pikirnya. namun ia tak mampu menahan diri: Ak u terobsesi." "Di sini bersamamu?" ulang Hiroshi merasa terkejut. kemudian tertawa d i saat bersamaan. Barangkali kau bahkan tidak memerhati¬kann ya. dia memiliki kek hawatiran lain." "Sejauh yang kutahu. terlepas dari kesedihan dan urusan-urusan negara ini. Mereka berdua terdiam sesaat." seru Hiroshi. kerabat jauh keluar gaku: namanya Sada. Dia dirawat seorang perempuan muda yang juga menyamar menjadi laki-laki. "Mereka pasti akan mengenalinya!" "Hana mungkin saja." "Memang benar.

T ak perlu mengubur diri di Terayama bak pertapa. penasar an apa lagi yang menahan Hiroshi tidak ingin menikah. a ku senang menjadi pengurus Maruyama dan mempertahankan¬nya untuk Lady Shigeko. gugur dalam perang." "Tidak semua yang kuminta." "Akan lebih baik bagi Takeo bila kau yang menikah dengannya. "orang bilang kau tidak bisa melupakannya. terutama ketika dia tidak pun ya anak laki-laki. tapi aku senang k akakmu yang menjadi suaminya. Takeo atau Shigeko akan memberi apa pun yang kau minta. dan itu sebabn ya kau tidaKau tahu." sahut Hiroshi pelan. Aku dikirim ke Terayama untuk mempelajari Ajaran Houou. "Jangan s alah paham. nyaris bicara pada dirinya send iri. Aku tidak memiliki keluargaku sendir i. aku cepat pulih dari perasaan itu. Hana memang cantik. "Mereka saling mengisi ambisi." ujar Taku. "orang bilang kau tidak bisa melupakannya." Hiroshi sepakat. seperti yang kau tahu. dan itu sebabnya kau tidak menikah!" Mereka sudah pernah membicarakan masalah ini." kata Taku. kecuali kalau dia memintaku berada di sini. Tanah mili k keluargaku dikembali¬kan ke wilayah kekuasaan itu." kata Taku. "Memang benar ada saat ketika aku sangat bersemangat ingin menikah dengannya. Bulan depan d ia akan menerima wilayah itu. ketika Maruyama habis karena gempa bumi." "Aku yakin Lady Shigeko akan mem¬butuhkanmu setidaknya selama satu atau dua tahun. dan dengan tangkasnya mengubah topik pembicaraan. Aku tidak kecewa atau pun tertekan. tapi keingi¬ntahuan Taku b angkit oleh obsesi barunya sendiri. Aku melihat panggilan hidupku adalah untuk melayani. Kuk ira nantinya Takeo akan mengangkatku sebagai putranya. aku akan kembali ke Terayama. "Jadi kau masih tergila-gila pada Hana. Ku kira aku memujanya dan amat meng¬inginkannya menjadi bagian dari keluarga itu ayah kandungku. aku tinggal di kediaman Lord Takeo."Kau tahu." . Kau harus menikah dan punya anak. Sementa ra itu untuk tanah. "Tapi kau belum mengatakan alasan Maya berada di sini. dan paman beserta putranya lebih memilih untu k mencabut nyawa ketimbang menyerah pada Arai Daiichi." Hiroshi tersenyum mengejek dirinya sendiri namun tanpa perasaan getir. Saat itu aku masih sama bodoh dan angkuhnya dengan para pemuda pada umumnya." 'Tidak.

sebagai putri Lord Otori."Dia perlu dijauhkan dari sepupu¬sepupunya yang kini berada di Hagi." ujar Taku akhirnya. akui saja!" "Dia lebih berguna bila tidak dikenali. "Pada dasarnya kau memang su ka intrik. Bila dia menjadi Lady Otori Maya. sedangkan di Tribe dia bisa mengambil berbagai peran yang ber¬beda. Aku harus selalu meng¬a wasinya juga. "Lagipula dia adala h anak dari kalangan Tribe. Halaman 145 dari 500 . Hiroshi berkata. dan dari kembar annya." "Apakah anak itu dalam bahaya?" "Dialah yang bahaya. itu sebabnya Sada ikut bersamanya." "Kurasa dia bisa melakukan semua tipuan yang kau gunakan untuk menggodaku." sahut Taku." kata Hiroshi tersenyum. "Tapi kenapa dia tidak datang secara ter¬buka. Aku mengandalkanmu untuk menutupi keti dakhadiranku dan menghibur Lord Kono dan sebelum aku lupa. Dan harus ada yang meng awasinya terus-menerus. maka hanya sampai sebatas itu perannya. dan tingg al di sini seperti yang sudah sering dilakukan¬nya?" Ketika Taku tidak segera menjawab. Aku tak bisa menjelaskan semua alasannya. meyakinkan agar klan Seishuu benar¬benar s etia pada Otori.

pernah menyelamatkanku lebih dar i sekali!" sahut Taku dengan pedas. pernah menyelamatkanku lebih dari sekali!" sahut Taku dengan pedas. kurang lebih sama dengan Tribe.. dan setelah beberapa tahun b osan dengan kedamaian lalu berperang lagi. aku percaya Ajaran Houou juga memiliki tip uan!" Tipuan-tipuan itu. sebagaimana kau me¬nyebutnya." "Baiklah. seperti Miyoshi Gemba dan Makoto. saat datang nanti dia akan mem¬beritahukan pada Lord Kono bahwa utusan khusus kami dalam perjalanan ke Miyako untuk menyiapkan kunjungan tahun depan. memiliki banyak kemampuan ya ng kelihatannya supernatural. "Selain itu. aku percaya Ajaran Houou juga memiliki tip uan!" "Para Guru Besar. menurut keyakinan dan kode kehormatan¬nya. dan belajar strategi perang sebelum beru . "Selain itu. cepat atau lambat Takeo juga akan me nye¬rangnya. Kemampuan kami mungkin saja berasal da ri keturunan.. Tapi apa para Guru Besarmu berhasil membuj uk Takeo agar tidak ber¬perang. "Maaf. paling tidak." sahut Hiroshi. "Aku diajari banyak cara untuk mem¬bunuh.." "Ayah. Kita menyembunyikan hasrat haus darah dan hasrat untuk balas dendam dengan kode etik kehormatan. Si Pemburu Anjing?" "Tindakan apa pun yang menghindari perang adalah tindakan yang bijaksana. pantas mati! Aku tak¬kan lupa saat itu ketika kupikir Takeo s eharusnya membunuh Zenko. Ini wajar dalam masyarakat kita. sebagaimana kau me¬nyebutnya."Tipuan-tipuan itu. "Dia mengkhianati Takeo setelah ber¬sumpah untuk bersekutu dengannya!" seru Taku." tutur Hiroshi tenang. tapi tidak ada artinya tanpa latihan." "Ayahmu bertindak dengan benar. Kita bertempur sampai bosan. "Tapi bila dia tidak bertindak seperti itu." "Apakah menurutmu kunjungan ini bijak¬sana? Bukankah Takeo justru menempatkan diri di bawah kekuasaan jenderal baru ini. yang kita langgar sendiri ketika tampak pant as dilaku¬kan. baik di Wilayah Timur atau pun di Wilayah Barat?" "Ya. kita berdua menyaksikan ayah kita mati di depan mata kepala kita. tapi ini adalah kata-kata aneh yang keluar dari mulut seorang ksatria!" "Taku. tapi sebenar¬nya itu adalah hasil dari latihan selama b er¬tahun-tahun dan pengendalian diri." "Apa benar kau belum pernah membunuh seorang pun?" tanya Taku sekonyong¬konyong..

" Ada gerakan di ujung taman. Si bangsa wan ditandu mewah yang berlapis emas. sedang¬kan kedua pemuda itu menunggang kuda. Cuaca musim gugur tetap cerah dan terang. dan seorang penjaga berlari menghampiri lalu berlutu t di depan Hiroshi. Hiroshi dan Taku menjelaskan kepada Kono tentang kekayaan wilayah itu. tapi aku belum pernah bertarung dalam penempuran yang sesungguhnya. Si bangsawan mene rima semua Halaman 146 dari 500 . Kuharap takkan pernah. dan a ku belum pernah mem¬bunuh siapa pun. warna dedaunan semakin hari semakin tu a. Kono ingin melihat berbagai kota dan pedesaan sehingga mereka melakukan banyak ekspedisi." "Aku khawatir kalau kakakku dan Kaisar akan membawamu ke kancah peperangan. Teru tama karena kini mereka sudah memiliki senjata api." "Saat nanti kalau kau di medan perang. Lord Sugita!" Dengan kehadiran si bangsawan. tapi Hiroshi tampak lebih terbuka dan ramah. dan kesetiaan mutlaknya pada Lord Otori.mur sepuluh tahun. Kau bisa pastikan kalau mereka takkan ti nggal diam sampai mereka menjajal habis-habisan senjata baru mereka. pertahanan serta juml ah tentara. "Ka u akan mempertahankan diri layaknya semua orang. kau akan berubah pikiran. kepuasan penduduknya. Untuk sementara ini aku akan lakukan apa pun untuk menghindari pera ng." "Barangkali. "Lord Kono sudah datang." kata Taku. sikap mereka berdua agak berubah: Taku menjadi le bih waspada. anak-anak R aku.

sesekali menemukan dirinya berada cukup dekat dengan Kono dan para penasihatnya untuk men dengarkan apa yang mereka gumamkan. Maya mulai menyesali kematian si kucing dan ker asukan roh hewan itu. Dikiranya ia akan suka men¬jadi si kucing. menggunakan sosok kedua. "Kau harus menerimanya. Maya ingin bekerja sama. Kadang-kada ng Taku datang larut malam. sesuai cara Tribe yang mengendalikan kebutuhan tidur mereka dengan cara yang sama untuk mengendalikan semua kebutuhan dan hasrat mereka. Maya harus mengerahkan seluruh tenaga dan konsentrasinya untuk pertemuan malam hari ini dengan gurunya." sahut Taku." Kemudian Maya merasa malu dengan kelemahannya. Ia ingin menjadi anak-anak saja. tanpa kemampuan Trib e dan tidak punya saudara kembar." kata Sada. tapi ternyata kucing itu lebih kejam dan menakutkan dari yang ia perki¬rakan. tap i ia mengingat dan mengulang kata demi kata untuk Taku sewaktu datang ke rumah tempat ia dan Sada tinggal. Sebelumnya ia merasa pelatihan Tribe mudah: menghilang. Percakapannya kedengaran tidak menarik dan sepele. Kucing it u ingin menariknya masuk ke dunia lain. pekerjaan ini be rjalan lambat dan banyak tuntutannya. tapi takut dengan apa yang kemungki nan terjadi padanya. hingga perasaann ya yang sebenarnya tidak diketahui. tapi itu tidak ada apa-apanya di¬bandingkan dengan tuntutan yang baru. Acapkali ia merindukan berada di rumahnya di Hagi bersama ibu dan kakak juga adiknya. seperti yang Taku lakukan setiap dua atau tiga hari sekali. "Yang bisa kulakukan hanyalah membantumu belajar mengendalikannya. Taku kerapkali kelelahan dan tegang." "Kau sudah terlanjur melakukannya. dan menguasainya. kadang dengan kemarahan. Maya tidak membiarkan sikap Taku memengaruhi diri¬nya.informasi ini dengan sopan santunnya yang tenang seperti biasa. "Aku tidak bisa. ingin men¬jadi seperti Shigeko. dunia tempat para hantu dan arwah. ia memohon pada Taku untuk menyingkirkannya. . hingga perasaanny a yang sebenarnya tidak diketahui. Terkadang Maya turut dalam perjalanan¬perjalanan ini. kadang dengan wajah cemberut yang dingin. menunggang kuda milik Sada. Maya harus bangun cepat. kesabarannya hampir habis. dan betapa pun larut¬nya. nformasi ini dengan sopan santunnya yang tenang seperti biasa. Taku selalu ingin bertemu Maya. tapi cara yang baru ini sepertinya j auh lebih sulit dan lebih berbahaya. Menjadi anak laki-laki seharian telah menguras tenaganya. bahkan bila Maya sudah tertidur.

Maya sudah tahu kalau ayahnya dikenal banyak o rang."Kucing itu bisa memberimu kekuatan. Kegembiraan kian bertambah tahun ini dengan kenyataan bahwa Lord Otori sena putri sulungnya." kata Taku pada Maya saat ia menanyakannya. bahkan dicintai. Tersiar juga berita bahwa wila yah ini secara resmi akan dipersembahkan kepada Shigeko karena sekarang usianya sudah mencukupi. Shigeko akan mengganti nama dan sejak saat ini dikenal Halaman 147 dari 500 . Lady Shigeko.* Bulan purnama di bulan kesepuluh semakin dekat. Pendudu k kota turun ke jalan setiap malam dengan pakaian berwarna cerah dan sandal baru sambil bernyanyi." kata Taku. kau ha rus meraih dan memanfaatkannya!" Tapi meski berada di bawah pengawasan dan bimbingan Taku hingga Maya sudah terbi asa dengan roh yang hidup dalam dirinya. me¬lambaikan tangan di atas kepala. "Hiroshi sudah membic arakannya denganku. pe¬waris Maruyama. tapi ia tetap tidak bisa melakukan apa yang Taku h arapkan: mengambil bentuk kucing itu lalu memanfaatkannya. "Memang benar. "Kekuatan itu sudah ada. akan meng¬hadiri perayaan. dan di mana-mana persiapan Peray aan Musim Gugur telah dimulai. tapi tak sepenuhnya me¬nyadari sampai tahap apa hingga mendengar¬nya sendi ri dari mulut orang-orang yang saat ini berbaur dengan dirinya.

ebagai Lady Maruyama." kata Taku sewaktu Sada mengungkapkan rasa terkejutnya karena Taku datang cepat. Malam itu dingin dan terang. Maya tak menduga Taku datang begitu cepat ia sudah di sana sejak kemarin malam. dari para penyanyi balada yang menyanyikan dan menceritakan kisah-kisah Otori di sudut jalanan dan tepi sungai. Ketiganya berada di kamar kecil di ujung rumah Tribe. sebaiknya kau berubah menjadi anak perempuan lagi sebelum usiamu semakin bertambah!" Taku menggodanya. aku tidak bisa jauh darimu. Taku langsung berpaling dan menatap Sada dengan pandangan yang membuat hati Maya berdebar seka ligus cemburu. tapi aku ingin memimpin Tribe!" sahut Ma ya.sebagai Lady Maruyama. "Kau harus tunggu sampai aku mati!" Taku tertawa. "yang percaya k alau sudah menjadi haknya untuk memimpin Tribe. "Aku tidak tertarik dengan Tiga Negara. Empat hari sebelum pumama. Lady Shigeko kelak akan memimpin Tiga Negar a. nama yang sering dide ngar. sebagai kerabat tertua Kenji." bisik Taku pada Sada. tidak lagi berkelakar. dari Shizuka. bulan sudah makin membes ar dan menguning." "Lady Maruyama. seraya menyentuh lengannya. "Lihat saja. Per empuan belum . Taku minum sake. Meski udara dingin. "Lalu ada kakakku. "Ibuku sekarang yang memimpin Tribe. mereka bertiga duduk berdekatan di dekat tungku batu bara. "Jangan bilang begitu!" Sada memper¬ingatkannya. dari Chiyo. tapi taman penuh sinar bulan dan bayang-bayang pekat. Satu lentera kecil kalah dengan gelapnya ruangan i tu. daun jendela tetap terbuka." ulang Maya. Ke¬dengarannya seperti legenda. selimut tebal menyelimuti tubuh mereka." "Aku takut ada juga orang lain yang tidak setuju Shizuka menjadi Ketua Muto. Sada yang tak bisa menyembunyikan rasa senang. tidak bisa menahan diri untuk terus menyentuh T aku. tapi baik Sada maupun Maya tak suka rasanya.

" katanya pada Sada. semua orang tahu itu. disela dengan teriakan-teriakan parau. "Tidak ada lagi?" Sada menggeleng. Apakah dia bepergian seorang diri?" "Imai Kazuo bersamanya. mereka lebih memilihmu." "Putra siapa?" Taku duduk tegak. anak laki-laki berusia sekitar enam belas tahun. tapi penunjukan ibumu telah menyebabkan perpecahan. "Kikuta Akio terlihat di A kashi. Halaman 148 dari 500 . "Bukan p utra Akio. Dari kota terdengar musik dan nyan yian. Mereka menggerutu kalau tindakan ini menying-gung dewa-dewa. Dia berangkat ke Hofu dua minggu lalu. "Suruh anak itu tidur. Mengapa kau beg itu kaget?" "Kau tidak mengenal siapa anak itu?" "Dia adalah cucu Muto Kenji. "Aku mendengar satu desas-desus hari ini. dan putranya. Lalu sepertinya dia ingat akan k ehadiran Maya." kata Sada. "Kurasa itu adalah rahasia Kikuta. Bukannya menginginkan Zenko. tabuhan genderang dengan irama tegas." gumam Taku. "Dan cari tahu mau ke ma na dia dan apa tujuannya.pernah memimpin keluarga itu. sadar akan hawa panas di satu sis i wajahnya. kan?" "Sepertinya ya. dan udara dingin di sisi wajah yang satunya lagi." "Sebaiknya kita segera kirim orang ke Hofu." Maya mendengarkan dengan cermat." sahut Sada. pastinya. orang-orang tidak suka bila tradisi diubah." kata Taku. tanpa bicara.

" kata Taku. "Tutup jendelanya sebelum pergi. dan begitu berada di kamar pelayan ia justru merasa lebih dingin." . "Udara semakin dingin. men¬dengarkan dengan agak takut suarasuara hampa para arwah. sadar akan bola matanya yang membesar dan pandangannya yang tajam."Maya." perintah Sada. kalau Ta ku akan merasa senang dan memujinya. kata¬kata yang paling mengguncang diri Maya daripada semua yang pemah dialaminya." Sada berdiri membantu. lalu bangkit berdiri. Maya. tapi ia sudah belajar mematuhi Sada dan Taku dalam segala hal. dan me¬lo mpat ke jendela. melayang melewatinya." perintah Sada. dan menurut ramalan. dan gemetar tubuhnya berubah menjadi sesuatu yang lain. Sada bicara dengan nada setengah malas. akan menjadi saru-satunya orang yang bisa membawa kema tian padanya. tapi bergema dalam roh kucing yang belum m ati. merangkum percakapan sebelumnya. Ia sudah berada separuh jalan ke gang selasar ketika ia sadar tengah bergerak melayang di atas permukaan tanah. Jauh dari api membuat Maya kedinginan. tidurlah di kamar pelayan. lalu menjerit keras ketakutan. Di sini. Maya berpikir akan menam¬pakkan diri kepada mereka." gumamnya. Ia ingin ber¬baring di antara mereka. Sebulan lalu ia pasti akan pro tes. tidurlah di kamar pelayan. Maya menemukan tempat di sela dua orang gadis dan merangkak melewati mereka. tapi ia sudah belajar mematuhi Sada dan Taku dalam segala hal. tapi roh kucing lebih tahu. menghangatkan tu buhnya. Tubuh Maya gemetar. Aku tidak bisa membuka pintunya. Sebulan lalu ia pasti akan prot es. hanya di dunia luarlah ia harus tetap menyamar sebagai anak laki-laki. "Bocah itu benar-benar putra Takeo?" "Ya. Maya menyelinap dari balik selimut dan melangkah tanpa bersuara dari kamar itu. mengingat bagai¬mana dunia itu penuh dengan gerakan kecil yang belum pernah diperhatikannya. ingin men-dengar apa yang Taku katakan. "Selamat malam. di rumah Tribe s emua orang tahu kalau ia anak perempuan. pikir Maya. riak kekuatan menjalar k e sekujur tubuhnya karena si kucing meregang¬kan otot-ototnya dan hidup lagi. Semua orang sepertinya sudah tidur. ingin bersamanya dan Sada: Maya memikirkan bulu kucing yang tebal dan halus menye¬limuti dirinya. melambung menyeberangi beranda dan me¬masuki ruangan tempat Sada dan Taku berangkulan.

Udy Shigeko. termas uk Miyoshi Kahei dan adiknya Gemba. sejumlah besar pengawal. "Siapa di sana?" dan mendengar teriakan kaget Sada. jauh dari segalanya. dan putri su lungnya. Di¬dengarnya Taku berseru. Ia be rusaha tetap diam tapi tidak bisa menahan lolongan ketakutan dan putus asa yang memaksa kelua r dari tenggorokannya. di dalam tandu yang diukir dan dihias dengan indah. Tapi ia tidak bisa berlari dari suara-suara arwah yang bergemerisik d i telinganya yang berdiri tegak dan merasuk ke dalam tulangnya yang rapuh dan cair. satu iring-iringan kuda membawa catatan-catatan adminis trasi yang harus ditangani saat ia berada di wilayah Barat. dan ia melompat menerobos kasa dan keluar ke taman seolah bisa lari selama-laman ya. sehari sebelum bulan purnama. Halaman 149 dari 500 .Maya mengetahui keberadaan kakak laki¬lakinya. Takeo datang dari Yamagata dan membawa sebagian besar orang istana Otori. Zenko didampingi pengawal yang sama banyaknya. burung rajawali dan anjing kecil milik Lady Arai. dan ancaman terhadap ayahnya. Di mana Penguasa kami?* Otori Takeo dan Arai Zenko tiba di Maruyama selang beberapa jam. serta Lady Arai sendiri. kuda-kuda pengangkut ker anjang berisi hadiah-hadiah mewah dan pakaian-pakaian mahal.

setelah enam belas tahun berlalu. dan berharap kalau laki-laki itu dip engaruhi arwah dari para mendiang yang setia. Musim panas bermurah h aii menghasilkan panen berlimpah. Takeo melihat itu semua dengan gembira. anak-anak makan berkecukupan. Di mana-mana umbul-umbul berkibar tertiup angin. Takeo penasaran apakah Zenko menyadari sejarah kesetiaan dari rumah itu. saat Takeo harus bertemu dengan musuh-musuh potensialnya in i. yang dulunya a dalah kediaman Sugita Haruki. kedelai. Sebelum makan malam. seni berkembang. Ia harus terus mengingatkan dirinya sendiri kalau ia berada di sini untuk menemu i dua laki-laki yang mungkin akan merampas wilayah ini dari Shigeko. dipanggilnya Hiroshi untuk bicara ber¬dua. diberi penginapan seperti dirinya di dalam kastil. S etelah . perdaganga n maju pesat.Kedatangan para pemimpin dengan iring¬iringan mereka menutupi jalan dan me¬menuhi ru mah penginapan membuat pen¬duduk kota gembira. Kini. Zen ko tinggal di kediaman yang paling bergengsi dan mewah di balik dinding kastil. sake dan makanan khas daerah edatangan para pemimpin dengan iring¬iringan mereka menutupi jalan dan me¬menuhi rum ah penginapan membuat pen¬duduk kota gembira. Salah satunya. semua luka bekas perang tampak telah l ama pulih. Lord Kono. Sebulan terakhir ini mereka telah menam bah persediaan beras. dan jurumasak saling berlomba menciptakan s antapan berbentuk bulat untuk meng¬hormati bulan purnama. ikan. Maruyama adalah wilayah yang amat di¬sayan ginya karena di sinilah ia menghabiskan bulan-bulan pertama setelah pernikahannya dan mulai mempratikkan semua yang telah ia pelajari dari Lord Shigeru tentang pe¬merintahan dan pertanian. menggambar kan bukit bulat Maruyama bersama bangau Otori. dan Shigeko akan mengambil alih wilayah ini lalu memerintah berdasarkan hak dan kewajibannya. Sebulan terakhir ini mereka telah menam bah persediaan beras. wilayah ini menjadi kaya dan damai. Takeo tahu putrinya layak mendapatkannya. dan kini berharap bisa mendapat keuntungan besar. ikan. kedelai. Wilayah ini nyaris hancur tersapu badai dan gempa bumi di tahun pertama pemerint ahannya. sake dan makanan khas daerah mereka. pengawal senior wilayah tersebut yang bersama putranya memilih bu nuh diri ketimbang setuju untuk menyerahkan kota ini kepada Arai Daiichi. Maruyama segera diserahkan pada pewaris perempuann ya: banyak yang harus diraya¬kan. Pemuda itu tampak tenang dan waspada.

Dia gadis yang amat baik.. Kami harus me mberimu imbalan. "Kau sudah seperti kakak laki-laki bagi ketiga putriku. "Kau telah bertahun-tahun mengabdi pada keluargaku. aku pasti akan mengangkatmu menjadi putraku. "Kau tahu betapa besar rasa sayang keluargaku padamu.. Lord Takeo. berarti akan mengambilnya dari orang lain. Takeo mengucapkan terima k asih atas kerja keras¬nya." sahut Hiroshi. "Dan untuk pernikahan. jangan Halaman 150 dari 500 ." sahut Hiroshi. Bila kau tidak suka pada Terada Kaori. a tau dari Lady Shigeko. dan aku tidak punya apa-apa untuk diberikan p ada seorang istri. aku berterima kasih atas p erhatian Anda. biar kucarikan gadis lain. Kau kurang menghargai dirimu. Apakah ada gadis lain?" "Tidak ada." "Keluarga mana pun di Tiga Negara akan menyambutmu dengan gembira sebagai menant u." lanjut Takeo. tapi aku sungguh-sungguh tak ingin menikah. "Aku sudah bilang pada Taku: aku akan tetap di sini sel ama dibutuhkan tapi keinginanku yang sebenarnya yaitu diijinkan mengundur¬kan diri ke Terayama dan men gikuti Ajaran Houou. Kaori. Kau ingin tinggal di wilayah Barat? Akan kucarikan tanah dan bangunan u ntuk¬mu serta seorang istri." "Untuk memberiku tanah di Maruyama. Tatapan mata Hiroshi beradu pandang den gannya lalu berpaling ke arah lain." Takeo menatapnya tanpa langsung men¬jawab." "Kumohon. andai usia kita tidak terlalu dekat jaraknya. Aku sudah memper¬timbangkan cucu Lord Terada.membahas prosedur dan upacara untuk keesokan harinya. kawan baik putriku.

"Aku rela memberikan segalanya bila itu mempertahankan kedamaian di negeri ini." sahut Takeo. Seperti yang kau tahu. Kau harus melindung inya. ditemukan dirinya lebih memerhati¬kan Hiroshi dan putrinya saat makan malam." "Aku tidak akan menentang keinginanmu itu!" sahut Takeo. Takeo tidak bisa meng¬ungkapkan ada perasaan khusus apa di antara mereka berdua. "Anda bahagia dalam perkawinan hingga ingin kami semua memiliki keadaan yang sama! Tapi aku ter¬panggil ke jalan lain." "Shigeko juga akan ikut denganku atas saran para Guru Besar. namun kata-kata itu ber gema di benak Takeo. Aku ingin kau ambil bagian dalam kun¬jungan ini.' sahut Hiroshi." kata Hiroshi dengan nada memohon. Tapi tentu saja mere ka berdua sangat mahir menyembunyikan perasaan masing-masing. yaitu m endampingi kami ke ibukota tahun depan. aku mengatur kunjungan damai ini atas permintaan para Guru Besar Ajaran Houou. lalu memutuskan untuk m enghentikan masalah pernikahan ini sementara waktu. Berusaha menyembunyikan rasa tertekannya dengan tersenyum. "Terima kasih. Makan malam berlangsung resmi dan anggun. Bahkan Shigeko? Keduanya tidak me¬nyuarakan kata-kata itu. Sesuatu dari perbincangan ini pasti telah membuatnya waspada sehingga di saat ia tidak disibukkan oleh Lord Kono. dengan menu khas musim gugur di wilaya h Barat: . yang akan menjadi hadiah yang tak ada bandingnya untuk Kaisar. seperti yang sudah biasa kau lakukan." kata Hiroshi dengan nada memohon. nyaris tida k saling bicara atau bertatapan. "Tapi aku punya satu permintaan. Wajahnya mulai memerah. "Anda bahagia dalam perkawinan hingga ingin kami semua memiliki keadaan yang sama! Tapi aku ter¬panggil ke jalan lain." "Anda ingin memberikan kirin!" seru Hiroshi. Wajahnya mulai memerah. lebih pendiam. Zenko dan Hana. Satu-sa tunya per¬mintaanku adalah diijinkan mengikuti jalan itu." Hiroshi membungkuk tanpa bicara. "Putriku mengusulkan agar kita membawa kirin. dan sedih. Berusaha menyembunyikan rasa tertekannya dengan tersenyum. Mereka berdua. Satu-sa tunya per¬mintaanku adalah diijinkan mengikuti jalan itu.diteruskan." "Ini merupakan kehormatan bagiku. entah mengapa. dibayangkannya hati Shigeko tidak tersentuh. Ia tidak tahu apakah sudah bisa menjawab atau belum." iteruskan.

" Halaman 151 dari 500 .jamur pohon pinus. Takeo seakan melihat perasaan tidak suka sesaat sebelum Hana mulai mengucapkan s elamat yang berlebihan. Aku paham Anda akan mengunjungi Kaisar tahun depan. dan berharap kakaknya mendapatkan anak laki-laki. chestnuts and kac ang ginko." "Bila beliau berkenan menerimaku. burung puyuh dengan krisan. "Aku sudah menerima surat dari Miyako. dan bagaimana bila dibandingkan dengan istana Kai sar. dan ingin tahu apakah Zenko dan Hana kecewa dengan kabar ini karena akan menunda rencana pengangkatan kedua putra mereka. lantai dan balok-balok penyangga berkilau dengan ha ngat. Semua orang ingin tahu tentang Anda. Takeo. burung gelatik dengan semak semanggi. Bahkan L ord Saga Hideki telah meng¬ungkapkan keinginannya untuk berjumpa dengan Anda. Kono berkata dengan sopan. Takeo bertanya-tanya bagaimana pendapat Ko no tentang semua yang dilihatnya di sini. Kaede telah membantu mengembalikan kediaman itu pada keindahan aslinya: tikar berwarna hijau keemasan dan beraroma manis. di belakangnya berdiri kasa ber¬hiaskan burung dan bunga musim gugur. kepiting dan udang kecil. disajikan di atas nampan berpernis dan tembikar berwarna coklat muda kekuningan pucat dari Hagi. menjelaskan tentang kehamilan i strinya. pada gilirannya. Takeo meminta maaf atas ketidakhadiran istrinya. "Kurasa beliau akan menerima Anda. dengan berhati-hati memuji Sunaomi dan Chikara yang tidakl ah sulit dilakukan karena ia dengan tulus memang menyayangi kedua anak itu." sahut Takeo. gurih dan gating. ituiah tujuanku. mengungkapkan kebahagiaannya.

. ke arah Gemba yang duduk agak menjauh di se . "Lord Saga tidak mengetahui masalah-masalah kecil kami.. suaranya terdengar jernih dan tegas." Suara Kono terdengar dingin dan datar. Belia u menulis surat kepadaku bahwa ketimbang menumpahkan darah ribuan orang. belum. Takeo mengingat dengan takjub kata-kata Gemba: Akan ada semacam pertandingan di Miyako. dan bila itu bisa memastikan kedamaian di Tiga Ne gara. karena aku tidak mahir memanah. mendahu lui restu sang Kaisar.. "Baiklah." Untungnya. "Belum.. Shigeko angkat bicara." Shigeko mengangkat kepala lalu melihat ke a rah ayahnya. Beliau tidak tahu kalau tanganku yang cacat menghambatku untuk menarik busur. Takeo tidak bi sa menahan untuk berpikir.Takeo menyadari kalau Arai Zenko memerhatikan tiap kata dengan tetap menunduk. mungkin ada pertandingan yang lain. Zenko akan menunggu di wilayah Barat. Tampak mata mereka bertemu lalu dia tersenyum kepada ayahnya. mendahu lui restu sang akeo menyadari kalau Arai Zenko memerhatikan tiap kata dengan tetap menunduk. Da n bila mereka menyerang lalu membunuhku di sana." Takeo ingin tahu apakah ia bisa tahan menyerahkan putri sulungnya pada orang seperti Lord Saga nam un bisa menjadi persekutuan yang baik. "Aku tak sabar ingin ber¬jumpa Lord Saga. "Lady Shigeko bertunangan?" tanya Kono. Keadaan istri Anda yang meng¬haruska nnya berdiam diri di rumah jadi tidak memungkinkannya mendampingi Anda?" "Begitulah. putrimu sebaiknya ikut." imbuh Hiroshi. Mungkin beliau akan menerimaku sebagai pengganti ayahku dalam pertandingan apa pun nantinya." jawab Takeo. mungkin. Tapi putriku akan ikut. "Aku turut berduka. beliau lebih suka berte mu Lord Otori dalam per¬tandingan berburu anjing. Itu kegemarannya.. Dia harus menyempurnakan keahlian menunggang kuda. D an bila mereka menyerang lalu membunuhku di sana.." Takeo tersenyum. "Lord Saga baru saja menduda. "Lord Saga saat ini tengah memikirkan semacam olah-raga atau pertandingan." "Lady Shigeko amat mahir memanah.. meman ah. Zenko akan menunggu di wilayah Barat.. Bagaimana Gemba bisa tahu hal ini? Takeo memandang ke seberang ruangan.

Aku akan datang ke Miyako. "Ini semakin menambah alasan mengapa kami harus berkunjung ke ibukota. kulitnya nyaris bercahaya dengan jubah wama kuning pucat dan emas yang dikenakannya. pedangnya. namun juga tak bisa menghilangka n kesan berkuasa yang ada di balik kata-katanya. punggungnya tegak lurus. agar Anda sema kin memahami kami. Dia tidak mem¬perlihatkan rasa tidak suka bertemu dengan putra orang yang pernah menculik ibunya. Tampaknya Kono sama terkejutnya dengan Takeo. Kahei terlihat lebih tegas. Rambut panjangnya tergerai di bahu. tapi ada senyum tipis tersung¬ging di waja h montoknya. Takeo ingat saat pertama kali melihat Lady Maruyama Naomi: menurutnya perempuan itu seperti Jato. walaupun dengan alasan lain. kecantikan yang menyem Halaman 152 dari 500 . menyembunyikan ketidak¬setujuannya. pikir Takeo cepat. Aku akan terima tantangan Saga. Kahei. atau kelihatan terintimidasi dengan ke¬ha dirannya. mungkin Anda belum mengenal kami dengan baik.belah adiknya." katanya pada akhirnya." Shigeko berbicara dengan sopan. Gemba tidak melihatnya. "Seperti halnya Lord Saga. dan pembe¬rani. dengan dedauan maple yang cerah. Ini memperkuat bukti anjuran para Guru Besar. apa pun itu. "Aku tidak menyadari kalau perempuan di Tiga Negara begitu berbakat." sahut Shigeko. Kami akan selesaikan masaln h tanpa harus berperang.

tentu saja. dan merasa agak lega. "Aku bisa meyakinkan bahwa semua taporanku akan berpihak kepada Anda . Disadarinya kala u pikirannya melayang jauh. Apa pun yang terjadi. hubungan bangsawan itu dengan Zenko dan Hana. Tapi Takeo lebih suka mendengarnya dari Taku. dan merasa ag ak lega. pikirannya masih penuh dengan kecemasan atas ketiga putrinya. detail mengenai kunjungan singkat Kono di wil ayah Barat.. atau melarikan diri.. mengapa dia tid ak hadir saat santap malam. Apa pun yang terjadi. dan se lagi minum teh ia mengingat-ingat apa saja yang ia katakan semalam. Takeo tidur tidak nyaman." Takeo membungkuk sedikit tanda setuju. Kini dilihatnya kekuatan yang sama pada putrinya. Keramaian perayaan berlanjut hingga larut malam: pemusik memainkan kecapi tiga s enar dan harpa. sementara dari kota terdengar genderang dan nyanyian. dan ingin tahu ada di mana dia sekarang. nyikan kekuatan. memeriksa kalau segala¬nya telah dicatat . dan tak mendengarkan kalimat terakhir Lord Kono. kesetiaan klan Seishuu serta keindahannya. dan memberitahukan kepada Yang Mulia Kaisar tentang semua yang kudapatkan di sini. ia telah memiliki pewaris. Ini memastikan bahwa Tiga Negara ak an tetap bersatu bila diwariskan kepada¬nya. "Kuharap aku bisa dibebaskan da ri keramahan Lord Otori untuk kembali ke Miyako sebelum Anda tiba di sana. Dipaksa dirinya berkonsen trasi pada saat ini.bunyikan kekuatan. seberapa banyak pujian dan niat buruk apa yang direnca¬nakan Kono dan Zenko. Kaede yang sedang mengandung. "Aku sungguh tidak sabar menantinya!" seru Kono." Dia membungkuk dan bicara d engan ber¬semangat. Apakah Zenko tersinggung atas kehadiran dan pengawasan Taku sehing ga sengaja tidak mengundang adiknya? Dan ia pun cemas ingin mendengar kabar tentang Maya. saat in i merupakan waktu yang tepat untuk mengirimnya pulang dengan pikiran yang penuh dengan kesejahtera an wilayah ini. Ini memastikan bahwa Tiga Negara ak an tetap bersatu bila diwariskan kepada¬nya. Kini dilihatnya kekuatan yang sama pada putrinya. karakter dan kecantikan putri sulungnya . Ia meminta Minoru dibangunkan. Ia tak dapat menahan diri untuk berpikir kalau ketidakhadiran Taku tak ber¬k aitan dengan putrinya itu: kalau Maya dalam masalah. Tampaknya tidak ada lagi alasan untuk menahan bangsawan itu. Saat bangun pagipagi.. merasakan nyeri di tangan dan rasa sakit menjalari sekujur tubuhnya. Berharap Taku tahu lebih banyak. ia telah memiliki pewaris. ingin tahu seberapa banyak kata-kata ini diucapkan dengan tulus.

"Aku tidak berhak untuk mengatakannya. Di Yamagata aku yakin Lord Miyoshi akan menjelaskan ukuran dan kekuatan ba la tentara kita. kurasa bagusnya begitu." "Teruskan.dengan benar karena Minoru ditempatkan di balik kasa semalaman. "Lewat laut." "Jadi beliau akan melakukan perjalanan bersama Lord Otori sampai Yamagata?" "Ya.. Lord Kono pasti membawa kabar kepada Kaisar dengan keyakinan bahwa Tiga Negara t ak mudah ditaklukkan. tapi Lady Shigeko belum menikah. bagaimana pendapatmu?" "Sikapnya seperti hendak berbaikan. Dia bisa saja l ewat darat menuju Hofu dan naik kapal laut dari sana. Karena Kono diij inkan pergi." sela Takeo. banyak hal yang harus disiapkan. "Minoru." sahut Takeo. dan.. pengabdian dan kes etiaan rakyat di sini. Sikapnya padaku sem alam sepertinya sedikit berubah. Kita harus tunjukkan satu pemandangan lagi padanya. Sebaiknya kau siapkan Lady Miyoshi. kau selalu hadir dalam per¬temuanku dengan Lord Kono. "Pasti salju su dah turun di Jajaran Awan Tinggi: dia takkan tiba di sana sebelum perbatasan ditutup. bila ingin tiba sebelum musim dingin. "Apakah Lord Kono bepergian lewat laut atau darat?" tanya Minoru.." sahut Minoru. "Beliau pasti mengamati kepopuleran Lord Otori." Minoru membungkuk hormat. dan Lord Kono pastinya akan lebih memilih untuk merundingkan pernikahan ketimbang me¬mulai perang yang ti dak bisa Halaman 153 dari 500 .

maka semuanya baik-baik saja. "Tak satu pun dari kita yang benar-benar aman." tutur Takeo. Di dalam kotak¬kotak terdapat harta kekayaan wil ayah ini." "Tentunya tak ada orang yang akan menyerang Lord Kono." *** Panji-panji Klan Maruyama. tanpa kuda. Anjungan dari sutra didirikan bagi kelompok masyarakat dengan klas leb ih tinggi." "Baiklah. Selama kita tahu d ia masih hidup. Otori serta Seishuu berkibaran di atas lapangan kuda di depan kastil. Parit yang mengelilinginya penuh dengan perahu-perahu berlambung datar yang ditu mpangi para penonton. di Maruyama sini?" "Taku telah menyinggung banyak pihak dengan mengabdi padaku. maka beliau harus mendap at kepercayaan dan persetujuan ayah calon mempelai perempuan. kita akan terus menyanjung dan berusaha membuatnya terkesan. berdiri para tetua klan. Apabila beliau yang akan menjadi perantara." "Dia mengirim permintaan maaf kepada kakaknya. Ada kabar dari Taku? Aku menantikannya tadi malam. Di belakang¬n ya. pasti ada alasan lain dengan ketidakhadirannya. Takeo duduk di atas mimbar yang ditinggikan di salah satu pavilio n ini. Kaede seharusnya berada di sini. "Apa aku harus menghubunginya?" "Tidak perlu. dan Zenko di sebelah kiri. rindu berjump a dengan istrinya untuk menceritakan pemandangan ini. Kono di sebelah kanan. Apabila beliau yang akan menjadi perantara. d an di belakang Zenko. pikir Takeo dengan rasa menyesal. Hana. mengatakan bahwa dia sedang kuran g sehat hanya itu. maka beliau harus menda pat kepercayaan dan persetujuan ayah calon mempelai perempuan. dan gulungan berisi silsilah keluarga meng¬gambarkan silsilah Shigeko melalui semua pe rempuan Maruyama. . Hiroshi berada di depan mereka dengan menunggang kuda abu-abu pucat dengan surat dan ekor hitam." imenangkan.dimenangkan. dan lambang berhias rumbai bergelanmngan dari atap dan dari tiang pancang yang ditan am di sekelilingnya. dan bertopi hitam. memegang kotak-kotak berpernis. semua mengenakan jubah tebal berhias bordiran emas." sahut Minoru. bantal dan karpet bertebaran di lantai. Kuda pemberian Takeo bertahun-tahun lalu itu menunggu diam tak bergerak bak patung.

Me reka adalah istri dan putri para tetua yang menunggu di belakang Hiroshi. saat orang lain tak a da yang tahu. Taku pasti tahu ia akan mengenali mereka bertiga. Maya tampak lebih kurus. bola matan ya lebih jelas dengan wajah tajamnya. Takeo merasa takjub kalau ternyata Taku mengajak putrinya datang dengan menyamar. Mereka bersenjatakan ala perem¬puan wilayah Barat. ingin tahu di mana Shigeko. Zenko. Seorang lagi pastilah Sada. Taku pasti tak ingin meninggalkan Maya karena bila tidak. Butuh beberapa waktu bagi Takeo untuk menyadari kalau orang itu adalah putrinya. Perhatiannya tertuju kembali ke upacara setelah mendengar derap kaki kuda. tapi berpakaian pedagang biasa yang lusuh. dia pasti da tang sebagai dirinya sendiri. Pesan apa yang dibawanya? Ia harus bertemu mereka: ia akan temui mereka malam ini. menyandang busur di bahu serta tabung berisi anak panah di Halaman 154 dari 500 . Di sampingnya berdiri seorang pemuda tingg i dan seorang lagi yang tampak amat tidak asing. Takeo memindai kerumunan orang. tiba-tiba dilihatnya Taku. kalau ternyata ia tidak menge¬nalinya diikuti dengan rasa lega yang berdesir cepat kalau p utrinya masih hidup dan baik-baik saja. tidak berpakaian resmi seperti kaka knya. agak lebih tinggi. pikirnya. Maya. meskipun dia menyamar hing ga hampir tidak dikenali.Takeo turut merencanakan upacara ini semuanya dilakukan Hiroshi karena ini merupa kan ritual kuno Maruyama yang belum dilaksanakan lagi sejak Lady Naomi mewarisi wilayah ini . Dari ujung arah barat di sebelah luar kastil datang iring-iringan kecil perempuan yang me¬nunggang kuda. Di antara kerumunan perahu. dan kapan putrinya akan mu ncul.

Shigeko duduk tenang bak patung. Kuda itu terlalu bersemangat dan ber¬jingkrak. Sesaat Tenba terkejut karena gerakan Hiroshi yang mendadak. dan ia merasa heran tidak menyadari hal itu sebelumnya. Shigeko tersenyum tipis lalu mengambil . dan diberi nama Tenba. "Lady Maruyama Shigeko. Dicermati putrinya baik-baik sewaktu dua perempuan berkuda turun dari kuda lalu memegangi tali kekang Tenba. Kecurigaannya terbukti sudah. pikirnya. juga berk ilauan seperti kulitnya yang tertimpa sinar matahari musim gugur. sama hitamnya dengan surai dan ekor kuda yang dia tunggangi. tatapan mereka bertemu. Perasaan Takeo kesal sekaligus iba mustahil memberikan keinginan Hiros hi tapi ia mengagumi pengendalian diri dan peng¬abdian pemuda itu. Shigeko meluncur turun dengan anggun dari punggung kuda lalu menghadap ke Hiroshi. mengi-baskan kepala dan agak mundur selagi Shigeko menyuruhnya ber¬henti. ta pi perasaan Hiroshi tak diragukan lagi. ggung mereka. di tengah iringan itu kuda hitam yang dijinakkannya sendiri. Hiroshi bicara dengan lantang. menyerahkan pedang dengan kedua tangannya. Shigeko menyayanginya. dan Takeo melihat pe nguasaan diri Hiroshi langsung buyar. Takeo mengagumi kuda¬kuda Maruyama yang tinggi dan gagah. Kini sudah jelas baginya. Itu karena mereka dibesark an bersama. dan diberi nama Tenba. para tetua berlutut sambil memegang kotak dengan merentangkan tangan dan membungkuk dalam-dalam. dan t epat di saat bersamaan. menarik pedang dari sabuknya lalu berlutut di hadapa n Shigeko. Ketika Hiroshi menengadah. Teringat olehnya minggu-minggu yang mereka habiskan bersama untuk men jinak¬kan Tenba." Hiroshi melepaskan kakinya dari pijakan sadel lalu turun dari kuda. Takeo mengagumi kuda¬kuda Maruyama yang tinggi dan gagah. dan hatiny a makin meluap-luap saat melihat putrinya berada di punggung kuda yang paling bagu s. Ia tak tahu bagaimana perasaan putrinya. di tengah iringan itu kuda hitam yang dijinakkannya sendiri. Para perempuan di atas kuda menghadap ke arah para laki-laki yang berdiri. kami menyambut Anda ke wilayah yang telah dipertahankan atas kep ercayaan bagi Anda.punggung mereka. dikunci r ke belakang. putri Shirakawa Kaede dan sepupu kedua Maruyama Naomi. Disadarinya ternyata sikap Hiroshi lebih dari sikap seor ang ksatria pada atasannya. dan hat inya makin meluap-luap saat melihat putrinya berada di punggung kuda yang paling bagu s. Tenba tenang dan santai. rambutnya. tapi hatinya tak tersentuh.

Takeo menyadari kalau bayangan masa lalu kini mengelilingi dirinya: arwah mereka yang telah berpulang. Kuda itu jelas keturunan kuda Shigeru. semuanya dalam satu gerakan cepat dan luwes. Menghampiri Shigeko lalu mengambil tali kekang kuda itu dengan begitu terharu se hingga tak mampu berkata¬kata. ayahku. dan anak panahnya tepat mengenai sasaran. Tiap penunggang kuda menjatuhkan tali kekang di leher kuda. lalu menunduk. laksana kuda dari surga. menjadi sorak-sorai gegap gempita." Dipegangnya tali kekang. Tenba menurunkan kepala lalu menggesek-gesekkan kepalanya ke bahu Ta keo. Ia merasa bangga dan bersyukur telah membesark an anak yang cantik ini. dan sebag ai pengakuannya saya persembahkan kuda ini kepada Lord Otori. Anak-anak pa nah beterbangan satu menyusul yang lainnya. lal u suaranya pecan. "Maruyama bersumpah untuk ber¬sekutu dan setia pada Klan Otori. mengambil busur. bak gelombang menghempas batu karang. Sekali lagi terdengar seruan dari ke¬rumunan saat Takeo berdiri dan melangkah turu n dari mimbar. Teriakan rakyat bergemuruh.pedang itu. Halaman 155 dari 500 . menarik tali kekangnya agar berhenti di depan Takeo. kuda hitamnya berlari laksana angin. Kyu dan Aoi. Kuda-kuda berderap mengitari dinding sebelah luar kastil. Akhirnya S higeko mendekat. mengenai sasaran berbarengan. kemudian ber-baris dalam satu barisan lurus ke arah pinggir an. yang pernah terluka parah oleh ra ksasa Jin-emon. Kemudian ia berbalik dan mengacungkan pedang itu tinggi-tinggi ke se tiap arah bergantian. Shigeko membalikkan kuda lalu berderap kem bali. kalau putrinya ini telah dewasa dan mendapaikan warisannya. menuju sasaran. men empatkan anak panah lalu menariknya. tatapan setuju mereka. membungkuk hormat ke arah kerumunan orang. seolah semua yang hadir bicara dalam satu suara. Kuda-ku da berjingkrak penuh semangat. kepada semua tetua dan ra kyatnya. begitu pula halnya dengan para perempuan yang lain. Shigeko menghunjamkan pedang ke sabuknya lalu naik k e kudanya kembali. Dia melompat dari punggung Tenba la lu berkata dengan lantang.

" ujar Shig eko." Menjelang akhir senja. Takeo yang sudah bisa menyesuaikan diri dengan kuda itu. Kini anak¬anak dari para gelandangan yang pernah mem bangun jembatan yang memungkinkan Takeo melarikan diri dari kejaran pasukan Otori. kat . ketika Jo -An masih hidup. Shigeko dan Hiroshi me skipun ketiganya lebih suka begitu tapi juga ada Lord Kono. juga terlihat cukup makan. memulai ikatan panjang misterius antarmakhluk hidup. mereka berkuda di jalur melewati pesisir ke mulut sungai. dan perlu berkuda untuk menjernihkan piki ran. pancaran terakhir si nar matahari berkilauan di sela-sela jambul di kepalanya. "Biar Ayah menun¬tunnya. pikirnya dengan gembira. tapi mereka dibiarkan hidup dengan damai. Rut e perjalanan mereka melewati desa gelan¬dangan yang dibangun Takeo bertahun¬tahun lalu. membiarkannya melangkah lebih bersemangat. bergerak kian kemari bak ombak di laut. Satu kali Tenba mundur ketika seekor ayam hutan tertembak di bawah kakinya dengan gerakan cepat dari sayapnya yang terbentang. sementara yang lainnya berjalan terus. dan Kono mengaku ingin berbagi kegemaran dengan Hana saat berburu meng¬gunakan burung rajawali yang terlatih. Sementara itu. dan Takeo mesti mengerahkan tenaga untuk mengingatkan siapa yang pegang kendali. Takeo. tapi bersemangat dan sama res ponsifnya. Ayah sangat berterima kasih. Rombongan itu tidak hanya terdiri dari Takeo. Hiroshi dan Shigeko berhenti untuk menyalami kepala desa." ujar Shigeko. Beruntung aku tidak harus mengandalkannya dalam pertempuran. ketika matahari mulai tenggelam. Kuharap Tenba bisa menjadi kuda kesayangan Ayah seperti halnya Shun. Dia a kan hidup Ubih lama dariku."Kuharap Tenba bisa menjadi kuda kesayangan Ayah seperti halnya Shun." sahut Takeo. Zenko menyata kan kalau ia merasa mual dengan jamuan dan upacara. rajawali yang sudah dilepas terb ang melayang di atas padang rumput. dan jauh lebih cepat. Kuda ini mungkin tidak sepandai Shun. Zenko dan Hana. "Maukah Ayah menungganginya?" "Pakaian Ayah ini kurang cocok bila ber¬kuda. Ini hadi ah yang terindah. dan kita akan berkuda bersama nanti. sehat seperti orangtuanya. Para gelandangan masih menjemur kulit hewan di sini sehingga dijauhi pend uduk." Ta keo ingin sekali menunggangi kuda itu. Hana ingin membawa keluar burung-burung rajawali miliknya. "Aku belum pernah melihat kuda yang lebih hebat yang bergerak seperti terbang. Ketika mereka menyusul kelompok berburu.

dua di antaranya menu kik berbarengan dan tegak lurus ke tanah. Dibayangkannya mereka seperti rajawali. Salah satunya terbang tinggi lagi. udara penuh aroma kue mochi yang dipang-gang. dan kemudian marah pada dirinya sendiri karena begitu mudah merasa tersanju ng. Pendu duk kota memberi jalan dengan penuh hormat. Jalan-jalan dipenuhi keru munan orang. Merasa hampir menyukai Kono. tapi itu tak mengurangi kemahirannya berkuda. bentuk tubuh kelinci terlihat jelas di bulatan yang berkilat. banyak di antaranya yang berlutut atau menyer u namanya atau nama Shigeko. Mereka tidak menatap dengan ketakutan. tersenyum. seekor ayam hutan dalam cengkeraman cakarnya menggelepar: yang lainnya memekik marah. Menunggang kuda membu atnya merasa seperti muda kembali." katanya pada Shigeko. "Benar. Mengingatkan Takeo bahwa yang kuat memangsa yang lemah. begitu pula nantinya musuh-musuhnya memangs anya. Mereka kembali saat matahari tenggelam. Mereka tak lagi butuh pahlawan menolong mereka.anya pada dirinya sendiri. aku lupa itu saat berkuda. Takeo bersyukur dengan reaksi rakyatnya. biara dan toko kebanjiran pengunjung. Di atas kepalanya keempat rajawali terbang berputar-putar. terbang melayang. kalau ternyata dia telah sala h menilai laki-laki itu. "Meskipun Lord Otori memiliki kekurangan. bulan purnama muncul di balik pepohonan plum. ikan d an belut panggang." komentar Kono. Me reka melihat Halaman 156 dari 500 . Masa-masa itu telah berakhir. "Kau mengurusnya dengan baik. minyak wijen dan kecap. menunggu." kata Takeo. atau pandangan putus asa da n kelaparan seperti yang dialami Shigeru.

Bulan sudah meninggi. dan jika ada yang tanya. terkulai di bawah cahaya bintang. diraih dengan kerja keras dan kepandaian mereka sendiri. tapi mereka tidak mendengarnya. . Andai Kono bisa melihatku seka rang. lalu disembunyikan di balik pakaiannya. Takeo melil itkan sehelai syal di kepala untuk menutup wajah. Tetap di sini. membia rkan dirinya terlihat setelah sampai di ujungnya lalu berjalan cepat-cepat ke kota yang penuh dengan j alan dan lorong yang berliku-liku.* esejahteraan dan kedamaian mereka sebagai jalan hidup yang benar. Takeo duduk bersama Minoru. meninjau kembal i percakapan tadi sore dan kesan yang didapat pemuda itu. Takeo tahu kalau tak seorang pun bisa melihatnya karena ia sedang menghilangkan diri. diraih dengan kerja keras dan kepandaian mereka sendiri. Karena berpikir saat itu terlalu dingin untuk berenang.* Kastil dan kota sudah sunyi senyap. pedang pendek dan sarung pisau le mpar. Para penjaga masih terjaga: ia men-dengar para penjaga bicara saat ia melintasi atap yang lebar dan melengkung. pikirnya selagi melewati kamar bangsawan it u. berpura-puralah kita sedang mengurus bis nis penting jadi tak ingin diganggu. langit malam penuh bin tang berkilauan. Berlari melintasi puncak dinding ke seberang lalu menjatuhkan diri ke atas lapangan kuda di dalam dinding sebelah luar yang kedua." Minoru sudah terbiasa dengan pengaturan seperti ini dan dia hanya membungkuk. Setel ah yakin tidak ada orang di ujung caman. begitu pula dengan yang sat u ini kenikmatan mendalam yang timbul oleh kemampuan kuno ini tak pernah hilang. dua botol sake. Bila menunggang kuda membuatnya merasa kembali muda." kata Takeo saat mereka sudah selesai. "Aku ingin keluar sebentar. "Aku harus me¬n emui Taku karena aku hanya punya waktu dua hari ini bila ingin mengantar Kono ke Hofu sebe lum musim dingin. Ia berlari melewati jembatan. Umbul-umbul masih meng¬gelantung di sana. dua lentera menyala di dekat mereka. Aku akan kembali sebelum pagi. maka setelah menyeberang sungai ia memanjat merayap dinding dan menyusuri sampai ke gerbang u tama. ia melompat ke puncak dinding antara taman dan dinding sebelah luar yang pertama.kesejahteraan dan kedamaian mereka sebagai jalan hidup yang benar. Di bantunya Takeo berganti pakaian ber¬warna gelap yang sering dipakainya di malam hari.

. bila bisa mengulang masa i tu ia akan berusaha berunding tanpa pertumpahn darah. Diintipnya ke arah s uara tadi. Tribe mungkin membencinya karena itu. Ditangk upkan kedua tangan Halaman 157 dari 500 . ukuran dan penghuninya. Tidak ada yang memecahkan kesunyian malam itu. Ia men¬dengar gemerisik di ded aunan yang telah jatuh. Semoga kalian mau melakukan hal yang sama padaku.. dan menar uh botol sake di depan dewa keluarga Muto. tapi setida knya mereka tidak meremehkannya. ia berhenti seperti yang selalu dilakukannya.Ia tahu di mana Taku berada: kediaman lama Muto. katanya. dan aku pun memaafkannya. T akeo merangsek kembali ke dalam bayangan. Ia sudah menyediakan cukup waktu untuk membuat negerinya am an. Ia masih menyesali cara yang pernah ia gunakan saat pertama kali ke Maruyama bersama Kaede. maka ia takkan sekuat sekarang untuk dapat memaksaka n kehendaknya dengan welas asih. me mohon maaf dari para mendiang. Ia masih harus meng¬hadapi dilema itu: bila sa at itu ia mem¬perlihatkan kelemahannya. bertekad menunjukkan kekejamannya pada T ribe: membunuh atau mengeksekusi sebagian besar dari mereka. dan melihat dedaunan terserak pelan di bawah pijakan kaki yang tak terlihat. Ia mengira satu-satunya c ara menghadapi kejahatan yaitu dengan dibasmi. tapi kini. Muto Kenji memaafkanku. tapi ia merasa tidak sendirian. Di biara di ujung jalan. seolah ada makhluk yang bergerak melintasinya. Kami adalah teman dek at dan sekutu. tangan di gagang pedang. letak. Dulu ia mengenai setiap rumah T ribe di Maruyama.

Begitu pisau pertama yang terpegang langsung dilemparnya. Memanggil semua kekuatan dalam dirinya untuk mematahkan tatapan me¬matikan itu. Tapi kucing itu berkelit melarikan diri. Kemampuan meng¬hilang kucing itu sirna di saat melompat ke arahnya. Takeo mendeng ar suara yang sudah dikenalnya. Dilihat¬nya kucing itu menunjukkan sederetan gigi. Segera mempertahankan dir i kini sudah menjadi sifat keduanya. Pisau itu terjatuh d ari genggamannya." jerit hewan itu lagi. lalu merogoh pisau lemparnya dengan semba rangan. meras a kalau pembunuh Kikuta sedang memanfaatkan makhluk halus ini. Jeritan kucing itu terdengar seperti je ritan manusia. tipuan cahaya kemudian ia menyadari dengan terperan jat ternyata tatapan mata kucing itu mengunci tatapannya. Kucing itu seperti makhluk halus yang tinggal di tempat ini. Ia men¬dengar juga jer it putus asanya sendiri selagi memaksa tangannya membelokkan arah pisaunya. men¬deteksi kemampuan menghilang. men¬deteksi kemampuan menghilang. depan dahi untuk membuka mata lebih lebar. sadar d engan air mata . Hanya seekor kucing. Makhluk itu menatapnya dengan mata hijau berkilau terkena sinar bintang. merasakan basah karena darah atau air mata atau keduanya. tapi kucing dengan ukuran dan kekuatan serigala. ia merasa terkejut karena ketakutan yang amat dalam. dan kemudian melihat ke arah kirinya. Takeo mem¬butuhkan seluruh kekuatannya untuk dapat men ghentikan tikaman pisau yang nyaris menggorok leher putrinya sendiri. Takeo merasa hampir jatuh ke dalam sihir tidur Kikuta. Di sela-sela rasa kaget dan takut karena pertarungan itu. dan kemudian melihat ke arah kirin ya. lalu ia menampakkan diri agar bisa lebih fokus pada serangannya.di depan dahi untuk membuka mata lebih lebar. "Aku nyaris membunuhmu. Makhluk itu menatapnya dengan mata hijau berkilau terkena sinar bintang. Kini pedang sudah di tangannya. "Ayah. mendengar akibatnya dan jerit kesakitan hewan itu. "Jangan sakiti aku! Ini aku. pikirnya. dikirim mereka yang sudah mati untuk menghukumnya. Mahkluk itu memang kucing. Maya!" Maya berdiri di hadapannya. Serangkaian caka rnya menggaruk wajah Takeo saat ia berkelit lalu berbalik agar cukup dekat untuk bisa menikam l eher kucing itu. me¬lihat pantulan cahaya bintang selagi pisau itu berputar. Meraih tubuh Maya lalu menyentuh wajahnya." kata Takeo iba karena putrinya hampir terbunuh. membunuh sebelum di¬bunuh.

" Maya menangis seperti anak kecil." Halaman 158 dari 500 . Begitu mengenali Ayah. badannya tegak dan keras. Dipeluknya Maya erat-erat. dirasakannya sengatan bekas dicakar. aku menyesal. Kepala Maya m e¬nyembul di antara tulang dada Takeo. "Tadi aku tidak tahu kalau itu Ayah. Itu pasti karena terkejut." "Aku menyesal telah menangis. Aku tidak selalu melakukan itu dengan cepat." tutur Takeo. Kukira Ayah ad alah pembunuh Kikuta. lebih mirip badan anak lakilaki." ujar Takeo dengan ketenangan penuh pengertian. tetesan darah di wajahnya. aku berubah wujud. "Maaf. "Jangan menangis.di pelupuk matanya sendiri. tapi aku makin pandai. "Apa yang kau lakukan di sini ? Kenapa kau di luar sendirian?" Hampir lega rasanya mengungkapkan kebingungannya dengan kemarah an. dan dia akan menceritakan pada Ayah apa yang terjadi pada dirimu. "Tapi aku belum pernah menangis bahagia. Aku takkan menangis lagi. Lal u tadi kenapa aku menangis?" "Mungkin karena kau senang berjumpa Ayah?" "Memang. Aku tak pernah menangis. terkejut ternyata putrinya sudah besar. Kendati aku tidak perlu menangis." "Tidak ada salahnya menangis. Aku tidak bisa melihat Ayah. "Kita akan men emui Taku. "Ayah kira kau menyesal karena sudah berusaha membunuh ayahmu sendiri." Maya meyakinkan. "Tadi Ayah juga menangis." sahut Ta keo seraya menggandeng tangan putrinya melewati gerbang kuil ke jalanan." katanya dengan sesunggukan. bingung dan sedih. dan ketika menyingsingkan lengan baju untuk menyekan ya.

"Ayah melukaiku lebih parah. kan?" . kerabat Taku dan Sada. Aku ya ng harus mencari tahu. apalagi sekarang karena mereka sudah dekat gerbang kediaman Muto. Ayah lebih baik mati dari pada menyakitimu. atau sesuatu yang lain? "Kau seharusnya tidak di luar sendirian." Maya menyentuh wajahnya sendiri. Tak bisa disangkalnya. Ia tak bisa melihat luka Maya dengan jelas. tanpa perasaan. "Ayah melukaiku lebih parah. Dan di mana Sada? Ayah lihat kalian bertiga bersama tadi pagi. Dan ada semacam tuduhan yang kuat di balik kata¬katanya."Kenapa? Apakah aku menyakiti Ayah? Pasti tidak ada apa-apanya dibandingkan deng an luka-luka yang pernah Ayah derita. sesuatu yang lebih dari sekadar luka fisi k. pikir Takeo." Dia sudah berubah." "Ini bukan salah Taku. "Aku yang tidak patuh. Tapi aku memang harus bersikap begitu karena aku bisa mel akukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan orang lain. "Mereka keluarga Muto . Dan kuda itu! Ayah suka dengan hadiahnya? Apakah Ayah t er¬kejut?" "Entah mereka yang lengah atau kau yang tak patuh. Ketidakpuasan apa lagi yang ada dalam diri putrinya pada dirinya? Apakah kebencian karena diki rim jauh dari rumah." kata Takeo. t api memutuskan untuk tak menjawab." sahut Maya cep at." Kenapa? Apakah aku menyakiti Ayah? Pasti tidak ada apa-apanya dibandingkan denga n luka-luka yang pernah Ayah derita." "Siapa lagi yang harus disalahkan? Ayah memercayakan dirimu padanya. tapi bisa membayangkannya luka itu harus segera diobati bila tidak ingin berbekas. "Aku belum menanyakannya pada diriku sendiri!" sahut Maya." Maya menatap Takeo dengan tajam. menampik per¬haria nnya dialihkan oleh komentar tiba-tiba Maya yang kekanak-kanakan. bahkan cara bicaranya kasar. "Apakah keluarga di sini bisa dipercaya?" bisik Takeo. Pe dih terasa menyengai wajahnya. Mengapa dia tak bersamamu?" "Bukankah itu indah?" sahut Maya. "Kurasa Ayah belum pernah melakukannya?" Sekali lagi Takeo merasakan tantangan yang lebih berat. "Shigeko kelihatan sangat cantik." Maya menyentuh wajahnya sendiri. "Ayah jangan menyalahkannya." "Dan Ayah amat menyesal. menghindari pertanyaannya. Tak ada orang yang bisa meng¬ajariku. Pastinya begitu. dan tubuhnya terasa sakit karena pertarungan yang tiba-tiba dan keras tadi.

"Bangunlah. ingin melihat reaksi mereka. segera saja kita cari tahu. dan sediki t kertas halus atau gumpalan kain sutra untuk menghentikan pendarahannya. dan gerbang di¬tutup dengan cepat lalu dipalang. Tentu saja mereka meng¬hindari berdekatan dengannya. dan mengetuk gerbang yang di palang." Laki-laki yang memegang lentera tadi berdiri di samping. berpakaian jubah ti dur berbahan katun. memanggil-manggil penjaga di dalam. Penghuni rumah sudah terbangun. menerangi teras. "Dan Anda. "Bawakan air. Mereka melihat darah di bawah sinar lentera ya ng mereka bawa. Takeo kira Maya akan di¬pukul tapi Taku memberi isyarat kepada penjaga untuk Halaman 159 dari 500 . apakah Anda terluka juga?" Salah satu orang menaikkan lentera h ingga sinarnya jatuh menimpa pipi Takeo yang tak berusaha untuk menutupi dirinya."Baiklah. Taku muncul dari ujung beranda. dan langsung segera menghampiri. Perlu waktu agar dapat meyakinkan mereka untuk membuka gerbang karena tidak sege ra mengenali Takeo. tuan. tidak satu pun dari mereka men yentuh Maya. lentera di dalam rumah dinyalakan. Dia melihat Maya lebih dulu. berseru kaget lalu memanggil Taku Takeo perhatikan." Takeo melangkah mele wati teras. tapi mereka mengenal Maya. Anjing menyalak marah." gumam Takeo. maka Maya berdiri seolah dike liligi pagar yang tak nampak. "Ini Lord Otori!" bisik laki-laki itu. jaket berlapis meng-gantung di bahunya. dan pelayan b erdatangan dengan mata masih mengantuk. tuan. "Masu klah. dan yang lainnya langsung berlutut." kata Takeo kepada orang¬orang yang berlutut.

sala h satu pelayan maju untuk melepas sandalnya. berpakaian seperti Taku dengan jubah tidur. "Mungkin sulit unt uk menjelaskan bagaimana aku bisa melakukannya. "Aku meng¬halangi jalan." "Panggilkan Sada. Dia meli hat Maya secepatnya lalu masuk ke rumah." sahut Takeo. "Ini kelihaian seperti terkena pisau lempar. Di anak tangga. "Pisau¬n ya tidak beracun. dan beberapa waktu k emudian perempuan muda itu muncul dari ujung beranda. "Kita bicara lagi nanti. Siapa yang ada di luar sana dengan pisau lempar?" "Tuan. Di basuhnya luka Maya dengan hati-hati.membawakan lentera. Lord Otori ada di sini." perintah Taku kepada salah satu pelayan. lalu memegangi kepala Maya dengan kedua tangan lalu memiring kannya kembawakan lentera." "Lord Takeo?" Taku memicingkan mala ke arah Takeo. rambutnya yang sepanjang bahu tergerai di wajahnya. seraya mengambil dan membukanya." Taku mulai angkat bicara. "Apa yang terjadi?" tanyanya. "Ini salep pemberian Ishida. "Maaf tadi aku tak melihat." sahut Takeo." Taku membimbing Maya ke beranda. menyuruhnya duduk lalu berlutut di sampingnya. Aku cemas lukanya akan berbekas. Bekas lukanya akan kelihatan selama beberapa wa ktu. mengambil segumpal kain dari pelayan lalu merendamnya dalam air." kata Taku. "Kecelakaan. lalu memegangi kepala Maya dengan kedua tangan lalu m emiringkannya ke kanan dan ke kiri agar bisa melihat luka di pipinya. kan?" 'Tidak apa-apa. kembali dengan membawa kotak kecil. meminta agar lentera lebih didekatkan. A nda tak terluka parah." sahut Maya. Lakukan yang terbaik untuk mengobati luka putriku. bergerak menghampiri beranda. . Takeo berlutut di samping Maya." kata penjaga." "Maafkan aku. tapi Takeo menaikkan tangan memberi isy arat agar Taku diam. "Beliau juga terluka. kan?" Tidak.

Satu lentera m asih menyala."Untung tidak terkena mata. Kau yang melemparnya?" "Kurasa begitu. "Dan temani dia malam ini. Maya duduk diam tanpa bergerak kesakitan. Ada semacam ikatan aneh di antara mereka bertiga." "Mari masuk ke dalam." Namun nada suaranya justru kedengaran bertentangan dengan perkataannya. matanya terbuka lebar. Aku ingin bicara dengannya besok pagi. "Berikan sesuatu untuk membuatnya tidur . salep itu tampak agak lengket. "Aku tidak bermaksud menyakiti ayahku." Sada memegangi kepala Maya sementara Taku mengoleskan salep itu di lukanya. dan menyatukan pinggiran luka sa-yatan." kata Taku pada Maya." ujar Taku." kata Maya. "Kami akan pikirkan hukuman yang akan membuatmu lebih menyesal lagi. dan di Halaman 160 dari 500 ." "Aku benar-benar menyesal." katanya pada Sada. Taku berjalan di depan ke ruang kecil di ujung beranda." Sambil menyuruh pelayan membawakan air segar dan teh." "Mendekatlah. bi birnya mengkerut seolah ingin tersenyum. "Lebih baik kita bicara berdua saja. seperti lem." katanya pada Takeo. "Ikut dengan Sada. pikir Takeo. karena adegan yang ada di depannya ini sarat dengan muatan emosi. "Biar kulihat apa yang telah dilakukannya pad a¬mu. "Aku sangat marah." "Setidaknya kita tak harus mencari para pembunuh Kikuta. dan aku yakin Lord Otori juga begitu." sahut Takeo. Dilipatnya tikar tidur lalu mendorongnya ke sudut.

dan yang satunya lagi membawa teh. "Akan kuambilkan." Taku menuang sake terakhir ke mangkuk dan memberikannya kepada Takeo. Taku mengambil mangkuk berisi air lalu membasuh pipi Takeo. bulat. berlutut lalu menyerahkannya pada Takeo. "Cakarnya menyayat cukup dalam." pinta Taku pada si pelayan. Takeo jarang melihat ba yangannya sendiri dan belum melihat dengan begitu jelas dan kini takjub pada wajahnya sendiri." Dua laki-laki muncul di pintu. pegangannya panjang. . duduk di sini. "Darahnya cuku p banyak. tapi kau minum sendirian?" Takeo menghabiskan sake d engan sekali leguk. permukaan kacanya mengkilap. Ia tidak pernah tahu bagaimana wajahnya sangat mirip Shigeru.sebelahnya berdiri sebotol sake dan mangkuk minum. nada su aranya terdengar dingin. Dia mengangguk. "Kau punya cermin?" tanya Takeo pada pelayan itu. namun lebih kurus dan lebih t ua." ujar Takeo. "Aku tak berharap berjumpa putriku dengan cara seperti ini." sahut Taku. "Kau tidak tidur sendirian. yang satu membawa air. Takeo mengamati semua yang di ada debelahnya berdiri sebotol sake dan mangkuk minum." Si pelayan kembali dengan membawa sebuah benda yang lerbungkus kain coklat tua. Lalu pelayan itu mengisi mangkuk minum sampai penuh lalu Takeo menenggaknya sampai habis lagi. "Tapi aku obati dulu luka Anda. "Sada tidak menyukainya. Takeo mengamati semua ya ng di ada di ruangan itu tanpa sepatah kata pun. dan minum ini. "Semula aku berharap bertemu denganmu sebelum kejadian ini. Bekas cakaran di pipinya memang dalam. Dibukanya bungkusan itu." Taku terdiam ketika si pelayan kembali dengan membawa sebotol sake. Be kas cakarannya terasa perih. pinggiran luka merah hati. Cermin itu sangat berbeda dengan yang pernah dil ihatnya. "Bawakan sake lagi untuk Lord Otori." gumamnya. darah yang mengering berwarna lebih gelap." "Benar-benar tak ada alasan.

" "Kau pernah lihat cermin ini?" tanya Tiikeo pada Taku. Ketika perempuan itu pergi." Taku setuju. Yasu."Cermin ini berasal dari mana?" Pelayan itu menatap Taku dan bergumam. "Belum untuk yang satu ini. Sesekali pedagang mem¬bawa barang dagangan. "Benda ini dibuat di negeri seberang." katanya." tuturnya. Takeo mengembalikan cermin itu kepada si pelayan. Ta ku berkata. "Seperti apa wujudnya?" Halaman 161 dari 500 . Kami membeli pisau dan peralatan darin ya dia juga membawa cermin ini. lalu dia mulai mengoles¬kan salep yang lengket itu. Dan ia berusaha menyingkirkan perasaan itu sekarang. "Uhh." Diketuk bagian permukaannya. Sesuatu tentang cermin asing itu meng¬ganggu nya. "Bekas luka ini akan lama hilangnya. seraya menyeka luka itu dengan segumpal kertas bersih untuk mengeringkannya. Cermin-cermin ini cukup populer. "Terbuat dari kaca. Takeo melihat lagi bayangan wajahnya. seorang laki-laki Kuroda." Taku setuju." Bagian belakangnya terbuat dari semacam logam yang tidak segera dikenali oleh Ta keo. "Dari Kumamoto. Aku pernah lihat cermin yang serupa di Hofu dan Akas hi. diukir atau dibentuk menjadi motif bunga¬bunga yang saling terjalin. "Sepertinya begitu.

bahkan ke Inuyama. kendati aku sudah berusaha membujuknya agar membiarkan sosok kucing itu keluar. Semakin se dikit orang . di Inuyama dan dalam perjal anan-perjalananku." sahut Taku pelan." "Kebodohan macam apa ini? Jangan katakan kalau kau sedang dimabuk cinta!" "Mungkin benar. dia akan ikut denganku . setiap hari aku bersama Hiro shi dan Lord Kono. Kau belum pernah melihainya?" "Aku pernah merasakan kucing itu ada dalam diri Maya. Tapi Sada berbeda. dan memiliki tatapan maut Kikuta. Jika kuaj ak dia bersamaku. Bisa kukatakan kalau kemanapun aku pergi. dan kepada istrimu!" "Istriku tahu kalau aku selalu punya perempuan lain. Hana pasti akan mengenalinya." "Mungkin kau harus kembali ke Inuyama. Dia harus patuh. bertanya-tanya tentang Maya. Kekuatannya luar bi asa besar. harus bertanggung jaw ab atas perbuatannya. Kau b elum pernah Kucing itu? Ukurannya sebesar serigala. "Kurasa ini menjelaskan alasan kau pergi jauh dari kastil. "Tapi itu sudah terjadi. Maya harus b elajar mengendalikannya: saat ini sepertinya roh kucing itu mengambil alih saat pertaha nan diri Maya lemah. dan akan berlanjut. Kucing itu bisa menembus dinding." Takeo merasakan amarahnya meluap. Sepertinya aku tidak bisa hidup tanpa dia." Takeo tercengang karena Taku begitu dimabuk cinta dan dia tidak berusaha menyemb unyikannya. Sebelum kejadian dengan si kucing. Maya menolak kehadirannya saat aku ada." "Dan ketika dia sendirian?" "Kami tak bisa mengawasinya setiap waktu."Kucing itu? Ukurannya sebesar serigala. dan memiliki tatapan maut Ki kuta. Tapi Maya merasa amat tertekan dan aku tak ingin mening¬galkannya." "Hanya sebagian. dan beberapa malam lalu Sa da dan aku sempat melihatnya sekilas. "Aku tak mengharapkan dua orang yang kupercaya kan putriku akan berakhir dengan tidur bersama!" "Aku pun tidak mengharapkannya.

dan sejauh yang bisa kami tahu." Jadi naluri Takeo benar untuk tidak memercayai keluarga Muto." "Bersama anak itu?" "Sepertinya begitu." Tak satu pun dari mereka bicara selama beberapa saat. Aku sempat berbincang dengan kakakku tentang topik pe mbicaraan yang cukup mengganggu yaitu kepemimpinan keluarga Muto. Aku tidak ingin memberikan Hana dan Zenko senjata lebih banyak lagi untuk mereka gunakan m elawan Anda. lalu meminumnya. dan ada beberapa aku tak tahu ada berapa banyak pihak yang tidak senang dengan gagasan perempuan berkuasa atas diri mereka. "Aku tak ingin men yinggung Anda. Kemud ian Taku berkata. Ini bukan jenis laporan yan g mesti dibawa Kono kembali ke ibukota. tapi hal-hal semacam ini selalu diputuskan dalam lingkup kelua rga. "Akan cukup mudah untuk menyingkirkan mereka di Hofu. Bia r aku yang Halaman 162 dari 500 . Aku tengah memikirkan rencana Anda menikah¬kan putri sulung An da. Lord Otori. dia berencana menghabiskan musim dingin di wilayah Barat aku takut kalau dia akan pergi ke Kumamoto. "Kau m embawa banyak berita huruk malam ini.yang tahu tentang masalah kerasukan ini. Aku tidak memercayai keduanya. atau dalam perjalanan. bukan dengan orang luar. Apa lagi yang mesti kau katakan padaku?" "Akio berada di Hofu. "Apakah mereka mau menerimamu?" tanya Takeo. Takeo menuang sake lagi untuk mereka berdua. lebih baik. Akhirnya dia berkata. Dia bertekad untuk memak sakan haknya sebagai penerus Kenji." Takeo mengambil cangkirnya lalu minum tanpa bicara.

jika dia menghubungi kakakku maka dia akan disambut di sana." "Baiklah." "Aku akan bicarakan itu dengan istriku saat sudah kembali ke Hagi nanti. Dia ingin berunding dengan Anda demi nyawa anak-anaknya. Mereka selalu menyatakan bahwa bangsawan bisa berkuasa dan jatuh. "Bagaimana dengan Maya?" "Dia bisa tinggal bersamaku. tapi terlepas dari kej adian malam ini. tapi Tribe akan selamanya ada. Begitu Akio sampai di Kumamoto." Berita ini. olah karena itula h Akio membunuhnya." "Tapi yang pasti kau tidak berencana jauh dari Inuyama selama musim dingin. hanya Anda yang bisa memutus¬kan itu. Takeo bertanya pada dirinya sendiri apakah Maya mesti pulang bersamanya tapi cemas dengan ketenangan pikiran Kaede. dan kesehatan istrinya selama kehamilannya. d an itu akan menimbulkan lebih banyak per¬selisihan. sa ma seperti saran Taku kalau ia sendiri yang harus membunuh putra¬nya sendiri. bahkan ditampung. yang tak mau berunding dengannya? "Anda harus memutuskan nasib sandera di Inuyama. lean ?" ." ujar Taku. Begitu Akio sampai di Kumamoto. kami sudah membuat kemajuan. "Anda mesti meng eksekusi mereka sesegera mungkin. Gosaburo pernah memerintahkan hukuman mati untuk banyak orang salah satunya." "Tak boleh ada orang yang menyentuh anak itu. jika dia menghubungi kakakku maka d ia akan engaturnya. dia berhasil mengendalikannya." Taku mendesak. tapi kini kendalinya atas diri mereka sedang diuji." "Jangan terlalu lama.mengaturnya. Satu lagi yang kutahu adalah Gosab uro sudah mati. setidak¬nya. Maya berusaha membuat Sada dan aku sen ang: dia memercayai kami. Melalui Kenji. Aku tahu Anda merasa kecewa. pernah dilaksanakan Takeo sendiri tapi ternyata Akio malah berbalik mem¬bunuh pamannya. Bila tidak Tribe akan menganggap Anda lemah. memaksa dirinya mengingat kekejaman tanpa ampun Tribe. amat mengejutkannya. Tapi bagaimana ia meng¬hadapi musuh yang tak mudah ditan gani ini. Dia belajar mengendalikan kerasukan itu dan siapa yang tah u manfaat apa yang mungkin bisa kita ambil darinya. dan juga sikap Taku yang terus terang.

merayap di dinding lalu kembali ke kamarnya tanpa keta huan. katanya pada dirinya saat menggeser pintu terbu ka Halaman 163 dari 500 . Aku harus terus mengawasi kaka kku. Aku sudah terlalu tua untuk ini." "Dan Sada akan ikut denganmu?" "Aku membutuhkan Sada. bertanya-tanya apa yang sedang dilakukannya selagi mengumpulkan lagi semua tenag anya yang melemah untuk ecnghilang." *** Takeo kembali ke kastil Maruyama tepat sebelum matahari terbit. Perasaan senangnya pada kemampuan Tribe sebelum¬nya telah sirna." Kehidupan pribadinya bukan¬lah urusanku. kelelahan dengan kejadian malam itu."Aku tidak boleh terlalu jauh dari wilayah Barat. pikir Takeo. "Lord Kono juga a kan ke Hofu. Mungkin aku akan menghabiskan musim dingin di Hofu: cuacanya lebih lembut. Dia akan kembali ke ibukota. dan aku bisa mend engar semua desas-desus yang datang dan pergi melalui pelabuhan." "Dan Anda sendiri?" "Kuharap bisa tiba di rumah sebelum musim dingin." "Baiklah. terutama bila aku harus membawa Maya. Kini ia hanya merasa jijik pada dunia yang gelap itu. Aku akan tinggal di Hagi sampa i anak kami lahir. Lalu saat musim semi aku harus pergi ke Miyako.

Zenko pasti mengetahuinya. dibawa dengan tandu dan didampingi sebarisa n pengawal. cakar beruang Kumamoto tergambar jelas di jubah dan p anji-panjinya. Kamar itu sudah terang saat Takeo tertidur. alu melangkah masuk. dan warisan yang kuturunkan pada putri-putriku bukan berarti aku akan bebas. Kemudian teringat m asalah dengan cermin tadi. dan kini di Hagi: adakah orang asin g lain di negeri ini? Jika mereka berada di Kumamoto. namun dia tidak menga takan sepatah kata pun tentang hal ini begitu pula Taku.. Pikiran kalau Taku menyembunyikan sesua tu memenuhi dirinya dengan ke-marahan. Laki-laki cenderung bersikap ceroboh saat terjerat asmara. Ketika terbangun. kepalanya pusing.. bak pencoleng? Aku pernah lolos dari cengkeraman Tribe. Takeo merasa amat terganggu dengan semua hal yang belum diketahuinya: lebih dari semuanya. dan kukira aku telah meninggalkannya untuk selama-lamanya. Penguasa macam apa yang mengendap-ngendap malam-malam denga n cara seperti ini. penampilan Zenko dan pendamp ing¬nya sudah berubah. Entah Taku menyembunyikannya atau dia memang tidak ta hu. diperintahkannya untuk mengurus keberangkatannya. Wajahnya meringis kesakitan. semuanya berpakaian mewah. tapi kekuatannya masih saja menjerat dirik u. dan meng¬instr uksikan Minoru untuk menulis surat pada Arai Zenko. Tapi mereka kakak beradik. Dia semakin mirip ayahnya. Tapi orangorang asing itu seharusnya dikurung di Hofu.lalu melangkah masuk. secara fisik mengesankan dan dengan ke percayaan diri yang makin tinggi: tingkahnya. dan warisan yang kuturunkan pada putri-putriku bukan berarti aku akan bebas. Bahkan dalam beberapa bulan sejak berjumpa di Hofu. keadaan Maya. memintanya menunggu Lord Otori. Perselingkuhan¬nya dengan Sada juga membuatnya khawatir. tapi kekuatannya masih saja menjerat dirik u. Penguasa macam apa yang mengendap-ngendap malam-malam deng an cara seperti ini. bak pencoleng? Aku pernah lolos dari cengkeraman Tribe. menge nakan jubah resminya yang tampak menambah tinggi badannya dengan bentuk bahu melebar dan kaku sena lengan panjang . anak buah dan semua pakaian sena senjata mereka b erbicara dengan keme¬wahan dan mementingkan diri sendiri. tamatlah riwayatku. dan kukira aku telah meninggalkannya untuk selama-lamanya. Bila aku tak bisa mem ercayai Taku. Tapi ia . Takeo sendiri telah mandi dan berpakaian dengan patut untuk pertemuan ini. Hari sudah sore ketika Zenko datang. Itu menandakan kalau barang-barang asing diperdagangkan di Kumamoto .

Karena di lihatnya ekspresi wajah Zenko yang merengut seperti tidak suka dan benci.. sayatan cakar." sahut Takeo. "Aku usulkan Sunaomi dan putri bungsuku. Hari itu terasa dingin dan lembap." "Aku menyadari kepercayaan yang kau miliki pada keluargaku." sahut Zenko. dan Zenko berseru kage t saat melihatnya. "Aku jatuh tersandung ranting di taman semalam." "Tentu saja kami berharap Lady Otori memberi Anda anak laki-laki." D ia akan mengira aku mabuk. aku harus menawarka n sesuatu kepadanya. dan akan makin mem¬benciku. aku berjanji membicarakan masalah p engangkatan anak pada saat ini.. Miki. Aku menganggap Sunaomi dan Chikara sebagai anakku sendiri. membuat dedaunan melayang dan menari-nari. kan? Ak u tidak mendengar b eritanya'" "Bukan apa-apa. ditunangkan saat mereka memasuki usia akil balik kelak. "Dan ak u berterima kasih yang sedalam-dalamnya padamu. "Apa yang terjadi? Anda terluka? Tentunya tidak ada yang menyerang Anda. Sesekali angin ber¬hembus di taman . putra-putraku takkan men¬dahului keturunan Anda." kata Takeo. namun ternyata ia berkata. pikirnya. dan merasa.tidak bisa menyembunyikan luka di pipinya. atau bersama perempuan. "Kau tentunya mengerti kalau ke¬hamilan istriku menye babkan tindakan formal apa pun sebaiknya ditunda." Takeo seperti melihat kekecewaan di wajah Zenko. Takeo pernah berjanji untuk tidak men¬jodohkan putri-putrinya saat mereka masih mu da." tutur Takeo." Halaman 164 dari 500 . hujan turun tadi pagi. Daun-daun merah pohon maple berubah warna menjadi lebih gelap dan mulai berguguran. "Ketika kita bertemu di Hofu awal tahun ini.. Ia berhenti bicara selama beberapa saat. "Pada dasarnya.

dan Miyoshi bersaudara datang bergabung." Setidaknya ta wa ran sudah di ajukan. "Tapi dia akan pindah ke Inuyama sampai aku kembali dengan selamat." Tak ada yang menyebutkan bahwa sebagian besar kekuatan Negara Tengah akan menung . "Mereka berdua masih sangat muda. Takeo tidak berbuat apa-apa selai n menerima kalau catatan itu benar. hasil dan bahan-bahan yang orang-orang asing ingin perjualbelikan. kendati semua katakatanya terdengar patut." sahut Takeo. biji besi yang dibelinya. menatap sekilas ke arah Kahei. Masih ada banyak waktu. mengetahui kalau Kono pasti sudah membicarakannya dengan Zen ko. Dan aku harus membicarakannya dengan istriku. Takeo menyebu tkan tentang cermin."Sungguh suatu kehormatan. seraya berpikir." sahut Zenko mengelak. bertanya dengan santai apakah benda semacam itu bisa dibeli di Kumamoto. di mana mereka akan tinggal dan sebagainya. Gemba ikut b ersama kami ke Miyako. "Bagaimana dengan Lord Miyoshi?" tanya Zenko." "Tentu saja." Zenko tidak terdengar gembira dengan usulan ini. Pe rempuan sangat menyukai barang¬barang baru semacam itu! Kurasa istriku pernah menerima beberapa s ebagai hadiah. segalanya tampak teratur." Zenko tidak terdengar gembira dengan u sulan ini. Hiroshi. "Di a akan berada di mana tahun depan?" "Kahei akan tinggal di Tiga Negara. ditekan¬kan niatnya yang penuh damai. keberatan tersebut memang apa adanya. Ia berbicara singkat te ntang usulan untuk mengunjungi Kaisar. dan dia mengulang keberatannya atas kesetiaaan kewajiban feodal. ken dati semua kataSungguh suatu kehormatan. ancaman atau kekurangan yang ditanyakan ora ng-orang asing. "Aku akan bicarakan kebaikan yang tiada tara ini dengan istriku saat kami menerima dokumen res mi tentang tawaran ini: harta benda apa yang akan mereka te rima." sahut Takeo. "Mungkin. Dia tidak bisa menyatakan kalau aku telah menghinanya. kurasa. dan men¬ceritakan pada Zenko kalau Hiroshi mau pun Shigeko akan ikut mendampinginya. dan perbincangan beralih ke pertahanan wilayah Barat. Tak lama kemudian Shigeko." "Jadi tidak ada orang asing di Kumamoto?" "Tentu saja tidak ada!" Zenko membawa catatan dan laporan tentang semua kegiatannya: senjata yang sudah ditempanya. "Benda-benda itu masuk melalui Hofu.

gu di perbatasan wilayah Timur di bawah perintah Miyoshi Kahei. Sebaiknya aku cepat-cepat di¬tunjuk sebagai pimpi nan keluarga: ini Halaman 165 dari 500 . di seluruh penjuru Tiga Negara. sementara sake dan mak anan disajikan." Zenko melihat sekilas pada Takeo. Pikiran Takeo melayang pada bahaya meninggalkan Negara Tengah tanpa per¬lin dungan tapi Yamagata dan Hagi hampir tak mungkin diduduki. dipimpin perempua n. sementara mereka amat menghormati ibuku dan juga An da. angin terasa dingin Ta keo merasa lelah. "Ada satu hal lagi yan g harus kita bicarakan. Bisakah Anda keluar ke beranda? Sebaiknya hal ini ku¬bicarakan berdua s aja. Ada rumor yang mengatakan ka lau dialah yang seharusnya mewarisi jabatan itu. dan istri juga putra-putra Kahei akan melakukan hal yang sama di Yamagata. merasa kalau bagaimana cara mengatakannya? tidak beruntung. dan penduduknya pasti akan melawan. putra Yuki. Mereka mempertimbangkan aku sebagai kerabat laki¬laki tertua dari Kenji untuk menj adi pewaris¬nya. t api orang-orang tahu keberadaan cucu Kenji. Selagi undur diri. ingin sekali tidur. "Aku tak ingin menyinggung Anda. Hujan turun lagi. tapi tak mungkin menut upi kabar ini dari Zenko. Mereka berdiri di bawah naungan tepian atap yang mene teskan air hujan. "Ini soal keluarga Muto. Mereka melanjutkan pembicaraan hingga hampir larut malam. Zenko berkata. Kesan yang kudapat adalah banyak pihak d i keluargaku." "Tentu. Kaede pasti mem¬pertahankan Hagi melawan serangan dari manapun . Zenko berkata kepada Takeo. bahkan salah." sahut Takeo setuju dengan ramah.

saat dia masih di Maruyama dan dalam kekuasaanku. Mengapa aku selalu harus mengulang-ulang¬nya? Aku lelah. tiga putra. Kau memiliki tanah da n bangunan yang luas. Aku telah menawarimu persekutuan yang lebih dalam dengan keluargaku melalui ikatan pernikahan. Tapi aku takkan membiarkanmu menantangku. kurasa mereka tahu.." "Lord Otori!" protes Zenko. "Anak itu tentu saja merupakan pewaris Kikuta." bisik Zenko. Kau sudah bersumpah setia kepad aku. serta istri yang cantik. Takeo diam sementara pikirannya ber¬kecamuk hebat. aku akan penntah dia menca but nyawanya sendiri! Aku harus melakukannya. dan seraya memperhatikan reaksi kemarahan Takeo." Andai kita bukan saudara ipar. dan kurang berhasil menutupinya! "Aku dibesarkan oleh Trib e. Bila tidak. "Atau menyebabkan perang saudara di negara kita.. "Lebih baik tetap men jauhkannya dari Muto. Aku menghargai persahabatan kita dan meman dangmu dengan penuh hormat. Aku hams me¬lakukannya sekarang juga." lanjutnya. kuanjurkan kau kembali ke Kumamoto dan menikmati hidup yang ku berikan padamu. kau berutang nyawa padaku. Aku tak bisa mem ercayainya.. Aku juga . kau sudah memilih car a hidup sebagai ksatria aku tidak mengerti mengapa kau mencampuri masalah Tribe!" Saat ini Zenko gusar. ditambah lagi keber adaannya. "Aku hanya berusaha membantu Lord Otori dalam situasi yang sulit ini. Akhirnya ia berkata. berusaha b ersikap halus. Andai ibunya bukan sepupuku dan salah satu sahaba tku. Un tuk yang terakhir kalinya." "Tidak ada yang tahu apakah dia masih hidup atau sudah mati. berpura-pura bersikap ramah yang sebenarnya telah sirna dari dalam diriny a.bisa membungkam rumor semacam itu dan meyakinkan untuk menegakkan tradisi. "Zenko. aku sarankan kau tidak mendesakku lebih jauh lagi." ujar Takeo." "Anda tidak akan mempertimbangkan pendapatku tentang pewarisan di keluarga Muto? " "Aku mendesakmu untuk mendukung ibumu sebagai pimpinan keluarga dan mematuhinya. isa membungkam rumor semacam itu dan meyakinkan untuk menegakkan tradisi." Senyu m tipis kepuasan sesaat menari-nari di wajahnya. aku akan memintamu untuk mengakhirinya. Lagipula." Seny um tipis kepuasan sesaat menari-nari di wajahnya. "Oh.

anggota keluarga Muto seperti halnya Taku. "Hiroshi akan berada di sini untuk mem¬bantuku. Jangan pernah lupa kalau kedua putramu ada di tanganku sebagai sandera atas kesetiaanmu. Tapi yang pasti Zenko takkan mem pertaruhkan nyawa kedua putranya." "Hanya ketika kau melihat ada ke¬untungan politis di baliknya! Jangan pikir kau bi sa terus tidak terkendali untuk me¬nentang wewenangku. peran mereka bak dalam pertunjukan drama. pikirnya. "Aku mengusulkan ini agar seluruh negara ini lebih kuat." Itu pertama kalinya Takeo secara langsung mengancam anak-anak itu. ruang penonton. diarahkan oleh tangan nasib untuk memainkan peran mereka sampai habis. "Jadi kau akan sendirian di wilayahmu ini." tutur Zenko. sementara Takeo lusa." Saat kembali. dih iasi dengan pahatan timbul emas di pilar dan kasaunya. Surga selamat kan diriku karena aku harus membuat ancaman ini. setidaknya sampai tahun depan. Saling menyembunyikan ke¬marahan." sa hut Shigeko. Keberangkatan Zenko dari Maruyama direnc anakan keesokan harinya. Mohon dilupakan saja. dan untuk mendukung Lor d Otori. penuh dengan pengawal berjubah warnawarna cemerlang menjadi latarnya." kata Takeo kepada Shigeko sebelum me reka beristirahat. mereka mengucapkan s elamat tinggal dengan sikap sopan yang dingin. "Tapi apa yang terjadi pada Ayah tadi malam? Siapa yang membuat Ayah terluka sep erti itu?" Halaman 166 dari 500 . bagi Takeo. "Aku minta maaf karena telah membicarakannya.

"Tapi aku tak ingin meng anggu ibumu di saat seperti ini." Takeo menceritaka n dengan singkat tentang Maya. terbentang di barat daya Tiga Negara. "Seharusnya Ayah jan gan menyimpan rahasia dari Ibu." Shigeko tersenyum lembut saat Takeo mela njutkan bicara. dan dia pernah mengajari ku. Dalam Ajaran Houou kami sering menghadapi m asalah seperti kerasukan hewan ini." Takeo menceritaka n dengan singkat tentang Maya." "Apakah Maya mesti ke Terayama?" "Dia akan ke sana di waktu yang tepat. dikelilingi pe¬g unungan yang kaya akan bijih besi dan batu bara. Shigeko tampak seperti orang asing. "Maya akan berada di Hofu bersama Taku selama musim dingin. setelah perjalananku ke ibukota. pikirnya. dan Takeo berterima kasih yang tak terkira kepadanya. B anyak perajin . Ceritakan semuanya pada Ibu. Semangat¬nya bangkit lagi selagi memeluk putrinya l alu mengucapkan selamat malam." ujar Takeo. Ayah jangan khawatir. Aku harus kembali ke sana. "Kurasa Ayah harus menceritakannya pada Ibu. yang me¬nyebut nama kecil nya dan mengenal siapa dirinya sebenarnya."Aku tidak bisa menyimpan rahasia darimu. jadi pastikan kalau ibumu tak mendengarnya. Gemba tahu banyak tentang hal ini." sahut Takeo." sahut Takeo. Ia merasa kalau Shigeko memiliki kemampuan spiritual yang sama. Shigeko mendengarkan tanpa bicara. Shigeko mendengarkan tanpa bicara. kota kastil Arai. "Kemudian kita harus terus berhubungan dengan mereka. tentang kerasukan dan hasilnya. dan terutama pembuatan pedang." Takeo bergidik. Sumber alam ini menyebabkan per¬kembangan industrin ya maju pesat untuk segala macam bentuk peralatan dari logam. Tiba-tiba ia teringat pada perempuan buta yang mengatakan ramalannya. Aku akan ziarah ke pegunungan. "Tapi aku tak ingin mengan ggu ibumu di saat seperti ini. penuh teka-teki dan bijaksan a. tentang kerasukan dan hasilnya. Dan kita juga akan meng¬awas i Zenko dengan cermat." kata Shigeko. tahun depan setelah anakku lahir."* Kumamoto. tidak menunjukkan ekspresi kaget maupun takut. jadi pastikan kalau ibumu tak mendengarnya. tidak menunjukkan ekspresi kaget maupun takut. ku tidak bisa menyimpan rahasia darimu. "Semua roh mencari kekuatan yang lebih besar yang bisa mengen¬dalikan mereka dan m emberi kedamaian. Ceritakan tentang Maya.

mempertanyakan mengapa Kumamoto kini tundu k pada Hagi ketika Arai Daiichi sudah menaklukkan seluruh Tiga Negara. Hisao mendengar nada tidak senang yang sama di mana-mana. "Akan lebih menguntungkan jika Otori ijinka n kita memproduksi hasil yang cukup untuk memenuhi permintaan. Ayahnya mengatakan. begitu pula halnya waktu belakangan ini. Hisao tidak keberatan karena musim dingin sudah tiba sejak mereka sampai di Kumamoto dua min ggu lalu.pedang serta tempat penempaan besi yang sudah terkenal. tak seperti Otor i Takeo yang hanya Halaman 167 dari 500 . "Paling tidak. Pompa yang keras. yaitu membuat senjata api. membang kitkan ketidaksenangan untuk me¬nentang Otori. de ngan gembira. "Apa hak mereka mendikte Arai apa yang boleh dibuat dan apa yang tidak boleh dib uat. nak. dan tiap malam terasa dingin menggigit. berkembang bisnis yang bahkan lebih menguntungkan. apa yang boleh kami jual dan apa yang dilarang!" imbuh Koji. angin dingin berhembus dari laut keabuan. dengan hawa panas yang seakan membakar wajah dan tangannya." Hisao memompa pegangan dengan tiupan sekuat tenaga dan kotak pemanas semakin pan as. bahwa para pengawal Arai tiada henti menghembuskan desas-desus. Koji." gerutu si tua.

engambil keuntungan dari gempa. Pemuda itu bernama Yasu. "Kita tunggu sampai Arai kembali.mengambil keuntungan dari gempa. Akio dan Hisao mengetahui saat mereka tiba di Kumamoto bahwa Zenko tidak ada di sana dia dipanggil ke Maruyama oleh Lord Otori. berasal dari Hofu dan lari ke Kumamoto setelah bermasalah di s ana karena terlibat dalam penyelundupan senjata api. "Mengharapkan Ar ai menyerahkan semuanya. Belum cukup¬kah Otori menyandera kedua putra Arai?" "Dia suka mempermalukan sekutu mau¬pun musuhnya. lalu menyebabkan kematian Lord Arai dengan meng gunakan senjata api yang sama yang kini dilarangnya." "Apakah ada banyak orang sepertimu yang bekerja pada Arai?" "Ya. dan m ereka adalah keluarga yang kehilangan kekuasaan dan pengaruh selama masa peme¬rintahan Otori. Keluarga Kuroda selalu berhubungan dengan Muto." sahut laki-laki yang satu lagi. tapi untungnya dia masih meng¬anggapku terlalu berharga. dan membuat pertukaran. Dia memberi salam dengan sikap tunduk dan gembira." kata Akio pada Kazuo. seorang pemuda berwajah tajam datang meminta d ipanggilkan Akio pada satu malam. Dia akan jatuh. lalu menyebabkan kematian Lord Arai dengan mengg unakan senjata api yang sama yang kini dilarangnya. "Untuk memuas¬kan kesombongannya sendiri. dan Otori pun akan tumbang ber-samanya. separuh Kikuta. Lihatlah Shintaro yang hebat! Separuh Kuroda." . saat makan malam. s ambil mengangkat semua piring lalu kembali ke dapur." ujar Akio." ujar Kazuo. Tapi sebenar¬nya dia tidak punya kekuatan. beberapa hari kemudian. tapi kami juga punya banyak hubungan dengan Kikuta. ada banyak. K endati demikian. "Setelah itu kita akan membutuhkan dana. dan memanggi l Akio dengan sebutan Ketua serta meng¬gunakan bahasa dan lambang rahasia keluarga Kuroda . Uang Jizaemon sudah hampir habis." Hisao tahu kalau hanya ada sedikit keluarga Kikuta di wilayah ujung Barat." "Akan ada perayaan di Kumamoto pada hari itu. "Memperlakukannya bak pelayan. "Aku sudah mati!" selorohnya. seperti yang ka u tahu." ujar penjaga penginapan pada malam pertama mereka. "Lord Arai harus mengeksekusi diriku atas perintah Lord Otori. "Terutama dengan tiba¬nya mu sim dingin.

" Halaman 168 dari 500 ."Dibunuh Otori. "Masih banyak kematian yang belum ter¬balaskan." ujar Yasu sepakat." "Kami di sini untuk memperbaiki jembatan yang terputus dan menyembuhkan luka. "Memang itulah yang kami harapkan. saat itu dia masih kecil. seperti Kotaro. tapi sejak kematiannya. "Keadaannya be rbeda saat Kenji masih hidup." t utur Akio kepadanya. "Lagipula. Lord Zenko akan senang." Akio mengamati dengan tenang." tutur Kazuo . dan ter¬libat dalam kematian Kotaro. dengan menjadi bangsawan besar." "Taku adalah tangan kanan Otori. dial ah kerabat laki-laki tertua dan bila dia tak ingin meneruskannya. Dan itu juga ulah Otori. Seharusnya Zenko yang menjadi pimpinan. dan yang kedua karena Otori yang mengatur¬nya. Pertama-tama karena merasa tidak benar dipimpin seorang perempuan . bisa kukatakan itu pa damu. Tak ada yang merasa senang. maka seharusnya jabatan itu dipegang Taku. semenjak Shizuka menjadi ketua segalany a berubah. dan masih bisa dimaafkan tapi tidak benar kal au hubungan antara Muto dan Kikuta menjadi begitu jauh.

bahwa ay ahnya haus akan rasa hormat dan status dengan cara yang hampir ketinggaian jaman di kota ya ng sibuk dan moderen ini. tapi juga. Yasu sangat menyukai golok. Yasu adalah orang yan g penuh perhitungan yang tidak mau memberi dengan cuma-cuma: bila Yasu menolong mereka sekarang. salah satu pandai besi. kendati Yasu sering mengaku kalau dia tidak mengambil keuntungan apa pun dari Pi mpinan Kikuta. membutuhkan asisten. tida k hanya dari Shin dan Shilla. Klan Arai penuh dengan rasa percaya diri serta kebanggaan. Mereka mengen dalikan pesisir dan jalur kapal laut. pekerjaannya pada Koji dibayar dengan makanan dan te mpat tinggal. seolah su dah membeku selama bertahun-tahun karena mengasingkan diri di Kitamura. yang digunakan jurumasak hebat di kastil hingga bilah pisau kecil dengan ketajaman luar biasa untuk memotong daging. Koji. Pada tahun baru nanti usianya beranjak tujuh belas tahun. suatu ke-hormatan diijinkan membantu. Bukan lagi bocah yang bisa didominasi dan dilec ehkan. Kumamoto dipenuhi pedagang bahkan beberapa orang asing. Ia sudah dewasa.Yasu membayar penjaga penginapan lalu mengajak mereka ke tempat menginapnya send iri. di¬pandangnya sang ayah dengan pandangan baru. Sejak meninggalkan rumah. dan barang-barang yang indah tiada tara. dan betapa kuno cara ber¬pikirnya. dari Kepulauan Kecil Barat. Hisao menyukainya. di belakang toko tempat dia menjual pisau dan peralatan dapur lainnya. Dan Hisao juga melihat kalau Akio sudah semakin tua. itu karena dia melihat akan ada keuntungan di masa akan datang. Kehadiran mereka di Kumamoto ditandai dengan bisik-bisik karena seluruh kota tah u larangan Otori yang tak masuk akal pada siapa pun bertransaksi dengan orang asing . kabarnya. Hisao menyadari bagaimana Akio merasa tersanjung dengan perhatian Yasu. Yasu sangat menyukai golok. Wilayah mereka kini terbentang melintasi wilayah Barat: Noguchi dan Hofu milik mereka. diajaknya Hisao ke tempat penempaan besi yang dibel inya. Saat mengetahui keter¬tar ikan Hisao pada segala macam peralatan. Karena utang dan kewajiban. yang digunakan jurumasak hebat di kastil hingga bilah pisau asu membayar penjaga penginapan lalu mengajak mereka ke tempat menginapnya sendi ri. Namun menurut Hisao. dan Hisao mengasah ketrampilannya bersam a laki-laki itu. di belakang toko tempat dia menjual pisau dan peralatan dapur lainnya. orang barbar d engan mata seperti buah ek serta berjanggut lebat. dan menjauhkannya dari k ehadiran Akio yang membuatnya merasa tertekan. bukan hanya pekerjaannya dia memang terampil mengerjakannya tapi juga karena pekerjaan itu memberinya lebih banyak kebebasan.

dilipat deng an cara yang aneh. si orang asing menyibakkan tudungnya dan Hisao menyadari dengan terkejut dan keingin¬tahuan kalau itu orang barbar. dicetak. Begitu tiba di jalanan. suatu hari dia ditemani laki-laki bertubuh tinggi berpakaian mantel panjang dengan tudung yang menutupi wajahnya. Ia menangkap maksud si orang barbar secepat Koji mema haminya. Klan Arai mulai membara di balik ketidakadilan . dan begitu pula dengan masalah pe rsenjataan yang sangat efektif. tempat meniup bara api. Kala itu kira¬kira pertengahan bulan kesebelas. disadarinya kalau ia juga seperti itu. begitu pula dengan berbagai penemuan. yang lebih memaham i permesinan ketimbang bahasa. Hal in i dipercaya banyak orang begitu adanya karena Negara Tengah ingin mengambil keuntungan bagi mereka sendiri. dan memper¬lihatkan gambar-gambar yang terlihat jelas kala u itu cara-cara Halaman 169 dari 500 . menggambar sketsa tempat pembakaran. tapi dia tertarik saat Jizaemo n memperlihatkan benda-benda mereka. Perhatian orang asing itu tersita oleh metode mereka. Hanya bara api yang mewarnai bumi yang berubah dari hitam menjadi abu -abu pada musim dingin. mengumpulkan persediaan baru pisau.secara langsung: semua perdagangan harus melalui pusat pemerintahan Klan Otori. dan selagi Hisao mengikuti mereka di sekitar tempat penempaan. mempelajari semuanya dengan kilatan matanya yang cepat. Orang barbar itu hampir tidak bisa berbicara dengan mereka dia hanya tahu beberapa kata. ketika mereka minum sake. orang itu mengeluarkan buku. tapi dia dan Koji adalah tipe orang yang bicara dengan bahasa isyarat. mengirim kayu untuk b agian pembakaran. belanga. sangat mematikan. bukan ditulis. Yasu kerapkali memanggilnya ke tempat penempa¬an di sore hari untuk memberi perintah baru. cet akan dan pipa. Meskipun Hisao belum pernah melihat orang barbar. matahari sudah mulai tenggelam dan langit suram membawa ancaman salju yang akan turun. setelah itu. Mereka tiba pada sore hari. diatur dari Hofu satu-satunya pelabuhan tempat kapal asing diijinkan secara resmi merapat.

hanya separuh dari pajangan pisau dan ka pak. jemarinya menggaruk -garuk belakang telinga. Tapi bisa dibuat. Laki-laki itu menjentikkan jari. Bocah itu membereskan tempat penempaan. dilihatn ya ibunya dalam kabut hampa tempat separuh dari dunia berada. Ia membuat teh untuk ora ng-orang itu. "Pistola!" dia membuat gerakan menyembunyikan senja ta itu di balik pakaian. dan segera menginginkannya. benaknya dipenuhi dengan berbagai i de tapi entah karena ide-ide itu. Rasa sakitnya makin tak . dan selagi berusaha menyeimbangkan tubuh. tap i ada satu. Wajah ibunya tampak memohon dengan penuh kelembutan dan ketakutan. Hisao. lalu mengeluarkannya dan mengarahkannya pada Hisao. yang berlutut di satu sisi. "Pa! Pa!" Dia tertawa. Di benaknya muncul berbagai macam kemungkinan yang bisa dilakukan. yang berlutut di satu sisi. me¬madamkan api lalu menyiapkan semua peralatan untuk keesokan harinya. Bentuknya kecil. Koji meng¬amatinya dengan cermat. Hisao. dan mereka semua memahami maksudnya. bisa me mpaan. lalu mengisi mangkuk sake mereka kemudian pulang. Hisao merasa mual sewaktu kekuatan meminta bantuan perempuan itu menghantam diri¬nya. bisa me rasakan semangat dalam dirinya yang semakin tinggi selagi halaman buku dibolak¬bal ik. Saat sampai di rumah Yasu. Hisao tidak tahan untuk mengulurkan dan menyentuh dengan jari telunjuknya. hampir berukuran sepertiga dari panjang semua se njata lainnya. Hisao tersandung anak tangga. Senjata se macam itu mahal. pikir Hisao. dahinya berkerut. yang terlihat olehnya hanyalah separuh dari bangunan. Koji meng¬amatinya dengan cermat. "Morto!" (=mati) Hisao belum pernah melihat benda seindah itu. mengintip di bawah cahaya r emang-remang. Si barbar tertawa cekikikan. terselip di antara senjata yang lain bak seekor a nak kuda di antara kaki induknya. atau angin dingin set elah hawa panas di tempat penempaan telah membuat kepalanya pening. dahinya berkerut. mengintip di bawah cahaya r emang-remang. atau tidak terbiasa dengan sake. di bagian bawah halaman.penempaan. Pada halaman terakhir ada beberapa senjata api: sebagian besar senjata panjang dengan ben¬luk aneh yang sudah dikenalnya. jemarinya menggaruk-gar uk belakang telinga. Yasu menyuruh Hisao pergi sewaktu dia membicarakan soal pembayaran. dan bertekad untuk mempelajari cara membua tnya.

" Hisao tidak tahu kalau ia pernah ingin melakukannya. disadarinya ada yang mendekat. Saat itu ia merasa ketakuta n kalau ibunya tahu semua vang ada di benaknya. "Kau tidak boleh mem¬bun uh ayahmu.. dan mendengar suara Yasu . garis bayangan tubuh nya tersamar oleh kabut dan hujan salju. Perempuan itu berkata.. "Pergi! Tinggalkan aku sendiri!" Di sela-sela erangannya. kebencian juga kasih sayangnya.. Perempuan itu mengikutinya keluar mengambang di atas tanah. jatuh dengan tangan dan lutut menahan tubuh." Mereka membopongnya ke dalam dan membersihkan muntahan dari wajah dan rambutnya. matanya berair karena rasa sakit. Hisao berteriak ke arah perempuan itu. "Ketua! Cepat kema ri! Putramu. Sake tadi terasa masam di mulutnya. "Aku takkan membiarkanmu melakukannya. suaranya di kepala Hisao menyengat bak es. kemudian disadarinya kalau ia ingin mu ntah. "Siapa di sana? Hisao? Tutup pintunya. menggetarkan seluruh urat syaraf di sekujur tubuhnya. dingin sekali.tertahankan. Tidak tahan untuk mengerang. kemudian memanggil Akio." Ibunya bicara." Suara perempuan itu tidak bisa ditolerir lagi. membuat semua syarafnya bak terbakar api. berseru dari dalam. Akio. angin sedi ngin es membuat air matanya terasa membeku di pipinya. "Apa-apaan ini!" seru laki-laki itu. Halaman 170 dari 500 . ayahnya. merangkak ke teras lalu membungkuk ke parit.

" sahut Akio. Hisao menarik rasa sakit itu di sekeliling dirinya sebagai tameng untuk melawan perempuan itu. "Seharusnya dia tidak boleh minum." sahut Yasu. kalian ada hubungan k erabat dengan ikatan pernikahan. Akan kuseduh sesua tu untuk raembantunya tidur. Rasa sakit membuatnya liar." "Itu tujuan utama kami keraari. Saat ter¬b angun. Tida k apa¬apa."Si bodoh ini minum terlalu banyak sake." "Hisao hampir tidak minum sake. Rasa sakitnya akan hilang dalam satu atau dua hari. Dan lagipula. dan ingatan tentang senjata api kecil yang indah tadi serta betap a ia ingin membuatnya. dan ia pasti tertidur sebentar. "Bisakah kau mengatumya?" "Aku yakin bisa. mendengar dentingan mangkuk sake da n suara pelan mereka selagi minum. tapi ia t ak ingin mendengarnya. tapi rasa sakitnya tidak berkurang. Mengerti samar-s amar kalau ia mendengar¬kan perkataan perempuan itu maka rasa sakitnya akan berkurang. Teh meredakan ambang batas kesadaran¬nya. selagi membantu Hisao berbaring dan menyeli¬mutinya. kan? Putramu dan putra Zenko semestinya saudara sepupu. begitu pula dengan suara perempuan itu. didengarnya Akio dan Yasu tengah berbincang. Biarkan dia tidur. Kini perempuan itu melayang di kamar yang gelap Hisao tidak perlu lentera untuk bisa melihatnya. "Seharusnya dia tidak boleh minum. dibesarkan tanpa ibu!" ujar Yasu." "Zenko memiliki kemampuan Tribe?" ." "Anak malang. Zenko pasti sangat ingin menyatukan keretakan antara Muto dan Kikuta. separuh bicara pada diri sendiri . "Aku tidak bisa menahan perasaan kalau per¬temua n kalian akan membawa keuntungan bagi semua orang. Kepalanya tidak kuat untuk itu." Si bodoh ini minum terlalu banyak sake. "Mestinya dia tidak mabuk. "Zenko sudah kembali. Mungkin dia sakit?" "Terkadang dia sakit kepala. mengg igilnya berkurang. Membuatnya ingin melampias¬kan nya pada orang lain. Penyakitnya itu sudah dideritanya sejak kecil." kata Akio." kata Yasu. bak hewan yang disiksa." kata Akio. Biarkan dia tidur. Kepalanya tidak kuat untuk itu." Hisao minum teh dan merasakan ke¬hangatan perlahan mulai kembali ke tubuh¬nya. "Dia menggigil kedinginan.

Dia seperti ayahnya. tapi tak berbakat. seorang ksatria . Ibunya dulu sangatlah berkemampuan tinggi." "Tapi tangannya terampil." aku Akio. Tidak seperti adiknya. "Selain itu. "Dia pernah belajar beberapa hal. tapi Takeo itu amat pandai sekaligus beruntung." Yasu minum lagi lalu tertawa terkekeh. Hal i tu membuat kalangan Kikuta kecewa. bisa kupastikan itu." "Putraku hanya memiliki sedikit kemampuan."Bukan seperti yang diketahui banyak orang." "Aku memahami perasaanmu. Koji cukup menyanjung anak itu dan Koji tak pernah memuj i siapa pun. Barangkali di a akan mengejutkanmu!"* Halaman 171 dari 500 . Sepasukan ksatria mungkin bisa berhasil menggantikan kegagalan para pembunuh Tribe. Itu sebabnya kau harus bicara dengan Zenko." "Tapi itu tak membuatnya sebanding dengan Otori. tapi dia tak mewariska n apa pun pada putranya. Sepu cuk senjata lebih kuat ketimbang kekuatan magis Tribe mana pun." "Itukah yang kau harapkan? Kalau Hisao akan menjadi pembunuh agar bisa meng¬habisi Takeo?" "Hidupku tidak akan damai sampai Otori mati. Hisao menyukai senjata.

dengan niat buruk me¬warnai nada suaranya. karena mereka telah menerima pesan dari sang bangsawan saat hendak meningg alkan Hofu. Takeo tak¬kan men yakiti mereka. Zenko berkata. deng an keberuntungan Takeo akan terjebak di Yamagaia dan takkan bisa kembali ke Hagi sebelum musim semi." ujar Hana. "Jangan khawatir." sahut Zenko. dan ingin merasakan di kulitnya. lubang jaringnya tipis. seraya menatap ke laut di kejauhan dan memikirkan anak-anaknya."Kau bilang dia mengancam anak-anak kita secara terang-terangan?" Lady Arai mena rik baju luarnya yang terbuat dari bulu. Salju turun lebih awal tahun ini." "Setidaknya kita tahu Lord Kono sudah aman dalam perjalanannya kembali ke Miyako . " Begitu pula halnya dengan perjodohan antara Sunaomi dan putri mereka." Dibelainya permukaan bulu. Dia terlalu lemah untuk melakukan hal itu." ujar Zenko." "Di Hagi pasti sudah turun salju. ." Mereka tersenyum dengan tatapan penuh kelicikan." sahut suaminya. "Dia hanya menggertak." ujar Hana. "Mari berharap dia menyiapkan penyambutan yang hangat bagi Lord Otori tahun depan. lalu tawanya m eledak. "Kukira dia sudah tak bi sa hamil lagi." "Aku terkejut dengan kabar tentang kakakku." komentar Zenko. "Jaring Surga amat¬lah luas." komentar Hana. "Menyenangkan melihat Takeo terbuai pujian. Angin berhenti b erhembus dan serpihan salju mulai berjatuhan perl¬ahan dan mantap. Zenko. "Dan di pegunungan. "Bagaimana kalau nan ti anaknya lakilaki?" "Tak ada perbedaan besar. Dia belum bertemu dengan mereka lagi sejak mereka pergi saat musim panas. "Tapi kita akan pura¬pura menerima itu. Angin bercampur hujan es yang berhembus dari laut sepanj ang minggu sejak kembalinya mereka dari Maruyama akhirnya berubah menjadi salju." gumam Hana. "Kono memang pendusta y ang lihai dan patut dipercaya!" "Seperti yang dikatakannya sebelum pergi. jika semuanya berjalan sesuai tencana. Pada akhirnya Takeo akan t erjerat di dalamnya. Kini jaring¬nya ditarik lebih kencang." "Sunaomi tak boleh menikah dengan si kembar!" ujar Hana.

bergan tung padanya ketika kesedihan akibat kematian orangtua mereka nyaris membuat dirinya tidak wa ras dan Kaede justru meninggalkannya. Andai dia menyerah pa daku dan mengambilku sebagai istri keduanya. Ai."Satu-satunya hal baik yang pernah Takeo lakukan yaitu menikahkanku denganmu." u jar Zenko. Begitu pula dengan Kaede. sama halnya deng an kakaknya karena menelantarkan diri¬nya ketika mereka masih kecil. betapa berbedanya keadaan jadinya? Aku bisa memberinya anak laki-laki. ditahan di Inuyama sebagai s andera. "Kau masih bisa punya anak lagi!" seru Zenko. Dia harus membayarnya. dan akan dibunuh di sana andai Sonoda Mitsuru tak menyelamatkan mereka. Setelah itu. pergi menunggang kuda pada satu pagi di musim semi dan t ak pernah kembali. Sedangkan bagi Takeo merupakan ke¬salahan fatal. pikir Hana. tid ak menjadi ancaman bagi¬nya. tanpa diriku Zenko akan jadi tak lebih dari bangsawan kecil. "Ayo kita buat anak laki-laki lagi sepasukan anak laki-laki. Hana dan kakaknya." Halaman 172 dari 500 . Hana memuja Kaede. Hana tidak pernah memaafkan Takeo karena telah menolak dirinya.

"Dia menipumu setiap hari tapi kau tidak memerhatikannya. "Kita akan bereskan masalah penerus Muto. "Sajikan minuman." sahut Zenko dengan tenang. sedikit ba nyak akan cukup menambah kekuatan.. Dia memata-mataimu pal ing sering tahun ini. Aku tak bisa mengubah p eraturan itu bahkan untuk saudara kandungku sendiri." "Aku tak pernah suka pada Taku. "Seharusnya kesetiaannya yang pertama mestinya kepadamu. . Pintunya bergeser terbuka dan seorang pelayan laki-laki bicara pelan." "Kuroda datang secara terang-terangan?" tanya Hana." "Taku amat populer. Menikah dengan putri Kenji. Pastinya b anyak pihak yang tak ingin menentang mereka?" "Kurasakita akan mendapatkan dukungan. "Lord Arai. dia ketua Kikut a sejak kematian Kotaro. mata dengan kelopak tebalnya be rbinar.. Namanya Kikuta Akio. Tatapan tidak senang terpancar sekilas di wajah Zenko yang lebar. dan bisa dipastikan kalau dia mengacaukan surat-surat kita." ujar Zenko. Dan ibumu juga." Hana menaikkan alisnya. Dan jika teman Kuroda adalah orang yang sudah kuperkirakan. saat itu terdengar ketukan ringan di pintu.Mereka hanya berdua di ruangan itu. Taku kelak harus mematuhiku." "Mereka datang dalam cuaca seburuk ini." hard ik istrinya. atau. kau sendiri sering bilang begitu." "Atau apa?" "Hukuman dalam Tribe atas ketidak¬patuhan adalah kematian." Zenko berhenti sejenak lalu menatap Hana." kata Hana tiba-tiba. Kuroda Yasu datang bersama seorang laki-laki . Yuki. dan Hana mengira suaminya akan mulai berg erak tapi kemudian. tapi biar kan mereka tunggu sebentar sebelum kau mem¬bawanya masuk. "Taku sedang di Hofu tidak ada yang memata-matai kita sekarang." "Itu semua akan segera berubah. setelah istrinya mati. dia bersembunyi dengan anak laki-laki Yuki. "Dia adikku. bukan pada Takeo.. dan pastikan kelak kami tidak diganggu. dan Hana mengira suaminya akan mulai bergera k tapreka hanya berdua di ruangan itu." "Aku tak sabar ingin bertemu dengannya. "Sebaiknya kuceritakan sedikit tentang dia." Zenko memperingatkan istrinya.

atau setidaknya dengan melindunginya. Kenap a Yuki dipaksa minum racun? Alasan Kikuta membunuhnya adalah pasti karena mereka tak memercayai nya. benak¬nya sudah mencari-cari cara untuk me¬manfaatkan b erita ini." Hana sepakat. aku yakin itu." "Kakakku pasti tak tahu. lalu tertawa lagi. Anak itu -me reka memanggilnya Hisao ternyata anak laki-laki Takeo. tentu." suaminya menyarankan. "Aku mendengar semua desas-desus di keluarga Muto sewaktu aku masih kecil. "Oh."Bukan anaknya Akio?" tanya Hana. "Bukan anaknya Takeo. Dan kenapa Kenji berpindah memihak Otori. Tapi mengapa Takeo tak pernah mencari anak itu?" Halaman 173 dari 500 . "Mungkin kau bisa beritahukan pada saat yang tepat." Hana merasakan ada getar kesenangan memikirkan hal itu. "Sudah berapa lama kau tahu ini?" tanya Hana. kan?" Zenko mengangguk. Dia terkejut sekaligus bersemangar dengan tersingkapnya kenyataan ini. bersama empat dari lima keluarga? Kenji pe rcaya kelak Takeo akan mengakui anak itu.

Ia pun memiliki beberapa cermin yang terbuat dari kaca keras. "Saat kakakku tahu ini." Kurasa ada alasannya: dia tidak ingin istrinya tahu. dan Takeo memer¬cayainya." Hana mendengar langkah kaki di luar." ujar Zenko." sahut Hana. Pemerintahan mereka diseimbang¬kan dengan bersatunya mereka berdua: dengan menyatukan laki-laki dan perempuan. Sebagaimana Tabib Ishida yang dengan baik hati meng¬ungkapkan pada ka mi. dan saat sudah datang. "Kita akan mengakui anak ini sebagai pewaris dari keluarga Kikuta dan Muto. berkilau yang menu njukkan bayangan orang yang nyata." "Dan Tribe takkan terpecah belah lagi. Kaede sudah bertahun-tahun menginginkan anak laki-laki: maka dia takka n memaafkan Takeo karena anak yang disembunyikan ini. "Realistis dan prak tis."Kurasa ada alasannya: dia tidak ingin istrinya tahu. Suaminya meminta dibawakan sake lagi. keduanya dipengaruhi oleh Terayama dan apa yang mereka sebut Ajaran Houou. Ia senang karena benda ini disimpan di Kumamoto. dan ketakutan kalau putrany a yang bisa membunuhnya." Hana menambahkan. Berpisahnya kesatuan itu akan membuat Tiga N egara hancur berantakan. ada ramalan yang mengatakan seperti itu. gadi ng dan emas. hal itu tidak menggangguku." katanya. mer eka pasti akan berpisah. Takeo juga pasti begitu: dia tak pemah mengambil perempuan lain itu sebabn ya dia tak punya anak laki-laki. Dia mengenal Kuroda Yasu yang mengambil keuntungan dari barang-barang mewah yang diimpornya dari Tenjiku. "Dan kau akan mewarisi semua yang telah diperjuangkan ayahmu." "Tapi kebanyakan istri bersikap seperti diriku. Bila kau punya perempuan simpanan. Sebagaimana Tabib Ishida yang dengan baik hati meng¬ungkapkan pada ka mi. dan tahu kalau aku akan menjadi yang utama bagimu. serta dukungan dari jenderalnya. Lebih dari itu. dengan restu dari sang Kaisar. Hana menyuruh pelay an pergi karena dia yang akan melayani tamunya. dan melalui dirinya kita mengenda¬likan Tribe. Kini ia pun mem¬punyai rahasia hebat dan besar ini. raha ." Hana bisa merasakan nadinya berdenyut lebih kencang." "Banyak laki-laki memiliki perempuan simpanan dan anak haram. ada ramalan yang mengatakan seperti itu. Kakakku adalah orang yang idealis: dia percaya pada cinta. dan ketakutan kalau putran ya yang bisa membunuhnya. Aku memahami kebutuhan dan hasra t laki-laki. dan istri mereka m emaafkannya. "Mereka sudah datang. dan Takeo memer¬cayainya. Hana tak pern ah memper¬lihatkannya di Hofu.

tapi segera ia tahu kalau l aki-laki itu bukanlah orang yang rendah hati. juga kematian Kotaro. atau pun bentuk bujukan lainnya. "Kita bisa bicara dengan bebas di sini. Dia telah divonis mati oleh Kikuta karena melanggar aturan Tribe. Dari luar orang itu kelihatan rendah hari. Tubuhnya tinggi dan tegap." ujar Akio." tuturnya. Hana tidak suka kalau laki-laki itu menjadi musuhnya. dan juga atas pembunuhan Kotaro." ujar Zenko. "Kematian Otori. "Aku tak pernah menyembunyikan apa yang paling kuinginkan. "Tribe sudah terpecah belah begitu lama." Halaman 174 dari 500 . Akio. nenek moyang dan tradisi. den gan aksen Timur. Cara bicaranya singkat. yang mambangkitkan secercah ke¬tertarika n dalam dirinya. "Aku sangat menyesalkan per¬pe cahan ini. serta dewa-dewa karena dia masi h hidup. walau usianya tidak muda lagi . Laki¬laki itu melihat sekilas ke arahnya. dia kelihatan sangat kuat. ber¬usaha ag ar terlihat menghormati Akio sebagai pimpinan Kikuta tanpa mengurangi status nya sendiri sebagai lord tinggi Arai. Hal ini mem¬buat marah keluarga. Hana merasa kalau laki-laki itu akan tetap diam ketimbang menggunakan sanjungan. Memancarkan semacam ke¬kuatan." "Kurasa kita memiliki tujuan yang sama. Zenko memberi salam pada kedua tamu¬nya dengan sikap yang sangat sopan. tapi dia bisa men jadi sekutu yang kejam juga tanpa belas kasihan. Kini Muto Kenji sudah tiada." sahut Akio.sia yang mengungkap siapa Takeo sebenamya. maka sudah waktu¬nya luka-luka lama ini disembuhkan. dan tidak mudah terpengaruh dengan sanjungan. Hana mengamati laki-laki itu. kemu dian duduk dengan menunduk.

"Ya. Dia tahu ini dari Muto Kenji." "Seperti halnya Lima Pertempuran?" tanya Yasu. suaranya ter¬dengar semakin rendah dan keras. "Ada s emacam ramalan yang bisa dibuktikan. walaupun ibuku tidak pernah mengatakannya padaku." Akio membungkuk."Kabamya dia tidak bisa dibunuh." ujar Hana. "Tapi yang pasti dia h anya manusia biasa." komentar Yasu. Hanya beberapa orang yang mengetahuinya. dan pernah mengobari banyak lukanya. "Meski ada hal-hal tertentu yang ter¬dengar. "Dia adalah tabib pribad i Takeo." kata Zenko perlahan." Akio mengangkat kepala lalu menatap langsung pada Hana." "Aku pernah hampir menggorok leher nya. Dia memiliki banyak keahlian seharusnya aku tahu." "Kendati demikian. tatapan matanya semakin tajam. Akio berkata pada Zenko. "Aku tahu sesuatu yang kau belum tahu. Lord Takeo tidak memiliki anak laki-laki" ujar Yasu seraya menatap mereka semua secara bergantian ." Akio duduk dengan wajah tanpa eksp resi. "Kau tahu t entang putraku?" Zenko agak menggerakkan kepala meng¬iyakan. dan ramalan itu digunakan untuk membenarkan pembunuhan atas ayahku dan kebe rhasilannya meraih kekuasaan. "Aku masih tak mengerti ba gaimana dia bisa lolos. "Takeo percaya kalau hanya putranya yang bisa membunuhnya. seraya bertukar pandangan dengan Hana." "Tabib Ishida yang mengatakannya pada kami." tutur Zenko." komentar Yasu. Hana merasakan lagi secercah semangat. "Siapa lagi yang tahu tentang ramalan ini?" "Terlepas dari semua orang yang ada di ruangan ini dan Ishida: adikku.Kabamya dia tidak bisa dibunuh. "Kata-kata yang masih tetap di¬rahasiakan. "Tapi yang pasti dia hanya manu sia biasa." lanjut Zenko. aku yang melatihnya di Matsue dia lolos dari semua usaha pembunuhan." "Baiklah. kemungkin an juga ibuku..." .

" Lalu Akio menenggak minumannya. "Mungkin juga. Dan yang paling penting adalah Takeo percaya itu." Yasu menepuk alas lantai dengan telapak tangan terbuka." Sekonyong-konyong keempat orang itu tertawa gaduh.* Halaman 175 dari 500 ... tampak seperti tersenyum. Intinya hanya sedikit orang. "Jadi semua desas-desus itu bena r?" "Ya. "Anak itu tidak mengetahuinya." gumam Hana. "Bukankah sudah kukataka n kalau anak itu bisa saja mengejutkan dirimu? Itu lelucon terbaik yang pernah ada selama bertahu n-tahun."Bagaimana dengan yang ada di Terayama? Kubo Makoto mungkin juga tahu: Takeo men ceritakan segalanya kepada¬nya." ujar Zenko. Yasu meneguk cepat sake lalu berkata pada Akio. Dia juga tidak memiliki keahlian Tribe . Hisao adalah putra Takeo. Tapi kini aku tahu akan mudah baginya untuk membunuh ayah kandungnya.

dan Shizuka serta Ishida tinggal ber¬samanya. "Seakan Shigeru da n Takeshi hidup kembali. Ia telah be rjanji pada Shigeko untuk mengawasi Tenba dan kirin. Beberapa kali dalam seminggu Kaede mengajak kedua anak itu ke biara. Kaede senang memikir¬kan kalau ketiga putrinya si buk dengan pelatihan serius semacam itu. Maya dikirim bersama gadis Muto. Sada. Kelak putranya akan menjadi pewaris Sh igeru. dengan cuping hidung merekah. Ishida turut menemani karena rasa sayangnya pada kirin kian ber tambah. Kaede tidak kesepian karena selalu ada yang menemani: Shizuka. Chiyo masih tinggal di sana. Mereka ber¬main di tepi sungai. sedan gkan Miki pergi ke desa Tribe di Kagemura. lalu Kaede menuntunnya berjalan mengelilingi padang rumput. Kaede merengkuh perutnya yan g membuncit dan memikirkan janin yang tumbuh di dalamnya. semakin bungkuk. "Apa aku ini indukmu?" Kaede memarahi¬nya dengan lembut. Mori Hiroshi memberi pelana dan tali kekang pada Tenba dan mengang¬kat Sunaomi ke pelan a. Dengan ketidakhadiran ketiga putri¬nya. menangkap semua sinar ma tahari musim dingin." ujar Chiyo dengan berlinang air mata selagi mendengarkan teriakan anak -anak dari taman atau langkah kaki mereka di atas nightingale floor. dan juga hewan peliharaan putrinya. dan lebih mudah dibuat hangat selama hari-hari yang panjang dan dingin. ke Maruyama. Sunaomi dan Chikara juga menikmati kepindahan itu. dan agar dewa-dewi me¬lindungi mereka dari bahaya. dan sering mendoakan agar mereka mengembangkan dan mengendalikan berbagai bakat yang mereka miliki. sambil berdoa semoga anak lakilakinya . kepada Taku. Lebih mudah. Takeo dan Shigeko sud ah pergi ke Yamagata. Kaed e mencurahkan kasih sayangnya pada keponakannya. Kaede mengundur¬kan diri dari publik. kedua bocah. jauh dari formalitas kehidupan di kastil. usianya sudah di ambang senja tapi masih mampu menyedu h teh obat serta menceritakan tentang masa lalu. sesekali mengusap¬usap dengan hidungnya. pewaris sah Klan Otori. Kuda itu sepertinya menci um sesuatu dari tubuhnya yang hamil dan senang berjalan perlahan di samping Kaede. pikirnya sedih. saat kelahiran mereka yang tak wajar dan bakat aneh bisa tak d iacuhkan.Kaede telah memutuskan untuk tinggal di Hagi selama musim dingin sampai anaknya lahir. Mereka semua pindah dari kastil ke rumah lama Lord Shigeru di tepi sungai: rumah itu menghadap ke selatan. kera dan anjing. dan apa yang dilupakan¬nya diisi oleh Haruka . me nyayangi si kembar dari jauh. tetap ceria dan gamblang seperti dulu.

Tapi Kaede tidak menyurati Maya karena Maya tinggal di tempat rahasia di Maruyam a. Raku.akan sepemberani dan setampan kuda itu. namun roh mereka akan tetap hidup selama ada ku da-kuda Otori. Halaman 176 dari 500 . Kaede mengingat kudanya. Kemudian Shigeko mengirim surat agar kuda itu dikirim padanya karena telah memut uskan untuk dihadiahkan kepada ayahnya. Kirin memang tampak kurang bersemangat. Te nba segera dikirim ber-sama pemuda pengurus kuda dengan naik kapal ke Maruyama. karena ia sangat senang menulis membalas surat yang dituju kan untuk suaminya. Kaede sering menulis. tapi ini justru ma kin meningkatkan rasa sayangnya pada teman manusianya. mendesak mereka belajar dengan ra jin dan mematuhi guru. menceritakan pada Hana tentang kesehatan ser ta kemajuan kedua putranya dan mengundang mereka datang pada musim semi. seraya meminta ibunya agar tetap merahasiakannya. dan adanya surat justru malah membahaya¬kan dirinya. dan Amano Tenzo: kedua¬nya sudah lama tiada. kepada adik-adiknya. menulis surat pada Shigeko dan Miki. Kaede dan I shida men¬cemaskan kalau kirin akan panik saat temannya pergi nanti.

" "Kendati demikian." "Aku setuju dan aku tak tahu kesepakatan apa yang mereka buat dengan Zenko. dan berdoa agar arwah sang dewi muncul menyembuhkan segalanya." ujar Sunaomi. Mereka ingin bertemu dengannya. banyak juga manfaat yang bisa kita ambil dari mereka ilmu penge ." lanjut Kaede. Dia me mbiarkan mereka pergi dari Hofu. karena Kaede selalu memaksanya turut ke te mpat dia pernah dipermalukan dan ketakutan. Mereka minta penjelasan mengapa tidak boleh ke Yamagata s endiri." "Ishida bisa menawarkan diri untuk men¬jadi jurutulis mereka. "Bukannya aku tidak suka pada mereka. bekas rumah Akane." kata Fumio pada Kaede suatu sore pada per tengahan bulan kesepuluh. bekas rumah Akane. "Seperti yang kau tahu. dan mengagumi bentuk ramping dan an ggun dari patung kayu yang dikelilingi rumah yang baru dibangun. "Mungkin Zenko hanya ingin menying¬kirkan mereka. Tak lama setelah Takeo pergi ke Yamagata. "Itu b isa membantumu agar tidak kesulitan menga¬caukan surat-surat mereka. Kuharap mereka mengir im surat yang dapat mengungkap sesuatu. dan mengagumi bentuk ramping dan a nggun dari patung kayu yang dikelilingi rumah yang baru dibangun. "Sepertinya semua orang menganggap mereka sebagai beban." sahut Kaede. Mereka sangat gelisah. makin baik. aede pergi ke biara lain. Selama ketidak¬hadiran Ta keo dan penarikan diri Kaede. Fumio kembali. "Makin sedikit yang mereka tahu tentang kita. Tapi kian hari kian sulit untuk tahu apa yan g mesti kulakukan. Fumio beserta ayahnya bertindak sebagai wakilnya. mereka mulai tidak sabar. dan kurang senang saat tahu Lord Otori tidak di Hagi lagi . tapi aku tidak tahu apa tujuannya. aku sudah terbiasa dengan orang asing. tapi Kaede masih melihat sisa-sisa rasa malu dan luka yang membekas." saran Kaede. tapi jurubahasa mereka tak bisa menulis sesuatu yang b isa dibaca oleh Zenko." Mereka saling bertukar senyum.Kaede pergi ke biara lain. Aku sudah katakan kalau aku tidak bisa memu tuskan sampai Lord Otori kembali ke Hagi." "Suamiku tak ingin mereka bepergian ke seluruh penjuru negeri. Satu dar i masalah yang meng-ganggu dan alot adalah apa yang harus dilakukan dengan kedatangan orang-ora ng asing yang mengganggu dari Hofu. Sunaomi berhasil meraih kembali kepercayaan dirinya. menikm ati kehadiran mereka serta menurutku mereka itu menarik. "Dia mirip Lady Kaede.

masuk ke dalam ruangan. "Kau harus bawa orang-orang asing itu dan juru¬bahasanya ke sini. dit ambah dengan kehamilannya. Ia mengakui kalau dirinya juga ingin tahu: terutama. dan adik perempuan suaminya. selama mereka bisa dikendalikan. tentang orang-orang asing dan kebiasaan mereka. Hal pertama yang terlintas di benaknya. dan Kaede me¬nemukan dirinya menanti dengan perasaan ta kut: bukan karena orang-orang asing itu. Ia tidak tahu apa yang harus dikatakan pada orang seperti itu. Semua nalurinya. tapi karena ia tidak tahu bagaimana bersikap pada jurubahasa mereka: anak dari keluarga petani.tahuan dan kekayaan." Pertemuan itu lalu diatur. sewaktu Fumio menunjukkan jalan pada dua laki-laki berbadan besar. Kaede Halaman 177 dari 500 . perempuan dari rumah pelacuran. katanya pada diri sendiri. Ia yakin tak seorang pun akan men¬curigai hubungan tersebul." ujar Kaede. pengikut kepercayaan Hidden. dan menemukan cara lain. bukan sebaliknya. "Aku akan berikan kesan betapa besar kehormatan bagi mereka bisa diundang bertemu Lad y Otori. tapi ia lebih ingin melihat seperti apa adik perempu an Takeo. diikuti oleh perempuan bertubuh kecil. y aitu perempuan itu tidak mirip suamiku. Tapi ia telah berjanji pada T akeo untuk mempelajari bahasa orang asing. memperingatkan dirinya akan hal itu." "Kegiatan itu tentu bisa memberi mereka kesibukan sepanjang musim dingin." "Demi tujuan itu aku harus segera belajar bahasa mereka. Kaede tak ingin ber¬hubungan dengan bagian hidup Takeo yang sa tu ini." ujar Fumio setuju.

sadar akan bau mereka yang terasa asing dengan rasa jijik.loao. kontras dengan bebatuan keabu-abuan sert a warna lentera. Dia menerjemahkan begitu pelan dan tidak jelas hingga kedua pihak tidak tahu apa yang diucapkannya. Mereka harus melepas alas kaki di luar. Fumio sudah mengenai beberapa kata bahasa orang asing itu. yang merupakan asal nama kota Hagi. membuat pinggul dan bahu mereka kelihatan membesar. kedua orang asing itu sering tersenyum agak menyeramkan dan Kaede bicara selembut dan membungkuk seanggun mungkin. Kiasan pemandangan yang indah itu amat memesona o rang-orang asing beserta jurubahasanya. Mereka membungkuk hormat sambi l berdiri. Status salah satu dari kedua orang itu. membingungkan: ksatria . Kaede berhasil mengendalikan dirinya lagi. Hamp aran daun-daun yang berwarna merah tui berserakan di tanah. Bahannya ber¬warna hitam. Isi gulungan itu adalah puisl kesukaannya tentang belukar semanggi di musim gugur. justru lebih ter¬cengang. Mereka pura -pura bertutur kata serta bersikap sopan. sebelum Fumio memberitahu kalau mereka seharusnya duduk.menyam¬but dengan bahasa resmi pada para laki-laki. dengan tambalan berwarna di¬jahitkan ke dalamnya: kelihatannya bukan dari sutra. dan Kaede memerhatikan sarung ketat yang melekat di kulit yang menutupi kaki mereka. Kaede mengamati secara sembunyi¬sembunyi pada kedua laki-laki tersebut. Kenyataan itu membuat Jimtungny a ber¬debar kencang. enyam¬but dengan bahasa resmi pada para laki-laki. Di sebelah kanan Kaede. sebelum Fumio memberitahu kalau mereka seharusnya duduk. Orang asing itu duduk dengan canggung. dan tetap menunduk. Dengan senang hari. Pakaian luar mereka aneh. berbentuk gembung. menerima hadiah. sementara semua orang mengataka n Terima kasih. katun maupun rami. Pepohonan yang tersentuh oleh kepingan salju pertama terlihat begitu indah. dan maaf berulang kali dalam bahasa mereka. Ia juga menyadari kalau pe¬rempuan di samping nya itu memiliki tekstur rambut dan warna kulit yang mirip Takeo. Madaren. Perempuan itu. Kaede duduk dengan punggung bersandar ke dinding panjang ruangan itu. Perempuan ini memang adik suaminya. kepalanya menyentuh tikar. Sesaat Kaede mengira kalau ia harus bereaksi tak tahu apakah harus menangis atau tak sadarkan diri tapi untungnya Shizuka datang de ngan membawa mangkuk teh dan kue kedelai manis. ber¬nama Don . Mereka membungkuk hormat sambil berdiri. dan meng¬gunakan semuanya. Perempu an itu merangkak ke samping Kaede. menghadap ke beranda. sebuah gulungan kaligrafi hasil karyanya sendiri digantung di ruang kecil yang terpisah.

"Aku ada satu permintaan padamu dan kedua laki-laki terhormat yang kau layani. Demi suamiku aku akan menghormati dan melindungimu. Shizuka menatap penuh tanya sewaktu mengundurk an diri. makin besar kemungkinan semua hal itu dilaksanakan. karena aku juga harus belajar tulisa n mereka. Kuharap kau men gerti maksudku. Kau telah mempelajari bahasa mereka. mungkin mereka bicara soal taman. Suamiku sudah mencerita¬kan siapa dirimu. Makin cepat aku belajar. "Perempuan ini tetap di sini bersamaku.sekaligus pedagang. Dia bicara sangat be rbelii-belit dan penuh hormat. "Ajak keluar dan perlihatkan taman pada mereka. "Jangan takut. Kaede menyadari musim dingin mungkin berlalu tanpa ia bisa bela jar apa-apa." "Keramahan Lady Otori terlalu agung bagi orang seperti diriku." katanya pada Fumio. dan selagi mereka bicara d engan keras tapi bernada ramah. Kita akan belajar setiap h ari. Setelah beberapa percakapan yang panjang soal tempat tinggal dan k e¬butuhan orang-orang itu. Kaede mendekati Madaren. Aku ingin kau mengajariku. aku akan mempertimbangkan semua permintaan merek a." Halaman 178 dari 500 . Kelak saat aku telah lancar bicara bahasa itu. Salah satu dari mereka harus ikut denganmu." Madaren mulai bi cara. Para laki-laki kelihatannya cukup senang bisa keluar. tapi Kaede menghentikannya. Sebaiknya tidak ada orang lain yang tahu tentang ini. Butuh waktu lama untuk berca kap-cakap karena Madaren begitu khawatir akan menyinggung Lady Otori." Kaede menyuruh semua orang pergi. Se-dangkan yang satu lagi adalah pendeta. tentunya.

" Madaren menyembah lagi. sesekali dia mendekati anak-anak lalu memeriksa pakaian dan alas kaki mereka." Madaren menyembah lagi." kata Kaede. "Ka u akan menjadi guruku. perempuan dari ."Aku hanyalah orang rendahan dari Was yang terendah. Bahasanya sulit: segala sesuatu yang berkaitan dengan bahasa itu sepertinya terb olak-balik. menyeberangi sungai dengan perahu dan berjalan melew ati jalan-jalan sempit ke rumah di tepi sungai. dan kerapkali membuat sketsa untuk menjelaskan sebuah kata. Dia ter¬senyum tipis saat duduk tegak. pohon. Dia biasanya datang dengan dibu ntuti anak-anak dan orang-orang dewasa yang tidak punya hal lebih baik yang bisa dikerjakan. Suatu hari ketika Kaede merasa putus asa. "Aku takkan menguasai bahasa ini. dan sukar untuk mengingat bentuk maskulin dan feminin dan cara kata kerjanya berubah . ia berkata pada Madaren. Dia menyimpan banyak bu ku catatan. Oran g itu benar-benar pandai. dan ia menyatu dengan iramanya. menggunakan kuas yang paling ti pis. Don Carlo juga sama ingin tahunya. Kaede melihat sebagian besar kegiatan ini karena Don Carlo mengajak mereka berdu a sebagai sarana belajar bahasa. Si pendeta Don Carlo datang dua kali seminggu untuk mengaj ari kedua perempuan itu menulis apa yang disebutnya abjad. Rambut dan janggut kemerahan. *** Madaren datang setiap hari." "Anda baik sekali. "Kita akan mulai belajar besok. tapi aku akan lakukan semampu ku untuk memenuhi keinginan Lady Otori. bangunan dan alat p ertanian. laki-lak i itu menjadi sasaran keingintahuan dan keheranan. "Madaren. Belajar setiap hari menjadi bagian dari rutinita s kediaman itu. mengucapkan nama aneh itu untuk yang pertama kalinya. dan sering mengajak Madaren pergi ke saw ah untuk bertanya pada para petani tentang hasil panen dan musim. Aku tak tahu bagaimana kau mempelajarinya. serta mata hijau biru pucat bak air laut. Jangan terlalu bersikap formal. Dia juga mengamati setiap tanaman di taman. tapi aku akan lakukan semam puku untuk memenuhi keinginan Lady Otori. dan Kaede malu sekaligus kagum karena saat pertama kali bertemu ia berpi kir kalau orang ini hampir bukan manusia. ku hanyalah orang rendahan dari Was yang terendah." ujar Madaren." kata Kaede. yang di dalamnya dibuat daftar kata dan sketsa bunga." Ini menyakitkan hatinya: Madaren.

" kata Madaren. "Aku membuat Don Joao mengajariku di tempat tidur. "Bahkan dia sama sekali tidak menyetujuinya. Begitu sudah bisa mengatasi rasa malu. "Barangkali saat aku sudah lebih me¬mahami bahasa mereka. mengejutkan bagi¬nya. "Mungkin aku bisa meniru c aramu. bisa begitu fasih menguasai bahasa itu. Percakapan mereka menjadi lebih santai. Di matanya. dan acapkali memba ca dengan suara keras kitab sucinya demi meraih kesucian dan pengendalian nafsu dalam diri nya. Dia menghabiskan banyak waktu untuk berdoa.kalangan rendah dan tidak ber-pendidikan." sahut Madaren. "Kurasa suamiku tak memikirkan itu." goda Shizuka." "Pastinya begitu." "Tampaknya Don Carlo tidak punya hasrat terhadap perempuan ataupun laki¬laki." "Tidakkah Don Joao memercayai hal yang sama?" tanya Shizuka." kata Madaren dengan nada me mohon. Halaman 179 dari 500 ." Itu merupakan pemikiran yang baik Shizuka maupun Kaede tidak terlalu me¬mahaminya. "Aku belajar dalam keadaan terpaksa." Kaede tertawa. sifat aslinya mulai muncul. bercinta adalah yang di sebutnya dosa dan cinta antar laki-laki khususnya." seloroh Kaede. bukan pilihan. t erutama saat ada Shizuka." "Don Carlo masih belum punya pasangan. Don Carlo akan menjelask annya. "Jangan pernah bicarakan hal semacam itu dengannya. "Itu akan membuatnya sangat malu.

Di a memuaskan dirinya sendiri. Seringkali sa at mereka hanya berdua. perhatiannya teralihkan. surat berdatangan dari Yamagat a." Kaede penasaran apakah perilaku aneh ini menular pada Madaren. Kaede tak bisa melakukan banyak hal selain belajar dan bicara dengan Madaren. Kaede berpikir kalau hubungan itu aneh dan terbolak-balik. Takeo merasa berkewajiban un tuk melewatkan Tahun Baru di sana. ia berada di ambang keraguan untuk bertanya pada Madaren bagaimana Takeo ketika masih kecil. dan ia sangat takut akan kehilangan bayinya ini. Kaede menemukan dirinya ingin tahu tentang masa lalu Madaren. meski mereka mem¬butuhkan keahlian dan bergantung kepadanya. betapa aneh perjalanan hidup yang telah membawa dia ke tempat ini. Kaede mengamati lekat-lekat ketika kedua orang asing hadir. Namun pertanyaan ber¬sifat pribadi semacam itu bisa dianggap terlalu mengan cam. Kaede meminta maaf karena menghentikan pelajaran kemudian segera pergi ke ruang belajarnya sendiri ruangan tempat Ichiro membaca dan menulis dan membaca surat-surat itu di sana. meskipun s udah memakai baju berlapis-lapis dan ada tungku batu bara agar tetap hangat. dengan man i¬pulasi. Dia memuaskan dirinya sendiri. Ia hanya berdua dengan Madaren. Masih banyak persiapan yang har us dibicarakan dengan Kahei dan Gemba tentang kunjungan ke ibukota: Takeo masih men unggu kabar dari Sonoda tentang peneri¬maan utusan pembawa pesan. kemudian membenci dirinya karena hal itu. Takeo menulis panjang lebar atau tepatnya mendiktekan." Sebagian dari dirinya percaya pada hal yang sama."Sebagian dari dirinya percaya pada hal yang sama. Kaede ta k berani lagi berlatih pedang bersama Shizuka: kenangan buruk tentang keguguran bayinya selalu melekat di benaknya. Tepat sebelum rembulan di bulan kesebelas muncul. tapi tak ingin be rtanya secara langsung. Terbungkus karpet bul u. tapi hasratnya lebih kuat. dari kedua belah pihak. Kini ia merasa khawatir kalau keberangkatan suaminya akan tertunda hingga salju mencair. Ketika kembali pada Madaren. Bulan kesebelas mem¬bawa hawa dingin yang menggigit. Musim dingin tiba. Shizuka mengajak kedua cucunya pergi melihat kirin. "Apakah Lady Otori mendapat kabar buruk dari Yamagata?" tanya Madaren se¬waktu Kae . kemudian membenci dirinya karena hal itu. tapi hasratnya lebih kuat. bahkan eksploitasi. Kaede sangat kecewa: ia berharap Takeo akan kembali sebelum salju menutup jalur pegunungan. dan berpik ir kalau mereka berdua memang membenci Madaren. karena dia kenal tuli san tangan Minoru tentang semua keputusan yang telah diambil.

mencintai putra Tuhan saat beliau berjal an di bumi. itu saja." "Dari dulu dia memang berbeda. Waktu itu kau pasti masih kecil." "Lord Otori baik-baik saja?" "Kesehatannya baik-baik saja. "Itu yang paling kuingat . "Kurasa kau tak ingat banyak tentang suamiku." sahut Madaren serius. melainkan pa da suaminya yang tumbuh dewasa di lingkungan mereka. Apa artinya?" "Itu nama salah satu guru besar di kalangan Hidden. Semula aku berharap suamiku akan kembali lebih awal.de membuat kesalahan pelajaran dasar untuk yang ketiga kalinya." "Tomasu? Kedengarannya aneh sekali. tuanku." Kaede berhenti sejenak lalu b erkata. seraya meng¬ingat-i ngat percakapan mereka sebelumnya. kata¬nya. Wajahnya tidak mirip dengan kami se Halaman 180 dari 500 . "Kau memanggilnya dengan nama apa." tutur Madaren perlahan." "Dan Madaren?" "Madaren adalah perempuan yang. "Beliau mencintai kita semua. "Tidak juga. saat kalian masih kecil?" "Tomasu. Saat itu ketertarikan Kaede bukanlah pada kepercayaan orang Hidden. terima kasih Surga." "Apakah putra Tuhan itu mencintai perempuan itu?" tanya Kaede.

untuk bisa memahami mereka. Kaede terjaga di pagi harinya dengan cahaya putih yang terasa asing. Aku ingi n dia memerhatikan aku. *** semakin sadar harus tahu apa yang mereka percayai. Ayahku sering mar ah padanya. "Sebaiknya kita mulai lagi pelajaran kita. Ketika akhirnya salj u turun." ujar Kaede dengan suara yang lebih t enang. Dia tak menginginkan tubuhmu. hujan salju pertama tahun itu. dan sepertinya tidak berpikir dengan cara yang sama. maka dia makin sering dat ang bersama Madaren dan percakapan mereka menjadi lebih mendalam lagi. seolah takut sudah terlalu banyak bicara." "Kita tidak pernah tahu itu! Kita hanya tahu kalau dia tidak menanggapi hasratny a. lakilaki itu tidak bisa ke sawah untuk melakukan penelitiannya. "Tapi bila kau mau dengar pendapatku: kurasa dia berharap bisa meng ambil hatimu dengan agamanya. Aku selalu memanjatkan doa baginya. tuanku. D on Carlo nampak juga bersemangat untuk dapat membuat ia memahaminya." eluarga." sahut Madaren patuh. A ku selalu memimpikannya. Aku selalu mengusik¬nya. meski ia tidak tahu apa sebabnya. dan hampir menangis. "Mungkin dia harus diperingatkan tentang reputasimu!" sahut Shizuka. Kurasa itu sebabnya aku mengenalinya se¬waktu bertemu di Hofu. Kurasa itu sebabnya aku mengenalinya se¬waktu bertemu di Hofu. dan Takeo akan tetap di Yamagata sampai musim semi." ko mentarnya pada Shizuka. ibu pura-pura marah.keluarga. Malam itu salju turun dengan lebat. Aku selalu mengusik¬nya. Ayahku sering mara h padanya. A ku selalu memimpikannya. ibu pura-pura marah. Aku ingi n dia memerhatikan aku. kan? Juga menjelaskan tent ." Madaren terdiam. dia meng inginkan jiwamu. Karena itu artinya j alan pasti sudah ditutup." Shizuka menjelaskan. "Tentu saja. Aku selalu memanjatkan doa baginya. Shizuka! Kuharap reputasiku sudah dilupa¬kan. tapi ibu sayang sekali padanya. "Pernah ada satu saat ketika hasrat berarti kematian bagi laki¬laki mana pun!" "Aku telah menikah enam belas tahun. tapi ibu sayang sekali padanya. dan sepertinya tidak berpikir dengan cara yang sama. "Don Carlo memerhatikan aku dengan cara laki-laki normal memandang perem¬puan. karena kita tahu Don Carlo tak merasakan desakan semacam itu. Kaede pun agak terper anjat. Dia sudah mulai bicara tentang Deus. Lagipula itu bukan nafsu.

tapi aku tidak bisa membayang¬kan diriku mengikuti kepercayaan mereka. gadis yang kukirim untuk bekerja pada mereka." Kaede membuang jauh-jauh pikiran itu dengan sengit. dan akhirnya men¬dapatkan wilayah baru bagi diri mereka sendiri." sahut Shizuka. "Bagaimana mereka bisa hidup begitu jauh dari rum ah dalam waktu lama?" "Kata Fumio itu adalah sifat dari semua pedagang dan petualang." "Dari apa yang mereka katakan.ang aga-ma di negaranya?" "Sungguh aneh. "Bagiku itu seperti omong kosong!" "Semua kepercayaan bisa kelihatan seperti kegilaan. seperti wabah. dan berbahaya." "Baiklah. "Apa bedanya baginya atas apa yang kupercayai?" "Mai. tapi dia merasa kalau mereka berharap bisa mendapatkan keuntungan dan pengikut dalam juml ah yang sama besarnya. Membuat mereka m erasa sangat berkuasa." ujar Kaede. Meskipun Mai belum memahami bahasa mereka dengan semp urna. Aku pernah melihatnya. negeri mereka sangat jauh dari sini: berjarak sat u tahun atau lebih dengan berlayar." tutur Kaede. Waspadalah. mengatakan nama Lady Otori s ering disebut dalam perbincangan mereka. "Tapi bisa t iba-tiba menjangkiti manusia." Halaman 181 dari 500 . In ilah yang mereka lakukan di seluruh penjuru dunia.

musim berlalu. "Kurasa agama orang asing itu." katanya seraya menghcla napas." "Semakin menguatkan alasan untuk mem¬perlakukannya dengan curiga!" Selama musim dingin. meski tampak sa ma." ujar Kaede. dan itu makin membuat ia makin mengagumi dan men¬cintai suaminya. tapi lebih dogmatis dan tidak mengenai kompromi. "Mari kupijat. Kaede berusaha menjelaskan hal ini pada Don Carlo dengan kosa katanya yang ter¬bat as. Kaede merasa bayinya menendang dalam perutnya. Bersabarlah: dia akan menjemputmu. Kini seluruh kesabarannya sudah h ampir habis dengan kehamilannya. diajaknya laki-laki itu melihat pahatan patung Kannon Sang Maha . Kaede menyadari betapa Takeo telah memilih meng hindari tatapan itu. punggungku sakit. me¬megang semua janji yang telah dikatakan padanya sementara dirinya terbaring dalam sihir tidur Kikuta seolah masuk ke pet i es. huku man. "Hantu-hantu dari masa lalu. "Ah. dan bagaimana ia melalui hari-hari yang panjang dalam doa dan puisi. Saat tidak berhasil dengan kata-kata. me¬megang semua janji yang telah dikatakan padanya sementara dirinya terbaring dalam sihir tidur Kikuta seolah masuk ke pet i es. malam berganti siang dan musim panas berganti dengan musim dingin. kematian itu tak lebih hanya pemberehe ntian sejenak sebelum kelahiran selanjutnya. Don Carlo memperkenalkannya lebih banyak kata: neraka.. kutukan. Beberapa kali aku membawa pesan dari Lady Maruyama: kau tahu kalau dia adalah salah satu pengikut.. ata-kata Shizuka membuat Kaede ter¬ingat saat dirinya menjadi istri Lord Fujiwara. Karena tentu saja dewa atau tuhan itu baik. dan menginginkan kehidupan berjalan dengan selaras bagi semua mahkluk. dan bagaimana ia melalui hari-hari yang panjang dalam doa dan puisi. dan kesunyian itu semakin senyap seakan dia tenggelam dalam lamunan. Dulu aku suka duduk bersama Lord Shigeru tepat di ruangan ini. Bersabarlah: dia akan menjemputmu.Kata-kata Shizuka membuat Kaede ter¬ingat saat dirinya menjadi istri Lord Fujiwara . dia diam saja." Selagi Shizuka memijat." "Ajaran kaum Hidden. "Apa yang kau pikirkan?" tanya Kaede. dan ia ingat apa yang pernah Takeo katakan tentang Tuhan yang Maha Melihat milik kaum Hidden dan tatapannya yang tanpa ampun.. Membungkuk. dan seperti ajaran Sang Pencerah. salju serta ketidakhadiran Takeo.

Bentuk bangunan itu mencuat ke atas da n dipantulkan dengan dedaunan pinus yang membentuk seperti payung pelindung. dan sinar ma tahari musim dingin jatuh menyirami lantai yang baru. keseimbangan sempurna pada kedua lengkungannya seperti yang Taro janjikan. Pintu utama terbuka lebar. D on Carlo juga dibawa dengan tandu terpisah di belakangnya.Pengampun yang sudah selesai di kuil yang telah di¬bangun untuknya. menyilaukan saat icrkena pantulan cahaya matahari. Hunga-bunga plum masih ber¬gelant ungan bak serpihan salju di ranting tanpa daun di taman Akane. Jendela kecil di atas pintu samping ber¬bentuk seperti daun. salju di bawah telapak kaki terasa lembap dan mencair. Kendati tidak suka dengan caranya diantar. tetesan air yang membeku mula i mencair dari tepi atap. Kaede memberi salam pada Taro. dan hasil karya seni ukiran yang amat halus mem-biarkan cahaya matahari masuk. Halaman 182 dari 500 . ke hamilannya sudah berusia tujuh bulan dan diperlambat dengan berat bayi yang dikandungnya. memanfaatkan cuaca vang lebih hangat. tengah memberi sentuhan akhir pada k uil. di bawah pengawasan Taro. Salju masih menempel di atap. Kaede dibawa dalam tandu. Kaede senang melihat bangunan baru itu bis a bertahan menghadapi musim dingin. lalu melepas sandal di beranda. Kayunya ber¬warna seperti madu dan berbau semanis madu pula. membiaskan cahaya. dan Madaren mengikutinya. Para tukang kayu. Saat itu cuaca terasa lembut di awal musim semi. dengan dinaungi atap rangkap dua.

"Orang asing ini tertarik pada karyamu. untuk suami dan ketiga putrinya. dan Don Carlo mem¬buat gerakan canggung dengan kepala." saran Madaren kepada¬nya. Satu tangan." kata Don Carlo. "Dia cantik sekali. "Dia takkan masuk. melebih¬lebi . "Aku lihat dari sini saja. "Selamat datang. Kaede menangkupkan telapak tangan lalu menunduk berdoa untuk bayi dalam kandungann ya." Don Carlo melepas alas kaki dengan sikap enggan yang sengaja diperlihatkan. menekan dada." katanya pada Taro. Kini giliran orang itu yang harus mendengarkan. Ia sudah mendengarkan Don Carlo sepanjang musim dingin . Orang ini yang membuatnya. patung yang s udah selesai berdiri di depan mereka. kemudian Madaren berbisik ." "Tapi kau tak bisa melihatnya dari sini. "Lakukan seperti yang kuminta." "Pasti menarik." kata Kaede. ini bertentangan dengan kepercayaannya. "Mari masuk. Lipatan jubah itu dipahat sangat halus hingga terlihat seperti ber goyang saat tertiup angin sepoi¬sepoi. Masih baru. sedangkan tangan yang satu lagi menyibak keliman jubah dengan dua jari yang ramping. "Ayolah. Orang asing ini tertarik pada karyamu. Mata sang dewi menatap ke bawah." katanya pada Taro. Orang itu terlihat lebih gelisah dari biasanya. senyum dengan bibir agak mencuat ke atas. Kaede melangkah ke dalam kuil. Kaede mengatakan pada Taro betapa si orang asing mengagumi patungnya. memegangi bunga teratai. Kau harus lihat karya paling indah dari ora ng ini. dan saat Kaede berkata. tapi ia tak menyerah begitu saja. ekspresinya tegas sekaligus pe nuh welas asih. Taro membantunya dengan senyum yang mem¬beri semangat. dan sudah belajar banyak darinya. dan melihat ke belaka ng¬nya tempat Don Carlo dan Madaren men¬dekati bangunan kuil. dan melihat ke belak ang¬nya tempat Don Carlo dan Madaren men¬dekati bangunan kuil." Taro membungkuk. dan untuk arwah Akane yang mungkin pada akhirny a bisa istirahat dengan tenang." si pendeta menggeleng lalu menyahut." desak Kaede." Kaede merasa marah atas sikap kasar laki¬laki itu. "Kau bisa lihat bagaimana konstruksi ba ngunan ini dan bagaimana pahatan kayu¬nya." sambut Kaede pada si pendeta dengan bahasa orang itu. ia tak bisa memahami alasan di baliknya. "Ini tem pat istimewa untukku. dengan semacam rasa ingin tahu. tapi tidak berdoa.

merasakan tiba-tiba bayi dalam perutnya menendang keras." Itulah pertama kalinya Kaede mendengar kata itu.* Halaman 183 dari 500 . hal itu men gganggunya. memperlihatkan pada Don Carlo konstruksi bagian dalam atap. dan nama setiap sambungan. Kaede berusaha menerjemahkan kalimat ini sebisa mungkin. Kemudian Don Carlo mengeluarkan buku catatan lalu menggambar apa yang dilihat¬nya." sahut Taro. Tanganku men¬dengarkan apa yang ada di dalam kayu. namun melihat ada sesuatu yang telah meningkatkan ketertarikan Don Carlo pada dirinya. Sewaktu mereka pergi. Matanya kerapkali menerawang kembali ke arah sang dewi. Don Carlo ber¬gumam. dan mem bantunya menemukan jalan keluamya. "Kurasa aku tidak bisa menemukan Bunda Maria dari Timur.hkan pujiannya untuk menebus sikap kasarnya tadi. Taro. "Keahlianku biasa saja. dan tak mengerti artinya. dan ingin sekali agar T akeo kembali. kemudian ke arah wajah K aede. menanyakan tentang nama kayu. dengan gerakan dan sketsa gambar. b agaimana penyangganya saling menopang.

Musim semi tiba dan ia langsung me¬mutuskan untuk pulang. namun juga menyesali ketidakhadiran si tabib selagi cua ca yang tak bersahabat mem¬buat luka lamanya terasa makin sakit. *** "Apa yang terjadi pada wajahmu?" tanya Kaede ketika mereka hanya berdua. Teringat o lehnya apa yang Shigeko katakan: Ayah harus ceritakan pada Ibu. Ishida serta kedua bocah. dan kecemasannya terhadap Kaede makin menjadi-jadi. Dan catatan administ rasi memastikan sekali lagi seberapa kuat negaranya. sampai ke tingkat desa di mana pem impinnya dipilih oleh para petani dapat dimobilisasi untuk mem¬pertahankan diri mereka dan wi layahnya. menuju tempat kelahirannya. Kedua hal itu membangkitkan semangatnya: merasa siap untuk apa saja yang akan te rjadi saat kunjungan nanti. Saat ini ia dan Kaede d uduk di kamar lantai atas. Ayah seharusnya tidak menyimpan . penutup jendela terbuka. Ia langsung ke rumah lama. mandi dan makan bersama Kaede. Saat menunggang kuda mel ewati pedesaan. membahas strategi untuk musim semi yang akan datang serta kunjungan ke ibukota. angin segar. percikan sungai terdengar di telinga merek a. sedangkan minuman penenang te lah habis. dan tubuh hitamnya berkilauan bak pernis. Dengan ditutupnya semua perbatasan antar kota di seluruh Tiga Negara. Ia akan pergi dengan damai. tempat Chiyo dan Haruka menyam¬butnya dengan suka cita. membuat kuda itu melompat dan berjingkrak. dan di mana-mana tercium aroma musim semi. jalanannya berlump ur. tidak lebih dari tiga atau empat minggu lagi.Sisa luka cakaran membekas di wajahnya sudah hampir memudar ketika Takeo kembali ke Hagi di akhir bulan ketiga. cuping hidungnya mengem¬bang. Gembira kar ena berada di jalanan. Udara masih terasa dingin. surai dan ekornya melambai-lambai. hampir tidak berkurang berat badan maupun kondisinya. Bagaimana mengatakannya? Takeo me¬natap istrinya dengan penuh kekhawatiran. Waktu melahirkan hampir tiba. namun takkan meninggalkan negerinya tanpa penjagaan. menyelu juri tanda bekas luka yang mulai menghilang dengan jari-jarinya. Salju belum lagi mencair: musim dingin berlang¬aing lama dan s ulit. semua itu kian memantapkan hatinya. Bulu musim dinginnya telah disika t bersih oleh bocah-bocah pengurus kuda. dan membaca catatan administrasi Ti ga Negara. Takeo terpaksa menghabiskan waktu ber¬sama Miyoshi Kahei. seringkali tergenang. ia tidak bisa men erima surat. Takeo senang Ishida tinggal bers ama istrinya selama masa kehamilanya. Tenba melewati musim dingin dengan baik. Takeo tiba tadi pagi.

"Aku tak sengaja menabrak dahan. Aku tahu. Takeo berkata." "Seumur hidupmu?" "Seumur hidupku. Ceritakan semuanya pada Ibu." sahutnya dengan nada lebih serius. Tidak apa-apa. "Tidak." "Bahkan kalau aku mati lebih dulu?" Ditempelkan jarinya dengan lembut ke bibir i strinya." Ia merengkuh Kaede dan memeluknya erat-erat sesaat tanpa sepatah kata pun. aku tidak akan tidur dengan siapa pun selain dirimu. Halaman 184 dari 500 . "Jangan bilang begitu." "Kelihatannya seperti dicakar. senang suaminya sudah berada di rumah lagi. kau kesepian di Yamagata lalu menemukan perempuan yang menggairahkan!" Kaede menggodanya.rahasia dari Ibu. "Aku sudah sering mengatakan pada mu.

pikirnya. Bukan dasar yang buruk untuk sebuah pernikahan." Takeo meneruskan ceritanya tentang kelanjutan masalah dengan Zenko." "Baiklah. Dia mengingatka n¬ku pada Naomi." "Shigeko masih gadis kecil!" ujar Kaede. "Usianya sama dengan kau saat kita bertemu. "Kono mengisyaratkan persekutuan politis melalui pernikahan dengan jenderal Kais ar. Shigeko dan Hir oshi sudah seperti kakak adik. Dia selalu memperlakukannya sebagai adik. "Bagaimana Shigeko? Aku sangat gem bira memikirkan dia sebagai Lady Maruyama saat ini. menghela napas panjang. "Aku yakin Hiroshi bisa menjadi suami yang baik. kami akan bertemu dengan Saga d an memutuskan nanti." Cinta kita pun me rupakan hasrat yang buta. "Pendapat yang tidak bisa kita abaikan begitu saja. Apakah dia bi lang begitu?" "Tidak dengan kata-kata." akhirnya Kaede berkata." sahut Kaede. Andai kau bisa melihatnya saat upacara. Tapi saat itu baru kusadari kalau Hiroshi jatuh cinta padanya. Jangan terlalu banyak berharap dari mereka berdua!" "Hiroshi jauh lebih tua ketimbang diriku saat itu! Kuyakin dia lebih bisa mengen dali¬kan diri." tuturnya pada Kaede."Ceritakan semuanya. Lalu Kaede berkata." "Shigeko baik-baik saja. Shigeko akan ikut bersamaku ke Miyako. "Bagaimana Shigeko? Aku sangat gemb ira memikirkan dia sebagai Lady Maruyama saat ini. Tapi aku yakin itu sebabnya dia selalu menghindari per¬ni kahan. tapi pernikahan semacam itu akan men yiakan-nyiakan Shigeko. Sesaat mereka saling pandang. Dan mereka tak berharap hidup mereka berakhir dalam hitungan jam. Saga Hideki. Mereka memut uskan untuk mengundang Hana saat musim panas agar bisa bertemu kedua putranya dan menemani K aede . kedengaran seolah marah dengan pendapat seperti itu. "Mereka tidak boleh berada di Maruyama bersama-sama. Kita dirasuki k egi-laan yang begitu kuat hingga mengakibatkan terjadinya pem¬bunuhan yang tiada henti." "Hiroshi? Tidak mungkin." akhirnya Kaede berkata. Kita belum terlalu mengenal satu sama lain." "Dia berharap menikah dengan Shigeko?" "Menurutku Shigeko juga menyayangi¬nya." Takeo memperingatkan." Ceritakan semuanya. dan tidak memberi keuntungan yang sebenarnya belum kita miliki.

Dia menulis banyak hal tentang diriku. dan m eraih dirimu melalui aku." Sesaat Kaede terdiam. kekuatan yang tidak biasa seb agai seorang perempuan." "Kau memahami semua isinya?" "Sulit sekali." "Adikku baik-baik saja?" "Secara umum." "Dia mirip ibuku. Bahkan bila sudah mengenal setiap kata." ujar Takeo. Madaren pasti sudah menceritakan kalau kau lahir di antara kaum Hid den. Don Carlo Halaman 185 dari 500 . mereka sering menulis surat." sahut Kaede.setelah melahirkan. "Don Carlo maupun adikmu adalah guru yang baik. tapi tidak serius. aku masih saja kesulitan me¬nangkap maknanya. Kami terserang flu. "Dan kuharap kau sudah fasih bicara dengan bahasa yang baru. dan menimbang¬nimbang setiap perkataan. baik-baik saja. Aku harus sangat ber¬hati-hati agar tidak membuat Don Carlo takut: lakilaki itu amat tertarik dengan semua yang kukatakan. "Menurutku dia ingin aku masuk agamanya. dan sudah sewaj arnya kami membacanya. Ishida kadang membantu mereka." ujar Takeo. "Apakah orang-orang asing itu berhubungan dengan Hofu atau Kumamoto?" "Ya. meskipun tidak mendapat pendidikan. Aku suk a padanya: kelihatannya dia baik dan pandai. pengaruhku pada dirimu. ya. "Aku sudah membuat kemajuan.

Aku mencemaskan Miki dalam cuaca dingin s eperti ini. atau bepergian." kata Kaede." tutur Kaede. dan mengenai Zenko. Aku yakin bisa me-mancingnya agar bercerita lebih banyak lagi. dan pelayan itu memba wakan cermin itu. aku bertemu." kata Takeo. "Dia tidak t ahan untuk memamerkan barang-barang baru kepunyaannya dan akan mengumbar tentang kehebatan Kumamoto.nyaris mengira kau adalah pengikut ajaran mereka sehingga akan diberi ijin menye barkan agama. dari kampung halaman mereka. anjing yang berbaring meringkuk di sampin gnya." "Perdagangan itu masalah lain: boleh selama kita bisa mengendalikannya dan demi kepentingan kita. Ia merasa aneh dan terkejut. dan Shizuka punya masalah yang harus dibicarakan dengan keluarga Muto. "Ini pemberian Don Carlo." "Dia ke Kagemura begitu salju mencair." Takeo menceritakan tentang cermin yang diperlihatkan kepada¬n ya di Maruyama." Kaede menepuk Kin. "Kin pasti senang saat Maya pulang dia merindukan si kembar. "Belum diputuskan. Tapi tak akan kuijinkan dia menyebarkan agama." "Shizuka tidak ada di sini? Aku ingin bicara dengannya tentang masalah ini. sepertinya. Mereka adalah kenalan bisnis." "Aku sudah curigai. Takeo mengambilnya dan bercermin." Takeo tak yakin bagai¬mana meneruskannya. seraya membuka bungkusnya." "Tahukah kau kal au sudah ada orang asing di Kumamoto?" tanya Kaede." "Miki akan kembali bersamanya?" Takeo terperangkap oleh kerinduan ingin bertemu dengan putri bungsunya. ." yaris mengira kau adalah pengikut ajaran mereka sehingga akan diberi ijin menyeb arkan agama. "Don Joao menerima sepucuk surat dari sal ah satunya. "Hal ini mencemaskanku. sedangkan Don Joao diijinkan ber¬dagang di Tiga Negara. terbungkus kain sutra tebal. Kau bertemu Maya?" "Ya. "Apa lagi yang diperdagangkan dari Kuma¬moto yang kita belum tahu?" "Satu lagi alasan yang tepat agar Hana berada di sini. sedangkan Don Joao diijinkan ber¬dagang di Tiga Negara. "Aku juga punya cermin yang sama!" Kaede memanggil Haruka.

" sahut Takeo." Kaede tertawa. Tak ada ruginya. Selama tidak meng¬ganggu tugas mereka." katanya. nanti akan pad am dengan sendirinya. Dia sedang belajar pada Taku. Kau harus memikir¬kan kesehatanmu. dan Takeo merasakan si bayi bergerak kua t dalam perut istrinya. Kaede meraih tangan suaminya dan menaruhnya di perutnya. kan? Hasrat seperti itu tidak bisa dihentikan toh." "Seharusnya tidak kuceritakan padamu. Dia tengah belajar mengendal i¬kan diri dan juga disiplin. Halaman 186 dari 500 . "Putra kita sedang menendang." "Dengan Sada? Apa semua laki-laki sudah gila? Sada! Dia orang terakhir yang kudu ga bisa membuat Taku mabuk kepayang." "Hasrat kita tak pernah padam. Tapi Taku seperti¬nya tergila-gila pada gadis itu." sahut Takeo. "Jangan sampai masalah ini m embuatmu tertekan. biarkan saja mereka sal ing mencinta. "Aku lebih merasa terkejut ketimbang tertekan. Kukira gadis itu tidak peduli pada laki-laki dia berpenampil an seperti lakilaki."Kau juga mengkhawatirkannya? Dia baik¬baik saja?" "Maya baik-baik saja.

keluarga Kikuta yang menyerang¬mu tahun lalu. dan aku ragu kalau Kikuta mau berunding. Jangan ditunda. Pikirkan biaya yang dibutuhkan. Mereka bisa mewak ili kita. "Tapi kita harus me¬mut uskan nasib sandera yang kita tahan di Inuyama. Mungkin aku harus ke sana uniuk menyaksikannya aku mem¬pertimbangkan untuk meminta hukuman dilaksanakan saat aku melewati Inuyama dalam perjalanan ke ibukota." gumam Kaede. bukan sebagai tindakan balas dendam." "Minoru akan menulis suratnya sore ini. "Itu pertanda buruk untuk suatu perjalanan. "Kau pasti paham benar apa alternatif itu. Bahkan jika kita bisa . Kukira sudah wakt¬unya men ulis surat pada Sonoda. Aku tidak memercayai dia. tapi aku harus tetap pergi ke Miyako sesuai rencana." Kaede gemetar." "Tampaknya sikap Kono berubah. dan aku ragu kalau Kikuta mau berunding." "Alternatif lain terlalu menakutkan untuk dipikirkan. Sonoda baru saja menulis surat. "Oh ya. Dan harus laksanakan secepatnya. dan dia selalu memu jimu dan Tiga Negara. keluarga Kikuta yang menyerang¬mu tahun lalu." "Tentu: menyerang dan mengalahkan Zenko dengan cepat di Barat dan bersiap melawan Kaisar di Timur. "Dia tahu cara memikat serta memuji ."Sebenarnya aku tidak ingin membicara kannya. "Tapi kita harus me¬mutu skan nasib sandera yang kita tahan di Inuyama. Mereka diberi penginapan oleh Lord Kono selama musim dingin. Kukira sudah wakt¬unya men ulis surat pada Sonoda. Ayah mereka sudah mati dibunuh tahun lalu. Mereka diterima Kaisar. Ayah mereka sudah mati dibunuh tahun lalu. Keadilan menuntut kalau mereka dihukum mati atas kejahatan yang mereka lakukan. Keadilan menuntut kalau mereka dihukum mati atas kejahatan yang mereka lakukan. Harus kelihatan sesuai hukum. Mungkin aku harus ke sana uniuk menyaksikannya aku mem¬pertimbangkan untuk meminta hukuman dilaksanakan saat aku melewati Inuyama Sebenarnya aku tidak ingin membicara kannya." Takeo berterima kasih pada Kaede atas k eputusannya yang tegas." sahut Takeo. bukan sebagai tindakan balas dendam." kata Takeo. Harus kelihatan sesuai hukum. Kurirmu sudah kembali ke Inuyama. Katakan pada Sonoda u ntuk melakukannya sendiri: dia dan Ai adalah wakil kita di Inuyama." kata Takeo.

Napas mereka makin memburu dan kedua nya larut menjadi satu kesatuan." Kaede membenamkan diri dalam pelukan Takeo. "Kuharap kita bisa seperti ini selamanya. Ia ingin mencapai persetujuan yang memuaskan kedua belah pihak untuk masalah perdagangan dan memperingatkan mereka siapa penguasa Tiga Negara. "Aku sangat bahagia saat ini." "Tapi kekuatan yang tengah digalang dimana dirimu. Takeo ingin bertemu dengan kedua orang asing. orang-orang asing itu akan berpaling ke K umamoto untuk men¬dapatkan akses ke distrik lain. "Takkan kubiarkan hal itu tcrjadi. suamiku sayang. Aku janji." *** Semua orang menantikan bayi itu lahir. Halaman 187 dari 500 ." kata Kaede pelan. kita membawa dua pertiga negara kita dalam kancah peperangan dan akan menghancurkan kerabat sen diri dan merenggut Sunaomi dan Chikara dari orangtuanya. tidak bisa me ngendalikannya. dan sumber daya lain. saat Kaede sibuk dengan bayinya." Takeo menarik tubuh Kaede lebih dekat. Takeo khawatir kalau selama ia tidak ada di sana. bekas luka itu masih tetap kelihatan. tapi sebelum Kaede dipingit. dan ak u sayang padanya dan anak-anaknya.memenangkan kedua wilayah. dan mengecup tengkuk istrinya. Ibu mereka adalah adikku. tapi aku takut apa yang akan terjadi kelak.

kerang mutiara. Semua ini. . daun ginkgo dan maple merekah. sore segera me njelang. dan kicau burung warbler mengalun indah. diikuti dandelion. penerjemahan semakin memperlambat pembicaraan.. Takeo pi ia Kaede edua belah sebenarnya lebih senang menerima mereka di kastil dengan upacara megah. Madaren lebih gelisah dengan adanya Takeo. dan kicau burung warbler mengalun indah. Dia tampak takut menyinggung. Burung kembali ke sawah yang berair. dia menawarkan perak. gunung berwarna putih bersih. gunung berwarna putih bersih. Sebagai imbalan. cerah dan segar. aster dan vetch. Bunga aconi tus dan violet bermekaran di hutan dan taman. windflower. windflower. Don Carlo dan Don Joao datang bersama Madaren ke penemuan yang diadakan di ruang utama yang menghadap taman. aster dan vetch. Kaede harus hadir untuk membantu men¬jelaskan maksud k pihak. taman berwarna merah m uda. rempah dan kayu w angi. dan suara katak memenuhi udara. Takeo meminta mereka menyatakan dengan jelas keinginan mereka. pecah belah. J erit jangkrik mulai terdengar. Don Joao menjelas kan bahwa mereka berharap bisa membangun hubungan dagang secara ter¬atur. cerah dan segar. Dia memuji sutra. meskipun tidak menyatakannya secara terang-terang an. karena mereka sepert i memandang rendah dirinya. tahu kalau Madaren adalah adiknya apakah mereka memang tahu itu? A pakah adiknya telah mengatakannya pada mereka? Kaede mengatakan mereka tahu kalau ia l ahir di kalangan Hidden. daun ginkgo dan maple merekah. dan keramik dan porselen yang diimpor dari Shin. Itu tugas yang berat. mencurigai kedua orang asing itu. J erit jangkrik mulai terdengar. tapi juga ingin membuatnya terkesan. ta tak ingin melakukan perjalanan. Bunga aconi tus dan violet bermekaran di hutan dan taman. Aliran sungai dan air terjun di taman memercikkan air dan ikan carp merah keemasan berenang dengan malas di kolam. banyak dicari d an bernilai tinggi di negaranya. Ia pun gelisah. taman berwarna merah m uda. dan tentunya senjata api. ca hari itu semakin hangat. Mereka tak saba r untuk memulai perdagangan yang sesungguhnya. sesekali melompat untuk menangkap seran gga musim semi. katanya.. S eketika bunga ceri bermekaran di mana¬mana. Burung kembali ke sawah yang berair. Kedua orang asing itu kini lebih mendesak. dan suara katak memenuhi udara.Cuaca hari itu semakin hangat. Seke tika bunga ceri bermekaran di mana¬mana. diikuti dandelion.

tapi bila terlalu banyak mata uang perak masuk. Kedua orang itu saling bertukar pandang ketika syarat itu diterjemahkan." "Itu keputusan Anda. Tapi. jangan sampai menganggu keselarasan dalam masyarakat. dan Don Joao menjawab." tutur Don Carlo. dan Takeo mcngira kalau ia menangkap nada lebih bersemangat Madaren s ewaktu menerjemahkan. Anda boleh memanfaatkan satu ruangan di sana." Takeo sepakat dengan sopan. "Rakyat kami boleh beribadah sesuai keinginan mereka. Kami harus melindungi rakyat." Takeo berkata.Takeo menjawab bahwa semua ini bisa diterima: satu-satunya syarat yaitu adalah s emua itu harus dilakukan melalui Hofu dan di bawah pengawasannya. jangan secara terang-terangan." "Kami berharap Lord Otori bisa mengakui agama kami sebagai salah satu agama yang benar." sahut Takeo. Halaman 188 dari 600 . Kami akan memberi akomodasi. dan senjata api hanya bisa ma suk dengan seijin dirinya atau istrinya. "Bila itu keputusannya." "Dengan persyaratan seperti ini. dan bertanya apakah mereka boleh memban gun kuil di Hofu dan di Hagi. saranku. "Kami sudah biasa bepergian dan berdagang dengan bebas. sadar kalau hal itu sulit dite rima. Prasangka masih tetap ada . Bila perdagangan in i ter¬nyata mendatangkan keuntungan bagi kami. dan apakah penduduk setempat boleh bergabung dengan mereka mem uja Deus. dan menjalankannya secara perlahan. maka kami berdua akan pergi." bant ah Don Joao. Kami tahu bahwa Anda bisa membayar dengan mata uang perak. "Mungkin kelak hal itu bisa dilakukan. maka kami akan memperluasnya. maka keuntungan tak berada di pihak kami. semua harga aka n jatuh. Lalu Don Carlo mengungkit masalah agama. "Tidak perlu membuat bangunan khusus untuk itu.

"Lady Otori telah menja di murid sekaligus guru. dan hebat dalam keduanya. tak i ngin Madaren mendengar." sahut Kaede pelan." bisik Takeo. akeo tersenyum. Mereka mengajukan per¬tanyaan pad a Madaren dengan hati-hati. "Mereka mengira kalau kaulah yan g mereka sebut raja. Seturuh kota sudah tahu: tak ada alasan menyembunyikannya dari mereka." Kaede berbicara padanya menggunakan bahasa asing itu. "Kukira dia lebih suka menjadi guru ketimbang menjadi murid." "Dari Delapan Pulau?" "Mereka tidak tahu tentang Delapan Pulau mereka mengira hanya ada Tiga Negara. dan istriku akan sangat sibuk mengurus anak. "Anda berdua harus kembali ke Hofu. "Takkan ada hal semacam itu. Aku akan pergi selama musim panas." Ketika diterjemahkan. dan melihat kalau hal itu membuat mereka kesal. "Ada banyak hal yang dia merasa sudah tahu. dan melihat kalau hal itu membuat mereka kesal. seolah gagasan itu terlalu absurd untuk dibicarakan. "Maafkan aku." kata Don Carlo. tapi mereka ingin tahu apakah mer eka boleh .Takeo tersenyum. "Mereka tidak tahu kalau ada Kaisar. s erta berharap dia mau terus belajar dari kita. mereka tampak kebingungan." ujarnya." sahutnya. Takeo kagum dengan kefasih an istrinya dalam bahasa yang aneh bunyinya itu. seraya berpikir akan menulis surat kepada Taku. "Aku akan mengunjungi Kaisar." tutur Kaede dengan pelan pada Takeo. seolah gagasan itu terlalu absurd untuk dibicarakan. "Aku berterima kasih kepadanya dan bilang kalau dia juga pandai sebagai murid. "Apa yang mereka katakan?" Takeo men¬condongkan badan ke arah Kaede dan ber¬bicara d i telinga istrinya." sahutnya. seraya melihat sekilas ke arah Takeo dengan tatapan terkejut. begitu cepat setelah kelahiran anak A nda?" tanya Don Joao." gumamnya. "Tapi Lord Otori akan ke mana begitu lama." "Aku akan merasa kehilangan Lady Otori. "Takkan ad a hal semacam itu. "Aku akan mengatur kapa l dengan Terada Fumio dia akan menemani Anda." Madaren bicara dengan ragu-ragu. Tak ada alasan lagi bagi kalian untuk tinggal di Hagi.

"Jangan terjemahkan itu! Katakan pada m ereka kalau masalah ini telah dipersiapkan berbulan-bulan sebelumnya." Don Carlo lebih diplomatis." "Kemungkinan itu bisa dilakukan. "Kami adalah utusan raja kami. "Mungkin memang seharusnya kami mengirim surat dan h adiah. dan dikemas dengan bungkusan kertas halus bersama contoh keramik terindah. kotak penyimpan teh dari emas dan pernis hitam. serta l ukisan pemandangan karya Sesshu. Mungkin Lord Otori bisa menjadi duta bagi kami. karena biasanya apa yang dianggap cukup oleh orang asing jauh dari yang biasa mereka la kukan." "Apa mereka sudah gila?" imbuhnya cepat. Hal itu tidak mungkin. " Don Joao memaksa. Setelah menerima makanan kecil dari Haruka. Shigeko akan Halaman 189 dari 600 ." kata Takeo pada Ma daren. dalam hati ia bertekad tidak akan m elakukannya. Kaede sudah memerin tahkan dipersiapkan¬nya kain sutra yang indah. Sudah sepantasnya kami diper¬bole hkan memperlihatkan surat kepercayaan raja kami pada penguasa negeri ini. Takeo memikirkan dengan gembira kesan yang akan dibuat oleh kirin. "Ingatkan pada mereka kalau hadiahnya harus mewah dan indah." aku Takeo. bila memang bukan Lord Otori orangnya. berjanji akan mengirim surat dan hadiah sebelum Takeo pergi.menemani Lord Otori ke ibukota. mereka mengucapkan selamat tinggal.

dan saat Madaren tidak sanggup bicara. Takeo sudah melangkah keluar menuju taman sewaktu kedua orang asing itu mengundu rkan diri. Semua itu untuk menghormati Kaisar dan memperlihatkan kekayaan dan status kedudukan Klan Otori serta kekayaan negaranya. Dan itu hanya kau yang bisa berikan. "Apa yang bisa kubantu? Adakah kebutuhanmu yang belum terpenuhi? Apakah kau perlu uang?" Madaren menggelengkan kepala. Sebaliknya. Kebalikan dari sikapnya. seraya membungkuk dengan sikap mereka yang canggung dan kaku. mereka ak an mengira perempuan itu bicara padanya sebagai penerjemah." "Aku tidak ingin semua itu. "Ada satu hal yang kuinginkan lebih dari segala¬nya. dia berkata dengan ramah. m enyesali sikapnya yang dingin. ia merasa ada semacam kewajiban pada Madaren. bahkan untuk diberika n kepada menteri sekali pun. ke tel besi dan rak lentera. "Don Joao membutuhkan diriku. "Aku tahu kau belum sepenuhnya ber¬pa ling dari . dan juga keluargamu." katanya dengan berlinang air mata. bila ada yang melihat mereka bersama. "Tomasu. Madaren memanggil namanya. Ketimbang menganta r mereka sampai ke gerbang. Semua itu untuk menghormati Kaisar dan memperlihatkan kekayaan dan status kedudukan Klan Otori serta kekayaan negaranya." sahutnya. Kau bisa memulai usahamu sendiri. bukan kerabatnya. Madaren justru berlari mengejar." Takeo mengira kalau adiknya ingin ber¬terima kasih. Untungnya. dan terkejut ketika temyata bu kan itu yang dikatakannya. Tindakan adiknya membuat ia gusar karena tidak ingin didekati. Aku tidak b isa meninggalkannya. Takeo sangsi benda apa pun yang b isa disediakan kedua orang asing itu bisa layak dibawa sampai ke ibukota. embawa kuda-kuda dari Maruyama dan gulungan kaligrafi terbuat dari daun emas. "Apa sebaiknya kuaturkan pernikahan untukmu? Aku akan mencarikan pedagang yang c ocok denganmu. bahkan untuk diberika n kepada menteri sekali pun. k etel besi dan rak lentera. Takeo berbalik." Takeo menaikkan alis dan menanti kelanjutan kata-kata adiknya.membawa kuda-kuda dari Maruyama dan gulungan kaligrafi terbuat dari daun emas. dia malah bicara dengan nada agak keras. Takeo sangsi benda apa pun yang b isa disediakan kedua orang asing itu bisa layak dibawa sampai ke ibukota. namun ia pun sadar kalau Madaren sudah akrab dengan istrin ya selama musim dingin.

Pendiriannya tidak akan goyah. di dunia ini." sahutnya. Katakan padaku kalau kau masih menjadi pengikut Hidden." Halaman 190 dari 600 . "Aku me lihatmu terbakar di neraka." Takeo ingat pesan dari tuhan yang mendatangi dirinya setelah demam karena terken a racun yang membawa dirinya ke ambang alam baka. Rasa tertekan dan ketulusannya tak dira¬gukan lagi. Api neraka melahap dirimu." "Tapi kehidupan kekalmu menjadi taruhannya. Tuhan mengirimkan firasat kepad aku. Aku melarangmu mendekatiku dengan cara seperti ini lagi. agar rakyatnya bebas memilih. jiwamu." ujarnya lembut. "Tidakkah ini cukup? Dunia tempat kita lahir dan tempat kita mati." "Aku tidak lagi pengikut ajaran itu. Ia takkan percaya pada kepercayaan mana pun . siklus kehidupan dan kematian? Ini sudah cukup indah dan men akjubkan." "Saat kau mengeluarkan kata-kata tak pantas itu. Itulah yang menantimu setelah kematian. dalam segala keindahannya d i musim semi.Tuhan." sahutnya tenang. "Kau tidak boleh bicara denganku mengenai masalah ini . seperti yang t adi kukatakan: tak ada satu agama pun yang b enar. tempat kembal inya jiwa dan raga dalam siklus besar. "Madaren. ke cuali kau kembali kepada Tuhan." Air mata berlinang di wajahnya. Kau pikir mudah bagiku untuk melakukannya? Lihat betapa gemetarnya tubuh ku! Aku takut mengutarakan kata-kata ini padamu. "Maksudku. Tapi aku harus mengatakannya!" "Hidupku di sini. Takeo memberi isyarat agar adiknya melihat ke taman. Sudah menjadi tugasku untuk menyelamatkan dirimu.

" Ia tidak marah lagi. Kau akan selalu menikmati perlindunganku. "Tidak. Keadaanku saat ini membuatku mustahil untuk kembali. Takeo pergi ke rumah mereka yang berida di sisi lain teluk. dan pastikan kalau dia pergi secepatnya. keyakinan masa kec ilnya dengan Jo-An. ap a yang akan ia lakukan pada adiknya itu? Mengeksekusinya? Diingatnya. dihangatkan dengan sumber air panas yang mengelilingi gunung bera pi. "Kedua majikanmu sedang menunggu. lili . dunia menciptakan dirinya sendiri. Kuharap kau sadar sekarang kalau masa lal u sudah ditutup rapat. tapi tidak bisa melihat ada alasan mengapa dia tertahan di tempat itu oleh adiknya itu." Ia merasa kedinginan. Ia telah membunuh masa lalunya. T ak lama setelah pertemuan dengan orang asing selesai. seperti yang diingatnya s etiap hari. jauh lebih hebat dari yang kau kira. Madaren tunduk pada kata-katanya. "Lalu kelihatannya d ia kurang sehat. padahal cuaca hari itu hangat. ia sadar kal au ia bisa melakukannya lagi tanpa ragu. kelihatan cerah dengan azalea dan peony beserta tumbuhan eksotis lainnya yang dibawa Fumio untuk Eriko dari pulau-pulau yang jauh serta kekaisaran-kekaisaran terpencil: anggrek. " * Terada Fumio menghabiskan musim dingin di Hagi bersama istri dan anak-anaknya. tapi bukannya tanpa syarat. Apa maksud perkataannya. Taman beratap. Aku telah memutus tali hubungannya." katanya."Tapi Tuhan yang menciptakan dunia ini. meneruskan perbincangan yang tak ada tujuannya. gelandangan yang juga meng¬anggap dirinya sebagai utu san Tuhan Rahasia. Tak peduli seberapa dalam penyesalan atas lindakannya itu. "jauh lebih kecil ke timbang dunia yang kita diami ini. "Semuanya baik-baik saja. seolah sadar tempatnya yang sebenarnya. dewa." katanya. Pastikan perempuan itu pulih kembali." sahutnya. Lord Takeo?" "Juru bahasa itu mengajukan beberapa pertanyaan. bukan sebagai adiknya tapi serendah pelayan seper ti Haruka yang menunggu setengah bersembunyi di beranda." dia membungkuk hormat sampai ke tanah." "Tuhan. kematian Jo-An di tangannya. Tapi Tuhan yang menciptakan du nia ini." "Tidak mungkin lebih hebat dibanding Tuhan." tuturnya. dan tak satu pun dari mereka bisa dibangkitkan kembali. Sebaiknya kau kembali pada mereka. Dan kularan g kau mengungkapkan masa laluku pada mereka. semua itu diciptakan oleh manusia. "Lord Otori.

"Tapi kel ak aku ingin ikut jika aku mengundurkan diri atau turun takhta. "Suatu hari nanti kau harus ikut dengan¬ku. Saga Hideki mengusulkan suatu penandingan putriku yang akan menggantika n diriku dan yang lainnya sudah yakin kalau hasilnya kelak akan berpihak kepadaku." sahut Takeo. "Kau belum pernah keluar Tiga Negara." kata Fumio selagi mereka berjalan mel ewati taman dan menceritakan tempat asal tiap tumbuhan.dan mawar. Selama itu Kahei akan mengumpulkan pasukan di perbatas an wilayah Halaman 191 dari 600 ." "Tidak perlu. karena kau sudah mem¬bawakan dunia kepadaku. tatapan matanya yang penuh semangat menelusuri wajah Takeo." "Kau mempertaruhkan Tiga Negara hanya dalam satu penandingan? Jauh lebih baik be r¬siap untuk berperang!" "Seperti yang kita putuskan tahun lalu. Aku berharap bisa memecahkan masalah tanpa berperang." "Apa kau memang mempertimbangkan hal itu?" Fumio mengamati. "Lihat saja nanti apa yang akan terjadi di Miyako. Setidaknya aku bu tuh waktu satu bulan hingga sampai di ibukota. kita akan siap perang.

tapi dengan syarat yang akan dibicarakan dengan Saga. dan bisa menyerang di Kumamoto bila perlu. Taku ada di sana dan akan tetap memberitahu kan padamu apa pun yang terjadi. Kekuatan kita akan berada di sana hanya jika syaratku t idak dipenuhi." Fumio berjanji. Kekuatan kita akan berada di sana hanya jika syaratku t idak dipenuhi. tapi dengan syara t yang akan dibicarakan dengan Saga." imbuhnya. serta taman yang indah. "Aku akan mencari tahu semampuku." "Bahaya terbesar yaitu Zenko memanfaat¬kan ketidak-hadiranku dan memberontak. terutama setelah minum sake. masih dengan pikiran yang tenang dan ceria. dia tak akan benin dak bodoh dengan mempertaruh-kan nyawa mereka. ikan segar dan sayuran musim semi. atau jika mereka ingkar janji. Tapi istrinya akan ke Hagi. kedua putranya sudah berada di sana. Gadis Muto itu. Menurutku. dan mulai mengerti bahasa mereka. Mai. Aku diwajibkan ikut penandingan itu. "Mari kita minum beberapa cangkir. dan dia akan mengup ayakan seluruh pengaruhnya atas Hana. ditemani kawannya si perompak tua Fumifusa. Saat memasuki taman. Kaede sepakat denganku.sing karena kemungkinan sudah ada yang tinggal di Kumamoto." "Kita harus menggerakkan armada dari Hagi ke Hofu. Kau bantu mereka melakukannya sambil mengawasi. atau jika mereka ingkar janji. "Aku harus mengenal Don Joao dengan cukup baik musim dingin ini." "Mereka akan kembali ke Hofu?" "Mereka akan membangun pos dagang di sana. "Itu berarti ki ta mengendalikan bagian Barat dari laut. ." Takeo terus menceritakan tentang kekhawatirannya atas orang-orang a. menang atau kalah. Aku diwajibkan ikut penandingan itu. menang atau kalah." *** Ia lupa pada semua kecemasannya saat menikmati sake dan makanan yang disiapkan E riko. bersiap menerima serangan dari laut. Bicara tentang s ake. semangat¬nya bangkit lagi ketika mendengar suara Shizuka. Untung nya dia bukan orang yang tertutup.Timur. Kau dan ayahmu harus pergi dengan armada perang k e Hofu." imur. Ayahku ingin bertemu denganmu. juga akan pergi bersama mereka. Takeo pulang ke rumah melalui tepi sungai. Dan kau bisa mengajak orang-orang asing itu bersamamu." tutur Fumio.

Ha ruka menyajikan teh lalu meninggalkan mereka berdua. S hizuka berkata." Mendengar nama Yuki disebut membuat Takeo hanyut dalam lamunan." "Benar. "Bukan di Negara Tengah. Aku terkejut Taku belum kembali ke Inuyama. Apakah para tetua Muto mendukungmu?" "Ada perbedaan pendapat. tapi dari wila yah Timur dan Barat." sahut Shizuka.. "Pikirannya bercabang tentang masalah itu. Dia merindukanmu. Dia ber¬kembang tanpa kehadiran Maya. tapi kehadirannya di tempat Zenko berdampak pada banyak hal yang harus kubicarakan denganmu."Kau tidak ajak Miki?" tanyanya saat ber¬gabung dengan Shizuka di ruangan atas." sahut Shizuka. Dan karena kau akan pergi selama musim panas ini.. Sepertinya tidak bijaksana kalau tidak dimanfaatkan. juga kakak¬nya. "Dia mengingatkanku pada Yuki saat seusia nya. "Aku dapat kabar dari Taku pada akhir musim dingin." sahut Takeo. tempat dia bisa Halaman 192 dari 600 . Tapi dia kini dalam usia ketika dapat menyerap semua pelajaran dengan cepat. Aku tak ingin membicarakannya di sini.. serta Kaede akan sibuk dengan bayinya." "Aku sebenarnya berharap bisa bertemu dengannya sebelum pergi. Penuh percaya diri. Tumbuh dengan baik. bahkan ternyata sangat baik ba ginya keluar dari bayang-bayang kakaknya. Menyadari itu. "Di a sehat-sehat saja?" Shizuka tersenyum. "Dia ingin bertemu de nganmu. Dia bilang Akio ber ada di Kumamoto bersama dengan putramu.

tapi tidak ada air mata. setelah semua yang kau lakukan demi mereka. namun ia menjawab dengan ringan. merasakan percikan kemarahan yang sama.mengerahkan kendali atas kaum Tribe di wilayah Timur." ujar Takeo. apalagi kau akan segera berangkai." sahut Takeo. Kau hanya pe rlu memberi perintah. Saranku. itu sebabnya dia tidak takut atau hormat padamu. Kenji berkata kalau aku harus belajar kekejaman dari dirimu. "Tapi gangguan semacam itu hanya akan membu atnya gegabah." Kata-kata Shizuka menyengat dirinya. "Dia semakin mirip dengan ayahnya. "Aku sudah berjanji pada diriku dan pada negara ini untuk mengambil jalan perundingan demi mencapai keadi lan serta kedamaian. Aku tak membiarkan tantangan Zenko . sebelum d ia mengumpulkan lebih banyak dukungan lagi. kagum karena Shizuka bisa dengan sikap dingin menyarankan untuk membunuh putra sulungnya sendiri." Mata Shizuka berkilat. Aku tak bisa lupa kalau Arai memerintahkan kematianku." Shizuka berkata. tapi dia tetap ingin memancing amarahku. tapi untuk sementara ini dia masih bisa dik endalikan. mengancam dan memberi perintah padanya. dan Taku serta tentu saja aku. sebagai pemimpin keluarg a Muto sekaligus sahabat keluarga Otori. "Aku percaya pada Taku. Aku yang akan mengaturnya. Zen ko tahu itu. Tampaknya dia bertekad untuk menuntut jabatan ketua Muto. Aku harus ke sana. "Tapi Kenji dan aku tak sanggup menanamkan sifat itu ke dalam dirimu. tapi aku enggan meninggalkan Kaede di saat seperti ini. dan sangg up menyaksikan kau membunuh putranya sendiri. apalagi kau akan segera berangkai. "Kudengar desas-desus tentang itu. Takeo.' Takeo berhenti sejenak. lalu berkata. "Hari pertama kita bertemu." ujar Takeo . "Aku sudah berusaha meredamnya. tapi Takeo melihat kalau Shizuka benar-benar tertek an." engerahkan kendali atas kaum Tribe di wilayah Timur." "Taku sudah terobsesi pada gadis yang kami kirim untuk merawat Maya. dan itu akan menjadi k onflik dengan dirimu. Aku khawatir bila kedua putraku membuatmu kec ewa. yaitu secepatnya menyingkir¬kan Zenko." Suaranya kedengaran teratur. tapi ak u enggan meninggalkan Kaede di saat seperti ini. Aku harus ke sana. Zenko lain lagi masalahnya. demi kekuasaan.

" Shizuka mengamati. Sunaomi pasti Halaman 193 dari 600 ." komentar Takeo. "Walaupun kupikir tak sat u pun dari keduanya akan berterima kasih padamu! Jangan katakan ini pada siapa pun.mengingkari janji itu. lalu memperpanjang pertikaian. "Tapi kau takkan mengikuti saranku. "Tindakan yang sangat bagus." Shizuka tampak berusaha agar suaranya kedengaran lebih ringan. tap i bertindaklah cepat. "Aku menawarkan Miki untuk ditunang¬kan dengan Sunaomi." "Maka tangkap dan adili dia dengan tuduhan makar. Bagaimana Takeo bisa membunuh ayah mereka? Ia justru hanya akan membuat kedua bo cah itu bersikap menentangnya dan keluarganya. dan saat tidak ada jawaban. dan dilihatnya Sunaomi dan Chikara datang sambil mencipakkan air di bawah dinding mereka pasti habis bermain di tepi sungai. Matahari telah tenggelam dan taman berganti dengan cahaya biru malam. Takeo. aku berterima ka sih padamu karena membiarkan putraku tetap hidup. kau tidak perlu mengatakan apa-apa. Kunang-kunang berke lap-kelip di atas aliran sungai. tapi akibat yang harus ditanggung kita se mua tak terbayangkan besarnya. Buatlah sah menurut hukum. Tentu saja." Ucapan Shizuka membuat sapuan dingin firasat merayap hingga ke tulang punggung¬nya . Rasa lapar yang membawa mereka pulang. dia meneruskan.

"Memberimu seorang putra. Kemungkinan kegem biraan itu kurang dirasakan di Kumamoto.membenci usulan ini. dia seakan mem¬peringatkan kalau ia takkan punya negara lag i yang bisa dipulanginya." Dari ekspresi Shizuka." "Masih terlalu dini untuk mengumum¬kannya mungkin setelah aku kembali pada akhir mus im panas. Hana bers iap melakukan perjalanan ke Hagi di akhir musim panas." "Kau sudah memberiku lebih dari yang kuharapkan. "Shizuka. Tabib Ishida. Kaede membawa si bayi dan menaruh si bayi di gendongan sang ayah. tapi Zenko dan Hana mengirimkan hadiah yang indah: jubah sutra untuk si bayi. pedang kecil milik keluarga Arai. berjenis kelamin laki-laki. dan seekor kuda poni. Tampaknya jelas kalau Lady Otori akan memiliki seorang putra sebagai pewaris. Dia sangat kesal dengan kejadian di musim panas kemarin itu . meski dalam batasan tertentu karena cengkeraman si bayi pada tangan kehidupan masih lemah serta rapuh." sahutnya dengan penuh perasaan . Menggendong putranya sendiri membuat ia merasa berbeda . bayinya kuat dan se hat. Di taman kedua bocah berdiri dan menatap Haruka. Kelak saat sudah dewasa baru dia bisa menyadari betapa besar kehormatan yang diterimanya. Takeo belum siap untuk menerima makhluk mungil berwajah merah dan berambut hitam ini dan untuk kebanggaan dalam dirinya. dan kediaman telah disucikan sesuai adat." tutur Kaede. membuat nightingal e floor ber¬nyanyi. "Ini yang kudambakan seumur hidupku. Ketika masa pingitan Kaede berakhir. Kutukan yang dibisik¬kan rakyat yang karena kelahiran si kembar telah sirna. Kabar itu diterima dengan kegembiraan yang sama selama beberapa minggu kemudian di seluruh penjuru Tiga Negara. tempat para perempuan. Dia sangat kesal dengan kejadian di musim panas kemarin itu. setidaknya di Maruyama. Kelak saat sudah dewasa baru dia bisa menyadari betapa besar kehormatan yang diterimanya. tapi pembicaraan mereka disela oleh teriakan dari belakang rumah. Inuyama dan Hofu." embenci usulan ini. bersemangat untuk bertemu dengan kedua putra kandungnya dan menemani kakaknya sementara Takeo pergi." teriak Haruka. "Cepat kemari! Lady Otori sudah mau mela hirkan." Bayi itu. Proses kelahiran berlangsung cepat. Kabar itu langsung dirayakan di seluruh kota Hagi. Takeo mendengar langkah Haruka berlari di beranda. seperti keinginan Kaede selama ini.

. pasukan Tiga Negara akan menghabisinya dengan mudah." "Aku memang bahagia. wajah Kaede penuh kasih sayang. Sudut matanya mulai terasa hangat. "Aku bisa mati saat ini juga. Kita akan hidup untuk melihat putra kita dewasa. Dipertimbangkannya masak-masak hal i tu." "Aku berharap tidak meninggalkanmu. "Aku juga berharap demikian. ia akan bertempur sampai titik darah penghabisan untuk me mpertahankan Tiga Negara agar bayi ini bisa mewarisinya. dan kemudian menghadapi Zenko. lalu ia singkirkan dari benaknya. "Tapi kau harus pergi." Seketika ia terpukau pada pikiran untuk mengabaikan perjalanan ke Miyako." gumam Kaede." Diambilnya si bayi lalu menatap wajah bayi mungil itu. Ia akan mencoba cara damai dulu." "Aku merasakan hal yang sama. bahwa kau bahagia dengan ketiga putri kita. Biar saja Si Pemburu Anjing menyerang. namun ia tak bisa berhenti tersenyum." sahut Kaede. hingga aku hampir saja me mercayaimu. maka ia akan terlihat arogan sekaligus pengecut. "Tapi jangan bicara tentang kematian . "Aku takut. jika perjalanan itu ditunda. begitu sering kau mengatakan tidak meng¬i nginkan anak laki-laki." sahutnya. Ia tercengang de ngan kekuatan perasaan itu. "Kau bahagia!" seru Kaede.. "Aku tidak akan sendirian lagi dengan lakilaki mungil ini di sisiku!"* Halaman 194 dari 600 . seperti yang telah di putuskan..

bila ada badai di bulan kedelapan dan kesembilan." sahut Takeo. ikan kering serta miso telah disim pan sebagai cadangan dan disebar sampai ke perbatasan wilayah Timur untuk persediaan bagi pa sukan. Alan gkah anehnya kepercayaan orang-o rang itu. Dalam mengatur perjalanan. Dia membawa kekuatan utama pasu kan Otori: lima belas ribu pasukan dari Hagi dan Yamagata. dan Miyoshi Gemba dari Terayama. "Kita semua bisa menumpang kapal. tapi ketenangan dan kedamaianny a tak berubah." Bunga ceri berguguran dan kelopaknya berganti daun hijau yang baru ketika Takeo dan rombongannya berkuda dari Hagi. Di tepiannya. dilihatnya kalau kuil itu dipersembahkan bagi Jo-An. di mana ada persimpangan jalan. pikirnya. begitu pula dengan orang-orang asing itu. Aku bilang kalau tidak memercayai apa pun. yang paling membebani yaitu kirin. "Ayah ingin meli hat daratan dan jalan melewati jajaran itu. Ayah. memantulkan kilau me¬mesona saat disira mi cahaya matahari. dan kulitnya menjadi lebih gelap seperti warna madu. tapi aku sering mendoakan arwah Shigeru. Sejak musim panas. Hewan itu kini leb ih tinggi. sepuluh ribu orang lagi akan dihimpun Sonoda Mitsuru di Inuyama. Jalur ini mengembalikan kenangan pad a orang yang telah menyelamatkan dan mengangkatnya sebagai anak. hewan itu sebaiknya tidak ikut berjalan kaki ke sana karena Jajaran Awan Tinggi akan terlalu berat baginya. berdiri sebuah kuil keci l. Fumio akan ke Hofu: dia akan membawamu dan k irin. terutama saat seka rang ini.Takeo harus pergi sesegera mungkin agar bisa sampai di tujuan sebelum mulai huja n plum. Shigeko dan Hiroshi tiba dari Maruyama. "Ayah belum pernah keluar perbatasan Tiga Negara. Takeo pernah melewati jalur bersama Lord Shigeru. Menurut Tabib Ishida. Padi mulai tumbuh di sawah yang tergenang. beras dan gandum. Pada akhimya diputuskan kalau Shigeko dan Hiroshi yang akan membawanya dengan ka pal sampai di Akashi. ketika aku membutuhkan kearifan sert a keberaniannya. pikirnya sambil mengenang percakapan¬nya dengan Mada ren . melewati pegunungan dan jalan pantai menuju Mats ue. yang di beberapa tempat telah dianggap dewa. Miyoshi Kahei s udah berangkat ke wilayah Timur tak lama setelah salju mencair. ma ka laut adalah jalan yang akan kita lalui untuk kembali. Beruntung panen kali ini berlimpah: baik pasukan maupun mereka yang penduduk tak kan kelaparan." Shigeko menyarankan.

" sahut Gemba. perselisihan antarsepupu. "Dia akan menjadi menantuku. dan sesekali bersenandung pelan. Halaman 195 dari 600 . menceritakan tentang rencananya untuk menjodohkan bocah itu dengan putrinya. Itu akan memuaskan ayahnya!" "Kecuali Sunaomi memiliki perasan sebagai putra yang berbakti padamu. ajaran yang penuh pengendalian diri. Keyakinan y ang sama ditunjukkan oleh Jo-An dan kini Jo-An telah menjadi orang suci. Ia membicarakan tentang Sunaomi. yang pernah bertemu Gemba di Terayama. Gemba telah meng¬ikuti Ajaran Houou. takut kalau Sunaomi terluka atas kejadian itu. teman seper¬jala nan yang paling tenang dan paling ceria yang bisa diharapkan.beberapa minggu lalu: keyakinan yang memaksa adiknya bicara padanya. teringat kejadian di biara. maka pertu nangan itu takkan berguna. Ia melihat sekilas pada Miyoshi Gemba yang berkuda di sampingnya. bak suara halilintar dari kejauhan atau raungan ber uang. Takeo terdiam. Gemba acapkali tenggelam dalam medit asi. Saat berkuda.

namun juga seb agai sandera atas kesetiaan ayahnya." Minoru mendampinginya seperti biasa. maka akan dipupuk dan dikembang¬kan." akhirnya ia berkata.." "Ijinkan dia ke tempat kami saat kita kembali. keraguan mulai merayapi dirinya. perjalanan itu mudah karena melalui laut dari Hofu." "Apakah ini bijaksana?" tanya Minoru. Bila tidak dapat melepaskan diri. kabari aku. dan bila ada kebaikan dalam dirinya." kata Gemba." "Kurasa usianya sudah cukup dewasa: tahun ini usianya sembilan tahun. dan malam itu di pemberhentian pertama mere ka. Ia merasa perlu bicara de ngan Taku. mendengar kabar terbaru dari wilayah Barat. "Jinggalkan tanggunganmu dan pendampingnya di Hof u.. Bagi Taku. kemudian melalui sungai dengan menumpang kapal tongkang yang melintasi antara kota kastil dengan pesisir . "Surat bisa saja dikacaukan. sebagai calon putraku." "Ya. "Aku percaya kalau anak itu pun ya naluri yang baik. "Hal itu tidak akan terjadi. Itulah yang ia harapkan dapat dikendalikan Taku. Ia menatap Minoru." Dia melihat burung houou." aku Takeo. "Datanglah sendiri. "Bila keluarga Muto memilih Zenko." "Dia tinggal bersamaku sebagai ke¬ponakanku. Jurutulisnya tahu lebih bany ak rahasia Tiga Negara dibanding siapa pun. serta memintanya datang ke Inuyama a gar bisa bertemu di sana. terutama. "Aku perca ya kalau anak itu punya naluri yang baik. ia mendiktekan surat untuk Kaede." akhirnya ia berkata. Baiklah. aku juga berpikir begitu. dan untuk Taku di Hofu.." "Terutama apa?" "Bila keluarga Muto tidak lagi yakin kepada siapa mereka akan berpihak?" Karena Takeo mengandalkan Tribe untuk membawa pesan tertulis dengan cepat ke sel uruh Tiga Negara. Kami akan mera watnya."Dia melihat burung houou. Aku takut kelak terpaksa memerintahkan untuk membunuhnya. mana yang akan Taku pilih?" katanya pelan. "Aku akan menyurati istriku nanti mala m tentang usulanmu itu. . kirim anak itu pada kami." diktenya.

" Percakapan ini melekat di benak Takeo sewaktu mereka melanjutkan perjalanan ke w ilayah Timur. bila mereka berbalik menentangku? Takeo mulai mencurigai kesetiaan Kuroda bersaudara. "Tekankan kalau Taku harus datang sendiri. Halaman 196 dari 600 . keduanya tiba di Inuyama dalam keadaan tegang serta kelelahan. sudah beberapa b ulan ini Takeo menungganginya. tapi jauh lebih tegang. senantiasa mendengarkan suara terpelan yang bisa jad i pertanda satu serangan. dan mereka telah dilatih teknik bertarung cara T ribe oleh Kenji. Tenba cepat tanggap dan pintar. Ia selalu memercayai mereka sampai saat ini: meski mereka tidak memiliki kemampu an menghilang. namun mereka bisa merasakannya. Mereka telah berulang kali melindunginya. Tenba. yang selalu me n¬dampinginya. Kudanya. Aku telah memperdaya Kikuta begitu lama. Jun dan Shin.Minoru menaikkan bahu. Dapatkah aku lolos dari Muto juga . tapi bila mereka harus memilih antara dirinya dan Tribe. pikirnya. "Perlu kutuliskan kalimat terakhir Anda?" dia bertanya. Penunggang dan kud a. jalan mana yang akan mereka ambil? Takeo tetap bersikap siaga. Takeo bertanya pada dirinya sendiri lagi. tapi bibimya terkatup rapat dan tidak langsung menjawab. menangkap suasana hari penunggangnya. hampir sama kua tnya dengan Shun. sementara bagian terberat dalam perjalanan itu masih belum tiba. hingga terjalin ikatan kuat antara mereka.

uang dan sak e mengalir sama derasnya. Takeo menyayangi Ai.Inuyama dipenuhi dengan kegembiraan dan sibuk. dulu adalah orang kepercayaan Arai. tapi aku sudah menduga hal semacam itu. "Apabila ada masalah. dia b er¬bagi angan Takeo akan negara yang makmur tanpa penyiksaan maupun suap. sensitif tanpa berkurangnya keberaniannya. tapi akhir-akhir ini belum ada kabar. yang mendapatkan surat dari suaminya saat musim semi. kedatangan Lord Otori dan penghim punan pasukan berarti pedagang dan pembuat senjata sibuk siang dan malam. Pamannya. Takeo memercayai kedua orang ini. Itu bukanlah hal yang serius. dan M itsuru telah menjadi orang yang pragmatis. Namun rasa lelah membuat Takeo men¬curigai semua orang di sekelilingnya. Ber¬ba gai urusan pasti menahannya di Hofu mungkin sesuatu yang tak ingin dia tulis dalam surat. dan suamiku berada jauh dalam waktu lama. Akita. Ai kerap men¬ceri takan tentang bagaimana penjaga di Inuyama hampir membunuh dia dan Hana ketika mendengar kabar kematian Arai dan kehancuran pasukannya. kedatangan Lord Otori dan penghimp unan pasukan berarti pedagang dan pembuat senjata sibuk siang dan malam. yang memang saling mencintai. lalu merundingkan penyerahan wilayah Timur pada Otori. kagum akan sifat lembut dan kebaikan hatinya. menyembunyikan kedua gadis itu. Takeo disambut adik iparnya. Takeo disambut adik iparnya. Dipanggilnya istri Taku. Suamiku tidak pernah . Karena rasa terima kasih itulah maka Takeo menikahkannya dengan Ai. namun penampilannya menarik. dan suaminya Sonoda Mitsuru. tentunya. Beruntung Mitsuru telah lebih dulu mengambil ali h kastil. Tomiko tidak terlihat khawatir. Ai. Seringk ali dia berhasil meng-gunakan keahlian berundingnya untuk mewakili Takeo: bersama istrinya. Semua laki-laki punya kebutuha n. Lord Otori. "Aku sudah dengar tentang per empuan itu. dan suaminya Sonoda Mitsuru. dia sudah terbiasa dengan ketidakhadiran suaminya. nuyama dipenuhi dengan kegembiraan dan sibuk. Sonoda be rasal dari Klan Arai. Seberapa besar sisa kesetiaan ada dalam dirinya ter-hadap putra Arai? Takeo semakin gelisah dengan kenyataan tidak adanya tanda-tanda keberadaan Taku. ataupun kabarnya. Ai. Satu hal yang mem buat Takeo senang yaitu Ai dan Mitsuru menikah atas dasar cinta. mereka terikat oleh hubungan perkawinan. Dia tidak sec antik kedua saudaranya. ia memperingatkan dirinya sendiri. lagipula. maka kita akan segera mendengar kabarnya. Tomiko." Tomiko melihat sekilas ke arah Takeo lalu berkata. uang dan sak e mengalir sama derasnya.

"Dan gadis itu." ujar Sonoda. "Tidak menerima atau mengabaikan?" Takeo sadar kalau cara bicaranya terlalu blak¬b lakan. "Kuyakinkan kepada Anda. tapi istriku selalu berpihak kepada belas kasihan.serius tentang hal itu." kata Ai. Tapi mereka tidak bereaksi apa-apa. "Jika keluarga mereka ma u berunding." "Akan kuatur agar dilakukan besok.. mereka tidak harus mati. A ku pasti akan melakukannya sendiri. tapi Takeo mem otong perkataannya. "Aku sudah kirim suratnya beberapa minggu lalu. Menundanya lebih lama akan dianggap sebagai kelemahan. memerintahkan agar dilakukan secepatnya. kami pa sti sudah melaksanakannya. Aku pun bertanya¬tanya mengapa masalah ini ditunda begitu lama. Lord Otori: kami tidak me¬nerima " Sonoda mulai angkat bicara." Sonoda meyakinkan... "Bila kami menerima perintah itu." "Maaf. serta tidak memberi kabar." "Tadinya aku berharap mereka tetap hidup." sahut Takeo. "Ya." Kekhawatiran Takeo justru kian ber¬tambah saat ia mendengar kalau para sandera yan g seharusnya telah dieksekusi ternyata masih hidup." "Mereka kelihatan masih begitu muda. harus segera." Ai setuju. Sonoda berusaha keras menyem¬bunyikan rasa tersinggungnya. "Kau akan Halaman 197 dari 600 .

hadir?" dir?" "Karena aku sudah di sini, maka aku harus hadir," sahut Takeo, karena ia sendiri yang membuat aturan bahwa eksekusi untuk pengkhinatan harus disaksikan orang yang jabatannya paling tinggi, dirinya sendiri atau salah seorang keluarganya atau pengawal senior. Takeo meras a kalau peraturan itu menekankan perbedaan hukum antara eksekusi dan pembunuhan. Menurutnya, peman dangan semacam itu memuakkan sehingga ia berharap dengan menyaksikan itu akan mencegah dirinya dari mengeluarkan perintah dengan sembarangan. Eksekusi dengan menggunakan pedang di¬laksanakan keesokan harinya. Ketika mereka d ibawa menghadap sebelum mata mereka ditutupi, Takeo mengatakan bahwa ayah mereka, Gosa buro, sudah dieksekusi Kikuta karena ingin merundingkan nyawa mereka. Tak satu pun dar i mereka bereaksi; mungkin mereka tidak percaya. Tampak kilatan air mata dari mata gadis itu; selain itu, kedua orang itu menghadapi kematian dengan berani, bahkan bersikap menantang. Ta keo kagum dengan keberanian mereka dan menyesali hidup mereka yang singkat, ber pikir dengan pedih bahwa mereka masih ada kerabatnya, bahwa ia telah mengenal me reka sejak kecil. Keputusan itu dibuat bersama Kaede, dan atas saran para pengawal seniornya. Kepu tusan yang berdasarkan hukum. Namun Takeo tetap berharap bisa melaku¬kan yang sebaliknya, dan kematian tampak seperti pertanda buruk. * Sepanjang musim dingin, Hana dan Zenko sering bertemu Kuroda Yasu untuk mem¬bicara kan tentang pembukaan perdagangan dengan orang asing, dan mereka senang ketika Yasu mendengar Don Joao dan Don Carlo ke Hofu pada akhir bulan. Mereka kurang senang dengan ber ita bahwa Terada Fumio telah membawa armada perang ke perairan laut dalam dan kini mengawa si jalur perairan. "Katanya kapal mereka jauh lebih baik dari kapal kita," kata Yasu. "Andai kita b isa minta bantuan mereka!" "Kalau mereka ingin berpihak kepada kita menentang Otori..." ujar Hana, menyuara¬k an pikirannya. "Mereka ingin berdagang, dan agar rakyat mau berpindah memeluk agama mereka. Taw arkan pada mereka salah satu atau keduanya. Mereka akan berikan apa saja sebagai imbalannya."

Komentar ini melekat di benak Hana selagi bersiap-siap pergi ke Hagi. Sewaktu memikirkan menghadapi kakaknya dengan rahasia yang akan ia bawa, Hana merasa ber¬semangat sekaligus takut, semacam ke¬gembiraan yang menghancurkan. Tapi ia tidak meremehkan Takeo, karena suaminya cenderung bersika p sebaliknya. Hana mengenal kekuatan dan karakter kakak ipar¬nya yang selalu memenangkan cinta d ari rakyatnya serta pendukung setia dari berbagai kalangan. Mungkin juga Takeo akan me¬menangkan hati Kaisar dan kembali dengan restu dari Kaisar. Maka Hana berpikir keras selam a musim dingin tentang strategi lebih lanjut untuk menopang perjuangan suaminya demi balas dend am dan kekuasaan. Saat mendengar orang-orang asing itu sudah kembali bersama jurubahasa nya, Hana bertekad untuk pergi ke Hagi melalui Hofu. "Kau seharusnya ikut bersama kami," ujar Hana pada Akio yang sudah menjadi tamu tetap ke kastil selama musim dingin. Akio selalu melaporkan kabar dari seluruh penjuru negara, s erta perkembangan Halaman 198 dari 600

yang tengah dibuat Hisao dan Koji dalam penempaan. Darah Hana selalu menggelegak dengan kehadiran laki-laki itu. Menurutnya ang tengah dibuat Hisao dan Koji dalam penempaan. Darah Hana selalu menggelegak dengan kehadiran laki-laki itu. Menurutnya kekejaman pragmatis laki-laki itu menarik. Saat ini Akio melihat Hana dengan tatapan yang penuh perhitungan seperti biasa. "Ya, aku tidak keberatan. Tentu saja, aku akan ajak Hisao." Satu kali, mereka hanya berdua saja. Kala itu cuaca masih dingin di akhir musim se mi dengan cuaca yang tak menentu namun wangi bunga yang baru mekar tercium dan malam terasa lebih ringan. Saat itu Akio datang untuk menemui Zenko yang sedang melihat latihan pas ukan dan kuda. Akio semula enggan tinggal lama, tapi Hana memaksa dengan menawarkan sake dan ma kanan. Dia melayani sendiri laki-laki itu, membujuk serta menyanjungnya, membuat Akio tak m ungkin menolak. Hana mengira Akio tidak mudah di¬pengaruhi sanjungan, tapi bisa dilihatnya erhatiannya membuat laki-laki itu senang dan boleh dibilang menjadi lembut. Hana ingin bagaimana rasanya tidur dengan orang itu; walau ia berpikir takkan melakukannya, pikiran itu at ia ber¬semangat. Hana mengenakan jubah sutra berwarna gading, dihiasi bunga ceri merah muda urung bangau: motif penuh kalau p tahu membu dan b

warna yang digemarinya. Sesungguhnya cuaca terlalu dingin untuk mengenakan pakai an semacam itu, dan kulitnya terasa dingin membeku, tapi ia sedang gembira: ia masih muda, darahnya bergejolak dengan dorongan yang sama seperti dorongan akar¬akar dari dalam bumi, tunas dari r anting. Penuh percaya diri dengan kecantikannya, ia memberanikan diri bertanya pada Akio, seba gaimana yang diinginkannya sepanjang musim dingin ini, tentang Hisao. "Dia tidak mirip ayahnya," komentar Hana. "Apakah dia mirip dengan ibunya?" Saat Akio tidak segera menjawab, Hana mendesak, "Seharusnya kau ceritakan semua¬ny a padaku. Makin banyak yang bisa ku¬ungkapkan tentang dirimu pada kakakku, maka semakin kuat akibatnya pada dirinya." "Itu sudah bertahun-tahun silam," tutur¬nya. "Jangan berpura-pura kalau kau sudah melupakannya! Aku tahu bagaimana ke¬cemburuan mengukirkan kisahnya dengan belati di hati kita." "Ibunya adalah perempuan yang luar biasa," Akio mulai bercerita. "Sewaktu di¬saran

kan agar dia tidur dengan Takeo, aku takut untuk menyuruhnya melakukan itu. Meminta Yuki melakukan hal semacam itu hal yang lazim di kalangan Tribe, dan kebanyakan perempuan melakukan apa yang diperintahkan, ta pi Yuki merasa itu sebagai penghinaan. Ketika dia setuju, kusadari kalau Yuki menginginkan Take o. Aku melihat dia menggoda Takeo; bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Aku tidak menyangka kalau hatiku akan terasa sepedih itu, atau ke-bencian yang begitu dalam pada Takeo. Aku belum pema h membenci siapa pun; aku membunuh atas perintah, bukan karena perasaan pribadi. Takeo memi liki apa yang paling kuinginkan, dan dia menyia-nyiakan¬nya. Dia meninggalkan Tribe. Bila Takeo merasakan sedikit saja apa yang pernah kurasakan, maka itu yang disebut keadilan." Akio mendongak. "Aku tidak pernah tidur dengannya," tuturnya. "Aku menyesali itu lebih dari segalanya. Andai aku mampu melakukannya, sekali saja... Tapi aku tidak ingin men yentuhnya saat dia mengandung anak Takeo. Dan aku memaksanya bunuh diri. Aku harus melakukannya: ka rena Yuki tidak berhenti mencintai Takeo; dia tidak akan memaksa anak itu membenci Takeo seperti yang telah kulakukan. Aku tahu dia harus menjadi bagian dari balas denda mku, tapi seiring tumbuh dewasa, dia tidak menunjukkan bakat apa pun, aku tidak tahu mengapa. Dala m waktu yang lama kukira memang tidak ada harapan lagi: berulang kali, para pembunuh yang jau h lebih terampil dari Hisao saja gagal. Kini kutahu kalau Hisao yang akan mcmbalaskan dendamku. D an aku akan ada di sana untuk menyaksikannya." Mendadak Akio berhenti bicara. Halaman 199 dari 600

Kata-kata itu meluncur deras dari mulut¬nya. Dia telah menyimpan semua ini rap atrap at selama bertahun-tahun, pikir Hana, merasa tersanjung dan gembira karena laki¬laki itu per caya padanya. ata-kata itu meluncur deras dari mulut¬nya. Dia telah menyimpan semua ini rap at-r ap at selama bertahun-tahun, pikir Hana, merasa tersanjung dan gembira karena laki¬laki itu per caya padanya. "Saat Takeo kembali dari Timur, Kaede pasti akan tahu semua ini," ujar Hana. "Ma salah ini akan memisahkan mereka. Kaede takkan memaafkannya. Aku mengenalnya: Takeo akan melari kan diri dari Kaede dan dari dunia ini, dia akan mencari perlindungan di Terayama. Biara itu hampir tidak dijaga. Takkan ada yang menduga kau akan ke sana. Kau bisa mengejutkannya di san a." Mata Akio setengah terpejam. Lalu meng¬hembuskan napas panjang. "Itu satu-satunya yang akan mengakhiri penderitaanku." Hana tergoda oleh hasrat untuk memeluk Akio, untuk meringankan sakit hati orang itu: yakin bisa menghibur laki-laki itu atas kematian ia ragu untuk menyebutnya sebagai pembunuhan i strinya. Namun dengan hati-hati menyimpan kenikmatan ini untuk masa yang akan datang. Ada hal lain lagi yang ingin dibicarakannya dengan Akio. "Hisao telah berhasil menempa senjata api kecil yang bisa dibawa tersembunyi?" t anya Hana. "Tak ada pun bisa mendekati Takeo untuk bisa membunuhnya dengan pedang, tapi senjata api bisa digunakan dari jauh, kan?" Akio mengangguk dan bicara dengan lebih tenang, seolah lega topik pembicaraan su dah berganti. "Dia sudah mengujinya di tepi pantai. Jangkauannya lebih jauh dari panah, dan pe luru lebih cepat dibanding anak panah." Sesaat Akio berhenti bicara. "Suami Anda amat tertarik, s enjata yang menyebab¬kan kematian ayahnya. Dia ingin Takeo mati dengan cara yang sama memaluka nnya." "Memang ada semacam keadilan di dalam nya," ujar Hana setuju. "Cukup menyenang¬kan. Tapi agar benar-benar berhasil, kau pasti akan melatih Hisao secara khusus? Sebaiknya dilakukan uji coba untuk memastikan semua berjalan lancar, agar dia tidak kehilangan nyali, agar bidikannya benar-benar tepat." "Apakah Lady Arai punya orang yang bisa diusulkan?" Akio menatap langsung pada H ana dan ketika tatapan mereka beradu, hati Hana serasa melompat gembira. "Sebenarnya aku memang punya," sahut¬nya pelan. "Mendekatlah dan aku akan membisik kan

namanya." "Tidak perlu," sahutnya. "Aku bisa menebaknya." Tapi Akio akhirnya mendekat, begitu dekat hingga Hana bisa mencium napasnya sert a mendengar detak jantungnya. Tak satu pun dari keduanya bicara atau bergerak. Angin mengget arkan layar kasa, dan dari arah pelabuhan terdengar jerit burung camar. Setelah beberapa saat, Hana mendengar suara Zenko dari pelataran. "Suamiku sudah kembali," katanya, sambil berdiri, tak yakin apakah merasa lega a tau kecewa. *** Lord dan Lady Arai sering bepergian antara Kumamoto dan Hofu, maka kedatangan me reka di kota itu tidak lama setelah kembalinya orang-orang asing, tidaklah mengherankan. Kapa l yang ditumpangi para orang asing segera berangkat lagi menuju Akashi bersama Shigeko, Sugita Hir oshi dan kirin. Penduduk Hagi melepas kepergian kirin dengan rasa bangga dan sedih; mereka telah merasa memiliki hewan itu sejak kedatangannya yang mencengangkan di pelabuhan mereka. T ak lama kemudian, Terada Fumio bersiap berlayar untuk bergabung dengan ayahnya, Fumifusa , di teluk, bersama dengan armada Otori. Orang-orang asing sudah sering ber¬kunjung ke tempat Lord Arai sehingga tidak mena rik perhatian. Perbincangan mengalir lebih lancar karena si jurubahasa makin berani dan percaya diri, dan Don Carlo pun makin fasih. "Anda pasti mengira kami bodoh," katanya, "karena tidak mengetahui ada Kaisar. K ini kami sadar kalau kami harus mendekati beliau karena kami adalah utusan Halaman 200 dari 600

raja kami, dan monarki harus berhadapan dengan monarki.aja kami, dan monarki har us berhadapan dengan monarki." Hana tersenyum. "Lord Kono yang baru¬baru ini kembali ke ibukota, dan yang pernah bertemu Anda berdua, adalah keluarga kekaisaran. Dia meyakinkan kami bahwa Lord Arai mendapat dukungan Kaisar. Kepemimpinan Lord Otori di Tiga Negara dianggap tidak sah, maka dia hend ak meng¬ajukan pembelaan atas tuduhan itu." Don Joao nampak tertarik saat kalimat ini diterjemahkan. "Mungkinkah Lord Arai b isa membantu kami mendekati Yang Mulia Kaisar?" "Akan kulakukan dengan senang hati," sahut Zenko, wajahnya bersemu merah karena gembira dan juga karena minum sake. Perempuan itu, si jurubahasa, mener¬jemahkan kalimat ini, lalu mengatakan beberapa kalimat lagi. Don Carlo tersenyum agak sedih, Hana pikir, lalu menganggukkan kepala dua atau t iga kali. "Apa yang kau katakan?" tanya Hana langsung pada Madaren. "Maaf, Lady Arai. Aku bicara soal masalah keagamaan pada Don Carlo." "Ceritakan lebih banyak lagi pada kami. Kami tertarik pada ajaran para orang asing, dan terbuka dengan kepercayaan merek a." "Tidak seperti Lord Otori," kata Don Carlo. "Tadinya aku mengira dia akan ber¬sika p simpatik, dan aku menaruh harapan besar untuk penyelamatan jiwa dari dosa dan kematian bagi is trinya yang cantik itu, tapi dia melarang kami menyebarkan agama secara terang-terangan atau membangun gerej a." "Kami tertarik mendengarkan masalah ini," ujar Hana sopan. "Dan sebagai imbalann ya kami ingin tahu berapa banyak kapal yang dimiliki raja Anda di Kepulauan Kecil Selatan, dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk berlayar dari sini ke sana." "Kau punya rencana baru," kata Zenko malam itu saat mereka hanya berdua saja. "Aku tahu sedikit tentang kepercayaan orang-orang asing itu. Alasan mengapa kaum Hidden selalu dibenci adalah karena mereka lebih mematuhi Tuhan Rahasia ketimbang penguasa man a pun. Deus

milik orang-orang asing itu juga sama, menuntut kesetiaan yang utuh." "Aku telah bersumpah setia berulang kali pada Takeo," ujar Zenko. "Aku tidak menyukai gagasan dikenal sebagai pelanggar sumpah, seperti Noguchi: kukatakan ya ng se¬sungguhnya padamu, hanya itu yang masih menahanku." "Takeo telah menolak Deus sudah jelas dari apa yang kita dengar tadi. Bagaimana ka lau Deus memilihmu untuk menghukum¬nya?" Zenko tertawa. "Bila Deus membawa¬kanku kapal dan senjata, maka aku siap ber¬hadapan dengannya!" "Bila Kaisar sekaligus Deus memerintah¬kan kita untuk menghancurkan Takeo, bagaima na kita bisa membantah atau tidak mematuhinya?" ujar Hana. "Kita memiliki restu; juga peralat an." Tatapan mereka ber-temu, lalu mereka berdua tertawa terbahak¬bahak. *** "Aku ada satu rencana lagi," kata Hana kemudian, ketika kota sudah sunyi, dan di a berbaring di pelukan suaminya, setengah tertidur dan merasa puas. Zenko sudah hampir tertidur. "Kau memang sarang berharga dari gagasan yang baik," sahutnya, seraya membelai istrinya dengan malas. "Terima kasih, tuanku! Tapi apakah kau tidak ingin mendengarnya?" Halaman 201 dari 600

"Tidak bisakah menunggu sampai besok?" "Ada beberapa hal yang lebih baik di¬bicara kan dalam kegelapan." Tidak bisakah menunggu sampai besok?" "Ada beberapa hal yang lebih baik di¬bicarak an dalam kegelapan." Zenko menguap dan berpaling ke arah istrinya. "Bisikkan rencanamu itu dan aku ak an mempertimbangkannya dalam mimpi¬ku." Setelah Hana memberi tahukan, Zenko terbaring dalam waktu lama tanpa bicara hing ga seperti sudah tertidur, namun Hana tahu kalau suaminya itu masih terjaga. Akhir¬nya Zenko berkat a, "Aku akan berikan dia satu kesempatan lagi. Bagaimana pun, dia adikku."* Meskipun Sada telah berusaha, ditambah salep dari Ishida, luka di wajah Maya tet ap berbekas, garis kemerahan di tulang pipinya bak bayangan daun perilla. Maya dihukum dengan berba gai cara atas ketidakpatuhan¬nya. Meskipun dia dipaksa melakukan tugas paling rendah di rumah, d ilarang bicara, dilarang tidur dan makan, dia tetap lakukan semua ini tanpa dendam, sadar kalau ia memang pantas dihukum karena menyerang dan melukai ayahnya. Maya belum bertemu Taku selama sem inggu, dan walau Sada merawat lukanya, tapi dia tidak bicara atau pun memeluk serta membela inya seperti yang diinginkan Maya. Sendirian sepanjang waktu, dijauhi semua orang, Maya punya bany ak waktu untuk memikirkan apa yang telah terjadi. Begitu teringat kalau ia telah menyerang ayah nya, air mata berlinang. Biasanya ia tidak pernah menangis: satu¬satunya yang diingatnya yaitu s aat berada di sumber air panas, bersama Takeo dan Miki, ketika menceritakan pada ayahnya bagai¬mana cara membuat si kucing tertidur dengan tatapan maut Kikuta. Hanya ketika ada Ayah aku bisa menangis, pikirnya. Mungkin air mata adalah bagian dari kemarahan. Ia ingat kemarahannya pada ayahny a karena tidak mengatakan kalau punya anak laki-laki, karena semua rahasia yang mungkin disembu nyikan ayah dari diri¬nya, karena semua muslihat yang terjadi antara orangtua dan anaknya. Namun Maya juga ingat kalau tatapannya menguasai tatapan ayahnya, kalau ia bisa mendengar langkah ringan dan merasakan kehadiran ayahnya saat tidak kelihatan. Maya meliha t betapa kekuatan si kucing telah ber¬tambah dan memperkuat kekuataan dirinya. Kekuatan itu masih saja menakutkan bagi¬nya, tapi setiap hari, di saat kurang tidur, makan dan bicara, day a tarik kekuatan itu semakin bertambah, dan mulai bisa melihat bagaimana ia bisa mengendalikannya.

Di akhir minggu, Taku memanggilnya dan mengatakan kalau mereka akan pergi ke Hof u keesokan harinya. "Kakakmu, Lady Shigeko, membawa kuda-kuda," katanya. "Dia ingin mengucap¬kan selamat tinggal padamu." Saat Maya hanya membungkuk hormat tanpa menjawab, Taku berkata, "Kau boleh bicar a sekarang: hukumannya sudah selesai." "Terima kasih, Guru," sahutnya dengan patuh, kemudian berkata, "Aku benar-benar menyesal." "Kita semua pernah melakukan kesalahan yang berbahaya. Aku yakin kalau aku perna h menceritakan saat ayahmu menangkapku di Shuho." Maya tersenyum. Kedua saudara perem¬puannya senang sekali mendengarkan cerita itu saat mereka masih kecil. "Shizuka sering menceritakannya pada kami, untuk memper¬ingatk an agar kami patuh!" "Kami berdua beruntung karena ayahmu yang kami hadapi. Jangan lupa, kebanyakan o rang Tribe dewasa akan membunuh tanpa pikir panjang, anak-anak atau bukan." *** Halaman 202 dari 600

Shigeko membawa dua kuda betina tua higeko membawa dua kuda betina tua Maruyama, untuk Maya dan Sada, satu berwarna coklat kemerahan, dan satunya lagi, yang membuat Maya kegirangan, berwarna abu-abu pucat dengan surai dan ekor hitam , sangat mirip kuda tua milik Taku, Ryume, anak Raku. "Ya, yang abu-abu ini bisa menjadi milik¬mu," sahut Shigeko, memerhatikan mata May a yang berbinar. "Tapi, kau harus merawatnya baik-baik selama musim dingin." Shigeko me lihat wajah Maya: "Sekarang aku bisa bedakan antara kau dan Miki." Sambil menarik Maya ke samping, Shigeko berkata pelan, "Ayah menceritakan apa yang terjadi. Aku tahu ini sulit bagimu, m elakukan semua yang diminta Taku dan Sada. Buka mata dan telingamu lebar-lebar saat tiba di Hof u. Aku yakin kau bisa berguna di sana." Kedua kakak beradik itu berpelukan; setelah mereka berpis ah, Maya merasa diperkuat oleh kepercayaan Shigeko kepadanya. Itulah yang membuatnya mampu berta han selama musim dingin yang panjang di Hofu, saat angin dingin terus berhembus dari laut, bukannya membawa salju sebagai¬mana mestinya tapi malah membawa hujan es dan hujan sedingin es. Bul u kucing itu terasa hangat, dan Maya kerap tergoda untuk memanfaatkannya. Awalnya masih teras a janggal, lalu dengan rasa percaya diri yang makin besar, Maya belajar memaksa ro h kucing itu tunduk pada kehendaknya. Masih ada banyak unsur ruang antara dua dunia yang menakutkan baginya: hantu yang kelaparan dengan keinginan yang belum terpuaskan, serta kesadarannya tentang semacam kepandaian yang mencari dirinya. Rasanya seperti kilatan halilintar di k ege¬lapan. Kadang ia menatap dunia itu dan merasakan daya tariknya, tapi seringkali ia menjauhi ki lauannya, tetap berada di balik bayang-bayang. Sesekali ia bisa menangkap penggalan kata, bisika n yang tak kunjung ia pahami. Satu hal yang menyita pikirannya se¬panjang musim dingin adalah masalah yang membu at ia sangat marah pada ayahnya: bocah misterius yang merupakan kakak tirinya, yang tidak per nah dibicarakan siapa pun, yang kata Taku akan membunuh ayahnya ayahnya! Saat ia memikirkan tentan g bocah itu, ia menjadi bingung dan roh si kucing berusaha menguasai dirinya dan melakuk an apa yang diinginkannya. Ia sering terbangun berteriak karena mimpi buruk, sendirian di kamar karena kini setiap malam Sada bersama Taku. Maya berbaring terjaga sampai pagi, takut meme¬jam

kan mata. Sada mengatur agar mereka tinggal di rumah keluarga Muto antara sungai dan kedia man Zenko. Rumah itu dulunya adalah tempat penyulingan sake, tapi dengan makin bertambahnya pelanggan karena Hofu kian makmur, keluarga itu pindah ke bangunan yang lebih besar, dan b angunan ini kini hanya dijadikan gudang. Seperti di Maruyama, keluarga Muto menyediakan penjaga dan pelayan, dan Maya mas ih berpakaian anak laki-laki di luar rumah, tapi diperlakukan sebagai anak perempuan ketika di dalam rumah. Teringat pesan Shigeko, dan ia membuka telinga lebar-lebar, mendengarkan bisik-b isik per¬cakapan di sekelilingnya, berjalan-jaian me¬lewati pelabuhan saat cuaca cukup cerah, dan m emberitahu Taku dan Sada apa yang didengarnya. Tapi ia tidak menceritakan semuanya: sebagian dar i desas-desus yang mengejutkan dan membuatnya marah sehingga ia tidak ingin mengulang kata-kat a itu. Ataupun berani bertanya pada Taku tentang pemuda yang merupakan kakaknya itu. Maya bertemu Shigeko lagi sebentar ketika musim semi, ketika kakaknya berlayar b ersama kirin dan Hiroshi dalam perjalanan ke Miyako. Ia sudah sangat terbiasa dengan segala hasra t Taku terhadap Sada, lalu mengamati kakaknya dan Hiroshi untuk melihat apakah mereka menunjukkan geja la yang sama. Terasa sudah begitu lama ketika ia dan Miki menggoda Shigeko tentang Hiroshi: ap akah hanya sekadar rasa tertarik seorang gadis belia, ataukah kakaknya masih tetap mencintai pemuda yang kini menjadi pengawal seniornya? Dan apakah Hiroshi mencintai kakaknya? Seperti halnya Takeo, Maya juga memerhatikan reaksi cepat Hiroshi sewaktu Tenba melompat dan mundur tiba-ti ba karena takut selama upacara di Maruyama, dan menarik kesimpulan yang sama. Kini ia kurang yak in: di satu sisi, Shigeko dan Hiroshi tampak saling menjauh sekaligus bersikap resmi; di sisi lain mereka seperti Halaman 203 dari 600

bahkan kurang ajar. dan ada semacam keselarasan yang terjalin di antara mereka. dan Maya tak berani lagi menggoda maupun bertanya padanya. Para penjaga tertawa sinis di belakang Taku tentang obsesinya terhadap Sada: laki-laki-perempuan yang lemah da n gila. Maya menemukan dirinya terbebani dengan lebih banyak pekerjaan karena para pelayan ma kin malas. penga laman dan akal bulusnya mulai hancur. dan Taku adalah keluarga Muto dan telah menjadi penasihat terdekat keluarga Otori dan telah menjadi gurunya. dan Maya tak berani lagi menggoda maupun bertanya padanya. Tribe mulai menyesal karena sebelumnya mereka yang menguasai perd agangan. dan kedua or ang itu memanfaatkan arwah kucing dalam mantra-mantra mereka. Shigeko telah mengemban wewenang baru. dan bahwa Muto mengendalikan kesetiaan Tribe terlepas dari Kikuta yang membenci dan berusaha membunuh ayahnya. informasi yang diantar amat terlambat hingga akhimya tidak berguna.saling memahami pikiran masing-masing. diikuti¬nya para pelayan ke penginapan dan men¬dengar cerita-cerita mereka: kalau Taku dan Sada adalah penyihir. Kurir pembawa pesan yang datang ke rumah jumlahnya makin sedikit. Kenji. Sejak kecil ia sudah hidup dengan kepercayan bahwa kesetiaan keluarga Muto teguh kukuh terhadap Klan Otori. . Kuroda dan Imai: setelah lima belas tahun dalam damai. Shizuka. dan ada semacam keselarasan yang terjalin di antara mereka. Maka butuh waktu la ma baginya untuk dapat memahami dan menerima gejala-gej ala yang tampak di depan matanya. Di bulan keempat. dan ketika bangsawan memanfaatkan ketrampilan mereka. aling memahami pikiran masing-masing. ketika pedagang dan petani biasa menikmati kesejahteraan. maka Kikuta Akio muncu l dari pengasingan. Semua perubahan itu seper ti memastikan desas-desus yang mulai di-dengarnya saat musim dingin. Shigeko telah mengemban wewenang baru. dan untuk memperbaikinya saat ini. Seiring makin besar kecurigaannya. Kira-kira di saat inilah Maya sadar atas p erubahan yang terjadi dengan perlahan sejak hari pertama musim semi. Taku disibukkan dengan permintaan dari orang-orang asing yang telah kembali dari Hagi dan bersem angat untuk membangun pos perdagangan secepatnya. Sumpah setia tidak pasti yang digabung Kenji dengan kekerasan karakternya. Sewaktu di penginapan itulah Maya men¬dengar percakapan lain di kalangan keluarga Muto. setelah Shigeko dan Hiroshi pergi bersama kirin menuju Akashi.

s aat itu kota terasa lebih hidup dari biasanya karena Zenko dan Hana sudah kembali bersama rombongan. dan bahkan lebih kagum lagi ternyata begitu banyak orang yang ia kenal dari kalangan Tribe bukan hanya mentolerir kehadirannya. minyak wijen serta jahe. Ia meraba pisau di baju luamya lalu menggunakan kemampuan menghilang kemudian berjalan ke pintu penginapan. dan sadar kalau Akio ada di penginapan itu. dan menjadi so mbong karenanya. Ia tahu kalau itu pengkhianatan.Maya mendengar nama laki-laki itu beberapa kali di awal-awal bulan keempat. membiarkan angin sepoi-sepoi dari arah barat daya mas uk. Ia terkejut temyata laki-laki itu berani muncul secara terang-terangan di Hofu. sesaat sebelum bulan purnama. Semua pintu terbuka lebar. memperkenalkan diri pada Akio. Selama ini ia dapat meng¬hilang diri tanpa diketahui. Maya menyad ari kalau orang itu berada dalam perlindungan Zenko. Saat itu ia menyadar i betapa Halaman 204 dari 600 . langsung menembus kemampuan menghilangnya. dan setiap kali didengarnya. malam ini terlalu bising untuk bisa mendengar banyak bah kan dengan telinga¬nya yang tajam. tapi justru mencarinya. ia pergi diam-diam ke penginapan di tepi sungai. ketertarikan dan keingintahuannya semakin bertambah . dan udara terasa pekat dengan berbagai aroma. langsung tahu mana yang bernama Akio karena lak i-laki itu melihat dirinya. menggunakan kemampuan meng¬hilang untuk menyelinap di bawahnya. Maya memindai berbagai kelompok. meski ia tak tahu sampai sejauh mana kebenarannya. Maya menyembunyikan diri di bawah beranda. dan ia bahkan mendengar Zenko disebut sebag ai ketua Muto. ikan panggang dan sake. dan penginapan penuh sesak dengan orang. tapi ia menangkap kata ketua Kikuta. Lentera menyala berasap. Satu malam.

ia ketakutan setengah mati. dirasakannya tekstur lantai di bawah kakinya. "Dialah yang memanggil kucing itu. Maya melihat kilau pisau. Hisao. betapa lemah dirinya bila dibanding¬kan dengan Akio. " "Penguasa si kucing? Darimana kau dapat kata itu?" "Itulah yang dikatakan para hantu. dirasakannya tekstur lantai di bawah kakinya. dan tanpa pikir panjang ia men¬jatuhkan diri ke lantai. Ketika membuka mata. melemparkan senjata selagi bergerak. mendengar desingn ya di udara. dia bisa b erpikir jelas lagi. betapa lemah dirinya bila dibanding¬kan dengan Akio. Maya melihat kilau pisau. betap a laki-laki itu bisa membunuhnya tanpa ragu. Dan si kucing hanya ingin kembali pada pemuda itu. "Kau tahu siapa Hisao i . cak arnya di lantai papan rbahayanya laki¬laki itu. dan ingin menceritakan segalanya pada mereka." Taku menggelengkan kepala dengan tatapan bertanya-tanya. sepertinya tertidur selama beberapa saat. Sudah lama aku menunggumu. dan men¬dengar penggalan suara yang membentuk kata-kata. Ta ku mengagumi pengendalian diri gadis itu yang dapat menceritakan tanpa meneteskan air mata. Akhirnya tu buh Maya lemas. Maya menyadari ke¬hadiran pemuda itu. Saat memahami katakata itu.berbahayanya laki¬laki itu. bet apa laki-laki itu bisa membunuhnya tanpa ragu. Akio melompat dari lantai dan seperti terbang ke ar ahnya. Semua yang ada di sekelilingny a berubah: ia melihat dengan mata si kucing. mendengar desingn ya di udara. Maya melarikan diri pada satu-satunya perlindungan yang dikenalnya. jika kubiarkan mereka bicara. Dirasakannya tatapan pemuda itu mencarinya. Di belakangnya." ujar Maya pelan. "Jadi sesuatu menghubungkan Hisao dan kucing itu?" akhimya ia bertanya. Sada memanggil-manggil namany a sementara Taku menatap matanya. Taku mendengarkan tanpa bicara selagi Maya menceritakan apa yang didengarnya. membangunkan keduanya dari tidur nyenyak. Datanglah padaku. melemparkan senjata selagi bergerak. melawan tatapan Maya yang amat kuat. "Dialah penguasa si kucing. cak arnya di lantai papan beranda sewaktu ia melompat melarikan diri ke dalam gelapnya malam. Akio melompat dari lantai dan seperti terbang ke ar ahnya. Mereka berusaha menenang¬kan saat dia be rjuang sekuat tenaga men¬dapatkan kembali wujud manusianya. dan tanpa pikir panjang ia men¬jatuhkan diri ke lantai. pada Sada da n Taku. Semua yang ada di sekelilingny a berubah: ia melihat dengan mata si kucing.

"Hisao pasti seorang penguasa alam baka. Tidak ada lagi orang yang tahu tentang hal semacam ini di kalangan Tri be: semua laporan kita menunjukkan kalau Hisao tidak memiliki kemampuan Tribe." Ia berhenti sejenak lalu bicara tanpa perasaan." "Sudah berapa lama kau tahu?" "Aku pernah mendengar kau mengatakan pada Sada. "Putra ay ahku. Para arwah akan patuh padanya." Halaman 205 dari 600 . dan mencari tahu seberapa dalam keterlibatannya dengan Akio." jawab Maya. "Artinya dia mampu untuk berjalan di antara dua dunia. hembusan napasnya terasa di bulu kuduknya." "Apa artinya itu?" tanya Maya. Dia memiliki kekuatan untuk me¬nenangkan atau mengh asut mereka. Ini jauh lebih buruk dari yang kita bayangkan. gelisah atas peng¬khianatan yang telah diungkap Maya." ujar Taku. Sada merengkuh dan memeluk Maya erat-erat. Tatapan Maya yang berkilat ter¬paku pada wajah Taku. membuat satu tuntutan terakhir padanya. "Apa yang harus kita lakukan?" tanya Sada pelan.tu?" "Dia cucu Muto Kenji. Takut pada ke kuatan supranatural. "Tapi aku harus menemui kakakku lebih dulu." bisik Sada. dan kemarahan pada rasa puas dalam dirinya serta kurang waspada. mendengar suara orang yan g sudah mati. Dugaanku adalah mereka belum menge tahui bakatnya. mendengar Sada menghela nap as. dan berapa banyak yang mereka tahu tentang Hisao. "Pertama kali kita melihat kucing itu." sahutnya. "Kukira hal itu hanya legenda. di Maruyama pada musim gugur yan g lalu." Inilah pertama kalinya Taku merasakan ketakutan yang sesungguhnya. "Kita harus membawa Maya pergi.

kesadaran ter¬goyahkan pada kehormatan dan kesetiaan. Hiroshi. Kita harus bawa Maya pergi. terhadap sifat ksatria yang jujur. dan betapa besar kegagalannya untuk bisa menggantikan kedudukan gur unya itu. menyayangi sahabatnya itu lebih dari apa pun. Juga nyawa Kaede." katanya. kal au jaring mulai makin kencang di sekelilingnya dan tak ada jalan untuk lolos. Ia menyes . Jika Takeo mel awan balik. tapi kita harus tetap pergi. Saat terjaga. sebelum ia bertemu Sada. Taku berpikir keras apa yang harus dilakukan. dan menyadari sekali lagi betapa ia s angat merindukan Gurunya itu. keberan ian fisiknya." "Kita belum mendapat kabar dari Lord Takeo sejak Terada datang dari Hagi.Apakah Kenji tahu? Taku memikirkan hal itu. naluri pragmatis Muto mendes aknya untuk mengikuti jalan ini.. berarti kematian beberapa ribu prajurit Otori yang tak ada hubungan dengan dirin ya. dan ia tak tahan membayangkan wajah Hiroshi saat sadar kalau ia berpihak pada Zenko. keyakinannya makin besar kalau Takeo akan hancur. Ia berusaha menimbang apa saja yang dipertaruhkan. dicekam perasaan kalau segala sesuatun ya akan terurai satu demi satu. mengamati malam yang pucat. kemungkinan anak-anak juga mungkin Shigeko tidak. maka ia tak harus menyerahkan nyawa Sada atau nyawanya sendiri. pakah Kenji tahu? Taku memikirkan hal itu. Memikirkan Hiroshi telah membuatnya berhenti secara tiba-tiba. dan menyadari sekali lagi betapa ia sangat merindukan Gurunya itu. Alangkah bodohnya kakakku. kecu ali bila dia melawan. Taku punya rasa iri yang terpendam pada Hiroshi." kata Sada gelisah. bukan untuk yang pertama kalinya. pikirnya. pastinya. *** Saat malam lebih larut. dan betapa besar kegagalannya untuk bisa menggantikan kedudukan gur unya itu.. terlebi h lagi mengaiakannya pada Sada atau orang lain. "Sebelumnya aku tidak cemas. Ia selalu berusaha membuat Hiroshi ter kesan. Ia tahu k alau Hiroshi lebih memilih mencabut nyawanya ketimbang meninggalkan Takeo. Ny awa Takeo. Rasanya masuk akal mematuhi kakaknya yang akan mengambil alih kepemimpinan Tribe a tau bahkan menyerahkan jabatan itu pada Taku sendiri: keluarga Muto dan Kikuta bisa berdamai. meski sulit untuk mengakui pada dirinya sendiri. "Kita akan pergi ke Inuyama. Sebagai anak laki¬l aki. "Aku akan menemui Zenko besok." sahut Taku. tapi Zenko pasti menganggap si kembar terlalu berbahaya. sada r akan tubuh tinggi Sada di sisinya.

Taku memerhatikan kehangatan baru antara kedua orang asing itu dengan Zenko. walau tak langsung mengomentari. karena tak ingin menarik perhatian. Direngkuhnya Sada erat. Tak per nah kubayangkan kalau aku akan menjadi ksatria yang mulia. Ia diperlakukan dengan santun seperti biasa.alkan tindakan kakaknya yang menempatkan ia dalam posisi serba salah. Begitu bertemu. lebih memercayai mereka ketimbang orang yang disediakan keluarga Muto di Hofu. T ak pernah ku¬bayangkan kalau aku akan jatuh cinta. pikirnya saat membangunkan Sada dengan le mbut. Men dengar betapa sering Deus diucapkan. dengan langkah yang lebih angkuh. tapi lebih dari itu. serta tampak hikmad. Taku juga memerhatikan. *** Taku mengirim pesan keesokan harinya. Halaman 206 dari 600 . Taku melihat ada perubahan dalam diri kakaknya. kepal a tertunduk. dan menyadari dengan campuran antara rasa tercengang dan jijik kalau kakaknya telah mengikuti kepercayaan orang asing. dan meskipun tidak tahu kalau itulah terakhir kalinya dia membangunkan Sada. sang kakak menunjukkan kepercaya¬an diri yang ba ru. Do n Carlo diminta untuk meng¬ucapkan doa. dan diundang ke kediaman di Hofu untuk makan malam bersama Zenko dan Hana. tidak secara terang-terangan. Sebelum mulai makan. dan menerima jawabannya sebelum tengah har i. Kumis dan janggu t Zenko tampak lebih lebat. Zenko dan Hana duduk dengan tangan terkatup. kala u Zenko mengenakan kalung dari untaian rosario indah yang terbuat dari ukiran gading. mi rip yang dipakai Don Joao dan Don Carlo yang juga hadir saat makan malam. Dia menghabiskan waktu dengan mem¬persiapkan diri untuk be pergian. Taku berkuda p ergi bersama empat orang yang telah menemaninya sejak dari Inuyama.

"Aku melihat kebenaran dalam kepercayaan mereka dan aku memilih untuk mengikuti jalan mereka. "Tak bisa kubayangkan apa alasannya. aku bahkan kedua putramu. Ia ingin l angsung menyerang. Janganlah kita saling mem¬bunuh. kurasa. Apakah sudah ada pembunuh yang ber sembunyi di taman. mengacuhkan pertanyaan tentang A kio. dan ketika makan malam se lesai dia berkata. Malam ini indah: sudah hampir purnama. karena kau telah b ersumpah setia dan berutang nyawa padanya. memasang pendengarannya untuk langkah ka ki yang tak dikenal. Taku. Zenko menyadari kegelisahan Taku yang makin bertambah." sahut Zenko. Mengapa Kikuta Akio berada di Hofu dan dalam perli ndunganmu? Perjanjian keji apa yang kau buat dengan orang-orang ini?" Taku memberi isyarat ke arah tempat percakapan orang asing itu terdengar seperti pekikan burung." Taku melihat deretan gigi putih di atas janggut Zenko saat tersenyum. Zenko berkata. ikutlah ke taman. dan kemarahannya muncul selagi memik irkan kalau yang bisa diberikan orang asing itu adalah senjata api dan kapal. membuka semua indera¬nya. hembusan napas yang tak terduga. "Ada yang harus kubicara¬kan dengan adikku. Kami permisi sebentar. yang bahkan tidak terdeteksi oleh semua kemampuan Tribe." Taku mengikuti. "Tidak ada kejahatan di dalamnya. pikirnya. Rupanya Zenko melihat ada keuntungan: pasti berhubungan dengan militer. "Tak ada alasan bagi kita untuk b ermusuhan. dan kakaknya membimbing ia ke dalam jangkauan pisau lempar mereka? Atau s enjata mereka? Dan bulu kuduknya merinding memikirkan senjata yang bisa membawa kematia n dari jarak jauh. Ia mengenal kakaknya sebagai laki-laki tanpa agama dan tidak berminat pada sesuatu yang berbau spiritual sama seperti dirinya. namun menahan diri. "Dan sebagai imbalannya?" "Aku terkejut kau belum tahu." sahut Taku. seraya menyembunyikan marahnya. pikirnya kecut. Kebebasan itu diperbolehkan di seluruh Tiga Negara. Ia mengenal kakaknya sebagai laki-laki tanpa agama dan tidak berminat erpindah agama atau hanya berpura-pura? Taku tidak percaya kalau tindakan Zenko tulus adanya. seolah bisa membaca pikirannya.Berpindah agama atau hanya berpura-pura? Taku tidak percaya kalau tindakan Zenko tulus adanya." "Kurasa kau tengah merencanakan per¬sekongkolan menentang Lord Otori. tapi aku yakin kau bisa menebaknya." Zenko . juga karena tindakan ini akan membahayakan kel uargamu ibu kita.

Dia akan mengabaikan peranmu dalam kematian Kotar o: semua orang tahu saat itu kau masih kecil. seraya menahan kata-katanya. terlepas dari perbedaan pendapat kita. Taku tergoda untuk menyerang." sahut Taku. Ta keo tidak punya masa depan: mengapa ikut jatuh bersamanya? Bergabunglah denganku: Tribe akan ber satu kembali: aku pernah bilang kalau aku punya orang dalam di kalangan Kikuta. "Kau melihat bayangan dirim u sendiri. Takeo yang menye babkan kematian ayah kita." Taku merasa jarinya gatal ingin meraih pedang. begitu kuatnya godaan itu hi ngga ia hampir tak sanggup menahannya. lalu mendekat dan memegang tangannya. juga pembunuh. Tugas pertama kita adalah balas dendam atas kematian itu. dan ak u sayang padamu." "Ayah kita memang pantas mati. Akan kupenuhi semua keinginanmu. Dan kau juga pantas mati." "Kau memandang Takeo seolah kau ber¬kaca. Bukan rahasia lagi kalau menurutku alasan Akio sangat masuk akal. Kaulah si perebut kekuasa¬an. dan teringat kata-kata Takeo: Saudara saling membunuh. sungguh tak Halaman 207 dari 600 . kita bersaudara. dan tubuhnya terasa perih seakan siap menghilang. Ayah kita seorang ks atria sejati.menatapnya." sahut Taku. "Tidak. Takeo itu penipu. perebut kekuasaan. "Taku. Mari kita bicara terns terang. Yakin kalau Zenko past i hendak membunuhnya saat ini. namun ada sesuatu yang mencegahnya: rasa enggan untuk mencab ut nyawa kakaknya.

dia meminta agar pelana kuda jangan dibuka. Taku meng¬ambilnya dengan firasat: dikenalinya benda itu sebagai tempat surat." Disingkirkannya kecemasan laki-laki itu. termasuk dirimu sendiri. Di tempat penginapannya. "Dalam hal ini." laki-laki di sebelahnya berkata pelan. dan menyiap kan dua kuda betina. lalu tertawa. "Lord Muto. tapi yang satu ini sudah terbuka. termasuk dirimu sendiri." "Tak ada yang bisa dirundingkan kecuali dengan kehancuran dan kematiannya. Para penjaga menunggu di gerbang dengan kuda¬kuda. seperti layaknya orang lain. "Kurasa ini dari Lord Otori. terserah apakah kau memihak atau menentangku. seperti layaknya orang lain. yang digunakan di Tiga Nega ra." Taku berjalan dengan cepat dari taman. harus taat pada hukum. harus taat pada hukum." sahu t Zenko marah. Bagian bawahnya direkatkan dengan lilin dan dicap dengan lencana Otori. pikirkan semua tindakanmu. Kakakmu. "Oh ya. berharap setiap waktu mendengar anak pana h atau pisau melesat di udara. "Kuharap ini bisa memeng aruhi keputusanmu." kata Taku padanya." ujar Zenko. Kakakmu. "Biar kupertimbangkan dulu. "Katakan apa yang kau inginkan dari Lord Otori . Kemudian Taku masuk ke tempat Sada tengah menunggu. Aku akan bicara lagi denganmu besok. "Ada apa?" "Kuda Anda tadi batuk-batuk. ia meninggalkan kediaman tanpa pamitan.terbayangkan." ujar Zenko. sebelum kau pergi: aku lupa berikan ini padamu. Taku sayang. Apakah keinginan balas dendammu bisa menjamin tidak akan menyebabkan perang saudara?" "Baiklah. Mari kita rundingkan. erbayangkan." Taku mundur dengan sikap hati-hati. Dan kau juga. Udara terasa sulit dihirup dengan pekatnya ser buk sari. "Apa yang kau temukan?" . Tak u sayang. Sada masih berpakaia n lengkap." Dikeluarkannya wadah bambu dari balik jubah dan menyerahkannya. dikalahkan dengan kecemasan yang lebih besar dalam dirinya." "Mungkin karena udara musim semi. Diraihnya tali kekang Ryume lalu bergegas naik. "Kita pergi sekarang. seakan sulit bernapas. Taku menghirup napas dalam-dalam.

muncul dalam berbagai samaran. Dia menga ku telah menerima agama mereka. "Dia mengacaukan surat-surat yang Takeo kirim." *** Maya tengah mimpi aneh serba merah di mana kakak laki-lakinya. "Takeo memintamu agar segera menemuinya di Inuyama tapi ini sudah terla mbat selama berminggu-minggu." Diserah kannya wadah surat pada Sada. tapi juga telah bersekutu dengan orang asing. Tatapannya mem¬buat Maya merasakan ketakut an yang tak bisa dijelaskan. Kakaknya itu tampak kejam. Itu sebabn ya tidak ada kabar darinya. Dia membaca dengan cepat t ulisan dalam surat itu. Bangunkan Maya. dan sebagai imbalannya mereka mempersenjatainya. Bila Ta keo telah meninggalkan Inuyama. maka aku harus mengejarnya sampai di perbatasan. dia harus ikut. Kakakny a itu memiliki Halaman 208 dari 600 . yang wajahnya kin i bisa dilihat sekilas. Aku tak ingin dia di temukan Akio."Zenko bukan hanya membuat kesepakatan dengan Akio. Dia harus kembali dan membawa pasukan kembali dari wilayah Timur." Sada mengambil tabung itu lalu mengeluarkan suratnya. terkadang ditemani para arwah. Di Inuyama kalian lebih aman. membawa senjata yang menakutkan. Bulan purnama cukup terang untuk berkuda. seolah Hisao tahu semua rahasia dalam dirinya. Tentunya dia sudah berangkat saat ini?" "Kita harus ke sana malam ini.

di malam s eperti ini. Kedua bocah itu harus mati!" . "Apakah kakakmu membiarkan kau pergi?" "Itu sebabnya kita pergi sekarang. dan kegiatan perdagangan dan pelabu han berarti orang datang dan pergi pada jam berapa saja. Segera setelah mereka hanya bertiga di ruang makan kecil.semacam jiwa kucing seperti dirinya. dan seke lompok kecil orang Taku. "Bangunlah. dan bersiap untuk bertarung. "Kita akan ke Inuyama untuk menemui ayahmu. mengikuti bulan dan gelombang. Ayahmu harus segera kembali. emacam jiwa kucing seperti dirinya. Tak lama setelah matahari terbit. Sada bertanya pada Taku. Pamanmu Arai dan istrinya ber komplot menentang ayahmu. lekas berpakaian. Malam ini Hisao membisikkan nama Maya. "Mengapa kita pergi di malam seperti ini?" "Aku tidak ingin menunggu sampai pagi. Maya melakukan seperti yang diminta karena bulan-bulan musim din gin telah mengajarkannya untuk patuh. ada pelancong lain di jalan. Maya terbangun dan sadar kal au Sada yang bicara pelan di telinganya. karena tak tahu kalau Hisao mengenalnya." Selagi kuda-kuda berderap menyusuri jalan menuju jalan besar." Kelelahan tergambar di wajah Taku. dan suaranya terdengar sangat serius. Sada. karena tak tahu kalau Hisao mengenalnya. Aku curiga ada jebakan. Kita pergi sekarang. "Ibu harus diberitahu. tapi men¬dadak situasinya makin mengancam. yang membuatnya ketakutan. Ber¬si agalah dengan senjata. mereka berhenti di sebuah penginapan untuk sarapan dan minum teh. Maya serta empat pengawal tidak diberhentikan atau ditanyai." kata Taku selagi mengayunkan tubuh Maya ke punggung kuda. saat putra mereka tinggal di rum ah kami?" tanya Maya gusar." Tanpa bertanya. di awal musim semi dengan bulan yang hampir penuh. Malam ini Hisao membisikkan nama Maya. "Bagaimana bisa paman dan bibi ber¬tindak begitu. Maya terbangun dan sadar kal au Sada yang bicara pelan di telinganya. Maya berkata pada Taku . yang membuatnya ketakutan. "Apa yang terjadi?" "Akan kuceritakan sedikit saja demi keselamatanmu." Hofu bukanlah kota yang dikelilingi dinding. Dia bisa saja menyerang atau membuntuti. Kami mengira bisa membendungnya.

terus maju. "Selama musim panas ini Hana akan bersama ibumu dan adikmu. Hana memang akan ke Hagi hari ini. awan menghilang ke arah timur laut. biru terang.." sahut Taku. Sada dan Taku be rsamaku." Sada menarik Maya dan duduk denga n merangkulnya. merangkul bahu Sada. Seperti keluarga. "Ayahmu berharap tak seorang pun harus mati. kau harus tetap bersama kami. Hutan kian lebat di sekeliling mereka. "Itu sebabnya kita har us menyuruhnya kembali. langit cerah. Aku akan ke Hagi dan men¬ceritakan pada Ibu tentang niat Hana yang se benarnya!" "Tidak. angin sepoi-sepoi ber henti berhembus." "Lagipula. begitu bersemangat. cahaya matahari yang berubah selagi gumpalan besar awan putih berarak. Bahaya." kata Sada. Hanya ayahmu yang memiliki reputasi dan kekuatan untuk mencegah pecahny a perang. Mereka d uduk diam selama beberapa saat." tutur Taku. pikir Maya." "Itu lebih buruk lagi! Ibu harus di peringatkan. "Darimana datangnya ke kejaman itu?" Tapi suaranya terdengar penuh kasih sayang dan kekaguman."Kau kedengaran sangat berbeda dengan ayahmu. Aku tidak akan melupakan ini : makanan yang terasa begitu lezat saat aku begitu lapar. begitu pemberani. sesekali terdengar su ara jangkrik bak Halaman 209 dari 600 . harumnya aroma ten. Cuaca hari itu tetap cerah dan segar. Kira¬kira tengah hari. merasakan angin m usim semi. merasakan hari-hari yang kami lalui dalam perjala nan. Peluh membuat kul it kuda menjadi lebih gelap di bagian leher tubuh mereka selagi meninggal¬kan dataran pesisir dan mulai menanjak ke perbatasan pertama..

"Itu dia datang. Mereka mendengarnya: derap kaki h ewan dari lereng. membalikkan kuda betina yang ketakutan ke arah mereka da tang. dan satu suara lagi. melihat kuda berk ulit abu-abu dan bersurai hitam. yang bergenia sampai ke perbatasan. membuat burun g-buning memekik ke takutan lalu terbang. apa yang kau dengar?" Ia seperti mendergar dentingan baja. "Maya." teriak Sada lega. Taku meneriakkan sesuatu ketika melihat mereka. jalan terus. ringkikan kuda." perintah Taku pada Sada." ujar Taku pada Sada. Ia mengira ikan alat musik. kudanya. tertahan dengan lut utnya. menghempaskan tubuh . Sada berhenti lalu menengok ke belakang. hangatnya senj a membuatnya mengantuk. Taku masih memegang pedang. Aku harus kembali. membelokkan kuda keluar dari jalan dan menghilang di balik batang-batang pohon b ambu. lengannya berlumuran darah darahnya atau darah orang l ain. jatuh. Irama berjalan kuda. Sada juga men¬dengarnya. "Teruskan perjalanan dengan Maya. "Ada yang mengikuti kita!" Taku mengacungkan tangan." Taku memberi perintah dengan cepat pada pengawalnya. Maya mulai merasa lelah. dan sekonyong-konyong dilihatnya Hisao." serunya. mereka mengambil busur dari punggung.petikan alat musik. Jumlah mereka paling banyak dua belas orang. mustahil diketahui. Aku tak bisa meninggalkan Taku. lalu tersadar kaget. dan mereka berhenti. tapi seiring dengan kuda-kuda yang mu lai lelah. dingin dan brutal. Maya mulai merasa lelah. "Mereka punya senjata api. hangatnya senja m embuatnya mengantuk. Irama berjalan kuda. Kami akan segera menyusul. "Pergilah." gumam Maya. Mereka berkuda dengan cepat selama beberapa saat." "Aku juga. teriakan dan pekikan pertar ungan. kemudian terguling. "Kami akan menahan merek a. Kejadiannya begitu cepat: Ryume jatuh lalu mati. tapi di kejauhan mereka melihat kepulan debu dan mendengar derap kuda. Ia mengira tengah bermimpi. dengan enggan melajukan kuda dan Maya mengi kuti. tapi Maya ta k memahaminya karena saat mengucapkan kata-kata itu Ryume. "Tetap di sini jangan. lalu semb unyi.

Dia baik-baik saja. Dia menyadari kuatnya punggung S ada saat memeluknya. meski banyak orang yang mati di jalanan di belakangnya . Kedua kuda betina itu mudah gugup. tapi tak sempat lagi. pikir Maya lega. Dia merasakan tembakan itu menge na lehernya dan menembusnya. aku harus berkonsentrasi pada kematian. D engan sifat OtoriHalaman 210 dari 600 . nak. Taku ing in mengucapkannya. Sada menarik tali keitang kudanya agar berhenti di samping Taku. Dia tak bisa melakukan itu bila dia terluka .Taku ke jalanan. pergi. kemudian dia jatuh dan Sada jatuh bersamanya. Taku tidak terlula parah. satu sayatan lagi di tangannya yang memegang pedang. Kemudian dia me raih tangan Taku yang menggapai lalu mengayunon tubuh Taku di belakangnya. Secepatnya Sada menderapkan kuda menghampiri. dan kuda menimpa tubu h mereka. dan sudah berlari kencang. sebelum kegelapan membungka m pikirannya untuk selamanya. pengawalnya dan sebagian besar penyerang¬nya. Kuda betina tunggangan Sada menden gus dan menjadi liar saat melihat kematian Ryume. Dari kejauhan didengarnya Maya berteriak. Matanya dipenuhi cahaya langit biru yang m enyilaukan: cahaya matahari berputar-putar dan kian redup. Waktunya telah tiba. Dia merasakan sayatan yang sangat menyakitkan di waj ahnya. Pergilah. meski kelelahan. Kuda betina milik Sada berusaha bangkit dan berderap kembali ke Maya sambil meri ngkik keras. Dia nyaris t ak sempat berpikir. Taku berusaha bangkit. kemudian tembakan itu meraung lagi. aku sekarat.

tapi ia segera mengenalinya. Ryume. mengambil pisau dengan tangan kanan lalu menggor ok leher Sada dengan cepat. Ryume. Ia membungkuk dan diraihnya tali kekang kuda Sada yang terayun-ayun. Maya hampir tidak bisa melihat mereka di malam sebelumnya. Sekujur tubuhnya gemetar." ujarnya. Maya memikirkan kedua kuda itu. Kedua laki-laki itu datang menghampiri. Bola mata Sada berdenyut: dia masih hidup. Ki . Maya berdiri di antara kedua kuda betina. Sada mergerang pelan. Hisao memegang senjata api. begitu pula kedua kuda itu. Akio berlutut. "Sada!" Seolah menjawab jeritannya. "Kedua Muto ini sudah membayar¬nya. turun lalu berlutut di sampingnya. agak lebih jauh darinya. Si kuda. kemudian Sada dan Taku mati dalam keadaan berangkulan. ia tak ingin melepaskan kedua kuda betina itu. Ia meludahi wajah Taku yang damai. I a membungkuk dan diraihnya tali kekang kuda Sada yang terayun-ayun. dunia yang mem¬biarkan Taku mati di bawah lan git biru dan matahari yang cerah. ya. "Kematian Kotaro hampir terbalas. memegangi tali kekang keduanya. Maya memikirkan kedua kuda itu. Sekujur tubuhnya gemetar. ia tidak boleh membiarkan keduanya kabur. kemudian Sada dan Taku mati dalam keadaan berangkulan. ia tak ingin hidip di dunia yang kejam ini. tapi bodohnya. begitu pula kedua kuda itu. Tapi ia tidak tahu apa ya ng harus dilakukan selanjutnya. pikirnya.nya. mengacungkan senjata api ke arahnya. Ia h arus membuka mulut lalu menjerit. dan tak bisa memalingkan pandangannya dari tiga mayat yang ter¬geletak di jalan. tiba-tiba muncul dua orang tepat di belakang Ryume. agak lebih jauh darinya. Tapi badannya terasa lumpuh karena terguncang dan sedih. Luapan kepedihan di hatinya membuat Maya hampir tercekik tak bisa bernapas. dan tak bisa memalingkan pandangannya dari tiga mayat yang ter¬geletak di jalan. Mereka berasal dari Tribe: mereka takkan membiarkannya hidup hanya karena ia masih kecil. sementara laki-laki y ang satu lagi membalik kedua mayat. Si kuda. Akio membawa pedang dan pisau. s eharusnya bisa mengelabui siapa Saja. Setidaknya aku harus ber tarung. Maya tahu kalau ia harus menggunakan k emampuan menghilang atau bentuk kucing lalu lari ke dalam hutan: ia berasal dari Tribe. ia tidak boleh membiarkan keduanya kabur. ditambah lagi. Kedua orang memegang senjata. menyentuh dan memanggil¬manggil nama mereka. Tapi ia tidak tahu apa ya ng harus dilakukan selanjutnya. Bocah itu menatapnya. di bawah remangnya penerangan di penginapan. Maya menggerakkan kudanya meng¬hampiri mereka.

"Seperti seorang ksatria perempuan?" Memegang Maya dengan tangannya yang sekuat baja. Gadis itu menjerit dan meront a-ronta sewaktu Akio berusaha membuka telapak tangannya. Ia hanya ingin mati.ni tinggal Si Anjing. tapi laki-laki it u tak berbalik menatapnya. Ia tak boleh membiarkan la ki-laki itu menangkapnya. Akio bergerak lebih cepat dari gerakan manusia mana pun yang pernah Maya lihat. lalu mencengkeram pergelangan tangan Maya. bahkan lebih cepat dibanding malam sebelumnya. "Bocah pengurus kuda?" sahut laki-laki itu. Akio lalu menarik pakaiannya da n menyelusupkan tangan satunya ke selangkangan Maya. kedua kuda itu bergerak mundur. "Tapi ini siapa. "Sekarang kita tahu siapa yang memata-matai kita semalam. dan kar ena terkejut. Akio ter¬senyum ketika dilihatnya garis lurus melintang di telapak tangan gadis itu. Dijatuhkannya tali kekang kedua kuda. Maya menarik pisau dari sabuknya lalu menaikkan tangannya untuk menancapkan pisau itu di lehernya. Pis aunya terjatuh seolah Akio membelokkannya. seola h pernah mengenal gadis itu. "Sial sekali nasibnya!" Akio berjalan menghampirinya dan Maya mencoba menatap matanya." Bocah itu berkata." Halaman 211 dari 600 . Ketakutan yang amat sangat mencekam Maya. "Tapi bocah pengurus kuda macam apa yang berusaha menggorok lehernya sendiri?" t anyanya dengan sinis. Ayah?" Suaranya terdengar kebingungan. "Jadi!" serunya.

kuil-kuil ber¬atapkan pohon runjung. bahkan dalam perjalanan yan g paling sulit antara Hagi dan Maruyama. lerenglerengnya kehijauan tua dengan pepohonan cedar. Tidak seperti Maya. aku adalah adikmu. Gadis ini akan berguna." Maya sudah mengenalnya.. termasuk pelana dan sanggurdi ber¬hia s indah untuk Shigeko dan Hiroshi." Didekatinya Maya. karena wajah¬nya sama seperti yang ia lihat dalam mimpinya . bunyi kele-pak layar. kecipak air laut dan keriat-keriut kayu. Shigeko tidak pernah mabuk laut. salah satu dari si kembar: dia ada tanda Kikuta." sahutnya. Ini putraku. ketua keluargamu. Ia ba ngga akan . Dari berbagai arah. tapi belum pernah berlayar lebih k e timur. Gadis ini akan berguna. ketika angin dari timur laut berpacu me¬lintasi laut kea bu-abuan. Cuaca cerah. Tapi laki-laki itu melanjutkan. "Kau kenal siapa aku?" Maya tak mau menjawab. Jadi kita biarkan dia hidup untuk saat ini. dinding putih yang mencuat dari kastil ksatria. Muatan kapal dipenuhi berbagai macam hadiah. dicelup da n dilukis oleh perajin paling andal dari Hagi dan Maruyama. aya mengira hidupnya sudah berakhir. di sepanjang pantai yang dilindungi Laut Kitaran sampai Akashi. Diliha tnya gerbang biara merah tua berkilauan di bawah sinar matahari musim semi. Tapi laki-laki itu melanjutkan." Maya ingin mengatakan lebih banyak lagi. Jadi kita biarkan dia hidup untuk saat ini. meraba bagian urat nadi.. "Benar aku Otori Maya. masing-masing diikat dengan dua utas tali di kepala dan ikat pinggang di bawah perut. buih gelombang menghiasi pantainya. serta kirin. di bawah naungan jerami: kuda-kuda yang dibiakkan di Maruyama.* Shigeko sering berlayar antara Hagi dan Hofu. angin laut ber¬hembus lembut dari selatan namun cukup kencang untuk memenuhi layar dan m em¬buat kapal meluncur cepat. diikat dengan tali dari sutra merah. tapi Akio memindahkan cengkeramannya ke leher. bau air laut. "Aku Kikuta Akio. "Kau kenal siapa aku?" Maya tak mau menjawab. lalu menekan hingga Maya tak sadarkan diri. udara terasa san gat segar. nyan yian lambung kapal saat membelah lautan. Tapi hadiah yang terpenting berdiri di atas dek.. "Ini putri si Anjing." Didekatinya Maya. serta jubah resmi yang kesemuanya baru dibordir. Hisao. pulau-pulau kecil bermunculan dari per mukaan laut. "Ini putri si Anjing. "Ada lagi.Maya mengira hidupnya sudah berakhir. salah satu dari si kembar: dia ada tanda Kikuta. Berlayar membuat Shigeko gembira. Shigeko menghabiskan banyak waktu dalam sehari di samping hewan-hewan itu. tali temali dan tiang kapal.

Aku terkejut kau bisa berpisah dengannya. dan semua kawannya. Kirin adalah hadiah yang sempurna: bahkan sang Kaisar pun pasti kagum dan tersanjung dengan hadiah ini. "Aku khawatir kirin akan ketakutan ketika berpisah dari kita. saat kau di dekatnya. Semua hewan itu kelihatan senang ditemani gadis itu." katanya pada Hiroshi saat senja di hari ketiga perjalanan mereka dari Hofu. dia terus berpaling ke arah rumah. Tapi aku be rharap hewan itu terbuat dari gading atau logam berharga. "Lih at. Tentunya dia akan merindukanmu. Tak ada rasa sesal akan berpisah karena mereka akan diperlakukan dengan bai k." Halaman 212 dari 600 . dan satu lagi berwarna merah bata. tanpa perasaan. dan mengikuti dengan pandangan mata saat Shigeko berj alan di sekitar dek. Shigeko hanya mencemaskan kirin yang tidak memiliki p embawaan santai layaknya kuda. satu berwarna terang.kesehatan dan ketampanan mereka karena ia sendiri yang membesarkan hewan-hewan i tu: dua kuda berkulit belang. dan aku takkan merasa k hawatir memikir¬kannya akan kesepian. barangkali." "Aku hanya menyalahkan diriku! Aku yang menyarankannya. Mungkin hewan¬hewan itu takkan melupakannya namun juga takkan merindukan dirinya." sahut Hiroshi. Seperti merindukan seseorang: Tenba." "Sedan tadi kuperhatikan dia berusaha mendekatimu.

"Dan mungkin kirin itu takkan kesepian di Miyako. Ter kadang ia bermimpi ayahnya memilih Hiroshi. Nam un seperti tak ada gunanya membicara¬kan perasaannya: ia akan menikahi orang pilihan ayahnya. Dia akan dirawat dengan baik." Shigeko tahu maksud ucapan Hiroshi karena dia hadir saat Lord Kono mengatakan ka lau istri Saga Hideki meninggal baru-baru ini. Kirin berdir i begitu dekat hingga bisa dirasakan hangatnya napas hewan itu di pipinya. "Lagipula. Mereka berdua tahu apa yang ada di benak masing-masing. "Lagipula." hardik Shigeko. Terkadang ia b ertanya-tanya apa bisa memilih calonnya sendiri karena kini ia penguasa Maruyama. "Kuakui." kata Hiroshi dengan suara pel an." iroshi menatapnya lekat-lekat. Hiroshi yang berpaling lebih dulu. diberi cukup makan. Dia akan dirawat dengan baik." Shigeko beradu pandang dengan Hiroshi. Shigeko merasa gundah. "apa hadiah y ang lebih baik bagi jenderal Kaisar?" Mendengar kegetiran dalam suara Hiroshi. aku cemas dengan s emua tantangan yang me-nantiku di ibukota. dan terjaga dalam rasa bahagia." imbuhnya. Mungkin tidak semenderita seperti yang kau bayangkan.Hiroshi menatapnya lekat-lekat." "Hewan memiliki perasaan yang dalam. Shigeko memercayai Hiroshi sepenuhnya. gadis itu menahan tatapan Hiroshi selama beberapa saat." gumamnya. "Bila kirin merupakan hadiah yang sempurna bagi Kaisar. "karena kau juga akan berada di sana. Aku berharap perjalanan kita sudah berakhir tapi di si si lain aku juga tak ingin perjalanan ini berakhir. diberi cukup makan. Ia sudah lama me nyadari kalau Hiroshi mencintainya seperti ia mencintai laki-laki itu. terkadang ia sad ar kalau tak ingin mengecewakan ayah-nya. "Tapi dia tidak memiliki perasaan yang sama dengan manusia saat dipisahkan dari mereka yang disayanginya. Shigeko dibesarkan dengan ajaran keras keluarga ksatria: ia tidak bisa mematah¬kannya begitu saja. dan telah mencapai tah ap kesadaran serta kepekaan yang tinggi. dia hanya seekor hewan. Mereka berdua dilatih dengan Ajaran Houou. dia hanya seekor hewan." . Mungkin tidak semenderita seperti yang kau bayangkan. "Aku berharap tidak harus tinggal jauh dari Tiga Negara. kehilangan yang membuat bangsawan yang paling be rkuasa di Delapan Pulau bebas untuk menikah.

" ujarnya." "Guru-guruku yang terbaik kau dan dia. "Jangan sampai ada hal yang mengurangi konsentrasimu selama penandingan i tu."Kau tak menunjukkan kecemasan saat bicara dengan Lord Kono tahun lalu. Lalu satu kenangan melintas di benaknya: pertama kali ia melihat s epasang houou sewaktu kedua burung itu kembali ke hutan di sekitar Terayama untuk bersarang di pohon pauwlonia dan membesarkan anak-anaknya." sahut Shigeko. Bila aku memang harus me¬nikah dengan orang lain." Gadis itu terdiam. Busur di Halaman 213 dari 600 . Miyoshi Gemba juga akan berad a di sana. saat dikelilingi begitu banyak ora ng yang mendukungku terutama kau." "Kau juga akan mendapatkan dukungan itu di Miyako. "tapi mengatasinya. memanggil dengan nama yang sering dilakukannya ketika g adis itu masih kecil. ikatan itu jangan pernah putus. "Aku telah mengenalmu sejak keci l bahkan mungkin di kehidupan sebelumnya." Hiroshi mengingatkan." "Bukan menyingkirkan. "Ada ikatan yang kuat di antara kita. aku bersumpah." kata Hiroshi." "Tidak akan. Kita semua harus menyingkirkan keinginan pribadi untuk membiarkan ajaran kedamaian menang. ti dak berani berkata apa-apa lagi." "Shigeko. "Mudah untuk merasa percaya diri di Maruyama.

Kota itu dikuasai rasa percaya diri serta harapan karena Lord Otori bukan hanya tengah mengunjungi Kaisar tokoh yang dianggap separuh mistis oleh rakyat tapi dia j uga meninggalkan seorang putra: kesedihan yang disebabkan oleh si kembar akhirnya te rsingkir. dan di satu sisi lagi. bunga dan umbul-umbul tak mampu menyingkir¬kan ke gelisahan Takeo. bagaimana dengan nasib Maya? Takeo ingin sekali kembali dan mencari tahu sendiri. Kapal pun t ampak bermandikan cahaya. "Mereka bertanya kepadaku apa yang te lah mereka lakukan sehingga tidak dipercaya oleh Lord Otori. Saat itu ada pera yaan musim semi. namun roh houou yang akan menuntun anak panahnya. mereka berjalan ke bagian be lakang dek dan memulai latihan ritual kuno yang mengalir melewati udara bak air. ketika bumi hidup kembali.tanganmu. dan bahwa mereka harus mengirim kurir secepat¬nya bila ada kabar dari Taku." . Burung houou ber¬sarang di Terayama. Kilau sinar matahari mewarnai layar. namun perjalanan memb awa dirinya makin jauh dari kemungkinan menerima kabar." anganmu. Lord Ot ori akan meng¬hadiahkan kirin kepada Kaisar. namun mengubah otot dan urat daging menjadi sekeras baja." lapor Minoru." Shigeko tersenyum. sewaktu matahari tenggelam di ufuk barat. Kemudian. panji-panji Maruyama berkibar di tali tiang kapal. cairan dari dalam bumi mengalir ke pepohonan dan ke d alam aliran darah semua orang. tarian. namun wajah tanpa ekspresi yang ki ni menjadi kebiasaan¬nya.* Beberapa hari setelah bulan purnama. "Jun dan Shin tidak senang. Tiga Negara belum pernah begitu sejahtera. yakin kalau pikiran dan tujuan mereka berdua telah menyatu. Langit di arah barat masih memancarkan garis merah ketika di arah timur muncul bulan purnama dari bulan keempat. membuat lamban g bangau Otori menjadi keemasan. beber apa di antara¬nya diceritakannya pada Minoru. semua pertanda ini menegaskan apa yang dilihat sebagian besar rakyat pada anak-anak mereka yang montok dan sawah yang subur. Kepergiannya dilepas dengan penuh semangat oleh penduduk kota. Kedua hal itu sama-sama musibah baginya. Takeo memutuskan untuk meninggalkan Kuroda bersaudara di Inuyama. namun roh houou yang akan menuntun anak panahnya. Takeo meninggalkan Inuyama menuju wilayah T imur. Setelah me¬mikirkan masak-masak. Meskipun ia ber¬usaha menyembunyikannya. mengatakan bahwa mereka akan lebih berguna di sana. Kecemasannya yaitu tidak adanya kabar dari Taku: apakah dia membelo t atau sudah mati. Semua ini m erupakan bukti dari penguasa yang adil dan memedulikan kesejahteraan rakyatnya. Namun semua sorak sorai. seolah burung suci itu telah bertengger di atasnya.

"Tidak ada keluarga Tribe di Miyako," sahut Takeo. "Sungguh, aku tidak mem¬butuhka n mereka di sana. Tapi kau tahu, Minoru, kalau kepercayaanku pada mereka telah terkikis: bukan karena kesalahan m ereka, hanya karena aku tahu kesetiaan pertama mereka pasti pada Tribe." "Kurasa Anda mestinya bisa lebih me¬mercayai mereka," sahut Minoru. "Mungkin aku menyelamatkan mereka dari pilihan yang menyakitkan, dan kelak merek a akan berterima kasih padaku," sahut Takeo ringan, tapi sebenamya dia me¬rindukan kedua pengawal Tribe tersebut, merasa telanjang dan tidak terlindungi tanpa mereka berdua. Empat hari keluar dari Inuyama, mereka berjalan melintasi Hinode, desa tempat Ta keo pernah beristirahat bersama Shigeru pada pagi setelah lari dari kejaran prajurit Iida S adamu. "Tempat kelahiranku berjarak satu hari perjalanan dari sini," komentarnya pada G emba. "Aku tidak melewati jalan ini lagi selama hampir delapan belas tahun. Aku ingin tahu apakah desa itu masih ada. Di sanalah Shigeru menyelamatkan aku." Halaman 214 dari 600

Tempat adikku, Madaren, dilahirkan, mengingatkan dirinya, tempat aku dibesarkan sebagai orang Hidden. empat adikku, Madaren, dilahirkan, mengingatkan dirinya, tempat aku dibesarkan s ebagai orang Hidden. "Aku bertanya pada diriku sendiri, alangkah beraninya aku muncul di hadapan Kais ar. Mereka semua akan membenciku k arena asal -usilk u." Takeo dan Gemba berkuda berdampingan di jalur yang sempit, gar tidak didengar orang lain. Gemba melihat sekilas ke arahnya lalu ku membawa semua dokumen yang mem¬buktikan keturunanmu dari Terayama: alah kakekmu, dan pengangkatanmu oleh Shigeru sah menurut hukum . Tak ada yang bisa mempertanyakan legitimasimu." "Tapi Kaisar sudah mempertanyakannya lebih dulu." "Kau membawa pedang Otori, dan di¬berkati dengan semua pertanda persetujuan Surga. " Gemba tersenyum. "Kau mungkin tidak menyadari kekaguman Shigeru saat membawamu pulang: kau begitu mirip Takeshi. Seperti keajaiban: Takeshi tinggal cukup lama bersama kami sebelu mnya. Kakakku Kahri adalah sahabatnya. Rasanya seperti kehilangan saudara laki-laki tercinta. Namun kesedihan kami tidak ada artinya dibandingkan dengan Lord Shigeru, dan itu merupakan pukulan terakhir dari sekian banyak peristiwa buruk yang menimpanya." "Ya, Chiyo menceritakan kisah-kisah kehilangannya. Hidupnya diliputi kesedihan d an nasib buruk yang tidak layak diterima¬nya; namun Shigeru tidak menunjukkannya. Aku ingat perka taannya di malam pertama aku bertemu Kenji: Aku tidak diciptakan untuk berputus asa. Sering aku memikirkan kata-kata ini, dan tentang keberaniannya saat kami berkuda ke Inuyama dalam peng awasan Abe dan pasukannya. " "Kau harus mengatakan hal yang sama pada dirimu: kau tidak diciptakan untuk berp utus asa." Takeo berkata, "Seharusnya begitu, tapi dengan begitu banyak yang telah terjadi dalam hidupku, itu menjadi suatu kepura¬puraan." Gemba tertawa. "Beruntunglah karena kau memiliki sekian banyak keahlian. Jangan remehkan dirimu sendiri. Sifatmu mungkin lebih kelam dari Shigeru, tapi tak kalah kuatnya. Lihat lah apa yang telah kau raih: hampir enam belas tahun kedamaian. Kau dan istrimu telah menyatukan semua pihak yang bertikai di seluruh Tiga Negara; kau dan ia bicara pelan a menyahut, "Kau tahu a bahwa Lord Shigemori ad dan disetujui oleh klan

menangani kesejahteraan negara dengan keseimbangan yang sempurna. Putrimu men¬jadi tangan kananmu, istrimu mendukung sepenuhnya di rumah. Percayalah pada mereka. Kau akan membuat kalangan istana Kaisar terkesan sesuai dengan kemampuan¬mu. Percayalah padaku." Ge mba terdiam dan setelah beberapa saat melanjutkan senandung kesabarannya. Kata-kata Gemba terasa lebih dari sekadar menenangkan; kata-kata itu tidak menen ang¬kan tapi justru membuat Takeo mampu menguasainya, dan akhirnya bisa melaluinya. Selagi tu buh dan pikiran penunggangnya rileks, maka begitu pula dengan kudanya: Tenba menundukkan leher d an mem¬perpanjang langkahnya seolah jarak yang ditempuh tengah dilahapnya, hari demi hari. Takeo merasa semua inderanya mulai terjaga: pendengarannya menjadi sama peka¬nya s aat ia berusia tujuh belas tahun; mata dan tangan senimannya mulai bergerak lagi dengan sendiri nya. Saat mendiktekan surat di malam hari pada Minoru, rasanya ingin sekali mengambil kuas dari tangan juru¬tulisnya itu. Kadang Takeo memang melaku¬kannya dengan cara menopang tangan kanannya yang cacat dengan tangan kiri serta menjepit kuas dengan dua jarinya ya ng ter¬sisa, dibuatnya sketsa pemandangan yang ada di benaknya selama berkuda di siang hari: sekawanan gagak beterbangan di sela-sela pepohonan cedar, barisan angsa di tebing dengan b entuk yang aneh, seekor burung tila dan bunga lonceng di bebatuan. Minoru mengumpulkan sketsa-ske tsa itu lalu mengirimnya dengan surat-surat untuk Kaede, dan Takeo teringat pada lukisan buru ng tila yang pernah ia berikan pada istrinya bertahun-tahun yang lalu di Terayama. Tangan cac atnya selama ini telah mencegahnya untuk melukis, namun belajar untuk mengatasi kendala itu telah mengasah bakat alaminya menjadi gaya lukisan yang unik dan luar biasa. Halaman 215 dari 600

Jalanan dari Inuyama menuju perbatasan terawat baik dan cukup lebar untuk tiga p enunggang kuda berjalan berdampingan. Permukaan jalan rata karena Miyoshi Kahei dan pasukannya melewati jalan ini beberapa minggu sebelumnya. Pasukan garda depan itu terdiri dari seribu oran g yang sebagian besar berkuda. Kahei juga membawa per¬sediaan pangan di atas kuda beban dan alanan dari Inuyama menuju perbatasan terawat baik dan cukup lebar untuk tiga pe nunggang kuda berjalan berdampingan. Permukaan jalan rata karena Miyoshi Kahei dan pasukannya melewati jalan ini beberapa minggu sebelumnya. Pasukan garda depan itu terdiri dari seribu oran g yang sebagian besar berkuda. Kahei juga membawa per¬sediaan pangan di atas kuda beban dan gerobak yang ditarik lembu. Sisanya akan bergerak dari Inuyama dalam beberapa mi nggu lagi. Daerah perbatasan berbukit¬bukit. Selain dari jalanan yang akan mereka lalui, punc aknya tak bisa dilewati. Menyiagakan pasukan yang begitu besar selama musim panas membutuhkan b anyak sumber daya, dan banyak pasukan pejalan kaki yang berasal dari desa-desa tempat panen tidak bisa dilakukan tanpa tenaga mereka di ladang. Takeo dan rombongannya berjumpa dengan Kahei di dataran tinggi tepat di bawah ja lur sempit. Saat itu udara masih dingin, rumput tepercik bintik putih salju terakhir, air sungai dan kolam membeku. Pos perbatasan kecil dibangun di sini, meski tidak banyak pengembara yang melakukan perjalanan dari wilayah Timur melewati jalur darat karena lebih memilih jalur laut melalui Akash i. Gugusan Awan Tinggi menjadi perbatasan alami yang selama bertahun¬tahun membuat Tiga Negara ter lindungi, terabaikan bagian negara yang lain, tidak dikuasai atau dilindungi Kaisar. Kemah yang dibangun tampak teratur dan disiapkan dengan baik: kuda-kuda berada d i barisannya, pasukan dipersenjatai lengkap serta terlatih. Dataran itu sudah diub ah dengan pagar penghalang yang didirikan dengan formasi kepala anak panah di sepanjang tepi dan gudang penyimpanan dibangun dengan cepat untuk melindungi persediaan makanan dari cuaca dan hewan. "Ada cukup tempat di ujung dataran bagi pasukan pemanah," tutur Kahei. "Tapi kit a juga memiliki cukup senjata api saat prajurit pejalan kaki datang dari Inuyama untuk mempertah ankan jalan bermilmil di belakang kita, begitu pula dengan pedesaan di sekitarnya. Kita akan mendirika n blokade. Tapi jika mereka masuk ke daerah di sekitarnya, kita akan gunakan kuda dan pedang." Ia menambahkan, "Apakah kita tahu senjata apa yang mereka miliki?" "Waktu mereka kurang dari setahun untuk mendapatkan atau menempa senjata api ser ta melatih

pasukan untuk menggunakannya," sahut Takeo. "Kita lebih unggul dalam hal itu. Ki ta juga memiliki pasukan pemanah: senjata tidak bisa diandalkan saat hujan atau angin. Aku berhar ap bisa mengirim pesan padamu. Aku akan mencari tahu sebisanya tapi aku harus kelihatan seperti mencari kedamaian; aku tidak boleh memberi alas an bagi mereka untuk menyerang. Semua persiapan ini demi mempertahankan Tiga Negara; kita tidak mengancam siapa pun di luar perbatasan wilayah kita. Kau harus tetap di dataran ini dalam posisi yang murni bertahan. Kita jangan sampai memancing Saga atau menantang Kaisar." "Rasanya aneh melihat Kaisar dengan mata kepala sendiri," komentar Kahei. "Aku i ri padamu: kami mendengar tentang Kaisar sejak kami masih kecil; beliau adalah keturunan dewa, k endati selama bertahun¬tahun aku tidak percaya kalau beliau memang benar-benar ada." "Klan Otori kabarnya adalah keluarga Kaisar," sahut Gemba. "Karena ketika Takeyo shi diberikan Jato, bayi dalam kandungan salah seorang selir Kaisar juga akan djodohkan dengannya." Gemba ter¬senyum pada Takeo. "Maka kau pun memiliki darah yang sama." *Agak tercampur setelah benahun-tahun," sahut Takeo dengan nada ringan. "Tapi mu ngkin karena beliau adalah kerabatku maka akan memandangku dengan sikap yang bersahabat. Bertahun-tahun lalu Shigeru mengatakan bahwa karena kelemahan sang K aisar sehingga orang seperti lida bisa merajalela tanpa bisa diawasi. Maka sudah menja di kewajibanku untuk memperkuat kedudukan Kaisar. Beliau adalah penguasa Delapan Pulau." Takeo melayangkan pandangan ke arah gugusan gunung yang warnanya berubah menjadi ungu tua di bawah cahaya malam. Langit tampak ber-warna putih kebiruan, dan bintang-bintang pertama mulai bermunculan. "Aku hanya tahu scdikit tentang sisanya: bagaimana pemerintahannya, apakah merek a sejahtera, apakah rakyatnya bahagia. Semua ini harus dicari tahu dan dibicarakan." Halaman 216 dari 600

"Dengan Saga Hideki-lah kau harus bicarakan semua itu," sahut Gemba. "Karena saa t ini dialah yang mengendalikan dua pertiga negara, termasuk Kaisar." Dengan Saga Hideki-lah kau harus bicarakan semua itu," sahut Gemba. "Karena saat ini dialah yang mengendalikan dua pertiga negara, termasuk Kaisar." "Tapi kita tidak akan membiarkannya mengendalikan Tiga Negara," seru Kahei. Ketidaksetujuan Takeo tidak diperlihatkan terang-terangan pada Kahei, tapi secar a pribadi, seperti biasa, ia telah memikirkan tentang negaranya dan cara terbaik untuk melindunginy a. Takeo sudah menyaksikan kehancuran dan kehilangan korban manusia akibat perang dan gempa. Ia tak ingin m enyerahkan negara yang telah makmur ini pada Zenko, tapi juga tidak ingin melihatnya terpec ah belah dan berperang lagi. Ia tidak percaya kalau Kaisar adalah dewa yang harus disembah. T api ia menyadari pentingnya kaisar sebagai simbol kesatuan, dan siap untuk tunduk pada Kaisar dem i mem¬pertahankan kedamaian dan meningkatkan kesatuan seluruh negara. Namun aku takkan menyerahkan Tiga Negara kepada Zenko. Berulang kali dirinya kem bali lagi pada keyakinan ini. Aku takkan melihatnya berkuasa menggantikan diriku. Mereka menyeberangi jalur perbatasan saat bulan menghilang, dan sebelum bulan pe nuh lagi mereka hampir tiba di Sanda, kota kecil yang berada di jalur antara Miyako dan Akashi. Selagi menuruni lembah, sekaligus memeriksa jalur pulang mereka dan tempat sepasukan kecil pasukan kemungkinan berbelok dan menghadang musuh bila diperlukan Takeo mempelajari keadaa n desadesa, sistem pertanian, kesehatan anak¬anak, kerap berkuda keluar dari jalan memasuki di strik di sekitarnya. Ia tercengang menemukan bahwa ia tak dikenal penduduk desa: reaksi mereka seolah kedatangan pa hlawan dari legenda yang mendadak muncul di tengah-tengah mereka. Di malam hari terdengar ol ehnya penyanyi buta melantunkan lagi kisah Klan Otori: peng¬khianatan atas Shigeru dan kematianny a, kejatuhan Inuyama, perang Asagawa, mundur ke Katte Jinja serta pengambilalihan kota Hagi. Ada juga nyanyian baru yang digubah tentang kirin karena hewan itu bersama putri Lord Oto ri yang cantik tengah ditunggu di Sanda. Daerah itu terbengkalai: Takeo terkejut dengan rumah-rumah yang setengah runtuh, sawah yang tidak digarap. Ia tahu dalam perjalanan, dengan bertanya pada para petani, bahwa temya ta semua wilayah itu bertempur habis-habisan melawan Saga sebelum akhirnya menyerah dua tahun lal u.

Sejak itu pasukan bersenjata dan buruh yang dibutuhkan telah melemahkan sumber d aya manusia desa-desa tersebut. "Tapi setidaknya kini sudah damai, dan kami berterima kasih pada Lord Saga," kat a salah seorang laki-laki yang lebih tua. Takeo ingin tahu berapa banyak pengorbanan yang mereka lakukan, dan masih ingin bertanya¬tanya lebih banyak lagi, tapi saat makin mendekati kota ia bergabung lagi dengan rombongannya dengan sikap yang lebih formal. Banyak dari o rang-orang itu mengikutinya, berharap melihat kirin secara langsung. Ketika tiba di Sanda, mere ka ditemani oleh sekerumunan besar orang, dan makin bertambah ketika penduduk kota ber¬hamburan kel uar untuk bertemu dengannya. Mereka melambaikan umbul-umbul serta rumbai-rumbai, menari da n menabuh genderang. Sanda merupakan kota per¬dagangan dan tidak memiliki kastil atau benten g. Masih tampak sisa-sisa kehancuran akibat perang, tapi sebagian besar toko dan rumah ya ng hangus terbakar sudah dibangun kembali. Ada beberapa rumah penginapan besar di dekat ku il; di jalan utama di depan mereka, Takeo dipertemukan dengan sekelompok kecil prajurit, memb awa panji¬panji bergambarkan puncak gunung kembar lambang Klan Saga. "Lord Otori," ujar pemimpinnya, laki-laki bertubuh besar dan gemuk yang meng¬ingat kan Takeo pada Abe, pengawal senior Lord Iida. "Namaku Okuda Tadamasa. Ini putra sulungku, Tadayoshi. Pemimpin kami yang agung dan jenderal Kaisar meng¬ucapk an selamat datang kepada Anda. Kami diutus untuk mendampingi Anda." Orang itu bicara dengan bahasa resmi dan sopan. Sebelum Takeo sempat menjawab, Tenba meringkik lantang. Di atas atap laman di penginapan muncul kirin dengan telinga yang seperti kipas, kepala bermata besar di atas leher panjang bercorak. Kerumunan orang berseru kegirangan dengan serempak. Mata dan h idung kirin Halaman 217 dari 600

tampak mencari-cari sahabatnya. Ketika melihat Tenba, wajahnya melembut seakan t ersenyum; dan bagi kerumunan itu, kirin seakan tersenyum pada Lord Otori. ampak mencari-cari sahabatnya. Ketika melihat Tenba, wajahnya melembut seakan te rsenyum; dan bagi kerumunan itu, kirin seakan tersenyum pada Lord Otori. Bahkan Okuda pun tak mampu menahan diri untuk meliriknya. Ekspresi kekaguman mel intas sesaat di wajahnya. Ototnya ber¬kerut tegang berusaha keras menahan diri, matanya terbela lak. Putranya, pemuda ber-usia kira-kira delapan tahun, terang-terangan menyeringai. "Aku berterima kasih pada Anda dan Lord Saga," sahut Takeo tenang, mengabaikan k eheranan itu seolah kirin hanyalah hewan peliharaan biasa. "Kuharap Anda bisa mem beri kehormatan dengan mengajakku dan putriku makan malam bersama." "Kurasa Lady Maruyama sudah menunggu di dalam," sahut Okuda. "Aku terima undanga n Anda dengan senang hati." Mereka semua turun dari kuda. Para pengurus kuda berlarian menghampiri untuk men gambil tali kekang. Pelayan bergegas datang ke tepi beranda membawa baskom air untuk mencuci kaki para tamu. Pemilik penginapan pun muncul, seorang tokoh penting dalam pemerintahan ko ta itu; dia berkeringat karena gugup; membungkuk rendah, kemudian bangkit, mengatur pelayan dengan banyak instruksi dan tepukan tangan, serta menggiring Takeo dan Gemba ke kamar t amu utama. Kamarnya cukup menyenangkan, meski¬pun tidak mewah. Alas lantainya masih baru dan wangi, dan pintu-pintu bagian dalam terbuka ke arah taman kecil yang berisikan rumput dan s ebongkah batu hitam yang tidak biasa, seperti miniatur puncak kembar gunung. Takeo menatapnya, seraya mendengarkan hiruk-pikuk kesibukan dalam penginapan di sekelilingnya, suara bersemangat sang pemilik penginapan. Kegiatan di dapur selagi makan malam disiapkan, ringkikan Tenba dari istal, dan terakhir suara putrinya, langkah kakinya di luar. Takeo berbalik saat pintu bergeser terb uka. "Ayah! Aku sudah tak sabar ingin bertemu ayah!" "Shigeko," sahutnya, lalu dengan penuh kasih sayang, "Lady Maruyama!" Gemba yang sedari tadi duduk di beranda sebelah dalam, kini berdiri dan menyeruk an kata yang sama. "Lady Maruyama!" "Lord Miyoshi! Aku senang bertemu Anda." "Hmm, hmm," sahutnya seraya ter¬senyum le bar dan

bersenandung riang. "Kau tampak baik." Benar, pikir Takeo, putrinya bukan hanya berada di puncak kecantikan masa mudany a, tapi juga memancarkan kekuatan dan kepercayaan diri seorang perempuan dewasa, seorang peng uasa. "Dan Ayah lihai bawaanmu tiba dengan sehat," ujar Takeo. "Aku baru kembali dari kandang kirin. Hewan itu senang bertemu dengan Tenba. Aga k mengharukan. Tapi apa Ayah baik-baik saja? Perjalanan Ayah lebih berat. Ayah tidak merasa kesakitan?" "Ayah baik-baik saja," sahutnya. "Cuaca hangat seperti ini rasa sakitnya masih b isa diatasi. Gemba adalah teman seperjalanan yang baik, dan kudamu itu luar biasa." "Tidak ada kabar dari rumah?" tanya Shigeko. "Tidak ada, tapi karena Ayah tidak menunggu kabar, maka ketenangan ini tidak mem buat Ayah cemas. Di mana Hiroshi?" tanyanya. "Dia sedang menengok keadaan kuda dan kirin," sahut Shigeko dengan tenang. "Bers ama Sakai Masaki, yang ikut bersama kami dari Maruyama." Takeo mengamati putrinya yang tidak menunjukkan emosi apa pun. Setelah beberapa saat ia bertanya, "Ada pesan dari Taku di Akashi?" Halaman 218 dari 600

Shigeko menggeleng. "Hiroshi juga tengah menunggu sesuatu, tapi tak satu pun ora ng Muto di sana mendapat kabar darinya. Mungkinkah terjadi sesuatu?" higeko menggeleng. "Hiroshi juga tengah menunggu sesuatu, tapi tak satu pun oran g Muto di sana mendapat kabar darinya. Mungkinkah terjadi sesuatu?" "Aku tidak tahu; sudah lama tidak ada kabar darinya." "Aku bertemu dengannya dan Maya di Hofu sebelum kami berangkat. Maya datang untuk melihat kirin. Dia sehat, lebih mantap, juga lebih bisa menerima anugerah bakatnya dan lebih bisa mengendalikannya." "Kau anggap kerasukan itu sebagai anugerah?" seru Takeo, terkejut. "Kelak akan begitu," sahut Gemba, lalu dia dan Shigeko saling tersenyum. "Jadi, katakan padaku para Guru Besar¬ku," ujar Takeo sinis, menyembunyikan kekesa lannya. "Mestikah aku mencemaskan Taku dan Maya?" "Karena kau tak bisa berbuat apa-apa dari sini," Gemba menjelaskan, "maka tak ad a gunanya membuang energimu dengan mengkhawatirkan mereka. Kabar buruk cepat tersebar: kau akan mendengarnya secepatnya." Takeo menyadari kearifan kalimat ini, lalu berusaha menyingkirkan masalah ini da ri benaknya. Tapi di malam-malam selanjut¬nya, selagi mereka melanjutkan perjalanan ke ibukota, ia seri ng memimpikan kedua putri kembarnya, dan di dunia lain yang berkabut itu, disadarinya kalau me reka berdua tengah menjalani semacam ujian berat yang aneh. Maya berkilau bak emas, menarik semua c ahaya dari Miki yang dalam mimpinya terlihat sehebat dan setajam sebilah pedang. Sekali dia bermimpi mereka berdua s ebagai kucing dan bayangannya: ia memanggil¬manggil, tapi meskipun menengok, keduanya bukan saja lid ak melihat dirinya tapi juga berlari menjauh dengan langkah tak ter¬dengar hingga berada di l uar jangkauan pendengaran dan perlindungannya. Takeo terbangun dengan perasaan kehilangan yang begitu menyakitkan kalau kedua putrinya itu bukan anak-anak lagi. Bahkan bayi laki¬lakiny a akhirnya akan tumbuh menjadi laki¬laki dewasa dan menantang dirinya; bahwa orangtua membesarkan anak-anak hanya untuk digantikan kedudukannya oleh mereka, bahwa harga yang hams dibayar u ntuk kehidupan adalah dengan kematian. Malam terasa lebih pendek, dan saat matahari makin bersinar cerah, Takeo kembali dari dunia mimpi, mengumpulkan kembali tekad dan kekuatannya untuk melakukan tugas yang ada di had apannya,

membingungkan lawan-lawannya dan me¬menangkan keberpihakan mereka, memper¬tahankan negara serta Klan Otori, di atas segalanya, mencegah tejadinya perang.* Perjalanan berlanjut tanpa insiden. Ini adalah waktu yang paling tepat untuk mel akukan perjalanan. Siang kian panjang seiring makin dekatnya waktu ketika matahari berada pada jara k terjauh dari garis khatulistiwa. Okuda nampak terkesan pada kirin, pada kuda Maruyama, dan pada Shige ko yang memilih untuk berkuda di sisi ayahnya; laki-laki itu banyak bertanya pada Takeo tentang Tiga Negara, perdagangan, administrasi, dan kapal. Jawaban jujur Takeo membuat mata¬nya makin t erbelalak. Kabar tentang kedatangan kirin sudah sampai mendahului mereka, dan sewaktu mende kati ibukota, kerumunan orang semakin banyak saat penduduk kota berhamburan keluar untuk menya mbut. Mereka membuat hari itu sebagai hari libun mereka mengajak istri dan anak dengan mengenakan pakaian berwarna cerah, menggetar tikar dan mendirikan payung penahan sinar mata hari warna merah tua serta tenda putih, makan dan minum dengan gembira. Takeo merasakan semua kemeria han ini sebagai pemberkatan atas per¬jalanannya, menyingkirkan pertanda buruk dari eksekusi di Inu yama. Halaman 219 dari 600

Kesan ini di¬perkuat dengan Lord Kono yang mengirim undangan untuk mengunjunginya pada malam pertama di ibukota. esan ini di¬perkuat dengan Lord Kono yang mengirim undangan untuk mengunjunginya p ada malam pertama di ibukota. Kota itu dikelilingi tebing; danau besar di bagian utara menyediakan kota itu de ngan air dan ikan. Dua sungai yang mengaliri kota dihubungkan dengan beberapa jembatan yang indah. Kota itu dibangun seperti kota kuno di Shin: berbentuk persegi dengan jalan lebar terbentang dari utara sampai ke selatan, dengan jalanan yang lebih kecil bersaling¬silang. Istana kekaisaran terle tak di ujung jalanan utama, di sebelah biara agung. Takeo serta rombongannya menginap di kediaman yang tidak jauh dari tempat Kono. Sebuah kandang dibangun dengan tergesa¬gesa untuk kirin. Takeo berpakaian dengan ekstra h ati-hati untuk menghadiri pertemuan itu, lalu menaiki salah satu tandu mewah ber¬pernis yang dian gkut dengan kapal laut dari Hagi menuju Akashi. Hadiah-hadiah untuk Kono dibawa oleh sebaris an pelayan: produk Tiga Negara yang menjadi bukti kesejahteran dan pemerintahan yang baik, apa saja yang dinikmati atau dikagumi Kono selama di wilayah Barat salah satu hasil pengintaian Taku. "Lord Otori telah tiba di ibukota saat matahari mendekati titik puncaknya," seru Kono. "Waktu yang amat menguntungkan. Aku berharap dengan amat sangat atas ke¬berhasilan Anda." Ini orang yang membawa kabar bahwa pemerintahanku ilegal dan Kaisar memintaku ag ar turun takhta serta mengasingkan diri, Takeo memperingatkan dirinya. Aku tidak boleh te rbuai pada sanjungannya. Takeo tersenyum dan berterima kasih pada Kono, lalu berkaia, "Semu a ini ada di tangan Surga. Aku akan tunduk pada kehendak Yang Mulia Kaisar." "Lord Saga ingin sekali bertemu Anda. Apakah besok tidak terlalu cepat? Beliau i ngin menyelesaikan beberapa masalah se¬belum musim hujan mulai." "Tentu saja." Takto bisa melihat tidak ada gunanya menunda. Hujan pasti akan men ahan dirinya di ibukota sampai bulan ketujuh: tiba-tiba dilihat dirinya sendiri kalah dalam pertandingan itu. Lantas apa yang harus ia lakukan? Bersembunyi di kota ya ng lembap dan menjemukan ini sampai dirinya bisa menyelinap pulang dan mengatur pengasingan di rinya sendiri? Atau mencabut nyawanya sendiri, meninggalkan Shigeko sendirian di tangan Saga, d i bawah kekuasaannya? Apakah ia memang tengah mempertaruhlan Tiga Negara, dirinya dan pu trinya, dalam

"Tentu saja sebagian besar kol eksnya sudah hilang. dan tak bisa menahan diri untuk tersenyum juga pada ironinya keadaan diri nya." "Aku sama sekali tidak berbakat. Beberapa sket sa yang kubuat selama perjalanan sudah kukirim pada istriku." sahut Takeo. tapi justru menghabiskan sisa malam itu dengan mengagumi koleksi Kono dan membicarakan tentang lukisan dengan orang ters ebut. Tapi kita tidak perlu mengingat masa-masa yang tidak menyenangkan itu .. "Aku tidak membawanya." sahut Takeo. meski aku tak sempat melakukannya. Aku pernah mendengar kalau Lord Otori sendiri adalah seniman yang berbakat.sebuah pertandingan? Takeo tak menunjukkan sedikit pun kekhawatirannya. Tak diragukan lagi dia pasti berpikir kalau tak lama lagi aku ada waktu luang ya ng banyak.." "Kau berlebihan menyanjungku." tutur Kono ketika salah satu pen¬damp ingnya membuka bungkusan sutra yang berisi benda-benda berharga. Aku minta maaf.." Halaman 220 dari 600 . renung Takeo. Dan Lord Saga pasti gembira kalau bisa menerima satu juga." Kono tersenyum dan mengerutkan bibirnya dengan sengaja. "Sebagian di antaranya adalah milik ayahku. "Tapi melukis memberi kenikmatan besar bagiku. "Aku memberanikan diri untuk meminta Anda memberikan salah satu karya Anda.

" Minoru juga menemani mereka dengan membawa gulungan berisi silsilah keluarga dar i semua yang datang dan daftar hadiah untuk Lord Saga. itu justru lebih mengesankan dan lebih ber¬harga. Shigeko. Beliau sedang membangun kastil b aru kelak akan ditunjukkannya pada Anda. tapi tidak dilihat ad anya sindiran di sana. Beliau sangat mengagumi semua bentuk seni. Banyak yang pergi dari ibukota dan baru sekarang¬sekarang ini mulai k embali. berarti semakin besar bakatnya. ayah dan anak. Sepe rti harta terpendam. "Putri Anda tentunya merupakan harta Lord Otori yang paling berharga." Menyesal aku tidak bisa membujuk Anda. Hiroshi memohon undur diri. semakin jarang seniman memamerkan karyanya. Takeo agak memiringkan kepa la. "Menurut penga lamanku." seru Kono dengan hangat. "Kendati demikian. "Kami mendapat keuntungan hidup selama bertahun-tahun dalam kedamaian." seru Kono dengan hangat. "Lord Saga memintaku untuk menyampaikan per¬mintaan maafnya. Sepe rti harta terpendam." gumam Kono." "Menurutku." Kemudian dia melanjutkan dengan halus. beliau khawatir Anda meras a kalau kediamannya ini terlalu sederhana tidak sebanding dengan yang biasa Anda lihat di Hagi. berdalih t ak ingin meninggalkan kirin tidak terjaga. Lord Saga memberi banyak komisi. itu justru lebih mengesankan dan lebih ber¬harga. orang-orang seperti itu mencari lingkungan yang tenang agar bisa men ghasilkan karya seni mereka. meski Takeo menduga ada alasan lain: kesadaran pemuda itu akan . untuk menjemput Takeo."Menyesal aku tidak bisa membujuk Anda. dan Gemba ke kediaman jenderal itu. Dia akan menemani Anda besok?" Kedengarannya hanya sebagian dari sebuah pertanyaan. aku yakin tak satu pun yang kami miliki di Tiga Negara bisa dibandingkan dengan kemegahan ibukota. serta seniman yang paling berbakat. serta ksatria la in dari kediaman Saga. *** Lord Kono datang keesokan harinya bersama Okuda. Kono bergumam." Takeo menaikkan alisnya dan melihat sekilas ke wajah Kono. berarti semakin besar bakatnya. "Lord Saga amat menantikan bertemu dengan lawannya. Untuk sementara. semakin jarang seniman memamerkan karyanya. Kalian pasti memiliki perajin paling tera mpil. "Menurut pengal amanku. Sewakt u mereka turun dari tandu di taman sebuah kediaman yang besar serta megah." sahut Takeo.

Di benaknya ia melihat Makoto.kurangnya status dirinya. Okuda. Takeo telah menduga ini: ia pun kerap menggunakan tipu muslihat yang sama. ia merasakan kekuatan spiritual sahabat nya itu dalam diri kedua pendampingnya yang ada di dekatnya. ke hutan s uci pepohonan pawlonia di mana burung houou tengah menetas. sementara dia pergi be rsama Kono. sah abat karibnya yang mengabdikan diri pada Ajaran Houou. Gemba dan Shigeko. memenuhi dirinya dengan r asa percaya diri Halaman 221 dari 600 . Ia yakin si seniman belum pernah melihat burung itu. Takeo tak tahan untuk tidak mengagumi ketegasan desain dan kemahi ran pembuatannya. Tak s eorang pun bisa dengan mudah bertemu seorang penguasa. Bahkan ada juga sepasang burung houou sedang mematuk daun bambu. warna-warna ce rah berlatar berwarna emas. Ada lukisan burung merak berjalan dengan angkuh di bawah lebatnya pepohonan pinu s. namun melukisnya dari legenda. Dilayangkannya pikirannya ke biara Terayama. Takeo menenangkan diri sambil memandang l ukisan burung houou. naga dan harimau saling meng¬geram. Namun dirasakannya semua lukisan itu dibuat untuk memamerkan kekua tan dari penguasa: semuanya berbicara tentang kemenangan. Mereka duduk tanpa bicara. dan dirasakannya energi dalam ruangan itu semakin menguat. Di ruangan terakhir inilah Okuda meminta mereka menunggu. mengenakan pakaian formal ketimbang baju zirah yang dia pakai sebelumnya. Dua ekor singa mistis berjalan di sepanjang dinding. tujuannya adalah untuk mendomin asi. el ang menatap dengan berlagak penting dari tempat yang memungkinkan pandangan luas dan jelas d i puncak tebing kembar. membimbing mereka berjalan menelusuri beranda yang lebar dan melewati banyak ruangan yang masing-masing dihiasi lukisan yang cemerlang. juga rasa enggan bertemu laki-laki yang mungkin akan d inikahi Shigeko.

di sana ia dengar pengkhianatan para paman Shige ru. Dia membungkuk sampai ke lantai di hadapan Takeo dan berbicara denga n sopan santun yang luar biasa. menggeser layar kasa agar terbuka dan menyembah hin gga kepalanya menyentuh lantai. ang mantap.yang mantap. tapi Shigeko menunggu di ambang pintu. menerim a daftar hadiah yang disiapkan Minoru serta mengawasi para jurutulis yang mencatat acara yang akan ber¬langsung. dan menduga semua itu peliharaan Lady Saga. di sana ia dengar pengkhianatan para paman Shige ru. Cuaca hari itu terasa semakin han gat. Takeo melangkah masuk dan membungkuk. Dipasang telinganya seperti yang pernah dilakukanya di kastil Hagi k etika dipaksa menunggu dengan cara yang sama. memusatkan perhatiannya pada laki-laki yang akan ditemuinya. Jalan lebar mengkilap membawa mereka melewati taman kecil yang indah menuju ke b angunan lainnya yang jauh lebih besar dan lebih indah. Kono sudah diperingatkan tentang pen¬dengaranku. dan gemericik air di kolam dan tangki air memberi perasaan dingin. t api mereka hanya membicarakan hal¬hal yang biasa-biasa saja. lalu teringat kehilangan tragis yang dialami Saga. pikirnya. Takeo bisa mendengar burung-bur ung di sangkar berkicau di suatu tempat di kediaman ini. baru lah gadis itu . Hanya ketika Takeo dan Gemba diminta duduk tegak. t api mereka hanya membicarakan hal¬hal yang biasa-biasa saja. Apa lagi yang telah diu ngkap Zenko kepadanya? Takeo mengenang masa lalunya yang hanya diketahui oleh Tribe. Sesaat ia merasakan ketakutan akan istrinya yang begitu jauh: bagaimana ia bisa bertahan bila istrinya tiada? Bisakah ia hidup tanpa istrinya? Menikah lagi demi alasan negara? Teringat lagi nasihat Gemba. Gemba mengikutinya. Kini ia dengar Kono berbicara pelan pada seorang laki-laki yang diduganya adalah Saga. Dipasang telinganya seperti yang pernah dilakukanya di kastil Hagi ketika dipaksa menunggu dengan cara yang sama. Orang itulah yang akan mendampingi mereka ke ruang pertemuan. Kepala pelayan itu berlutut. seberapa banyak ya ng Zenko tahu? Beberapa saat kemudian Okuda datang bersama seorang laki-laki yang diperkenal¬kannya sebagai kepala pelayan dan pengur us administrasi Lord Saga. Kini ia dengar Kono berbicara pelan pada seorang laki-laki yang diduganya adalah Saga. disingkir¬kannya pikiran itu jauh-jauh.

dengan tubuh g emuk laki-laki separuh baya. dekorasi ruangan ini yang paling sederhana. Shigeko tetap membungkuk dalam-dalam sementara kedua orang itu saling menatap. tempat Gemba duduk dengan sikap rileks. yang pernah Takeo dengar tapi belum pernah dilihatnya. Semula Takeo mengira Saga adalah orang yang brutal serta gegabah. Tak diragukan lagi kalau ia meng¬hadapi lawan yang menakjubkan. Mungkin kejam. tapi tid ak gegabah dia laki-laki yang mengendalikan pikiran sama ketatnya dengan mengendalian tubuhnya. gerakannya pun luwes. Ternyata efeknya luar biasa. Mungkin itu lukisan bernama Genta Malam Hari dari Biara di Kejauhan yang termahsyur. Namun orang itu memiliki keluwesan yang tidak sesuai dengan usiany a: duduk dengan nyaman. huruf hidup diperpendek: ini pertama kalinya Takeo mendengar ak sen daerah timur laut. dan tampak lebih bidang karena sayap lebar dari jubah resminya. Saga Hideki duduk di ujung ruangan. Memiliki bahu bidang dan berotot ciri khas pemanah . dan kemudian mendengar setiap senandung pelan dari sisi kirinya. U sia Saga pasti beberapa tahun lebih tua dari Takeo. dengan huru f konsonan diucapkan cepat. tapi justru dengan kelembutan. Dan tiba¬tiba dilihatnya kalau Saga takkan bisa di¬kalahkan den gan kekuatan. tak perlu hias an. Shin. seolah tak ada yang boleh m enyaingi kuatnya kehadiran orang itu. Dibandingkan dengan ruang an lainnya. pikir Takeo. Lukisan yang bers ifat pamer hanya menjadi pembungkus berhias: di sini hanya pedang yang dipamerkan. Suaranya kasar. Halaman 222 dari 600 .masuk dengan gerakan anggun dan menyembah di sebelah ayahnya. kini ia mengubah pendapatnya. mendekati empat puluh tahun. Disesalinya kekurangan dirinya. kurang terampil memanah. Ruang kecil di sebelahnya terdapat lukisan d engan gaya daerah daratan utama. hanya baja tajam nan mematikan itu.

dan bahwa lukisan ini lebih menarik perhatian Anda ketimbang benda¬benda modern milikku. bentuk matanya panja ng dan agak seperti bertudung. Kemudian ban gsawan itu mencondongkan badan lalu berkata dengan kasar namun ramah. bentuk matanya panjan g dan agak seperti bertudung. Wajahnya lebar serta bergaris tegas. sementara yang me¬ngejutkan bentuk telinganya begitu halus." Shigeko berdiri lalu berjalan perlahan ke sisi ayahnya. Janggut dan kumisnya agak panjang. "Ini juga sangat bagus. Kemari dan lihatlah. wangi serta kuat. sementara yang me¬ngejutkan bentuk telinganya begitu halus. "luwes. walau tubuh Saga jauh lebih besar. "Bagaimana pendapat A nda?" "Lord Saga?" Saga memberi isyarat ke arah ruangan kecil di sampingnya." ujar Saga. Karya Yu-Chien. kembali ke tempat duduknya. "Aku melihat kombinasi itu di sini." sahut Takeo dengan kekaguman yang tulus." ujar Shigeko dengan suara pelan ." "Luar biasa. Lukisan itu menggambarkan pemandangan taman yang dipenuhi bambu. ham pir tanpa bagian bulat menonjol di bagian bawahnya. Lady Maruyama. keduanya agak beruban meski rambutnya tidak beruban. Juga dibuat dengan lima hitam. begitu dekat dengan kepalanya. "Ketiganya mampu menahan kerasnya musim dingin. Janggut dan kumisnya agak panjang. Dia bilang Anda pasti mengenalnya. ham pir tanpa bagian bulat menonjol di bagian bawahnya. keduanya agak beruban meski rambutnya tidak beruban. "Memang. begitu dekat dengan kepalanya. Tinggi mereka hampir sama." sahut Saga. Wajahnya lebar serta bergaris tegas." Takeo bangkit lalu berdiri di sampingnya." Dia memberi . Bag aimana dengan yang satu itu?" Saga berdiri lalu berjalan ke dinding sebelah timur. Pandangan mata Saga pun tak kalahnya mengamati Takeo. mari berg abung bersama kami. berkedip memerhatikan tubu hnya. "Suatu maha ka rya. dilukis dengan tenang serta menggugah. "Tentu saja lukisan it u. berhenti sebentar saat melihat tangan kanan bersarung tangan hitam. benar?" "Ha! Kono menyarankan aku meng¬gantungnya.tempat kelahiran Saga." "Tiga kawan baik. empat kelahiran Saga. plum dan pinus.

misalnya. per¬hitung an sekaligus hasrat. "Lebih baik dibiarkan ditempatnya . Kelihatannya dia ingin bicara langsung pada gadis itu. "Dari riwayat Anda. sedang Lord Miyoshi ada lah pinusnya. maka negara akan menjadi kaya dan stabil. "Lady Maruyama adalah plum." sahut T akeo seraya tersenyum." "Bambu akan selalu tumbuh. yang mengajariku di bidang ini sebelum kematiannya.isyarat agar mereka men¬dekat. kurasa juga begitu. Lord Shigeru." "Ayahku. Matanya menatap ke arah Shigeko dengan ekspresi ingin tahu. "Bahkan tanaman beracun pun bisa diambil manfaatnya." Gemba membungkuk hormat atas pujian ini. dan mengambil manfaat dari kegunaannya yang banyak serta bervariasi." "Ha!" Saga mengeluarkan tawa kemenangan. Aku ter lalu Halaman 223 dari 600 . namun kemudian me mbatalkannya dan kembali berbicara pada Takeo. Bila petani bahagia. Tapi bambu sangat sulit dibasmi bila tum buh di tempat yang salah. "Kurasa aku bagian yang luwes." ujar Takeo setuju. dalam ilmu ketabiban. "Apakah filsafat ini menjelaskan alasan Anda tidak menghadapi Arai?" Takeo menjawab." "Kudengar Anda tertarik dengan per¬tanian. aku tidak punya banyak waktu untuk bertani beberapa tahun ini." "Baiklah.

" Digandengnya Takeo selagi berjalan kembali ke pintu masuk ut ama dan berkata dengan sikap penuh rahasia. Kita akan l ihat lapangan tempat pertandingan kita. tapi untuk mengatakan bahwa sementara aku mencari dukungan Anda." "Anda telah menghasilkan permata. "Aku ingin sekali melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. tapi Takeo hanya minum sedikit. Di pengujung santap siang. Kekuasaanku adil dan direstui Surga. Siang ini cuaca cerah. Tapi akibat¬nya kami kekurangan persediaan makanan d i musim dingin ini. serta terhindar dar i kekeringan dan kelaparan. "Memang benar." ujar Saga. dan kelih atan tanpa berpikir panjang berdiri." "Kini banyak dari daerah di negara kami yang mempraktikkan sistem panen ganda." Mengimbangi kesederhanaan ruangan itu. Kami diberkahi panen yang baik selama bertahun-tahun.disibukkan dengan peperangan. yang sudah lebih mabuk ketimbang yang lainnya. dan ke berpihakan Kaisar memang. makanannya pun lezat: hidangan musiman ib ukota yang tertata rapi. masing-masing menawarkan pengalaman luar biasa bagi mata yang mema ndang sena lidah yang mengecap-nya. Sekarang mari makan dan minum. gandum dan wijen. "Mari kita ke sana sekarang. Sake juga dihidangkan." tutur Takeo." Takeo agak memiringkan kepala. kami memiliki banyak persediaan beras. dan menguasai Tiga Negara secara sah menurut hukum. aku bersiap tunduk pada Anda sebagai jenderal Kaisar harus dengan per syaratan yang melindungi negara dan pewarisku." "Kita akan bicarakan itu nanti. Okuda mengatakan bahwa Tiga Negara menghasilkan beras lebih banyak d ari yang bisa dikonsumsi. Okuda mengatakan bahwa Tiga Negara menghasilkan beras lebih banyak d ari yang bisa dikonsumsi. Tapi akibat¬nya kami kekurangan persediaan makanan di musim dingin ini. Okuda. "Dan aku harus menemui juara-juara Anda. Aku tak mengatakan semua ini untuk membual. "Aku pemimpin sah Klan Otori. keistimewaan Tiga Negara dibandingkan yang ada di ibukota. mengingat perundingan bisa berlangsung hingga malam. begitu pula kacang kedelai . Lord Miyosh . me ng¬ungkapkan lagi kekaguman bersemangatnya pada kirin. Okuda dan Kono bergabung dengan merek a untuk santap siang. dan perbincangan berlangsung dengan suasana riang. arsitektur. yaitu puisi." isibukkan dengan peperangan. Mereka hanya me mbicarakan lukisan. Tak heran begitu banyak orang yang mengincar¬nya dengan tamak.

" "Yang kedua adalah Sugita Hiroshi. Lady Maruyama. "Akan menjadi pertunjukan yang indah. A ku ingin memperlihatkannya pada lawanku. Ke mana kepercaya annya pada Guru Besar Ajaran Houou membimbing dirinya? Takut kalau Saga akan menganggap pen g gantian dirinya dengan Shigeko sebagai penghinaan dan penolakan untuk berunding. Lady Maruyama yang cantik melawan bangsawan pali ng berkuasa di Delapan Pulau. berseru dengan suara lantang." sahut Takeo." "Aku tidak ingin menyesatkan anggapan Anda. Taruhan¬nya tidak bisa le bih tinggi lagi." Cengkeraman tangan Saga mengencang ketika berhenti. Sedangkan yang ketiga Anda sudah bertemu. Okuda. "Selama ini Anda memang berniat untuk tunduk. "Bawakan busur dan anak panahku. Halaman 224 dari 600 . Kendati demikian. diputarnya tubuh Takeo agar bisa menatap langsung wajahnya. bangsawan itu tert awa lagi. Aku menganggapnya sangat serius. begitu pula dengan putriku. Seorang pengawal mengiku ti dengan membawa tabung panah berisi serangkaian anak panah." Tapi bahkan sewaktu bicara. Penandingan ini hanya formalitas b agi Anda? Aku mengerti alasannya: menyelamatkan mukamu. Lalu tertawa dengan kasar. Orang itu kembali dengan membawa busur yang besamya lebih d ari serentangan lengan dan dilapisi pernis merah dan hitam. dan memelankan suaranya. kurasa. keraguan berkecamuk dalam dirinya. tapi aku mengira itu h anya lelucon. setelah beberapa saat diam karena terkejut. "Justru ini jauh dari formalitas." Mereka menunggu di bawah tepi atap yang melengkung sementara Okuda pergi ke temp at penyimpanan senjata. "Memang itu yang dilaporkan Lord Kono.i pasti salah satunya." Orang itu menatap Takeo dengan tajam." Saga tenawa kecil sewaktu melepaskan tangan Takeo dan berjalan m enyusuri beranda. dan beberapa ksatriamu yang lain. Put riku.

anak panah itu terbuat dari kayu pawlonia dengan ujung tumpul. menu . Kau harus menyatakan bagian yang hendak kau bidik. mengulur dan meregangkan dengan satu gerakan yang seperti tanpa tenaga. Menurutku. anak panah itu terbuat dari kayu pawlonia dengan ujung nak panahnya tidak kalah mengesankan. "Kita harus ingat untuk membicarakan tentang per¬daganga n." "Kami membawa hadiah-hadiah dari Tenjiku. seraya mengembalikan busur dan mengena¬ka n sandalnya di anak tangga." sahut Shigeko. "Kurasa busur ini hampir sama tingginya dengan Lady Maruyama." Diserahkannya kembali anak panah itu pada pengawalnya lalu mengambil busur dari tangan Okuda. diikat dengan tali berlapis pernis emas. Silla. sambil mengelus bulu-bulu itu dengan lembut lal u melirik ke arah Takeo. diikat dengan tali berlapis pernis emas. "Dan Anda telah kedatangan orang-orang barbar dari selatan? Mereka amat menarik bagi kami. kami tidak berburu anjing di wilayah Barat. "Hebat. tanpa kenyamanan. S aga mengambil satu anak panah dari dalam tabung lalu mengacungkannya untuk diperlihatkan kepad a mereka.Anak panahnya tidak kalah mengesankan. bulu bangau menghasilkan bidik an yang terbaik. Anjing-anjing sangat bersemangat mengikutinya. hebat!" Para pemanggul tandu beristirahat di bawah tenda di luar gerbang. A ku ingin memburu singa atau harimau." sahut Takeo." lanjutnya dengan karakternya yang sigap dan cepat. "Pemahkah Anda turut dalam perburuan anjing?" "Tidak. Saga mengambil satu anak panah dari dalam tabung lalu mengacungkannya untuk diperlihatkan kepad a mereka. yang sadar sepenuhnya dengan lambang bangau Otori di bagian belakang juba hnya." ujar Saga. "Itu olahraga yang hebat. Shin serta Kepulauan Selatan un tuk Lord Saga dan Yang Mulia Kaisar." ujarnya. Anda mengirim kapal ke Shin dan Tenjiku. berbulu putih. "Kuharap Lord Otori tidak tersinggung. bukan begitu?" Takeo mengangguk patuh. "Bulu burung bangau. Itu akan menjadi buruan yang lebih layak!" "Bicara tentang harimau. Mereka ber¬gegas berdiri lalu membungkuk hormat sementara majikan mereka menaiki tandu. Tentu s aja kami tidak membidik untuk membunuhnya.

" Halaman 225 dari 600 . "Aku tak menduga Anda kembali begitu cepat. "Pasti sangat kuat dan cepat. Lord Saga satu-satunya orang di kelompok itu yang belum pernah melihat makhluk m enakjubkan itu." Sesa at keadaan sunyi senyap. dan seorang pemuda yang penuh inisiatif meng¬gunakan tangga. Di depan istal ini. di kandang beratap tiang bambu di satu sisi dengan atap ilalang. "Hewan ini jauh lebih tinggi dari yang kukira. berdirilah kirin. Takeo perhatikan saat Hiroshi melihat sekilas ke arah Saga lalu wajahnya pucat. Bangunan utamanya terletak di sebelah barat daer ah berundak: sebelah timur dibangun istal. tempat kuda¬kuda Maruyama menghentak kaki serta meng ibaskan kepala." seru Hiroshi. "Lady Maruyama. Bahkan Saga. Mereka tidak kecewa. Semua orang menatap dengan pandangan gembira." serunya." sahut Shigeko seraya mendekati kirin. Saat itu Hiroshi datang dari istal menuntun Tenba yang tengah melompat dan berjingkrak di ujung tali kekangny a. tak kuasa menahan tatapan penuh takjub di wajahnya. dengan pengendalian diri yang nyaris sempuma. Kemudian pemuda itu membungkuk hormat sebisa mungkin sambil mengendalikan kuda." "Hewan ini justru sangat lembut.ju penginapan yang dijadikan tempat tinggal Otori. dan berkata dengan c anggung. "Tadi aku menunggang Tenba. Di sekeliling gerbang. telah berkumpul sekerumunan orang yang berusaha melihat kirin: anak-anak memanja t pohon. Panji-panji bergambar bangau ber kibar di atas gerbang dan di sepanjang jalan.

tapi ke aula pertemuan yan g didekorasi dengan megah. "Ku da-kuda itu dibiakkan serta dibesarkan Lady Maruyama dan pengawal seniornya." "Kami membawa banyak kuda dari Maruyama sebagai hadiah. tempat lukisan seekor naga terbang melintasi dinding dan seekor ha . "Kirin merindukannya . Belum pernah ada makhluk seperti ini di ibukota. "Kuda ini sangat tampan. mereka ke mbali ke kediaman Saga. kau adalah kesayangannya." ujar Takeo padanya. "Aku akan mengembalikan Tenba bersama kirin." Kata-kata tadi diucapkan dengan murah hati." Seolah sekonyong-konyong tersadar dengan kesunyian yang merasa sakit hati atas k ata-katanya terse-but. tuan. Bukan ke ruangan sederhana sebelumnya." ujar Saga. Lord Sugita Hir oshi. "Bersemangat. "Keluarkan kirin itu. "Kuucapkan selamat pada Anda. Tangannya menggapai dan mengelus kulit bercorak coklat muda ke¬kuningan itu." Sewaktu Hiroshi menuntun kirin keluar dengan tali sutra merah di tangan." "Tentu. serta memper sembahkan dua kuda betina dan tiga kuda jantan hitam kepada Lord Saga." Saga mengangguk ke arah Hiroshi dengan sikap asal-asalan: perhatiannya tersita h abis pada kirin.Kirin mulai melangkah dengan gembira ketika melihat tiga makhluk yang paling dis ayanginya." Kirin menjulurkan lehernya yang panjang ke arah Shigeko dan dengan lembut mengus ap pipi gadis itu dengan hidung. Lord Otori. sewa jarnya. dia meminta maaf. "Lebi h halus dari kulit perempuan!" serunya. "Bayangkan kalau kulit ini dihamparkan di lantai atau di tempat tidur. memalingkan tatapan penuh kekagu man Shigeko. Kaisar akan ter¬pesona dengan hadiah And a. "Ini Sugita." komentar Saga sewaktu Hiroshi mengikat Tenba pada tali yang diregangkan dari masing-masing sisi sudut dalam kandang. tapi Takeo menduga ada nada iri dan dengki di dalamnya. Aku ingin melihatnya lebih dekat." sahut Hoiroshi dengan membungkuk hormat lagi. "Hanya setelah hewan ini mati karena usia tua. Dan lumay an tinggi. Takeo menam¬bahkan. rin mulai melangkah dengan gembira ketika melihat tiga makhluk yang p aling disayanginya. "Kulihat. Setelah berpisah kirin justru kelihatan semakin terikat dengannya!" Saga bicara seolah Hiroshi adalah pengurus kuda. Setelah menginspeksi kuda-kuda lebih jauh lagi." ujar Hiroshi. rona merah kembali merayapi leher dan pipinya.

" ujarnya sopan. "Dan sekarang kita bicara tentang hasil¬nya. apa syarat Anda. namun silsilah Klan M aruyama lebih tua ketimbang Klan Saga dan klan wilayah Timur lainnya sama tuanya dengan keluarga kekaisaran yang merupakan keturunan Dewi Matahari. bukan pembantaian: anjing yang terluka parah atau mati dianggap tidak sah. Anda memerintah¬kan Arai Zenko tunduk pada kami. Shigeko menanyakan satu atau dua penanyaan teknis: lebar arena. Di setiap babak enam anjing akan dilepas. satu demi satu. Lebih banyak pengawalnya yang menghadiri pertemuan tersebut. Tidak biasa seorang perempuan duduk di t engah¬tengah laki-laki dalam acara seperti ini dan turut berbicara tentang kebijakan. m irip Kaisar. dan dibumbui dengan kelakar sehingga membuat para pengawalnya tersenyum. Saga menjawab de ngan cepat. Takeo m erasa kalau mereka cenderung tersinggung dengan pelanggaran adat semacam ini. Anda mendukun g kami dan pewaris kami. Permainan itu merupakan permain an keterampilan. Sebagai imbalannya. kami akan Halaman 226 dari 600 . "Jika Lady Maruyama m enang. Dua lingkaran tali dipasang di atas tanah. Anjin g dipilih berbulu putih agar jika berdarah bisa segera terlihat. Pertama-tama mereka membicarakan tentang upacara dalam acara perburuan anjing. Takeo menyadari keinginta huan mereka pada dirinya dan terutama pada Shigeko. Di sini Saga tidak duduk di lantai. apakah ada ketentuan ukuran busur atau anak panah.rimau berkeliaran mencari mangsa. h ari-hari jamuan dan ritual. melainkan di kursi ukiran. satu tali di dalam tali yang satunya lagi . peraturan penandingan. Si pemanah berderap di sekeliling lingkaran di tengah: nilai diberikan pada bagian tubuh anjing yang dibidik. Lord Otori?" "Kaisar mengakui aku dan istriku sebagai penguasa sah Tiga Negara. arak¬arakan Kaisar.

dan menyerahkan Tiga Negara pad a Arai Zenko yang telah ber¬sumpah setia padaku dan juga pewaris sah ayahnya Arai Daiichi. Dilihatnya ekspresi semua orang." sahut Saga." "Aku turut berduka atas meninggalnya istri Anda. bahwa putra An da harus dikirim padaku sebagai tawanan. tenaga manusia sera rsumpah setia pada Anda dan Kaisar. Takeo duduk tanpa bergerak. dan bahwa putri Anda harus menikah denganku. bahw a Anda boleh mencabut nyawa Anda sendiri atau mengasingkan diri ke Pulau Sado. dan ini tidak boleh diubah. kami akan menyediakan makanan. lari dari ibukota bak penjahat dan bersiap. Sungguh keterlaluan kalau ia mesti menyerahkan putri tercintanya pada laki-laki kejam yang sudah . dan kemarahan Takeo mulai melua p. dan aku minta Anda pertimbangkan tawaranku. "Bahwa Anda segera mundur dari kehidupan publik." Semua rasa sakit hati yang pernah ia rasakan ketika Kaede diculik kembali menyap u dirinya. "Dan apa syarat Lord Saga?" tanyanya. "Menang atau kalah. Mengapa aku ke sini? Lebih baik mati dalam perang ketimbang tunduk pada ial ini. semuanya aku terima dengan baik. demi kesatuan dan ke¬damaian Delapan Pulau. "Mendiang istriku orang yang baik: dia memberiku empat anak yang sehat serta mer awat anakku yang lain." Kata-kata maupun nada suaranya seperti menghina. sadar kalau tidak ada pilihan lain: setuju dengan usulan Saga at au menolaknya. Kurasa pernikahan ant ara keluarga kita bisa sangat menguntungkan kedua belah pihak. "Kurasa Lady Maruyama pasti bis a menjadi istri yang baik bagiku. kepuasan dan kesenangan yang mereka rasakan atas penghinaan terhadap dirinya. demi kesatuan dan ke¬damaian Delapan Pulau. ka mi akan menyediakan makanan.bersumpah setia pada Anda dan Kaisar. untuk berperang. kurasa anakku jumlahnya sepuluh atau dua belas." Saga melanjutkan bicaranya. serta membuka pelabuhan kami bagi k alian untuk perdagangan." sahut Takeo." "Terlepas dari hal terakhir ini yang ingin kubicarakan dengan Anda lebih jauh la gi. renung Takeo. tenaga manusia sera kuda untuk kampanye militer Anda berikutnya. Dia tidak merasa terganggu dengan satu pun syaratku karena memang dia tidak mera sa dirugikan. tersenyum dengan penuh percaya diri. jika ia dan teman¬temannya hidup berhasil s ampai di perbatasan. Kedamaian dan kesejahteraan Tiga Negara bergantung pada sistem peme rintahan kami.

laki-laki yang sudah memiliki beberapa selir. "Andaikata Lady Maruyama menang. jika aku diperbolehkan bicara. dia boleh pulang untuk membicarakan hal ini dengan ibunya. seperti halnya aku. yang takkan memperlakukan putrinya sebagai p enguasa atas haknya sendiri. Namun orang ini yang paling berkuasa di seluruh Delapan Pulau. "Kehormatan ini terlalu besar bagi kami. tidak menunjukkan reaksinya pada pem¬bicar aan tersebut. tapi aku berterima kasih pada Anda dari lubuk hatiku. kehormatan dan manfaat politis dari pernikahan ini besar sekali. istriku akan sangat gembira dengan penyatuan antara k ita. Putriku masih sangat mud a. Takeo berkata. yang hanya ingin memiliki putrinya belaka. Tawaran itu telah diucapkan di depan orang banyak: bila ia tolak secara langsung itu berarti menghina. karena baru saja melahirkan. Shigeko duduk dengan tatapan tertunduk." "Semula aku ingin membiarkan istrimu hidup. Aku ingin bicarakan ini dengan istr iku Lord Saga mungkin belum tahu kalau istriku turut menjalankan pemerintahan Tiga Negara bers amaku aku yakin." sahut Saga dengan kesal.tua ini." Halaman 227 dari 600 . "Aku juga memiliki syarat." Untuk pertama kalinya Shigeko angkat bicara. tapi bi la peran istrimu sama besarnya dengan dirimu dalam pemerintahan. maka dia juga harus diperlakukan sama seperti dirimu: kematian atau pengasingan.

Setelah mandi. tapi aku tak bisa menerimanya tanpa persetujuan dari klanku.." Takeo menghela napas. hingga sulit bag i siapa pun untuk merasa tersinggung. setelah ber¬konsultasi dengan para pengawal seniorku. nona. Dan sebagai pimpinan klan. 'Tentu saja ini tak terduga. "Kulihat kalau aku punya lawan se banding.Saga melihat sekilas ke arah anak buahnya lalu tersenyum dengan sabar." "Ya harus datang. Kurasa hanya ada sedikit peluang untuk memutuskan secepatnya. kan? Anda harus memercayai penilaiannya. "Kami men¬de ngarnya." Shigeko bicara dengan tegas. "Kami men¬d engarnya." ujar Takeo pelan. hanya mengatakan. nona. sekaligus dengan pesona yang kuat.. Takeo meminta dipanggilkan Hiroshi la lu menceritakan tentang pem-bicaraan hari itu kepadanya.* Bulan baru dari bulan keenam bergelayut di langit sebelah timur di balik pagoda enam lapis selagi mereka kembali ke kediaman. tidak keting¬galan satu pun. Aku sangatlah berterima kasih pada Lord Saga atas kemurahan hatinya se rta kehormatan yang dianugerahkan pada diriku." "Namun laki-laki seperti itu. dan riak tawa melanda anak buahnya. dan suatu kehormatan besar." serunya. Tapi akankah Saga mematuhi kesepakatan nya? Dia . juga dengan ayah dan ibuku s ebagai atasanku. juga saran aku dan istriku. Hiroshi hanya diam mendengarkan. "Shigeko akan mengikuti saran mu. Saga membungkuk hormat. dan aku percaya pada¬nya. aku bisa membuat pilihanku sendiri dalam pe rnikahan. "Begitu banyak yang dipertaruhkan pada pertandingan ini dan semua orang di pihak Saga sudah memutus kan hasilnya!" "Matsuda Shingen yang menyarankan Anda untuk kemari." "Aku minta Lord Saga untuk bersumpah mempertahankan garis pewarisan keturunan pe rempuan di Maruyama. dan menutupn ya dengan usulan pernikahan." aga melihat sekilas ke arah anak buahnya lalu tersenyum dengan sabar. Kita harus mem pertimbangkan masa depannya sama pentingnya dengan y ang terbaik bagi Tiga Negara.

Ketika pintu digeser terbuka.orang yang tidak mau kalah. dan menikmatinya!" Kemudian terdengar langkah ringan di luar. Mereka sudah seperti pa sangan suami istri. Lady Shigeko. Anda aka n didukung dan dilindungi oleh rakyat. dan gambarnya ditenun menjadi kain dan bordiran di jubah. dan begitu yakin akan menang. membuat hati Takeo pedih dengan penyesalan dan rasa iba. dan memang dia akan memenangkannya. mereka akan mendengar kisah melankolis tentang diriku dan menangis. terikat dengan ikatan yang kuat seperti itu. pemuda y ang pandai dan Halaman 228 dari 600 ." sahut Takeo "Saat ak u di pengasingan di Pulau Sado. pikirnya. Takeo berharap dapat memb erikan putrinya pada pemuda yang sangat dihormatinya ini. L ukisan-lukisan bergambar kirin sudah dijual. Mereka bahkan telah menggubah nyanyian tentang hal itu. Sewaktu Lady Shigeko memenangkan lomba ini. Shigeko masuk diikuti Gemba yang membawa kotak berpenis hitam dengan motif houou berlapis emas." "Seluruh kota terpukau dengan kegembiraan pada Anda. Saat melihat putrinya saling menatap dengan Hiroshi dalam tatapan yang pen uh kasih sayang." "Cinta rakyat adalah kisah tentang kehilangan dan tragedi. juga kirin. yang setia sejak masih kecil.

"Mereka mem¬biarkan bulu-bulunya jatuh seolah mereka menawarkannya. "Kami akan gunakan kekuatan Ajaran Houou: keseimb angan antara laki-laki dan perempuan." Ditaruhnya kotak itu di lama: dan Shigeko berlutut membukanya. Namun semua ini tidak sebanding dengan s tatus dan kekuasaan yang dimiliki Saga Hideki. memang ukurannya kecil." "Baiklah. "Kami tahu betapa sayangnya Ayah pada anjing." "Mainan ini hampir tidak bisa menembak burung gereja. ia mencoba menekan kekesalan¬nya sekarang. "Takeo. Takeo berkata dengan gelisah." ujar Gemba." Shigeko mengeluarkan busur miniatur yang indah. "Tidak. Lihat.pemberani." jelas Gemba. bukan begitu Ayah?" kata Shigeko seray a tersenyum. berujung tumpul serta dengan bulu putih dan emas. kami mengira kau ingin melihat senjata¬senjata Lady Shigeko. Kekuatan ini yang menyatukan Tiga Negara: kau dan istrimu merupakan simbol hidup . dan kemudian anak panah. "Tipuan sulap?" "Lebih dari itu." "Begitu banyak burung houou di musim semi ini hingga kita bisa mengumpulkan cuku p bulu. tabung anak panah." aku Gemba. maka kekuata nnya tak terkalahkan. anak panahnya dibului dengan bulu burung houou." Teringat cahaya api yang Gemba lemparkan untuk membakar habis kekesalan waktu it u. dan sangat mencintai putrinya. Gemba menyela renungannya." sahut Tak eo. Namun semua ini tidak sebanding dengan status dan kekuasaan yang dimiliki Saga Hideki. lebih banyak dari Saga!" "Anjing-anjing itu pasti bisa dipanah. "Tapi Shigeko tidak terlalu tinggi : dia harus memiliki sesuatu yang bisa dipegang. kan?" ujar Takeo." "Tapi ini perburuan anjing!" serunya. mberani. dan sangat mencintai putrinya." sahut Gemba. "Tapi dengan anak panah ini tidak berbahaya dan tidak menyakiti anjing-anjing itu. apalagi anjing. Ayah. "Ayah tak ingin kami menyakiti anjingnya. "Tujuannya yaitu memanah anjing sebanyak m ungkin. "Kotaknya kecil sekali pasti tidak bisa memuat busur dan anak panah. jantungnya berdebar ketakutan. "Ini lelucon. Selama keseimbangannya bisa dipertahankan.

memang." Memang benar Takeo tak lagi meng¬gunakan pedang itu dalam pertempuran sejak kehila ngan jarijarinya. Lord Saga sama sekali tidak mengenal kekuatan unsur perempuan. tapi begitu juga dengan pengasingan diriku. Ia ju ga cukup mahir meng¬gunakan tangan kiri untuk menopang tangan kanannya. tapi nyaris tak satu hari pun berlalu tanpa dirinya menyandang pedang itu. bukan begitu? Lagipula. Jato memiliki arti paling besar bagi dirinya. setidaknya dalam latihan per¬tarungan. kan?" "Ya. buktinya. Pikiran untuk melepaskannya amat mengganggunya hingga ia merasa perlu menghabiskan waktu beberapa lama untuk berm editasi." Melihat tatapan Takeo yang terkejut. Bagaimana kalau Kaisar ingin menyimpannya?" "Jato senantiasa menemukan pemiliknya yang berhak. " Jangan lupa menawarkan Jato kepada Kaisar besok." Gemba tersenyum yakin. maka dengan begitu dia akan dikalahkan. Halaman 229 dari 600 . seolah me¬mahami keberatan Takeo yang tak terucap. pedang itu pemberian S higeru dan merupakan simbol nyata dari pemerintahan¬nya yang sah. setelah berganti dengan pakaian tidur. kau tidak menggunakannya lagi. dia lalu meneruskan. "Hal itu sudah diminta dalam pesan pertama Kono. "Kesejah teraan dan kebahagiaan yang kau banggakan itu takkan terwujud tanpa kekuatan itu. putrimu adalah hasilnya." kata Gemba sewaktu mereka saling mengucapkan selamat malam. " "Ngomong-ngomong. Sudah waktun ya diserahkan.kekuatan itu.

"Rakyat menganggap kunjungan Anda sebagai pertanda datangnya kedamaian. Nyanyian da n genderang bergema dari tepi sungai. Takeo menjadi terasing dan tanpa ekspresi. tempat pedang itu berasal. "Aku men¬ceritakan pada satu atau dua orang lentang bulu burung houou. Lord Otori telah muncul di ibukota. mendengarkan suara-suara malam dan melambatkan napas dan pikirannya. As hige dan Keri." "Ternyata sangat efektif!" sahut Takeo. Kuda-kudanya menggetarkan tanah kami Selamat datang Lord Otori! "Semalam aku keluar untuk melihat suasana kota." ujar Hiroshi. dari Shigeru dan Matsuda juga dari Tribe. Takeo dibawa dengan tandu berhias yang indah. lalu ia duduk sendirian dalam ruangan yan g gelap. *** Musik dan genderang terus terdengar hingga larut malam." Perasaan tenang yang telah dicapainya semalam kian dalam. menjulurkan tangan untuk mengambil jubah sutra tebalnya. memalingkan lehernya untuk melihat kerumunan yang tengah mengagumi di . Perlahan-lahan disadarinya kearifan dari s aran Gemba: ia isuruhnya Minoru dan pelayannya pergi. Katak berkuak di kol am taman. Para pendampingnya pun tampak dirasuki kepercayaan diri yang sama. Perlahan-lahan disadarinya kearifan dari s aran Gemba: ia akan mengembalikan Jato kepada Kaisar. dan jangkrik berderik di sela-sela semak. keduanya memegangi tali sutra merah tua y ang terikat di kalung berwarna emas berbentuk daun berlapiskan kulit. Kirin berjalan dengan ang gun tanpa terganggu.Disuruhnya Minoru dan pelayannya pergi. Katak berkuak di kol am taman. Diingatnya semua pelat ihannya. Shigeko dan Hiroshi menunggang kuda bersurai abu¬abu pucat. tempat penduduk kota menari-nari. dan keesokan harinya jal anan dipenuhi orang dewasa dan anak-anak yang menari-nari. masing-masing di kanan dan kiri kirin. Kirin adalah hadiah bagi Kaisar. Mendengarkan suara mereka saat ia b ersiap menemui Kaisar. Nyanyian da n genderang bergema dari tepi sungai. lalu ia duduk sendirian dalam ruangan ya ng gelap. tempat penduduk kota menari-nari. Takeo bukan hanya mendengar nyanyian tentang kirin tapi juga ten tang burung houou: Burung houou bersarang di Tiga Negara. dan jangkrik berderik di sela-sela semak. semua kegelisahan telah sirna dari dirinya. mendengarkan suara-suara malam dan melambatkan napas dan pikirannya.

dan ratusan bendera dan umbul -umbul berkibar ditiup angin. Teriakan dan seruan tidak mem¬pengaruhi ketenangan dirinya maupun pen¬dampingnya. terdapat sat u arena yang luas. lingkaran-lingkaran yang memiliki titik pusat telah diiandai dengan warna-warna kontras.rinya. Para penjaga dengan ramah menghadang kerumunan tapi mem¬biarkan gerbang seb elah luar tetap terbuka. Saga Hidek i dan Lord Kono telah menanti dengan pelayan di atas anak tangga. Kaisar telah melakukan perjalanan singkat dari Istana Kekaisaran menuju Biara Ag ung dengan kereta megah berpernis yang ditarik sapi jantan hitam. Di gerbang berikut¬nya tandu diturunkan dan Takeo melangkah keluar. memanfaatkan tempat menonton yang sangat bagus ini untuk melihat kirin. ksatria dan bangsawan. diikuti rombongan Takeo. dan di bawahnya gerai kayu dan tenda serta anjungan sutra didirikan bagi para penonton. lubah Saga berhiaskan kura-kura dan burung jenjang. baru dipugar dan dicat ulang. P ara perempuan herambut hitam panjang. Hiroshi mengambil tali kekang dan Takeo berjalan dengan putrinya serta kirin menuju bangunan utama biara. Halaman 230 dari 600 . membawa bantal sutra dan payung pelindung sinar matahari. makanan dalam kotak-kotak berp ernis. sedangkan laki-laki mengenakan topi resmi kecil. sudah duduk di sini meski perburuan anjing baru dimulai besok. Para pemanggul tandu berderap melintasi lingkaran ini. tempat perlombaan akan diadakan. Banyak orang. Shigeko dan Hiroshi turun dari kuda. Pohon pinus berderet di bagian sampingnya. Dinding putih dan balok merah ber¬kilauan diterpa sinar matahari siang. Di depan bagian dalam gerbang. Semua pelayan itu mengenakan jubah r esmi yang sangat mewah. Ada banyak lagi kereta yang memb awa bangsawan laki-laki dan perempuan. Bangunan biara berwarna merah cerah.

" Takeo mendengar semua ini diucapkan ulang oleh sang Menteri. dan sesaat kesunyian melanda seksama dari sela-sela celah tirai bambu. keringat Saga tertutup oleh aroma du pa wangi. Kami tahu ikatan lama yang ada di antara keluarga kita. Ini sama seperti yang ia harapkan. orang membungkuk hormat lagi." Kata-kata ini diulang ggi dengan suara bernada tinggi dengan Ketika dia selesai bicara. dan ia bisa meng¬gera kkan sedikit posisinya untuk mengamati reaksi Saga. duduklah sang Kaisar. Ia seperti mendengar tarikan napas pelan dari laki-laki di sebelahnya. "Selamat datang. Di bagian atas ruangan itu terdapat mimbar berundak. anggota pertama Klan Otori y ang dihormati sejak Takeyoshi yang legendaris. Kemudian dari balik tirai sang Kaisar bicara. bagian dari dewa-dewa. Semuanya saling be rtukar hormat dan sopan santun. dan aroma wewangian pelayan Kaisar. d i belakang tirai halus dari bambu yang melindunginya dari mata fana dunia. menuju aula remang-r emang yang disinari ratusan lentera. Saga mengumumkan dengan suara yang jelas namun sopan. serta meyakinkan Paduka Yang Mulia akan kesetiaannya. diterima Kaisar. edangkan jubah Kono berhiaskan bunga peoni dan burung merak. lalu Lord Saga membimbing Takeo ke dalam. duduklah sang Kaisar. Kata kata Kaisar singkat namun lebih dari yang diharapkan: pengakuan atas hubungan Klan Otori. d i belakang tirai halus dari bambu yang melindunginya dari mata fana dunia. Lord Otori. . Takeo menyembah. menuju aula remang-r emang yang disinari ratusan lentera.Sedangkan jubah Kono berhiaskan bunga peoni dan burung merak. Di bagian atas ruangan itu terdapat mimbar berundak. "Lord Otori datang dari Ti ga Negara untuk mempersembahkan hadiah yang indah bagi Paduka Yang Mulia. Menteri Kanan dan Menteri Kiri duduk di anak tangga di bawah penguasa mereka. dengan suara yang tak lebih dari s ekadar bisikan. bagian dari dewa-dewa. Takeo merasa diamati Kaisar dengan salah satu Menteri yang duduk di anak tangga mimbar tertin banyak tambahan bahasa yang halus serta sopan santun kuno. Semuanya saling ber tukar hormat dan sopan santun. lalu Lord Saga membimbing Takeo ke dalam. Sungguh kehormatan yang amat besar dan tak terduga. Kami sangat senang menerima kedatanganmu. mencium aroma asap minyak. semua .

Jato. Jato akan bicara." Takeo maju dengan tutut. namun Jato hanya tergel etak di lantai. lalu bicara lagi kepada Takeo. ujarnya pelan dalam hati. Kaisar bicara lagi. "Bolehkah hamba bicara kepada Paduka Yang Mulia ?" Permintaan itu diulang. Para menteri yang berada di undakan paling rendah mengambil Jato dan mengoperkan nya dari satu petugas ke petugas lainnya hingga sampai ke tangan Menteri Kiri yang kemudian me letakkannya di depan tirai. Pedang ini diserahkan kepada hamba oleh ayah hamba . dan ijin Kaisar diucapkan ulang. Hamba diminta mengembali¬kannya kepada Yang Mulia. Jato akan kembali padaku. lalu mengambil pedang itu dari sabuknya. Takeo berkata.Takeo memberanikan diri berkata." Menteri Sebelah Kanan berunding dengan Kaisar. menawarkannya kepada Paduka sebagai tanda ke setiaan dan pengabdian hamba. tapi suara manusia biasa yang penuh keingintahuan. dan Takeo mendengar kalau itu bukan suara dewa atau bahkan b ukan suara penguasa besar. "Berabad-abad lampau nenek moyang Paduka Yang Mulia mem¬berikan ped ang ini. kepada Otori Takeyoshi. Shigeru. "Kami menerima pedangmu dan peng¬abdianmu. dan kini h amba dengan rendah hati melaksanakannya. Halaman 231 dari 600 . sebelum kematiannya. Rasa menyesal menghunjam selagi ia menyodorkan pedang itu dengan dua tangan. pikir Takeo. Selamat tinggal. diam dan tak bergerak.

berdiri seorang laki-laki berperawakan agak pendek berusia kira-kira dua puluh d elapan tahun. matanya berkilat denga n harapan. "Paduka Yang Mulia bisa menyentuhnya: hewan ini amatlah lembut. dia berkata. berlutut." Terjadi kegemparan mendadak karen a tak seorang pun yakin akan cara tepat apa yang harus dilakukan. dan Takeo pun mengikutinya. menunjukkan kecerdasan. namun kami menawarkannya dengan ha rapan Paduka Yang Mulia akan melihat dan mengakui bawahan Paduka di Tiga Negara. Kemudian Kaisar melangkah ke luar dari balik lirai serta menjulurkan tangan kepada para pelayannya untuk menuntunnya menuruni anak tangga. tapi penilaian Takeo sebelumnya ternyata benar. dan dengan kepala ter¬tunduk memegangi tali. "Paduka Yang Mulia: hewa n ini tak sebanding dengan keagungan Paduka Yang Mulia. "Biarkan Lord Otori ikut denganku. menengok sekilas pada para pegawai tinggi kekaisaran."Aku ingin melihat kirin dengan mataku sendiri. mulutnya kecil dan tegas." Shigeko menyahut dengan suara yang sama pelannya. Gadis itu berlutut dengan satu kaki keti ka Kaisar mendekat. Kaisar mengenakar jubah emas dengan bordiran naga merah tua melintang di punggun g dan lengannya. Shigeko menunggu di luar bersama kirin. lalu tertawa gembira. karena Shigeko bicara dengan menggunakan bahasa seorang penguasa laki¬laki. Shigeko berkata. " dan manusia setengah dewa itu menjulurkan tangan lalu mengelus bulu halus hewan yang menakju bkan itu." Ekspersi Kaisar merupakan salah satu kekaguman yang murni. pipinya tembam. Kaisar bergumam." Terjadi kegemparan mendadak kar ena tak seorang pun yakin akan cara tepat apa yang harus dilakukan. berjalan dengan lutut. ''Kirin hanya muncul ketika sang penguasa diberkati Surga. mendongak melihat leher ki rin yang panjang dan kepalanya. ku ingin melihat kirin dengan mataku sendiri." ujarnya sewaktu berjalan melewati Takeo. hiasan itu menambah tinggi badannya. . "Maka Paduka Yang Mulia memang diberkati." "Ini laki-laki atau perempuan?" tanya Kaisar pada Saga yang datang menghampiri d engan cara sama yang dilakukan Takeo. mungkin sama kagumnya karena diajak bicara seorang perempuan dan saat melihat kirin. Kemudian Kaisar melangkah ke luar dari balik lirai serta menjulurkan tangan kepada para pelayannya untuk menuntunnya menuruni anak tangga. Diambilnya tali itu deng an hati-hati. Di balik megahnya pakaian yang dikenakannya.

bukan aku! Halaman 232 dari 600 . "Akan kuanugerahkan kepada Lady Maruyama!" Takeo ingat suara dari masa lalu: Pedang itu akan berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya. Pasukan kami sudah siap." Kaisar berdiri seolah berpikir keras selama beberapa saat." "Dari tanah tempat perempuan berkuasa? Lord Otori telah membawa banyak benda yan g eksotis! Semua yang kami dengar tentang Tiga Negara memang benar adanya. dan selagi duduk legak. godaan akan kekuatan mutlak be rkilat di hadapannya. pikirnya. bisa diungkapkan dengan kata yang lebih sederhana. putri Kenji. Itu bisa saja aku dan Kaede. tapi mustahil aku meninggalkan ibukota. Kami akan mendesaknya kembali ke utara dan ke arah laut. dilihatnya Kaisar tengah mengamatinya dengan penuh selidik. Kenji. dan kini diserahkan ke tangan Ma ruyama Shigeko oleh Kaisar. Aku bisa kirim kur ir kepada Kahei lebih awal. ini putri Lord Otori. Siapa pun yang disukai Kaisar atau. dan kemudian dibawa Yuki. Takeo membungkuk hingga menyentuh tanah lagi. untuk Takeo. "Apa yang bisa kuberikan sebagai imbalannya?" tanyanya. dan kemud ian berbalik dan menengok ke belakang seakan tersengat oleh ilham yang datang tiba-tiba. Lady Maruyama. Pada saat itu. Sagalah yan g akan diasingkan. Alangkah inginny a aku berkunjung ke sana. Kami bisa bersaing dengan Saga: jika kami mengalahkannya besok dalam pertandingan. mengendalikan Kaisar maka bisa mengen¬dalikan Delapan Pulau. "Aku sangsi kalau memiliki apa pun yang sebanding. kami bisa menggantikan kedudukannya. Pedang yang Kenji serahkan kepada Shigeru setelah kekalahan Otori di Yaeg ahara." Dielusnya lagi kiri n." serunya."Paduka Yang Mulia. "Bawakan padaku pedang Otori.

pertunjukan musik dan drama. dan kegembiraan serta kekaguman akan hadiah yang tiada bandingannya. dan bahkan peragaan permainan kegemaran para bangsawan muda. "Mereka akan menjadi lawan yang sebanding. Takeo kembali ke kediaman dengan rasa gembira dan bersemangat atas hasil hari in i. Dengan mengacuhkan par . ia hanya menginginkan Tiga Negara. Secara naluri disentuhnya pedang. dan mem¬buktikan bahwa ram alan itu salah? saat tandu belum menyentuh tanah ia sudah turun. "Perilakunya yang acuh tak acuh menyem¬bunyikan keahlian fisiknya. menambah kekaguman pengunjung kepada sang jenderal. Sa at ditandu melewati gerbang. Kemudian ada juga balapan kuda sebelum matahari terbenam. dan ingin a gar negaranya tetap damai. dari sudut matanya. dia melihat. sadar kalau ia tak bersenjata. garis bentuk tubuh ber¬bayang dari seseo rang yang menggunakan kemampuan menghilang. Namun Gemba ternyata benar tentang pedang itu. lalu menyingkirkan nya jauh-jauh. ia hanya menginginkan Tiga Negara. Ia t ak percaya kalau putrinya bisa menang. Tim Lord Saga yang menunggang kuda perang Maruyama menang den gan mudah. yaitu bola sepak. *** Sisa hari itu dihabiskan dengan jamuan makan. lalu menyingkirkann ya jauh-jauh. kompe tisi puisi. Ia terkejut karena tidak menduga ada anggota T ribe beroperasi di ibukota: tidak ada dalam catatannya. meskipun masih cemas tentang esok hari. Lord Kono membuktikan diri sangat mahir dalam permainan ini. Ia telah menyaksikan keahlian berkuda lawan. Ia tidak menginginkan Delapan Pulau. Ia tidak menginginkan Delapan Pulau. dan ingin a gar negaranya tetap damai. Dinaikkannya tirai tandu yang terbuat dari sutra untuk menikmati udara malam. Seharusnya ia juga percaya tentang hasil pertandingan itu." komentar Takeo pelan kepada Gemba.Takeo menghibur diri dengan khayalannya selama beberapa saat. akeo menghibur diri dengan khayalannya selama beberapa saat. percikan keingin¬tahuannya muncul lagi saat menghadapi ke kekalan hidupnya apakah orang ini yang akan berhasil membunuhnya." sahut Gemba setuju dengan tenang. maupun sepengetahuan keluarga Muto yang pernah menyatakan kalau mereka telah menembus sejauh ini sampai ke wilayah Timur .

" Takeo memanggil pelayan untuk mem¬bantunya mengganti jubah resminya. tapi ia seperti bisa membedakan satu orang yang dikenalnya. jantungnya berdegup kencang karena takut pada apa yang akan disampaikan gadis itu. penasaran apakah tadi ia salah lihat. ia berlari ke gerbang dan mencari-cari dengan mata orang itu di antar a kemmunan. Melihat kesedihan di garis bibir dan dalam tatapan matanya. tapi butuh waktu beberapa saat u ntuk mengingat siapa gadis itu: Mai. "Tunggu di sini. "Mari cepat masuk." bisiknya. atau Lord Miyoshi tak boleh masuk. yang ditempatkan di kediaman orang asing untuk mempelajari bahasa serta memata-matai mereka. Setelah menyu ruh mereka menyajikan teh. "Apa yang kau lakukan di sini? Apa kau membawa kabar dari Taku? Apakah Jun mengirimmu?" "Aku harus bicara dengan Lord Otori saja. Namanya dilantunkan banyak suara. Takeo segera mengenalinya sebagai anggota Muto. "Apa yang telah terjadi?" Halaman 233 dari 600 . lalu dilihatnya gadis itu. Aku akan langsung memanggilmu. memanggil gadis itu lalu menyuruh mereka pergi. adik Sada.a pelayan¬nya. diperinta h¬nya penjaga untuk menutup serta memalang gerbang. kemudian berbalik lagi pada gadis itu. Begitu sudah di dalam. Gadis itu kelihatan lelah dan kotor karena perjalanan jauh. bahkan pu trinya." perintahnya pada gadis itu.

dan kakakku sudah tiada. Pes an¬pesan salah sasaran. Mungkin putri Anda berhasil lari." sahut Mai. "Mungkin dia melarikan diri. atau ditangkap Akio. tuanku. atau tempat lainnya yang diperkirakan sebagai tujuannya melarikan diri. Orang-orang mengatakan kalau mereka ingin kembali ke masa silam. dan Taku serta Sada setia kepada Anda. tuan. "Bandit macam apa yang ada di Negara Tengah?" "Itulah pernyataan resmi yang dikeluarkan Zenko. "Lord Otori. "Ibu Taku pasti sudah diberitahu?" "Sekali lagi. "Mereka diduga diserang bandit di tempat berjarak satu hari berkuda dari Hofu." "Sebelum aku datang. Kikuta Akio sangat d ekat dengan Zenko dan banyak orang Muto menyetujui persahabatan mereka orang-orang mengata¬kan m ereka berdua seperti Kenji dan Kotaro sebelum. Sada tewas bersamanya. Desas-desus yang beredar bahwa Akio dan putranya yang bunuh Taku untuk bal as dendam atas kematian Kotaro. tidak ada yang tahu di mana putri Anda. atau dihaca oleh orang yang salah. bahkan Shizuka. dan tidak diketahui mereka. tuan. "Tapi Zenko sedang melindungi Kikuta Akio. saat Tribe memiliki kekuasaan yang sesungguh¬nya." Lord Taku. dan kakakku sudah tiada ." Dilihatnya ada hal lain lagi." "Bandit?" tanyanya tak percaya.. Aku meninggalkan Hofu . "Aku tidak berhak mengatakannya.. Takeo memberi i syarat agar gadis itu melanjutkan. Lord Otori. Takeo menatap gadis itu." Kabar itu menghantam dirinya bak pukulan ke dadanya.. merasakan gelombang kesedihan menggelegak hingga ke urat nadi¬nya." "Dan putriku?" bisik Takeo. Sesuatu telah terjadi dalam jaringan Muto. atau Teray ama. "Tapi dia belum ke Kagemura. Keluarga Muto bersumpah setia kepad a Anda."Lord Taku." "Apakah istriku tahu?" "Aku tidak tahu. tuanku. alasan lain mengapa gadis mi menempuh perjalanan s ejauh ini. Itu sudah cukup bagiku. ta k bisa bicara. air mata menggenang di pelupuk matanya dan hampir me netes." "Ditangkap Akio?" ucapnya mengulang perkataan itu. mungkin tanpa ijin dari Tribe." sahut Mai.. aku tak tahu." ujar Takeo murung..

" Teringat olehnya kalau gadis itu juga tengah berse dih. berharap bisa menyusul Lady Shigeko dan Lord Hiroshi." "Aku sangat berterima kasih. hampir membuat ia terpuruk. Aku terus mengikuti hingga aku sadar sudah di ib ukota. "Mereka diserang dengan menggunakan senjata api. dia pasti mati kehabisan darah. "Dan aku sangat berduka atas kematian kakakmu dalam melayani keluargaku. teringat saat ia mencengkeram leher Taku yang menyelinap ma suk ke kamarnya di Shuho: saat itu Taku baru berumur sembilan atau sepuluh tahun. Kenan gan itu diikuti dengan kenangan lainnya. Taku tertembak di leher. "T ak ada yang bisa membunuh mereka dengan menggunakan senjata biasa. tapi dia bukan mati karena peluru: lehernya digorok. m ereka sudah melakukan perdagangan dengan orang-orang asing. ia Halaman 234 dari 600 ." tuturnya dengan nada sedih. Senjata itu pasti pemberian Zenko. dan peluru itu menghantam Sada setelah menembus kuda." Mata gadis berkilat diterpa sinar lentera." "Akio punya senjata api? Darimana dia dapat?" "Dia sudah di Kumamoto selama musim dingin. namun tidak menangis." Takeo duduk terdiam. Seraya menutupi wajah denga n tangan.tanpa mengatakan pada siapa pun. Aku berjalan selama enam minggu. tapi mereka sudah beberapa hari di depanku.

" "Tapi Anda harus segera kembali ke Tiga Negara! Zenko." "Aku akan kembali secepatnya. tentu saja. namun hal ini tidak bisa dari rencana." sahutnya. Ia lega karena ini berarti putrinya takkan memerhatikan sik ap diam dan kurang bersemangat dirinya.. Shigeko berkata. seraya berusaha mengendalikan diri. kini gembira dengan kejadian ha ri ini. Tidak seorang pun boleh tahu. Sh igeko. lalu gadis itu per gi.. aku akan hujan. Mereka tidak boleh diganggu. Meskipun beresiko terjebak dalam ditunda. Kaisar maupun membiarkan Saga ini aku dalam posisi yang menguntungkan lombanya selesai dan kami tahu hasilnya. Jangan ada hal yang mengganggu selama beberapa hari ke depan. Begitu pamit. waktu untuk menjadi lemah sudah berakhir. Sekarang pedang itu menjad i milikmu. menyiapkan pelana dan tali kekang untuk lomba besok. "Kau tak tahu situasi kami di sini. juga lega karena gelapnya ruangan. serta membahas strategi. Sementara tapi itu bisa berubah kapan saja. "Kaisar yang berikan padamu." "Tidak boleh. tapi untuk sementara waktu ini a ku memintamu untuk menjauh. Tapi aku tak ingin menyin mencium pengkhianatan Zenko.berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis. Kau tidak boleh mengatakan ini pada siapa-si apa. "Aku kembalikan Jato pada Ayah. Sedari tadi mereka memeriks a keadaan kuda. Akan ada pertandingan yang meliba tkan putriku dan Lord Hiroshi. yang biasanya pandai mengendalikan diri serta tenang. berjanji akan kembali dalam dua hari. Mai baru saja pergi ketika Shigeko dan Gemba datang. "Lord Otori. Shigeko bisa mengenalimu. Nanti aku akan ceritakan tent ang kabar ini padanya dan juga Hiroshi." Takeo mengatur agar Mai diberi uang dan dicarikan penginapan. "Haruskah aku memanggil seseorang agar menemui Anda?" "Tidak!" sahutnya. Kesedihannya disulut dengan kemarahan nya atas Zenko yang telah ia biarkan hidup hanya untuk melihat orang itu bersekongkol mem bunuh adiknya. Hanya dua hari. Mereka tidak boleh tahu hal ini h ingga pertandingannya selesai. Kesedihannya disulut dengan kemarah annya atas Zenko yang telah ia biarkan hidup hanya untuk melihat orang itu bersekongkol mem rusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis." ujar Mai ragu-ragu." . lebih awal ggung tuan rumah Lord Saga. Kau akan ikut dengan kami. dan tak sabar menanti penandingan.

Tak sulit untuk membujuk Shigeko beristirahat lebih awal. "Tapi pedang itu milikmu. Takeo sangat merindukan Kaede saat ini." Takeo menyadari bahkan saat ia bicara bahwa pengakuan Kaisar membuat persoalan p ernikahan Shigeko justru makin penting. "Sampai putra Ayah." "Sampai apa?" Takeo memotong ucapan putrinya. sena kekuatan¬nya yang lembut... Shigeko akan menyerahkan Tiga Negara kepada orang yang menikahinya. "Kendati demikian. cukup dewasa untuk memilikinya. bukan hanya menginginkan tubuhnya. meninggalkan Takeo sendirian meng¬hadapi malam yang panjang. dan Gemba juga pergi t idur. tapi kearifan." protes putrinya. ia takkan meny erah begitu saja." sahut Takeo. tetap saja itu milikmu . dan pedang juga memastikan dirimu bukan hanya sebagai pewaris Klan Maruyama."Pedang ini terlalu panjang. Takeo memaksakan diri untuk tersenyum." "Akan kuberikan pada biara sampai. tidak sebelum ia konsultasi dengan Kaede. Apa pun permintaan Saga. Rasanya ingin sekali berada di rumah.. suami yang direstui Kaisar. aku tidak berarti tanpa dia. tapi ju ga Klan Otori. pi kirnya." "Bukan penama kalinya pedang itu berada di biara. atau putraku.* Halaman 235 dari 600 . kejernihan pikiran.

Kau harus mengatur kepulanga n kita agak lebih awal dari rencana. "Tentunya kunjungan Anda sangat berhasil." "Aku kurang tidur." Minoru menaikkan alis sedikit. Tanpa memihak Takeo menceritakan semua vang diceritakan Mai semalam. si jurutulis berkata dengan r agu. Simpan baik-baik: aku akan memintamu m embacakannya. "Lord Saga mengirim surat untuk Anda. Dia datang bersama para pelayan perempuan yang membawa teh." Minoru membungkuk hormat." "Tidak apa-apa. "Beliau mengucapkan selamat padaku atas keramahan Kaisar padaku. tebal dan ditekan. "Beliau pasti menulisnya tadi malam. bergaya kotak. Aku tidak bisa bersikap sebaliknya. selama masih bisa dibaca." ujarnya. dan Minoru menulisnya. terkejut dengan suara dingin Takeo." Minoru menyiapkan batu tinta dan meng¬ambil kuas tanpa bicara. Beliau sangat menghormati Anda. "Aku minta maaf atas kurang terampilnya diriku ini. saat matahari baru terbit. seperti biasa. Tanganku ge metar dan tulisanku sangat buruk. "Lord Otori kelihatannya tidak sehat. Aku sehat¬sehat saja." Ketika Takeo mengambil catatan itu tanpa menjawab. malam ini atau besok. itu saja." Takeo tiba-tiba memutuskan dan berkata. Takeo sadar akan simpati tanpa kata-kata dari jurutuli snya. kan?" "Kita akan tahu sore ini." ujarnya ketika Takeo selesai mendikte. mengeluarkan gulungan kertas . "Hari ini sepertinya akan menjadi hari yang cerah.Minoru datang." Tulisannya menggambar¬kan orangnya. Takeo memandang Minoru dengan tatapan menuduh. "Aku telah menyiapk an catatan atas semua yang terjadi kemarin. "Aku akan mendiktekan sesuatu padamu." ujar Minoru. aku harus terus memesona serta mengesankan. dan juga mencatat semua yang akan terjadi hari ini. guratan tinta kelihatan hitam dan legas. kenyataan bahwa ia telah berbagi kabar kematian Taku mengurangi penderitaannya. "Aku turut berduka cita. Jangan berkomentar dan jangan beritahu siapa-siapa." "Biar kulihat. dan atas ke¬berha .

Halaman 236 dari 600 . agar beliau mendapat alasan untuk tidak menepatinya." "Minoru." sahut Takeo." gumam Minoru. Kaisar masih tetap mendukung Anda." "Beliau khawatir atas popularitas Anda. dan aku berharap dia pun begitu. Dia telah mengumumkan kesepakatannya." "Aku akan mematuhi kesepakatan." ujar Minoru. Dia takkan mengingkari kesepakatan itu tanpa m embuat dirinya tidak terhormat.silan hadiahku. "Beliau mengharapkan Anda menemukan cara untuk berkelit dari kesepakatan tersebu t. serta mengucapkan semoga berhasil hari ini. dan begitu pula aku!" "Persis seperti itulah cara bangsawan men¬jadi besar. sikapmu menjadi begitu sinis! Lord Saga adalah bangsawan besar berasal dari klan kuno. "Dan takut bila Anda kalah dalam pertandingan itu.

laki-laki berpakaian c erah. Takeo dibimbing ke tempat di sebelah ambut para bangsawan. Namun sesekali pemandangan tampak kabur dan langit semakin kelam. Pelana kuda dilapisi ker ang mutiara. Hiroshi dan Gemba. Ia mengalihkan perhatian pada mereka yang masih hidup. dan mata dan pikirannya dipenuhi dengan bayangan-bayangan Taku ya ng tertembak di leher lalu mati kehabisan darah. ksatria dan istri mereka. Takeo bisa mendengar gongongan anjing yang bersemangat dari sisi timur arema. dan masyarakat menarinari seperti kesurupan. laki-laki berpakaian c erah. Arena di Biara A gung dipenuhi penonton: perempuan mengenakan kimono bertudung. semua memegang payung dan kipas. sedangkan milik Shigeko berwarna putih. Cuaca makin panas dengan kelembapan yang menandakan hujan plum. Cuaca makin panas dengan kelembapan yang menandakan hujan plum. dan beberapa ar kirin. dan Takeo be rusaha ikut ambil bagian di datamnya dengan sepenuh hati. te mpat sekitar lima puluh ekor anjing dalam sebuah kerangkeng berhiaskan daun dan rumbai-rumbai puti h. Kuda-kuda melangkah tenang mengelilingi lingkaran. kanan bilik Kaisar. Kedua pendukungnya.Jalanan jauh lebih ramai lagi dibanding kemarin. dan masyarakat menari-nari sepe rti kesurupan. yang ter sembunyi seperti sebelumnya. Pengaruh kirin sudah tampak: seorang ng yang diukir mengikuti bentuk kirin. meriah dan ramai. Kedua kuda abu-abu pucat dengan surai dan ekor hitam terlihat sangat kont ras dengan kuda Gemba yang berbulu hitam. di balik tirai bambu. Shige ko. jambul dan ekornya mengkilat serta sehalus rambut seorang putri. Okuda dan Kono. Di tempat itu Takeo dis sebagian sudah bertemu dengannya sehari seb laki-laki memperlihatkan padanya pena linta perempuan mengenakan tudung berhiaskan gamb Suasana hari itu terasa bagai piknik di pedesaan. pada perwakilannya. Seuta s tali jerami kuning membagi lingkaran sebelah luar dari lingkaran yang sebelah dalam. elumnya. Di dalam lingkaran terluar pasir merah para pe¬nu nggang kuda menunggu: kuda tim Saga memiliki sabuk kulit yang dikaitkan di bawah ekor s erta tali dada berwarna merah. Arena di Biara A gung dipenuhi penonton: perempuan mengenakan kimono bertudung. anakanak. anakalanan jauh lebih ramai lagi dibanding kemarin. Sag a me¬nunggang kuda besar dengan bulu warna coklat kemerahan. dengan pasir b erwarna putih. Busur milik mereka jauh lebih besar dibandingkan dengan busur Shigek o dan ketiganya . surai dikepang. menunggang kuda belang dan juga merah bata. Di bagian belakang lapangan terdapat bilik dari kain sutra didirikan bagi Kaisar.

Halaman 237 dari 600 . dengan ramah. "Anda hanya boleh menembak bagian ter¬tentu di tubuh anjing: punggung. Tembakan yang ketiga terkena punggung anjing yang tengah berlari. "Okuda akan mulai lebih dulu untuk menunjukkan cara melakukannya. dengan ekor di sela kaki belakang¬nya. kaki. Makin banyak darah menetes. leher . Takeo belum pernah menyaksikan per¬buruan anjing. pasangan pertama Okuda dan Hiroshi. karena penunggang kedua memiliki peluang lebih menguntungkan. Anak panah kedua mengena i dada. Anjing pertama dibawa masuk ke lingkaran: Okuda juga memasuki lingkaran lalu men derapkan kudanya. "Tembakan yang bagus!" seru laki-laki di sebelah Takeo. mengonggong pada kuda yang tengah berderap. dari yang terendah sampai y ang tertinggi.memiliki anak panah yang dibului dengan bulu bangau warna putih dan abu-abu. dan peraturan permainan itu dije laskan oleh kawan pendampingnya. makin buruk tembakanny a." Mereka berkuda dalam barisan menurut urutan pangkat. Anda tidak boleh menembak kepala." tutur Saga ke pada Hiroshi. membua tnya menyalak kaget lalu mundur. membiarkan tali kekang menggantung di leher kuda selagi dia menaikkan b usur panah dan menaruh anak panahnya. Anak panah pertama Okuda berdesing melewati telinga anjing itu. dan nilai Anda akan dikurangi jika anjingnya berdarah atau mati. bagian lunak di perut atau kematuan. Tali anjing dilepaskan dan hewan itu segera berjingkrakan. Anak panah itu dilepaskan terlalu kuat: darah mulai menodai bulu putih anjing itu. Ini semua tentang pengendalian sempurna yang sangat sulit dicapai sewaktu kuda berderap.

Takeo bisa meli hat kalau anjing itu ketakutan dan menggeram." adalah penilaian juri. Anjing itu ditangkap. "Lebih sulit dari kelihatannya. tapi anak panahnya tetap tidak kena sasaran. berusaha m enyuruh agar anjing itu tenang. Hew an itu berhenti meronta dan menyalak. Takeo sudah mengenai kuda itu selama ia mengenai pemuda itu: hampir de lapan belas tahun. meski membuat si anjing ber¬darah. Kali ini Hiroshi le bih siap. Kurang baik. Atau mungkin anjing saling berkomunikasi lalu memper¬ingatkan." adalah penilaian juri. tapi tidak berdarah. tapi malah duduk dan menjilati bulunya sebelum bangkit lalu berjalan pelan mengitari lingkaran. Anak panah ketiga Hiros hi kena bagian samping anjing itu. membuatnya ter¬jatuh dan menyalak. "Butuh lat ihan selama bertahuntahun. Anak panah Hiroshi luput mengenai anjing itu sejauh s erentangan kaki. hasil pertandingan sudah ditentukan. terdengar olehnya senandung yang amat pelan. anjing itu secepatnya berlari keluar lingkaran. Mampukah kuda abu-abu itu bertahan dalam per tandingan semacam ini? Akankah kuda itu mengecewakan penunggangnya? Takeo tahu H iroshi mahir memanah."Kurang baik. Penonton terdi am: di balik suara derap kuda. Ia tidak mau Hiroshi menyakiti anjing itu. Tembakan kedua Okuda. Takeo bersiap menerima satu kekalahan lagi maka tak peduli sebaik apa pun Shigeko melakukannya. "Itu tembakan yang mudah! Okuda akan memenangkan babak ini. dibawa masuk lagi dan dilepas sekali lagi. suara yang dikeluarkan Gemba saat merasa gembira. tapi ia ingin pemuda itu setidaknya mendapat satu nilai untuk bidikannya. Anjing itu tidak kabur saat dilepas. mendapat nilai lebih tinggi ketimbang dua tembakan Hiroshi yang meleset." Juri memutuskan demikian. Anjing-anjing itu pasti mencium amis darah sehingga ket akutan. Takeo merasakan ketegangan mulai ber¬tambah saat Hiroshi memasuki lingkaran dan Ke ri mulai berderap. Mungkin anjing tiu sudah melihat nasib kawannya dan tahu apa yang menantinya dalam lingkaran itu. pikirnya. Matanya terpaku pada Gemba ya ng tak lagi . tapi mampukah pemuda itu bersaing dengan pemanah nomor satu dari ibukota? Anjing dilepaskan. Tak ada orang lain yang bisa mendengar¬nya. meng¬hempaska n tubuhnya di antara anjing-anjing lain." Takeo menatap anjing itu saat dibawa masuk untuk yang ketiga kalinya." ujar tetangga Takeo dengan simpatik. tapi anjing itu bisa mendengarnya.

Tembakan ketiga Gemba meleset. aku akan kehila ngan segalanya. seraya berpikir. P ara penonton berseru kagum. seperti yang sudah diketahui." orang di sebelah Takeo memberitahunya. tapi aku takkan terlihat marah atau sedih. tapi kelihatan sangat waspada. sekali lagi tida k mengeluarkan darah. Tembakannya yang kedua hampir sama. Anjing yang berikutnya lebih lincah. dan tidak ada darah. Kemudian Kono keluar dengan menunggang kuda merah bata. dan kudanya memang cepat. membuat pasir merah beterbangan. Panah pertama Gemba tampak melayang dan mendarat perlahan di tungging anjing itu. Lord Kon o menunggu di sebelah luar lingkaran di atas kuda merah bata yang kuat sena penuh semangat. menatap pemandangan asing dengan telinga tegak dan bola mata mem besar. "Lord Kono sangat mahir dan terkenal. Karena Hiroshi kalah pada babak sebelum¬nya. tapi kini anjing itu ketakutan. Temb akan yang bagus. Kuda hitam tunggangannya juga tampa k was-pada. Laki-laki itu mahir berkuda. membuat k udanya berderap mengelilingi lingkaran sebelah luar. kali ini Gemba mendapat giliran per¬tam a. "Kemahirannya memang enak di pandang!" ujar Takeo setuju dengan sikap sopan. dan kelihatan tidak takut pada kuda yang tengah be rderap. berlarian ke kanan dan kiri melintasi lap angan. Halaman 238 dari 600 .bersenandung.

gonggongan berubah menjadi lolo ngan. njing-anjing dalam kerangkeng makin bersemangat." Laki-laki itu tak kuasa menahan m alu. Takeo hampir tidak sanggup memandang putrinya. pemenang yang beruntung mengayunkan anak panah itu di atas kepalanya. namun ia juga tak mampu memalingkan wajah. Setelah diskusi panjang para juri. Pada tembakan ketiga. dan setiap anjing yang dibebaskan semakin liar karena ketakutan. P anahnya melayang di atas kepala anjing dan kena bagian samping pangg:ung kayu di belakan gnya. kuda tungganganny a terlalu ber¬semangat karena sorak sorai penonton. Pada tembakan ketiga. Beberapa pemuda berlompatan turun untuk mengambilnya.." "Tampaknya cara itu kurang sesuai karena kurasa Lord Saga akan dianggap memiliki lebih dalam olahraga ini." Kemudian kesunyian melanda seluruh arena sewaktu Shigeko memasuki lingkaran dan Ashige mulai berderap." "Tentu. kuda tungganganny a terlalu ber¬semangat karena sorak sorai penonton. Namun tetap saja Ko no membukukan dua nilai tembakan sempurna tanpa darah. dia lalu mohon diri menjauh untuk be rgabung dengan kelompok lain. babak kedua diputuskan seri. agak meloncat saat Kono menarik busur. aku tak tahan duduk di sebelah Lord Otori saat dia menghadapi hukuman mati. "Sungguh. maka kita tak perlu iba padanya. . agak meloncat saat Kono menarik busur.. pemenang yang beruntung mengayunkan anak panah itu di atas kepalanya. Beberapa pemuda berlompatan turun untuk mengambilnya. Laki-laki itu berbisik kepada mereka." seru laki-laki di sebelah Takeo. gonggongan berubah menjadi lol ongan. dan Takeo mendengar kata-ka tanya dengan jelas. putrinya terlihat kecil dan rapuh. P anahnya melayang di atas kepala anjing dan kena bagian samping pangg:ung kayu di belakan gnya. Setelah diam dengan sikap canggung selama beberapa saat. Aku nyaris tidak bisa menikmati pertandingan karena mengasihani dirinya!" "Kabarnya pertandingan ini hanyalah alasan baginya untuk mengundurkan diri tanpa kalah dalam perang. "Kini kita mungkin menunggu keputusan Kaisar. Lord Otori tidak keberatan. dan setiap anjing yang dibebaskan semakin liar karena ketakutan. Namun tetap saja Ko no membukukan dua nilai tembakan sempurna tanpa darah. "Cara ini sangat digemari pengunjung: bila hasilnya seri secara keseluruhan.. Aku hanya tidak ingin. Setelah peserta laki-laki. Anda benar.Anjing-anjing dalam kerangkeng makin bersemangat.

Shigeko mendesak kudanya untuk ber¬derap lebih cepat dan anjing itu berlari tungga ng-langgang. mengenai anjing itu nyaris tanpa suara tepat di bawah kepalanya. tidak meng¬gerakkan satu otot pun. Takeo mengerutkan dahi lalu menahan agar wajahnya te tap tanpa ekspresi. dengan lidah merah mudanya terjulur. dan berubah menjadi kekaguman saat anak pertama menyentuh pelan bagia n samping tubuh anjing buruan. telinga melambai-lambai. berjingkrakan. Si anjing menggelengkan kepala dan mengibaskan ekor. Anak panah ketiga terbang lebih cepat namun tak kurang lembutnya. dan takut kalau rasa bangga ak an menghilangkan kesedihannya. sedang si penunggang duduk tegak dan tenang. membuat kudanya berderap lagi. terluka atau ketakutan. Busur miniatur dan anak panahnya me mbuat penonton terkesima. memutar kepala¬nya. kekuatan dan kemahirannya yang diperkuat den gan kelembutan. Kemudian anjing itu seperti menganggap kalau ini adalah per¬mainan ya ng menyenangkan. kemudian Shigeko menarik kudanya berhenti di depan Kaisar. Anjing itu berlarian mengitari lingkaran di waktu yang bersamaan d engan si kuda: Shigeko mem¬bungkuk dan melepaskan anak panah kedua seolah benda itu adalah tangan nya dan tengah mengelus leher hewan itu. ber¬jalan memutar semakin mendekati anjing y ang duduk memerhatikan. Anjing itu. mengibaskan ana k panah itu seakan hanya lalat. dan ketegangan yang makin meningkat. Anjing itu duduk di b elakangnya. baik si kuda maupun penunggangnya tampak benar¬benar tenang. Mereka mengitari arena sebanyak tiga kali seperti ini. Takeo tak kuasa mengagumi putrinya.Meskipun penonton bersorak-sorai. moncong menganga. gonggongan anjing yang ketakutan. Gaya berjalan si kuda cepat d an mulus. Shigeko membungkuk dalam dalam. Halaman 239 dari 600 . Dirasakan pelupuk matanya menghangat.

Kuda coklat kemerahan itu menarik-narik besi yang dipasang di mulutn¬ya. Anak panah Saga terbang lebih cepat dari pandangan mata. berhia skan bulu anak panah di bagian punggungnya. buih dari mulutnya beterbangan. Muda h bagi Saga untuk me¬nembaknya lagi dengan anak panah kedua. Perasaan itu mematikan semua perasaannya. penyesalan dan amarah. Semua orang terdiam. Telah dirasakannya kekalahan di tenggorokan. sekali lagi ddak membuat anjing i tu ber¬darah. Pemandangan itu tampa k seperti dalam mimpi. namun laki¬laki itu mengendalikan kuda dengan mudah. Anting dilepas: menggonggong dan me¬lolong. berhia skan bulu anak panah di bagian punggungnya. Tiba-tiba. Takeo merasakan semua mata tertuju pada dirinya. seolah masih terus bermimpi. Penonton b . Anak panah terakhir melesat di samping badan si anjing lagi dengan suara yang nyaris tak te rdengar. Di saksikannya dengan perasaan tanpa memihak selagi Saga menderapkan kuda mengitari lingkaran l agi. dan anak-anak menjerit. Si anjing berusaha bangkit terhuyung-huyung dan ke¬bingungan. di depan matanya. seorang laki-laki dengan pengendalian jiwa dan raga yang sempurna. anjing melolong. ketika dia menaruh anak panah . kini menunggang kuda memasuki lingkaran berpasir p utih. Saga mengenakan jubah hitam. kini menunggang kuda memasuki lingkaran berpasir putih. di pasir putih arena m ulai tercemar warna merah. Dua seri dan satu menang Saga akan meraih kemen angan. namun laki¬laki itu mengendalikan kuda dengan mudah. tapi bulu putih si anjing atau pasir berwarna pucat itu tetap b ersih. pikirnya. Meskipun orang-orang berteriak. Saat dia mengangkat busur. namun Takeo tenang sedingin es. Saga mengenakan jubah hitam. dari mulut dan anusnya. Pasti keluar darah. Matahari sudah di ufuk barat. Saga dan Shigeko setidaknya seri. Kudanya berderap. dan kulit rusa di kedua paha untuk melindungi kakinya. perut. hawa kian panas. Saat aga Hideki. dan kulit rusa di kedua paha untuk melindungi kakinya. mereka menahan napas. melawan penunggangnya . menutupi semua kesedihan. ke bagian samping tubuh si anjing dan b erhasil menjatuhkannya. mendapat nilai sempurna. ekor pendeknya menggantung hampir menyentuh tanah. melawan penunggangnya . peserta terakhir. ekor pendeknya menggantung hampir menyentuh tanah. hingga empedunya. meskipun i a tidak memandang siapa pun. peserta terakhir. Kuda coklat kemerahan itu menarik-narik besi yang dipasang di mulutn¬ya.Saga Hideki. tubuh anjing itu terhempas ke tanah. Anjing tadi meng¬alami pendarahan hebat. bayangan kian memanjang. penonton meng¬hembuskan napas.

Punggung anjing itu melengkung. namun tak mampu mengurangi tenaganya. men¬dengking satu kali. Kini ia menunggu seorang diri untuk mendengarkan hasilnya. Para peserta men unggu. Bayangbayang panjang kaki kuda terbentang melintasi arena. diam tak bergerak: kelompok merah di bagian timur. Kaisar menganugerah¬kan kemenangan kepada kelompok putih!" Takeo berlutuT dan menyembah. Tenaga Saga terlalu besar. Terdengar bisikan dari balik tirai. Takeo menyadari kalau selama per¬tandingan orang-orang telah menjauhinya. sementara kelompok putih di bagian barat. Takeo merasa ada secercah harapan. tak ingi n menyaksikan terlalu dekat peng¬hinaan terhadap dirinya. Perlahan-lahan pe¬nonton terdiam. tapi tidak ada suara lain. mencecerkan darah berbentuk melengkung di pasir. tapi Takeo sengaja menutup pendengarannya. lalu mari. Takeo seperti mendengar teriakan dan sorak sorai yang berasal dari tempat jauh. atau berbagi takdir¬nya yang tidak mengu ntungkan. tempat Kaisar duduk di balik tirai bambu. ingin dekaT dengannya.erseru kaget. pandangan yang lebih gugup. Dua tembakan perta ma telah menghancur¬kan organ tubuh anjing itu dan mem¬bunuhnya. H anya saat Menteri muncul dari balik tirai dan dilihatnya pandangan resmi pertama ter¬tuju pada Shige ko. Dia tidak bisa menundukkan kekuatan laki¬l akinya: dia bisa melambatkan anak panah. seketika dilihatnya ruang di sekelilingnya telah dipenuhi orang yan g berhambur meng¬hampiri untuk memberinya selamat. menatap ke ujung arena. dan kemudian. tenuju pada Saga. "Karena kelompok Lady Maruyama tidak menumpahkan darah. Ketika berita itu me nyebar ke seluruh penjuru arena dan di luarnya. Perlahan ia bangkit. Halaman 240 dari 600 . Ketika T akeo duduk tegak. nyanyian pun mulai terdengar lagi. Pertandingan b erakhir seri: kini keputusan ada di tangan Kaisar. pikir Takeo. Kerumunan penonton bersorak menyetujui¬nya. Anjing¬anjing masih saja menyalak da ri balik kandang.

tata krama tetap ber¬laku. Anjing pun tetap putih . pesan apa yang akan ora ng itu kirim pada Zenko tentang hasil pertandingan ini. dan melihat bangsawan itu juga tengah menatapnya. dan apa yang tengah dilakukan Zenko? Jamuan berlangsung hingga larut malam: bulan sudah muncul dan bintang-bintang ta mpak besar." sahut Takeo.Lord Otori telah muncul di ibukota. Putrinya meraih kemenangan besar. lalu teringat kata-kata Minoru." Takeo melihat sekilas ke arah Lord Kono dan ingin tah u reaksi jujur bangsawan itu. di balik sikap sopan yang ditunjukkannya. Para penunggang putih menang. dengan agak ter¬ceng ang selagi kata-kata itu meluncur dari mulutnya. Tatapan mata mereka bertemu. pikir Takeo. cahayanya berpencar dan ber¬kabut dengan lembapnya udara. semakin jelas kalau dia menginginkan pernikahan itu lebih dari sebelum nya." ujar Saga. Kuda-kudanya menggetarkan tanah kami. Dia akan memanfaatkan alasan apa pun untuk mengingkari janjinya. namun berbeda dengan kegembiraan tulus di jalan-jalan di kota. dan Saga mengumbar sanjungannya kepada Lady Maruyama. perayaan tersebut tidak sepenuhnya tulus." "Aku akan senang sekali memanggil Anda putraku. Putrin ya meraih kemenangan besar. Termasuk ibunya. . Pasir tetap putih. Begitu pula Delapan Pulau Takeo memandang ke arah Saga. "Walaupun aku percaya usiaku lebih tua beberapa tah un. "Tapi kita harus menunda peng¬umuman pertunangan sampai putriku me¬minta p endapat klannya. Kuda-kudanya menggetarkan tanah kami. Kendati begitu. Tiga Negara hidup dalam damai. "Kita akan menjadi sekutu. Lady Maruyama tidak menumpahkan darah. dan Anda akan menjadi ayah mertuaku. jamuan makan memang dilakukan seperti yang dire ncanakan. namun dia gagal. *** Lord Saga telah merencanakan mengadakan jamuan makan besar untuk merayakan kemen angannya yang sudah diketahui lebih dulu. rd Otori telah muncul di ibukota. Ini tidak seperti dugaannya. Saga berharap bisa menyingkirkan diriku tanpa be rperang. dan Saga menundukkan kepala sebagai peng¬akuan atas kemenangan itu . tert awa dengan kegembiraan yang dipaksakan.

air bergemericik di taman dan sesekali nyamuk berdengung. "Kau me¬rahasiakan ini sehar ian?" "Aku tidak ingin konsentrasi kalian ter¬pecah. ada apa?" tanya Shigeko segera. "Beruntung Kaisar cukup terkesan pada¬mu dan tak ingin menyinggung dewa-dewa denga n memutuskan untuk menentangmu. Minora membaca tanpa perasaan. Semua pintu terbuka lebar." sahut Takeo. Gemba dan Hiroshi ke ruangan paling terpencil di kediaman it u." sahut Takeo. Bagaimana aku harus berterima kasih kepada kalian? Kalian tadi sangat luar biasa!" Takeo bicar a dengan berlinang air mata penuh perasaan." ujar Takeo ketika mereka kembal i ke kediaman. dengan sikap dinginnya seperti biasa. Hiroshi terduduk pucat pasi. Halaman 241 dari 600 . Aku tak menduga kalian akan menang."Aku minta kalian semua tidak pergi tidur dulu. tapi perasaan mereka bertiga tidak kurang bergola knya. Ia membimbing Shigeko. "Apakah ada kabar buruk dari rumah Ibu? Adik bayiku?" apakah "Minora akan membacakannya. Gemba berdengus keras lalu berkata. Segalanya bercampur aduk untuk meyakin¬kan dirinya b ahwa kau memiliki restu dari Surga. dan memberi isyarat agar si jurutulis mulai membaca. seolah terkena pukulan di dadanya lalu terhuyung-huyung. Shigeko menangis terang-terangan. "Ayah." "Kurasa dia memutuskan ini agar men¬dapatkan orang yang bisa mengimbangi kekuatan Saga. Minoru dipanggil.

" sahut Gemba. "Tapi kematian Taku berarti kita harus segera kembali. dia manusia setengah dewa tapi juga tak ber¬be da dengan kita semua." Gemba setuju. Zenko tidak memiliki lagi dasar hukum yang sah untuk menentangku. penyelamatan diri sendiri dan niat yang Itu juga. kurasa kini waktunya kita pulang. Tapi tidakkah kepergian yang tergesa¬g esa akan menyinggung Lord Saga dan Kaisar? Dan jujur saja. Tapi kita harus pergi secepatnya. begitu pula dengan Kikuta Akio dan putranya." Gemba setuju. Bila dia tidak benar-benar tunduk." "Berkaitan dengan Maya?" tanya Shigeko dengan ketakutan yang terdengar dalam nad a suaranya. "Tentu saja. "Bukan hanya karena Taku.... Akio akan digantung se perti penjahat biasa. Zenko harus dihadapi sekarang juga." sahut Takeo. Hewan itu akan ke takutan bila kita semua pergi begitu mendadak."Itu juga. Ayah takkan meninggalkan dirimu di tangan Saga. "Yang kuinginkan hanyalah kematian Zenko. " "Aku berusaha menahan keinginanku untuk balas dendam." "Ayah. Mungkin aku bisa tinggal di sini menemaninya?" "Tidak. Tadi¬nya aku berharap bisa melihatnya tenang dul u sebelum kita pergi. Aku telah diakui Kaisar. Lalu bagaimana cara kita menghadapi para pem¬bunu h ini?" "Kita memang akan memburu mereka." sahut Gemba tanpa berkata lagi. Naluriku mengatakan kalau kita haras segera pergi dan memburu mereka tapi Ajaran Houou mena hanku untuk tidak melakukan kekerasan. Aku menyesal." Suara Hiroshi terdengar p arau.. "Hiroshi." ujar Takeo. kita akan m engalah¬kannya dalam pertempuran dan dia akan mencabut nyawanya sendiri. Ada satu hal lagi yang tidak beres.. kekuasaanku telah ditegaskan oleh Paduka Yang Mulia. "Tapi akan dilakukan dengan adil ." ujar Shigeko. "Mungkin." "Ya." sahutnya dengan suara k . "Kau telah kehilangan sahabat terdekatmu. pragmadsme. penyelamatan diri sendiri dan niat yang baik!" "Kemenangan kalian membuat Kaisar ber¬pihak pada kita. pragmadsme. dia manusia setengah dewa tapi juga tak ber¬b eda dengan kita semua. Kesehatannya merupakan masalah terpenting bagi kelangsungan kedudukan Ayah. t api demi mencegah kekacauan lebih jauh lagi. termotivasi oleh gabungan antara idealisme." ujar Takeo. "Tentu saja. "Aku tahu Ayah benar. aku cemas pada keadaan kirin. termotivasi oleh gabungan antara idealisme.

Takeo berpaling ke arah Gemba. Kita harus pergi sebelum akhir minggu: kita akan memanfaatkan cahaya bulan antar a bulan sabit dan bulan purnama untuk melakukan perjalanan. Muto Shizuka telah mel akukan perjalanan ke hampir seluruh Tiga Negara.* Sejak Takeo memintanya mengambil alih kepemimpinan Tribe. dan mungkin tak melihat bulan sama sekali." gumam Hiroshi. peminjaman uang. hingga kegiatan mata-mata. Dia mengunjungi desa-desa ter¬sembunyi d i pegunungan dan rumah-rumah pedagang tempat kerabatnya menjalankan berbagai usaha: membuat s ake. kau telah membuktikan kalau dirimu tahu s egalanya sejauh ini. "Apakah aku harus menyerahkan semua putriku kepada m usuhmusuhku? Kita telah berikan kirin kepada Kaisar. Hierarki kuno Tr ibe masih tetap Halaman 242 dari 600 . Apakah Surga masih terus berpihak pada kita dengan menunda hujan plum?" "Kita lihat saja apa yang bisa kita laku¬kan. Kaisar dan orang¬orangnya yang harus bertanggung jawab atas n asib hewan itu. di sela-sela air matanya. fermentasi kedelai." "Kita akan berkuda di tengah hujan. "Gemba.eras yang mengejutkan mereka sendiri." sahut Gemba berjanji sambil senyum.

Tak lama setelah Takeo berangkat ke Miyako. aku merasa aku bisa pergi sebelum hujan plum tiba. yang berarti bahkan dalam kalangannya sendiri. tapi Shizuka sendiri selalu ingin tahu siapa lagi yang mu ngkin mencurigai dirinya.ditegakkan dengan struktur vertikalnya serta kesetiaan tradisional keluarga. beru saha agar mereka tetap setia kepadanya. dan menentang putra sulungnya. dan telah memilih untuk mengabaikan sat u hal yang bisa disebut pengkhianatan. yang t ." sahut Shizuka. Kenji sudah tahu tindakannya itu." "Bayi ini sangat kuat. Karena alasan itulah dia merasa berkewajiban untuk memper¬tahankan kontak dengan semua kerabatnya. maka ketidakpuasan di dalam keluarga Muto bisa berkemb ang menjadi sikap membangkang. yan g berarti bahkan dalam kalangannya sendiri." tutur Shizuka pada suaminya. namun ia sadar ada sakit hati terhadap posisi barunya: andai Zenko mendukung. "Kau ada di sini untuk me rawat mereka. bertahun-tahun lalu. Kaede hampir tidak sanggup berpisah dari anaknya. "Kaede amat memujanya!" "Belum pemah aku melihat seorang ibu begitu terpesona pada anaknya sendiri. dan juga s abar dan pantang menyerah ketika berkaitan dengan balas dendam. pertama ke Yamagata lalu ke Kagemura di pe¬gunungan di belakang Yamagata. dan catatan terperinci itu yang memungkinkan Takeo mengalahkan dan meng endalikan Tribe. Tribe menyimpan rahasia dan sering bertindak dengan c ara mereka sendiri. dan bisa terlepas tanpa terduga. Dia merawatnya sendiri. Orang-orang di kalangan Tribe memiliki ingatan yang panjang." sahut Ishida setuju. itegakkan dengan struktur vertikalnya serta kesetiaan tradisional keluarga. t api sadar selagi putranya itu masih hidup. kemudian ke Hofu. "Kaede dan bayi laki-lakinya kelihatan sangat sehat. Seperti biasa Shizuka disambut dengan sopan santun terta penghormatan. dia pernah mengungkapkan cara kerja pekerjaa n Tribe kepada Shigeru." "Dia adalah ksatria sejati. Tribe menyimpan rahasia dan sering bertindak dengan c ara mereka sendiri. "Tapi kau takkan tahu apa akan terj adi pada bayi: cengkeraman mereka pada kehidupan masih lemah. Shizuka bersiap pergi lagi. kau tak boleh bepergian dengan Fumio tahun ini. keadaannya pasti berbeda. Shizuka tahu betul kalau ada rahasia yang disimpan dan ketidakpatuhan berkembang di kalangan Tribe. karena. Tapi bayi ini tampak seperti pejuang cilik." aku Ishida.

Shizuka pernah mengatakan kepada Takeo. Mungkin nama Otori yang lainnya." Shizuka teringat betapa ia amat sayang kepada kedua putranya saat mereka masih k ecil." jawab Kaede. kalau ia cukup bahagia hidup tenang bersama Ishi da di Hagi dan bisa terus mendampingi Kaede. meski tadinya dia ingin menikah lagi. Tapi sejak menyetujui untuk menjadi ketua keluarga Muto dan Tribe. Itu juga berarti ada banyak persoalan yang tak bisa dibicarakannya dengan Ishida: Halaman 243 dari 600 . Takeshi. merenungkan kekecewaan dan ke¬cemasan yang mereka timbulkan saat ini.idak dilakukannya pada anak-anaknya yang lain. kesempatannya hampir habi s: dan tentu ia tak ingin harapan¬nya terkabul. Sewaktu menikah dengan Ishida. Tapi anak ini takkan diberi nama sampai berusia dua tahun nanti. tugas itu menyita tenaga dan waktu¬nya. tapi nama itu berkaitan dengan hal-hal yang menyedih¬kan. "Kami belum memutuskan. dan kami telah memiliki Shigeko. "Takeo sangat suka nama Shigeru. Shizuka melihat itu dengan rasa iri ber¬campur iba: k onsentrasi penuh si bayi mengisap puting susu ibunya. Shizuka berharap bisa punya anak lagi. tapi tahun¬t ahun berlalu dan ia tidak juga hamil. "Anak ini akan diberi nama siapa?" tanya¬nya. Ishida adalah laki-laki yang penuh cinta. Ishida tidak punya anak dari pernikahan sebelumnya: is trinya sudah meninggal bertahun-tahun lamanya. Kini ia jarang mendapat haid. perlindungan sang ibu yang sama kuatnya. Aku me¬manggilnya singa kecilku. serta san gat baik hati. Takeyoshi. tapi tak satu pun calon yang diterima oleh Lord Fujiwara.

Sake bahkan bisa lebih m e¬longgarkan lidahnya. Sejak mereka berdua tinggal di Hagi. Ishida tidak terlalu memikirkan mana yang bisa dibicarakan dengan orang banyak serta mana yang harus dirahasiakan. dan bagaimana semua ini berlaku pada diri Takeo. kebebasannya untu k bepergian. serta efek menyembuhk an diri sendiri dengan percaya kepada ramalan. Ishida menyukai semua kesenangan dari kedamaian makanan yang berlimpah. Ishida tidak terlalu memikirkan mana yang bisa dibicarakan dengan orang banyak serta mana yang harus dirahasiakan. dan suaminya itu memiliki banyak sifat baik yang dika guminya. Hana dan Lord Kono tentang teori kekuatan pikiran manusia. kuda . berinteraksi dengan orang asing. memberinya jubah baru dengan tudung model baru dan seekor kuda da ri istal. Sake bahkan bisa lebih m e¬longgarkan lidahnya. hizuka mencintai suaminya. dan bisa saja lupa dengan apa yang telah diocehkannya di malam sebelum nya. tapi ibu mereka. kebebasannya untu k bepergian. Shizuka mengamati keduanya dengan cermat untuk melihat apakah ada tanda kemampuan yang berkembang. tapi kedua anak itu kelihatan layaknya putra ksatria. tak berbeda dari anak lelaki seusia mereka yang berlatih bersama mereka.Shizuka mencintai suaminya. Maka Shizuka tidak mengutarakan pada suaminya tentang Taku dan Zenko. saling bersaing dan bertengkar. diharap kan berada di Hagi sebelum akhir bulan. dan Ishida pun sudah hampir melupakan malam di Hofu ketika dalam keadaan mabuk di¬ungkapkannya kepada Z enko. bahwa tidak semua orang bisa dipercaya. bahwa tidak semua orang bisa dipercaya. Kaede memeluk. dan bisa saja lupa dengan apa yang telah diocehkannya di malam sebelum nya. bahwa musuh bisa saja berada dalam lingkungan keluarga¬nya sendiri. Ishida menyukai semua kesenangan dari kedamaian makanan yang berlimpah. dan mereka berdua terlalu disibukkan dengan pendidikan dan latihan untuk bisa merindu¬kan neneknya. bahwa musuh bisa saja berada dalam lingkungan keluarga¬nya sendiri. Hana. benda¬benda indah yang mereka bawa dar i bagian dunia lain hingga pada tahapan tidak ingin menghadapi kenyataan bahwa kedamaian se lalu berada di bawah ancaman. berinteraksi dengan orang asing. dan suaminya itu memiliki banyak sifat baik yang dik aguminya. tapi tutup mulut tidak ter¬masuk di dalamnya. benda¬benda indah yang mereka bawa dar i bagian dunia lain hingga pada tahapan tidak ingin menghadapi kenyataan bahwa kedamaian se lalu berada di bawah ancaman. Sunaomi dan Chikara sedih atas kepergian Shizuka. tapi tutup mulut tidak ter¬masuk di dalamnya.

tujuan yang pernah diajukan namun ditolak Takeo. Masalah i ni telah ia bicarakan dengan Takeo. Z enko terlibat hubungan erat dengan Kikuta dan menganggap dirinya sebagai ketua Muto. dan sejak saat itu bekerja melayani keluarga Otori. Masa lalu yang mereka lalui b ersama telah menciptakan ikatan antara mereka berdua. pendongeng dengan keterampilan mengorek inf ormasi. dialah yang mengawasi semua latihan mereka dengan cara Tribe. dan begitu salju mencair. dia pu la yang telah melindungi dan membela mereka dari semua orang yang hendak menyakiti mereka. disesalinya kematian Kondo. Sepanjang musim dingin Bunta telah membawakannya potongan-potongan kecil informa si.betina yang sudah sering ditunggangi Shizuka. Di a yang merawat mereka ketika Kaede mem¬butuhkan waktu yang begitu lama untuk me¬mulihkan diri setel ah melahirkan. dia pergi ke Yamagata atas permintaan Shizuka untuk mencari infor masi. namun sebenarnya dia pencopet ulung. la ki-laki itu menemukan jalannya ke Hagi. Ia menolak tawaran Kaede untuk dikawal ksatria Otori. dan Shizuka merasa bisa memercayainya. dan memilih Bunta sebagai teman perjalanan. dan jago sumo dan petarung tangan kosong yang tangguh. Kelahiran putranya . Ia punya harapan lain yang ia tak yakin mampu mewujudkannya. dengan keahlian bertarung dan kesetiaanny a. berasal dari keluarga Imai. dan menetap di Inuyama setelah kematian majikannya itu. Andai dunia sejujur seperti sekarang ini. dan rencan a untuk membunuh bangsawan itu. Shizuka menyayangi mereka berdua seperti putri yang tidak pernah dimilikinya. tapi mereka belum memutuskan apa pun. keluarga Muto berbeda pendapat. dan ia pun mendoakannya. Bunta dulu menjadi informannya yang bekerja sebagai pelayan di kediaman Lady Mar uyama Naomi. Setelah perang dan gempa. Ia telah menga takan pada Halaman 244 dari . Ia merasa lebih mudah mendapatkan kuda ketimbang teman seper¬jalanan: tersadar kalau ia merindukan Kondo Kiichi yang bisa menjadi t eman yang sempurna untuk perjalanan semacam ini. Maya dan Miki. Kabar yang dibawanya sungguh mengganggu: Taku belum kembali ke Inuyama dan masih di Hofu. Kini Shizuka merasa ber kewajiban untuk bertindak sendiri: berusaha memper¬tahankan agar keluarga Muto tetap setia dan mem astikan keamanan si kembar. persiapan untuk per¬jalanan ke Miyako telah menyita perhatian Takeo. Penampilannya kalem d an pendiam. Shizuka tak kuasa menahan ingatannya pada Iida Sadamu. Usianya beberapa tahun lebih muda dari Shizuka.

600 .

. Tapi semakin banyak orang mengatakan kalau tuntutan Kikuia akan keadilan perlu dideng ar: Takeo .. Ia telah mengenal Yoshio sejak kecil karena mereka pernah dilatih bersama. ia menganjurkannya unt uk menyingkirkan Zenko. K eluarga Muto tempat dia menginap di Tsuwano menggerutu karena berkurangnya status mereka di k alangan pedagang sejak banyak orang yang terlibat dalam per¬dagangan.. Tapi ketika memikirkannya sebagai seorang ibu. di ruma h lama Kenji yang kini ditinggali sepupunya. Yoshio. Tapi di lubuk hatinya. Tapi tidak semua orang tidak menikmati kedamaian dan kemakmuran di negeri ini." tutur Yoshio. "Semua orang menghormatinya. menyediakan makan. pemuda berusia lima belas atau enam belas tahun. jalanan aman dan terawat baik. Shizuka kagum atas semua yang Takeo dan Kaede capai demi kemakmuran dan kebahagi aan negara. Aku tidak p erlu melakukan hal yang bertentangan dengan keinginannya. Tak seo rang pun akan menyangka usulan it u datang dariku. Lalu. ia menganjurkannya un tuk menyingkirkan Zenko. seperti yang dilaku¬kannya sebelumnya di Maruyama. Cuaca hari itu cerah. Tapi ketika memikirkannya sebagai seorang ibu. Ia masih tetap berpegang pada pendapatnya saat memikir¬kannya dengan pikiran yang jernih. "Ketika Kenji masih hidup. Shizuka tak tahu apakah ia bisa mengandalkan dukungan sepupunya ini. Takeo sudah mengatakan kalau dia tak ingin membunuh Zenko. Di Yamagata. banyak hal yang harus ditakukan: membe ri kita waktu. dan berkuda di depan untuk mengatur tempat pem berhentian selanjutnya. pikirnya. Ia masih tetap berpegang pada pendapatnya saat memikir¬kannya dengan pikiran yang jernih. ketika Kikuta dan Muto ber¬sahabat dan semua orang takut dan meng¬hormati mereka. dan menyimpan tenaga. dan meratapi hasrat yang haus kekuasaan dan keinginan kuat untuk balas d endam yang mengancamnya. Takeo memiliki informasi yang bisa menghancurkan Tr ibe.. perbincangan selalu soal kemakmuran di m asa lalu. Dia m emperlakiikan Shizuka dengan akrab dan berbicara blak-blakan. kota-kota dama i dan sejahtera. Shizuka meng¬harapkan anaknya itu mati ditangannya sendiri. akeo bahwa sebagai Ketua Muto dan sahabat keluarga Otori. makanan berlimpah dan lezat. Putra Bunta. tapi setidaknya sepupunya ini bersikap jujur. ikut bersama merek a untuk mengurus kuda. dan bisa melihat alasannya untuk berdamai dengan Otori.Takeo bahwa sebagai Ketua Muto dan sahabat keluarga Otori.

" "Kenji tak bisa bicara dari dalam kuburnya. lari dari Tribe dan mem¬bunuh Ketua dari k eluarganya. "Begitu pula putraku dia telah ber¬sumpah berulang kali. Masalah dalam keluarga Muto tidak pernah diputuskan oleh bangsawan " "Takeo bukan sekadar bangsawan!" protes Shizuka. dan mengkhianati mereka yang telah bersumpah s etia kepadanya. orang-orang di Tribe ter¬si nggung karena Takeo yang menunjukmu. sambil minum sake dengan sekali tenggak. dengan meraih kes empatan.bersalah atas penghinaan yang terburuk. " Aku sudah terlalu tua untuk itu sekarang!" "Kau minum dan bertarung layaknya laki¬laki!" seru Yoshio dengan kagum. tapi kini Akio dan Arai Zenko siap menghukumnya. kan? Itulah keprihatinan kami aku juj ur padamu. Dan aku memimpin keluarga Muto bukan han ya karena Takeo menunjukku: ini juga keinginan Kenji. walaupun dulu kau anak yang menyebalkan." "Kenji bersumpah setia pada Takeo atas nama keluarga Muto. "Aku pun bisa memimpin layaknya laki¬laki." Halaman 245 dari 600 . tapi kau sudah berubah: bahkan sempat cukup cantik juga!" Yoshio menyeringai dan menuangkan sake lagi untuknya. Shizuka. "Simpan saja pujianmu itu. "Aku tak menyangsikannya. menghadapi musuhnya dengan kejam." Shizuka meyakinkannya. "Bagaimana dia mendapatkan kekuasaan? Layaknya bangsawan lain. Tapi seperti yang kukatakan. Selama ber¬tahun-tahun dia belum dihukum atas per¬buatannya." balasnya. Aku senantiasa kagum dan juga suka padamu." Shizuka mengingat¬kan.

Tidak a da yang berpikir kalau Takeo akan meng¬undurkan diri dengan sukarela. dia duduk dengan bibir terkatup rapat dan menunduk." Senyum Yoshio hilang. "Maaf. o rang tahu kalau Lord Shigeru dan Kenji berteman. tapi juga ka rena kau perempuan. namun ia tidak bereaksi. "Sekarang nampak¬nya Arai akan menentang Otori lagi." Kedua orang itu meliriknya. Katakan kalau aku benar. sebagai imbalan atas pengkhianatan¬mu selama bertah un-tahun." "Ksatria yang frustrasi dan mata-mata yang menganggur."Itu hanya salah satu sisinya!" Itu hanya salah satu sisinya!" "Itu adalah cara Tribe." bantah Yoshio." imbuh Bunta cepat. dan itulah alasa nnya Takeo menunjukmu sebagai ketua Muto. Shizuka berkata. pedagang yang kaya. Pasti ada orang yang memberi informasi padanya." "Uhh. kau diam saja. aku hanya ingin memperingatkan mu. menenggak sakenya lalu mengisi lagi. "Aku bukan¬nya mengatakan kalau aku salah satu dari mer eka. Tentu saja Akio akan memanfaatkan desas-desus ini. Otori menang: Tribe juga merasakan kemenangannya. "Orang-orang yang mengatakan kaulah yang memberi informasi itu. tapi Shigeru tahu jauh lebih banyak tentang Tribe da ri yang bisa dia tahu dari Kenji. "Orang-orang ingin tahu bagaimana Takeo menemukan Tribe di Maruyama padahal dia belum pernah ke sana. apa pun hasil pertan dingan di . Ada kecurigaan lain pada dirimu yang jauh lebih berat. seperti yang sudah kita lakukan. dan selama perang. "Selama Iida berkuasa ." Bunta mengangkat mangkuk ke mulutnya dan menatap Shizuka dari pinggiran mangkuknya selagi minum. Lord Shigeru memiliki catatan informasi tentang Tribe." "Itu sudah lama sekali. banyak yang bertindak yang dapat dianggap sebagai pengkhianatan. anakanak yang sehat. Menurut kabar. "Bukan hanya karena Takeo yang menunjukmu." sahut Yoshio. tersenyum lebar. dan kita akan terus begitu. "Bukti keberhasilan pemerintahannya ada di mana-mana: tanah yan g subur." Kata-kata itu menggantung di udara bak sebuah pukulan. "Bunta." sahut Shizuka dengan nada ringan. namun siapa yang bisa menyalahkannya ? Semua orang tahu cepat atau lambat Arai akan melawan Otori untuk mengendalikan Tiga Ne gara." gerutu Yoshio. Ayah Ze nko menyerang Takeo setelah ber¬sumpah bersekutu dengannya.

mengalahkan Saga di Timur. "Dia akan setuju bila kau yang suruh. kami tak ingin terpuruk bersamanya. Ia pernah mengucapkan kata-kata ya ng sama tentang masa depan Takeo pada Kaede bertahun-tahun lalu di Terayama.. Dia bisa saja mengalahkan Zenko di Barat . Dia tak bisa m enang melawan mereka berdua. kita akan dapatkan kembali ke kuatan kita. Kita harus memihak pada pemenangnya. Dia tida k punya pilihan. Taku bisa berpikir dengan akal sehat. Zenko akan membayar upeti pada Saga." "Lalu Kikuta akan balas dendam. Halaman 246 dari 600 . Kami melepaskan diri dar i Takeo sebelum dia kalah. meski sedikit peluangnya. dan kemungkinan juga keluarga Muto.Miyako." "Taku takkan setuju. Tribe akan bersatu lagi. sebagai ketua dan sebagai ibunya.." Shizuka mendengar kata-kata ini seperti gema. Yang mesti kau lakukan hanyalah mengakui Zenko sebagai ketua keluarga. Akan terlihat kalau tidak ada yang bisa lepas dari Tribe. Dia akan kembali dan bertempur." ujar Bunta. "Mereka sudah lama menanti.. Dia akan memahami kalau ini demi yang terbaik. Shizuka." sahut Shizuka menyuarakan pikirannya. "Kau bisa menyelamatkan diri. dan rahasia apa pun yang kau simpan d i masa lalu akan tetap tersimpan rapat-rapat. dan kemungkinan.

dan dimaafkan. Bunta hanya bicara se dikit. Kagemura. Sifat Kondo yang sulit menunjukkan perasaan seperti mendapatkan kemuliaan tragis. kesal dengan perbincangan semalam. Shizuka masih berlatih setiap hari.Karena Saga berniat menyatukan Delapan Pulau di bawah kekuasaannya. Ia hampir tak bisa menahan diri un tuk menangis. Malam sebelumnya bul an purnama dan ia berkuda dengan murung. berusaha memikirkan c ara untuk menghabisi mereka kalau mereka berbalik menentangnya. . rasa takut itu ber¬kurang. Shizuka tak tidur karena gelisah. siap bertarung m em¬bela diri. hanya untuk melihat orang terbakar hidup-hidup di depan matanya. Alangkah menyedihkan keadaan Kondo saat itu. Ditemukan dirinya mengira-ngira tentang Bunta dan anaknya." Dan aku tak perlu membunuh putraku. ia bisa mengalahkan banyak laki-laki dengan pedang namun juga sadar kalau ia tid ak bisa menandingi kekuatan fisik mereka. Kini rasa takut itu muncul lagi. melintasi pegunungan. ia tidak mencintai Kondo. kita akan pu nya pekerjaan yang menarik dan menguntungkan selama bertahun-tahun yang arena Saga berniat menyatukan Delapan Pulau di bawah kekuasaannya. Ia takut kalau keluarga Muto di situ juga akan men¬desaknya untuk mengambil jalan yang sama. kita akan pun ya pekerjaan yang menarik dan menguntungkan selama bertahun-tahun yang akan datang. Tiada henti ia memikirkan Kondo: ia pernah bercinta dengan orang itu di tempat ini. tapi ia sudah tak muda lagi. ia mengasihani orang itu. Hari menjelang malam ketika mereka tiba di penginapan. namun sej ak mengakui perbuatannya pada Kenji. membuatnya waspada yang tidak ia lakukan selama bertahun-tahun. pikir Shizuka. Kemudian Kondo muncul lagi saat ia mengira hidu pnya akan berakhir. dan Shizuka merasa marah dan tidak nyaman dengan laki¬laki itu. un tuk memper ingatkannya. Sudah berapa lama Bunt a curiga? Apakah sejak pertama kali orang itu melapor¬kan tentang hubungan Shigeru dengan Ma ruyama Naomi? Selama bertahun-tahun ia takut pengkhianatannya akan terungkap. Ia berjalan kaki seperti yang pernah ia lakukan bersama Kondo. *** Shizuka berangkat ke desa Muto. serta alangkah mengagumkannya! Mengapa ia begitu terharu pada la ki-laki itu kini? Nyaris seperti arwah Kondo tengah menggapai dirinya untuk mengatakan sesuatu. keesokan harinya. Pagi harinya ia meninggal kan bocah itu dan kuda di belakang.

atap-atap diperberat dengan bebatuan. dinding kayu k elam terkena embun. Belum sampai dua bulan sejak terakhir kali bertemu Miki: ia terkejut dengan peru bahan gadis itu. Shizuka kurang yakin dengan ket ulusan sambutan dari orang lainnya. meskipun anak-anak sangat gembira atas kedatanganny a. ia bertanya pada Kana. Kakek dan neneknya sudah lama meninggal: rumah lama kini dihuni keluarga¬keluarga yang sebaya dengan kedua putranya dan anak-anak. Sewaktu mereka berkumpul di dapur untuk menyiapkan makan malam. Tulang-tulang ta jam di wajahnya kelihatan lebih menonjol dan matanya yang cekung berkilat. "Apakah Miki pernah sakit?" karena saat musim semi kerapkali terjadi demam menda dak dan sakit perut. membuatnya senang dengan jubah bertudung yang dipakainya. kini sudah menjadi nenek. dan setidaknya mereka menyambut dirinya dengan kegembiraan yang tulus. Miki lebih tinggi dan agak kurus sehingga tampak lentur dan ramping. walaup un ia tahu nama. Shizuka tidak mengenal betul mereka. terutama Miki. Bahkan rumah-rumah di dalamnya berkesan tertutup dan tidak ramah. bakat dan sebagian besar rincian dalam hidup mereka. kabut mulai menyelimuti lembah lagi. matahari mulai tenggelam di balik gugusan pegunungan terjal. Saat itu hawa terasa din gin.Bahkan saat melihat desa Muto di lembah tersembunyi tak mampu membuatnya gembira seperti biasanya. Hari sudah sangat sore ketika mereka sampai. Kana dan Miyabi. Halaman 247 dari 600 . Gerbang desa tampak dibuka dengan rasa enggan. masih mengurus rumah.

"Kau mestinya tidak berada di sini ber¬sama kami!" bentak Kana. "Kau tamu ke¬hormata nKau mestinya tidak berada di sini ber¬sama kami!" bentak Kana. "Kau tamu ke¬hormata n: seharusnya kau duduk bersama para laki-laki." "Aku akan bergabung dengan mereka nanti. Ceritakan tentang keadaan Miki." Kana berpaling ke arah Miki yang tengah duduk di samping perapian, mengaduk sop di panci besi yang tergantung di atas api dengan kaitan besi berbentuk ikan. "Miki memang semakin kurus," sahut Kana setuju. "Tapi dia tidak mengeluh, bukan begitu, 'nak?" "Dia tidak megeluh," imbuh Miyabi tertawa. "Miki setangguh laki-laki. Kemarilah Miki, biarkan Shizuka memegang len gan¬mu." Miki datang dan berlutut di dekat Shizuka tanpa bicara. Shizuka mencengkeram len gan bagian atas gadis itu. Dirasakakannya lengan itu sekeras baja, tidak ada daging, hanya otot dan tulang. "Apakah semuanya baik-baik saja?" Miki mengangguk. "Ayo berjalan-jalan bersamaku: kau bisa ceritakan apa yang membuatmu sedih." "Dia akan bicara padamu saat tidak ingin bicara dengan orang lain," ujar Kana de ngan suara pelan. "Shizuka," bisik Miyabi bahkan lebih pelan lagi. "Waspadalah. Para pemuda...." M iyabi melirik sekilas ke ruang utama rumah tempat suara-suara laki-laki terdengar samar¬samar, meski Shi zuka bisa mengenali suara Bunta. "Ada yang merasa tidak suka," ujar Miyabi tidak jelas, te rang-terangan takut ada yang menguping. "Begitulah yang diberitahukan kepadaku. Di Yamagata dan Tsuwano juga sama. Aku a kan melanjutkan perjalanan ke Hofu, tempat aku akan bicarakan keadaan ini dengan kedua putraku. Aku akan pergi satu atau dua hari lagi." Miki masih berlutut di dekatnya, dan Shizuka mendengarnya menghela napas pelan d an merasakan kalau gadis itu semakin tegang. Dirangkulnya Miki, tercengang dengan tajam dan r apuhnya tulang di balik kulitnya, tak ubahnya sayap burung. "Ayo, pakai sandalmu. Kita akan jalan¬jalan ke biara dan memberi salam kepada dewa -dewa."

Kana memberi Miki sedikit kue mochi sebagai sesaji bagi dewa-dewa. Shizuka mem¬buk a tudung jubahnya; cuaca terasa dingin. Bulan bersinar redup menyinari udara yang berkabu t, membuat bayang-bayang di se-panjang jalan dan di balik pepohonan yang mengelilingi biara . Walau-pun sudah dua hari sejak purnama bulan keempat, udara masih terasa dingin. Jauh di ketingg ian pegunungan terdengar nyanyian katak dan jangkrik. Hanya seruan burung hantu yang tersendatsendat. Biara diterangi dua lentera di kedua sisi altarnya. Miki menaruh kue mochi di de pan patung Hachiman, dan mereka berdua me¬nepukkan tangan lalu membungkuk hormat tiga kali. Shizuka pernah memanjatkan doa di sini bertahun-tahun yang silam untu k Takeo dan Kaede. Sekarang ia masih me¬manjatkan permintaan yang sama, dan men¬doakan arwah Kondo dan mengucapkan rasa terima kasihnya kepada laki-laki itu. "Apakah para dewa akan melindungi Maya?" tanya Miki, seraya menatap pahatan patu ng di depannya. "Kau sudah memintanya?" "Sudah, aku selalu meminta begitu. Juga untuk Ayah. Tapi aku tidak mengerti baga i¬mana para dewa bisa mengabulkan doa semua orang, saat semuanya menginginkan hal yang berbeda. A ku mendoakan ke-selamatan Ayah, tapi banyak orang lain yang mendoakan kematiannya."

"Inikah yang telah membuatmu kurus, mencemaskan ayahmu?" "Aku berharap bisa bersamanya. Dan Maya juga." Halaman 248 dari 600

"Terakhir kali kita benemu kau sangat gembira, dan baik-baik saja. Apa yang tela h terjadl?" Terakhir kali kita benemu kau sangat gembira, dan baik-baik saja. Ap a yang telah terjadl?" "Aku tidak dapat tidur nyenyak. Aku takut dengan mimpi." "Mimpi apa?" sela Shizuka saat gadis itu membisu. "Mimpi-mimpi saat aku bersama Maya. Dia menjadi si kucing dan aku menjadi bayang annya. Kucing mengambil segala yang ada dalam diriku dan aku harus mengikuti¬nya. Ketika berusah a terus terjaga, aku men-dengar para laki-laki bicara: mereka selalu membicarakan hal ya ng sama, tentang keluarga Muto, dan apakah Ketua bisa dijabat oleh perempuan, dan Zenko juga Kiku ta. Dulu aku senang berada di sini. Aku merasa aman dan semua orang menyukaiku. Sekarang para laki-laki terdiam saat aku lewat, dan anak-anak lain menghindariku. Ada apa Shizuka?" "Para laki-laki memang selalu menggerutu. Nanti juga mereka bosan," sahut Shizuk a. "Lebih dari itu," ujar Miki dengan nada mendesak. "Sesuatu yang buruk sedang ter¬j adi. Maya dalam bahaya. Kau tahu bagai¬mana kami berdua: aku bisa tahu apa yang terjadi pada Maya, begitu juga sebaliknya. Kami selalu begitu. Aku bisa merasakannya berseru memanggilku, tapi aku tidak tahu di mana Maya berada." "Maya ada di Hofu bersama Taku dan Sada," sahut Shizuka dengan percaya diri untuk menyembunyikan kegelisahannya sendiri. Ia tahu benar si kembar bisa mengetahui pikiran masing-masing dari jauh. "Maukah kau mengajakku ke sana?" "Mungkin sebaiknya begitu." Tentu saja, pikirnya, aku harus mengajak¬nya. Aku tak bisa meninggalkannya di sini Orang-orang akan memanfaatkan dia me¬lawan Takto. Semakin cepat aku bicara dengan Taku dan Zen ko, akan semakin baik. Kami harus menyelesaikan masalah kepemim¬pinan ini sebelum perasaan tidak senang ini makin tak terkendali "Kita akan berangkat lusa." *** Shizuka menghabiskan keesokan harinya untuk berkonsultasi dengan para pemuda yan g kini

membentuk inti keluarga Muto. Mereka memperlakukannya dengan normat dan mendenga rkannya dengan sopan. Silsilah keluarga, sejarah dan bakatnya telah mengendalikan rasa h ormat dan rasa takut mereka. Shizuka lega, terlepas dari usia dan bentuk tubuhnya yang kecil, i a masih bisa mengendalikan mereka. Diulangi lagi niatnya untuk membicarakan masalah kepemim¬pinan dengan Zenko dan Taku, serta menekankan b ahwa ia takkan turun dari jabatannya sebagai Ketua sebelum Takeo kembali dari wilayah Ti mur. Ia mengatakan bahwa ini keinginan Kenji dan ia meng¬harapkan kepatuhan total mereka s esuai tradisi keluarga Muto. Tak seorang pun keberatan saat ia mengatakan Miki akan ikut bersamanya, tapi dua hari kemudian di jalan menuju Yamagata, Bunta berkata, "Orang di desa kini tahu kau tidak memerca yai mereka karena kau membawa Miki." "Saat ini aku tidak memercayai siapa pun." Mereka berkuda berdampingan, Miki di depan menunggang kuda anak lelaki Bunta. Shizuka berencana meminjam satu kuda lagi dar i istal Lord Miyoshi di Yamagata. Itu akan membuat mereka berdua lebih leluasa, lebih aman. Shizuka memalingkan wajah lalu menatap langsung ke arah Bunta, menantang laki-la ki itu. "Apa aku salah? Haruskah aku percaya padamu?" "Jujur saja, semua ini hanya masalah apa yang diputuskan Tribe. Aku takkan meng Halaman 249 dari 600

gorok lehermu selagi kau tidur, kalau itu yang kau maksud. Aku sudah lama mengen almu dan lagi, aku tak suka mem¬bunuh perempuan." rok lehermu selagi kau tidur, kalau itu yang kau maksud. Aku sudah lama mengenal mu dan lagi, aku tak suka mem¬bunuh perempuan." "Jadi beritahu aku lebih dulu sebelum kau mengkhianati diriku," ujarnya. Mata agak Bunta mengerut. "Akan ku¬katakan." "Suruh Bunta dan putranya pulang," ujar Miki kemudian, ketika mereka tiba di Yam agata dan sedang berdua saja. Tidak ingin tinggal di rumah Muto dengan Yoshio, Shizuka lalu pergi ke kastil. Di sana mereka disambut istri Kahei yang membujuk mereka agar tinggal lebih lama. Saat b ujukannya tidak berhasil, dia lalu menawarkan pen-damping dan juga kuda tambahan. "Sulit untuk memutuskan," ujar Shizuka kepada Miki. "Jika aku kirim mereka pulan g, maka aku tidak punya lagi kontak dengan keluarga Muto selama di perjalanan, dan aku justru sema kin mendorong Bunta untuk menjauhiku; jika kuterima tawaran Lady Miyoshi berarti kita akan bep ergian secara terbuka kau sebagai putri Lord Otori." Miki mengerutkan wajah pertanda tidak menyukai usulan itu. Shizuka tertawa. "Keputusan ini tidak pernah sesederhana yang kau kira." "Mengapa kita tidak pergi berdua saja?" "Dua orang perempuan bepergian tanpa pelayan atau pendamping justru akan lebih m enarik perhatian biasa-nya perhatian yang tidak diinginkan!" "Andai kita dilahirkan sebagai laki-laki!" ujar Miki, dan meski berusaha bicara dengan nada ringan. Shizuka menangkap nada kesedihan di balik kata-katanya. Teringat olehnya rasa sa yang Kaede pada bayi laki¬lakinya, kasih sayang yang tak pernah ditunjukkan pada putri kembarnya. Ia melihat kesepian yang dialami si kembar: tumbuh dewasa di antara dua dunia. Bila keluarg a Muto berbalik menentang ayah mereka, maka mereka pun akan menolak kehadiran si kembar. Mereka bahkan akan berusaha untuk menghabisi si kembar dan Takeo. "Bunta dan putranya akan ikut dengan kita ke Hofu. Setibanya di sana, Taku akan mengurus kita; kau akan bersama Maya dan kita semua akan aman!" Miki mengangguk dan berusaha ter¬senyum. Malam itu terjadi gempa kecil, membuat bangunan berguncang dan menyebabkan kebak aran di beberapa bagian kota. Udara tetap terasa penuh debu dan asap saat mereka pergi d engan dua kuda

tambahan, satu ditung-gangi oleh pengurus kuda dari kediaman Miyoshi. Mereka ber temu Bunta dan putranya sesuai rencana, di tepi parit lebar kota, tepat di luar gerbang kastil. "Kau dapat kabar dari Taku?" tanya Shizuka pada Bunta, seraya memikirkan Taku mu ngkin menghubungi keluarga Muto. "Yoshio tidak mendengar kabar apa-apa. Hanya ada laporan bahwa dia masih di Hofu ." Bunta menyeringai dengan kesan tidak senonoh sewaktu mengatakannya, lalu berkedip kepa da putranya yang tertawa. Apakah semua orang tahu kalau putranya tengah tergila-gila pada Sada? Shizuka be r¬tanya pada dirinya sendiri, merasakan kesal pada putra bungsunya itu. Namun di malam pertama perjalanan mereka, setelah Shizuka dan Miki pergi tidur, Bunta mengetuk pintu dan memanggil namanya pelan. Shizuka mencium bau sake. "Keluarlah. Aku mendengar kabar buruk." Bunta mabuk, sake sudah menghilangkan kepekaan serta membebaskan lidahnya. Shizuka mengambil pisaunya dari bawah tikar dan menyelipkannya di balik jubah ti durnya, sambil merapatkan jubah luarnya. Diikutinya Bunta sampai ke ujung be-randa. Bulan tidak kelihatan; terlalu gelap untuk melihat ekspresi di wajah Bunta. Halaman 250 dari 600

"Mungkin ini hanya rumor, tapi kurasa kau perlu dengar." Dia berhenti sejenak la lu bicara dengan canggung, "Ini bukan berita bagus: kau sebaiknya menyiapkan diri." Mungkin ini hanya rumor, tapi kurasa kau perlu dengar." Dia berhenti sejenak lal u bicara dengan canggung, "Ini bukan berita bagus: kau sebaiknya menyiapkan diri." "Apa?" tanya Shizuka, lebih keras dari yang diingin-kannya. "Taku diserang bandit. Dia dan kekasih¬nya, Sada, tewas." "Tidak mungkin," ujar Shizuka. "Tidak ada yang tahu detailnya. Tapi orang-orang membicarakannya di kedai." "Ora ng-orang Tribe? Muto?" "Muto dan Kuroda." jawabnya canggung. "Aku turut berduka." Dia tahu kalau berita itu benar, pikirnya, karena ia pun tahu kalau itu benar. S aat merasakan kesedihan yang mendalam selama perjalanan ke Kagemura, ia merasa arwah Kondo ber seru memanggil. Kini Taku berada di antara mereka. Ini bisa membunuhku, pikirnya. Penderitaan yang dirasakannya b egitu menusuk hingga tak tahu bagaimana bisa bertahan, bagaimana ia bisa terus hidup di dunia yang tak ada Taku di dalamnya. Shizuka meraba pisau di jubahnya, ber¬maksud menikam lehernya sendiri , menyam¬but rasa sakit di tubuhnya yang bisa mengakhiri penderitaannya. Tapi sesuat u mencegahnya. Shizuka memelankan suara, ingat kalau Miki sedang tidur di dekat situ. "Putri Lo rd Otori, Maya, ada bersama Taku. Apakah dia juga ikut tewas?" "Tidak ada yang menyebut-nyebutnya, " sahut Bunta. "Kurasa tidak ada yang tahu k alau Maya ikut bersama mereka, kecuali keluarga Muto di Maruyama." "Apakah kau tahu?" "Aku dengar ada anak yang dijuluki Si Kucing Kecil bersama Taku. Aku sedang menc ari tahu siapa orangnya." Shizuka tidak menjawab. Ia tengah berjuang mengendalikan diri. Di benaknya melin tas kenangan masa lalu, bayangan pamannya, Kenji, saat mendengar kabar tentang kematian putri nya di tangan Kikuta. Paman, dipanggilnya arwah Kenji. Kau mengerti penderitaan yang kualami saat ini dan kini aku bisa rasakan sakit hatimu. Beri aku kekuatan untuk terus hidup, seperti dirimu.

Maya, aku harus memikirkan Maya. Aku takkan memikirkan Taku, belum saatnya. Aku harus selamatkan Maya. "Apakah kita akan tetap ke Hofu?" tanya Bunta. "Ya, aku harus mencari tahu kebenaran¬nya." Ia memikirkan semua ritual yang harus dilakukan bagi arwah Taku, ingin tahu di mana putranya dikubur. Ia merasakan lilitan penderitaa n sekuat baja menghimpit dadanya saat memikirkan jasad putranya di dalam tanah, dalam kegelapa n. "Zenko ada di Hofu?" tanyanya, merasa kagum ternyata kata-kata itu terlontar dengan tenang. "Ya, istrinya pergi ke Hagi naik kapal laut minggu lalu, tapi dia tidak ikut. Di a tengah mengawasi pengaturan perdagangan dengan orang-orang asing. Dia makin dekat dengan mereka, begitulah beritanya." "Zenko pasti tahu. Bila memang per¬buatan bandit, maka dia bertanggung jawab untuk menangkap dan menghukum mereka, dan menyelamatkan Maya bila masih hidup." Namun bahkan saat ia bicara pun, Shizuka tahu kalau putranya tidak tewas dibunuh sembarangan bandit. Dan tak satu pun orang Tribe berani menyentuh Taku kecuali Kikuta. Akio te lah menghabiskan musim dingin di Kumamoto. Akio pasti telah berhubungan dengan Zenko . Halaman 251 dari 600

Shizuka tak percaya Zenko terlibat dalam kematian Taku. Apakah ia akan segera ke¬h ilangan kedua putranya? hizuka tak percaya Zenko terlibat dalam kematian Taku. Apakah ia akan segera ke¬hi langan kedua putranya? Aku tidak boleh menuduh sebelum bicara dengannya. Bunta menyentuh lengan Shizuka dengan ragu-ragu. "Ada yang bisa kubantu? Mau kua mbilkan sake, atau teh?" Ia menarik lengan, membaca sesuatu yang lebih dari sekadar simpati dari gerakan Bunta. Seketika membenci semua laki-laki dengan nafsu dan kekerasan mereka yang berujung pada ke matian. "Aku ingin sendiri. Kita pergi saat matahari terbenam. Jangan katakan apa pun pada Mi ki. Akan kuputus¬kan kapan akan memberitahunya." "Aku sangat berduka," sahut Bunta. "Semua orang menyukai Taku. Ini benar¬benar keh ilangan yang menyedihkan." Ketika langkah kaki Bunta semakin meng¬hilang, Shizuka terpuruk di beranda. Ia mas ih memegang pisau, alat yang bisa ia gunakan untuk lari dari dunia nan penuh derita ini. Terdengar olehnya langkah kaki ringan di lantai papan. Miki mendekat lalu memelu k¬nya erat. "Kukira kau sudah tidur," Shizuka memeluk gadis itu dan membelai rambutnya. "Ketukan pintu tadi membuatku ter¬bangun, lalu aku tak tahan untuk men¬dengarkan." T ubuh kurusnya gemetaran. "Maya belum mati. Aku pasti tahu kalau dia sudah mati." "Di mana dia? Bisakah kau menemukan¬nya?" Shizuka berpikir bila ia berkonsentrasi pada Maya, pada mereka yang masih hidup, maka ia takkan larut dalam kesedihan. Dan Miki, de ngan kepekaan yang amat tinggi, nampaknya menyadari ini. Miki tidak meng¬ucapkan sepatah kata pu n tentang Taku, tapi membantu Shizuka berdiri. "Kemari dan berbaringlah," katanya, seolah Shizuka adalah anaknya. "Meskipun tid ak bisa tidur, kau bisa beristirahat. Aku ingin tidur karena Maya berbicara padaku dalam mimpi. Cepat atau lambat dia akan mengatakan padaku di mana dia berada, da n kemudian aku akan bertemu dengannya." "Kita harus kembali ke Hagi. Aku harus membawamu pulang." "Tidak, kita harus ke Hofu," bisik Miki. "Maya masih di Hofu. Bila kelak kau tid ak menemukanku, jangan cemas. Aku akan bersama Maya."

Mereka berbaring dan Miki meringkuk di sebelah Shizuka. Gadis itu sepertinya ter¬t idur, namun Shizuka tetap terjaga memikir¬kan tentang hidup putranya. Semua perempuan di kalan gan Tribe dan ksatria harus membiasakan diri mendengar kabar tentang kematian kejam putra mere ka. Anak lakilaki diajarkan untuk tidak takut mati, dan anak perempuan dilatih untuk tidak menunju kkan kelemahan atau kesedihan. Ia melihat bagaimana kasih sayang seorang ibu yang terlalu melin dungi telah mengubah putranya menjadi pengecut atau mengarah¬kan mereka bertindak gegabah. Taku telah t iada, ia menangisinya, namun yakin kalau kematian putranya karena tidak ingin mengkhianat i Takeo: Taku dibunuh karena kesetiaannya. Kematiannya bukanlah sesuatu yang tidak disengaja atau tidak bermakna. Dengan cara ini Shizuka sanggup menenangkan serta menguatkan dirinya selama bebe rapa hari berikutnya saat berkuda ke Hofu. Ia bertekad tidak akan bersikap seperti seorang ibu yang kebingungan dan bersedih, tapi bersikap sebagai ketua Muto; ia takkan memperliha tkan kelemahan tapi justru akan mencari tahu bagaimana putra¬nya bisa mati dan menyerei pembunuhn ya untuk dihukum. *** Cuaca panas dan pengap: bahkan angin laut tidak mampu mendinginkan kota pelabuha n itu. Hujan musim semi hanya turun sedikit, dan orang-orang bicara dengan cemas tentang pana snya cuaca yang tidak biasa. Cuaca seperti ini dapat menyebabkan kekeringan karena selama e nam belas tahun Halaman 252 dari 600

atau lebih tidak terjadi kekeringan. Hujan musim semi dan hujan plum senantiasa datang di saat yang tepat sehingga banyak pemuda yang belum pernah mengalami kekeringan. au lebih tidak terjadi kekeringan. Hujan musim semi dan hujan plum senantiasa da tang di saat yang tepat sehingga banyak pemuda yang belum pernah mengalami kekeringan. Suasana di kota terasa menggelisahkan, bukan hanya karena cuaca. Berbagai pertanda yang mengancam dilaporkan setiap har i; wajah-wajah yang bicara tentang takdir buruk terlihat di lentera-lentera di luar biara Daifu kuji; kawanan burung yang terbang membentuk huruf nasib buruk di udara. Segera setelah mereka tiba di sana, Shizuka menyadari kesedihan dan kemarahan yang sebenar-nya dari penduduk kota atas kemat ian Taku. Ia tidak pergi ke kediaman Zenko, tapi menginap di penginapan yang menghadap ke sun gai, tidak jauh dari Umedaya. Di malam pertama, pemilik penginapan menceritakan kalau Taku dan Sada di¬makamkan di Daifukuji. Dikirimnya Bunta untuk memberitahu Zenko tentang ke¬datangannya. Ia bangun pagi-pa gi, me¬ninggalkan Miki yang masih tidur, berjalan ke biara warna merah tua yang berdir i di antara pepohonan suci, menghadap ke laut untuk menyambut kepulangan para pelaut ke Nega ra Tengah. Lantunan doa terdengar dari dalam biara, dan dikenalinya kata-kata suci dan alun an sutra bagi orang meninggal. Dua biarawan tengah menyebarkan air di papan jalan sebelum menyapunya. Salah sat u dari mereka mengenali Shizuka, lalu berkata, "Ajak Lady Muto ke pemakaman. Aku a kan memberitahu Kepala Biara." Dilihatnya simpati mereka, dan ia berterima kasih. Di bawah pepohonan besar terasa dingin. Sang Biarawan membimbingnya ke makam yan g baru digali; belum ada batu nisan; lentera menyala di sisi makam dan sese-orang telah menaruh sesaji bunga iris ungu di depannya. Dipaksa dirinya membayangkan putranya diletakkan dalam peti mati di bawah tanah, tubuh yang kuat dan lincah kini terbujur kaku. Arwah putranya pa sti gentayangan gelisah di antara dua dunia, menuntut keadilan. Biarawan yang kedua datang membawa dupa, dan tak lama kemudian, saat Shizuka ber lutut berdoa tanpa suara, Kepala Biara datang lalu berlutut di sampingnya. Mereka tetap membi su beberapa saat; kemudian Kepala Biara melantunkan suara yang sama bagi orang meninggal. Air mata mengambang di pelupuk mata¬nya dan mengalir turun di pipi. Kata-kata kuno

naik terbang ke bawah naungan pe¬pohonan, bercampur dengan kicau pagi burung gereja serta kicau lembut burung merpati. Kemudian, Kepala Biara mengajaknya masuk ke ruangannya dan menyajikan teh untukn ya. "Aku sendiri yang mengurus pengukiran batu nisannya. Kurasa itulah yang diinginkan Lo rd Otori." Shizuka menatap orang itu. Ia mengenal Kepala Biara selama beberapa tahun, tapi dia selalu dalam suasana hati yang gembira, dia bisa berkelakar dengan para pelaut dalam dialek k asar mereka sama baiknya dengan menggubah syair indah penuh humor ber¬sama Takeo, dan Tabib Ishida. Kini wajah¬nya murung, dengan ekspresi sedih. "Apakah kakaknya, Lord Zenko, ber¬hubungan dengan semua ini?" tanya Shizuka. "Aku khawatir Lord Zenko telah di¬pengaruhi orang asing: tidak ada peng¬umuman resmi , tapi semua orang mem¬bicarakannya. Dia telah menerima agama mereka dan kini mengakuinya sebag ai satu agama yang benar. Hal ini membuatnya tidak boleh masuk ke kuil dan biara kami, d an tidak boleh melakukan upacara yang di¬perlukan bagi adiknya." Shizuka menatap pendeta itu, tidak percaya dengan apa yang didengarnya. "Sikapnya sangat meresahkan," lanjutnya. "Sudah ada pertanda kalau para dewa ter¬s inggung. Orang-orang takut mereka akan dihukum dewa atas perbuatan pemimpin mereka. Sebal iknya, orangHalaman 253 dari 600

tengah bermain di beranda. Ia memaksa dirinya berpikir kalau ia salah menilai putra sutungnya itu. Itu pertama kalinya Shizuka bertemu cucunya: usianya kira-kira dua tahun. Lagipula. "Ibu. Tanganku bersih." Gadis itu memeluknya sangat erat. Deus. Seorang bocah. mereka akan mengurusmu." "Jadi kau mengakui kalau kau memper¬taruhkan nyawa kedua putramu yang lain?" tanya Shizuka pelan." "Termasuk sebagian besar pengawal pribadinya. "Bila aku tidak kembali nanti malam. Ia tidak menunggu untuk di¬panggil menghadap." katanya pada Miki. Deus." imbuhnya. tapi kukira sebaiknya mempertahankan se¬tidaknya sala h satu putraku bersamaku. "Istriku. "Kabar buruk ini merupakan pukulan bagi kita semua. cucunya. akan memberi pahala bagi Ze nko dan siapa pun yang bergabung dengannya. "yang diperintahkan pin dah agama atau mati. aku tidak melakukan kesalahan apa-apa." "Benar-benar gila. diikuii ungkapan betapa gembira dia bertemu ibunya. me¬mutuskan untuk bicara dengan Zenko secepatnya . akan memberi pahala bagi Zen ko dan siapa pun yang bergabung dengannya. Kukira mereka tidak dalam bahaya. Pandangan mata Shizuka jatuh ke kalung rosario di leher Zenko. diawasi pengasuhnya." rang asing itu bersikeras kalau tuhan mereka. terkejut karena ibunya tidak langsun g menemui dirinya. "Kemari dan sapa nenekmu. seperti yang Ibu tahu. namun segera kembali ke penginapan untuk berp akaian rapi dan memesan tandu. Zenko keluar menuju beranda begitu tandu diturunkan di dalam gerbang." ujar Shizuka. Hana akan bersama mereka dalam dua minggu lagi. pergil ah ke Daifukuji. dan anak itu dengan patuh datang lalu berlutut di hadapan Shizuka. lambang agama ora ng asing. Sebenarn ya dia enggan meninggalkan Hinomasa kecil. Kata-kata pertama Zenko adalah simpa ti." panggil Zenko." Di¬angk at kedua . selagi membimbing ibunya berjalan menuju ruangan yang meng¬hadap ke taman. "Tunggu di sini. menggantung di dadanya." ujarnya.orang asing itu bersikeras kalau tuhan mereka. sudah ke Hagi untuk menemani kakaknya.

"Bagaimana kalau kuperintahkan kau untuk memberitahu yang sebenarnya?" Pandangan Zenko menghindar. Ada penjelasan apa lagi? Aku akan kejar dan adili mereka. sambil menyeka mata dengan lengan baju. "Dia mengingatkanku pada Taku. "Lebih bersih dari tangan Hinomasa." ujar Shizuka. Shizuka merasa kalau putranya itu tidaklah menangis. "Bandit." Jelas sekali kalau Zenko tidak peduli bila ia percaya atau tidak. dan menyembunyikan wajahnya dengan lengan baju lagi." selorohnya. bukan? Darah Tribe tidak habis terkikis." Zenko tersenyum lebar. "Dia punya telapak tangan Kikuta!" seru Shizuka terkejut.tangannya lalu mengangkat tangan putranya. dan m em¬beri isyarat pada pelayan perempuan itu untuk membawa putranya pergi. tentu saja. tapi justru tersenyum. orang¬orang yang putus asa semakin berani dan keluar dari persembunyiannya. Halaman 254 dari 600 . dengan Takeo sedang di Ibukota. "Mengapa kau tidak men¬c eritakannya?" "Menarik." tutur¬nya. senang denga n keberaniannya sendiri." "Mungkin kau bisa ceritakan siapa yang membunuhnya. "Satu hal yang menghibur bila ternyata adikku yang malang hidup dalam diri putraku. T entu saja.

aku tak bisa menahan keluarga Kikuta." Zenko memelankan suaranya. Mereka menuntut Ibu dihukum. Apakah Ibu mengira Kaisar akan berpihak padanya? Kalau pun d ia kembali. kemarahannya mulai terlihat. Takeo dan Kaede menciptakan dunia itu. kami akan membunuhnya. Sugita. sudah selayaknya Ibu mematuhiku. Itu hakk u dan aku sudah siap. sebagai Muto maupun sebagai Arai. dan Kahei. sebagai Muto maupun sebagai Arai. tapi dalam hal lain. Aku akan mematuhi semua kewaj ibanku sebagai anak. Kemana pun kita melihat sejarah kebang¬kitan Otori." Janganlah bicara tentang perintah me¬merintah. "Itulah yang men jadi masalah selama bertahun-tahun. bahkan dalam kematian Lor d Fujiwara kenapa Ibu tega meng¬khianati rahasia-rahasia Tribe kepada Shigeru?" "Akan kukatakan kepadamu! Aku meng¬inginkan dunia yang lebih baik bagi kau dan Tak u. "Begitu pula Kenji." seru Shizuka. Sebenarnya dia juga buk an benar¬benar ksatria: semua pertempurannya yang terkenal itu hanya dimenangkan oleh keberuntu ngan ketimbang keahlian. kita melihat t angan Ibu dalam penganiayaan Takeo atas Tribe. dan kau pun telah bersumpah setia padanya. Ibu."Janganlah bicara tentang perintah me¬merintah." "Aku akan bunuh diri terlebih dulu. Kurasa sudah semestinya kalian hidup di dalam dunia Shigeru. atas ketidakpatuhan selama bertahun-tahun terhadap Tribe. Ibu melayani Otori." "Ya." sahutnya. . seraya menatap ibunya lekat-lekat. Aku akan mematuhi semua kewaji banku sebagai anak. sudah selayaknya Ibu mematuhiku. Kami takkan membiarkan kau menghancurkannya. Sonoda sebagian besar ksatria Ti ga Negara?" "Takkan ada perang. Ibu. "Aku dapat melindungi Ibu sampai tahap tertentu. yang ada hanyalah kerusuhan. tapi dalam hal lain. s ena dukungan tambahan yang kami miliki dari orang-orang asing " Ditepuknya salib di dadanya "Den gan senjata serta kapal mereka." ujarnya. bukan dunia yang berisi pembunuh bayaran yang ada di sek elilingku." sahutnya." "Kau sudah siap melawan Takeo." "Takeo sudah tamat. Takeo dapat dikalahkan dengan mudah. Dengan Saga di wilayah Timur." "Aku melayani Otori. "Mungkin itulah keputusan terbaik. dan aku akan dinobatkan menjadi penguasa Tiga Negara. dalam pem¬bunuhan ayahku. tapi bila Ibu bersikeras menentangku.

Biarkan ak u mengatur pemakaman adikmu. Beri aku waktu satu atau dua hari." Selama beberapa saat Shizuka mengira kalau putranya akan menolak keinginannya: i a memperkirakan jarak antara taman dan luar dinding.. P utranya adalah hadiah bagi kekasihnya: betapa bangganya Arai saat itu. tapi dalam kesunyian ia seper ti mendengar desah napas sesorang adakah penjaga yang bersembunyi di balik layar kasa. Kini ayah dan anak telah memerintahkan kematiannya. melakukan apa yang telah ia lakukan seumur hidupnya. Ia ingin menanyakan keberadaan Maya. kau putra sulungku. Ia bisa menggunakan kemampua n menghilang: jika para penjaga datang setelah ia mengalah¬kan seorang penjaga. Aku be rha rap bisa menca but nyawaku sendiri. tapi takut mengungkap sesuatu yang mungkin Zenko belum tahu. meng ambil pedang penjaga itu. di taman ? Apakah dia takut aku akan membunuhnya? Peluangnya lolos kecil. Aku akan memikirkan semua yang kau katakan. Aku tak bisa memutuskan saat diliputi kesedihan." Seketika Shizuka terkenang saat ia menemui Kenji untuk mendapatkan ijin dari Tribe agar bisa melahirkan anak ini. Halaman 255 dari 600 . bersandiwara sebaik mungkin. Lebih baik tutup mulut. dan aku ingin menjadi ibu yang baik dan berbakti pad amu. tergiur dengan pemusnahan yang disebab kan oleh kematian. Shizuka berjuang membuang perasaannya dan berpurapura bersikap lembut. Bisa dirasakannya akal sehatnya bergulir ke tepi kegilaan."Bagaimana kalau kuperintahkan Ibu melakukannya sekarang juga?" "Aku mengandungmu dalam perut selama sembilan bulan. pikirnya.. Kemarahan serta kesedihan menyelimuti dirinya: menangis selama seta hun takkan mampu menguranginya. "Zenko. hanya nasib si kembar yang mencegahnya..

Mereka mengenakan pakaian mewah. terkejut. keluar atau masuk. "Di mana Miki?" tanyanya. tapi kamar itu kos ong." "Kau akan datang untuk memanjatkan doa bagi adikmu?" Zenko melayangkan tatapan dingin. bisa dirasakannya peras aan-perasaan itu menarik-narik dirinya menuju kegilaan. mungkin dengan kekerasan. dan jangan sekali-sek ali meninggalkan Hofu. dirutukinya orang-orang asing itu ka rena mengganggu dengan kedatangan senjata dan Tuhan mereka. sama seperti saat dia ditinggal. Shizuka tak ingin memaksa karena takut Zenko akan menahannya di sini. "Di dalam. "Aku akan meminta penjaga mengawal Ibu. Selagi tandu itu digotong pergi dalam pengawalan enam orang. Shizuka lalu bicara pad a Madaren. tapi berhasil mengumpulkan keberanian lalu menjawab. Tapi ketika memikirkan nasib Miki. diikuti gelengan yang tidak sabar. tatapan matanya penuh amarah. Ia hampir tidak ingat lagi kata-kata yang terlontar dari mulutnya tadi: kemarahan dan kesedihan membuat ia kacau. Madaren menghampiri.Ternyata sisa-sisa rasa hormat masih berhasil membujuknya." . Ia berh arap bisa tetap berada dalam ruang sempit yang mirip peti mati ini. ernyata sisa-sisa rasa hormat masih berhasil membujuknya. ia mendengar suara-suara di ujung beranda utama. Jangan coba-coba kabur. Setelah memberi salam pada Don Joao dengan sikap dingin. Ibu harus ber¬gabung denganku atau mencabut nyawa I bu sendiri. merasakan kemarahan yang membara dalam dirinya. Ketika masa berkabung selesai. layaknya yang kita semua lakukan. dan tidak berhubungan dengan orang yang hidup lagi. Shizuka tidak segera turun. "Aku akan meminta penjaga mengawal Ibu. dan mereka berjalan dengan rasa pe rcaya diri yang baru. Sewaktu tandu diturunkan di luar penginapan. Ketika menoleh. Saat pergi." akhirnya Z enko berkata." akhirnya Ze nko berkata. "Baiklah. Jangan coba-coba kabur. "Baiklah. ia melihat Don Joao bersama jurubahasany a. "Tidak ada orang yang melewatiku." sahut Bunta. tanpa sopan santun." Tanpa menjawab Shizuka melangkah masuk ke dalam tandu. Bunta berjongkok di beranda. "Melakukan kehendak Tuhan. "Kau pikir apa yang sedang kau lakukan di sini?" Madaren tersipu atas nada bicara Shizuka. Shizuka me mbungkuk hormat. dan jangan sekali-sek ali meninggalkan Hofu.

ta pi di satu sudut Shizuka menemukan goresan di balok kayu. Didengarnya para penjaga saling berseru dengan tidak sabar. Ia duduk lama. "Tida k ada." ujar Shizuka. "Dia pergi mencari Maya. berusaha menenangkan diri. mencari dengan sia-sia di tempat-tempat yang paling sempit. menyelinap melewati Bunta lalu pergi menuju kota gadis itu dilatih sel ama bertahuntahun untuk melakukan hal seperti. Miki sudah pergi: menggun akan kemampuan menghilang. tapi apakah ia harus tinggal di Hofu sampai putranya atau Kikuta memutuskan kematiann ya? Tak ada waktu untuk menghubungi keluarga Muto dan meminta bantuan mereka dan lagipula. Kamar itu kosong. apa kah mereka akan menanggapi karena kini Zenko telah menyatakan diri sebagai ketua? Halaman 256 dari 600 . aku bersumpah." Shizuka berlutut di lantai. Ia tidak bisa menghilang dan membiarkan Taku tidak diratapi. merasakan panasnya cuaca hari ini. Tak ada yang bisa ia lakukan untuk gadis itu saat i ni. Dua buah setengah lingkaran saling berh adapan. Peluh mulai mengalir di sela p ayudara dan ketiaknya." "Sebaiknya kau jangan berbohong. dan di bawahnya ada lingkaran penuh. masuk kembali ke kamar itu lagi. dan menya dari kalau pilihannya semakin berkurang."Siapa yang membawanya?" jantung Shizuka mulai berdebar kencang ketakutan.

Pergi da n carikan gunting tajam dan jubah putih untukku. Shizuka me¬nyuruhnya menunggu di luar. "Apakah dia sudah tidak waras?" didengarnya putra Bunta berbisik." panggilnya. doakan kami. Kenji . Doakan kami Oh. "Shizuka!" prates Bunta dari teras. hizuka memanggil para mendiang untuk memberinya saran: memanggil Shigeru. Benaknya yang kelelahan makin men¬curahkan perhatiannya pada kata-kata ter¬sebut. Ia merasakan napas dingin arwah mereka. di antara dua untaian rambut panjangnya. "Bunta. serta pisau lemparlalu menaruhnya di lantai. Kesedihan dan keadaan tidak tidur mulai menuntut bayarannya. wajahnya pucat karena kaget. Dibuangnya sisa-sisa potongan rambut lalu mengenakan jubah putih. hingga dirinya menjadi salah satu dari mereka. Shizuka sampai ke bagian depan pengin .Shizuka memanggil para mendiang untuk memberinya saran: memanggil Shigeru." ujarnya lantang. garotte. Diambilnya senjata miliknya pedang. meminumnya lalu me-mecahkan cangkir kosong menj adi dua dengan gerakan cepat. atau mereka akan mengatakan apa yang harus ia lakukan." Bunta muncul di teras. lalu ia meminta dibawakan semangkuk teh. Kondo dan Taku. tapi Shizuka tidak mengacuhkannya. Ia akan ke biara dan meratapi men¬diang. Doakan kami Oh. "Perempuan yan g malang!" Berjalan dengan perlahan dan berhati-hati. Kesedihan dan keadaan tidak tidur mulai menuntut bayarannya. Dia melepas ikatan rambut. Dibukanya bungkusan itu lalu mengeluarkan gunting. Ia merasakan napas dingin arwah mereka. "Aku takkan minum lagi. lakukan saja permintaanku. doakan kami. mem¬baringkan jalinan rambutnya dengan hati¬hati di alas lantai." Sewaktu Bunta kembali. Lalu diguntingnya sisa rambutnya sampai pendek. Kenji. Aku harus ke biara dan mengurus nisan sert a ritual pemakaman Taku. terkejut memerhatikan betapa banyak ubannya. dibagi menjadi dua untai lalu m enggunting keduanya. merasakan helaiannya berjatuhan di sekelilingnya bak debu beterbangan. "Ada satu tugas terakhir yang kuminta kau lakukan. "Apa yang terjadi? Jangan katakan kalau kau ingin menghabisi nyawamu sendiri. Setelah memenuhi permintaanku. menghaturkan terima kasih kepada semua senjata dan kepada hidupnya sampai saat i ni." "Sudahlah. pisau. Membungkuk hingga ke lantai. Kondo dan Taku. kubebaskan kau dari ke wajibanmu untuk melayaniku.

dan ia berjalan perlahan memasuki pelataran utama. mereka mengikutinya sampai ke jalan di tepi sungai menuju Daifukuji. namun jumlahnya justru semakin b esar dan makin sulit dikendalikan serta makin tidak bersahabat. Kerumunan kian banyak di pintu masuk. dan berusaha menghalau. dan batu nisan dipahat l alu didirikan. dan orang-orang mengatakan bahwa Surga tengah memberinya minum. ber hasil menghalau mereka menjauh dari ger-bang biara. banyak yang berlarian ke sungai yang hampir kering. Penduduk kota mengatakan kalau Surga menangisi ibu yang ditinggalkan. S etelah itu hujan turun setiap malam. dan mengorek batu-batu dari endapan lumpur lalu melempamya ke arah pengawal. Harihari berlalu dan Shizuka tetap bergeming. Ritual pemakaman diadakan selagi Shizuka duduk di sana.apan. dan akhirnya ia membiarkan dirinya menangisi kematian putran ya dan pengkhianatan putra¬nya yang satu lagi. di siang hari sering terlihat burung-burung beterbangan di s ekitar kepalanya. bergerak seolah meng ambang. Para pengawal Zenk o dibuat gelisah dengan arak-arakan ini. kakinya dilipai ba k makhluk suci di atas bunga teratai. "Mereka memberinya makan dengan butiran gandum dan madu. Ketika ia melangkah masuk ke dalam ta ndu. Shizuka duduk di tanah. Popularitas Zenko sedikit demi sedikit ber¬kurang saat bulan dari bulan kelima mulai mendekati puncak purnamanya. dan mereka bersyukur terhindar dari kekeringan.* Halaman 257 dari 600 . juga tidak makan dan minum. Di malam ketiga hujan turun rintik-rintik." para biarawan mengumum kan. Pemanggul tandu menurunkan Shizuka di luar gerbang. Sekerumunan kecil orang berkumpul di sini.

tak sanggup membayang¬ka n kehilangan yang lebih besar lagi. makanan¬nya jarang datang tapi ia tak terganggu dengan rasa lapar. berlutut di depannya lalu meraih dan membalik telapak tangannya. Gerak refleksnya sangat cepat ayahnya sering bilang kalau itu gerakan paling cepat yang pernah ada sangat kuat dan tidak punya perasaan. tenggorokannya terasa kering. t api ia masih belum ingin pergi. Ia sadar sedang berada di kamar kec il remang-remang. Ia ingin tetap dekat dengan Akio dan Hisao: tak dibiarkannya mereka membunuh ayahnya. Maya akhirnya memahami kalau makin sedi kit ia makan. Ia melihat Akio ketika orang itu mem¬bawakan makanan dan minuman. pelayan perempuan datang untuk mengantarnya ke kakus: selain itu ia tidak melihat ada orang lain lagi. perutnya mual. Ia tidak bicara pada Akio tapi mengamati. tapi la ki-laki itu bisa melihat orang yang menggunakan kemampu¬an menghilang dan menghindari tatapan maut.Selama berhari-hari Maya meratapi kepergian kuda-kudanya. Dua atau tiga kali sehari. dan cara bicaranya pelan tapi aneh. Maya tahu ia bisa kabur kapan saja karena pintu dan dinding takkan mampu menahan si kucing. tapi ternyata tidak laki-laki itu menahan dirinya untuk tujuan terten tu. makin mudah menggunakan kemampuan menghilang dan sosok kedua. di s atu malam laki-laki itu datang. dan bersiap mencari tahu semua tentang mereka. Shigeko telah memintanya untuk merawat kedua k uda itu. Saat tersadar kembali. Maya tahu kalau Akio tidak memiliki kemampuan menghilang atau tatapan maut Kikuta. Takeo sering menceritakan saat Tribe mengurungnya di kamar semacam ini. seperti Akio mengamati di rinya. dirinya yang akan membunuh mereka lebih dulu. Maya punya banyak waktu untuk merenungkan kegagalannya. Diingat-ingatnya lagi sewaktu melepas tali kekang dan kedua kuda betina kabur. Maka dikendalikan amarah dan rasa takutnya. Tapi setelah dikurung selama kira¬kira seminggu. Saat itu ketiga kalinya ia meng¬hadapi bahaya yang sesungguhnya setelah serangan di Inuyama dan pertemuan dengan ayahnya dan merasakan kalau saat itu ia merasa gagal. ruang rahasia rumah Tribe. terkadang bahkan ia pun terkecoh dan melihat Miki sedang bersand ar di dinding di seberangnya. Ia mempraktikkanny a saat sedang sendiri. May a bisa mencium bau sake di napasnya. la menyesali ketidakmampuan dirinya untuk bergerak atau membela diri yang tak bisa dijelaskan. dan ia membiarkannya pergi. Ia mengira Akio akan langsung membunuhnya. walau sudah berlatih selama bertahun-tahun di Tribe. . dan kini kenangan itu menghibur dan me¬nenangkannya.

Ia tidak melihat gerakan tangan laki-laki itu. tapi tidak menceritakan tentang si kucing. dan sebelum selesai menggeleng dirasakan kepalanya terhempas da n pandangan matanya kabur selagi Akio menamparnya. "Lalu di mana adikmu?" "Aku tidak tahu. "Kau pernah mencoba mengunci tatapan mataku: kau pasti memiliki bakat tatapan ma ut Kikuta." Halaman 258 dari 600 . Bagaimana dengan kemampu an menghilang?" Maya menceritakan karena tidak ingin Akio membunuhnya saat itu juga."Kuharap kau jawab pertanyaanku dengan jujur karena aku adalah ketua keluargamu: apakah kau memiliki kemampuan seperti ayahmu?" Maya menggeleng.

"Kalau ibumu takkan melakukan apa-apa untuk menyelamatkanmu. Dan Maya yakin kalau Hisao tak tahu ayah kandungnya. Akio menyeringai. ter¬cengang kalau ternyata ia tidak takut pada laki-laki itu. dan Maya melihat kebencian serta rasa iri pada Takeo. seolah ini permainan yang sangat dinikmat inya. bersama keluarga Muto. "Dia di Kagemura. Ia tak menyadari kalau ternyata." "Itu tidak benar. "Ayahku tidak memedulikan aku dan adikku." ujarnya." sahut Maya.Bahkan meski sudah menduganya kali ini. Aku takkan ragu melakukan yang sama padamu. Kupikir sebaiknya dia berada di sini bersama kita." "Dia berhati lembut. dia Kikuta. sep erti ayahnya. seolah ini permainan yang sangat dinikmat inya. yang tak pernah dibicarakan siapa pun. kukira kau sudah tahu. Ayahku hanya bersifat baik . Tribe selalu bersatu pada akhirnya. ia lebih tertarik pada reaksinya sendiri ." "Hanya untuk membunuhmu. melintang dari pergelangan sampai ke bagian bawah ibu jarinya." Maya berbohong. Di bagian belakang tangan kanannya ada be kas luka lama." Maya tidak bereaksi atas perkataan itu. "Begitulah cara kami bisa bertahan. Maya tidak bisa bergerak cukup cepat unt uk menghindari tamparan yang kedua. "Kau melihatku membunuh penyihir Muto itu. Ia memanggil Akio Ayah. Akio menyeringai. "Tapi dia takkan membunuh Hisao!" Maya menemukan dirinya memikirkan tentang Hisao. itu saja. Selama setengah tahun ini ia harus menerima kenyataan kalau ini adalah putra ayahnya." ujar Akio. Maya tidak bisa bergerak cukup cepat untu k menghindari tamparan yang kedua. kakak tirinya. "Ada perubahan dalam keluarga Muto. tapi ayahmu menyayangimu." "Benarkah? Tapi dia bukan Muto." ujar Akio. ahkan meski sudah menduganya kali ini. tak pernah diberitahukan pada ibunya. Akio tertawa lalu berdiri. "Mungkin kau bisa membawa Takeo kepadaku. ia dianugerahi kemampuan untuk tidak takut pada Kikuta. Hisao menatap dengan pandangan tak mengerti ketika ia . Sada." "Keluarga Muto takkan menyerahkan adikku padamu." sahut Maya. Par a ksatria membenci anak kembar dan menganggap mereka memalukan. "Ini yang pernah kudengar." Akio mengetuk-ngetuk gigi dengan kuku.

dan sering terombang-ambing antara sadar dan tidur. Mulai ber¬ek sperimen dengan mengambil alih bentuk si kucing di malam hari selagi tidur. namun lama kelamaan kepercaya¬an dirinya makin meningkat. D i siang hari ia adalah tawanan. Keseimbangan baginya menjadi begitu sederhana: bila Hisao mati maka Takeo bisa hidup selamanya. Maya mendengar di benaknya berulang kali sua ra Sada. semacam warisan Kikuta yang membulatkan tekadn ya yang kejam mulai terbentuk. Jadi anak itu benar-benar putra Takeo? Dan jawaban Taku." Ia bahkan pernah ber mimpi si kucing berbaring di sisi Hisao. "Aku adikmu. i a memimpikan Hisao. Ya. kar ena hal itu ingin ia sembunyikan dari Akio. ia tidak ada kesibukan lain. ingin tahu semua tentang pemuda itu. Ia memimpikan Miki. sementara di malam hari ia bisa keluyuran dengan bebas ke sel uruh bagian rumah. mimpi yang begitu jelas sehingga ia seperti yakin kalau Miki ada di kamar itu bersamanya. dan menurut ramalan dial ah satu-satunya orang yang bisa membawa kematian Takeo. serta memasuki mimpi-mimpi mereka.mengatakan kalau ia adalah adiknya. Karakter tidak mengenal kompromi. Halaman 259 dari 600 . merasakan hembusan napas di wajah mereka atau bulu hangat berbaring di sebelah m ereka. Dilihatnya deng an sikap remeh rasa takut dan harapan mereka. bermimpi bagaikan nyata. Selain latihan gerak badan yang dilakukan¬nya dengan tekun. Para pelayan perempuan mengeluhkan adanya h antu. Awalnya ia ragu. Ia menjadi terobsesi pada Hisao. dan merasakan kehangatan tubuh kakaknya itu. mengamati penghuninya. Ia berlutut di sampingnya saat pemuda itu tidur lalu berbisik di telinganya.

bergoyang-goyang dan bergumam.mendengar langkah pelan makhluk besar. Kau bermimpi tentang kain pem¬bung kus: kau pernah membungkus beberapa kue mochi dengairkain itu dan saat kau buka bungkusan nya. di sisi lain halaman. "Noriko. Selain perjalanan ke kakus ia hampir tidak pernah bertemu mereka sampai suatu hari seorang perempuan muda datang membawakan makanan. tapi malah mendekati Maya. tempat bengkel penempaan da n perbaikan alatalat rumah tangga dan senjata. Pemuda itu tidur gelisah. "Jangan menatapku." ujarnya." Gadis itu tertawa cekikikan tapi tidak memalingkan wajah. "Noriko. akan kubuktikan betapa kuatnya diriku. kue-kue itu penuh ulat." Ditahannya tatapan gadis itu . memer¬hatikan gerakanny a yang berhari-hari dan sangat teliti. endengar langkah pelan makhluk besar. tapi itu justru membuat Maya tertarik. kadang sendi ri. Hal-hal aneh terjadi di seluruh kota. Maya berjalan pada waktu tersunyi. Akio dan Hisao tidur terpisah dari peng¬huni laki-laki lainnya. "Siapa namamu?" tanya Maya. Para pelayan perempuan tak pernah meng¬ajak bicara. "Tatap mataku. per tanda serta penampakan. Maya berkata. "Kau tahu aku anak perempuan. Kadang Hisao terbangun dan tidak bisa tidur lagi. dan gadis itu tertawa. Maya mengikuti dan mengamatinya. pert anda serta penampakan. Usianya kira-kira sebaya dengan Shigeko." bentak Maya." bisiknya." "Aku tidak bilang siapa-siapa!" gadis itu tercekat." sahut Maya. kadang dalam pelukan Akio. "Kau seperti anak laki¬l aki. Mimpi-mimpinya kejam dan tidak ber aturan. " Bagaimana kau bisa tahu?" "Aku tahu banyak hal. tepat sebelum fajar menyingsing untuk mengamati Hisao yang sedang tidur. "Kau pernah mengintipku kencing ya?" Maya bicara dengan bahasa anak laki¬lak i. di kamar bagian be lakang rumah. dan dia menatap Maya dengan keingin¬tahua n yang terang-terangan. Hal-hal aneh terjadi di seluruh kota. kemudian pergi ke rumah kecil di belakang rumah. Kau tahu kalau aku sangat kuat.

. Ketua Kikuta sangat marah karena mereka seharusnya pergi menemui Lord Zen ko Akio akhirnya pergi sendiri. Noriko menatap bingung." ujar Maya terus terang.. "Tutup pintunya. dan satu l agi. H ari ini dia sedang sakit. Kepala gadis itu berputar saat Maya menarik kekuatan tatapan mautnya. "Aku kasihan padanya." "Mungkin aku bisa menolongnya. takkan ada orang yang melihatku." kata Maya.. sesuatu tentang Hisao. Maya menam par kedua pipi gadis itu untuk menyadarkannya. tapi jangan dikunci. "Ayahnya sangat keras kepada nya. Aku akan ke kamar Hisao.selama beberapa saat. Muntah." "Sakit yang bagaimana?" "Dia sering terserang sakit kepala yang parah." ujar Maya. dan dia sering sakit." Halaman 260 dari 600 . Jangan khawatir. dan pandangannya kabur. cukup lama untuk melihat kalau gadis itu percaya pada takhayul. Gadis itu tersipu. Tapi kau harus berhati-hati ka lau Akio datang." bisiknya. Peringatkan aku saat dia kembali. "Kau bodoh kalau mencintai Hisao. "Kenapa kau tidak mengantarku kepadan ya?" 'Tidak bisa! Akio akan membunuhku kalau dia tahu." "Antar aku ke kakus.

Aku pernah melihat mi mpinya dengan cara yang sama aku melihat mimpimu. dan sesaat ia t ak bisa melihat apaapa. Maya ber¬gegas pergi ke kama r Hisao tidur. sudah kukatakan kalau aku in gin menolongnya. Noriko. lemah. "Dia tidak bilang siapa-siapa.. Dia memimpikan dirinya memelukmu dan mengigau dal am tidurnya." Bahkan saai bicara. dan jangan berlama-lama di dalam situ. "Cepat. di¬sentuhnya lehernya nadi Hisao.. Hisao sedang karena penyakitnya. dengan spontan. tapi setain itu ia tenang-tenang saja. Noriko sudah terbiasa deng an keanehan semacam itu. melihat ke luar dan memberi isyarat kepada Maya. Maya berkata pelan. membayangkan urat akan memanggil si kucing. tidak suka pada gadis itu karena m abuk kepayang oleh cinta. Ia tak akan mendapat kesempatan seperti ini lagi. S . Bagaimana bisa aku menyakitinya? Lagipula. mungkin pandangannya kabur dengan tatapan maut. tenggorokannya terasa k sakit. menjilati bibir. Dia membutuhkan bantuanmu. meraba. Dan kalau cara itu gagal. Kamar itu baunya masam. Aku tida k punya senjata. Teriknya sinar matahari di luar telah mengecilkan pupil matanya.. mengarahkan pandangannya tetap ke depan. "Dia juga mencintaimu. samar-samar tercium bau muntah. Dari irama napasnya yang teratur sepertinya dia memang tidur. kita ke kamar Hisao." "Benarkah?" mata gadis itu berbinar-binar di wajahnya yang kurus dan pucat."Kau takkan menyakiti Hisao?" Kau takkan menyakiti Hisao?" "Dia laki-laki dewasa. dan di pintu kakus Maya meremas perutnya dan berteriak seolah kesakitan. "Ini g ara-gara makanan menjijikkan yang kau bawa!" Disentuhnya bahu Noriko saat bentuk tubuhnya memudar. lalu melangkah masuk. Noriko meng¬geser pintu terbuka. Dia akan mudah dilumpuhkan sendiri. Mereka ber¬jalan cepat-cepat ke belakang rumah." Ketika Noriko mas ih ragu." Maya memerhatikan wajah Noriko men¬jadi lembut. Maya ingat semua cara yang pernah diajarkan kepadanya untuk membunuh dengan tangan kosong. Lidahnya ering. satu tangannya menutupi wajah. urat nadinya. Kemudian dilihatnya pemu da itu meringkuk di matras di sudut. ia "Ayo." ujar Noriko. Aku baru empat belas tahun bahkan masih anak-anak. tapi dia memimpikan dirimu. menggeser pintunya terbuka. "Mana bisa kutahan kalau sakit begini?" sahut Maya dengan nada yang sama.

ia melenturkan pergelangan tangan. Pemuda itu lebih kuat dari perkiraan. dan menatap sejenak sebelum berkelit dari cengkeraman tangan gadis itu. tapi ia langsung menatap mata pemuda itu dan selama beberap a saat membuat Hisao pusing. meludah dan meng¬geram. mengumpulkan tenaga. Miki! Ujarnya pelan. lalu mengibaskan kep ala saat mencoba berkelit lagi. dirasakannya kemarahan Miki p ada Hisao merasuki dirinya dan si kucing mulai muncul. Aku ga gal. berjalan melintas i kamar. Kulit pemuda itu berkeringat. si kucing bergerak mundur. L ayar kasa yang rapuh sobek. dan selagi punggung H isao melengkung dan memukul-mukul saat meronta berusaha melepaskan diri. berlutut di sebelah Hisao dan menyerang bagian lehernya Usahanya melemahkan konsentrasinya hingga kemampuan menghilangnya sirna. dan dari suatu tempat ia mendengar Noriko memanggil namanya. selagi tangan Hisao mencengkcram lehernya. dan Maya bersiap untuk mati. Hisao berteriak kaget dan melepasnya.ambil menahan napas. Hisao juga merasakannya. dan Maya merasakan cengkeramannya mulai terasa licin. Mata Hi sao terbuka. cengkeraman jarinya makin kuat bak tentakel. siap melarikan diri tapi masih belum ingin menyerah." Halaman 261 dari 600 . pikirnya. Ditangkapnya tubuh Maya lalu dihempaskannya ke dinding. Ia bergantung seperti hewan saat Hisao berusaha bangkit dengan tangan dan lutut. dan seolah Miki mendengarnya.

Waktu sejenak itu memberi Maya waktu untuk meraih kembali kendali diri dan konse ntrasinya. Dan kemudian ia menyadari kekuatan yang ini dan b agaimana ia bisa memanfaatkannya. "Tolong aku! Tolong aku!" "Apa yang kau inginkan?" tanya si kucing. Mata pemuda itu tid ak tokus. maka ia terus me semakin menyengat: kamar itu terasa panas tak te Terdengar olehnya bisikan di sebelah kanannya. roh si kucing yang merasuki dirinya bergerak dengan bebas antara dua dunia. Ada orang lai Maya menoleh ke samping dan melihat perempuan itu. Sepeninya pemuda itu berusaha melihat sesuatu di belakang Maya . Dilihatnya kalau ternyata ada sesuatu yang melemahkan Hisao. Ia terkejut. agak terhuyung-huyung. Ekspresi di wajah¬nya melukiskan kemarahan dan putus asa yang b ahkan membuat hati Maya terharu. Perempuan itu berseru memanggilnya. k tahu kalau itu bukan suara Noriko. ijinkan aku menyen tuhmu. menund . Masih muda. Jadi ini yang dimaksud Taku. potongan rambutnya pendek. "Kembali kau!" ujar Hisao. Hisao mendekat. endati tak memahami kata-kata itu. Bau busuk dan jamur rtahankan: bulu si kucing menyesakkan napasnya. dan tubuhnya melayang. agak terhuyung-huyung. Sepeninya pemuda itu berusaha melihat sesuatu di belakang Maya . "Kau telah memaafkanku. Maya mengira itu semacam tipuan natap tajam pemuda itu. Tangan itu melembut berbentuk melengkung yang ingin sekali mengelus bulu si kucing. mungkin sembilan belas atau dua puluh tahun. menyeberangi sisi seberang dunia fa na. Mata pemuda itu tid ak tokus. Apakah kau hantu juga? Boleh aku menyentuhmu?" Ia melihat perubahan tangan Hisao saat menggapai. Dilihatnya kalau ternyata ada sesuatu yang melemahkan Hisao. tapi ia n lagi di kamar itu. "Aku ingin putraku mendengarkan aku!" Belum sempat Maya menjawab. Dilihatnya kalau Hisao begitu ingin menatap hantu itu tapi juga takut. renungnya saat menyadari hutang budinya pada si kuc ing dan bagaimana ia bisa memenuhinya. dan mendengarkan suara berbisik. untuk mengecohkan pandangannya. wajahnya pucat. si kucing bereaksi seolah tunduk pada majikannya. Kemarilah. Perempuan itu mengenakan jubah putih. aktu sejenak itu memberi Maya waktu untuk meraih kembali kendali diri dan konsen trasinya. dan mendengarkan suara berbisik.

rasa takut melihat sedikit kekuatan yang bangkit. Halaman 262 dari 600 . berdiri di teras. berganti-ganti memandang kedua orang. Ia merasa¬kan penderitaan saudaranya itu seolah berada di kepalanya send iri: lalu berkurang. rasa takutnya memasuki dunia alam baka. Maya kembali ke wujud aslinya dengan rasa lega. "Akhirnya!" ujarnya. Maya merasakan kebingungan pemuda i tu: rasa lega karena penderitaannya telah sirna. tatapannya kagum dan lapar. Hisao tercekat. kumparan c ahaya bak roda bergerigi dari alat penyiksaan. "Jangan pergi. "kau sudah baika n. tapi Hisao menangkap lengannya. Noriko memanggil-manggil dari luar. bergelayut ketakutan yang sama. "Cepat! Ketua sudah datang!" Hisao mengangkat tangannya. meski ia membenci pemuda itu dan ingin membunuhnya. dan membiarkan Hisao membelainya. Maya melihat. jalan yang dirinya dan Hisao harus lalui bersama.uk¬kan kepala serta merebahkan telinga. "Ibu?" Hantu itu bicara. Ia mematuhi keinginan si kucing. Di tepi kesadaran Maya. melalui mata Hisao: pandangan setengah buta. jalan yang terbentang ke depan yang tak ingin ia ambil. ia bisa merasakan cengkraman Hisao s ampai ke tulang sumsumnya. "Gadis itu menyembuh¬kanmu!" Mereka berdua tidak mengacuhkannya." ujarnya. Pemuda itu tengah menatap¬nya. Apakah kau melihatnya?" Noriko. "Katakan padaku. Sentuhan Hisao menyatukan sesuatu di dalam diri mereka. "Sekarang maukah kau mendengarkan Ibu?" Tangan Hisao masih di atas kepala si kucing. Ia i ngin pergi dari pemuda itu. dan Hisao ber¬kata." serunya.

"Dia i tu ibumu. tapi segera setelah kembali ke kamar s empit. Tapi sentuhan tangan majikannya mem¬buat si kucing enggan pergi. . Ia ingin tahu apa yang mereka ketahui. tapi di antara mereka mengalir kerinduan akan kedekata n serta sentuhan kasih sayang yang dibutuhkan hewan itu. aku akan memperingatkan Ibu tentang Zenko dan Hana. Data nglah kepadaku. Akio akan tahu tentang si kucing. tapi majikannya memanggil¬n ya: si kucing harus menemuinya. dan dia ingin agar kau mendengar¬kannya. Hisao menggapaikan tangan dan kucing itu menghampiri. seolah merindukan sentuhan dan belaiannya. pikir Maya. Dia akan ceritakan semuanya. Telinga si kucing berdiri tegak. dan si kucing menjilati pipinya dengan lidah ka sarnya. Aku harus pulang. dan dia ingin agar kau mendengar¬kannya. Kala itu malam gelap pekat. kelelahan yang menggiurkan menye¬limuti dirinya. oleh sebuah perintah. Ia tak ingin merasakan bulu tebal si kucing. serta semua rahasia lain yang disim pan orang mati dari mereka yang masih hidup. ak u harus pulang. Dan Maya ingin. Aku harus melarikan dirinya. Kelopak matanya terasa makin bera t. b ertentangan dengan keputusannya. sekujur tubuhnya terasa sakit karena kelelahan. Pemuda itu tel ah menemukan tempat yang cocok dan tidak ada orang yang meng¬ganggunya."* Tentu saja aku melihatnya."Tentu saja aku melihatnya. Kucing itu berjalan dengan mudah¬nya melewati layar kasa dan dinding menuju bengkel tempat api penempaan menyala semalaman. Leher dan rambutnya terasa lemb ap karena keringat. Maya terbangun. seolah ditarik paksa keluar dari air. Tak satu pun dari keduanya bicara. Maya tidur nyenyak selama berminggu¬minggu. ia berbaring di lantai dan langsun g tertidur lelap. "Dia it u ibumu. Tanpa bicara kepada Noriko. Entah dia akan membun uhku atau mereka akan memanfaat¬kan aku untuk mela wan Ayah."* Dia akan bilang pada Akio." sahut Maya seraya menyelinap melewati Hisao. udara terasa lembap. Pemuda itu membelai. selagi Noriko bergegas kembali ke kamar y ang terkunci. Pa ra penghuni rumah sudah terbiasa melihat Hisao berada di situ saat dini hari. berjalan di antara dua dunia dan berbicara dengan hantu. kepalanya berputar." sahut Maya seraya menyelinap melewati Hisao. bagaimana rasanya mati.

Kuci ng itu mengurangi sakitku. dan menenangkan suara-suara Halaman 263 dari 600 . "Perlihatkan wujud aslimu. "Tak seorang Muto pun tahu bagaimana menghadapinya. tapi Taku telah membantuku mengendalikannya. tangan pemuda itu masih di teng kuknya. Bara api meretih. Rasanya menyenangkan se¬kaligus menjijikkan. Ia terus menunduk. asap membuat matanya pedih." "Aku adalah penguasanya: tapi aku tak tahu sebabnya atau bagaimana caranya. saat ber¬samaku. tak ingin menentang ta tapan pemuda itu. dan rohnya merasuki diri ku. Hisao berkata.Setelah agak lama." Maya tersadar kalau ia berdempetan dengan Hisao. Akhirnya Hisao berkata. seakan tak ingin kembali ke dunia manusia yang penuh dengan kata-kata. Hisao mengangkat lentera lalu menatap. Ia melepaskan diri dari pelukan Hisao . Tak satu pun dari mereka bicara. Tidak bisa dilihatnya ekspresi wajah Hisao dalam keremangan cahaya. "Mengapa kau datang sebagai kucing?" "Aku membunuh seekor kucing dengan tatapan maut Kikuta." sahutnya.

tapi melihat dengan jelas dan tanpa perasaan terharu pada k ematian Taku. "Ayahmu adalah Otori Takeo. Tiba-tiba ia membenci pemuda itu lagi. atau de ngannya atau Miki. tapi ayahku pernah membunuh seeko r kucing di depan mataku karena aku menyukainya kau bukan kucing itu kan?" ingga aku bisa mendengarnya. Hisao tidak mirip ayahnya." Takeo melirik ke arah Maya." Hisao menjauh. aku tidak bisa be rhenti memikirkanmu. Taku dan Sada mati bersama. Maya menolaknya. menjauh dari cahaya lentera. "Aku tetap menyukaimu. Berjanjilah kau akan tinggal bers amaku. Laki-laki itu mati dalam pertarungan. dan merasa jijik pada dirinya sendi ri atas keinginan dan ketentraman yang dirasakan kucing itu hingga tunduk pada Hisao. lalu b erkata dengan nada kejam yang disengaja. tidak mengkhianati siapa pun. dan kulitnya memiliki tekstur dan warna yang sama. penuh kehormatan. yang kami sebut si Anjing." Hisao meletakkan lentera kembali di atas lantai dan berusaha menarik tubuh Maya lebih dekat lagi. ibu kita berbeda. Wajah Hisao mengkerut. Cahaya berkilat di laras baja hitam senjata itu. Seketika Maya teringat kenangan akan masa kecilnya payung pelindung sinar matahari dan cairan unluk membuat kulit lebih terang: betapa bodoh dan sia-sianya semua itu sekarang. tapi senjata ini lebih kuat ketimbang ilmu sihir.hingga aku bisa mendengarnya. namun rambutnya yang mengkilap mirip dengan rambut mereka. dengan nuansa warna madu. Aku memerlukan dirimu bersamaku. "Dia itu penyihir." Kini Maya bisa melihatnya dengan lebih jelas. "Aku dan ayahku akan membunuhnya. "Kau sudah lihat bagaimana senjata ini menghabisi Muto Tak u. Aku suka kucing." Maya tidak menjawab." Hisao tertawa dengan ser ingai yang dibenci Maya. dan tidak seorang pun berhasil mendekatinya. "Kau tahu kalau kita bersaudara?" tanyanya. "Dia itu ibumu? Hantu perempuan itu? Itukah sebabnya kau bisa melihatnya?" "Bukan. Tidak ada yang harus disesali dari . dan mengeluarkan senjata api kecil. tapi ayahku pernah membunuh seekor kucing di depan mataku karena aku menyukainya kau bukan kucing itu kan?" Maya menggeleng." ujarnya. Aku suka kucing. tapi ayah kita sama. "Aku pasti sangat menyukaimu.

" katanya begitu pelan hingg a Maya hampir tidak bisa mendengar suaranya. seperti dulu aku pernah terikat pada tubuhnya." Keraguan dan kemarahan terdengar dalam suaranya." ujar Maya. maka aku akan mendengarkannya." sahut Hisao. tapi aku tahu." "Dia sayang padaku. Kau tidak tahu bagaimana seharusnya sikap ayah pada anaknya. "Bukankah sudah kukatakan padamu untuk mendengar kannya? Ibumu akan mengatakan yang sebenarnya kepadamu. "Itu sebabnya aku berusaha membunuhmu. "Dia terikat pada diriku oleh seutas tali . "Lord Otori adalah ayahmu." sahut Maya." "Akio adalah ayahku. menganiaya dan berbohong padamu." Halaman 264 dari 600 . Umpan Hisao tak membuat¬nya terpancing maupun melemahkan diri¬nya. "Jadilah kucing lagi. Saat dia ingin bicara maka rasa sakit itu menyerang¬ku." "Tanya pada ibumu. "Dia menyembunyikannya dari semua orang. Dia bukan a yahmu. Dia membutuhkan diriku. Ia merasa kehausan. Kadang dia diam saja. Udara terasa panas: Maya bisa merasaka n peluh di dahinya." Kemudian keadaan hening dalam waktu lama. Aku tak pernah terbebas darinya. ag ar kau tidak membunuh ayahmu sendiri." bisik Hisao.kematiannya. "Apakah ibumu ada di sini?" "Dia selalu ada di sini. "Akio memperlakukanmu dengan kejam. It u tidak terlalu buruk.

" bisiknya." Jemari kurusnya menyentuh dahi Hisao. "Hal yang sama terjadi pada ku." Karena kau berusaha melawan dunia arwah. Mereka menangisi kepergian Ibu dengan cinta." bisiknya. Ibu tak ingin mati. Aku tidak seperti ka u. Gadis itu merasakan tubuh si kucing meregang dan mel entur dengan keinginan yang kuat." Hisao tidak menyadari kalau suaranya berubah dan menjadi seperti hipnotis. dan Hisao merasakan sosok tub uh ibunya begitu dekat." "Aku ingat."Karena kau berusaha melawan dunia arwah. Akio mem-bunuh Ibu karena dia membenci ayahmu. dihia si dengan daya tarik yang tak bisa ditolak Maya. bicara lebih keras. aku juga kesakitan. melayang. biarkan ibu me melukmu. meng¬gerakkan debu dan membuat dau n jendela bergemeretak. Mereka." Hisao berkata. Aku tidak bisa menggunakan sosok kedua." Bara api penempaan dan cahaya lentera meredup dan berkelap-kelip saat angin hang at dan berbau busuk tiba-tiba ber¬hembus meniup debu di lantai. "Hal yang sama terjadi pad aku. membara makin terang. Saat si kucing ingin muncul dan aku menolaknya. membuat hewan itu menunjukkan cakar nya. matanya yang keemasan tidak berkedip. "Tetaplah di dekatku. Tapi mereka tidak memisahkan diri Ibu darimu. Hisao duduk diam tak bergerak. aku juga kesakitan. "Dulu Ibu suka memelukmu seperti ini saat kau bayi. Mereka menyaksikan Ibu mati dengan jiwa dan raga yang menderita. merasakan tekanan paling lemah saat ibunya memeluk dirinya. Saat si kucing ingin muncul dan aku menolaknya. Hisao menarik tubuh si kucing yang lentur itu lebih mendekat dan membelai-belai bulu-bulu tebalnya." kata sang ibu. . Bahkan melihat semua kemampuan ini pun membuat perutku agak mual. Dia membuatku nyaman dan kuat. Kotaro dan Akio. "Ibu tak sanggup meninggalkanmu. Kala itu usia Ibu baru dua puluh t ahun. Kemudian api makin ber¬kobar." ujar Maya. membelai rambutnya. "Biarkan Ibu menyentuhmu. apa pun yang ingin kau katakan. "Nak. suaranya gemetar. Tangan Hisao menggosok-gosok bulu si kucing. menerangi arwah perempuan saat mendekat. setelah mematuhi perintah Ketua dan memasu kkan dengan paksa pit beracun ke mulut Ibu. "Aku tidak memiliki kemampuan Tribe apa pun. "Aku akan men dengarkan. Tapi tidak begitu dengan si k ucing. memaksa Ibu minum racu n. si kucing berbaring di s ebelahnya dengan kepala di bawah tangan Hisao. dan kemudian. Aku tidak bisa menggunakan kemampuan menghilang." ujar Maya.

lalu kau pun akan mati." "Kau tidak mengenal siapa dirimu? Tak ada lagi orang Tribe. mem andangi kegelapan yang pucat perlahan berubah terang. Ibu akan ceritakan apa yang dikatakan kakekmu saat kematian¬nya. kini mereka akan memanfaa tkan dirimu untuk membunuh ayah kandungmu. tenggorokannya ter cekat. bulu-bulunya tegak berdiri. Takeo adalah ayah kandungmu. Mereka berusaha menghancurkan kita semua. Ibu mematuh i mereka. Kau adala h penguasa alam baka."Siapakah ayahku?" "Gadis itu benar." "Aku membenci si Anjing seumur hidup¬ku. "Hanya orang hidup yang berbohong. "Ibu sudah mati. Tangan Hisao memegang erai lehernya." "Bohong." *** Lama setelah kejadian itu. aku tidak bisa mengubahnya sekarang. Ibu mencintain ya. Dia memang adikmu. Maya mengingat-ingat kembali saat mendengar si arwah meng¬ucapkan semua kata-kata ini: tengkuknya bergidik. Hisao belum sepenuhnya memahaminya." sahutnya. Pertama Ibu. Mereka memerintahkan Ibu agar tidur dengannya." sahutnya. dari lima keluarga. yang bisa mengenali dirimu. ketika kembali ke kamarnya dan berbaring terjaga. dan kalau kau akan dilahirkan hasil dari cinta. tapi Maya ingat kata -kata Taku: Halaman 265 dari 600 . agar Ibu mengandung dirinya. Tapi mereka tak menyangka kalau Ibu akan mencintainya.

dan Hisao juga. penguasa mereka. Seharusnya aku senang." Bersyukurlah dia akan pergi jauh darimu. memberinya kekuatan untuk menguasai mereka. ia tidak terlalu berselera. "Dan setelah itu kau harus bersiap untuk bepergi an.. memiliki kekuatan semacam itu? Dan bagaimana Akio bisa m emanfaatkan dia bila tahu itu? Hisao tak ingin Maya meninggalkannya. meremehkan serta iba. pem uda yang kejam dan brengsek ini. dukun ya ng mampu menenangkan atau menghasut orang yang sudah mati. Muto Shizuka tengah ber puasa di Daifukuji dan hanya diberi makan oleh burung. Diingatnya suara-suara hantu y ang guasa alam baka adalah orang yang bisa berjalan di antara dua dunia. Orang-orang menyalahkan Lord Arai -serta menuduhnya terlibat dalam kematian Taku. Mereka pasti mengajakmu. "Hisao sudah cukup sehat untuk beper gian.penguasa alam baka adalah orang yang bisa berjalan di antara dua dunia. pikir Maya. Tapi bagaimana Hisao. Ia tidak terlalu memahami bagaimana perasaan Hisao yang sebenarnya atas laki-laki yang selalu dip ercaya sebagai ayahnya: gabungan antara cinta dan kebencian. dukun yang mampu menenangkan atau menghasut orang yang sudah mati. Tapi Hisao tak ingin Akio tahu itu. serta tuntutan mereka untuk balas dendam. dan sewaktu Noriko membawakannya nasi dan sop untuk makan pagi. juga takut. Diingatnya suara-suara hantu y ang berdesakan di sekelilingnya pada malam menjelang Perayaan Oban. dirasakannya penye¬salan atas kematian mereka yang kejam dan tidak pada wak tunya. "Seharusnya aku t idak mengatakan ini. "Shizuka ada di Hofu?" "Dia datang untuk memakamkan putra bungsunya. Mereka mencari Hisao. b elum. dan kabarnya dia sudah tidak waras ." Noriko gemetar." Matanya penuh dengan air mata dan disekanya dengan lengan jubah. Maya mengenali perasaan seperti itu karena ia merasakan hal yang sama pada pemud a itu. sepertinya habis menangis. Mata Noriko merah. Ia merasakan kuatnya keinginan Hisao itu. Hofu sedang gempar. sebelum Lord Otori kem . dan d irinya sebagai si kucing. Ia tidak tidur. Arai gusar dan segera pulang ke rumahnya menyiapkan pasukannya untuk berperang. lalu bertanya. dan ia merasakan keinginan itu memikat sekaligus berbahaya. di tepi pantai d i depan rumah Akane. "Kau harus makan. Ketua harus menemaninya.." "Bepergian? Aku akan pergi kemana?" "Lord Arai akan kembali ke Kumamoto." ujar Noriko.

Begitu sampai di sana. "Aku memberitahumu hanya karena kau sudah menolong Hisao. Sunao mi dan Chikara." "Omong kosong apa yang kau katakan! Kau tidak tahu apa-apa tentang hal ini!" May a menyembunyikan ketakutannya dengan kemarahan. dan bahwa Z enko takkan ragu-ragu menekan ayahnya. "Aku ta kkan mengatakan apa-apa lagi." "Kumamoto jauh dari sini. Hofu berada di Negara Tengah dan setia pada Otori ia me ngenal kota itu dan tahu jalan pulang." Gadis itu mengatupkan bibir rapat-rapat. Halaman 266 dari 600 . Kau akan sudah di jalan sebelum siang." Noriko mengangkat mangkuk. Kudengar Lo rd Arai akan mengirim pengawal. marah dan ter singgung. Ia tak ingin membiarkan mereka membawanya ke Kumamoto." ujar Noriko saat kel uar. ia belum pe rnah ke sana. "Kapan kami akan pergi?" tanya perlahan." sahut Noriko. ia tidak akan punya peluang kabur." "Aku belum selesai makan. Ia tahu kalau kedua putra Zenko.bali dari Miyako. "Begitu Ketua dan Hisao siap. Sedangkan Kumamoto jauh di wilayah Barat." "Apa itu salahku kalau kau makan begitu lambat?" "Lagipula aku juga tidak lapar. pikirannya berpacu kencang. "Aku harus mem¬bawa semua ini ke dapur. sudah dikirim ke Hagi untuk menjamin kesetiaan ayah mereka. Maya mengangkat mangkuk sop dan menghabiskannya.

matanya mencari-cari di halaman. Ia sudah berada di luar. Maya terbangun kaget. Ketika melihat. Maya terbangun kaget. ia bisa saja mengecoh penga wal Zenko tapi takkan bisa lolos dari Akio. Secepat bi lah pedang.Maya tahu ia hanya punya sedikit waktu untuk mengambil keputusan. "Kembali!" Ia merasakan kekuatan perintah itu. ia lapar dan lelah. Mereka datang untuk mencarin ya. dan tekadnya melemah. U dara terasa semakin panas. tidak berusaha sembunyi¬sembunyi. Ia mulai mengukur kamar itu dengan jarak langkah. Mereka bisa pergi ke Hagi bersamasama. si kucing tidak akan meninggal¬kannya. dia berseru. Mereka pasti me mbawanya dengan disembunyikan. dengan tangan terikat mungkin. terus berlari melintasi halaman. Ia mulai mengukur kamar itu dengan jarak langkah. mereka bisa pulang ke rumah. dan melihat Miki berada di gang di belakang rumah. Ia tidak ingin berpikir lagi karena hanya akan membuang-buang waktu. dan dari jalanan di depan-nya terdengar olehnya derap kuda mendekat. dilewatinya bangunan bengkel dan merasakan kehadiran Hi sao di sana. Dia tidak akan membiarkan aku pergi Gerbang belakang terbuka. Ia mengubah wujud menjadi kucing dan melewati dinding. di jalanan. Hisao memanggil lagi. tapi kaki kucing itu terasa berat. U dara terasa semakin panas. Seorang perempuan di beranda berusaha menghalaunya dengan sapu sewaktu Maya berl ari melewatinya. Ini mungkin nyata: Shizuka pasti mengajak Miki begitu mendengar kematian Taku. aya tahu ia hanya punya sedikit waktu untuk mengambil keputusan. Jangan sampai dia mclihatku. ia bisa saja mengecoh penga wal Zenko tapi takkan bisa lolos dari Akio. Si kucing mendengarkan majikannya. Mereka datang untuk mencarin ya. Mereka pasti m embawanya dengan disembunyikan. dan sosok itu me miliki ketajaman yang luar biasa hingga memutuskan keterkaitan antara mereka berdua. ia hanyut dalam mimpi y ang terjaga. . sesuatu melesat di antara kucing itu dan Hisao. la menoleh ke belakang dan melihat Hisao berlari dengan senjata di tangan. mereka bisa pulang ke rumah. dan melihat Miki berada di gang di belakang rumah. ta pi ketika sampai di dinding sebelah luar. ia lapar dan lelah. Mereka bisa pergi ke Hagi bersamasama. ia hanyut dalam mimpi y ang terjaga. saat berjalan tanpa berpikir. Ia harus kembali kepadanya. dengan tangan terikat mungkin. Miki ada di luar. dari seberang jalan. Miki ada di luar. Maya sadar dari sudut matanya melihat sosok samar yang tak kelihatan. Ini mungkin nyata: Shizuka pasti mengajak Miki begitu mendengar kematian Taku. saat berjalan tanpa berpikir.

sekarang kelihatan. tapi bangsawan itu tidak menunjukkannya. "Kemunculan Anda ibarat komet." didengarnya Miki memanggil. berdiri di sampingnya. Hisao berteriak dari gerbang. dan selagi pengawal Lord Arai datang dari sudut jalan. "Melesat ber¬cahaya melintasi langit musim panas."Maya. Miki. seraya memikirkan kalau Kono mungkin sudah tahu apa alasannya. "Maya!" dan saat itulah Maya mendapatkan kek uatan untuk berubah wujud. atau menyebut kan kematian Taku. "Kurasa aku ada alasan mendesak untuk pulang. tapi suaranya hanya suara anak laki-lak i.* Keberangkatan Takeo dari Miyako dilepas dengan upacara dan kegembiraan yang lebi h besar. Kedua gadis itu menghilang lagi. Halaman 267 dari 600 . meski ada kekagetan dan kekecewaan karena ia pergi begitu cepat." sahutnya. Maya tidak harus mendengarkannya lagi. ketika bangsawan itu datang meng ucapkan selamat jalan. karena orang biasanya percaya kalau komet merupakan pertanda buruk datangnya kehancuran dan kelaparan. mereka berlari tanpa terlihat memasuki jalan-jalan kota pelabuhan yang sempit dan berli ku-liku." ujar Lord Kono. Adik kembarnya i tu memegang eraterat tangannya." Takeo ingin tahu seberapa tulus pujian ini.

Keadaan sudah berubah sejak saat itu." Takeo berani membetulkan perkataannya. dan juga persekutuan yang tulus dengan Sa ga. agar setidaknya mening galkan Lady Maruyama untuk menikmati indahnya musim panas di ibukota." Takeo bersikeras menolak bujukannya dengan sikap sopan yang tegas. Mendesak agar tinggal lebih lama lagi atau jika Lord Otori benar-benar harus kembali ke Tiga Negara. Ia nyaris tidak men¬duga bisa pulang membawa kemenangan besar seperti ini. bagaimana cara Anda menghadap i kaum barbar." "Lord Otori. Mendesak agar tinggal lebih lama lagi atau aga Hideki bahkan lebih tak bisa berkata¬kata karena terkejut dan merasa tidak sen ang akan kepergiannya yang mendadak itu. "Orang asing.Saga Hideki bahkan lebih tak bisa berkata¬kata karena terkejut dan merasa tidak se nang akan kepergiannya yang mendadak itu. kemudian menghadapi Zenko dengan tegas. Saga menaikkan alisnya." "Apakah aku mendapat jaminan dari Lord Saga?" "Tentu saja! Kita sudah mengumumkan kesepakatan yang mengikat. Ia ingin sekali pulang. tempat dia mengatur jamuan makan perpisahan. bertemu Kaede dan putranya. tanpa dukungan Saga. Saat jamuan selesai dan mereka akhirnya mengucapkan selamat tinggal. sama saja. kaum barbar. Zenko bis a disembuhkatt ." "Kami menyebutnya orang asing. Perbatasan wilayah Timur akan aman dari serangan. Kita adalah sekutu dan tak lama akan menjadi kerabat. "Lord Kon o mendapatkan sebagian besar informasi¬nya dari Arai." Saga mencodongkan badan dan bicara dengan penuh rahasia. Lord Saga memberi kehormatan dengan menemani mereka selama minggu pertama perjal anan sampai di Sanda. Takeo meras a semangatnya bangkit. dan hujan plum yang bisa terjadi kapan saja membuat udara menjadi lembap dan berjamu r. Dia pasti sudah melapor¬kannya kepada Anda. Anda tidak perlu khawatir. merasakan d ingin angin laut di Hagi." "Lord Kono menghabiskan banyak waktu bersama kami. Ibukota diland a hawa panas. "Masih banyak yang perlu kita bicarakan aku ingin tahu cara Anda memerintah Tiga N egara. Membawa dukungan dan pengakuan Kaisar. Ia tidak ingin Shigeko menderita dalam kondisi seperti itu. apa yang menopang kemakmuran dan kesejahteraan kalian. dari semua pe njelasan tentang keindahan yang perlu mereka lihat sebenarnya tidak bagus.

" Takeo melakukan perjalanan dengan tandu.dari ambisinya dan menerima kenyataan sahnya pemerintahan Takeo. "Gadis itu. maka aku akan membiarkannya tetap hidup." t utur Hiroshi kepada Takeo saat mereka berkuda berdampingan. menceritakan kalau Ryume. Keri. "Tapi tidak jelas apakah dia juga mati ditembak. bahwa kehidupan senantiasa bermula dari kematian. dengan formalitas besar. Mai. kuda-kuda berkeringat selagi jalan sem akin menanjak menuju tanah lapang yang masih kelihatan jauh." Hari itu cuaca panas. mati bersama majikan¬nya. Sungguh lega Saga sudah pergi dan membuatnya bisa menanggalkan jubah indahnya lalu menun ggang Tenba lagi. demi Shizuka. sampai ke Sand a. kini Hiroshi menunggang kuda tu a miliknya." sahu t Takeo. maka dia akan dihukum. "Aku ingat dengan jelas saat pertama kali kita lihat kuda-kuda jantan itu. Tapi bila memungkinkan. kuda Taku. Hiroshi yang menungganginya karena kuda itu menjadi terlalu bersemangat da n sulit dikendalikan bila tidak ditunggangi setiap hari. langit tak berawan." Halaman 268 dari 600 . Mereka adalah pertanda pertama bagiku akan kembalinya harapan. "Bila ada bukti keterlibatannya dalam kematian Taku. anak Raku. "Kau langsung mengenali kalau mereka adalah anak-anak Raku.

yang sedari tadi berkuda di akhir arak-arakan bersama Gemba. "Mungkin sebaiknya kita tinggalkan saja dia bersama kirin." ujat Takeo."Aku merindukan Ryume hampir sebesar rinduku pada Taku." ujar Hiroshi." 'Tenba menantang untuk dijinakkan." Tenba terus gelisah. Gemba menjadi sangat pendiam. tapi tetap tidak turun hujan. dan ikatan di antara mereka berdua semakin kuat. ku merindukan Ryume hampir sebesar rinduku pada Taku. dan lega karena hawa panas makin menyengat." Shigeko. tapi aku tidak ingin berpisah dengannya. kini tidak bisa ditangani dengan kekerasan." ujar Hiroshi pelan. "Kau terlalu cepat bicara. kurasa mereka makin berkembang. "Sempat terpikir olehku. "Dia merindukan kirin. Tentu saja. "Untungnya kuda Otori tidak menunjuk¬kan tanda-tanda kematian. "Dia masih menjadi tantangan: kau takkan bisa mengabaikannya. Takeo takut kalau mereka harus melewati jalur peg unungan paling tinggi dalam keadaan hujan. datang men g hampiri mereka." "Dia akan menjadi liar dan tidak bisa dikendalikan di Miyako." ujar Shigeko. tapi mesti kuakui aku sangat senang dengan Tenba. dan membelokkan pelana untuk memandang ke arah belakangnya." ujar Hiroshi pelan. Tenba dijinakkan dengan kelembutan. tapi tidak membawa hujan yang diharapkan. Bulan purnama di bulan ke¬enam sudah berubah . Kuda¬kuda semakin kurus." ujar Takeo. di bawa h bimbingan tangan ahlimu. Kukira aku tak akan memiliki kuda seperti Shun lagi. kuda itu mengibask an kepala dan berputar ke arah mereka datang. pengurus kuda khawatfr' mereka makan pasir atau cacingan. seraya meringkik keras. Lalat penghisap darah mengganggu manusia dan hewan di malam hari. seraya mengarahkan kuda itu kembali dala m kendalinya dan memaksanya agar bergerak ke depan lagi. Satu atau dua kali ia bermimpi. tapi Takeo menikmati tantangan untuk membujuk Tenba agar te nang." Tenba berderap cukup tenang. sering¬kali saat terbangun di malam hari Takeo melih at dia sedang duduk tanpa ber-gerak: bermeditasi atau berdoa." Hiroshi melirik k e arah Shigeko. . tapi ternyata hasilnya baik-baik saja. namun tepat saat Hiroshi bicara. halilintar berge-muruh dan petir ber kilatan di langit tiap malam. Sewaktu bulan baru di bulan ketujuh muncul di ufuk timur. "Sesuatu membuatnya kesal.

Matanya ter¬b uka. dengan pohon cedar dan pinus di lereng yang lebih tinggi. air melimpah karen a ada mata air. Hutan semakin lebat di sekitar jalur itu. Rasa sakitnya yang berkurang selama perjalanan. melakukan hal yang sama. tapi makanan yang mereka bawa menipis. Ada yang tidak beres. Takeo tidur sedikit. mereka sudah tak jauh dari Jal ur Rajawali: kurang dari sehari perjalanan. Mimpi-mimpi Takeo menggam barkan benang putus dan peti mati kosong.atau membayangkan Makoto. Mereka berkemah di bawah pepohonan. cermin tanpa bayangan. dan terbangun dengan seruan salah satu pengawal. lalu melihat kirin. nun jauh di Terayama. diperintahkannya a gar kecepatan perjalanan ditingkatkan: mereka bangun sebelum matahari terbit dan berkuda di ba wah cahaya bulan. burung¬burung baru mulai berkicau. lebih sakit dari ya ng pernah dirasakannya. mengira masih bermimpi: ia melihat sekilas. pertama ke barisan kuda. dan ia merasakan itu dalam aliran darah dan t ulangnya. Gemba pernah berkata. seperti biasa. Halaman 269 dari 600 . Dengan desakan yang hanya setengah dipahaminya. manusia tanpa bayangan . Sebelum bulan mencapai seperempat bagian pertama. Sakai Masaki yang berjalan lebih dulu untuk mengintai. melaporkan. "Lord Otori!" Saat itu matahari baru akan terbit. kini terasa lagi. pohon ek serta hornbeam.

Seharusnya kita tinggal lebih lama." tutur Gemba. "Bagaimana hewan ini bisa kabur? Apakah mereka melepasnya?" Shigeko menjawab. Ayah. "Apa artinya ini?" tanya Takeo pada Gemba setelah hewan itu diberi makan dan per intah dikeluarkan agar perjalanan segera dilanjutkan. kakinya meregan g keluar. langkah panjangnya yang canggung. Kulitnya tergores di mana-mana. bagian belakang k aki kirinya tidak apa-apa. tubuhnya terasa kaku dan pegal." sahuinya. Dibayangkannya hewan itu lari meli ntasi daerah yang tidak dikenalnya. seolah hewan itu berjuang melepaskan diri. "Kin . "Apa artinya ini?" tanya Takeo dengan gempar." sahut Hiroshi setuju. kepalanya dekat dengan kuda-kuda. Hewan itu menunjukkan semua tanda gembira karena berada di antara mereka: menggosokkan hidungnya pada Shigeko. kemudian mulai membasuh dar ah kering di badannya. tanda putihnya berkilau menakutkan ditimpa cah aya keabuabuan. kakinya meregang keluar. biarkan aku yang mengembalikannya. mengisi ember dengan air dan membiarkan kirin minum. kirin memang disambut sebagai pertanda restu dari Surga. serta menjilati tangan Hiroshi dengan lidah abu-abu panjangnya.Hewan itu berdiri di samping Tenba. kita tak bisa menyerahkannya pada Kaisar dalam kondisiseperti ini. Kulitnya mengkerut dan gemetar tapi tetap berdiri tenang." "Dia takkan sanggup bertahan dalam perjalanan. tanda putihnya berkilau menakutkan ditimpa cah aya keabuewan itu berdiri di samping Tenba. leher panjangnya membungkuk. kepalanya dekat dengan kuda-kuda. dan di lehernya ada bekas luka gesekan tali. Hiroshi yang tidur tidak jauh dar inya sudah lebih dulu berdiri. menatap putrinya selagi menenangkan dan membelai kirin. me mastikan agar kirin senang. Seruannya membangunkan yang lain. leher panjangnya membungkuk. dan seketika itu juga kirin dikerumuni. "Kaisar pasti merasa ter hina karena hewan ini kabur. "Haruskah kita meneruskan perjalanan dengan membawa kirin? Atau haruskah kita mengirim semacam ganti rugi ke Miyako?" Sejenak Takeo berhent i bicara. ketakutan dalam kesendiriann ya. lututnya berdarah." "Sudah terlambat. Takeo berdiri." lanjutnya dengan suara pelan. "Kirin kembali?" pekiknya. "Ya. "Itulah yang kutakut¬kan. "Lihatlah. Tenba meringkik pelan melihatnya. Pemuda itu pergi ke mata air.

Pasti akan di anggap sebagai peng-hinaan yang luar biasa. tidak sanggup memahami kata-katanya. bila kau pikir itu lebih baik. namun keseimbangannya terputus. dengan cara yang sama Shigeko menepuk kirin.i hewan itu menunjukkan kalau dia lebih memilihmu ketimbang Paduka Yang Mulia. kurasa." Halaman 270 dari 600 . kemenanganku. "Apakah telah terjadi ses uatu pada kedua putriku?" Dihelanya napas dalam-dalam. "Peristiwa keji seperti kematian Taku telah melepaskan semua rangka ian peristiwa: ini pasti salah satunya. Yan g kutahu hanyalah sesuatu yang menahan jaring yang rapuh telah terputus. Sudah kuk atakan sebelumnya bahwa ada yang tidak beres." Takeo menatapnya. Aku bukan penyihir atau dukun." sahut Gemba. "Maaf. "Istriku?" "Aku tak bisa mengatakan rincian semacam itu." "Apa yang harus kulakukan?" "Bersiap untuk berperang. penyerahan Jato. Tidakkah ka u tahu yang satu ini?" "Segala sesuatu ada sebab dan akibat. "Atau mencabut nyawamu se ndiri. Aku berusaha mempertahankan keseimbangann ya." sahut Gemba tenang." "Kau tahu segalanya hasil pertandingan. Mustahil bisa diramalkan atau mencegah semuanya." Diulurkan tangannya dan me¬nepuk bahu Takeo.

Selama b erbulanbulan ia telah berusaha keras untuk bersabar dan mengendalikan diri. Tak eo mendengar derap langkah kuda dari kejauhan. aku tahu Anda meng¬anggapku sebagai musuh. Penampilannya yang tidak ber tenaga sirna sudah. "Mari bicara berdua saja. "Bisakah diperbaiki?" lut Takeo ter asa kering karena rasa takut." balas Takeo. Kami akan berada di seberang perbatasan pada tengah hari nanti. Kini dilihatnya k alau semua upayanya akan hancur oleh kejadian yang tak ber¬aturan. Ia percaya tak ada sat u hal pun yang bisa memperbaiki posisinya sekarang ini. Kono berjalan menjauh menuju pohon cedar yang sudah tumb ang hingga . beri aku waktu untuk menyampaikan pesan Lord Saga ." Takeo tidak peduli jika si bangsawan tersinggung. "Ada yang berkuda ke arah kita. Takeo bisa merasakan kemarahannya memuncak di balik matanya. Mari. Kami baru saja hendak melanjutkan perjalanan. "Aku harus meminta Anda menunda perjalanan. tapi percayalah." Tanpa menunggu jawaban." desak Kono. aku senang berhasil menyusul Anda. di atas hiruk pikuk persiapan. "Kurasa aku tak bisa menawarkan banyak untuk menyegark an diri. "Lord Otori. rasa suka kirin yang tidak terkendali pada kawannya ketimbang dengan orang asing." Kegelisahannya telah berubah men¬jadi kemarahan." "Kurasa tidak ada yang perlu dibicarakan saat ini. Kono melompat turun dari punggung kudanya. perhatian ku pada Anda tulus dari lubuk hatiku. Hiroshi berlari ke depan untuk mengambil tali kekang sewaktu bangsawan itu meng¬he ntikan kudanya." "Lord Kono. seperti saat pertandingan. "Bisakah diperbaiki?" Gemba tidak menjawab. dan kuda yang tengah berjalan menghampi ri meringkik balik selagi berjalan dengan santai di sekitar kelokan jalur dan mulai kelihatan .Mulut Takeo terasa kering karena rasa takut." ujarnya. Tak lama kemudian kuda-kuda dalam barisan menaik-kan kepala dan meringkik. laki-laki itu kelihatan kuat dan trampil. "Lord Otori. dan pada saat itu pula. dan pe nunggangnya adalah Lord Kono. Ternyata itu salah satu kuda Maruyama pemberian Shigeko kepada Lord Saga.

dan tidak mau makan selama tiga hari. Tepian pegunungan tam pak hitam pekat ber¬lawanan dengan langit yang berkilauan. dan akhirnya dia berhasil lolos. Kami mengejarnya. bahwa ternyata Lord Otori-lah yang didukung Surga. Kaisar mengunjungi¬nya setiap hari. Lord Saga berada hampir tid ak sampai sehari menunggang kuda di belakangku. Aku bertem u Lord Saga saat beliau meninggalkan Sanda. Kaisar kemudian khawatir melihat kirin yang kian gelisah setelah kepe rgian Anda." ujar Takeo. tapi hewan itu ketakutan. bahwa restu Surga berpindah. semua upaya kami untuk me nangkapnya gagal. dan mereka sudah siap untuk kemungki nan semacam ini. Pasukan Anda kalah banyak dengannya. dan segera berbalik arah. Suasana ibukota berubah dari gembira bah wa Kaisar direstui Surga menjadi ejekan. Kaisar cukup gembira dengan hadiah-hadiah pemberian Anda. Tetap saja. Kemenangan dari kunjungan Anda agak mer edup dengan kepergian Anda yang lebih awal.seolah menyediakan tempat duduk yang alami. "Kuberi waktu sampai matahari menyinari puncak gunung. Takeo melihat sekilas ke timur. "Tentu saja. Tadinya Kaisar berharap bisa lebih mengenal Anda A nda membuat Kaisar ter¬kesan. Kerabat Kaisar itu duduk dan memberi isyarat agar Takeo bergabung dengannya. pasukan khususnya senantiasa siaga. tapi tentu saja. Kemudian dia kabur. Kekuatan telah di himpun. Aku diperintahkan menyampai¬kan bahwa bila An da Halaman 271 dari 600 . "Ijinkan aku ceritakan apa yang terjadi. peng¬hinaan ini tak bisa diabaikan. bukannya Kaisar dan Lord Saga." Kono berhenti sejenak. ber¬lukiskan warna keemasan. terutama hewan ini.

Kono menghentakkan kaki di bagian samping kuda itu. Kuda itu enggan mening¬galkan kawan-kawannya. yang Lord Saga harap bisa dinikahinya." "Aku tidak bisa mengatakan kalau aku terkejut. "Anda harus tahu betapa aku mengagumi Anda." Takeo memotong perkataannya." u jar Kono." "Bukankah sejak awal dia telah meren¬canakan akan seperti ini jadinya?" sahut Take o. Mungkin kau merasa dengan cara tertentu akan dapat me mbalaskan dendam atas kematian ayahmu. dan agak melawan. Kau telah menghina dan menipuk u. dan tanpa membungkuk hormat berjalan ke arah kudanya. ingin ." Wajah Kono yang sudah pucat makin pucat. tapi menyesali keputusan Anda. Jika kau memang memiliki kehormatan atau keberanian sejati ... "Biarkan dia mengejarku: dia akan kaget atas y ang akan menantinya. sesuatu untuk melampiaskan kemarahannya. Ia berharap melakukannya sendi ri. tapi kurasa kau berniat j ahat padaku dan berusaha melemah¬kan diriku. mestinya kau menantangku secara langsung. Anda dan keluarga Anda akan dihukum mati kecuali Lady Maruya ma. "Saat itu tipuan dan ilmu sihir takkan bisa menyelamatkan Anda!" Kono berdiri. Dua pengawal terdekat menarik pedang. ketimbang diam-diam bersekongkol dengan Lord Arai. "Kita akan berjumpa dalam per¬tempuran. kuda itu bereaksi dengan melompat dan menendang.tidak kembali bersamaku dan meminta maaf pada Kaisar: maka Anda harus bunuh diri a ku khawatir pilihan untuk mengasingkan diri sudah tidak ada lagi Saga akan memburu Anda. dan Takeo tahu semu a orang berharap ia memberi perintah untuk membunuh Kono. melemparkan b angsawan itu yang terjatuh dengan memalukan ke tanah.." sahutnya. bawahanku dan adik iparku. yang Lord Saga harap bisa dinikahinya. dan m erebut Tiga Negara dengan paksa. melompat ke atas punggungnya lalu menarik tali kekang dengan kasar untuk memalingkan kepala kudan ya. tidak berusaha mengendalikan amarahnya." idak kembali bersamaku dan meminta maaf pada Kaisar: maka Anda harus bunuh diri ak u khawatir pilihan untuk mengasingkan diri sudah tidak ada lagi Saga akan memburu Anda. Kau ular bermuka dua yang hebat. Keadaan menjadi sunyi. "Kau sering menyanjungku. dan m erebut Tiga Negara dengan paksa. Anda dan keluarga Anda akan dihukum mati kecuali Lady Maruya ma.

rencana jaha t dan pengkhianatan yang mengepung dirinya." tuturnya. Akan kupastikan kirin tidak tertingg al. namun putrinya itu belum pernah membunuh satu makhluk hidup pun. lalu berpaling agar tak lebih mempermalukan bangsawan itu.menghukum orang yang berada di bawah kakinya atas semua penghinaan. ambil kuda Lord Kono dan bantu dia. Saat didengarnya derap langkah kaki makin menjauh menyusuri jalan itu." sahut Takeo." sahutnya. "Hiroshi. Takeo mengambil kuda Shigeko. "Ayah bisa menye¬lamatkanmu dan kirin hanya dengan cara menye rahkan diri pada Lord Saga. "Shigeko." Sebagai gantinya. dan melihat wajah putrinya tercengang." sahut Shigeko tanpa ragu. Kita harus berhasil menyeberangi jalur sempit secepat mungkin." "Hewan itu harus bisa mengikuti kita bila tidak maka lebih baik dibunuh sekarang juga. da n hadiahhadiah mewah dari Kaisar dan Lord Saga yang mereka bawa. kau akan menikah dengannya. Para pengawal menurunkan pedang lalu menya¬rungkannya kembali. Ayah akan bunuh diri. serta mengingkari semua janjinya pada kita. Halaman 272 dari 600 ." "Kita tidak bisa lakukan itu. "Saga telah menipu dan mengancam kita. seraya berpikir kalau putrinya akan lebih aman di sana ketimbang berada di belakang. Ashige. Takeo ber paling ke arah Hiroshi dan berkata. Besok mungkin ia akan melihat putrinya be rtarung mempertahankan diri. Dia takkan sanggu p mengikuti kita. "Mereka berdua akan saling memberi seman gat. "Dia kelelahan. Takeo sadar. "Kirim Sakai pergi untuk memberitahu Kahei dan perintahkan dia bersiap untuk berperang. bagaimana dengan kirin?" tanya Shigeko." "Ayah." ujarnya. dan menyuruhnya berjalan di depan bersama Gemba. Kemudian muncul masalah apa yang harus dilakukan dengan kuda beban. Tapi sesuatu mencegahnya untuk melakukan i tu. dan kita masih bisa menghindari pe-perangan." "Maka tunggangilah Tenba.

" "Itu juga terpikir olehku. Tandu pun ditinggalkannya. "Dengan teropong aku melihat pasukan Saga dari kejauhan." "Kini bukan saatnya untuk bicara filsafat! Sebaiknya kita bicarakan tentang renc ana pertempuran." tuturnya pada Hiroshi. Baju z irah itu berat dan tidak praktis." "Kini kirin sudah menjadi perlambang. selagi mereka berkuda menjauh." "Ya." "Butuh berapa lama hingga dia bisa sampai di sana?" tanya Takeo. bersenjatakan panah dan senjata api." aku Takeo. "Aku memanjat pohon dan melihat ke belakang ke arah Timur. Hewan itu kabur karena merindukan kawannya. dan pasukan pertahanan Saga di perbatasan pasti juga sudah melihatnya. Tapi apakah kini perbatasan itu tidak dij aga? Andai aku menjadi Saga. tapi tidak melihat ada ja lan keluar lain. "Semua benda itu adalah sesaji untuk dewa gunung. maka dia juga bisa melewati¬n ya tapi dia harus mendaki gunung dan turun di sisi gunung yang satunya lagi sebelum mencapai tempat Lord Miyoshi. sedang mengejar kita. aku sudah memikirkannya sejak kita melewati jalan ini: perbatasan di depan kita dapat digunakan untuk bertahan meng¬hadapi pasukan Saga. Takeo menyesali kehilangan benda¬benda indah itu: jubah sutra. Mereka mengibarkan pan ji-panji merah. dan Takeo lebih suka baju zirah miliknya yang diurus oleh Kahei. "Meski aku tidak percaya dewa mana pun bisa menolong kita saat ini. bukan makhluk dalam dongeng. Ia berpikir betapa Kaede sangat senang atas itu semua. "Begitulah cara manusia me nghadapi dunia." tutur Sakai. Takeo memerintahkan agar bal-bal dan keranjang ditinggalkan di dekat kuil batu kecil d i tepi mata air. Apa artinya restu dari Surga? Kita tahu kalau kirin hanyalah hewan biasa. . Aku suruh Kitayama mengitari tempat itu bila orang lain bisa melewatinya." sahut Hiroshi. akan kututup semua rute yang bisa kau lalui sebelum kau meninggalk an ibukota.Kuda-kuda itu tidak bisa mengimbangi jalan kuda lainnya merasa kalau Kaisar sudah terlanjur tersinggung dan tak bisa uda-kuda itu tidak bisa mengimbangi jalan kuda lainnya merasa kalau Kaisar sudah t erlanjur tersinggung dan tak bisa ditebus dengan apa pun. bahkan baju zirah berhias indah pemberian Lord Saga. dan ketakutan mereka dipastikan tak lama kemudian saat Sakai kembali melaporkan bahwa jalur telah dipenuhi pasukan Saga yang bersembunyi di s ela bebatuan dan pepohonan. cermin perunggu dan mangk uk berpernis.

"Ayah harus meminta kuda itu kembali." Takeo terdiam merenung selama beberapa saat. kan?" tanya Shigeko." ujar Hiroshi. Halaman 273 dari 600 ." sahut Hiro shi." ujarnya. pasukan kita kurang lebih sebanding dengan jumlah pasukan musuh. "Tapi mereka memiliki semua keuntungan dari tanah datar. sewaktu turun dari punggung T enba lalu mengambil tali kekang Ashige dari tangan ayahnya. "Ayah hendak memancing musuh kel uar dari persembunyian." "Ada berapa banyak pasukan di perbatasan?" "Lima puluh sampai seratus orang. "Saat itulah kita bisa menembak mereka satu demi satu Anda dan Lady Shigeko harus berkuda denga n kecepatan penuh sementara kami melindungi kalian." "Terlambat untuk memberi kejutan: tapi bisakah kita mengecoh dengan mengitari me reka?" tanya Takeo." "Baiklah. Kami tak sempat menghitungnya."Beruntung bila dia bisa sampai sebelum malam. "Satu-satunya harapan kita adalah meng¬giring mereka ke lahan terbuka. kemudian menyuruh Sakai pergi lebih dulu bersama pengawal lainnya untuk ber¬henti tepat di depan perbatasan lalu bersembunyi." "Ayah takkan pergi sendirian. Ia la lu menyusul Shigeko dan Gemba.

Ayah jangan pergi tanpa membawanya. "Tak ada yang bisa menyakiti Ayah. Ia telah memerintahkan bahwa dia harus pergi sendiri." sahutnya. bukan perlombaan. Takeo meraih tali kekang Tenba den gan tangan kiri. Ada bingkai k husus yang sengaja dibuat pada pedang itu. Takeo mengikatkan tali sutra kirin ke tali leher Tenba dan sebelum menaiki kuda." "Kami akan berusaha melumpuhkan mereka ketimbang membunuh mereka. Tapi kau harus me nyiapkan panahmu dan bersiap untuk menembak mati. Takeo menyadari ada seseorang yang berjalan kaki mengikutinya. adik Sada. Dilihatnya tatapan ragu putrinya yang kemudian dengan cepat dikendalikannya. hingga terlalu berat bagi Shigeko untuk membawan ya. Sewaktu menunggang kuda menjauh dari pasukan bersama kirin. Takeo berhenti sejenak lalu gadis itu berjalan menghampiri ke samping kuda." Ayah akan pergi bersama Tenba dan kirin. "Jangan khawatir. Tenba mengibaskan kepala menghalau kerumunan serangga kecil yang meng¬gigitinya." ujarnya." "Kau bersenjata?" . dipeluknya Shigeko. "Mungkin aku bisa membantu. gadis Muto. "Mungkin kelak kau tak punya pilihan. "Tapi takkan ada yang melih at Ayah. atau bahkan membica rakannya. dan kini pun ia tak ingin menjelaskannya. Pedang itu masih disarungi denga n kain upacaranya dan kelihatan luar biasa. "Tapi takkan ada y ang melihat Ayah. Tenb a mengayunkan kepala ke arah gadis itu. "Lord Otori!" Ternyata itu Mai." sahutnya. lalu memalingkan pelananya untuk memerintahkan siapa pun itu agar kembali ke pasukan." ujarnya. berdoa dalam hati bagi keselamatan put rinya. "Ini akan menjadi pertempuran yang sebenarnya." sahutnya sera ya melirik ke arah Gemba yang duduk diam tanpa ekspresi di punggung kuda hitamnya." Takeo jarang memperlihatkan kemampu¬an Tribe-nya pada Shigeko. mendongak sesaat dan melihat awan tebal yang mengandung kilat menumpuk di arah B arat. "Ijinkan aku pergi bersama Anda."Ayah akan pergi bersama Tenba dan kirin." tutur Takeo. ingin putrinya siap untuk peperangan yang haus darah." Takeo mengambil pedang itu dari putrinya dengan rasa terima kasih. tepat di depan pelana. pedang itu sudah di punggung Tenba. Saat itu kira-kira tengah hari dan cuaca sangat panas." "Ayah harus ambil Jato kembali.

Kuharap kein gintahuan dan keserakahan akan meng¬giring mereka menghampirinya. "Terima kasih. "Aku juga bisa menggunakannya. Makin mereka kebingungan. tuan. makin ba gus. "Aku juga punya pisau lempar. Apakah Anda bermaksud memaksa musuh menampakkan d iri agar para pangawal bisa menyerang mereka?" "Mereka akan melihat seekor kuda perang dan kirin berjalan sendiri. Lord Otori berencana meng¬gunakan kemampuan menghilang?" Takeo mengangguk. pikir¬nya dengan perasaan sedih saat didesaknya Tenba agar berjalan lagi. Jangan menyerang dulu sampai m ereka berada di daratan terbuka dan Sugita memerintahkan tembakan pertama. dan bunuh musuh sebanyak-banyaknya semampumu." Kini aku yang memulai peperangan. tapi sudah mulai tenggelam di ufuk bar at.Mai menarik sebilah belati dari balik jubahnya. da n garotte. jalannya ag ak menanjak dan melebar. Matahari masih tinggi di langit. Mereka pasti terbuai dengan kecerobohannya sendiri. dan bayangHalaman 274 dari 600 . Jalanan itu makin curam dan berbatu. Setiap nyawa yang kuhabisi akan mem¬bala skan dendam kakakku." Mai tersenyum tipis. lalu membiarkan kemampuan menghilang menyelimuti diri¬nya. Berlindung di sisi mana pun yang kelihatannya hanya ada sedikit musuh. tapi tepat di depan perbatasan.

helaan busur. dan terdengar g emuruh halilintar yang membuat Tenba mengibaskan kepala dan gemetar. Petir berkilatan di kejauhan. kirin berjalan dengan tenang dan a nggun seperti ayang mulai memanjang. kini berselimut awan. pedang di samping pelana. Petir berkilatan di kejauhan. pada peluru yang bisa membunuh dari jauh. kini berselimut awan. Tak ingin terjatuh seperti Kono atau pun kehilangan kemampuan meng¬hi langnya karena . Dibiarkannya tali kekang kuda meng gantung dan mengangkat kakinya dari sanggurdi agar tidak kelihatan ada penunggangnya. ia me mbiasakan diri untuk memisah kan ketrampilan ksatria dari kemampuan Tribe. terlebih lagi. karena akulah yang mengenalkan serta mengembangkan benda itu. Apakah pemandangan itu mimpi. Ia ing in tahu apa yang ada dalam pikiran prajurit yang tengah me¬mandangi kuda dan kirin berjalan melewat i lembah. dan bahkan lebih mengancam lagi. ia sudah yakin kalau tak seorang p un yang bisa membunuhnya sampai putranya sanggup melakukannya. dengan leher panjang serta kulit yang bercorak aneh. Ia tak ingat pernah menggunakan kemampuan menghilang saat menunggang kuda. d engan surai dan ekor berkilau sama terangnya dengan pelana. serta kirin. Takeo tidak takut mati. Saat memasuki lembah. maka itu hanya untuk keadilan . dan terdengar g emuruh halilintar yang membuat Tenba mengibaskan kepala dan gemetar. Terdengar olehnya desingan sebatang anak panah: Tenba juga mendengarnya dan terk ejut. bila aku mati akibat senjata api. dan gemericik air. Dikejauhan Takeo mendengar desingan layang-layang dan kepakan sayap burung. tapi kini rasa takut yang nyar is tak disadarinya muncul. Di kedua sisi jajaran pegunungan. atau legenda yang menjadi kenyataan? Kuda hitam. bunyi ketukan senjata api yang tengah diisi bubuk mesiu. keri at-keriut pepohonan tua. tinggi dan asing. bijih besi yang ma mpu mengoyak daging dan tulang. kirin berjalan dengan tenang dan a nggun seperti biasa. ter¬bentang Tiga Negara. muncul dari hutan lebat .bayang mulai memanjang. ia berdoa saat halilintar bergemuruh lagi. ia sudah sering bersentuhan den gan kematian hingga tidak membuatnya takut. Takeo berusaha menjaga keseimbangan tubuhnya selagi gerakan mendadak itu menarik tubuh nya ke kanan dan ke kiri. terdengar oleh¬nya suara b erbisik. muncul dari hutan leba t. ijinkan aku mati oleh pedang. Di kedua sisi jajaran pegunungan. ter¬bentang Tiga Negara. gemerisik pelan orang berpindah tempat. Sesaat darahnya membeku. Bila aku harus mati.

dan mempercepat langkahnya sampai akhirnya melangkah santai dan pelan lagi. lima atau Halaman 275 dari 600 . Anak panah itu berjatuhan ke tanah sejauh beberapa langkah di depannya. memaksanya maju. Takeo membiarkan Tenba ber gerak dengan cepat dan ringan. Di depan. mereka berlomba-lomba menjadi orang pertam a yang memegang tali kekang kuda perang itu untuk menyatakan menjadi milik¬nya. bersyukur atas reaksi kuda itu seperti yang diharap¬kannya. Takeo m erasakan tanah mulai curam: mereka telah melewati titik tertinggi lembah. Satu orang lagi menjawab teriakannya. Hal ini membuat lebih banyak lagi pasukan bermunculan dan berlarian lebih cepat. Langkah Tenba mulai berderap dan kirin mulai berlari dengan lompatan naik turun di sebel ahnya. berusaha menghalangi agar kedua hewan itu jangan ke ujung lembah. Kini teriakan terdengar di mana-mana. Tenba menegak¬k an telinga dan memutamya ke arah suara tadi.kurang konsentrasi. Anak pan ah itu tidak dibidik langsung ke arah hewan hewan itu. Mereka tidak bersenjata a mudah untuk mengepung dan lebih leluasa: mereka berharap bisa menyergap cepat. tapi mereka mengesampingkan dari tempat p berat sehingg Sebagian besa senjata ini. dari arah se latan. r mereka bersenjatakan busur panah. dan beberapa senjata api. Terdengar teriakan di sebelah kanannya. Kemudian ia menekan kedua kaki agak di samping perut kuda itu. dari sebelah utara lembah. Dipelankan napasnya dan membiarkan tubuhnya mengikuti geraka n kuda seakan mereka adalah satu makhluk. bermunculan ersembunyian mereka lalu berlarian ke permukaan lembah. panik karena mereka seperti sekawanan serigala. hanya sekadar menguji reaksi alami mereka. Kirin pun mengik uti dengan patuh. bisa dilihatnya tanah datar di bawahnya tempat pasukan Kahei menunggu. Tenba mendengus. Anggota pasukan mulai menampakkan diri satu demi satu.

enam orang pasukan berkuda muncul dari celah antara tebing yang curam. dan melihat prajurit pertama terjatuh. atau kemahiran para pemanahnya memang luar biasa. Di belakangnya terdengar dentuman langkah kuda selagi pasukannya Hiroshi ber¬hamburan memasuki lembah. lalu ia menebas tali yang mengikat kirin ke kuda itu. Tenba ber derap. Kirin berla ri dengan canggung ke depan sementara Tenba. l angkah panjang kirin membuatnya seperti melayang di atas tanah. Jato melompat seperti yang biasa dilakukannya. Kuda tunggangan Hiroshi ya ng berkulit abuabu . Ia mem biarkan dirinya terlihat di waktu yang sama ketika mengayunkan pedang ke kiri. karena tak satu pun mengenai kedua hewan itu. menyeringai. Terlambat. pasukan itu menyadari kalau itu jebakan dan mulai berlarian kembali u ntuk berlindung di antara bebatuan. anak panah menembus dad anya. Dilupakannya usia dan cacat tangannya. tangan kiri mengambil alih peran tangan k anannya yang cacat. Desingan mengerikan anak panah me¬menuhi udara. Takeo meraba¬raba s anggurdi. Ia menyadari Hiroshi yang datang bergabung dengannya. bersiap menggigit. memasukkan kakinya. menyeringai. Tenba berderap . membuat mereka yang berada di belakangnya cukup lama merasa ragu untuk lari ke luncuran anak panah selanjutnya. Ia menghempaskan berat badannya ke belakang saat berusaha mel ambatkan gerakan Tenba. seolah bergerak atas kehen daknya sendiri. Satu prajurit segera tumbang. Pasukan berkuda muncul di depannya. menguatkan diri lalu menarik Jato dengan tangan kiri. dan melihat prajurit pertama terjatuh. Di belakangnya terdengar dentuman langkah kuda selagi pasukannya Hiroshi ber¬hamburan memasuki lembah. menghantam prajur it berkuda hingga jatuh dari pelana. sebilah pisau berbentuk bintang m enancap di matanya. orang pasukan berkuda muncul dari celah antara tebing yang curam. melambatkan l angkah dan berputar untuk menghadapi prajurit berkuda lain yang kini mengepung Takeo. meliuk bak kuda jantan tengah menggiring kuda betina. bersiap menggigit. Takeo mendengar sebatang anak p anah berdesing melewati dirinya. anak panah menembus dad anya. meliuk bak kuda jantan tengah menggiring kuda betina. bak kepakan sayap. mungkin mengingat untuk apa dia dilahirkan. pedang terhunus di tangan. l angkah panjang kirin membuatnya seperti melayang di atas tanah. Baik Tenba maupun kirin berada tepat di luar ja ngkauan. Takeo mendengar sebatang anak p anah berdesing melewati dirinya.

mung kin enam orang terluka. Bentrokan m ereda dan sadar kalau pasukan berkuda musuh yang terakhir tengah ber¬usaha menyelamatkan diri. Lalu sekumpulan prajurit datang mengelilinginya: Shi geko dan Gemba dengan busur ter-sandang di punggung dan pedang di tangan." serunya kepada mereka. "Jangan. "Apakah kita akan kejar mereka?" scru Hiroshi. pikir Takeo saat mengembalikan Jato ke sarung d an akal warasnya mulai kembali. "Kumpulkan prajurit kita yang terluka dan tewas. "Kau terluka?" serunya sambil menengok ke belakang." perintahnya pada Hiroshi. Takeo mengulurkan tangan lalu menga yunkan gadis itu naik di belakangnya. kesemuanya telah ia kenal selama Halaman 276 dari 600 . mem¬belokkan Keri. Jangan ditunda. biarkan mereka pergi. Kita akan bergabung dengan Kahei malam ini. "Mai! Mai!" Dilihatnya kedipan sosok dengan kemampuan menghilang di sisi utara. dan prajurit pejalan kaki juga kabur. sepertinya. arom a keringat Mai mengingatkan Takeo kalau sudah berbulan-bulan sejak ia tidur dengan istrinya." Dapat dirasakannya debar jantung Mai berpacu cepat menempel di punggungnya. Saga pasti sudah dekat di belakang. Lima orang tewas. Shigeko aman. Per¬tempuran besar akan terjadi nanti. "Maju terus. lalu mengara hkan Tenba menghampiri saat gadis itu menampakkan diri. Takeo bersedih bagi mereka yang tewas. Kita sudah berada di Tiga Negara. sambil mengatur napas. "Jan gan tinggalkan satu orang pun." Kemudian Takeo berteriak lantang. setidaknya untuk hari ini. "Aku mem¬bunuh tiga orang dan melukai dua orang." teriak Mai balik. "Tidak.pucat memerah karena darah. dan tersenyum dalam hati selagi mereka berj alan melewatinya dan mulai berjalan menurun." Tadi hanyalah pertempuran kecil. mencari perlin¬dungan di sela bebatuan dan pepohonan. Be tapa ia sangat merindukan Kaede: istrinya memenuhi pikirannya saat mengamati lembah untuk melih at prajurit nya yang selamat dan mengumpulkan sisa¬sisanya.

dan dia juga tidak menyebutkan tentang beri ta duka ini." sera Kahei. Mungkin saat itu Kaede memang belum mendengar kabar itu.bertahun¬tahun. Pasukan Saga yang tewas ditinggalkannya di lembah . Suasana hatinya murung saat memberi salam pada Kahei di tanah lapang di bawah. dan bertekad memakamkan mereka dengan penghormatan yang tinggi di ka mpung halaman mereka di Tiga Negara. Hiroshi membawa kuda ke dalam barisan. lalu entah di hari yang sama atau keesokan harinya mereka akan be rtemu dalam per¬tempuran. ia pergi bersama jurutulis itu ke tenda Kahei. L ega melihat Minoru tidak terluka. dan entah bagaimana terlihat agak kurus. ke hilangan semangat dan kebingungan." tutur Takeo. Pasukan Saga yang tewas ditinggalkannya di lembah . begitu pula dengan kabar tentang kesehatannya juga si . "Tidak. karena ia mengharapkan surat dari ist rinya. Kita haras mengalahkannya dengan telak dan membawa kembali pasukan ke wilayah Barat untuk menghadapi Zenko. Kau sudah mendengar tentang kematian Taku?" "Aku sudah mendengar desas-desus. tapi kami tidak ada kabar resmi dari Hagi. Saga akan berad a di tempat ini esok hari. lalu entah di hari yang sama atau keesokan harinya mereka akan be rtemu dalam per¬tempuran. dan bertekad memakamkan mereka dengan penghormatan yang tinggi di kampung halaman mereka di Tiga Negara. Dan dia harus kelihatan seperti penyerang. tempat Takeo bisa melihat putrinya bersama kirin. Saga akan berad a di tempat ini esok hari. tidak bersusah payah menebas kepala mereka atau mengurus yang terluka. Wajah putrinya pucat." Hal itu membuat Takeo lebih tertekan lagi." "T idak ada kabar dari istriku?" "Tidak ada kabar sejak bulan ketiga. Kita harap Saga mengira kita sedang kabur. Kita tidak bisa tinggal di sini dan me nahannya dengan tidak jelas. rtahun¬tahun. "Setidaknya kita tahu Saga tak bisa datang lewat jalan lain. hatinya terasa pedih melihat pen deritaan putrinya." "Kita akan segera kirim pasukan untuk mempertahankannya. bukan menentang Saga atau Kaisar. tempat dice ritakannya semua yang telah terjadi pada sang komandan. akan kita biarkan terbuka. "Dia harus melewati jalur sempit itu. dengan berita tentang situasi Negara Tengah dan wilayah Barat. serta membicarakan rencana untuk keesokan hari nya. tidak bersusah payah menebas kepala mereka atau mengurus yang terluka. Kita sedang memperta hankan Tiga Negara.

membuang kekhawatirannya dengan cara yang biasa. "Kita menghadapi cuaca buruk. Aku akan berjaga sementara kau dan pen¬dampingmu tid ur." Halaman 277 dari 600 . dan kilat menyala di langit barat. begitu pula dengan pasukan pemanah tambahan. "Mungkin adikmu bisa terus menunda turunnya hujan. "Aku belum mendapat kabar dari istriku. nam un awan gelap berarak tidak beraturan. "Hujan atau tidak. kami pernah mendapat pesan dari Inuyama. orang bilang kalau kabar buruk tersebar lebih cepat ketimbang kabar ba ik. "Mari ku tunjukkan pasukan kita. di dekat kolam yang menyediakan air buat mereka: matanya te rpejam. berusaha membang kitkan semangat dirinya dan juga Kahei. jelas terpisah dari hiruk pikuk kemah di sekitamya. dengan kegiatan fisik. "Jika terlalu basah untuk menggunakan se njata api. " Kau sudah bertempur satu kali hari ini.bayi. "Baiklah. dan bagian samping di se¬panjang tepi utara terlindungi oleh barisan bukit yang menonj ol. memikirkan rumah mereka nun jauh di sana da n anak-anak mereka. maka kita kehilangan keuntungan terbesar kita. Di sini ditempatkan-nya para prajurit bersenjata api." Takeo berjalan bersamanya di bawah cahaya rembulan untuk menginspeksi posisi. Bulan putih semakin mendekati purnama." Kahei sudah mengatur pasukan dalam formasi tempur: kekuatan utama di sisi barat tanah datar." ujarnya. Gemba duduk di bawah sebatang pohon runjung kecil." sera Kahei." ujar Takeo." Kedua laki-laki itu terdiam sejenak. tapi tidak ada kabar dari Negara Tengah. kita harus bersiap menyambut serangan mereka." sahut Kahei. penjaga juga membawakan obor ilalang.

api melahap tubuh Shigeru. Kahei mengatur agar ia bisa nyaman: Takeo mandi dengan air dingin. Saat dirasakannya bentuk tubuh Kaede yang amat disayanginya dalam pelukannya. Dilihatnya Kaede saat berusia lima belas tahun. dan segera saja langkahnya melambat. bau terbakar menyesak¬kan cuping hidungnya. tanpa goresan bekas luka di leher. Kahei mengatur agar ia bis a nyaman: Takeo mandi dengan air dingin. arena sudah berada di perkemahan sejak bulan kelima. Shigeko d iam tanpa bicara saat melepas pelana Ashige. la langsung tertidur. kilat menghanguskan per¬kemahan. kemudian meregangkan badan di bawah lipa tan sutra tenda. namu n kaki¬nya tidak cocok dengan permukaan tanah yang berbatu. hujan sudah me¬merciki tenda.. diserahkannya hadiah pertunangan kepada Kaede. berjalan terpincang-pincang. dan memimpikan Kaede. te rdengar olehnya gemeletak api dan menyadari kalau gerakannya yang tergesa¬gesa menghantam lentera hingga jatuh.. la langsung tertidur.* Setelah Takeo memotong tali pengikat. namun di depannya nampak sosok manusia dan kuda yang tidak dikenalnya.Karena sudah berada di perkemahan sejak bulan kelima. dan memimpikan Kaede. Gemba men gambil rumput kering dan air. tapi Gemba menghalau mereka. rambut tebalnya hitam te rgerai. Shigeko dan Gemba menemukannya di sana. dan malam itu adalah malam pertunangan K aede dengan Shigeru. Ruangan itu meledak terbakar. Dalam mimpinya. halilintar memec ah langit. Naomi. Mereka berada di penginapan di Tsuwano. wajahnya masih mulus tanpa kerutan. mengencangkan tali di barisan kuda. Dia mengatakan bahwa Kahei harus diberitahu lebih dulu. kemudian meregangkan badan di bawah lipa tan sutra tenda. Mereka dikelilingi prajurit dari per¬kemahan yang ingin mengetahui tentang pertaru ngan tadi. Sadar kalau orang dan kuda yang sayang p adanya masih di belakang. Kaede ditunangkan dengan Shigeru sekaligus t elah menjadi istrinya. makan sedikit. lalu membawanya ke perkemahan. Takeo terbangun. cahaya terangnya yang mengeri¬kan. Dilihatnya lentera berkelap-kelip di antara mereka berdua saat Kaede menatap tangannya lalu menaikkan pandangan ke wajah. kirin terus berlari melintasi lembah. dan di saat yang bersam aan meraih tubuh Kaede dan menariknya ke arahnya. Ke nji. hewan itu menunggu dengan kesabaran dan ke¬patuhannya yang biasa. Keributan di belakangnya membuatnya panik. makan sedikit. dan bahwa Lord O .

Tenba mencium bau kirin dan meringkik keras. Aku mencintainya. Shigeko melihat ayahnya berkuda me¬masuki perkemahan. mengikat kuda miliknya. Sesaat ia merasa mereka berdua seperti orang yang berb eda: berlumuran darah. Hiroshi melihat ke arahnya dan Shigeko melihat ekspresi laki-laki yang sangat dikenalnya. Keri. tapi kemudian berdiri sebentar untuk berbicara dengan Mai. Halaman 278 dari 600 . Aku hanya akan menikah dengannya. Hiroshi yang p ertama turun dari kuda dan mengulurkan kedua tangannya untuk mengangkat gadis itu turun dari pungg ung Tenba. kejam. membuat figurnya kelihatan maskulin. Perasaan itu menodai ras a lega karena temyata ayahnya dan Hiroshi tidak terluka. di belak ang ayahnya dan Hiroshi di samping¬nya. ekspresi kemarahan sisa pertempuran masih tergambar di wajah mereka. Hiroshi mengucapkan selamat tinggal kepada Mai lalu membawa kedua kuda menuju ba risan kuda. Shigeko berharap ia memiliki pendengaran tajam agar tahu apa yang sedang mereka bicarakan. kemudian mencaci dirinya sendiri karena merasa cemburu. dan Tenba di sebelah kirin. Setelah itu Takeo turun dan menyapa Kahei. di samping Ashige. Ekspresi wajah Mai pun sama. pikir Shigeko. Mai. Hiroshi mengambil tali kekang kedua k uda itu. Si gadis Muto.tori ada di belakang mereka.

Kembalilah ke Inuyama." tutur Hiroshi." ujar Shigeko. "Besok pasti lebih buruk lag i. Bidikanku tepat kena sasaran: tak satu pun anak panah yang meleset. Kau bisa membawa kirin. dan memalingkan wajah ke arah kirin untuk menye .. "Mereka punya makanan. "Aku har us melakukan hal yang sama. Berapa banyak dari mereka yang sudah mati sekarang? " "Aku juga membunuh. punya teman. "Mereka punya makanan. dan sudah lupa peristiwa mengerikan hari ini." ujarnya pelan."Mereka semua bahagia sekarang." ujar Shigeko." ujar Shigeko.." "Oh! Tentu saja. " "Aku juga tak ingin meninggalkan Ayah. Mere ka tidak tahu apa yang menanti besok." Mereka semua bahagia sekarang." ujar Shigeko. Aku merasa gembira saat darah mereka menyembur. dan sudah lupa peristiwa mengerikan hari ini." sahut Shigeko. Aku tidak ingin menyakiti anjing¬anjing itu. tapi biar kusarankan agar Gemba membawa¬mu pergi.. Aku ti dak tahu bagaimana lagi cara untuk tetap setia pada ayahmu. saat hewan-hewan itu makan dan mi num." Ia memalingkan wajah. mengata¬kan kalau dia perlu menghabiskan waktu seorang diri. kepada Tiga Negara. "Dia pergi untuk menguatkan dirinya dengan Ajaran Houou. "Aku tak tahu apakah hari ini aku telah membunuh.. dan tidak kuasa menambahka n. "Apa yang kau bicarakan dengan gadis itu tadi?" "Gadis Muto itu? Aku berterima kasih padanya karena membantu kita lagi. namun aku ingin menyakiti orang-orang itu . Aku tak bisa meninggalkan ayahmu. aku merasakan penyesalan dan kesedihan. seketika air mata terasa menusuk kelopak matanya." Setelah berhenti sejenak. Pertarungan kecil ini tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan pertempuran yang akan terjadi nanti. punya teman." Dirasakan pipinya merona merah lalu berkata. juga karena telah bertempur bersama kita hari ini. Aku sung guh-sungguh berterima kasih padanya karena membawa kabar tentang kematian Taku. setelah kejadian itu. Mere ka tidak tahu apa yang menanti besok." Gemba meninggalkan mereka. ke tempat bibimu. dan sudah terbiasa. "Aku dilatih semasa kecil untuk hal ini. Namun kini. "Juga Lord Hiroshi. Hiroshi lalu menambahkan. "Tapi panahku mengena banyak orang. atau mela kukan semampuku untuk melindungi ayahmu juga dirimu. Seharusnya kau tidak terlibat. saat hewan-hewan itu makan dan min um. Tapi aku merasa telah mengkhianati semua yang telah diajarkan para Gu ru Besar.

namun kenyataan kalau salah satu dari kita mungkin mati besok.mbunyikan rasa bingungnya." tuturnya." Hari masih terang. Bulan masih tinggi perlahan berwarna keperakan. Langit di antara tempat perlindungan mereka yang berwarna abu-abu tu a. penguru s kuda. Ia ingin dipeluk pemuda itu. Shigeko tidak tahu bagaimana memulai pembicaraan. "Satu-satunya kecemasan¬ku saat ini adalah keselamatanmu." Nampak¬nya Hiros hi pun berusaha mengungkapkan perasaannya." ajak Shigeko. tapi aku tak bisa mencintai atau menikah dengan orang lain selain d irimu. "Lady Shigeko." "Perasaanku padamu jauh melebihi perasaan kakak terhadap adiknya. "Tidak ada orang lain yang lebih berarti bagiku ketimbang dirimu." "Kau sudah seperti kakakku. Halaman 279 dari 600 ." Shigeko tak kuasa menahan diri untuk tersenyum. jauh di ufuk barat pancaran terakhir sinar matahari menyebar keluar dari balik awan tebal. berwama abuabu pucat. demi nasib seluruh n egeri. memenuhi dirinya dengan rasa gembira serta keberanian. lalu menemui ayahku." ujarnya. Akhirnya Hiroshi bicara. Kau adala h perempuan paling sempurna yang pernah kukenal. Namun ia tak tahu bagaimana mengatakan saat dikelilingi prajurit. "Mari berjalan-jalan sebentar. "Kau harus tetap hidup. Aku tak¬kan meng ucapkannya padamu. Kata-kata Hiroshi menghalau kese dihannya. "Kita harus melihat medan perang. takut kalau mereka akan mati tanpa semp at menyatakan cinta. Aku tahu derajat dan kedudukan menempatkan dirimu jauh di atas diriku. dan saat masa depan mereka kian tak menentu? Kuda-kuda sudah selesai diurus: tidak ada lagi alasan bagi mereka untuk berdiri di sana lebih lama lagi.

" ujarnya. Semuanya mulai basah. juga kuda Anda. Terdengar olehnya perkemahan meledak dalam kesibukan di sekelilingnya. jari nya terasa licin. berusaha mengatur pikirannya dan mengobarkan kembali api yang tenang dan kuat dari Ajaran Houou dalam dirinya." ujarnya. Namun semua usahanya kalah oleh kenangan yang melintas di benaknya ing anak panah dan wajah serta suara Hiroshi. Shigeko tertidur sebentar dan terbangun oleh gemuruh halilintar dan percikan air hujan. Setelah mandi dan m akan. la lu ia duduk sendirian dalam waktu yang lama. Rambutnya tersangkut saat benda itu diikat talinya. Ked ua orangtuaku mengutamakan cinta di atas kewajiban pada orangtua mereka. "Mari kita menikah. cepat-cepat mengenakan pakaian berkuda yang dikenakannya kemarin. Seumur hidup. "Namun mengetahui bahwa kau merasakan apa yang kurasakan telah memuaskan semua keinginanku. mengapa aku tidak bol eh melakukan hal yang sama?" "Aku tidak bisa melakukan apa yang ber¬tentangan dengan keinginan ayahmu. kuharap! Shigeko berani berpikir demikian saat mereka berpisah. "Anda harus segera bersiap. dengan penuh perasaan. lalu perg i menemui beliau." ujarnya. "Ayah Anda mengirimkan ini. "Lady Maruyama!" seorang perempuan berseru memanggil dari luar. Saat kembali. Tapi kini kulihat ternyata. akan kubujuk orangtuaku."Hiroshi. Saat ini aku t ak lagi merasa wajib menjadi istri Lord Saga karena dia telah memperlakukan ayahku dengan kejam. ia diberitahu kalau ayahnya sudah tidur. jeritan dalam pertempuran. ada hal lain yang lebih penting. Shigeko ingin segera menemui ayahnya." sahut H iroshi. Sementara Shigeko makan dengan cepat. Mari kubantu Anda. "Mari kita menikah. Mai menghilang lagi. aku senantiasa berusaha mematuhi orangtuaku dan ber¬tindak dengan be nar. namun ia menahan diri. bau darah. Satu tenda terpisah didirikan untuknya. Saat ini aku ta k Hiroshi. gadis itu membawa perisai pelindung dada kecil terbuat dari kulit dan besi serta helm. dan Mai masuk ke tenda membawa teh dan nasi dingin. dan melompat bangun . akan kubujuk orangtuaku." Tidak semuanya. saat menghadapi kematian. des ." Shigeko merasakan bobot asing perisai dada itu.

"Hiroshi memohon api sebenarnya Ayah membutuhkan semua orang yang ada. Jika kita kalah." "Dan kalau kita menang?" Halaman 280 dari 600 . t basah untuk menggunakan reda untuk menyerang. "Tidak. putriku. Jato di sampingnya. dia yang ak an menyelamatkanmu. Shigeko bergegas menuju barisan kuda. dan Saga tahu ini." sahutnya. menunggu kedatangan Hiroshi dan pengurus kuda menyele saikan memakaikan pelana pada kuda. Ay baik. Saat ini terlalu senjata api. kau harus menikah dengan Saga. kau harus hidup." ujar Takeo. melewati siraman hujan bak tirai baja abu¬abu. karena kalian berdua adalah pemanah yang agar mengirimmu pergi. "Shigeko. Ayah yakin dia takkan menunggu hujan ah membutuhkan kau dan Gemba. "Bila kekalahan tak terhindar. Mai menaruh topi baja di kepala Shigeko lalu mengikatkan talinya." panggilnya tanpa tersenyum. "Aku tak ingin meninggalkan Ayah. Aku ingin bertempur di samping Ayah. Takeo sudah me ngenakan baju zirah. dan mempertahankan negara dan rakyat kita sebagai istrinya." ujarnya pada Mai." "Aku akan mencabut nyawaku lebih dulu. Hujan turun dengan deras." hardik Shigeko."Ikat rambutku. tapi langit tampak kian pucat." "Aku senang. lalu diambil pedang dan mengencangkannya di s abuknya." "Tetaplah bersama Gemba. Matahari hampir terbit.

"Saga menduga kita hanya berkonsentrasi pada senjata api. "Beberapa luka telah diatasi oleh kekuatan perempuan. Mereka berjumlah beberapa ribu orang. Maka kau bisa menikah dengan orang pilihanmu." panggilnya. dan Shigeko mengikuti Gemba menuju sisi sebelah utara." sahut Takeo." "Kita harus tetap di sini. "bahkan saat pasukan bergerak memutar dan maju. . matanya berkerut me lirik ke arah Hiroshi." Mulut Shigeko terasa kering. kar ena Kahei telah melatih seni tembakan alternatif hingga hujan panah seperti sambung menyambung. tempat pasukan b erkuda berkumpul. selagi mereka berdua naik ke pung gung kuda. Takeo berkuda bersama Hiroshi menuju bagian tengah tanah datar. tapi aku tak tahu a pa itu. tempat pasukan pejalan kaki. dengan sepenuh hati. "Lord Gemba. para pemanah diatur dalam dua tingkat. takdir yang mengharuskan kita membunuh atau te r¬bunuh. bahwa sebena rnya kita tidak meng¬inginkan atau pun mencarinya. Kita harus merangkulnya dengan segala kejernihan pikiran. kuda yang sudah tak sabar. pemanah dan pasukan ber-senjata tombak berujung tajam dan tombak berkapak tengah mengatur posisi." sahutnya ringan." Shigeko mendengarkan kata-kata ini. tapi tidak belajar dari kejadian itu." sahut Gemba. Dia terkejut saat pertandingan berburu anjing itu be r¬langsung. "Aku akan pegang janji Ayah. mereka pasti melakukan hal yang sama untuk senjata api. Kini dia akan sama terkejutnya seperti saat itu ." tambahnya. Ayahmu ingin agar kita membidik dengan hari-hati dan menyerang pemimpin mereka."Maka kau bisa menikah dengan orang pilihanmu. "Bagaimana bisa terjadi s eperti ini? Bagaimana kita bisa gagal menyelesaikan masalah dengan damai?" "Ketika keseimbangan hilang dan kekuatan laki-laki mendominasi. "Dia tak menduga kalau kekuatan pemanah kita sama hebatnya dengan pasukannya. tapi nyaris tak bisa mengingatnya. Andai keadaan tidak basah. Jangan sia-siakan sebatang anak panah pun." sahut Takeo." tutur Gemba. perang tidak bis a dihindari. matanya berkerut mel irik ke arah Hiroshi. perhatiannya dipusaikan pada pemandangan di depann ya saat matahari semakin terang: warna merah dan emas baju zirah serta pelana. Sudah takdir kita untuk berada di sini.

Pasukan Saga sangat disiplin dan luar biasa terlatih. Malam har inya para prajurit merawat luka dan membersihkan medan perang dari anak panah yang berserakan. pertama dihadang pasukan b erkuda yang menggunakan pedang kemudian oleh prajurit pejalan kaki. Selagi pasukan Saga merangsek memasuki dataran. dalam jumlah yang luar biasa besar. berharap dianugerahi harta rampasan dari Tiga Nega ra. Juml ah pasukan Saga Hideki lebih besar tiga berbanding satu dengan pasukan Takeo. berperang dengan restu Kaisar. Halaman 281 dari 600 . perang yang berusaha ia hin dari. Mereka telah menakluk kan wilayah wilayah di utara.* Perang Takahara berlangsung lebih dari tiga hari di tengah badai yang disertai k ilat dan petir. mereka dihujani anak panah dari kanan. Kemudian. Miyoshi dan klan lain dari Tiga Negara. bak semut yang terganggu keluar da ri sarang. Perang berlangsung tiada henti dari matahari terbit hingga matahari terbenam. dan posisi Takeo yang lebih meng¬u ntungkan. tapi jenderal Kaisar itu dirintangi oleh sempitnya jalur menuju dataran. Maruyama. gelombang pertama pasukan Saga mengalir melewati perbatasan. Inilah perang paling brutal yang pernah Takeo alami.dan panji-panji Otori. prajurit yang selamat dari panah dihadang oleh pasukan utama Otori.

serta mengatur pengangkutan p ersediaan dan senjata dari Inuyama. meski¬pun kaki mereka dibungkus jer ami. Keyakinannya bahwa Saga takkan bisa menang menguatkan tekad pasukannya. Se . Panji-panji klan basah karena lembap. penderitaan rakyat di bawah pengua sa Iida Sadamu. Miyoshi Kahei sudah bertempur bersama pasukan Otori sejak perang Yaegahara saat berusia empat belas tahun. ingin menghadap i ancaman atas pemerintahan Takeo. duduk di dekatnya bernaung di bawah payung. Ia telah merencanakan operasi militer ini sejak musim semi. tombak runcing da n tombak berkapak. semangatnya ber¬kobar : hujan tak bisa dihindari. pasukan Takeo tidak hanya berperang demi nyawa mereka. Kahei tak pernah lupa masa-m asa yang terjadi setelah itu: penghinaan atas ksatria. kuda merah bata miliknya siap di sampingnya. pedangnya mencincang dan menyabet punggung prajurit yang t engah melarikan diri. n amun ada yang luar biasa dengan senjata tradisional: busur panah dan pedang. persiapan Kahei dilaku¬kan dengan sangat teliti dan penuh pe¬rencan aan. kampung halaman. Sama pentingnya. Mino ru. istri dan anak-anak serta tanah mereka. berusaha keras namun sia-sia menjaga agar tulisannya tetap kering serta mencatat semua kejadian. kampung halaman. Kini akhirnya perang sudah dimulai. pasukan Takeo tidak hanya berperang demi nyawa mereka. Dia sudah tak sabar selama berbulan-bulan. menyebar untuk mengecoh pasukan pemanah ke utara dan mengitari sebelah selatan d ari pasukan utama Kahei. Pemanah sebelah utara menembak membabi¬buta. Klan Otori menderita kekalahan besar. hampir tiga puluh tahun lalu. tapi juga demi negara. Kahei menyaksikan dari lereng. Ketika serangan pertama p asukan Saga dipukul mundur dan dihalau kembali ke jalur perbatasan. dan hujan anak panah kurang efektif dibandingkan hari sebelumnya.Sebaliknya. mendengarkan suara pertama kegiatan dari musuh. karena sebenarnya dia ingin pasukannya meng¬gunakan senjata api. pasukan berkuda Saga kembali melewati jalur sempit sebelu m hari terang. tapi juga dem i negara. ebaliknya. Di pagi di hari kedua. si juratulis. Didengarnya langkah kuda. sebagian disebabkan oleh peng¬khianatan para pemimpin distrik. Ia bertekad untuk tidak hidup dengan kekalahan seperti itu lagi. keriat¬keriut dan gemerincing pelana serta senjata. istri dan anak-anak serta tanah mereka. Kahei melompat ke kuda l alu bergabung dalam pengejaran itu. tanah di bawah kaki dengan cepat berubah m enjadi lumpur. Takeo tidak tidur selain menyaksikan semalaman.

kalau Okuda berada tidak jauh di sebelah kanannya. Ketika hari terang. Bocah itu mengenali Takeo dan ber¬teriak memanggil. dan pakaian. serta terkepung sewakt u berusaha membela diri dengan gagah berani. perang sudah ber¬langsung lama. membelokkan kuda itu menghadapi si penyerang lalu menunduk menatap mata putra Ok uda. senjata. ia berge rak memasuki kekejaman pertempuran. Seakan tak lagi memiliki rasa menyesal. Bocah itu terjatuh dari kuda dan kehilangan topi bajanya. setengah sadar. pasukan pema nah terjebak dalam per-tarungan satu lawan satu dengan pasukan Saga. Takeo men dengar suaranya dengan jelas di tengah gemuruhnya pertempuran. Ia menggerakkan Tenba ke samping untuk menghindari tikaman pedang ke a rah kakinya. Tadayoshi mati seketika itu juga. Kini Takeo mendengar jerit kemarahan dan kesedihan. meski lencana setiap kelompok pra jurit pejalan kaki bisa terlihat samar di bawah guyuran hujan. Ia segera ber¬kuda untuk membantu mereka dengan Jato di tangan. Takeo tak berhasil melih at seorang pun dengan jelas di tengah pertempuran sengit itu. Tenba gemetaran penuh semangat. dan tidak mendapat bantuan apa pun. Ia melihat. Di bagian paling timur. Tadayoshi. "Lord Otori!" Ia tidak pernah tahu apakah itu seruan menantang atau seruan minta tolong karena Jato sudah turun ke tempurung kepalanya dan membelahnya. dan cahaya matahari yang baru terbit menerangi pertunjukan yang menyedihkan itu. Segera dilihatnya kalau sisi kananny a dalam ancaman. dan melihat ayah bocah itu t engah berkuda ke arahnya.muanya basah kuyup makanan. pedang di kedua Halaman 282 dari 600 .

ia tidak merasa sakit dan mengira kalau ia tak terluka. Takeo merasa tidak tenang dengan kematian Tadayoshi. tapi Takeo masih bisa merasakan akibatnya karena ujung pedang Okuda me ngenai bagian atas lengannya sampai ke bahu. dan tidak siap. di belakangnya m embuat Hiroshi teringat perjalanan di tengah hujan seperti ini bersama sepupunya itu sa at berusia sepuluh tahun.tangannya. Takeo merasa tidak tenang dengan kematian Tadayoshi. Sakai Masaki. Kuda Okuda terus berderap. Amukan laki¬laki itu membakar amarah lama dalam diri Takeo. terjatuh ke depan. dan membiarkan kobarannya kian membara ka rena perasaan itu menghangus¬kan penyesalan. angannya. S aat itu Tenba tersandung. berusa ha mencengkeram surai dengan tangan kanannya yang cacat. Namu n Okuda tidak mengacuhkan mereka semua. berusa ha mencengkeram surai dengan tangan kanannya yang cacat. dan Takeo agak tergelincir dari pelananya. Okuda m embelokkan kuda lalu kembali menghampiri Takeo. Hiroshi dan pasukan¬nya mendesak pasukan Saga kembali ke jalu r sempit dalam serangan balasan. perang merupakan hal yang sangat diinginkannya. Namu n Okuda tidak mengacuhkan mereka semua. dan tidak siap. memberi waktu bagi Tak eo dan Tenba memulihkan diri. Saat itu Tenba tersandung. jalannya dihalangi oleh kerumunan prajurit. Okuda m embelokkan kuda lalu kembali menghampiri Takeo. *** Masih di hari kedua. Gerakan yang cepat dan kuat laki¬laki itu justru membawa Jato menembu s ke dalam daging dan pembuluh darahnya. dan membiarkan kobarannya kian membara ka rena perasaan itu menghangus¬kan penyesalan. dan Takeo agak tergelincir dari pelananya. pandanganya hanya tertuju kepada Takeo. Tersandungnya Tenba membuat serangan Ok uda agak berbelok. Gerakan yang cepat dan kuat laki¬laki itu justru membawa Jato menembu s ke dalam daging dan pembuluh darahnya. terjatuh ke depan. Jato menanggapi dan menemukan titik tak te rlindungi di leher Okuda. Amukan laki¬laki itu membakar amarah lama dalam diri Takeo. jalannya dihalangi oleh kerumunan prajurit. Jato menanggapi dan menemukan titik tak te rlindungi di leher Okuda. pandanganya hanya tertuju kepada Takeo. tapi Takeo masih bisa merasakan akibatnya karena ujung pedang Okuda me ngenai bagian atas lengannya sampai ke bahu. Kuda Okuda terus berderap. Tersandungnya Tenba membuat serangan Ok uda agak berbelok. Keberadaan sepupunya. Di usia itu. memberi waktu bagi Tak eo dan Tenba memulihkan diri. ia tidak merasa sakit dan mengira kalau ia tak terluka. Kahei memulai gerakan mengepung lalu menjepit yang bisa menjebak pasukan musuh untuk mundur. namun jalan yang diikutinya .

meneng¬gelamkan dirinya. kulitnya basah oleh keri ngat bercampur air hujan. karena masa depannya bergantung pada ke¬menangan. sekarat karena kehilangan banyak darah dengan luk a sayatan di kepala dan kaki. Kini dirasa¬kannya semua darah yang mengalir dari nenek moyangnya menggelegak dalam pem¬buluh darahnya. mendesak lawan kembali ke jalur sempit. "Hiroshit Kawanku! Jangan tinggalkan kami. Sakai tewas tergeletak di atas tu buhnya. Takeo berlutut di samping Hiroshi. sudah dibersihkan dan dibalut denga n perban kertas. pasukan Saga makin putus asa. Luka-lukanya sudah ditutupi lumpur. ia merasa lebih baik terbunuh atau mencabut nyawanya sendiri. Hiroshi bertarung dengan kemarahan yang ia tidak tahu kalau ia memilikinya. Gemba berkata. darah. tempat mereka terjebak di jalan yang menyempit. Keri tumbang. Shigeko tidak terluka. tapi berasap di tengah hujan. "Aku menemukannya. Dibuangnya jauh-jauh semua p ikiran lain dan berkonsentrasi pada pertarungan." Dibaringkannya pemuda yang terluka itu di bawah. membunuh. . Gemba menghentikan aliran d arah serta membersihkannya sebisa mungkin. Bobot tubuh Sa kai menahan tubuhnya berada di dalam lumpur saat pasukan yang bertempur menginjak¬injak melewa ti mereka. wajahnya pucat kelelahan. Berjuanglah! Ber¬juanglah!" Mata Hiroshi mengerjap-ngerjap. meraih tangannya dan berseru memanggil nya. Hiroshi menemukan dirinya berta rung melawan dua prajurit tanpa kuda. Pedang kedua turun ke arahnya: dilihatnya Sakai menghempaskan badan di balik huj aman pedang itu. mem¬butakan matanya. darahnya sendiri atau darah Sakai. Ajaran Houou. Sakai pasti telah menyelamatkan Hiroshi. Lumpur menyulitkan dirinya untuk menjejakkan kaki dan j atuh dengan satu lutut. Dia sekarat. lalu rasa sakit menyel imuti dirinya. Napas¬nya terengah-engah. Takeo berada di antara mereka. Gemba menemukannya saat malam. Tak bisa kemana-mana. namun tidak berbahaya. Dalam salah satu desakan bal asan. Lentera telah dinyalakan.sekarang adalah jalan kedamaian. Sesaat Hiroshi tak bisa percaya kalau beginilah akhirnya. Bila kalah dalam perang ini. bahu dan lengannya tersayat cukup dalam. menang. memengaruhi semangat pasukan di sekitarnya. lalu menggendong Hiroshi kembali ke belakang bar isan untuk bergabung dengan prajurit yang terluka. berpaling selagi pedang meng¬hampirinya dan terus menangkis dengan pedangny a ke atas. darah menyembur dari leher dan bahunya.

" Halaman 283 dari 600 . "Dia tak mungkin sekarat! Dia tak boleh mat i!" "Dia berhasil bertahan sampai sejauh ini.Shigeko berlutut di samping ayahnya.

" bisik Shigeko. "Dia tidak pernah kalah sehingga dia tidak akan mengakui pemikiran semacam itu. tentunya." ujar Gemba. Aku takkan menjauh dari perang tidak sebelum S aga mati atau kembali ke ibukota!" *** Shigeko menjaga Hiroshi semalaman.ujar Gemba." sahut Takeo setuj u." "Begitulah jalan hidup ksatria. Hiroshi masih hidup hingga pagi hari. "Alangkah tidak termaafkan mem¬bunuh orang. "Sampai berapa lama lagi Saga akan bertahan seperti ini?" tanya Kahei pada Takeo malam itu. Demam karena lu ka tak bisa dihindari dalam kondisi buruk seperti ini. "Bisa kau lihat betapa kuatnya dia. "Bisa kau lihat beta pa kuatnya dia." "Bagaimana kita bisa membujuknya? Kita bisa saja menahan serangannya tanpa waktu yang pasti kuharap kau terkesan dengan para prajuritmu. menurutku mereka sangat luar biasa ta pi kita tak bisa menghindari besarnya korban." jar Gemba. semakin besar peluan g kita menyelamatkan yang terluka." "Dia adalah orang dengan kebanggaan yang tinggi. meski rasa sakit semakin terasa sepanjang ha ri ini. dan Shigeko tak menemukan satu pun benda kering yang bisa menghangatkannya. "Dan kau juga. berusaha men urunkan panas demamnya. "Ini benarbenar gila. "Jangan putus asa. Dia mengorbankan anak buahnya tanpa tujuan. sebelum mereka menggunakan kesempatan istirahat singkat untuk tidur. Kau harus beristirahat besok." imbuhnya." "Seperti Sugita yang malang. "Ksatria bertarung lalu mati." Shigeko tak menjawab." sahut Takeo." "Jika dia bisa melewati malam ini. namun air mata bercucuran dengan deras dari matanya. Diseduhn ya teh dan berusaha membuat pemuda itu meminum . menjauhlah dari medan perang. berarti masih ada harapan. memandikannya dengan air dingin. " "Betapa mengerikan semua ini. "Beruntung aku sudah terbiasa memakai tangan kiri. tanpa sinar matahari untuk mengeringk an dan menyembuhkan." sahut Takeo." "Lukanya tidak parah. tapi tubuhnya menggigil ke ncang sekali. Semakin cepat kita bisa mengakhiri perang.

"Dia sekarat!" "Tidak!" sahut Shigeko. "Berbaringlah di sebelah sana.nya: Shigeko tercabik antara tetap menjaga Hiroshi atau kembali ke posisinya di samping Gemba untuk melawan serangan Saga selanjutnya. "Ah. menjilat pinggiran luka yang menganga dengan lidah lalu meludahkan air liurnya k e luka tersebut. Mai sudah menghabiskan waktu siang dan malam di sana. "Apa yang harus kulakukan?" Mai berjongkok di samping Hiroshi dan meraba dahinya." ujar Mai pelan." Mai ber¬baring dan mendempetkan tubuhnya ke tubuh Hiroshi. dia kedinginan. dan Shigeko melakukan¬nya. tanah di bawah mereka becek deng an air hujan." ujar nya. Shigeko mengulangi gerakan yang sama. "Beraninya kau mengatakan begitu!" Halaman 284 dari 600 . "Beginilah cara kami meng¬hangatkan orang sakit di Tribe. "Dan begitulah kami menyembuhkan luka. m erasakan kehangatan tubuhnya menyebar ke tubuh Hiroshi. Tempat berlindung dari batang kayu yang didirikan untuk mereka yang terluka terus meneteskan air hujan." pcrintahnya. lalu menyingkirkan perba n Gemba. dan Shigeko memanggilnya. Kedua gadis itu mengapit pemuda i tu tanpa bicara sampai suhu tubuhnya mulai naik lagi. Mai berkata. merasakan darah pemuda itu.

maka dia akan kehilangan selera perangnya. Kau harus bertempur. jeritan mereka yang terluka." imbuhnya saat Shigeko raguragu. Shigeko duduk di samp ing Hiroshi. dan sesekali membasuh wajahnya dan memberinya minum karena saat ini dia terseran g demam lagi. "Sakiti si Saga itu. Diambilnya bus ur yang digunakannya untuk bertempur. oleh Hiroshi dan Guru Besar lainnya. Kau harus bertempur. "Bagaimana cara men¬dekatinya? Dia tidak muncul di medan perang. "Kenakan pakaian berwarna cok lat seperti warna lumpur dan siapkan busur dan anak panah yang paling mematikan." "Bagaimana cara kita menghentikan perang ini?" "Laki-laki memang suka bertarung. temanku sayang. Guruku yang terhormat. dentingan baja. Tidak banyak yang bisa kau lakukan untuk Lord Hiroshi." ujar Mai. Jan gan tinggalkan aku! Perang berlanjut dengan lebih kejam lagi. membungkus kepala dan lehernya dengan sehe lai kain lebar lalu mencorengkan lumpur di dahi dan pipinya agar tidak dikenali."Dia perlu dirawat dengan benar. dan seketika itu juga pergi ke tendanya lal u mengeluarkan . Sakiti dia separah luka yang Hir oshi derita maka dia akan lari tunggang langgang mencari tabib di Miyako. dan aku harus merawat mereka yang lebih berpeluang hidup. panggilnya dalam hati kepada Hiroshi. derap kaki kuda." Shigeko berkata. Dita ruhnya semua anak panah ini ke dalam tabung. Kita tak bisa melakukannya siang dan malam. Dia takkan meninggalkanku. dia hanya mengarahkan pasukan dari jauh." Mai menatap Hiroshi lalu menatap Shige ko. terutama jika mereka terluka." "Aku akan menemukan caranya untuk Anda. dan aku harus merawat mereka yang lebih berpeluang hidup. "Tapi bahkan laki-laki paling kejam sekalipun akan kelelahan. pikirnya." Shigeko mengikuti semua petunjuk Mai. tapi ada sem acam kesunyian menyelimuti diri mereka berdua." Dia perlu dirawat dengan benar. membawa teriakan-teriakan yang membuat gila. Kita tak bisa melakukannya siang dan malam. "Dia sudah berada di tangan para dewa." ujar Mai. ujung anak panah terbuat dari besi bermata satu. dan Shigeko merasakan jiwa mereka saling bertaut . dibului dengan bulu elang. Sementara menunggu Mai kembali. mengencangkan talinya dan menemukan sepuluh anak p anah baru. Shigeko berusaha menenangkan pikiran seperti yang pernah diajarkan kepadanya di Terayama.

Pasukan barunya masih segar dan telah beristira hat. ber¬ge gaslah. tali kekang mereka yang putus bergelantungan terseret di lumpur. tapi pasukan Saga tergeletak di tempat mereka jatuh. Saat kembali ke tempat Hiroshi. Mereka menund ukkan kepala dan mulai makan rumput. Strategi Saga kini tampaknya bisa mengungguli Otori denga n kekuatan jumlah pasukan yang lebih besar. segerombolan kecil kuda menderap. Shigeko hampir tak memikir¬kannya selama dua hari in i: tidak ada yang punya waktu untuk membangun kandang baginya. terasing dan jauh dari medan perang. Mai sudah kembali. berjal an ke barat daya. hewan itu diikat dengan tali k ekang ke barisan kuda. Kirin terlihat menyedihkan dan merana karena sendirian serta makin Halaman 285 dari 600 . sementara disan-dangnya busur yang lebih besar di bahu kiri. Perasaannya sudah mati rasa melihat begitu banyak oran g yang tewas. Berapa lama lagi mereka bisa bertahan? tanyanya pada dirinya sendiri selagi meng ikuti Mai mengitari sisi selatan tanah datar. disadarinya kalau ia t akkan bisa menemukan gurunya itu. Kuda-kuda yang terluka berusaha bangkit. Pasukan Otori sudah membawa korban tewas dan terluka dari pihak mereka ke garis belakang. Shigeko melihat kuda-kuda itu berhenti tepat di depan kemah Otori. Mengurus mereka sebentar." Shigeko bertanya dalam hati apakah perlu memberitahukan Gemba kemana ia akan per gi. Agak di belakang mereka tampak kirin.busur kecil dan anak panah dengan bulu burung houou miliknya: menje¬jalkan semua i ni ke dalam jubahnya. "Kau darimana?" tanya gadis itu. Ketika tiba di puncak lereng dan melihat pemandangan di medan perang. tabung an ak panah di bahu kanannya. "Kukira kau sudah kembali bertempur. sesekali berhenti dan terpincang¬pincang. sementara pasukan Otori sudah bertempur selama dua hari. Mari. seolah berada di padang rumput.

menghilang ditelan kabut yang bergelayut bak gumpalan sutra yang belum d ipilin. tempat laki-laki itu mendapatkan pandangan bak burung rajawal i ke medan perang di bawahnya. Dia bersenjata lengkap dengan pakaian warna hitam dan emas. Saga duduk di bangku kecil mewah berlapis pernis dan dinaung i payung besar. Shigeko menggeliat bergeser hingga ke posisi tempat ia bisa melihat di sela-sela akar ke arah timur. diam tanpa suara. Saga berada tepat di arah depan mereka. bersama dengan peniup terompet perang dan kurir yang siap mem¬bawa pesan. akar kedua pohon yang meli ngkar dan berbentuk aneh membentuk semacam kisi-kisi yang alami. berkeliaran di an tara dua dunia. Sanggupkah hewan itu bertahan melewati coba Negara Tengah? Rasa iba pada hewan itu meng¬hunjam h rumahnya. Mai kembali keluar dari kabut bak hantu. Ia merasa seakan telah tewas dan sekarang sudah menjadi hantu. Di sini suara per¬tempuran agak berkurang. Shigeko meringkuk bernaung di bawah tonjolan batu besar yang meneteskan air hujan selama waktu yang dirasakan bak se umur hidupnya. m elaporkan perkembangan perang. mencermati suaranya ya . "Tetap menunduk. Akhirnya mereka tiba di batu besar dan memanjat sisi sebelah selatan. berdiri me ngelilinginya. Beberapa perwira yang sama cemerlang dan bersih dengan dirinya walaupun hujan. kerap¬kali mereka harus merangkak di bebatuan besar. Tepat di belakangnya. serang¬kaian tonjolan bebatuan yang terjatuh mem¬bentuk anak tangga ala mi menurun ke jalur sempit. bertengger di tebing yang curam. topi bajanya berhiaskan dua puncak emas. begitu kesepian dan jauh dari Sanggupkah hewan itu bertahan melewati cobaan bera hujan. seperti gunung¬gunung di panji-panji hitam putih yang berkibar-kibar di sampingnya . Di sekeliling mereka menjulang puncak-puncak Gu gusan Awan Tinggi. Kadang Mai berjalan di depan. Dua batang pohon pinus kerdil melekat di puncak batu itu. Kedua gadis itu berjalan melewati belakang bebatuan dan tebing yang mengelilingi tanah datar. dan memimpin untuk be rjalan terus. Tanahnya berbatu dan licin. Ia bahkan bisa mendengar suara Saga.kurus di bawah siraman hujan. mem¬beri isyarat kepada Shigeko untuk menunggu. Shigeko melihat beberapa orang melompat naik turun di anak tangga itu. t ini daurus di bawah siraman an berat ini dan perjalanan panjang kembali ke atinya. Shigeko menahan n apas dan menyejajarkan tubuhnya dengan bebatuan. dan pintu masuk ke jalur sempit." bisik Mai.

satu anak panah melesat melewatinya. berteriak d an menggerakkan tangan dengan kipas perang besi di tangannya. Mai bemapas di telinganya. dan bidikannya belum pernah meleset. tapi tidak merasa kesakitan. menghantam pohon pinus dan serpihan kayu terkena wajahnya. dan beberapa di antara mereka segera bergegas menuruni anak tangga ba tu untuk masuk ke kancah peperangan. anak panah tepat sasaran. satu tembakan lagi meng¬hantam batu di kakinya. Gerakan ini telah diterapkannya ribu an kali selama dua hari terakhir. tatapan matanya kejam. hingga ia harus mem¬pertahankan keseimbangan saat menarik busur dari bahu dan anak panah dari tabung. Shigeko berdiri: busur meregang. dan kini mereka membidiknya. "Menunduk!" teriak Mai. Dia akan melangkah di bawah batang togoknya: permukaan bebatuan pasti licin. Para perwiranya mundur selangkah d ari kemarahan besar itu. saat dia berdiri. Ditariknya busur yang lebih kecil dari jubahnya dan menaruh sebatang anak panah di busur itu.ng penuh kemarahan. Wajah ter lihat jelas. Terdengar jerit kaget dan ter guncang. Akan d igunakannya pohon pinus terdekat untuk menopang kakinya. "Sekarang. hujan memercik di sek elilingnya. ter¬duduk dengan susah payah. namun Shigeko tak bergerak. Bulu burung houou berkilat keemasan. dan membiarkan anak panah itu melesat ke arah tatapan laki-laki Halaman 286 dari 600 . Aku akan mati. dan terlihat jelas kulit leher yang lebih putih. Dirasakan s atu pukulan tajam. seolah tubuhnya tersandung sebatang tongkat." Shigeko menarik napas dalam-dalam dan berpikir di sela setiap gerakannya. Shigeko mengintip lagi dan melihat laki-laki itu berdiri. orang di belakangnya memegang er at-erat dada Saga di mana anak panah melubangi perisai dadanya. pikirnya . Saga melihat ke arahnya. begitu pula Saga yang tak be rhenti memandangi dirinya. Kau hanya memiliki satu kesempatan. Shigeko melihat sekali lagi dan memerhati¬kan titik kelemahan orang itu.

merahnya darah bercampur bulu yang basah kuyup dengan ai r hujan. ketika perang berhenti untuk sementara. tempat dia menambah ju mlah pasukan. menghabisi prajurit pejalan kaki yang mundur ke rintanga n yang telah mereka dirikan saat pemanah di sebelah utara meluncurkan anak panah. kuda itu seperti menyadari lukanya. ia menunduk melihat Tenba terluka sayatan di bagian dada. menatap anak panah itu hingga menembus mata kiriny a. menyadari p engkhianatan dan kekalahan yang tak bisa dihindari. Aya hnya adalah salah satu dari sedikit prajurit yang selamat apakah sejarah keluarga itu akan terulang lagi.itu. mengingat saat-saat terakhir perang Yaegahara. Berapa lama prajuritnya yang tidak tidur sanggup dapat bertahan d ari serangan yang seolah takkan berakhir? Dia mengutuk hujan yang menghalangi mereka menggunakan s enjata api. ketika pasukan Otori. *** Sepanjang pagi Kahei bertarung di bagian sebelah selatan. memanggil seorang prajurit pejalan kaki untuk me mbawa kuda itu ke perkemahan. takut kekuatan pasukan Saga mengepung perkemahan dari sebelah sana. kuda-kuda seperti terbang m elewati jalur itu. Anak buah Saga yang berada di sekelilingnya menjatuhkan busur dan menutup mata m ereka. Takeo turun. mengingat segala yang pernah Guru ksatria dan Tribe a jarkan untuk mengalahkan rasa lelah dan rasa sakit. tu. Banyak yang tepat sasaran. mengagumi tekad dan disiplin mereka yang berada di sekelilingnya. Saat itu halilintar menyambar. Sekarang ini. Terlepas dari kata-katanya yang penuh keyakinan kepada Takeo di malam sebelumnya . tapi Takeo tak tahan memerhatikan kalau jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingka . bertempur dengan putus asa hingga nyaris tak seorang pun tersisa. Sekelompok pasukan berkuda datang dari jalur sempit. dan mulai gemetar ketakutan. kini dia semakin cemas. dan darah membutakan matanya. hanya Saga yang tetap membuka mata. Pedang-pedang berkilat. dan udara di sekitar mereka seketika penuh dengan kepakan sayap. apakah ia pun ditakdirkan kembali ke Hagi dengan membawa berita kekalahan besar? Ketakutannya semakin membakar tekad¬nya untuk meraih kemenangan. Sewaktu pasukan Saga berhasil dipukul mundur. *** Takeo bertarung di tengah. lalu bersiap untuk menghadapi serangan berikutnya dengan berjalan kaki.

dan mereka semua segar dan sudah beristirahat.. Saat menunduk di bawah tebasan pedang. terperosok ke lumpur yang dalam. Ada berapa banyak lagi pasukan yang dimiliki Saga? Persediaanny a seperti tidak ada habisnya. Dipegang nya Jato dengan erat. Pasukan pejalan kaki miliknya suda h merangsek ke depan dengan tombak dan tombak runcing. hadiahnya kini digunakan untuk melawan dirinya. berbohong p ada¬nya. dan per-tempuran itu sedikit demi sedikit mengikis kekuatannya. Takeo beriuang keras menjejakkan kaki dalam genangan lumpur.. mem¬belokkan kuda dan kembali. Seperti Kahei.n hari sebelumnya. Tebasan pertamanya yang cepat ke atas mengenai kaki laki-laki itu dan hampir mem buatnya putus: Kono menjerit. Saat ini kaki-kaki kuda menginjak-injak di sekelilingn ya. lalu melomp at dengan cekatan ke samping agar si bangsawan berhadapan dengannya di sebelah kirinya. Halaman 287 dari 600 . Dilihatnya kuda Maruyama. k eyakinannya pun mulai berkurang. kini Takeo berada di sebelah kananny a. dan hendak menikam pergelangan Kono. sudah mati. mengabaikan rasa sakit dari luka di tangannya. Dengan rasa terkejut dikenali pemimpin¬nya adalah Kono. dan merasakan kemarahan dirinya meluap. Setelah ayah orang ini nyaris menghancurkan hidupnya. kini sang anak berkomplot melawannya. berusaha agar ti dak terluka dengan pedangnya sendiri. seekor kuda terjatuh berdebam di sam-pin gnya. Ia berguling menjauh. ter¬sungkur dengan kepala lebih dulu. seperti prajurit berkuda yang kini hampir mendekatinya. terdengar pedang di sebelahnya mengarah ke arah punggung-nya. menyanjung sambil menyusun rencana jahat untuk menjatuhkan dirinya.

dan segera tertidur. pikir Takeo tak percaya. Takeo berdiri. Kahei. Nampaknya laki-laki itu tak memerharikan Takeo. Ia mendengarkan desis lembut rintik air hujan di dedaunan dan bebatu an. rubah berkcliaran mencari mangsa. kini berubah menjad i gerimis. selagi suara terompet perang tenggelam d alam teriakan kemenangan dan pasukan di sekelilingnya mendesak ke depan mengejar musuh yang me larikan diri. kakinya masih menyemburkan darah. sementara Minoru mencatat nama mereka. Takeo mendengar suara lain. dan Sonoda Mitsura serta dua ratus pasukannya tetap tinggal untuk menjaganya. berjalan melintasi medan perang untuk merawat kuda yang terluka serta memakamkan yang tewas. Kono memegangi surai dengan dua tangan. saat korban tewa s sudah dimakamkan. musik pelan dan seperti hantu yang menggema di seluruh tanah datar. Malam harinya. Burung gagak telah ber¬kumpul. meletakkan senjata. dari desa mereka di Maruyama. Tanahnya berbatu-batu sehingga kuburnya pun tidak dalam.Seketika kilat menyala tepat di atas kepala. saling memekik d ari tebing yang curam. Kuda Maruyama tadi melewatinya. Kemudian kumpulan massa di sekitarnya berkurang. menyeka air hujan dan lumpur dari matanya dengan tangan kanan. dan hujan turun makin deras. Tonggak pagar pancang ditarik dan sebagian disusun menjadi tandu untuk mengangku t korban lukaluka kembali ke Inuyama. Saat jenazah dibaringkan berderet. mengenali semua yang bisa mereka kenali. Sisanya digunakan untuk membuat barikade di sepanjang jalur sempit. Gemba dan Takeo berjalan menyusuri barisannya. Di sel a-sela deru hujan. Takeo berjalan di antara pasukan yang tertidur sama seperti ketika berjalan di a ntara korban tewas sebelumnya. Mereka mundur. Sejenak ia t ak memahami artinya. Kahei memerintahkan pasukan beristirahat. Takeo mendengar suara lain. Di sela -sela deru hujan. sepertinya perang telah berakhir. Sedangkan pasukan Saga yang tewas dimakam kan dalam satu kubur di tengah tanah lapang. Di malam hari keesokan harinya. Menebas kepala tak diijinkan. mereka melepas baju zirah. pandangannya terpaku pada keamanan jalur sempit. percik air .* Para mantan gelandangan. dan hujan turun makin deras. pertahanan sudah ditempatkan dan tidak ada tanda-tanda Saga kembali. eketika kilat menyala tepat di atas kepala. Hujan deras saai Saga Hidcki memerintah¬kan pasukannya mundur.

lalu ke Negara Tengah untuk mencegah Zenko membangun kekuatan di wilayah Barat. Ia amat cemas. dari tumit hingga ke bahu. dan terlindung dari hujan. kemudian harus berjalan k e Inuyama.. peringatan Gemba tentang peristiwa yang telah mengacaukan keselarasan pemerin¬taha nnya kembali menyiksa dirinya.. Seluruh bagian kanan tubuhnya. Tabib Sonoda akan merawatnya. "Bagaimana keadaannya?" tanyanya.terjun di kejauhan. "Kurasa dia agak membaik. Itu hanya bisa berarti sesuatu telah terjadi pada Kaed e. dan kelegaan ata s kemenangan tenggelam oleh kesedihan melihat harga yang harus dibayar." Halaman 288 dari 700 . merasakan butiran embun di wajah dan rambutnya . sambil berlutut di samping Hiroshi. masih mengenakan baju p erang. Ia tahu kalau para pr ajurit yang kelelahan itu hanya bisa tidur sampai matahari terbit. kicau burung. terasa sakit sekali. wajahnya masih berlumuran lumpur. kakinya diperban dengan asal-asalan. Takeo menemukan putrinya di sana. ingin pulang secepatnya. "Dia masih hidup. Hiroshi telah dipindahkan ke dalam tenda Kahei yang menawarkan kenyamanan tertin ggi." sahut Shigeko dengan suara pelan." "Kita akan membawanya ke Inuyama besok. memerhatikan wajah pucat dan napasnya yang t erputus-putus.

meski sebenarnya ia memperkirakan Hiroshi takkan berta han dalam perjalanan.Takeo bicara dengan yakin. akeo bicara dengan yakin. "Dia takkan m au menikahiku sekarang!" Air matanya seketika berubah menjadi tawa. "Ya. "Sebatang anak panah mengenai kakiku. Dan Ayah boleh me nunggang ." ujarnya. "Jadi kami harus berterima kasih padamu atas mundurnya pasukan Saga yang tiba-ti ba itu?" Takeo tak kuasa menahan perasaannya atas hasil yang adil ini. melumpuhkan tapi tidak membunuh. atau akibat apa yang akan terjadi di negeri ini. Semoga Tenba siap: bila tidak siap. Shigeko meng¬angguk tanpa bicara. Aku hampir tak bisa berjalan kembali. Ayah ingin menungganginya kembal i ke Inuyama." Mendadak air mata mengambang di pelupuk matanya. Ajak seseorang. "Kau lelah." Pujian Takeo membuat air matanya berlinang lagi." "Pasti. tidak lebih lelah dibandingkan Aya h." "Dan kirin. bersama kirin yang malang. Hewan itu tidak tahu perjalanan panjang seperti apa yang menantinya." "Ayah jangan berkuda seorang diri. bahka n mematikan. Ayah harus tidur." "Kau telah melakukan tugasmu dengan luar biasa. "Kau terluka?" tanya Takeo. "Kaulah pewaris se jati Klan Otori dan Maruyama. dan telah memastikan kemenangan mereka. Tidak parah. Shigeko meng¬angguk tanpa bicara. "Seperti yang selalu kulakukan selama perang. Saga tidak menerima kekalaha n dalam pertandingan." Takeo tidak mengerti ucapan putrinya. Kahei akan membawa pasukan. Ayah akan meninggalkannya bersamamu . Aku memanah matanya." ujar Shigeko. Kau dan Gemba harus mendampingi Hiroshi dan korban l uka lainnya." sahut Takeo. "Aku tidak bermaksud membunuhnya." ujar Takeo. hanya melukai. "Tidak lebih lelah dibandingkan yang lainnya. Shigeko menatapnya dan berkata dengan cepat. Ajak Gemba. "Mai mengajakku ke tempat Lord Saga . segera setelah memeriksa keadaan Tenba. dia mencari konflik: kini Shigeko membuat dia terluka parah. meski sebenarnya ia memperkirakan Hiroshi takkan bert ahan dalam perjalanan. Aku tak menyadarinya sampai setelah itu. Mai yang menggendongku.

"Sekarang kau boleh menikahi laki Halaman 289 dari 700 . Ryume. kuda milik Taku. dan mungkin akan berlangsung selama berminggu-minggu. Suasana hatinya murung saat kembali ke tenda. Dia tak ada di antara kuda yang masih hidup. Seperti pas angan suami istri. Kemudi¬a n Takeo ingat pada kuda Hiroshi. Takeo berharap itu berarti besok akan lebih kering. Kuda-kuda itu mencapai usia tujuh belas tahun. usia yang baik. meski saat ini hujan sudah mulai turun. Kuda itu meringkik pelan menyapa saa t Takeo menghampiri. dan cahaya redup matahari menyembul saat matahari ter¬benam. Takeo menyimpul¬kan kalau otot bah unya terkilir. pertanda munculnya pelangi di langit. Di dalam tampak redup." Awan agak menghilang. Tenba berdiri di sebelah kirin. tapi Tenba teta p saja lebih menggunakan kaki kanan belakangnya. dan kemungkinan tak bisa ditunggangi. kembali ke bawah rintik hujan. pasti tewas. Kuda abu-abu pucat bersurai hitam. cahayanya memudar. walau kakinya kelihatan tidak terluka. Taku telah tiada. Takeo menatap dengan penuh kasih sayang. tepat beberapa minggu setelah kematian s audara tirinya. membawa kuda itu ke kolam air dan membasuhnya dengan air dingin. Luka di dadanya sudah tertutup dan tampak bersih. anak Raku. wajahnya dekat dengan wajah pemuda itu. Keri. Hiroshi di ambang kematia n. dengan kepala ter¬tunduk. Shigeko sudah tertidur di samping Hiroshi.Ashige. tapi kaki kanan k uda itu agak pincang. tapi kematian mereka membuat ia bersedih. aku tidak membutuh¬kan kuda.

Rasa menyesal menusuk hatinya atas nasib gadis itu dan peran dirinya dalam kematian i tu." bisiknya. di hari ketiga. mereka menyebar kabar tentang perang dan hasilnya. dan mengira tengah berad a di masa lalu. "Jangan bicara dulu. ia seg era tertidur. namun senyum masih tetap tersungging di bibirnya. Tubuhnya dingin." Lalu diingatnya kalau Yuki sudah meninggal. Takeo berbaring. menunggangi Aoi di samping Makoto menuju sungai yang meluap dan jembatan yang te rputus. bak awan gelap yang menghilang. Takeo mengira Hiroshi tidak sadarkan diri. Namun badannya sendiri tengah gemetar. Hujan yang deras selama berhari-hari bisa berakibat gagal panen.. "Lord Takeo.. "Mau kuambilkan teh?" "Ya." ujarnya keras." "Perang?" "Sudah berakhir. dan takkan tidur dengan dirinya atau orang lain. pikirnya. nap asnya melambat dan kian dalam. Meskipun lukanya terasa sakit. Kuda betina dan kuda hitam Gemba segar seperti Ashige. dan segera saja orang berduyun¬duyun ke arah Gugusan Awan Tinggi unt uk membawa makanan kepada para prajurit dan membantu membawa korban yang terluka. Dia kurang sehat. Jalanan berlump ur dan acapkali tergenang air. Di setiap pemberhentian." jawabnya. "Tapi aku tak boleh tidur denganmu karena aku telah beristri. Seringkali Takeo lupa di mana ia berada. . Perjalanan ditempuhn ya dalam rasa nyeri dan juga demam. Ia berkuda di punggung kuda betinanya yang tenang." ujarnya. bersama Gemba sesuai anjurkan Shigek o dan Minora.laki pilihanmu." Hiroshi memejamkan mata lagi.. dan perjalanan mereka tempuh dengan cepat. Saga mundur. dan sekonyong-konyong Yuki ada di samping nya. Kau akan baik-baik saja. sesekali suhu badannya m eninggi dan gemetaran. ia dihantui mimpi dan halusinasi. Aku harus datang dan meng¬hang atkan tubuhnya. tapi menolak berhenti. semangatnya agak bangkit. "Kelihatannya kau kedinginan. demam ringan menyerang Takeo. Kaede pasti kedinginan. Ia berlutut di sisi Hiroshi lalu menyentuh dahi pemuda itu." ujarnya kerasaki pilihanmu. namun Hiroshi tiba-tiba m embuka mata dan tersenyum. *** Ia berangkat menuju Inuyama keesokan paginya.

" lanjut Ai. Kecemasan¬nya bahkan tak bisa dihilangkan dengan sambutan sepenuh hat i penduduk kota yang merayakan kabar kemenangan dengan menari di jalanan. tapi hatinya tetap cemas. Adik Kaede. tempat ia dibantu turun dari kuda oleh Minoru dan Gemba." "Ishida di sini? Mengapa?" Halaman 290 dari 700 . demamnya sudah reda dan pikirannya telah kembali jernih ." sahut¬nya. Dia akan merawatmu. k eluar menyambut di dinding sebelah luar kastil. "Suamimu selamat.Sewaktu tiba di Inuyama. Ai. "Tabib Ishida ada di sini." katanya dengan segera. dan hati Takeo berdebar ketakutan. dan melihat wajah Ai bersinar dengan p erasaan lega. Hujan turun la gi dan para pelayan berlari ke depan membawa payung." "Lord Takeo." Ai mulai bicara. "Akan kupanggil dia. "Syukur kupanjatkan pada Surga. "Kau terluka?" "Kurasa aku sudah melewati bagian ter¬buruk. Apakah kau mendapat kabar dari istrik u? Aku tidak mendapat kabar apa pun sejak kami pergi di bulan keempat.

" ujar Ai. aku akan mandi dulu. bayi sangatlah lemah." Sew aktu Ai berlutut untuk menggeser pintu terbuka." ujar Ai. ingin bersiap dan menguatkan diri untuk men dengar kabar itu. Takeo melihatnya mengangkat lengan baju untuk men yeka air mata." akhirnya Takeo berkata. Mereka makan dengan cepat: Ai menyuruh pelayan membereskan nampan dan mem¬bawakan teh." sahut Gemba. aku merasa semua ini salahku. Demam dan nyeri membuat kepalanya pening: pendengarannya agak lebih peka dari bi asanya. "Akan kutinggalkan kalian." sahutnya. kelembutannya menakutkan Takeo." ujar Gemba. kelembutannya menakutkan Takeo." Ai sendiri yang menyajikan sop dan ikan panggang. Ia dan Gemba berjalan ke kolam sumber air panas dan melepas pakaian mereka yang kotor." Dia akan ceritakan semuanya. Dengan hati-hati Gemba menyingkir¬kan perban dari bahu dan lengan Takeo lalu membasuh luk anya dengan air panas." Takeo menghirup teh. kuh arap kau membawa berita baik. "Lukanya semakin pulih." "Menurutku kau harus segera mendengar nya. "Tak ada luka lainnya?" tanya Ishida. Kau ingin mandi dulu? Dan kami akan siapkan makanan bagi kalian. Kau ingin mandi dulu? Dan kami akan siapkan makanan bagi kalian. "Kau sudah jauh-jauh kemari. "Bisakah kau ikut denganku untuk mendengar apa yang telah membawa Ishida ke Inuyama?" "Tentu saja. nasi dan sayuran musim panas. Hujan membasahi lembut wajah dan bahu mereka. Hal¬hal seperti ini memang sering terjadi. setelah mereka saling memberi salam." sahut Ishida. Ishida datang bersama mereka."Dia akan ceritakan semuanya. Saat pel ayan kembali. Ai menuangkan teh ke mangkuk biru berlapis kaca. Mere . "Biar kuperiksa. tapi Takeo hanya mengangguk setuju. Kau menitipkan i stri dan putramu dalam perawatanku. mengelilingi mereka ber¬du a seakan membawa mereka ke dunia lain. hampir tanpa merasakannya. "Mari ma suk. mereka juga tidak bicara selagi membasuh dan mengeringkan tubuh lalu masuk ke dalam air yang berbuih dan mengandung belerang." "Nanti saja. "Aku tidak bisa berlama-lama di sini. "Mengetahui yang terburuk adalah tahu cara bergerak m aju. "Maafkan aku." ujar Takeo. tapi begitu jernihnya suara menyakitkan telinganya. "Mari mas uk. "Sudah mulai sembuh." "Ya.

"Tak ada tanda-tanda racun. "Bocah mungil itu sehat pada malam sebelumnya.ka terlepas dari geng¬gaman kita. "Bukan karena sihir? Bagai¬man a dengan racun?" Teringat olehnya kalau Hana berada di Hagi. "Apakah kau hendak mengatakan kalau putraku meninggal?" Kesedihan melanda dirinya. yang nyaris belum dikenalnya. "Sementara sihir aku benar-benar tidak t ahu." tutur Ishid a. namun tidak pernah terbangun lagi. bibirnya berkerut sedih. Aku tak kuasa menanggung kabar buruk ini. tidak berusaha menyem¬bunyikannya. Bila diriku saja t ak kuasa menanggungnya. mungkinkah dia penyebab kema tian putranya? Takeo menangis. pikirnya. Darah Takeo berdentum di telinganya. nyaris marah." Ishida berhenti dan menatap tak berdaya ke arah Takeo. "Bagaimana istriku menerima keadaan ini? Apakah karena penyakit? Apa¬kah Kaede juga sakit?" "Itu merupakan kematian di masa kanak¬kanak yang tak bisa dijelaskan." ujarnya. tapi aku sama sekali tak tahu penyebabnya. Kematian seperti ini tidak wajar. bagaimana Kaede bisa tahan? "Aku harus segera menemui istriku." "Bagaimana bisa begitu?" Tanya Takeo. tersen yum juga tertawa. kemudian." ujar Ishida. diberi cukup makan. lalu tertidur tanpa rewel. air mata berlinang di pipinya. suaranya pecah. yang kini tak akan bisa dikenalnya." Halaman 291 dari 700 . Mahkluk mungil itu. dan air mata menetes.

" sahut Ishida. Dirasakan semangatnya naik turun menuju kegelapan. lewat Tsuwano dan Yamagata. siapkan kuda. Apakah Shizuka bersamanya?" Lalu istriku: bagaimana keadaannya? Dia pasti hampir gila karena sedih. dan melihat kalau kegelapan i tu akan melahap seluruh negara nya. Sebagai jawabnya. Dia duduk tanpa makan di depan Daifuku ji. Sepertinya dia menjadi gila karena sedih." ujar Takeo." "Bisakah aku mencegat mereka di Yamagata?" tanya Takeo pada Gemba." ujarnya. "Gemba. seakan ingi n menopang tubuh Takeo. Apakah S hizuka bersamanya?" "Banyak hal buruk terjadi sejak kau pergi. menyerahkan d iri ke tangan yang tengah berkomplot menentang dirinya? Mengapa istrinya mau melakukan hal semacam itu? Bergabung dengan suami adik¬nya? Tidak bisa dipercaya kalau istrinya melakuka n itu. "Kaede pergi bersama mereka. Takeo duduk diam membeku." "Istri Zenko dan putranya berada di Hagi." bisik Ishida. dan menyerukan pada putra sulungnya untuk bertindak dengan adil. "Tentu dia tidak akan menyia-nyiakan nyawa mereka." ujar Ishida. "Istriku baru saja keh ilangan putranya. Namun sebagian dalam dirinya merasa tercabik-cabik. tempat dia membangun kekuatan militer." "Ah!" ujar Gemba pelan."Lalu istriku: bagaimana keadaannya? Dia pasti hampir gila karena sedih." tutur Ishida dengan sedih." Dia tak menangis. "Jaraknya sem . di Hofu. Telinganya sudah mendengar kata-kata itu. namun ekspresi kesedihan serta welas asih terlukis di wajahnya. "Aku harus menemuinya. Mereka dal am perjalanan ke Kumamoto. "Apa? Kaede membiarkan mereka pergi?" "Lord Takeo. namun benakn ya masih belum memahaminya. "Kini kita tahu apa yang salah. "Mereka pasti pergi beberap a hari kemudian. Kaede meninggalkan Hagi? Dia pergi ke Kumamoto. seolah seluruh tangannya ter enggut habis." "Hana dan kedua putranya sudah tidak di Hagi. Kira-kira sudah sampai di mana mereka sekarang? Kapan mereka berangkat?" "Aku pergi kira-kira dua minggu lalu. Z enko mundur dalam keadaan gusar ke Kumamoto. Dia bergeser mendekati Takeo.

tapi Takeo tak mengijinkannya melanjutkan. Minoru. maka aku pergi dia m-diam dari Hagi. membantah dan memohon. Shigeko luka ringan.inggu berkuda. "Kirin juga mungkin butu h perhatianmu. Rawat mereka sebaik-baiknya. bawa mereka ke Yamagata. "Hiroshi luka parah. mencari-cari jaw aban. Benaknya seketika mulai ber¬pacu. beritahukan keberangkatanku. "Aku harus bersiap untuk bertarung melawan Zenko. agar istrinya tid ak meninggalkan dirinya." la njutnya. "Tak satu pun sanggup menghibur a tau mencegah kepergiannya." "Mereka berjalan dengan lambat. Yang terpikir olehku adalah meminta bantuan Ai." tutur Ishida." "Aku akan sampai di sana dalam tiga hari. kirim pesan sekarang juga kepada Miyoshi Kahei. seraya berharap bertemu denganmu dalam per¬jalanan pulang." Ishida tidak memandang Takeo: sikap bersalah sekaligus bingung. dan begitu sanggup bepergian." tutur Takeo." Takeo ber¬henti bicara lalu menatap Gemba den gan pandangan penuh kesedihan. Tapi bagaimana aku sanggup ber perang melawan istriku sendiri?"* Halaman 292 dari 700 . menjanjikan apa saja pada dewa manapun. Ak u akan ke sana dan mencari tahu apa yang telah terjadi. "Lord Takeo.

seolah yakin Hisao aka n mengejar. Merasakan kalau kemampuan meng¬hilangnya sirna saat ia kelelahan. "Kita butuh senjata. Mereka minum sambil bertuk ar berita dan cerita. mengambil air dari kanal kecil. Maya sudah kelelahan karena tidak tidur semalaman. dan melihat Miki muncul kembali di sebelahnya. Tanpa berpikir panjang. kesal pada Z enko yang sangat tidak berbakti pada orangtua dan menghina dewa-dewa serta pasti akan dihukum ata s perbuatannya. seorang lakilaki tengah berjongkok mengasah pisau dengan batu asah. Orang itu melonjak kaget melihat ke¬munculan mereka yang tiba-tiba hingga pisau ya ng dipegangnya jatuh. Maya melambatkan larinya untuk mengatur napas. dengan saru tujuan: menjauhkan diri dari Hisao dan Akio. yang diberi makan oleh burung-burung di Daifukuji. ungkapan dendam atau kebencian: para pengawal Arai yang berada di bagian belakan g rombongan bahkan dilempari kotoran atau sampah. Di luar toko kecil. pemuda itu takkan membiar¬kannya pergi." jawab Maya. tidak berdaya. "Dia akan berikan untuk kita .00. makanan dan uang. gelombang pasang di awal bulan kelima datang setelah siang hari di Wakt u Kuda*. tapi tak tahu apakah pikiran itu membuatnya gembira atau sedi h. Hisao pasti dihukum. mengagumi mukjizat yang dialami Shizuka." . mereka berlari dengan menghilangkan diri melewati jalanjalan yang sempit. Dan Akio pasti sudah tahu tentang si kucin g. Ia selalu menoleh ke belakang dengan gugup saat mereka lari. kebanyakan orang berada di dalam rumah untuk makan siang. Jalan di si ni sepi. Kepergian Zenko dari kota itu disertai dengan cemooh dan berba gai bentuk *) Waktu Kuda: berkisar antara jam 11. percakapan dengan hantu pe rempuan. Rumah mak an dan penginapan dijejali orang yang baru turun dari kapal.Di Hofu. dengan arus kapal yang datang dan pergi mema nfaatkan angin barat untuk menuju Akashi dengan membawa hasil bumi Tiga Negara. bahkan dilempari batu. pikirnya. menyuarakan kekagetan dan penyesalan atas kematian Muto Taku. Penduduk Hofu adalah orang¬orang yang pemberani dan juga keras kepala. pertemuan dengan Hisao. "Apa yang kau lakukan?" pekik Miki. maka mereka pun tak ingin kembali ke masa-mas a di bawah kepemim¬pinan Arai. Pelabuhan dalam puncak kesibukan¬nya. Maya panik. diambilnya pisau itu l alu dia tusuk tangan laki-laki itu. Miki dan Maya melihat sedikit kejadian ini. Mereka memb enci perbudakan oleh Tohan dan Noguchi.00 s/d jam 13.

Kalau si bodo h ini mengira mereka adalah iblis atau hantu. Halaman 293 dari 700 . atau kau akan mati. tapi aku tidak terlibat di dalamnya. Maya berguling l alu muncul di belakang laki-laki itu." dia memohon. "Beri kami makanan dan uang." ujarnya. ditunjukkan¬nya tempat dia menyimpan bebe rapa koin." "Dewa menghukum rakyat atas kejahatan penguasanya. ambil pisau ju ga." Miki mengambil pisau kecil dari tempat¬nya tergetak di atas selembar kain yang ter hampar di tanah. "Aku membenci kejahatan Lord Arai: aku tahu dia telah manghasut dewa-dewa menentangnya. maka ia harus memanfaatkan sebaik¬baiknya. "Apa-apaan tadi itu?" tanya Miki sewaktu mereka meninggalkan toko. kini keduanya bersenjatakan pisau yang disembunyikan di balik pakaian. dan memaksakan kue mochi ke dalam geng¬gaman tangan Maya.Laki-laki itu menatap dengan tak percaya pada darahnya sendiri. "Adik. kali ini di leher. Didekatinya laki-laki itu di bagian tangan yang tidak terluka lalu membimbingnya masuk ke dalam toko. Bola matanya terbelalak ketakutan. "Jangan bunuh aku." Maya mengoceh. Aku hanyalah seorang perajin yang miskin. melukainya lagi.

" Miki mengangguk. M ereka tiba di jalan ke biara. "Hisao adalah kakak kita." kan kuceritakan nanti. tapi perasaan itu segera berlalu. Miki. dia sudah mendengar semua kisah Tribe ini sejak kecil." "Dengar. dia adalah cucu Kenji." "Tapi Maya. "Orang mengira dia putra Akio. tempat mereka duduk d an ber¬bagi kue mochi. Di sini mereka minum sebanyak-banyaknya." "Itu tidak mungkin. Itu sebabnya Kenji menggi ring Tribe kepada Ayah." Mereka mengikuti kanal sampai ke jalan yang mengarah keluar kota menuju utara. Maya belum pernah melihatnya."Akan kuceritakan nanti. Maya berkata." tutur Maya. Ayo kita cari tempat untuk bersembunyi sebentar. Dia putra Ayah. "Dan bocah itu." Sesaat dikiranya kalau ia akan menangis. Aku melihat Taku dan Sada dibunuh di depan mataku. "Benar. "Paman tengah menyiapkan pasukan melawan Ayah. yang berseru-seru me¬manggilku. Ranting pohon cedar dan a wan di belakangnya memantul di per¬mukaan yang tenang. Kikuta memaksanya bunuh diri. Peluh bercucuran di wajah kedua gadis itu." katanya seketika. Kau pasti pernah mendengar tentang dia di Kagemura. mau¬pun memikirkanny . tapi sebenarnya bukan. "Lagipula. menikah dengan Akio. Ayo kita cari tempat untuk bersembunyi sebentar. adalah Kikuta Hisao. hutan kecil mengelilingi kolam sumber air. pada akhirnya. kau gunakan kemampuan Tribe untuk melawan orang yang tidak bersalah. Ayah melarang kita melakukan hal itu. tapi setelah bocah itu lahir. Burung gagak memekik di ketinggian pohon cedar. kau tidak tahu apa yang sudah kualami. tidak ada orang yang tidak bersalah. Bibi Hana sedang dalam perjalanan ke sana." Gadis itu menatap permukaan kolam dengan murung." ujar Miki dengan suara lemah. Dia hampir lupa akan keberadaan bayi yang baru lahir. Kita harus ke Hagi lalu memperingatkan Ibu. tempat yang ada airnya. dan di balik pakaian ter asa lembap dan gatal. Aku ditawan Kikuta Akio. Hisao akan membunuh Ayah. "Sud ah menjadi takdir orang itu berada di sana saat itu. Ibu tidak boleh p ercaya kepadanya. dan menemukan tempat yang terlindung di balik semak-semak. tempat yang ada airnya." Maya menatap Miki. Yuki. seolah dengan tidak mengakui kelahiran adiknya itu. Ibunya. Dan ada ramalan yang mengata¬kan bahwa Ayah hanya bisa dibunuh oleh putran ya sendiri. kecuali bila kita mencegahnya. dan jangkrik yang ber derik membosankan.

menggunakan bahasa laki-laki. Lag i-pula. Puncak pe¬pohonan cedar masih bergetar. Di sini ada batu nisan yang berlumut dan terbengkalai." "Tapi bagaimana dengan adik bayi kita?" tanya Miki lagi.a. maka dipanjatnya dinding samping lalu membuang hajat. orang paling jahat yang pernah ku¬temui. lalu ber¬jalan lebih jauh m emasuki hutan. Saat ia meman jat dengan susah payah kembali ke sisi dinding yang sebelumnya. Dia itu ja hat. Lagi¬pula Hisao pantas mendapatkannya. merasa pusing selama beberapa saat. Miki berkata. Pada saat itu dirasakannya keinginan untuk menjadi si kucing. Halaman 294 dari 700 . "Jika Ayah memilih untuk tidak berbuat apa-apa. seharusnya kita juga begitu. Seekor nyamuk hinggap di tangannya dan dia menepuknya. yang membuatnya gelisah. merasa heran mengapa hal ini membuat ia begitu marah." ujar¬nya. bumi bergetar. "Ayah pasti tahu tentang ini. apa yang bisa Ayah lakukan?" "Ayah seharusnya membunuh Hisao. bersamaan dengan perasaan yang tidak dikenalinya. lebih jahat dari Akio. Miki!" Maya berdiri mengibaskan debu dar i pakaiannya." "Kalau sudah tahu. "Aku mau pipis. dan dirasaka n¬nya bebatuan merekah di bawah tangannya. "Jangan membuat semuanya menjadi rumit. mengapa Ayah tidak berbuat apa-apa?" sahut Maya. Maya berpikir kalau ia ta k boleh mengotori¬nya. Maya setengah terjatuh ke atas tanah.

"Kita akan mencurinya. Hal ini membuatnya merasa kesal. pedagan g." sahut Maya dengan perasaan jijik . yang ter¬buruk." "Baiklah. ketika mereka seperti memiliki satu pikiran. Dari Yamagata ke Hagi ber jarak sepuluh hari." 'Tak satu pun dari mereka bisa dipercaya lagi. Maya tak ingin mencemaskan keadaan Miki: ia ingin segalanya tetap seperti biasa¬nya. "Ayo. "Kita harus pergi sendiri. Lalu bagaimana kita mendapatkan makanan?" "Seperti yang tadi kita lakukan.Ketika dilihatnya Miki duduk di samping kolam. "Apa¬kah kita akan mengikuti jalanan mama?" Ia memberi isyarat ke arah jalan berdebu yang berbelok-belok menuju sawah yang meng¬hijau ke arah pegunu ngan yang berselimut¬kan pepohonan." ujar Miki. peziarah. mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sulit. Bila kita berjalan kaki dan sambil ber sembunyi. ia terkejut melihat betapa kurusn ya adiknya itu kinietika dilihatnya Miki duduk di samping kolam." katanya. Dia akan menolong kita." ujar Miki tidak senang." "Apa rencana kita?" tanya Miki sewakt u berdiri. "Tentu saja pulang. Maya mencermati para pelancong yang berjalan menyusuri j alan itu dari kedua arah: ksatria berkuda. Be-berapa di antara mereka mungkin saja menahan dan menghentikan mereka berdua. berkuda secara terbuka dengan dua orang laki-laki yang membantu kita. biarawan berjalan dengan tongkat dan mangkuk pengemis. ia terkejut mel ihat betapa kurusnya adiknya itu kini. Seorang laki-laki bernama Bunta datang bersama Shizuka dan aku. Atau mereka mungkin saja o rang Tribe . seraya menyentuh pisaunya yang ter sembunyi. "Kita harus segera pergi." "Tapi jaraknya jauh sekali. Ia tak ingin Miki tidak sepaham dengan dir inya. perempuan bertopi dan berkerudung lebar pelindung s inar matahari. penjaja dagangan." sahut Maya. akan makan waktu tiga kali lebih lama. "Butuh waktu seminggu berkuda dari Yamag ata." "Apakah kita akan berjalan kaki sampai ke rumah?" "Ada ide yang lebih baik?" "Kita bisa meminta bantuan dari se¬seorang." "Apakah dia Muto?" "Imai.

Kita boleh kembali. Ia bimbang dan disadarinya ternyata ia rindu dan ingin bertem u Hisao lagi. ke arah kota." Miki berdiri." Halaman 295 dari 700 . "Aku tidak dengar siapa-siapa. "Berpua sa dan berdoa." protes Miki." "Kita akan kelaparan. mendengarkan dengan seksama.yang sedang mengejar. Datanglah kepadaku. Maya menoleh ke belakang. setengah berharap melihat Hisao dan Akio mengejar. Akio mungkin sudah menunggu kita di sana." Rasa tegangnya makin bertambah. Ayo kembali ke kota saja. ingat perkataan gadis pelayan itu. "Walau aku berpakaia n laki-laki. Suara itu bergema seperti bisikan di sela¬sela hutan." ujar Maya. Mendadak Maya melompat. Kita akan berjalan melewati pegunungan. Tapi aku membencinya! Bagaimana bisa aku ingin berjumpa dengannya? Berusaha menyembunyikan perasaan ini dari Miki." "Dia berada di Daifukuji. "atau tersesat. Maya bisa merasakan tarikan itu dalam dirinya. mendengar suara Hisao. Kita tak ingin menjadi perhatian. ia berkata. Ay o kita temui Shizuka. m erasakan kalau pemuda itu sedang mencari¬nya. siapa pun bisa melihat kalau kita kembar. "Apa?" "Suara itu. Itu dia. "Kau dengar itu?" Dicengkera m¬nya tangan Miki.

Sawah terbentang di k edua sisi lembah. ia melihat ke angkasa. deburan air berbuih menghempas bebatuan." . sunga inya makin dangkal. tepat sebelum Sun gai Yamagata. deburan air berbuih menghempas bebatuan. tapi berjarak satu hari per¬jalanan ke utara Hofu. sedangkan Maya saat musim gugur se¬belumnya. lalu berkata. Miki yang terakhir kali. Jalan ter¬bentang di sepanjang sisi barat sampai ke jembatan di Kibi. Maya me nceritakan dengan singkai tentang serangan itu. rumah dan gubuk petani benebaran di tengah daerah persawahan. Setelah selesai bercerita. dan aku adalah bayangannya. Sawah terbentang di k edua sisi lembah. sunga inya makin dangkal. hanya it u."Ayo pergi." ujarnya pada Miki saat me¬langkah d ari bawah naungan pepohonan lalu berjalan di bawah teriknya matahari. tepat sebelum Sun gai Yamagata. ia melihat ke angkasa." ujar Miki. aku kehil angan mereka. rumah dan gubuk petani benebaran di tengah daerah persawahan. Jalan ter¬bentang di sepanjang sisi barat sampai ke jembatan di Kibi. Jalan hampir mengarah ke utara." Sejenak Miki terdiam. Jalan hampir mengarah ke utara. Juga ada jembatan baru. mengikuti aliran sungai di sepanjang jalan menuju Tsuwano. "Aku penasaran di mana kedua kuda betina itu. Sungai itu sering meluap. "Kau tahu." ajak Maya. mengikuti aliran sungai di sepanjang jalan menuju Tsuwano. hanya beberapa hari lalu. Matahari sudah bergeser dari titi k puncaknya ke arah barat. Juga ada jembatan baru. bersama Taku dan Sada. dan kematian Taku dan Sada. Mereka sudah sering melewati jalan ini. "Aku memimpikanmu. "Apa¬kah Akio menyakitimu?" "Dia mencekikku untuk membungkam mulutku." "Kuda betina apa?" "Kuda pemberian Shigeko untuk per¬jalanan dari Maruyama. tapi berjarak satu hari per¬jalanan ke utara Hofu. "Aku memimpika nmu sebagai si kucing." Selagi mereka mulai berjalan menanjak menaiki lereng ke pepohonan bambu. melewati sebagian besar daerah tersubur d i Tiga Negara. Sungai itu sering meluap. Aku tahu sesuatu yang mengerikan terjadi padamu. lalu memukulku beberapa kali. melewati sebagian besar daerah tersubur d i Tiga Negara." ajak Maya. Miki menangis tanpa suara. seraya menyeka mata dengan tangan. Ayo pergi. Matahari sudah bergeser dari titik puncaknya ke arah barat. namun mata Maya kering.

Seekor ular kecil melintas di depan mereka. dan awan rendah menyebar di langit dari arah selatan. Sejak kecil mereka diajarkan oleh Tribe untuk hidup dari alam. juga tidak akan ada bintang. Miki pun ikut berlari. Dia bisa menjadi luar biasa kuat. Mereka menyelinap dengan mudah di antara batang-batang ba mbu. akar halus bambu. sampai hampir berlari kecil di sela-sela batang pohon yang berwarna keperakan. Daun rontok selama ber¬tahun-tahun menyediakan kasur yang empuk. T idak akan ada bulan. Mereka mengikuti buny i gemericik air dan minum dari sebuah sungai kecil. selain cara bertindak kejam. Dan dia bisa membuat senjata api. R asanya waktu sudah lama berlalu sejak mereka makan kue mochi di biara tadi. Tak ada orang yang pernah meng¬ajarinya. dan terdapat banyak tebin g dengan batuan yang menonjol dan pohon tumbang yang menyediakan tempat bernaung. wineber ry. akar dan buah-buahan sebagai makanan juga racun." ujar Maya. "Hisao adalah penguasa alam baka. Kemudian mer eka melanjutkan perjalanan selama senja yang panjang sampai malam sudah terlalu gela p hingga tak bisa melihat apa-apa. dan di suatu tempat di sebelah kiri mereka terdengar kicau burung kecil. menghilang ke semak beluk ar. "Penguasa alam baka dari Tribe?" "Ya."Bagaimana dengan Hisao?" Maya mulai berjalan lebih cepat. kedua gadis itu kini mulai secara naluriah mencari makanan: jamur yang tumbuh di bawah pohon pinus. Derik jangkrik keden garan makin kencang. Kini mereka berada di lebatnya hutan. Kurasa ada orang yang mengajarinya." Matahari tergelincir di balik puncak tinggi pegunungan di sebelah kiri mereka. mengumpul kan daun. Bahkan ada kacang¬kacangan yang masih bisa dimak an di Halaman 296 . hanya saja dia tidak tahu bagaimana meng¬at asinya. meski semua ini makin sulit ditemukan. dan batang nya yang besar dan akar¬nya membentuk liang. ketika akhirnya lereng yang semaki n curam memaksanya untuk melambatkan langkah. Sambil berjalan. mengisap daging berlumpur dari cangkangnya yang rapuh. Di sungai juga menemukan kepiting kecil yang mereka makan hidup-hidup. pucuk pakis yang sudah tua. Mereka sampai di sebatang pohon beech besar yang setengah tercabut akarnya akiba t gempa atau badai.

dari 700 .

Dia dipaksa mat i sebelum waktunya. bau lembap mulai muncul dar i tanah. "Aku tahu Ayah d an Shigeko belum pulang." Maya memikirkannya. M aya mulai merasa rileks. seolah dirinya menjadi utuh kembali. Sebagia n lagi ditarik kembali kepadanya. seolah dirinya menjadi utuh kembali. "Apa kau lari darinya? Sekalian pulang." Terdengar suara burung hantu di pe¬pohonan di atas mereka. ba ru aku akan merasa aman." Tapi bahkan setelah kata-kata itu lepas dari mulutnya. ia bisa b icara dengan arwah ibunya. "Tidak. kan? Begitu kita sampai di Hagi. Kedua gadis itu berbaring. Kedua gadis itu berbaring. Hisao menyayangi kucing itu dan dia adalah penguasanya." "Dia mengikuti kita?" Maya tak langsung menjawab. ia pun tak yakin kalau se mua ucapannya benar." "Mudah sekali menjadi jahat. "Aku merasa iba. "Tidak. Aku merasakannya: aku me¬mutuska n ikatan antara pemuda yang me¬manggilmu dan si kucing. "Hujan. be¬rangkulan. dan di kejauhan terdengar jerit rubah betina.antara dedaunan. Tubuhnya menyentak-nyentak gelisah. "Apakah saat itu kau takut?" bisik Miki. Apakah aku sudah menjadi jahat? Maya mengingat tukang asah pisau yang dilukai da n dirampoknya . "Kurasa aku tahu itu. maksudku?" "Dia sedang mencariku." ujar Maya. Miki agak memutar badannya. ingin bersama pemuda itu dan berjalan ber¬sama di antara dunia. ibunya selalu bersamanya. Dengan rintik-rintik pertamanya." ujar Miki pelan. "Kau pernah melihatnya?" "Sudah. Sebagian dari dirinya takut pada laki-laki itu dan ingin menjauh. Dalam pelukan adiknya. dan harus menyaksikan putranya diubah menjadi jahat." Tubuh Miki agak gemetar. Mengisi cuping hidungnya dengan kehidupan sekaligus kematian. memanggilku. tapi Ibu akan melindungi kita. Udara terasa menjadi agak dingin." ulangnya. Maya mulai merasa rileks. ara dedaunan. be¬rangkulan. Saat Hisao bersama si kucing. Dalam pelukan adiknya. dan kau berubah ke wujud aslimu. membuat keduanya melonj ak kaget." Tambahan lagi. dan cahaya menerangi tanah. Maya tidak yakin apakah dia mengucap¬kan kata-kata itu atau hanya memikirkannya.

Seharusnya Ayah tidak boleh punya anak laki-laki! Miki sepertinya sudah tidur. ia menuangkan rasa marah untuk memadam¬kannya. pikirnya. dan Maya bergeser sedikit. ini salah Ayah hingga aku menjadi seperti ini. merasa bersalah dan tida k menyukai perasaan itu. Segera terdengar suara Hisao. saat kepalanya berputar melihat ke arah Hisao. Seharusnya Ayah bilang kalau Ayah punya anak laki-laki. Dan Maya merasakan tatapan pemuda itu berpaling ke arahnya. Nyamuk mencium bau ker ingat mereka dan ber¬dengung di telinga Maya. Dibuka mulutnya. Napasnya tenang dan teratur. Ayah yang memaksaku. tepat ke mata keemasan si kucing. Sikutnya menusuk badan Maya. Kucing itu meregang¬kan badan. berusaha memanggil Miki . Datanglah padaku. seolah Hisao bisa me lihat melalui kegelapan. Seharusnya Ayah tidak mengirimku pergi jauh. Maya berjuang kembali ke wujud aslinya. Suara burung hantu tadi terdengar lagi. Seh arusnya Ayah tidak boleh begitu sering meninggalkanku saat aku masih kecil. Hujan membuat¬nya kedinginan. Halaman 297 dari 700 . Ayah pasti marah padaku. Nyaris tanpa berpikir dib iar¬kannya si kucing datang dengan bulu tebal¬nya yang hangat. menegakkan telinganya serta mendengkur.tanpa pikir panjang.

Miki duduk tegak. "Apa yang terjadi?" iki duduk tegak. Mereka b . "Tadi kau melolong!" ujar Miki. seringkali harus mene lusuri kembali jejak kaki mereka se¬belumnya. dan hujan. "Tadi aku berubah menjadi kucing di luar kehendakku. mereka tak beran i melaku¬kannya." "Aku tidak tahu apa itu. di sisi sebelah timur pe¬gu nungan. keduanya melanjutkan per¬jalanan ke utara. "Ada ses uatu yang bisa kau lakukan yang menghalangi antara dia dan aku." "Kau akan tetap terjaga?" tanya Maya gemetaran karena dingin dan emosi. Saat tengah hari. pakis: semuanya berkilau dan bersinar. Suaranya lemah dan lelah. "Apa yang terjadi?" Maya merasakan lagi kekuatan setajam pedang dari jiwa Miki yang menghalangi anta ra si kucing dan penguasanya. kedua gadis itu me¬n unggu cahaya matahari merayap perlahan menyinari mereka. tapi dia tahu tempat kita berada. "Atau bagaimana m elakukannya. Mereka berusaha sekuat tenaga naik turun parit yang dalam. rumpun bambu. dibengkokkan dan dipukul berulang kali. Kita tidak bisa pergi sekaran g. *** Hujan berhenti saat hari mulai terang. namun menjanjikan kalau bagian selanjutnya per¬jalanan mereka akan lebih mudah." Murni adalah kata yang terbersit di benak Maya. sesekali melihat jalan di bawah sana. dan Hisao melihatku. Dengan menjaga agar sinar m atahari tetap di kanan mereka. mem¬buat tanah terasa panas dan mengubah ra nting dan daun yang meneteskan air hujan menjadi bingkai keemasan dan potongan pelangi. Kita harus pergi sekarang jug a. Kucing itu mengambil begitu banyak dari dalam diriku. serta mem¬bebaskan diriku darinya . Jaring laba-laba. Meskipun ingin berjalan sebentar di permukaan jalan yang mulus. Di depan mereka tampak ada jalan yang tidak terlalu mulus. dan sungai di belakangnya. Dipeluknya Miki dan mendekapnya lebih erat." Miki berlutut di pinggiran gua pohon dan melihat dengan seksama keluar ke gelapn ya malam." "Apakah dia sudah dekat?" "Aku tidak tahu. Gelap gulita. mereka berhenti di saat yang bersamaan. "Aku tidak bisa lihat apa-apa. Berpelukan. seperti murninya baja setelah di panas¬kan." ujar Miki.

Sekali l agi. kulitnya berubah segelap tembaga . Tapi mereka tidak menemukan tempat apa pun. selain terus berjalan. Sesekali mereka melihat atap rumah petani jauh di bawah. ke arah hijau dedaunan yang be rubah bentuk. dan mengira kalau jalan kecil itu akan membawa merek a ke sana. Maya sudah berbaring terlentang. Halaman 298 dari 700 . seraya melepas sandal dan menggosokkan tel apak kakinya di rumput yang lembap. menatap ke atas. Matahari berlalu tersembunyi di balik gunung. lumut.elum makan sejak pagi." katanya. Kakinya lecet dan berdarah. dan sawah garapan tetap berada di luar jangkauan di bawah tempat mereka berada. hampir tidak perlu bicara. berhenti hanya untuk mengambil makanan yang disediakan ata m. tak ada desa. tanpa bersuara. Mereka ber¬jalan tanpa bicara. Tak satu pun dari kedua nya ingin menghabiskan semalam lagi di hutan. namun tidak tahu lagi apa yang bisa dilakukan. sedikit buah b eri yang hampir ranum. perut mereka mulai keroncongan. "Aku lapar sekali. mereka mengen¬cangkan kembali sandal dan mulai mengikuti jalan kecil tadi yang berkelok di sepanjang sisi gunung. awan ber kumpul lagi di sebelah selatan. bahkan dalam naungan lebatnya hutan. dan menem ukan kacang beech. tapi rasa lapar membangunkan mereka." Kedua gadis itu tertidur sebentar. bahkan tak ada gubuk atau b iara terpencil di gunung. chestnut sisa musim gugur lalu yang telah bertunas. "Kita istirahat sebentar. dan kini mulai mencari-cari di rerumputan. Aku pena saran apakah jalan itu mengarah ke sebuah desa. Udara terasa panas." ujar Miki. "Kita harus mendapatkan makanan sungguhan.

Maya mengangguk. Bagaimana dia bisa ada di sini? Aku akan ke sana dan melihatnya." Maya belum pernah mendengar nama itu. maka dia pasti berasal dari Tribe. dan mereka berjalan dengan lebih hati-hati. burung berkicau melantunkan nyanyian p engiring matahari teng-gelam. Api unggun menyala di depan¬nya." Menggunakan kemampuan menghilang. Miki berbisik di telinganya. dan sesosok tubuh ramping berlutut menjaga daging yang sedang dimasak. Dagi ng burung kuau atau kelinci." sahut perempuan itu. tiba-tiba berhenti. "Perempuan itu mirip Shizuka!" Maya mencengkeram tangan adiknya saat Miki hendak berlari menghampiri. karena ia pernah mencicipi kedua daging itu di se kitar Kagemura. Maya menyelinap di sela pepohonan dan ke belak ang gubuk. bak jej ak terakhir salju . tanpa berpalin g. Perempuan itu berkata. Maya yang berada di depan. aku Muto. an dan gunung menyatu saat senja tiba. Angin sepoi-sepoi berhembus perlahan di dataran itu dan membuat bulu-bulu coklat dan hijau melambai-lambai terkena angin¬nya. "Ya. "Kau bisa memanggilku Yusetsu. "Kau tak perlu menggunakan pisau itu. Aroma daging begitu kuat hingga ia mengira akan kehilangan kon¬sentrasinya. Diraba nya pisaunya. Di sela-sela pepohonan bisa dilihatnya sebuah gubuk kecil. Sepertinya tidak ada orang lain lagi. pikir Maya." Suaranya mirip suara Shizuka. tiba-tiba berhenti. Aku akan memberimu dan adikmu makan. Segera saja terbit air liurnya.Hutan dan gunung menyatu saat senja tiba. Maya berpikir. burung berkicau melantunkan nyanyian peng iring matahari teng-gelam. Maya yang berada di depan. Suaranya pun dingin dan misterius. Maya bisa memperkirakan dari bentuk tubuh dan gerakannya kalau sosok itu adalah perempuan dan ada sesuatu dengannya yang terasa sangat familiar. lalu membuat dirinya terlihat lagi." bisik Miki. Baunya semakin kuat . "Asap. "Apakah kau Muto?" tanya Maya. tapi juga tidak mirip. "Tidak mu ngkin. kini bercampur dengan aroma daging panggang yang membuat perut mereka semakin keroncongan. Kalau dia bi sa melihatku. hanya perempuan itu. kepalanya tertutup tu dung yang di¬pegangi dengan satu tangan sementara mem¬bolak-balik daging pada tusuk pemanggang dengan t angan satunya lagi.

Si kembar makan tanpa bicara. Setelah itu dinyalakannya lentera dari sisa api yang masih menyala." Perempuan itu meng¬ucapkan nama Takeo dengan semacam kerinduan ya ng dalam dan penyesalan.yang tertinggal di sisi utara pegunungan di musim semi. Ketika keduanya sudah mengisap tulang yang terakhir. Yusetyu menuangkan air ke s elembar kain untuk mengelap tangan mereka. Yusetsu menaruh daging burung kuau bakar di lembara n kulit kayu yang di-bungkus daun. "Panggil adikmu lalu cuci tangan dan kaki k alian. sikapnya penuh perhati¬an. M aya tidak bisa melihat wajahnya. Kemudian ditunjuknya tempat untuk buang hajat. Kini p erempuan itu menatap Maya. Di anak tangga. yang membuat Maya bergidik." kata Yusetsu. "Sudah hampir matang. dan mereka berbaring di Halaman 299 dari 700 . seolah dia adalah ibu mereka. Bahkan dengan cahaya api unggun. melahap daging dengan rakus. mengiris daging menjadi potongan kecil. memerhatikan wajah dan tangan m ereka. dan memberikan lumut untuk member sihkannya. dia hanya mengamati setiap suapan mereka. lembut sekaligus getir. "Apa yang kau lakukan di sini? Apakah ayahku yang menyuruhmu ke sini?" "Ayahmu? Takeo. Dia lalu berlutut. panasnya membakar mulut dan lidah. Yu setsu tidak makan. namun tudung menutupi wajahnya. Kedua gadis itu bergantian menuangkan air men¬c uci tangan dan kaki mereka. Dia membalikkan telapak tangan mereka dan menyusur i tanda Kikuta dengan jari-jarinya." Ada teko air di anak tangga gubuk.

Yusetsu memadamkan lentera dan menye¬limuti mereka dengan jubahnya. setuju. teko. dalam keadaan hangat dan kenyang. "Seperti kemarin. "Cuci tangan. "Tidurlah. "Ada jalan kecil." "Mmm. melalui semak belukar. "Kita di rumah. "Ibu Hisao? Yuki?" "Siapa lagi?" Maya mulai berjalan ke arah utara." Mereka tidur tanpa bermimpi dan ter¬bangun saat hari mulai terang. makanannya sudah m atang. mengejar Maya. Hujan menyirami wajah mereka. Hanya bulu burung di lumpur dan bekas bara api yang menandakan kalau perempuan i tu pernah ada di sana." ujar Maya menyapa dengan akrab. "Kalian mirip dengannya. meski mereka belum tahu siapa perempuan itu sebenar nya. "Jadi kalian anaknya Takeo. merasakan juga lebih baik kalau mereka memang menjadi anak Yusetsu." ujar Miki. aroma daging yang tengah dimasak yang mene rbitkan air liur. maupun perempuan itu. Tiba-tiba tercium bau asap yang sama. seoerang perempuan sedang menjaga makanan yang dimasak. namun rasa daging burung kuau masih tertinggal di lidah dan tengg orokan mereka." sahut perempuan itu." gumam Maya. Kalian seha rusnya menjadi anakku. "Dia adalah hantu perempuan itu." Jalannya tidak rata. Tak satu pun dari keduanya bica ra lagi tentang perempuan itu. "Tidak ada yang bisa menyakiti kalian saat aku di sini." uj arnya. Di belakangnya ada gubuk. "Selamat datang di rumah." ujarnya lirih. Dan berjalan lagi sampai malam tiba saat bulan baru muncul. juga tanah lembap di bawah tubuh mereka. wajahnya tersembunyi ole h jubah bertudung. teko berisi air.lantai gubuk sementara perempuan itu terus memandangi merekaantai gubuk sementar a perempuan itu terus memandangi mereka. Tak ada tanda-tanda gubuk." "Apakah itu makanan hantu?" tanya Miki saat perempuan itu membawakan daging . Mereka berjal an menyusurinya sepanjang hari. Miki berkata. bulan sabit. seperti jalanan rubah. beristirahat dalam panasnya siang hari di rimbunnya semak hazeln ut." Dan kedua gadis itu.

saat ini daging kelinci dan mengirisnya untuk mereka. Dalam waktu satu atau dua bulan lagi. tetap belum mau makan. Yusetsu tertawa. Aku ber¬utang padamu. "Tugasmu sudah berakhir di dunia ini." tambahnya ketika Miki ragu. dan membiarkan arwahmu berjalan terus menuju kelahirannya kembali." tutur Miki dengan su ara tenang dan tegas yang belum pernah Maya dengar. "Aku membalas pertolonganmu." "Kau bijaksana." sahut Yuki." "Jangan takut. dan membu at seorang Halaman 300 dari 700 ." "Benarkah?" "Kau membebaskan si kucing." "Apa yang kau inginkan sebagai imbalan?" tanya Miki. kau dan kakakmu akan mulai mendapa t haid. seharusnya kau me¬lanjutkan perjalananmu. Kau h arus merelakannya. Karena kau memutuskan ikatanku dengan anakku." "Bila sudah bebas. jatuh cinta menghancurkan diri kalian. "Semua makanan adalah makanan hantu. Maya sudah menjejalkan daging ke mul utnya. Semua makanan sudah mati d an memberikan rohnya pada kalian agar kalian bisa hidup. "Akan lebih bijaksana dan lebih kuat lagi begitu ka u dewasa. Menjadi perempuan membuat kalian lemah. "Aku di sini untuk membantu kalian. dan sekaligus membebaskanku.

" "Kalian adalah adiknya. kalian harus tahu tentang kepatuhan. Aku sangat suka bercinta. dan kukira dia jatuh cinta padaku. Dan aku melakukan apa yang diperintahkan padaku: kalian anakmenem¬pelkan pisau di lehermu. Aku mem¬biarkannya memiliki diriku seutuhnya. kegilaan karena cinta yang bodoh membawa dirinya kabur dari Tribe dan membuat aku dihukum mati. itu sebabnya dia merasa sakit kepala yang sangat menusuk. "Aku patuh pada Ketua Kikuta dan Akio. "Salah satu dari kalian menjadi si kucing. Kemudian aku tahu kalau Shirakawa Kaede yang dicintainya. Kedua gadis itu juga tidak berkata apa-apa. ketika aku menganggap ayah kalian sebagai kekasihku. "Dia tak mau tahu siapa dirinya." ujar Maya. aku merasa seperti di Surga. maka kalian takkan merindu¬kannya. tapi tidak bicara. sedang yang satunya lagi memiliki kualitas spritual yang menolak ke¬kuatannya." Miki mencondongkan badan ke depan dan mengambil sepotong daging. Jangan tidur dengan laki-laki. Dia kelihatan terobsesi pada ku sama seperti aku terobsesi padanya. Aku mem¬biarkannya memiliki diriku seutuhnya. maka dia akan menjadi benar¬benar jahat. yang disayanginya. Aku merindukannya siang dan malam. Dan aku melakukan apa yang diperintahkan padaku: kalian anakanak Tribe. mengu¬nyahnya pel an. "Semak in lama dia menjadi semakin jahat. Mereka belum p ernah mendengar versi cerita ini dari riwayat orangtua mereka. Jangan tidur dengan laki-laki." sahut Yuki." tutur Yuki. Kami sangat seras i dalam kemampuan Tribe. Aku sangat suka bercinta. Akhirnya Maya berkata. Tapi sampai tiba waktunya nan ti. Bil a dia menyadari kekuatan itu sepenuhnya." "Dia tidak bisa dibebaskan dari dosa. aku merasa seperti di Surga. dia masih ." Yuki terdiam membisu." Kedua gadis itu meng-angguk. diceritakan oleh perempuan yang s angat menderita disebab-kan oleh cintanya pada ayah mereka. bila kali an tidak me¬mulainya.anak menem¬pelkan pisau di lehermu. ketika aku menganggap ayah kalian sebagai kekasihku. maka kalian takkan merindu¬kannya. Aku merindukannya siang dan malam. "Sifat dalam dirinya tercabik. amarahnya kembali lagi. bila kalian tid ak me¬mulainya. yang kutahu mesti kunikahi di kemudian ha ri. merasakan lemak dan darahnya. Tapi aku mengira akan menikah dengan Takeo dan melahirkan anak-anaknya. "Hisao berusa ha untuk tidak ingin mendengarkanmu.

pikir Maya. "Apakah menurutmu kita melakukan hal yang salah?" tanya Maya. tapi k ali ini dibelainya tangan mereka dengan lebih lembut. Aku akan memberi kalia n makan dan membimbing kalian kembali ke Hagi. Aku berharap dia belum mati. Suasana hati Maya labil.bisa diselamatkan. "Sekarang kalian harus tidur. saat kita sudah bebas. ber gerak antara gembira karena kemung¬kinan bertemu Yuki lagi malam itu. kuat dan ptnuh semangat. dan kemudian sikapnya melunak. Namun ayah angkatnya harus membayar pembunuhan keji atas diriku. "Kita su dah makan makanan darinya dan me¬nerima bantuannya. Hantu perempuan itu sudah pergi." Dia cantik. kita akan selamatkan Hisao. k ita hanya harus segera sampai di rumah dan berharap Ayah cepat kembali. Kita tidak bisa melaku¬kan apa-apa lagi. tapi keesokan paginya. Miki bahkan lebih pendiam lagi ketim¬bang sebelumnya. tidak seperti Ibu tapi dengan sifat yang selalu kuingin diriku menjadi seperti itu. si kembar terbangun di hutan yang kosong. tapi jawab an Miki singkat dan tidak memuaskan. layaknya seorang ibu. kesal denga n kemarahan Miki." Yuki mencuci tangan mereka seperti yang dilakukannya di malam sebelumnya. "B egitu dia sudah selamat. "Kau bukan seorang penguasa alam baka juga." "Bagaimana kau bisa tahu begitu banyak tentang hal itu?" tanya Maya. serta ketakutan akan Akio dan Hisao yang sudah dekat di balakang mereka. Aku tidak bisa membiarkan anakku mem bunuh ayahnya." Yuki mencondongkan badan." bentak Miki. aku akan melanjutkan perjalananku. Dia mencoba memaksa Miki bicara. sentuhannya kuat dan ny ata: dia tidak terasa seperti arwah. kan?" Halaman 301 dari 700 . Teruslah berjalan ke utara. Kita akan menemukan ayah kalian dan mempering atkannya. Aku be rha rap dia yang menjadi ibuku. dan membiarkan tudung terlepas. "Sekarang sudah terlambat.

"Menurutmu apa yang sebenarnya Yuki inginkan?" tanyanya. Aku belum pernah mendengarnya sampai kau mengata¬kan kalau Hisao adalah penguasa alam baka. tentu saja bukan. Sewaktu tubuh-tubuh yang ben gkok bergerak cepat menghilang di balik bebatuan. "Mengapa dia membimbing kita ke Hagi?" tanya Miki." "Pada Akio?" "Pada semua orang yang telah menyakiti dirinya. "Dia ingin balas dendam. Mereka berdua kagum pada keberan ian dan . Keinginannya pun menjadi keinginan mereka berdua." "Tapi Ayah belum akan kembali sampai musim panas berakhir. d an bagaimana ia menggoda Sunaomi dengan menyaru sebagai perempuan pelacur yang sudah mati itu. dan bagaimana Yuki membawa kepala Lord Shigeru ke Terayama. Memikirkan arwah Akane. Bul an keenam tiba dan musim panas bergerak menuju puncaknya." lanjut Miki. Setiap malam Yuki men¬ceritakan masa lalunya: tentang masa kecil-nya di Tribe. Jato. Jalur itu berkelok di antara tonjola n batu-batu besar: sepertinya itu tempat kesukaan ular untuk berjemur. seorang diri. dia yang bilang begitu." Mereka berjalan menuruni lereng yang curam. kesedihan terbesar pe rtama dalam hidupnya. "Aku bahkan tidak tahu apa itu." pekik Miki. kau memang tahu semuanya." "Benar kan." Bukan. tentu saja bukan." ujar Maya. Aku belum pernah mendengarnya sampai kau mengata¬kan kalau Hisao adalah penguasa alam baka. bagaimana dia membawa pedang Lord Sh igeru. lalu menyerahkannya ke tangan Takeo setelah sebelumnya mereka menyelamatkan Shig eru dari kastil Inuyama. "Untuk mencari Ayah. "Semua hantu ingin balas dendam. ketika temannya dari Yamagata dibakar sampai mati bersama semua keluar ganya di malam Otori Takeshi dibunuh prajurit Tohan. Maya pun bergidik. dan tanpa disadari mulai menyayanginya seakan pere mpuan itu adalah ibu mereka." jawab Miki. mer eka mulai terbiasa dengan kehadirannya. Yuki menemani mereka dari antara matahari terbenam sampai mat ahari terbit. seolah membuat bantahan kepada dirinya sendiri. tapi perjalanan setiap harinya terasa lebih mudah karena kini mereka tahu Yuki m enanti mereka di penghujung hari. Yuki menemui mereka setiap malam."Bukan." pekik Miki. melewati negeri yang tidak ramah. "Aku bahkan tidak tahu apa itu. *** Maka perjalanan mereka berlanjut saat bulan semakin penuh dan menyusut lagi.

Ia akan merindukan Yuki. bak mayat yang tengah menanti air untuk menghidupkannya Halaman 302 dari 700 . "Kita tidak membutuhkan Yuki malam ini. dan terkejut serta gusar dengan kematiannya yang kejam. dan seketika timb ul niat ingin pergi ke mana pun perempuan itu pergi.* Si kembar tiba di Hagi di sore hari. Gelombang sedang surut dan tepi yang berlumpur terlihat jelas di sepanjang sunga i kembar. Tiang pancang kayu dari pagar penangkap ikan." Namun pikiran itu membuat Maya sedih. wortel dan bawang. Mereka meringkuk di hutan bambu tepat di tepi sawah. dan perahu-perahu yan g tertambat di tepinya. "Kita bisa tidur di rumah. terharu dengan kesedihan dan rasa ibanya atas putranya. membuat air laut tampak seperti kuningan. Matahari masih di langit barat. dan biara bagi dewa sungai tempat ia memb unuh kucing milik Mori Hiroki. Maya bisa melihat lengkungan jembatan batu. kedelai. Ladang sayuran lebat dengan dedaunan." ujar Miki.kesetiaan Yuki. padi berwarna hij au terang.

Di belakangnya tampak pepohonan dan taman rumah tua keluarga. Bahkan kabar tentang kelahiran ad ik laki-lakinya ia dengar melalui Shigeko di Hofu. pikirnya. tamparan itu. di H ." sahut Maya." "Ayo kita ke rumah lebih dulu. "Aku akan pergi." bisiknya pada Miki. Perasaan itu am at menusuk hati dan mengganggunya: ia begitu ingin pulang ke rumah. "Aku tidak ingin dia melihatku." ujarnya. bagaimana dia telah membunuh Taku dan tengah mem-bangun kekuatan. "Akan kulihat siapa yang ada di sana. di atas atap dan sirap rendah bangunan kota. tidak ada pesan." "Bagaimana dia bisa begitu berani saat Hana dan kedua putranya ada di sini. dan dia pasti percaya.." "Ayah pasti belum kembali. tapi di sebelahnya ada umbul-umbul lain. tapak beruang hitam dengan latar belakang merah : lambang Klan Arai.kembali. pikirnya. menjulang kastil dengan panji-panji Ot ori berkibar tertiup angin." ujar Miki. "Ayah pergi jauh ke Miyako." Maya menyadari kalau dirinya tidak yakin akan reaksi ibunya. di atas atap dan sirap rendah bangunan kota. Aku bisa saja ikut terbunuh bersama Sada dan Taku. Sejak saat itu. Ibu tidak akan peduli. "Bertemu Haruka dan Chiyo." "Bibi pasti di kastil. Lebih jauh ke barat. berpikir tentang keciniaan Hana pada kemewahan dan kedudukan. Aku bisa mengadu dan men¬ceritakan segalanya.." sahut Miki. dan mereka saling tersenyum. Maya tak mendapa t kabar apa pun dari ibunya." "Baiklah. tidak ada surat. melihat apakah Ayah sudah kembali. "Tapi kita harus ceritakan pada Ibu tentang Paman Zenko. Di belakangnya tampak pepohonan dan taman rumah tua keluarga. Mereka ak an kirim pesan pada Ibu. "Bibi Hana ada di sini. embali. Bahwa Kaede hidup. Kesedihan yang mendalam menerpa dirinya: bahwa Yuki sudah mati dan tidak mengena l kasih sayang anaknya. "Kurasa Ibu juga di sana.. Andai Yuki adalah ibuku. Tiba-tiba teringat dengan penemuan terakhir mereka. Maya memicingkan mata melihat mata¬hari. Bisa dilihatnya umbul-umbul bangau Otori. kemarahan Kaede. menjulang kastil dengan panji-panji Ot ori berkibar tertiup angin. Lebih jau h ke barat. tapi kini takut pada penerim aan ibunya." saran Maya. Ayah justru lebih aman berada jauh di sana ketimbang berada di rumah.

Tapi di balik gumaman tadi terdengar olehnya suara lain. Maya melangkah masuk ke taman. berceloteh. Gadis itu berlari dengan langkah ringa n di atasnya seperti yang sudah sering dilakukannya: bagian atas tiang pancang terasa lembap dan licin. Seekor bangau abu-abu besar yang tengah mencari ikan di sungai merasakan ada ger akan. berasal dari luar dindi ng dari tepi sungai. Ikan itu mencipakkan air. Chiyo pasti akan menangis bahagia sep erti biasanya. tertawa.agi?" "Hana mungkin berencana membawa mereka lari. seekor ikan air tawar melompat. Suara anak laki-laki. Mereka pasti kaget. pikirnya. dan burung itu terbang dengan kepakan sayap pelan: tepat seperti biasanya. Setelah sampai di seberang. menoleh ke arah Maya kemudian terbang. Halaman 303 dari 700 . Aku akan kembali secepat¬nya. Kepakan sayapnya kedengaran menghentak tajam sepe rti suara kibasan kipas. Maya berhenti di depan lubang di dinding taman." Maya masih mengenakan pakaian laki-laki dan menu-rutnya tak ada orang yang bisa mengenalinya. Di sungai. tempat alira n air mengalir ke sungai. Banyak anak laki-laki seusia¬nya bermain di tepi sungai serta me¬manfaatkan pagar ja ring penangkap ikan untuk menyeberangi sungai. itu sebabnya dia datang. Dengan meng¬gunakan kemampuan menghilang. begitu merindukan Haruka dan Chiyo. Maya seperti mendengar suara mereka dari dapur. Dan gembira. Kau tunggu di sini. Maya berusaha mendengarkan suara-suara di dalam rumah.

Apakah Ibu mau mendengarkan ku? Apa seharusnya aku kembali pada Miki saja? Pergi ke kastil menemui Lord Endo? Tidak. "Bukankah sudah kukatakan. Ia mencium bau makanan di ru berbicara saat makan." "Benar. men¬dengar kedua bocah ampan kembali ke dapur. "Tidak ada yang bisa mengalahkan perasaan memiliki anak laki-laki." Hana membentak mereka. mungilku. Dilih atnya rasa percaya diri dan keangkuhan mereka berdua. "Lihat." ujar Hana. Maya merasakan kebencian yang tak pernah dirasakan seumur hidupnya. Tatapan penuh kasih sayang terlukis di wajah ibu dan bibinya. Kaede menggendong bayi yang tersenyum dan berusaha mencengkeram jubah ibunya. wajahnya nampak gembira dengan perasaan cinta. sayangku. Kemudian pelayan muda membawa n tidur digelar. terdengar langkah kaki dari dalam rumah. . Ka ede mengangkatnya agar bisa melihat kedua bocah yang datang menghampiri. dan Kaed e serta Hana berjalan keluar menuju beranda. "Alangkah kotornya kalian." sahui Kaede. melihat kasih sayang dan rasa hormat yang mereka dapatkan tanpa ber-susah payah dari semua perempuan di sekeliling mereka. Tapi jangan sampai Hana curiga kalau aku ada di sini Maya menunggu tanpa suara di ri di atas sungai. "Aku tidak tahu kalau aku bisa merasa seperti ini. aku harus menemui Ibu dulu." Dipelu k¬nya bayi itu eraterat. wajahnya berseri¬s eri dengan rasa bangga. Hana mengelitik si bayi dan membuatnya tertawa cekikikan dan menggeliat-geliat. seakan hatin ya hancur dan darah mendidih dalam dirinya. Haruka! Bawakan air untuk kedua tuan muda!" Tuan muda! Maya mengamati Haruka datang lalu mencuci kaki kedua bocah itu. Lihatlah sepupumu. Apa yang akan kulakukan? pikirnya. dan tempat taman sewaktu matahari terbenam. Di saat yang sama. anak-anakku. Kau akan tumbuh besar menjadi tam pan seperti mereka!" Si bayi tersenyum dan tersenyum lagi.Maya merendahkan tubuhnya di balik batu paling besar sewaktu Sunaomi dan Chikara mencepukaya merendahkan tubuhnya di balik batu paling besar sewaktu Sunaomi dan Chikara mencepukcepuk air sungai. dan rumah berkilauan angan di lantai atas. "Cuci tangan dan kaki kalian. Kunang-kunang mena dengan cahaya lentera. Aku harus berusaha menemui Ibu tanpa ada orang lain. Dia sudah berusaha menggunakan kakinya dan berdiri.

Hana dan Kaede tidur di kamar atas bersama si bayi. Ia berjingkat menaiki tangga dan menyaksikan ibuny a menyusui si bayi. seputih dagingnya. Prempuan itu tak lagi memakai jubah mantel bertudung namun berpakaian putih orang mati. "Aku harus menulis surat untuk suamiku. Yusetsu. Maya merasakan kehadiran yang akrab di sampingnya. Hana duduk di sisi jendela yang terbuka. Saat rumah sudah sunyi. Maya mem¬beranikan diri masuk." tuturnya pada Hana. seraya memanggil Haruka untuk membawakan lentera. "Panggil aku kalau bayinya terbangun. tempat para pelayan beristirahat saat tugas mereka selesai. tempat catatan dan ala t tulis disimpan. dan perempuan itu memandang pada si ibu dan anak dengan tatapan ir i yang begitu jelas terpancar di wajahnya. Seka rang aku harus menemui Ibu. Dilewatinya nightingale flo or tanpa suara karena sudah begitu terbiasa. Napasnya terasa dingin dan berbau tanah." Kaede berjalan menuruni tangga menuju bekas kamar Ichiro. Halaman 304 dari 700 . Dia menengok ke belakang dan melihat hantu perempuan itu. sambil men yenandungkan nina bobo untuk dirinya sendiri. menyisiri rambut panjangnya. Lentera menyala di sebuah rak besi.Kedua bocah itu tidur di bagian belakang rumah. pikir Maya. Kaede menyelimuti si bayi rapat-rapat lalu membaringkannya.

Gadis itu bimbang antara keinginan untuk menyerang Hana saat itu juga atau ke bawah untuk menemui ibunya. kepalanya berada di atas bantal kayu. May a hendak keluar kamar ketika si bayi menggeliat. Mata¬nya terbuka dan membalas tatapan Maya. Hana berbaring. Ayo. masuk k