P. 1
Corat-Coret - Developmental Ism, Pemerintah Otonomi Daerah, Civil Society

Corat-Coret - Developmental Ism, Pemerintah Otonomi Daerah, Civil Society

|Views: 267|Likes:
Published by enigmarahasia

More info:

Published by: enigmarahasia on Sep 27, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/08/2014

pdf

text

original

Options Disable

Search the W

about:blank

Get Free Shots

http://pustakaonline.wordpress.com/category/jurnal/page/2/

Referensi dan Inspirasi Skripsi Ekonomi Manajemen dan Akuntansi Layanan 24 Jam • •

Awal

RENCANA KERJA PENGEMBANGAN NETWORK KOTA MALANG
22 03 2008

RENCANA KERJA PENGEMBANGAN NETWORK KOTA MALANG Bambang Santoso Haryono Pengajar tetap Fakultas Ilmu Administrasi dan Program S2 Ilmu Administrasi Program Pascasarjana Universitas Brawijaya. Sekarang Menjabat Ketua Jurusan Administrasi Negara UNIBRAW Malang. Mulyono Staf Pemerintah Daerah Kota Malang. Krisis politik dan ekonomi yong melanda Indonesia pada pertengahan tahun 1997 yang dampaknya masih terasa sampai saat ini pada dasarnya tidak hanya dipicu oleh kegagalan pemerintah daerah dalam melaksanakan UU 5/74, dimana UU tersebut dianggap memiliki banyak kelemahan yang menjadikan daerah tidak siap berotonomi, tetapi sebenamya juga dipicu oleh ketidakmampuan daerah itu sendiri dalam menanggapi (responsiveness) terhadap tuntutan darii lingkungan sekitarnya, baik tunfutan internal terutama tuntutan eksternal. Dalam pada itu model pemerintahan sentralistis yang sempat dipraktekkan selama lebih kurang 32 tahun juga telah menghambat proses belajar daerah sehingga ketergantungon

daerah terhadap pusat makin kuat, akibatnya birokrasi pemerintahan daerah menjadi makin lemah dalam mengembangkan kemampuannya (discretion) hingga tidak mampu menghadapi arus globalisasi yang semakin hari semakin kuat menuntut good governance dan bukan sekedar good government. Dengan kondisi seperti itu apabila otonomi daerah sebagaimana diundangkan dalam UU 22/99 dipaksakan berfaku sesuai dengan tenggang waktu dua tahun sejak 7 Mei 1999, maka pemerintah daerah akan menghadapi banyak masalah yong tidak rendah diselesaikan pada saat masyarakat berharap memperoleh keuntungon dari otonomi daerah. Karena itu salah satu cara yang harus ditempuh untuk mengurangi masalah otonomi daerah dikemudian hari setelah UU 22/99 dilaksanakan secara efektif pada tahun 2001 adalah perlu dilakukan peningkatan kemampuan pemerintah kota (Capacity Building for Local Governance) melalui berbagai strategi peningkatan kemampuan terutama pengembangan network antar kabupaten/kota dan dengan pihak luar berdasarkan visi daerah otonom. Mengacu pada konsep governance yang berkernbang berdasarkan permintaan pasar (market) dan tuntutan demokrasi (democracy) dewasa ini, globalisasi telah menuntut pengembangan kapasitas pernerinfahan kota sebagai organisasi yang tidak hanya harus mampu bekerja secara efisien, efektif, dan ekonomis, tetapi juga pemerinfah kota harus menjadi organisasi yang responsiveness, responsibility, dan representative. Persoalan yang masih muncul di lingkungan pernerintahan daerah bahwa banyak kalongan yang belurn memahami arti penting jaringan kerjasama dengan masih mengedepankan ego sektoral masing-masing unit kerja perangkat daerah yang memandang dirinya lebih penting dari yang lainnya, disamping keinginan untuk mengembangkan jaringan kerjasama seringkali menghadapi masalah-masalah teknis yang iebih bersifat struktural berkaitan dengon pola pengambilan keputusan yong sentralistik. Selain itu aparatur pemerintahan daerah belum memandang perkernbangan teknologi informasi sebagai salah satu peluang untuk membantu pembentukan dan pengembangan jaringan kerjasama. Karena itu pengembangan jaringan kerja pernerintahan kota yang pada dasarnya harus mengacu pada visi dan misi kota Malang dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat dalarn batas tertentu dengan mempertimbangkan arah perkembangan dan perubahan lingkungan di sekitarnya - baik lingkup lkal, regional, nasional, maupun internasional, tidak hanya bersifat vertikal dan horisontal, bahkan juga diagonal, yang diarahkan sepenuhnya untuk meningkatkan kemampuan pemerintahan kota Malang dalam memberdayakan komponen civil society dan private sectors sesuai dengan tuntutan demokrasi dan era pasar bebas. Dapat dikemukakan bahwa keterkaitan pengembangan jaringan kerja dengan pencapaian visi adalah: a. Adanya kemajuan di berbagai bidang, terutama teknologi informasi dan globalisasi yang mengharuskan setiap daerah menjalin hubungan dengan pihak luar yang dapat berupa kerjasama, kemitraan, tukar-menukar informasi dan semacamnya. b. Jaringa kerjasama yang dibangun harus didasarkan pada prinsip saling menguntungkan, dengan menghindari ketergantungon dan eksploitasi. c. Jaringan kerja harus menjaga kesinambungan atau kontinuitas kegiatan dalam jangka waktu yang

panjang untuk kepentingan bersama. d. Pembentukan jaringan harus didasarkan pada munculnya masalah, kebutuhan dan visi yang sama, dalam rangka menopang dan mempercepat perwujudon otonomi daerah. BAB II JARINGAN KERJA Dikemukakan oleh Hilderbrand dan Grindle (dalarn Grindle, 1997: 37) bahwa tugas dari suatu network adalah melakukan penyesuaian atas berbagai beban kerja yang harus dilaksanakan secara efektif melaiui komunikasi, koordinasi, dan pengembangan organisasi manusia dalam sebuah jaringan kerja. Dimana jaringan kerja seringkali dikomposisikan sebagai suatu organisasi yang berada di dalam moupun di luar sektor publik, seperti NG0s maupun organisasi sektor privat. Organisasi dimaksud akan berupa organisasi primer yang memegang peran sentral dalarn pendefinisian tugas dan penugasan; organisasi sekunder yang secara esensial merupakan organisasi kerja dalam organisasi primer; dan organisasi pendukung yang berfungsi menjadi penyedia layanan penting atau dukungan peningkatan pelaksanaan tugas. Dalam kaitan itu jaringan kerja dapat didefinisikan sebagai jaringan kerja sosial yang mengintegrasikan berbagai batasan formal antar orang dengan berbagai tipe bentukan tanpa merujuk padakelompok formal yang sudah ada, membentuk organisasi tersendirim dan mandiri. Berhubung dengan itu semua organisasi sebenarnya merupakan jaringon kerja, karena dia merupakan jalinan hubungan sosial yang membentuk perilaku (behavior). Karena itu pula jaringan kerja sebenarnya sulit digambarkan secara tepat, sebab ia seringkali melampaui batasan organisasi formal (internal maupun eksternal). Meskipun demikian sebagai suatu tatanan, jaringan kerja merupakan alat organisasi yang mengambil bentuk organisasi lateral berupa task force atou teamwork dalam rangka mendukung pelaksanaan berbagai tugas organisasi formal. Berhubung dengan itu jaringon keria akan dapat mendorong komunikasi dua arah dengan interaksi yang dilakukan secara intensif, untuk mengatasi hambatan-hambatan formal dalam bekerja. Diharapkan dengan jaringan kerja akan dapat dicapai tujuan yang sedang dikejar melalui reformasi proses pengambilan keputusan yang tidak selalu bergantung pada struktur vertikal dengan cara meningkatkan kinerja struktur horisontal tanpa meninggalkan rencana strategis organisasi induknya. Secara konkrit jaringan kerja yang kompleks yang dibangun untuk meningkatkan kinerja mencakup berbagai organisasi sektor publik dan organisasi-organisasi internasional seperti Bank Dunia, IMF, lembaga donor keuangan maupun donor proyek. Jaringan kerja juga mencakup organisasi sektor privat maupun NG0s, baik yang berada pada fingkat pusat maupun di tingkat lokal (seperti unit-unit administrasi atau cabang-cabang di kabupaten/kota), yang secara umum membentuk jaringan kerja vertikal, horisontal, dan diagona. Dalam kaitan itu pengembangan jaringan kerja secara vertikal akan menjangkau hubungan pemerintah kota dengan pemerintah pusat (state) dan pernerintah propinsi (province), dimana hubungan akan bersifat antar pernerintahan dalam kerangka koordinasi, kerjasarna dan bantuan di bidang pernerintahan, perekonomian, pembangunan, dan bidang-bidang lain yang bersifat lintas wilayah administratif. Model yang mungkin digunakan akan mengikuti salah satu dari model hubungan pusat dan daerah yakni otonomi relatif, agensi, atau interaksi.

kalangan perbankan. misi atau kelompok sasaran yang sama. • Keriasama antara pernerintah pusat dengan pemerintah lokal mengarah pada keagenan (agency). termasuk di dalamnya adalah para pelaku bisnis (sernua industri di daerah). pendidikan. Adapun pengembangan jaringan kerja secara diagonal secara khusus akan meniangkau hubungan pernerintah kota dengan dunia internasional. Dengan pengembangan jaringan kerja diagonal diharapkan juga muncul konsep kerjasama (sister city atau sister project) antara pemerintah kota dengan negara lain atau lembaga-lembaga internasional. Sedangkan masyarakat sipil/asosiasi bebas akan mencakup masyarakat dalam arti luas termasuk di dalamnya adalah berbagai lembaga swadaya masyarakat (NG0s and GR0s). o satu pertanggungjawaban. Dengan memperhatikon pola kerjasama yang pernah dikembangkan dalam penyelenggaraan otonomi daerah. investor. termasuk pengembangan teknologi. o untuk keperluan itu dibentuk organisasi tersendiri yang mengikutsertakan pemerintah lokal. Dengan pengembangan jaringan kerja horisontal diharapkan muncul konsep kerjasarna (partnership) antara pemerintahan kota dengan masyarakat sipil dan asosiosi-asosiasi bebas. dapat dikemukakan arah jaringan kerja sebagai berikut : • Kerjasarna antar pemerintahan kota/kabupaten mengarah pada sister city dengan kriteria kerjasama mencakup: o bidang tertentu (seperti pemerintahan. baik negara.Sedangkan pengembangon jaringan kerja secara horisontal akan menjangkau hubungan pernerintah kota dengan sektor privat (private sector) dan dengan masyarakat/asosiosi bebas (civil society and voluntary). berbagai kelompok profesi dan berbagai lembaga sosial lainnya. dan lembaga koperasi. dan sosial budaya). ekonomi. o ketersediaan dana pendukung dan personil yang memadai. pemberdayaan. dalam lingkup yang cukup luas mulai dari kerjasama pemerintahan. kota. pendanaan. • Kerjasarna diantara unit-unit kerja pemerintahan kota mengarah pada sister project dengan kriteria kerjasama mencakup: o kesamaan visi. termasuk di dalamnya adalah organisasi parastatal (semi otonom). juga kelompok-kelompok kepentingan. lembaga akademik dan penelitian. Bertolak dari gambaran tersebut dapat dikemukakan juga bahwa pengembangan jaringan kerja pemerintah kota sebenarnya menuntut kemampuan untuk melhat peluang internal maupun eksternal yang mungkin bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal berbasis pada kapasitas yang dimiliki oleh pemerintah kota dalam menjalankan fungsi- . o pemerintah pusat menentukan pedoman kerja dan pembiayaan. o membentuk gugus tugas atau tim kerja terlepas dari organisasi induk. Sektor privat akan meliputi swasta/bisnis atau dunia usaha. maupun lembaga-lembaga pemberi bantuan internasional lainnya (bilateral maupun multilateral). maupun bidang-bidang lain yang mungkin untuk dikerjasamakan. pembangunan. dengan kriteria keriasama mencakup: o bidang yang berpengaruh secara luas (berdampak regional maupun nasional). o aspek jasa (seperti industri dan perdagangan). o tidak permanen (berubah sesuai situasinya) atau dilakukan secara temporer (saat tertentu saja).

atau Kantor. Seperti dalam pengembangan kapasitas pemerintah daerah. Idealnya sebuah jaringan kerja dikembangkan oleh suatu lembaga tertentu mengacu pada tujuan yaang ingin dicapai di masa yang akan datang. Semua kegiatan itu dilakukan melalui penyampaian dan pembahasan konsep. 2 Pernberdayaan ekonomi kerakyatan. . dimana pemerintah kota maupun dunia usaha dan masyarakat setempat mampu “think locally act globally”. pengembangan jaringan kerja akan sangat tergantung pada visi yang ingin diraih oleh pemerintah daerah. Itu berarti pengembangan jaringan kerja akan dilakukan secara bertahap mengikuti rentang waktu tahunan. 5 Membangun infrastruktur guna menunjang ketahanan pangan. curah pendapat. Terutama bagii pemerintah daerah. produksi pertanian. sedangkan secara eksternall pengembangan jaringan kerja berupaya mendorong dan memampukan unit-unit keria tersebut untuk berinteraksi dan berkoordinasi dengan berbagai pihak di luar pernerintahan atau birokrasi publik Konsep Pengembangan Network SISTER PARTNERTSHIP BAB III RENCANA KERJA PENGEMBANGAN NETWORK Bertolak dari arah dan konsep jaringan kerja (netwok) kegiatan PCK dapat dikemukakan bahwa kelompok kerja (Pokja) network telah berupaya mengidentifikasi masalah dan kebutuhan jaringan kerja pemerintah kota Malang. kemudian merumuskan konsep pengembangan di masa yang akan datang. Secara internal pengembangan jaringan kerja akan bersifat mendorong dan memampukan unit-unit kerja di lingkungan pemerintahan daerah untuk saling berinteraksi dan berkoordinasi dengan lebih intensif meninggalkan kepentingan-kepentingan sektorianisme. Berhubung dengan itu pengembangan jaringan kerja juga akan mengikuti bidang strategis yang sudah diprioritaskan pelaksanaannya. kemudian dikembangkan sesuai konteks situasi yang akan dijalani. 3 Membangun dan merevitalisasi kelembagaan sosial dan ekonomi kerakyatan. dinas daerah.fungsinya. Kemampuan mana akan memberikan pintu akses bagi pembangunan lokal. Tahap Penyelamatan (1999-2000) 1 Upaya menghapus kemiskinan. kantor daerah) dalam menyongsong era pasar bebas dengan memanfaatkan peningkatan demokrasi sehingga pemerintah kota akan semakin eksis dalam percaturan global. Badan. badan daerah. Untuk keperluan itu urutan prioritas kegiatan pembangunan daerah tahun 2000-2004. pengembangan jaringan kerja menuntut kesiapan perangkat daerah (sekretariat daerah. maka jaringan kerja seharusnya -dikembangkan sesuai dengan prioritas waktu dan pilihan sasaran yang ingin dicapai. dan diskusi kelompok serta pengambilan kesepakatan diantara anggota kelompok untuk menentukan rencana kerja bidang network pada tahun anggaran yang akan datang. dapat mengacu pada strategi dan program pembangunan nasional (PROPENAS) berikut: I. 4 Mendorong tumbuhnya tenaga kerja mandiri dengan menciptakan dan menfungsikan sarana dan prasarana ekonomi kerakyatan. termasuk Kecamatan dan Kelurahan).d Oleh karena sebuah visi sebenarnya tergantung dari kemampuan seorang pemimpin mengelola sebuah unit kerja perangkat daerah (seperti Dinas.

II. kerjasama bidang politik untuk pembinaan partai politik. seperti penguasaan bahasa asing. Pengembangon network dengan lembaga vertikal (dikaitkan dengan berbagai peraturan yang dikeluarkan pemerintah pusat atau propinsi sehingga daerah dapat dimanfaatkan atau mengambil sikap yang tepat terhadapnya. Pengembangan network khusus dengan pihak luar (misalnya dengan LSM lokal. Tahap Pemulihan (2001-2002) 1 Meningkatkan hasil tahapan penyelamatan tahun 1999/2000. b. kinerja. teknologi informasi. pertambangan. Ill. industri dan pariwisata. Tahap Pengembangan (2003-2004) 1 Memantapkan hasil tahapan sebelumnya. rencana pengembangan network akan difokuskan pada: a. 7 Kebijaksanaan kemandirian dan penggunaan hasil produksi dalam negeri. d. dan efektif. Pengembangan network dengan lembaga horisontal (misalnya pembentukan kota kembar (sister city). kerjasama di bidang sosial kemasyarakatan seperti penanganan masalah sosial daerah lain melalui fasilitasi penampungan dan pelatihan di daerah. Memantapkan kinerja dan dukungan lembaga-lembaga keuangan dan pemerintahan kepada pemberdayaan ekonomi. Tahap Pemantapan (2002-2003) 1 Meningkatkan hasil tahapan pemulihan tahun sebelumnya 2 Memantapkan mekanisme pasar. kerjasama di bidang lingkungan hidup seperti penanganan DAS. 2 Menciptakan kebijaksanaan pembangunan yang tangguh. termasuk keterkaitannya dengan program pembangunan nasional -PROPENAS).termasuk pengadaan lumbung desa serta pengadaan irigasi. 3 Memberikan kontribusi yang besar kepada perekonomian regional dan nasional. 4 Mendorong dan memfosilitasi sektor swasta untuk tumbuh dan berkembang. 8 Meningkatkan komoditi ekspor dan pariwisata. 3 Meningkatkan kelancaran distribusi hasil produksi dan memperluas pasar secara regional. nasional atau bahkan internasional dengan kalangan swasta dsb). sarana dan prasarana ekonomi kerakyatan. dsb). 4 Meningkatkan kualitas kemandirian tenaga kerja kemampuan kewirausahaan masyarakat. tukar-menukar informasi tentang pemasaran hasii-hasil produksi. distribusi. kerjasama untuk pengembangan SDM. 5 Memperluas lapangan kerja. perkebunan. 6 Menciptakan pemerataan hasil-hasil produksi dan kesejahteraan. Kebutuhan awal yang direkomendasikan dalam pengembangan jaringan kerja pemerintahan kota Malang adalah: 1 Perlunya sebuah jaringan kerja internal maupun ekstemal yang dikembangkan sesuai . teknik pengambilan keputusan dan dsb. c. 2 Meningkatkan produksi pertanian. IV. Pengembangan kemampuan-kemampuan ’strategis pendukung. efisien. Dengan memadukan strategi pembangunan nasional dan program pembangunan nasionall serta kebutuhan pembangunan daerah pada masa yang akan datang. 3.

dalam hal ini perangkat daerah . Paling tidak pengembangan network akan makin memberikan peluang perwujudan otonomi daerah sesuai visi yang telah disepakati bersama antara seluruh stakeholders di Kota Malang dengan Pernerintah Kota Malang termasuk Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Malang.Persepsi Aparatur Pemerintah dan Masyarakat Terhadap Pemerintahan Nagari dan Otoritas Tradisional Minangkabau Dalam Kaitannya Dengan Prospek Otonomi Daerahdi Sumatera Barat Yasril Yunus 9802110304 RINGKASAN Yasril Yunus. Soesilo Zauhar MS.Si.kebutuhan lokal. dengan pemerintch kota/kabupaten lainnya. diharapkan pengembangan network pemerintah kota . Pemerintahan Orde Baru yang bersifat sentralistik telah memasung suara hati nurani . Ke depan. Program Pascasarjana Universitas Brawijaya Malang. kelompok masyarakat lainnya. pengembangan network juga bermaksud mengembangkan kemampuan-kemampuan strategis pendukung berupa penguasaan teknologi informasi dan pendukung lainnya. Ketua Komisi Pembimbing Drs. Komentar : Tidak ada komentar » Kategori : Jurnal PEMERINTAHAN NAGARI DI ERA ORDE BARU Persepsi Aparatur Pemerintah dan Masyarakat Terhadap Pemerintahan Nagari dan Otoritas Tradisional 22 03 2008 PEMERINTAHAN NAGARI DI ERA ORDE BARU . PEMERINTAHAN NAGARI DI ERA ORDE BARU (Persepsi Aparatur Pemerintah dan Masyarakat Terhadap Pemerintahan Nagari dan Otoritas Tradisional Minangkabau Dalam Kaitannya Dengan Prospek Otonomi Daerah). 3 Perlunya data potensi daerah yang valid untuk mengetahui peluang pengembangan jarirngan kerja lokal. Anggota Drs. termasuk para pelaku ekonomi. BAB V PENUTUP Bertolak dari kerangka pengembangan konsep network sebagaimana dikemukakan di depan. H. Karena itu pengembangan kota Malang pada masa yang akan datang bermaksud menguati jaringan kerja antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat/propinsi. 2 Pedunya sebuah organisasi yang akan selalu memantau dan mengembangkan jaringan kerja sesuai prioritas pembangunan daerah. 16 Desember 2000. lembaga swadaya masyarakat. Abdul Hakim M.akan memberikan implikasi positif bagi pelaksanaan otonomi daerah pada masa yang akan datang. 4 Perlunya dukungan penuh pemerintah daerah dalam pengembangan jaringan kerja. perguruan tinggi.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (i) struktur masyarakat Minangkabau adalah bertingkat denganPemerintahan Adat yang demokratis berdasarkan sosio budaya dan adat istiadat Minangkabau. (iii) persepsi. sedangkan data skunder didapat dari dokumentasi. Tehnik pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan secara snow ball sampling dan data primer diperoleh dari hasil wawancara mendalamdengan para informan. sehingga Pemerintah Reformasi harus menata ulang secara keseluruhan sistem pemerintahan. (iii) persepsi aparatur pemerintah dan masyarakat tentang PemerintahanNagari dalam kaitannnya dengan otonomi daerah dan (iv) peluang dan tantangan yang dihadapi jika diSumatera Barat diberlakukan kembali Pemerintahan Nagari. SUMMARY Yasril Yunus. terutama Pemerintahan Daerah dan Pemerintahan Desa. Postgraduate Program. (ii) otoritastradisional masyarakat Minangkabau menunjukkan kepemimpinan yang bersifat demokratis dan populisdalam pemerintahan nagari yang otonom.kedua Desa Sungai Jambu Kecamatan Pariangan Kabupaten Tanah Datar dan ketiga Desa Pasa UsangKecamatan 2 X 11 Enam Lingkung Kabupaten Padang Pariaman Propinsi Sumatera Barat dengan fokuspenelitian terdiri dari (i) struktur masyarakat dan pemerintahan adat beserta hukum adat Minangkabau. karena potensi-potensi nagari sebagai hak ulayat yang mendukung nagari guna pelaksanaan otonomi daerah di Sumatera Barat. . kedua bagaimana persepsi aparatur pemerintah dan masyarakat tentang otoritas tradisional Minangkabau ketiga bagaimana persepsi aparatur pemerintah dan masyarakat tentang Pemerintahan Nagari dan keempat bagaimana peluang dan tantangan yang dihadapi masyarakat Minangkabau Sumatera Barat jika diberlakukan kembali Pemerintahan Nagari. penyajian data dan penarikan kesimpulanatau verifikasi. (iv) untuk menghidupkan kembali Pemerintahan Nagari di Sumatera Barat sekalipun memiliki peluang. 2000. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. karena antara pemegang otoritas dan anak nagari (warga)secara adat kedudukannya adalah sama. karena Pemerintahan Nagari lebih eksis.rakyat dan mematikan keragaman sosio kultural dan adat istiadat bangsa Indonesia. Lokasipenelitian ini di tiga desa. serta mampu mengantisipasi pelaksanaan otonomi daerah. Desember 16. aspirasi dan partisipasi aparatur pemerintah danmasyarakat mendukung terbentuknya Pemerintahan Nagari sebagai pemerintahan yang terendah diMinangkabau. 22/1999 adalah salah satu di antara kebijakan untuk menata kembali sistem Pemerintahan Daerah yang sekaligus juga membuka peluang bagi masyarakat desa untuk menentukan bentuk pemerintahan yang terendah sesuai dengan sosio kultural dan adat istiadat setempat. UU No. tidak jelas posisinya dalam sistem hukum nasional. pertama Desa Ampang Gadang Kecamatan Guguk Kabupaten Lima Puluh Kota. Semua data dianalisisdengan menggunakan pola interaktif meliputi reduksi data. Pemerintahan Negara Republik Indonesia di bawah kekuasaan Orde Baru telah diakhiri oleh rakyat secara paksa. (ii) persepsi aparatur pemerintah dan masyarakat tentang otoritas tradisional Minangkabau dalamkaitannya dengan otonomi daerah. 5/1979 telah kehilangan jati dirinya. namun mendapat tantangan yangcukup berat. Tujuan penelitian adalah untuk menjawab permasalahan-permasalahan yang ada dalam penelitian yaitu pertama bagaimana struktur masyarakat dan pemerintahan adat beserta sistem hukum adat di Minangkabau. Desa dan Pemerintahan Desa berdasarkan UU No. Brawijaya University Malang. diakui dan tidak terpengaruh oleh supra nagari.

Traditional Government based on the sociocultural and costums of Minangkabau. becouse between authority power and “anak Nagari” (society) traditionally have the same position.THE GOVERNMENT of ”NAGARI” in THE NEW ORDER (The Perception of Government Officials and the Society Toward the Government of “Nagari” and the Traditional Authority of Minangkabau in Relation with the Prospect of Local Autonomy in West Sumatera). The problem in this research is. The result of this research indicate that: (i) the society structures of Minangkabau have some level with the democratic. how are opportunities and challenges faced by the society Minangkabau. The country and the ruralgovernment based on the Government Regulatioan No. West Sumatera. West Sumatera. first. The type of research used is the descriptive research with the qualitative approach. so thatThe Reformation Government should remanage the whole government system. how is the perception of the government offcials and society toward the “Nagari” Government in relatioan with the local aoutonomy. first. 2 X 11 Enam Lingkung district. whenever the “Nagari” Government will be carried out. second. district of Pariangan. second. (ii) the authority of traditional society of Minangkabau indicates the democratic and populous leadership in the nagari government that has the autonomic characteristics. data presentation and conclusions or verification. (iv) the opportunities and challenges faced by the society Minangkabau. 1999 is one of the policies toremanage the Local Government System that simultaneously also open the opportunities for the ruralsociety to decide the lowest government form in accordance with the local sosiocultural and costums. how is the perception of the government offcials and society toward the traditional authority of Minangkabau in relation with the of local autonomy. how the society structure and the traditional government and the traditional jurisprudence system in Minangkabau. fourth. Padang Pariaman regency. Lima Puluh Kota regency. The centralised government of the New Order has shackled the inner heart of society and switch offthe variety of the sociocultural and the customs of the Indonesian people. and third. is Pasa Usang. Tanah Datar regency. Where as the purpose of this research is to answer the given problems in this research. and. especially the Local Government and the Rural Government. 5. Ampang Gadang. The sampling techniqeu of this research is conducted by the snow ball sampling and the primary data attained by the result of the depth interviews from the informen. Sungai Jambu. The Regulatioan No. (iii) the perception of the government offcials and society toward the “Nagari” Government in relatioan with the local aoutonomy. Locatioan of this research are in three countries. Co Supervisor: Abdul Hakim. Supervisor: Soesilo Zauhar. province of West Sumatera with the research focus on: (i) the structure of society and the traditioanl government and the traditional jurisprudence system in Minangkabau. 22. while the secondary data attained from documentation. The Republic ofIndonesia Government under the power of New Order has been lasted by the people by force. third. and. district of Guguk. whenever the “Nagari” Government will be carried out there. (iii) the perception. All of the data analyzed by using the interactive pattern as developed by Miles and Huberman which comprises the data reduction. (ii) the perception of the government offcials society toward the traditional authority of Minangkabau in relation with the local autonomy. aspiration and participation of government offcials and the society support the form of the Nagari Government as the . 1979 has lost its identity.

5/1979 diberlakukan. sehingga hal-hal yang menghambat partisipasi dan keinginan masyarakat dapatdisalurkan. Menurut Kusumaatmadja (1998) desa-desa seperti Nagari di Sumatera Barat. karena dalam peraturan UU No. but fased by the high challenges. Dengan berlakunya UU No. tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. and (iv) to resulvive the Nagari Government in West Sumatera althouh it has some opportunities. sekaligus berarti mencabut UU No. PENDAHULUAN Apabila disimak pengaturan pemerintahan daerah/desa sejak masa penjajahan Belanda ketikaInlandshe Gemeente Ordonantie (IGO) diberlakukan untuk Jawa dan Madura dan Inlandshe Gemeente Ordonantie Buitengewesten (IGOB) untuk luar Jawa dan Madura sampai ditetapkannya UU No. the position is not clear enough in the national law systems. 22/1999 jelas-jelas diakui desa sebagai kesatuan masyarakat hukum berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat. Suasana seperti inilah yang ingin cobaditeliti. Dapatkah nuansa Pemerintahan Nagari dikembalikan ke dalam kehidupan masyarakatMinangkabau sebagaimana yang banyak dituntut sekarang ini. 13/1983 mencerminkantekad. 5/1979 tentang Pemerintahan Desa selama lebih kurang 20 tahun dipandang kontradiktif dengan nilai-nilai yang hidup. sehinga undang-undang tersebut tidak secara spontan diterima. No. Ditetapkannya UU No. Dengan demikian pokok persoalan pemerintahan desa di Minangkabau adalah tidak jalannya demokratisasi tatkala UU No. XV/MPR/1998.1989). 5/1979 relatif tidak banyak berubah. Pemerintahan Daerah Sumatera Barat menetapkanPeraturan Daerah No. karena masyarakat adat yang demikian mampu mempertahankandirinya dan mempunyai adaptasi yang kuat dan bagus terhadap intervensi luas. karena masyarakat Sumatera Barat khawatir adanya kemungkinan munculnya dampak negatif terhadap kehidupansosial budaya masyarakat apabila Pemerintahan Nagari harus diganti dengan Pemerintahan Desa (Kato. because the Nagari Government is more dominate. and are able to anticipate the performance of the local autonomy. maka corak pemerintahan tingkat desa diSumatera Barat perlu ditinjau kembali. 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah berdasarkan Ketetapan MPR.lowest government in Minangkabau. Perda No. Sedangkan pada masa Jepang masalah pedesaan tidak diatur secara khusus. semangat dan keinginan Pemerintahan Daerah Sumatera Barat dan masyarakatnya untuk tetap melestarikan dan memelihara eksistensi Nagari beserta hak-hak tradisionalnya. due to the traditional rights that support the ”nagari” to the performance of the local autonomy in West Sumatera. Oleh karena itu sistem pemerintahan Nagari haruskembali diperhatikan. more acknowledged and is not influenced. bagaimana persepsi aparatur pemerintah dan masyarakat terhadapsistem otoritas tradisional masyarakat Minangkabau dalam kaitannya dengan otonomi daerah? bentukpemerintahan tingkat desa di Minangkabau Sumatera Barat dalam kaitannya dengan otonomi daerahserta bagaimana peluang dan tantangan yang dihadapi jika di Sumatera Barat diberlakukan kembaliPemerintahan Nagari ? Tujuan penelitian adalah mendeskripsikan menganalisa dan meninterprestasikan struktur masyarakat tradisional . Dengan demikian masalahnya adalah bagai-manakah struktur masyarakat tradisional dan sitemPemerintahan Adat di Minangkabau?. Banjar di Baliperlu mendapat perhatian dan motivasi. by supra “nagari”. 5/1979. Untuk mengatasi dampak negatif tersebut. 13/1983 tentang Pemerintahan Nagari sebagai persekutuan masyarakat hukum adat yang fungsinya dilaksanakan oleh Kerapatan Adat Nagari (KAN).

tetapi juga dalam bidang-bidang lain seperti perimbangan keuangan daerah dan pusat serta memberikan kewenangan yang lebih kepada daerah untuk mengurus rumah tangganya sendiri. Setelah Belanda masuk ke Indonesia kondisi masyarakat asli Indonesia pada mulanya tetapdibiarkan melaksanakan kegiatan-kegiatan sesuai dengan susunan dan struktur masya-rakat hukum adat. pengambilan keputusan dan pelaksanaannya. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran tentang aspirasi masyarakat terhadap pembentukan pemerintahan terendah yang sesuai dengan UU No.namun lambat laun mulai Belanda melakukan intervensi pemerintah terhadap kehidupan masyarakat desa untuk kepentingan politik penjajah. 22/1999 ini ternyata belum mengatur pelaksanaan desentralisasi kepadamasyarakat menuju terciptanya proses partisipasi dan pemberdayaan dalam pemerin-tahan dan pembangunan. karena dianggap sebagai bagian Departemen Dalam Negeri saja (Zauhar. bahwa desa yang disebut dalam peraturan Inslandschegemeenten atas pengesahan Residen berhak memilih Kepala Desa dan pemerintahan desanya sendiri. tidak hanya dalam lingkupDepartemen Dalam Negeri sebagaimana fenomena desentralisasi beberapa waktu yang lalu. Di Sumatera Barat akibat perubahan nagari menjadi desa telah terjadi culture shock (goncangan kebudayaan) karena perubahan yang dialami tidak hanya sekedar perubahan struktural tetapi jugasekaligus perubahan filosofis dan orientasi. melainkan seharusnya dapat ikut serta pula menjadi pemegang saham (share holders)pada perusahaan-perusahaan di daerah. Begitu juga intervensi negara terhadap pemerintahan di desa seluruh Indonesia sebelum ditetapkannya UU No.karena menurut Koswara (1999).dan sistem Pemerintahan Adat di Minangkabau:persepsi aparatur pemerintah dan masyarakat terhadap sistem otoritas tradisional masyarakat Minangkabau dan terhadap bentuk pemerintahan tingkat desa di Minangkabau Sumatera Barat dalam kaitannya denganotonomi daerah serta peluang dan tantangan yang dihadapi jika di Sumatera Barat diberlakukan kembaliPemerintahan Nagari. 1994: Samego. 1998).karena berdasarkan undangundang tersebut organisasi pemerintahan desa telah tersentralisasi. PemerintahanDaerah tidak mempunyai kebebasan lagi dalam menentukan bentuk susunan pemerintahan desa sendiri. partisipasi masyarakat dalam pemerintahan dan pembangunan. diharapkan tidak hanya ikut serta dalam proses peren-canaan. Pengakuan tersebut tertuang dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang desa untuk pertama kali dimuat dalam pasal 71 RR (Regeerings-reglement) 1854 atau pasal 128 IS (Indischestaatsregeling) sebagaimana juga disitir oleh Kartohadikoesoemo (1984). Di Indonesia desentralisasi telah dikaji dalam beberapa sisi dan bidang. karena menurut Naim . terutama Pemerintahan Daerah Kabupaten dalam menemukan dan menetapkan bentuk pemerintahan tingkat desa yang sesuai dengan aspirasi dan adat istiadat masyarakat setempat dan terakhir diharapkan dapat digunakan sebagai bahan referensi bagi pihak yang ingin melakukan penelitian sejenis dalam lingkupyang lain. 22/1999 tentang PemerintahanDaerah dan dapat disumbangkan bagi para pembuat dan pelaksana kebijakan yaitu Pemerintah. Namun setelah keluarnya undang-undang tersebut. 5/1979 desa mempunyai hak untuk mengatur pemerintahan desa sendiri sesuaidengan kebutuhan daerah yang bersangkutan. KAJIAN TEORI Jika dicermati UU No.

ketigabirokrasi sebagai hirarkis kekuasaan. “ekonomi sebagai panglima “ (ESP) dan “moral sebagai panglima” (MSP). apakah pengaruh negara atau pasar. adalah hampir di seluruh aspek kehidupan masyarakat didominasi dan diintervensi negara. Akibat dari perkembangan pembangunan dan modernisasi yang begitu cepat di segala bidang. dan ketiga sektor asosiasi sukarela dengan aktornya NGO’s/LSM. Mengenai peran aktordalam masyarakat juga disitir oleh Mas’oed (1997). mengemukakan tiga argumen yang mendasari kualitas dominasi negara yang cenderung lebih kuat pertama ada anggapan bahwa sistem administrasi yangdilakukan secara profesional oleh para ahli memungkinkan mereka memegang kekuatan monopolijalur-jalur kewenangan dan aturan-aturan. maka sejak itu pula pemerintah ikut campur dalam kehidupan masyarakat desa. 1988). akhirnya mengendalikan serta dapat mempertahankan kekuasaan.Negara bertindak monopoli dan sebagai “aktor tunggal” yang sentralistis.sekalipun perubahan struktural tersebut berasal dari luar. kedua pasar dengan aktornya pengusaha/ swasta. yang mengutip pendapat Mc Lennan menyatakan bahwa keputusan politik antara elit politik yang sedang berkuasa dengan kekuatan-kekuatan sosial politik menjadi persoalan tarikmenarik (push and pull) antara mempertahankan pola kemapanan politik dengan upaya mempengaruhi pola kemapanan politik. Dampak konsep pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintahan Orde Baru pada masyarakatpedesaan. tentang tiga pola dalam praktek pembangunan dengan aktor yang berbeda-beda. .(1990).Keadaan ini terus berlanjut hingga Indonesia merdeka bahkan diperparah lagi setelah adanya konseppembangunan pada masa pemerintah Orde Baru. tetapi negara juga berperan lebih konservatif dengan kecenderungan mengontrol kekuatan-kekuatan masyarakat (Harrison. konklusinya bukan saja keterbukaan (glanost) dan proses demokratisasi yang diperlukan tetapi juga restrukturisasi (perestroika). disebut sebagaiparadigma yang berorientasi pada aktor/pelaku .. Dari tiga alternatif aktor yang ditawarkan Uphoff. Di Indonesia semenjak Pemerintahan Kolonial Belanda menetapkan peraturan khusus untuk masyarakat desa. sehingga dengan alasan “pembangunan” negaradapat saja ikut campur dalam segala aspek kehidupan masyarakat. Sektor pertama adalah negara dengan birokrat sebagai aktornya. Artinya bahwapengambilan keputusan politik menurut Nugroho (1992). ada tiga sektor yang melakukan intervensi dalam masyarakat desa.baik secara eks-plisit maupun secara implisit . kedua dengan dominasi dan otoritasnya birokrasi yang memiliki kewenangan. dalam pertumbuhannya tidak selalu bebas dari subyektivitas sistemnilai politik dari kelompok yang mengendalikannya. karena birokrasi begitu solidnya. dapat dikatakan yang paling kuat intervensi dalam pembangunan pedesaan adalah sektor pertama dengan aktornya birokrat. Berkaitan dengan itu Nugroho (1992). wajar saja ada pendapat yang mengatakan bahwa Orde Baru pada hakekatnyaadalah orde anti pikiran bebas. Sesuatu yang terkait langsung dengan analisis struktural menurut Long (1964). baik langsung maupuntidak langsung menghadapi kendala yang tidak kecil. Dalam situasi yang demikian keikutsertaan kelompok-kelompoksosial politik dan masyarakat untuk terlibat dalam pengambilan keputusan politik. Sedangkanmenurut Uphoff (1994). Dengan demikian menurutAbdul Wahab (1999b). yangpada akhirnya menempatkan negara bukan lagi sekedar memiliki posisi konvensional sebagai inovatorpembangunan. masing-masing populer dengan sebutan “politik sebagai panglima” (PSP).

Mencermati hegemoni negara yang demikian dominan Abdul Wahab (1999b). maka negara meredam potensi-potensi revolusioner dalam masyarakat dan melemahkan potensi-potensi progresif pembaharuan melalui organisasi-organisasi yang berwatak korporatif.1997). Selama Orde Baru program pembangunan desa berdasarkan UU No.Sherman and Aliza Kolker dalam Nugroho. dan proses memasukkan negara ke dalam desa (Mas’oed . Negara dalam membentangkandominasinya menciptakan “perluasan birokrasi pemerintah pada tingkat lokal”. Oleh sebab itu tidak ada perbedaan yang berarti antara masa kolonial dengan masa pasca kolonial. Dalam kaitan dengan uraian di atas menimbulkan serangkaian permasalahan yang dapat ditujukankepada para aktor atau penguasa dalam pemerintahan tersebut. Salah satu diantaranya adalah tentangbagaimana penguasa (regimes) dibentuk dalam sistem demokrasi atau bagaimana politik penguasa(regime politics) secara sistimatis dibentuk oleh beberapa macam bargaining lingkungan tertentu. menyatakan karena negara adalah sebagai motor tunggalpenggerak modernisasi. maka menimbul kekhawatiran negara menjadi kurang peka dan merasa bahwa sudah menjadi hak dari aparat negara untuk membatasi hak warga masyarakat.hirarkis laiknya birokrasi pemerintah. Dengan demikian dalam persaingan yang lebih longgar antara kelompok-kelompok sosial politik. (1993). artinya menurut Santoso. Soetrisno (1988). pada saat yang sama pemerintah harus pula melakukan bargaining terhadap dukungan politikrakyat sebagai persetujuan publik terhadap program pemerintah. Singkatnya. negara menempatkan birokrasi sebagai satusatunya agen utama modernisasi. Semua tawar menawarkan (bargaining advantage) dijelaskan oleh Kantor (1997) bahwa. sehingga organisasi-organisasi tersebut bersifat monolitik. Hal ini berarti bahwa pemerintah. Partisipasi masyarakat dibendung dan masyarakat itu sendiri dibelenggu dari proses politik danpembangunan yang dilakukan secara top-down dan bercorak teknoratisbirokratis. Sepertipada masa pemerintahan Orde Baru peran negara dan aparatnya juga otoriter dan sentralistik dalam pelaksanaan kebijaksanaan. maka pandangan negara sebagai aktor tunggal yangmencerminkan struktur hegemoni politik dan ideologi. Bentangan kekuasaan semacam inilah yang disebut dengan korporatisme. yang juga mengutippendapat Schmitter menjelaskan bahwa organisasi-organisasi bentukan pemerintah pada hakekatnyasecara politis dan praktis telah terkooptasi. berarti memberi kelonggaran bagi pluralitas untuk berekspresi. yang disebut Schmitter sebagai korporatisme negara. dengan sendirinya perlu ditinjau kembali (Arnold K. penguasa(regime) dalam memperoleh dukungan dilatari oleh bervariasinya komunitas lokal dalam kondisi-kondisi. 1991). disamping harus melakukan tawar menawar terhadap kondisi-kondisi yang menjadi kepentingan politik bagi kelancaran investasi swasta untuk mencapai tujuanekonomi.Terakhir adanya variasi antara beberapa daerah dalam hal lingkungan antar-pemerintah. Faktor lain yang dapat mempengaruhi regime adalah . 5/1979 mempunyai tujuan ganda yaitu melibatkanmasyarakat agar berperan serta dalam pembangunan secara umum melalui proses memasukkan desa ke dalam negara. 1992).Program pembangunan desa merupakan penetrasian negara dalam kehidupan desa melalui dukunganberbagai bentuk jaringan administrasi. sehingga negaraotoritas birokrasi. artinya negara bersifat otoriter dan sangat mengandalkan birokrasi sebagai alat untukmencapai tujuannya (Budiman. untuk menghindari instabilitas politik yang membahayakan.

Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap regime menurut Kantor (1997). namun mampu memanfaatkan sumber-sumber substansial dan akses yang diberikan oleh pemerintahan pusat atau regional. Memungkinkan kota-kota atau daerah-daerah menikmati posisi pasar. depresi dan keracunan warga akibat perang. yangmenyoroti kekuasaan dari analisis psikologi individual menyatakan bahwa fasisme atau lazimnya disebutkekuasaan (regime) adalah sebagai akibat kehancuran hati nurani. Ketiga didukung oleh teori sosio historis atau struktural historis lebih melihat kepada kekuatan-kekuatan dan kepentingan kelompok-kelompok masyarakat (Hadad. sehingga menghasilkan radikal regime dan vendor regime. 2 Mercantile. Penelitian yang dilakukan Kantor tersebut melahirkan regime yang berbeda-beda sesuai dengan kondisi lokasi dimana penelitian dilakukan. 1979). maka kesadaran akan pentingnya kemerdekaan jadi berkurang. sehingga bargaining sering bersifat inter pemerintahan. Sistem ini memungkinkan kota atau daerah memiliki sedikit pilihan dan sebaliknya menempatkan inisiatif dengan bisnis. karena kelompok yang seharusnya dominangagal untuk menegakkan hegemoninya atas kelompok-kelompok lainnya. Menurut Budiman (1987). Dependent publik ini memiliki grantsman dan clientelist types. namun lokalitas dukungan yang yang diberikan sangat lemah antar pemerintahan dan bersaing secara intensif demiinvestasi modal. cara kerja sama publik privat-nya dan agenda-agenda dominannya. 3 Dependent publik mengalami perekonomian yang lemah. kemungkinan sistem yang ada akan hancur. A Comparative Perspective menemukan empat lingkungan bargaining yang berbeda : 1 Dirigiste. Pertentangan antara kelompok yang seharusnya dominan melawan kelompok yang semakin kuat tetap dibiarkan. kelompok penguasa yang memegang jabatan dan kelompok rakyat jelata yang biasanya menurut saja kepada atasan. Dari empat tipe lingkungan barganing di atas yang mengacu pada kondisi demokrasi memunculkan pemberdayaan regime yang berbeda dalam hal koalisi dominasi pemerintahannya. Bargaining ini menghasilkan planner regimes dan distributor regimes. Sistem ini menghasilkan bargaining yang mengarah pada politik regime badan usaha bebas (regime free enterprise) dan komersial regime.Timbulnya kekuasaan atau fasisme dalam masyarakat. dari kolektifisme ke individualisme. 4 Dependent privat adalah bargaining yang paling tidak menguntungkan. Kedua oleh teori kebudayaan yang menyoroti kekuasan dalam masyarakat peralihan dari feodalisme ke moderenisme. Dominasi negara dan kekuasaan rezim yang digambarkan oleh kedua pakar tersebut dapat dikatakanbahwa segala kebijakan yang dilakukan oleh Pemerintahan Orde Baru merupakan bargaining antara Pemerintahan Orde Baru dengan para tehnokrat dan pihak . dalam penelitiannya yang berjudul The political Economy or Urban Regimes. Dalam konteks ini daerah-dearah atau kota-kota menikmati posisi pasar dari lingkungan antar pemerintahan yang terpadu.danmempertahankan inisiatif dengan organisasi partai atau publik.bargaining dalam proses investasi modal. Mattulada dalam menjelaskan kebudayaan politik membagi masyarakat menjadi tiga lapisan. yang dikaitkan dengan kondisi pasar serta sistem antar pemerintahan. rezim otoritas dan totalitas didukung oleh teori psikologis. Dalam konteks ini daerah-daerah menghadapi dua kelemahan yaitu posisi pasar dan network antar pemerintahan substansial.

Begitu jugaToune (1995). baik keputusan politik maupun keputusan administrasi dengan tetap menghormati peraturan perundang-undangan. sebagai pengurangan intervensi pemerintah. menyatakan bahwa otonomi daerah sebagai suatu kebebasan untuk mengambil keputusan sendiri. dimaknai sebagai suatu konsep freedom from something kepada freedom to do something. demokrasi. menyatakan ada empat hal dalam otonomi daerah yaitu terbentuknya lembaga lokal yangrepresentatif. adanya sumber-sumber keuangan lokal yang memadai dan adanya tanggungjawab administratifpemerintah daerah dalam bidang keamanan. 1996). sebab menurut Hughes (1994). hal-hal yangdinilai negatif dari peran pemerintah dalam urusan masyarakat adalah karena kekuatannya. mensinyalir peran besar pemerintah sering kaku. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif (naturalistik). METODE PENELITIAN Pendekatan Penelitian. 1995 dan Kinsley. akontabilitas dan efisiensi. seperti yang dikemukakan Hoessein (1998). inefisien dan sering korup. democracy or partisipation and effeciency. melainkan juga harus ditindaklanjuti dengan restrukrisasi pelaksanaan otonomidaerah yang sarat dengan nilai-nilai kebebasan (liberty). partisipasi. (Kjellberg. Kedua. Sementara itu Abdul Wahab (1999a). serta adanyakebebasan untuk mengambil inisiatif serta personil yang berkualitas untuk mampu melaksanakan fungsifungsi pemerintahan lokal secara layak (Tordoff. how ever. atau local autonomy became an instrument for the realization of communal interests. hakekat otonomi daerah itu adalah sebagai perwujudan asas desentralisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan merupakan penerapan konsep areal devision of power yang membagi kekuasaan suatu negara secara vertikal menjadi kekuasaan “pemerintahan pusat” dan “pemerintahan daerah”. menyatakan sifat pemerintah adalah intervensionis dalam pelayanan publik dan Kingsley (1996). Lebih lanjut dikatakan bahwa dalam otonomi daerah terdapat three sets of values. Dari sinilah munculnya persoalanotonomi daerah dan desentralisiasi. melalui teori governance. are generally perceived to be essential to it : liberty. Sedangkan menurut Koswara (1999). Seperti Lemieux yang dikutip oleh Zuhro (1998). otonomi sebagai nilai utama dari teori localself-government.pebisnis mengaki-batkan pemerintah terpaksamelindungi mitranya terhadap tindakan yang bersifat antisipatif yang muncul dalam masyarakat. bahwa partisipasi atau demokratis berarti untuk memperkuat demokratisasi dalam masyarakat diperlukan adanya partisipasi aktif masyarakat itu sendiri. Data penelitian ini bersifat kualitatif serta situasi . 1994). Dengan demikian reaktualisasi otonomi daerah memerlukan kebebasan sebagai suatu ekspresi darikebebasan rakyat. sehingga hak-hak yang dimiliki oleh masyarakat hukum adat tidak jelas batas-batasnya. bahwa otonomi daerah adalah memberikan sebagian kekuasaan pemerintahan oleh sekelompok yang berkuasa di pusat kepada kelompok lain yang masing-masing memiliki otoritas di samping merupakan hak dan wewenang daerah untuk mengatur rumah tangganya sendiri. Pertama. Di antara pakar ada yang memahami otonomi daerah hanya sebagai pelimpahan wewenang kepada daerah untuk menyelenggarakan salah satu bagian kegiatan pemerintahan. or otonomy. Sedang di lain pihak otonomi daerah diistilahkan oleh Kjellberg (1995) local “selfgevernment“. kesejahteraan sosial dan pembangunan ekonomi. Dengan demikian otonomi daerah bukan hanya sekedar reorientasi para-digma self local government menjadi self local governance sebagaimana yang dinyatakan Stoker (1998).

1992). 5/ 1979) dan tokoh informal seperti tokoh masyarakat adat yang disebut sebagai penghulu serta anggota masya-rakat yang memahami seluk beluk sistem pemerintahan nagari. sesuai dengan keinginaninforman. tanpa dimanipulasi atau tanpa diatur dengan eksprimen dan tes (Nasution. Desa ketiga yang dijadikan lokasi penelitian adalah Desa Pasa Usang diKenagarian Kayu Tanam Kecamatan 2 X 11 Enam Lingkung Kabupaten Padang Pariaman yang mewakili daerah rantau dekat. Begitu juga dengan waktunya ada wawancara tersebut dilakukan pada malam hari dan bahkan pagi hari sewaktu minum pagi di kedai. data display. 1993). .sehingga peneliti dapat menemui informan dimana saja. Dengan memperhatikan bagian-bagian daerah di Minangkabau yaitu terdiri dari ranah darek atau Luhak nan Tigo dan ranah rantau. para mantan Wali Nagari (bekas Kepala Desa sebelum berlakunya UU No. tidak melihat tempat yang khusus bisa dirumah. Lokasi dan Situs Penelitian. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. yaitu Desa Ampang Gadang diKenagarian VII Koto Talago Kabupten 50 Kota dan Desa Sungai Jambu di Kenagarian Sungai JambuKecamatan Pariangan Kabupaten Tanah Datar yang mewakili daerah Luhak Nan Tigo dan satu desa yang mewakili daerah rantau. Dalam model ini peneliti tetap bergerak di antara tiga komponen analisis. yaitu data reduksi (reduction data). Sedangkan informan dari pihak pemerintah adalah Kepala Bagian Pemerintahan Desa. Camat dan Kepala Desa. Sebagai key informan dalam penelitian ini adalah Sekretaris LKAAM Sumatera Barat. kegiatan pengumpulandata. Dari beliau ini diperoleh keterangan bahwa peneliti perlu menemui informan lain seperti Ketua-Ketua KAN.lapangan bersifat natural. Sumber data lainnya adalah dokumen dan observasi. Pengambilan lokasi penelitian dilakukan secara purporsive. 3)Persepsi aparatur pemerintahan dan masyarakat terhadap Pemerintahan Nagari dalam prospek otonomi daera. dan juga sesudah pengumpulan data selesai denganmenggunakan waktu yang tersisa bagi penelitian ini. di kedai (warung) ataupun di masjid. cerita atau kata-kata yang bermakna untuk mengungkap persepsi dan partisipasi masyarakat terhadap Pemerintahan Nagari (Bogdan & Taylor. Sumber data. yaitu data berupa keterangan. Data dari informan aparatur pemerintah diperoleh di kantor masing-masing sedangkan data dari informan masyarakat dalam penelitian ini diperoleh dalam suasana kekeluargaan dan keakraban. Fokus penelitian ini 1) Struktur sosial masyarakat Minangkabau yang terdiri dari sistem pemerintahan (kelarasan) adat Minangkabau dan hukum adat Minangkabau.1988). Penelitan kualitatif di sini dimaksudkan untuk mengungkapkan makna dan proses dari faktor-faktor yang berhubungan dengan Pemerintahan Nagari di Sumatera Barat. maka lokasi penelitian ini mengambil tiga desa dari tiga kenagarian yang dijadikan sampel yang mewakili kedua bagian daerah tersebut. 2)Sistem otoritas tradisonalMinangkabau dalam kaitannya dengan otonomi daerah. 4)Peluang dan tantangan Pemerintahan Nagari dalam otonomi daerah. Analisis data dilakukan secara terus menerus sepanjang penelitian dilaksanakan dengan menggunakan interactive model of analysis. 1992 & Sutopo. wajar dan apa adanya (natural setting). Informan-informan tersebut di atas diseleksi melalui teknik snowball sampling berdasarkan penguasaan mereka terhadap persoalan yang sedang diteliti. Peneliti bergerak pada tiga komponen. terutama dalam rangkamenemukan persepsi aparatur Pemerintahan Daerah dan masyarakat terhadap sistem pemerintahanyang terendah berdasarkan UU No. selama proses pengumpulan data berlangsung. dan Conclucying drawing (Miles & Huberman.

Sistem keturunan seperti ini disebut sistem matrilinial. Fagan yang dikutip Manan (1995) menyatakan bahwa organisasi sosial masyarakat manusia melalui tahap-tahap perkembangan yaitu masyarakat suku (band). baik perilaku individu dengan masyarakatnya maupun perilaku masyarakat dengan pemerintah. Oleh sebab itu Pemerintahan Nagari yang memiliki karakteristik berdasarkan budaya adat istiadat Minangkabau sangat mendominasi pola perilaku anggota masyarakat. yang disebut pusako (harta pusaka). berkaum. Setiap tingkat dalam masyarakat Minangkabau tersebut memiliki harta sertitanah yang bersifat bersama (komunal) yang diwarisi secara turun menurun dan tidak boleh dijual atau digadaikan kecuali diperboleh menurut hukum adat. mereka tetap menerima penghargaan sebagai warisan yang disebut dengan sako yaitu harta non-material seperti gelar kepenghuluan dan harta yang diperoleh dari pekerjaan orang tuanyayang disebut harta suarang (gono gini) yang boleh diwarisi oleh semua anak. . Menurut Soemardjan (1992) proses tersebut melalui pembukaan hutan oleh suatu keluarga atau beberapa kelompok keluarga (manaruko. yang bersifat bertingkat (Nagari di Minangkabau) dan yang bersifat berangkai-rangkai (Soekanto. Ditinjau dari struktur masyarakat. untuk ditempati selama-lamanya. persamaan dan persaudaraan merupakan dasar-dasar pokokkelangsungan kaum dalam persekutuan (Mahfud. berkampung dan bernagari merupakan organisasi sosial yang telah lama ada dan berkembang sejalan dengan organisasi sosial masyarakat lainnya. saudara laki-laki ibu) yang memimpin rumah gadang (satu nenek). Struktur Masyarakat Minangkabau Adalah Bertingkat-tingkat Dengan Pemerintahan Adat yangDemokratis Berdasarkan Sosio Kultural dan Adat Istiadat Minangkabau Struktur masyarakat Minangkabau berbeda dengan struktur masyarakat lain di Indonesia. Sekalipun anak laki-laki tidak menerima warisan. Terbentuknya persekutuan hukum adat tersebut melalui proses sosial yang lama untuk menjadi sebuah desa. sedangkan kepala kaum tidak mempunyai kelebihan hak atas warganya. masyarakat rumpun (tribe). Suku menurut para informan merupakan mereka yang dilahirkan dari seorangniniek (ibu dari nenek). kaum dan yang terendah adalah jurai atau paruik (perut) yang memiliki adat istiadat yang khas dan istimewa pula. makapersekutuan hukum adat dapat dibedakan atas tiga sifat yaitu yang bersifat tunggal (desa di Jawa). Kemerdekaan. masyarakat pimpinan tunggal (chiefdom) dan masyarakat yang diorganisasi sebagai negara (state). karena struktur masyarakat Minangkabau yang memiliki kekhasan dan keisti-mewaan yaitu bertingkat-tingkatmulai dari suku. Diketahui bahwa masyarakat Minangkabau dibentuk oleh persekutuan sosial yang berdasarkan adat istiadatnya. 2000). Masyarakat hukum adat Minangkabau terbentuk melalui beberapa tahap dengan waktu yang sangat lama mulai dari taratak menjadi dusun yang berkembang menjadi koto dan akhirnya menjadi suatu nagari. Matullada mengemukakan bahwa dalam kehidupan masyarakat Nusantara dikenal adanyakelompok masyarakat yang disebut “kaum” atau anang (Bugis) atau marga (Batak) yang anggotanyaterikat satu sama lain oleh hubungan kekerabatan yang ketat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persekutuan masyarakat hukum adat Minangkabau yang terhimpun dalam masyarakat Nagari hidup bersuku. Tiap-tiap warga kaum dianggapmempunyai hak dan kedudukan yang sama.TEMUAN PENELITIAN dan PEMBAHASAN 1. Setiap kelompok matrilinial memiliki pemimpin masing-masing mulai dari tungganai (mamak. penghulu kaum atau penghulu suku yang biasanya bergelar datuk. Minangkabau).

tetapi tidaklah begitu prinsipil. Sekalipun kedua kelarasan tersebut berbeda. dengan sifat mambasuik dari bumi (bottom up) yang terkesan lebih demokratis. karena dalam sistem ketatanegaraan tradisional Minangkabau tersebutsemua keputusan ditetapkan secara musyawarah dan mufakat. Struktur massyarakat Minangkabau tersebut secara keseluruhan diatur oleh hukum adatnya yaitu pertama Adat Nan Sabana Adat (adat yang sebenar adat) yang terdiri dari: . Pendapat yang demikiandibantah oleh Heldred Geertz (Luth. mengemukakan empat ciri-ciri pokok sistem materilinial di Minangkabau. Interaksi sosial yang terjadi dalam masyarakat Minangkabau adalah sifatnya lebih akrab di dalam kekerabatannya yang jelas tampak dalam perekonomian. Sedangkan Nagari yang tidak dipengaruhi budaya Hindu melahirkan kelarasan Bodi Caniago. karena dikenal dengan adanya penghulu pucuk sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam Nagari yang dijabat secara turun menurun menurut garis keturunan (Pador. cilako basilang. disebut sebagai kerajaan konfederasimini. pola tempat tinggal bersifat duolokal dan otoritas berada di tangan mamak(penghulu). 1981).Silsilah keturunan menurut jalur garis ibu yang lazim disebut garis keturunan . 1990). kekerabatan dan pembentukan kelompok kerabat disusun berdasarkan garis keturunan ibu. Penetapan keputusan dalam sistem Koto Piliang yang demikian mendapat tanggapan dari beberapa penulis tentang Minangkabau bahwa Nagari dalam sistem pemerintahan adat Koto Piliangbertipe kerajaan (aristokrasi). Sedangkan dalam kelarasan Bodi Caniago berlaku azas tuah sakato. Penelitian Beckmann (2000). tetapi tidak substansial karena keduanya jugamengenal Kerapatan Nagari dan penghulu sebagai pemimpin sangat mereka segani. Dalam istilah Harun Al Rasyid. sebuah kelompok kekerabatanmerupakan sebuah koorporasi. 1996). Pusako seperti tanah merupakan salah satu sendi utama sistem matrilineal masih dimiliki dan diwariskan melalui garis ibu. hanya terletak pada permusyawaratan untuk menetapkan keputusan. pada akhirnya melahirkan kelarasan (pemerintahan) Koto Piliang. memimpin masyarakat dan memotivasi mereka untukmenemukan nuansa baru agar tercapai kemajuan masyarakat itu sendiri (Imawan. Pada kelarasan Koto Piliang menurut Dt. Sekalipun ada perbedaan antara kedua kelarasan tersebut. tetapi dikembali dimusyawarahkan pada level terbawah seperti pada kerapatan suku yang disebut dengan istilah diindang ditampi tareh (disaring). Mangkuto Marajo keputusan yang diambil bersifat titiak dari ateh (top down) dengan asas bajanjang naiak batanggo turun. Nagari yang dipengaruhi budayaHindu bersifat otokratis dan bercampur dengan sifat tradisional masyarakat yang telah ada. Artinya sekalipun keputusan itu telah ditetapkan oleh pucuk nagari bukan berarti langsung dapat dilaksanakan.1983). karena istilah demokratis dan otokratis itu dalam alam Minangkabau tidak tepat. karena mengutamakan kehidupan tolong menolong dalam kebersamaan yang diungkapkan bahwa adat hiduptolong menolong adat mati layat melayat adat ada beri memberi adat tidak pinjam meminjam kabarbaik dihimbaukan buruk berhamburan Nagari di bawah penghulu dalam perkembangannya juga dipengaruhi oleh budaya luar yangdatang ke Minangkabau seperti budaya Hindu dan budaya Islam. karena kehadirianpemimpin yang mendasari dirinya dengan rasa takut tidak akan sanggup memenuhi fungsinya untuksecara persuasif mengajak masyarakat bekerja. juga menyimpulan bahwa dalam masyarakat Minangkabau dewasaini tidak ada bukti kontinuitas sistem matrilineal akan diganti oleh sistem sosial yang lain. masyarakat Minangkabau. Kato (1977).

Perkawinan dengan pihak luar persekutuan (eksogami) dan suami bertempat tinggal di lingkungan istri (matrilokal. . karena Antara Pemerintah dan Anak Nagari Secara Adat Adalah Sama. Dengan demikian otoritas yang dimiliki oleh para penghulu dengan kelompok yang dikuasai tidak mempunyai jarak. raja lalim raja disanggah (raja adil raja disembah.Falsafah alam takambang jadi guru dijadikan landasan utama pendidikan alamiah dan rasionalserta menolak pendidikan mistik dan irrasional. Menurut Dobbin sebagaimana yang dikutip Manan (1995) struktur sosial yang menempati posisitertinggi di Minangkabau adalah penghulu. namun padahakekatnya mereka adalah sama). 2. selama tidak menyalahi landasan berfikir orang Minang atau kebiasaan-kebiasaan yang hanya berlaku pada suatuNagari. ditinggikan sarantiang. Keempat Adat Istiadat merupakan kelaziman masyarakat suatu Nagari yang tidak bertentangan dengan tiga adat di atas. Otoritas yang dimiliki orang Minang tidaklah mudah dilaksanakan dalam masyarakat. duduak samo randah tagak samo tinggi (seseorang dalam kedudukannya sebagai pemimpindalam masyarakat agak ditinggikan hanya satu ranting dan didahulukan hanya satu langkah. Dalam struktur sosial penghulu menempati posisi tertinggi di Minangkabau sebagai pemegangotoritas yang terdapat di tingkat suku hingga tingkat nagari. karena kepadapemimpin selalu diingatkan agar selalu berhati-hati sesuai dengan ungkapan tradisional yang berbunyi ingek-ingek nan di ateh kok nan di bawah ka maimpok. artinya sulit untuk diubah. Kedua Adat Nan Diadatkan (adat yang diadatkan) norma-norma yang mendasar sebagai warisan budaya yangdijadikan sebagai peraturan hidup bermasyarakat orang Minangkabau secara umum dan sama-sama berlaku dalam Luhak Nan Tigo. bocor nanti bisa datangdari lantai. Otoritas ini terdapat baik di tingkat suku maupun pada tingkat nagari (the penghulu was the personification of authority in the suku. galodo kok datang dari muaro(pemimpin yang di atas harus ingat-ingat masyarakat yang di bawah bisa menentang.Harta pusaka tinggi yang diperoleh secara turun menurun menjadi milik bersama tidak boleh diperjual-belikan kecuali dibenarkan oleh adat itu sendiri. Dari uraian di atas dapat dikatakan tingkatan pertama yakni Adat Nan Sabana Adat mempunyai dayalentur yang rendah.matrilinial. . Keempat bagian dari adat nan sabana adat tersebut dinamakan tonggak tua adat Minang. tirih kok datang dari lantai. raja zalim raja dibantah). sedangkan yang paling tinggi daya lenturnya adalah tingkatan adat yang keempat yaitu adat istiadat. Persepsi Aparatur Pemerintah dan Masyarakat Terhadap Pemerintahan Nagari Di Minangkabau dalam Kaitannya dengan Prospek Otonomi Daerah bahwa Otoritas Tradisional MinangkabauMenunjukkan Kepemimpinan yang Bersifat Demokratis dan Populis Dalam Pemerintahan Nagariyang Otonom. Ketiga Adat Nan Teradat adalah kebiasaan seseorang dalam kehidupan masyarakat yang boleh ditambah dan dikurangi ataupun ditinggalkan sama sekali. terban itu nanti bisa dari muara). Penghulu merupakan pucuk pimpinan yang dihormati masyarakatnya sesuai dengan pepatah yang berbunyi didahulukan salangkah. Sejalan dengan itu diiringi lagi dengan petuah lain bahwa raja adil raja disembah. Di sisi lain legitimasi adat terhadap kekuasaan penghulu adalah sangat penting dalam menunjuk seorang penguasa/ pemimpin. recognizeshigh rank in the Minangkabau social structure). and therefore in the Nagari. Dengan demikian penghulu sangat dekat dengan anak . .

Di lain pihak Tjokrowinoto (1996).” (Setiap pejabat pemerintah haruslahmembuka telinganya lebar-lebar untuk mendengarkan suara hati rakyat sesuai dengan kebutuhankebutuhannya itu). Penghulu yang memimpin suku atau penghulu pucuk menurut kelarasan Koto Piliang atau penghulu tua menurut kelarasan Bodi Caniago. yang dipandang sebagai republik mini yang otonom. 1990). akan tetapi ia tidak boleh menjadipenghulu pucuk. alim ulama dan cerdik pandai. Ketentuan-ketentuan seperti ini dalam pemerintahan lokal dijalankan oleh Pemerintahan Nagari.kemanakannya. Dalam Pemerintahan Nagari diMinangkabau. Hal itu pernah diungkapkan oleh Catheryn S.ataupun patron dirubah menjadi fasilitator yang berfungsi untuk menciptakan kondisi dan lingkunganyang dapat mengembangkan potensi desa. pemimpin di Minangkabau tidak terkristal sebagai mitos raja yang dipertuan dalam masyarakat. menyatakan bahwa pembangunan untuk mewujudkan desa yang mendiri menuntut perubahan total sikap birokrasi baik sebagai penguasa. kerajaan di Minangkabau belum memiliki birokrasi penuh seperti suatu negara (full-fledged bureaucracy). 1989). Pemimpin yang gagal diganti dan jabatannya terbatas serta pejabat adalah pelayan masyarakat. 1960. Menurut Lewis dalam Manan (1995) dalam sistem republik unit-unit politik ada secara kontinu dan anggotaanggotanya dipandang sebagai warga. tetapi juga mampu mencegah kemungkinan terjadinya penyalahgunaan kekuasaan. otoritas tersebut memperlihatkan kecenderungan menjauhkan diri dari pusat (centrifugal tendency) dan sifatnya yang terpencar. 1984). Penghulu ini menjadipemimpin terhadap warga suku yang telah membelah diri dari suku pertama. karena penghulu ada pada keluarga yang disebut mamak dan ada pada setiap suku. sebagai berikut: “Every public administrator must keep his ears open to hearthe voice of the people as they express their changing needs. Kemudian terbentuk dalam konfigurasi kepemimpinan yang disebut tungku tigo sajarangan yaitu penghulu. tokoh agama sebagai alim ulama dan tokoh ilmu lainnya yang dipandang sebagai tokoh cerdik pandai. Secara umum ada tiga tingkatan jabatan penghulu dalam masyarakat Minangkabau yang pertama yaitu penghulu suku. tetapi hanya dapat dikatakan sebagai cikal bakal dari birokrasi modern atau sebagaiincipient of modern legal bureaucracy authority (Manan. Juga dalam sistem republikbeberapa ketentuan tetap diikuti seperti pemilihan pemimpin dan tugas-tugas pemimpin dengan jelas ditentukan. Adrain (1995) menegaskan. maka kehidupan masyarakat juga semakin kompleks. Oleh sebab itu dalam otonomi dibutuhkan personil yang berkualitas untuk mampu melaksanakan pemerintahan lokal yang layak (Tordoff 1994). memecah (tribal) dalam beberapa Nagari (Naim. mengakibatkan dalam sejarah Minangkabau tidak terpusatnya kekuasaan. karenakerajaan di Minangkabau tidak berkembang sebagai negara kebangsaan (nation state) dalam arti modern ataudengan pengertian lain. Hudson yang dikutip Soenarko (2000). makaberubah pula pandangan masyarakat terhadap orang yang dipandang sebagai tokoh. Ketiga penghulu Indu yaitu penghulu yang menjadi pemimpin dari warga suku yang telahmembelah diri dari kaum sepayungnya. Pada masyarakat Minangkabau fenomena otoritas atau kekuasaan tersebut dapat terlihat dalam bentuk yang nyata pada sistem Pemerintahan Nagari (de Jong. Sehubungan dengan itu Rasyid (2000) mengatakan aparat pemerintah harus mampu berperan tidakhanya dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. penghulu payung. kaum dannagari. Kato. Kedua. Tokoh tersebut dipengaruhi oleh tiga unsur yaitu tokoh adat sebagai penghulu. Dengan kemajuan yang semakin pesat. dan dalam .

13/1983 tentang Nagari sebagai masyarakat hukum hukum adat yang pelaksanaannya dilakukan KAN dengan pertimbangan bahwa : a) Dengan dihapuskannya fungsi Nagari dalam pemerintahan Propinsi Sumatera Barat. Selanjutnya untuk menentukan kedudukan Nagari dikeluarkan Peraturan Daerah Propinsi Sumatera Barat tanggal 13 Agustus 1983 No.perkembangannya anak nagari terikat oleh tiga macam hukum yang disebut tali tigo sapilin yaitu hukum adat.5/1979 tentang PemerintahanDesa. Masyarakat Sumatera Barat tidak secara spontan menerima UU No. “Istana” dan “Negara” atau “Kerajaan”. Nagari itu sendiri berasal dari bahasa Sanskrit. Padahal Jorong hanya sebagai pembantu tugas administratif Nagari. Persepsi AparaturPemerintah dan Masyarakat Terhadap Pemerintahan Nagari Di Minangkabau Dalam Kaitannya dengan Prospek Otonomi Daerah Menunjukkan bahwa Pemerintahan Nagari Sebagai Pemerintahan yang Terendah di Minangkabau Adalah Eksis. artinya menurut adat para pemegang kekuasaan atau otoritas itu tidak bisa sewenang-wenang terhadap masyarakat Di Minangkabau selama Pemerintahan Belanda bentuk struktur desa yang dinamakan nagari dipimpinoleh seorang penghulu beserta dewan penghulu. Gubernur tanggal 28 Juli 1983 No. hukum Islam dan hukum supra/luar nagari. 5/1979) tetap diakui dalam beberapa peraturanperundang-undangan sebelum dan sesudah Indonesia merdeka.Diakui dan Tidak Terpengaruh Oleh Supra Nagari Selanjutnya dalam penelitian ini ditemukan bahwa eksistensi nagari atau “desa” (tanda petikuntuk membedakan desa baru berdasarkan UU No. sampai diberlakukannya UU No. Pemerintahan Nagari sifatnya adalah mandiri otonom. 7/1981 tentang Pembentukan. dalam bahasa Indonesia berarti “kota . Belanda dalam mengatur pemerintahannya hanya sampaipada tingkat kecamatan. . 5/1979 tersebut baru bisa ditetapkan tahun 1981 dengan Perda No. 5/1979. bukan karena masalah bantuanitu saja tetapi ada kekhawatiran masyarakat bahwa dengan bentuk pemerintahan yang tidak sesuai dengannilai-nilai masyarakat Minangkabau sendiri apakah tidak akan terjadi perpecahan dalam masyarakat. 3.Ibu Kota”.162/GSB/1983. tamatlah riwayat tentang Nagari sebagai suatu sistem pemerintahan di Sumatera Barat. 1994). Kemudian dengan SK. 5/1979. karuah manjaniahkan. Eksisnya Pemerintahan Nagari diakui secara juridis prinsipil yang tercantum pada peraturan HindiaBelanda seperti Regering-reglement (RR) Indische Gemente Ordonantie (IGO) untuk Jawa dan Madura dan Indische Gemente Ordonantie (IGO) untuk luar pulau Jawa dan Madura (Wignjosoebroto. karena dalam Pemerintahan Nagari semua masalah atau persengketaan yang dihadapimasyarakat dapat diselesaikan dalam kerapatan yang ada dalam masyarakat nagari kusuik manyalasaikan. Dengan demikian Pemerintahan Nagari tetap eksis selama masa PemerintahanBelanda. pemecahan. Nagari dan Pemerintahan Nagari beserta kepemimpinannya di Minangkabau merupakan pengayom bagi anak nagari (warga). sehingga di Minangkabau Nagari sering disebut “republikkecil”. Berbeda dengan “desa” yang juga bahasa Sanskrit menurut Geertz yang dikutip Manan (1995) berarti daerah pinggiran atau tempat yang diperintah oleh suatu kekuasaan di luar desa. Terlambatnya sikap masyarakat Minangkabau menerima UU No. penyatuan dan penghapusan desa dalam Propinsi Daerah Tingkat I Sumatera Barat. karena masyarakat Minangkabau menemukan kesulitan dalam menen-tukan pilihan apakah Nagariyang akan dijadikan desa atau Jorong. Penentuan sikap untuk melaksanakan UU No.

sosial budaya atau pertahanan keamanan. b) Nagari di daerah Sumatera Barat yang tumbuh dan berkembang sepanjang sejarah. 1989. bahkan peneliti-peneliti asing mengatakan bahwa nagari itu sebagai republik-republik kecil(Kato. 1992). Dari beberapa informan yang ditemui di lapangan memberikan persepsinya terhadap perubahan sistempemerintahan terendah dari Pemerintahan Nagari ke Pemerintahan Desa di Sumatera Barat. orientasi dan filosofisnya.sehingga pada prinsipnya Pemerintahan Nagari tersebut digambarkan sebagai suatu negara yang demokratis. Keadaan dualisme antara Pemerintahan Desa dengan KAN tetap berlanjut selama PemerintahanOrde Baru membawa banyak masalah dalam lingkungan Nagari di Sumatera Barat. Hubungan antara Nagari dengan Pemerintahan Desa adalah bersifat konsultatif. Artinya keputusanyang ditetapkan oleh KAN adalah sebagai pedoman bagi kepala desa dan sebaliknya bila dianggapperlu kepala desa/kelurahan dapat memberikan pendapat kepada KAN. 1994. Mencermati persepsi nara sumber yang menyatakan bahwa keadaan pemerintah yang demikianmemaksa para pemimpin nagari selalu mengikutsertakan anak nagari dalam proses pengambilan keputusan berasas musyawarah untuk mufakat dalam rangka menentukan alternatif terbaik guna pemecahan masalah-masalah yang timbul dalam Pemerintahan Nagari Pendekatan atau prosedur“dari bawah ke atas” atau bottom up approach seperti inilah yang menonjol dalam sistem pemerintahan”desa” yang otonom dan demokratis (Conyers. yang memiliki perhatian terhadappentingnya partisipasi atau melibatkan rakyat secara langsung dalam stiap kegiatan pemerintah. Oleh sebab itu Pemerintahan Nagari merupakan pemerintahan yang menganut asas desentralisasi. sehingga banyakmenimbulkan ekses yang luas terhadap sosio-kultural masyarakat Minangkabau. diantaranya adalah : a) Timbulnya disintergrasi dalam kehidupan masyarakat hukum seperti lemahnya hubungan kekerabatan antara anak dan kemenakan. telah memberikansumbangan yang sangat berharga terhadap kelangsungan kehidupan masya-rakat.maka perlu diatur kedudukan. Cambers. fungsi dan peranan Nagari sebagai kesatuan masyarakat hukum adat yang hidup dalam Propinsi Sumatera Barat. 1988). perjuangan kemerdekaan dan pembangunan di daerah Sumatera Barat tidak dapat diabaikan baik dalam bidang politik. b) Kurangnya dukungan masyarakat terhadap pelaksanaan pembangunan . karena antaraNagari dan Desa bukan hanya sekedar gambaran dikatomis melainkan sekaligus polaristir dari dua sistemdan dua kutub filosofis yang berbeda. dapat disimpulkanbahwa telah terjadi perubahan yang mendasar dalam struktur masyarakat Sumatera Barat. Hal ini mengakibatkan terjadidualisme pandangan dalam masyarakat. ekonomi. Disatu pihak masyarakat berhubungan dengan pemerintahan desa yang berkaitan dengan hal-hal yang bersifat formal dan dilain pihak juga berhubungan dengan lembaga Kerapatan Adat Nagari yang berkaitan dengan adat istiadat dan kebiasaan yang hidup dalam masyarakat Minang. atau antara suku yang sama dengan desa yang berlainan. Semua Perda yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah Sumatera Barat mulai dari pengaturan tentang struktur Pemerintahan Nagari sampai pengaturan tentang peradilan adat dan peradilan agama. sehingga bukan hanya perubahan nama tetapi juga perubahansistem. Soemardjan.

c) Lemahnya peran Ninik Mamak yang tergabung dalam lembaga tungku tigo sajarangan. Setidak-tidaknya pemerintahan desa telah mengandung dua penyakit. Untuk menegakkan kembali adat istiadat dan nilai-nilai tersebut para informan sependapat bahwa hidup bernagari peran serta lembaga informal tungku tigo sejarangan sangat menentukan. karena fungsi-fungsinya telah dijalankan oleh Kepala Desa beserta LMD/LKMD-nya. karena kesadaran yang demikian bisa dipandang sebagai nilai-nilaidemokrasi yang tumbuh dalam kehidupan bernagari di Sumatera Barat.partisipasi masyarakat cukup tinggi sehingga dikatakan sistem pemerintahan waktu itu adalah mambasuik dari bumi (bottom up). Hasil temuan penelitian yang lain mengatakan bahwa selama berdesa nilai-nilai. adat istiadat serta norma-norma ke-Minang-an sudah terasa menghilang dalam kehidupan masyarakat. Hal tersebut sesuai cita-cita demokrasi dan kebersamaan yang didamba oleh semua masyarakatdalam prospek otonomi daerah. seperti dalam pemberian penegasan hak atas tanah.Di Sumatera Barat yang dikembangkan dengan konsep Manunggal Sakato dalam pembangunan masyarakat desa. sebagai pendekatanpopulistik bahwa masyarakat desa pada dasarnya tertarik pada perubahan-perubahan dan mempunyai kemampuan untuk memperbaiki kondisi-kondisi hidup mereka. akan tetapi untuk mencapai cita-cita tersebut membutuhkan waktu. karena pendekatan-pendekatan masih tetap diperlukan. karena menurut Dusseldorp.karena terpecahnya kehidupanmasyarakat hukum adat. dan suburnya pola birokrasi yang menciptakan kecen-derungan pemerintahan negara dan pemerintahan oleh pemerintah. Northyang dikutip Marut (2000). dan persengketaan yang terjadi dalam masyarakat. yang intinya adalah kegiatan gotong royong menimbulkan keengganan masyarakat untukberpartisipasi. perceraian. Perpadukan antara manajemen model pemerintah dengan manajemen model lokal-tradisonal tersebut mengakibat pemerintahan harus bertindak sebagai fasilitator bagi pemanfaatan manajemen lokal-tradisional yang dicampur dengannuansa demokrasi dan membuka akses masyarakat lokal kepada masyarakat luas” (Wijaya.Keadaan seperti ini oleh Korten (1989) disebabkan masyarakat kurang memiliki wawasan baikyang bersifat nasional atau yang bersifat global. menyatakan bahwa institusi tersebut merupakan aturan main dari suatu masyarakat atau batasan- .(1986). Institusi tungku tigo sajarangan di sini tidak sama dengan lembaga yang memiliki konotasi organisasi. meskipun tidak dapat dikatakan sangat dibutuhkan. bila para tehnokrat dan politisi tidakmelakukan campur tangan. wawasan masyarakat selalu terbatas untuk mencapai pembangunan yang merata. Pemerintahan seperti itu dikatakan oleh Winarno (1991). Semua pendekatan-pendekatan di atas baik pendekatan populistik dan paternalistik maupunpendekatan top-down dalam masyarakat masih dibutuhkan. Padahal masalah iniadalah sangat urgen dalam Pemerin-tahan Nagari. oleh sebab itu tugas pemerintah adalah memberiakses ke luar dan pada saat yang sama membangun demokrasi bersama masyarakat desa. Oleh sebab ituperanan pemerintah nasional tetap diperlukan. 1999). Keikutsertaan masyarakat dan lembaga-lembaga tradisional dalam konsep desen-tralisasi danotonomi yang disebut sebagai “community management”. perkawinan. Pendekatan populistik dan paternalistik ini terlihat dengan jelas dalam sistem Pemerintahan Desa. Douglas C. sehingga sulit untuk menggerakkan partisipasi masyarakat. Persepsi masyarakat yang ditemui dalam penelitian ini menyatakan bahwa pada masa bernagari. yaitu terjadi dekulturisasi yang dapat menghilangkan identitas ke-Minang-an orang Minang dalam Nagari.

Untuk kembali kepada . Oleh sebab itu di kota sistem pemerintahan yang tertendah juga berbentuk nagari. Oleh sebabitu kembali kepada nagari yang perlu dipertanyakan apakah para penghulu saat ini masih seperti tempo dulu ? Para informan menjelaskan figur-figur yang akan menjadi Kepala Nagari mungkin tidak dari penghulu. hinggokmancakam. Di sinilah pentingnya hidup bernagari dengan Pemerintahan Nagaridi Minangkabau. karena di kota tetap berbentuk kelurahan (Keputusan Mendagri No. hanya saja mungkin syarat-syarat bernagari tidak terpenuhi seluruhnya. baik pada masa pemerintahan adat maupun padapemerintahan Nagari. tetapi saat ini belum muncul kepermukaan. Untuk mengatasi masalah tersebut sebenarnya telah diatur oleh hukum adat yaitu dengan prosesmalakok/menyandar (semisal naturalisasi) seperti kata petuah adat “tabang basitumpu. maka masyarakat Minangkabau tetap terpecah. sedangkan desa yang lama lebih dekat dengan kecamatan. Pemukimantersebut pada umumnya dihuni oleh orang Minang sendiri yang datang dari desa-desa. sehingga harus disesuai dengan keadaan yang berkembang.65/1999). akan mampu memelihara komitmen sosial budaya nagari dan juga mampu untukmemelihara kekayaan nagari dan di bidang keagamaan implementasi adat bersandi syara’. karena diangkat berdasarkan musyawarah dengankapasitas yang sesuai. 4. tokoh yang diharapkan pasti ada. maka mereka didudukkan sebagai pemimpin. Di sisi lain dari ketiga faktor di atas tersebut ada faktor lain yang tidak bisa dihindari dan harusdipertimbangkan untuk kelancaran Pemerintahan Nagari yaitu faktor adminstratif Nagari. tapi menurut saya bila digaji seperti Kepala Kelurahan sekarang atau bisa saja pegawai negeritapi harus dipilih langsung oleh masyarakat. Pemukiman tersebut pada hakekatnya telah memenuhi syarat sebagai suatuNagari. syara’ bersandi kitabullah menjadi nafas kehidupan yang inheren dengan seluruh bidang kehidupan di Nagari. Institusi sosial ini mengikat individu-individu dengan komunitas atau organisasi dan mengatur perilaku dan interaksi sosial di dalamnya. Di samping itu perkembangan penduduk yang semakin pesat dan tingginya mobililitas mengakibatkantumbuhnya pemukiman baru hampir pada setiap kota dan kabupaten di Sumatera Barat. Belum bisa ditentukan.tidak usah bernostalgia. Dengan sifat kharismatik”nya para penghulutersebut. Kemudian yang juga dapat perhatian dari para informan adalah mengenai sumberdaya manusia. yang sudah pasti memiliki suku masing-masing.”(terbang bersitumpu dan hinggap mencengram). Para penghulu pemangku adat sangat legitimate. karena Potensi-Potensi Nagari SebagaiHak Ulayat yang Mendukung Pemerintahan Nagari Tidak Jelas Posisinya Dalam Sistem Hukum Nasional Keadaan geogarafis Sumatera Barat harus menjadi perhatian untuk menghidupkan kembali pemerintahan nagari di sumatera barat karena ada diantara jorong-jorong/desadesa yang sangat jauh berurusan ke Kenagarian. Inilah kendalanya. DiMinangkabau Sumatera Barat para tokoh masyarakat adat yang disebut penghulu mampu menjadi panutan dan pengayom bagi anak kemenakannya. tetapimasalah itu bisa dilakukan secara berangsur-angsur. Dengan demikian antara yang datang denganyang menerima tidak ada masalah. Peluang dan Tantangan Untuk Menghidupkan Kembali Pemerintahan Nagari Di SumateraBarat Cukup Berat Dalam Prospek Otonomi Daerah.batasan yang diciptakan oleh manusia.

sedangkan Nagari di Minangkabau Sumatera Barat yang sangat minim dengan sumber daya alamnya. Jadi dengan Pemerintahan Nagari masalahbirokrasi tidak mempersulit masyarakat dan tidak berbelit. tetapi saat ini semua hak nagari telah dikuasai negara atauoleh sekelompok orang. Faktor ini merupakan faktor yang sangat penting dalam rangka menciptakan otonomi daerah. Persepsi aparatur pemerintah dan masyarakat menunjukkan bahwa Pemerintahan Nagari harus dikembalikan. 5/1979 bahkan jauh sebelum itu UU No. bagaimana negara bertindak dan berbuat atas sumber dayayang dimiliki adalah untuk kepen-tingan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. maka diperlukanpendekatan intensif. Demikian juga rejim Orde Baru memberikan kesempatan pada investoruntuk memanfaatkan sumber daya masyarakat.yang bernilai vital untuk menjamin kelestarian fisik dan nonfisik masyarakat. hak-hak ulayat masyarakat “desa” sudah dikuasai oleh negara.Pemerintahan Nagari masalah urusan administrasi baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun yang akan dilalui oleh masyarakat harusditujukan untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Tanpa faktor ekonomi ini masyarakat atau negara tidak akanmampu mencapai tujuan. menghalangi kompetisi danserta inefisiensi sumber daya. yang bisa dipandang sebagaisosial kapital dalam Pemerintahan Nagari yang disebut sebagai hakhak ulayat. Untuk membenahi masalah administarsi Pemerintahan Nagari memerlukan waktu. baik sebagai pribadimaupun sebagai anggota kelompok. mau tidak mau kitaharus menunggu “petunjuk” juga dari Kerapatan Adat Nagari dengan pemerintah kabupaten atau daripropinsi. serius dan motologis agar “penyelamatan kembali sosial kapital” nagari memberikan hasilmaksimal. 2000). Menurut Kantor (1997). Dibayangkan akan ada proses bertahap dan terpadu dalam merekayasa ulang ujud nagari yanglegitimasinya menyeluruh serta diakui oleh segenap anak nagari. Oleh sebab itu hambatan yang menghadang terciptanya Pemerintahan Nagari adalah banyaknyaperaturan perundang-undangan yang harus dihilangkan atau direvisi serta berusaha untuk membersihkan sisa-sisa isme pemerintahan desa. Hidup bernagari juga harus ditopang dengan institusi sosial yang mapan. sehingga masyarakat hukum adat sudah kehilangan jatidirinya. Berkaitan dengan masalah ini Wignjosoebroto (1998). Faktor ekonomi merupakan faktor yang sangat vital dalam kehidupan manusia. terjadinya hal yang demikian bagi negara-negara berkembang dipengaruhipolitik penguasa (regime politics). sekalipun sebelum berlakunya UU 5/1979 tentang Pemerintahan Desa. maka oleh sebab itu program revitalisasi harus bisa dilangsungkan. Hilangnya hak ulayat masyarakat hukum adat disebabkan konsep hukum dikuasai negara yangdiatur dalam UUD 1945 tidak jelas. tetapi sejak berlakunya UU No. sehingga sesuai dengan revitalisasi nagaridalam konteks ke-kini-an (St. Kemudian dari pada itu juga mengakui hak-hak masyarakat adat atas tanah dan segenap sumber daya alam yang ada di atas atau di dalam tanah tersebut. Majo Basa. karena dalam masyarakat . menyatakan pengakuan oleh negara atas hakulayat masyarakat adat pada hakekatnya adalah suatu refleksi kesetiaan para pengemban kekuasaannegara untuk mengakui eksistensi masyarakat adat yang otonom. Sisi lain dari dikuasai negara. 5/1960 tentang Undang-Undang Pokok Agraria. karena kekuasaan negara yang lebih besar dari kekuatan yang ada pada rakyat. sehingga melahirkan monopoli. hakulayat nagari masih dikuasai oleh Nagari.

. sehingga masyarakat desa tidak bisa menampilkanaspirasi dan prakarsanya. with an accent on autonomy.Minangkabau hak ulayat merupakan aset yang menandakan mereka adalahorang Minang. Kelompok pembaharu ini telah tercermin dalam Pemerintah Nagari di Minangkabau yaitu kelompok yang tergabung dalam lembaga tungku tigo sajarangan (penghulu. Dalam masyarakat ganda ini pemerintah berusaha memperpanjang kekuasaannya sampai ke tingkat desa dan bekerja sama dengan masyarakat desa.karena otonomi lokal menekankan nilai-nilai kebebasan. participation. karenamenurut Kjellberg (1995). jika dimanfaatkan oleh warga. hak masyarakat adat atassumber daya alam terkait pada hak adat atas suatu wilayah tertentu. sehingga rakyat memiliki sense of belonging. Jika memang negara mengakui hak masyarakat adat yang bersifat istimewa sesuai dengan asal usuldaerahnya. kelompok masyarakat pembaharu (modernizing societies). Hak-hak yang ada dalam masyarakat Minangkabau boleh saja dinikmati oleh semua orangdengan ketentuan adat bahwa kabau tagak kubangan tingga. andefficiency”). dijua indakdimakan bali. 1998). sehingga dominasi sosio kultural dan adat istiadat Minangkabau sangat berpengaruh terhadap struktur masyarakat dan Pemerintahan Adat yang terdiri dari Kelarasan Koto Piliang. digadai indak dimakan sando (hak ulayat dalam masyarakat Minangkabau tidak boleh dijual dan digadaikan. KESIMPULAN : 1 Di Sumatera Barat dengan struktur masyarakat Nagari yang berdasarkan adat istiadat Minangkabau yang memiliki sifat khas dan keistimewaan tersendiri berbeda dengan masyarakat Indonesia. luluak nan sado tabaok dek badan. alim ulama dan cerdik pandai). Pertama kelompok masyarakat ganda (dual societies) yaitu pada masyarakat tradisional yang pada dasarnya bersifatdari atas ke bawah. yang hidup bersuku. berkaum dan berkorong-kampung dengan pimpinan seorang penghulu dalam masyarakat nagari. pengakuannya tentu harus mengacu pada kedau-latan persekutuan hidup setempat atas sumber-sumber daya alam yang menjadi sumber kehidupan simbolisdan realis masyarakat adat yang bersangkutan (Zakaria. the refer to the traditional values of local self-government. Kekhasan dan keistimewaan struktur masyarakat Minangkabau tercermin dalam bentuk garis keturunannya yang materilinial yang bertingkat-tingkat. partisipasi. Dalam hal ini. maka yang dibawa hasilnya saja. Otonomi yang sedang diperjuangkan saat ini akan berhasil bila tercipta pemerintahan desa yangdemokratis dan populis. Dengan demikian kelompok masyarakat pembaharu ini merupakan jembatan untuk mendekatkan antara elit-elit tradisional dan tidaklangsung bekerja sama dengan masyarakat. melainkan bekerja sama dengan lembaga-lembaga setempat. sehingga diperlukan persepsi dan aspi-rasi serta partisipasi masyarakat desa dengan mengikutsertakan institusi-institusi tradisional dan lembaga-lembaga kemasyarakatan yang ada. Owen (1983). otonomi lokal juga mengacu kepada nilai-nilai tradisonal itu sendiri. demokratis dan efisiensi. (“Partly. Kelompok masya-rakat ini berusaha mengikutsertakan warga dalam program pemerintah. menyebutkan adadua kelompok negara berkembang yang memiliki tata hubungan pemerintah dengan rakyatnya. sedang hak tersebut tetaptinggal pada pemiliknya yaitu masyarakat sendiri). Kelarasan Bodi Caniago. Dalam arus reformasi yang melanda nasional saat ini mengakibatkan adanya masa transisi menuju kehidupan yang demokratis tidak menimbulkan ekses-ekses yang negatif. Kedua.

Danar Wijaya. Dusseldorp. 1999a. Kajian dari Perspektif Teori Governance. PT Gramedia. F. 22 Tahun1999. 1979. karena Pemerintahan Nagari lebih mencerminkan aspirasi masyarakat dan lebih eksis di dalam sosio kultural masyarakat Minangkabau. Ekonomi Politik Dalam Bisnis Indonesia Era Orde Baru dan di Tengah Krisi Moneter. Netherlands.2 Persepsi para informan menyatakan bahwa pemegang otoritas yang bersimbul penghulu berfungsi sebagai pemimpin yang membimbing dan membina anak nagari (warga) dalam Pemerintahan Nagari.Sungguh terasa aneh kalau negara tidak mengakui eksistensi masyarakat adat beserta hak-haknya.Conyers.W. Negara dan Pembangunan: Studi tentang Indnesia dan Korea Selatan. DAFTAR PUSTAKA Abdul Wahab. 3 Maret 1987. Oleh sebab itu Pemerintahan Nagari dapatmengantisipasi pelaksanaan otonomi daerah di Sumatera Barat. 1987. 1991. David. 1960. 1999b. 1988. Framework for Regional Planning in Developing Countries. D. PE de Josselin. PT. juga didukung oleh potensi-potensi nagari sebagai hak ulayat. Minangkabau and Negeri Sembilan Sosio Political Structure in Indonesia. Malang. van Staveren. Diterjemahkan oleh Tim Perwakilan KITLV Bersama Indira Simbolon. karena hak ulayat tersebut. terutama mengenai potensiyang berupa hak ulayat masyarakat adat. 1994. 22/1999. Padang Beckmann. Diterjemahkan oleh Susetiawan. The Sosiology ofModernization and Development.M. Tinjauan Historis. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar dalam Ilmu Kebijakan Publik pada Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya. _____. (2000) Properti dan Kesinambungan Sosial. De Jong. 3 Nagari dan Pemerintahan Nagari telah menunjukkan eksistensi sepanjang sejarah ketatanegaraan Indonesia dan telah mencerminkan ideologi yang dominan pada pemerintahantingkat desa dan tidak satupun ideologi yang secara radikal dapat menghapuskannya. Bharata. Jakarta. 4 Mewujudkan Pemerintahan Nagari dalam pelaksanaan otonomi daerah berdasarkan UU No. Malang. Unwim Hyman. karena ia dipilih langsung dari unsur masyarakat lingkungannya sendiri berdasarkan adat istiadat. and J. Arif. 1980. LP3ES. tetapi tantangan juga cukup berat. Ia seorang pemimpin yang legalis dan populis dalam Pemerintahan Nagari sebagai pemerintahan yang terendah yang otonom. Perencanaan Sosial di Dunia Ketiga Suatu Pengantar.B. Jakarta. “Birokrasi di Sumatera Barat. Jakarta. telah hadir dalam kenyataan sejarah. Gajah Mada Univercity Press.tidak jelas batas-batasnya. oleh sebab itu peluang untuk kembali kepada Pemerintahan Nagari cukup terbuka. Yayasan Padi dan Kapas.V. Diana. Prisma. International Institute for Land Reclamation and Improvement. Oleh sebab itu para informan dalam penelitian ini mendukung kembalinya PemerintahanNagari sebagai pemerintahan yang terendah di Sumatera Barat. Reformasi Pelayan Publik. Benny. Ismid (ed). London. Budiman. Adrain.M.Danar Wijaya Brawijaya University Press. . Yogyakarta.B. _____. Harrison. Transisi dari Tradisional ke Modern (SuatuTinjauan Sosiologi Politik)”. Universitas Andalas. Hadad. Kebudayaan Politik dan Keadilan Sosial.karena masyarakat hukum adat itu jauh sebelum negara itu ada. Skripsi. Solichin. sehingga Pemerintahan Nagari lebih mampu untuk mengantisipasi pelaksanaan otonomi daerah berdasarkan UU No. “Kebudayaan Kekuasaan atau Sosiologis Kekuasaan”. di samping didukung aspirasi dan partisipasi aparatur pemerintah. Jakarta. 1995.

Birokrasi dan Pembangunan. Korten. Mazzia. David C. Birokrasi Modern dan Otoritas Tradisional di Minangkabau. Genta Budaya. Manan. Jakarta. Jakarta. Cornell University. Gramedia. Pembangunan Ditinjau Kembali. Jakarta. “Nagari versus Desa. Analisis Data Penelitian Kuali-tatif. Sarwono. Bulletin Desentralisasi No. Jakarta. Rohendi Rohidi. O. Thailand dan Pakistan. Kingsley. Miles. 1983. “Otonomi Daerah yang Berorientasi Kepada Kepentingan Rakyat”.. 1995. II 2000. Marut. Edgar dan Robert Shaw. 1984. 1981. Desa dan Pembangunan di Sumatera Barat. 1992. Politik. Pustaka Pelajar. Depdagri. Urbana Champaign. Paul and H. A Ford Foundation Reprint From Public Administration. Antara Keinginan dan KebudayaanMasyarakat”. Makalah disajikan dalam Seminar Nasional Tentang Otonomi Daerah. Yayasan Pengkajian Kebudayaan Minangkabau. Terjemah T. 62 No. Padang. . Laporan Penelitian. Studi Tentang Interaksi Politik dan Kehidupan Ketatanegaraan. Demokrasi dan Konstitusi di Indonesia. Vol 32 No. 1997. Wan. 1992. Yogyakarta. Balai Pustaka. Nugroho. 1992. Mas’oed. July 1995. New York. 348-377. Mahfud MD. Martins Press. (1988) Community Organization and Rural Development a Learning Process Approach. 1977 Social Change in A Centrifugal Society: The Minangkabau of West Sumatera. G. Michael Huberman. 1998. 1990. 1984. Moh. 1999. “Otonomi dan Pemerintahan Daerah: Tinjauan Teoritik”. 14 Edisi Mai-Juni 1998. 1998. “Mencari Arah Baru Undang-Undang Pemerintahan Daerah”. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung. _____. Riswandha. Kusumaatmadja. Dalam R. Jakarta. The Political Economy of Urban Regimes. Pemerintahan Lokal dan Otonomi Daerah di Indonesia. 3 January 1997. Kris. Donatus K. The Chies of The Materilinial Lineage of The Minangkabau of West Sumtera”. American Academy. Desa. Terjemahan Bineka Cipta. IKIP Padang. “Telaah Peran Negara.Disertasi Ph D. Bhenyamin. Th. Kartohadikoesoemo. 1994. Imran. Koswara. Edisi 5. Gadjah Mada University Press. SitiZuhro (ed). Journal of the American Planning Association. 1996.V. Kuala Lumpur. Public Management & Administration. A Comparative Perspective. Kjellberg. Luth. Asosiasi Ilmu Politik Indonesia 6 – 8 Agustus 1992 Owens. Tsuyoshi. Savitch. Dewan Bahasa dan Pustaka. “Perspective on Devolution”. “The Changing Values of Local Government” Dalam ANNALS. 1995. Jurnal Ilmu Politik No. Desertasi.Hoessein. Naim. Imawan. Inc. Rineka Cipta. 4 Autumn. E. Tarsito.40-50. Jakarta. Sebuah Kerancuan Struktural” dalam Edi Utama (ed). “Penguatan Institusi Lokal Dalam Rangka Otonomi Daerah”. Terjemahan Azizah Kasim. Nasution. Sistem Sosial Minangkabau. AAPSS. Partisipasi dan Demokratisasi”. Francesco. Malang. Kato. Thomas. Jakarta. Padang. Urban Affairs Review.E. Terjemahan A. Mohtar. 2000. Mimeo.. Vol. 1997. Mochtar. 2000. Nagari.1996. University of Illonois. WACANA. p. “A Traditional Elite Continuity and Change. _____. “Rekrutmen Kepemimpinan di Daerah.S. UNIBRAW. 1989. Jakarta. St. 540. Mathew dan A. PPW-LIPI. UI Press. 7. Yogyakarta. Hughes. Soetardjo. Kantor. Nasab Ibu dan Merantau.

2000.AAPSS. PPW-LIPI. July 1995. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Gramedia Pustaka Utama. Malang. p. Dilema dan Tantangan. Soerjono & Solemen T. Zenwen. Thailand dan Pakistan. Rajawali. Pelopor No. Samego. Jakarta. MIPI. Usulan Revisi Undang-undang PokokAgraria: Menuju Penegakan Hak-hak Rakyat Atas Sumbersumber Agraria. Siti Zuhro (ed). Jurnal Ilmu Pemerintahan.Pador. R. Siti (ed). Pustaka Pelajar. 1996. 1995. R. 2000. Jakarta. 2000. Dinamika Sosial Politik dan Perkembangan Hukum di Indonesia. “Otonomi Desa: Apakah Itu?”. Moeljarto.). “Otonomi dan Pemerintahan Daerah Di Indonesia”. Jurnal Masyarakat Adat. Reformasi Tata Pemerintahan Desa Menuju Demokrasi. Santoso. (eds.11-23. “Pemberdayaan Ekonomi Umat Melalui Revitalisasi Nagari. 1988. Jakarta. 1992. Yogyakarta. Loekman. P. 1998. Grassroots Organization and NGOs in Rural Development With Dinishing State and Expanding Markets. Ryaas. Dalam Soetandyo Wignjosoebroto. Nomor 01. Dari Hukum Koloni ke Hukum Nasional. Raja-grafindo. Kerjasama antara YAPIKA dan Pustaka Pelajar.1993. Majo Basa. Toune. Cornell University. Jakarta Sutopo. Yando. Soetandyo. Pemerintahan Lokal dan Otonomi Daerah di Indonesia. Dulu. Jakarta. Dalam R. Undang-Undang No. “Local Government and Democratic Political Development” dalam ANNALS. 555-580. Hukum Adat Indonesia. (ed). Grafindo Persada. HB. Wijaya. Penelitian Kualitatif. PT. Juli 1998. Jakarta. Makalah. Soemardjan. Tordoff. (2000) “Kebijakan Penyiapan Sumber Daya Aparatur yang Profesional dalam PelaksanaanOtonomi Daerah”. Jakarta. “Decentralisation: Comparative Experience in Commonwealth of Africa” dalam Journal of Modern African Studies. Indria.1998. Zukri Saad. 3/1994. Prespektif Kultural dan struktural. 1990._____. Cambridge University Press. “KAN. . Soesilo. 1994. 540. 116. 1998. Jakarta. Prisma No. Mimeo. Tjokrowinoto. Surabaya: Airlangga University Press. (1998) “Kebijakan Negara untuk Mengakui atau Tidak Mengakui Eksistensi Masyarakat Adat BerikutHak-hak Atas Tanahnya”. Bandung. Henry. Wignjosoebroto. Sinar Grafika. Jakarta. 1994. Disampaikan pada seminar Nasional ICMI Sumatera Barat 22-23 Januari 2000. Priyo Budi. Thailand dan Pakistan. PPW-LIPI. Rasyid. St. American Academy. “ Kemajemukan Masyarakat Bangsa Indonesia dan Penegakkan Hak-hakMasyarakat Adat”. 1994. 1988. Norman. Zauhar. Pemerintahan Lokal dan Otonomi Daerah di Indonesia. 1994. Puslit UNS. Desentralisasi dan Otonomi Daerah dan Pembangunan Nasional. Kini dan Esok”. KPA. Birokrasi Pemerintah Orde Baru. 1983. Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial 2 hal. Surakarta. Selo. Jakarta. Pembangunan. Langkah Strategis Reaktualisasi Adat Basandui Syara’ Syara’ Basandi Kitabullah”. Soenarko SD. Ghalia Indonesia. Negara dan Peranannya dalam Menentukan Pembangunan Desa yang Mandiridalam. Zuhro. William. Jakarta. Public Policy: Pengertian Pokok untuk Memahami dan Analisa Kebijaksanaan Pemerintah. Zakaria. Soekanto. Uphoff. 1 Tahun XVII Januari 1988. Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945. Singgalang 18 Nopember 1990.Soetrisno.

kendati undang-undang yang berlaku. iv) honest. Kini. and v) solution. ii) objective. eventhough a legal relationship between Village Government and Village Representative Council has been arranged in the Law No. iii) rational. ii) sub-ordinant relationship.Komentar : 1 Komentar » Kategori : Jurnal KEMITRAAN PEMERINTAH DESA DENGAN BADAN PERWAKILAN DESA DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DESA 22 03 2008 KEMITRAAN PEMERINTAH DESA DENGAN BADAN PERWAKILAN DESA DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DESA Sumartono Staf Pengajar Jurusan Administrasi Negara/Publik FIA Universitas Brawijaya. 32/2004 about Local Governance. Village Government. Dalam dengan peraturan perundang-perundangan pengertian bahwa. partnership relationship. Penulis menjabat sebagai Pembantu Dekan I FIA Unibraw Abstrak In a decentralization system. teamwork. Bentuk negara . Keywords: Local Autonomy. pemerintah pusat yang disebar ke seluruh Melalui UU. togetherness in problem indentification and solving.No. Dalam penyelenggaraan urusan-mengakomodasi gagasan demokratisasi. dan Doktor dalam Bidang Ilmu-Ilmu Sosial di Universitas Airlangga. Dalam sistem desentralisasi Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah selama wilayah negara dibagi menjadi daerahdaerah 32 tahun masa pemerintahan Orde Baru otonom yang diberi wewenang tertentu untuk lebih mengarah pada pola desentralisasi mengurus rumah tangganya sendiri sesuai administratif (dekonsentrasi). Sebagian urusan pusat tersebut dimaksudkan untuk mengatur diserahkan kepada daerah otonom untuk tentang pemerintahan di daerah namun pada menjadi urusannya sendiri. Village (‘Desa’) is one of decentralization areas. Good partnership should be kept continuely. state location is devided into several autonomus areas having authorithy to manage their local home affairs based on the local autonomy law. urusan pemerintahan di suatu negara dapat karena desentralisasi memungkinkan dilakukan melalui sistem sentralisasi maupun partisipasi berbagai elemen masyarakat di desentralisasi. and iii) partnership relationship.5 tahun 1974 tentang wilayah negara. (b) openess on critics with five requirements: i) proportional. Penulis memperoleh gelar Sarjana Administrasi Negara di Universitas Brawijaya. trust. A partnership relationhip among village actors is a crucial element to succed village governance activities. There are three models of organisational relationships: i) dominant relationship. Dalam sistem sentralisasi tiap daerah di dalam urusan-urusan segala urusan dilakukan langsung oleh kenegaraan. respect. Magister dalam Bidang Administrasi Negara di Universitas Gadjah Mada. The partnership relationship between Village Government (‘Pemerintah Desa’) and Village Representative Council (‘Badan Perwakilan Desa’) include characteristics: (a) support.

1998) Menghadapi situasi semacam itulah diperlukan keputusan politik baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah yang secara serius dan konsisten mereformasi model peng. Di sini pemerintah daerah memainkan peran yang “sangat subordinatif” terhadap pemerintah pusat. dekonsentrasi. desentralisasi. perolehan pendapatan daerah maupun kombinasi diantara keduanya. secara politik berada pada posisi tidak berdaya (powerless). Ketiga. namun kenyataannya dilakukan oleh instansi-instansi pemerintah pusat.22 tahun 1999. perdagangan. Posisi tawar daerah amat lemah. Pemerintah menanggung semua beban biaya dari seluruh urusan yang telah didelegasikan tersebut. Salah satu produk reformasi yang penting adalah dengan dikeluarkannya UndangUndang No. yang secara mendasar bermaksud untuk mendesentralisasikan sistem pemerintahan nasional yang berbasis pada sistem pemerintahan yang demokratis dan otonom. Esensi asas ini tak lain adalah bahwa perumusan kebijakan. dan pembantuan (medebewind). di mana sebagian besar urusan pemerintah dijalankan oleh mesin-mesin birokrasi pemerintah pusat sendiri. Terkecuali politik luar negeri. Ia menggambarkan sosok pemerintah daerah yang lemah dalam arti tidak memiliki hak-hak politik dan yuridis yang cukup untuk mengambil keputusan atas nasib daerah sendiri. Dalam Undang-undang No 5 Tahun 1974 tersebut pola distribusi otoritas kekuasaan dapat diibaratkan sebagai piramida terbalik yang cenderung membesar ke atas. Interaksi pusat-daerah sangat bersifat struktural. sesuai selera dan preferensi pemerintah pusat. Dalam menjalankan politik pemerintahanya. Kedua. sosial. maka lebih tepat disebut sebagai “otonomi semu”. kebijakan dalam negeri.organisasian perangkat daerah dalam hal pelayanan publik. Model pemerintahan yang berlaku. karena hak politik dan yuridis dalam proses pengambilan keputusan. misalnya politik luar negeri. peradilan. birokrasi yang kental. serta aktivitas strategis lainnya.hakekatnya lebih menggambarkan politik semacam ini nampaknya lebih cocok dengan desentralisasi yang berpihak pada perkembangan politik global sekarang yang kepentingan pemerintah pusat di daerah. di samping juga adanya situasi kemakmuran yang tercipta adalah kemakmuran semu. Asas desentralisasi yang dikembangkan ternyata sama sekali tidak mengandung aspek devolutif. perencanaan dan pembiayaan merupakan hak pemerintah pusat. sedangkan daerah sekedar sebagai pelaksana saja. dan wataknya yang intervensionis ternyata tidak mampu mengadaptasikan dirinya dengan lingkungan ekonomi. Pertama. termasuk yang berhubungan dengan masalah pembiayaan (anggaran) seluruhnya ditentukan oleh pemerintah pusat. asas pembantuan yang pada dasarnya merupakan kombinasi dari asas desentralisasi dan asas dekonsentrasi. asas dekonsentrasi. Akibatnya Daerah Tingkat II yang dalam realita paling dekat dengan rakyat. dan kultural yang sedang mengalami perubahan yang cepat ( Kasanzigil. Wujud konkritnya adalah pemberian porsi otoritas yang lebih besar kepada . hirarkisvertikal. pemerintah Orde Baru mengembangkan tiga asas yaitu. hampir semua aktivitas yang terkait dengan berbagai macam urusan pemerintahan itu sebenarnya berlangsung di daerah. Selanjutnya Daerah Tingkat I memperoleh kekuasaan lebih besar ketimbang Daerah Tingkat II. Dengan bersandar pada asas ini pemerintah pusat “mendelegasikan” sepenuhnya urusan tertentu pada daerah. ketimbang Daerah Tingkat I. Konkritnya. Akibat dominasi negara dan pemerintah pusat yang begitu kuat maka situasi perkembangan dan pertumbuhan negara tidak mendapatkan basis pijakan yang kuat dari struktur sosial dan kulturalnya. pusat selalu memperoleh porsi kekuasaan yang lebih besar. dengan ciri khasnya antara lain: struktur yang vertikal.

sudah saatnya dilakukan evaluasi penataan lembaga perangkat daerah dalam rangka otonomi daerah sehingga sesuai dengan jiwa UU No 22 tahun 1999 atau jiwa otonomi daerah. di mana ketergantungan pada pusat berkisar antara 79%-83%. prosedural dan keteraturan daripada efektivitas dan efisiensi. Pemerintahan Desa Dalam pemerintahan kabupaten/kota dibentuk Pemerintahan Desa dan Badan . berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Indonesia. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 telah diganti dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. yang di dalamnya mengatur juga tentang desa. dan atas prakarsa sendiri. yang menitik beratkan pada bagaimana kekuasaan dan kewenangan didistribusikan dan proses dimana penyebaran kekuasaan dan kewenangan itu terjadi. maka membuka peluang bagi para para pelakunya khususnya di daerah untuk berbuat atau melaksanakan tugas-tugasnya yang cenderung bersifat birokratis. otoritas regional atau fungsional dalam wilayah yang luas atau lembaga privat non pemerintah dan organisasi nirlaba (Rondinelli. otoritas atau korporasi publik semi otonom. Bahkan dianggap sebagai paradigma baru yang dikaitkan dengan kegagalan pemerintah pusat dalam melaksanakan pemba-ngunan bangsa ini. Dari sisi lain. Dinas-dinas dan Badan-badan Daerah terbuka peluang terjadinya tumpang-tindih antara lembaga/ institusi daerah yang telah dibentuk. unit yang berada dibawahnya. 22 tahun 1999. maka isu desentralisasi sangat santer. Kondisi ini tentu akan sangat berpengaruh terhadap kemandirian aparat yang ada di daerah serta keluwesan dalam hal pelayanan terhadap masyarakatnya. Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat. 2001). manajemen dan alokasi sumber-sumber dari pemerintah pusat. Di samping itu menyangkut kesiapan human social capital daerah untuk menerima tanggung jawab sebagai daerah yang memiliki otonomi relatif luas sebagaimana diatur dalam UU No. Dalam arti sempit desentralisasi menurut Smith (1997) mengacu pada distribusi wilayah kekuasaan. karena perimbangan keuangan Pusat dan Daerah belum proporsional. Dalam arti luas desentralisasi adalah transfer tanggungjawab dalam perencanaan.daerah. Setelah berjalan selama enam bulan terhitung sejak pembentukannya. Keseluruhan kondisi tersebut akhirnya akan berpengaruh terhadap efektivitas dan efisiensi penyelenggaraan pemerintahan daerah. seperti yang tercermin pada pola kerja yang masih menekankan pada rutinitas. yang mengatur juga tentang desa. karena dipacu oleh waktu dan keharusan untuk mengakomodasikan organisasi-organisasi representrasi pemerintah pusat yang berujud Kantor Departemen (Kandep) termasuk personilnya maka dalam penataan kelembagaan perangkat daerah dalam bentuk Kantor-kantor. Semenjak dikeluarkannya Undang Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Dalam konteks otonomi daerah itulah maka beberapa pemerintah daerah mencoba mencari terobosan seraya beracu pada ketentuan yang baru. Hal ini sangat berdampak pada perbaikan kondisi keuangan (PADS) yang hampir seluruh daerah khususnya Daerah Kabupaten /Kota masih sangat rendah. Konsep desentralisasi dibedakan menjadi dua yaitu desentralisasi dalam arti luas dan dalam arti sempit. Dengan kondisi yang demikian ini. Begitu pula jika dikaitkan dengan peraturan yang mengatur tentang perimbangan keuangan daerah dengan pusat. sampai saat ini masih belum bisa dilaksanakan dengan tegas dan jelas.

Kepala Desa. huhungan subordinasi artinya dalam melaksanakan hubungan tersebut pihak kedua menguasai pihak pertama. unsur pelasana yang terdiri dari Kepala Seksi Pemerintahan.501 sampai dengan 3. unsur wilayah yang terdiri dari Kepala-kepala Dusun (Perda Kabupaten Mojokerto Nomor. Jumlah penduduk desa lebih dari 3. unsur pelaksana dan unsur wilayah. Kepala Seksi Kesejahteraan Sosial & Kemasyarakatan. Susunan organisasi pemerintah desa berdasarkan pola minimal terdiri dari: a. b. unsur staf yang terdiri dari: Sekretaris Desa.500 jiwa. unsur staf yang terdiri dari: Sekretaris Desa dan dibantu oleh Kepala Urusan yaitu kepala Urusan Umum.Permusyawaratan Desa.000 jiwa. d. Perangkat Desa terdiri dari Sekretaris Desa dan Perangkat Desa lainnya Berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 pada dasarnya susunan organisasi pemerintah desa terdiri dari kepala desa dan perangkat desa. anggaran pendapatan dan belanja desa dan keputusan kepala desa. b. d.000 jiwa. Badan Perwakilan Desa adalah lembaga legislasi dan pengawasan dalam hal pelaksanaan peraturan desa. Pemerintah Desa terdiri atas Kepala Desa dan Perangkat Desa. Kepala Urusan Pemerintahan dan Pembangunan. e. Kepala Seksi Pemba-ngunan. unsur wilayah dan sekaligus sebagai unsur pelaksana yang terdiri dari Kepala-kepala Dusun. c. jumlah anggota BPD sebanyak 11 (sebelas) orang. Ada beberapa jenis hubungan antara Pemerintah Desa dan Badan Perwakilan Desa. Kepala Urusan Keuangan dan Kepala Urusan Urusan Umum. c. Jumlah penduduk desa antara 2. Jumlah penduduk desa sampai dengan 1. hubungan kemitraan artinya pihak pertama dan kedua selevel dimana mereka bertumpu pada kepercayaan. jumlah anggota BPD sebanyak 7 (tujuh) orang.001 sampai dengan 2. 11 tahun 2000) Pemerintahan Desa adalah kegiatan penyelenggaraan pemerintahan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Desa dan Badan Perwakilan Desa. Memang dalam aturannya Pemerintah Desa dengan BPD merupakan mitra tetapi dalam kenyataannya sering terjadi praktek yang berbeda. jumlah anggota BPD sebanyak 5 (lima) orang. atau pihak kedua dengan sengaja menempatkan diri tunduk pada kemauan pihak pertama. Susunan organisasi pemerintah desa berdasarkan pola maksimal terdiri dari: a. BPD sebagai badan perwakilan merupakan wahana untuk melaksanakan demokrasi berdasarkan Pancasila.500 jiwa. serta Kepala Urusan Kesejahteraan Sosial dan Kemasyarakatan. Jumlah penduduk desa antara 2. sedangkan unsur pelaksana terdiri dari Kepala-kepala Seksi dan unsur wilayah terdiri dari Kepala-kepala Dusun. b.000 jiwa. Perangkat desa terdiri dari unsur staf. Kedua. jumlah anggota BPD sebanyak 13 (tiga belas) orang. jumlah anggota BPD sebanyak 9 (sembilan) orang. Dan Ketiga. Jumlah penduduk desa antara 1. Pertama. Beberapa isu yang terjadi dalam hubungan antara Pemerintah Desa (Kepala Desa) dengan . BPD berkedudukan sejajar dan menjadi mitra pemerintah desa. Kepala Desa. Unsur staf terdiri dari Sekretaris Desa dan Kepalakepala Urusan. Jumlah anggota BPD ditentukan berdasarkan jumlah penduduk desa yang bersangkutan dengan ketentuan sebagai berikut: a. kerjasama dan saling menghargai. c. hubungan dominasi artinya dalam melaksanakan hubungan tersebut pihak pertama menguasai pihak kedua. Susunan organisasi pemerintah desa ada 2 (dua) pola yaitu pola minimal dan pola maksimal.501 sampai dengan 2.

Anggota BPD sering belum bisa memilah antara fungsi pemerintahan desa dengan pemerintah desa e. hubungan kemitraan artinya pihak pertama dan kedua selevel dimana mereka . yang cenderung saling mencurigai c. ingin menutupi kelemahan-kelemahan yang ada dalam UU. (1) dalam pelantikannya BPD dibekali oleh DPRD. Berdasarkan Undang Undang Nomor 32 Tahun 2004 maka BPD diganti dengan Badan Permusyawaratan Desa adalah wakil dari penduduk desa bersangkutan yang ditetapkan dengan cara musyawarah dan mufakat. Dalam hubungan kerja organisa. No. Menurut pendapat Yukl (1991) ada beberapa model hubungan organisasional. yang dibicarakan orang adalah tentang karyawan yang “berdaya”. Teori Kemitraan Secara teoritis. atau pihak kedua dengan sengaja menempatkan diri tunduk pada kemauan pihak pertama.” Dewasa ini. Adanya arogansi BPD yang merasa kedudukannya lebih tinggi daripada Kepala Desa karena Kepala Desa bertanggung jawab kepada BPD b. Eisler dan Montuori (1997) membuat pernyataan yang menarik yang berbunyi bahwa “memulai dengan mengakui dan memahami kemitraan pada diri sendiri dan orang lain. karyawan yang berpengetahuan yang menambah nilai dengan menjadi agen perubahan. Kepala Desa dan perangkatnya merupakan satu-satunya aktor penyelenggara pemerintahan desa. Kemitraan dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Desa 1.5 tahun 1979. yaitu kepala desa dengan perangkatnya dan badan perwakilan desa. Kedua.sional.garaan pemerintahan desa. yang proaktif.BPD menurut hasil penelitian Tim Balitbang Propinsi Jawa Timur (2001) adalah: a. Kehadiran BPD dianggap sebagai penyeimbang dan mitra kerja. gaya-gaya seperti perintah dan kontrol kurang dipercaya. Pada masa berlakunya Undang Undang Nomor 5 Tahun 1979 yang lalu. Kinerja perangkat desa menjadi tidak efektif karena banyak mantan calon Kepala Desa yang tidak jadi Kepala Desa menjadi anggota BPD dan cenderung mencaricari kesalahan perangkat desa bahkan ada kesan pula mereka berusaha untuk menjatuhkan Kepala Desa g. hubungan dominasi artinya dalam melaksanakan hubungan tersebut pihak pertama menguasai pihak kedua. Dan ketiga. huhungan subordinasi artinya dalam melaksanakan hubungan tersebut pihak kedua menguasai pihak pertama. misalnya BPD tidak mau berurusan dengan camat. (3) terjadi kontradiksi perilaku kerja BPD. dan menemukan alternatif yang kreatif bagi pemikiran dan perilaku dominator merupakan langkah pertama ke arah membangun sebuah organisasi kemitraan. Badan Permusyawaratan Desa ini diharapkan bisa mengurangi kelemahan penyeleng. (2) BPD melakukan hubungan langsung dengan DPRD. yaitu: Pertama. Dalam kaitannya dengan desa Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999. Kondisi sumberdaya manusia BPD yang masih belum memadai f. Sering terjadi mis-persepsi sehingga BPD sebagai unsure legislative desa tetapi melakukan tugas dan fungsi eksekutif kepala desa d. Pada saat itu banyak mengandung kelemahan karena program-program pembangunan seringkali berasal dari atas dan pengawasan terhadap kepemimpinannya sangatlah lemah. Dualisme kepemimpinan desa. Di dunia baru ini.

orang menyampaikan pertanyaan bagaimana kita dapat bekerja yang terbaik untuk memecahkan masalah secara bersama-sama? d. c. kerja tim mencerminkan pergeseran dari karyawankaryawan yang diisolasi yang hanya dihubungkan dengan ban berjalan. Gender Balance (Keseimbangan gender) Di dalam sistem kemitraan. dari peran “polisi” ke arah peranan fasilitator dan memberi dukungan. Team work (Kerja Tim) Kerja tim sangat dianjurkan. dengan ciri-cirinya antara lain (a) persamaan dan organisasi yang lebih landai. keberagaman merupakan ancaman terhadap tata tertib. Itu adalah kontributor satu-satunya yang paling penting terhadap bayangan yang luas tak terkatakan yang membayangi semua organisasi (politik kantor). a. Memang perlu mengubah struktur birokrasi yang kaku menjadi lebih luwes. untuk berbagi perspektif baru. Diversity (keberagaman) Dari sudut pandang dominator. kerjasama dan saling menghargai. Sistem kemitraan bertumpu pada kepercayaan. individu-individu tidak terkunci ke dalam peranan-peranan gender yang stereotip dan . e. Masuknya pendekatan ini di dalam manajemen mendorong kreativitas yang lebih besar.bertumpu pada kepercayaan. Bekerja dalam tim memerlukan perhatian besar terhadap sifat dan kualitas hubungan maupun orientasi yang berfokus pada tugas. Di dalam sistem kemitraan. ke tim kerja yang saling berhubungan yang berkerja pada tugas-tugas tertentu. (d) tingkat kekacauan yang rendah yang terbentuk dalam sistem.organisasi yang lebih landai. inovatif dan bertumpu pada inisiatif individu . Masa sekarang model komando dan kontrol ini selain tidak sesuai lagi juga makin menjadi tidak berlaku. menciptakan hubungan dengan ide-ide baru. Kekakuan birokrasi bersifat mematikan organisasi yang berkehendak mengarahkan secara efektif di lingkungan yang cepat berubah dimana inovasi dan fleksibilitas merupakan faktorfaktor kunci. Namun perlu dihindari adanya pemikiran bahwa seolah-olah hirarki harus dihapus dalam organisasi. orientasi terhadap power to atau actualisation power dan power with mendorong ke arah sikap yang sangat berbeda. b. (c) spiritualitas yang berbasis alamiah. Sebaliknya. dan memberi kemungkinan bagi bersemainya antar generasi. Perubahan dalam peranan manajer. (b) hirarki aktualisasi yang luwes (dimana kekuasaan dipedomani oleh nilai-nilai seperti caring dan caretaking). Power over dirancang baik untuk jalur keluar seseorang bekerja pada hirarki dominasi maupun menjaga diri dari pesaing. Dari Power over menjadi Power to/with Terjadi pergeseran dari dominasi ke kreativitas bersama. dari perspektif kemitraan. terdapat pandangan sinergis dan holistic tentang identitas. tanggung jawab dan wewenang. Ada beberapa model kemitraan dalam organisasi dan resistensi yang menghambatnya. Jadi yang penting adalah mengubah bentuk hirarki dominasi ke arah hirarki aktualisasi yang mendukung terbukanya potensi yang lebih besar. Organisasi hirarki yang lebih landai dan kurang kaku. Di samping itu ia mendorong ke arah konseptualisasi ulang tentang sifat kekuasaan. e. dan (e) persamaan dan keadilan gender. keberagaman merupakan kesempatan untuk menumbuhkan kreativitas yang lebih besar.

organisasi-organisasi publik.” (Chapman. Jika organisasi dirancang dengan pemikiran sistemik. Untuk bertindak sebagai sarana untuk mengangkat isu-isu masalah lokal pada tingkat nasional dan dengan organisasi-organisasi individual dengan tanggung jawab untuk semua persoalan ini d. bagan organisasi baru dan sebagainya. Otoritas lokal c. Kreativitas kemitraan tidak mengecualikan perubahan-perubahan kreatif yang dramatis. sementara dalam sistem dominator menciptakan “identitas yang berseberangan. with the majority of community involvement being pursued only through representative means. Bisnis swasta dan organisasi-organisasi komersial d. sektor privat dan kelompok-kelompok sukarela b. 1996). Di dalam pelaksanaannya komposisi kemitraan yang disarankan kepada otoritas lokal terdiri dari : a. dengan mengajukan sejumlah tujuan dan sasaran kemitraan daerah pedesaan.” f. proses pendidikan baru. Untuk bertindak sebagai pusat informasi tentang isu-isu lokal c. Lebih lanjut ia memberikan saran bagi struktur kemitraan pemerintah desa. sosial dan kebudayaan daerah pedesaan melalui keikutsertaan masyarakat lokal. maka diperlukan pergeseran mendasar dalam cara orang berpikir dan merancang organisasi. perbaikan hidup dan prinsip-prinsip kemitraan. seperti praktik manajerial baru. Kreativitas sehari-hari dalam organisasi dapat mendorong perbaikan terus menerus dan perbaikan kualitas. Di dalam sistem kemitraan. 2. Equally. Karakteristik mendasar dari sistem kemitraan adalah bahwa mereka seimbang secara gender dan holistic. penggunaan pendekatan kemitraan memungkinkan orang dapat menilai dan merancang ulang organisasi dan peran organisasi dalam masyarakat untuk memperbaiki kualitas kehidupan ini. Chapman et al (1996) melihat kerja organisasi kemitraan yang ada sebagai “a surprisingly high number of examples of partnership and joint working activity. “There was little evidence of participatory models being deployed to achieve community involvement. Disamping itu organisasi memerlukan jenis kreativitas yang perlu dijaga dan didorong oleh model kemitraan : perlindungan yang luas dan belum begitu dimanfaatkan dari kreativitas sosial dan kewirausahaan sosial. Kreativitas dan Kewirausahaan Disamping mampu beradaptasi dengan lingkungan. Kelompok-kelompok masyarakat . Kemitraan di Sektor Pemerintahan Di dalam tataran praksis di sektor pemerintahan. penghargaan baru. Lembaga-lembaga pemerintah b. kreativitas sangat bernilai dan dihargai. sistem tersebut juga mendorong hubungan-hubungan kreatif dan pendekatan-pendekatan kreatif terhadap masalah-masalah sehari-hari. yaitu: a. melainkan bebas untuk mengekspresikan seluruh potensinya.ngunan ekonomi.” Ia menemukan ketimpangan dari kerja kemitraan di wilayah tertentu dari pembangunan pedesaan. issues of community empowerment have been barely addressed by the partnerships identified. Untuk mempromosikan pemba.membatasi. dimana salah satunya adalah pembangunan masyarakat. Untuk mempromosikan kerja sama dan konsensus antara organisasi yang relevan dalam wilayah tersebut agar supaya mempromosikan pembangunan dan memperbaiki kualitas kehidupan masyarakat setempat.

Pada awalnya sering terjadi ketidak harmonisan antara Pemerintah Desa dan BPD karena : (a) cara pemahaman peraturan yang kurang menyeluruh dan kurang baik yang disebabkan oleh tingkat pengetahuan dan pendidikan yang telatif rendah sehingga pemahaman terhadap UU hanya sepotong-sepotong. Ketidak harmonisan hubungan antara pemerintah desa dengan BPD karena terjadi hubungan dominasi. Oleh karena itui hubungan tersebut harus diubah menjadi hubungan kemitraan yang dilaksanakannya dalam arti (a) saling mengisi. Kemitraan Antara Pemerintah Desa dengan BPD. menjabarkan tujuan-tujuan ke dalam tugas-tugas yang mudah dicapai. Individu-individu pribadi (Chapman et al. (c) Kesalahfahaman terhadap hak dan kewajiban mereka. (b) BPD sudah dilibatkan dari awal-sampai akhir setiap kegiatan-kegiatan yang menyangkut tugas kemasyarakatan dan pembangunan.. Selanjutnya ia mengajukan pedoman terselenggaranya proses ini. (3) Pihak Pemerintah Desa yang dirasakan kurang transparan dalam menyampaikan informasinya. (4) Anggota BPD yang kurang memahami seluk-beluk pemerintahan desa. (b) Banyak terjadi ketidak-disiplinan terhadap tatib yang dibuat oleh mereka sendiri. 1998) Ada beberapa persyaratan bagi keberhasilan kerja kemitraan. meliputi : (1) Kurang luasnya wawasan yang dimiliki oleh sebagian anggota BPD maupun aparat desa. dan pendekatan terpadu terhadap pemberian informasi kepada orang-orang setempat. termasuk kerja bersama di antara mitra. dan kebijakan-kebijakan yang tersedia untuk mencapai semua ini. dan g. Organisasi-organisasi lingkungan f. penggunaan yang hati-hati bahasa yang digunakan ketika berinteraksi dengan orangorang setempat. Kelompok-kelompok sukarela. (c) mereka menyadari bahwa mitra adalah saling mengisi. Sekalipun hubungan Pemerintah Desa-BPD dapat dikatakan berjalan dengan baik dan cukup harmonis bukan berarti berjalan tanpa hambatan. Hubungan tersebut pada era sekarang didak sesuai dengan tuntutan demokrasi dan otonomi desa. yang meliputi pelatihan semua pihak yang terlibat. penggunaan bersama atas gedunggedung atau sumberdaya lainnya.. Faktor-faktor penghambat lainnya dalam hubungan Pemerinmtah Desa-BPD. dan adaptasi secara terus menerus untuk menghadapi perubahan-perubahan dan kebutuhan-kebutuhan baru. (b) pertimbangan tentang cara pemberian pelayanan yang lebih efektif.e. memahami dan memecahkan masalah bersama-sama. 1996) Selain itu. Sekarang hubungan Pemerintah Desa dan BPD menjadi lebih baik karena beberapa alasan : (a) Mulai tumbuhnya kesadaran. penggunaan contoh-contoh. 3. yaitu badan-badan dan departemen pemerintah dan masyarakat setempat sendiri. pengertian tentang hak dan kewajiban mereka. akuntabilitas dan kepemerintahan yang terbuka. mendorong masyarakat setempat menjadi sadar informasi. dan (c) penyediaan sebuah pusat untuk promosi tentang prakarsa masyarakat (community-led initiatives) (Bryden et al. baik disebabkan rendahnya tingkat pendidikan maupun terbatasnya pengalaman yang dimiliki. (2) Pengaturan koordinasi kerja yang kurang tepat sehingga dapat menyulitkan salah satu pihak dalam pelaksanaannya. memahami dan . Bryden et al (1998) mengemukakan bahwa keunggulan-keunggulan kemitraan lokal terletak pada : (a) persiapan dari strategi setempat yang melihat seluruh kebutuhan bagi pembangunan pedesaan di wilayah tersebut.

Sebagai penutup dari pembahasan ini. dan (c) hubungan kemitraan artinya pihak pertama dan kedua selevel dimana mereka bertumpu pada kepercayaan. Edinburgh.abdn. dan (5) memberikan solusi tetap sangat diperlukan demi keberhasilan tujuan pembangunan desa. saling percaya. saling terbuka terhadap kritik dengan memenuhi lima syarat. 2001.ac. (4) jujur. in www. Development Projects As Policy Experiment: An Adaptive Approach To Development Administration. 1996. P.in www. Public Administration for the Twenty-First Century. 33. (b) hubungan subordinasi artinya dalam melaksanakan hubungan tersebut pihak kedua menguasai pihak pertama. 1998. Dennis A. (2) obyektif. J. 1998. Vol. Scottish Office. C. Rondinelli. (3) rasional. Harcourt Brace. kerjasama dan saling menghargai. meskipun Undang Undang Nomor 22 Tahun 1999 telah diganti dengan Undang Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang di dalamnya mengandung aturan tentang Pemerintah Desa dan Badan Permusyawaratan Desa yang merupakan pengganti daripada Badan Perwakilan Desa (BPD). M and Murphy. kemitraan yang mengutamakan saling mengisi. menghargai. yaitu : (1) proporsional. percaya. yaitu (1) proporsional. “The Partnership Organization : A System Approach”. do Chapman. (b) mereka saling terbuka terhadap kritik dengan memenuhi lima syarat. College Publishers. kerjasama. Edinburh. saling menghargai. (3) rasional. (4) jujur. Rione & Montuori. Hubungan kemitraan antara Pemerintah Desa dan BPD mempunyai ciri-ciri (a) saling mengisi. Kesimpulan Ada tiga model hubungan organisasional. Meskipun Undang Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah telah berlaku. New York. E and Shucksmith. Scottish Office Central Research Unit. Scoping Study on Rural Development Issues in Scotland. 2001. kemitraan yang mempunyai ciri-ciri tersebut di atas tetap sangat diperlukan demi keberhasilan tujuan pembangunan desa. Eisler. No 2.uk/arkleton/npp/parte1. Inception report and final report. 1983.uk/arkleton/npp/parte1. . yaitu : (1) proporsional. Nomor 11 Tahun 2000. Daftar Pustaka Bryden. dan (5) ada solusi. Shucksmith. do Cooper.memecahkan masalah bersama-sama. yang di dalamnya mengandung aturan tentang Pemerintah Desa dan Badan Permusyawaratan Desa yang merupakan pengganti daripada Badan Perwakilan Desa (BPD). (2) obyektif. saling percaya. Peraturan Daerah Kabup[aten Mojokerto. (3) rasional. OD Practitioner. tentang Organisasi dan Tata Kerja Pemerintah Desa. dan (5) ada solusi. Alfonso. Evaluation and Monitoring of the Loggan Community Forestry Initiative. kerjasama. kerjasama dan saling menghargai. Phillip J.ac. (b) mereka saling terbuka terhadap kritik dengan memenuhi lima syarat. atau pihak kedua dengan sengaja menempatkan diri tunduk pada kemauan pihak pertama. (2) obyektif. memahami dan memecahkan masalah secara bersama-sama. memahami dan memecahkan masalah secara bersama-sama. Conway. M. London-New York. yaitu: (a) hubungan dominasi artinya dalam melaksanakan hubungan tersebut pihak pertama menguasai pihak kedua. (4) jujur.abdn. Methuwn.

tidak hanya positif bagi aparatur pelaksana dan masyarakat. the Territorial Dimension of the State. “Public-Private Partnership. dan juga adanya kewenangankewenangan baru. M. B. 22 Tahun 1999 tetang Pemerintahan Daerah. Citra Umbara. Dampaknya. Sinar Grafika. 32 Tahun 2004 tetang Pemerintahan Daerah. Balitbang Prop. Pemerintahan Desa merupakan salah satu aspek yang juga . Muncul persepai bahwa penerapan undang-undang baru tersebut kurang maksimal karena rendahnya kualitas aparatur pelaksananya di tingkat desa. Jakarta. Sos. Kepegawaian. Pertanggung-jawaban Kepala Daerah.Si Endah Setyowati. Cheltenham. 32/2004 tentang pemberian kewenangan otonomi kepada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota memberikan konsekuensi logis pada berbagai hal. Colin. Surabaya Undang-Undang No.. Dengan kata lain. Susunan Pemerintahan Daerah dan Hak DPRD. tetapi juga memunculkan konflik dalam hubungan antar-lembaga di desa.C. Perubahan kelembagaan di tingkat desa dengan diberlakukannya undang-undang yang baru telah mengakibatkan munculnya mekanisme baru dalam pelaksanaan tata pemerintahan desa. Kepala Daerah. Abdul Hakim. Smith. UK: Edward Elgar Publishing Limited. S. 2001. antara lain pada prinsip-prinsip penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. Decentralization.” dalam Kirkpatrick. Ron Clark & Charles Polidano. Keuangan Daerah. Karena itu dibutuhkan pendidikan dan pelatihan yang cocok bagi aparatur di tingkat desa. M. Undang-Undang No. Bandung.. aparatur desa dan juga masyarakatnya “belum siap” untuk mengadopsi nilai-nilai baru yang diperkenalkan melalui undang-undang tersebut.Si ABSTRAK Betapun kecilnya perubahan di tingkat kelembagaan pasti berdampak pada perubahan dalam tugas dan fungsi organisasi. 22 Tahun 1999. 2002. Handbook on Development Policy and Management. Boston-Sydney. George Allen & Unwin.—————-. 1997. Pemerintahan Desa serta Pembinaan dan Pengawasan. Komentar : Tidak ada komentar » Kategori : Jurnal PERUBAHAN KELEMBAGAAN PEMERINTAHAN DESA DAN TANTANGANNNYA TERHADAP PENGEMBANGAN SUMBER DAYA APARATUR DESA 22 03 2008 PERUBAHAN KELEMBAGAAN PEMERINTAHAN DESA DAN TANTANGANNNYA TERHADAP PENGEMBANGAN SUMBER DAYA APARATUR DESA Oleh: Drs. Jatim. 2002. Pendahuluan Penyusunan Undang-undang No. Tim Balitbang Propinsi Jawa Timur. Isue-Isue Aktual tentang Pelaksanaan Otonomi Di Desa Menurut UU No.

5/1979). Lembaga ini dimaksudkan untuk menjadi mitra pemerintah Desa dalam rangka pemberdayaan masyarakat Desa. yang selama masa pemberlakuan UU No. dalam artian tidak lagi memiliki ketergantungan. antara lain tentang Badan Perwakilan Desa dan keuangan Desa. dan bangunan serta dituntut dan menuntut di pengadilan. yang selalu meminta dari Pemerintah yang lebih di atasnya. Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa. Permasalahan yang sering terjadi di lapangan yang berhubungan dengan Pemerintahan Desa. Selain itu keberadaaan Badan Perwakilan Desa selaku perwujudan lembaga legislatif di Desa juga relatif baru bagi masyarakat Desa yang terbiasa dengan musyawarah dalam lembaga adat maupun lembaga formal yang telah ada sebelumnya baik di masa kolonial maupun sebelum masa reformasi seperti halnya LKMD dan LMD. seperti halnya kewenangan Desa yang lebih luas dibandingkan dengan sebelumnya (UU No. bantuan Pemerintah dan pemerintah Daerah. Kerinduan akan suasana yang lebih kekeluargaan dengan musyawarah dan mufakat menyebabkan sebagian masyarakat menginginkan untuk mengembalikan Desa pada posisi semula ketika masa pemerintahan kolonial. yang saat ini kedudukannya hanya sebagai institusi konsultatif dan koordinatif. Formalisasi sebuah lembaga legislasi Desa merupakan hal baru bagi masyarakat Desa karena konsekuensi yang ditanggung adalah keterbatasan sumber daya manusia yang ada di Desa dalam memahami proses dan mekanisme sebuah konsep legislasi. Penyelenggaraan Pemerintahan desa merupakan subsistem dari sistem penyelenggaraaan pemerintahan. Oleh karena itu Kepala Desa dengan persetujuan Badan Perwakilan Desa mempunyai wewenang untuk melakukan perbuatan hukum dan mengadakan perjanjian yang saling menguntungkan. Desa dapat melakukan perbuatan hukum. Kenyataan ini terlihat dalam kewenangan untuk mengatur dan mengelola desanya lepas dari intervensi pihak Kecamatan.mendapatkan perhatian sekaligus mengalami perubahan dalam UU Pemerintahan Daerah No. Sebagai perwujudan demokrasi. Kepala Desa bertanggung jawab pada Badan Perwakilan desa dan menyampaikan laporan pelaksanaan tugas tersebut kepada Bupati. Hal ini terjadi karena dalam penyelenggaraan Pemerintahan Desa terdapat sesuatu yang baru. sumbangan pihak ketiga dan pinjaman Desa. harta benda. dan Keputusan Kepala Desa. 32/2004. baik hukum publik maupun hukum perdata. sehingga Desa memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakatnya. Di Desa dapat dibentuk lembaga kemasyarakatan Desa lainnya sesuai dengan kebutuhan Desa. Dengan demikian akan mewujudkan masyarakat Desa yang otonom atau mandiri. Di sisi lain masyarakat memandang bahwa keberadaan BPD hanyalah sebagai penambah masalah desa. Sedangkan sumber pembiayaan Desa berasal dari pendapatan Desa. 5 tahun 1979 Tentang Pemerintahan Desa memungkinkan masyarakat desa untuk lebih leluasa dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat. 5/ 1979 tentang Pemerintahan Desa kedudukannya berada di bawah wilayah dan otoritas pihak Kecamatan. memiliki kekayaan. pendapatan lain-lain yang sah. Adapun fungsinya adalah sebagai lembaga legislasi dan pengawasan dalam hal pelaksanaan Peraturan Desa. Pengakuan keanekaragaman bentuk Desa sebagai kesatuan masyarakat hukum yang memiliki asal-usul dan adat istiadat yang sebelumnya diabaikan dalam UU No. di desa dibentuk badan Perwakilan Desa atau dengan sebutan lain yang sesuai dengan budaya yang berkembang di Desa yang bersangkutan. dimana hak asal-usul dan adat istiadat .

Permasalahan dan penyimpangan yang terjadi di seputar masalah Desa meskipun telah di atur sedemikian rupa melalui sebuah undang-undang yang baru nampaknya belum cukup mampu untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Terbatasnya subsidi pembangunan yang diberikan oleh Pemerintah Pusat menuntut Pemerintah Desa untuk lebih kreatif dan inovatif dalam membiayai dan mengelola praktek penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan Desanya. berbagai permasalahan lain juga muncul. Pada dasarnya pengaturan tentang Desa bertujuan unntuk menjadikan Desa lebih mandiri. kondisi budaya dan sosial. kewenangan untuk mengatur sendiri dengan bekerjasama dengan lembaga adatnya dibiarkan berjalan secara mandiri. antara lain bentuk desa. diharapkan Desa mampu memenuhi kebutuhan sesuai dengan yang diinginkan. Pendapatan Asli Desa merupakan salah satu sumber yang akan membantu lancarnya pembangunan dan penyelenggaraan Pemerintahan di Desa. Asal-usul desa merupakan roh yang akan membawa kemana arah penyelenggaraan pemerintahan Desa akan dilakukan. tanpa harus selalu bergantung pada pemerintahan di atasnya. antara lain berkenaan dengan tata cara atau mekanisme pertanggung jawaban kepala desa terhadap BPD. Polemik seputar masalah Desa telah memunculkan pemikiran untuk kembali melihat konsepsi dasar tentang Desa di masa lalu sebagai perbandingan untuk perbaikan di masa sekarang dan masa yang akan datang. Selain penyimpangan yang dilakukan oleh Pemerintah Desa. Dengan demikian. dimana Desa memiliki kewenangan dalam mencari dan mengupayakan pendapatan asli desanya. Selain itu Berbagai asumsi dan hipotesa dijadikan alasan sebagai penyebab penyimpangan tersebut seperti halnya keterbatasan sumber daya manusia secara kualitas. serta menyiapkan sumberdaya aparatur desa agar memapu mengelola potensi desa. serta keterbatasan SDM yang secara kualitas sangat beragam. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. disertai dengan kondisi kultur dan sosial masyarakat pedesaaan Indonesia yang sangat beragam. pencarian sumber-sumber pendapatan desa dan lain-lainnya yang merupakan konsekuensi logis dari pelaksanaan UU No. khususnya masalah sumber-sumber keuangan Desa terutama Pendapatan Asli Desa menjadi sebuah mimpi dan seringkali dipertanyakan karena dalam prakteknya tidak semudah teori yang telah dituangkan dalam UU tentang otonomi daerah tersebut. pembuatan peraturanperaturan desa oleh BPD. Kemandirian yang diharapkan dalam segala aspek penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan Desa. tuntutannya lebih terakomodir dan kesejahteraan masyarakat desa terwujud. Di samping itu keberadaan BPD seharusnya semakin memperketat dan membuat Pemerintah Desa semakin terpacu untuk melakukan penyelenggaraan pemerintahan Desa serta pembangunan di desanya. Pendapatan Asli Desa merupakan salah satu tuampuan untuk dapat menyelenggarakan pembangunan secara berkesinambungan. 32/ 2004 pada bab XI. Ada beberapa faktor yang berpengaruh untuk mencapai kondisi tersebut di atas. Pemerintahan Desa Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki kewenangan mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal-usul dan adat-istiadat setempat yang diakui dalam sistem pemerintahan nasional dan . Oleh karena itu membutuhkan upaya ekstra keras untuk mendapatkan sumber-sumber pendapatan asli desa.sangat diakui. tentang Desa. yang telah di atur dalam UU No. aturan-aturan di dalamnya. Lebih lanjut terdapat permasalahan tentang sumber-sumber pembiayaan pembangunan di Desa.

berada di daerah Kabupaten (Wijaya, 2002:65). Rumusan defenisi Desa secara lengkap terdapat dalam UU No.22/1999 adalah sebagai berikut: “Desa atau yang disebut dengan nama lain sebagai satu kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai susunan asli berdasarkan hak asal-usul yang bersifat istimewa sebagaimana yang dimaksud dalam penjelasan pasal 18 UUD 1945. Landasan pemikiran dalam pengaturan Pemerintahan Desa adalah keanekaragaman, partisipasi, otonomi asli, demokratisasi dan pemberdayaan masyarakat” (UU Otonomi Daerah, 1999:47). Dengan adanya pengaturan desa dalam bab XI tersebut diharapkan Pemerintah Desa bersama masyarakat secara bersama-sama menciptakan kemandirian desa. Kemandirian tersebut dapat dilihat dari kewenangan yang diberikan yang tertuang dalam pasal 206, yang menyebutkan bahwa desa merupakan kesatuan masyarakat hukum yang memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat. Kewenangan Desa mencakup: keberadaan lembaga perwakilan desa atau badan Perwakilan Desa (BPD) sebagai bentuk miniatur DPRD di tingkat Kota maupun Kabupaten. Kewenangan ini berdampak pada mekanisme penyelenggaraan pemerintah desa yang selama ini tidak memiliki “ lawan “ atau yang mengontrol jalannya Pemerintah Desa. Selain itu keberadaan lembaga ini akan membawa perubahan suasana dalam proses Pemerintahan di desa. Keberadaan BPD secera otomatis akan mempengaruhi kinerja dari Pemerintahan Desa, begitu pula kewenangan yang dimiliki oleh Pemerintahan Desa dalam hal ini kepala Desa juga akan berbeda dari sebelumnya. Namun yang tidak kalah pentingnya adalah masalah keuangan Desa ( pasal 212) yang mengatur tentang sumber pendapatan desa, yaitu berdasarkan pendapatan asli desa (hasil usaha desa, hasil kekayaan desa, hasil swadaya dan partisipasi, hasil gotong royong, dan lain-lain pendapatan asli desa yang sah), kemudian bantuan dari Pemerintah Kabupaten berupa bagian yang diperoleh dari pajak dan retribusi serta bagian dari dana perimbangan keuangan pusat dan daerah yang diterima oleh Pemerintah Kabupaten, selain itu bantuan dari Pemerintah dan Pemerintah Propinsi, sumbangan pihak ketiga dan pinjaman desa. Beberapa hal yang dimuat dalam keuangan desa ini merupakan hal yang baru bagi Pemerintah Desa karena selama ini mereka belum terbiasa untuk berkreasi mencari pendapatan asli desa. Untuk mengetahui, sekaligus membandingkan konsep Pemerintahan Desa yang terbaik dan sesuai untuk masyarakat desa di Indonesia maka perlu mempelajari perkembangan pemerintaan Desa sejak awal. Di bawah ini merupakan uraikan perkembangan pemerintahan desa di Indonesia sejak masa kolonial hingga saat ini. Pemerintahan Desa Masa Kolonial Ketika masa pemerintahan kolonial atau biasa disebut dengan Pemerintahan Hindia Belanda, Desa atau Pemerintahan Desa diatur dalam pasal 118 jo Pasal 121 I. S. yaitu Undang-Undang Dasar Hindia Belanda. Dalam pasal ini dijelaskan bahwa penduduk negeri/asli dibiarkan di bawah langsung dari kepala-kepalanya sendiri (pimpinan). Kemudian pengaturan lebih lanjut tertuang dalam IGOB (Inlandsche Gemeente Ordonantie Buitengewesten) LN 1938 No. 490 yang berlaku sejak 1 Januari 1939 LN 1938 No. 681. Nama dan jenis dari persekutuan masyarakat asli ini adalah Persekutuan Bumi Putera. Persekutuan masyarakat asli di jawa disebut DESA, di bekas Karesidenan Palembang disebut MARGA, NEGERI di Minangkabau sedangkan di bekas Karesidenan Bangka Belitung disebut HAMINTE (Wijaya, 2002:23). Pada masa pemerintahan kolonial ini, asal-usul desa diperhatikan dan diakui sedemikian

rupa sehingga tidak mengenal adanya penyeragaman istilah beserta komponen-komponen yang meliputinya. Desa/Marga ini berasal dari serikat dusun baik atas dasar susunan masyarakat geologis maupun teritorial. Desa/Marga adalah masyarakat hukum adat berfungsi sebagai kesatuan wilayah Pemerintah terdepan dalam rangka Pemerintahan Hindia Belanda dan merupakan Badan Hukum Indonesia (IGOB STB 1938 No. 490 jo 681 dalam Wijaya, 2002: 25). Sedangkan bentuk dan susunan pemerintahannya ditentukan berdasarkan hukum adat masing-masing daerah. Adapun dasar hukumnya adalah Indische Staasgeling dan IGOB Stb.1938 No. 490 Jo. 681 Adapun tugas, kewenangan, serta lingkup pemerintahan meliputi bidang perundangan, pelaksanaan, keadilan dan kepolisian. Dengan demikian Desa/Marga pada saat itu memiliki otoritas penuh dalam mengelola dan mengatur wilayahnya sendiri termasuk ketertiban dan keamanan berupa kepolisian. Selain itu masing-masing wilayah tersebut memiliki pengaturan hak ulayat atau hak wilayah. Hak ini adalah hak mengatur kekuasaan atas tanah dan perairan di atasnya, termasuk ruang lingkup kekuasaan dari desa/marga tersebut. Adapun materinya adalah sebagai berikut: a. Masyarakat hukum yang bersangkutan dan anggota-anggotanya bebas mengerjakan tanah-tanah yang masih belum dibuka membentuk dusun, mengumpulkan kayu, dan hasil-hasil hutan lainnya. b. Orang luar bukan anggota masyarakat yang bersangkutan hanya boleh mengerjakan tanah seizin masyarakat hukum yang bersangkutan (izin kepala desa/marga). c. Bukan anggota masyarakat yang bersangkutan, kadang-kadang juga anggota masyarakat hukum, harus membayar untuk penggarapan tanah dalam marga semacam retribusi sewa bumi, sewa tanah, sewa sungai, dsb. d. Pemerintahan Desa/Marga sedikit banyak ikut campur tangan dalam cara penggarapan tanah tersebut sebagai pelaksanaan fungsi pengawasannya. e. Pemerintah Desa/Marga bertanggung jawab atas segala kejadian-kejadian dalam wilayah termasuk lingkungan kekuasaannya. f. Pemerintahan Desa/Marga menjaga agar tanahnya tidak terlepas dari lingkungan kekuasannya untuk seterusnya (Wijaya, 2002: 25-29). Sedangkan Badan Perwakilan Desa pada masa itu dinamakan Dewan Desa/Marga. Pemerintah Desa/Marga didampingi oleh Dewan Desa/Marga yang berfungsi sebagai lembaga pembuat peraturan-peraturan dalam rangka kewenangan menurut hukum adat. Dengan demikian sejak masa pemerintahan kolonial, bangsa Indonesia telah mengenal lembaga pembuat peraturan-peraturan di tingkat desa, dimana tugas dan fungsinya secara tidak langsung telah ditumpulkan ketika pemerintahan masa orde baru melalui UU No. 5/1979. Untuk sumber keuangan atau sumber pendapatan Desa/Marga diperoleh antara lain dari pajak Desa/Marga, sewa lebak lebung, sewa bumi, ijin mendirikan rumah/bangunan, hasil kerikil/pasir, sewa los kalangan, hasil hutan/bea kayu, pelayanan pernikahan, pas membawa hewan kaki empat besar, dan lain-lain. Sumber pendapatan Desa/marga ini dapat dikatakan sebagai pendapatan asli desa/marga, karena tidak didapatkan usur pinjaman ataupun bantuan dari pihak lain. Dengan demikian Desa pada waktu itu telah mandiri dengan sendirinya tanpa ketergantungan dari pemerintahan di atasnya. Pemerintahan Desa Awal Kemerdekaan Ketika awal kemerdekaan Pemerintahan Desa/Marga diatur dalam UUD 1945, Pasal 18 pejelasan II yang berbunyi sebagai berikut:

“Dalam teritorial Negara Indonesia terdapat kurang lebih 250 “Zelfbesturendelandschappen” dan “Volksgemeenschappen” seperti desa di Jawa dan Bali, negeri di Minangkabau, dusun dan marga di Palembang dan sebagainya. Daerahdaerah itu mempunyai susunan asli dan oleh karenanya dapat dianggap sebagai daerah yang bersifat istimewa. Negara Republik Indonesia menghormati kedudukan daerahdaerah istimewa tersebut dan segala peraturan negara yang mengenai daerah-daerah itu akan mengingati hak-hak asal-usul daerah tersebut” (Wijaya, 2002: 5). Kemudian pengaturan lebih lanjut dituangkan dalam UU No. 19 tahun 1965 tentang Pembentukan Desa Praja atau daerah otonom adat yang setingkat di seluruh Indonesia. Undang-undang ini tidak sesuai dengan isi dan jiwa dari pasal 18 penjelasan II dalam UUD 1945, karena dalam UU No. 19/1965 ini mulai muncul keinginan untuk menyeragamkan istilah Desa. Namun dalam perkembangannnya peraturan ini tidak sempat dilaksanakan karena sesuatu alasan pada waktu itu. Pemerintahan Desa Masa Orde Baru Selanjutnya Pemerintah Orde Baru mengatur Pemerintahan Desa/Marga melalui UU No. 5/1979 tentang Pemerintahan Desa. Undang-undang ini bertujuan untuk menyeragamkan nama, bentuk, susunan dan kedudukan Pemerintahan Desa. Undang-undang ini mengatur Desa dari segi pemerintahannya yang berbeda dengan Pemerintahan Desa/Marga pada awal masa kolonial yang mengatur pemerintahan serta adat-istiadat. Dengan demikian, Pemerintahan Desa berdasarkan undang-undang ini tidak memiliki hak pengaturan di bidang hak ulayat atau hak wilayah. Istilah Desa dimaknai sebagai suatu wilayah yang ditempati oleh sejumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai organisasi. Pemerintahan terendah langsung di bawah Camat dan berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri dalam ikatan NKRI. Desa dibentuk dengan memperhatikan syarat-syarat luas wilayah, jumlah penduduk dan syarat-syarat lainnya. Terkait dengan kedudukannya sebagai pemerintahan terendah di bawah kekuasaan pemerintahan kecamatan, maka keberlangsungan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan berdasarkan persetujuan dari pihak Kecamatan. Dengan demikian masyarakat dan Pemeritnahan Desa tidak memiliki kewenangan yang leluasa dalam mengatur dan mengelola wilayahnya sendiri. Ketergantungan dalam bidang pemerintahan, administrasi dan pembangunaan sangat dirasakan ketika UU No. 5/1979 ini dilaksanakan Adapun tugas, kewenangan, dan ruang lingkup pemerintahan adalah menyelenggarakan rumah tangganya sendiri dan merupakan penyelenggara dan penanggung jawab utama di bidang pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan dalam rangka penyelenggaraan Pemerintahan Desa, Urusan Pemerintahan Desa termasuk pembinaan ketentraman dan ketertiban sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan menumbuhkan serta mengembangkan jiwa gotong royong sebagai sendi utama pelaksanaan Pemerintahan Desa (UU No.5/1979 dalam Wijaya, 2002: 26) Sedangkan istilah Badan Perwakilan Desa terwakili dalam Lembaga Masyarakat Desa (LMD) yang merupakan lembaga permusyawaratan yang keanggotaannya terdiri atas Kepala-kepala Dusun, pimpinan lembaga-lembaga kemasyarakatan dan pemuka masyarakat di Desa yg bersangkutan. Tugas dan fungsinya tidak seluas yang dimiliki oleh lembaga BPD yang diatur dalam UU No. 22/1999. Selain itu keanggotaannya juga berpengaruh terhadap efektivitas dan kelancaran penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan Desa. Hampir setiap tindakan penyimpangan yang dilakukan oleh Kepala

Dari beberapa sumber pendapatan Desa tersebut. Bori dan Marga. karena tidak efektifnya lembaga pengontrol. karena sumber-sumber pendapatan asli desa sangat tidak memadai hasilnya. sedangkan desa hanya menikmati hasil pembagian dari pajak dan retribusi tersebut. dihapus. secara otomatis Pemerintah Desa mulai menggantungkan pembiayaan penyelengaraan pemerintahan dan pembangunannya melalui dana bantuan dari Pemerintah tersebut.Desa tidak dapat dikontrol dan diambil tindakan oleh Lembaga Musyawarah Desa ini. penghapusan dan/atau penggabungan Desa hendaknya memperhatikan luas wilayah. sedangkan sumber-sumber laiinya telah dikenai pajak dan retribusi oleh Pemeritnah yang lebih atas. dan/atau digabung dengan memperhatikan asal-usulnya atas prakarsa masyarakat desa dengan persetujuan pemerintah Kabupaten dan DPRD. Desa dapat dibentuk. . dan/atau digabung dengan memperhatikan asal-usulnya atas prakarsa masyarakt dengan persetujuan Pemerintah Kabupaten dan DPRD. Kampung. dan lain-lain dari hasil usaha desa. Desa atau disebut dengan nama lain. Kemudian untuk sumber pendapatan Desa diperoleh dari: a. terdiri dari: sumbangan dan bantuan Pemerintah. sumbangan dan bantuan Pemda. hasil dari swadaya dan partisipasi masyarakat. c. b. potensi Desa dan lain-lain. Undang-undang ini berusaha mengembalikan konsep. Pada bagian pertama bab XI tentang Desa. budaya masyarakat setempat seperti Nagari. jumlah penduduk. Sebagai pertimbangan dalam pembentukan. yang terdiri dari: hasil tanah kas desa. penghapusan dan/atau penggabungan desa. 32/2004 memuat tentang pembentukan. Hasilnyapun tidak seberapa besar apabila dibandingkan dengan bantuan yang rutin yang diberikan oleh Pemerintah. 5/1979. Sedangkan yang dimaksud dengan asalusul adalah sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 18 UUD 1945 beserta penjelasannya. Desa dapat dibentuk. Dengan demikian pengawasan dari praktek penyelenggaraan dan pembangangunan Desa sangat minim. Pemerintahan Desa Masa Reformasi (1999-sekarang) Pada masa reformasi Pemerintahan Desa diatur dalam UU No. sumber yang paling besar berasal dari bantuan Pemerintah dan bantuan Pemerintah Daerah. Pendapatan yg berasal dari pemberian Pemerintah dan Pemda. Pendapatan Asli Desa. Menurut undang-undang ini. sehingga memungkinkan Kepala Desa untuk bertindak sewenang-wenang dengan memperkaya diri sendiri atau melakukan penyimpangan lainnya. Keberadaan sumbersumber pendapatan desa ini merupakan awal ketergantungan dari segi pembiayaan. penghapusan dan/atau penggabungan Desa tersebut ditetapkan dengan Peraturan Daerah. dihapus. Dalam pembentukan. Lain-lain pendapatan yang sah. karena yang menjadi ketua atau pimpinan dari LMD ini adalah Kepala Desa sendiri. 22/1999 yang diperbarui menjadi 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah. sebagain pajak dan retribusi Daerah. hasil dari gotong-royong masyarakat. yang diberikan kepada Desa. Adapun yang dimaksud dengan istilah desa dalam hal ini disesuaikan dengan kondisi sosial. khususnya pada Bab XI pasal 200 s/d 216. UU No. sosial budaya. dan bentuk Desa seperti asalusulnya yang tidak diakui dalam undang-undang sebelumnya yaitu UU No. Huta. maka. adalah kesatuan masyarakat hukum yang memilik kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal-usul dan adat-istiadat setempat yg diakui dalam sistem pemerintahan nasional dan berada di Daerah Kabupaten.

Untuk masa jabatan kepala Desa paling lama sepuluh tahun atau dua kali masa jabatan terhitung sejak tanggal ditetapkan. sebagai ujung tombak pemerintahan yang terdepan. sumber Pendapatan Asli Desa (keuangan desa). keberadaannya adalah berhadapan langsung dengan masyarakat. dan hutan tujuan khusus (Wijaya. Pemerintahan Desa atau dalam bentuk nama lain seperti halnya Pemerintahan Marga. Sedangkan Kepala Desa langsung dipilih oleh penduduk Desa dari calon yang memenuhi syarat. oleh karena itu pelaksanaan di lapangan harus didukung oleh faktor-faktor yang terlibat dalam implementasi kebijakan tentang Desa tersebut. pengayom. ditetapkan oleh Badan Perwakilan Desa dan disahkan oleh Bupati. penduduk. hutan produksi. 2003:73). mudah.Sesuai dengan definisi Desa yang memperhatikan asal-usul desa maka Pemerintahan Desa memiliki kewenangan dalam pengaturan hak ulayat atau hak wilayah. wisata. potensi desa seperti halnya potensi pertambangan. perkebunan. hutan larangan atau suaka alam. Dalam pasal-pasal bagian kedua ini menerangkan bahwa Pemerintah Desa terdiri dari Kepala Desa atau yang disebut dengan nama lain dan perangkat desa. Kemudian Calon Kepala Desa yang terpilih dengan mendapatkan dukungan suara terbanyak. industi kerajinan. Beberapa permasalahan di atas perlu kiranya untuk dicermati dalam pelaksanaan di lapangan. sehingga tujuan yang ingin dicapai hanya berjalan di tempat. Istilah Kepala Desa juga dapat disesuaikan dengan kondisi sosial budaya setempat. dan pelayanan masyarakat sangat berperan dalam mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan Desa. Penyelenggaraaan Pemerintahan Desa merupakan sub sistem dalam penyelenggaraan sistem Pemerintahan Nasional. otonomi asli dan pemberdayaan masyarakat. hutan lindung. keahlian dan ketrampilan yang tidak seimbang (sumber daya manusia desa yang masih rendah) yang berakibat terhadap lembaga-lembaga Desa lainnya selain Pemerintahan Desa seperti halnya Badan Perwakilan Desa (BPD). Daerah Kabupaten dapat menetapkan masa jabatan Kepala Desa sesuai dengan sosial budaya setempat. lembaga musyawarah Desa dan beberapa lembaga adat lainnya. Pelaksaaan otonomisasi desa yang bercirikan pelayanan yang baik adalah dapat memberikan kepuasan bagi masyarakat yang memerlukan karena cepat. Adapun landasan pemikiran dalam pengaturan mengenai pemerintahan Desa adalah keanekaragaman. partisipasi. hutan industri. potensi perikanan. tepat dan dengan biaya yang terjangkau. dalam pelaksanaan kebijakan tentang Desa ini perlu diperhatikan berbagai permasalahan seperti halnya a. Secara substantif undang-undang ini menyiratkan adanya upaya pemberdayaan aparatur Pemerintah Desa dan juga masyarakat desa. . karena seringkali ketiga hal tersebut merupakan batu sandungan dalam pelaksanaan otonomisasi desa. Pada bagian kedua memuat tentang Pemerintahan Desa. pelaksanaan dan pengawasannya. Posisi Pemerintahan Desa yang paling dekat dengan masyarakat adalah Pemerintah Desa selaku pembina. b. Adapun pengaturannya adalah Pemerintah Kabupaten dan/atau pihak ketiga yg merencanakan pembangunan bagian wilayah Desa menjadi wilayah pemukiman industri dan jasa wajib mengikutsertakan Pemerintah Desa dan badan Perwakilan Desa dalam perencanaan. c. sehingga Desa memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakatnya. hutan konservasi. Di sisi lain.

Selain itu pada bagian kedua undang-undang ini juga memuat tentang Kewenangan yang dimiliki oleh desa yaitu. Kepala Desa dapat dibantu oleh Lembaga Adat Desa. dan prasarana. dan mewakili desanya di dalam dan di luar pengadilan dan dapat menunjuk kuasa hukumnya. kewenangan yang sudah ada berdasarkan hak asal-usul desa. berakhir masa jabatannya dan telah dilantik Kepala Desa yang baru. Pembentukan Pemerintah Desa dan Badan Perwakilan Desa dilakukan oleh masyarakat. Pada bagian ketiga dari bab ini (XI) memuat tentang Badan Perwakilan Desa yang disebut dengan nama lain untuk kemudian disesuaikan dengan kondisi sosial budaya masyarakat. Dari pelaksanaan tugas serta pertanggungjawaban Kepala Desa inilah sering muncul permasalahan di lapangan. Sedangkan pemberhentian Kepala Desa dilakukan oleh Bupati atas usul Badan Perwakilan Desa.Adapun tugas dan kewajiban Kepala Desa adalah memimpin penyelenggaraan Pemerintah Desa. tidak lagi memenuhi syarat dan/atau melanggar sumpah/janji. Segala perselisihan yang telah didamaikan oleh Kepala Desa bersifat mengikat pihak-pihak yang berselisih. namun meskipun demikian laporan tersebut harus ditembuskan terlebih dahulu kepada Camat. mendamaikan perselisihan masyarakat di Desa. Tugas pembantuan seperti yang telah disebutkan tadi haruslah disertai dengan pembiayaan. Oleh karena itu sangat menarik untuk mendapatkan gambaran tentang pelaksanaan tugas dan pertanggungjawaban Kepala Desa ini sekaligus mengevaluasi dampaknya terhadap penyelenggaraan pemerintahan desa yang baik. Adapun fungsi pengawasan Badan Perwakilan Desa meliputi pengawasan terhadap . Pelaksanaan tugas dan kewajiban Kepala Desa khusus untuk mendamaikan perselisihan di masyarakat. Kepala Desa yang telah berakhir masa jabatannya tetap melaksanakan tugasnya sebagai Kepala Desa sampai dengan dilantiknya Kepala Desa yang baru. serta melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan desa. sehingga sangat mudah bagi seorang Kepala Desa untuk tidak menghiraukan keberadaan Camat selaku koordinator administrasi di wilayah Kecamatan. menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat. dan tugas pembantuan (midebewind) dari Pemerintah. hal ini dikarenakan Kepala Desa memiliki wewenang yang semula belum ada dan sekarang relatif besar. Keberadaan BPD yang juga baru dan didukung dengan sumber daya manusia yang “cukup” mendorong demokratisasi sekaligus ajang euphori bagi sebagian masyarakat yang selama ini merasa kurang puas dengan keberadaan Pemerintah Desa. kemudian kewenangan yang oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku belum dilaksanakan oleh daerah dan pemerintah. memelihara ketentraman dan ketertiban masyarakat. Selain itu seorang Kepala Desa tidak lagi “bertuan” kepada Camat. berfungsi mengayomi adat istiadat. membina kehidupan masyarakat Desa. membina perekonomian Desa. Apabila ketentuan ini tidak dimiliki maka Pemerintah Desa berhak menolak pelaksanaan tugas pembantuan ini. konsep pertanggung jawaban Kepala Desa terhadap BPD sangatlah baru bagi seorang kepala Desa. Dalam kepemimpinannya Kepala Desa berhenti apabila meninggal dunia. Pemerintah propinsi. mengajukan berhenti atas permintaan sendiri. serta sumber daya manusia. membuat Peraturan Desa. sarana. sehingga seringkali dijumpai bukannya mekanisme pertanggung jawaban yang terjadi melainkan proses saling menjatuhkan antara dua lembaga yaitu BPD dan Kepala Desa. Dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya seorang Kepala Desa bertanggung jawab kepada rakyat melalui Badan Perwakilan Desa serta menyampaikan laporan mengenai pelaksanaan tugasnya kepada Bupati. Selain itu. dan/atau Pemerintah Kabupaten.

Pada bagian keempat memuat tentang lembaga lain. tetapi wajib disampaikan kepadanya selambat-lambatnya dua minggu setelah ditetapkan dengan tembusan kepada Camat. Bantuan dar Pemerintah dan Pemerintah Propinsi. b. Pendapatan Daerah dari sumber tersebut harus diberikan kepada Desa yang bersangkutan dengan pembagian secara proporsional dan adil. juga dapat memiliki badan usaha sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Kepala Desa bersama Badan Perwakilan Desa menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa setiap tahun dengan Peraturan Desa. Sedangkan sumber pendapatan daerah yang berada di Desa. dan perubahan serta penghitungan anggaran. -hasil gotong-royong. Kerjasama antar desa yang didalamnya memberi beban kepada masyarakat harus mendapatkan persetujuan dari Badan Perwakilan Desa. Selanjutnya keuangan Desa selain didapat dari sumber-sumber yang telah disebutkan di atas. Selanjutnya sumber pendapatan Desa tersebut dikelola melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa. Pimpinan Badan Perwakilan Desa dipilih dari dan oleh anggota. Kemudian pada bagian kelima memuat tentang keuangan desa. yang telah dimiliki dan dikelola oleh Desa tidak dibenarkan diambil alih oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah. Adapun pedoman untuk menyusun Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa tersebut ditetapkan oleh Bupati. Sumbangan dar pihak ketiga. Kemudian BPD bersama dengan Kepala Desa menetapkan Peraturan Desa. baik pajak mapun retribusi yang sudah dipungut oleh Daerah Kabupaten tidak dibenarkan adanya pungutan tambahan oleh Pemerintah Desa. -lain-lain pendapatan asli desa yg sah. -hasil dar swadaya dan partisipasi. pelaksanaan tata usaha keuangan. dengan meliputi penyusunan anggaran. d. dan keputusan Kepala Desa. Pinjaman Desa. Pemberdayaan Desa dalam meningkatkan pendapatan desa dilakukan antara lain dengan mendirikan Badan Usaha Milik Desa. Selanjutnya . c. yaitu bagian terakhir dalam bab XI memuat tentang Kerjasama Antar Desa. Beberapa Desa dapat mengadakan kerjasama untuk kepentingan Desa yang diatur dengan keputusan bersama dan diberitahukan kepada Camat. Setiap desa dapat membentuk lembaga lainnya sesuai dengan kebutuhan desa dan ditetapkan dengan Peraturan Desa. dan e. Pendapatan Asli Desa: -hasil usaha desa. Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa. Pada bagian keenam. kerjasama dengan pihak ketiga. -bagian dari dana perimbangan keuangan daerah pusat dan daerah yang diterima Pemerintah kabupaten. Untuk lebih memudahkan proses dan kerja antar desa dalam melakukan kerjasama maka dapat dibentuk badan kerjasama Desa. Kegiatan pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa ditetapkan setiap tahun. dan kewenangan melakukan pinjaman. -hasil kekayaan desa. Ketentuan ini dimaksudkan untuk menghilangkan beban biaya ekonomi tinggi dan dampak lainnya. Sedangkan keanggotaan Badan Perwakilan Desa tersebut dipilih oleh penduduk desa yang memenuhi persyaratan. Sumber pendapatan desa tersebut. Bantuan dari Pemerintah Kabupaten: -bagian dari perolehan pajak dan retribusi daerah. Peraturan Desa yang telah dibuat bersama tersebut tidak memerlukan pengesahan Bupati.pelaksanaan Peraturan Desa. Adapun sumber pendapatan desa dapat berasal dari : a. sedangkan tata cara dan pungutan objek pendapatan dan belanja Desa ditetapkan bersama antara kepala Desa dan Badan Perwakilan Desa.

namun harus tetap mengindahkan sistem nilai bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Jika dibandingkan dengan Pemerintahan Desa/Marga pada masa kolonial. Lembang. dan pengawasannya. Hal ini berarti pola penyelenggaraan Pemerintahan Desa akan menghormati sistem nilai yang berlaku dalam adat istiadat dan budaya masyarakat setempat. Dengan demikian sangat jelas bahwa undangundang ini memberikan dasar menuju self governing community yaitu suatu komunitas yang mengatur dirinya sendiri. tidak boleh bertentangan dengan asal-usul yaitu asal-usul terbentuknya desa yang bersangkutan. Keanekaragaman Keanekaragaman memiliki makna bahwa istilah Desa dapat disesuaikan dengan asal-usul dan kondisi sosial budaya masyarakat setempat. kewenangan di bidang pemerintahan/pelaksanaan. namun hrus diselenggarakan dalam perspektif administrasi pemerintahan modern. Pamusungan. sehingga hanya memiliki . kewenangan tersebut tidak dimungkinkan lagi mengingat situasi dan kondisi. Langkah selanjutnya dalam hal pengaturan tentang Desa ditetapkan dalam peraturan Daerah kabupaten masing-masing sesuai dengan pedoman umum yang ditetapkan oleh Pemerintah berdasarkan UU No. program dan kegiatan yang sesuai dengan esensi masalah dan prioritas kebutuhan masyarakat. mengisyaratkan adanya ruang lingkup kewenangan dalam arti luas. 2 Partisipasi Partisipasi memiliki makna bahwa penyelenggaraaan Pemerintahan Desa harus mampu mewujudkan peran aktif masyarakat agar masyarakat merasa memiliki dan turut bertanggung jawab terhadap perkembangan kehidupan bersama sebagai sesama warga Desa. 4 Demokratisasi Demokratisasi memiliki makna bahwa penyelenggaraan Pemerintahan Desa harus mengakomodasi aspirasi masyarakat yang diartikulasi dan diagregasi melalui Badan Perwakilan Desa dan Lembaga kemasyarakatan sebagai mitra Pemerintah Desa. maka posisi Desa yang memiliki otonomi asli sangat strategis sehingga memerlukan perhatian seimbang terhadap penyelenggaraan otonomi daerah. industri. pelaksanaan. Namun. Bori atau Marga. Huta. Selanjutnya dalam undang-undang ini ditegaskan bahwa landasan pemikiran pengaturan Pemerintahan Desa adalah (penjelasan PP No. Pekon. Kampung. seperti Nagari. 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah. dan jasa wajib mengikutsertakan pemerintah Desa dan Badan Perwakilan Desa dalam perencanaan. Peraturan Daerah yang dimaksud. 3 Otonomi Asli Otonomi Asli memiliki makna bahwa kewenangan Pemerintahan Desa dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat didasarkan pada hak asal-usul dan nilai-nilai sosial budaya yang ada pada masyarakat setempat. 5 Pemberdayaan Masyarakat Pemberdayaan Masyarakat memiliki makna bahwa penyelenggaraan Pemerintahan Desa diabdikan untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat melalui penetapan kebijakan. kewenangan di bidang peradilan dan kewenangan di bidang kepolisian. Dengan pemahaman bahwa Desa memiliki kewenangan mengatur dan mengurus kepentingan masyarakatnya sesuai kondisi dan sosial budaya setempat. meliputi kewenangan di bidang perundangan.76/2001 tentang Pedoman Umum Pengaturan Mengenai Desa): 1.Pemerintah Kabupaten dan/atau pihak ketiga yang merencanakan pembangunan bagian wilayah Desa menjadi wilayah pemukiman. karena dengan otonomi desa yang kuat akan mempengaruhi secara signifikan perwujudan otonomi daerah. Negri.

keuangan dan pemasaran yang tentunya tidak sesuai dengan harkat dan martabat manusia. Tabel 1 Pemerintah Desa No Materi IGOB STB 1938 No. SDM Sebagai Aset Desa Seiring dengan perubahan kelembagaan di desa maka mau tak mau mendorong SDM ( aparat ) desa untuk bekerja sesuai dengan target yang hendak di capai. kedudukan dan susunannya. Seperti halnya aparatur pemerintah yang lainnya. Tetapi sekarang ini aparat desa betul-betul sebagai Human Capital yang sangat berperan sesuai dengan pandangan manajemen moderen. Negari. Faktor intern. sekarang ini aparat desa tidak hanya melayani masyarakat tetapi harus mempunyai inovasi untuk mengembangkan desa sesuai dengan tuntutan perubahan kelembagaan agar desa mampu bersaing dengan desa lainnya. pengakuan keanekaragaman berdasarkan adat-istiadat dan asal-usul Desa merupakan sebuah keinginan untuk mengembalikan karakteristik Pemerintahan Desa asli yang telah ada sebelumnya. 5/1979 tentang Pemerintahan Desa telah menyeragamkan bentuk. Apabila dirunut dari sejarah Pemerintahan Desa di Indonesia. Dalam pandangan yang pertama SDM dikelola sejajar dengan manajemen produksi. Kebutuhan akan sumberdaya aparatur yang tangguh menghadapi perubahan kelembagaan desa bukan hanya didorong oleh faktor intern tapi juga faktor ekstern. Pemerintahan terendah langsung di bawah Camat dan berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri dalam ikatan NKRI Desa atau disebut dengan nama lain adalah kesatuan masyarakat hukum yang memilih kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat . karena saat ini aparat desa harus mempunyai keterampilan dan pengetahun tertentu seperti membuat peraturan-peraturan desa bersama BPD. SDM tidak lagi dipandang sebagai salah satu faktor produksi sebagai mana pandapat manajemen kuno. Peran aparatur pemerintah tidak hanya sebagai fasilitator dan service provider melainkan sebagai dinamisator dan enterpreneur ( Hadi T dan Purnama L. 22/1999 1 Istilah Terdapat istilah Marga. 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah yang memuat tentang Desa. karena UU No. Haminte. mengelola keuangan desa. yang memperlakukan manusia seperti halnya mesin. Untuk itu aparat desa harus dapat bekerja secara maksimal. Menghadapi kondisi yang diinginkan maka profesionalisme sumber daya aparatur pemerintah desa sudah merupakan keharusan yang tidak bisa ditunda lagi. 5/1979 UU No. Sebelum pemberlakuan UU No. Dengan kata lain aparat desa harus mampu dan jeli dalam menghadapi dan memanfaatkan berbagai tantangan dan peluang sebagai konsekuensi perubahan kelembagaan desa. asal-usul dan adat istiadat Desa telah tercerabut dari asalnya.1996 ). sesuai dengan asal usul adat istiadat daerah Desa: Adalah suatu wilayah yang ditempati oleh sejumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai organisasi.kewenangan Pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat sekaligus sebagai pembina adat istiadat setempat. dll. Berdasarkan kerangka dasar teori maka dapat dibuat suatu pemetaan tentang pemerintahan desa sebagaimana yang disajikan dalam tabel di bawah ini. 490 Jo 681 UU No. Tuntutan masyarakat desa akan adanya pelayanan yang memuaskan merupakan hal yang harus segera direspon oleh Pemerintah Desa. Karena manusia bukan sekedar sumber melainkan pelaksana yang menjalankan lembaga atau sebagai motor pengarah organisasi. Perbedaan pandangan ini membawa indikasi pada perlakuan atas SDM.

22/1999 tentang Pemerintahan Daerah 3 Bentuk Pemerintahan Bentuk dan susunan pemerintahan ditentukan menurut hukum adat Desa dibentuk dengan memperhatikan syarat-syarat luas wilayah. materinya adalah: 1. Pelaksanaan. jumlah penduduk dan syarat-syarat lain yang akan ditentukan lebih lanjut oleh masyarakat desa Desa dapat dibentuk. membuat peraturan desa. yang termasuk ruang lingkup kekuasaan dari marga tersebut. lembaga kemasyarakatan dan pemuka masyarakat di desa yang bersangkutan menyalurkan aspirasi masyarakat serta melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan Pemerintahan Desa . kadang juga anggota masyarakat hukum. harus membayar untuk penggarapan tanah dalam marga semacam retribusi sewa bumi. berfungsi mengayomi adat istiadat. Pemerintah desa/marga sedikit banyak ikut campur tangan dalam cara penggarapan tanah tersebut sebagai pelaksanaan fungsi pengawasannya 5. 2. 4. Perundangan. 5/1979 tentang Pemerintahan Desa UU No. b. Pemerintah desa/marga menjaga agar tanahnya tidak terlepas dari lingkungan kekuasaaannya untuk seterusnya NIHIL Pemerintah kabupaten dan atau pihak ketiga yang merencanakan pembangunan bagian wilayah desa menjadi wilayah pemukiman industridan jasa wajib mengikutsertakan Pemerintah Desa dan Badan Perwakilan Desa dalam perencanaan. Masyarakat hukum yang bersangkutan dan anggota-anggotanya bebas mengerjakan tanah-tanah yang masih belum dibuka membentuk dusun. pemerintah ketentraman dan ketertiban sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan menumbuhkan serta mengembangkan jiwa gotong royong sebagai sendi utama pelaksanaan Pemerintah Desa propinsi dan atau pemerintah kabupaten 5 Hak Ulayat Hak mengatur kekuasaan atas tanah dan perairan di atasnya. sewa tanah. 681 UU No. dsb. menampung dan hukum adat. pembangunan dan kemasyarakatan dalam rangka Penyelenggaraan Pemerintahan Desa. atau disebut dengan nama lain.setempat berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat yang diakui dalam sistem pemerintahan nasional dan berada di daerah kabupaten 2 Dasar Hukum Indische Staasgeling dan IGOB Stb. 1938 No.Badan Perwakilan Desa (BPD). dihapus dan atau digabung dengan memperhatikan asal-usulnya atas prakarsa masyarakat dengan persetujuan pemerintah kabupaten dan DPRD 4 Tugas dan Kewenangan a. Kepolisian Menyelenggarakan rumah tangganya sendiri dan merasakan penyelenggaraan dan penanggungjawan utama di bidang pemerintahan. 490 Jo. Urusan Pemerintahan Desa termasuk pembinaan -Kewenangan yang sudah ada berdasarkan hak asal usul desa -Kewenangan yang oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku belum dilaksakan oleh pemerintah daerah dan pemerintah -Tugas pembantuan dasri pemerintah. c. Orang luar bukan anggota masyarakat yang bersangkutan hanya boleh mengerjakan tanah seijin masyarakat hukum yang bersangkutan (izin kepala desa/marga) 3. Pemerintah desa/marga bertanggungjawab atas segala kejadian dalam wilayah termasuk lingkungan kekuasaannya 6. Bukan anggota masyarakat hak. Pemerintahan Desa/Marga didampingi dewan Desa/Marga yang membuat peraturan-peraturan dalam rangka kewenangan menurut Lembaga Masyarakat Desa (LMD) adalah lembaga permusyawaratan/pemufakat an yang keanggotaannya terdiri atas kepala-kepala dusun. pelaksanaan dan pengawasannya 6 Perwakilan Desa Dewan Desa/Marga. mengumpulkan kayu ramuan rumah atau hasil-hasil hutan lainnya. sewa sungai. pimpinan lembaga. Yang bersangkutan. Peradilan dan d.

b. 7. -Hasil kekayaan desa. -Hasil dari swadaya dan partisipasi masyarakat. Organisasi di masa depan adalah organisasi belajar ( Learning Organization ) yang memberikan kesempatan kepada seluruh pegawai / aparat untuk senantiasa belajar dan memecahkan masalah bersama. Personal mastery. -Bagian dari dana perimbangan keuangan daerah pusat dan daerah yang diterima Pemerintah kabupaten. -lain-lain dari hasil usaha desa. Menurut Peter Sange (1994). Kelima disiplin tersebut perlu dipadukan secara utuh. 2 System of thinking. konsep pengembangan SDM juga mengalami perubahan. Sewa Bumu. diungkapkan bahwa agar organisasi mampu menyikapi perubahan diperlukan adanyan revitalisasi dan merubah pola pikir dari anggota atau organisasi untuk menguasai 5 disiplin yang di persyaratkan. 8. Hasil krikil/pasir. 5. Hasil hutan/bea kayu. dll Sumber pendapatan desa: a. 2. 4. Pas membawa hewan kaki empat besar. dikembangkan dan dihayati oleh setiap anggota organisasi dan diwujudkan dalam prilaku sehari-hari. 10. -Sumbangan dan bantuan Pemda. Izin mendirikan rumah/bangunan. -Hasil dari swadaya dan partisipasi. 9. -Sebagian pajak dan retribusi daerah yang diberikan kepada desa. yaitu kemampuan untuk secara terus menerus dan sabar memperbaiki wawasan agar obyektif dalam melihat realita dengan pemusatan energi kepada hal-hal yang strategis. 3. 5 Team learning. generatif dan berkesinambungan. Yang perlu disiapkan dalam organisasi ini adalah menyiapkan SDM secara terus menerus melalui proses belajar. Sewa lebak lebung. yaitu komitmen untuk menggali visi bersama tentang masa depan secara murni tanpa paksaan. 3 Mental model. -Hasil gotong-royong. Pelayanan Kawin.7 Sumber Penghasilan/Pendapat an Sumber pendapatan Desa/Marga antara lain: 1. -lain-lain pendapatan asli desa yang sah b. yaitu: 1. -lain-lain pendapatan Sumber pendapatan desa: -Pendapatan Asli Desa: -Hasil Usaha desa. yaitu kemampuan untuk memiliki suatu fondasi berpikir yang dinamis untuk realita dan proses interelasinya secara holistik sehingga tidak terjebak pada kemapanan atau melihat permasalahan secara linier dan symptomatis. -Hasil dari gotong royong masyarakat. -Bantuan dari Pemerintah dan Pemerintah propinsi -Sumbangan dari pihak ketiga -Pinjaman desa Sumber data: Wijaya. Pajak. yaitu kemampuan dan motivasi untuk belajar secara adaptif. Dalam organisasai moderen. Pendapatan Asli Desa: -Hasil tanah kas desa. 2002 : 25-29 Perubahan dan Organisasi Belajar Sejalan dengan perubahan kelembagaan Pemerintah Desa dan paradigma organisasi. 4 Building shared version. dalam bukunya yang terkenal “The Fifth Discipline“. Bantuan dari Pemerintah Kabupaten: -Bagian dari perolehan pajak dan retribusi daerah. yaitu memiliki suatu framework dan asumsi-asumsi dasar untuk menyikapi realita yang membuatnya mampu untuk bertindak secara tepat. Kelima disiplin dari Peter Sange tersebut dapat diinternalisasikan menjadi nilai-nilai personal melalui proses pelatihan kepemimpinan dan proses mentoring untuk transformasi budaya dan pengetahuan dalam rangka revitalisasi dan perbahan pola pikir . 6. setiap organisasi diyakini memiliki peran dan kontribusi untuk mencapai tujuan organisasi. Pendapatan yang berasal dari pemberian Pemerintah dan Pemda terdiri dari: -Sumbangan dan bantuan Pemerintah. Sewa los kalangan.

Dengan adanya dialog tersebut tiap orang atau aparat mempunyai kontribusi dan kesempatan memberikan masukan dan menerima info untuk meningkatkan . Desa diharapkan menjadi suatu wilayah yang otonom.yang tanggap terhadap perubahan. Perlunya pelatihan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan aparat desa seperti pelatihan bidang keuangan/ pengelolaan anggaran. yaitu mencapai visi organisasi. Di samping secara formal aparat desa perlu mengikuti pelatihan dan juga pendidikan (training and education) sebagai upaya pengembangan sumber daya aparatur. Kepala Desa bersama dengan BPD menetapkan peraturan desa. yang belajar adalah orang-orang yang bergabung dalam organisasi. dalam aktifitas sehari-hari perlu diupayakan ruang dialog sebagai suatu proses pembelajaran. Selanjutnya masih dalam kerangka pengembangan aparatur desa maka perlunya pendidikan (education) baik dalam bentuk formal seperti studi di perguruan tinggi atau informal dengan mengikuti kursus agar aparat desa lebih siap melaksanakan tugas yang berbeda dari pekerjaaan yang mereka tangani sebelumnya sehingga sudah menjadi kebutuhan utama bagi aparat desa untuk melanjutkan studi maupun kursus. membawa konsekuensi terhadap kompetensi yang dimiliki oleh aparatur desa. Dengan demikian pengembangan sumber daya aparatur desa diarahkan untuk menguasai dan memanfaatkan teknologi informasi serta pengetahuan agar aparat desa dapat menjalin kerjasama dan membuat jaringan dengan pihak lain untuk mengembangkan dan memajukan wilayahnya. Organisasi sebagai sebuah sistem harus memfasilitasi orang-orang untuk terus menerus belajar dan menggunakan pengetahuan yang dimiliki untuk satu tujuan yang sama. Untuk mengetahui kebutuhan yang diperlukan aparat desa dalam rangka pengembangan sumber daya aparatur desa perlu diidentifikasi jenis dan metode pelatihan yang betul-betul sesuai dan yang tidak kalah penting adalah perlunya evaluasi setelah pelatihan tersebut. Organisasi tidak bisa belajar . sehingga mempunyai motivasi yang diwujudkan dalam learning commitment untuk mampu belajar secara team dalam learning organization process untuk kemudian mewujudkan komitmen untuk memperjuangkan visi-misi-nilai bersama di dalam organizational learning. Berangkat dari paparan diatas tentunya pengembangan sumber daya aparatur diarahkan agar aparat desa mempunyai kompetensi sesuai yang dibutuhkan untuk mengembangkan wilayah. Pelatihan (training) sebagai salah satu alternatif untuk pengembangan sumber daya aparatur desa perlu segera dilakukan sebagai konsekuensi perubahan kelembagaan Pemerintah Desa dan tuntutan masyarakat akan pelayanan yang memuaskan. 4 Evaluating training effectiveness. Dalam hal menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat. Agar pelatihan efektif ada 4 faktor yang harus diperhatikan (John Kempton. 3 Implementing the training. Pengembangan Sumberdaya Aparatur Pemerintah Desa Menyimak fenomena perubahan kelembagaan pemerintah desa. pelatihan bidang pembuatan peraturan/tata cara membuat peraturan. Proses pembelajaran diawali dengan individual learning untuk memahami potensi diri ( style dan type belajarnya). yang mampu mengelola kekayaan wilayahnya bersama daerah saat status desa berubah menjadi kelurahan (lihat Pasal 201 UU No. 2004): 1 Identifying training needs. 32/2004). 2 Formulating how the need will be statifie.

seperti tanah dan kekayaan lain untuk memajukan masyarakat desa tapi yang lebih utama adalah memberdayakan aparat desa sebagai human capital yang akan mengelola desa bersama BPD serta masyarakat desa yang bersangkutan. diperkenalkannya nilai dan praktek demokrasi melalui pemebntukan lembaga baru disebut Badan Perwakilan Desa. publising (sharing reaksi dan observasi). sekretaris desa serta aparat yang lain harus saling berdialog dan tidak menyimpan informasi agar masing-masing pihak dapat memberikan masukan untuk mengatasi masalah dan menyelesaikan pekerjaan yang menjadi tanggung jawab bersama. Dampak positif yang diperoleh. Berpijak dari hal tersebut diatas maka antara kepala desa. responsibility (semua harus bertanggung jawab atas komitmen bersama). Sedangkan efek negatif yang paling menonjol adalah: (1) konflik yang muncul dalam hubungan antara Kepala Desa dengan Badan Perwakilan Desa (BPD) yang cenderung saling menjatuhkan. Penutup Di antara beberapa perubahan kelembagaan yang substansial sebagai akibat diberlakukannya UU No.32 Tahun 2004. antara lain: (1) diperolehnya kembali hak-hak desa melalui “pengakuan” tentang adanya kekayaan desa. Ketiga. dan appliying (merencanakan perilaku lebih efektif dan beraktifitas). Cara dialog dilakukan dalam suatu siklus yang dimulai dengan experiencing (mengamati aktifitas yang dikerjakan). semakin meluasnya kewenangan yang dimiliki oleh Kepala Desa untuk mengelola segenap aset desa yang dimilikinya tanpa harus meminta persetujuan dari pemerintah di atasnya (Kecamatan) sebagaimana yang diatur dalam undang-undang sebelumnya (UU No. Kedua. Perubahan kelembagaan tersebut tidak hanya berdampak positif dalam pelaksanaan Pemerintahan Desa. adalah: pertama. (2) otonomi dalam pengelolaan anggaran desa termasuk dalam mencari sumber-sumbernya. (2) kewenangan yang relatif besar yang dimiliki Kepala Desa telah memunculkan kecenderungan penyalahgunaan kewenangan tersebut sehingga merugikan masyarakat desa secara keseluruhan. . choise (masing-masong bebas untuk memberi penafsiran) . dan bukan sebagai mitra kerja yang berkolaborasi dalam pembangunan desa. trust (maing-masing pihak harus saling percaya). tetapi juga memunculkan efek negatif dalam hubungan antarlembaga di desa dan bahkan terhadap masyarakat secara umum. penerapan akuntabilitas kinerja di tingkat desa melalui penciptaan mekanisme pertanggung jawaban Kepala Desa kepada Badan Perwakilan Desa. Lebih lanjut dewasa ini desa tidak boleh lagi hanya mengandalkan aset desa . Beberapa persyaratan agar tercipta dialog yang baik antara lain: valid information (jangan ada informasi yang tidak benar semuanya harus transparan). 5/1979). yang memiliki kewenangan legislasi dan pengawasan. Lembaga baru ini dalam manifestasinya merupakan penjelmaan dari DPRD di tingkat desa. involvement (semua harus terlibat dan berkontribusi sesuai kemempuannya dalam proses team learning. generalizing (mendalami prinsip-prinsip dan mengkaitkan dengan realita di dunia nyata) . Kemampuan aparat desa dalam mengelola sumber-sumber desa merupakan hal yang harus diutamakan agar desa betulbetul mampu mandiri sesuai dengan harapan menjadi desa otonom. processing (mendiskusikan pola dan dinamika dari aktivitas). dan (3) pelibatan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan mulai dari tingkat perencanaan hingga pelaksanaan pembangunan desa.kemampuannya secara terus menerus sebagai kriteria learning organization. oppeness (semuanya harus membuka diri terhadap ide anggota lainnya.

Jakarta:Prenada. 76/2001 Tentang Pedoman Umum Pengaturan Mengenai Desa. PP No. 2004. Pemerintahan Desa/ Marga: Berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah (Suatu Telaah Administrasi Negara).. dan S. 1996.32 Tahun 2004 adalah rendahnya kualitas sumberdaya manusia dan/atau minimnya jumlah SDM berkualitas di tingkat desa untuk melaksanakan tugas dan fungsi baru sebagai akibat implementasi undang-undang tersebut.. Wijaya. Editor Sulistyani. Memahami Good Governance:Dalam Perspektif Sumber Daya Manusia”. S. PT. Peter. Hagul. PT.Tinjauan Aspek Kelembagaan Ketatalaksanaan. Sally Marisa. Diperbanyak oleh Biro Pemerintahan. Sinar Grafika.. Derajat. 1995. PT Pradnya Paramitha. Kansil. 1994. Jakarta:Cakrawala. The Global Learning Organization.Peter M.T.. Cristine.Suberdaya Mnusia dan Mekanisme Pengawasan Aparatur. Pebruari 2004 UU No. Michael. . Strategi Pengembangan Sumber Daya Manusia Birokrasi Publik. C. Senge. Kempton. Jakarta. 1996. T. Rajawali Press. Supriady. Disiplin Kelima. Kansil. Pembangunan Desa dan Lembaga Swadaya Masyarakat. 2001. 2002. Karena itu dalam tulisan ini. Indra. Otonomi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. tingkat pemahaman aparatur desa dan anggota BPD dalam menjalankan mekanisme demokrasi di tingkat desa juga menjadi penyebab munculnya berbagai konflik dalam hubungan antar-lembaga di desa. Hadi.. 2005. Jakarta Ismawan. 2004. Nomor 02 tahun XXXIII.. Purnama L. DAFTAR PUSTAKA Bratakusumah. Tangkilisan. London:Macmillan Press Ltd. Marquardt. Dadang. Di samping itu. Kitab Undang-Undang Otonomi Daerah 1999-2001 (Kitab 1). The Complete Ideal’s Guides:Change Management. Kalbar. Jakarta:Binarupa Aksara. Diperlukan suatu pendidikan dan pelatihan yang cocok untuk pengembangan kapasitas aparatur desa dan juga anggota badan legislasi sehingga dapat menjalankan tugas pokok dan fungsinya sesuai dengan tuntutan dari undang-undang dan peraturan yang berlaku. 1985. Human Resource Management and Development:Current Issues and Themes. John. Jakarta. Jakarta. Learning Organization: Membangun Paradigma Baru Organisasi. Ambar Teguh. Forum Komunikasi Pascasarjana Pemda Kalbar dan Biro Humas Pemda. Gramedia Pustaka Utama. Beberapa penelitian Dalam Upaya Peningkatan Dan Pendayagunaan Sumberdaya Manusia Aparatur Negara. HAW. Usahawan.. “Pengembangan Pegawai Untuk Birokrasi Yang Good Governance:. Jakarta. Jeff. pengembangan kualitas SDM di tingkat desa merupakan tantangan dan sekaligus ancaman bagi penerapan nilai-nilai demokrasi di tingkat desa. 5/1979 Tentang Pemerintahan Desa UU No. Sihombing. Hessel Nogi S.. Angus. Reynolds.. 22/1999 Tentang Otonomi Daerah. New York:Irwin. Yogyakarta:YPAPI Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah..Salah satu sebab utama tidak maksimalnya pelaksanaan UU No. Widhyharto. Raja Grafindo Persada. Davidson. Dedy dan Solihin. 2005. Sekretariat Daerah propinsi Jawa Timur.

namun dengan istilah yang berbeda. Denhardt.Komentar : Tidak ada komentar » Kategori : Jurnal NEW PUBLIC SERVICE DAN PEMERINTAHAN LOKAL PARTISIPATIF 22 03 2008 NEW PUBLIC SERVICE DAN PEMERINTAHAN LOKAL PARTISIPATIF M. Tony Bovaird dan Elke Loffler (2003) juga mengemukakan pandangan yang sangat mirip. Dalam menjalankan tugasnya.1 Perspektif tersebut adalah old public administration. Gagasan pertama menyangkut pemisahan politik dan administrasi. 2004). Khairul Muluk Staf Pengajar Administrasi Publik Universitas BrawijayaKandidat Doktor Ilmu Administrasi di Universitas Indonesia Sistem administrasi publik di Negara Kesatuan Republik Indonesia mengenal tiga tingkatan pemerintahan. Baik Bovaird & Loffler dan Denhardt & Denhardt mengemukakan adanya pendekatan baru administrasi publik sebagai pertama yang merupakan perspektif klasik berkembang sejak tulisan Woodrow Wilson di tahun 1887 yang berjudul “the study of administration”. Denhardt & Denhardt mengungkapkan bahwa terdapat tiga perspektif dalam administrasi publik. public management. Kajian dan praktek administrasi publik di berbagai negara terus berkembang. Kompleksitas ini ditanggapi oleh para teoritisi dengan terus mengembangkan ilmu administrasi publik. dan public governance. Penyelenggaraan administrasi publik di berbagai tingkatan pemerintahan ini pada dasarnya tidak terlepas dari perkembangan pemikiran administrasi publik. administrasi publik menampilkan netralitas dan . dan pemerintahan kabupaten atau kota. semua urusan pemerintahan dibagi habis dalam tiga tingkatan pemerintahan tersebut. 2 Senada dengan pembagian tiga perspektif dalam administrasi publik ini. yakni public administration. Sharpe. Dengan demikian. Not Steering. Kedua penulis tersebut menyimpulkan bahwa terdapat tiga pendekatan dalam administrasi publik. The New Public Service: Serving. Tiga pendekatan ini mirip dengan tiga perspektif yang dijelaskan oleh Denhardt & Denhardt.E. Tulisan ini bertujuan untuk membahas perkembangan pemikiran mutakhir tentang administrasi publik dan berusaha meletakkannya dalam jenis pemerintahan sub-regional yang cukup strategis. Berbagai perubahan terjadi seiring dengan berkembangnya kompleksitas persoalan yang dihadapi oleh administrator publik. Administrasi publik tidak secara aktif dan ekstensif terlibat dalam pembentukan kebijakan karena tugas utamanya adalah implementasi kebijakan dan penyediaan layanan publik. new public management. Secara resmi tidak terdapat tingkatan pemerintahan di luar hal tersebut. Jenis pemerintahan tersebut adalah pemerintahan lokal yang dimanifestasikan baik dalam bentuk pemerintahan kelurahan maupun desa. (New York: M. Namun demikian masih terdapat satu jenis pemerintahan lain yang memperoleh tempat khusus baik dalam peraturan perundangundangan maupun dalam kajian administrasi publik. Terdapat dua gagasan utama dalam perspektif ini. yakni pemerintahan lokal.R. yakni pemerintahan pusat.2 Perspektif 1 Janet Vinzant Denhardt and Robert B. dan new public service. pemerintahan propinsi.

pelaporan. dan berusaha memaksimalkan . Meski nilai utama yang hendak dijadikan dasar bertindak manusia adalah rasionalitasnya. Perspektif ini berpandangan pula bahwa peran utama administrator publik dibatasi dengan tegas dalam bidang perencanaan.5 Selama masa berlakunya perspektif old public administration ini. Manusia pada dasarnya kelanjutan dari pendekatan public management. pengorganisasian.4 Dengan mengacu pada dua gagasan utama tersebut. Hal ini tampak dalam pandangan Denhardt & Denhardt bahwa “for what Simon called ‘administrative man. 7-8. Pertama adalah pandangan Herbert A.. Dengan demikian orang akan berusaha mencapai tujuan organisasi dengan cara yang rasional dan menjamin perilaku manusia untuk mengikuti langkah yang paling efisien bagi organisasi. mementingkan dirinya sendiri. Perspektif ini berpandangan bahwa organisasi publik beroperasi paling efisien sebagai suatu sistem tertutup sehingga keterlibatan warga negara dalam pemerintahan dibatasi. bahwa administrasi publik seharusnya berusaha sekeras mungkin untuk mencapai efisiensi dalam pelaksanaan tugasnya. White (1926) dan W. pengelolaan pegawai. 5 Ibid. Gagasan ini terus berkembang melalui para pakar seperti Frederick Winslow Taylor (1923) dengan “scientific management”. dan Gullick & Urwick (1937) yang sangat terkenal dengan akronimnya POSDCORB. Simon yang tertuang dalam karya klasiknya (1957) “administrative behavior”. teori ini memusatkan perhatian pada individu dengan asumsi bahwa pengambil keputusan perorangan adalah orang yang rasional. namun Simon mengungkapkan bahwa dalam organisasi manusia yang rasional adalah yang menerima tujuan organisasi sebagai nilai dasar bagi pengambilan keputusannya.F. Willoughby (1927) yang mengembangkan struktur organisasi yang sangat efisien. sehingga untuk mempertipis batas tersebut manusia bergabung dengan yang lainnya guna mengatasi segala persoalannya secara efektif. pp. pp. Efisiensi ini dapat dicapai melalui struktur organisasi yang terpadu dan bersifat hierarkis.’ the most rational behavior is that which moves an organization efficiently toward its objective. pengarahan. Konsep utama yang ditampilkan oleh Simon adalah rasionalitas. dan yang lebih dekat dengan pandangan economic man.7 Pertama. 5-7. tetapi juga dengan berbagai standar lainnya. Organisasi pada dasarnya tidak sekedar berkenaan dengan standar tunggal efisiensi. dan penganggaran. Pandangan ini merupakan penafsiran baru atas perilaku administrasinya Simon. 3 Denhardt & Denhardt. 4 Ibid. Dengan pandangan ini akhirnya posisi rasionalitas dipersamakan dengan efisiensi. Administrasi publik diawasi oleh dan bertanggung jawab kepada pejabat politik yang dipilih. 11-12. pp. terdapat dua pandangan utama yang lainnya yang berada dalam arus besar tersebut. dibatasi oleh derajat rasionalitas tertentu yang dapat dicapainya dalam menghadapi suatu persoalan..”6 Pandangan berbeda kedua dalam perspektif old public administration adalah public choice (pilihan publik). Leonard D.cit.. perspektif ini menaruh perhatian pada fokus pemerintahan pada penyediaan layanan secara langsung kepada masyarakat melalui badan-badan publik. Teori pilihan publik ini didasarkan pada tiga asumsi kunci. Simon mengungkapkan bahwa preferensi individu dan kelompok seringkali berpengaruh pada berbagai urusan manusia. op. pengkoordinasian.3 Gagasan kedua menyangkut nilai yang dikedepankan oleh perspektif ini.profesionalitas. Pendekatan baru tersebut adalah new public service menurut Denhardt & Denhardt atau public governance menurut Bovaird & Loffler.

10-11. dan rational models of choice. reformasi administrasi publik dijalankan sejak masa PM Margaret Thatcher. Penggunaan istilah yang berbeda ini dilakukan untuk membedakannya dari public administration dengan mengabaikan fakta bahwa keduanya memiliki perhatian yang sama.manfaat yang diperolehnya. Kemajuan dapat dicapai melalui produktivitas yang lebih besar. 9. 1990. Aliran 6 Ibid. p. sosiologi. para manajer harus diberi “the freedom to manage” dan bahkan “the right to manage. gerakan ini memperoleh popularitas besar berkat karya terkenal David Osborne dan Ted Gaebler. sehingga analis kebijakan dan para ahli yang menggeluti evaluasi kebijakan terlatih dengan konsep market economics. (New York : A William Patrick . 2000.”9 Secara praktek. 7 Ibid. pp. Di Inggris. gerakan manajerialis memperoleh pengaruh besar dalam reformasi administrasi publik di berbagai negara maju. teori pilihan publik berupaya menstrukturasi proses pembuatan keputusan sehingga dapat mempengaruhi pilihan-pilihan manusia. seperti Selandia Baru. Selain berbasis pada teori pilihan publik. Teori pilihan publik inilah yang merupakan jembatan penghubung antara old public administration dengan new public management. pp. Reinventing Government. Di Amerika Serikat. dan produktivitas ini dapat ditingkatkan melalui disiplin yang ditegakkan oleh para manajer yang berorientasi pada efisiensi dan produktivitas. Privatization and Public-Private Partnerships. Kedua. 9 Ibid. teori ini memusatkan perhatian pada public goods (komoditas publik) sebagai output dari badanbadan publik. berusaha menggunakan pendekatan sektor swasta dan pendekatan bisnis dalam sektor publik. Australia. (Brighton: Wheatsheaf). costs and benefit. yang selanjutnya mereka sebut sebagai public management. p. new public management. David Osborne and Ted Gaebler.12 Gerakan ini menyebar ke seluruh dunia sehingga menjadi inspirasi utama di banyak negara dalam 8 Ibid.. Untuk memainkan peran penting ini. Hal ini merupakan kunci beroperasinya badan-badan publik. Dukungan intelektual dalam gerakan ini di Inggris tampak dari karya Emmanual Savas10 dengan “Privatization”nya. 20. 11 Norman Flynn. namun jika antara keduanya ada yang membedakan maka istilah public management cenderung bias pada interpretasi ekonomi terhadap perilaku manajerial sementara istilah public administration cenderung dipergunakan dalam ilmu politik. Perspektif administrasi publik kedua. Normann Flynn 11dengan “Public Sector Management”nya. seseorang senantiasa berusaha mencari keuntungan sebesar-besarnya dengan pengorbanan sekecil-kecilnya. teori ini didasarkan pada asumsi bahwa situasi keputusan yang berbeda akan menghasilkan pendekatan yang berbeda dalam penentuan pilihan. Savas. Denhardt & Denhardt mengakui bahwa public administration merupakan sinonim dengan public management. dukungan intelektual bagi perspektif ini berasal dari public policy schools (aliran kebijakan publik) dan managerialism movement. dan Amerika Serikat. Reinventing Government : How the Entrepreneurial Spirit is Transforming the Public Sector. atau analisis organisasi. Dengan demikian. Dengan alasan ini..8 Dukungan intelektual dari managerialism movement berakar dari pandangan bahwa keberhasilan sektor bisnis dan publik bergantung pada kualitas dan profesionalisme para manajernya. kebijakan publik dalam beberapa dekade sebelum ini memiliki akar yang cukup kuat dalam ilmu ekonomi. aliran ini mulai mengalihkan perhatiannya pada implementasi kebijakan. (New York : Chatam House Publishers). Ketiga. Inggris. yakni implementasi kebijakan publik. 21-22. Public Sector Management. 10 Emanuel S. Selanjutnya.

perhaps we are forgetting who owns the boat. King & Stivers (1998). anticipatory government: prevention rather than cure. Gambaran yang lebih utuh tentang perspektif new public management ini dapat dilihat dari pengalaman Amerika Serikat sebagaimana tertuang dalam sepuluh prinsip “reinventing government” karya Osborne & Gaebler. entreprising government: earning rather than spending.”14 Menurut Denhardt & Denhardt. seperti halnya perspektif old public administration. market-oriented government: leveraging change through the market. menyederhanakan proses administrasi.Book. dan mendesentralisasi pembuatan keputusan. nilai yang dikedepankan. dan peran pemerintah ini memunculkan perspektif baru administrasi publik yang disebut sebagai new public service. community-owned government: empowering rather than serving. mendefinisi ulang misi organisasi. Masalahnya terletak pada nilai13 Ibid. competitive government: injecting competition into service delivery. Dengan demikian manajer publik memusatkan perhatian pada akuntabilitas kepada pelanggan dan kinerja tinggi. dan Denhardt & Denhardt (2003). rasionalitas.13 PERSPEKTIF BARU ADMINISTRASI PUBLIK Perspektif new public management memperoleh kritik keras dari banyak pakar seperti Wamsley & Wolf (1996). mission-driven government: transforming rule-driven organizations. results-oriented government: funding outcomes not inputs. Jika pemerintahan dijalankan seperti halnya bisnis dan pemerintah berperan mengarahkan tujuan pelayanan publik maka pertanyaannya adalah siapakah sebenarnya pemilik dari kepentingan publik dan pelayanan publik? Atas dasar pemikiran tersebut Denhardt & Denhardt memberikan kritik terhadap perspektif new public management sebagaimana yang tertuang dalam kalimat “in our rush to steer. Prinsip-prinsip tersebut adalah: catalytic government: steering rather than rowing. Warga . Bovaird & Loffler (2003). restrukturisasi badan-badan publik.” yang bermakna bahwa beban pelayanan publik tidak dijalankan sendiri tetapi sebisa mungkin didorong untuk dijalankan oleh pihak lain melalui mekanisme pasar. Box (1998). karena pemilik kepentingan publik yang sebenarnya adalah masyarakat maka administrator publik seharusnya memusatkan perhatiannya pada tanggung jawab melayani dan memberdayakan warga negara melalui pengelolaan organisasi publik dan implementasi kebijakan publik. decentralized government: from hierarchy to participation and team work. 1992). Mereka memandang bahwa perspektif ini. Manajer publik didesak untuk “mengarahkan bukannya mengayuh. Peran manajer publik berubah karena ditantang untuk selalu menemukan cara-cara baru dan inovatif dalam mencapai tujuan. customer-driven government: meeting the needs of the customer not the bureaucracy. atau menswastakan berbagai fungsi yang semula dijalankan oleh pemerintah. nilai yang dikedepankan tersebut seperti efisiensi. Perspektif ini menekankan penggunaan mekanisme dan terminologi pasar sehingga memandang hubungan antara badan-badan publik dengan pelanggannya sebagai layaknya transaksi yang terjadi antara penjual dan pembeli. mereformasi administrasi publik baik dengan melakukan privatisasi gaya Inggris atau dengan gerakan mewirausahakan birokrasi gaya Amerika Serikat. tidak hanya membawa teknik administrasi baru namun juga seperangkat nilai tertentu. Perubahan orientasi tentang posisi warga negara. produktivitas dan bisnis karena dapat bertentangan dengan nilai-nilai kepentingan publik dan demokrasi.

Kedua. Keenam. not customers. kepercayaan. seek the public interest.cit. dan kepentingan warga negara. think strategically. and civic engagement at the center. 14 Denhardt & Denhardt. norma politik. standar profesional.17 Secara ringkas. op. Administrator yang bertanggung jawab harus melibatkan masyarakat tidak hanya dalam perencanaan tetapi juga pelaksanaan program guna mencapai tujuan-tujuan masyarakat. serve rather than .negara seharusnya ditempatkan di depan. p.18 Prinsip-prinsip tersebut adalah: Pertama adalah serve citizens. Administartor publik harus memberikan sumbangsih untuk membangun kepentingan publik bersama. perspektif new public service dapat dilihat dari beberapa prinsip yang dilontarkan oleh Denhardt & Denhardt. perspektif baru ini merupakan “a set of idea about the role of public administration in the governance system that place public service. value citizenship over entrepreneurship. 15 Ibid. dan akuntabilitas dalam suatu sistem demokrasi. 24. administrator publik menyadari adanya beberapa lapisan kompleks tanggung jawab. Hal ini harus dilakukan tidak saja karena untuk menciptakan pemerintahan yang lebih baik tetapi juga sesuai dengan nilai-nilai demokrasi. dan penekanan tidak seharusnya membedakan antara mengarahkan dan mengayuh tetapi lebih pada bagaiamana membangun institusi publik yang didasarkan pada integritas dan responsivitas. Kepentingan publik tidak lagi dipandang sebagai agregasi kepentingan pribadi melainkan sebagai hasil dialog dan keterlibatan publik dalam mencari nilai bersama dan kepentingan bersama. Jati diri warga negara tidak hanya dipandang sebagai semata persoalan kepentingan pribadi (self interest) namun juga melibatkan nilai.. nilai-nilai kemasyarakatan.”15 Perspektif new public service mengawali pandangannya dari pengakuan atas warga negara dan posisinya yang sangat penting bagi kepemerintahan demokratis. 16 Denhardt & Denhardt.. Selain itu. Ketiga. Kelima.16 Perspektif new public service menghendaki peran administrator publik untuk melibatkan masyarakat dalam pemerintahan dan bertugas untuk melayani masyarakat. Keempat. Dalam menjalankan tugas tersebut. recognize that accountability is not simple. abdi masyarakat juga harus mematuhi peraturan perundang-undangan. 170. op. Pada intinya. pekerjaan administrator publik tidak lagi mengarahkan atau memanipulasi insentif tetapi pelayanan kepada masyarakat. p. act democratically. etika. 23. p. Kebijakan dan program untuk memenuhi kebutuhan publik dapat dicapai secara efektif dan bertanggungjawab melalui upaya kolektif dan proses kolaboratif. Kepentingan publik lebih baik dijalankan oleh abdi masyarakat dan warga negara yang memiliki komitmen untuk memberikan sumbangsih bagi masyarakat daripada dijalankan oleh para manajer wirausaha yang bertindak seolaholah uang masyarakat adalah milik mereka sendiri. Dalam perspektif ini abdi masyarakat seharusnya lebih peduli daripada mekanisme pasar.cit. Tujuannya tidak untuk menemukan solusi cepat yang diarahkan oleh pilihan-pilihan perorangan tetapi menciptakan kepentingan bersama dan tanggung jawab bersama. Warga negara diposisikan sebagai pemilik pemerintahan (owners of government) dan mampu bertindak secara bersama-sama mencapai sesuatu yang lebih baik. Dengan demikian. democratic governance. Karena kepentingan publik merupakan hasil dialog tentang nilai-nilai bersama daripada agregasi kepentingan pribadi perorangan maka abdi masyarakat tidak semata-mata merespon tuntutan pelanggan tetapi justeru memusatkan perhatian untuk membangun kepercayaan dan kolaborasi dengan dan diantara warga negara.. dan kepedulian terhadap orang lain.

. 20 John H. Wamsley. 195. California: Sage Publications. Munculnya perspektif new public service ini didukung oleh beberapa tulisan lain yang berkembang beberapa tahun sebelumnya sebagai reaksi terhadap dominasi perspektif new public management di berbagai belahan dunia. Wamsley.. postmodern challenges. Untuk itu. Government for the people berarti bahwa administrasi publik akan benar-benar menjalankan kepentingan publik. Little. Government is us: public administration in an anti-government era. pp.”21 Yang dimaksud dengan active administration adalah tidak sekedar meningkatkan kekuasaan administrasi tetapi memperkuat kerja kolaboratif dengan warga negara. P. Organisasi publik beserta jaringannya lebih memungkinkan mencapai keberhasilan dalam jangka panjang jika dijalankan melalui proses kolaborasi dan kepemimpinan bersama yang didasarkan pada penghargaan kepada semua orang. 18 ibid. Untuk itu. Government by the people berarti menjamin adanya representasi administrator publik dan akuntabilitas administrasi publik terhadap masyarakat. (Thousand Oaks. 1996). Penting sekali bagi abdi masyarakat untuk menggunakan kepemimpinan yang berbasis pada nilai bersama dalam membantu warga negara mengemukakan kepentingan bersama dan memenuhinya daripada mengontrol atau mengarahkan masyarakat ke arah nilai baru. California: Sage Publications. and James F. just productivity. California: Sage Publications. Ketujuh.20 Tulisan lainnya dipersembahkan oleh King & Stivers (1998) dengan judul ‘government is us: public administration in an anti-government era. 21 Cheryl Simrell King and Camilla Stivers. Wolf (ed.” Wamsley & Wolf mengumpulkan banyak tulisan yang melukiskan betapa pentingnya melibatkan masyarakat dalam administrasi publik dalam posisi sebagai warga negara bukan sekedar sebagai pelanggan. tema utama buku tersebut tertuang dalam ungkapan “Government is Us is a democratic public administration that involves active citizenship and active administration. value people. 1996). Wamsley & Wolf (1996) melakukan kritik keras atas reinventing government dengan menyunting buku berjudul “refounding democratic public administration. Government of the people berarti pemerintahan masyarakat akan membawa legitimasi bagi administrasi publik. “Thinking government: bringing democratic awareness to public administration” in Gary L.19 Tulisan Little dalam buku tersebut yang berjudul “thinking government: bringing democratic awareness to public administration” menjelaskan konsepsi democratic public administration dengan memaparkan konsekuensi tiga substansi demokrasi.steer. Buku tersebut menekankan betapa pentingnya democratic government yang mengedepankan partisipasi masyarakat dalam administrasi publik. . 42-43. Pp. postmodern challenges. (Thousand Oaks. 327350. and James F.” Gagasan yang diusung ke dua penulis tersebut adalah seyogyanya administrasi publik memandang warga negara sebagai warga negara bukan sekedar sebagai pelanggan karena pemerintahan itu adalah milik masyarakat. 1998). not 17 Ibid.) Refounding democratic public administration: modern paradoxes. Wolf (ed.) Refounding democratic public administration: modern paradoxes. administrator publik seharusnya berbagi kuasa dengan Gary L. bukan kepentingan birokrasi. Pertama.. (Thousand Oaks.

akuntabilitas publik berarti pertanggung jawaban kepada masyarakat sebagai pemilik pemerintahan. Ketiga adalah the accountability principle yang menjelaskan bahwa pemerintahan pada dasarnya adalah milik masyarakat. Perspektif ini mengedepankan posisi masyarakat sebagai warga negara dalam konteks penyelenggaraan . Box menyarankan bahwa pemerintahan daerah seyogyanya direstrukturisasi sehingga mampu meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam proses kepemerintahan. (Thousand Oaks: Sage Publications. tujuan. Prinsip menekankan perlunya pembahasan kebijakan dan pengambilan keputusan secara terbuka dan bebas. Kedua adalah the democracy principle yang menjelaskan bahwa pada dasarnya proses pemerintahan seharusnya melibatkan masyarakat. p. 1998). dan perubahan dalam bagaimana administrator publik menjalankan tugas memenuhi kepentingan publik. perlunya mendengar beragam pendapat yang muncul serta penghargaan atas perbedaan pendapat. keterkaitan langsung warga masyarakat dengan penyusunan dan pelaksanaan programprogram publik. kesempatan kepada masyarakat untuk menyatakan pendapatnya. perspektif new public service membawa angin perubahan dalam administrasi publik. Oleh karena itu. perubahan dalam memandang apa yang dimaksud dengan kepentingan masyarakat. pemikiran yang cermat. Jika penyelenggaraan suatu fungsi ingin melibatkan partisipasi masyarakat yang lebih besar maka sebaiknya diberikan pada tingkatan pemerintahan daerah karena lebih memungkinkan masyarakat berpartisipasi lebih aktif dan efektif. 163.23 Berdasarkan seluruh uraian di atas. Partisipasi masyarakat merupakan kunci penyelenggaraan prinsip ini. Perubahan ini pada dasarnya menyangkut perubahan dalam cara memandang masyarakat dalam proses pemerintahan.masyarakat dan mengurangi kendali terhadap masyarakat serta meningkatkan kepercayaan kepada masyarakat melalui kolaborasi penyelenggaraan pemerintahan dengan masyarakat.22 Pertama adalah the scale principle yang menjelaskan bahwa terdapat beberapa fungsi yang lebih tepat diatur dan diurus pada tingkatan pemerintah pusat dan terdapat beberapa fungsi lain yang lebih tepat diatur dan diurus pada tingkatan pemerintahan daerah. Keempat adalah the rationality principle yang menjelaskan bahwa proses partisipasi publik dalam pemerintahan daerah haruslah ditanggapi secara rasional. PEMERINTAHAN LOKAL PARTISIPATIF Perspektif new public service juga memperoleh dukungan intelektual dari karya Box (1998) yang berjudul “citizen governance”. Pemerintahan masyarakat ini merupakan partisipasi integratif antara masyarakat aktif dengan administrator aktif untuk memenuhi kebutuhan. perubahan dalam cara bagaimana kepentingan tersebut diselenggarakan. Pengertian rasional dalam hal ini lebih mengacu pada kesadaran dan pengakuan bahwa proses partisipasi membutuhkan waktu yang memadai. Box. Akuntabilitas publik menuntut adanya Richard C. Untuk mencapai akuntabilitas publik dibutuhkan keterlibatan masyarakat dalam proses kebijakan bersama dengan para wakilnya dan administrator publik. dan sasaran bersama. Citizen governance: Leading American communities into the 21st century. Box mengungkapkan bahwa terdapat empat prinsip yang dipergunakan untuk menjelaskan mengapa demokratisasi administrasi publik perlu dilakukan pada tingkatan pemerintahan daerah. Karya ini sekaligus juga menjelaskan bahwa gagasan dari perspektif ini juga telah merambah administrasi publik pada tingkatan pemerintahan daerah.

decentralization within cities diterjemahkan secara langsung dalam dua pengertian yakni desentralisasi secara administratif dan politik. Dalam penyelenggaraan pemerintahan lokal. yang merupakan perspektif baru dalam administrasi publik.. partisipasi masyarakat merupakan unsur penting dalam perspektif new public service. Perspektif ini juga mengakui bahkan menuntut adanya partisipasi masyarakat dalam berbagai jenjang pemerintahan. Ketiga adalah penempatan pejabat lokal yang diisi berdasarkan prosedur pemilihan (elected member) sebagai bentuk pemerintahan perwakilan sehingga para pejabat memiliki akuntabilitas yang lebih besar kepada masyarakat. Pelayanan kepada masyarakat merupakan tugas utama bagi administrator publik sekaligus sebagai fasilitator bagi perumusan kepentingan publik dan partisipasi masyarakat dalam pemerintahan. dan cenderung homogen. dinamis.pemerintahan. Bentuk yang keempat ini seringkali disebut dengan decentralization within cities. Pertama adalah referenda yang dilaksanakan untuk mengambil keputusan terhadap isu-isu vital di daerah tersebut. Desentralisasi secara politis dilakukan oleh pemerintah daerah dengan menyerahkan sebahagian urusan dan dana yang ada kepada pemerintah desa. termasuk daerah. Perspektif ini membawa upaya demokratisasi administrasi publik. karena merupakan bagian integral dari pemerintah daerah maka akuntabilitas pemerintah kelurahan lebih kuat pada pemerintah daerah dibandingkan kepada masyarakat. Keempat adalah melakukan 23 Ibid. Secara umum. Nilai dasar yang hendak dikembangkan dalam penyelenggaraan pemerintah kelurahan adalah efisiensi struktural sehingga kebutuhan masyarakat perkotaan yang lebih bersifat majemuk. Penyelenggaraan pemerintahan daerah secara partisipatoris pada dasarnya dapat dilakukan dengan berbagai cara. Desentralisasi secara fungsional berarti pembentukan lembaga fungsional untuk menjalan urusan tertentu dari pemerintah daerah. desentralisasi kepada unit-unit pemerintahan yang lebih kecil dalam lingkup daerah itu sendiri. fungsional. Aparat pemerintah kelurahan seluruhnya diisi berdasarkan prosedur pengangkatan (selected officer) sehingga merupakan pejabat birokrasi dengan jalur karir yang terintegrasi dengan perangkat daerah lainnya. Dalam kebijakan pemerintahan daerah di Indonesia. 20-21. Nilai dasar yang hendak dikembangkan dalam pemerintahan desa adalah partisipasi dalam penyelenggaraan . cenderung statis. pp. Kedua adalah konsultasi dan kerjasama dengan masyarakat sesuai kebutuhan dan tuntutan lokal. Pemerintahan kelurahan pada dasarnya dipilih dan dibentuk untuk memberikan layanan kepada masyarakat yang memiliki corak perkotaan. Pemerintahan desa dipilih dan dibentuk dengan dasar melestarikan nilai-nilai tradisional yang sudah berkembang dalam corak masyarakat pedesaan. individualistis lebih terpenuhi. administratif.24 Desentralisasi dalam bentuk partisipasi yang keempat tersebut dapat diterjemahkan secara luas sehingga meliputi desentralisasi secara politis. Corak masyarakat demikian bercirikan adanya iklim paguyuban. maupun ekonomis. Desentralisasi secara ekonomis berarti terjadi pembentukan badan usaha milik daerah atau penyerahan sebagaian fungsi pemerintah daerah kepada usaha swasta. Desentralisasi secara administrasi yang dilakukan oleh pemerintah daerah diwujudkan dalam bentuk pemerintahan kelurahan. Norton menjelaskan bahwa ada empat bentuk partisipasi masyarakat dalam praktek pemerintahan daerah di seluruh dunia.

1994). mengajukan pertanyaan tentang agenda tertentu. Dengan demikian. (Stockholm: International Institute for Democracy and Electoral Assistance. dan mengartikulasikan alasan untuk mengesahkan suatu kebijakan. Berdasarkan karakteristik pemerintahan desa sebagaimana dijelaskan di atas maka unit pemerintahan ini merupakan laboratorium yang tepat untuk menjalankan perspektif new public service. Democracy at the local level: the International IDEA Handbook on participation. dkk. Pertama. and governance. Kedua. 1992) 26 Timothy D. International handbook of local and regional government: a comparative analysis of advanced democracies. Perencanaan sosial di dunia ketiga: suatu pengantar. Peluang 25 Diana Conyers. dkk. Pamong desa ini tidak memiliki jalur karir birokrasi yang terintegrasi dengan perangkat daerah lainnya. Posisi penting desa sebagai pengejawantahan pemerintahan lokal dalam demokratisasi administrasi publik didukung pula oleh Diana Conyers yang mengatakan bahwa tingkatan yang lebih tepat bagi partisipasi ideal adalah pada level komunitas desa. pemerintahan desa secara partisipatif di Indonesia telah terbuka lebar seiring terjadinya perubahan pengaturan pemerintahan desa dari UU No. Maka dapat dimengerti mengapa perspektif new public service mestinya dapat diterapkan secara lebih efektif pada pemerintahan desa dibandingkan tingkatan pemerintahan lainnya. Ketiga. dan Sisk. yakni prinsip yang menyatakan bahwa keputusan seharusnya dibuat pada level yang paling dekat dengan rakyat sepanjang ia masih layak dan tidak memerlukan koordinasi regional dan nasional. Conyers.25 Dukungan penerapan partisipasi masyarakat dalam pemerintahan pada level desa juga dikemukakan oleh Timothy D. penguatan sistem demokrasi pada aras lokal merupakan basis utama bagi penguatan sistem demokrasi pada jenjang pemerintahan yang lebih tinggi sehingga sistem demokrasi suatu negara akan menjadi lebih efektif dan berkelanjutan.pemerintahan. et. Sisk. conflict management. pengutamaan capaian partisipasi yang efektif yang diyakini sebagai situasi partisipasi ketika warga memiliki peluang yang sama dan memadai untuk mengungkapkan keinginan mereka. partisipasi. Dengan mempertimbangkan bahwa tidak mudah menentukan batas-batas masyarakat dan bahwa tidak satupun komunitas yang sifatnya sederhana dan merupakan kesatuan yang homogen maka partisipasi masyarakat akan dapat berlangsung ideal justeru pada tingkatan pemerintahan desa. 22 tahun 1999. Karena dipilih oleh 24 Alan Norton. Pejabat pemerintah desa diisi berdasarkan prosedur pemilihan (elected officer). (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. (Cheltenham: Edwar Elgar. penerapan secara lebih nyata subsidiarity principle. Ada tiga pertimbangan mendasar mengapa hal ini terjadi.al. Landasan pemikiran dalam pengaturan pemerintahan desa dalam UU era reformasi tersebut adalah pengakuan atas keanekaragaman. 2001). 5 tahun 1979 menjadi UU No. masyarakat dan pengambilan keputusan desa dilangsungkan secara musyawarah maka akuntabilitas publik dari pemerintah desa kepada masyarakat lebih besar dibandingkan dengan akuntabilitas publik pemerintah kelurahan kepada mayarakat. masyarakat sejak awal telah terlibat secara langsung dalam menentukan pejabat pemerintahan desa.26 Dengan mengacu pada pendapat Box. Sisk. otonomi asli. . Pendapat ini dilatari alasan bahwa partisipasi membutuhkan batasan-batasan masyarakat dan keterjangkauan masyarakat terhadap proses partisipasi.

2005). dan Keputusan Kepala Desa. Namun hal lain yang perlu dicermati sebagai hasil dari temuan tersebut adalah budaya patrimonial di masyarakat yang diteliti juga masih sangat kuat. Kepala Desa tidak lagi bertanggung jawab kepada BPD namun secara substansial lebih bertanggung jawab Kepada Kepala Daerah. Meski hal ini dapat diterima secara umum oleh masyarakat namun muncul pertanda non-demokratis seperti tertutupnya peluang masyarakat pendatang sebagai pamong desa dan penentuan pemimpin desa berdasarkan garis keturunan. Perubahan nomenklatur ini didasarkan pada pertimbangan untuk mengoptimalkan proses pembuatan keputusan bersama dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan desa dan tidak dimaksudkan untuk menciptakan kondisi check and balance antara Kepala Desa dan BPD. Dalam peraturan baru ini. Sebagai perwujduan demokrasi dalam pemerintahan desa maka dibentuklah di setiap desa sebuah Badan Perwakilan Desa atau sebutan lainnya yang sesuai dengan budaya setempat. 5 tahun 1979 karena adanya pengakuan terhadap keanekaragaman. 5 tahun 1979. Ini berarti hubungan desa dengan pemerintahan supra desa dalam UU No. Kondisi ini tentu perlu dicermati di masa mendatang karena dapat mempengaruhi corak pemerintahan desa di Indonesia. Kondisi ini sebenarnya merupakan landasan yang kuat bagi penerapan perspektif baru administrasi publik. Kini UU No. Karena partisipasi masyarakat yang ideal lebih dapat terlaksana pada komunitas yang lebih kecil maka sesuai dengan subsidiarity principle perspektif baru administrasi publik akan terlaksana dengan lebih . dkk. Namun demikian. Ini berarti menunjukkan bahwa tidak setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi pejabat publik. 22 tahun 1999 telah diperbaharui menjadi UU No. Prakarsa desentralisasi dan otonomi desa.27 Pada dasarnya penyelenggaraan urusan desa 27 Abdur Rozaki. Ketaatan masyarakat pada elit lokal sedemikian kuatnya sehingga pemerintahan bersifat elitis karena penyelenggara pemerintahan desa adalah elit lokal tradisional. Banyak pihak mengkritik kebijakan baru sebagai telah mengurangi otonomi desa dan memperkuat posisi Negara terhadap desa. 22 tahun 1999. Temuan dari dua kajian tersebut menunjukkan bahwa Pemerintahan Desa pasca berlakunya UU 22 tahun 1999 memang menunjukkan adanya pertanda kemajuan penyelenggaraan pemerintahan yang demokratis dan berbasis pada budaya lokal. Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa. (Yogyakarta: IRE. Melalui UU ini pula demokratisasi pemerintahan desa berjalan sesuai dengan budaya asli setempat. tidak mengalami perubahan namun secara kelembagaan terdapat perubahan yang cukup berarti. 32 tahun 2004 dan sejumlah masalah yang masih tersisa. dan pemberdayaan masyarakat. 32 tahun 2004 lebih kuat dibandingkan UU No. 32 tahun 2004. new public service. sebenarnya terdapat keraguan tentang apakah budaya setempat sebagaimana diinginkan masih ada dan bertahan hidup setelah 20 tahun terjadi perubahan melalui UU No. Penelitian yang dilakukan oleh Desna Aromatica tentang Pemerintahan Nagari di Sumatera Barat dan Andreas Bernath Sekolengo tentang Perbandingan antara BPD dan Mosalaki di Nusa Tenggara Timur menarik untuk disimak. Terlepas dari polemik yang ada dalam penerapan UU No. Hal ini tentu memerlukan pengkajian secara seksama. Fungsi yang diemban lembaga ini adalah legislasi dan pengawasan terhadap pelaksanaan Peraturan Desa. secara mendasar kini pemerintahan desa dianggap jauh lebih demokratis dibandingkan pengaturan dalam UU No. otonomi asli dan demokratisasi. partisipasi masyarakat. Badan Perwakilan Desa kini berubah menjadi Badan Permusyawaratan Desa.demokratisasi.

The New Public Service: Serving. (London: Routledge. 1998). DAFTAR PUSTAKA Aromatica. (Thousand Oaks. Jika penyelenggaraan pemerintahan desa dapat berlangsung secara partisipatif maka partisipasi masyarakat dalam tingkatan pemerintahan yang lebih tinggi dapat diharapkan dapat terjadi. 1992). (ed.V. et. J.) Refounding democratic public administration: modern paradoxes. Malang: 2004. California: Sage Publications. postmodern challenges. Wamsley. R. Savas. postmodern challenges. & Stivers. (ed. Sharpe. (New York: M. 1996). 1990). & Denhardt. Sekolengo. dkk. conflict management.C. (Cheltenham: Edwar Elgar. Public Sector Management. 1994) Osborne. (Yogyakarta: IRE. T. E. Sisk. Propinsi Nusa Tenggara Timur. 2005). Government is us: public administration in an anti-government era.B.S.L. and James F. Public Management and Governance. “Thinking government: bringing democratic awareness to public administration” in Gary L. Reinventing Government : How the Entrepreneurial Spirit is Transforming the Public Sector. (Stockholm: International Institute for Democracy and Electoral Assistance. (Thousand Oaks. D. King. (New York : Chatam House Publishers. (Thousand Oaks: Sage Publications. A.) Refounding democratic public administration: modern paradoxes. (Thousand Oaks. Wamsley. C. N. Democracy at the local level: the International IDEA Handbook on participation. Kabupaten Ende. & Loffler. Norton. 1998) Conyers.H. International handbook of local and regional government: a comparative analysis of advanced democracies. A. Bovaird. Perencanaan sosial di dunia ketiga: suatu pengantar.S. 1992) Denhardt. E. J..al. Kecamatan Ndona Timur.” Skripsi tidak dipublikasikan pada Jurusan Administrasi Publik Universitas Brawijaya. 2001). and governance.baik pada pemerintahan desa. Privatization and Public-Private Partnerships. 2004). Wolf (ed. Flynn. A. Little. Malang: 2004. “Fungsi BPD dan Lembaga Adat (Mosalaki) dalam penyelenggaraan pemerintahan desa: suatu studi di Desa Sokoria..B. C. T. G. Rozaki. California: Sage Publications. (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. California: Sage Publications. Box.” Skripsi tidak dipublikasikan pada Jurusan Administrasi Publik Universitas Brawijaya. Komentar : Tidak ada komentar » Kategori : Jurnal PERAN LEMBAGA INFORMASI NASIONAL DI . & Gaebler. R. 2003). T. Prakarsa desentralisasi dan otonomi desa.). J. 1996). & Wolf. Citizen governance: Leading American communities into the 21st century.F.D. D. (New York : A William Patrick Book. 2000). (Brighton: Wheatsheaf. D. Not Steering.E. “Perubahan pemerintahan desa menjadi pemerintahan nagari dalam rangka otonomi daerah: suatu studi pada Pemerintah Nagari Salayo Kecamatan Kubung Kabupaten Solok Propinsi Sumatera Barat.

26-30 Juli 1999. but journalism must be a beacon for the seekers of reform” (Wimar Witoelar. Yang pertama dapat dilakukan dengan cara “menipu” publik atau masyarakat dengan menyediakan dan memberikan informasiinformasi yang subyektif. tidak adil. Ada dua cara untuk melakukan fungsi penerangan atau jurnalisme yang efektif bagi pembangunan dan perubahan sosial. ketika pohon beringin itu masih berdiri kokoh. Yang kedua dapat dilakukan dengan cara memberdayakan publik atau masyarakat melalui penyediaan dan pemberian informasiinformasi yang obyektif. Itulah cara yang pernah dituduhkan publik atau masyarakat telah dilakukan oleh pemerintah (baca: Departemen Penerangan Republik Indonesia) sepanjang era pemerintahan Orde Baru. itulah peran yang harus diwujudkan oleh LIN di masa mendatang jikalau ia benar-benar ingin menjadikan dirinya sebagai agen perubahan dan reformasi. hitam fungsi penerangan yang dilakukan oleh pemerintah Orde Baru. kita hanya perlu memahami notasi berikut ini: bahwa memberikan informasi sama artinya dengan memberikan pengetahuan. seimbang. Menggunakan kembali cara-cara yang selama ini dilakukan oleh Departemen Penerangan Republik Indonesia sebaliknya hanya akan mengulang kembali sejarah *). Public and political processes will interact in unpredictable ways. Akan tetapi bagaimana kita harus menjelaskan mengapa di era pemerintahan Orde Baru Departemen Penerangan Republik Indonesia harus melakukan jurnalisme yang subyektif. dan memberikan pengetahuan sama maknanya dengan memberikan kekuasaan. tidak adil. Itulah yang diharapkan oleh publik atau masyarakat harus dilakukan oleh Lembaga Informasi Nasional (LIN) yang dibentuk untuk menggantikan peran Departemen Penerangan Republik Indonesia di era reformasi. 1997: 160).BAWAH TEKANAN GLOBALISASI DAN TUNTUTAN REFORMASI 22 03 2008 PERAN LEMBAGA INFORMASI NASIONAL DI BAWAH TEKANAN GLOBALISASI DAN TUNTUTAN REFORMASI Oleh: Nasikun “The challenge to journalistic rights and responsibilities is whether they are capable of being the platform to affirm positive social values. dan tidak benar. Pengantar. Untuk memahami bagaimana cara yang kedua akan menjadikan LIN sebagai instrumen perubahan dan reformasi. adil. dan tidak benar? Bagaimana peran itu harus diungkapkan di dalam dunia kehidupan pers yang nyata kala itu di bawah tekanan kekuasaan otoriterianisme rejim pemerintahan presiden Suharto? Bagaimana kini kita harus mentransformasikan peran LIN sebagai pengganti atau pewaris Departemen Penerangan Republik Indonesia . 1. Departemen Penerangan Republik Indonesia di Yogayakarta. Tidak pelak lagi. sesudah pohon beringin itu tumbang. Ditulis kembali dengan perbaikan dan penyesuaian dari makalah yang pernah disampaikan pada Pertemuan Ilmiah IV Badan Penelitian dan Pengembangan Penerangan. sepihak. dan benar. Melakukan jurnalisme seperti yang dilakukan oleh pendahulunya hanya akan membuat LIN kehilangan maknanya di era reformasi sebagai institusi negara (baca: pemerintah) yang memperoleh mandat untuk memberikan pelayanan informasi bagi sebesar-besarnya kemakmuran dan kesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia. sepihak.

pendidikan. Fungsi Penerangan di Era Pemerintahan Orde Baru. penjara. sementara kita dapat menemukan aparatus-aparatus represif negara dalam bentuk lembaga-lembaga militer. Seperti yang dapat kita baca di dalam esseinya yang sangat terkenal. Penyajian itu penting untuk menemukan titik masuk yang tepat bagi LIN di dalam upayanya untuk melakukan reformasi atas fungsi dan peran dirinya sebagai pewaris. dan kelompok masyarakat harus dijembatani dan dipertemukan? Bagaimana pula konflik-konflik kepentingan akan informasi diantara pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus diserasikan dan didamaikan? Di hadapan semua itu. bahwa kekuasaan negara pada umumnya dibangun melalui kombinasi antara penguasaan “alat-alat produksi material” (material means of production) dan “alatalat produksi mental” (mental means of production). bagaimana LIN harus merumuskan isu-isu kebijakan dan agenda kegiatannya? Itulah beberapa pertanyaan sangat strategis yang harus dihadapi dan dijawab oleh LIN di era reformasi. apalagi secara mendalam. Itulah pula pertanyaan-pertanyaan yang akan menjadi fokus pergumulan penyajian tulisan singkat ini. kelas. keluarga. Tulisan ini hanya dimaksudkan sebagai eksplorasi awal untuk mengungkapkan dan mengidentifikasi rimba raya isu-isu dan agenda program-program kegiatan yang akan dihadapi oleh dan merupakan tantangan bagi LIN di masa mendatang.dari perannya sebagai instrumen kekuasaan menjadi instrumen liberasi dan pemberdayaan masyarakat? Isu-isu dan program-program apa saja yang harus menjadi orientasi kerja LIN di masa mendatang menghadapi tekanan globalisasi dan tuntutan reformasi? Bagaimana konflik-konflik kepentingan akan informasi dari beragam lapisan. wawasannya. Gramsci (dalam Joseph V. sebelum seluruh penyajian tulisan ini akan ditutup dengan pembahasan sangat singkat mengenai agenda program-program dan kegiatan LIN memasuki era reformasi di awal millenium ketiga yang baru saja kita masuki. 2. Mereka yang sedikit saja memiliki kemampuan “imajinasi sosiologis” akan segera memahami bagaimana sistem politik Orde Baru secara sangat sistematis membangun dan melegitimasikan kekuasaannya melalui perkawinan antara pendekatan Althuserian dan pendekatan Gramscian. 1994: 40). Sesudah itu berturut-turut akan disampaikan penyajian tentang globalisasi industri informasi dan runtuhnya iklim publik dan relevansi peran dan fungsi LIN bagi penguatan iklim publik. dan lain-lain. Gramsci melihat bahwa kelas mana pun yang berhasil membangun kekuasaannya melalui penguasaan atas alat-alat produksi . Penyajian ini akan dimulai dengan pembahasan singkat mengenai fungsi penerangan publik di dalam sistem politik Orde Baru. Meskipun demikian tulisan singkat ini sama sekali tidak mempunyai pritensi akan dapat menjawab semua pertanyaan itu dengan seksama. Untuk memahami dengan baik fungsi penerangan di era pemerintahan Orde Baru kita perlu memahami bagaimana sistem politik Orde Baru membangun dan melegitimasikan kekuasaannya. Ideology and Ideological Apparatus (Lechte. dan partai politik. 1987) menguatkan tesis Althuser lebih jauh dengan menyatakan di dalam teorinya tentang hegemoni. Althuser mengungkapkan bagaimana negara dapat dipahami sebagai terdiri atas dan membangun serta melegitimasikan kekuasaannya melalui sejumlah “aparatus ideologis negara” (state ideological apparatus) dan “aparatus represif negara” (state represive apparatus). Diantara aparatus-aparatus ideologis negara yang paling penting kita dapat menemukannya berupa lembaga-lemaga atau institusi-institusi keagamaan. polisi. hukum. jikalau bukan emanasi dari Departemen Penerangan Republik Indonesia: paradigmanya. Femia. dan agenda kerjanya menghadapi tekanan globalisasi dan tuntutan era reformasi.

Pertanyaannya adalah ini: di mana selama ini tempat Departemen Penerangan Republik Indonesia berdiri di dalam sistem politik Orde Baru. dan Mohtar Mas’oed. disamping posisinya sebagai aparatus ideologis negara sepanjang era pemerintahan Orde Baru Departemen Penerangan Republik Indonesia juga memainkan peran sebagai aparatus represif negara. yang bersama-sama dengan pemerintah bekerjasama dengan masyarakat bisnis internasional. Sebagai suatu sistem politik birokratik otoriterian sistem politik Orde Baru sangat kuat ditandai oleh konsentrasi kekuasaan dan partisipasi politik di dalam pengambilan keputusan-keputusan nasional hampir sepenuhnya berada di tangan penguasa negara di bawah pimpinan suatu tripartit kelompok birokrat. dan tidak benar. bersama-sama dengan lembaga-lembaga dan instansi-instansi yang lain. sehingga William Liddle (dalam Uhlin. Tidak adil dan tidak benar. kelompok militer. 1997). Untuk memahami dengan lebih seksama bagaimana Departemen Penerangan Republik Indonesia memainkan perannya yang kedua itu. serta kuatnya posisi kantor presiden. lahir dari fondasi suatu sistem “politik kesukuan” (ethnic politics) dari suatu masyarakat bekas jajahan yang memiliki konfigurasi struktur sosial yang bersifat majemuk ketika ekspansi kapitalisme internasional melalui pengalihan organisasi produksi dari negara-negara maju terjadi pada awal kelahirannya. oleh karena produksi dan distribusi informasi oleh negara (baca: Departemen Penerangan Republik Indonesia) dilakukan dengan cara tidak akurat dan dengan sengaja menyembunyikan perspektif dan kepentingan pemegang kekuasaan negara (Krisna Sen. dan kelompok wiraswastawan oligopolistik. William Liddle melihat di dalam sistem politik Orde Baru selama ini. King (1979. melalui pembangunan mitos-mitos bahwa negara merupakan otoritas tunggal yang merupakan sumber dari semua otoritas yang lain. ada baiknya kita melihat sejenak bagaimana kekuasaan politik Orde Baru berawal dan bekerja. 1975: 74) menggambarkan sistem politik Orde Baru nyaris bekerja menyerupai sistem politik Uni Soviet sebelum kejatuhannya. 1978. Di dalam paralel dengan sistem politik Uni Soviet. Seperti sudah berulang kali saya sampaikan pada berbagai kesempatan. regional dan lokal. cepat atau lambat di dalam perkembangannya akan berusaha menguatkan dan melestarikannya melalui penguasaan atas alat-alat produksi mental. di dalam sistem politik Orde Baru selama ini Departemen Penerangan Republik Indonesia diposisikan sebagai aparatus ideologis negara untuk membangun dan melegitimasikan kekuasaan negara melalui produksi dan distribusi informasi-informasi yang bersifat subyektif. sepihak. tidak adil. bahwa presiden adalah mandataris MPR dan oleh karena itu semua pikiran dan tindakannya nengungkapkan pikiran dan tindakan rakyat. Tidak pelak lagi. dengan peran sangat dominan dari sistem keamanan pada tingkat nasional. bersama dan . Melalui semua itu pula selama lebih dari tiga dasawarsa sistem politik Orde Baru membangun dan melegitimasikan kekuasaannya. Lebih dari itu. 1993). Demikian kokohnya struktur dan mekanisme kerja tripartit yang mengendalikan sistem politik Orde Baru. oleh karena informasi-informasi itu hanya diproduksi dan didistribusikan dengan bias subyektif pada perspektif dan kepentingan-kepentingan pemegang kekuasaan negara untuk menghegemoni kesadaran masyarakat: antara lain. dan bahwa GOLKAR adalah partai pemerintah dan oleh karena itu rakyat wajib mensukseskan PEMILU dengan cara memilih GOLKAR. Subyektif dan sepihak. dinamika perkembangan sistem politik Orde Baru sangat kuat ditandai oleh perkawinan antara elemen-elemen dari suatu sistem politik “birokratik otoriterian” dan sistem politik “korporatik” (baca Jackson.material.

KONI. ketika ia harus diselenggarakan di hadapan keharusan adanya hanya satu organisasi insan pers yang tunggal? Bagaimana mungkin kebebasan pers dapat berkembang. dan (2) untuk menciptakan iklim yang memungkinkan penguasa negara memiliki pengaruh yang langsung dan besar di dalam proses politik (Mohtar Masoed. jikalau kebebasan yang dimaksud ternyata hanya berlaku untuk mengungkapkan perspektif dan kepentingan-kepentingan penguasa negara? Bagaimana mungkin pula sebuah kehidupan pers yang bebas dan bertanggungjawab dapat berkembang di bawah operasi lembaga “sencorship” yang sangat keras dari aparatus represif negara? Bagaimana mungkin sebuah dunia pers yang bebas dan bertanggungjawab dapat berkembang.) sebagai instrumen mobilisasi dukungan politik dan rekrutmen elit.melalui GOLKAR. Menurut premis ini. Dalam pada itu. MKGR. sebaliknya sejak kelahiran sampai dengan kejatuhan sistem politik Orde Baru kedudukan presiden Suharto tidak pernah mengalami pergantian. misalnya. MUI. PP. 2000). sebagai suatu sistem politik korporatik sistem politik Orde Baru masih dilengkapi dengan sejumlah elemennya yang unik: (1) proses politik terutama digerakkan melalui suatu struktur dan mekanisme perwakilan kepentingan-kepentingan yang bersifat korporatik melalui pembentukan kelompok-kelompok korporatik hampir di semua sektor kehidupan masyarakat Indonesia (a. 1993. ABRI memainkan peran yang sangat mirip dengan peran yang dimainkan oleh Partai Komunis Uni Soviet (PKUS). KNPI. Bedanya. dll. Bagaimana mungkin pendakuan rejim pemerintah Orde Baru kala itu bahwa Indonesia menganut pers yang bebas dan bertanggungjawab dapat diterima oleh akal sehat. jikalau kedudukan Sekretaris Jendral Partai Komunis Uni Soviet silih berganti dipegang oleh beberapa orang yang berbeda. SPSI. majalah. dan ini lah kelebihan dari sistem politik Orde Baru dari sistem politik Uni Soviet. sementara presiden Suharto memainkan peran seperti yang dimainkan oleh Sekretaris Jendral Partai Komunis Uni Soviet. SOKSI. FKPPI. dan (3) arena politik hanya dibuka bagi kekuatan-kekuatan politik pada lapisan elit di lingkungan organnisasi-organisasi korporatik (terutama yang berada di bawah naungan GOLKAR dan militer). Premis dasar yang mendasari semua itu adalah penolakan pandangan liberal bahwa perbedaan-perbedaan kepentingan dapat dipecahkan melalui konflik-konflik yang dilembagakan melalui berbagai kelompok dan perwakilan mereka. dan kerjasama antara penguasa negara dan massa rakyat. KORPRI. KADIN. KOSGORO. dan penerbitan-penerbitan lain yang menurut Undang-Undang dijamin keabsyahan dan legitimasinya. IKADIN. Dengan semua itu maka lengkaplah sudah paradoks kehidupan pers di Indonesia di bawah rejim pemerintahan Orde Baru. dan di hadapan mata publik dianggap sebagai pengungkapan perspektif .l. baca juga Nasikun. (2) proses itu dilakukan bersamaan dengan proses depolitisasi atau pembatasan politik massa rakyat melalui kebijakan “massa mengambang”. korporatisme pada dasarnya merupakan perwujudan dari upaya untuk menekan pertentangan-pertentangan kelas atau kelompok-kelompok kepentingan melalui pembentukan organisasi-organisasi korporatik untuk mencapai dua tujuan berikut: (1) untuk memelihara harmoni. Di dalam konteks bekerjanya sistem politik Orde Baru yang demikian itu lah peran Departemen Penerangan Republik Indonesia sebagai aparatus represif negara harus dipahami. solidaritas.. jikalau surat kabar. ketika yang sesungguhnya terjadi tidaklah lebih dari sebuah realitas ideal daripada sebagai sebuah kenyataan faktual yang sungguh-sungguh hidup? Bagaimana mungkin dunia pers yang bebas dan bertanggungjawab dapat berkembang.

. yang kebijakankebijakannya kini berada di bawah intervensi dan pengendalian pemegang kekuasaan negara. 2002). Seperti sudah beberapa kali saya sampaikan dalam berbagai kesempatan pula (baca: a. ternyata setiap saat dengan mudah dapat dilarang peredarannya? Lebih dari semua itu. dan kita akan segera menemukan kenyataan bahwa yang sesungguhnya tejadi di hadapan kita adalah kelahiran kembali majalah dan/atau surat kabar lama dengan pengelolaan oleh sebagian atau seluruh pemilik dan anggota dewan redaksi lama. cengkeraman tangan-tangan kekuasaan negara melalui peran Departemen Penerangan ternyata dengan mudah dapat mengakibatkan SIUP suatu surat kabar. menyerahkan pengendalian total fungsi pelayanan penerangan publik yang selama ini berada di tangan negara kepada pengendalian oleh institusi-institusi swasta. Nasikun. 1997).dan kepentingan-kepentingan mereka. kenyataan-kenyataan berikut ini.l. bagaimana mungkin suatu kehidupan pers yang bebas dan bertanggungjawab dapat berkembang. ketika tuntutan-tuntutan reformasi untuk melakukan demokratisasi kehidupan pers harus diwujudkan. akan tetapi tanpa perlu melakukan penelitian yang mendalam kita akan segera dapat memahami bagaimana semua stasiun televisi swasta itu lebih merupakan kepanjangan tangan dari kepentingan-kepentingan pemegang kekuasaan negara pula daripada sebagai pengungkapan perspektif dan kepentingan-kepentingan masyarakat (Krisna Sen. sesudah pohon beringin Orde Baru itu tumbang. misalnya. Perhatikan pula kelahiran majalah-majalah dan/atau surat kabar-surat kabar baru menyusul pencabutan SIUP beberapa majalah atau surat kabar. Kelahiran beberapa televisi swasta di Indonesia kala itu. dan kita akan benar-benar menemukan kesulitan untuk memahami bahwa kehidupan pers kita sunguh-sungguh merupakan suatu kehidupan pers yang bebas dan bertanggungjawab. yang di atas permukaan memang tampaknya membawa udara kebebasan kehidupan dunia pers. majalah. bagaimana fungsi pelayanan penerangan publik di era reformasi di masa mendatang seharusnya dilakukan. perhatikan pula peristiwa penangkapan dan pemenjaraan beberapa orang wartawan yang terlalu berani mengungkapkan dan menyampaikan informasi yang obyektif kepada masyarakat. dan dengan demikian peran negara hanya diperlukan untuk mengatur perijinan dan persaingan bisnis penyiaran? Jawaban atas pertanyaan itu ternyata tidak segampang seperti yang dibayangkan oleh banyak orang. Lebih dari semua itu. 1995) tentang pengalaman . Globalisasi Industri Informasi dan Runtuhnya Iklim Publik Jadi. kita harus mengakui bahwa di sepanjang era pemerintahan Orde Baru sesekali kita dapat pula menghirup udara kebebasan di dalam kehidupan pers. 3. jikalau ketika pertanggungjawaban itu hendak disampaikan kepada masyarakat. Sebut. Memang. dan ketika tuntutan akan demokratisasi di semua sektor kehidupan harus diakomodasi? Menyerahkannya secara total kepada tuntutan dinamika masyarakat? Dengan kata lain. atau berbagai bentuk penerbitan yang lain dapat dicabut tanpa melalui proses peradilan? Itulah sebagian diantara kenyataan-kenyataan dan pertanyaan-pertanyaan yang kita saksikan sangat hidup sepanjang era pemerintahan Orde Baru. Sumbernya berada sangat mendasar di dalam perubahan-perubahan dan penyesuaian-penyesuaian yang akan terjadi di dalam organisasi dan struktur masyarakat. khususnya di dalam organisasi dan struktur industri informasi di era globalisasi informasi yang akan datang. akan tetapi kehadirannya naik dan turun bukan oleh karena tuntutan dinamika perkembangan masyarakat melainkan oleh karena dinamika perubahan kepentingan-kepentingan pemegang kekuasaan negara. belajar dari analisis Schiller (Webster.

Kelas.masyarakat industri maju. dan bagi para pengguna informasi. Ketiga.. sebagai hasil dari keduanya kesenjangan kelas (class inequality) akan semakin menguasai dinamika perkembangan masyarakat dan ekonomi kita di masa mendatang. Ketiganya. dalam Frank Webster. 1995). akan semakin menentukan siapa yang akan memepeoleh seberapa banyak dan jenis informasi macam apa beserta dengan semua konsekuensi yang ditimbulkannya. ibid. Dengan kata lain. dan dengan demikian hanya akan menjamin ketersediaan informasi sejauh ia menghasilkan keuntungan. akan menghasilkan berputarnya pendulum dinamika perkembangan masyarakat berupa tuntutan akan kehadiran kembali kekuasaan negara untuk membangun suatu “sistem keamanan nasional” (national surveilance system). dan dengan demikian kehadiran negara untuk mengatur dan mempertahankan pengelolaan apa yang oleh Anthony Giddens (1985) disebut sebagai “sumberdaya alokatif” (perencanaan dan administrasi) dan “sumberdaya otoritatif” (kekuasaan dan pengendalian). hanya dapat diperoleh sejauh mereka mampu membelinya. Di dalam situasi seperti itu. terutama Inggris dan Amerika Serikat (baca Giddens. oleh karena keterikatan mereka yang semakin kuat pada jaringan kepentingan-kepentingan internasional. dan yang tidak kalah pentingnya. antara lain melalui pembangunan lembaga-lembaga “intelijen militer” dan “intelijen ekonomi” mereka dengan dukungan perkembangan teknologi informasi yang canggih. di era globalisasi informasi maka perkembangan informasi dan semua konsekuensi yang ditimbulkannya akan semakin bergeser dari perkembangan yang dikendalikan oleh kriteria-kriteria dan kekuatan-kekuatan politik menuju pada perkembangan yang dikendalikan oleh kriteria-kriteria dan kekuatan-kekuatan pasar. yang akan menjadi kekuatan pendorong sangat penting bagi dinamika masyarakat kita di masa mendatang. suatu sistem kapitalisme yang akan semakin didominasi oleh institusi-institusi korporatis di dalam bentuk organisasi-organsisasi bisnis oligopolitistis dan/atau monopolistis yang semakin jauh mengendalikan jangkauan nasional dan internasional mereka. yang di masa sebelum krisis pun sebenarnya sudah hadir cukup nyata di depan mata publik. saya melihat peluang sangat besar akan hadirnya tiga ragam perubahan organisasi dan struktur masyarakat kita yang sangat problematis. di tengah era globalisasi informasi di awal millenium yang baru saja kita masuki. akan berkembang semakin dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan pasar di dalam pembelian. Pada saat yang sama. hanya mereka yang berada pada lapisan atas di dalam organisasi dan struktur sosial dan ekonomi yang akan memperoleh keuntungan dari perkembangan masyarakat dan perkembangan teknologi informasi. inovasi-inovasi informasi dan komunikasi. tidak lagi memiliki komitmen nasional yang kuat dan dengan demikian tidak mudah menundukkan diri pada otoritas negara. Pertama. Pengalaman negara-negara maju. . misalnya. dan perdagangan untuk alasan keuntungan. baik secara bersama-sama maupun sendiri-sendiri. memberikan contoh tipikal dari kecenderungan yang. Kedua. sistem keamanan nasional itu juga diperlukan untuk menghadapi ancaman disintegrasi nasional dari munculnya beragam kelompok kaum pembangkang (dissidents) yang. Sentralitas prinsip-prinsip pasar di dalam ketiga kegiatan itu pada gilirannya akan menghasilkan terjadinya “komodifikasi” informasi. globalisasi informasi akan mengakibatkan masyarakat dan ekonomi kita menjadi sebuah “corporate capitalism”. misalnya. penjualan. Sistem keamanan nasional yang demikian diperlukan untuk mempertahankan eksistensi negara dari ancaman intervensi kekuatan negara lain dan dari kekuatan korporasi-korporasi ekonomi multinasional yang di hadapan persaingan global yang semakin keras juga mengembangkan sistem keamanan mereka.

Relevansi Peran LIN Bagi Penguatan Iklim Publik. ternyata menghasilkan struktur-struktur dan tekanan-tekanan yang sama bahayanya bagi kehidupan pers yang bebas dan bertanggungjawab dengan menyerahkan seluruh mekanisme pengendalian kehidupan pers ke tangan suatu pemerintahan yang totaliter (Tony Wilton. atau sebaliknya menyerahkannya secara total kepada genggaman tangan kekuasaan negara atau pemerintah. LIN harus melakukan peran dan fungsi sebagai “juru penengah” untuk menjembatani dan mendamaikan konflik-konflik kepentingan antara kekuatan dunia bisnis dan masyarakat. yang baru melakukan swastanisasi dunia persnya sejak pertengahan tahun 1980-an. jawabnya sangat jelas akan tetapi sekaligus juga problematik. ia sebaliknya harus tidak boleh memilih suatu kebijakan atau pendekatan untuk sepenuhnya menyerahkan mekanisme pengendalian kehidupan pers kepada bekerjanya mekanisme pasar. sekali lagi. Meskipun demikian. Pengalaman New Zealand. dan fungsi penerangan yang harus dilakukannnya akan menghadapi ketegangan-ketegangan dan kesulitan-kesulitan yang sangat dilematis oleh karena semua itu harus ditempatkan dan dimainkan di hadapan tarik-menarik diantara dua kekuatan besar: kekuatan “sentripetal” dari negara dan dunia bisnis yang seringkali bertemu untuk mengendalikan produksi dan distribusi informasi demi kepentingan-kepentingan mereka. dan penyimpanan informasi untuk merepresentasikan perspektif dan kepentingan-kepentingan publik atau masyarakat yang lebih adil. Jadi. Pengalaman negara-negara maju yang telah lebih dahulu memasuki era industrialisasi dan swastanisasi kehidupan pers sangat jelas mendemonstrasikan persoalan itu.dengan logika yang sama. Menurut hemat saya. menyajikan contoh yang sangat menarik: yakni bahwa lembaga atau institusi pelayanan informasi publik (public information broadcasting service) yang bebas dan bertanggungjawab ternyata tidak dapat berkembang baik ketika negara (baca: pemerintah) melakukan pengendalian secara total atas kehidupan pers. dengan kekuatan “sentrifugal” untuk mengendalikan produksi. distribusi. 4. Pada saat yang sama. Dengan kata lain. sendiri-sendiri atau bersama-sama. . belajar dari semua itu di mana sebagai pewaris Departemen Penerangan Republik Indonesia LIN seharusnya ditempatkan dan fungsi penerangan yang dimainkannya harus diungkapan di era reformasi dan globalisasi: di era kebebasan dan demokrasi. kehadiran dan peran sebuah lembaga informasi nasional seperti yang kini harus dimainkan oleh LIN di era reformasi dan globalisasi informasi memang masih diperlukan. jikalau bukan totaliter di hadapan kepentingan-kepentingan masyarakat. Semua perkembangan itu jelas akan menyulitkan lembaga-lembaga atau institusi-institusi pelayanan informasi publik untuk mengungkapkan tuntutan-tuntutan reformasi untuk menghadirkan kehidupan pers yang benar-benar bebas dan bertanggungjawab kepada masyarakat. seperti yang dialami New Zealand. 1997: 96-97). misalnya. Melepaskan seluruh mekanisme pengendalian kehidupan pers ke tangan institusiinstitusi swasta di dalam suatu sistem ekonomi pasar. Di satu sisi. peran. akan terjadi pula di Indonesia di era globalisasi informasi di masa mendatang. tempat. LIN tidak boleh mengambil kembali perannya seperti ketika ia masih berstatus sebagai Departemen Peneruangan Republik Indonesia sebagai representasi dari kekuasaan negara yang otoriter. dan di tengah persaingan global yang semakin keras? Dari uraian yang sudah disampaikan di atas. atau sebaliknya ketika pelaksanakan semua bentuk kebijakan pengendalian atas kehidupan pers sepenuhnya dilepaskan ke tangan institusi-institusi swasta.

Harap diketahui. yang meskipun sebagian sangat besar dana operasinya berasal dari pemerintah Inggris akan tetapi tetap dapat mempertahankan eksistensinya sebagai institusi yang bebas dari campur tangan dan kepentingankepentingan negara dan masyarakat bisnis. oleh karena alasan bahwa di dalam kehidupan seharai-hari dunia ilmu pengetahuan dan kesenian tidak dapat dipenuhi hanya melalui prinsip-prinsip persaingan pasar. Pada tingkat lokal. kebijakan pembangunan lembaga . bahwa di dalam masyarakat borjuis atau kapitalis. sebelum menutup penyajian ini dengan pembicaraan tentang isu-isu dan agenda kegiatan LIN. bangsa Indonesia sudah terlalu banyak diindoktrinasi untuk terlalu mempercayai kekuatan etika komunikasi sebagai solusi paling handal untuk menyelesaikan masalah-masalah yang sumbernya sesungguhnya berakar sangat dalam di dalam struktur industri komunikasi yang mengendalikan produksi dan distribusi informasi. Diantara institusi-institusi paling strategis yang perlu diberdayakan untuk membangun kehidupan pers yang bebas dan bertanggungjawab tentu saja adalah institusi-institusi yang berkaitan dengan produksi. Penguatan dan pemberdayaan jaringan radio dan televisi pemerintah menjadi suatu jaringan radio dan televisi yang benar-benar independen dari intervensi negara dan dunia bisnis merupakan langkah dan kebijakan pertama dan paling penting yang harus diambil oleh LIN di era reformasi dan globalisasi mendatang. Yang pertama menyangkut penguatan institusi pelayanan penyiaran informasi publik (public service broadcasting). suatu pembangunan semacam “parlemen atau lembaga permusyawaratan elektronik” yang terbuka bagi khalayak luas untuk mengungkapkan dan memperbincangkan kepentingan-kepentingan dan persoalan-persoalan mereka di hadapan kepentingan-kepentingan negara dan dunia bisnis merupakan kebijakan LIN ketiga yang sangat penting. meskipun realisasi mereka boleh jadi memang tidak gampang diwujudkan. distribusi. dan penyimpanan informasi. dan solidaritas (Herbert Marcuse.Bagaimana suatu peran “middle way” diantara keduanya harus diambil dan diungkapkan? Langkah-langkah dan kebijakan-kebijakan apa saja yang perlu dilakukan untuk menjadikan revolusi informasi di era reformasi benar-benar akan dapat menjadi pintu “sorga” kebebasan dan demokrasi? Tidak cukupkah kita berharap dari komitmen para ahli dan pengguna teknologi komunikasi pada etika komunikasi? Menurut hemat saya. untuk melakukan peran itu kita jelas tidak dapat hanya berharap dari bekerjanya etika komunikasi. diantara pengembangan jaringan radio televisi pemerintah yang memiliki kualitas seperti yang dimiliki oleh BBC (British Broadcasting Corporation) di Inggris. Tipe ideal yang menjadi orientasinya dapat dipilih. Sebagaimana yang diusulkan oleh Jeffrey Abramson (Pavlik. Sayangnya. lebih dahulu berbicara tentang kebijakan penguatan institusi-institusi publik di dalam kehidupan pers kita sebagai solusi alternatif yang lebih dapat diterima oleh akal sehat bagi pembangunan kehidupan pers yang bebas dan bertanggungjawab. 1986). 1996: 390) bagi masyarakat Amerika Serikat. kebenaran. Maka kini perkenankan saya. Pembangunan dan pemberdayaan jaringan perpustakaan publik (public library net-work) dan pengembangan museum dan art galleries yang benar-benar berada di bawah kontrol dan mengartikulasikan serta mengungkapkan kepentingan-kepentingan masyarakat merupakan langkah dan kebijakan lain yang juga harus menjadi perhatian LIN untuk mendorong terjadinya liberasi dan demokratisasi fungsi penerangan di era reformasi dan globalisasi mendatang. maka keduanya nyaris merupakan sebagian kecil dari dunia kehidupan yang dibiarkan oleh negara dan kekuasan bisnis untuk berkembang menjadi tempat bagi persemaian nilai-nilai kemanusiaan. misalnya.

sejumlah kebijakan dapat disarankan bagi LIN untuk membuat eksistensi dirinya menjadi lebih relevan di era reformasi dan globalisasi informasi yang akan datang. (2) untuk memberdayakan warga negara untuk melakukan pemerintahan sendiri (self-government). harus ditempatkan di dalam era sistem politik yang akan datang: di dalam struktur organisasi kabinet kita. Dari penyajian pokok bahasan tiga dan empat. dan sejumlah ahli lain menyebutnya sebagai teknik abad 21 untuk memperkenalkan kembali komunikasi tatap muka di dalam masyarakat media (Pavlik. Saya berharap para ahli hukum tata negara atau ahli administrasi negara akan dapat menemukannya. atau lebih tepat fungsi penerangan oleh institusi negara. untuk mengembalikan hadirnya iklim publik yang hilang selama era pemerintahan Orde Baru. ibid. akan tetapi ia benar-benar memiliki independensi untuk mengungkapkan dan memainkan fungsi parlemen: mewakili dan mengekspresikan perspektif dan kepentingan-kepentingan publik dan masyarakat pendengarnya.permusyawaratan elektronik tersebut dapat diwujudkan melalui pembangunan suatu “Electronic Town Hall” di setiap kota sebagai tempat beroperasinya institusi “Electronic Town Meetings”. Ross Perot melihat “Electronic Town Hall” sebagai sebuah platform bagi suatu era baru demokrasi. Tentang hal yang satu ini saya sangat dikesankan dan dipengaruhi oleh pemahaman saya mengenai fenomena BBC yang meskipun sebagian sangat besar dana operasinya bersumber dari anggaran pemerintah Inggris. Penutup: Isu-isu dan Agenda Penelitian. atau di suatu tempat di antara keduanya. . pengembangan lembaga semacam itu akan dapat menguatkan peran lembaga perwakilan rakyat kita di tingkat akar rumput (DPRD) yang selama ini kurang diberdayakan. Berdasarkan identifikasi isu-isu strategis yang akan semakin mengemuka dalam beberapa tahun mendatang. 1996). Yang saya maksudkan adalah perlunya kita menemukan jawaban yang tepat terhadap pertanyaan tentang di mana posisi LIN. dan (3) untuk memasukkan warga negara di dalam suatu proses yang dapat diakses secara terbuka dan universal. sementara. paling sedikit kita dapat mengidentifikasi adanya tiga buah kawasan isu sangat strategis yang akan terbentang di hadapn LIN di dalam mengungkapkan peran dan fungsinya di masa yang akan datang. Tidak pelak lagi oleh karenanya jikalau di bawah tekanan globalisasi informasi dan tuntutan reformasi. Di luar semua itu. 5. Kehadirannya di tengah masyarakat memiliki peran sangat penting sebagai suatu institusi pendidikan demokrasi yang dapat memainkan tiga fungsi penting berikut: (1) untuk memberikan pendidikan pada warga negara tentang masalahmasalah bersama. Mengenai semua itu Alexis de Tocqueville bahkan sudah sangat lama menunjukkan betapa pentingnya peran lembaga permusyawaratan kota itu bagi pendidikan demokrasi. di dalam parlemen kita.. satu hal masih ingin saya sampaikan sebelum saya menutup seluruh penyajian ini dengan pembahasan singkat tentang isu-isu dan agenda penelitian yang perlu dirumuskan LIN untuk menyongsong era reformasi dan globalisasi informasi yang akan datang. Saya tidak tahu persis bagaimana pertanyaan itu harus dijawab. Yang menjadi persoalan bagi saya adalah ini: bagaimana kita harus memberikan jaminan agar fungsi penerangan yang dimainkan oleh LIN di era reformasi dan globalisasi informasi benar-benar akan semakin dapat mengungkapkan dan mengartikulasikan secara seimbang perspektif dan kepentingan-kepentingan masyarakat di hadapan perspektif dan kepentingan-kepentingan negara dan dunia bisnis. yang menurut Habermas (1989) merupakan fondasi bagi aktualisasi potensi demokrasi yang ditimbulkan oleh perkembangan teknologi komunikasi/informasi.

dan masyarakat sipil di bawah tekanan globalisasi dan tuntutan reformasi. beserta dengan sistem-sistem nilai. 1972) dalam bukunya bertajuk “Who Runs Congress: The President. Di dalam merumuskan kebijakan penelitiannya. dan berbagai implikasi yang ditimbulkannya. dan yudikatif dari berbagai jenjang organisasi pemerintahan seperti yang dilakukan oleh Ralph Nader Conggress Project (Green. dan kebudayaan mereka. adalah topik-topik penelitian tentang sejauh mana berbagai kebijakan dan program pembangunan benar-benar dirancang dan dilaksanakan dengan orientasi bagi sebesar-besarnya kemakmuran dan kesejahteraan rakyat banyak. dan distribusi informasi yang dilakukannya memiliki kemampuan untuk secara seimbang mengartikulasikann perspektif dan kepentingan-kepentingan negara. Pergumulan kekuasaan diantara ketiganya di era reformasi dan globalisasi informasi yang akan datang. Sangat sentral di dalam kategori tema penelitian ini. Fallows and Zwick. akan membuat LIN berada di bawah tekanan untuk tidak henti-hentinya mengupayakan agar kebijakan produksi. tidak sepihak. Akan sangat menarik. or You”? Tema penelitian kedua yang masih bersinggungan dengan tema penelitian yang pertama adalah tema penelitian tentang perimbangan kekuasaan antara pemerintah pusat dan daerah. legislatif. legislatif. Topik-topik penelitian lebih khusus di dalam kaitannya dengan semua itu adalah . dan mendiseminasikan informasi tentang profil pejabat-pejabat eksekutif. Tema penelitian penting yang pertama menyangkut penelitian tentang dampak globalisasi kapitalisme terhadap proses pengambilan keputusan-keputusan pemerintah pusat dan daerah dalam perumusan kebijakan-kebijakan dan program-program pembangunan serta implikasinya bagi pemberdayaan masyarakat. misalnya. masyarakat bisnis. akurat. penyimpanan. kebijakan-kebijakan LIN di masa depan harus benar-benar dapat menjamin produksi.Ketiga kawasan isu yang dimaksud berkaitan sangat erat dengan hubungan kekuasaan segi tiga antara negara. dan benar. dunia bisnis. dan masyarakat sipil. jikalau salah satu kebijakan penelitian LIN dapat dilakukan terus-menerus untuk memproduksi. dan sistem sosial. penyimpanan. Topik-topik penelitian menarik yang termasuk di dalamnya meliputi penelitian-penelitian tentang bagaimana kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah. dan komunitas-komunitas keagamaan. suku-bangsa. tindakan-tindakan. menyimpan. norma-norma. jujur. Termasuk di dalamnya pula adalah topik-topik penelitian yang secara sistematis dirancang dan dilaksanakan untuk mengungkapkan sejauh mana di dalam melakukan tugas-tugas mereka wakil-wakil rakyat di lembaga-lembaga eksekutif. interaksi antara keduanya di dalam mengungkapkan perspektif dan kepentingankepentingan masing-masing. dan distribusi informasi yang obyektif. di dalam proses integrasi mereka dengan sistem nasional dan internasional. bagai pedang bermata dua. bahkan antara pemerintah dan masyarakat daerah yang satu dengan pemerintah dan masyarakat daerah yang lain. dan pola hidup mereka sehari-hari. bukan hanya memiliki dampak “tonik” bagi moderasi konflik antara pemerintah pusat dan daerah akan tetapi juga dampak “toksik” menciptakan insentif bagi meningkatnya konflik diantara keduanya. ekonomi. dan yudikatif benar-benar melaksanakan amanat rakyat yang mereka emban: di dalam gagasan-gagasan. serta diorientasikan hanya bagi kemakmuran seluruh masyarakat tanpa motif-motif politik yang sempit. Termasuk dalam kategori tema penelitian yang kedua ini adalah topik-topik penelitian tentang pergulatan dan nasib berbagai masyarakat adat. Big Business. Dengan kata lain. paling sedikit terdapat tiga buah tema penelitian strategis berikut yang dapat dijadikan titik masuk (entry points) bagi penyusunan agenda penelitian LIN di era reformasi dan globalisasi informasi mendatang.

Termasuk di dalamnya adalah penelitian tentang profil masing-masing. Femia. politik dan kebudayaan dari berbagai kebijakan dan program pembangunan terhadap berbagai masyarakat adat. 1997. Political Power and Communications in Indonesia. Jackson. Yogyakarta. Diantara topik-topik penelitian yang sangat penting tentang hal itu antara lain meliputi topik-topik penelitian tentang bagaimana nasib dari pengusaha-pengusaha kecil. Paul. dan komunitas-komunitas keagamaan. Sebagaimana sudah diungkapkan pada uraian pokok bahasan keempat di atas. Anthony. akan tetapi ketiganya merupakan tema-tema penelitian strategis yang dapat dipakai sebagai titik masuk bagi LIN untuk membangun pemahaman mengenai posisi dan fungsinya yang baru sebagai akibat dari perubahan sistem politik Indonesia sesudah pohon beringin Orde Baru itu tumbang.). mekanisme-mekanisme dan prosesproses ekonomi dan politik yang mempengaruhi kehidupan mereka. DAFTAR PUSTAKA Chadrick. Pey (Eds. 27 Juli 2003. dan bagaimana mereka memberikan kontribusi bagi kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat luas. termasuk masyarakat petani dan nelayan. Tema-tema penelitian lain di luar semua itu tentu saja masih dapat dirumuskan. Gramsci’s Political Thaought: Hegemony. “Bureaucratic Polity”. dalam Karl D. Giddens. Tema penelitian yang ketiga adalah tentang pengaruh pembangunan terhadap hubungan antara aktor-aktor ekonomi besar. kebijakan LIN di kawasan ini dapat dilakukan meliputi perumusan program-program pengembangan dan penguatan jaringan institusi pelayanan penyiaran informasi publik (public service broadcasting). Oxford: Clarendonpress. AIJ. akibat-akibat yang ditimbulkannya. Di luar kebijakan-kebijakannya untuk memproduksi. Jackson dan Lucian W. kelompok suku-bangsa. dan respons mereka antara lain dalam bentuk berkembangnya “gerakan-gerakan nasionalisme kesukuan” nyaris di seluruh Indonesia akhir-akhir ini. Institute for The Studies on Free Flow of Informations. 1978. dan pembangunan serta pengembangan apa yang dapat disebut sebagai “lembaga permusyawaratan elektronik” yang terbuka bagi khalayak luas untuk mengungkapkan dan memperbincangkan kepentingan-kepentingan dan persoalan persolan mereka di hadapan kepentingan-kepentingan negara dan dunia bisnis. industri kecil. di bawah tekanan globalisasi dan tuntutan reformasi LIN juga disarankan untuk secara sistematis merumuskan kebijakan untuk menciptakan dan menguatkan kembali iklim publik yang selama era Orde Baru sangat diabaikan jikalau bukan malahan dihapuskan. pengembangan dan pemberdayaan jaringan perpustakaan publik (public library net-work) dan museum dan art galleries yang benar-benar berada di bawah pengendalian dan mengartikulasikan perspektif dan kepentingan-kepentingan masyarakat. dan masyarakat kecil. dalam Broadcasting in Asia. 1987.penelitian tentang dampak sosial. di hadapan ekspansi bisnis raksasa dari korporasi-korporasi nasional dan internasional. The Nation States and Violence: Volume Two of a Contemporary . menengah dan kecil. “Journalism Rights and Responsibilities”. Berkely: University of California Press. Consciousness. dan respons kebijakan-kebijakan pemerintah untuk melindungi kepentingan-kepentingan mereka untuk mencegah peluang mereka akan dapat menjadi salah satu elemen dari berbagai kekuatan disintegrasi bangsa. menyimpan dan mendistribusikan informasi.. and the Revolutionary Process. ekonomi. pembangunan. Karl D. Joseph V..

1996. John V. 1986. “Reformasi Politik. “Lessons From Perspektif”. Maret-April. 1995. Anders. Witular. Institute for The Studies on Free Flow of Informations. MOBILISASI PAD DAN DEMOKRASI LOKAL Lely Indah Mindarti Staf Pengajar Administrasi Publik & Divisi Media pada RCCP FIA-Unibraw Malang Abstrak Peningkatan transfer dana bantuan pusat yang tidak disertai penguatan demokrasi lokal. bukan hanya tidak efektif untuk mendorong pola-pola mobilisasi PAD yang konstruktif bagi pemberdayaan ekonomi daerah. dalam Broadcasting in Asia. Webster. Untuk mewujudkan demokrasi lokal yang efektif. “Komunikasi. Frank. Routledge. Lechte. “On the Affirmative Character of Culture”. tanggal ———–. Nomor 3. Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Demokrasi. Volume 3. 1997. London and New York. London and New York: Routledge. Cambridge: Polity. dan Integrasi Nasional”. Makalah disampaikan pada pertemuan tahunan dari “the Association of Asian Studies. Kebebasan dan Demokrasi. King. Democracy and Diffussion: Transnational LessonDrawing Among Indonesia Pro-Democracy Actors. Lund Political Studies. Tony. Allyn and Bacon. or a Bureaucratic Authoriterian Regime: What Difference Does It Make?”. John. a Neo-Patrimonial Regime. Los Angeles. MOBILISASI PAD DAN DEMOKRASI LOKAL 22 03 2008 TRANSFER DANA PUSAT. 1079. AIJ.. AIJ. Wimar. “Indonesia’s New Orderas a Bureucratic Polity. Institute for The Studies on Free Flow of Informations. 2000. Fifty Key Contemporary Thinkers: From Structuralism to Postmodernity. dalam Broadcasting in Asia. Pavlik. New Media Technology: Cultural and Commercial Perspectives. 1997. Sen. 1995.. AIJ. Komentar : Tidak ada komentar » Kategori : Jurnal TRANSFER DANA PUSAT. 1997. Marcuse. 1994. 1985.Critique of Historical Materialism. London: Pinguin. Dwight Y. Nasikun. Wilton. “Public Service Broadcasting in a Global Era”. Krisna. Kebebasan dan Demokrasi: Mungkinkah Ketiganya Hidup Berdampingan Satu Sama Lain?” Makalah disampaikan pada Seminar Nasional tentang Informasi. Institute for The Studies on Free Flow of Informations. Theories of the Information Society. Uhlin. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. dalam Negations: Essays on Critical Theories. dalam Broadcasting in Asia. tetapi juga akan sekedar menularkan wabah korupsi dari pusat ke daerah itu sendiri. Boston and London. yang diselenggarakan oleh Jurusan Ilmu Komunikasi. Herbert. “New Zealand: From One Extreme to the Other”. dalam Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. sesungguhnya dibutuhkan tingkatan desentralisasi yang jauh lebih besar dari yang .

apabila mobilisasi PAD lebih menekankan pada sumber pendapatan non-pajak daerah. Penekanan mobilisasi pendapatan daerah pada sumber PAD. 2002:9). yakni desentralisasi yang secara fundamental mampu mengubah tatanan kekuasaan politik dan manajemen kepemerintahan di daerah. Berbagai daerah berlomba-lomba menciptakan pungutan baru yang makin memberatkan masyarakat dan pelaku dunia usaha. tetapi juga akan sekedar menularkan wabah korupsi di pusat ke daerah itu sendiri. apabila kebijakan transfer dana bantuan dari pusat dipadukan (matching) dengan penguatan demokrasi lokal. Demikian pula desentralisasi akan efektif bagi peningkatan pelayanan publik. akan dapat mendorong membaiknya akuntabilitas tindakan . 25/1999 adalah demi memberdayakan dan meningkatkan kemampuan perekonomian daerah itu sendiri (Hardjosoekarto. Dua UU tersebut kini telah diganti dengan UU No 32 dan 33 Tahun 2004. akan tercapai apabila mobilisasi pendapatan daerah lebih menekankan pada sumber-sumber PAD daripada non-PAD. Misi tersebut akan tercapai. masih ada ratusan perda bermasalah yang masih dalam tahap pengkajian yang nantinya juga akan diusulkan untuk dicabut (Surya: 13/08/2003). Peningkatan transfer dana bantuan pusat yang tidak disertai penguatan demokrasi lokal. pihak Dirjen Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah . khususnya yang berupa retribusi daerah (Abed and Gupta. Namun seiring diberlakukannya otonomi luas. bukan hanya tidak efektif untuk mendorong pola-pola mobilisasi PAD yang konstruktif bagi pemberdayaan ekonomi daerah. akan tercapai sepanjang biaya yang dibutuhkan terkait dengan mobilisasi pendapatan yang dilakukan di wilayah yang sama.Depkeu telah mengajukan usulan ke pihak Mendagri untuk dilakukan pencabutan terhadap 206 Perda yang dinilai bermasalah. Sejak tahun 2001 hingga awal 2003 saja. Keyword: transfer dana pusat. Adapun argumen utama yang dikembangkan adalah mobilisasi PAD akan efektif mendukung pemberdayaan ekonomi daerah. namun pada intinya misi yang diemban tetap belum bergeser dari Undang-Undang sebelumnya. Artikel ini secara ringkas mencoba melakukan refleksi teoritik atas gejala mobilisasi PAD yang nggedabyah pada kurun pelaksanaan otonomi luas. International American Development Bank (1997) dan Bahl (1999). terutama demi mendukung penguatan akuntabilitas pejabat lokal dan tanggungjawab masyarakat lokal. 2002: 356). Keterkaitan erat pengeluaran dan mobilisasi pendapatan lokal. apabila mobilisasi pendapatan daerah tidak sekedar berorientasi pada kepentingan memaksimalkan pendapatan daerah akan tetapi justru lebih pada kepentingan mendukung pemberdayaan dan penciptaan ruang yang lebih besar bagi peranserta masyarakat dan swasta dalam pengembangan ekonomi daerah itu sendiri. keseimbangan yang lebih baik antara penyediaan layanan publik dan kebutuhan penduduk. Seperti ditegaskan Oates (1972). Studi empirik de Mello dan Berenstein (2002) menunjukkan bahwa governance meningkat ketika pengeluaran lokal lebih dibiayai oleh mobilisasi pendapatan non-pajak. Pola-Pola Mobilisasi PAD Banyak studi yang dilakukan para pakar yang menegaskan bahwa pelaksanaan desentralisasi yang efektif. Di luar 206 perda tersebut.diperkirakan selama ini. mobilisasi PAD & demokrasi lokal Pengantar Salah satu misi sentral diintrodusirnya otonomi luas berdasarkan UU No. telah diikuti maraknya gejala pelaksanaan otonomi yang lebih dimaknai sebagai automoney. 22/1999 dan UU No.

dan usaha-usaha lainnya yang sah. maupun usaha-usaha lainnya yang sah. upaya ekstensifikasi ini hendaknya lebih menekankan pada retribusi daripada yang bersifat pajak. menyatakan bahwa setiap transfer dari pusat pada dasarnya merupakan sedekah yang tidak diperlukan pemerintah daerah. Kalaupun dilakukan. Kriteria ini membawa konsekwensi dimana pajak dan retribusi harus bisa menjamin bahwa investasi tetap jauh lebih besar dan menarik dibanding konsumsi. 2002:75-76). kemampuan administratif. Davey (1988) mengidentifikasikan prinsip utama perpajakan yang baik mencakup: kecukupan. Tanpa rasa memiliki dan tanggungjawab dari masyarakat setempat. upaya mobilisasi PAD dapat dilakukan melalui pola intensifikasi dan ekstensifikasi (Halim. Sehingga tidak saja mampu berfungsi sebagai sumber pendapatan baru bagi pemda. Pratikno (2002) mengidentifikasikan sejumlah kriteria penting dalam menentukan jenis dan besaran sumber pendapatan dan belanja. Tujuan otonomi untuk menumbuhkan kreativitas pemda. kecil sekali kemungkinan manfaat penuh desentralisasi dapat terwujud. ed. Pola intensifikasi. yaitu: memfasilitasi dan memacu pertumbuhan ekonomi. seperti yang dilakukan Pemprov Sulawesi Utara melalui program reksadana Sulut Fund. dan menjaga sustainabilitas pembangunan ekonomi dan pelayanan kepada masyarakat (Pratikno.pemerintah (Abed and Gupta. 1988: 259). retribusi daerah. Transfer dana dari pusat justru akan mudah mengundang munculnya intervensi pusat kepada daerah yang akhirnya justru menimbulkan ketergantungan daerah kepada pusat itu sendiri (Davey. peningkatan pendapatan pemda dilakukan dengan lebih menekankan pada perluasaan sumber-sumber pendapatan baru. efisiensi pengeluaran kelihatannya sangat tidak mungkin ditingkatkan (Bird dan Vaillancourt. melalui lembaga politik lokal. memberdayakan masyarakat. peningkatan pendapatan dilakukan dengan lebih menekankan pada penerapan nilai atau prinsip-prinsip perpajakan yang baik. Secara teoritik. efisien dan sederhana (Halim. dkk 1989:61-62). jika mereka tidak terlalu boros dalam pengeluaran dan lebih tekun menarik pajak dari penduduknya. 2002:335). yuridis. badan usaha milik daerah. dan penerimaan politik (Davey. Sedangkan pola ekstensifikasi. apa yang mereka peroleh. 1988:40). Wold Bank (1995) menekankan pula bahwa apabila kenaikan transfer tidak diimbangi kenaikan kontribusi lokal. elastisitas. sehingga pihak-pihak yang membuat keputusan pengeluaran lokal akan terjaga akuntabilitasnya. ekonomis. pentingnya memperhatikan upaya fiskal daerah adalah berakar pada arti pentingnya warga membayar pajak. 2002:22). meningkatkan dan menjamin pemerataan pembangunan. Versi yang lain. dayaguna ekonomi. pemerataan. betapa pun kecil jumlahnya. Bahkan idealnya. tetapi juga mampu mengerakkan ekonomi daerah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat daerah sendiri. Baik yang berupa pajak daerah dan retribusi daerah. 2002:146).. upaya ekstensifikasi ini dilakukan pemda dengan jalan mengembangkan sumberdaya ekonomi daerah yang masih bersifat potensial menjadi lebih fungsional dan produktif. kemampuan melaksanakan. Kemudian Musgrave (1993) pemungutan pajak hendaknya memenuhi syarat-syarat: keadilan. dan kecocokan sebagai sumber penerimaan daerah (Devas. keadilan. sudah saatnya mencari sumber pembiayaan alternatif dari pasar modal. Pajak dan retribusi daerah perlu lebih menekankan . Atau kalau perlu. 2000: 265). Baik itu pada sumber pendapatan yang berupa pajak daerah. Weisner (1995) mengemukakan alasan serupa. dengan demikian akan benar-benar terwujud secara konstruktif dalam rangka memberdayakan ekonomi daerah. Devas (1989) menyatakan prinsip perpajakan yang baik itu mencakup: tingkat hasil.

lebih menjamin keberlangsungan sebuah pelayanan (Pratikno. dan stabilisasi (Bailey. ed. 2001:145). Kegiatan pemerintah harus menyeimbangkan kesejahteraan masa kini dengan masa akan datang. akan sangat rentan terhadap perubahan. mengindikasikan bahwa aparat pajak cenderung lebih antusias mengumpulkan suap daripada pajak itu sendiri (Bird dan Vaillancourt. Mardiasmo (2002) selanjutnya menegaskan bahwa kebijakan tidak menambah pajak dan lebih meningkatkan retribusi ini didasarkan atas pertimbangan: Pertama. pungutan retribusi langsung berhubungan dengan masyarakat pengguna layanan publik. Demikian pula pada sisi petugas pajak. ed. 1999:6). Kebijakan Transfer Dana Pusat Davey (1989) menegaskan hubungan keuangan pusat dan daerah. distributif. pemerataan antara generasi kini dan akan datang. regulatori. Disamping itu juga sangat relevan dengan kepatuhan membayar pajak masyarakat Indonesia yang masih rendah. kebijakan perpajakan akan semakin lebih menekankan pada pajak langsung (direct tax) daripada pajak tidak langsung (indirext tax). 2002:39). 2002: 22-23). pandangan yang menekankan peranan pemerintah sebagai ungkapan kemauan dan indentitas masyarakat setempat. Penekanan pada intensifikasi tersebut... 2002:149). Kedua. pada prinsipnya lebih menyangkut persoalan tentang pembagian kekuasaan. namun sekaligus sebagai instrumen regulatory (Halim. Pajak dan retribusi harus menekankan pada kelompok dan wilayah yang lebih kaya. Terutama hak mengambil keputusan mengenai anggaran. Hal ini terlihat pada relatif rendahnya tax ratio yang hanya sebesar 12%. 2000:188). sangat sejalan dengan fungsi pajak yang tidak sekedar sebagai instrumen budgeter. Peningkatan retribusi secara otomatis akan dapat mendorong peningkatan kualitas pelayanan publik karena masyarakat tentu tidak mau membayar lebih tinggi bila pelayanan yang diterima sama saja kualitas dan kuantitasnya. yaitu bagaimana memperoleh dan membelanjakannya. seperti ditegaskan Stone (1995) dari survei yang dilakukan terhadap dunia usaha. 2002:147). investor akan lebih bergairah melakukan investasi di daerah apabila terdapat kemudahan sistem perpajakan di daerah. Studi empirik yang dilakukan Mitchell (1969) menunjukkan bahwa semakin demokratis sistem politik. Jenis-jenis pelayanan yang terlalu mengandalkan pada satu kekuatan (pemerintah saja) maupun didanai oleh satu jenis sumber pendapatan.pemungutan dan pembebanan pada output kegiatan ekonomi dan bukan membebani proccess kegiatan ekonomi. Karena itu. 1989:179). Pemerintah daerah merupakan wadah bagi penduduk setempat untuk mengemukakan keinginan mereka dan untuk menyelenggarakan urusan . dan pada tarif pajak progresif (progresive tax) daripada tarif pajak regresif (regresive tax) (Heidenheimer. Penyederhanaan sistem perpajakan di daerah perlu dilakukan misalnya melalui penyederhanaan tarif dan jenis pajak daerah (Mardiasmo. 1975:229). Perpajakan merupakan instrumen mendasar untuk menjalankan peran-peran ekonomi pemerintah (Pratikno. Tujuannya adalah mencapai adanya kesesuaian dengan peranan yang dimainkan oleh pemerintah daerah (Devas. Kedua peranan dan format kebijakan keuangan yang sesuai dengan masing masing peranan tersebut yakni sebagai berikut: “Pertama. pola-pola multi-aktor dan multi sumber pendanaan. sedangkan tax ratio negara-negara ASEAN rata-rata sudah berkisar 25% (Mardiasmo. Baik itu berupa peran alokatif. Davey (1989) mengidentifikasikan 2 bentuk utama peranan Pemda yang masing-masing membutuhkan dukungan format kebijakan keuangan yang berbeda.

Demikian pula dalam bidang perpajakan daerah yang diatur dalam UU No. Tarif pajak daerah telah ditentukan pusat. Kedua. Argumen dasar ini selanjutnya mendorong munculnya prinsip baru dalam politik pembiayaan desentralisasi. karena titik beratnya masih tetap pada pembagian proporsi. pada intinya menekankan pentingnya keseimbangan antara beban urusan yang menjadi tanggungjawab pemda dan kewenangan finansialnya. 34/2000 dan PP No. dan (3) Bantuan untuk menyamakan jumlah atau mengimbangi kekurangan. prinsip ini masih banyak mengundang kontroversi. dkk (2002) menilai bahwa peraturan tentang masalah keuangan daerah yang ada masih bersifat setengah hati. sarana dan prasarana. Sedangkan peralatan keuangan yang sesuai untuk peran ini adalah peralatan yang tidak menuntut wewenang tersendiri bagi pemerintah daerah untuk mengambil keputusan di bidang keuangan.dkk. serta sumberdaya manusia sesuai dengan kewenangan yang diserahkan tersebut. seperti ditegaskan Hun Cho dan Meinardus (1996) if decentralizacion of power is the aim. dan (3)bBantuan umum dari pemerintah pusat tanpa pengendalian oleh pemerintah pusat atas penggunaannya. Kata kunci otonomi adalah kewenangan. Prinsip baru ini tercemin pada adagium no mandate wihtout funding atau money follow functions menggantikan prinsip kuno yang dikemukan Wayong (1956) yaitu functions follow money yang dinilai tidak realistik dan menyesatkan (Gaffar. Pada sisi perpajakan. Pajak langung dan tidak langsung yang penting dan produktif. 65/2001. 22/1999 yang kemudian direvisi menjadi UU No.setemapt sesuai dengan keinginan dan prioritas mereka. 32/2004 (Gaffar. 2002:18). tetap ditangani pusat. (2) bagi hasil pajak nasional antara pemerintah pusat dan daerah. Namun operasionalisasinya. 1996:175). Gaffar. merupakan undang-undang tentang pelaksanaan desentralisasi yang mendasarkan pada prinsip keseimbangan. berdasarkan perkiraan yang dibuat pusat dan bukan berdasarkan perkiraan kebutuhan setempat” (Devas. Dalam peraturan ini. semakin besar pula kewenangan finansial yang dibutuhkannya. 1989:180-181). harus disertai dengan penyerahan dan pengalihan pembiayaan. Semakin luas urusan yang menjadi tanggungjawab pemda. Ditegaskan bahwa kewenangan pemerintahan yang diserahkan kepada Daerah dalam rangka desentralisasi. uang akan dapat dicari (Gaffar. (2) Bantuan untuk layanan atau program tertentu. Peralatan semacam ini mencakup: (1) Wewenang mengenakan pajak atau pungutan tetapi tanpa hak menetapkan tarif pajak atau pungutan. sistem perpajakan nasional yang ada dinilai masih cenderung sentralistik. Adapun peralatan keuangan yang dibutuhkan mencakup: (1) kekuasaan untuk menghimpun sendiri pajak yang dapat banyak menghasilkan pemasukan dan menentukan sendiri tarif pajak. 2002:203). Namun hal ini tidak berarti pemda memiliki . 2002:189). dkk. namun uang bukan satu-satunya alat menggerakkan roda pemerintahan. pandangan yang menekankan peranan pemerintah daerah sebagai lembaga yang menyelenggarakan layanan-layanan tertentu untuk daerah dan sebagai alat yang tepat untuk menebus biaya memberikan layanan yang bermanfaat untuk daerah. Sebagai konsekwensinya. then logically decentralization public finances must go with it (Hun Cho dan Meinardus. pemda diijinkan melakukan ekstensifikai sepanjang memperoleh persetujuan DPRD. bukan kepada pemberian kewenangan yang luas sebagaimana yang dinyatakan dalam UU No. Tidak ada pajak tambahan (hak opsi) yang dapat dikenakan pemda atas pajakpajak yang diadministrasikan pusat (Yuworo. 2002: 213). dkk. Undang-undang baru tentang Pemerintahan Daerah. Dengan kewenangan. Penegasan tersebut. Uang memang merupakan sesuatu yang mutlak. terutama dalam bentuk tarif pajak tetap dan tarif pajak maksimal.

Devas (1988) mengemukakan tujuh kriteria dasar yang perlu diperhitungkan yaitu: simplicity . belum dikembangkan untuk mencapai sufficiency pembiayaan daerah (Soekarwo. Bahkan kemungkinan memberikan tax holidy demi merangsang investasi di daerahnya (Mardiasmo. Pada sisi kebijakan bagi hasil. Pemerintah pusat tetap memiliki hak veto untuk menolak (mencabut) pajak yang dibuat daerah (Brojonegoro. Upaya seperti ini akan dapat dilakukan pemda. diberi insentif kenaikan dana perimbangan yang diterimanya. Pemda juga perlu memiliki dana memadai. 2002:153). meskipun didasarkan formula yang lebih obyektif dan transparan. Di semua negara. Bahkan mampu mengurangi beban perpajakan lokal yang relatif tinggi (Bailey. 1994:71). lakukanlah tanpa menambah kerumitan atas keuangan intra-pemerintahan. tetapi cenderung lebih mengutamakan pemerataan dan kurang memperhatikan sisi keadilan. dinilai lebih menguntungkan daerah yang kaya SDA dan tidak menguntungkan daerah yang bukan penghasil kekayaan alam tersebut (Pratikno. Demikian pula. 1999:207). keuangan intra pemerintahan tidak seharusnya mengandung kompleksitas yang tidak perlu. seperi Kanada dan Australia. sehingga memiliki fleksibilitas untuk lebih menekankan pada intensifikasi. perangkat peraturan yang ada belum memberikan kepada pemda sejumlah instrumen perpajakan yang signifikan dan independen (Alms. transfer keuangan intra-pemerintahan hendaknya mampu mendorong peningkatan manajemen fiskal yang baik dan menghidari parktek yang tidak efisien (Syah. 2002:66). 2002: 88). Demikian pula dalam persoalan dana perimbangan. 2002). Daerah yang menetapkan tarif pajak di atas rata-rata tarif pajak daerah. apabila pemda memiliki kewenangan memadai di bidang pengelolaan sumberdaya ekonomi. Jika apa yang dikerjakan pusat adalah mesukseskan suatu tujuan khusus. 2002:360). Agar tidak terjadi pelemahan upaya fiskal daerah. 2000:49). setiap desain perimbangan keuangan harus bersendikan elemen potensi kapasitas penerimaan daerah (Bird dan Vaillancourt. Denmark dan Swedia. Bilamana mungkin. 2002:19). 25% dana perimbangan daerah dialokasikan menurut penerimaan pajak daerah dan 70% menurut jumlah penduduk. Penekanan lebih besar pada bagi hasil sumberdaya alam (SDA). tidak diberi sangsi dengan pengurangan dana perimbangan. 2000:45).kewenangan yang mandiri untuk menetapkannya. Demikian pula pendekatan 25% dari pendapatan dalam negeri. Secara umum. kompleksitas hunbungan fiskal antar pemerintahan tidak dapat dihindari dan biasanya tidak memuaskan bagi pihak-pihak yang terkait. Sedangkan sumberdana alokasi umum. secara eksplisit mengkalkulasikan dana perimbangan dengan mengasumsikan penerapan tarif pajak daerah menurut rata-rata nasional. transfer langsung ke kelompok masyarakat miskin lebih baik daripada transfer tidak langsung melalui daerah. Bahkan cenderung bersifat disinsentif karena tidak memperhitungkan kontribusi daerah kepada pendapatan pusat. Berbagai persoalan krusial ini mengindikasikan. karenanya perlu dirancang lebih cermat. Studi yang dilakukan de Mello dan Berenstein (2002) menunjukkan semakin besar bagian dana yang dibelanjakan daerah. Kebijakan keuangan intra pemerintah. pola bagi hasil masih dilakukan basis per basis pajak dan belum mencakup setiap sumber pendapatan pusat yang ada di daerah. semakin besar keterkaitan positip antara desentralisasi dan perwujudan governance (Abed and Gupta. Terutama kewenangan pemda dalam mengendalikan tarif pajak daerah (local tax power) (Bird dan Vaillancourt. Sementara yang menerapkan tarif di bawah rata-rata. Misalnya di Spanyol.

Dan pemda sulit berkinerja dengan baik jika mereka selalu diamankan dari kemungkinan berbuat salah dengan memberlakukan batasan yang sembarang atau jika mereka yakin bahwa pusat selalu siap memberikan bantuan. dapat memiliki kemampuan dan motivasi untuk membuat evaluasi kemungkinan risiko pada uangnya. dapat dilakukan denagan tidak memberikan subsidi atas utang pemda dan merelakan pemda yang dililit utang terlalu banyak itu bangkrut seperti dipraktekkan di Maroko” (Bird dan Vaillancourt. merupakan contoh lain dari paternalisme yang tidak tepat atau keliru. elasticity (menyesuaikan diri terhadap inflasi. Karena dapat membendung terjadinya sangsi pasar secara alamiah. Pelarangan kepada pemda melakukan pinjaman ini. kekhawatiran atas keteledoran pemda yang dapat menyebabkan mereka terjebak dalam posisi sulit. 2002:61). simplicity. Sejumlah persoalan krusial tersebut. bank komersial. revenue adequacy. Hal serupa juga ditujukan pada sumber pajak yang selama ini dikuasai pusat. Jika pusat ingin menghidari permasalahan. Seperti cukai rokok. Munculnya berbagai konflik perebutan sumber pendapatan antar pemerintahan. daerah diberikan kewenangan melakukan pinjaman. 107/2000. dan institusi keuangan lainnya. sikap “orangtua lebih tahu” yang umum terjadi pada pemerintah pusat dalam menghadapi kemungkinan tidak enaknya kehilangan kontrol akibat desentralisasi. Kriteria serupa ditegaskan oleh Syah (1994) yang mengemukakan sejumlah kriteri dasar yang perlu dipertimbangkan dalam merancang transfer keuangan intra-pemerintahan yaitu: autonomy. equity. dapat menimbulkan kondisi kurang mendukung bagi percepatan perbaikan kinerja pemda. Bahkan berkat tekanan IMF kesempatan pemda melakukan pinjaman ini tertutup paling tidak sampai terselesaikannya krisis ekonomi nasional (Brojonegoro. banyak ditengarai telah menjadi faktor penting yang mendorong otonomi seolah-olah identik dengan automoney. Baik itu pinjaman pada pusat. sumber dana pemda lainnya yang potensial adalah “pinjaman daerah” (local borrowing). BUMN dan sebagainya. dll). serta decentralization and local accountability (menjamin otonomi daerah dan akuntabilitas lokal) (Pratikno. formula alokasi mudah dimengerti). Akan tetapi melalui peraturan No. 2000:10). predictability. and safeguard of grantor’s objectives (Syah. Bahkan merupakan bentuk patronase lama untuk melindungi kinerja pemda yang tidak efektif. Berdasarkan Undang-undang. Kreditur potensial pemerintah. Tuntutan pengalihan kewenangan pengelolaan uji kir kendaraan yang selama ini tangani Pemprov. bandara.(kesederhanaan. efficiency (neutrality). economic efficiency (menjamin efisiensi penggunaan dana). Dari perspektif ini. adequacy (cukup untuk membiayai kebutuhan dasar daerah). Termasuk melakukan pinjaman ke luar negeri. equity (unsur pemerataan daerah). . pelabuhan. Meningkatkan PAD dengan cara menambah jenis dan meningkatkan tarif pajak/retribusi. Seperti dikemukakan Bird dan Vaillancourt (2000): “Pemberlakuan batasan utang untuk mencegah kesalahan fiskal pada pemda dapat berakibat buruk. 2002:21). Disamping PAD dan dana transfer pusat. incentive. 1994:30). Seperti kengototan sejumlah Pemkab/Pemkot untuk mendapatkan bagi hasil lebih besar dari pajak kendaraan bermontor. stability and predictability (jumlah alokasi relatif stabil dan mudah diprediksi). kewenangan ini oleh pusat diatur sangat ketat sekali yang pada akhirnya justru mempersulit kemungkinan pemda melakukan pinjaman.

dan seharusnya mendapat prioritas yang lebih rendah dalam usaha reformasi. Jika peryaratan-persyaratan yang agak ketat ini dapat dipenuhi. desentralisasi dapat hanya sekedar memindahkan kekuasaan dan korupsi dari para elit nasional ke elit lokal (de Mello and Berenstein. 3 Pemisahan yang demikian jauh antara keputusan pembelanjaan dan perpajakan . 2000:51). Sistem pemerintahan lokal yang lebih modern. proses pengambilan keputusan di daerah harus demokratis. biaya-biaya dari keputusan yang diambil. memang penting. tidak semata-mata dipengaruhi kebijakan keuangan intra pemerintahan. seperti India sebelum dijajah Inggris. telah gagal karena ketiadaan suara masyarakat dan pengendalian akuntabilitas. yaitu pengambilan keputusan tentang manfaat dan biayanya harus transparan dan pihak-pihak yang terkait memiliki kesempatan untuk mempengaruhi keputusan-keputusan tersebut. namun seharusnya tidak dipandang sebagai kendala untuk desentralisasi. Kondisi yang sebaliknya. Bird dan Jenkins (1993) menegaskan bahwa desentralisasi akan berjalan lebih baik jika dikaitkan erat ke struktur masyarakat dan organisasi lokal (Bird dan Vaillancourt. Pertama. Konsekwensi tidak terpenuhinya persyaratan tersebut. Syah (1994) menegaskan bahwa desentralisasi tanggungjawab dan rasionalisasi transfer dana intra pemerintahan. Smoke (2001) lebih spesifik menyatakan bahwa mekanisme fiskal tidak dapat diharapkan berfungsi jika tidak ada tingkat pengembangan politik dan akuntabilitas lokal yang memadai (Smoke. mampu saling bertindak dan saling bereaksi (de Mello and Berenstein. Sebaliknya. 2002:336). sistem pemerintahan lokal berjalan efektif untuk memberikan pelayanan dan pengumpulan pajak lokal. ditegaskan Weingast (1995). 1994:3-4). Kemampuan teknis dapat dipinjam dari dukungan tingkatan pemerintah yang lebih tinggi di berbagai tempat. 2002:335). obyek) dari paling tidak beberpa jenis pajak. sebab ada pemahaman yang baik atas mekanisme partisipasi dan akuntabilitas masyarakat. Kapasitas kelembagaan untuk membangun dan mengembangkan praktek organisasi modern. Penegasan serupa dikemukakan Bird dan Vaillancourt (2000) sendiri yang menyatakan bahwa: “Pengalaman di berbagai situasi mengisyaratkan adanya 2 persyaratan yang sangat penting untuk kesuksesan desentralisasi. Penegasan yang sama dikemukaan Syah (2000) dimana pengalaman di Indonesia dan Pakistan.Urgensi Penguatan Demokrasi Lokal Pola-pola mobilisasi PAD. devolusi atau otonomi barulah berarti. 2001:32). seperti ditegaskan Bardhan dan Mookherjee (1998) jika akuntabilitas lokal adalah terbatas. Maksudnya pemda perlu memiliki kontrol atas tarif (dan mungkin basis pajak. sepenuhnya harus ditanggung oleh masyarakat setempat. bila tidak dapat diwujudkan maka desentralisasi mungkin tidak akan mencapai sasaran dan tujuannya” (Bird dan Vaillancourt. 2000:17). korupsi dapat dikurangi di dalam pemerintahan yang desentralistis. sepanjang di wilayah tersebut terdapat lembaga-lembaga yang sama-sama relatif otonom. Kedua. telah memberikan pelajaran penting dalam melakukan reformasi fiskal di Negara Berkembang seperti berikut: 1 Kelembagaan partisipasi masyarakat dan akuntabilitasnya harus digiring ke arah reformasi sistem fiskal yang sungguh-sungguh. 2 Kemampuan kelembagaan (administratif/manajemen) merupakan hal kedua terpenting. Breton (1996) dan Triesman (2000). Meskipun dalam masyarakat yang primitif. hendaknya didukung penguatan kapasitas kelembagaan politik lokal (Syah.

5 Desentralisasi yang berhasil tidak dapat dicapai tanpa keberadaan program transfer fiskal yang terancang baik.menyebabkan kurangnya akuntabilitas sektor pemerintah. Hasil nyata dari desentralisasi akan lebih tergantung pada distribusi kekuasaan (distribution of power) di antara berbagai kelompok yang ada di dalam dan di sekitar institusi pemerintahan lokal (Bailey. Di Pakistan. Lingkungan sektor pemerintah yang lebih terbelakang lebih sesuai dengan bentuk pemerintahan yang terdesentralisasi. Seperti ditegaskan Bailey (1999): “Desentralisasi merupakan sesuatu yang sangat diperlukan (necessary) tetapi bukan kondisi yang mencukupi (unsufficient) untuk mempromosikan kepentingan publik. Bailey (1999) menyatakan bahwa: “Desentralisasi umumnya hanya memperluas bentuk-bentuk tradisional demokrasi perwakilan (representative democracy). cenderung lebih menekankan pada mekanisme demokrasi perwakilan daripada demokrasi partisipatoris. 4 Bagi hasil atas dasar basis per basis pajak mendistorsi insentif efisiensi pemungutan pajak. 6 Lingkungan kelembagaan negara berkembang membutuhkan tingkatan desentralisasi yang lebih besar daripada yang dibutuhkan negara industri. 1999:77-79). Terutama pada eksekutif dan legislatif daerah. tranfer kekuasaan yang terjadi masih terbatas pada lingkungan internal pemerintahan daerah. baik melalui peningkatan untuk dapat melakukan pilihan publik maupun penguatan suara publik…. sudah saatnya memperoleh perhatian serius. Namun secara substansial. tidak ada satu pun pasal yang mengatur hak-hak . Desentralisasi lebih terkait dengan pembuatan keputusan di dalam struktur lembaga pemerintah daripada penyebaran kekuasaan (devolution of power) kepada komunitas di suatu wilayah. Desentralisasi hanya menciptakan kesempatan (opportunity) untuk meningkatkan responsivitas dalam pemberian pelayanan publik. desentralisasi seringkali gagal mencapai tujuan yang diharapkan. Manajemen desentraliasi lebih banyak terjadi di dalam lingkungan departemen daripada melintasi antar departemen. karena transfer kekuasaan yang dilakukan tidak mampu mengubah distribusi kekuasaan yang mengarah pada terwujudnya kesamaan derajad antara komponen pemerintah dan non-pemerintah. Sementara itu. bagi hasil pajak demi pajak atas penerimaan dan penjualan telah menyembunyikan pajak perdagangan dari reformasi. Pelembagaan demokrasi lokal ini. Dan ini terjadi karena desentralisasi tidak secara fundamental mengubah tatanan kekuasaan politik dan manajemen” (Bailey. daripada demokrasi partisipatoris (participatory democracy) pada tingkat lokal. 1999:77). sebab kebutuhan informasi dan biaya transaksi dapat diminimalkan dengan cara menggeser pengambilan keputusan lebih dekat ke masyarakat yang terpengaruh oleh kebijakan tersebut (Bird dan Vaillancourt. Sehingga proses politik pemerintahan daerah. tetapi tidak mesti menjaminnya. Pada bagian selanjutnya. secara formal mendasarkan diri pada prinsip demokrasi dan peranserta masyarakat.. Undang-undang baru tentang Pemerintahan Daerah. Penegasan tersebut menekankan pentingnya reformasi fiskal yang secara sungguh sungguh dipadukan (matching) dengan pelembagaan demokrasi lokal. sebab pajak tersebut tidak dibagi dengan propinsi. 2000: 204-209). Desentralisasi lebih berkaitan dengan masalah access daripada decesion-making. Sebab ada kecenderungan umum.

penduduk. 2002:12). kebijakan desentralisasi akan efektif apabila didukung adanya pola-pola mobilisasi PAD yang lebih bertumpu pada upaya intensifikasi daripada ekstensifikasi sumber-sumber pendapatan daerah. Dan implikasinya bisa dilihat dimana-mana. Pratikno (2002) menegaskan APBD merupakan kebijakan politik paling mendasar dalam penyelenggaraan pemerintahan di daerah. 2002:21). akan sangat tergantung pada persoalan krusial bagaimana keputusan itu dibuat. Karena itu. Penegasan serupa dikemukan Grindle (1980) bahwa keputusan tentang who gets what ini. baik itu hak-hak untuk memperoleh pelayanan. Penutup Dari kajian ringkas di atas. masih cenderung bersifat desentralisasi setengah hati. Demikian pula apabila sektor perpajakan akan dijadikan pilihan. Lebih spesifik lagi. terjadi karena kebijakan transfer dana pusat. Sebuah tipe desentralisasi yang hanya terfokus pada penguatan demokrasi perwakilan dan bukan pada demokrasi partisipatoris. hendaknya lebih berorientasi pada sisi output kegiatan ekonomi daripada sisi proccess kegiatan ekonomi agar tidak menambah beban dunia usaha maupun masyarakat. Kalaupun ekstensifikasi dilakukan. Melalui kebijakan ini para pembuat keputusan dapat menentukan siapa atau masyarakat mana yang lebih diuntungkan dibandingkan kelompok masyarakat lainnya (Pratikno. atau desentraliasi tanpa kuasa rakyat. menjadi faktor krusial yang menyebabkan proses penentuan kebijakan publik. siapa yang terlibat. pola-pola mobilisasi PAD yang mendukung efektifitas desentralisasi. baik dalam arti idiologi maupun dampak deferensial kebijakan fiskal terhadap kepentingan berbagai kelompok masyarakat yang berbeda (Smith. Desentralisasi politik yang dilakukan. sumberdaya dan posisi kekuasaan dari masing-masing aktor yang terlibat itu sendiri (Grindle. Akan tetapi sekaligus perlu diserasikan atau dipadukan (matching) dengan kebijakan untuk memperkuat demokrasi lokal. akan sangat dipengaruhi oleh persoalan krusial tentang strategi. Berbagai penegasan tersebut sangat relevan dengan apa yang dikemukan Smith (1985) bahwa persoalan keuangan lokal tidak bisa dipisahkan dari politik. tidak diimbangi penguatan demokrasi lokal yang sebanding dengan tingkat desentralisasi fiskal yang dilakukan. 1980:12). Pertama. apa kepentingnya dan bagaimana distribusi kekuasaan di antara aktor yang terlibat tersebut. akan tercapai apabila kebijakan transfer dana bantuan pusat. ada sejumlah isu krusial yang sangat urgen diperhatikan dalam upaya mendesain kebijakan pembiayaan desentralisasi. Ketiga. sekaligus merupakan persoalan politik yang melibatkan masalah paling krusial yaitu persoalan distribusi kekuasaan. Sejauhmana keputusan tentang who gets what ini diambil. dimonopoli dan didominasi kepentingan eksekutif dan legislatif daerah. tidak semata-mata perlu dirancang lebih cermat. baik secara individu maupun institusi (Hardjosoekarto. Pola-pola mobilisasi PAD yang menghambat pelaksanaan desentralisasi yang efektif. Termasuk dalam kebijakan pendapatan dan belanja daerah. Kedua.. persoalan mobilisasi PAD dan kebijakan keuangan intra pemerintah (pusatdaerah). Desentralisasi setengah hati ini. Kontruksi kekuasaan yang tidak seimbang ini. hak pengawasan terhadap eksekutif maupun legislatif daerah. redistribusi kekuasaan yang lebih . telah memunculkan disorientasi berupa maraknya koalisi eksploitatif yang dilakukan eksekutif dan legislatif untuk saling memaksimalkan kepentingan ekonomi istitusi dan pribadinya. hendaknya lebih menekankan pada sektor retribusi daripada perpajakan daerah. 1985:120).

Devas. merupakan persoalan yang sangat komplek. 1999. Chang-hyun. Sedangkan di Negara-negara Maju. D. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Deddy Supriady dan Dadang Solikin. Bambang. ———. 1989. PT. 2002. Can Indonesia Decentralise Successfully?: Plans. Redistribusi kekuasaan yang seimbang ini. Nick. FEUI: Jakarta. Bailey. 37. Otonomi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. banyak proposisi yang sebenarnya lebih layak diklasifikasikan sebagai provokasi yang dapat menjerumuskan berbagai pihak terkungkung dalam euforia di tengah-tengah keterbelakangan diri. (Makalah).J. Governance. K. 1996. Atau sebaliknya. dan Vaillancourt. Hitotsubashi Journal of Economics Vol. Problems and Prospects. 2002. Alm. Terutama untuk menguji apakah fakta empirik memang memperkuat validitas proposisi teoritik yang banyak dikembangkan para akademisi dan dianut para praktisi di Negara Berkembang. Indonesian Intergovernmental Transfer in Decentralization Era: The Clash of General Allocation Fund. Stephen J. Kajian kritis pada tataran teoritik dan empirik. Local Autonomy and Local Finance. makin urgen dan relevan apabila melihat kenyataan empirik di berbagai negara. namun juga sangat dibutuhkan pada tingkat nasional. Corruption & Economic Performance. 14. and Meinardus. tidak hanya dibutuhkan pada tingkal lokal. Fiscal Decentralization in Malaysia.. IMF: Washington.. 2002.. 2002. Anuar. dkk. Kenyataan empirik yang saling bertolak belakang ini mengisyaratkan bahwa kebijakan fiskal yang desentralistik dan sentralistik. Desentralisasi Fiskal di Negaranegara Berkembang. Mini-Economica FE-UI: Jakarta. and Gupta. Pada Negara-negara Berkembang. Sanjeev. hanyalah relevan dalam konteks yang bersifat temporer. benar-benar dilandasi adanya distribusi kekuasaan yang seimbang antara pusat dan daerah itu sendiri. UI Press: Jakarta. Decentralization and Local Government Borrowing in Indonesia. . Kebijakan fiskal intra-pemerintahan. CLAHanyang University: South Korea.. Menkaji Format Pengelolaan PBB: Suatu Tinjauan atas Isu Desentralisasi PBB. Richard M. 2002.C. Keuangan Pemerintah Daerah di Indonesia. George T. 2002. kebijakan fiskal intra pemerintahan cenderung bergerak dari pola-pola sentralistik menuju ke pola-pola yang makin bercorak desentralistik. Davey. Jakarta.: London. Cho. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta. 1988. UI-Press: Jakarta. James. 2000. Bird.. Bratakusumah.seimbang dalam sistem pengambilan keputusan. Ditjen Pajak.. sangat urgen dilakukan. Daftar Pustaka Abed. Bulletin of Indonesia Economic Studies: Vo. Macmillan Press Ltd. Abdul Rahim. Dinamika yang terjadi dalam dunia empirik justru menunjukkan makin pentingnya kebutuhan bagi adanya pola-pola keseimbangan antara kebijakan fiskal yang desentralistik dan sentralistik. kebijakan fiskal intra-pemerintahan justru bergerak dari pola-pola yang desentralistik menuju ke arah kebutuhan bagi adanya pola-pola kebijakan fiskal yang bercorak sentralistik. apabila sistem pengambilan keputusan di tingkat nasional. Pembiayaan Pemerintah Daerah: Praktek-praktek Internasional dan Relevansinya Bagi Dunia Ketiga. Francois. Pola-pola keseimbangan ini akan tercapai. Local Government Economics: Principles and Practice. Baik secara teknis maupun politik. Brojonegoro. 2000.

Secara ideal. PENDAHULUAN Pembangunan adalah merupakan proses aktivitas yang bersifat kontinyu dan terencana yang ditujukan untuk merubah dan meningkatkan kualitas kehidupan sosial ekonomi ke arah yang lebih baik dan wajar dari waktu ke waktu. 2002. Jakarta. Otonomi Daerah dalam Negara Kesatuan. Pustakan Pelajar : Yogyakarta. The World Bank: Washington. Smoke. (ed. and Qureshi. Shah. 1998. UNRISD: Switzerland. II No. 2. No. Hubungan Keuangan Pusat-Daerah. sudah setengah abad lebih Indonesia merdeka. Gaffar.). 2002. Muluk. Otonomi & Manajemen Keuangan Daerah. Zia. Intergovernmental Fiscal Relations in Indonesia. 1994. Machfud. II No. Fiscal Decentralization in Developing Countries: A Review of Current Concepts and Practice. Cakupan dan Elemen. MAP-UGM: Yogyakarta.C. 2001. 2001. Hubungan Pusat dan Daerah dalam Kerangka Kebijakan Desentralisasi dan Otonomi Daerah. Hardjosoekarto. Mardiasmo. M. 02 Maret 2002 STRATEGI KOMUNIKASI PEMERINTAH DAERAH DALAM MENSOSIALISASIKAN PROGRAM PEMBANGUNAN BAGI MASYARAKAT PERDESAAN DI ERA OTONOMI Oleh: Adam Idris Adam Idris adalah dosen tetap Jurusan Ilmu Administrasi Negara FISIPOL Unmul Samarinda. D. Sidik. 2002. 2002. (Makalah). Anwar. *** Komentar : Tidak ada komentar » Kategori : Jurnal STRATEGI KOMUNIKASI PEMERINTAH DAERAH DALAM MENSOSIALISASIKAN PROGRAM PEMBANGUNAN BAGI MASYARAKAT PERDESAAN DI ERA OTONOMI 22 03 2008 Jurnal Administrasi Negara Vol.Halim. (Pointers Kuliah). Abdul.R. Manajemen Keuangan Daerah. Desentralisasi: Teori. Khairul. dkk. yang secara politis telah melewati tiga orde kepemimpinan nasional. mulai dari orde lama. UPP-AMP YKPN: Yogyakarta. pembangunan nasional di Indonesia bertujuan untuk menciptakan masyarakat yang adil dan makmur sebagaimana yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945. 2. Paul. II. Pratikno. ANDI: Yogyakarta. Ironisnya. Keuangan Daerah: Manajemen dan Kebijakan. Afan. Orde baru dan orde . Jurnal Administrasi Negara Vol. Jurnal Administrasi Negara Vol.

Kondisi inilah yang biasanya sangat tidak disukai oleh Pemerintah Daerah. . kita sering melontarkan kecaman bahwa ketertinggalan pembangunan wilayah pedesaan merupakan kesalahan pemerintah. walaupun secara teoritis mapun secara praktis pembangunan yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi terbukti mengandung banyak kelemahan dan boleh dibilang gagal. Dengan demikian apabila prioritas pembangunan masih dipusatkan di wilayah perkotaan. ketertinggalan pembangunan wilayah pedesaan ternyata masih tetap terjadi. serta menciptakan strategi pembangunan yang populis atau yang berdimensi kerakyatan. maka seyogyanya gerak dan langkah pembagunan di orde reformasi dan di era otonomi ini lebih diarahkan pada pembangunan desa dan masyarakat desa. Telah disinggung dibagian atas. Apabila di era otonomi sebagaimana yang sedang kita alami saat ini. wilayah Indonesia masih didominasi oleh wilayah pedesaan. dan kejahatan semakin meraja lela. Ketika sistem pemerintahan Indonesia masih bersifat sentralistik. Kita semua tahu bahwa hingga era Otonomi Daerah telah menapaki tahun ketiga di awal tahun 2002 ini. ketimbang menekan terjadinya kesenjangan ekonomi. itu artinya bahwa masyarakat yang mampu menikmati hasil pembangunan jauh lebih sedikit ketimbang yang tergilas oleh pembangunan. tetapi masih lebih menggiurkan untuk dilaksanakan. terutama bagi masyarakat di wilayah perdesaan. yang mengandung pengertian bahwa jumlah penduduk terbesar masih berdomisili di wilayah tersebut. memiliki pemahaman bahwa pihak pemerintah daerah (Kabupaten atau Kota) memperoleh wewenang penuh dalam merencanakan dan melaksanakan pembangunan di wilayahnya.reformasi. Satu hal yang perlu difahami betul oleh pihak pemerintah daerah. dan tidak lagi terpaku pada sektor ekonomi konglomerasi yang kuat modal. ketika pihaknya sudah berketetapan untuk memfokuskan pembangunannya bagi masyarakat desa yang lemah modal adalah terjadinya kelambanan pertumbuhan ekonomi di wilayah itu. namun pembangunan nasional relatif belum menampakkan hasil yang maksimal. Terlebih lagi apabila dilihat dari pemerataan prioritas pembangunan antara desa dan kota. tetapi lebih diorientasikan pada terjadinya redistribution. karena pihak pemerintah daerah masih merasa lebih berprestasi apabila pihaknya mampu memacu pertumbuhan ekonomi. juga masih menampakkan adanya ketimpangan yang belum memperoleh penyelesaian yang proporsional. karena kita masih terkungkung oleh paradigma lama yang menggunakan ukuran pertumbuhan ekonomi sebagai indikator dalam menentukan kemajuan atau keberhasilan pembangunan di wilayahnya. yang bertujuan untuk menekan terjadinya kesenjangan. Oleh sebab itu sudah saatnyalah bagi pemerintah daerah untuk segera memikirkan strategi pembangunan yang bagaimanakah yang sebaiknya ditempuh agar kue pembangunan benar-benar dapat dinikmati secara lebih merata bagi masyarakat. karena perencanaan pembangunan pada waktu itu masih didominasi oleh strategi pembangunan yang bersifat top-down. lalu kita akan menyalahkan siapa lagi?. sebab strategi ini memang tidak berorientasi pada economic growth. Bahkan jumlah masyarakat miskin semakin tahun semakin bertambah besar. OTONOMI DAERAH DAN STRATEGI PEMBANGUNAN PERDESAAN Sejak diberlakukannya UU No 22 Tahun 1999 tentang sistem Pemerintahan Daerah yang berintikan otonomi. bahkan mungkin mencapai 2/3 dari jumlah penduduk kita berdiam di wilayah perdesaan. Akibatnya. Artinya bahwa pihak pemerintah daerah dalam merencanakan pembangunannya harus diarahkan pada perbaikan sektor ekonomi rakyat yang lemah modal. bahwa sebagian besar.

4 Penguasaan teknologi yang tepat dan relevan bagi masyarakat perdesaan 5 Penyediaan modal yang cukup. maka pembangunan merupakan hak setiap orang dan harus dinikmati oleh setiap anggota masyarakat. sehingga banyak program yang dikemas dengan berbagai nama terbukti gagal. terjadinya perubahan dari ekonomi tradisional ke arah ekonomi modern. lengkap dan efektif kepada masyarakat di perdasaan tentang program-program pembangunan yang dicanangkan. 3 Pemberdayaan Sumber Daya Manusia. khususnya masyarakat ekonomi lemah di perdesaan selalu diawali dengan penguatan modal. dalam melakukan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Ketika ketrampilan dan keahlian target group tersebut telah dianggap memadai baru suntikan dana atau penguatan modal dilakukan. INMAS hingga IDT dan KUT serta berpuluh program lainnya terbukti tak pernah mampu menggemingkan pemberdayaan ekonomi masyarakat desa pada waktu itu. Oleh karena pembangunan merupakan proses transformasi kearah yang lebih baik. Berbagai program itu diantaranya BIMAS. tetapi harus diawali dari pembinaan keahlian atau ketrampilannya terlebih dahulu bagi target group yang akan dikenai suatu program. maka perlu ditawarkan alternatif lain dalam mengemas program pemberdayaan ekonomi masyarakat sebagai bagian dari pelaksanaan pembangunan perdesaan di era otonomi ini. pihak pemerintah daerah dianggap sebagai pihak yang paling berkewajiban membentuk sarana komunikasi yang dapat digunakan untuk menyalurkan informasi yang transparan. Mereka harus dibangkitkan dari kondisi dan tingkat kehidupan yang tradisional menuju kearah kehidupan yang lebih maju (Ndraha:1982). sehingga dana yang dikucurkan oleh pemerintah tersebut benar-benar digunakan dalam kegiatan sektor produksi. PEMBANGUNAN: PROSES TRANSFORMASI SOSIAL EKONOMI BAGI MASYARAKAT PERDESAAN Oleh karena pembangunan selalu bertujuan untuk terciptanya kualitas kehidupan sosial ekonomi yang lebih baik dari tahun ke tahun yang bersifat kontinyu. Beberapa syarat itu diantaranya meliputi. Sudah barang tentu transformasi ekonomi masyarakat perdesaan itu baru bisa terjadi apabila pihak pemerintah daerah di era otonomi ini mampu memenuhi beberapa syarat yang dibutuhkan. Berkaca dari berbagai pengalaman tersebut. Sedangkan Menurut Gunawan (1998) yang dimaksud dengan transformasi itu terdiri dari. tepatlah yang dikatakan Rogers (dalam Amri. Bahkan melalui sarana komunikasi itulah partisipasi yang positif dan konstruktif dari masyarakat terhadap program-program pembangunan dapat ditumbuhkan. 2 Pengalokasian Sumber Daya Alam secara proporsional dan ramah lingkungan. Tanpa komunikasi tak mungkin ada informasi dan tanpa informasi transformasipun tak mungkin terjadi. dari ekonomi subsisten ke arah ekonomi pasar dan dari kondisi ketergantungan ke arah kondisi kemandirian. . Salah satu tawaran alternatif itu adalah dalam mengemas suatu program seyogyanya tidak diawali dari suntikan atau penguatan modal. Di era otonomi ini. 1 Penguatan Kelembagaan. 1993) bahwa pembangunan harus mengandung unsur informasi secara merata melalu proses komunikasi yang efektif. dari ekonomi lemah ke arah ekonomi tangguh. termasuk masyarakat di perdesaan. dapatlah dikatakan bahwa pembangunan merupakan proses social and economic transformation yang disengaja dan terkendali.Pada orde yang lalu. Apabila benar bahwa pembangunan itu merupakan suatu proses transformasi sosial ekonomi.

Dalam hal ini Rogers mensinyalir bahwa terjadinya kegagalan pelaksanaan program pembangunan perdesaan. dan mampu menumbuhkan partisipasi positif bagi masyarakat perdesaan dalam pembangunan. diperlukan adanya strategi komunikasi yang tepat. sehingga proses komunikasi model linier tidak berjalan secara efektif. tidak menjamin akan bisa dilaksanakan dan berhasil dengan baik apabila tidak didukung oleh metode komunikasi yang efektif. Menurut Susanto (1973) untuk mencapai tingkat keberhasilan pembangunan perdesaan yang tinggi. KOMUNIKASI INTERAKTIF: SARANA SOSIALISASI PROGRAM PEMBANGUNAN BAGI MASYARAKAT PERDESAAN Banyak model-model komunikasi yang dapat dijadikan sebagai sarana penyebaran informasi.1977) sosialisasi program pembangunan masyarakat perdesaan pada waktu itu dilakukan dengan menggunakan model komunikasi linier. salah satu diantaranya adalah disebabkan oleh terjadinya kesenjangan komunikasi sehingga informasi yang diterima oleh masyarakat perdesaan menjadi tidak lengkap. komunikasi interaktif dalam menyampaikan pesannya tidak disampaikan melalui saluran formal. Beberapa ahli komunikasi massa mensinyalir bahwa meskipun pelaksanaan pembangunan perdesaan telah dirancang dan dipersiapkan secara baik. Ketika itu pihak pemerintah sebagai agent of change dalam melakukan sosialisasi program pembangunan lebih banyak bersifat instruktif. karena model komunikasi interaktif . berjalan searah dan disampaikan secara singkat. melainkan menggunakan saluran informal yang dibentuk secara swadaya dan swakelola oleh masyarakat desa. karena komunikasi interakttif tidak bersifat instruktif dan penyampaiannya selalu dilewatkan melalui lembaga-lembaga informal pedesaan yang bersifat swakelola. Sedangkan berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh (Ratih Cs. 1999) menunjukkan bahwa komunikasi interaktif ternyata berhasil secara efektif dalam hal memberikan pemahaman tentang pentingnya pembangunan. Dalam hal ini menurut (Dahlan. 1977). sebab komunikasi linier yang cenderung bersifat instruktif itu biasanya disampaikan melalui saluran-saluran formal. yang sekaligus juga menghambat peningkatan kesejahteraan hidup mereka. Hanya dengan komunikasi yang tepatlah proses sosialisasi program-program pembangunan bisa berhasil dengan baik. masih tergolong sebagai primary society itu relatif kurang bahkan tidak menyukai terhadap hal-hal yang bersifat formal. Keberhasilan komunikasi interaktif sebagai sarana sosialisasi program pembangunan masyarakat desa ini menurut Rogers (dalam Gonzales. Menurut Rogers (1985) model komunikasi sedemikian ini kurang tepat bagi masyarakat perdesaan. 02 Maret 2002 pembangunan di perdesaan. Sementara itu masyarakat perdesaan yang secara sosiologis. II No. Akibat lanjut dari minimnya aliran informasi yang menuju ke wilayah perdesaan tersebut dapat menimbulkan rendahnya partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Berbeda dengan model komunikasi linier. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Hilbrink dan Lohman(1983) menunjukkan bahwa model komunikasi interaktif ternyata haslinya lebih efektif untuk digunakan sebagai salah satu strategi dalam mensosialisasikan program-program Jurnal Administrasi Negara Vol. namun tidak semua model komunikasi bisa berhasil secara efektif untuk digunakan di wilayah perdesaan yang bertujuan untuk melakukan transformasi sosial ekonomi melalui program pembangunan.

Mac Andrews 1988. Hang Kueng. 1975. dengan harapan agar kesenjangan pemerataan pembangunan desa-kota dapat segera dieleminir. Penerbit. Kelebihan lain dari model komunikasi interaktif ini adalah adanya kesamaan posisi antara pihak communicant dengan communicator nya. Gadjah Mada. dan hasil komunikasinya dianggap sebagai sharing. terutama dalam hal melaksanakan pembangunan di wilayah perdesaan. Khairuddin. yakni disamping sebagai peluang juga sekaligus tantangan. Yogyakarta. Sedangkan dalam memandang otonomi sebagai hambatan. Deppen RI. memberi dan menerima informasi secara seimbang guna membentuk kesamaan pengertian diantara mereka (Hang Kueng. Hasil Penelitian. maka tidak ada salahnya apabila pihak pemerintah daerah di era otonomi ini mengadopsi model komunikasi ini sebagai sarana sosialisasi program-program pembangunan di perdesaan. Alwi. Albert. untuk membuktikan bahwa pihak pemerintah daerahlah yang merupakan lembaga paling tepat dalam menyusun strategi pembangunan yang ada di wilayahnya. Hilbrink. 1988. Dalam memandang otonomi sebagai peluang. . Institute for Communication Research. Deppen. Hasil Penelitian dengan PT Incore dengan Proyek Penelitian dan Pengembangan Penerangan RI. melainkan berjalan secara timbal balik dari dan kesegalah arah diantara pihak-pihak yang terlibat. DAFTAR PUSTAKA Alfian. Tanpa Penerbit Yogyakarta. H. Stanford University. salah satunya adalah terletak pada prosesnya yang berjalan secara menyebar kesegala arah sehingga arus informasi tidak berjalan satu arah yang dapat dianggap sebagai suatu instruksi. disamping pihak pemerintah daerah harus dapat memanfaatkan sebaik-baiknya juga harus bertindak dengan secepat-cepatnya untuk segera melakukan pembangunan wilayah perdesaan secara terarah dan proporsional. Era otonomi seyogyanya disikapi secara arif oleh pemerintah daerah. Jakarta. Yogyakarta. Depari. Eduard. Sistem Komunikasi Dalam Masyarakat Indonesia. dan Colin. dalam artian bahwa keluasan dan perluasan kewenangan yang dimilikinya hendaknya bisa dipandang secara proporsional. Dalam Edward Depari dan Colin Mac Andrews (ed) Peranan Komunikasi Masa Dalam Pembangunan. Pembangunan Masyarakat. Peranan Komunikasi Massa Dalam Pembangunan. Yogyakarta. sehingga diantara mereka yang terlibat komunikasi tidak ada perasaan inferior dan superior. Network Analysis of The Diffusion of Innovation. Mencari Alternatif Model Komunikasi Dalam Pembangunan Pedesaan. Kelebihan model komunikasi ini. 1994. Dahlan. University Press. Leknas/LIPI. pemerintah harus berfikir bahwa pembangunan wilayah perdesaan merupakan tugas berat yang harus segera dilaksanakan dengan hasil yang memuaskan.memiliki kelebihan dibandingkan dengan model komunikasi linier untuk diterapkan di wilayah perdesaan. Liberty. Forum Siaran Pedesaan di Indonesia. PENUTUP Mengingat model komunikasi interaktif terbukti sangat cocok bagi masyarakat desa. Rogers. Jakarta. Gadjah Mada University Press. Everett. Artinya diantara mereka yang terlibat dalam proses komunikasi terdapat proses saling mempengaruhi. Budi Santoso dan Parsudi Suparlan 1977. Sistem-sistem Komunikasi yang Memadai di Indonesia. 1992. 1994). 1977.

sebagai salah satu prinsip demokrasi. Komunikasi Kontemporer. pengawasan hingga pertanggungjawabannya. Eko Prasojo.Susanto. tuntutan akan partisipasi ini telah mengubah paradigma mengenai posisi masyarakat dalam proses pembangunan. Komentar : Tidak ada komentar » Kategori : Jurnal People and Society Empowerment: Perspektif Membangun Partisipasi Publik 22 03 2008 People and Society Empowerment: Perspektif Membangun Partisipasi Publik Oleh: Dr. mekanisme pencapaiannya.publ. Astrid. Peter et. Tuntutan akan partispasi ini berangkat dari pemahaman bahwa rakyat adalah pemilik kedaulatan dan kekuasaan sesungguhnya dalam sebuah negara. Upaya pemberdayaan masyarakat karena itu menuntut pengelolaan kegiatan secara lebih tepat. dan sebagainya. pelaksanaan. Tiara Wacana. Meskipun secara umum terdapat kesepakatan akan pentingnya pemberdayaan masyarakat. tetapi ikut terlibat mulai dalam perencanaan. namun ada beberapa hal yang menjadi permasalahan untuk mengimplementasikannya dalam tataran praksis. Resume hasil penelitian penulis dan tim Pusat Kajian Strategi Pembangunan Sosial dan Politik (PKSPSP) FISIP UI tahun 2003 dalam literatur research dengan judul “Pola dan Mekanisme Pemberdayaan Masyarakat di DKI Jakarta”. 2 Dosen FISIP UI dan Manajer Pelaksana . Pengantar Sosiologi sebuah Pembanding. Permasalahan tersebut khususnya menyangkut ketiadaan konsep yang jelas mengenai apa itu pemberdayaan masyarakat. Al. batasan masyarakat yang sukses melakukan pemberdayaan. peran masing-masing pemerintah. Yogyakarta. Pelaksanaan. berkembang menjadi tuntutan yang semakin luas diterima di berbagai belahan dunia. akomodatif.rer. PT. 1977. Dalam hal pendekatan pembangunan. Partisipasi masyarakat (rakyat) dalam proses pembuatan keputusan dan pemerintahan secara umum. Masyarakat tidak lagi ditempatkan sebagai objek. Mag. Konsep ini mulai muncul sekitar tahun 1970-an dan berkembang sepanjang tahun 1980-an hingga akhir 1990-an. S. Perkembangannya mungkin tidak dapat dilepaskan dari perkembangan demokrasi yang terjadi beberapa dekade terakhir. Pengawasan dan Laporan Pertanggungjawaban. terukur. Binacipta Bandung Worsley. 1992. Pendekatan ini menyadari betapa pentingnya kapasitas masyarakat untuk meningkatkan kemandirian dan kemampuan internalnya atas segala sumber daya yang dimilikinya. masyarakat dan swasta.2 Latar Belakang Pembangunan berbasis manusia dan pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu konsep yang paling populer dewasa ini. akuntabel yang meliputi rangkaian proses penyusunan Rencana dan Anggaran. Model semacam ini sangat menekankan pentingnya pemberdayaan (empowerment) dan inisiatif rakyat sebagai inti dari sumber daya pembangunan. tertib.

yaitu berbagai peraturan hukum dan Undang-Undang pembangunan dan pemberdayaan masyarakat yang kaku. Akibatnya. tujuan pemberdayaan masyarakat sulit dicapai karena orientasi petugas lebih kepada mengikuti peraturan daripada menjawab kebutuhan di lapangan. yaitu diferensiasi sosial. Langkah sinergis yang mungkin dapat dilakukan adalah dengan menyelaraskan kedua pendekatan tersebut. rentang birokrasi dan tingginya biaya operasional. Hal ini menyebabkan sulitnya petugas lapangan berhadapan dengan kenyataan yang membutuhkan fleksibilitas. komoditas dengan berorientasi pada input dan kualitatif daripada non-fisik dengan ukuran keberhasilan dari dampak dan proses. yang lebih bersifat dinamis. Dengan kondisi yang majemuk tersebut. hukum. meliputi kerangka . Indikator yang hanya didasarkan akan nilai-nilai yang sifatnya material.Selo Soemardjan Research Centre FISIP UI Beberapa permasalahan lain terkait dengan pemberdayaan masyarakat meliputi: Pertama. Banyaknya masalah baru yang muncul. Kedua. baik dari pemerintah atau LSM. diskontinuitas dan diskoordinasi. politik. ini bukanlah solusi. Ketiga. yaitu pemberdayaan masyarakat dengan pendekatan proses biasanya memerlukan waktu yang cukup lama. Perspektif ini menawarkan sebuah pendekatan yang menyeluruh. Petunjuk Pelaksanaan ( Juklak). Generalisasi. yaitu pemberdayaan masyarakat yang dijanlankan dengan bantuan para konsultan terkadang tidak difahami oleh masyarakat. karakter budaya. kebutuhan akan indikator yang mencakup semua hal menjadi sangat penting. mengubah kebijakan yang lebih nyata. pada satu sisi menampakkan hasil yang nyata. Pendekatan pembangunan. ataupun partisipasi politik masyarakat yang terkadang tidak dapat dikukur menjadi terabaikan. dan juga pemberdayaan. Petunjuk Teknis (Juknis) juga sistem penganggaran dapat menjadi penghambat dalam pemberdayaan masyarakat. disorientasi. Orientasi progam yang dilaksanakan oleh pemerintah. pemberdayaan masyarakat selama ini selalu diukur dalam bentuk fisik. yang hanya didasarkan pada Surat Keputusan (SK). karena sebenarnya pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu dari sekian banyak perspektif mengenai pembangunan masyarakat. maka pendekatan pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah hendaknya pendekatan pembangunan yang tidak bersifat monolitik. indikator yang tidak tepat. disertai pula oleh hasil yang belum tampak nyata terkadang menjadikan fasilitator (pendamping). namun pada sisi yang lain terkadang tidak menyentuh akar permasalahan yang ada. Hal ini dapat dipahami. Keempat. dari proses ke hasil. Kelima. Dengan demikian. disinformasi program. Kesadaran akan nilai. serta struktur sosial masyarakat sangatlah diperlukan saat ini. Keenam. Lebih dari itu. dengan mengesampingkan nilai non materi hanya akan memperkuat pendekatan hasil (program) dalam pemberdayaan masyarakat. Kebijakan pemerintah kadang malah berseberangan dengan pendampingan yang dilaksanakan oleh LSM. dan budaya yang ada di Indonesia merupakan kekayaan yang tidak ternilai. yaitu keseluruhan program pemberdayaan masyarakat dilaksanakan tidak dikoodinasikan dengan baik dan dilaksanakan secara sporadis. pendekatan multidisiplin menjadi penting. Konsep dan Definisi Pemberdayaan Hingga saat ini terdapat banyak macam perspektif yang berbeda mengenai pemberdayaan masyarakat. Pergeseran pendekatan. dengan memperhatikan nilai-nilai dasar yang ada di masyarakat. Bahasa yang digunakan oleh para ilmuwan atau kosultan tersebut terkadang tidak dapat difahami oleh masyarakat atau lembaga pelaksana dari pemberdayaan masyarakat tersebut.

Proses ini dapat dilengkapi dengan upaya membangun aset material guna mendukung pembangunan kemandirian melalui organisasi. hukum. kecenderungan sekunder. pemberdayaan pada dasarnya adalah memberikan kekuatan kepada pihak yang kurang atau tidak berdaya (powerless) agar dapat memilliki kekuatan yang menjadi modal dasar aktualisasi diri. (Adimiharja. terdapat dua kecenderungan yang saling terkait dalam pencapaian pemberdayaan masyarakat. bidang ekonomi. masyarakat. bidang ekologi. 2001: 46-48). dan tata dunia dalam kerangka proses aktualisasi kemanusiaan yang adil dan beradab yang terwujud dalam berbagai medan kehidupan: politik. kecenderungan primer. ekonomi. dan pemberdayaan bidang spiritual. dorongan atau motivasi agar individu atau masyarakat mempunyai kemampuan menentukan kebutuhan hidupnya melalui proses dialog. maupun dalam bidang politik. 2001: 10) Kedua kecenderungan ini juga dirumuskan oleh Payne. bidang hukum. bangsa. Menurut Payne. (Pranaka dan Vidhyandika. pemberdayaan masyarakat tidak hanya menyangkut aspek ekonomi. kelompok ataupun masyarakat berusaha mengontrol kehidupan mereka sendiri dan mengusahakan untuk membentuk masa depan sesuai dengan keinginan mereka. ada beberapa hal penting dalam memahami dan membuat sebuah definisi yang operasional dari pemberdayaan masyarakat. Meskipun demikian. pendidikan. berbagai . proses aktualiasasi diri dapat dijalankan. Ia menyatakan bahwa pencapaian tujuan pemberdayaan dapat dilakukan melalui peningkatan kemampuan dan rasa percaya diri untuk menggunakan daya yang ia miliki. bidang budaya. dan lain sebagainya. negara. ekonomi. Sedangkan Shardlow menyimpulkan bahwa pemberdayaan menyangkut permasalahan bagaimana individu. Pemberdayaan juga dapat diartikan sebagai membangun eksistensi pribadi. masyarakat. tapi juga kolektif (Harry Hikmat. internasional. Ketiga.konseptual. tujuan utama pemberdayaan adalah membantu klien memperoleh daya untuk mengambil keputusan dan menentukan tindakan yang akan ia lakukan. Gagasan lain mengenai pemberdayaan adalah memberika kekuatan (power) pada yang tidak berpunya (powerless). yang terkait dengan diri mereka. (Rukminto Adi. Pemberdayaan masyarakat tidak menyediakan keharusan-keharusan yang terperinci yang tepat atau cocok untuk setiap sistem kemasyarakatan. kekuatan dan kemampuan kepada masyarakat atau individu agar menjadi lebih berdaya. negara. Ada berbagai macam pemberdayaan. Aktualisasi diri merupakan salah satu kebutuhan mendasar manusia. bidang sosial. Kecenderungan ini menekankan pada proses pemberian stimulan. dan lain sebagainya. antara lain: pemberdayaan bidang politik. Kedua. regional. antara lain melalui transfer daya dari ligkungannya. Pada kecenderungan ini proses pemberdayaan masyarakat ditekankan pada proses pemberian atau pengalihan sebagian kekuasaan. Konsep pemberdayaan pada dasarnya adalah upaya menjadikan suasana kemanusiaan yang adil dan beradab menjadi semakin efektif secara struktural. termasuk mengurangi efek hambatan pribadi dan sosial dalam melakukan tindakan. baik dalam lingkungan keluarga. logika berpikir dan panduan umum untuk meningkatkan kapasitas dan performance dalam pembangunan masyarakat. pemerintahan. Kedua. keluarga. Hanya dengan power. Pertama. namun untuk keberhasilan pemberdayaan yang menyeluruh. menurut Pranarka dan Vindhyandika. Pengertian ini kurang-lebih sama dengan pendapat Payne dan Shardlow mengenai tujuan pemberdayaan. Meskipun tujuan dari masing-masing pemberdayaan mungkin berbeda. 1996: 56). 2002: 162-163) . Pemberdayaan yang dimaksud tidak hanya mengarah pada individu semata. Pertama.

strategi yang digunakan pun lebih mengutamakan proses dari pada hasil. Suatu masyarakat yang sebagian besar anggotanya sehat fisik dan mental. Pemberdayaan melalui kebijakan dan perencanaan diterima dalam pengembangan atau perubahan struktur dan kelembagaan untuk akses yang lebih merata terhadap sumber daya atau pelayanan. memberdayakan masyarakat adalah memampukan . Mengingat pemberdayaan merupakan suatu proses. Dalam pengertian yang terakhir. masyarakat lebih mampu memberikan penyelesaian setiap masalah yang lebih mendasar.macam bentuk pemberdayaan tersebut seharusnya dapat dipadukan dan saling melengkapi. pemberdayaan tidak berfungsi untuk meniadakan masalah. 2002: 163-165). aksi sosial dan politik. dan kesempatan untuk berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat. Sedangkan memberdayakan masyarakat adalah upaya meningkatkan harkat dan martabat masyarakat yang tidak mampu untuk melepaskan diri dari perangkap kemiskinan dan keterbelakangan. terdidik kuat. antara lain (Osborne and Gabler. Sedangkan sebagai proses. pelayanan yang diberikan pemerintah kepada masyarakat lebih efisien. Pemberdayaan melalui aksi sosial menitikberatkan pada pentingnya perjuangan politik dan perubahan dalam mengembangkan kekuatan efektif. masyarakat mengetahui permasalahan yang dihadapi warganya secara lebih mendalam. yaitu kemapuan individu yang bersenyawa dalam masyarakat dan membangun keberdayaan masyarakat yang bersangkutan. pemberdayaan masyarakat dapat dilihat sebagai program maupun proses. (James William Lie. seperti dinyatakan oleh David Osborne dan Ted Gabler. Keempat. warga masyarakat akan memberikan komitmen yang lebih besar. pemberdayaan yang sepenuhnya melibatkan partisipasi masyarakat atau masyarakat menjadi pilihan yang paling menguntungkan di masa yang akan datang. Keberdayaan masyarakat adalah unsur-unsur yang memungkinkan suatu masyarakat bertahan dan dalam pengertian yang dinamis mengembangkan diri dan mencapai tujuan. Dengan kata lain. Menurut Jim Ife (1995: 63-63) bahwa terdapat tiga strategi dalam pemberdayaan masyarakat. yaitu melalui kebijakan dan perencanaan. sedangkan pemerintah lebih berperan memberikan perhatian dan dorongan. dan inovatif tentunya memiliki keberdayaan yang tinggi. 1995: 132: Rukminto Adi. pemberdayaan merupakan sebuah proses yang berkesinambungan. Sedangkan pemberdayaan melalui pendidikan dan penyadaran mengembangkan pentingnya proses pedidikan yang dapat melengkapi warga masyarakat untuk meningkatkan kekuasaanya. Masyarakat lebih mampu melihat potensi yang dimiliki oelh setiap warganya. 2002: 171-177). mengajarkan pada masyarakat tentang pengertian dan kentrampilan untuk perubahan yang efektif. peran aktif Lembaga Swadaya Masyarakat dalam penyediaan barang dan jasa. 1993). effektif dan partisipatif. pendidikan dan penyadaran. Sebagai program. Hal ini setidaknya didasari berbagai potensi yang dimilikinya. tetapi mempersiapkan struktur dan sistem dalam masyarakat agar proaktif dan responsif terhadap kebutuhan dan permasalahan yang muncul dalam masyarakat (Rukminto Adi. (Andrinaldi. 2001) Kelima. Keenam. konsep pemberdayaan masyarakat mencakup pengertian pembanguan masyarakat (community development) dan pembangunan yang bertumpu pada manusia (community based development) Kartasastima (1996) mejelaskan bahwa pemberdayaan masyarakat terkait erat dengan keberdayaan masyarakat. pemberdayaan dilihat sebagai tahapan-tahapan kegiatan yang biasanya telah ditentukan jangka waktu pencapaiannya. Untuk itu diperlukan peningkatan kesadaran tentang pemahaman masyarakat dalam arti luas dan struktur penindasan.

penggunaan radio. mantap atau sporadis. Kedua. Pada sisi yang lain. Paige memberikan dua indikator dalam menjelaskan pola partisipasi politik. Pada dasarnya pemberdayaan merupakan suatu proses perubahan yang menempatkan kreativitas dan prakarsa masyarakat. komunikasi antara pusat-pusat kota dan daerah terbelakang. Nie dan Sidney Verba. terorganisir atau spontan. dan sebagainya. Jefry M. legal atau ilegal. transportasi. adanya sikap acuh tak acuh. Hal ini akan meningkatkan kesadaran anggota masyarakat akan pengaruh kebijaksanaan pemerintah terhadap tiap-tiap warga negara. Kedua. dibimbing oleh cara berfikir mereka sendiri. Tingginya partisipasi menunjukkan bahwa warga negara memahami kehidupan politik. 1975:1). Partispasi warga negara yang legal bertujuan untuk mempengaruhi seleksi pejabatpejabat negara dan/atau tindakan-tindakan yang diambil mereka (Norman H. 1977:3). rendahnya partisipasi dapat dianggap sebagai rendahnya kepedulian dan pengetahuan warga negara dalam kehidupan politik atau bisa jadi terdapat batasan serta tidak adanya kesempatan dalam kehidupan politik. Di negara-negara yang menganut faham demokrasi. tindakan apati bukanlah masalah yang harus selalu dirisaukan karena tindakan acuh tak acuh dapat menjadi positif apabila memberikan fleksibilitas pada sistem politik dibandingkan dengan masyarakat yang terlalu aktif sehingga menjurus pada pertikaian yang berlebihan. Menurut Myron Wiener. Dalam beberapa kasus. dan sebagainya. Kecenderungan ini dapat dilihat dengan penggabungan diri tidak saja pada organisasi-organisasi politik. inisiatif diambil oleh masyarakat sendiri.dan memandirikan masyarakat. pemberdayaan masyarakat dalam bidang politik menjadi penting. di negara-negara totaliter gagasan mengenai partisipasi rakyat didasari pandangan elite politiknya yang melihat rakyat perlu dibimbing dan dibina untuk mencapai stabilitas yang langgeng. tidak tertarik atau rendahnya pemahaman mereka mengenai masalah politik. secara damai atau dengan kekerasan. penyebaran surat kabar. Dan juga mereka lebih aktif dalam berpartisipasi untuk pemecahan masalah melalui kegiatan lain. gagasan mengenai partisipasi rakyat mempunyai dasar ideologis bahwa rakyat berhak turut menentukan siapa-siapa yang akan menjadi pemimpin yang nantinya menentukan kebijaksanaan umum (public policy). dengan menggunakan sarana dan proses (lembaga dan mekanisme) di mana mereka dapat menegaskan kontrol secara efektif. Huntington dan Joan Nelson. Dari pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa elemen penting dari pemberdayaan adalah partisipasi. Partisipasi bisa bersifat individual atau kolektif. Partispasi warga negara (private citizen) bertujuan untuk mempengaruhi pengambilan keputusan oleh pemerintah. pertumbuhan komunikasi massa yaitu karena perkembangan penduduk. mereka tinggal dalam lingkungan yang menganggap bahwa tindakan apati merupakan suatu tindakan terpuji. Partisipasi merupakan proses aktif. Di Amerika Serikat misalnya. adanya keyakinan bahwa usaha mereka untuk mempengaruhi kebijakan pemerintah tidak berhasil. Ketiga. Pertama. Dalam konteks pembangunan dan demokratisasi di Indonesia. gejala tidak memberikan suara dapat dilihat sebagai suatu pencerminan stabilitas sistem politik yang ada. Sebaliknya. tetapi juga pada organisasi bisnis. Adapun warga negara yang sama sekali tidak melibatkan diri dalam partisipasi politik disebut apati (apaty). . efektif atau tidak efektif (Samuel P. Pertama. tumbuhnya angkatan kerja perkotaan yang bekerja di sektor industri yang mendorong timbulnya organisasi buruh. Hal ini terjadi karena beberapa sebab. profesi. ada dua faktor pendorong bagi menguatnya partisipasi politik.

pada dasarnya ditentukan oleh setidak-tidaknya tiga faktor utama. kesadaran politik yakni kesadaran seseorang akan hak dan kewajibannya sebagai warga negara yang menyangkut pengetahuannya mengenai lingkungan masyarakat dan politik serta menyangkut minat dan perhatiannya terhadap lingkungan masyarakat dan politik tempat ia hidup. Kedua. Anggota masyarakat yang berpartisipasi dalam proses politik terdorong oleh keyakinan bahwa melalui kegiatan itu kepentingan mereka akan tersalur atau sekurangnya diperhatikan dan sedikit banyak dapat mempengaruhi tindakan yang berwenang yang diwujudkan dalan sebuah keputusan. Pola partisipasi politik yang ditunjukkan melalui kadar tinggi rendahnya kesadaran politik dan kepercayaan politik seperti dikemukakan di atas. dan sistem. tata mayarakat dan budaya yang berkembang dalam sebuah masyarakat (Hikmat. termasuk di dalamnya antara lain eksistensialisme. Pada awal kelahirannya. Aliran posmodernisme. Masyarakat percaya bahwa kegiatan yang mereka lakukan mempunyai efek (political efficacy). Pemberdayaan Masyarakat sebagai basis partisipasi masyarakat Konsep pemberdayaan tumbuh mulai tahun 1970-an dan terus mengalami perkembangan hingga tahun 1990-an. 4 Partisipasi politik cenderung pasif jika kesadaran politik rendah tetapi kepercayaan politik tinggi. Menurut Pranarka dan Vidhyandika. Menurut Pranarka dan Vidhyandika. menitikberatkan pada sikap dan pendapat yang berorientasi pada jargon antisistem. Dalam sistem negara demokratis.Pertama. Paige kemudian membagi pola partisipasi politik menjadi empat tipe: 1 Partisipasi politik dikatakan aktif apabila tingkat kesadaran dan kepercayaan politiknya tinggi. Aliran-aliran tersebut menolak segala bentuk kekuasaan yang bermuara pada dehumanisasi atas eksistensi . yang memberikan perhatian penting pada gagasan manusia dan kemanusiaan (humanisme). Proses pemberdayaan dengan demikian merupakan depowerment dari sistem kekuasaan yang bersifat absolut. personalisme. konsep pemberdayaan bertujuan untuk menemukan alternatifalternatif baru dalam pembangunan masyarakat. partisipasi politik merupakan elemen yang penting. 2001: 1-2). Hal ini didasari oleh keyakinan bahwa kedaulatan ada di tangan rakyat. fenomologi. 2 Partisipasi politik terlihat apatis jika tingkat kesadaran dan kepercayaan politik rendah. personalisme dan eksistensialisme. yaitu tingkat pendidikan. Konsep pemberdayaan dapat dilihat sebagai akibat dari dan reaksi terhadap alam pikiran. tetapi kepercayaan politik rendah. freudanisme serta berbagai aliran strukturalisme. gagasan humanisme ini memiliki kesamaan dengan apa yang diajukan aliran fenomologi. Dengan mengkorelasikan kesadaran politik dan kepercayaan politik itu. yang biasa dikenal sebagai aliran posmodernisme. yang dilaksanakan melalui kegiatan bersama untuk menetapkan tujuan-tujuan kolektif. apakah dapat dipercaya dan dapat dipengaruhi atau tidak. kepercayaan politik yaitu penilaian seseorang terhadap pemerintah dan sistem politik yang ada. Konsep pemberdayaan menggantikannya dengan sebuah sistem yang baru. neomarxisme. antistruktur dan antideterminisme yang diaplikasikan pada dunia kekuasaan. konsep ini memiliki pemikiran yang searah dengan berbagai aliran pemikiran yang berkembang pada akhir abad ke-20. 3 Partisipasi politik cenderung militan-radikal apabila kesadaran politik tinggi. tingkat kehidupan ekonomi.

terutama bagi kelompok marjinal. Dalam situasi inilah reorientasi paradigma pembangunan menjadi kebutuhan yang mendesak (Adimihardja. Pendekatan ini melihat bahwa permasalahan sosial yang ada dalam masyarakat bukan semata-mata akibat penyimpangan prilaku atau masalah kepribadian. 2001: 1) Pembangunan yang bersifat sentralistik dapat menghambat tumbuhnya kesadaran masyarakat bahwa masalah sosial yang ada merupakan masalah masyarakat. Integrasi sosial (social integration). industrialisasi dan teknologi (Hikmat. Strategi pemberdayaan menempatkan partisipasi masyarakat sebagai isu utama pembangunan saat ini. tetapi juga sebagai akibat masalah struktural. Selain itu.manusia. Sementara itu McArdle mengartikan pemberdayaan sebagai proses pengambilan keputusan oleh orangorang yang secara konsekuen melaksanakan keputusan tersebut. Kesinambungan (sustainability). keterampilan serta sumber lainnya dalam rangka mencapai tujuan mereka tanpa bergantung pada bantuan pihak luar. 2002: 155-156): Partisipasi (participation). Sebagaimana dinyatakan Craig dan Mayo. sehinga mereka tidak mampu memanfaatkan potensi dan sumber daya sosial yang ada untuk mengatasinya. Orang-orang yang telah mencapai tujuan kolektif diberdayakan melalui kemandiriannya. Dengan partisipasi. pemberdayaan merupakan pemahaman secara psikologis pengaruh individu terhadap keadaan sosial. jaringan kerja dan keadilan. pembangunan dapat menjangkau masyarakat terlemah melalui upaya membangkitkan semangat hidup untuk menolong diri sendiri. freudianisme dan lainnya yang menggugat dehumanisasi yang dihasilkan oleh kapitalisme. kondisi struktural yang ada tidak memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengartikulasikan aspirasi serta merealisasikan potensinya. Pendekatan ini menyadari pentingnya kapasitas masyarakat untuk meningkatkan kemandirian dan kekuatan internal. sehingga masyarakat berada dalam kondisi yang tidak berdaya. Tujuan utama dari pembangunan yang berpusat pada manusia (people-centered development) adalah untuk menyediakan kepada seluruh lapisan masyarakat kesempatan hidup secara utuh. Dalam hal ini partisipasi aktif masyarakat terkait dengan efektivitas. Demikian juga dengan aliran neomarxis. kebijakan yang keliru. McArdle menekankan pentingnga proses dalam pengambilan keputusan (Hikmat. Pemberdayaan masyarakat merupakan strategi besar dalam paradigma pembangunan yang berpusat pada rakyat (people based development). Menurut Rapppaport. efisiensi. inkonsistensi dalam implementasi kebijakan dan tidak adanya partisipasi masyarakat dalam pembangunan. 2001: 4-5). terutama terkait dengan kelestarian lingkungan. dan . (Adimihardja. Partisipasi aktif masyarakat di Dunia Ketiga dinilai sebagai strategi efektif untuk meningkatkan ekonomi. kekuatan poltik dan hak-haknya menurut undang-undang. sosial dan transformasi budaya. melalui kesanggupan untuk melakukan kontrol internal atas sumber daya material dan non-material yang penting melalui redistribusi modal atau kepemilikan. Adapun nilai-nilai dasar yang dianggap universal dalam pendekatan ini adalah (Adi. partisipasi. yang terkait dengan rasa keadilan. 2001: 3-4). 2001: 1) Konsep pemberdayaan dalam wacana pembangunan biasanya selalu dikaitkan dengan konsep kemandirian. partisipasi merupakan komponen terpenting dalam upaya pertumbuhan kemandirian dan proses pemberdayaan. 2001: 2). bahkan merupakan “keharusan” untuk lebih diberdayakan melalui usaha mereka sendiri dan akumulasi pengetahuan. kemandirian dan jaminan bagi pembangunan yang berkelanjutan (Hikmat.

Kedua. keluarga dan masyarakat. mengorganisasi pelaksanaan. daftar pemecahan yang mungkin diambil. tapi juga kolektif (Hikmat. hingga memperdebatkan mutu dari mobilisasi atau organisasi lebih lanjut. bagi kelompok-kelompok dan gerakan-gerakan yang sampai sekarang tidak diikutsertakan dalam pengendalian (Goulet. Bentuk partisipasi ideal diprakarsai. 1990: 134) Definisi kerja partisipasi dari Marshall Wolfe adalah usaha-usaha terorganisir meningkatkan peranan pengendalian atas sumber daya-sumber daya dan lembagalembaga regulatif dalam satuan masyarakat tertentu. Mengembangkan struktur-struktur dan proses organisasi yang berfungsi menurut kaidah-kaidah swaorganisasi. mulai pemeriksaan awal masalah. 1990: 135). tujuan utama pemberdayaan adalah membantu klien memperoleh daya untuk mengambil keputusan dan menentukan tindakan yang akan ia lakukan. yaitu (Hikmat. mengembangkan sistem-sistem produksi dan konsumsi ysng diorganisasi secara teritorial . 1990: 141) Pemberdayaan pada dasarnya adalah pemberian kekuatan kepada pihak yang kurang atau tidak berdaya (powerless) agar dapat memilliki kekuatan yang menjadi modal dasar aktualisasi diri. Partisipasi ideal yang sulit ditemukan dalam tataran praksis adalah partisipasi yang dimulai dari tingkat bawah dan berkembang ke tingkat atas menuju bidang-bidang yang semakin meluas dalam pembuatan keputusan. kelompok ataupun masyarakat berusaha mengontrol kehidupan mereka sendiri dan mengusahakan untuk membentuk masa depan sesuai dengan keinginan mereka (Adi. dan sebagai terobosan yang memperbolehkan para pelaku kecil mendapatkan jalan untuk ikut serta pada level makro dalam pembuatan kebijakan (Goulet. Pemrakarsa partisipasi dapat berasal dari atas (penguasa atau para ahli). yang terkait dengan diri mereka. Jika berasal dari atas. memusatkan pemikiran dan tindakan kebijakan pemerintah pada penciptaan keadaankeadaan yang mendorong dan mendukung usaha rakyat untuk memenuhi kebutuhankebutuhan mereka sendiri dan untuk memecahkan masalah-masalah mereka sendiri di tingkat individual. Partisipasi dikonsepsikan secara baru sebagai suatu “insentif moral” yang membolehkan kelompok marjinal untuk merundingkan “insentif-insentif material” yang baru bagi mereka. Aktualisasi diri merupakan salah satu kebutuhan mendasar manusia. atau sekurang-kurangnya disetujui. 2002: 162-163) Menurut Korten. ada tiga dasar untuk perubahan-perubahan struktural dan normatif dalam pembangunan yang berpusat pada masyarakat. 1990: 137-139). 2001: 16): Pertama. Ketiga. Menurut Payne. maka biasanya disertai oleh kontrol sosial tertentu atas proses dan pelaku-pelaku partisipasi.Hak-hak dan kemerdekaan asasi (human rights and fundamental freedoms). 1990: 138-139). termasuk mengurangi efek hambatan pribadi dan sosial dalam melakukan tindakan. Pengertian ini kurang-lebih sama dengan pendapat Payne dan Shardlow mengenai tujuan pemberdayaan. bawah (masyarakat) atau pihak ketiga dari luar. Sedangkan Shardlow menyimpulkan bahwa pemberdayaan menyangkut permasalahan bagaimana individu. pemilihan satu kemungkinan tindakan. (Goulet. oleh masyarakat non-elit yang berkepentingan pada tingkat awal dalam urutan keputusan-keputusan (Goulet. Pemberdayaan yang dimaksud tidak hanya mengarah pada individu semata. 2001: 46-48). Pembangunan dalam sebuah sistem yang non demokratis biasanya masih memperbolehkan partisipasi di tingkat mikro (pemecahan masalah) asalkan tidak mengganggu ketentuan atau aturan di tingkat makro (Goulet. Masyarakat harus memiliki kesempatan ikut berpartisipasi dalam segala kegiatan yang ada. evaluasi dalam tahap pelaksanaan.

Ada berbagai macam pemberdayaan. terdapat dua kecenderungan yang saling terkait dalam pencapaian pemberdayaan masyarakat. dalam berbagai bentuknya. Pada kecenderungan ini proses pemberdayaan masyarakat ditekankan pada proses pemberian atau pengalihan sebagian kekuasaan. Peran Pemerintah Prinsip pembangunan yang berpusat pada masyarakat menegaskan bahwa masyarakat harus menjadi pelaku utama dalam pembangunan. Kedua. koordinator. Karena pemberdayaan . memiliki kewenangan operasionalisasi yang lebih luas.yang berlandaskan pada kaidah-kaidah dan pemilikan dan pengendalian lokal. Integrated Community Development Istilah pemberdayaan tidak hanya mengacu pada pembangunan salah satu bidang saja. Pemberdayaan dengan demikian merupakan proses pembangunan masyarakat yang terintegrasi (intgerated community development). antara lain: pemberdayaan bidang politik. berbagai macam bentuk pemberdayaan tersebut seharusnya dapat dipadukan dan saling melengkapi (William. Paradigma pembangunan yang berpusat pada masyarakat juga menuntut adanya perubahan pola. 1995: 163-165). diarahkan untuk lebih aktif terlibat sebagai agen pelaksana perubahan dan pelaksana pelayananan sosial. Pola dari atas ke bawah yang selama ini lebih kuat dari pada dari bawah ke atas harus digeser dengan memberikan tempat bagi keterlibatan semua tingkat. Sementara faktor internalnya adalah peluang bagi terciptanya suatu dorongan pembangunan dari. pendidik dan mobilisator serta peran-peran lain yang lebih mengarah pada pelayanan tidak langsung. Proses ini dapat dilengkapi dengan upaya membangun aset material guna mendukung pembangunan kemandirian melalui organisasi. oleh dan untuk masyarakat dalam konteks ekologi dan sistem sosialbudaya setempat. antara lain melalui transfer daya dari lingkungannya. kewenangan dalam hal kebijakan semakin luas dan semakin ke bawah. Ia menyatakan bahwa pencapaian tujuan pemberdayaan dapat dilakukan melalui peningkatan kemampuan dan rasa percaya diri untuk menggunakan daya yang ia miliki. bidang sosial. bidang hukum. kecenderungan primer. namun untuk keberhasilan pemberdayaan yang menyeluruh. mediator. meso dan makro) mendapatkan pembagian peran dengan prinsip semakin ke atas. Masing-masing tingkat (mikro. baik pada tingkat mikro. Meskipun tujuan dari masing-masing pemberdayaan mungkin berbeda. Dalam hal ini pemerintah bergeser dari penyelenggara pelayanan sosial menjadi fasilitator. Baik dalam kecenderungan primer maupun dalam kecenderungan sekunder. Dengan demikian gerak masyarakat pada tingkat mikro tidak mendapatkan hambatan dari tingkat meso dan makro. kecenderungan sekunder. Pertama. Keserasian di antara ketiganya ini merupakan faktor eksternal pembangunan yang berpusat pada masyarakat. Kecenderungan ini menekankan pada proses pemberian stimulan. sehingga ada keserasian di antara ketiganya. Hal ini membutuhkan restrukturisasi sistem pembangunan sosial. 2001: 10). Kedua kecenderungan ini dirumuskan pula oleh Payne. dorongan atau motivasi agar individu atau masyarakat mempunyai kemampuan menentukan kebutuhan hidupnya melalui proses dialog (Adimiharja. dan pemberdayaan bidang spiritual. bidang ekonomi. kekuatan dan kemampuan kepada masyarakat atau individu agar menjadi lebih berdaya. Menurut Pranarka dan Vindhyandika. meso maupun makro. Organisasi kemasyarakatan. bidang budaya. bidang ekologi. pemerintah harus berperan aktif dalam proses pemberdayaan masyarakat.

merupakan salah satu pilar dalam pembangunan masyarakat, maka peran aktif pemerintah harus pula memperhatikan prinsip-prinsip lain terkait dalam pembangunan masyarakat seperti (1) faktor-faktor struktural yang berakar dalam suatu masyarakat, (2) perhatian terhadap hak-hak dasarmanusia, (3) prinsip kesinambungan (sustainability), (4) hubungan antara individu dan politik, (5) kepemilikan masyarakat baik dalam konteks material maupun struktur dan proses, (6) kepercayaan terhadap kekuatan sendiri (self reliance), (7) ketidaktergantungan kepada pemerintah, (8) penetapan visi jangka panjang dan tujuan intermediasi yang akan dicapai, (9) pemberdayaan berdasarkan organici development dan faktor-faktor lainnya. Pada dasarnya setiap masyarakat memiliki hak yang sama untuk memenuhi kebutuhan dasarnya, yaitu kebutuhan untuk hidup layak secara ekonomi, politik, sosial dan budaya di dalam suatu komunitas tertentu. Karena itu, masyarakat adalah subjek pembangunan dan bukan hanya sekedar menjadi objek pembangunan. Hal ini berdasar pada teori berdirinya sebuah negara, bahwa rakyat ada sebelum negara lahir. Rakyatlah yang memberi bentuk dan mendirikannya negara. Itulah sebabnya, mengapa Konstitusi UUD 1945 menyatakan bahwa kedaulatan adalah ditangan rakyat, bukan kepada negara, terlebih lagi bukan pada pemerintah. Tidak optimalnya proses dan hasil pembangunan di Indonesia lebih disebabkan oleh cara berpikir pembangunan yang berorientasi pada negara dan pemerintah (state oriented development), daripada pembangunan yang berorientasi pada masyarakat (society oriented development). Hal ini telah menyebabkan ketimpangan ekonomi antar sektor dan antar lapisan masyarakat, kesenjangan antargologan sosial, kesenjangan pembangunan diri manusia Indonesia, dan ketimpangan desa kota. Alat ukur pembangunan hanya menggunakan data-data statistik yang mudah dimanipulasi, tetapi sangat jarang memperhatikan aspek manusia sebagai pemakai hasil pembangunan. Dalam kasus yang sangat ekstrim, pemabangunan di Indonesia juga seringkali memarjinalisasi kelompok-kelompok miskin. Padahal, seperti yang dituangkan dalam pembukaan UUD 1945, tujuan pembentukan negara RI adalah melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan terciptanya keadilan sosial. Dari sini dapat dikatakan bahwa semangat pembentukan negara RI adalah sebagai alat untuk menjamin terselenggaranya hak-hark rakyat. Semangat ini juga tergambar dalam pasal-pasal UUD 1945. Misalnya hak dan kedudukan yang sama dalam hukum dan pemerintahan, hak untuk mendapatkan pekerjaan dan kehidupan yang layak, termasuk jaminan fakir miskin, hak untuk mendapatkan pendidikan dan hak rakyat untuk mendapatkan hasil sebesar-besarnya hasil kekayaan sumber daya alam. Kesemua hal tersebut mencerminkan jaminan dan amanah pemberdayaan masyarakat Indonesia secara konstitusional untuk menjadi objek sekaligus subjek dalam pembangunan. Sejak reformasi 1988, negara dan pemerintah memiliki komitmen kebijakan pembangunan yang berorientasi pada manusia dan masyrakat. Hal ini paling tidak ditandai dengan beberapa perubahan dan pembuatan Undang-Undang yang menjamin keterlibatan masyarakat dalam pembangunan. Jika sebelum reformasi pemerintah pusat memegang peranan yang sangat dominan dalam pembangunan, maka dengan dikeluarkannya UU 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, proses pembuatan dan pelaksanaan pembangunan diharapkan dapat berpindah tidak saja ke pemerintah daerah

tetapi juga kepada masyarakat daerah. Dari sudut pandang pemerintahan dan masyarakat daerah, nilai utama kebijakan desentralisasi ini adalah perwujudan political equality, yakni terbukanya partisipasi masyarakat dalam berbagai aktivitas politik di tingkat nasional. Nilai kedua adalah local accountablity, yakni kemampuan pemerintah daerah dalam memperhatikan hak-hak masyarakat di tingkat lokal. Dan nilai ketiga adalah local responsiveness, yakni pemerintah daerah dianggap mengetahui lebih banyak tentang berbagai masalah yang dihadapi oleh masyarakatnya. Maka melalui pelaksanan desentralisasi diharapkan, bahwa proses pemberdayaan masyarakat dapat mengalami percepatan melalui peran pemerintah daerah. Prinsip-prinsip Dasar Pemberdayaan Masyarakat Di kebanyakan negara, kegagalan proses dan hasil pembangunan disebabkan oleh orientasi yang berlebihan pada negara dan pemerintah. Sebaliknya, masyarakat dan manusia sebagai objek pembangunan seringkali dilupakan. Atas dasar itu, pemberdayaan masyarakat sebagai salah satu pilar pembangunan harus meletakkan fokus pembangunan pada manusia (people centered development). Penyelenggaraan pembangunan difokuskan kepada pemenuhan kebutuhan dan kepentingan setiap warga masyarakat di segala bidang poleksosbudhankam (fisik – non fisik), dengan memposisikan masyarakat sebagai “subyek dan pemanfaat (obyek)” pembangunan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh, adil dan merata. Setiap permasalahan dan upaya pemecahan masalah masyarakat selalu “dilokalisir”, agar tidak menyebar ke kelurahan, sesuai dengan makna kelurahan sebagai basis kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara/berpemerintahan. Bantuan dari pihak luar, baik antar kelurahan ataupun atasan kelurahan dan lainnya, sifatnya hanya terbatas pada “kerjasama dan/atau saling membantu” dalam rangka memperbesar mobilisasi sumber daya dan atau pemecahan masalah secara bersama-sama. Prinsip ini mengedepankan kemampuan masyarakat lokal setempat untuk mengatasi berbagai permasalahan secara mandiri. Bantuan pemerintah atau daerah lainnya hanya dibutuhkan, jika masyarakat lokal setempat tidak dapat melaksanakan atau memecahkan sendiri permsalahannya (Local competency and subsidiarity). Untuk itu, semua upaya peningkatan kesejahteraan bersama, diutamakan dengan memobilisasi “kekuatan, kemampuan dan sumbersaya” yang dimiliki oleh masyarakat beserta lingkungannya (kemandirian). Disamping itu, berbagai kegiatan pembangunan harus menjadi “tanggung jawab dan beban” seluruh lapisan masyarakat kelurahan berdasarkan hasil kesepakatan (keputusan) bersama melalui musyawarah. Kebersamaan dan kegotongroyongan di tingkat kelurahan harus selalu dipopulerkan “tak lapuk kena air, tak lekang kena panas”. Untukt mencapai hal tersebut, Pengelolaan kegiatan selalu dilakukan oleh seluruh dan atau perwakilan (representasi) masyarakat secara “musyawarah” untuk mendapatkan keputusan bersama, baik dalam rangka menetapkan rencana kegiatan/anggran, pelaksanaan, pengawasan dan laporan petanggungjawaban. Semua kegiatan pemberdayaan tidak akan memiliki dampak yang luas dan menetap kepada masyarakat, jika kegiatan pemberdayaan masyarakat tidak berlangsung secara kontinue dan terlembaga. Gerakan pemberdayaan masyarakat tidak mengenal henti sampai kapanpun. Pasang surut gerakan sangat tergantung “situasi/kondisi dan dinamika” masyarakat bangsa Indonesia. Strategi Pemberdayaan Masyarakat

Pemberdayaan masyarakat merupakan suatu rangkaian tindakan yang sistematis dan melibatkan berbagai komponen organisasi formal dan non formal. Pemberdayaan masyarakat adalah suatu gerakan (movement) untuk menghimpun kekuatan dan kemampuan masyarakat beserta lingkungannya. Untuk itu, diperlukan sejumlah program dan kegiatan baik yang berasal dari masyarakat secara langsung maupun dari pemerintah yang dianggarkan dalam APBD atau APBN. Program dan kegiatan tersebut harus memiliki cara kerja (metode) yang efisien dan effektif untuk memobilisasi potensi dan mengurangi dispotensi yang ada di dalam masyarakat. Strategi pemberdayaan masyarakat tidak dapat diimplementasikan jika tidak sertai dengan sejumlah sumber-sumber kewenangan, manajemen, program dan pembiayaan. Dalam kaitan tersebut, Pemberdayaan masyarakat harus didasari pada asumsi, bahwa masyarakat adalah pemiliki kewenangan sekaligus aktor yang menentukan kebutuhan dan strategi untuk mencapai kebutuhan tersebut. Pemerintah hanya bertindak sebagai fasilitator dan regulator. Semua proses perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan pada dasarnya harus dilakukan sendiri oleh masyarakat melalui lembaga-lembaga yang memiliki otoritas. Untuk mengefektifkan pelaksanaan kegiatan pemberdayaan masyarakat, maka diperlukan identifikasi hal-hal terkait seperti: (1) Kerjasama kelompok pelaku dalam penyelenggaraan kegiatan pemberdayaan, (2) Klasifikasi lapisan kelompok pemanfaat/sasaran baik secara ekonomi, sosial budaya, dan politik. Demikian pula kegiatan pemberdayaan, harus meliputi seluruh bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya. Terdapat empat stratetgi yang dapat ditawarkan dalam memberdayakan masyarakat di tingkat kelurahan, yaitu: Pertama; Memberdayakan masyarakat dengan “mensosialisasikan” peran masyarakat sebagai subyek, baik sebagai pemeran utama dan atau ambil bagian/membantu ataupun sebagai sasaran/ pemanfaat (obyek) secara tepat, benar dan dipahami serta peningkatan kemampuan masyarakat dalam mengelola dan melaksanakan kegaitan pembangunan di segala bidang Poleksosbudhankam (fisik-nonfisik). Kedua; Mendayagunakan “mekanisme” penyelenggaraan pembangunan /pemberdayaan masyarakat secara lebih aspiratif/demokratis, efektif, dan efisien, sesuai dengan ketatanegaraan/ pemerintahan dan kemasyarakatan yang baku. Ketiga; Mobilisasi “sumber daya” manusia seperti tenaga, pikiran dan kemampuan sesuai dengan profesionalismenya, termasuk mobilisasi uang dan barang dan lain-lain baik secara local kelurahan ataupun dari luar kelurahan dan pihak lainnya seoptimal mungkin, tanpa menimbulkan gejolak di masyarakat. Keempat; Memaksimalkan peran pemerintah, khususnya “Pemerintahan Kelurahan” dalam memfasililtasi, mengnatur/legalisasi (regulasi) dan memberi bantuan dana/tehnis (donasi), guna kelancaran penyelenggaraan pembangunan/pemberdayaan masyarakat. Organisasi dan Manajemen Penyelenggara Pemberdayaan masyarakat Kelurahan adalah tingkat pemerintahan “strategis” yang dapat dijadikan sebagai lokasi penyelenggaraan kegiatan pemberdayaan masyarakat. Oleh karena itu, perangkat pemerintah propinsi, pemerintah kotamadya/ kabupaten administtrasi dan kecamatan berperan sebagai fasilitator bagi kegiatan pemberdayaan masyarakat di tingkat kelurahan yang diselenggarakan oleh pemerintah kelurahan cq. Lurah dibantu Dewan Kelurahan dan masyarakat cq. Lembaga-lembaga kemasyarakatan. Untuk menjamin pelaksanaan pemberdayaan masyarakat secara efisien dan efektif,

diproses secara bertahap melalui (1) Penyusunan rencana dan anggaran (RA). Evaluasi dan Monitoring Pemberdayaan Masyarakat Pelaksanaan pemberdayaan masyarakat harus dievaluasi dalam kurun waktu yang telah ditetapkan. DAFTAR PUSTAKA R. Hal ini untuk menjamin agar pelaksanaan pemberdayaan sesuai dengan kebijakan yang telah dibuat untuk untuk menjamin tidak adanya pelanggaran baik dari aspek substantif dan administratif. Penyelenggaan kegiatan pemberdayaan masyarakat di tingkat kelurahan. Paling tidak terdapat dua sasaran evaluasi dalam penyelenggaraan pemberdayaan masyarakat di tingkat kelurahan yaitu: Kepatuhan terhadap Peraturan-perundangan dan Tingkat pencapaian output. James William Ife. Pemikiran-pemikiran dalam Pembangunan Kesejahteraan Sosial (Jakarta: Lembaga Penerbit FE-UI. Evauasi aspek kepatuhan meliputi konsistensi penerapan hukum dan kesesuaian dengan pedoman penyelenggaraan pemberdayaan. Participatory Research Appraisal dalam Pelaksanaan Pengabdian kepada Masyarakat (Bandung: Humaniora. (2) Pelaksanaan kegiatan (P). 2001). Tim Fasilitasi pemberdayaan merupakan dewan pengawas yang memiliki kewenangan untuk membuat kebijakan dalam perencanaan dan peanggaran dalam program dan kegiatan pemberdayaan masyarakat. Harry Hikmat.organisasi pemberdayaan masyarakat terdiri dari tim fasilitasi pemberdayaan dan tim pelaksana pemberdayaan. 2002). Community Development: Creating Community Alternatives – Vision and Analysis (Melbourne: Longman Australia Pty Ltd. Reinventing Government (A Plume Book. Tim fasilitasi terdiri dari kepala daerah. dibutuhkan organisasi yang merupakan forum koordinasi pada level kelembagaan masyarakat (sebagai forum koordinasi perencanaan dan musyawarah masyarakat dalam pemberdayaan) dan pada level pemerintahan (sebagai forum koordinasi perencanaan dan musyawarah organ pemerintah pelaksana pembeerydaan). Kusnaka Adimihardja. (3) Pengawasan/pengendalian pelaksanaan kegiatan (P). 1993). 2001). Isbandi Rukminto Adi. 1995). kualitatif and daya guna program pemberdayaan masyarakat. Agar pelaksanaan manajemen pemberdayaan masyarakat dapat dikontrol. Strategi Pemberdayaan Masyarakat (Bandung: Humaniora Utama Press. (4) Pelaporan pertanggungjawaban hasil kegiatan. David Osborne and Ted Gabler. Sedangkan evaluasi pencapaian target meliputi aspek kuantitatif. Sedangkan tim pelaksana pemberdayaan merupakan kelompok organisasi di tingkat kelurahan yang bertugas dan memiliki kewenangan untuk melaksanakan pemberdayaan sesuai dengan kebijakan yang dibuat oleh tim fasilitasi pemberdayaan. Komentar : Tidak ada komentar » Kategori : Jurnal INTERAKSI BIROKRASI PEMERINTAH DAN LEMBAGA SWADAYA 22 03 2008 INTERAKSI BIROKRASI PEMERINTAH DAN LEMBAGA SWADAYA . sekretaris daerah dan beberapa pejabat terkait dalam pemberdayaan masyarakat.

Mengetahui kekuatan dan kelemahan dari sinergi antara (LSM) LPIP Surabaya dengan Birokrasi Pemerintah Daerah dalam memecahkan permasalahan pembangunan masyarakat pesisir. LSM LPIP dalam menangani beberapa konflik menawarkan pendekatan yang berbeda. Mendeskripsikan pemahaman dan respon masyarakat terhadap upaya pemberdayaan yang dilakukan LSM dan Birokrasi Pemerintah. Pada masa orde baru keberadaan mereka lebih banyak diposisikan sebagai lembaga yang selalu merepotkan setiap kebijakan pemerintah. Hal ini terjadi karena ada kerja sama yang saling mendukung terhadap program dan sasaran yang ingin dicapai. Andrianus Resi Pemprov NTT Ismani H. 2). Memperoleh informasi yang akurat tentang respon masyarakat terhadap upaya pembangunan baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun LSM. Banyuwangi Regency. Menyodorkan alternatif pemecahan masalah bagi peningkatan peran birokrasi pemerintahan daerah dalam pelaksanaan pembangunan yang sejalan dengan bingkai pemberdayaan.MASYARAKAT DALAM PEMBANGUNAN (Studi tentang Sinergi Birokrasi Pemerintah dengan Lembaga Pengembangan Industri Pedesaan (LPIP) dalam Pemberdayaan Masyarakat Pesisir di Kecamatan Muncar Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur) Interaction between Government Bureaucrasy and Non Governmental Organization in Society Development (A Study at Synergy between Government Bureaucrasy and Association of Village Industry Developing (LPIP) on Empowerment of Society in Muncar District. 1). Tujuan penelitian ini adalah untuk: 1). 3). Sinergi atau pola kerja sama yang baik antara Birokrasi Pemerintah dan (LSM) LPIP sangat penting dalam memberdayakan masyarakat pesisir. Menemukan kendala-kendala yang dihadapi baik oleh birokrasi pemerintah maupun LSM dalam mengimplementasikan kebijakan dan program pembangunan di tingkat lokal.P. motivator. 4). yaitu visi dan misi mereka yang jelas mulai berpihak pada pengembangan masyarakat. dan dinamisator dalam pembangunan masyarakat. Dalam pembangunan daerah aparat birokrasi tidak akan mampu menjangkau seluruh kebutuhan pembangunan khususnya dibidang sosial ekonomi tanpa melakukan . yaitu memakai strategi pendekatan yang menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama dengan melibatkan mereka (tokoh masyarakat. East Java) . Sinergi antara LSM dengan Pemerintah Daerah adalah agar Birokrasi Pemerintah bertindak sebagai fasilitator. 3). yakni penelitian yang bertujuan untuk memperoleh gambaran mendalam tentang permasalahan yang akan diteliti. Memperoleh informasi yang akurat tentang respon masyarakat terhadap upaya pembangunan baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun LSM Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. pengusaha) sebagai mediator. 5). birokrasi. Hubungan kerja sama antara Pemerintah Daerah Banyuwangi dengan LSM LPIP telah berjalan dengan mencapai hasil yang relatif memuaskan dalam memberdayakan masyarakat pesisir. Program Pascasarjana Universitas Brawijaya Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya suatu kecenderungan yang ditunjukkan oleh LSM-LSM. 2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1).

At new era. which places society as important actor by involving them (society figure. Siagian (2001: 4) menyatakan pembangunan adalah suatu usaha atau rangkaian usaha pertumbuhan dan perubahan yang berencana yang dilakukan secara sadar oleh suatu bangsa. Supervisor: Ismani H. which always disturbs government policies. 4). It happened because of the relationship that support the reached program and target. 3). 2). in Society Development (A Study at Sinergy between Government Bureaucrasy. and Association of Village Industry Developing (LPIP). which handles some conflicts. Ketika Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. by using approach strategy. ABSTRACT Andrianus Resi. Get information. they are positioned as institution. 3). (Nugroho D 2001: 373). Give some solving alternatives to local government bureaucrasy role increasing on executing the consistent development with the list of empowerment. motivator and dynamizator on society development. PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Bagi negara berkembang seperti halnya Indonesia. The research method used in this research is qualitative descriptive. government will not reach all of development needs especially in social economic without doing relationship with another actors include NGO. The results of this research show that: 1). on Empowerment of Society in Muncar District. Find the obstacles of government bureaucrasy or NGO on implementing the policy and developing program in local area. nation building dan kemajuan sosial . Postgraduate Program of Brawijaya University. 5). East Java). Banyuwangi Regency. offered different approach. CoSupervisor: Soesilo Zauhar. Describe the understanding and society response on the empowerment which done by NGO and government bureaucrasy. which tend to society development. This research aims to: 1). The synergy between NGO and Local Government are Bureaucrasy Government as Facilitator. negara dan pemerintah menuju modernitas dalam rangka pembinaan bangsa (Nation Building). NGO LPIP. September 2003. tertinggal bukan hanya dalam hal kesejahteraan tapi juga peradaban. 2). pembangunan tidak saja menjadi sebuah paradigma (pandangan keilmuan) melainkan juga menjadi ideologi (pandangan politik) dan bahkan mitos (tahayul). about society response on developing efforts which done by government or NGO. The synergy between government bureaucrasy and LPIP is important on society empowerment. Interaction between Government Bureaucrasy and Non Governmental Organization. Sedangkan menurut Syambi (1986) menyatakan pembangunan merupakan proses perubahan sistem direncanakan dan pertumbuhan menuju kearah perbaikan yang berorientasi pada modernitas. The relationship between Local Government of Banyuwangi and NGO LPIP has reached satisfied results on society empowerment. This research is backgrounded by the trend of Non Governmental Organization (NGO) about their vision and mission. brirocracy and the entrepreneur) as mediator.P. keadaan amat memprihatinkan.pola kemitraan dengan pihak lain termasuk Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). that is research which aim to get further description about the problem. Understand the strengths and weakness from synergy between NGO LPIP Surabaya with Local Government bureaucrasy on solving development problem of society which faced by them. On local development.

melainkan juga menghasilkan sesuatu dengan cara tertentu sehingga rakyat memperoleh kemampuan yang lebih besar untuk memilih dan memberikan tanggapan terhadap perubahan-perubahan tersebut. Sementara itu Arsyad ( 1999:108) memberikan defenisi atau pengertian pembangunan yang lebih spesifik yang mengarah pada pembangunan wilayah atau daerah dengan sebutan “pembangunan ekonomi daerah” dimana pembangunan tersebut diartikan sebagai proses atau hubungan sinergi antara pemerintah daerah dan masyarakatnya mengelola sumberdaya-sumberdaya yang ada dan membentuk suatu pola kemitraan dengan pihak swasta (dunia usaha maupun kelompok masyarakat dalam hal ini LSM) untuk menciptakan lapangan kerja baru ataupun peningkatan kegiatan usaha masyarakat yang telah ada dalam wilayah tersebut sebagai upaya merangsang pengembangan kegiatan ekonomi masyarakat. Dari pengertian pembangunan di atas. dari yang kurang mampu secara ekonomi menjadi lebih mampu. Ini berarti proyek dan program pembangunan bukan saja membuahkan perubahan-perubahan fisik yang kongkrit. Ketimpangan pembangunan antar wilayah dan daerahpun kian nampak disebabkan oleh gagalnya pihak pertama pembangunan atau birokrat dalam mejalankan kebijakan pembangunan atau juga sektor kedua pembangunan melalui mekanisme pasar dalam penciptaan pemerataan pembangunan ekonomi antar wilayah. tahun 1997 terjadi krisis ekonomi . disamping memperhatikan sifat dasar kebutuhan manusia yang membutuhkan rasa keadilan. Orde Baru dalam perjalanan sejarahnya. Tujuan pemerintah adalah membangun kekuatan dari rakyat dan kelak menyerahkan kekuatan tersebut kepada rakyat dan rakyat membangun dengan mandiri. Selanjutnya perubahan yang terjadi dapat memberi kontribusi pada potensi-potensi individu. sehingga kekayaan negara hanya dimiliki oleh segelintir orang saja. setelah 25 tahun Orde Baru membangun. juga termasuk Indonesia telah gagal membentuk distribusi pemerataan kesejahteraan bagi masyarakat terutama pada golongan masyarakat kelas bawah. jelaslah bahwa suatu kegiatan pembangunan yang dilakukam secara sistematis dengan melibatkan semua elemen masyarakat dilaksanakan secara terpadu untuk mencapai tujuan dalam rangka kemakmuran masyarakat. . pasalnya karena rakyat memang tidak berdaya. Yang dilakukan pertama kali adalah melakukan pembangunan secara kolosal dan dibiayai oleh negara. penyebab dari political failure tersebut adalah akibat dari pembuatan struktur kebijakan negara yang dilakukan oleh birokrat sebagai administrator pembangunan yang tidak berpihak pada kaum miskin. Pembangunan merupakan suatu proses perubahan taraf hidup. telah berupaya melakukan pembangunan berencana bagi rakyat Indonesia khususnya antara tahun 1970-an hingga pertengahan tahun 1980-an. Sementara konsep pembangunan menurut Briant dan White (1987) dalam Prayitno (2002) mencakup pengertian menjadikan (being) dan mengerjakan (doing). Sayangnya. Jika diamati secara teliti proses pembangunan yang terjadi di dunia ketiga. Staniland (1995) dalam Elfin Elyas (2001:1) menjelaskan. Senada dengan pendapat diatas Abdul Wahab (1999) menambahkan bahwa besarnya dominasi negara dalam perencanaan pembangunan telah mengabaikan peran serta kekuatan masyarakat dalam proses pembuatan kebijakan negara.ekonomi. orientasi pembangunan ekonomi yang mengarah pada pertumbuhan (economic growth) cenderung menguntungkan lingkaran kapitalisme dan elit yang berkuasa.

akibatnya lahirlah apa yang disebut kemiskinan dan kemelaratan. Organisasi Non Pemerintah sebagai lembaga yang bergerak dibidang pengembangan masyarakat telah ada sebelum kemerdekaan. Dalam kancah pembangunan di Indonesia. Fundamental ekonomi yang dibangun tidak memberi bobot kemajuan yang berarti bagi masyarakat. karena komersialisasi ruang dan lokasi-lokasi strategis dan pada beberapa kasus karena mengkomersialisasikan sektor-sektor publik demi kepentingan segelintir orang tadi. janji yang dirumuskan dalam kebijakan pembangunan adalah pembangunan yang yang berbasis rakyat. teknologi hingga sumber daya manusia. Dan sesungguhnya pembangunan yang berorientasi pada pertumbuhan yang demikian. Pembangunan yang berpusat pada pertumbuhan ekonomi seperti dijelaskan diatas. mengatakan bahwa Boedi Oetomo yang lahir 1908 disebut sebagai LSM pertama di Indonesia. Pembangunan melahirkan kemajuan di berbagai segi kehidupan. pesatnya pertumbuhan sektorsektor “non-trade goods” seperti berbagai jenis bisnis properti. baik sumber kapital. Merekalah yang menyebabkan akar krisis dan masalah pembangunan tidak kunjung usai sampai hari ini. menunjukkan kelemahan dalam menciptakan struktur ekonomi yang kuat atau mampu mengatasi berbagai masalah kemiskinan di Indonesia.yang meluluhlantahkan pembangunan ekonomi yang sampai sekarang belum bisa diatasi seluruhnya. dan tentu kita sebagai manusia akan terus mencari jalan keluar agar akar krisis ini dapat diatasi dengan mudah. Dalam hal ini yang bertanggung jawab terhadap gagalnya pembangunan tersebut adalah di pihak pemerintah dan pengusaha sebagai aktor pertama dan kedua. baik yang bersifat lokal maupun nasional Rahardjo dalam Budairi (2002:68). tetapi jika tidak ditangani secara koprehensip-integral akan melahirkan kemelaratan. Mula-mula diawali dengan berdirinya Boedi Oetomo pada tahun 1908. teknologi. Jika ditelusuri lebih jauh tentang aktivitas LSM. Krisis belum usai. Pada tahun 1950 an mulai bermunculan LSM-LSM di Indonesia yang tidak dapat dipisahkan dengan perkembangan lembaga donor . bukan hal baru. Dalam arti fundmental ekonomi yang dibangun yang selama ini dibanggakan ternyata rapuh dan memberikan kesengsaraan baru bagi masyarakat Indonesia. tentu tidak mengakar dalam masyarakat. Fenomena LSM di Indonesia sebenarnya telah berlangsung sejak awal abad ke 20. karena masyarakat Indonesia yang tinggal dipedesaan tidak menikmati dan merasakannya. bahan baku. dengan munculnya kebijakan politik yang lebih mementingkan sektor modern yang hanya dikuasai sekelompok kecil individu dan kelompok elit bisnis tertentu serta tergantung kepada sumber-sumber dari luar negeri. baik sejak sebelum maupun sesudah kemerdekaan kita akan mendapatkan suatu gambaran menyeluruh perihal kehadiran LSM tersebut. kemudian disusul dengan organisasi-organisasi lainnya. Memang tidak banyak orang yang menyadari kata Chaniago (2001:72) bahwa pertumbuhan ekonomi yang terjadi selama kurang lebih sembilan tahun terakhir Orde Baru digerakan bukan oleh sektor ekonomi yang berbasis pada kekuatan sumber daya manusia. Komitmennya adalah masyarakat pedesaan dan pembangunan yang tidak meninggalkan sektor agraris-agroindustri. Jika diamati dengan kepala dingin kata Nugroho (2001:377) kekeliruan utama Orde Baru adalah gagal dalam memenuhi janjinya kepada rakyat. melainkan pertumbuhan ekonomi tersebut lebih banyak digerakan oleh meningkatnya konsumtifisme dikalangan masyarakat menengah-keatas. atau permodalan sosial yang ada didalam masyarakat. Pada tahun 1990 an komitmennya dilanggar. Kehadiran Organisasi Non Pemerintah tadi telah memberi wacana dan inspirasi terhadap gerakan LSM di Indonesia. Pada awal pembangunan.

dapat disebut LSM tumbuh dan berkembang sebagai sparing partner bagi pemerintah. perbaikan lingkungan pedesaan dan perkotaan dan lain sebagainya. Ada kecenderungan LSM-LSM yang mempunyai visi dan misi yang jelas mulai memposiskan diri mereka dan berpihak pada pengembangan masyarakat. Salah satu dimensi pertumbuhan LSM pada masa Orde Baru adalah kaitannya dengan lembaga-lembaga atau LSM-LSM luar negeri yang datang ke Indonesia yang pada umumnya bertujuan pengembangan masyarakat. tapi tidak cukup mengembangkan pemerataan. Oleh karenanya tidak mengherankan jika dilapangan terjadi perbedaan cara dan misi pelayanan kepada masyarakat terutama peran pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh LSM dan lembaga bentukan pemerintah tadi. bahkan selalu dicurigai setiap ruang geraknya. Kedua. usaha bersama dan perkoperasian. Jenis ornop ini biasanya bekerjasama dengan proyek besar bank dunia. usaha kecil dan sektor informal. Pembangunan yang mengunakan pendekatan modernisme. Hanya saja kehadiran mereka di era Orde Baru lebih banyak diposisikan sebagai lembaga yang selalu merepotkan setiap policy pemerintah. harus diakui apa yang dikemukakan Petras (2001) dalam Hartiningsih (Kompas:29) bahwa telah terjadi polarisasi dalam ornop. Fakta ini bisa dilihat ketika PKBI didirikan di Indonesia yang menurut kalangan aktivis LSM sebagai lembaga yang pertama ada di Indonesia yang juga merupakan keinginan dari IPPF ( sebuah lembaga sosial internasional yang bergerak dibidang kesehatan reproduksi) mengembangkan di indonesia sebagai program bantuan untuk lembaga keluarga berencana. Ornop (LSM) yang kita harapkan tidak bekerja untuk kepentingan partai atau golongan dan juga untuk kepentingan pemodal raksasa lembaga internasional atau ornop yang tidak tenggelam dalam politik porposal. industri kecil dan perkreditan. Kegiatan LSM tersebut.internasional yang pada tahun-tahun tersebut mulai bermaksud mengembangkan kegiatan-kegiatannya ke negara-negara dunia ketiga. USAID dan berbagai lembaga dana internsional lainnya. ornop reformis. Ketiga. baik pemerataan partisipasi maupun hasil-hasil pembangunan. Ada oraganisasi-organisasi sejenis seperti PKK dan Karang Taruna bentukan pemerintah yang sama-sama berorientasi masyarakat bawah/akar rumput. Era 80-an kata Budairi (2002:76) merupaka era kebangkitan LSM dimana sejalan dengan kebijakan pemerintah yang mendorong dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam proyek-proyek pembangunan. ornop yang aktif mempromosikan neoliberalisme. Ornop radikal yang terlibat dalam gerakan-gerakan anti globalisasi. tapi kehadiran mereka lebih merupakan perpanjangan tangan dari pemerintah yang mempunyai misi khusus dalam mensukseskan program pemerintah. termasuk Indonesia. penyediaan air bersih dan sanitasi. Salah satu bentuk kegiatan LSM yang sangat menonjol adalah dapat merangsang tumbuhnya . yang menerima pendanaan skala menengah dari lembaga-lembaga sosial demokratik dan pemerintah regional dan lokal yang progresif untuk mendanai proyek-proyek perbaikan dan untuk mengoreksi pasar bebas. baik yang dilakukan sendirisendiri maupun bekerja sama dengan pemerintah telah mencakup banyak sektor seperti. Di masa Orde Baru. Tidak dapat dipungkiri kalau aktivitas LSM lebih mengena sasaran dibanding Lembaga bentukan pemerintah termasuk didalamnya birokrasi pemerintahan di daerah. Akan tetapi. meskipun menghasilkan pertumbuhan ekonomi. anti rasis dan sebagainya. kesehatan. Pertama.

Kecamatan Muncar Kabupaten banyuwangi. Masalah yang menjadi pokok perhatian yang harus dapat diungkapkan dalam penelitian ini adalah “Bagaimana upaya pemerintah melalui kebijakannya memberdayakan masyarakat Pesisir dalam usaha meningkatkan kesejahteraannya. Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini sebagai berikut : 1 Menemukan kendala-kendala yang dihadapi baik oleh birokrasi pemerintah maupun LSM dalam mengimplementasikan kebijakan dan program pembangunan di tingkat lokal. 2 Bagimana upaya dan keterlibatan (LSM) Lembaga Pengembangan Industri Pedesaan (LPIP) memberdayakan masyarakat pesisir dalam meningkatkan kesejahteraan. Saatnya sekarang pemerintah harus merubah pandangan terhadap kehadiran LSM. bahwa kehadirannya juga merupakan salah satu solusi dari lembaga di luar negara (birokrasi pemerintahan) yang dapat memberi peran pemberdayaan kepada masyarakat. Kegiatan yang mereka lakukan sebenarnya merupakan upaya untuk mencari jalan dalam mengatasi persoalan hidup yang dihadapi oleh masyarakat 6 desa pantai. 4. misi dan program antar keduanya. 3 Bagaimana sinergi Birokrasi Pemerintah dan Lembaga Pengembangan Industri Pedesaan (LPIP) memberdayakan masyarakat pesisir dalam meningkatkan kesejahteraan. Bagaimana masyarakat merespon dan memberi makna terhadap upaya pemberdayaan baik yang dilakukan oleh Birokrasi Pemerintah maupun Lembaga Pengembangan Industri pedesaan. 2 Mengetahui kelebihan dan kekurangan dari sinergi antara (LSM) LPIP Surabaya dengan Birokrasi Pemerintah Daerah dalam memecahkan permasalahan pembangunan . baik oleh Birokrasi Pemerintahan (Dinas Kelautan dan Perikanan kabupaten ataupun Lebaga Pemerintah lainnya) maupun (LSM) Lembaga Pengembangan Industri Pedesaan (LPIP).kesadaran partisipasi masyarakat dalam membangun dirinya dan keluarganya dan lingkungannya yang selama ini kurang mendapat perhatian dari pemerintah. ternyata desa-desa (6 desa) pantai/ pesisir di Kecamatan Muncar kabupaten Banyuwangi yang menjadi lokasi penelitian telah terjadi pembenaran bahwa di desa-desa tersebut telah berjalan dengan apa yang disebut intervensi pembangunan yang bersifat sektoral strategis dibidang pemberdayaan masyarakat pesisir (rumah tangga perikanan). Apa yang telah digambarkan diatas. Perumusan Masalah Berdasarkan uraian pada latar belakang. selain kebebasan ruang gerak yang melatarbelakangi. masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah: 1 Bagaimana upaya Birokrasi Pemerintah Daerah memberdayakan masyarakat pesisir dalam meningkatkan kesejahteraan. Terjadinya perbedaan ini dimungkinkan karena ketidaksamaan visi. Bagaimana sinergi atau pola kerja sama yang dilakukan Birokrasi Pemerintah dan (LSM) LPIP dalam memberdayakan masyarakat pesisir dan bagaimana masyarakat merespon dan memberi makna terhadap upaya pemberdayaan yang dilakukan oleh negara (birokrasi) maupun LSM”. Bagaimana upaya LSM LPIP memberdayakan masyarakat Pesisir dalam usaha meningkatkan kesejahteraan.

yakni penelitian yang bertujuan untuk memperoleh gambaran mendalam tentang permasalahan yang akan diteliti. 3 Mendeskripsikan pemahaman dan respon masyarakat terhadap upaya pemberdayaan yang dilakukan LSM dan Birokrasi Pemerintah. Menurut Bogdan dan Taylor dalam Moleong. Manfaat penelitian ini adalah: 1 Salah satu wujud kontribusi akademik dalam mengembangkan konsep pembangunan dalam perspektif pemberdayaan. Bagaimana prosesnya. METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif.masyarakat pesisir dihadapi keduanya. 3 Bentuk kerja sama (sinergi) yang dilakukan oleh Birokrasi Pemerintah dan Lembaga Pengembangan Industri Pedesaan dalam Pembangunan masyarakat pesisir: Bagaimana bentuk kerja samanya. Berkaitan dengannya maka fokus penelitian ini adalah : 1 Upaya Birokrasi Pemerintah dalam pemberdayaan masyarakat pesisir. 2 Upaya Lembaga Pengembangan Industri Pedesaan dalam pemberdayaan masyarakat pesisir. Respon atau tanggapan masyarakat terhadap upaya pemberdayaan baik yang dilakukan oleh Birokrasi Pemerintah maupun Lembaga Pengembangan Industri Pedesaan. tapi perlu memandangnya sebagai bagian dari suatu yang utuh (Moleong. 4. 5 Memperoleh informasi yang akurat tentang respon masyarakat terhadap upaya pembangunan baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun LSM. karena itu fokus penelitian terkait erat dengan perumusan masalah yang sekaligus menjadi acuannya. 3 Memberikan suatu gagasan dan solusi bagi aparatur birokrasi didaerah maupun kelompok masayarakat lainnya agar mendapat wawasan baru tentang pembangunan dari perspektif pemberdayaan serta relevansi dan dampaknya bagi pengembangan sosial ekonomi di daerah. 4 Menyodorkan alternatif pemecahan/solusi bagi peningkatan peran birokrasi pemerintahan daerah dalam pelaksanaan pembangunan yang sejalan dengan bingkai pemberdayaan. 2 Bermanfaat bagi kepentingan pengembangan Ilmu Administrasi Negara dalam era otonomi daerah ini. Dalam hal ini peneliti tidak boleh mengisolasikan individu atau organisasi kedalam variabel atau hipotesis. dan sampai pada pelaksanaannya. Pendekatannya diarahkan pada latar dan individu secara holistik (utuh). Lokasi Penelitian . 2000). Manfaat Penelitian. Bagaimana pola interaksinya apakah yang terjadi lebih nampak ‘’konfliknya’’ atau ‘’kerjasama’’ atau ‘’persaingan’’. Fokus Penelitian Fokus penelitian adalah penetapan masalah yang menjadi pusat perhatian. penelitian kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.

Transferability (keteralihan). sehingga dapat membantu penulis dalam menggali infomasi yang diperlukan. menghubungkan. Penulis juga mengamati kejadian atau peristiwa(yang merupakan data) yang terjadi selama dalam proses penelitian ditambah dengan dokumen dan catatan yang terkait dengan masalah yang diteliti. (2) hipotesis apa yang harus di tes. b). Analisis data ini dapat merupakan (1) data apa yang masih perlu dicari. Teknik Analisis Data Analisis data mencakup kegiatan menelaah data. Keempat kriteria tersebut adalah: Credibility (derajad kepercayaan). Desa-desa tersebut merupakan kelompok binaan LSM dan juga sasaran program/kebijakan dari Pemerintah Kabupaten Banyuwangi yang masih tertinggal jauh dari segi kesejahteraan. menemukan apa yang penting dan apa yang akan dipelajari dan memutuskan apa yang akan dilaporkan (Bogdan dan Biklen. laporan dan peraturanperaturan tertentu serta gambar atau foto yang dapat mendukung peneliti memperoleh data yang dibutuhkan dalam penelitian ini. Observasi. Teknik Pengumpulan Data Langkah Peneliti dalam pengumpulan data yaitu: 1. mencari pola. Mendatangi lokasi penelitian (Getting in). Sumber Data Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini bersumber dari para informan. (3) pertanyaan apa yang harus dijawab. (2000) dan Nasution (1996) menetapkan empat kriteria/teknik pemeriksaan data keabsahan data. Dependability (ketergantungan). Analisis data selama pengumpulan data dilakukan setiap kali suatu peristiwa yang menjadi fokus penelitian selesai direkam dan dirupakan dalam bentuk laporan lapangan. 1990). 2. Moleong. Informan yang dimaksudkan adalah: orang–orang yang dianggap mengetahui benar suatu fenomena yang menjadi obyek penelitian. (4) metode apa yang harus dipakai untuk mencari informasi baru. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Deskripsi LSM Lembaga Pengembangan Industri Pedesaan . membaginya menjadi satuan-satuan yang dapat dikelola. Confirmability ( konfirmasi). 3. 1988) Keabsahan Data Secara konseptual keabsahan data merupakan standart kepercayaan dari suatu penelitian. c). yang sekaligus sebagai sasaran /kelompok dampingan dari Lembaga Pengembangan Industri Pedesaan (LPIP). Mengumpulkan data (logging data) dengan teknik sebagai berikut: a). Dokumen tersebut tidak lain adalah sumber data yang berwujud data arsip. Kondisi saat berada di lokasi penelitian (getting along) berusaha melakukan hubungan langsung secara pribadi yang akrab dengan subyek penelitian.Lokasi penelitian yang ditetapkan oleh peneliti adalah 6 desa pantai di kecamatan Muncar Kabupaten Banyuwangi. dengan segala macam persyaratan yang sudah dipenuhi dan memperoleh penerimaan dari orang-orang atau informan akan didekati. (5) kesalahan apa yang harus diperbaiki ( Nasution. Dokumentasi. Wawancara mendalam (in-depth interview).

kualitas produk dan manajemen produksi. Usaha mengembangkan industri kecil sangat kompleks. Kondisi ini jika tidak diantisipasi lebih dini. Disamping tujuan yang sudah dikemukakan diatas yakni untuk menopang perekonomian nasional dengan mendorong tumbuh dan berkembangnya industri kecil dipedesaan. keuangan. menyadari bahwa partisipasi yang efektif hanya dapat dilakukan melalui usaha-usaha yang teratur. Disamping itu dalam perspektif ekonomi global akan berdampak pada lesunya industri/kelompok usaha menengah dan kecil. maka kelompok industri menengan dan kecil terlebih di pedesaan yang jauh dari tekhnologi modern dan modal yang terbatas akan semakin terpuruk bahkan gulung tikar. SH dengan dokumen resmi no. khususnya industri kecil dan menengah. meliputi aspek kemampuan. tanggung jawab untuk pengembangan industri kecil tidak hanya tugas pemerintah tetapi juga swasta dan institusi lain yang mempunyai komitmen untuk mengembangkan industri kecil di masa mendatang. terprogram dan terus menerus. (3) Pendidikan kewirausahaan yang terus menerus bagi generasi muda. mengembangkan dan meningkatkan kinerja industri tersebut sangat diperlukan. maka usaha untuk mendorong. Berpijak pada tujuan yang disebutkan di atas LSM Lembaga Pengembangan Industri Pedesaan memandang bahwa perkembangan industri nasional kebanyakan dikuasai pihak swasta dan konsentrasi mereka adalah industri besar dengan menggunakan teknologi tinggi. Ketiga. Dengan semakin bertumbuhnya perekonomian nasional khususnya sektor industri. pemasaran. mandiri dan profesional (AD dan ART:1). (7) Mempererat kerjasama orang-orang yang mempunyai minat dan hal-hal lain yang berkaitan dengannya (Profil LPIP: 1). Berdasar tujuan dan hal-hal mendasar yang menjadi prioritas utama program dari LSM Lembaga Pengembangan Industri Pedesaan yaitu program yang sedang dan bahkan yang sudah dilaksanakan antara lain: (2) Meningkatkan pengetahuan dibidang pengembangan industri. LSM . (4) Pendidikan keahlian dan manajemen bisnis untuk pengusaha disektor ekonomi kelas bawah dan industri. Kedua. maka persaingan usaha semakin kompetitif antara industri besar. menengah dan kecil. LPIP berasaskan Pancasila. menengah dan kecil.Yayasan Lembaga Pengembangan Industri Pedesaan atau yang disingkat dengan “LPIP’’ didirikan pada tanggal 11 Pebruari 1988 di bawah Notaris Wachid Hasyim. Satu dari konsekwensi yang penting adalah keberadaan jenjang dari perkembangan industri besar. (6) Perkembangan kelompok usaha industri kecil dan tekhnologi sederhana untuk industri kecil. Tujuan pendirian Yayasan tersebut untuk memberikan motivasi dan pembinaan dalam pengembangan industri kecil di pedesaan sehingga dapat tumbuh dan berkembang secara sehat. 23 di Surabaya. Memperhatikan persoalan tersebut maka LSM Lembaga Pengembangan Industri Pedesaan (LPIP) mengambil peran untuk membantu industri kecil terutama yang ada dipedesaan dengan beberapa pemikiran yaitu: Pertama. tekhnologi dan sebagainya. bersifat Independen. menyadari bahwa peran industri kecil sangat besar dalam menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia. (5) Perkembangan dinamika kelompok di pedesaan untuk mengembangkan aktivitas ekonomi produktif. Kondisi semacam ini tidak menguntungkan perkembangan ekonomi dan sosial secara nasional.

Bekerja sama dengan 1 Tahun 1988–1989: Pendidikan Pemda Kediri. Pendampingan dalam rangka community Development di Muncar Banyuwangi dan lain-lain. LPIP yang bertindak Margasatwa. Menyelenggarakan pendidikan keahlian dalam bidang manajemen bisnis pengusaha kelas bawah dan industri kecil di kabupaten Sidoarjo. Blitar. LPIP sama 24 bulan. 2 Tahun 1989 (kurang lebih 4 bulan): Bekerja sama dengan LPM STIESIA-Studi awal mengenai perencanaan dan INKINDO Jawa Timur. bertindak sebagai fasilitator. identifikasi masyarakat pra sejahtera di Kecamatan Muncar Kabupaten Banyuwangi. PTP XXIII. dan Instruktur Pelatihan. Sidoarjo. LPIP sebagai fasilitator. sebagai Fasilitator dan motivator. Kontrak kerjasama sebagai fasilitator. bekerjasama dengan BPD HIPMI Jawa Timur. motivator dalam dengan departemen tersebut selama 12 meningkatkan sumber daya bulan. Pengalaman Kerja Lembaga Pengembangan Industri Pedesaan yang sempat dicatat dan yang relevan dengan penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. LPIP bekerja sama Bekerja sama dengan PERBINIKON dengan FMIPA UNAIR dalam proses Departmen Pekerjaan . Tulungagung bekerjasama dengan STIESIA INKINDO dan PTP XXIII. melatih pekerja lapangan untuk tenaga baru dan tenaga konservasi pedesaan di daerah Mojokerto dan Surabaya. perorangan. Lamanya kontrak kerja rumah tangga dan industri kecil. Tahun 1992 (kurang lebih 6 bulan): bekerja sama dengan Pemda Membangun usaha untuk industri Mojokerto. bekerja sama dengan Divisi SDM Direktorat Jenderal Bina Lindung Direktorat Jenderal Perlindungan Alam dan Pemeliharaan dan menengah. LPIP yang Pengkajian potensi perikanan pelogis merencanakan. yang berhubungan dengan kesempatan 9. Tahun 1992 (kurang lebih 4 bulan : kerja di sektor industri. pembentukan dan pemantapan kelompok pengelolaan sumberdaya perikanan berbasis komunitas (PSBK) di Muncar Banyuwangi. 8. utara lamongan. Kelompok Masyarakat pedesaan yang mencakup sasaran adalah pengusaha kecil di 35 desa di Kabupaten Mojokerto. Blitar dan alternatif untuk pengembangan Tulungagung. Sejak berdiri. Tahun 1992 beberapa kali menyelenggarakan pendidikan dan latihan kewirausahaan bagi generasi muda Islam untuk daerah Bondowoso dan Jember. motivator. Tahun 1987: Pelatihan untuk pengembangan pekerja tingkat nasional. lembaga ini sudah menunjukkan kinerja yang mengagumkan. menyusun dan dan tingkat penyusutannya di perairan merekomendasikan ke pemerintah.Lembaga Pengembangan Industri Pedesaan juga merasa terpanggil mengemban misi membangun masyarakat. LPIP Kabupaten tersebut. Pengembangan usaha bagi industri kecil dan home industri di Muncar Kabupaten banyuwangi dengan membentuk kelompok kelembagaan serta mengadakan pendampingan. terutama dalam hal memberdayakan masyarakat pedesaan. Kegiatankegiatan yang pernah dilakukan dan menunjukkan hasil yang memuaskan antara lain: Jaringan distribusi air bersih dengan sistem pompa air di Mojokerto. Lembaga Pengembangan Industri Pedesaan ingin terlibat langsung membantu masyarakat miskin atau yang belum beruntung baik yang ada di desa maupun di perkotaan. Sudah banyak pula kegiatan yang dilakukan yang memberikan manfaat positif bagi pengembangan masyarakat. Yang kesemuanya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan yang saat ini masyarakat sedang menikmati manfaat dari hasil pendampingan yang dilakukan oleh Lembaga Pengembangan Industri Pedesaan tersebut. Kelompok pengembangan teknologi tepat guna sasaran adalah: Kediri dan Sidoarjo.

LPIP sebagai baru dan konservasi energi pedesaan. Kelompok sasaran 35 kelompok pemuda di Kabupaten Mojokerto. 4 Tahun 1998 ( 6 bulan): Pelatihan untuk pemuda terdidik yang terkena PHK. 3 Tahun 1995-1996 (12 bulan): Pengolahan kembali limbah silikon untuk menambah pendapatan masyarakat. Tahun 1993-1994 (12 bulan): Sistem Direktoran Jenderal Listrik dan Energi irigasi untuk pengembangan pertanian Baru. 12. 1 Tahun 1993-1994 (24 bulan): Meningkatkan pendapatan rumah tangga masyarakat pedesaan melalui pendirian sistem kredit dan tabungan untuk kelompok lokal. perencanaan dan supervisi. fasilitator.Umum Jakarta. LPIP adalag pekerja lapangan untuk bertindak sebagai penyusunan. Kelompok sasaran adalah masyarakat pedesaan Kecamatan Puri Kabupaten Mojokerto. fasilitator. 5 Tahun 1998-2005 (78 bulan): Proyek Pembangunan Masyarakat Pantai/pesisir dan Pengelolaan Sumber Daya Perikanan untuk Pekerjaan Sumber Daya Perikanan Berbasis Komunitas (PSBK) di Kecamatan Muncar Banyuwangi. 2 Tahun 1994-1995 (24 bulan): Desiminasi teknologi tepat guna untuk produsen tahu kecil. LPIP bekerja sama dengan Dinas Perikanan Jawa Timur pada mulanya yang sekarang sudah dialihkan ke Dinas . Blitar. fasilitator dengan kelompok sasaran memotivasi dan membentuk dinamika adalah Kabupaten Sampang. LPIP berinisiatif dan melakukan sendiri dengan kelompok sasaran yang selektif yaitu. komunikator dengan kelompok. motivator dan merencanakan. Tahun 1992-1994 ( 28 bulan): pelatihan 4 Tahun 1991: Membangun kapasitas kewirausahaan bagi generasi muda dan dan mengembangkan kelompok santri di pondok pesantren. kelompok. 11. 35 pengrajin di sekitar kota Surabaya. Kerja sama dengan Madura. LPIP bertindak sebagai perencana. Tahun 1992-1993 (12 bulan): Penelitian 5 Tahun 1991: Pelatihan untuk pekerja mengenai pengembangan industri kecil lapangan mengenai penggunaan energi di daerah pedesaan. penelitian. Partner kerja sama dengan kelompok sasaran yang berasal dari Pemda jawa timur dan Bina desa Sidoarjo. Selatan. Barat. Kelompok masyarakat yang bekerja sama dengan LPM STIESIA-menjadi sasaran proyek adalah Malang INKINDO Jawa Timur. motivator LPIP terlibat aktif dalam membuat bekerja sama dengan Kecamatan Puri perencanaan. Kerja sama dengan 13. LPIP sebagai perencana fasilitator dan motivator. LPIP masyarakat di daerah pedesaan. Kelompok sasaran masyarakat sekitar PLTU Paiton bekerja sama dengan PP Nurul Jadil Probolinggo. LPIP sebagai eksekutor. Mojokerto dan Surabaya. Kelompok sasaran pelatihan dengan sistem pompa mesin. perencanaan. studi kelayakan dan pemasaran. 3 Tahun 1990-1991: Upaya 10. memfasilitasi. Kelompok 6 Tahun 1992: Latihan untuk keahlian sasaran adalah petani Kecamatan manajemen usaha bagi pengusaha kecil Gedek dan Puri Kabupaten Sidoarjo. Sumenep. Tahun 1992-1993 ( selama 16 bulan): membangkitkan kreativitas masyarakat Membentuk dan mengembangkan untuk memperoleh air bersih melalui dinamika kelompok di daerah pedesaan sitem penyimpana air. LPIP bekerja sama dengan Depnaker Jawa Timur. pelatihan dan menjadi Kabupaten Mojokerto. LPIP bertindak sebagai ragam materi antara lain dinamika motivator. Tulungagung dan Jakarta. Bekerja sama dengan BPD Kabupaten Mojokerto dan Surabaya HIPMI Jawa Timur. LPIP yang untuk meningkatkan aktivitas ekonomi memberi motivasi dengan berbagai produktif.

kemudian dalam perkembangannya karena kesuksesannya membina kelompok sosial ekonomi produktif banyak yang melirik lalu membantu terutama yang berasal dari Lembaga-lembaga amal internasional. Dengan kata lain LPIP dalam melihat persoalan sosial ekonomi masyarakat pra-sejahtera dilakukan melalui kacamata masyarakat yang diberdayakan atau melakukan pekerjaan atau kegiatan melalui . LPIP menjalin kerja sama dengan masyarakat pra-sejahtera. untuk dapat mewujudkannya LPIP tidak hanya percaya pada data masyarakat pra sejahtera yang dikeluarkan dari pemerintah. Peran dan Keterlibatan Lembaga Pengembangan Industri Pedesaan dalam Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Pembangunan dalam konteks pemberdayaan merupakan komitmen dan misi utama dari Lembaga Swadaya Masyarakat. non sektarian dan bebas dari aliran politik tertentu. tapi mereka berusaha turun dan mendata keluarga miskin dengan cara dan kriteria yang mereka tetapkan yang menurut ukuran mereka bahwa keluarga tersebut benar-benar pra-sejahtera. semula pada saat berdirinya menggunakan dananya sendiri untuk kegiatan sosialnya. Demikian pula peran dan keterlibatan Lembaga Pengembangan Industri Pedesaan sebagai salah satu LSM yang bergerak dibidang pengembangan masyarakat yang juga punya komitmen terhadap pembangunan masyarakat. Lembaga ini. LPIP merupakan lembaga pengembangan masyarakat yang memusatkan perhatian pada masyarakat kurang mampu di pedesaan. LPIP adalah sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat yang mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap masalah-masalah sosial ekonomi masyarakat pedesaan. sudah bekerja lebih dari 9 Kabupaten di Propinsi Jawa Timur. Sesuai namanya LPIP sangat peka dan komit terhadap masalah industri kecil pedesaan yang merupakan sumber nafkah dari sebagian masyarakat Indonesia. Dalam memberdayakan masyarakat pra-sejahtera. untuk meningkatkan kapasitas dan akses keberbagai fasilitas dasar dan sumber daya demi peningkatan kesejahteraan mereka. Dari seluruh kegiatan yang pernah dilakukan oleh LPIP tersebut di atas memberi dampak yang positif bagi upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat pedesaan. tapi konsep yang dibawa LPIP adalah keinginan dan kebutuhan serta kesadaran yang berasal dari masyarakat untuk berbuat apa dalam memperbaiki kehidupan mereka sendiri dan LPIP bertindak sebagai fasilitator. nasional dan juga pemerintah melalui kerjasama pola kemitraan.Kelautan dan Perikanan Banyuwangi yang didukung oleh masyarakat pesisir yang merupakan kelompok sasaran pemberdayaan. LPIP tidak datang dengan konsepnya sendiri. home industri untuk berkembang dalam menopang ekonomi rumah tangga. Kesadaran itulah yang merupakan potensi untuk dikembangkan agar partisipasinya lebih nyata. LPIP bersifat nirlaba. Fokus kegiatannya lebih menitikberatkan pada Industri kecil. Bermacam-macam kegiatan yang sudah dilakukan yang berkaitan dengan peningkatan ekonomi rumah tangga bagi keluargakeluarga tani di pedesaan. Oleh karena itu. dengan mendasari pada keyakinan bahwa masyarakat kurang mampu dipedesaan tersebut dapat memperbaiki dirinya dari lingkaran kemiskinan dengan usaha penyadaran bahwa mereka memiliki potensi dan daya dukung yang sekali waktu dapat mandiri. karena pemberdayaan mengandung makna keterlibatan komponen masyarakat tanpa ada paksaan tapi berdasarkan kesadaran dan inisiatif dari masyarakat itu untuk membangun dirinya.

5. mulai dari unsur Pimpinan Lembaga/Yayasan LPIP telah diikat atau disyaratkan oleh Visi. Metode ini digunakan untuk mendorong kelompok nelayan dan kelompok perikanan lokal.perspektif masyarakat. Misi dan Strategi yang jelas dan terarah sehingga kinerja mereka dapat diukur. Strategi yang digunakan oleh LPIP dalam rangka memberdayakan masyarakat miskin dan konflik-konflik sosial khususnya di Muncar adalah sebagai berikut: 1. Visi dari LPIP adalah: seluruh masyarakat pra-sejahtera/miskin atau yang belum beruntung. baik pemerintah. Mengadakan kerja sama dengan segenap komponen. kalangan dunia usaha. lembaga amal/ dan para donatur/sponsor dan Lembaga perkreditan guna kelancaran pelaksanaan program pembangunan masyarakat yang sesuai dengan cita-cita dan keinginan masyarakat. artinya memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang pentingnya nilai tambah sebuah produk dari industri kecil yang bermuara pada peningkatan sosial ekonomi masyarakat. yaitu :kelompok nelayan (rumah tangga perikanan) atau forum masyarakat. 3 Membentuk kelompok-kelompok usaha produktif dan atau mengembangkan kelompok usaha yang sudah ada kearah yang lebih sehat dan mandiri. sehingga secara kelembagaan struktur dan sistemnya mantap dan memadai sesuai dengan kebutuhan yang ada disertai dengan kinerja yang baik. seluruh komponen anggota. Sedangkan. Melalui metode ini diharapkan akan ditemukan secara tepat tentang kondisi riil kelompok sasaran pendampingan. LPIP dapat mengembangkan potensi mereka secara bertanggung jawab dan utuh dalam lingkungan sosial yang beradab dan adil. maka untuk memperlancar operasional atau aktivitas LPIP. aktif bahkan reponsife terhadap setiap gerak dan . membuat rencana tindak lanjut dan sekaligus mengaktualisasikan rencana tindak tersebut. Dan mencari usaha alternatif yang lain sebagai tambahan pendapatan mereka 2 Upaya peningkatan sosial ekonomi masyarakat dengan memberikan pemahaman kepada masyarakat pra-sejahtera tentang pentingnya nilai tambah dari produk industri kecil/home industri. 1 Institutional and Capacity Building Adalah cara untuk membangun institusi atau lembaga baik dari struktur dan sitemnya maupun kinerjanya. serta memberikan penyadaran tentang pentingnya pengembangan ekonomi produktif dan usaha pemasaran. meningkatkan dan menganalisis pengetahuan mereka tentang kondisi. Participatory Rural Appraisal PRA adalah pendekatan dan metode yang memungkinkan masyarakat untuk saling berbagi. misi LPIP adalah mendampingi masyarakat pra-sejahtera/miskin untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya membangkitkan partisipasinya dalam usaha ekonomi produktif dengan memandang masyarakat sebagai mitra sebagaimana konsep dan pola yang sudah ditetapkan melalui visi yakni mengembangkan potensi mereka secara bertanggung jawab yakni yang berdayaguna dan berhasilguna dan utuh dalam lingkungan sosial yang beradab dan adil melalui: 1 Secara langsung bekerja bersama dengan masyarakat pra-sejahtera/miskin dalam upaya pemenuhan kebutuhan dasar mereka. 4 Pendampingan terhadap kelompok usaha atau rumah tangga produktif yang ada dimasyarakat. Berangkat dari perspektif pendekatan penanganan persoalan sosial ekonomi masyarakat melalui cara pandang masyarakat sebagaimana diuraikan di atas.

dan yang gagal tersebut sebenarnya lebih merupakan ketidak kompakan para anggota dan ketersediaan sarana pendukung. Usaha-usaha tersebut memang ada yang gagal. Selanjutnya lingkup kegiatan/aktivitas Lembaga Pengembangan Industri Pedesaan dalam rangka mengemban visi dan misinya seperti yang diuraikan di depan khusus yang memberikan perhatian kepada masyarakat miskin pedesaan dalam hal ini Kelompok nelayan (rumah Tangga perikanan) 6 desa pesisir Kecamatan Muncar Kabupaten Banyuwangi. 2). 3 Transactive Proces Adalah suatu metode pembangunan atau pengembangan masyarakat yang mencoba mentransaksikan antara inisiatif atau nilai-nilai dari luar dengan inisiatif dari nilai-nilai lokal. Misi pemberdayaan atau usaha-usaha nyata yang dilakukan oleh LPIP adalah hal-hal sebagai berikut: 1).dinamika masyarakat. yang telah disepakati wakil-wakilnya di tingkat kelompok rumah tangga perikanan. Masalah yang paling menonjol di lokasi penelitian tempat dimana LPIP melakukan kegiatan adalah Kemiskinan/ kesenjangan yang nampak antara kelompok masyarakat (kaya dan miskin). Pemberdayaaan dan Pemantapan Kelompok Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Berbasis Komunitas (Kelompok PSBK). Mendamaikan kelompok nelayan (rumah tanga perikanan) yang konflik akibat perebutan sumber daya perikanan. telah melewati pelatihan-pelatihan manajemen organisasi. bagaimana peluang pasar dan pengenalan teknologi. Memang harus diakui bahwa usaha yang dilakukan oleh LPIP tersebut tidak seratus persen diterima masyarakat 6 desa pesisir. LSM-LPIP terus melakukan pemantauan dan juga kegiatan-kegiatan dampingan serta melayani konsultasi terhadap kelompok-kelompok dampingan. kerusakan dan perebutan sumber daya perikanan. dan mendorong pula untuk mengadakan kegiatan alternatif yang produktif lewat kelompok usaha yang ada untuk berjaga-jaga apabila musim paceklik tiba. Kelompok-kelompok usaha produktif yang sudah berjalan tersebut. 2 Technical and Advisory Assistence Strategi ini digunakan untuk meningkatkan kemampuan teknis dan ketrampilan para pengurus lembaga kelompok nelayan (rumah tangga perikanan) dan kelompok perikanan lokal untuk menyusun sistem manajemen pengelolaan organisasinya. Metode ini digunakan untuk peningkatan kapasitas kelembagaan kelompok rumah tangga perikanan dan juga untuk menyusun kesepakatan-kesepakatan tentang aturan pengelolaan keanekaragaman hayati laut yang berlaku dalam masyarakat perikanan. . akses modal dan teknologi dan sosialisasi manfaat tanaman bakau/mangrove dan usaha penanaman kembali oleh masyarakat. LSM-LPIP telah memfokuskan pada kegiatankegiatan yang produktif yakni mendorong serta melibatkan masyarakat pesisir yang belum beruntung/miskin dalam setiap kegiatan seperti yang telah dijelaskan di atas. 3). 4 Social Marketing Metode ini digunakan untuk sosialisasi aturan-aturan kesepakatan lokal kepada semua masyarakat perikanan. misi dan strateginya. bagaimana mengembangkan usaha. Kecurigaan dan sikap masa bodoh dari sebagian masyarakat menjadi kendala utama dalam setiap upaya dan program yang dilakukannya. Sesuai dengan visi. Sanitasi Lingkungan. dalam rangka peningkatan pendapatan masyarakat dengan cara membentuk kelompok usaha produktif atau mengembangkan kelompok yang sudah ada kearah yang lebih sehat dan mandiri dan mencari akses pasar.

memerlukan desentralisasi pemerintahan. Keterpaduan program pembangunan dimaksud ditetapkan dalam Undangundang Nomor 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional tahun 2000-2004 yang walaupun sampai sekarang ada daerah yang tidak seratus persen melaksanakannya dan masih ada daerah berpedoman pada aturan yang lama. karena masyarakat Muncar adalah masyarakat yang agamis. Pemerintahan yang terdesentralisasi dan otomatis terotonomi menjadikan unit-unit pelayanannya (sejak perencanaan hingga pelaksanaan) berada didekat rakyat. perlu dukungan dan keterlibatan LSM-LPIP dalam bentuk fisik maupun non fisik. membuat TPSTPS baru yang kecil yang gampang dipindah-pindah. Pemerintahan yang baik adalah pemerintahan yang melayani rakyatnya dan senantiasa berada bersama rakyatnya. Dan ini yang diamanatkan UU No. misalnya gerobak sampah dan pemetaan sumber air bersih. Perbaikan MCK umum. asas akuntabilitas dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. juga diarahkan untuk menangani masalah lingkungan yang kurang sehat. Pemerintahan yang baik adalah pemerintahan yang demokratis. pelaksanaan maupun pengawasannya juga tetap mengacu pada penetapan kebijakan nasional. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. yang sekarang sedang dalam taraf implemetasi. Keberhasilan otonomi daerah tidak terletak pada pundak eksekutif saja. yang ditandai dengan semakin banyaknya tuntutan masyarakat. serta limbah-limbah/sampah yang berasal dari nelayan yang tidak terkontrol. Untuk mengatasi masalah ini. Seiring dengan bergulirnya arus reformasi. maka pengelolaannya harus secara terpadu dan searah antara pembangunan nasional dan daerah. Tuntutan masyarakat tersebut mencakup kualitas kinerja instansi pemerintahan yang didalamnya meliputi aspek pertanggungjawaban pelaksanaan tugas para pejabat pemerintah. Sejauhmana pelaksanaannya tergantung dari masing-masing daerah otonom yang selama ini telah diberi kewenangan untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri sesuai dengan kemampuan SDM (Aparatur Pemerintahan di daerah). Oleh karena pembangunan daerah yang didalamnya tercakup pembangunan desa merupakan bagian integral dari pelaksanaan pembangunan nasional. Keterlibatan dalam bentuk fisik seperti membangun bak sampah permanen. asas partisipasi. dan untuk rakyat”. maka sistem penyelenggaraan pemerintahan harus dilaksanakan secara transparan dan akuntabel.Peran dan keterlibatan LSM-LPIP di enam desa pesisir. kelompok-kelompok masyarakat maupun SDA yang dimiliki oleh daerah itu. sepanjang tidak bertentangan. asas responsif. Sebuah negara yang sangat besar dan luas seperti Indonesia. Oleh karena itu pelaksanaan otonomi daerah dalam konteks pembangunan di daerah juga melibatkan peran stakeholders sebagai wujud pemberdayaan. Pemberdayaan masyarakat . seperti membuang sampat tidak pada tempatnya. Yang juga sebuah kehidupan demokrasinya bermakna “dari rakyat. Oleh karena itu penetapan kebijakannya baik yang menyangkut perencanaan. limbah industri yang tidak terkendali. Dalam bentuk non fisik yaitu sosialisasi manfaat hidup sehat dilihat dari sudut pandang agama. asas profesionalitas. baik secara administratif dan manajerial maupun yuridis formal yang secara politis dan moral harus diakomodasi oleh aparat pemerintah daerah. Pemerintahan Kabupaten Banyuwangi dalam penyelenggaraan fungsi-fungsi pemerintahan bertekad dengan mengedepankan penegakan hukum. oleh rakyat. akan tetapi juga menjadi taggung jawab pihak legislatif daerah dan segenap komponen masyarakat.

Melalui Program Pembangunan Daerah. Undang-undang ini menetapkan perlunya konservasi segenap sumber daya alam dan ekositem yang terkait serta pemanfaatan yang berwawasan lingkungan. 3 Undang-undang Nomor 9 tahun 1985 pasal 23 sampai dengan 31 tentang pengawasan dan penegakan hukum. Berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat pesisir. Upaya pemerintah untuk mengatur pemanfaatan dan menjaga kelestarian sumber daya hayati laut sehingga tidak terjadi konflik antar para aktor yang memanfaatkannya telah menerbitkan kebijakan berupa: 1 Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 607. 5 Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 1990. Perumusan Program Pembangunan Daerah dilakukan secara transparan dengan mengikutsertakan berbagai pihak mulai dari kalangan pemerintah (eksekutif). Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan masukan yang merupakan perwujudan partisipasi dan tanggung jawab bersama dalam pembangunan Kabupaten Banyuwangi. Dengan demikian dapat meningkatkan peran aktif masyarakat dalam pelaksanaan pembangunan daerah. 4 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang konservasi sumber daya alam dan ekosistemnya. Dinas Kelautan dan Perikanan memiliki program dan proyek pembangunan masyarakat pantai sebagai bagian dari program pembanguna daerah yang sudah lama bahkan berpuluh tahun sejak Kabupaten Banyuwangi terbentuk yang diikuti dengan pembentukan Dinas tersebut. tentang usaha perikanan. dunia uaha. maka program pembangunan yang disusun sudah termasuk dalam pokok dan arah kebijakan yang diambil oleh Pemerintah Daerah. kalangan akademisi (Perguruan Tinggi) dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) serta stakeholders. Pada Tahun 1990 telah dibentuk Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (BAPEDAL) yang bertugas untuk melaksanakan segenap kebijaksanaan pengelolaan dampak . 6 Peraturan Pemerintah nomor 51 Tahun 1993 tentang analisis Dampak Lingkungan. Tetapi masyarakat pantai/pesisir kehidupannya sampai hari ini masih terlihat belum layak secara ekonomi dari sebagian penduduknya.sebagai wujud partisipasi dalam proses penyusunan program pembangunan daerah merupakan kunci keberhasilan pelaksanaan otonomi daerah. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dapat memetakan stratejik dalam rangka meningkatkan pemberdayaan yang ditekankan pada identifikasi dari upaya dan langkah-langkah yang dilakukan agar Kabupaten Banyuwangi dapat lebih maju dalam akselerasi pembangunannya. Hal ini disebabkan salah satunya adalah adanya kebijakan Pemerintah dimasa lalu yakni kebijakan revolusi biru atau modernisasi perikanan yang lebih banyak berdampak negatif dari pada positfnya. yang ditetapkan dalam rangka pelaksanaan kebijaksanaan pemanfaatan sumber daya alam yang berkelanjutan. Masalah-masalah yang bersifat spesifik/sektoral juga menjadi perhatian dalam Perencanaan strategis Daerah yang diserahkan pelaksanaannya pada dinas atau instansi yang menjadi tanggung jawabnya dan pemerintahan terdekat yang langsung berada dengan masyarakat.Kpts/Um/9/1976 tentang pembagian wilayah penangkapan berdasarkan tingkat kualifikasi peralatan tangkap yang dimiliki oleh nelayan 2 Keppres No. 39/1980 tentang penghapusan operasi kapal pukat harimau (trawl). Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Banyuwangi adalah merupakan instansi yang amat berkaitan langsung dengan pemberdayaan masyarakat pesisir yang dapat berkoordinasi dengan Camat dan Kepala Desa dan instansi terkait setingkatnya guna kelancaran pelaksanaan kegiatan pembangunan.

550/1984 tentang pengelolaan pesisir pantai. Selanjutnya kebijakan nyata yang serius yang sudah lama dilakukan jauh sebelum Undang-undang No. b). Ik/420/S. c). Hal ini dikarenakan wilayah Muncar memiliki daerah yang spesifik yang berkaitan dengan komunitas masyarakat pantai yang kehidupan sebagian warganya sebagai nelayan yang memiliki banyak persoalan klasik seperti konflik-konflik perebutan sumber daya perikanan. Sanitasi Lingkungan. 4 Instruksi Menteri Pertanian Nomor 13/Inst/Um/1/1975 tentang Perlindungan Huta Bakau. 5 Surat Keputusan Direktorat Jendral Perikanan Nomor. Peningkatan Sosial Ekonomi Masyarakat. 3 Surat Keputusan Bersama (SKB) antara menteri Pertanian Nomor 82/1984 dengan menteri Kehutanan KB. 2 SK. selar. Mendamaikan kelompok nelayan (rumah tangga perikanan) yang konflik akibat perebutan sumber daya perikanan.lingkungan termasuk dalam hal pencemaran laut. kemiskinan yang masih tetap melilit sebagian masyarakatnya dan persoalan lingkunga hidup yang khas. 6 Instruksi Gubernur KDH Tk. 1 Keputusan Presiden Nomor 85 Tahun 1982 tentang penggunaan pukat udang. sementara enam kecamatan lain yang juga merupakan kecamatan pantai tidak ditempatkan kantor resortnya. Akan tetapi dalam kenyataannya. peran Birokrasi Pemerintah Kabupaten Banyuwangi yang merupakan salah satu tugas pokok yang melekat. lemuru. melalui instansi-intansi terkaitnya dan pemerintah yang ada di bawahnya melakukan upaya-upaya sebagai berikut: 1).3-1996 tentang Wewenang PPNS (DGF) sebagai Lembaga Penyidik terhadap Pelanggaran Ketentuan Perundang-undangan Perikanan.22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dari Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dalam hal pelayanan kepada masyarakat pesisir yang mempunyai kekhususan sumber daya perikanan adalah dengan menempatkan kantor Cabang/Resort Dinas kelautan dan Perikanan yang dekat dengan pelabuhan ikan di wilayah Kecamatan Muncar. 7 Perda Nomor 5 tahun 1976 tanggal 10 Juli 1976 tentang Ppenggunaan Alat-alat Penangkapan Ikan. maksudnya adalah agar memberikan pelayanan yang lebih cepat dan tepat sasaran. . layang. penegakan hukum terhadap berbagai peraturan tersebut sangat lemah dan ini mengindikasikan seolahh-olah berbagai peraturan tersebut tidak pernah ada. I Jawa Tyimur Nomor 10 Tahun 1985 tentang Pengaturan Alat Tangkap tadongan di Jawa Timur. Menteri Pertanian Nomor 123 /Kpts/Um/3/1975 tentang melarang semua kegiatan penangkapan kembung. Sinergi Birokrasi Pemerintah dan LSM-Lembaga Pengembangan Industri Pedesaan dalam Pembangunan Masyarakat Pesisir Upaya dan peran LSM-LPIP dalam pembangunan masyarakat 6 desa di Muncar dan juga Pemerintah yang merupakan salah satu tugas pokok yang melekat dipundaknya dapat dianalisis sebagai berikut: . dan ikan-ikan pelagis sejenisnya dengan menggunakan Purse seine dengan mata jaring tertentu. Praktek di lapangan jauh panggang dari api dalam arti bahwa kebijakan pemerintah berupa peraturan yang dikeluarkannya banyak dilanggar dan pelanggaran tersebut tidak ada sanksi hukum yang jelas. Terkait dengan penanganan atau pemecahan beberapa problem pembangunan dan pemberdayaan masyarakat pesisir yang dilakukan oleh LSM-LPIP di enam desa pesisir yang merupakan lokasi penelitian.

Pertama, dalam menyelesaikan konflik yang memang sudah lama terjadi di Muncar akibat perebutan sumberdaya perikanan, LSM-LPIP memakai pola pendekatan partisipatif. Masyarakat (Kelompok Inti yang merupakan representasi dari masyarakat) diajak untuk berdiskusi menyelesaikan problemnya. Masyarakat ditawarkan/disodorkan dengan berbagai alternatif pilihan solusi yang menurut mereka baik yang dapat memuaskan semua pihak. Tawaran yang disampaikan oleh LSM-LPIP adalah proses dialogis yang dapat membangkitkan kesadaran dari masyarakat tentang pentingnya suasana damai dan nyaman. Sementara Birokrasi pemerintah memakai pola pendekatan kekuasaan yang selama ini menjadi kebiasaannya. Masyarakat ditempatkan sebagai obyek, tidak peduli apa keinginan masyarakat dalam persoalan tersebut. Banyak persolan yang muncul tersebut, dapat diselesaikan tapi tidak memberikan kepuasan semua pihak dan konflik yang kelihatan sudah dapat diatasi tidak lama muncul lagi yang lebih parah. Tidak ada upaya kreatif yang dilakukan oleh pemerintah dalam pola pendekatannya, mereka hanya menggunakan waktu/jam dinas dalam usahanya untuk menyelesaikan konflik dari pada mengatur waktu untuk menyesuaikan dengan kegiatan masyarakat, ini justru menjadi salah satu problem mengapa masyarakat kurang simpatik dengan pola pendekatan yang dilakukan pemerintah, karena kegiatan pertemuan bertabrakan dengan kegiatan masyarakat untuk mencari nafkah. Kehadiran LSM-LPIP di Muncar Banyuwangi mendapat respon yang baik dari pemerintah yang menawarkan pola pendekatan partisipatif dalam menyelesaikan konflik maupun kegiatan-kegiatan lainnya yang berkaitan dengan kepentingan pemberdayaan masyarakat. Jadi analisis kami terhadap penyelesaian konflik yang terjadi di lokasi penelitian perlu ada kerja sama yang baik secara sinergi dari LSM-LPIP dengan Pemerintah, tanpa harus curiga atau merasa disepelekan. Sikap dan kesediaan pemerintah dalam menerima perubahan paradigma pendekatan yang dilakukan oleh LPIP dalam menyelesaikan konflik adalah merupakan bentuk kerja sama yang efektif. LSM-LPIP tidak dapat melakukan sendiri pekerjaan tersebut walaupun didukung oleh kelompok inti masyarakat seperti tokoh-tokoh agama, pengusaha dan tokoh adat lainnya, kalau tidak didukung oleh pemerintah melalui kebijakan-kebijakan nyata, mustahil konflik dapat diselesaikan dengan baik dan memuaskan semua pihak. Kedua, dalam usaha meningkatakan sosial ekonomi masyarakat, pembangunan yang ditawarkan kepada masyarakat adalah pembangunan yang menurut perspektif masyarakat. Memberdayakan masyarakat pesisir, baik LSM-LPIP maupun Pemerintah sama-sama memiliki visi dan msi yang jelas. Pemerintah memiliki predikat pelaku pembangunan sudah tidak diragukan lagi melalui kebijakan-kebijakannya. Walaupun implementasinya di lapangan, banyak yang dipertanyakan tentang efektifitasnya. Sementara LSM-LPIP juga punya komitmen terhadap pembangunan masyarakat. Lembaga (Yayasan) dibentuk atas dasar keprihatinan terhadap penduduk yang belum beruntung. Kehadiran LPIP dalam proyek-proyek kerja sama ini lebih difokuskan pada kegiatan usaha yang mengarah pada kemandirian. Pembentukan kelompok usaha bersama ataupun mengembangkan kelompok yang sudah ada merupakan salah satu kegiatan alternatifnya, disamping memberikan advokasi berupa penyelesaian beberapa konflik yang dilakukan bersama-sama dengan komponen inti masyarakat dan pemerintah seperti yang telah dijelaskan didepan dan usaha sanitasi lingkungan. Ketiga, Kerjasama Birokrasi Pemerintah dengan LSM-LPIP dalam usaha sanitasi

lingkungan, sudah cukup banyak dijelaskan didepan. Analisis terhadap kerjasama yang telah dilakukan tersebut, menunjukkan bahwa Birokrasi Pemerintah dalah hal ini Pemerintah Desa yang sangat dekat dengan masyarakat tidak dapat melakukan sendiri persoalan sampah yang dialami warga desanya. Akibatnya sampah bertumpuk dimanamana dan menjadi masalah yang serius, karena tidak diangkut oleh pasukan kuning dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan. Hal tersebut diakibatkan kurangnya koordinasi antara Dinas Kebersihan dan Pertamanan dengan Pemerintah Desa setempat dalam soal penanganan sampah. Setelah ada protes dari warga tentang masalah sampah di Dinas Kebersihan, jawabnya bahwa penanganan sampah telah diserahkan kepada Pemerintah desa masing-masing melalui PERDA Banyuwangi. Sosialisasi dan Implementasi PERDA tersebut dilakukan oleh LSM-LPIP atas permintaan resmi Pemerintah Desa yang mengalami masalah sampah yang serius. Pemerintah Desa memberikan kepercayaan kepada LSM untuk melakukan upaya pendekatan kepada msyarakat tentang masalah penanganan sampah dan teknik-teknik penanggulangannya. Mulanya LSM agak keberatan dengan kepercayaan tersebut, karena merasa tidak berpengalaman soal penanganan sampah. Tapi karena didorong rasa tanggung jawab, maka pekerjaan tambahan ini dilakukan agar lebih dekat dan mendapat simpatik dari masyarakat. Pekerjaan penanganan sampah ini memang pekerjaan yang sifatnya gotongroyong, yang diharapkan agar masyarakat semuanya terlibat aktif dan membayar retribusi sampah yang ditetapkan Pemerintah Desa. Retribusi sampah tersebut tidak menjadi urusan LSM-LPIP, tapi menjadi tanggung jawab Pemerintah Desa sebagai salah satu sumber penerimaan desa. Analisis terhadap masalah penanganan sampah ini, yang dilakukan oleh LSM-LPIP dengan Pemerintah, dilihat dari perspektif pemberdayaan, amat cocok bagi kepentingan pembangunan dibidang sanitasi lingkungan. Lingkungan yang sehat, indah dan nyaman merupakan dambaan setiap orang. Karena itu pembangunan masyarakat pesisir yang selalu berkait dengan masalah lingkungan juga diberi tempat untuk menjadi perhatian bersama baik dari LSM-LPIP maupun Pemerintah dan masyarakat. Kerja sama secara gotong royong baik dari Pemerintah Desa maupun LSM-LPIP dan masyarakat yang secara sinergi telah memberi hasil yang maksimal yakni tercipta lingkungan yang sehat, bersih, nyaman dan indah yang juga sekaligus menjadi dambaan semua orang. Respon dan Pemaknaan Masyarakat terhadap Upaya Pemberdayaan yang dilakukan baik oleh Birokrasi Pemerintah maupun LSM-LPIP Intervensi Birokrasi Pemerintah maupun LSM-LPIP dalam pembangunan masyarakat pesisir di lokasi penelitian akan bermakna kalau mendapat respon positif dari masyarakat yang menjadi sasaran pemberdayaan. Respon masyarakat dalam memaknai pembangunan yang dilakukan oleh Birokrasi Pemerintah maupun LSM-LPIP tentu berbeda satu sama lain. Pada umumnya masyarakat pedesaan kalau berbicara pembangunan, sering diartikan sebagai pembangunan fisik. Misalnya membangun gedung sekolah, rumah ibadat, jalan raya ataupun kerja bakti lingkungan diartikan juga sebagai pembangunan. Memang sangat sederhana pandangan mereka tentang pembangunan dan itu tidaklah salah. Sebab menurut perspektif mereka pembangunan adalah pembangunan itu sendiri. Maka sangatlah sulit jika ada program pembangunan yang ingin dilakukan bukan pembangunan fisik, apa lagi program tersebut ada dananya untuk pelatihan- pelatihan seperti yang umum dilakukan oleh LSM tidak terkecuali LSM-LPIP. Ditemui di lokasi

penelitian, kalau kegiatan pemberdayaan yang dilakukan oleh LSM-LPIP tidaklah mudah dalam pendekatannya kepada masyarakat pesisir, sebab mereka (masyarakat) sudah terbiasa dengan pembangunan-pembangunan fisik yang biasa mereka terima dari pemerintah ataupun bantuan berupa uang langsung kepada mereka membuat suatu usaha tanpa bimbingan lebih lanjut dalam arti usaha penyadaran bahwa mereka memiliki potensi untuk maju. Kehadiran LSM-LPIP di lokasi penelitian dengan suatu idelisme yang tinggi untuk membangun masyarakat tidak dalam proyek pembangunan fisik seperti yang selama ini dilakukan pemerintah. Kehadiran LPIP lebih banyak memberikan motivasi dan pelatihanpelatihan kepada kader Pengurus Kelompok Usaha Bersama tentang bagaimana pengadministrasian yang baik, bagaimana manajemen usahanya dan keterampilan penangkapan maupun pengawetan ikan serta juga melatih bagaimana membuat suatu perencanaan, pelaksanaan sampai dengan evaluasi terhadap bidang usaha agar dapat berkembang dengan memuaskan. Biasanya LSM melakukan need assesment (pejajagan kebutuhan) melalui pendekatan Partisipatory Rural Appraisal (PRA). Dalam konteks PRA yang juga menjadi strategi pendekatan dari LPIP kepada masyarakat mencakup pengenalan potensi dan masalah, penyadaran, perumusan masalah dan penetapan skala prioritas, alternstif pemecahan masalah dan perencanaan, pengorganisasian dan pelaksanaan kegiatan, pemantauan evaluasi dan dtindak lanjut. Pendekatan PRA menekankan keterlibatan masyarakat menjadi pelaku utama, dan hasil yang dicapai merupakan karya dan milik bersama masyarakat. Oleh karenanya dampak yang diperoleh dari pendekatan ini adalah munculnya rasa ikut memiliki, sehingga hasil dari kegiatan yang dilakukan dapat lestari dan berkelanjutan. Sebagaimana yang dilakukan LPIP di wilayah kerjanya namapk telah ada usaha pendekatan dilakukan dengan prinsip PRA kepada masyarakat pesisir. Pendekatan ini juga menjadi pelajaran bagi pemerintah dalam mengambil kebijakan pembangunan dengan pola botton-up seperi yang dilakukan oleh LSM sehingga terjadi kerja sama yang saling mengisi dalam semua aspek pembangunan. Di lokasi penelitian telah terjadi kerja sama yang sinergis dan harmonis antara LSM-LPIP dengan Birokrasi Pemerintah dalam pemberdayaan masyarakat pesisir. Kehadiran mereka telah banyak memberikan manfaat bagi peningkatan sosial ekonomi para anggota kelompoknya. Masayarakat dari dusun Tegalpare amat positif menerima kehadiran LPIP untuk bersama mereka membenahi kelompok yang sudah ada menjadi lebih maju dan mandiri. Para pengurusnya mendapakan pelatihan keterampilan pengadministrasian, manajemen dan kepemimipinan. Ada materi yang khusus diberikan kepada pengurus dan anggota yang mempunyai kemampuan untuk menggerakan kelompoknya. Namun jika dicermati lebih dalam pendapat yang disampaikan oleh salah seorang anggota kelompok sido rukun, nampak kecewa dan tidak puas dalam pelayanan/dampingan yang diakukan oleh LPIP maupun pemerintah tersebut. Tapi setelah kami mencoba untuk mendekati pihal LSM dan juga pengurus kelompoknya tentang kekecewaan yang disampaikan oleh anggota kelompoknya tersebut diperoleh keterangan kalau yang bersangkutan pada saat mendapat kunjungan ataupun ada pelatihan, sering tidak berada ditempat, biasanya ke Madura atau ke Banyuwangi. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

administrasi pembukuan sederhana tentang rugi laba. menyediakan juga tenaga ahli bila LSM-LPIP membutuhkan. 1 Kegiatan sanitasi lingkungan dilakukan oleh LSM-LPIP dengan pemikiran. Telah berhasil dengan memuaskan. Retribusi sampah yang ditetapkan pemerintah desa dapat diterima masyarakat berkat sosialisasi yang dilakukan oleh LPIP dengan aparat Desa. Memberdayakan masyarakat pesisir untuk usaha ekonomi produktif yang dilakukan Birokrasi Pemerintah melalui proyek pembangunan masyarakat pantai maupun LSM LPIP dengan strategi pendekatan dilakukannya untuk mengimplementasikan proyek tersebut diatas dengan cara membentuk Kelompok Usaha Bersama atau mengembangkan kelompok yang sudah ada kearah yang sehat dan mandiri.1 Berbagai macam aktivitas pembangunan yang sudah dilakukan Birokrasi Pemerintah Daerah seperti penyelesaian beberapa konfilk yang terjadi di lokasi penelitian. pelatihan keterampilan pengawetan. Pemerintah membuat kebijakan yang cerdas. Usaha penanaman kembali/ penghijauan bakau yang dilakukan oleh masyarakat pantai di lokasi penghijauan juga telah memberi kenyamanan bagi penduduk yang mendiaminya dan telah memberikan hasil berupa tangkapan ikan disekitar lokasi . pengusaha) sebagai mediator. 2 Di lokasi penelitian telah terjadi pembenaran. namun beberapa waktu muncul lagi. Birokrasi Pemerintah menyediakan proyek pembangunan masyarakat pantai disertai dengan dana yang memadai. pemindangan dan lain-lain. sampah-sampah yang berserakan dapat diatasi. LPIP dalam menangani masalah sampah di lokasi penelitian. mengembangkan manajemen usaha. 3. 12 (duabelas) dari 27 (dua puluh tujuh) KUB yang berhasil kami datangi dan mewawancarai pengurus maupun anggotanya secara umum mengatakan. Kesemuanya itu dilakukan atas dasar keinginan dan potensi yang dimiliki masyarakat. menawarkan pola pendekatan yang berbeda. bahwa hubungan kerja sama yang dilakukan oleh Birokrasi Pemerintah Daerah Banyuwangi dengan LSM Lembaga Pengembangan Industri Pedesan telah berjalan dengan mencapai hasil yang relatif memuaskan dalam memberdayakan masyarakat pesisir. yaitu memakai strategi pendekatan yang menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama pendamai dengan melibatkan mereka (tokoh masyarakat. sehingga walaupun konflik tersebut dapat didamaikan. cenderung menempatkan masyarakat sebagai obyek sengketa yang harus diselesaikan. LSM LPIP dalam menangani beberapa konflik yang sempat diselesaikan Birokrasi Pemerintah namun tidak langgeng. pengasapan. penyediaan dananya yang memadai untuk proyek pembangunan masyarakat pantai. birokrasi. sehingga mereka memiliki kemampuan untuk merencanakan. tanpa memperhitungkan keberadaan dan potensi konflik yang terjadi. Memberi bantuan kredit berupa dana bergulir. bahwa kerja sama keduanya menunjukkan kinerja yang bagus. bahwa lingkungan bersih. keduanya saling berkoordinasi dan bekerja sama secara sinergis. Sinergi keduanya telah memberikan dampak positif bagi peningkatan sosial ekonomi masyarakat 6 desa pantai. bekerja sama dengan Pemerintah Desa. Indah dan Nyaman akan memberikan suatu gairah hidup bagi masyarakat yang mendiaminya. Hal ini terjadi karena ada kerja sama yang saling mendukung terhadap program dan sasaran yang ingin dicapai. Pembentukan kelompok UB tersebut disertai dengan pelatihan-pelatihan bagi kader pengurus kelompok usaha bersama. LSM Lembaga Pengembangan Industri Pedesaan sebagai aktor pelaksanaan dilapangan dengan pola pendekatan pemberdayaan yang dilakukannya tanpa campur tangan terlalu jauh dari Birokrasi Pemerintah telah memeberikan hasil yang relatif optimal. LSM-LPIP dalam mendampingi Kelompok Usaha Bersama tersebut bertindak sebagai fasilitator dan motivator.

merubah paradigma pendekatan kekuasaan/dari atas ke paradigma pendekatan dari bawah. motivator. Birokrasi Pemerintah di lapisan bawahnya tidak mampu mengatasi persoalan konflik sosial nelayan maupun usaha ekonomi produktif bagi masyarakat yang belum beruntung serta usaha sanitasi lingkungan secara sendirian. bahwa Sinergi antara LSM dengan Pemerintah Daerah adalah agar Birokrasi Pemerintah bertindak sebagai fasilitator. sehingga tidak ada jarak antara masyarakat dengan LPIP. Memang disadari bahwa untuk memerankan tiga fungsi ini bukan merupakan pekerjaan yang mudah. karena menurut mereka. tidak menganggap masyarakat sebagai mitra sejajar dan komunikasi hanya bersifat satu arah. LSM-LPIP lebih komunikatf dan persuasif dalam pendekatan dengan masyarakat. 2 Respon dan pemaknaan masyarakat terhadap upaya pemberdayaan yang dilakukan baik oleh Birokrasi Pemerintah Daerah maupun LSM-LPIP. pola pendekatannya lebih bersifat memaksa/ kekuasaan. Kerja sama keduanya (LSM dan Birokrasi Pemerintah) telah memberi hasil yang relatif optimal bagi kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Birokrasi juga memiliki keterbatasan. tapi masih ada yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan sebagai berikut: 1 Untuk Birokrasi Pemerintah Daerah Kabupaten Banyuwangi. Walaupun sedikit banyak ada kekurangannya dari masing-masing pihak dalam mengaplikasikan program. tapi setelah melakukan interaksi dengan LSM-LPIP dalam usaha kerja sama tersebut dapat mencapai hasil yang relatif lebih optimal dibanding sebelumnya. Pembenaran di lapangan/ lokasi penelitian. Birokrasi tidak usah ragu . berbeda-beda. dan dinamisator dalam pembangunan patut untuk dipertimbangkan. Sementara Birokrasi. 1 Implikasi praktis dari penelitian ini menampakan bahwa kebanggaan terhadap kehebatan birokrasi pemerintah daerah dalam mengelola pembangunan masih dipertanyakan. Umumnya mereka memberi respon positif terhadap makna kerja sama antara Birokrasi Pemerintah dengan LSM-Lembaga Pengembangan Industri Pedesaan. telah ada kerja sama yang saling mendukung antara LPIP dengan Birokrasi Pemerintah dalam pembangunan masyarakat pesisir. hal ini nampak dari aparat birokrat dari kabupaten Banyuwangi. teman diskusi. terutama pola atau cara menyelesaikan konflik yang terjadi dalam masyarakat. Saran Mencermati pola hubungan kerja sama ataupun interaksi kedua aktor pembangunan dalam hal ini Birokrasi Pemerintah Daerah Banyuwangi dengan LSM-Lembaga Pengembangan Industri Pedesaan dalam pembangunan masyarakat pesisir yang telah ditunjukan dan relatif cukup sukses. Menganggap masyarakat sebagai mitra sejajar. Penelitian ini dapat menungkapkan sinergi antara Birokrasi Pemerintah dengan LSM-LPIP dalam pembangunan masyarakat Pesisir seperti yang telah disinggung diatas. 2 Impilkasi teoritis dari penelitian ini membenarkan atau mendukung konsep dari Osborne dan Gabler dalam Reinventing Government. Oleh karenanya dalam pembangunan daerah aparat birokrasi tidak akan mampu menjangkau seluruh kebutuhan pembangunan khususnya dibidang sosial ekonomi tanpa melakukan pola kemitraan dengan pihak lain termasuk Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Tapi tidak dalam pola pendekatan. Sebab mereka akan dibatasi oleh bingkai nilai-nilai politis dan ideologi.tersebut yang sebelumnya sulit mendapatkan ikan. sehingga ada kesenjangan komunikasi antara Birokrasi dengan masyarakat.

Kepada mereka diberi perhatian lebih ekstra serta mendorong agar dapat berkembang. S. agar dapat menyiapkan atau memikirkan kesinambungan terhadap apa yang telah dikerjakan atau yang telah dilakukan dengan cara memberikan pelatihan kader atau pemagangan kepada Lembaga yang telah dibentuk agar lembaga tersebut dapat berfungsi secara mandiri dalam melanjutkan kegiatan yang telah dirintis.Lembaga Pengembangan Industri Pedesaan. Atau dengan kata lain hilangkan sikap yang selalu memberi perintah dan mendewakan aturan. Jakarta.meniru pola pendekatan yang dilakukan oleh LSM-LPIP yang terbukti cukup sukses dalam menyelesaikan konflik yang terjadi. Malang.Jamaludin. karena terbukti memakai pola pendekatan partisipasi yang dilakukan oleh LSM-LPIP relatif lebih sukses dibanding dengan pola pendekatan kekuasaan yang selama ini dilakukan oleh pemerintah. Antjok. DAFTAR PUSTAKA Abdul Wahab. Birokrasi untuk selalu sadar dan kreatif dalam memanfaatkan waktu buat pendekatan dengan masyarakat tidak hanya pada jam-jam dinas saja tapi juga diluar jam dinas. birokrasi pemerintah akan semakin jauh dari komunitas masyarakat yang menjadi mitranya dalam berbagai aktivitas pembangunan. agar lebih konsisten dengan misinya. lebih ditingkatkan kerja samanya dengan LSM. (1995) Pemanfaatan Organisasi Lokal untuk Mengentaskan Kemiskinan Dalam Kemiskinan dan Kesenjangan di Indonesia. Program Pascasarjana Universitas Brawijaya. tapi mampu memberikan hasil yang optimal bagi peningkatan ekonomi masyarakat yang diberdayakan dan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik atas hasil kerjanya tersebut. Bagi Birokrasi dan LSM-LPIP. (2001) Analisis Kebijaksanaan dari Formulasi ke dalam Implementasi Kebijaksanaan Negara. ———————-(1998) Ekonomi Politik dalam Bisnis Indonesia Era Orde Baru. Bumi Aksara. 1 Bagi LSM-Lembaga Pengembangan Industri Pedesaan. tingkatkan kemampuannya dalam mendampingi masyarakat. sebaiknya LSM-LPIP tidak sangat tergantung pada pemerintah. Untuk yang akan datang. Bekerja sama dengan Birokrasi Pemerintah tidak hanya sekedar untuk memperoleh dana. ——————– (1999) Ekonomi Politik Pembangunan. 2 Bagi LSM. Bisnis Indonesia Era Orde Baru dan di Tengah Krisis moneter. karena selain mempersempit ruang geraknya ditengah masyarakat yang dinamis. terutama pada Kelompok Usaha Bersama yang telah bubar atau yang hidup enggan mati tak mau. terutama masa-masa akhir dari kerja samanya tersebut. Dalam hal dana. terutama yang menyangkut cara-cara atau strategi pendekatan pembangunan partisipatif yang tidak hanya terbatas pada tataran wacana/retorika tapi lebih kepada implementasi. Adytia Media . Brawijaya University Press. agar peruntukannya benar-benar mencapai sasaran. tidak kaku dengan aturan yang ada tapi lebih luwes. perhatiannya tidak hanya pada kelompok rumah tangga perikanan tapi juga pada petani umum lainnya yang ada dipedesaan yang nasibnya belum beruntung. 2 Untuk Birokrasi Pemerintah Daerah Kabupaten Banyuwangi. karena birokrasi adalah pelayan masyarakat. tapi mampu mencari dana sendiri melalui bentuk usaha provit yang dikerjakan oleh LSM atau bantuan sponsor ataupun dana masyarakat yang dapat dikelola dalam bentuk usaha ekonomi produktif. Danar Wijaya. Proyek pembangunan yang bersifat fisik sebaiknya dikaji ulang.

(1987) Rural Development Putting the Last first (Pembangunan Desa Mulai dari Belakang). Arief. and Marshall W. (Studi Kasus tentang Konflik Antara HKBP dan Elit Desa Janji Angkola Kecamatan Pahae Jahe Kabupaten Tapanuli Utara) Tesis: Program Pascasarjana Universitas Barwijaya Malang. Hulme. NGOs as users and subjects of social inquiri. Elfin. Kusnadi. Penerbit LKiS Jogyakarta Lembaga Pengembangan Industri Pedesaan (2002). Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada. Clark. (1995) NGO dan Pembangunan Demokrasi. Penerbit IKIP Malang Israel. Ismani. LP3Es. . Teku. Jakarta. Laporan Akhir Pekerjaan Pendampingan Dalam Rangka Community Development di Muncar Banyuwangi. Pengantar. (1994) Non Government Organization and Democratic Participation in Indonesia. Penerjemah. Centre of Developing Area Studies. (1995) Pembangunan Desa dan Lembaga Swadaya Masyarakat. J. LP3ES. Godril Dibyo Yuwono. M. Kushandayani. David. Kualalumpur Oxfort University Press. (2002) Konflik sosial Nelayan. Administrasi Negara. Instutional development. Penerbit Kanisius. 1996. (1992) Qualitative Data Analiysis. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama.Teguh Yuwono. Arsyad. Blau. Peter. (2000) Birokrasi dalam Masyarakat Modern. Penerjemah Basilius B. Muhammad (2002) Masyarakat Sipil dan Demokrasi. Dialektika Negara dan LSM ditinjau dari Perspektif Politik Hukum E-law Indonesia. Chaniago. CLOGAPPS Diponegoro University. Hagul. Longman Scientific & Technical. (2001) Lembaga Swadaya Masyarakat sebagai Sektor Ketiga Pembangunan.(1999) Pengantar Perencanaan dan Pembangunan Ekonomi Daerah. Philip.Yogyakarta. Yogyakarta. Yogyakarta. Matthew B and Huberman A Michael. Budiman. dalam rethingking social deplopment. University of Hull. Judul Asli: Bureaucrasy in Modern Socyety. ———————(1996) Memahami Desa secara Partisipatif. Miles. Penerbit Prestasi Pustakaraya. Jakarta. Dalam Manajemen Otonomi Daerah: Membangunan Daerah Berdasarkan Paradigma Baru ed. Tiara Wacana Yogyakarta. (1994) Social development research and the third sector. BPFE-Yogyakarta. Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya. Peter M. Robert. Alih Bahasa. Alih Bahasa Drs Slamet Rijanto. Jakarta. Elyas. Eldridge. Birokrasi dan Etos Kerja. Lincolin. Rajawali Jakarta. Judul asli: Democratizing Development: The Role of Voluntary Organization. John. Sage Publica ion Inc. Alih Bahasa Prabowo Adi Nugroho. Pepep Sudradjat. Dawam Rahardjo. edited by David Booth. Kemiskinan dan Perebutan Sumber Daya Perikanan. (2000) Gagalnya Pembangunan: Kajian ekonomi Politik terhadap Akar Krisis Indonesia. Jakarta. Judul asli PRA Participatory Rual Appraisal. Andrinof. Chambers. London. Meyer. Penerbit PT. Penerbit PT. Jakarta. Budairi. Judul asli. LP3ES. (2001) Good Government dan Otonomi Daerah. (2000) Teori Pembangunan Dunia Ketiga. Arturo (1990) Pengembangan Kelembagaan.

ed. edited by Janvryl et al. Majalah Warta Demografi. (2001) Reformasi Administrasi Public. Riant. Suatu Telaah Analitis Masyarakat Wamena. Majalah Semi Ilmiah Populer. (2000) Metodologi Penelitian Kualitatif. D. 2001. (1995) Grassroots Organization and NGOs I Rural Development. Nasution. Jakarta. David & Ted Gaebler. Rustiani. 1 – 9 Zauhar. Bandung. Soemitro Remi. Kebijakan dan Implementasi CSIS. Osborne.: 2 Maret. London.Moleong Lexi. Jakarta. et al.Magister Ilmu Administrasi Program Pascasarjana Universitas Krisnadwipayana. (1996) Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Adision Wisley Pranarka & Vidyandika Moelyarto. Tarsito. S. 22 Januari 2003. (1996) Pembangunan Masyarakat Pedesaan. Jakarta. Opportunities with Deminishing States and Expanding Market. ed. Hubungan Birokrasi Pemerintah dan Lembaga Adat dalam Pembangunan Daerah. 1997. Bintoro.G. MA. Penerbit Rineka Cipta. dalam Jurnal Administrasi Negara FIA Unibraw Vol.dalam Pemberdayaan Konsep Kebijakan dan Implementasi. Sutyastie and Prijono Tjiptoherijanto (2002) Kemiskinan dan Ketidakmerataan di indonesia. Norman.lam Market and Civiol Organization.(1996) Pemberdayaan (Empowerment). Ilmu Administrasi Negara. Onny. S. Uphoff. Komentar : Tidak ada komentar » Kategori : Jurnal « Entri Sebelumnya Entri Berikutnya » . Disertasi: Program Pascasarjana Universitas Pajajaran Bandung. Hery (1999) Intervensi LSM dan Birokrasi Pemerintahan Daerah Dalam Pemberdayaan Masyarakat. Pustaka Sinar Harapan dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Sorotan: Menggagas Organisasi Non Pemerintah Masa Depan. Diterbitkan oleh Lembaga Demografi Fakultas Ekonmi Universitas Indonesia. Jakarta. Surie. Harian Kompas. Mac M illan Press. (1996) Pengembangan Ekonomi Rakyat dalam Era Globalisasi. Hal. Susanto. Irian Jaya. (1996) pemberdayaan Konsep. Diterbitkan atas kerja Sama yayasan Akatiga-Yapika. PT Gramedia Jakarta. 29. J. Tesis: Program Pascasarjana Universitas Brawijaya Malang. Administrasi Pelayanan Publik Sebuah Perbincangan Awal. (Alih bhs. Frida. Remaja Posdakarya. Zulkanaen. CSIC. Astrid S. Nugroho. (Studi tentang pola kerja sama Birokrasi Pemerintah dengan Lembaga adat dalam implementasi program pembangunan pada Masyarakat Dayak Kalimantan Barat. Sameko)1987. (Studi Kasus Di Kecamatan Tualaka Kabupaten Pacitan. Kol. City Hall to Pentagon Reading. Bandung. da. PT Gramedia Jakarta. Prijono. (2001) Reinventing Indonesia : Menata Ulang Manajemen Pemerintahan untuk Membangun Indonesia baru dengan Keunggulan Global. Trieanto. H. 1 No. Tjokkroamidjojo. Jakarta. Reinventing Government. How The Entrepreneural Spirit is Transforming The Public Sector From School House .

MULTI TOP INDONESIA DI BANDUNG BUDAYA BIROKRASI PELAYANAN PUBLIK PERANAN PENGENDALIAN INTERNAL DALAM MENUNJANG EFEKTIVITAS SISTEM PEMBERIAN KREDIT USAHA KECIL DAN MENENGAH HUBUNGAN PERSEPSI KONSUMEN ATAS ATRIBUT PRODUK TELKOM FLEXI DENGAN LOYALITAS DIWILAYAH BANDUNG PUSAT PENGARUH KINERJA KEUANGAN BERDASARKAN RETURN ON INVESTMENT DAN TOTAL ASSET TURNOVER TERHADAP INVESTASI AKTIVA TETAP PENGARUH KOMPENSASI TERHADAPPRODUKTIVITAS KARYAWANPADA CV.Cari Tulisan Teratas • PENGARUH KUALITAS PENGENDALIAN INTERNAL PADA SISTEM INFORMASI AKUNTANSI TERHADAP KEANDALAN AUDIT TRAIL DALAM SISTEM INFORMASI PERANAN MOTIVASI DALAM UPAYA MENINGKATKAN DISIPLIN KERJA KARYAWAN PADA PT.GRAND TEXTILE INDUSTRY BANDUNG PENGARUH PELAKSANAAN PROGRAM KESEJAHTERAAN TERHADAP DISIPLIN KERJA KARYAWAN PENGARUH PROMOSI JABATAN TERHADAP MOTIVASI KERJA KARYAWAN PADA PT. MOONLIGHT MOBILISASI SUMBER-SUMBER PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD) DALAM RANGKA PEMBANGUNAN DAERAH (STUDI DI KABUPATEN MUARA ENIM) FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PARTISIPASI POLITIK MASYARAKAT DALAM PEMBANGUNAN DESA PENERAPAN ATURAN ETIKA UNTUK MENINGKATKAN PROFESIONALISME AKUNTAN PUBLIK (Survei pada Kantor Akuntan Publik di Bandung) • • • • • • • • • • • Tag Komentar Terakhir .

0812 2701 6999.com/tag/skri… pustakaonline.wordpr… id.com/tag/jurn… jurnalskripsitesis.wordpress.c… jurnalskripsi.371 hits Kategori Awan Jurnal Makalah Skripsi Akuntansi Skripsi Manajemen Berkategori Tak Jika ada yang menginginkan skripsi selengkapnya berupa file .fr id. Rp200rb/skripsi. Blogroll • Jurnal dan Skripsi .PDF bisa hubungi/SMS saya di nomor HP.wordpress.FITRI di PENGARUH KINERJA KEUANGAN BERD… Nindy di PERANAN PENGENDALIAN INTERNAL … Megawaty Intan Purna… di PENGARUH KUALITAS PENGENDALIAN… santi di PERANAN PENGENDALIAN INTERNAL … ani di PENYESUAIAN JUMLAH TELLER YANG… Klik tertinggi • • • • • • • id.com jide.wordpress.com Blog Stats • 71.wordpress.

• Theme: Freshy by Jide .• Jurnal skripsi Blog pada WordPress.com.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->