Data Statistik Gender Tahun 2009

BAB I.

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa dan didorong oleh keinginan luhur untuk berperikehidupan yang bebas, bersatu, adil dan makmur sebagaimana diisyaratkan dalam Pancasila dan UUD 1945, oleh karena itu pembangunan daerah Sulawesi Selatan diwujudkan melalui penyelenggaraan pemerintah daerah yang berkedaulatan rakyat, demokratis dan pengarusutamaan gender untuk meningkatkan kesejahteraan dan keadilan gender. Paradigma pembangunan yang sentralistik dan birokratis, merupakan faktor penyebab hasil-hasil pembangunan menjadi tidak merata antardaerah, antar sektor, antar wilayah dan golongan sehingga diperlukan sebuah pendekatan baru yang mampu menjawab tantangan ke depan, oleh karena itu keberadaan Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dan Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) dan PERDA No. 2 Tahun 2010 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Daerah, merupakan peluang sekaligus tantangan di Sulawesi Selatan penyusunan kebijakan program yang berperspektif gender. Meskipun berbagai upaya pembangunan telah banyak dilakukan, namun masih dijumpai berbagai kesenjangan gender, utamanya peluang dan akses terhadap sumberdaya pembangunan. Permasalahan pengarusutamaan gender ditinjau dari aspek manajemen adalah : dalam

1

-

Kurangnya pemahaman dan komitmen para stakeholders, akan

pentingnya data dan indikator gender dimulai dari penyusunan perencanaan sampai pada tahap evaluasi dan berakhir pada penentuan kebijakan. Kurangnya penciptaan akses masyarakat ke input ketersediaan data dan indikator serta analisis gender terhadap pemerintah. Kebijakan pemerintah Sulawesi Selatan diarahkan untuk membangun partisipasi masyarakat dalam mendukung terwujudnya kesetaraan dan keadilan gender di dalam masyarakat, maka pembangunan pada prinsipnya untuk meningkatkan kualitas hidup manusia tanpa membedakan suku, agama, ras dan jenis kelamin secara terencana, bertahap, komprehensif dan berkesinambungan, dengan melibatkan partisipasi stakeholder yang meliputi pemerintah, dunia usaha dan masyarakat yang menjadi kunci keberhasilan pelaksanaan pembangunan dalam penyusunan statistik indikator gender baik untuk kepentingan Nasional maupun Daerah. Selanjutnya kebijakan Pembangunan Pemberdayaan Perempuan di dalam RPJMD Provinsi Sulawesi Selatan 2008-2013 diarahkan untuk membangun partisipasi masyarakat dalam mendukung terwujudnya kesetaraan dan keadilan gender di masyarakat yang diwujudkan beberapa program aksi sebagai berikut : 1). Peningkatan kesempatan bagi kaum perempuan untuk menikmati pendidikan disemua jenjang, sehingga mereka memiliki posisi tawar yang tinggi menuju terciptanya kesetaraan dan keadilan gender; 2). Peningkatan partisipasi masyarakat dalam ikut menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu dan anak serta peran serta masyarakat dalam menjaga kesehatan reproduksi termasuk dalam keluarga berencana; 3). Peningkatan akses kaum perempuan untuk berusaha di

2

bidang ekonomi produktif, termasuk mendapatkan modal pelatihan usaha, program perluasan kesempatan kerja dan informasi pasar sehingga dapat mendorong lahirnya kemandirian kaum perempuan dalam berwirausaha; 4). Peningkatan partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan dan perumusan kebijakan, sehingga tercipta keseimbangan perempuan diberbagai sektor.; 5). Peningkatan perlindungan terhadap perempuan dan anak guna mencegah terjadinya diskriminasi, eksploitasi, kekerasan dan bahkan tindak perdagangan perempuan dan anak (trafikking) yang dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip keterpaduan dan keseimbangan. Dalam rangka implementasi strategi dan kebijakan pengarusutamaan gender, diperlukan ketersediaan data dan informasi gender sebagai dasar analisis dan bahan perumusan program/kegiatan prioritas yang berperspektif gender. Oleh karenanya ketersediaan data dan informasi gender ini menjadi suatu keharusan dalam perumusan program/kegiatan prioritas yang memperhatikan kebutuhan, pengalaman, dan aspirasi yang berbeda antara laki-laki dan perempuan, sehingga dapat mengoptimalkan akses, partisipasi, control dan manfaat penduduk laki-laki dan perempuan dalam setiap tahapan pembangunan di semua bidang. 1.2. Tujuan Tujuan dari penyusunan statistik gender sebagai berikut : • Meningkatkan ketersediaan data dan informasi statistik gender di Sulawesi Selatan, sebagai bahan analisis gender dalam rangka perumusan program/kegiatan yang berperspektif gender.

3

dan evaluasi kebijakan dan program daerah. Proses pengolahan data dilaksanakan secara institusional yaitu dengan mengumpulkan data primer dan sekunder meliputi data kondisi fisik dari studi kepustakaan (berbagai laporan) dan literatur seperti berbagai kebijakan yang dilaksanakan oleh SKPD lingkup Pemeintah Provinsi Sulawesi Selatan. SAKERNAS. pemantauan. Untuk mendukung data tersebut juga digunakan data hasil penelitian yang dilakukan PSW/PSG/Lemlit di masing-masing wilayah. Skema pengolahan data digambarkan dibawah sebagai berikut : 4 . pelaksanaan. SENSUS PENDUDUK dan SDKI. baik data kuantitatif maupun kualitatif dan selanjutnya melalui brain storming. Sumber dan Proses Pengolahan Data Untuk penyusunan statistik gender digunakan data sekunder yang utamanya berasal dari hasil registrasi dan pencatatan pada setiap SKPDSKPD yang terkait dan data dasar hasil survei-survei yang dilakukan BPS seperti SUSENAS. 1.3.• Meningkatkan pemahaman dan komitmen akan pentingnya data dan indikator gender bagi penyusunan perencanaan.

Untuk memperkuat pemerintah RI telah meratifikasi beberapa konvensi International dan menandatangai beberapa kesepakatan International.PROSES PENGOLAHAN DATA U M P A N B A L I K Inventarisasi Data Observasi/wawancara Laporan Dokumen Pengolahan Data/Analisa Indikator Program Pencapaian/Penilaian Tujuan/Sasaran Pengembangan/Rekomendasi Dampak 1. Landasan Hukum Komitmen Pemerintah Indonesia terhadap upaya mewujudkan kesetaraan dan keadilan Gender dilandaskan atas pasal 27 Undang-undang Dasar 1945 yang menerapkan asas persamaan antara laki-laki dan perempuan di muka hukum. seperti Konvensi Penghapusan segala Betuk Diskriminasi terhadap Perempuan (Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women) CEDAW yang diratifikasi ke dalam Undang-undang No.4. 7 Tahun 1984. serta landasan Aksi dan deklarasi 5 .

Perda No. Bab X. Bab IX. Demografi. Sektor Publik . Bab III. Bab V. Gambaran Umum Kondisi Wilayah .Beijing tahun 1995.Pendahuluan .5. 10 tahun 2008 tentang RPJMD. Bab I. Pendidikan. Penutup. 6 . Berdasarkan Human Development Index tahun 1997 dan Undang-Undang No. Kesehatan . 1. 10 tahun 2008 tentang RPJPD. Ruang Lingkup Ruang lingkup statistik gender mencakup seluruh aspek pembangunan di bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. disusun dengan sistimatika meliputi. Kekerasan Terhadap Perempuan. Provinsi Sulawesi Selatan. Kegiatan Ekonomi . Bab IV. Perda No. Bab VII. Bab VIII. Masalah Anak . 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Bab VI. Bab II.

GAMBARAN UMUM KONDISI WILAYAH 2. yang berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Barat di sebelah utara dan Teluk Bone serta Provinsi Sulawesi Tenggara di sebelah timur. dengan jumlah sungai terbesar ada di bagian utara wilayah provinsi ini.1. Wilayah daratan terluas berada pada 100 hingga 400 meter DPL. yang tiga di antaranya yaitu Danau Matana. dan sebahagian merupakan dataran yang berada pada 400 hingga 1000 meter DPL. Topografi Wilayah Sulawesi Selatan membentang mulai dari dataran rendah hingga dataran tinggi. Terdapat sekitar 65 sungai yang mengalir di provinsi ini. serta berbatasan dengan Selat Makassar di sebelah barat dan Laut Flores di sebelah timur. 3 sampai 8 persen merupakan tanah relatif bergelombang.1.BAB II.519. 2. dimana sebagian besar wilayah daratnya berada pada jazirah barat daya Pulau Sulawesi serta sebagian lainnya berada pada jazirah tenggara Pulau Sulawesi. Danau Towuti dan Danau Mahalona di 7 . 8 sampai 45 persen merupakan tanah yang kemiringannya agar curam. lebih dari 45 persen tanahnya curam dan bergunung. Kondisi Kemiringan tanah 0 sampai 3 persen merupakan tanah yang relatif datar.24 km2.1. Lima danau besar menjadi rona spesifik wilayah ini. Luas wilayah Provinsi Sulawesi Selatan khususnya wilayah daratan mempunyai luas kurang lebih 45. Geografis Secara geografis wilayah darat Provinsi Sulawesi Selatan dilalui oleh garis khatulistiwa yang terletak antara 0012’~80 Lintang Selatan dan 1160 48’~122’ 36’ Bujur Timur.

di sekitar Sungai Mamasa.Kabupaten Luwu Timur. 8 . serta dua danau lainnya yaitu Danau Tempe dan Danau Sidenreng yang berada di Kabupaten Wajo. 2. di sekitar Sinjai serta di Rantepao (Tana Toraja) dan Camba (Maros). dijumpai di dataran sepanjang lembah sungai antara Sungai Saddang dan Danau Tempe. Pegunungan Perombengan sampai Palopo. dari Makale sampai utara Enrekang. Sebaran formasi volkan tersier ini relatif luas mulai dari Cenrana sampai perbatasan Mamuju. Geologi Struktur geologi batuan di Provinsi Sulawesi Selatan memiliki karakteristik geologi yang dicirikan oleh adanya berbagai jenis satuan batuan yang bervariasi. di dataran Palopo – Malili. daerah Pegunungan Salapati (Quarles) sampai Pegunungan Molegraf. Alluvium kwarter. Sungai Cenrana di dataran antara Takalar – Sumpang Binangae (Barru). di selatan Palopo sampai Umpu. Struktur dan formasi geologi wilayah Provinsi Sulawesi Selatan terdiri dari volkan tersier. Batuan volkan kwarter. di deretan pegunungan sebelah barat dan timur Ujung Lamuru sampai Bukit Matinggi. dan di Tanjung Bira (Bulukumba).2. di selatan Parepare. utara Parepare. Sinjai sampai Tanjung Pattiro.1. di Pegunungan Bone Utara sebelah barat Watampone. Kapur kerang terdapat di sebelah barat memanjang antara Enrekang sampai Rantepao. Formasi batuan ini ditemukan di sekitar Limbong (Luwu Utara). sekitar Gunung Karua (Tana Toraja) dan di Gunung Lompobatang (Gowa). bagian barat Pulau Selayar.

Batuan sedimen mesozoikum. Batuan plutonik masam. penyebarannya di sekitar Lodong. Enrekang. Kambung dan di sebelah barat Masamba) batuan terdiri dari serpih. yaitu di bagian timur Pangkajene sampai di timur Maros. DAS Jeneberang meliputi wilayah 8 (delapan) 9 . formasi ini ditemukan di beberapa tempat seperti di bagian barat Sabbang (Luwu Utara). Batuan plutonik basa. batu pasir. Kabupaten Tana Toraja. ungu. sedangkan granodiorit dijumpai di barat laut Sasak. 2. batu tulis. Di wilayah Luwu terdapat 25 aliran sungai. sebelah timur Masamba memanjang dari utara Enrekang sampai Pompanua.Sekis hablur. Hidrologi Pada wilayah Provinsi Sulawesi Selatan.3. biru. dan Pinrang dialiri oleh sungai terpanjang yakni sungai Saddang (150 km). konglomerat yang umumnya berwarna merah. ditemukan di sekitar Sungai Mamasa. Di antara Masamba dan Leboni. Batuan sedimen neogen. di sebelah tenggara Barru dan di Bukit Tanjung Kerambu di Kabupaten Pangkep. dan hijau. Pegunungan Latimojong. Formasi ini ditemukan di daerah Tana Toraja (Pegunungan. Batuan sediment paleogen. Tersebar di bagian utara Provinsi Sulawesi Selatan. dari Sengkang ke tenggara sampai Rarek dan ke selatan sampai Sinjai. memanjang di bagian timur lembah Walane dan di tenggara Sungai Sumpatu. di Gunung Maliowo dan Gunung Karambon. dijumpai di bagian timur Malili dan tersebar sebagai intrusi antara lain di bagian utara Palopo. napal. terdapat sekitar 65 sungai mengaliri berbagai kabupaten khususnya yang berada di dataran tinggi.1. di Pulau Selayar bagian timur dan di selatan Sinjai sampai Kajang.

mencakup wilayah seluas 825. November sampai Maret angin bertiup sangat banyak mengandung uap air yang berasal dari Benua Asia dan Samudera Pasifik sehingga pada bulan-bulan tersebut sering terjadi musim hujan. sementara di Gowa dan Makassar mengalir sungai Jeneberang.4. yaitu Tipe iklim A termasuk kategori iklim sangat basah dimana curah hujan rata-rata 3500-4000 mm/tahun. Tipe Iklim B. Berdasarkan klasifikasi tipe iklim menurut Oldeman. endapan formasi walanae serta pada lembah-lembah yang ditempati oleh endapan batuan formasi Camba. yaitu musim hujan dan musim kemarau. dimana musim hujan bervariasi dari satu daerah ke daerah yang lain. Pada wilayah bagian tengah wilayah Sulawesi Selatan.1. Wilayah yang termasuk ke dalam tipe ini adalah Kabupaten Enrekang. Klimatologi Provinsi Sulawesi Selatan terdapat dua musim. Air tanah bebas dijumpai pada endapan alluvial dan endapan pantai.kabupaten di bagian selatan Sulawesi Selatan. 2. Provinsi Sulawesi Selatan memiliki 5 jenis iklim. Danau Tempe dan Sidenreng terdapat di Kabupaten Wajo dan sekitarnya. Sungai Walanae mengalir di kawasan Bone dan Wajo. sementara di wilayah Luwu terdapat danau Matana dan Towuti.607 Ha dan kawasan hutan seluas 204. termasuk iklim basah dimana Curah hujan rata-rata 3000 – 3500 mm/tahun. Formasi Walanae merupakan suatu formasi lapisan batuan pembawa air yang bersifat tertekan dengan debit kecil sampai sedang. Luwu. Luwu Utara dan Luwu Timur.427 Ha. Wilayah tipe ini terbagi 2 tipe yaitu (B1) meliputi 10 . termasuk kota Makassar.

Gowa. Makassar. Gowa. Bulukumba. Barru. Enrekang. Barru. Tipe iklim E1 terdapat di Kabupaten Maros. Luwu Timur. dan Maros. Tipe iklim E2 terdapat di Kabupaten Maros. 11 . Jeneponto.Kabupaten Tana Toraja. Tipe iklim ini terbagi 3 yaitu Wilayah yang masuk ke dalam iklim D1 meliputi Kabupaten Wajo. Soppeng. Tipe iklim C terbagi 3 yaitu Iklim tipe C1 meliputi Kabupaten Wajo. Bone. dan Bantaeng. dan Enrekang. Sulawesi Selatan. Parepare. Luwu. terdiri atas sejumlah wilayah kerajaan yang berdiri sendiri dan didiami empat etnis yaitu . Sedangkan tipe iklim C3 terdiri dari Makassar. Takalar. dan Selayar. Wilayah yang termasuk iklim D3 meliputi Kabupaten Bulukumba.2. Pangkep. dan Tana Toraja. Selayar. Tipe B2 meliputi Gowa. Bantaeng. Maros dan Jeneponto. Pangkep. Bulukumba. Enrekang. Enrekang. Sinjai. Tana Toraja. Tana Toraja. Tipe iklim C termasuk iklim agak basah dimana Curah hujan ratarata 2500 – 3000 mm/tahun. Bone. Jeneponto. Luwu. Soppeng. Bone dan Enrekang. Sinjai dan Kota Makassar Tipe iklim E dengan Curah hujan rata-rata antara 1500 – 2000 mm/tahun dimana tipe iklim ini disebut sebagai tipe iklim kering. Luwu Utara. Wilayah yang termasuk ke dalam iklim D2 terdiri dari Kabupaten Wajo. Bugis. Maros. Bantaeng. Luwu. 2. Tipe iklim D dengan Curah hujan rata-rata 2000 – 2500 mm/tahun. Sinjai. Sejarah Sebelum Proklamasi RI. Pangkep. Mandar dan Toraja. Iklim C2 meliputi Kabupaten Bulukumba.

Amiruddin (Dua periode) 12 . Gubernur Sulawesi Selatan 1966 – 1978 Ahmad Lamo (Dua periode) 1978 – 1983 Andi Oddang 1983 – 1993 A. Cina. III. Setelah kemerdekaan. Gubernur Sulawesi 1945 – 1949 DR. India. sehingga menjadi daerah otonom Sulawesi Selatan. Periode Gubernur : I. Ratulangi 1950 – 1951 B. Lapian 1951 – 1953 R. yang pada abad ke XVI dan XVII mencapai kejayaannya dan telah melakukan hubungan dagang serta persahabatan dengan bangsa Eropa.Ada tiga kerajaan besar yang berpengaruh luas yaitu Luwu. Pangerang Pettarani II.1956 Lanto Dg.S. dikeluarkan UU Nomor 21 Tahun 1950 dimana Sulawesi Selatan menjadi propinsi Administratif Sulawesi dan selanjutnya pada tahun 1960 menjadi daerah otonom Sulawesi Selatan dan Tenggara berdasarkan UU Nomor 47 Tahun 1960. Rivai. Sudiro 1953 – A. Gowa dan Bone. S. Burhanuddin 1953 . Melayu dan Arab. Pemisahan Sulawesi Selatan dari daerah otonom Sulawesi Selatan dan Tenggara ditetapkan dengan UU Nomor 13 Tahun 1964. G. Gubernur Sulawesi Selatan dan Tenggara : 1959 – 1960 A. A. Pangerang Pettarani 1960 – 1966 A. W.J. Pasewang 1956 – 1959 A.

Palaguna (Dua periode) 2003 .2008 H. Komunitas petani adalah komunitas yang terbesar di seluruh wilayah Sulawesi Selatan.2003 H.Syahrul Yasin Limpo sekarang 2. Di balik keragaman tersebut.1993 . Disamping itu berapa komunitas yang berbasis pada aktivitas ekonomi sekunder. Amin Syam 2008 . Rumpun Makassar dominan berada pada Kabupaten di wilayah Selatan Sulawesi Selatan. terdapat pula keragaman sistem nilai dan norma serta adat-istiadat yang spesifik. M. terkandung pula potensi berkembangnya interaksi sosial dan komunikasi lintas budaya. Selain itu. dan Toraja. Rumpun Toraja tersebar di Kabupaten Tana Toraja dan Luwu. petani. Makassar. Sosial Ekonomi dan Budaya Kekayaan dan keragaman budaya dalam tatanan Sulawesi Selatan sangat bervariasi sebagai satu rumpun budaya yang terdiri dari Bugis. dan pengrajin. antara lain pengrajin besi di Massepe Sidrap dan pengrajin perahu di Bira Bulukumba 13 . Komunitas pedesaan terdiri dari nelayan.Ahmad Tanribali Lamo Pejabat Gubernur Sementara 2008 .3. yang dapat mendorong dinamika perubahan secara lebih kreatif dalam menanggapi spirit zaman. Gambaran ini menunjukkan keragaman budaya yang tersebar pada wilayah yang beragam pula. Variasivariasi ini terkait pula dengan potensi kearifan lokal yang bisa berkembang dalam tatanan sosial budaya. Komunitas ini merupakan suatu komunitas berskala kecil namun tetap memiliki kearifan lokal. B. Rumpun Bugis tersebar di wilayah utara Sulawesi Selatan. petambak. Z.

Pada era globalisasi.yang berkaitan dengan sumberdaya alam yang ada disekitarnya. demikian pula dengan komunitas nelayan yang telah menyatu dengan pantai dan laut. Disamping itu juga terdapat komunitas tradisional yang mampu bertahan di antaranya adalah komunitas Ammatoa di Kajang Bulukumba. Komunitas ini masih tetap eksis walaupun secara sosial dikelilingi oleh berbagai informasi dan iptek namun karakteristik tetap dipertahankan. komunitas ini benar-benar merupakan suatu komunitas yang memiliki karakteristik tersendiri. Disamping itu juga umumnya masih mengalami masalah persyaratan dalam mengakses permodalan pada kelembagaan keuangan seperti Bank Rakyat yang ditawarkan pemerintah melalui berbagai program perkreditan. Komunitas petani misalnya. sehingga mereka dapat memprediksi lebih awal kondisi dan permasalahan yang akan terjadi baik di pantai maupun di laut. Pua Cerekang di Luwu. 14 . Karangpuang di Sinjai. Tolotang di Sidrap. Senyatanya. Aluk Todolo di Toraja. eksistensi keberadaan beberapa komunitas yang terkait dengan sektor pertanian masih ada yang mengalami ketertinggalan akibat dari ketidakmampuan bersaing dengan berbagai produk lainnya yang beredar dipasaran. memahami kapan waktu yang tepat untuk mulai menanam serta bagaimana menangani hama.

BAB III. Propinsi Sulawesi Selatan sendiri tidak terlepas dari hal tersebut. dapat pula menimbulkan pengangguran. DEMOGRAFI 3. Perwujudan hal tersebut. Namun bila tidak dimanfaatkan seefektif dan seefisien mungkin. penduduk berfungsi sebagai penyedia tenaga kerja. Jumlah Penduduk dan Rasio Jenis Kelamin Penduduk merupakan salah satu sumber daya potensial dalam menunjang aktifitas pembangunan bangsa dan negara. penduduk termasuk kategori aset atau modal pembangungan yang sifatnya dinamis. Penduduk Sulawesi Selatan berdasarkan DAU Tahun 2009 berjumlah 15 . Kedudukannya sebagai Sumber Daya Manusia memegang peranan penting karena berfungsi menggerakkan faktor-faktor produksi dan jasa lainnya. Dalam berbagai kegiatan pembangunan atau produksi. Justru itu.1. tentunya hanya bisa dicapai melalui peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia serta mengarahkannya secara profesionalisme. Keberadaan penduduk sebagai obyek dan subyek pembangunan diharapkan mampu mengembangkan kreatifitasnya dengan segala kemampuan yang dimiliki untuk pencapaian tujuan pembangunan yaitu untuk meningkatkan harkat dan martabatnya agar dapat menikmati hasilhasil pembangunan secara adil dan merata. Kontribusinya terhadap suatu daerah sangat ditentukan oleh tingkat partisipasi kerja. dimana penduduknya yang teridi dari laki-laki dan perempuan mempunyai peluang yang sama dalam pasar tenaga kerja untuk menempatkan dirinya sebagai tenaga kerja. penduduk cenderung menjadi tidak produktif dan bahkan semakin menambah beban bagi negara atau daerah tertentu. Populasi penduduk kadang kala menjadi dilematis karena di samping tersedianya banyak tenaga kerja.

Luwu Timur 119. Pinrang 172 607 16. Luwu 165.836.236 312.071.477 155. Takalar 121.71.10 01.271.138 10. . yang berarti penduduk Laki-laki di dua daerah tersebut lebih besar dari jumlah penduduk perempuan.060 654.519 jiwa yang tersebar di 24 kabupaten/kota.35 92. Selayar 58.184 17. 057 03. Pangkep 143.094 385.146 15. Jeneponto 161. Bone 326. 2008.810 74.563 85. hal ini tercermin dari angka rasio jenis kelamin yang lebih kecil dari 100.640 202.263 14.676 172.090 206. Sidrap 124. Bulukumba 188.763. Barru 77.99 92.032 73.294 26. Enrekang 96.7. Hanya di daerah Kabupaten Luwu dan Luwu Utara yang menunjukkan angka rasio jenis kelamin lebih besar dari 100.109 25. Tabel.500 04. jumlah penduduk yang berjenis kelamin perempuan lebih banyak dari penduduk yang berjenis kelamin Laki-laki.31 92.971 2008 3. Wajo 178.548 4.392 162.1. Pare Pare 57.36 97.085 Sumber : BPS Provinsi Selatan (DAU 2009) 16 .198 122. Sinjai 110.895 18..27 95. Palopo 71. Gowa 305.78 93.72 89.041.659 02.22 101. Maros 147.718 Jumlah .803 128.Total 2009 3. Toraja Utara .15 87.44 92..285 233.92 94.123 61. Bantaeng 83.308 155.3. Luwu Utara 166.24 93.939 92.689 90.210 09.17 106.57 101.225 08.05 94.09 93.104 13.079 159.501 136.031 22.870 jiwa mendiami Kota Makassar.747 72..891 11.2009 Kabupaten/Kota (1) (2) Laki-Laki Male Perempuan Rasio Jenis Kelamin Female Sex Ratio (3) (5) 63. Soppeng 108. dengan jumlah penduduk terbesar yakni 1.73 101.908.337 178. Tana Toraja 236.738 06.110 118.Jumlah Penduduk dan Rasio Jenis Kelamin menurut Kabupaten/Kota di Sulawesi Selatan.764 4.77 88. Makassar 617.674 05.550 12.73 96.90 96.01 91.870 118.98 90..90 102. Secara keseluruhan.202 07.53 84.435 94.

57 persen. Jumlah Penduduk menurut Kelompok Umur dan Jenis Menyangkut aspek kependudukan.836. Oleh sebab itu.971 jiwa dan perempuan 4. maka kita dapat memahaminya dari beberapa segi dan tergantung pada kualifikasi kebutuhan data.626 jiwa (periode 2007 – 2009) ditandai dengan meningkatnya penduduk jenis kelamin lakilaki sebanyak 119. baik untuk jenis kelamin laki-laki maupun perempuan.699 jiwa atau 51.893 jiwa yang terdiri dari laki-laki 3.194 jiwa atau 48. Pertambahan penduduk sekitar 232. Kualitas dan kuantitas penduduk tidak semata-mata dinilai dari jumlahnya. maka pada tahun 2009 jumlah penduduk mencapai 7.777 jiwa dan perempuan sebesar 112849 jiwa persen.071. maka gejala kependudukan tersebut akan menunjukkan relatif tingginya penyediaan tenaga kerja untuk jenis kelamin perempuan sehingga peluangnya untuk memasuki lapangan kerja yang tersedia terbuka luas. Pembagian klasifikasi umur tentunya disesuaikan dengan konsep-konsep ketenagakerjaan karena 17 . diperlukan langkah-langkah antisipatif dengan jalam membuka lapangan kerja secara luas dan merata ke berbagai daerah Kabupaten. Pertumbuhan penduduk di masa yang akan datang diperkirakan terus berlangsung dan membawa dampak terhadap semakin menumpuknya domisili penduduk di daerah perkotaan serta bertambahnya tingkat pengangguran.519 jiwa dengan rincian : lakilaki 3.Penduduk Propinsi Sulawesi Selatan selama periode tahun 2007 – 2008 cenderung mengalami peningkatan.958. 3.675. Apabila ditinjau dari aspek ketenagakerjaan.908.43 persen dan perempuan sebesar 3. tetapi dapat pula ditinjau berdasarkan komposisi umur.2. Jika di tahun 2007 jumlah penduduk sebanyak 7.717.548 jiwa.

Tinjauan tenaga kerja berdasarkan kelompok umur.041.05 88. Sehubungan penjelasan tersebut di atas. maka kondisi penduduk Propinsi Sulawesi Selatan ditunjukkan sebagai berikut : Tabel 3.52 77.19 20 .40 90.44 45 .2 .34 35 .26 94.085 4.58 109.sangat erat kaitannya terhadap penyajian data terpilah.64 65 + Laki-Laki Male 375 198 447 014 431 498 351 712 291 052 301 980 275 764 296 539 237 824 210 957 168 401 135 327 106 189 207 515 Perempuan Jumlah Rasio Female Sex Ratio Jenis Kelamin (3) (5) (6) 352 040 407 851 409 938 362 508 309 477 343 087 311 959 327 183 266 303 228 271 195 258 144 647 144 438 268 589 727 238 854 865 841 437 714 220 600 529 645 067 587 723 623 722 504 127 439 227 363 660 279 973 250 627 476 104 7.59 60 .60 105.939 Sumber : BPS Provinsi Selatan (DAU 2009) 18 .42 86. dibedakan atas 2 (dua) yaitu umur produktif dan umur tidak produktif..29 30 .31 92.805.763.54 55 .02 94.971 4.071.39 40 .24 25 .836.14 15 ..26 97.02 88. sedangkan umur tidak produktif terdiri dari kelompok usia 0-14 tahun dan di atas 65 tahun.Penduduk menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Sulawesi Selatan. 2008.10 (2) Jml .49 50 .908.63 89..024 106.519 7.25 93. Termasuk kategori umur produktif adalah tenaga kerja yang berusia 25 sampai 64 tahun.56 73.24 93.548 2008 3.2009 Kelompok Umur (1) 0–4 5-9 10 .Total 2009 3.

22 persen.857. dan penduduk usia lanjut lanjut yaitu bersuai 60 tahun ke atas sebesar 210.98 persen.101 jiwa atau 32.Dalam hal ini penduduk diklasifikasikan menurut kelompok umur dan jenis kelamin degan tujuan agar lebih memahami spesifikasi kependudukan sesuai kepentingannya.46 persen lebih kecil dari perempuan yang besarnya 8. laki-laki 5. Pengelompokan umur penduduk pada jenis kelamin laki-laki dan perempuan digolongkan dalam 3 (tiga) tingkatan. Begitu pula halnya dengan penduduk perempuan yang jumlahnya 4.645 jiwa atau 5.934 jiwa atau 8.664 jiwa terdiri dari : penduduk usia muda di bawah 15 tahun jumlahnya 1. laki-laki 61.084 jiwa secara rinci terdiri atas : penduduk usia muda di bawah 15 tahun sebesar 1.87 persen.677 jiwa atau 62.98 persen.22 persen.256.672.378.67 persen.68.918 jiwa atau 61. Untuk kategori usia produktif. Pada tahun 2008. Sementara pada kelompok usia lanjut.80 persen dan usia lanjut yaitu 60 tahun ke atas sebanyak 381.201.473 jiwa atau 28. penduduk produktif 15-59 tahun 2.87 persen lebih besar dari perempuan yaitu 28.46 persen. Kenyataan ini menggambarkan pada periode selanjutnya peluang laki-laki untuk memasuki lapangan kerja 19 . dimana penduduk laki-laki usia muda sebanyak 38.80 persen. penduduk produktif (15-59 tahun) sebanyak 2. penduduk jenis kelamin laki-laki yang jumlahnya 3. Lebihlanjut dijelaskan perbandingan kedua jenis kelamin berdasarkan kelompok umur. Apabila kita melihat grafik.67 persen lebih kecil dari perempuan yang jumlahnya 62. nampak sangat jelas bahwa pada keloompok usia 0 -14 tahun jumlah penduduk laki-laki lebih besar dibandingkan perempuan.

Namun apa yang dijabarkan disini masih sebatas konteks estimasi. dimana jumlah penduduk perempuan lebih tinggi dibandingkan lakilaki sehingga lebih memiliki potensi mengisi lapangan kerja.67 persen.lebih potensial ketimbang perempuan. 20 .80 persen sedang lakilaki hanya 61. Berbeda halnya dengan kondisi kelompok usia 15 – 59 tahun dan usia 60 tahun ke atas. sedangkan riilnya tergantung bagaimana kedua jenis kelamin bisa memanfaatkan peluang kerja yang tersedia.13 persen karena perempuan mencapai 62. Selisih jumlah perempuan dengan laki-laki pada komposisi usia produktif sekitar 1.

menjelang tahun 2015. Untuk itu. terarah dan berkesinambungan.BAB IV. sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin mutu. dengan fokus pada kapasitas 21 . terutama bagi kaum perempuan. dan akses yang adil pada pendidikan dasar dan pendidikan berkelanjutan bagi semua orang dewasa. mempunyai akses dan menyelesaikan Pendidikan Dasar yang bebas dan wajib dengan kualitas yang baik. yang menargetkan bahwa . anak-anak yang dalam keadaan sulit dan mereka yang termasuk etnik minoritas. salah satu kebijakan dalam bidang pendidikan saat ini adalah Pendidikan Untuk Semua (PUS) atau yang lebih dikenal dengan EFA (Education For All). PENDIDIKAN Pendidikan. (1) menjelang tahun 2015. nasional dan global sehingga perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana. Disamping itu. sesuai kesepakatan internasional yang lebih dikenal dengan Deklarasi DAKAR. (3) penghapusan kesenjangan gender pada pendidikan dasar dan menengah pada tahun 2005 dan mencapai kesetaraan gender dalam pendidikan pada tahun 2015. relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal. semua anak khususnya anak perempuan. sebagaimana diamanatkan UUD 1945 merupakan tugas pemerintah untuk mengusahakan dan menyelenggarakan sistim pendidikan nasional guna meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang. pemerataan. (2) mencapai perbaikan 50% pada tingkat keniraksaraan orang dewasa.

813 3.199 111.050 2.645 8.650 2.910 1.074 1.948 Jumlah 1.780 2.431 33.420 1. Buta Aksara (Keaksaraan Fungsional/KF) 2009 Tabel 4.765 393 1.635 2.424 300 460 61.850 1.085 687 1.700 1.389 2.740 3.195 323.967 39. maka kita dapat memahami pentingnya pendidikan yang responsif gender.877 697 747 1081 750 907 191 293 38.370 2.950 1.395 2.359 246 513 1.416 Jumlah 2.735 675 1.876 2.250 6.170 5. 2010 22 .415 1.1.955 997 1.049 2. Kabupaten/ Kota Keaksaran Fungsional (KF) Tahun 2008 LK PR 1.233 1 Selayar 2 Bulukumba 3 Bantaeng 4 Jeneponto 5 Takalar 6 Gowa 7 Sinjai 8 Maros 9 Pangkep 10 Barru 11 Bone 12 Soppeng 13 Wajo 14 Sidrap 15 Pinrang 16 Enrekang 17 Luwu 18 Tana Toraja 19 Luwu Utara 20 Luwu Timur 21 Makassar 22 Pare-pare 23 Palopo Jumlah (Prov.250 34.175 1.100 1.850 5.080 1.720 9.329 1.225 1.080 2.419 3.549 4.560 42.156 1. 4.981 3.sepenuhnya bagi anak perempuan terhadap akses dalam memperoleh pendidikan dasar yang bermutu.487 1. Sul-Sel) Sumber : Dinas Pendidikan Provinsi Sulawsi Selatan.860 4.239 846 3.479 5.580 6.050 14.285 PR 668 1.880 6.181 14.305 684 2.376 429 896 3.423 648 189 1.093 1.156 26.950 3.576 9.668 356.846 Tahun 2009 LK 382 989 3.230 1.650 3.073 403 428 619 425 517 109 167 22.430 1.835 23. Menyimak kesepakatan Dakar tersebut. oleh karena salah satu indikator pembangunan manusia atau yang lebih dikenal dengan HDI/IPM adalah pendidikan.407 12.037 2.775 1.175 1.031 2.231 819 2.039 1.226 5.1 Jumlah Buta Aksara di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008 - No.743 2.290 2.350 1.139 1.538 40.474 5.821 2.196 4.810 109.737 41.731 5.370 2.429 13.740 14.132 1.150 3.431 4.311 601 1.022 441 473 33.409 4.325 9.197 819 571 823 321 2.

407 orang atau 98%.424 orang.285 orang atau 36% dan perempuan sebanyak 38. Dari 23 kabupaten yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan nampaknya Kota Makassar yang terbanyak dengan jumlah penduduk yang buta aksara sebanyak 111.1.948 orang atau 64%. Sementara untuk tahun 2009 Kota Makassar berhasil mengurangi.846 orang. laki-laki sebanyak 22.233 orang.Prov. jumlah buta huruf (aksara) di Provinsi Sulawesi Selatan untuk tahun 2008 sebanyak 356. sehingga jumlah penduduk buta aksara tinggal 1.429 orang pada tahun 2008 diantaranya laki-laki 2.430 orang atau 91%. Sementara untuk tahun 2009 mengalami penurunan sehingga yang buta aksara tersisa 61. Sul-Sel 9% 36% 64% 91% % LK % PR % LK % PR Berdasarkan data Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan seperti terlihat pada Tabel 4. Sul-Sel Prov.430 orang atau 9% dan perempuan sebanyak 323.022 orang atau 2% dan perempuan 109. diantaranya laki-laki sebanyak 33. 23 . diantaranya laki-laki 517 orang atau 36% dan perempuan sebanyak 907 orang atau 64%.

terutama perempuan.650 orang. Partisipasi Sekolah Umumnya.Sementara dari 23 kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan yang paling sedikit jumlah penduduk buta aksara pada tahun 2008 adalah Kabupaten Pangkep yaitu 1. sehingga apa yang diharapkan sesuai kesepakatan Dakar yaitu mencapai perbaikan 50% pada tingkat keniraksaraan orang dewasa. Hal ini juga berlaku bagi kabupaten lain yang sama kondisinya dengan Kabupaten Pangkep.2. menjelang tahun 2015. diantaranya laki-laki sebanyak 109 orang atau 36% dan perempuan sebanyak 191 orang atau 64%.049 orang atau 64%. yang ditampilkan pada tabel berikut: 24 . Perbedaan diantara keduanya adalah penggunaan kelompok usia "standar" di setiap jenjang pendidikan. yaitu Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM). diantaranya laki-laki sebanyak 601 orang atau 36% dan perempuan sebanyak 1. Keduanya mengukur penyerapan penduduk usia sekolah oleh sektor pendidikan. Usia standar yang dimaksud adalah rentang usia yang dianjurkan pemerintah dan umum dipakai untuk setiap jenjang pendidikan. 4. Sementara itu informasi data di Kabupaten Luwu Utara belum ada di tahun 2009. terdapat dua ukuran partisipasi sekolah yang utama. Untuk tahun 2009 kabupaten yang paling sedikit buta aksaranya adalah Kota ParePare yaitu 300 orang. Informasi tersebut diatas menunjukkan bahwa Kabupaten Pangkep perlu memperhatikan bagaimana kebijakan di bidang pendidikan agar jumlah penduduk yang buta aksara tidak bertambah tetapi seharusnya berkurang.

Keaktifan masyarakat sangat menentukan tingkat partisipasi sekolah sehingga kesadaran. suasana belajar akan lebih hidup dan minat mencari ilmu pengetahuan bagi siswa akan tinggi. motivasi dan semangat masyarakat memanfaatkan fasilitas untuk bersekolah sangat penting.18 tahun 19 tahun keatas partisipasi sekolah sangat erat kaitannya dengan ketersediaan fasilitas pendidikan dan tenaga pengajar serta kesadaran masyarakat untuk aktif dalam bidang pendidikan.Tabel 1: Usia standar di setiap jenjang pendidikan Jenjang SD SMP SMA Perguruan tinggi Angka Kelompok usia 7 . Ketersediaan sarana dan prasarana sekolah akan mempermudah para siswa untuk mengakses pendidikan.12 tahun 13 . Pemerataan pendidikan bagi masyarakat sebagai wujud pemerataan pendidikan nasional memerlukan dukungan yang besar bagi semua kalangan baik dari pemerintah pusat terlebih lagi dari masyarakat. maka hal penting yang perlu dikaji sebelumnya adalah ketersediaan fasilitas dan tenaga pengajar sekolah sebagai bagian dari faktor yang menentukan keberhasilan dalam proses belajar mengajar. wujud dari partisipasi ini adalah tersedianya fasilitas pendidikan berupa sarana dan prasarana sekolah. sarana dan prasarana yang memadai akan menciptakan lingkungan pendidikan yang berkualitas. Untuk dapat melihat keadaan partisipasi sekolah. 25 .15 tahun 16 .

SLTA 104 unit.539 Sumber: Dinas Pendidikan Sulawesi Selatan Tahun 2010 Tabel 4.090 445 522 390 699 465 426 521 344 458 524 329 626 1.504 SLTP 34 62 21 54 38 81 39 103 51 55 31 42 55 46 49 37 64 46 34 112 179 24 22 1.Tabel 4.2 Jumlah Sarana dan Prasarana Sekolah Menurut Kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan Kabupaten/ Kota Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sinjai Maros Pangkep Barru Bone Soppeng Wajo Sidrap Pinrang Enrekang Luwu Tana Toraja Luwu Utara Luwu Timur Makassar Pare-pare Palopo Jumlah (Prov.391 SD 159 351 138 253 233 381 248 672 253 340 231 433 259 252 336 212 227 351 150 376 479 100 70 6. sarana sekolah terbanyak di Kota Makassar yang merupakan ibukota provinsi dengan jumlah 1. SulSel) Sekolah TK 15 63 16 86 19 60 41 130 38 53 52 134 61 64 33 23 54 42 83 51 202 43 28 1. MI 56 unit.539 unit. RA 22 unit.202 227 167 11.202 buah diantaranya sarana sekolah TK sebanyak 202 unit jenjang pendidikan tingkat SD sebanyak 479 unit. Sedangkan kabupaten yang memiliki jumlah sarana sekolah paling sedikit adalah Kota Palopo dengan jumlah 167 unit diantaranya sarana sekolah TK sebanyak 28 unit 26 . MTs 40 unit.2 diatas menunjukkan ketersediaan sarana sekolah di Sulawesi Selatan sebanyak 11. SLB 11 unit. jenjang pendidikan SLTP sebanyak 179 unit.279 SD LB 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 18 Total SLB 2 1 1 3 1 2 1 2 1 1 0 3 11 3 32 RA 20 29 2 5 1 22 11 11 8 7 10 14 13 9 34 6 3 3 6 22 12 248 MI 13 36 12 15 9 76 26 77 23 11 27 21 33 11 23 20 44 22 15 10 56 8 2 590 MTs 10 42 24 35 18 60 27 54 30 21 16 26 19 17 19 20 34 37 23 5 40 10 3 590 SLTA 7 14 4 12 11 18 8 22 20 14 9 12 9 12 13 10 15 10 15 24 104 7 14 384 MA 1 13 14 12 9 18 15 13 15 12 10 6 8 8 5 10 13 11 7 2 22 8 1 233 SMK 4 7 5 8 7 13 4 5 6 7 3 8 6 6 8 5 4 2 2 36 87 11 26 270 264 620 237 482 347 733 421 1. MA 22 unit dan jenjang pendidikan SMK sebanyak 87 unit.

MTs 3 unit. SLTA 14.3. MA I unit dan jenjang pendidikan SMK sebanyak 26 unit. jenjang pendidikan SLTP sebanyak 22 unit.jenjang pendidikan SD sebanyak 70 buah. Untuk lebih jelasnya mengenai perbandingan jumlah sarana sekolah berdasarkan jenjang pendidikan pada setiap kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan dapat dilihat pada Diagram 4. 27 . MI 2 unit.

Diagram 4. Diagram 4.227 orang.399 orang diantaranya guru pada jenjang pendidikan TK sebanyak 7. yang terdiri dari laki-laki hanya 1 orang dan perempuan 7. Peningkatan mutu pendidikan bagi murid sekolah selain dengan tersedianya sarana dan prasarana pendidikan juga harus ditunjang oleh tenaga pengajar yang profesional agar program pendidikan berjalan dengan baik. kemudian TK sebanyak 12 %. jenjang pendidikan SLTP sebanyak 11 % dan SLTA sebanyak 3 %.3.3 diatas yang bersumber dari Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan 2010 menunjukkan bahwa jumlah guru di Provinsi Sulawesi Selatan sebanyak 21.3 menujukkan ketersediaan sarana sekolah di Provinsi Sulawesi Selatan yang terlihat bahwa persentase ketersediaan sarana sekolah terbanyak berturut-turut yaitu pada jenjang pendidikan SD sebanyak 57%.226 orang. Adanya perbedaan yang mencolok antara jumlah guru laki-laki dan perempuan pada jenjang 28 . Persentase Ketersediaan Sarana Sekolah Menurut Pendidikan di Provinsi Sulawesi Selatan Berdasarkan Tabel 4.

4.4 tersebut.4. nampak bahwa persentase guru perempuan yang mengajar mulai dari jenjang pendidikan TK sampai SLTP jauh lebih banyak yaitu mencapai 63 % dibanding laki-laki yaitu dengan persentase 37 %. Selanjutnya pada jenjang pendidikan SD/MI sebanyak 54. dan ini tidak lepas pula dari asumsi dasar masyarakat tentang peran gender.397 orang.549 orang. Untuk jenjang pendidikan SLTA/MA tidak diperoleh data tentang jumlah guru yang ada.629 orang dan perempuan 8. berikut: Diagram 4.850 yaitu laki-laki 54. dan pada jenjang pendidikan SLTP/MTs sebanyak 12.629 orang yang terdiri dari laki-laki 22. Jumlah Guru Menurut Jenis Kelamin pada Jenjang Pendidikan TK SLTP di Provinsi Sulawesi Selatan Pada Diagram 4.pendidikan TK ini kemungkinan dipengaruhi oleh minat dari laki-laki untuk menjadi guru TK yang rendah dibanding perempuan. Hal ini dapat mengindikasikan bahwa peran perempuan 29 .232 orang dan perempuan 32. Untuk melihat perbandingan jumlah guru menurut jenis kelamin dapat dilihat pada Diagram 4.

dalam memajukan pendidikan di Provinsi Sulawesi Selatan sudah cukup baik. 4. dan Angka Partisipasi Kasar (APK) berdasarkan kelompok umur. Angka Partisipasi Sekolah Angka partisipasi sekolah merupakan ukuran daya serap sistem pendidikan terhadap penduduk usia sekolah. naiknya persentase jumlah murid tidak dapat diartikan sebagai semakin meningkatnya partisipasi sekolah. Tidak ada perbedaan pencapaian yang nyata antara laki-laki dan perempuan disemua jenjang pendidikan. Selanjutnya untuk itu dapat melihat keadaan partisipasi sekolah di Provinsi Sulawesi Selatan yang terdiri dari Angka Partisipasi Sekolah (APS).2. Data nasional tahun 2006 sampai tahun 2008 menunjukkan bahwa APS berkecenderungan meningkat pada semua kelompok umur baik anak laki-laki maupun anak perempuan. Kenaikan tersebut dapat pula dipengaruhi oleh semakin besarnya jumlah penduduk usia sekolah yang tidak diimbangi dengan ditambahnya infrastruktur sekolah serta peningkatan akses masuk sekolah sehingga partisipasi sekolah seharusnya tidak berubah atau malah semakin rendah.1. Sementara apabila kita mencermati perbedaan antar wilayah perdesaan 30 . Sehingga. Angka Partisipasi Murni (APM). bahkan pada kelompok usia 7-12 thn dan 13-15 tahun anak perempuan lebih tinggi dibandingkan anak lakilaki. Ukuran yang banyak digunakan di sektor pendidikan seperti pertumbuhan jumlah murid lebih menunjukkan perubahan jumlah murid yang mampu ditampung di setiap jenjang sekolah. Angka tersebut memperhitungkan adanya perubahan penduduk terutama usia muda.

dan perkotaan. Berdasarkan data Susenas 2008 menunjukkan bahwa APS Sulsel untuk usia 16-18 tahun masih dibawah 50% (tabel 4. Artinya didalam rangka meningkatkan angka pencapaian APS nasional.dan Jenis Kelamin. hal ini terjadi disemua jenjang pendidikan.4. wilayah perdesaan perlu mendapatkan perhatian yang lebih baik. Susenas 2008 31 . wilayah perkotaan cenderung lebih tinggi pencapaiannya apabila dibanding perdesaan. Tabel 4. Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008 Sumber data : BPS. Angka Partisipasi Sekolah (APS) menurut Usia Sekolah.4).

Hal ini menunjukkan bahwa keberlanjutan pendidikan anak-anak usia 7 – 12 tahun ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi perlu mendapatkan perhatian. Selanjutnya. APS menurut Usia Sekolah. sehingga arah kebijakan pendidikan kedepan hendaknya lebih ditujukan pada peningkatan kualitas. Susenas 2009 32 . Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009 Sumber data : BPS.5. dari tabel diatas dapat pula dilihat bahwa partisipasi usia sekolah di jenjang pendidikan yang semakin tinggi. Tabel 4. Untuk usia 13-15 tahun relative lebih rendah dibandingkan usia 7 -12 tahun. akses lakilaki maupun perempuan sudah cukup tinggi. sehingga ketersediaan sarana prasarana pendidikan di jenjang SLTP diperlukan untuk meningkatkan akses pendidikan lanjutan bagi anak-anak.Data diatas menunjukkan bahwa untuk usia sekolah 7 -12 tahun. cenderung menurun.dan Jenis Kelamin.

dan Jenis Kelamin. APK dapat mencapai lebih dari 100 persen.6. Indikator APM merupakan indikator yang lebih baik dibanding dengan indikator APK. APM menurut Usia Sekolah. sedangkan APM semestinya maksimal 100 persen. sebab APK biasanya digunakan ketika APM-nya masih jauh dari 100 persen.2. Tabel 4.4.2. Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008 Sumber data : BPS. Angka Partisipasi Murni Angka Partisipasi Murni (APM) adalah persentase siswa dengan usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikannya dari jumlah penduduk di usia yang sama. Susenas 2008 33 .

6 dan 4.7 nampak bahwa Angka Partisipasi Murni untuk golongan usia semakin tinggi. Kecenderungan ini terjadi baik di kelompok laki-laki maupun perempuan.dan Jenis Kelamin. Susenas 2009 34 . Untuk tahun 2009. masih sangat rendah. terdapat penurunan APM perempuan di kelompok usia ini. meskipun jika dilihat persentasenya.7.Berdasarkan tabel 4. APM menurut Usia Sekolah. APMnya semakin rendah. perempuan sedikit lebih tinggi APMnya dibandingkan laki-laki. Tabel 4. Suatu hal yang sangat memprihatinkan bahwa APM usia 16-18 tahun masih dibawah 50%. Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009 Sumber data : BPS. artinya kesempatan untuk memperoleh pendidikan bagi laki-laki dan perempuan di jenjang pendidikan menengah atas.

717 41.546 62.596 23.807 14.502 38.148 20.919 39.017 12.266 10.494 19.877 21.371 21.616 16.830 8.860 11.827 27.156 33.673 44.951 29.032 33.475 35.829 28.697 16. anak perempuan lebih banyak yaitu 883.953 5.996 883.336 28.007 70.030 63.745 18.455 34.623 81.808 23.273 32.902 8.620 21.992 13.780 32.822 998.666 orang diantaranya laki-laki sebanyak 452.194 16.707 Sumber : Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan 2010 35 .731 70.310 31.427 25.222 16.879 6.986 24.589 37.194 327.640 24.394 18. Untuk kelompok umur 13 – 15 tahun ada 930.853 58.687 11.169 17.642.274 59.715 8.112 32.340 18.970 12.455 39.609 16.810 109.792 18.501 33.772 25.185 8.377 30.998 6.530 27.978 12.222 12.39 %) yang lebih banyak dari pada laki-laki.357 11.500 21.311 930.926 30.393 23.038 22.473 8.550 12.155 9.031 63.860 13.666 479.613 11.191 34.954 12.735 40.737 41.567 23.162 27.243 16 .127 21.804 17.642.159 31.265 12.219 12.202 12.407 12.22 % dari total 1.697 16.560 Jml 43.992 14.78 %) sementara laki-laki sebanyak 758.191 65.386 5.307 21.986 10.746 41.350 87.582 48.472 82.601 29.355 Kelompok Umur 13 .807 15.188 29.950 11.234 10.996 orang atau 46.195 Jml 79.653 98.841 7.441 16.832 17.248 27. SulSel) 07 .253 orang.702 25.274 42.925 163.377 35.756 11.710 40.645 162.095 77.643 47.15 Thn Jml LK PR 5.083 53.741 452.884 122.659 96.094 5.226 26.120 29.966 7.311 orang (51.898 46. Tabel 4.383 758.158 51.937 13.637 56.784 15.976 28.458 23.107 24.540 17.114 23.417 39.694 14.808 32.568 12.851 36.248 13.752 32.634 44.379 55.622 32.136 16.783 19.422 79.646 17.971 20.61 %) dan perempuan sebanyak 478.766 30.743 15.135 14.143 29.549 164.254 9.977 36.252 21.967 39.830 86.760 15.663 23.616 32.723 12.160 197.046 14.529 13.289 19.257 orang (53.842 13.612 70.253 30.697 28.588 40.395 83.256 25.576 16.8 Jumlah Peserta Didik Menurut Kelompok Umur Tahun 2008/2009 Kabupaten / Kota Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sinjai Maros Pangkep Barru Bone Soppeng Wajo Sidrap Pinrang Ebrekang Luwu Tana Toraja Luwu Utara Luwu Timur Makassar Pare-pare Palopo Jumlah (Prov.262 519.632 16.990 38.257 478.278 24.207 55.360 19.643 63.12 Thn LK PR 13.828 15.081 17.087 70.072 12.868 1.121 43.950 9.355 orang (48.638 32.340 18.749 8.835 23.418 11.054 179.707 17.Hal ini sejalan dengan data Dinas Pendidikan yang menunjukkan bahwa jumlah anak sekolah untuk tahun 2008/2009 kelompok umur 07 – 12 tahun di Provinsi Sulawesi Selatan.18 Thn LK PR 6.810 29.681 15.222 30.773 24.740 14.

dan 19-24 tahun. Hal ini mencerminkan bahwa makin tinggi tingkat pendidikan partisipasi perempuan makin menurun.10.Sementara untuk kelompok umur 16–18 tahun jumlahnya sebanyak 998. khususnya untuk usia 13-15. Dengan mencermati tingkat APS pada kelompok umur 07 – 12 tahun sederajat SD dan kelompok umur 13– 15 tahun yang sederajat SMP. dan 36 .950 orang diantaranya laki-laki sebanyak 519. Untuk mendapatkan gambaran Angka Partisipasi Kasar (APK) di Provinsi Sulawesi Selatan dapat dilihat pada Tabel 4.9 dan 4. Berdasarkan tabel tersebut. untuk usia 7-12 tahun justru mengalami pnurunan. Hal ini menunjukkan bahwa partisipasi laki-laki justru menurun di usia sekolah yang semakin tinggi. Tetapi APS pada kelompok umur 16– 8 tahun yang sederajat SMU nampaknya APS laki-laki lebih tinggi dari pada APS perempuan.39 %).3 Angka Partisipasi Kasar (APK) Indikator ini digunakan untuk mengukur proporsi anak sekolah pada suatu jenjang pendidikan tertentu dalam kelompok umur yang sesuai dengan jenjang pendidikan tersebut.2. nampak bahwa secara umum terjadi kenaikan angka partisipasi kasar dari tahun 2008 ke tahun 2009. Untuk usia 7-12 tahun terdapat kecendungan penurunan baik laki-laki maupun perempuan.707 orang (51. nampak bahwa APK perempuan pada jenjang sekolah SMP sampai PT lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Jika dilihat berdasarkan jenis kelamin. Angka partisipasi kasar dapat memberikan gambaran tentang banyaknya anak yang menerima pendidikan pada jenjang tertentu.98 %) dan perempuan sebanyak 479. 4. 16-18.243 orang (51. nampaknya APS perempuan lebih tinggi dari APS anak laki-laki. Namun.

Susenas 2008 37 . namun justru ada kecenderungan menurunnya partisipasi laki-laki dalam pendidikan. ditegah-tengah gencarnya upaya pemberdayaan perempuan dan keseteraan gender.9. keadaannya menjadi berbanding terbalik dengan tahun 2008. dimana perempuan menjadi lebih tinggi APKnya dibandingkan laki-laki.dan Jenis Kelamin. Tabel 4. APK menurut Usia Sekolah. Fenomena ini cukup memprihatinkan.pada tahun 2009. Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008 Sumber data : BPS.

Tabel 4. berinovasi.10.dan Jenis Kelamin. APK menurut Usia Sekolah. Semakin tinggi tingkat pendidikan yang 38 . Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009 Sumber data : BPS. dan menyerap teknologi baru untuk mendukung kehidupannya ke arah yang lebih baik. Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan Pendidikan yang lebih baik berpengaruh terhadap peningkatan potensi dasar penduduk dalam menerima perubahan-perubahan sosial dan ekonomi. Susenas 2009 4.3. Selain Tingkat Partisipasi Sekolah (TPS). Pendidikan tertinggi yang ditamatkan penduduk dapat dijadikan sebagai salah satu alat kontrol untuk melihat sejauh mana peningkatan pembangunan bidang pendidikan.

Namun disisi lain. Meskipun demikian. Banyaknya penduduk yang berpendidikan tinggi menunjukkan semakin baik kualitas penduduknya. Tabel tersebut memperlihatkan bahwa masih adanya kesenjangan tingkat pendidikan antara penduduk laki-laki dan perempuan.ditamatkan maka kualitas sumberdaya manusia secara umum akan semakin tinggi. secara umum. persentasenya semakin menurun. semakin tinggi jenjang pendidikan. untuk D1/2/3 dan sarjana muda. Tabel berikut menunjukkan penduduk Sulawesi Selatan yang berumur 10 tahun ke atas menurut pendidikan tertinggi yang ditamatkan. Persentase perempuan tamat SD masih cukup tinggi dibandingkan laki-laki. Salah satu ukuran keberhasilan pembangunan pendidikan dapat dilihat dari kualitas tingkat pendidikan yang ditamatkan. 39 . justru laki-laki lebih rendah . persentase perempuan semakin menurun. dan semakin tinggi jenjang pendidikan. sehingga partisipasi dan kesempatan laki-laki maupun perempuan untuk memperoleh pendidikan dalam rangka peningkatan kualitas manusia Sulawesi Selatan masih harus ditingkatkan.

11.70 25.19 8.42 0.60 4.19 14.43 0.84 15.70 10.42 15.90 9.12 4.21 1.89 3.66 0.13 23.46 14.68 2.88 0.04 17.78 0.52 2.52 21.06 1.23 Lk 13.60 1.25 15.68 1.87 2.19 0.93 13.70 2.41 11.91 4.45 21.61 0.02 1.20 10.55 1. Susenas 2008 40 .50 29.47 1.28 1.04 D IV/S 1/S 2/S 3 Lk 4. Persentase Penduduk Menurut Jenis Kelamin.82 18.33 20.77 9.13 28.62 0.40 3.21 1.67 6.91 9.77 1.31 32.04 7.80 1.93 2.57 1.86 3.75 2.46 0.58 7.92 0.26 0.24 15.46 25.75 0.98 21.96 2.29 0.15 1.04 0.75 0.33 5.09 0.76 2.45 15.14 15.65 4.97 1.65 0.11 2.78 0.46 28.82 21.61 D I/II Prp 2.29 3.52 0.91 13.78 1.88 16.53 1.06 1.14 32.72 14. Pendidikan yang Ditamatkan dan Kabupaten/Kota Tahun 2008 Kab/Kota Lk 01 Selayar 02 Bulukumba 03 Bantaeng 04 Jeneponto 05 Takalar 06 Gowa 07 Sinjai 08 Maros 09 Pangkep 10 Barru 11 Bone 12 Soppeng 13 Wajo 14 Sidrap 15 Pinrang 16 Enrekang 17 Luwu 18 TanaToraja 22 LuwuUtara 25 LuwuTimur 71 Makassar 72 Parepare 73 Palopo Jumlah 30.13 17.94 0.01 0.97 19.22 15.01 4.88 31.Tabel 4.57 14.90 2.12 17.75 11.20 3.28 10.89 13.15 0.61 27.39 24.62 12.67 0.99 25.47 0.38 16.95 SD Prp 34.74 0.86 0.75 8.57 0.89 4.12 25.52 0.97 17.47 0.70 1.79 1.81 11.94 16.26 0.31 12.95 13.72 1.57 0.80 2.72 13.80 9.91 11.72 1.54 0.45 0.58 0.42 0.37 22.78 10.70 16.43 30.33 23.76 0.75 4.46 3.80 2.48 0.56 30.55 11.82 27.49 3.12 3.29 D III/ Sarmud Lk 0.44 0.64 25.42 8.78 31.34 1.84 0.75 32.59 30.38 0.66 2.50 11.35 2.93 0.15 13.56 0.13 0.08 11.94 15.71 12.11 19.80 3.83 31.84 1.07 1.74 1.25 4.59 1.48 2.29 0.59 20.36 4.47 0.74 11.73 Prp 4.35 30.00 14.15 0.09 Sumber data : BPS.40 27.08 1.71 1.18 0.36 3.74 4.46 30.03 23.73 20.21 9.95 22.85 Prp 1.48 3.86 3.14 9.14 1.79 9.52 0.37 5.79 1.40 7.87 14.69 1.87 0.29 0.04 22.26 1.56 8.05 0.98 1.04 1.57 1.12 27.77 3.20 1.85 1.05 12.53 2.83 1.39 12.39 0.01 10.84 6.35 0.93 SMA Kejuruan Lk 1.98 23.69 9.41 0.75 22.02 1.75 Lk 12.54 23.64 2.00 3.08 12.58 2.86 0.89 1.38 3.48 2.68 20.68 25.95 30.96 26.85 1.28 11.42 13.60 13.85 4.38 0.00 15.52 1.16 34.73 0.71 13.76 SMU Prp 8.68 10.66 2.62 0.93 12.91 10.41 16.66 0.55 11.27 4.44 6.61 1.51 26.44 Lk 1.92 4.40 10.74 0.47 SLTP Prp 10.15 23.03 32.57 4.51 13.04 19.84 18.56 5.18 27.21 0.72 1.35 14.05 11.24 13.65 27.69 15.98 3.73 1.76 4.63 36.21 0.09 25.29 0.45 20.60 Prp 1.78 5.21 8.31 0.44 0.62 31.10 0.43 2.30 18.92 4.20 10.09 4.21 17.28 2.72 1.03 24.17 0.53 1.99 4.62 12.36 0.12 2.

14 10. Persentase Penduduk Menurut Jenis Kelamin.87 15.87 0.39 12.59 27.70 10.16 4.49 0.87 31.30 15.83 0.79 4.58 0.60 19.24 33.89 0.00 12.51 26.27 1.25 17.36 1.49 4.31 3.Tabel 2.4 5 7.12 0.14 28.76 1.41 1.70 31.03 10.40 29.81 1.32 29.88 2.47 0.54 13.89 0.93 0.19 0.69 19.91 34.79 16.75 1.10 11.22 0.21 30.20 12.88 3.79 15.62 2.61 0.02 1.79 15.24 7.93 12.40 0.31 11.41 2.75 0.64 15.03 19.38 4.70 SMU Lk Prp -6 -6 10.65 21.04 0.03 4.72 0.31 13.49 16.72 0.33 18.82 0.95 1.44 0.26 16.80 0.77 2.24 10.65 15.11 2.15 14.02 14.15 Lk Prp -4 28.08 4.00 3.88 0. Pendidikan yang Ditamatkan dan Kab/Kota Tahun 2009 Kab/Kota -1 01 Selayar 02 Bulukumba 03 Bantaeng 04 Jeneponto 05 Takalar 06 Gowa 07 Sinjai 08 Maros 09 Pangkep 10 Barru 11 Bone 12 Soppeng 13 Wajo 14 Sidrap 15 Pinrang 16 Enrekang 17 Luwu 18 TanaToraja 22 LuwuUtara 25 LuwuTimur 71 Makassar 72 Parepare 73 Palopo Jumlah SD -4 SLTP Lk Prp -5 -5 14.87 3.37 2.8.47 1.31 0.07 1.13 9.73 3.11 1.57 0.53 D IV/S 1/S 2/S 3 Lk Prp -10 -10 3.63 2.32 31.64 0.08 22.67 4.28 30.25 3.74 1.11 1.67 17.41 25.40 2.11 27.47 14.05 3.60 1.19 3.78 17.37 0.43 30.60 2.05 7.84 2.33 32.18 18.43 2.93 1.10 Sumber data : BPS.56 26.70 16.19 1.55 6.98 12.67 0.15 2.77 13.72 0.74 34.86 0.47 2.21 2.36 2.85 1.40 2.85 33.74 3.26 1.81 11.07 5.40 0.85 0.72 27.95 1.63 0.24 3.23 25.84 15.83 4.14 4.33 1.47 4.52 33.03 3.96 2.19 18.25 1.42 0.19 0.07 14.15 2.66 0.84 12.38 0.73 11.19 5.13 18.12 5.23 1.22 31.98 0.44 2.58 0.07 2.34 2.54 2.48 24.85 17.10 12.57 2.71 8.96 2.13 7.48 24.97 23.10 10.69 24.75 4.64 Lk -8 Prp -8 30.54 SMA Kejuruan Lk Prp -7 -7 3.49 19.67 4.72 1.55 0.40 21.20 7.94 2.89 8.04 31.24 1.65 0.50 10.30 3.96 0.70 10.22 2.57 7.08 12.59 0.64 12.20 16.45 1.83 3.93 0.42 4.26 3.51 2.25 36.91 29.76 1.05 17.38 26.05 2.56 0.46 28.96 22.27 1.47 15.04 0.35 24.09 16.21 6.12 12.19 12.49 0.66 2.35 3.99 17.68 15.45 4.64 1.21 21.18 1.63 9.53 32.74 14.12 0.60 0.53 0.21 1.10 17.58 0.31 12.97 16.57 11.48 0.95 1.81 2.43 12.55 0.26 14.19 15.82 10.83 0.13 2.40 18.40 12.46 0.47 11.98 0. Susenas 2009 41 .76 1.78 1.73 11.68 2.32 14.39 26.24 20.24 24.55 0.66 0.07 6.48 D I/II D III/ Sarmud Lk Prp -9 -9 0.89 36.96 12.02 0.87 0.02 23.15 0.90 0.02 29.81 11.55 10.60 17.15 2.65 3.52 11.18 1.46 2.37 21.62 6.97 23.80 1.45 16.85 15.65 25.62 10.90 2.58 1.90 3.44 28.43 0.00 0.24 3.19 26.80 0.80 2.15 2.60 8.63 3.36 4.84 21.07 1.10 2.29 14.68 6.27 3.23 8.59 5.98 3.48 2.95 21.

Di Sulawesi Selatan masih cukup banyak dijumpai anak putus sekolah. semakin besar biaya yang diperlukan.4. Persentase tertinggi adalah penduduk yang menamatkan pendidikan SD yaitu 46 %. 4.4. selanjutnya penduduk yang menamatkan pendidikan SLTP/MTs/Paket B sebesar 23 %. Persentase penduduk yang berpendidikan rendah masih relatif tinggi.Secara umum di Sulawesi Selatan. disamping anggapan bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan. Putus Sekolah Partisipasi Sekolah dapat dikaitkan dengan keadaan putus sekolah. berikut. sebagaimana digambarkan dalam Tabel 2. karena mereka diharapkan membantu mencari nafkah untuk keluarganya. penduduk yang menamatkan pada jenjang pendidikan SLTA sebesar 28 %. Tentunya diharapkan kedepan penduduk Sulawesi Selatan dapat lebih ditingkatkan lagi pendidikan yang ditamatkannya yang akan berpengaruh pada kondisi sosial ekonomi masyarakat akan semakin baik. dan anggapan lebih baik bekerja dengan mendapatkan uang. Hal ini terlihat dari persentase penduduk yang menamatkan pendidikan pada tingkat sekolah dasar masih lebih tinggi dibanding pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Aksesibiltas yang rendah untuk menjangkau sekolah dengan sarana dan prasarana transportasi yang terbatas dan masih sulit dijangkau 42 . Kondisi geografis juga berpengaruh terhadap tingginya angka putus sekolah. sementara masyarakat miskin dan rumah tangga miskin tidak memiliki penghasilan yang cukup untuk biaya pendidikan. Kemiskinan seringkali menjadi alasan bagi siswa sekolah untuk tidak melanjutkan sekolah.

Usia dan Kabupaten/KotaTahun 2008 Sumber data : BPS. Persentase Penduduk Berdasarkan Status Putus Sekolah Menurut Jenis Kelamin.oleh masyarakat di pelosok pedesaan dan wilayah kepulauan. tampak mulai terjadi sejak SD. merupakan salah satu alasan bagi siswa untuk tidak melanjutkan sekolah. Hal ini mengindikasikan masih adanya hambatan bagi anak untuk bertahan belajar di sekolah sejak memasuki sekolah dasar.11. dan menunjukkan persentase yang meningkat seiring dengan jenjang sekolah. meskipun guru telah memberikan dorongan dan motivasi kepada siswa agar tidak putus sekolah. Susenas 2008 43 . Tabel 4. Angka putus sekolah menurut kelas dan jenjang sekolah.

75 12.68 61.73 28.33 1.02 3.12 58.43 27.90 58.31 40.15 46.11 1.18 28.74 91.81 2.31 40.06 46.39 29.91 15.15 55.61 79.92 42.56 0.81 2.24 79.96 83.70 87.78 Sumber data : BPS.10 20.66 91.44 83.78 30.22 82.28 4.12 6.82 77. Usia dan Kabupaten/KotaTahun 2009 Kabupaten/ Kota 7-12 01 Selayar 02 Bulukumba 03 Bantaeng 04 Jeneponto 05 Takalar 06 Gowa 07 Sinjai 08 Maros 09 Pangkep 10 Barru 11 Bone 12 Soppeng 13 Wajo 14 Sidrap 15 Pinrang 16 Enrekang 17 Luwu 18 TanaToraja 22 LuwuUtara 25 LuwuTimur 71 Makassar 72 Parepare 73 Palopo Jumlah 3.47 32. Persentase Penduduk Berdasarkan Status Putus Sekolah Menurut Jenis Kelamin.88 24.93 33.61 44.37 32.91 88.08 68.51 89.59 2.76 23.56 2.88 39.48 59.04 33.Tabel 4.45 13.30 47.49 83.97 91.22 5.39 87.74 2.30 78.49 94.65 2.29 2.57 3.76 2.72 5.50 19.85 37.81 90.17 89.51 0.93 20.34 17.86 Perempuan 13-15 16-18 5.84 3.74 Tidak bersekolah lagi Jenis Kelamin 19-24 85.22 95.83 84.45 26.66 53.16 76.39 14.70 3.64 16.12 45.19 52.82 0.38 0.99 3.88 35.07 22.45 3.97 7-12 1.22 91.82 11.19 80.26 59.64 86.72 54.22 3.10 10.96 1.68 1.38 32.31 5.01 0.93 86.57 1.22 91.75 32.33 12.77 33.39 37.78 89.48 94.80 1.86 12.37 88.60 1.28 20.12 3.56 3.79 88.79 37.45 20.26 66.83 54.53 7. Susenas 2009 18.45 1.27 45.61 44 .33 21.41 60.43 95.67 12.25 14.84 25.65 8.51 63.20 2.76 93.15 2.02 84.05 9.48 4.22 44.92 0.41 3.39 19-24 93.32 0.23 90.25 1.08 35.80 81.24 3.32 92.29 40.30 49.13 17.88 2.61 49.97 64.47 58.00 51.55 15.11 60.48 46.12.75 15.74 Laki-laki 13-15 16-18 15.21 91.50 85.61 38.72 54.81 4.23 92.79 22.27 86.20 16.63 1.53 31.27 37.18 50.05 81.71 9.34 89.32 8.28 52.94 2.85 12.84 49.93 3.94 7.42 86.01 11.

nonformal. yang diselenggarakan pada jalur formal.11 dan 4. Pendidikan Anak Usia Dini Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.Berdasar table 4. 4. Tabel tersebut juga menunjukkan bahwa keadaan putus sekolah pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi cenderung semakin meningkat persentasenya. 45 . sosio emosional (sikap dan perilaku serta agama) bahasa dan komunikasi. angka putus sekolah di Sulawesi Selatan menunjukkan persentase laki-laki lebih besar daripada perempuan. di semua jenjang usia pendidikan. membantu orangtua mencari nafkah. kecerdasan emosi.5. Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar). kecerdasan spiritual). dan juga disebabkan oleh factor internal siswa laki-laki. daya cipta. dan informal. Banyaknya laki-laki yang putus sekolah dimungkinkan karena beberapa hal meliputi pergi merantau mencari pekerjaan di daerah lain. kecerdasan (daya pikir. sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini.12.

8 berikut: Tabel 4. Rentangan anak usia dini menurut Pasal 28 UU Sisdiknas No. PAUD dilaksanakan sejak usia 0-8 tahun. Gambaran PAUD di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009 dapat dilihat pada Tabel 4.20/2003 ayat 1 adalah 0-6 tahun.Ada dua tujuan diselenggarakannya pendidikan anak usia dini yaitu: • Tujuan utama: untuk membentuk anak Indonesia yang berkualitas. yaitu anak yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya sehingga memiliki kesiapan yang optimal di dalam memasuki pendidikan dasar serta mengarungi kehidupan di masa dewasa.13 Jumlah Siswa PAUD di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009 46 . • Tujuan penyerta: untuk membantu menyiapkan anak mencapai kesiapan belajar (akademik) di sekolah. Sementara menurut kajian rumpun keilmuan PAUD dan penyelenggaraannya di beberapa negara.

Jika dilihat secara cermat nampak bahwa jumlah murid PAUD perempuan pada setiap kelompok umur lebih banyak dibanding laki-laki.874 orang (44.520 orang (47.470 murid (50.88%) dan perempuan 67. nampak bahwa jumlah murid yang mengikuti PAUD sebanyak 433.474 yang terdiri dari laki-laki 10.252 murid (50. selanjutnya umur 24 – 48 bulan sebanyak 130.890 murid yang terdiri dari laki-laki 9.87 %) dan perempuan sebanyak 9.048 orang yang terdiri dari laki-laki 62. Selanjutnya pada kelompok umur 24 – 48 bulan.07 %) dan perempuan 10. kabupaten yang memiliki jumlah murid PAUD yang lebih banyak dibanding kabupaten lainnya yaitu Kabupaten Pinrang yaitu sebanyak 18.38 %).273 orang (47.420 murid (49.775 orang (52.93 %) sedangkan kabupaten yang memiliki jumlah murid PAUD yang paling sedikit pada kelompok umur tersebut adalah di Kabupaten Wajo dengan jumlah 35 murid yaitu laki-laki 14 murid (40. Jika perbandingan murid PAUD dianalisis menurut kabupaten.13 diatas yang bersumber dari Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2010.67%) dan perempuan 53.222 murid (49.61 %)dan perempuan 111.449 orang yang terdiri dari laki-laki 89.33%).575 orang (55.65 %) dan 47 .11 %) dan kelompok umur 49 – 72 bulan sebanyak 201.284 orang yang terdiri dari umur 0 – 4 bulan sebanyak 101. maka dapat dilihat bahwa pada kelompok umur 0 – 4 bulan jumlah murid PAUD yang paling banyak adalah di Kabupaten Luwu Utara yaitu sebanyak 20.00 %).267 orang ((52.00 %) dan perempuan 21 murid (60.787 orang yang terdiri dari laki-laki 48.13 %) sedangkan kabupaten yang memiliki jumlah murid PAUD yang paling sedikit pada kelompok umur ini sama pada kelompok umur 0 -4 bulan yaitu Kabupaten Wajo yaitu hanya berjumlah 543 murid yang terdiri dari laki-laki 237 murid (43.Berdasarkan Tabel 4.

943 murid yang terdiri dari laki-laki sebanyak 10.129 murid (59.86 %) sedangkan kabupaten yang memiliki jumlah murid PAUD yang paling sedikit pada kelompok umur tersebut adalah di Kabupaten Gowa yaitu 1.814 murid (40.109 murid yang terdiri dari laki-laki sebanyak 519 murid (46.80 %) dan perempuan 590 murid (53.14 %) dan perempuan 16. 48 .20 %). Sementara pada kelompok umur 49 – 72 bulan yang memiliki jumlah murid PAUD yang lebih banyak dibanding kabupaten lainnya yaitu Kota Makassar sebanyak 26.803 murid.35 %).perempuan 306 murid (56. Secara umum kabupaten/kota yang memiliki partisipasi yang paling tinggi dalam melaksanakan PAUD adalah Kabupaten Pinrang dengan jumlah murid PAUD sebanyak 54.

cakupan imunisasi dan status gizi balita. 5. hal tersebut ditandai dengan menurunnya angka kematian bayi (AKB). Angka kematian pada umumnya dapat dihitung dengan melakukan berbagai survey dan penelitian. Secara umum kejadian kematian pada manusia berhubungan erat dengan permasalahan kesehatan sebagai akibat dari gangguan penyakit atau akibat dari proses interaksi berbagai faktor yang secara sendiri-sendiri atau bersama-sama mengakibatkan kematian dalam masyarakat. Adapun rincian permasalahan yang akan dilihat adalah angka kematian bayi (AKB). Partisipasi dalam ber KB. Angka Kematian Bayi (AKB). AKABA. Di samping itu kejadian kematian juga dapat digunakan sebagai indikator dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan kesehatan lainnya. AKB di Indonesia 49 . Peristiwa kematian pada dasarnya merupakan proses akumulasi akhir dari berbagai penyebab kematian langsung maupun tidak langsung. Penolong Persalinan. dan gerakan sayang ibu. Menurut hasil Surkesnas/Susenas. KESEHATAN Gambaran perkembangan derajat kesehatan masyarakat dapat dilihat dari kejadian kematian dalam masyarakat dari waktu ke waktu.1. Angka kematian bayi menunjukkan banyaknya kematian bayi per seribu kelahiran hidup. AKI.BAB V.1. Pada Bab ini akan dicoba dilihat atau diungkap kemungkinan adanya kesenjangan antara laki-laki dan perempuan di bidang kesehatan. Kesehatan Reproduksi. Derajat kesehatan masyarakat di Sulawesi Selatan semakin meningkat.

000 kelahiran hidup. Sedangkan AKB menurut hasil SDKI 2002-2003 terjadi penurunan yang cukup besar.000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup sedangkan hasil Susenas 2006 menunjukkan AKB di Sulsel pada tahun 2005 sebesar 36 per 1.000 kelahiran hidup. yaitu menjadi 35 per 1. AKB di Sulawesi Selatan sebesar 47 per 1. lalu turun lagi menjadi 52 pada tahun 1998 kemudian pada tahun 2003 menjadi 48 (Susenas 2003). Namun.89 per 1. Ini berarti rata-rata penurunan AKB selama kurun waktu 1998-2003 sekitar 4 poin. sementara itu data proyeksi yang dikeluarkan oleh Depkes RI bahwa AKB di Sulsel pada tahun 2007 sebesar 27.52 per kelahiran hidup. Fluktuasi ini bisa terjadi oleh karena perbedaan besar sampel yang diteliti.000 kelahiran hidup. dan hasil SDKI 2007 menunjukkan angka 41 per 1. pada tahun 2002 sebesar 45 per 1. Di Sulawesi Selatan. Selama tiga puluh tahun terakhir.1.pada tahun 2001 sebesar 50 per 1. angka ini berada jauh dari yang diproyeksikan oleh Depkes RI yakni sebesar 26.000 kelahiran hidup. 50 .000 kelahiran hidup. Angka Kematian Bayi menunjukkan penurunan yang sangat tajam. menurut hasil Surkesnas/Susenas 2002-2003. yaitu dari 161 per 1. AKB Sulawesi Selatan menunjukkan penurunan yang sangat tajam seperti Tabel 5.000 kelahiran hidup pada tahun 1971 menjadi 55 pada tahun 1996.000 kelahiran hidup sementara hasil SDKI 2007 hasilnya menurun lagi menjadi 34 per 1.

Penurunan angka kematian bayi merupakan indikasi terjadinya peningkatan derajat kesehatan masyarakat sebagai salah satu wujud keberhasilan pembangunan di bidang kesehatan dan semakin meningkatnya pendidikan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan.6 69.8 Sumber : Susenas dan SDKI.31*) 63 64 68 68 68 69 69 69. atau 4.000 kelahiran hidup.39*) 3.39 per 1.000 kelahiran hidup. sementara tahun 2009. Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Harapan Hidup (AHH) Di Sulawesi Selatan Tahun 1971-2009 Tahun AKB AHH (1) (2) (3) 1971 1996 1998 2000 2001 2003 2004 2005 2007 2008 2009 161 55 52 48 47 48 44 36 41 4. Tahun 2008 ini jumlah kematian bayi turun menjadi 638 atau 4.32 per 1. Adapun nilai normatif AKB yang kurang dari 40 sangat sulit diupayakan penurunannya (hard rock).Tabel 5.4 69.1.000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup. jumlah kematian bayi turun menjadi 495 atau 3. Hal tersebut merupakan respon positif dari upaya pemerintah untuk mendekatkan fasilitas kesehatan pada masyarakat. 51 .31 per 1. mengalami peningkatan pada tahun 2007 menjadi 709 kematian bayi atau 4.61 per 1. Tanda *) adalah AKB menurut laporan Dinkes Sulawesi Selatan Sementara laporan dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota bahwa jumlah kematian bayi pada tahun 2006 sebanyak 566 bayi.

Sejak tahun 2000 hingga tahun 2003 AHH relatif stabil pada usia 68 tahun. serta kesediaan masyarakat untuk merubah kehidupan tradisional ke norma kehidupan modern dalam bidang kesehatan merupakan faktor-faktor yang sangat berpengaruh terhadap tingkat AKB. dan lebih besar dari 70 tergolong mudah untuk diturunkan.antara 40-70 tergolong sedang. sedangkan dari tahun 2004 – 2005 AHH mencapai angka 69 dan pada tahun 2009.4 persen dan 23.8 (Tabel 5. 52 . Angka Harapan Hidup (AHH) juga diharapkan terjadi peningkatan. Tersedianya berbagai fasilitas atau faktor aksesibilitas dan pelayanan kesehatan dari tenaga medis yang terampil.2 menunjukkan bahwa penyakit Diarre dan Pneumonia adalah penyebab utama terjadinya kematian pada bayi yaitu masing-masing 31. AHH nya mencapai 69. Sejalan dengan menurunnya AKB. Ada banyak faktor yang mempengaruhi tingkat AKB tetapi tidak mudah untuk menentukan faktor yang paling dominan dan faktor yang kurang dominan. namun sulit untuk diturunkan. Rata-rata usia harapan hidup penduduk Sulawesi Selatan terus meningkat dari 63 pada tahun 1996 menjadi 64 pada tahun 1998.8 persen.1). Tabel 5. Menurunnya AKB dalam beberapa waktu terakhir memberi gambaran adanya peningkatan dalam kualitas hidup dan pelayanan kesehatan masyarakat.

dinyatakan sebagai angka per 1. dalam arti besar dan tingkat kemiskinan penduduk. Proporsi Penyebab Kematian Bayi No.3 6.1.9 2. sanitasi.2. Malnutrisi 9. 5.8 9. penyakit menular dan kecelakaan.8 4. 4. 3.4 5. Tetanus 8.1 2. 53 . Penyebab Kematian % 31.2 Angka Kematian Balita (AKABA). Diare Pneumonia Meningitis/ensefalitis Kelainan Saluran Pencernaan Kelainan jantung Kogenital & Hydrocephalus 6.000 kelahiran hidup. 1. Indikator ini menggambarkan tingkat kesejahteraan sosial.3 1. sehingga kerap dipakai untuk mengidentifikasi kesulitan ekonomi penduduk. TB 10. Sepsis 7. Angka Kematian Balita (AKABA) adalah jumlah anak yang dilahirkan pada tahun tertentu dan meninggal sebelum mencapai usia 5 tahun.2 1.Tabel 5. Campak Sumber Riskesdas 2007 5.4 23. 2. AKABA menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan anak dan faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap kesehatan anak Balita seperti gizi.2.

000 kelahiran hidup.16 64 46 72 51 46 1. Pada tahun 1986 AKABA diperkirakan sebesar 111 per 1. tahun 1995-2008 Tahun 1 1995 1997 1998 1999 2000 2001 2003 2004 2005 2006 2007 2008 AKABA per 1000 KH Nasional Propinsi 2 3 75 19. SDKI 2007 Dilaporkan dari Dinkes Kab.4 17. hasil SDKI 54 . Namun. Angka Kematian Anak Balita (1-4 th) di Sulawesi Selatan dan Indonesia. Dilaporkan dari Dinkes Kab.16 per 1.Tabel 5. Angka Kematian Balita di Indonesia (menurut estimasi SUPAS 1995) dalam beberapa tahun terakhir (kecuali tahun 2001) terlihat mengalami penurunan yang cukup bermakna. kemudian turun menjadi 81 pada tahun 1993 dan turun lagi menjadi 44.7 42.33 1.55 44.000 kelahiran hidup.1 64. antara 71-140 sedang dan kurang dari 71 rendah.3.93 Sumber 4 Estimasi SUPAS 1995 SDKI 1997 Estimasi SUPAS 1995 Estimasi SUPAS 1995 Estimasi SUPAS 1995 Estimasi SUSENAS Estimasi SUSENAS Estimasi SUSENAS Estimasi SUSENAS Dilaporkan dari Dinkes Kab. Sumber : Data Sekunder diolah serta Profil Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan Catatan: Adapun nilai normatif AKABA yakni lebih besar dari 140 tergolong sangat tinggi.28 59.7 pada tahun 2000 sementara untuk Sulawesi Selatan. pada tahun yang sama berada dibawah rata-rata nasional yakni sebesar 42.000 kelahiran hidup.13 44 53 1. Menurut hasil SUSENAS 2001 AKABA diperkirakan sebesar 64 per 1.

2002-2003 menunjukkan bahwa AKABA di Sulawesi Selatan mencapai 72 per 1. kabupaten maupun provinsi tidak tepat jika diperoleh dari survey yang berskala nasional. Sehubungan dengan hal tersebut.33 per 1.000 kelahiran hidup. maka untuk menggambarkan angka kematian bayi dan balita di Sulawesi Selatan dapat digambarkan dengan indikator program yang dilaksanakan dalam upaya menurunkan angka kematian bayi dan balita. Angka kematian Bayi dan Balita untuk tingkat kecamatan.57% tahun 2007 dari kelahiran hidup).81% pada tahun 2006 dan mengalami penurunan pada tahun 2007 55 .93 per 1000 kelahiran hidup.83% pada tahun 2006 dan 1.. Sedangkan pada tahun 2007 jumlah kematian balita dilaporkan sebanyak 105 balita atau 1.000 kelahiran hidup. menunjukkan bahwa pola penyakit penyebab kematian balita menurut Hasil Riskesdas tahun 2007 masih didominasi oleh penyakit infeksi. dari hasil penelitian mendalam terhadap semua kasus kematian AKABA yang ditemukan dalam RISKESDAS diperoleh gambaran besarnya proporsi sebab utama kematian Balita dapat dilihat pada tabel 5. Jumlah kematian balita yang dilaporkan oleh Dinas Kesehatan Kab/Kota di Sulsel pada tahun 2006 sebanyak 148 balita atau 1. antara lain persentase BBLR (0. Hal ini karena rancangan sampel diperuntukkan untuk menggambarkan angka kematian bayi dan balita tingkat nasional.000 kelahiran hidup dan menurun menjadi 53 per 1.000 kelahiran hidup menurut SDKI 2007.4.13 per 1. cakupan kunjungan bayi (82. Pada tahun 2008 jumlah kematian balita dilaporkan mengalami peningkatan menjadi 283 balita atau 1. Sementara itu.

38 % dari kelahiran hidup. Angka Kematian Ibu (AKI) AKI adalah banyaknya wanita yang meninggal dari suatu penyebab kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau penanganannya selama kehamilan.7 8.9 5.9 3. Sepsis 6. Angka Kematian Ibu (AKI) berguna untuk menggambarkan tingkat kesadaran perilaku hidup sehat. melahirkan dan dalam masa nifas (42 hari setelah melahirkan) per 100.9 2.48% pada tahun 2006 dan 57.menjadi 75. Kelainan jantung Kogenital & Hydrocephalus 5. TB 9. Tabel 5.2 15. cakupan pemberian ASI eksklusif meningkat menjadi 77. Diare 1.8 5. cakupan kunjungan bayi menurun 71. Kelainan Saluran Pencernaan 4.39 %. Untuk mengantisipasi masalah ini maka diperlukan terobosan56 .1. Sumber : Riskesdas 2007 % 25. Untuk data tahun 2008 persentase BBLR 1. Meningitis/ensefalitis 3. pelayanan kesehatan waktu ibu melahirkan dan masa nifas. status gizi dan kesehatan ibu. Proporsi Penyebab Kematian Balita di Indonesia Hasil Riskesdas Tahun 2007 Penyebab Kematian No.000 kelahiran hidup.8 4. Campak 10. kondisi kesehatan lingkungan. Pneumonia 2.05% pada tahun 2007) dan lainlain. cakupan pemberian ASI ekslusif (57.4.2.20% dari jumlah kelahiran hidup). Tetanus 7. Malnutrisi 8.8 6.18 %. tingkat pelayanan kesehatan terutama untuk ibu hamil.9 2.5 10.

digunakan data hasil SKRT. Dengan dilaksanakannya Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) dan Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI). kemudian menurun lagi menjadi 373 per 100.000 Kelahiran Hidup di Indonesia.000 kelahiran hidup pada tahun 1992. Angka Kematian Ibu Maternal per 100. maka cakupan wilayah penelitian AKI menjadi lebih luas dibanding survey-survey sebelumnya. Tabel 5. Angka Kematian Ibu (AKI) diperoleh melalui berbagai survey yang dilakukan secara khusus seperti survey di rumah sakit dan beberapa survey di masyarakat dengan cakupan wilayah yang terbatas. Pada SKRT 2001 tidak dilakukan 57 . AKI menurun dari 450 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1995. Publikasi Hasil SKRT 1995 & SDKI 2003.000 kelahiran hidup pada tahun 1986 menjadi 425 per 100.2007 Untuk melihat kecenderungan AKI di Indonesia secara konsisten. Harapan kita agar Bidan di desa benar-benar sebagai ujung tombak dalam upaya penurunan AKB (IMR) dan AKI (MMR).5.terobosan dengan mengurangi peran dukun dan meningkatkan peran Bidan. tahun 1982-2007 Penelitian/Survei Tahun AKI 1 2 3 SDKI 1982 450 SKRT 1986 450 SKRT 1992 425 SKRT 1994 390 SKRT 1995 373 SDKI 1997 334 SDKI 2002-2003 307 SDKI 2007 248 Sumber: Badan Litbangkes. Menurut SKRT.

maka apabila penurunannya masih seperti tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun 2002-2003. Angka Kematian Ibu (AKI) di Sulawesi Selatan Tahun 2006.survey mengenai AKI. Tetapi bila dibandingkan dengan target yang ingin dicapai secara nasional pada tahun 2010.000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup.56 per 100.000 kelahiran hidup (SDKI 2007). sedangkan pada tahun 2007 sebanyak 143 kematian atau 92. Untuk tahun 2008 jumlah kematian ibu maternal mengalami penurunan menjadi 121 orang atau 82. Gambar 5. diperkirakan target tersebut akan sulit tercapai.1. kemudian menjadi 248 per 100.2007 dan 2008 Sumber : Profil Kesehatan Kab/ Kota tahun 2006-2008 58 .89 per 100.000 kelahiran hidup. Jumlah kematian ibu maternal yang dilaporkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota di Sulawesi Selatan pada tahun 2006 sebanyak 133 orang atau 101. Hal ini menunjukkan AKI cenderung terus menurun.000 kelahiran hidup diperoleh dari hasil SDKI. AKI sebesar 307 per 100.67 per 100. yaitu sebesar 125 per 100.

Perkawinan yang dilakukan pada usia matang (di atas 20 tahun) bagi perempuan akan membantu mereka menjadi lebih siap untuk menjadi ibu dan mengurangi resiko persalinan. Posyandu. Usia perkawinan pertama merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap tingkat fertilitas.5. Polindes dan saranasarana kesehatan lainnya.2. Disamping itu juga pengetahuan para ibu rumahtangga tentang kesehatan merupakan sesuatu yang sangat penting dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan keluarga.2. karena semakin tinggi umur perkawinan. khususnya wanita menyebabkan masa reproduksinya lebih pendek. lebih dari 35 tahun. atau jarak waktu kelahiran terakhir kurang dari dua tahun akan semakin memperbesar resiko persalinan. pernah hamil empat kali/lebih. Himbauan untuk menunda usia perkawinan pertama dan membatasi jumlah kelahiran merupakan usaha nyata dalam merealisasikan tujuan tersebut. Hal ini berarti pula bahwa penundaan perkawinan mengakibatkan berkurangnya peluang wanita untuk melahirkan anak lebih banyak. Kesempatan untuk memperoleh pengetahuan tersebut telah tersedia di berbagai tempat-tempat pemukiman penduduk. Kesadaran masyarakat untuk berperan aktif dalam mengendalikan banyaknya kelahiran belum terlihat nyata. Sementara jumlah kelahiran yang terbatas (cukup dua saja) membuat perhatian ibu terhadap anakanaknya semakin besar. Kesehatan Reproduksi Persalinan yang dilakukan pada ibu usia kurang dari 20 tahun. Dengan demikian diharapkan akan lahir generasi baru yang lebih handal dan berkualitas untuk kelanjutan pembangunan di masa yang akan datang. Persentase wanita yang 59 . misalnya melalui Puskesmas.

76 15. mengingat usia <16 tahun masih tergolong usia anak (berdasarkan batasan usia anak dalam UU Perlindungan Anak).85 14. menjadi 23.12 2009 (4) 21.66 persen. Kondisi ini cukup menggembirakan.6.melangsungkan perkawinan pada usia muda (< 16 tahun) dari tahun 2007 – 2009 memperlihatkan persentase yang semakin meningkat.26 persen.22 40. 2008 dan 2009 Tahun 2007 (2) 22. dimana ketika perempuan belum siap secara mental dan psikis. Persentase Wanita Pernah Kawin Menurut Umur Perkawinan Pertama Sulawesi Selatan Tahun 2007.00 15.66 22.16 persen pada tahun 2008.24 25+ Sumber : Susenas 2007. maka cenderung terjadi perceraian yang pada akhirnya akan bermuara pada kemiskinan warisan bagi anak keturunannya.43 40.2008 dan 2009 Umur Perkawinaan Pertama (tahun) (1) ≤ 16 17 . Hal ini perlu menjadi perhatian tersendiri karena akan mempengaruhi ketahanan rumah tangga. persentase ini masih cukup tinggi apalagi jika diakumulasikan dengan perempuan yang menikah pada usia 17-18 tahun.16 21.14 60 .18 19 . sehingga upayaupaya perlindungan anak masih harus terus ditingkatkan. Namun demikian. dan pada tahun 2009 persentase ini turun menjadi 21.63 2008 (3) 23. Pada tahun 2007 proporsi wanita yang usia perkawinan pertamanya di bawah 16 tahun sekitar 22..26 23. Tabel 5.73 40.

2.75 persen. Untuk wanita yang menikah pada usia 25 tahun ke atas persentasenya memperlihatkan tren meningkat.43 persen.12 persen. Persentase penduduk yang menikah pada umur 19 – 24 tahun relatif stabil. dan mengalami kenaikan pada tahun 2008 menjadi sekitar 15. menjadi 40.3.73 persen pada tahun 2008.00 persen pada tahun 2008. Pada tahun 2007 persentasenya adalah 14. dan pada tahun 2009 naik menjadi 40. Partisipasi Dalam ber KB.22 persen. Pada tahun 2009 persentase wanita yang menikah pada usia 25 tahun ke atas menjadi meningkat menjadi 15. Pada tahun 2007 persentasenya adalah sekitar 40.Persentase penduduk yang menikah pada umur 17-18 tahun cenderung fluktuatif.14 persen 5. Salah satu tujuan program ini adalah untuk meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak serta mewujudkan keluarga kecil bahagia dan sejahtera melalui pembatasan dan pengaturan jarak kelahiran. partisipasi masyarakat dalam membantu pemerintah menangani masalah kependudukan adalah berupa kesadaran masyarakat untuk mensukseskan program Keluarga Berencana. 61 .85 persen. Pada tahun 2007 persentasenya sekitar 23. dan pada tahun 2009 naik lagi menjadi 22. turun menjadi 21. Hal ini bisa ditempuh antara lain dengan cara pemakaian alat/cara kontrasepsi KB. Selain melalui penundaan usia perkawinan pertama.63 persen.

73 2005 (3) 1. 2006 dan 2009 Jika dirinci menurut jenis alat/cara KB yang dipakai tampak bahwa akseptor yang menggunakan suntikan KB menempati urutan tertinggi.24 2. Alat/cara ini relatif lebih aman bagi kebanyakan wanita dan relatif lebih murah dan gampang didapatkan.86 4.71 4.59 51.40 3. cenderung lebih memilih jenis alat kontrasepsi ini.05 33. 62 .10 57. bisa dilakukan pada saat yang dikehendaki oleh akseptor.12 2.54 persen pada tahun 2004. Tingginya persentase penggunaan alat kontrasepsi Suntikan KB disebabkan alat ini relatif praktis.85 2006 (4) 1.88 54.39 35.44 2009 (5) 1. sehingga untuk wanita-wanita yang sibuk.86 persen dan pada tahun 2009 menjadi 57.. pada tahun 2006 menjadi 57.81 3.21 31. 2006 dan 2009 Tahun 2004 (1) MOW/MOP AKDR/IUD Suntikan KB Susuk KB Pil KB Lainnya (2) 1.54 5.52 57. 2005. mudah pemakaiannya (tidak membuat akseptor malu/risih pada saat pemasangan seperti misalnya IUD) dan efek sampingnya juga tidak terlalu besar.62 3.74 4. Persentase Akseptor KB Menurut Kontrasepsi yang Sedang Digunakan Tahun 2004.25 Jenis Kontrasepsi Sumber : Susenas 2004.Tabel 5. meningkat menjadi 54. 2005.70 29.73 2.71 persen.7.74 persen pada tahun 2005.53 2.95 2. Kelebihan lain dari alat kontrasepsi ini adalah jika akseptor ingin berhenti. yaitu mencapai sekitar 51.

Meningkatnya

akseptor

KB

yang

menggunakan

metode

kontrasepsi berupa suntikan, diikuti oleh semakin berkurangnya akseptor KB yang menggunakan metode kontrasepsi pil. Hal ini menunjukkan telah terjadi pergeseran pemakaian alat kontrasepsi dari pil KB ke Suntikan KB, kondisi ini kemungkinan disebabkan karena kesibukan para wanita, sehingga lebih memilih suntikan KB yang resiko terjadinya kelainan kecil dibanding dengan pil KB. Sementara itu sisanya menggunakan alat kontrasepsi jenis lain, seperti MOW/MOP, AKDR/IUD, susuk KB, kondom dan metode tradisional. 5.3.1. Penolong Persalinan Penolong persalinan sangat berpengaruh terhadap keselamatan dan kesehatan bayi dan ibu pada saat proses persalinan. Penolong persalinan yang berkualitas tentunya lebih memungkinkan terwujudnya keselamatan/kesehatan bayi dan ibu pada saat persalinan. Tenaga medis sebagai penolong persalinan tentunya lebih baik dibanding tenaga non medis. Bahkan pada periode tahun 2005-2009, penolong persalinan oleh dokter terjadi peningkatan yang cukup signifikan yaitu dari sekitar 8,5 persen pada tahun 2005 dan 8,88 persen pada tahun 2006 meningkat menjadi 11,32 persen pada tahun 2009. Penolong persalinan oleh tenaga medis (dokter dan bidan) di Sulawesi Selatan lebih dari 60 persen, sementara yang ditolong oleh tenaga nonmedis hanya sekitar 30 persen saja. Namun demikian, persentase tersebut cenderung berfluktuasi dari tahun ke tahun. Pada tahun 2005 persentase kelahiran yang ditangani oleh tenaga medis terdapat sekitar 63,73 persen

63

dan pada tahun 2006 turun menjadi sekitar 62,93 persen dan 62,51 persen pada tahun 2009 (Tabel 5.8). Tabel 5.8. Persentase Balita Menurut Penolong Kelahiran Tahun 2005, 2006 dan 2009 Penolong Kelahiran (1) 2005 (2)
8,50 54,37 0,86 36,27 31,21 4,61

Medis : Dokter Bidan

63,73

62,93 8,88 53,05 1,00 37,07 33,39 3,44 0,24

2006 (3)

62,51 11,32 50,83 0,36 37,49 28,48 8,74 0,27

2009 (4)

Lainnya Non.Medis: Dukun Famili

Lainnya 0,45 Sumber: BPS, Susenas 2005, 2006 dan 2009

Terjadinya fluktuasi tersebut, karena penolong persalinan oleh tenaga dukun masih cukup tinggi walaupun cenderung menurun, sehingga perlu pemantauan pengetahuan akan pentingnya kesehatan bagi dukun. Hal ini karena dikhawatirkan terjadinya resiko terhadap keselamatan dan kesehatan ibu dan bayi baik pada saat melahirkan maupun pada pasca kelahiran. Keberadaan Bidan di desa (bidides), diharapkan menjadi penolong persalinan dan mentrasfer pengetahuan tentang kesehatan kepada tenaga dukun. Sehingga kualitas kesehatan anak sejak lahir semakin membaik yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia Sulawesi Selatan khususnya dan Indonesia umumnya dimasa yang akan datang.

64

5.3.2. Lama Pemberian ASI Selama ini pemerintah senantiasa mengaktualisasikan dan mensosialisasikan peningkatan penggunaan air susu ibu (ASI) bagi balita. Hal ini karena dalam pertumbuhan dan perkembangan balita sangat memerlukan air susu ibu (ASI). ASI merupakan zat makanan yang paling ideal untuk pertumbuhan bayi sebab selain bergizi juga mengandung zat pembentuk kekebalan tubuh. Pemberian ASI kepada bayi akan memenuhi kebutuhan gizi dan memberikan kekebalan terhadap beberapa penyakit. Di Sulawesi Selatan, pada periode 2005-2009, paling banyak balita diberi ASI selama 12 sampai 17 bulan yaitu sekitar 32,24 persen walaupun cenderung menurun menjadi 29 persen pada tahun 2009, lalu 24 bulan atau lebih sekitar 24,20 persen dan 18 - 23 bulan sekitar 15,15 persen. Data yang disajikan pada Tabel 5.9 memperlihatkan bahwa ternyata masih ada sekitar 1,35 persen balita yang disusui kurang dari satu bulan dan cenderung meningkat menjadi 4,24 persen. Persentase ini mengalami peningkatan dibanding tahun 2005 dan 2006 yaitu sekitar 0,83 poin dan 2,89 poin. Secara umum, ada kecenderungan seorang ibu memberikan ASI kepada Balitanya sekitar 1 hingga 2 tahun. Persentase balita yang disusui selama dua belas sampai tujuh belas bulan pada tahun 2006 relatif sama jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yaitu dari 32,16 persen pada tahun 2005 menjadi 32,24 persen pada tahun 2006 tetapi menurun lagi menjadi 29,0 persen. Disamping itu, untuk balita yang disusui 6 - 11 bulan mengalami penurunan. Ini berarti, di satu pihak, kesadaran ibu akan arti pentingnya ASI bagi bayi semakin meningkat tetapi seiring dengan meningkatnya peran perempuan dalam kegiatan ekonomi sehingga

65

kecenderungan balita yang disusui 0 bulan cenderung meningkat. Padahal, pemberian ASI kepada bayi juga lebih efisien jika dilihat dari segi ekonomi, sebab ASI jauh lebih murah jika dibandingkan dengan susu formula. Mungkin hal itu menjadi salah satu pertimbangan bagi ibu untuk tetap memberikan ASI kepada bayinya. Tabel 5.9 Persentase Balita Menurut Lamanya Disusui (Bulan) Tahun 2005, 2006 dan 2009 Lama Disusui (Bulan) (1) 0 1-5 6-11 12-17 18-23 24+

2005 (2) 0,52 12,20 18,98 32,16 15,68 20,46

2006 (3) 1,35 8,42 14,26 32,24 17,52 26,20

2009 (3) 4,24 12,11 15,27 29,00 15,15 24,23

Sumber: BPS, Susenas 2005, 2006 dan 2009 5.3.3. Imunisasi Sebenarnya jenis imunisasi cukup beragam baik yang diberikan pada anak-anak maupun pada orang dewasa, tetapi yang jadi focus bahasan disini adalah imunisasi untuk anak balita (bawah 5 Tahun). Sejak tahun 1982, untuk mencegah penyakit yang biasa menyerang anak-anak yang diduga akan mengakibatkan kematian pada bayi, pemerintah

66

Indonesia telah mengusahakan pemberian 4 macam imunisasi yaitu BCG (pencegahan TBC).2 91.5 94.7 93.1 89. Persentase Balita yang Pernah Diimunisasi menurut Daerah dan Jenis Kelamin.10). Oleh karena itu tidak terlihat adanya perbedaan yang 67 .0 94. Susenas 2007-2009 Pada dasarnya sebagai salah satu program pemerintah.8 87.1 89.3 92.8 2009 (4) 95.3 92.4 89. pemberian imunisasi balita tidak selektif gender atau semua balita ditargetkan menerima imunisasi.9 90. Tabel 5. DPT (pencegahan Dipteri.0 85. 2007-2009 Daerah/Jenis Kelamin (1) Perkotaan Perempuan Laki-laki Pedesaan Perempuan Laki-laki Total Perempuan Laki-laki 2007 (2) 94.0 91.2 87.9 95.6 Sumber: BPS.3 88.4 92. Pemantauan pencapaian imunisasi balita ini dapat dilakukan melalui Susenas secara tahunan. tetapi data Susenas tahun 1999 menunjukkan sedikit penurunan persentase balita yang paling tidak pernah menerima salah satu jenis imunisasi (lihat table 5. Polio (pencegahan polio) dan Campak (pencegahan campak) kepada balita.2 92. Sulawesi Selatan.8 2008 (3) 94.7 94.2 91.10.2 88.3 88. Dari tahun ke tahun pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan cakupan imunisasi dari keempat jenis yang diprogramkan di atas. Partusis dan Tetanus).7 85.2 85.

BBLR dibedakan dalam 2 kategori yaitu BBLR karena prematur 68 . 5. karena disamping merupakan faktor predisposisi yang dapat memperparah penyakit infeksi secara langsung juga dapat menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan individual. Tetapi perbedaan itu terlihat antara daerah pekotaan dengan daerah pedesaan. Hal ini nampaknya terkait dengan kemudahan sarana transportasi untuk menuju tempat pemberian imunisasi. Berikut ini akan disajikan gambaran mengenai indikator-indikator status gizi masyarakat di Sulawesi Selatan antara lain bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dan status gizi balita.berarti pada cakupan imunisasi antara balita laki-laki dan perempuan. Yang tentunya hal ini berkaitan juga dengan tingkat pendidikan mereka.500 gram) merupakan salah satu faktor utama yang berpengaruh terhadap kematian perinatal dan neonatal. Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) Berat Badan Lahir Rendah (kurang dari 2. walaupun tak terpaut jauh. Sayangnya pada kesempatan ini cakupan imunisasi belum dirinci untuk setiap jenis imunisasi yang diterima balita. Status Gizi Status gizi seseorang sangat erat kaitannya dengan permasalahan kesehatan secara umum. Bahkan status gizi janin yang masih berada dalam kandungan dan bayi yang sedang menyusu sangat dipengaruhi oleh status gizi ibu hamil atau ibu menyusui.4. Kesadaran masyarakat pedesaan untuk membawa putra putri mereka ke posyandu atau puskesmas untuk mendapatkan imunisasipun nampaknya masih lebih rendah dari masyarakat perkotaan.4. sebagaimana diuraikan berikut ini: 5.1.

998 (1.451 orang (100%). 2008 dan 2009 Penolong Kelahiran 2007 2008 2009 (1) Jumlah Bayi dengan BBLR (2) 2. tercatat bahwa jumlah bayi dengan berat badan lahir rendah sebanyak 2. Kota ParePare (158 kasus) dan Kab.998 2.416 (1. yaitu bayi yang lahir cukup bulan tetapi berat badannya kurang. anemia.040 Persentase dari Total Bayi Lahir (3) 1.56 1. dengan kasus tertinggi terjadi di Kab. Di negara berkembang.670 (83. malaria dan menderita penyakit menular seksual (PMS) sebelum konsepsi atau pada saat hamil.36 Sumber : Profil Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2009 Tabel 5. sementara kasus tertinggi di Kota Makassar (251 kasus). Sidrap (172 kasus).416 1.58 %). Pangkep (147 kasus) dan terendah di Kab.36 % dari total jumlah bayi lahir) dan yang ditangani sebanyak 1. Tabel 5. Persentase Balita Menurut Penolong Kelahiran dan Status BBLR Tahun 2007.(usia kandungan kurang dari 37 minggu) atau BBLR karena Intra Uterine Growth Retardation (IUGR).11.36 1. banyak BBLR dengan IUGR karena ibu berstatus gizi buruk.11 menunjukkan bahwa di Sulawesi Selatan pada tahun 2007. Sidrap (584 kasus) dan Kota Makassar (295 kasus) dan yang terendah di Kota Palopo (8 kasus). Sedangkan untuk tahun 2008 jumlah bayi dengan BBLR mengalami penurunan menjadi 1.56 % dari total bayi lahir) dan yang tertangani sebanyak 2. 69 . menyusul Kab.

Pada tahun 2009.51 % dan sisanya 9.040 (1. Secara nasional. Kategori yang digunakan adalah: gizi lebih (z-score>+2 SD).2. gizi baik (z-score-2 SD sampai +2 SD). yang berarti mengalami penurunan sekitar 34 %. Dari hasil Susenas 2001 di Indonesia.7 % tahun 2000. 5. Salah satu cara penilaian status gizi pada balita adalah dengan anthropometri yang diukur melalui indeks Berat Badan menurut umur (BB/U) atau berat badan terhadap tinggi badan (BB/TB). dan sensitif/peka dibandingkan prevalensi berdasarkan pengukuran berat badan menurut umur seperti hasil dari pengukuran prevalensi gizi kurang menurut BB/TB (wasting) sesudah tahun 1992 berkisar antara 10-14 %. prevalensi gizi buruk dan kurang pada balita adalah 37. persentase Balita yang bergizi baik adalah sebesar 64.14%. gizi kurang (zscore<-2 SD sampai -3 SD) dan gizi buruk (z-score<-3 SD). Namun dari beberapa studi/survei yang melakukan pengukuran berat badan dan tinggi badan (BB/TB). yang bergizi sedang 21.36 % dari total jumlah bayi lahir).5 % menurun menjadi 24. menurut Susenas tahun 1989.Jeneponto sebanyak 22 kasus. Sejak tahun 1992 untuk mengukur keadaan gizi anak balita digunakan standar WHO-NCHS untuk index berat badan menurut umur. jumlah bayi dengan BBLR mengalami kenaikan menjadi 2. Status Gizi Balita Status gizi balita merupakan salah satu indikator yang menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat. pada umumnya pengukuran BB/TB menunjukkan keadaan gizi kurang yang lebih jelas. Masalah gizi kurang pada anak balita dikaji kecenderungannya menurut Susenas dan survei atau pemantauan lainnya.35 70 .4.

untuk menanggulangi masalah gizi atau untuk memperoleh gambaran perubahan tingkat konsumsi gizi di tingkat rumah tangga dan status gizi masyarakat dilaksanakan beberapa kegiatan seperti Pemantauan Konsumsi Gizi (PKG) dan Pemantauan Status Gizi (PSG) di seluruh kabupaten/kota.03 67. demikian pula gizi kurang/buruk lebih tinggi pada balita laki-laki dibandingkan balita perempuan.58 73. 11.47 71.62 8.47 2.88 18.3 % anak yang berstatus gizi kurang.03 2. persentase balita perempuan bergizi baik relatif lebih tinggi daripada balita laki-laki.46 19.1 % anak yang berstatus gizi lebih. 1.12.73 17.0 % anak yang berstatus gizi buruk dan 3.04 70.18 6. Sedangkan untuk tahun 2004.7 % anak yang berstatus gizi baik.3 71.55 Sumber: Profil Kesehatan Sulawesi Selatan tahun 2008 Di Sulawesi Selatan. Hasil Pemantauan Status Gizi yang dilaksanakan pada tahun 2001 menggambarkan 84.69 2.88 2. Bila dibandingkan menurut jenis kelamin. Persentase Balita (0-59 bulan) Menurut Status Gizi & Jenis Kelamin di Indonesia Tahun 2002 dan 2003 Status Gizi 2002 LakiLaki Perempuan LakiLaki+Perempuan LakiLaki 2003 Perempuan Laki-laki +Perempuan Lebih Normal Kurang Buruk 2. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 5.59 19.% adalah Balita bergizi kurang/buruk atau yang dikenal dengan istilah Kurang Kalori Protein (KKP).41 18.24 69.73 7.46 8.89 20. menurut laporan yang diterima oleh Subdin Bina Kesehatan Keluarga 71 .47 2.43 7.35 7.

dan Jeneponto (8 kasus). kwashiorkor (25 kasus). Pinrang (15 kasus). wajah membulat dan sembab. jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada dan sering disertai penyakit infeksi serta diare. tulang belakang terlihat menonjol.2004). empat kabupaten/kota terbanyak antara lain Pinrang 12 kasus.dan KB Dinkes Prov. perut cekung. sedangkan KEP total sebesar 28. dan gabungan marasmik-kwashiorkor. Bone 11 kasus. cengeng dan rewel. Wajo (11 kasus). wajah seperti orang tua (pipi kempot./kota tercatat delapan kab. Kasus gizi buruk jenis marasmus di Sulawesi Selatan pada tahun 2008 sebanyak 48 kasus. Menurut hasil survei Gizi Mikro Tahun 2006 balita gizi buruk tercatat sebesar 9 %. Kasus gizi buruk yang sebanyak itu terdiri dari marasmus (48 kasus).1 % dan gizi buruk 12./kota yang diatas angka provinsi dan Sulawesi Selatan sudah mencapai target pencapaian program perbaikan gizi pada RPJM 2015 sebesar 20 %. rambut tipis. iga gambang. Marasmus adalah gizi buruk yang disertai tanda-tanda seperti badan sangat kurus (kulit membungkus tulang). Kwashiorkor adalah keadaan gizi buruk yang disertai tanda-tanda klinis seperti edema di seluruh tubuh. Jumlah kasus gizi buruk berdasarkan ketiga jenis tersebut di Sulsel pada tahun 2008 sebanyak 95 kasus. kwashiorkor. Luwu Timur 7 kasus. dan marasmik-kwashiorkor (22 kasus). dan Jeneponto sebanyak 6 kasus. mata terlihat cekung). Sulsel tercatat bahwa jumlah KEP sebesar 13. Secara umum prevalensi gizi buruk di Sulawesi Selatan menurut hasil Riskesdas adalah 5.5 % dari kabupaten.48 % (PSG. empat kabupaten/kota dengan kasus terbanyak antara lain Bone (16 kasus). Pada kasus gizi buruk di Sulawesi Selatan pada tahun 2008 dengan adanya gejala klinis terbagi atas 3 jenis. kulit keriput. yaitu marasmus. Kasus gizi buruk 72 .5 %.

1. Pinrang. Gangguan kesehatan yang dialami seorang ibu bisa berpengaruh pada kesehatan janin dalam kandungan hingga kelahiran dan masa pertumbuhan bayi dan anaknya.5.825 orang (24. dan Bone (5 kasus). 5.92 persen yang mendapat perawatan). Oleh karena itu pelayanan kesehatan terhadap ibu dan bayi sangat penting yang dikenal dengan gerakan sayang ibu seperti pelayanan berikut: 5. baik kesehatan ibu yang mengandung maupun janin yang dikandungnya sehingga dalam masa kehamilan perlu dilakukan pemeriksaan secara teratur. Sedangkan gizi buruk jenis marasmik-kwashiorkor (M+K) adalah gizi buruk dengan gambaran klinis yang merupakan campuran dari beberapa gejala klinis kwashiorkor dan marasmus dengan BB/U < 60% baku median WHO-NHCS disertai edema yang tidak mencolok.5. Gerakan Sayang Ibu Seorang ibu mempunyai peran yang sangat besar di dalam pertumbuhan bayi dan perkembangan anak. Bulukumba dan Bantaeng masing-masing (3 kasus). Situasi gizi buruk di Sulawesi Selatan pada tahun 2009 berdasarkan profil kesehatan kabupaten/kota tercatat sebanyak 2. Pelayanan Antenatal (K1 dan K4) Masa kehamilan merupakan masa rawan kesehatan. Pangkep (6 kasus).jenis kwashiorkor ditemukan terbanyak pada Kabupaten Wajo (5 kasus). Kasus M+K di Sulsel pada tahun 2008 terbanyak di Kab. Hal ini dilakukan guna menghindari gangguan sedini mungkin dari 73 . Selayar. Enrekang (7 kasus). Soppeng.

segala sesuatu yang membahayakan terhadap kesehatan ibu dan janin yang dikandungnya. Pelayanan antenatal merupakan pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan profesional (dokter spesialis kandungan dan kebidanan, dokter umum, bidan dan perawat) kepada ibu hamil selama kehamilannya, yang mengikuti pedoman pelayanan antenatal yang ada dengan titik berat pada kegiatan promotif dan preventif. Hasil pelayanan antenatal dapat dilihat dari cakupan pelayanan K1 dan K4. Cakupan K1 atau juga disebut akses pelayanan ibu hamil merupakan gambaran besaran ibu hamil yang telah melakukan kunjungan pertama ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pelayanan antenatal. Sedangkan cakupan K4 adalah gambaran besaran ibu hamil yang telah mendapatkan pelayanan ibu hamil sesuai dengan standar serta paling sedikit empat kali kunjungan, dengan distribusi sekali pada trimester pertama, sekali pada trimester dua dan dua kali pada trimester ketiga. Angka ini dapat dimanfaatkan untuk melihat kualitas pelayanan kesehatan kepada ibu hamil. Gambaran persentase cakupan pelayanan K1 menurut kab./kota di Sulawesi Selatan tahun 2007 tercatat sebesar 93,55 % dan K4 sebesar 76,45%. Cakupan K1 berada di atas target nasional sedangkan K4 berada di bawah target nasional (78%), namun bila dilihat menurut kab./kota maka terdapat kab./kota yang berada di atas target nasional bahkan berada dibawah rata-rata provinsi. Adapun Kab./Kota yang memiliki cakupan yang masih berada jauh dari rata-rata adalah Kab. Selayar, Pangkep, Bone, Enrekang, Tator, Kota Pare-pare dan Palopo. Sedangkan pelayanan K1 tahun 2008 tercatat sebesar 85,91 % dan K4 sebesar 77,74 %.

74

Secara provinsi, pelayanan K1 di Sulawesi Selatan pada tahun 2008 tercatat sebesar 94,71 %, itu artinya pola pelayanan antenatal sudah cukup aktif. Tiga Kab./Kota dengan cakupan terendah yaitu Kota Parepare (84,53%), Selayar (84,71%), dan Enrekang (88,93%). Sedangkan cakupan pelayanan K4 di Sulawesi Selatan dari tahun 2004 -2009 mengalami peningkatan setiap tahunnya. 5.5.2. Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan dengan Kompetensi Kebidanan Komplikasi dan kematian ibu maternal dan bayi baru lahir sebagian besar terjadi pada masa disekitar persalinan. Hal ini antara lain disebabkan pertolongan tidak dilakukan oleh tenaga kesehatan yang tidak memiliki kompetensi kebidanan (profesional). Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan, termasuk pendampingan, meningkat sekitar 10% yaitu dari 60,75 % pada tahun 1998 menjadi 70,62 % pada tahun 2003. Sementara itu, cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan pada tahun 2005 di Sulawesi Selatan tercatat sebesar 78,69 %, bila dibandingkan dengan target SPM Bidang Kesehatan Tahun 2005 (77%) maka Sulawesi Selatan berada di atas target. Sedangkan cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan pada tahun 2007 (72,68%) dan tahun 2008 mengalami peningkatan sebanyak (82,66%). Sedangkan gambaran cakupan persalinan oleh tenaga medis pada tahun 2009 sudah di atas 64 persen seperti yang disampaikan pada bahasan sebelumnya.

75

5.5.3.

Deteksi Risiko, Rujukan Kasus Risti dan Penanganan Komplikasi Kegiatan deteksi dini dan penanganan ibu hamil

berisiko/komplikasi kebidanan perlu lebih ditingkatkan baik di fasilitas pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) maupun di masyarakat. Risti/komplikasi adalah keadaan penyimpangan dari normal, yang secara langsung menyebabkan kesakitan dan kematian ibu maupun bayi. Risti/Komplikasi kebidanan meliputi Hb < 8 g %. Tekanan darah tinggi (sistole > 140 mmHg, diastole > 90 mmHg). Oedema nyata, eklampsia, perdarahan pervagina, ketuban pecah dini, letak lintang usia kehamilan > 32 minggu, letak sungsang pada primigravida, infeksi berat/sepsis, persalinan prematur. Dalam memberikan pelayanan khususnya oleh bidan di Desa dan Puskesmas, beberapa ibu hamil diantaranya tergolong dalam kasus risiko tinggi (Risti) dan memerlukan pelayanan kesehatan karena terbatasnya kemampuan dalam memberikan pelayanan maka kasus tersebut perlu rujukan ke unit pelayanan kesehatan yang memadai. Persentase cakupan ibu hamil risti yang dirujuk tahun 2008 sebesar 25,24 %. Neonatus risti/komplikasi yang meliputi asfiksia, tetanus neonatorum, sepsis, trauma lahir, BBLR (Berat Badan Lahir < 2.500 gram). Sindroma gangguan pernapasan dan kelainan neonatal. Neonatal risti/Komplikasi yang tertangani adalah neonatus risti/komplikasi yang mendapat pelayanan oleh tenaga kesehatan yang terlatih di Puskesmas perawatan dan RS Pemerintah/swasta dengan fasilitas PONED dan PONEK (Pelayanan Obestetrik dan Neonatal Emergensi Dasar dan Pelayanan Obestetrik dan Neonatal Emergensi Komprehensif).

76

9 % (Nasional 77.14 persen dari jumlah neo natal) dan sebanyak 78.86 persen dari ibu hamil) dan hanya 49.3 %).438 IH (11. persentase cakupan bumil risti di Sulawesi Selatan masih rendah yakni 31.Berdasarkan data hasil SDKI 2007. Sementara pada tahun 2009. Sedangkan jumlah neonatal risti/komplikasi sebanyak 4.8 % (Nasional 73 %) dan yang melahirkan pada fasilitas kesehatan sebesar 30.12 persen yang tertangani.1%). yang melahirkan pada tenaga kesehatan sebesar 58. 77 .6 % (Nasional 46. pemeriksaan kehamilan di Sulawesi Selatan secara garis besar masih sangat rendah. yang menerima tablet zat besi selama hamil sebesar 71. Pada tahun 2008. yang memperoleh imunisasi TT paling sedikit sebesar 1 kali sebesar 82. hal ini ditunjukkan dengan persentase pemeriksaan kehamilan oleh tenaga kesehatan mencapai 92.2 % (Nasional 93.5 % (Nasional 73 %). jumlah ibu hamil risti/komplikasi sebanyak 21. masih jauh dari target nasional (100 %).509 orang (3.51 persen yang tertangani.29 %.2 %).

78 .

Sedangkan bagi perempuan yang memilih untuk bekerja dan memiliki latarbelakang ekonomi menengah ke atas. penduduk usia kerja Sulawesi selatan sebanyak 5. jam kerja. TPAK dan pangangguran. sehingga melibatkan diri di dalam kegiatan ekonomi secara aktif.1 Penduduk Usia Kerja Sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk. Jumlah ini meningkat menjadi 5. jumlah penduduk usia kerja juga mengalami pertambahan. KEGIATAN EKONOMI Keterlibatan perempuan dalam sector ekonomi. Jika dilihat dari jenis kelamin.lapangan usaha.748 jiwa. Berarti setiap 100 79 . Pembahasan kegiatan ekonomi di provinsi Sulawesi Selatan pada kegiatan ini meliputi: penduduk usia kerja. Penduduk usia kerja yang dimaksud berumur 15 tahun keatas yang merupakan sumber angkatan kerja potensial. dilatarbelakangi oleh keharusan bekerja atau mereka memilih untuk bekerja. mereka bekerja tidak lain hanya didorong oleh motivasi tertentu. Upah/gaji. Sehubungan dengan ini dapat dikatakan bahwa semakin rendah tingkat kehidupan social ekonomi rata-rata penduduk di dalam suatu masyarakat. tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan cenderung semakin tinggi. Pada tahun 2008. Sebagian perempuan yang “harus bekerja” adalah karena kondisi ekonomi keluarga yang tidak mencukupi.624 jiwa pada tahun 2009. terdapat perbedaan usia kerja dimana penduduk usia kerja perempuan lebih besar dari penduduk usia kerja lakilaki dengan sex rasio 95 (Hasil Sensus Penduduk 2010). Kemiskinan dan Pekerja Migran.559.660. 6.BAB VI..jenis usaha serta status usaha.

Hal yang sama terlihat pada daerah perkotaan dan pedesaan dimana penduduk usia kerja perempuan lebih besar daripada laki-laki (lihat table 6. Adanya perbedaan ini disebabkan oleh jumlah penduduk di pedesaan lebih besar daripada di perkotaan.1) Tabel 6.833 3. Pengaruh masing-masing faktor tersebut terhadap TPAK berbeda bagi perempuan dan laki-laki.986.748 2009 Perkotaan (3) 992. sosial.627.599 5.655 960.1 Banyaknya penduduk usia kerja menurut jenis kelamin dan daerah tempat tinggal Sulawesi Selatan. 2008 dan 2009 Jenis kelamin (1) Perempuan Laki-laki total 2008 (2) 2. Adanya perbedaan ini disebabkan antara lain jumlah penduduk perempuan memang lebih besar.660.370 1.766 1.681. hanya ada 95 laki-laki.712 2.2.932.perempuan.1 di atas terlihat penduduk usia kerja di pedesaan .624 Sumber : BPS.lebih banyak dibanding perkotaan.720.203 Total (5) 2.707.559.025 2. dan ekonomi.036 5.979. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) dan Pengangguran TPAK dapat diukur dari perbandingan angkatan kerja dan usia kerja. 6.953.. Selain itu penduduk usia kerja laki-laki di Sulawesi selatan banyak yang merantau.421 Pedesaan (4) 1. Akan tetapi perubahan TPAK dapat dipengaruhi oleh factor demografis. 80 . Sakernas 2008 dan 2009 Jika kita mengamati table 6.

Sulawesi Selatan.00 60.00 40.00 70. Sakernas 2009 81 .00 10. Melaksanakan tugas rumah tangga masih dianggap sebagai tugas pokok perempuan.1 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Menurut Daerah Tempat Tinggal dan Jenis Kelamin.00 0. pengaruh faktor-faktor tersebut tidaklah terlalu besar oleh karena umumnya laki-laki pencari nafkah utama keluarga.00 50.00 30. Tahun 2009 90.00 P erkotaan Laki-Laki P erempuan P edesaan Sumber : BPS. ekonomi dan budaya.00 20.00 80. Gambar 6. Lain halnya dengan TPAK perempuan.Bagi TPAK laki-laki. banyak dipengaruhi oleh factor sosial.

1 di atas terlihat bahwa TPAK perempuan baik di perkotaan maupun di pedesaan pada tahun 2009 selalu lebih rendah dari pada laki-laki. 82 . Walaupun demikian. di mana perempuan mempunyai kegiatan utama di dalam rumah dan laki-laki di luar rumah (mencari nafkah).Dari gambar 6. pada periode 2000-2009 terjadi kenaikan TPAK perempuan dari 28.94 persen pada tahun 2009.2 persen pada tahun 2000 menjadi 44. Hal ini berkaitan dengan pembagian tugas dalam rumah tangga peranan perempuan semakin signifikan dalam pasar tenaga kerja untuk mendukung ekonomi rumah tangga.97 persen pada tahun 2009. Kenaikan TPAK tersebut diduga disebabkan oleh kondisi ekonomi yang sudah berangsur membaik yang juga berdampak pada perekonomian rumah tangga. Perbedaan ini mungkin disebabkan oleh system pembagian kerja secara seksual dalam masyarakat. TPAK perempuan dan laki-laki di Sulawesi Selatan memiliki perbedaan yang cukup besar yaitu 44.94 persen berbanding 81.2 persen sedang laki-laki 69.9 persen. Kondisi ini masih sama pada tahun 2000 di mana TPAK perempuan hanya sebesar 28. Ini berarti partisipasi perempuan di bidang ekonomi belum dapat menyamai partisipasi laki-laki.

Salah satu karakteristik angkatan kerja yang utama adalah umur dan tentunya jenis kelamin.91 persen) dan di pedesaan pada usia 40-44 tahun (57. diantaranya yang utama adalah karakteristik angkatan kerja itu sendiri. juga oleh kondisi lain.000 . dan daerah.000 80.Gambar 6.19 83 .000 40.000 60. Sulawesi selatan 2009 Sumber : BPS.2 terlihat bahwa puncak TPAK perempuan di perkotaan berada pada usia 25-29 tahun (57. Pada daerah yang berbeda. tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) berbeda menurut umur dan jenis kelamin. Dari gambar 6. Perbedaan itu di samping dipengaruhi oleh desakan kebutuhan ekonomi.000 20. Sakernas 2009 Secara keseluruhan mereka yang berada di pasar kerja atau yang bekerja itu terdiri atas berbagai kelompok umur. jenis 100. dan seperti telah disinggung sebelumnya partisipasi mereka dalam angkatan kerja dapat berbeda-beda.000 1519 2024 2529 3034 3539 4044 4549 5054 5559 60 + Perkotaan Laki-Laki Perkotaan Perempuan Perdesaan Laki-Laki Perdesaan Perempuan kelamin.2 tingkat partisipasi angkatan kerja menurut umur.

6. jumlah pengangguran cenderung meningkat. Tingkat Pengangguran Timbulnya pengangguran adalah disebabkan oleh banyaknya pencari kerja yang tidak dapat diimbangi oleh penciptaan kesempatan kerja. ternyata memang TPAK laki-laki selalu lebih tinggi di semua kelompok umur baik di perkotaan maupun pedesaan. Namun demikian. Jika anggapan selama ini yang menyatakan rendahnya TPAK perempuan di Sulsel disebabkan oleh factor social dan budaya benar. Dalam kondisi ekonomi yang sulit. Disatu sisi 84 . Di bandingkan dengan TPAK laki-laki.persen). Hal ini menunjukkan bahwa pada tahun 2009 pola TPAK perempuan di Sulawesi Selatan adalah the early peak yaitu partisipasi sebagian besar adalah pada perempuan belum kawin atau perempuan muda yang telah kawin sebelum melahirkan. maka seharusnya TPAK perempuan di pedesaan akan jauh lebih rendah dari TPAK perempuan di perkotaan. baik di perkotaan maupun di pedesaan menunjukkan kecenderungan semakin melonggarnya ikatan sosial dan budaya di Sulawesi Selatan.3. Lingkungan sosial budaya selama ini tidak terlalu memberikan peluang bagi keikut sertaan perempuan dalam angkatan kerja. yang disebabkan oleh dua kondisi yang berlawanan. terjadi peningkatan TPAK perempuan untuk semua umur. Pada tahun 2009 TPAK perempuan perkotaan mempunyai 2 puncak dan di pedesaan mempunyai 3 puncak. yang kemudian keluar dari pasar kerja selama dan setelah melahirkan anak. dibandingkan tahun 2000. Hal ini disebabkan oleh lebih kuatnya pengaruh factor ekonomi daripada factor social budaya di pedesaan. Hal menarik dari kedua gambar di atas adalah secara keseluruhan TPAK perempuan di pedesaan lebih tinggi dari angka di perkotaan.

2 Sumber : BPS. Pada tahun 2000 perbandingannya adalah 5.4 7.9 1.7 7.9 3. Sakernas 2000 dan 2009 Hasil pengolahan Sakernas 2000-2009 Sulawesi Selatan menunjukkan tingkat pengangguran terbuka (TPT) perempuan lebih tinggi dibandingkan TPT laki-laki. Sulawesi Selatan. yaitu 7.4 terhadap 2.9.4 2. dan jenis kelamin. 2000 dan 2009 Daerah Tempat Tinggal (1) Perkotaan Pedesaan 2000 LakiPerempuan laki (2) (3) 9. Tetapi disisi lain.5 persen dan menurun menjadi 5.2).0 1.0 berbanding 1. Namun perbedaan TPT menurut jenis kelamin di dua daerah tesebut relative lebih kecil (lihat table 6.1 10. kesempatan kerja yang tersedia justru menciut karena kontraksi ekonomi atau tumbuh dalam besaran yang sangat terbatas karena minimnya investasi atau investasi yang ada lebih bersifat padat modal.3 3.6 8. TPT perempuan di Sulsel pada tahun 1997 adalah 11. Tabel 6.3 9.3. Jika perbedaan TPT dilihat dari daerah tempat tinggal.2 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menurut Daerah tempat tinggal.3 5.jumlah pencari kerja semakin bertambah.9 Total 5.0 2009 LakiPerempuan laki (5) (6) 13. baik berupa pendatang baru maupun mereka yang lepas/ keluar dari pekerjaan lama untuk mencari pekerjaan yang lebih baik.8 Total (4) 7. didapat perbedaan yang sangat besar antara TPT perkotaan dengan TPT pedesaan. dengan TPT perempuan 85 .5 10.4 6.9 Total (7) 11.4 persen pada tahun 2000.

Di pedesaan. Hal ini merupakan indikasi adanya pergeseran status pekerjaan perempuan dari hanya bekerja sebagai pekerja keluarga tanpa dibayar disektor pertanian. Menurut Effendi (1992). menjadi pekerja public/umum untuk mendapatkan upah. maka tersedia kesempatan bagi perempuan untuk mencari pekerjaan guna menambah penghasilan keluarga sambil mengisi kekosongan waktu ( effendi. Tidak mustahil hal ini berkaitan dengan menurunnya angka kelahiran. Tingginya TPT perempuan diduga karena berhubungan dengan peningkatan keinginan untuk bekerja diluar rumah tangga. tahun 2000 maupun pada tahun 2009. usaha di sector pertanian dan usaha rumah tangga lebih berperan di bandingkan usaha/kegiatan nonpertannian. Dalam keluarga yang mempunyai sedikit anak (misalnya 2) yang sudah bersekolah.1992 dalam Fatmawati). baik dengan jam kerja normal maupun tidak. termasuk istri dan anak-anak. Padahal penduduk usia kerja di pedesaan lebih banyak dari perkotaan. 86 . dapat saja bekerja sementara dengan membantu usaha keluarga. karena mereka yang membantu usaha keluaraga dicatat sebagai pekerja meskipun tidak dibayar. Menarik untuk ditelaah lebih lanjut adalah TPT perempuan di pedesaan lebih rendah dari perkotaan baik pada tahun 1997. Keadaan ini dapat mempengaruhi TPT. Hal tersebut terkait dengan sifat-sifat pekerjaan di pedesaan yang lebih mudah menyerap tenaga kerja keluarga. meskipun dengan produktivitas yang rendah.yang lebih tinggi dari TPT laki-laki. perbedaan ini berkaitan dengan perbedaan struktur peluang kerja. Perempuan yang belum bekerja atau tidak mempunyai pekerjaan.

Tidak tertutup kemungkinan mereka yang berpendidikan dipedesaan mencari kerja diperkotaan.Gambar 6. Jenis Kelamin.3 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menurut Umur. Sulawesi Selatan. Sementara di perkotaan. Keengganan bekerja di sektor pertanian dan langkahnya peluang kerja non-pertanian dipedesaan diduga mendorong mereka untuk mencari kerja di perkotaan. Sakernas 2009 Rendahnya pengangguran terbuka dipedesaan juga dapat dipakai sebagai indikator migrasi desa-kota. dan Daerah. 2009 Sumber : BPS. Inilah yang menyebabkan TPT di perkotaan relatif lebih tinggi 87 . yang berpendididkan bersedia menunggu beberapa saat untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan.

Gambar 6. Namun demikian pada periode 2006-2009. Pada awal krisis pengangguran meningkat atau berada pada posisi tinggi karena menurunnya kegiatan ekonomi secara umum maka merosot juga peluang kerja.2 persen (2007). Pada usia 15-19 tahun sebagian besar masih di bangku sekolah. Pada dasarnya hanya orang yang mampu atau dari status sosial-ekonomi menengah keatas yang dapat tetap menunggu untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. (Fatmawati 1993). Seiring dengan menurunnya penduduk miskin 88 .3 menunjukkan TPT mencapai puncaknya pada kelompok usia 20 sampai 24 tahun baik di perkotaan maupun di pedesaan serta baik antara laki-laki dan perempuan. perluasan kota diduga turut menambah pengangguran terbuka. kemudian menurun setelah itu. 11. Selain itu. sehingga belum mencari kerja.3 menunjukkan bahwa tingkat pengannguran di Provinsi Sulawesi Selatan cenderung terus menurun dari 12. tetapi memasuki usia 20-24 sudah semakin jelas untuk memutuskan masuk kepasar kerja. walaupun untuk itu mereka mendapatkan upah/penghasilan yang rendah.8 persen (2006). baik karena terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) maupun karena menurunnya daya beli masyarakat secara umum. 10. karena itu mereka akan bekerja apa saja untuk memperoleh penghasilan.5 persen (2008) dan 8. Jika dibandingkan dengan TPT tahun 1997 dapat dikatakan telah terjadi penurunan TPT diseluruh kelompok umur. Hal ini berkaitan dengan dampak krisis ekonomi yang ada.9 persen tahun 2009. dan mungkin masih berfikir-fikir dulu apakah akan terus sekolah atau bekerja. Tabel 6. Mereka yang berasal dari status social ekonomi yang rendah tidak mampu untuk menganggur.dari pedesaan. terutama biaya sekolahpun pada jenjeng lebih tinggi telah dirasakan memberatkan beban rumah tangga.

dari 14. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT %) 2. sehingga produktivitas merekapun tergolong rendah. Lapangan Usaha Lapangan usaha yang dimasuki oleh pekerja perempuan dan lakilaki memperlihatkan adanya perbedaan. sebenarnya adalah pada subsector industry kecil dan kerajinan rakyat (IKKR). Tabel 6. Pekerja perempuan di luar sektor pertanian (primer) banyak memasuki sector tertier. terutama jasa dan perdagangan.9 12.8 14. dalam kelompok sector sekunder. Bagian terbesar dari pekerja sector industri.4.3.2 14.5 13.57 2007 (3) 11.57 persen (2006).11 persen (2007). cukup besar. karakteristiknya mirip dengan sector pertanian. Tingkat Pengngguran Terbuka (TPT) dan Tingkat Kemiskinan di Sulawesi Selatan Tahun 2006-2009 Indikator (1) 1. Industry pengolahan yang berskala besar umumnya berlokasi di Makassar dan sekitarnya dengan kegiatan yang banyak menyerap tenaga 89 .31 Sumber : Sakernas 2006-2009 dan Susenas 2006-2009 6.34 2009 (5) 8. 14. 13. Tingkat Kemiskinan 2006 (2) 12.34 persen (2008) dan 12. Kedua sector ini secara umum. yaitu mudah dimasuki oleh mereka yang pendidikannya rendah dan sering terjadi income/work sharing.31 persen tahun 2009.11 2008 (4) 10. Sebenarnya kesertaan pada sector industri.

276 24.kerja adalah industry pengolahan makanan. Table 6.815 56.904 187. Dan Jenis Kelamin.92 0 71.569 70.295 2007 Perempua Lakin laki (2) (3) 2009 Perempua Lakin laki (4) (5) Perkotaan+Pedesaan Primer Sekunder Tertier 361.442 1.197 164.pertambangan.130.240 72.listrik.jasa. maupun udang untuk tujuan sector.713 407.240 36.010 185.690 22.424 396.00 9 57. yaitu dari sector sekunder dan tertier ke sector primer di antara pekerja perempuan.146 Primer Sekunder Tertier 9.keuangan.kontruksi Sector tertier= sector perdagangan. misalnya pengolahan biji coklat. Hal ini menunjukkan adanya penurunan kegiatan ekonomi di kedua kelompok besar lapangan usaha tersebut.695 10.482 64.4 Penduduk Berumur 10 Tahun Keatas yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha Utama. yang menandakan adanya penurunan kondisi ekonomi pedesaan dalam kurun waktu tahun 2007-2009.471 352. Tampaknya pertanda inilah yang mendorong banyaknya perempuan pedesaan mencari pekerjaan di luar sector pertanian. 2007. Jika dilihat dari perkembangan data tahun 2007-2009 terlihat adanya pergeseran yang cukup jelas di daerah pedesaan.542 271.153.091 80.210 189. Daerah. Sulawesi Selatan. 2009 Daerah/Lapangan Usaha (1) Perkotaan Pedesaan Primer Sekunder Tertier 352.231 1.transpotasi.552 456.274 187. 2009 90 1.011 Catatan: sector primer= sector pertanian.930 95. Sector sekunder= sector industry.223.649 471.24 9 93.439 281.863 24.441 .552 364.729 4.495.55 7 45.lainnya Sumber: BPS Sakernas 2007. kopi.648 177.

rumah makan dan hotel (29. menunjukkan bahwa pekerja perempuan banyak terserap selain di sektor pertanian (45. Daerah.Tabel 6.03 persen). 2009 cenderung lebih tinggi dari pekerja laki-laki yaitu masingmasing 7.21 persen) adalah sektor perdagangan besar. Sulawesi Selatan. Yang menarik adalah proporsi pekerja perempuan yang terserap di sektor industri pengolahan perdesaan. Bahkan di daerah perkotaan mayoritas pekerja perempuan terserap di sektor sektor perdagangan besar.05 persen. Table 6.33 persen) dan sektor jasa kemasyarakatan (30. Dan Jenis Kelamin. Penduduk Berumur 15 Tahun Keatas yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha Utama.5. dan itu terjadi baik di perkotaan dan Sumber : BPS.5.06 persen). eceran. Sakernas 2009 91 . rumah makan dan hotel (47. eceran.69 persen dan 6.

7 35. 1978).9 42.8 50.8 52. Dan Jenis Kelamin.2 22.2 33.5 32.5 20. 2007. Table 6. dalam Fatmawati 1993).5.3 Berusaha Buruh/kar yawan Pekerja Keluarga 22.7 Penduduk Berumur 10 Tahun Keatas yang Bekerja Menurut Status Pekerjaan.3 Perempuan (2) Lakilaki (3) 2009 Perempu Lakian laki (4) (5) Di Sulawesi Selatan.5 22.9 47. tetapi juga distribusi status usaha/pekerjaan (oberay.9 62. 2009 2007 Status Pekerjaan (1) Perkotaan Pedesaan Total Berusaha Buruh/kar yawan Pekerja Keluarga 26.4 22. Sulawesi Selatan.6. Pengelompokan pekerja menurut status usaha sangat berguna untuk menelusuri sifat usaha (pekerjaan) dan jenis usaha tertentu (Manning.5 23.8 49.9 16.6 12.1 92 . persentase pekerja perempuan masing-masing sebesar 55.1 55.1 22.8 30. Untuk 2 status tersebut. pola status usaha pekerja perempuan menunjukkan bahwa sebagian besar mereka bekerja sebagai pekerja keluarga (tak dibayar atau sebagai buruh/ karyawan).6 28.2 12.9 44.4 22.4 47. Status Pekerjaan Proses pembangunan ekonomi tidak saja dihubungkan dengan distribusi angkatan kerja menurut sector.6 55.7 Berusaha Buruh/kar yawan Pekerja Keluarga 25. Daerah.4 14.6 54.1 34.6 23.6 37.3 72.9 13.5 26.

persen dan 22. Agaknya hal ini berbeda dengan di pedesaan.4 persen) berstatus buruh atau karyawan. sebenarnya perempuan pekerja keluarga dapat dikatakan sebagai fenomena pedesaan. 6. Cukup besarnya persentase perempuan pengusaha sejalan dengan lapangan pekerjaan utamanya sebagai pedagang atau jasa dengan skala kecil. Tingginya persentase pekerja keluarga di pedesaan dimungkinkan karena dengan tingkat pendidikan umumnya rendah.8 persen.6 Jam Kerja Jam kerja merupakan salah satu variable yang mengukur pemanfaatan seseorang dalam bekerja. lazim terjadi praktek berbagi rejeki/pekerjaan (income/work sharing) dalam usaha rumah tangga. sehingga persentase perempuan yang bekerja sebagai buruh atau karyawan tergolong rendah (12.7). Umumnya kegiatan perekonomian di pedesaan lebih bersifat informal. Hal ini terlihat dari persentase perempuan yang bekerja sebagai pekerja keluarga adalah 72.6 persen pada tahun 2009 (lihat table 6. 93 . Di perkotaan pada waktu yang sama. baik dilakukan sendiri maupun dibantu anggota rumah tangga lainnya (anak).2 persen. pekerja perempuan sebagian besar (50.8 persen berbanding 35. Seseorang dapat dikatakan bekerja penuh jika yang bersangkutan bekerja minimal 35 jam dalam seminggu. Jumlah ini melebihi pekerja laki-laki (49.2 persen). Persentase perempuan yang berusaha (berusaha sendiri/dibantu buruh tidak tetap/dibantu buruh tetap) ternyata tidak banyak berbeda dengan laki-laki yaitu 26.3 persen) karena umumnya mereka bekerja sebagai pekerja keluarga (72.9 persen).

8 32. lebih banyak perempuan daripada laki-laki.0) (100. Meskipun jumlah jam kerja perempuan lebih rendah dibanding jumlah jam kerja laki-laki.9 4.9 40.8 persen menjadi 40.1 32.0 persen pada tahun 2009. atau dikenal juga sebagai setengah penganggur kritis.8 53.780 Total (100.4 1.7 38.976. 2007-2009 Jumlah Jam Kerja (Jam) (1) 0*) 1-14 15-34 35+ 2007 Perempuan Laki-laki Perempuan 2009 Laki-laki (5) 8.8 terlihat bahwa pekerja yang bekerja di bawah jam kerja normal (35 jam seminggu).7 persen.574 823.5 21.8 58.188 (100.0) Catatan: *) Sementara tidak bekerja ( ) angka dalam kurung adalah persentase Sumber: BPS Susenas 2007 dan 2009 94 . Table 6.3 9. Perbandingan tersebut menjadi lebih mencolok untuk mereka yang bekerja 1-14 jam seminggu. tetapi bila dibandingkan data tahun 2007 dengan data tahun 2009 nampak ada sedikit peningkatan. atau dikenal seminggu setengah penganggur. proporsi perempuan yang bekerja di atas jam kerja normal (35 jam seminggu) meningkat dari sebesar 37.5 37. Dalam periode tersebut.0 persen berbanding 42.8.16 1. Dari table 6. Persentase Pekerja Menurut Kelompok Jam Kerja Dan Jenis Kelamin.964.)) (2) (3) (4) 3.0) (100.9 37. maka banyak pula ditemukan perempuan yang bekerja dengan jam kerja rendah.Dengan banyaknya perempuan yang bekerja sebagai pekerja keluarga atau yang hanya berfungsi membantu suami/ayah/KRT.7 840.0 20. Data tersebut adalah 59.

dan lain sebagainya.39 kali dan 2. seperti latar belakang pendidikan.9 juga menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan upah/gaji baik laki-laki maupun perempuan pada periode 2000-2009.82 kali untuk pekerja perempuan. Peningkatan upah/gaji tersebut salah satunya mungkin karena semakin membaiknya perekonomian di Sulawesi Selatan sehingga upah/gaji pekerja sudah di atas UMR. Tetapi pada bahasan ini hanya dilihat berdasarkan tingkat pendidikan yang ditamatkan untuk lakilaki maupun perempuan. yang mengakibatkan adanya arus migrasi dari pedesaan ke perkotaan.9) menunjukkan bahwa tingkat upah pekerja secara umum berhubungan positif dengan tingkat pendidikan pada pekerja laki-laki maupun perempuan.6. keahlian. Peningkatan upah/gaji tersebut terjadi pada perekerja laki-laki maupun perempuan di semua jenjang pendidikan dan daerah. sementara lakilaki hanya 2. Dari hasil pengolahan data Sakernas 2000 dan 2009 (Tabel 6. jabatan.07 kali. Tabel 6. pengalaman kerja.25 kali.7. 95 . Upah/Gaji Sebulan Pemberian upah biasanya ditentukan oleh banyak faktor. Kemudian terlihat pula adanya kesenjangan antara tingkat upah di perkotaan dengan tingkat upah di pedesaan. jenis pekerjaan. Sehingga gap antara upah/gaji laki-laki dan perempuan semakin mengecil bahkan upah/gaji di perkotaan sudah mencapai di atas satu juta. Bahkan pada pekerja perempuan peningkatannya lebih signifikan yaitu 2. jam kerja. Biasanya penentuan tersebut merupakan kombinasi dari beberapa factor sekaligus. bahkan pada pekerja berpendidikan rendah dan tinggi masing-masing 3.

Kesenjangan tersebut sangat nyata di antara mereka yang berpendidikan di atas SLTA baik tahun 2000 maupun 2009. Sulawesi Selatan. Table 6. Rata-rata upah/gaji pekerja sebulan Menurut tingkat pendidikan dan jenis kelamin. 2000-2009 Sumber: BPS Sakernas 2000 dan 2009 96 .Sementara itu terlihat juga kesenjangan tingkat upah antara yang diterima pekerja perempuan dan yang diterima pekerja laki-laki pada seluruh tingkat pendidikan.9.

0 1083. Kemiskinan Jumlah penduduk miskin di Sulawesi Selatan selama periode Maret 2006-Maret 2009 terus mengalami penurunan baik secara absolut maupun relatif.7 963.25 17. penduduk miskin di perdesaan mencapai 18.7 orang (13. Tabel 6.8 152.34 12.600 jiwa (12.11 persen) pada tahun 2007.79 15.05 persen.34 persen) dan pada bulan Maret 2009 turun lagi menjadi di bawah satu juta yaitu 963.18 6.31 persen).1 Kota+Desa 1112.8 150. Pada tahun 2006.6.8 124. Pada tahun 2006 penduduk miskin di Sulawesi Selatan adalah sebanyak 1112.87 16.6 880.6 Persentase Penduduk Miskin Kota 6. Pada periode 2006-2008.94 Desa 18. Secara absolut selama periode Maret 2007-Maret 2008.8.57 14.79 persen sedangkan di daerah perkotaan turun menjadi 6. 2006-2009 Jumlah Penduduk Miskin (000) Tahun Kota 2006 2007 2008 2009 167.5 Desa 944.0 orang (14. Pada bulan Maret 2008 turun menjadi 1031.83 6.4 1031.11 13.25 persen sementara di daerah perkotaan hanya 6.10 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Sulawesi Selatan Menurutt daerah.31 Sumber: Diolah dari data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Penduduk miskin di Provinsi Sulawesi Selatan lebih tinggi di daerah perdesaan. penduduk 97 .57 persen) turun menjadi 1083.05 4. penduduk miskin di daerah perdesaan menurun menjadi 16.2 930.4 orang (14.9 839.83 persen.81 Kota+Desa 14.

75 persen).000 orang.0 22 194.700 orang.3 37 168.90 persen) penduduk miskin berada di daerah perdesaan.0 13 559.47 12.42).93 Kota+Desa 17. 2006-2008 Tahun Jumlah Penduduk Miskin (000) Kota Desa 24 806. sebagian besar (85.52 11.65 Desa 21.75 16. sementara di daerah perdesaan berkurang 49. Persentase penduduk miskin antara daerah perkotaan dan perdesaan tidak banyak berubah.3 23 609.58) pada tahun 2007. Tabel 6.11 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Indonesia Menurut Daerah.3 34 963.58 15. sementara pada bulan Maret 2008 persentase ini sedikit mengalami penurunan menjadi 85.42 2006 2007 2008 14 489.38 persen.3 Kota 13.3 ribu orang (17. turun menjadi 37 168.5 Sumber: Diolah dari data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2006-2008 98 . Pada tahun 2006 jumlah penduduk miskin di Indonesia adalah sebesar 39 295.8 Persentase Penduduk Miskin Kota+Desa 39 295.3 12 768. dan pada tahun 2008 turun lagi menjadi 34 963.3 ribu orang (16. Jumlah penduduk miskin di Indonesia pada periode Maret 2006-Maret 2008 tampak semakin menurun.81 20.3 (15.miskin di daerah perkotaan berkurang 2.37 18. Pada bulan Maret 2007.

78 persen.64 persen di perdesaan dan 18.334.34 persen. Pada bulan Maret 2007. Komoditi yang paling penting bagi penduduk miskin adalah beras.56 persen di perkotaan. yaitu dari Rp. Pada bulan Maret 2007. yang terdiri dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Bukan-Makanan (GKBM). Pada tahun 2006 persentase penduduk miskin di Indonesia mencapai 17. karena penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan dibawah Garis Kemiskinan. Garis Kemiskinan mengalami kenaikan.. 6.9. pendidikan. dan kesehatan).per kapita per bulan pada Maret 2008. Selama Maret 2007-Maret 2008.. sumbangan GKM terhadap GK sebesar 75. penduduk miskin di Indonesia mencapai 15. Perubahan Garis Kemiskinan Besar kecilnya jumlah penduduk miskin sangat dipengaruhi oleh Garis Kemiskinan.Jika dibandingkan dengan persentase penduduk miskin di Sulawesi Selatan pada periode Maret 2006-Maret 2008 tampak bahwa persentase penduduk miskin di Indonesia masih lebih besar. barang-barang kebutuhan pokok lain yang 99 . Selain beras. tetapi pada bulan Maret 2008.42 sedangkan di Sulawesi Selatan mencapai sekitar 13.12 persen. peranannya sedikit meningkat menjadi 76. sandang.126.623.138. terlihat bahwa peranan komoditi makanan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan. sumbangan pengeluaran beras terhadap Garis Kemiskinan sebesar 28.57. Demikian juga pada tahun 2008.per kapita per bulan pada Maret 2007 menjadi Rp. Dengan memperhatikan komponen Garis Kemiskinan (GK).75 persen sedangkan di Sulawesi Selatan hanya sekitar 14.

70 persen di perkotaan) dan minyak goreng (1.berpengaruh cukup besar terhadap Garis Kemiskinan adalah gula pasir (2.11 persen di perdesaan. Biaya untuk listrik.78 persen dan 2.90 persen di perkotaan).23 persen di perkotaan). 0. 100 . angkutan dan minyak tanah mempunyai pengaruh yang cukup besar untuk daerah perkotaan. dan Maret 2009. 1. Tabel 6. 2.82 persen di perkotaan. 2.50 persen. sementara untuk daerah perdesaan pengaruhnya relatif kecil (kurang dari 2 persen). Untuk komoditi bukan makanan. mie instan (1.58 persen di perkotaan).12. yaitu masing-masing sebesar 2. Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Sulsel Menurut Daerah.58 persen di perdesaan.99 persen di perdesaan. Garis Kemiskinan.04 persen di perdesaan dan 7. telur (1. 1.90 persen. biaya perumahan mempunyai peranan yang cukup besar terhadap Garis Kemiskinan yaitu 6. Maret 2006-Maret 2009 Sumber: Diolah dari data Susenas Panel Maret 2006-Maret 2008.34 persen di perdesaan.

101 . kebijakan kemiskinan juga sekaligus harus bisa mengurangi tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan.6. Dimensi lain yang perlu diperhatikan adalah tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan.13). 10. Demikian pula Indeks Keparahan Kemiskinan turun dari 0. Indeks Kedalaman Kemiskinan dan Indeks Keparahan Kemiskinan Persoalan kemiskinan bukan hanya sekadar berapa jumlah dan persentase penduduk miskin. Penurunan nilai kedua indeks ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung makin mendekati garis kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin juga semakin menyempit.44 pada keadaaan Maret 2008. Indeks Kedalaman Kemiskinan turun dari 2. Pada periode Maret 2007-Maret 2008.60 pada keadaan Maret 2007 menjadi 2. Selain harus mampu memperkecil jumlah penduduk miskin.68 menjadi 0. Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) menunjukkan kecenderungan menurun.67 pada periode yang sama (Tabel 6.

61 0. Maret 2006.67 0.40 3.35 sementara di daerah perdesaan mencapai 0.Maret 2008 Tahun Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) Maret 2006 Maret 2007 Maret 2008 Maret 2009 Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) Maret 2006 Maret 2007 Maret 2008 Maret 2009 0.03 2.20 sementara di daerah perdesaan mencapai 3.82.22 0.22 3. 102 .15 1.74 1.Tabel 6.35 0. Nilai Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) untuk perkotaan hanya 0. Pada bulan Maret 2008.89 0.03.13 Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) di Sulawesi Selatan Menurut Daerah.68 0.60 2.77 0.08 Kota Desa Kota + Desa Sumber: Diolah dari data Susenas Panel Maret 2006-Maret 2009 Nilai Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) di daerah perdesaan jauh lebih tinggi dari pada perkotaan.00 0. nilai Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) untuk perkotaan hanya 1.43 2.91 1.20 0.74 3.67 4.82 0.55 2.44 2.22 0.

1981). dunia seakan tanpa batas.11. Dengan semakin tingginya tingkat mobilitasi baik nasional maupun internasional. (Demographic Institut. Globalisasi telah merubah banyak jumlah perempuan yang migrasi bukan saja sebagai pengikut tetapi juga sebagai pelaku migrasi. Mobilitas penduduk merupakan salah satu usaha manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dengan mencari dan menemukan sesuatu yang baru (innovative migration) atau mempertahankan apa yang telah dimiliki (conservative migration). telah mendorong banyak peneliti melakukan analisa mengenai apa yang mendorong seseorang melakukan hal ini. Tujuan dan motif utama migrasi yang sering ditemukan adalah untuk memperbaiki keadaan ekonomi dan status sosial. 2004). Perempuan meningkatkan migrasi internasional bukan saja jumlah perempuannya yang meningkat tetapi juga konstribusi perempuan di bidang sosial ekonomi juga meningkat (Sri Harijati Hatmaji.6. 103 . Seiring berkembangnya era globalisasi pada saat ini. Pekerja Migran (TKI/TKW) Teori migrasi klasik menyatakan bahwa migran lebih banyak lakilaki daripada perempuan pada usia umur produktif. Adanya globalisasi informasi menyebabkan mobilitas penduduk semakin meningkat.

Mereka membawa berbagai pengetahuan dan nilai-nilai baru ke tempat asal atau ke tempat tujuan sehingga mendorong terjadinya perubahan sosial budaya. Mobilitas penduduk dapat mendatangkan perubahan sosial baik bagi daerah asal maupun daerah tujuan.775 85 457 1 3 80 3. Secara umum.5 13.Banyaknya Migrasi Internasional (TKI dan TKW) dari Sulawesi Selatan Menurut Tujuan Negara Tahun 2010 Tujuan Negara Malaysia Arab saudi Brunei Darussalam Hongkong Kuwait Malaysia Timur Jumlah Jumlah 2. dan pola fertilitas. Migran yang telah tersentuh atau dipengaruhi oleh lingkungan yang lain. perubahan status sosial ekonomi seperti mata pencaharian serta tingkat pendidikan.4 100. Tabel menunjukkan bahwa migrasi dari sulawesi Selatan sebagian 104 .Tabel 6.0 Sumber: Disnakertrans Provinsi sulawesi Selatan (Data Diolah) Data bulan Januari-September 2010.14.401 Persentase 81. Karena dalam proses mobilitas terjadi kontak dengan lingkungan lain.6 2. perubahan sosial budaya dapat diamati dari perubahan orientasi nilai budaya tradisional.4 0.1 2. seringkali menjadi pelaku perubahan.0 0.

10 0.29 1.80 0.3 persen.34 persen).045 Persentase L 77.40 8.13 0.dan Kuwait 3 orang (0. Tabel 6.29 persen).00 0.80 persen dan 90. Tahun 2010 Jenis Kelamin L 1.00 19'40 0.13 persen).besar menuju Malaysia mencapai 81.80 P 90.5 persen.00 Tujuan Negara Malaysia Arab saudi Brunei Darussalam Hongkong Kuwait Malaysia Timur Jumlah Diolah) Total 2.356 P 942 85 0 1 3 14 1.4 persen) dan Arab Saudi 2.10 persen) dan Malaysia Timur 14 orang (1.00 2.40 persen. Sedangkan migrasi yang menuju nega-negara Arab seperti ke Arab Saudi adalah umumnya perempuan yaitu sebanyak 85 orang (8.15. Tetapi yang menarik adalah migrasi ke Malaysia dari Sulawesi Selatan yang menjadi TKI dan TKW ke malaysia adalah laki-laki dan perempuan masing masing untuk laki-laki 77. 105 . Banyaknya Migrasi Internasional (TKI dan TKW) dari Sulawesi Selatan Menurut Tujuan Negara dan Jenis Kelamin.775 85 457 1 3 80 3.833 0 457 0 0 66 2.401 100. Bahkan ada yang menuju Hong Kong yaitu 1 orang (0.00 Sumber: Disnakertrans Provinsi sulawesi Selatan (Data Data bulan Januari-September 2010.00 0. berikutnya adalah Brunei Darussalam (13.34 100.

106 .

Dalam bab ini. serasi. Hambatan bagi partisipasi perempuan dalam kehidupan politik tidak boleh ditolerir. Eksekutif. 2 Tahun 2007 tentang Partai Politik dan UU No. dan seimbang yang dilandasi saling menghormati. kemandirian serta ketahanan mental dan spiritual menuju terwujudnya kemitrasejajaran perempuan dan laki-laki yang selaras. 6. akan disajikan data tentang keterlibatan perempuan di Sulawesi Selatan pada sektor publik dalam bidang legislatif. Artinya peraturan perundangundangan yang terkait dengan Pemilu wajib menjamin hak yang sama antara laki-laki dan perempuan untuk menikmati hak sipil dan politik.1. SEKTOR PUBLIK Peran aktif perempuan dalam pembangunan pada hakekatnya adalah upaya untuk mengembangkan diri yang dapat dilihat pada bidangbidang yang memberi pengaruh luas disektor publik meliputi politik dan sektor pemerintahan. hak kewajiban dan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan dalam menjalankan peran masing-masing. 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum memberikan dukungan untuk terlaksananya 107 . karena dapat menghambat pertumbuhan kesejahteraan keluarga dan masyarakat dan mempersulit perkembangan potensi perempuan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. saling menghargai. UU No. Partisipasi Perempuan dalam Bidang Legislatif. kedudukan.BAB VII. eksekutif dan yudikatif. Yudikatif Hak untuk dipilih dan memilih berdasarkan persamaan hak merupakan perintah UU yang harus dipatuhi. saling membutuhkan dan saling mengisi. Dengan demikian akan terdapat persamaan status. Partisipasi perempuan memberikan kemampuan.

Secara bertahap sejak reformasi perubahan sosio cultural menuju persamaan peran laki-laki dan perempuan di dunia politik sudah mulai terjadi. memasak. Dalam masyarakat tradisional semacam itu perempuan diberi peran untuk tugas-tugas yang perlu kesabaran. bupati atau pemimpin partai. karena partai politik berubah pikiran dalam penetapan calon terpilih dari berdasar nomor urut ke berdasar suara terbanyak. Ditentukannya 30% pengurus partai politik di semua tingkatan harus diisi oleh perempuan dan 30% calon anggota legislatif juga diisi oleh perempuan dengan jaminan penempatan pada nomor urut kopiah atau dasi. sehingga peran mereka terutama mengasuh anak. Sedangkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih menantang dianggap dunianya laki-laki seperti menjadi tentara. Artinya bila hal tersebut menjadi keputusan politik calon anggota legislatif dari kalangan kaum hawa harus lebih keras dalam mengumpulkan pemilih. kehalusan perasaan.affirmative action dalam rangka meningkatkan peranan perempuan di bidang partai politik. Tetapi hal tersebut belum menjamin calon anggota legislatif dari kalangan perempuan akan benar terpilih. Ketentuan UU tersebut diperlukan sebagai sarana perubahan sosio cultural menuju persamaan gender dalam kehidupan politik. Hukum sebagai sarana perubahan sosial diharapkan mampu mengubah pola peranan laki-laki dan perempuan dalam masyarakat yang masih diwarnai oleh ciri-ciri suatu masyarakat tradisional paternalistik. cukup memberi peluang kepada peningkatan peranan perempuan secara kuantitatif. Keterlibatan perempuan dalam dunia politik memberikan kecerahan bahwa kaum perempuan bisa menjadi ujung tombak dalam 108 . menjadi bidan/perawat.

advokasi upaya pengarusutamaan serta nilai-nilai kesetaraan gender dalam produk perundang-undangan maupun penciptaan perencanaan pembangunan yang berperspektif gender. 109 . Partisipasi perempuan dalam bidang legislatif dapat dilihat dari keanggotaan mereka dalam lembaga legislatif. Jumlah anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2009 dapat dilihat pada Tabel 7.1. dalam hal ini sebagai anggota DPR/DPRD.

86 91.00 87.89 13.79 17.07 12.57 11.94 32 40 25 35 30 45 29 35 35 25 45 30 35 30 35 30 35 45 35 30 58 25 25 789 4 110 Sumber : Badan PP dan KB Provinsi Sulawesi Selatan.57 90.06 7 4 7 4 7 13 4 6 3 5 9 4 6 1 4 3 3 5 1 0 7 3 21.67 71. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 T o t al Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sinjai Maros Pangkep Barru Bone Soppeng Wajo Sidenreng Rappang Pinrang Enrekang Luwu Tana Toraja Luwu Utara Luwu Timur Kota Makassar Kota Parepare Kota Palopo 25 36 18 31 23 32 25 29 32 20 36 26 29 29 31 27 32 40 34 30 51 22 21 679 78.86 96.67 88.43 80.00 13.00 88.89 97.11 86.00 86.11 2.00 86.33 11.14 3.14 8.00 13.57 76.33 28.00 84.21 82.1 Jumlah Anggota DPRD Tingkat Kab/Kota & Provinsi Periode 2004-2009 Berdasarkan Jenis Kelamin di Provinsi Sulawesi Selatan Kabupaten/ Kota Jumlah Anggota DPRD Laki-laki Jumlah Anggota DPRD % Perempuan Jumlah Anggot a DPRD % Total No .93 88.00 20.86 0.57 20.43 88.00 80.00 16.00 91.00 72.67 82.00 28.88 10.00 12.43 10.13 90.33 17.00 8.14 100. 2010 110 .00 11.43 23.Tabel 7.

2 Tahun 2007 tentang Partai Politik dan UU No.1 juga terlihat bahwa dari seluruh kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan belum ada satupun kabupaten yang keberadaan anggota DPRD perempuan memenuhi quota 30 %.93 %) dan perempuan 7 orang (12. Dari data Tabel 7. Jumlah yang sama juga di Kabupaten Bone yaitu sebanyak 45 orang dengan perbandingan laki-laki 36 orang (80 %) dan perempuan 9 orang (20 %). yang memiliki jumlah anggota DPRD paling banyak adalah kota Makassar yaitu sebanyak 58 orang diantaranya laki-laki 51 orang (87.1. jika dianalisis berdasarkan jumlah anggota DPRD pada setiap kabupaten/kota terlihat bahwa dari 24 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan.11 %) dan perempuan 13 orang (28.Berdasarkan Tabel 7. Hal ini menunjukkan bahwa aturan UU No.89 %).07 %). 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum memberikan dukungan untuk terlaksananya affirmative action dalam rangka meningkatkan peranan perempuan di bidang partai politik belum sepenuhnya dapat terlaksana. Selanjutnya kabupaten yang memiliki jumlah anggota DPRD yang banyak adalah Kabupaten Gowa sebanyak 45 orang dengan perbandingan laki-laki sebanyak 32 orang (71.1 berikut: 111 . Untuk melihat perbandingan persentase jumlah anggota DPRD Tingkat II Pemilu 2009 berdasarkan jenis kelamin di Provinsi Sulawesi Selatan dapat dilihat pada Diagram 7. Kabupaten berikutnya yang memiliki jumlah anggota DPRD yang cukup banyak adalah Kabupaten Bulukumba yaitu sebanyak 40 orang dengan perbandingan laki-laki 36 orang (90 %) dan perempuan 4 orang (10 %).

94 %). diperlukan komitmen.06 %) dan perempuan 110 orang (13.1 Persentase Anggota DPRD Tingkat II Provinsi Sulawesi Selatan Berdasarkan Jenis Kelamin di 2009 Jumlah Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2009 berjumlah 789 orang diantaranya laki-laki 679 orang (86. Jika kita amati data tersebut. yang kuat dikalangan elit politik untuk secara sungguh-sungguh melaksanakan amanat UUD dan ketentuan undang-undang yang menjamin kedudukan antara laki-laki dan perempuan didepan hukum dan 112 . Peran perempuan dibidang pemerintahan merupakan refleksi dari kualitas peran mereka dalam kepemimpinan partai politik dan dalam lembaga legislatif. Untuk meningkatkan kualitas peran perempuan. Peran perempuan dalam kepemimpinan di bidang pemerintahan tidak jauh berbeda dari peran mereka dalam calon anggota legislatif. sehingga ke depan perlu dilakukan langkah-langkah strategis agar keterlibatan dan peran perempuan di ranah legislative dapat lebih ditingkatkan.Diagram 7. maka dapat kita simpulkan bahwa baik jumlah anggota DPRD baik di setiap kabupaten maupun di tingkat provinsi belum ada yang memenuhi quota 30%.

non departemen. Komposisi PNS Pemerintah pada tingkat provinsi dan kabupaten berdasarkan jenis kelamin di Provinsi Sulawesi Selatan pada Tahun 2010 disajikan pada Tabel 7. Laki-laki dan perempuan mempunyai hak dan tanggung jawab yang sama untuk membangun bangsanya. menggalang dukungan untuk meraih simpati dan secara sistematis menempa diri agar memiliki kapasitas. Sementara itu kaum perempuan perlu mengkonsolidasikan potensinya. badan dan lembaga lainnya yang berada di bawah koordinasi pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. dinas. Urusan politik dalam negara demokratis adalah urusan laki-laki dalam negara demokratis adalah urusan laki-laki dan perempuan. kapabilitas serta akseptabilitas untuk memainkan peranan lebih besar dalam kancah politik demi kesejahteraan seluruh rakyat.pemerintahan. Partisipasi perempuan dan laki-laki dalam bidang eksekutif dapat dilihat dari jumlah mereka yang terlibat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Pegawai Negeri Sipil yang dimaksud adalah semua pegawai yang bekerja pada departemen.2 berikut : 113 .

412 4.77 52.2 terlihat bahwa dari 176.06 44.55 54.177 2.14 45.031 9.19 43.547 6.243 7.455 4.153 orang PNS pada tingkat kabupaten dan provinsi.86 PR 2.184 3.534 2.834 1.942 4.199 4.13 50.64 48.93 39.415 2.093 3.Tabel 7.653 4.56 51.574 5.396 2.14%). Hampir pada setiap kabupaten persentase PNS perempuan lebih banyak dibanding laki-laki.082 4.494 7.54 53.351 5.88 42.153 Sumber : BKN Provinsi Sulawesi Selatan 2010 Berdasarkan Tabel 7.49 51.998 3.311 5.81 56.176 3.453 7.767 3.228 3.02 53.45 45.990 15.23 47.39 46.727 3.238 2.790 6.03 52.576 5.191 176.307 5.61 46.735 3.366 5.97 47.76 43.98 46.409 7.024 2.83 55.550 2.161 4.719 6.94 51.23 53.454 3.421 8.48 57.2.544 orang (46.86 54.87 49.614 2.51 48.467 2.36 51. Jumlah PNS Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Menurut Jenis Kelamin Tahun 2010 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Kabupaten Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sinjai Maros Pangkep Barru Bone Soppeng Wajo Sidrap Pinrang Enrekang Luwu Tana Toraja Luwu Utara Luwu Timur Makassar Pare-Pare Palopo Prov Sulawesi Selatan *) Jumlah Jenis Kelamin LK 2.24 56.65 45.12 57.86%) adalah laki-laki dan perempuan 93.94 55.97 50.422 93.112 7.46 46.17 44.445 12. diantaranya 82.222 2.964 2.277 9.677 7.07 60.39 53.798 3. kecuali di Kabupaten Jeneponto dan Tana Toraja serta persentase PNS di 114 .510 9.817 2.928 4.592 3.109 3.817 3.713 5.44 48.938 3.650 4.91 48.079 6.06 48.323 3.381 4.544 % 45.501 3.890 5.61 53.14 TOTAL 4.389 10.09 51.77 46.769 82.305 3.03 49.729 6.609 % 54.35 54.713 3.52 42.939 2.609 orang (53.009 4.

Selanjutnya untuk mengetahui perbandingan pegawai laki-laki dan perempuan berdasarkan golongan dapat dilihat pada Diagram 7. Pada golongan II dan III.tingkat Provinsi Sulawesi Selatan.2. Secara rinci dapat diuraikan bahwa pada golongan I laki-laki sebesar 78 % sedangkan perempuan 22 %. persentase PNS perempuan lebih besar yaitu mencapai 55 % sedangkan laki-laki 45 %. Pada golongan 115 .2 Persentase PNS Menurut Jenis Kelamin dan Golongan di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2010 Gambaran tentang posisi PNS di Provinsi Sulawesi Selatan perempuan dan laki-laki bila ditinjau dari segi golongannya dapat di lihat pada Diagram 7. Dari diagram ini dapat diketahui bahwa secara umum proporsi PNS laki-laki yang berada pada golongan II. Hal ini dapat berarti bahwa perempuan telah diberi kesempatan yang luas dalam bidang eksekutif sehingga diharapkan dapat memberikan peran dalam pembangunan daerah. kecuali pada golongan I. III dan IV lebih rendah persentasenya dibanding PNS perempuan.2 berikut : Diagram 7.

IV perempuan sebesar 52 % sedangkan 48 %. Utamanya dalam kerangka Otonomi Daerah. Adapun komposisi pegawai pada tingkat provinsi di Provinsi Sulawesi Selatan berdasarkan Tingkat Pendidikan dapat dilihat pada Diagram 7. Hal lain yang perlu diperhatikan dari keberadaan pegawai adalah komposisinya berdasarkan tingkat pendidikan yang dimiliki. diharapkan sumber daya manusia berkualitas ini mampu mendatangkan manfaat bagi daerahnya. Untuk mengetahui secara lebih jelas perbandingan antara laki-laki dan perempuan menurut golongan pada setiap kabupaten dapat dilihat pada Lampiran 1.3 berikut: 116 . Untuk peningkatan pembangunan khususnya di daerah diperlukan sumber daya manusia yang berkualitas baik dari segi moral maupun pendidikan sehingga mereka dapat menjadi motor penggerak pembangunan daerah. Dari data-data ini menunjukkan bahwa di Provinsi Sulawesi Selatan ada pergeseran posisi perempuan yang lebih dominan dibanding laki-laki pada setiap golongan.

jumlah lakilaki jauh lebih banyak dibanding perempuan.000 orang diantaranya laki-laki 28.917 orang.092 orang diantaranya laki-laki 31.590 orang. dari 176.410 orang dan perempuan 27. kemudian tingkat pendidikan SLTA sebanyak 56. 117 .3 Jumlah PNS Menurut Jenis Kelamin dan Pendidikan di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2010 \Analisis lebih lanjut berdasarkan tingkat pendidikan.153 orang PNS di Provinsi Sulawesi Selatan.175 orang dan perempuan 31.158 orang dan perempuan 31. Untuk mengetahui secara lebih jelas perbandingan antara laki-laki dan perempuan menurut pendidikan pada setiap kabupaten dapat dilihat pada Lampiran 2.Diagram 7.233 orang diantaranya laki-laki 14. Pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi yaitu pada S2 dan S3. kemudian tingkat pendidikan DI/DII/DIII/Sarjana Muda/Akademik sebanyak 45. jumlah pegawai terbanyak berpendidikan S1/DIV/ Akta IV/Akta V/Spesialis yaitu sebanyak 63.075 orang.

bidang lainnya yang perlu mendapat perhatian adalah yudikatif. hukum yang dilaksanakan atas semua orang tanpa mengistimewakan dan tanpa membedakan seorang individu atas lainnya karena jenis kelamin.3 disajikan data mengenai jumlah Jaksa yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan menurut jenis kelamin. 118 . Dalam hal ini. kedudukan. warna kulit. kekerabatan atau persahabatan. Pada Tabel 7. notaris dan advokat/pengacara dan anggota kepolisian. dapat dilihat dari keterlibatan mereka sebagai praktisi hukum yaitu sebagai hakim (negeri dan agama). Persamaan hak dalam bidang yudikatif merupakan salah satu manifestasi prinsip persamaan yang dituntut oleh keadilan yang dicanangkan pemerintah. kemiskinan. jaksa.Selain peran perempuan dalam bidang legislatif dan eksekutif. kekayaan. Partisipasi perempuan dalam bidang yudikatif dapat dilihat dari keterlibatan mereka dalam segi tugas dan tanggungjawab pekerjaannya.

64 71.44 28.57 12.83 63.00 36.00 87.25 55.16 75. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Kabupaten/Kota Kejari Selayar Kejari Bulukumba Kejari Bantaeng Kejari Jeneponto Kejari Takalar Kejari Sungguminasa Kejari Sinjai Kejari Maros Kejari Pangkep Kejari Barru Kejari Watampone Kejari Soppeng Kejari Sengkang Kejari Sidrap Kejari Pinrang Kejari Enrekang Kejari Belopa Kejari Makale Kejari Masamba Kejari Malili Kejari Makassar Kejari Pare-Pare Kejari Palopo Kejati Provinsi Sul-Sel Jumlah Jml 4 6 4 5 8 12 6 7 5 5 5 5 6 6 7 5 8 5 6 7 17 9 10 48 167 LK % 80.3 Jumlah Pejabat Strutural Pada Kejaksaan Tinggi Di Kabupaten/Kota dan Provinsi Sulawesi Selatan NO.67 20.50 62.00 25.00 55.56 71.33 80.00 75.96 90.00 76.67 31.33 68.50 Jumlah 5 8 9 6 10 19 8 15 16 9 7 9 8 8 11 7 11 7 6 8 27 10 13 83 263 Sumber: Kejaksaaan Tinggi Sulawesi Selatan Berdasarkan Tabel 7.08 42.56 75.73 71.00 63.43 100.57 27.17 36.00 53.92 57.50 37.00 46.75 44.43 55.56 16.57 44.00 25.00 75.50 %) dan 119 .27 28.84 25.04 10.3 dapat diketahui bahwa jumlah jaksa sebanyak 257 orang diantaranya laki-laki 167 orang (63.50 Jml 1 2 5 1 2 7 2 8 11 4 2 4 2 2 4 2 3 2 1 10 1 3 35 96 PR % 20.00 44.Tabel 7.44 83.00 63.00 23.00 36.43 72.36 28.44 25.

untuk menegakkan pelaksanaan hukum aparat keamanan dalam hal ini polisi juga memegang peranan penting. hakim dan notaris.50 %) yang tersebar pada 23 Kejari kabupaten/kota dan Kejati Provinsi Sulawesi Selatan. Pada Tabel 7.4 berikut disajikan data mengenai jumlah personil polisi menurut pangkat dan jenis kelamin di Provinsi Sulawesi Selatan pada Tahun 2010. Hanya saja tidak didapatkan data tentang jumlah pengacara. Selain praktisi hukum. Tabel 7. 2010 120 .perempuan 96 orang (36.4. Jumlah Personil Polisi Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2010 Sumber : Polda Sulawesi Selatan. Polisi banyak memainkan peran untuk menciptakan kedamaian dan perlindungan hukum kepada masyarakat.

hal lain yang perlu dilihat adalah keterlibatan perempuan di setiap partai politik sebagai langkah awal dalam memasuki dunia politik.436 orang (97.Saat ini di Provinsi Sulawesi Selatan. dan kesenian. Sejumlah partai politik memberi peran strategis kepada kaum perempuan dalam kepemimpinan partai politik. jumlah aparat kepolisian adalah sebanyak 14.96 %) dan perempuan sebanyak 300 orang (2.04 %). terdiri dari laki-laki sebanyak 14. Karena secara fisik pekerjaan sebagai polisi dianggap sebagai pekerjaan berat.2. Partisipasi Perempuan dalam Partai Politik dan Organisasi Sosial Kemasyarakatan Selain keterlibatan perempuan dalam keanggotaan di DPRD. 6. trengginas mampu menangkap aspirasi rakyat dan paham lika-likunya politik. Soal kualitas calon perempuan masih menjadi tanda tanya. Karena langkanya kader perempuan yang dimiliki tidak jarang aroma nepotisme dalam rekrutmen calon anggota legislatif sulit dielakkan. bendahara atau peran-peran yang terkait dengan konsumsi.736 orang. Untuk 121 . karena tidak sedikit partai politik yang belum sempat menempa kader-kader srikandi yang mempunyai kemampuan untuk ditampilkan sebagai wakil rakyat yang cerdas. Tetapi lebih banyak yang memberi peran figuran untuk sekedar memenuhi formalitas yang ditentukan undang-undang perempuan lebih kurang ditempatkan pada posisi sekretaris. Dalam daftar calon legislatif yang diserahkan kepada KPU. sebagian partai politik berusaha memenuhi batas minimum kuota perempuan. Sedikitnya jumlah perempuan yang menjadi anggota polisi ini disebabkan karena masih kentalnya nilai-nilai budaya yang melekat pada pekerjaan polisi ini yang beranggapan bahwa hanya laki-laki yang paling tepat untuk pekerjaan tersebut.

mengetahui keberadaan perempuan dalam kepengurusan partai politik dapat dilihat pada tabel 7.5 berikut: Tabel 7.5. Jumlah Pengurus Partai Politik Tingkat Provinsi Menurut Jenis Kelamin dalam Pemilu Legislatif Tahun 2009 122 .

seringkali aspirasi perempuan kurang diperhitungkan dalam menyusun kebijakan partai.4. Dari data tersebut terlihat pula bahwa masih banyak partai politik yang tidak melibatkan perempuan dalam kepengurusannya seperti partai. Oleh karena itu. dan perencanaan akan menjadi terbatas.4 Persentase Pengurus Partai Politik Tingkat Provinsi Menurut Jenis Kelamin dalam Pemilu Legislatif Tahun 2009 Tabel 7. dari 114 orang yang menjadi pengurus partai politik perempuan hanya 16 orang (14 %) saja sementara perempuan mencapai 98 orang (86 %). Kurangnya keterlibatan perempuan dalam partai politik dapat memberikan indikasi bahwa akses perempuan dalam pengambilan keputusan. 123 . menggambarkan keterlibatan perempuan pada kepengurusan partai politik di Provinsi Sulawesi Selatan. Dari 38 partai politik yang ada hanya 12 partai politik yang melibatkan perempuan. sehingga pada gilirannya kebijakan-kebijakan partai politik yang ada kurang berperspektif gender.Diagram 7. perumusan kebijakan.

5 jika dijumlahkan antara PNS laki-laki dan perempuan berdasarkan Eselon dapat diketahui bahwa jumlah pegawai di Provinsi Sulawesi Selatan yang menjabat posisi eselon sebanyak 7. Untuk lebih jelasnya mengenai perbadingan PNS laki-laki dan perempuan di Provinsi Sulawesi Selatan berdasarkan eselon dapat dilihat pada Diagram 7.6.5 Jumlah dan Persentase PNS Kabupaten/Kota Dan Provinsi Sulawesi Selatan Menurut Jabatan Struktural (Eselon) dan Jenis Kelamin Kondisi Oktober 2010 Berdasarkan Diagram 7. Dengan demikian diharapkan setiap kebijakan yang dihasilkan oleh instansi yang mereka pimpin tidak bias gender.924 124 . Jumlah PNS menurut Eselonisasi Salah satu ukuran keterlibatan perempuan dalam sektor publik adalah banyaknya perempuan yang duduk dalam jabatan-jabatan publik.3. Hal ini sangat penting mengingat bahwa duduknya perempuan dalam jabatan/eselon memperlihatkan kontrol perempuan terhadap suatu bidang tertentu dari kebijakan dan program-program publik.5 berikut : Diagram 7.

baik pendidikan formal maupun pendidikan-pendidikan penjenjangan karir. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa PNS terbanyak pada eselon IV sebanyak 6.117 orang dan perempuan 232 orang.kemudian eselon III sebanyak 1.987 orang . Hal ini kemungkinan besar disebabkan oleh karena sedikitnya perempuan yang dianggap cakap untuk menduduki jabatan-jabatan yang bereselon tinggi karena tidak memadainya tingkat pendidikan mereka. Kurangnya perempuan yang memiliki tingkat pendidikan.309 orang diantaranya laki-laki 4.349 orang diantaranya laki-laki 1. Terlihat bahwa pada setiap jabatan eselon jumlah laki-laki jauh lebih banyak dibanding perempuan. sementara pada posisi yang tertinggi yaitu eselon I berjumlah 2 orang yang kesemuanya adalah laki-laki. kecuali pada jabatan eselon terendah yaitu eselon V semua yang menjabat adalah perempuan.242 orang (28 %).682 orang (72 %) dan perempuan 2.orang diantaranya laki-laki 5. Pada tingkat eselon II sebanyak 256 orang diantaranya laki-laki 241 orang dan perempuan 3 orang. Untuk mengetahui secara lebih jelas perbandingan antara laki-laki dan perempuan menurut eselon pada setiap kabupaten dapat dilihat pada Lampiran 3.322 orang dan perempuan 1. 125 . selain karena keinginan perempuan yang masih setengah-setengah juga karena masih seringnya kodrat perempuan digunakan alasan untuk tidak diikutsertakannya perempuan dalam kegiatan-kegiatan pendidikan tersebut. terutama pendidikan penjenjangan karir.

126 .

sistem ini mencakup pengertian bagaimana sebenarnya laki-laki dan perempuan itu. lebih aktif. dan umumnya tindakan kekerasan dilakukan oleh kaum laki-laki. Dominasi pria terhadap wanita menunjukkan adanya kekuasaan pria untuk berbuat sesukanya terhadap wanita. seksual maupun fsikologis (United Nations Depertement of Public Relation 1986) Masalah kekerasan pada dasarnya erat kaitannya dengan kekuasaan. Jagger dan Rottenberg (2002). yaitu : 1. suka mengalah dan pasif (belenggu patriarki). pemaksaan atau perampasan hakhak kebebasan. termasuk ancaman. memberikan beberapa penjelasan mengenai penindasan terhadap perempuan. sebaliknya perempuan di pandang sebagai mahluk lemah. Secara historis perempuan merupakan kelompok pertama yang tertindas 127 . Pada umumnya laki-laki dianggap sebagai sosok yang lebih kuat. KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN Platform For Action and Beijing Declaration menyatakan bahwa kekerasan terhadap perempuan adalah segala bentuk tindakan kekerasan berdasarkan gender. Hal ini juga di dukung oleh sistem kepercayaan gender yang berlaku dalam masyarakat. mempunyai dominasi dan otonomi. maupun di dalam masyarakat (public life) yang mengakibatkan kesengsaraan atau penderitaan bagi wanita baik secara fisik. yang terjadi baik didalam rumah tangga atau keluarga (privat life).BAB VIII. sistem kepercayaan gender mengacu pada serangkaian kepercayaan dan pendapat tentang lakilaki dan perempan.

sebagaimana disajikan pada table berikut. Kekerasan terhadap perempuan. yaitu fungsi mereka dalam keluarga. banyak faktor-faktor yang melatar belakangi timbulnya tindak kekerasan terhadap perempuan. Penindasan terhadap perempuan menyebabkan penderitaan yang paling berat bagi korban-korbannya. 128 . dimana mereka cenderung sedikit memperoleh pengakuan kedudukan didalam keluarga maupun dalam masyarakat yang luas. Menurut Aguste Comte. dan faktor ekonomi. berbagai tindak kekerasan telah di alami oleh perempuan dari waktu-kewaktu. meskipunpenderitaan ini berlangsung tanpa di ketahui oleh orang lain. faktor social. tidak hanya terjadi pada kelompok usia dewasa tetapi juga pada kelompok usia anak-anak dan lanjut usia. Kekerasan terhadap perempuan merupakan fenomena sosial yang telah berlangsung lama dari masyarakat yang masih primitive sampai pada masyarakat modern sekarang ini. Penindasan terhadap perempuan terjadi dimana-mana dalam masyarakat Penindasan perempuan adalah bentuk penindasan yang paling sulit di lenyapkan dan tidak akan bisa dihilangkan melalui perubahanperubahan sosial lain. diantaranya faktor budaya. perempuan secara konstitusional bersifat inferiror. seperti penghapusan kelas masyarakat 4.2. 3. Perempuan sering di analisis dalam hubungannya dengan kedudukan atau juga dengan kekuasaan yang ada dalam masyarakat.

Sulsel 120 810 930 137 613 750 129 .1. Rekapitulasi Data Korban Tindak Kekerasan (Ktk) Anak Berdasarkan Jenis Kelamin Di Propinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009-2010 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 PROPINSI SUL-SEL ANAK KORBAN TINDAK KEKERASAN (KTK) P 21 25 45 38 32 71 51 22 35 24 42 44 46 23 43 48 39 32 29 35 39 11 15 JUMLAH 27 28 56 41 39 82 57 27 44 31 47 49 57 23 45 54 46 37 32 38 39 13 18 L 4 2 15 7 9 6 8 2 6 4 7 1 15 1 5 3 9 2 7 5 5 5 9 ANAK P 15 28 36 26 12 71 51 30 17 18 22 19 19 15 29 33 28 25 22 26 25 19 27 JUMLAH 19 30 51 33 21 77 59 32 23 22 29 20 34 16 34 36 37 27 29 31 30 24 26 MAKASSAR GOWA PARE-PARE BANTAENG SOPPENG TANA TORAJA PALOPO MAROS BARRU SIDRAP PINRANG WAJO BONE ENREKANG LUWU LUWU UTARA TAKALAR JENEPONTO BULUKUMBA SINJAI SELAYAR PANGKEP LUWU TIMUR JUMLAH L 6 3 11 3 7 11 6 5 9 7 5 5 11 0 2 6 7 5 3 3 0 2 3 Sumber Data : Dinsos Prov.Tabel 8.

Data tersebut diatas.4 : 1. Maros.5. Jumlah kasus kekerasan pada anak perempuan dari tahun 2009 sampai 2010 berjumlah 1. dan terrendah di kabupaten Pangkep (tahun 2009) dan Soppeng (tahun 2010). Palopo. namun di beberapa kabupaten/kota menunjukkan kecenderungan naik atau tetap yaitu di kabupaten Gowa.423 kasus. dan Luwu Timur. Secara umum ada kecenderungan penurunan jumlah kasus.2.Berdasarkan table diatas. Pangkep.21 TERSANGKA 7 LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI Perempuan LAKI-LAKI Perempuan LAKI-LAKI PELAKU 8 15 Thn 19 Thn 27 Thn 40 Thn 43 Thn 33 Thn 45 Thn 50 Thn - 130 . Apabila dilihat berdasarkan kabupaten. Tana Toraja. Tabel 8. nampak bahwa kekerasan yang terjadi di tahun 2009 dan 2010 pada anak-anak perempuan jauh lebih banyak jumlahnya dibandingkan dengan kekerasan yang menimpa pada anak laki-laki yaitu 8. Data Keseluruhan Kasus Yang Melibatkan Pelaku/Korban Anak Periode Tahun 2009 NO 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 JENIS KASUS 2 Pemerkosaan Pemerkosaan Traficking Pelecehan Seksual UMUR KORBAN 3 14 Thn 13 Thn 15 Thn 16 Thn 16 Thn 13 Thn 3 Thn 13 Thn 15 Thn 14 Thn LAKILAKI 4       √  √  PEREM PUAN 5 √ √ √ √ √ √  √  √ STATUS KASUS 6 P.21 Sidik Sidik Proses Proses P. dikuatkan dengan banyaknya jumlah kasus yang dilaporkan di Polda Sulselbar sebagaimana table berikut.21 Sidik P. maka tindak kekerasan terhadap anak-anak perempuan yang tertinggi di kabupaten Tana Toraja yakni 71 kasus.

21 P.21 Sidik Lidik Lidik Sidik Cabut Laporan ABH ABH ABH ABH Dalam Lidik ABH ABH Dalam Proses Proses Proses STM STM LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI Perempuan LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI Perempuan LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI Perempuan LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI Perempuan LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI 50 Thn 19 Thn 20 Thn 33 Thn 21 Thn 15 Thn 17 Thn 40 Thn 17 Thn 20 Thn 17 Thn 21 Thn 35 Thn 17 Thn 17 Thn 35 Thn 30 Thn 23 Thn 25 Thn 18 Thn 19 Thn 17 Thn 15 Thn 50 Thn Data kekerasan terhadap anak perempuan yang dilaporkan pada tahun 2009 sebanyak 26 kasus dari 36 kasus atau 72% dari jumlah keseluruhan. korbannya anak perempuan.21 Sidik P. Kecenderungan kasus meningkat pada tahun 2010 yaitu sebanyak 32 kasus dari 34 kasus atau 94%.21 P.11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 Perbuatan cabul Pemerkosaan Penganiayaan Pemerkosaan Pemerkosaan Pernografi Penganiayaan - 6 Thn 16 Thn 17 Thn 14 Thn 17 Thn 15 Thn 10 Thn 17 Thn 15 Thn 16 Thn 7 Thn 16 Thn 15 Thn 16 tHN 17 Thn 17 Thn 11 Thn 14 Thn 60 Thn 16 Thn 37 Thn 16 Thn      √          √    √      √ √ √ √ √  √ √ √ √ √ √ √ √ √ √  √ √ √  √ √ √ √ √ Sidik Sidik P. 131 .21 Dalam Lidik P.

3.19 Tahap I Dalam Lidik Damai Proses Tahap I Proses P.18/P. Data Keseluruhan Kasus Yang Melibatkan Pelaku/Korban Anak Periode Tahun 2010 NO 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 Pencabulan Pencabulan JENIS KASUS 2 UMUR KORBAN 3 19 Thn 13 Thn 15 Thn 13 Thn 17 Thn 16 Thn 16 Thn 17 Thn 16 Thn 15 Thn 14 Thn 16 Thn 13 Thn 17 Thn 17 Thn 19 Thn 14 Thn 4 Thn 18 Thn LAKILAKI 4      √                   PEREM PUAN 5 √ √ √ √ √  √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ STATUS KASUS 6 Sidik Tidak cukup bukti P.21 Bekar Proses Limpah Diversi Proses Sidik TERSANGKA 7 LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI Dalam LAKI-LAKI Perempuan LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI Dalam Lidik Dalam Lidik LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI Dalam Lidik LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI PELAKU 8 30 Thn 42 Thn 40 Thn 18 Thn 16 Thn 20 Thn 22 Thn 15 Thn 35 Thn 17 Thn 20 Thn 20 Thn 20 Thn 17 Thn 23 Thn 24 Thn 15 Thn 40 Thn 26 Thn 132 .Tabel 8.21 Diversi Cabut Dalam Lidik Lidik Sidik Proses Sidik Cabut Proses P.

21 Sidik Sidik Proses P.28 29 30 31 32 33 34 Pemerkosaan Pemerkosaan - 17 Thn 15 Thn 17 Thn 9 Thn 13 Thn 15 Thn 14 Thn      √  √ √ √ √ √  √ P. Untuk kekerasan yang terjadi pada perempuan lanjut usia mencapai 293 kasus pada kurun waktu tahun 2009 dan 2010 atau 69 % dari total kasus (lihat table dibawah). 133 .21 Cabut Sidik LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI Dalam Lidik LAKI-LAKI Perempuan LAKI-LAKI 56 Thn 16 Thn 16 Thn 20 Thn 17 Thn 16 Thn Sumber data : Polda Sulselbar Kekerasan yang terjadi pada perempuan usia dewasa dan lansia pada tahun 2009 dan 2010 juga menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. jumlah kekerasan pada perempuan dewasa mencapai 980 kasus (tahun 2009) dan 991 kasus (tahun 2010) atau 89% dari total kasus kekerasan yang terdata. Sulsel. Berdasarkan data dari Dinas Sosial Prov.

Rekapitulasi Data Korban Tindak Kekerasan (KTK Berdasarkan Jenis Kelamin di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009-2010 NO PROPINSI SUL-SEL L 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 MAKASSAR GOWA PARE-PARE BANTAENG SOPPENG TANA TORAJA PALOPO MAROS BARRU SIDRAP PINRANG WAJO BONE ENREKANG LUWU LUWU UTARA TAKALAR JENEPONTO BULUKUMBA SINJAI SELAYAR PANGKEP LUWU TIMUR JUMLAH 5 5 3 15 12 15 21 2 5 0 0 7 4 6 2 2 1 3 0 2 1 2 1 114 KORBAN TINDAK KEKERASAN (KTK) DEWASA TH 2009 P 41 34 40 55 62 70 31 36 39 38 50 53 80 24 56 42 41 51 37 44 28 15 13 980 46 39 43 70 74 85 52 38 44 38 50 60 84 30 58 44 42 54 37 46 29 17 14 1094 JUM LAH L 13 3 7 9 3 18 6 4 8 3 7 4 8 3 5 3 6 2 3 5 2 4 6 132 TH 2010 P 55 38 29 49 66 49 44 38 28 44 51 60 72 28 42 49 42 48 49 36 36 23 15 991 68 41 36 58 69 67 50 42 36 47 58 64 80 31 47 52 48 50 52 41 38 27 21 1.Tabel 8.4. Sulsel 134 .123 JUM LAH L 2 3 0 6 5 10 3 2 0 0 2 6 6 0 4 3 0 3 0 1 2 0 0 58 KORBAN TINDAK KEKERASAN (KTK) LANJUT USIA TH 2009 P 7 4 1 3 9 21 11 0 3 4 5 3 7 4 8 9 5 6 4 2 7 3 4 130 9 7 1 9 14 31 14 2 3 4 7 9 13 4 12 12 5 9 4 3 9 3 4 188 JUM LAH TH 2010 L 1 5 1 8 0 6 5 7 1 2 4 1 4 4 2 2 3 4 2 3 3 4 1 73 P 4 3 5 4 9 19 11 0 5 4 8 9 9 5 8 11 8 7 9 6 5 6 8 163 JUM LAH 5 8 6 12 9 25 16 7 6 6 12 10 13 9 10 13 11 11 11 9 8 10 9 236 Sumber Data : Dinsos Prov.

mengharuskan kita untuk mengatasi. karena semua unsur berpengaruh dalam hal itu. tentram. Banyak faktor yang harus di perhatikan dalam usaha untuk menyelesaikan persoalan sosial dalam masyarakat. dalam hal ini suatu permasalan sosial. dan meminimalisir tindak kekerasan terhadap perempuan. tidak dapat di selesaikan hanya melalui pendekatan sosial. dan telah menjadi isu gender yang cukup sentral.Secara keseluruhan. maka sudah menjadi keharusan bahwa setiap bagian dalam masyarakat harus berperan aktif demi terciptanya lingkungan yang adil. 135 . menjadikan masyarakat yang terintegrasi dengan sempurna. dan untuk tahun 2010 mencapai 1767 kasus dari 2109 kasus atau 84 %. damai. berdasarkan data dari Dinas Sosial. menunjukkan bahwa jumlah kekerasan pada perempuan pada tahun 2009 mencapai angka 1920 kasus dari 2212 kasus atau 87%. karena masyarakat merupakan suatu sistem. pada saat salah satu subsistem tidak berfungsi dengan baik maka akan mengakibatkan kerusakan semua sistem. Kekerasan terhadap perempuan sebagai suatu ancaman global terhadap kemanusian.

136 .

23 Tahun 2002 juga UU No. administrasi pendaftaran pekerjaan.Kepemilikan Akte Kelahiran Akta kelahiran menjadi dokumen yang sangat penting bagi warga negara Republik Indonesia. MASALAH ANAK 9. Perihal akta kelahiran menjadi penting untuk dikaji setidaknya disebabkan oleh beberapa hal. dokumen akta kealhiran tersebut menjadi dokumen hukum bahwa seseorang memang dilahirkan dari seorang warga Negara Indonesia baik di dalam maupun di luar wilayah jurisdiksi Indonesia. karena ia dilahirkan oleh seorang ayah dan/atau ibu yang berkewarganegaraan Indonesia. maka acapkali pihak pencatat akta kelahiran atau pihak yang berwenang mensyaratkan adanya buku atau akta nikah dari orang tua yang hendak mencatatkan peristiwa kelahiran.25 Tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil tidak mensyaratkan adanya kewajiban untuk melampirkan akta nikah/buku nikah orangtua anak dalam proses perolehan akta lahir bagi anak. Dalam kehidupan lebih lanjut bahwa kepemilikan akta kelahiran berdampak cukup luas. Jika anak 137 . dimana seseorang ketika tidak memiliki dokumen berupa akta kelahiran akan cukup sulit dalam melakukan proses-proses administasi selanjutnya.1. hingga administrasi perolehan passport.BAB IX.23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan jo. Perpres No. seperti: pengurusan pendaftaran sekolah. Pasal 27 UU No. antara lain bahwa dalam memperoleh sebuah akta kelahiran. Hal ini juga dapat dikaitkan dengan kewarganegaraan seseorang.

maka akta tersebut hanya menyatakan hubungan hukum dengan pihak Ibu saja. Bidan atau dokter yang membantu proses kelahiran si anak cukup memberikan surat keterangan mengenai proses kelahiran tersebut dan itu digunakan untuk mengurus keperluan pembuatan akta kelahiran. dan orangtuanya tidak diketahui keberadaannya.25 Tahun 2008.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak: (1) Identitas seorang diri setiap anak harus diberikan sejak kelahirannya (2) Identitas sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dituangkan dalam akta kelahiran (3) Pembuatan akta kelahiran didasarkan pada keterangan dari orang yang menyaksikan dan/atau membantu proses kelahiran (4) Dalam hal anak yang proses kelahirannya tidak diketahui. Pada sisi lain jika si Ayah tidak diketahui keberadaannya.dilahirkan dari sepasang suami-isteri yang tidak dicatatkan perkawinannya. maka surat tersebut akan menyatakan bahwa anak tersebut dilahirkan dari psangan bapak A dan ibu B. Tidak wajibnya melampirkan akta/buku nikah dalam hal memperoleh akta kelahiran bagi anak dikuatkan pula oleh Pasal 27 UU No. Bahkan jika tidak diketahui siapa orangtuanya. pembuatan akta kelahiran 138 . maka anak tersebut tetap mendapatkan haknya untuk memperoleh akta kelahiran cukup dengan keterangan dari orang yang menemukan si anak dan dilengkapi oleh berita acara pemeriksaan dari kepolisian. Pihak yang mengetahui terjadinya perkawinan serta kelahiran dihadirkan menjadi saksi dalam proses pencatatan oleh pihak orangtua anak. maka berdasarkan ketentuan Pasal 52 Perpres No.

888 25. Penduduk 0-4 Tahun yang Memiliki Akte Kelahiran menurut Kabupaten/Kota.32 58.968 6.846 14.24 24.55 17.433 7. Pinrang 16.150 3.315 17.059 4.854 5.35 19.1.36 49.064 11.33 23.366 1.478 21.752 785 1.044 3.297 37. Soppeng 13.3 14.89 22.756 2.83 52 35.414 1.974 1. Sidenreng Rappang 15.626 4.918 4.4 10.23 46.411 5.241 423 1.16 49. Gowa 07.610 4. Sulawesi Selatan 01.201 26.5 29.935 1.371 2.572 41.24 19.16 43.2 35. Bulukumba 03.193 10.657 10.78 27.706 690 2.067 2.4 Tahun / Population 0 . Wajo 14.785 23.740 17.27 65.014 2. Luwu Timur 71.900 2.4 Years Memiliki Akte Kelahiran / Have Birth Certificate Banyakn ya / Prose Number ntase Perdesaan Penduduk 0 .897 600 3. Pangkajene Kepulauan 10. Barru 11.473 1.77 23.001 3.833 3.190 2.8 13. Sinjai 08.18 20.44 5.4 29.210 5.00 39.555 2. Luwu Utara 25. Bone 12.678 22.759 6.67 34.23 29.492 2.untuk anak tersebut didasarkan pada keterangan orang yang menemukan Data kepemilikan akte kelahiran anak usia 0-4 tahun di Sulawesi Selatan sebagaimana table berikut.294 4.6 20.762 1.961 6.4 Tahun / Population 0 .41 51.931 21. Jeneponto 05.22 53. Tabel 9.944 9.474 1.438 5.249 2.583 28. Tana Toraja 22.86 34.907 7.388 18.625 115.428 4.58 36. Enrekang 17.286 14.29 84.474 3.413 12.098 58.825 3.024 20.208 9.645 2.262 1.119 4.452 6.71 31.76 25 42.911 116.407 1.177 702 704 405 25.986 6.28 11.592 5. Takalar 06.38 27.688 6.086 12.425 8.538 5.72 72.300 8.808 1.784 5.634 4. Maros 09.287 48.808 34.17 75.732 18. Makasar 72. Selayar 02. Palopo 240. Luwu 18. Sulawesi Selatan Perkotaan Propinsi/Kabupaten Penduduk 0 .18 42. Sensus Penduduk 2010 139 .11 506.252 34.4 Years Memiliki Akte Kelahiran / Have Birth Certificate Banyakn ya / Prose Number ntase Province/District 00.901 127.13 37.246 17. Pare-Pare 73.494 4.48 46. Bantaeng 04.96 Sumber data : BPS.544 57.92 38.13 63.45 39.

71%. Ersentase kepemilikan di perdesaan masih sangat rendah. jangkauan layanan petugas catatan sipil. menemukan anakanak bekerja di sektor formal dan informal. dan penjual ikan. dapat diketahui bahwa persentase kepemilikan akte kelahiran di Sulawesi Selatan baru mencapai 73. cokelat. tukang becak. pertanian (sawah). Namun penelitian LPA Sulawesi Selatan tahun 2008. pencuci kapal. Di Pelabuhan Paotere. baik Provinsi maupun Kabupaten/Kota. berkisar setengahnya dari persentase kepemilikan di perkotaan. tebu). kepemilikan akte terrendah di kabupaten Jeneponto. pengangkut air. nelayan (penangkap ikan dan pembudi daya rumput laut). Pekerja Anak Hingga saat ini. antara lain di KIMA dan pabrikpabrik lain di daerah. utamanya di wilayah perdesaannya. pasar-pasar tradisional.24 %. dan kepedulian pemerintah setempat dalam mewujudkan hak anak. Di TPAS Tamangapa terdapat 380 anak 140 . pasar ikan. utamanya di wilayah perkotaan yakni 84.6%. 9. Berdasarkan kab/kota. Adapun persentase kepemilikan tertinggi di kabupaten Enrekang. yang hanya mencapai 5.Berdasarkan data diatas. tidak ada data mengenai pekerja/buruh anak yang tercatat di Dinas Tenaga Kerja. sektor perkebunan (kebun kelapa sawit. Anak-anak juga ditemukan di sektor kontruksi/bangunan. terdapat 117 anak umur 8-15 tahun yang aktif bekerja sebagai tukang bongkar dan pengangkut ikan. pemulung.2. Hal ini terkait erat dengan pengetahuan masyarakat.

(umur 5-17) tahun yang memulung. Kekerasan Terhadap Anak Secara umum kekerasan didefinisikan sebagai suatu tindakan yang dilakukan satu individu terhadap individu lain yang mengakibatkan gangguan fisik dan atau mental. Kekerasan pada anak juga sering kali dihubungkan dengan lapis pertama dan kedua pemberi atau penanggung jawab pemenuhan hak anak yaitu orang tua (ayah dan ibu) dan keluarga. Tingkat kerawanan putus sekolah dililihat dari : anak sering bolos ke sekolah.3. kekerasan pada anak adalah tindakan yang di lakukan seseorang /individu pada mereka yang belum genap berusia 18 tahun yang menyebabkan kondisi fisik dan atau mentalnya terganggu. mencapai 70 %. Yang dimaksud dengan anak ialah individu yang belum mencapai usia 18 tahun. namun angka yang diperoleh adalah mengenai pendidikan anak-anak yang bekerja. 47 % yang masih di bangku sekolah pun rawan putus sekolah. jadwal belajar yang tidak sesuai dengan kegiatan anak. tidak ada perhatian orang tua. 9. Seringkali istilah kekerasan pada anak ini dikaitkan dalam arti sempit dengan tidak terpenuhinya hak anak untuk mendapat perlindungan dari tindak kekerasan dan eksploitasi. Anak-anak yang bekerja 53 % putus sekolah. suasana belajar yang tidak cocok untuk anak. Kekerasan yang disebut terakhir ini di kenal dengan perlakuan salah terhadap anak atau child abuse 141 . sekitar 63 % (239 anak) merupakan pemulung aktif. Oleh karena itu. Angka pasti sulit dihitung.

guru. dengan pelaku utama adalah orang-orang terdekat (Tabel 9. kakek. 142 . tetangga. Kekerasan masih mendominasi laporan yang masuk ke Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Sulawesi Selatan. seperti orang tua/keluarga. serta kekerasan fisik. Pelaku kekerasan di sini karena bertindak sebagai caretaker. paman. maka mereka umumnya merupakan orang terdekat di sekitar anak. berupa perkosaan. supir pribadi. nenek. Menurut Indra Sugiarno Kekerasan pada anak atau perlakuan salah pada anak adalah suatu tindakan semena-mena yang dilakukan oleh seseorang seharusnya menjaga dan melindungi anak (caretaker) pada seorang anak baik secara fisik. didominasi oleh kasus kekerasan seksual. dan seterusnya. tukang kebon. teman. tukang ojek pengantar ke sekolah. Ibu dan bapak kandung. dan pacar. Kasus kekerasan yang dilaporkan ke LPA Sulawesi Selatan maupun yang diberitakan oleh media massa. Demikian juga.2).yang merupakan bagian dari kekerasan dalam rumah tangga (domestic violence). maupun emosi. kekerasan terhadap anak masih mendominasi pemberitaan di Media Massa yang terbit di Kota Makassar. guru. dan pelecehan. pencabulan. ibu dan bapak tiri. seksual.

Tabel 9.2. Data Kekerasan Anak Di Sulawesi Selatan (2002-2010)
Variabel 200 2 200 3 200 4 200 5 200 6 200 7 200 8 200 9 2010* )

Kekerasa n seksual Kekerasa n fisik Lain-lain*) Total

70 69 60 199

82 77 49 208

92 88 94 274

99 92 90 281

98 96 99 293

99 103 105 307

132 124 92 348

77 110 68 255

82 59 30 171

Keterangan : Kekerasan seksual (pencabulan, pelecehan, perkosaan) Kekerasan fisik (di sekolah, rumah, jalan, dll) Tahun 2008, data juga diperoleh dari beberapa Polres di Sulawesi Selatan Lain-lain : kekerasan non-fisik, penelantaran, eksploitasi, penculikan, penipuan, dan pemalakan. *) Sampai Oktober 2010

Hanya 18 %, pelaku kekerasan adalah orang tidak mempunyai hubungan dengan korban. Artinya sebanyak 82 %, pelaku kekerasan terhadap anak adalah orang-orang dekat dengan korban. Yang perlu mendapat perhatian dari tabel di atas adalah meningkatnya kasus kekerasan seksual di Sulawesi Selatan. Tahun 2010, sampai bulan Oktober terdapat 82 kasus kekerasan seksual. Di samping itu, meningkatnya kasus inses (hubungan seksual dalam lingkungan keluarga) dan bentuk perkosaan terhadap anak. Sepanjang tahun 2010, terdapat 8 143

kasus inses di Sulawesi Selatan dengan korban anak dan pelaku adalah ayah kandung, paman, dan kakek. Sementara angka kekerasan fisik pada tahun 2010, mengalami penurunan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kekerasan fisik terhadap anak masih seputaran di sekolah dan di rumah tangga. Angka kekerasan fisik yang mengalami penurunan menunjukkan kesadaran di tingkat masyarakat. Berdasarkan data Dinas Sosial, untuk tahun 2009 - 2010 tercatat tindak kekerasan pada anak sebagaimana tabel berikut. Jumlah anak korban tindak kekerasan menurun dari tahun 2009 ke tahun 2010, namun bila dicermati maka akan nampak bahwa terjadi peningkatan kasus pada anak laki-laki dari 120 menjadi 137. Jumlah inipun hanya kasus-kasus yang terlaporkan. Kasus kekerasan pada anak seringkali tidak dilaporkan, karena pemahaman masyarakat yang relatif rendah, yang berpendapat bahwa mereka tidak berkepentingan terhadap anak-anak diluar keluarga mereka dan juga faktor budaya malu dan tersinggung jika kasusnya dilaporkan.

144

Tabel 9.3. Rekapitulasi Data Korban Tindak Kekerasan (KTK) Anak Berdasarkan Jenis Kelamin Di Propinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009-2010
PROVINSI SULSEL MAKASSAR GOWA PARE PARE BANTAENG SOPPENG TANA TORAJA PALOPO MAROS BARRU SIDRAP PINRANG WAJO BONE ENREKANG LUWU LUWU UTARA TAKALAR JENEPONTO BULUKUMBA SINJAI SELAYAR PANGKEP LUWU TIMUR JUMLAH KORBAN TINDAK KEKERASAN (KTK) Tahun 2009 ANAK JUMLAH L P 6 3 11 3 7 11 6 5 9 7 5 5 11 0 2 6 7 5 3 3 0 2 3 120 21 25 45 38 32 71 51 22 35 24 42 44 46 23 43 48 39 32 29 35 39 11 15 810 27 28 56 41 39 82 57 27 44 31 47 49 57 23 45 54 46 37 32 38 39 13 18 930 KORBAN TINDAK KEKERASAN (KTK) Tahun 2010 ANAK JUMLAH L P 4 2 15 7 9 6 8 2 6 4 7 1 15 1 5 3 9 2 7 5 5 5 9 137 15 28 36 26 12 71 51 30 17 18 22 19 19 15 29 33 28 25 22 26 25 19 27 613 19 30 51 33 21 77 59 32 23 22 29 20 34 16 34 36 37 27 29 31 30 24 26 750

Sumber Data : Dinsos Prov. Sulsel

145

146 .

Peningkatan kualitas hidup perempuan diharapkan menjadi bagian dari keluarga yang merupakan basis utama terbentuknya generasi sekarang dan masa yang akan datang. strategi pemberdayaan perempuan akan menjadi salah satu instrumen yang penting dalam penyelenggaraan pemerintahan. baik pembangunan nasional dan daerah maupun antara daerah dan sektor serta mancanegara sebagai alat perjuangan untuk kepentingan nasional. sekaligus untuk membangun jaringan system informasi yang diperlukan antara lain meningkatkan fungsi koordinasi yang terpadu dalam penyediaan informasi yang benar dan bertanggung jawab serta mendorong peningkatan kualitas pelayanan data dan informasi pembangunan melalui multi media agar proses sosialisasi. Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dalam kaitan statistik gender bertujuan untuk mengidentifikasi jenis data dan informasi yang diperlukan sebagai bahan penentuan kebijakan masalah sosial. Kesimpulan Dalam rangka memperoleh efek pengganda. advokasi. agar tercipta rasa saling percaya serta menjaga kesenjangan informasi yang dapat menimbulkan disintegrasi bangsa.BAB X. oleh karena itu pengkajian kebijakan 147 . sehingga kesetaraan dan keadilan gender dimasa mendatang dapat lebih optimal. diselenggarakan melalui pengarusutamaan gender dalam setiap proses dan tahapan perencanaan pembangunan daerah di rasakan belum sempurna. dan praktek-praktek terbaik dapat terwujud serta diharapkan tercipta kemampuan masyarakat untuk menyeleksi informasi.1. PENUTUP 10.

Untuk itu evaluasi menjadi penting. 1). Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan Tujuan program ini adalah untuk meningkatkan kedudukan dan peran perempuan sebagai mahluk individu yang merupakan insan dan sumberdaya pembangunan. tidak ada artinya jika tidak dapat dilaksanakan. tahap pelaksanaan (on-going evaluation) dan saat program/kegiatan evaluation). mulai tahap perencanaan (ex-ante evaluation.2. Dengan demikian program di bawah ini merupakan rekomendasi untuk lebih memperkuat peran masyarakat dan kelembagaan dalam pembangunan pemberdayaan perempuan. 10. pelaksanaan. Kesemuanya saling melengkapi dan masingmasing memberi umpan balik artinya perencanaan yang telah disusun dengan baik. terutama memperkuat dan mendorong kemandirian lembaga-lembaga yang memiliki visi yang sama terhadap pemberdayaan perempuan. Demikian juga sebaliknya setiap pelaksanaan tidak akan berjalan lancar jika tidak didasarkan kepada perencanaan yang baik. untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan yakni . Rekomendasi Statistik Gender merupakan kegiatan dari fungsi management yang saling terkait dan tidak dapat dipisahkan dari perencanaan.pembangunan diperlukan dalam rangka mencari alternative-alternative kebijakan yang efektif. dan Monev. sebagai bagian dari keluarga yang merupakan basis terbentuknya generasi sekarang dan masa mendatang. selesai (ex-post 148 .

Di bertujuan bidang pendidikan. termasuk bidang-bidang kejuruan. baik di lingkungan pendidikan sekolah maupun luar sekolah. dan peningkatan partisipasi perempuan pada semua jenis dan jenjang pendidikan. dan f). Evaluasi dan penataan materi bahan ajar agar lebih peka gender di seluruh jenjang dan jenis pendidikan. pelaksanaan. dan masyarakat. dan evaluasi dari seluruh kebijakan dan program pembangunan pendidikan. Pada daerah-daerah terpencil. dan pengelolaan pendidikan.Peningkatan peran aktif perempuan dalam seluruh proses perencanaan. program pendidikan harus dilakukan dengan menggunakan pendekatan khusus yang memungkinkan penduduk usia sekolah. 149 . kepala sekolah. serta pengembangan mata pelajaran atau mata kuliah yang berkaitan dengan jender pada lembaga-lembaga penataran guru dan pendidikan penjenjangan. Pengembangan metoda dan pendekatan pembelajaran baik intra maupun ekstra kurikuler yang lebih berwawasan jender. c). dan darurat. b). tetap dapat berpartisipasi dalam pendidikan. program ini secara khusus untuk meningkatkan partisipasi perempuan dalam pendidikan. guru. pengawasan. Penurunan angka buta huruf. e). dalam situasi konflik. dan pendidikan yang selama ini lebih dianggap cocok untuk laki-laki. Sosialisasi kesetaraan dan keadilan jender dalam pendidikan. keahlian. dan membenahi materi bahan ajar. melalui berbagai media. baik perempuan maupun laki-laki. proses pembelajaran. d). terutama bagi para perencana dan pengambil keputusan—termasuk orang tua. Kegiatan-kegiatan pokok yang akan dipersiapkan adalah: a).

lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan organisasi perempuan dalam rangka penegakan hukum. Tujuan program ini adalah untuk mendukung terciptanya sistem hukum nasional yang tidak diskriminatif dan berkeadilan gender. b). dana. Sosialisasi "budaya damai" agar perempuan terhindar dari berbagai bentuk kekerasan. Peningkatan peran aktif perempuan dalam proses perencanaan. Pembuatan UU dan peraturan-peraturan yang diperlukan dalam upaya menegakkan hak-hak perempuan.Penciptaan sistem perlindungan bagi perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga dan tempat kerja. h). j). terutama dalam penyelesaian masalah-masalah khusus perempuan. f). serta menegakkan hak azasi manusia (HAM) yang merugikan perempuan yakni . seperti bantuan hukum. d). pelaksanaan. Perumusan dan penerapan kebijakan dan tindakan khusus bagi upaya promosi aparat penegak hukum perempuan serta penanganan kasus-kasus perempuan. pengawasan. e). k) Penciptaan sistem perlindungan dan 150 . struktur maupun budaya hukumnya. seperti UU Anti Kekerasan. bantuan pendampingan dan pemulihan/kompensasi bagi korban. i). g). terutama perempuan untuk memperoleh informasi dan sumberdaya hukum. baik dalam hal substansi. dan evaluasi kebijakan dan program pembangunan hukum dan HAM. Peningkatan akses masyarakat. a). Ratifikasi Konvensi PBB tentang Larangan Perdagangan Perempuan dan Anak.2. Penegakan Hukum dan Hak Azasi Manusia bagi Perempuan . penciptaan sistem komunikasi dan kerjasama antara institusi penegak hukum dengan organisasi masyarakat. Perbaikan sistem dan perangkat hukum yang dapat menunjang penegakan hak azasi perempuan antara lain melalui pemberian hukuman semaksimal mungkin bagi para pelaku kejahatan serta memberikan pelayanan dan kompensasi bagi para korban kejahatan.

Intensifikasi kegiatan penelitian dan pengembangan tentang masalah-masalah jender. pengembangan sistem informasi jender. Peningkatan kemampuan dan kapasitas institusi-institusi pemerintah untuk melakukan gender mainstreaming dalam proses perencanaan. c). dan m). b). 1). 151 . antara lain melalui penyediaan data dan informasi yang dibedakan menurut jenis kelamin. serta mewujudkan hubungan kemitraan yang efektif antara pemerintah dan lembaga-lembaga masyarakat yakni . efektif dan menyeluruh. melalui peningkatan keterampilan dan keahlian serta pembentukan unit gender mainstreaming di setiap instansi pemerintah. serta masyarakat secara keseluruhan. termasuk TNI dan Kepolisian RI. a).penanganan khusus bagi perempuan dalam situasi konflik maupun kerusuhan yang bersifat penanganan segera. termasuk organisasi perempuan. Penguatan Peran Masyarakat dan Pemampuan Kelembagaan Tujuan program ini adalah untuk memperkuat peran aktif masyarakatl. pelaksanaan. d). Pengembangan berbagai alat dan metode. Pembentukan tim khusus pelanggaran HAM terhadap perempuan 3. Pembuatan undang-undang dan peraturan-peraturan yang melindungi pekerja kemanusiaan dan pelapor tindak pelanggaran HAM. eksekutif. Informasi. dan yudikatif. termasuk pengembangan materi dan bahan KIE untuk gender mainstreaming. pemantauan dan evaluasi pembangunan. dan Edukasi) mengenai kesetaraan dan keadilan jender di lingkungan lembaga-lembaga legislatif. meningkatkan kapasitas dan kemampuan institusi-institusi pemerintah dalam melakukan gender mainstreaming dalam setiap tahap dan proses pembangunan. KIE (Komunikasi. meningkatkan peran dan kemandirian lembaga-lembaga yang memiliki visi pemberdayaan perempuan. e).

152 . serta bersama-sama pemerintah merumuskan kebijakan dan program pembangunan. melalui peningkatan keterampilan dan keahlian untuk lebih dapat menemukenali dan mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi perempuan. Penciptaan hubungan kemitraan yang efektif antara pemerintah dengan masyarakat sipil dan lembaga-lembaga masyarakat yang memiliki visi pemberdayaan perempuan. dan g). termasuk organisasi-organisasi perempuan yang ada di pusat maupun di daerah. Peningkatan kemampuan dan kapasitas lembaga-lembaga masyarakat yang memiliki visi pemberdayaan perempuan.termasuk pemanfaatan dan pendayagunaan hasilnya. f).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.