BAB I.

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa dan didorong oleh keinginan luhur untuk berperikehidupan yang bebas, bersatu, adil dan makmur sebagaimana diisyaratkan dalam Pancasila dan UUD 1945, oleh karena itu pembangunan daerah Sulawesi Selatan diwujudkan melalui penyelenggaraan pemerintah daerah yang berkedaulatan rakyat, demokratis dan pengarusutamaan gender untuk meningkatkan kesejahteraan dan keadilan gender. Paradigma pembangunan yang sentralistik dan birokratis, merupakan faktor penyebab hasil-hasil pembangunan menjadi tidak merata antardaerah, antar sektor, antar wilayah dan golongan sehingga diperlukan sebuah pendekatan baru yang mampu menjawab tantangan ke depan, oleh karena itu keberadaan Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dan Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) dan PERDA No. 2 Tahun 2010 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Daerah, merupakan peluang sekaligus tantangan di Sulawesi Selatan penyusunan kebijakan program yang berperspektif gender. Meskipun berbagai upaya pembangunan telah banyak dilakukan, namun masih dijumpai berbagai kesenjangan gender, utamanya peluang dan akses terhadap sumberdaya pembangunan. Permasalahan pengarusutamaan gender ditinjau dari aspek manajemen adalah : dalam

1

-

Kurangnya pemahaman dan komitmen para stakeholders, akan

pentingnya data dan indikator gender dimulai dari penyusunan perencanaan sampai pada tahap evaluasi dan berakhir pada penentuan kebijakan. Kurangnya penciptaan akses masyarakat ke input ketersediaan data dan indikator serta analisis gender terhadap pemerintah. Kebijakan pemerintah Sulawesi Selatan diarahkan untuk membangun partisipasi masyarakat dalam mendukung terwujudnya kesetaraan dan keadilan gender di dalam masyarakat, maka pembangunan pada prinsipnya untuk meningkatkan kualitas hidup manusia tanpa membedakan suku, agama, ras dan jenis kelamin secara terencana, bertahap, komprehensif dan berkesinambungan, dengan melibatkan partisipasi stakeholder yang meliputi pemerintah, dunia usaha dan masyarakat yang menjadi kunci keberhasilan pelaksanaan pembangunan dalam penyusunan statistik indikator gender baik untuk kepentingan Nasional maupun Daerah. Selanjutnya kebijakan Pembangunan Pemberdayaan Perempuan di dalam RPJMD Provinsi Sulawesi Selatan 2008-2013 diarahkan untuk membangun partisipasi masyarakat dalam mendukung terwujudnya kesetaraan dan keadilan gender di masyarakat yang diwujudkan beberapa program aksi sebagai berikut : 1). Peningkatan kesempatan bagi kaum perempuan untuk menikmati pendidikan disemua jenjang, sehingga mereka memiliki posisi tawar yang tinggi menuju terciptanya kesetaraan dan keadilan gender; 2). Peningkatan partisipasi masyarakat dalam ikut menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu dan anak serta peran serta masyarakat dalam menjaga kesehatan reproduksi termasuk dalam keluarga berencana; 3). Peningkatan akses kaum perempuan untuk berusaha di

2

bidang ekonomi produktif, termasuk mendapatkan modal pelatihan usaha, program perluasan kesempatan kerja dan informasi pasar sehingga dapat mendorong lahirnya kemandirian kaum perempuan dalam berwirausaha; 4). Peningkatan partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan dan perumusan kebijakan, sehingga tercipta keseimbangan perempuan diberbagai sektor.; 5). Peningkatan perlindungan terhadap perempuan dan anak guna mencegah terjadinya diskriminasi, eksploitasi, kekerasan dan bahkan tindak perdagangan perempuan dan anak (trafikking) yang dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip keterpaduan dan keseimbangan. Dalam rangka implementasi strategi dan kebijakan pengarusutamaan gender, diperlukan ketersediaan data dan informasi gender sebagai dasar analisis dan bahan perumusan program/kegiatan prioritas yang berperspektif gender. Oleh karenanya ketersediaan data dan informasi gender ini menjadi suatu keharusan dalam perumusan program/kegiatan prioritas yang memperhatikan kebutuhan, pengalaman, dan aspirasi yang berbeda antara laki-laki dan perempuan, sehingga dapat mengoptimalkan akses, partisipasi, control dan manfaat penduduk laki-laki dan perempuan dalam setiap tahapan pembangunan di semua bidang. 1.2. Tujuan Tujuan dari penyusunan statistik gender sebagai berikut : • Meningkatkan ketersediaan data dan informasi statistik gender di Sulawesi Selatan, sebagai bahan analisis gender dalam rangka perumusan program/kegiatan yang berperspektif gender.

3

dan evaluasi kebijakan dan program daerah. Skema pengolahan data digambarkan dibawah sebagai berikut : 4 . Sumber dan Proses Pengolahan Data Untuk penyusunan statistik gender digunakan data sekunder yang utamanya berasal dari hasil registrasi dan pencatatan pada setiap SKPDSKPD yang terkait dan data dasar hasil survei-survei yang dilakukan BPS seperti SUSENAS. pemantauan.3. Untuk mendukung data tersebut juga digunakan data hasil penelitian yang dilakukan PSW/PSG/Lemlit di masing-masing wilayah. SENSUS PENDUDUK dan SDKI. baik data kuantitatif maupun kualitatif dan selanjutnya melalui brain storming. SAKERNAS. 1. pelaksanaan.• Meningkatkan pemahaman dan komitmen akan pentingnya data dan indikator gender bagi penyusunan perencanaan. Proses pengolahan data dilaksanakan secara institusional yaitu dengan mengumpulkan data primer dan sekunder meliputi data kondisi fisik dari studi kepustakaan (berbagai laporan) dan literatur seperti berbagai kebijakan yang dilaksanakan oleh SKPD lingkup Pemeintah Provinsi Sulawesi Selatan.

4. 7 Tahun 1984. seperti Konvensi Penghapusan segala Betuk Diskriminasi terhadap Perempuan (Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women) CEDAW yang diratifikasi ke dalam Undang-undang No. Untuk memperkuat pemerintah RI telah meratifikasi beberapa konvensi International dan menandatangai beberapa kesepakatan International.PROSES PENGOLAHAN DATA U M P A N B A L I K Inventarisasi Data Observasi/wawancara Laporan Dokumen Pengolahan Data/Analisa Indikator Program Pencapaian/Penilaian Tujuan/Sasaran Pengembangan/Rekomendasi Dampak 1. Landasan Hukum Komitmen Pemerintah Indonesia terhadap upaya mewujudkan kesetaraan dan keadilan Gender dilandaskan atas pasal 27 Undang-undang Dasar 1945 yang menerapkan asas persamaan antara laki-laki dan perempuan di muka hukum. serta landasan Aksi dan deklarasi 5 .

Kesehatan . 10 tahun 2008 tentang RPJPD. Demografi.Beijing tahun 1995.Pendahuluan . Masalah Anak . Gambaran Umum Kondisi Wilayah . 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. 1.5. Berdasarkan Human Development Index tahun 1997 dan Undang-Undang No. Perda No. Perda No. Bab V. Kekerasan Terhadap Perempuan. 6 . Sektor Publik . Provinsi Sulawesi Selatan. Pendidikan. Bab III. Bab I. 10 tahun 2008 tentang RPJMD. Kegiatan Ekonomi . Bab VI. Bab II. Penutup. Ruang Lingkup Ruang lingkup statistik gender mencakup seluruh aspek pembangunan di bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. disusun dengan sistimatika meliputi. Bab IX. Bab IV. Bab VII. Bab X. Bab VIII.

yang berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Barat di sebelah utara dan Teluk Bone serta Provinsi Sulawesi Tenggara di sebelah timur. dengan jumlah sungai terbesar ada di bagian utara wilayah provinsi ini.1. dimana sebagian besar wilayah daratnya berada pada jazirah barat daya Pulau Sulawesi serta sebagian lainnya berada pada jazirah tenggara Pulau Sulawesi. 8 sampai 45 persen merupakan tanah yang kemiringannya agar curam. yang tiga di antaranya yaitu Danau Matana. Luas wilayah Provinsi Sulawesi Selatan khususnya wilayah daratan mempunyai luas kurang lebih 45.519.1. lebih dari 45 persen tanahnya curam dan bergunung.BAB II. Geografis Secara geografis wilayah darat Provinsi Sulawesi Selatan dilalui oleh garis khatulistiwa yang terletak antara 0012’~80 Lintang Selatan dan 1160 48’~122’ 36’ Bujur Timur. Danau Towuti dan Danau Mahalona di 7 .24 km2. dan sebahagian merupakan dataran yang berada pada 400 hingga 1000 meter DPL. Lima danau besar menjadi rona spesifik wilayah ini. Kondisi Kemiringan tanah 0 sampai 3 persen merupakan tanah yang relatif datar. Wilayah daratan terluas berada pada 100 hingga 400 meter DPL. Terdapat sekitar 65 sungai yang mengalir di provinsi ini. 2. serta berbatasan dengan Selat Makassar di sebelah barat dan Laut Flores di sebelah timur. Topografi Wilayah Sulawesi Selatan membentang mulai dari dataran rendah hingga dataran tinggi. GAMBARAN UMUM KONDISI WILAYAH 2. 3 sampai 8 persen merupakan tanah relatif bergelombang.1.

daerah Pegunungan Salapati (Quarles) sampai Pegunungan Molegraf. Sungai Cenrana di dataran antara Takalar – Sumpang Binangae (Barru). Pegunungan Perombengan sampai Palopo. di sekitar Sinjai serta di Rantepao (Tana Toraja) dan Camba (Maros). 8 . di Pegunungan Bone Utara sebelah barat Watampone. dijumpai di dataran sepanjang lembah sungai antara Sungai Saddang dan Danau Tempe. di dataran Palopo – Malili. bagian barat Pulau Selayar. Geologi Struktur geologi batuan di Provinsi Sulawesi Selatan memiliki karakteristik geologi yang dicirikan oleh adanya berbagai jenis satuan batuan yang bervariasi. Sebaran formasi volkan tersier ini relatif luas mulai dari Cenrana sampai perbatasan Mamuju. dan di Tanjung Bira (Bulukumba). dari Makale sampai utara Enrekang. sekitar Gunung Karua (Tana Toraja) dan di Gunung Lompobatang (Gowa).2. Batuan volkan kwarter. 2. di selatan Palopo sampai Umpu. Alluvium kwarter. di selatan Parepare. Formasi batuan ini ditemukan di sekitar Limbong (Luwu Utara). di deretan pegunungan sebelah barat dan timur Ujung Lamuru sampai Bukit Matinggi. serta dua danau lainnya yaitu Danau Tempe dan Danau Sidenreng yang berada di Kabupaten Wajo.Kabupaten Luwu Timur. di sekitar Sungai Mamasa. Sinjai sampai Tanjung Pattiro. utara Parepare. Struktur dan formasi geologi wilayah Provinsi Sulawesi Selatan terdiri dari volkan tersier. Kapur kerang terdapat di sebelah barat memanjang antara Enrekang sampai Rantepao.1.

Enrekang. formasi ini ditemukan di beberapa tempat seperti di bagian barat Sabbang (Luwu Utara). Tersebar di bagian utara Provinsi Sulawesi Selatan. Batuan sedimen mesozoikum.Sekis hablur. terdapat sekitar 65 sungai mengaliri berbagai kabupaten khususnya yang berada di dataran tinggi. biru. Kabupaten Tana Toraja. Batuan plutonik masam. batu tulis. di Gunung Maliowo dan Gunung Karambon. Di wilayah Luwu terdapat 25 aliran sungai. 2. Hidrologi Pada wilayah Provinsi Sulawesi Selatan. sebelah timur Masamba memanjang dari utara Enrekang sampai Pompanua. dari Sengkang ke tenggara sampai Rarek dan ke selatan sampai Sinjai. penyebarannya di sekitar Lodong. memanjang di bagian timur lembah Walane dan di tenggara Sungai Sumpatu. konglomerat yang umumnya berwarna merah. di sebelah tenggara Barru dan di Bukit Tanjung Kerambu di Kabupaten Pangkep. di Pulau Selayar bagian timur dan di selatan Sinjai sampai Kajang. Batuan sedimen neogen. Di antara Masamba dan Leboni.3. yaitu di bagian timur Pangkajene sampai di timur Maros. napal. sedangkan granodiorit dijumpai di barat laut Sasak. ditemukan di sekitar Sungai Mamasa. DAS Jeneberang meliputi wilayah 8 (delapan) 9 . dan hijau. batu pasir.1. dijumpai di bagian timur Malili dan tersebar sebagai intrusi antara lain di bagian utara Palopo. Kambung dan di sebelah barat Masamba) batuan terdiri dari serpih. Formasi ini ditemukan di daerah Tana Toraja (Pegunungan. Batuan sediment paleogen. ungu. Pegunungan Latimojong. dan Pinrang dialiri oleh sungai terpanjang yakni sungai Saddang (150 km). Batuan plutonik basa.

Formasi Walanae merupakan suatu formasi lapisan batuan pembawa air yang bersifat tertekan dengan debit kecil sampai sedang. 2. Pada wilayah bagian tengah wilayah Sulawesi Selatan. Danau Tempe dan Sidenreng terdapat di Kabupaten Wajo dan sekitarnya. November sampai Maret angin bertiup sangat banyak mengandung uap air yang berasal dari Benua Asia dan Samudera Pasifik sehingga pada bulan-bulan tersebut sering terjadi musim hujan.607 Ha dan kawasan hutan seluas 204. Wilayah yang termasuk ke dalam tipe ini adalah Kabupaten Enrekang. Air tanah bebas dijumpai pada endapan alluvial dan endapan pantai. Sungai Walanae mengalir di kawasan Bone dan Wajo. sementara di Gowa dan Makassar mengalir sungai Jeneberang.kabupaten di bagian selatan Sulawesi Selatan. yaitu musim hujan dan musim kemarau. dimana musim hujan bervariasi dari satu daerah ke daerah yang lain. mencakup wilayah seluas 825. Tipe Iklim B. termasuk iklim basah dimana Curah hujan rata-rata 3000 – 3500 mm/tahun. Klimatologi Provinsi Sulawesi Selatan terdapat dua musim. Provinsi Sulawesi Selatan memiliki 5 jenis iklim. termasuk kota Makassar.4. endapan formasi walanae serta pada lembah-lembah yang ditempati oleh endapan batuan formasi Camba.427 Ha. sementara di wilayah Luwu terdapat danau Matana dan Towuti. Berdasarkan klasifikasi tipe iklim menurut Oldeman. Luwu Utara dan Luwu Timur.1. yaitu Tipe iklim A termasuk kategori iklim sangat basah dimana curah hujan rata-rata 3500-4000 mm/tahun. Luwu. Wilayah tipe ini terbagi 2 tipe yaitu (B1) meliputi 10 .

Enrekang. Tipe iklim ini terbagi 3 yaitu Wilayah yang masuk ke dalam iklim D1 meliputi Kabupaten Wajo. Tana Toraja. Enrekang. Enrekang. Pangkep. Tipe B2 meliputi Gowa. Sinjai. Luwu Timur. dan Maros. Wilayah yang termasuk ke dalam iklim D2 terdiri dari Kabupaten Wajo. Bantaeng. Tipe iklim E2 terdapat di Kabupaten Maros. Luwu. Tipe iklim E1 terdapat di Kabupaten Maros. Jeneponto. terdiri atas sejumlah wilayah kerajaan yang berdiri sendiri dan didiami empat etnis yaitu . dan Enrekang.2. 2. Sedangkan tipe iklim C3 terdiri dari Makassar. Sinjai dan Kota Makassar Tipe iklim E dengan Curah hujan rata-rata antara 1500 – 2000 mm/tahun dimana tipe iklim ini disebut sebagai tipe iklim kering. Pangkep. Gowa. Sejarah Sebelum Proklamasi RI. Maros. Soppeng. Takalar. Luwu. Pangkep. Luwu. Tipe iklim C termasuk iklim agak basah dimana Curah hujan ratarata 2500 – 3000 mm/tahun. Luwu Utara. 11 . Bone dan Enrekang. dan Tana Toraja. dan Selayar. Bugis. Iklim C2 meliputi Kabupaten Bulukumba. Barru. Bone. Sinjai. Tipe iklim D dengan Curah hujan rata-rata 2000 – 2500 mm/tahun. Bulukumba. Wilayah yang termasuk iklim D3 meliputi Kabupaten Bulukumba. Mandar dan Toraja.Kabupaten Tana Toraja. Gowa. Maros dan Jeneponto. Tipe iklim C terbagi 3 yaitu Iklim tipe C1 meliputi Kabupaten Wajo. Bantaeng. Sulawesi Selatan. Jeneponto. Parepare. Selayar. dan Bantaeng. Barru. Bulukumba. Soppeng. Tana Toraja. Makassar. Bone.

A. Burhanuddin 1953 .J. Gubernur Sulawesi Selatan 1966 – 1978 Ahmad Lamo (Dua periode) 1978 – 1983 Andi Oddang 1983 – 1993 A. sehingga menjadi daerah otonom Sulawesi Selatan. Melayu dan Arab. Sudiro 1953 – A. Ratulangi 1950 – 1951 B. dikeluarkan UU Nomor 21 Tahun 1950 dimana Sulawesi Selatan menjadi propinsi Administratif Sulawesi dan selanjutnya pada tahun 1960 menjadi daerah otonom Sulawesi Selatan dan Tenggara berdasarkan UU Nomor 47 Tahun 1960. Gowa dan Bone. Gubernur Sulawesi 1945 – 1949 DR. S. Amiruddin (Dua periode) 12 .S. Rivai. Setelah kemerdekaan. yang pada abad ke XVI dan XVII mencapai kejayaannya dan telah melakukan hubungan dagang serta persahabatan dengan bangsa Eropa. Gubernur Sulawesi Selatan dan Tenggara : 1959 – 1960 A. Pangerang Pettarani II. Pasewang 1956 – 1959 A.Ada tiga kerajaan besar yang berpengaruh luas yaitu Luwu. Cina. W. India. III. Lapian 1951 – 1953 R.1956 Lanto Dg. Pangerang Pettarani 1960 – 1966 A. Periode Gubernur : I. G. Pemisahan Sulawesi Selatan dari daerah otonom Sulawesi Selatan dan Tenggara ditetapkan dengan UU Nomor 13 Tahun 1964.

2008 H. Komunitas pedesaan terdiri dari nelayan. Z. Makassar. Variasivariasi ini terkait pula dengan potensi kearifan lokal yang bisa berkembang dalam tatanan sosial budaya.2003 H. Komunitas petani adalah komunitas yang terbesar di seluruh wilayah Sulawesi Selatan. Di balik keragaman tersebut. B. Amin Syam 2008 . Palaguna (Dua periode) 2003 . petambak. Rumpun Toraja tersebar di Kabupaten Tana Toraja dan Luwu. Komunitas ini merupakan suatu komunitas berskala kecil namun tetap memiliki kearifan lokal. dan pengrajin. Rumpun Makassar dominan berada pada Kabupaten di wilayah Selatan Sulawesi Selatan. petani. terdapat pula keragaman sistem nilai dan norma serta adat-istiadat yang spesifik. Selain itu. antara lain pengrajin besi di Massepe Sidrap dan pengrajin perahu di Bira Bulukumba 13 .Syahrul Yasin Limpo sekarang 2.Ahmad Tanribali Lamo Pejabat Gubernur Sementara 2008 . Sosial Ekonomi dan Budaya Kekayaan dan keragaman budaya dalam tatanan Sulawesi Selatan sangat bervariasi sebagai satu rumpun budaya yang terdiri dari Bugis. dan Toraja. terkandung pula potensi berkembangnya interaksi sosial dan komunikasi lintas budaya. Disamping itu berapa komunitas yang berbasis pada aktivitas ekonomi sekunder.3.1993 . M. Gambaran ini menunjukkan keragaman budaya yang tersebar pada wilayah yang beragam pula. yang dapat mendorong dinamika perubahan secara lebih kreatif dalam menanggapi spirit zaman. Rumpun Bugis tersebar di wilayah utara Sulawesi Selatan.

Disamping itu juga terdapat komunitas tradisional yang mampu bertahan di antaranya adalah komunitas Ammatoa di Kajang Bulukumba. Komunitas petani misalnya. komunitas ini benar-benar merupakan suatu komunitas yang memiliki karakteristik tersendiri. Karangpuang di Sinjai. Pada era globalisasi. 14 . demikian pula dengan komunitas nelayan yang telah menyatu dengan pantai dan laut. Disamping itu juga umumnya masih mengalami masalah persyaratan dalam mengakses permodalan pada kelembagaan keuangan seperti Bank Rakyat yang ditawarkan pemerintah melalui berbagai program perkreditan. Aluk Todolo di Toraja. Komunitas ini masih tetap eksis walaupun secara sosial dikelilingi oleh berbagai informasi dan iptek namun karakteristik tetap dipertahankan. eksistensi keberadaan beberapa komunitas yang terkait dengan sektor pertanian masih ada yang mengalami ketertinggalan akibat dari ketidakmampuan bersaing dengan berbagai produk lainnya yang beredar dipasaran. Pua Cerekang di Luwu. memahami kapan waktu yang tepat untuk mulai menanam serta bagaimana menangani hama. sehingga mereka dapat memprediksi lebih awal kondisi dan permasalahan yang akan terjadi baik di pantai maupun di laut.yang berkaitan dengan sumberdaya alam yang ada disekitarnya. Senyatanya. Tolotang di Sidrap.

Propinsi Sulawesi Selatan sendiri tidak terlepas dari hal tersebut. Populasi penduduk kadang kala menjadi dilematis karena di samping tersedianya banyak tenaga kerja. penduduk berfungsi sebagai penyedia tenaga kerja. Kontribusinya terhadap suatu daerah sangat ditentukan oleh tingkat partisipasi kerja. DEMOGRAFI 3. dapat pula menimbulkan pengangguran. Perwujudan hal tersebut. Penduduk Sulawesi Selatan berdasarkan DAU Tahun 2009 berjumlah 15 . Jumlah Penduduk dan Rasio Jenis Kelamin Penduduk merupakan salah satu sumber daya potensial dalam menunjang aktifitas pembangunan bangsa dan negara.BAB III. Justru itu. tentunya hanya bisa dicapai melalui peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia serta mengarahkannya secara profesionalisme. Dalam berbagai kegiatan pembangunan atau produksi. Namun bila tidak dimanfaatkan seefektif dan seefisien mungkin. Kedudukannya sebagai Sumber Daya Manusia memegang peranan penting karena berfungsi menggerakkan faktor-faktor produksi dan jasa lainnya. penduduk cenderung menjadi tidak produktif dan bahkan semakin menambah beban bagi negara atau daerah tertentu. Keberadaan penduduk sebagai obyek dan subyek pembangunan diharapkan mampu mengembangkan kreatifitasnya dengan segala kemampuan yang dimiliki untuk pencapaian tujuan pembangunan yaitu untuk meningkatkan harkat dan martabatnya agar dapat menikmati hasilhasil pembangunan secara adil dan merata. penduduk termasuk kategori aset atau modal pembangungan yang sifatnya dinamis. dimana penduduknya yang teridi dari laki-laki dan perempuan mempunyai peluang yang sama dalam pasar tenaga kerja untuk menempatkan dirinya sebagai tenaga kerja.1.

104 13.031 22.236 312. Bulukumba 188.110 118.308 155.90 102.90 96.109 25.085 Sumber : BPS Provinsi Selatan (DAU 2009) 16 .079 159.971 2008 3.57 101.73 101.01 91. Sidrap 124. Luwu 165.225 08.138 10. Soppeng 108.263 14. hal ini tercermin dari angka rasio jenis kelamin yang lebih kecil dari 100.99 92.939 92. .895 18.477 155.548 4.44 92. Pinrang 172 607 16. Selayar 58..071.891 11. Luwu Timur 119.146 15.060 654.71.032 73. Secara keseluruhan.718 Jumlah . Gowa 305. jumlah penduduk yang berjenis kelamin perempuan lebih banyak dari penduduk yang berjenis kelamin Laki-laki.041..738 06.747 72. Toraja Utara .763. Wajo 178.10 01. dengan jumlah penduduk terbesar yakni 1.09 93. Takalar 121..659 02.294 26. Barru 77.92 94. 057 03.78 93.123 61.05 94. Maros 147.563 85.689 90.550 12. Tana Toraja 236.435 94.094 385. Makassar 617.2009 Kabupaten/Kota (1) (2) Laki-Laki Male Perempuan Rasio Jenis Kelamin Female Sex Ratio (3) (5) 63.Jumlah Penduduk dan Rasio Jenis Kelamin menurut Kabupaten/Kota di Sulawesi Selatan..Total 2009 3. Luwu Utara 166.908.210 09.501 136.15 87.271.764 4.500 04.198 122. 2008.674 05.676 172.7.285 233.31 92.1.17 106.3.22 101.73 96.803 128. Palopo 71.640 202.519 jiwa yang tersebar di 24 kabupaten/kota.090 206. Pare Pare 57.24 93. Tabel.184 17.810 74.836.392 162.870 118.202 07. yang berarti penduduk Laki-laki di dua daerah tersebut lebih besar dari jumlah penduduk perempuan.72 89.77 88.337 178.27 95.35 92. Sinjai 110. Enrekang 96. Bone 326.98 90.870 jiwa mendiami Kota Makassar. Pangkep 143. Bantaeng 83. Hanya di daerah Kabupaten Luwu dan Luwu Utara yang menunjukkan angka rasio jenis kelamin lebih besar dari 100.36 97. Jeneponto 161.53 84.

43 persen dan perempuan sebesar 3.836. Oleh sebab itu.071. tetapi dapat pula ditinjau berdasarkan komposisi umur. Jika di tahun 2007 jumlah penduduk sebanyak 7. maka gejala kependudukan tersebut akan menunjukkan relatif tingginya penyediaan tenaga kerja untuk jenis kelamin perempuan sehingga peluangnya untuk memasuki lapangan kerja yang tersedia terbuka luas.2. Pertumbuhan penduduk di masa yang akan datang diperkirakan terus berlangsung dan membawa dampak terhadap semakin menumpuknya domisili penduduk di daerah perkotaan serta bertambahnya tingkat pengangguran.57 persen.548 jiwa. Pertambahan penduduk sekitar 232. Kualitas dan kuantitas penduduk tidak semata-mata dinilai dari jumlahnya.777 jiwa dan perempuan sebesar 112849 jiwa persen.194 jiwa atau 48.958. maka pada tahun 2009 jumlah penduduk mencapai 7. 3. Apabila ditinjau dari aspek ketenagakerjaan. Jumlah Penduduk menurut Kelompok Umur dan Jenis Menyangkut aspek kependudukan.893 jiwa yang terdiri dari laki-laki 3. Pembagian klasifikasi umur tentunya disesuaikan dengan konsep-konsep ketenagakerjaan karena 17 .699 jiwa atau 51.908.971 jiwa dan perempuan 4.675. maka kita dapat memahaminya dari beberapa segi dan tergantung pada kualifikasi kebutuhan data.717.Penduduk Propinsi Sulawesi Selatan selama periode tahun 2007 – 2008 cenderung mengalami peningkatan. baik untuk jenis kelamin laki-laki maupun perempuan.519 jiwa dengan rincian : lakilaki 3.626 jiwa (periode 2007 – 2009) ditandai dengan meningkatnya penduduk jenis kelamin lakilaki sebanyak 119. diperlukan langkah-langkah antisipatif dengan jalam membuka lapangan kerja secara luas dan merata ke berbagai daerah Kabupaten.

939 Sumber : BPS Provinsi Selatan (DAU 2009) 18 .44 45 .05 88.59 60 .02 88.40 90.. Sehubungan penjelasan tersebut di atas..29 30 .58 109.31 92.519 7.071.763.971 4.805. 2008. maka kondisi penduduk Propinsi Sulawesi Selatan ditunjukkan sebagai berikut : Tabel 3.26 97.25 93.39 40 .42 86.54 55 . Termasuk kategori umur produktif adalah tenaga kerja yang berusia 25 sampai 64 tahun.836.024 106.60 105.63 89.24 93.Penduduk menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Sulawesi Selatan.34 35 .26 94. Tinjauan tenaga kerja berdasarkan kelompok umur.Total 2009 3.908.02 94.52 77. dibedakan atas 2 (dua) yaitu umur produktif dan umur tidak produktif.24 25 .2 . sedangkan umur tidak produktif terdiri dari kelompok usia 0-14 tahun dan di atas 65 tahun.14 15 .19 20 .548 2008 3.085 4.2009 Kelompok Umur (1) 0–4 5-9 10 .56 73.49 50 ..64 65 + Laki-Laki Male 375 198 447 014 431 498 351 712 291 052 301 980 275 764 296 539 237 824 210 957 168 401 135 327 106 189 207 515 Perempuan Jumlah Rasio Female Sex Ratio Jenis Kelamin (3) (5) (6) 352 040 407 851 409 938 362 508 309 477 343 087 311 959 327 183 266 303 228 271 195 258 144 647 144 438 268 589 727 238 854 865 841 437 714 220 600 529 645 067 587 723 623 722 504 127 439 227 363 660 279 973 250 627 476 104 7.sangat erat kaitannya terhadap penyajian data terpilah.10 (2) Jml .041.

857.918 jiwa atau 61.87 persen lebih besar dari perempuan yaitu 28.645 jiwa atau 5.664 jiwa terdiri dari : penduduk usia muda di bawah 15 tahun jumlahnya 1.80 persen.934 jiwa atau 8. laki-laki 5. Pengelompokan umur penduduk pada jenis kelamin laki-laki dan perempuan digolongkan dalam 3 (tiga) tingkatan. laki-laki 61.68.084 jiwa secara rinci terdiri atas : penduduk usia muda di bawah 15 tahun sebesar 1.67 persen lebih kecil dari perempuan yang jumlahnya 62. Untuk kategori usia produktif.80 persen dan usia lanjut yaitu 60 tahun ke atas sebanyak 381. Apabila kita melihat grafik.87 persen. penduduk jenis kelamin laki-laki yang jumlahnya 3.677 jiwa atau 62.98 persen. Sementara pada kelompok usia lanjut. dan penduduk usia lanjut lanjut yaitu bersuai 60 tahun ke atas sebesar 210. Kenyataan ini menggambarkan pada periode selanjutnya peluang laki-laki untuk memasuki lapangan kerja 19 .46 persen.378.67 persen.256.473 jiwa atau 28. nampak sangat jelas bahwa pada keloompok usia 0 -14 tahun jumlah penduduk laki-laki lebih besar dibandingkan perempuan. Lebihlanjut dijelaskan perbandingan kedua jenis kelamin berdasarkan kelompok umur. Begitu pula halnya dengan penduduk perempuan yang jumlahnya 4.22 persen.Dalam hal ini penduduk diklasifikasikan menurut kelompok umur dan jenis kelamin degan tujuan agar lebih memahami spesifikasi kependudukan sesuai kepentingannya. penduduk produktif (15-59 tahun) sebanyak 2. Pada tahun 2008.201.98 persen. dimana penduduk laki-laki usia muda sebanyak 38. penduduk produktif 15-59 tahun 2.22 persen.101 jiwa atau 32.46 persen lebih kecil dari perempuan yang besarnya 8.672.

Selisih jumlah perempuan dengan laki-laki pada komposisi usia produktif sekitar 1.67 persen. 20 . dimana jumlah penduduk perempuan lebih tinggi dibandingkan lakilaki sehingga lebih memiliki potensi mengisi lapangan kerja.80 persen sedang lakilaki hanya 61. sedangkan riilnya tergantung bagaimana kedua jenis kelamin bisa memanfaatkan peluang kerja yang tersedia. Berbeda halnya dengan kondisi kelompok usia 15 – 59 tahun dan usia 60 tahun ke atas.lebih potensial ketimbang perempuan.13 persen karena perempuan mencapai 62. Namun apa yang dijabarkan disini masih sebatas konteks estimasi.

menjelang tahun 2015. sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin mutu. terarah dan berkesinambungan. salah satu kebijakan dalam bidang pendidikan saat ini adalah Pendidikan Untuk Semua (PUS) atau yang lebih dikenal dengan EFA (Education For All). pemerataan. Untuk itu. terutama bagi kaum perempuan.BAB IV. sebagaimana diamanatkan UUD 1945 merupakan tugas pemerintah untuk mengusahakan dan menyelenggarakan sistim pendidikan nasional guna meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang. mempunyai akses dan menyelesaikan Pendidikan Dasar yang bebas dan wajib dengan kualitas yang baik. anak-anak yang dalam keadaan sulit dan mereka yang termasuk etnik minoritas. yang menargetkan bahwa . nasional dan global sehingga perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana. sesuai kesepakatan internasional yang lebih dikenal dengan Deklarasi DAKAR. relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal. Disamping itu. (2) mencapai perbaikan 50% pada tingkat keniraksaraan orang dewasa. dan akses yang adil pada pendidikan dasar dan pendidikan berkelanjutan bagi semua orang dewasa. dengan fokus pada kapasitas 21 . PENDIDIKAN Pendidikan. (1) menjelang tahun 2015. (3) penghapusan kesenjangan gender pada pendidikan dasar dan menengah pada tahun 2005 dan mencapai kesetaraan gender dalam pendidikan pada tahun 2015. semua anak khususnya anak perempuan.

2010 22 .479 5.170 5.031 2.416 Jumlah 2.325 9.419 3.765 393 1.080 2.560 42.474 5. Buta Aksara (Keaksaraan Fungsional/KF) 2009 Tabel 4.740 3.650 2. Menyimak kesepakatan Dakar tersebut. oleh karena salah satu indikator pembangunan manusia atau yang lebih dikenal dengan HDI/IPM adalah pendidikan.580 6.139 1.860 4.350 1.430 1.370 2.311 601 1.329 1.175 1.743 2.074 1.195 323.775 1.731 5.910 1. Kabupaten/ Kota Keaksaran Fungsional (KF) Tahun 2008 LK PR 1.239 846 3.sepenuhnya bagi anak perempuan terhadap akses dalam memperoleh pendidikan dasar yang bermutu.431 33.093 1.420 1.080 1.415 1.650 3.549 4.780 2.037 2.737 41.231 819 2.813 3.022 441 473 33.740 14.100 1.073 403 428 619 425 517 109 167 22.876 2.810 109.1.950 3.049 2.846 Tahun 2009 LK 382 989 3.423 648 189 1.424 300 460 61.407 12.389 2.735 675 1.429 13.285 PR 668 1.359 246 513 1.181 14.850 5.821 2.1 Jumlah Buta Aksara di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008 - No.967 39. Sul-Sel) Sumber : Dinas Pendidikan Provinsi Sulawsi Selatan.981 3.576 9.132 1.230 1.225 1.720 9.156 1.487 1.880 6.538 40.196 4. 4.850 1.395 2.431 4.635 2.226 5.050 2.050 14.700 1.645 8.250 34.175 1.199 111.835 23.950 1.376 429 896 3.955 997 1.156 26.250 6.039 1.150 3.290 2.409 4.948 Jumlah 1.668 356.370 2. maka kita dapat memahami pentingnya pendidikan yang responsif gender.085 687 1.197 819 571 823 321 2.233 1 Selayar 2 Bulukumba 3 Bantaeng 4 Jeneponto 5 Takalar 6 Gowa 7 Sinjai 8 Maros 9 Pangkep 10 Barru 11 Bone 12 Soppeng 13 Wajo 14 Sidrap 15 Pinrang 16 Enrekang 17 Luwu 18 Tana Toraja 19 Luwu Utara 20 Luwu Timur 21 Makassar 22 Pare-pare 23 Palopo Jumlah (Prov.877 697 747 1081 750 907 191 293 38.305 684 2.

Sul-Sel 9% 36% 64% 91% % LK % PR % LK % PR Berdasarkan data Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan seperti terlihat pada Tabel 4.407 orang atau 98%. Dari 23 kabupaten yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan nampaknya Kota Makassar yang terbanyak dengan jumlah penduduk yang buta aksara sebanyak 111. diantaranya laki-laki 517 orang atau 36% dan perempuan sebanyak 907 orang atau 64%. Sementara untuk tahun 2009 Kota Makassar berhasil mengurangi. Sementara untuk tahun 2009 mengalami penurunan sehingga yang buta aksara tersisa 61.948 orang atau 64%.424 orang. sehingga jumlah penduduk buta aksara tinggal 1. laki-laki sebanyak 22.430 orang atau 91%.1. 23 .430 orang atau 9% dan perempuan sebanyak 323. Sul-Sel Prov.Prov.233 orang.022 orang atau 2% dan perempuan 109.429 orang pada tahun 2008 diantaranya laki-laki 2. jumlah buta huruf (aksara) di Provinsi Sulawesi Selatan untuk tahun 2008 sebanyak 356.846 orang.285 orang atau 36% dan perempuan sebanyak 38. diantaranya laki-laki sebanyak 33.

yang ditampilkan pada tabel berikut: 24 . Keduanya mengukur penyerapan penduduk usia sekolah oleh sektor pendidikan. 4. yaitu Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM). Perbedaan diantara keduanya adalah penggunaan kelompok usia "standar" di setiap jenjang pendidikan. Untuk tahun 2009 kabupaten yang paling sedikit buta aksaranya adalah Kota ParePare yaitu 300 orang.049 orang atau 64%. diantaranya laki-laki sebanyak 601 orang atau 36% dan perempuan sebanyak 1.Sementara dari 23 kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan yang paling sedikit jumlah penduduk buta aksara pada tahun 2008 adalah Kabupaten Pangkep yaitu 1. menjelang tahun 2015. terutama perempuan.650 orang. Hal ini juga berlaku bagi kabupaten lain yang sama kondisinya dengan Kabupaten Pangkep.2. sehingga apa yang diharapkan sesuai kesepakatan Dakar yaitu mencapai perbaikan 50% pada tingkat keniraksaraan orang dewasa. terdapat dua ukuran partisipasi sekolah yang utama. Sementara itu informasi data di Kabupaten Luwu Utara belum ada di tahun 2009. Partisipasi Sekolah Umumnya. Usia standar yang dimaksud adalah rentang usia yang dianjurkan pemerintah dan umum dipakai untuk setiap jenjang pendidikan. diantaranya laki-laki sebanyak 109 orang atau 36% dan perempuan sebanyak 191 orang atau 64%. Informasi tersebut diatas menunjukkan bahwa Kabupaten Pangkep perlu memperhatikan bagaimana kebijakan di bidang pendidikan agar jumlah penduduk yang buta aksara tidak bertambah tetapi seharusnya berkurang.

wujud dari partisipasi ini adalah tersedianya fasilitas pendidikan berupa sarana dan prasarana sekolah. Ketersediaan sarana dan prasarana sekolah akan mempermudah para siswa untuk mengakses pendidikan.Tabel 1: Usia standar di setiap jenjang pendidikan Jenjang SD SMP SMA Perguruan tinggi Angka Kelompok usia 7 . sarana dan prasarana yang memadai akan menciptakan lingkungan pendidikan yang berkualitas.15 tahun 16 . suasana belajar akan lebih hidup dan minat mencari ilmu pengetahuan bagi siswa akan tinggi. maka hal penting yang perlu dikaji sebelumnya adalah ketersediaan fasilitas dan tenaga pengajar sekolah sebagai bagian dari faktor yang menentukan keberhasilan dalam proses belajar mengajar. motivasi dan semangat masyarakat memanfaatkan fasilitas untuk bersekolah sangat penting. 25 .12 tahun 13 . Keaktifan masyarakat sangat menentukan tingkat partisipasi sekolah sehingga kesadaran.18 tahun 19 tahun keatas partisipasi sekolah sangat erat kaitannya dengan ketersediaan fasilitas pendidikan dan tenaga pengajar serta kesadaran masyarakat untuk aktif dalam bidang pendidikan. Pemerataan pendidikan bagi masyarakat sebagai wujud pemerataan pendidikan nasional memerlukan dukungan yang besar bagi semua kalangan baik dari pemerintah pusat terlebih lagi dari masyarakat. Untuk dapat melihat keadaan partisipasi sekolah.

sarana sekolah terbanyak di Kota Makassar yang merupakan ibukota provinsi dengan jumlah 1. MTs 40 unit.2 diatas menunjukkan ketersediaan sarana sekolah di Sulawesi Selatan sebanyak 11. jenjang pendidikan SLTP sebanyak 179 unit. SLTA 104 unit.504 SLTP 34 62 21 54 38 81 39 103 51 55 31 42 55 46 49 37 64 46 34 112 179 24 22 1.539 Sumber: Dinas Pendidikan Sulawesi Selatan Tahun 2010 Tabel 4. SulSel) Sekolah TK 15 63 16 86 19 60 41 130 38 53 52 134 61 64 33 23 54 42 83 51 202 43 28 1.202 buah diantaranya sarana sekolah TK sebanyak 202 unit jenjang pendidikan tingkat SD sebanyak 479 unit.539 unit. RA 22 unit.Tabel 4. MA 22 unit dan jenjang pendidikan SMK sebanyak 87 unit. SLB 11 unit.2 Jumlah Sarana dan Prasarana Sekolah Menurut Kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan Kabupaten/ Kota Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sinjai Maros Pangkep Barru Bone Soppeng Wajo Sidrap Pinrang Enrekang Luwu Tana Toraja Luwu Utara Luwu Timur Makassar Pare-pare Palopo Jumlah (Prov.202 227 167 11. Sedangkan kabupaten yang memiliki jumlah sarana sekolah paling sedikit adalah Kota Palopo dengan jumlah 167 unit diantaranya sarana sekolah TK sebanyak 28 unit 26 .279 SD LB 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 18 Total SLB 2 1 1 3 1 2 1 2 1 1 0 3 11 3 32 RA 20 29 2 5 1 22 11 11 8 7 10 14 13 9 34 6 3 3 6 22 12 248 MI 13 36 12 15 9 76 26 77 23 11 27 21 33 11 23 20 44 22 15 10 56 8 2 590 MTs 10 42 24 35 18 60 27 54 30 21 16 26 19 17 19 20 34 37 23 5 40 10 3 590 SLTA 7 14 4 12 11 18 8 22 20 14 9 12 9 12 13 10 15 10 15 24 104 7 14 384 MA 1 13 14 12 9 18 15 13 15 12 10 6 8 8 5 10 13 11 7 2 22 8 1 233 SMK 4 7 5 8 7 13 4 5 6 7 3 8 6 6 8 5 4 2 2 36 87 11 26 270 264 620 237 482 347 733 421 1. MI 56 unit.391 SD 159 351 138 253 233 381 248 672 253 340 231 433 259 252 336 212 227 351 150 376 479 100 70 6.090 445 522 390 699 465 426 521 344 458 524 329 626 1.

SLTA 14. 27 .jenjang pendidikan SD sebanyak 70 buah. MA I unit dan jenjang pendidikan SMK sebanyak 26 unit. MTs 3 unit. MI 2 unit. Untuk lebih jelasnya mengenai perbandingan jumlah sarana sekolah berdasarkan jenjang pendidikan pada setiap kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan dapat dilihat pada Diagram 4. jenjang pendidikan SLTP sebanyak 22 unit.3.

Peningkatan mutu pendidikan bagi murid sekolah selain dengan tersedianya sarana dan prasarana pendidikan juga harus ditunjang oleh tenaga pengajar yang profesional agar program pendidikan berjalan dengan baik. kemudian TK sebanyak 12 %.3. yang terdiri dari laki-laki hanya 1 orang dan perempuan 7.Diagram 4.3 diatas yang bersumber dari Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan 2010 menunjukkan bahwa jumlah guru di Provinsi Sulawesi Selatan sebanyak 21.399 orang diantaranya guru pada jenjang pendidikan TK sebanyak 7. jenjang pendidikan SLTP sebanyak 11 % dan SLTA sebanyak 3 %.3 menujukkan ketersediaan sarana sekolah di Provinsi Sulawesi Selatan yang terlihat bahwa persentase ketersediaan sarana sekolah terbanyak berturut-turut yaitu pada jenjang pendidikan SD sebanyak 57%. Diagram 4. Persentase Ketersediaan Sarana Sekolah Menurut Pendidikan di Provinsi Sulawesi Selatan Berdasarkan Tabel 4.226 orang.227 orang. Adanya perbedaan yang mencolok antara jumlah guru laki-laki dan perempuan pada jenjang 28 .

549 orang. Selanjutnya pada jenjang pendidikan SD/MI sebanyak 54.629 orang yang terdiri dari laki-laki 22.629 orang dan perempuan 8.850 yaitu laki-laki 54. Untuk jenjang pendidikan SLTA/MA tidak diperoleh data tentang jumlah guru yang ada. dan pada jenjang pendidikan SLTP/MTs sebanyak 12.4.4 tersebut. Untuk melihat perbandingan jumlah guru menurut jenis kelamin dapat dilihat pada Diagram 4. Jumlah Guru Menurut Jenis Kelamin pada Jenjang Pendidikan TK SLTP di Provinsi Sulawesi Selatan Pada Diagram 4. Hal ini dapat mengindikasikan bahwa peran perempuan 29 . nampak bahwa persentase guru perempuan yang mengajar mulai dari jenjang pendidikan TK sampai SLTP jauh lebih banyak yaitu mencapai 63 % dibanding laki-laki yaitu dengan persentase 37 %.397 orang. berikut: Diagram 4.232 orang dan perempuan 32.4. dan ini tidak lepas pula dari asumsi dasar masyarakat tentang peran gender.pendidikan TK ini kemungkinan dipengaruhi oleh minat dari laki-laki untuk menjadi guru TK yang rendah dibanding perempuan.

1. 4. Data nasional tahun 2006 sampai tahun 2008 menunjukkan bahwa APS berkecenderungan meningkat pada semua kelompok umur baik anak laki-laki maupun anak perempuan. Angka tersebut memperhitungkan adanya perubahan penduduk terutama usia muda. Angka Partisipasi Sekolah Angka partisipasi sekolah merupakan ukuran daya serap sistem pendidikan terhadap penduduk usia sekolah. Angka Partisipasi Murni (APM).dalam memajukan pendidikan di Provinsi Sulawesi Selatan sudah cukup baik. Tidak ada perbedaan pencapaian yang nyata antara laki-laki dan perempuan disemua jenjang pendidikan. naiknya persentase jumlah murid tidak dapat diartikan sebagai semakin meningkatnya partisipasi sekolah. Sehingga. Sementara apabila kita mencermati perbedaan antar wilayah perdesaan 30 . Selanjutnya untuk itu dapat melihat keadaan partisipasi sekolah di Provinsi Sulawesi Selatan yang terdiri dari Angka Partisipasi Sekolah (APS). dan Angka Partisipasi Kasar (APK) berdasarkan kelompok umur. Kenaikan tersebut dapat pula dipengaruhi oleh semakin besarnya jumlah penduduk usia sekolah yang tidak diimbangi dengan ditambahnya infrastruktur sekolah serta peningkatan akses masuk sekolah sehingga partisipasi sekolah seharusnya tidak berubah atau malah semakin rendah. Ukuran yang banyak digunakan di sektor pendidikan seperti pertumbuhan jumlah murid lebih menunjukkan perubahan jumlah murid yang mampu ditampung di setiap jenjang sekolah. bahkan pada kelompok usia 7-12 thn dan 13-15 tahun anak perempuan lebih tinggi dibandingkan anak lakilaki.2.

Angka Partisipasi Sekolah (APS) menurut Usia Sekolah. Tabel 4. Artinya didalam rangka meningkatkan angka pencapaian APS nasional. Berdasarkan data Susenas 2008 menunjukkan bahwa APS Sulsel untuk usia 16-18 tahun masih dibawah 50% (tabel 4.dan perkotaan. wilayah perdesaan perlu mendapatkan perhatian yang lebih baik.dan Jenis Kelamin. wilayah perkotaan cenderung lebih tinggi pencapaiannya apabila dibanding perdesaan.4.4). Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008 Sumber data : BPS. Susenas 2008 31 . hal ini terjadi disemua jenjang pendidikan.

APS menurut Usia Sekolah. Selanjutnya.5.dan Jenis Kelamin. dari tabel diatas dapat pula dilihat bahwa partisipasi usia sekolah di jenjang pendidikan yang semakin tinggi. akses lakilaki maupun perempuan sudah cukup tinggi. cenderung menurun. sehingga ketersediaan sarana prasarana pendidikan di jenjang SLTP diperlukan untuk meningkatkan akses pendidikan lanjutan bagi anak-anak. Hal ini menunjukkan bahwa keberlanjutan pendidikan anak-anak usia 7 – 12 tahun ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi perlu mendapatkan perhatian. Untuk usia 13-15 tahun relative lebih rendah dibandingkan usia 7 -12 tahun. Tabel 4.Data diatas menunjukkan bahwa untuk usia sekolah 7 -12 tahun. sehingga arah kebijakan pendidikan kedepan hendaknya lebih ditujukan pada peningkatan kualitas. Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009 Sumber data : BPS. Susenas 2009 32 .

APM menurut Usia Sekolah. Indikator APM merupakan indikator yang lebih baik dibanding dengan indikator APK.4. Angka Partisipasi Murni Angka Partisipasi Murni (APM) adalah persentase siswa dengan usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikannya dari jumlah penduduk di usia yang sama. Susenas 2008 33 .2.dan Jenis Kelamin. sedangkan APM semestinya maksimal 100 persen. Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008 Sumber data : BPS.6. Tabel 4.2. APK dapat mencapai lebih dari 100 persen. sebab APK biasanya digunakan ketika APM-nya masih jauh dari 100 persen.

Susenas 2009 34 . masih sangat rendah. APM menurut Usia Sekolah. Untuk tahun 2009. Suatu hal yang sangat memprihatinkan bahwa APM usia 16-18 tahun masih dibawah 50%. Tabel 4.Berdasarkan tabel 4.7 nampak bahwa Angka Partisipasi Murni untuk golongan usia semakin tinggi. perempuan sedikit lebih tinggi APMnya dibandingkan laki-laki. terdapat penurunan APM perempuan di kelompok usia ini. meskipun jika dilihat persentasenya. APMnya semakin rendah. Kecenderungan ini terjadi baik di kelompok laki-laki maupun perempuan.6 dan 4.dan Jenis Kelamin. Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009 Sumber data : BPS.7. artinya kesempatan untuk memperoleh pendidikan bagi laki-laki dan perempuan di jenjang pendidikan menengah atas.

191 65.634 44.622 32.653 98.792 18.107 24. anak perempuan lebih banyak yaitu 883.169 17.194 327.810 29.417 39.038 22.749 8.977 36.310 31.441 16.978 12.455 39.458 23.15 Thn Jml LK PR 5.222 30.120 29.248 13.143 29.340 18.642.990 38.860 13.072 12.377 30.902 8.502 38.741 452.12 Thn LK PR 13.473 8.745 18.663 23.427 25.673 44.185 8.307 21.529 13.191 34.810 109.418 11.853 58.950 9.567 23.550 12.560 Jml 43.828 15.971 20.992 14.829 28.780 32.808 23.804 17.148 20.589 37.601 29.620 21.687 11.226 26.766 30.289 19.540 17.379 55.383 758.274 42.311 orang (51.336 28.737 41.158 51.954 12.919 39.195 Jml 79.253 orang.549 164.898 46.832 17.274 59.194 16.8 Jumlah Peserta Didik Menurut Kelompok Umur Tahun 2008/2009 Kabupaten / Kota Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sinjai Maros Pangkep Barru Bone Soppeng Wajo Sidrap Pinrang Ebrekang Luwu Tana Toraja Luwu Utara Luwu Timur Makassar Pare-pare Palopo Jumlah (Prov.808 32.114 23.127 21.576 16.842 13.188 29.18 Thn LK PR 6.162 27.827 27.632 16.546 62.937 13.868 1.992 13.243 16 .783 19.081 17.422 79.860 11.256 25.681 15.78 %) sementara laki-laki sebanyak 758.612 70.031 63.998 6.623 81.254 9.926 30.773 24.740 14.202 12.835 23.355 Kelompok Umur 13 .136 16.257 478.112 32.501 33.717 41.568 12.643 63.642.830 86.494 19.659 96.951 29.472 82.830 8.377 35.234 10.746 41.616 32.925 163.588 40.032 33.500 21.393 23.455 34.807 14.638 32.645 162.707 Sumber : Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan 2010 35 .735 40.159 31.222 16.702 25.160 197.394 18.266 10.530 27.596 23.851 36.61 %) dan perempuan sebanyak 478.248 27.340 18.273 32.030 63.094 5.357 11.121 43.715 8.609 16.222 12.976 28.083 53.207 55.265 12.156 33.355 orang (48.760 15.616 16.39 %) yang lebih banyak dari pada laki-laki.694 14.756 11.219 12.253 30.395 83.350 87. Untuk kelompok umur 13 – 15 tahun ada 930.386 5.278 24.252 21.822 998. SulSel) 07 .953 5.311 930.966 7.877 21.640 24.257 orang (53.970 12.Hal ini sejalan dengan data Dinas Pendidikan yang menunjukkan bahwa jumlah anak sekolah untuk tahun 2008/2009 kelompok umur 07 – 12 tahun di Provinsi Sulawesi Selatan.046 14.697 28.772 25.996 883.155 9.784 15.643 47.360 19.613 11.967 39.996 orang atau 46.752 32.666 orang diantaranya laki-laki sebanyak 452.262 519.095 77.841 7. Tabel 4.017 12.637 56.054 179.884 122.731 70.697 16.807 15.407 12.135 14.646 17.007 70.710 40.582 48.950 11.666 479.879 6.371 21.475 35.707 17.986 10.723 12.697 16.087 70.22 % dari total 1.986 24.743 15.

707 orang (51. 4.Sementara untuk kelompok umur 16–18 tahun jumlahnya sebanyak 998. Dengan mencermati tingkat APS pada kelompok umur 07 – 12 tahun sederajat SD dan kelompok umur 13– 15 tahun yang sederajat SMP. untuk usia 7-12 tahun justru mengalami pnurunan. Hal ini menunjukkan bahwa partisipasi laki-laki justru menurun di usia sekolah yang semakin tinggi.10. Jika dilihat berdasarkan jenis kelamin. khususnya untuk usia 13-15. 16-18. nampaknya APS perempuan lebih tinggi dari APS anak laki-laki. dan 36 . dan 19-24 tahun. Untuk usia 7-12 tahun terdapat kecendungan penurunan baik laki-laki maupun perempuan. Hal ini mencerminkan bahwa makin tinggi tingkat pendidikan partisipasi perempuan makin menurun. nampak bahwa secara umum terjadi kenaikan angka partisipasi kasar dari tahun 2008 ke tahun 2009. Angka partisipasi kasar dapat memberikan gambaran tentang banyaknya anak yang menerima pendidikan pada jenjang tertentu.9 dan 4. Namun. Tetapi APS pada kelompok umur 16– 8 tahun yang sederajat SMU nampaknya APS laki-laki lebih tinggi dari pada APS perempuan. Berdasarkan tabel tersebut. Untuk mendapatkan gambaran Angka Partisipasi Kasar (APK) di Provinsi Sulawesi Selatan dapat dilihat pada Tabel 4.39 %).243 orang (51.950 orang diantaranya laki-laki sebanyak 519.2.98 %) dan perempuan sebanyak 479. nampak bahwa APK perempuan pada jenjang sekolah SMP sampai PT lebih tinggi dibandingkan laki-laki.3 Angka Partisipasi Kasar (APK) Indikator ini digunakan untuk mengukur proporsi anak sekolah pada suatu jenjang pendidikan tertentu dalam kelompok umur yang sesuai dengan jenjang pendidikan tersebut.

Tabel 4. namun justru ada kecenderungan menurunnya partisipasi laki-laki dalam pendidikan. dimana perempuan menjadi lebih tinggi APKnya dibandingkan laki-laki.pada tahun 2009. keadaannya menjadi berbanding terbalik dengan tahun 2008. Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008 Sumber data : BPS. Fenomena ini cukup memprihatinkan. Susenas 2008 37 .dan Jenis Kelamin. APK menurut Usia Sekolah. ditegah-tengah gencarnya upaya pemberdayaan perempuan dan keseteraan gender.9.

Pendidikan tertinggi yang ditamatkan penduduk dapat dijadikan sebagai salah satu alat kontrol untuk melihat sejauh mana peningkatan pembangunan bidang pendidikan.3.Tabel 4. Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan Pendidikan yang lebih baik berpengaruh terhadap peningkatan potensi dasar penduduk dalam menerima perubahan-perubahan sosial dan ekonomi.dan Jenis Kelamin.10. APK menurut Usia Sekolah. Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009 Sumber data : BPS. berinovasi. dan menyerap teknologi baru untuk mendukung kehidupannya ke arah yang lebih baik. Semakin tinggi tingkat pendidikan yang 38 . Selain Tingkat Partisipasi Sekolah (TPS). Susenas 2009 4.

persentase perempuan semakin menurun. Banyaknya penduduk yang berpendidikan tinggi menunjukkan semakin baik kualitas penduduknya. Persentase perempuan tamat SD masih cukup tinggi dibandingkan laki-laki. Tabel tersebut memperlihatkan bahwa masih adanya kesenjangan tingkat pendidikan antara penduduk laki-laki dan perempuan. persentasenya semakin menurun. 39 . untuk D1/2/3 dan sarjana muda. sehingga partisipasi dan kesempatan laki-laki maupun perempuan untuk memperoleh pendidikan dalam rangka peningkatan kualitas manusia Sulawesi Selatan masih harus ditingkatkan. Meskipun demikian. justru laki-laki lebih rendah . secara umum. Tabel berikut menunjukkan penduduk Sulawesi Selatan yang berumur 10 tahun ke atas menurut pendidikan tertinggi yang ditamatkan.ditamatkan maka kualitas sumberdaya manusia secara umum akan semakin tinggi. Salah satu ukuran keberhasilan pembangunan pendidikan dapat dilihat dari kualitas tingkat pendidikan yang ditamatkan. dan semakin tinggi jenjang pendidikan. semakin tinggi jenjang pendidikan. Namun disisi lain.

51 26.69 1.88 16.53 1.58 0.01 0.14 9.13 28.20 3.88 0.60 13.78 1.57 0.03 23.75 11.12 2.01 4.04 7.20 10.75 2.21 1.78 0.00 15.11 19.70 25.61 0.74 1.21 17.76 0.44 6.84 18.80 3.46 28.04 0.35 0.56 8.42 0.28 10.15 1.36 4.82 21.93 13.70 1.38 0.70 16.75 0.37 22.14 32.97 17.80 1.74 0.94 15.44 Lk 1.14 15.93 12.15 13.52 0.35 2.16 34.85 1.06 1.31 32.92 4.33 20.88 31.45 0.43 0.95 SD Prp 34.69 9.72 1.47 0.83 31.17 0.53 2.62 12.27 4.75 4.21 8.80 9.74 0.89 1.04 22.45 15.98 1.41 0.45 21.82 18.24 15.59 30.78 10.69 15.13 17.52 1.12 27.89 3.09 0.42 13.12 4.74 11.61 27.43 30.26 0.00 14.98 3.64 2.56 0.19 14.41 11.95 30.35 14.40 27.68 20.55 11.86 3.43 2.00 3.78 5.67 0.30 18.19 0.21 9.89 4. Susenas 2008 40 .57 0.60 1.66 2.76 SMU Prp 8.55 1.52 2.05 11.84 15.29 0.85 1. Pendidikan yang Ditamatkan dan Kabupaten/Kota Tahun 2008 Kab/Kota Lk 01 Selayar 02 Bulukumba 03 Bantaeng 04 Jeneponto 05 Takalar 06 Gowa 07 Sinjai 08 Maros 09 Pangkep 10 Barru 11 Bone 12 Soppeng 13 Wajo 14 Sidrap 15 Pinrang 16 Enrekang 17 Luwu 18 TanaToraja 22 LuwuUtara 25 LuwuTimur 71 Makassar 72 Parepare 73 Palopo Jumlah 30.57 1.95 22.25 4.80 2.58 2.04 D IV/S 1/S 2/S 3 Lk 4.39 24.62 31.18 0.84 6.57 4.26 1.50 11.56 5.08 12.09 4.40 3.94 16.47 0.73 0.75 22.53 1.66 0.68 25.72 1.90 9.94 0.87 14.91 4.65 4.46 14.48 3.98 23.71 1.79 1.83 1.21 0.38 16.10 0.09 25.62 0.15 23.59 20.08 11.42 15.90 2.58 7.59 1.87 2.95 13.46 30.09 Sumber data : BPS.61 1.48 0.01 10.05 0.57 14.28 2.62 0.77 1.38 0.56 30.74 4.72 1.14 1.50 29.77 9.25 15.98 21.03 24.72 1.73 Prp 4.12 17.70 10.42 8.13 23.93 0.78 0.68 2.91 13.79 1.52 0.39 12.26 0.51 13.39 0.44 0.44 0.29 D III/ Sarmud Lk 0.65 0.04 1.54 0.54 23.73 1.19 8.87 0.18 27.40 7.71 12. Persentase Penduduk Menurut Jenis Kelamin.02 1.21 1.40 10.42 0.22 15.86 0.37 5.15 0.86 0.75 8.28 1.70 2.93 SMA Kejuruan Lk 1.71 13.11 2.63 36.91 9.76 4.23 Lk 13.29 0.91 10.97 19.29 0.13 0.21 0.96 2.47 0.28 11.02 1.80 2.99 25.99 4.05 12.67 6.31 12.79 9.75 0.60 4.20 10.07 1.12 25.93 2.97 1.66 2.46 3.89 13.84 1.Tabel 4.66 0.68 10.62 12.46 0.04 19.48 2.41 16.48 2.36 0.75 32.29 3.52 0.34 1.96 26.68 1.60 Prp 1.72 13.65 27.81 11.49 3.78 31.85 Prp 1.15 0.38 3.45 20.04 17.52 21.92 4.61 D I/II Prp 2.20 1.76 2.82 27.73 20.64 25.06 1.55 11.29 0.12 3.03 32.86 3.91 11.77 3.33 23.08 1.35 30.31 0.72 14.46 25.11.75 Lk 12.47 1.92 0.57 1.33 5.24 13.36 3.85 4.47 SLTP Prp 10.84 0.

24 1.31 13.49 19.20 7.87 3.81 11.59 5.42 0.31 11.38 0.47 1.60 1.02 1.56 26.36 2.52 11.47 2.53 D IV/S 1/S 2/S 3 Lk Prp -10 -10 3.53 32.80 1.54 13.64 Lk -8 Prp -8 30.48 D I/II D III/ Sarmud Lk Prp -9 -9 0.40 29.15 0.24 20.03 10.25 1.90 2.02 14.33 32.33 1.23 25.90 0.80 2.81 11.45 1.15 2.99 17.93 12.88 2.07 6.98 3.27 3.32 14.98 0.75 0.23 1.69 19.13 2.28 30.19 5.85 15.78 1.04 31.48 2.37 0.93 0.29 14.77 13.04 0.26 1.82 0.44 2.22 0.93 0.18 18.94 2.49 0.60 0.74 1.21 2.55 6.40 0.40 12.02 0.24 10.19 0.53 0.38 26.89 36.21 6.48 24.70 SMU Lk Prp -6 -6 10.03 19.87 15.30 3.33 18.98 0.03 3.25 3.23 8.76 1.26 3.05 17.20 12.58 0.63 9.32 31.19 0.15 2.64 12.93 1.24 3.24 7.38 4.76 1. Pendidikan yang Ditamatkan dan Kab/Kota Tahun 2009 Kab/Kota -1 01 Selayar 02 Bulukumba 03 Bantaeng 04 Jeneponto 05 Takalar 06 Gowa 07 Sinjai 08 Maros 09 Pangkep 10 Barru 11 Bone 12 Soppeng 13 Wajo 14 Sidrap 15 Pinrang 16 Enrekang 17 Luwu 18 TanaToraja 22 LuwuUtara 25 LuwuTimur 71 Makassar 72 Parepare 73 Palopo Jumlah SD -4 SLTP Lk Prp -5 -5 14.65 3.47 15.40 2.97 23.05 7.37 2.19 3.36 1.41 25.07 1.55 0.86 0.60 2.48 24.18 1.87 0.02 29.97 23.27 1.78 17.21 21.58 0.48 0.56 0.61 0.31 12.54 2.68 6.95 1.79 4.96 2.95 21.84 12.46 0.00 3.19 26.08 22.02 23.15 14.47 11.80 0.49 4.05 2.57 2.97 16.96 2.58 1.31 0.47 4.67 0.46 2.11 27.88 3.72 0.64 15.84 15.44 0.87 31.30 15.24 33.63 0.76 1.62 2.08 4.65 25.54 SMA Kejuruan Lk Prp -7 -7 3.98 12.32 29.14 4.12 0.58 0.19 15.95 1.34 2.13 9.79 16.89 0.55 0.80 0.79 15.69 24.72 27.65 0.75 4.70 10.43 2.95 1.72 0.51 26.09 16.60 17.40 2.40 18.66 0.63 3.84 2.03 4.85 33.89 0.04 0.96 12.39 26.90 3.14 10.83 0.66 0.10 Sumber data : BPS.66 2.25 36.84 21.10 2.59 27.15 2.87 0.37 21.31 3.46 28.62 6.39 12.70 31.64 1.18 1.10 10.83 0.11 1.70 10.59 0.49 16.83 3.57 11.40 21.35 24.52 33.26 16.15 Lk Prp -4 28.45 4.24 24.43 30.16 4.68 2.08 12.22 2.82 10.85 1.85 17.43 0.12 5.19 18.47 14.27 1.57 0.43 12.63 2.67 4.Tabel 2.79 15.13 7.71 8.07 5.72 0.67 4.21 1.44 28.96 0.26 14.96 22.60 8.20 16.15 2.91 34.50 10.73 11.74 3.00 12.91 29.81 2.73 3.35 3.55 0.05 3.85 0.11 2.12 0.13 18.11 1.00 0.45 16.70 16.24 3.12 12.47 0.51 2.64 0.49 0.19 12.75 1.72 1.73 11.41 2. Persentase Penduduk Menurut Jenis Kelamin.67 17.88 0.10 17.21 30.22 31.42 4.83 4.60 19.36 4.81 1.55 10.41 1.19 1.8.07 14.40 0.4 5 7. Susenas 2009 41 .89 8.10 11.77 2.62 10.68 15.10 12.57 7.74 34.65 21.07 1.14 28.25 17.07 2.74 14.65 15.

Persentase tertinggi adalah penduduk yang menamatkan pendidikan SD yaitu 46 %. Kondisi geografis juga berpengaruh terhadap tingginya angka putus sekolah. semakin besar biaya yang diperlukan. 4. selanjutnya penduduk yang menamatkan pendidikan SLTP/MTs/Paket B sebesar 23 %. Persentase penduduk yang berpendidikan rendah masih relatif tinggi. sementara masyarakat miskin dan rumah tangga miskin tidak memiliki penghasilan yang cukup untuk biaya pendidikan. disamping anggapan bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan. sebagaimana digambarkan dalam Tabel 2. dan anggapan lebih baik bekerja dengan mendapatkan uang.4.4. Di Sulawesi Selatan masih cukup banyak dijumpai anak putus sekolah. Tentunya diharapkan kedepan penduduk Sulawesi Selatan dapat lebih ditingkatkan lagi pendidikan yang ditamatkannya yang akan berpengaruh pada kondisi sosial ekonomi masyarakat akan semakin baik. Putus Sekolah Partisipasi Sekolah dapat dikaitkan dengan keadaan putus sekolah. Kemiskinan seringkali menjadi alasan bagi siswa sekolah untuk tidak melanjutkan sekolah. penduduk yang menamatkan pada jenjang pendidikan SLTA sebesar 28 %. Hal ini terlihat dari persentase penduduk yang menamatkan pendidikan pada tingkat sekolah dasar masih lebih tinggi dibanding pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.Secara umum di Sulawesi Selatan. karena mereka diharapkan membantu mencari nafkah untuk keluarganya. Aksesibiltas yang rendah untuk menjangkau sekolah dengan sarana dan prasarana transportasi yang terbatas dan masih sulit dijangkau 42 . berikut.

Usia dan Kabupaten/KotaTahun 2008 Sumber data : BPS. merupakan salah satu alasan bagi siswa untuk tidak melanjutkan sekolah.oleh masyarakat di pelosok pedesaan dan wilayah kepulauan. meskipun guru telah memberikan dorongan dan motivasi kepada siswa agar tidak putus sekolah.11. Hal ini mengindikasikan masih adanya hambatan bagi anak untuk bertahan belajar di sekolah sejak memasuki sekolah dasar. Tabel 4. Angka putus sekolah menurut kelas dan jenjang sekolah. tampak mulai terjadi sejak SD. Susenas 2008 43 . Persentase Penduduk Berdasarkan Status Putus Sekolah Menurut Jenis Kelamin. dan menunjukkan persentase yang meningkat seiring dengan jenjang sekolah.

74 91.68 1.08 68.27 86.15 55.31 40.84 49.01 11.77 33.97 91.80 81.21 91.32 92.61 44.91 88.78 89.22 3.60 1.53 7.82 0.94 7.23 90.48 94.97 64.76 93.00 51.27 45.11 60.93 33.12 3.05 9.30 47.26 59.29 2.75 32.81 2.51 0.13 17.78 Sumber data : BPS.48 46.80 1.66 53.66 91.32 0.63 1.11 1.81 90.84 25.24 79.45 3.01 0.94 2.33 1.28 20.30 78.51 63.57 3.74 Laki-laki 13-15 16-18 15.26 66.85 12.79 37.04 33.79 22.25 1.82 11.47 58.65 8.38 0.02 3.38 32.61 49.91 15.84 3.64 86.75 12.33 21.68 61.10 20.65 2.81 2.99 3.25 14.79 88.31 5.96 1.07 22.70 87.39 29.20 16.75 15.93 3.59 2.88 35.18 50.96 83.74 2.37 88.12 6.08 35.22 5.81 4.61 79.49 83.82 77.41 3.45 13.67 12. Persentase Penduduk Berdasarkan Status Putus Sekolah Menurut Jenis Kelamin.92 42.37 32.86 Perempuan 13-15 16-18 5.30 49.70 3.39 87.85 37.74 Tidak bersekolah lagi Jenis Kelamin 19-24 85. Susenas 2009 18.44 83.15 46.22 91.47 32.88 24.28 4.90 58.93 20.76 2.71 9.56 3.45 26.83 54.12 58.33 12.28 52.05 81.97 7-12 1.34 89.50 85.15 2.50 19.57 1.43 95.Tabel 4.20 2.23 92.22 44.92 0.45 1.88 2.39 19-24 93.61 38.32 8.29 40.27 37.86 12.48 4.43 27.12.19 80.93 86.10 10.16 76.12 45.76 23.39 14.31 40.18 28.51 89.55 15.41 60.61 44 .22 91.56 2.48 59.49 94.73 28.64 16.22 95.06 46.42 86.83 84.72 54.19 52.88 39.17 89.34 17.72 5.72 54.78 30.56 0.22 82.45 20.24 3.02 84. Usia dan Kabupaten/KotaTahun 2009 Kabupaten/ Kota 7-12 01 Selayar 02 Bulukumba 03 Bantaeng 04 Jeneponto 05 Takalar 06 Gowa 07 Sinjai 08 Maros 09 Pangkep 10 Barru 11 Bone 12 Soppeng 13 Wajo 14 Sidrap 15 Pinrang 16 Enrekang 17 Luwu 18 TanaToraja 22 LuwuUtara 25 LuwuTimur 71 Makassar 72 Parepare 73 Palopo Jumlah 3.53 31.39 37.

Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar). yang diselenggarakan pada jalur formal. kecerdasan spiritual).Berdasar table 4.5. 45 . nonformal. Pendidikan Anak Usia Dini Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Tabel tersebut juga menunjukkan bahwa keadaan putus sekolah pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi cenderung semakin meningkat persentasenya. daya cipta.11 dan 4. dan informal. membantu orangtua mencari nafkah. Banyaknya laki-laki yang putus sekolah dimungkinkan karena beberapa hal meliputi pergi merantau mencari pekerjaan di daerah lain. di semua jenjang usia pendidikan. angka putus sekolah di Sulawesi Selatan menunjukkan persentase laki-laki lebih besar daripada perempuan. kecerdasan (daya pikir. kecerdasan emosi. sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini. sosio emosional (sikap dan perilaku serta agama) bahasa dan komunikasi.12. dan juga disebabkan oleh factor internal siswa laki-laki. 4.

13 Jumlah Siswa PAUD di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009 46 .20/2003 ayat 1 adalah 0-6 tahun. yaitu anak yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya sehingga memiliki kesiapan yang optimal di dalam memasuki pendidikan dasar serta mengarungi kehidupan di masa dewasa. • Tujuan penyerta: untuk membantu menyiapkan anak mencapai kesiapan belajar (akademik) di sekolah.8 berikut: Tabel 4. Sementara menurut kajian rumpun keilmuan PAUD dan penyelenggaraannya di beberapa negara. PAUD dilaksanakan sejak usia 0-8 tahun.Ada dua tujuan diselenggarakannya pendidikan anak usia dini yaitu: • Tujuan utama: untuk membentuk anak Indonesia yang berkualitas. Rentangan anak usia dini menurut Pasal 28 UU Sisdiknas No. Gambaran PAUD di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009 dapat dilihat pada Tabel 4.

88%) dan perempuan 67. selanjutnya umur 24 – 48 bulan sebanyak 130. kabupaten yang memiliki jumlah murid PAUD yang lebih banyak dibanding kabupaten lainnya yaitu Kabupaten Pinrang yaitu sebanyak 18.222 murid (49.273 orang (47.67%) dan perempuan 53.890 murid yang terdiri dari laki-laki 9.Berdasarkan Tabel 4.449 orang yang terdiri dari laki-laki 89.11 %) dan kelompok umur 49 – 72 bulan sebanyak 201.048 orang yang terdiri dari laki-laki 62.61 %)dan perempuan 111.470 murid (50.252 murid (50. Selanjutnya pada kelompok umur 24 – 48 bulan.520 orang (47.775 orang (52.284 orang yang terdiri dari umur 0 – 4 bulan sebanyak 101.787 orang yang terdiri dari laki-laki 48.33%).87 %) dan perempuan sebanyak 9.474 yang terdiri dari laki-laki 10.13 %) sedangkan kabupaten yang memiliki jumlah murid PAUD yang paling sedikit pada kelompok umur ini sama pada kelompok umur 0 -4 bulan yaitu Kabupaten Wajo yaitu hanya berjumlah 543 murid yang terdiri dari laki-laki 237 murid (43.65 %) dan 47 .874 orang (44.93 %) sedangkan kabupaten yang memiliki jumlah murid PAUD yang paling sedikit pada kelompok umur tersebut adalah di Kabupaten Wajo dengan jumlah 35 murid yaitu laki-laki 14 murid (40. Jika perbandingan murid PAUD dianalisis menurut kabupaten.00 %).267 orang ((52. Jika dilihat secara cermat nampak bahwa jumlah murid PAUD perempuan pada setiap kelompok umur lebih banyak dibanding laki-laki.575 orang (55.07 %) dan perempuan 10.420 murid (49.00 %) dan perempuan 21 murid (60. nampak bahwa jumlah murid yang mengikuti PAUD sebanyak 433. maka dapat dilihat bahwa pada kelompok umur 0 – 4 bulan jumlah murid PAUD yang paling banyak adalah di Kabupaten Luwu Utara yaitu sebanyak 20.38 %).13 diatas yang bersumber dari Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2010.

Sementara pada kelompok umur 49 – 72 bulan yang memiliki jumlah murid PAUD yang lebih banyak dibanding kabupaten lainnya yaitu Kota Makassar sebanyak 26.perempuan 306 murid (56.35 %).943 murid yang terdiri dari laki-laki sebanyak 10.129 murid (59.20 %). 48 .803 murid.86 %) sedangkan kabupaten yang memiliki jumlah murid PAUD yang paling sedikit pada kelompok umur tersebut adalah di Kabupaten Gowa yaitu 1.80 %) dan perempuan 590 murid (53.814 murid (40.14 %) dan perempuan 16.109 murid yang terdiri dari laki-laki sebanyak 519 murid (46. Secara umum kabupaten/kota yang memiliki partisipasi yang paling tinggi dalam melaksanakan PAUD adalah Kabupaten Pinrang dengan jumlah murid PAUD sebanyak 54.

cakupan imunisasi dan status gizi balita.1. hal tersebut ditandai dengan menurunnya angka kematian bayi (AKB). KESEHATAN Gambaran perkembangan derajat kesehatan masyarakat dapat dilihat dari kejadian kematian dalam masyarakat dari waktu ke waktu. Partisipasi dalam ber KB.BAB V. Pada Bab ini akan dicoba dilihat atau diungkap kemungkinan adanya kesenjangan antara laki-laki dan perempuan di bidang kesehatan. Penolong Persalinan. 5. Derajat kesehatan masyarakat di Sulawesi Selatan semakin meningkat. Adapun rincian permasalahan yang akan dilihat adalah angka kematian bayi (AKB). Di samping itu kejadian kematian juga dapat digunakan sebagai indikator dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan kesehatan lainnya. Angka Kematian Bayi (AKB). AKABA. Kesehatan Reproduksi. Secara umum kejadian kematian pada manusia berhubungan erat dengan permasalahan kesehatan sebagai akibat dari gangguan penyakit atau akibat dari proses interaksi berbagai faktor yang secara sendiri-sendiri atau bersama-sama mengakibatkan kematian dalam masyarakat. Menurut hasil Surkesnas/Susenas.1. AKB di Indonesia 49 . Peristiwa kematian pada dasarnya merupakan proses akumulasi akhir dari berbagai penyebab kematian langsung maupun tidak langsung. AKI. Angka kematian pada umumnya dapat dihitung dengan melakukan berbagai survey dan penelitian. Angka kematian bayi menunjukkan banyaknya kematian bayi per seribu kelahiran hidup. dan gerakan sayang ibu.

pada tahun 2002 sebesar 45 per 1.000 kelahiran hidup.89 per 1. sementara itu data proyeksi yang dikeluarkan oleh Depkes RI bahwa AKB di Sulsel pada tahun 2007 sebesar 27. Fluktuasi ini bisa terjadi oleh karena perbedaan besar sampel yang diteliti. yaitu dari 161 per 1. dan hasil SDKI 2007 menunjukkan angka 41 per 1.000 kelahiran hidup. lalu turun lagi menjadi 52 pada tahun 1998 kemudian pada tahun 2003 menjadi 48 (Susenas 2003). Sedangkan AKB menurut hasil SDKI 2002-2003 terjadi penurunan yang cukup besar. Di Sulawesi Selatan. Ini berarti rata-rata penurunan AKB selama kurun waktu 1998-2003 sekitar 4 poin.1. angka ini berada jauh dari yang diproyeksikan oleh Depkes RI yakni sebesar 26. yaitu menjadi 35 per 1.000 kelahiran hidup sementara hasil SDKI 2007 hasilnya menurun lagi menjadi 34 per 1. Namun. 50 .000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup pada tahun 1971 menjadi 55 pada tahun 1996. Selama tiga puluh tahun terakhir.000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup sedangkan hasil Susenas 2006 menunjukkan AKB di Sulsel pada tahun 2005 sebesar 36 per 1.000 kelahiran hidup.pada tahun 2001 sebesar 50 per 1.52 per kelahiran hidup. AKB Sulawesi Selatan menunjukkan penurunan yang sangat tajam seperti Tabel 5. menurut hasil Surkesnas/Susenas 2002-2003. Angka Kematian Bayi menunjukkan penurunan yang sangat tajam. AKB di Sulawesi Selatan sebesar 47 per 1.

jumlah kematian bayi turun menjadi 495 atau 3. mengalami peningkatan pada tahun 2007 menjadi 709 kematian bayi atau 4.000 kelahiran hidup.39*) 3.39 per 1.31 per 1.000 kelahiran hidup. atau 4. sementara tahun 2009.61 per 1.6 69.32 per 1. Adapun nilai normatif AKB yang kurang dari 40 sangat sulit diupayakan penurunannya (hard rock). Tahun 2008 ini jumlah kematian bayi turun menjadi 638 atau 4.31*) 63 64 68 68 68 69 69 69. Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Harapan Hidup (AHH) Di Sulawesi Selatan Tahun 1971-2009 Tahun AKB AHH (1) (2) (3) 1971 1996 1998 2000 2001 2003 2004 2005 2007 2008 2009 161 55 52 48 47 48 44 36 41 4.1.Tabel 5.000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup. Tanda *) adalah AKB menurut laporan Dinkes Sulawesi Selatan Sementara laporan dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota bahwa jumlah kematian bayi pada tahun 2006 sebanyak 566 bayi. 51 .4 69. Penurunan angka kematian bayi merupakan indikasi terjadinya peningkatan derajat kesehatan masyarakat sebagai salah satu wujud keberhasilan pembangunan di bidang kesehatan dan semakin meningkatnya pendidikan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan. Hal tersebut merupakan respon positif dari upaya pemerintah untuk mendekatkan fasilitas kesehatan pada masyarakat.8 Sumber : Susenas dan SDKI.

AHH nya mencapai 69. namun sulit untuk diturunkan. Menurunnya AKB dalam beberapa waktu terakhir memberi gambaran adanya peningkatan dalam kualitas hidup dan pelayanan kesehatan masyarakat.antara 40-70 tergolong sedang. serta kesediaan masyarakat untuk merubah kehidupan tradisional ke norma kehidupan modern dalam bidang kesehatan merupakan faktor-faktor yang sangat berpengaruh terhadap tingkat AKB. sedangkan dari tahun 2004 – 2005 AHH mencapai angka 69 dan pada tahun 2009.1). 52 .8 persen. dan lebih besar dari 70 tergolong mudah untuk diturunkan. Sejak tahun 2000 hingga tahun 2003 AHH relatif stabil pada usia 68 tahun.2 menunjukkan bahwa penyakit Diarre dan Pneumonia adalah penyebab utama terjadinya kematian pada bayi yaitu masing-masing 31. Sejalan dengan menurunnya AKB. Ada banyak faktor yang mempengaruhi tingkat AKB tetapi tidak mudah untuk menentukan faktor yang paling dominan dan faktor yang kurang dominan. Angka Harapan Hidup (AHH) juga diharapkan terjadi peningkatan. Rata-rata usia harapan hidup penduduk Sulawesi Selatan terus meningkat dari 63 pada tahun 1996 menjadi 64 pada tahun 1998.4 persen dan 23.8 (Tabel 5. Tersedianya berbagai fasilitas atau faktor aksesibilitas dan pelayanan kesehatan dari tenaga medis yang terampil. Tabel 5.

Tabel 5.9 2. Penyebab Kematian % 31. Angka Kematian Balita (AKABA) adalah jumlah anak yang dilahirkan pada tahun tertentu dan meninggal sebelum mencapai usia 5 tahun.8 9. Tetanus 8.3 1. dinyatakan sebagai angka per 1. 1.3 6. TB 10. 5. sanitasi. 2.1 2. Indikator ini menggambarkan tingkat kesejahteraan sosial. Proporsi Penyebab Kematian Bayi No.2. 3.2. AKABA menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan anak dan faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap kesehatan anak Balita seperti gizi. Malnutrisi 9. dalam arti besar dan tingkat kemiskinan penduduk. Campak Sumber Riskesdas 2007 5. 4. sehingga kerap dipakai untuk mengidentifikasi kesulitan ekonomi penduduk.4 23.2 Angka Kematian Balita (AKABA).2 1.4 5.1. Diare Pneumonia Meningitis/ensefalitis Kelainan Saluran Pencernaan Kelainan jantung Kogenital & Hydrocephalus 6. 53 . penyakit menular dan kecelakaan. Sepsis 7.000 kelahiran hidup.8 4.

93 Sumber 4 Estimasi SUPAS 1995 SDKI 1997 Estimasi SUPAS 1995 Estimasi SUPAS 1995 Estimasi SUPAS 1995 Estimasi SUSENAS Estimasi SUSENAS Estimasi SUSENAS Estimasi SUSENAS Dilaporkan dari Dinkes Kab.55 44.3. antara 71-140 sedang dan kurang dari 71 rendah. Namun.000 kelahiran hidup.13 44 53 1.7 42. Angka Kematian Balita di Indonesia (menurut estimasi SUPAS 1995) dalam beberapa tahun terakhir (kecuali tahun 2001) terlihat mengalami penurunan yang cukup bermakna.4 17. Dilaporkan dari Dinkes Kab. tahun 1995-2008 Tahun 1 1995 1997 1998 1999 2000 2001 2003 2004 2005 2006 2007 2008 AKABA per 1000 KH Nasional Propinsi 2 3 75 19.7 pada tahun 2000 sementara untuk Sulawesi Selatan.Tabel 5. Sumber : Data Sekunder diolah serta Profil Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan Catatan: Adapun nilai normatif AKABA yakni lebih besar dari 140 tergolong sangat tinggi.16 64 46 72 51 46 1.000 kelahiran hidup. SDKI 2007 Dilaporkan dari Dinkes Kab.28 59. Pada tahun 1986 AKABA diperkirakan sebesar 111 per 1. hasil SDKI 54 .33 1.1 64.16 per 1. Angka Kematian Anak Balita (1-4 th) di Sulawesi Selatan dan Indonesia.000 kelahiran hidup. kemudian turun menjadi 81 pada tahun 1993 dan turun lagi menjadi 44. Menurut hasil SUSENAS 2001 AKABA diperkirakan sebesar 64 per 1. pada tahun yang sama berada dibawah rata-rata nasional yakni sebesar 42.

4. Sehubungan dengan hal tersebut..81% pada tahun 2006 dan mengalami penurunan pada tahun 2007 55 .33 per 1.13 per 1. maka untuk menggambarkan angka kematian bayi dan balita di Sulawesi Selatan dapat digambarkan dengan indikator program yang dilaksanakan dalam upaya menurunkan angka kematian bayi dan balita.000 kelahiran hidup menurut SDKI 2007. antara lain persentase BBLR (0. cakupan kunjungan bayi (82. Angka kematian Bayi dan Balita untuk tingkat kecamatan. dari hasil penelitian mendalam terhadap semua kasus kematian AKABA yang ditemukan dalam RISKESDAS diperoleh gambaran besarnya proporsi sebab utama kematian Balita dapat dilihat pada tabel 5.83% pada tahun 2006 dan 1.000 kelahiran hidup. menunjukkan bahwa pola penyakit penyebab kematian balita menurut Hasil Riskesdas tahun 2007 masih didominasi oleh penyakit infeksi. Pada tahun 2008 jumlah kematian balita dilaporkan mengalami peningkatan menjadi 283 balita atau 1.2002-2003 menunjukkan bahwa AKABA di Sulawesi Selatan mencapai 72 per 1.000 kelahiran hidup dan menurun menjadi 53 per 1. kabupaten maupun provinsi tidak tepat jika diperoleh dari survey yang berskala nasional. Sementara itu.93 per 1000 kelahiran hidup. Jumlah kematian balita yang dilaporkan oleh Dinas Kesehatan Kab/Kota di Sulsel pada tahun 2006 sebanyak 148 balita atau 1.57% tahun 2007 dari kelahiran hidup).000 kelahiran hidup. Hal ini karena rancangan sampel diperuntukkan untuk menggambarkan angka kematian bayi dan balita tingkat nasional. Sedangkan pada tahun 2007 jumlah kematian balita dilaporkan sebanyak 105 balita atau 1.

TB 9.05% pada tahun 2007) dan lainlain.48% pada tahun 2006 dan 57.9 3. Sumber : Riskesdas 2007 % 25.menjadi 75.9 2.18 %.2.9 5. cakupan pemberian ASI ekslusif (57.39 %. Angka Kematian Ibu (AKI) AKI adalah banyaknya wanita yang meninggal dari suatu penyebab kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau penanganannya selama kehamilan. Untuk mengantisipasi masalah ini maka diperlukan terobosan56 .4. Diare 1. Malnutrisi 8.38 % dari kelahiran hidup. Angka Kematian Ibu (AKI) berguna untuk menggambarkan tingkat kesadaran perilaku hidup sehat.9 2.8 4. cakupan kunjungan bayi menurun 71.8 6.5 10. Tabel 5. Proporsi Penyebab Kematian Balita di Indonesia Hasil Riskesdas Tahun 2007 Penyebab Kematian No. Pneumonia 2. cakupan pemberian ASI eksklusif meningkat menjadi 77.2 15.8 5.7 8. Kelainan jantung Kogenital & Hydrocephalus 5.1. melahirkan dan dalam masa nifas (42 hari setelah melahirkan) per 100. status gizi dan kesehatan ibu.000 kelahiran hidup. Kelainan Saluran Pencernaan 4. Untuk data tahun 2008 persentase BBLR 1. tingkat pelayanan kesehatan terutama untuk ibu hamil.20% dari jumlah kelahiran hidup). Sepsis 6. Tetanus 7. Campak 10. pelayanan kesehatan waktu ibu melahirkan dan masa nifas. kondisi kesehatan lingkungan. Meningitis/ensefalitis 3.

000 kelahiran hidup pada tahun 1986 menjadi 425 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1995.terobosan dengan mengurangi peran dukun dan meningkatkan peran Bidan.000 kelahiran hidup pada tahun 1992. tahun 1982-2007 Penelitian/Survei Tahun AKI 1 2 3 SDKI 1982 450 SKRT 1986 450 SKRT 1992 425 SKRT 1994 390 SKRT 1995 373 SDKI 1997 334 SDKI 2002-2003 307 SDKI 2007 248 Sumber: Badan Litbangkes. kemudian menurun lagi menjadi 373 per 100. Pada SKRT 2001 tidak dilakukan 57 . Angka Kematian Ibu Maternal per 100. maka cakupan wilayah penelitian AKI menjadi lebih luas dibanding survey-survey sebelumnya. Dengan dilaksanakannya Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) dan Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI).2007 Untuk melihat kecenderungan AKI di Indonesia secara konsisten. digunakan data hasil SKRT. Menurut SKRT. Angka Kematian Ibu (AKI) diperoleh melalui berbagai survey yang dilakukan secara khusus seperti survey di rumah sakit dan beberapa survey di masyarakat dengan cakupan wilayah yang terbatas.000 Kelahiran Hidup di Indonesia. Harapan kita agar Bidan di desa benar-benar sebagai ujung tombak dalam upaya penurunan AKB (IMR) dan AKI (MMR).5. Tabel 5. Publikasi Hasil SKRT 1995 & SDKI 2003. AKI menurun dari 450 per 100.

89 per 100. Tetapi bila dibandingkan dengan target yang ingin dicapai secara nasional pada tahun 2010. Gambar 5.000 kelahiran hidup. kemudian menjadi 248 per 100. sedangkan pada tahun 2007 sebanyak 143 kematian atau 92.67 per 100.000 kelahiran hidup. maka apabila penurunannya masih seperti tahun-tahun sebelumnya. Jumlah kematian ibu maternal yang dilaporkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota di Sulawesi Selatan pada tahun 2006 sebanyak 133 orang atau 101.2007 dan 2008 Sumber : Profil Kesehatan Kab/ Kota tahun 2006-2008 58 .1.000 kelahiran hidup. Untuk tahun 2008 jumlah kematian ibu maternal mengalami penurunan menjadi 121 orang atau 82.000 kelahiran hidup (SDKI 2007).56 per 100. Hal ini menunjukkan AKI cenderung terus menurun. Pada tahun 2002-2003. diperkirakan target tersebut akan sulit tercapai.survey mengenai AKI.000 kelahiran hidup diperoleh dari hasil SDKI. yaitu sebesar 125 per 100. Angka Kematian Ibu (AKI) di Sulawesi Selatan Tahun 2006.000 kelahiran hidup. AKI sebesar 307 per 100.

Kesempatan untuk memperoleh pengetahuan tersebut telah tersedia di berbagai tempat-tempat pemukiman penduduk. lebih dari 35 tahun.2.5. Kesadaran masyarakat untuk berperan aktif dalam mengendalikan banyaknya kelahiran belum terlihat nyata. khususnya wanita menyebabkan masa reproduksinya lebih pendek. Sementara jumlah kelahiran yang terbatas (cukup dua saja) membuat perhatian ibu terhadap anakanaknya semakin besar. karena semakin tinggi umur perkawinan. atau jarak waktu kelahiran terakhir kurang dari dua tahun akan semakin memperbesar resiko persalinan.2. pernah hamil empat kali/lebih. Perkawinan yang dilakukan pada usia matang (di atas 20 tahun) bagi perempuan akan membantu mereka menjadi lebih siap untuk menjadi ibu dan mengurangi resiko persalinan. Usia perkawinan pertama merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap tingkat fertilitas. Polindes dan saranasarana kesehatan lainnya. Kesehatan Reproduksi Persalinan yang dilakukan pada ibu usia kurang dari 20 tahun. Dengan demikian diharapkan akan lahir generasi baru yang lebih handal dan berkualitas untuk kelanjutan pembangunan di masa yang akan datang. Himbauan untuk menunda usia perkawinan pertama dan membatasi jumlah kelahiran merupakan usaha nyata dalam merealisasikan tujuan tersebut. Hal ini berarti pula bahwa penundaan perkawinan mengakibatkan berkurangnya peluang wanita untuk melahirkan anak lebih banyak. Posyandu. Disamping itu juga pengetahuan para ibu rumahtangga tentang kesehatan merupakan sesuatu yang sangat penting dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan keluarga. Persentase wanita yang 59 . misalnya melalui Puskesmas.

melangsungkan perkawinan pada usia muda (< 16 tahun) dari tahun 2007 – 2009 memperlihatkan persentase yang semakin meningkat.6.66 persen. maka cenderung terjadi perceraian yang pada akhirnya akan bermuara pada kemiskinan warisan bagi anak keturunannya.14 60 .63 2008 (3) 23.76 15. sehingga upayaupaya perlindungan anak masih harus terus ditingkatkan. persentase ini masih cukup tinggi apalagi jika diakumulasikan dengan perempuan yang menikah pada usia 17-18 tahun. Namun demikian.24 25+ Sumber : Susenas 2007.00 15. menjadi 23. Pada tahun 2007 proporsi wanita yang usia perkawinan pertamanya di bawah 16 tahun sekitar 22.. dan pada tahun 2009 persentase ini turun menjadi 21.12 2009 (4) 21.16 persen pada tahun 2008.22 40. Hal ini perlu menjadi perhatian tersendiri karena akan mempengaruhi ketahanan rumah tangga.26 23. Persentase Wanita Pernah Kawin Menurut Umur Perkawinan Pertama Sulawesi Selatan Tahun 2007.2008 dan 2009 Umur Perkawinaan Pertama (tahun) (1) ≤ 16 17 .43 40. mengingat usia <16 tahun masih tergolong usia anak (berdasarkan batasan usia anak dalam UU Perlindungan Anak).18 19 . 2008 dan 2009 Tahun 2007 (2) 22.66 22. Tabel 5. dimana ketika perempuan belum siap secara mental dan psikis. Kondisi ini cukup menggembirakan.26 persen.16 21.73 40.85 14.

75 persen. Pada tahun 2007 persentasenya adalah sekitar 40. Pada tahun 2007 persentasenya adalah 14. Salah satu tujuan program ini adalah untuk meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak serta mewujudkan keluarga kecil bahagia dan sejahtera melalui pembatasan dan pengaturan jarak kelahiran.63 persen.43 persen.73 persen pada tahun 2008.14 persen 5.3. Pada tahun 2009 persentase wanita yang menikah pada usia 25 tahun ke atas menjadi meningkat menjadi 15. Pada tahun 2007 persentasenya sekitar 23.85 persen.Persentase penduduk yang menikah pada umur 17-18 tahun cenderung fluktuatif. dan pada tahun 2009 naik menjadi 40.12 persen. turun menjadi 21. Partisipasi Dalam ber KB. dan mengalami kenaikan pada tahun 2008 menjadi sekitar 15. partisipasi masyarakat dalam membantu pemerintah menangani masalah kependudukan adalah berupa kesadaran masyarakat untuk mensukseskan program Keluarga Berencana.22 persen. Selain melalui penundaan usia perkawinan pertama. Untuk wanita yang menikah pada usia 25 tahun ke atas persentasenya memperlihatkan tren meningkat. Hal ini bisa ditempuh antara lain dengan cara pemakaian alat/cara kontrasepsi KB.00 persen pada tahun 2008. Persentase penduduk yang menikah pada umur 19 – 24 tahun relatif stabil. 61 .2. menjadi 40. dan pada tahun 2009 naik lagi menjadi 22.

meningkat menjadi 54.39 35. 62 . yaitu mencapai sekitar 51.52 57.73 2.40 3.73 2005 (3) 1. 2006 dan 2009 Jika dirinci menurut jenis alat/cara KB yang dipakai tampak bahwa akseptor yang menggunakan suntikan KB menempati urutan tertinggi.62 3.85 2006 (4) 1. Tingginya persentase penggunaan alat kontrasepsi Suntikan KB disebabkan alat ini relatif praktis.74 4.86 persen dan pada tahun 2009 menjadi 57.44 2009 (5) 1. Persentase Akseptor KB Menurut Kontrasepsi yang Sedang Digunakan Tahun 2004.53 2.54 persen pada tahun 2004. Alat/cara ini relatif lebih aman bagi kebanyakan wanita dan relatif lebih murah dan gampang didapatkan.59 51.10 57. 2005.86 4. 2005. sehingga untuk wanita-wanita yang sibuk. mudah pemakaiannya (tidak membuat akseptor malu/risih pada saat pemasangan seperti misalnya IUD) dan efek sampingnya juga tidak terlalu besar.21 31.88 54.74 persen pada tahun 2005.95 2.05 33. bisa dilakukan pada saat yang dikehendaki oleh akseptor. cenderung lebih memilih jenis alat kontrasepsi ini.54 5.7.70 29.71 persen.Tabel 5.12 2. 2006 dan 2009 Tahun 2004 (1) MOW/MOP AKDR/IUD Suntikan KB Susuk KB Pil KB Lainnya (2) 1. pada tahun 2006 menjadi 57.71 4. Kelebihan lain dari alat kontrasepsi ini adalah jika akseptor ingin berhenti.81 3..25 Jenis Kontrasepsi Sumber : Susenas 2004.24 2.

Meningkatnya

akseptor

KB

yang

menggunakan

metode

kontrasepsi berupa suntikan, diikuti oleh semakin berkurangnya akseptor KB yang menggunakan metode kontrasepsi pil. Hal ini menunjukkan telah terjadi pergeseran pemakaian alat kontrasepsi dari pil KB ke Suntikan KB, kondisi ini kemungkinan disebabkan karena kesibukan para wanita, sehingga lebih memilih suntikan KB yang resiko terjadinya kelainan kecil dibanding dengan pil KB. Sementara itu sisanya menggunakan alat kontrasepsi jenis lain, seperti MOW/MOP, AKDR/IUD, susuk KB, kondom dan metode tradisional. 5.3.1. Penolong Persalinan Penolong persalinan sangat berpengaruh terhadap keselamatan dan kesehatan bayi dan ibu pada saat proses persalinan. Penolong persalinan yang berkualitas tentunya lebih memungkinkan terwujudnya keselamatan/kesehatan bayi dan ibu pada saat persalinan. Tenaga medis sebagai penolong persalinan tentunya lebih baik dibanding tenaga non medis. Bahkan pada periode tahun 2005-2009, penolong persalinan oleh dokter terjadi peningkatan yang cukup signifikan yaitu dari sekitar 8,5 persen pada tahun 2005 dan 8,88 persen pada tahun 2006 meningkat menjadi 11,32 persen pada tahun 2009. Penolong persalinan oleh tenaga medis (dokter dan bidan) di Sulawesi Selatan lebih dari 60 persen, sementara yang ditolong oleh tenaga nonmedis hanya sekitar 30 persen saja. Namun demikian, persentase tersebut cenderung berfluktuasi dari tahun ke tahun. Pada tahun 2005 persentase kelahiran yang ditangani oleh tenaga medis terdapat sekitar 63,73 persen

63

dan pada tahun 2006 turun menjadi sekitar 62,93 persen dan 62,51 persen pada tahun 2009 (Tabel 5.8). Tabel 5.8. Persentase Balita Menurut Penolong Kelahiran Tahun 2005, 2006 dan 2009 Penolong Kelahiran (1) 2005 (2)
8,50 54,37 0,86 36,27 31,21 4,61

Medis : Dokter Bidan

63,73

62,93 8,88 53,05 1,00 37,07 33,39 3,44 0,24

2006 (3)

62,51 11,32 50,83 0,36 37,49 28,48 8,74 0,27

2009 (4)

Lainnya Non.Medis: Dukun Famili

Lainnya 0,45 Sumber: BPS, Susenas 2005, 2006 dan 2009

Terjadinya fluktuasi tersebut, karena penolong persalinan oleh tenaga dukun masih cukup tinggi walaupun cenderung menurun, sehingga perlu pemantauan pengetahuan akan pentingnya kesehatan bagi dukun. Hal ini karena dikhawatirkan terjadinya resiko terhadap keselamatan dan kesehatan ibu dan bayi baik pada saat melahirkan maupun pada pasca kelahiran. Keberadaan Bidan di desa (bidides), diharapkan menjadi penolong persalinan dan mentrasfer pengetahuan tentang kesehatan kepada tenaga dukun. Sehingga kualitas kesehatan anak sejak lahir semakin membaik yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia Sulawesi Selatan khususnya dan Indonesia umumnya dimasa yang akan datang.

64

5.3.2. Lama Pemberian ASI Selama ini pemerintah senantiasa mengaktualisasikan dan mensosialisasikan peningkatan penggunaan air susu ibu (ASI) bagi balita. Hal ini karena dalam pertumbuhan dan perkembangan balita sangat memerlukan air susu ibu (ASI). ASI merupakan zat makanan yang paling ideal untuk pertumbuhan bayi sebab selain bergizi juga mengandung zat pembentuk kekebalan tubuh. Pemberian ASI kepada bayi akan memenuhi kebutuhan gizi dan memberikan kekebalan terhadap beberapa penyakit. Di Sulawesi Selatan, pada periode 2005-2009, paling banyak balita diberi ASI selama 12 sampai 17 bulan yaitu sekitar 32,24 persen walaupun cenderung menurun menjadi 29 persen pada tahun 2009, lalu 24 bulan atau lebih sekitar 24,20 persen dan 18 - 23 bulan sekitar 15,15 persen. Data yang disajikan pada Tabel 5.9 memperlihatkan bahwa ternyata masih ada sekitar 1,35 persen balita yang disusui kurang dari satu bulan dan cenderung meningkat menjadi 4,24 persen. Persentase ini mengalami peningkatan dibanding tahun 2005 dan 2006 yaitu sekitar 0,83 poin dan 2,89 poin. Secara umum, ada kecenderungan seorang ibu memberikan ASI kepada Balitanya sekitar 1 hingga 2 tahun. Persentase balita yang disusui selama dua belas sampai tujuh belas bulan pada tahun 2006 relatif sama jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yaitu dari 32,16 persen pada tahun 2005 menjadi 32,24 persen pada tahun 2006 tetapi menurun lagi menjadi 29,0 persen. Disamping itu, untuk balita yang disusui 6 - 11 bulan mengalami penurunan. Ini berarti, di satu pihak, kesadaran ibu akan arti pentingnya ASI bagi bayi semakin meningkat tetapi seiring dengan meningkatnya peran perempuan dalam kegiatan ekonomi sehingga

65

kecenderungan balita yang disusui 0 bulan cenderung meningkat. Padahal, pemberian ASI kepada bayi juga lebih efisien jika dilihat dari segi ekonomi, sebab ASI jauh lebih murah jika dibandingkan dengan susu formula. Mungkin hal itu menjadi salah satu pertimbangan bagi ibu untuk tetap memberikan ASI kepada bayinya. Tabel 5.9 Persentase Balita Menurut Lamanya Disusui (Bulan) Tahun 2005, 2006 dan 2009 Lama Disusui (Bulan) (1) 0 1-5 6-11 12-17 18-23 24+

2005 (2) 0,52 12,20 18,98 32,16 15,68 20,46

2006 (3) 1,35 8,42 14,26 32,24 17,52 26,20

2009 (3) 4,24 12,11 15,27 29,00 15,15 24,23

Sumber: BPS, Susenas 2005, 2006 dan 2009 5.3.3. Imunisasi Sebenarnya jenis imunisasi cukup beragam baik yang diberikan pada anak-anak maupun pada orang dewasa, tetapi yang jadi focus bahasan disini adalah imunisasi untuk anak balita (bawah 5 Tahun). Sejak tahun 1982, untuk mencegah penyakit yang biasa menyerang anak-anak yang diduga akan mengakibatkan kematian pada bayi, pemerintah

66

Indonesia telah mengusahakan pemberian 4 macam imunisasi yaitu BCG (pencegahan TBC).2 91.6 Sumber: BPS.4 89.2 85.2 87. Oleh karena itu tidak terlihat adanya perbedaan yang 67 .10).7 94.0 91.3 92. DPT (pencegahan Dipteri. Polio (pencegahan polio) dan Campak (pencegahan campak) kepada balita.1 89.3 88.0 85.8 87. tetapi data Susenas tahun 1999 menunjukkan sedikit penurunan persentase balita yang paling tidak pernah menerima salah satu jenis imunisasi (lihat table 5.10.7 93. pemberian imunisasi balita tidak selektif gender atau semua balita ditargetkan menerima imunisasi. Susenas 2007-2009 Pada dasarnya sebagai salah satu program pemerintah. Persentase Balita yang Pernah Diimunisasi menurut Daerah dan Jenis Kelamin.9 95.1 89.9 90.2 91. 2007-2009 Daerah/Jenis Kelamin (1) Perkotaan Perempuan Laki-laki Pedesaan Perempuan Laki-laki Total Perempuan Laki-laki 2007 (2) 94. Tabel 5.3 88.0 94.8 2009 (4) 95. Partusis dan Tetanus).7 85. Dari tahun ke tahun pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan cakupan imunisasi dari keempat jenis yang diprogramkan di atas.2 92.4 92.8 2008 (3) 94. Sulawesi Selatan.2 88.5 94. Pemantauan pencapaian imunisasi balita ini dapat dilakukan melalui Susenas secara tahunan.3 92.

5.500 gram) merupakan salah satu faktor utama yang berpengaruh terhadap kematian perinatal dan neonatal. Kesadaran masyarakat pedesaan untuk membawa putra putri mereka ke posyandu atau puskesmas untuk mendapatkan imunisasipun nampaknya masih lebih rendah dari masyarakat perkotaan. BBLR dibedakan dalam 2 kategori yaitu BBLR karena prematur 68 . Berikut ini akan disajikan gambaran mengenai indikator-indikator status gizi masyarakat di Sulawesi Selatan antara lain bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dan status gizi balita. sebagaimana diuraikan berikut ini: 5. Tetapi perbedaan itu terlihat antara daerah pekotaan dengan daerah pedesaan. Yang tentunya hal ini berkaitan juga dengan tingkat pendidikan mereka. Bahkan status gizi janin yang masih berada dalam kandungan dan bayi yang sedang menyusu sangat dipengaruhi oleh status gizi ibu hamil atau ibu menyusui. Hal ini nampaknya terkait dengan kemudahan sarana transportasi untuk menuju tempat pemberian imunisasi. Status Gizi Status gizi seseorang sangat erat kaitannya dengan permasalahan kesehatan secara umum. walaupun tak terpaut jauh.berarti pada cakupan imunisasi antara balita laki-laki dan perempuan.4. Sayangnya pada kesempatan ini cakupan imunisasi belum dirinci untuk setiap jenis imunisasi yang diterima balita.1. karena disamping merupakan faktor predisposisi yang dapat memperparah penyakit infeksi secara langsung juga dapat menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan individual.4. Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) Berat Badan Lahir Rendah (kurang dari 2.

998 (1. banyak BBLR dengan IUGR karena ibu berstatus gizi buruk.56 % dari total bayi lahir) dan yang tertangani sebanyak 2.11. yaitu bayi yang lahir cukup bulan tetapi berat badannya kurang. menyusul Kab.451 orang (100%).416 1. Pangkep (147 kasus) dan terendah di Kab. Kota ParePare (158 kasus) dan Kab. Tabel 5. Sedangkan untuk tahun 2008 jumlah bayi dengan BBLR mengalami penurunan menjadi 1.11 menunjukkan bahwa di Sulawesi Selatan pada tahun 2007.36 1. Di negara berkembang.56 1.58 %).998 2. anemia. 69 .670 (83. sementara kasus tertinggi di Kota Makassar (251 kasus). tercatat bahwa jumlah bayi dengan berat badan lahir rendah sebanyak 2.36 Sumber : Profil Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2009 Tabel 5.040 Persentase dari Total Bayi Lahir (3) 1. dengan kasus tertinggi terjadi di Kab. Persentase Balita Menurut Penolong Kelahiran dan Status BBLR Tahun 2007.416 (1. Sidrap (172 kasus). malaria dan menderita penyakit menular seksual (PMS) sebelum konsepsi atau pada saat hamil.(usia kandungan kurang dari 37 minggu) atau BBLR karena Intra Uterine Growth Retardation (IUGR). Sidrap (584 kasus) dan Kota Makassar (295 kasus) dan yang terendah di Kota Palopo (8 kasus). 2008 dan 2009 Penolong Kelahiran 2007 2008 2009 (1) Jumlah Bayi dengan BBLR (2) 2.36 % dari total jumlah bayi lahir) dan yang ditangani sebanyak 1.

menurut Susenas tahun 1989.51 % dan sisanya 9.35 70 .Jeneponto sebanyak 22 kasus. gizi kurang (zscore<-2 SD sampai -3 SD) dan gizi buruk (z-score<-3 SD). Secara nasional. persentase Balita yang bergizi baik adalah sebesar 64.36 % dari total jumlah bayi lahir). Masalah gizi kurang pada anak balita dikaji kecenderungannya menurut Susenas dan survei atau pemantauan lainnya. Status Gizi Balita Status gizi balita merupakan salah satu indikator yang menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat.7 % tahun 2000.040 (1. Kategori yang digunakan adalah: gizi lebih (z-score>+2 SD). dan sensitif/peka dibandingkan prevalensi berdasarkan pengukuran berat badan menurut umur seperti hasil dari pengukuran prevalensi gizi kurang menurut BB/TB (wasting) sesudah tahun 1992 berkisar antara 10-14 %. Sejak tahun 1992 untuk mengukur keadaan gizi anak balita digunakan standar WHO-NCHS untuk index berat badan menurut umur. gizi baik (z-score-2 SD sampai +2 SD). prevalensi gizi buruk dan kurang pada balita adalah 37.14%.5 % menurun menjadi 24. yang berarti mengalami penurunan sekitar 34 %. Salah satu cara penilaian status gizi pada balita adalah dengan anthropometri yang diukur melalui indeks Berat Badan menurut umur (BB/U) atau berat badan terhadap tinggi badan (BB/TB).4.2. Namun dari beberapa studi/survei yang melakukan pengukuran berat badan dan tinggi badan (BB/TB). Pada tahun 2009. pada umumnya pengukuran BB/TB menunjukkan keadaan gizi kurang yang lebih jelas. Dari hasil Susenas 2001 di Indonesia. yang bergizi sedang 21. 5. jumlah bayi dengan BBLR mengalami kenaikan menjadi 2.

1 % anak yang berstatus gizi lebih.3 71.47 2.58 73. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 5.47 2.3 % anak yang berstatus gizi kurang.7 % anak yang berstatus gizi baik.46 8.41 18.47 71.73 17.04 70.35 7. Sedangkan untuk tahun 2004.24 69.12. demikian pula gizi kurang/buruk lebih tinggi pada balita laki-laki dibandingkan balita perempuan. Persentase Balita (0-59 bulan) Menurut Status Gizi & Jenis Kelamin di Indonesia Tahun 2002 dan 2003 Status Gizi 2002 LakiLaki Perempuan LakiLaki+Perempuan LakiLaki 2003 Perempuan Laki-laki +Perempuan Lebih Normal Kurang Buruk 2. Hasil Pemantauan Status Gizi yang dilaksanakan pada tahun 2001 menggambarkan 84.46 19. untuk menanggulangi masalah gizi atau untuk memperoleh gambaran perubahan tingkat konsumsi gizi di tingkat rumah tangga dan status gizi masyarakat dilaksanakan beberapa kegiatan seperti Pemantauan Konsumsi Gizi (PKG) dan Pemantauan Status Gizi (PSG) di seluruh kabupaten/kota. Bila dibandingkan menurut jenis kelamin.73 7. menurut laporan yang diterima oleh Subdin Bina Kesehatan Keluarga 71 .03 67.55 Sumber: Profil Kesehatan Sulawesi Selatan tahun 2008 Di Sulawesi Selatan.43 7. 11.89 20. 1.69 2.88 18.03 2.0 % anak yang berstatus gizi buruk dan 3.18 6.62 8.59 19.% adalah Balita bergizi kurang/buruk atau yang dikenal dengan istilah Kurang Kalori Protein (KKP).88 2. persentase balita perempuan bergizi baik relatif lebih tinggi daripada balita laki-laki.

wajah membulat dan sembab. empat kabupaten/kota terbanyak antara lain Pinrang 12 kasus. sedangkan KEP total sebesar 28. Secara umum prevalensi gizi buruk di Sulawesi Selatan menurut hasil Riskesdas adalah 5. Jumlah kasus gizi buruk berdasarkan ketiga jenis tersebut di Sulsel pada tahun 2008 sebanyak 95 kasus.5 % dari kabupaten.2004). cengeng dan rewel. empat kabupaten/kota dengan kasus terbanyak antara lain Bone (16 kasus). Kasus gizi buruk jenis marasmus di Sulawesi Selatan pada tahun 2008 sebanyak 48 kasus./kota yang diatas angka provinsi dan Sulawesi Selatan sudah mencapai target pencapaian program perbaikan gizi pada RPJM 2015 sebesar 20 %. yaitu marasmus. perut cekung. kwashiorkor (25 kasus). Pada kasus gizi buruk di Sulawesi Selatan pada tahun 2008 dengan adanya gejala klinis terbagi atas 3 jenis. jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada dan sering disertai penyakit infeksi serta diare. Sulsel tercatat bahwa jumlah KEP sebesar 13. Kasus gizi buruk yang sebanyak itu terdiri dari marasmus (48 kasus).5 %.dan KB Dinkes Prov. Wajo (11 kasus). dan marasmik-kwashiorkor (22 kasus). Pinrang (15 kasus). Kasus gizi buruk 72 . tulang belakang terlihat menonjol./kota tercatat delapan kab. kulit keriput. iga gambang. mata terlihat cekung). wajah seperti orang tua (pipi kempot. dan Jeneponto (8 kasus). Bone 11 kasus. Kwashiorkor adalah keadaan gizi buruk yang disertai tanda-tanda klinis seperti edema di seluruh tubuh. Menurut hasil survei Gizi Mikro Tahun 2006 balita gizi buruk tercatat sebesar 9 %.48 % (PSG.1 % dan gizi buruk 12. dan gabungan marasmik-kwashiorkor. kwashiorkor. rambut tipis. Marasmus adalah gizi buruk yang disertai tanda-tanda seperti badan sangat kurus (kulit membungkus tulang). Luwu Timur 7 kasus. dan Jeneponto sebanyak 6 kasus.

Oleh karena itu pelayanan kesehatan terhadap ibu dan bayi sangat penting yang dikenal dengan gerakan sayang ibu seperti pelayanan berikut: 5. Situasi gizi buruk di Sulawesi Selatan pada tahun 2009 berdasarkan profil kesehatan kabupaten/kota tercatat sebanyak 2. Gangguan kesehatan yang dialami seorang ibu bisa berpengaruh pada kesehatan janin dalam kandungan hingga kelahiran dan masa pertumbuhan bayi dan anaknya.1. Selayar. dan Bone (5 kasus). Pinrang. Sedangkan gizi buruk jenis marasmik-kwashiorkor (M+K) adalah gizi buruk dengan gambaran klinis yang merupakan campuran dari beberapa gejala klinis kwashiorkor dan marasmus dengan BB/U < 60% baku median WHO-NHCS disertai edema yang tidak mencolok.jenis kwashiorkor ditemukan terbanyak pada Kabupaten Wajo (5 kasus). 5. baik kesehatan ibu yang mengandung maupun janin yang dikandungnya sehingga dalam masa kehamilan perlu dilakukan pemeriksaan secara teratur. Kasus M+K di Sulsel pada tahun 2008 terbanyak di Kab. Pelayanan Antenatal (K1 dan K4) Masa kehamilan merupakan masa rawan kesehatan. Bulukumba dan Bantaeng masing-masing (3 kasus).5. Hal ini dilakukan guna menghindari gangguan sedini mungkin dari 73 .5. Gerakan Sayang Ibu Seorang ibu mempunyai peran yang sangat besar di dalam pertumbuhan bayi dan perkembangan anak. Pangkep (6 kasus). Enrekang (7 kasus).92 persen yang mendapat perawatan).825 orang (24. Soppeng.

segala sesuatu yang membahayakan terhadap kesehatan ibu dan janin yang dikandungnya. Pelayanan antenatal merupakan pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan profesional (dokter spesialis kandungan dan kebidanan, dokter umum, bidan dan perawat) kepada ibu hamil selama kehamilannya, yang mengikuti pedoman pelayanan antenatal yang ada dengan titik berat pada kegiatan promotif dan preventif. Hasil pelayanan antenatal dapat dilihat dari cakupan pelayanan K1 dan K4. Cakupan K1 atau juga disebut akses pelayanan ibu hamil merupakan gambaran besaran ibu hamil yang telah melakukan kunjungan pertama ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pelayanan antenatal. Sedangkan cakupan K4 adalah gambaran besaran ibu hamil yang telah mendapatkan pelayanan ibu hamil sesuai dengan standar serta paling sedikit empat kali kunjungan, dengan distribusi sekali pada trimester pertama, sekali pada trimester dua dan dua kali pada trimester ketiga. Angka ini dapat dimanfaatkan untuk melihat kualitas pelayanan kesehatan kepada ibu hamil. Gambaran persentase cakupan pelayanan K1 menurut kab./kota di Sulawesi Selatan tahun 2007 tercatat sebesar 93,55 % dan K4 sebesar 76,45%. Cakupan K1 berada di atas target nasional sedangkan K4 berada di bawah target nasional (78%), namun bila dilihat menurut kab./kota maka terdapat kab./kota yang berada di atas target nasional bahkan berada dibawah rata-rata provinsi. Adapun Kab./Kota yang memiliki cakupan yang masih berada jauh dari rata-rata adalah Kab. Selayar, Pangkep, Bone, Enrekang, Tator, Kota Pare-pare dan Palopo. Sedangkan pelayanan K1 tahun 2008 tercatat sebesar 85,91 % dan K4 sebesar 77,74 %.

74

Secara provinsi, pelayanan K1 di Sulawesi Selatan pada tahun 2008 tercatat sebesar 94,71 %, itu artinya pola pelayanan antenatal sudah cukup aktif. Tiga Kab./Kota dengan cakupan terendah yaitu Kota Parepare (84,53%), Selayar (84,71%), dan Enrekang (88,93%). Sedangkan cakupan pelayanan K4 di Sulawesi Selatan dari tahun 2004 -2009 mengalami peningkatan setiap tahunnya. 5.5.2. Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan dengan Kompetensi Kebidanan Komplikasi dan kematian ibu maternal dan bayi baru lahir sebagian besar terjadi pada masa disekitar persalinan. Hal ini antara lain disebabkan pertolongan tidak dilakukan oleh tenaga kesehatan yang tidak memiliki kompetensi kebidanan (profesional). Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan, termasuk pendampingan, meningkat sekitar 10% yaitu dari 60,75 % pada tahun 1998 menjadi 70,62 % pada tahun 2003. Sementara itu, cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan pada tahun 2005 di Sulawesi Selatan tercatat sebesar 78,69 %, bila dibandingkan dengan target SPM Bidang Kesehatan Tahun 2005 (77%) maka Sulawesi Selatan berada di atas target. Sedangkan cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan pada tahun 2007 (72,68%) dan tahun 2008 mengalami peningkatan sebanyak (82,66%). Sedangkan gambaran cakupan persalinan oleh tenaga medis pada tahun 2009 sudah di atas 64 persen seperti yang disampaikan pada bahasan sebelumnya.

75

5.5.3.

Deteksi Risiko, Rujukan Kasus Risti dan Penanganan Komplikasi Kegiatan deteksi dini dan penanganan ibu hamil

berisiko/komplikasi kebidanan perlu lebih ditingkatkan baik di fasilitas pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) maupun di masyarakat. Risti/komplikasi adalah keadaan penyimpangan dari normal, yang secara langsung menyebabkan kesakitan dan kematian ibu maupun bayi. Risti/Komplikasi kebidanan meliputi Hb < 8 g %. Tekanan darah tinggi (sistole > 140 mmHg, diastole > 90 mmHg). Oedema nyata, eklampsia, perdarahan pervagina, ketuban pecah dini, letak lintang usia kehamilan > 32 minggu, letak sungsang pada primigravida, infeksi berat/sepsis, persalinan prematur. Dalam memberikan pelayanan khususnya oleh bidan di Desa dan Puskesmas, beberapa ibu hamil diantaranya tergolong dalam kasus risiko tinggi (Risti) dan memerlukan pelayanan kesehatan karena terbatasnya kemampuan dalam memberikan pelayanan maka kasus tersebut perlu rujukan ke unit pelayanan kesehatan yang memadai. Persentase cakupan ibu hamil risti yang dirujuk tahun 2008 sebesar 25,24 %. Neonatus risti/komplikasi yang meliputi asfiksia, tetanus neonatorum, sepsis, trauma lahir, BBLR (Berat Badan Lahir < 2.500 gram). Sindroma gangguan pernapasan dan kelainan neonatal. Neonatal risti/Komplikasi yang tertangani adalah neonatus risti/komplikasi yang mendapat pelayanan oleh tenaga kesehatan yang terlatih di Puskesmas perawatan dan RS Pemerintah/swasta dengan fasilitas PONED dan PONEK (Pelayanan Obestetrik dan Neonatal Emergensi Dasar dan Pelayanan Obestetrik dan Neonatal Emergensi Komprehensif).

76

14 persen dari jumlah neo natal) dan sebanyak 78. yang menerima tablet zat besi selama hamil sebesar 71.51 persen yang tertangani. Sementara pada tahun 2009.86 persen dari ibu hamil) dan hanya 49.2 %).438 IH (11. pemeriksaan kehamilan di Sulawesi Selatan secara garis besar masih sangat rendah.Berdasarkan data hasil SDKI 2007. 77 .12 persen yang tertangani.1%). jumlah ibu hamil risti/komplikasi sebanyak 21.9 % (Nasional 77. masih jauh dari target nasional (100 %).3 %). Pada tahun 2008.6 % (Nasional 46. persentase cakupan bumil risti di Sulawesi Selatan masih rendah yakni 31. yang melahirkan pada tenaga kesehatan sebesar 58.29 %.2 % (Nasional 93. hal ini ditunjukkan dengan persentase pemeriksaan kehamilan oleh tenaga kesehatan mencapai 92.509 orang (3. Sedangkan jumlah neonatal risti/komplikasi sebanyak 4. yang memperoleh imunisasi TT paling sedikit sebesar 1 kali sebesar 82.5 % (Nasional 73 %).8 % (Nasional 73 %) dan yang melahirkan pada fasilitas kesehatan sebesar 30.

78 .

559.1 Penduduk Usia Kerja Sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk. jam kerja. Upah/gaji.jenis usaha serta status usaha.lapangan usaha.. Kemiskinan dan Pekerja Migran. Penduduk usia kerja yang dimaksud berumur 15 tahun keatas yang merupakan sumber angkatan kerja potensial. Sehubungan dengan ini dapat dikatakan bahwa semakin rendah tingkat kehidupan social ekonomi rata-rata penduduk di dalam suatu masyarakat. TPAK dan pangangguran. Sedangkan bagi perempuan yang memilih untuk bekerja dan memiliki latarbelakang ekonomi menengah ke atas. Sebagian perempuan yang “harus bekerja” adalah karena kondisi ekonomi keluarga yang tidak mencukupi. Pembahasan kegiatan ekonomi di provinsi Sulawesi Selatan pada kegiatan ini meliputi: penduduk usia kerja.624 jiwa pada tahun 2009.BAB VI. tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan cenderung semakin tinggi. KEGIATAN EKONOMI Keterlibatan perempuan dalam sector ekonomi. 6. Jika dilihat dari jenis kelamin. dilatarbelakangi oleh keharusan bekerja atau mereka memilih untuk bekerja.660.748 jiwa. terdapat perbedaan usia kerja dimana penduduk usia kerja perempuan lebih besar dari penduduk usia kerja lakilaki dengan sex rasio 95 (Hasil Sensus Penduduk 2010). mereka bekerja tidak lain hanya didorong oleh motivasi tertentu. Berarti setiap 100 79 . Jumlah ini meningkat menjadi 5. sehingga melibatkan diri di dalam kegiatan ekonomi secara aktif. penduduk usia kerja Sulawesi selatan sebanyak 5. jumlah penduduk usia kerja juga mengalami pertambahan. Pada tahun 2008.

421 Pedesaan (4) 1.1) Tabel 6. Hal yang sama terlihat pada daerah perkotaan dan pedesaan dimana penduduk usia kerja perempuan lebih besar daripada laki-laki (lihat table 6. 80 .953.979. 2008 dan 2009 Jenis kelamin (1) Perempuan Laki-laki total 2008 (2) 2. dan ekonomi.748 2009 Perkotaan (3) 992.perempuan.833 3.932.203 Total (5) 2.559.655 960.986. sosial.712 2.1 Banyaknya penduduk usia kerja menurut jenis kelamin dan daerah tempat tinggal Sulawesi Selatan. Selain itu penduduk usia kerja laki-laki di Sulawesi selatan banyak yang merantau. hanya ada 95 laki-laki.025 2.660.036 5.599 5.lebih banyak dibanding perkotaan. Adanya perbedaan ini disebabkan oleh jumlah penduduk di pedesaan lebih besar daripada di perkotaan.707.2.. Pengaruh masing-masing faktor tersebut terhadap TPAK berbeda bagi perempuan dan laki-laki. Adanya perbedaan ini disebabkan antara lain jumlah penduduk perempuan memang lebih besar. Sakernas 2008 dan 2009 Jika kita mengamati table 6.624 Sumber : BPS.681.370 1. 6.766 1.1 di atas terlihat penduduk usia kerja di pedesaan . Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) dan Pengangguran TPAK dapat diukur dari perbandingan angkatan kerja dan usia kerja.627. Akan tetapi perubahan TPAK dapat dipengaruhi oleh factor demografis.720.

00 50. ekonomi dan budaya. banyak dipengaruhi oleh factor sosial.00 60. Gambar 6.00 10.00 30. pengaruh faktor-faktor tersebut tidaklah terlalu besar oleh karena umumnya laki-laki pencari nafkah utama keluarga.00 70.00 20.Bagi TPAK laki-laki.00 40. Sakernas 2009 81 . Lain halnya dengan TPAK perempuan.1 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Menurut Daerah Tempat Tinggal dan Jenis Kelamin.00 0. Tahun 2009 90. Melaksanakan tugas rumah tangga masih dianggap sebagai tugas pokok perempuan. Sulawesi Selatan.00 80.00 P erkotaan Laki-Laki P erempuan P edesaan Sumber : BPS.

Walaupun demikian. Hal ini berkaitan dengan pembagian tugas dalam rumah tangga peranan perempuan semakin signifikan dalam pasar tenaga kerja untuk mendukung ekonomi rumah tangga.97 persen pada tahun 2009. Perbedaan ini mungkin disebabkan oleh system pembagian kerja secara seksual dalam masyarakat.94 persen pada tahun 2009.2 persen sedang laki-laki 69.9 persen. TPAK perempuan dan laki-laki di Sulawesi Selatan memiliki perbedaan yang cukup besar yaitu 44.1 di atas terlihat bahwa TPAK perempuan baik di perkotaan maupun di pedesaan pada tahun 2009 selalu lebih rendah dari pada laki-laki.2 persen pada tahun 2000 menjadi 44. Ini berarti partisipasi perempuan di bidang ekonomi belum dapat menyamai partisipasi laki-laki. di mana perempuan mempunyai kegiatan utama di dalam rumah dan laki-laki di luar rumah (mencari nafkah). pada periode 2000-2009 terjadi kenaikan TPAK perempuan dari 28. Kondisi ini masih sama pada tahun 2000 di mana TPAK perempuan hanya sebesar 28.94 persen berbanding 81. Kenaikan TPAK tersebut diduga disebabkan oleh kondisi ekonomi yang sudah berangsur membaik yang juga berdampak pada perekonomian rumah tangga. 82 .Dari gambar 6.

2 terlihat bahwa puncak TPAK perempuan di perkotaan berada pada usia 25-29 tahun (57.000 20. jenis 100. tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) berbeda menurut umur dan jenis kelamin.91 persen) dan di pedesaan pada usia 40-44 tahun (57. Sulawesi selatan 2009 Sumber : BPS.Gambar 6.19 83 .2 tingkat partisipasi angkatan kerja menurut umur. diantaranya yang utama adalah karakteristik angkatan kerja itu sendiri.000 .000 40.000 60.000 1519 2024 2529 3034 3539 4044 4549 5054 5559 60 + Perkotaan Laki-Laki Perkotaan Perempuan Perdesaan Laki-Laki Perdesaan Perempuan kelamin. Sakernas 2009 Secara keseluruhan mereka yang berada di pasar kerja atau yang bekerja itu terdiri atas berbagai kelompok umur. Perbedaan itu di samping dipengaruhi oleh desakan kebutuhan ekonomi. dan seperti telah disinggung sebelumnya partisipasi mereka dalam angkatan kerja dapat berbeda-beda. juga oleh kondisi lain. Pada daerah yang berbeda. Salah satu karakteristik angkatan kerja yang utama adalah umur dan tentunya jenis kelamin.000 80. Dari gambar 6. dan daerah.

Lingkungan sosial budaya selama ini tidak terlalu memberikan peluang bagi keikut sertaan perempuan dalam angkatan kerja. Jika anggapan selama ini yang menyatakan rendahnya TPAK perempuan di Sulsel disebabkan oleh factor social dan budaya benar. Pada tahun 2009 TPAK perempuan perkotaan mempunyai 2 puncak dan di pedesaan mempunyai 3 puncak. Disatu sisi 84 . yang kemudian keluar dari pasar kerja selama dan setelah melahirkan anak. dibandingkan tahun 2000. Hal ini menunjukkan bahwa pada tahun 2009 pola TPAK perempuan di Sulawesi Selatan adalah the early peak yaitu partisipasi sebagian besar adalah pada perempuan belum kawin atau perempuan muda yang telah kawin sebelum melahirkan. Namun demikian. baik di perkotaan maupun di pedesaan menunjukkan kecenderungan semakin melonggarnya ikatan sosial dan budaya di Sulawesi Selatan. terjadi peningkatan TPAK perempuan untuk semua umur. 6.3. Dalam kondisi ekonomi yang sulit. Tingkat Pengangguran Timbulnya pengangguran adalah disebabkan oleh banyaknya pencari kerja yang tidak dapat diimbangi oleh penciptaan kesempatan kerja. Di bandingkan dengan TPAK laki-laki. jumlah pengangguran cenderung meningkat.persen). yang disebabkan oleh dua kondisi yang berlawanan. Hal menarik dari kedua gambar di atas adalah secara keseluruhan TPAK perempuan di pedesaan lebih tinggi dari angka di perkotaan. maka seharusnya TPAK perempuan di pedesaan akan jauh lebih rendah dari TPAK perempuan di perkotaan. Hal ini disebabkan oleh lebih kuatnya pengaruh factor ekonomi daripada factor social budaya di pedesaan. ternyata memang TPAK laki-laki selalu lebih tinggi di semua kelompok umur baik di perkotaan maupun pedesaan.

9 3.6 8.9 Total (7) 11.9.2 Sumber : BPS.5 persen dan menurun menjadi 5. Jika perbedaan TPT dilihat dari daerah tempat tinggal. Pada tahun 2000 perbandingannya adalah 5.2 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menurut Daerah tempat tinggal. yaitu 7.1 10.4 7.3 5.7 7.0 2009 LakiPerempuan laki (5) (6) 13.4 6.3 3.9 Total 5. baik berupa pendatang baru maupun mereka yang lepas/ keluar dari pekerjaan lama untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. Sulawesi Selatan.2). Tetapi disisi lain.4 terhadap 2. dengan TPT perempuan 85 .4 2.0 1. dan jenis kelamin. Tabel 6.3.8 Total (4) 7. 2000 dan 2009 Daerah Tempat Tinggal (1) Perkotaan Pedesaan 2000 LakiPerempuan laki (2) (3) 9. Namun perbedaan TPT menurut jenis kelamin di dua daerah tesebut relative lebih kecil (lihat table 6.jumlah pencari kerja semakin bertambah. didapat perbedaan yang sangat besar antara TPT perkotaan dengan TPT pedesaan. Sakernas 2000 dan 2009 Hasil pengolahan Sakernas 2000-2009 Sulawesi Selatan menunjukkan tingkat pengangguran terbuka (TPT) perempuan lebih tinggi dibandingkan TPT laki-laki.9 1. kesempatan kerja yang tersedia justru menciut karena kontraksi ekonomi atau tumbuh dalam besaran yang sangat terbatas karena minimnya investasi atau investasi yang ada lebih bersifat padat modal.4 persen pada tahun 2000.3 9. TPT perempuan di Sulsel pada tahun 1997 adalah 11.5 10.0 berbanding 1.

Menarik untuk ditelaah lebih lanjut adalah TPT perempuan di pedesaan lebih rendah dari perkotaan baik pada tahun 1997. Keadaan ini dapat mempengaruhi TPT. menjadi pekerja public/umum untuk mendapatkan upah. Hal ini merupakan indikasi adanya pergeseran status pekerjaan perempuan dari hanya bekerja sebagai pekerja keluarga tanpa dibayar disektor pertanian. Tidak mustahil hal ini berkaitan dengan menurunnya angka kelahiran. Perempuan yang belum bekerja atau tidak mempunyai pekerjaan. 86 . Hal tersebut terkait dengan sifat-sifat pekerjaan di pedesaan yang lebih mudah menyerap tenaga kerja keluarga.1992 dalam Fatmawati). dapat saja bekerja sementara dengan membantu usaha keluarga. meskipun dengan produktivitas yang rendah. maka tersedia kesempatan bagi perempuan untuk mencari pekerjaan guna menambah penghasilan keluarga sambil mengisi kekosongan waktu ( effendi. perbedaan ini berkaitan dengan perbedaan struktur peluang kerja. baik dengan jam kerja normal maupun tidak. Menurut Effendi (1992). termasuk istri dan anak-anak. usaha di sector pertanian dan usaha rumah tangga lebih berperan di bandingkan usaha/kegiatan nonpertannian. karena mereka yang membantu usaha keluaraga dicatat sebagai pekerja meskipun tidak dibayar. Di pedesaan. tahun 2000 maupun pada tahun 2009.yang lebih tinggi dari TPT laki-laki. Tingginya TPT perempuan diduga karena berhubungan dengan peningkatan keinginan untuk bekerja diluar rumah tangga. Padahal penduduk usia kerja di pedesaan lebih banyak dari perkotaan. Dalam keluarga yang mempunyai sedikit anak (misalnya 2) yang sudah bersekolah.

Sakernas 2009 Rendahnya pengangguran terbuka dipedesaan juga dapat dipakai sebagai indikator migrasi desa-kota.3 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menurut Umur. Jenis Kelamin. Sementara di perkotaan. Tidak tertutup kemungkinan mereka yang berpendidikan dipedesaan mencari kerja diperkotaan.Gambar 6. Keengganan bekerja di sektor pertanian dan langkahnya peluang kerja non-pertanian dipedesaan diduga mendorong mereka untuk mencari kerja di perkotaan. yang berpendididkan bersedia menunggu beberapa saat untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan. 2009 Sumber : BPS. Inilah yang menyebabkan TPT di perkotaan relatif lebih tinggi 87 . Sulawesi Selatan. dan Daerah.

9 persen tahun 2009. terutama biaya sekolahpun pada jenjeng lebih tinggi telah dirasakan memberatkan beban rumah tangga. tetapi memasuki usia 20-24 sudah semakin jelas untuk memutuskan masuk kepasar kerja.3 menunjukkan bahwa tingkat pengannguran di Provinsi Sulawesi Selatan cenderung terus menurun dari 12. Jika dibandingkan dengan TPT tahun 1997 dapat dikatakan telah terjadi penurunan TPT diseluruh kelompok umur. (Fatmawati 1993). Pada awal krisis pengangguran meningkat atau berada pada posisi tinggi karena menurunnya kegiatan ekonomi secara umum maka merosot juga peluang kerja. 10. karena itu mereka akan bekerja apa saja untuk memperoleh penghasilan.dari pedesaan. Mereka yang berasal dari status social ekonomi yang rendah tidak mampu untuk menganggur.2 persen (2007). 11. Selain itu. Pada dasarnya hanya orang yang mampu atau dari status sosial-ekonomi menengah keatas yang dapat tetap menunggu untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Hal ini berkaitan dengan dampak krisis ekonomi yang ada. kemudian menurun setelah itu. Pada usia 15-19 tahun sebagian besar masih di bangku sekolah. walaupun untuk itu mereka mendapatkan upah/penghasilan yang rendah.8 persen (2006). Gambar 6. sehingga belum mencari kerja. dan mungkin masih berfikir-fikir dulu apakah akan terus sekolah atau bekerja. Tabel 6. Namun demikian pada periode 2006-2009.5 persen (2008) dan 8.3 menunjukkan TPT mencapai puncaknya pada kelompok usia 20 sampai 24 tahun baik di perkotaan maupun di pedesaan serta baik antara laki-laki dan perempuan. Seiring dengan menurunnya penduduk miskin 88 . baik karena terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) maupun karena menurunnya daya beli masyarakat secara umum. perluasan kota diduga turut menambah pengangguran terbuka.

terutama jasa dan perdagangan. dalam kelompok sector sekunder. Tingkat Pengngguran Terbuka (TPT) dan Tingkat Kemiskinan di Sulawesi Selatan Tahun 2006-2009 Indikator (1) 1. Industry pengolahan yang berskala besar umumnya berlokasi di Makassar dan sekitarnya dengan kegiatan yang banyak menyerap tenaga 89 . 13. Tingkat Kemiskinan 2006 (2) 12. sebenarnya adalah pada subsector industry kecil dan kerajinan rakyat (IKKR).11 2008 (4) 10. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT %) 2. Lapangan Usaha Lapangan usaha yang dimasuki oleh pekerja perempuan dan lakilaki memperlihatkan adanya perbedaan. Bagian terbesar dari pekerja sector industri. cukup besar.34 2009 (5) 8. karakteristiknya mirip dengan sector pertanian.3. sehingga produktivitas merekapun tergolong rendah.57 2007 (3) 11.dari 14.31 Sumber : Sakernas 2006-2009 dan Susenas 2006-2009 6. yaitu mudah dimasuki oleh mereka yang pendidikannya rendah dan sering terjadi income/work sharing.4.9 12.5 13.11 persen (2007). Pekerja perempuan di luar sektor pertanian (primer) banyak memasuki sector tertier.34 persen (2008) dan 12.8 14.31 persen tahun 2009.2 14.57 persen (2006). Tabel 6. Sebenarnya kesertaan pada sector industri. 14. Kedua sector ini secara umum.

listrik.904 187. yang menandakan adanya penurunan kondisi ekonomi pedesaan dalam kurun waktu tahun 2007-2009. yaitu dari sector sekunder dan tertier ke sector primer di antara pekerja perempuan.274 187.keuangan.648 177. 2009 Daerah/Lapangan Usaha (1) Perkotaan Pedesaan Primer Sekunder Tertier 352.55 7 45.197 164. misalnya pengolahan biji coklat.transpotasi. 2007.pertambangan.153. Sulawesi Selatan.815 56.495.276 24.010 185.24 9 93.542 271.482 64.552 456.442 1.713 407. 2009 90 1.441 .4 Penduduk Berumur 10 Tahun Keatas yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha Utama. Dan Jenis Kelamin.240 36.130. maupun udang untuk tujuan sector.930 95. Table 6. Daerah.091 80.552 364. Hal ini menunjukkan adanya penurunan kegiatan ekonomi di kedua kelompok besar lapangan usaha tersebut.240 72.146 Primer Sekunder Tertier 9.863 24.695 10.223.729 4.295 2007 Perempua Lakin laki (2) (3) 2009 Perempua Lakin laki (4) (5) Perkotaan+Pedesaan Primer Sekunder Tertier 361.471 352. Tampaknya pertanda inilah yang mendorong banyaknya perempuan pedesaan mencari pekerjaan di luar sector pertanian.439 281.210 189.690 22.649 471.231 1.kontruksi Sector tertier= sector perdagangan.92 0 71.00 9 57.lainnya Sumber: BPS Sakernas 2007.011 Catatan: sector primer= sector pertanian.kerja adalah industry pengolahan makanan. Sector sekunder= sector industry.jasa.569 70.424 396. Jika dilihat dari perkembangan data tahun 2007-2009 terlihat adanya pergeseran yang cukup jelas di daerah pedesaan. kopi.

05 persen. dan itu terjadi baik di perkotaan dan Sumber : BPS.06 persen).33 persen) dan sektor jasa kemasyarakatan (30. Sakernas 2009 91 . rumah makan dan hotel (47. Daerah.21 persen) adalah sektor perdagangan besar.69 persen dan 6.5. Yang menarik adalah proporsi pekerja perempuan yang terserap di sektor industri pengolahan perdesaan. menunjukkan bahwa pekerja perempuan banyak terserap selain di sektor pertanian (45. Penduduk Berumur 15 Tahun Keatas yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha Utama. 2009 cenderung lebih tinggi dari pekerja laki-laki yaitu masingmasing 7. eceran. Sulawesi Selatan. rumah makan dan hotel (29. Bahkan di daerah perkotaan mayoritas pekerja perempuan terserap di sektor sektor perdagangan besar.5.03 persen).Tabel 6. Dan Jenis Kelamin. Table 6. eceran.

1 55. 1978).2 22.8 52.5 26.9 44.8 30.6 54.5 32.3 Berusaha Buruh/kar yawan Pekerja Keluarga 22.6 12.5 22.6.6 55.1 34.1 92 . dalam Fatmawati 1993). 2007.3 72.7 Berusaha Buruh/kar yawan Pekerja Keluarga 25.9 42. Status Pekerjaan Proses pembangunan ekonomi tidak saja dihubungkan dengan distribusi angkatan kerja menurut sector. Untuk 2 status tersebut. pola status usaha pekerja perempuan menunjukkan bahwa sebagian besar mereka bekerja sebagai pekerja keluarga (tak dibayar atau sebagai buruh/ karyawan).6 28.8 49.4 47.9 16.4 22. Table 6. Dan Jenis Kelamin.7 Penduduk Berumur 10 Tahun Keatas yang Bekerja Menurut Status Pekerjaan.4 14. tetapi juga distribusi status usaha/pekerjaan (oberay.4 22.7 35. persentase pekerja perempuan masing-masing sebesar 55.1 22.6 37.9 62.6 23.3 Perempuan (2) Lakilaki (3) 2009 Perempu Lakian laki (4) (5) Di Sulawesi Selatan.5 20.9 47.2 12.8 50.9 13. 2009 2007 Status Pekerjaan (1) Perkotaan Pedesaan Total Berusaha Buruh/kar yawan Pekerja Keluarga 26.5. Pengelompokan pekerja menurut status usaha sangat berguna untuk menelusuri sifat usaha (pekerjaan) dan jenis usaha tertentu (Manning. Daerah.5 23. Sulawesi Selatan.2 33.

3 persen) karena umumnya mereka bekerja sebagai pekerja keluarga (72.9 persen).7). sehingga persentase perempuan yang bekerja sebagai buruh atau karyawan tergolong rendah (12. Umumnya kegiatan perekonomian di pedesaan lebih bersifat informal.persen dan 22.6 Jam Kerja Jam kerja merupakan salah satu variable yang mengukur pemanfaatan seseorang dalam bekerja. baik dilakukan sendiri maupun dibantu anggota rumah tangga lainnya (anak). Hal ini terlihat dari persentase perempuan yang bekerja sebagai pekerja keluarga adalah 72.4 persen) berstatus buruh atau karyawan. 6. Di perkotaan pada waktu yang sama. 93 .6 persen pada tahun 2009 (lihat table 6. Seseorang dapat dikatakan bekerja penuh jika yang bersangkutan bekerja minimal 35 jam dalam seminggu. lazim terjadi praktek berbagi rejeki/pekerjaan (income/work sharing) dalam usaha rumah tangga. Tingginya persentase pekerja keluarga di pedesaan dimungkinkan karena dengan tingkat pendidikan umumnya rendah. pekerja perempuan sebagian besar (50. Agaknya hal ini berbeda dengan di pedesaan. Jumlah ini melebihi pekerja laki-laki (49.2 persen). Cukup besarnya persentase perempuan pengusaha sejalan dengan lapangan pekerjaan utamanya sebagai pedagang atau jasa dengan skala kecil.2 persen.8 persen berbanding 35.8 persen. Persentase perempuan yang berusaha (berusaha sendiri/dibantu buruh tidak tetap/dibantu buruh tetap) ternyata tidak banyak berbeda dengan laki-laki yaitu 26. sebenarnya perempuan pekerja keluarga dapat dikatakan sebagai fenomena pedesaan.

Data tersebut adalah 59.8 58. Perbandingan tersebut menjadi lebih mencolok untuk mereka yang bekerja 1-14 jam seminggu.8.9 37.Dengan banyaknya perempuan yang bekerja sebagai pekerja keluarga atau yang hanya berfungsi membantu suami/ayah/KRT. Dalam periode tersebut. 2007-2009 Jumlah Jam Kerja (Jam) (1) 0*) 1-14 15-34 35+ 2007 Perempuan Laki-laki Perempuan 2009 Laki-laki (5) 8. Dari table 6.964. maka banyak pula ditemukan perempuan yang bekerja dengan jam kerja rendah. Table 6.9 40.0) Catatan: *) Sementara tidak bekerja ( ) angka dalam kurung adalah persentase Sumber: BPS Susenas 2007 dan 2009 94 .5 21.0 20.574 823.8 32.0 persen berbanding 42.7 persen.4 1. tetapi bila dibandingkan data tahun 2007 dengan data tahun 2009 nampak ada sedikit peningkatan.1 32.7 38.8 53.8 terlihat bahwa pekerja yang bekerja di bawah jam kerja normal (35 jam seminggu).)) (2) (3) (4) 3.0 persen pada tahun 2009.5 37.188 (100.8 persen menjadi 40.9 4. Persentase Pekerja Menurut Kelompok Jam Kerja Dan Jenis Kelamin.7 840.0) (100.976. atau dikenal seminggu setengah penganggur.780 Total (100. atau dikenal juga sebagai setengah penganggur kritis. lebih banyak perempuan daripada laki-laki. proporsi perempuan yang bekerja di atas jam kerja normal (35 jam seminggu) meningkat dari sebesar 37.0) (100.16 1.3 9. Meskipun jumlah jam kerja perempuan lebih rendah dibanding jumlah jam kerja laki-laki.

Bahkan pada pekerja perempuan peningkatannya lebih signifikan yaitu 2. Kemudian terlihat pula adanya kesenjangan antara tingkat upah di perkotaan dengan tingkat upah di pedesaan.9) menunjukkan bahwa tingkat upah pekerja secara umum berhubungan positif dengan tingkat pendidikan pada pekerja laki-laki maupun perempuan. sementara lakilaki hanya 2. 95 . yang mengakibatkan adanya arus migrasi dari pedesaan ke perkotaan.07 kali. Biasanya penentuan tersebut merupakan kombinasi dari beberapa factor sekaligus. seperti latar belakang pendidikan. Tabel 6.6. jenis pekerjaan.9 juga menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan upah/gaji baik laki-laki maupun perempuan pada periode 2000-2009. Peningkatan upah/gaji tersebut terjadi pada perekerja laki-laki maupun perempuan di semua jenjang pendidikan dan daerah. Dari hasil pengolahan data Sakernas 2000 dan 2009 (Tabel 6. dan lain sebagainya.39 kali dan 2.7. keahlian. jam kerja. jabatan. Tetapi pada bahasan ini hanya dilihat berdasarkan tingkat pendidikan yang ditamatkan untuk lakilaki maupun perempuan.25 kali. Sehingga gap antara upah/gaji laki-laki dan perempuan semakin mengecil bahkan upah/gaji di perkotaan sudah mencapai di atas satu juta. Peningkatan upah/gaji tersebut salah satunya mungkin karena semakin membaiknya perekonomian di Sulawesi Selatan sehingga upah/gaji pekerja sudah di atas UMR. Upah/Gaji Sebulan Pemberian upah biasanya ditentukan oleh banyak faktor. pengalaman kerja.82 kali untuk pekerja perempuan. bahkan pada pekerja berpendidikan rendah dan tinggi masing-masing 3.

9. Sulawesi Selatan. Kesenjangan tersebut sangat nyata di antara mereka yang berpendidikan di atas SLTA baik tahun 2000 maupun 2009. Rata-rata upah/gaji pekerja sebulan Menurut tingkat pendidikan dan jenis kelamin.Sementara itu terlihat juga kesenjangan tingkat upah antara yang diterima pekerja perempuan dan yang diterima pekerja laki-laki pada seluruh tingkat pendidikan. Table 6. 2000-2009 Sumber: BPS Sakernas 2000 dan 2009 96 .

penduduk miskin di daerah perdesaan menurun menjadi 16.83 6.31 Sumber: Diolah dari data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Penduduk miskin di Provinsi Sulawesi Selatan lebih tinggi di daerah perdesaan.8 124.0 orang (14.79 15.4 orang (14.87 16.1 Kota+Desa 1112.05 4.8 152. Pada bulan Maret 2008 turun menjadi 1031.0 1083.9 839.7 orang (13.81 Kota+Desa 14.600 jiwa (12. Pada periode 2006-2008. Pada tahun 2006 penduduk miskin di Sulawesi Selatan adalah sebanyak 1112.11 persen) pada tahun 2007.57 14.6.18 6. Secara absolut selama periode Maret 2007-Maret 2008.34 12.05 persen. 2006-2009 Jumlah Penduduk Miskin (000) Tahun Kota 2006 2007 2008 2009 167.83 persen.34 persen) dan pada bulan Maret 2009 turun lagi menjadi di bawah satu juta yaitu 963.25 persen sementara di daerah perkotaan hanya 6.31 persen).11 13.8 150. Tabel 6. penduduk miskin di perdesaan mencapai 18.7 963. Pada tahun 2006.25 17.10 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Sulawesi Selatan Menurutt daerah.6 880.94 Desa 18. Kemiskinan Jumlah penduduk miskin di Sulawesi Selatan selama periode Maret 2006-Maret 2009 terus mengalami penurunan baik secara absolut maupun relatif.8. penduduk 97 .5 Desa 944.2 930.6 Persentase Penduduk Miskin Kota 6.57 persen) turun menjadi 1083.79 persen sedangkan di daerah perkotaan turun menjadi 6.4 1031.

5 Sumber: Diolah dari data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2006-2008 98 .3 ribu orang (17.93 Kota+Desa 17.3 (15. sebagian besar (85.65 Desa 21.81 20.90 persen) penduduk miskin berada di daerah perdesaan.8 Persentase Penduduk Miskin Kota+Desa 39 295.58) pada tahun 2007.75 persen).38 persen. sementara di daerah perdesaan berkurang 49.47 12. 2006-2008 Tahun Jumlah Penduduk Miskin (000) Kota Desa 24 806.3 34 963.3 Kota 13. dan pada tahun 2008 turun lagi menjadi 34 963.3 37 168.37 18.3 23 609.0 13 559.000 orang.3 ribu orang (16.52 11. sementara pada bulan Maret 2008 persentase ini sedikit mengalami penurunan menjadi 85.42). turun menjadi 37 168.58 15.75 16. Jumlah penduduk miskin di Indonesia pada periode Maret 2006-Maret 2008 tampak semakin menurun.42 2006 2007 2008 14 489.700 orang.0 22 194. Pada tahun 2006 jumlah penduduk miskin di Indonesia adalah sebesar 39 295.11 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Indonesia Menurut Daerah. Tabel 6. Pada bulan Maret 2007. Persentase penduduk miskin antara daerah perkotaan dan perdesaan tidak banyak berubah.3 12 768.miskin di daerah perkotaan berkurang 2.

Selain beras.per kapita per bulan pada Maret 2008..34 persen.64 persen di perdesaan dan 18.9. sandang.78 persen.12 persen.334. sumbangan pengeluaran beras terhadap Garis Kemiskinan sebesar 28. dan kesehatan). tetapi pada bulan Maret 2008.138. Pada bulan Maret 2007. pendidikan.42 sedangkan di Sulawesi Selatan mencapai sekitar 13.57. Pada bulan Maret 2007. terlihat bahwa peranan komoditi makanan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan. sumbangan GKM terhadap GK sebesar 75. yang terdiri dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Bukan-Makanan (GKBM).. yaitu dari Rp. karena penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan dibawah Garis Kemiskinan. penduduk miskin di Indonesia mencapai 15.Jika dibandingkan dengan persentase penduduk miskin di Sulawesi Selatan pada periode Maret 2006-Maret 2008 tampak bahwa persentase penduduk miskin di Indonesia masih lebih besar. Garis Kemiskinan mengalami kenaikan.623. Perubahan Garis Kemiskinan Besar kecilnya jumlah penduduk miskin sangat dipengaruhi oleh Garis Kemiskinan. peranannya sedikit meningkat menjadi 76.per kapita per bulan pada Maret 2007 menjadi Rp. Pada tahun 2006 persentase penduduk miskin di Indonesia mencapai 17. barang-barang kebutuhan pokok lain yang 99 . Dengan memperhatikan komponen Garis Kemiskinan (GK). Selama Maret 2007-Maret 2008.75 persen sedangkan di Sulawesi Selatan hanya sekitar 14. Komoditi yang paling penting bagi penduduk miskin adalah beras. 6.56 persen di perkotaan.126. Demikian juga pada tahun 2008.

58 persen di perdesaan.50 persen.99 persen di perdesaan. Tabel 6. 0. 100 . angkutan dan minyak tanah mempunyai pengaruh yang cukup besar untuk daerah perkotaan.34 persen di perdesaan. Garis Kemiskinan. Biaya untuk listrik.12. Maret 2006-Maret 2009 Sumber: Diolah dari data Susenas Panel Maret 2006-Maret 2008. 1.23 persen di perkotaan). Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Sulsel Menurut Daerah. sementara untuk daerah perdesaan pengaruhnya relatif kecil (kurang dari 2 persen). 2. telur (1.11 persen di perdesaan. dan Maret 2009.78 persen dan 2.04 persen di perdesaan dan 7. 1. yaitu masing-masing sebesar 2.70 persen di perkotaan) dan minyak goreng (1.90 persen di perkotaan). mie instan (1.berpengaruh cukup besar terhadap Garis Kemiskinan adalah gula pasir (2. 2. biaya perumahan mempunyai peranan yang cukup besar terhadap Garis Kemiskinan yaitu 6.90 persen.82 persen di perkotaan. Untuk komoditi bukan makanan.58 persen di perkotaan).

Pada periode Maret 2007-Maret 2008. Indeks Kedalaman Kemiskinan dan Indeks Keparahan Kemiskinan Persoalan kemiskinan bukan hanya sekadar berapa jumlah dan persentase penduduk miskin.13).60 pada keadaan Maret 2007 menjadi 2.67 pada periode yang sama (Tabel 6. Demikian pula Indeks Keparahan Kemiskinan turun dari 0. Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) menunjukkan kecenderungan menurun.6.68 menjadi 0. Indeks Kedalaman Kemiskinan turun dari 2. Penurunan nilai kedua indeks ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung makin mendekati garis kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin juga semakin menyempit. Dimensi lain yang perlu diperhatikan adalah tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan. 101 . 10. kebijakan kemiskinan juga sekaligus harus bisa mengurangi tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan. Selain harus mampu memperkecil jumlah penduduk miskin.44 pada keadaaan Maret 2008.

55 2.Tabel 6. 102 .22 0.82 0.20 sementara di daerah perdesaan mencapai 3.40 3.13 Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) di Sulawesi Selatan Menurut Daerah.77 0.20 0.35 sementara di daerah perdesaan mencapai 0. Pada bulan Maret 2008. Nilai Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) untuk perkotaan hanya 0.03 2.67 4.08 Kota Desa Kota + Desa Sumber: Diolah dari data Susenas Panel Maret 2006-Maret 2009 Nilai Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) di daerah perdesaan jauh lebih tinggi dari pada perkotaan.03.15 1.22 3.89 0.61 0. nilai Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) untuk perkotaan hanya 1.35 0.82.74 3.74 1.68 0.Maret 2008 Tahun Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) Maret 2006 Maret 2007 Maret 2008 Maret 2009 Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) Maret 2006 Maret 2007 Maret 2008 Maret 2009 0.44 2.43 2.60 2.91 1. Maret 2006.22 0.67 0.00 0.

103 . Perempuan meningkatkan migrasi internasional bukan saja jumlah perempuannya yang meningkat tetapi juga konstribusi perempuan di bidang sosial ekonomi juga meningkat (Sri Harijati Hatmaji. Dengan semakin tingginya tingkat mobilitasi baik nasional maupun internasional. telah mendorong banyak peneliti melakukan analisa mengenai apa yang mendorong seseorang melakukan hal ini. Tujuan dan motif utama migrasi yang sering ditemukan adalah untuk memperbaiki keadaan ekonomi dan status sosial. 2004). Mobilitas penduduk merupakan salah satu usaha manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dengan mencari dan menemukan sesuatu yang baru (innovative migration) atau mempertahankan apa yang telah dimiliki (conservative migration). Pekerja Migran (TKI/TKW) Teori migrasi klasik menyatakan bahwa migran lebih banyak lakilaki daripada perempuan pada usia umur produktif. Globalisasi telah merubah banyak jumlah perempuan yang migrasi bukan saja sebagai pengikut tetapi juga sebagai pelaku migrasi. (Demographic Institut.6. Seiring berkembangnya era globalisasi pada saat ini. Adanya globalisasi informasi menyebabkan mobilitas penduduk semakin meningkat.11. dunia seakan tanpa batas. 1981).

1 2.0 0.14.6 2.401 Persentase 81.5 13. Mereka membawa berbagai pengetahuan dan nilai-nilai baru ke tempat asal atau ke tempat tujuan sehingga mendorong terjadinya perubahan sosial budaya.Banyaknya Migrasi Internasional (TKI dan TKW) dari Sulawesi Selatan Menurut Tujuan Negara Tahun 2010 Tujuan Negara Malaysia Arab saudi Brunei Darussalam Hongkong Kuwait Malaysia Timur Jumlah Jumlah 2.4 0. perubahan sosial budaya dapat diamati dari perubahan orientasi nilai budaya tradisional. Mobilitas penduduk dapat mendatangkan perubahan sosial baik bagi daerah asal maupun daerah tujuan.0 Sumber: Disnakertrans Provinsi sulawesi Selatan (Data Diolah) Data bulan Januari-September 2010. dan pola fertilitas. Karena dalam proses mobilitas terjadi kontak dengan lingkungan lain. seringkali menjadi pelaku perubahan. Migran yang telah tersentuh atau dipengaruhi oleh lingkungan yang lain. perubahan status sosial ekonomi seperti mata pencaharian serta tingkat pendidikan. Secara umum.4 100. Tabel menunjukkan bahwa migrasi dari sulawesi Selatan sebagian 104 .775 85 457 1 3 80 3.Tabel 6.

00 2.10 persen) dan Malaysia Timur 14 orang (1.00 19'40 0.80 persen dan 90.3 persen.356 P 942 85 0 1 3 14 1.40 8.40 persen.dan Kuwait 3 orang (0.00 Tujuan Negara Malaysia Arab saudi Brunei Darussalam Hongkong Kuwait Malaysia Timur Jumlah Diolah) Total 2.34 100.00 Sumber: Disnakertrans Provinsi sulawesi Selatan (Data Data bulan Januari-September 2010.5 persen.045 Persentase L 77.00 0.775 85 457 1 3 80 3. Tetapi yang menarik adalah migrasi ke Malaysia dari Sulawesi Selatan yang menjadi TKI dan TKW ke malaysia adalah laki-laki dan perempuan masing masing untuk laki-laki 77. Tabel 6.15.29 1.4 persen) dan Arab Saudi 2. berikutnya adalah Brunei Darussalam (13.besar menuju Malaysia mencapai 81.13 0.10 0.13 persen).401 100. Banyaknya Migrasi Internasional (TKI dan TKW) dari Sulawesi Selatan Menurut Tujuan Negara dan Jenis Kelamin. Sedangkan migrasi yang menuju nega-negara Arab seperti ke Arab Saudi adalah umumnya perempuan yaitu sebanyak 85 orang (8.00 0.833 0 457 0 0 66 2.29 persen). Bahkan ada yang menuju Hong Kong yaitu 1 orang (0. 105 . Tahun 2010 Jenis Kelamin L 1.80 P 90.34 persen).80 0.

106 .

dan seimbang yang dilandasi saling menghormati. hak kewajiban dan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan dalam menjalankan peran masing-masing. eksekutif dan yudikatif. Artinya peraturan perundangundangan yang terkait dengan Pemilu wajib menjamin hak yang sama antara laki-laki dan perempuan untuk menikmati hak sipil dan politik. SEKTOR PUBLIK Peran aktif perempuan dalam pembangunan pada hakekatnya adalah upaya untuk mengembangkan diri yang dapat dilihat pada bidangbidang yang memberi pengaruh luas disektor publik meliputi politik dan sektor pemerintahan. Yudikatif Hak untuk dipilih dan memilih berdasarkan persamaan hak merupakan perintah UU yang harus dipatuhi. 6.1. karena dapat menghambat pertumbuhan kesejahteraan keluarga dan masyarakat dan mempersulit perkembangan potensi perempuan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Partisipasi Perempuan dalam Bidang Legislatif. akan disajikan data tentang keterlibatan perempuan di Sulawesi Selatan pada sektor publik dalam bidang legislatif. 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum memberikan dukungan untuk terlaksananya 107 . Partisipasi perempuan memberikan kemampuan. serasi. Eksekutif. Hambatan bagi partisipasi perempuan dalam kehidupan politik tidak boleh ditolerir. 2 Tahun 2007 tentang Partai Politik dan UU No. saling menghargai. kedudukan. Dengan demikian akan terdapat persamaan status.BAB VII. kemandirian serta ketahanan mental dan spiritual menuju terwujudnya kemitrasejajaran perempuan dan laki-laki yang selaras. saling membutuhkan dan saling mengisi. Dalam bab ini. UU No.

Ditentukannya 30% pengurus partai politik di semua tingkatan harus diisi oleh perempuan dan 30% calon anggota legislatif juga diisi oleh perempuan dengan jaminan penempatan pada nomor urut kopiah atau dasi.affirmative action dalam rangka meningkatkan peranan perempuan di bidang partai politik. Ketentuan UU tersebut diperlukan sebagai sarana perubahan sosio cultural menuju persamaan gender dalam kehidupan politik. memasak. Keterlibatan perempuan dalam dunia politik memberikan kecerahan bahwa kaum perempuan bisa menjadi ujung tombak dalam 108 . karena partai politik berubah pikiran dalam penetapan calon terpilih dari berdasar nomor urut ke berdasar suara terbanyak. cukup memberi peluang kepada peningkatan peranan perempuan secara kuantitatif. bupati atau pemimpin partai. Secara bertahap sejak reformasi perubahan sosio cultural menuju persamaan peran laki-laki dan perempuan di dunia politik sudah mulai terjadi. menjadi bidan/perawat. sehingga peran mereka terutama mengasuh anak. Hukum sebagai sarana perubahan sosial diharapkan mampu mengubah pola peranan laki-laki dan perempuan dalam masyarakat yang masih diwarnai oleh ciri-ciri suatu masyarakat tradisional paternalistik. Artinya bila hal tersebut menjadi keputusan politik calon anggota legislatif dari kalangan kaum hawa harus lebih keras dalam mengumpulkan pemilih. Tetapi hal tersebut belum menjamin calon anggota legislatif dari kalangan perempuan akan benar terpilih. kehalusan perasaan. Dalam masyarakat tradisional semacam itu perempuan diberi peran untuk tugas-tugas yang perlu kesabaran. Sedangkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih menantang dianggap dunianya laki-laki seperti menjadi tentara.

Jumlah anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2009 dapat dilihat pada Tabel 7. Partisipasi perempuan dalam bidang legislatif dapat dilihat dari keanggotaan mereka dalam lembaga legislatif. dalam hal ini sebagai anggota DPR/DPRD.1.advokasi upaya pengarusutamaan serta nilai-nilai kesetaraan gender dalam produk perundang-undangan maupun penciptaan perencanaan pembangunan yang berperspektif gender. 109 .

11 2. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 T o t al Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sinjai Maros Pangkep Barru Bone Soppeng Wajo Sidenreng Rappang Pinrang Enrekang Luwu Tana Toraja Luwu Utara Luwu Timur Kota Makassar Kota Parepare Kota Palopo 25 36 18 31 23 32 25 29 32 20 36 26 29 29 31 27 32 40 34 30 51 22 21 679 78.00 11.Tabel 7.57 76.67 82.43 88.00 20.1 Jumlah Anggota DPRD Tingkat Kab/Kota & Provinsi Periode 2004-2009 Berdasarkan Jenis Kelamin di Provinsi Sulawesi Selatan Kabupaten/ Kota Jumlah Anggota DPRD Laki-laki Jumlah Anggota DPRD % Perempuan Jumlah Anggot a DPRD % Total No .11 86.86 0.67 71.00 16.00 72.00 86.21 82.13 90.94 32 40 25 35 30 45 29 35 35 25 45 30 35 30 35 30 35 45 35 30 58 25 25 789 4 110 Sumber : Badan PP dan KB Provinsi Sulawesi Selatan.14 3.14 100.00 87.89 13.93 88. 2010 110 .07 12.57 90.43 80.43 23.00 84.57 20.67 88.33 11.00 8.88 10.00 12.33 28.00 13.43 10.00 13.00 80.00 28.00 91.00 88.79 17.33 17.14 8.57 11.86 96.00 86.86 91.06 7 4 7 4 7 13 4 6 3 5 9 4 6 1 4 3 3 5 1 0 7 3 21.89 97.

89 %).1 berikut: 111 . Selanjutnya kabupaten yang memiliki jumlah anggota DPRD yang banyak adalah Kabupaten Gowa sebanyak 45 orang dengan perbandingan laki-laki sebanyak 32 orang (71.07 %). 2 Tahun 2007 tentang Partai Politik dan UU No.11 %) dan perempuan 13 orang (28. Kabupaten berikutnya yang memiliki jumlah anggota DPRD yang cukup banyak adalah Kabupaten Bulukumba yaitu sebanyak 40 orang dengan perbandingan laki-laki 36 orang (90 %) dan perempuan 4 orang (10 %). Dari data Tabel 7. yang memiliki jumlah anggota DPRD paling banyak adalah kota Makassar yaitu sebanyak 58 orang diantaranya laki-laki 51 orang (87. jika dianalisis berdasarkan jumlah anggota DPRD pada setiap kabupaten/kota terlihat bahwa dari 24 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan.1 juga terlihat bahwa dari seluruh kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan belum ada satupun kabupaten yang keberadaan anggota DPRD perempuan memenuhi quota 30 %. Untuk melihat perbandingan persentase jumlah anggota DPRD Tingkat II Pemilu 2009 berdasarkan jenis kelamin di Provinsi Sulawesi Selatan dapat dilihat pada Diagram 7.Berdasarkan Tabel 7.93 %) dan perempuan 7 orang (12. Jumlah yang sama juga di Kabupaten Bone yaitu sebanyak 45 orang dengan perbandingan laki-laki 36 orang (80 %) dan perempuan 9 orang (20 %).1. Hal ini menunjukkan bahwa aturan UU No. 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum memberikan dukungan untuk terlaksananya affirmative action dalam rangka meningkatkan peranan perempuan di bidang partai politik belum sepenuhnya dapat terlaksana.

Untuk meningkatkan kualitas peran perempuan. Peran perempuan dibidang pemerintahan merupakan refleksi dari kualitas peran mereka dalam kepemimpinan partai politik dan dalam lembaga legislatif.94 %).1 Persentase Anggota DPRD Tingkat II Provinsi Sulawesi Selatan Berdasarkan Jenis Kelamin di 2009 Jumlah Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2009 berjumlah 789 orang diantaranya laki-laki 679 orang (86.Diagram 7. diperlukan komitmen. Jika kita amati data tersebut. yang kuat dikalangan elit politik untuk secara sungguh-sungguh melaksanakan amanat UUD dan ketentuan undang-undang yang menjamin kedudukan antara laki-laki dan perempuan didepan hukum dan 112 . maka dapat kita simpulkan bahwa baik jumlah anggota DPRD baik di setiap kabupaten maupun di tingkat provinsi belum ada yang memenuhi quota 30%.06 %) dan perempuan 110 orang (13. Peran perempuan dalam kepemimpinan di bidang pemerintahan tidak jauh berbeda dari peran mereka dalam calon anggota legislatif. sehingga ke depan perlu dilakukan langkah-langkah strategis agar keterlibatan dan peran perempuan di ranah legislative dapat lebih ditingkatkan.

Partisipasi perempuan dan laki-laki dalam bidang eksekutif dapat dilihat dari jumlah mereka yang terlibat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). dinas. Pegawai Negeri Sipil yang dimaksud adalah semua pegawai yang bekerja pada departemen. menggalang dukungan untuk meraih simpati dan secara sistematis menempa diri agar memiliki kapasitas. Urusan politik dalam negara demokratis adalah urusan laki-laki dalam negara demokratis adalah urusan laki-laki dan perempuan. Sementara itu kaum perempuan perlu mengkonsolidasikan potensinya. non departemen.2 berikut : 113 . kapabilitas serta akseptabilitas untuk memainkan peranan lebih besar dalam kancah politik demi kesejahteraan seluruh rakyat. Laki-laki dan perempuan mempunyai hak dan tanggung jawab yang sama untuk membangun bangsanya.pemerintahan. badan dan lembaga lainnya yang berada di bawah koordinasi pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Komposisi PNS Pemerintah pada tingkat provinsi dan kabupaten berdasarkan jenis kelamin di Provinsi Sulawesi Selatan pada Tahun 2010 disajikan pada Tabel 7.

998 3.14 TOTAL 4.817 2.719 6.39 53.77 52.86 PR 2.454 3.23 47.97 50.494 7.51 48.91 48.467 2.39 46.109 3.381 4.13 50.2.199 4.94 55.87 49.65 45.323 3.243 7.191 176.396 2.86 54.06 48.184 3.35 54.942 4.415 2.Tabel 7.98 46.277 9.03 49. diantaranya 82.817 3.48 57.12 57. Jumlah PNS Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Menurut Jenis Kelamin Tahun 2010 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Kabupaten Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sinjai Maros Pangkep Barru Bone Soppeng Wajo Sidrap Pinrang Enrekang Luwu Tana Toraja Luwu Utara Luwu Timur Makassar Pare-Pare Palopo Prov Sulawesi Selatan *) Jumlah Jenis Kelamin LK 2.093 3.389 10.990 15.727 3.798 3.311 5.713 3.45 45.834 1.024 2.64 48.009 4.890 5.501 3.112 7.54 53.46 46.94 51.677 7.576 5.19 43.409 7.36 51.964 2.77 46.61 53.83 55. kecuali di Kabupaten Jeneponto dan Tana Toraja serta persentase PNS di 114 .609 orang (53.307 5.082 4.453 7.421 8.366 5.713 5.653 4.09 51.547 6.510 9.238 2.455 4.928 4.81 56.97 47.592 3.06 44.550 2.079 6.23 53.61 46.735 3.650 4.574 5. Hampir pada setiap kabupaten persentase PNS perempuan lebih banyak dibanding laki-laki.153 Sumber : BKN Provinsi Sulawesi Selatan 2010 Berdasarkan Tabel 7.07 60.55 54.228 3.14%).17 44.49 51.176 3.177 2.031 9.52 42.2 terlihat bahwa dari 176.938 3.02 53.153 orang PNS pada tingkat kabupaten dan provinsi.24 56.544 orang (46.422 93.534 2.56 51.412 4.544 % 45.729 6.351 5.14 45.445 12.161 4.86%) adalah laki-laki dan perempuan 93.769 82.93 39.939 2.790 6.76 43.03 52.767 3.609 % 54.305 3.88 42.614 2.222 2.44 48.

persentase PNS perempuan lebih besar yaitu mencapai 55 % sedangkan laki-laki 45 %. Pada golongan 115 . Secara rinci dapat diuraikan bahwa pada golongan I laki-laki sebesar 78 % sedangkan perempuan 22 %.tingkat Provinsi Sulawesi Selatan. III dan IV lebih rendah persentasenya dibanding PNS perempuan. Dari diagram ini dapat diketahui bahwa secara umum proporsi PNS laki-laki yang berada pada golongan II.2.2 berikut : Diagram 7. kecuali pada golongan I. Pada golongan II dan III.2 Persentase PNS Menurut Jenis Kelamin dan Golongan di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2010 Gambaran tentang posisi PNS di Provinsi Sulawesi Selatan perempuan dan laki-laki bila ditinjau dari segi golongannya dapat di lihat pada Diagram 7. Hal ini dapat berarti bahwa perempuan telah diberi kesempatan yang luas dalam bidang eksekutif sehingga diharapkan dapat memberikan peran dalam pembangunan daerah. Selanjutnya untuk mengetahui perbandingan pegawai laki-laki dan perempuan berdasarkan golongan dapat dilihat pada Diagram 7.

Dari data-data ini menunjukkan bahwa di Provinsi Sulawesi Selatan ada pergeseran posisi perempuan yang lebih dominan dibanding laki-laki pada setiap golongan. diharapkan sumber daya manusia berkualitas ini mampu mendatangkan manfaat bagi daerahnya. Utamanya dalam kerangka Otonomi Daerah. Adapun komposisi pegawai pada tingkat provinsi di Provinsi Sulawesi Selatan berdasarkan Tingkat Pendidikan dapat dilihat pada Diagram 7.3 berikut: 116 . Untuk peningkatan pembangunan khususnya di daerah diperlukan sumber daya manusia yang berkualitas baik dari segi moral maupun pendidikan sehingga mereka dapat menjadi motor penggerak pembangunan daerah. Untuk mengetahui secara lebih jelas perbandingan antara laki-laki dan perempuan menurut golongan pada setiap kabupaten dapat dilihat pada Lampiran 1. Hal lain yang perlu diperhatikan dari keberadaan pegawai adalah komposisinya berdasarkan tingkat pendidikan yang dimiliki.IV perempuan sebesar 52 % sedangkan 48 %.

233 orang diantaranya laki-laki 14. Pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi yaitu pada S2 dan S3.175 orang dan perempuan 31. kemudian tingkat pendidikan DI/DII/DIII/Sarjana Muda/Akademik sebanyak 45. kemudian tingkat pendidikan SLTA sebanyak 56. dari 176. jumlah lakilaki jauh lebih banyak dibanding perempuan.410 orang dan perempuan 27.158 orang dan perempuan 31. 117 .075 orang. Untuk mengetahui secara lebih jelas perbandingan antara laki-laki dan perempuan menurut pendidikan pada setiap kabupaten dapat dilihat pada Lampiran 2. jumlah pegawai terbanyak berpendidikan S1/DIV/ Akta IV/Akta V/Spesialis yaitu sebanyak 63.Diagram 7.590 orang.153 orang PNS di Provinsi Sulawesi Selatan.917 orang.000 orang diantaranya laki-laki 28.3 Jumlah PNS Menurut Jenis Kelamin dan Pendidikan di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2010 \Analisis lebih lanjut berdasarkan tingkat pendidikan.092 orang diantaranya laki-laki 31.

hukum yang dilaksanakan atas semua orang tanpa mengistimewakan dan tanpa membedakan seorang individu atas lainnya karena jenis kelamin. Partisipasi perempuan dalam bidang yudikatif dapat dilihat dari keterlibatan mereka dalam segi tugas dan tanggungjawab pekerjaannya. Pada Tabel 7. jaksa. bidang lainnya yang perlu mendapat perhatian adalah yudikatif. Persamaan hak dalam bidang yudikatif merupakan salah satu manifestasi prinsip persamaan yang dituntut oleh keadilan yang dicanangkan pemerintah. kedudukan.3 disajikan data mengenai jumlah Jaksa yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan menurut jenis kelamin.Selain peran perempuan dalam bidang legislatif dan eksekutif. Dalam hal ini. warna kulit. dapat dilihat dari keterlibatan mereka sebagai praktisi hukum yaitu sebagai hakim (negeri dan agama). 118 . kemiskinan. kekayaan. kekerabatan atau persahabatan. notaris dan advokat/pengacara dan anggota kepolisian.

00 25.33 68.50 62.43 72.83 63.36 28.50 Jml 1 2 5 1 2 7 2 8 11 4 2 4 2 2 4 2 3 2 1 10 1 3 35 96 PR % 20.00 44.43 100.44 83.67 31.73 71.00 87.92 57.67 20.43 55.00 75.00 75.57 44.00 23.17 36.56 75.04 10.75 44.57 12.3 Jumlah Pejabat Strutural Pada Kejaksaan Tinggi Di Kabupaten/Kota dan Provinsi Sulawesi Selatan NO.56 71.57 27.00 46.50 37.00 76.64 71.08 42.84 25.00 55.56 16.25 55.27 28.50 %) dan 119 .00 36.00 25.33 80.16 75.00 63.00 63. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Kabupaten/Kota Kejari Selayar Kejari Bulukumba Kejari Bantaeng Kejari Jeneponto Kejari Takalar Kejari Sungguminasa Kejari Sinjai Kejari Maros Kejari Pangkep Kejari Barru Kejari Watampone Kejari Soppeng Kejari Sengkang Kejari Sidrap Kejari Pinrang Kejari Enrekang Kejari Belopa Kejari Makale Kejari Masamba Kejari Malili Kejari Makassar Kejari Pare-Pare Kejari Palopo Kejati Provinsi Sul-Sel Jumlah Jml 4 6 4 5 8 12 6 7 5 5 5 5 6 6 7 5 8 5 6 7 17 9 10 48 167 LK % 80.00 36.44 25.96 90.44 28.50 Jumlah 5 8 9 6 10 19 8 15 16 9 7 9 8 8 11 7 11 7 6 8 27 10 13 83 263 Sumber: Kejaksaaan Tinggi Sulawesi Selatan Berdasarkan Tabel 7.00 53.3 dapat diketahui bahwa jumlah jaksa sebanyak 257 orang diantaranya laki-laki 167 orang (63.Tabel 7.

Jumlah Personil Polisi Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2010 Sumber : Polda Sulawesi Selatan. Tabel 7. Selain praktisi hukum. Pada Tabel 7.50 %) yang tersebar pada 23 Kejari kabupaten/kota dan Kejati Provinsi Sulawesi Selatan.4 berikut disajikan data mengenai jumlah personil polisi menurut pangkat dan jenis kelamin di Provinsi Sulawesi Selatan pada Tahun 2010.perempuan 96 orang (36. Hanya saja tidak didapatkan data tentang jumlah pengacara. untuk menegakkan pelaksanaan hukum aparat keamanan dalam hal ini polisi juga memegang peranan penting. 2010 120 . hakim dan notaris. Polisi banyak memainkan peran untuk menciptakan kedamaian dan perlindungan hukum kepada masyarakat.4.

Partisipasi Perempuan dalam Partai Politik dan Organisasi Sosial Kemasyarakatan Selain keterlibatan perempuan dalam keanggotaan di DPRD. Untuk 121 . hal lain yang perlu dilihat adalah keterlibatan perempuan di setiap partai politik sebagai langkah awal dalam memasuki dunia politik.Saat ini di Provinsi Sulawesi Selatan. Karena secara fisik pekerjaan sebagai polisi dianggap sebagai pekerjaan berat. 6. Karena langkanya kader perempuan yang dimiliki tidak jarang aroma nepotisme dalam rekrutmen calon anggota legislatif sulit dielakkan. Dalam daftar calon legislatif yang diserahkan kepada KPU. jumlah aparat kepolisian adalah sebanyak 14. terdiri dari laki-laki sebanyak 14. Sedikitnya jumlah perempuan yang menjadi anggota polisi ini disebabkan karena masih kentalnya nilai-nilai budaya yang melekat pada pekerjaan polisi ini yang beranggapan bahwa hanya laki-laki yang paling tepat untuk pekerjaan tersebut. Tetapi lebih banyak yang memberi peran figuran untuk sekedar memenuhi formalitas yang ditentukan undang-undang perempuan lebih kurang ditempatkan pada posisi sekretaris.04 %). Soal kualitas calon perempuan masih menjadi tanda tanya.2. bendahara atau peran-peran yang terkait dengan konsumsi. trengginas mampu menangkap aspirasi rakyat dan paham lika-likunya politik. sebagian partai politik berusaha memenuhi batas minimum kuota perempuan. dan kesenian.436 orang (97. Sejumlah partai politik memberi peran strategis kepada kaum perempuan dalam kepemimpinan partai politik.736 orang.96 %) dan perempuan sebanyak 300 orang (2. karena tidak sedikit partai politik yang belum sempat menempa kader-kader srikandi yang mempunyai kemampuan untuk ditampilkan sebagai wakil rakyat yang cerdas.

5 berikut: Tabel 7.mengetahui keberadaan perempuan dalam kepengurusan partai politik dapat dilihat pada tabel 7. Jumlah Pengurus Partai Politik Tingkat Provinsi Menurut Jenis Kelamin dalam Pemilu Legislatif Tahun 2009 122 .5.

menggambarkan keterlibatan perempuan pada kepengurusan partai politik di Provinsi Sulawesi Selatan. Dari data tersebut terlihat pula bahwa masih banyak partai politik yang tidak melibatkan perempuan dalam kepengurusannya seperti partai. dan perencanaan akan menjadi terbatas. dari 114 orang yang menjadi pengurus partai politik perempuan hanya 16 orang (14 %) saja sementara perempuan mencapai 98 orang (86 %). perumusan kebijakan.4. Oleh karena itu. sehingga pada gilirannya kebijakan-kebijakan partai politik yang ada kurang berperspektif gender.4 Persentase Pengurus Partai Politik Tingkat Provinsi Menurut Jenis Kelamin dalam Pemilu Legislatif Tahun 2009 Tabel 7. Kurangnya keterlibatan perempuan dalam partai politik dapat memberikan indikasi bahwa akses perempuan dalam pengambilan keputusan. seringkali aspirasi perempuan kurang diperhitungkan dalam menyusun kebijakan partai. Dari 38 partai politik yang ada hanya 12 partai politik yang melibatkan perempuan.Diagram 7. 123 .

Hal ini sangat penting mengingat bahwa duduknya perempuan dalam jabatan/eselon memperlihatkan kontrol perempuan terhadap suatu bidang tertentu dari kebijakan dan program-program publik.5 Jumlah dan Persentase PNS Kabupaten/Kota Dan Provinsi Sulawesi Selatan Menurut Jabatan Struktural (Eselon) dan Jenis Kelamin Kondisi Oktober 2010 Berdasarkan Diagram 7.924 124 .6.3. Untuk lebih jelasnya mengenai perbadingan PNS laki-laki dan perempuan di Provinsi Sulawesi Selatan berdasarkan eselon dapat dilihat pada Diagram 7.5 jika dijumlahkan antara PNS laki-laki dan perempuan berdasarkan Eselon dapat diketahui bahwa jumlah pegawai di Provinsi Sulawesi Selatan yang menjabat posisi eselon sebanyak 7.5 berikut : Diagram 7. Jumlah PNS menurut Eselonisasi Salah satu ukuran keterlibatan perempuan dalam sektor publik adalah banyaknya perempuan yang duduk dalam jabatan-jabatan publik. Dengan demikian diharapkan setiap kebijakan yang dihasilkan oleh instansi yang mereka pimpin tidak bias gender.

selain karena keinginan perempuan yang masih setengah-setengah juga karena masih seringnya kodrat perempuan digunakan alasan untuk tidak diikutsertakannya perempuan dalam kegiatan-kegiatan pendidikan tersebut.117 orang dan perempuan 232 orang.987 orang . Untuk mengetahui secara lebih jelas perbandingan antara laki-laki dan perempuan menurut eselon pada setiap kabupaten dapat dilihat pada Lampiran 3.309 orang diantaranya laki-laki 4. Pada tingkat eselon II sebanyak 256 orang diantaranya laki-laki 241 orang dan perempuan 3 orang.242 orang (28 %). sementara pada posisi yang tertinggi yaitu eselon I berjumlah 2 orang yang kesemuanya adalah laki-laki. Hal ini kemungkinan besar disebabkan oleh karena sedikitnya perempuan yang dianggap cakap untuk menduduki jabatan-jabatan yang bereselon tinggi karena tidak memadainya tingkat pendidikan mereka. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa PNS terbanyak pada eselon IV sebanyak 6. baik pendidikan formal maupun pendidikan-pendidikan penjenjangan karir. terutama pendidikan penjenjangan karir. Kurangnya perempuan yang memiliki tingkat pendidikan.349 orang diantaranya laki-laki 1.322 orang dan perempuan 1. Terlihat bahwa pada setiap jabatan eselon jumlah laki-laki jauh lebih banyak dibanding perempuan.orang diantaranya laki-laki 5.682 orang (72 %) dan perempuan 2. 125 . kecuali pada jabatan eselon terendah yaitu eselon V semua yang menjabat adalah perempuan.kemudian eselon III sebanyak 1.

126 .

Jagger dan Rottenberg (2002). termasuk ancaman. lebih aktif. suka mengalah dan pasif (belenggu patriarki). Dominasi pria terhadap wanita menunjukkan adanya kekuasaan pria untuk berbuat sesukanya terhadap wanita. sistem ini mencakup pengertian bagaimana sebenarnya laki-laki dan perempuan itu. yang terjadi baik didalam rumah tangga atau keluarga (privat life). mempunyai dominasi dan otonomi. dan umumnya tindakan kekerasan dilakukan oleh kaum laki-laki. memberikan beberapa penjelasan mengenai penindasan terhadap perempuan. Hal ini juga di dukung oleh sistem kepercayaan gender yang berlaku dalam masyarakat. seksual maupun fsikologis (United Nations Depertement of Public Relation 1986) Masalah kekerasan pada dasarnya erat kaitannya dengan kekuasaan. Secara historis perempuan merupakan kelompok pertama yang tertindas 127 . maupun di dalam masyarakat (public life) yang mengakibatkan kesengsaraan atau penderitaan bagi wanita baik secara fisik. yaitu : 1. pemaksaan atau perampasan hakhak kebebasan. KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN Platform For Action and Beijing Declaration menyatakan bahwa kekerasan terhadap perempuan adalah segala bentuk tindakan kekerasan berdasarkan gender. sebaliknya perempuan di pandang sebagai mahluk lemah.BAB VIII. sistem kepercayaan gender mengacu pada serangkaian kepercayaan dan pendapat tentang lakilaki dan perempan. Pada umumnya laki-laki dianggap sebagai sosok yang lebih kuat.

sebagaimana disajikan pada table berikut. Kekerasan terhadap perempuan. 3.2. Penindasan terhadap perempuan terjadi dimana-mana dalam masyarakat Penindasan perempuan adalah bentuk penindasan yang paling sulit di lenyapkan dan tidak akan bisa dihilangkan melalui perubahanperubahan sosial lain. Kekerasan terhadap perempuan merupakan fenomena sosial yang telah berlangsung lama dari masyarakat yang masih primitive sampai pada masyarakat modern sekarang ini. seperti penghapusan kelas masyarakat 4. 128 . yaitu fungsi mereka dalam keluarga. Penindasan terhadap perempuan menyebabkan penderitaan yang paling berat bagi korban-korbannya. banyak faktor-faktor yang melatar belakangi timbulnya tindak kekerasan terhadap perempuan. Menurut Aguste Comte. meskipunpenderitaan ini berlangsung tanpa di ketahui oleh orang lain. tidak hanya terjadi pada kelompok usia dewasa tetapi juga pada kelompok usia anak-anak dan lanjut usia. dan faktor ekonomi. dimana mereka cenderung sedikit memperoleh pengakuan kedudukan didalam keluarga maupun dalam masyarakat yang luas. perempuan secara konstitusional bersifat inferiror. faktor social. berbagai tindak kekerasan telah di alami oleh perempuan dari waktu-kewaktu. Perempuan sering di analisis dalam hubungannya dengan kedudukan atau juga dengan kekuasaan yang ada dalam masyarakat. diantaranya faktor budaya.

Sulsel 120 810 930 137 613 750 129 .Tabel 8. Rekapitulasi Data Korban Tindak Kekerasan (Ktk) Anak Berdasarkan Jenis Kelamin Di Propinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009-2010 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 PROPINSI SUL-SEL ANAK KORBAN TINDAK KEKERASAN (KTK) P 21 25 45 38 32 71 51 22 35 24 42 44 46 23 43 48 39 32 29 35 39 11 15 JUMLAH 27 28 56 41 39 82 57 27 44 31 47 49 57 23 45 54 46 37 32 38 39 13 18 L 4 2 15 7 9 6 8 2 6 4 7 1 15 1 5 3 9 2 7 5 5 5 9 ANAK P 15 28 36 26 12 71 51 30 17 18 22 19 19 15 29 33 28 25 22 26 25 19 27 JUMLAH 19 30 51 33 21 77 59 32 23 22 29 20 34 16 34 36 37 27 29 31 30 24 26 MAKASSAR GOWA PARE-PARE BANTAENG SOPPENG TANA TORAJA PALOPO MAROS BARRU SIDRAP PINRANG WAJO BONE ENREKANG LUWU LUWU UTARA TAKALAR JENEPONTO BULUKUMBA SINJAI SELAYAR PANGKEP LUWU TIMUR JUMLAH L 6 3 11 3 7 11 6 5 9 7 5 5 11 0 2 6 7 5 3 3 0 2 3 Sumber Data : Dinsos Prov.1.

Jumlah kasus kekerasan pada anak perempuan dari tahun 2009 sampai 2010 berjumlah 1. Tabel 8.2.21 TERSANGKA 7 LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI Perempuan LAKI-LAKI Perempuan LAKI-LAKI PELAKU 8 15 Thn 19 Thn 27 Thn 40 Thn 43 Thn 33 Thn 45 Thn 50 Thn - 130 . Data tersebut diatas.Berdasarkan table diatas. namun di beberapa kabupaten/kota menunjukkan kecenderungan naik atau tetap yaitu di kabupaten Gowa.423 kasus. Apabila dilihat berdasarkan kabupaten. Tana Toraja. nampak bahwa kekerasan yang terjadi di tahun 2009 dan 2010 pada anak-anak perempuan jauh lebih banyak jumlahnya dibandingkan dengan kekerasan yang menimpa pada anak laki-laki yaitu 8. Maros. Secara umum ada kecenderungan penurunan jumlah kasus.21 Sidik P.4 : 1. dikuatkan dengan banyaknya jumlah kasus yang dilaporkan di Polda Sulselbar sebagaimana table berikut. maka tindak kekerasan terhadap anak-anak perempuan yang tertinggi di kabupaten Tana Toraja yakni 71 kasus. Data Keseluruhan Kasus Yang Melibatkan Pelaku/Korban Anak Periode Tahun 2009 NO 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 JENIS KASUS 2 Pemerkosaan Pemerkosaan Traficking Pelecehan Seksual UMUR KORBAN 3 14 Thn 13 Thn 15 Thn 16 Thn 16 Thn 13 Thn 3 Thn 13 Thn 15 Thn 14 Thn LAKILAKI 4       √  √  PEREM PUAN 5 √ √ √ √ √ √  √  √ STATUS KASUS 6 P. dan terrendah di kabupaten Pangkep (tahun 2009) dan Soppeng (tahun 2010).21 Sidik Sidik Proses Proses P.5. Palopo. dan Luwu Timur. Pangkep.

korbannya anak perempuan.21 Sidik P.11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 Perbuatan cabul Pemerkosaan Penganiayaan Pemerkosaan Pemerkosaan Pernografi Penganiayaan - 6 Thn 16 Thn 17 Thn 14 Thn 17 Thn 15 Thn 10 Thn 17 Thn 15 Thn 16 Thn 7 Thn 16 Thn 15 Thn 16 tHN 17 Thn 17 Thn 11 Thn 14 Thn 60 Thn 16 Thn 37 Thn 16 Thn      √          √    √      √ √ √ √ √  √ √ √ √ √ √ √ √ √ √  √ √ √  √ √ √ √ √ Sidik Sidik P. Kecenderungan kasus meningkat pada tahun 2010 yaitu sebanyak 32 kasus dari 34 kasus atau 94%.21 Dalam Lidik P.21 P.21 P.21 Sidik Lidik Lidik Sidik Cabut Laporan ABH ABH ABH ABH Dalam Lidik ABH ABH Dalam Proses Proses Proses STM STM LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI Perempuan LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI Perempuan LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI Perempuan LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI Perempuan LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI 50 Thn 19 Thn 20 Thn 33 Thn 21 Thn 15 Thn 17 Thn 40 Thn 17 Thn 20 Thn 17 Thn 21 Thn 35 Thn 17 Thn 17 Thn 35 Thn 30 Thn 23 Thn 25 Thn 18 Thn 19 Thn 17 Thn 15 Thn 50 Thn Data kekerasan terhadap anak perempuan yang dilaporkan pada tahun 2009 sebanyak 26 kasus dari 36 kasus atau 72% dari jumlah keseluruhan. 131 .

18/P.Tabel 8. Data Keseluruhan Kasus Yang Melibatkan Pelaku/Korban Anak Periode Tahun 2010 NO 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 Pencabulan Pencabulan JENIS KASUS 2 UMUR KORBAN 3 19 Thn 13 Thn 15 Thn 13 Thn 17 Thn 16 Thn 16 Thn 17 Thn 16 Thn 15 Thn 14 Thn 16 Thn 13 Thn 17 Thn 17 Thn 19 Thn 14 Thn 4 Thn 18 Thn LAKILAKI 4      √                   PEREM PUAN 5 √ √ √ √ √  √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ STATUS KASUS 6 Sidik Tidak cukup bukti P.21 Diversi Cabut Dalam Lidik Lidik Sidik Proses Sidik Cabut Proses P.21 Bekar Proses Limpah Diversi Proses Sidik TERSANGKA 7 LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI Dalam LAKI-LAKI Perempuan LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI Dalam Lidik Dalam Lidik LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI Dalam Lidik LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI PELAKU 8 30 Thn 42 Thn 40 Thn 18 Thn 16 Thn 20 Thn 22 Thn 15 Thn 35 Thn 17 Thn 20 Thn 20 Thn 20 Thn 17 Thn 23 Thn 24 Thn 15 Thn 40 Thn 26 Thn 132 .3.19 Tahap I Dalam Lidik Damai Proses Tahap I Proses P.

28 29 30 31 32 33 34 Pemerkosaan Pemerkosaan - 17 Thn 15 Thn 17 Thn 9 Thn 13 Thn 15 Thn 14 Thn      √  √ √ √ √ √  √ P. Berdasarkan data dari Dinas Sosial Prov. 133 . Sulsel.21 Sidik Sidik Proses P.21 Cabut Sidik LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI Dalam Lidik LAKI-LAKI Perempuan LAKI-LAKI 56 Thn 16 Thn 16 Thn 20 Thn 17 Thn 16 Thn Sumber data : Polda Sulselbar Kekerasan yang terjadi pada perempuan usia dewasa dan lansia pada tahun 2009 dan 2010 juga menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. jumlah kekerasan pada perempuan dewasa mencapai 980 kasus (tahun 2009) dan 991 kasus (tahun 2010) atau 89% dari total kasus kekerasan yang terdata. Untuk kekerasan yang terjadi pada perempuan lanjut usia mencapai 293 kasus pada kurun waktu tahun 2009 dan 2010 atau 69 % dari total kasus (lihat table dibawah).

4.Tabel 8.123 JUM LAH L 2 3 0 6 5 10 3 2 0 0 2 6 6 0 4 3 0 3 0 1 2 0 0 58 KORBAN TINDAK KEKERASAN (KTK) LANJUT USIA TH 2009 P 7 4 1 3 9 21 11 0 3 4 5 3 7 4 8 9 5 6 4 2 7 3 4 130 9 7 1 9 14 31 14 2 3 4 7 9 13 4 12 12 5 9 4 3 9 3 4 188 JUM LAH TH 2010 L 1 5 1 8 0 6 5 7 1 2 4 1 4 4 2 2 3 4 2 3 3 4 1 73 P 4 3 5 4 9 19 11 0 5 4 8 9 9 5 8 11 8 7 9 6 5 6 8 163 JUM LAH 5 8 6 12 9 25 16 7 6 6 12 10 13 9 10 13 11 11 11 9 8 10 9 236 Sumber Data : Dinsos Prov. Rekapitulasi Data Korban Tindak Kekerasan (KTK Berdasarkan Jenis Kelamin di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009-2010 NO PROPINSI SUL-SEL L 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 MAKASSAR GOWA PARE-PARE BANTAENG SOPPENG TANA TORAJA PALOPO MAROS BARRU SIDRAP PINRANG WAJO BONE ENREKANG LUWU LUWU UTARA TAKALAR JENEPONTO BULUKUMBA SINJAI SELAYAR PANGKEP LUWU TIMUR JUMLAH 5 5 3 15 12 15 21 2 5 0 0 7 4 6 2 2 1 3 0 2 1 2 1 114 KORBAN TINDAK KEKERASAN (KTK) DEWASA TH 2009 P 41 34 40 55 62 70 31 36 39 38 50 53 80 24 56 42 41 51 37 44 28 15 13 980 46 39 43 70 74 85 52 38 44 38 50 60 84 30 58 44 42 54 37 46 29 17 14 1094 JUM LAH L 13 3 7 9 3 18 6 4 8 3 7 4 8 3 5 3 6 2 3 5 2 4 6 132 TH 2010 P 55 38 29 49 66 49 44 38 28 44 51 60 72 28 42 49 42 48 49 36 36 23 15 991 68 41 36 58 69 67 50 42 36 47 58 64 80 31 47 52 48 50 52 41 38 27 21 1. Sulsel 134 .

menjadikan masyarakat yang terintegrasi dengan sempurna. dan meminimalisir tindak kekerasan terhadap perempuan. dan untuk tahun 2010 mencapai 1767 kasus dari 2109 kasus atau 84 %. tentram. karena semua unsur berpengaruh dalam hal itu. maka sudah menjadi keharusan bahwa setiap bagian dalam masyarakat harus berperan aktif demi terciptanya lingkungan yang adil. dan telah menjadi isu gender yang cukup sentral. Kekerasan terhadap perempuan sebagai suatu ancaman global terhadap kemanusian. dalam hal ini suatu permasalan sosial. damai.Secara keseluruhan. tidak dapat di selesaikan hanya melalui pendekatan sosial. menunjukkan bahwa jumlah kekerasan pada perempuan pada tahun 2009 mencapai angka 1920 kasus dari 2212 kasus atau 87%. pada saat salah satu subsistem tidak berfungsi dengan baik maka akan mengakibatkan kerusakan semua sistem. karena masyarakat merupakan suatu sistem. berdasarkan data dari Dinas Sosial. 135 . Banyak faktor yang harus di perhatikan dalam usaha untuk menyelesaikan persoalan sosial dalam masyarakat. mengharuskan kita untuk mengatasi.

136 .

Jika anak 137 . antara lain bahwa dalam memperoleh sebuah akta kelahiran.23 Tahun 2002 juga UU No. karena ia dilahirkan oleh seorang ayah dan/atau ibu yang berkewarganegaraan Indonesia. Pasal 27 UU No. seperti: pengurusan pendaftaran sekolah. hingga administrasi perolehan passport. Perihal akta kelahiran menjadi penting untuk dikaji setidaknya disebabkan oleh beberapa hal.Kepemilikan Akte Kelahiran Akta kelahiran menjadi dokumen yang sangat penting bagi warga negara Republik Indonesia. maka acapkali pihak pencatat akta kelahiran atau pihak yang berwenang mensyaratkan adanya buku atau akta nikah dari orang tua yang hendak mencatatkan peristiwa kelahiran. dokumen akta kealhiran tersebut menjadi dokumen hukum bahwa seseorang memang dilahirkan dari seorang warga Negara Indonesia baik di dalam maupun di luar wilayah jurisdiksi Indonesia.1. administrasi pendaftaran pekerjaan. MASALAH ANAK 9. Perpres No. Hal ini juga dapat dikaitkan dengan kewarganegaraan seseorang.23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan jo. Dalam kehidupan lebih lanjut bahwa kepemilikan akta kelahiran berdampak cukup luas.BAB IX. dimana seseorang ketika tidak memiliki dokumen berupa akta kelahiran akan cukup sulit dalam melakukan proses-proses administasi selanjutnya.25 Tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil tidak mensyaratkan adanya kewajiban untuk melampirkan akta nikah/buku nikah orangtua anak dalam proses perolehan akta lahir bagi anak.

25 Tahun 2008. Bahkan jika tidak diketahui siapa orangtuanya. Bidan atau dokter yang membantu proses kelahiran si anak cukup memberikan surat keterangan mengenai proses kelahiran tersebut dan itu digunakan untuk mengurus keperluan pembuatan akta kelahiran. dan orangtuanya tidak diketahui keberadaannya. maka akta tersebut hanya menyatakan hubungan hukum dengan pihak Ibu saja.dilahirkan dari sepasang suami-isteri yang tidak dicatatkan perkawinannya. Pihak yang mengetahui terjadinya perkawinan serta kelahiran dihadirkan menjadi saksi dalam proses pencatatan oleh pihak orangtua anak. maka berdasarkan ketentuan Pasal 52 Perpres No. Tidak wajibnya melampirkan akta/buku nikah dalam hal memperoleh akta kelahiran bagi anak dikuatkan pula oleh Pasal 27 UU No. maka anak tersebut tetap mendapatkan haknya untuk memperoleh akta kelahiran cukup dengan keterangan dari orang yang menemukan si anak dan dilengkapi oleh berita acara pemeriksaan dari kepolisian. maka surat tersebut akan menyatakan bahwa anak tersebut dilahirkan dari psangan bapak A dan ibu B. Pada sisi lain jika si Ayah tidak diketahui keberadaannya.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak: (1) Identitas seorang diri setiap anak harus diberikan sejak kelahirannya (2) Identitas sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dituangkan dalam akta kelahiran (3) Pembuatan akta kelahiran didasarkan pada keterangan dari orang yang menyaksikan dan/atau membantu proses kelahiran (4) Dalam hal anak yang proses kelahirannya tidak diketahui. pembuatan akta kelahiran 138 .

Penduduk 0-4 Tahun yang Memiliki Akte Kelahiran menurut Kabupaten/Kota.28 11.58 36.24 24.287 48. Luwu Utara 25.371 2.931 21.425 8.45 39.22 53.119 4.428 4. Sidenreng Rappang 15.4 Years Memiliki Akte Kelahiran / Have Birth Certificate Banyakn ya / Prose Number ntase Province/District 00.33 23.388 18.740 17. Bantaeng 04.044 3.492 2.538 5.944 9.41 51.024 20. Selayar 02.413 12.762 1. Gowa 07.246 17.961 6.294 4.249 2.625 115. Pangkajene Kepulauan 10.918 4.00 39. Bone 12.32 58.626 4.1.592 5.92 38.18 42.688 6. Barru 11.067 2. Soppeng 13.86 34.27 65.086 12.901 127.13 37.678 22.911 116.784 5.150 3. Sulawesi Selatan 01.4 Tahun / Population 0 .706 690 2. Sulawesi Selatan Perkotaan Propinsi/Kabupaten Penduduk 0 .610 4.262 1.300 8.3 14. Palopo 240.759 6.2 35.935 1.4 29.241 423 1.193 10.098 58.210 5.4 10. Wajo 14.78 27.986 6.13 63.190 2.407 1.38 27.17 75.968 6. Tana Toraja 22.438 5.433 7.5 29.366 1. Sensus Penduduk 2010 139 .177 702 704 405 25.478 21.732 18.24 19.474 3. Bulukumba 03.833 3.297 37.252 34.6 20.014 2.18 20.785 23.846 14.555 2.77 23.583 28.808 34.35 19.23 46.11 506.96 Sumber data : BPS.201 26.001 3.55 17. Tabel 9.411 5.544 57.48 46.71 31.72 72.76 25 42.untuk anak tersebut didasarkan pada keterangan orang yang menemukan Data kepemilikan akte kelahiran anak usia 0-4 tahun di Sulawesi Selatan sebagaimana table berikut. Maros 09. Jeneponto 05.16 43.414 1.286 14.752 785 1.8 13.854 5. Sinjai 08.23 29.059 4.907 7.572 41.645 2.36 49. Pinrang 16. Pare-Pare 73.634 4.208 9.89 22.900 2. Makasar 72.888 25. Luwu 18.825 3.808 1.474 1.494 4.29 84.67 34. Enrekang 17.16 49. Luwu Timur 71.44 5.315 17.756 2.974 1.4 Years Memiliki Akte Kelahiran / Have Birth Certificate Banyakn ya / Prose Number ntase Perdesaan Penduduk 0 .473 1.452 6.657 10.83 52 35.064 11. Takalar 06.897 600 3.4 Tahun / Population 0 .

tebu). pencuci kapal. dan kepedulian pemerintah setempat dalam mewujudkan hak anak. antara lain di KIMA dan pabrikpabrik lain di daerah. pengangkut air.24 %. berkisar setengahnya dari persentase kepemilikan di perkotaan. Berdasarkan kab/kota. Pekerja Anak Hingga saat ini. Anak-anak juga ditemukan di sektor kontruksi/bangunan. 9. pemulung. Adapun persentase kepemilikan tertinggi di kabupaten Enrekang. utamanya di wilayah perkotaan yakni 84. Di TPAS Tamangapa terdapat 380 anak 140 . tidak ada data mengenai pekerja/buruh anak yang tercatat di Dinas Tenaga Kerja. pasar-pasar tradisional. Namun penelitian LPA Sulawesi Selatan tahun 2008. sektor perkebunan (kebun kelapa sawit. cokelat. menemukan anakanak bekerja di sektor formal dan informal. terdapat 117 anak umur 8-15 tahun yang aktif bekerja sebagai tukang bongkar dan pengangkut ikan. Hal ini terkait erat dengan pengetahuan masyarakat. Ersentase kepemilikan di perdesaan masih sangat rendah.2.6%.Berdasarkan data diatas. kepemilikan akte terrendah di kabupaten Jeneponto. dan penjual ikan. tukang becak. pasar ikan. dapat diketahui bahwa persentase kepemilikan akte kelahiran di Sulawesi Selatan baru mencapai 73. utamanya di wilayah perdesaannya.71%. jangkauan layanan petugas catatan sipil. pertanian (sawah). baik Provinsi maupun Kabupaten/Kota. nelayan (penangkap ikan dan pembudi daya rumput laut). yang hanya mencapai 5. Di Pelabuhan Paotere.

3. tidak ada perhatian orang tua. Yang dimaksud dengan anak ialah individu yang belum mencapai usia 18 tahun. namun angka yang diperoleh adalah mengenai pendidikan anak-anak yang bekerja. mencapai 70 %. sekitar 63 % (239 anak) merupakan pemulung aktif. Oleh karena itu. Tingkat kerawanan putus sekolah dililihat dari : anak sering bolos ke sekolah. Seringkali istilah kekerasan pada anak ini dikaitkan dalam arti sempit dengan tidak terpenuhinya hak anak untuk mendapat perlindungan dari tindak kekerasan dan eksploitasi. 47 % yang masih di bangku sekolah pun rawan putus sekolah. kekerasan pada anak adalah tindakan yang di lakukan seseorang /individu pada mereka yang belum genap berusia 18 tahun yang menyebabkan kondisi fisik dan atau mentalnya terganggu. Angka pasti sulit dihitung. suasana belajar yang tidak cocok untuk anak. Kekerasan yang disebut terakhir ini di kenal dengan perlakuan salah terhadap anak atau child abuse 141 . 9. Anak-anak yang bekerja 53 % putus sekolah. Kekerasan pada anak juga sering kali dihubungkan dengan lapis pertama dan kedua pemberi atau penanggung jawab pemenuhan hak anak yaitu orang tua (ayah dan ibu) dan keluarga.(umur 5-17) tahun yang memulung. Kekerasan Terhadap Anak Secara umum kekerasan didefinisikan sebagai suatu tindakan yang dilakukan satu individu terhadap individu lain yang mengakibatkan gangguan fisik dan atau mental. jadwal belajar yang tidak sesuai dengan kegiatan anak.

142 . Kasus kekerasan yang dilaporkan ke LPA Sulawesi Selatan maupun yang diberitakan oleh media massa. serta kekerasan fisik. berupa perkosaan.yang merupakan bagian dari kekerasan dalam rumah tangga (domestic violence). tukang kebon. Pelaku kekerasan di sini karena bertindak sebagai caretaker. nenek. ibu dan bapak tiri. tetangga. paman. maka mereka umumnya merupakan orang terdekat di sekitar anak. pencabulan. seksual. Kekerasan masih mendominasi laporan yang masuk ke Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Sulawesi Selatan. maupun emosi. didominasi oleh kasus kekerasan seksual. Ibu dan bapak kandung. teman. guru. dengan pelaku utama adalah orang-orang terdekat (Tabel 9. seperti orang tua/keluarga. supir pribadi. dan seterusnya. dan pelecehan. kakek. Demikian juga. Menurut Indra Sugiarno Kekerasan pada anak atau perlakuan salah pada anak adalah suatu tindakan semena-mena yang dilakukan oleh seseorang seharusnya menjaga dan melindungi anak (caretaker) pada seorang anak baik secara fisik. kekerasan terhadap anak masih mendominasi pemberitaan di Media Massa yang terbit di Kota Makassar. guru. tukang ojek pengantar ke sekolah.2). dan pacar.

Tabel 9.2. Data Kekerasan Anak Di Sulawesi Selatan (2002-2010)
Variabel 200 2 200 3 200 4 200 5 200 6 200 7 200 8 200 9 2010* )

Kekerasa n seksual Kekerasa n fisik Lain-lain*) Total

70 69 60 199

82 77 49 208

92 88 94 274

99 92 90 281

98 96 99 293

99 103 105 307

132 124 92 348

77 110 68 255

82 59 30 171

Keterangan : Kekerasan seksual (pencabulan, pelecehan, perkosaan) Kekerasan fisik (di sekolah, rumah, jalan, dll) Tahun 2008, data juga diperoleh dari beberapa Polres di Sulawesi Selatan Lain-lain : kekerasan non-fisik, penelantaran, eksploitasi, penculikan, penipuan, dan pemalakan. *) Sampai Oktober 2010

Hanya 18 %, pelaku kekerasan adalah orang tidak mempunyai hubungan dengan korban. Artinya sebanyak 82 %, pelaku kekerasan terhadap anak adalah orang-orang dekat dengan korban. Yang perlu mendapat perhatian dari tabel di atas adalah meningkatnya kasus kekerasan seksual di Sulawesi Selatan. Tahun 2010, sampai bulan Oktober terdapat 82 kasus kekerasan seksual. Di samping itu, meningkatnya kasus inses (hubungan seksual dalam lingkungan keluarga) dan bentuk perkosaan terhadap anak. Sepanjang tahun 2010, terdapat 8 143

kasus inses di Sulawesi Selatan dengan korban anak dan pelaku adalah ayah kandung, paman, dan kakek. Sementara angka kekerasan fisik pada tahun 2010, mengalami penurunan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kekerasan fisik terhadap anak masih seputaran di sekolah dan di rumah tangga. Angka kekerasan fisik yang mengalami penurunan menunjukkan kesadaran di tingkat masyarakat. Berdasarkan data Dinas Sosial, untuk tahun 2009 - 2010 tercatat tindak kekerasan pada anak sebagaimana tabel berikut. Jumlah anak korban tindak kekerasan menurun dari tahun 2009 ke tahun 2010, namun bila dicermati maka akan nampak bahwa terjadi peningkatan kasus pada anak laki-laki dari 120 menjadi 137. Jumlah inipun hanya kasus-kasus yang terlaporkan. Kasus kekerasan pada anak seringkali tidak dilaporkan, karena pemahaman masyarakat yang relatif rendah, yang berpendapat bahwa mereka tidak berkepentingan terhadap anak-anak diluar keluarga mereka dan juga faktor budaya malu dan tersinggung jika kasusnya dilaporkan.

144

Tabel 9.3. Rekapitulasi Data Korban Tindak Kekerasan (KTK) Anak Berdasarkan Jenis Kelamin Di Propinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009-2010
PROVINSI SULSEL MAKASSAR GOWA PARE PARE BANTAENG SOPPENG TANA TORAJA PALOPO MAROS BARRU SIDRAP PINRANG WAJO BONE ENREKANG LUWU LUWU UTARA TAKALAR JENEPONTO BULUKUMBA SINJAI SELAYAR PANGKEP LUWU TIMUR JUMLAH KORBAN TINDAK KEKERASAN (KTK) Tahun 2009 ANAK JUMLAH L P 6 3 11 3 7 11 6 5 9 7 5 5 11 0 2 6 7 5 3 3 0 2 3 120 21 25 45 38 32 71 51 22 35 24 42 44 46 23 43 48 39 32 29 35 39 11 15 810 27 28 56 41 39 82 57 27 44 31 47 49 57 23 45 54 46 37 32 38 39 13 18 930 KORBAN TINDAK KEKERASAN (KTK) Tahun 2010 ANAK JUMLAH L P 4 2 15 7 9 6 8 2 6 4 7 1 15 1 5 3 9 2 7 5 5 5 9 137 15 28 36 26 12 71 51 30 17 18 22 19 19 15 29 33 28 25 22 26 25 19 27 613 19 30 51 33 21 77 59 32 23 22 29 20 34 16 34 36 37 27 29 31 30 24 26 750

Sumber Data : Dinsos Prov. Sulsel

145

146 .

sehingga kesetaraan dan keadilan gender dimasa mendatang dapat lebih optimal.BAB X. Kesimpulan Dalam rangka memperoleh efek pengganda. Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dalam kaitan statistik gender bertujuan untuk mengidentifikasi jenis data dan informasi yang diperlukan sebagai bahan penentuan kebijakan masalah sosial. dan praktek-praktek terbaik dapat terwujud serta diharapkan tercipta kemampuan masyarakat untuk menyeleksi informasi. PENUTUP 10.1. baik pembangunan nasional dan daerah maupun antara daerah dan sektor serta mancanegara sebagai alat perjuangan untuk kepentingan nasional. Peningkatan kualitas hidup perempuan diharapkan menjadi bagian dari keluarga yang merupakan basis utama terbentuknya generasi sekarang dan masa yang akan datang. oleh karena itu pengkajian kebijakan 147 . diselenggarakan melalui pengarusutamaan gender dalam setiap proses dan tahapan perencanaan pembangunan daerah di rasakan belum sempurna. agar tercipta rasa saling percaya serta menjaga kesenjangan informasi yang dapat menimbulkan disintegrasi bangsa. strategi pemberdayaan perempuan akan menjadi salah satu instrumen yang penting dalam penyelenggaraan pemerintahan. sekaligus untuk membangun jaringan system informasi yang diperlukan antara lain meningkatkan fungsi koordinasi yang terpadu dalam penyediaan informasi yang benar dan bertanggung jawab serta mendorong peningkatan kualitas pelayanan data dan informasi pembangunan melalui multi media agar proses sosialisasi. advokasi.

dan Monev. sebagai bagian dari keluarga yang merupakan basis terbentuknya generasi sekarang dan masa mendatang.2. Kesemuanya saling melengkapi dan masingmasing memberi umpan balik artinya perencanaan yang telah disusun dengan baik. mulai tahap perencanaan (ex-ante evaluation. Untuk itu evaluasi menjadi penting. tidak ada artinya jika tidak dapat dilaksanakan. Rekomendasi Statistik Gender merupakan kegiatan dari fungsi management yang saling terkait dan tidak dapat dipisahkan dari perencanaan. 1). selesai (ex-post 148 . Demikian juga sebaliknya setiap pelaksanaan tidak akan berjalan lancar jika tidak didasarkan kepada perencanaan yang baik. 10. terutama memperkuat dan mendorong kemandirian lembaga-lembaga yang memiliki visi yang sama terhadap pemberdayaan perempuan. pelaksanaan. untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan yakni . Dengan demikian program di bawah ini merupakan rekomendasi untuk lebih memperkuat peran masyarakat dan kelembagaan dalam pembangunan pemberdayaan perempuan. tahap pelaksanaan (on-going evaluation) dan saat program/kegiatan evaluation). Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan Tujuan program ini adalah untuk meningkatkan kedudukan dan peran perempuan sebagai mahluk individu yang merupakan insan dan sumberdaya pembangunan.pembangunan diperlukan dalam rangka mencari alternative-alternative kebijakan yang efektif.

b). serta pengembangan mata pelajaran atau mata kuliah yang berkaitan dengan jender pada lembaga-lembaga penataran guru dan pendidikan penjenjangan. keahlian. Pengembangan metoda dan pendekatan pembelajaran baik intra maupun ekstra kurikuler yang lebih berwawasan jender. dan evaluasi dari seluruh kebijakan dan program pembangunan pendidikan. pelaksanaan. program pendidikan harus dilakukan dengan menggunakan pendekatan khusus yang memungkinkan penduduk usia sekolah. pengawasan. Pada daerah-daerah terpencil. dalam situasi konflik. dan f). dan pendidikan yang selama ini lebih dianggap cocok untuk laki-laki. Penurunan angka buta huruf.Di bertujuan bidang pendidikan. 149 . e). program ini secara khusus untuk meningkatkan partisipasi perempuan dalam pendidikan. Evaluasi dan penataan materi bahan ajar agar lebih peka gender di seluruh jenjang dan jenis pendidikan. dan membenahi materi bahan ajar. d). tetap dapat berpartisipasi dalam pendidikan. dan darurat. proses pembelajaran. c). dan masyarakat. baik di lingkungan pendidikan sekolah maupun luar sekolah.Peningkatan peran aktif perempuan dalam seluruh proses perencanaan. Kegiatan-kegiatan pokok yang akan dipersiapkan adalah: a). termasuk bidang-bidang kejuruan. dan peningkatan partisipasi perempuan pada semua jenis dan jenjang pendidikan. dan pengelolaan pendidikan. terutama bagi para perencana dan pengambil keputusan—termasuk orang tua. baik perempuan maupun laki-laki. kepala sekolah. guru. melalui berbagai media. Sosialisasi kesetaraan dan keadilan jender dalam pendidikan.

Peningkatan peran aktif perempuan dalam proses perencanaan. bantuan pendampingan dan pemulihan/kompensasi bagi korban. a). Pembuatan UU dan peraturan-peraturan yang diperlukan dalam upaya menegakkan hak-hak perempuan. Ratifikasi Konvensi PBB tentang Larangan Perdagangan Perempuan dan Anak. seperti UU Anti Kekerasan. e). i). b). Penegakan Hukum dan Hak Azasi Manusia bagi Perempuan . lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan organisasi perempuan dalam rangka penegakan hukum. Perbaikan sistem dan perangkat hukum yang dapat menunjang penegakan hak azasi perempuan antara lain melalui pemberian hukuman semaksimal mungkin bagi para pelaku kejahatan serta memberikan pelayanan dan kompensasi bagi para korban kejahatan. d). struktur maupun budaya hukumnya. Sosialisasi "budaya damai" agar perempuan terhindar dari berbagai bentuk kekerasan. Peningkatan akses masyarakat. g).2. Tujuan program ini adalah untuk mendukung terciptanya sistem hukum nasional yang tidak diskriminatif dan berkeadilan gender. j). h). dana. pengawasan. f). terutama perempuan untuk memperoleh informasi dan sumberdaya hukum.Penciptaan sistem perlindungan bagi perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga dan tempat kerja. penciptaan sistem komunikasi dan kerjasama antara institusi penegak hukum dengan organisasi masyarakat. k) Penciptaan sistem perlindungan dan 150 . baik dalam hal substansi. pelaksanaan. terutama dalam penyelesaian masalah-masalah khusus perempuan. serta menegakkan hak azasi manusia (HAM) yang merugikan perempuan yakni . Perumusan dan penerapan kebijakan dan tindakan khusus bagi upaya promosi aparat penegak hukum perempuan serta penanganan kasus-kasus perempuan. dan evaluasi kebijakan dan program pembangunan hukum dan HAM. seperti bantuan hukum.

eksekutif. dan yudikatif. efektif dan menyeluruh. termasuk pengembangan materi dan bahan KIE untuk gender mainstreaming. antara lain melalui penyediaan data dan informasi yang dibedakan menurut jenis kelamin. a). KIE (Komunikasi. e). 1). Penguatan Peran Masyarakat dan Pemampuan Kelembagaan Tujuan program ini adalah untuk memperkuat peran aktif masyarakatl. Pembentukan tim khusus pelanggaran HAM terhadap perempuan 3. Peningkatan kemampuan dan kapasitas institusi-institusi pemerintah untuk melakukan gender mainstreaming dalam proses perencanaan. b). Informasi. pengembangan sistem informasi jender. pemantauan dan evaluasi pembangunan. serta masyarakat secara keseluruhan. termasuk TNI dan Kepolisian RI. Pembuatan undang-undang dan peraturan-peraturan yang melindungi pekerja kemanusiaan dan pelapor tindak pelanggaran HAM. d). pelaksanaan. c). 151 . dan m). Intensifikasi kegiatan penelitian dan pengembangan tentang masalah-masalah jender. Pengembangan berbagai alat dan metode. termasuk organisasi perempuan. meningkatkan peran dan kemandirian lembaga-lembaga yang memiliki visi pemberdayaan perempuan. serta mewujudkan hubungan kemitraan yang efektif antara pemerintah dan lembaga-lembaga masyarakat yakni . meningkatkan kapasitas dan kemampuan institusi-institusi pemerintah dalam melakukan gender mainstreaming dalam setiap tahap dan proses pembangunan. dan Edukasi) mengenai kesetaraan dan keadilan jender di lingkungan lembaga-lembaga legislatif.penanganan khusus bagi perempuan dalam situasi konflik maupun kerusuhan yang bersifat penanganan segera. melalui peningkatan keterampilan dan keahlian serta pembentukan unit gender mainstreaming di setiap instansi pemerintah.

termasuk pemanfaatan dan pendayagunaan hasilnya. Penciptaan hubungan kemitraan yang efektif antara pemerintah dengan masyarakat sipil dan lembaga-lembaga masyarakat yang memiliki visi pemberdayaan perempuan. melalui peningkatan keterampilan dan keahlian untuk lebih dapat menemukenali dan mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi perempuan. dan g). f). 152 . termasuk organisasi-organisasi perempuan yang ada di pusat maupun di daerah. serta bersama-sama pemerintah merumuskan kebijakan dan program pembangunan. Peningkatan kemampuan dan kapasitas lembaga-lembaga masyarakat yang memiliki visi pemberdayaan perempuan.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.