BAB I.

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa dan didorong oleh keinginan luhur untuk berperikehidupan yang bebas, bersatu, adil dan makmur sebagaimana diisyaratkan dalam Pancasila dan UUD 1945, oleh karena itu pembangunan daerah Sulawesi Selatan diwujudkan melalui penyelenggaraan pemerintah daerah yang berkedaulatan rakyat, demokratis dan pengarusutamaan gender untuk meningkatkan kesejahteraan dan keadilan gender. Paradigma pembangunan yang sentralistik dan birokratis, merupakan faktor penyebab hasil-hasil pembangunan menjadi tidak merata antardaerah, antar sektor, antar wilayah dan golongan sehingga diperlukan sebuah pendekatan baru yang mampu menjawab tantangan ke depan, oleh karena itu keberadaan Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dan Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) dan PERDA No. 2 Tahun 2010 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Daerah, merupakan peluang sekaligus tantangan di Sulawesi Selatan penyusunan kebijakan program yang berperspektif gender. Meskipun berbagai upaya pembangunan telah banyak dilakukan, namun masih dijumpai berbagai kesenjangan gender, utamanya peluang dan akses terhadap sumberdaya pembangunan. Permasalahan pengarusutamaan gender ditinjau dari aspek manajemen adalah : dalam

1

-

Kurangnya pemahaman dan komitmen para stakeholders, akan

pentingnya data dan indikator gender dimulai dari penyusunan perencanaan sampai pada tahap evaluasi dan berakhir pada penentuan kebijakan. Kurangnya penciptaan akses masyarakat ke input ketersediaan data dan indikator serta analisis gender terhadap pemerintah. Kebijakan pemerintah Sulawesi Selatan diarahkan untuk membangun partisipasi masyarakat dalam mendukung terwujudnya kesetaraan dan keadilan gender di dalam masyarakat, maka pembangunan pada prinsipnya untuk meningkatkan kualitas hidup manusia tanpa membedakan suku, agama, ras dan jenis kelamin secara terencana, bertahap, komprehensif dan berkesinambungan, dengan melibatkan partisipasi stakeholder yang meliputi pemerintah, dunia usaha dan masyarakat yang menjadi kunci keberhasilan pelaksanaan pembangunan dalam penyusunan statistik indikator gender baik untuk kepentingan Nasional maupun Daerah. Selanjutnya kebijakan Pembangunan Pemberdayaan Perempuan di dalam RPJMD Provinsi Sulawesi Selatan 2008-2013 diarahkan untuk membangun partisipasi masyarakat dalam mendukung terwujudnya kesetaraan dan keadilan gender di masyarakat yang diwujudkan beberapa program aksi sebagai berikut : 1). Peningkatan kesempatan bagi kaum perempuan untuk menikmati pendidikan disemua jenjang, sehingga mereka memiliki posisi tawar yang tinggi menuju terciptanya kesetaraan dan keadilan gender; 2). Peningkatan partisipasi masyarakat dalam ikut menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu dan anak serta peran serta masyarakat dalam menjaga kesehatan reproduksi termasuk dalam keluarga berencana; 3). Peningkatan akses kaum perempuan untuk berusaha di

2

bidang ekonomi produktif, termasuk mendapatkan modal pelatihan usaha, program perluasan kesempatan kerja dan informasi pasar sehingga dapat mendorong lahirnya kemandirian kaum perempuan dalam berwirausaha; 4). Peningkatan partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan dan perumusan kebijakan, sehingga tercipta keseimbangan perempuan diberbagai sektor.; 5). Peningkatan perlindungan terhadap perempuan dan anak guna mencegah terjadinya diskriminasi, eksploitasi, kekerasan dan bahkan tindak perdagangan perempuan dan anak (trafikking) yang dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip keterpaduan dan keseimbangan. Dalam rangka implementasi strategi dan kebijakan pengarusutamaan gender, diperlukan ketersediaan data dan informasi gender sebagai dasar analisis dan bahan perumusan program/kegiatan prioritas yang berperspektif gender. Oleh karenanya ketersediaan data dan informasi gender ini menjadi suatu keharusan dalam perumusan program/kegiatan prioritas yang memperhatikan kebutuhan, pengalaman, dan aspirasi yang berbeda antara laki-laki dan perempuan, sehingga dapat mengoptimalkan akses, partisipasi, control dan manfaat penduduk laki-laki dan perempuan dalam setiap tahapan pembangunan di semua bidang. 1.2. Tujuan Tujuan dari penyusunan statistik gender sebagai berikut : • Meningkatkan ketersediaan data dan informasi statistik gender di Sulawesi Selatan, sebagai bahan analisis gender dalam rangka perumusan program/kegiatan yang berperspektif gender.

3

SENSUS PENDUDUK dan SDKI. 1. Proses pengolahan data dilaksanakan secara institusional yaitu dengan mengumpulkan data primer dan sekunder meliputi data kondisi fisik dari studi kepustakaan (berbagai laporan) dan literatur seperti berbagai kebijakan yang dilaksanakan oleh SKPD lingkup Pemeintah Provinsi Sulawesi Selatan. Sumber dan Proses Pengolahan Data Untuk penyusunan statistik gender digunakan data sekunder yang utamanya berasal dari hasil registrasi dan pencatatan pada setiap SKPDSKPD yang terkait dan data dasar hasil survei-survei yang dilakukan BPS seperti SUSENAS. Skema pengolahan data digambarkan dibawah sebagai berikut : 4 . baik data kuantitatif maupun kualitatif dan selanjutnya melalui brain storming. dan evaluasi kebijakan dan program daerah.3. Untuk mendukung data tersebut juga digunakan data hasil penelitian yang dilakukan PSW/PSG/Lemlit di masing-masing wilayah. SAKERNAS. pemantauan. pelaksanaan.• Meningkatkan pemahaman dan komitmen akan pentingnya data dan indikator gender bagi penyusunan perencanaan.

Landasan Hukum Komitmen Pemerintah Indonesia terhadap upaya mewujudkan kesetaraan dan keadilan Gender dilandaskan atas pasal 27 Undang-undang Dasar 1945 yang menerapkan asas persamaan antara laki-laki dan perempuan di muka hukum. seperti Konvensi Penghapusan segala Betuk Diskriminasi terhadap Perempuan (Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women) CEDAW yang diratifikasi ke dalam Undang-undang No.PROSES PENGOLAHAN DATA U M P A N B A L I K Inventarisasi Data Observasi/wawancara Laporan Dokumen Pengolahan Data/Analisa Indikator Program Pencapaian/Penilaian Tujuan/Sasaran Pengembangan/Rekomendasi Dampak 1. 7 Tahun 1984.4. serta landasan Aksi dan deklarasi 5 . Untuk memperkuat pemerintah RI telah meratifikasi beberapa konvensi International dan menandatangai beberapa kesepakatan International.

5. Bab V. Berdasarkan Human Development Index tahun 1997 dan Undang-Undang No. Pendidikan. Bab IX. Ruang Lingkup Ruang lingkup statistik gender mencakup seluruh aspek pembangunan di bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.Pendahuluan . Bab III. 1. Bab II. Perda No. Bab VI. Bab VII. Bab I. Bab X. Bab VIII. Kesehatan . Demografi. 10 tahun 2008 tentang RPJPD. Kegiatan Ekonomi . Provinsi Sulawesi Selatan. Penutup. 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. 6 . Bab IV.Beijing tahun 1995. Gambaran Umum Kondisi Wilayah . Perda No. Sektor Publik . Kekerasan Terhadap Perempuan. 10 tahun 2008 tentang RPJMD. disusun dengan sistimatika meliputi. Masalah Anak .

Kondisi Kemiringan tanah 0 sampai 3 persen merupakan tanah yang relatif datar.519. Lima danau besar menjadi rona spesifik wilayah ini. Terdapat sekitar 65 sungai yang mengalir di provinsi ini. lebih dari 45 persen tanahnya curam dan bergunung. serta berbatasan dengan Selat Makassar di sebelah barat dan Laut Flores di sebelah timur.1.BAB II. 3 sampai 8 persen merupakan tanah relatif bergelombang. yang tiga di antaranya yaitu Danau Matana. yang berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Barat di sebelah utara dan Teluk Bone serta Provinsi Sulawesi Tenggara di sebelah timur. Danau Towuti dan Danau Mahalona di 7 . Luas wilayah Provinsi Sulawesi Selatan khususnya wilayah daratan mempunyai luas kurang lebih 45. 8 sampai 45 persen merupakan tanah yang kemiringannya agar curam. dimana sebagian besar wilayah daratnya berada pada jazirah barat daya Pulau Sulawesi serta sebagian lainnya berada pada jazirah tenggara Pulau Sulawesi.1. GAMBARAN UMUM KONDISI WILAYAH 2. Geografis Secara geografis wilayah darat Provinsi Sulawesi Selatan dilalui oleh garis khatulistiwa yang terletak antara 0012’~80 Lintang Selatan dan 1160 48’~122’ 36’ Bujur Timur.1. Wilayah daratan terluas berada pada 100 hingga 400 meter DPL. dengan jumlah sungai terbesar ada di bagian utara wilayah provinsi ini. Topografi Wilayah Sulawesi Selatan membentang mulai dari dataran rendah hingga dataran tinggi. 2. dan sebahagian merupakan dataran yang berada pada 400 hingga 1000 meter DPL.24 km2.

di deretan pegunungan sebelah barat dan timur Ujung Lamuru sampai Bukit Matinggi. di selatan Palopo sampai Umpu. Formasi batuan ini ditemukan di sekitar Limbong (Luwu Utara). Alluvium kwarter. Batuan volkan kwarter. Geologi Struktur geologi batuan di Provinsi Sulawesi Selatan memiliki karakteristik geologi yang dicirikan oleh adanya berbagai jenis satuan batuan yang bervariasi.1. Struktur dan formasi geologi wilayah Provinsi Sulawesi Selatan terdiri dari volkan tersier. Sungai Cenrana di dataran antara Takalar – Sumpang Binangae (Barru). bagian barat Pulau Selayar. 2. di selatan Parepare. Sinjai sampai Tanjung Pattiro. Pegunungan Perombengan sampai Palopo. Kapur kerang terdapat di sebelah barat memanjang antara Enrekang sampai Rantepao. di sekitar Sinjai serta di Rantepao (Tana Toraja) dan Camba (Maros). Sebaran formasi volkan tersier ini relatif luas mulai dari Cenrana sampai perbatasan Mamuju. di Pegunungan Bone Utara sebelah barat Watampone.2. serta dua danau lainnya yaitu Danau Tempe dan Danau Sidenreng yang berada di Kabupaten Wajo. di dataran Palopo – Malili. dan di Tanjung Bira (Bulukumba). di sekitar Sungai Mamasa. dijumpai di dataran sepanjang lembah sungai antara Sungai Saddang dan Danau Tempe. daerah Pegunungan Salapati (Quarles) sampai Pegunungan Molegraf. sekitar Gunung Karua (Tana Toraja) dan di Gunung Lompobatang (Gowa). dari Makale sampai utara Enrekang.Kabupaten Luwu Timur. utara Parepare. 8 .

dan Pinrang dialiri oleh sungai terpanjang yakni sungai Saddang (150 km). ungu. sedangkan granodiorit dijumpai di barat laut Sasak. napal. yaitu di bagian timur Pangkajene sampai di timur Maros. Tersebar di bagian utara Provinsi Sulawesi Selatan. Batuan plutonik masam. di sebelah tenggara Barru dan di Bukit Tanjung Kerambu di Kabupaten Pangkep. formasi ini ditemukan di beberapa tempat seperti di bagian barat Sabbang (Luwu Utara). Formasi ini ditemukan di daerah Tana Toraja (Pegunungan. Kambung dan di sebelah barat Masamba) batuan terdiri dari serpih.1. Enrekang. terdapat sekitar 65 sungai mengaliri berbagai kabupaten khususnya yang berada di dataran tinggi. di Gunung Maliowo dan Gunung Karambon. Di antara Masamba dan Leboni. dari Sengkang ke tenggara sampai Rarek dan ke selatan sampai Sinjai. dan hijau. 2. Batuan sedimen neogen. batu pasir. Batuan sedimen mesozoikum. di Pulau Selayar bagian timur dan di selatan Sinjai sampai Kajang. memanjang di bagian timur lembah Walane dan di tenggara Sungai Sumpatu. Kabupaten Tana Toraja. Hidrologi Pada wilayah Provinsi Sulawesi Selatan. biru. Di wilayah Luwu terdapat 25 aliran sungai.Sekis hablur. Pegunungan Latimojong.3. sebelah timur Masamba memanjang dari utara Enrekang sampai Pompanua. batu tulis. DAS Jeneberang meliputi wilayah 8 (delapan) 9 . dijumpai di bagian timur Malili dan tersebar sebagai intrusi antara lain di bagian utara Palopo. penyebarannya di sekitar Lodong. Batuan sediment paleogen. konglomerat yang umumnya berwarna merah. ditemukan di sekitar Sungai Mamasa. Batuan plutonik basa.

Berdasarkan klasifikasi tipe iklim menurut Oldeman. sementara di wilayah Luwu terdapat danau Matana dan Towuti.4.kabupaten di bagian selatan Sulawesi Selatan.427 Ha.607 Ha dan kawasan hutan seluas 204. Danau Tempe dan Sidenreng terdapat di Kabupaten Wajo dan sekitarnya. Formasi Walanae merupakan suatu formasi lapisan batuan pembawa air yang bersifat tertekan dengan debit kecil sampai sedang. 2. Klimatologi Provinsi Sulawesi Selatan terdapat dua musim. yaitu Tipe iklim A termasuk kategori iklim sangat basah dimana curah hujan rata-rata 3500-4000 mm/tahun. Provinsi Sulawesi Selatan memiliki 5 jenis iklim. Wilayah tipe ini terbagi 2 tipe yaitu (B1) meliputi 10 . Tipe Iklim B. endapan formasi walanae serta pada lembah-lembah yang ditempati oleh endapan batuan formasi Camba.1. yaitu musim hujan dan musim kemarau. Luwu Utara dan Luwu Timur. mencakup wilayah seluas 825. termasuk iklim basah dimana Curah hujan rata-rata 3000 – 3500 mm/tahun. Luwu. November sampai Maret angin bertiup sangat banyak mengandung uap air yang berasal dari Benua Asia dan Samudera Pasifik sehingga pada bulan-bulan tersebut sering terjadi musim hujan. sementara di Gowa dan Makassar mengalir sungai Jeneberang. Air tanah bebas dijumpai pada endapan alluvial dan endapan pantai. termasuk kota Makassar. Pada wilayah bagian tengah wilayah Sulawesi Selatan. Wilayah yang termasuk ke dalam tipe ini adalah Kabupaten Enrekang. dimana musim hujan bervariasi dari satu daerah ke daerah yang lain. Sungai Walanae mengalir di kawasan Bone dan Wajo.

Sinjai. Tana Toraja. Tipe iklim C termasuk iklim agak basah dimana Curah hujan ratarata 2500 – 3000 mm/tahun. Luwu. Tipe B2 meliputi Gowa. dan Selayar. 11 . Tipe iklim E1 terdapat di Kabupaten Maros. dan Tana Toraja.Kabupaten Tana Toraja. Tipe iklim C terbagi 3 yaitu Iklim tipe C1 meliputi Kabupaten Wajo. Wilayah yang termasuk ke dalam iklim D2 terdiri dari Kabupaten Wajo. Takalar. Bulukumba. dan Bantaeng. Jeneponto. Gowa. Barru. Pangkep. Sinjai dan Kota Makassar Tipe iklim E dengan Curah hujan rata-rata antara 1500 – 2000 mm/tahun dimana tipe iklim ini disebut sebagai tipe iklim kering. Parepare. Bone dan Enrekang. Bone. Soppeng. Pangkep. Sejarah Sebelum Proklamasi RI. Enrekang. Pangkep. Sedangkan tipe iklim C3 terdiri dari Makassar. Enrekang. dan Maros. Bantaeng. Luwu Utara. Iklim C2 meliputi Kabupaten Bulukumba. Makassar. Enrekang. Soppeng. Wilayah yang termasuk iklim D3 meliputi Kabupaten Bulukumba. Bulukumba. 2. Selayar. Bugis. Bone. Barru. Luwu. Tipe iklim D dengan Curah hujan rata-rata 2000 – 2500 mm/tahun. Tipe iklim ini terbagi 3 yaitu Wilayah yang masuk ke dalam iklim D1 meliputi Kabupaten Wajo. Tipe iklim E2 terdapat di Kabupaten Maros. dan Enrekang. Bantaeng. Mandar dan Toraja. Tana Toraja.2. Maros dan Jeneponto. Jeneponto. Gowa. Sinjai. Luwu Timur. Luwu. terdiri atas sejumlah wilayah kerajaan yang berdiri sendiri dan didiami empat etnis yaitu . Maros. Sulawesi Selatan.

Pasewang 1956 – 1959 A. Periode Gubernur : I. India.1956 Lanto Dg. Amiruddin (Dua periode) 12 . Gubernur Sulawesi Selatan dan Tenggara : 1959 – 1960 A. Gubernur Sulawesi 1945 – 1949 DR. yang pada abad ke XVI dan XVII mencapai kejayaannya dan telah melakukan hubungan dagang serta persahabatan dengan bangsa Eropa. G.S. Gubernur Sulawesi Selatan 1966 – 1978 Ahmad Lamo (Dua periode) 1978 – 1983 Andi Oddang 1983 – 1993 A. sehingga menjadi daerah otonom Sulawesi Selatan. Burhanuddin 1953 . Gowa dan Bone. Ratulangi 1950 – 1951 B.Ada tiga kerajaan besar yang berpengaruh luas yaitu Luwu. Setelah kemerdekaan. Pemisahan Sulawesi Selatan dari daerah otonom Sulawesi Selatan dan Tenggara ditetapkan dengan UU Nomor 13 Tahun 1964. Cina.J. S. III. Sudiro 1953 – A. Pangerang Pettarani II. Melayu dan Arab. dikeluarkan UU Nomor 21 Tahun 1950 dimana Sulawesi Selatan menjadi propinsi Administratif Sulawesi dan selanjutnya pada tahun 1960 menjadi daerah otonom Sulawesi Selatan dan Tenggara berdasarkan UU Nomor 47 Tahun 1960. Pangerang Pettarani 1960 – 1966 A. Rivai. W. A. Lapian 1951 – 1953 R.

Komunitas pedesaan terdiri dari nelayan. Rumpun Toraja tersebar di Kabupaten Tana Toraja dan Luwu.Ahmad Tanribali Lamo Pejabat Gubernur Sementara 2008 . terdapat pula keragaman sistem nilai dan norma serta adat-istiadat yang spesifik. Rumpun Makassar dominan berada pada Kabupaten di wilayah Selatan Sulawesi Selatan. Komunitas ini merupakan suatu komunitas berskala kecil namun tetap memiliki kearifan lokal. B.3. Disamping itu berapa komunitas yang berbasis pada aktivitas ekonomi sekunder. petani. antara lain pengrajin besi di Massepe Sidrap dan pengrajin perahu di Bira Bulukumba 13 . Makassar. yang dapat mendorong dinamika perubahan secara lebih kreatif dalam menanggapi spirit zaman. Z.1993 . Sosial Ekonomi dan Budaya Kekayaan dan keragaman budaya dalam tatanan Sulawesi Selatan sangat bervariasi sebagai satu rumpun budaya yang terdiri dari Bugis. Amin Syam 2008 . M. Gambaran ini menunjukkan keragaman budaya yang tersebar pada wilayah yang beragam pula. Di balik keragaman tersebut. Palaguna (Dua periode) 2003 . petambak. Variasivariasi ini terkait pula dengan potensi kearifan lokal yang bisa berkembang dalam tatanan sosial budaya. terkandung pula potensi berkembangnya interaksi sosial dan komunikasi lintas budaya. Rumpun Bugis tersebar di wilayah utara Sulawesi Selatan. Komunitas petani adalah komunitas yang terbesar di seluruh wilayah Sulawesi Selatan.2003 H.Syahrul Yasin Limpo sekarang 2.2008 H. dan Toraja. dan pengrajin. Selain itu.

demikian pula dengan komunitas nelayan yang telah menyatu dengan pantai dan laut. Senyatanya. sehingga mereka dapat memprediksi lebih awal kondisi dan permasalahan yang akan terjadi baik di pantai maupun di laut. Disamping itu juga terdapat komunitas tradisional yang mampu bertahan di antaranya adalah komunitas Ammatoa di Kajang Bulukumba. komunitas ini benar-benar merupakan suatu komunitas yang memiliki karakteristik tersendiri. Aluk Todolo di Toraja. memahami kapan waktu yang tepat untuk mulai menanam serta bagaimana menangani hama. 14 . Pada era globalisasi.yang berkaitan dengan sumberdaya alam yang ada disekitarnya. Komunitas ini masih tetap eksis walaupun secara sosial dikelilingi oleh berbagai informasi dan iptek namun karakteristik tetap dipertahankan. Komunitas petani misalnya. Pua Cerekang di Luwu. Disamping itu juga umumnya masih mengalami masalah persyaratan dalam mengakses permodalan pada kelembagaan keuangan seperti Bank Rakyat yang ditawarkan pemerintah melalui berbagai program perkreditan. Tolotang di Sidrap. eksistensi keberadaan beberapa komunitas yang terkait dengan sektor pertanian masih ada yang mengalami ketertinggalan akibat dari ketidakmampuan bersaing dengan berbagai produk lainnya yang beredar dipasaran. Karangpuang di Sinjai.

Justru itu. Jumlah Penduduk dan Rasio Jenis Kelamin Penduduk merupakan salah satu sumber daya potensial dalam menunjang aktifitas pembangunan bangsa dan negara. Kontribusinya terhadap suatu daerah sangat ditentukan oleh tingkat partisipasi kerja. Dalam berbagai kegiatan pembangunan atau produksi. Namun bila tidak dimanfaatkan seefektif dan seefisien mungkin. Keberadaan penduduk sebagai obyek dan subyek pembangunan diharapkan mampu mengembangkan kreatifitasnya dengan segala kemampuan yang dimiliki untuk pencapaian tujuan pembangunan yaitu untuk meningkatkan harkat dan martabatnya agar dapat menikmati hasilhasil pembangunan secara adil dan merata.BAB III. penduduk termasuk kategori aset atau modal pembangungan yang sifatnya dinamis. Propinsi Sulawesi Selatan sendiri tidak terlepas dari hal tersebut. Perwujudan hal tersebut. Penduduk Sulawesi Selatan berdasarkan DAU Tahun 2009 berjumlah 15 . dapat pula menimbulkan pengangguran. Kedudukannya sebagai Sumber Daya Manusia memegang peranan penting karena berfungsi menggerakkan faktor-faktor produksi dan jasa lainnya.1. penduduk berfungsi sebagai penyedia tenaga kerja. tentunya hanya bisa dicapai melalui peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia serta mengarahkannya secara profesionalisme. dimana penduduknya yang teridi dari laki-laki dan perempuan mempunyai peluang yang sama dalam pasar tenaga kerja untuk menempatkan dirinya sebagai tenaga kerja. penduduk cenderung menjadi tidak produktif dan bahkan semakin menambah beban bagi negara atau daerah tertentu. DEMOGRAFI 3. Populasi penduduk kadang kala menjadi dilematis karena di samping tersedianya banyak tenaga kerja.

Wajo 178.718 Jumlah . Tana Toraja 236.519 jiwa yang tersebar di 24 kabupaten/kota.810 74. . Enrekang 96. Tabel.676 172.803 128.271.071.285 233.094 385.104 13. Sinjai 110.92 94.908.659 02. Luwu Timur 119.308 155.Jumlah Penduduk dan Rasio Jenis Kelamin menurut Kabupaten/Kota di Sulawesi Selatan.53 84.836.Total 2009 3.184 17.548 4.763. Sidrap 124.501 136. 2008.747 72.738 06. Bone 326.2009 Kabupaten/Kota (1) (2) Laki-Laki Male Perempuan Rasio Jenis Kelamin Female Sex Ratio (3) (5) 63.44 92. Selayar 58.17 106. Maros 147. hal ini tercermin dari angka rasio jenis kelamin yang lebih kecil dari 100.78 93. yang berarti penduduk Laki-laki di dua daerah tersebut lebih besar dari jumlah penduduk perempuan.563 85..060 654.870 118.1.891 11. Pare Pare 57.35 92.674 05.09 93.57 101.146 15.085 Sumber : BPS Provinsi Selatan (DAU 2009) 16 .01 91.27 95.110 118. Gowa 305.123 61.210 09.72 89.031 22.337 178. Pinrang 172 607 16.71.435 94..98 90. Jeneponto 161.764 4. Bulukumba 188. jumlah penduduk yang berjenis kelamin perempuan lebih banyak dari penduduk yang berjenis kelamin Laki-laki.22 101.689 90.3.090 206..640 202. Makassar 617.895 18. Barru 77.236 312.392 162. 057 03.939 92.24 93.109 25.10 01.294 26.550 12.971 2008 3.477 155. Secara keseluruhan.225 08.263 14.36 97. Toraja Utara . Luwu 165.7.500 04. dengan jumlah penduduk terbesar yakni 1.31 92.05 94.77 88.90 96. Palopo 71. Soppeng 108. Luwu Utara 166. Hanya di daerah Kabupaten Luwu dan Luwu Utara yang menunjukkan angka rasio jenis kelamin lebih besar dari 100. Pangkep 143.99 92.202 07.032 73. Takalar 121.870 jiwa mendiami Kota Makassar.73 96.138 10.198 122.90 102.079 159.15 87.041.73 101. Bantaeng 83..

958. maka pada tahun 2009 jumlah penduduk mencapai 7.2. Pembagian klasifikasi umur tentunya disesuaikan dengan konsep-konsep ketenagakerjaan karena 17 . tetapi dapat pula ditinjau berdasarkan komposisi umur. Pertambahan penduduk sekitar 232.57 persen.777 jiwa dan perempuan sebesar 112849 jiwa persen. maka kita dapat memahaminya dari beberapa segi dan tergantung pada kualifikasi kebutuhan data. Jumlah Penduduk menurut Kelompok Umur dan Jenis Menyangkut aspek kependudukan.893 jiwa yang terdiri dari laki-laki 3.908.699 jiwa atau 51. Oleh sebab itu.675.836.626 jiwa (periode 2007 – 2009) ditandai dengan meningkatnya penduduk jenis kelamin lakilaki sebanyak 119.519 jiwa dengan rincian : lakilaki 3. diperlukan langkah-langkah antisipatif dengan jalam membuka lapangan kerja secara luas dan merata ke berbagai daerah Kabupaten.071. Kualitas dan kuantitas penduduk tidak semata-mata dinilai dari jumlahnya.717.194 jiwa atau 48. Apabila ditinjau dari aspek ketenagakerjaan. Pertumbuhan penduduk di masa yang akan datang diperkirakan terus berlangsung dan membawa dampak terhadap semakin menumpuknya domisili penduduk di daerah perkotaan serta bertambahnya tingkat pengangguran. Jika di tahun 2007 jumlah penduduk sebanyak 7.548 jiwa.Penduduk Propinsi Sulawesi Selatan selama periode tahun 2007 – 2008 cenderung mengalami peningkatan. maka gejala kependudukan tersebut akan menunjukkan relatif tingginya penyediaan tenaga kerja untuk jenis kelamin perempuan sehingga peluangnya untuk memasuki lapangan kerja yang tersedia terbuka luas.971 jiwa dan perempuan 4.43 persen dan perempuan sebesar 3. 3. baik untuk jenis kelamin laki-laki maupun perempuan.

024 106.939 Sumber : BPS Provinsi Selatan (DAU 2009) 18 ..31 92.39 40 .10 (2) Jml . 2008.085 4. Sehubungan penjelasan tersebut di atas.805.24 25 .58 109.26 94. maka kondisi penduduk Propinsi Sulawesi Selatan ditunjukkan sebagai berikut : Tabel 3. Tinjauan tenaga kerja berdasarkan kelompok umur.64 65 + Laki-Laki Male 375 198 447 014 431 498 351 712 291 052 301 980 275 764 296 539 237 824 210 957 168 401 135 327 106 189 207 515 Perempuan Jumlah Rasio Female Sex Ratio Jenis Kelamin (3) (5) (6) 352 040 407 851 409 938 362 508 309 477 343 087 311 959 327 183 266 303 228 271 195 258 144 647 144 438 268 589 727 238 854 865 841 437 714 220 600 529 645 067 587 723 623 722 504 127 439 227 363 660 279 973 250 627 476 104 7.25 93.26 97.42 86.34 35 . Termasuk kategori umur produktif adalah tenaga kerja yang berusia 25 sampai 64 tahun.14 15 .548 2008 3.59 60 .519 7...02 88.29 30 .02 94.54 55 .56 73.2009 Kelompok Umur (1) 0–4 5-9 10 .2 .49 50 .sangat erat kaitannya terhadap penyajian data terpilah.40 90.Total 2009 3.60 105.836.071.971 4.Penduduk menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Sulawesi Selatan.041.05 88.63 89. sedangkan umur tidak produktif terdiri dari kelompok usia 0-14 tahun dan di atas 65 tahun.44 45 .908.763.52 77. dibedakan atas 2 (dua) yaitu umur produktif dan umur tidak produktif.19 20 .24 93.

dimana penduduk laki-laki usia muda sebanyak 38.98 persen.46 persen.67 persen lebih kecil dari perempuan yang jumlahnya 62. Pada tahun 2008.378. dan penduduk usia lanjut lanjut yaitu bersuai 60 tahun ke atas sebesar 210.46 persen lebih kecil dari perempuan yang besarnya 8.256. Untuk kategori usia produktif.677 jiwa atau 62. Begitu pula halnya dengan penduduk perempuan yang jumlahnya 4. laki-laki 61. Apabila kita melihat grafik.67 persen.80 persen dan usia lanjut yaitu 60 tahun ke atas sebanyak 381.918 jiwa atau 61.672.87 persen. Pengelompokan umur penduduk pada jenis kelamin laki-laki dan perempuan digolongkan dalam 3 (tiga) tingkatan.22 persen.22 persen. Lebihlanjut dijelaskan perbandingan kedua jenis kelamin berdasarkan kelompok umur.Dalam hal ini penduduk diklasifikasikan menurut kelompok umur dan jenis kelamin degan tujuan agar lebih memahami spesifikasi kependudukan sesuai kepentingannya.98 persen.645 jiwa atau 5.473 jiwa atau 28. penduduk produktif 15-59 tahun 2. laki-laki 5. penduduk jenis kelamin laki-laki yang jumlahnya 3. penduduk produktif (15-59 tahun) sebanyak 2. nampak sangat jelas bahwa pada keloompok usia 0 -14 tahun jumlah penduduk laki-laki lebih besar dibandingkan perempuan.87 persen lebih besar dari perempuan yaitu 28.857.664 jiwa terdiri dari : penduduk usia muda di bawah 15 tahun jumlahnya 1.80 persen. Sementara pada kelompok usia lanjut.084 jiwa secara rinci terdiri atas : penduduk usia muda di bawah 15 tahun sebesar 1. Kenyataan ini menggambarkan pada periode selanjutnya peluang laki-laki untuk memasuki lapangan kerja 19 .934 jiwa atau 8.101 jiwa atau 32.68.201.

13 persen karena perempuan mencapai 62. Selisih jumlah perempuan dengan laki-laki pada komposisi usia produktif sekitar 1. sedangkan riilnya tergantung bagaimana kedua jenis kelamin bisa memanfaatkan peluang kerja yang tersedia. Berbeda halnya dengan kondisi kelompok usia 15 – 59 tahun dan usia 60 tahun ke atas. Namun apa yang dijabarkan disini masih sebatas konteks estimasi. 20 .lebih potensial ketimbang perempuan.80 persen sedang lakilaki hanya 61.67 persen. dimana jumlah penduduk perempuan lebih tinggi dibandingkan lakilaki sehingga lebih memiliki potensi mengisi lapangan kerja.

sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin mutu. sebagaimana diamanatkan UUD 1945 merupakan tugas pemerintah untuk mengusahakan dan menyelenggarakan sistim pendidikan nasional guna meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang. pemerataan. sesuai kesepakatan internasional yang lebih dikenal dengan Deklarasi DAKAR. relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal. (1) menjelang tahun 2015. PENDIDIKAN Pendidikan.BAB IV. salah satu kebijakan dalam bidang pendidikan saat ini adalah Pendidikan Untuk Semua (PUS) atau yang lebih dikenal dengan EFA (Education For All). terutama bagi kaum perempuan. mempunyai akses dan menyelesaikan Pendidikan Dasar yang bebas dan wajib dengan kualitas yang baik. terarah dan berkesinambungan. dan akses yang adil pada pendidikan dasar dan pendidikan berkelanjutan bagi semua orang dewasa. nasional dan global sehingga perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana. yang menargetkan bahwa . semua anak khususnya anak perempuan. Disamping itu. (3) penghapusan kesenjangan gender pada pendidikan dasar dan menengah pada tahun 2005 dan mencapai kesetaraan gender dalam pendidikan pada tahun 2015. (2) mencapai perbaikan 50% pada tingkat keniraksaraan orang dewasa. dengan fokus pada kapasitas 21 . anak-anak yang dalam keadaan sulit dan mereka yang termasuk etnik minoritas. menjelang tahun 2015. Untuk itu.

720 9.560 42.350 1.226 5.085 687 1.740 14.195 323.407 12.415 1.860 4.1 Jumlah Buta Aksara di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008 - No.731 5.139 1.810 109.743 2.424 300 460 61.156 26.645 8.416 Jumlah 2. oleh karena salah satu indikator pembangunan manusia atau yang lebih dikenal dengan HDI/IPM adalah pendidikan.423 648 189 1.311 601 1.389 2.239 846 3.132 1.431 4.580 6.650 2.880 6.100 1.233 1 Selayar 2 Bulukumba 3 Bantaeng 4 Jeneponto 5 Takalar 6 Gowa 7 Sinjai 8 Maros 9 Pangkep 10 Barru 11 Bone 12 Soppeng 13 Wajo 14 Sidrap 15 Pinrang 16 Enrekang 17 Luwu 18 Tana Toraja 19 Luwu Utara 20 Luwu Timur 21 Makassar 22 Pare-pare 23 Palopo Jumlah (Prov.370 2.170 5. Sul-Sel) Sumber : Dinas Pendidikan Provinsi Sulawsi Selatan.093 1.813 3.948 Jumlah 1.1.668 356.650 3.196 4.050 2.409 4.850 1.050 14.376 429 896 3.576 9.370 2.395 2.305 684 2.538 40.sepenuhnya bagi anak perempuan terhadap akses dalam memperoleh pendidikan dasar yang bermutu.230 1.290 2.250 34.419 3.031 2.175 1.549 4.821 2.487 1.780 2.765 393 1.329 1.835 23.037 2.950 1.022 441 473 33.479 5.231 819 2.181 14.431 33.429 13.074 1.150 3.737 41.635 2.700 1.199 111.420 1.039 1. maka kita dapat memahami pentingnya pendidikan yang responsif gender.981 3.967 39.735 675 1.073 403 428 619 425 517 109 167 22.955 997 1. Menyimak kesepakatan Dakar tersebut.225 1.359 246 513 1.430 1.325 9.877 697 747 1081 750 907 191 293 38.175 1.049 2.740 3.876 2. 4.850 5.156 1. Buta Aksara (Keaksaraan Fungsional/KF) 2009 Tabel 4.197 819 571 823 321 2. Kabupaten/ Kota Keaksaran Fungsional (KF) Tahun 2008 LK PR 1.250 6.846 Tahun 2009 LK 382 989 3.285 PR 668 1.474 5.775 1.910 1.080 1. 2010 22 .080 2.950 3.

424 orang.022 orang atau 2% dan perempuan 109.Prov.430 orang atau 91%. Sul-Sel Prov. jumlah buta huruf (aksara) di Provinsi Sulawesi Selatan untuk tahun 2008 sebanyak 356. Sul-Sel 9% 36% 64% 91% % LK % PR % LK % PR Berdasarkan data Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan seperti terlihat pada Tabel 4.1.285 orang atau 36% dan perempuan sebanyak 38. Sementara untuk tahun 2009 Kota Makassar berhasil mengurangi.948 orang atau 64%. Sementara untuk tahun 2009 mengalami penurunan sehingga yang buta aksara tersisa 61.846 orang.233 orang. 23 .407 orang atau 98%.429 orang pada tahun 2008 diantaranya laki-laki 2. sehingga jumlah penduduk buta aksara tinggal 1. laki-laki sebanyak 22. diantaranya laki-laki sebanyak 33. Dari 23 kabupaten yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan nampaknya Kota Makassar yang terbanyak dengan jumlah penduduk yang buta aksara sebanyak 111.430 orang atau 9% dan perempuan sebanyak 323. diantaranya laki-laki 517 orang atau 36% dan perempuan sebanyak 907 orang atau 64%.

Hal ini juga berlaku bagi kabupaten lain yang sama kondisinya dengan Kabupaten Pangkep. Usia standar yang dimaksud adalah rentang usia yang dianjurkan pemerintah dan umum dipakai untuk setiap jenjang pendidikan. terutama perempuan. Sementara itu informasi data di Kabupaten Luwu Utara belum ada di tahun 2009. Keduanya mengukur penyerapan penduduk usia sekolah oleh sektor pendidikan. diantaranya laki-laki sebanyak 601 orang atau 36% dan perempuan sebanyak 1. terdapat dua ukuran partisipasi sekolah yang utama. Partisipasi Sekolah Umumnya.650 orang. Perbedaan diantara keduanya adalah penggunaan kelompok usia "standar" di setiap jenjang pendidikan. yaitu Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM). diantaranya laki-laki sebanyak 109 orang atau 36% dan perempuan sebanyak 191 orang atau 64%. 4.2. menjelang tahun 2015. Informasi tersebut diatas menunjukkan bahwa Kabupaten Pangkep perlu memperhatikan bagaimana kebijakan di bidang pendidikan agar jumlah penduduk yang buta aksara tidak bertambah tetapi seharusnya berkurang. Untuk tahun 2009 kabupaten yang paling sedikit buta aksaranya adalah Kota ParePare yaitu 300 orang.049 orang atau 64%. yang ditampilkan pada tabel berikut: 24 .Sementara dari 23 kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan yang paling sedikit jumlah penduduk buta aksara pada tahun 2008 adalah Kabupaten Pangkep yaitu 1. sehingga apa yang diharapkan sesuai kesepakatan Dakar yaitu mencapai perbaikan 50% pada tingkat keniraksaraan orang dewasa.

12 tahun 13 . Pemerataan pendidikan bagi masyarakat sebagai wujud pemerataan pendidikan nasional memerlukan dukungan yang besar bagi semua kalangan baik dari pemerintah pusat terlebih lagi dari masyarakat. Untuk dapat melihat keadaan partisipasi sekolah.15 tahun 16 . Keaktifan masyarakat sangat menentukan tingkat partisipasi sekolah sehingga kesadaran. 25 . sarana dan prasarana yang memadai akan menciptakan lingkungan pendidikan yang berkualitas. motivasi dan semangat masyarakat memanfaatkan fasilitas untuk bersekolah sangat penting. maka hal penting yang perlu dikaji sebelumnya adalah ketersediaan fasilitas dan tenaga pengajar sekolah sebagai bagian dari faktor yang menentukan keberhasilan dalam proses belajar mengajar. Ketersediaan sarana dan prasarana sekolah akan mempermudah para siswa untuk mengakses pendidikan. suasana belajar akan lebih hidup dan minat mencari ilmu pengetahuan bagi siswa akan tinggi. wujud dari partisipasi ini adalah tersedianya fasilitas pendidikan berupa sarana dan prasarana sekolah.18 tahun 19 tahun keatas partisipasi sekolah sangat erat kaitannya dengan ketersediaan fasilitas pendidikan dan tenaga pengajar serta kesadaran masyarakat untuk aktif dalam bidang pendidikan.Tabel 1: Usia standar di setiap jenjang pendidikan Jenjang SD SMP SMA Perguruan tinggi Angka Kelompok usia 7 .

539 unit.2 Jumlah Sarana dan Prasarana Sekolah Menurut Kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan Kabupaten/ Kota Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sinjai Maros Pangkep Barru Bone Soppeng Wajo Sidrap Pinrang Enrekang Luwu Tana Toraja Luwu Utara Luwu Timur Makassar Pare-pare Palopo Jumlah (Prov. sarana sekolah terbanyak di Kota Makassar yang merupakan ibukota provinsi dengan jumlah 1.279 SD LB 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 18 Total SLB 2 1 1 3 1 2 1 2 1 1 0 3 11 3 32 RA 20 29 2 5 1 22 11 11 8 7 10 14 13 9 34 6 3 3 6 22 12 248 MI 13 36 12 15 9 76 26 77 23 11 27 21 33 11 23 20 44 22 15 10 56 8 2 590 MTs 10 42 24 35 18 60 27 54 30 21 16 26 19 17 19 20 34 37 23 5 40 10 3 590 SLTA 7 14 4 12 11 18 8 22 20 14 9 12 9 12 13 10 15 10 15 24 104 7 14 384 MA 1 13 14 12 9 18 15 13 15 12 10 6 8 8 5 10 13 11 7 2 22 8 1 233 SMK 4 7 5 8 7 13 4 5 6 7 3 8 6 6 8 5 4 2 2 36 87 11 26 270 264 620 237 482 347 733 421 1. MI 56 unit. SLTA 104 unit.504 SLTP 34 62 21 54 38 81 39 103 51 55 31 42 55 46 49 37 64 46 34 112 179 24 22 1. SLB 11 unit. jenjang pendidikan SLTP sebanyak 179 unit. Sedangkan kabupaten yang memiliki jumlah sarana sekolah paling sedikit adalah Kota Palopo dengan jumlah 167 unit diantaranya sarana sekolah TK sebanyak 28 unit 26 .202 buah diantaranya sarana sekolah TK sebanyak 202 unit jenjang pendidikan tingkat SD sebanyak 479 unit. RA 22 unit. MTs 40 unit.539 Sumber: Dinas Pendidikan Sulawesi Selatan Tahun 2010 Tabel 4.Tabel 4.090 445 522 390 699 465 426 521 344 458 524 329 626 1. SulSel) Sekolah TK 15 63 16 86 19 60 41 130 38 53 52 134 61 64 33 23 54 42 83 51 202 43 28 1. MA 22 unit dan jenjang pendidikan SMK sebanyak 87 unit.391 SD 159 351 138 253 233 381 248 672 253 340 231 433 259 252 336 212 227 351 150 376 479 100 70 6.2 diatas menunjukkan ketersediaan sarana sekolah di Sulawesi Selatan sebanyak 11.202 227 167 11.

jenjang pendidikan SLTP sebanyak 22 unit. MA I unit dan jenjang pendidikan SMK sebanyak 26 unit.3. MI 2 unit. 27 .jenjang pendidikan SD sebanyak 70 buah. Untuk lebih jelasnya mengenai perbandingan jumlah sarana sekolah berdasarkan jenjang pendidikan pada setiap kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan dapat dilihat pada Diagram 4. SLTA 14. MTs 3 unit.

Peningkatan mutu pendidikan bagi murid sekolah selain dengan tersedianya sarana dan prasarana pendidikan juga harus ditunjang oleh tenaga pengajar yang profesional agar program pendidikan berjalan dengan baik.227 orang. yang terdiri dari laki-laki hanya 1 orang dan perempuan 7.3 menujukkan ketersediaan sarana sekolah di Provinsi Sulawesi Selatan yang terlihat bahwa persentase ketersediaan sarana sekolah terbanyak berturut-turut yaitu pada jenjang pendidikan SD sebanyak 57%.3 diatas yang bersumber dari Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan 2010 menunjukkan bahwa jumlah guru di Provinsi Sulawesi Selatan sebanyak 21. kemudian TK sebanyak 12 %.226 orang. Persentase Ketersediaan Sarana Sekolah Menurut Pendidikan di Provinsi Sulawesi Selatan Berdasarkan Tabel 4. Diagram 4. Adanya perbedaan yang mencolok antara jumlah guru laki-laki dan perempuan pada jenjang 28 .3.399 orang diantaranya guru pada jenjang pendidikan TK sebanyak 7. jenjang pendidikan SLTP sebanyak 11 % dan SLTA sebanyak 3 %.Diagram 4.

Selanjutnya pada jenjang pendidikan SD/MI sebanyak 54. Untuk jenjang pendidikan SLTA/MA tidak diperoleh data tentang jumlah guru yang ada. Hal ini dapat mengindikasikan bahwa peran perempuan 29 .4. dan ini tidak lepas pula dari asumsi dasar masyarakat tentang peran gender.4. nampak bahwa persentase guru perempuan yang mengajar mulai dari jenjang pendidikan TK sampai SLTP jauh lebih banyak yaitu mencapai 63 % dibanding laki-laki yaitu dengan persentase 37 %.pendidikan TK ini kemungkinan dipengaruhi oleh minat dari laki-laki untuk menjadi guru TK yang rendah dibanding perempuan.397 orang.629 orang yang terdiri dari laki-laki 22.850 yaitu laki-laki 54.629 orang dan perempuan 8.232 orang dan perempuan 32. Untuk melihat perbandingan jumlah guru menurut jenis kelamin dapat dilihat pada Diagram 4. berikut: Diagram 4.4 tersebut. Jumlah Guru Menurut Jenis Kelamin pada Jenjang Pendidikan TK SLTP di Provinsi Sulawesi Selatan Pada Diagram 4. dan pada jenjang pendidikan SLTP/MTs sebanyak 12.549 orang.

Kenaikan tersebut dapat pula dipengaruhi oleh semakin besarnya jumlah penduduk usia sekolah yang tidak diimbangi dengan ditambahnya infrastruktur sekolah serta peningkatan akses masuk sekolah sehingga partisipasi sekolah seharusnya tidak berubah atau malah semakin rendah. Angka Partisipasi Murni (APM). bahkan pada kelompok usia 7-12 thn dan 13-15 tahun anak perempuan lebih tinggi dibandingkan anak lakilaki. Selanjutnya untuk itu dapat melihat keadaan partisipasi sekolah di Provinsi Sulawesi Selatan yang terdiri dari Angka Partisipasi Sekolah (APS). Sehingga. naiknya persentase jumlah murid tidak dapat diartikan sebagai semakin meningkatnya partisipasi sekolah. dan Angka Partisipasi Kasar (APK) berdasarkan kelompok umur. Angka tersebut memperhitungkan adanya perubahan penduduk terutama usia muda. 4.dalam memajukan pendidikan di Provinsi Sulawesi Selatan sudah cukup baik. Ukuran yang banyak digunakan di sektor pendidikan seperti pertumbuhan jumlah murid lebih menunjukkan perubahan jumlah murid yang mampu ditampung di setiap jenjang sekolah. Tidak ada perbedaan pencapaian yang nyata antara laki-laki dan perempuan disemua jenjang pendidikan.2. Data nasional tahun 2006 sampai tahun 2008 menunjukkan bahwa APS berkecenderungan meningkat pada semua kelompok umur baik anak laki-laki maupun anak perempuan. Angka Partisipasi Sekolah Angka partisipasi sekolah merupakan ukuran daya serap sistem pendidikan terhadap penduduk usia sekolah.1. Sementara apabila kita mencermati perbedaan antar wilayah perdesaan 30 .

wilayah perkotaan cenderung lebih tinggi pencapaiannya apabila dibanding perdesaan. Artinya didalam rangka meningkatkan angka pencapaian APS nasional.dan Jenis Kelamin. Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008 Sumber data : BPS. Angka Partisipasi Sekolah (APS) menurut Usia Sekolah. Tabel 4. wilayah perdesaan perlu mendapatkan perhatian yang lebih baik.4). hal ini terjadi disemua jenjang pendidikan.dan perkotaan. Susenas 2008 31 . Berdasarkan data Susenas 2008 menunjukkan bahwa APS Sulsel untuk usia 16-18 tahun masih dibawah 50% (tabel 4.4.

sehingga ketersediaan sarana prasarana pendidikan di jenjang SLTP diperlukan untuk meningkatkan akses pendidikan lanjutan bagi anak-anak. Selanjutnya.Data diatas menunjukkan bahwa untuk usia sekolah 7 -12 tahun. cenderung menurun. Hal ini menunjukkan bahwa keberlanjutan pendidikan anak-anak usia 7 – 12 tahun ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi perlu mendapatkan perhatian. APS menurut Usia Sekolah. Tabel 4.5. Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009 Sumber data : BPS. Untuk usia 13-15 tahun relative lebih rendah dibandingkan usia 7 -12 tahun.dan Jenis Kelamin. Susenas 2009 32 . dari tabel diatas dapat pula dilihat bahwa partisipasi usia sekolah di jenjang pendidikan yang semakin tinggi. sehingga arah kebijakan pendidikan kedepan hendaknya lebih ditujukan pada peningkatan kualitas. akses lakilaki maupun perempuan sudah cukup tinggi.

dan Jenis Kelamin. Angka Partisipasi Murni Angka Partisipasi Murni (APM) adalah persentase siswa dengan usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikannya dari jumlah penduduk di usia yang sama. Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008 Sumber data : BPS. sedangkan APM semestinya maksimal 100 persen.4. Tabel 4. sebab APK biasanya digunakan ketika APM-nya masih jauh dari 100 persen. APM menurut Usia Sekolah. Susenas 2008 33 .2. APK dapat mencapai lebih dari 100 persen.6. Indikator APM merupakan indikator yang lebih baik dibanding dengan indikator APK.2.

APM menurut Usia Sekolah. Untuk tahun 2009. masih sangat rendah. perempuan sedikit lebih tinggi APMnya dibandingkan laki-laki. meskipun jika dilihat persentasenya.7.Berdasarkan tabel 4.7 nampak bahwa Angka Partisipasi Murni untuk golongan usia semakin tinggi. Susenas 2009 34 . Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009 Sumber data : BPS. Tabel 4. terdapat penurunan APM perempuan di kelompok usia ini. Kecenderungan ini terjadi baik di kelompok laki-laki maupun perempuan.6 dan 4.dan Jenis Kelamin. APMnya semakin rendah. Suatu hal yang sangat memprihatinkan bahwa APM usia 16-18 tahun masih dibawah 50%. artinya kesempatan untuk memperoleh pendidikan bagi laki-laki dan perempuan di jenjang pendidikan menengah atas.

207 55.501 33.697 16.226 26.379 55.234 10.031 63. Untuk kelompok umur 13 – 15 tahun ada 930.248 27.902 8.642.588 40.808 23.78 %) sementara laki-laki sebanyak 758.807 15.752 32.155 9.254 9.8 Jumlah Peserta Didik Menurut Kelompok Umur Tahun 2008/2009 Kabupaten / Kota Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sinjai Maros Pangkep Barru Bone Soppeng Wajo Sidrap Pinrang Ebrekang Luwu Tana Toraja Luwu Utara Luwu Timur Makassar Pare-pare Palopo Jumlah (Prov.694 14.868 1.194 16.121 43.996 883.266 10.017 12.194 327.637 56.710 40.162 27.143 29.257 478.877 21.191 34.743 15.311 orang (51.642.609 16.494 19.395 83.950 9.919 39.550 12.383 758.998 6.992 13.666 orang diantaranya laki-laki sebanyak 452.087 70.620 21.926 30.377 30.687 11.107 24.046 14.740 14.860 11.715 8.673 44.12 Thn LK PR 13.707 17.697 16.22 % dari total 1.127 21.549 164.357 11.252 21.169 17.248 13.830 8.828 15.773 24.645 162.783 19.114 23.417 39.Hal ini sejalan dengan data Dinas Pendidikan yang menunjukkan bahwa jumlah anak sekolah untuk tahun 2008/2009 kelompok umur 07 – 12 tahun di Provinsi Sulawesi Selatan.257 orang (53.853 58.646 17.371 21.977 36.502 38.455 39.072 12.623 81.666 479.188 29.253 orang.136 16.265 12.841 7.601 29.808 32.953 5.095 77. anak perempuan lebih banyak yaitu 883.007 70.567 23.355 orang (48.393 23.441 16.745 18.311 930.195 Jml 79.038 22.032 33.243 16 .756 11.256 25.418 11.659 96.804 17.784 15.829 28.967 39.643 47.616 16.632 16.810 29.472 82.951 29.081 17.772 25.156 33.822 998.18 Thn LK PR 6.427 25.568 12.350 87.422 79.950 11.737 41.760 15.766 30.094 5.222 30.634 44. Tabel 4.612 70.832 17.15 Thn Jml LK PR 5.860 13.616 32.697 28.970 12.954 12.159 31.731 70.340 18.120 29.971 20.377 35.546 62.792 18.653 98.473 8.990 38.576 16.702 25.191 65.160 197.500 21.560 Jml 43.830 86.827 27.529 13.879 6.835 23.986 10.112 32.158 51.394 18.992 14.741 452.278 24.455 34.458 23.386 5.884 122.643 63.148 20.582 48.681 15.807 14.540 17.219 12.054 179.746 41.407 12.355 Kelompok Umur 13 .185 8.842 13.083 53.222 12.723 12.851 36. SulSel) 07 .707 Sumber : Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan 2010 35 .996 orang atau 46.717 41.135 14.749 8.937 13.289 19.638 32.222 16.336 28.978 12.663 23.274 42.262 519.310 31.810 109.589 37.986 24.030 63.976 28.340 18.253 30.966 7.273 32.475 35.307 21.925 163.360 19.61 %) dan perempuan sebanyak 478.640 24.735 40.596 23.530 27.898 46.39 %) yang lebih banyak dari pada laki-laki.622 32.202 12.274 59.613 11.780 32.

39 %). Untuk mendapatkan gambaran Angka Partisipasi Kasar (APK) di Provinsi Sulawesi Selatan dapat dilihat pada Tabel 4. Hal ini menunjukkan bahwa partisipasi laki-laki justru menurun di usia sekolah yang semakin tinggi. Hal ini mencerminkan bahwa makin tinggi tingkat pendidikan partisipasi perempuan makin menurun. untuk usia 7-12 tahun justru mengalami pnurunan. 4. dan 19-24 tahun. nampaknya APS perempuan lebih tinggi dari APS anak laki-laki.98 %) dan perempuan sebanyak 479. Namun.Sementara untuk kelompok umur 16–18 tahun jumlahnya sebanyak 998.10.707 orang (51. Tetapi APS pada kelompok umur 16– 8 tahun yang sederajat SMU nampaknya APS laki-laki lebih tinggi dari pada APS perempuan. Berdasarkan tabel tersebut. nampak bahwa secara umum terjadi kenaikan angka partisipasi kasar dari tahun 2008 ke tahun 2009.2. Angka partisipasi kasar dapat memberikan gambaran tentang banyaknya anak yang menerima pendidikan pada jenjang tertentu.3 Angka Partisipasi Kasar (APK) Indikator ini digunakan untuk mengukur proporsi anak sekolah pada suatu jenjang pendidikan tertentu dalam kelompok umur yang sesuai dengan jenjang pendidikan tersebut. dan 36 .950 orang diantaranya laki-laki sebanyak 519.243 orang (51. 16-18. Dengan mencermati tingkat APS pada kelompok umur 07 – 12 tahun sederajat SD dan kelompok umur 13– 15 tahun yang sederajat SMP. Untuk usia 7-12 tahun terdapat kecendungan penurunan baik laki-laki maupun perempuan. nampak bahwa APK perempuan pada jenjang sekolah SMP sampai PT lebih tinggi dibandingkan laki-laki. khususnya untuk usia 13-15.9 dan 4. Jika dilihat berdasarkan jenis kelamin.

Tabel 4. ditegah-tengah gencarnya upaya pemberdayaan perempuan dan keseteraan gender.pada tahun 2009.dan Jenis Kelamin.9. namun justru ada kecenderungan menurunnya partisipasi laki-laki dalam pendidikan. APK menurut Usia Sekolah. keadaannya menjadi berbanding terbalik dengan tahun 2008. Susenas 2008 37 . Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008 Sumber data : BPS. Fenomena ini cukup memprihatinkan. dimana perempuan menjadi lebih tinggi APKnya dibandingkan laki-laki.

berinovasi. Pendidikan tertinggi yang ditamatkan penduduk dapat dijadikan sebagai salah satu alat kontrol untuk melihat sejauh mana peningkatan pembangunan bidang pendidikan. Susenas 2009 4.3.10. Semakin tinggi tingkat pendidikan yang 38 . Selain Tingkat Partisipasi Sekolah (TPS).Tabel 4.dan Jenis Kelamin. dan menyerap teknologi baru untuk mendukung kehidupannya ke arah yang lebih baik. Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009 Sumber data : BPS. APK menurut Usia Sekolah. Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan Pendidikan yang lebih baik berpengaruh terhadap peningkatan potensi dasar penduduk dalam menerima perubahan-perubahan sosial dan ekonomi.

Namun disisi lain. dan semakin tinggi jenjang pendidikan. Persentase perempuan tamat SD masih cukup tinggi dibandingkan laki-laki. justru laki-laki lebih rendah . Tabel tersebut memperlihatkan bahwa masih adanya kesenjangan tingkat pendidikan antara penduduk laki-laki dan perempuan. secara umum. semakin tinggi jenjang pendidikan. Tabel berikut menunjukkan penduduk Sulawesi Selatan yang berumur 10 tahun ke atas menurut pendidikan tertinggi yang ditamatkan. Salah satu ukuran keberhasilan pembangunan pendidikan dapat dilihat dari kualitas tingkat pendidikan yang ditamatkan. sehingga partisipasi dan kesempatan laki-laki maupun perempuan untuk memperoleh pendidikan dalam rangka peningkatan kualitas manusia Sulawesi Selatan masih harus ditingkatkan. Meskipun demikian. untuk D1/2/3 dan sarjana muda.ditamatkan maka kualitas sumberdaya manusia secara umum akan semakin tinggi. Banyaknya penduduk yang berpendidikan tinggi menunjukkan semakin baik kualitas penduduknya. 39 . persentase perempuan semakin menurun. persentasenya semakin menurun.

67 6.99 25.78 0.79 1.24 13.44 6.28 11.45 20.82 27.22 15.04 0.12 25.80 2.21 8.37 5.12 27.58 0.69 9.62 31.13 0.60 4.79 1.00 15.56 30.72 1.19 0.95 SD Prp 34.56 8.62 12.59 1.57 4.90 9.20 1.67 0.19 14.29 D III/ Sarmud Lk 0.35 0.53 1.57 0.00 14.75 Lk 12.94 0.94 16.41 16.70 10.76 SMU Prp 8.91 9.57 0.48 0.03 32.65 4.15 0.45 15.81 11.48 2.54 0.44 0.48 2.83 1.28 10.84 18.13 28.36 0.82 21.08 1.75 11.74 4.49 3.76 0.25 4.21 1.28 2.26 0.29 3.58 7.20 10.09 25.43 2.42 0.05 11.55 11.98 3.90 2.15 1.52 2.77 3.10 0.Tabel 4.11 2.68 1.31 0.29 0.05 0.66 0.21 17.12 4.52 0.86 3.95 22.07 1.04 17.94 15.61 D I/II Prp 2.12 2.91 13.97 1.70 2.40 10.36 4.91 10.09 0.27 4.19 8.75 0.66 2.68 10.30 18.58 2.26 1.45 0.68 2.13 23.74 1.93 0.31 32.31 12.37 22. Persentase Penduduk Menurut Jenis Kelamin.09 4.36 3.18 27.76 2.39 12.40 27.17 0.80 3.85 4.42 0.04 1.92 4. Pendidikan yang Ditamatkan dan Kabupaten/Kota Tahun 2008 Kab/Kota Lk 01 Selayar 02 Bulukumba 03 Bantaeng 04 Jeneponto 05 Takalar 06 Gowa 07 Sinjai 08 Maros 09 Pangkep 10 Barru 11 Bone 12 Soppeng 13 Wajo 14 Sidrap 15 Pinrang 16 Enrekang 17 Luwu 18 TanaToraja 22 LuwuUtara 25 LuwuTimur 71 Makassar 72 Parepare 73 Palopo Jumlah 30.75 8.39 0.09 Sumber data : BPS.54 23.75 0.52 0.86 0.80 2.35 30.14 1.52 0.85 1.74 0.71 12. Susenas 2008 40 .41 0.14 9.03 23.93 SMA Kejuruan Lk 1.44 Lk 1.80 1.24 15.80 9.25 15.33 23.01 10.56 5.98 21.60 Prp 1.96 26.99 4.78 0.21 1.02 1.52 21.60 13.84 0.62 0.62 0.75 32.84 1.73 20.61 1.68 25.73 0.72 13.93 2.57 1.91 11.61 0.64 2.56 0.20 10.65 27.53 1.46 25.28 1.15 13.26 0.51 26.12 3.98 1.06 1.06 1.88 0.96 2.38 3.70 1.68 20.02 1.95 30.70 16.13 17.38 16.62 12.72 1.84 15.21 0.46 3.66 0.73 1.51 13.84 6.89 4.88 31.75 2.44 0.82 18.55 11.20 3.47 SLTP Prp 10.85 1.71 13.14 32.01 4.59 20.04 22.45 21.76 4.47 0.46 28.46 30.46 0.43 0.38 0.46 14.91 4.40 3.78 31.23 Lk 13.92 4.63 36.57 1.01 0.18 0.78 5.12 17.70 25.86 0.48 3.74 0.64 25.98 23.50 11.93 13.83 31.69 1.39 24.89 1.35 2.92 0.79 9.66 2.15 0.40 7.69 15.85 Prp 1.03 24.47 1.47 0.65 0.89 13.87 14.33 5.04 19.97 19.93 12.47 0.42 15.86 3.33 20.72 1.74 11.42 13.78 10.43 30.75 4.04 D IV/S 1/S 2/S 3 Lk 4.89 3.71 1.15 23.29 0.35 14.72 14.08 11.41 11.16 34.72 1.21 0.14 15.55 1.05 12.87 0.11 19.95 13.29 0.97 17.88 16.60 1.52 1.34 1.87 2.77 1.21 9.11.04 7.59 30.75 22.73 Prp 4.57 14.29 0.77 9.50 29.08 12.61 27.38 0.78 1.53 2.42 8.00 3.

12 0. Susenas 2009 41 .49 0.60 0.84 21.89 36.45 16.69 24.64 0.05 7.09 16.07 14.84 15.58 1.19 1.43 30.44 28.62 6.65 21.38 4.40 0.93 12.36 4.19 12.91 34.81 11.45 4.32 14.96 2.81 2.87 31.57 7.57 0.60 8.59 0.27 1.27 1.63 0.26 14.23 25.32 29.53 D IV/S 1/S 2/S 3 Lk Prp -10 -10 3.02 23.80 0.80 0.14 10.49 16.95 1.19 0.41 2.73 3.49 0.25 1.46 28.51 2.86 0.25 17.55 0.75 4.85 1.43 2.60 2.90 3.82 10.31 13.24 33.20 16.98 3.07 6.89 8.60 1.25 3.80 2.49 19.07 2.97 16.13 7.03 10.53 32.34 2.52 11.80 1.11 27.21 2.23 8.40 0.79 15.57 2.37 2.40 12.87 0.74 3.67 17.31 12.64 Lk -8 Prp -8 30.33 32.83 4.36 2.75 1.66 0.27 3.70 10.63 9.73 11.89 0.51 26.18 1.15 2.47 4.95 1.02 1.60 17.91 29.63 2.19 0.15 Lk Prp -4 28.55 0.72 0.12 0.15 14.60 19.24 24.48 D I/II D III/ Sarmud Lk Prp -9 -9 0.15 2.24 7.94 2.20 12.66 0.55 6.65 3.24 3.07 1.31 0.55 10.78 17.13 18.98 0.40 29.93 1.79 16.44 0.21 30.30 3.77 2.61 0.11 1. Pendidikan yang Ditamatkan dan Kab/Kota Tahun 2009 Kab/Kota -1 01 Selayar 02 Bulukumba 03 Bantaeng 04 Jeneponto 05 Takalar 06 Gowa 07 Sinjai 08 Maros 09 Pangkep 10 Barru 11 Bone 12 Soppeng 13 Wajo 14 Sidrap 15 Pinrang 16 Enrekang 17 Luwu 18 TanaToraja 22 LuwuUtara 25 LuwuTimur 71 Makassar 72 Parepare 73 Palopo Jumlah SD -4 SLTP Lk Prp -5 -5 14.67 0.87 0.37 0.29 14.47 0.00 12.47 2.28 30.03 4.08 22.96 2.85 0.14 4.19 3.18 18.97 23.41 25.64 15.35 3.77 13.76 1.19 18.84 2.65 25.97 23.85 33.79 15.68 6.42 0.10 10.40 21.74 14.02 14.22 31.98 12.35 24.26 16.43 12.19 26.05 17.24 10.93 0.40 2.25 36.14 28.12 12.74 34.39 26.10 12.24 3.93 0.66 2.31 11.47 1.88 3.72 0.15 0.81 11.73 11.67 4.47 11.07 5.10 11.56 0.31 3.03 19.72 27.76 1.59 27.21 21.89 0.04 0.71 8.46 0.8.23 1.70 10.53 0.69 19.08 12.04 31.98 0.95 1.02 0.43 0.70 16.00 3.96 0.42 4.16 4.19 15.70 SMU Lk Prp -6 -6 10.70 31.21 1.24 20.65 15. Persentase Penduduk Menurut Jenis Kelamin.90 0.85 17.64 1.4 5 7.22 0.55 0.47 14.38 26.32 31.87 3.58 0.54 2.48 24.10 Sumber data : BPS.19 5.78 1.81 1.40 2.49 4.13 9.21 6.68 2.67 4.26 3.11 1.56 26.59 5.03 3.48 24.58 0.96 22.87 15.79 4.24 1.36 1.82 0.02 29.95 21.08 4.58 0.45 1.12 5.52 33.47 15.33 18.10 17.96 12.90 2.65 0.99 17.20 7.15 2.83 0.26 1.00 0.48 0.75 0.72 1.85 15.38 0.40 18.41 1.83 3.74 1.54 SMA Kejuruan Lk Prp -7 -7 3.13 2.88 2.50 10.39 12.68 15.76 1.62 2.83 0.30 15.72 0.04 0.84 12.37 21.46 2.11 2.18 1.Tabel 2.33 1.05 3.05 2.88 0.54 13.15 2.44 2.07 1.63 3.57 11.64 12.62 10.10 2.22 2.48 2.

disamping anggapan bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan. Persentase penduduk yang berpendidikan rendah masih relatif tinggi.4. karena mereka diharapkan membantu mencari nafkah untuk keluarganya. sebagaimana digambarkan dalam Tabel 2. Di Sulawesi Selatan masih cukup banyak dijumpai anak putus sekolah. Kondisi geografis juga berpengaruh terhadap tingginya angka putus sekolah. Aksesibiltas yang rendah untuk menjangkau sekolah dengan sarana dan prasarana transportasi yang terbatas dan masih sulit dijangkau 42 .4. sementara masyarakat miskin dan rumah tangga miskin tidak memiliki penghasilan yang cukup untuk biaya pendidikan. berikut. semakin besar biaya yang diperlukan.Secara umum di Sulawesi Selatan. penduduk yang menamatkan pada jenjang pendidikan SLTA sebesar 28 %. Kemiskinan seringkali menjadi alasan bagi siswa sekolah untuk tidak melanjutkan sekolah. Putus Sekolah Partisipasi Sekolah dapat dikaitkan dengan keadaan putus sekolah. selanjutnya penduduk yang menamatkan pendidikan SLTP/MTs/Paket B sebesar 23 %. 4. dan anggapan lebih baik bekerja dengan mendapatkan uang. Tentunya diharapkan kedepan penduduk Sulawesi Selatan dapat lebih ditingkatkan lagi pendidikan yang ditamatkannya yang akan berpengaruh pada kondisi sosial ekonomi masyarakat akan semakin baik. Hal ini terlihat dari persentase penduduk yang menamatkan pendidikan pada tingkat sekolah dasar masih lebih tinggi dibanding pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Persentase tertinggi adalah penduduk yang menamatkan pendidikan SD yaitu 46 %.

Tabel 4.11. meskipun guru telah memberikan dorongan dan motivasi kepada siswa agar tidak putus sekolah. Susenas 2008 43 . merupakan salah satu alasan bagi siswa untuk tidak melanjutkan sekolah. Angka putus sekolah menurut kelas dan jenjang sekolah. tampak mulai terjadi sejak SD. Persentase Penduduk Berdasarkan Status Putus Sekolah Menurut Jenis Kelamin. Usia dan Kabupaten/KotaTahun 2008 Sumber data : BPS. Hal ini mengindikasikan masih adanya hambatan bagi anak untuk bertahan belajar di sekolah sejak memasuki sekolah dasar.oleh masyarakat di pelosok pedesaan dan wilayah kepulauan. dan menunjukkan persentase yang meningkat seiring dengan jenjang sekolah.

33 1.00 51.38 0.68 61.41 60.32 8.11 60.90 58.45 1.91 15.30 47.61 44 .81 2.25 1.22 91.16 76.33 12.81 2.74 Tidak bersekolah lagi Jenis Kelamin 19-24 85.04 33.66 53.41 3.72 54.22 91.39 37.80 81.45 26.61 38.50 85.01 0.84 3.91 88.67 12.51 89.Tabel 4.88 39.63 1.76 93.05 9.71 9.48 94.23 92.43 27.65 8.31 5.70 87.48 4.53 31. Persentase Penduduk Berdasarkan Status Putus Sekolah Menurut Jenis Kelamin.83 54.12.94 7.55 15.33 21.56 2.34 89.93 3.64 16.48 46.96 83.76 23.47 58.84 25.22 95.60 1.39 87.12 58.26 59.70 3.93 33.31 40.45 20.51 0.76 2.75 15.88 35.79 37.81 4.39 29.65 2.30 78.97 91.53 7.07 22.27 37.51 63.37 32.15 46.13 17.19 52.12 45.56 3.93 86.24 79.82 0.32 0.45 3.80 1.66 91.08 35.21 91.85 12.88 24.23 90.29 2.18 28.81 90.48 59.22 44.22 82.44 83.49 94.26 66.22 3.78 89.56 0.93 20.61 49.27 86.72 54.24 3.15 55.74 Laki-laki 13-15 16-18 15.29 40. Susenas 2009 18.79 88.01 11.94 2.97 7-12 1.79 22.34 17.22 5.86 Perempuan 13-15 16-18 5. Usia dan Kabupaten/KotaTahun 2009 Kabupaten/ Kota 7-12 01 Selayar 02 Bulukumba 03 Bantaeng 04 Jeneponto 05 Takalar 06 Gowa 07 Sinjai 08 Maros 09 Pangkep 10 Barru 11 Bone 12 Soppeng 13 Wajo 14 Sidrap 15 Pinrang 16 Enrekang 17 Luwu 18 TanaToraja 22 LuwuUtara 25 LuwuTimur 71 Makassar 72 Parepare 73 Palopo Jumlah 3.78 30.57 1.38 32.57 3.85 37.27 45.02 3.10 10.17 89.02 84.10 20.86 12.75 32.61 44.78 Sumber data : BPS.73 28.15 2.84 49.74 91.97 64.31 40.19 80.88 2.61 79.42 86.45 13.96 1.92 0.72 5.12 3.39 14.64 86.59 2.12 6.18 50.28 52.92 42.77 33.82 11.99 3.06 46.37 88.74 2.43 95.32 92.05 81.28 20.49 83.50 19.82 77.20 2.39 19-24 93.20 16.83 84.28 4.11 1.25 14.30 49.68 1.75 12.08 68.47 32.

45 . sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini. dan informal. di semua jenjang usia pendidikan.11 dan 4. Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar). kecerdasan spiritual).5. Banyaknya laki-laki yang putus sekolah dimungkinkan karena beberapa hal meliputi pergi merantau mencari pekerjaan di daerah lain. dan juga disebabkan oleh factor internal siswa laki-laki. membantu orangtua mencari nafkah.12. nonformal. yang diselenggarakan pada jalur formal. daya cipta. 4. Tabel tersebut juga menunjukkan bahwa keadaan putus sekolah pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi cenderung semakin meningkat persentasenya. kecerdasan (daya pikir.Berdasar table 4. kecerdasan emosi. Pendidikan Anak Usia Dini Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. angka putus sekolah di Sulawesi Selatan menunjukkan persentase laki-laki lebih besar daripada perempuan. sosio emosional (sikap dan perilaku serta agama) bahasa dan komunikasi.

PAUD dilaksanakan sejak usia 0-8 tahun.8 berikut: Tabel 4.20/2003 ayat 1 adalah 0-6 tahun. Rentangan anak usia dini menurut Pasal 28 UU Sisdiknas No. Gambaran PAUD di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009 dapat dilihat pada Tabel 4.13 Jumlah Siswa PAUD di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009 46 . yaitu anak yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya sehingga memiliki kesiapan yang optimal di dalam memasuki pendidikan dasar serta mengarungi kehidupan di masa dewasa. • Tujuan penyerta: untuk membantu menyiapkan anak mencapai kesiapan belajar (akademik) di sekolah. Sementara menurut kajian rumpun keilmuan PAUD dan penyelenggaraannya di beberapa negara.Ada dua tujuan diselenggarakannya pendidikan anak usia dini yaitu: • Tujuan utama: untuk membentuk anak Indonesia yang berkualitas.

07 %) dan perempuan 10.520 orang (47.87 %) dan perempuan sebanyak 9.890 murid yang terdiri dari laki-laki 9. kabupaten yang memiliki jumlah murid PAUD yang lebih banyak dibanding kabupaten lainnya yaitu Kabupaten Pinrang yaitu sebanyak 18. selanjutnya umur 24 – 48 bulan sebanyak 130. maka dapat dilihat bahwa pada kelompok umur 0 – 4 bulan jumlah murid PAUD yang paling banyak adalah di Kabupaten Luwu Utara yaitu sebanyak 20.048 orang yang terdiri dari laki-laki 62.449 orang yang terdiri dari laki-laki 89.252 murid (50.38 %).470 murid (50.11 %) dan kelompok umur 49 – 72 bulan sebanyak 201. Jika dilihat secara cermat nampak bahwa jumlah murid PAUD perempuan pada setiap kelompok umur lebih banyak dibanding laki-laki.284 orang yang terdiri dari umur 0 – 4 bulan sebanyak 101.13 %) sedangkan kabupaten yang memiliki jumlah murid PAUD yang paling sedikit pada kelompok umur ini sama pada kelompok umur 0 -4 bulan yaitu Kabupaten Wajo yaitu hanya berjumlah 543 murid yang terdiri dari laki-laki 237 murid (43.13 diatas yang bersumber dari Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2010.88%) dan perempuan 67.420 murid (49.93 %) sedangkan kabupaten yang memiliki jumlah murid PAUD yang paling sedikit pada kelompok umur tersebut adalah di Kabupaten Wajo dengan jumlah 35 murid yaitu laki-laki 14 murid (40.Berdasarkan Tabel 4.267 orang ((52.33%).273 orang (47.474 yang terdiri dari laki-laki 10.00 %).222 murid (49.61 %)dan perempuan 111.65 %) dan 47 .00 %) dan perempuan 21 murid (60. Jika perbandingan murid PAUD dianalisis menurut kabupaten.575 orang (55.787 orang yang terdiri dari laki-laki 48. Selanjutnya pada kelompok umur 24 – 48 bulan.775 orang (52. nampak bahwa jumlah murid yang mengikuti PAUD sebanyak 433.67%) dan perempuan 53.874 orang (44.

Sementara pada kelompok umur 49 – 72 bulan yang memiliki jumlah murid PAUD yang lebih banyak dibanding kabupaten lainnya yaitu Kota Makassar sebanyak 26.109 murid yang terdiri dari laki-laki sebanyak 519 murid (46.14 %) dan perempuan 16.20 %).86 %) sedangkan kabupaten yang memiliki jumlah murid PAUD yang paling sedikit pada kelompok umur tersebut adalah di Kabupaten Gowa yaitu 1.803 murid.35 %). 48 . Secara umum kabupaten/kota yang memiliki partisipasi yang paling tinggi dalam melaksanakan PAUD adalah Kabupaten Pinrang dengan jumlah murid PAUD sebanyak 54.perempuan 306 murid (56.80 %) dan perempuan 590 murid (53.129 murid (59.814 murid (40.943 murid yang terdiri dari laki-laki sebanyak 10.

AKABA. Angka kematian pada umumnya dapat dihitung dengan melakukan berbagai survey dan penelitian. KESEHATAN Gambaran perkembangan derajat kesehatan masyarakat dapat dilihat dari kejadian kematian dalam masyarakat dari waktu ke waktu.BAB V. Menurut hasil Surkesnas/Susenas.1. Partisipasi dalam ber KB.1. Peristiwa kematian pada dasarnya merupakan proses akumulasi akhir dari berbagai penyebab kematian langsung maupun tidak langsung. cakupan imunisasi dan status gizi balita. Di samping itu kejadian kematian juga dapat digunakan sebagai indikator dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan kesehatan lainnya. Kesehatan Reproduksi. Secara umum kejadian kematian pada manusia berhubungan erat dengan permasalahan kesehatan sebagai akibat dari gangguan penyakit atau akibat dari proses interaksi berbagai faktor yang secara sendiri-sendiri atau bersama-sama mengakibatkan kematian dalam masyarakat. Derajat kesehatan masyarakat di Sulawesi Selatan semakin meningkat. 5. dan gerakan sayang ibu. Adapun rincian permasalahan yang akan dilihat adalah angka kematian bayi (AKB). Angka Kematian Bayi (AKB). AKI. Penolong Persalinan. hal tersebut ditandai dengan menurunnya angka kematian bayi (AKB). AKB di Indonesia 49 . Pada Bab ini akan dicoba dilihat atau diungkap kemungkinan adanya kesenjangan antara laki-laki dan perempuan di bidang kesehatan. Angka kematian bayi menunjukkan banyaknya kematian bayi per seribu kelahiran hidup.

Angka Kematian Bayi menunjukkan penurunan yang sangat tajam. dan hasil SDKI 2007 menunjukkan angka 41 per 1. Ini berarti rata-rata penurunan AKB selama kurun waktu 1998-2003 sekitar 4 poin. Selama tiga puluh tahun terakhir. lalu turun lagi menjadi 52 pada tahun 1998 kemudian pada tahun 2003 menjadi 48 (Susenas 2003).000 kelahiran hidup. Sedangkan AKB menurut hasil SDKI 2002-2003 terjadi penurunan yang cukup besar. 50 . Namun. menurut hasil Surkesnas/Susenas 2002-2003. AKB di Sulawesi Selatan sebesar 47 per 1.pada tahun 2001 sebesar 50 per 1. angka ini berada jauh dari yang diproyeksikan oleh Depkes RI yakni sebesar 26.000 kelahiran hidup. Fluktuasi ini bisa terjadi oleh karena perbedaan besar sampel yang diteliti.000 kelahiran hidup.89 per 1. yaitu menjadi 35 per 1. Di Sulawesi Selatan.000 kelahiran hidup.52 per kelahiran hidup.000 kelahiran hidup. pada tahun 2002 sebesar 45 per 1. yaitu dari 161 per 1. AKB Sulawesi Selatan menunjukkan penurunan yang sangat tajam seperti Tabel 5.1.000 kelahiran hidup sedangkan hasil Susenas 2006 menunjukkan AKB di Sulsel pada tahun 2005 sebesar 36 per 1.000 kelahiran hidup. sementara itu data proyeksi yang dikeluarkan oleh Depkes RI bahwa AKB di Sulsel pada tahun 2007 sebesar 27.000 kelahiran hidup pada tahun 1971 menjadi 55 pada tahun 1996.000 kelahiran hidup sementara hasil SDKI 2007 hasilnya menurun lagi menjadi 34 per 1.

Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Harapan Hidup (AHH) Di Sulawesi Selatan Tahun 1971-2009 Tahun AKB AHH (1) (2) (3) 1971 1996 1998 2000 2001 2003 2004 2005 2007 2008 2009 161 55 52 48 47 48 44 36 41 4. jumlah kematian bayi turun menjadi 495 atau 3.61 per 1.39 per 1.31 per 1.4 69. Tahun 2008 ini jumlah kematian bayi turun menjadi 638 atau 4.6 69. Tanda *) adalah AKB menurut laporan Dinkes Sulawesi Selatan Sementara laporan dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota bahwa jumlah kematian bayi pada tahun 2006 sebanyak 566 bayi. Penurunan angka kematian bayi merupakan indikasi terjadinya peningkatan derajat kesehatan masyarakat sebagai salah satu wujud keberhasilan pembangunan di bidang kesehatan dan semakin meningkatnya pendidikan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan.000 kelahiran hidup.Tabel 5.32 per 1. sementara tahun 2009. mengalami peningkatan pada tahun 2007 menjadi 709 kematian bayi atau 4.1.000 kelahiran hidup. 51 . Adapun nilai normatif AKB yang kurang dari 40 sangat sulit diupayakan penurunannya (hard rock).31*) 63 64 68 68 68 69 69 69.000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup.39*) 3. Hal tersebut merupakan respon positif dari upaya pemerintah untuk mendekatkan fasilitas kesehatan pada masyarakat.8 Sumber : Susenas dan SDKI. atau 4.

2 menunjukkan bahwa penyakit Diarre dan Pneumonia adalah penyebab utama terjadinya kematian pada bayi yaitu masing-masing 31. serta kesediaan masyarakat untuk merubah kehidupan tradisional ke norma kehidupan modern dalam bidang kesehatan merupakan faktor-faktor yang sangat berpengaruh terhadap tingkat AKB. Angka Harapan Hidup (AHH) juga diharapkan terjadi peningkatan. 52 . Tabel 5. namun sulit untuk diturunkan. Ada banyak faktor yang mempengaruhi tingkat AKB tetapi tidak mudah untuk menentukan faktor yang paling dominan dan faktor yang kurang dominan. Tersedianya berbagai fasilitas atau faktor aksesibilitas dan pelayanan kesehatan dari tenaga medis yang terampil.1).8 persen.antara 40-70 tergolong sedang. sedangkan dari tahun 2004 – 2005 AHH mencapai angka 69 dan pada tahun 2009. Menurunnya AKB dalam beberapa waktu terakhir memberi gambaran adanya peningkatan dalam kualitas hidup dan pelayanan kesehatan masyarakat. AHH nya mencapai 69. Sejak tahun 2000 hingga tahun 2003 AHH relatif stabil pada usia 68 tahun. dan lebih besar dari 70 tergolong mudah untuk diturunkan. Sejalan dengan menurunnya AKB. Rata-rata usia harapan hidup penduduk Sulawesi Selatan terus meningkat dari 63 pada tahun 1996 menjadi 64 pada tahun 1998.8 (Tabel 5.4 persen dan 23.

TB 10. Indikator ini menggambarkan tingkat kesejahteraan sosial.1.3 6. penyakit menular dan kecelakaan.3 1.000 kelahiran hidup. 2. Tetanus 8.4 23.2.9 2. Proporsi Penyebab Kematian Bayi No. 4.2 1.2 Angka Kematian Balita (AKABA). 1. Penyebab Kematian % 31. sanitasi. Campak Sumber Riskesdas 2007 5. dalam arti besar dan tingkat kemiskinan penduduk. 5. AKABA menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan anak dan faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap kesehatan anak Balita seperti gizi. 53 . Diare Pneumonia Meningitis/ensefalitis Kelainan Saluran Pencernaan Kelainan jantung Kogenital & Hydrocephalus 6. Angka Kematian Balita (AKABA) adalah jumlah anak yang dilahirkan pada tahun tertentu dan meninggal sebelum mencapai usia 5 tahun. Malnutrisi 9. sehingga kerap dipakai untuk mengidentifikasi kesulitan ekonomi penduduk.Tabel 5. dinyatakan sebagai angka per 1. 3. Sepsis 7.2.4 5.8 9.8 4.1 2.

tahun 1995-2008 Tahun 1 1995 1997 1998 1999 2000 2001 2003 2004 2005 2006 2007 2008 AKABA per 1000 KH Nasional Propinsi 2 3 75 19.7 pada tahun 2000 sementara untuk Sulawesi Selatan.1 64.55 44.33 1.000 kelahiran hidup.16 per 1.000 kelahiran hidup. SDKI 2007 Dilaporkan dari Dinkes Kab.93 Sumber 4 Estimasi SUPAS 1995 SDKI 1997 Estimasi SUPAS 1995 Estimasi SUPAS 1995 Estimasi SUPAS 1995 Estimasi SUSENAS Estimasi SUSENAS Estimasi SUSENAS Estimasi SUSENAS Dilaporkan dari Dinkes Kab. pada tahun yang sama berada dibawah rata-rata nasional yakni sebesar 42. kemudian turun menjadi 81 pada tahun 1993 dan turun lagi menjadi 44. hasil SDKI 54 .7 42.4 17.3.000 kelahiran hidup.Tabel 5. Angka Kematian Balita di Indonesia (menurut estimasi SUPAS 1995) dalam beberapa tahun terakhir (kecuali tahun 2001) terlihat mengalami penurunan yang cukup bermakna. Angka Kematian Anak Balita (1-4 th) di Sulawesi Selatan dan Indonesia. Dilaporkan dari Dinkes Kab. Menurut hasil SUSENAS 2001 AKABA diperkirakan sebesar 64 per 1. antara 71-140 sedang dan kurang dari 71 rendah.16 64 46 72 51 46 1. Namun. Pada tahun 1986 AKABA diperkirakan sebesar 111 per 1.28 59. Sumber : Data Sekunder diolah serta Profil Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan Catatan: Adapun nilai normatif AKABA yakni lebih besar dari 140 tergolong sangat tinggi.13 44 53 1.

Sehubungan dengan hal tersebut. Sedangkan pada tahun 2007 jumlah kematian balita dilaporkan sebanyak 105 balita atau 1.000 kelahiran hidup dan menurun menjadi 53 per 1.4.57% tahun 2007 dari kelahiran hidup). Angka kematian Bayi dan Balita untuk tingkat kecamatan.13 per 1.83% pada tahun 2006 dan 1. antara lain persentase BBLR (0. kabupaten maupun provinsi tidak tepat jika diperoleh dari survey yang berskala nasional. Hal ini karena rancangan sampel diperuntukkan untuk menggambarkan angka kematian bayi dan balita tingkat nasional.000 kelahiran hidup. maka untuk menggambarkan angka kematian bayi dan balita di Sulawesi Selatan dapat digambarkan dengan indikator program yang dilaksanakan dalam upaya menurunkan angka kematian bayi dan balita.93 per 1000 kelahiran hidup. Sementara itu. Pada tahun 2008 jumlah kematian balita dilaporkan mengalami peningkatan menjadi 283 balita atau 1. cakupan kunjungan bayi (82. Jumlah kematian balita yang dilaporkan oleh Dinas Kesehatan Kab/Kota di Sulsel pada tahun 2006 sebanyak 148 balita atau 1.000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup menurut SDKI 2007.81% pada tahun 2006 dan mengalami penurunan pada tahun 2007 55 .. dari hasil penelitian mendalam terhadap semua kasus kematian AKABA yang ditemukan dalam RISKESDAS diperoleh gambaran besarnya proporsi sebab utama kematian Balita dapat dilihat pada tabel 5.33 per 1. menunjukkan bahwa pola penyakit penyebab kematian balita menurut Hasil Riskesdas tahun 2007 masih didominasi oleh penyakit infeksi.2002-2003 menunjukkan bahwa AKABA di Sulawesi Selatan mencapai 72 per 1.

18 %. Campak 10. Kelainan jantung Kogenital & Hydrocephalus 5.38 % dari kelahiran hidup.5 10.1.9 2. melahirkan dan dalam masa nifas (42 hari setelah melahirkan) per 100.000 kelahiran hidup. Sumber : Riskesdas 2007 % 25.9 5. TB 9.8 4. Diare 1.9 3.2 15. Untuk mengantisipasi masalah ini maka diperlukan terobosan56 . Kelainan Saluran Pencernaan 4.2. Tabel 5. Proporsi Penyebab Kematian Balita di Indonesia Hasil Riskesdas Tahun 2007 Penyebab Kematian No. Angka Kematian Ibu (AKI) berguna untuk menggambarkan tingkat kesadaran perilaku hidup sehat. tingkat pelayanan kesehatan terutama untuk ibu hamil. Sepsis 6. Malnutrisi 8.48% pada tahun 2006 dan 57. status gizi dan kesehatan ibu. cakupan kunjungan bayi menurun 71.8 5. Untuk data tahun 2008 persentase BBLR 1.9 2.menjadi 75.7 8. cakupan pemberian ASI ekslusif (57. Meningitis/ensefalitis 3. cakupan pemberian ASI eksklusif meningkat menjadi 77. pelayanan kesehatan waktu ibu melahirkan dan masa nifas.20% dari jumlah kelahiran hidup).05% pada tahun 2007) dan lainlain.39 %. Pneumonia 2.4. kondisi kesehatan lingkungan.8 6. Tetanus 7. Angka Kematian Ibu (AKI) AKI adalah banyaknya wanita yang meninggal dari suatu penyebab kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau penanganannya selama kehamilan.

tahun 1982-2007 Penelitian/Survei Tahun AKI 1 2 3 SDKI 1982 450 SKRT 1986 450 SKRT 1992 425 SKRT 1994 390 SKRT 1995 373 SDKI 1997 334 SDKI 2002-2003 307 SDKI 2007 248 Sumber: Badan Litbangkes.000 kelahiran hidup pada tahun 1986 menjadi 425 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1995. kemudian menurun lagi menjadi 373 per 100.2007 Untuk melihat kecenderungan AKI di Indonesia secara konsisten. Harapan kita agar Bidan di desa benar-benar sebagai ujung tombak dalam upaya penurunan AKB (IMR) dan AKI (MMR).000 kelahiran hidup pada tahun 1992. Angka Kematian Ibu (AKI) diperoleh melalui berbagai survey yang dilakukan secara khusus seperti survey di rumah sakit dan beberapa survey di masyarakat dengan cakupan wilayah yang terbatas.terobosan dengan mengurangi peran dukun dan meningkatkan peran Bidan. Pada SKRT 2001 tidak dilakukan 57 .5. maka cakupan wilayah penelitian AKI menjadi lebih luas dibanding survey-survey sebelumnya.000 Kelahiran Hidup di Indonesia. AKI menurun dari 450 per 100. Menurut SKRT. Dengan dilaksanakannya Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) dan Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI). Publikasi Hasil SKRT 1995 & SDKI 2003. Angka Kematian Ibu Maternal per 100. digunakan data hasil SKRT. Tabel 5.

maka apabila penurunannya masih seperti tahun-tahun sebelumnya.000 kelahiran hidup. AKI sebesar 307 per 100.000 kelahiran hidup.67 per 100.000 kelahiran hidup (SDKI 2007). Untuk tahun 2008 jumlah kematian ibu maternal mengalami penurunan menjadi 121 orang atau 82. kemudian menjadi 248 per 100. yaitu sebesar 125 per 100.2007 dan 2008 Sumber : Profil Kesehatan Kab/ Kota tahun 2006-2008 58 .89 per 100. Hal ini menunjukkan AKI cenderung terus menurun. diperkirakan target tersebut akan sulit tercapai.56 per 100.000 kelahiran hidup. Pada tahun 2002-2003.000 kelahiran hidup. Tetapi bila dibandingkan dengan target yang ingin dicapai secara nasional pada tahun 2010.survey mengenai AKI. Angka Kematian Ibu (AKI) di Sulawesi Selatan Tahun 2006.1. sedangkan pada tahun 2007 sebanyak 143 kematian atau 92. Jumlah kematian ibu maternal yang dilaporkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota di Sulawesi Selatan pada tahun 2006 sebanyak 133 orang atau 101.000 kelahiran hidup diperoleh dari hasil SDKI. Gambar 5.

Kesempatan untuk memperoleh pengetahuan tersebut telah tersedia di berbagai tempat-tempat pemukiman penduduk. Posyandu. misalnya melalui Puskesmas. Himbauan untuk menunda usia perkawinan pertama dan membatasi jumlah kelahiran merupakan usaha nyata dalam merealisasikan tujuan tersebut. Dengan demikian diharapkan akan lahir generasi baru yang lebih handal dan berkualitas untuk kelanjutan pembangunan di masa yang akan datang. pernah hamil empat kali/lebih. khususnya wanita menyebabkan masa reproduksinya lebih pendek.2. Polindes dan saranasarana kesehatan lainnya. atau jarak waktu kelahiran terakhir kurang dari dua tahun akan semakin memperbesar resiko persalinan. Kesehatan Reproduksi Persalinan yang dilakukan pada ibu usia kurang dari 20 tahun. Usia perkawinan pertama merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap tingkat fertilitas. Kesadaran masyarakat untuk berperan aktif dalam mengendalikan banyaknya kelahiran belum terlihat nyata. Sementara jumlah kelahiran yang terbatas (cukup dua saja) membuat perhatian ibu terhadap anakanaknya semakin besar. lebih dari 35 tahun. Hal ini berarti pula bahwa penundaan perkawinan mengakibatkan berkurangnya peluang wanita untuk melahirkan anak lebih banyak.5. karena semakin tinggi umur perkawinan. Perkawinan yang dilakukan pada usia matang (di atas 20 tahun) bagi perempuan akan membantu mereka menjadi lebih siap untuk menjadi ibu dan mengurangi resiko persalinan.2. Disamping itu juga pengetahuan para ibu rumahtangga tentang kesehatan merupakan sesuatu yang sangat penting dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan keluarga. Persentase wanita yang 59 .

mengingat usia <16 tahun masih tergolong usia anak (berdasarkan batasan usia anak dalam UU Perlindungan Anak).melangsungkan perkawinan pada usia muda (< 16 tahun) dari tahun 2007 – 2009 memperlihatkan persentase yang semakin meningkat. menjadi 23.43 40.14 60 . persentase ini masih cukup tinggi apalagi jika diakumulasikan dengan perempuan yang menikah pada usia 17-18 tahun.24 25+ Sumber : Susenas 2007. sehingga upayaupaya perlindungan anak masih harus terus ditingkatkan. Tabel 5. dan pada tahun 2009 persentase ini turun menjadi 21. Hal ini perlu menjadi perhatian tersendiri karena akan mempengaruhi ketahanan rumah tangga.85 14.16 21.66 persen.12 2009 (4) 21. Persentase Wanita Pernah Kawin Menurut Umur Perkawinan Pertama Sulawesi Selatan Tahun 2007. Pada tahun 2007 proporsi wanita yang usia perkawinan pertamanya di bawah 16 tahun sekitar 22. 2008 dan 2009 Tahun 2007 (2) 22.66 22..16 persen pada tahun 2008. maka cenderung terjadi perceraian yang pada akhirnya akan bermuara pada kemiskinan warisan bagi anak keturunannya. Kondisi ini cukup menggembirakan.26 23.73 40.6.76 15. dimana ketika perempuan belum siap secara mental dan psikis.2008 dan 2009 Umur Perkawinaan Pertama (tahun) (1) ≤ 16 17 .26 persen.63 2008 (3) 23.00 15.22 40. Namun demikian.18 19 .

menjadi 40.63 persen.22 persen.2. Pada tahun 2007 persentasenya sekitar 23.85 persen. Pada tahun 2007 persentasenya adalah sekitar 40. Pada tahun 2009 persentase wanita yang menikah pada usia 25 tahun ke atas menjadi meningkat menjadi 15.12 persen. Hal ini bisa ditempuh antara lain dengan cara pemakaian alat/cara kontrasepsi KB.75 persen. turun menjadi 21. Selain melalui penundaan usia perkawinan pertama. Pada tahun 2007 persentasenya adalah 14. Untuk wanita yang menikah pada usia 25 tahun ke atas persentasenya memperlihatkan tren meningkat. 61 . Partisipasi Dalam ber KB.73 persen pada tahun 2008. dan pada tahun 2009 naik menjadi 40. Salah satu tujuan program ini adalah untuk meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak serta mewujudkan keluarga kecil bahagia dan sejahtera melalui pembatasan dan pengaturan jarak kelahiran.43 persen. dan mengalami kenaikan pada tahun 2008 menjadi sekitar 15.14 persen 5. partisipasi masyarakat dalam membantu pemerintah menangani masalah kependudukan adalah berupa kesadaran masyarakat untuk mensukseskan program Keluarga Berencana.00 persen pada tahun 2008.3. dan pada tahun 2009 naik lagi menjadi 22. Persentase penduduk yang menikah pada umur 19 – 24 tahun relatif stabil.Persentase penduduk yang menikah pada umur 17-18 tahun cenderung fluktuatif.

88 54.24 2. cenderung lebih memilih jenis alat kontrasepsi ini.85 2006 (4) 1.53 2.71 4.44 2009 (5) 1.59 51. yaitu mencapai sekitar 51. 62 .74 4. bisa dilakukan pada saat yang dikehendaki oleh akseptor. Alat/cara ini relatif lebih aman bagi kebanyakan wanita dan relatif lebih murah dan gampang didapatkan.40 3.86 persen dan pada tahun 2009 menjadi 57.54 5.52 57.62 3.10 57.12 2. sehingga untuk wanita-wanita yang sibuk.05 33.25 Jenis Kontrasepsi Sumber : Susenas 2004.81 3. pada tahun 2006 menjadi 57. 2006 dan 2009 Jika dirinci menurut jenis alat/cara KB yang dipakai tampak bahwa akseptor yang menggunakan suntikan KB menempati urutan tertinggi. Persentase Akseptor KB Menurut Kontrasepsi yang Sedang Digunakan Tahun 2004.70 29. Kelebihan lain dari alat kontrasepsi ini adalah jika akseptor ingin berhenti. meningkat menjadi 54.74 persen pada tahun 2005.73 2.Tabel 5.54 persen pada tahun 2004.21 31. 2005.86 4. mudah pemakaiannya (tidak membuat akseptor malu/risih pada saat pemasangan seperti misalnya IUD) dan efek sampingnya juga tidak terlalu besar.73 2005 (3) 1. Tingginya persentase penggunaan alat kontrasepsi Suntikan KB disebabkan alat ini relatif praktis.39 35.95 2. 2005.7.. 2006 dan 2009 Tahun 2004 (1) MOW/MOP AKDR/IUD Suntikan KB Susuk KB Pil KB Lainnya (2) 1.71 persen.

Meningkatnya

akseptor

KB

yang

menggunakan

metode

kontrasepsi berupa suntikan, diikuti oleh semakin berkurangnya akseptor KB yang menggunakan metode kontrasepsi pil. Hal ini menunjukkan telah terjadi pergeseran pemakaian alat kontrasepsi dari pil KB ke Suntikan KB, kondisi ini kemungkinan disebabkan karena kesibukan para wanita, sehingga lebih memilih suntikan KB yang resiko terjadinya kelainan kecil dibanding dengan pil KB. Sementara itu sisanya menggunakan alat kontrasepsi jenis lain, seperti MOW/MOP, AKDR/IUD, susuk KB, kondom dan metode tradisional. 5.3.1. Penolong Persalinan Penolong persalinan sangat berpengaruh terhadap keselamatan dan kesehatan bayi dan ibu pada saat proses persalinan. Penolong persalinan yang berkualitas tentunya lebih memungkinkan terwujudnya keselamatan/kesehatan bayi dan ibu pada saat persalinan. Tenaga medis sebagai penolong persalinan tentunya lebih baik dibanding tenaga non medis. Bahkan pada periode tahun 2005-2009, penolong persalinan oleh dokter terjadi peningkatan yang cukup signifikan yaitu dari sekitar 8,5 persen pada tahun 2005 dan 8,88 persen pada tahun 2006 meningkat menjadi 11,32 persen pada tahun 2009. Penolong persalinan oleh tenaga medis (dokter dan bidan) di Sulawesi Selatan lebih dari 60 persen, sementara yang ditolong oleh tenaga nonmedis hanya sekitar 30 persen saja. Namun demikian, persentase tersebut cenderung berfluktuasi dari tahun ke tahun. Pada tahun 2005 persentase kelahiran yang ditangani oleh tenaga medis terdapat sekitar 63,73 persen

63

dan pada tahun 2006 turun menjadi sekitar 62,93 persen dan 62,51 persen pada tahun 2009 (Tabel 5.8). Tabel 5.8. Persentase Balita Menurut Penolong Kelahiran Tahun 2005, 2006 dan 2009 Penolong Kelahiran (1) 2005 (2)
8,50 54,37 0,86 36,27 31,21 4,61

Medis : Dokter Bidan

63,73

62,93 8,88 53,05 1,00 37,07 33,39 3,44 0,24

2006 (3)

62,51 11,32 50,83 0,36 37,49 28,48 8,74 0,27

2009 (4)

Lainnya Non.Medis: Dukun Famili

Lainnya 0,45 Sumber: BPS, Susenas 2005, 2006 dan 2009

Terjadinya fluktuasi tersebut, karena penolong persalinan oleh tenaga dukun masih cukup tinggi walaupun cenderung menurun, sehingga perlu pemantauan pengetahuan akan pentingnya kesehatan bagi dukun. Hal ini karena dikhawatirkan terjadinya resiko terhadap keselamatan dan kesehatan ibu dan bayi baik pada saat melahirkan maupun pada pasca kelahiran. Keberadaan Bidan di desa (bidides), diharapkan menjadi penolong persalinan dan mentrasfer pengetahuan tentang kesehatan kepada tenaga dukun. Sehingga kualitas kesehatan anak sejak lahir semakin membaik yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia Sulawesi Selatan khususnya dan Indonesia umumnya dimasa yang akan datang.

64

5.3.2. Lama Pemberian ASI Selama ini pemerintah senantiasa mengaktualisasikan dan mensosialisasikan peningkatan penggunaan air susu ibu (ASI) bagi balita. Hal ini karena dalam pertumbuhan dan perkembangan balita sangat memerlukan air susu ibu (ASI). ASI merupakan zat makanan yang paling ideal untuk pertumbuhan bayi sebab selain bergizi juga mengandung zat pembentuk kekebalan tubuh. Pemberian ASI kepada bayi akan memenuhi kebutuhan gizi dan memberikan kekebalan terhadap beberapa penyakit. Di Sulawesi Selatan, pada periode 2005-2009, paling banyak balita diberi ASI selama 12 sampai 17 bulan yaitu sekitar 32,24 persen walaupun cenderung menurun menjadi 29 persen pada tahun 2009, lalu 24 bulan atau lebih sekitar 24,20 persen dan 18 - 23 bulan sekitar 15,15 persen. Data yang disajikan pada Tabel 5.9 memperlihatkan bahwa ternyata masih ada sekitar 1,35 persen balita yang disusui kurang dari satu bulan dan cenderung meningkat menjadi 4,24 persen. Persentase ini mengalami peningkatan dibanding tahun 2005 dan 2006 yaitu sekitar 0,83 poin dan 2,89 poin. Secara umum, ada kecenderungan seorang ibu memberikan ASI kepada Balitanya sekitar 1 hingga 2 tahun. Persentase balita yang disusui selama dua belas sampai tujuh belas bulan pada tahun 2006 relatif sama jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yaitu dari 32,16 persen pada tahun 2005 menjadi 32,24 persen pada tahun 2006 tetapi menurun lagi menjadi 29,0 persen. Disamping itu, untuk balita yang disusui 6 - 11 bulan mengalami penurunan. Ini berarti, di satu pihak, kesadaran ibu akan arti pentingnya ASI bagi bayi semakin meningkat tetapi seiring dengan meningkatnya peran perempuan dalam kegiatan ekonomi sehingga

65

kecenderungan balita yang disusui 0 bulan cenderung meningkat. Padahal, pemberian ASI kepada bayi juga lebih efisien jika dilihat dari segi ekonomi, sebab ASI jauh lebih murah jika dibandingkan dengan susu formula. Mungkin hal itu menjadi salah satu pertimbangan bagi ibu untuk tetap memberikan ASI kepada bayinya. Tabel 5.9 Persentase Balita Menurut Lamanya Disusui (Bulan) Tahun 2005, 2006 dan 2009 Lama Disusui (Bulan) (1) 0 1-5 6-11 12-17 18-23 24+

2005 (2) 0,52 12,20 18,98 32,16 15,68 20,46

2006 (3) 1,35 8,42 14,26 32,24 17,52 26,20

2009 (3) 4,24 12,11 15,27 29,00 15,15 24,23

Sumber: BPS, Susenas 2005, 2006 dan 2009 5.3.3. Imunisasi Sebenarnya jenis imunisasi cukup beragam baik yang diberikan pada anak-anak maupun pada orang dewasa, tetapi yang jadi focus bahasan disini adalah imunisasi untuk anak balita (bawah 5 Tahun). Sejak tahun 1982, untuk mencegah penyakit yang biasa menyerang anak-anak yang diduga akan mengakibatkan kematian pada bayi, pemerintah

66

Polio (pencegahan polio) dan Campak (pencegahan campak) kepada balita.10.0 94.10).2 85. tetapi data Susenas tahun 1999 menunjukkan sedikit penurunan persentase balita yang paling tidak pernah menerima salah satu jenis imunisasi (lihat table 5.8 2008 (3) 94.3 92.3 88.8 2009 (4) 95. Dari tahun ke tahun pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan cakupan imunisasi dari keempat jenis yang diprogramkan di atas.1 89. Pemantauan pencapaian imunisasi balita ini dapat dilakukan melalui Susenas secara tahunan. DPT (pencegahan Dipteri.0 85. Sulawesi Selatan.4 89. pemberian imunisasi balita tidak selektif gender atau semua balita ditargetkan menerima imunisasi.2 88.6 Sumber: BPS.3 88.2 91.1 89. Persentase Balita yang Pernah Diimunisasi menurut Daerah dan Jenis Kelamin.2 87.7 85.9 90.2 92.0 91.2 91.7 94.8 87. Susenas 2007-2009 Pada dasarnya sebagai salah satu program pemerintah. Partusis dan Tetanus). Tabel 5.9 95. Oleh karena itu tidak terlihat adanya perbedaan yang 67 . 2007-2009 Daerah/Jenis Kelamin (1) Perkotaan Perempuan Laki-laki Pedesaan Perempuan Laki-laki Total Perempuan Laki-laki 2007 (2) 94.7 93.4 92.Indonesia telah mengusahakan pemberian 4 macam imunisasi yaitu BCG (pencegahan TBC).5 94.3 92.

berarti pada cakupan imunisasi antara balita laki-laki dan perempuan. Status Gizi Status gizi seseorang sangat erat kaitannya dengan permasalahan kesehatan secara umum.4.4. walaupun tak terpaut jauh. Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) Berat Badan Lahir Rendah (kurang dari 2. Bahkan status gizi janin yang masih berada dalam kandungan dan bayi yang sedang menyusu sangat dipengaruhi oleh status gizi ibu hamil atau ibu menyusui. karena disamping merupakan faktor predisposisi yang dapat memperparah penyakit infeksi secara langsung juga dapat menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan individual. sebagaimana diuraikan berikut ini: 5. Yang tentunya hal ini berkaitan juga dengan tingkat pendidikan mereka. Sayangnya pada kesempatan ini cakupan imunisasi belum dirinci untuk setiap jenis imunisasi yang diterima balita. Tetapi perbedaan itu terlihat antara daerah pekotaan dengan daerah pedesaan.1. Kesadaran masyarakat pedesaan untuk membawa putra putri mereka ke posyandu atau puskesmas untuk mendapatkan imunisasipun nampaknya masih lebih rendah dari masyarakat perkotaan. Berikut ini akan disajikan gambaran mengenai indikator-indikator status gizi masyarakat di Sulawesi Selatan antara lain bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dan status gizi balita. Hal ini nampaknya terkait dengan kemudahan sarana transportasi untuk menuju tempat pemberian imunisasi. BBLR dibedakan dalam 2 kategori yaitu BBLR karena prematur 68 . 5.500 gram) merupakan salah satu faktor utama yang berpengaruh terhadap kematian perinatal dan neonatal.

malaria dan menderita penyakit menular seksual (PMS) sebelum konsepsi atau pada saat hamil.36 1. Kota ParePare (158 kasus) dan Kab. 2008 dan 2009 Penolong Kelahiran 2007 2008 2009 (1) Jumlah Bayi dengan BBLR (2) 2.670 (83.(usia kandungan kurang dari 37 minggu) atau BBLR karena Intra Uterine Growth Retardation (IUGR).56 1. Di negara berkembang.56 % dari total bayi lahir) dan yang tertangani sebanyak 2. banyak BBLR dengan IUGR karena ibu berstatus gizi buruk.416 1. Sidrap (584 kasus) dan Kota Makassar (295 kasus) dan yang terendah di Kota Palopo (8 kasus).040 Persentase dari Total Bayi Lahir (3) 1.58 %). Sidrap (172 kasus). 69 .998 2. sementara kasus tertinggi di Kota Makassar (251 kasus). Pangkep (147 kasus) dan terendah di Kab.36 Sumber : Profil Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2009 Tabel 5.998 (1.11.11 menunjukkan bahwa di Sulawesi Selatan pada tahun 2007. tercatat bahwa jumlah bayi dengan berat badan lahir rendah sebanyak 2. dengan kasus tertinggi terjadi di Kab. menyusul Kab. Persentase Balita Menurut Penolong Kelahiran dan Status BBLR Tahun 2007. anemia.36 % dari total jumlah bayi lahir) dan yang ditangani sebanyak 1. Tabel 5.451 orang (100%).416 (1. Sedangkan untuk tahun 2008 jumlah bayi dengan BBLR mengalami penurunan menjadi 1. yaitu bayi yang lahir cukup bulan tetapi berat badannya kurang.

14%. gizi kurang (zscore<-2 SD sampai -3 SD) dan gizi buruk (z-score<-3 SD).5 % menurun menjadi 24.51 % dan sisanya 9. prevalensi gizi buruk dan kurang pada balita adalah 37. 5. menurut Susenas tahun 1989.2. dan sensitif/peka dibandingkan prevalensi berdasarkan pengukuran berat badan menurut umur seperti hasil dari pengukuran prevalensi gizi kurang menurut BB/TB (wasting) sesudah tahun 1992 berkisar antara 10-14 %.4. yang bergizi sedang 21. persentase Balita yang bergizi baik adalah sebesar 64. Secara nasional.7 % tahun 2000. Salah satu cara penilaian status gizi pada balita adalah dengan anthropometri yang diukur melalui indeks Berat Badan menurut umur (BB/U) atau berat badan terhadap tinggi badan (BB/TB). jumlah bayi dengan BBLR mengalami kenaikan menjadi 2. Kategori yang digunakan adalah: gizi lebih (z-score>+2 SD). gizi baik (z-score-2 SD sampai +2 SD). Status Gizi Balita Status gizi balita merupakan salah satu indikator yang menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat. Dari hasil Susenas 2001 di Indonesia. yang berarti mengalami penurunan sekitar 34 %.Jeneponto sebanyak 22 kasus.040 (1. Pada tahun 2009.35 70 . Sejak tahun 1992 untuk mengukur keadaan gizi anak balita digunakan standar WHO-NCHS untuk index berat badan menurut umur. Masalah gizi kurang pada anak balita dikaji kecenderungannya menurut Susenas dan survei atau pemantauan lainnya. pada umumnya pengukuran BB/TB menunjukkan keadaan gizi kurang yang lebih jelas. Namun dari beberapa studi/survei yang melakukan pengukuran berat badan dan tinggi badan (BB/TB).36 % dari total jumlah bayi lahir).

% adalah Balita bergizi kurang/buruk atau yang dikenal dengan istilah Kurang Kalori Protein (KKP).0 % anak yang berstatus gizi buruk dan 3.88 18.62 8. Bila dibandingkan menurut jenis kelamin.55 Sumber: Profil Kesehatan Sulawesi Selatan tahun 2008 Di Sulawesi Selatan.3 71.46 8.69 2.1 % anak yang berstatus gizi lebih.04 70. persentase balita perempuan bergizi baik relatif lebih tinggi daripada balita laki-laki. 1.59 19.7 % anak yang berstatus gizi baik.18 6.73 17.88 2. 11.47 71.73 7.35 7. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 5.43 7.58 73. Hasil Pemantauan Status Gizi yang dilaksanakan pada tahun 2001 menggambarkan 84.3 % anak yang berstatus gizi kurang.47 2.41 18.03 2.24 69.46 19.89 20.47 2.12. Sedangkan untuk tahun 2004. menurut laporan yang diterima oleh Subdin Bina Kesehatan Keluarga 71 . demikian pula gizi kurang/buruk lebih tinggi pada balita laki-laki dibandingkan balita perempuan.03 67. untuk menanggulangi masalah gizi atau untuk memperoleh gambaran perubahan tingkat konsumsi gizi di tingkat rumah tangga dan status gizi masyarakat dilaksanakan beberapa kegiatan seperti Pemantauan Konsumsi Gizi (PKG) dan Pemantauan Status Gizi (PSG) di seluruh kabupaten/kota. Persentase Balita (0-59 bulan) Menurut Status Gizi & Jenis Kelamin di Indonesia Tahun 2002 dan 2003 Status Gizi 2002 LakiLaki Perempuan LakiLaki+Perempuan LakiLaki 2003 Perempuan Laki-laki +Perempuan Lebih Normal Kurang Buruk 2.

jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada dan sering disertai penyakit infeksi serta diare. Kwashiorkor adalah keadaan gizi buruk yang disertai tanda-tanda klinis seperti edema di seluruh tubuh. kulit keriput.dan KB Dinkes Prov.2004). empat kabupaten/kota dengan kasus terbanyak antara lain Bone (16 kasus).5 %./kota tercatat delapan kab. dan marasmik-kwashiorkor (22 kasus).5 % dari kabupaten. Kasus gizi buruk yang sebanyak itu terdiri dari marasmus (48 kasus). yaitu marasmus. wajah seperti orang tua (pipi kempot. Pada kasus gizi buruk di Sulawesi Selatan pada tahun 2008 dengan adanya gejala klinis terbagi atas 3 jenis. dan Jeneponto (8 kasus). Luwu Timur 7 kasus. tulang belakang terlihat menonjol./kota yang diatas angka provinsi dan Sulawesi Selatan sudah mencapai target pencapaian program perbaikan gizi pada RPJM 2015 sebesar 20 %. cengeng dan rewel. kwashiorkor. dan gabungan marasmik-kwashiorkor. dan Jeneponto sebanyak 6 kasus. Secara umum prevalensi gizi buruk di Sulawesi Selatan menurut hasil Riskesdas adalah 5. rambut tipis.48 % (PSG. Bone 11 kasus. mata terlihat cekung). Jumlah kasus gizi buruk berdasarkan ketiga jenis tersebut di Sulsel pada tahun 2008 sebanyak 95 kasus. Menurut hasil survei Gizi Mikro Tahun 2006 balita gizi buruk tercatat sebesar 9 %. sedangkan KEP total sebesar 28. iga gambang. Pinrang (15 kasus). Sulsel tercatat bahwa jumlah KEP sebesar 13. Marasmus adalah gizi buruk yang disertai tanda-tanda seperti badan sangat kurus (kulit membungkus tulang).1 % dan gizi buruk 12. Kasus gizi buruk jenis marasmus di Sulawesi Selatan pada tahun 2008 sebanyak 48 kasus. empat kabupaten/kota terbanyak antara lain Pinrang 12 kasus. kwashiorkor (25 kasus). perut cekung. wajah membulat dan sembab. Kasus gizi buruk 72 . Wajo (11 kasus).

Enrekang (7 kasus). 5. Pelayanan Antenatal (K1 dan K4) Masa kehamilan merupakan masa rawan kesehatan. Kasus M+K di Sulsel pada tahun 2008 terbanyak di Kab.92 persen yang mendapat perawatan). Sedangkan gizi buruk jenis marasmik-kwashiorkor (M+K) adalah gizi buruk dengan gambaran klinis yang merupakan campuran dari beberapa gejala klinis kwashiorkor dan marasmus dengan BB/U < 60% baku median WHO-NHCS disertai edema yang tidak mencolok. baik kesehatan ibu yang mengandung maupun janin yang dikandungnya sehingga dalam masa kehamilan perlu dilakukan pemeriksaan secara teratur. dan Bone (5 kasus). Bulukumba dan Bantaeng masing-masing (3 kasus). Pangkep (6 kasus). Selayar.5.825 orang (24.5.jenis kwashiorkor ditemukan terbanyak pada Kabupaten Wajo (5 kasus).1. Situasi gizi buruk di Sulawesi Selatan pada tahun 2009 berdasarkan profil kesehatan kabupaten/kota tercatat sebanyak 2. Oleh karena itu pelayanan kesehatan terhadap ibu dan bayi sangat penting yang dikenal dengan gerakan sayang ibu seperti pelayanan berikut: 5. Gerakan Sayang Ibu Seorang ibu mempunyai peran yang sangat besar di dalam pertumbuhan bayi dan perkembangan anak. Soppeng. Gangguan kesehatan yang dialami seorang ibu bisa berpengaruh pada kesehatan janin dalam kandungan hingga kelahiran dan masa pertumbuhan bayi dan anaknya. Pinrang. Hal ini dilakukan guna menghindari gangguan sedini mungkin dari 73 .

segala sesuatu yang membahayakan terhadap kesehatan ibu dan janin yang dikandungnya. Pelayanan antenatal merupakan pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan profesional (dokter spesialis kandungan dan kebidanan, dokter umum, bidan dan perawat) kepada ibu hamil selama kehamilannya, yang mengikuti pedoman pelayanan antenatal yang ada dengan titik berat pada kegiatan promotif dan preventif. Hasil pelayanan antenatal dapat dilihat dari cakupan pelayanan K1 dan K4. Cakupan K1 atau juga disebut akses pelayanan ibu hamil merupakan gambaran besaran ibu hamil yang telah melakukan kunjungan pertama ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pelayanan antenatal. Sedangkan cakupan K4 adalah gambaran besaran ibu hamil yang telah mendapatkan pelayanan ibu hamil sesuai dengan standar serta paling sedikit empat kali kunjungan, dengan distribusi sekali pada trimester pertama, sekali pada trimester dua dan dua kali pada trimester ketiga. Angka ini dapat dimanfaatkan untuk melihat kualitas pelayanan kesehatan kepada ibu hamil. Gambaran persentase cakupan pelayanan K1 menurut kab./kota di Sulawesi Selatan tahun 2007 tercatat sebesar 93,55 % dan K4 sebesar 76,45%. Cakupan K1 berada di atas target nasional sedangkan K4 berada di bawah target nasional (78%), namun bila dilihat menurut kab./kota maka terdapat kab./kota yang berada di atas target nasional bahkan berada dibawah rata-rata provinsi. Adapun Kab./Kota yang memiliki cakupan yang masih berada jauh dari rata-rata adalah Kab. Selayar, Pangkep, Bone, Enrekang, Tator, Kota Pare-pare dan Palopo. Sedangkan pelayanan K1 tahun 2008 tercatat sebesar 85,91 % dan K4 sebesar 77,74 %.

74

Secara provinsi, pelayanan K1 di Sulawesi Selatan pada tahun 2008 tercatat sebesar 94,71 %, itu artinya pola pelayanan antenatal sudah cukup aktif. Tiga Kab./Kota dengan cakupan terendah yaitu Kota Parepare (84,53%), Selayar (84,71%), dan Enrekang (88,93%). Sedangkan cakupan pelayanan K4 di Sulawesi Selatan dari tahun 2004 -2009 mengalami peningkatan setiap tahunnya. 5.5.2. Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan dengan Kompetensi Kebidanan Komplikasi dan kematian ibu maternal dan bayi baru lahir sebagian besar terjadi pada masa disekitar persalinan. Hal ini antara lain disebabkan pertolongan tidak dilakukan oleh tenaga kesehatan yang tidak memiliki kompetensi kebidanan (profesional). Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan, termasuk pendampingan, meningkat sekitar 10% yaitu dari 60,75 % pada tahun 1998 menjadi 70,62 % pada tahun 2003. Sementara itu, cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan pada tahun 2005 di Sulawesi Selatan tercatat sebesar 78,69 %, bila dibandingkan dengan target SPM Bidang Kesehatan Tahun 2005 (77%) maka Sulawesi Selatan berada di atas target. Sedangkan cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan pada tahun 2007 (72,68%) dan tahun 2008 mengalami peningkatan sebanyak (82,66%). Sedangkan gambaran cakupan persalinan oleh tenaga medis pada tahun 2009 sudah di atas 64 persen seperti yang disampaikan pada bahasan sebelumnya.

75

5.5.3.

Deteksi Risiko, Rujukan Kasus Risti dan Penanganan Komplikasi Kegiatan deteksi dini dan penanganan ibu hamil

berisiko/komplikasi kebidanan perlu lebih ditingkatkan baik di fasilitas pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) maupun di masyarakat. Risti/komplikasi adalah keadaan penyimpangan dari normal, yang secara langsung menyebabkan kesakitan dan kematian ibu maupun bayi. Risti/Komplikasi kebidanan meliputi Hb < 8 g %. Tekanan darah tinggi (sistole > 140 mmHg, diastole > 90 mmHg). Oedema nyata, eklampsia, perdarahan pervagina, ketuban pecah dini, letak lintang usia kehamilan > 32 minggu, letak sungsang pada primigravida, infeksi berat/sepsis, persalinan prematur. Dalam memberikan pelayanan khususnya oleh bidan di Desa dan Puskesmas, beberapa ibu hamil diantaranya tergolong dalam kasus risiko tinggi (Risti) dan memerlukan pelayanan kesehatan karena terbatasnya kemampuan dalam memberikan pelayanan maka kasus tersebut perlu rujukan ke unit pelayanan kesehatan yang memadai. Persentase cakupan ibu hamil risti yang dirujuk tahun 2008 sebesar 25,24 %. Neonatus risti/komplikasi yang meliputi asfiksia, tetanus neonatorum, sepsis, trauma lahir, BBLR (Berat Badan Lahir < 2.500 gram). Sindroma gangguan pernapasan dan kelainan neonatal. Neonatal risti/Komplikasi yang tertangani adalah neonatus risti/komplikasi yang mendapat pelayanan oleh tenaga kesehatan yang terlatih di Puskesmas perawatan dan RS Pemerintah/swasta dengan fasilitas PONED dan PONEK (Pelayanan Obestetrik dan Neonatal Emergensi Dasar dan Pelayanan Obestetrik dan Neonatal Emergensi Komprehensif).

76

masih jauh dari target nasional (100 %). jumlah ibu hamil risti/komplikasi sebanyak 21. yang menerima tablet zat besi selama hamil sebesar 71. pemeriksaan kehamilan di Sulawesi Selatan secara garis besar masih sangat rendah. yang memperoleh imunisasi TT paling sedikit sebesar 1 kali sebesar 82. persentase cakupan bumil risti di Sulawesi Selatan masih rendah yakni 31. Sementara pada tahun 2009.509 orang (3.438 IH (11.1%).Berdasarkan data hasil SDKI 2007.8 % (Nasional 73 %) dan yang melahirkan pada fasilitas kesehatan sebesar 30.2 %).14 persen dari jumlah neo natal) dan sebanyak 78.12 persen yang tertangani.2 % (Nasional 93.3 %).29 %.5 % (Nasional 73 %).51 persen yang tertangani. 77 .6 % (Nasional 46. Sedangkan jumlah neonatal risti/komplikasi sebanyak 4. Pada tahun 2008. hal ini ditunjukkan dengan persentase pemeriksaan kehamilan oleh tenaga kesehatan mencapai 92.9 % (Nasional 77. yang melahirkan pada tenaga kesehatan sebesar 58.86 persen dari ibu hamil) dan hanya 49.

78 .

748 jiwa. Upah/gaji.BAB VI. terdapat perbedaan usia kerja dimana penduduk usia kerja perempuan lebih besar dari penduduk usia kerja lakilaki dengan sex rasio 95 (Hasil Sensus Penduduk 2010). Sebagian perempuan yang “harus bekerja” adalah karena kondisi ekonomi keluarga yang tidak mencukupi.660. Sedangkan bagi perempuan yang memilih untuk bekerja dan memiliki latarbelakang ekonomi menengah ke atas. jumlah penduduk usia kerja juga mengalami pertambahan. tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan cenderung semakin tinggi.jenis usaha serta status usaha.lapangan usaha. jam kerja. mereka bekerja tidak lain hanya didorong oleh motivasi tertentu. TPAK dan pangangguran. Pembahasan kegiatan ekonomi di provinsi Sulawesi Selatan pada kegiatan ini meliputi: penduduk usia kerja. penduduk usia kerja Sulawesi selatan sebanyak 5. Berarti setiap 100 79 . Jumlah ini meningkat menjadi 5. Pada tahun 2008. KEGIATAN EKONOMI Keterlibatan perempuan dalam sector ekonomi. 6. Penduduk usia kerja yang dimaksud berumur 15 tahun keatas yang merupakan sumber angkatan kerja potensial.559. sehingga melibatkan diri di dalam kegiatan ekonomi secara aktif. Sehubungan dengan ini dapat dikatakan bahwa semakin rendah tingkat kehidupan social ekonomi rata-rata penduduk di dalam suatu masyarakat.1 Penduduk Usia Kerja Sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk. Kemiskinan dan Pekerja Migran.. dilatarbelakangi oleh keharusan bekerja atau mereka memilih untuk bekerja. Jika dilihat dari jenis kelamin.624 jiwa pada tahun 2009.

421 Pedesaan (4) 1.748 2009 Perkotaan (3) 992.766 1. Sakernas 2008 dan 2009 Jika kita mengamati table 6.833 3.1 di atas terlihat penduduk usia kerja di pedesaan . Adanya perbedaan ini disebabkan antara lain jumlah penduduk perempuan memang lebih besar.979.599 5. Hal yang sama terlihat pada daerah perkotaan dan pedesaan dimana penduduk usia kerja perempuan lebih besar daripada laki-laki (lihat table 6.655 960. sosial. Akan tetapi perubahan TPAK dapat dipengaruhi oleh factor demografis.1 Banyaknya penduduk usia kerja menurut jenis kelamin dan daerah tempat tinggal Sulawesi Selatan.986.025 2.370 1. 2008 dan 2009 Jenis kelamin (1) Perempuan Laki-laki total 2008 (2) 2. Adanya perbedaan ini disebabkan oleh jumlah penduduk di pedesaan lebih besar daripada di perkotaan. Pengaruh masing-masing faktor tersebut terhadap TPAK berbeda bagi perempuan dan laki-laki.627.203 Total (5) 2. hanya ada 95 laki-laki. 6.559. Selain itu penduduk usia kerja laki-laki di Sulawesi selatan banyak yang merantau. dan ekonomi.624 Sumber : BPS.720.lebih banyak dibanding perkotaan.707.perempuan. 80 .681.2. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) dan Pengangguran TPAK dapat diukur dari perbandingan angkatan kerja dan usia kerja.1) Tabel 6.660.953.036 5..712 2.932.

00 40.00 P erkotaan Laki-Laki P erempuan P edesaan Sumber : BPS. Sulawesi Selatan. Sakernas 2009 81 .00 50.00 80.00 20.Bagi TPAK laki-laki.1 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Menurut Daerah Tempat Tinggal dan Jenis Kelamin. Tahun 2009 90.00 60.00 70.00 0.00 30. Gambar 6. ekonomi dan budaya. pengaruh faktor-faktor tersebut tidaklah terlalu besar oleh karena umumnya laki-laki pencari nafkah utama keluarga. Melaksanakan tugas rumah tangga masih dianggap sebagai tugas pokok perempuan. Lain halnya dengan TPAK perempuan. banyak dipengaruhi oleh factor sosial.00 10.

Kenaikan TPAK tersebut diduga disebabkan oleh kondisi ekonomi yang sudah berangsur membaik yang juga berdampak pada perekonomian rumah tangga.2 persen pada tahun 2000 menjadi 44.97 persen pada tahun 2009. Kondisi ini masih sama pada tahun 2000 di mana TPAK perempuan hanya sebesar 28. Ini berarti partisipasi perempuan di bidang ekonomi belum dapat menyamai partisipasi laki-laki.2 persen sedang laki-laki 69.1 di atas terlihat bahwa TPAK perempuan baik di perkotaan maupun di pedesaan pada tahun 2009 selalu lebih rendah dari pada laki-laki.94 persen pada tahun 2009. Perbedaan ini mungkin disebabkan oleh system pembagian kerja secara seksual dalam masyarakat. pada periode 2000-2009 terjadi kenaikan TPAK perempuan dari 28. TPAK perempuan dan laki-laki di Sulawesi Selatan memiliki perbedaan yang cukup besar yaitu 44. 82 .94 persen berbanding 81.Dari gambar 6.9 persen. di mana perempuan mempunyai kegiatan utama di dalam rumah dan laki-laki di luar rumah (mencari nafkah). Hal ini berkaitan dengan pembagian tugas dalam rumah tangga peranan perempuan semakin signifikan dalam pasar tenaga kerja untuk mendukung ekonomi rumah tangga. Walaupun demikian.

diantaranya yang utama adalah karakteristik angkatan kerja itu sendiri. Dari gambar 6. jenis 100.000 60.000 .000 40. juga oleh kondisi lain.2 terlihat bahwa puncak TPAK perempuan di perkotaan berada pada usia 25-29 tahun (57. dan seperti telah disinggung sebelumnya partisipasi mereka dalam angkatan kerja dapat berbeda-beda.91 persen) dan di pedesaan pada usia 40-44 tahun (57.000 80.000 20.000 1519 2024 2529 3034 3539 4044 4549 5054 5559 60 + Perkotaan Laki-Laki Perkotaan Perempuan Perdesaan Laki-Laki Perdesaan Perempuan kelamin.Gambar 6. Pada daerah yang berbeda. Sakernas 2009 Secara keseluruhan mereka yang berada di pasar kerja atau yang bekerja itu terdiri atas berbagai kelompok umur. tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) berbeda menurut umur dan jenis kelamin.19 83 . Sulawesi selatan 2009 Sumber : BPS.2 tingkat partisipasi angkatan kerja menurut umur. dan daerah. Perbedaan itu di samping dipengaruhi oleh desakan kebutuhan ekonomi. Salah satu karakteristik angkatan kerja yang utama adalah umur dan tentunya jenis kelamin.

Lingkungan sosial budaya selama ini tidak terlalu memberikan peluang bagi keikut sertaan perempuan dalam angkatan kerja. Di bandingkan dengan TPAK laki-laki. baik di perkotaan maupun di pedesaan menunjukkan kecenderungan semakin melonggarnya ikatan sosial dan budaya di Sulawesi Selatan. Namun demikian. yang kemudian keluar dari pasar kerja selama dan setelah melahirkan anak.persen). terjadi peningkatan TPAK perempuan untuk semua umur. dibandingkan tahun 2000. Hal menarik dari kedua gambar di atas adalah secara keseluruhan TPAK perempuan di pedesaan lebih tinggi dari angka di perkotaan. Dalam kondisi ekonomi yang sulit. ternyata memang TPAK laki-laki selalu lebih tinggi di semua kelompok umur baik di perkotaan maupun pedesaan.3. Hal ini menunjukkan bahwa pada tahun 2009 pola TPAK perempuan di Sulawesi Selatan adalah the early peak yaitu partisipasi sebagian besar adalah pada perempuan belum kawin atau perempuan muda yang telah kawin sebelum melahirkan. jumlah pengangguran cenderung meningkat. Pada tahun 2009 TPAK perempuan perkotaan mempunyai 2 puncak dan di pedesaan mempunyai 3 puncak. maka seharusnya TPAK perempuan di pedesaan akan jauh lebih rendah dari TPAK perempuan di perkotaan. 6. Jika anggapan selama ini yang menyatakan rendahnya TPAK perempuan di Sulsel disebabkan oleh factor social dan budaya benar. Tingkat Pengangguran Timbulnya pengangguran adalah disebabkan oleh banyaknya pencari kerja yang tidak dapat diimbangi oleh penciptaan kesempatan kerja. Hal ini disebabkan oleh lebih kuatnya pengaruh factor ekonomi daripada factor social budaya di pedesaan. Disatu sisi 84 . yang disebabkan oleh dua kondisi yang berlawanan.

6 8.4 2.3 5.3 3.7 7. baik berupa pendatang baru maupun mereka yang lepas/ keluar dari pekerjaan lama untuk mencari pekerjaan yang lebih baik.9 1.5 persen dan menurun menjadi 5. 2000 dan 2009 Daerah Tempat Tinggal (1) Perkotaan Pedesaan 2000 LakiPerempuan laki (2) (3) 9.4 7.0 1. kesempatan kerja yang tersedia justru menciut karena kontraksi ekonomi atau tumbuh dalam besaran yang sangat terbatas karena minimnya investasi atau investasi yang ada lebih bersifat padat modal. dengan TPT perempuan 85 .9 Total 5.2). Jika perbedaan TPT dilihat dari daerah tempat tinggal.1 10.3. didapat perbedaan yang sangat besar antara TPT perkotaan dengan TPT pedesaan. Tabel 6.4 persen pada tahun 2000. Tetapi disisi lain.jumlah pencari kerja semakin bertambah. Namun perbedaan TPT menurut jenis kelamin di dua daerah tesebut relative lebih kecil (lihat table 6.2 Sumber : BPS.0 berbanding 1.9 3. yaitu 7. Sakernas 2000 dan 2009 Hasil pengolahan Sakernas 2000-2009 Sulawesi Selatan menunjukkan tingkat pengangguran terbuka (TPT) perempuan lebih tinggi dibandingkan TPT laki-laki. TPT perempuan di Sulsel pada tahun 1997 adalah 11.4 6.0 2009 LakiPerempuan laki (5) (6) 13.5 10.3 9.4 terhadap 2. Pada tahun 2000 perbandingannya adalah 5. dan jenis kelamin. Sulawesi Selatan.9 Total (7) 11.9.2 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menurut Daerah tempat tinggal.8 Total (4) 7.

Keadaan ini dapat mempengaruhi TPT. baik dengan jam kerja normal maupun tidak. Menurut Effendi (1992). perbedaan ini berkaitan dengan perbedaan struktur peluang kerja. Tingginya TPT perempuan diduga karena berhubungan dengan peningkatan keinginan untuk bekerja diluar rumah tangga. meskipun dengan produktivitas yang rendah. maka tersedia kesempatan bagi perempuan untuk mencari pekerjaan guna menambah penghasilan keluarga sambil mengisi kekosongan waktu ( effendi.1992 dalam Fatmawati). Menarik untuk ditelaah lebih lanjut adalah TPT perempuan di pedesaan lebih rendah dari perkotaan baik pada tahun 1997. Dalam keluarga yang mempunyai sedikit anak (misalnya 2) yang sudah bersekolah. karena mereka yang membantu usaha keluaraga dicatat sebagai pekerja meskipun tidak dibayar. tahun 2000 maupun pada tahun 2009. usaha di sector pertanian dan usaha rumah tangga lebih berperan di bandingkan usaha/kegiatan nonpertannian.yang lebih tinggi dari TPT laki-laki. Tidak mustahil hal ini berkaitan dengan menurunnya angka kelahiran. 86 . Hal tersebut terkait dengan sifat-sifat pekerjaan di pedesaan yang lebih mudah menyerap tenaga kerja keluarga. dapat saja bekerja sementara dengan membantu usaha keluarga. Hal ini merupakan indikasi adanya pergeseran status pekerjaan perempuan dari hanya bekerja sebagai pekerja keluarga tanpa dibayar disektor pertanian. Di pedesaan. menjadi pekerja public/umum untuk mendapatkan upah. termasuk istri dan anak-anak. Padahal penduduk usia kerja di pedesaan lebih banyak dari perkotaan. Perempuan yang belum bekerja atau tidak mempunyai pekerjaan.

Jenis Kelamin. 2009 Sumber : BPS. Sementara di perkotaan. Keengganan bekerja di sektor pertanian dan langkahnya peluang kerja non-pertanian dipedesaan diduga mendorong mereka untuk mencari kerja di perkotaan. Inilah yang menyebabkan TPT di perkotaan relatif lebih tinggi 87 . yang berpendididkan bersedia menunggu beberapa saat untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan.3 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menurut Umur.Gambar 6. dan Daerah. Tidak tertutup kemungkinan mereka yang berpendidikan dipedesaan mencari kerja diperkotaan. Sakernas 2009 Rendahnya pengangguran terbuka dipedesaan juga dapat dipakai sebagai indikator migrasi desa-kota. Sulawesi Selatan.

kemudian menurun setelah itu.dari pedesaan. dan mungkin masih berfikir-fikir dulu apakah akan terus sekolah atau bekerja. (Fatmawati 1993). Selain itu. Pada usia 15-19 tahun sebagian besar masih di bangku sekolah.3 menunjukkan bahwa tingkat pengannguran di Provinsi Sulawesi Selatan cenderung terus menurun dari 12.9 persen tahun 2009. Jika dibandingkan dengan TPT tahun 1997 dapat dikatakan telah terjadi penurunan TPT diseluruh kelompok umur.3 menunjukkan TPT mencapai puncaknya pada kelompok usia 20 sampai 24 tahun baik di perkotaan maupun di pedesaan serta baik antara laki-laki dan perempuan. karena itu mereka akan bekerja apa saja untuk memperoleh penghasilan.5 persen (2008) dan 8. Mereka yang berasal dari status social ekonomi yang rendah tidak mampu untuk menganggur. Namun demikian pada periode 2006-2009. perluasan kota diduga turut menambah pengangguran terbuka. 11. sehingga belum mencari kerja. terutama biaya sekolahpun pada jenjeng lebih tinggi telah dirasakan memberatkan beban rumah tangga. 10. Pada dasarnya hanya orang yang mampu atau dari status sosial-ekonomi menengah keatas yang dapat tetap menunggu untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. walaupun untuk itu mereka mendapatkan upah/penghasilan yang rendah.2 persen (2007). Hal ini berkaitan dengan dampak krisis ekonomi yang ada. Tabel 6. Gambar 6. Seiring dengan menurunnya penduduk miskin 88 . baik karena terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) maupun karena menurunnya daya beli masyarakat secara umum. tetapi memasuki usia 20-24 sudah semakin jelas untuk memutuskan masuk kepasar kerja. Pada awal krisis pengangguran meningkat atau berada pada posisi tinggi karena menurunnya kegiatan ekonomi secara umum maka merosot juga peluang kerja.8 persen (2006).

57 2007 (3) 11.dari 14.57 persen (2006).2 14. Tabel 6.4. Pekerja perempuan di luar sektor pertanian (primer) banyak memasuki sector tertier.9 12. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT %) 2.8 14. Industry pengolahan yang berskala besar umumnya berlokasi di Makassar dan sekitarnya dengan kegiatan yang banyak menyerap tenaga 89 . sebenarnya adalah pada subsector industry kecil dan kerajinan rakyat (IKKR). dalam kelompok sector sekunder. 14.3. Lapangan Usaha Lapangan usaha yang dimasuki oleh pekerja perempuan dan lakilaki memperlihatkan adanya perbedaan.31 Sumber : Sakernas 2006-2009 dan Susenas 2006-2009 6. Kedua sector ini secara umum. sehingga produktivitas merekapun tergolong rendah.11 2008 (4) 10. Tingkat Kemiskinan 2006 (2) 12.34 persen (2008) dan 12. cukup besar. Sebenarnya kesertaan pada sector industri. 13. karakteristiknya mirip dengan sector pertanian.5 13.31 persen tahun 2009. Bagian terbesar dari pekerja sector industri.34 2009 (5) 8. Tingkat Pengngguran Terbuka (TPT) dan Tingkat Kemiskinan di Sulawesi Selatan Tahun 2006-2009 Indikator (1) 1. yaitu mudah dimasuki oleh mereka yang pendidikannya rendah dan sering terjadi income/work sharing.11 persen (2007). terutama jasa dan perdagangan.

Daerah. yaitu dari sector sekunder dan tertier ke sector primer di antara pekerja perempuan.pertambangan.240 72.lainnya Sumber: BPS Sakernas 2007. 2009 90 1.keuangan. kopi. misalnya pengolahan biji coklat.jasa.197 164. Table 6. Hal ini menunjukkan adanya penurunan kegiatan ekonomi di kedua kelompok besar lapangan usaha tersebut.146 Primer Sekunder Tertier 9.648 177.295 2007 Perempua Lakin laki (2) (3) 2009 Perempua Lakin laki (4) (5) Perkotaan+Pedesaan Primer Sekunder Tertier 361. 2007.223. 2009 Daerah/Lapangan Usaha (1) Perkotaan Pedesaan Primer Sekunder Tertier 352.713 407.442 1.153.729 4.482 64. maupun udang untuk tujuan sector. Jika dilihat dari perkembangan data tahun 2007-2009 terlihat adanya pergeseran yang cukup jelas di daerah pedesaan.011 Catatan: sector primer= sector pertanian.24 9 93.4 Penduduk Berumur 10 Tahun Keatas yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha Utama.010 185.441 .542 271.649 471.kontruksi Sector tertier= sector perdagangan.55 7 45.439 281. Sector sekunder= sector industry. Sulawesi Selatan.listrik.424 396.815 56.569 70. Tampaknya pertanda inilah yang mendorong banyaknya perempuan pedesaan mencari pekerjaan di luar sector pertanian.240 36.495.130.kerja adalah industry pengolahan makanan.552 364.904 187.transpotasi.231 1. Dan Jenis Kelamin.276 24.552 456.930 95.695 10.00 9 57.274 187.471 352.091 80. yang menandakan adanya penurunan kondisi ekonomi pedesaan dalam kurun waktu tahun 2007-2009.690 22.92 0 71.863 24.210 189.

33 persen) dan sektor jasa kemasyarakatan (30. Table 6.69 persen dan 6. eceran.06 persen). menunjukkan bahwa pekerja perempuan banyak terserap selain di sektor pertanian (45. Daerah. eceran. rumah makan dan hotel (29.21 persen) adalah sektor perdagangan besar. 2009 cenderung lebih tinggi dari pekerja laki-laki yaitu masingmasing 7. Sulawesi Selatan.5.Tabel 6. Dan Jenis Kelamin. dan itu terjadi baik di perkotaan dan Sumber : BPS. Yang menarik adalah proporsi pekerja perempuan yang terserap di sektor industri pengolahan perdesaan.05 persen.03 persen). Bahkan di daerah perkotaan mayoritas pekerja perempuan terserap di sektor sektor perdagangan besar. rumah makan dan hotel (47.5. Penduduk Berumur 15 Tahun Keatas yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha Utama. Sakernas 2009 91 .

3 72. Dan Jenis Kelamin.8 52.9 62. Sulawesi Selatan.2 12.7 Penduduk Berumur 10 Tahun Keatas yang Bekerja Menurut Status Pekerjaan.8 50.7 Berusaha Buruh/kar yawan Pekerja Keluarga 25. Daerah.4 22.1 55. Untuk 2 status tersebut. tetapi juga distribusi status usaha/pekerjaan (oberay.5 20.6 55. pola status usaha pekerja perempuan menunjukkan bahwa sebagian besar mereka bekerja sebagai pekerja keluarga (tak dibayar atau sebagai buruh/ karyawan).4 22.5 22.9 16.9 13.5.2 22.8 49.5 32.6 28.5 26.1 34. 2009 2007 Status Pekerjaan (1) Perkotaan Pedesaan Total Berusaha Buruh/kar yawan Pekerja Keluarga 26.5 23.9 44.3 Perempuan (2) Lakilaki (3) 2009 Perempu Lakian laki (4) (5) Di Sulawesi Selatan. Table 6.2 33.6 23.8 30. 1978).7 35. Status Pekerjaan Proses pembangunan ekonomi tidak saja dihubungkan dengan distribusi angkatan kerja menurut sector.6 37. Pengelompokan pekerja menurut status usaha sangat berguna untuk menelusuri sifat usaha (pekerjaan) dan jenis usaha tertentu (Manning. persentase pekerja perempuan masing-masing sebesar 55.9 42.1 92 .6 12.1 22.6 54. dalam Fatmawati 1993).4 47.6.9 47. 2007.4 14.3 Berusaha Buruh/kar yawan Pekerja Keluarga 22.

Cukup besarnya persentase perempuan pengusaha sejalan dengan lapangan pekerjaan utamanya sebagai pedagang atau jasa dengan skala kecil. Di perkotaan pada waktu yang sama.7). Hal ini terlihat dari persentase perempuan yang bekerja sebagai pekerja keluarga adalah 72.8 persen berbanding 35. pekerja perempuan sebagian besar (50. Umumnya kegiatan perekonomian di pedesaan lebih bersifat informal.6 Jam Kerja Jam kerja merupakan salah satu variable yang mengukur pemanfaatan seseorang dalam bekerja.persen dan 22.2 persen). 93 .9 persen). Seseorang dapat dikatakan bekerja penuh jika yang bersangkutan bekerja minimal 35 jam dalam seminggu. Tingginya persentase pekerja keluarga di pedesaan dimungkinkan karena dengan tingkat pendidikan umumnya rendah. 6.2 persen.3 persen) karena umumnya mereka bekerja sebagai pekerja keluarga (72.4 persen) berstatus buruh atau karyawan. sebenarnya perempuan pekerja keluarga dapat dikatakan sebagai fenomena pedesaan. Persentase perempuan yang berusaha (berusaha sendiri/dibantu buruh tidak tetap/dibantu buruh tetap) ternyata tidak banyak berbeda dengan laki-laki yaitu 26. lazim terjadi praktek berbagi rejeki/pekerjaan (income/work sharing) dalam usaha rumah tangga. Jumlah ini melebihi pekerja laki-laki (49.6 persen pada tahun 2009 (lihat table 6. baik dilakukan sendiri maupun dibantu anggota rumah tangga lainnya (anak). Agaknya hal ini berbeda dengan di pedesaan. sehingga persentase perempuan yang bekerja sebagai buruh atau karyawan tergolong rendah (12.8 persen.

tetapi bila dibandingkan data tahun 2007 dengan data tahun 2009 nampak ada sedikit peningkatan.8 32.8 53.964. Persentase Pekerja Menurut Kelompok Jam Kerja Dan Jenis Kelamin.16 1. maka banyak pula ditemukan perempuan yang bekerja dengan jam kerja rendah.0) (100.7 840.8 58. Meskipun jumlah jam kerja perempuan lebih rendah dibanding jumlah jam kerja laki-laki. lebih banyak perempuan daripada laki-laki.9 4.0 20.0) Catatan: *) Sementara tidak bekerja ( ) angka dalam kurung adalah persentase Sumber: BPS Susenas 2007 dan 2009 94 . Table 6.9 37. atau dikenal juga sebagai setengah penganggur kritis.8 persen menjadi 40. Dalam periode tersebut.188 (100.5 21. 2007-2009 Jumlah Jam Kerja (Jam) (1) 0*) 1-14 15-34 35+ 2007 Perempuan Laki-laki Perempuan 2009 Laki-laki (5) 8.0) (100. Data tersebut adalah 59.Dengan banyaknya perempuan yang bekerja sebagai pekerja keluarga atau yang hanya berfungsi membantu suami/ayah/KRT.9 40.0 persen berbanding 42. proporsi perempuan yang bekerja di atas jam kerja normal (35 jam seminggu) meningkat dari sebesar 37.976.8 terlihat bahwa pekerja yang bekerja di bawah jam kerja normal (35 jam seminggu).574 823. Perbandingan tersebut menjadi lebih mencolok untuk mereka yang bekerja 1-14 jam seminggu.8.780 Total (100.7 persen. Dari table 6. atau dikenal seminggu setengah penganggur.5 37.1 32.0 persen pada tahun 2009.3 9.)) (2) (3) (4) 3.7 38.4 1.

07 kali.25 kali.82 kali untuk pekerja perempuan. Upah/Gaji Sebulan Pemberian upah biasanya ditentukan oleh banyak faktor. bahkan pada pekerja berpendidikan rendah dan tinggi masing-masing 3. jabatan.39 kali dan 2. yang mengakibatkan adanya arus migrasi dari pedesaan ke perkotaan. keahlian. jenis pekerjaan. Tabel 6. dan lain sebagainya. seperti latar belakang pendidikan. Bahkan pada pekerja perempuan peningkatannya lebih signifikan yaitu 2. Peningkatan upah/gaji tersebut salah satunya mungkin karena semakin membaiknya perekonomian di Sulawesi Selatan sehingga upah/gaji pekerja sudah di atas UMR. sementara lakilaki hanya 2. Dari hasil pengolahan data Sakernas 2000 dan 2009 (Tabel 6. Peningkatan upah/gaji tersebut terjadi pada perekerja laki-laki maupun perempuan di semua jenjang pendidikan dan daerah. jam kerja.7.6. pengalaman kerja. 95 .9) menunjukkan bahwa tingkat upah pekerja secara umum berhubungan positif dengan tingkat pendidikan pada pekerja laki-laki maupun perempuan. Tetapi pada bahasan ini hanya dilihat berdasarkan tingkat pendidikan yang ditamatkan untuk lakilaki maupun perempuan. Kemudian terlihat pula adanya kesenjangan antara tingkat upah di perkotaan dengan tingkat upah di pedesaan.9 juga menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan upah/gaji baik laki-laki maupun perempuan pada periode 2000-2009. Biasanya penentuan tersebut merupakan kombinasi dari beberapa factor sekaligus. Sehingga gap antara upah/gaji laki-laki dan perempuan semakin mengecil bahkan upah/gaji di perkotaan sudah mencapai di atas satu juta.

9. Table 6. 2000-2009 Sumber: BPS Sakernas 2000 dan 2009 96 . Kesenjangan tersebut sangat nyata di antara mereka yang berpendidikan di atas SLTA baik tahun 2000 maupun 2009.Sementara itu terlihat juga kesenjangan tingkat upah antara yang diterima pekerja perempuan dan yang diterima pekerja laki-laki pada seluruh tingkat pendidikan. Sulawesi Selatan. Rata-rata upah/gaji pekerja sebulan Menurut tingkat pendidikan dan jenis kelamin.

83 6.25 persen sementara di daerah perkotaan hanya 6. penduduk miskin di daerah perdesaan menurun menjadi 16.8.6 880.05 4.57 14.79 15.0 orang (14.05 persen.81 Kota+Desa 14.5 Desa 944. Pada periode 2006-2008. Pada tahun 2006. Kemiskinan Jumlah penduduk miskin di Sulawesi Selatan selama periode Maret 2006-Maret 2009 terus mengalami penurunan baik secara absolut maupun relatif.4 1031.4 orang (14.87 16. Pada tahun 2006 penduduk miskin di Sulawesi Selatan adalah sebanyak 1112.600 jiwa (12.11 13. 2006-2009 Jumlah Penduduk Miskin (000) Tahun Kota 2006 2007 2008 2009 167. Secara absolut selama periode Maret 2007-Maret 2008.0 1083.25 17.8 152.6.8 150.7 963.34 persen) dan pada bulan Maret 2009 turun lagi menjadi di bawah satu juta yaitu 963.79 persen sedangkan di daerah perkotaan turun menjadi 6.31 Sumber: Diolah dari data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Penduduk miskin di Provinsi Sulawesi Selatan lebih tinggi di daerah perdesaan.94 Desa 18. Pada bulan Maret 2008 turun menjadi 1031.7 orang (13. penduduk miskin di perdesaan mencapai 18.34 12. Tabel 6.8 124.2 930.83 persen.1 Kota+Desa 1112.31 persen).11 persen) pada tahun 2007.9 839.57 persen) turun menjadi 1083.10 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Sulawesi Selatan Menurutt daerah. penduduk 97 .6 Persentase Penduduk Miskin Kota 6.18 6.

miskin di daerah perkotaan berkurang 2.3 ribu orang (17.3 34 963.3 (15.3 23 609.3 12 768.0 22 194.5 Sumber: Diolah dari data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2006-2008 98 . 2006-2008 Tahun Jumlah Penduduk Miskin (000) Kota Desa 24 806.38 persen. turun menjadi 37 168.0 13 559.75 16. Pada bulan Maret 2007.3 ribu orang (16.11 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Indonesia Menurut Daerah. Pada tahun 2006 jumlah penduduk miskin di Indonesia adalah sebesar 39 295.42 2006 2007 2008 14 489.000 orang.58) pada tahun 2007.47 12. dan pada tahun 2008 turun lagi menjadi 34 963.93 Kota+Desa 17.58 15.65 Desa 21.37 18. Persentase penduduk miskin antara daerah perkotaan dan perdesaan tidak banyak berubah.52 11.42).75 persen).90 persen) penduduk miskin berada di daerah perdesaan. sementara pada bulan Maret 2008 persentase ini sedikit mengalami penurunan menjadi 85.700 orang.8 Persentase Penduduk Miskin Kota+Desa 39 295. sementara di daerah perdesaan berkurang 49.3 37 168. sebagian besar (85.81 20.3 Kota 13. Tabel 6. Jumlah penduduk miskin di Indonesia pada periode Maret 2006-Maret 2008 tampak semakin menurun.

terlihat bahwa peranan komoditi makanan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan. pendidikan. Selama Maret 2007-Maret 2008. karena penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan dibawah Garis Kemiskinan.623. Selain beras.9.126.57.per kapita per bulan pada Maret 2008. Dengan memperhatikan komponen Garis Kemiskinan (GK). 6. Demikian juga pada tahun 2008.78 persen.56 persen di perkotaan. Pada bulan Maret 2007.Jika dibandingkan dengan persentase penduduk miskin di Sulawesi Selatan pada periode Maret 2006-Maret 2008 tampak bahwa persentase penduduk miskin di Indonesia masih lebih besar. dan kesehatan). Komoditi yang paling penting bagi penduduk miskin adalah beras. Pada bulan Maret 2007.12 persen.. sumbangan pengeluaran beras terhadap Garis Kemiskinan sebesar 28. tetapi pada bulan Maret 2008.64 persen di perdesaan dan 18.42 sedangkan di Sulawesi Selatan mencapai sekitar 13.334. yang terdiri dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Bukan-Makanan (GKBM). Perubahan Garis Kemiskinan Besar kecilnya jumlah penduduk miskin sangat dipengaruhi oleh Garis Kemiskinan. sandang. yaitu dari Rp.138.34 persen. sumbangan GKM terhadap GK sebesar 75.75 persen sedangkan di Sulawesi Selatan hanya sekitar 14..per kapita per bulan pada Maret 2007 menjadi Rp. Garis Kemiskinan mengalami kenaikan. penduduk miskin di Indonesia mencapai 15. peranannya sedikit meningkat menjadi 76. Pada tahun 2006 persentase penduduk miskin di Indonesia mencapai 17. barang-barang kebutuhan pokok lain yang 99 .

Tabel 6.90 persen di perkotaan).58 persen di perkotaan). 1. biaya perumahan mempunyai peranan yang cukup besar terhadap Garis Kemiskinan yaitu 6. yaitu masing-masing sebesar 2. 100 . telur (1. 2.12.50 persen. 1. 0.90 persen. Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Sulsel Menurut Daerah. dan Maret 2009.58 persen di perdesaan. Maret 2006-Maret 2009 Sumber: Diolah dari data Susenas Panel Maret 2006-Maret 2008. Untuk komoditi bukan makanan. sementara untuk daerah perdesaan pengaruhnya relatif kecil (kurang dari 2 persen).04 persen di perdesaan dan 7.82 persen di perkotaan. mie instan (1. Garis Kemiskinan.23 persen di perkotaan). 2. Biaya untuk listrik.78 persen dan 2.11 persen di perdesaan.70 persen di perkotaan) dan minyak goreng (1. angkutan dan minyak tanah mempunyai pengaruh yang cukup besar untuk daerah perkotaan.99 persen di perdesaan.berpengaruh cukup besar terhadap Garis Kemiskinan adalah gula pasir (2.34 persen di perdesaan.

68 menjadi 0.60 pada keadaan Maret 2007 menjadi 2. Indeks Kedalaman Kemiskinan dan Indeks Keparahan Kemiskinan Persoalan kemiskinan bukan hanya sekadar berapa jumlah dan persentase penduduk miskin.6. 101 . Demikian pula Indeks Keparahan Kemiskinan turun dari 0. Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) menunjukkan kecenderungan menurun.44 pada keadaaan Maret 2008. Selain harus mampu memperkecil jumlah penduduk miskin. Indeks Kedalaman Kemiskinan turun dari 2. 10.67 pada periode yang sama (Tabel 6. Penurunan nilai kedua indeks ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung makin mendekati garis kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin juga semakin menyempit.13). Dimensi lain yang perlu diperhatikan adalah tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan. Pada periode Maret 2007-Maret 2008. kebijakan kemiskinan juga sekaligus harus bisa mengurangi tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan.

60 2.08 Kota Desa Kota + Desa Sumber: Diolah dari data Susenas Panel Maret 2006-Maret 2009 Nilai Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) di daerah perdesaan jauh lebih tinggi dari pada perkotaan.77 0.89 0.00 0. Nilai Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) untuk perkotaan hanya 0.43 2.91 1. Maret 2006.82.35 sementara di daerah perdesaan mencapai 0.13 Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) di Sulawesi Selatan Menurut Daerah.03 2. 102 .67 4.15 1.68 0.03.Tabel 6.74 3.20 0.20 sementara di daerah perdesaan mencapai 3.55 2.61 0.40 3.22 0. Pada bulan Maret 2008.22 0.44 2.22 3. nilai Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) untuk perkotaan hanya 1.67 0.82 0.35 0.Maret 2008 Tahun Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) Maret 2006 Maret 2007 Maret 2008 Maret 2009 Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) Maret 2006 Maret 2007 Maret 2008 Maret 2009 0.74 1.

telah mendorong banyak peneliti melakukan analisa mengenai apa yang mendorong seseorang melakukan hal ini. 2004). Seiring berkembangnya era globalisasi pada saat ini. Globalisasi telah merubah banyak jumlah perempuan yang migrasi bukan saja sebagai pengikut tetapi juga sebagai pelaku migrasi. 103 . 1981). (Demographic Institut. Dengan semakin tingginya tingkat mobilitasi baik nasional maupun internasional.11. Adanya globalisasi informasi menyebabkan mobilitas penduduk semakin meningkat. Tujuan dan motif utama migrasi yang sering ditemukan adalah untuk memperbaiki keadaan ekonomi dan status sosial. Perempuan meningkatkan migrasi internasional bukan saja jumlah perempuannya yang meningkat tetapi juga konstribusi perempuan di bidang sosial ekonomi juga meningkat (Sri Harijati Hatmaji. dunia seakan tanpa batas. Mobilitas penduduk merupakan salah satu usaha manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dengan mencari dan menemukan sesuatu yang baru (innovative migration) atau mempertahankan apa yang telah dimiliki (conservative migration).6. Pekerja Migran (TKI/TKW) Teori migrasi klasik menyatakan bahwa migran lebih banyak lakilaki daripada perempuan pada usia umur produktif.

Secara umum.4 0. dan pola fertilitas.0 0. Tabel menunjukkan bahwa migrasi dari sulawesi Selatan sebagian 104 .5 13. Migran yang telah tersentuh atau dipengaruhi oleh lingkungan yang lain.0 Sumber: Disnakertrans Provinsi sulawesi Selatan (Data Diolah) Data bulan Januari-September 2010. seringkali menjadi pelaku perubahan.1 2. Mereka membawa berbagai pengetahuan dan nilai-nilai baru ke tempat asal atau ke tempat tujuan sehingga mendorong terjadinya perubahan sosial budaya.14. perubahan sosial budaya dapat diamati dari perubahan orientasi nilai budaya tradisional.Banyaknya Migrasi Internasional (TKI dan TKW) dari Sulawesi Selatan Menurut Tujuan Negara Tahun 2010 Tujuan Negara Malaysia Arab saudi Brunei Darussalam Hongkong Kuwait Malaysia Timur Jumlah Jumlah 2.Tabel 6.4 100.6 2.401 Persentase 81. Karena dalam proses mobilitas terjadi kontak dengan lingkungan lain.775 85 457 1 3 80 3. perubahan status sosial ekonomi seperti mata pencaharian serta tingkat pendidikan. Mobilitas penduduk dapat mendatangkan perubahan sosial baik bagi daerah asal maupun daerah tujuan.

29 persen). berikutnya adalah Brunei Darussalam (13.833 0 457 0 0 66 2. Tahun 2010 Jenis Kelamin L 1. Tabel 6.40 persen.00 0.00 19'40 0.401 100.besar menuju Malaysia mencapai 81.80 0.34 persen).356 P 942 85 0 1 3 14 1.3 persen.80 P 90.00 2. Banyaknya Migrasi Internasional (TKI dan TKW) dari Sulawesi Selatan Menurut Tujuan Negara dan Jenis Kelamin. 105 .dan Kuwait 3 orang (0.13 persen).80 persen dan 90. Sedangkan migrasi yang menuju nega-negara Arab seperti ke Arab Saudi adalah umumnya perempuan yaitu sebanyak 85 orang (8.00 Tujuan Negara Malaysia Arab saudi Brunei Darussalam Hongkong Kuwait Malaysia Timur Jumlah Diolah) Total 2. Tetapi yang menarik adalah migrasi ke Malaysia dari Sulawesi Selatan yang menjadi TKI dan TKW ke malaysia adalah laki-laki dan perempuan masing masing untuk laki-laki 77.10 persen) dan Malaysia Timur 14 orang (1.29 1.40 8.00 0.775 85 457 1 3 80 3.045 Persentase L 77. Bahkan ada yang menuju Hong Kong yaitu 1 orang (0.13 0.34 100.5 persen.4 persen) dan Arab Saudi 2.15.10 0.00 Sumber: Disnakertrans Provinsi sulawesi Selatan (Data Data bulan Januari-September 2010.

106 .

Dalam bab ini. eksekutif dan yudikatif. dan seimbang yang dilandasi saling menghormati. SEKTOR PUBLIK Peran aktif perempuan dalam pembangunan pada hakekatnya adalah upaya untuk mengembangkan diri yang dapat dilihat pada bidangbidang yang memberi pengaruh luas disektor publik meliputi politik dan sektor pemerintahan. karena dapat menghambat pertumbuhan kesejahteraan keluarga dan masyarakat dan mempersulit perkembangan potensi perempuan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. kedudukan. Eksekutif. 2 Tahun 2007 tentang Partai Politik dan UU No. Hambatan bagi partisipasi perempuan dalam kehidupan politik tidak boleh ditolerir. saling menghargai. kemandirian serta ketahanan mental dan spiritual menuju terwujudnya kemitrasejajaran perempuan dan laki-laki yang selaras. serasi. Dengan demikian akan terdapat persamaan status. 6.BAB VII. saling membutuhkan dan saling mengisi.1. 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum memberikan dukungan untuk terlaksananya 107 . UU No. Partisipasi perempuan memberikan kemampuan. Partisipasi Perempuan dalam Bidang Legislatif. hak kewajiban dan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan dalam menjalankan peran masing-masing. Artinya peraturan perundangundangan yang terkait dengan Pemilu wajib menjamin hak yang sama antara laki-laki dan perempuan untuk menikmati hak sipil dan politik. Yudikatif Hak untuk dipilih dan memilih berdasarkan persamaan hak merupakan perintah UU yang harus dipatuhi. akan disajikan data tentang keterlibatan perempuan di Sulawesi Selatan pada sektor publik dalam bidang legislatif.

karena partai politik berubah pikiran dalam penetapan calon terpilih dari berdasar nomor urut ke berdasar suara terbanyak. Hukum sebagai sarana perubahan sosial diharapkan mampu mengubah pola peranan laki-laki dan perempuan dalam masyarakat yang masih diwarnai oleh ciri-ciri suatu masyarakat tradisional paternalistik. memasak.affirmative action dalam rangka meningkatkan peranan perempuan di bidang partai politik. Secara bertahap sejak reformasi perubahan sosio cultural menuju persamaan peran laki-laki dan perempuan di dunia politik sudah mulai terjadi. cukup memberi peluang kepada peningkatan peranan perempuan secara kuantitatif. Ditentukannya 30% pengurus partai politik di semua tingkatan harus diisi oleh perempuan dan 30% calon anggota legislatif juga diisi oleh perempuan dengan jaminan penempatan pada nomor urut kopiah atau dasi. Tetapi hal tersebut belum menjamin calon anggota legislatif dari kalangan perempuan akan benar terpilih. kehalusan perasaan. Artinya bila hal tersebut menjadi keputusan politik calon anggota legislatif dari kalangan kaum hawa harus lebih keras dalam mengumpulkan pemilih. bupati atau pemimpin partai. Sedangkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih menantang dianggap dunianya laki-laki seperti menjadi tentara. Ketentuan UU tersebut diperlukan sebagai sarana perubahan sosio cultural menuju persamaan gender dalam kehidupan politik. sehingga peran mereka terutama mengasuh anak. menjadi bidan/perawat. Dalam masyarakat tradisional semacam itu perempuan diberi peran untuk tugas-tugas yang perlu kesabaran. Keterlibatan perempuan dalam dunia politik memberikan kecerahan bahwa kaum perempuan bisa menjadi ujung tombak dalam 108 .

109 . dalam hal ini sebagai anggota DPR/DPRD. Partisipasi perempuan dalam bidang legislatif dapat dilihat dari keanggotaan mereka dalam lembaga legislatif. Jumlah anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2009 dapat dilihat pada Tabel 7.advokasi upaya pengarusutamaan serta nilai-nilai kesetaraan gender dalam produk perundang-undangan maupun penciptaan perencanaan pembangunan yang berperspektif gender.1.

06 7 4 7 4 7 13 4 6 3 5 9 4 6 1 4 3 3 5 1 0 7 3 21.00 12.00 72.43 88.14 100.89 97.00 87.43 80.07 12. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 T o t al Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sinjai Maros Pangkep Barru Bone Soppeng Wajo Sidenreng Rappang Pinrang Enrekang Luwu Tana Toraja Luwu Utara Luwu Timur Kota Makassar Kota Parepare Kota Palopo 25 36 18 31 23 32 25 29 32 20 36 26 29 29 31 27 32 40 34 30 51 22 21 679 78.00 16.94 32 40 25 35 30 45 29 35 35 25 45 30 35 30 35 30 35 45 35 30 58 25 25 789 4 110 Sumber : Badan PP dan KB Provinsi Sulawesi Selatan.93 88.00 20.Tabel 7.57 11.14 3.00 80.67 88.14 8.57 90.33 17.00 13.1 Jumlah Anggota DPRD Tingkat Kab/Kota & Provinsi Periode 2004-2009 Berdasarkan Jenis Kelamin di Provinsi Sulawesi Selatan Kabupaten/ Kota Jumlah Anggota DPRD Laki-laki Jumlah Anggota DPRD % Perempuan Jumlah Anggot a DPRD % Total No .43 10.33 11.79 17.11 2.86 91.13 90.00 11.00 88.86 0.00 86.88 10.57 76.11 86.57 20.00 86.21 82.00 84.00 91.89 13.43 23.00 8.67 71.33 28.86 96.00 28. 2010 110 .67 82.00 13.

1 berikut: 111 . Untuk melihat perbandingan persentase jumlah anggota DPRD Tingkat II Pemilu 2009 berdasarkan jenis kelamin di Provinsi Sulawesi Selatan dapat dilihat pada Diagram 7. Dari data Tabel 7. Jumlah yang sama juga di Kabupaten Bone yaitu sebanyak 45 orang dengan perbandingan laki-laki 36 orang (80 %) dan perempuan 9 orang (20 %).93 %) dan perempuan 7 orang (12.1 juga terlihat bahwa dari seluruh kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan belum ada satupun kabupaten yang keberadaan anggota DPRD perempuan memenuhi quota 30 %. jika dianalisis berdasarkan jumlah anggota DPRD pada setiap kabupaten/kota terlihat bahwa dari 24 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan.11 %) dan perempuan 13 orang (28. Hal ini menunjukkan bahwa aturan UU No.1. 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum memberikan dukungan untuk terlaksananya affirmative action dalam rangka meningkatkan peranan perempuan di bidang partai politik belum sepenuhnya dapat terlaksana.89 %).07 %). Selanjutnya kabupaten yang memiliki jumlah anggota DPRD yang banyak adalah Kabupaten Gowa sebanyak 45 orang dengan perbandingan laki-laki sebanyak 32 orang (71. yang memiliki jumlah anggota DPRD paling banyak adalah kota Makassar yaitu sebanyak 58 orang diantaranya laki-laki 51 orang (87.Berdasarkan Tabel 7. Kabupaten berikutnya yang memiliki jumlah anggota DPRD yang cukup banyak adalah Kabupaten Bulukumba yaitu sebanyak 40 orang dengan perbandingan laki-laki 36 orang (90 %) dan perempuan 4 orang (10 %). 2 Tahun 2007 tentang Partai Politik dan UU No.

diperlukan komitmen. Jika kita amati data tersebut. yang kuat dikalangan elit politik untuk secara sungguh-sungguh melaksanakan amanat UUD dan ketentuan undang-undang yang menjamin kedudukan antara laki-laki dan perempuan didepan hukum dan 112 . maka dapat kita simpulkan bahwa baik jumlah anggota DPRD baik di setiap kabupaten maupun di tingkat provinsi belum ada yang memenuhi quota 30%.Diagram 7. Peran perempuan dibidang pemerintahan merupakan refleksi dari kualitas peran mereka dalam kepemimpinan partai politik dan dalam lembaga legislatif. Untuk meningkatkan kualitas peran perempuan. sehingga ke depan perlu dilakukan langkah-langkah strategis agar keterlibatan dan peran perempuan di ranah legislative dapat lebih ditingkatkan.1 Persentase Anggota DPRD Tingkat II Provinsi Sulawesi Selatan Berdasarkan Jenis Kelamin di 2009 Jumlah Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2009 berjumlah 789 orang diantaranya laki-laki 679 orang (86.94 %). Peran perempuan dalam kepemimpinan di bidang pemerintahan tidak jauh berbeda dari peran mereka dalam calon anggota legislatif.06 %) dan perempuan 110 orang (13.

Pegawai Negeri Sipil yang dimaksud adalah semua pegawai yang bekerja pada departemen. badan dan lembaga lainnya yang berada di bawah koordinasi pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. kapabilitas serta akseptabilitas untuk memainkan peranan lebih besar dalam kancah politik demi kesejahteraan seluruh rakyat.2 berikut : 113 . non departemen. Laki-laki dan perempuan mempunyai hak dan tanggung jawab yang sama untuk membangun bangsanya. dinas. menggalang dukungan untuk meraih simpati dan secara sistematis menempa diri agar memiliki kapasitas. Urusan politik dalam negara demokratis adalah urusan laki-laki dalam negara demokratis adalah urusan laki-laki dan perempuan. Sementara itu kaum perempuan perlu mengkonsolidasikan potensinya. Komposisi PNS Pemerintah pada tingkat provinsi dan kabupaten berdasarkan jenis kelamin di Provinsi Sulawesi Selatan pada Tahun 2010 disajikan pada Tabel 7. Partisipasi perempuan dan laki-laki dalam bidang eksekutif dapat dilihat dari jumlah mereka yang terlibat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS).pemerintahan.

445 12.35 54. Jumlah PNS Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Menurut Jenis Kelamin Tahun 2010 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Kabupaten Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sinjai Maros Pangkep Barru Bone Soppeng Wajo Sidrap Pinrang Enrekang Luwu Tana Toraja Luwu Utara Luwu Timur Makassar Pare-Pare Palopo Prov Sulawesi Selatan *) Jumlah Jenis Kelamin LK 2.817 2.161 4.14 TOTAL 4.02 53.389 10.767 3.938 3.52 42.39 46.86 PR 2.009 4.109 3.351 5.713 3.990 15.176 3.36 51.54 53.191 176.769 82.311 5.07 60.222 2.64 48.243 7.409 7.421 8.614 2.494 7.184 3.13 50.86 54.817 3.77 46.653 4.98 46.093 3.61 53.44 48.455 4.153 orang PNS pada tingkat kabupaten dan provinsi.422 93.76 43.544 % 45.735 3.574 5.323 3.228 3.14%).592 3.609 orang (53.46 46.45 45.998 3.415 2.39 53.082 4.06 44.03 49.83 55.939 2.238 2.112 7.49 51.510 9. diantaranya 82.534 2.550 2.03 52.55 54.91 48. kecuali di Kabupaten Jeneponto dan Tana Toraja serta persentase PNS di 114 .412 4.942 4.97 47.Tabel 7.928 4.713 5.964 2.307 5.97 50.2.890 5.366 5.467 2.14 45.81 56.77 52.396 2.94 51.51 48.834 1.305 3. Hampir pada setiap kabupaten persentase PNS perempuan lebih banyak dibanding laki-laki.61 46.454 3.453 7.576 5.024 2.729 6.23 53.381 4.19 43.88 42.24 56.17 44.93 39.177 2.031 9.277 9.677 7.48 57.12 57.609 % 54.790 6.94 55.079 6.09 51.23 47.56 51.199 4.65 45.727 3.544 orang (46.719 6.87 49.153 Sumber : BKN Provinsi Sulawesi Selatan 2010 Berdasarkan Tabel 7.86%) adalah laki-laki dan perempuan 93.2 terlihat bahwa dari 176.650 4.547 6.501 3.06 48.798 3.

tingkat Provinsi Sulawesi Selatan. Hal ini dapat berarti bahwa perempuan telah diberi kesempatan yang luas dalam bidang eksekutif sehingga diharapkan dapat memberikan peran dalam pembangunan daerah. Secara rinci dapat diuraikan bahwa pada golongan I laki-laki sebesar 78 % sedangkan perempuan 22 %.2 Persentase PNS Menurut Jenis Kelamin dan Golongan di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2010 Gambaran tentang posisi PNS di Provinsi Sulawesi Selatan perempuan dan laki-laki bila ditinjau dari segi golongannya dapat di lihat pada Diagram 7.2 berikut : Diagram 7. kecuali pada golongan I. Pada golongan 115 . Pada golongan II dan III. Selanjutnya untuk mengetahui perbandingan pegawai laki-laki dan perempuan berdasarkan golongan dapat dilihat pada Diagram 7. III dan IV lebih rendah persentasenya dibanding PNS perempuan.2. persentase PNS perempuan lebih besar yaitu mencapai 55 % sedangkan laki-laki 45 %. Dari diagram ini dapat diketahui bahwa secara umum proporsi PNS laki-laki yang berada pada golongan II.

3 berikut: 116 . Untuk mengetahui secara lebih jelas perbandingan antara laki-laki dan perempuan menurut golongan pada setiap kabupaten dapat dilihat pada Lampiran 1.IV perempuan sebesar 52 % sedangkan 48 %. Utamanya dalam kerangka Otonomi Daerah. Adapun komposisi pegawai pada tingkat provinsi di Provinsi Sulawesi Selatan berdasarkan Tingkat Pendidikan dapat dilihat pada Diagram 7. diharapkan sumber daya manusia berkualitas ini mampu mendatangkan manfaat bagi daerahnya. Untuk peningkatan pembangunan khususnya di daerah diperlukan sumber daya manusia yang berkualitas baik dari segi moral maupun pendidikan sehingga mereka dapat menjadi motor penggerak pembangunan daerah. Hal lain yang perlu diperhatikan dari keberadaan pegawai adalah komposisinya berdasarkan tingkat pendidikan yang dimiliki. Dari data-data ini menunjukkan bahwa di Provinsi Sulawesi Selatan ada pergeseran posisi perempuan yang lebih dominan dibanding laki-laki pada setiap golongan.

Pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi yaitu pada S2 dan S3.000 orang diantaranya laki-laki 28.158 orang dan perempuan 31. 117 . jumlah lakilaki jauh lebih banyak dibanding perempuan.Diagram 7.175 orang dan perempuan 31.153 orang PNS di Provinsi Sulawesi Selatan.075 orang.590 orang.917 orang.233 orang diantaranya laki-laki 14.410 orang dan perempuan 27. Untuk mengetahui secara lebih jelas perbandingan antara laki-laki dan perempuan menurut pendidikan pada setiap kabupaten dapat dilihat pada Lampiran 2. jumlah pegawai terbanyak berpendidikan S1/DIV/ Akta IV/Akta V/Spesialis yaitu sebanyak 63.3 Jumlah PNS Menurut Jenis Kelamin dan Pendidikan di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2010 \Analisis lebih lanjut berdasarkan tingkat pendidikan. kemudian tingkat pendidikan DI/DII/DIII/Sarjana Muda/Akademik sebanyak 45. kemudian tingkat pendidikan SLTA sebanyak 56.092 orang diantaranya laki-laki 31. dari 176.

Selain peran perempuan dalam bidang legislatif dan eksekutif. jaksa. Dalam hal ini. Partisipasi perempuan dalam bidang yudikatif dapat dilihat dari keterlibatan mereka dalam segi tugas dan tanggungjawab pekerjaannya.3 disajikan data mengenai jumlah Jaksa yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan menurut jenis kelamin. dapat dilihat dari keterlibatan mereka sebagai praktisi hukum yaitu sebagai hakim (negeri dan agama). warna kulit. hukum yang dilaksanakan atas semua orang tanpa mengistimewakan dan tanpa membedakan seorang individu atas lainnya karena jenis kelamin. 118 . kekayaan. kedudukan. kemiskinan. Persamaan hak dalam bidang yudikatif merupakan salah satu manifestasi prinsip persamaan yang dituntut oleh keadilan yang dicanangkan pemerintah. notaris dan advokat/pengacara dan anggota kepolisian. bidang lainnya yang perlu mendapat perhatian adalah yudikatif. kekerabatan atau persahabatan. Pada Tabel 7.

67 20.84 25.00 75.67 31. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Kabupaten/Kota Kejari Selayar Kejari Bulukumba Kejari Bantaeng Kejari Jeneponto Kejari Takalar Kejari Sungguminasa Kejari Sinjai Kejari Maros Kejari Pangkep Kejari Barru Kejari Watampone Kejari Soppeng Kejari Sengkang Kejari Sidrap Kejari Pinrang Kejari Enrekang Kejari Belopa Kejari Makale Kejari Masamba Kejari Malili Kejari Makassar Kejari Pare-Pare Kejari Palopo Kejati Provinsi Sul-Sel Jumlah Jml 4 6 4 5 8 12 6 7 5 5 5 5 6 6 7 5 8 5 6 7 17 9 10 48 167 LK % 80.00 46.00 44.17 36.27 28.00 63.00 55.83 63.33 68.96 90.75 44.56 75.44 28.00 63.00 36.57 27.16 75.00 25.04 10.00 76.36 28.43 55.44 25.50 Jml 1 2 5 1 2 7 2 8 11 4 2 4 2 2 4 2 3 2 1 10 1 3 35 96 PR % 20.00 87.56 71.56 16.3 Jumlah Pejabat Strutural Pada Kejaksaan Tinggi Di Kabupaten/Kota dan Provinsi Sulawesi Selatan NO.00 75.25 55.64 71.92 57.50 62.00 23.43 72.43 100.50 Jumlah 5 8 9 6 10 19 8 15 16 9 7 9 8 8 11 7 11 7 6 8 27 10 13 83 263 Sumber: Kejaksaaan Tinggi Sulawesi Selatan Berdasarkan Tabel 7.57 12.08 42.73 71.44 83.00 53.3 dapat diketahui bahwa jumlah jaksa sebanyak 257 orang diantaranya laki-laki 167 orang (63.50 %) dan 119 .Tabel 7.00 25.50 37.33 80.00 36.57 44.

perempuan 96 orang (36. untuk menegakkan pelaksanaan hukum aparat keamanan dalam hal ini polisi juga memegang peranan penting. Pada Tabel 7.4 berikut disajikan data mengenai jumlah personil polisi menurut pangkat dan jenis kelamin di Provinsi Sulawesi Selatan pada Tahun 2010. Polisi banyak memainkan peran untuk menciptakan kedamaian dan perlindungan hukum kepada masyarakat.50 %) yang tersebar pada 23 Kejari kabupaten/kota dan Kejati Provinsi Sulawesi Selatan.4. Hanya saja tidak didapatkan data tentang jumlah pengacara. Tabel 7. Selain praktisi hukum. 2010 120 . Jumlah Personil Polisi Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2010 Sumber : Polda Sulawesi Selatan. hakim dan notaris.

sebagian partai politik berusaha memenuhi batas minimum kuota perempuan. Sedikitnya jumlah perempuan yang menjadi anggota polisi ini disebabkan karena masih kentalnya nilai-nilai budaya yang melekat pada pekerjaan polisi ini yang beranggapan bahwa hanya laki-laki yang paling tepat untuk pekerjaan tersebut.96 %) dan perempuan sebanyak 300 orang (2.736 orang. Sejumlah partai politik memberi peran strategis kepada kaum perempuan dalam kepemimpinan partai politik. Soal kualitas calon perempuan masih menjadi tanda tanya.436 orang (97. dan kesenian.Saat ini di Provinsi Sulawesi Selatan. Untuk 121 . karena tidak sedikit partai politik yang belum sempat menempa kader-kader srikandi yang mempunyai kemampuan untuk ditampilkan sebagai wakil rakyat yang cerdas. bendahara atau peran-peran yang terkait dengan konsumsi. Dalam daftar calon legislatif yang diserahkan kepada KPU. trengginas mampu menangkap aspirasi rakyat dan paham lika-likunya politik.04 %). Karena langkanya kader perempuan yang dimiliki tidak jarang aroma nepotisme dalam rekrutmen calon anggota legislatif sulit dielakkan. Tetapi lebih banyak yang memberi peran figuran untuk sekedar memenuhi formalitas yang ditentukan undang-undang perempuan lebih kurang ditempatkan pada posisi sekretaris. 6. Karena secara fisik pekerjaan sebagai polisi dianggap sebagai pekerjaan berat. hal lain yang perlu dilihat adalah keterlibatan perempuan di setiap partai politik sebagai langkah awal dalam memasuki dunia politik.2. Partisipasi Perempuan dalam Partai Politik dan Organisasi Sosial Kemasyarakatan Selain keterlibatan perempuan dalam keanggotaan di DPRD. jumlah aparat kepolisian adalah sebanyak 14. terdiri dari laki-laki sebanyak 14.

5 berikut: Tabel 7.mengetahui keberadaan perempuan dalam kepengurusan partai politik dapat dilihat pada tabel 7. Jumlah Pengurus Partai Politik Tingkat Provinsi Menurut Jenis Kelamin dalam Pemilu Legislatif Tahun 2009 122 .5.

Dari 38 partai politik yang ada hanya 12 partai politik yang melibatkan perempuan. Kurangnya keterlibatan perempuan dalam partai politik dapat memberikan indikasi bahwa akses perempuan dalam pengambilan keputusan. menggambarkan keterlibatan perempuan pada kepengurusan partai politik di Provinsi Sulawesi Selatan. dan perencanaan akan menjadi terbatas. dari 114 orang yang menjadi pengurus partai politik perempuan hanya 16 orang (14 %) saja sementara perempuan mencapai 98 orang (86 %).4 Persentase Pengurus Partai Politik Tingkat Provinsi Menurut Jenis Kelamin dalam Pemilu Legislatif Tahun 2009 Tabel 7. perumusan kebijakan. sehingga pada gilirannya kebijakan-kebijakan partai politik yang ada kurang berperspektif gender. seringkali aspirasi perempuan kurang diperhitungkan dalam menyusun kebijakan partai.4. Dari data tersebut terlihat pula bahwa masih banyak partai politik yang tidak melibatkan perempuan dalam kepengurusannya seperti partai.Diagram 7. Oleh karena itu. 123 .

Untuk lebih jelasnya mengenai perbadingan PNS laki-laki dan perempuan di Provinsi Sulawesi Selatan berdasarkan eselon dapat dilihat pada Diagram 7.5 berikut : Diagram 7. Jumlah PNS menurut Eselonisasi Salah satu ukuran keterlibatan perempuan dalam sektor publik adalah banyaknya perempuan yang duduk dalam jabatan-jabatan publik. Dengan demikian diharapkan setiap kebijakan yang dihasilkan oleh instansi yang mereka pimpin tidak bias gender. Hal ini sangat penting mengingat bahwa duduknya perempuan dalam jabatan/eselon memperlihatkan kontrol perempuan terhadap suatu bidang tertentu dari kebijakan dan program-program publik.5 Jumlah dan Persentase PNS Kabupaten/Kota Dan Provinsi Sulawesi Selatan Menurut Jabatan Struktural (Eselon) dan Jenis Kelamin Kondisi Oktober 2010 Berdasarkan Diagram 7.924 124 .6.3.5 jika dijumlahkan antara PNS laki-laki dan perempuan berdasarkan Eselon dapat diketahui bahwa jumlah pegawai di Provinsi Sulawesi Selatan yang menjabat posisi eselon sebanyak 7.

349 orang diantaranya laki-laki 1. Pada tingkat eselon II sebanyak 256 orang diantaranya laki-laki 241 orang dan perempuan 3 orang.309 orang diantaranya laki-laki 4. Hal ini kemungkinan besar disebabkan oleh karena sedikitnya perempuan yang dianggap cakap untuk menduduki jabatan-jabatan yang bereselon tinggi karena tidak memadainya tingkat pendidikan mereka. kecuali pada jabatan eselon terendah yaitu eselon V semua yang menjabat adalah perempuan.322 orang dan perempuan 1. terutama pendidikan penjenjangan karir. Terlihat bahwa pada setiap jabatan eselon jumlah laki-laki jauh lebih banyak dibanding perempuan. Untuk mengetahui secara lebih jelas perbandingan antara laki-laki dan perempuan menurut eselon pada setiap kabupaten dapat dilihat pada Lampiran 3.kemudian eselon III sebanyak 1. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa PNS terbanyak pada eselon IV sebanyak 6.987 orang .682 orang (72 %) dan perempuan 2. baik pendidikan formal maupun pendidikan-pendidikan penjenjangan karir.117 orang dan perempuan 232 orang. 125 . Kurangnya perempuan yang memiliki tingkat pendidikan.orang diantaranya laki-laki 5. selain karena keinginan perempuan yang masih setengah-setengah juga karena masih seringnya kodrat perempuan digunakan alasan untuk tidak diikutsertakannya perempuan dalam kegiatan-kegiatan pendidikan tersebut. sementara pada posisi yang tertinggi yaitu eselon I berjumlah 2 orang yang kesemuanya adalah laki-laki.242 orang (28 %).

126 .

sistem ini mencakup pengertian bagaimana sebenarnya laki-laki dan perempuan itu. suka mengalah dan pasif (belenggu patriarki). Jagger dan Rottenberg (2002). Hal ini juga di dukung oleh sistem kepercayaan gender yang berlaku dalam masyarakat. seksual maupun fsikologis (United Nations Depertement of Public Relation 1986) Masalah kekerasan pada dasarnya erat kaitannya dengan kekuasaan. Secara historis perempuan merupakan kelompok pertama yang tertindas 127 . termasuk ancaman. Pada umumnya laki-laki dianggap sebagai sosok yang lebih kuat. sistem kepercayaan gender mengacu pada serangkaian kepercayaan dan pendapat tentang lakilaki dan perempan. memberikan beberapa penjelasan mengenai penindasan terhadap perempuan. yaitu : 1.BAB VIII. lebih aktif. dan umumnya tindakan kekerasan dilakukan oleh kaum laki-laki. yang terjadi baik didalam rumah tangga atau keluarga (privat life). Dominasi pria terhadap wanita menunjukkan adanya kekuasaan pria untuk berbuat sesukanya terhadap wanita. maupun di dalam masyarakat (public life) yang mengakibatkan kesengsaraan atau penderitaan bagi wanita baik secara fisik. KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN Platform For Action and Beijing Declaration menyatakan bahwa kekerasan terhadap perempuan adalah segala bentuk tindakan kekerasan berdasarkan gender. mempunyai dominasi dan otonomi. sebaliknya perempuan di pandang sebagai mahluk lemah. pemaksaan atau perampasan hakhak kebebasan.

meskipunpenderitaan ini berlangsung tanpa di ketahui oleh orang lain. Penindasan terhadap perempuan terjadi dimana-mana dalam masyarakat Penindasan perempuan adalah bentuk penindasan yang paling sulit di lenyapkan dan tidak akan bisa dihilangkan melalui perubahanperubahan sosial lain. 3. Perempuan sering di analisis dalam hubungannya dengan kedudukan atau juga dengan kekuasaan yang ada dalam masyarakat. Penindasan terhadap perempuan menyebabkan penderitaan yang paling berat bagi korban-korbannya. faktor social. dan faktor ekonomi. Kekerasan terhadap perempuan. sebagaimana disajikan pada table berikut. berbagai tindak kekerasan telah di alami oleh perempuan dari waktu-kewaktu. 128 .2. yaitu fungsi mereka dalam keluarga. Kekerasan terhadap perempuan merupakan fenomena sosial yang telah berlangsung lama dari masyarakat yang masih primitive sampai pada masyarakat modern sekarang ini. banyak faktor-faktor yang melatar belakangi timbulnya tindak kekerasan terhadap perempuan. diantaranya faktor budaya. seperti penghapusan kelas masyarakat 4. perempuan secara konstitusional bersifat inferiror. tidak hanya terjadi pada kelompok usia dewasa tetapi juga pada kelompok usia anak-anak dan lanjut usia. dimana mereka cenderung sedikit memperoleh pengakuan kedudukan didalam keluarga maupun dalam masyarakat yang luas. Menurut Aguste Comte.

Sulsel 120 810 930 137 613 750 129 .Tabel 8. Rekapitulasi Data Korban Tindak Kekerasan (Ktk) Anak Berdasarkan Jenis Kelamin Di Propinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009-2010 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 PROPINSI SUL-SEL ANAK KORBAN TINDAK KEKERASAN (KTK) P 21 25 45 38 32 71 51 22 35 24 42 44 46 23 43 48 39 32 29 35 39 11 15 JUMLAH 27 28 56 41 39 82 57 27 44 31 47 49 57 23 45 54 46 37 32 38 39 13 18 L 4 2 15 7 9 6 8 2 6 4 7 1 15 1 5 3 9 2 7 5 5 5 9 ANAK P 15 28 36 26 12 71 51 30 17 18 22 19 19 15 29 33 28 25 22 26 25 19 27 JUMLAH 19 30 51 33 21 77 59 32 23 22 29 20 34 16 34 36 37 27 29 31 30 24 26 MAKASSAR GOWA PARE-PARE BANTAENG SOPPENG TANA TORAJA PALOPO MAROS BARRU SIDRAP PINRANG WAJO BONE ENREKANG LUWU LUWU UTARA TAKALAR JENEPONTO BULUKUMBA SINJAI SELAYAR PANGKEP LUWU TIMUR JUMLAH L 6 3 11 3 7 11 6 5 9 7 5 5 11 0 2 6 7 5 3 3 0 2 3 Sumber Data : Dinsos Prov.1.

dan Luwu Timur. Data Keseluruhan Kasus Yang Melibatkan Pelaku/Korban Anak Periode Tahun 2009 NO 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 JENIS KASUS 2 Pemerkosaan Pemerkosaan Traficking Pelecehan Seksual UMUR KORBAN 3 14 Thn 13 Thn 15 Thn 16 Thn 16 Thn 13 Thn 3 Thn 13 Thn 15 Thn 14 Thn LAKILAKI 4       √  √  PEREM PUAN 5 √ √ √ √ √ √  √  √ STATUS KASUS 6 P.423 kasus. dan terrendah di kabupaten Pangkep (tahun 2009) dan Soppeng (tahun 2010). maka tindak kekerasan terhadap anak-anak perempuan yang tertinggi di kabupaten Tana Toraja yakni 71 kasus.5. Palopo.2. Secara umum ada kecenderungan penurunan jumlah kasus.4 : 1. dikuatkan dengan banyaknya jumlah kasus yang dilaporkan di Polda Sulselbar sebagaimana table berikut. nampak bahwa kekerasan yang terjadi di tahun 2009 dan 2010 pada anak-anak perempuan jauh lebih banyak jumlahnya dibandingkan dengan kekerasan yang menimpa pada anak laki-laki yaitu 8. Pangkep. Maros. Apabila dilihat berdasarkan kabupaten. Tabel 8. Tana Toraja.Berdasarkan table diatas. Data tersebut diatas.21 Sidik Sidik Proses Proses P. Jumlah kasus kekerasan pada anak perempuan dari tahun 2009 sampai 2010 berjumlah 1.21 TERSANGKA 7 LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI Perempuan LAKI-LAKI Perempuan LAKI-LAKI PELAKU 8 15 Thn 19 Thn 27 Thn 40 Thn 43 Thn 33 Thn 45 Thn 50 Thn - 130 . namun di beberapa kabupaten/kota menunjukkan kecenderungan naik atau tetap yaitu di kabupaten Gowa.21 Sidik P.

korbannya anak perempuan.21 Sidik P.11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 Perbuatan cabul Pemerkosaan Penganiayaan Pemerkosaan Pemerkosaan Pernografi Penganiayaan - 6 Thn 16 Thn 17 Thn 14 Thn 17 Thn 15 Thn 10 Thn 17 Thn 15 Thn 16 Thn 7 Thn 16 Thn 15 Thn 16 tHN 17 Thn 17 Thn 11 Thn 14 Thn 60 Thn 16 Thn 37 Thn 16 Thn      √          √    √      √ √ √ √ √  √ √ √ √ √ √ √ √ √ √  √ √ √  √ √ √ √ √ Sidik Sidik P.21 Sidik Lidik Lidik Sidik Cabut Laporan ABH ABH ABH ABH Dalam Lidik ABH ABH Dalam Proses Proses Proses STM STM LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI Perempuan LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI Perempuan LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI Perempuan LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI Perempuan LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI 50 Thn 19 Thn 20 Thn 33 Thn 21 Thn 15 Thn 17 Thn 40 Thn 17 Thn 20 Thn 17 Thn 21 Thn 35 Thn 17 Thn 17 Thn 35 Thn 30 Thn 23 Thn 25 Thn 18 Thn 19 Thn 17 Thn 15 Thn 50 Thn Data kekerasan terhadap anak perempuan yang dilaporkan pada tahun 2009 sebanyak 26 kasus dari 36 kasus atau 72% dari jumlah keseluruhan.21 Dalam Lidik P. 131 .21 P. Kecenderungan kasus meningkat pada tahun 2010 yaitu sebanyak 32 kasus dari 34 kasus atau 94%.21 P.

3.21 Bekar Proses Limpah Diversi Proses Sidik TERSANGKA 7 LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI Dalam LAKI-LAKI Perempuan LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI Dalam Lidik Dalam Lidik LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI Dalam Lidik LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI PELAKU 8 30 Thn 42 Thn 40 Thn 18 Thn 16 Thn 20 Thn 22 Thn 15 Thn 35 Thn 17 Thn 20 Thn 20 Thn 20 Thn 17 Thn 23 Thn 24 Thn 15 Thn 40 Thn 26 Thn 132 .18/P.19 Tahap I Dalam Lidik Damai Proses Tahap I Proses P.21 Diversi Cabut Dalam Lidik Lidik Sidik Proses Sidik Cabut Proses P.Tabel 8. Data Keseluruhan Kasus Yang Melibatkan Pelaku/Korban Anak Periode Tahun 2010 NO 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 Pencabulan Pencabulan JENIS KASUS 2 UMUR KORBAN 3 19 Thn 13 Thn 15 Thn 13 Thn 17 Thn 16 Thn 16 Thn 17 Thn 16 Thn 15 Thn 14 Thn 16 Thn 13 Thn 17 Thn 17 Thn 19 Thn 14 Thn 4 Thn 18 Thn LAKILAKI 4      √                   PEREM PUAN 5 √ √ √ √ √  √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ STATUS KASUS 6 Sidik Tidak cukup bukti P.

Berdasarkan data dari Dinas Sosial Prov. 133 . Untuk kekerasan yang terjadi pada perempuan lanjut usia mencapai 293 kasus pada kurun waktu tahun 2009 dan 2010 atau 69 % dari total kasus (lihat table dibawah).28 29 30 31 32 33 34 Pemerkosaan Pemerkosaan - 17 Thn 15 Thn 17 Thn 9 Thn 13 Thn 15 Thn 14 Thn      √  √ √ √ √ √  √ P.21 Cabut Sidik LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI Dalam Lidik LAKI-LAKI Perempuan LAKI-LAKI 56 Thn 16 Thn 16 Thn 20 Thn 17 Thn 16 Thn Sumber data : Polda Sulselbar Kekerasan yang terjadi pada perempuan usia dewasa dan lansia pada tahun 2009 dan 2010 juga menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Sulsel. jumlah kekerasan pada perempuan dewasa mencapai 980 kasus (tahun 2009) dan 991 kasus (tahun 2010) atau 89% dari total kasus kekerasan yang terdata.21 Sidik Sidik Proses P.

4.123 JUM LAH L 2 3 0 6 5 10 3 2 0 0 2 6 6 0 4 3 0 3 0 1 2 0 0 58 KORBAN TINDAK KEKERASAN (KTK) LANJUT USIA TH 2009 P 7 4 1 3 9 21 11 0 3 4 5 3 7 4 8 9 5 6 4 2 7 3 4 130 9 7 1 9 14 31 14 2 3 4 7 9 13 4 12 12 5 9 4 3 9 3 4 188 JUM LAH TH 2010 L 1 5 1 8 0 6 5 7 1 2 4 1 4 4 2 2 3 4 2 3 3 4 1 73 P 4 3 5 4 9 19 11 0 5 4 8 9 9 5 8 11 8 7 9 6 5 6 8 163 JUM LAH 5 8 6 12 9 25 16 7 6 6 12 10 13 9 10 13 11 11 11 9 8 10 9 236 Sumber Data : Dinsos Prov.Tabel 8. Sulsel 134 . Rekapitulasi Data Korban Tindak Kekerasan (KTK Berdasarkan Jenis Kelamin di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009-2010 NO PROPINSI SUL-SEL L 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 MAKASSAR GOWA PARE-PARE BANTAENG SOPPENG TANA TORAJA PALOPO MAROS BARRU SIDRAP PINRANG WAJO BONE ENREKANG LUWU LUWU UTARA TAKALAR JENEPONTO BULUKUMBA SINJAI SELAYAR PANGKEP LUWU TIMUR JUMLAH 5 5 3 15 12 15 21 2 5 0 0 7 4 6 2 2 1 3 0 2 1 2 1 114 KORBAN TINDAK KEKERASAN (KTK) DEWASA TH 2009 P 41 34 40 55 62 70 31 36 39 38 50 53 80 24 56 42 41 51 37 44 28 15 13 980 46 39 43 70 74 85 52 38 44 38 50 60 84 30 58 44 42 54 37 46 29 17 14 1094 JUM LAH L 13 3 7 9 3 18 6 4 8 3 7 4 8 3 5 3 6 2 3 5 2 4 6 132 TH 2010 P 55 38 29 49 66 49 44 38 28 44 51 60 72 28 42 49 42 48 49 36 36 23 15 991 68 41 36 58 69 67 50 42 36 47 58 64 80 31 47 52 48 50 52 41 38 27 21 1.

menunjukkan bahwa jumlah kekerasan pada perempuan pada tahun 2009 mencapai angka 1920 kasus dari 2212 kasus atau 87%. Banyak faktor yang harus di perhatikan dalam usaha untuk menyelesaikan persoalan sosial dalam masyarakat. karena masyarakat merupakan suatu sistem. Kekerasan terhadap perempuan sebagai suatu ancaman global terhadap kemanusian. menjadikan masyarakat yang terintegrasi dengan sempurna. damai. 135 . tentram. dan telah menjadi isu gender yang cukup sentral. dalam hal ini suatu permasalan sosial. karena semua unsur berpengaruh dalam hal itu. maka sudah menjadi keharusan bahwa setiap bagian dalam masyarakat harus berperan aktif demi terciptanya lingkungan yang adil.Secara keseluruhan. mengharuskan kita untuk mengatasi. pada saat salah satu subsistem tidak berfungsi dengan baik maka akan mengakibatkan kerusakan semua sistem. dan untuk tahun 2010 mencapai 1767 kasus dari 2109 kasus atau 84 %. tidak dapat di selesaikan hanya melalui pendekatan sosial. berdasarkan data dari Dinas Sosial. dan meminimalisir tindak kekerasan terhadap perempuan.

136 .

karena ia dilahirkan oleh seorang ayah dan/atau ibu yang berkewarganegaraan Indonesia. maka acapkali pihak pencatat akta kelahiran atau pihak yang berwenang mensyaratkan adanya buku atau akta nikah dari orang tua yang hendak mencatatkan peristiwa kelahiran. Dalam kehidupan lebih lanjut bahwa kepemilikan akta kelahiran berdampak cukup luas.25 Tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil tidak mensyaratkan adanya kewajiban untuk melampirkan akta nikah/buku nikah orangtua anak dalam proses perolehan akta lahir bagi anak. MASALAH ANAK 9. Perihal akta kelahiran menjadi penting untuk dikaji setidaknya disebabkan oleh beberapa hal. antara lain bahwa dalam memperoleh sebuah akta kelahiran.Kepemilikan Akte Kelahiran Akta kelahiran menjadi dokumen yang sangat penting bagi warga negara Republik Indonesia.BAB IX. seperti: pengurusan pendaftaran sekolah. dimana seseorang ketika tidak memiliki dokumen berupa akta kelahiran akan cukup sulit dalam melakukan proses-proses administasi selanjutnya. administrasi pendaftaran pekerjaan. hingga administrasi perolehan passport.1. Hal ini juga dapat dikaitkan dengan kewarganegaraan seseorang. Perpres No. Pasal 27 UU No.23 Tahun 2002 juga UU No. Jika anak 137 . dokumen akta kealhiran tersebut menjadi dokumen hukum bahwa seseorang memang dilahirkan dari seorang warga Negara Indonesia baik di dalam maupun di luar wilayah jurisdiksi Indonesia.23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan jo.

25 Tahun 2008.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak: (1) Identitas seorang diri setiap anak harus diberikan sejak kelahirannya (2) Identitas sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dituangkan dalam akta kelahiran (3) Pembuatan akta kelahiran didasarkan pada keterangan dari orang yang menyaksikan dan/atau membantu proses kelahiran (4) Dalam hal anak yang proses kelahirannya tidak diketahui. Bahkan jika tidak diketahui siapa orangtuanya. maka anak tersebut tetap mendapatkan haknya untuk memperoleh akta kelahiran cukup dengan keterangan dari orang yang menemukan si anak dan dilengkapi oleh berita acara pemeriksaan dari kepolisian. pembuatan akta kelahiran 138 . dan orangtuanya tidak diketahui keberadaannya. Tidak wajibnya melampirkan akta/buku nikah dalam hal memperoleh akta kelahiran bagi anak dikuatkan pula oleh Pasal 27 UU No. maka surat tersebut akan menyatakan bahwa anak tersebut dilahirkan dari psangan bapak A dan ibu B. maka akta tersebut hanya menyatakan hubungan hukum dengan pihak Ibu saja. Bidan atau dokter yang membantu proses kelahiran si anak cukup memberikan surat keterangan mengenai proses kelahiran tersebut dan itu digunakan untuk mengurus keperluan pembuatan akta kelahiran. Pihak yang mengetahui terjadinya perkawinan serta kelahiran dihadirkan menjadi saksi dalam proses pencatatan oleh pihak orangtua anak.dilahirkan dari sepasang suami-isteri yang tidak dicatatkan perkawinannya. Pada sisi lain jika si Ayah tidak diketahui keberadaannya. maka berdasarkan ketentuan Pasal 52 Perpres No.

Sulawesi Selatan 01.610 4.961 6.555 2.untuk anak tersebut didasarkan pada keterangan orang yang menemukan Data kepemilikan akte kelahiran anak usia 0-4 tahun di Sulawesi Selatan sebagaimana table berikut.756 2.36 49.4 Tahun / Population 0 .067 2.572 41. Selayar 02.45 39.907 7. Luwu 18. Bantaeng 04.58 36. Luwu Timur 71.22 53.48 46.064 11.371 2.241 423 1.944 9. Sensus Penduduk 2010 139 .762 1.2 35.901 127.625 115.759 6.193 10.425 8.825 3.784 5.001 3.473 1. Enrekang 17.16 43.4 29.150 3.935 1.83 52 35.28 11.494 4.67 34.246 17.657 10.17 75.23 46.55 17.13 63. Maros 09.86 34.249 2.688 6. Luwu Utara 25.38 27. Sulawesi Selatan Perkotaan Propinsi/Kabupaten Penduduk 0 .78 27.4 Years Memiliki Akte Kelahiran / Have Birth Certificate Banyakn ya / Prose Number ntase Province/District 00.986 6.89 22.846 14.474 3. Gowa 07. Wajo 14.626 4.119 4.897 600 3. Bone 12.974 1.044 3.900 2. Soppeng 13.35 19. Pare-Pare 73.411 5.086 12.6 20.16 49.098 58.833 3. Jeneponto 05.24 19.5 29.8 13.71 31.33 23.059 4.300 8.252 34.287 48.27 65.92 38.315 17.23 29. Bulukumba 03.645 2. Sidenreng Rappang 15.706 690 2.918 4.592 5.732 18.678 22.00 39.014 2.201 26. Barru 11. Makasar 72.413 12.808 34.41 51.785 23.18 20. Sinjai 08.262 1.177 702 704 405 25.4 Tahun / Population 0 .538 5.210 5.544 57.740 17. Tana Toraja 22.931 21. Tabel 9.13 37.474 1.428 4.286 14.968 6.294 4.18 42. Pinrang 16.1.72 72.752 785 1.4 10.366 1.452 6.388 18.438 5.478 21.208 9. Takalar 06.888 25.911 116.854 5.3 14.583 28.24 24.29 84.808 1.297 37. Palopo 240.76 25 42. Pangkajene Kepulauan 10.024 20.407 1.44 5.634 4.96 Sumber data : BPS.11 506.190 2.492 2.414 1. Penduduk 0-4 Tahun yang Memiliki Akte Kelahiran menurut Kabupaten/Kota.77 23.4 Years Memiliki Akte Kelahiran / Have Birth Certificate Banyakn ya / Prose Number ntase Perdesaan Penduduk 0 .433 7.32 58.

pertanian (sawah). pasar-pasar tradisional. Adapun persentase kepemilikan tertinggi di kabupaten Enrekang. dapat diketahui bahwa persentase kepemilikan akte kelahiran di Sulawesi Selatan baru mencapai 73. jangkauan layanan petugas catatan sipil. Di TPAS Tamangapa terdapat 380 anak 140 . terdapat 117 anak umur 8-15 tahun yang aktif bekerja sebagai tukang bongkar dan pengangkut ikan. menemukan anakanak bekerja di sektor formal dan informal. antara lain di KIMA dan pabrikpabrik lain di daerah. tebu). yang hanya mencapai 5. pemulung. nelayan (penangkap ikan dan pembudi daya rumput laut). Di Pelabuhan Paotere. utamanya di wilayah perdesaannya. Ersentase kepemilikan di perdesaan masih sangat rendah.71%. Namun penelitian LPA Sulawesi Selatan tahun 2008. kepemilikan akte terrendah di kabupaten Jeneponto. cokelat. sektor perkebunan (kebun kelapa sawit. utamanya di wilayah perkotaan yakni 84. baik Provinsi maupun Kabupaten/Kota.2.Berdasarkan data diatas.6%. pasar ikan. Anak-anak juga ditemukan di sektor kontruksi/bangunan. berkisar setengahnya dari persentase kepemilikan di perkotaan. dan penjual ikan. 9. dan kepedulian pemerintah setempat dalam mewujudkan hak anak. pencuci kapal. pengangkut air.24 %. Berdasarkan kab/kota. tukang becak. tidak ada data mengenai pekerja/buruh anak yang tercatat di Dinas Tenaga Kerja. Pekerja Anak Hingga saat ini. Hal ini terkait erat dengan pengetahuan masyarakat.

namun angka yang diperoleh adalah mengenai pendidikan anak-anak yang bekerja. Kekerasan pada anak juga sering kali dihubungkan dengan lapis pertama dan kedua pemberi atau penanggung jawab pemenuhan hak anak yaitu orang tua (ayah dan ibu) dan keluarga. Yang dimaksud dengan anak ialah individu yang belum mencapai usia 18 tahun. sekitar 63 % (239 anak) merupakan pemulung aktif. Anak-anak yang bekerja 53 % putus sekolah. Tingkat kerawanan putus sekolah dililihat dari : anak sering bolos ke sekolah. Oleh karena itu. mencapai 70 %. tidak ada perhatian orang tua.(umur 5-17) tahun yang memulung. Seringkali istilah kekerasan pada anak ini dikaitkan dalam arti sempit dengan tidak terpenuhinya hak anak untuk mendapat perlindungan dari tindak kekerasan dan eksploitasi. suasana belajar yang tidak cocok untuk anak.3. jadwal belajar yang tidak sesuai dengan kegiatan anak. 47 % yang masih di bangku sekolah pun rawan putus sekolah. Angka pasti sulit dihitung. 9. Kekerasan yang disebut terakhir ini di kenal dengan perlakuan salah terhadap anak atau child abuse 141 . Kekerasan Terhadap Anak Secara umum kekerasan didefinisikan sebagai suatu tindakan yang dilakukan satu individu terhadap individu lain yang mengakibatkan gangguan fisik dan atau mental. kekerasan pada anak adalah tindakan yang di lakukan seseorang /individu pada mereka yang belum genap berusia 18 tahun yang menyebabkan kondisi fisik dan atau mentalnya terganggu.

dan pelecehan. teman. Ibu dan bapak kandung. tetangga. Kasus kekerasan yang dilaporkan ke LPA Sulawesi Selatan maupun yang diberitakan oleh media massa. 142 .2). kekerasan terhadap anak masih mendominasi pemberitaan di Media Massa yang terbit di Kota Makassar. Pelaku kekerasan di sini karena bertindak sebagai caretaker. seksual. didominasi oleh kasus kekerasan seksual. dan seterusnya.yang merupakan bagian dari kekerasan dalam rumah tangga (domestic violence). Kekerasan masih mendominasi laporan yang masuk ke Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Sulawesi Selatan. dengan pelaku utama adalah orang-orang terdekat (Tabel 9. guru. pencabulan. supir pribadi. tukang ojek pengantar ke sekolah. dan pacar. paman. maka mereka umumnya merupakan orang terdekat di sekitar anak. guru. Demikian juga. tukang kebon. maupun emosi. serta kekerasan fisik. Menurut Indra Sugiarno Kekerasan pada anak atau perlakuan salah pada anak adalah suatu tindakan semena-mena yang dilakukan oleh seseorang seharusnya menjaga dan melindungi anak (caretaker) pada seorang anak baik secara fisik. berupa perkosaan. kakek. seperti orang tua/keluarga. nenek. ibu dan bapak tiri.

Tabel 9.2. Data Kekerasan Anak Di Sulawesi Selatan (2002-2010)
Variabel 200 2 200 3 200 4 200 5 200 6 200 7 200 8 200 9 2010* )

Kekerasa n seksual Kekerasa n fisik Lain-lain*) Total

70 69 60 199

82 77 49 208

92 88 94 274

99 92 90 281

98 96 99 293

99 103 105 307

132 124 92 348

77 110 68 255

82 59 30 171

Keterangan : Kekerasan seksual (pencabulan, pelecehan, perkosaan) Kekerasan fisik (di sekolah, rumah, jalan, dll) Tahun 2008, data juga diperoleh dari beberapa Polres di Sulawesi Selatan Lain-lain : kekerasan non-fisik, penelantaran, eksploitasi, penculikan, penipuan, dan pemalakan. *) Sampai Oktober 2010

Hanya 18 %, pelaku kekerasan adalah orang tidak mempunyai hubungan dengan korban. Artinya sebanyak 82 %, pelaku kekerasan terhadap anak adalah orang-orang dekat dengan korban. Yang perlu mendapat perhatian dari tabel di atas adalah meningkatnya kasus kekerasan seksual di Sulawesi Selatan. Tahun 2010, sampai bulan Oktober terdapat 82 kasus kekerasan seksual. Di samping itu, meningkatnya kasus inses (hubungan seksual dalam lingkungan keluarga) dan bentuk perkosaan terhadap anak. Sepanjang tahun 2010, terdapat 8 143

kasus inses di Sulawesi Selatan dengan korban anak dan pelaku adalah ayah kandung, paman, dan kakek. Sementara angka kekerasan fisik pada tahun 2010, mengalami penurunan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kekerasan fisik terhadap anak masih seputaran di sekolah dan di rumah tangga. Angka kekerasan fisik yang mengalami penurunan menunjukkan kesadaran di tingkat masyarakat. Berdasarkan data Dinas Sosial, untuk tahun 2009 - 2010 tercatat tindak kekerasan pada anak sebagaimana tabel berikut. Jumlah anak korban tindak kekerasan menurun dari tahun 2009 ke tahun 2010, namun bila dicermati maka akan nampak bahwa terjadi peningkatan kasus pada anak laki-laki dari 120 menjadi 137. Jumlah inipun hanya kasus-kasus yang terlaporkan. Kasus kekerasan pada anak seringkali tidak dilaporkan, karena pemahaman masyarakat yang relatif rendah, yang berpendapat bahwa mereka tidak berkepentingan terhadap anak-anak diluar keluarga mereka dan juga faktor budaya malu dan tersinggung jika kasusnya dilaporkan.

144

Tabel 9.3. Rekapitulasi Data Korban Tindak Kekerasan (KTK) Anak Berdasarkan Jenis Kelamin Di Propinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009-2010
PROVINSI SULSEL MAKASSAR GOWA PARE PARE BANTAENG SOPPENG TANA TORAJA PALOPO MAROS BARRU SIDRAP PINRANG WAJO BONE ENREKANG LUWU LUWU UTARA TAKALAR JENEPONTO BULUKUMBA SINJAI SELAYAR PANGKEP LUWU TIMUR JUMLAH KORBAN TINDAK KEKERASAN (KTK) Tahun 2009 ANAK JUMLAH L P 6 3 11 3 7 11 6 5 9 7 5 5 11 0 2 6 7 5 3 3 0 2 3 120 21 25 45 38 32 71 51 22 35 24 42 44 46 23 43 48 39 32 29 35 39 11 15 810 27 28 56 41 39 82 57 27 44 31 47 49 57 23 45 54 46 37 32 38 39 13 18 930 KORBAN TINDAK KEKERASAN (KTK) Tahun 2010 ANAK JUMLAH L P 4 2 15 7 9 6 8 2 6 4 7 1 15 1 5 3 9 2 7 5 5 5 9 137 15 28 36 26 12 71 51 30 17 18 22 19 19 15 29 33 28 25 22 26 25 19 27 613 19 30 51 33 21 77 59 32 23 22 29 20 34 16 34 36 37 27 29 31 30 24 26 750

Sumber Data : Dinsos Prov. Sulsel

145

146 .

Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dalam kaitan statistik gender bertujuan untuk mengidentifikasi jenis data dan informasi yang diperlukan sebagai bahan penentuan kebijakan masalah sosial.BAB X. baik pembangunan nasional dan daerah maupun antara daerah dan sektor serta mancanegara sebagai alat perjuangan untuk kepentingan nasional. sehingga kesetaraan dan keadilan gender dimasa mendatang dapat lebih optimal.1. agar tercipta rasa saling percaya serta menjaga kesenjangan informasi yang dapat menimbulkan disintegrasi bangsa. PENUTUP 10. Kesimpulan Dalam rangka memperoleh efek pengganda. dan praktek-praktek terbaik dapat terwujud serta diharapkan tercipta kemampuan masyarakat untuk menyeleksi informasi. oleh karena itu pengkajian kebijakan 147 . advokasi. diselenggarakan melalui pengarusutamaan gender dalam setiap proses dan tahapan perencanaan pembangunan daerah di rasakan belum sempurna. strategi pemberdayaan perempuan akan menjadi salah satu instrumen yang penting dalam penyelenggaraan pemerintahan. sekaligus untuk membangun jaringan system informasi yang diperlukan antara lain meningkatkan fungsi koordinasi yang terpadu dalam penyediaan informasi yang benar dan bertanggung jawab serta mendorong peningkatan kualitas pelayanan data dan informasi pembangunan melalui multi media agar proses sosialisasi. Peningkatan kualitas hidup perempuan diharapkan menjadi bagian dari keluarga yang merupakan basis utama terbentuknya generasi sekarang dan masa yang akan datang.

dan Monev. tidak ada artinya jika tidak dapat dilaksanakan. tahap pelaksanaan (on-going evaluation) dan saat program/kegiatan evaluation). pelaksanaan. Demikian juga sebaliknya setiap pelaksanaan tidak akan berjalan lancar jika tidak didasarkan kepada perencanaan yang baik. Rekomendasi Statistik Gender merupakan kegiatan dari fungsi management yang saling terkait dan tidak dapat dipisahkan dari perencanaan. sebagai bagian dari keluarga yang merupakan basis terbentuknya generasi sekarang dan masa mendatang. Untuk itu evaluasi menjadi penting. 10. 1). mulai tahap perencanaan (ex-ante evaluation. selesai (ex-post 148 .pembangunan diperlukan dalam rangka mencari alternative-alternative kebijakan yang efektif. Dengan demikian program di bawah ini merupakan rekomendasi untuk lebih memperkuat peran masyarakat dan kelembagaan dalam pembangunan pemberdayaan perempuan. terutama memperkuat dan mendorong kemandirian lembaga-lembaga yang memiliki visi yang sama terhadap pemberdayaan perempuan.2. Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan Tujuan program ini adalah untuk meningkatkan kedudukan dan peran perempuan sebagai mahluk individu yang merupakan insan dan sumberdaya pembangunan. Kesemuanya saling melengkapi dan masingmasing memberi umpan balik artinya perencanaan yang telah disusun dengan baik. untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan yakni .

dalam situasi konflik. kepala sekolah. dan peningkatan partisipasi perempuan pada semua jenis dan jenjang pendidikan. dan masyarakat. b). dan evaluasi dari seluruh kebijakan dan program pembangunan pendidikan. d). c).Di bertujuan bidang pendidikan. 149 .Peningkatan peran aktif perempuan dalam seluruh proses perencanaan. dan membenahi materi bahan ajar. terutama bagi para perencana dan pengambil keputusan—termasuk orang tua. pelaksanaan. program ini secara khusus untuk meningkatkan partisipasi perempuan dalam pendidikan. Pada daerah-daerah terpencil. guru. melalui berbagai media. proses pembelajaran. Penurunan angka buta huruf. serta pengembangan mata pelajaran atau mata kuliah yang berkaitan dengan jender pada lembaga-lembaga penataran guru dan pendidikan penjenjangan. keahlian. baik di lingkungan pendidikan sekolah maupun luar sekolah. Pengembangan metoda dan pendekatan pembelajaran baik intra maupun ekstra kurikuler yang lebih berwawasan jender. dan f). tetap dapat berpartisipasi dalam pendidikan. Kegiatan-kegiatan pokok yang akan dipersiapkan adalah: a). termasuk bidang-bidang kejuruan. dan darurat. pengawasan. baik perempuan maupun laki-laki. e). Sosialisasi kesetaraan dan keadilan jender dalam pendidikan. program pendidikan harus dilakukan dengan menggunakan pendekatan khusus yang memungkinkan penduduk usia sekolah. Evaluasi dan penataan materi bahan ajar agar lebih peka gender di seluruh jenjang dan jenis pendidikan. dan pengelolaan pendidikan. dan pendidikan yang selama ini lebih dianggap cocok untuk laki-laki.

Peningkatan peran aktif perempuan dalam proses perencanaan. dana. Perbaikan sistem dan perangkat hukum yang dapat menunjang penegakan hak azasi perempuan antara lain melalui pemberian hukuman semaksimal mungkin bagi para pelaku kejahatan serta memberikan pelayanan dan kompensasi bagi para korban kejahatan.2.Penciptaan sistem perlindungan bagi perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga dan tempat kerja. h). struktur maupun budaya hukumnya. k) Penciptaan sistem perlindungan dan 150 . a). e). Ratifikasi Konvensi PBB tentang Larangan Perdagangan Perempuan dan Anak. bantuan pendampingan dan pemulihan/kompensasi bagi korban. lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan organisasi perempuan dalam rangka penegakan hukum. Tujuan program ini adalah untuk mendukung terciptanya sistem hukum nasional yang tidak diskriminatif dan berkeadilan gender. Perumusan dan penerapan kebijakan dan tindakan khusus bagi upaya promosi aparat penegak hukum perempuan serta penanganan kasus-kasus perempuan. seperti UU Anti Kekerasan. pengawasan. seperti bantuan hukum. terutama perempuan untuk memperoleh informasi dan sumberdaya hukum. penciptaan sistem komunikasi dan kerjasama antara institusi penegak hukum dengan organisasi masyarakat. Sosialisasi "budaya damai" agar perempuan terhindar dari berbagai bentuk kekerasan. Penegakan Hukum dan Hak Azasi Manusia bagi Perempuan . dan evaluasi kebijakan dan program pembangunan hukum dan HAM. serta menegakkan hak azasi manusia (HAM) yang merugikan perempuan yakni . baik dalam hal substansi. pelaksanaan. d). i). f). b). j). terutama dalam penyelesaian masalah-masalah khusus perempuan. Peningkatan akses masyarakat. g). Pembuatan UU dan peraturan-peraturan yang diperlukan dalam upaya menegakkan hak-hak perempuan.

serta mewujudkan hubungan kemitraan yang efektif antara pemerintah dan lembaga-lembaga masyarakat yakni . 151 . serta masyarakat secara keseluruhan. pemantauan dan evaluasi pembangunan. c). dan Edukasi) mengenai kesetaraan dan keadilan jender di lingkungan lembaga-lembaga legislatif. Pembuatan undang-undang dan peraturan-peraturan yang melindungi pekerja kemanusiaan dan pelapor tindak pelanggaran HAM. Pembentukan tim khusus pelanggaran HAM terhadap perempuan 3. 1). eksekutif. Intensifikasi kegiatan penelitian dan pengembangan tentang masalah-masalah jender. e). pengembangan sistem informasi jender. a). termasuk organisasi perempuan. dan yudikatif. termasuk TNI dan Kepolisian RI. b). meningkatkan peran dan kemandirian lembaga-lembaga yang memiliki visi pemberdayaan perempuan. melalui peningkatan keterampilan dan keahlian serta pembentukan unit gender mainstreaming di setiap instansi pemerintah. termasuk pengembangan materi dan bahan KIE untuk gender mainstreaming. antara lain melalui penyediaan data dan informasi yang dibedakan menurut jenis kelamin. Penguatan Peran Masyarakat dan Pemampuan Kelembagaan Tujuan program ini adalah untuk memperkuat peran aktif masyarakatl. pelaksanaan. dan m). d). Peningkatan kemampuan dan kapasitas institusi-institusi pemerintah untuk melakukan gender mainstreaming dalam proses perencanaan. Informasi. meningkatkan kapasitas dan kemampuan institusi-institusi pemerintah dalam melakukan gender mainstreaming dalam setiap tahap dan proses pembangunan. KIE (Komunikasi. efektif dan menyeluruh. Pengembangan berbagai alat dan metode.penanganan khusus bagi perempuan dalam situasi konflik maupun kerusuhan yang bersifat penanganan segera.

melalui peningkatan keterampilan dan keahlian untuk lebih dapat menemukenali dan mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi perempuan. Peningkatan kemampuan dan kapasitas lembaga-lembaga masyarakat yang memiliki visi pemberdayaan perempuan. termasuk organisasi-organisasi perempuan yang ada di pusat maupun di daerah. dan g). Penciptaan hubungan kemitraan yang efektif antara pemerintah dengan masyarakat sipil dan lembaga-lembaga masyarakat yang memiliki visi pemberdayaan perempuan. serta bersama-sama pemerintah merumuskan kebijakan dan program pembangunan. 152 . f).termasuk pemanfaatan dan pendayagunaan hasilnya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.