P. 1
Data Statistik Gender Tahun 2009

Data Statistik Gender Tahun 2009

|Views: 4,314|Likes:
Published by reyna_01

More info:

Published by: reyna_01 on Sep 28, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/19/2013

pdf

text

original

Sections

  • 1.1. Latar Belakang
  • 1.2. Tujuan
  • 1.3. Sumber dan Proses Pengolahan Data
  • 1.4. Landasan Hukum
  • 1.5. Ruang Lingkup
  • 2.1.1. Topografi
  • 2.1.2. Geologi
  • 2.1.3. Hidrologi
  • 2.1.4. Klimatologi
  • 2.2. Sejarah
  • 2.3. Sosial Ekonomi dan Budaya
  • 3.1. Jumlah Penduduk dan Rasio Jenis Kelamin
  • 3.2. Jumlah Penduduk menurut Kelompok Umur dan Jenis
  • 4.2.1. Angka Partisipasi Sekolah
  • 4.2.2. Angka Partisipasi Murni
  • 4.2.3 Angka Partisipasi Kasar (APK)
  • 4.3. Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan
  • 4.4. Putus Sekolah
  • 4.5. Pendidikan Anak Usia Dini
  • 5.1.1. Angka Kematian Bayi (AKB)
  • 5.1.2. Angka Kematian Balita (AKABA)
  • 5.2.1. Angka Kematian Ibu (AKI)
  • 5.2.2. Kesehatan Reproduksi
  • 5.2.3. Partisipasi Dalam ber KB
  • 5.3.1. Penolong Persalinan
  • 5.3.2. Lama Pemberian ASI
  • 5.3.3. Imunisasi
  • 5.4.1. Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)
  • 5.4.2. Status Gizi Balita
  • 5.5.1. Pelayanan Antenatal (K1 dan K4)
  • 5.5.2. Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan dengan
  • 5.5.3. Deteksi Risiko, Rujukan Kasus Risti dan Penanganan
  • 6.1 Penduduk Usia Kerja
  • 6.2. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) dan Pengangguran
  • 6.3. Tingkat Pengangguran
  • 6.4. Lapangan Usaha
  • 6.5. Status Pekerjaan
  • 6.6 Jam Kerja
  • 6.7. Upah/Gaji Sebulan
  • 6.8. Kemiskinan
  • 6.9. Perubahan Garis Kemiskinan
  • 6.11. Pekerja Migran (TKI/TKW)
  • 7 PALOPO 21 31 52 6 44 50 3 11 14 5 11 16
  • 8 MAROS 2 36 38 4 38 42 2 0 2 7 0 7
  • 9 BARRU 5 39 44 8 28 36 0 3 3 1 5 6
  • 10 SIDRAP 0 38 38 3 44 47 0 4 4 2 4 6
  • 11 PINRANG 0 50 50 7 51 58 2 5 7 4 8 12
  • 12 WAJO 7 53 60 4 60 64 6 3 9 1 9 10
  • 13 BONE 4 80 84 8 72 80 6 7 13 4 9 13
  • 14 ENREKANG 6 24 30 3 28 31 0 4 4 4 5 9
  • 15 LUWU 2 56 58 5 42 47 4 8 12 2 8 10
  • 16 LUWU UTARA 2 42 44 3 49 52 3 9 12 2 11 13
  • 17 TAKALAR 1 41 42 6 42 48 0 5 5 3 8 11
  • 18 JENEPONTO 3 51 54 2 48 50 3 6 9 4 7 11
  • 19 BULUKUMBA 0 37 37 3 49 52 0 4 4 2 9 11
  • 20 SINJAI 2 44 46 5 36 41 1 2 3 3 6 9
  • 21 SELAYAR 1 28 29 2 36 38 2 7 9 3 5 8
  • 22 PANGKEP 2 15 17 4 23 27 0 3 3 4 6 10
  • 23 LUWU TIMUR 1 13 14 6 15 21 0 4 4 1 8 9

BAB I.

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa dan didorong oleh keinginan luhur untuk berperikehidupan yang bebas, bersatu, adil dan makmur sebagaimana diisyaratkan dalam Pancasila dan UUD 1945, oleh karena itu pembangunan daerah Sulawesi Selatan diwujudkan melalui penyelenggaraan pemerintah daerah yang berkedaulatan rakyat, demokratis dan pengarusutamaan gender untuk meningkatkan kesejahteraan dan keadilan gender. Paradigma pembangunan yang sentralistik dan birokratis, merupakan faktor penyebab hasil-hasil pembangunan menjadi tidak merata antardaerah, antar sektor, antar wilayah dan golongan sehingga diperlukan sebuah pendekatan baru yang mampu menjawab tantangan ke depan, oleh karena itu keberadaan Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dan Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) dan PERDA No. 2 Tahun 2010 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Daerah, merupakan peluang sekaligus tantangan di Sulawesi Selatan penyusunan kebijakan program yang berperspektif gender. Meskipun berbagai upaya pembangunan telah banyak dilakukan, namun masih dijumpai berbagai kesenjangan gender, utamanya peluang dan akses terhadap sumberdaya pembangunan. Permasalahan pengarusutamaan gender ditinjau dari aspek manajemen adalah : dalam

1

-

Kurangnya pemahaman dan komitmen para stakeholders, akan

pentingnya data dan indikator gender dimulai dari penyusunan perencanaan sampai pada tahap evaluasi dan berakhir pada penentuan kebijakan. Kurangnya penciptaan akses masyarakat ke input ketersediaan data dan indikator serta analisis gender terhadap pemerintah. Kebijakan pemerintah Sulawesi Selatan diarahkan untuk membangun partisipasi masyarakat dalam mendukung terwujudnya kesetaraan dan keadilan gender di dalam masyarakat, maka pembangunan pada prinsipnya untuk meningkatkan kualitas hidup manusia tanpa membedakan suku, agama, ras dan jenis kelamin secara terencana, bertahap, komprehensif dan berkesinambungan, dengan melibatkan partisipasi stakeholder yang meliputi pemerintah, dunia usaha dan masyarakat yang menjadi kunci keberhasilan pelaksanaan pembangunan dalam penyusunan statistik indikator gender baik untuk kepentingan Nasional maupun Daerah. Selanjutnya kebijakan Pembangunan Pemberdayaan Perempuan di dalam RPJMD Provinsi Sulawesi Selatan 2008-2013 diarahkan untuk membangun partisipasi masyarakat dalam mendukung terwujudnya kesetaraan dan keadilan gender di masyarakat yang diwujudkan beberapa program aksi sebagai berikut : 1). Peningkatan kesempatan bagi kaum perempuan untuk menikmati pendidikan disemua jenjang, sehingga mereka memiliki posisi tawar yang tinggi menuju terciptanya kesetaraan dan keadilan gender; 2). Peningkatan partisipasi masyarakat dalam ikut menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu dan anak serta peran serta masyarakat dalam menjaga kesehatan reproduksi termasuk dalam keluarga berencana; 3). Peningkatan akses kaum perempuan untuk berusaha di

2

bidang ekonomi produktif, termasuk mendapatkan modal pelatihan usaha, program perluasan kesempatan kerja dan informasi pasar sehingga dapat mendorong lahirnya kemandirian kaum perempuan dalam berwirausaha; 4). Peningkatan partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan dan perumusan kebijakan, sehingga tercipta keseimbangan perempuan diberbagai sektor.; 5). Peningkatan perlindungan terhadap perempuan dan anak guna mencegah terjadinya diskriminasi, eksploitasi, kekerasan dan bahkan tindak perdagangan perempuan dan anak (trafikking) yang dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip keterpaduan dan keseimbangan. Dalam rangka implementasi strategi dan kebijakan pengarusutamaan gender, diperlukan ketersediaan data dan informasi gender sebagai dasar analisis dan bahan perumusan program/kegiatan prioritas yang berperspektif gender. Oleh karenanya ketersediaan data dan informasi gender ini menjadi suatu keharusan dalam perumusan program/kegiatan prioritas yang memperhatikan kebutuhan, pengalaman, dan aspirasi yang berbeda antara laki-laki dan perempuan, sehingga dapat mengoptimalkan akses, partisipasi, control dan manfaat penduduk laki-laki dan perempuan dalam setiap tahapan pembangunan di semua bidang. 1.2. Tujuan Tujuan dari penyusunan statistik gender sebagai berikut : • Meningkatkan ketersediaan data dan informasi statistik gender di Sulawesi Selatan, sebagai bahan analisis gender dalam rangka perumusan program/kegiatan yang berperspektif gender.

3

Skema pengolahan data digambarkan dibawah sebagai berikut : 4 . Proses pengolahan data dilaksanakan secara institusional yaitu dengan mengumpulkan data primer dan sekunder meliputi data kondisi fisik dari studi kepustakaan (berbagai laporan) dan literatur seperti berbagai kebijakan yang dilaksanakan oleh SKPD lingkup Pemeintah Provinsi Sulawesi Selatan. pemantauan. dan evaluasi kebijakan dan program daerah. baik data kuantitatif maupun kualitatif dan selanjutnya melalui brain storming.3. 1. Untuk mendukung data tersebut juga digunakan data hasil penelitian yang dilakukan PSW/PSG/Lemlit di masing-masing wilayah. Sumber dan Proses Pengolahan Data Untuk penyusunan statistik gender digunakan data sekunder yang utamanya berasal dari hasil registrasi dan pencatatan pada setiap SKPDSKPD yang terkait dan data dasar hasil survei-survei yang dilakukan BPS seperti SUSENAS. SAKERNAS. SENSUS PENDUDUK dan SDKI. pelaksanaan.• Meningkatkan pemahaman dan komitmen akan pentingnya data dan indikator gender bagi penyusunan perencanaan.

4. serta landasan Aksi dan deklarasi 5 . Landasan Hukum Komitmen Pemerintah Indonesia terhadap upaya mewujudkan kesetaraan dan keadilan Gender dilandaskan atas pasal 27 Undang-undang Dasar 1945 yang menerapkan asas persamaan antara laki-laki dan perempuan di muka hukum.PROSES PENGOLAHAN DATA U M P A N B A L I K Inventarisasi Data Observasi/wawancara Laporan Dokumen Pengolahan Data/Analisa Indikator Program Pencapaian/Penilaian Tujuan/Sasaran Pengembangan/Rekomendasi Dampak 1. 7 Tahun 1984. seperti Konvensi Penghapusan segala Betuk Diskriminasi terhadap Perempuan (Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women) CEDAW yang diratifikasi ke dalam Undang-undang No. Untuk memperkuat pemerintah RI telah meratifikasi beberapa konvensi International dan menandatangai beberapa kesepakatan International.

25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Bab VII. Bab VIII. Bab I. Masalah Anak . Provinsi Sulawesi Selatan. Bab X. Berdasarkan Human Development Index tahun 1997 dan Undang-Undang No.Beijing tahun 1995. Perda No. Bab V. Kekerasan Terhadap Perempuan. Kesehatan . Kegiatan Ekonomi . Gambaran Umum Kondisi Wilayah . Bab II. Demografi. Perda No. Bab III. Sektor Publik . Ruang Lingkup Ruang lingkup statistik gender mencakup seluruh aspek pembangunan di bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.Pendahuluan . Bab IX. 6 . disusun dengan sistimatika meliputi. Pendidikan.5. Bab VI. 1. 10 tahun 2008 tentang RPJMD. 10 tahun 2008 tentang RPJPD. Penutup. Bab IV.

24 km2. 8 sampai 45 persen merupakan tanah yang kemiringannya agar curam. Lima danau besar menjadi rona spesifik wilayah ini.BAB II. GAMBARAN UMUM KONDISI WILAYAH 2.1. dimana sebagian besar wilayah daratnya berada pada jazirah barat daya Pulau Sulawesi serta sebagian lainnya berada pada jazirah tenggara Pulau Sulawesi.1. Wilayah daratan terluas berada pada 100 hingga 400 meter DPL. Topografi Wilayah Sulawesi Selatan membentang mulai dari dataran rendah hingga dataran tinggi. 2.1. yang berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Barat di sebelah utara dan Teluk Bone serta Provinsi Sulawesi Tenggara di sebelah timur. Geografis Secara geografis wilayah darat Provinsi Sulawesi Selatan dilalui oleh garis khatulistiwa yang terletak antara 0012’~80 Lintang Selatan dan 1160 48’~122’ 36’ Bujur Timur. serta berbatasan dengan Selat Makassar di sebelah barat dan Laut Flores di sebelah timur. Terdapat sekitar 65 sungai yang mengalir di provinsi ini.519. 3 sampai 8 persen merupakan tanah relatif bergelombang. lebih dari 45 persen tanahnya curam dan bergunung. dengan jumlah sungai terbesar ada di bagian utara wilayah provinsi ini. Kondisi Kemiringan tanah 0 sampai 3 persen merupakan tanah yang relatif datar. yang tiga di antaranya yaitu Danau Matana. Luas wilayah Provinsi Sulawesi Selatan khususnya wilayah daratan mempunyai luas kurang lebih 45. Danau Towuti dan Danau Mahalona di 7 . dan sebahagian merupakan dataran yang berada pada 400 hingga 1000 meter DPL.

Sinjai sampai Tanjung Pattiro. Batuan volkan kwarter.2. Geologi Struktur geologi batuan di Provinsi Sulawesi Selatan memiliki karakteristik geologi yang dicirikan oleh adanya berbagai jenis satuan batuan yang bervariasi. di Pegunungan Bone Utara sebelah barat Watampone. di selatan Palopo sampai Umpu. di sekitar Sungai Mamasa. utara Parepare. Kapur kerang terdapat di sebelah barat memanjang antara Enrekang sampai Rantepao. Sungai Cenrana di dataran antara Takalar – Sumpang Binangae (Barru). serta dua danau lainnya yaitu Danau Tempe dan Danau Sidenreng yang berada di Kabupaten Wajo. dan di Tanjung Bira (Bulukumba). daerah Pegunungan Salapati (Quarles) sampai Pegunungan Molegraf. dijumpai di dataran sepanjang lembah sungai antara Sungai Saddang dan Danau Tempe. Struktur dan formasi geologi wilayah Provinsi Sulawesi Selatan terdiri dari volkan tersier.Kabupaten Luwu Timur. sekitar Gunung Karua (Tana Toraja) dan di Gunung Lompobatang (Gowa). di selatan Parepare. Formasi batuan ini ditemukan di sekitar Limbong (Luwu Utara). bagian barat Pulau Selayar. 8 . di sekitar Sinjai serta di Rantepao (Tana Toraja) dan Camba (Maros). di deretan pegunungan sebelah barat dan timur Ujung Lamuru sampai Bukit Matinggi. Sebaran formasi volkan tersier ini relatif luas mulai dari Cenrana sampai perbatasan Mamuju. dari Makale sampai utara Enrekang. di dataran Palopo – Malili. 2.1. Alluvium kwarter. Pegunungan Perombengan sampai Palopo.

Tersebar di bagian utara Provinsi Sulawesi Selatan. batu pasir. Batuan plutonik masam. ungu. DAS Jeneberang meliputi wilayah 8 (delapan) 9 . penyebarannya di sekitar Lodong.1. Enrekang. dari Sengkang ke tenggara sampai Rarek dan ke selatan sampai Sinjai. batu tulis. Batuan sedimen mesozoikum. 2. di sebelah tenggara Barru dan di Bukit Tanjung Kerambu di Kabupaten Pangkep. dan hijau. Di antara Masamba dan Leboni. formasi ini ditemukan di beberapa tempat seperti di bagian barat Sabbang (Luwu Utara). Batuan sedimen neogen. Pegunungan Latimojong. Di wilayah Luwu terdapat 25 aliran sungai. sebelah timur Masamba memanjang dari utara Enrekang sampai Pompanua. Batuan sediment paleogen. memanjang di bagian timur lembah Walane dan di tenggara Sungai Sumpatu. Hidrologi Pada wilayah Provinsi Sulawesi Selatan. Batuan plutonik basa. biru. Kabupaten Tana Toraja. di Pulau Selayar bagian timur dan di selatan Sinjai sampai Kajang.3. terdapat sekitar 65 sungai mengaliri berbagai kabupaten khususnya yang berada di dataran tinggi. Formasi ini ditemukan di daerah Tana Toraja (Pegunungan.Sekis hablur. dan Pinrang dialiri oleh sungai terpanjang yakni sungai Saddang (150 km). sedangkan granodiorit dijumpai di barat laut Sasak. yaitu di bagian timur Pangkajene sampai di timur Maros. dijumpai di bagian timur Malili dan tersebar sebagai intrusi antara lain di bagian utara Palopo. napal. Kambung dan di sebelah barat Masamba) batuan terdiri dari serpih. konglomerat yang umumnya berwarna merah. ditemukan di sekitar Sungai Mamasa. di Gunung Maliowo dan Gunung Karambon.

4.1. Air tanah bebas dijumpai pada endapan alluvial dan endapan pantai. Luwu Utara dan Luwu Timur. 2. Berdasarkan klasifikasi tipe iklim menurut Oldeman. termasuk kota Makassar.607 Ha dan kawasan hutan seluas 204. sementara di Gowa dan Makassar mengalir sungai Jeneberang. yaitu musim hujan dan musim kemarau. Pada wilayah bagian tengah wilayah Sulawesi Selatan. termasuk iklim basah dimana Curah hujan rata-rata 3000 – 3500 mm/tahun. sementara di wilayah Luwu terdapat danau Matana dan Towuti. Tipe Iklim B.427 Ha. mencakup wilayah seluas 825. Provinsi Sulawesi Selatan memiliki 5 jenis iklim.kabupaten di bagian selatan Sulawesi Selatan. Wilayah tipe ini terbagi 2 tipe yaitu (B1) meliputi 10 . endapan formasi walanae serta pada lembah-lembah yang ditempati oleh endapan batuan formasi Camba. Klimatologi Provinsi Sulawesi Selatan terdapat dua musim. November sampai Maret angin bertiup sangat banyak mengandung uap air yang berasal dari Benua Asia dan Samudera Pasifik sehingga pada bulan-bulan tersebut sering terjadi musim hujan. yaitu Tipe iklim A termasuk kategori iklim sangat basah dimana curah hujan rata-rata 3500-4000 mm/tahun. Formasi Walanae merupakan suatu formasi lapisan batuan pembawa air yang bersifat tertekan dengan debit kecil sampai sedang. Wilayah yang termasuk ke dalam tipe ini adalah Kabupaten Enrekang. dimana musim hujan bervariasi dari satu daerah ke daerah yang lain. Luwu. Sungai Walanae mengalir di kawasan Bone dan Wajo. Danau Tempe dan Sidenreng terdapat di Kabupaten Wajo dan sekitarnya.

Jeneponto. Bantaeng. 11 .2. Bugis. Tipe iklim C termasuk iklim agak basah dimana Curah hujan ratarata 2500 – 3000 mm/tahun. terdiri atas sejumlah wilayah kerajaan yang berdiri sendiri dan didiami empat etnis yaitu . Soppeng. Barru. Bone. Enrekang. Bulukumba. Takalar. Sedangkan tipe iklim C3 terdiri dari Makassar. Gowa. Sinjai. Maros. Wilayah yang termasuk ke dalam iklim D2 terdiri dari Kabupaten Wajo. Bone. Tana Toraja.Kabupaten Tana Toraja. Parepare. Luwu. Mandar dan Toraja. Bulukumba. Bantaeng. Sejarah Sebelum Proklamasi RI. Soppeng. Barru. Bone dan Enrekang. Jeneponto. Tipe iklim C terbagi 3 yaitu Iklim tipe C1 meliputi Kabupaten Wajo. Tipe iklim E2 terdapat di Kabupaten Maros. Iklim C2 meliputi Kabupaten Bulukumba. Sinjai dan Kota Makassar Tipe iklim E dengan Curah hujan rata-rata antara 1500 – 2000 mm/tahun dimana tipe iklim ini disebut sebagai tipe iklim kering. dan Maros. Luwu Utara. Tipe iklim E1 terdapat di Kabupaten Maros. Tipe iklim D dengan Curah hujan rata-rata 2000 – 2500 mm/tahun. dan Selayar. 2. Wilayah yang termasuk iklim D3 meliputi Kabupaten Bulukumba. Tipe B2 meliputi Gowa. dan Tana Toraja. Gowa. Tana Toraja. Enrekang. Luwu Timur. Selayar. Maros dan Jeneponto. Pangkep. Sinjai. dan Bantaeng. Tipe iklim ini terbagi 3 yaitu Wilayah yang masuk ke dalam iklim D1 meliputi Kabupaten Wajo. Sulawesi Selatan. Pangkep. Luwu. dan Enrekang. Pangkep. Makassar. Enrekang. Luwu.

S. India. Gowa dan Bone.Ada tiga kerajaan besar yang berpengaruh luas yaitu Luwu. W. Sudiro 1953 – A. Periode Gubernur : I. Pangerang Pettarani II. sehingga menjadi daerah otonom Sulawesi Selatan. Rivai. Cina.J. Gubernur Sulawesi Selatan 1966 – 1978 Ahmad Lamo (Dua periode) 1978 – 1983 Andi Oddang 1983 – 1993 A. Melayu dan Arab. Amiruddin (Dua periode) 12 . Pasewang 1956 – 1959 A. yang pada abad ke XVI dan XVII mencapai kejayaannya dan telah melakukan hubungan dagang serta persahabatan dengan bangsa Eropa. Burhanuddin 1953 . Gubernur Sulawesi 1945 – 1949 DR.1956 Lanto Dg. dikeluarkan UU Nomor 21 Tahun 1950 dimana Sulawesi Selatan menjadi propinsi Administratif Sulawesi dan selanjutnya pada tahun 1960 menjadi daerah otonom Sulawesi Selatan dan Tenggara berdasarkan UU Nomor 47 Tahun 1960. Pemisahan Sulawesi Selatan dari daerah otonom Sulawesi Selatan dan Tenggara ditetapkan dengan UU Nomor 13 Tahun 1964. III. Lapian 1951 – 1953 R. Setelah kemerdekaan. Pangerang Pettarani 1960 – 1966 A. Ratulangi 1950 – 1951 B. Gubernur Sulawesi Selatan dan Tenggara : 1959 – 1960 A. S. A. G.

Rumpun Bugis tersebar di wilayah utara Sulawesi Selatan. Rumpun Makassar dominan berada pada Kabupaten di wilayah Selatan Sulawesi Selatan. dan pengrajin. Makassar.Ahmad Tanribali Lamo Pejabat Gubernur Sementara 2008 . petambak.3. Di balik keragaman tersebut. Gambaran ini menunjukkan keragaman budaya yang tersebar pada wilayah yang beragam pula. terkandung pula potensi berkembangnya interaksi sosial dan komunikasi lintas budaya. Z. Palaguna (Dua periode) 2003 . yang dapat mendorong dinamika perubahan secara lebih kreatif dalam menanggapi spirit zaman.Syahrul Yasin Limpo sekarang 2. antara lain pengrajin besi di Massepe Sidrap dan pengrajin perahu di Bira Bulukumba 13 .1993 . Variasivariasi ini terkait pula dengan potensi kearifan lokal yang bisa berkembang dalam tatanan sosial budaya. Selain itu. terdapat pula keragaman sistem nilai dan norma serta adat-istiadat yang spesifik. Disamping itu berapa komunitas yang berbasis pada aktivitas ekonomi sekunder. Komunitas petani adalah komunitas yang terbesar di seluruh wilayah Sulawesi Selatan.2008 H. B. Rumpun Toraja tersebar di Kabupaten Tana Toraja dan Luwu. Komunitas ini merupakan suatu komunitas berskala kecil namun tetap memiliki kearifan lokal. M.2003 H. petani. Sosial Ekonomi dan Budaya Kekayaan dan keragaman budaya dalam tatanan Sulawesi Selatan sangat bervariasi sebagai satu rumpun budaya yang terdiri dari Bugis. Amin Syam 2008 . Komunitas pedesaan terdiri dari nelayan. dan Toraja.

Disamping itu juga umumnya masih mengalami masalah persyaratan dalam mengakses permodalan pada kelembagaan keuangan seperti Bank Rakyat yang ditawarkan pemerintah melalui berbagai program perkreditan. Komunitas ini masih tetap eksis walaupun secara sosial dikelilingi oleh berbagai informasi dan iptek namun karakteristik tetap dipertahankan. komunitas ini benar-benar merupakan suatu komunitas yang memiliki karakteristik tersendiri. Disamping itu juga terdapat komunitas tradisional yang mampu bertahan di antaranya adalah komunitas Ammatoa di Kajang Bulukumba.yang berkaitan dengan sumberdaya alam yang ada disekitarnya. Pua Cerekang di Luwu. eksistensi keberadaan beberapa komunitas yang terkait dengan sektor pertanian masih ada yang mengalami ketertinggalan akibat dari ketidakmampuan bersaing dengan berbagai produk lainnya yang beredar dipasaran. Tolotang di Sidrap. demikian pula dengan komunitas nelayan yang telah menyatu dengan pantai dan laut. 14 . memahami kapan waktu yang tepat untuk mulai menanam serta bagaimana menangani hama. Karangpuang di Sinjai. Pada era globalisasi. Komunitas petani misalnya. Aluk Todolo di Toraja. sehingga mereka dapat memprediksi lebih awal kondisi dan permasalahan yang akan terjadi baik di pantai maupun di laut. Senyatanya.

Dalam berbagai kegiatan pembangunan atau produksi. Keberadaan penduduk sebagai obyek dan subyek pembangunan diharapkan mampu mengembangkan kreatifitasnya dengan segala kemampuan yang dimiliki untuk pencapaian tujuan pembangunan yaitu untuk meningkatkan harkat dan martabatnya agar dapat menikmati hasilhasil pembangunan secara adil dan merata. tentunya hanya bisa dicapai melalui peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia serta mengarahkannya secara profesionalisme. penduduk cenderung menjadi tidak produktif dan bahkan semakin menambah beban bagi negara atau daerah tertentu. dimana penduduknya yang teridi dari laki-laki dan perempuan mempunyai peluang yang sama dalam pasar tenaga kerja untuk menempatkan dirinya sebagai tenaga kerja. Namun bila tidak dimanfaatkan seefektif dan seefisien mungkin. Propinsi Sulawesi Selatan sendiri tidak terlepas dari hal tersebut. Populasi penduduk kadang kala menjadi dilematis karena di samping tersedianya banyak tenaga kerja. penduduk berfungsi sebagai penyedia tenaga kerja. Kontribusinya terhadap suatu daerah sangat ditentukan oleh tingkat partisipasi kerja. DEMOGRAFI 3. penduduk termasuk kategori aset atau modal pembangungan yang sifatnya dinamis. Jumlah Penduduk dan Rasio Jenis Kelamin Penduduk merupakan salah satu sumber daya potensial dalam menunjang aktifitas pembangunan bangsa dan negara. Penduduk Sulawesi Selatan berdasarkan DAU Tahun 2009 berjumlah 15 . dapat pula menimbulkan pengangguran. Justru itu.1.BAB III. Kedudukannya sebagai Sumber Daya Manusia memegang peranan penting karena berfungsi menggerakkan faktor-faktor produksi dan jasa lainnya. Perwujudan hal tersebut.

891 11.477 155.689 90.10 01.090 206. Soppeng 108. Pinrang 172 607 16. hal ini tercermin dari angka rasio jenis kelamin yang lebih kecil dari 100.225 08..73 96.77 88.146 15.90 102. Pare Pare 57. Barru 77.90 96.071.870 jiwa mendiami Kota Makassar. Makassar 617. Bone 326.550 12.104 13.659 02. Luwu Utara 166.285 233.895 18.Jumlah Penduduk dan Rasio Jenis Kelamin menurut Kabupaten/Kota di Sulawesi Selatan.123 61.31 92.747 72.3.294 26.110 118. yang berarti penduduk Laki-laki di dua daerah tersebut lebih besar dari jumlah penduduk perempuan. Maros 147.718 Jumlah .803 128.501 136..22 101.392 162.92 94.72 89.17 106.24 93. Bulukumba 188.202 07. Gowa 305.971 2008 3. .36 97.1.548 4..27 95.041.99 92.870 118.308 155.7.836. Hanya di daerah Kabupaten Luwu dan Luwu Utara yang menunjukkan angka rasio jenis kelamin lebih besar dari 100.57 101. Tana Toraja 236.236 312.53 84. Palopo 71.184 17.060 654.500 04.271.35 92.73 101.810 74.764 4.05 94.738 06. Luwu Timur 119.98 90.032 73.908.674 05. Pangkep 143. Toraja Utara .337 178.71.085 Sumber : BPS Provinsi Selatan (DAU 2009) 16 .15 87.198 122.. Enrekang 96.2009 Kabupaten/Kota (1) (2) Laki-Laki Male Perempuan Rasio Jenis Kelamin Female Sex Ratio (3) (5) 63. Sidrap 124. dengan jumlah penduduk terbesar yakni 1.78 93.563 85. Wajo 178.519 jiwa yang tersebar di 24 kabupaten/kota.640 202.263 14. Luwu 165.435 94.138 10.44 92.094 385. Takalar 121. Tabel. 057 03.079 159.210 09.763.109 25.09 93.939 92. 2008. Sinjai 110. Jeneponto 161.676 172. Bantaeng 83. jumlah penduduk yang berjenis kelamin perempuan lebih banyak dari penduduk yang berjenis kelamin Laki-laki. Secara keseluruhan.01 91.Total 2009 3.031 22. Selayar 58.

Pertambahan penduduk sekitar 232.43 persen dan perempuan sebesar 3.626 jiwa (periode 2007 – 2009) ditandai dengan meningkatnya penduduk jenis kelamin lakilaki sebanyak 119.777 jiwa dan perempuan sebesar 112849 jiwa persen.2. Jumlah Penduduk menurut Kelompok Umur dan Jenis Menyangkut aspek kependudukan.194 jiwa atau 48. Apabila ditinjau dari aspek ketenagakerjaan.958. 3. baik untuk jenis kelamin laki-laki maupun perempuan.Penduduk Propinsi Sulawesi Selatan selama periode tahun 2007 – 2008 cenderung mengalami peningkatan.717. Oleh sebab itu.57 persen.699 jiwa atau 51.675.908.893 jiwa yang terdiri dari laki-laki 3.548 jiwa. diperlukan langkah-langkah antisipatif dengan jalam membuka lapangan kerja secara luas dan merata ke berbagai daerah Kabupaten.519 jiwa dengan rincian : lakilaki 3. Pembagian klasifikasi umur tentunya disesuaikan dengan konsep-konsep ketenagakerjaan karena 17 .836.971 jiwa dan perempuan 4. tetapi dapat pula ditinjau berdasarkan komposisi umur. Pertumbuhan penduduk di masa yang akan datang diperkirakan terus berlangsung dan membawa dampak terhadap semakin menumpuknya domisili penduduk di daerah perkotaan serta bertambahnya tingkat pengangguran. Kualitas dan kuantitas penduduk tidak semata-mata dinilai dari jumlahnya. maka kita dapat memahaminya dari beberapa segi dan tergantung pada kualifikasi kebutuhan data. maka pada tahun 2009 jumlah penduduk mencapai 7.071. maka gejala kependudukan tersebut akan menunjukkan relatif tingginya penyediaan tenaga kerja untuk jenis kelamin perempuan sehingga peluangnya untuk memasuki lapangan kerja yang tersedia terbuka luas. Jika di tahun 2007 jumlah penduduk sebanyak 7.

Penduduk menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Sulawesi Selatan.041.971 4.25 93. Sehubungan penjelasan tersebut di atas.763.. Termasuk kategori umur produktif adalah tenaga kerja yang berusia 25 sampai 64 tahun.31 92.939 Sumber : BPS Provinsi Selatan (DAU 2009) 18 . maka kondisi penduduk Propinsi Sulawesi Selatan ditunjukkan sebagai berikut : Tabel 3..Total 2009 3.39 40 . sedangkan umur tidak produktif terdiri dari kelompok usia 0-14 tahun dan di atas 65 tahun.26 97.19 20 .548 2008 3.24 25 .60 105.24 93.42 86.54 55 .44 45 .56 73.26 94.2009 Kelompok Umur (1) 0–4 5-9 10 .63 89.024 106.805.519 7.59 60 . Tinjauan tenaga kerja berdasarkan kelompok umur.64 65 + Laki-Laki Male 375 198 447 014 431 498 351 712 291 052 301 980 275 764 296 539 237 824 210 957 168 401 135 327 106 189 207 515 Perempuan Jumlah Rasio Female Sex Ratio Jenis Kelamin (3) (5) (6) 352 040 407 851 409 938 362 508 309 477 343 087 311 959 327 183 266 303 228 271 195 258 144 647 144 438 268 589 727 238 854 865 841 437 714 220 600 529 645 067 587 723 623 722 504 127 439 227 363 660 279 973 250 627 476 104 7.34 35 .58 109.52 77.29 30 .05 88.908.071.02 94.14 15 .10 (2) Jml . dibedakan atas 2 (dua) yaitu umur produktif dan umur tidak produktif.085 4. 2008.2 .40 90.sangat erat kaitannya terhadap penyajian data terpilah.02 88.49 50 ..836.

645 jiwa atau 5.664 jiwa terdiri dari : penduduk usia muda di bawah 15 tahun jumlahnya 1. Sementara pada kelompok usia lanjut.084 jiwa secara rinci terdiri atas : penduduk usia muda di bawah 15 tahun sebesar 1. penduduk produktif 15-59 tahun 2.677 jiwa atau 62.857.934 jiwa atau 8.201.22 persen.46 persen.98 persen.67 persen. Untuk kategori usia produktif. Lebihlanjut dijelaskan perbandingan kedua jenis kelamin berdasarkan kelompok umur. penduduk jenis kelamin laki-laki yang jumlahnya 3. Pada tahun 2008.80 persen dan usia lanjut yaitu 60 tahun ke atas sebanyak 381. dimana penduduk laki-laki usia muda sebanyak 38.22 persen. penduduk produktif (15-59 tahun) sebanyak 2.46 persen lebih kecil dari perempuan yang besarnya 8.918 jiwa atau 61. Kenyataan ini menggambarkan pada periode selanjutnya peluang laki-laki untuk memasuki lapangan kerja 19 .80 persen.101 jiwa atau 32. nampak sangat jelas bahwa pada keloompok usia 0 -14 tahun jumlah penduduk laki-laki lebih besar dibandingkan perempuan.87 persen lebih besar dari perempuan yaitu 28.Dalam hal ini penduduk diklasifikasikan menurut kelompok umur dan jenis kelamin degan tujuan agar lebih memahami spesifikasi kependudukan sesuai kepentingannya.68.672. laki-laki 61. Pengelompokan umur penduduk pada jenis kelamin laki-laki dan perempuan digolongkan dalam 3 (tiga) tingkatan.256.98 persen.67 persen lebih kecil dari perempuan yang jumlahnya 62.473 jiwa atau 28.87 persen. dan penduduk usia lanjut lanjut yaitu bersuai 60 tahun ke atas sebesar 210. laki-laki 5. Begitu pula halnya dengan penduduk perempuan yang jumlahnya 4.378. Apabila kita melihat grafik.

13 persen karena perempuan mencapai 62. Namun apa yang dijabarkan disini masih sebatas konteks estimasi. sedangkan riilnya tergantung bagaimana kedua jenis kelamin bisa memanfaatkan peluang kerja yang tersedia.lebih potensial ketimbang perempuan. 20 .80 persen sedang lakilaki hanya 61.67 persen. Berbeda halnya dengan kondisi kelompok usia 15 – 59 tahun dan usia 60 tahun ke atas. Selisih jumlah perempuan dengan laki-laki pada komposisi usia produktif sekitar 1. dimana jumlah penduduk perempuan lebih tinggi dibandingkan lakilaki sehingga lebih memiliki potensi mengisi lapangan kerja.

salah satu kebijakan dalam bidang pendidikan saat ini adalah Pendidikan Untuk Semua (PUS) atau yang lebih dikenal dengan EFA (Education For All). semua anak khususnya anak perempuan. (2) mencapai perbaikan 50% pada tingkat keniraksaraan orang dewasa. pemerataan. anak-anak yang dalam keadaan sulit dan mereka yang termasuk etnik minoritas. PENDIDIKAN Pendidikan. relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal. menjelang tahun 2015. dan akses yang adil pada pendidikan dasar dan pendidikan berkelanjutan bagi semua orang dewasa. dengan fokus pada kapasitas 21 . sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin mutu. Untuk itu. nasional dan global sehingga perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana. terarah dan berkesinambungan. (3) penghapusan kesenjangan gender pada pendidikan dasar dan menengah pada tahun 2005 dan mencapai kesetaraan gender dalam pendidikan pada tahun 2015. Disamping itu. mempunyai akses dan menyelesaikan Pendidikan Dasar yang bebas dan wajib dengan kualitas yang baik. sebagaimana diamanatkan UUD 1945 merupakan tugas pemerintah untuk mengusahakan dan menyelenggarakan sistim pendidikan nasional guna meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang. (1) menjelang tahun 2015. terutama bagi kaum perempuan. yang menargetkan bahwa .BAB IV. sesuai kesepakatan internasional yang lebih dikenal dengan Deklarasi DAKAR.

409 4.329 1.050 2.743 2.285 PR 668 1. Kabupaten/ Kota Keaksaran Fungsional (KF) Tahun 2008 LK PR 1.350 1.370 2.731 5.549 4.1.389 2.085 687 1.479 5.821 2.022 441 473 33.650 2.538 40.150 3.955 997 1.250 34.668 356.431 33.430 1.225 1.850 5. Menyimak kesepakatan Dakar tersebut.175 1.810 109. maka kita dapat memahami pentingnya pendidikan yang responsif gender.139 1.740 3.850 1.376 429 896 3.395 2.765 393 1.580 6.156 1. Sul-Sel) Sumber : Dinas Pendidikan Provinsi Sulawsi Selatan.407 12.195 323.132 1. 2010 22 .645 8.877 697 747 1081 750 907 191 293 38.sepenuhnya bagi anak perempuan terhadap akses dalam memperoleh pendidikan dasar yang bermutu.876 2.416 Jumlah 2.780 2.860 4.370 2.735 675 1.576 9.950 3.740 14.431 4.775 1.181 14.560 42.429 13.039 1.635 2. oleh karena salah satu indikator pembangunan manusia atau yang lebih dikenal dengan HDI/IPM adalah pendidikan.100 1.359 246 513 1.074 1.311 601 1.950 1.415 1.650 3. Buta Aksara (Keaksaraan Fungsional/KF) 2009 Tabel 4.720 9.156 26.423 648 189 1.419 3.487 1.230 1.424 300 460 61.846 Tahun 2009 LK 382 989 3.233 1 Selayar 2 Bulukumba 3 Bantaeng 4 Jeneponto 5 Takalar 6 Gowa 7 Sinjai 8 Maros 9 Pangkep 10 Barru 11 Bone 12 Soppeng 13 Wajo 14 Sidrap 15 Pinrang 16 Enrekang 17 Luwu 18 Tana Toraja 19 Luwu Utara 20 Luwu Timur 21 Makassar 22 Pare-pare 23 Palopo Jumlah (Prov.199 111.305 684 2.196 4.037 2.197 819 571 823 321 2.981 3.170 5.700 1.239 846 3.093 1.073 403 428 619 425 517 109 167 22.080 2.880 6.474 5.031 2.835 23.231 819 2.813 3.325 9.420 1.049 2.226 5.948 Jumlah 1.967 39. 4.050 14.175 1.290 2.910 1.080 1.1 Jumlah Buta Aksara di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008 - No.250 6.737 41.

430 orang atau 91%.Prov. diantaranya laki-laki sebanyak 33.285 orang atau 36% dan perempuan sebanyak 38. Dari 23 kabupaten yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan nampaknya Kota Makassar yang terbanyak dengan jumlah penduduk yang buta aksara sebanyak 111. sehingga jumlah penduduk buta aksara tinggal 1. Sul-Sel Prov.233 orang. jumlah buta huruf (aksara) di Provinsi Sulawesi Selatan untuk tahun 2008 sebanyak 356. diantaranya laki-laki 517 orang atau 36% dan perempuan sebanyak 907 orang atau 64%. Sementara untuk tahun 2009 mengalami penurunan sehingga yang buta aksara tersisa 61.948 orang atau 64%.429 orang pada tahun 2008 diantaranya laki-laki 2. Sementara untuk tahun 2009 Kota Makassar berhasil mengurangi. Sul-Sel 9% 36% 64% 91% % LK % PR % LK % PR Berdasarkan data Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan seperti terlihat pada Tabel 4. laki-laki sebanyak 22.424 orang. 23 .846 orang.407 orang atau 98%.430 orang atau 9% dan perempuan sebanyak 323.1.022 orang atau 2% dan perempuan 109.

sehingga apa yang diharapkan sesuai kesepakatan Dakar yaitu mencapai perbaikan 50% pada tingkat keniraksaraan orang dewasa. 4. diantaranya laki-laki sebanyak 601 orang atau 36% dan perempuan sebanyak 1. diantaranya laki-laki sebanyak 109 orang atau 36% dan perempuan sebanyak 191 orang atau 64%. Usia standar yang dimaksud adalah rentang usia yang dianjurkan pemerintah dan umum dipakai untuk setiap jenjang pendidikan. terutama perempuan.2. Untuk tahun 2009 kabupaten yang paling sedikit buta aksaranya adalah Kota ParePare yaitu 300 orang. terdapat dua ukuran partisipasi sekolah yang utama. Perbedaan diantara keduanya adalah penggunaan kelompok usia "standar" di setiap jenjang pendidikan. Hal ini juga berlaku bagi kabupaten lain yang sama kondisinya dengan Kabupaten Pangkep. yang ditampilkan pada tabel berikut: 24 . Keduanya mengukur penyerapan penduduk usia sekolah oleh sektor pendidikan.Sementara dari 23 kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan yang paling sedikit jumlah penduduk buta aksara pada tahun 2008 adalah Kabupaten Pangkep yaitu 1. yaitu Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM). Sementara itu informasi data di Kabupaten Luwu Utara belum ada di tahun 2009.049 orang atau 64%. menjelang tahun 2015.650 orang. Partisipasi Sekolah Umumnya. Informasi tersebut diatas menunjukkan bahwa Kabupaten Pangkep perlu memperhatikan bagaimana kebijakan di bidang pendidikan agar jumlah penduduk yang buta aksara tidak bertambah tetapi seharusnya berkurang.

12 tahun 13 . 25 . Keaktifan masyarakat sangat menentukan tingkat partisipasi sekolah sehingga kesadaran. sarana dan prasarana yang memadai akan menciptakan lingkungan pendidikan yang berkualitas. motivasi dan semangat masyarakat memanfaatkan fasilitas untuk bersekolah sangat penting.Tabel 1: Usia standar di setiap jenjang pendidikan Jenjang SD SMP SMA Perguruan tinggi Angka Kelompok usia 7 . Untuk dapat melihat keadaan partisipasi sekolah.15 tahun 16 . Pemerataan pendidikan bagi masyarakat sebagai wujud pemerataan pendidikan nasional memerlukan dukungan yang besar bagi semua kalangan baik dari pemerintah pusat terlebih lagi dari masyarakat. Ketersediaan sarana dan prasarana sekolah akan mempermudah para siswa untuk mengakses pendidikan.18 tahun 19 tahun keatas partisipasi sekolah sangat erat kaitannya dengan ketersediaan fasilitas pendidikan dan tenaga pengajar serta kesadaran masyarakat untuk aktif dalam bidang pendidikan. maka hal penting yang perlu dikaji sebelumnya adalah ketersediaan fasilitas dan tenaga pengajar sekolah sebagai bagian dari faktor yang menentukan keberhasilan dalam proses belajar mengajar. suasana belajar akan lebih hidup dan minat mencari ilmu pengetahuan bagi siswa akan tinggi. wujud dari partisipasi ini adalah tersedianya fasilitas pendidikan berupa sarana dan prasarana sekolah.

Sedangkan kabupaten yang memiliki jumlah sarana sekolah paling sedikit adalah Kota Palopo dengan jumlah 167 unit diantaranya sarana sekolah TK sebanyak 28 unit 26 .2 diatas menunjukkan ketersediaan sarana sekolah di Sulawesi Selatan sebanyak 11.539 Sumber: Dinas Pendidikan Sulawesi Selatan Tahun 2010 Tabel 4.202 227 167 11. SulSel) Sekolah TK 15 63 16 86 19 60 41 130 38 53 52 134 61 64 33 23 54 42 83 51 202 43 28 1.391 SD 159 351 138 253 233 381 248 672 253 340 231 433 259 252 336 212 227 351 150 376 479 100 70 6. SLTA 104 unit. MI 56 unit.539 unit.2 Jumlah Sarana dan Prasarana Sekolah Menurut Kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan Kabupaten/ Kota Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sinjai Maros Pangkep Barru Bone Soppeng Wajo Sidrap Pinrang Enrekang Luwu Tana Toraja Luwu Utara Luwu Timur Makassar Pare-pare Palopo Jumlah (Prov.Tabel 4.279 SD LB 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 18 Total SLB 2 1 1 3 1 2 1 2 1 1 0 3 11 3 32 RA 20 29 2 5 1 22 11 11 8 7 10 14 13 9 34 6 3 3 6 22 12 248 MI 13 36 12 15 9 76 26 77 23 11 27 21 33 11 23 20 44 22 15 10 56 8 2 590 MTs 10 42 24 35 18 60 27 54 30 21 16 26 19 17 19 20 34 37 23 5 40 10 3 590 SLTA 7 14 4 12 11 18 8 22 20 14 9 12 9 12 13 10 15 10 15 24 104 7 14 384 MA 1 13 14 12 9 18 15 13 15 12 10 6 8 8 5 10 13 11 7 2 22 8 1 233 SMK 4 7 5 8 7 13 4 5 6 7 3 8 6 6 8 5 4 2 2 36 87 11 26 270 264 620 237 482 347 733 421 1. MTs 40 unit. MA 22 unit dan jenjang pendidikan SMK sebanyak 87 unit. jenjang pendidikan SLTP sebanyak 179 unit.090 445 522 390 699 465 426 521 344 458 524 329 626 1.202 buah diantaranya sarana sekolah TK sebanyak 202 unit jenjang pendidikan tingkat SD sebanyak 479 unit.504 SLTP 34 62 21 54 38 81 39 103 51 55 31 42 55 46 49 37 64 46 34 112 179 24 22 1. sarana sekolah terbanyak di Kota Makassar yang merupakan ibukota provinsi dengan jumlah 1. RA 22 unit. SLB 11 unit.

3.jenjang pendidikan SD sebanyak 70 buah. Untuk lebih jelasnya mengenai perbandingan jumlah sarana sekolah berdasarkan jenjang pendidikan pada setiap kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan dapat dilihat pada Diagram 4. MI 2 unit. MA I unit dan jenjang pendidikan SMK sebanyak 26 unit. SLTA 14. jenjang pendidikan SLTP sebanyak 22 unit. MTs 3 unit. 27 .

3 diatas yang bersumber dari Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan 2010 menunjukkan bahwa jumlah guru di Provinsi Sulawesi Selatan sebanyak 21.Diagram 4.3. yang terdiri dari laki-laki hanya 1 orang dan perempuan 7.227 orang. Persentase Ketersediaan Sarana Sekolah Menurut Pendidikan di Provinsi Sulawesi Selatan Berdasarkan Tabel 4. Adanya perbedaan yang mencolok antara jumlah guru laki-laki dan perempuan pada jenjang 28 .399 orang diantaranya guru pada jenjang pendidikan TK sebanyak 7.3 menujukkan ketersediaan sarana sekolah di Provinsi Sulawesi Selatan yang terlihat bahwa persentase ketersediaan sarana sekolah terbanyak berturut-turut yaitu pada jenjang pendidikan SD sebanyak 57%. Peningkatan mutu pendidikan bagi murid sekolah selain dengan tersedianya sarana dan prasarana pendidikan juga harus ditunjang oleh tenaga pengajar yang profesional agar program pendidikan berjalan dengan baik. Diagram 4. jenjang pendidikan SLTP sebanyak 11 % dan SLTA sebanyak 3 %.226 orang. kemudian TK sebanyak 12 %.

dan pada jenjang pendidikan SLTP/MTs sebanyak 12. dan ini tidak lepas pula dari asumsi dasar masyarakat tentang peran gender. Hal ini dapat mengindikasikan bahwa peran perempuan 29 . Jumlah Guru Menurut Jenis Kelamin pada Jenjang Pendidikan TK SLTP di Provinsi Sulawesi Selatan Pada Diagram 4.549 orang.4. Selanjutnya pada jenjang pendidikan SD/MI sebanyak 54.629 orang dan perempuan 8.397 orang.pendidikan TK ini kemungkinan dipengaruhi oleh minat dari laki-laki untuk menjadi guru TK yang rendah dibanding perempuan.4 tersebut.232 orang dan perempuan 32.629 orang yang terdiri dari laki-laki 22.850 yaitu laki-laki 54. Untuk melihat perbandingan jumlah guru menurut jenis kelamin dapat dilihat pada Diagram 4. nampak bahwa persentase guru perempuan yang mengajar mulai dari jenjang pendidikan TK sampai SLTP jauh lebih banyak yaitu mencapai 63 % dibanding laki-laki yaitu dengan persentase 37 %. berikut: Diagram 4.4. Untuk jenjang pendidikan SLTA/MA tidak diperoleh data tentang jumlah guru yang ada.

Angka Partisipasi Sekolah Angka partisipasi sekolah merupakan ukuran daya serap sistem pendidikan terhadap penduduk usia sekolah. Ukuran yang banyak digunakan di sektor pendidikan seperti pertumbuhan jumlah murid lebih menunjukkan perubahan jumlah murid yang mampu ditampung di setiap jenjang sekolah. Sehingga. 4. bahkan pada kelompok usia 7-12 thn dan 13-15 tahun anak perempuan lebih tinggi dibandingkan anak lakilaki. Kenaikan tersebut dapat pula dipengaruhi oleh semakin besarnya jumlah penduduk usia sekolah yang tidak diimbangi dengan ditambahnya infrastruktur sekolah serta peningkatan akses masuk sekolah sehingga partisipasi sekolah seharusnya tidak berubah atau malah semakin rendah. Angka Partisipasi Murni (APM).dalam memajukan pendidikan di Provinsi Sulawesi Selatan sudah cukup baik.2. naiknya persentase jumlah murid tidak dapat diartikan sebagai semakin meningkatnya partisipasi sekolah. Selanjutnya untuk itu dapat melihat keadaan partisipasi sekolah di Provinsi Sulawesi Selatan yang terdiri dari Angka Partisipasi Sekolah (APS).1. Angka tersebut memperhitungkan adanya perubahan penduduk terutama usia muda. Data nasional tahun 2006 sampai tahun 2008 menunjukkan bahwa APS berkecenderungan meningkat pada semua kelompok umur baik anak laki-laki maupun anak perempuan. dan Angka Partisipasi Kasar (APK) berdasarkan kelompok umur. Sementara apabila kita mencermati perbedaan antar wilayah perdesaan 30 . Tidak ada perbedaan pencapaian yang nyata antara laki-laki dan perempuan disemua jenjang pendidikan.

wilayah perkotaan cenderung lebih tinggi pencapaiannya apabila dibanding perdesaan.4. Susenas 2008 31 . wilayah perdesaan perlu mendapatkan perhatian yang lebih baik. Berdasarkan data Susenas 2008 menunjukkan bahwa APS Sulsel untuk usia 16-18 tahun masih dibawah 50% (tabel 4. Angka Partisipasi Sekolah (APS) menurut Usia Sekolah. Tabel 4. Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008 Sumber data : BPS. Artinya didalam rangka meningkatkan angka pencapaian APS nasional.4).dan perkotaan.dan Jenis Kelamin. hal ini terjadi disemua jenjang pendidikan.

akses lakilaki maupun perempuan sudah cukup tinggi. Untuk usia 13-15 tahun relative lebih rendah dibandingkan usia 7 -12 tahun. sehingga ketersediaan sarana prasarana pendidikan di jenjang SLTP diperlukan untuk meningkatkan akses pendidikan lanjutan bagi anak-anak. Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009 Sumber data : BPS.5. APS menurut Usia Sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa keberlanjutan pendidikan anak-anak usia 7 – 12 tahun ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi perlu mendapatkan perhatian. cenderung menurun. Susenas 2009 32 . dari tabel diatas dapat pula dilihat bahwa partisipasi usia sekolah di jenjang pendidikan yang semakin tinggi. Tabel 4.dan Jenis Kelamin.Data diatas menunjukkan bahwa untuk usia sekolah 7 -12 tahun. Selanjutnya. sehingga arah kebijakan pendidikan kedepan hendaknya lebih ditujukan pada peningkatan kualitas.

Tabel 4. Angka Partisipasi Murni Angka Partisipasi Murni (APM) adalah persentase siswa dengan usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikannya dari jumlah penduduk di usia yang sama.6. Indikator APM merupakan indikator yang lebih baik dibanding dengan indikator APK. sebab APK biasanya digunakan ketika APM-nya masih jauh dari 100 persen.2. Susenas 2008 33 . sedangkan APM semestinya maksimal 100 persen.2. APK dapat mencapai lebih dari 100 persen.dan Jenis Kelamin. APM menurut Usia Sekolah.4. Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008 Sumber data : BPS.

Suatu hal yang sangat memprihatinkan bahwa APM usia 16-18 tahun masih dibawah 50%. Kecenderungan ini terjadi baik di kelompok laki-laki maupun perempuan.7 nampak bahwa Angka Partisipasi Murni untuk golongan usia semakin tinggi. terdapat penurunan APM perempuan di kelompok usia ini.Berdasarkan tabel 4.dan Jenis Kelamin. APM menurut Usia Sekolah. meskipun jika dilihat persentasenya. artinya kesempatan untuk memperoleh pendidikan bagi laki-laki dan perempuan di jenjang pendidikan menengah atas. masih sangat rendah.7. perempuan sedikit lebih tinggi APMnya dibandingkan laki-laki. Untuk tahun 2009. APMnya semakin rendah.6 dan 4. Susenas 2009 34 . Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009 Sumber data : BPS. Tabel 4.

12 Thn LK PR 13.567 23.156 33.083 53.549 164.966 7.386 5.640 24.990 38.766 30.810 109.262 519.248 13.162 27.257 orang (53.530 27.529 13.953 5.393 23.18 Thn LK PR 6.673 44.422 79.418 11.427 25.194 327.501 33.340 18.851 36.822 998.550 12.830 8.191 34.687 11.455 39.741 452.992 14.253 orang.568 12.884 122.967 39.046 14.926 30.475 35.081 17.760 15.582 48. Tabel 4.032 33.613 11.256 25.127 21.107 24.986 24.226 26.632 16.340 18.737 41.740 14.829 28.222 16.248 27.853 58.546 62.038 22.540 17.22 % dari total 1.898 46.950 9.731 70.645 162.937 13.717 41.266 10.219 12.274 59.749 8.112 32.120 29.357 11.622 32.148 20.222 12.054 179.169 17.377 35. Untuk kelompok umur 13 – 15 tahun ada 930.792 18.494 19.868 1.195 Jml 79.804 17.951 29.336 28.653 98.472 82.500 21.925 163.136 16. anak perempuan lebih banyak yaitu 883.646 17.996 883.350 87.971 20.697 16.274 42.560 Jml 43.976 28.417 39.773 24.273 32.807 14.135 14.114 23.743 15.39 %) yang lebih banyak dari pada laki-laki.828 15.986 10.395 83.360 19.643 63.202 12.252 21.191 65.589 37.159 31.278 24.723 12.310 31.659 96.634 44.697 16.289 19.694 14.996 orang atau 46.596 23.715 8.697 28.158 51.377 30.978 12.095 77.072 12.458 23.772 25.Hal ini sejalan dengan data Dinas Pendidikan yang menunjukkan bahwa jumlah anak sekolah untuk tahun 2008/2009 kelompok umur 07 – 12 tahun di Provinsi Sulawesi Selatan.609 16.841 7.780 32.807 15.8 Jumlah Peserta Didik Menurut Kelompok Umur Tahun 2008/2009 Kabupaten / Kota Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sinjai Maros Pangkep Barru Bone Soppeng Wajo Sidrap Pinrang Ebrekang Luwu Tana Toraja Luwu Utara Luwu Timur Makassar Pare-pare Palopo Jumlah (Prov.265 12.707 17.254 9.121 43.638 32.752 32.143 29.194 16.784 15.879 6.783 19.830 86.666 479.637 56.643 47.473 8.257 478.155 9.746 41.455 34.642.311 orang (51.970 12.860 11.243 16 .950 11.977 36.808 32.355 orang (48.188 29.919 39.616 32.954 12.588 40.707 Sumber : Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan 2010 35 .017 12.576 16.087 70.030 63.383 758.78 %) sementara laki-laki sebanyak 758.15 Thn Jml LK PR 5.745 18.355 Kelompok Umur 13 .207 55.835 23.810 29.601 29.616 16.502 38.253 30.160 197.642.094 5.379 55.877 21.860 13.681 15.702 25.710 40.371 21.902 8.735 40.623 81.992 13.756 11.407 12. SulSel) 07 .222 30.234 10.612 70.441 16.394 18.61 %) dan perempuan sebanyak 478.031 63.666 orang diantaranya laki-laki sebanyak 452.827 27.620 21.842 13.307 21.663 23.007 70.311 930.808 23.185 8.998 6.832 17.

Jika dilihat berdasarkan jenis kelamin.Sementara untuk kelompok umur 16–18 tahun jumlahnya sebanyak 998.98 %) dan perempuan sebanyak 479.707 orang (51. dan 36 . Untuk usia 7-12 tahun terdapat kecendungan penurunan baik laki-laki maupun perempuan.39 %).2.950 orang diantaranya laki-laki sebanyak 519. Tetapi APS pada kelompok umur 16– 8 tahun yang sederajat SMU nampaknya APS laki-laki lebih tinggi dari pada APS perempuan. Hal ini mencerminkan bahwa makin tinggi tingkat pendidikan partisipasi perempuan makin menurun.10. nampak bahwa secara umum terjadi kenaikan angka partisipasi kasar dari tahun 2008 ke tahun 2009. Hal ini menunjukkan bahwa partisipasi laki-laki justru menurun di usia sekolah yang semakin tinggi. Namun. Dengan mencermati tingkat APS pada kelompok umur 07 – 12 tahun sederajat SD dan kelompok umur 13– 15 tahun yang sederajat SMP.3 Angka Partisipasi Kasar (APK) Indikator ini digunakan untuk mengukur proporsi anak sekolah pada suatu jenjang pendidikan tertentu dalam kelompok umur yang sesuai dengan jenjang pendidikan tersebut. 16-18. 4.243 orang (51. nampaknya APS perempuan lebih tinggi dari APS anak laki-laki.9 dan 4. Angka partisipasi kasar dapat memberikan gambaran tentang banyaknya anak yang menerima pendidikan pada jenjang tertentu. untuk usia 7-12 tahun justru mengalami pnurunan. khususnya untuk usia 13-15. Untuk mendapatkan gambaran Angka Partisipasi Kasar (APK) di Provinsi Sulawesi Selatan dapat dilihat pada Tabel 4. nampak bahwa APK perempuan pada jenjang sekolah SMP sampai PT lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Berdasarkan tabel tersebut. dan 19-24 tahun.

dimana perempuan menjadi lebih tinggi APKnya dibandingkan laki-laki. Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008 Sumber data : BPS. APK menurut Usia Sekolah. Susenas 2008 37 . ditegah-tengah gencarnya upaya pemberdayaan perempuan dan keseteraan gender. Tabel 4. keadaannya menjadi berbanding terbalik dengan tahun 2008.dan Jenis Kelamin. Fenomena ini cukup memprihatinkan.pada tahun 2009. namun justru ada kecenderungan menurunnya partisipasi laki-laki dalam pendidikan.9.

Susenas 2009 4. Pendidikan tertinggi yang ditamatkan penduduk dapat dijadikan sebagai salah satu alat kontrol untuk melihat sejauh mana peningkatan pembangunan bidang pendidikan.3.dan Jenis Kelamin. Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan Pendidikan yang lebih baik berpengaruh terhadap peningkatan potensi dasar penduduk dalam menerima perubahan-perubahan sosial dan ekonomi. Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009 Sumber data : BPS. Selain Tingkat Partisipasi Sekolah (TPS). APK menurut Usia Sekolah. Semakin tinggi tingkat pendidikan yang 38 .Tabel 4. dan menyerap teknologi baru untuk mendukung kehidupannya ke arah yang lebih baik. berinovasi.10.

Tabel tersebut memperlihatkan bahwa masih adanya kesenjangan tingkat pendidikan antara penduduk laki-laki dan perempuan. Banyaknya penduduk yang berpendidikan tinggi menunjukkan semakin baik kualitas penduduknya. Namun disisi lain. sehingga partisipasi dan kesempatan laki-laki maupun perempuan untuk memperoleh pendidikan dalam rangka peningkatan kualitas manusia Sulawesi Selatan masih harus ditingkatkan. Meskipun demikian. semakin tinggi jenjang pendidikan. untuk D1/2/3 dan sarjana muda. 39 . Persentase perempuan tamat SD masih cukup tinggi dibandingkan laki-laki.ditamatkan maka kualitas sumberdaya manusia secara umum akan semakin tinggi. Salah satu ukuran keberhasilan pembangunan pendidikan dapat dilihat dari kualitas tingkat pendidikan yang ditamatkan. persentasenya semakin menurun. persentase perempuan semakin menurun. justru laki-laki lebih rendah . secara umum. dan semakin tinggi jenjang pendidikan. Tabel berikut menunjukkan penduduk Sulawesi Selatan yang berumur 10 tahun ke atas menurut pendidikan tertinggi yang ditamatkan.

93 13.13 17.70 16.88 16.72 1.09 4.65 4.20 1.36 3.09 Sumber data : BPS.68 2.47 0.46 30.00 14.80 3.21 17.51 13.70 25.94 0.59 1.60 1.92 0.53 1.48 2.40 7.01 0.09 0.40 27.97 19.33 5.80 2.37 22.57 14.03 23.74 0.75 11.91 9.33 20.49 3.79 1.94 16.61 0.25 15.58 7.69 1.29 0.24 15.41 16.07 1.71 12.85 4.75 0.78 10.02 1.56 5.52 0.62 12. Susenas 2008 40 .68 25.18 27.75 Lk 12.99 4.51 26.04 1.93 0.85 Prp 1.42 8.04 0.57 1.65 0.84 18.31 12.54 0.06 1.03 32.29 0.10 0.73 1.61 1.63 36.76 SMU Prp 8.17 0.29 0.79 1.11.95 13.29 D III/ Sarmud Lk 0.75 8.14 32.44 Lk 1.12 2.19 14.12 17.87 14.82 27.21 0.52 1.62 0.73 0.23 Lk 13.95 30.86 0.41 11.57 0.48 3.86 3.91 11.84 6.70 1.08 11.86 3.12 25.64 2.47 0.00 3.35 30.93 12.76 0.42 0.75 4.57 0.35 2.14 1.14 9.48 2.73 Prp 4.04 22.45 0.28 2.55 1.27 4.29 0.39 12.91 10.38 3.01 4.55 11.60 13.52 21.31 32.21 8.25 4.47 SLTP Prp 10.26 0.46 0.13 28.45 20.29 3.60 Prp 1.12 4.98 1.78 31.69 15.68 1.77 9.75 22.88 31.74 1.15 0.87 2.67 6.13 0.42 15.44 0.04 7.04 17.14 15.95 22.89 4.13 23.21 1.56 0.03 24.34 1.05 0.92 4.31 0.79 9.66 2.77 1.91 4.46 28.64 25.04 D IV/S 1/S 2/S 3 Lk 4.02 1.87 0.54 23.53 2.86 0.99 25.62 0.09 25.35 0.68 10.42 13.68 20.96 26.61 D I/II Prp 2.15 23.72 1.01 10.43 30.94 15.18 0.46 25.89 1.15 0.46 14.93 2.77 3.37 5.40 10.75 2.52 0.42 0.58 0.43 2.69 9.57 1.72 14.91 13.47 0.04 19. Persentase Penduduk Menurut Jenis Kelamin.93 SMA Kejuruan Lk 1.24 13.20 10.75 0.50 11.78 5.45 15.16 34.59 30.66 0.66 2.61 27.78 0.41 0.19 8.72 1.71 1.83 1.47 1.28 10.28 11.57 4.98 23.53 1.78 0.55 11.95 SD Prp 34.90 9.52 2.84 15.28 1.08 12.82 21.80 2.75 32.89 3.11 2.62 31.97 1.35 14.06 1.74 0.73 20.70 10.26 0.15 13.70 2.05 12.36 4.22 15.96 2.48 0.08 1.Tabel 4.00 15.44 0.88 0.80 9.12 3.82 18.46 3.80 1.58 2.26 1.74 11.33 23.72 13.81 11. Pendidikan yang Ditamatkan dan Kabupaten/Kota Tahun 2008 Kab/Kota Lk 01 Selayar 02 Bulukumba 03 Bantaeng 04 Jeneponto 05 Takalar 06 Gowa 07 Sinjai 08 Maros 09 Pangkep 10 Barru 11 Bone 12 Soppeng 13 Wajo 14 Sidrap 15 Pinrang 16 Enrekang 17 Luwu 18 TanaToraja 22 LuwuUtara 25 LuwuTimur 71 Makassar 72 Parepare 73 Palopo Jumlah 30.36 0.30 18.38 0.97 17.66 0.12 27.89 13.20 3.59 20.05 11.56 8.74 4.52 0.85 1.72 1.56 30.45 21.60 4.40 3.20 10.19 0.98 21.67 0.43 0.76 4.50 29.15 1.84 0.76 2.39 0.38 16.85 1.39 24.98 3.71 13.78 1.62 12.84 1.11 19.92 4.21 0.38 0.21 1.90 2.44 6.21 9.83 31.65 27.

59 0.11 1.54 SMA Kejuruan Lk Prp -7 -7 3.24 3.87 31.10 10.90 0.81 11.70 10.90 2.40 0.03 4.19 12.35 3.47 4.66 0.62 6.44 2.53 32.64 1.36 1.44 0.40 21.14 10.47 14.08 12.10 12.67 4.38 26.91 34.39 12.58 1.58 0.61 0. Susenas 2009 41 .80 2.90 3.02 23.89 0.62 10.23 1.99 17.80 0.36 4.83 0.72 0.35 24.83 0.79 15.74 3.19 26.15 2.02 1.05 2.19 0.19 18.73 11.60 0.76 1.26 14.45 1.48 D I/II D III/ Sarmud Lk Prp -9 -9 0.56 0.77 2.12 0.13 7.73 3. Pendidikan yang Ditamatkan dan Kab/Kota Tahun 2009 Kab/Kota -1 01 Selayar 02 Bulukumba 03 Bantaeng 04 Jeneponto 05 Takalar 06 Gowa 07 Sinjai 08 Maros 09 Pangkep 10 Barru 11 Bone 12 Soppeng 13 Wajo 14 Sidrap 15 Pinrang 16 Enrekang 17 Luwu 18 TanaToraja 22 LuwuUtara 25 LuwuTimur 71 Makassar 72 Parepare 73 Palopo Jumlah SD -4 SLTP Lk Prp -5 -5 14.68 6.63 3.07 1.72 1.96 12.42 4.93 12.78 17.18 18.64 15.82 10.13 2.25 1.55 10.85 1.30 3.40 2.16 4.70 SMU Lk Prp -6 -6 10.25 36.07 2.49 4.34 2.27 1.07 5.05 3.53 D IV/S 1/S 2/S 3 Lk Prp -10 -10 3.60 1.47 11.46 28.64 12.68 15.24 3.40 29. Persentase Penduduk Menurut Jenis Kelamin.33 1.00 3.95 1.29 14.37 21.13 18.63 2.66 0.19 1.65 0.71 8.74 34.18 1.79 16.04 0.87 15.19 0.05 17.41 2.63 0.89 0.04 31.05 7.32 29.15 Lk Prp -4 28.37 0.70 16.12 5.51 26.40 0.52 11.96 2.03 19.95 21.87 0.51 2.48 24.22 0.67 4.79 15.98 0.81 11.15 2.70 31.24 7.47 0.78 1.87 0.80 0.14 4.07 1.47 2.02 14.41 1.82 0.48 24.72 0.56 26.69 19.76 1.45 4.59 27.70 10.28 30.12 12.19 3.57 0.15 0.19 15.66 2.55 0.49 19.03 10.87 3.68 2.27 1.95 1.73 11.22 2.32 31.39 26.26 3.49 16.84 2.85 33.20 7.88 0.31 13.4 5 7.93 1.10 2.11 27.93 0.74 14.53 0.94 2.55 6.95 1.54 13.44 28.96 22.65 3.47 15.57 11.46 0.24 20.40 12.50 10.47 1.27 3.45 16.85 0.79 4.30 15.33 32.07 14.65 15.21 2.08 22.75 4.84 21.18 1.36 2.98 12.46 2.38 0.40 18.38 4.60 17.19 5.69 24.57 7.14 28.23 25.62 2.48 2.60 8.31 3.58 0.41 25.97 23.10 11.67 17.81 1.23 8.75 0.72 0.98 0.96 0.74 1.24 33.12 0.60 19.49 0.98 3.49 0.55 0.Tabel 2.84 12.75 1.13 9.76 1.58 0.24 24.31 0.21 30.77 13.43 30.89 8.25 3.43 2.08 4.86 0.65 21.15 2.10 Sumber data : BPS.59 5.11 1.83 3.04 0.88 2.91 29.67 0.40 2.32 14.31 11.65 25.15 14.80 1.54 2.55 0.26 1.72 27.64 0.96 2.21 6.00 12.57 2.93 0.60 2.20 12.64 Lk -8 Prp -8 30.85 15.85 17.11 2.83 4.10 17.03 3.63 9.24 1.97 23.42 0.02 0.84 15.15 2.24 10.97 16.48 0.81 2.09 16.25 17.89 36.43 12.02 29.26 16.22 31.52 33.07 6.33 18.21 21.31 12.8.37 2.00 0.20 16.21 1.88 3.43 0.

4. Kemiskinan seringkali menjadi alasan bagi siswa sekolah untuk tidak melanjutkan sekolah. Persentase tertinggi adalah penduduk yang menamatkan pendidikan SD yaitu 46 %. Aksesibiltas yang rendah untuk menjangkau sekolah dengan sarana dan prasarana transportasi yang terbatas dan masih sulit dijangkau 42 . Persentase penduduk yang berpendidikan rendah masih relatif tinggi. sementara masyarakat miskin dan rumah tangga miskin tidak memiliki penghasilan yang cukup untuk biaya pendidikan. karena mereka diharapkan membantu mencari nafkah untuk keluarganya. Hal ini terlihat dari persentase penduduk yang menamatkan pendidikan pada tingkat sekolah dasar masih lebih tinggi dibanding pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Tentunya diharapkan kedepan penduduk Sulawesi Selatan dapat lebih ditingkatkan lagi pendidikan yang ditamatkannya yang akan berpengaruh pada kondisi sosial ekonomi masyarakat akan semakin baik.4. penduduk yang menamatkan pada jenjang pendidikan SLTA sebesar 28 %.4. Putus Sekolah Partisipasi Sekolah dapat dikaitkan dengan keadaan putus sekolah.Secara umum di Sulawesi Selatan. dan anggapan lebih baik bekerja dengan mendapatkan uang. selanjutnya penduduk yang menamatkan pendidikan SLTP/MTs/Paket B sebesar 23 %. berikut. disamping anggapan bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan. sebagaimana digambarkan dalam Tabel 2. Di Sulawesi Selatan masih cukup banyak dijumpai anak putus sekolah. semakin besar biaya yang diperlukan. Kondisi geografis juga berpengaruh terhadap tingginya angka putus sekolah.

Susenas 2008 43 . Tabel 4. Angka putus sekolah menurut kelas dan jenjang sekolah.oleh masyarakat di pelosok pedesaan dan wilayah kepulauan.11. tampak mulai terjadi sejak SD. meskipun guru telah memberikan dorongan dan motivasi kepada siswa agar tidak putus sekolah. Hal ini mengindikasikan masih adanya hambatan bagi anak untuk bertahan belajar di sekolah sejak memasuki sekolah dasar. Persentase Penduduk Berdasarkan Status Putus Sekolah Menurut Jenis Kelamin. dan menunjukkan persentase yang meningkat seiring dengan jenjang sekolah. merupakan salah satu alasan bagi siswa untuk tidak melanjutkan sekolah. Usia dan Kabupaten/KotaTahun 2008 Sumber data : BPS.

48 59.28 4.22 82.71 9.66 91.27 37.21 91.37 88.33 12.47 58.05 9.15 55.51 63.72 54.05 81.68 61.38 32.88 24.65 8.57 3.Tabel 4.61 44.76 93.86 Perempuan 13-15 16-18 5.30 47.12 6.01 0.20 2.31 5.88 39.39 87.80 81.18 28.04 33.32 8.74 Tidak bersekolah lagi Jenis Kelamin 19-24 85.65 2.22 91.12 45.45 20.88 35.59 2.82 77.70 87.93 20.79 37.88 2.28 52.91 15.97 7-12 1.81 2.10 10.44 83.49 83.15 46.33 1.34 89.31 40.78 Sumber data : BPS.75 12.22 44.79 22.07 22.64 86.11 1.17 89.26 59.06 46.67 12.39 29.50 85.29 40.64 16.90 58.74 2.37 32.00 51.84 3.96 83.93 3.83 84.61 49.02 3.26 66.39 14.48 46.92 0.24 3.11 60.61 79.85 37.33 21.94 2.94 7.19 80.39 37.99 3.45 13.32 0.42 86.10 20.79 88. Persentase Penduduk Berdasarkan Status Putus Sekolah Menurut Jenis Kelamin.15 2.74 91.60 1.25 1.68 1.43 95.18 50.84 25.20 16.82 0.93 86.61 38.97 64.84 49.76 23.83 54.75 32.80 1.56 3.30 78.61 44 .45 1.39 19-24 93.51 89.28 20.32 92.30 49.19 52.91 88.50 19.23 92.96 1.56 0.45 26.08 35.22 5.76 2.25 14.86 12.48 4.81 90.12 58.27 86.13 17.81 4.93 33.55 15.78 30.22 95.31 40.12 3.78 89.70 3.38 0.66 53.22 91.27 45.02 84.51 0.01 11.45 3.56 2.43 27.92 42.72 5.34 17.12.97 91. Susenas 2009 18.75 15.74 Laki-laki 13-15 16-18 15.49 94.41 3.48 94.82 11.23 90.24 79.29 2.22 3.63 1.41 60.53 31.72 54.08 68.81 2.16 76.47 32.53 7.85 12.73 28.77 33.57 1. Usia dan Kabupaten/KotaTahun 2009 Kabupaten/ Kota 7-12 01 Selayar 02 Bulukumba 03 Bantaeng 04 Jeneponto 05 Takalar 06 Gowa 07 Sinjai 08 Maros 09 Pangkep 10 Barru 11 Bone 12 Soppeng 13 Wajo 14 Sidrap 15 Pinrang 16 Enrekang 17 Luwu 18 TanaToraja 22 LuwuUtara 25 LuwuTimur 71 Makassar 72 Parepare 73 Palopo Jumlah 3.

Pendidikan Anak Usia Dini Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Tabel tersebut juga menunjukkan bahwa keadaan putus sekolah pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi cenderung semakin meningkat persentasenya.11 dan 4.Berdasar table 4. membantu orangtua mencari nafkah. sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini. yang diselenggarakan pada jalur formal. Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar). angka putus sekolah di Sulawesi Selatan menunjukkan persentase laki-laki lebih besar daripada perempuan. kecerdasan emosi. dan juga disebabkan oleh factor internal siswa laki-laki. 4. sosio emosional (sikap dan perilaku serta agama) bahasa dan komunikasi.12. nonformal. kecerdasan spiritual).5. di semua jenjang usia pendidikan. 45 . dan informal. Banyaknya laki-laki yang putus sekolah dimungkinkan karena beberapa hal meliputi pergi merantau mencari pekerjaan di daerah lain. kecerdasan (daya pikir. daya cipta.

8 berikut: Tabel 4. PAUD dilaksanakan sejak usia 0-8 tahun. Gambaran PAUD di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009 dapat dilihat pada Tabel 4.20/2003 ayat 1 adalah 0-6 tahun. Sementara menurut kajian rumpun keilmuan PAUD dan penyelenggaraannya di beberapa negara. Rentangan anak usia dini menurut Pasal 28 UU Sisdiknas No.Ada dua tujuan diselenggarakannya pendidikan anak usia dini yaitu: • Tujuan utama: untuk membentuk anak Indonesia yang berkualitas. • Tujuan penyerta: untuk membantu menyiapkan anak mencapai kesiapan belajar (akademik) di sekolah.13 Jumlah Siswa PAUD di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009 46 . yaitu anak yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya sehingga memiliki kesiapan yang optimal di dalam memasuki pendidikan dasar serta mengarungi kehidupan di masa dewasa.

Selanjutnya pada kelompok umur 24 – 48 bulan.33%).07 %) dan perempuan 10.13 diatas yang bersumber dari Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2010. kabupaten yang memiliki jumlah murid PAUD yang lebih banyak dibanding kabupaten lainnya yaitu Kabupaten Pinrang yaitu sebanyak 18.93 %) sedangkan kabupaten yang memiliki jumlah murid PAUD yang paling sedikit pada kelompok umur tersebut adalah di Kabupaten Wajo dengan jumlah 35 murid yaitu laki-laki 14 murid (40.273 orang (47.520 orang (47.67%) dan perempuan 53. maka dapat dilihat bahwa pada kelompok umur 0 – 4 bulan jumlah murid PAUD yang paling banyak adalah di Kabupaten Luwu Utara yaitu sebanyak 20.61 %)dan perempuan 111.775 orang (52.787 orang yang terdiri dari laki-laki 48.11 %) dan kelompok umur 49 – 72 bulan sebanyak 201.470 murid (50.449 orang yang terdiri dari laki-laki 89.38 %).Berdasarkan Tabel 4. Jika perbandingan murid PAUD dianalisis menurut kabupaten.222 murid (49.474 yang terdiri dari laki-laki 10.267 orang ((52.575 orang (55.420 murid (49. nampak bahwa jumlah murid yang mengikuti PAUD sebanyak 433.65 %) dan 47 .048 orang yang terdiri dari laki-laki 62.00 %).87 %) dan perempuan sebanyak 9.13 %) sedangkan kabupaten yang memiliki jumlah murid PAUD yang paling sedikit pada kelompok umur ini sama pada kelompok umur 0 -4 bulan yaitu Kabupaten Wajo yaitu hanya berjumlah 543 murid yang terdiri dari laki-laki 237 murid (43.00 %) dan perempuan 21 murid (60. Jika dilihat secara cermat nampak bahwa jumlah murid PAUD perempuan pada setiap kelompok umur lebih banyak dibanding laki-laki.890 murid yang terdiri dari laki-laki 9.88%) dan perempuan 67.284 orang yang terdiri dari umur 0 – 4 bulan sebanyak 101. selanjutnya umur 24 – 48 bulan sebanyak 130.252 murid (50.874 orang (44.

80 %) dan perempuan 590 murid (53.86 %) sedangkan kabupaten yang memiliki jumlah murid PAUD yang paling sedikit pada kelompok umur tersebut adalah di Kabupaten Gowa yaitu 1.35 %).14 %) dan perempuan 16.109 murid yang terdiri dari laki-laki sebanyak 519 murid (46. Sementara pada kelompok umur 49 – 72 bulan yang memiliki jumlah murid PAUD yang lebih banyak dibanding kabupaten lainnya yaitu Kota Makassar sebanyak 26.perempuan 306 murid (56.129 murid (59.943 murid yang terdiri dari laki-laki sebanyak 10.814 murid (40.803 murid.20 %). Secara umum kabupaten/kota yang memiliki partisipasi yang paling tinggi dalam melaksanakan PAUD adalah Kabupaten Pinrang dengan jumlah murid PAUD sebanyak 54. 48 .

Di samping itu kejadian kematian juga dapat digunakan sebagai indikator dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan kesehatan lainnya. Angka kematian bayi menunjukkan banyaknya kematian bayi per seribu kelahiran hidup. Peristiwa kematian pada dasarnya merupakan proses akumulasi akhir dari berbagai penyebab kematian langsung maupun tidak langsung. dan gerakan sayang ibu. 5. cakupan imunisasi dan status gizi balita.1. AKABA. Kesehatan Reproduksi. Angka kematian pada umumnya dapat dihitung dengan melakukan berbagai survey dan penelitian. KESEHATAN Gambaran perkembangan derajat kesehatan masyarakat dapat dilihat dari kejadian kematian dalam masyarakat dari waktu ke waktu.BAB V. AKB di Indonesia 49 . Derajat kesehatan masyarakat di Sulawesi Selatan semakin meningkat. Menurut hasil Surkesnas/Susenas. Partisipasi dalam ber KB. Secara umum kejadian kematian pada manusia berhubungan erat dengan permasalahan kesehatan sebagai akibat dari gangguan penyakit atau akibat dari proses interaksi berbagai faktor yang secara sendiri-sendiri atau bersama-sama mengakibatkan kematian dalam masyarakat. Angka Kematian Bayi (AKB). Adapun rincian permasalahan yang akan dilihat adalah angka kematian bayi (AKB). Penolong Persalinan. AKI. Pada Bab ini akan dicoba dilihat atau diungkap kemungkinan adanya kesenjangan antara laki-laki dan perempuan di bidang kesehatan.1. hal tersebut ditandai dengan menurunnya angka kematian bayi (AKB).

000 kelahiran hidup. dan hasil SDKI 2007 menunjukkan angka 41 per 1. Sedangkan AKB menurut hasil SDKI 2002-2003 terjadi penurunan yang cukup besar. angka ini berada jauh dari yang diproyeksikan oleh Depkes RI yakni sebesar 26.pada tahun 2001 sebesar 50 per 1. AKB Sulawesi Selatan menunjukkan penurunan yang sangat tajam seperti Tabel 5. 50 . Selama tiga puluh tahun terakhir. Angka Kematian Bayi menunjukkan penurunan yang sangat tajam. Di Sulawesi Selatan. Namun.89 per 1. yaitu dari 161 per 1. Fluktuasi ini bisa terjadi oleh karena perbedaan besar sampel yang diteliti. Ini berarti rata-rata penurunan AKB selama kurun waktu 1998-2003 sekitar 4 poin. lalu turun lagi menjadi 52 pada tahun 1998 kemudian pada tahun 2003 menjadi 48 (Susenas 2003).000 kelahiran hidup sementara hasil SDKI 2007 hasilnya menurun lagi menjadi 34 per 1. menurut hasil Surkesnas/Susenas 2002-2003.000 kelahiran hidup.1. yaitu menjadi 35 per 1. AKB di Sulawesi Selatan sebesar 47 per 1. pada tahun 2002 sebesar 45 per 1.52 per kelahiran hidup.000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup sedangkan hasil Susenas 2006 menunjukkan AKB di Sulsel pada tahun 2005 sebesar 36 per 1. sementara itu data proyeksi yang dikeluarkan oleh Depkes RI bahwa AKB di Sulsel pada tahun 2007 sebesar 27.000 kelahiran hidup pada tahun 1971 menjadi 55 pada tahun 1996.000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup.

51 .8 Sumber : Susenas dan SDKI. jumlah kematian bayi turun menjadi 495 atau 3. Tanda *) adalah AKB menurut laporan Dinkes Sulawesi Selatan Sementara laporan dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota bahwa jumlah kematian bayi pada tahun 2006 sebanyak 566 bayi.1. sementara tahun 2009.32 per 1.39*) 3. atau 4. Penurunan angka kematian bayi merupakan indikasi terjadinya peningkatan derajat kesehatan masyarakat sebagai salah satu wujud keberhasilan pembangunan di bidang kesehatan dan semakin meningkatnya pendidikan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan.39 per 1.Tabel 5. Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Harapan Hidup (AHH) Di Sulawesi Selatan Tahun 1971-2009 Tahun AKB AHH (1) (2) (3) 1971 1996 1998 2000 2001 2003 2004 2005 2007 2008 2009 161 55 52 48 47 48 44 36 41 4. mengalami peningkatan pada tahun 2007 menjadi 709 kematian bayi atau 4.61 per 1.000 kelahiran hidup. Hal tersebut merupakan respon positif dari upaya pemerintah untuk mendekatkan fasilitas kesehatan pada masyarakat. Adapun nilai normatif AKB yang kurang dari 40 sangat sulit diupayakan penurunannya (hard rock).000 kelahiran hidup.31 per 1.31*) 63 64 68 68 68 69 69 69.4 69.000 kelahiran hidup.6 69.000 kelahiran hidup. Tahun 2008 ini jumlah kematian bayi turun menjadi 638 atau 4.

AHH nya mencapai 69. Sejak tahun 2000 hingga tahun 2003 AHH relatif stabil pada usia 68 tahun. Tersedianya berbagai fasilitas atau faktor aksesibilitas dan pelayanan kesehatan dari tenaga medis yang terampil. Tabel 5. serta kesediaan masyarakat untuk merubah kehidupan tradisional ke norma kehidupan modern dalam bidang kesehatan merupakan faktor-faktor yang sangat berpengaruh terhadap tingkat AKB. Ada banyak faktor yang mempengaruhi tingkat AKB tetapi tidak mudah untuk menentukan faktor yang paling dominan dan faktor yang kurang dominan. dan lebih besar dari 70 tergolong mudah untuk diturunkan.antara 40-70 tergolong sedang.1). Sejalan dengan menurunnya AKB. namun sulit untuk diturunkan.8 persen. Menurunnya AKB dalam beberapa waktu terakhir memberi gambaran adanya peningkatan dalam kualitas hidup dan pelayanan kesehatan masyarakat. 52 . sedangkan dari tahun 2004 – 2005 AHH mencapai angka 69 dan pada tahun 2009.2 menunjukkan bahwa penyakit Diarre dan Pneumonia adalah penyebab utama terjadinya kematian pada bayi yaitu masing-masing 31. Angka Harapan Hidup (AHH) juga diharapkan terjadi peningkatan.4 persen dan 23. Rata-rata usia harapan hidup penduduk Sulawesi Selatan terus meningkat dari 63 pada tahun 1996 menjadi 64 pada tahun 1998.8 (Tabel 5.

penyakit menular dan kecelakaan.8 4. dalam arti besar dan tingkat kemiskinan penduduk.2. sanitasi. 2. 5. Proporsi Penyebab Kematian Bayi No.4 5. 1. Tetanus 8.Tabel 5. Indikator ini menggambarkan tingkat kesejahteraan sosial.2 Angka Kematian Balita (AKABA). Sepsis 7.9 2. Campak Sumber Riskesdas 2007 5. sehingga kerap dipakai untuk mengidentifikasi kesulitan ekonomi penduduk. 3. 53 . TB 10.1 2. Malnutrisi 9.000 kelahiran hidup. 4.2.2 1.4 23. Penyebab Kematian % 31.3 6. dinyatakan sebagai angka per 1.3 1.1. Diare Pneumonia Meningitis/ensefalitis Kelainan Saluran Pencernaan Kelainan jantung Kogenital & Hydrocephalus 6. Angka Kematian Balita (AKABA) adalah jumlah anak yang dilahirkan pada tahun tertentu dan meninggal sebelum mencapai usia 5 tahun.8 9. AKABA menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan anak dan faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap kesehatan anak Balita seperti gizi.

kemudian turun menjadi 81 pada tahun 1993 dan turun lagi menjadi 44. pada tahun yang sama berada dibawah rata-rata nasional yakni sebesar 42.16 64 46 72 51 46 1. antara 71-140 sedang dan kurang dari 71 rendah.7 pada tahun 2000 sementara untuk Sulawesi Selatan. Angka Kematian Balita di Indonesia (menurut estimasi SUPAS 1995) dalam beberapa tahun terakhir (kecuali tahun 2001) terlihat mengalami penurunan yang cukup bermakna.7 42.1 64.000 kelahiran hidup. Angka Kematian Anak Balita (1-4 th) di Sulawesi Selatan dan Indonesia. Menurut hasil SUSENAS 2001 AKABA diperkirakan sebesar 64 per 1. Pada tahun 1986 AKABA diperkirakan sebesar 111 per 1.28 59. Namun.3. SDKI 2007 Dilaporkan dari Dinkes Kab.93 Sumber 4 Estimasi SUPAS 1995 SDKI 1997 Estimasi SUPAS 1995 Estimasi SUPAS 1995 Estimasi SUPAS 1995 Estimasi SUSENAS Estimasi SUSENAS Estimasi SUSENAS Estimasi SUSENAS Dilaporkan dari Dinkes Kab.4 17.13 44 53 1.55 44. hasil SDKI 54 . Sumber : Data Sekunder diolah serta Profil Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan Catatan: Adapun nilai normatif AKABA yakni lebih besar dari 140 tergolong sangat tinggi.33 1.Tabel 5.000 kelahiran hidup. Dilaporkan dari Dinkes Kab.16 per 1.000 kelahiran hidup. tahun 1995-2008 Tahun 1 1995 1997 1998 1999 2000 2001 2003 2004 2005 2006 2007 2008 AKABA per 1000 KH Nasional Propinsi 2 3 75 19.

000 kelahiran hidup dan menurun menjadi 53 per 1. Sedangkan pada tahun 2007 jumlah kematian balita dilaporkan sebanyak 105 balita atau 1.83% pada tahun 2006 dan 1.33 per 1. antara lain persentase BBLR (0.13 per 1.4.000 kelahiran hidup menurut SDKI 2007. Jumlah kematian balita yang dilaporkan oleh Dinas Kesehatan Kab/Kota di Sulsel pada tahun 2006 sebanyak 148 balita atau 1. menunjukkan bahwa pola penyakit penyebab kematian balita menurut Hasil Riskesdas tahun 2007 masih didominasi oleh penyakit infeksi. Sementara itu. dari hasil penelitian mendalam terhadap semua kasus kematian AKABA yang ditemukan dalam RISKESDAS diperoleh gambaran besarnya proporsi sebab utama kematian Balita dapat dilihat pada tabel 5. kabupaten maupun provinsi tidak tepat jika diperoleh dari survey yang berskala nasional. Pada tahun 2008 jumlah kematian balita dilaporkan mengalami peningkatan menjadi 283 balita atau 1. cakupan kunjungan bayi (82.000 kelahiran hidup.57% tahun 2007 dari kelahiran hidup).81% pada tahun 2006 dan mengalami penurunan pada tahun 2007 55 .93 per 1000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup. Hal ini karena rancangan sampel diperuntukkan untuk menggambarkan angka kematian bayi dan balita tingkat nasional. Angka kematian Bayi dan Balita untuk tingkat kecamatan..2002-2003 menunjukkan bahwa AKABA di Sulawesi Selatan mencapai 72 per 1. maka untuk menggambarkan angka kematian bayi dan balita di Sulawesi Selatan dapat digambarkan dengan indikator program yang dilaksanakan dalam upaya menurunkan angka kematian bayi dan balita. Sehubungan dengan hal tersebut.

Tabel 5.9 3.05% pada tahun 2007) dan lainlain. Sepsis 6.1. Pneumonia 2.20% dari jumlah kelahiran hidup). Tetanus 7. Diare 1. Angka Kematian Ibu (AKI) AKI adalah banyaknya wanita yang meninggal dari suatu penyebab kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau penanganannya selama kehamilan.18 %. Kelainan jantung Kogenital & Hydrocephalus 5. Kelainan Saluran Pencernaan 4. Untuk data tahun 2008 persentase BBLR 1.5 10. Campak 10.9 5. kondisi kesehatan lingkungan.4. Untuk mengantisipasi masalah ini maka diperlukan terobosan56 . cakupan kunjungan bayi menurun 71. Meningitis/ensefalitis 3. tingkat pelayanan kesehatan terutama untuk ibu hamil. melahirkan dan dalam masa nifas (42 hari setelah melahirkan) per 100.2 15. cakupan pemberian ASI ekslusif (57. Proporsi Penyebab Kematian Balita di Indonesia Hasil Riskesdas Tahun 2007 Penyebab Kematian No. TB 9. Sumber : Riskesdas 2007 % 25.2. status gizi dan kesehatan ibu. Angka Kematian Ibu (AKI) berguna untuk menggambarkan tingkat kesadaran perilaku hidup sehat.8 4.38 % dari kelahiran hidup. cakupan pemberian ASI eksklusif meningkat menjadi 77. pelayanan kesehatan waktu ibu melahirkan dan masa nifas.8 5. Malnutrisi 8.8 6.menjadi 75.48% pada tahun 2006 dan 57.9 2.39 %.7 8.000 kelahiran hidup.9 2.

tahun 1982-2007 Penelitian/Survei Tahun AKI 1 2 3 SDKI 1982 450 SKRT 1986 450 SKRT 1992 425 SKRT 1994 390 SKRT 1995 373 SDKI 1997 334 SDKI 2002-2003 307 SDKI 2007 248 Sumber: Badan Litbangkes. Publikasi Hasil SKRT 1995 & SDKI 2003.5. Menurut SKRT.000 Kelahiran Hidup di Indonesia. Angka Kematian Ibu Maternal per 100.2007 Untuk melihat kecenderungan AKI di Indonesia secara konsisten.000 kelahiran hidup pada tahun 1995. Harapan kita agar Bidan di desa benar-benar sebagai ujung tombak dalam upaya penurunan AKB (IMR) dan AKI (MMR). Dengan dilaksanakannya Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) dan Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI). digunakan data hasil SKRT.000 kelahiran hidup pada tahun 1992.000 kelahiran hidup pada tahun 1986 menjadi 425 per 100. maka cakupan wilayah penelitian AKI menjadi lebih luas dibanding survey-survey sebelumnya. Pada SKRT 2001 tidak dilakukan 57 . kemudian menurun lagi menjadi 373 per 100. Angka Kematian Ibu (AKI) diperoleh melalui berbagai survey yang dilakukan secara khusus seperti survey di rumah sakit dan beberapa survey di masyarakat dengan cakupan wilayah yang terbatas. AKI menurun dari 450 per 100.terobosan dengan mengurangi peran dukun dan meningkatkan peran Bidan. Tabel 5.

kemudian menjadi 248 per 100. sedangkan pada tahun 2007 sebanyak 143 kematian atau 92.89 per 100. Angka Kematian Ibu (AKI) di Sulawesi Selatan Tahun 2006. Gambar 5.1. Jumlah kematian ibu maternal yang dilaporkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota di Sulawesi Selatan pada tahun 2006 sebanyak 133 orang atau 101.000 kelahiran hidup.67 per 100.000 kelahiran hidup (SDKI 2007).survey mengenai AKI.000 kelahiran hidup diperoleh dari hasil SDKI. Pada tahun 2002-2003. Hal ini menunjukkan AKI cenderung terus menurun.000 kelahiran hidup. yaitu sebesar 125 per 100.2007 dan 2008 Sumber : Profil Kesehatan Kab/ Kota tahun 2006-2008 58 . AKI sebesar 307 per 100.000 kelahiran hidup.56 per 100. maka apabila penurunannya masih seperti tahun-tahun sebelumnya. Tetapi bila dibandingkan dengan target yang ingin dicapai secara nasional pada tahun 2010.000 kelahiran hidup. diperkirakan target tersebut akan sulit tercapai. Untuk tahun 2008 jumlah kematian ibu maternal mengalami penurunan menjadi 121 orang atau 82.

Perkawinan yang dilakukan pada usia matang (di atas 20 tahun) bagi perempuan akan membantu mereka menjadi lebih siap untuk menjadi ibu dan mengurangi resiko persalinan. atau jarak waktu kelahiran terakhir kurang dari dua tahun akan semakin memperbesar resiko persalinan.2. karena semakin tinggi umur perkawinan. Disamping itu juga pengetahuan para ibu rumahtangga tentang kesehatan merupakan sesuatu yang sangat penting dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan keluarga. pernah hamil empat kali/lebih. misalnya melalui Puskesmas. Himbauan untuk menunda usia perkawinan pertama dan membatasi jumlah kelahiran merupakan usaha nyata dalam merealisasikan tujuan tersebut. Persentase wanita yang 59 . Polindes dan saranasarana kesehatan lainnya. Sementara jumlah kelahiran yang terbatas (cukup dua saja) membuat perhatian ibu terhadap anakanaknya semakin besar.2. Dengan demikian diharapkan akan lahir generasi baru yang lebih handal dan berkualitas untuk kelanjutan pembangunan di masa yang akan datang. Usia perkawinan pertama merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap tingkat fertilitas. lebih dari 35 tahun. Kesadaran masyarakat untuk berperan aktif dalam mengendalikan banyaknya kelahiran belum terlihat nyata. Posyandu. Kesempatan untuk memperoleh pengetahuan tersebut telah tersedia di berbagai tempat-tempat pemukiman penduduk. Hal ini berarti pula bahwa penundaan perkawinan mengakibatkan berkurangnya peluang wanita untuk melahirkan anak lebih banyak. khususnya wanita menyebabkan masa reproduksinya lebih pendek.5. Kesehatan Reproduksi Persalinan yang dilakukan pada ibu usia kurang dari 20 tahun.

22 40. sehingga upayaupaya perlindungan anak masih harus terus ditingkatkan.43 40..16 21. menjadi 23.26 23.85 14. maka cenderung terjadi perceraian yang pada akhirnya akan bermuara pada kemiskinan warisan bagi anak keturunannya.76 15. 2008 dan 2009 Tahun 2007 (2) 22. mengingat usia <16 tahun masih tergolong usia anak (berdasarkan batasan usia anak dalam UU Perlindungan Anak).14 60 . Namun demikian. Hal ini perlu menjadi perhatian tersendiri karena akan mempengaruhi ketahanan rumah tangga.63 2008 (3) 23. Kondisi ini cukup menggembirakan. Persentase Wanita Pernah Kawin Menurut Umur Perkawinan Pertama Sulawesi Selatan Tahun 2007.6.00 15. Pada tahun 2007 proporsi wanita yang usia perkawinan pertamanya di bawah 16 tahun sekitar 22.18 19 .73 40.66 22. Tabel 5.16 persen pada tahun 2008. persentase ini masih cukup tinggi apalagi jika diakumulasikan dengan perempuan yang menikah pada usia 17-18 tahun. dan pada tahun 2009 persentase ini turun menjadi 21.2008 dan 2009 Umur Perkawinaan Pertama (tahun) (1) ≤ 16 17 .26 persen.66 persen.melangsungkan perkawinan pada usia muda (< 16 tahun) dari tahun 2007 – 2009 memperlihatkan persentase yang semakin meningkat.24 25+ Sumber : Susenas 2007.12 2009 (4) 21. dimana ketika perempuan belum siap secara mental dan psikis.

dan mengalami kenaikan pada tahun 2008 menjadi sekitar 15.73 persen pada tahun 2008.12 persen. Salah satu tujuan program ini adalah untuk meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak serta mewujudkan keluarga kecil bahagia dan sejahtera melalui pembatasan dan pengaturan jarak kelahiran. Pada tahun 2007 persentasenya adalah 14. Persentase penduduk yang menikah pada umur 19 – 24 tahun relatif stabil.2.75 persen. menjadi 40. dan pada tahun 2009 naik menjadi 40.00 persen pada tahun 2008.14 persen 5. dan pada tahun 2009 naik lagi menjadi 22.22 persen.43 persen.Persentase penduduk yang menikah pada umur 17-18 tahun cenderung fluktuatif. turun menjadi 21. 61 . Pada tahun 2007 persentasenya adalah sekitar 40. Untuk wanita yang menikah pada usia 25 tahun ke atas persentasenya memperlihatkan tren meningkat. Selain melalui penundaan usia perkawinan pertama.63 persen. Hal ini bisa ditempuh antara lain dengan cara pemakaian alat/cara kontrasepsi KB. partisipasi masyarakat dalam membantu pemerintah menangani masalah kependudukan adalah berupa kesadaran masyarakat untuk mensukseskan program Keluarga Berencana. Pada tahun 2007 persentasenya sekitar 23.85 persen. Pada tahun 2009 persentase wanita yang menikah pada usia 25 tahun ke atas menjadi meningkat menjadi 15. Partisipasi Dalam ber KB.3.

25 Jenis Kontrasepsi Sumber : Susenas 2004.7. 62 . yaitu mencapai sekitar 51.85 2006 (4) 1.54 persen pada tahun 2004. 2005.73 2005 (3) 1. cenderung lebih memilih jenis alat kontrasepsi ini. 2005.53 2.86 4. 2006 dan 2009 Jika dirinci menurut jenis alat/cara KB yang dipakai tampak bahwa akseptor yang menggunakan suntikan KB menempati urutan tertinggi.86 persen dan pada tahun 2009 menjadi 57. mudah pemakaiannya (tidak membuat akseptor malu/risih pada saat pemasangan seperti misalnya IUD) dan efek sampingnya juga tidak terlalu besar.21 31.73 2.39 35.71 4.59 51.95 2. bisa dilakukan pada saat yang dikehendaki oleh akseptor. meningkat menjadi 54.. Kelebihan lain dari alat kontrasepsi ini adalah jika akseptor ingin berhenti.62 3.05 33.Tabel 5. pada tahun 2006 menjadi 57.10 57.70 29.44 2009 (5) 1.12 2.71 persen.24 2. Persentase Akseptor KB Menurut Kontrasepsi yang Sedang Digunakan Tahun 2004.74 persen pada tahun 2005.81 3.52 57. Alat/cara ini relatif lebih aman bagi kebanyakan wanita dan relatif lebih murah dan gampang didapatkan.74 4. Tingginya persentase penggunaan alat kontrasepsi Suntikan KB disebabkan alat ini relatif praktis.54 5. 2006 dan 2009 Tahun 2004 (1) MOW/MOP AKDR/IUD Suntikan KB Susuk KB Pil KB Lainnya (2) 1.40 3. sehingga untuk wanita-wanita yang sibuk.88 54.

Meningkatnya

akseptor

KB

yang

menggunakan

metode

kontrasepsi berupa suntikan, diikuti oleh semakin berkurangnya akseptor KB yang menggunakan metode kontrasepsi pil. Hal ini menunjukkan telah terjadi pergeseran pemakaian alat kontrasepsi dari pil KB ke Suntikan KB, kondisi ini kemungkinan disebabkan karena kesibukan para wanita, sehingga lebih memilih suntikan KB yang resiko terjadinya kelainan kecil dibanding dengan pil KB. Sementara itu sisanya menggunakan alat kontrasepsi jenis lain, seperti MOW/MOP, AKDR/IUD, susuk KB, kondom dan metode tradisional. 5.3.1. Penolong Persalinan Penolong persalinan sangat berpengaruh terhadap keselamatan dan kesehatan bayi dan ibu pada saat proses persalinan. Penolong persalinan yang berkualitas tentunya lebih memungkinkan terwujudnya keselamatan/kesehatan bayi dan ibu pada saat persalinan. Tenaga medis sebagai penolong persalinan tentunya lebih baik dibanding tenaga non medis. Bahkan pada periode tahun 2005-2009, penolong persalinan oleh dokter terjadi peningkatan yang cukup signifikan yaitu dari sekitar 8,5 persen pada tahun 2005 dan 8,88 persen pada tahun 2006 meningkat menjadi 11,32 persen pada tahun 2009. Penolong persalinan oleh tenaga medis (dokter dan bidan) di Sulawesi Selatan lebih dari 60 persen, sementara yang ditolong oleh tenaga nonmedis hanya sekitar 30 persen saja. Namun demikian, persentase tersebut cenderung berfluktuasi dari tahun ke tahun. Pada tahun 2005 persentase kelahiran yang ditangani oleh tenaga medis terdapat sekitar 63,73 persen

63

dan pada tahun 2006 turun menjadi sekitar 62,93 persen dan 62,51 persen pada tahun 2009 (Tabel 5.8). Tabel 5.8. Persentase Balita Menurut Penolong Kelahiran Tahun 2005, 2006 dan 2009 Penolong Kelahiran (1) 2005 (2)
8,50 54,37 0,86 36,27 31,21 4,61

Medis : Dokter Bidan

63,73

62,93 8,88 53,05 1,00 37,07 33,39 3,44 0,24

2006 (3)

62,51 11,32 50,83 0,36 37,49 28,48 8,74 0,27

2009 (4)

Lainnya Non.Medis: Dukun Famili

Lainnya 0,45 Sumber: BPS, Susenas 2005, 2006 dan 2009

Terjadinya fluktuasi tersebut, karena penolong persalinan oleh tenaga dukun masih cukup tinggi walaupun cenderung menurun, sehingga perlu pemantauan pengetahuan akan pentingnya kesehatan bagi dukun. Hal ini karena dikhawatirkan terjadinya resiko terhadap keselamatan dan kesehatan ibu dan bayi baik pada saat melahirkan maupun pada pasca kelahiran. Keberadaan Bidan di desa (bidides), diharapkan menjadi penolong persalinan dan mentrasfer pengetahuan tentang kesehatan kepada tenaga dukun. Sehingga kualitas kesehatan anak sejak lahir semakin membaik yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia Sulawesi Selatan khususnya dan Indonesia umumnya dimasa yang akan datang.

64

5.3.2. Lama Pemberian ASI Selama ini pemerintah senantiasa mengaktualisasikan dan mensosialisasikan peningkatan penggunaan air susu ibu (ASI) bagi balita. Hal ini karena dalam pertumbuhan dan perkembangan balita sangat memerlukan air susu ibu (ASI). ASI merupakan zat makanan yang paling ideal untuk pertumbuhan bayi sebab selain bergizi juga mengandung zat pembentuk kekebalan tubuh. Pemberian ASI kepada bayi akan memenuhi kebutuhan gizi dan memberikan kekebalan terhadap beberapa penyakit. Di Sulawesi Selatan, pada periode 2005-2009, paling banyak balita diberi ASI selama 12 sampai 17 bulan yaitu sekitar 32,24 persen walaupun cenderung menurun menjadi 29 persen pada tahun 2009, lalu 24 bulan atau lebih sekitar 24,20 persen dan 18 - 23 bulan sekitar 15,15 persen. Data yang disajikan pada Tabel 5.9 memperlihatkan bahwa ternyata masih ada sekitar 1,35 persen balita yang disusui kurang dari satu bulan dan cenderung meningkat menjadi 4,24 persen. Persentase ini mengalami peningkatan dibanding tahun 2005 dan 2006 yaitu sekitar 0,83 poin dan 2,89 poin. Secara umum, ada kecenderungan seorang ibu memberikan ASI kepada Balitanya sekitar 1 hingga 2 tahun. Persentase balita yang disusui selama dua belas sampai tujuh belas bulan pada tahun 2006 relatif sama jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yaitu dari 32,16 persen pada tahun 2005 menjadi 32,24 persen pada tahun 2006 tetapi menurun lagi menjadi 29,0 persen. Disamping itu, untuk balita yang disusui 6 - 11 bulan mengalami penurunan. Ini berarti, di satu pihak, kesadaran ibu akan arti pentingnya ASI bagi bayi semakin meningkat tetapi seiring dengan meningkatnya peran perempuan dalam kegiatan ekonomi sehingga

65

kecenderungan balita yang disusui 0 bulan cenderung meningkat. Padahal, pemberian ASI kepada bayi juga lebih efisien jika dilihat dari segi ekonomi, sebab ASI jauh lebih murah jika dibandingkan dengan susu formula. Mungkin hal itu menjadi salah satu pertimbangan bagi ibu untuk tetap memberikan ASI kepada bayinya. Tabel 5.9 Persentase Balita Menurut Lamanya Disusui (Bulan) Tahun 2005, 2006 dan 2009 Lama Disusui (Bulan) (1) 0 1-5 6-11 12-17 18-23 24+

2005 (2) 0,52 12,20 18,98 32,16 15,68 20,46

2006 (3) 1,35 8,42 14,26 32,24 17,52 26,20

2009 (3) 4,24 12,11 15,27 29,00 15,15 24,23

Sumber: BPS, Susenas 2005, 2006 dan 2009 5.3.3. Imunisasi Sebenarnya jenis imunisasi cukup beragam baik yang diberikan pada anak-anak maupun pada orang dewasa, tetapi yang jadi focus bahasan disini adalah imunisasi untuk anak balita (bawah 5 Tahun). Sejak tahun 1982, untuk mencegah penyakit yang biasa menyerang anak-anak yang diduga akan mengakibatkan kematian pada bayi, pemerintah

66

3 92.5 94. 2007-2009 Daerah/Jenis Kelamin (1) Perkotaan Perempuan Laki-laki Pedesaan Perempuan Laki-laki Total Perempuan Laki-laki 2007 (2) 94.2 92.9 95.0 85.7 93.4 92.2 85.2 91. Polio (pencegahan polio) dan Campak (pencegahan campak) kepada balita.1 89. Partusis dan Tetanus).7 94.Indonesia telah mengusahakan pemberian 4 macam imunisasi yaitu BCG (pencegahan TBC).7 85.1 89. Tabel 5.8 2008 (3) 94. DPT (pencegahan Dipteri.0 94.8 87.6 Sumber: BPS.2 87. tetapi data Susenas tahun 1999 menunjukkan sedikit penurunan persentase balita yang paling tidak pernah menerima salah satu jenis imunisasi (lihat table 5.2 91.2 88. Persentase Balita yang Pernah Diimunisasi menurut Daerah dan Jenis Kelamin.10). Oleh karena itu tidak terlihat adanya perbedaan yang 67 . Dari tahun ke tahun pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan cakupan imunisasi dari keempat jenis yang diprogramkan di atas.8 2009 (4) 95.3 88. pemberian imunisasi balita tidak selektif gender atau semua balita ditargetkan menerima imunisasi.4 89. Pemantauan pencapaian imunisasi balita ini dapat dilakukan melalui Susenas secara tahunan.10.3 88.3 92.9 90. Sulawesi Selatan.0 91. Susenas 2007-2009 Pada dasarnya sebagai salah satu program pemerintah.

karena disamping merupakan faktor predisposisi yang dapat memperparah penyakit infeksi secara langsung juga dapat menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan individual. Hal ini nampaknya terkait dengan kemudahan sarana transportasi untuk menuju tempat pemberian imunisasi. walaupun tak terpaut jauh. Status Gizi Status gizi seseorang sangat erat kaitannya dengan permasalahan kesehatan secara umum. Yang tentunya hal ini berkaitan juga dengan tingkat pendidikan mereka. Kesadaran masyarakat pedesaan untuk membawa putra putri mereka ke posyandu atau puskesmas untuk mendapatkan imunisasipun nampaknya masih lebih rendah dari masyarakat perkotaan. Bahkan status gizi janin yang masih berada dalam kandungan dan bayi yang sedang menyusu sangat dipengaruhi oleh status gizi ibu hamil atau ibu menyusui.berarti pada cakupan imunisasi antara balita laki-laki dan perempuan. Sayangnya pada kesempatan ini cakupan imunisasi belum dirinci untuk setiap jenis imunisasi yang diterima balita. BBLR dibedakan dalam 2 kategori yaitu BBLR karena prematur 68 .500 gram) merupakan salah satu faktor utama yang berpengaruh terhadap kematian perinatal dan neonatal. sebagaimana diuraikan berikut ini: 5. Tetapi perbedaan itu terlihat antara daerah pekotaan dengan daerah pedesaan.4.4.1. 5. Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) Berat Badan Lahir Rendah (kurang dari 2. Berikut ini akan disajikan gambaran mengenai indikator-indikator status gizi masyarakat di Sulawesi Selatan antara lain bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dan status gizi balita.

58 %). Sedangkan untuk tahun 2008 jumlah bayi dengan BBLR mengalami penurunan menjadi 1. banyak BBLR dengan IUGR karena ibu berstatus gizi buruk.998 2.56 1.56 % dari total bayi lahir) dan yang tertangani sebanyak 2. Tabel 5.040 Persentase dari Total Bayi Lahir (3) 1.(usia kandungan kurang dari 37 minggu) atau BBLR karena Intra Uterine Growth Retardation (IUGR). Pangkep (147 kasus) dan terendah di Kab. sementara kasus tertinggi di Kota Makassar (251 kasus).451 orang (100%). dengan kasus tertinggi terjadi di Kab. 69 .11. Sidrap (172 kasus). malaria dan menderita penyakit menular seksual (PMS) sebelum konsepsi atau pada saat hamil. 2008 dan 2009 Penolong Kelahiran 2007 2008 2009 (1) Jumlah Bayi dengan BBLR (2) 2.416 (1. Di negara berkembang. tercatat bahwa jumlah bayi dengan berat badan lahir rendah sebanyak 2. anemia.998 (1.36 % dari total jumlah bayi lahir) dan yang ditangani sebanyak 1.670 (83. menyusul Kab. Sidrap (584 kasus) dan Kota Makassar (295 kasus) dan yang terendah di Kota Palopo (8 kasus).36 1. yaitu bayi yang lahir cukup bulan tetapi berat badannya kurang.416 1.11 menunjukkan bahwa di Sulawesi Selatan pada tahun 2007. Kota ParePare (158 kasus) dan Kab. Persentase Balita Menurut Penolong Kelahiran dan Status BBLR Tahun 2007.36 Sumber : Profil Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2009 Tabel 5.

5 % menurun menjadi 24. yang bergizi sedang 21. yang berarti mengalami penurunan sekitar 34 %. dan sensitif/peka dibandingkan prevalensi berdasarkan pengukuran berat badan menurut umur seperti hasil dari pengukuran prevalensi gizi kurang menurut BB/TB (wasting) sesudah tahun 1992 berkisar antara 10-14 %. Masalah gizi kurang pada anak balita dikaji kecenderungannya menurut Susenas dan survei atau pemantauan lainnya.35 70 .4. prevalensi gizi buruk dan kurang pada balita adalah 37. Status Gizi Balita Status gizi balita merupakan salah satu indikator yang menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat. Kategori yang digunakan adalah: gizi lebih (z-score>+2 SD). Pada tahun 2009. Sejak tahun 1992 untuk mengukur keadaan gizi anak balita digunakan standar WHO-NCHS untuk index berat badan menurut umur.040 (1. persentase Balita yang bergizi baik adalah sebesar 64. pada umumnya pengukuran BB/TB menunjukkan keadaan gizi kurang yang lebih jelas. menurut Susenas tahun 1989.51 % dan sisanya 9.36 % dari total jumlah bayi lahir). gizi baik (z-score-2 SD sampai +2 SD). Dari hasil Susenas 2001 di Indonesia.14%. Salah satu cara penilaian status gizi pada balita adalah dengan anthropometri yang diukur melalui indeks Berat Badan menurut umur (BB/U) atau berat badan terhadap tinggi badan (BB/TB). Namun dari beberapa studi/survei yang melakukan pengukuran berat badan dan tinggi badan (BB/TB).7 % tahun 2000. gizi kurang (zscore<-2 SD sampai -3 SD) dan gizi buruk (z-score<-3 SD).2. jumlah bayi dengan BBLR mengalami kenaikan menjadi 2. Secara nasional.Jeneponto sebanyak 22 kasus. 5.

59 19. Sedangkan untuk tahun 2004.46 8.73 7.41 18.47 71.46 19. persentase balita perempuan bergizi baik relatif lebih tinggi daripada balita laki-laki. untuk menanggulangi masalah gizi atau untuk memperoleh gambaran perubahan tingkat konsumsi gizi di tingkat rumah tangga dan status gizi masyarakat dilaksanakan beberapa kegiatan seperti Pemantauan Konsumsi Gizi (PKG) dan Pemantauan Status Gizi (PSG) di seluruh kabupaten/kota.58 73.62 8.55 Sumber: Profil Kesehatan Sulawesi Selatan tahun 2008 Di Sulawesi Selatan.24 69. 1.3 % anak yang berstatus gizi kurang.18 6.69 2.43 7. Bila dibandingkan menurut jenis kelamin.0 % anak yang berstatus gizi buruk dan 3.1 % anak yang berstatus gizi lebih.89 20.47 2.% adalah Balita bergizi kurang/buruk atau yang dikenal dengan istilah Kurang Kalori Protein (KKP). Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 5. menurut laporan yang diterima oleh Subdin Bina Kesehatan Keluarga 71 . Hasil Pemantauan Status Gizi yang dilaksanakan pada tahun 2001 menggambarkan 84.3 71.7 % anak yang berstatus gizi baik.47 2.35 7.88 2. demikian pula gizi kurang/buruk lebih tinggi pada balita laki-laki dibandingkan balita perempuan.03 67. 11.12.04 70.73 17.03 2.88 18. Persentase Balita (0-59 bulan) Menurut Status Gizi & Jenis Kelamin di Indonesia Tahun 2002 dan 2003 Status Gizi 2002 LakiLaki Perempuan LakiLaki+Perempuan LakiLaki 2003 Perempuan Laki-laki +Perempuan Lebih Normal Kurang Buruk 2.

Kasus gizi buruk yang sebanyak itu terdiri dari marasmus (48 kasus). kulit keriput. cengeng dan rewel.dan KB Dinkes Prov./kota yang diatas angka provinsi dan Sulawesi Selatan sudah mencapai target pencapaian program perbaikan gizi pada RPJM 2015 sebesar 20 %. empat kabupaten/kota dengan kasus terbanyak antara lain Bone (16 kasus). kwashiorkor. Jumlah kasus gizi buruk berdasarkan ketiga jenis tersebut di Sulsel pada tahun 2008 sebanyak 95 kasus. iga gambang. dan gabungan marasmik-kwashiorkor. Luwu Timur 7 kasus. Secara umum prevalensi gizi buruk di Sulawesi Selatan menurut hasil Riskesdas adalah 5. dan Jeneponto sebanyak 6 kasus. empat kabupaten/kota terbanyak antara lain Pinrang 12 kasus. kwashiorkor (25 kasus). Wajo (11 kasus). dan marasmik-kwashiorkor (22 kasus). jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada dan sering disertai penyakit infeksi serta diare./kota tercatat delapan kab. wajah seperti orang tua (pipi kempot. Bone 11 kasus. dan Jeneponto (8 kasus). perut cekung.5 % dari kabupaten. mata terlihat cekung). rambut tipis. tulang belakang terlihat menonjol. Pinrang (15 kasus).5 %.2004). yaitu marasmus. Menurut hasil survei Gizi Mikro Tahun 2006 balita gizi buruk tercatat sebesar 9 %. sedangkan KEP total sebesar 28. Kwashiorkor adalah keadaan gizi buruk yang disertai tanda-tanda klinis seperti edema di seluruh tubuh. Marasmus adalah gizi buruk yang disertai tanda-tanda seperti badan sangat kurus (kulit membungkus tulang). Sulsel tercatat bahwa jumlah KEP sebesar 13.48 % (PSG. Kasus gizi buruk 72 . Pada kasus gizi buruk di Sulawesi Selatan pada tahun 2008 dengan adanya gejala klinis terbagi atas 3 jenis.1 % dan gizi buruk 12. wajah membulat dan sembab. Kasus gizi buruk jenis marasmus di Sulawesi Selatan pada tahun 2008 sebanyak 48 kasus.

92 persen yang mendapat perawatan). 5. Selayar. Bulukumba dan Bantaeng masing-masing (3 kasus). Sedangkan gizi buruk jenis marasmik-kwashiorkor (M+K) adalah gizi buruk dengan gambaran klinis yang merupakan campuran dari beberapa gejala klinis kwashiorkor dan marasmus dengan BB/U < 60% baku median WHO-NHCS disertai edema yang tidak mencolok. Hal ini dilakukan guna menghindari gangguan sedini mungkin dari 73 . Soppeng. Enrekang (7 kasus).5.jenis kwashiorkor ditemukan terbanyak pada Kabupaten Wajo (5 kasus). dan Bone (5 kasus). Pinrang. Gangguan kesehatan yang dialami seorang ibu bisa berpengaruh pada kesehatan janin dalam kandungan hingga kelahiran dan masa pertumbuhan bayi dan anaknya.1. Oleh karena itu pelayanan kesehatan terhadap ibu dan bayi sangat penting yang dikenal dengan gerakan sayang ibu seperti pelayanan berikut: 5. Pangkep (6 kasus). Situasi gizi buruk di Sulawesi Selatan pada tahun 2009 berdasarkan profil kesehatan kabupaten/kota tercatat sebanyak 2.825 orang (24. Gerakan Sayang Ibu Seorang ibu mempunyai peran yang sangat besar di dalam pertumbuhan bayi dan perkembangan anak.5. Kasus M+K di Sulsel pada tahun 2008 terbanyak di Kab. Pelayanan Antenatal (K1 dan K4) Masa kehamilan merupakan masa rawan kesehatan. baik kesehatan ibu yang mengandung maupun janin yang dikandungnya sehingga dalam masa kehamilan perlu dilakukan pemeriksaan secara teratur.

segala sesuatu yang membahayakan terhadap kesehatan ibu dan janin yang dikandungnya. Pelayanan antenatal merupakan pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan profesional (dokter spesialis kandungan dan kebidanan, dokter umum, bidan dan perawat) kepada ibu hamil selama kehamilannya, yang mengikuti pedoman pelayanan antenatal yang ada dengan titik berat pada kegiatan promotif dan preventif. Hasil pelayanan antenatal dapat dilihat dari cakupan pelayanan K1 dan K4. Cakupan K1 atau juga disebut akses pelayanan ibu hamil merupakan gambaran besaran ibu hamil yang telah melakukan kunjungan pertama ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pelayanan antenatal. Sedangkan cakupan K4 adalah gambaran besaran ibu hamil yang telah mendapatkan pelayanan ibu hamil sesuai dengan standar serta paling sedikit empat kali kunjungan, dengan distribusi sekali pada trimester pertama, sekali pada trimester dua dan dua kali pada trimester ketiga. Angka ini dapat dimanfaatkan untuk melihat kualitas pelayanan kesehatan kepada ibu hamil. Gambaran persentase cakupan pelayanan K1 menurut kab./kota di Sulawesi Selatan tahun 2007 tercatat sebesar 93,55 % dan K4 sebesar 76,45%. Cakupan K1 berada di atas target nasional sedangkan K4 berada di bawah target nasional (78%), namun bila dilihat menurut kab./kota maka terdapat kab./kota yang berada di atas target nasional bahkan berada dibawah rata-rata provinsi. Adapun Kab./Kota yang memiliki cakupan yang masih berada jauh dari rata-rata adalah Kab. Selayar, Pangkep, Bone, Enrekang, Tator, Kota Pare-pare dan Palopo. Sedangkan pelayanan K1 tahun 2008 tercatat sebesar 85,91 % dan K4 sebesar 77,74 %.

74

Secara provinsi, pelayanan K1 di Sulawesi Selatan pada tahun 2008 tercatat sebesar 94,71 %, itu artinya pola pelayanan antenatal sudah cukup aktif. Tiga Kab./Kota dengan cakupan terendah yaitu Kota Parepare (84,53%), Selayar (84,71%), dan Enrekang (88,93%). Sedangkan cakupan pelayanan K4 di Sulawesi Selatan dari tahun 2004 -2009 mengalami peningkatan setiap tahunnya. 5.5.2. Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan dengan Kompetensi Kebidanan Komplikasi dan kematian ibu maternal dan bayi baru lahir sebagian besar terjadi pada masa disekitar persalinan. Hal ini antara lain disebabkan pertolongan tidak dilakukan oleh tenaga kesehatan yang tidak memiliki kompetensi kebidanan (profesional). Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan, termasuk pendampingan, meningkat sekitar 10% yaitu dari 60,75 % pada tahun 1998 menjadi 70,62 % pada tahun 2003. Sementara itu, cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan pada tahun 2005 di Sulawesi Selatan tercatat sebesar 78,69 %, bila dibandingkan dengan target SPM Bidang Kesehatan Tahun 2005 (77%) maka Sulawesi Selatan berada di atas target. Sedangkan cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan pada tahun 2007 (72,68%) dan tahun 2008 mengalami peningkatan sebanyak (82,66%). Sedangkan gambaran cakupan persalinan oleh tenaga medis pada tahun 2009 sudah di atas 64 persen seperti yang disampaikan pada bahasan sebelumnya.

75

5.5.3.

Deteksi Risiko, Rujukan Kasus Risti dan Penanganan Komplikasi Kegiatan deteksi dini dan penanganan ibu hamil

berisiko/komplikasi kebidanan perlu lebih ditingkatkan baik di fasilitas pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) maupun di masyarakat. Risti/komplikasi adalah keadaan penyimpangan dari normal, yang secara langsung menyebabkan kesakitan dan kematian ibu maupun bayi. Risti/Komplikasi kebidanan meliputi Hb < 8 g %. Tekanan darah tinggi (sistole > 140 mmHg, diastole > 90 mmHg). Oedema nyata, eklampsia, perdarahan pervagina, ketuban pecah dini, letak lintang usia kehamilan > 32 minggu, letak sungsang pada primigravida, infeksi berat/sepsis, persalinan prematur. Dalam memberikan pelayanan khususnya oleh bidan di Desa dan Puskesmas, beberapa ibu hamil diantaranya tergolong dalam kasus risiko tinggi (Risti) dan memerlukan pelayanan kesehatan karena terbatasnya kemampuan dalam memberikan pelayanan maka kasus tersebut perlu rujukan ke unit pelayanan kesehatan yang memadai. Persentase cakupan ibu hamil risti yang dirujuk tahun 2008 sebesar 25,24 %. Neonatus risti/komplikasi yang meliputi asfiksia, tetanus neonatorum, sepsis, trauma lahir, BBLR (Berat Badan Lahir < 2.500 gram). Sindroma gangguan pernapasan dan kelainan neonatal. Neonatal risti/Komplikasi yang tertangani adalah neonatus risti/komplikasi yang mendapat pelayanan oleh tenaga kesehatan yang terlatih di Puskesmas perawatan dan RS Pemerintah/swasta dengan fasilitas PONED dan PONEK (Pelayanan Obestetrik dan Neonatal Emergensi Dasar dan Pelayanan Obestetrik dan Neonatal Emergensi Komprehensif).

76

pemeriksaan kehamilan di Sulawesi Selatan secara garis besar masih sangat rendah. yang menerima tablet zat besi selama hamil sebesar 71.3 %).51 persen yang tertangani.Berdasarkan data hasil SDKI 2007.2 %).86 persen dari ibu hamil) dan hanya 49. jumlah ibu hamil risti/komplikasi sebanyak 21. Sementara pada tahun 2009. 77 . yang melahirkan pada tenaga kesehatan sebesar 58. Pada tahun 2008.438 IH (11. persentase cakupan bumil risti di Sulawesi Selatan masih rendah yakni 31.12 persen yang tertangani.1%).6 % (Nasional 46. Sedangkan jumlah neonatal risti/komplikasi sebanyak 4.5 % (Nasional 73 %). yang memperoleh imunisasi TT paling sedikit sebesar 1 kali sebesar 82. masih jauh dari target nasional (100 %).29 %.509 orang (3.9 % (Nasional 77. hal ini ditunjukkan dengan persentase pemeriksaan kehamilan oleh tenaga kesehatan mencapai 92.8 % (Nasional 73 %) dan yang melahirkan pada fasilitas kesehatan sebesar 30.2 % (Nasional 93.14 persen dari jumlah neo natal) dan sebanyak 78.

78 .

mereka bekerja tidak lain hanya didorong oleh motivasi tertentu. jam kerja. dilatarbelakangi oleh keharusan bekerja atau mereka memilih untuk bekerja. Pembahasan kegiatan ekonomi di provinsi Sulawesi Selatan pada kegiatan ini meliputi: penduduk usia kerja.624 jiwa pada tahun 2009.jenis usaha serta status usaha. Berarti setiap 100 79 .748 jiwa. Sebagian perempuan yang “harus bekerja” adalah karena kondisi ekonomi keluarga yang tidak mencukupi. Jumlah ini meningkat menjadi 5. TPAK dan pangangguran. sehingga melibatkan diri di dalam kegiatan ekonomi secara aktif. Penduduk usia kerja yang dimaksud berumur 15 tahun keatas yang merupakan sumber angkatan kerja potensial. Kemiskinan dan Pekerja Migran. penduduk usia kerja Sulawesi selatan sebanyak 5. Jika dilihat dari jenis kelamin.lapangan usaha. Sehubungan dengan ini dapat dikatakan bahwa semakin rendah tingkat kehidupan social ekonomi rata-rata penduduk di dalam suatu masyarakat.1 Penduduk Usia Kerja Sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk. KEGIATAN EKONOMI Keterlibatan perempuan dalam sector ekonomi. tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan cenderung semakin tinggi. 6. terdapat perbedaan usia kerja dimana penduduk usia kerja perempuan lebih besar dari penduduk usia kerja lakilaki dengan sex rasio 95 (Hasil Sensus Penduduk 2010).BAB VI. Pada tahun 2008.559.660. Sedangkan bagi perempuan yang memilih untuk bekerja dan memiliki latarbelakang ekonomi menengah ke atas. Upah/gaji.. jumlah penduduk usia kerja juga mengalami pertambahan.

sosial.036 5.766 1.953.624 Sumber : BPS.perempuan. Adanya perbedaan ini disebabkan oleh jumlah penduduk di pedesaan lebih besar daripada di perkotaan.660.1 Banyaknya penduduk usia kerja menurut jenis kelamin dan daerah tempat tinggal Sulawesi Selatan.1) Tabel 6.627. Sakernas 2008 dan 2009 Jika kita mengamati table 6.681.599 5. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) dan Pengangguran TPAK dapat diukur dari perbandingan angkatan kerja dan usia kerja.. hanya ada 95 laki-laki.421 Pedesaan (4) 1. 2008 dan 2009 Jenis kelamin (1) Perempuan Laki-laki total 2008 (2) 2.025 2. Selain itu penduduk usia kerja laki-laki di Sulawesi selatan banyak yang merantau.lebih banyak dibanding perkotaan.707.833 3.748 2009 Perkotaan (3) 992.712 2. 80 .979. Adanya perbedaan ini disebabkan antara lain jumlah penduduk perempuan memang lebih besar.2. Hal yang sama terlihat pada daerah perkotaan dan pedesaan dimana penduduk usia kerja perempuan lebih besar daripada laki-laki (lihat table 6.559. dan ekonomi.203 Total (5) 2.986.720.370 1. 6. Pengaruh masing-masing faktor tersebut terhadap TPAK berbeda bagi perempuan dan laki-laki. Akan tetapi perubahan TPAK dapat dipengaruhi oleh factor demografis.932.1 di atas terlihat penduduk usia kerja di pedesaan .655 960.

Sakernas 2009 81 . pengaruh faktor-faktor tersebut tidaklah terlalu besar oleh karena umumnya laki-laki pencari nafkah utama keluarga. Melaksanakan tugas rumah tangga masih dianggap sebagai tugas pokok perempuan.00 20. Tahun 2009 90. banyak dipengaruhi oleh factor sosial.00 50.00 70.Bagi TPAK laki-laki. Lain halnya dengan TPAK perempuan.00 40.00 30.1 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Menurut Daerah Tempat Tinggal dan Jenis Kelamin. ekonomi dan budaya.00 P erkotaan Laki-Laki P erempuan P edesaan Sumber : BPS. Gambar 6.00 10. Sulawesi Selatan.00 0.00 60.00 80.

2 persen sedang laki-laki 69. Perbedaan ini mungkin disebabkan oleh system pembagian kerja secara seksual dalam masyarakat.97 persen pada tahun 2009. Hal ini berkaitan dengan pembagian tugas dalam rumah tangga peranan perempuan semakin signifikan dalam pasar tenaga kerja untuk mendukung ekonomi rumah tangga. Kenaikan TPAK tersebut diduga disebabkan oleh kondisi ekonomi yang sudah berangsur membaik yang juga berdampak pada perekonomian rumah tangga. Kondisi ini masih sama pada tahun 2000 di mana TPAK perempuan hanya sebesar 28.94 persen pada tahun 2009. pada periode 2000-2009 terjadi kenaikan TPAK perempuan dari 28.1 di atas terlihat bahwa TPAK perempuan baik di perkotaan maupun di pedesaan pada tahun 2009 selalu lebih rendah dari pada laki-laki.2 persen pada tahun 2000 menjadi 44. TPAK perempuan dan laki-laki di Sulawesi Selatan memiliki perbedaan yang cukup besar yaitu 44. Ini berarti partisipasi perempuan di bidang ekonomi belum dapat menyamai partisipasi laki-laki. 82 .9 persen. di mana perempuan mempunyai kegiatan utama di dalam rumah dan laki-laki di luar rumah (mencari nafkah).94 persen berbanding 81. Walaupun demikian.Dari gambar 6.

juga oleh kondisi lain.000 . diantaranya yang utama adalah karakteristik angkatan kerja itu sendiri.000 20.91 persen) dan di pedesaan pada usia 40-44 tahun (57. Salah satu karakteristik angkatan kerja yang utama adalah umur dan tentunya jenis kelamin. tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) berbeda menurut umur dan jenis kelamin.000 80.000 60. Pada daerah yang berbeda.2 terlihat bahwa puncak TPAK perempuan di perkotaan berada pada usia 25-29 tahun (57. Dari gambar 6.19 83 . dan daerah.000 40. Sakernas 2009 Secara keseluruhan mereka yang berada di pasar kerja atau yang bekerja itu terdiri atas berbagai kelompok umur. Sulawesi selatan 2009 Sumber : BPS.2 tingkat partisipasi angkatan kerja menurut umur.000 1519 2024 2529 3034 3539 4044 4549 5054 5559 60 + Perkotaan Laki-Laki Perkotaan Perempuan Perdesaan Laki-Laki Perdesaan Perempuan kelamin. dan seperti telah disinggung sebelumnya partisipasi mereka dalam angkatan kerja dapat berbeda-beda. jenis 100.Gambar 6. Perbedaan itu di samping dipengaruhi oleh desakan kebutuhan ekonomi.

yang kemudian keluar dari pasar kerja selama dan setelah melahirkan anak. maka seharusnya TPAK perempuan di pedesaan akan jauh lebih rendah dari TPAK perempuan di perkotaan. 6. dibandingkan tahun 2000. Hal menarik dari kedua gambar di atas adalah secara keseluruhan TPAK perempuan di pedesaan lebih tinggi dari angka di perkotaan. Dalam kondisi ekonomi yang sulit.3. ternyata memang TPAK laki-laki selalu lebih tinggi di semua kelompok umur baik di perkotaan maupun pedesaan. Namun demikian. baik di perkotaan maupun di pedesaan menunjukkan kecenderungan semakin melonggarnya ikatan sosial dan budaya di Sulawesi Selatan. yang disebabkan oleh dua kondisi yang berlawanan. Hal ini menunjukkan bahwa pada tahun 2009 pola TPAK perempuan di Sulawesi Selatan adalah the early peak yaitu partisipasi sebagian besar adalah pada perempuan belum kawin atau perempuan muda yang telah kawin sebelum melahirkan. Disatu sisi 84 . Lingkungan sosial budaya selama ini tidak terlalu memberikan peluang bagi keikut sertaan perempuan dalam angkatan kerja. Tingkat Pengangguran Timbulnya pengangguran adalah disebabkan oleh banyaknya pencari kerja yang tidak dapat diimbangi oleh penciptaan kesempatan kerja.persen). Pada tahun 2009 TPAK perempuan perkotaan mempunyai 2 puncak dan di pedesaan mempunyai 3 puncak. Di bandingkan dengan TPAK laki-laki. Hal ini disebabkan oleh lebih kuatnya pengaruh factor ekonomi daripada factor social budaya di pedesaan. jumlah pengangguran cenderung meningkat. terjadi peningkatan TPAK perempuan untuk semua umur. Jika anggapan selama ini yang menyatakan rendahnya TPAK perempuan di Sulsel disebabkan oleh factor social dan budaya benar.

Jika perbedaan TPT dilihat dari daerah tempat tinggal.9. Sulawesi Selatan. TPT perempuan di Sulsel pada tahun 1997 adalah 11. Pada tahun 2000 perbandingannya adalah 5.4 2.3 9.9 Total (7) 11.2).4 7. didapat perbedaan yang sangat besar antara TPT perkotaan dengan TPT pedesaan.9 Total 5. Namun perbedaan TPT menurut jenis kelamin di dua daerah tesebut relative lebih kecil (lihat table 6.0 1. yaitu 7.9 1.2 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menurut Daerah tempat tinggal. Tabel 6.0 berbanding 1.3 5. 2000 dan 2009 Daerah Tempat Tinggal (1) Perkotaan Pedesaan 2000 LakiPerempuan laki (2) (3) 9.4 persen pada tahun 2000. dan jenis kelamin.4 6.3.4 terhadap 2.7 7.1 10.2 Sumber : BPS.5 persen dan menurun menjadi 5. baik berupa pendatang baru maupun mereka yang lepas/ keluar dari pekerjaan lama untuk mencari pekerjaan yang lebih baik.jumlah pencari kerja semakin bertambah.5 10. Sakernas 2000 dan 2009 Hasil pengolahan Sakernas 2000-2009 Sulawesi Selatan menunjukkan tingkat pengangguran terbuka (TPT) perempuan lebih tinggi dibandingkan TPT laki-laki.0 2009 LakiPerempuan laki (5) (6) 13. Tetapi disisi lain.3 3. dengan TPT perempuan 85 . kesempatan kerja yang tersedia justru menciut karena kontraksi ekonomi atau tumbuh dalam besaran yang sangat terbatas karena minimnya investasi atau investasi yang ada lebih bersifat padat modal.9 3.6 8.8 Total (4) 7.

yang lebih tinggi dari TPT laki-laki. baik dengan jam kerja normal maupun tidak. Menurut Effendi (1992). Hal tersebut terkait dengan sifat-sifat pekerjaan di pedesaan yang lebih mudah menyerap tenaga kerja keluarga. Dalam keluarga yang mempunyai sedikit anak (misalnya 2) yang sudah bersekolah. 86 . dapat saja bekerja sementara dengan membantu usaha keluarga. Di pedesaan. perbedaan ini berkaitan dengan perbedaan struktur peluang kerja. maka tersedia kesempatan bagi perempuan untuk mencari pekerjaan guna menambah penghasilan keluarga sambil mengisi kekosongan waktu ( effendi.1992 dalam Fatmawati). tahun 2000 maupun pada tahun 2009. karena mereka yang membantu usaha keluaraga dicatat sebagai pekerja meskipun tidak dibayar. Padahal penduduk usia kerja di pedesaan lebih banyak dari perkotaan. Perempuan yang belum bekerja atau tidak mempunyai pekerjaan. usaha di sector pertanian dan usaha rumah tangga lebih berperan di bandingkan usaha/kegiatan nonpertannian. Tidak mustahil hal ini berkaitan dengan menurunnya angka kelahiran. Menarik untuk ditelaah lebih lanjut adalah TPT perempuan di pedesaan lebih rendah dari perkotaan baik pada tahun 1997. Tingginya TPT perempuan diduga karena berhubungan dengan peningkatan keinginan untuk bekerja diluar rumah tangga. meskipun dengan produktivitas yang rendah. Hal ini merupakan indikasi adanya pergeseran status pekerjaan perempuan dari hanya bekerja sebagai pekerja keluarga tanpa dibayar disektor pertanian. termasuk istri dan anak-anak. menjadi pekerja public/umum untuk mendapatkan upah. Keadaan ini dapat mempengaruhi TPT.

Jenis Kelamin. Keengganan bekerja di sektor pertanian dan langkahnya peluang kerja non-pertanian dipedesaan diduga mendorong mereka untuk mencari kerja di perkotaan. Inilah yang menyebabkan TPT di perkotaan relatif lebih tinggi 87 . yang berpendididkan bersedia menunggu beberapa saat untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan.3 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menurut Umur. Sulawesi Selatan.Gambar 6. 2009 Sumber : BPS. Tidak tertutup kemungkinan mereka yang berpendidikan dipedesaan mencari kerja diperkotaan. Sakernas 2009 Rendahnya pengangguran terbuka dipedesaan juga dapat dipakai sebagai indikator migrasi desa-kota. Sementara di perkotaan. dan Daerah.

11. Tabel 6. terutama biaya sekolahpun pada jenjeng lebih tinggi telah dirasakan memberatkan beban rumah tangga. perluasan kota diduga turut menambah pengangguran terbuka.5 persen (2008) dan 8. Jika dibandingkan dengan TPT tahun 1997 dapat dikatakan telah terjadi penurunan TPT diseluruh kelompok umur. walaupun untuk itu mereka mendapatkan upah/penghasilan yang rendah. sehingga belum mencari kerja. kemudian menurun setelah itu.3 menunjukkan TPT mencapai puncaknya pada kelompok usia 20 sampai 24 tahun baik di perkotaan maupun di pedesaan serta baik antara laki-laki dan perempuan. Hal ini berkaitan dengan dampak krisis ekonomi yang ada. baik karena terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) maupun karena menurunnya daya beli masyarakat secara umum. 10. karena itu mereka akan bekerja apa saja untuk memperoleh penghasilan. Mereka yang berasal dari status social ekonomi yang rendah tidak mampu untuk menganggur. Seiring dengan menurunnya penduduk miskin 88 . (Fatmawati 1993).8 persen (2006).2 persen (2007). Pada awal krisis pengangguran meningkat atau berada pada posisi tinggi karena menurunnya kegiatan ekonomi secara umum maka merosot juga peluang kerja. Selain itu. dan mungkin masih berfikir-fikir dulu apakah akan terus sekolah atau bekerja.dari pedesaan.3 menunjukkan bahwa tingkat pengannguran di Provinsi Sulawesi Selatan cenderung terus menurun dari 12. Pada dasarnya hanya orang yang mampu atau dari status sosial-ekonomi menengah keatas yang dapat tetap menunggu untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Namun demikian pada periode 2006-2009. Pada usia 15-19 tahun sebagian besar masih di bangku sekolah. tetapi memasuki usia 20-24 sudah semakin jelas untuk memutuskan masuk kepasar kerja.9 persen tahun 2009. Gambar 6.

9 12.5 13. 13.2 14. Kedua sector ini secara umum.3. 14.11 2008 (4) 10. sebenarnya adalah pada subsector industry kecil dan kerajinan rakyat (IKKR). Industry pengolahan yang berskala besar umumnya berlokasi di Makassar dan sekitarnya dengan kegiatan yang banyak menyerap tenaga 89 . Tingkat Pengngguran Terbuka (TPT) dan Tingkat Kemiskinan di Sulawesi Selatan Tahun 2006-2009 Indikator (1) 1. Bagian terbesar dari pekerja sector industri. Tabel 6. terutama jasa dan perdagangan. Pekerja perempuan di luar sektor pertanian (primer) banyak memasuki sector tertier. Lapangan Usaha Lapangan usaha yang dimasuki oleh pekerja perempuan dan lakilaki memperlihatkan adanya perbedaan.57 2007 (3) 11. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT %) 2.57 persen (2006).31 persen tahun 2009.8 14.dari 14. sehingga produktivitas merekapun tergolong rendah. yaitu mudah dimasuki oleh mereka yang pendidikannya rendah dan sering terjadi income/work sharing. karakteristiknya mirip dengan sector pertanian.4.31 Sumber : Sakernas 2006-2009 dan Susenas 2006-2009 6. cukup besar.34 2009 (5) 8.34 persen (2008) dan 12. Tingkat Kemiskinan 2006 (2) 12.11 persen (2007). dalam kelompok sector sekunder. Sebenarnya kesertaan pada sector industri.

yang menandakan adanya penurunan kondisi ekonomi pedesaan dalam kurun waktu tahun 2007-2009.482 64.471 352. Sulawesi Selatan. kopi.648 177.kerja adalah industry pengolahan makanan.92 0 71. 2009 Daerah/Lapangan Usaha (1) Perkotaan Pedesaan Primer Sekunder Tertier 352.transpotasi.240 72.695 10.439 281.00 9 57.569 70. misalnya pengolahan biji coklat. Sector sekunder= sector industry.091 80.kontruksi Sector tertier= sector perdagangan.815 56.690 22.jasa. 2009 90 1.240 36. Tampaknya pertanda inilah yang mendorong banyaknya perempuan pedesaan mencari pekerjaan di luar sector pertanian.442 1.pertambangan.424 396.542 271.495.729 4.130. Daerah.210 189. Jika dilihat dari perkembangan data tahun 2007-2009 terlihat adanya pergeseran yang cukup jelas di daerah pedesaan.153.4 Penduduk Berumur 10 Tahun Keatas yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha Utama.552 364.713 407. Dan Jenis Kelamin. 2007. maupun udang untuk tujuan sector.lainnya Sumber: BPS Sakernas 2007.274 187.24 9 93.930 95.146 Primer Sekunder Tertier 9.keuangan.295 2007 Perempua Lakin laki (2) (3) 2009 Perempua Lakin laki (4) (5) Perkotaan+Pedesaan Primer Sekunder Tertier 361. yaitu dari sector sekunder dan tertier ke sector primer di antara pekerja perempuan.904 187.55 7 45.010 185. Table 6.231 1.223.441 .552 456.011 Catatan: sector primer= sector pertanian.276 24.197 164.listrik. Hal ini menunjukkan adanya penurunan kegiatan ekonomi di kedua kelompok besar lapangan usaha tersebut.649 471.863 24.

dan itu terjadi baik di perkotaan dan Sumber : BPS. eceran. Bahkan di daerah perkotaan mayoritas pekerja perempuan terserap di sektor sektor perdagangan besar. Yang menarik adalah proporsi pekerja perempuan yang terserap di sektor industri pengolahan perdesaan.21 persen) adalah sektor perdagangan besar.06 persen).05 persen. menunjukkan bahwa pekerja perempuan banyak terserap selain di sektor pertanian (45. Sulawesi Selatan. 2009 cenderung lebih tinggi dari pekerja laki-laki yaitu masingmasing 7. Dan Jenis Kelamin.5.33 persen) dan sektor jasa kemasyarakatan (30.03 persen). Daerah.5. Sakernas 2009 91 . rumah makan dan hotel (29. rumah makan dan hotel (47.Tabel 6. eceran. Table 6. Penduduk Berumur 15 Tahun Keatas yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha Utama.69 persen dan 6.

5 20.6 54. persentase pekerja perempuan masing-masing sebesar 55.6 28. 1978).6 23.6 12.6 37.5 26. Sulawesi Selatan. Dan Jenis Kelamin.3 72. dalam Fatmawati 1993). Table 6.5 22.9 16. tetapi juga distribusi status usaha/pekerjaan (oberay. 2007.5 23.9 42. Untuk 2 status tersebut.3 Berusaha Buruh/kar yawan Pekerja Keluarga 22.8 49. Status Pekerjaan Proses pembangunan ekonomi tidak saja dihubungkan dengan distribusi angkatan kerja menurut sector.3 Perempuan (2) Lakilaki (3) 2009 Perempu Lakian laki (4) (5) Di Sulawesi Selatan.6 55.1 22. Daerah.5 32.1 34.5.1 55.7 35.4 22. 2009 2007 Status Pekerjaan (1) Perkotaan Pedesaan Total Berusaha Buruh/kar yawan Pekerja Keluarga 26.7 Berusaha Buruh/kar yawan Pekerja Keluarga 25.9 47.2 12.4 47.2 33.8 52.9 44.4 22.8 30.4 14.1 92 .7 Penduduk Berumur 10 Tahun Keatas yang Bekerja Menurut Status Pekerjaan.9 62. Pengelompokan pekerja menurut status usaha sangat berguna untuk menelusuri sifat usaha (pekerjaan) dan jenis usaha tertentu (Manning.6.8 50.2 22.9 13. pola status usaha pekerja perempuan menunjukkan bahwa sebagian besar mereka bekerja sebagai pekerja keluarga (tak dibayar atau sebagai buruh/ karyawan).

Tingginya persentase pekerja keluarga di pedesaan dimungkinkan karena dengan tingkat pendidikan umumnya rendah. sebenarnya perempuan pekerja keluarga dapat dikatakan sebagai fenomena pedesaan.persen dan 22. pekerja perempuan sebagian besar (50. Hal ini terlihat dari persentase perempuan yang bekerja sebagai pekerja keluarga adalah 72.8 persen berbanding 35.3 persen) karena umumnya mereka bekerja sebagai pekerja keluarga (72.7).9 persen). 93 .2 persen). Jumlah ini melebihi pekerja laki-laki (49. lazim terjadi praktek berbagi rejeki/pekerjaan (income/work sharing) dalam usaha rumah tangga.2 persen. 6.8 persen. Persentase perempuan yang berusaha (berusaha sendiri/dibantu buruh tidak tetap/dibantu buruh tetap) ternyata tidak banyak berbeda dengan laki-laki yaitu 26.4 persen) berstatus buruh atau karyawan. Seseorang dapat dikatakan bekerja penuh jika yang bersangkutan bekerja minimal 35 jam dalam seminggu. Agaknya hal ini berbeda dengan di pedesaan. sehingga persentase perempuan yang bekerja sebagai buruh atau karyawan tergolong rendah (12.6 Jam Kerja Jam kerja merupakan salah satu variable yang mengukur pemanfaatan seseorang dalam bekerja. Cukup besarnya persentase perempuan pengusaha sejalan dengan lapangan pekerjaan utamanya sebagai pedagang atau jasa dengan skala kecil. baik dilakukan sendiri maupun dibantu anggota rumah tangga lainnya (anak). Di perkotaan pada waktu yang sama. Umumnya kegiatan perekonomian di pedesaan lebih bersifat informal.6 persen pada tahun 2009 (lihat table 6.

Data tersebut adalah 59.0) (100.8.0 persen berbanding 42.0) Catatan: *) Sementara tidak bekerja ( ) angka dalam kurung adalah persentase Sumber: BPS Susenas 2007 dan 2009 94 .1 32.)) (2) (3) (4) 3.7 persen. atau dikenal juga sebagai setengah penganggur kritis.9 37.9 4.976.3 9.8 53.5 37. 2007-2009 Jumlah Jam Kerja (Jam) (1) 0*) 1-14 15-34 35+ 2007 Perempuan Laki-laki Perempuan 2009 Laki-laki (5) 8.0 20.964. Dalam periode tersebut.9 40.8 32.8 persen menjadi 40.5 21. Table 6. Persentase Pekerja Menurut Kelompok Jam Kerja Dan Jenis Kelamin.8 58.8 terlihat bahwa pekerja yang bekerja di bawah jam kerja normal (35 jam seminggu).4 1.Dengan banyaknya perempuan yang bekerja sebagai pekerja keluarga atau yang hanya berfungsi membantu suami/ayah/KRT.574 823.188 (100. Meskipun jumlah jam kerja perempuan lebih rendah dibanding jumlah jam kerja laki-laki. lebih banyak perempuan daripada laki-laki. maka banyak pula ditemukan perempuan yang bekerja dengan jam kerja rendah. tetapi bila dibandingkan data tahun 2007 dengan data tahun 2009 nampak ada sedikit peningkatan.780 Total (100. atau dikenal seminggu setengah penganggur.0) (100.7 38. Perbandingan tersebut menjadi lebih mencolok untuk mereka yang bekerja 1-14 jam seminggu.7 840. proporsi perempuan yang bekerja di atas jam kerja normal (35 jam seminggu) meningkat dari sebesar 37.0 persen pada tahun 2009.16 1. Dari table 6.

95 .07 kali. seperti latar belakang pendidikan.9 juga menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan upah/gaji baik laki-laki maupun perempuan pada periode 2000-2009.82 kali untuk pekerja perempuan. jenis pekerjaan. dan lain sebagainya. Sehingga gap antara upah/gaji laki-laki dan perempuan semakin mengecil bahkan upah/gaji di perkotaan sudah mencapai di atas satu juta. Peningkatan upah/gaji tersebut salah satunya mungkin karena semakin membaiknya perekonomian di Sulawesi Selatan sehingga upah/gaji pekerja sudah di atas UMR.39 kali dan 2. Upah/Gaji Sebulan Pemberian upah biasanya ditentukan oleh banyak faktor. keahlian. yang mengakibatkan adanya arus migrasi dari pedesaan ke perkotaan. sementara lakilaki hanya 2. bahkan pada pekerja berpendidikan rendah dan tinggi masing-masing 3.25 kali. Peningkatan upah/gaji tersebut terjadi pada perekerja laki-laki maupun perempuan di semua jenjang pendidikan dan daerah.6. pengalaman kerja. Biasanya penentuan tersebut merupakan kombinasi dari beberapa factor sekaligus. Tabel 6. jabatan. jam kerja. Tetapi pada bahasan ini hanya dilihat berdasarkan tingkat pendidikan yang ditamatkan untuk lakilaki maupun perempuan. Bahkan pada pekerja perempuan peningkatannya lebih signifikan yaitu 2.9) menunjukkan bahwa tingkat upah pekerja secara umum berhubungan positif dengan tingkat pendidikan pada pekerja laki-laki maupun perempuan.7. Kemudian terlihat pula adanya kesenjangan antara tingkat upah di perkotaan dengan tingkat upah di pedesaan. Dari hasil pengolahan data Sakernas 2000 dan 2009 (Tabel 6.

Sementara itu terlihat juga kesenjangan tingkat upah antara yang diterima pekerja perempuan dan yang diterima pekerja laki-laki pada seluruh tingkat pendidikan. Rata-rata upah/gaji pekerja sebulan Menurut tingkat pendidikan dan jenis kelamin. Table 6.9. Kesenjangan tersebut sangat nyata di antara mereka yang berpendidikan di atas SLTA baik tahun 2000 maupun 2009. 2000-2009 Sumber: BPS Sakernas 2000 dan 2009 96 . Sulawesi Selatan.

2 930.81 Kota+Desa 14.25 17. Pada tahun 2006 penduduk miskin di Sulawesi Selatan adalah sebanyak 1112.11 persen) pada tahun 2007.18 6.5 Desa 944.8.11 13.6 Persentase Penduduk Miskin Kota 6.83 6.8 152.05 persen.4 1031. 2006-2009 Jumlah Penduduk Miskin (000) Tahun Kota 2006 2007 2008 2009 167.34 12.31 Sumber: Diolah dari data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Penduduk miskin di Provinsi Sulawesi Selatan lebih tinggi di daerah perdesaan.7 963.0 1083.0 orang (14.9 839.600 jiwa (12.6.7 orang (13. Secara absolut selama periode Maret 2007-Maret 2008. penduduk 97 .94 Desa 18.4 orang (14.57 persen) turun menjadi 1083. Tabel 6. Pada tahun 2006.31 persen). penduduk miskin di daerah perdesaan menurun menjadi 16.8 150.10 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Sulawesi Selatan Menurutt daerah.8 124. Pada periode 2006-2008. Pada bulan Maret 2008 turun menjadi 1031.83 persen. penduduk miskin di perdesaan mencapai 18.25 persen sementara di daerah perkotaan hanya 6.6 880.57 14.05 4.1 Kota+Desa 1112.79 15.87 16.79 persen sedangkan di daerah perkotaan turun menjadi 6. Kemiskinan Jumlah penduduk miskin di Sulawesi Selatan selama periode Maret 2006-Maret 2009 terus mengalami penurunan baik secara absolut maupun relatif.34 persen) dan pada bulan Maret 2009 turun lagi menjadi di bawah satu juta yaitu 963.

700 orang.3 34 963. Pada bulan Maret 2007.3 ribu orang (17.47 12.3 (15.42).3 Kota 13. Jumlah penduduk miskin di Indonesia pada periode Maret 2006-Maret 2008 tampak semakin menurun. turun menjadi 37 168.8 Persentase Penduduk Miskin Kota+Desa 39 295.38 persen. dan pada tahun 2008 turun lagi menjadi 34 963.65 Desa 21.0 22 194.3 12 768.52 11.5 Sumber: Diolah dari data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2006-2008 98 . sebagian besar (85. sementara pada bulan Maret 2008 persentase ini sedikit mengalami penurunan menjadi 85.3 23 609.90 persen) penduduk miskin berada di daerah perdesaan. Pada tahun 2006 jumlah penduduk miskin di Indonesia adalah sebesar 39 295.93 Kota+Desa 17.3 37 168.58 15.0 13 559.3 ribu orang (16.75 16.75 persen). Tabel 6.11 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Indonesia Menurut Daerah.37 18.58) pada tahun 2007.miskin di daerah perkotaan berkurang 2. 2006-2008 Tahun Jumlah Penduduk Miskin (000) Kota Desa 24 806. Persentase penduduk miskin antara daerah perkotaan dan perdesaan tidak banyak berubah.81 20.42 2006 2007 2008 14 489.000 orang. sementara di daerah perdesaan berkurang 49.

Pada tahun 2006 persentase penduduk miskin di Indonesia mencapai 17.9. Garis Kemiskinan mengalami kenaikan. terlihat bahwa peranan komoditi makanan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan.42 sedangkan di Sulawesi Selatan mencapai sekitar 13. Komoditi yang paling penting bagi penduduk miskin adalah beras. penduduk miskin di Indonesia mencapai 15. 6. yaitu dari Rp. Pada bulan Maret 2007.per kapita per bulan pada Maret 2007 menjadi Rp.34 persen. yang terdiri dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Bukan-Makanan (GKBM).126. peranannya sedikit meningkat menjadi 76.56 persen di perkotaan.57. pendidikan. Demikian juga pada tahun 2008.334. tetapi pada bulan Maret 2008. sumbangan pengeluaran beras terhadap Garis Kemiskinan sebesar 28.138.Jika dibandingkan dengan persentase penduduk miskin di Sulawesi Selatan pada periode Maret 2006-Maret 2008 tampak bahwa persentase penduduk miskin di Indonesia masih lebih besar. Selama Maret 2007-Maret 2008.64 persen di perdesaan dan 18.. sandang. Perubahan Garis Kemiskinan Besar kecilnya jumlah penduduk miskin sangat dipengaruhi oleh Garis Kemiskinan. barang-barang kebutuhan pokok lain yang 99 .623.78 persen. sumbangan GKM terhadap GK sebesar 75. dan kesehatan). Pada bulan Maret 2007.. karena penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan dibawah Garis Kemiskinan. Dengan memperhatikan komponen Garis Kemiskinan (GK).12 persen.75 persen sedangkan di Sulawesi Selatan hanya sekitar 14. Selain beras.per kapita per bulan pada Maret 2008.

dan Maret 2009.23 persen di perkotaan). Biaya untuk listrik. Tabel 6.58 persen di perkotaan). Garis Kemiskinan. yaitu masing-masing sebesar 2. mie instan (1. sementara untuk daerah perdesaan pengaruhnya relatif kecil (kurang dari 2 persen).berpengaruh cukup besar terhadap Garis Kemiskinan adalah gula pasir (2.90 persen. 100 . angkutan dan minyak tanah mempunyai pengaruh yang cukup besar untuk daerah perkotaan. telur (1. 2. Maret 2006-Maret 2009 Sumber: Diolah dari data Susenas Panel Maret 2006-Maret 2008.50 persen. 1.99 persen di perdesaan. 1. biaya perumahan mempunyai peranan yang cukup besar terhadap Garis Kemiskinan yaitu 6.04 persen di perdesaan dan 7.11 persen di perdesaan.82 persen di perkotaan.78 persen dan 2. Untuk komoditi bukan makanan. 2.90 persen di perkotaan).34 persen di perdesaan.70 persen di perkotaan) dan minyak goreng (1. Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Sulsel Menurut Daerah. 0.12.58 persen di perdesaan.

6. kebijakan kemiskinan juga sekaligus harus bisa mengurangi tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan.67 pada periode yang sama (Tabel 6. 10. Selain harus mampu memperkecil jumlah penduduk miskin.13). Indeks Kedalaman Kemiskinan turun dari 2.44 pada keadaaan Maret 2008. Penurunan nilai kedua indeks ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung makin mendekati garis kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin juga semakin menyempit. Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) menunjukkan kecenderungan menurun. 101 .68 menjadi 0. Demikian pula Indeks Keparahan Kemiskinan turun dari 0.60 pada keadaan Maret 2007 menjadi 2. Indeks Kedalaman Kemiskinan dan Indeks Keparahan Kemiskinan Persoalan kemiskinan bukan hanya sekadar berapa jumlah dan persentase penduduk miskin. Dimensi lain yang perlu diperhatikan adalah tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan. Pada periode Maret 2007-Maret 2008.

20 sementara di daerah perdesaan mencapai 3.68 0.82.22 3.74 1. nilai Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) untuk perkotaan hanya 1.13 Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) di Sulawesi Selatan Menurut Daerah. Pada bulan Maret 2008. 102 .22 0.Tabel 6.08 Kota Desa Kota + Desa Sumber: Diolah dari data Susenas Panel Maret 2006-Maret 2009 Nilai Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) di daerah perdesaan jauh lebih tinggi dari pada perkotaan. Maret 2006.89 0.43 2.91 1.77 0.44 2.15 1.03.74 3.82 0. Nilai Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) untuk perkotaan hanya 0.67 0.00 0.55 2.35 sementara di daerah perdesaan mencapai 0.22 0.60 2.67 4.61 0.20 0.35 0.40 3.Maret 2008 Tahun Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) Maret 2006 Maret 2007 Maret 2008 Maret 2009 Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) Maret 2006 Maret 2007 Maret 2008 Maret 2009 0.03 2.

1981).6. Adanya globalisasi informasi menyebabkan mobilitas penduduk semakin meningkat. dunia seakan tanpa batas. Tujuan dan motif utama migrasi yang sering ditemukan adalah untuk memperbaiki keadaan ekonomi dan status sosial.11. 103 . Pekerja Migran (TKI/TKW) Teori migrasi klasik menyatakan bahwa migran lebih banyak lakilaki daripada perempuan pada usia umur produktif. Seiring berkembangnya era globalisasi pada saat ini. Dengan semakin tingginya tingkat mobilitasi baik nasional maupun internasional. (Demographic Institut. Mobilitas penduduk merupakan salah satu usaha manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dengan mencari dan menemukan sesuatu yang baru (innovative migration) atau mempertahankan apa yang telah dimiliki (conservative migration). 2004). Perempuan meningkatkan migrasi internasional bukan saja jumlah perempuannya yang meningkat tetapi juga konstribusi perempuan di bidang sosial ekonomi juga meningkat (Sri Harijati Hatmaji. Globalisasi telah merubah banyak jumlah perempuan yang migrasi bukan saja sebagai pengikut tetapi juga sebagai pelaku migrasi. telah mendorong banyak peneliti melakukan analisa mengenai apa yang mendorong seseorang melakukan hal ini.

Secara umum. perubahan sosial budaya dapat diamati dari perubahan orientasi nilai budaya tradisional. Karena dalam proses mobilitas terjadi kontak dengan lingkungan lain.Banyaknya Migrasi Internasional (TKI dan TKW) dari Sulawesi Selatan Menurut Tujuan Negara Tahun 2010 Tujuan Negara Malaysia Arab saudi Brunei Darussalam Hongkong Kuwait Malaysia Timur Jumlah Jumlah 2.0 0.4 100.5 13. Mereka membawa berbagai pengetahuan dan nilai-nilai baru ke tempat asal atau ke tempat tujuan sehingga mendorong terjadinya perubahan sosial budaya.1 2. Mobilitas penduduk dapat mendatangkan perubahan sosial baik bagi daerah asal maupun daerah tujuan.4 0.401 Persentase 81.Tabel 6. seringkali menjadi pelaku perubahan. dan pola fertilitas.0 Sumber: Disnakertrans Provinsi sulawesi Selatan (Data Diolah) Data bulan Januari-September 2010.6 2. perubahan status sosial ekonomi seperti mata pencaharian serta tingkat pendidikan.14. Tabel menunjukkan bahwa migrasi dari sulawesi Selatan sebagian 104 . Migran yang telah tersentuh atau dipengaruhi oleh lingkungan yang lain.775 85 457 1 3 80 3.

5 persen.34 persen). Banyaknya Migrasi Internasional (TKI dan TKW) dari Sulawesi Selatan Menurut Tujuan Negara dan Jenis Kelamin.13 0.356 P 942 85 0 1 3 14 1.00 0.80 0.4 persen) dan Arab Saudi 2.045 Persentase L 77. Bahkan ada yang menuju Hong Kong yaitu 1 orang (0.80 persen dan 90.00 19'40 0. Sedangkan migrasi yang menuju nega-negara Arab seperti ke Arab Saudi adalah umumnya perempuan yaitu sebanyak 85 orang (8.10 persen) dan Malaysia Timur 14 orang (1.40 persen.401 100.00 0.00 2.10 0.34 100. Tahun 2010 Jenis Kelamin L 1.29 persen).15. Tabel 6.13 persen).besar menuju Malaysia mencapai 81.3 persen.40 8.dan Kuwait 3 orang (0. berikutnya adalah Brunei Darussalam (13. 105 .775 85 457 1 3 80 3.00 Sumber: Disnakertrans Provinsi sulawesi Selatan (Data Data bulan Januari-September 2010.80 P 90. Tetapi yang menarik adalah migrasi ke Malaysia dari Sulawesi Selatan yang menjadi TKI dan TKW ke malaysia adalah laki-laki dan perempuan masing masing untuk laki-laki 77.00 Tujuan Negara Malaysia Arab saudi Brunei Darussalam Hongkong Kuwait Malaysia Timur Jumlah Diolah) Total 2.29 1.833 0 457 0 0 66 2.

106 .

1. Partisipasi perempuan memberikan kemampuan. 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum memberikan dukungan untuk terlaksananya 107 . Dalam bab ini. saling membutuhkan dan saling mengisi. Artinya peraturan perundangundangan yang terkait dengan Pemilu wajib menjamin hak yang sama antara laki-laki dan perempuan untuk menikmati hak sipil dan politik. Eksekutif. dan seimbang yang dilandasi saling menghormati. SEKTOR PUBLIK Peran aktif perempuan dalam pembangunan pada hakekatnya adalah upaya untuk mengembangkan diri yang dapat dilihat pada bidangbidang yang memberi pengaruh luas disektor publik meliputi politik dan sektor pemerintahan. Dengan demikian akan terdapat persamaan status. saling menghargai. Partisipasi Perempuan dalam Bidang Legislatif. kedudukan. akan disajikan data tentang keterlibatan perempuan di Sulawesi Selatan pada sektor publik dalam bidang legislatif. Hambatan bagi partisipasi perempuan dalam kehidupan politik tidak boleh ditolerir. karena dapat menghambat pertumbuhan kesejahteraan keluarga dan masyarakat dan mempersulit perkembangan potensi perempuan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. 2 Tahun 2007 tentang Partai Politik dan UU No. UU No. hak kewajiban dan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan dalam menjalankan peran masing-masing. serasi. Yudikatif Hak untuk dipilih dan memilih berdasarkan persamaan hak merupakan perintah UU yang harus dipatuhi. kemandirian serta ketahanan mental dan spiritual menuju terwujudnya kemitrasejajaran perempuan dan laki-laki yang selaras. eksekutif dan yudikatif. 6.BAB VII.

bupati atau pemimpin partai. karena partai politik berubah pikiran dalam penetapan calon terpilih dari berdasar nomor urut ke berdasar suara terbanyak. Tetapi hal tersebut belum menjamin calon anggota legislatif dari kalangan perempuan akan benar terpilih. Sedangkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih menantang dianggap dunianya laki-laki seperti menjadi tentara. kehalusan perasaan.affirmative action dalam rangka meningkatkan peranan perempuan di bidang partai politik. Ditentukannya 30% pengurus partai politik di semua tingkatan harus diisi oleh perempuan dan 30% calon anggota legislatif juga diisi oleh perempuan dengan jaminan penempatan pada nomor urut kopiah atau dasi. sehingga peran mereka terutama mengasuh anak. Ketentuan UU tersebut diperlukan sebagai sarana perubahan sosio cultural menuju persamaan gender dalam kehidupan politik. Keterlibatan perempuan dalam dunia politik memberikan kecerahan bahwa kaum perempuan bisa menjadi ujung tombak dalam 108 . memasak. menjadi bidan/perawat. Dalam masyarakat tradisional semacam itu perempuan diberi peran untuk tugas-tugas yang perlu kesabaran. Secara bertahap sejak reformasi perubahan sosio cultural menuju persamaan peran laki-laki dan perempuan di dunia politik sudah mulai terjadi. Hukum sebagai sarana perubahan sosial diharapkan mampu mengubah pola peranan laki-laki dan perempuan dalam masyarakat yang masih diwarnai oleh ciri-ciri suatu masyarakat tradisional paternalistik. Artinya bila hal tersebut menjadi keputusan politik calon anggota legislatif dari kalangan kaum hawa harus lebih keras dalam mengumpulkan pemilih. cukup memberi peluang kepada peningkatan peranan perempuan secara kuantitatif.

Jumlah anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2009 dapat dilihat pada Tabel 7.advokasi upaya pengarusutamaan serta nilai-nilai kesetaraan gender dalam produk perundang-undangan maupun penciptaan perencanaan pembangunan yang berperspektif gender.1. Partisipasi perempuan dalam bidang legislatif dapat dilihat dari keanggotaan mereka dalam lembaga legislatif. 109 . dalam hal ini sebagai anggota DPR/DPRD.

00 13.06 7 4 7 4 7 13 4 6 3 5 9 4 6 1 4 3 3 5 1 0 7 3 21.86 91.67 82.14 100.00 8.57 76.00 16.00 28.43 80.13 90.93 88. 2010 110 .79 17.33 11.67 71.00 13.67 88.33 17.00 86.00 72.00 20.11 86.00 80.43 10.21 82.14 3.11 2.33 28.00 11.89 97.Tabel 7.00 88.88 10.89 13.1 Jumlah Anggota DPRD Tingkat Kab/Kota & Provinsi Periode 2004-2009 Berdasarkan Jenis Kelamin di Provinsi Sulawesi Selatan Kabupaten/ Kota Jumlah Anggota DPRD Laki-laki Jumlah Anggota DPRD % Perempuan Jumlah Anggot a DPRD % Total No .14 8.00 84.00 91.00 86. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 T o t al Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sinjai Maros Pangkep Barru Bone Soppeng Wajo Sidenreng Rappang Pinrang Enrekang Luwu Tana Toraja Luwu Utara Luwu Timur Kota Makassar Kota Parepare Kota Palopo 25 36 18 31 23 32 25 29 32 20 36 26 29 29 31 27 32 40 34 30 51 22 21 679 78.86 0.94 32 40 25 35 30 45 29 35 35 25 45 30 35 30 35 30 35 45 35 30 58 25 25 789 4 110 Sumber : Badan PP dan KB Provinsi Sulawesi Selatan.07 12.00 87.57 90.43 23.43 88.00 12.86 96.57 20.57 11.

2 Tahun 2007 tentang Partai Politik dan UU No.07 %). Dari data Tabel 7. yang memiliki jumlah anggota DPRD paling banyak adalah kota Makassar yaitu sebanyak 58 orang diantaranya laki-laki 51 orang (87.89 %). 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum memberikan dukungan untuk terlaksananya affirmative action dalam rangka meningkatkan peranan perempuan di bidang partai politik belum sepenuhnya dapat terlaksana.1 berikut: 111 . Jumlah yang sama juga di Kabupaten Bone yaitu sebanyak 45 orang dengan perbandingan laki-laki 36 orang (80 %) dan perempuan 9 orang (20 %). jika dianalisis berdasarkan jumlah anggota DPRD pada setiap kabupaten/kota terlihat bahwa dari 24 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan.1 juga terlihat bahwa dari seluruh kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan belum ada satupun kabupaten yang keberadaan anggota DPRD perempuan memenuhi quota 30 %. Kabupaten berikutnya yang memiliki jumlah anggota DPRD yang cukup banyak adalah Kabupaten Bulukumba yaitu sebanyak 40 orang dengan perbandingan laki-laki 36 orang (90 %) dan perempuan 4 orang (10 %).11 %) dan perempuan 13 orang (28.1. Hal ini menunjukkan bahwa aturan UU No.93 %) dan perempuan 7 orang (12. Selanjutnya kabupaten yang memiliki jumlah anggota DPRD yang banyak adalah Kabupaten Gowa sebanyak 45 orang dengan perbandingan laki-laki sebanyak 32 orang (71.Berdasarkan Tabel 7. Untuk melihat perbandingan persentase jumlah anggota DPRD Tingkat II Pemilu 2009 berdasarkan jenis kelamin di Provinsi Sulawesi Selatan dapat dilihat pada Diagram 7.

sehingga ke depan perlu dilakukan langkah-langkah strategis agar keterlibatan dan peran perempuan di ranah legislative dapat lebih ditingkatkan. Peran perempuan dibidang pemerintahan merupakan refleksi dari kualitas peran mereka dalam kepemimpinan partai politik dan dalam lembaga legislatif. Untuk meningkatkan kualitas peran perempuan. maka dapat kita simpulkan bahwa baik jumlah anggota DPRD baik di setiap kabupaten maupun di tingkat provinsi belum ada yang memenuhi quota 30%. Peran perempuan dalam kepemimpinan di bidang pemerintahan tidak jauh berbeda dari peran mereka dalam calon anggota legislatif. Jika kita amati data tersebut.Diagram 7. yang kuat dikalangan elit politik untuk secara sungguh-sungguh melaksanakan amanat UUD dan ketentuan undang-undang yang menjamin kedudukan antara laki-laki dan perempuan didepan hukum dan 112 . diperlukan komitmen.1 Persentase Anggota DPRD Tingkat II Provinsi Sulawesi Selatan Berdasarkan Jenis Kelamin di 2009 Jumlah Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2009 berjumlah 789 orang diantaranya laki-laki 679 orang (86.06 %) dan perempuan 110 orang (13.94 %).

Sementara itu kaum perempuan perlu mengkonsolidasikan potensinya. kapabilitas serta akseptabilitas untuk memainkan peranan lebih besar dalam kancah politik demi kesejahteraan seluruh rakyat. Urusan politik dalam negara demokratis adalah urusan laki-laki dalam negara demokratis adalah urusan laki-laki dan perempuan. non departemen. Pegawai Negeri Sipil yang dimaksud adalah semua pegawai yang bekerja pada departemen. Komposisi PNS Pemerintah pada tingkat provinsi dan kabupaten berdasarkan jenis kelamin di Provinsi Sulawesi Selatan pada Tahun 2010 disajikan pada Tabel 7. dinas. Partisipasi perempuan dan laki-laki dalam bidang eksekutif dapat dilihat dari jumlah mereka yang terlibat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). badan dan lembaga lainnya yang berada di bawah koordinasi pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. menggalang dukungan untuk meraih simpati dan secara sistematis menempa diri agar memiliki kapasitas. Laki-laki dan perempuan mempunyai hak dan tanggung jawab yang sama untuk membangun bangsanya.2 berikut : 113 .pemerintahan.

09 51.14 45.576 5.14 TOTAL 4.88 42.964 2.112 7.928 4.415 2.51 48.91 48.592 3.39 46.653 4.07 60.713 3.510 9.890 5.790 6.938 3.547 6.445 12. kecuali di Kabupaten Jeneponto dan Tana Toraja serta persentase PNS di 114 .396 2.093 3.798 3.161 4.44 48.467 2.77 52.366 5.86 PR 2.14%).713 5.94 51.305 3.311 5.574 5.550 2.735 3.351 5.49 51.024 2.13 50.307 5.729 6.534 2.277 9.61 46.65 45.412 4.02 53.609 % 54.082 4.453 7.93 39. Jumlah PNS Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Menurut Jenis Kelamin Tahun 2010 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Kabupaten Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sinjai Maros Pangkep Barru Bone Soppeng Wajo Sidrap Pinrang Enrekang Luwu Tana Toraja Luwu Utara Luwu Timur Makassar Pare-Pare Palopo Prov Sulawesi Selatan *) Jumlah Jenis Kelamin LK 2.24 56.422 93.109 3.83 55.23 53.87 49.767 3.817 2.81 56.2 terlihat bahwa dari 176.719 6.228 3.153 Sumber : BKN Provinsi Sulawesi Selatan 2010 Berdasarkan Tabel 7.12 57.39 53.77 46.079 6.184 3. Hampir pada setiap kabupaten persentase PNS perempuan lebih banyak dibanding laki-laki.56 51.650 4.191 176.544 % 45.939 2.031 9.609 orang (53.243 7.544 orang (46.45 45.98 46.Tabel 7.494 7.97 50.03 52.409 7.2.06 48.86%) adalah laki-laki dan perempuan 93.222 2.614 2.153 orang PNS pada tingkat kabupaten dan provinsi.998 3.76 43.36 51.48 57.455 4.55 54.19 43.421 8.177 2.381 4.176 3.389 10.52 42.23 47.03 49.942 4.199 4.06 44.677 7.17 44.97 47.238 2.817 3.46 46. diantaranya 82.990 15.501 3.86 54.35 54.61 53.009 4.454 3.834 1.727 3.769 82.94 55.54 53.323 3.64 48.

Pada golongan 115 . persentase PNS perempuan lebih besar yaitu mencapai 55 % sedangkan laki-laki 45 %. kecuali pada golongan I.2.2 Persentase PNS Menurut Jenis Kelamin dan Golongan di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2010 Gambaran tentang posisi PNS di Provinsi Sulawesi Selatan perempuan dan laki-laki bila ditinjau dari segi golongannya dapat di lihat pada Diagram 7.2 berikut : Diagram 7. Selanjutnya untuk mengetahui perbandingan pegawai laki-laki dan perempuan berdasarkan golongan dapat dilihat pada Diagram 7. Secara rinci dapat diuraikan bahwa pada golongan I laki-laki sebesar 78 % sedangkan perempuan 22 %. Hal ini dapat berarti bahwa perempuan telah diberi kesempatan yang luas dalam bidang eksekutif sehingga diharapkan dapat memberikan peran dalam pembangunan daerah. Dari diagram ini dapat diketahui bahwa secara umum proporsi PNS laki-laki yang berada pada golongan II. III dan IV lebih rendah persentasenya dibanding PNS perempuan.tingkat Provinsi Sulawesi Selatan. Pada golongan II dan III.

IV perempuan sebesar 52 % sedangkan 48 %. Untuk mengetahui secara lebih jelas perbandingan antara laki-laki dan perempuan menurut golongan pada setiap kabupaten dapat dilihat pada Lampiran 1. Adapun komposisi pegawai pada tingkat provinsi di Provinsi Sulawesi Selatan berdasarkan Tingkat Pendidikan dapat dilihat pada Diagram 7. Utamanya dalam kerangka Otonomi Daerah. diharapkan sumber daya manusia berkualitas ini mampu mendatangkan manfaat bagi daerahnya. Dari data-data ini menunjukkan bahwa di Provinsi Sulawesi Selatan ada pergeseran posisi perempuan yang lebih dominan dibanding laki-laki pada setiap golongan.3 berikut: 116 . Untuk peningkatan pembangunan khususnya di daerah diperlukan sumber daya manusia yang berkualitas baik dari segi moral maupun pendidikan sehingga mereka dapat menjadi motor penggerak pembangunan daerah. Hal lain yang perlu diperhatikan dari keberadaan pegawai adalah komposisinya berdasarkan tingkat pendidikan yang dimiliki.

Diagram 7.153 orang PNS di Provinsi Sulawesi Selatan. Pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi yaitu pada S2 dan S3. kemudian tingkat pendidikan SLTA sebanyak 56. jumlah pegawai terbanyak berpendidikan S1/DIV/ Akta IV/Akta V/Spesialis yaitu sebanyak 63.410 orang dan perempuan 27.158 orang dan perempuan 31. dari 176.590 orang.000 orang diantaranya laki-laki 28. kemudian tingkat pendidikan DI/DII/DIII/Sarjana Muda/Akademik sebanyak 45.092 orang diantaranya laki-laki 31.075 orang. jumlah lakilaki jauh lebih banyak dibanding perempuan.3 Jumlah PNS Menurut Jenis Kelamin dan Pendidikan di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2010 \Analisis lebih lanjut berdasarkan tingkat pendidikan.175 orang dan perempuan 31.233 orang diantaranya laki-laki 14.917 orang. 117 . Untuk mengetahui secara lebih jelas perbandingan antara laki-laki dan perempuan menurut pendidikan pada setiap kabupaten dapat dilihat pada Lampiran 2.

dapat dilihat dari keterlibatan mereka sebagai praktisi hukum yaitu sebagai hakim (negeri dan agama).Selain peran perempuan dalam bidang legislatif dan eksekutif. bidang lainnya yang perlu mendapat perhatian adalah yudikatif. 118 . kekerabatan atau persahabatan. kekayaan. kemiskinan. Partisipasi perempuan dalam bidang yudikatif dapat dilihat dari keterlibatan mereka dalam segi tugas dan tanggungjawab pekerjaannya. Pada Tabel 7. notaris dan advokat/pengacara dan anggota kepolisian. Dalam hal ini.3 disajikan data mengenai jumlah Jaksa yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan menurut jenis kelamin. warna kulit. Persamaan hak dalam bidang yudikatif merupakan salah satu manifestasi prinsip persamaan yang dituntut oleh keadilan yang dicanangkan pemerintah. kedudukan. hukum yang dilaksanakan atas semua orang tanpa mengistimewakan dan tanpa membedakan seorang individu atas lainnya karena jenis kelamin. jaksa.

3 Jumlah Pejabat Strutural Pada Kejaksaan Tinggi Di Kabupaten/Kota dan Provinsi Sulawesi Selatan NO.50 37.96 90.00 46.43 55.44 28.56 71.04 10.64 71.57 12.83 63.00 87.00 76.36 28.00 36.08 42.50 Jumlah 5 8 9 6 10 19 8 15 16 9 7 9 8 8 11 7 11 7 6 8 27 10 13 83 263 Sumber: Kejaksaaan Tinggi Sulawesi Selatan Berdasarkan Tabel 7.56 75.50 62.3 dapat diketahui bahwa jumlah jaksa sebanyak 257 orang diantaranya laki-laki 167 orang (63. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Kabupaten/Kota Kejari Selayar Kejari Bulukumba Kejari Bantaeng Kejari Jeneponto Kejari Takalar Kejari Sungguminasa Kejari Sinjai Kejari Maros Kejari Pangkep Kejari Barru Kejari Watampone Kejari Soppeng Kejari Sengkang Kejari Sidrap Kejari Pinrang Kejari Enrekang Kejari Belopa Kejari Makale Kejari Masamba Kejari Malili Kejari Makassar Kejari Pare-Pare Kejari Palopo Kejati Provinsi Sul-Sel Jumlah Jml 4 6 4 5 8 12 6 7 5 5 5 5 6 6 7 5 8 5 6 7 17 9 10 48 167 LK % 80.00 23.00 55.00 63.00 53.Tabel 7.00 44.27 28.44 25.43 100.57 44.44 83.00 25.50 %) dan 119 .16 75.73 71.67 31.25 55.75 44.33 68.67 20.57 27.00 25.00 36.00 75.33 80.56 16.00 63.43 72.00 75.50 Jml 1 2 5 1 2 7 2 8 11 4 2 4 2 2 4 2 3 2 1 10 1 3 35 96 PR % 20.84 25.17 36.92 57.

Polisi banyak memainkan peran untuk menciptakan kedamaian dan perlindungan hukum kepada masyarakat.perempuan 96 orang (36. Selain praktisi hukum.4. untuk menegakkan pelaksanaan hukum aparat keamanan dalam hal ini polisi juga memegang peranan penting.4 berikut disajikan data mengenai jumlah personil polisi menurut pangkat dan jenis kelamin di Provinsi Sulawesi Selatan pada Tahun 2010. Jumlah Personil Polisi Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2010 Sumber : Polda Sulawesi Selatan. Tabel 7. Hanya saja tidak didapatkan data tentang jumlah pengacara. 2010 120 . hakim dan notaris. Pada Tabel 7.50 %) yang tersebar pada 23 Kejari kabupaten/kota dan Kejati Provinsi Sulawesi Selatan.

Saat ini di Provinsi Sulawesi Selatan. trengginas mampu menangkap aspirasi rakyat dan paham lika-likunya politik. jumlah aparat kepolisian adalah sebanyak 14. Dalam daftar calon legislatif yang diserahkan kepada KPU.736 orang.2. Partisipasi Perempuan dalam Partai Politik dan Organisasi Sosial Kemasyarakatan Selain keterlibatan perempuan dalam keanggotaan di DPRD. karena tidak sedikit partai politik yang belum sempat menempa kader-kader srikandi yang mempunyai kemampuan untuk ditampilkan sebagai wakil rakyat yang cerdas. Karena secara fisik pekerjaan sebagai polisi dianggap sebagai pekerjaan berat. Karena langkanya kader perempuan yang dimiliki tidak jarang aroma nepotisme dalam rekrutmen calon anggota legislatif sulit dielakkan. bendahara atau peran-peran yang terkait dengan konsumsi. terdiri dari laki-laki sebanyak 14. Sedikitnya jumlah perempuan yang menjadi anggota polisi ini disebabkan karena masih kentalnya nilai-nilai budaya yang melekat pada pekerjaan polisi ini yang beranggapan bahwa hanya laki-laki yang paling tepat untuk pekerjaan tersebut. Soal kualitas calon perempuan masih menjadi tanda tanya. 6.04 %). dan kesenian. hal lain yang perlu dilihat adalah keterlibatan perempuan di setiap partai politik sebagai langkah awal dalam memasuki dunia politik. Untuk 121 .96 %) dan perempuan sebanyak 300 orang (2. sebagian partai politik berusaha memenuhi batas minimum kuota perempuan. Sejumlah partai politik memberi peran strategis kepada kaum perempuan dalam kepemimpinan partai politik. Tetapi lebih banyak yang memberi peran figuran untuk sekedar memenuhi formalitas yang ditentukan undang-undang perempuan lebih kurang ditempatkan pada posisi sekretaris.436 orang (97.

5.5 berikut: Tabel 7.mengetahui keberadaan perempuan dalam kepengurusan partai politik dapat dilihat pada tabel 7. Jumlah Pengurus Partai Politik Tingkat Provinsi Menurut Jenis Kelamin dalam Pemilu Legislatif Tahun 2009 122 .

Dari 38 partai politik yang ada hanya 12 partai politik yang melibatkan perempuan. 123 .4. perumusan kebijakan. Dari data tersebut terlihat pula bahwa masih banyak partai politik yang tidak melibatkan perempuan dalam kepengurusannya seperti partai.4 Persentase Pengurus Partai Politik Tingkat Provinsi Menurut Jenis Kelamin dalam Pemilu Legislatif Tahun 2009 Tabel 7. sehingga pada gilirannya kebijakan-kebijakan partai politik yang ada kurang berperspektif gender. dari 114 orang yang menjadi pengurus partai politik perempuan hanya 16 orang (14 %) saja sementara perempuan mencapai 98 orang (86 %).Diagram 7. seringkali aspirasi perempuan kurang diperhitungkan dalam menyusun kebijakan partai. dan perencanaan akan menjadi terbatas. menggambarkan keterlibatan perempuan pada kepengurusan partai politik di Provinsi Sulawesi Selatan. Kurangnya keterlibatan perempuan dalam partai politik dapat memberikan indikasi bahwa akses perempuan dalam pengambilan keputusan. Oleh karena itu.

Dengan demikian diharapkan setiap kebijakan yang dihasilkan oleh instansi yang mereka pimpin tidak bias gender.5 Jumlah dan Persentase PNS Kabupaten/Kota Dan Provinsi Sulawesi Selatan Menurut Jabatan Struktural (Eselon) dan Jenis Kelamin Kondisi Oktober 2010 Berdasarkan Diagram 7.3.5 berikut : Diagram 7. Untuk lebih jelasnya mengenai perbadingan PNS laki-laki dan perempuan di Provinsi Sulawesi Selatan berdasarkan eselon dapat dilihat pada Diagram 7.5 jika dijumlahkan antara PNS laki-laki dan perempuan berdasarkan Eselon dapat diketahui bahwa jumlah pegawai di Provinsi Sulawesi Selatan yang menjabat posisi eselon sebanyak 7.6.924 124 . Jumlah PNS menurut Eselonisasi Salah satu ukuran keterlibatan perempuan dalam sektor publik adalah banyaknya perempuan yang duduk dalam jabatan-jabatan publik. Hal ini sangat penting mengingat bahwa duduknya perempuan dalam jabatan/eselon memperlihatkan kontrol perempuan terhadap suatu bidang tertentu dari kebijakan dan program-program publik.

kemudian eselon III sebanyak 1.242 orang (28 %).309 orang diantaranya laki-laki 4. selain karena keinginan perempuan yang masih setengah-setengah juga karena masih seringnya kodrat perempuan digunakan alasan untuk tidak diikutsertakannya perempuan dalam kegiatan-kegiatan pendidikan tersebut. Untuk mengetahui secara lebih jelas perbandingan antara laki-laki dan perempuan menurut eselon pada setiap kabupaten dapat dilihat pada Lampiran 3. kecuali pada jabatan eselon terendah yaitu eselon V semua yang menjabat adalah perempuan. Pada tingkat eselon II sebanyak 256 orang diantaranya laki-laki 241 orang dan perempuan 3 orang.682 orang (72 %) dan perempuan 2. Terlihat bahwa pada setiap jabatan eselon jumlah laki-laki jauh lebih banyak dibanding perempuan. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa PNS terbanyak pada eselon IV sebanyak 6.987 orang . terutama pendidikan penjenjangan karir.117 orang dan perempuan 232 orang.orang diantaranya laki-laki 5.322 orang dan perempuan 1. Hal ini kemungkinan besar disebabkan oleh karena sedikitnya perempuan yang dianggap cakap untuk menduduki jabatan-jabatan yang bereselon tinggi karena tidak memadainya tingkat pendidikan mereka. 125 . Kurangnya perempuan yang memiliki tingkat pendidikan. baik pendidikan formal maupun pendidikan-pendidikan penjenjangan karir.349 orang diantaranya laki-laki 1. sementara pada posisi yang tertinggi yaitu eselon I berjumlah 2 orang yang kesemuanya adalah laki-laki.

126 .

seksual maupun fsikologis (United Nations Depertement of Public Relation 1986) Masalah kekerasan pada dasarnya erat kaitannya dengan kekuasaan. sebaliknya perempuan di pandang sebagai mahluk lemah. Dominasi pria terhadap wanita menunjukkan adanya kekuasaan pria untuk berbuat sesukanya terhadap wanita. termasuk ancaman. Pada umumnya laki-laki dianggap sebagai sosok yang lebih kuat. pemaksaan atau perampasan hakhak kebebasan. yang terjadi baik didalam rumah tangga atau keluarga (privat life). lebih aktif. sistem kepercayaan gender mengacu pada serangkaian kepercayaan dan pendapat tentang lakilaki dan perempan. dan umumnya tindakan kekerasan dilakukan oleh kaum laki-laki. sistem ini mencakup pengertian bagaimana sebenarnya laki-laki dan perempuan itu. maupun di dalam masyarakat (public life) yang mengakibatkan kesengsaraan atau penderitaan bagi wanita baik secara fisik. mempunyai dominasi dan otonomi.BAB VIII. suka mengalah dan pasif (belenggu patriarki). Jagger dan Rottenberg (2002). yaitu : 1. Secara historis perempuan merupakan kelompok pertama yang tertindas 127 . memberikan beberapa penjelasan mengenai penindasan terhadap perempuan. Hal ini juga di dukung oleh sistem kepercayaan gender yang berlaku dalam masyarakat. KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN Platform For Action and Beijing Declaration menyatakan bahwa kekerasan terhadap perempuan adalah segala bentuk tindakan kekerasan berdasarkan gender.

faktor social. sebagaimana disajikan pada table berikut. Penindasan terhadap perempuan terjadi dimana-mana dalam masyarakat Penindasan perempuan adalah bentuk penindasan yang paling sulit di lenyapkan dan tidak akan bisa dihilangkan melalui perubahanperubahan sosial lain. 128 . Perempuan sering di analisis dalam hubungannya dengan kedudukan atau juga dengan kekuasaan yang ada dalam masyarakat. yaitu fungsi mereka dalam keluarga. diantaranya faktor budaya. berbagai tindak kekerasan telah di alami oleh perempuan dari waktu-kewaktu. dan faktor ekonomi. banyak faktor-faktor yang melatar belakangi timbulnya tindak kekerasan terhadap perempuan. perempuan secara konstitusional bersifat inferiror. 3. Kekerasan terhadap perempuan merupakan fenomena sosial yang telah berlangsung lama dari masyarakat yang masih primitive sampai pada masyarakat modern sekarang ini.2. dimana mereka cenderung sedikit memperoleh pengakuan kedudukan didalam keluarga maupun dalam masyarakat yang luas. seperti penghapusan kelas masyarakat 4. Penindasan terhadap perempuan menyebabkan penderitaan yang paling berat bagi korban-korbannya. meskipunpenderitaan ini berlangsung tanpa di ketahui oleh orang lain. Kekerasan terhadap perempuan. tidak hanya terjadi pada kelompok usia dewasa tetapi juga pada kelompok usia anak-anak dan lanjut usia. Menurut Aguste Comte.

Sulsel 120 810 930 137 613 750 129 .1.Tabel 8. Rekapitulasi Data Korban Tindak Kekerasan (Ktk) Anak Berdasarkan Jenis Kelamin Di Propinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009-2010 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 PROPINSI SUL-SEL ANAK KORBAN TINDAK KEKERASAN (KTK) P 21 25 45 38 32 71 51 22 35 24 42 44 46 23 43 48 39 32 29 35 39 11 15 JUMLAH 27 28 56 41 39 82 57 27 44 31 47 49 57 23 45 54 46 37 32 38 39 13 18 L 4 2 15 7 9 6 8 2 6 4 7 1 15 1 5 3 9 2 7 5 5 5 9 ANAK P 15 28 36 26 12 71 51 30 17 18 22 19 19 15 29 33 28 25 22 26 25 19 27 JUMLAH 19 30 51 33 21 77 59 32 23 22 29 20 34 16 34 36 37 27 29 31 30 24 26 MAKASSAR GOWA PARE-PARE BANTAENG SOPPENG TANA TORAJA PALOPO MAROS BARRU SIDRAP PINRANG WAJO BONE ENREKANG LUWU LUWU UTARA TAKALAR JENEPONTO BULUKUMBA SINJAI SELAYAR PANGKEP LUWU TIMUR JUMLAH L 6 3 11 3 7 11 6 5 9 7 5 5 11 0 2 6 7 5 3 3 0 2 3 Sumber Data : Dinsos Prov.

dan Luwu Timur. Pangkep.2. Palopo. Jumlah kasus kekerasan pada anak perempuan dari tahun 2009 sampai 2010 berjumlah 1.4 : 1. nampak bahwa kekerasan yang terjadi di tahun 2009 dan 2010 pada anak-anak perempuan jauh lebih banyak jumlahnya dibandingkan dengan kekerasan yang menimpa pada anak laki-laki yaitu 8.5.423 kasus.21 TERSANGKA 7 LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI Perempuan LAKI-LAKI Perempuan LAKI-LAKI PELAKU 8 15 Thn 19 Thn 27 Thn 40 Thn 43 Thn 33 Thn 45 Thn 50 Thn - 130 . Secara umum ada kecenderungan penurunan jumlah kasus. dan terrendah di kabupaten Pangkep (tahun 2009) dan Soppeng (tahun 2010). namun di beberapa kabupaten/kota menunjukkan kecenderungan naik atau tetap yaitu di kabupaten Gowa.21 Sidik Sidik Proses Proses P. Apabila dilihat berdasarkan kabupaten. Data tersebut diatas. Maros. maka tindak kekerasan terhadap anak-anak perempuan yang tertinggi di kabupaten Tana Toraja yakni 71 kasus. Data Keseluruhan Kasus Yang Melibatkan Pelaku/Korban Anak Periode Tahun 2009 NO 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 JENIS KASUS 2 Pemerkosaan Pemerkosaan Traficking Pelecehan Seksual UMUR KORBAN 3 14 Thn 13 Thn 15 Thn 16 Thn 16 Thn 13 Thn 3 Thn 13 Thn 15 Thn 14 Thn LAKILAKI 4       √  √  PEREM PUAN 5 √ √ √ √ √ √  √  √ STATUS KASUS 6 P. Tana Toraja. Tabel 8. dikuatkan dengan banyaknya jumlah kasus yang dilaporkan di Polda Sulselbar sebagaimana table berikut.Berdasarkan table diatas.21 Sidik P.

Kecenderungan kasus meningkat pada tahun 2010 yaitu sebanyak 32 kasus dari 34 kasus atau 94%.21 Sidik P.21 P. 131 .21 Dalam Lidik P.21 Sidik Lidik Lidik Sidik Cabut Laporan ABH ABH ABH ABH Dalam Lidik ABH ABH Dalam Proses Proses Proses STM STM LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI Perempuan LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI Perempuan LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI Perempuan LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI Perempuan LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI 50 Thn 19 Thn 20 Thn 33 Thn 21 Thn 15 Thn 17 Thn 40 Thn 17 Thn 20 Thn 17 Thn 21 Thn 35 Thn 17 Thn 17 Thn 35 Thn 30 Thn 23 Thn 25 Thn 18 Thn 19 Thn 17 Thn 15 Thn 50 Thn Data kekerasan terhadap anak perempuan yang dilaporkan pada tahun 2009 sebanyak 26 kasus dari 36 kasus atau 72% dari jumlah keseluruhan.11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 Perbuatan cabul Pemerkosaan Penganiayaan Pemerkosaan Pemerkosaan Pernografi Penganiayaan - 6 Thn 16 Thn 17 Thn 14 Thn 17 Thn 15 Thn 10 Thn 17 Thn 15 Thn 16 Thn 7 Thn 16 Thn 15 Thn 16 tHN 17 Thn 17 Thn 11 Thn 14 Thn 60 Thn 16 Thn 37 Thn 16 Thn      √          √    √      √ √ √ √ √  √ √ √ √ √ √ √ √ √ √  √ √ √  √ √ √ √ √ Sidik Sidik P.21 P. korbannya anak perempuan.

3. Data Keseluruhan Kasus Yang Melibatkan Pelaku/Korban Anak Periode Tahun 2010 NO 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 Pencabulan Pencabulan JENIS KASUS 2 UMUR KORBAN 3 19 Thn 13 Thn 15 Thn 13 Thn 17 Thn 16 Thn 16 Thn 17 Thn 16 Thn 15 Thn 14 Thn 16 Thn 13 Thn 17 Thn 17 Thn 19 Thn 14 Thn 4 Thn 18 Thn LAKILAKI 4      √                   PEREM PUAN 5 √ √ √ √ √  √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ STATUS KASUS 6 Sidik Tidak cukup bukti P.19 Tahap I Dalam Lidik Damai Proses Tahap I Proses P.18/P.Tabel 8.21 Bekar Proses Limpah Diversi Proses Sidik TERSANGKA 7 LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI Dalam LAKI-LAKI Perempuan LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI Dalam Lidik Dalam Lidik LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI Dalam Lidik LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI PELAKU 8 30 Thn 42 Thn 40 Thn 18 Thn 16 Thn 20 Thn 22 Thn 15 Thn 35 Thn 17 Thn 20 Thn 20 Thn 20 Thn 17 Thn 23 Thn 24 Thn 15 Thn 40 Thn 26 Thn 132 .21 Diversi Cabut Dalam Lidik Lidik Sidik Proses Sidik Cabut Proses P.

133 .21 Cabut Sidik LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI Dalam Lidik LAKI-LAKI Perempuan LAKI-LAKI 56 Thn 16 Thn 16 Thn 20 Thn 17 Thn 16 Thn Sumber data : Polda Sulselbar Kekerasan yang terjadi pada perempuan usia dewasa dan lansia pada tahun 2009 dan 2010 juga menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Untuk kekerasan yang terjadi pada perempuan lanjut usia mencapai 293 kasus pada kurun waktu tahun 2009 dan 2010 atau 69 % dari total kasus (lihat table dibawah). Sulsel.21 Sidik Sidik Proses P. jumlah kekerasan pada perempuan dewasa mencapai 980 kasus (tahun 2009) dan 991 kasus (tahun 2010) atau 89% dari total kasus kekerasan yang terdata.28 29 30 31 32 33 34 Pemerkosaan Pemerkosaan - 17 Thn 15 Thn 17 Thn 9 Thn 13 Thn 15 Thn 14 Thn      √  √ √ √ √ √  √ P. Berdasarkan data dari Dinas Sosial Prov.

123 JUM LAH L 2 3 0 6 5 10 3 2 0 0 2 6 6 0 4 3 0 3 0 1 2 0 0 58 KORBAN TINDAK KEKERASAN (KTK) LANJUT USIA TH 2009 P 7 4 1 3 9 21 11 0 3 4 5 3 7 4 8 9 5 6 4 2 7 3 4 130 9 7 1 9 14 31 14 2 3 4 7 9 13 4 12 12 5 9 4 3 9 3 4 188 JUM LAH TH 2010 L 1 5 1 8 0 6 5 7 1 2 4 1 4 4 2 2 3 4 2 3 3 4 1 73 P 4 3 5 4 9 19 11 0 5 4 8 9 9 5 8 11 8 7 9 6 5 6 8 163 JUM LAH 5 8 6 12 9 25 16 7 6 6 12 10 13 9 10 13 11 11 11 9 8 10 9 236 Sumber Data : Dinsos Prov. Rekapitulasi Data Korban Tindak Kekerasan (KTK Berdasarkan Jenis Kelamin di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009-2010 NO PROPINSI SUL-SEL L 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 MAKASSAR GOWA PARE-PARE BANTAENG SOPPENG TANA TORAJA PALOPO MAROS BARRU SIDRAP PINRANG WAJO BONE ENREKANG LUWU LUWU UTARA TAKALAR JENEPONTO BULUKUMBA SINJAI SELAYAR PANGKEP LUWU TIMUR JUMLAH 5 5 3 15 12 15 21 2 5 0 0 7 4 6 2 2 1 3 0 2 1 2 1 114 KORBAN TINDAK KEKERASAN (KTK) DEWASA TH 2009 P 41 34 40 55 62 70 31 36 39 38 50 53 80 24 56 42 41 51 37 44 28 15 13 980 46 39 43 70 74 85 52 38 44 38 50 60 84 30 58 44 42 54 37 46 29 17 14 1094 JUM LAH L 13 3 7 9 3 18 6 4 8 3 7 4 8 3 5 3 6 2 3 5 2 4 6 132 TH 2010 P 55 38 29 49 66 49 44 38 28 44 51 60 72 28 42 49 42 48 49 36 36 23 15 991 68 41 36 58 69 67 50 42 36 47 58 64 80 31 47 52 48 50 52 41 38 27 21 1.Tabel 8. Sulsel 134 .4.

menunjukkan bahwa jumlah kekerasan pada perempuan pada tahun 2009 mencapai angka 1920 kasus dari 2212 kasus atau 87%. tidak dapat di selesaikan hanya melalui pendekatan sosial. menjadikan masyarakat yang terintegrasi dengan sempurna. pada saat salah satu subsistem tidak berfungsi dengan baik maka akan mengakibatkan kerusakan semua sistem. maka sudah menjadi keharusan bahwa setiap bagian dalam masyarakat harus berperan aktif demi terciptanya lingkungan yang adil. dalam hal ini suatu permasalan sosial. berdasarkan data dari Dinas Sosial. Kekerasan terhadap perempuan sebagai suatu ancaman global terhadap kemanusian. mengharuskan kita untuk mengatasi. tentram. dan untuk tahun 2010 mencapai 1767 kasus dari 2109 kasus atau 84 %. karena semua unsur berpengaruh dalam hal itu.Secara keseluruhan. karena masyarakat merupakan suatu sistem. dan telah menjadi isu gender yang cukup sentral. 135 . damai. dan meminimalisir tindak kekerasan terhadap perempuan. Banyak faktor yang harus di perhatikan dalam usaha untuk menyelesaikan persoalan sosial dalam masyarakat.

136 .

25 Tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil tidak mensyaratkan adanya kewajiban untuk melampirkan akta nikah/buku nikah orangtua anak dalam proses perolehan akta lahir bagi anak. hingga administrasi perolehan passport. seperti: pengurusan pendaftaran sekolah. Hal ini juga dapat dikaitkan dengan kewarganegaraan seseorang. Jika anak 137 . MASALAH ANAK 9. Perpres No.Kepemilikan Akte Kelahiran Akta kelahiran menjadi dokumen yang sangat penting bagi warga negara Republik Indonesia.1.BAB IX.23 Tahun 2002 juga UU No. maka acapkali pihak pencatat akta kelahiran atau pihak yang berwenang mensyaratkan adanya buku atau akta nikah dari orang tua yang hendak mencatatkan peristiwa kelahiran. dokumen akta kealhiran tersebut menjadi dokumen hukum bahwa seseorang memang dilahirkan dari seorang warga Negara Indonesia baik di dalam maupun di luar wilayah jurisdiksi Indonesia. antara lain bahwa dalam memperoleh sebuah akta kelahiran. karena ia dilahirkan oleh seorang ayah dan/atau ibu yang berkewarganegaraan Indonesia. Perihal akta kelahiran menjadi penting untuk dikaji setidaknya disebabkan oleh beberapa hal. Pasal 27 UU No. dimana seseorang ketika tidak memiliki dokumen berupa akta kelahiran akan cukup sulit dalam melakukan proses-proses administasi selanjutnya.23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan jo. Dalam kehidupan lebih lanjut bahwa kepemilikan akta kelahiran berdampak cukup luas. administrasi pendaftaran pekerjaan.

dilahirkan dari sepasang suami-isteri yang tidak dicatatkan perkawinannya. maka anak tersebut tetap mendapatkan haknya untuk memperoleh akta kelahiran cukup dengan keterangan dari orang yang menemukan si anak dan dilengkapi oleh berita acara pemeriksaan dari kepolisian. pembuatan akta kelahiran 138 . Bidan atau dokter yang membantu proses kelahiran si anak cukup memberikan surat keterangan mengenai proses kelahiran tersebut dan itu digunakan untuk mengurus keperluan pembuatan akta kelahiran. Bahkan jika tidak diketahui siapa orangtuanya. Pada sisi lain jika si Ayah tidak diketahui keberadaannya. maka berdasarkan ketentuan Pasal 52 Perpres No. maka akta tersebut hanya menyatakan hubungan hukum dengan pihak Ibu saja. maka surat tersebut akan menyatakan bahwa anak tersebut dilahirkan dari psangan bapak A dan ibu B. dan orangtuanya tidak diketahui keberadaannya.25 Tahun 2008. Pihak yang mengetahui terjadinya perkawinan serta kelahiran dihadirkan menjadi saksi dalam proses pencatatan oleh pihak orangtua anak. Tidak wajibnya melampirkan akta/buku nikah dalam hal memperoleh akta kelahiran bagi anak dikuatkan pula oleh Pasal 27 UU No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak: (1) Identitas seorang diri setiap anak harus diberikan sejak kelahirannya (2) Identitas sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dituangkan dalam akta kelahiran (3) Pembuatan akta kelahiran didasarkan pada keterangan dari orang yang menyaksikan dan/atau membantu proses kelahiran (4) Dalam hal anak yang proses kelahirannya tidak diketahui.

411 5.76 25 42.732 18.83 52 35.13 63.064 11. Maros 09.907 7.944 9.854 5.785 23.044 3.592 5.246 17.911 116.77 23.752 785 1. Jeneponto 05. Sidenreng Rappang 15.4 Tahun / Population 0 .45 39.24 24.untuk anak tersebut didasarkan pada keterangan orang yang menemukan Data kepemilikan akte kelahiran anak usia 0-4 tahun di Sulawesi Selatan sebagaimana table berikut.22 53.150 3. Soppeng 13.086 12.262 1.16 43.8 13.492 2.241 423 1. Pare-Pare 73.901 127.846 14.024 20.208 9. Sensus Penduduk 2010 139 .474 3.5 29.740 17.762 1.544 57.6 20. Tana Toraja 22. Luwu Timur 71.438 5.252 34.474 1.33 23.177 702 704 405 25.678 22.657 10.78 27.918 4.555 2.29 84.626 4.900 2.4 Years Memiliki Akte Kelahiran / Have Birth Certificate Banyakn ya / Prose Number ntase Province/District 00.86 34.4 Tahun / Population 0 . Bulukumba 03.688 6.44 5. Bone 12. Penduduk 0-4 Tahun yang Memiliki Akte Kelahiran menurut Kabupaten/Kota.13 37.89 22.986 6.96 Sumber data : BPS. Bantaeng 04.11 506.201 26.71 31.55 17.92 38.72 72.4 29.371 2. Sulawesi Selatan 01.935 1.808 34.1.17 75.572 41.4 Years Memiliki Akte Kelahiran / Have Birth Certificate Banyakn ya / Prose Number ntase Perdesaan Penduduk 0 .27 65.059 4.4 10.706 690 2. Tabel 9.931 21.014 2.413 12.210 5.961 6.001 3.610 4.888 25.625 115.974 1.18 42.897 600 3.2 35.41 51.968 6. Palopo 240.452 6.67 34. Wajo 14.833 3.473 1.808 1.24 19.428 4.28 11.825 3.098 58.38 27.58 36.634 4.756 2.315 17. Pinrang 16. Gowa 07.36 49.583 28.119 4.433 7. Sulawesi Selatan Perkotaan Propinsi/Kabupaten Penduduk 0 . Pangkajene Kepulauan 10.784 5.294 4.3 14. Luwu 18.759 6. Enrekang 17.388 18.425 8.249 2.190 2.287 48. Sinjai 08.297 37.193 10.00 39. Makasar 72.48 46.366 1.538 5.414 1.645 2. Selayar 02.478 21.23 29.23 46. Luwu Utara 25.300 8.286 14.16 49. Takalar 06.32 58.18 20.494 4.067 2. Barru 11.35 19.407 1.

pasar-pasar tradisional. utamanya di wilayah perdesaannya. tidak ada data mengenai pekerja/buruh anak yang tercatat di Dinas Tenaga Kerja. nelayan (penangkap ikan dan pembudi daya rumput laut). pemulung. pencuci kapal. Namun penelitian LPA Sulawesi Selatan tahun 2008. Adapun persentase kepemilikan tertinggi di kabupaten Enrekang. menemukan anakanak bekerja di sektor formal dan informal. dan kepedulian pemerintah setempat dalam mewujudkan hak anak. dan penjual ikan. antara lain di KIMA dan pabrikpabrik lain di daerah. sektor perkebunan (kebun kelapa sawit. 9. Di TPAS Tamangapa terdapat 380 anak 140 . kepemilikan akte terrendah di kabupaten Jeneponto.71%. pasar ikan. baik Provinsi maupun Kabupaten/Kota. terdapat 117 anak umur 8-15 tahun yang aktif bekerja sebagai tukang bongkar dan pengangkut ikan.24 %. Pekerja Anak Hingga saat ini. pengangkut air. berkisar setengahnya dari persentase kepemilikan di perkotaan. dapat diketahui bahwa persentase kepemilikan akte kelahiran di Sulawesi Selatan baru mencapai 73.Berdasarkan data diatas. utamanya di wilayah perkotaan yakni 84. tebu). tukang becak. Hal ini terkait erat dengan pengetahuan masyarakat. Anak-anak juga ditemukan di sektor kontruksi/bangunan. Berdasarkan kab/kota. Di Pelabuhan Paotere.6%. pertanian (sawah). cokelat. yang hanya mencapai 5.2. jangkauan layanan petugas catatan sipil. Ersentase kepemilikan di perdesaan masih sangat rendah.

jadwal belajar yang tidak sesuai dengan kegiatan anak. suasana belajar yang tidak cocok untuk anak. Angka pasti sulit dihitung. Kekerasan pada anak juga sering kali dihubungkan dengan lapis pertama dan kedua pemberi atau penanggung jawab pemenuhan hak anak yaitu orang tua (ayah dan ibu) dan keluarga. Tingkat kerawanan putus sekolah dililihat dari : anak sering bolos ke sekolah. kekerasan pada anak adalah tindakan yang di lakukan seseorang /individu pada mereka yang belum genap berusia 18 tahun yang menyebabkan kondisi fisik dan atau mentalnya terganggu. 47 % yang masih di bangku sekolah pun rawan putus sekolah. namun angka yang diperoleh adalah mengenai pendidikan anak-anak yang bekerja. Kekerasan yang disebut terakhir ini di kenal dengan perlakuan salah terhadap anak atau child abuse 141 . Oleh karena itu. mencapai 70 %. Anak-anak yang bekerja 53 % putus sekolah. Kekerasan Terhadap Anak Secara umum kekerasan didefinisikan sebagai suatu tindakan yang dilakukan satu individu terhadap individu lain yang mengakibatkan gangguan fisik dan atau mental. sekitar 63 % (239 anak) merupakan pemulung aktif.(umur 5-17) tahun yang memulung. Seringkali istilah kekerasan pada anak ini dikaitkan dalam arti sempit dengan tidak terpenuhinya hak anak untuk mendapat perlindungan dari tindak kekerasan dan eksploitasi. 9. tidak ada perhatian orang tua.3. Yang dimaksud dengan anak ialah individu yang belum mencapai usia 18 tahun.

guru. 142 . serta kekerasan fisik. berupa perkosaan. Pelaku kekerasan di sini karena bertindak sebagai caretaker. teman. seksual. kakek. dan pacar. maupun emosi. maka mereka umumnya merupakan orang terdekat di sekitar anak. Demikian juga. Ibu dan bapak kandung. paman.yang merupakan bagian dari kekerasan dalam rumah tangga (domestic violence). nenek. dan seterusnya. pencabulan. Menurut Indra Sugiarno Kekerasan pada anak atau perlakuan salah pada anak adalah suatu tindakan semena-mena yang dilakukan oleh seseorang seharusnya menjaga dan melindungi anak (caretaker) pada seorang anak baik secara fisik. guru. supir pribadi. Kekerasan masih mendominasi laporan yang masuk ke Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Sulawesi Selatan. tetangga.2). tukang kebon. dengan pelaku utama adalah orang-orang terdekat (Tabel 9. dan pelecehan. seperti orang tua/keluarga. kekerasan terhadap anak masih mendominasi pemberitaan di Media Massa yang terbit di Kota Makassar. didominasi oleh kasus kekerasan seksual. Kasus kekerasan yang dilaporkan ke LPA Sulawesi Selatan maupun yang diberitakan oleh media massa. tukang ojek pengantar ke sekolah. ibu dan bapak tiri.

Tabel 9.2. Data Kekerasan Anak Di Sulawesi Selatan (2002-2010)
Variabel 200 2 200 3 200 4 200 5 200 6 200 7 200 8 200 9 2010* )

Kekerasa n seksual Kekerasa n fisik Lain-lain*) Total

70 69 60 199

82 77 49 208

92 88 94 274

99 92 90 281

98 96 99 293

99 103 105 307

132 124 92 348

77 110 68 255

82 59 30 171

Keterangan : Kekerasan seksual (pencabulan, pelecehan, perkosaan) Kekerasan fisik (di sekolah, rumah, jalan, dll) Tahun 2008, data juga diperoleh dari beberapa Polres di Sulawesi Selatan Lain-lain : kekerasan non-fisik, penelantaran, eksploitasi, penculikan, penipuan, dan pemalakan. *) Sampai Oktober 2010

Hanya 18 %, pelaku kekerasan adalah orang tidak mempunyai hubungan dengan korban. Artinya sebanyak 82 %, pelaku kekerasan terhadap anak adalah orang-orang dekat dengan korban. Yang perlu mendapat perhatian dari tabel di atas adalah meningkatnya kasus kekerasan seksual di Sulawesi Selatan. Tahun 2010, sampai bulan Oktober terdapat 82 kasus kekerasan seksual. Di samping itu, meningkatnya kasus inses (hubungan seksual dalam lingkungan keluarga) dan bentuk perkosaan terhadap anak. Sepanjang tahun 2010, terdapat 8 143

kasus inses di Sulawesi Selatan dengan korban anak dan pelaku adalah ayah kandung, paman, dan kakek. Sementara angka kekerasan fisik pada tahun 2010, mengalami penurunan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kekerasan fisik terhadap anak masih seputaran di sekolah dan di rumah tangga. Angka kekerasan fisik yang mengalami penurunan menunjukkan kesadaran di tingkat masyarakat. Berdasarkan data Dinas Sosial, untuk tahun 2009 - 2010 tercatat tindak kekerasan pada anak sebagaimana tabel berikut. Jumlah anak korban tindak kekerasan menurun dari tahun 2009 ke tahun 2010, namun bila dicermati maka akan nampak bahwa terjadi peningkatan kasus pada anak laki-laki dari 120 menjadi 137. Jumlah inipun hanya kasus-kasus yang terlaporkan. Kasus kekerasan pada anak seringkali tidak dilaporkan, karena pemahaman masyarakat yang relatif rendah, yang berpendapat bahwa mereka tidak berkepentingan terhadap anak-anak diluar keluarga mereka dan juga faktor budaya malu dan tersinggung jika kasusnya dilaporkan.

144

Tabel 9.3. Rekapitulasi Data Korban Tindak Kekerasan (KTK) Anak Berdasarkan Jenis Kelamin Di Propinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009-2010
PROVINSI SULSEL MAKASSAR GOWA PARE PARE BANTAENG SOPPENG TANA TORAJA PALOPO MAROS BARRU SIDRAP PINRANG WAJO BONE ENREKANG LUWU LUWU UTARA TAKALAR JENEPONTO BULUKUMBA SINJAI SELAYAR PANGKEP LUWU TIMUR JUMLAH KORBAN TINDAK KEKERASAN (KTK) Tahun 2009 ANAK JUMLAH L P 6 3 11 3 7 11 6 5 9 7 5 5 11 0 2 6 7 5 3 3 0 2 3 120 21 25 45 38 32 71 51 22 35 24 42 44 46 23 43 48 39 32 29 35 39 11 15 810 27 28 56 41 39 82 57 27 44 31 47 49 57 23 45 54 46 37 32 38 39 13 18 930 KORBAN TINDAK KEKERASAN (KTK) Tahun 2010 ANAK JUMLAH L P 4 2 15 7 9 6 8 2 6 4 7 1 15 1 5 3 9 2 7 5 5 5 9 137 15 28 36 26 12 71 51 30 17 18 22 19 19 15 29 33 28 25 22 26 25 19 27 613 19 30 51 33 21 77 59 32 23 22 29 20 34 16 34 36 37 27 29 31 30 24 26 750

Sumber Data : Dinsos Prov. Sulsel

145

146 .

Kesimpulan Dalam rangka memperoleh efek pengganda. PENUTUP 10. sehingga kesetaraan dan keadilan gender dimasa mendatang dapat lebih optimal. oleh karena itu pengkajian kebijakan 147 . diselenggarakan melalui pengarusutamaan gender dalam setiap proses dan tahapan perencanaan pembangunan daerah di rasakan belum sempurna.BAB X. dan praktek-praktek terbaik dapat terwujud serta diharapkan tercipta kemampuan masyarakat untuk menyeleksi informasi. advokasi. strategi pemberdayaan perempuan akan menjadi salah satu instrumen yang penting dalam penyelenggaraan pemerintahan. agar tercipta rasa saling percaya serta menjaga kesenjangan informasi yang dapat menimbulkan disintegrasi bangsa. Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dalam kaitan statistik gender bertujuan untuk mengidentifikasi jenis data dan informasi yang diperlukan sebagai bahan penentuan kebijakan masalah sosial. Peningkatan kualitas hidup perempuan diharapkan menjadi bagian dari keluarga yang merupakan basis utama terbentuknya generasi sekarang dan masa yang akan datang. sekaligus untuk membangun jaringan system informasi yang diperlukan antara lain meningkatkan fungsi koordinasi yang terpadu dalam penyediaan informasi yang benar dan bertanggung jawab serta mendorong peningkatan kualitas pelayanan data dan informasi pembangunan melalui multi media agar proses sosialisasi. baik pembangunan nasional dan daerah maupun antara daerah dan sektor serta mancanegara sebagai alat perjuangan untuk kepentingan nasional.1.

Rekomendasi Statistik Gender merupakan kegiatan dari fungsi management yang saling terkait dan tidak dapat dipisahkan dari perencanaan. mulai tahap perencanaan (ex-ante evaluation. pelaksanaan. dan Monev. Dengan demikian program di bawah ini merupakan rekomendasi untuk lebih memperkuat peran masyarakat dan kelembagaan dalam pembangunan pemberdayaan perempuan. 1). Kesemuanya saling melengkapi dan masingmasing memberi umpan balik artinya perencanaan yang telah disusun dengan baik. tahap pelaksanaan (on-going evaluation) dan saat program/kegiatan evaluation). untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan yakni . tidak ada artinya jika tidak dapat dilaksanakan. Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan Tujuan program ini adalah untuk meningkatkan kedudukan dan peran perempuan sebagai mahluk individu yang merupakan insan dan sumberdaya pembangunan.pembangunan diperlukan dalam rangka mencari alternative-alternative kebijakan yang efektif. sebagai bagian dari keluarga yang merupakan basis terbentuknya generasi sekarang dan masa mendatang. Demikian juga sebaliknya setiap pelaksanaan tidak akan berjalan lancar jika tidak didasarkan kepada perencanaan yang baik. 10. terutama memperkuat dan mendorong kemandirian lembaga-lembaga yang memiliki visi yang sama terhadap pemberdayaan perempuan.2. Untuk itu evaluasi menjadi penting. selesai (ex-post 148 .

termasuk bidang-bidang kejuruan. c). e). dan masyarakat. dan pengelolaan pendidikan. melalui berbagai media. dan membenahi materi bahan ajar. b). program ini secara khusus untuk meningkatkan partisipasi perempuan dalam pendidikan. dan f). Pengembangan metoda dan pendekatan pembelajaran baik intra maupun ekstra kurikuler yang lebih berwawasan jender.Peningkatan peran aktif perempuan dalam seluruh proses perencanaan. dan evaluasi dari seluruh kebijakan dan program pembangunan pendidikan. guru. Kegiatan-kegiatan pokok yang akan dipersiapkan adalah: a). 149 . Penurunan angka buta huruf. serta pengembangan mata pelajaran atau mata kuliah yang berkaitan dengan jender pada lembaga-lembaga penataran guru dan pendidikan penjenjangan. dan pendidikan yang selama ini lebih dianggap cocok untuk laki-laki. Evaluasi dan penataan materi bahan ajar agar lebih peka gender di seluruh jenjang dan jenis pendidikan. Sosialisasi kesetaraan dan keadilan jender dalam pendidikan.Di bertujuan bidang pendidikan. tetap dapat berpartisipasi dalam pendidikan. dan peningkatan partisipasi perempuan pada semua jenis dan jenjang pendidikan. baik perempuan maupun laki-laki. dalam situasi konflik. program pendidikan harus dilakukan dengan menggunakan pendekatan khusus yang memungkinkan penduduk usia sekolah. d). Pada daerah-daerah terpencil. kepala sekolah. dan darurat. keahlian. pengawasan. pelaksanaan. proses pembelajaran. terutama bagi para perencana dan pengambil keputusan—termasuk orang tua. baik di lingkungan pendidikan sekolah maupun luar sekolah.

i). Penegakan Hukum dan Hak Azasi Manusia bagi Perempuan . seperti bantuan hukum. terutama dalam penyelesaian masalah-masalah khusus perempuan. terutama perempuan untuk memperoleh informasi dan sumberdaya hukum. lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan organisasi perempuan dalam rangka penegakan hukum. k) Penciptaan sistem perlindungan dan 150 . pelaksanaan. Ratifikasi Konvensi PBB tentang Larangan Perdagangan Perempuan dan Anak. dana. Sosialisasi "budaya damai" agar perempuan terhindar dari berbagai bentuk kekerasan. dan evaluasi kebijakan dan program pembangunan hukum dan HAM. bantuan pendampingan dan pemulihan/kompensasi bagi korban. Peningkatan akses masyarakat. Perbaikan sistem dan perangkat hukum yang dapat menunjang penegakan hak azasi perempuan antara lain melalui pemberian hukuman semaksimal mungkin bagi para pelaku kejahatan serta memberikan pelayanan dan kompensasi bagi para korban kejahatan. serta menegakkan hak azasi manusia (HAM) yang merugikan perempuan yakni . Tujuan program ini adalah untuk mendukung terciptanya sistem hukum nasional yang tidak diskriminatif dan berkeadilan gender.Penciptaan sistem perlindungan bagi perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga dan tempat kerja. d). pengawasan. Peningkatan peran aktif perempuan dalam proses perencanaan. penciptaan sistem komunikasi dan kerjasama antara institusi penegak hukum dengan organisasi masyarakat. h). a). e). Pembuatan UU dan peraturan-peraturan yang diperlukan dalam upaya menegakkan hak-hak perempuan. j). struktur maupun budaya hukumnya. f).2. g). Perumusan dan penerapan kebijakan dan tindakan khusus bagi upaya promosi aparat penegak hukum perempuan serta penanganan kasus-kasus perempuan. baik dalam hal substansi. b). seperti UU Anti Kekerasan.

meningkatkan peran dan kemandirian lembaga-lembaga yang memiliki visi pemberdayaan perempuan. 1). meningkatkan kapasitas dan kemampuan institusi-institusi pemerintah dalam melakukan gender mainstreaming dalam setiap tahap dan proses pembangunan. termasuk pengembangan materi dan bahan KIE untuk gender mainstreaming. serta mewujudkan hubungan kemitraan yang efektif antara pemerintah dan lembaga-lembaga masyarakat yakni . termasuk organisasi perempuan. KIE (Komunikasi. b). a). serta masyarakat secara keseluruhan. pemantauan dan evaluasi pembangunan. dan Edukasi) mengenai kesetaraan dan keadilan jender di lingkungan lembaga-lembaga legislatif. melalui peningkatan keterampilan dan keahlian serta pembentukan unit gender mainstreaming di setiap instansi pemerintah. efektif dan menyeluruh. dan m). c). dan yudikatif.penanganan khusus bagi perempuan dalam situasi konflik maupun kerusuhan yang bersifat penanganan segera. Intensifikasi kegiatan penelitian dan pengembangan tentang masalah-masalah jender. Pembuatan undang-undang dan peraturan-peraturan yang melindungi pekerja kemanusiaan dan pelapor tindak pelanggaran HAM. d). pelaksanaan. antara lain melalui penyediaan data dan informasi yang dibedakan menurut jenis kelamin. pengembangan sistem informasi jender. eksekutif. Penguatan Peran Masyarakat dan Pemampuan Kelembagaan Tujuan program ini adalah untuk memperkuat peran aktif masyarakatl. Informasi. Pengembangan berbagai alat dan metode. Peningkatan kemampuan dan kapasitas institusi-institusi pemerintah untuk melakukan gender mainstreaming dalam proses perencanaan. Pembentukan tim khusus pelanggaran HAM terhadap perempuan 3. e). termasuk TNI dan Kepolisian RI. 151 .

Penciptaan hubungan kemitraan yang efektif antara pemerintah dengan masyarakat sipil dan lembaga-lembaga masyarakat yang memiliki visi pemberdayaan perempuan.termasuk pemanfaatan dan pendayagunaan hasilnya. dan g). Peningkatan kemampuan dan kapasitas lembaga-lembaga masyarakat yang memiliki visi pemberdayaan perempuan. termasuk organisasi-organisasi perempuan yang ada di pusat maupun di daerah. 152 . serta bersama-sama pemerintah merumuskan kebijakan dan program pembangunan. f). melalui peningkatan keterampilan dan keahlian untuk lebih dapat menemukenali dan mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi perempuan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->