BAB I.

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa dan didorong oleh keinginan luhur untuk berperikehidupan yang bebas, bersatu, adil dan makmur sebagaimana diisyaratkan dalam Pancasila dan UUD 1945, oleh karena itu pembangunan daerah Sulawesi Selatan diwujudkan melalui penyelenggaraan pemerintah daerah yang berkedaulatan rakyat, demokratis dan pengarusutamaan gender untuk meningkatkan kesejahteraan dan keadilan gender. Paradigma pembangunan yang sentralistik dan birokratis, merupakan faktor penyebab hasil-hasil pembangunan menjadi tidak merata antardaerah, antar sektor, antar wilayah dan golongan sehingga diperlukan sebuah pendekatan baru yang mampu menjawab tantangan ke depan, oleh karena itu keberadaan Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dan Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) dan PERDA No. 2 Tahun 2010 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Daerah, merupakan peluang sekaligus tantangan di Sulawesi Selatan penyusunan kebijakan program yang berperspektif gender. Meskipun berbagai upaya pembangunan telah banyak dilakukan, namun masih dijumpai berbagai kesenjangan gender, utamanya peluang dan akses terhadap sumberdaya pembangunan. Permasalahan pengarusutamaan gender ditinjau dari aspek manajemen adalah : dalam

1

-

Kurangnya pemahaman dan komitmen para stakeholders, akan

pentingnya data dan indikator gender dimulai dari penyusunan perencanaan sampai pada tahap evaluasi dan berakhir pada penentuan kebijakan. Kurangnya penciptaan akses masyarakat ke input ketersediaan data dan indikator serta analisis gender terhadap pemerintah. Kebijakan pemerintah Sulawesi Selatan diarahkan untuk membangun partisipasi masyarakat dalam mendukung terwujudnya kesetaraan dan keadilan gender di dalam masyarakat, maka pembangunan pada prinsipnya untuk meningkatkan kualitas hidup manusia tanpa membedakan suku, agama, ras dan jenis kelamin secara terencana, bertahap, komprehensif dan berkesinambungan, dengan melibatkan partisipasi stakeholder yang meliputi pemerintah, dunia usaha dan masyarakat yang menjadi kunci keberhasilan pelaksanaan pembangunan dalam penyusunan statistik indikator gender baik untuk kepentingan Nasional maupun Daerah. Selanjutnya kebijakan Pembangunan Pemberdayaan Perempuan di dalam RPJMD Provinsi Sulawesi Selatan 2008-2013 diarahkan untuk membangun partisipasi masyarakat dalam mendukung terwujudnya kesetaraan dan keadilan gender di masyarakat yang diwujudkan beberapa program aksi sebagai berikut : 1). Peningkatan kesempatan bagi kaum perempuan untuk menikmati pendidikan disemua jenjang, sehingga mereka memiliki posisi tawar yang tinggi menuju terciptanya kesetaraan dan keadilan gender; 2). Peningkatan partisipasi masyarakat dalam ikut menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu dan anak serta peran serta masyarakat dalam menjaga kesehatan reproduksi termasuk dalam keluarga berencana; 3). Peningkatan akses kaum perempuan untuk berusaha di

2

bidang ekonomi produktif, termasuk mendapatkan modal pelatihan usaha, program perluasan kesempatan kerja dan informasi pasar sehingga dapat mendorong lahirnya kemandirian kaum perempuan dalam berwirausaha; 4). Peningkatan partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan dan perumusan kebijakan, sehingga tercipta keseimbangan perempuan diberbagai sektor.; 5). Peningkatan perlindungan terhadap perempuan dan anak guna mencegah terjadinya diskriminasi, eksploitasi, kekerasan dan bahkan tindak perdagangan perempuan dan anak (trafikking) yang dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip keterpaduan dan keseimbangan. Dalam rangka implementasi strategi dan kebijakan pengarusutamaan gender, diperlukan ketersediaan data dan informasi gender sebagai dasar analisis dan bahan perumusan program/kegiatan prioritas yang berperspektif gender. Oleh karenanya ketersediaan data dan informasi gender ini menjadi suatu keharusan dalam perumusan program/kegiatan prioritas yang memperhatikan kebutuhan, pengalaman, dan aspirasi yang berbeda antara laki-laki dan perempuan, sehingga dapat mengoptimalkan akses, partisipasi, control dan manfaat penduduk laki-laki dan perempuan dalam setiap tahapan pembangunan di semua bidang. 1.2. Tujuan Tujuan dari penyusunan statistik gender sebagai berikut : • Meningkatkan ketersediaan data dan informasi statistik gender di Sulawesi Selatan, sebagai bahan analisis gender dalam rangka perumusan program/kegiatan yang berperspektif gender.

3

SENSUS PENDUDUK dan SDKI. SAKERNAS. baik data kuantitatif maupun kualitatif dan selanjutnya melalui brain storming.3. pemantauan. Skema pengolahan data digambarkan dibawah sebagai berikut : 4 . Proses pengolahan data dilaksanakan secara institusional yaitu dengan mengumpulkan data primer dan sekunder meliputi data kondisi fisik dari studi kepustakaan (berbagai laporan) dan literatur seperti berbagai kebijakan yang dilaksanakan oleh SKPD lingkup Pemeintah Provinsi Sulawesi Selatan.• Meningkatkan pemahaman dan komitmen akan pentingnya data dan indikator gender bagi penyusunan perencanaan. 1. Sumber dan Proses Pengolahan Data Untuk penyusunan statistik gender digunakan data sekunder yang utamanya berasal dari hasil registrasi dan pencatatan pada setiap SKPDSKPD yang terkait dan data dasar hasil survei-survei yang dilakukan BPS seperti SUSENAS. dan evaluasi kebijakan dan program daerah. pelaksanaan. Untuk mendukung data tersebut juga digunakan data hasil penelitian yang dilakukan PSW/PSG/Lemlit di masing-masing wilayah.

PROSES PENGOLAHAN DATA U M P A N B A L I K Inventarisasi Data Observasi/wawancara Laporan Dokumen Pengolahan Data/Analisa Indikator Program Pencapaian/Penilaian Tujuan/Sasaran Pengembangan/Rekomendasi Dampak 1. seperti Konvensi Penghapusan segala Betuk Diskriminasi terhadap Perempuan (Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women) CEDAW yang diratifikasi ke dalam Undang-undang No. serta landasan Aksi dan deklarasi 5 . Landasan Hukum Komitmen Pemerintah Indonesia terhadap upaya mewujudkan kesetaraan dan keadilan Gender dilandaskan atas pasal 27 Undang-undang Dasar 1945 yang menerapkan asas persamaan antara laki-laki dan perempuan di muka hukum. Untuk memperkuat pemerintah RI telah meratifikasi beberapa konvensi International dan menandatangai beberapa kesepakatan International.4. 7 Tahun 1984.

Pendahuluan . 6 . Sektor Publik . 10 tahun 2008 tentang RPJPD. disusun dengan sistimatika meliputi. Ruang Lingkup Ruang lingkup statistik gender mencakup seluruh aspek pembangunan di bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Demografi. Bab IV. Bab VIII. Bab X. Bab III. Bab II. Provinsi Sulawesi Selatan. Gambaran Umum Kondisi Wilayah . Pendidikan. Perda No. Perda No. Masalah Anak . Kekerasan Terhadap Perempuan. Bab VII. Bab VI. Penutup. Bab IX. 10 tahun 2008 tentang RPJMD. 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Bab I. Kesehatan . Kegiatan Ekonomi .5.Beijing tahun 1995. Bab V. Berdasarkan Human Development Index tahun 1997 dan Undang-Undang No. 1.

Wilayah daratan terluas berada pada 100 hingga 400 meter DPL. Geografis Secara geografis wilayah darat Provinsi Sulawesi Selatan dilalui oleh garis khatulistiwa yang terletak antara 0012’~80 Lintang Selatan dan 1160 48’~122’ 36’ Bujur Timur. dimana sebagian besar wilayah daratnya berada pada jazirah barat daya Pulau Sulawesi serta sebagian lainnya berada pada jazirah tenggara Pulau Sulawesi.1. 2. Danau Towuti dan Danau Mahalona di 7 .BAB II. GAMBARAN UMUM KONDISI WILAYAH 2. serta berbatasan dengan Selat Makassar di sebelah barat dan Laut Flores di sebelah timur. 8 sampai 45 persen merupakan tanah yang kemiringannya agar curam. yang berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Barat di sebelah utara dan Teluk Bone serta Provinsi Sulawesi Tenggara di sebelah timur. dengan jumlah sungai terbesar ada di bagian utara wilayah provinsi ini.24 km2. Luas wilayah Provinsi Sulawesi Selatan khususnya wilayah daratan mempunyai luas kurang lebih 45.1. yang tiga di antaranya yaitu Danau Matana. Lima danau besar menjadi rona spesifik wilayah ini. lebih dari 45 persen tanahnya curam dan bergunung. dan sebahagian merupakan dataran yang berada pada 400 hingga 1000 meter DPL. Topografi Wilayah Sulawesi Selatan membentang mulai dari dataran rendah hingga dataran tinggi. Kondisi Kemiringan tanah 0 sampai 3 persen merupakan tanah yang relatif datar.519.1. Terdapat sekitar 65 sungai yang mengalir di provinsi ini. 3 sampai 8 persen merupakan tanah relatif bergelombang.

8 . utara Parepare. di selatan Palopo sampai Umpu. 2. dan di Tanjung Bira (Bulukumba). Formasi batuan ini ditemukan di sekitar Limbong (Luwu Utara). Struktur dan formasi geologi wilayah Provinsi Sulawesi Selatan terdiri dari volkan tersier. daerah Pegunungan Salapati (Quarles) sampai Pegunungan Molegraf. Batuan volkan kwarter. bagian barat Pulau Selayar. di selatan Parepare.2. di Pegunungan Bone Utara sebelah barat Watampone. Pegunungan Perombengan sampai Palopo. Alluvium kwarter. Sebaran formasi volkan tersier ini relatif luas mulai dari Cenrana sampai perbatasan Mamuju. Sinjai sampai Tanjung Pattiro. dijumpai di dataran sepanjang lembah sungai antara Sungai Saddang dan Danau Tempe. Kapur kerang terdapat di sebelah barat memanjang antara Enrekang sampai Rantepao. sekitar Gunung Karua (Tana Toraja) dan di Gunung Lompobatang (Gowa). di sekitar Sungai Mamasa. di sekitar Sinjai serta di Rantepao (Tana Toraja) dan Camba (Maros).1. Sungai Cenrana di dataran antara Takalar – Sumpang Binangae (Barru). di deretan pegunungan sebelah barat dan timur Ujung Lamuru sampai Bukit Matinggi. di dataran Palopo – Malili. Geologi Struktur geologi batuan di Provinsi Sulawesi Selatan memiliki karakteristik geologi yang dicirikan oleh adanya berbagai jenis satuan batuan yang bervariasi.Kabupaten Luwu Timur. serta dua danau lainnya yaitu Danau Tempe dan Danau Sidenreng yang berada di Kabupaten Wajo. dari Makale sampai utara Enrekang.

yaitu di bagian timur Pangkajene sampai di timur Maros. Di antara Masamba dan Leboni. Batuan plutonik masam. Formasi ini ditemukan di daerah Tana Toraja (Pegunungan. Kabupaten Tana Toraja.3. batu tulis. di sebelah tenggara Barru dan di Bukit Tanjung Kerambu di Kabupaten Pangkep. memanjang di bagian timur lembah Walane dan di tenggara Sungai Sumpatu. dan hijau. Pegunungan Latimojong. batu pasir. di Pulau Selayar bagian timur dan di selatan Sinjai sampai Kajang. 2. Batuan sediment paleogen. Hidrologi Pada wilayah Provinsi Sulawesi Selatan. terdapat sekitar 65 sungai mengaliri berbagai kabupaten khususnya yang berada di dataran tinggi. Batuan sedimen mesozoikum. Batuan plutonik basa. Kambung dan di sebelah barat Masamba) batuan terdiri dari serpih. ungu. penyebarannya di sekitar Lodong. ditemukan di sekitar Sungai Mamasa. DAS Jeneberang meliputi wilayah 8 (delapan) 9 . sedangkan granodiorit dijumpai di barat laut Sasak.Sekis hablur. di Gunung Maliowo dan Gunung Karambon. formasi ini ditemukan di beberapa tempat seperti di bagian barat Sabbang (Luwu Utara). konglomerat yang umumnya berwarna merah. Enrekang. Di wilayah Luwu terdapat 25 aliran sungai. dan Pinrang dialiri oleh sungai terpanjang yakni sungai Saddang (150 km). dari Sengkang ke tenggara sampai Rarek dan ke selatan sampai Sinjai. napal. Tersebar di bagian utara Provinsi Sulawesi Selatan. Batuan sedimen neogen.1. dijumpai di bagian timur Malili dan tersebar sebagai intrusi antara lain di bagian utara Palopo. biru. sebelah timur Masamba memanjang dari utara Enrekang sampai Pompanua.

1. dimana musim hujan bervariasi dari satu daerah ke daerah yang lain.427 Ha. Luwu Utara dan Luwu Timur. Sungai Walanae mengalir di kawasan Bone dan Wajo. Danau Tempe dan Sidenreng terdapat di Kabupaten Wajo dan sekitarnya. yaitu Tipe iklim A termasuk kategori iklim sangat basah dimana curah hujan rata-rata 3500-4000 mm/tahun. mencakup wilayah seluas 825. Wilayah tipe ini terbagi 2 tipe yaitu (B1) meliputi 10 . termasuk iklim basah dimana Curah hujan rata-rata 3000 – 3500 mm/tahun. Luwu.607 Ha dan kawasan hutan seluas 204. Tipe Iklim B.kabupaten di bagian selatan Sulawesi Selatan. sementara di Gowa dan Makassar mengalir sungai Jeneberang. Klimatologi Provinsi Sulawesi Selatan terdapat dua musim. Wilayah yang termasuk ke dalam tipe ini adalah Kabupaten Enrekang. endapan formasi walanae serta pada lembah-lembah yang ditempati oleh endapan batuan formasi Camba. Air tanah bebas dijumpai pada endapan alluvial dan endapan pantai. yaitu musim hujan dan musim kemarau. Provinsi Sulawesi Selatan memiliki 5 jenis iklim. Berdasarkan klasifikasi tipe iklim menurut Oldeman.4. sementara di wilayah Luwu terdapat danau Matana dan Towuti. 2. November sampai Maret angin bertiup sangat banyak mengandung uap air yang berasal dari Benua Asia dan Samudera Pasifik sehingga pada bulan-bulan tersebut sering terjadi musim hujan. termasuk kota Makassar. Pada wilayah bagian tengah wilayah Sulawesi Selatan. Formasi Walanae merupakan suatu formasi lapisan batuan pembawa air yang bersifat tertekan dengan debit kecil sampai sedang.

Luwu Utara. Bone dan Enrekang. Bantaeng. Bulukumba. Barru. Luwu. Bugis. Sinjai. Enrekang. Iklim C2 meliputi Kabupaten Bulukumba. Bantaeng. Selayar. Gowa. Mandar dan Toraja.Kabupaten Tana Toraja. Tana Toraja. Bone. Tipe iklim C terbagi 3 yaitu Iklim tipe C1 meliputi Kabupaten Wajo. Makassar. 2. Takalar. Jeneponto. Parepare. Tipe iklim D dengan Curah hujan rata-rata 2000 – 2500 mm/tahun. Pangkep. Wilayah yang termasuk iklim D3 meliputi Kabupaten Bulukumba. dan Tana Toraja. dan Maros. Sinjai dan Kota Makassar Tipe iklim E dengan Curah hujan rata-rata antara 1500 – 2000 mm/tahun dimana tipe iklim ini disebut sebagai tipe iklim kering. Luwu. Sulawesi Selatan. Sedangkan tipe iklim C3 terdiri dari Makassar. dan Enrekang. Soppeng. Tipe iklim C termasuk iklim agak basah dimana Curah hujan ratarata 2500 – 3000 mm/tahun. 11 . Enrekang. Maros dan Jeneponto. Jeneponto. Bone. Sejarah Sebelum Proklamasi RI. Bulukumba. dan Selayar. Luwu. terdiri atas sejumlah wilayah kerajaan yang berdiri sendiri dan didiami empat etnis yaitu .2. Enrekang. Soppeng. Wilayah yang termasuk ke dalam iklim D2 terdiri dari Kabupaten Wajo. Sinjai. Tipe iklim E1 terdapat di Kabupaten Maros. Gowa. Maros. Tana Toraja. Tipe iklim E2 terdapat di Kabupaten Maros. Pangkep. Barru. Tipe iklim ini terbagi 3 yaitu Wilayah yang masuk ke dalam iklim D1 meliputi Kabupaten Wajo. Luwu Timur. dan Bantaeng. Tipe B2 meliputi Gowa. Pangkep.

Rivai. Melayu dan Arab. dikeluarkan UU Nomor 21 Tahun 1950 dimana Sulawesi Selatan menjadi propinsi Administratif Sulawesi dan selanjutnya pada tahun 1960 menjadi daerah otonom Sulawesi Selatan dan Tenggara berdasarkan UU Nomor 47 Tahun 1960.1956 Lanto Dg. Gubernur Sulawesi 1945 – 1949 DR. Ratulangi 1950 – 1951 B. Pangerang Pettarani II. Amiruddin (Dua periode) 12 .J. Burhanuddin 1953 . Sudiro 1953 – A. Pangerang Pettarani 1960 – 1966 A. Periode Gubernur : I. Pasewang 1956 – 1959 A. India. Lapian 1951 – 1953 R. A. G.S. Gowa dan Bone. Cina. Setelah kemerdekaan. yang pada abad ke XVI dan XVII mencapai kejayaannya dan telah melakukan hubungan dagang serta persahabatan dengan bangsa Eropa. Pemisahan Sulawesi Selatan dari daerah otonom Sulawesi Selatan dan Tenggara ditetapkan dengan UU Nomor 13 Tahun 1964. W. S. Gubernur Sulawesi Selatan dan Tenggara : 1959 – 1960 A.Ada tiga kerajaan besar yang berpengaruh luas yaitu Luwu. III. Gubernur Sulawesi Selatan 1966 – 1978 Ahmad Lamo (Dua periode) 1978 – 1983 Andi Oddang 1983 – 1993 A. sehingga menjadi daerah otonom Sulawesi Selatan.

Komunitas petani adalah komunitas yang terbesar di seluruh wilayah Sulawesi Selatan. Rumpun Toraja tersebar di Kabupaten Tana Toraja dan Luwu. Z. terkandung pula potensi berkembangnya interaksi sosial dan komunikasi lintas budaya. Di balik keragaman tersebut. Variasivariasi ini terkait pula dengan potensi kearifan lokal yang bisa berkembang dalam tatanan sosial budaya. Rumpun Bugis tersebar di wilayah utara Sulawesi Selatan. yang dapat mendorong dinamika perubahan secara lebih kreatif dalam menanggapi spirit zaman. Komunitas pedesaan terdiri dari nelayan.2008 H. Disamping itu berapa komunitas yang berbasis pada aktivitas ekonomi sekunder. Sosial Ekonomi dan Budaya Kekayaan dan keragaman budaya dalam tatanan Sulawesi Selatan sangat bervariasi sebagai satu rumpun budaya yang terdiri dari Bugis.3.Ahmad Tanribali Lamo Pejabat Gubernur Sementara 2008 .Syahrul Yasin Limpo sekarang 2. dan Toraja.2003 H. B. antara lain pengrajin besi di Massepe Sidrap dan pengrajin perahu di Bira Bulukumba 13 . petambak. Rumpun Makassar dominan berada pada Kabupaten di wilayah Selatan Sulawesi Selatan. terdapat pula keragaman sistem nilai dan norma serta adat-istiadat yang spesifik. Palaguna (Dua periode) 2003 . Gambaran ini menunjukkan keragaman budaya yang tersebar pada wilayah yang beragam pula. Selain itu. petani.1993 . Amin Syam 2008 . Makassar. Komunitas ini merupakan suatu komunitas berskala kecil namun tetap memiliki kearifan lokal. M. dan pengrajin.

Tolotang di Sidrap.yang berkaitan dengan sumberdaya alam yang ada disekitarnya. Disamping itu juga terdapat komunitas tradisional yang mampu bertahan di antaranya adalah komunitas Ammatoa di Kajang Bulukumba. Pua Cerekang di Luwu. Komunitas ini masih tetap eksis walaupun secara sosial dikelilingi oleh berbagai informasi dan iptek namun karakteristik tetap dipertahankan. Komunitas petani misalnya. demikian pula dengan komunitas nelayan yang telah menyatu dengan pantai dan laut. Karangpuang di Sinjai. Pada era globalisasi. Aluk Todolo di Toraja. sehingga mereka dapat memprediksi lebih awal kondisi dan permasalahan yang akan terjadi baik di pantai maupun di laut. eksistensi keberadaan beberapa komunitas yang terkait dengan sektor pertanian masih ada yang mengalami ketertinggalan akibat dari ketidakmampuan bersaing dengan berbagai produk lainnya yang beredar dipasaran. memahami kapan waktu yang tepat untuk mulai menanam serta bagaimana menangani hama. komunitas ini benar-benar merupakan suatu komunitas yang memiliki karakteristik tersendiri. Senyatanya. Disamping itu juga umumnya masih mengalami masalah persyaratan dalam mengakses permodalan pada kelembagaan keuangan seperti Bank Rakyat yang ditawarkan pemerintah melalui berbagai program perkreditan. 14 .

tentunya hanya bisa dicapai melalui peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia serta mengarahkannya secara profesionalisme. Jumlah Penduduk dan Rasio Jenis Kelamin Penduduk merupakan salah satu sumber daya potensial dalam menunjang aktifitas pembangunan bangsa dan negara. penduduk berfungsi sebagai penyedia tenaga kerja. Populasi penduduk kadang kala menjadi dilematis karena di samping tersedianya banyak tenaga kerja. Kontribusinya terhadap suatu daerah sangat ditentukan oleh tingkat partisipasi kerja. Justru itu. penduduk termasuk kategori aset atau modal pembangungan yang sifatnya dinamis. Propinsi Sulawesi Selatan sendiri tidak terlepas dari hal tersebut. Perwujudan hal tersebut.1. dimana penduduknya yang teridi dari laki-laki dan perempuan mempunyai peluang yang sama dalam pasar tenaga kerja untuk menempatkan dirinya sebagai tenaga kerja. Penduduk Sulawesi Selatan berdasarkan DAU Tahun 2009 berjumlah 15 . Kedudukannya sebagai Sumber Daya Manusia memegang peranan penting karena berfungsi menggerakkan faktor-faktor produksi dan jasa lainnya.BAB III. DEMOGRAFI 3. Dalam berbagai kegiatan pembangunan atau produksi. Keberadaan penduduk sebagai obyek dan subyek pembangunan diharapkan mampu mengembangkan kreatifitasnya dengan segala kemampuan yang dimiliki untuk pencapaian tujuan pembangunan yaitu untuk meningkatkan harkat dan martabatnya agar dapat menikmati hasilhasil pembangunan secara adil dan merata. dapat pula menimbulkan pengangguran. Namun bila tidak dimanfaatkan seefektif dan seefisien mungkin. penduduk cenderung menjadi tidak produktif dan bahkan semakin menambah beban bagi negara atau daerah tertentu.

Bone 326.500 04.870 118.308 155.78 93.939 92.10 01.094 385.548 4.477 155. Gowa 305.738 06. Sinjai 110.689 90.109 25.184 17.519 jiwa yang tersebar di 24 kabupaten/kota.22 101.110 118. Pangkep 143.747 72.676 172. Secara keseluruhan.57 101..810 74.032 73.060 654.392 162. Luwu 165.071. Palopo 71.27 95. Enrekang 96. Pinrang 172 607 16.2009 Kabupaten/Kota (1) (2) Laki-Laki Male Perempuan Rasio Jenis Kelamin Female Sex Ratio (3) (5) 63.041.501 136.1.7.3..803 128.294 26. Luwu Timur 119.31 92.031 22.73 96.90 102.. Wajo 178.225 08.079 159.263 14.674 05.895 18.Total 2009 3.718 Jumlah .435 94.99 92. Jeneponto 161.73 101.236 312. 2008.98 90.146 15.971 2008 3. Pare Pare 57. jumlah penduduk yang berjenis kelamin perempuan lebih banyak dari penduduk yang berjenis kelamin Laki-laki.44 92. Soppeng 108. hal ini tercermin dari angka rasio jenis kelamin yang lebih kecil dari 100.90 96. Luwu Utara 166.24 93.202 07.198 122. Sidrap 124.. Bantaeng 83.085 Sumber : BPS Provinsi Selatan (DAU 2009) 16 .285 233.77 88.15 87.640 202. Tana Toraja 236.563 85.908.35 92.09 93.Jumlah Penduduk dan Rasio Jenis Kelamin menurut Kabupaten/Kota di Sulawesi Selatan.72 89.53 84. Bulukumba 188.659 02. Makassar 617.05 94.891 11. Hanya di daerah Kabupaten Luwu dan Luwu Utara yang menunjukkan angka rasio jenis kelamin lebih besar dari 100. 057 03.104 13.210 09.92 94. .271.550 12.138 10.836.17 106. yang berarti penduduk Laki-laki di dua daerah tersebut lebih besar dari jumlah penduduk perempuan. Tabel. Takalar 121.090 206.870 jiwa mendiami Kota Makassar. Maros 147.01 91.36 97.71.337 178. Barru 77. dengan jumlah penduduk terbesar yakni 1. Toraja Utara . Selayar 58.763.764 4.123 61.

071.519 jiwa dengan rincian : lakilaki 3.893 jiwa yang terdiri dari laki-laki 3.57 persen.194 jiwa atau 48. baik untuk jenis kelamin laki-laki maupun perempuan. maka gejala kependudukan tersebut akan menunjukkan relatif tingginya penyediaan tenaga kerja untuk jenis kelamin perempuan sehingga peluangnya untuk memasuki lapangan kerja yang tersedia terbuka luas.2. Pembagian klasifikasi umur tentunya disesuaikan dengan konsep-konsep ketenagakerjaan karena 17 . tetapi dapat pula ditinjau berdasarkan komposisi umur.675.43 persen dan perempuan sebesar 3.836. 3. Oleh sebab itu. Pertambahan penduduk sekitar 232.548 jiwa. Jika di tahun 2007 jumlah penduduk sebanyak 7. Kualitas dan kuantitas penduduk tidak semata-mata dinilai dari jumlahnya. Apabila ditinjau dari aspek ketenagakerjaan.971 jiwa dan perempuan 4.Penduduk Propinsi Sulawesi Selatan selama periode tahun 2007 – 2008 cenderung mengalami peningkatan. Jumlah Penduduk menurut Kelompok Umur dan Jenis Menyangkut aspek kependudukan.626 jiwa (periode 2007 – 2009) ditandai dengan meningkatnya penduduk jenis kelamin lakilaki sebanyak 119. Pertumbuhan penduduk di masa yang akan datang diperkirakan terus berlangsung dan membawa dampak terhadap semakin menumpuknya domisili penduduk di daerah perkotaan serta bertambahnya tingkat pengangguran.717. diperlukan langkah-langkah antisipatif dengan jalam membuka lapangan kerja secara luas dan merata ke berbagai daerah Kabupaten. maka kita dapat memahaminya dari beberapa segi dan tergantung pada kualifikasi kebutuhan data.958.699 jiwa atau 51. maka pada tahun 2009 jumlah penduduk mencapai 7.777 jiwa dan perempuan sebesar 112849 jiwa persen.908.

26 97.519 7. maka kondisi penduduk Propinsi Sulawesi Selatan ditunjukkan sebagai berikut : Tabel 3.40 90.071.49 50 .39 40 .939 Sumber : BPS Provinsi Selatan (DAU 2009) 18 .02 94. Sehubungan penjelasan tersebut di atas.24 25 .63 89.Total 2009 3.sangat erat kaitannya terhadap penyajian data terpilah.2009 Kelompok Umur (1) 0–4 5-9 10 .548 2008 3.64 65 + Laki-Laki Male 375 198 447 014 431 498 351 712 291 052 301 980 275 764 296 539 237 824 210 957 168 401 135 327 106 189 207 515 Perempuan Jumlah Rasio Female Sex Ratio Jenis Kelamin (3) (5) (6) 352 040 407 851 409 938 362 508 309 477 343 087 311 959 327 183 266 303 228 271 195 258 144 647 144 438 268 589 727 238 854 865 841 437 714 220 600 529 645 067 587 723 623 722 504 127 439 227 363 660 279 973 250 627 476 104 7.10 (2) Jml . 2008.25 93..Penduduk menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Sulawesi Selatan.05 88.02 88..44 45 .2 .54 55 .42 86.31 92.763.56 73.085 4.836.26 94. Termasuk kategori umur produktif adalah tenaga kerja yang berusia 25 sampai 64 tahun.041.29 30 .024 106.14 15 .971 4..19 20 .805.52 77.908.60 105. Tinjauan tenaga kerja berdasarkan kelompok umur. dibedakan atas 2 (dua) yaitu umur produktif dan umur tidak produktif.24 93. sedangkan umur tidak produktif terdiri dari kelompok usia 0-14 tahun dan di atas 65 tahun.58 109.34 35 .59 60 .

46 persen.857. Sementara pada kelompok usia lanjut.80 persen. penduduk jenis kelamin laki-laki yang jumlahnya 3.101 jiwa atau 32.80 persen dan usia lanjut yaitu 60 tahun ke atas sebanyak 381.677 jiwa atau 62. Apabila kita melihat grafik.201. nampak sangat jelas bahwa pada keloompok usia 0 -14 tahun jumlah penduduk laki-laki lebih besar dibandingkan perempuan. Kenyataan ini menggambarkan pada periode selanjutnya peluang laki-laki untuk memasuki lapangan kerja 19 .98 persen. dimana penduduk laki-laki usia muda sebanyak 38. laki-laki 61. Begitu pula halnya dengan penduduk perempuan yang jumlahnya 4.473 jiwa atau 28.22 persen.67 persen.934 jiwa atau 8. penduduk produktif (15-59 tahun) sebanyak 2.68.672.378.22 persen. Lebihlanjut dijelaskan perbandingan kedua jenis kelamin berdasarkan kelompok umur. Pada tahun 2008.645 jiwa atau 5.664 jiwa terdiri dari : penduduk usia muda di bawah 15 tahun jumlahnya 1. penduduk produktif 15-59 tahun 2.87 persen lebih besar dari perempuan yaitu 28.46 persen lebih kecil dari perempuan yang besarnya 8. Pengelompokan umur penduduk pada jenis kelamin laki-laki dan perempuan digolongkan dalam 3 (tiga) tingkatan.67 persen lebih kecil dari perempuan yang jumlahnya 62. Untuk kategori usia produktif.98 persen. dan penduduk usia lanjut lanjut yaitu bersuai 60 tahun ke atas sebesar 210.256.87 persen.084 jiwa secara rinci terdiri atas : penduduk usia muda di bawah 15 tahun sebesar 1. laki-laki 5.Dalam hal ini penduduk diklasifikasikan menurut kelompok umur dan jenis kelamin degan tujuan agar lebih memahami spesifikasi kependudukan sesuai kepentingannya.918 jiwa atau 61.

Namun apa yang dijabarkan disini masih sebatas konteks estimasi.80 persen sedang lakilaki hanya 61.67 persen.lebih potensial ketimbang perempuan. Berbeda halnya dengan kondisi kelompok usia 15 – 59 tahun dan usia 60 tahun ke atas. dimana jumlah penduduk perempuan lebih tinggi dibandingkan lakilaki sehingga lebih memiliki potensi mengisi lapangan kerja. 20 . sedangkan riilnya tergantung bagaimana kedua jenis kelamin bisa memanfaatkan peluang kerja yang tersedia.13 persen karena perempuan mencapai 62. Selisih jumlah perempuan dengan laki-laki pada komposisi usia produktif sekitar 1.

yang menargetkan bahwa . Disamping itu. relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal. dengan fokus pada kapasitas 21 .BAB IV. pemerataan. Untuk itu. sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin mutu. menjelang tahun 2015. PENDIDIKAN Pendidikan. (2) mencapai perbaikan 50% pada tingkat keniraksaraan orang dewasa. terarah dan berkesinambungan. sesuai kesepakatan internasional yang lebih dikenal dengan Deklarasi DAKAR. dan akses yang adil pada pendidikan dasar dan pendidikan berkelanjutan bagi semua orang dewasa. mempunyai akses dan menyelesaikan Pendidikan Dasar yang bebas dan wajib dengan kualitas yang baik. anak-anak yang dalam keadaan sulit dan mereka yang termasuk etnik minoritas. semua anak khususnya anak perempuan. salah satu kebijakan dalam bidang pendidikan saat ini adalah Pendidikan Untuk Semua (PUS) atau yang lebih dikenal dengan EFA (Education For All). terutama bagi kaum perempuan. (3) penghapusan kesenjangan gender pada pendidikan dasar dan menengah pada tahun 2005 dan mencapai kesetaraan gender dalam pendidikan pada tahun 2015. sebagaimana diamanatkan UUD 1945 merupakan tugas pemerintah untuk mengusahakan dan menyelenggarakan sistim pendidikan nasional guna meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang. (1) menjelang tahun 2015. nasional dan global sehingga perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana.

415 1.950 1.170 5.846 Tahun 2009 LK 382 989 3.407 12.050 14. Buta Aksara (Keaksaraan Fungsional/KF) 2009 Tabel 4.424 300 460 61.850 1.305 684 2.073 403 428 619 425 517 109 167 22.431 33.325 9.668 356.239 846 3.731 5.650 3.981 3.250 6.039 1.sepenuhnya bagi anak perempuan terhadap akses dalam memperoleh pendidikan dasar yang bermutu.049 2.910 1.285 PR 668 1.735 675 1.835 23.780 2.419 3. maka kita dapat memahami pentingnya pendidikan yang responsif gender.423 648 189 1.775 1.100 1.359 246 513 1.175 1.576 9.197 819 571 823 321 2.225 1.720 9.967 39.409 4.085 687 1.233 1 Selayar 2 Bulukumba 3 Bantaeng 4 Jeneponto 5 Takalar 6 Gowa 7 Sinjai 8 Maros 9 Pangkep 10 Barru 11 Bone 12 Soppeng 13 Wajo 14 Sidrap 15 Pinrang 16 Enrekang 17 Luwu 18 Tana Toraja 19 Luwu Utara 20 Luwu Timur 21 Makassar 22 Pare-pare 23 Palopo Jumlah (Prov.877 697 747 1081 750 907 191 293 38.150 3.538 40.175 1.429 13.645 8.181 14.950 3.420 1. Menyimak kesepakatan Dakar tersebut.650 2.230 1.880 6.948 Jumlah 1.474 5.199 111.389 2.031 2.156 26.093 1.876 2.740 14.549 4.737 41. oleh karena salah satu indikator pembangunan manusia atau yang lebih dikenal dengan HDI/IPM adalah pendidikan.226 5.311 601 1.743 2.195 323.231 819 2.376 429 896 3.022 441 473 33.050 2.196 4.765 393 1.395 2.560 42.821 2.329 1.080 1.370 2.037 2.487 1.860 4.156 1.080 2.813 3.350 1.1 Jumlah Buta Aksara di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008 - No.416 Jumlah 2.580 6.955 997 1.850 5.700 1. Sul-Sel) Sumber : Dinas Pendidikan Provinsi Sulawsi Selatan.139 1.635 2.740 3.074 1.290 2. Kabupaten/ Kota Keaksaran Fungsional (KF) Tahun 2008 LK PR 1.430 1.1.132 1.431 4.810 109. 2010 22 .479 5.250 34.370 2. 4.

430 orang atau 91%. Sementara untuk tahun 2009 mengalami penurunan sehingga yang buta aksara tersisa 61.Prov. Sementara untuk tahun 2009 Kota Makassar berhasil mengurangi. diantaranya laki-laki 517 orang atau 36% dan perempuan sebanyak 907 orang atau 64%.285 orang atau 36% dan perempuan sebanyak 38.846 orang.948 orang atau 64%. Sul-Sel Prov.429 orang pada tahun 2008 diantaranya laki-laki 2.233 orang. diantaranya laki-laki sebanyak 33. 23 .1. jumlah buta huruf (aksara) di Provinsi Sulawesi Selatan untuk tahun 2008 sebanyak 356. Sul-Sel 9% 36% 64% 91% % LK % PR % LK % PR Berdasarkan data Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan seperti terlihat pada Tabel 4. Dari 23 kabupaten yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan nampaknya Kota Makassar yang terbanyak dengan jumlah penduduk yang buta aksara sebanyak 111.430 orang atau 9% dan perempuan sebanyak 323.424 orang. sehingga jumlah penduduk buta aksara tinggal 1.022 orang atau 2% dan perempuan 109.407 orang atau 98%. laki-laki sebanyak 22.

Sementara itu informasi data di Kabupaten Luwu Utara belum ada di tahun 2009. Usia standar yang dimaksud adalah rentang usia yang dianjurkan pemerintah dan umum dipakai untuk setiap jenjang pendidikan. Untuk tahun 2009 kabupaten yang paling sedikit buta aksaranya adalah Kota ParePare yaitu 300 orang.650 orang. Informasi tersebut diatas menunjukkan bahwa Kabupaten Pangkep perlu memperhatikan bagaimana kebijakan di bidang pendidikan agar jumlah penduduk yang buta aksara tidak bertambah tetapi seharusnya berkurang. sehingga apa yang diharapkan sesuai kesepakatan Dakar yaitu mencapai perbaikan 50% pada tingkat keniraksaraan orang dewasa.2. Hal ini juga berlaku bagi kabupaten lain yang sama kondisinya dengan Kabupaten Pangkep. yang ditampilkan pada tabel berikut: 24 . yaitu Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM).Sementara dari 23 kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan yang paling sedikit jumlah penduduk buta aksara pada tahun 2008 adalah Kabupaten Pangkep yaitu 1. Perbedaan diantara keduanya adalah penggunaan kelompok usia "standar" di setiap jenjang pendidikan. terutama perempuan. Partisipasi Sekolah Umumnya.049 orang atau 64%. diantaranya laki-laki sebanyak 109 orang atau 36% dan perempuan sebanyak 191 orang atau 64%. diantaranya laki-laki sebanyak 601 orang atau 36% dan perempuan sebanyak 1. Keduanya mengukur penyerapan penduduk usia sekolah oleh sektor pendidikan. 4. menjelang tahun 2015. terdapat dua ukuran partisipasi sekolah yang utama.

12 tahun 13 . Pemerataan pendidikan bagi masyarakat sebagai wujud pemerataan pendidikan nasional memerlukan dukungan yang besar bagi semua kalangan baik dari pemerintah pusat terlebih lagi dari masyarakat. Untuk dapat melihat keadaan partisipasi sekolah.Tabel 1: Usia standar di setiap jenjang pendidikan Jenjang SD SMP SMA Perguruan tinggi Angka Kelompok usia 7 . maka hal penting yang perlu dikaji sebelumnya adalah ketersediaan fasilitas dan tenaga pengajar sekolah sebagai bagian dari faktor yang menentukan keberhasilan dalam proses belajar mengajar. Ketersediaan sarana dan prasarana sekolah akan mempermudah para siswa untuk mengakses pendidikan. suasana belajar akan lebih hidup dan minat mencari ilmu pengetahuan bagi siswa akan tinggi. sarana dan prasarana yang memadai akan menciptakan lingkungan pendidikan yang berkualitas.18 tahun 19 tahun keatas partisipasi sekolah sangat erat kaitannya dengan ketersediaan fasilitas pendidikan dan tenaga pengajar serta kesadaran masyarakat untuk aktif dalam bidang pendidikan. motivasi dan semangat masyarakat memanfaatkan fasilitas untuk bersekolah sangat penting. Keaktifan masyarakat sangat menentukan tingkat partisipasi sekolah sehingga kesadaran. 25 . wujud dari partisipasi ini adalah tersedianya fasilitas pendidikan berupa sarana dan prasarana sekolah.15 tahun 16 .

SLB 11 unit.Tabel 4.090 445 522 390 699 465 426 521 344 458 524 329 626 1. MI 56 unit.539 unit.202 227 167 11.539 Sumber: Dinas Pendidikan Sulawesi Selatan Tahun 2010 Tabel 4.2 Jumlah Sarana dan Prasarana Sekolah Menurut Kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan Kabupaten/ Kota Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sinjai Maros Pangkep Barru Bone Soppeng Wajo Sidrap Pinrang Enrekang Luwu Tana Toraja Luwu Utara Luwu Timur Makassar Pare-pare Palopo Jumlah (Prov.504 SLTP 34 62 21 54 38 81 39 103 51 55 31 42 55 46 49 37 64 46 34 112 179 24 22 1. SLTA 104 unit. RA 22 unit. MTs 40 unit.391 SD 159 351 138 253 233 381 248 672 253 340 231 433 259 252 336 212 227 351 150 376 479 100 70 6. SulSel) Sekolah TK 15 63 16 86 19 60 41 130 38 53 52 134 61 64 33 23 54 42 83 51 202 43 28 1. Sedangkan kabupaten yang memiliki jumlah sarana sekolah paling sedikit adalah Kota Palopo dengan jumlah 167 unit diantaranya sarana sekolah TK sebanyak 28 unit 26 . MA 22 unit dan jenjang pendidikan SMK sebanyak 87 unit. sarana sekolah terbanyak di Kota Makassar yang merupakan ibukota provinsi dengan jumlah 1.202 buah diantaranya sarana sekolah TK sebanyak 202 unit jenjang pendidikan tingkat SD sebanyak 479 unit.279 SD LB 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 18 Total SLB 2 1 1 3 1 2 1 2 1 1 0 3 11 3 32 RA 20 29 2 5 1 22 11 11 8 7 10 14 13 9 34 6 3 3 6 22 12 248 MI 13 36 12 15 9 76 26 77 23 11 27 21 33 11 23 20 44 22 15 10 56 8 2 590 MTs 10 42 24 35 18 60 27 54 30 21 16 26 19 17 19 20 34 37 23 5 40 10 3 590 SLTA 7 14 4 12 11 18 8 22 20 14 9 12 9 12 13 10 15 10 15 24 104 7 14 384 MA 1 13 14 12 9 18 15 13 15 12 10 6 8 8 5 10 13 11 7 2 22 8 1 233 SMK 4 7 5 8 7 13 4 5 6 7 3 8 6 6 8 5 4 2 2 36 87 11 26 270 264 620 237 482 347 733 421 1.2 diatas menunjukkan ketersediaan sarana sekolah di Sulawesi Selatan sebanyak 11. jenjang pendidikan SLTP sebanyak 179 unit.

jenjang pendidikan SD sebanyak 70 buah. MA I unit dan jenjang pendidikan SMK sebanyak 26 unit.3. 27 . SLTA 14. MTs 3 unit. Untuk lebih jelasnya mengenai perbandingan jumlah sarana sekolah berdasarkan jenjang pendidikan pada setiap kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan dapat dilihat pada Diagram 4. MI 2 unit. jenjang pendidikan SLTP sebanyak 22 unit.

yang terdiri dari laki-laki hanya 1 orang dan perempuan 7. kemudian TK sebanyak 12 %.3. Diagram 4. jenjang pendidikan SLTP sebanyak 11 % dan SLTA sebanyak 3 %.Diagram 4.227 orang.3 diatas yang bersumber dari Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan 2010 menunjukkan bahwa jumlah guru di Provinsi Sulawesi Selatan sebanyak 21.3 menujukkan ketersediaan sarana sekolah di Provinsi Sulawesi Selatan yang terlihat bahwa persentase ketersediaan sarana sekolah terbanyak berturut-turut yaitu pada jenjang pendidikan SD sebanyak 57%. Adanya perbedaan yang mencolok antara jumlah guru laki-laki dan perempuan pada jenjang 28 .399 orang diantaranya guru pada jenjang pendidikan TK sebanyak 7. Peningkatan mutu pendidikan bagi murid sekolah selain dengan tersedianya sarana dan prasarana pendidikan juga harus ditunjang oleh tenaga pengajar yang profesional agar program pendidikan berjalan dengan baik. Persentase Ketersediaan Sarana Sekolah Menurut Pendidikan di Provinsi Sulawesi Selatan Berdasarkan Tabel 4.226 orang.

Untuk jenjang pendidikan SLTA/MA tidak diperoleh data tentang jumlah guru yang ada. nampak bahwa persentase guru perempuan yang mengajar mulai dari jenjang pendidikan TK sampai SLTP jauh lebih banyak yaitu mencapai 63 % dibanding laki-laki yaitu dengan persentase 37 %.4.629 orang yang terdiri dari laki-laki 22.4 tersebut. berikut: Diagram 4. dan ini tidak lepas pula dari asumsi dasar masyarakat tentang peran gender. Hal ini dapat mengindikasikan bahwa peran perempuan 29 . Selanjutnya pada jenjang pendidikan SD/MI sebanyak 54.pendidikan TK ini kemungkinan dipengaruhi oleh minat dari laki-laki untuk menjadi guru TK yang rendah dibanding perempuan.4.549 orang. Untuk melihat perbandingan jumlah guru menurut jenis kelamin dapat dilihat pada Diagram 4.850 yaitu laki-laki 54.629 orang dan perempuan 8. Jumlah Guru Menurut Jenis Kelamin pada Jenjang Pendidikan TK SLTP di Provinsi Sulawesi Selatan Pada Diagram 4.397 orang.232 orang dan perempuan 32. dan pada jenjang pendidikan SLTP/MTs sebanyak 12.

1. Sementara apabila kita mencermati perbedaan antar wilayah perdesaan 30 . bahkan pada kelompok usia 7-12 thn dan 13-15 tahun anak perempuan lebih tinggi dibandingkan anak lakilaki. Data nasional tahun 2006 sampai tahun 2008 menunjukkan bahwa APS berkecenderungan meningkat pada semua kelompok umur baik anak laki-laki maupun anak perempuan. Angka Partisipasi Murni (APM). Angka Partisipasi Sekolah Angka partisipasi sekolah merupakan ukuran daya serap sistem pendidikan terhadap penduduk usia sekolah. naiknya persentase jumlah murid tidak dapat diartikan sebagai semakin meningkatnya partisipasi sekolah.2. Angka tersebut memperhitungkan adanya perubahan penduduk terutama usia muda.dalam memajukan pendidikan di Provinsi Sulawesi Selatan sudah cukup baik. dan Angka Partisipasi Kasar (APK) berdasarkan kelompok umur. Sehingga. Selanjutnya untuk itu dapat melihat keadaan partisipasi sekolah di Provinsi Sulawesi Selatan yang terdiri dari Angka Partisipasi Sekolah (APS). Kenaikan tersebut dapat pula dipengaruhi oleh semakin besarnya jumlah penduduk usia sekolah yang tidak diimbangi dengan ditambahnya infrastruktur sekolah serta peningkatan akses masuk sekolah sehingga partisipasi sekolah seharusnya tidak berubah atau malah semakin rendah. 4. Tidak ada perbedaan pencapaian yang nyata antara laki-laki dan perempuan disemua jenjang pendidikan. Ukuran yang banyak digunakan di sektor pendidikan seperti pertumbuhan jumlah murid lebih menunjukkan perubahan jumlah murid yang mampu ditampung di setiap jenjang sekolah.

dan perkotaan.4). wilayah perkotaan cenderung lebih tinggi pencapaiannya apabila dibanding perdesaan.4. Tabel 4. Berdasarkan data Susenas 2008 menunjukkan bahwa APS Sulsel untuk usia 16-18 tahun masih dibawah 50% (tabel 4.dan Jenis Kelamin. Angka Partisipasi Sekolah (APS) menurut Usia Sekolah. wilayah perdesaan perlu mendapatkan perhatian yang lebih baik. Susenas 2008 31 . Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008 Sumber data : BPS. Artinya didalam rangka meningkatkan angka pencapaian APS nasional. hal ini terjadi disemua jenjang pendidikan.

dan Jenis Kelamin. Hal ini menunjukkan bahwa keberlanjutan pendidikan anak-anak usia 7 – 12 tahun ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi perlu mendapatkan perhatian. Susenas 2009 32 .Data diatas menunjukkan bahwa untuk usia sekolah 7 -12 tahun. APS menurut Usia Sekolah.5. Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009 Sumber data : BPS. sehingga arah kebijakan pendidikan kedepan hendaknya lebih ditujukan pada peningkatan kualitas. cenderung menurun. Tabel 4. dari tabel diatas dapat pula dilihat bahwa partisipasi usia sekolah di jenjang pendidikan yang semakin tinggi. sehingga ketersediaan sarana prasarana pendidikan di jenjang SLTP diperlukan untuk meningkatkan akses pendidikan lanjutan bagi anak-anak. akses lakilaki maupun perempuan sudah cukup tinggi. Selanjutnya. Untuk usia 13-15 tahun relative lebih rendah dibandingkan usia 7 -12 tahun.

2. Tabel 4. APK dapat mencapai lebih dari 100 persen. sebab APK biasanya digunakan ketika APM-nya masih jauh dari 100 persen. Indikator APM merupakan indikator yang lebih baik dibanding dengan indikator APK. Susenas 2008 33 . APM menurut Usia Sekolah.6. Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008 Sumber data : BPS. sedangkan APM semestinya maksimal 100 persen.dan Jenis Kelamin. Angka Partisipasi Murni Angka Partisipasi Murni (APM) adalah persentase siswa dengan usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikannya dari jumlah penduduk di usia yang sama.4.2.

Tabel 4. terdapat penurunan APM perempuan di kelompok usia ini.Berdasarkan tabel 4. Untuk tahun 2009.6 dan 4.7.7 nampak bahwa Angka Partisipasi Murni untuk golongan usia semakin tinggi. masih sangat rendah. Susenas 2009 34 . APMnya semakin rendah. Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009 Sumber data : BPS. perempuan sedikit lebih tinggi APMnya dibandingkan laki-laki.dan Jenis Kelamin. Suatu hal yang sangat memprihatinkan bahwa APM usia 16-18 tahun masih dibawah 50%. meskipun jika dilihat persentasenya. artinya kesempatan untuk memperoleh pendidikan bagi laki-laki dan perempuan di jenjang pendidikan menengah atas. APM menurut Usia Sekolah. Kecenderungan ini terjadi baik di kelompok laki-laki maupun perempuan.

087 70.954 12.310 31.616 16.12 Thn LK PR 13.842 13.007 70.8 Jumlah Peserta Didik Menurut Kelompok Umur Tahun 2008/2009 Kabupaten / Kota Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sinjai Maros Pangkep Barru Bone Soppeng Wajo Sidrap Pinrang Ebrekang Luwu Tana Toraja Luwu Utara Luwu Timur Makassar Pare-pare Palopo Jumlah (Prov. SulSel) 07 .475 35.622 32.083 53.262 519.422 79.148 20.502 38.191 34.136 16.226 26.756 11.807 14.377 30.072 12.612 70.596 23.860 13.472 82.710 40.746 41.243 16 .697 16.257 478.054 179.160 197.868 1.194 327.393 23.879 6.666 479.15 Thn Jml LK PR 5.307 21.860 11.822 998.114 23.996 orang atau 46.500 21.986 24.222 16.031 63.274 59.643 63.549 164.202 12.455 34.829 28.990 38.256 25.455 39.417 39.162 27.265 12.828 15.379 55.046 14.253 30. Untuk kelompok umur 13 – 15 tahun ada 930.252 21.394 18.783 19.458 23.620 21.926 30.095 77.120 29.925 163.666 orang diantaranya laki-laki sebanyak 452.336 28.427 25.737 41.659 96.501 33.978 12.540 17.707 Sumber : Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan 2010 35 .996 883.808 32.169 17.194 16.155 9.804 17.830 86.642.278 24.971 20.646 17.107 24.529 13.919 39.967 39.638 32.78 %) sementara laki-laki sebanyak 758.830 8.970 12.740 14.017 12.653 98.976 28.697 28.766 30.645 162.589 37.185 8.340 18.289 19.977 36.707 17.Hal ini sejalan dengan data Dinas Pendidikan yang menunjukkan bahwa jumlah anak sekolah untuk tahun 2008/2009 kelompok umur 07 – 12 tahun di Provinsi Sulawesi Selatan.937 13.950 11.253 orang.386 5.992 13.266 10.687 11.159 31.808 23.634 44.441 16.371 21.613 11.807 15.61 %) dan perempuan sebanyak 478.568 12.735 40.22 % dari total 1.663 23.121 43.582 48.473 8.951 29.697 16.39 %) yang lebih banyak dari pada laki-laki.992 14.135 14.127 21.248 27.715 8.560 Jml 43.357 11.550 12.780 32.407 12.360 19.950 9.784 15.717 41.274 42.745 18.637 56.966 7.355 orang (48.832 17.191 65.877 21.222 30.642.207 55.902 8.601 29.355 Kelompok Umur 13 .158 51.851 36.340 18.18 Thn LK PR 6.841 7.567 23.632 16.395 83.219 12.156 33.623 81.546 62.609 16.681 15. Tabel 4.741 452.835 23.588 40.673 44.377 35.773 24.094 5. anak perempuan lebih banyak yaitu 883.643 47.030 63.810 109.195 Jml 79.188 29.248 13.752 32.418 11.032 33.081 17.640 24.772 25.494 19.986 10.694 14.749 8.616 32.530 27.810 29.723 12.998 6.760 15.234 10.731 70.792 18.273 32.953 5.702 25.222 12.254 9.576 16.827 27.311 930.257 orang (53.311 orang (51.112 32.383 758.350 87.884 122.743 15.143 29.853 58.038 22.898 46.

Angka partisipasi kasar dapat memberikan gambaran tentang banyaknya anak yang menerima pendidikan pada jenjang tertentu.3 Angka Partisipasi Kasar (APK) Indikator ini digunakan untuk mengukur proporsi anak sekolah pada suatu jenjang pendidikan tertentu dalam kelompok umur yang sesuai dengan jenjang pendidikan tersebut. khususnya untuk usia 13-15. nampaknya APS perempuan lebih tinggi dari APS anak laki-laki.2.Sementara untuk kelompok umur 16–18 tahun jumlahnya sebanyak 998. dan 19-24 tahun.243 orang (51.39 %).98 %) dan perempuan sebanyak 479.10. 4. Jika dilihat berdasarkan jenis kelamin.9 dan 4. Dengan mencermati tingkat APS pada kelompok umur 07 – 12 tahun sederajat SD dan kelompok umur 13– 15 tahun yang sederajat SMP. 16-18. Tetapi APS pada kelompok umur 16– 8 tahun yang sederajat SMU nampaknya APS laki-laki lebih tinggi dari pada APS perempuan. Untuk usia 7-12 tahun terdapat kecendungan penurunan baik laki-laki maupun perempuan. nampak bahwa APK perempuan pada jenjang sekolah SMP sampai PT lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Hal ini menunjukkan bahwa partisipasi laki-laki justru menurun di usia sekolah yang semakin tinggi. Untuk mendapatkan gambaran Angka Partisipasi Kasar (APK) di Provinsi Sulawesi Selatan dapat dilihat pada Tabel 4. nampak bahwa secara umum terjadi kenaikan angka partisipasi kasar dari tahun 2008 ke tahun 2009. Namun. Hal ini mencerminkan bahwa makin tinggi tingkat pendidikan partisipasi perempuan makin menurun. Berdasarkan tabel tersebut.707 orang (51.950 orang diantaranya laki-laki sebanyak 519. untuk usia 7-12 tahun justru mengalami pnurunan. dan 36 .

9. Tabel 4. APK menurut Usia Sekolah.pada tahun 2009. Susenas 2008 37 . keadaannya menjadi berbanding terbalik dengan tahun 2008. ditegah-tengah gencarnya upaya pemberdayaan perempuan dan keseteraan gender. dimana perempuan menjadi lebih tinggi APKnya dibandingkan laki-laki.dan Jenis Kelamin. Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008 Sumber data : BPS. namun justru ada kecenderungan menurunnya partisipasi laki-laki dalam pendidikan. Fenomena ini cukup memprihatinkan.

berinovasi.3. Susenas 2009 4. APK menurut Usia Sekolah. Selain Tingkat Partisipasi Sekolah (TPS). Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan Pendidikan yang lebih baik berpengaruh terhadap peningkatan potensi dasar penduduk dalam menerima perubahan-perubahan sosial dan ekonomi. Pendidikan tertinggi yang ditamatkan penduduk dapat dijadikan sebagai salah satu alat kontrol untuk melihat sejauh mana peningkatan pembangunan bidang pendidikan. Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009 Sumber data : BPS.dan Jenis Kelamin.Tabel 4.10. dan menyerap teknologi baru untuk mendukung kehidupannya ke arah yang lebih baik. Semakin tinggi tingkat pendidikan yang 38 .

persentasenya semakin menurun. Tabel tersebut memperlihatkan bahwa masih adanya kesenjangan tingkat pendidikan antara penduduk laki-laki dan perempuan. secara umum. Namun disisi lain. persentase perempuan semakin menurun. Salah satu ukuran keberhasilan pembangunan pendidikan dapat dilihat dari kualitas tingkat pendidikan yang ditamatkan. dan semakin tinggi jenjang pendidikan. Banyaknya penduduk yang berpendidikan tinggi menunjukkan semakin baik kualitas penduduknya. Persentase perempuan tamat SD masih cukup tinggi dibandingkan laki-laki.ditamatkan maka kualitas sumberdaya manusia secara umum akan semakin tinggi. Tabel berikut menunjukkan penduduk Sulawesi Selatan yang berumur 10 tahun ke atas menurut pendidikan tertinggi yang ditamatkan. justru laki-laki lebih rendah . sehingga partisipasi dan kesempatan laki-laki maupun perempuan untuk memperoleh pendidikan dalam rangka peningkatan kualitas manusia Sulawesi Selatan masih harus ditingkatkan. semakin tinggi jenjang pendidikan. Meskipun demikian. untuk D1/2/3 dan sarjana muda. 39 .

36 3.13 28.64 25.74 1.69 1.29 0.84 18.20 3.39 12.08 12.35 2.94 15.73 Prp 4.97 17.25 4.33 20.73 1.59 20.70 10.94 0.45 15.33 5.43 2.39 0.95 30.12 17. Pendidikan yang Ditamatkan dan Kabupaten/Kota Tahun 2008 Kab/Kota Lk 01 Selayar 02 Bulukumba 03 Bantaeng 04 Jeneponto 05 Takalar 06 Gowa 07 Sinjai 08 Maros 09 Pangkep 10 Barru 11 Bone 12 Soppeng 13 Wajo 14 Sidrap 15 Pinrang 16 Enrekang 17 Luwu 18 TanaToraja 22 LuwuUtara 25 LuwuTimur 71 Makassar 72 Parepare 73 Palopo Jumlah 30.87 2.86 3.62 0.76 2.40 7. Susenas 2008 40 .75 11.02 1.97 19.80 2.48 0.91 9.87 14.05 11.03 23.79 9.46 30.23 Lk 13.21 9.26 0.94 16.75 4.72 1.12 3.14 1.16 34.42 0.40 27.51 13.99 25.60 1.90 9.04 17.98 3.60 Prp 1.44 Lk 1.62 12.52 0.75 2.41 11.21 8.78 0.00 15.82 21.84 15.01 0.28 2.65 0.67 0.15 0.80 9.70 16.36 0.68 1.93 SMA Kejuruan Lk 1.14 32.68 10.92 4.54 23.46 14.95 22.31 0.75 0.78 5.75 0.90 2.75 32.14 15.91 13.54 0.52 0.21 17.74 0.Tabel 4.35 14.60 4.24 13.47 0.62 12.35 0.57 14.47 0.88 31.99 4.71 12.48 3.50 11.55 1.06 1.73 20.13 0.98 21.62 31.31 12.86 3.13 17.18 0.52 21.42 13.76 4.12 27.46 3.19 8.20 1.70 2.55 11.74 11.00 14.56 0.76 0.11.66 0.35 30.11 2.04 7.65 27.13 23.28 11.75 22.09 25.18 27.45 21.29 0.42 8.38 16.61 1.73 0.68 2.21 0.81 11.93 13.83 1.58 2.46 28.44 6.01 10.71 1.28 1.71 13.56 5.59 1.91 11.44 0.19 14.78 1.45 0.31 32.12 2.89 3.72 1.49 3.77 3.44 0.88 0.45 20.41 0.58 7.92 0.10 0.82 18.00 3.33 23.01 4.61 0.63 36.03 32.06 1.52 0.79 1.11 19.51 26.58 0.30 18.77 9.41 16.22 15.84 1.38 0.08 11.83 31.96 2.98 1.21 0.04 0.85 1.43 30.47 SLTP Prp 10.97 1.68 25.85 4.84 6.53 2.38 0.59 30.40 3.70 1.67 6.08 1.21 1.52 2.72 1.24 15.89 13.80 2.60 13.07 1.48 2.20 10.34 1.46 25.80 1.29 0.93 2.93 12.57 1.95 SD Prp 34.77 1.86 0.68 20.14 9.43 0.04 22.55 11. Persentase Penduduk Menurut Jenis Kelamin.25 15.96 26.36 4.50 29.78 0.05 0.74 0.78 10.74 4.52 1.88 16.15 23.69 9.39 24.69 15.29 0.26 0.48 2.09 0.53 1.89 1.91 10.03 24.62 0.57 1.04 1.17 0.93 0.27 4.21 1.29 3.98 23.64 2.46 0.05 12.78 31.80 3.56 8.56 30.89 4.61 27.87 0.20 10.02 1.84 0.29 D III/ Sarmud Lk 0.15 0.85 1.85 Prp 1.65 4.12 4.66 0.47 1.75 8.95 13.26 1.28 10.61 D I/II Prp 2.72 13.15 13.15 1.42 15.72 1.57 0.76 SMU Prp 8.72 14.75 Lk 12.86 0.79 1.37 5.47 0.66 2.37 22.12 25.42 0.40 10.82 27.70 25.04 19.57 4.19 0.09 Sumber data : BPS.91 4.66 2.38 3.92 4.09 4.53 1.04 D IV/S 1/S 2/S 3 Lk 4.57 0.

27 1.09 16.Tabel 2.36 4.47 14.46 28.81 1.04 0.07 1.74 1.40 18.24 3.95 1.00 12.46 2.48 24.63 0.24 33.89 8.36 1.21 21.76 1.63 3.03 4.49 19.85 15.52 11.42 4.43 12.11 2.84 12.40 21.43 0.40 29.40 2.75 1.15 2.05 17.98 0.18 1.53 0.13 7.91 34.70 16.58 1.70 31.93 1.93 12.05 3.44 0.00 3.60 8.70 SMU Lk Prp -6 -6 10.33 18.19 0.99 17.87 15.81 11.60 17.85 1.84 2.96 12.88 0.15 2.26 16.70 10.41 2.02 1.65 3.96 2.81 2.66 0.4 5 7.10 17.19 0.07 5.23 1.95 1.72 1.89 36.60 0.48 24.22 2.67 17.48 D I/II D III/ Sarmud Lk Prp -9 -9 0.20 12.19 12.48 0.89 0.75 0.72 0.96 22.22 0.08 4.62 10.83 3.47 2.72 0.45 16.04 31.57 0.12 12.25 3.32 29.86 0.12 5.66 2.31 3.52 33.65 21.33 32.87 3.27 3.38 26.19 1.11 1.62 2.44 28.07 2.97 23.49 0.37 2.70 10.40 0.79 15.51 26.28 30.53 D IV/S 1/S 2/S 3 Lk Prp -10 -10 3.14 28.82 0.21 6.98 12.07 14.58 0.40 12.38 0.55 0.13 18.77 2.49 4.97 16.18 18.02 14.16 4.12 0.00 0.33 1. Susenas 2009 41 .69 24.58 0.54 13.55 0.10 11.79 4.12 0.24 24.83 0.95 21.84 21.85 0.96 0.87 0.13 9.19 15.15 Lk Prp -4 28.19 5.94 2.03 3.74 14.47 11.10 10.47 15.38 4.43 30.67 4.90 3. Persentase Penduduk Menurut Jenis Kelamin.15 2.98 0.90 0.03 10.48 2.43 2.67 0. Pendidikan yang Ditamatkan dan Kab/Kota Tahun 2009 Kab/Kota -1 01 Selayar 02 Bulukumba 03 Bantaeng 04 Jeneponto 05 Takalar 06 Gowa 07 Sinjai 08 Maros 09 Pangkep 10 Barru 11 Bone 12 Soppeng 13 Wajo 14 Sidrap 15 Pinrang 16 Enrekang 17 Luwu 18 TanaToraja 22 LuwuUtara 25 LuwuTimur 71 Makassar 72 Parepare 73 Palopo Jumlah SD -4 SLTP Lk Prp -5 -5 14.68 15.24 1.73 11.37 21.89 0.31 0.59 27.29 14.24 20.23 8.25 17.13 2.64 Lk -8 Prp -8 30.15 2.97 23.73 11.65 25.62 6.41 25.47 1.60 2.02 23.10 Sumber data : BPS.79 15.41 1.87 31.45 4.08 12.80 2.95 1.05 2.04 0.80 1.87 0.19 3.76 1.54 2.83 4.45 1.14 4.26 3.65 15.36 2.75 4.60 19.07 6.25 1.61 0.47 4.31 13.91 29.69 19.34 2.37 0.25 36.49 0.59 5.47 0.53 32.32 31.72 27.57 11.81 11.31 11.08 22.88 2.56 0.24 3.10 2.26 1.20 16.66 0.64 1.85 33.80 0.63 2.46 0.85 17.74 3.02 0.30 15.57 7.64 15.74 34.32 14.07 1.71 8.83 0.23 25.82 10.19 26.58 0.79 16.51 2.03 19.35 3.39 12.20 7.02 29.26 14.98 3.11 1.55 6.44 2.40 0.63 9.96 2.88 3.18 1.35 24.19 18.10 12.84 15.14 10.64 0.21 1.73 3.65 0.11 27.21 30.24 10.90 2.22 31.93 0.49 16.68 2.64 12.60 1.57 2.24 7.56 26.76 1.72 0.78 17.15 14.50 10.05 7.54 SMA Kejuruan Lk Prp -7 -7 3.15 0.77 13.55 0.40 2.59 0.30 3.78 1.80 0.27 1.21 2.31 12.55 10.42 0.68 6.8.93 0.39 26.67 4.

sementara masyarakat miskin dan rumah tangga miskin tidak memiliki penghasilan yang cukup untuk biaya pendidikan. 4. Tentunya diharapkan kedepan penduduk Sulawesi Selatan dapat lebih ditingkatkan lagi pendidikan yang ditamatkannya yang akan berpengaruh pada kondisi sosial ekonomi masyarakat akan semakin baik. dan anggapan lebih baik bekerja dengan mendapatkan uang.4. berikut. Hal ini terlihat dari persentase penduduk yang menamatkan pendidikan pada tingkat sekolah dasar masih lebih tinggi dibanding pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. selanjutnya penduduk yang menamatkan pendidikan SLTP/MTs/Paket B sebesar 23 %. Kondisi geografis juga berpengaruh terhadap tingginya angka putus sekolah. sebagaimana digambarkan dalam Tabel 2. penduduk yang menamatkan pada jenjang pendidikan SLTA sebesar 28 %. semakin besar biaya yang diperlukan. Di Sulawesi Selatan masih cukup banyak dijumpai anak putus sekolah. Aksesibiltas yang rendah untuk menjangkau sekolah dengan sarana dan prasarana transportasi yang terbatas dan masih sulit dijangkau 42 .Secara umum di Sulawesi Selatan. Persentase penduduk yang berpendidikan rendah masih relatif tinggi. Putus Sekolah Partisipasi Sekolah dapat dikaitkan dengan keadaan putus sekolah. Kemiskinan seringkali menjadi alasan bagi siswa sekolah untuk tidak melanjutkan sekolah. disamping anggapan bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan. Persentase tertinggi adalah penduduk yang menamatkan pendidikan SD yaitu 46 %.4. karena mereka diharapkan membantu mencari nafkah untuk keluarganya.

Usia dan Kabupaten/KotaTahun 2008 Sumber data : BPS. meskipun guru telah memberikan dorongan dan motivasi kepada siswa agar tidak putus sekolah.11. Angka putus sekolah menurut kelas dan jenjang sekolah. Susenas 2008 43 . merupakan salah satu alasan bagi siswa untuk tidak melanjutkan sekolah. Tabel 4. Hal ini mengindikasikan masih adanya hambatan bagi anak untuk bertahan belajar di sekolah sejak memasuki sekolah dasar. tampak mulai terjadi sejak SD. dan menunjukkan persentase yang meningkat seiring dengan jenjang sekolah. Persentase Penduduk Berdasarkan Status Putus Sekolah Menurut Jenis Kelamin.oleh masyarakat di pelosok pedesaan dan wilayah kepulauan.

43 95.53 7.39 19-24 93.20 16.72 54.82 0.51 89.27 86.22 3.61 44 .48 4.02 84.10 10.12.93 86.19 80.22 44.94 2.37 88.84 3.60 1.64 86.02 3.79 37.45 20.25 14.22 95.74 91.10 20.78 89.61 79.20 2.93 33.97 91.91 88.48 59.84 25.47 32.15 46.79 22.01 0.88 39.17 89.51 63.96 1. Susenas 2009 18.24 79.93 3.18 50.67 12.48 46.11 60.81 2.79 88.81 90.11 1.12 3.76 23.86 12.00 51.37 32.73 28.39 37.33 12.07 22.16 76.34 17.41 3.15 55.82 77.47 58.80 81.59 2.68 1.88 35.31 40.82 11.25 1.90 58.55 15.70 87.22 91.92 42.Tabel 4.44 83.01 11.72 54.34 89.23 90.53 31.15 2.45 26.30 49.29 40.83 54.61 44.45 1.74 Tidak bersekolah lagi Jenis Kelamin 19-24 85.99 3.83 84.65 2.05 81.45 13.50 85.22 91.12 45.81 4.75 12.43 27.32 92.22 82.92 0.08 35.42 86.75 15.05 9.19 52.77 33.33 1.06 46.70 3.26 59.30 47.32 0.18 28.74 2.49 83.41 60.81 2.86 Perempuan 13-15 16-18 5.28 52.48 94.49 94.76 93.33 21.31 5.64 16.32 8.56 0.29 2.21 91.72 5.30 78.76 2.78 Sumber data : BPS.27 45.75 32.97 7-12 1.27 37.97 64.39 29.61 38.68 61.38 32.56 2.63 1.93 20.66 91.91 15.39 14.50 19.38 0.88 2.22 5.08 68.84 49. Usia dan Kabupaten/KotaTahun 2009 Kabupaten/ Kota 7-12 01 Selayar 02 Bulukumba 03 Bantaeng 04 Jeneponto 05 Takalar 06 Gowa 07 Sinjai 08 Maros 09 Pangkep 10 Barru 11 Bone 12 Soppeng 13 Wajo 14 Sidrap 15 Pinrang 16 Enrekang 17 Luwu 18 TanaToraja 22 LuwuUtara 25 LuwuTimur 71 Makassar 72 Parepare 73 Palopo Jumlah 3.80 1.45 3.31 40.74 Laki-laki 13-15 16-18 15.78 30.65 8.24 3.12 58.13 17. Persentase Penduduk Berdasarkan Status Putus Sekolah Menurut Jenis Kelamin.28 4.56 3.26 66.57 3.12 6.23 92.71 9.04 33.85 12.61 49.57 1.94 7.88 24.39 87.66 53.85 37.51 0.28 20.96 83.

11 dan 4. sosio emosional (sikap dan perilaku serta agama) bahasa dan komunikasi. 4. dan informal. Tabel tersebut juga menunjukkan bahwa keadaan putus sekolah pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi cenderung semakin meningkat persentasenya. Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar). kecerdasan emosi. dan juga disebabkan oleh factor internal siswa laki-laki. angka putus sekolah di Sulawesi Selatan menunjukkan persentase laki-laki lebih besar daripada perempuan. kecerdasan spiritual). nonformal.12. yang diselenggarakan pada jalur formal. daya cipta. Banyaknya laki-laki yang putus sekolah dimungkinkan karena beberapa hal meliputi pergi merantau mencari pekerjaan di daerah lain. membantu orangtua mencari nafkah. Pendidikan Anak Usia Dini Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.5. 45 . di semua jenjang usia pendidikan. sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini. kecerdasan (daya pikir.Berdasar table 4.

PAUD dilaksanakan sejak usia 0-8 tahun. • Tujuan penyerta: untuk membantu menyiapkan anak mencapai kesiapan belajar (akademik) di sekolah.13 Jumlah Siswa PAUD di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009 46 . Rentangan anak usia dini menurut Pasal 28 UU Sisdiknas No. Sementara menurut kajian rumpun keilmuan PAUD dan penyelenggaraannya di beberapa negara.8 berikut: Tabel 4.20/2003 ayat 1 adalah 0-6 tahun. yaitu anak yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya sehingga memiliki kesiapan yang optimal di dalam memasuki pendidikan dasar serta mengarungi kehidupan di masa dewasa.Ada dua tujuan diselenggarakannya pendidikan anak usia dini yaitu: • Tujuan utama: untuk membentuk anak Indonesia yang berkualitas. Gambaran PAUD di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009 dapat dilihat pada Tabel 4.

87 %) dan perempuan sebanyak 9. maka dapat dilihat bahwa pada kelompok umur 0 – 4 bulan jumlah murid PAUD yang paling banyak adalah di Kabupaten Luwu Utara yaitu sebanyak 20.38 %).775 orang (52.Berdasarkan Tabel 4. Selanjutnya pada kelompok umur 24 – 48 bulan.93 %) sedangkan kabupaten yang memiliki jumlah murid PAUD yang paling sedikit pada kelompok umur tersebut adalah di Kabupaten Wajo dengan jumlah 35 murid yaitu laki-laki 14 murid (40.420 murid (49.88%) dan perempuan 67.67%) dan perempuan 53.890 murid yang terdiri dari laki-laki 9.267 orang ((52.474 yang terdiri dari laki-laki 10.284 orang yang terdiri dari umur 0 – 4 bulan sebanyak 101.00 %) dan perempuan 21 murid (60.13 %) sedangkan kabupaten yang memiliki jumlah murid PAUD yang paling sedikit pada kelompok umur ini sama pada kelompok umur 0 -4 bulan yaitu Kabupaten Wajo yaitu hanya berjumlah 543 murid yang terdiri dari laki-laki 237 murid (43. nampak bahwa jumlah murid yang mengikuti PAUD sebanyak 433.00 %).252 murid (50. selanjutnya umur 24 – 48 bulan sebanyak 130.65 %) dan 47 .048 orang yang terdiri dari laki-laki 62.520 orang (47. Jika dilihat secara cermat nampak bahwa jumlah murid PAUD perempuan pada setiap kelompok umur lebih banyak dibanding laki-laki.470 murid (50.449 orang yang terdiri dari laki-laki 89.273 orang (47.787 orang yang terdiri dari laki-laki 48. kabupaten yang memiliki jumlah murid PAUD yang lebih banyak dibanding kabupaten lainnya yaitu Kabupaten Pinrang yaitu sebanyak 18.07 %) dan perempuan 10.13 diatas yang bersumber dari Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2010.61 %)dan perempuan 111.575 orang (55.11 %) dan kelompok umur 49 – 72 bulan sebanyak 201.33%).222 murid (49.874 orang (44. Jika perbandingan murid PAUD dianalisis menurut kabupaten.

Secara umum kabupaten/kota yang memiliki partisipasi yang paling tinggi dalam melaksanakan PAUD adalah Kabupaten Pinrang dengan jumlah murid PAUD sebanyak 54.86 %) sedangkan kabupaten yang memiliki jumlah murid PAUD yang paling sedikit pada kelompok umur tersebut adalah di Kabupaten Gowa yaitu 1.109 murid yang terdiri dari laki-laki sebanyak 519 murid (46.perempuan 306 murid (56. 48 . Sementara pada kelompok umur 49 – 72 bulan yang memiliki jumlah murid PAUD yang lebih banyak dibanding kabupaten lainnya yaitu Kota Makassar sebanyak 26.814 murid (40.20 %).943 murid yang terdiri dari laki-laki sebanyak 10.803 murid.14 %) dan perempuan 16.35 %).80 %) dan perempuan 590 murid (53.129 murid (59.

1. Angka kematian pada umumnya dapat dihitung dengan melakukan berbagai survey dan penelitian. cakupan imunisasi dan status gizi balita.1. AKI. Menurut hasil Surkesnas/Susenas. Di samping itu kejadian kematian juga dapat digunakan sebagai indikator dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan kesehatan lainnya. Peristiwa kematian pada dasarnya merupakan proses akumulasi akhir dari berbagai penyebab kematian langsung maupun tidak langsung. dan gerakan sayang ibu. Partisipasi dalam ber KB. KESEHATAN Gambaran perkembangan derajat kesehatan masyarakat dapat dilihat dari kejadian kematian dalam masyarakat dari waktu ke waktu. Kesehatan Reproduksi. Adapun rincian permasalahan yang akan dilihat adalah angka kematian bayi (AKB). AKABA.BAB V. 5. Penolong Persalinan. Angka Kematian Bayi (AKB). hal tersebut ditandai dengan menurunnya angka kematian bayi (AKB). Secara umum kejadian kematian pada manusia berhubungan erat dengan permasalahan kesehatan sebagai akibat dari gangguan penyakit atau akibat dari proses interaksi berbagai faktor yang secara sendiri-sendiri atau bersama-sama mengakibatkan kematian dalam masyarakat. Pada Bab ini akan dicoba dilihat atau diungkap kemungkinan adanya kesenjangan antara laki-laki dan perempuan di bidang kesehatan. Angka kematian bayi menunjukkan banyaknya kematian bayi per seribu kelahiran hidup. Derajat kesehatan masyarakat di Sulawesi Selatan semakin meningkat. AKB di Indonesia 49 .

89 per 1. yaitu dari 161 per 1. dan hasil SDKI 2007 menunjukkan angka 41 per 1. AKB Sulawesi Selatan menunjukkan penurunan yang sangat tajam seperti Tabel 5.000 kelahiran hidup. Di Sulawesi Selatan.pada tahun 2001 sebesar 50 per 1. lalu turun lagi menjadi 52 pada tahun 1998 kemudian pada tahun 2003 menjadi 48 (Susenas 2003). Sedangkan AKB menurut hasil SDKI 2002-2003 terjadi penurunan yang cukup besar. Ini berarti rata-rata penurunan AKB selama kurun waktu 1998-2003 sekitar 4 poin.000 kelahiran hidup. Namun. Fluktuasi ini bisa terjadi oleh karena perbedaan besar sampel yang diteliti.1.000 kelahiran hidup. angka ini berada jauh dari yang diproyeksikan oleh Depkes RI yakni sebesar 26.000 kelahiran hidup sedangkan hasil Susenas 2006 menunjukkan AKB di Sulsel pada tahun 2005 sebesar 36 per 1.000 kelahiran hidup. Selama tiga puluh tahun terakhir. sementara itu data proyeksi yang dikeluarkan oleh Depkes RI bahwa AKB di Sulsel pada tahun 2007 sebesar 27.000 kelahiran hidup. 50 .000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup sementara hasil SDKI 2007 hasilnya menurun lagi menjadi 34 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 1971 menjadi 55 pada tahun 1996.52 per kelahiran hidup. yaitu menjadi 35 per 1. menurut hasil Surkesnas/Susenas 2002-2003. AKB di Sulawesi Selatan sebesar 47 per 1. Angka Kematian Bayi menunjukkan penurunan yang sangat tajam. pada tahun 2002 sebesar 45 per 1.

4 69.39 per 1.000 kelahiran hidup. Hal tersebut merupakan respon positif dari upaya pemerintah untuk mendekatkan fasilitas kesehatan pada masyarakat. Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Harapan Hidup (AHH) Di Sulawesi Selatan Tahun 1971-2009 Tahun AKB AHH (1) (2) (3) 1971 1996 1998 2000 2001 2003 2004 2005 2007 2008 2009 161 55 52 48 47 48 44 36 41 4. Tahun 2008 ini jumlah kematian bayi turun menjadi 638 atau 4.000 kelahiran hidup.6 69. Tanda *) adalah AKB menurut laporan Dinkes Sulawesi Selatan Sementara laporan dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota bahwa jumlah kematian bayi pada tahun 2006 sebanyak 566 bayi. jumlah kematian bayi turun menjadi 495 atau 3.000 kelahiran hidup. sementara tahun 2009.31 per 1.Tabel 5.1. Penurunan angka kematian bayi merupakan indikasi terjadinya peningkatan derajat kesehatan masyarakat sebagai salah satu wujud keberhasilan pembangunan di bidang kesehatan dan semakin meningkatnya pendidikan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan.000 kelahiran hidup. Adapun nilai normatif AKB yang kurang dari 40 sangat sulit diupayakan penurunannya (hard rock). atau 4.32 per 1.61 per 1.31*) 63 64 68 68 68 69 69 69.39*) 3.8 Sumber : Susenas dan SDKI. 51 . mengalami peningkatan pada tahun 2007 menjadi 709 kematian bayi atau 4.

Tabel 5. Ada banyak faktor yang mempengaruhi tingkat AKB tetapi tidak mudah untuk menentukan faktor yang paling dominan dan faktor yang kurang dominan.1). Menurunnya AKB dalam beberapa waktu terakhir memberi gambaran adanya peningkatan dalam kualitas hidup dan pelayanan kesehatan masyarakat.8 persen. Tersedianya berbagai fasilitas atau faktor aksesibilitas dan pelayanan kesehatan dari tenaga medis yang terampil. Rata-rata usia harapan hidup penduduk Sulawesi Selatan terus meningkat dari 63 pada tahun 1996 menjadi 64 pada tahun 1998. 52 .8 (Tabel 5. Sejak tahun 2000 hingga tahun 2003 AHH relatif stabil pada usia 68 tahun. dan lebih besar dari 70 tergolong mudah untuk diturunkan. AHH nya mencapai 69. Angka Harapan Hidup (AHH) juga diharapkan terjadi peningkatan. sedangkan dari tahun 2004 – 2005 AHH mencapai angka 69 dan pada tahun 2009. serta kesediaan masyarakat untuk merubah kehidupan tradisional ke norma kehidupan modern dalam bidang kesehatan merupakan faktor-faktor yang sangat berpengaruh terhadap tingkat AKB.antara 40-70 tergolong sedang.2 menunjukkan bahwa penyakit Diarre dan Pneumonia adalah penyebab utama terjadinya kematian pada bayi yaitu masing-masing 31.4 persen dan 23. namun sulit untuk diturunkan. Sejalan dengan menurunnya AKB.

Tabel 5.2 Angka Kematian Balita (AKABA). Penyebab Kematian % 31. Angka Kematian Balita (AKABA) adalah jumlah anak yang dilahirkan pada tahun tertentu dan meninggal sebelum mencapai usia 5 tahun. Sepsis 7. penyakit menular dan kecelakaan. Tetanus 8.2.1 2.1.9 2. TB 10.2 1. 5. dinyatakan sebagai angka per 1. sehingga kerap dipakai untuk mengidentifikasi kesulitan ekonomi penduduk.4 5. Campak Sumber Riskesdas 2007 5. Indikator ini menggambarkan tingkat kesejahteraan sosial. sanitasi.8 4.8 9.000 kelahiran hidup. Malnutrisi 9. Diare Pneumonia Meningitis/ensefalitis Kelainan Saluran Pencernaan Kelainan jantung Kogenital & Hydrocephalus 6.4 23. AKABA menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan anak dan faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap kesehatan anak Balita seperti gizi. 53 . 1. 4. dalam arti besar dan tingkat kemiskinan penduduk. Proporsi Penyebab Kematian Bayi No.3 1. 3.3 6.2. 2.

Angka Kematian Anak Balita (1-4 th) di Sulawesi Selatan dan Indonesia.16 64 46 72 51 46 1.1 64. tahun 1995-2008 Tahun 1 1995 1997 1998 1999 2000 2001 2003 2004 2005 2006 2007 2008 AKABA per 1000 KH Nasional Propinsi 2 3 75 19.000 kelahiran hidup.55 44.13 44 53 1. Angka Kematian Balita di Indonesia (menurut estimasi SUPAS 1995) dalam beberapa tahun terakhir (kecuali tahun 2001) terlihat mengalami penurunan yang cukup bermakna. hasil SDKI 54 . Sumber : Data Sekunder diolah serta Profil Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan Catatan: Adapun nilai normatif AKABA yakni lebih besar dari 140 tergolong sangat tinggi.7 42. Dilaporkan dari Dinkes Kab. Menurut hasil SUSENAS 2001 AKABA diperkirakan sebesar 64 per 1.4 17.000 kelahiran hidup. Pada tahun 1986 AKABA diperkirakan sebesar 111 per 1.28 59.000 kelahiran hidup. pada tahun yang sama berada dibawah rata-rata nasional yakni sebesar 42.3. SDKI 2007 Dilaporkan dari Dinkes Kab. antara 71-140 sedang dan kurang dari 71 rendah.33 1.Tabel 5.93 Sumber 4 Estimasi SUPAS 1995 SDKI 1997 Estimasi SUPAS 1995 Estimasi SUPAS 1995 Estimasi SUPAS 1995 Estimasi SUSENAS Estimasi SUSENAS Estimasi SUSENAS Estimasi SUSENAS Dilaporkan dari Dinkes Kab. kemudian turun menjadi 81 pada tahun 1993 dan turun lagi menjadi 44.7 pada tahun 2000 sementara untuk Sulawesi Selatan. Namun.16 per 1.

Sehubungan dengan hal tersebut.57% tahun 2007 dari kelahiran hidup). Pada tahun 2008 jumlah kematian balita dilaporkan mengalami peningkatan menjadi 283 balita atau 1.000 kelahiran hidup menurut SDKI 2007.83% pada tahun 2006 dan 1.81% pada tahun 2006 dan mengalami penurunan pada tahun 2007 55 .2002-2003 menunjukkan bahwa AKABA di Sulawesi Selatan mencapai 72 per 1. Angka kematian Bayi dan Balita untuk tingkat kecamatan. antara lain persentase BBLR (0.000 kelahiran hidup. menunjukkan bahwa pola penyakit penyebab kematian balita menurut Hasil Riskesdas tahun 2007 masih didominasi oleh penyakit infeksi. Jumlah kematian balita yang dilaporkan oleh Dinas Kesehatan Kab/Kota di Sulsel pada tahun 2006 sebanyak 148 balita atau 1. maka untuk menggambarkan angka kematian bayi dan balita di Sulawesi Selatan dapat digambarkan dengan indikator program yang dilaksanakan dalam upaya menurunkan angka kematian bayi dan balita.000 kelahiran hidup dan menurun menjadi 53 per 1. dari hasil penelitian mendalam terhadap semua kasus kematian AKABA yang ditemukan dalam RISKESDAS diperoleh gambaran besarnya proporsi sebab utama kematian Balita dapat dilihat pada tabel 5.33 per 1. Sementara itu.13 per 1. kabupaten maupun provinsi tidak tepat jika diperoleh dari survey yang berskala nasional.000 kelahiran hidup. Sedangkan pada tahun 2007 jumlah kematian balita dilaporkan sebanyak 105 balita atau 1. cakupan kunjungan bayi (82.93 per 1000 kelahiran hidup..4. Hal ini karena rancangan sampel diperuntukkan untuk menggambarkan angka kematian bayi dan balita tingkat nasional.

TB 9.menjadi 75.9 5.8 5.2. Untuk data tahun 2008 persentase BBLR 1.9 2. Kelainan jantung Kogenital & Hydrocephalus 5. tingkat pelayanan kesehatan terutama untuk ibu hamil. Malnutrisi 8. Tabel 5.7 8.1. pelayanan kesehatan waktu ibu melahirkan dan masa nifas.9 2. cakupan pemberian ASI eksklusif meningkat menjadi 77. Angka Kematian Ibu (AKI) AKI adalah banyaknya wanita yang meninggal dari suatu penyebab kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau penanganannya selama kehamilan. kondisi kesehatan lingkungan.9 3.8 4.2 15.20% dari jumlah kelahiran hidup). Untuk mengantisipasi masalah ini maka diperlukan terobosan56 . cakupan pemberian ASI ekslusif (57. Diare 1. Pneumonia 2.38 % dari kelahiran hidup. Proporsi Penyebab Kematian Balita di Indonesia Hasil Riskesdas Tahun 2007 Penyebab Kematian No.4.39 %.48% pada tahun 2006 dan 57. Angka Kematian Ibu (AKI) berguna untuk menggambarkan tingkat kesadaran perilaku hidup sehat. status gizi dan kesehatan ibu.5 10. Sepsis 6.000 kelahiran hidup. Tetanus 7.18 %. Sumber : Riskesdas 2007 % 25. Kelainan Saluran Pencernaan 4.05% pada tahun 2007) dan lainlain. cakupan kunjungan bayi menurun 71. melahirkan dan dalam masa nifas (42 hari setelah melahirkan) per 100. Campak 10. Meningitis/ensefalitis 3.8 6.

kemudian menurun lagi menjadi 373 per 100.5. AKI menurun dari 450 per 100. Publikasi Hasil SKRT 1995 & SDKI 2003.2007 Untuk melihat kecenderungan AKI di Indonesia secara konsisten.000 kelahiran hidup pada tahun 1992. Tabel 5.000 Kelahiran Hidup di Indonesia. tahun 1982-2007 Penelitian/Survei Tahun AKI 1 2 3 SDKI 1982 450 SKRT 1986 450 SKRT 1992 425 SKRT 1994 390 SKRT 1995 373 SDKI 1997 334 SDKI 2002-2003 307 SDKI 2007 248 Sumber: Badan Litbangkes. Menurut SKRT.terobosan dengan mengurangi peran dukun dan meningkatkan peran Bidan. Pada SKRT 2001 tidak dilakukan 57 .000 kelahiran hidup pada tahun 1986 menjadi 425 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1995. maka cakupan wilayah penelitian AKI menjadi lebih luas dibanding survey-survey sebelumnya. Harapan kita agar Bidan di desa benar-benar sebagai ujung tombak dalam upaya penurunan AKB (IMR) dan AKI (MMR). Angka Kematian Ibu (AKI) diperoleh melalui berbagai survey yang dilakukan secara khusus seperti survey di rumah sakit dan beberapa survey di masyarakat dengan cakupan wilayah yang terbatas. Dengan dilaksanakannya Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) dan Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI). digunakan data hasil SKRT. Angka Kematian Ibu Maternal per 100.

89 per 100. diperkirakan target tersebut akan sulit tercapai. Jumlah kematian ibu maternal yang dilaporkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota di Sulawesi Selatan pada tahun 2006 sebanyak 133 orang atau 101.000 kelahiran hidup. Gambar 5.000 kelahiran hidup.survey mengenai AKI. maka apabila penurunannya masih seperti tahun-tahun sebelumnya.56 per 100. Hal ini menunjukkan AKI cenderung terus menurun.67 per 100. Tetapi bila dibandingkan dengan target yang ingin dicapai secara nasional pada tahun 2010.000 kelahiran hidup diperoleh dari hasil SDKI.2007 dan 2008 Sumber : Profil Kesehatan Kab/ Kota tahun 2006-2008 58 . Angka Kematian Ibu (AKI) di Sulawesi Selatan Tahun 2006. Untuk tahun 2008 jumlah kematian ibu maternal mengalami penurunan menjadi 121 orang atau 82. yaitu sebesar 125 per 100. Pada tahun 2002-2003. kemudian menjadi 248 per 100. AKI sebesar 307 per 100. sedangkan pada tahun 2007 sebanyak 143 kematian atau 92.000 kelahiran hidup.1.000 kelahiran hidup (SDKI 2007).000 kelahiran hidup.

karena semakin tinggi umur perkawinan. Kesempatan untuk memperoleh pengetahuan tersebut telah tersedia di berbagai tempat-tempat pemukiman penduduk. lebih dari 35 tahun. Kesehatan Reproduksi Persalinan yang dilakukan pada ibu usia kurang dari 20 tahun. Posyandu. atau jarak waktu kelahiran terakhir kurang dari dua tahun akan semakin memperbesar resiko persalinan. Polindes dan saranasarana kesehatan lainnya. pernah hamil empat kali/lebih. Persentase wanita yang 59 . Disamping itu juga pengetahuan para ibu rumahtangga tentang kesehatan merupakan sesuatu yang sangat penting dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan keluarga. misalnya melalui Puskesmas. Usia perkawinan pertama merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap tingkat fertilitas.2. Hal ini berarti pula bahwa penundaan perkawinan mengakibatkan berkurangnya peluang wanita untuk melahirkan anak lebih banyak.5. khususnya wanita menyebabkan masa reproduksinya lebih pendek. Kesadaran masyarakat untuk berperan aktif dalam mengendalikan banyaknya kelahiran belum terlihat nyata. Himbauan untuk menunda usia perkawinan pertama dan membatasi jumlah kelahiran merupakan usaha nyata dalam merealisasikan tujuan tersebut. Sementara jumlah kelahiran yang terbatas (cukup dua saja) membuat perhatian ibu terhadap anakanaknya semakin besar. Perkawinan yang dilakukan pada usia matang (di atas 20 tahun) bagi perempuan akan membantu mereka menjadi lebih siap untuk menjadi ibu dan mengurangi resiko persalinan.2. Dengan demikian diharapkan akan lahir generasi baru yang lebih handal dan berkualitas untuk kelanjutan pembangunan di masa yang akan datang.

2008 dan 2009 Umur Perkawinaan Pertama (tahun) (1) ≤ 16 17 . mengingat usia <16 tahun masih tergolong usia anak (berdasarkan batasan usia anak dalam UU Perlindungan Anak).66 persen.24 25+ Sumber : Susenas 2007. Tabel 5. Namun demikian. menjadi 23..73 40. persentase ini masih cukup tinggi apalagi jika diakumulasikan dengan perempuan yang menikah pada usia 17-18 tahun.14 60 .00 15.43 40.76 15.26 persen.22 40.85 14. dan pada tahun 2009 persentase ini turun menjadi 21.63 2008 (3) 23.melangsungkan perkawinan pada usia muda (< 16 tahun) dari tahun 2007 – 2009 memperlihatkan persentase yang semakin meningkat. sehingga upayaupaya perlindungan anak masih harus terus ditingkatkan. maka cenderung terjadi perceraian yang pada akhirnya akan bermuara pada kemiskinan warisan bagi anak keturunannya.18 19 . Persentase Wanita Pernah Kawin Menurut Umur Perkawinan Pertama Sulawesi Selatan Tahun 2007. Hal ini perlu menjadi perhatian tersendiri karena akan mempengaruhi ketahanan rumah tangga.16 persen pada tahun 2008.12 2009 (4) 21. 2008 dan 2009 Tahun 2007 (2) 22.6. Kondisi ini cukup menggembirakan.66 22.16 21. Pada tahun 2007 proporsi wanita yang usia perkawinan pertamanya di bawah 16 tahun sekitar 22. dimana ketika perempuan belum siap secara mental dan psikis.26 23.

Pada tahun 2009 persentase wanita yang menikah pada usia 25 tahun ke atas menjadi meningkat menjadi 15. dan pada tahun 2009 naik lagi menjadi 22. Untuk wanita yang menikah pada usia 25 tahun ke atas persentasenya memperlihatkan tren meningkat. dan pada tahun 2009 naik menjadi 40. Persentase penduduk yang menikah pada umur 19 – 24 tahun relatif stabil. turun menjadi 21.73 persen pada tahun 2008. dan mengalami kenaikan pada tahun 2008 menjadi sekitar 15.Persentase penduduk yang menikah pada umur 17-18 tahun cenderung fluktuatif.14 persen 5. Partisipasi Dalam ber KB. Pada tahun 2007 persentasenya adalah sekitar 40.63 persen. Hal ini bisa ditempuh antara lain dengan cara pemakaian alat/cara kontrasepsi KB.2.75 persen.85 persen.43 persen.00 persen pada tahun 2008.3. menjadi 40. 61 . Pada tahun 2007 persentasenya sekitar 23. Pada tahun 2007 persentasenya adalah 14.12 persen.22 persen. Salah satu tujuan program ini adalah untuk meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak serta mewujudkan keluarga kecil bahagia dan sejahtera melalui pembatasan dan pengaturan jarak kelahiran. Selain melalui penundaan usia perkawinan pertama. partisipasi masyarakat dalam membantu pemerintah menangani masalah kependudukan adalah berupa kesadaran masyarakat untuk mensukseskan program Keluarga Berencana.

39 35. Alat/cara ini relatif lebih aman bagi kebanyakan wanita dan relatif lebih murah dan gampang didapatkan.71 4.Tabel 5.62 3.59 51.88 54. meningkat menjadi 54.74 4.24 2.70 29.10 57. Tingginya persentase penggunaan alat kontrasepsi Suntikan KB disebabkan alat ini relatif praktis.52 57. Persentase Akseptor KB Menurut Kontrasepsi yang Sedang Digunakan Tahun 2004.86 4.40 3.7. bisa dilakukan pada saat yang dikehendaki oleh akseptor.21 31.81 3. Kelebihan lain dari alat kontrasepsi ini adalah jika akseptor ingin berhenti.73 2. pada tahun 2006 menjadi 57. cenderung lebih memilih jenis alat kontrasepsi ini.44 2009 (5) 1. 2005. 2006 dan 2009 Jika dirinci menurut jenis alat/cara KB yang dipakai tampak bahwa akseptor yang menggunakan suntikan KB menempati urutan tertinggi. mudah pemakaiannya (tidak membuat akseptor malu/risih pada saat pemasangan seperti misalnya IUD) dan efek sampingnya juga tidak terlalu besar.86 persen dan pada tahun 2009 menjadi 57.74 persen pada tahun 2005. yaitu mencapai sekitar 51.12 2. 2005.05 33. sehingga untuk wanita-wanita yang sibuk. 2006 dan 2009 Tahun 2004 (1) MOW/MOP AKDR/IUD Suntikan KB Susuk KB Pil KB Lainnya (2) 1.25 Jenis Kontrasepsi Sumber : Susenas 2004.85 2006 (4) 1.95 2.54 persen pada tahun 2004. 62 .53 2.73 2005 (3) 1.71 persen.54 5..

Meningkatnya

akseptor

KB

yang

menggunakan

metode

kontrasepsi berupa suntikan, diikuti oleh semakin berkurangnya akseptor KB yang menggunakan metode kontrasepsi pil. Hal ini menunjukkan telah terjadi pergeseran pemakaian alat kontrasepsi dari pil KB ke Suntikan KB, kondisi ini kemungkinan disebabkan karena kesibukan para wanita, sehingga lebih memilih suntikan KB yang resiko terjadinya kelainan kecil dibanding dengan pil KB. Sementara itu sisanya menggunakan alat kontrasepsi jenis lain, seperti MOW/MOP, AKDR/IUD, susuk KB, kondom dan metode tradisional. 5.3.1. Penolong Persalinan Penolong persalinan sangat berpengaruh terhadap keselamatan dan kesehatan bayi dan ibu pada saat proses persalinan. Penolong persalinan yang berkualitas tentunya lebih memungkinkan terwujudnya keselamatan/kesehatan bayi dan ibu pada saat persalinan. Tenaga medis sebagai penolong persalinan tentunya lebih baik dibanding tenaga non medis. Bahkan pada periode tahun 2005-2009, penolong persalinan oleh dokter terjadi peningkatan yang cukup signifikan yaitu dari sekitar 8,5 persen pada tahun 2005 dan 8,88 persen pada tahun 2006 meningkat menjadi 11,32 persen pada tahun 2009. Penolong persalinan oleh tenaga medis (dokter dan bidan) di Sulawesi Selatan lebih dari 60 persen, sementara yang ditolong oleh tenaga nonmedis hanya sekitar 30 persen saja. Namun demikian, persentase tersebut cenderung berfluktuasi dari tahun ke tahun. Pada tahun 2005 persentase kelahiran yang ditangani oleh tenaga medis terdapat sekitar 63,73 persen

63

dan pada tahun 2006 turun menjadi sekitar 62,93 persen dan 62,51 persen pada tahun 2009 (Tabel 5.8). Tabel 5.8. Persentase Balita Menurut Penolong Kelahiran Tahun 2005, 2006 dan 2009 Penolong Kelahiran (1) 2005 (2)
8,50 54,37 0,86 36,27 31,21 4,61

Medis : Dokter Bidan

63,73

62,93 8,88 53,05 1,00 37,07 33,39 3,44 0,24

2006 (3)

62,51 11,32 50,83 0,36 37,49 28,48 8,74 0,27

2009 (4)

Lainnya Non.Medis: Dukun Famili

Lainnya 0,45 Sumber: BPS, Susenas 2005, 2006 dan 2009

Terjadinya fluktuasi tersebut, karena penolong persalinan oleh tenaga dukun masih cukup tinggi walaupun cenderung menurun, sehingga perlu pemantauan pengetahuan akan pentingnya kesehatan bagi dukun. Hal ini karena dikhawatirkan terjadinya resiko terhadap keselamatan dan kesehatan ibu dan bayi baik pada saat melahirkan maupun pada pasca kelahiran. Keberadaan Bidan di desa (bidides), diharapkan menjadi penolong persalinan dan mentrasfer pengetahuan tentang kesehatan kepada tenaga dukun. Sehingga kualitas kesehatan anak sejak lahir semakin membaik yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia Sulawesi Selatan khususnya dan Indonesia umumnya dimasa yang akan datang.

64

5.3.2. Lama Pemberian ASI Selama ini pemerintah senantiasa mengaktualisasikan dan mensosialisasikan peningkatan penggunaan air susu ibu (ASI) bagi balita. Hal ini karena dalam pertumbuhan dan perkembangan balita sangat memerlukan air susu ibu (ASI). ASI merupakan zat makanan yang paling ideal untuk pertumbuhan bayi sebab selain bergizi juga mengandung zat pembentuk kekebalan tubuh. Pemberian ASI kepada bayi akan memenuhi kebutuhan gizi dan memberikan kekebalan terhadap beberapa penyakit. Di Sulawesi Selatan, pada periode 2005-2009, paling banyak balita diberi ASI selama 12 sampai 17 bulan yaitu sekitar 32,24 persen walaupun cenderung menurun menjadi 29 persen pada tahun 2009, lalu 24 bulan atau lebih sekitar 24,20 persen dan 18 - 23 bulan sekitar 15,15 persen. Data yang disajikan pada Tabel 5.9 memperlihatkan bahwa ternyata masih ada sekitar 1,35 persen balita yang disusui kurang dari satu bulan dan cenderung meningkat menjadi 4,24 persen. Persentase ini mengalami peningkatan dibanding tahun 2005 dan 2006 yaitu sekitar 0,83 poin dan 2,89 poin. Secara umum, ada kecenderungan seorang ibu memberikan ASI kepada Balitanya sekitar 1 hingga 2 tahun. Persentase balita yang disusui selama dua belas sampai tujuh belas bulan pada tahun 2006 relatif sama jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yaitu dari 32,16 persen pada tahun 2005 menjadi 32,24 persen pada tahun 2006 tetapi menurun lagi menjadi 29,0 persen. Disamping itu, untuk balita yang disusui 6 - 11 bulan mengalami penurunan. Ini berarti, di satu pihak, kesadaran ibu akan arti pentingnya ASI bagi bayi semakin meningkat tetapi seiring dengan meningkatnya peran perempuan dalam kegiatan ekonomi sehingga

65

kecenderungan balita yang disusui 0 bulan cenderung meningkat. Padahal, pemberian ASI kepada bayi juga lebih efisien jika dilihat dari segi ekonomi, sebab ASI jauh lebih murah jika dibandingkan dengan susu formula. Mungkin hal itu menjadi salah satu pertimbangan bagi ibu untuk tetap memberikan ASI kepada bayinya. Tabel 5.9 Persentase Balita Menurut Lamanya Disusui (Bulan) Tahun 2005, 2006 dan 2009 Lama Disusui (Bulan) (1) 0 1-5 6-11 12-17 18-23 24+

2005 (2) 0,52 12,20 18,98 32,16 15,68 20,46

2006 (3) 1,35 8,42 14,26 32,24 17,52 26,20

2009 (3) 4,24 12,11 15,27 29,00 15,15 24,23

Sumber: BPS, Susenas 2005, 2006 dan 2009 5.3.3. Imunisasi Sebenarnya jenis imunisasi cukup beragam baik yang diberikan pada anak-anak maupun pada orang dewasa, tetapi yang jadi focus bahasan disini adalah imunisasi untuk anak balita (bawah 5 Tahun). Sejak tahun 1982, untuk mencegah penyakit yang biasa menyerang anak-anak yang diduga akan mengakibatkan kematian pada bayi, pemerintah

66

tetapi data Susenas tahun 1999 menunjukkan sedikit penurunan persentase balita yang paling tidak pernah menerima salah satu jenis imunisasi (lihat table 5.0 94.8 87. Oleh karena itu tidak terlihat adanya perbedaan yang 67 .10. 2007-2009 Daerah/Jenis Kelamin (1) Perkotaan Perempuan Laki-laki Pedesaan Perempuan Laki-laki Total Perempuan Laki-laki 2007 (2) 94.2 85. pemberian imunisasi balita tidak selektif gender atau semua balita ditargetkan menerima imunisasi. Dari tahun ke tahun pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan cakupan imunisasi dari keempat jenis yang diprogramkan di atas.1 89.3 92.Indonesia telah mengusahakan pemberian 4 macam imunisasi yaitu BCG (pencegahan TBC). Partusis dan Tetanus).7 93. Polio (pencegahan polio) dan Campak (pencegahan campak) kepada balita. Persentase Balita yang Pernah Diimunisasi menurut Daerah dan Jenis Kelamin.9 95.3 88.2 88.5 94. DPT (pencegahan Dipteri.3 92.2 91.1 89. Susenas 2007-2009 Pada dasarnya sebagai salah satu program pemerintah.2 92.2 87.9 90.8 2008 (3) 94. Sulawesi Selatan.7 85. Pemantauan pencapaian imunisasi balita ini dapat dilakukan melalui Susenas secara tahunan.6 Sumber: BPS.8 2009 (4) 95.0 91.10).4 92.4 89. Tabel 5.3 88.2 91.7 94.0 85.

walaupun tak terpaut jauh. Tetapi perbedaan itu terlihat antara daerah pekotaan dengan daerah pedesaan. Kesadaran masyarakat pedesaan untuk membawa putra putri mereka ke posyandu atau puskesmas untuk mendapatkan imunisasipun nampaknya masih lebih rendah dari masyarakat perkotaan.500 gram) merupakan salah satu faktor utama yang berpengaruh terhadap kematian perinatal dan neonatal.4.1. 5. BBLR dibedakan dalam 2 kategori yaitu BBLR karena prematur 68 . Bahkan status gizi janin yang masih berada dalam kandungan dan bayi yang sedang menyusu sangat dipengaruhi oleh status gizi ibu hamil atau ibu menyusui. Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) Berat Badan Lahir Rendah (kurang dari 2.berarti pada cakupan imunisasi antara balita laki-laki dan perempuan. Status Gizi Status gizi seseorang sangat erat kaitannya dengan permasalahan kesehatan secara umum. Hal ini nampaknya terkait dengan kemudahan sarana transportasi untuk menuju tempat pemberian imunisasi. Sayangnya pada kesempatan ini cakupan imunisasi belum dirinci untuk setiap jenis imunisasi yang diterima balita. sebagaimana diuraikan berikut ini: 5. Yang tentunya hal ini berkaitan juga dengan tingkat pendidikan mereka.4. Berikut ini akan disajikan gambaran mengenai indikator-indikator status gizi masyarakat di Sulawesi Selatan antara lain bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dan status gizi balita. karena disamping merupakan faktor predisposisi yang dapat memperparah penyakit infeksi secara langsung juga dapat menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan individual.

Pangkep (147 kasus) dan terendah di Kab.416 1.36 % dari total jumlah bayi lahir) dan yang ditangani sebanyak 1. banyak BBLR dengan IUGR karena ibu berstatus gizi buruk.56 % dari total bayi lahir) dan yang tertangani sebanyak 2. Sedangkan untuk tahun 2008 jumlah bayi dengan BBLR mengalami penurunan menjadi 1.451 orang (100%).998 (1. Persentase Balita Menurut Penolong Kelahiran dan Status BBLR Tahun 2007.58 %).(usia kandungan kurang dari 37 minggu) atau BBLR karena Intra Uterine Growth Retardation (IUGR). malaria dan menderita penyakit menular seksual (PMS) sebelum konsepsi atau pada saat hamil. anemia. 2008 dan 2009 Penolong Kelahiran 2007 2008 2009 (1) Jumlah Bayi dengan BBLR (2) 2. Kota ParePare (158 kasus) dan Kab. yaitu bayi yang lahir cukup bulan tetapi berat badannya kurang.36 1. sementara kasus tertinggi di Kota Makassar (251 kasus).040 Persentase dari Total Bayi Lahir (3) 1.998 2.11.56 1. tercatat bahwa jumlah bayi dengan berat badan lahir rendah sebanyak 2. Tabel 5.36 Sumber : Profil Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2009 Tabel 5. Sidrap (172 kasus). Di negara berkembang.11 menunjukkan bahwa di Sulawesi Selatan pada tahun 2007. Sidrap (584 kasus) dan Kota Makassar (295 kasus) dan yang terendah di Kota Palopo (8 kasus). menyusul Kab.670 (83. dengan kasus tertinggi terjadi di Kab. 69 .416 (1.

menurut Susenas tahun 1989.35 70 . prevalensi gizi buruk dan kurang pada balita adalah 37. 5. Salah satu cara penilaian status gizi pada balita adalah dengan anthropometri yang diukur melalui indeks Berat Badan menurut umur (BB/U) atau berat badan terhadap tinggi badan (BB/TB). jumlah bayi dengan BBLR mengalami kenaikan menjadi 2.36 % dari total jumlah bayi lahir). persentase Balita yang bergizi baik adalah sebesar 64.51 % dan sisanya 9.5 % menurun menjadi 24.14%. Sejak tahun 1992 untuk mengukur keadaan gizi anak balita digunakan standar WHO-NCHS untuk index berat badan menurut umur. Dari hasil Susenas 2001 di Indonesia. pada umumnya pengukuran BB/TB menunjukkan keadaan gizi kurang yang lebih jelas.040 (1. gizi baik (z-score-2 SD sampai +2 SD). dan sensitif/peka dibandingkan prevalensi berdasarkan pengukuran berat badan menurut umur seperti hasil dari pengukuran prevalensi gizi kurang menurut BB/TB (wasting) sesudah tahun 1992 berkisar antara 10-14 %. Secara nasional.4. Status Gizi Balita Status gizi balita merupakan salah satu indikator yang menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat. yang berarti mengalami penurunan sekitar 34 %.2. Pada tahun 2009. Masalah gizi kurang pada anak balita dikaji kecenderungannya menurut Susenas dan survei atau pemantauan lainnya.7 % tahun 2000. gizi kurang (zscore<-2 SD sampai -3 SD) dan gizi buruk (z-score<-3 SD). yang bergizi sedang 21.Jeneponto sebanyak 22 kasus. Kategori yang digunakan adalah: gizi lebih (z-score>+2 SD). Namun dari beberapa studi/survei yang melakukan pengukuran berat badan dan tinggi badan (BB/TB).

Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 5.04 70. 11.55 Sumber: Profil Kesehatan Sulawesi Selatan tahun 2008 Di Sulawesi Selatan. menurut laporan yang diterima oleh Subdin Bina Kesehatan Keluarga 71 .89 20. Persentase Balita (0-59 bulan) Menurut Status Gizi & Jenis Kelamin di Indonesia Tahun 2002 dan 2003 Status Gizi 2002 LakiLaki Perempuan LakiLaki+Perempuan LakiLaki 2003 Perempuan Laki-laki +Perempuan Lebih Normal Kurang Buruk 2.47 2. Bila dibandingkan menurut jenis kelamin.3 % anak yang berstatus gizi kurang.03 2.58 73.47 2.62 8.7 % anak yang berstatus gizi baik.73 7. untuk menanggulangi masalah gizi atau untuk memperoleh gambaran perubahan tingkat konsumsi gizi di tingkat rumah tangga dan status gizi masyarakat dilaksanakan beberapa kegiatan seperti Pemantauan Konsumsi Gizi (PKG) dan Pemantauan Status Gizi (PSG) di seluruh kabupaten/kota.88 2.46 19.35 7.3 71.41 18.1 % anak yang berstatus gizi lebih.18 6. 1. Sedangkan untuk tahun 2004. Hasil Pemantauan Status Gizi yang dilaksanakan pada tahun 2001 menggambarkan 84.46 8.03 67.73 17. demikian pula gizi kurang/buruk lebih tinggi pada balita laki-laki dibandingkan balita perempuan.47 71.69 2.88 18. persentase balita perempuan bergizi baik relatif lebih tinggi daripada balita laki-laki.43 7.0 % anak yang berstatus gizi buruk dan 3.24 69.% adalah Balita bergizi kurang/buruk atau yang dikenal dengan istilah Kurang Kalori Protein (KKP).59 19.12.

kulit keriput. kwashiorkor (25 kasus).1 % dan gizi buruk 12. dan Jeneponto sebanyak 6 kasus. iga gambang.48 % (PSG.dan KB Dinkes Prov. Kasus gizi buruk 72 . kwashiorkor. perut cekung. cengeng dan rewel./kota yang diatas angka provinsi dan Sulawesi Selatan sudah mencapai target pencapaian program perbaikan gizi pada RPJM 2015 sebesar 20 %. empat kabupaten/kota terbanyak antara lain Pinrang 12 kasus. sedangkan KEP total sebesar 28. Secara umum prevalensi gizi buruk di Sulawesi Selatan menurut hasil Riskesdas adalah 5. dan Jeneponto (8 kasus). Kasus gizi buruk jenis marasmus di Sulawesi Selatan pada tahun 2008 sebanyak 48 kasus. empat kabupaten/kota dengan kasus terbanyak antara lain Bone (16 kasus). Wajo (11 kasus). tulang belakang terlihat menonjol. Bone 11 kasus. jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada dan sering disertai penyakit infeksi serta diare. dan marasmik-kwashiorkor (22 kasus). Marasmus adalah gizi buruk yang disertai tanda-tanda seperti badan sangat kurus (kulit membungkus tulang). Kwashiorkor adalah keadaan gizi buruk yang disertai tanda-tanda klinis seperti edema di seluruh tubuh. mata terlihat cekung). Jumlah kasus gizi buruk berdasarkan ketiga jenis tersebut di Sulsel pada tahun 2008 sebanyak 95 kasus. Kasus gizi buruk yang sebanyak itu terdiri dari marasmus (48 kasus). Menurut hasil survei Gizi Mikro Tahun 2006 balita gizi buruk tercatat sebesar 9 %. Sulsel tercatat bahwa jumlah KEP sebesar 13. Pinrang (15 kasus). Luwu Timur 7 kasus. dan gabungan marasmik-kwashiorkor. Pada kasus gizi buruk di Sulawesi Selatan pada tahun 2008 dengan adanya gejala klinis terbagi atas 3 jenis./kota tercatat delapan kab.5 %.2004). wajah membulat dan sembab. wajah seperti orang tua (pipi kempot. yaitu marasmus.5 % dari kabupaten. rambut tipis.

Situasi gizi buruk di Sulawesi Selatan pada tahun 2009 berdasarkan profil kesehatan kabupaten/kota tercatat sebanyak 2. Kasus M+K di Sulsel pada tahun 2008 terbanyak di Kab.jenis kwashiorkor ditemukan terbanyak pada Kabupaten Wajo (5 kasus). Oleh karena itu pelayanan kesehatan terhadap ibu dan bayi sangat penting yang dikenal dengan gerakan sayang ibu seperti pelayanan berikut: 5. Bulukumba dan Bantaeng masing-masing (3 kasus).1.5. Soppeng. Sedangkan gizi buruk jenis marasmik-kwashiorkor (M+K) adalah gizi buruk dengan gambaran klinis yang merupakan campuran dari beberapa gejala klinis kwashiorkor dan marasmus dengan BB/U < 60% baku median WHO-NHCS disertai edema yang tidak mencolok. Hal ini dilakukan guna menghindari gangguan sedini mungkin dari 73 . baik kesehatan ibu yang mengandung maupun janin yang dikandungnya sehingga dalam masa kehamilan perlu dilakukan pemeriksaan secara teratur. Pangkep (6 kasus). dan Bone (5 kasus). Gerakan Sayang Ibu Seorang ibu mempunyai peran yang sangat besar di dalam pertumbuhan bayi dan perkembangan anak. Selayar. Pelayanan Antenatal (K1 dan K4) Masa kehamilan merupakan masa rawan kesehatan.92 persen yang mendapat perawatan). Enrekang (7 kasus).5. Gangguan kesehatan yang dialami seorang ibu bisa berpengaruh pada kesehatan janin dalam kandungan hingga kelahiran dan masa pertumbuhan bayi dan anaknya. Pinrang.825 orang (24. 5.

segala sesuatu yang membahayakan terhadap kesehatan ibu dan janin yang dikandungnya. Pelayanan antenatal merupakan pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan profesional (dokter spesialis kandungan dan kebidanan, dokter umum, bidan dan perawat) kepada ibu hamil selama kehamilannya, yang mengikuti pedoman pelayanan antenatal yang ada dengan titik berat pada kegiatan promotif dan preventif. Hasil pelayanan antenatal dapat dilihat dari cakupan pelayanan K1 dan K4. Cakupan K1 atau juga disebut akses pelayanan ibu hamil merupakan gambaran besaran ibu hamil yang telah melakukan kunjungan pertama ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pelayanan antenatal. Sedangkan cakupan K4 adalah gambaran besaran ibu hamil yang telah mendapatkan pelayanan ibu hamil sesuai dengan standar serta paling sedikit empat kali kunjungan, dengan distribusi sekali pada trimester pertama, sekali pada trimester dua dan dua kali pada trimester ketiga. Angka ini dapat dimanfaatkan untuk melihat kualitas pelayanan kesehatan kepada ibu hamil. Gambaran persentase cakupan pelayanan K1 menurut kab./kota di Sulawesi Selatan tahun 2007 tercatat sebesar 93,55 % dan K4 sebesar 76,45%. Cakupan K1 berada di atas target nasional sedangkan K4 berada di bawah target nasional (78%), namun bila dilihat menurut kab./kota maka terdapat kab./kota yang berada di atas target nasional bahkan berada dibawah rata-rata provinsi. Adapun Kab./Kota yang memiliki cakupan yang masih berada jauh dari rata-rata adalah Kab. Selayar, Pangkep, Bone, Enrekang, Tator, Kota Pare-pare dan Palopo. Sedangkan pelayanan K1 tahun 2008 tercatat sebesar 85,91 % dan K4 sebesar 77,74 %.

74

Secara provinsi, pelayanan K1 di Sulawesi Selatan pada tahun 2008 tercatat sebesar 94,71 %, itu artinya pola pelayanan antenatal sudah cukup aktif. Tiga Kab./Kota dengan cakupan terendah yaitu Kota Parepare (84,53%), Selayar (84,71%), dan Enrekang (88,93%). Sedangkan cakupan pelayanan K4 di Sulawesi Selatan dari tahun 2004 -2009 mengalami peningkatan setiap tahunnya. 5.5.2. Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan dengan Kompetensi Kebidanan Komplikasi dan kematian ibu maternal dan bayi baru lahir sebagian besar terjadi pada masa disekitar persalinan. Hal ini antara lain disebabkan pertolongan tidak dilakukan oleh tenaga kesehatan yang tidak memiliki kompetensi kebidanan (profesional). Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan, termasuk pendampingan, meningkat sekitar 10% yaitu dari 60,75 % pada tahun 1998 menjadi 70,62 % pada tahun 2003. Sementara itu, cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan pada tahun 2005 di Sulawesi Selatan tercatat sebesar 78,69 %, bila dibandingkan dengan target SPM Bidang Kesehatan Tahun 2005 (77%) maka Sulawesi Selatan berada di atas target. Sedangkan cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan pada tahun 2007 (72,68%) dan tahun 2008 mengalami peningkatan sebanyak (82,66%). Sedangkan gambaran cakupan persalinan oleh tenaga medis pada tahun 2009 sudah di atas 64 persen seperti yang disampaikan pada bahasan sebelumnya.

75

5.5.3.

Deteksi Risiko, Rujukan Kasus Risti dan Penanganan Komplikasi Kegiatan deteksi dini dan penanganan ibu hamil

berisiko/komplikasi kebidanan perlu lebih ditingkatkan baik di fasilitas pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) maupun di masyarakat. Risti/komplikasi adalah keadaan penyimpangan dari normal, yang secara langsung menyebabkan kesakitan dan kematian ibu maupun bayi. Risti/Komplikasi kebidanan meliputi Hb < 8 g %. Tekanan darah tinggi (sistole > 140 mmHg, diastole > 90 mmHg). Oedema nyata, eklampsia, perdarahan pervagina, ketuban pecah dini, letak lintang usia kehamilan > 32 minggu, letak sungsang pada primigravida, infeksi berat/sepsis, persalinan prematur. Dalam memberikan pelayanan khususnya oleh bidan di Desa dan Puskesmas, beberapa ibu hamil diantaranya tergolong dalam kasus risiko tinggi (Risti) dan memerlukan pelayanan kesehatan karena terbatasnya kemampuan dalam memberikan pelayanan maka kasus tersebut perlu rujukan ke unit pelayanan kesehatan yang memadai. Persentase cakupan ibu hamil risti yang dirujuk tahun 2008 sebesar 25,24 %. Neonatus risti/komplikasi yang meliputi asfiksia, tetanus neonatorum, sepsis, trauma lahir, BBLR (Berat Badan Lahir < 2.500 gram). Sindroma gangguan pernapasan dan kelainan neonatal. Neonatal risti/Komplikasi yang tertangani adalah neonatus risti/komplikasi yang mendapat pelayanan oleh tenaga kesehatan yang terlatih di Puskesmas perawatan dan RS Pemerintah/swasta dengan fasilitas PONED dan PONEK (Pelayanan Obestetrik dan Neonatal Emergensi Dasar dan Pelayanan Obestetrik dan Neonatal Emergensi Komprehensif).

76

77 . yang melahirkan pada tenaga kesehatan sebesar 58.5 % (Nasional 73 %).8 % (Nasional 73 %) dan yang melahirkan pada fasilitas kesehatan sebesar 30.12 persen yang tertangani. pemeriksaan kehamilan di Sulawesi Selatan secara garis besar masih sangat rendah.86 persen dari ibu hamil) dan hanya 49.Berdasarkan data hasil SDKI 2007. yang memperoleh imunisasi TT paling sedikit sebesar 1 kali sebesar 82.9 % (Nasional 77.509 orang (3. persentase cakupan bumil risti di Sulawesi Selatan masih rendah yakni 31.2 %).1%).438 IH (11. Pada tahun 2008.29 %.14 persen dari jumlah neo natal) dan sebanyak 78. Sementara pada tahun 2009. yang menerima tablet zat besi selama hamil sebesar 71. masih jauh dari target nasional (100 %). hal ini ditunjukkan dengan persentase pemeriksaan kehamilan oleh tenaga kesehatan mencapai 92. jumlah ibu hamil risti/komplikasi sebanyak 21. Sedangkan jumlah neonatal risti/komplikasi sebanyak 4.6 % (Nasional 46.51 persen yang tertangani.2 % (Nasional 93.3 %).

78 .

penduduk usia kerja Sulawesi selatan sebanyak 5. KEGIATAN EKONOMI Keterlibatan perempuan dalam sector ekonomi. tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan cenderung semakin tinggi. Pada tahun 2008. Penduduk usia kerja yang dimaksud berumur 15 tahun keatas yang merupakan sumber angkatan kerja potensial.jenis usaha serta status usaha. jam kerja.559.1 Penduduk Usia Kerja Sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk. Upah/gaji.624 jiwa pada tahun 2009.748 jiwa.BAB VI. 6. Berarti setiap 100 79 . dilatarbelakangi oleh keharusan bekerja atau mereka memilih untuk bekerja. terdapat perbedaan usia kerja dimana penduduk usia kerja perempuan lebih besar dari penduduk usia kerja lakilaki dengan sex rasio 95 (Hasil Sensus Penduduk 2010). Jika dilihat dari jenis kelamin. Sehubungan dengan ini dapat dikatakan bahwa semakin rendah tingkat kehidupan social ekonomi rata-rata penduduk di dalam suatu masyarakat. Sedangkan bagi perempuan yang memilih untuk bekerja dan memiliki latarbelakang ekonomi menengah ke atas.. TPAK dan pangangguran. Kemiskinan dan Pekerja Migran. Pembahasan kegiatan ekonomi di provinsi Sulawesi Selatan pada kegiatan ini meliputi: penduduk usia kerja. sehingga melibatkan diri di dalam kegiatan ekonomi secara aktif. Sebagian perempuan yang “harus bekerja” adalah karena kondisi ekonomi keluarga yang tidak mencukupi.lapangan usaha. jumlah penduduk usia kerja juga mengalami pertambahan.660. mereka bekerja tidak lain hanya didorong oleh motivasi tertentu. Jumlah ini meningkat menjadi 5.

.833 3.1) Tabel 6. Adanya perbedaan ini disebabkan oleh jumlah penduduk di pedesaan lebih besar daripada di perkotaan.2.748 2009 Perkotaan (3) 992. sosial. 2008 dan 2009 Jenis kelamin (1) Perempuan Laki-laki total 2008 (2) 2.681.932. 80 .953. Akan tetapi perubahan TPAK dapat dipengaruhi oleh factor demografis.627.712 2. Hal yang sama terlihat pada daerah perkotaan dan pedesaan dimana penduduk usia kerja perempuan lebih besar daripada laki-laki (lihat table 6.370 1.421 Pedesaan (4) 1.1 di atas terlihat penduduk usia kerja di pedesaan .1 Banyaknya penduduk usia kerja menurut jenis kelamin dan daerah tempat tinggal Sulawesi Selatan.559.025 2. Adanya perbedaan ini disebabkan antara lain jumlah penduduk perempuan memang lebih besar. hanya ada 95 laki-laki.655 960.986.720.lebih banyak dibanding perkotaan. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) dan Pengangguran TPAK dapat diukur dari perbandingan angkatan kerja dan usia kerja.perempuan. 6.979. Selain itu penduduk usia kerja laki-laki di Sulawesi selatan banyak yang merantau.766 1.599 5. dan ekonomi. Pengaruh masing-masing faktor tersebut terhadap TPAK berbeda bagi perempuan dan laki-laki.624 Sumber : BPS.203 Total (5) 2.707.036 5. Sakernas 2008 dan 2009 Jika kita mengamati table 6.660.

Tahun 2009 90. banyak dipengaruhi oleh factor sosial.00 20. Sakernas 2009 81 . Sulawesi Selatan. ekonomi dan budaya.00 80.00 40.00 30.00 70.00 0. Melaksanakan tugas rumah tangga masih dianggap sebagai tugas pokok perempuan. Gambar 6.00 50.1 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Menurut Daerah Tempat Tinggal dan Jenis Kelamin.Bagi TPAK laki-laki. pengaruh faktor-faktor tersebut tidaklah terlalu besar oleh karena umumnya laki-laki pencari nafkah utama keluarga. Lain halnya dengan TPAK perempuan.00 P erkotaan Laki-Laki P erempuan P edesaan Sumber : BPS.00 60.00 10.

pada periode 2000-2009 terjadi kenaikan TPAK perempuan dari 28.2 persen pada tahun 2000 menjadi 44. Perbedaan ini mungkin disebabkan oleh system pembagian kerja secara seksual dalam masyarakat. 82 .1 di atas terlihat bahwa TPAK perempuan baik di perkotaan maupun di pedesaan pada tahun 2009 selalu lebih rendah dari pada laki-laki.2 persen sedang laki-laki 69. Walaupun demikian. Hal ini berkaitan dengan pembagian tugas dalam rumah tangga peranan perempuan semakin signifikan dalam pasar tenaga kerja untuk mendukung ekonomi rumah tangga. Kenaikan TPAK tersebut diduga disebabkan oleh kondisi ekonomi yang sudah berangsur membaik yang juga berdampak pada perekonomian rumah tangga. Ini berarti partisipasi perempuan di bidang ekonomi belum dapat menyamai partisipasi laki-laki. Kondisi ini masih sama pada tahun 2000 di mana TPAK perempuan hanya sebesar 28.97 persen pada tahun 2009. di mana perempuan mempunyai kegiatan utama di dalam rumah dan laki-laki di luar rumah (mencari nafkah). TPAK perempuan dan laki-laki di Sulawesi Selatan memiliki perbedaan yang cukup besar yaitu 44.Dari gambar 6.94 persen berbanding 81.94 persen pada tahun 2009.9 persen.

dan daerah. Dari gambar 6.Gambar 6. diantaranya yang utama adalah karakteristik angkatan kerja itu sendiri. Perbedaan itu di samping dipengaruhi oleh desakan kebutuhan ekonomi. Pada daerah yang berbeda.91 persen) dan di pedesaan pada usia 40-44 tahun (57.000 1519 2024 2529 3034 3539 4044 4549 5054 5559 60 + Perkotaan Laki-Laki Perkotaan Perempuan Perdesaan Laki-Laki Perdesaan Perempuan kelamin. tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) berbeda menurut umur dan jenis kelamin. Sakernas 2009 Secara keseluruhan mereka yang berada di pasar kerja atau yang bekerja itu terdiri atas berbagai kelompok umur. dan seperti telah disinggung sebelumnya partisipasi mereka dalam angkatan kerja dapat berbeda-beda.000 60.000 . Sulawesi selatan 2009 Sumber : BPS.19 83 . jenis 100.000 80.000 40. juga oleh kondisi lain. Salah satu karakteristik angkatan kerja yang utama adalah umur dan tentunya jenis kelamin.000 20.2 terlihat bahwa puncak TPAK perempuan di perkotaan berada pada usia 25-29 tahun (57.2 tingkat partisipasi angkatan kerja menurut umur.

Hal ini disebabkan oleh lebih kuatnya pengaruh factor ekonomi daripada factor social budaya di pedesaan. dibandingkan tahun 2000. yang disebabkan oleh dua kondisi yang berlawanan.persen). Dalam kondisi ekonomi yang sulit. 6. Hal ini menunjukkan bahwa pada tahun 2009 pola TPAK perempuan di Sulawesi Selatan adalah the early peak yaitu partisipasi sebagian besar adalah pada perempuan belum kawin atau perempuan muda yang telah kawin sebelum melahirkan. Lingkungan sosial budaya selama ini tidak terlalu memberikan peluang bagi keikut sertaan perempuan dalam angkatan kerja. Disatu sisi 84 . yang kemudian keluar dari pasar kerja selama dan setelah melahirkan anak. Jika anggapan selama ini yang menyatakan rendahnya TPAK perempuan di Sulsel disebabkan oleh factor social dan budaya benar. Tingkat Pengangguran Timbulnya pengangguran adalah disebabkan oleh banyaknya pencari kerja yang tidak dapat diimbangi oleh penciptaan kesempatan kerja. Namun demikian. maka seharusnya TPAK perempuan di pedesaan akan jauh lebih rendah dari TPAK perempuan di perkotaan. baik di perkotaan maupun di pedesaan menunjukkan kecenderungan semakin melonggarnya ikatan sosial dan budaya di Sulawesi Selatan. Pada tahun 2009 TPAK perempuan perkotaan mempunyai 2 puncak dan di pedesaan mempunyai 3 puncak. ternyata memang TPAK laki-laki selalu lebih tinggi di semua kelompok umur baik di perkotaan maupun pedesaan. Di bandingkan dengan TPAK laki-laki. Hal menarik dari kedua gambar di atas adalah secara keseluruhan TPAK perempuan di pedesaan lebih tinggi dari angka di perkotaan. jumlah pengangguran cenderung meningkat.3. terjadi peningkatan TPAK perempuan untuk semua umur.

Sakernas 2000 dan 2009 Hasil pengolahan Sakernas 2000-2009 Sulawesi Selatan menunjukkan tingkat pengangguran terbuka (TPT) perempuan lebih tinggi dibandingkan TPT laki-laki. Tetapi disisi lain.4 terhadap 2. 2000 dan 2009 Daerah Tempat Tinggal (1) Perkotaan Pedesaan 2000 LakiPerempuan laki (2) (3) 9. baik berupa pendatang baru maupun mereka yang lepas/ keluar dari pekerjaan lama untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. Tabel 6.0 1. Jika perbedaan TPT dilihat dari daerah tempat tinggal.8 Total (4) 7.9.6 8.3 5.0 2009 LakiPerempuan laki (5) (6) 13.3.4 persen pada tahun 2000.0 berbanding 1.5 persen dan menurun menjadi 5.4 6.9 1.7 7. TPT perempuan di Sulsel pada tahun 1997 adalah 11. yaitu 7.5 10.jumlah pencari kerja semakin bertambah.9 3. dengan TPT perempuan 85 .4 2. kesempatan kerja yang tersedia justru menciut karena kontraksi ekonomi atau tumbuh dalam besaran yang sangat terbatas karena minimnya investasi atau investasi yang ada lebih bersifat padat modal.3 9. Sulawesi Selatan.2 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menurut Daerah tempat tinggal.4 7. Namun perbedaan TPT menurut jenis kelamin di dua daerah tesebut relative lebih kecil (lihat table 6. didapat perbedaan yang sangat besar antara TPT perkotaan dengan TPT pedesaan.1 10. dan jenis kelamin.3 3.9 Total (7) 11.2).9 Total 5. Pada tahun 2000 perbandingannya adalah 5.2 Sumber : BPS.

86 . perbedaan ini berkaitan dengan perbedaan struktur peluang kerja. Hal tersebut terkait dengan sifat-sifat pekerjaan di pedesaan yang lebih mudah menyerap tenaga kerja keluarga. usaha di sector pertanian dan usaha rumah tangga lebih berperan di bandingkan usaha/kegiatan nonpertannian. termasuk istri dan anak-anak. meskipun dengan produktivitas yang rendah. Menarik untuk ditelaah lebih lanjut adalah TPT perempuan di pedesaan lebih rendah dari perkotaan baik pada tahun 1997. Perempuan yang belum bekerja atau tidak mempunyai pekerjaan.yang lebih tinggi dari TPT laki-laki. Tingginya TPT perempuan diduga karena berhubungan dengan peningkatan keinginan untuk bekerja diluar rumah tangga. Menurut Effendi (1992).1992 dalam Fatmawati). maka tersedia kesempatan bagi perempuan untuk mencari pekerjaan guna menambah penghasilan keluarga sambil mengisi kekosongan waktu ( effendi. Dalam keluarga yang mempunyai sedikit anak (misalnya 2) yang sudah bersekolah. Padahal penduduk usia kerja di pedesaan lebih banyak dari perkotaan. Di pedesaan. Hal ini merupakan indikasi adanya pergeseran status pekerjaan perempuan dari hanya bekerja sebagai pekerja keluarga tanpa dibayar disektor pertanian. Tidak mustahil hal ini berkaitan dengan menurunnya angka kelahiran. karena mereka yang membantu usaha keluaraga dicatat sebagai pekerja meskipun tidak dibayar. baik dengan jam kerja normal maupun tidak. tahun 2000 maupun pada tahun 2009. dapat saja bekerja sementara dengan membantu usaha keluarga. menjadi pekerja public/umum untuk mendapatkan upah. Keadaan ini dapat mempengaruhi TPT.

Inilah yang menyebabkan TPT di perkotaan relatif lebih tinggi 87 . Tidak tertutup kemungkinan mereka yang berpendidikan dipedesaan mencari kerja diperkotaan.Gambar 6. Jenis Kelamin. yang berpendididkan bersedia menunggu beberapa saat untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan. Sulawesi Selatan. Keengganan bekerja di sektor pertanian dan langkahnya peluang kerja non-pertanian dipedesaan diduga mendorong mereka untuk mencari kerja di perkotaan. 2009 Sumber : BPS. Sementara di perkotaan. dan Daerah.3 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menurut Umur. Sakernas 2009 Rendahnya pengangguran terbuka dipedesaan juga dapat dipakai sebagai indikator migrasi desa-kota.

perluasan kota diduga turut menambah pengangguran terbuka. dan mungkin masih berfikir-fikir dulu apakah akan terus sekolah atau bekerja. Seiring dengan menurunnya penduduk miskin 88 . walaupun untuk itu mereka mendapatkan upah/penghasilan yang rendah. terutama biaya sekolahpun pada jenjeng lebih tinggi telah dirasakan memberatkan beban rumah tangga. Pada usia 15-19 tahun sebagian besar masih di bangku sekolah. sehingga belum mencari kerja. Gambar 6. Namun demikian pada periode 2006-2009.3 menunjukkan bahwa tingkat pengannguran di Provinsi Sulawesi Selatan cenderung terus menurun dari 12. (Fatmawati 1993). Mereka yang berasal dari status social ekonomi yang rendah tidak mampu untuk menganggur. Tabel 6. baik karena terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) maupun karena menurunnya daya beli masyarakat secara umum.9 persen tahun 2009.2 persen (2007). Pada awal krisis pengangguran meningkat atau berada pada posisi tinggi karena menurunnya kegiatan ekonomi secara umum maka merosot juga peluang kerja. Selain itu. Hal ini berkaitan dengan dampak krisis ekonomi yang ada.8 persen (2006). kemudian menurun setelah itu. karena itu mereka akan bekerja apa saja untuk memperoleh penghasilan. 10. Jika dibandingkan dengan TPT tahun 1997 dapat dikatakan telah terjadi penurunan TPT diseluruh kelompok umur.3 menunjukkan TPT mencapai puncaknya pada kelompok usia 20 sampai 24 tahun baik di perkotaan maupun di pedesaan serta baik antara laki-laki dan perempuan. Pada dasarnya hanya orang yang mampu atau dari status sosial-ekonomi menengah keatas yang dapat tetap menunggu untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. tetapi memasuki usia 20-24 sudah semakin jelas untuk memutuskan masuk kepasar kerja.5 persen (2008) dan 8.dari pedesaan. 11.

11 persen (2007). Tabel 6.dari 14.5 13.34 2009 (5) 8. Lapangan Usaha Lapangan usaha yang dimasuki oleh pekerja perempuan dan lakilaki memperlihatkan adanya perbedaan. yaitu mudah dimasuki oleh mereka yang pendidikannya rendah dan sering terjadi income/work sharing.57 persen (2006). terutama jasa dan perdagangan. Sebenarnya kesertaan pada sector industri. cukup besar. Tingkat Kemiskinan 2006 (2) 12. dalam kelompok sector sekunder.9 12. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT %) 2. Kedua sector ini secara umum. 14. 13. sebenarnya adalah pada subsector industry kecil dan kerajinan rakyat (IKKR).31 Sumber : Sakernas 2006-2009 dan Susenas 2006-2009 6.3.57 2007 (3) 11. Tingkat Pengngguran Terbuka (TPT) dan Tingkat Kemiskinan di Sulawesi Selatan Tahun 2006-2009 Indikator (1) 1. sehingga produktivitas merekapun tergolong rendah. karakteristiknya mirip dengan sector pertanian.31 persen tahun 2009. Bagian terbesar dari pekerja sector industri.8 14.34 persen (2008) dan 12.11 2008 (4) 10.4. Industry pengolahan yang berskala besar umumnya berlokasi di Makassar dan sekitarnya dengan kegiatan yang banyak menyerap tenaga 89 . Pekerja perempuan di luar sektor pertanian (primer) banyak memasuki sector tertier.2 14.

Daerah. Tampaknya pertanda inilah yang mendorong banyaknya perempuan pedesaan mencari pekerjaan di luar sector pertanian.482 64.011 Catatan: sector primer= sector pertanian. 2007.295 2007 Perempua Lakin laki (2) (3) 2009 Perempua Lakin laki (4) (5) Perkotaan+Pedesaan Primer Sekunder Tertier 361.4 Penduduk Berumur 10 Tahun Keatas yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha Utama.197 164. Table 6.276 24.713 407.424 396.010 185.542 271.648 177.92 0 71.690 22.55 7 45.210 189. yaitu dari sector sekunder dan tertier ke sector primer di antara pekerja perempuan.153.transpotasi.495. kopi. Hal ini menunjukkan adanya penurunan kegiatan ekonomi di kedua kelompok besar lapangan usaha tersebut.695 10.kerja adalah industry pengolahan makanan.729 4.keuangan.223.471 352.listrik.231 1. Dan Jenis Kelamin.649 471.pertambangan.130. 2009 Daerah/Lapangan Usaha (1) Perkotaan Pedesaan Primer Sekunder Tertier 352.815 56. Sector sekunder= sector industry.240 72. maupun udang untuk tujuan sector.240 36.904 187.kontruksi Sector tertier= sector perdagangan.442 1. Jika dilihat dari perkembangan data tahun 2007-2009 terlihat adanya pergeseran yang cukup jelas di daerah pedesaan. Sulawesi Selatan.552 456. 2009 90 1.441 .lainnya Sumber: BPS Sakernas 2007.146 Primer Sekunder Tertier 9.930 95.274 187.24 9 93.552 364.439 281. misalnya pengolahan biji coklat.863 24.569 70.00 9 57.091 80. yang menandakan adanya penurunan kondisi ekonomi pedesaan dalam kurun waktu tahun 2007-2009.jasa.

menunjukkan bahwa pekerja perempuan banyak terserap selain di sektor pertanian (45. rumah makan dan hotel (47. dan itu terjadi baik di perkotaan dan Sumber : BPS.21 persen) adalah sektor perdagangan besar. Dan Jenis Kelamin. Table 6. eceran.5.33 persen) dan sektor jasa kemasyarakatan (30.06 persen).Tabel 6. eceran. rumah makan dan hotel (29. Sakernas 2009 91 .03 persen). Bahkan di daerah perkotaan mayoritas pekerja perempuan terserap di sektor sektor perdagangan besar. Daerah. Sulawesi Selatan. Penduduk Berumur 15 Tahun Keatas yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha Utama.5. Yang menarik adalah proporsi pekerja perempuan yang terserap di sektor industri pengolahan perdesaan.05 persen.69 persen dan 6. 2009 cenderung lebih tinggi dari pekerja laki-laki yaitu masingmasing 7.

8 30.4 22.9 44.5 20. Table 6. dalam Fatmawati 1993). Daerah.9 47. Pengelompokan pekerja menurut status usaha sangat berguna untuk menelusuri sifat usaha (pekerjaan) dan jenis usaha tertentu (Manning.1 34.6 28.6 37.7 35.6 12.5 32.6 55.6.1 55. 2009 2007 Status Pekerjaan (1) Perkotaan Pedesaan Total Berusaha Buruh/kar yawan Pekerja Keluarga 26.1 22.6 54. persentase pekerja perempuan masing-masing sebesar 55.3 Berusaha Buruh/kar yawan Pekerja Keluarga 22.4 22.9 62. tetapi juga distribusi status usaha/pekerjaan (oberay.5 22. pola status usaha pekerja perempuan menunjukkan bahwa sebagian besar mereka bekerja sebagai pekerja keluarga (tak dibayar atau sebagai buruh/ karyawan). Sulawesi Selatan.2 33. Status Pekerjaan Proses pembangunan ekonomi tidak saja dihubungkan dengan distribusi angkatan kerja menurut sector.4 14.1 92 .5. Untuk 2 status tersebut.2 12. 2007.9 16.4 47.3 Perempuan (2) Lakilaki (3) 2009 Perempu Lakian laki (4) (5) Di Sulawesi Selatan.5 23. 1978).5 26.7 Penduduk Berumur 10 Tahun Keatas yang Bekerja Menurut Status Pekerjaan.2 22.9 42.9 13.8 50.6 23. Dan Jenis Kelamin.7 Berusaha Buruh/kar yawan Pekerja Keluarga 25.8 52.8 49.3 72.

4 persen) berstatus buruh atau karyawan.2 persen. baik dilakukan sendiri maupun dibantu anggota rumah tangga lainnya (anak). Umumnya kegiatan perekonomian di pedesaan lebih bersifat informal. Jumlah ini melebihi pekerja laki-laki (49. lazim terjadi praktek berbagi rejeki/pekerjaan (income/work sharing) dalam usaha rumah tangga. 6.7). sebenarnya perempuan pekerja keluarga dapat dikatakan sebagai fenomena pedesaan.2 persen). Di perkotaan pada waktu yang sama.9 persen). 93 . pekerja perempuan sebagian besar (50.persen dan 22. Seseorang dapat dikatakan bekerja penuh jika yang bersangkutan bekerja minimal 35 jam dalam seminggu. sehingga persentase perempuan yang bekerja sebagai buruh atau karyawan tergolong rendah (12.8 persen. Agaknya hal ini berbeda dengan di pedesaan. Persentase perempuan yang berusaha (berusaha sendiri/dibantu buruh tidak tetap/dibantu buruh tetap) ternyata tidak banyak berbeda dengan laki-laki yaitu 26.8 persen berbanding 35.6 persen pada tahun 2009 (lihat table 6.6 Jam Kerja Jam kerja merupakan salah satu variable yang mengukur pemanfaatan seseorang dalam bekerja.3 persen) karena umumnya mereka bekerja sebagai pekerja keluarga (72. Tingginya persentase pekerja keluarga di pedesaan dimungkinkan karena dengan tingkat pendidikan umumnya rendah. Cukup besarnya persentase perempuan pengusaha sejalan dengan lapangan pekerjaan utamanya sebagai pedagang atau jasa dengan skala kecil. Hal ini terlihat dari persentase perempuan yang bekerja sebagai pekerja keluarga adalah 72.

3 9.188 (100.8 persen menjadi 40. Perbandingan tersebut menjadi lebih mencolok untuk mereka yang bekerja 1-14 jam seminggu.7 38. lebih banyak perempuan daripada laki-laki.780 Total (100. Dalam periode tersebut.8 53.8 58.9 4.16 1.9 37. Persentase Pekerja Menurut Kelompok Jam Kerja Dan Jenis Kelamin.5 21.7 persen.0) Catatan: *) Sementara tidak bekerja ( ) angka dalam kurung adalah persentase Sumber: BPS Susenas 2007 dan 2009 94 .0 persen berbanding 42. Table 6.0 20. Dari table 6.0 persen pada tahun 2009. maka banyak pula ditemukan perempuan yang bekerja dengan jam kerja rendah.5 37. tetapi bila dibandingkan data tahun 2007 dengan data tahun 2009 nampak ada sedikit peningkatan.7 840. atau dikenal seminggu setengah penganggur.9 40. 2007-2009 Jumlah Jam Kerja (Jam) (1) 0*) 1-14 15-34 35+ 2007 Perempuan Laki-laki Perempuan 2009 Laki-laki (5) 8. Meskipun jumlah jam kerja perempuan lebih rendah dibanding jumlah jam kerja laki-laki.)) (2) (3) (4) 3.1 32.8.574 823.0) (100.8 terlihat bahwa pekerja yang bekerja di bawah jam kerja normal (35 jam seminggu). atau dikenal juga sebagai setengah penganggur kritis.976.4 1.Dengan banyaknya perempuan yang bekerja sebagai pekerja keluarga atau yang hanya berfungsi membantu suami/ayah/KRT. Data tersebut adalah 59.964.8 32. proporsi perempuan yang bekerja di atas jam kerja normal (35 jam seminggu) meningkat dari sebesar 37.0) (100.

07 kali. dan lain sebagainya. Tetapi pada bahasan ini hanya dilihat berdasarkan tingkat pendidikan yang ditamatkan untuk lakilaki maupun perempuan. 95 . pengalaman kerja. Biasanya penentuan tersebut merupakan kombinasi dari beberapa factor sekaligus. Peningkatan upah/gaji tersebut terjadi pada perekerja laki-laki maupun perempuan di semua jenjang pendidikan dan daerah. Sehingga gap antara upah/gaji laki-laki dan perempuan semakin mengecil bahkan upah/gaji di perkotaan sudah mencapai di atas satu juta. bahkan pada pekerja berpendidikan rendah dan tinggi masing-masing 3.9 juga menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan upah/gaji baik laki-laki maupun perempuan pada periode 2000-2009.39 kali dan 2. jenis pekerjaan. Kemudian terlihat pula adanya kesenjangan antara tingkat upah di perkotaan dengan tingkat upah di pedesaan. sementara lakilaki hanya 2. Peningkatan upah/gaji tersebut salah satunya mungkin karena semakin membaiknya perekonomian di Sulawesi Selatan sehingga upah/gaji pekerja sudah di atas UMR. jam kerja.82 kali untuk pekerja perempuan.25 kali. Upah/Gaji Sebulan Pemberian upah biasanya ditentukan oleh banyak faktor. seperti latar belakang pendidikan. Tabel 6. Bahkan pada pekerja perempuan peningkatannya lebih signifikan yaitu 2. yang mengakibatkan adanya arus migrasi dari pedesaan ke perkotaan.7. keahlian.6. jabatan. Dari hasil pengolahan data Sakernas 2000 dan 2009 (Tabel 6.9) menunjukkan bahwa tingkat upah pekerja secara umum berhubungan positif dengan tingkat pendidikan pada pekerja laki-laki maupun perempuan.

Sementara itu terlihat juga kesenjangan tingkat upah antara yang diterima pekerja perempuan dan yang diterima pekerja laki-laki pada seluruh tingkat pendidikan. Table 6. Rata-rata upah/gaji pekerja sebulan Menurut tingkat pendidikan dan jenis kelamin.9. 2000-2009 Sumber: BPS Sakernas 2000 dan 2009 96 . Sulawesi Selatan. Kesenjangan tersebut sangat nyata di antara mereka yang berpendidikan di atas SLTA baik tahun 2000 maupun 2009.

Tabel 6.4 1031. penduduk 97 .05 4. Kemiskinan Jumlah penduduk miskin di Sulawesi Selatan selama periode Maret 2006-Maret 2009 terus mengalami penurunan baik secara absolut maupun relatif.83 6.9 839.8 124. Pada tahun 2006. Pada periode 2006-2008.6 880.8 152.10 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Sulawesi Selatan Menurutt daerah.600 jiwa (12.94 Desa 18.6 Persentase Penduduk Miskin Kota 6. penduduk miskin di perdesaan mencapai 18.8 150. Pada bulan Maret 2008 turun menjadi 1031.7 963.18 6.5 Desa 944.81 Kota+Desa 14.79 15.79 persen sedangkan di daerah perkotaan turun menjadi 6.0 1083.25 17.8.11 13.57 14.05 persen.7 orang (13.31 Sumber: Diolah dari data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Penduduk miskin di Provinsi Sulawesi Selatan lebih tinggi di daerah perdesaan.57 persen) turun menjadi 1083.4 orang (14. Secara absolut selama periode Maret 2007-Maret 2008.6. 2006-2009 Jumlah Penduduk Miskin (000) Tahun Kota 2006 2007 2008 2009 167.2 930. penduduk miskin di daerah perdesaan menurun menjadi 16.31 persen).34 12. Pada tahun 2006 penduduk miskin di Sulawesi Selatan adalah sebanyak 1112.34 persen) dan pada bulan Maret 2009 turun lagi menjadi di bawah satu juta yaitu 963.0 orang (14.87 16.83 persen.11 persen) pada tahun 2007.1 Kota+Desa 1112.25 persen sementara di daerah perkotaan hanya 6.

52 11.3 (15. Tabel 6.3 Kota 13.5 Sumber: Diolah dari data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2006-2008 98 .38 persen.3 ribu orang (17.700 orang.58) pada tahun 2007. sebagian besar (85.42 2006 2007 2008 14 489. Pada tahun 2006 jumlah penduduk miskin di Indonesia adalah sebesar 39 295.81 20.37 18.3 23 609.42).75 persen).3 12 768. 2006-2008 Tahun Jumlah Penduduk Miskin (000) Kota Desa 24 806.miskin di daerah perkotaan berkurang 2.65 Desa 21. sementara pada bulan Maret 2008 persentase ini sedikit mengalami penurunan menjadi 85.93 Kota+Desa 17.47 12.3 34 963.58 15. Persentase penduduk miskin antara daerah perkotaan dan perdesaan tidak banyak berubah.8 Persentase Penduduk Miskin Kota+Desa 39 295.90 persen) penduduk miskin berada di daerah perdesaan. Pada bulan Maret 2007.0 22 194.000 orang. sementara di daerah perdesaan berkurang 49. Jumlah penduduk miskin di Indonesia pada periode Maret 2006-Maret 2008 tampak semakin menurun. dan pada tahun 2008 turun lagi menjadi 34 963.3 ribu orang (16.75 16.11 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Indonesia Menurut Daerah.3 37 168.0 13 559. turun menjadi 37 168.

sandang. Pada bulan Maret 2007. Demikian juga pada tahun 2008.42 sedangkan di Sulawesi Selatan mencapai sekitar 13. 6. Komoditi yang paling penting bagi penduduk miskin adalah beras. barang-barang kebutuhan pokok lain yang 99 .64 persen di perdesaan dan 18.. Pada tahun 2006 persentase penduduk miskin di Indonesia mencapai 17. penduduk miskin di Indonesia mencapai 15. Perubahan Garis Kemiskinan Besar kecilnya jumlah penduduk miskin sangat dipengaruhi oleh Garis Kemiskinan.78 persen.Jika dibandingkan dengan persentase penduduk miskin di Sulawesi Selatan pada periode Maret 2006-Maret 2008 tampak bahwa persentase penduduk miskin di Indonesia masih lebih besar.126.334.34 persen. sumbangan GKM terhadap GK sebesar 75. Garis Kemiskinan mengalami kenaikan..12 persen. terlihat bahwa peranan komoditi makanan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan.per kapita per bulan pada Maret 2008.per kapita per bulan pada Maret 2007 menjadi Rp. dan kesehatan).623. yaitu dari Rp. pendidikan.9. yang terdiri dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Bukan-Makanan (GKBM). karena penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan dibawah Garis Kemiskinan. tetapi pada bulan Maret 2008.56 persen di perkotaan. sumbangan pengeluaran beras terhadap Garis Kemiskinan sebesar 28.57.138.75 persen sedangkan di Sulawesi Selatan hanya sekitar 14. peranannya sedikit meningkat menjadi 76. Selain beras. Pada bulan Maret 2007. Selama Maret 2007-Maret 2008. Dengan memperhatikan komponen Garis Kemiskinan (GK).

Maret 2006-Maret 2009 Sumber: Diolah dari data Susenas Panel Maret 2006-Maret 2008. mie instan (1.50 persen. 2.78 persen dan 2. Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Sulsel Menurut Daerah. dan Maret 2009. angkutan dan minyak tanah mempunyai pengaruh yang cukup besar untuk daerah perkotaan.11 persen di perdesaan.58 persen di perkotaan).90 persen di perkotaan).34 persen di perdesaan. 0.58 persen di perdesaan. Biaya untuk listrik. Untuk komoditi bukan makanan. 100 .90 persen.99 persen di perdesaan. 2.70 persen di perkotaan) dan minyak goreng (1. 1.04 persen di perdesaan dan 7. sementara untuk daerah perdesaan pengaruhnya relatif kecil (kurang dari 2 persen). yaitu masing-masing sebesar 2. Garis Kemiskinan. Tabel 6. telur (1.82 persen di perkotaan.12. 1.berpengaruh cukup besar terhadap Garis Kemiskinan adalah gula pasir (2. biaya perumahan mempunyai peranan yang cukup besar terhadap Garis Kemiskinan yaitu 6.23 persen di perkotaan).

Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) menunjukkan kecenderungan menurun. Demikian pula Indeks Keparahan Kemiskinan turun dari 0. Dimensi lain yang perlu diperhatikan adalah tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan.60 pada keadaan Maret 2007 menjadi 2. Indeks Kedalaman Kemiskinan dan Indeks Keparahan Kemiskinan Persoalan kemiskinan bukan hanya sekadar berapa jumlah dan persentase penduduk miskin.6. Penurunan nilai kedua indeks ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung makin mendekati garis kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin juga semakin menyempit. kebijakan kemiskinan juga sekaligus harus bisa mengurangi tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan.68 menjadi 0.44 pada keadaaan Maret 2008. 10. 101 . Selain harus mampu memperkecil jumlah penduduk miskin. Indeks Kedalaman Kemiskinan turun dari 2.13).67 pada periode yang sama (Tabel 6. Pada periode Maret 2007-Maret 2008.

82 0.40 3.00 0. Pada bulan Maret 2008.67 4.74 3.22 0.74 1.35 sementara di daerah perdesaan mencapai 0.Maret 2008 Tahun Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) Maret 2006 Maret 2007 Maret 2008 Maret 2009 Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) Maret 2006 Maret 2007 Maret 2008 Maret 2009 0.03 2.44 2.15 1.20 0.68 0.Tabel 6.20 sementara di daerah perdesaan mencapai 3.77 0.82. Nilai Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) untuk perkotaan hanya 0. 102 .22 3. nilai Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) untuk perkotaan hanya 1.55 2.35 0.60 2.13 Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) di Sulawesi Selatan Menurut Daerah. Maret 2006.03.91 1.89 0.61 0.22 0.43 2.08 Kota Desa Kota + Desa Sumber: Diolah dari data Susenas Panel Maret 2006-Maret 2009 Nilai Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) di daerah perdesaan jauh lebih tinggi dari pada perkotaan.67 0.

1981).6. 2004).11. Dengan semakin tingginya tingkat mobilitasi baik nasional maupun internasional. Globalisasi telah merubah banyak jumlah perempuan yang migrasi bukan saja sebagai pengikut tetapi juga sebagai pelaku migrasi. (Demographic Institut. Pekerja Migran (TKI/TKW) Teori migrasi klasik menyatakan bahwa migran lebih banyak lakilaki daripada perempuan pada usia umur produktif. Tujuan dan motif utama migrasi yang sering ditemukan adalah untuk memperbaiki keadaan ekonomi dan status sosial. telah mendorong banyak peneliti melakukan analisa mengenai apa yang mendorong seseorang melakukan hal ini. dunia seakan tanpa batas. Adanya globalisasi informasi menyebabkan mobilitas penduduk semakin meningkat. 103 . Seiring berkembangnya era globalisasi pada saat ini. Mobilitas penduduk merupakan salah satu usaha manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dengan mencari dan menemukan sesuatu yang baru (innovative migration) atau mempertahankan apa yang telah dimiliki (conservative migration). Perempuan meningkatkan migrasi internasional bukan saja jumlah perempuannya yang meningkat tetapi juga konstribusi perempuan di bidang sosial ekonomi juga meningkat (Sri Harijati Hatmaji.

Mobilitas penduduk dapat mendatangkan perubahan sosial baik bagi daerah asal maupun daerah tujuan. Karena dalam proses mobilitas terjadi kontak dengan lingkungan lain. perubahan sosial budaya dapat diamati dari perubahan orientasi nilai budaya tradisional.0 Sumber: Disnakertrans Provinsi sulawesi Selatan (Data Diolah) Data bulan Januari-September 2010. perubahan status sosial ekonomi seperti mata pencaharian serta tingkat pendidikan.4 0.4 100. dan pola fertilitas.14.Tabel 6. Secara umum.1 2.5 13. Tabel menunjukkan bahwa migrasi dari sulawesi Selatan sebagian 104 .775 85 457 1 3 80 3.6 2. Mereka membawa berbagai pengetahuan dan nilai-nilai baru ke tempat asal atau ke tempat tujuan sehingga mendorong terjadinya perubahan sosial budaya.0 0.Banyaknya Migrasi Internasional (TKI dan TKW) dari Sulawesi Selatan Menurut Tujuan Negara Tahun 2010 Tujuan Negara Malaysia Arab saudi Brunei Darussalam Hongkong Kuwait Malaysia Timur Jumlah Jumlah 2.401 Persentase 81. Migran yang telah tersentuh atau dipengaruhi oleh lingkungan yang lain. seringkali menjadi pelaku perubahan.

80 persen dan 90.13 0.29 persen).15.833 0 457 0 0 66 2. Tetapi yang menarik adalah migrasi ke Malaysia dari Sulawesi Selatan yang menjadi TKI dan TKW ke malaysia adalah laki-laki dan perempuan masing masing untuk laki-laki 77. Bahkan ada yang menuju Hong Kong yaitu 1 orang (0.356 P 942 85 0 1 3 14 1.besar menuju Malaysia mencapai 81.00 Tujuan Negara Malaysia Arab saudi Brunei Darussalam Hongkong Kuwait Malaysia Timur Jumlah Diolah) Total 2.10 0.29 1.401 100. berikutnya adalah Brunei Darussalam (13.4 persen) dan Arab Saudi 2.5 persen.3 persen. Banyaknya Migrasi Internasional (TKI dan TKW) dari Sulawesi Selatan Menurut Tujuan Negara dan Jenis Kelamin.775 85 457 1 3 80 3. Tabel 6.00 0. Sedangkan migrasi yang menuju nega-negara Arab seperti ke Arab Saudi adalah umumnya perempuan yaitu sebanyak 85 orang (8.00 2.80 P 90.40 persen.00 19'40 0.00 Sumber: Disnakertrans Provinsi sulawesi Selatan (Data Data bulan Januari-September 2010. 105 .00 0.dan Kuwait 3 orang (0.40 8.34 100.13 persen).34 persen). Tahun 2010 Jenis Kelamin L 1.10 persen) dan Malaysia Timur 14 orang (1.80 0.045 Persentase L 77.

106 .

2 Tahun 2007 tentang Partai Politik dan UU No. karena dapat menghambat pertumbuhan kesejahteraan keluarga dan masyarakat dan mempersulit perkembangan potensi perempuan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.1. UU No. Partisipasi perempuan memberikan kemampuan. Dalam bab ini. Dengan demikian akan terdapat persamaan status. Hambatan bagi partisipasi perempuan dalam kehidupan politik tidak boleh ditolerir. eksekutif dan yudikatif. Partisipasi Perempuan dalam Bidang Legislatif. akan disajikan data tentang keterlibatan perempuan di Sulawesi Selatan pada sektor publik dalam bidang legislatif. Eksekutif. 6. 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum memberikan dukungan untuk terlaksananya 107 . hak kewajiban dan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan dalam menjalankan peran masing-masing. Artinya peraturan perundangundangan yang terkait dengan Pemilu wajib menjamin hak yang sama antara laki-laki dan perempuan untuk menikmati hak sipil dan politik. serasi.BAB VII. saling membutuhkan dan saling mengisi. Yudikatif Hak untuk dipilih dan memilih berdasarkan persamaan hak merupakan perintah UU yang harus dipatuhi. saling menghargai. kemandirian serta ketahanan mental dan spiritual menuju terwujudnya kemitrasejajaran perempuan dan laki-laki yang selaras. dan seimbang yang dilandasi saling menghormati. SEKTOR PUBLIK Peran aktif perempuan dalam pembangunan pada hakekatnya adalah upaya untuk mengembangkan diri yang dapat dilihat pada bidangbidang yang memberi pengaruh luas disektor publik meliputi politik dan sektor pemerintahan. kedudukan.

Ketentuan UU tersebut diperlukan sebagai sarana perubahan sosio cultural menuju persamaan gender dalam kehidupan politik. memasak. Keterlibatan perempuan dalam dunia politik memberikan kecerahan bahwa kaum perempuan bisa menjadi ujung tombak dalam 108 . menjadi bidan/perawat. cukup memberi peluang kepada peningkatan peranan perempuan secara kuantitatif. Dalam masyarakat tradisional semacam itu perempuan diberi peran untuk tugas-tugas yang perlu kesabaran.affirmative action dalam rangka meningkatkan peranan perempuan di bidang partai politik. sehingga peran mereka terutama mengasuh anak. karena partai politik berubah pikiran dalam penetapan calon terpilih dari berdasar nomor urut ke berdasar suara terbanyak. Ditentukannya 30% pengurus partai politik di semua tingkatan harus diisi oleh perempuan dan 30% calon anggota legislatif juga diisi oleh perempuan dengan jaminan penempatan pada nomor urut kopiah atau dasi. Artinya bila hal tersebut menjadi keputusan politik calon anggota legislatif dari kalangan kaum hawa harus lebih keras dalam mengumpulkan pemilih. Hukum sebagai sarana perubahan sosial diharapkan mampu mengubah pola peranan laki-laki dan perempuan dalam masyarakat yang masih diwarnai oleh ciri-ciri suatu masyarakat tradisional paternalistik. kehalusan perasaan. Sedangkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih menantang dianggap dunianya laki-laki seperti menjadi tentara. Secara bertahap sejak reformasi perubahan sosio cultural menuju persamaan peran laki-laki dan perempuan di dunia politik sudah mulai terjadi. bupati atau pemimpin partai. Tetapi hal tersebut belum menjamin calon anggota legislatif dari kalangan perempuan akan benar terpilih.

Partisipasi perempuan dalam bidang legislatif dapat dilihat dari keanggotaan mereka dalam lembaga legislatif.advokasi upaya pengarusutamaan serta nilai-nilai kesetaraan gender dalam produk perundang-undangan maupun penciptaan perencanaan pembangunan yang berperspektif gender.1. 109 . dalam hal ini sebagai anggota DPR/DPRD. Jumlah anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2009 dapat dilihat pada Tabel 7.

00 20.00 13.89 13.67 82.89 97.93 88. 2010 110 .00 91.43 88.94 32 40 25 35 30 45 29 35 35 25 45 30 35 30 35 30 35 45 35 30 58 25 25 789 4 110 Sumber : Badan PP dan KB Provinsi Sulawesi Selatan.07 12.00 80.00 28.00 86.43 80.33 17.88 10.00 86.14 100.00 84.14 8.14 3.67 71.79 17.11 86.33 28.06 7 4 7 4 7 13 4 6 3 5 9 4 6 1 4 3 3 5 1 0 7 3 21.67 88.00 13.00 12.00 8.86 96.11 2.00 11.Tabel 7.33 11.13 90.21 82.00 16.1 Jumlah Anggota DPRD Tingkat Kab/Kota & Provinsi Periode 2004-2009 Berdasarkan Jenis Kelamin di Provinsi Sulawesi Selatan Kabupaten/ Kota Jumlah Anggota DPRD Laki-laki Jumlah Anggota DPRD % Perempuan Jumlah Anggot a DPRD % Total No .43 10.57 11.86 91. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 T o t al Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sinjai Maros Pangkep Barru Bone Soppeng Wajo Sidenreng Rappang Pinrang Enrekang Luwu Tana Toraja Luwu Utara Luwu Timur Kota Makassar Kota Parepare Kota Palopo 25 36 18 31 23 32 25 29 32 20 36 26 29 29 31 27 32 40 34 30 51 22 21 679 78.00 87.43 23.57 20.00 72.57 76.00 88.57 90.86 0.

jika dianalisis berdasarkan jumlah anggota DPRD pada setiap kabupaten/kota terlihat bahwa dari 24 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan. Selanjutnya kabupaten yang memiliki jumlah anggota DPRD yang banyak adalah Kabupaten Gowa sebanyak 45 orang dengan perbandingan laki-laki sebanyak 32 orang (71.1 juga terlihat bahwa dari seluruh kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan belum ada satupun kabupaten yang keberadaan anggota DPRD perempuan memenuhi quota 30 %. yang memiliki jumlah anggota DPRD paling banyak adalah kota Makassar yaitu sebanyak 58 orang diantaranya laki-laki 51 orang (87.1 berikut: 111 . Hal ini menunjukkan bahwa aturan UU No. Kabupaten berikutnya yang memiliki jumlah anggota DPRD yang cukup banyak adalah Kabupaten Bulukumba yaitu sebanyak 40 orang dengan perbandingan laki-laki 36 orang (90 %) dan perempuan 4 orang (10 %).1.11 %) dan perempuan 13 orang (28. Jumlah yang sama juga di Kabupaten Bone yaitu sebanyak 45 orang dengan perbandingan laki-laki 36 orang (80 %) dan perempuan 9 orang (20 %). Dari data Tabel 7.93 %) dan perempuan 7 orang (12. 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum memberikan dukungan untuk terlaksananya affirmative action dalam rangka meningkatkan peranan perempuan di bidang partai politik belum sepenuhnya dapat terlaksana. 2 Tahun 2007 tentang Partai Politik dan UU No. Untuk melihat perbandingan persentase jumlah anggota DPRD Tingkat II Pemilu 2009 berdasarkan jenis kelamin di Provinsi Sulawesi Selatan dapat dilihat pada Diagram 7.07 %).Berdasarkan Tabel 7.89 %).

sehingga ke depan perlu dilakukan langkah-langkah strategis agar keterlibatan dan peran perempuan di ranah legislative dapat lebih ditingkatkan.94 %).06 %) dan perempuan 110 orang (13.Diagram 7. Peran perempuan dibidang pemerintahan merupakan refleksi dari kualitas peran mereka dalam kepemimpinan partai politik dan dalam lembaga legislatif. maka dapat kita simpulkan bahwa baik jumlah anggota DPRD baik di setiap kabupaten maupun di tingkat provinsi belum ada yang memenuhi quota 30%. Jika kita amati data tersebut. diperlukan komitmen.1 Persentase Anggota DPRD Tingkat II Provinsi Sulawesi Selatan Berdasarkan Jenis Kelamin di 2009 Jumlah Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2009 berjumlah 789 orang diantaranya laki-laki 679 orang (86. Peran perempuan dalam kepemimpinan di bidang pemerintahan tidak jauh berbeda dari peran mereka dalam calon anggota legislatif. Untuk meningkatkan kualitas peran perempuan. yang kuat dikalangan elit politik untuk secara sungguh-sungguh melaksanakan amanat UUD dan ketentuan undang-undang yang menjamin kedudukan antara laki-laki dan perempuan didepan hukum dan 112 .

Urusan politik dalam negara demokratis adalah urusan laki-laki dalam negara demokratis adalah urusan laki-laki dan perempuan. Partisipasi perempuan dan laki-laki dalam bidang eksekutif dapat dilihat dari jumlah mereka yang terlibat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). badan dan lembaga lainnya yang berada di bawah koordinasi pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Sementara itu kaum perempuan perlu mengkonsolidasikan potensinya. Komposisi PNS Pemerintah pada tingkat provinsi dan kabupaten berdasarkan jenis kelamin di Provinsi Sulawesi Selatan pada Tahun 2010 disajikan pada Tabel 7. non departemen. Pegawai Negeri Sipil yang dimaksud adalah semua pegawai yang bekerja pada departemen.pemerintahan. kapabilitas serta akseptabilitas untuk memainkan peranan lebih besar dalam kancah politik demi kesejahteraan seluruh rakyat. dinas.2 berikut : 113 . Laki-laki dan perempuan mempunyai hak dan tanggung jawab yang sama untuk membangun bangsanya. menggalang dukungan untuk meraih simpati dan secara sistematis menempa diri agar memiliki kapasitas.

39 53.61 46.54 53.Tabel 7.409 7.939 2.415 2.17 44.305 3.713 5.307 5.381 4.735 3.76 43.98 46.81 56.77 52.46 46.09 51.790 6.86 54.501 3.729 6.49 51.77 46.199 4.964 2.36 51.03 52.61 53.56 51.031 9.576 5.834 1.23 53.13 50.03 49.653 4.112 7.389 10.609 orang (53.14 TOTAL 4. kecuali di Kabupaten Jeneponto dan Tana Toraja serta persentase PNS di 114 .06 48.153 Sumber : BKN Provinsi Sulawesi Selatan 2010 Berdasarkan Tabel 7.719 6.592 3.990 15.677 7.544 orang (46.93 39.082 4.06 44.534 2.65 45.238 2. Hampir pada setiap kabupaten persentase PNS perempuan lebih banyak dibanding laki-laki.23 47.727 3.153 orang PNS pada tingkat kabupaten dan provinsi.51 48.94 55.94 51.422 93.574 5.52 42.39 46.550 2.421 8.928 4.093 3.351 5. Jumlah PNS Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Menurut Jenis Kelamin Tahun 2010 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Kabupaten Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sinjai Maros Pangkep Barru Bone Soppeng Wajo Sidrap Pinrang Enrekang Luwu Tana Toraja Luwu Utara Luwu Timur Makassar Pare-Pare Palopo Prov Sulawesi Selatan *) Jumlah Jenis Kelamin LK 2.86 PR 2.45 45.91 48.191 176.650 4.453 7.277 9.396 2.609 % 54.009 4.222 2.02 53.890 5.44 48.161 4.455 4.177 2.97 50.998 3.366 5.323 3.07 60.544 % 45.64 48.769 82.767 3.938 3.547 6.817 3.412 4.024 2.14%).184 3.467 2. diantaranya 82.86%) adalah laki-laki dan perempuan 93.311 5.2.109 3.88 42.83 55.19 43.35 54.48 57.079 6.614 2.243 7.713 3.97 47.445 12.87 49.510 9.817 2.228 3.12 57.2 terlihat bahwa dari 176.176 3.798 3.55 54.14 45.24 56.942 4.454 3.494 7.

Hal ini dapat berarti bahwa perempuan telah diberi kesempatan yang luas dalam bidang eksekutif sehingga diharapkan dapat memberikan peran dalam pembangunan daerah. Pada golongan II dan III. Pada golongan 115 . III dan IV lebih rendah persentasenya dibanding PNS perempuan. kecuali pada golongan I.2.2 berikut : Diagram 7. Dari diagram ini dapat diketahui bahwa secara umum proporsi PNS laki-laki yang berada pada golongan II.tingkat Provinsi Sulawesi Selatan. Selanjutnya untuk mengetahui perbandingan pegawai laki-laki dan perempuan berdasarkan golongan dapat dilihat pada Diagram 7. Secara rinci dapat diuraikan bahwa pada golongan I laki-laki sebesar 78 % sedangkan perempuan 22 %.2 Persentase PNS Menurut Jenis Kelamin dan Golongan di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2010 Gambaran tentang posisi PNS di Provinsi Sulawesi Selatan perempuan dan laki-laki bila ditinjau dari segi golongannya dapat di lihat pada Diagram 7. persentase PNS perempuan lebih besar yaitu mencapai 55 % sedangkan laki-laki 45 %.

Hal lain yang perlu diperhatikan dari keberadaan pegawai adalah komposisinya berdasarkan tingkat pendidikan yang dimiliki. Untuk mengetahui secara lebih jelas perbandingan antara laki-laki dan perempuan menurut golongan pada setiap kabupaten dapat dilihat pada Lampiran 1. Untuk peningkatan pembangunan khususnya di daerah diperlukan sumber daya manusia yang berkualitas baik dari segi moral maupun pendidikan sehingga mereka dapat menjadi motor penggerak pembangunan daerah. Adapun komposisi pegawai pada tingkat provinsi di Provinsi Sulawesi Selatan berdasarkan Tingkat Pendidikan dapat dilihat pada Diagram 7. Utamanya dalam kerangka Otonomi Daerah. diharapkan sumber daya manusia berkualitas ini mampu mendatangkan manfaat bagi daerahnya. Dari data-data ini menunjukkan bahwa di Provinsi Sulawesi Selatan ada pergeseran posisi perempuan yang lebih dominan dibanding laki-laki pada setiap golongan.3 berikut: 116 .IV perempuan sebesar 52 % sedangkan 48 %.

092 orang diantaranya laki-laki 31.075 orang. jumlah pegawai terbanyak berpendidikan S1/DIV/ Akta IV/Akta V/Spesialis yaitu sebanyak 63. jumlah lakilaki jauh lebih banyak dibanding perempuan. Pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi yaitu pada S2 dan S3.175 orang dan perempuan 31.410 orang dan perempuan 27.590 orang.917 orang. kemudian tingkat pendidikan DI/DII/DIII/Sarjana Muda/Akademik sebanyak 45.158 orang dan perempuan 31.Diagram 7.000 orang diantaranya laki-laki 28.153 orang PNS di Provinsi Sulawesi Selatan.233 orang diantaranya laki-laki 14. Untuk mengetahui secara lebih jelas perbandingan antara laki-laki dan perempuan menurut pendidikan pada setiap kabupaten dapat dilihat pada Lampiran 2. dari 176. 117 . kemudian tingkat pendidikan SLTA sebanyak 56.3 Jumlah PNS Menurut Jenis Kelamin dan Pendidikan di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2010 \Analisis lebih lanjut berdasarkan tingkat pendidikan.

Persamaan hak dalam bidang yudikatif merupakan salah satu manifestasi prinsip persamaan yang dituntut oleh keadilan yang dicanangkan pemerintah. Dalam hal ini. kedudukan. kekerabatan atau persahabatan. warna kulit. Pada Tabel 7.Selain peran perempuan dalam bidang legislatif dan eksekutif. notaris dan advokat/pengacara dan anggota kepolisian. jaksa. kemiskinan. kekayaan. 118 . Partisipasi perempuan dalam bidang yudikatif dapat dilihat dari keterlibatan mereka dalam segi tugas dan tanggungjawab pekerjaannya.3 disajikan data mengenai jumlah Jaksa yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan menurut jenis kelamin. dapat dilihat dari keterlibatan mereka sebagai praktisi hukum yaitu sebagai hakim (negeri dan agama). hukum yang dilaksanakan atas semua orang tanpa mengistimewakan dan tanpa membedakan seorang individu atas lainnya karena jenis kelamin. bidang lainnya yang perlu mendapat perhatian adalah yudikatif.

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Kabupaten/Kota Kejari Selayar Kejari Bulukumba Kejari Bantaeng Kejari Jeneponto Kejari Takalar Kejari Sungguminasa Kejari Sinjai Kejari Maros Kejari Pangkep Kejari Barru Kejari Watampone Kejari Soppeng Kejari Sengkang Kejari Sidrap Kejari Pinrang Kejari Enrekang Kejari Belopa Kejari Makale Kejari Masamba Kejari Malili Kejari Makassar Kejari Pare-Pare Kejari Palopo Kejati Provinsi Sul-Sel Jumlah Jml 4 6 4 5 8 12 6 7 5 5 5 5 6 6 7 5 8 5 6 7 17 9 10 48 167 LK % 80.00 46.43 100.50 Jml 1 2 5 1 2 7 2 8 11 4 2 4 2 2 4 2 3 2 1 10 1 3 35 96 PR % 20.44 83.08 42.75 44.57 44.Tabel 7.00 76.64 71.00 36.27 28.43 72.00 87.57 27.33 68.00 36.50 %) dan 119 .73 71.67 31.3 Jumlah Pejabat Strutural Pada Kejaksaan Tinggi Di Kabupaten/Kota dan Provinsi Sulawesi Selatan NO.50 Jumlah 5 8 9 6 10 19 8 15 16 9 7 9 8 8 11 7 11 7 6 8 27 10 13 83 263 Sumber: Kejaksaaan Tinggi Sulawesi Selatan Berdasarkan Tabel 7.25 55.00 75.00 75.36 28.50 62.50 37.56 16.84 25.00 63.04 10.00 55.00 25.83 63.92 57.00 63.00 53.44 28.17 36.56 75.67 20.16 75.43 55.3 dapat diketahui bahwa jumlah jaksa sebanyak 257 orang diantaranya laki-laki 167 orang (63.96 90.00 25.33 80.44 25.57 12.00 23.56 71.00 44.

Polisi banyak memainkan peran untuk menciptakan kedamaian dan perlindungan hukum kepada masyarakat.4 berikut disajikan data mengenai jumlah personil polisi menurut pangkat dan jenis kelamin di Provinsi Sulawesi Selatan pada Tahun 2010. Jumlah Personil Polisi Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2010 Sumber : Polda Sulawesi Selatan.4. 2010 120 . Tabel 7. Selain praktisi hukum. Pada Tabel 7.perempuan 96 orang (36. Hanya saja tidak didapatkan data tentang jumlah pengacara. untuk menegakkan pelaksanaan hukum aparat keamanan dalam hal ini polisi juga memegang peranan penting. hakim dan notaris.50 %) yang tersebar pada 23 Kejari kabupaten/kota dan Kejati Provinsi Sulawesi Selatan.

Karena langkanya kader perempuan yang dimiliki tidak jarang aroma nepotisme dalam rekrutmen calon anggota legislatif sulit dielakkan. hal lain yang perlu dilihat adalah keterlibatan perempuan di setiap partai politik sebagai langkah awal dalam memasuki dunia politik. dan kesenian. Partisipasi Perempuan dalam Partai Politik dan Organisasi Sosial Kemasyarakatan Selain keterlibatan perempuan dalam keanggotaan di DPRD.736 orang. jumlah aparat kepolisian adalah sebanyak 14. Tetapi lebih banyak yang memberi peran figuran untuk sekedar memenuhi formalitas yang ditentukan undang-undang perempuan lebih kurang ditempatkan pada posisi sekretaris. Soal kualitas calon perempuan masih menjadi tanda tanya. Karena secara fisik pekerjaan sebagai polisi dianggap sebagai pekerjaan berat. Untuk 121 .96 %) dan perempuan sebanyak 300 orang (2.2. Sejumlah partai politik memberi peran strategis kepada kaum perempuan dalam kepemimpinan partai politik. trengginas mampu menangkap aspirasi rakyat dan paham lika-likunya politik. 6. Dalam daftar calon legislatif yang diserahkan kepada KPU. sebagian partai politik berusaha memenuhi batas minimum kuota perempuan.Saat ini di Provinsi Sulawesi Selatan.04 %). Sedikitnya jumlah perempuan yang menjadi anggota polisi ini disebabkan karena masih kentalnya nilai-nilai budaya yang melekat pada pekerjaan polisi ini yang beranggapan bahwa hanya laki-laki yang paling tepat untuk pekerjaan tersebut. karena tidak sedikit partai politik yang belum sempat menempa kader-kader srikandi yang mempunyai kemampuan untuk ditampilkan sebagai wakil rakyat yang cerdas. bendahara atau peran-peran yang terkait dengan konsumsi.436 orang (97. terdiri dari laki-laki sebanyak 14.

Jumlah Pengurus Partai Politik Tingkat Provinsi Menurut Jenis Kelamin dalam Pemilu Legislatif Tahun 2009 122 .5.mengetahui keberadaan perempuan dalam kepengurusan partai politik dapat dilihat pada tabel 7.5 berikut: Tabel 7.

Diagram 7. dari 114 orang yang menjadi pengurus partai politik perempuan hanya 16 orang (14 %) saja sementara perempuan mencapai 98 orang (86 %). Oleh karena itu. Kurangnya keterlibatan perempuan dalam partai politik dapat memberikan indikasi bahwa akses perempuan dalam pengambilan keputusan.4 Persentase Pengurus Partai Politik Tingkat Provinsi Menurut Jenis Kelamin dalam Pemilu Legislatif Tahun 2009 Tabel 7. Dari data tersebut terlihat pula bahwa masih banyak partai politik yang tidak melibatkan perempuan dalam kepengurusannya seperti partai. perumusan kebijakan. menggambarkan keterlibatan perempuan pada kepengurusan partai politik di Provinsi Sulawesi Selatan. dan perencanaan akan menjadi terbatas.4. seringkali aspirasi perempuan kurang diperhitungkan dalam menyusun kebijakan partai. Dari 38 partai politik yang ada hanya 12 partai politik yang melibatkan perempuan. 123 . sehingga pada gilirannya kebijakan-kebijakan partai politik yang ada kurang berperspektif gender.

Untuk lebih jelasnya mengenai perbadingan PNS laki-laki dan perempuan di Provinsi Sulawesi Selatan berdasarkan eselon dapat dilihat pada Diagram 7.5 berikut : Diagram 7.5 jika dijumlahkan antara PNS laki-laki dan perempuan berdasarkan Eselon dapat diketahui bahwa jumlah pegawai di Provinsi Sulawesi Selatan yang menjabat posisi eselon sebanyak 7.3.6. Jumlah PNS menurut Eselonisasi Salah satu ukuran keterlibatan perempuan dalam sektor publik adalah banyaknya perempuan yang duduk dalam jabatan-jabatan publik. Dengan demikian diharapkan setiap kebijakan yang dihasilkan oleh instansi yang mereka pimpin tidak bias gender.5 Jumlah dan Persentase PNS Kabupaten/Kota Dan Provinsi Sulawesi Selatan Menurut Jabatan Struktural (Eselon) dan Jenis Kelamin Kondisi Oktober 2010 Berdasarkan Diagram 7.924 124 . Hal ini sangat penting mengingat bahwa duduknya perempuan dalam jabatan/eselon memperlihatkan kontrol perempuan terhadap suatu bidang tertentu dari kebijakan dan program-program publik.

Kurangnya perempuan yang memiliki tingkat pendidikan. terutama pendidikan penjenjangan karir. Terlihat bahwa pada setiap jabatan eselon jumlah laki-laki jauh lebih banyak dibanding perempuan.242 orang (28 %).349 orang diantaranya laki-laki 1.309 orang diantaranya laki-laki 4. Untuk mengetahui secara lebih jelas perbandingan antara laki-laki dan perempuan menurut eselon pada setiap kabupaten dapat dilihat pada Lampiran 3.kemudian eselon III sebanyak 1. selain karena keinginan perempuan yang masih setengah-setengah juga karena masih seringnya kodrat perempuan digunakan alasan untuk tidak diikutsertakannya perempuan dalam kegiatan-kegiatan pendidikan tersebut. baik pendidikan formal maupun pendidikan-pendidikan penjenjangan karir. Hal ini kemungkinan besar disebabkan oleh karena sedikitnya perempuan yang dianggap cakap untuk menduduki jabatan-jabatan yang bereselon tinggi karena tidak memadainya tingkat pendidikan mereka. 125 .322 orang dan perempuan 1. kecuali pada jabatan eselon terendah yaitu eselon V semua yang menjabat adalah perempuan.682 orang (72 %) dan perempuan 2.orang diantaranya laki-laki 5. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa PNS terbanyak pada eselon IV sebanyak 6. sementara pada posisi yang tertinggi yaitu eselon I berjumlah 2 orang yang kesemuanya adalah laki-laki. Pada tingkat eselon II sebanyak 256 orang diantaranya laki-laki 241 orang dan perempuan 3 orang.987 orang .117 orang dan perempuan 232 orang.

126 .

lebih aktif. sistem ini mencakup pengertian bagaimana sebenarnya laki-laki dan perempuan itu. mempunyai dominasi dan otonomi. termasuk ancaman. suka mengalah dan pasif (belenggu patriarki). memberikan beberapa penjelasan mengenai penindasan terhadap perempuan. Dominasi pria terhadap wanita menunjukkan adanya kekuasaan pria untuk berbuat sesukanya terhadap wanita. KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN Platform For Action and Beijing Declaration menyatakan bahwa kekerasan terhadap perempuan adalah segala bentuk tindakan kekerasan berdasarkan gender. yaitu : 1. Secara historis perempuan merupakan kelompok pertama yang tertindas 127 . yang terjadi baik didalam rumah tangga atau keluarga (privat life). Hal ini juga di dukung oleh sistem kepercayaan gender yang berlaku dalam masyarakat. pemaksaan atau perampasan hakhak kebebasan. Jagger dan Rottenberg (2002). dan umumnya tindakan kekerasan dilakukan oleh kaum laki-laki. sistem kepercayaan gender mengacu pada serangkaian kepercayaan dan pendapat tentang lakilaki dan perempan. Pada umumnya laki-laki dianggap sebagai sosok yang lebih kuat. sebaliknya perempuan di pandang sebagai mahluk lemah.BAB VIII. maupun di dalam masyarakat (public life) yang mengakibatkan kesengsaraan atau penderitaan bagi wanita baik secara fisik. seksual maupun fsikologis (United Nations Depertement of Public Relation 1986) Masalah kekerasan pada dasarnya erat kaitannya dengan kekuasaan.

128 . perempuan secara konstitusional bersifat inferiror. Menurut Aguste Comte. berbagai tindak kekerasan telah di alami oleh perempuan dari waktu-kewaktu. 3. tidak hanya terjadi pada kelompok usia dewasa tetapi juga pada kelompok usia anak-anak dan lanjut usia. Kekerasan terhadap perempuan merupakan fenomena sosial yang telah berlangsung lama dari masyarakat yang masih primitive sampai pada masyarakat modern sekarang ini. faktor social. Perempuan sering di analisis dalam hubungannya dengan kedudukan atau juga dengan kekuasaan yang ada dalam masyarakat. Penindasan terhadap perempuan menyebabkan penderitaan yang paling berat bagi korban-korbannya.2. Penindasan terhadap perempuan terjadi dimana-mana dalam masyarakat Penindasan perempuan adalah bentuk penindasan yang paling sulit di lenyapkan dan tidak akan bisa dihilangkan melalui perubahanperubahan sosial lain. diantaranya faktor budaya. dimana mereka cenderung sedikit memperoleh pengakuan kedudukan didalam keluarga maupun dalam masyarakat yang luas. Kekerasan terhadap perempuan. banyak faktor-faktor yang melatar belakangi timbulnya tindak kekerasan terhadap perempuan. yaitu fungsi mereka dalam keluarga. dan faktor ekonomi. seperti penghapusan kelas masyarakat 4. meskipunpenderitaan ini berlangsung tanpa di ketahui oleh orang lain. sebagaimana disajikan pada table berikut.

Rekapitulasi Data Korban Tindak Kekerasan (Ktk) Anak Berdasarkan Jenis Kelamin Di Propinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009-2010 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 PROPINSI SUL-SEL ANAK KORBAN TINDAK KEKERASAN (KTK) P 21 25 45 38 32 71 51 22 35 24 42 44 46 23 43 48 39 32 29 35 39 11 15 JUMLAH 27 28 56 41 39 82 57 27 44 31 47 49 57 23 45 54 46 37 32 38 39 13 18 L 4 2 15 7 9 6 8 2 6 4 7 1 15 1 5 3 9 2 7 5 5 5 9 ANAK P 15 28 36 26 12 71 51 30 17 18 22 19 19 15 29 33 28 25 22 26 25 19 27 JUMLAH 19 30 51 33 21 77 59 32 23 22 29 20 34 16 34 36 37 27 29 31 30 24 26 MAKASSAR GOWA PARE-PARE BANTAENG SOPPENG TANA TORAJA PALOPO MAROS BARRU SIDRAP PINRANG WAJO BONE ENREKANG LUWU LUWU UTARA TAKALAR JENEPONTO BULUKUMBA SINJAI SELAYAR PANGKEP LUWU TIMUR JUMLAH L 6 3 11 3 7 11 6 5 9 7 5 5 11 0 2 6 7 5 3 3 0 2 3 Sumber Data : Dinsos Prov.Tabel 8.1. Sulsel 120 810 930 137 613 750 129 .

Tabel 8. Data Keseluruhan Kasus Yang Melibatkan Pelaku/Korban Anak Periode Tahun 2009 NO 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 JENIS KASUS 2 Pemerkosaan Pemerkosaan Traficking Pelecehan Seksual UMUR KORBAN 3 14 Thn 13 Thn 15 Thn 16 Thn 16 Thn 13 Thn 3 Thn 13 Thn 15 Thn 14 Thn LAKILAKI 4       √  √  PEREM PUAN 5 √ √ √ √ √ √  √  √ STATUS KASUS 6 P.5.21 Sidik Sidik Proses Proses P.4 : 1.21 Sidik P. maka tindak kekerasan terhadap anak-anak perempuan yang tertinggi di kabupaten Tana Toraja yakni 71 kasus. Palopo. dan terrendah di kabupaten Pangkep (tahun 2009) dan Soppeng (tahun 2010).423 kasus. namun di beberapa kabupaten/kota menunjukkan kecenderungan naik atau tetap yaitu di kabupaten Gowa.21 TERSANGKA 7 LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI Perempuan LAKI-LAKI Perempuan LAKI-LAKI PELAKU 8 15 Thn 19 Thn 27 Thn 40 Thn 43 Thn 33 Thn 45 Thn 50 Thn - 130 . Pangkep. dikuatkan dengan banyaknya jumlah kasus yang dilaporkan di Polda Sulselbar sebagaimana table berikut.Berdasarkan table diatas. Jumlah kasus kekerasan pada anak perempuan dari tahun 2009 sampai 2010 berjumlah 1. Apabila dilihat berdasarkan kabupaten. Tana Toraja. Data tersebut diatas. dan Luwu Timur. Secara umum ada kecenderungan penurunan jumlah kasus.2. nampak bahwa kekerasan yang terjadi di tahun 2009 dan 2010 pada anak-anak perempuan jauh lebih banyak jumlahnya dibandingkan dengan kekerasan yang menimpa pada anak laki-laki yaitu 8. Maros.

21 Sidik P.21 Sidik Lidik Lidik Sidik Cabut Laporan ABH ABH ABH ABH Dalam Lidik ABH ABH Dalam Proses Proses Proses STM STM LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI Perempuan LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI Perempuan LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI Perempuan LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI Perempuan LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI 50 Thn 19 Thn 20 Thn 33 Thn 21 Thn 15 Thn 17 Thn 40 Thn 17 Thn 20 Thn 17 Thn 21 Thn 35 Thn 17 Thn 17 Thn 35 Thn 30 Thn 23 Thn 25 Thn 18 Thn 19 Thn 17 Thn 15 Thn 50 Thn Data kekerasan terhadap anak perempuan yang dilaporkan pada tahun 2009 sebanyak 26 kasus dari 36 kasus atau 72% dari jumlah keseluruhan.21 P. korbannya anak perempuan.11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 Perbuatan cabul Pemerkosaan Penganiayaan Pemerkosaan Pemerkosaan Pernografi Penganiayaan - 6 Thn 16 Thn 17 Thn 14 Thn 17 Thn 15 Thn 10 Thn 17 Thn 15 Thn 16 Thn 7 Thn 16 Thn 15 Thn 16 tHN 17 Thn 17 Thn 11 Thn 14 Thn 60 Thn 16 Thn 37 Thn 16 Thn      √          √    √      √ √ √ √ √  √ √ √ √ √ √ √ √ √ √  √ √ √  √ √ √ √ √ Sidik Sidik P.21 Dalam Lidik P. 131 . Kecenderungan kasus meningkat pada tahun 2010 yaitu sebanyak 32 kasus dari 34 kasus atau 94%.21 P.

3.19 Tahap I Dalam Lidik Damai Proses Tahap I Proses P.21 Bekar Proses Limpah Diversi Proses Sidik TERSANGKA 7 LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI Dalam LAKI-LAKI Perempuan LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI Dalam Lidik Dalam Lidik LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI Dalam Lidik LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI PELAKU 8 30 Thn 42 Thn 40 Thn 18 Thn 16 Thn 20 Thn 22 Thn 15 Thn 35 Thn 17 Thn 20 Thn 20 Thn 20 Thn 17 Thn 23 Thn 24 Thn 15 Thn 40 Thn 26 Thn 132 .21 Diversi Cabut Dalam Lidik Lidik Sidik Proses Sidik Cabut Proses P. Data Keseluruhan Kasus Yang Melibatkan Pelaku/Korban Anak Periode Tahun 2010 NO 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 Pencabulan Pencabulan JENIS KASUS 2 UMUR KORBAN 3 19 Thn 13 Thn 15 Thn 13 Thn 17 Thn 16 Thn 16 Thn 17 Thn 16 Thn 15 Thn 14 Thn 16 Thn 13 Thn 17 Thn 17 Thn 19 Thn 14 Thn 4 Thn 18 Thn LAKILAKI 4      √                   PEREM PUAN 5 √ √ √ √ √  √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ STATUS KASUS 6 Sidik Tidak cukup bukti P.Tabel 8.18/P.

21 Sidik Sidik Proses P. jumlah kekerasan pada perempuan dewasa mencapai 980 kasus (tahun 2009) dan 991 kasus (tahun 2010) atau 89% dari total kasus kekerasan yang terdata.21 Cabut Sidik LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI Dalam Lidik LAKI-LAKI Perempuan LAKI-LAKI 56 Thn 16 Thn 16 Thn 20 Thn 17 Thn 16 Thn Sumber data : Polda Sulselbar Kekerasan yang terjadi pada perempuan usia dewasa dan lansia pada tahun 2009 dan 2010 juga menunjukkan kondisi yang memprihatinkan.28 29 30 31 32 33 34 Pemerkosaan Pemerkosaan - 17 Thn 15 Thn 17 Thn 9 Thn 13 Thn 15 Thn 14 Thn      √  √ √ √ √ √  √ P. Berdasarkan data dari Dinas Sosial Prov. 133 . Untuk kekerasan yang terjadi pada perempuan lanjut usia mencapai 293 kasus pada kurun waktu tahun 2009 dan 2010 atau 69 % dari total kasus (lihat table dibawah). Sulsel.

123 JUM LAH L 2 3 0 6 5 10 3 2 0 0 2 6 6 0 4 3 0 3 0 1 2 0 0 58 KORBAN TINDAK KEKERASAN (KTK) LANJUT USIA TH 2009 P 7 4 1 3 9 21 11 0 3 4 5 3 7 4 8 9 5 6 4 2 7 3 4 130 9 7 1 9 14 31 14 2 3 4 7 9 13 4 12 12 5 9 4 3 9 3 4 188 JUM LAH TH 2010 L 1 5 1 8 0 6 5 7 1 2 4 1 4 4 2 2 3 4 2 3 3 4 1 73 P 4 3 5 4 9 19 11 0 5 4 8 9 9 5 8 11 8 7 9 6 5 6 8 163 JUM LAH 5 8 6 12 9 25 16 7 6 6 12 10 13 9 10 13 11 11 11 9 8 10 9 236 Sumber Data : Dinsos Prov. Rekapitulasi Data Korban Tindak Kekerasan (KTK Berdasarkan Jenis Kelamin di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009-2010 NO PROPINSI SUL-SEL L 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 MAKASSAR GOWA PARE-PARE BANTAENG SOPPENG TANA TORAJA PALOPO MAROS BARRU SIDRAP PINRANG WAJO BONE ENREKANG LUWU LUWU UTARA TAKALAR JENEPONTO BULUKUMBA SINJAI SELAYAR PANGKEP LUWU TIMUR JUMLAH 5 5 3 15 12 15 21 2 5 0 0 7 4 6 2 2 1 3 0 2 1 2 1 114 KORBAN TINDAK KEKERASAN (KTK) DEWASA TH 2009 P 41 34 40 55 62 70 31 36 39 38 50 53 80 24 56 42 41 51 37 44 28 15 13 980 46 39 43 70 74 85 52 38 44 38 50 60 84 30 58 44 42 54 37 46 29 17 14 1094 JUM LAH L 13 3 7 9 3 18 6 4 8 3 7 4 8 3 5 3 6 2 3 5 2 4 6 132 TH 2010 P 55 38 29 49 66 49 44 38 28 44 51 60 72 28 42 49 42 48 49 36 36 23 15 991 68 41 36 58 69 67 50 42 36 47 58 64 80 31 47 52 48 50 52 41 38 27 21 1.Tabel 8.4. Sulsel 134 .

dan meminimalisir tindak kekerasan terhadap perempuan. 135 . mengharuskan kita untuk mengatasi. maka sudah menjadi keharusan bahwa setiap bagian dalam masyarakat harus berperan aktif demi terciptanya lingkungan yang adil. dalam hal ini suatu permasalan sosial. dan telah menjadi isu gender yang cukup sentral. tidak dapat di selesaikan hanya melalui pendekatan sosial. Kekerasan terhadap perempuan sebagai suatu ancaman global terhadap kemanusian. karena semua unsur berpengaruh dalam hal itu. dan untuk tahun 2010 mencapai 1767 kasus dari 2109 kasus atau 84 %. tentram.Secara keseluruhan. menjadikan masyarakat yang terintegrasi dengan sempurna. menunjukkan bahwa jumlah kekerasan pada perempuan pada tahun 2009 mencapai angka 1920 kasus dari 2212 kasus atau 87%. berdasarkan data dari Dinas Sosial. Banyak faktor yang harus di perhatikan dalam usaha untuk menyelesaikan persoalan sosial dalam masyarakat. pada saat salah satu subsistem tidak berfungsi dengan baik maka akan mengakibatkan kerusakan semua sistem. damai. karena masyarakat merupakan suatu sistem.

136 .

23 Tahun 2002 juga UU No.Kepemilikan Akte Kelahiran Akta kelahiran menjadi dokumen yang sangat penting bagi warga negara Republik Indonesia.BAB IX.25 Tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil tidak mensyaratkan adanya kewajiban untuk melampirkan akta nikah/buku nikah orangtua anak dalam proses perolehan akta lahir bagi anak. maka acapkali pihak pencatat akta kelahiran atau pihak yang berwenang mensyaratkan adanya buku atau akta nikah dari orang tua yang hendak mencatatkan peristiwa kelahiran. seperti: pengurusan pendaftaran sekolah. hingga administrasi perolehan passport. Jika anak 137 .1. Hal ini juga dapat dikaitkan dengan kewarganegaraan seseorang. Perpres No. Dalam kehidupan lebih lanjut bahwa kepemilikan akta kelahiran berdampak cukup luas. karena ia dilahirkan oleh seorang ayah dan/atau ibu yang berkewarganegaraan Indonesia. administrasi pendaftaran pekerjaan. Perihal akta kelahiran menjadi penting untuk dikaji setidaknya disebabkan oleh beberapa hal. MASALAH ANAK 9. Pasal 27 UU No. antara lain bahwa dalam memperoleh sebuah akta kelahiran. dimana seseorang ketika tidak memiliki dokumen berupa akta kelahiran akan cukup sulit dalam melakukan proses-proses administasi selanjutnya. dokumen akta kealhiran tersebut menjadi dokumen hukum bahwa seseorang memang dilahirkan dari seorang warga Negara Indonesia baik di dalam maupun di luar wilayah jurisdiksi Indonesia.23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan jo.

Pihak yang mengetahui terjadinya perkawinan serta kelahiran dihadirkan menjadi saksi dalam proses pencatatan oleh pihak orangtua anak. maka surat tersebut akan menyatakan bahwa anak tersebut dilahirkan dari psangan bapak A dan ibu B. maka berdasarkan ketentuan Pasal 52 Perpres No. maka akta tersebut hanya menyatakan hubungan hukum dengan pihak Ibu saja.25 Tahun 2008.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak: (1) Identitas seorang diri setiap anak harus diberikan sejak kelahirannya (2) Identitas sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dituangkan dalam akta kelahiran (3) Pembuatan akta kelahiran didasarkan pada keterangan dari orang yang menyaksikan dan/atau membantu proses kelahiran (4) Dalam hal anak yang proses kelahirannya tidak diketahui. dan orangtuanya tidak diketahui keberadaannya. Bidan atau dokter yang membantu proses kelahiran si anak cukup memberikan surat keterangan mengenai proses kelahiran tersebut dan itu digunakan untuk mengurus keperluan pembuatan akta kelahiran. Pada sisi lain jika si Ayah tidak diketahui keberadaannya.dilahirkan dari sepasang suami-isteri yang tidak dicatatkan perkawinannya. Bahkan jika tidak diketahui siapa orangtuanya. maka anak tersebut tetap mendapatkan haknya untuk memperoleh akta kelahiran cukup dengan keterangan dari orang yang menemukan si anak dan dilengkapi oleh berita acara pemeriksaan dari kepolisian. pembuatan akta kelahiran 138 . Tidak wajibnya melampirkan akta/buku nikah dalam hal memperoleh akta kelahiran bagi anak dikuatkan pula oleh Pasal 27 UU No.

Sensus Penduduk 2010 139 .044 3.808 1. Bantaeng 04. Barru 11.72 72.583 28. Tana Toraja 22.2 35. Takalar 06.544 57.76 25 42.645 2.18 20.407 1.3 14.78 27.23 29.16 43.428 4.625 115.33 23. Luwu Utara 25.18 42.931 21.555 2.177 702 704 405 25.13 63.86 34. Soppeng 13.900 2.059 4.388 18.433 7.241 423 1.452 6.833 3.48 46. Pinrang 16. Pangkajene Kepulauan 10.014 2. Luwu 18.41 51.888 25.58 36.36 49.634 4. Wajo 14.935 1.944 9.366 1.32 58.478 21.83 52 35.907 7.300 8.190 2.474 3.315 17.911 116.538 5.24 24. Sulawesi Selatan Perkotaan Propinsi/Kabupaten Penduduk 0 .974 1.001 3.28 11. Sinjai 08.825 3.55 17.784 5.27 65.44 5.294 4.246 17.96 Sumber data : BPS.249 2.22 53.13 37.785 23.752 785 1.00 39.740 17.262 1.626 4.411 5.92 38. Sulawesi Selatan 01.024 20. Sidenreng Rappang 15.38 27.252 34.5 29.35 19.71 31.8 13. Jeneponto 05.494 4.24 19.846 14.064 11.657 10.918 4. Maros 09. Bulukumba 03.901 127.762 1.286 14.688 6.150 3. Enrekang 17.119 4.756 2.732 18.438 5.414 1.208 9.808 34.474 1.29 84.4 29.297 37.961 6.77 23.210 5.4 Years Memiliki Akte Kelahiran / Have Birth Certificate Banyakn ya / Prose Number ntase Province/District 00.371 2.16 49.706 690 2. Makasar 72.89 22.6 20.193 10.897 600 3.986 6.572 41. Selayar 02.413 12.098 58.592 5.4 10.17 75.4 Tahun / Population 0 .968 6.45 39.1.425 8. Penduduk 0-4 Tahun yang Memiliki Akte Kelahiran menurut Kabupaten/Kota.492 2. Gowa 07.473 1.untuk anak tersebut didasarkan pada keterangan orang yang menemukan Data kepemilikan akte kelahiran anak usia 0-4 tahun di Sulawesi Selatan sebagaimana table berikut. Palopo 240.4 Years Memiliki Akte Kelahiran / Have Birth Certificate Banyakn ya / Prose Number ntase Perdesaan Penduduk 0 .067 2.4 Tahun / Population 0 .287 48.11 506.23 46. Luwu Timur 71. Pare-Pare 73. Tabel 9.201 26.610 4.678 22.759 6.854 5. Bone 12.086 12.67 34.

utamanya di wilayah perdesaannya. menemukan anakanak bekerja di sektor formal dan informal. baik Provinsi maupun Kabupaten/Kota.2.24 %. pasar-pasar tradisional. berkisar setengahnya dari persentase kepemilikan di perkotaan. Adapun persentase kepemilikan tertinggi di kabupaten Enrekang. pencuci kapal. pertanian (sawah). Pekerja Anak Hingga saat ini.71%. cokelat. tebu). sektor perkebunan (kebun kelapa sawit. pemulung. dan penjual ikan. pasar ikan. terdapat 117 anak umur 8-15 tahun yang aktif bekerja sebagai tukang bongkar dan pengangkut ikan. Di Pelabuhan Paotere. tukang becak. antara lain di KIMA dan pabrikpabrik lain di daerah. Hal ini terkait erat dengan pengetahuan masyarakat. Di TPAS Tamangapa terdapat 380 anak 140 .6%. dan kepedulian pemerintah setempat dalam mewujudkan hak anak. dapat diketahui bahwa persentase kepemilikan akte kelahiran di Sulawesi Selatan baru mencapai 73. Berdasarkan kab/kota. Ersentase kepemilikan di perdesaan masih sangat rendah. yang hanya mencapai 5. 9. pengangkut air. kepemilikan akte terrendah di kabupaten Jeneponto. Anak-anak juga ditemukan di sektor kontruksi/bangunan. jangkauan layanan petugas catatan sipil. Namun penelitian LPA Sulawesi Selatan tahun 2008. nelayan (penangkap ikan dan pembudi daya rumput laut).Berdasarkan data diatas. utamanya di wilayah perkotaan yakni 84. tidak ada data mengenai pekerja/buruh anak yang tercatat di Dinas Tenaga Kerja.

sekitar 63 % (239 anak) merupakan pemulung aktif. mencapai 70 %. Kekerasan yang disebut terakhir ini di kenal dengan perlakuan salah terhadap anak atau child abuse 141 . 9. kekerasan pada anak adalah tindakan yang di lakukan seseorang /individu pada mereka yang belum genap berusia 18 tahun yang menyebabkan kondisi fisik dan atau mentalnya terganggu. Anak-anak yang bekerja 53 % putus sekolah.3. Kekerasan pada anak juga sering kali dihubungkan dengan lapis pertama dan kedua pemberi atau penanggung jawab pemenuhan hak anak yaitu orang tua (ayah dan ibu) dan keluarga. jadwal belajar yang tidak sesuai dengan kegiatan anak. Oleh karena itu. tidak ada perhatian orang tua. 47 % yang masih di bangku sekolah pun rawan putus sekolah.(umur 5-17) tahun yang memulung. suasana belajar yang tidak cocok untuk anak. Kekerasan Terhadap Anak Secara umum kekerasan didefinisikan sebagai suatu tindakan yang dilakukan satu individu terhadap individu lain yang mengakibatkan gangguan fisik dan atau mental. namun angka yang diperoleh adalah mengenai pendidikan anak-anak yang bekerja. Seringkali istilah kekerasan pada anak ini dikaitkan dalam arti sempit dengan tidak terpenuhinya hak anak untuk mendapat perlindungan dari tindak kekerasan dan eksploitasi. Yang dimaksud dengan anak ialah individu yang belum mencapai usia 18 tahun. Angka pasti sulit dihitung. Tingkat kerawanan putus sekolah dililihat dari : anak sering bolos ke sekolah.

kekerasan terhadap anak masih mendominasi pemberitaan di Media Massa yang terbit di Kota Makassar. supir pribadi. Pelaku kekerasan di sini karena bertindak sebagai caretaker. seksual. guru. dengan pelaku utama adalah orang-orang terdekat (Tabel 9. nenek. ibu dan bapak tiri. tetangga.yang merupakan bagian dari kekerasan dalam rumah tangga (domestic violence). maupun emosi. seperti orang tua/keluarga. dan seterusnya. Demikian juga. Kekerasan masih mendominasi laporan yang masuk ke Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Sulawesi Selatan. dan pelecehan. tukang ojek pengantar ke sekolah. tukang kebon.2). berupa perkosaan. Menurut Indra Sugiarno Kekerasan pada anak atau perlakuan salah pada anak adalah suatu tindakan semena-mena yang dilakukan oleh seseorang seharusnya menjaga dan melindungi anak (caretaker) pada seorang anak baik secara fisik. dan pacar. kakek. serta kekerasan fisik. 142 . didominasi oleh kasus kekerasan seksual. Kasus kekerasan yang dilaporkan ke LPA Sulawesi Selatan maupun yang diberitakan oleh media massa. guru. Ibu dan bapak kandung. pencabulan. teman. maka mereka umumnya merupakan orang terdekat di sekitar anak. paman.

Tabel 9.2. Data Kekerasan Anak Di Sulawesi Selatan (2002-2010)
Variabel 200 2 200 3 200 4 200 5 200 6 200 7 200 8 200 9 2010* )

Kekerasa n seksual Kekerasa n fisik Lain-lain*) Total

70 69 60 199

82 77 49 208

92 88 94 274

99 92 90 281

98 96 99 293

99 103 105 307

132 124 92 348

77 110 68 255

82 59 30 171

Keterangan : Kekerasan seksual (pencabulan, pelecehan, perkosaan) Kekerasan fisik (di sekolah, rumah, jalan, dll) Tahun 2008, data juga diperoleh dari beberapa Polres di Sulawesi Selatan Lain-lain : kekerasan non-fisik, penelantaran, eksploitasi, penculikan, penipuan, dan pemalakan. *) Sampai Oktober 2010

Hanya 18 %, pelaku kekerasan adalah orang tidak mempunyai hubungan dengan korban. Artinya sebanyak 82 %, pelaku kekerasan terhadap anak adalah orang-orang dekat dengan korban. Yang perlu mendapat perhatian dari tabel di atas adalah meningkatnya kasus kekerasan seksual di Sulawesi Selatan. Tahun 2010, sampai bulan Oktober terdapat 82 kasus kekerasan seksual. Di samping itu, meningkatnya kasus inses (hubungan seksual dalam lingkungan keluarga) dan bentuk perkosaan terhadap anak. Sepanjang tahun 2010, terdapat 8 143

kasus inses di Sulawesi Selatan dengan korban anak dan pelaku adalah ayah kandung, paman, dan kakek. Sementara angka kekerasan fisik pada tahun 2010, mengalami penurunan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kekerasan fisik terhadap anak masih seputaran di sekolah dan di rumah tangga. Angka kekerasan fisik yang mengalami penurunan menunjukkan kesadaran di tingkat masyarakat. Berdasarkan data Dinas Sosial, untuk tahun 2009 - 2010 tercatat tindak kekerasan pada anak sebagaimana tabel berikut. Jumlah anak korban tindak kekerasan menurun dari tahun 2009 ke tahun 2010, namun bila dicermati maka akan nampak bahwa terjadi peningkatan kasus pada anak laki-laki dari 120 menjadi 137. Jumlah inipun hanya kasus-kasus yang terlaporkan. Kasus kekerasan pada anak seringkali tidak dilaporkan, karena pemahaman masyarakat yang relatif rendah, yang berpendapat bahwa mereka tidak berkepentingan terhadap anak-anak diluar keluarga mereka dan juga faktor budaya malu dan tersinggung jika kasusnya dilaporkan.

144

Tabel 9.3. Rekapitulasi Data Korban Tindak Kekerasan (KTK) Anak Berdasarkan Jenis Kelamin Di Propinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009-2010
PROVINSI SULSEL MAKASSAR GOWA PARE PARE BANTAENG SOPPENG TANA TORAJA PALOPO MAROS BARRU SIDRAP PINRANG WAJO BONE ENREKANG LUWU LUWU UTARA TAKALAR JENEPONTO BULUKUMBA SINJAI SELAYAR PANGKEP LUWU TIMUR JUMLAH KORBAN TINDAK KEKERASAN (KTK) Tahun 2009 ANAK JUMLAH L P 6 3 11 3 7 11 6 5 9 7 5 5 11 0 2 6 7 5 3 3 0 2 3 120 21 25 45 38 32 71 51 22 35 24 42 44 46 23 43 48 39 32 29 35 39 11 15 810 27 28 56 41 39 82 57 27 44 31 47 49 57 23 45 54 46 37 32 38 39 13 18 930 KORBAN TINDAK KEKERASAN (KTK) Tahun 2010 ANAK JUMLAH L P 4 2 15 7 9 6 8 2 6 4 7 1 15 1 5 3 9 2 7 5 5 5 9 137 15 28 36 26 12 71 51 30 17 18 22 19 19 15 29 33 28 25 22 26 25 19 27 613 19 30 51 33 21 77 59 32 23 22 29 20 34 16 34 36 37 27 29 31 30 24 26 750

Sumber Data : Dinsos Prov. Sulsel

145

146 .

dan praktek-praktek terbaik dapat terwujud serta diharapkan tercipta kemampuan masyarakat untuk menyeleksi informasi. PENUTUP 10.1.BAB X. sekaligus untuk membangun jaringan system informasi yang diperlukan antara lain meningkatkan fungsi koordinasi yang terpadu dalam penyediaan informasi yang benar dan bertanggung jawab serta mendorong peningkatan kualitas pelayanan data dan informasi pembangunan melalui multi media agar proses sosialisasi. baik pembangunan nasional dan daerah maupun antara daerah dan sektor serta mancanegara sebagai alat perjuangan untuk kepentingan nasional. diselenggarakan melalui pengarusutamaan gender dalam setiap proses dan tahapan perencanaan pembangunan daerah di rasakan belum sempurna. advokasi. Peningkatan kualitas hidup perempuan diharapkan menjadi bagian dari keluarga yang merupakan basis utama terbentuknya generasi sekarang dan masa yang akan datang. oleh karena itu pengkajian kebijakan 147 . sehingga kesetaraan dan keadilan gender dimasa mendatang dapat lebih optimal. agar tercipta rasa saling percaya serta menjaga kesenjangan informasi yang dapat menimbulkan disintegrasi bangsa. Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dalam kaitan statistik gender bertujuan untuk mengidentifikasi jenis data dan informasi yang diperlukan sebagai bahan penentuan kebijakan masalah sosial. Kesimpulan Dalam rangka memperoleh efek pengganda. strategi pemberdayaan perempuan akan menjadi salah satu instrumen yang penting dalam penyelenggaraan pemerintahan.

tahap pelaksanaan (on-going evaluation) dan saat program/kegiatan evaluation). Untuk itu evaluasi menjadi penting. terutama memperkuat dan mendorong kemandirian lembaga-lembaga yang memiliki visi yang sama terhadap pemberdayaan perempuan. Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan Tujuan program ini adalah untuk meningkatkan kedudukan dan peran perempuan sebagai mahluk individu yang merupakan insan dan sumberdaya pembangunan. 10. Rekomendasi Statistik Gender merupakan kegiatan dari fungsi management yang saling terkait dan tidak dapat dipisahkan dari perencanaan. 1). selesai (ex-post 148 . sebagai bagian dari keluarga yang merupakan basis terbentuknya generasi sekarang dan masa mendatang. Kesemuanya saling melengkapi dan masingmasing memberi umpan balik artinya perencanaan yang telah disusun dengan baik. mulai tahap perencanaan (ex-ante evaluation. Demikian juga sebaliknya setiap pelaksanaan tidak akan berjalan lancar jika tidak didasarkan kepada perencanaan yang baik.pembangunan diperlukan dalam rangka mencari alternative-alternative kebijakan yang efektif. untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan yakni . Dengan demikian program di bawah ini merupakan rekomendasi untuk lebih memperkuat peran masyarakat dan kelembagaan dalam pembangunan pemberdayaan perempuan.2. pelaksanaan. dan Monev. tidak ada artinya jika tidak dapat dilaksanakan.

tetap dapat berpartisipasi dalam pendidikan. d). terutama bagi para perencana dan pengambil keputusan—termasuk orang tua. termasuk bidang-bidang kejuruan. proses pembelajaran. program ini secara khusus untuk meningkatkan partisipasi perempuan dalam pendidikan. 149 . melalui berbagai media. baik di lingkungan pendidikan sekolah maupun luar sekolah. Penurunan angka buta huruf. dan darurat.Di bertujuan bidang pendidikan. dan pendidikan yang selama ini lebih dianggap cocok untuk laki-laki. baik perempuan maupun laki-laki. dan evaluasi dari seluruh kebijakan dan program pembangunan pendidikan. Sosialisasi kesetaraan dan keadilan jender dalam pendidikan. b). serta pengembangan mata pelajaran atau mata kuliah yang berkaitan dengan jender pada lembaga-lembaga penataran guru dan pendidikan penjenjangan. kepala sekolah. dan pengelolaan pendidikan. Kegiatan-kegiatan pokok yang akan dipersiapkan adalah: a). c). dan membenahi materi bahan ajar.Peningkatan peran aktif perempuan dalam seluruh proses perencanaan. pelaksanaan. e). dan masyarakat. Pada daerah-daerah terpencil. keahlian. guru. pengawasan. dan peningkatan partisipasi perempuan pada semua jenis dan jenjang pendidikan. Evaluasi dan penataan materi bahan ajar agar lebih peka gender di seluruh jenjang dan jenis pendidikan. Pengembangan metoda dan pendekatan pembelajaran baik intra maupun ekstra kurikuler yang lebih berwawasan jender. program pendidikan harus dilakukan dengan menggunakan pendekatan khusus yang memungkinkan penduduk usia sekolah. dalam situasi konflik. dan f).

pelaksanaan. struktur maupun budaya hukumnya. h). dan evaluasi kebijakan dan program pembangunan hukum dan HAM. baik dalam hal substansi. e).2. lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan organisasi perempuan dalam rangka penegakan hukum. Tujuan program ini adalah untuk mendukung terciptanya sistem hukum nasional yang tidak diskriminatif dan berkeadilan gender. Sosialisasi "budaya damai" agar perempuan terhindar dari berbagai bentuk kekerasan. Peningkatan akses masyarakat. Peningkatan peran aktif perempuan dalam proses perencanaan. Perbaikan sistem dan perangkat hukum yang dapat menunjang penegakan hak azasi perempuan antara lain melalui pemberian hukuman semaksimal mungkin bagi para pelaku kejahatan serta memberikan pelayanan dan kompensasi bagi para korban kejahatan. j). seperti UU Anti Kekerasan. Penegakan Hukum dan Hak Azasi Manusia bagi Perempuan .Penciptaan sistem perlindungan bagi perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga dan tempat kerja. d). bantuan pendampingan dan pemulihan/kompensasi bagi korban. terutama perempuan untuk memperoleh informasi dan sumberdaya hukum. serta menegakkan hak azasi manusia (HAM) yang merugikan perempuan yakni . pengawasan. b). Pembuatan UU dan peraturan-peraturan yang diperlukan dalam upaya menegakkan hak-hak perempuan. k) Penciptaan sistem perlindungan dan 150 . terutama dalam penyelesaian masalah-masalah khusus perempuan. i). seperti bantuan hukum. dana. a). Ratifikasi Konvensi PBB tentang Larangan Perdagangan Perempuan dan Anak. g). f). penciptaan sistem komunikasi dan kerjasama antara institusi penegak hukum dengan organisasi masyarakat. Perumusan dan penerapan kebijakan dan tindakan khusus bagi upaya promosi aparat penegak hukum perempuan serta penanganan kasus-kasus perempuan.

e). a). serta mewujudkan hubungan kemitraan yang efektif antara pemerintah dan lembaga-lembaga masyarakat yakni . Pembentukan tim khusus pelanggaran HAM terhadap perempuan 3. antara lain melalui penyediaan data dan informasi yang dibedakan menurut jenis kelamin. c). Pengembangan berbagai alat dan metode.penanganan khusus bagi perempuan dalam situasi konflik maupun kerusuhan yang bersifat penanganan segera. termasuk TNI dan Kepolisian RI. pelaksanaan. b). eksekutif. Informasi. dan m). meningkatkan kapasitas dan kemampuan institusi-institusi pemerintah dalam melakukan gender mainstreaming dalam setiap tahap dan proses pembangunan. dan Edukasi) mengenai kesetaraan dan keadilan jender di lingkungan lembaga-lembaga legislatif. Peningkatan kemampuan dan kapasitas institusi-institusi pemerintah untuk melakukan gender mainstreaming dalam proses perencanaan. efektif dan menyeluruh. 1). Pembuatan undang-undang dan peraturan-peraturan yang melindungi pekerja kemanusiaan dan pelapor tindak pelanggaran HAM. Penguatan Peran Masyarakat dan Pemampuan Kelembagaan Tujuan program ini adalah untuk memperkuat peran aktif masyarakatl. pemantauan dan evaluasi pembangunan. 151 . termasuk pengembangan materi dan bahan KIE untuk gender mainstreaming. meningkatkan peran dan kemandirian lembaga-lembaga yang memiliki visi pemberdayaan perempuan. pengembangan sistem informasi jender. termasuk organisasi perempuan. serta masyarakat secara keseluruhan. dan yudikatif. Intensifikasi kegiatan penelitian dan pengembangan tentang masalah-masalah jender. d). melalui peningkatan keterampilan dan keahlian serta pembentukan unit gender mainstreaming di setiap instansi pemerintah. KIE (Komunikasi.

Penciptaan hubungan kemitraan yang efektif antara pemerintah dengan masyarakat sipil dan lembaga-lembaga masyarakat yang memiliki visi pemberdayaan perempuan. dan g). f). 152 . Peningkatan kemampuan dan kapasitas lembaga-lembaga masyarakat yang memiliki visi pemberdayaan perempuan. melalui peningkatan keterampilan dan keahlian untuk lebih dapat menemukenali dan mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi perempuan. termasuk organisasi-organisasi perempuan yang ada di pusat maupun di daerah.termasuk pemanfaatan dan pendayagunaan hasilnya. serta bersama-sama pemerintah merumuskan kebijakan dan program pembangunan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful