1

©2003 Digitized by USU digital library ASUHAN KEPERAWATAN ASMA BRONKIAL DUDUT TANJUNG, S.Kp. Fakultas Kedokteran Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Sumatera Utara Pengertian Asma bronkhial adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermitten, reversible dimana trakeobronkial berespon secara hiperaktif terhadap stimuli tertentu. Asma bronchial adalah suatu penyakit dengan ciri meningkatnya respon trakea dan bronkus terhadap berbagai rangsangan dengan manifestasi adanya penyempitan jalan nafas yang luas dan derajatnya dapat berubah-ubah baik secara spontan maupun hasil dari pengobatan ( The American Thoracic Society ). Klasifikasi Berdasarkan penyebabnya, asma bronkhial dapat diklasifikasikan menjadi 3 tipe, yaitu : 1. Ekstrinsik (alergik) Ditandai dengan reaksi alergik yang disebabkan oleh faktor-faktor pencetus yang spesifik, seperti debu, serbuk bunga, bulu binatang, obat-obatan (antibiotic dan aspirin) dan spora jamur. Asma ekstrinsik sering dihubungkan dengan adanya suatu predisposisi genetik terhadap alergi. Oleh karena itu jika ada faktor-faktor pencetus spesifik seperti yang disebutkan di atas, maka akan terjadi serangan asma ekstrinsik. 2. Intrinsik (non alergik) Ditandai dengan adanya reaksi non alergi yang bereaksi terhadap pencetus yang tidak spesifik atau tidak diketahui, seperti udara dingin atau bisa juga disebabkan oleh adanya infeksi saluran pernafasan dan emosi. Serangan asma ini menjadi lebih berat dan sering sejalan dengan berlalunya waktu dan dapat berkembang menjadi bronkhitis kronik dan emfisema. Beberapa pasien akan mengalami asma gabungan. 3. Asma gabungan Bentuk asma yang paling umum. Asma ini mempunyai karakteristik dari bentuk alergik dan non-alergik. Etiologi Ada beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi dan presipitasi timbulnya serangan asma bronkhial. a. Faktor predisposisi Genetik Dimana yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum diketahui bagaimana cara penurunannya yang jelas. Penderita dengan penyakit alerg biasanya mempunyai keluarga dekat juga menderita penyakit alergi. Karena adanya bakat alergi ini, penderita sangat mudah terkena penyakit asma bronkhial jika terpapar dengan foktor pencetus. Selain itu hipersentifisitas saluran pernafasannya juga bisa diturunkan. b. Faktor presipitasi Alergen Dimana alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :

2

©2003 Digitized by USU digital library 1. Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan ex: debu, bulu binatang, serbuk bunga, spora jamur, bakteri dan polusi 2. Ingestan, yang masuk melalui mulut

ex: makanan dan obat-obatan 3. Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit ex: perhiasan, logam dan jam tangan Perubahan cuaca Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi asma. Atmosfir yang mendadak dingin merupakan faktor pemicu terjadinya serangan asma. Kadang-kadang serangan berhubungan dengan musim, seperti: musim hujan, musim kemarau, musim bunga. Hal ini berhubungan dengan arah angin serbuk bunga dan debu. Stress Stress/ gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma, selain itu juga bisa memperberat serangan asma yang sudah ada. Disamping gejala asma yang timbul harus segera diobati penderita asma yang mengalami stress/gangguanemosi perlu diberi nasehat untuk menyelesaikan masalah pribadinya. Karena jika stressnya belum diatasi maka gejala asmanya belum bisa diobati. Lingkungan kerja Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan asma. Hal ini berkaitan dengan dimana dia bekerja. Misalnya orang yang bekerja di laboratorium hewan, industri tekstil, pabrik asbes, polisi lalu lintas. Gejala ini membaik pada waktu libur atau cuti. Olah raga/ aktifitas jasmani yang berat Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika melakukan aktifitas jasmani atau aloh raga yang berat. Lari cepat paling mudah menimbulkan serangan asma. Serangan asma karena aktifitas biasanya terjadi segera setelah selesai aktifitas tersebut. Patofisiologi Asma ditandai dengan kontraksi spastic dari otot polos bronkhiolus yang menyebabkan sukar bernafas. Penyebab yang umum adalah hipersensitivitas bronkhioulus terhadap benda-benda asing di udara. Reaksi yang timbul pada asma tipe alergi diduga terjadi dengan cara sebagai berikut : seorang yang alergi mempunyai kecenderungan untuk membentuk sejumlah antibody Ig E abnormal dalam jumlah besar dan antibodi ini menyebabkan reaksi alergi bila reaksi dengan antigen spesifikasinya. Pada asma, antibody ini terutama melekat pada sel mast yang terdapat pada interstisial paru yang berhubungan erat dengan brokhiolus dan bronkhus kecil. Bila seseorang menghirup alergen maka antibody Ig E orang tersebut meningkat, alergen bereaksi dengan antibodi yang telah terlekat pada sel mast dan menyebabkan sel ini akan mengeluarkan berbagai macam zat, diantaranya histamin, zat anafilaksis yang bereaksi lambat (yang merupakan leukotrient), faktor kemotaktik eosinofilik dan bradikinin. Efek gabungan dari semua faktor-faktor ini akan menghasilkan adema lokal pada dinding bronkhioulus kecil maupun sekresi mucus yang kental dalam lumen bronkhioulus dan spasme otot polos bronkhiolus sehingga menyebabkan tahanan saluran napas menjadi sangat meningkat. Pada asma , diameter bronkiolus lebih berkurang selama ekspirasi daripada selama inspirasi karena peningkatan tekanan dalam paru selama eksirasi paksa

3

©2003 Digitized by USU digital library menekan bagian luar bronkiolus. Karena bronkiolus sudah tersumbat sebagian, maka sumbatan selanjutnya adalah akibat dari tekanan eksternal yang menimbulkan obstruksi berat terutama selama ekspirasi. Pada penderita asma biasanya dapat melakukan inspirasi dengan baik dan adekuat, tetapi sekali-kali melakukan ekspirasi. Hal ini menyebabkan dispnea. Kapasitas residu fungsional dan volume residu paru menjadi sangat meningkat selama serangan asma akibat kesukaran mengeluarkan

udara ekspirasi dari paru. Hal ini bisa menyebabkan barrel chest. Manifestasi Klinik Biasanya pada penderita yang sedang bebas serangan tidak ditemukan gejala klinis, tapi pada saat serangan penderita tampak bernafas cepat dan dalam, gelisah, duduk dengan menyangga ke depan, serta tanpa otot-otot bantu pernafasan bekerja dengan keras. Gejala klasik dari asma bronkial ini adalah sesak nafas, mengi ( whezing ), batuk, dan pada sebagian penderita ada yang merasa nyeri di dada. Gejala-gejala tersebut tidak selalu dijumpai bersamaan. Pada serangan asma yang lebih berat , gejala-gejala yang timbul makin banyak, antara lain : silent chest, sianosis, gangguan kesadaran, hyperinflasi dada, tachicardi dan pernafasan cepat dangkal . Serangan asma seringkali terjadi pada malam hari. Pemeriksaan laboratorium 1. Pemeriksaan sputum Pemeriksaan sputum dilakukan untuk melihat adanya: Kristal-kristal charcot leyden yang merupakan degranulasi dari kristal eosinopil. Spiral curshmann, yakni yang merupakan cast cell (sel cetakan) dari cabang bronkus. Creole yang merupakan fragmen dari epitel bronkus. Netrofil dan eosinopil yang terdapat pada sputum, umumnya bersifat mukoid dengan viskositas yang tinggi dan kadang terdapat mucus plug. 2. Pemeriksaan darah Analisa gas darah pada umumnya normal akan tetapi dapat pula terjadi hipoksemia, hiperkapnia, atau asidosis. Kadang pada darah terdapat peningkatan dari SGOT dan LDH. Hiponatremia dan kadar leukosit kadang-kadang di atas 15.000/mm3 dimana menandakan terdapatnya suatu infeksi. Pencetus : Allergen Olahraga Cuaca Emosi Imun respon menjadi aktif Pelepasan mediator humoral Histamine SRS-A Serotonin Kinin Bronkospasme Edema mukosa Sekresi meningkat inflamasi Penghambat kortikosteroid

4
©2003 Digitized by USU digital library

Peningkatan FEV1 atau FVC sebanyak lebih dari 20% menunjukkan diagnosis asma. Bila terdapat komplikasi. 3. cara yang paling cepat dan sederhana diagnosis asma adalah melihat respon pengobatan dengan bronkodilator. 5. maka gambaran radiolusen akan semakin bertambah. Pemeriksaan spirometer dilakukan sebelum dan sesudah pamberian bronkodilator aerosol (inhaler atau nebulizer) golongan adrenergik. Bila terjadi pneumonia mediastinum. serta diafragma yang menurun. maka bercak-bercak di hilus akan bertambah. Status asmatikus 2. dan pneumoperikardium. Akan tetapi bila terdapat komplikasi. Pemeriksaan tes kulit Dilakukan untuk mencari faktor alergi dengan berbagai alergen yang dapat menimbulkan reaksi yang positif pada asma. Komplikasi Berbagai komplikasi yang mungkin timbul adalah : 1. maka dapat dilihat bentuk gambaran radiolusen pada paru-paru. Pemeriksaan radiologi Gambaran radiologi pada asma pada umumnya normal. Tidak adanya respon aerosol bronkodilator lebih dari 20%. Pemeriksaan penunjang 1. yakni terdapatnya RBB ( Right bundle branch block). Scanning paru Dengan scanning paru melalui inhalasi dapat dipelajari bahwa redistribusi udara selama serangan asma tidak menyeluruh pada paru-paru. Hipoksemia 4. Benyak penderita tanpa keluhan tetapi pemeriksaan spirometrinya menunjukkan obstruksi. yakni pada umumnya terjadi right axis deviasi dan clock wise rotation. Pneumothoraks 5. maka terdapat gambaran infiltrate pada paru Dapat pula menimbulkan gambaran atelektasis lokal. Spirometri Untuk menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas reversible. Pada waktu serangan menunjukan gambaran hiperinflasi pada paru-paru yakni radiolusen yang bertambah dan peleburan rongga intercostalis. Atelektasis 3. pneumotoraks. Elektrokardiografi Gambaran elektrokardiografi yang terjadi selama serangan dapat dibagi menjadi 3 bagian. 4. Tanda-tanda hopoksemia. dan disesuaikan dengan gambaran yang terjadi pada empisema paru yaitu : perubahan aksis jantung. dan VES atau terjadinya depresi segmen ST negative. Emfisema 5 ©2003 Digitized by USU digital library . yakni terdapatnya sinus tachycardia.Pada pemeriksaan faktor-faktor alergi terjadi peningkatan dari Ig E pada waktu serangan dan menurun pada waktu bebas dari serangan. SVES. maka kelainan yang didapat adalah sebagai berikut: Bila disertai dengan bronkitis. Terdapatnya tanda-tanda hipertropi otot jantung. 2. Pemeriksaan spirometri tidak saja penting untuk menegakkan diagnosis tetapi juga penting untuk menilai berat obstruksi dan efek pengobatan. Bila terdapat komplikasi empisema (COPD).

Teofilin (Amilex) Efek dari teofilin sama dengan obat golongan simpatomimetik.Aminofilin (Amicam supp) .Orsiprenalin (Alupent) . Cara pemakaian : Bentuk suntikan teofillin / aminofilin dipakai pada serangan asma akut. Sehingga bila kedua obat ini dikombinasikan efeknya saling memperkuat. Mengenal dan menghindari fakto-faktor yang dapat mencetuskan serangan asma 3. Pengobatan non farmakologik: Memberikan penyuluhan Menghindari faktor pencetus Pemberian cairan Fisiotherapy Beri O2 bila perlu. yaitu: 1. suntikan dan semprotan. Pengobatan farmakologik : Bronkodilator : obat yang melebarkan saluran nafas. 2. Teofilin ada juga dalam bentuk supositoria yang cara pemakaiannya dimasukkan ke dalam anus. 2.Fenoterol (berotec) . Karena sering merangsang lambung bentuk tablet atau sirupnya sebaiknya diminum sesudah makan. Gagal nafas Penatalaksanaan Prinsip umum pengobatan asma bronchial adalah : 1. b. Itulah sebabnya penderita yang mempunyai sakit lambung sebaiknya berhati-hati bila minum obat ini. Simpatomimetik/ andrenergik (Adrenalin dan efedrin) Nama obat : . Pengobatan pada asma bronkhial terbagi 2. Memberikan penerangan kepada penderita ataupun keluarganya mengenai penyakit asma. baik pengobatannya maupun tentang perjalanan penyakitnya sehingga penderita mengerti tujuan penngobatan yang diberikan dan bekerjasama dengan dokter atau perawat yang merawatnnya. Berotec. Terbagi dalam 2 golongan : a. Menghilangkan obstruksi jalan nafas dengan segara. Deformitas thoraks 7.Terbutalin (bricasma) Obat-obat golongan simpatomimetik tersedia dalam bentuk tablet. Ada juga yang berbentuk bubuk halus yang dihirup (Ventolin Diskhaler dan Bricasma Turbuhaler) atau cairan broncodilator (Alupent. Kromalin 6 ©2003 Digitized by USU digital library Kromalin bukan bronkodilator tetapi merupakan obat pencegah serangan asma. tetapi cara kerjanya berbeda.Aminofilin (Euphilin Retard) . Santin (teofilin) Nama obat : . dan disuntikan perlahan-lahan langsung ke pembuluh darah. Yang berupa semprotan: MDI (Metered dose inhaler). Supositoria ini digunakan jika penderita karena sesuatu hal tidak dapat minum teofilin (misalnya muntah atau lambungnya kering). brivasma serts Ventolin) yang oleh alat khusus diubah menjadi aerosol (partikel-partikel yang sangat halus ) untuk selanjutnya dihirup. sirup. Manfaatnya adalah untuk penderita asma alergi terutama anakanak. .6.

Kromalin biasanya diberikan bersama-sama obat anti asma yang lain. Pernapasan Dipsnea pada saat istirahat atau respon terhadap aktivitas atau latihan. Tidur dalam posisi duduk tinggi. Keuntungnan obat ini adalah dapat diberika secara oral. INTERVENSI RASIONAL Mandiri Auskultasi bunyi nafas. Kaji riwayat reaksi alergi atau sensitifitas terhadap zat/ faktor lingkungan. Biasanya diberikan dengan dosis dua kali 1mg / hari. Susah bicara atau bicara terbata-bata. Penurunan berat badan karena anoreksia. Adanya penurunan kemampuan/peningkatan kebutuhan bantuan melakukan aktivitas sehari-hari. Adanya bunyi napas mengi. Menggunakan obat bantu pernapasan. Napas memburuk ketika pasien berbaring terlentang ditempat tidur. Ketolifen Mempunyai efek pencegahan terhadap asma seperti kromalin. Integritas ego Ansietas Ketakutan Peka rangsangan Gelisah Asupan nutrisi Ketidakmampuan untuk makan karena distress pernapasan. catat . dan efeknya baru terlihat setelah pemakaian satu bulan. Hubungan sosal Keterbatasan mobilitas fisik. Pengkajian Hal-hal yang perlu dikaji pada pasien asma adalah sebagai berikut: Riwayat kesehatan yang lalu: Kaji riwayat pribadi atau keluarga tentang penyakit paru sebelumnya. Adanya batuk berulang. Hasil yang diharapkan: mempertahankan jalan nafas paten dengan bunyi bersih dan jelas. Kaji riwayat pekerjaan pasien. melebarkan hidung. Aktivitas Ketidakmampuan melakukan aktivitas karena sulit bernapas. Sirkulasi Adanya peningkatan tekanan darah. Warna kulit atau membran mukosa normal/ abu-abu/ sianosis. Adanya ketergantungan pada orang lain. Kemerahan atau berkeringat. misalnya: meninggikan bahu. Adanya peningkatan frekuensi jantung. 7 ©2003 Digitized by USU digital library Seksualitas Penurunan libido Diagnosa dan Intervensi Keperawatan Diagnosa 1 : Tak efektif bersihan jalan nafas b/d bronkospasme.

Peninggian kepala tempat tidur memudahkan fungsi pernafasan dengan menggunakan gravitasi. penggunaan cairan hangat dapat menurunkan spasme bronkus. distress pernafasan. duduk pada sandara tempat tidur Pertahankan polusi lingkungan minimum. Catat adanya derajat dispnea. penggunaan cairan hangat dapat menurunkan kekentalan sekret. ex: mengi Kaji / pantau frekuensi pernafasan. Beberapa derajat spasme bronkus terjadi dengan obstruksi jalan nafas dan dapat/tidak dimanifestasikan adanya nafas advertisius. asap dll Tingkatkan masukan cairan sampai dengan 3000 ml/ hari sesuai toleransi jantung memberikan air hangat. Kolaborasi Berikan obat sesuai dengan indikasi bronkodilator. Disfungsi pernafasan adalah variable yang tergantung pada tahap proses akut yang menimbulkan perawatan di rumah sakit. contoh: debu. Hidrasi membantu menurunkan kekentalan sekret. Merelaksasikan otot halus dan menurunkan spasme jalan nafas. dan produksi . contoh : meninggikan kepala tempat tidur. Pencetus tipe alergi pernafasan dapat mentriger episode akut. mengi. Tempatkan posisi yang nyaman pada pasien. Tachipnea biasanya ada pada beberapa derajat dan dapat ditemukan pada penerimaan atau selama stress/ adanya proses infeksi akut. penggunaan obat bantu.adanya bunyi nafas. ansietas. catat rasio inspirasi / ekspirasi.

INTERVENSI RASIONALISASI Mandiri Kaji/awasi secara rutin kulit dan membrane mukosa. Rasa tak enak. Palpasi fremitus Awasi tanda vital dan irama jantung Kolaborasi Berikan oksigen tambahan sesuai dengan indikasi hasil AGDA dan toleransi pasien. Diagnosa 3 : Kerusakan pertukaran gas b/d gangguan suplai oksigen (spasme bronkus) Hasil yang diharapkan . buang sekret. Kolaborasi Berikan oksigen tambahan selama makan sesuai indikasi. berikan wadah khusus untuk sekali pakai. disritmia. perbaikan ventilasi dan oksigen jaringan edukuat.mukosa. 8 ©2003 Digitized by USU digital library Diagnosa 2: Malnutrisi b/d anoreksia Hasil yang diharapkan : menunjukkan peningkatan berat badan menuju tujuan yang tepat. Catat derajat kerusakan makanan. Tachicardi. Menurunkan dipsnea dan meningkatkan energi untuk makan. Penurunan getaran vibrasi diduga adanya pengumplan cairan/udara. Sering lakukan perawatan oral. dan perubahan tekanan darah . Sianosis mungkin perifer atau sentral keabu-abuan dan sianosis sentral mengindikasi kan beratnya hipoksemia. masukan makanan saat ini. meningkatkan masukan. INTERVENSI RASIONALISASI Mandiri Kaji kebiasaan diet. Pasien distress pernafasan akut sering anoreksia karena dipsnea. bau menurunkan nafsu makan dan dapat menyebabkan mual/muntah dengan peningkatan kesulitan nafas.

Tunjukkan tehnik penggunaan inhakler. Hasil yang diharapkan : menyatakan pemahaman kondisi/proses penyakit dan tindakan. Penting bagi pasien memahami perbedaan antara efek samping mengganggu dan merugikan. Dapat memperbaiki atau mencegah memburuknya hipoksia. 9 ©2003 Digitized by USU digital library Diognasa 4: Risiko tinggi terhadap infeksi b/d tidak adekuat imunitas.salah mengerti. Menurunkan ansietas dan dapat menimbulkan perbaikan partisipasi pada rencana pengobatan.dapat menunjukan efek hipoksemia sistemik pada fungsi jantung.Perubahan ola hidup untuk meningkatkan lingkungan yang nyaman. Hasil yang diharapkan : .mengidentifikasikan intervensi untuk mencegah atau menurunkan resiko infeksi. INTERVENSI RASIONALISASI Mandiri Awasi suhu. efek samping dan reaksi yang tidak diinginkan. . Demam dapat terjadi karena infeksi dan atau dehidrasi. Diskusikan kebutuhan nutrisi adekuat Kolaborasi Dapatkan specimen sputum dengan batuk atau pengisapan untuk pewarnaan gram. Malnutrisi dapat mempengaruhi kesehatan umum dan menurunkan tahanan terhadap infeksi untuk mengidentifikasi organisme penyabab dan kerentanan terhadap berbagai anti microbial Diagnosa 5: Kurang pengetahuan b/d kurang informasi . INTERVENSI RASIONALISASI Jelaskan tentang penyakit individu Diskusikan obat pernafasan. Pemberian obat yang tepat .kultur/sensitifitas.

(1990) “Asma Bronchiale”. J. Jakarta : FK UI. & Geissler. Price. 2008 askep bronkhitis BRONCHITIS By. Sundaru. Jakarta : AGC. C. Jakarta : FK UI. Jakarta : Hipokrates. (1997) “Penanganan Asma dalam Penyakit Primer”. Apa dan Bagaimana Pengobatannya”. (1995) “Asma .STIKES-MUHAMMADIYAHPEKAJANGAN MARI KITA MAJUKAN KEPERAWATAN INDONESIA JANGAN ENGKAU DIAM JANGAN ENGKAU TERLENA PROFESI KITA SANGAT MEMBUTUHKAN PERAN SERTA DAN KARYA KITA Selasa. Jakarta : Salemba Medika. M. Blacwell Scientific Publication. Jakarta : Hipokrates. L. M. Maret 11.. C. Guyton & Hall (1997) “Buku Ajar Fisiologi Kedokteran”. R. Buku Satu. Jakarta : Info Medika. (1996) “Ilmu Penyakit Paru”. T. H. A. (1980) “Diagnosis and Management of Respiratory Disease”.meningkatkan keefektifanya. Jakarta : EGC. E. Jakarta : EGC. Crompton. (1995) “Pulmonary Disease”. Volume 1. R. T. Philadelpia : Lea & Febiger. (1999) “Keperawatan Medikal Bedah”. 10 ©2003 Digitized by USU digital library DAFTAR PUSTAKA Baratawidjaja. Moorhouse. (1998) “Agenda Gawat Darurat”.. Reeves. Jakarta : EGC. Rab. dikutip dari Ilmu Penyakit Dalam. Roux. G & Lockhart. K. G. Jakarta : EGC. M. A. (1995) “Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit”. (2000) “Rencana Asuhan Keperawatan”. Doenges. Rab. S & Wilson. Hudak & Gallo (1997) “Keperawatan Kritis Pendekatan Holistik”. Dafid Arifiyanto . Staff Pengajar FK UI (1997) “Ilmu Kesehatan Anak”. Crockett. Jakarta : Hipocrates. Pullen. F. DAFID. Brunner & Suddart (2002) “Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah”. L.

kekerapan bronchitis diperkirakan sebanyak 1. Kenyataannya penyakit ini sering ditemukan di klinik-klinik dan diderita oleh laki-laki dan wanita. Penyakit ini dapat diderita mulai dari anak bahkan dapat merupakan kelainan congenital. Bronchitis konginetal sering menyertai penyakit-penyakit konginetal lainya. Dinegara barat. Bronchitis yang timbul congenital ini mempunyai ciri sebagai berikut : Bronchitis mengenai hampir seluruh cabang bronkus pada satu atau kedua paru. penyakit jantung bawaan.PENDAHULUAN Bronchitis adalah suatu penyakit yang ditandai adanya dilatasi ( ektasis ) bronkus lokal yang bersifat patologis dan berjalan kronik.3% diantara populasi. kifoskoliasis konginetal. Bronkus yang terkena umumnya bronkus kecil (medium size ). Pada kenyataannya kasus-kasus bronchitis dapat timbul secara congenital maupun didapat. Perubahan bronkus tersebut disebabkan oleh perubahan-perubahan dalam dinding bronkus berupa destruksi elemen-elemen elastis dan otot-otot polos bronkus. karsinoma bronkus atau tekanan dari luar terhadap bronkus PERUBAHAN PATOLOGIS ANATOMIK . pneumonia ini merupakan komplikasi pertusis maupun influenza yang diderita semasa anak. sedangkan bronkus besar jarang terjadi. Kekerapan setinggi itu ternyata mengalami penurunan yang berarti dengan pengobatan memakai antibiotik. dalam keadaan lanjut penyakit ini sering menyebabkan obstruksi saluran nafas yang menetap yang dinamakan cronik obstructive pulmonary disease ( COPD ). bronkiektasis pada anak kembar satu telur ( anak yang satu dengan bronkiektasis. ETIOLOGI Penyebab bronchitis sampai sekarang masih belum diketahui dengan jelas. sindrom kartagener ( bronkiektasis konginetal. misalnya : mucoviscidosis ( cystic pulmonary fibrosis ). Bronchitis kronis dan emfisema paru sering terdapat bersama-sama pada seorang pasien. Kelainan congenital Dalam hal ini bronchitis terjadi sejak dalam kandungan. Obstruksi bronkus Obstruksi bronkus yang dimaksud disini dapat disebabkan oleh berbagai macam sebab : korpus alineum. tuberculosis paru dan sebagainya. Kelainan didapat Kelaianan didapat merupakan akibat proses berikut : Infeksi Bronchitis sering terjadi sesudah seseorang menderita pneumonia yang sering kambuh dan berlangsung lama. bronkiektasis sering bersamaan dengan kelainan congenital berikut : tidak adanya tulang rawan bronkus. Di Indonesia belum ada laporan tentang anka-angka yang pasti mengenai penyakit ini. sinusitis paranasal dan situs inversus ). Di Inggris dan Amerika penyakit paru kronik merupakan salah satu penyebab kematian dan ketidak mampuan pasien untuk bekerja. hipo atau agamaglobalinemia. Factor genetic atau factor pertumbuhan dan factor perkembangan fetus memegang peran penting. ternyata saudara kembarnya juga menderita bronkiektasis ).

Keluhankeluhan yang timbul juga berlangsung kronik dan menetap . bronkus yang terkena dapat hanya satu segmen paru saja maupun difus mengenai bronki kedua paru. ulserasi. Obstruksi bronkus akan diikuti terbentuknya bronchitis. 3. Bentuk kantong Ditandai dengan adanya dilatasi dan penyempitan bronkus yang bersifat irregular. 2. fibrosis paru. Pada bronchitis yang didapat patogenesisnya diduga melelui beberapa mekanisme : factor obstruksi bronkus. Bentuk ini merupakan komplikasi dari pneumonia. Infeksi pada bronkus atau paru akan diikuti proses destruksi dinding bronkus daerah infeksi dan kemudian timbul bronchitis.. Bentuk antara bentuk tabung dan kantong (Pseudobronchitis) Pada bentuk ini terdapat pelebaran bronkus yang bersifat sementara dan bentuknya silindris. keluhan-keluhan yang timbul . Mukosa bronkus Mukosa bronkus permukaannya menjadi abnormal. Apabila terjadi eksaserbasi infeksi akut. dan factor intrinsik dalam bronkus atau paru. Bronkus yang terkena Bronkus yang terkena umumnya yang berukuran sedang. Jaringan bronkus yang mengalami kerusakan selain otot-otot polos bronkus juga elemen-elemen elastis. Bentuk tabung Bentuk ini sering ditemukan pada bronchitis yang menyertai bronchitis kronik. Variasi kelainan anatomis bronchialis Telah dikenal 3 variasi bentuk kelainan anatomis bronchitis. PATOGENESIS Apabila bronchitis kongenital patogenesisnya tidak diketahui diduga erat hubungannya dengan genetic serta factor pertumbuhan dan perkembangan fetus dalam kandungan. Patogenesis pada kebanyakan bronchitis yang didapat melalui dua mekanisme dasar : 1. kemudian timbul bronchitis. terjadi perubahan metaplasia skuamosa. Bentuk ini berbentuk kista. Perubahan morfologis bronkus yang terkena Dinding bronkus Dinding bronkus yang terkena dapat mengalami perubahan berupa proses inflamasi yang sifatnya destruktif dan irreversibel. factor infeksi pada bronkus atau paru-paru. Jaringan paru peribronchiale Pada keadaan yang hebat. yaitu : 1. jaringan paru distal akan diganti jaringan fibrotik dengan kistakista berisi nanah. Bronchitis merupakan penyakit paru yang mengenai paru dan sifatnya kronik. baik mengenai jumlah atau luasnya bronkus yang terkena maupun beratnya penyakit : Tempat predisposisi bronchitis Bagian paru yang sering terkena dan merupakan predisposisi bronchitis adalah lobus tengah paru kanan. Infeksi bacterial pada bronkus atau paru.Terdapat berbagai macam variasi bronchitis. pada mukosa akan terjadi pengelupasan. 2. segmen basal pada lobus bawah kedua paru. pada bagian distal obstruksi dan terjadi infeksi juga destruksi bronkus. bagian lingual paru kiri lobus atas. silia pada sel epitel menghilang.

tingkatan beratnya penyakit. Apabila terjadi infeksi sekunder oleh kuman anaerob. akibat komplikasi. umumnya jumlahnya banyak terutama pada pagi hari sesudah ada perubahan posisi tidur atau bangun dari tidur. sedangkan infeksi virus tidak dapat ( misalnya adenovirus tipe 21. virus influenza. adanya haemaptoe dan pneumonia berulang. dan sebagainnya ). Infeksi yang mendahului bronchitis adalah infeksi bacterial yaitu mikroorgansme penyebab pneumonia. tampak terpisah menjadi 3 bagian Lapisan teratas agak keruh Lapisan tengah jernih. Kuman yang erring ditemukan dan menginfeksi bronkus misalnya : streptococcus pneumonie. adanya kerusakan fungsi bronkus. ada atau tidaknya komplikasi lanjut. sedang apabila terjadi infeksi sekunder sputumnya purulen. 2. dan ada tidaknya komplikasi lanjut. Gejala dan tanda klinis dapat demikian hebat pada penyakit yang berat. dan apabila ditampung beberapa lama. pada kasus yang sudah berat. akan menimbulkan sputum sangat berbau. jumlah seputum bervariasi.. lokasi kelainannya. Mengenai infeksi dan hubungannya dengan patogenesis bronchitis. treponema vincenti. campak. 1. GAMBARAN KLINIS Gejala dan tanda klinis yang timbul pada pasien bronchitis tergantung pada luas dan beratnya penyakit. dapat memberikan bau yang tidak sedap.erat dengan : luas atau banyaknya bronkus yang terkena. Masih menjadi pertanyaan apakah infeksi yang mendahului terjadinya bronchitis tersebut disebabkan oleh bakteri atau virus. lokasi bronkus yang terkena. haemophilus influenza. sputum jumlahnya banyak sekali. misalnya pada saccular type bronchitis. data dijelaskan sebagai berikut . Bronchitis yang mengenai bronkus pada lobis atas sering dan memberikan gejala : Keluhan-keluhan Batuk Batuk pada bronchitis mempunyai ciri antara lain batuk produktif berlangsung kronik dan frekuensi mirip seperti pada bronchitis kronis. Ciri khas pada penyakit ini adalah adanya batuk kronik disertai produksi sputum. keluhan-keluhan yang timbul umumnya sebagai akibat adanya beberapa hal : adanya kerusakan dinding bronkus. apabila sputum pasien yang semula berwarna putih jernih kemudian berubah warnanya menjadi kuning atau kehijauan atau berbau busuk berarti telah terjadi infeksi sekunder oleh kuman anaerob misalnya : fusifomis fusiformis. Dikatakan bahwa hanya infeksi bakteri saja yang dapat menyebabkan kerusakan pada dinding bronkus sehingga terjadi bronchitis. anaerobic streptococci. . Infeksi sekunder Tiap pasien bronchitis tidak selalu disertai infeksi sekunder pada lesi. dan dapat tidak nyata atau tanpa gejala pada penyakit yang ringan. puruen. terdiri atas saliva ( ludah ) Lapisan terbawah keruh terdiri atas nanah dan jaringan nekrosis dari bronkus yang rusak ( celluler debris ). Kalau tidak ada infeksi skunder sputumnya mukoid. klebsiella ozaena. Infeksi pertama ( primer ) Kecuali pada bentuk bronchitis kongenital.

Demam berulang Bronchitis merupakan penyakit yang berjalan kronik. Sinusitis paranasal atau tidak terdapatnya sinus frontalis. Apabila bagian paru yang diserang amat luas serta kerusakannya hebat. Sindrom ini terdiri atas gejala-gejala berikut : Bronchitis congenital. right-sided spleen.Haemaptoe Hemaptoe terjadi pada 50 % kasus bronchitis. Pada tuberculosis paru. Wheezing dapat local atau tersebar tergantung pada distribusi kelainannya. manifestasi klinis komplikasi bronchitis. sering disertai dengan silia bronkus imotil Situs inversus pembalikan letak organ-organ dalam dalam hal ini terjadi dekstrokardia. akibat adanya obstruksi bronkus. drainasenya baik. Kadang ditemukan juga suara mengi ( wheezing ). sering mengalami infeksi berulang pada bronkus maupun pada paru. Bronchitis. Semua elemen gejala sindrom kartagener ini adalah keleinan congenital. Ditemukan ronchi basah yang jelas pada lobus bawah paru yang terkena dan keadaannya menetap dari waku kewaktu atau ronci basah ini hilang sesudah pasien mengalami drainase postural atau timbul lagi diwaktu yang lain. Wheezing sering ditemukan apa bila terjadi obstruksi bronkus. Timbul dan beratnya sesak nafas tergantung pada seberapa luasnya bronchitis kronik yang terjadi dan seberapa jauh timbulnya kolap paru dan destruksi jaringan paru yang terjadi sebagai akibat infeksi berulang ( ISPA ). left-sided liver. Kelainan ini merupakan klasifikasi kelenjar limfe yang biasanya merupakan gejala sisa komleks primer tuberculosis paru primer. kelainan ini terjadi akibat nekrosis atau destruksi mukosa bronkus mengenai pembuluh darah ( pecah ) dan timbul perdarahan. Sindrom kartagenr. Kelainan ini bukan merupakan tanda . yang biasanya menimbulkan fibrosis paru dan emfisema yang menimbulkan sesak nafas. Bila terjadi komplikasi pneumonia akan ditemukan kelainan fisis sesuai dengan pneumonia. left sided gall bladder. Bagaimana asosiasi tentang keberadaanya yang demikian ini belum diketahui dengan jelas. haemaptoe justru gejala satu-satunya karena bronchitis jenis ini letaknya dilobus atas paru. Pada kasus yang berat dan lebih lanjut dapat ditemukan tandatanda korpulmonal kronik maupun payah jantung kanan. bronchitis ( sekunder ) ini merupakan penyebab utama komplikasi haemaptoe. pasien tanpa batuk atau batukya minimal.. dapat menimbulkan kelainan berikut : terjadi retraksi dinding dada dan berkurangnya gerakan dada daerah yang terkena serta dapat terjadi penggeseran medistenum kedaerah paru yang terkena. sehingga sering timbul demam (demam berulang) Kelainan fisis Tanda-tanda umum yang ditemukan meliputi sianosis. jari tubuh. Sesak nafas ( dispnue ) Pada sebagian besar pasien ( 50 % kasus ) ditemukan keluhan sesak nafas. sputum tidak pernah menumpuk dan kurang menimbulkan reflek batuk. Perdarahan yang timbul bervariasi mulai dari yang paling ringan ( streaks of blood ) sampai perdarahan yang cukup banyak ( massif ) yaitu apabila nekrosis yang mengenai mukosa amat hebat atau terjadi nekrosis yang mengenai cabang arteri broncialis ( daerah berasal dari peredaran darah sistemik ) Pada dry bronchitis ( bronchitis kering ).

Seing ditemukan anemia. Urin umumnya normal kecuali bila sudah ada komplikasi amiloidosis akan ditemukan proteiuria. Kelainan laboratorium. yang berpengaruh pada perfusi paru. kelainan ini sering menimbulkan erosi bronkus didekatnya dan dapat masuk kedalam bronkus menimbulkan sumbatan dan infeksi. Kelainan radiologist Gambaran foto dada ( plain film ) yang khas menunjukan adanya kista-kista kecil dengan fluid level. Pemeriksaan kultur sputum dan uji sensivitas terhadap antibiotic. perlu dilakukan bila ada kecurigaan adanya infeksi sekunder. septikemi. Bila penyakitnya ringan gambaran darahnya normal. Dan pada pemeriksaan fisis ditemukan ronchi basah kasar pada daerah yang terkena. Erosi dinding bronkus oleh bronkolit tadi dapat mengenai pembuluh darah dan dapat merupakan penyebab timbulnya hemaptoe hebat. kapasitas vital ( KV ) dan kecepatan aliran udara ekspirasi satu detik pertama ( FEV1 ). multiple cysts containing fluid levels.klinis bronchitis. . abses metastasis. karena terjadinya obstruksi airan udara pernafasan. selanjutnya terjadilah bronchitis. sering ditemukan infeksi piogenik pada kulit. (umumnya warna hijau dan jarang mukoid. ditemukan juga bercak-bercak pneumonia. Kelainan faal paru Pada penyakit yang lanjut dan difus. berwarna kotor dan berbau. umumnya pasien masih Nampak sehat dan fungsi paru normal. Umumnya pasien mempunyai keadaan umum kurang baik. Bronchitis sedang Ciri klinis : batuk produktif terjadi setiap saat. sianosis atau tanda kegagalan paru. ada haemaptoe ringan. gambaran foto dada masih terlihat normal. amiloidosis. Gambaran bronchitis akan jelas pada bronkogram. Pada pemeriksaan paru sering ditemukannya ronchi basah kasar pada daerah paru yag terkena. adanya haemaptoe. atau ditemukan leukositosis yang menunjukan adanya infeksi supuratif. infeksi mata . dan bau mulut meyengat). pasien mudah timbul pneumonia. yang menunjukan adanya infeksi kronik. terdapat tendensi penurunan. Bronchitis berat Ciri klinis : batuk produktif dengan sputum banyak. foto dada normal. mirip seperti gambaran sarang tawon pada daerah yang terkena. fibrosis atau kolaps. pasien tampak sehat dan fungsi paru norma. Pada keadaan lanjut dan mulai sudah ada insufisiensi paru dapat ditemukan polisitemia sekunder. Dapat terjadi perubahan gas darah berupa penurunan PaO2 ini menunjukan abnormalitas regional ( maupun difus ) distribusi ventilasi. Bila ada obstruksi nafas akan ditemukan adanya dispnea. sputum timbul setiap saat. Tingkatan beratnya penyakit Bronchitis ringan Ciri klinis : batuk-batuk dan sputum warna hijau hanya terjadi sesudah demam. Pada gambaran foto dada ditemukan kelianan : bronkovascular marking. Sering ditemukannya pneumonia dengan haemaptoe dan nyeri pleura.

karena terikat adanya indikasi. penegakan diagnosis bronchitis dapat ditempuh melewati proses diagnostik yang lazim dikerjakan dibidang kedokteran.DIAGNOSIS Diagnosis pasti bronchitis dapat ditegakan apabila telah ditemukan adanya dilatasi dan nekrosis dinding bronkus dengan prosedur pemeriksaan bronkografi dan melihat bronkogram yang didapat. 3. Bronchitis kronik 2. bronchitis sering mengalami infeksi berulang biasanya sekunder terhadap infeksi pada saluran nafas bagian atas.. terjadi gangguan oksigenasi darah. Kegagalan pernafasan merupakan komlikasi paling akhir pada bronchitis yang berat da luas . Selanjutnya akan terjadi gagal jantung kanan. antara lain : 1. Efusi pleura atau empisema 5. Oleh karena pasien bronchitis umumnya memberikan gambaran klinis yang dapat dkenal. meliputi: Anamnesis Pemeriksaan fisis Pemeriksaan penunjang DIAGNOSIS BANDING Beberapa penyakit yang perlu diingat atau dipertimbangkan kalau kita berhadapan dengan pasien bronchitis : · Bronchitis kronis ( ingatlah definisi klinis bronchitis kronis ) · Tuberculosis paru ( penyakit ini dapat disertai kelainan anatomis paru berupa bronchitis ) · Abses paru ( terutama bila telah ada hubungan dengan bronkus besar ) · Penyakit paru penyebab hemaptomisis misalnya karsinoma paru. Umumnya pleuritis sicca pada daerah yang terkena. Haemaptoe terjadi kerena pecahnya pembuluh darah cabang vena ( arteri pulmonalis ) . Pada keadaan lanjut akan terjadi hipertensi pulmonal. selanjutnya terjadi hipoksemia. kontraindikasi. cabang arteri ( arteri bronchialis ) atau anastomisis pembuluh darah. 7. Sering menjadi penyebab kematian 6. kor pulmoner kronik. akibat septikemi oleh kuman penyebab infeksi supuratif pada bronkus. Komplikasi haemaptoe hebat dan tidak terkendali merupakan tindakan beah gawat darurat. 9. adenoma paru ) · Fistula bronkopleural dengan empisema KOMPLIKASI Ada beberapa komplikasi bronchitis yang dapat dijumpai pada pasien. syarat-syarat kaan elakukannya. Pneumonia dengan atau tanpa atelektaksis. 4. timbul sianosis sentral. Sinusitis merupakan bagian dari komplikasi bronchitis pada saluran nafas 8. Kor pulmonal kronik pada kasus ini bila terjadi anastomisis cabang-cabang arteri dan vena pulmonalis pada dinding bronkus akan terjadi arterio-venous shunt. Hal ini sering terjadi pada mereka drainase sputumnya kurang baik. Pleuritis. Komplikasi ini dapat timbul bersama dengan timbulnya pneumonia. Bronkografi tidak selalu dapat dikerjakan pada tiap pasien bronchitis. Abses metastasis diotak.

Kemotherapi pada bronchitis Kemotherapi dapat digunakan : secara continue untuk mengontrol infeksi bronkus ( ISPA ) untuk pengobatan aksaserbasi infeksi akut pada bronkus/paru atau kedua-duanya digunakan Kemotherapi menggunakan obat-obat antibiotic terpilih. Memperbaiki drainase secret bronkus. Mengontrol infeksi saluran nafas. pemkaian antibiotic antibiotic sebaikya harus berdasarkan hasil uji sensivitas kuman terhadap antibiotic secara empiric. Mencairkan sputum yang kental Dapat dilakukan dengan jalan. Adanya infeksi saluran nafas akut ( ISPA ) harus diperkecil dengan jalan mencegah penyebaran kuman. apabila telah ada infeksi perlu adanya antibiotic yang sesuai agar infeksi tidak berkelanjutan. meliputi : Menciptakan lingkungan yang baik dan tepat untuk pasien : Contoh : Membuat ruangan hangat. terdiri atas : 1. Pengelolaan khusus. Prinsip drainase postural ini adalah usaha mengeluarkan sputum ( secret bronkus ) dengan bantuan gaya gravitasi. Pada pasien yang mengalami komplikasi ini dapat ditemukan pembesaran hati dan limpa serta proteinurea. PENATALAKSANAAN Pengelolaan pasien bronchitis terdiri atas dua kelompok : Pengobatan konservatif. Mengatur posisi tepat tidur pasien Sehingga diperoleh posisi pasien yang sesuai untuk memudahkan drainase sputum. sebagai komplikasi klasik dan jarang terjadi.asap dan sebagainya. misalnya inhalasi uap air panas. Tiap kali melakukan drainase postural dilakukan selama 10 – 20 menit. cara yang baik untuk dikerjakan adalah sebagai berikut : Melakukan drainase postural Pasien dilelatakan dengan posisi tubuh sedemikian rupa sehingga dapat dicapai drainase sputum secara maksimum. tiap hari dilakukan 2 sampai 4 kali. Walaupun kemotherapi jelas kegunaannya pada pengelolaan bronchitis. Pengelolaan umum Pengelolaan umum ditujukan untuk semua pasien bronchitis. udara ruangan kering. 2. Antibiotik diberikan jika terdapat aksaserbasi infeki akut. dan dapat dibantu dengan tindakan memberikan ketukan pada pada punggung pasien dengan punggung jari. tidak pada setiap pasien harus diberikan antibiotic. antibiotic diberikan selama 7-10 hari dengan therapy tunggal atau dengan beberapa . Amiloidosis keadaan ini merupakan perubahan degeneratif. mengguanakan obat-obat mukolitik dan sebagainya.10. Mencegah / menghentikan rokok Mencegah / menghindari debu. Posisi tubuh saat dilakukan drainase postural harus disesuaikan dengan letak kelainan bronchitisnya.

Pengobatan hipoksia. Tindakan yang perlu segera dilakukan adalah upaya menghentikan perdarahan.antibiotic. Indikasi pembedahan : Pasien bronchitis yang yang terbatas dan resektabel. . Cara operasi. Pengobatan demam. Syarat-ayarat operasi. Pengobatan haemaptoe. Kontra indikasi Pasien bronchitis dengan COPD Pasien bronchitis berat Pasien bronchitis dengan koplikasi kor pulmonal kronik dekompensasi. sampai terjadi konversi warna sputum yang semula berwarna kuning/hijau menjadi mukoid ( putih jernih ). Pada pasien yang mengalami hipoksia perlu diberikan oksigen. lebih-lebih kalau terjadi septikemi. Pengobatan pembedahan Tujuan pembedahan : mengangkat ( reseksi ) segmen/ lobus paru yang terkena. Pasien dengan haemaptoe massif seperti ini mutlak perlu tindakan operasi. Pasien perlu dipertimbangkan untuk operasi Pasien bronchitis yang terbatas tetapi sering mengaami infeksi berulang atau haemaptoe dari daerakh tersebut. Kemotherapi dengan antibiotic ini apabila berhasil akan dapat mengurangi gejala batuk. Drainase secret dengan bronkoskop Cara ini penting dikerjakan terutama pada saat permulaan perawatan pasien. Kelainan ( bronchitis ) harus terbatas dan resektabel Daerah paru yang terkena telah mengalami perubahan ireversibel Bagian paru yang lain harus masih baik misalnya tidak ada bronchitis atau bronchitis kronik. jumlah sputum dan gejala lainnya terutama pada saat terjadi aksaserbasi infeksi akut. Pada kasus ini selain diberikan antibiotic perlu juga diberikan obat antipiretik. Keperluannya antara lain : Menentukan dari mana asal secret Mengidentifikasi lokasi stenosis atau obstruksi bronkus Menghilangkan obstruksi bronkus dengan suction drainage daerah obstruksi. tetapi keadaan ini hanya bersifat sementara. Dari berbagai penelitian pemberian obat-obatan hemostatik dilaporkan hasilnya memuaskan walau sulit diketahui mekanisme kerja obat tersebut untuk menghentikan perdarahan. yang tidak berespon yang tidak berespon terhadap tindakan-tindakan konservatif yang adekuat. Pada pasien yang mengalami eksaserbasi inhalasi akut sering terdapat demam. Pengobatan obstruksi bronkus Apabila ditemukan tanda obstruksi bronkus yang diketahui dari hasil uji faal paru (%FEV 1 < 70% ) dapat diberikan obat bronkodilator. Pengobatan simtomatik Pengobatan ini diberikan jika timbul simtom yang mungkin mengganggu atau mebahayakan pasien.

pemeriksaan broncospirometri ( uji fungsi paru regional ) Scanning dan USG Meneliti ada atau tidaknya kontra indikasi operasi pada pasien Memperbaiki keadaan umum pasien PENCEGAHAN Timbulnya bronchitis sebenarnya dapat dicegah. Pada kasus-kasus yang berat dan tidak diobati. empiema. Pemilihan pengobatan secara tepat ( konservatif atau pembedahan ) dapat memperbaiki prognosis penyakit. prognosisnya jelek. Asuhan keperawatan Data Fokus Anamnesa :è Faktor Predisposisi Aktifitas Gaya hidup Keadaan lingkungan Aspirasi Penyakit pernapasan lain Pemeriksaan Fisik : fokus dada Inspeksi :è Irama. Menurut beberapa literature untuk mencegah terjadinya bronchitis ada beberapa cara : Pengobatan dengan antibiotic atau cara-cara lain secara tepat terhadap semua bentuk pneumonia yang timbul pada anak akan dapat mencegah ( mengurangi ) timbulnya bronchitis Tindakan vaksinasi terhadap pertusis ( influenza. cyanosis pada ekstremitas . PROGNOSIS Prognosis pasien bronchitis tergantung pada berat ringannya serta luasnya penyakit waktu pasien berobat pertama kali. yang gagal dalam pengobatan konservatif dipersiapkan secara baik utuk operasi. haemaptoe dan lainnya.Operasi elektif : pasien-pasien yang memenuhi indikasi dan tidak terdaat kontra indikasi. Kematian pasien karena pneumonia. kecuali dalam bentuk congenital tidak dapat dicegah. Persiapan operasi : Pemeriksaan faal paru : pemeriksaan spirometri. kedalaman. misalnya terjadi haemaptoe masif ( perdarahan arterial ) yang memenuhi syarat-syarat dan tidak terdapat kontra indikasi operasi. payah jantung kanan. Umumnya operasi berhasil baik apabila syarat dan persiapan operasinya baik. frekuensi pernapasan Kesimetrisan dinding dada saat bernapas Penggunaan otot bantu pernapasan Cuping hidung. pneumonia ) pada anak dapat pula diartikan sebagai tindakan preventif terhadap timbulnya bronchitis. survivalnya tidak akan lebih dari 5-10 tahun. Operasi paliatif : ditujukan pada pasien bronchitis yang mengalami keadaan gawat darurat paru.analisis gas darah.

blogspot youtube. vokal fremitus Perkusi : è Resonance..Palpasi : è Kesimetrisan dinding dada Taktil fremitus Letak trakhea Auskultasi è Ronkhi. antibiotik 2... Intoleransi aktifitas Tujuan : Klien menunjukan peningkatan aktifitas da kekuatan fisik Rencana keperawatan : Monitor toleransi klien terhadap aktifitas Jelaskan penyebab penurunan aktifitas Berikan/pegaturan waktu untuk istirahat yang baik Ajarkan manejemen tenaga pada klien Kolaborasi : oksigenasi. 2008 06:19 Poskan Komentar Posting Lebih Baru Posting Lama Halaman Muka Langgan: Poskan Komentar (Atom) Web Tautan • • indah nursing.Stikes-Muhammadiyah-Pekajangan di 21:06 1 komentar: Anonim mengatakan.com .by.s1 slankers 30 Oktober. Diposkan oleh Dafid. dulness Masalah keperawatan 1. fotonya itu lho Pd banget he.... Ketidak efektifan bersihan jalan napas Tujuan : Jalan Napas Efektif Rencana Keperawatan : Kaji Kemampuan klien mengeluarkan sputum Kaji suara pernapasan (paru) Ajarkan teknik batuk efektif Laksanakan fisioterapi dada dan inhalasi manual Kolaborasi : ekspektoran.he.

my. love Nayla Berenang Di Laut .love Reina my.

Dengarkan Suara Alam Info keperawatan ini apakah membantu tugas anda Arsip Blog • ► 2009 (3) o ► Juli (3)  Metabolisme protein  Metabolisme Lemak  Metabolisme Karbohidrat ▼ 2008 (27) o ► November (1)  Askep Bronkhitis o ► Mei (1)  Self Concept o ▼ Maret (12)  Gangguan Miksi  Askep Stroke Non Hemoragic  Askep Hipertensi  Askep Aids  Konsep Diri  Konsep Berubah  askep bronkhitis  Infeksi Saluran Kencing  Askep Urolithiasis  Askep Klien BPH  Askep Trauma Saluran Kemih  Air Susu Ibu Vs Susu Bayi Sapi o ► Februari (13) • .

DEFINISI Pneumonia adalah suatu peradangan atau inflamasi pada parenkim paru yang umumnya disebabkan oleh agent infeksi .             Kelainan Jantung : VSD Oksigenasi Osteomyelitis Askep Limfadenopaty Askep Fraktur GBPP STIKES Konsep manusia dan kebutuhan dasar Komunikasi Umum Konsep dasar keperawatan I Askep Hernia sehat-sakit Range Of Motion NERS PEKAJANGAN About me Dafid.2 Keperawatan (4 org) Dosen d IV atau S.Stikes-Muhammadiyah-Pekajangan Info Lowongan Kerja Dibutuhkan Dosen S.1 Kebidanan (4 org) Lihat profil lengkapku DANO TOBA ANAK BOSS DARI DUSUN « ASKEP DHF ASKEP PNEUMONIA LAPORAN PENDAHULUAN PNEUMONIA 1.

mikoplasma.2. Ada beberapa mekanisma yang pada keadaan normal melindungi paru dari infeksi. campak. ETIOLOGI Pneumonia dapat disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti: 1. CMV. Bakteri ini dapat merupakan organisme yang pada keadaan normal berkolonisasi di saluran napas atas atau bakteri yang ditransmisikan dari satu orang ke orang lain melalui penyebaran droplet di udara. adenovirus 3. Virus: virus influenza. Aspirasi: lambung 3. Virus. kerusakan yang disebabkan virus terhadap mekanisme pertahan yang normal dapat menyebabkan bakteri patogen menginfeksi saluran napas bagian bawah. • Nyeri dada yang ditusuk-tusuk yang dicetuskan oleh bernafas dan batuk. eneterobacter 2. virus Epstein-Barr. Cairan eksudatif di alveoli menyebabkan konsolidasi lobaris yang khas pada foto toraks. dan humoral.2 Setelah mencapai parenkim paru. atau terperangkap dan dibersihkan oleh mukus dan epitel bersilia di saluran napas. Micoplasma pneumonia 4. defisiensi imun didapat atau kongenital. Ini paling sering terjadi akibat virus pada saluran napas bagian atas. Pada anak tanpa faktor-faktor predisposisi tersebut. virus herpes simpleks ) dapat terjadi melalui penyebaran hematogen baik dari sumber terlokalisir atau bakteremia/viremia generalisata. Perubahan pada mekanisme protektif ini dapat menyebabkan anak mudah mengalami pneumonia misalnya pada kelainan anatomis kongenital. PATOFISIOLOGI Sebagian besar pneumonia didapat melalui aspirasi partikel infektif. Hal ini menyebabkan lepasnya sel-sel epitel ke dalam saluran napas. . aeruginosa. deposit fibrin. rubella. partikel infeksius dapat mencapai paru melalui perubahan pada pertahanan anatomis dan fisiologis yang normal. seperti yang terjadi pada bronkiolitis. demam yang timbul dengan cepat (39. partikel tersebut akan berhadapan dengan makrofag alveoler. Partikel infeksius difiltrasi di hidung.5 ºC sampai 40. Bakteri: stapilokokus. Jamur: candida albicans 5. Bayi pada bulan-bulan pertama kehidupan juga memiliki antibodi maternal yang didapat secara pasif yang dapat melindunginya dari pneumokokus dan organismeorganisme infeksius lainnya. Bila suatu partikel dapat mencapai paru-paru. dan infiltrasi leukosit polimorfonuklear di alveoli yang diikuti infitrasi makrofag. Virus tersebut dapat menyebar ke saluran napas bagian bawah dan menyebabkan pneumonia virus.2 Kemungkinan lain. streplokokus. atau kelainan neurologis yang memudahkan anak mengalami aspirasi dan perubahan kualitas sekresi mukus atau epitel saluran napas. bakteri menyebabkan respons inflamasi akut yang meliputi eksudasi cairan. MANIFESTASI KLINIK • Secara khas diawali dengan awitan menggigil. dan juga dengan mekanisme imun sistemik. dan klamidia menyebabkan inflamasi dengan dominasi infiltrat mononuklear pada struktur submukosa dan interstisial. Kadang-kadang pneumonia bakterialis dan virus ( contoh: varisella.5 ºC).2 4.

insomnia Tanda : letargi. Pemeriksaan serologi: membantu dalam membedakan diagnosis organisme khusus. • Amantadine. 4. dapat juga menyatakan abses) 2. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. tetrasiklin. 5. Bronkostopi: untuk menetapkan diagnosis dan mengangkat benda asing 7. 8. PENATALAKSANAAN Pengobatan diberikan berdasarkan etiologi dan uji resistensi tapi karena hal itu perlu waktu dan pasien pneumonia diberikan terapi secepatnya: • Penicillin G: untuk infeksi pneumonia staphylococcus. sputum dan darah: untuk dapat mengidentifikasi semua organisme yang ada. Pemeriksaan fungsi paru: untuk mengetahui paru-paru. • Nadi cepat dan bersambung • Bibir dan kuku sianosis • Sesak nafas 5. menetapkan luas berat penyakit dan membantu diagnosis keadaan. Pemeriksaan gram/kultur. pernafasan cuping hidung. Spirometrik static: untuk mengkaji jumlah udara yang diaspirasi 7. • Menganjurkan untuk tirah baring sampai infeksi menunjukkan tanda-tanda • Pemberian oksigen jika terjadi hipoksemia. • Bila terjadi gagal nafas. Biopsi paru: untuk menetapkan diagnosis 6. diberikan nutrisi dengan kalori yang cukup. bronchial). . Sinar X: mengidentifikasikan distribusi struktural (misal: lobar. • Komplikasi sistemik (meningitis) 6. rimantadine: untuk infeksi pneumonia virus • Eritromisin.• Takipnea (25 – 45 kali/menit) disertai dengan pernafasan mendengur. penurunan toleransi terhadap aktivitas. derivat tetrasiklin: untuk infeksi pneumonia mikroplasma. PENGKAJIAN Data dasar pengkajian pasien: • Aktivitas/istirahat Gejala : kelemahan. KOMPLIKASI • Efusi pleura • Hipoksemia • Pneumonia kronik • Bronkaltasis • Atelektasis (pengembangan paru yang tidak sempurna/bagian paru-paru yang diserang tidak mengandung udara dan kolaps). kelelahan. 3.

penggunaan alkohol kronis Tanda : DRG menunjukkan rerata lama dirawat 6 – 8 hari Rencana pemulangan: bantuan dengan perawatan diri. mual. nyeri dada (meningkat oleh batuk). 5. Tanda : berkeringat. penampilan kemerahan. Bersihan jalan nafas tak efektif berhubungan dengan inflamasi trachea bronchial. Resiko tinggi terhadap nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan peningkatan . penyakit kronis. 6.premikus: taksil dan vocal bertahap meningkat dengan konsolidasi . Resiko tinggi terhadap infeksi (penyebaran) berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan sekunder (adanya infeksi penekanan imun).Warna: pucat/sianosis bibir dan kuku • Keamanan Gejala : riwayat gangguan sistem imun misal: AIDS. imralgia. malnutrisi.Bunyi nafas menurun . artralgia. Tanda : melindungi area yang sakit (tidur pada sisi yang sakit untuk membatasi gerakan) • Pernafasan Gejala : adanya riwayat ISK kronis. takipnea (sesak nafas). muntah. 3. penggunaan steroid. gemetar • Penyuluhan/pembelajaran Gejala : riwayat mengalami pembedahan. Tanda : . 4. batuk menetap. peningkatan produksi sputum. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1.perpusi: pekak datar area yang konsolidasi . tugas pemeliharaan rumah 9. kulit kering dengan turgor buruk.sputum: merah muda. 2. dispnea. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen. menggigil berulang. pembentukan edema. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan kapasitas pembawa oksigen darah. atau pucat • Makanan/cairan Gejala : kehilangan nafsu makan. riwayat diabetes mellitus Tanda : sistensi abdomen. penampilan kakeksia (malnutrisi) • Neurosensori Gejala : sakit kepala daerah frontal (influenza) Tanda : perusakan mental (bingung) • Nyeri/kenyamanan Gejala : sakit kepala. berkarat . Nyeri (akut) berhubungan dengan inflamasi parenkim paru. demam.• Sirkulasi Gejala : riwayat adanya Tanda : takikardia.

Bersihan jalan nafas tak efektif berhubungan dengan inflamasi trachea bronchial. penurunan masukan oral.Hipoksia . . peningkatan produksi sputum ditandai dengan: .Batuk efektif atau tidak efektif dengan/tanpa produksi sputum.Sianosis Intervensi: .Auskultasi area paru.Berikan cairan sedikitnya Rasional: cairan (khususnya yang hangat) memobilisasi dan mengeluarkan sekret .Bunyi nafas bersih . Jalan nafas efektif dengan kriteria: . 7.Penghisapan sesuai indikasi Rasional: merangsang batuk atau pembersihan jalan nafas suara mekanik pada faktor yang tidak mampu melakukan karena batuk efektif atau penurunan tingkat kesadaran.Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat sesuai indikasi: mukolitik.Bunyi nafas tak normal .Kaji frekuensi/kedalaman pernafasan dan gerakan dada Rasional : takipnea.Gelisah/perubahan mental .Batuk efektif . catat area penurunan 1 kali ada aliran udara dan bunyi nafas Rasional: penurunan aliran darah terjadi pada area konsolidasi dengan cairan. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan berlebihan. sianosis . sianosis . .Dispnea.Dispnea. 2. eks. 10.Takikardia .Perubahan frekuensi. analgetik diberikan untuk memperbaiki batuk dengan menurunkan ketidaknyamanan tetapi harus digunakan secara hati-hati. gangguan pengiriman oksigen ditandai dengan: . Rasional: alat untuk menurunkan spasme bronkus dengan mobilisasi sekret. karena dapat menurunkan upaya batuk/menekan pernafasan. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan pembawa oksigen darah.Biarkan teknik batuk efektif Rasional : batuk adalah mekanisme pembersihan jalan nafas alami untuk mempertahankan jalan nafas paten. . RENCANA KEPERAWATAN 1.kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses infeksi. kedalaman pernafasan . . pernafasan dangkal dan gerakan dada tak simetris sering terjadi karena ketidaknyamanan.Nafas normal .

Kolaborasi Berikan terapi oksigen dengan benar misal dengan nasal plong master. Rasional: memudahkan proses penyembuhan dan meningkatkan tekanan alamiah . Catat adanya sianosis perifer (kuku) atau sianosis sentral. .Observasi warna kulit. eritromisin.penularan penyakit ke orang lain tidak ada Intervensi: . Rasional: mempertahankan PaO2 di atas 60 mmHg.Sianosis . meningkat pengeluaran sekret untuk memperbaiki ventilasi tak efektif.Gangguan gas teratasi dengan: . bingung dan somnolen dapat menunjukkan hipoksia atau penurunan oksigen serebral. Tingkatkan masukan nutrisi adekuat. Rasional: Obat digunakan untuk membunuh kebanyakan microbial pulmonia.waktu perbaikan infeksi/kesembuhan cepat tanpa . .Nafas normal . . .Kaji frekuensi/kedalaman dan kemudahan bernafas Rasional: manifestasi distress pernafasan tergantung pada indikasi derajat keterlibatan paru dan status kesehatan umum. Rasional: menurunkan penularan terhadap patogen infeksi lain . nafas dalam dan batuk efektif. . potensial untuk fatal dapat terjadi. amantadin.Pantau tanda vital dengan ketat khususnya selama awal terapi Rasional: selama awal periode ini.Tinggikan kepala dan dorong sering mengubah posisi.Gelisah Intervensi: .Kaji status mental. Rasional: tindakan ini meningkat inspirasi maksimal. master venturi. tetrasiklin. membran mukosa dan kulit sekitar mulut menunjukkan hipoksemia sistemik. Rasional: gelisah mudah terangsang. 3.Tunjukkan teknik mencuci tangan yang baik Rasional: efektif berarti menurun penyebaran/perubahan infeksi. penyakit kronis.Hipoksia . . . sepalosporin.Batasi pengunjung sesuai indikasi.Potong keseimbangan istirahat adekuat dengan aktivitas sedang. amikalin. malnutrisi. Rasional: sianosis kuku menunjukkan vasokontriksi respon tubuh terhadap demam/menggigil namun sianosis pada daun telinga. Tujuan: Infeksi tidak terjadi dengan kriteria: .Kolaborasi Berikan antimikrobial sesuai indikasi dengan hasil kultur sputum/darah misal penicillin. Resiko tinggi terhadap infeksi (penyebaran) berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan sekunder (adanya infeksi penekanan imun).Sesak . O2 diberikan dengan metode yang memberikan pengiriman tepat dalam toleransi pe. membran mukosa dan kuku.

4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen ditandai dengan: - Dispnea - Takikardia - Sianosis Intoleransi aktivitas teratasi dengan: - Nafas normal - Sianosis - Irama jantung Intervensi - Evaluasi respon pasien terhadap aktivitas Rasional: merupakan kemampuan, kebutuhan pasien dan memudahkan pilihan interan. - Berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung selama fase akut sesuai indikasi. Rasional: menurunkan stress dan rangsangan berlebihan, meningkatkan istirahat. - Jelaskan perlunya istirahat dalam rencana pengobatan dan perlunya keseimbangan aktivitas dan istirahat. - Bantu pasien memilih posisi nyaman untuk istirahat atau tidur. Rasional: pasien mungkin nyaman dengan kepala tinggi, tidur di kursi. - Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan Rasional: meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen. 5. Nyeri berhubungan dengan inflamasi parenkim varul, batuk menetap ditandai dengan: - Nyeri dada - Sakit kepala - Gelisah Nyeri dapat teratasi dengan: - Nyeri dada (-) - Sakit kepala (-) - Gelisah (-) Intervensi: - Tentukan karakteristik nyeri, misal kejan, konstan ditusuk. Rasional: nyeri dada biasanya ada dalam seberapa derajat pada pneumonia, juga dapat timbul karena pneumonia seperti perikarditis dan endokarditis. - Pantau tanda vital Rasional: Perubahan FC jantung/TD menu bawa Pc mengalami nyeri, khusus bila alasan lain tanda perubahan tanda vital telah terlihat. - Berikan tindakan nyaman pijatan punggung, perubahan posisi, musik tenang / berbincangan. Rasional: tindakan non analgesik diberikan dengan sentuhan lembut dapat menghilangkan ketidaknyamanan dan memperbesar efek derajat analgesik. - Aturkan dan bantu pasien dalam teknik menekan dada selama episode batuk. Rasional: alat untuk mengontrol ketidaknyamanan dada sementara meningkat keefektifan upaya batuk.

- Kolaborasi Berikan analgesik dan antitusik sesuai indikasi Rasional: obat dapat digunakan untuk menekan batuk non produktif atau menurunkan mukosa berlebihan meningkat kenyamanan istirahat umum. 6. Resiko tinggi terhadap nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses inflamasi ditandai dengan tujuan: Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh dapat diatasi dengan: - Pasien menunjukkan peningkatan nafsu makan - Pasien mempertahankan meningkat BB Intervensi - identifikasi faktor yang menimbulkan mual/muntah, misalnya: sputum, banyak nyeri. Rasional: pilihan intervensi tergantung pada penyebab masalah - Jadwalkan atau pernafasan sedikitnya 1 jam sebelum makan Rasional: menurun efek manual yang berhubungan dengan penyakit ini - Berikan makan porsi kecil dan sering termasuk makanan kering (roti panggang) makanan yang menarik oleh pasien. Rasional: tindakan ini dapat meningkat masukan meskipun nafsu makan mungkin lambat untuk kembali. - Evaluasi status nutrisi umum, ukur berat badan dasar. Rasional: adanya kondisi kronis keterbatasan ruangan dapat menimbulkan malnutrisi, rendahnya tahanan terhadap inflamasi/lambatnya respon terhadap terapi. 7. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan berlebihan, demam, berkeringat banyak, nafas mulut, penurunan masukan oral. Kekurangan volume cairan tidak terjadi dengan kriteria: Pasien menunjukkan keseimbangan cairan dibuktikan dengan parameter individual yang tepat misalnya membran mukosa lembab, turgor kulit baik, tanda vital stabil. Intervensi: - Kaji perubahan tanda vital contoh peningkatan suhu demam memanjang, takikardia. Rasional: peningkatan suhu/memanjangnya demam meningkat laju metabolik dan kehilangan cairan untuk evaporasi. - Kaji turgor kulit, kelembapan membran mukosa (bibir, lidah) Rasional: indikator langsung keadekuatan volume cairan, meskipun membran mukosa mulut mungkin kering karena nafas mulut dan O2 tambahan. - Catat laporan mual/muntah Rasional: adanya gejala ini menurunkan masukan oral - Pantau masukan dan keluaran catat warna, karakter urine. Hitung keseimbangan cairan. Ukur berat badan sesuai indikasi. Rasional: memberikan informasi tentang keadekuatan volume cairan dan keseluruhan penggantian.

- Tekankan cairan sedikit 2400 mL/hari atau sesuai kondisi individual Rasional: pemenuhan kebutuhan dasar cairan menurunkan resiko dehidrasi. - Kolaborasi Beri obat indikasi misalnya antipiretik, antimitik. Rasional: berguna menurunkan kehilangan cairan Berikan cairan tambahan IV sesuai keperluan Rasional: pada adanya penurunan masukan banyak kehilangan penggunaan dapat memperbaiki/mencegah kekurangan 11. IMPLEMENTASI Dilakukan sesuai dengan rencana tindakan menjelaskan setiap tindakan yang akan dilakukan sesuai dengan pedoman atau prosedur teknik yang telah ditentukan. 12. EVALUASI Kriteria keberhasilan: - Berhasil Tuliskan kriteria keberhasilannya dan tindakan dihentikan - Tidak berhasil Tuliskan mana yang belum berhasil dan lanjutkan tindakan. 13. DAFTAR PUSTAKA 1. Doenges, Marilynn, E. dkk. Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, 2000. EGC, Jakarta. 2. Bare Brenda G, Smeltzer Suzan C. Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8, Vol. 1, EGC, Jakarta. 3. Price Anderson Sylvia, Milson McCarty Covraine, Patofisiologi, buku-2, Edisi 4, EGC, Jakarta. 4. Tim Penyusun. Ilmu Penyakit Dalam, Edisi 3. Volume II, 2001, FKUI.
This entry was posted on Saturday, April 18th, 2009 at 2:55 am and is filed under Uncategorized. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

þÿ

Name (required) Mail (will not be published) (required) Website

þÿ

þÿ

8.com Entries (RSS) and Comments (RSS).Type the two words:Type what you hear:Incorrect. Try again. lesi mengalami kolaps dan membentuk ruang.bahan purulen.2009 Askep Abses paru merupakan lesi nekrotik setempat pada parenkim paru . þÿ Submit Comment Powered by Blog. 16 Askep Abses paru AKPER PPNI SOLO. ETIOLOGI .16. B.

dll) 2. gangguan saraf pusat (kejang.1.Tuberkulosis. Penurunan berat badan Bila tidak diobati gejala akan terus meningkat sampai kurang lebih hari ke sepuluh. Auskultasi: penurunan sampai tidak terdengarnya bunyi napas atau krekles 2. Leukosit 20-30rb/mm3 b. termasuk aerob dan aerob seperti Streptokokus. D. embolisme paru atau trauma dada PASIEN YANG BERISIKO: 1. penderita mendadak batuk pus bercampur darah dalam jumlah banyak. mungkin juga berbau busuk (infeksi basil anaerob) E. hidung. Hubungan dengan bronkus dapat terjadi sehingga pus atau jaringan nekrotik dapat dikeluarkan. spiroketa. tenggorokan. Dengan kerusakan kesadaran karena anestesi. PATOLOGI Proses dimulai di bronki/bronkioli. Dengan selang nasogastrik 5. PEMERIKSAAN DIAGNOSIS 1. Perkusi: pekak b. Dengan pneumonia TEMPAT ABSES Berhubungan dengan pengumpulan akibat gaya gravitasi yang ditentukan oleh posisi klien pada waktu terjadinya aspirasi. C. Laboratorium a. Anoreksia 6. 1. TANDA DAN GEJALA Gejala timbul satu sampai tiga hari setelah aspirasi. menyebar ke parenkim paru dikelilingi oleh jaringan granulasi. stroke) 4. Sputum berupa pus dengan pengecatan gram terdapat dengan leukosit dan ditentukan . Sianosis 5. Dispnea 4. Yang mengalami kesulitan mengunyah 3. Dalam keadaan berbaring menuju ke subsegmen apikal lobus superior atau segmen superior lobus inferior. Darah: LED meningkat. Mikroorganisme penyebab dapat berasal dari bermacam-macam basil dari flora mulut. Abses timbul bila organisme yang masuk ke paru bersama-sama dengan material yang terhirup yang akan membuntu sal. Obstruksi mekanik atau fungsional bronki (tumor. bila yang masuk basil saja maka akan timbul pneumonia. Perluasan ke pleura sering terjadi. Pemeriksaan fisik dada a. Dengan kerusakan reflek batuk dan tidak mampu menutup glotis 2. Drainase dan pengobatan yang tidak memadai akan menyebabkan abses menjadi menaun. Batuk dan nyeri pleuritik (jawa: kemeng) 3.napas dengan akibat timbulnya atelektasis dengan infeksi. benda asing atau stenosis bronkial) 3. Malaise dengan panas badan disertai menggigil 2. Infeksi karena aspirasi dari saluran napas. Nekrotisasi pneumonia.

nutrisi. Gangguan tidur 5. 5. Drainase adekuat abses paru (drainase postural dan fisioterapi dada) 3. Bedah jarang dilakukan. A: AIRWAY Ketidakefektifan bersihan jalan napas b. Penkes jika klien menjalani pembedahan (prwtn luka. jaringan nekrotik di dalamnya dikeluarkan dan meninggalkan kavitas dengan “air fluid level” yang berkarateristik. Kelemahan (fatigue) 6. Ketidakefektifan manajemen regimen terapeutik b. Diet tinggi protein dan kalori utk katabolik pd infeksi kronik dan mempercepat penyembuhan 4. perbaikan gmbrn rontgen. Dorong asupan diet:TKTP 6. Antibiotik oral utk mengganti IV setelah ada tanda perbaikan (suhu tbh normal. PENATALAKSANAAN MEDIS 1. 1. pentingnya penyelesaian regimen antibiotik . F. Awasi terapi antibiotik yg diberikan pd klien: sesuai resep dan awasi efek samping yg merugikan (Pastikan klien menyelesaikan seluruh dosis terapi) 2. Terapi antimikroba yg sesuai dg resep pd pasien dg pneumonia G. Beri dukungan secara emosional b.d lamanya waktu pengobatan Intervensi keperawatan: 1. Reseksi paru (lobektomi) Tindakan yg akan mengurangi risiko terjadinya abses. napas dalam. kemudian setelah kira-kira hari ke sepuluh. Ketidakefektifan pola napas b. tekankan istirahat. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh 4.d penumpukan sekret 2. PK: Infeksi 7. B: BREATHING a. Rontgen dada: pada mulanya memberi gambaran konsolidasi seperti pada pneumonia. 2. Gangguan pertukaran gas 3. Dosis IV yg banyak diperlukan karena antibiotik harus menembus jaringan nekrotik dan cairan dlm abses.d lamanya waktu penyembuhan 7. Ajarkan napas dalam 4. 5. PROSES KEPERAWATAN Diagnosa yang mungkin muncul: 1.bermacam-macam basil. Pertahankan kebersihan gigi dan mulut scr adekuat 3. batuk efektif. Latih batuk efektif agar pengembangan paru max. hitung Leukosit menurun. Terapi antimikroba intravena berdasar kultur dan sensitivitas pd sputum. Fisioterapi dada utk memudahkan drainase abses 3. 3. Terapi antibiotik pd pasien yg mengalami infeksi (pd gigi dan gusi) saat pencabutan gigi 2. fisioterapi dada).

Pada negara-negara maju jarang dijumpai kecuali penderita dengan gangguan respons imun seperti penyalahgunaan obat. Pada beberapa studi didapatkan bahwa . 2008 OLeh : Hendra Arif Abses paru adalah suatu kavitas dalam jaringan paru yang berisi material purulent berisikan sel radang akibat proses nekrotik parenkim paru oleh proses terinfeksi . penurunan mekanisme pertahanan tubuh atau virulensi kuman yang tinggi. Bila diameter kavitas < 2 cm dan jumlahnya banyak (multiple small abscesses) dinamakan “necrotising pneumonia”. Pada umumnya kasus Abses paru ini berhubungan dengan karies gigi. Abses timbul karena aspirasi benda terinfeksi. Abses besar atau abses kecil mempunyai manifestasi klinik berbeda namun mempunyai predisposisi yang sama dan prinsip diferensial diagnose sama pula. penyakit sistemik atau komplikasi dari paska obstruksi. kerusakan paru sebelumnya dan penyalahgunaan alkohol.Baca Juga Artikel Dibawah askep medikal • • • • • • askep ARDS ( Acute Respiratory Distress Syndrome) Askep Pneumonia Askep Bronchopneumonia Askep TBC Paru Askep Hipertensi Askep Gastritis di 7:35 AM Label: askep medikal 0 komentar: Post a Comment BSES PARU Agustus 7. epilepsi tak terkontrol.

10). Potensi reaksi keracunan obat tinggi 3. Adanya super infeksi bakteri yang mengakibatkan Nosokonial Pneumoni. yang menimbulkan nekrosis dan likuifikasi. bila abses pecah ke rongga pleura maka terjadi empyema (2. terapi kombinasi masih memberikan beberapa permasalahan sebagai berikut : (4) 1. metronidazole dan golongan aminoglikosida pada abses paru. Asher dan Beandry mendapatkan bahwa pada anak-anak kuman penyebab abses paru terbanyak adalah stapillococous aureus (1). Suatu saat abses pecah. Penelitian pada penderita Abses paru nosokonial ditemukan kuman aerob seperti golongan enterobacteriaceae yang terbanyak. Walaupun masih efektif.kuman aerob maupupn anaerob dari koloni oropharing yang sering menjadi penyebab abses paru. Perubahan reaksi radang pertama dimulai dari suppurasi dan trombosis pembuluh darah lokal. lalu jaringan nekrosis keluar bersama batuk. Mendorong terjadinya resistensi antibiotika. terapi dan prognosa sebagai penyegaran teori yang sudah ada. Sputumnya biasanya berbau busuk. Insidens Angka kejadian Abses Paru berdasarkan penelitian Asher et al tahun 1982 adalah 0.67 tiap 100. PATHOLOGI Abses paru timbul bila parenkim paru terjadi obstruksi. 2. Finegolal dan fisliman mendapatkan bahwa organisme penyebab abses paru lebih dari 89 % adalah kuman anaerob. Terapi ideal harus berdasarkan penemuan kuman penyebabnya secara kultur dan sensitivitas. PATHOFISIOLOGI 1. Pembentukan jaringan granulasi terjadi mengelilingi abses. 1. 3. kadang terjadi aspirasi pada bagian lain bronkus terbentuk abses baru. Merupakan proses lanjut pneumonia inhalasi bakteria pada penderita dengan faktor predisposisi. Etiologi Kuman atau bakteri penyebab terjadinya Abses paru bervariasi sesuai dengan peneliti dan teknik penelitian yang digunakan. Sedangkan penelitian dengan teknik biopsi perkutan atau aspirasi transtrakeal ditemukan terbanyak adalah kuman anaerob.000 penderita yang masuk rumah sakit hampir sama dengan angka yang dimiliki oleh The Children’s Hospital of eastern ontario Kanada sebesar 0. Pada umumnya para klinisi menggunakan kombinasi antibiotik sebagai terapi seperti penisilin. Angka kematian yang disebabkan oleh Abses paru terjadi penurunan dari 30 – 40 % pada era preantibiotika sampai 15 – 20 % pada era sekarang (7). infeksi kemudian proses supurasi dan nekrosis. Dengan rasio jenis kelamin laki-laki banding wanita adalah 1. Bakteri mengadakan multiplikasi dan merusak parenkim paru dengan proses . Pada makalah ini akan dibahas Abses paru mulai patogenesis.000 penderita anak-anak yang MRS.7 dari 100. melokalisir proses abses dengan jaringan fibrotik. Waktu perawatan di RS yang lama 2. 4. PATHOFISIOLOGI Garry tahun 1993 mengemukakan terjadinya abses paru disebutkan sebagai berikut : (5) a. 3.6 : 1 (1. 8). 2.

Pada hitung jenis sel darah putih didapatkan pergeseran shit to the left b. Kavitas ini bisa multipel atau 2 – 20 cm. meningkat lebih dari 12. Gejala yang sama juga terlihat pada aspirasi benda asing yang belum keluar.700/mm3. suara nafas yang meningkat. 6) Gejala klinis yang ada pada abses paru hampir sama dengan gejala pneumonia pada umumnya yaitu: a. Laju endap darah ditemukan meningkat > 58 mm / 1 jam. 2. 5) a. Produksi sputum yang meningkat dan Foetor ex oero dijumpai berkisar 40 – 75% penderita abses paru. 3.000/mm3 (90% kasus) bahkan pernah dilaporkan peningkatan sampai dengan 32. Pemeriksaan kultur bakteri dan test kepekaan antibiotikan merupakan cara terbaik . c. Hal ini sering terjadi pada obstruksi karena kanker bronkogenik. Kadang dijumpai dengan temperatur > 400C. Bila terjadi hubungan rongga abses dengan bronkus batuknya menjadi meningkat dengan bau busuk yang khas (Foetor ex oroe (4075%). 3. c. Kavitas yang mengalami infeksi. b. MANIFESTASI KLINIS. Ditentukan leukositosis. pada stadium awal non produktif. penurunan nafsu makan dan berat badan. 2. b. 5. Pemeriksaan laboratorium (2. Obstruksi bronkus dapat menyebabkan pneumonia berlajut sampai proses abses paru. Panas badan Dijumpai berkisar 70% – 80% penderita abses paru. 9) Pada foto torak terdapat kavitas dengan dinding tebal dengan tanda-tanda konsolidasi disekelilingnya. Bila terdapat hubungan dengan bronkus maka didalam kavitas terdapat Air fluid level. Gejala klinis : (1. Bila berhubungan dengan bronkus. Pada penderita emphisema paru atau polikisrik paru yang mengalami infeksi sekunder. Pada pemeriksaan darah rutin. 1. 2. 25% kasus)± Batuk darah ( f. 4. Pada pemeriksaan dijumpai tanda-tanda proses konsolidasi seperti redup.φ tunggal dengan ukuran Gambaran ini sering dijumpai pada paru kanan lebih dari paru kiri. Tetapi bila tidak ada hubungan maka hanya dijumpai tanda-tanda konsolidasi (opasitas). sehingga terjadi likuifikasi nekrosis sentral. Bila terjadi infeksi dapat terbentuk abses. d. 4. 50% kasus)± Nyeri dada ( e. c.nekrosis. Gejala tambahan lain seperti lelah. Pembentukan kavitas pada kanker paru. Pemeriksaan sputum dengan pengecatan gram tahan asam dan KOH merupakan pemeriksaan awal untuk menentukan pemilihan antibiotik secara tepat. Kadang-kadang dijumpai juga pada obstruksi karena pembesaran kelenjar limphe peribronkial. maka terbentuklah air fluid level bakteria masuk kedalam parenkim paru selain inhalasi bisa juga dengan penyebaran hematogen (septik emboli) atau dengan perluasan langsung dari proses abses ditempat lain (nesisitatum) misal abses hepar. Pertumbuhan massa kanker bronkogenik yang cepat tidak diimbangi peningkatan suplai pembuluh darah. 3. d. Pada beberapa penderita tuberkolosis dengan kavitas. sering dijumpai adanya jari tabuh serta takikardi. Gambaran Radiologis (1. akibat inhalasi bakteri mengalami proses keradangan supurasi. Batuk.

Pekerjaan penderita jelas di daerah berdebu dan didapatkan simple pneumoconiosis pada penderita. adanya air fluid level yang berubah posisi sesuai dengan gravitasi. Pada tuberkulosis didapatkan BTA dan pada infeksi jamur ditemukan jamur. Riwayat penyakit sebelumnya. Gejala klinisnya hampir sama atau lebih menahun daripada abses paru. 5. Pneumokoniosis yang mengalami kavitasi. Adanya riwayat penurunan kesadaran berkaitan dengan sedasi. Tuberkulosis paru atau infeksi jamur 3. 2. 9. 10) 1. 3. biasanya dinding kavitas tebal dan tidak rata. kultur darah yang dapat mengarah pada organisme penyebab infeksi. Diagnosa harus ditegakkan berdasarkan : (1. Hiatus hernia. 4. Batuk hanya sedikit. 6) 1. Bronkoskopi Fungsi Bronkoskopi selain diagnostik juga untuk melakukan therapi drainase bila kavitas tidak berhubungan dengan bronkus. Kista paru yang terinfeksi. Diagnosa Banding (2) : 1. Tidak ada gejala paru. penurunan berat badan. 5. Di sekitar bula tidak ada atau hanya sedikit konsolidasi. Sekuester paru. 7. Pilihan pertama antibiotika adalah golongan Penicillin pada saat ini dijumpai peningkatan Abses paru yang disebabkan oleh kuman anaerobs (lebih dari 35% kuman gram negatif anaerob). 6. 2. Diagnosis pasti dengan pemeriksaan barium foto. Nyeri restrosternal dan heart burn bertambah berat pada waktu membungkuk. panas badan yang ringan. V. dan batuk yang produktif.dalam menegakkan diagnosa klinis dan etiologis. DIAGNOSA Diagnosa abses paru tidak bisa ditegakkan hanya berdasarkan kumpulan gejala seperti pneumonia dan pemeriksaan phisik saja. Medika Mentosa Pada era sebelum antibiotika tingkat kematian mencapai 33% pada era antibiotika maka tingkat kkematian dan prognosa abses paru menjadi lebih baik. Keluhan penderita yang khas misalnya malaise. 4. Diagnosis pasti dengan bronkografi atau arteriografi retrograd. 9. Maka bisa dipikrkan untuk memilih kombinasi antibiotika antara golongan . Pemeriksaan laboratorium sputum gram. Letak di basal kiri belakang. tampak air fluid level. 4. IV. Hematom paru. Diagnosis pasti dengan pemeriksaan sitologi/patologi. Ada riwayat trauma. Hasil pemeriksaan fisik yang mendukung adanya data tentang penyakit dasar yang mendorong terjadinya abses paru. Dindingnya tipis dan tidak ada reaksi di sekitarnya. Bula yang terinfeksi. 5. 3. Riwayat penyalahgunaan obat yang mungkin teraspirasi asam lambung waktu tidak sadar atau adanya emboli kuman diparu akibat suntikan obat. 8. trauma atau serangan epilepsi. Gambaran radiologis yang menunjukkan kavitas dengan proses konsolidasi disekitarnya. Karsimoma bronkogenik yang mengalami kavitasi. 5. PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan Abses paru harus berdasarkkan pemeriksaan mikrobiologi dan data penyakit dasar penderita serta kondisi yang mempengaruhi berat ringannya infeksi paru. 2. 4. Ada beberapa modalitas terapi yang diberikan pada abses paru : (2.

Penderita diberikan terapi 2-3 minggu setelah bebas gejala atau adanya resolusi kavitas. φ Abses yang besar ( > 5-6 cm) c. atau kombinasi clindamycin dan Cefoxitin. Alternatif lain adalah kombinasi Imipenem dengan B Lactamase inhibitase. Abses yang besar sehingga mengganggu proses ventilasi perfusi c. Drainage Drainase postural dan fisiotherapi dada 2-5 kali seminggu selama 15 menit diperlukan untuk mempercepat proses resolusi Abses paru. Infeksi paru yang berulang d. Abses otak c. VI. Prognosa Abses paru masih marupakan penyebab morbiditas dan mortalitas yang signifikan. Bedah Reseksi segmen paru yang nekrosis diperlukan bila: a. 3. Gangguan intelegensia h. Respon yang rendah terhadap therapi antibiotika. Sepsis 2. RINGKASAN Abses paru adalah suatu kavitas dalam jaringan paru yang berisi material purulent dan sel .penicillin G dengan clindamycin atau dengan Metronidazole. Empyema b. Muri et al melaporkan 2. Beberapa komplikasi yang timbul adalah : (4. pada penderita dengan pneumonia nosokomial yang berkembang menjadi Abses paru. Pada penderita Abses paru yang tidak berhubungan dengan bronkus maka perlu dipertimbangkan drainase melalui bronkoskopi. Bakteri aerob e. Waktu pemberian antibiotika tergantung dari gejala klinis dan respon radiologis penderita. jadi diberikan antibiotika minimal 2-3 minggu. Perlman et al menemukan bahwa 2% angka kematian pada penderita dengan satu faktor predisposisi dibandingkan 75% pada penderita dengan multi predisposisi. Lesi obstruksi d. Pada penderita dengan beberapa faktor predisposisi mempunyai prognosa yang lebih jelek dibandingkan dengan penderita dengan satu fakktor predisposisi. Atelektasis d. Immune Compromised f.4% angka kematian Abses paru karena CAP dibanding 66% Abses paru karena HAP. Adanya gangguan drainase karena obstruksi. b. KOMPLIKASI DAN PROGNOSA 1. 5) a. Angka kematian Abses paru berkisar antara 15-20% merupakan penurunan bila dibandingkan dengan era pre antibiotika yang berkisar antara 30-40% (7). Usia tua g. Anemia dan Hipo Albuminemia b. Perawatan yang terlambat VII. 2. Beberapa faktor yang memperbesar angka mortalitas pada Abses paru sebagai berikut : (7) a.

Interventional Radiology of The Chest : Image Guided Percutaneons Drainage of Pleural Effusions. Lung Abscess Caused by Legionella micdadei . 2021 – 32. Pada pemeriksaan fisik didapatkan takikardia. 108 . 164 .radang akibat proses nekrotik parenkim paru oleh proses infeksi. Assegaff H. AJR . 115 . 581 – 88. 1997 . 1993 . Fishman JA . Surabaya . and Pneumothorax . . Oklahoma . 1995 . Diagnosis pasti bila didapatkan biakan kuman penyebab sehingga dapat dilakukan terapi etiologis. batuk. The Ethiology and Anti Microbial Susceptibility Patterns of Microorganism in acute Commuity – Acquired Lung Abscess . Lung Abscess in infections of Respicatory tract . DAFTAR PUSTAKA Asher MI. AUP . Garry et al . in Fishman’s pulmonary Diseases and disorders 3rd ed . 3 . tanda-tanda konsolidasi. 1 . 1990 : 429 – 34. Factors predicting mortality of patients with lung Abscsess . Lung Abscess in : Cecil text book of Medicine 19th ed . Abses Paru dalam Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Paru . 109 – 13. disertai malaise. Lung Abscess in a Lange Clinical Manual : Internal Medicina : Diagnosis and Therapy 3rd . 746 – 52. Lung Abscess. Pemberian antibiotika merupakan pilihan utama disamping terapi bedah dan terapi suportif fisio terapi. gangguan kesadaran (anestesi. 136 – 41. Abses paru timbul karena faktor predisposisi seperti gangguan fungsi imun karena obat-obatan. 1995 . 937 – 41. Chest 111 . Beadry PH . Pada pemeriksaan foto polos dada didapatkan gambaran kavitas dengan air fluid level atau proses konsolidasi saja bila kavitas tidak berhubungan dengan bronkus. Klein JS et al . 1999 . Chest . Huseby JS . oral higine yang kurang serta obstruksi dan aspirasi benda asing. Johnson KM. Pada abses paru memberikan gejala klinis panas. Hirshberg B et al . Philadelphia . Hammond JMJ et al . 119 – 120. dkk . naspu makan dan berat badan yang turun. 4 . Barlett JG . Empyema and Lung Abscess . Chest . Phildelphia . Canada . 1992 . sputum purulen dan berbau. epilepsi). Finegold SM. 1998 . 413 – 15.

Pengkajian a. joutnal of allergy and clinical imonoligy . 2008 Proses keperawatan pada pasien dengan Tuberculosa dengan pendekatan 5 langkah proses keperawatan sebagai berikut : 1. TB luar paru-paru dan TB yang berat terutama ditemukan pada usia < 3 tahun.1. Anak lebih sering mengalami TB luar paru-paru (extrapulmonary) dibanding TB paru-paru dengan perbandingan 3:1. Bio Data Penyakit Tuberkulosa dapat menyerang dari mulai anak sampai dengan dewasa dengan komposisi antara laki-laki dan perempuan yang hampir sama menderita. 1 1999 . TB pada anak dapat terjadi pada usia berapa pun. 2009 at 5:03 am emang w nnya Leave a Comment Name Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan TBC Paru Posted By irman somantri on May 28..Ricaurte KK et al . 104 . Entry Filed under: Kesehatan. namun usia paling umum adalah antara 1-4 tahun. Biasanya timbul pada lingkungan rumah dengan kepadatan tinggi yang tidak memungkinkan cahaya matahari masuk ke dalam rumah. INDRA | Mei 25. Allergic broucho pulumonary aspergillosis with multiple Streptococceus pneumonie Lung Abscess : an unussual insitial case presentation . kemudian meningkat setelah masa remaja di mana TB paru-paru menyerupai kasus pada pasien dewasa (sering disertai lubang/kavitas pada paru-paru). 1 Comment Add your own • 1. . 238 – 40. Angka kejadian (prevalensi) TB paru-paru pada usia 5-12 tahun cukup rendah. .

5) Malaise : ditemukan berupa anorexia. c.°1) Demam : subfebris. • Pada keadaan lanjut Atropi dan retraksi interkostal dan fibrosis • Bila mengenai pleura terjadi effusi pleura (perkusi memberikan suara pekak) d. karena biasanya penyakit ini muncul bukan karena sebagai penyakit keturunan tetapi merupakan penyakit infeksi menular. kolaps. Riwayat Kesehatan Keluhan yang sering muncul antara lain : C) hilang timbul. 4) Nyeri dada : ini jarang ditemukan. sesak nafas. Pemeriksaan Fisik • Pada tahap dini sulit diketahui. . batuk ini terjadi untuk membuang/mengeluarkan produksi radang. Pada foto thorax tampak pada sisi yang sakit bayangan hitam dan diafragma menonjol ke atas. 4) Chest X-Ray : dapat memperlihatkan infiltrasi kecil pada lesi awal di bagian paru-paru bagian atas.b. sakit kepala. Pemeriksaan Tambahan 1) Sputum Culture : Positif untuk mycobacterium tuberkulosa pada stadium aktif. Bagian dada klien tidak bergerak pada saat bernafas dan jantung terdorong ke sisi yang sakit. Vollmer Patch) : reaksi positif (area indurasi 10 mm atau lebih. • Hipersonor/timpani bila terdapat kavitas yang cukup dan pada auskultasi memberikan suara umforik. deposit kalsium pada lesi primer yang membaik atau cairan pada effusi. • Ronchi basah. 6) Pada atelektasis terdapat gejala berupa : cyanosis. keringat malam. nafsu makan menurun. Mantoux. nyeri otot. kasar dan nyaring. nyeri timbul bila infiltrasi radang sampai ke pleura sehingga menimbulkan pleuritis. Perubahan mengindikasikanTB yang lebih berat dapat mencakup area berlubang dan fibrous. berat badan menurun. dimulai dari batuk kering sampai dengan batuk purulen (menghasilkan sputum). 7) Perlu ditanyakan dengan siapa pasien tinggal. timbul 48 – 72 jam setelah injeksi antigen intradermal) mengindikasikan infeksi lama dan adanya antibodi tetapi tidak mengindikasikan penyakit sedang aktif. 3) Sesak nafas : bila sudah lanjut dimana infiltrasi radang sampai setengah paru. febris (40-41 2) Batuk : terjadi karena adanya iritasi pada bronchus. Tine. 2) Ziehl Neelsen (Acid-fast Staind applied to smear of body fluid) : positif untuk BTA 3) Skin Test (PPD.

ABGs : mungkin abnormal. 10) Darah : lekositosis.html) 5) Histologi atau Culture jaringan (termasuk kumbah lambung. urine dan CSF.12.6/mm. Dead Space meningkat.org/irp/imint/docs/rst/Intro/Part2_26b. tergantung lokasi.2009 Askep TBC Paru atau sering dikenal dengan TB paru adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tubeculosis. 7) Elektrolit : mungkin abnormal tergantung dari lokasi dan beratnya infeksi.Gambar 15 : Foto Rontgen Klien Tuberkulosa Paru (Sumber : www. mungkin ditemukan pada TB paru kronik lanjut. sejenis kuman yang berbentuk batang dengan ukuran panjang 1-4/mm dan tebal 0. LED meningkat. adanya sel-sel besar yang mengindikasikan nekrosis.3-0. Sebagian besar kuman terdiri atas asam lemak (lipid). 9) Bronchografi : merupakan pemeriksaan khusus untuk melihat kerusakan bronchus atau kerusakan paru karena TB. Etiologi Tuberkulosis paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh basil mikrobakterium tuberkulosis tipe humanus. 8. TLC meningkat dan menurunnya saturasi oksigen yang merupakan gejala sekunder dari fibrosis/infiltrasi parenchim paru dan penyakit pleura. Lipid inilah yang membuat kuman lebih tahan terhadap asam dan lebih tahan terhadap . 6) Needle Biopsi of Lung Tissue : positif untuk granuloma TB.fas. berat dan sisa kerusakan paru. misalnya hiponatremia mengakibatkan retensi air. biopsi kulit) : positif untu mycobacterium tuberkulosa. Askep TBC Paru AKPER PPNI SOLO. 11) Test Fungsi Paru : VC menurun.

Sifat ini menunjukkan bahwa kuman lebih menyenangi jaringan yang tinggi kandungan oksigennya. Tuberkulosis juga telah menyebabkan kematian lebih banyak terhadap wanita dibandingkan dengan kasus kematian karena kehamilan. 75 % adalah kelompok usia produktif (15-50 tahun). 1997). peradangan terjadi sebelum tubuh mempunyai kekebalan spesifik terhadap basil mikobakterium. tuberculosis juga dapat masuk ke dalam tubuh melalui saluran pencernaan dan luka terbuka pada kulit (lebih jarang). Dua faktor penentu keberhasilan pemaparan Tuberkulosis pada individu baru yakni konsentrasi droplet nuclei dalam udara dan panjang waktu individu bernapas dalam udara yang terkontaminasi tersebut di samping daya tahan tubuh yang bersangkutan. hal ini disebabkan banyak penderita yang tidak berhasil disembuhkan. yang dalam perjalanannya sebagian besar akan mengalami penyembuhan. Program penaggulangan secara terpadu baru dilakkan pada tahun 1995 melalui strategi DOTS (directly observed treatment shortcourse chemoterapy). sehingga bagian apikal ini merupakan tempat predileksi penyakit tuberkulosis. maka terjadilah infeksi primer (ghon) selanjutnya menyebar kekelenjar getah bening setempat dan terbentuklah primer kompleks (ranke). Hal ini terjadi karena kuman berada dalam sifat dormant. penyakit tuberkulosis tidak terkendali. Diperkirakan 95 % penyakit tuberkulosis berada di negara berkembang. Setiapkali penderita ini batuk dapat mengeluarkan 3000 droplet nuclei. Penularan umumnya terjadi di dalam ruangan dimana droplet nuclei dapat tinggal di udara dalam waktu lebih lama. Proses Penularan Tuberkulosis tergolong airborne disease yakni penularan melalui droplet nuclei yang dikeluarkan ke udara oleh individu terinfeksi dalam fase aktif. Sedangkan yang disebut tuberkulosis post primer (reinfection) adalah peradangan jaringan paru oleh karena terjadi penularan ulang yang mana di dalam tubuh terbentuk kekebalan spesifik terhadap basil tersebut. Sifat lain kuman adalah aerob. meskipun sejak tahun 1993 telah dicanangkan kedaruratan global penyakit tuberkulosis. Tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi penting saluran pernapasan. diperkirakan setiap tahun terjadi sekitar sembilan juta penderita dengan kematian tiga juta orang (WHO. Tuberkulosis paru primer. Pada tahun 1995. Di bawah sinar matahari langsung basil tuberkel mati dengan cepat tetapi dalam ruang yang gelap lembab dapat bertahan sampai beberapa jam. Di negara-negara berkembang kematian karena penyakit ini merupakan 25 % dari seluruh kematian. Tuberkulosis yang kebanyakan didapatkan pad usia 1-3 tahun.gangguan kimia dan fisik. . M. Insiden Penyakit tuberkulosis adalah penyakit yang sangat epidemik karena kuman mikrobakterium tuberkulosa telah menginfeksi sepertiga penduduk dunia. Dalam hal ini tekanan bagian apikal paru-paru lebih tinggi dari pada bagian lainnya. Basil mikrobakterium tersebut masuk kedalam jaringan paru melalui saluran napas (droplet infection) sampai alveoli. yang sebenarnya dapat dicegah. Kuman ini tahan hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin (dapat tahan bertahun-tahun dalam lemari es). Di samping penularan melalui saluran pernapasan (paling sering). terutama penderita menular (BTA positif). keduanya dinamakan tuberkulosis primer. Dari sifat dormant ini kuman dapat bangkit kembali dan menjadikan tuberkulosis aktif kembali. Kegelisahan global ini didasarkan pada fakta bahwa pada sebagian besar negara di dunia.

disebut bronckus lobus bawah. bronkus. rongga hidung. dan bronkiolus. dan berjalan di bawah arteri pulmonalis sebelurn di belah menjadi beberapa cabang yang berjalan kelobus atas dan bawah. larinx trachea. rongga hidung. berjalan dari farinx. (rongga) hidung. Percabangan ini berjalan terus menjadi bronchus yang ukurannya semakin kecil.000 kasus baru tuberkulosis dengan kematian sekitar 140. Cabang utama bronchus kanan dan kiri bercabang lagi menjadi bronchus lobaris dan kernudian menjadi lobus segmentalis. dan bersambung dengan lapisan farinx dan dengan selaput lendir sinus yang mempunyai lubang masuk ke dalam. Bronkus kiri lebih panjang dan lebih langsing dari yang kanan. Alveolus yaitu tempat pertukaran gas assinus terdiri dari bronkhiolus dan respiratorius . Nares anterior adalah saluran-saluran di dalam. Anatomi dan Fisiologi Saluran penghantar udara hingga mencapai paru-paru adalah hidung. selain itu juga membuat beberapa jaringan otot. secara kasar diperkirakan setiap 100. Bronchus yang terbentuk dari belahan dua trachea pada ketinggian kira-kira vertebrata torakalis kelima.000 penduduk Indonesia terdapat 130 penderita baru tuberkulosis dengan BTA positif. Trachea atau batang tenggorok kira-kira 9 cm panjangnya trachea berjalan dari larynx sarnpai kira-kira ketinggian vertebrata torakalis kelima dan di tempat ini bercabang mcnjadi dua bronckus (bronchi). sampai akhirnya menjadi bronkhiolus terminalis. Farinx (tekak) . mempunyai struktur serupa dengan trachea dan dilapisi oleh. Di indonesia pada tahun yang sama. sedikit lebih tinggi darl arteri pulmonalis dan mengeluarkan sebuah cabang utama lewat di bawah arteri.lengkap yang berupan cincin tulang rawan yang diikat bersama oleh jaringan fibrosa dan yang melengkapi lingkaran disebelah belakang trachea. Bronckus kanan lebih pendek dan lebih lebar daripada yang kiri.000. Bronkhiolus tidak diperkuat oleh cincin tulang rawan.jenis sel yang sama. Seluruh saluran udara ke bawah sampai tingkat bronkbiolus terminalis disebut saluran penghantar udara karena fungsi utamanya adalah sebagai penghantar udara ke tempat pertukaran gas paru-paru. yaitu saluran udara terkecil yang tidak mengandung alveoli (kantong udara). Tetapi dikelilingi oleh otot polos sehingga ukurannya dapat berubah. Bronkhiolus terminalis memiliki garis tengah kurang lebih I mm. Hidung . Bronkus-bronkus itu berjalan ke bawah dan kesamping ke arah tampuk paru.persalinan dan nifas. Laringx (tenggorok) terletak di depan bagian terendah farinx yang mernisahkan dari columna vertebrata. Maka ‘letaknya di belakang larinx (larinx-faringeal).20 lingkaran tak. adalah pipa berotot yang berjalan dari dasar tengkorak sampai persambungannya dengan oesopagus pada ketinggian tulang rawan krikoid. farinx. Trachea tersusun atas 16 . dan nomor satu dari golongan penyakit infeksi. sampai ketinggian vertebrata servikals dan masuk ke dalarn trachea di bawahnya. WHO memperkirakan setiap tahun menjadi 583. Saluran-saluran itu bermuara ke dalam bagian yang dikenal sebagai vestibulum. Rongga hidung dilapisi sebagai selaput lendir yang sangat kaya akan pembuluh darah. Larynx terdiri atas kepingan tulang rawan yang diikat bersama oleh ligarnen dan membran. hasil survey kesehatan rumah tangga (SKRT) menunjukkan bahwa penyakit tuberkulosis merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit jantung dan penyakit infeksi saluran pernapasan pada semua kelompok usia.

Dilapisi oleh pleura yaitu parietal pleura dan visceral pleura. sakkus alveolar dan alveoli. . Secara garis besar bahwa Paru-paru memiliki fungsi sebagai berikut: (1) Terdapat permukaan gas-gas yaitu mengalirkan Oksigen dari udara atmosfer kedarah vena dan mengeluarkan gas carbondioksida dari alveoli keudara atmosfer. yaitu melalui inhalasi droppet yang mengandung kuman-kuman basil tuberkel yang berasal dari orang yang terinfeksi. Paru-paru terdapat dalam rongga thoraks pada bagian kiri dan kanan. dari unit pulmonary harus sesuai pada orang normal dengan posisi tegak dan keadaan istirahat maka ventilasi dan perfusi hampir seimbang kecuali pada apeks paru-paru. Diperkirakan bahwa stiap paru-paru mengandung 150 juta alveoli. yaitu sel dimana metabolik dioksida untuk.5 s/d 1. transportasi yang terdiri dan beberapa aspek yaitu : (1) Difusi gas antara alveolus dan kapiler paru-paru (respirasi eksternal) dan antara darah sistemik dan sel. dan luka terbuka pada kulit.mendapatkan energi. kebanyakan infeksi tuberculosis terjadi melalui udara (air borne). atau di bagian atas lobus bawah. venula.0 cm. Stadium kedua. yaitu. saluran pencernaan. Proses fisiologi pernafasan dimana 02 dipindahkan dari udara ke dalam jaringan-jaringan. yaitu pemindahan gas secara efektif antara.-sel jaringan (2) Distribusi darah dalam sirkulasi pulmonal dan penyesuaiannya dengan distribusi udara dalam alveolus.5 urn).kadang disebut lobolus primer memiliki tangan kira-kira 0. ductus alveolar. medius dan inferior sedangkan paru kiri dibagi dua lobus yaitu lobus superior dan inferior. alveolus dan kapiler paruparu membutuhkan distribusi merata dari udara dalam paru-paru dan perfusi (aliran darah) dalam kapiler dengan perkataan lain ventilasi dan perfusi. dan C02 terbentuk sebagai sampah proses metabolisme sel dan dikeluarkan oleh paru-paru (4) Transportasi. Kekuatan mendorong untuk pemindahan ini adalah selisih tekanan parsial antara darah dan fase gas. (5) Perfusi. asinus atau. Basil tuberkel yang mencapai permukaan alveolus biasanya diinhalasi terdiri dari satu sampai tiga gumpalan basil yang lebih besar cenderung tertahan di saluran hidung dan cabang besar bronkus dan tidak menyebabkan penyakit. Paru kanan dibagi atas tiga lobus yaitu lobus superior. Alveolus dipisahkan oleh dinding yang dinamakan pori-pori kohn. Terdapat sekitar 20 kali percabangan mulai dari trachea sampai Sakus Alveolaris. (3) Reaksi kimia dan fisik dari 02 dan C02 dengan darah respimi atau respirasi interna menipak-an stadium akhir dari respirasi. (2) menyaring bahan beracun dari sirkulasi (3) reservoir darah (4) fungsi utamanya adalah pertukaran gas-gas Patofisiologi Port de’ entri kuman microbaterium tuberculosis adalah saluran pernafasan. dan C02 dikeluarkan keudara ekspirasi dapat dibagi menjadi tiga stadium. Di dalam rongga pleura terdapat cairan surfaktan yang berfungsi untuk lubrikai. arteriola. sehingga mempunyai permukaan yang cukup luas untuk tempat permukaan/pertukaran gas. Tiap lobus dibungkus oleh jaringan elastik yang mengandung pembuluh limfe. Stadium pertama adalah ventilasi yaitu masuknya campuran gas-gas ke dalam dan keluar paruparu. karena ada selisih tekanan yang terdapat antara atmosfer dan alveolus akibat kerja mekanik dari otot-otot. bronchial venula. Setelah berada dalam ruang alveolus biasanya di bagian bawah lobus atau paru-paru. Ductus alveolaris seluruhnya dibatasi oleh alveoilis dan sakus alveolaris terminalis merupakan akhir paru-paru.yang terkadang memiliki kantong udara kecil atau alveoli pada dindingnya. tahap kcdua dari proses pemapasan mencakup proses difusi gas-gas melintasi membran alveolus kapiler yang tipis (tebalnya kurang dari 0.

dan bakteri terus difagosit atau berkembang biak di dalam sel. Alveoli yang terserang akan mengalami konsolidasi dan timbul gejala pneumonia akut. Batuk darak terjadi karena pecahnya pembuluh darah. meliputi: a. Manifestasi Klinik Tuberkulosis sering dijuluki “the great imitator” yaitu suatu penyakit yang mempunyai banyak kemiripan dengan penyakit lain yang juga memberikan gejala umum seperti lemah dan demam. anoreksia. Gejala sistemik. yang dikelilingi oleh fosit. sesak napas walaupun jarang dapat juga timbul menyerupai gejala pneumonia. gejala respiratorik dan gejala sistemik: 1. Sesak napas Gejala ini ditemukan bila kerusakan parenkim paru sudah luas atau karena ada hal-hal yang menyertai seperti efusi pleura. hilang timbul dan makin lama makin panjang serangannya sedang masa bebas serangan makin pendek. meliputi: a. pneumothorax. anemia dan lain-lain. Gejala sistemik lain Gejala sistemik lain ialah keringat malam. Berat ringannya batuk darah tergantung dari besar kecilnya pembuluh darah yang pecah. Basil juga menyebar melalui getah bening menuju ke kelenjar bening regional. Makrofag yang mengadakan infiltrasi mcajadi lebih panjang dan sebagian bersatu sehingga membentuk sel tuberkel epiteloit. d. atau proses dapat juga berjalan terus. panas. Leukosit polimorfonuklear tampak pada tempat tersebut dan memfagosit bacteria namun tidak membunuh organisme tersebut. Gejala respiratorik. b. Demam Merupakan gejala yang sering dijumpai biasanya timbul pada sore dan malam hari mirip demam influenza. akan tetapi penampilan akut dengan batuk. gumpalan darah atau darah segar dalam jumlah sangat banyak. mungkin tampak berupa garis atau bercak-bercak darak. 2. Timbulnya gejala biasanya gradual dalam beberapa minggu-bulan. c. Reaksi ini biasanya membutuhkan waktu 10 sampai 20 hari. Gejala ini timbul apabila sistem persarafan di pleura terkena. b. Gejala klinis Haemoptoe: Kita harus memastikan bahwa perdarahan dari nasofaring dengan cara membedakan ciri- . Mula-mula bersifat non produktif kemudian berdahak bahkan bercampur darah bila sudah ada kerusakan jaringan. Nyeri dada Nyeri dada pada TB paru termasuk nyeri pleuritik yang ringan. Batuk Gejala batuk timbul paling dini dan merupakan gangguan yang paling sering dikeluhkan. Sesudah hari-hari pertama maka leukosit diganti oleh makrofag. Gambaran klinik TB paru dapat dibagi menjadi 2 golongan. Pneumonia seluler ini dapat sembuh dengan sendirinya sehingga tidak ada sisa yang tertinggal. Batuk darah Darah yang dikeluarkan dalam dahak bervariasi. penurunan berat badan serta malaise.Basil tuberkel ini membangkitkan reaksi peradangan. Pada sejumlah penderita gejala yang timbul tidak jelas sehingga diabaikan bahkan kadang-kadang asimtomatik.

Anemia seriang terjadi f. radiologik dan riwayat pengobatan sebelumnya. BTA positif: mikroskopik positif 2 kali. oblik. Epistaksis a. Bayangan yang berawan (patchy) atau berbercak (noduler) c. Kelainan yang bilateral. Pengambilan dahak yang benar sangat penting untuk mendapatkan hasil yang sebaik-baiknya. mikroskopik positif 1 kali disokong biakan . Pemeriksaan biasanya lebih sensitive daripada sediaan apus (mikroskopis). terutama bila terdapat di lapangan atas paru d. Bayangan lesi radiology yang terletak di lapangan atas paru. Ditemukannya kuman micobakterium TBC dari dahak penderita memastikan diagnosis tuberculosis paru. Anemia jarang terjadi 6. Darah dibatukkan dengan rasa panas di tenggorokan b. Sesuai dengan program Gerdunas P2TB klasifikasi TB Paru dibagi sebagai berikut: a. Darah bersifat alkalis e. Benzidin test positif 3. tomogram dan lain-lain. Darah menetes dari hidung b. Darah berwarna hitam karena bercampur asam lambung d. sebaiknya 3 kali pemeriksaan dahak. Batuk darah a. Darah berbuih bercampur udara c. Uji resistensi harus dilakukan apabila ada dugaan resistensi terhadap pengobatan. bakteriologik. Darah bersifat alkalis e. Karakteristik radiology yang menunjang diagnostik antara lain : a. Bayang yang menetap atau relatif menetap setelah beberapa minggu e. Darah bersifat asam e. Darah dimuntahkan dengan rasa mual b. Jenis pemeriksaan radiology lain hanya atas indikasi Top foto. Benzidin test negatif 2. Batuk pelan kadang keluar c.ciri sebagai berikut : 1. Klasifikasi ini penting karena merupakan salah satu faktor determinan untuk menetapkan strategi terapi. Pada pemeriksaan pertama. TB Paru BTA Positif dengan kriteria: 1. Darah berwarna merah segar d. Pemeriksaan sputum adalah diagnostik yang terpenting dalam prograrn pemberantasan TBC paru di Indonesia. Dengan atau tanpa gejala klinik 2. Test Diagnostik Foto thorax PA dengan atau tanpa literal merupakan pemeriksaan radiology standar. Darah segar berwarna merah muda d. Klasifikasi Klasifikasi TB Paru dibuat berdasarkan gejala klinik. Darah bercampur sisa makanan c. Anemia kadang-kadang terjadi f. b. Bayangan bilier Pemeriksaan Bakteriologik (Sputum) . Muntah darah a.

4. Di samping itu perlu pemahaman tentang strategi penanggulangan TB yang dikenal sebagai Directly Observed Treatment Short Course (DOTS) yang direkomendasikan oleh WHO yang terdiri dari lima komponen yaitu: 1. biakan negatif tetapi radiologik positif. Kesinambungan ketersediaan paduan OAT jangka pendek yang cukup. demam. Pencatatan dan pelaporan yang baku. hasil pemeriksaan bakteriologik. sesak (nafas pendek). Gambaran radiologik sesuai dengan TB paru. 3. Jenis obat utama yang digunakan sesuai dengan rekomendasi WHO adalah Rifampisin. d. Penanganan Medik Tujuan pengobatan pada penderita TB Paru selain untuk mengobati juga mencegah kematian. Objektif : Takikardia. irritable.positif satu kali atau disokong radiologik positif 1 kali. infiltrasi . aktivitas berat timbul. sesak (tahap. takipnea/dispnea saat kerja. Bakteriologik (mikroskopik dan biakan) negatif b. INH. c. menggigil. Untuk keperluan pengobatan perlu dibuat batasan kasus terlebih dahulu berdasarkan lokasi tuberkulosa. mencegsah kekambuhan atau resistensi terhadap OAT serta memutuskan mata rantai penularan. Pola aktivitas dan istirahat Subjektif : Rasa lemah cepat lelah. 2000) ialah sebagai berikut : 1. Riwayat PerjalananPenyakit a. Radiologik menunjukkan gambaran lesi TB inaktif. Makrolide dan Amoksisilin + Asam Klavulanat. BTA negatif. Adanya komitmen politis berupa dukungan pengambil keputusan dalam penanggulangan TB. Pengobatan tuberkulosis terbagi menjadi 2 fase yaitu fase intensif (2-3 bulan) dan fase lanjutan (4-7 bulan). c. Paduan obat yang digunakan terdiri dari obat utama dan obat tambahan. Gejala klinik tidak ada atau ada gejala sisa akibat kelainan paru. Pengkajian Data-data yang perlu dikaji pada asuhan keperawatan dengan Tuberkulosis paru (Doengoes. 5. b. lanjut. Gejala klinik dan gambaran radilogik sesuai dengan TB Paru aktif 2. Sedang jenis obat tambahan adalah Kanamisin. Diagnosis TB melalui pemeriksaan dahak secara mikroskopik langsung sedang pemeriksaan penunjang lainnya seperti pemeriksaan radiologis dan kultur dapat dilaksanakan di unit pelayanan yang memiliki sarana tersebut. Pirasinamid. Bekas TB Paru dengan kriteria: a. PROSES KEPERAWATAN 1. Streptomisin dan Etambutol. berat ringannya penyakit. TB Paru BTA Negatif dengan kriteria: 1. Pengobatan TB dengan paduan OAT jangka pendek dengan pengawasan langsung oleh Pengawas Menelan Obat (PMO) khususnya dalam 2 bulan pertama dimana penderita harus minum obat setiap hari. derivat Rifampisin/INH. 2. menunjukkan serial foto yang tidak berubah. berkeringat pada malam hari. hapusan dahak dan riwayat pengobatan sebelumnya. B. Kuinolon. 3. sulit tidur. Ada riwayat pengobatan OAT yang adekuat (lebih mendukung).

Riwayat Sosial Ekonomi: a. Pernah berobat tetapi tidak sembuh. e. ketakutan. kebersihan diri. Riwayat lingkungan. biasanya pada keluarga yang kurang marnpu. Riwayat Pengobatan Sebelumnya: a. masalah berhubungan dengan kondisi ekonomi. Respirasi Subjektif : Batuk produktif/non produktif sesak napas. b. Pernah berobat tetapi tidak teratur. kehilangan lemak sub kutan. Nutrisi. pencegahan. perasaan tak berdaya/tak ada harapan. 6. ansietas. Riwayat pekerjaan. f. gelisah. kasar di daerah apeks paru. tidak dapat berkomunikisi dengan bebas. pasien menjalani pengobatan sehubungan dengan penyakitnya. masalah keuangan. menarik diri. Objektif : Turgor kulit jelek. e. sesak napas. 3. Pemeriksaan Diagnostik: a. Riwayat kontak dengan penderita Tuberkulosis Paru. kebiasaan merokok. mudah tersinggung. mual. b. tidak bersemangat dan putus harapan. pengembangan pernapasan tidak simetris (effusi pleura. Aspek psikososial. b. deviasi trakeal (penyebaran bronkogenik). masalah tentang masa depan/pekerjaan pasien. Merasa dikucilkan. pola istirahat dan tidur. Berapa lama. pengobatan dan perawatannya. 2. c. Pernah sakit batuk yang lama dan tidak sembuh-sembuh. perkusi pekak dan penurunan fremitus (cairan pleural). Riwayat Penyakit Sebelumnya: a. mukoid kuning atau bercak darah. untuk sembuh perlu waktu yang lama dan biaya yang banyak. penurunan berat badan. takipneu (penyakit luas atau fibrosis parenkim paru dan pleural). c. waktu dan tempat bekerja. Daya tahan tubuh yang menurun. Objektif : Mulai batuk kering sampai batuk dengan sputum hijau/purulent. Kapan pasien mendapatkan pengobatan terakhir. c. kulit kering/bersisik. d. Integritas ego Subjektif : Faktor stress lama. prilaku distraksi. Obiektif : Berhati-hati pada area yang sakit. b. b. Objektif : Menyangkal (selama tahap dini).). Kultur sputum: Mikobakterium Tuberkulosis positif pada tahap akhir penyakit. Jenis. b. . minum alkohol. jumlah penghasilan. Riwayat vaksinasi yang tidak teratur. Jenis pekerjaan. Pola hidup. dosis obat yang diminum. Tes Tuberkulin: Mantoux test reaksi positif (area indurasi 10-15 mm terjadi 48-72 jam). 5. d. terdengar bunyi ronkhi basah. Tingkat pengetahuan/pendidikan pasien dan keluarga tentang penyakit. Kapan pasien mendapatkan pengobatan sehubungan dengan sakitnya. sakit dada. Pola nutrisi Subjektif : Anoreksia. tidak enak diperut. warna. demam subfebris (40 -410C) hilang timbul.radang sampai setengah paru). Rasa nyaman/nyeri Subjektif : Nyeri dada meningkat karena batuk berulang. pembengkakan kelenjar limfe. d. c. nyeri bisa timbul bila infiltrasi radang sampai ke pleura sehingga timbul pleuritis. Faktor Pendukung: a. 4.

berupa cincin . Terkontaminasi oleh lingkungan. fungsi silia menurun. Kerusakan membran alveolar kapiler. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan: Berkurangnya keefektifan permukaan paru. Penurunan kemampuan finansial. pencegahan berhubungan dengan: Tidak ada yang menerangkan. 3. Pada kavitas bayangan. 3. Terbatasnya pengetahuan/kognitif 4. Batuk yang sering. adanya produksi sputum. Catat kemampuan untuk mengeluarkan secret atau batuk efektif. Mengidentifikasi potensial komplikasi dan melakukan tindakan tepat. Kurang pengetahuan tentang infeksi kuman. Informasi yang didapat tidak lengkap/tidak akurat. Sekret yang kental. Spirometri: penurunan fuagsi paru dengan kapasitas vital menurun. Poto torak: Infiltnasi lesi awal pada area paru atas . f. kecepatan. Edema trakeal/faringeal. 2. Berikan pasien posisi semi atau Fowler. Bantu/ajarkan batuk efektif dan latihan napas dalam. jumlah sputum. kurang dari kebutuhan berhubungan dengan: Kelelahan. Darah: peningkatan leukosit dan Laju Endap Darah (LED). Anoreksia. 5. Dispnea. Kaji fungsi pernapasan: bunyi napas. d. Mengeluarkan sekret tanpa bantuan. imma. Pada tahap dini tampak gambaran bercak-bercak seperti awan dengan batas tidak jelas . pengobatan. Rencana Keperawatan Adapun rencana keperawatan yang ditetapkan berdasarkan diagnosis keperawatan yang telah dirumuskan sebagai berikut: 1. ronki indikasi akumulasi secret/ketidakmampuan membersihkan jalan napas sehingga otot aksesori digunakan dan kerja pernapasan meningkat. Kurang pengetahuan tentang kondisi. Edema bronchial.c. Pada kalsifikasi tampak bayangan bercak-bercak padat dengan densitas tinggi. Bronchografi: untuk melihat kerusakan bronkus atau kerusakan paru karena TB paru. Rasional: Penurunan bunyi napas indikasi atelektasis. Rasional: Meningkatkan ekspansi paru. upaya batuk buruk. Bersihan jalan napas tidak efektif Tujuan: Mempertahankan jalan napas pasien. ventilasi maksimal membuka area atelektasis dan peningkatan gerakan sekret agar mudah dikeluarkan . kedalaman dan penggunaan otot aksesori. e. Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan yang lazim terjadi pada klien dengan Tuberkulosis paru adalah sebagai berikut: 1. catat karakter. Kerusakan jaringan akibat infeksi yang menyebar. c. Resiko tinggi infeksi dan penyebaran infeksi berhubungan dengan: Daya tahan tubuh menurun. Berpartisipasi dalam program pengobatan sesuai kondisi. Perubahan kebutuhan nutrisi. sekret yang inenetap. Malnutrisi. Kelemahan. Menunjukkan prilaku untuk memperbaiki bersihan jalan napas. Rasional: Pengeluaran sulit bila sekret tebal. Intervensi: a. Interpretasi yang salah. atelektasis. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan: Sekret kental atau sekret darah. sputum berdarah akibat kerusakan paru atau luka bronchial yang memerlukan evaluasi/intervensi lanjut. adanya hemoptisis. 4. b.

Peningkatan upaya respirasi. nekrosis. Rasional: Diperlukan pada kasus jarang bronkogenik. Rasional: Akumulasi secret dapat menggangp oksigenasi di organ vital dan jaringan. Demonstrasikan/anjurkan untuk mengeluarkan napas dengan bibir disiutkan. suction bila perlu. adekuat atau perubahan terapi. e. b. Bersihkan sekret dari mulut dan trakea. bunyi pernapasan abnormal. Rasional: Menurunkan kekentalan sekret. Monitor GDA. Bebas dari gejala distress pernapasan. Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan adekuat dengan GDA dalam rentang normal. Rasional: Mencegah pengeringan membran mukosa. Rasional: Tuberkulosis paru dapat rnenyebabkan meluasnya jangkauan dalam paru-pani yang berasal dari bronkopneumonia yang meluas menjadi inflamasi. Resiko tinggi infeksi dan penyebaran infeksi Tujuan: Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah/menurunkan resiko penyebaran infeksi. 2. bersin. g. Rasional: Menurunnya saturasi oksigen (PaO2) atau meningkatnya PaC02 menunjukkan perlunya penanganan yang lebih. aman. dan warna kuku. membran mukosa. Rasional: Membantu mengencerkan secret sehingga mudah dikeluarkan f. Intervensi a. dengan edema laring atau perdarahan paru akut. kortikosteroid sesuai indikasi. Rasional: Membantu pasien agar mau mengerti dan menerima terapi yang diberikan . terutama pada pasien dengan fibrosis atau kerusakan parenkim. Kaji dispnea. Rasional: Meningkatnya resistensi aliran udara untuk mencegah kolapsnya jalan napas. Menunjukkan/melakukan perubahan pola hidup untuk meningkatkan lingkungan yang.d. penyebaran infeksi melalui bronkus pada jaringan sekitarnya atau aliran darah atau sistem limfe dan resiko infeksi melalui batuk. Pertahankan intake cairan minimal 2500 ml/hari kecuali kontraindikasi. Evaluasi perubahan-tingkat kesadaran. Rasional: Membantu mengoreksi hipoksemia yang terjadi sekunder hipoventilasi dan penurunan permukaan alveolar paru. bronkodilator. d. meludah. batasi dan bantu aktivitas sesuai kebutuhan. Gangguan pertukaran gas Tujuan: Melaporkan tidak terjadi dispnea. Suction dilakukan bila pasien tidak mampu mengeluarkan sekret. lingkaran ukuran lumen trakeabronkial.. tertawa. Anjurkan untuk bedrest. Berikan obat: agen mukolitik. Lembabkan udara/oksigen inspirasi. pleural effusion dan meluasnya fibrosis dengan gejala-gejala respirasi distress. keterbatasan ekspansi dada dan kelemahan. Review patologi penyakit fase aktif/tidak aktif. Bantu inkubasi darurat bila perlu. h. Intervensi a. catat tanda-tanda sianosis dan perubahan warna kulit. Rasional: Mencegah obstruksi/aspirasi. e. takipnea. ciuman atau menyanyi. Rasional: Mengurangi konsumsi oksigen pada periode respirasi. Berikan oksigen sesuai indikasi. f. berguna jika terjadi hipoksemia pada kavitas yang luas. 3. c.

untuk mencegah komplikasi. b. Identifikasi orang-orang yang beresiko terkena infeksi seperti anggota keluarga, teman, orang dalam satu perkumpulan. Rasional: Orang-orang yang beresiko perlu program terapi obat untuk mencegah penyebaran infeksi. c. Anjurkan pasien menutup mulut dan membuang dahak di tempat penampungan yang tertutup jika batuk. Rasional: Kebiasaan ini untuk mencegah terjadinya penularan infeksi. d. Gunakan masker setiap melakukan tindakan. Rasional: Mengurangi risilio penyebaran infeksi. e. Monitor temperatur. Rasional: Febris merupakan indikasi terjadinya infeksi. f. Identifikasi individu yang berisiko tinggi untuk terinfeksi ulang Tuberkulosis paru, seperti: alkoholisme, malnutrisi, operasi bypass intestinal, menggunakan obat penekan imun/ kortikosteroid, adanya diabetes melitus, kanker. Rasional: Pengetahuan tentang faktor-faktor ini membantu pasien untuk mengubah gaya hidup dan menghindari/mengurangi keadaan yang lebih buruk. g. Tekankan untuk tidak menghentikan terapi yang dijalani. Rasional: Periode menular dapat terjadi hanya 2-3 hari setelah permulaan kemoterapi jika sudah terjadi kavitas, resiko, penyebaran infeksi dapat berlanjut sampai 3 bulan. h. Pemberian terapi INH, etambutol, Rifampisin. Rasional: INH adalah obat pilihan bagi penyakit Tuberkulosis primer dikombinasikan dengan obat-obat lainnya. Pengobatan jangka pendek INH dan Rifampisin selama 9 bulan dan Etambutol untuk 2 bulan pertama. i. Pemberian terapi Pyrazinamid (PZA)/Aldinamide, para-amino salisik (PAS), sikloserin, streptomisin. Rasional: Obat-obat sekunder diberikan jika obat-obat primer sudah resisten. j. Monitor sputum BTA Rasional: Untuk mengawasi keefektifan obat dan efeknya serta respon pasien terhadap terapi. 4. Perubahan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan Tujuan: Menunjukkan berat badan meningkat mencapai tujuan dengan nilai laboratoriurn normal dan bebas tanda malnutrisi. Melakukan perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan mempertahankan berat badan yang tepat. Intervensi: a. Catat status nutrisi paasien: turgor kulit, timbang berat badan, integritas mukosa mulut, kemampuan menelan, adanya bising usus, riwayat mual/rnuntah atau diare. Rasional: berguna dalam mendefinisikan derajat masalah dan intervensi yang tepat. b. Kaji pola diet pasien yang disukai/tidak disukai. Rasional: Membantu intervensi kebutuhan yang spesifik, meningkatkan intake diet pasien. c. Monitor intake dan output secara periodik. Rasional: Mengukur keefektifan nutrisi dan cairan. d. Catat adanya anoreksia, mual, muntah, dan tetapkan jika ada hubungannya dengan medikasi. Awasi frekuensi, volume, konsistensi Buang Air Besar (BAB). Rasional: Dapat menentukan jenis diet dan mengidentifikasi pemecahan masalah untuk

meningkatkan intake nutrisi. e. Anjurkan bedrest. Rasional: Membantu menghemat energi khusus saat demam terjadi peningkatan metabolik. f. Lakukan perawatan mulut sebelum dan sesudah tindakan pernapasan. Rasional: Mengurangi rasa tidak enak dari sputum atau obat-obat yang digunakan yang dapat merangsang muntah. g. Anjurkan makan sedikit dan sering dengan makanan tinggi protein dan karbohidrat. Rasional: Memaksimalkan intake nutrisi dan menurunkan iritasi gaster. h. Rujuk ke ahli gizi untuk menentukan komposisi diet. Rasional: Memberikan bantuan dalarn perencaaan diet dengan nutrisi adekuat unruk kebutuhan metabolik dan diet. i. Konsul dengan tim medis untuk jadwal pengobatan 1-2 jam sebelum/setelah makan. Rasional: Membantu menurunkan insiden mual dan muntah karena efek samping obat. j. Awasi pemeriksaan laboratorium. (BUN, protein serum, dan albumin). Rasional: Nilai rendah menunjukkan malnutrisi dan perubahan program terapi. k. Berikan antipiretik tepat. Rasional: Demam meningkatkan kebutuhan metabolik dan konsurnsi kalori. 5. Kurang pengetahuan tentang kondisi, pengobatan, pencegahan. Tujuan: Menyatakan pemahaman proses penyakit/prognosis dan kebutuhan pengobatan. Melakukan perubahan prilaku dan pola hidup unruk memperbaiki kesehatan umurn dan menurunkan resiko pengaktifan ulang luberkulosis paru. Mengidentifikasi gejala yang mernerlukan evaluasi/intervensi. Menerima perawatan kesehatan adekuat. Intervensi a. Kaji kemampuan belajar pasien misalnya: tingkat kecemasan, perhatian, kelelahan, tingkat partisipasi, lingkungan belajar, tingkat pengetahuan, media, orang dipercaya. Rasional: Kemampuan belajar berkaitan dengan keadaan emosi dan kesiapan fisik. Keberhasilan tergantung pada kemarnpuan pasien. b. Identifikasi tanda-tanda yang dapat dilaporkan pada dokter misalnya: hemoptisis, nyeri dada, demam, kesulitan bernafas, kehilangan pendengaran, vertigo. Rasional: Indikasi perkembangan penyakit atau efek samping obat yang membutuhkan evaluasi secepatnya. c. Tekankan pentingnya asupan diet Tinggi Kalori Tinggi Protein (TKTP) dan intake cairan yang adekuat. Rasional: Mencukupi kebutuhan metabolik, mengurangi kelelahan, intake cairan membantu mengencerkan dahak. d. Berikan Informasi yang spesifik dalam bentuk tulisan misalnya: jadwal minum obat. Rasional: Informasi tertulis dapat membantu mengingatkan pasien. e. jelaskan penatalaksanaan obat: dosis, frekuensi, tindakan dan perlunya terapi dalam jangka waktu lama. Ulangi penyuluhan tentang interaksi obat Tuberkulosis dengan obat lain. Rasional: Meningkatkan partisipasi pasien mematuhi aturan terapi dan mencegah putus obat. f. jelaskan tentang efek samping obat: mulut kering, konstipasi, gangguan penglihatan, sakit kepala, peningkatan tekanan darah Rasional: Mencegah keraguan terhadap pengobatan sehingga mampu menjalani terapi.

g. Anjurkan pasien untuk tidak minurn alkohol jika sedang terapi INH. Rasional: Kebiasaan minurn alkohol berkaitan dengan terjadinya hepatitis h. Rujuk perneriksaan mata saat mulai dan menjalani terapi etambutol. Rasional: Efek samping etambutol: menurunkan visus, kurang mampu melihat warna hijau. i. Dorong pasien dan keluarga untuk mengungkapkan kecemasan. Jangan menyangkal. Rasional: Menurunkan kecemasan. Penyangkalan dapat memperburuk mekanisme koping. j. Berikan gambaran tentang pekerjaan yang berisiko terhadap penyakitnya misalnya: bekerja di pengecoran logam, pertambangan, pengecatan. Rasional: Debu silikon beresiko keracunan silikon yang mengganggu fungsi paru/bronkus. k. Anjurkan untuk berhenti merokok. Rasional: Merokok tidak menstimulasi kambuhnya Tuberkulosis; tapi gangguan pernapasan/ bronchitis. l. Review tentang cara penularan Tuberkulosis dan resiko kambuh lagi. Rasional: Pengetahuan yang cukup dapat mengurangi resiko penularan/ kambuh kembali. Komplikasi Tuberkulosis: formasi abses, empisema, pneumotorak, fibrosis, efusi pleura, empierna, bronkiektasis, hernoptisis, u1serasi Gastro, Instestinal (GD, fistula bronkopleural, Tuberkulosis laring, dan penularan kuman. 5. Evaluasi a. Keefektifan bersihan jalan napas. b. Fungsi pernapasan adekuat untuk mernenuhi kebutuhan individu. c. Perilaku/pola hidup berubah untuk mencegah penyebaran infeksi. d. Kebutuhan nutrisi adekuat, berat badan meningkat dan tidak terjadi malnutrisi. e. Pemahaman tentang proses penyakit/prognosis dan program pengobatan dan perubahan perilaku untuk memperbaiki kesehatan.

askep ARDS ( Acute Respiratory Distress Syndrome)
AKPER PPNI SOLO, 8.15.2009 Askep ARDS atau Acute Respiratory Distress Syndrome, Sering merupakan kelanjutan dari shock paru-paru, kongesti atelektasis, post traumatic paru-paru, post infusion paru, dan ventilasi paru. Kondisi akut paru-paru yang mengakibatkan macam-macam perubahan patofisiologi dalam paru. Menyerupai perubahan pada IRDS, perbedaannya terletak pada penurunan surfaktan akibat dari kerusakan paru. Kliennya umumnya masih muda yang sebelumnya dia sehat. Jenis ketidakstabilan akut, baik langsung atau tidak langsung berperan dalam menimbulkan syndrom. Keadaan yang langsung : Menghirup racun iritan Infeksi diffusi alveolar

ethylene glycol) Inhalasi racun (rokok. tenggelam. kimia corrosive. Non pulmonary : Shock (traumatic. Massive blood transfusion Reaksi transfusi Pembekuan darah intravaskuler By pass cardiopulmonary Penambahan tekanan intrakranial Cairan overload Eclampsia Gejala defisiensi autoimmune Patofisiologi. Akibatnya terjadi tanda-tanda atelektasis. hydrocarbon. O2 konsentrasi meningkat. seolah-olah dipengaruhi oleh aktifitas surfaktan. hemorrhagic. Keadaan yang tidak langsung : Trauma dan shock karena pembedahan Sepsis dengan pelepasan endotoksin Pembekuan darah intravaskuler Transfusi darah massive Reaksi transudasi Penyakit Yang Dapat Menyebabkan ARDS : Pulmonary : Virus pneumonia Fungi pneumonia Pneumocystis carinii Military tuberculosis Legionaire’s pneumonia Radiation pneumonitis Contusio paru Cairan aspirasi (gastric. amniotic fluid embolic. Aspirasi virus pneumonia.Darah yang beracun. Plasma dan sel darah merah keluar dari kapiler-kapiler yang rusak. Cairan juga masuk dalam alveoli dan mengakibatkan oedema paru. pneumonia septic) Emboli lemak Trauma kepala Trauma non thoraks Pancreatitis Uremia Drug overdose (heroin. Adanya peningkatan permeabilitas kapiler dan akibat masuknya cairan ke dalam ruang interstitial. Hampir tenggelam dan trauma dada. methadone barbiturat). bacterial. oleh karena itu . Banyak teori yang menerangkan patogenesis dari syndrom yang berhubungan dengan kerusakan awal paru-paru yang terjadi dimembran kapiler alveolar.

Potensial injury berhubungan dengan barotrauma atau tidak aktifnya aliran ventilator. Kriteria untuk diagnosa ARDS : Klinik Keadaan katastropik : paru atau bukan paru Eksklusi : Penyakit paru kronis.Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penambahan (peningkatan) permiabilitas . 2. susah bernafas. Hypotensia/bradicardia atau hipertension/tachicardia. Diagnosa Keperawatan 1.Tidak efektifnya pola napas berhubungan dengan kurangnya complain paru dan kecemasan. Distress pernafasan : Tachypnea > 20 x/menit. 3. 5. Dysritmia Tanda-tanda adanya asidosis metabolic dan respiratorik ⇓ menegakkan diagnosis: Status adanya kesulitan memperoleh pemenuhan ventilasi yang→klinik klien adekuat (sehingga penurunan pemenuhan ventilasi yang meningkatkan menurunkan kapasitas vital paru-paru infiltrasi→kekakuan paru-paru) alveolar. 4. Radiografi Difusi pulmonal menyebar Infiltrasi interstitial (awal) Infiltrasi alveoli (lanjut/akhir) Fisiologi Hipoksemia refractory. Tanda-tanda utama manifestasi klinik: Dyspnea Tachicardia Cyanosis dengan atau tanpa retraksi intercostals refractory hypoxemia. Pa O2 60 % Kompliance paru rendah 1000 gr) Congestive atelektasis Membran hyaline Fibrosis PENGKAJIAN Gejala terjadi tiba-tiba dalam 2 – 3 hari sesudah trauma atau kesakitan.→ O2 C →Hypoksimia.mungkin perdarahan merupakan manifestasi patologi yang umum.Kurangnya cardiac output berhubungan dengan tingginya PEEP (Positive End mengetahui atau berguna untuk memenuhi kebutuhan→Expiratory Pressure) ventilasi paru.Tidak efektifnya jalan napas berhubungan dengan immobilisasi dan jalan napas buatan. keadaan abnormal ventrikel kiri.Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan penambahan shunt dan ventilasi – perfusi terganggu. pada orang muda yang biasa mempunyai riwayat sakit paru-paru. 6.

Hemodinamic parameter (CO.Tidak efektifnya koping keluarga berhubungan dengan mengatasi stress dan kecemasan dalam kondisi kritis. 9. kurang dari atau sama dengan 40 % Fi O2. Berguna terpenuhinya kebutuhan→untuk memenuhi kebutuhan ventilasi paru ventilasi . 1982) tingkat rasa nyaman. 11. untuk mempertahankan tekanan O2 arteri sekitar 20 mmHg (William. Pelaksanaan 1.Perubahan nutrisi. 13. Pencegahan dengan meminimalkan komplikasi dan stressor untuk klien dan keluarganya merupakan hal yang penting. Membran mukosa mulut baik. Keseimbangan intake dan output.Gangguan pola tidur berhubungan dengan lingkungan yang kritis dan kebutuhan akan bantuan perawat. Tekanan kapiler paru normal. PEEP (Positive End Expiratory Pressure) Digunakan untuk memberi tekanan inflasi yang tinggi. Kriteria tujuan untuk klien: Stabil dan sinkronnya antara pernapasan dengan ventilator dengan slow rate yang cukup dalam level yang normal ventilasi Pa CO2 35 – 45 mmHg. PaO2 lebih dari atau sama dengan 60 mmHg. Integritas kulit baik. Oksigenasi jaringan secara adekuat dilakukan dengan pemberian O2 konsentrasi tinggi. utuh. mengurangi rasa nyeri dan menjaga ketenangan klien. HR) stabil.membran pulmonal dan kelebihan sekresi ADH. Perencanaan Dan Pelaksanaan Perawatan klien dengan ARDS perencanaannya yaitu perbaikan pola napas dan kestabilan hemodinamic. BP.→Kegagalan mempertahankan O2 Meningkatkan keperluan O2 dengan mempertahankan suhu klien pada tingkat normal. 14.Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kelumpuhan dan bedrest. 12. 10.Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan jalan napas buatan dan kelumpuhan. Tekanan maximum jalan napas 50 – 70 mmHg. shunt friction kurang atau sama dengan 20 % Jalan napas tetap. lebih dari pada intake berhubungan dengan perubahan metabolisme dan ketidakmampuan intake makanan melalui oral.Kelemahan berhubungan dengan ketergantungan dalam pemakaian alat.Gangguan integritas kulit berhubungan dengan perfusi dan immobilisasi. 8. Komunikasi nonverbal dapat diartikan. Kelemahan dan penyakit respirasi merupakan indikasi untuk menggunakan ventilasi mekanic. 7.Perubahan membran mukosa mulut berhubungan dengan jalan napas buatan. Berat badan stabil.Mempertahankan oksigenasi secara adekuat.

atau swan-Ganz cateter). 4. Vena bercampur (mengalir dari kiri ke kanan) dan hypoxemia dikurangi. Mempertahankan tekanan jalan napas di atas tekanan atmosfer melalui siklus respirasi.→ 3. kortikosteroid.Individu dan family coping. Pemberian O2. cardiac output PEEP kemungkinan besar menurunkan cardiac output karena lemahnya aliran denyut nadi dan tekanan darah→darah vena yang kembali ke jantung harus sering dimonitor.Nutrisi: resiko terjadi malnutrisi. . Perawat harus memonitor perfusi pada organ vital : CNS : Tingkat kesadaran Pergerakan Sensasi Ginjal : Urine output Blood urine nitrogen (BUN) Serum kreatinin Myocardium : Heart rate Rhytm 2. Keefektifan dari PEEP dimonitor dengan seringnya analisa gas darah. Mempertinggi distribusi O2 ke seluruh paru-paru dengan mempertahankan expansi alveoli.→Untuk mengurangi peradangan dari membran alveoli Kortikosteroid Mungkin juga meningkatkan kontraktilitas jantung dan perfusi sirkulasi periferal serta organ-organ vital. menurun-kan permeabilitas kapiler paru-paru. Sekresi sebaiknya dihisap dengan suction sesuai kebutuhan Posisi pasien sering diubah-ubah dan pentingnya dilakukan gerakan/latihan pasif. Lingkungan sekitar klien harus tenang dan rileks. Jika keadaan ini tidak terpenuhi paru-paru akan kolaps.paru ditandai dengan adanya elastisitas paru dan dada.Pencegahan cedera paru berlanjut. Pemberian albumin dan dextran dengan molekul tinggi Mungkin juga mengurangi permeabilitas kapiler Untuk menjaga paru tetap kering Antibiotik Mencegah infeksi bakteri.→Klien dengan ARDS TKTP diberikan. alat monitor khusus (CVP. Kemungkinan kecenderungan terjadi retensi cairan dan edema paru selama ventilasi (intake dan output). Karena peningkatan metabolisme dan gangguan oral intake.→Ketepatan pemeriksaan gas darah.

tidak berhubungan secara langsung dengan allergen spesifik. merupakan suatu bentuk asthma dengan penyebab allergen (missal : bulu binatang. DEFINISI Asthma adalah suatu gangguan pada saluran bronchial yang mempunyai ciri bronchospasme periodik (kontraksi spasme pada saluran nafas). Dikarakteristikkan dengan bentuk kedua jenis asthma alergi dan idiopatik atau nonalergi. bronchus penderita asthma sangat peka terhadap rangsangan imunologi maupun non-imunologi. emosi dan polusi lingkungan akan mencetuskan serangan. Allergen terbanyak adalah airborne dan seasonal (musiman). 3. b. debu. 2. Asthma Campuran (Mixed Asthma). infeksi dan sebagainya. beta-adrenergic antagonist dan agent sulfite (penyedap makanan) juga dapat sebagai faktor. Beberapa agent pharmakologi. kimia. non alergik atau campuran (mixed) : a. Faktor-faktor seperti common cold. idiopatik. metabolik. Rangsangan atau pencetus . endokrin. Paparan terhadap alergi akan mencetuskan serangan asthma. suatu hal yang menonjol pada semua penderita asthma adalah fenomena hiperreaktivitas bronchus. Asthma Alergik /Ekstrinsik. tepung sari. kegiatan. Asthma merupakan penyakit yang kompleks yang dapat diakibatkan oleh faktor biochemical. Ketiga penyakit yang membentuk satu kesatuan yang dikenal dengan COPD adalah : Bronchitis kronis. Serangan dari asthma idiopatik atau nonalergik menjadi lebih berat dan seringkali dengan berjalannya waktu dan dapat berkembang menjadi bronchitis dan emfisema. alergen. Idiopathic atau Nonallergic Asthma/Intrinsik. Sering juga penyakit ini disebut dengan “Chronic Airflow Limitation (CAL)” dan “Chronic Obstructive Lung Diseases (COLD)” A. ETIOLOGI Sampai saat ini etiologi asthma belum diketahui dengan pasti. TIPE ASTHMA Asthma terbagi menjadi alergi. makanan dll). Beberapa pasien berkembang menjadi asthma campuran. ASTHMA BRONCHIALE 1. merupakan bentuk asthma yang paling sering. Pasien dengan asthma alergik biasanya mempunyai riwayat penyakit alergi pada keluarga dan riwayat pengobatan exzema atau rhinitis alergik. Bentuk asthma ini biasanya dimulai saat kanak-kanak. ketombe. c. emfisema paru-paru dan asthma bronchiale. otonomik dan psikologi. infeksi saluran nafas atas.Asuhan keperawatan Pada Klien Dengan Chronic Obstructive Pulmonary Diseases (COPD) Penyakit Paru Obstruktif Kronik (COPD) merupakan suatu istilah yang sering digunakan untuk sekelompok penyakit paru-paru yang berlangsung lama dan ditandai oleh peningkatan resistensi terhadap aliran udara sebagai gambaran patofisiologi utamanya. Karena sifat inilah maka serangan asthma mudah terjadi akibat berbagai rangsangan baik fisis. Bentuk asthma ini biasanya dimulai pada saat dewasa (> 35 tahun). infeksi.

sulit dikeluarkan. walaupun keadaan ini juga dapat dilihat pada masa kanak-kanak. bau-bauan. Lingkungan kerja g. • Fase ekspirasi memanjang disertai wheezing (di apex dan hilus) Subjektif • Klien merasa sukar bernafas. • Bernafas dengan menggunakan otot-otot nafas tambahan • Cyanosis. e. 4. Alergen utama : debu rumah. gejala yang disebutkan terakhir sering dianggap sebagai gejala yang harus ada (“sine qua non”). tachicardia. sesak. anoreksia. bahan pewarna seperti tartazin. alergen tersebut harus tersedia dalam jumlah banyak untuk periode waktu tertentu. antagonis beta-adrenergik dan bahan sulfat. h. Antagonis beta-adrenergik biasanya menyebabkan obstruksi jalan nafas pada pasien asthma demikian juga dengan pasien lain dengan peningkatan reaktifitas jalan nafas dan . Setelah menjalani bentuk terapi ini. Mekanisme dengan aspirin dan obat lain dapat menyebabkan bronkospasme tidak diketahui tetapi mungkin berkaitan dengan pembentukan leukotrien yang diinduksi secara khusus oleh aspirin. Kegiatan jasmani yang berlebihan. toleransi silang juga akan terbentuk terhadap agen anti-inflamasi non-steroid lain. Sebagian besar alergen yang mencetuskan asthma bersifat airborne dan supaya dapat menginduksi keadaan sensitivitas. 5. • Dapat disertai batuk dengan sputum kental. f. takut dan mudah tersinggung • Kurangnya pengetahuan klien terhadap situasi penyakitnya. GAMBARAN KLINIS Gejala asthma terdiri dari triad : dispnea. Baru kemudian muncul asthma progresif. Obat-obatan. Emosi i. Obat yang paling sering berhubungan dengan induksi episode akut asthma adalah aspirin. Infeksi saluran nafas terutama yang disebabkan oleh virus d. pulsus paradoksus. Faktor-faktor tersebut adalah : a. batuk dan mengi.yang sering menimbulkan asthma perlu diketahui dan sedapat mungkin dihindarkan. Lain-lain : seperti reflux gastro esofagus. Perubahan cuaca yang ekstrim. Masalah ini biasanya berawal dari rhinitis vasomotor perennial yang diikuti oleh rhinosinusitis hiperplastik dengan polip nasal. Akan tetapi sekali sensitisasi telah terjadi pasien akan memperlihatkan respon yang sangat baik sehingga sejumlah kecil alergen yang mengganggu sudah dapat menghasilkan eksaserbasi penyakit yang jelas. Psikososial • Cemas. Pasien yang sensitif terhadap aspirin dapat didesentisasi dengan pemberian obat setiap hari. PATOFISIOLOGI Asthma akibat alergi bergantung kepada respon IgE yang dikendalikan oleh limfosit T dan B dan diaktifkan oleh interaksi antara antigen dengan molekul IgE yang berikatan dengan sel mast. Objektif • Sesak nafas yang berat dengan ekspirasi memanjang disertai wheezing. Sindroma pernafasan sensitif-aspirin khusus terutama mengenai orang dewasa. Iritan seperti asap. spora jamur dan tepung sari rerumputan b. gelisah. pollutan c.

Tabel 2 :Pengkajian Untuk menentukan beratnya Asthma Manifestasi Klinis Skor 0 Skor 1 a. Wheezing d. kentang. Pulse rate permenit f.harus dihindarkan pada pasien ini. anafilatoxin) ↑ Permeabilitas Kapiler • Kontraksi Otot Polos • Edema mukosa • Hipersekresi Obstruksi Saluran Nafas Hipoventilasi Distribusi ventilasi tak merata dengan sirkulasi darah paru Gangguan difusi gas di alveoli Hipoxemia Hiperkapnia Gambar 13 : Skema Patofisiologi Asthma Bronchiale Untuk melihat derajat beratnya asthma biasanya dilakukan pemeriksaan secara komprehensif dengan menggunakan alat ukur seperti pada tabel 2. salad. Pajanan biasanya terjadi setelah menelan makanan atau cairan yang mengandung senyawa ini. infeksi) Reaksi Antigen dan Antibodi Release Vasoactive Substance (histamin. emosi/stress. Penggunaan otot nafas tambahan. kalium dan natrium bisulfit. Respirasi rate permenit e. natrium sulfit dan sulfat klorida. Pencetus-pencetus serangan di atas ditambah cetusan lainnya dari internal pasien akan mengakibatkan timbulnya reaksi antigen dan antibodi yang mengakibatan dikeluarkan substansi pereda alergi yang sebetulnya merupakan mekanisme tubuh dalam menghadapi serangan yang dapat berupa dikeluarkannya histamin. Obat sulfat. buah segar. bradikinin. misal. seperti kalium metabisulfit. c. obat-obatan. bradikinin dan anafilatoksin. kerang dan anggur. yang secara luas digunakan dalam industri makanan dan farmasi sebagai agen sanitasi dan pengawet juga dapat menimbulkan obstruksi jalan nafas akut pada pasien yang sensitif. Puncak Expiratory Flow Rate (L/menit) Ya Tidak ada Tidak ada < 25 . Penurunan toleransi beraktifitas b. Hasil dari hal tersebut timbul 3 gejala yaitu berkontraksinya otot polos. adanya retraksi interkostal. Teraba pulsus paradoksus g. Pencetus serangan (alergen. peningkatan permeabilitas kapiler dan peningkatan sekresi mukus seperti terlihat pada gambar berikut ini.

Faktor penting yang harus diperhatikan : 1) Saatnya serangan 2) Obat-obatan yang telah diberikan (macam dan dosis) . klien harus diobservasi untuk menentukan adakah respon dari terapi atau segera dikirim ke rumah sakit. Konstriksi Otot Polos Bronchospasme ↑ Sekresi Mukus ↑ Produksi Mukus Bersihan jalan nafas tak efektif Kerusakan Pertukaran Gas Ketidakseimbangan Nutrisi : Kurang dari kebutuhan tubuh (Risiko/aktual) Tabel 3 : Perubahan Dalam Arteri Blood Gas yang berhubungan dengan Asthma Ringan Sedang Berat Status Asmatikus PaO2 PaCO2 pH Elevasi Menurun Alkalosis Normal sampai hipoxemia ringan Menurun sampai Normal Alkalosis Hipoxemia Elevasi Alkalosis Hipoxemia berat Elevasi Jelas Asidosis 6. PENATALAKSANAAN Prinsip-prinsip penatalaksanaan asthma bronchial : a. Diagnosis status asmatikus.< 120 Tidak ada > 100 Tidak Ada Ada > 25 > 120 ada < 100 Keterangan : Skor 4/lebih disangkakan asthma berat.

kardiovaskuler dan serebrovaskuler. dilanjutkan dengan pengobatan kortikosteroid 200 mg hidrokortison secara oral atau dengan dosis 3 – 4 mg/Kg BB intravena sebagai dosis permulaan dan dapat diulang 2 – 4 jam secara parenteral sampai serangan akut terkontrol.b. Pertimbangan terhadap pemberian kortikosteroid. berbahaya pada penyakit hipertensi. penggunaan parenteral pada orang tua harus hati-hati. • Obat-obat Bronchodilatator simpatomimetik memberi efek samping tachicardia. Setelah serangan mereda : 1) Cari faktor penyebab. Obat-obatan bronchodilator golongan simpatomimetik bentuk selektif terhadap adrenoreseptor (Orsiprendlin. 2) Modifikasi pengobatan penunjang selanjutnya. antibiotik . Efek sampingnya tekanan darah menurun bila dilakukan tidak secara perlahan. 7. maka sebaiknya diberikan Aminophilin secara parenteral sebab mekanisme yang berlainan. Jika sebelumnya telah digunakan obat golongan simpatomimetik.9 mg/KgBB/Jam secara infus. demikian sebaliknya. tetapi dipakai secara inhalasi atau parenteral. Kortikosteroid Pemberian obat–obat bronchodilatator tidak menunjukkan perbaikan. Baik digunakan untuk sesak nafas berat pada anak-anak dan dewasa. Penilaian terhadap perbaikan serangan. e. Terbutalin. Pemberian Oksigen Melalui kanul hidung dengan kecepatan aliran O2 2-4 liter/menit dan dialirkan melalui air untuk memberikan kelembaban. dengan diikuti pemberian 30 – 60 mg prednison atau dengan dosis 1 – 2 mg/Kg BB/hari secara oral dalam dosis terbagi. Jika menunjukkan perbaikan dapat diulang tiap 4 jam. disuntikkan perlahan dalam 5-10 menit. Efedrin.01 mg/Kg BB subkutan (1 mg permil) dapat diulang tiap 30 menit untuk 2–3x sesuai kebutuhan. b. Ispenturin. Bronchodilator Tidak digunakan bronchodilator oral. maka intake cairan peroral dan infus harus cukup. bila sebelumnya telah digunakan obat golongan Teofilin oral maka sebaiknya diberikan obat golongan simpatomimetik secara aerosol atau parenteral. Fenoterol) mempunyai sifat lebih efektif dan masa kerja lebih lama serta efek samping kecil dibandingkan dengan bentuk non-selektif (Adrenalin. Pada dewasa dicoba dengan 0. Pemberian obat bronchodilator. Isoprendlin) • Obat-obat bronchodilatator serta aerosol bekerja lebih cepat dan efek samping sistemik lebih kecil. kemudian dosis dikurangi secara bertahap. Mula-mula diberikan 2 sedotan dari Metered Aerosol Defire (Afulpen Metered Aerosol). Anak-anak 0. Salbutamol. c. OBAT-OBATAN a. Obat ekspektoran seperti Gliserolguaiakolat dapat juga digunakan untuk memperbaiki dehidrasi. Untuk dosis penunjang 0. sesuai dengan prinsip rehidrasi. jika tidak ada perbaikan sampai 10-15 menit berikan Aminophilin intravena. c.3 ml larutan epinefrin 1 : 1000 secara subkutan. • Pemberian Aminophilin secara intravena dosis awal 5 – 6 mg/Kg BB dewasa/anak-anak. d.

yang dapat menimbulkan kelumpuhan bulu getar selaput lendir bronchus sehingga drainase lendir terganggu. menyebabkan gangguan susunan dan fungsi dinding bronchus sehingga infeksi bakteri mudah terjadi. sterptokokus. merupakan keadaan yang berkaitan dengan produksi mukus takeobronkial yang berlebihan sehingga cukup untuk menimbulkan batuk dengan ekspektorasi sedikitnya 3 bulan dalam setahun untuk lebih dari 2 tahun secara berturut-turut. Agent adrenergic yang sering digunakan antara lain epinephrine.diberikan bila ada infeksi. Rangsang : misal asap pabrik. Bronchitis kronis dapat merupakan komplikasi kelainan patologik yang mengenai beberapa alat tubuh. isoetharine dan terbutaline. Kumpulan lendir tersebut merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri. albuterol. b. sehingga sering dinamai juga dengan “laringotracheobronchitis”. pneumokokus. yaitu : a. Infeksi sekunder oleh bakteri ini menimbulkan kerusakan yang lebih banyak sehingga akan memperburuk keadaan. B. PATOFISIOLOGI . 2. 3. Bronchitis kronis bukanlah merupakan bentuk menahun dari bronchitis akut. Adrenergic Agent juga meningkatkan pergerakan cilliary. b. asap rokok dll. c. asap mobil. Dilatasi Bronchus (Bronchiectasi). yaitu : a. pada perjalanan penyakit bronchitis kronis dapat ditemukan periode akut. Jalan inhalasi merupakan jalan pilihan dikarenakan dapat mempengaruhi secara langsung dan mempunyai efek samping yang lebih kecil. Beta Agonists Beta agonists (β -adrenergic agents) merupakan pengobatan awal yang digunakan dalam pengobatan asthma dikarenakan obat ini bekerja dengan jalan mendilatasikan otot polos. Biasanya diberikan secara parenteral atau inhalasi. merupakan sumber bakteri yang dapat menyerang dinding bronchus. d. Walaupun demikian. misalnya pada morbili. Infeksi sinus paranasalis dan Rongga mulut. Alergi c. pertusis. Radang ini dapat timbul sebagai kelainan jalan nafas tersendiri atau sebagai bagian dari penyakit sistemik. DEFINISI Bronchitis akut adalah radang mendadak pada bronchus yang biasanya mengenai trachea dan laring. baik yang berasal dari luar bronchus maupun dari bronchus itu sendiri. Istilah bronchitis kronis menunjukkan kelainan pada bronchus yang sifatnya menahun (berlangsung lama) dan disebabkan oleh berbagai faktor. Kongesti menahun pada dinding bronchus melemahkan daya tahannya sehingga infeksi bakteri mudah terjadi. Infeksi : stafilokokus. metaproterenol. haemophilus influenzae. Penyakit Jantung Menahun. ETIOLOGI Terdapat 3 jenis penyebab bronchitis akut. yang menunjukkan adanya serangan bakteri pada dinding bronchus yang tidak normal. d. difteri dan typhus abdominalis. isoproterenol. Rokok. menurunkan mediator kimia anaphylaxis dan dapat meningkatkan efek broncholasi dari kortikosteroid. BRONCHITIS KRONIS 1. baik pada katup maupun myocardium.

Kerusakan fungsi cilliary sehingga menurunkan mekanisme pembersihan mukus. 4. yang mana akan meningkatkan produksi mukus. kelenjar mukus akan menjadi hipertropi dan hiperplasia sehingga produksi mukus akan meningkat. Klien terlihat cyanosis. Mukus yang kental dan pembesaran bronchus akan mengobstruksi jalan nafas. Klien mengalami kekurangan oksigen jaringan . barrel chest. terutama selama ekspirasi. Penampilan umum : cenderung overweight. Cor Pulmonal. Aliran udara dapat atau mungkin juga tidak mengalami hambatan. Jika masalah tersebut tidak ditanggulangi. “mucocilliary defence” dari paru mengalami kerusakan dan meningkatkan kecenderungan untuk terserang infeksi. Pada saat penyakit memberat. Hematokrit > 60% . hipoxemia akan timbul yang akhirnya menuju penyakit cor pulmonal dan CHF. Usia : 45 – 65 tahun c. dyspnea dalam beberapa keadaan. dimana terjadi penurunan PaO2. Mukus lebih kental c. variabel wheezing pada saat ekspirasi.Bronchitis akut dapat timbul dalam serangan tunggal atau dapat timbul kembali sebagai eksaserbasi akut dari bronchitis kronis. Dinding bronchial meradang dan menebal (seringkali sampai dua kali ketebalan normal) dan mengganggu aliran udara. kongesti. tetapi biasanya seluruh saluran nafas akan terkena. Selama infeksi klien mengalami reduksi pada FEV dengan peningkatan pada RV dan FRC. Bronchitis kronis mula-mula mempengaruhi hanya pada bronchus besar. Bronchitis timbul sebagai akibat dari adanya paparan terhadap agent infeksi maupun non-infeksi (terutama rokok tembakau). Jantung : pembesaran jantung. bronchitis lebih mempengaruhi jalan nafas kecil dan besar dibandingkan pada alveolinya. MANIFESTASI KLINIK BRONCHITIS KRONIS a. sering infeksi pada sistem respirasi. Tidak seperti emfisema. dan udara terperangkap pada bagian distal dari paru-paru. Peningkatan ukuran dan jumlah kelenjar mukus pada bronchi besar. Klien dengan bronchitis kronis akan mengalami : a. biasanya virus. edema (akibat CHF kanan). cyanosis akibat pengaruh sekunder polisitemia. Mukus kental ini bersama-sama dengan produksi mukus yang banyak akan menghambat beberapa aliran udara kecil dan mempersempit saluran udara besar. Pada infeksi saluran nafas bagian atas. b. Oleh karena itu. Jalan nafas mengalami kollaps. edema mukosa dan bronchospasme. Iritan akan menyebabkan timbulnya respon inflamasi yang akan menyebabkan vasodilatasi. produksi sputum seperti kopi. Pengkajian : Batuk persisten. ratio ventilasi perfusi abnormal timbul. Ketika infeksi timbul. b. Dokter akan mendiagnosa bronchitis kronis jika klien mengalami batuk atau produksi sputum selama beberapa hari + 3 bulan dalam 1 tahun dan paling sedikit dalam 2 tahun berturut-turut. maka terjadi polisitemia (overproduksi eritrosit). Gejala biasanya timbul pada waktu yang lama. d. hipoxia dan asidosis. Sebagai kompensasi dari hipoxemia. Obstruksi ini menyebabkan penurunan ventilasi alveolar. diproduksi sejumlah sputum yang hitam. seringkali merupakan awal dari serangan bronchitis akut. biasanya karena infeksi pulmonary. Kerusakan ventilasi dapat juga meningkatkan nilai PaCO2.

timbul sangat sering pada seorang perokok. Protease (enzim paru) merubah atau merusakkan alveoli dan saluran nafas kecil dengan jalan merusakkan serabut elastin. Postural Drainage c. DEFINISI Emfisema merupakan gangguan pengembangan paru-paru yang ditandai oleh pelebaran ruang udara di dalam paru-paru disertai destruksi jaringan (WHO). PATOGENESIS Terdapat 4 perubahan patologik yang dapat timbul pada klien emfisema. TIPE EMFISEMA Terdapat tiga tipe dari emfisema : a. Emfisema Centriolobular Merupakan tipe yang sering muncul. EMFISEMA PARU 1. Bentuk ini bersama disebut centriacinar emfisema. tekanan positif intratorak akan menyebabkan kollapsnya jalan nafas. c. 2. Beberapa alveoli rusak dan yang lainnya mungkin dapat menjadi membesar. 3. Antimikrobial b. Sesuai dengan definisi tersebut. kantung alveolar kehilangan elastisitasnya dan jalan nafas kecil menjadi kollaps atau menyempit. melainkan hanya sebagai “overinflation”. Kollaps jalan nafas kecil dan udara terperangkap Ketika klien berusaha untuk ekshalasi secara kuat. Pengobatan yang diberikan : a. MANAGEMENT MEDIS BRONCHITIS KRONIS Pengobatan yang utama ditujukan untuk mencegah dan mengontrol infeksi dan meningkatkan drainase bronchial menjadi jernih.. Hilangnya elastisitas paru. Bronchodilator d. Akibat hal tersebut. Terbentuknya Bullae Dinding alveolar membengkak dan berhubungan untuk membentuk suatu bullae (ruangan tempat udara) yang dapat dilihat pada pemeriksaan X-ray. b. Panacinar timbul pada orang tua dan klien dengan defisiensi .e. yaitu : a. menghasilkan kerusakan bronchiolus. maka jika ditemukan kelainan berupa pelebaran ruang udara (alveolus) tanpa disertai adanya destruksi jaringan maka keadaan ini sebenarnya tidak termasuk emfisema. Paraseptal emfisema dipercaya sebagai sebab dari pneumothorax spontan. d. Emfisema Panlobular (Panacinar) Merusak ruang udara pada seluruh asinus dan biasanya termasuk pada paru bagian bawah. Inflamasi berkembang pada bronchiolus tetapi biasanya kantung alveolar tetap bersisa. Riwayat merokok ⊕ 5. c. Hyperinflation Paru Pembesaran alveoli mencegah paru-paru untuk kembali kepada posisi istirahat normal selama ekspirasi. Emfisema Paraseptal Merusak alveoli pada lobus bagian bawah yang mengakibatkan isolasi dari blebs sepanjang perifer paru. Surgical Intervention C. b. biasanya pada region paru atas. Aerosolized Nebulizer e.

udara akan tertahan diantara ruang alveolar (disebut blebs) dan diantara parenkim paru (disebut bullae). 5. Emfisema juga menyebabkan destruksi kapiler paru. kollaps jalan nafas sebagian dan kehilangan elastisitas recoil. Pada keadaan lanjut. Kesulitan selama ekspirasi pada emfisema merupakan akibat dari adanya destruksi dinding (septum) diantara alveoli. PATOFISIOLOGI Emfisema merupakan kelainan dimana terjadinya kerusakan pada dinding alveolar. seringkali timbul Cor Pulmonal (CHF bagian kanan) timbul.enzim alpha-antitripsin. tetapi jika hal ini timbul pada awal kehidupan (usia muda). Proses ini akan menyebabkan peningkatan ventilatory pada “dead space” atau area yang tidak mengalami pertukaran gas atau darah. biasanya berhubungan dengan bronchitis kronis dan merokok. Kerja nafas meningkat dikarenakan terjadinya kekurangan fungsi jaringan paru untuk melakukan pertukaran oksigen dan karbon dioksida. yang mana akan menyebabkan overdistensi permanen ruang udara. lebih lanjut terjadi penurunan perfusi oksigen dan penurunan ventilasi. 4. Pada beberapa tingkat emfisema dianggap normal sesuai dengan usia. MEKANISME PENYAKIT Asap tembakau Polusi Udara Gangguan pembersihan paru-paru Peradangan bronchus dan bronchiolus Obstruksi jalan nafas akibat peradangan Hipoventilasi alveolar Bronchiolitis kronik Predisposisi Genetik (defisiensi alfa antitripsin) Sekat & jaringan penyokong hilang Saluran nafas kecil kollaps saat ekspirasi PLE (Emfisema Panlobular) Dinding bronchiolus melemah dan alveoli pecah Saluran nafas kecil kolaps sewaktu ekspirasi Faktor-faktor yang tidak diketahui Seumur hidup PLE asimptomatik pada orang tua CLE dan PLE . Pada saat alveoli dan septa kollaps. Perjalanan udara terganggu akibat dari perubahan ini. terjadi peningkatan dyspnea dan infeksi pulmoner.

Penampilan Umum • Kurus.A. c. peningkatan ruang udara retrosternal. d. MEDICAL MANAGEMENT Penatalaksanaan utama pada klien emfisema adalah untuk meningkatkan kualitas hidup. Pengkajian fisik • Nafas pendek persisten dengan peningkatan dyspnea • Infeksi sistem respirasi • Pada auskultasi terdapat penurunan suara nafas meskipun dengan nafas dalam. • Mencegah dan mengobati infeksi • Teknik terapi fisik untuk memperbaiki dan meningkatkan ventilasi paru • Memelihara kondisi lingkungan yang memungkinkan untuk memfasilitasi pernafasan. memperlambat perkembangan proses penyakit dan mengobati obstruksi saluran nafas yang berguna untuk mengatasi hipoxia. PENGKAJIAN DIAGNOSTIK COPD 1.. • Support psikologis • Patient education and rehabilitation.CLE Bronchiolitis kronik CLE (Emfisema Centriolobular) Gambar 14 : Mekanisme Timbulnya Emfisema (Sumber : Price. • Wheezing ekspirasi tidak ditemukan dengan jelas.M. 1996) 6. b. 7. warna kulit pucat. L. Usia 65 – 75 tahun. S. • Produksi sputum dan batuk jarang. Jenis obat yang diberikan : • Bronchodilators • Aerosol therapy • Treatment of infection • Corticosteroids • Oxygenation D. MANIFESTASI KLINIK a. peningkatan bentuk bronchovaskular (bronchitis). Pemeriksaan jantung • Tidak terjadi pembesaran jantung. flattened hemidiafragma • Tidak ada tanda CHF kanan dengan edema dependen pada stadium akhir. Chest X-Ray : dapat menunjukkan hiperinflation paru. & Wilson. penurunan tanda vaskular/bulla (emfisema). tapi tidak selalu ada riwayat merokok. • Hematokrit < 60% e. flattened diafragma. Riwayat merokok • Biasanya didapatkan. Cor Pulmonal timbul pada stadium akhir. Pendekatan terapi mencakup : • Pemberian terapi untuk meningkatkan ventilasi dan menurunkan kerja nafas. normal ditemukan saat periode remisi (asthma) ..

6.2. Terbatasnya aliran udara akan meningkatkan kerja nafas dan timbulnya dyspnea. lethargi. TLC : meningkat pada bronchitis berat dan biasanya pada asthma. peningkatan eosinofil (asthma). gelombang P tinggi (asthma berat). alkalosis respiratori ringan sekunder terhadap hiperventilasi (emfisema sedang atau asthma). Hipoxemia Hipoxemia didefinisikan sebagai penurunan nilai PaO2 kurang dari 55 mmHg. tetapi klien dengan emfisema berat juga dapat mengalami masalah ini. mengidentifikasi patogen. 2. fatique. III. Sputum Kultur : untuk menentukan adanya infeksi. 7. Exercise ECG. axis QRS vertikal (emfisema) 12. emfisema). Asidosis Respiratory Timbul akibat dari peningkatan nilai PaCO2 (hiperkapnia). 3. Status Asmatikus . Komplikasi ini sering kali berhubungan dengan bronchitis kronis. Kapasitas Inspirasi : menurun pada emfisema 5. 6. mengevaluasi keefektifan obat bronchodilator. pH normal atau asidosis. AVF panjang. Bronchogram : dapat menunjukkan dilatasi dari bronchi saat inspirasi. 11. pembesaran kelenjar mukus (bronchitis) 8. tinggi (bronchitis. Darah Komplit : peningkatan hemoglobin (emfisema berat). KOMPLIKASI COPD 1. tachipnea. atrial disritmia (bronchitis). 4. 9. penyakit jantung lain. kollaps bronchial pada tekanan ekspirasi (emfisema). misal : bronchodilator. ABGs : menunjukkan proses penyakit kronis. Kimia Darah : alpha 1-antitrypsin dilakukan untuk kemungkinan kurang pada emfisema primer. Cardiac Disritmia Timbul akibat dari hipoxemia. 5. 4. pemeriksaan sitologi untuk menentukan penyakit keganasan atau allergi. efek obat atau asidosis respiratory. 10. E. Pada tahap lanjut timbul cyanosis. merencanakan/evaluasi program. penurunan konsentrasi dan pelupa. menurun pada emfisema. ECG : deviasi aksis kanan. seringkali PaO2 menurun dan PaCO2 normal atau meningkat (bronchitis kronis dan emfisema) tetapi seringkali menurun pada asthma. FEV1/FVC : ratio tekanan volume ekspirasi (FEV) terhadap tekanan kapasitas vital (FVC) menurun pada bronchitis dan asthma. Infeksi Respiratory Infeksi pernafasan akut disebabkan karena peningkatan produksi mukus. Pemeriksaan Fungsi Paru : dilakukan untuk menentukan penyebab dari dyspnea. Gagal jantung Terutama kor-pulmonal (gagal jantung kanan akibat penyakit paru). dengan nilai saturasi Oksigen <85%. dizzines. harus diobservasi terutama pada klien dengan dyspnea berat. memperkirakan tingkat disfungsi dan untuk mengevaluasi efek dari terapi. P pada Leads II. Tanda yang muncul antara lain : nyeri kepala. peningkatan rangsangan otot polos bronchial dan edema mukosa. Pada awalnya klien akan mengalami perubahan mood. Stress Test : menolong mengkaji tingkat disfungsi pernafasan. gel. menentukan abnormalitas fungsi tersebut apakah akibat obstruksi atau restriksi. 3.

penggunaan otot bantu pernafasan Suara nafas abnormal seperti : wheezing. crackles Batuk (persisten) dengan/tanpa produksi sputum. Penyakit ini sangat berat.Merupakan komplikasi mayor yang berhubungan dengan asthma bronchial. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN COPD Intervensi dan rasional pada penyakit ini didasarkan pada konsep Nursing Intervention Classification (NIC) dan Nursing Outcome Classification (NOC) Tabel 4 : Rencana Asuhan keperawatan Klien COPD No Diagnosa Keperawatan Perencanaan (NANDA) Tujuan (NOC) Intervensi (NIC) 1. (1 – 5) setelah diberikan perawatan selama……. Hari.. Penggunaan otot bantu pernafasan dan distensi vena leher seringkali terlihat. kental) Menurunnya energi/fatique Data-data Klien mengeluh sulit untuk bernafas Perubahan kedalaman/jumlah nafas. dengan kriteria : • Tidak ada demam • Tidak ada cemas • RR dalam batas normal • Irama nafas dalam batas normal • Pergerakan sputum keluar dari jalan nafas . Bersihan jalan nafas tak efektif yang berhubungan dengan : Bronchospasme Peningkatan produksi sekret (sekret yang tertahan. ronchi. potensial mengancam kehidupan dan seringkali tidak berespon terhadap therapi yang biasa diberikan. Status Respirasi : Kepatenan Jalan nafas # dengan skala…….

lemah. Terapi oksigen g. Monitoring respirasi i. Manajemen asam dan basa .• Bebas dari suara nafas tambahan a. Pemberian posisi h. Fisioterapi dada e. Tidak mampu mengeluarkan sekret Nilai ABGs abnormal (hipoxia dan hiperkapnia) Perubahan tanda vital. Monitoring tanda vital 2. air trapping). Manajemen jalan nafas b. Aspiration precautions d. Kerusakan Pertukaran gas yang berhubungan dengan : Kurangnya suplai oksigen (obstruksi jalan nafas oleh sekret. Penurunan kecemasan c. Menurunnya toleransi terhadap aktifitas. Hari dengan kriteria : • Status mental dalam batas normal • Bernafas dengan mudah • Tidak ada cyanosis • PaO2 dan PaCO2 dalam batas normal • Saturasi O2 dalam rentang normal a. Latih batuk efektif f. Destruksi alveoli Data-data : Dyspnea Confusion. Surveillance j. bronchospasme. Status Respirasi : Pertukaran gas # dengan skala ……. (1 – 5) setelah diberikan perawatan selama…….

Manajemen cairan b. Tingkatkan keiatan e. tonus otot jelek Dilaporkan adanya perubahan sensasi rasa Tidak bernafsu untuk makan. Data : Penurunan berat badan Kehilangan masa otot. nausea/vomiting. Ketidakseimbangan nutrisi : Kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan Status Nutrisi : Intake cairan dan makanan gas # dengan skala ……. Status diet No Diagnosa Keperawatan Perencanaan (NANDA) Tujuan (NOC) Intervensi (NIC) dengan : Dyspnea. (1 – 5) setelah diberikan a. tidak tertarik makan perawatan selama……. Monitoring tanda vital 3. Hari dengan kriteria : • Asupan makanan skala (1 – 5) (adekuat) • Intake cairan peroral (1 – 5) (adekuat) • Intake cairan (1 – 5) (adekuat) Status Nutrisi : Intake Nutrien gas # dengan skala ……. Monitoring cairan c. fatique Efek samping pengobatan Produksi sputum Anorexia. Manajemen jalan nafas c. Terapi oksigen f. Latih batuk d.tubuh b. (1 – 5) . Monitoring respirasi g.

Monitoring tanda vital k. (1 – 5) setelah diberikan perawatan selama……. Kontroling nutrisi i. Terapi menelan j. Manajemen nutrisi f. Hari dengan kriteria : • Intake kalori (1 – 5) (adekuat) • Intake protein. Terapi nutrisi g. Manajemen gangguan makan e. Konseling nutrisi h.setelah diberikan perawatan selama……. Hari dengan kriteria : • Mampu memeliharan intake kalori secara optimal (1 – 5) (menunjukkan) • Mampu memelihara keseimbangan cairan (1 – 5) (menunjukkan) • Mampu mengontrol asupan makanan secara adekuat (1 – 5) (menunjukkan) d. Bantuan untuk peningkatan BB l. karbohidrat dan lemak (1 – 5) (adekuat) Kontrol Berat Badan gas # dengan skala ……. Manajemen berat badan Keterangan : Untuk intervensi secara kronologi dapat dilihat dari aktifitas tindakan yang dapat anda temukan dalam buku Nursing Intervention Classification (NIC) dan Nursing Outcome Classification (NOC) Kanker paru-paru .

-C34. Halaman ini belum atau baru diterjemahkan sebagian dari bahasa Inggris. Bantulah Wikipedia untuk melanjutkannya. ICD-10 ICD-9 DiseasesDB MedlinePlus eMedicine MeSH C33. Lihat panduan penerjemahan Wikipedia. cari Kanker paru-paru Klasifikasi dan bahan-bahan eksternal Cross section of a human lung. terutama asap rokok [1] . 162 7616 007194 med/1333 med/1336 emerg/335 radio/807 radio/405 radio/406 D002283 Kanker paru-paru adalah pertumbuhan sel kanker yang tidak terkendali dalam jaringan paru yang dapat disebabkan oleh sejumlah karsinogen lingkungan. the black areas indicate that the patient was a smoker. The white area in the upper lobe is cancer. Sebagian besar kanker paru-paru berasal dari sel-sel di dalam paru-paru. Frequency of histological types of lung cancer[3] Histological type Frequency (%) . kanker paru merupakan penyebab kematian utama dalam kelompok kanker baik pada pria maupun wanita[2]. ensiklopedia bebas Langsung ke: navigasi. tetapi kanker paru-paru bisa juga berasal dari kanker di bagian tubuh lainnya yang menyebar ke paru-paru. Menurut World Health Organization (WHO).Dari Wikipedia bahasa Indonesia.

prostat. yang bisa berasal dari paru-paru atau merupakan penyebaran dari organ lain. lambung. kanker ini disebut karsinoma bronkogenik.4 16. Banyak kanker yang berasal dari tempat lain menyebar ke paru-paru. usus besar. rektum. Biasanya kanker ini berasal dari payudara.9 Lebih dari 90% kanker paru-paru berawal dari bronki (saluran udara besar yang masuk ke paru-paru). Sarkoma (ganas) Limfoma merupakan kanker dari sistem getah bening. tulang dan kulit. Hamartoma kondromatous (jinak) 3. [sunting] Penyebab utama Sub-types of non-small cell lung cancer in smokers and never-smokers[6] Frequency of nonsmall cell lung cancers (%) Histological sub-type Smokers 42 39 4 Squamous cell lung carcinoma Adenocarcinoma (not otherwise specified) Adenocarcinoma Bronchioloalveolar carcinoma Neversmokers 33 35 10 . 3. 2. Kanker ini bisa merupakan pertumbuhan tunggal.Non-small cell lung carcinoma Small cell lung carcinoma Carcinoid[4] Sarcoma[5] Unspecified lung cancer 80. buah zakar. Tumor paru-paru yang lebih jarang terjadi adalah: 1. 4. Karsinoma sel skuamosa Karsinoma sel kecil atau karsinoma sel gandum Karsinoma sel besar Adenokarsinoma Karsinoma sel alveolar berasal dari alveoli di dalam paru-paru. leher rahim.8 0. Adenoma (bisa ganas atau jinak) 2.8 0.1 1. tiroid. tetapi seringkali menyerang lebih dari satu daerah di paru-paru. yang terdiri dari: 1. ginjal.

Kasuskkasus stadium dini/ awal sering ditemukan tanpa sengaja ketika seseorang melakukan pemeriksaan kesehatan rutin. Gejala pada kanker paru umumnya tidak terlalu kentara. Napas sesak dan pendek-pendek. arsen. 4. klorometil eter. 8. Kadang kanker paru (terutama adenokarsinoma dan karsinoma sel alveolar) terjadi pada orang yang paru-parunya telah memiliki jaringan parut karena penyakit paru-paru lainnya. 7. Batuk yang terus menerus atau menjadi hebat. sehingga kebanyakan penderita kanker paru yang mencari bantuan medis telah berada dalam stadium lanjut. kromat. Kelelahan kronis Kehilangan selara makan atau turunnya berat badan tanpa sebab yang jelas. Pembengkakan di wajah atau leher. Beberapa kasus terjadi karena adanya pemaparan oleh gas radon di rumah tangga. 2. Dahak berdarah. nyeri atau retak tulang dengan sebab yang tidak jelas. Bronkoskopi. Biopsi Jarum Halus. berubah warna dan makin banyak. 6. nikel. Semakin banyak rokok yang dihisap. gas mustard dan pancaran oven arang bisa menyebabkan kanker paru-paru. Hanya sebagian kecil kanker paru-paru (sekitar 10%-15% pada pria dan 5% pada wanita) yang disebabkan oleh zat yang ditemui atau terhirup di tempat bekerja. 3. Pengobatan kanker paru dapat dilakukan dengan cara-cara seperti . CT Scan Toraks. Suara serak/parau.Carcinoid Other 7 8 16 6 Merokok merupakan penyebab utama dari sekitar 90% kasus kanker paru-paru pada pria dan sekitar 70% pada wanita. 5. Bekerja dengan asbes. radiasi. dan USG Abdomen. meskipun biasanya hanya terjadi pada pekerja yang juga merokok. [sunting] Diagnosis dan pengobatan Beberapa prosedur yang dapat memudahkan diagnosa kanker paru antara lain adalah foto X-Ray. Sakit kepala. [sunting] Gejala kanker paru Gejala paling umum yang ditemui pada penderita kanker paru adalah: 1. seperti tuberkulosis dan fibrosis. semakin besar resiko untuk menderita kanker paru-paru. Peranan polusi udara sebagai penyebab kanker paru-paru masih belum jelas.

Pembedahan dengan membuang satu bagain dari paru . penghambat pertumbuhan dan gen pengkontrol proses lain dalam sel agar berjalan baik.kadang melebihi dari tempat ditemukannya tumor dan membuang semua kelenjar getah bening yang terkena kanker. kanker nasofaring. kanker prostat. Kesimpulan : Kanker adalah penyakit yang berhubungan dengan proses pertumbuhan dan perkembangan sel yang tidak terkontrol.. [sunting] Refensi 1. Kanker dapat terjadi pada siapa saja. umur berapa saja dan dimana saja dalam tubuh manusia. . 13 June 2006 Kanker Paru Kanker Dalam keadaan normal sel akan tumbuh sesuai kebutuhan tubuh dengan melalui tahapan tahapan dalam prosesnya.1. Bra Home Lung Cancer 101 Lung Cancer 101 Tuesday. ^ (en) Ferlay J. Jika gangguan itu lebih berat dan gangguan pertumbuhan berlangsung terus dan menyebar ke tempat lain (metastasis) kita sebut dengan tumor ganas atau kanker. kanker leher rahim. ^ (id) Roche Indonesia: Kanker paru 2. kanker usus. Besar kecilnya kemungkinan seseorang untuk menderita kanker jenis tertentu tergantung faktor risiko yang dimilikinya. Pertumbuhan sel yang berjalan dalam beberapa tahapan dan dikontrol oleh gen (pembawa informasi) yang sebagian bertindak sebagai pemicu. Mekanisme itu penting sebagai pengganti sel sel tubuh yang rusak dan perlu peremajaan. Kemoterapi Meminum obat oral dengan efek samping tertentu yang bertujuan untuk memperpanjang harapan hidup penderita. • • • Radioterapi atau radiasi dengan sinar-X berintensitas tinggi untuk membunuh sel kanker. Gangguan pada gen atau proses pertumbuhan itu dapat menyebabkan sel tumbuh tidak terkendali. Kanker yang paling banyak dikenal orang pada orang dewasa adalah kanker payudara. Pada beberapa kondisi tidak semua gangguan itu berkembang cepat namun dapat berhenti sebelum berubah menjadi ganas itulah yang kita kenal dengan tumor jinak. kanker darah dan kanker paru.

Karena fungsinya itu dapat dipahami bahwa paru paling terbuka dengan polusi udara yang diisap termasuk asap rokok yang dihisap dengan penuh kesengajaan itu. Pada tahap berikutnya setelah metabolisme maka sisa-sisa metabolisme itu terutama karbondioksida (CO2) akan dibawa darah untuk dibuang kembali ke udara bebas melalui paru pada saat membuang napas. antara lain udara berpolusi sehingga kadar O2 sedikit. Untuk menjawab pertanyaan tersebut perlu dipahami dahulu tentang fungsi organ paru. kantung udara Paru adalah organ tubuh yang berperan dalam sistem pernapasan (respirasi) yaitu proses pengambilan oksigen (O2) dari udara bebas saat menarik napas. jantung atau gangguan pada darah. PARU Keterangan Gambar a. melalui saluran napas (bronkus) dan sampai di dinding alveoli (kantong udara) O2 akan ditranfer ke pembuluh darah yang di dalamnya mengalir anatara lain sel sel darah merah untuk dibawa ke sel-sel sel di berbagai organ tubuh lain sebagai energi dalam proses metabolisme. banyak diderita lakilaki dewasa ( usia > 40 tahun) dan perokok.Kanker paru merupakan jenis kanker yang paling sulit diobati. Secara khusus dikatakan paru adalah tempat tubuh mengambil darah bersih (kaya O2) dan tempat pencucian darah yang berasal dari seluruh tubuh( banyak mengandung CO2) sebelum ke jantung untuk kembali diedarkan ke seluruh tubuh . saluran napas b. Berbagai kelainan dapat menganggu sistem pernapasan itu. jantung c. gangguan di saluran napas/paru. Mengapa kanker paru sulit diobati.

tidak semua perokok akhirnya menderita kanker paru. Faktor Risiko Kanker Paru • • • • • • • • • Laki-laki Usia lebih dari 40 tahun Pengguna tembakau (perokok putih. Cairan di rongga pleura yang sering ditmukan pada kanker paru juga menganggu fungsi paru. kretek atau cerutu) Hidup atau kontal erat dengan lingkungan asap tembakau (perokok pasif) Radon dan asbes Lingkungan industri tertentu Zat kimia. Kanker paru paling banyak ditemukan pada laki-laki dewasa dan perokok. Tumor yang menekan dinding dada dapat menyebabkan kerusakan/destruksi tulang dinding dada dan menimbulkan nyeri. Faktor lain yang dapat menjadi faktor risiko terutama berkaitan dengan udara yang dihirup. Bagaimanapun. Keluhan yang sering timbul pada penyakit paru disebut keluhan respirasi dapat terjadi hanya satu dan terkadang lebih dari satu. Definisi khusus untuk kanker paru primer yakni tumor ganas yang berasal dari epitel (jaringan sel) saluran napas atau bronkus.Secara umum gangguan pada pada saluran napas dapat merupa sumbatan pada jalan napas (obstruksi) atau gangguan yang menyebabkan paru tidak dapat kembang secara sempurna (restriktif). Berhenti dari merokok akan mengurangi dengan sangat berarti risiko seseorang terkena kanker paru. obat-obatan. Lebih dari 80% kanker paru berhubungan dengan perokok. seperti arsenik Beberapa zat kimia organik Radiasi dari pekerjaan. Risiko pada bekas perokok lebih besar daripada orang-orang yang tidak pernah merokok. lingkungan . mencakup keganasan yang berasal dari paru sendiri (primer) atau penyebaran (metastasis) tumor dari organ lain. antara lain • • • • • Sesak napas dengan atau suara mencicit (mengi) Rasa berat di dada jika bernapas Batuk Batuk darah Nyeri dada Kanker Paru Kanker Paru dalam arti luas adalah semua penyakit keganasan di paru. Tumor yang besar di paru dapat menyebabkan sebagian paru dan/saluran napas kolaps. sedangkan tumor yang terdapat dalam saluran napas dapat menyebabkan sumbatan pada saluran napas.

Diagnosis Kanker Paru Seseorang dapat didiagnosis karena ada gejala atau tanda. Tidak heran jika kebanyakan penderita kanker paru datang setelah staging atau tingkatan penyakitnya lanjut. Untuk bukan perokok. bahkan boleh jadi kadang kadang lebih keras lagi. tetapi jika kanker masih terlalu kecil sering belum menimbulkan gejala dan tanda. sebaiknya segera meneriksakan diri dan dirujuk ke dokter spesialis paru Pencegahan Kanker Paru Penelitian telah membuktikan bahwa lebih dari 80 % kanker paru berhubungan dengan merokok. Program berhenti merokok. Jadi cara utama untuk seseorang mengurangi risiko terkena kanker paru adalah berhenti merokok. diet. Risiko pada bekas perokok lebih besar daripada orang-orang yang tidak pernah merokok. Berhenti merokok akan mengurangi dengan sangat berarti risiko seseorang terkena kanker paru. Usaha pencegahan kanker yang lain dikenal dengan istilah kemopreventif (Chemoprevention). cara ini sepertinya hal yang mudah tapi tidak untuk perokok. Hasilnya uji coba kemopreventif masih belum telralu mengembirakan berbeda denngan program berhenti merokok yang secara nyata telah menurunkan jumlah penderita kanker paru laki laki di Amerika karena meningkatnya jumlah orang yang berhenti merokok.• Polusi udara Seseorang yang termasuk golongan risiko tinggi (GRT) jika mempunyai keluhan napas (gangguan respirasi) seperti batuk. Bagaimanapun banyak perokok yang telah mencoba berhenti merokok dan mengatakan usaha untuk berhenti merokok adalah hal luar biasa sulit. tetapi juga untuk mengurangi kesempatan akan berulangnya kanker (relapps). Seseorang perokok yang telah berhasil berhenti 10 tahun lamanya berarti telah dapat menurunkan risiko 30 -50 persen untuk terkena kanker paru. Kemopreventif adalah penggunaan bahan alami. dan terapi hormone. Setelah datang ke dokter akan dicari kelainan pada seluruh tubuh atau fisik diagnostik dan . Kasus kasus staging awal (dini) sering ditemukan tanpa sengaja ketika seseorang melakukan pemeriksaan kesehatan rutin (check-up kesehatan). metode diet tertentu dan zat kimia sintetis untuk mencegah perkembangan penyakit. Faktor utama keberhasilan untuk program berhenti merokok adalah niat dan diikuti dengan bantuan lingkungan sekitarnya agar usaha itu berhasil dengan sukses. Kecanduan nikotin pada perokok dapt disamakan dengan sakau pada pengguna heroin. Ini barangkali catatan kenapa banyak sekali perokok berusaha untuk berhenti namun gagal. Misalnya vitamin. nyeri dada. sesak napas. Banyak cara dan bahan yang sedang diuji cobakan dengan tujuan bukan hanya mengurangi resiko kanker.

Tergantung pada organ-organ yang dirusak. nyeri tulang.selanjutnya akan dilakukan pemeriksaan tambahan agar didapat kepastian tentang penyakitnya. Hal itu disebabkan tumor masih dengan volume kecil dan belum menyebar sehingga tidak menimbulkan . sakit yang menyertainya Retak tulang yang tidak berhubungan dengan luka akibat kecelakaan Gejala-gejala pada saraf (seperti: cara berjalan yang goyah dan atau kehilangan ingatan sebagian) Bengkak pada leher dan wajah Kehilangan berat badan yang tidak diketahui penyebabnya Pemeriksaan fisis Dokter terkadang tidak mendapatkan kelainan pada pemeriksaan fisis penderita kanker paru staging awal penyakitnya. Tanda dan gejala mungkin tidak kelihatan sampai penyakit telah mencapai tahap lanjut. bahu atau nyeri punggung yang tidak berhubungan terhadap nyeri akibat batuk yang terus menerus Perubahan warna pada dahak Meningkatnya jumlah dahak Dahak berdarah Bunyi menciut-ciut saat bernafas pada bukan penderita asma Radang yang kambuh Sulit bernafas Nafas pendek Serak Suara kasar saat bernafas Selain dari itu juga barangkali tanda-tanda dan gejala-gejala disebabkan oleh penyebaran kanker paru pada bagian tubuh lainnya. Tanda dan gejala Tanda dan gejala kanker paru membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dapat diketahui dan seringkali dikacaukan dengan gejala dari kondisi yang kurang serius. • • • • • • • Kelelahan kronis Kehilangan nafsu makan Sakit kepala. • • • • • • • • • • • • Batuk pada perokok yang terus menerus atau menjadi hebat Batuk pada bukan perokok yang menetap sampai dengan lebih dari dua minggu Dada.

Kanker paru juga dapat menyebabkan timbulnya tumpukan cairan di rongga pleura atau menekan pembuluh darah balik (vena). dll. Tidak jarang juga pasien datang dengan kelumpuhan akibat penyebaran di otak atau tulang belakang (vetebra). Penting diingat tidak semua jenis pemeriksaan harus dilakukan pada pasien tetapi berdasarkan kondisi umum dan penyakit pada saat datang ke dokter. Pada kasus dengan staging lanjut akan dapat ditemukan kelainan tergantung pada gangguan yang ditimbulkan oleh tumor primer atau penyebarannya. Kelainan yang dapat ditemukan berkaitan penyebaran kanker. misal pasien datang dengan sesak napas yang hebat dan muka/leher dan lengan bengkak karena tumor menekan pembulu darah balik (sindrom vena kava superior) atau nyeri yang hebat terutama jika kanker telah merusak tulang. Dokter akan selalu meminta persetujuan pasien dan keluarganya untuk setiap pemeriksaan yang dilakukan. Kelainan yang didapat tergantung letak dan besar tumor sehingga menimbulkan gangguan.gangguan di tempat lain. Pemeriksaan (prosedur diagnosis) Ditemukannya jenis sel (histologis) kanker adalah syarat utama untuk mengatakan seseorang menderita kanker dan selanjutnya dapat ditentukannya staging (tingkatan) penyakitnya secepat mungkin untuk menentukan pengobatan terbaik. Kelainan yang dapat ditemukan berkaitan penyebaran kanker. . Pada kondisi umum yang buruk terkadang dokter akan memutuskan memberi pengobatan sebelum diagnosis pasti muncul. Pada kasus dengan staging lanjut akan dapat ditemukan kelainan tergantung pada gangguan yang ditimbulkan oleh tumor primer atau penyebarannya. Hal itu disebabkan tumor masih dengan volume kecil dan belum menyebar sehingga tidak menimbulkan gangguan di tempat lain. Jenis sel kanker paru Beberapa pemeriksaan yang dilakukan dokter spesialis paru untuk mendapatkan jenis sel kanker paru antara lain : Dokter terkadang tidak mendapatkan kelainan pada pemeriksaan fisis penderita kanker paru staging awal penyakitnya. Kanker paru juga dapat menyebabkan timbulnya tumpukan cairan di rongga pleura atau menekan pembuluh darah balik (vena). misalnya benjolan di leher. Tidak jarang juga pasien datang dengan kelumpuhan akibat penyebaran di otak atau tulang belakang (vetebra). ketiak. ketiak. misalnya benjolan di leher. Kelainan yang didapat tergantung letak dan besar tumor sehingga menimbulkan gangguan. dll.

Bahan hasil pemeriksaan ini akan diletakkan dalam gelas objek dansegera direndam dalam alkohol 98% dan dikirim ke patologi anatomi untuk di proses. hasil punksiini akan dianalisa dan dikirim ke laboratorium patologi anatomi untuk di proses.Pemeriksaan (prosedur diagnosis) Ditemukannya jenis sel (histologis) kanker adalah syarat utama untuk mengatakan seseorang menderita kanker dan selanjutnya dapat ditentukannya staging (tingkatan) penyakitnya secepat mungkin untuk menentukan pengobatan terbaik. Jika pasien merasa tidak enak. Pada saat melakukan terkadang dibutuhkan anestesi (bius) lokal saja. misal pasien datang dengan sesak napas yang hebat dan muka/leher dan lengan bengkak karena tumor menekan pembulu darah balik (sindrom vena kava superior) atau nyeri yang hebat terutama jika kanker telah merusak tulang. Dokter akan selalu meminta persetujuan pasien dan keluarganya untuk setiap pemeriksaan yang dilakukan. Punksi pleura yaitu mengambil cairan dari rongga pleura (lapisan paru) jika ditemukan cairan akibat kanker paru. jika volume cairan dikit dokter paru akan melacak lokasi yang tepat dengan bantuan USG toraks. Jika volume cairan cukup banyak dokter spesialis paru akan sekaligus mengeluarkan sampai 1. Misalnya untuk tumor yang ditemukan di leher. sesak atau batuk • • . Dokter paru biasanya dapat melakukan dengan cepat dan hasil kepositifannya cukup tinggi. Punksi ini menggunakan jarum infus ukuran 14. ketiak atau dinding dada yang dapat diraba. Biopsi jarum halus: yaitu mengambil spesimen jaringan dari tumor yang superfisial menggunakan jarum halus. Kepositfan pemeriksaan ini < 10% dan sangat bergantung pada tehnik pasien membantukkan dahak yang akan diperiksa. hasil positif biasanya ditemukan jika kanker ada di dalam saluran napas. Pada kondisi umum yang buruk terkadang dokter akan memutuskan memberi pengobatan sebelum diagnosis pasti muncul. Dahak yang diperiksa harus dahak segar pagi hari dan segera dibawa ke laboratorium patologi anatomi untuk diproses. Hasil positif tidak selalu didapt dengan tehnik ini tetapi harus dilakukan. Tehnik ini sangan sederhana dan jarang menimbulkan komplikasi berat. kanker kelenjar getah bening. Jenis sel kanker paru Beberapa pemeriksaan yang dilakukan dokter spesialis paru untuk mendapatkan jenis sel kanker paru antara lain : • Sitologi sputum: menemukan sel kanker pada sputum atau dahak penderita. Tetapi perlu diingat terkadang hasilnya meski positif tapi bukan berupa sebaran kanker paru. Penting diingat tidak semua jenis pemeriksaan harus dilakukan pada pasien tetapi berdasarkan kondisi umum dan penyakit pada saat datang ke dokter. dll.500 cc tergantung toleransi pasien. misalnya tuberkulosis(TBC).

Kanker paru jenis karsinoma bukan sel kecil (KBKBSK= NSCLC) yang terbanyak yaitu sekitar 80% dari kanker paru-paru. apakh fungsi jantung baik. Ada beberapa jenis KPKBSK yang dapat dikenali diantaranya: • • • • Karsinoma epidermoid (disebut juga karsinoma sel skuamosa) Adenokarsinoma. Cara lain adalah dengan mengambil bahan atau spesiem yang ada di saluran napas dengan bantuan prosedur bronkoskopi. Punksi pleura dan pemasangan selang dada kebanyakan dilakukan dokter spesialis paru dengan bius lokal.Dokter spesialis paru biasa melakukan ini dengan bius lokal dengan tingkat kepositifan yang besar. 2. Kepositifnya juga tidak terlalu besar. TTNA ( Transthoracal needle aspiration): yaitu mengambil spesimen jaringan dengan menggunakan jarum halus menembus dinding dada. • Biopsi pleura yaitu mengambil sedikit jaringan pleura jika didapat rongga pleura akibat penumpukan cairan. Jika ditemukan kelaianan pada saluran napas itu merupakan poin bahwa tumor di paru itu adalah kanker paru. bersifat lebih agresif tetapi sangat responsif dengan pengobatan. Kanker paru jenis karsinoma sel kecil (KPKSK = SCLC) merupakan 20% dari seluruh kanker paru. Tetapi pada kondisi berat harus dilakukan di kamar operasi dengan bius umum. Bronkoskopi memerlukan persiapan yang teliti. adalah jenis sel kanker terbanyak dan terutama pada perokok Karsinoma sel besar Lain-lain:merupakan jenis yang jarang ditemukan misalnya karsinoid. karsinoma bronkoalveolar. . Pada kasus dengan jumlah cairan yang terus banyak. Bronkoskopi adalah tehnik pemeriksaan memakai bronkoskop untuk melihat kelainan dalam saluran napas dan jika ditemukan kelainan akan dilakukan tindakan bilasan. Cara ini biasanya dilakukan bersamaan dengan punksi pleura.batuk maka aliran cairan harus segera dihentikan. Dapat dilakukan dengan berpedoman pada foto toraks atau dengan tuntutan CT-scan dll. • • Jenis sel kanker paru secara garis besar dibagi atas 2 kelompok 1. sikatan dan biopsi dan bahkan TBLB (trans-bronchial lung biopsy). apkah dsistem perdarahan baik atau komplikasi lain karena tehnik ini dapat menimbulkan komplikasi serius meski angka kejadiannyanya sangat kecil. maka dokter spesialis paru akan mengalirkan dengan cara memasang selang dada (WSD) sebagai usaha mengurangi keluhan dan paru dapat mengembang maksimal.

atau biopsi. CT/MRI kepala untuk menilai metastasis di otak. Untuk kasus yang duduga staging awal. Pemeriksaan lain lebih ditujuan untuk melihat apakah telah terjadi penyebaran (metastasis) jauh :. Untuk kanker paru pada kondisi tertentu dokter akan melakukan CT-scan ulang jika pasien membawa CT-scan lama yang telah dilakukan > 1 bulan. Pada pertemuan pertama dokter akan melakukan foto toraks (foto polos dada). Sama perti pencarian jenis histologis kanker. Bone scan /MRI untuk menilai metastasis di tulang. • Bronkoskopi adalah tehnik pemeriksaan yang menggunakan alat bronkoskop yang dimasukkan ke dalam saluran napas sehingga dapat menilai keaadan saluran napas. Bronkoskopi diperlukan untuk menlai apakah akan timbul kegawatan misalnya sumbatan pada saluran napas akibat tumor dalam saluran napas atau penekanan dari luar. ukuran tumor ada tidaknya cairan. Foto toraks belum cukup karena tidak dapat menentukan keterlibatan kelenjar getah bening dan metastasis luar paru. • • • . pemeriksaan untuk menetukan staging juga tidak mesti sama pada semua pasien tetapi masing masing pasien mempunyai prioriti pemeriksaan yang harus segera dilakukan tergantung kondisinya pada saat datang. Pemeriksaan lain. sikat. Pemeriksaan tambaban ini dilakukan jika ada keluhan atau pasien dengan staging awal dan akan dioperasi. antara lain MRI toraks kurang bermanfaat untuk menentukan staging kanker paru. dan sekaligus dapat mengambil spesimen untuk pemeriksaan sel kanker dengan cara bilasan.Staging (tingkatan) kanker paru Staging kanker paru ditentukan oleh tumor (T). CT-scan toraks : imaging (foto) ini lebih inforamatif karena dapat melihat karakteristik tumor lebih jelas termasuk menentukan ukuran. Jika pasien membawa foto yang telah lebih dari 1 minggu maka akan dibuat foto yang baru. paru kolaps luas menutup tumor sehingga tidak terlihat. Beberapa pemeriksaan tambahan harus dilakukan dokter spesialis paru untuk menentukan staging penyakit. keterlibatan kelenjar getah bening (N) dan penyebaran jauh (M). CT-scan dilakukan dengan menggunakan kontras dan sebagai persiapannya pasien harus puasa sekitar 4 jam sebelum CT dilakukan dan hanya dapat dilakukan jika fungsi ginjal baik 9craetinine darah normal). Tetapi foto toraks hanya dapat metentukan lokasi tumor. Bahkan pada beberapa kondisi misalnya volume cairan yang banyak. USG abdomen: dilakukan jika pada pemeriksaan fisik ditemukan pembengkakan hati tetapi dengan CT tehniknya lebih sederhana dan hasilnya lebih informatif. untuk kemudahannya maka CT-scan toraks dilakukan sampai kelenjar suprarenal sehingga dapat dipastikan belum terjadi penyebaran ke hati atau oragan perut lainnya. lokasi dan apakah sudah terjadi keterlibatan kelenjar getah bening di dada serta ada tidaknya penyebaran di paru.

Staging ini penting untuk menentukan pilihan terapi yang harus segera diberikan pada pasien. Staging berdasarkan ukuran dan lokasi tumor primer. atau penyebaran jauh (M) Kanker Paru Jenis Karsinoma Sel Kecil (KPKSK) Staging kanker paru dibagi berdasarkan jenis histologis kanker paru. Staging berdasarkan ukuran dan lokasi tumor primer. Kanker Paru Jenis Karsinoma Bukan Sel Kecil (KPKBSK) • Staging/Tingkat I A/B Satu tumor ukuran kurang atau lebih dari 3 cm pada satu lobus paru Staging/Tingkat II A/B Satu tumor dalam lobus paru melekat ke dinding dada atau menyebar ke kelenjar getah bening di dalam paru yang sama Staging/Tingkat III A Tumor yang menyebar ke kelenjar getah bening didalam area trakeal memasuki dinding dada dan diaphragma Staging/Tingkat III B Tumor yang menyebar ke nodes getah bening pada lawan paru. apakah KPKSK atau KPKBSK. keterlibatan organ dalam dada/dinding dada (T). Staging ini penting untuk menentukan pilihan terapi yang harus segera diberikan pada pasien. penyebaran kelenjar getah bening (N). atau di dalam • • • . apakah KPKSK atau KPKBSK. keterlibatan organ dalam dada/dinding dada (T). atau penyebaran jauh (M) Kanker Paru Jenis Karsinoma Sel Kecil (KPKSK) • • • • Staging/Tingkatan Terbatas Tumor ditemukan didalam satu paru dan penjelaran ke kelenjar getah bening dalam paru yang sama Staging/Tingkatan Luas Tumor telah menyebar keluar dari satu paru atau ke organ lain diluar paru.Staging (Penderajatan atau Tingkatan) Kanker Paru Staging kanker paru dibagi berdasarkan jenis histologis kanker paru. penyebaran kelenjar getah bening (N).

dapat diberikan tunggal untuk mengatasi masalah di paru (terapi lokal) atau gabungan dengan kemoterapi. Diagnosis sebelum bedah mungkin saja akan berubah setelah bedah. Radioterapi Radioterapi atau iradiasi diberikan pada staging III dan IV KPKBSK. Bedah yang dilakukan adalah dengan membuang 1 lobus paru (kadang lebih) tempat ditemukannya tumor dan juga membuang semua kelenjar getah bening mediastinal. Pilihan pengobatan untuk kanker paru Ada beberapa pilihan untuk pengobatan kanker paru pada masing-masing tingkatan yang dapat ditawarkan jika diagnosis pasti yaitu jenis histologis dan staging penyakit telah dapat ditentukan Mengenai keputusan pilihan pengobatan pasien harus dibuat oleh kedua belah pihak yaitu pasien dan dokter yang merawat. Pada kasus khusus misal dengan penyebaran kepala dan hanya ditemukan 1 tumor di otak dan mengganggu kualiti hidup pasien dapat dilakukan pembuangan tumor di kepala dengan bedah.leher. Dokter juga harus menjelaskan kelebihan dan kekurangan adri pilihan terapi itu termasuk kebutuhan biaya. Bedah Hanya dilakukan untuk KPKBSK staging I atau II atau untuk pengobatan paliatif yaitu pada kondisi mengancam nyawa misal batuk darah masif. Hal itu terjadi karena keterbatasan alat bantu diagnosis atau penyakit telah berkembang selama putusan bedah dilakukan. Di Indonesia (Jakarta) telah dapat melakukan terapi tampa pembedahan di kepala dengan menggunakan cyber knife. gawat napas yang mengancam jiwa. Pasien yang diputuskan akan mendapat radioterapi akan dirujuk dokter spesialis paru ke dokter spesialis radioterapi dan akan kembali ke dokter semula jika terapi tidak memberikan respons atau radioterpai telah selesai atau muncul efek samping akibat radioterapi itu. atau nyeri hebat. jumlah sel darah putih atau . Dokter harus menjelaskan mengapa pilihan terapi itu ditawarkan kepada pasien dan keluarganya. • Staging/Tingkat IV Tumor yang menyebar kebagian lain paru atau organ lain di luar paru. Radioterapi dapat diberikan jika sistem homeostatik (HB. Akibatnya mungkin saja setelah bedah pasien harus mendapat radiasi atau kemoterapi segera setelah luka operasinya sembuh.

Pemberian kemoterapi harus dilakukan di rumah sakit karena diberikan dalam prosedur tertentu atau ptotokol yang berbeda tergantung pada jenis obat antikanker yang digunakan.000/dl. Kemoterapi Kemoterapi adalah memberikan obat anti-kanker pada pasien dengan cara diinfuskan. Dokter akan melakukan koreksi dan jika telah memenuhi syarat maka radiasi dapat dilakukan kembali. jumlah sel darah putih atau lekosit dan jumlah trombosit darah) harus baik. Untuk kasus KPKSK radiasi kepala harus diberikan setelah kemoterapi selesai diberikan 6 siklus. Pada kemoterapi diberikan lebih dari 1 jenis obat antikanker dan biasanya 2 macam. Sinar yang diberikan tergantung pada alat yang ada di rumah sakit. Efek samping lain yang dapat menganggu proses pemberian adalah gangguan fungsi hemostatik HB < 10 gr%. Efek samping kemoterapi kadang sangat mengganggu. misalnya COBALT atau LINAC Evaluasi efek samping dilakukan setiap setelah pemberian 5x (1. radiasi tulang jika tumor telah menyebar ke tulang.000 cGy) . fungsi hati. Leukosit < 3000/dl atau trombosit < 100. Radioterapi biasanya diberikan 5 hari dalam seminggu dengan dosis rata rata 200 cGy perhari hingga dosis 5000 – 6000 cGy.leukosit dan trombosit darah) baik. fungsi ginjal dan fungsi hemostatik (HB. misal HB < 10 gr %. Radioterapi juga dapat diberikan pada lokasi bukan tumor primer. Leukosit < 3. tujuannya agar lebih banyak sel kanker yang dapat dibunuh dengan jalur yang berbeda.000 cGy) jika ada gangguan radiasi akan dihentikan sementara. Pemberian kemoterapi memerlukan beberapa syarat antar lain kondisi umum pasien baik yaitu masih dapat melakukan aktiviti sendiri. mencret dan bahkan alergi. misalnya radiasi kepala jika tumor telah menyebar ke kepala. misalnya rontoknya rambut s/d botak.000/dl. Jika pada penelian respons positif (tumor mengecil atau menetap) maka radiasi dapat diteruskan.000/dl atau trombosit < 100. Efek samping dinilai sejak mulai kemoterapi I diberikan. Efek samping itu tidak sama waktu muncul dan berat ringannya pada setiap orang dan juga tergantung pada jenis obat yang digunakan. . Kemoterapi adalah pilihan terapi untuk KPKSK dan KPKBSK stage III/IV. mual muntah. Untuk melihat respons radiasi dokter akan melakukan foto toraks setiap setelah radiasi diberikan 10X (2. Kemoterapi dapat diberikan pada semua jenis kanker paru dan tujuannya bukan hanya membunuh sel kanker pada tumor primer tetapi juga mengejar sel kanker yang menyebar di tempat lain. tetapi jika respons negatif (tumor membesar atau tumbuh yang baru) radiasi harus dihentikan. Kemoterapi dihitung dengan siklus pemberian yang dapat dilakukan setiap 21 – 28 hari setiap siklusnya. semutan.

Jika diputuskan itu pilihan pasien dan keluarga anjurannya adalah pasien tetap kontroil ke dokter spesialis parunya agar dapat dipantau efek samping obat obatan yang digunakan dan dapat memutuskan kapan obat obat alternatif itu tidak bermanfaat dan sebaiknya dihentikan.Efek samping yang berat dapat menghentikan jadwal pemberian. radioterapi atau kemoterapi maka dapat ditawarkan pemberian obat golongan baru dengan mekanisme kerja yang telah teruji dikenal dengan istilah targeted therapy. Jika pada penelian tumor hilang (komplit respons) mengecil sebagian (respons partial) atau tumor menetap tapi respons subyektif baik maka kemoterapi dapat diterudskan samapi 4 – 6 siklus. dokter akan mengkoreksi efek samping yang muncul dengan memberikan obat dan tranfusi darah jika perlu. Terapi lain Dengan berbagai alasan banyak pasien kanker paru memilih obat alternatif yang belum teruji dan bukan standar untuk pengobatan kanker paru. CATATAN PENTING • Pengobatan kanker paru bukan hanya tergantung pada jenis dan staging tetapi pada kondoisi umum pasien. kemoterapi harus dihentikan dan diganti dengan jenis obat anti-kanker yang lain. . Targeted therapy Pada banyak kondisi pasien tidak dapat memenuhi syarat untuk dilakukan pembedahan. Evaluasi hasil kemoterapi dinilai minimal setelah 2 siklus pemberian (sebelum kemoterapi III diberikan) yang dapat merupa respons subyektif yaitu apkah BB meningkat atau keluhan berkurang dan foto toraks untuk melihat kelainan di paru. Sampai saat ini anjuran penggunaan targeted therapy untuk kanker paru adalah sebaiknya setelah kemoterapi diberikan kecuali pada kasus kasus pilihan terapi utama tidak dapat dilakukan. Obat golongan ini diberikan 1x perhari dengan cara diminum. Tetapi jika pada evaluasi terjadi perburukan misalnya tumor membesar atau tumbuh tumor yang baru. Evaluasi dengan menggunakan CT-scan toraks dilakukan setelah pemberian 3 siklus ( sebelum pemberian kemoterapi IV). Dapat terjadi semua memenuhi syarat kecuali kondosi umum maka dokter tidak akan memberikan pilihan terapi apapun lagi. Catatan : seringkali biaya untuk pengobatan alternatif itu lebih mahal dari pilihan pengobatan utama misalnya radiasi atau kemoterapi.

termasuk bronchitis. pada empisema. COPD atau yang lebih dikenal dengan PPOM merupakan suatu kumpulan penyakit paru yang menyebabkan obstruksi jalan napas. Asma ditandai oleh penyempitan jalan napas bronchial. obat obatn itu sebaiknya dengan resep dokter spesilais yang merawat karena menerlukan perubahan sesuai kondosi pasien. Sp. KONSEP DASAR MEDIS 1. empisema.ui. banyak sayuran dan buahan dalah baik sekali.P Email: elisnas@fk. 1999.ac. polusi udara.id This email address is being protected from spam bots. you need Javascript enabled to view it [ Back ] Home | Contact Us | Disclosure | Privacy 03 Mei 2009 Askep COPD A. obstruksi jalan napas disebabkan oleh hperinflasi alveoli. Mengkonsumsi vitamin. PhD. Selama pengobatan standar pasien sangat dianjurkan memakan dengan komposisi seimbang karena tidak ada larangan khusus untuk itu kecuali karena penyakit lain. PPOM paling sering diakibatkan dari iritasi oleh iritan kimia (industri dan tembakau). Bronkhitis kronis dan bronkietasis ditandai dengan pembentukan mucus bronchial yang berlebihan dan batuk yang disebabkan oleh inflamasi kronis bronkiolus dan hipertropi serta hyperplasia kelenjar mukosa. • Dr.• Pengobatan lain yang diberikan adalah obat obat penghilang gejala taua simptomatis. . kehilangan elastisitas jaringan paru dan penyempitan jalan napas kecil. hal 110 ). bronkietaksis dan asma. Definisi a. atau infeksi saluran pernapasan kambuh ( Carpernito. Elisna Syahruddin.

4) Trakea. dan dipisahkan oleh sekat hidung (septum nasi). kedepan berhubungan denga rongga mulut disebut orofaring. fungsi hidung adalah bekerja sebagai saluran udara pernapasan sebagai penyaring udara pernapasan yang dilakukan oleh bulu-bulu hidung dapat menghangatkan udara pernapasan oleh mukosa. terutama beartambahnya resistensi terhadap jalan udara saat ekspirasi. ( Robbins. Trakea disokong oleh cincin tulang rawan yang berbentuk sepatu kuda dan panjangnya kurang lebih 5 inch. Fungsi laring adalah memungkinkan terjadinya vokalisasi. mampunyai dua lubang (kavum nasi).b. (“airways resistance”). ( Kapita selekta. beberapa batuk dari asma. COPD atau PPOM merupakan suatu kelompok paru yang mengakibatkan obstruksi yang menahun dan persisten dari jalan napas di dalam paru. Penyakit obstruksi menahun (COPD) merupakan penyakit paru yang jelas secara anatomi memberikan tanda kesulitan pernapasan yang mirip yaitu keterbatasan jalan udara yang kronis. Bagian ini memiliki banyak saraf dan dapat menyebabkan bronkospasme dan batuk yang kuat jika di rangsang. Anatomi saluran pernapasan 1) Rongga hidung Merupakan saluran udara yang pertama. dan fisiologik terdapat “Overlopping“ satu sama lain sehingga penegakan diagnosis pasti dari pada salah satu penyakit sukar di tetapkan. radiologik. Karina merupakan tempat percabangan trakea menjadi bronkus utama kiri dan kanan. membunuh kuman-kuman yang masuk bersama-sama udara pernapasan leukosit yang terdapat di dalam mukosa hidung. emfisema paru. 3) Laring. Secara fungsional semuanya akan mengakibatkan peningkataan tahanan saluran napas. Anatomi Fisiologi a. 5) Bronkus. Termasuk dalam kelompok ini yaitu : bronkiektasis . kebawah mempunyai dua lubang bagian depan disebut laringofaring. bronkhitis menahun. 137 ). Merupakan lanjutan dari trakea ada dua buah yang terdapat pada ketinggian vertebral . terdapat dibawah dasar tengkorak. bagian belakang adalah esofagus sebagai saluran pencernaan. Didalamnya terdapat bulu-bulu yang berguna untuk menyaring udara. Walaupun masing-masing mempunyai karakteristik tersendiri tetapi sering secara klinis. berfungsi untuk mengeluarkan benda asing yang masuk bersama-sama dengan udara pernapasan. c. 1995. Merupakan tempat persimpangan antara jalan pernapasan dan jalan makanan. 2) Faring. dan lain-lain. hal. Merupakan struktur epitel kartilago berbentuk rangkaian cincin yang meghubungkan faring dengan trakea. 1982. debu dan kotoran yang masuk kedalam lubang hidung. Laring juga melindungi jalan pernapasan bawah dari obstruksi benda asing dan memudahkan batuk. Pada lengkungan faring terdapat dua buah tonsil atau amandel yang bersimpulkan kelenjar limfe yang banyak mengandung lymfosit dan juga epiglotis yang berfungsi menutupi laring pada saat menelan makanan. Trakea diliputi oleh selaput lendir yang memiliki silia. keatas berhubungan dengan rongga hidung disebut nasofaring. hal 218 ). dibelakang rongga hidung dan mulut sebelah depan ruas tulang leher.

Pada bronkioli terdapat gelambung paru dan gelembunag hawa atau alveoli. Diantara pleura ini terdapat sedikit cairan. udara dihirup masuk melintasi traktus respiratorius sampai alveoli. Kapasitas paru-paru dapat dibedakan menjadi dua kapasitas yaitu kapasitas total yang mengandung arti jumlah udara dapat mengisi paru-paru pada inspirasi sedalam-dalamnya.000 buah (paru-paru kiri dan kanan). Karbondioksida dikangkat oleh sirkulasidarah vena masuk ke atrium dekstra ke vertikel dekstra dan di pompa ke paru-paru melintasi arteri pulmonalis. karbon dioksida dikeluarkan melalui ekspirasi sedangkan sisa lainnya dikeluarkan melalui traktus urogenital dalam bentuk air senidan kulit dalam bentuk keringat. ampas dari sisa pembakaran tubuh adalah karbondioksida. kemudian dialirkan keseluruh tubuh.000. O2 masuk kedalam darah dan CO2 dikeluarkan dari dalam darah. hal. Sebagai terjadinya proses atmosfir karbondioksida dikeluarkan melalui kapiler-kapiler alveoli dibawa ke atrium sinistra vena purmonalis Yang kemudian diteruskan di vertikel sinestrayang di pomp[a di aorta. terditi dari 9-12 cincin mempunyai 2 cabang. 1996. hal 106 ). sedangkan selaput yang berhubungan langsung denga rongga dada sebelah dalam adalah selaput fleur parietal. Sedangkan kapasitas vital adalah jumalah udara dapat dikeluarkan setelah ekspirasi maksimal.torakalis ke IV dan V. Bronkus-bronkus ini berjalan kebawah dan kesamping tumpukan paru-paru. terdiri dari 6-8 cincin. bronkus yang bercabang-cabang yang lebih kecil disebut bronkeolus (bronkioli). Waktu ekspirasi di dalam paru-paru dapat masih tertinnggal kurang lebih 3 liter udara. Fisiologi Pernapasan Bernapas atau respirasi adalah peristiwa menghirup udara luar atau atmosfer kedalam tubuh atau menghembuskan udara yang banyak mengandung karbondioksida sebagani sisa dari oksidasi. Paru-paru dibungkus oleh dua selaput halus yang disebut fleura visceral. Alveoli terdiri dari sel-sel epitel dan endotel. Dalam keadaan tertentu keadaan tersebut akan berubah. Etiologi . ( Syarifuddin. anak-anak : 24 x/menit. berungsi untuk melucinkan permukaan selaput fleura agar dapat bergerak akibat inspirsi dan ekspirasi. mempunyai struktur serupa dengan trakea dan dilapisi oleh jenis sel sama. Jika dibentang luas permukaan kurang lebih 90 m2. misalnya akibat dari suatu penyakit. Paru-paru merupakan salah satu alat tubuh yang sebagian besar terdiri dari gelembunggelembung (alveoli). Pada waktu kita bernapas biasa udarayang masuk kedalam paru-paru 2. Dalam keadaan normal orang dewasa 16-18 x/ menit. Didalam sel paru-paru terjadi lagi proses oksidasi. 1996. 107 ). pada lapisan inilah terjadi pertukaran udara. Paru-paru ini dibagi menjadi dua yaitu paru-paru kanan yang terdiri dari 3 lobus dan paru-paru kiri mempunyai 2 lobus. b. 600 CM3 atau 2 ½ M jumlah pernapasan. paru-paru akan terlindungi dinding dada. ( Sumber : Syaifuddin. Banyaknya gelembung paru-paru ini kurang lebih 700. Bronkus kiri lebih panjang dan lebih kecail atau ramping. didalam pubuh terjadi proses oksidasi atau pembakaran. 6) Paru-paru. Dalam keadaan noumal kedua paru-paru dapat menampung udara sebanyak kurang lebih5 liter. pernapasan bisa bertambah cepat atau sebaliknya. Bronkus kanan lebih pendek dan lebih besar dari pada bronkus kiri. dan bayi : 30 x/menit. Letak paru-paru adalah pada rongga dada tepatnya pada cavum mediastinum. mempunyai tiga cabang.

( Sumber :Ilmu penyakit dalam. selain itu pula berhubungan dengan factor keturunan. c. c. b. . sebagian bronkus tertutup oleh secret ang berlebihan. Pada umumnya COPD menimbulkan kelainan yang sama. serta menyebabkan kerusakan paru bertambah. aldehid dan ozon.Edema dan inflamasi (peradangan). infeksi dan polusi.Kontraksi otot-otot polos bronkus dan bronkiolus seperti pada asma.Ada tiga factor yang mempengaruhi timbulnya COPD yaitu rokok. hal. rokok adalah penyebab utama timbulnya COPD. Polusi Polusi zat-zat kimia yang dapat juga menyebabkan brokhitis adalah zat pereduksi seperti O2. sering terdapat pada bronkhitis dan asma. c. a. alergi. Akibat infeksi dan iritasi yang menahun pada lumen bronkus. Destruksi dari jaringan paru mengakibatkan hilangnya kontraksi radial dinding bronkus ditambah dengan hiperinflamasi jeringan paru menyebabkan penyempitan saluran napas. Fathofisiologi Walaupun COPD terdiri dari berbagai penyakit tetapi seringkali memberikan kelainan fisiologis yang sama. umur serta predisposisi genetic. ( Sumber : Kapita Selekta. hal. akibatnya : . Infeksi Infeksi saluran pernapasan bagian atas pada seorang penderita bronchitis koronis hamper selalu menyebabkan infeksi paru bagian bawah. Juga dapat menyebabkan bronkokonstriksi akut. b. Ventilasi yang tidak memadai di alveoli karena adanya kelainan yang menambah kerja ventilasi yaitu dengan penambahan tahanan jalan udara. 1982. Rokok Menurut buku report of the WHO expert comitte on smoking control. zat-zat pengoksidasi seperti N2O. yang kemudaian menyebabkan infeksi sekunder oleh bakteri. Secara pisiologis rokok berhubungan langsung dengan hiperflasia kelenjar mukaos bronkusdan metaplasia skuamulus epitel saluran pernapasan. Berkurangnya transportasi oksigen dari paru-paru ke jaringan. . 218 ). a. Intraluminer Akibat infeksi dan iritasi yan menahun pada lumen bronkus. 755 ). b. yaitu karena : a. sebagian bronkus tertutup oleh secret yang berlebihan. Kelainan terjadi di luar saluran pernapsan. Ekstramular. makrofage alveolar dan surfaktan. Pengurangan difusi gas melalui membrane pernapasan. tetapi belum diketahui dengan jelad apakah factor-faktor tersebut berperann atau tidak. Pada dasarnya ada tiga kelainan fisiologis yang dapat menimbulkan insufiensi atau ketidakcukupan pernapasan. Mekanisme terjadinya obstruksi.Hipertrofi dari kelenjar-kelenjar mukus. Ventilasi yang tidak memadai di alveoli. 1996. Intramular Dinding bronkus menebal. Ekserbasi bronchitis koronis disangka paling sering diawali dengan infeksi virus. Menurut Crofton & Doouglas merokok menimbulkan pula inhibisi aktivitas sel rambut getar. hal ini menimbulkan dinding . hydrocarbon.

Patoplodiagram Asap tembakau polusi udara Gg pembersihan paru-paru Jalan napas menyempit Bronkus tertutup oleh sekret Dinding bronkus menebal Edema dan inlamasi Terjadi infeksi Penempitan saluran napas Ventilasi terganggu Elastisitas paru menurun Hipertropi pada kelenjar mukus Sekresi lender meningkat Penurunan kerja silia Air way tak bersih Penumpukan dijalan napas Obstruksi . Gangguan ventilasi yang berhubungan dengan obstruksi jalan napas mengakibatkan hiperventilasi (napas lambat dan dangkal) sehingga terjadai retensi CO2 (CO2 tertahan) dan menyebabkan hiperkapnia (CO2 di dalam darah/cairan tubuh lainnya meningkat). akibatnya otot-otot polos pada bronkus dan bronkielus berkontraksi. tekanan yang menarik jaringan paru akan berkurang. Pada orang noirmal sewaktu terjadi ekspirasi maksimal. 1996. ( Soemardi. Timbul hipoksia dan sesak napas. antara alveoli dan perfusi di alveoli (V/Q rasio yang tidak sama). Pada penderita COPD saluran saluran pernapasan tersebut akan lebih cepat dan lebih banyak yang tertutup. sehingga menyebabkan hipertrofi dari kelenjar-kelenjar mucus dan akhirnya terjadi edema dan inflamasi. akan menyebabkan ventilasi dan perfusi yang tidak seimbang.bronkus menebal. sehingga saluran-saluran pernapasan bagian bawah paru akan tertutup. Penyempitan saluran pernapasan terutama disebabkan elastisitas paru-paru yang berkurang. biasanya sudah dapat dibuktikan adanya tanda-tanda obstruksi. sehingga penyebaran pernapasan udara maupun aliran darah ke alveoli. Akibat cepatnya saluran pernapasan menutup serta dinding alveoli yang rusak. Tergantung dari kerusakannya dapat terjadi alveoli dengan ventilasi kurang/tidak ada. tetapi perfusi baik. Bila sudah timbul gejala sesak. lebih jauh lagi hipoksia alveoli menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah paru dan polisitemia. S.). E.

Umur 55-65 tahun sudah ada kor pulmonal yang dapat menyebabkan kegagalan pernapasan dan meinggal dunia.biasanya dimulai pada seorang penderita perokok berumur 15-25 tahun produktivitasnya menurun dan timbul perubahan pada saluran pernapasan kecil dan fungsi paru mulai pula berubah. 756 ). hal. Manifestasi Klinis COPD merupakan penyakit obstruksi saluran napas. 756 ) Semua penyakit pernapasan dikaraktaristikan oleh obstruksi koronis pada aliran udara. tidur Kerusakan pertukaran gas Gangguan rasa nyaman : nyeri dada ( Sumber : Ilmu Penyakit Dalam. Umur 35-45 tahun timbul batuk produktif. hiposemia dan perubahannya pada pemeriksaan spirometri. . ( Sumber : Ilmu Penyakit Dalam. Umur 45-55 tahun timbul sesak napas. 1999. Sering berulang-ulang mendapat infeksi saluran pernapasan bagian atas sehingga sering kali tidak dapat berkerja. bertahun tahun.Dispnea/sesak Proses pembersihan yang dilakukan silia tak efektif Hipoventilasi Gangguan istirahat. hal. 1996. terjadai sedikit demi sedikit.

hal 152 ). Penatalaksanaan Penatalaksanaan pada penderita COPD prinsifnya ialah untuk meringankan keluhan simtomatik. Pemberian kortikosteroid Pada beberapa penderita pemberian kortikosteroid akan mengurangi obstruksi saluran pernapasan. Untuk itu dapat dilakukan : Minum air putih yang cukup agar tuidak dehidrasi. 1996.357. b. sehingga diharapkan mempunyai efek bronkodilator lebih kuat. c. menghindari polusi udara. Pemeriksaaan EKG (elektrokardiogram). misalnya . c. Inlamasi jalan napas Pelengketan mukosa Penyempitan lumen jalan napas Kerusakan jalan napas Takipnea Ortopnea ( Sumber : Doenges.Penyebab utama abstruksi bermacam-macam. Pemberian bronkodilator 1) Teoillin Golongan teofilin biasanya diberikan dengan dosis 10-15 mg/kg berat badan per oral. Pemeriksaan radiologis Pemeriksaan radiologist sangat membantu dalam menegakan atau menyokong diagnosis dan menyingkirkan penyakit-penyakit lain. 2) Agonis B2 Sebaiknya diberikan scara aerosol atau nebulizer. Pada pemeriksaan gas darah arteri PH <> 45 mmHg.. hal. sedangkan yang normal PH 7. Analisis gas darah. serta pO2 75-100 mmHg. 1999. Mengurangi retraksi usus Usaha untuk mengeluarkan dn mengurangi mukus. ( Sumber : Ilmu Penyakit Dalam. Pemeriksaan faal paru Pada pemeriksaan fungsi paru FVC (kapasitas vital kuat) dan fev folume ekspirasi kuat mengalami penurunan menjadi kurang ari 20 %. Ekspektoran. Dapat juga diberikan kombinasi obat secara aerosol maupun oral. b. Adapun penatalaksanaan yang dapat dilakukan adalah : a. memperbaiki serta mempertahankan fungsi paru dan usaha pencegahan harus dilakukan seperti penghentian merokok. Pemeriksaan penunjang dalam COPD adalah sebagai berikut : a. Pemeriksaan Diagnostik. d. kalium yodida dan ammonium klorida Nebulizasi dan humidifikasi dengan uap air menurunkan viskositas dan mengencer .45 dan PaCO2 35-45 mmHg. merupakan pengobatan yang utama dan penting pada pengelalaan COPD. 757 ). Yang sering digunakan gliserilquaiakolat.

Kaji selera makan berlebihan atau berkurang. apa upaya dan dimana kliwen mendapat pertolongan kesehatan. yaitu : a. 1 ). jenis kelamin. agama/suku. Dapat digunakan asetil sistein atau bromheksin. c. Identitas klien Nama. (Nursalam. Pola persepsi kesehatan-pemeliharaan kesehatan. Pengkajian Pengkajian adalah langkah awal yang sangat menentukan keberhasilan dari proses keperawatan tersebut. dimana asukhan keperawatan ini mengguakan pendekatan proses diagnosa keperawatan. implementasi dan evaluasi. Hal ini biasa disebut sebagai suatu pendekatan problem solving atau pemecahan masalah. hal. bahasa yang digunakan. 1). Mukolitik. lalu apa saja yang membuat status kesehatan klien menurun. kaji status riwayat kesehatan yang pernah dialami klien. a. Adapun hal yang perlu dikaji dalam kasus ini antara lain . Menurunnya saturasi O2 d. warga Negara. Kegagalan respirasi yang ditandai dengan sesak napas dengan manifestasi asidosis respirasi. umur. b. penggunaan selang enteric. dan jumlah klien makan dan minnum klien dalam sehari. Fisioterafi dan rehabilitasi. komplikasi yang sering terjadi dengan berlanjutnya penyakit. Berguna untuk . karakteristik. Tanyakan kepada klien tentang jenis. b. penanggung jawap meliputi : nama. tempat tanggal lahir. Mengeluarkan mukus dari saluran pernapasan Memperbaiki efisiensi ventilasi Memperbaiki dan meningkatkan kekiatan fisis. hubungan dengan klien. 1. Retensi co2 c. lingkaran lengan atas serta hitung berat badan ideal klien untuk memperoleh gambaran status nutrisi. kaji adanya mual muntah ataupun adanyaterapi intravena. 1996. Pola nutris metabolik. d. 1) Kaji terhadap rekuensi. Pada bagian ini penulis akan menguraikan tentang konsep dasar asuhan keperawatan klien dengan COPD. hal. Pengkajian harus dilakukan secara teliti sehingga didapatkan informasi yang tepat. d. intervensi keperawatan. ukur tinggi badan. alamat.sputum. ( nursalam dikutip dari dr iyer. 1996. KONSEP DASAR KEPERAWATAN Proses keperawatan adalah metode dimana suatu konsep diterapkan dalam praktek keperawatan. frekuensi. terjadinya sukar diketahui. timbang juga berat badan. B. yang memerlukan ilmu teknik dan ketrampilan intrapersonal ditujukan untuk memenuki kebutuan klien. Ukkus peptikum. Hematologik : polisitemia e. kesulitan/masalah dan juga . Pola eliminasi. Komplikasi.

sesak dan lain-lain. apakah klien pernah mengalami putus asa/frustasi/stress dan bagaimana menurut klien mengenai dirinya. ugkapan. Adapun diagnosa keperawatan yang dapat muncul pada pasien dengan COPD adalah sebagai berikut : a. Adakah keluhanpada pernapasan. h. kursi roda dan lain-lain. bagaimana klien mengatasi tak nyaman : nyeri. berkemih. Adakah gangguan persepsi sensori seperti pengelihatan kabur. karakteristik. klien menganut agama apa?. Pola aktivitas dan latihan Kaji kemampuan beraktivitas baik sebelum sakit atau keadaan sekarang dan juga penggunaan alat bantu seperti tongkat. g. 2. Kaji apakah ada gangguan komunikasi verbal dan gangguan dalam interaksi dengan anggota keluarga dan orang lain. Kaji keadaan klien saat ini terhadap penyesuaian diri. tempat klien bertukar pendapat dan mekanisme koping yang digunakan selama ini.pemakaian alat bantu seperti folly kateter. menulis. pendengaran terganggu. penyangkalan/penolakan terhadap diri sendiri. Pola system kepercayaan Kaji apakah klien dsering beribadah. kesulitan/masalah defekasi dan juga pemakaian alat bantu/intervensi dalam Bab. bagaimana hubungan klien di masyarakat dan keluarga dn teman sekerja. ukur juga intake dan output setiap sift. Kaji tingkat orientasi terhadap tempat waktu dan orang. memdengarkan musik. Adakah klien kesulitan mengingat sesuatu. Bagaimana suasana tidur klien apaka terang atau gelap. e. Berapa jumlah anak klien dan status pernikahan klien. Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan gangguan peningkatan produksi secret. j. Pola persepsi kogniti Tanyakan kepada klien apakah menggunakan alat bantu pengelihatan. Kaji apakah ada nilainilai tentang agama yang klien anut bertentangan dengan kesehatan. l. kaji terhadap prekuensi. jumlah jam tidur. k. Sering bangun saat tidur dikarenakan oleh nyeri. jantung seperti berdebar. i. Pola peran hubungan dengan sesame Apakah peran klien dimasyarakat dan keluarga. Tanyakan kepada klien tentang penggunaan waktu senggang. pendengaran. minum susu. . nyeri dada. f. sekresi tertahan. Diagnosa Keperawatan Memberikan dasar-dasar memilih intervensi untuk mencapai hasil menjadi tanggung jawab dan tanggung gugat paerawat. badan lemah. Pola produksi seksual Tanyakan kepada klien tentang penggunaan kontrasepsi dan permasalahan yang timbul. tidur siang. Apakah klien memerlukan penghantar tidur seperti mambaca. Pola persepsi dan konsep diri Kaji tingkah laku mengenai dirinya. tebal dan kental. menonton televise. gatal. 2) Eliminasi proses. Pola tidur dan istirahat Tanyakan kepada klien kebiasan tidur sehari-hari. Pola mekanisme koping dan toleransi terhadap stress. Kaji faktor yang membuat klien marah dan tidak dapat mengontrol diri.

. (obstruksi jalan napas oleh secret. sekresi tertahan. Pada dasarnya membuatan prioritas masalah dibuat berdasarkan kebutuhan dasar manusia. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan proses peradangan pada selaput paru-paru. ( Nursalam. d. Intervensi. Namun pasien dengan distress berat akan mencari posisi yang lebih mudah untuk bernapas. rasa aman. misalnya : penyebaran. 2001. Setelah merumuskan diagnosa keperawatan langkah berikutnya adalah menentukan perencanaan keperawatan yang meliputi pengemabangan strategi desain untuk mencegah. criteria hasil. c. 1) Kaji/pantau frekuensi pernapasan. mencintai dan dicintai. dan mengurangi. meletakan kebutuhan fisiologis sebagai kebutuhan paling dasar. Kurang pengetahuan mengenai proses dan prognosis penyakit berhubungan dengan kurang informasi. harga diri dan aktualisasi diri. 1999. krokels dan ronki. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplai oksigen berkurang. Berdasarkan diagnosa keperawatan yang muncul pada klien dengan COPD adalah sebagai berikut : a. Sokongan tangan/kaki dengan meja. Rasional : Beberapa derajat spasme bronkus terjadi dengan obstruksi jalan napas dan dapat/tidak dimanifestasikan dengan adanya bunyi napas adventisius. Menurut Abraham moslow. bantal dan lain-lain membantu menurunkan kelemahan otot dan dapat sebagai alat ekspansi dada. Respon : Takipnea biasanya ada beberapa derajat dan dapat ditemukan pada penerimaan atau selama stress/adanya proses infeksi akut. Tujuan : Ventilasi/oksigenisasi adekuat untuk kebutuhan individu. Rasional : Peninggian kepala tempat tidur mempermudah pernapasan dan menggunakan gravitasi. catat rasio inspirasi/ekspirasi. ( Doenges. misalnya peninggian kepala tempat tidur. 3) Auskultasi bunyi napas. Pernapasan dapat melambat dan frekuensi ekspirasi memanjang disbanding inspirasi. catat adanya bunyi napas misalnya : mengi. duduk dan sandaran tempat tidur. spasme bronkus). krekels basah (bronchitis). Tahap dalam perencanaan meliputi penentuan prioritas masalah. hal 156 ). Perencanaan Keperawatan. menentukan rencana dan tindakan pelimpahan (medis dan tim kesehatan lainnya). Kriteria hasil : Mempertahankan jalan napas paten dan bunyi napas bersih/jelas. hal 51 ). 3. dan program perintah medis. Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan gangguan peningkatan produksi secret. bunyi napas redup dengan ekspirasi mengi (emfisema).b. tujuan. atau tidak . tebal dan kental. 2) Kaji pasien untuk posisi yang nyaman.

Tidak ada tanda-tanda sianosis. Rasional : Merilekskan otot halus dan menurunkan kongesti local. Obat-obatan mungkin per oral. misalnya : menetap. misalnya : keluhan “lapar udara”. menurunkan spasme jalan napas. . Rasional : Memberikan pasien beberapa cara untuk mengatasi dan mengontrol dispnea dan menurunkan jebakan udara. atau kelemahan. dapat meningkatkan distensi gaster dan tekanan pada diafragma. hal 156 ). sakit akut.adanya bunyi napas (asma berat). mengi dan produksi mukosa. Respon : Berguna dalam evaluasi derajat distress pernapasan dan kronisnya proses penyakit. 6) Observasi karakteristik batuk. misalnya infeksi dan reaksi alergi. 1999. catat pengguanaan otot aksesorius.Tanda-tanda vital dalam batas normal . ventolin). Rasional : Disfungsi pernapasan adalah variable yang tergantung pada tahap proses kronis selain proses akut yang menimbulkan perawatan di rumah sakit. Intervensi : 1) Kaji frekuensi. batuk pendek. injeksi atau inhalasi. Batuk paling efektif pada posisi duduk paling tinggi atau kepala dibawah setelah perkusi dada. napas bibir. 8) Bronkodilator. vavonefrin). basah.Tanpa terapi oksigen. mempermudah pengeluaran. ( Doenges. distress pernapasan. b. 4) Catat adanya /derajat disepnea. 7) Tingkatkan masukan cairan sampai 3000 ml/hari sesuai toleransi jantung. albuterol (proventil. bantu tindakan untuk memperbaiki keefektifan jalan napas. (obstruksi jalan napas oleh sekret. dan penggunaan obat bantu. SaO2 95 % dank lien tidan mengalami sesak napas. efinefrin (adrenalin. 5) Dorong/bantu latihan napas abdomen atau bibir. ansietas. Kriteria hasil : . Tujuan : Mempertahankan tingkat oksigen yang adekuat untuk keperluan tubuh. bronkometer). Rasional : Sianosis mungkin perifer (terlihat pada kuku) atau sentral (terlihat sekitar bibir atau . Rasional : Hidrasi membantu menurunkan kekentalan secret. brethaire). spasme bronkus). gelisah. misalnya. isoeetrain (brokosol. β-agonis. Penggunaan air hangat dapat menurunkan spasme bronkus. 2) Kaji/awasi secara rutin kulit dan warna membrane mukosa. Cairan selama makan dapat meningkatkan distensi gaster dan tekanan pada diafragma. ketidakmampuan bicara/berbincang. khususnya bila pasien lansia. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplai oksigen berkurang. kedalaman pernapasan. Rasional : Batuk dapat menetap tetapi tidak efektif. terbutalin (brethine.

3. Tentukan karakteristik nyeri. Rasional : Dapat memperbaiki/mencegah memburuknya hipoksia. Rasional : Bunyi napas mingkin redup karena penurrunan aliran udara atau area konsolidasi. 4) Dorong mengeluarkan sputum. . miaalnya . catat area penurunan aliran udara dan/atau bunyi tambahan. bantu pasien untuk memilih posisi yang mudah untuk bernapas. musik tenang/perbincangan. dispnea dan kerja napas. misalnya . 6) Awasi tanda-tanda vital dan irama jantung. pijatan punggung. Keabu-abuan dan dianosis sentral mengindikasikan beratnya hipoksemia. di tusuk. Rasional : . Pantau tanda-tanda vital. khususnya bila alasan lain untuk perubahan tanda-tanda vital. emfisema koronis. juga dapat timbul komplikasi seperti perikarditis dan endokarditis. 7) Berikan oksigen tambahan yang sesuai dengan indikasi hasil GDA dan toleransi pasien. 5) Auskultasi bunyi napas. mengatur pernapasan pasien ditentikan oleh kadar CO2 dan mungkin dikkeluarkan dengan peningkatan PaO2 berlebihan. c. Rasional : Kental tebal dan banyak sekresi adalah sumber utama gangguan pertukaran gas pada jalan napas kecil. Intervensi : 1. 1999. disiretmia dan perubahan tekanan darah dapat menunjuak efek hipoksemia sistemik pada fungsi jantung. hal 158 ). perubahan posisi. Rasional : Takikardi. konsisten. Berikan tindakan nyaman. Tujuan : Rasa nyeri berkurang sampai hilang.Ekspresi wajah rileks. dan pengisapan dibuthkan bila batuk tak efektif. 2. 3) Tinggikan kepala tempat tidur. Respon : Nyeri dada biasanya ada dalam beberapa derajat pneumonia. Dorong napas dalam perlahan atau napas bibir sesuai dengan kebutuhan/toleransi individu. pengisapan bila diindikasikan. Rasional : Pengiriman oksigen dapat diperbaiki dengan posisi duduk tinggi dan laithan napas untuk menurunkan kolaps jalan napas. tajam. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan proses peradangan pada selaput paru-paru. Kriteria hasil : .Klien mengatakan rasa nyeri berkurang/hilang. relaksasi/latihan napas. Rasional : Perubahan frekuensi jantung atau TD menunjukan bahwa pasien mengalami nyeri.danun telinga). Adanya mengi mengindikasikan spasme bronkus/ter-tahannya sekret. selidiki perubahan karakter/intensitasnyeri/lokasi. Catatan . ( Doenges. Krekles basah menyebar menunjukan cairan pada interstisial/dekompensasi jantung.

Latihan kondisi umum meningkatkan toleransi aktivitas. Kurang pengetahuan mengenai proses dan prognosis penyakit berhubungan dengan kurang informasi. batuk efektif.Mengidentifikasi gejala yang menerlukan evaluasi intervensi. efek samping dan reaksi yang tidak diinginkan/ Rasional : Pasien sering mendapatkan obat pernapasan banyak sekaligus yang mempunyai efek samping hamper sama dan potensial interaksi obat. asap tembakau. Dorong pasien/orang terdekat untuk menanyakan pertanyaan. Berikan analgesic dan antitusif sesuai indikasi. Rasional : Pernapasan mulut dan terapi oksigen dapat mengiritasi dan mengeringkan memberan mukosa. ( Doenges. Rasional : Obat ini dapat digunakan untuk menekan batuk non produktif/proksimal atau menurunkan mukosa berlebihan.Klien memahami proses penyakit dan kebutuhan pengobatan. meningkatkan kenyamanan/istirahat umum.Melakukan perilaku/perubahan pada hidup untuk memperbaiki kesehatan umum dan menurunkan resiko pengaktifan ulang COPD. Tujuan : Klien mengerti tentang penyakit. Respon : Menurunkan ansietas dan dapat menimbulkan perbaikan partisipasi pada rencana pengobatan. 6. perawatan dan program pengobatannya. Anjurkan dan bantu pasien dalam teknik menekan dada selama episode batuk. 5. potensial ketidaknyamanan umum. Rasional : Alat untuk mengontrol ketidaknyamanan dada sementara meningkatkan keefektifan upaya batuk.Tindakan non-analgetik diberikan dengan sentuhan lembut dapat menghilangkan ketidaknyamanan dan memperbesar efek terapi analgesic. udara terlalu kering. 4. kekuatan otot. Rasional : Napas bibir dan napas abdominalis/diafragmatik menguatkan otot pernapasan. Diskusikan faktor individu yang menigkatkan kondisi. . polusi . serbuk. dan latihan kondisi umum. Intervensi. Diskusikan obat pernapasan. dan rasa sehat. hal 171 ). . Tawarkan pembersihan mulut dengan sering. Instruksikan/kuatkan rasional untuk latihan napas. misalnya . lingkungan dan suhu ekstrem. seprai aerosol. dan memberikan indivisu arti untuk mengontrol dispnea. angina. membantu meinimalkan kolaps jalan napas kecil. Kriteria hasil : . d. Penting bagi pasien memahami perbedaan antara efek samping menganggu (obat dilanjutkan) dan efek samping merugikan (obat mungkin dihentikan/diganti). 1999. Jelaskan/kuatkan penjelasan proses penyakit individu.

SKp Definisi • Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapat cairan berlebihan di rongga pleura. Mampu mengendalikan stress dan emosional sebagai faktor pencetus terjadinya sesak c. SUMEDI.udara. Kamis. Diskusikan tentang pentingnya mengikuti perawatan medik. e. Secara bertahap dalam beraktivitas dan gaya hidup sehari-hari yang harus direncanakan untuk mencegah kekambuhan. 1999. Meningkatkan nutrisi yang adekuat. dimana kondisi ini jika dibiarkan akan membahayakan jiwa penderitanya (John Gibson. 2008 September 11 ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN EFUSI PLEURA OLEH : Ns. Mentaati aturan terapi pengobatan dan selalu control ulang. 4. Dorong pasien/orang terdekat untuk mencari cara mengontrol faktor ini dan sekitar rumah. b. Untuk meningkatkan efisiensi pernapasan secara maksimal. diperlukan kelompok pendukung dan pengawas medis. Rasional : Pengawasan proses penyakit untuk membuat program tetapi untuk memenuhi perubahan kebutuhan dan dapat membantu mencegah komplikasi. Catatan : penelitian menunjukan bahwa rokok “ side-streams “ atau “second hand’ dapat terganggu seperti halnya merokok nyata. 1995. ( Doenges. Rasional : Faktor lingkungan ini dapat menimbulkan/meningkatkan iritasi bronchial menimbulkan peningkatan produksi sekret dan menjadi hambatan jalan napas. Perencanaan pulang. Waspadji Sarwono (1999. dan culture sputum. Namun meskipun pasien ingin menghentikan merokok. hal 162 ). Rasional : Penghentian merokok dapat memperlambat/menghambat kemajuan COPD. 786) • Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapat penumpukan cairan . MD. anjurkan klien untuk : a. Kaji efek bahaya merokok dan nasehatkan menghentikan merokok pada pasien dan/atau orang terdekat. Memenuhi kebutuhan istirahat yang cukup dan mematuhi terapi. d. foto dada periodik.

1995. pneumoni. Kemungkinan penyebab efusi antara lain 1.gagal jantung yang menyebabkan tekanan kapiler paru dan tekanan perifer menjadi sangat tinggi sehingga menimbulkan transudasi cairan yang . • Jumlah cairan di rongga pleura tetap. 1998. • Effusi pleura berarti terjadi pengumpulan sejumlah besar cairan bebas dalam kavum pleura. 68) Patofisiologi • Dalam keadaan normal hanya terdapat 10-20 ml cairan di dalam rongga pleura. Amin M Saleh. adanya neoplasma (carcinoma bronchogenic dan akibat metastasis tumor yang berasal dari organ lain). (Allsagaaf H. Etiologi • Penyebab efusi pleura bisa bermacam-macam seperti gagal jantung. tuberculosis paru. syndroma nefrotik. hipoalbumin dan lain sebagainya. • Akumulasi cairan pleura dapat terjadi apabila tekanan osmotik koloid menurun misalnya pada penderita hipoalbuminemia dan bertambahnya permeabilitas kapiler akibat ada proses keradangan atau neoplasma.penghambatan drainase limfatik dari rongga pleura 2. infark paru.dari dalam kavum pleura diantara pleura parietalis dan pleura viseralis dapat berupa cairan transudat atau cairan eksudat ( Pedoman Diagnosis danTerapi / UPF ilmu penyakit paru. 1994. bertambahnya tekanan hidrostatis akibat kegagalan jantung dan tekanan negatif intra pleura apabila terjadi atelektasis paru (Alsagaf H. 145). 111). trauma. Mukti A. karena adanya tekanan hidrostatis pleura parietalis sebesar 9 cm H2O.

Nyeri pleuritik biasanya mendahului efusi sekunder akibat penyakit pleura 3. 623-624).Suara nafas berkurang di atas efusi pleura 9.berlebihan ke dalam rongga pleura 3. -Jika jumlah efusinya sedikit (misalnya < 250 ml). yang memecahkan membran kapiler dan memungkinkan pengaliran protein plasma dan cairan ke dalam rongga secara cepat (Guyton dan Hall .sangat menurunnya tekanan osmotik kolora plasma.Perkusi meredup di atas efusi pleura 7. dyspnea • Antibiotik jika terjadi empiema • Pleurodesis . Dengan membesarnya efusi akan terjadi restriksi ekspansi paru dan pasien mungkin mengalami : 1.infeksi atau setiap penyebab peradangan apapun pada permukaan pleura dari rongga pleura.Trakea bergeser menjauhi sisi yang mengalami efusi 4.Pergerakan dada berkurang dan terhambat pada bagian yang terkena 6. Egc. mungkin belum menimbulkan manifestasi klinik dan hanya dapat dideteksi dengan X-ray foto thorakks. jadi juga memungkinkan transudasi cairan yang berlebihan 4. Tanda & Gejala -Manifestasi klinik efusi pleura akan tergantung dari jumlah cairan yang ada serta tingkat kompresi paru.Egofoni di atas paru-paru yang tertekan dekat efusi 8.Ruang interkostal menonjol (efusi yang berat) 5.Dispneu bervariasi 2.Fremitus vokal dan raba berkurang Penatalaksanaan • Drainase cairan jika efusi menimbulkan gejala subyektif seperti nyeri. 1997.

nyeri pleuritik. agama atau kepercayaan. trauma. pneumoni. asma. sesak nafas. TB paru dan lain sebagainya . status pendidikan dan pekerjaan pasien. rasa berat pada dada.• Operatif Pengkajian keperawatan Identitas Pasien Pada tahap ini perawat perlu mengetahui tentang nama. berat badan menurun dan sebagainya. Hal ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya faktor predisposisi. Keluhan Utama • Keluhan utama merupakan faktor utama yang mendorong pasien mencari pertolongan atau berobat ke rumah sakit. • Biasanya pada pasien dengan effusi pleura didapatkan keluhan berupa : sesak nafas. bahasa yang dipakai. • Perlu juga ditanyakan mulai kapan keluhan itu muncul. nyeri pleuritik akibat iritasi pleura yang bersifat tajam dan terlokasilir terutama pada saat batuk dan bernafas serta batuk non produktif. Riwayat Penyakit Sekarang • Pasien dengan effusi pleura biasanya akan diawali dengan adanya tandatanda seperti batuk. gagal jantung. umur. alamat rumah. Apa tindakan yang telah dilakukan untuk menurunkan atau menghilangkan keluhankeluhannya tersebut. rasa berat pada dada. jenis kelamin. suku bangsa. asites dan sebagainya. Riwayat Penyakit Keluarga >Perlu ditanyakan apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakitpenyakit yang disinyalir sebagai penyebab effusi pleura seperti Ca paru. Riwayat Penyakit Dahulu • Perlu ditanyakan apakah pasien pernah menderita penyakit seperti TBC paru.

minum alkohol dan penggunaan obat-obatan bisa menjadi faktor predisposisi timbulnya penyakit. kita perlu melakukan pengukuran tinggi badan dan berat badan untuk mengetahui status nutrisi pasien. Pola eliminasi • Dalam pengkajian pola eliminasi perlu ditanyakan mengenai kebiasaan defekasi sebelum dan sesudah MRS. pasien dengan effusi pleura keadaan umumnya lemah. Pola nutrisi dan metabolisme • Dalam pengkajian pola nutrisi dan metabolisme. tapi kadang juga memunculkan persepsi yang salah terhadap pemeliharaan kesehatan. pasien akan lebih banyak bed rest sehingga akan menimbulkan konstipasi. • Perlu ditanyakan kebiasaan makan dan minum sebelum dan selama MRS pasien dengan effusi pleura akan mengalami penurunan nafsu makan akibat dari sesak nafas dan penekanan pada struktur abdomen.Riwayat Psikososial >Meliputi perasaan pasien terhadap penyakitnya. bagaimana cara mengatasinya serta bagaimana perilaku pasien terhadap tindakan yang dilakukan terhadap dirinya. • Karena keadaan umum pasien yang lemah. selain akibat pencernaan pada struktur abdomen menyebabkan penurunan peristaltik otot-otot . • Peningkatan metabolisme akan terjadi akibat proses penyakit. • Kemungkinan adanya riwayat kebiasaan merokok. Pengkajian Pola Fungsi Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat • Adanya tindakan medis dan perawatan di rumah sakit mempengaruhi perubahan persepsi tentang kesehatan.

peran pasien di masyarakatpun juga mengalami perubahan dan semua itu mempengaruhi hubungan interpersonal pasien. Pola aktivitas dan latihan • Akibat sesak nafas. sesak nafas. pasien tidak dapat menjalankan fungsinya sebagai seorang ibu yang harus mengasuh anaknya. Pola hubungan dan peran • Akibat dari sakitnya. dimana banyak orang yang mondar-mandir. sesak nafas dan peningkatan suhu tubuh akan berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan tidur dan istitahat. • Selain itu akibat perubahan kondisi lingkungan dari lingkungan rumah yang tenang ke lingkungan rumah sakit. misalkan pasien seorang ibu rumah tangga. nyeri dada. • Dalam hal ini pasien mungkin akan . kebutuhan O2 jaringan akan kurang terpenuhi • Pasien akan cepat mengalami kelelahan pada aktivitas minimal. secara langsung pasien akan mengalami perubahan peran. Pola persepsi dan konsep diri • Persepsi pasien terhadap dirinya akan berubah. Pasien mungkin akan beranggapan bahwa penyakitnya adalah penyakit berbahaya dan mematikan. mengurus suaminya. • Disamping itu pasien juga akan mengurangi aktivitasnya akibat adanya nyeri dada. tiba-tiba mengalami sakit. Pola tidur dan istirahat • Adanya nyeri dada.tractus degestivus. • Disamping itu. • Pasien yang tadinya sehat. • Untuk memenuhi kebutuhan ADL nya sebagian kebutuhan pasien dibantu oleh perawat dan keluarganya. berisik dan lain sebagainya.

demikian juga dengan proses berpikirnya. bagaimana penampilan pasien secara umum. bagaimana mood pasien untuk mengetahui tingkat kecemasan dan ketegangan pasien. Pola tata nilai dan kepercayaan • Sebagai seorang beragama pasien akan lebih mendekatkan dirinya kepada Tuhan dan menganggap bahwa penyakitnya ini adalah suatu cobaan dari Tuhan. ekspresi wajah pasien selama dilakukan anamnesa. iga mendatar. Sistem Respirasi Inspeksi • Pada pasien effusi pleura bentuk hemithorax yang sakit mencembung. Pendorongan mediastinum ke arah hemithorax kontra lateral yang . ruang antar iga melebar.kehilangan gambaran positif terhadap dirinya Pola sensori dan kognitif • Fungsi panca indera pasien tidak mengalami perubahan. Pola penanggulangan stress • Bagi pasien yang belum mengetahui proses penyakitnya akan mengalami stress dan mungkin pasien akan banyak bertanya pada perawat dan dokter yang merawatnya atau orang yang mungkin dianggap lebih tahu mengenai penyakitnya. pergerakan pernafasan menurun. • Pemeriksaan Fisik • Status Kesehatan Umum • Tingkat kesadaran pasien perlu dikaji. • Perlu juga dilakukan pengukuran tinggi badan berat badan pasien. Pola reproduksi seksual • Kebutuhan seksual pasien dalam hal ini hubungan seks intercourse akan terganggu untuk sementara waktu karena pasien berada di rumah sakit dan kondisi fisiknya masih lemah. sikap dan perilaku pasien terhadap petugas.

diketahui dari posisi trakhea dan ictus kordis. • Ditambah lagi dengan tanda i – e artinya bila penderita diminta mengucapkan kata-kata i maka akan terdengar suara e sengau. 1994. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pembesaran jantung. kurang jelas di punggung. . Garis ini disebut garis Ellis-Damoisseaux. Ida Bagus. • Fremitus tokal menurun terutama untuk effusi pleura yang jumlah cairannya > 250 cc. Widjaya Adjis. RR cenderung meningkat dan Px biasanya dyspneu. Disamping itu pada palpasi juga ditemukan pergerakan dinding dada yang tertinggal pada dada yang sakit. dan dibaliknya ada kompresi atelektasis dari parenkian paru. maka akan terdapat batas atas cairan berupa garis lengkung dengan ujung lateral atas ke medical penderita dalam posisi duduk. Mukty Abdol. • Suara perkusi redup sampai pekak tegantung jumlah cairannya. normal berada pada ICS – 5 pada linea medio claviculaus kiri selebar 1 cm. perlu juga memeriksa adanya thrill yaitu getaran ictus cordis. Pada posisi duduk cairan makin ke atas makin tipis. mungkin saja akan ditemukan tandatanda auskultasi dari atelektasis kompresi di sekitar batas atas cairan. Garis ini paling jelas di bagian depan dada. • Palpasi untuk menghitung frekuensi jantung (health rate) dan harus diperhatikan kedalaman dan teratur tidaknya denyut jantung. yang disebut egofoni (Alsagaf H. • Auskultasi Suara nafas menurun sampai menghilang. Bila cairannya tidak mengisi penuh rongga pleura.79) Sistem Cardiovasculer • Pada inspeksi perlu diperhatikan letak ictus cordis.

apakah abdomen membuncit atau datar. selain itu juga perlu di inspeksi ada tidaknya benjolan-benjolan atau massa. • Auskultasi untuk mendengarkan suara peristaltik usus dimana nilai normalnya 5-35 kali permenit. vesika urinarta. adakah nyeri tekan abdomen. penciuman. adanya massa padat atau cairan akan menimbulkan suara pekak (hepar. penglihatan. umbilicus menonjol atau tidak. • Auskultasi untuk menentukan suara jantung I dan II tunggal atau gallop dan adakah bunyi jantung III yang merupakan gejala payah jantung serta adakah murmur yang menunjukkan adanya peningkatan arus turbulensi darah. apakah hepar teraba. • Selain itu fungsi-fungsi sensoris juga perlu dikaji seperti pendengaran. Adakah composmentis atau somnolen atau comma. tumor). tepi perut menonjol atau tidak. • Perkusi abdomen normal tympani. perabaan dan pengecapan. Hal ini bertujuan untuk menentukan adakah pembesaran jantung atau ventrikel kiri. turgor kulit perut untuk mengetahui derajat hidrasi pasien. • Pada palpasi perlu juga diperhatikan. juga apakah lien teraba. feces). Sistem Neurologis • Pada inspeksi tingkat kesadaran perlu dikaji Disamping juga diperlukan pemeriksaan GCS.• Perkusi untuk menentukan batas jantung dimana daerah jantung terdengar pekak. Sistem Pencernaan • Pada inspeksi perlu diperhatikan. asites. Sistem Muskuloskeletal • Pada inspeksi perlu diperhatikan . • Pemeriksaan refleks patologis dan refleks fisiologisnya. adakah massa (tumor.

• Dengan inspeksi dan palpasi dilakukan pemeriksaan kekuatan otot kemudian dibandingkan antara kiri dan kanan. • Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan metabolisme tubuh. hangat. . pada Px dengan effusi biasanya akan tampak cyanosis akibat adanya kegagalan sistem transport O2. 1998). dkk. Pemeriksaan Penunjang • Pemeriksaan laboratorium • Darah lengkap dan kimia darah • Bakteriologis • Analisis cairan pleura • Pemeriksaan radiologis • Biopsi Diagnosa Keperawatan • Ketidakefektifan pola pernafasan berhubungan dengan menurunnya ekspansi paru sekunder terhadap penumpukkan cairan dalam rongga pleura (Susan Martin Tucleer. Sistem Integumen • Inspeksi mengenai keadaan umum kulit higiene.adakah edema peritibial • Palpasi pada kedua ekstremetas untuk mengetahui tingkat perfusi perifer serta dengan pemerikasaan capillary refil time. warna ada tidaknya lesi pada kulit. 1993). demam). • Pada palpasi perlu diperiksa mengenai kehangatan kulit (dingin. penurunan nafsu makan akibat sesak nafas sekunder terhadap penekanan struktur abdomen (Barbara Engram. Kemudian texture kulit (halus-lunak-kasar) serta turgor kulit untuk mengetahui derajat hidrasi seseorang. • Cemas berhubungan dengan adanya ancaman kematian yang dibayangkan (ketidakmampuan untuk bernafas).

com/2008/01/09/efusi-pleura/ 3. http://www.wordpress. . NANDA 2007-2008 (keperawatan). http://dokterfoto.healthatoz. http://dewabenny.sa/…/ Students’s%20Clinical%20presentations/Zahra’a %20Hussin%20AL5.edu.com/2008/06/22/efusi-pleura/ 2.• Gangguan pola tidur berhubungan dengan batuk yang menetap dan sesak nafas serta perubahan suasana lingkungan • Defisit perawatan diri berhubungan dengan keletihan (keadaan fisik yang lemah) • Kurang pengetahuan mengenai kondisi.jsp 4. aturan pengobatan berhubungan dengan kurang terpajan informasi di 03:45 Label: Keperawatan Askep Efusi Pleura Posted by yenichrist under Keperawatan [11] Comments Landasan teori medis diambil dari: 1. faculty.ksu.com/healthatoz/Atoz/common/standard/transform.jsp? requestURI=/healthatoz/Atoz/ency/pleural_effusion.

and cough. sehingga biasanya mudah dikeluarkan melalui sebuah jarum atau selang. chest pain.Efusi pleura adalah akumulasi cairan yang berlebihan pada rongga pleura. Cairan dalam jumlah yang berlebihan dapat mengganggu pernapasan dengan membatasi peregangan paru selama inhalasi. Empiema (nanah di dalam rongga pleura) bisa terjadi jika pneumonia atau abses paru menyebar ke dalam rongga pleura. Penyebab lainnya adalah: • • • pecahnya sebuah pembuluh darah yang kemudian mengalirkan darahnya ke dalam rongga pleura kebocoran aneurisma aorta (daerah yang menonjol di dalam aorta) yang kemudian mengalirkan darahnya ke dalam rongga pleura gangguan pembekuan darah. cairan tersebut mengisi ruangan yang mengelilingi paru. Cairan serus (hidrothorax) Darah (hemothotaks) Chyle (chylothoraks) Nanah (pyothoraks atau empyema) Hemotoraks (darah di dalam rongga pleura) biasanya terjadi karena cedera di dada. Terdapat empat tipe cairan yang dapat ditemukan pada efusi pleura. It is commonly known as “water on the lungs. 3. Empiema bisa merupakan komplikasi dari: • • Infeksi pada cedera di dada Pembedahan dada . Pleural effusion occurs when too much fluid collects in the pleural space (the space between the two layers of the pleura). Darah di dalam rongga pleura tidak membeku secara sempurna. 4.” It is characterized by shortness of breath. gastric discomfort (dyspepsia). 2. yaitu : 1.

CT scan dada CT scan dengan jelas menggambarkan paru-paru dan cairan dan bisa menunjukkan adanya pneumonia. biasanya akan menunjukkan gejala klinis seperti penurunan pergerakan dada yang terkena efusi pada saat inspirasi. dengan bantuan stetoskop akan terdengar adanya penurunan suara pernafasan. auskultasi didapatkan suara pernapasan menurun. pada pemeriksaan perkusi didapatkan dullness/pekak. Apabila cairan yang terakumulasi lebih dari 500 ml. dan vocal fremitus yang menurun. Rongga pleura yang terisi cairan dengan kadar kolesterol yang tinggi terjadi karena efusi pleura menahun yang disebabkan oleh tuberkulosis atau artritis rematoid. sehingga bisa dilakukan pengeluaran cairan. yang hasilnya menunjukkan adanya cairan. dilakukan pemeriksaan berikut: Rontgen dada Rontgen dada biasanya merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk mendiagnosis efusi pleura. Diagnosis Pada pemeriksaan fisik. Untuk membantu memperkuat diagnosis.• • • Pecahnya kerongkongan Abses di perut Pneumonia Kilotoraks (cairan seperti susu di dalam rongga dada) disebabkan oleh suatu cedera pada saluran getah bening utama di dada (duktus torakikus) atau oleh penyumbatan saluran karena adanya tumor. . abses paru atau tumor USG dada USG bisa membantu menentukan lokasi dari pengumpulan cairan yang jumlahnya sedikit.

kultur. tindakan ini disebut thorakosentesis. Dilakukan pemeriksaan gram. pH. albumin. dimana contoh lapisan pleura sebelah luar diambil untuk dianalisa. Pada foto thoraks posisi AP atau PA ditemukan adanya sudut costophreicus yang tidak tajam. Pada sekitar 20% penderita. Biopsi Jika dengan torakosentesis tidak dapat ditentukan penyebabnya. Komposisi kimia seperti protein. Bronkoskopi Bronkoskopi kadang dilakukan untuk membantu menemukan sumber cairan yang terkumpul.Torakosentesis Penyebab dan jenis dari efusi pleura biasanya dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan terhadap contoh cairan yang diperoleh melalui torakosentesis (pengambilan cairan melalui sebuah jarum yang dimasukkan diantara sela iga ke dalam rongga dada dibawah pengaruh pembiusan lokal). dan di konfirmasi dengan foto thoraks. laktat dehidrogenase (LDH). kemudian cairan pleura diambil dengan jarum. dan glucose 2. penyebab dari efusi pleura tetap tidak dapat ditentukan. meskipun telah dilakukan pemeriksaan menyeluruh. Dengan foto thoraks posisi lateral decubitus dapat diketahui adanya cairan dalam rongga pleura sebanyak paling sedikit 50 ml. amylase. Sitologi untuk mengidentifikasi adanya keganasan . maka dilakukan biopsi. sedangkan dengan posisi AP atau PA paling tidak cairan dalam rongga pleura sebanyak 300 ml. Pemeriksaan hitung sel 4. Bila efusi pleura telah didiagnosis. sensitifitas untuk mengetahui kemungkinan terjadi infeksi bakteri 3. penyebabnya harus diketahui. Setelah didapatkan cairan efusi dilakukan pemeriksaan seperti: 1. Analisa cairan pleura Efusi pleura didiagnosis berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik.

emboli paru. sirosis hepatis. ca mammae. keadaan lain juga menyebabkan efusi pleura seperti pada penyakit autoimun systemic lupus erythematosus (SLE). Selain TBC. emboli paru. keganasan (ca paru. rheumatoid arthritis. sedangkan penyebab efusi pleura eksudatif disebabkan oleh pneumonia bakteri.pernafasan yang cepat . perdarahan (sering akibat trauma). dan efusi pleura karena adanya tumor ovarium). dan keganasan Etiologi Penyebab paling sering efusi pleura transudatif di USA adalah oleh karena penyakit gagal jantung kiri. infeksi virus.batuk . Efusi pleura jarang pada keadaan rupture esophagus. Tuberkulosis paru merupakan penyebab paling sering dari efusi pleura di Negara berkembang termasuk Indonesia.cegukan . Gejala Gejala yang paling sering ditemukan (tanpa menghiraukan jenis cairan yang terkumpul ataupun penyebabnya) adalah sesak nafas dan nyeri dada (biasanya bersifat tajam dan semakin memburuk jika penderita batuk atau bernafas dalam). pneumonia bakteri. Gejala lainnya yang mungkin ditemukan: . dan lymphoma merupakan 75 % penyebab efusi pleura oleh karena kanker). dan sirosis hepatis. sindroma Meig (asites. Sedangkan efusi pleura eksudatif disebabkan oleh faktor local yang mempengaruhi pembentukan dan penyerapan cairan pleura. Misalnya pada keadaan gagal jantung kiri. Kadang beberapa penderita tidak menunjukkan gejala sama sekali. Efusi pleura eksudatif biasanya ditemukan pada Tuberkulosis paru.Langkah selanjutnya dalam evaluasi cairan pleura adalah untuk membedakan apakan cairan tersebut merupakan cairan transudat atau eksudat. penyakit pancreas. abses intraabdomen. Efusi pleura transudatif disebabkan oleh faktor sistemik yang mengubah keseimbangan antara pembentukan dan penyerapan cairan pleura. infeksi virus.

and electrolyte levels. 3. . Keperawatan 1. just as in diagnostic thoracentesis. In the most severe cases. 2. blood pressure. This will prevent further effusion by eliminating the pleural space. Efusi pleura yang berulang mungkin memerlukan tambahan medikamentosan atau dapat dilakukan tidakan operatif yaitu pleurodesis. If large effusions continue to recur. open surgery with removal of a rib may be necessary to drain all the fluid and close the pleural space. if the cause is not known. 5. Penatalaksanaan tergantung pada penyakit yang mendasari terjadinya efusi pleura. weight. the fluid can be drained away by placing a large-bore needle or catheter into the pleural space. rather than treating the effusion itself. Aspirasi cairan menggunakan jarum dapat dilakukan untuk mengeluarkan cairan pleura. this can be repeated as often as is needed to control the amount of fluid in the pleural space. Nyeri akut/kronis Insomnia Pertukaran gas tidak efektif Kelelahan Intoleransi aktivitas Resiko ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh Koping individu tidak efektif The core responsibilities of nurses: • • To prevent nocturia. 6. If heart failure is reversed or a lung infection is cured by antibiotics. apabila jumlah cairan banyak dapat dilakukan pemasangan drainase interkostalis atau pemasangan WSD. 7. even after extensive tests. Penatalaksanaan The best way to clear up a pleural effusion is to direct treatment at what is causing it. a drug or material that irritates the pleural membranes can be injected to deliberately inflame them and cause them to adhere close together–a process called sclerosis. However.nyeri perut. If necessary. or no effective treatment is at hand. 4. the effusion will usually resolve. give drug in the morning Monitor fluid intake and output. dimana kedua permukaan pleura ditempelkan sehingga tidak ada lagi ruangan yang akan terisi oleh cairan..

Frequent turning and ambulation are important to facilitate drainage the nurse administers analgesics as prescribed and as needed. dates. Monitor glucose level. Definisi Efusi pleural adalah penumpukan cairan di dalam ruang pleural. bananas. eksudat. Consult to doctor and dietitian about a high-potassium diet. especially in diabetic patients. Monitor elderly patients. and apricots. If chest tube drainage and a water-seal system is used. and the nurse assists the patient to assume positions that are the least painful. atau dapat berupa darah atau pus (Baughman C Diane. dengan bahasa yang masih campur-aduk. yang mungkin merupakan transudat. ketika “terpaksa” memasuki area yang belum saya jamah sebelumnya. Efusi dapat berupa cairan jernih. Foods rich in potassium include citrus fruits. Pain management is a priority.• • • • • • Watch for signs and symptoms of hypokalemia. Drug may be used with potassium sparing diuretic to prevent potassium loss. the nurse is responsible for monitoring the system’s function and recording the amount of drainage at prescribed intervals. tetapi hanya saya susun dari sumber-sumber yang saya gunakan. In patients with hypertension. such as muscle weakness and cramps. ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN EFUSI PLEURA Diarsipkan di bawah: Askep — rofiqahmad @ 12:54 pm A. the nurse is responsible for educating the patient and family regarding management and care of the catheter and drainage system. tomatoes. If a patient is to be managed as an outpatient with a pleural catheter for drainage. Tidak saya tulis. therapeutic response may be delayed several weeks. Cara saya belajar selagi bosan. The nurse role in the care of the patient with a pleural effusion includes: • • • • • • Implementing the medical regimen. who are especially susceptible to excessive diuresis. daripada hilang begitu saja…. The nurse prepares and positions the patient for thoracentesis and offers support throughout the procedure. proses penyakit primer jarang terjadi namun biasanya terjadi sekunder akibat penyakit lain. 2000) .

2. penderita akan sesak napas. Kelebihan cairan rongga pleura dapat terkumpul pada proses penyakit neoplastik. Bila cairan banyak. Ini disebabkan oleh sedikitnya satu dari empat mekanisme dasar : ∗ ∗ ∗ ∗ ∗ Peningkatan tekanan kapiler subpleural atau limfatik Penurunan tekanan osmotic koloid darah Peningkatan tekanan negative intrapleural Adanya inflamasi atau neoplastik pleura Adanya timbunan cairan mengakibatkan perasaan sakit karena pergesekan. abses amuba subfrenik yang menembus ke rongga pleura. dan nyeri dada pleuritis (pneumonia). karena tumor dimana masuk cairan berdarah dan karena trauma. Secara normal. (Price C Sylvia. 2002). penyakit ginjal. banyak riak. karena radang (tuberculosis. sindroma meig (tumor ovarium) dan sindroma vena kava superior. ruang pleural mengandung sejumlah kecil cairan (5 sampai 15ml) berfungsi sebagai pelumas yang memungkinkan permukaan pleural bergerak tanpa adanya friksi (Smeltzer C Suzanne. Etiologi 1. subfebril (tuberkulosisi). Di Indonesia 80% karena tuberculosis.Efusi pleural adalah pengumpulan cairan dalam ruang pleura yang terletak diantara permukaan visceral dan parietal. Efusi pleura adalah istilah yang digunakan bagi penimbunan cairan dalam rongga pleura. panas tinggi (kokus). proses penyakit primer jarang terjadi tetapi biasanya merupakan penyakit sekunder terhadap penyakit lain. setelah cairan cukup banyak rasa sakit hilang. virus). Tanda dan Gejala . ∗ Adanya gejala-gejala penyakit penyebab seperti demam. dan infeksi. Pembentukan cairan yang berlebihan. batuk. karena adanya bendungan seperti pada dekompensasi kordis. banyak keringat. bronkiektasis. menggigil. pneumonia. Hambatan resorbsi cairan dari rongga pleura. C. kardiovaskuler. 1995) B. tumor mediatinum. tromboembolik.

∗ ∗

Deviasi trachea menjauhi tempat yang sakit dapat terjadi jika terjadi penumpukan cairan pleural yang signifikan. Pemeriksaan fisik dalam keadaan berbaring dan duduk akan berlainan, karena cairan akan berpindah tempat. Bagian yang sakit akan kurang bergerak dalam pernapasan, fremitus melemah (raba dan vocal), pada perkusi didapati daerah pekak, dalam keadaan duduk permukaan cairan membentuk garis melengkung (garis Ellis Damoiseu).

Didapati segitiga Garland, yaitu daerah yang pada perkusi redup timpani dibagian atas garis Ellis Domiseu. Segitiga Grocco-Rochfusz, yaitu daerah pekak karena cairan mendorong mediastinum kesisi lain, pada auskultasi daerah ini didapati vesikuler melemah dengan ronki.

Pada permulaan dan akhir penyakit terdengar krepitasi pleura.

D. Patofisiologi Didalam rongga pleura terdapat + 5ml cairan yang cukup untuk membasahi seluruh permukaan pleura parietalis dan pleura viseralis. Cairan ini dihasilkan oleh kapiler pleura parietalis karena adanya tekanan hodrostatik, tekanan koloid dan daya tarik elastis. Sebagian cairan ini diserap kembali oleh kapiler paru dan pleura viseralis, sebagian kecil lainnya (10-20%) mengalir kedalam pembuluh limfe sehingga pasase cairan disini mencapai 1 liter seharinya. Terkumpulnya cairan di rongga pleura disebut efusi pleura, ini terjadi bila keseimbangan antara produksi dan absorbsi terganggu misalnya pada hyperemia akibat inflamasi, perubahan tekanan osmotic (hipoalbuminemia), peningkatan tekanan vena (gagal jantung). Atas dasar kejadiannya efusi dapat dibedakan atas transudat dan eksudat pleura. Transudat misalnya terjadi pada gagal jantung karena bendungan vena disertai peningkatan tekanan hidrostatik, dan sirosis hepatic karena tekanan osmotic koloid yang menurun. Eksudat dapat disebabkan antara lain oleh keganasan dan infeksi. Cairan keluar langsung dari kapiler sehingga kaya akan protein dan berat jenisnya tinggi. Cairan ini juga mengandung banyak sel darah putih. Sebaliknya transudat kadar proteinnya rendah sekali atau nihil sehingga berat jenisnya rendah.

E. Pemeriksaan Diagnostik ∗ Pemeriksaan radiologik (Rontgen dada), pada permulaan didapati menghilangnya sudut kostofrenik. Bila cairan lebih 300ml, akan tampak cairan dengan permukaan melengkung. Mungkin terdapat pergeseran di mediatinum. ∗ ∗ Ultrasonografi Torakosentesis / pungsi pleura untuk mengetahui kejernihan, warna, biakan tampilan, sitologi, berat jenis. Pungsi pleura diantara linea aksilaris anterior dan posterior, pada sela iga ke-8. Didapati cairan yang mungkin serosa (serotorak), berdarah (hemotoraks), pus (piotoraks) atau kilus (kilotoraks). Bila cairan serosa mungkin berupa transudat (hasil bendungan) atau eksudat (hasil radang). ∗ Cairan pleural dianalisis dengan kultur bakteri, pewarnaan gram, basil tahan asam (untuk TBC), hitung sel darah merah dan putih, pemeriksaan kimiawi (glukosa, amylase, laktat dehidrogenase (LDH), protein), analisis sitologi untuk sel-sel malignan, dan pH. ∗ Biopsi pleura mungkin juga dilakukan

F. Penatalaksanaan medis  Tujuan pengobatan adalah untuk menemukan penyebab dasar, untuk mencegah penumpukan kembali cairan, dan untuk menghilangkan ketidaknyamanan serta dispneu. Pengobatan spesifik ditujukan pada penyebab dasar (co; gagal jantung kongestif, pneumonia, sirosis).  Torasentesis dilakukan untuk membuang cairan, untuk mendapatkan specimen guna keperluan analisis dan untuk menghilangkan disneu.  Bila penyebab dasar malignansi, efusi dapat terjadi kembali dalam beberapa hari tatau minggu, torasentesis berulang mengakibatkan nyeri, penipisan protein dan elektrolit, dan kadang pneumothoraks. Dalam keadaan ini kadang diatasi dengan pemasangan selang dada dengan drainase yang dihubungkan ke system drainase water-seal atau pengisapan untuk mengevaluasiruang pleura dan pengembangan paru.

 Agen yang secara kimiawi mengiritasi, seperti tetrasiklin dimasukkan kedalam ruang pleura untuk mengobliterasi ruang pleural dan mencegah akumulasi cairan lebih lanjut.  Pengobatan lainnya untuk efusi pleura malignan termasuk radiasi dinding dada, bedah plerektomi, dan terapi diuretic. G. Water Seal Drainase (WSD) 1. Pengertian WSD adalah suatu unit yang bekerja sebagai drain untuk mengeluarkan udara dan cairan melalui selang dada. 2. Indikasi a. b. c. e. Pneumothoraks karena rupture bleb, luka tusuk tembus Hemothoraks karena robekan pleura, kelebihan anti koagulan, pasca bedah toraks Torakotomi Empiema karena penyakit paru serius dan kondisi inflamasi d. Efusi pleura

3. Tujuan Pemasangan ∗ ∗ ∗ ∗ Untuk mengeluarkan udara, cairan atau darah dari rongga pleura Untuk mengembalikan tekanan negative pada rongga pleura Untuk mengembangkan kembali paru yang kolap dan kolap sebagian Untuk mencegah reflux drainase kembali ke dalam rongga dada.

4. Tempat pemasangan a. Apikal  Letak selang pada interkosta III mid klavikula  Dimasukkan secara antero lateral  Fungsi untuk mengeluarkan udara dari rongga pleura

botol pertama mengumpulkan cairan/drainase dan botol kedua adalah botol water seal. Jenis WSD • Sistem satu botol Sistem drainase ini paling sederhana dan sering digunakan pada pasien dengan simple pneumotoraks • Sistem dua botol Pada system ini. hipertensi/hipotensi. Pernapasan Gejala : Kesulitan bernapas. irama jantung gallop. Sirkulasi Tanda : Takikardi. H. Integritas ego Tanda : ketakutan. nyeri/kenyamanan Gejala tergantung ukuran/area terlibat : Nyeri yang diperberat oleh napas dalam. kemungkinan menyebar ke leher. perilaku distraksi 6. botol penghisap control ditambahkan ke system dua botol. disritmia. System tiga botol ini paling aman untuk mengatur jumlah penghisapan. abdomen Tanda : Berhati-hati pada area yang sakit.b. gelisah 4. Makanan / cairan Adanya pemasangan IV vena sentral/ infus 5. Batuk. riwayat bedah dada/trauma. DVJ 3. Aktifitas/istirahat Gejala : dispneu dengan aktifitas ataupun istirahat 2. . Pengkajian 1. • System tiga botol Sistem tiga botol. bahu. Basal  Letak selang pada interkostal V-VI atau interkostal VIII-IX mid aksiller  Fungsi : untuk mengeluarkan cairan dari rongga pleura 5.

Bunyi napas menurun dan fremitus menurun (pada sisi terlibat). Pertahankan posisi nyaman biasanya peninggian kepala tempat tidur Bila selang dada dipasang : a. sianosis. Kulit : pucat. Awasi pasang surutnya air penampung Berikan oksigen melalui kanul/masker Intervensi : . retraksi interkostal. gangguan musculoskeletal. penurunan pengembangan (area sakit). Perkusi dada : hiperresonan diarea terisi udara dan bunyi pekak diarea terisi cairan Observasi dan palpasi dada : gerakan dada tidak sama (paradoksik) bila trauma atau kemps. GDA taknormal. batas cairan Klem selang pada bagian bawah unit drainase bila terjadi kebocoran Catat karakter/jumlah drainase selang dada. Observasi gelembung udara botol penampung d. perubahan tanda vital) Auskultasi bunyi napas Catat pengembangan dada dan posisi trakea. sianosis. takipneu. gangguan pengembangan dada. e. c. krepitasi subkutan I. perubahan kedalaman pernapasan. Diagnosa Keperawatan 1. proses inflamasi. kaji fremitus. Pola napas tidak efektif b. Tujuan : pola nafas efektif Kriteria hasil : ∗ ∗ ∗ ∗ ∗ ∗ Menunjukkan pola napas normal/efektif dng GDA normal Bebas sianosis dan tanda gejala hipoksia Identifikasi etiologi atau factor pencetus Evaluasi fungsi pernapasan (napas cepat. penggunaan otot aksesori.Tanda : Takipnea.d penurunan ekspansi paru (akumulasi udara/cairan). penggunaan otot aksesori pernapasan pada dada.berkeringat. nyeri/ansietas. Kemungkinan dibuktikan oleh : dispneu. ∗ periksa pengontrol penghisap. b. sianosis.

2.d proses cidera. catat gambaran keamanan Amankan unit drainase pada tempat tidur dengan area lalu lintas rendah Awasi sisi lubang pemasangan selang. system drainase dada. kurang pendidikan keamanan/pencegahan Tujuan : tidak terjadi trauma atau henti napas Kriteria hasil : ∗ ∗ ∗ ∗ ∗ Mengenal kebutuhan/mencari bantuan untuk mencegah komplikasi Memperbaiki/menghindari lingkungan dan bahaya fisik Kaji dengan pasien tujuan/fungsi unit drainase.d factor-faktor biologis (trauma jaringan) dan factor-faktor fisik (pemasangan selang dada) Tujuan : Nyeri hilang atau berkurang Kriteria hasil : ∗ ∗ ∗ ∗ ∗ Pasien mengatakan nyeri berkurang atau dapat dikontrol Pasien tampak tenang Kaji terhadap adanya nyeri. catat kondisi kulit. skala dan intensitas nyeri Ajarkan pada klien tentang manajemen nyeri dengan distraksi dan relaksasi Amankan selang dada untuk membatasi gerakan dan menghindari iritasi Kaji keefektifan tindakan penurunan rasa nyeri Berikan analgetik sesuai indikasi Intervensi : 3. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan aturan pengobatan Tujuan : Mengetahui tentang kondisinya dan aturan pengobatan Kriteria hasil : Menyatakan pemahaman tentang masalahnya . Intervensi : 4. Nyeri dada b. Resiko tinggi trauma/henti napas b. ganti ulang kasa penutup steril sesuai kebutuhan Anjurkan pasien menghindari berbaring/menarik selang Observasi tanda distress pernapasan bila kateter torak lepas/tercabut.

istirahat. nutrisi. dkk. Susan Martin Tucker.EGC. diagnosis. EGC. Ed5. Jakarta.- Mengikuti program pengobatan dan menunjukkan perubahan pola hidup untuk mencegah terulangnya masalah Intervensi : ∗ ∗ ∗ ∗ ∗ Kaji pemahaman klien tentang masalahnya Identifikasi kemungkinan kambuh/komplikasi jangka panjang Kaji ulang praktik kesehatan yang baik. EGC. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Syamsuhidayat. Vol. latihan Berikan informasi tentang apa yang ditanyakan klien Berikan reinforcement atas usaha yang telah dilakukan klien . Jakarta EGC. Standar perawatan Pasien: proses keperawatan. Jakrta. DAFTAR PUSTAKA 1. dan evaluasi. Doenges E Mailyn. 2008 by indonesian nurse in Bahasa Indonesia . Ed2. Hudak. 1995. EGC. 6. EGC. Ed8. Media Aesculapius. Ed3. Baughman C Diane. Wim de Jong. WATER SEAL DRAINAGE (WSD) Posted in July 30th. Price. Keperawatan medical bedah. 1998. 7.Carolyn M. 2000.1. Buku Ajar Keperawatan medical Bedah. Edisi Revisi. Kapita Selekta Kedokteran. Sylvia A. 8. Jakarta. Vol. Smeltzer c Suzanne. Jakarta. 1999 3. Jakarta. Purnawan J. Keperawatan kritis : pendekatan holistic. 1997 4. 1997. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta. EGC. Brunner and Suddarth’s.1982. FKUI. Patofisiologi : Konsep klinis proses-pross penyakit. 5. Ed4. 2002.1. 2.

2. c. Mencegah infeksi di bagian masuknya slang. – Pergantian posisi badan. ? Latihan napas dalam. Dalam perawatan yang harus diperhatikan : . Jika banyaknya hisapan bertambah/berkurang. Mendorong berkembangnya paru-paru. dan perlu diperhatikan agar kain kassa yang menutup bagian masuknya slang dan tube tidak boleh dikotori waktu menyeka tubuh pasien. atau menaruh bantal di bawah lengan atas yang cedera. . ? Kontrol dengan pemeriksaan fisik dan radiologi. c. Terapi : Mengeluarkan darah atau udara yang terkumpul di rongga pleura. atau memberi tahanan pada slang. harus dilakukan torakotomi. sehingga slang yang dimasukkan tidak terganggu dengan bergeraknya pasien. Mengurangi rasa sakit dibagian masuknya slang. Jika perdarahan dalam 1 jam melebihi 3 cc/kg/jam. ? Dengan WSD/Bullow drainage diharapkan paru mengembang. melakukan pernapasan perut. Perawatan WSD dan pedoman latihanya : a. Diagnostik : Menentukan perdarahan dari pembuluh darah besar atau kecil. WSD dapat berarti : a. jangan batuk waktu slang diklem. Preventive : Mengeluarkan udaran atau darah yang masuk ke rongga pleura sehingga “mechanis of breathing” tetap baik. sehingga dapat ditentukan perlu operasi torakotomi atau tidak. Perdarahan dalam 24 jam setelah operasi umumnya 500 – 800 cc. sehingga rasa sakit di bagian masuknya slang dapat dikurangi. Mendeteksi di bagian dimana masuknya slang. Untuk rasa sakit yang hebat akan diberi analgetik oleh dokter. Bullow Drainage / WSD Pada trauma toraks. d. b. perhatikan juga secara bersamaan keadaan pernapasan. b. Usahakan agar pasien dapat merasa enak dengan memasang bantal kecil dibelakang. ? Latihan batuk yang efisien : batuk dengan posisi duduk.1. Mengembalikan tekanan rongga pleura sehingga “mechanis of breathing” dapat kembali seperti yang seharusnya. Slang diatur se-nyaman mungkin. Perhatikan keadaan dan banyaknya cairan suction. merubah posisi tubuh sambil mengangkat badan. dan pengganti verband 2 hari sekali. sebelum penderita jatuh dalam shoks.Penetapan slang.

atau lubang slang tertutup oleh karena perlekatanan di dinding paru-paru. • • • • • • .e. Suction harus berjalan efektif : Perhatikan setiap 15 – 20 menit selama 1 – 2 jam setelah operasi dan setiap 1 – 2 jam selama 24 jam setelah operasi. keadaan cairan. dengan memakai sarung tangan. ke 1/2 terlentang atau 1/2 duduk ke posisi miring bagian operasi di bawah atau di cari penyababnya misal : slang tersumbat oleh gangguan darah. 1) Cairan dalam botol WSD diganti setiap hari . keadaan pernapasan. keluhan pasien. slang bengkok atau alat rusak. 4) Setiap penggantian botol/slang harus memperhatikan sterilitas botol dan slang harus tetap steril. Login • • This blog post All blog posts Subscribe to this blog post's comments through. warna muka. denyut nadi.. misal : slang terlepas. 5) Penggantian harus juga memperhatikan keselamatan kerja diri-sendiri. Perawatan “slang” dan botol WSD/ Bullow drainage. tekanan darah. diukur berapa cairan yang keluar kalau ada dicatat. botol terjatuh karena kesalahan dll. 6) Cegah bahaya yang menggangu tekanan negatip dalam rongga dada.. ? Perhatikan banyaknya cairan. 3) Penggantian botol harus “tertutup” untuk mencegah udara masuk yaitu meng”klem” slang pada dua tempat dengan kocher. coba merubah posisi pasien dari terlentang. 2) Setiap hendak mengganti botol dicatat pertambahan cairan dan adanya gelembung udara yang keluar dari bullow drainage. ? Perlu sering dicek. apakah tekanan negative tetap sesuai petunjuk jika suction kurang baik. d.

Close Login to IntenseDebate Or create an account Username or Email: Password: Forgot login? OpenID Cancel Login Close Login with your OpenID Or create an account using OpenID OpenID URL: Back Cancel Login Dashboard | Edit profile | Logout • þÿ þÿ Logged in as There are no comments posted yet.• • RSS Feed Subscribe via email Subscribe Follow the discussion þÿ Comments Logging you in. Be the first one! ...

Empiema adalah penumpukan materi purulen pada areal pleural ( Hudak & Gallo. berkeringat malam. arokreksia . anti biaotika (dosis besar ) dan atau streptokinase. Komplikasi. 1.1997). Sasaran penetalaksanaan adalah mengaliran cavitas pleura hingga mencapai ekspansi paru yang optimal. V. Dicapai dengan drainase yang adekuat. Baughman. Infeksi darti luar dinding thoraks yang menjalar kedalam pleura misalnya pada trauma thoraks. Manisfestasi Klinik. penurunan premitus. 1997 ) II. Drainase cairan pleura atau pus tergantung pada tahapan penyakit dengan : . • • • DASAR EMPIEMA Empiema adalah keadaan terkumpulnya nanah ( pus ) didalam ronggga pleura dapat setempat atau mengisi seluruh rongga pleura( Ngastiyah. pendataran pada perkusi dada. Pnemococcus 3. 2000 ).Post a new comment Askep Empiema KONSEP I. Karena kuman menjalar perkontiniutatum dan menembus pleura visceral . 1. Tidak terdapatnya bunyi nafas. 3. Secara hematogen. Penatalaksanaan (Medik). Demam. Evaluasi Diagnosis Foto dada dan thoraksintesis. Penyebab. kuman dari focus lain sampai pada pleura visceral. Pengertian. VI.dan penurunan berat badan. Terjadinya empiema dapat melalui tiga jalur: Patogenesis. VII. 2. abses dinding thoraks. dispneu. Empiema adalah penumpukan cairan terinfeksi atau pus pada cavitas pleura ( Diane C. III. Streptococcus. Sebagai komplikasi pneumoni dan abses paru. IV. Perubahan Fibrotik yang tidak dapat sembuh yang menggangu ventilasi paru yang disebabkan terjebaknya paru pada sisi yang terkena. nyeri pleural. Stapilococcus 2.

3. G. Pernafasan . b. kelemahan. pembengkakan pada ekstremitas bawah. Meningkatkan masukan nutrisi 4. E. bila dilakukan fungsi plera atau dipasang WSD cara menolong tidak berbeda. riwayat reaksi alergi atau sensitive terhadap zat / factor lingkungan. Prioritas Keperawatan. nafas pendek batuk menetap dengan produksi sputum. keletihan. episode batuk hilang timbul. penurunan kemampuan melakukan ADL. Dasar data pengkajian. instruksi dalam latihan pernafasan (pernafasan bibir dan pernafasan diagpragmatik ) c. d. .jika cairan tidak terlalu kental b. Dispneu pada saat istirahat. H. setelah empiema sembuh pasien perlu pengobatan TB. Interaksi social .a. Memberikan informasi tentang proses penyakit / prognosis dan program pengobatan. D. Gejala . Dekortikasi. Pertahankan jalan nafasa paten dengan bunyi nafas bersih 2. Seksualitas. memperlambat memburuknya kondisi 5. riwayat pneumoni berulang . Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan bronchus spsame. Intervensi Keperawatan. kurang sistem pendukung. I. 1. . Perawatan pada umumnya sama dengan pasien pleuritis. 1. malaise. ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN EMPIEMA . pnemothoraks c. Aktivitas / istirahat. mual muntah nafsu makan menurun . Mencegah komplikasi. indikasi bila nanah sangat kental. VIII. Sirkulasi . Mempertahankan patensi jalan nafas 2. penyakit lama. DIAGNOSA KEPERAWATAN. Menunjukkan perilaku batuk efektif dan mengeluarkan secret • Intervensi a. Keamanan. perubahan pola hidup. kelemahan • Kriteria hasal : 1. a. Makanan/cairan . A. INTERVENSI DAN RASIONAL. Bantu pasien mengatasi kondisi. penurunan libido. kaji dan pantau suara pernafasan . F. Ketidakmampuan melakukan ADL karena sulit bernapas. Aspirasi jarum ( Thorasintesis ). Drainase dada terbuka untuk mengeluarkan pus pleural yang mengental dan debris serta mesekresi jaringan pulmonal yang mendasari penyakit. peningkatan produksi secret. Ketidakmampuan untuk tidur. Membantu tindakan untuk mempermudah pertukaran gas. C. jika imflamasi telah bertahan lama. Higiene . Integritas ego. peningkatan factor resiko. Drainase tertutup dengan WSD. Bila penyebab adalah kuman TBC maka. B. Berikan perawatan spesifik terhadap metoda drainase pleural. Auskultasi bunyi nafas catat adanya bunyi nafas. hubungan ketergantungan.

kerusakan berhubungan dengan gangguan suplai oksigen . c. misalnya peninggian kepala tempat tidur. • Intervensi a. d. mengi. dan produksi mukosa.ansietas dan distress pernafasan Rasional : Disfungsi pernafasan merupakan tahap proses kronis yang yang dapat menimbulkan infeksi atau reaksi alergi. Pengiriman oksigen dapat diperbaiki dengan posisi tinggi dan latihan napas untuk menurunkan kolap jalan napas. tachipneu merupakan derajat yan ditemukan adanya proses infeksi akut. sakit akut. Tingkatkan masukan cairan sampai 3000 ml per hari sesuai toleransi jantung. e. Rasional : Memberikan pasien berbagao cara untuk mengatasi dan mengontrol dispneu dan menurunkan jebakan udara.kedalaman pernapasan Rasional : Berguna dalam evaluasi derajat distress pernapasan dan atau kronisnya penyakit b. Rasional : Peninggian kepala tempat tidur mempermudah fungsi pernafasan dengan menggunakan gravitasi. indikasi spasme bronchus / tertahannya sekret. atau kelemahan. Kaji pasien untuk posisi yang nyaman .bunyi tambahan Rasional : Bunyi nafas redup karena penurunan aliran udara . Rasional : . Kriteria hasil Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenisasi jaringan adekuat. Rasional : Hidrasi membantu menurunkan kekentalan secret . menurunkan spasme jalan nafas. Kaji frekwensi. Palpasi primitus. Krekels basah menyebar menujukkan cairan pada dekompensasi jantung. mempermudah pengeluaran g.Rasional : Untuk mengetahui adanya obstruksi jalan nafas. Observasi karakteristik batuk Rasional : Batuk dapat menetap tetapi tidak efektif khususnya bila pasien lansia. f. Diagnosa keperawatan : Pertukaran gas.mengi . Memberikan obata sesaui indikasi Rasional : Merilekskan otot halus dan menurunkan kongesti lokal. Auskultasi bunyi nafas catat area penurunan aliran udara .berpartisipasi dalam program pengobatan. Bantu latihan nafas abdomen atau bibir. 2. c. d. Catat adanya atau derajat dispneu. kerusakan alveoli . Tinggikan kepala tempat tidur Rasional . b. gelisah .

Timbang berat badan sesuai indikasi Rasional : Berguna untuk menetukan kebutuhan kalori. Hindari makan yang sangat panas dan dingin Rasional : Suhu ekstrim dapat mencetuskan / meningkatkan spasme batuk e. Tachikardia . perubahan. d. perubahan pola hidup untuk meningkatkan lingkungan yang aman. Kolaborasi dengan ahli gizi / nutrisi. Dorong kesimbangan antara aktivitas dan istirahat. penurunan aktivitas dan hipoksemia. Intervensi : a. . Rasional : Sekret berbau. Rasional : Penurunan atau hipoaktif bising usus menunjukkan motilitas gaster dan kostipasi yang berhubungan dengan pembatasan pemasukan cairan.dan minuman karbonat Rasional : Dapat menghasilakan distensi abdomen yang menganggu nafas abdomen dan gerakan diagframa yang dapat meningkatan dispnea. Diagnosa keperawatan : Nutrisi.Penurunan getarn fibrasi diduga adanya pengumpulan cairan atau udara terjebak e. kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan dispneu. f. pilihan makanan buruk. b. Kaji kebiasaan diit . Diagnosa keperawatan : Resiko infeksi Kriteria hasil : • Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah / menurunkan resiko infeksi • Menunjukkan teknik. Kriteria hasil : Menunjukkan peningkatan berat badan mempertahankan berat badan Intervensi : a. anoreksia. Observasi warna . kuning atau kehijauan menujukkan adanya infeksi paru. perubahan tekanan darah dapat menujukkan efek hipoksemia sistemik pada fungsi jantung. mual muntah. Auskultasi bunyi usus . produksi sputum. kelemahan. b. c.bau sputum. c. Awasi suhu Rasional : Demam dapat terjadi karena infeksi dan atau dehidrasi. Rasional. menyusun tujuan berat badan dan evaluasi keadekuatan rencana nutrisi. Awasi tanda vital dan irama jantung. 3.catat derajat kesulitan makan Rasional : Pasien distress pernafasan akut sering anoreksia karena dispneu. Rasional : Metode makan dan kebutuhan dengan upaya kalori didasarkan pada kebutuhan individu untuk memberikan nutrisi maksimal dengan upaya minimal pasien /penggunaan energi 4.disritmia. Hindari makan yang mengandung gas.

DAFTAR PUSTAKA Hudak & Gallo. peningkatan penyembuhan . Diskusi masukan nutrisi adekuat. By: HAy_Blue ^_^ Diposkan oleh Hayato Frizi di 17:37 . Ngastiyah. Kriteria hasil : Nyatakan atau pemahaman kondisi atau proses penyakit. pendekatan untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Rasional : Penghentian merokok dapat menghambat kemajuan PPOM d. membantu meminimalkan kolaps jalan nafas. c.. e. Doengoes. Rasional : Malnutrisi dapat mempengaruhi kesehatan umum dan menurunkan tahanan terhadap infeksi. Perawatan anak sakit . Patofisiologi. EGC. Jakarta. d. Marilyn E. Jelaskan proses penyakit individu. Jakarta. Kolaborasi pemeriksaan sputum. Berikan latihan atau batuk efektif Rasional : Pernafasan bibir dan nafas abdomen / diagframatik menguatkan otot pernafasan. Rasional : Dilakukan untuk mengidentifikasi organisme penyebab dan kerentanan terhadap anti microbial 5. Kaji kebutuhan / dosis oksigen untuk pasien Rasional : Menurunkan resiko kesalahan penggunaan oksigen dan komplikasi lanjut.Rasional : Menurunkan konsumsi / kebutuhan kesimbangan oksigen dan memperbaiki pertahan pasien terhadapa infeksi. ( 1997 ). ( 1997 ). Diskusi pentingnya mengikuti perawatan medik ( Foto Thoraks dan kultur sputum ) Rasional : Pengawasan proses penyakit untuk membuata program therapy . (2000 ). Jakarta. ( 2000 ). EGC. Kaji efek bahaya merokok dan nasehatkan untuk menghentikan rokok. EGC. Rasional : Menurunkan ansietas dan dapat menimbulkan perbaikan b. Baughman. e. Keperawatan kritis : suatu pendekatan holistic. Intervensi : a. Jakarta Diana C. Rencana asuhan keperawatan. EGC. Diagnosa keperawatan : Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang penyakitnya.

Jadi tujuan pokok fisioterapi pada penyakit paru adalah mengembalikan dan memelihara fungsi otot-otot pernafasan dan membantu membersihkan sekret dari bronkus dan untuk mencegah penumpukan sekret. memperbaiki pergerakan dan aliran sekret. air. renjatan dan perdarahan masif. sinar. fisioterapi dada KEBUTUHAN DASAR MANUSIA FISIOTERAPI DADA By. S.Label: Kesehatan 0 komentar: Poskan Komentar Link ke posting ini Buat sebuah Link ASKEP FISIOTERAPI DADA 14 Februari 2009 pada 9:54 am (fisioterapi dada) Tags: askep. dan vibrasi Kontra indikasi fisioterapi dada ada yang bersifat mutlak seperti kegagalan jantung. penyakit pernafasan restriktif termasuk kelainan neuromuskuler dan penyakit paru restriktif karena kelainan parenkim paru seperti fibrosis dan pasien yang mendapat ventilasi mekanik. dingin. DEFINISI Fisioterapi adalah suatu cara atau bentuk pengobatan untuk mengembalikan fungsi suatu organ tubuh dengan memakai tenaga alam. Dalam fisioterapi tenaga alam yang dipakai antara lain listrik. status asmatikus. Fisioterapi dada ini walaupun caranya kelihatan tidak istimewa tetapi ini sangat efektif dalam upaya mengeluarkan sekret dan memperbaiki ventilasi pada pasien dengan fungsi paru yang terganggu. AFIYAH HIDAYATI. perkusi. sedangkan kontra . Fisioterapi dada adalah salah satu dari pada fisioterapi yang sangat berguna bagi penderita penyakit respirasi baik yang bersifat akut maupun kronis. Fisioterapi dada ini meliputi rangkaian : postural drainage. massage dan latihan yang mana penggunaannya disesuaikan dengan batas toleransi penderita sehingga didapatkan efek pengobatan. panas. Ns.Kp A. Fisioterapi dada ini dapat digunakan untuk pengobatan dan pencegahan pada penyakit paru obstruktif menahun.

Pasien yang melakukan tirah baring yang lama 1. Pasien yang memakai ventilasi 1.3. Waktu yang terbaik untuk melakukan PD yaitu sekitar 1 jam sebelum sarapan pagi dan sekitar 1 jam sebelumtidur pada malam hari. Mobilisasi sekret yang tertahan : 2. patah tulang iga atau luka baru bekas operasi.1.4. Periksa nadi dan tekanan darah. Apakah pasien mempunyai refleks batuk atau memerlukan suction untuk mengeluarkan sekret. 2. Cara melakukan pengobatan : 1. Pasien dengan batuk yang tidak efektif .5. Terangkan cara pengobatan kepada pasien secara ringkas tetapi lengkap. 4. Terapis harus di depan pasien untuk melihat perubahan yang terjadi selama Postural Drainase. Postural drainase Postural drainase (PD) merupakan salah satu intervensi untuk melepaskan sekresi dari berbagai segmen paru dengan menggunakan pengaruh gaya gravitasi. Pasien yang produksi sputum meningkat seperti pada fibrosis kistik atau bronkiektasis 1.1. Pada penderita dengan produksi sputum yang banyak PD lebih efektif bila disertai dengan clapping dan vibrating. B.3. Mengingat kelainan pada paru bisa terjadi pada berbagai lokasi maka PD dilakukan pada berbagai posisi disesuaikan dengan kelainan parunya.indikasi relatif seperti infeksi paru berat. Longgarkan seluruh pakaian terutama daerah leher dan pinggang. 2. Edema paru 5.4. hipertensi. 2. Pasien pre dan post operatif 2. Pasien dengan atelektasis yang disebabkan oleh sekret 2. Hemoptisis 3. 4.2. bila dilakukan pada beberapa . Pasien dengan pneumonia 2..2. Indikasi untuk Postural Drainase : 1. Pasien dengan abses paru 2. Profilaksis untuk mencegah penumpukan sekret yaitu pada : 1. Efusi pleura yang luas Persiapan pasien untuk postural drainase. tumor paru dengan kemungkinan adanya keganasan serta adanya kejang rangsang. Postoral Drainase dilakukan dua kali sehari. 3. Tension pneumotoraks 2. PD dapat dilakukan untuk mencegah terkumpulnya sekret dalam saluran nafas tetapi juga mempercepat pengeluaran sekret sehingga tidak terjadi atelektasis. infark miokard akutrd infark dan aritmia. Pasien neurologi dengan kelemahan umum dan gangguan menelan atau batuk Kontra indikasi untuk postural drainase : 1. 1. Gangguan sistem kardiovaskuler seperti hipotensi.

6. sakit. hari. Pada inspeksi apakah kedua sisi dada bergerak sama. 2. Minta pasien mempertahankan posisi tersebut selama 10-15 menit. Penilaian hasil pengobatan : 1. Clapping/Perkusi Perkusi adalah tepukan dilakukan pada dinding dada atau punggung dengan tangan dibentuk seperti mangkok. sputum: warna. Pada auskultasi apakah suara pernafasan meningkat dan sama kiri dan kanan. 2. tiap satu posisi 3 – 10 menit. respon pasien) 14) Jika sputum masih belum bisa keluar. Apakah batuk telah produktif. Suara pernafasan normal atau relative jelas. Perkusi dapat dilakukan dengan membentuk . merasa enakan. Foto toraks relative jelas. Apakah foto toraks ada perbaikan. apakah sekret sangat encer atau kental. 4. Sambil PD bisa dilakukan clapping dan vibrating 9) Berikan tisu untuk membersihkan sputum 10) Minta pasien untuk duduk. Pasien mampu untuk bernafas dalam dan batuk. Bagaimana perasaan pasien tentang pengobatan apakah ia merasa lelah.posisi tidak lebih dari 40 menit. 4. tanggal. adakah temperatur dan nadi tekanan darah. 5. 3. data klinis. nafas dalam dan batuk efektif 11) Evaluasi respon pasien (pola nafas. Pasien tidak demam dalam 24 – 48 jam. maka prosedur dapat diulangi kembali dengan memperhatikan kondisi pasien C. volume. Tujuan melepaskan sekret yang tertahan atau melekat pada bronkhus. Alat dan bahan : 1) Bantal 2-3 2) Tisu wajah 3) Segelas air hangat 4) Masker 5) Sputum pot Prosedur kerja : 1) Jelaskan prosedur 2) Kaji area paru. suara pernafasan) 12) Cuci tangan 13) Dokumentasi (jam. 3. Perkusi dada merupakan energi mekanik pada dada yang diteruskan pada saluran nafas paru. Kriteria untuk tidak melanjutkan pengobatan : 1. 3. foto x-ray 3) Cuci tangan 4) Pakai masker 5) Dekatkan sputum pot 6) Berikan minum air hangat 7) Atur posisi pasien sesuai dengan area paru yang akan didrainage 8. Dilakukan sebelum makan pagi dan malam atau 1 s/d 2 jam sesudah makan. Bagaimana efek yang nampak pada vital sign.

Vibrasi dilakukan hanya pada waktu pasien mengeluarkan nafas.kedua tangan deperti mangkok. Kontra indikasinya adalah patah tulang dan hemoptisis. Luka bakar. napas dalam dengan Purse lips breathing 3) Perkusi pada tiap segmen paru selama 1-2 menit dengan kedua tangan membentuk mangkok D. Patah tulang rusuk 2. Emboli paru 6. . Aliran terjadi dari cabang-cabang tersebut di atas ke bronki utama. minta pasien untuk batuk Gambar A : Segmen apikal pada lobus kanan atas dan sub segmen apikal dari segmen posterior pada lobus kiri atas. Vibrasi dengan kompresi dada menggerakkan sekret ke jalan nafas yang besar sedangkan perkusi melepaskan/melonggarkan sekret. Skin graf yang baru 4. Emfisema subkutan daerah leher dan dada 3. Sesama postural drainase terapis biasanya secara umum memilih cara perkusi atau vibrasi untuk mengeluarkan sekret. Vibrating Vibrasi secara umum dilakukan bersamaan dengan clapping. jadi semua indikasi postural drainase secara umum adalah indikasi perkusi. Vibrasi dilakukan dengan cara meletakkan tangan bertumpang tindih pada dada kemudian dengan dorongan bergetar. lndikasi untuk perkusi : Perkusi secara rutin dilakukan pada pasien yang mendapat postural drainase. Prosedur kerja : 1) Meletakkan kedua telapak tangan tumpang tindih diatas area paru yang akan dilakukan vibrasi dengan posisi tangan terkuat berada di luar 2) Anjurkan pasien napas dalam dengan Purse lips breathing 3) Lakukan vibrasi atau menggetarkan tangan dengan tumpuan pada pergelangan tangan saat pasien ekspirasi dan hentikan saat pasien inspirasi 4) Istirahatkan pasien 5) Ulangi vibrasi hingga 3X. infeksi kulit 5. Aliran terjadi dari cabang-cabang tersebut di atas ke bronki utama. Pasien disuruh bernafas dalam dan kompresi dada dan vibrasi dilaksanakan pada puncak inspirasi dan dilanjutkan sampai akhir ekspirasi. Pneumotoraks tension yang tidak diobati Alat dan bahan : 1) Handuk kecil Prosedur kerja : 1) Tutup area yang akan dilakukan clapping dengan handuk untuk mengurangi ketidaknyamanan 2) Anjurkan pasien untuk rileks. Perkusi harus dilakukan hati-hati pada keadaan : 1. Gambar B : Segmen posterior pada lobus kanan atas dan sub segmen posterior dada segmen apikal posterior pada lobus kiri atas.

Aliran terjadi dari percabangan bronkus ke bronkus kanan. Gambar G : Segmen basal lateral pada lobus bawah kiri. Gambar E : Segmen basal posterior pada kedua belah lobus bawah. . Aliran terjadi dan percabangan bronkus ke bronkus yang bersangkutan. Gambar F : Segmen basal lateral pada lobus bawah kanan. oblik kiri) Sasaran : Segmen lingular pada lobus atas kiri. Dengan memiringkan badan ke kiri dari ke kanan secara berganti-ganti aliran dari lobus atas kanan dan kiri ke bronkus utama. Aliran dari percabangan tersebut ke bronkus kanan. Gambar D : Segmen superior pada kedua belah lobus atas. tubuh oblik kanan) Sasaran : Lobus tengah kanan. (Posisi kepala ke bawah. Aliran dari percabangan tersebut ke bronkus kiri. Dengan sebuah bantal yang diletakkan di bawah perut tubuh dibuat agak dalam posisi menungging. aliran terjadi dari Cabang tersebut ke bronkus utama. Gambar H : (Posisi kepala ke bawah. Aliran terjadi dari percabangan bronlms kebonkus kiri.Gambar C : Segmen anterior pada kedua belah lobus atas.