1

©2003 Digitized by USU digital library ASUHAN KEPERAWATAN ASMA BRONKIAL DUDUT TANJUNG, S.Kp. Fakultas Kedokteran Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Sumatera Utara Pengertian Asma bronkhial adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermitten, reversible dimana trakeobronkial berespon secara hiperaktif terhadap stimuli tertentu. Asma bronchial adalah suatu penyakit dengan ciri meningkatnya respon trakea dan bronkus terhadap berbagai rangsangan dengan manifestasi adanya penyempitan jalan nafas yang luas dan derajatnya dapat berubah-ubah baik secara spontan maupun hasil dari pengobatan ( The American Thoracic Society ). Klasifikasi Berdasarkan penyebabnya, asma bronkhial dapat diklasifikasikan menjadi 3 tipe, yaitu : 1. Ekstrinsik (alergik) Ditandai dengan reaksi alergik yang disebabkan oleh faktor-faktor pencetus yang spesifik, seperti debu, serbuk bunga, bulu binatang, obat-obatan (antibiotic dan aspirin) dan spora jamur. Asma ekstrinsik sering dihubungkan dengan adanya suatu predisposisi genetik terhadap alergi. Oleh karena itu jika ada faktor-faktor pencetus spesifik seperti yang disebutkan di atas, maka akan terjadi serangan asma ekstrinsik. 2. Intrinsik (non alergik) Ditandai dengan adanya reaksi non alergi yang bereaksi terhadap pencetus yang tidak spesifik atau tidak diketahui, seperti udara dingin atau bisa juga disebabkan oleh adanya infeksi saluran pernafasan dan emosi. Serangan asma ini menjadi lebih berat dan sering sejalan dengan berlalunya waktu dan dapat berkembang menjadi bronkhitis kronik dan emfisema. Beberapa pasien akan mengalami asma gabungan. 3. Asma gabungan Bentuk asma yang paling umum. Asma ini mempunyai karakteristik dari bentuk alergik dan non-alergik. Etiologi Ada beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi dan presipitasi timbulnya serangan asma bronkhial. a. Faktor predisposisi Genetik Dimana yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum diketahui bagaimana cara penurunannya yang jelas. Penderita dengan penyakit alerg biasanya mempunyai keluarga dekat juga menderita penyakit alergi. Karena adanya bakat alergi ini, penderita sangat mudah terkena penyakit asma bronkhial jika terpapar dengan foktor pencetus. Selain itu hipersentifisitas saluran pernafasannya juga bisa diturunkan. b. Faktor presipitasi Alergen Dimana alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :

2

©2003 Digitized by USU digital library 1. Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan ex: debu, bulu binatang, serbuk bunga, spora jamur, bakteri dan polusi 2. Ingestan, yang masuk melalui mulut

ex: makanan dan obat-obatan 3. Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit ex: perhiasan, logam dan jam tangan Perubahan cuaca Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi asma. Atmosfir yang mendadak dingin merupakan faktor pemicu terjadinya serangan asma. Kadang-kadang serangan berhubungan dengan musim, seperti: musim hujan, musim kemarau, musim bunga. Hal ini berhubungan dengan arah angin serbuk bunga dan debu. Stress Stress/ gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma, selain itu juga bisa memperberat serangan asma yang sudah ada. Disamping gejala asma yang timbul harus segera diobati penderita asma yang mengalami stress/gangguanemosi perlu diberi nasehat untuk menyelesaikan masalah pribadinya. Karena jika stressnya belum diatasi maka gejala asmanya belum bisa diobati. Lingkungan kerja Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan asma. Hal ini berkaitan dengan dimana dia bekerja. Misalnya orang yang bekerja di laboratorium hewan, industri tekstil, pabrik asbes, polisi lalu lintas. Gejala ini membaik pada waktu libur atau cuti. Olah raga/ aktifitas jasmani yang berat Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika melakukan aktifitas jasmani atau aloh raga yang berat. Lari cepat paling mudah menimbulkan serangan asma. Serangan asma karena aktifitas biasanya terjadi segera setelah selesai aktifitas tersebut. Patofisiologi Asma ditandai dengan kontraksi spastic dari otot polos bronkhiolus yang menyebabkan sukar bernafas. Penyebab yang umum adalah hipersensitivitas bronkhioulus terhadap benda-benda asing di udara. Reaksi yang timbul pada asma tipe alergi diduga terjadi dengan cara sebagai berikut : seorang yang alergi mempunyai kecenderungan untuk membentuk sejumlah antibody Ig E abnormal dalam jumlah besar dan antibodi ini menyebabkan reaksi alergi bila reaksi dengan antigen spesifikasinya. Pada asma, antibody ini terutama melekat pada sel mast yang terdapat pada interstisial paru yang berhubungan erat dengan brokhiolus dan bronkhus kecil. Bila seseorang menghirup alergen maka antibody Ig E orang tersebut meningkat, alergen bereaksi dengan antibodi yang telah terlekat pada sel mast dan menyebabkan sel ini akan mengeluarkan berbagai macam zat, diantaranya histamin, zat anafilaksis yang bereaksi lambat (yang merupakan leukotrient), faktor kemotaktik eosinofilik dan bradikinin. Efek gabungan dari semua faktor-faktor ini akan menghasilkan adema lokal pada dinding bronkhioulus kecil maupun sekresi mucus yang kental dalam lumen bronkhioulus dan spasme otot polos bronkhiolus sehingga menyebabkan tahanan saluran napas menjadi sangat meningkat. Pada asma , diameter bronkiolus lebih berkurang selama ekspirasi daripada selama inspirasi karena peningkatan tekanan dalam paru selama eksirasi paksa

3

©2003 Digitized by USU digital library menekan bagian luar bronkiolus. Karena bronkiolus sudah tersumbat sebagian, maka sumbatan selanjutnya adalah akibat dari tekanan eksternal yang menimbulkan obstruksi berat terutama selama ekspirasi. Pada penderita asma biasanya dapat melakukan inspirasi dengan baik dan adekuat, tetapi sekali-kali melakukan ekspirasi. Hal ini menyebabkan dispnea. Kapasitas residu fungsional dan volume residu paru menjadi sangat meningkat selama serangan asma akibat kesukaran mengeluarkan

udara ekspirasi dari paru. Hal ini bisa menyebabkan barrel chest. Manifestasi Klinik Biasanya pada penderita yang sedang bebas serangan tidak ditemukan gejala klinis, tapi pada saat serangan penderita tampak bernafas cepat dan dalam, gelisah, duduk dengan menyangga ke depan, serta tanpa otot-otot bantu pernafasan bekerja dengan keras. Gejala klasik dari asma bronkial ini adalah sesak nafas, mengi ( whezing ), batuk, dan pada sebagian penderita ada yang merasa nyeri di dada. Gejala-gejala tersebut tidak selalu dijumpai bersamaan. Pada serangan asma yang lebih berat , gejala-gejala yang timbul makin banyak, antara lain : silent chest, sianosis, gangguan kesadaran, hyperinflasi dada, tachicardi dan pernafasan cepat dangkal . Serangan asma seringkali terjadi pada malam hari. Pemeriksaan laboratorium 1. Pemeriksaan sputum Pemeriksaan sputum dilakukan untuk melihat adanya: Kristal-kristal charcot leyden yang merupakan degranulasi dari kristal eosinopil. Spiral curshmann, yakni yang merupakan cast cell (sel cetakan) dari cabang bronkus. Creole yang merupakan fragmen dari epitel bronkus. Netrofil dan eosinopil yang terdapat pada sputum, umumnya bersifat mukoid dengan viskositas yang tinggi dan kadang terdapat mucus plug. 2. Pemeriksaan darah Analisa gas darah pada umumnya normal akan tetapi dapat pula terjadi hipoksemia, hiperkapnia, atau asidosis. Kadang pada darah terdapat peningkatan dari SGOT dan LDH. Hiponatremia dan kadar leukosit kadang-kadang di atas 15.000/mm3 dimana menandakan terdapatnya suatu infeksi. Pencetus : Allergen Olahraga Cuaca Emosi Imun respon menjadi aktif Pelepasan mediator humoral Histamine SRS-A Serotonin Kinin Bronkospasme Edema mukosa Sekresi meningkat inflamasi Penghambat kortikosteroid

4
©2003 Digitized by USU digital library

yakni terdapatnya RBB ( Right bundle branch block). Bila terdapat komplikasi. Spirometri Untuk menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas reversible. Hipoksemia 4. 2. dan VES atau terjadinya depresi segmen ST negative. dan pneumoperikardium. yakni terdapatnya sinus tachycardia. Pemeriksaan radiologi Gambaran radiologi pada asma pada umumnya normal. Scanning paru Dengan scanning paru melalui inhalasi dapat dipelajari bahwa redistribusi udara selama serangan asma tidak menyeluruh pada paru-paru. serta diafragma yang menurun. Komplikasi Berbagai komplikasi yang mungkin timbul adalah : 1. 5. maka dapat dilihat bentuk gambaran radiolusen pada paru-paru. Benyak penderita tanpa keluhan tetapi pemeriksaan spirometrinya menunjukkan obstruksi. Pemeriksaan penunjang 1. Atelektasis 3. Tanda-tanda hopoksemia. dan disesuaikan dengan gambaran yang terjadi pada empisema paru yaitu : perubahan aksis jantung. Pemeriksaan spirometri tidak saja penting untuk menegakkan diagnosis tetapi juga penting untuk menilai berat obstruksi dan efek pengobatan. maka gambaran radiolusen akan semakin bertambah. maka bercak-bercak di hilus akan bertambah. Pneumothoraks 5. yakni pada umumnya terjadi right axis deviasi dan clock wise rotation. Pemeriksaan spirometer dilakukan sebelum dan sesudah pamberian bronkodilator aerosol (inhaler atau nebulizer) golongan adrenergik.Pada pemeriksaan faktor-faktor alergi terjadi peningkatan dari Ig E pada waktu serangan dan menurun pada waktu bebas dari serangan. cara yang paling cepat dan sederhana diagnosis asma adalah melihat respon pengobatan dengan bronkodilator. Peningkatan FEV1 atau FVC sebanyak lebih dari 20% menunjukkan diagnosis asma. Bila terjadi pneumonia mediastinum. Pemeriksaan tes kulit Dilakukan untuk mencari faktor alergi dengan berbagai alergen yang dapat menimbulkan reaksi yang positif pada asma. Elektrokardiografi Gambaran elektrokardiografi yang terjadi selama serangan dapat dibagi menjadi 3 bagian. maka kelainan yang didapat adalah sebagai berikut: Bila disertai dengan bronkitis. Bila terdapat komplikasi empisema (COPD). SVES. Akan tetapi bila terdapat komplikasi. Emfisema 5 ©2003 Digitized by USU digital library . Tidak adanya respon aerosol bronkodilator lebih dari 20%. Pada waktu serangan menunjukan gambaran hiperinflasi pada paru-paru yakni radiolusen yang bertambah dan peleburan rongga intercostalis. pneumotoraks. Terdapatnya tanda-tanda hipertropi otot jantung. maka terdapat gambaran infiltrate pada paru Dapat pula menimbulkan gambaran atelektasis lokal. 3. 4. Status asmatikus 2.

Kromalin 6 ©2003 Digitized by USU digital library Kromalin bukan bronkodilator tetapi merupakan obat pencegah serangan asma. sirup. Itulah sebabnya penderita yang mempunyai sakit lambung sebaiknya berhati-hati bila minum obat ini.Fenoterol (berotec) . Berotec. Pengobatan pada asma bronkhial terbagi 2. suntikan dan semprotan. Ada juga yang berbentuk bubuk halus yang dihirup (Ventolin Diskhaler dan Bricasma Turbuhaler) atau cairan broncodilator (Alupent.Orsiprenalin (Alupent) . Memberikan penerangan kepada penderita ataupun keluarganya mengenai penyakit asma. b. yaitu: 1. Simpatomimetik/ andrenergik (Adrenalin dan efedrin) Nama obat : . dan disuntikan perlahan-lahan langsung ke pembuluh darah. . brivasma serts Ventolin) yang oleh alat khusus diubah menjadi aerosol (partikel-partikel yang sangat halus ) untuk selanjutnya dihirup. Santin (teofilin) Nama obat : . Teofilin ada juga dalam bentuk supositoria yang cara pemakaiannya dimasukkan ke dalam anus. Mengenal dan menghindari fakto-faktor yang dapat mencetuskan serangan asma 3. baik pengobatannya maupun tentang perjalanan penyakitnya sehingga penderita mengerti tujuan penngobatan yang diberikan dan bekerjasama dengan dokter atau perawat yang merawatnnya. tetapi cara kerjanya berbeda. Supositoria ini digunakan jika penderita karena sesuatu hal tidak dapat minum teofilin (misalnya muntah atau lambungnya kering).6. Gagal nafas Penatalaksanaan Prinsip umum pengobatan asma bronchial adalah : 1. 2. 2. Sehingga bila kedua obat ini dikombinasikan efeknya saling memperkuat. Pengobatan farmakologik : Bronkodilator : obat yang melebarkan saluran nafas. Terbagi dalam 2 golongan : a. Menghilangkan obstruksi jalan nafas dengan segara. Deformitas thoraks 7. Karena sering merangsang lambung bentuk tablet atau sirupnya sebaiknya diminum sesudah makan.Aminofilin (Euphilin Retard) . Pengobatan non farmakologik: Memberikan penyuluhan Menghindari faktor pencetus Pemberian cairan Fisiotherapy Beri O2 bila perlu. Yang berupa semprotan: MDI (Metered dose inhaler). Cara pemakaian : Bentuk suntikan teofillin / aminofilin dipakai pada serangan asma akut.Terbutalin (bricasma) Obat-obat golongan simpatomimetik tersedia dalam bentuk tablet. Manfaatnya adalah untuk penderita asma alergi terutama anakanak.Teofilin (Amilex) Efek dari teofilin sama dengan obat golongan simpatomimetik.Aminofilin (Amicam supp) .

Pengkajian Hal-hal yang perlu dikaji pada pasien asma adalah sebagai berikut: Riwayat kesehatan yang lalu: Kaji riwayat pribadi atau keluarga tentang penyakit paru sebelumnya. Kaji riwayat pekerjaan pasien. Keuntungnan obat ini adalah dapat diberika secara oral. Hasil yang diharapkan: mempertahankan jalan nafas paten dengan bunyi bersih dan jelas. Penurunan berat badan karena anoreksia. Tidur dalam posisi duduk tinggi. Menggunakan obat bantu pernapasan. INTERVENSI RASIONAL Mandiri Auskultasi bunyi nafas. Biasanya diberikan dengan dosis dua kali 1mg / hari. 7 ©2003 Digitized by USU digital library Seksualitas Penurunan libido Diagnosa dan Intervensi Keperawatan Diagnosa 1 : Tak efektif bersihan jalan nafas b/d bronkospasme. Ketolifen Mempunyai efek pencegahan terhadap asma seperti kromalin. Sirkulasi Adanya peningkatan tekanan darah. Pernapasan Dipsnea pada saat istirahat atau respon terhadap aktivitas atau latihan. Hubungan sosal Keterbatasan mobilitas fisik. dan efeknya baru terlihat setelah pemakaian satu bulan. Kemerahan atau berkeringat. misalnya: meninggikan bahu.Kromalin biasanya diberikan bersama-sama obat anti asma yang lain. Susah bicara atau bicara terbata-bata. Aktivitas Ketidakmampuan melakukan aktivitas karena sulit bernapas. Adanya peningkatan frekuensi jantung. Warna kulit atau membran mukosa normal/ abu-abu/ sianosis. Integritas ego Ansietas Ketakutan Peka rangsangan Gelisah Asupan nutrisi Ketidakmampuan untuk makan karena distress pernapasan. catat . Kaji riwayat reaksi alergi atau sensitifitas terhadap zat/ faktor lingkungan. Adanya batuk berulang. Adanya ketergantungan pada orang lain. Napas memburuk ketika pasien berbaring terlentang ditempat tidur. melebarkan hidung. Adanya bunyi napas mengi. Adanya penurunan kemampuan/peningkatan kebutuhan bantuan melakukan aktivitas sehari-hari.

asap dll Tingkatkan masukan cairan sampai dengan 3000 ml/ hari sesuai toleransi jantung memberikan air hangat. duduk pada sandara tempat tidur Pertahankan polusi lingkungan minimum. penggunaan obat bantu. contoh : meninggikan kepala tempat tidur. contoh: debu. Hidrasi membantu menurunkan kekentalan sekret. distress pernafasan. penggunaan cairan hangat dapat menurunkan kekentalan sekret. ex: mengi Kaji / pantau frekuensi pernafasan. penggunaan cairan hangat dapat menurunkan spasme bronkus.adanya bunyi nafas. Beberapa derajat spasme bronkus terjadi dengan obstruksi jalan nafas dan dapat/tidak dimanifestasikan adanya nafas advertisius. Peninggian kepala tempat tidur memudahkan fungsi pernafasan dengan menggunakan gravitasi. Disfungsi pernafasan adalah variable yang tergantung pada tahap proses akut yang menimbulkan perawatan di rumah sakit. ansietas. catat rasio inspirasi / ekspirasi. Tempatkan posisi yang nyaman pada pasien. Pencetus tipe alergi pernafasan dapat mentriger episode akut. Tachipnea biasanya ada pada beberapa derajat dan dapat ditemukan pada penerimaan atau selama stress/ adanya proses infeksi akut. Kolaborasi Berikan obat sesuai dengan indikasi bronkodilator. mengi. Catat adanya derajat dispnea. dan produksi . Merelaksasikan otot halus dan menurunkan spasme jalan nafas.

meningkatkan masukan. Pasien distress pernafasan akut sering anoreksia karena dipsnea. Diagnosa 3 : Kerusakan pertukaran gas b/d gangguan suplai oksigen (spasme bronkus) Hasil yang diharapkan . 8 ©2003 Digitized by USU digital library Diagnosa 2: Malnutrisi b/d anoreksia Hasil yang diharapkan : menunjukkan peningkatan berat badan menuju tujuan yang tepat. disritmia. bau menurunkan nafsu makan dan dapat menyebabkan mual/muntah dengan peningkatan kesulitan nafas. Sering lakukan perawatan oral. dan perubahan tekanan darah . Penurunan getaran vibrasi diduga adanya pengumplan cairan/udara. buang sekret. Kolaborasi Berikan oksigen tambahan selama makan sesuai indikasi. perbaikan ventilasi dan oksigen jaringan edukuat. Menurunkan dipsnea dan meningkatkan energi untuk makan. masukan makanan saat ini. berikan wadah khusus untuk sekali pakai. Catat derajat kerusakan makanan. Sianosis mungkin perifer atau sentral keabu-abuan dan sianosis sentral mengindikasi kan beratnya hipoksemia. Rasa tak enak. INTERVENSI RASIONALISASI Mandiri Kaji/awasi secara rutin kulit dan membrane mukosa. Tachicardi. INTERVENSI RASIONALISASI Mandiri Kaji kebiasaan diet. Palpasi fremitus Awasi tanda vital dan irama jantung Kolaborasi Berikan oksigen tambahan sesuai dengan indikasi hasil AGDA dan toleransi pasien.mukosa.

INTERVENSI RASIONALISASI Mandiri Awasi suhu. Pemberian obat yang tepat . Menurunkan ansietas dan dapat menimbulkan perbaikan partisipasi pada rencana pengobatan. INTERVENSI RASIONALISASI Jelaskan tentang penyakit individu Diskusikan obat pernafasan. Penting bagi pasien memahami perbedaan antara efek samping mengganggu dan merugikan. Demam dapat terjadi karena infeksi dan atau dehidrasi. Tunjukkan tehnik penggunaan inhakler.mengidentifikasikan intervensi untuk mencegah atau menurunkan resiko infeksi. . efek samping dan reaksi yang tidak diinginkan. Hasil yang diharapkan : menyatakan pemahaman kondisi/proses penyakit dan tindakan. Hasil yang diharapkan : . Diskusikan kebutuhan nutrisi adekuat Kolaborasi Dapatkan specimen sputum dengan batuk atau pengisapan untuk pewarnaan gram. Malnutrisi dapat mempengaruhi kesehatan umum dan menurunkan tahanan terhadap infeksi untuk mengidentifikasi organisme penyabab dan kerentanan terhadap berbagai anti microbial Diagnosa 5: Kurang pengetahuan b/d kurang informasi .Perubahan ola hidup untuk meningkatkan lingkungan yang nyaman.kultur/sensitifitas. Dapat memperbaiki atau mencegah memburuknya hipoksia. 9 ©2003 Digitized by USU digital library Diognasa 4: Risiko tinggi terhadap infeksi b/d tidak adekuat imunitas.dapat menunjukan efek hipoksemia sistemik pada fungsi jantung.salah mengerti.

(1999) “Keperawatan Medikal Bedah”. & Geissler. Volume 1. (1990) “Asma Bronchiale”. Rab. (1995) “Asma . (2000) “Rencana Asuhan Keperawatan”. S & Wilson. H.. Crockett. E. (1996) “Ilmu Penyakit Paru”. K. G & Lockhart. L. Apa dan Bagaimana Pengobatannya”. Jakarta : FK UI.STIKES-MUHAMMADIYAHPEKAJANGAN MARI KITA MAJUKAN KEPERAWATAN INDONESIA JANGAN ENGKAU DIAM JANGAN ENGKAU TERLENA PROFESI KITA SANGAT MEMBUTUHKAN PERAN SERTA DAN KARYA KITA Selasa. Guyton & Hall (1997) “Buku Ajar Fisiologi Kedokteran”. T. Jakarta : Salemba Medika. Sundaru. G. Jakarta : EGC. Moorhouse. 10 ©2003 Digitized by USU digital library DAFTAR PUSTAKA Baratawidjaja. dikutip dari Ilmu Penyakit Dalam. Hudak & Gallo (1997) “Keperawatan Kritis Pendekatan Holistik”. 2008 askep bronkhitis BRONCHITIS By. (1995) “Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit”. M. M. F. (1997) “Penanganan Asma dalam Penyakit Primer”. R. Brunner & Suddart (2002) “Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah”. (1998) “Agenda Gawat Darurat”. Price. C. A. Jakarta : Hipocrates. Philadelpia : Lea & Febiger. Dafid Arifiyanto . Jakarta : EGC. (1995) “Pulmonary Disease”. M. C.meningkatkan keefektifanya. Pullen. Rab. Blacwell Scientific Publication. A. Jakarta : FK UI.. Jakarta : Hipokrates. Jakarta : AGC. Roux. Maret 11. Doenges. Buku Satu. Jakarta : Hipokrates. Jakarta : Info Medika. Jakarta : EGC. DAFID. Jakarta : EGC. T. Crompton. R. (1980) “Diagnosis and Management of Respiratory Disease”. Reeves. L. J. Staff Pengajar FK UI (1997) “Ilmu Kesehatan Anak”.

bronkiektasis sering bersamaan dengan kelainan congenital berikut : tidak adanya tulang rawan bronkus. Kenyataannya penyakit ini sering ditemukan di klinik-klinik dan diderita oleh laki-laki dan wanita. Pada kenyataannya kasus-kasus bronchitis dapat timbul secara congenital maupun didapat.PENDAHULUAN Bronchitis adalah suatu penyakit yang ditandai adanya dilatasi ( ektasis ) bronkus lokal yang bersifat patologis dan berjalan kronik. kifoskoliasis konginetal. Penyakit ini dapat diderita mulai dari anak bahkan dapat merupakan kelainan congenital. Kekerapan setinggi itu ternyata mengalami penurunan yang berarti dengan pengobatan memakai antibiotik. pneumonia ini merupakan komplikasi pertusis maupun influenza yang diderita semasa anak. kekerapan bronchitis diperkirakan sebanyak 1. bronkiektasis pada anak kembar satu telur ( anak yang satu dengan bronkiektasis. tuberculosis paru dan sebagainya. penyakit jantung bawaan. karsinoma bronkus atau tekanan dari luar terhadap bronkus PERUBAHAN PATOLOGIS ANATOMIK . Di Inggris dan Amerika penyakit paru kronik merupakan salah satu penyebab kematian dan ketidak mampuan pasien untuk bekerja. ETIOLOGI Penyebab bronchitis sampai sekarang masih belum diketahui dengan jelas.3% diantara populasi. hipo atau agamaglobalinemia. Perubahan bronkus tersebut disebabkan oleh perubahan-perubahan dalam dinding bronkus berupa destruksi elemen-elemen elastis dan otot-otot polos bronkus. Bronchitis konginetal sering menyertai penyakit-penyakit konginetal lainya. Factor genetic atau factor pertumbuhan dan factor perkembangan fetus memegang peran penting. sedangkan bronkus besar jarang terjadi. sindrom kartagener ( bronkiektasis konginetal. Kelainan congenital Dalam hal ini bronchitis terjadi sejak dalam kandungan. Kelainan didapat Kelaianan didapat merupakan akibat proses berikut : Infeksi Bronchitis sering terjadi sesudah seseorang menderita pneumonia yang sering kambuh dan berlangsung lama. Di Indonesia belum ada laporan tentang anka-angka yang pasti mengenai penyakit ini. misalnya : mucoviscidosis ( cystic pulmonary fibrosis ). Bronchitis yang timbul congenital ini mempunyai ciri sebagai berikut : Bronchitis mengenai hampir seluruh cabang bronkus pada satu atau kedua paru. Bronkus yang terkena umumnya bronkus kecil (medium size ). sinusitis paranasal dan situs inversus ). Obstruksi bronkus Obstruksi bronkus yang dimaksud disini dapat disebabkan oleh berbagai macam sebab : korpus alineum. ternyata saudara kembarnya juga menderita bronkiektasis ). Dinegara barat. Bronchitis kronis dan emfisema paru sering terdapat bersama-sama pada seorang pasien. dalam keadaan lanjut penyakit ini sering menyebabkan obstruksi saluran nafas yang menetap yang dinamakan cronik obstructive pulmonary disease ( COPD ).

Patogenesis pada kebanyakan bronchitis yang didapat melalui dua mekanisme dasar : 1. Jaringan bronkus yang mengalami kerusakan selain otot-otot polos bronkus juga elemen-elemen elastis. Mukosa bronkus Mukosa bronkus permukaannya menjadi abnormal. 3. silia pada sel epitel menghilang. jaringan paru distal akan diganti jaringan fibrotik dengan kistakista berisi nanah. Perubahan morfologis bronkus yang terkena Dinding bronkus Dinding bronkus yang terkena dapat mengalami perubahan berupa proses inflamasi yang sifatnya destruktif dan irreversibel. Apabila terjadi eksaserbasi infeksi akut. Variasi kelainan anatomis bronchialis Telah dikenal 3 variasi bentuk kelainan anatomis bronchitis. Bentuk kantong Ditandai dengan adanya dilatasi dan penyempitan bronkus yang bersifat irregular. bagian lingual paru kiri lobus atas. 2. Bentuk antara bentuk tabung dan kantong (Pseudobronchitis) Pada bentuk ini terdapat pelebaran bronkus yang bersifat sementara dan bentuknya silindris. Bronkus yang terkena Bronkus yang terkena umumnya yang berukuran sedang. Bentuk ini merupakan komplikasi dari pneumonia. bronkus yang terkena dapat hanya satu segmen paru saja maupun difus mengenai bronki kedua paru. fibrosis paru. Pada bronchitis yang didapat patogenesisnya diduga melelui beberapa mekanisme : factor obstruksi bronkus.Terdapat berbagai macam variasi bronchitis. 2. Bentuk ini berbentuk kista. yaitu : 1. Obstruksi bronkus akan diikuti terbentuknya bronchitis. ulserasi. terjadi perubahan metaplasia skuamosa. Bronchitis merupakan penyakit paru yang mengenai paru dan sifatnya kronik.. kemudian timbul bronchitis. Bentuk tabung Bentuk ini sering ditemukan pada bronchitis yang menyertai bronchitis kronik. pada bagian distal obstruksi dan terjadi infeksi juga destruksi bronkus. keluhan-keluhan yang timbul . pada mukosa akan terjadi pengelupasan. Infeksi pada bronkus atau paru akan diikuti proses destruksi dinding bronkus daerah infeksi dan kemudian timbul bronchitis. dan factor intrinsik dalam bronkus atau paru. Keluhankeluhan yang timbul juga berlangsung kronik dan menetap . segmen basal pada lobus bawah kedua paru. baik mengenai jumlah atau luasnya bronkus yang terkena maupun beratnya penyakit : Tempat predisposisi bronchitis Bagian paru yang sering terkena dan merupakan predisposisi bronchitis adalah lobus tengah paru kanan. Infeksi bacterial pada bronkus atau paru. factor infeksi pada bronkus atau paru-paru. Jaringan paru peribronchiale Pada keadaan yang hebat. PATOGENESIS Apabila bronchitis kongenital patogenesisnya tidak diketahui diduga erat hubungannya dengan genetic serta factor pertumbuhan dan perkembangan fetus dalam kandungan.

GAMBARAN KLINIS Gejala dan tanda klinis yang timbul pada pasien bronchitis tergantung pada luas dan beratnya penyakit. jumlah seputum bervariasi. umumnya jumlahnya banyak terutama pada pagi hari sesudah ada perubahan posisi tidur atau bangun dari tidur. ada atau tidaknya komplikasi lanjut. 1. data dijelaskan sebagai berikut . keluhan-keluhan yang timbul umumnya sebagai akibat adanya beberapa hal : adanya kerusakan dinding bronkus. . haemophilus influenza. tingkatan beratnya penyakit. Infeksi yang mendahului bronchitis adalah infeksi bacterial yaitu mikroorgansme penyebab pneumonia. dan ada tidaknya komplikasi lanjut.. lokasi kelainannya. tampak terpisah menjadi 3 bagian Lapisan teratas agak keruh Lapisan tengah jernih. Gejala dan tanda klinis dapat demikian hebat pada penyakit yang berat. lokasi bronkus yang terkena. Infeksi sekunder Tiap pasien bronchitis tidak selalu disertai infeksi sekunder pada lesi. akan menimbulkan sputum sangat berbau. misalnya pada saccular type bronchitis. virus influenza. Bronchitis yang mengenai bronkus pada lobis atas sering dan memberikan gejala : Keluhan-keluhan Batuk Batuk pada bronchitis mempunyai ciri antara lain batuk produktif berlangsung kronik dan frekuensi mirip seperti pada bronchitis kronis. treponema vincenti. pada kasus yang sudah berat. terdiri atas saliva ( ludah ) Lapisan terbawah keruh terdiri atas nanah dan jaringan nekrosis dari bronkus yang rusak ( celluler debris ). dapat memberikan bau yang tidak sedap. Infeksi pertama ( primer ) Kecuali pada bentuk bronchitis kongenital. 2.erat dengan : luas atau banyaknya bronkus yang terkena. campak. sedangkan infeksi virus tidak dapat ( misalnya adenovirus tipe 21. Apabila terjadi infeksi sekunder oleh kuman anaerob. klebsiella ozaena. Ciri khas pada penyakit ini adalah adanya batuk kronik disertai produksi sputum. Dikatakan bahwa hanya infeksi bakteri saja yang dapat menyebabkan kerusakan pada dinding bronkus sehingga terjadi bronchitis. puruen. sputum jumlahnya banyak sekali. dan apabila ditampung beberapa lama. adanya haemaptoe dan pneumonia berulang. Kalau tidak ada infeksi skunder sputumnya mukoid. adanya kerusakan fungsi bronkus. dan dapat tidak nyata atau tanpa gejala pada penyakit yang ringan. Mengenai infeksi dan hubungannya dengan patogenesis bronchitis. Masih menjadi pertanyaan apakah infeksi yang mendahului terjadinya bronchitis tersebut disebabkan oleh bakteri atau virus. anaerobic streptococci. Kuman yang erring ditemukan dan menginfeksi bronkus misalnya : streptococcus pneumonie. apabila sputum pasien yang semula berwarna putih jernih kemudian berubah warnanya menjadi kuning atau kehijauan atau berbau busuk berarti telah terjadi infeksi sekunder oleh kuman anaerob misalnya : fusifomis fusiformis. dan sebagainnya ). akibat komplikasi. sedang apabila terjadi infeksi sekunder sputumnya purulen.

yang biasanya menimbulkan fibrosis paru dan emfisema yang menimbulkan sesak nafas.Haemaptoe Hemaptoe terjadi pada 50 % kasus bronchitis. Wheezing sering ditemukan apa bila terjadi obstruksi bronkus. sering mengalami infeksi berulang pada bronkus maupun pada paru. Bila terjadi komplikasi pneumonia akan ditemukan kelainan fisis sesuai dengan pneumonia. jari tubuh. Pada kasus yang berat dan lebih lanjut dapat ditemukan tandatanda korpulmonal kronik maupun payah jantung kanan. Pada tuberculosis paru. Wheezing dapat local atau tersebar tergantung pada distribusi kelainannya. pasien tanpa batuk atau batukya minimal. haemaptoe justru gejala satu-satunya karena bronchitis jenis ini letaknya dilobus atas paru. right-sided spleen. Apabila bagian paru yang diserang amat luas serta kerusakannya hebat. Sindrom ini terdiri atas gejala-gejala berikut : Bronchitis congenital. left-sided liver. Kadang ditemukan juga suara mengi ( wheezing ). Kelainan ini bukan merupakan tanda . bronchitis ( sekunder ) ini merupakan penyebab utama komplikasi haemaptoe. Sinusitis paranasal atau tidak terdapatnya sinus frontalis. Perdarahan yang timbul bervariasi mulai dari yang paling ringan ( streaks of blood ) sampai perdarahan yang cukup banyak ( massif ) yaitu apabila nekrosis yang mengenai mukosa amat hebat atau terjadi nekrosis yang mengenai cabang arteri broncialis ( daerah berasal dari peredaran darah sistemik ) Pada dry bronchitis ( bronchitis kering ). akibat adanya obstruksi bronkus. sehingga sering timbul demam (demam berulang) Kelainan fisis Tanda-tanda umum yang ditemukan meliputi sianosis. kelainan ini terjadi akibat nekrosis atau destruksi mukosa bronkus mengenai pembuluh darah ( pecah ) dan timbul perdarahan. Semua elemen gejala sindrom kartagener ini adalah keleinan congenital. manifestasi klinis komplikasi bronchitis. Timbul dan beratnya sesak nafas tergantung pada seberapa luasnya bronchitis kronik yang terjadi dan seberapa jauh timbulnya kolap paru dan destruksi jaringan paru yang terjadi sebagai akibat infeksi berulang ( ISPA ). sering disertai dengan silia bronkus imotil Situs inversus pembalikan letak organ-organ dalam dalam hal ini terjadi dekstrokardia. drainasenya baik. Demam berulang Bronchitis merupakan penyakit yang berjalan kronik. Sindrom kartagenr. left sided gall bladder. Kelainan ini merupakan klasifikasi kelenjar limfe yang biasanya merupakan gejala sisa komleks primer tuberculosis paru primer. Sesak nafas ( dispnue ) Pada sebagian besar pasien ( 50 % kasus ) ditemukan keluhan sesak nafas. dapat menimbulkan kelainan berikut : terjadi retraksi dinding dada dan berkurangnya gerakan dada daerah yang terkena serta dapat terjadi penggeseran medistenum kedaerah paru yang terkena.. Ditemukan ronchi basah yang jelas pada lobus bawah paru yang terkena dan keadaannya menetap dari waku kewaktu atau ronci basah ini hilang sesudah pasien mengalami drainase postural atau timbul lagi diwaktu yang lain. sputum tidak pernah menumpuk dan kurang menimbulkan reflek batuk. Bagaimana asosiasi tentang keberadaanya yang demikian ini belum diketahui dengan jelas. Bronchitis.

Umumnya pasien mempunyai keadaan umum kurang baik. Kelainan radiologist Gambaran foto dada ( plain film ) yang khas menunjukan adanya kista-kista kecil dengan fluid level. Tingkatan beratnya penyakit Bronchitis ringan Ciri klinis : batuk-batuk dan sputum warna hijau hanya terjadi sesudah demam. amiloidosis. Pada keadaan lanjut dan mulai sudah ada insufisiensi paru dapat ditemukan polisitemia sekunder. umumnya pasien masih Nampak sehat dan fungsi paru normal. atau ditemukan leukositosis yang menunjukan adanya infeksi supuratif. kapasitas vital ( KV ) dan kecepatan aliran udara ekspirasi satu detik pertama ( FEV1 ). Pada gambaran foto dada ditemukan kelianan : bronkovascular marking. pasien mudah timbul pneumonia. karena terjadinya obstruksi airan udara pernafasan. berwarna kotor dan berbau. adanya haemaptoe. Bila ada obstruksi nafas akan ditemukan adanya dispnea. sputum timbul setiap saat. Dan pada pemeriksaan fisis ditemukan ronchi basah kasar pada daerah yang terkena. yang menunjukan adanya infeksi kronik. Erosi dinding bronkus oleh bronkolit tadi dapat mengenai pembuluh darah dan dapat merupakan penyebab timbulnya hemaptoe hebat. . kelainan ini sering menimbulkan erosi bronkus didekatnya dan dapat masuk kedalam bronkus menimbulkan sumbatan dan infeksi. gambaran foto dada masih terlihat normal. ada haemaptoe ringan. ditemukan juga bercak-bercak pneumonia.klinis bronchitis. Kelainan laboratorium. Bila penyakitnya ringan gambaran darahnya normal. Kelainan faal paru Pada penyakit yang lanjut dan difus. sianosis atau tanda kegagalan paru. septikemi. terdapat tendensi penurunan. multiple cysts containing fluid levels. perlu dilakukan bila ada kecurigaan adanya infeksi sekunder. Bronchitis berat Ciri klinis : batuk produktif dengan sputum banyak. foto dada normal. infeksi mata . selanjutnya terjadilah bronchitis. Seing ditemukan anemia. Dapat terjadi perubahan gas darah berupa penurunan PaO2 ini menunjukan abnormalitas regional ( maupun difus ) distribusi ventilasi. fibrosis atau kolaps. yang berpengaruh pada perfusi paru. mirip seperti gambaran sarang tawon pada daerah yang terkena. Sering ditemukannya pneumonia dengan haemaptoe dan nyeri pleura. Bronchitis sedang Ciri klinis : batuk produktif terjadi setiap saat. (umumnya warna hijau dan jarang mukoid. abses metastasis. Urin umumnya normal kecuali bila sudah ada komplikasi amiloidosis akan ditemukan proteiuria. pasien tampak sehat dan fungsi paru norma. Gambaran bronchitis akan jelas pada bronkogram. Pemeriksaan kultur sputum dan uji sensivitas terhadap antibiotic. dan bau mulut meyengat). Pada pemeriksaan paru sering ditemukannya ronchi basah kasar pada daerah paru yag terkena. sering ditemukan infeksi piogenik pada kulit.

Pleuritis. cabang arteri ( arteri bronchialis ) atau anastomisis pembuluh darah. Oleh karena pasien bronchitis umumnya memberikan gambaran klinis yang dapat dkenal. Efusi pleura atau empisema 5. bronchitis sering mengalami infeksi berulang biasanya sekunder terhadap infeksi pada saluran nafas bagian atas. akibat septikemi oleh kuman penyebab infeksi supuratif pada bronkus. meliputi: Anamnesis Pemeriksaan fisis Pemeriksaan penunjang DIAGNOSIS BANDING Beberapa penyakit yang perlu diingat atau dipertimbangkan kalau kita berhadapan dengan pasien bronchitis : · Bronchitis kronis ( ingatlah definisi klinis bronchitis kronis ) · Tuberculosis paru ( penyakit ini dapat disertai kelainan anatomis paru berupa bronchitis ) · Abses paru ( terutama bila telah ada hubungan dengan bronkus besar ) · Penyakit paru penyebab hemaptomisis misalnya karsinoma paru.DIAGNOSIS Diagnosis pasti bronchitis dapat ditegakan apabila telah ditemukan adanya dilatasi dan nekrosis dinding bronkus dengan prosedur pemeriksaan bronkografi dan melihat bronkogram yang didapat. penegakan diagnosis bronchitis dapat ditempuh melewati proses diagnostik yang lazim dikerjakan dibidang kedokteran. Pada keadaan lanjut akan terjadi hipertensi pulmonal. 3. selanjutnya terjadi hipoksemia. Abses metastasis diotak. 7. Haemaptoe terjadi kerena pecahnya pembuluh darah cabang vena ( arteri pulmonalis ) . Kegagalan pernafasan merupakan komlikasi paling akhir pada bronchitis yang berat da luas . antara lain : 1. Sering menjadi penyebab kematian 6. Pneumonia dengan atau tanpa atelektaksis. 9. Bronkografi tidak selalu dapat dikerjakan pada tiap pasien bronchitis. adenoma paru ) · Fistula bronkopleural dengan empisema KOMPLIKASI Ada beberapa komplikasi bronchitis yang dapat dijumpai pada pasien. syarat-syarat kaan elakukannya. terjadi gangguan oksigenasi darah. karena terikat adanya indikasi. Komplikasi ini dapat timbul bersama dengan timbulnya pneumonia.. Umumnya pleuritis sicca pada daerah yang terkena. Selanjutnya akan terjadi gagal jantung kanan. Kor pulmonal kronik pada kasus ini bila terjadi anastomisis cabang-cabang arteri dan vena pulmonalis pada dinding bronkus akan terjadi arterio-venous shunt. timbul sianosis sentral. 4. Hal ini sering terjadi pada mereka drainase sputumnya kurang baik. Komplikasi haemaptoe hebat dan tidak terkendali merupakan tindakan beah gawat darurat. Bronchitis kronik 2. kor pulmoner kronik. Sinusitis merupakan bagian dari komplikasi bronchitis pada saluran nafas 8. kontraindikasi.

mengguanakan obat-obat mukolitik dan sebagainya. Prinsip drainase postural ini adalah usaha mengeluarkan sputum ( secret bronkus ) dengan bantuan gaya gravitasi.asap dan sebagainya. apabila telah ada infeksi perlu adanya antibiotic yang sesuai agar infeksi tidak berkelanjutan. dan dapat dibantu dengan tindakan memberikan ketukan pada pada punggung pasien dengan punggung jari. cara yang baik untuk dikerjakan adalah sebagai berikut : Melakukan drainase postural Pasien dilelatakan dengan posisi tubuh sedemikian rupa sehingga dapat dicapai drainase sputum secara maksimum. Kemotherapi pada bronchitis Kemotherapi dapat digunakan : secara continue untuk mengontrol infeksi bronkus ( ISPA ) untuk pengobatan aksaserbasi infeksi akut pada bronkus/paru atau kedua-duanya digunakan Kemotherapi menggunakan obat-obat antibiotic terpilih. meliputi : Menciptakan lingkungan yang baik dan tepat untuk pasien : Contoh : Membuat ruangan hangat. sebagai komplikasi klasik dan jarang terjadi. antibiotic diberikan selama 7-10 hari dengan therapy tunggal atau dengan beberapa . Walaupun kemotherapi jelas kegunaannya pada pengelolaan bronchitis. terdiri atas : 1. misalnya inhalasi uap air panas. Adanya infeksi saluran nafas akut ( ISPA ) harus diperkecil dengan jalan mencegah penyebaran kuman. Amiloidosis keadaan ini merupakan perubahan degeneratif. Mencegah / menghentikan rokok Mencegah / menghindari debu. Posisi tubuh saat dilakukan drainase postural harus disesuaikan dengan letak kelainan bronchitisnya. pemkaian antibiotic antibiotic sebaikya harus berdasarkan hasil uji sensivitas kuman terhadap antibiotic secara empiric.10. Antibiotik diberikan jika terdapat aksaserbasi infeki akut. Mencairkan sputum yang kental Dapat dilakukan dengan jalan. Pengelolaan khusus. tidak pada setiap pasien harus diberikan antibiotic. tiap hari dilakukan 2 sampai 4 kali. Pengelolaan umum Pengelolaan umum ditujukan untuk semua pasien bronchitis. 2. Memperbaiki drainase secret bronkus. PENATALAKSANAAN Pengelolaan pasien bronchitis terdiri atas dua kelompok : Pengobatan konservatif. Mengontrol infeksi saluran nafas. Mengatur posisi tepat tidur pasien Sehingga diperoleh posisi pasien yang sesuai untuk memudahkan drainase sputum. udara ruangan kering. Pada pasien yang mengalami komplikasi ini dapat ditemukan pembesaran hati dan limpa serta proteinurea. Tiap kali melakukan drainase postural dilakukan selama 10 – 20 menit.

Pengobatan demam. Pengobatan pembedahan Tujuan pembedahan : mengangkat ( reseksi ) segmen/ lobus paru yang terkena. Pengobatan hipoksia. Kontra indikasi Pasien bronchitis dengan COPD Pasien bronchitis berat Pasien bronchitis dengan koplikasi kor pulmonal kronik dekompensasi. Drainase secret dengan bronkoskop Cara ini penting dikerjakan terutama pada saat permulaan perawatan pasien. Indikasi pembedahan : Pasien bronchitis yang yang terbatas dan resektabel. jumlah sputum dan gejala lainnya terutama pada saat terjadi aksaserbasi infeksi akut. . sampai terjadi konversi warna sputum yang semula berwarna kuning/hijau menjadi mukoid ( putih jernih ). Pengobatan simtomatik Pengobatan ini diberikan jika timbul simtom yang mungkin mengganggu atau mebahayakan pasien. Pada pasien yang mengalami eksaserbasi inhalasi akut sering terdapat demam. Pada kasus ini selain diberikan antibiotic perlu juga diberikan obat antipiretik. Pengobatan obstruksi bronkus Apabila ditemukan tanda obstruksi bronkus yang diketahui dari hasil uji faal paru (%FEV 1 < 70% ) dapat diberikan obat bronkodilator. Syarat-ayarat operasi. Kemotherapi dengan antibiotic ini apabila berhasil akan dapat mengurangi gejala batuk. tetapi keadaan ini hanya bersifat sementara. Keperluannya antara lain : Menentukan dari mana asal secret Mengidentifikasi lokasi stenosis atau obstruksi bronkus Menghilangkan obstruksi bronkus dengan suction drainage daerah obstruksi. Pada pasien yang mengalami hipoksia perlu diberikan oksigen. Pasien perlu dipertimbangkan untuk operasi Pasien bronchitis yang terbatas tetapi sering mengaami infeksi berulang atau haemaptoe dari daerakh tersebut. Pengobatan haemaptoe. yang tidak berespon yang tidak berespon terhadap tindakan-tindakan konservatif yang adekuat. Pasien dengan haemaptoe massif seperti ini mutlak perlu tindakan operasi. Dari berbagai penelitian pemberian obat-obatan hemostatik dilaporkan hasilnya memuaskan walau sulit diketahui mekanisme kerja obat tersebut untuk menghentikan perdarahan. Kelainan ( bronchitis ) harus terbatas dan resektabel Daerah paru yang terkena telah mengalami perubahan ireversibel Bagian paru yang lain harus masih baik misalnya tidak ada bronchitis atau bronchitis kronik.antibiotic. Cara operasi. Tindakan yang perlu segera dilakukan adalah upaya menghentikan perdarahan. lebih-lebih kalau terjadi septikemi.

yang gagal dalam pengobatan konservatif dipersiapkan secara baik utuk operasi. empiema. Persiapan operasi : Pemeriksaan faal paru : pemeriksaan spirometri. Operasi paliatif : ditujukan pada pasien bronchitis yang mengalami keadaan gawat darurat paru. survivalnya tidak akan lebih dari 5-10 tahun. payah jantung kanan. haemaptoe dan lainnya. Asuhan keperawatan Data Fokus Anamnesa :è Faktor Predisposisi Aktifitas Gaya hidup Keadaan lingkungan Aspirasi Penyakit pernapasan lain Pemeriksaan Fisik : fokus dada Inspeksi :è Irama. frekuensi pernapasan Kesimetrisan dinding dada saat bernapas Penggunaan otot bantu pernapasan Cuping hidung. misalnya terjadi haemaptoe masif ( perdarahan arterial ) yang memenuhi syarat-syarat dan tidak terdapat kontra indikasi operasi. Pada kasus-kasus yang berat dan tidak diobati. prognosisnya jelek. Kematian pasien karena pneumonia. Umumnya operasi berhasil baik apabila syarat dan persiapan operasinya baik. kecuali dalam bentuk congenital tidak dapat dicegah. PROGNOSIS Prognosis pasien bronchitis tergantung pada berat ringannya serta luasnya penyakit waktu pasien berobat pertama kali.Operasi elektif : pasien-pasien yang memenuhi indikasi dan tidak terdaat kontra indikasi.analisis gas darah. Pemilihan pengobatan secara tepat ( konservatif atau pembedahan ) dapat memperbaiki prognosis penyakit. pemeriksaan broncospirometri ( uji fungsi paru regional ) Scanning dan USG Meneliti ada atau tidaknya kontra indikasi operasi pada pasien Memperbaiki keadaan umum pasien PENCEGAHAN Timbulnya bronchitis sebenarnya dapat dicegah. kedalaman. cyanosis pada ekstremitas . pneumonia ) pada anak dapat pula diartikan sebagai tindakan preventif terhadap timbulnya bronchitis. Menurut beberapa literature untuk mencegah terjadinya bronchitis ada beberapa cara : Pengobatan dengan antibiotic atau cara-cara lain secara tepat terhadap semua bentuk pneumonia yang timbul pada anak akan dapat mencegah ( mengurangi ) timbulnya bronchitis Tindakan vaksinasi terhadap pertusis ( influenza.

. Diposkan oleh Dafid. vokal fremitus Perkusi : è Resonance.blogspot youtube. dulness Masalah keperawatan 1.he.. Intoleransi aktifitas Tujuan : Klien menunjukan peningkatan aktifitas da kekuatan fisik Rencana keperawatan : Monitor toleransi klien terhadap aktifitas Jelaskan penyebab penurunan aktifitas Berikan/pegaturan waktu untuk istirahat yang baik Ajarkan manejemen tenaga pada klien Kolaborasi : oksigenasi..Stikes-Muhammadiyah-Pekajangan di 21:06 1 komentar: Anonim mengatakan.Palpasi : è Kesimetrisan dinding dada Taktil fremitus Letak trakhea Auskultasi è Ronkhi... Ketidak efektifan bersihan jalan napas Tujuan : Jalan Napas Efektif Rencana Keperawatan : Kaji Kemampuan klien mengeluarkan sputum Kaji suara pernapasan (paru) Ajarkan teknik batuk efektif Laksanakan fisioterapi dada dan inhalasi manual Kolaborasi : ekspektoran. fotonya itu lho Pd banget he. 2008 06:19 Poskan Komentar Posting Lebih Baru Posting Lama Halaman Muka Langgan: Poskan Komentar (Atom) Web Tautan • • indah nursing. antibiotik 2.by.s1 slankers 30 Oktober..com .

my.love Reina my. love Nayla Berenang Di Laut .

Dengarkan Suara Alam Info keperawatan ini apakah membantu tugas anda Arsip Blog • ► 2009 (3) o ► Juli (3)  Metabolisme protein  Metabolisme Lemak  Metabolisme Karbohidrat ▼ 2008 (27) o ► November (1)  Askep Bronkhitis o ► Mei (1)  Self Concept o ▼ Maret (12)  Gangguan Miksi  Askep Stroke Non Hemoragic  Askep Hipertensi  Askep Aids  Konsep Diri  Konsep Berubah  askep bronkhitis  Infeksi Saluran Kencing  Askep Urolithiasis  Askep Klien BPH  Askep Trauma Saluran Kemih  Air Susu Ibu Vs Susu Bayi Sapi o ► Februari (13) • .

             Kelainan Jantung : VSD Oksigenasi Osteomyelitis Askep Limfadenopaty Askep Fraktur GBPP STIKES Konsep manusia dan kebutuhan dasar Komunikasi Umum Konsep dasar keperawatan I Askep Hernia sehat-sakit Range Of Motion NERS PEKAJANGAN About me Dafid.Stikes-Muhammadiyah-Pekajangan Info Lowongan Kerja Dibutuhkan Dosen S. DEFINISI Pneumonia adalah suatu peradangan atau inflamasi pada parenkim paru yang umumnya disebabkan oleh agent infeksi .2 Keperawatan (4 org) Dosen d IV atau S.1 Kebidanan (4 org) Lihat profil lengkapku DANO TOBA ANAK BOSS DARI DUSUN « ASKEP DHF ASKEP PNEUMONIA LAPORAN PENDAHULUAN PNEUMONIA 1.

atau terperangkap dan dibersihkan oleh mukus dan epitel bersilia di saluran napas. virus herpes simpleks ) dapat terjadi melalui penyebaran hematogen baik dari sumber terlokalisir atau bakteremia/viremia generalisata. Ada beberapa mekanisma yang pada keadaan normal melindungi paru dari infeksi. Aspirasi: lambung 3. Partikel infeksius difiltrasi di hidung. Virus. CMV. seperti yang terjadi pada bronkiolitis. Virus: virus influenza. ETIOLOGI Pneumonia dapat disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti: 1. Virus tersebut dapat menyebar ke saluran napas bagian bawah dan menyebabkan pneumonia virus. mikoplasma. bakteri menyebabkan respons inflamasi akut yang meliputi eksudasi cairan. virus Epstein-Barr. partikel infeksius dapat mencapai paru melalui perubahan pada pertahanan anatomis dan fisiologis yang normal. rubella. dan juga dengan mekanisme imun sistemik.5 ºC sampai 40. Bayi pada bulan-bulan pertama kehidupan juga memiliki antibodi maternal yang didapat secara pasif yang dapat melindunginya dari pneumokokus dan organismeorganisme infeksius lainnya. Ini paling sering terjadi akibat virus pada saluran napas bagian atas. Bakteri: stapilokokus. kerusakan yang disebabkan virus terhadap mekanisme pertahan yang normal dapat menyebabkan bakteri patogen menginfeksi saluran napas bagian bawah. . PATOFISIOLOGI Sebagian besar pneumonia didapat melalui aspirasi partikel infektif. Bila suatu partikel dapat mencapai paru-paru. Bakteri ini dapat merupakan organisme yang pada keadaan normal berkolonisasi di saluran napas atas atau bakteri yang ditransmisikan dari satu orang ke orang lain melalui penyebaran droplet di udara. eneterobacter 2. defisiensi imun didapat atau kongenital.2 Kemungkinan lain.2. campak. Perubahan pada mekanisme protektif ini dapat menyebabkan anak mudah mengalami pneumonia misalnya pada kelainan anatomis kongenital. atau kelainan neurologis yang memudahkan anak mengalami aspirasi dan perubahan kualitas sekresi mukus atau epitel saluran napas. dan infiltrasi leukosit polimorfonuklear di alveoli yang diikuti infitrasi makrofag. streplokokus. Micoplasma pneumonia 4. demam yang timbul dengan cepat (39.2 4. Hal ini menyebabkan lepasnya sel-sel epitel ke dalam saluran napas.2 Setelah mencapai parenkim paru.5 ºC). deposit fibrin. Jamur: candida albicans 5. Pada anak tanpa faktor-faktor predisposisi tersebut. dan klamidia menyebabkan inflamasi dengan dominasi infiltrat mononuklear pada struktur submukosa dan interstisial. aeruginosa. adenovirus 3. Kadang-kadang pneumonia bakterialis dan virus ( contoh: varisella. • Nyeri dada yang ditusuk-tusuk yang dicetuskan oleh bernafas dan batuk. dan humoral. partikel tersebut akan berhadapan dengan makrofag alveoler. Cairan eksudatif di alveoli menyebabkan konsolidasi lobaris yang khas pada foto toraks. MANIFESTASI KLINIK • Secara khas diawali dengan awitan menggigil.

PENGKAJIAN Data dasar pengkajian pasien: • Aktivitas/istirahat Gejala : kelemahan. Bronkostopi: untuk menetapkan diagnosis dan mengangkat benda asing 7. KOMPLIKASI • Efusi pleura • Hipoksemia • Pneumonia kronik • Bronkaltasis • Atelektasis (pengembangan paru yang tidak sempurna/bagian paru-paru yang diserang tidak mengandung udara dan kolaps). PENATALAKSANAAN Pengobatan diberikan berdasarkan etiologi dan uji resistensi tapi karena hal itu perlu waktu dan pasien pneumonia diberikan terapi secepatnya: • Penicillin G: untuk infeksi pneumonia staphylococcus. Pemeriksaan gram/kultur. derivat tetrasiklin: untuk infeksi pneumonia mikroplasma. dapat juga menyatakan abses) 2. sputum dan darah: untuk dapat mengidentifikasi semua organisme yang ada. penurunan toleransi terhadap aktivitas. Pemeriksaan serologi: membantu dalam membedakan diagnosis organisme khusus. . 4. menetapkan luas berat penyakit dan membantu diagnosis keadaan. • Komplikasi sistemik (meningitis) 6. Spirometrik static: untuk mengkaji jumlah udara yang diaspirasi 7.• Takipnea (25 – 45 kali/menit) disertai dengan pernafasan mendengur. • Nadi cepat dan bersambung • Bibir dan kuku sianosis • Sesak nafas 5. tetrasiklin. • Bila terjadi gagal nafas. Biopsi paru: untuk menetapkan diagnosis 6. insomnia Tanda : letargi. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. kelelahan. 5. • Amantadine. diberikan nutrisi dengan kalori yang cukup. bronchial). pernafasan cuping hidung. rimantadine: untuk infeksi pneumonia virus • Eritromisin. 8. • Menganjurkan untuk tirah baring sampai infeksi menunjukkan tanda-tanda • Pemberian oksigen jika terjadi hipoksemia. Pemeriksaan fungsi paru: untuk mengetahui paru-paru. 3. Sinar X: mengidentifikasikan distribusi struktural (misal: lobar.

5. Tanda : melindungi area yang sakit (tidur pada sisi yang sakit untuk membatasi gerakan) • Pernafasan Gejala : adanya riwayat ISK kronis.Bunyi nafas menurun . artralgia. peningkatan produksi sputum. berkarat .perpusi: pekak datar area yang konsolidasi . Resiko tinggi terhadap infeksi (penyebaran) berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan sekunder (adanya infeksi penekanan imun). batuk menetap. demam.premikus: taksil dan vocal bertahap meningkat dengan konsolidasi . malnutrisi. Bersihan jalan nafas tak efektif berhubungan dengan inflamasi trachea bronchial. tugas pemeliharaan rumah 9.sputum: merah muda. atau pucat • Makanan/cairan Gejala : kehilangan nafsu makan. Resiko tinggi terhadap nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan peningkatan . 3. mual. 2. nyeri dada (meningkat oleh batuk). gemetar • Penyuluhan/pembelajaran Gejala : riwayat mengalami pembedahan. muntah. penggunaan alkohol kronis Tanda : DRG menunjukkan rerata lama dirawat 6 – 8 hari Rencana pemulangan: bantuan dengan perawatan diri. imralgia. dispnea. Nyeri (akut) berhubungan dengan inflamasi parenkim paru. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan kapasitas pembawa oksigen darah. Tanda : berkeringat. penampilan kemerahan. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. penggunaan steroid. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen. takipnea (sesak nafas). pembentukan edema. riwayat diabetes mellitus Tanda : sistensi abdomen.Warna: pucat/sianosis bibir dan kuku • Keamanan Gejala : riwayat gangguan sistem imun misal: AIDS. penyakit kronis. kulit kering dengan turgor buruk. Tanda : .• Sirkulasi Gejala : riwayat adanya Tanda : takikardia. penampilan kakeksia (malnutrisi) • Neurosensori Gejala : sakit kepala daerah frontal (influenza) Tanda : perusakan mental (bingung) • Nyeri/kenyamanan Gejala : sakit kepala. 4. menggigil berulang. 6.

7. . sianosis . catat area penurunan 1 kali ada aliran udara dan bunyi nafas Rasional: penurunan aliran darah terjadi pada area konsolidasi dengan cairan.Batuk efektif atau tidak efektif dengan/tanpa produksi sputum.kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses infeksi. 10.Bunyi nafas tak normal .Dispnea.Gelisah/perubahan mental . peningkatan produksi sputum ditandai dengan: . Jalan nafas efektif dengan kriteria: . 2. penurunan masukan oral.Takikardia .Sianosis Intervensi: . Rasional: alat untuk menurunkan spasme bronkus dengan mobilisasi sekret. gangguan pengiriman oksigen ditandai dengan: . RENCANA KEPERAWATAN 1. .Hipoksia . Bersihan jalan nafas tak efektif berhubungan dengan inflamasi trachea bronchial. sianosis .Perubahan frekuensi. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan berlebihan.Kaji frekuensi/kedalaman pernafasan dan gerakan dada Rasional : takipnea.Berikan cairan sedikitnya Rasional: cairan (khususnya yang hangat) memobilisasi dan mengeluarkan sekret . pernafasan dangkal dan gerakan dada tak simetris sering terjadi karena ketidaknyamanan. analgetik diberikan untuk memperbaiki batuk dengan menurunkan ketidaknyamanan tetapi harus digunakan secara hati-hati.Bunyi nafas bersih .Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat sesuai indikasi: mukolitik.Penghisapan sesuai indikasi Rasional: merangsang batuk atau pembersihan jalan nafas suara mekanik pada faktor yang tidak mampu melakukan karena batuk efektif atau penurunan tingkat kesadaran. eks.Batuk efektif . . Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan pembawa oksigen darah. kedalaman pernafasan . karena dapat menurunkan upaya batuk/menekan pernafasan.Nafas normal . .Biarkan teknik batuk efektif Rasional : batuk adalah mekanisme pembersihan jalan nafas alami untuk mempertahankan jalan nafas paten.Dispnea.Auskultasi area paru.

Kolaborasi Berikan terapi oksigen dengan benar misal dengan nasal plong master.penularan penyakit ke orang lain tidak ada Intervensi: . penyakit kronis.Tunjukkan teknik mencuci tangan yang baik Rasional: efektif berarti menurun penyebaran/perubahan infeksi.Kaji status mental. Rasional: mempertahankan PaO2 di atas 60 mmHg. .Pantau tanda vital dengan ketat khususnya selama awal terapi Rasional: selama awal periode ini.waktu perbaikan infeksi/kesembuhan cepat tanpa . Rasional: Obat digunakan untuk membunuh kebanyakan microbial pulmonia. membran mukosa dan kuku. potensial untuk fatal dapat terjadi.Kaji frekuensi/kedalaman dan kemudahan bernafas Rasional: manifestasi distress pernafasan tergantung pada indikasi derajat keterlibatan paru dan status kesehatan umum. meningkat pengeluaran sekret untuk memperbaiki ventilasi tak efektif. master venturi. Resiko tinggi terhadap infeksi (penyebaran) berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan sekunder (adanya infeksi penekanan imun). .Sianosis . . Rasional: gelisah mudah terangsang. Rasional: memudahkan proses penyembuhan dan meningkatkan tekanan alamiah . amikalin.Tinggikan kepala dan dorong sering mengubah posisi.Gangguan gas teratasi dengan: . tetrasiklin. 3. . amantadin. sepalosporin.Potong keseimbangan istirahat adekuat dengan aktivitas sedang.Gelisah Intervensi: .Sesak . nafas dalam dan batuk efektif.Batasi pengunjung sesuai indikasi. Catat adanya sianosis perifer (kuku) atau sianosis sentral. malnutrisi. .Nafas normal . membran mukosa dan kulit sekitar mulut menunjukkan hipoksemia sistemik. Tingkatkan masukan nutrisi adekuat.Kolaborasi Berikan antimikrobial sesuai indikasi dengan hasil kultur sputum/darah misal penicillin. . O2 diberikan dengan metode yang memberikan pengiriman tepat dalam toleransi pe. Rasional: sianosis kuku menunjukkan vasokontriksi respon tubuh terhadap demam/menggigil namun sianosis pada daun telinga. Tujuan: Infeksi tidak terjadi dengan kriteria: . bingung dan somnolen dapat menunjukkan hipoksia atau penurunan oksigen serebral. Rasional: tindakan ini meningkat inspirasi maksimal. eritromisin. .Observasi warna kulit. Rasional: menurunkan penularan terhadap patogen infeksi lain .Hipoksia .

4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen ditandai dengan: - Dispnea - Takikardia - Sianosis Intoleransi aktivitas teratasi dengan: - Nafas normal - Sianosis - Irama jantung Intervensi - Evaluasi respon pasien terhadap aktivitas Rasional: merupakan kemampuan, kebutuhan pasien dan memudahkan pilihan interan. - Berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung selama fase akut sesuai indikasi. Rasional: menurunkan stress dan rangsangan berlebihan, meningkatkan istirahat. - Jelaskan perlunya istirahat dalam rencana pengobatan dan perlunya keseimbangan aktivitas dan istirahat. - Bantu pasien memilih posisi nyaman untuk istirahat atau tidur. Rasional: pasien mungkin nyaman dengan kepala tinggi, tidur di kursi. - Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan Rasional: meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen. 5. Nyeri berhubungan dengan inflamasi parenkim varul, batuk menetap ditandai dengan: - Nyeri dada - Sakit kepala - Gelisah Nyeri dapat teratasi dengan: - Nyeri dada (-) - Sakit kepala (-) - Gelisah (-) Intervensi: - Tentukan karakteristik nyeri, misal kejan, konstan ditusuk. Rasional: nyeri dada biasanya ada dalam seberapa derajat pada pneumonia, juga dapat timbul karena pneumonia seperti perikarditis dan endokarditis. - Pantau tanda vital Rasional: Perubahan FC jantung/TD menu bawa Pc mengalami nyeri, khusus bila alasan lain tanda perubahan tanda vital telah terlihat. - Berikan tindakan nyaman pijatan punggung, perubahan posisi, musik tenang / berbincangan. Rasional: tindakan non analgesik diberikan dengan sentuhan lembut dapat menghilangkan ketidaknyamanan dan memperbesar efek derajat analgesik. - Aturkan dan bantu pasien dalam teknik menekan dada selama episode batuk. Rasional: alat untuk mengontrol ketidaknyamanan dada sementara meningkat keefektifan upaya batuk.

- Kolaborasi Berikan analgesik dan antitusik sesuai indikasi Rasional: obat dapat digunakan untuk menekan batuk non produktif atau menurunkan mukosa berlebihan meningkat kenyamanan istirahat umum. 6. Resiko tinggi terhadap nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses inflamasi ditandai dengan tujuan: Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh dapat diatasi dengan: - Pasien menunjukkan peningkatan nafsu makan - Pasien mempertahankan meningkat BB Intervensi - identifikasi faktor yang menimbulkan mual/muntah, misalnya: sputum, banyak nyeri. Rasional: pilihan intervensi tergantung pada penyebab masalah - Jadwalkan atau pernafasan sedikitnya 1 jam sebelum makan Rasional: menurun efek manual yang berhubungan dengan penyakit ini - Berikan makan porsi kecil dan sering termasuk makanan kering (roti panggang) makanan yang menarik oleh pasien. Rasional: tindakan ini dapat meningkat masukan meskipun nafsu makan mungkin lambat untuk kembali. - Evaluasi status nutrisi umum, ukur berat badan dasar. Rasional: adanya kondisi kronis keterbatasan ruangan dapat menimbulkan malnutrisi, rendahnya tahanan terhadap inflamasi/lambatnya respon terhadap terapi. 7. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan berlebihan, demam, berkeringat banyak, nafas mulut, penurunan masukan oral. Kekurangan volume cairan tidak terjadi dengan kriteria: Pasien menunjukkan keseimbangan cairan dibuktikan dengan parameter individual yang tepat misalnya membran mukosa lembab, turgor kulit baik, tanda vital stabil. Intervensi: - Kaji perubahan tanda vital contoh peningkatan suhu demam memanjang, takikardia. Rasional: peningkatan suhu/memanjangnya demam meningkat laju metabolik dan kehilangan cairan untuk evaporasi. - Kaji turgor kulit, kelembapan membran mukosa (bibir, lidah) Rasional: indikator langsung keadekuatan volume cairan, meskipun membran mukosa mulut mungkin kering karena nafas mulut dan O2 tambahan. - Catat laporan mual/muntah Rasional: adanya gejala ini menurunkan masukan oral - Pantau masukan dan keluaran catat warna, karakter urine. Hitung keseimbangan cairan. Ukur berat badan sesuai indikasi. Rasional: memberikan informasi tentang keadekuatan volume cairan dan keseluruhan penggantian.

- Tekankan cairan sedikit 2400 mL/hari atau sesuai kondisi individual Rasional: pemenuhan kebutuhan dasar cairan menurunkan resiko dehidrasi. - Kolaborasi Beri obat indikasi misalnya antipiretik, antimitik. Rasional: berguna menurunkan kehilangan cairan Berikan cairan tambahan IV sesuai keperluan Rasional: pada adanya penurunan masukan banyak kehilangan penggunaan dapat memperbaiki/mencegah kekurangan 11. IMPLEMENTASI Dilakukan sesuai dengan rencana tindakan menjelaskan setiap tindakan yang akan dilakukan sesuai dengan pedoman atau prosedur teknik yang telah ditentukan. 12. EVALUASI Kriteria keberhasilan: - Berhasil Tuliskan kriteria keberhasilannya dan tindakan dihentikan - Tidak berhasil Tuliskan mana yang belum berhasil dan lanjutkan tindakan. 13. DAFTAR PUSTAKA 1. Doenges, Marilynn, E. dkk. Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, 2000. EGC, Jakarta. 2. Bare Brenda G, Smeltzer Suzan C. Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8, Vol. 1, EGC, Jakarta. 3. Price Anderson Sylvia, Milson McCarty Covraine, Patofisiologi, buku-2, Edisi 4, EGC, Jakarta. 4. Tim Penyusun. Ilmu Penyakit Dalam, Edisi 3. Volume II, 2001, FKUI.
This entry was posted on Saturday, April 18th, 2009 at 2:55 am and is filed under Uncategorized. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

þÿ

Name (required) Mail (will not be published) (required) Website

þÿ

þÿ

16. B. Try again. lesi mengalami kolaps dan membentuk ruang.com Entries (RSS) and Comments (RSS). þÿ Submit Comment Powered by Blog.2009 Askep Abses paru merupakan lesi nekrotik setempat pada parenkim paru .bahan purulen. ETIOLOGI . 8.Type the two words:Type what you hear:Incorrect. 16 Askep Abses paru AKPER PPNI SOLO.

1. dll) 2. embolisme paru atau trauma dada PASIEN YANG BERISIKO: 1. Sianosis 5. Yang mengalami kesulitan mengunyah 3. termasuk aerob dan aerob seperti Streptokokus. Perkusi: pekak b. bila yang masuk basil saja maka akan timbul pneumonia. hidung. Penurunan berat badan Bila tidak diobati gejala akan terus meningkat sampai kurang lebih hari ke sepuluh. Obstruksi mekanik atau fungsional bronki (tumor. Pemeriksaan fisik dada a. Sputum berupa pus dengan pengecatan gram terdapat dengan leukosit dan ditentukan . C. Auskultasi: penurunan sampai tidak terdengarnya bunyi napas atau krekles 2. penderita mendadak batuk pus bercampur darah dalam jumlah banyak. Mikroorganisme penyebab dapat berasal dari bermacam-macam basil dari flora mulut. Dengan kerusakan reflek batuk dan tidak mampu menutup glotis 2. Nekrotisasi pneumonia. Drainase dan pengobatan yang tidak memadai akan menyebabkan abses menjadi menaun. Dengan selang nasogastrik 5. Dalam keadaan berbaring menuju ke subsegmen apikal lobus superior atau segmen superior lobus inferior. mungkin juga berbau busuk (infeksi basil anaerob) E. benda asing atau stenosis bronkial) 3. Darah: LED meningkat. Leukosit 20-30rb/mm3 b.Tuberkulosis. menyebar ke parenkim paru dikelilingi oleh jaringan granulasi. Perluasan ke pleura sering terjadi. PATOLOGI Proses dimulai di bronki/bronkioli. tenggorokan. TANDA DAN GEJALA Gejala timbul satu sampai tiga hari setelah aspirasi. Abses timbul bila organisme yang masuk ke paru bersama-sama dengan material yang terhirup yang akan membuntu sal. D. Malaise dengan panas badan disertai menggigil 2.1. PEMERIKSAAN DIAGNOSIS 1. gangguan saraf pusat (kejang. Batuk dan nyeri pleuritik (jawa: kemeng) 3. Dengan kerusakan kesadaran karena anestesi. Dispnea 4. Anoreksia 6. Laboratorium a. Dengan pneumonia TEMPAT ABSES Berhubungan dengan pengumpulan akibat gaya gravitasi yang ditentukan oleh posisi klien pada waktu terjadinya aspirasi. stroke) 4. Infeksi karena aspirasi dari saluran napas.napas dengan akibat timbulnya atelektasis dengan infeksi. Hubungan dengan bronkus dapat terjadi sehingga pus atau jaringan nekrotik dapat dikeluarkan. spiroketa.

Dorong asupan diet:TKTP 6. fisioterapi dada). Antibiotik oral utk mengganti IV setelah ada tanda perbaikan (suhu tbh normal. Terapi antibiotik pd pasien yg mengalami infeksi (pd gigi dan gusi) saat pencabutan gigi 2. Beri dukungan secara emosional b. PROSES KEPERAWATAN Diagnosa yang mungkin muncul: 1. 5. B: BREATHING a. Reseksi paru (lobektomi) Tindakan yg akan mengurangi risiko terjadinya abses. Diet tinggi protein dan kalori utk katabolik pd infeksi kronik dan mempercepat penyembuhan 4. Ketidakefektifan manajemen regimen terapeutik b. Ajarkan napas dalam 4. tekankan istirahat. hitung Leukosit menurun. jaringan nekrotik di dalamnya dikeluarkan dan meninggalkan kavitas dengan “air fluid level” yang berkarateristik. 1. napas dalam. Pertahankan kebersihan gigi dan mulut scr adekuat 3. Drainase adekuat abses paru (drainase postural dan fisioterapi dada) 3.d lamanya waktu pengobatan Intervensi keperawatan: 1. Gangguan pertukaran gas 3. Terapi antimikroba intravena berdasar kultur dan sensitivitas pd sputum. PK: Infeksi 7.d lamanya waktu penyembuhan 7. 2. Latih batuk efektif agar pengembangan paru max.bermacam-macam basil. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh 4. A: AIRWAY Ketidakefektifan bersihan jalan napas b. kemudian setelah kira-kira hari ke sepuluh. Rontgen dada: pada mulanya memberi gambaran konsolidasi seperti pada pneumonia. Kelemahan (fatigue) 6. Bedah jarang dilakukan. Ketidakefektifan pola napas b. Awasi terapi antibiotik yg diberikan pd klien: sesuai resep dan awasi efek samping yg merugikan (Pastikan klien menyelesaikan seluruh dosis terapi) 2. Fisioterapi dada utk memudahkan drainase abses 3. 5. perbaikan gmbrn rontgen. Terapi antimikroba yg sesuai dg resep pd pasien dg pneumonia G. Dosis IV yg banyak diperlukan karena antibiotik harus menembus jaringan nekrotik dan cairan dlm abses. pentingnya penyelesaian regimen antibiotik .d penumpukan sekret 2. F. batuk efektif. Penkes jika klien menjalani pembedahan (prwtn luka. Gangguan tidur 5. nutrisi. 3. PENATALAKSANAAN MEDIS 1.

Abses besar atau abses kecil mempunyai manifestasi klinik berbeda namun mempunyai predisposisi yang sama dan prinsip diferensial diagnose sama pula. Pada negara-negara maju jarang dijumpai kecuali penderita dengan gangguan respons imun seperti penyalahgunaan obat. penurunan mekanisme pertahanan tubuh atau virulensi kuman yang tinggi. Abses timbul karena aspirasi benda terinfeksi. Bila diameter kavitas < 2 cm dan jumlahnya banyak (multiple small abscesses) dinamakan “necrotising pneumonia”. 2008 OLeh : Hendra Arif Abses paru adalah suatu kavitas dalam jaringan paru yang berisi material purulent berisikan sel radang akibat proses nekrotik parenkim paru oleh proses terinfeksi . epilepsi tak terkontrol. Pada beberapa studi didapatkan bahwa . penyakit sistemik atau komplikasi dari paska obstruksi. kerusakan paru sebelumnya dan penyalahgunaan alkohol.Baca Juga Artikel Dibawah askep medikal • • • • • • askep ARDS ( Acute Respiratory Distress Syndrome) Askep Pneumonia Askep Bronchopneumonia Askep TBC Paru Askep Hipertensi Askep Gastritis di 7:35 AM Label: askep medikal 0 komentar: Post a Comment BSES PARU Agustus 7. Pada umumnya kasus Abses paru ini berhubungan dengan karies gigi.

Pembentukan jaringan granulasi terjadi mengelilingi abses. infeksi kemudian proses supurasi dan nekrosis. metronidazole dan golongan aminoglikosida pada abses paru. lalu jaringan nekrosis keluar bersama batuk. 10).6 : 1 (1.000 penderita anak-anak yang MRS. 2. Bakteri mengadakan multiplikasi dan merusak parenkim paru dengan proses . Waktu perawatan di RS yang lama 2. 3. Penelitian pada penderita Abses paru nosokonial ditemukan kuman aerob seperti golongan enterobacteriaceae yang terbanyak. Asher dan Beandry mendapatkan bahwa pada anak-anak kuman penyebab abses paru terbanyak adalah stapillococous aureus (1). terapi kombinasi masih memberikan beberapa permasalahan sebagai berikut : (4) 1. 1. Merupakan proses lanjut pneumonia inhalasi bakteria pada penderita dengan faktor predisposisi.7 dari 100. Sedangkan penelitian dengan teknik biopsi perkutan atau aspirasi transtrakeal ditemukan terbanyak adalah kuman anaerob. 8). 4. Suatu saat abses pecah.67 tiap 100.kuman aerob maupupn anaerob dari koloni oropharing yang sering menjadi penyebab abses paru. 2. Adanya super infeksi bakteri yang mengakibatkan Nosokonial Pneumoni. terapi dan prognosa sebagai penyegaran teori yang sudah ada. Finegolal dan fisliman mendapatkan bahwa organisme penyebab abses paru lebih dari 89 % adalah kuman anaerob. yang menimbulkan nekrosis dan likuifikasi. PATHOFISIOLOGI 1. bila abses pecah ke rongga pleura maka terjadi empyema (2. Walaupun masih efektif. Insidens Angka kejadian Abses Paru berdasarkan penelitian Asher et al tahun 1982 adalah 0. Sputumnya biasanya berbau busuk. kadang terjadi aspirasi pada bagian lain bronkus terbentuk abses baru. Dengan rasio jenis kelamin laki-laki banding wanita adalah 1. melokalisir proses abses dengan jaringan fibrotik. Terapi ideal harus berdasarkan penemuan kuman penyebabnya secara kultur dan sensitivitas. Perubahan reaksi radang pertama dimulai dari suppurasi dan trombosis pembuluh darah lokal. Angka kematian yang disebabkan oleh Abses paru terjadi penurunan dari 30 – 40 % pada era preantibiotika sampai 15 – 20 % pada era sekarang (7). 3.000 penderita yang masuk rumah sakit hampir sama dengan angka yang dimiliki oleh The Children’s Hospital of eastern ontario Kanada sebesar 0. Pada umumnya para klinisi menggunakan kombinasi antibiotik sebagai terapi seperti penisilin. Pada makalah ini akan dibahas Abses paru mulai patogenesis. Etiologi Kuman atau bakteri penyebab terjadinya Abses paru bervariasi sesuai dengan peneliti dan teknik penelitian yang digunakan. Potensi reaksi keracunan obat tinggi 3. Mendorong terjadinya resistensi antibiotika. PATHOLOGI Abses paru timbul bila parenkim paru terjadi obstruksi. PATHOFISIOLOGI Garry tahun 1993 mengemukakan terjadinya abses paru disebutkan sebagai berikut : (5) a.

2. Bila terjadi infeksi dapat terbentuk abses. Pemeriksaan sputum dengan pengecatan gram tahan asam dan KOH merupakan pemeriksaan awal untuk menentukan pemilihan antibiotik secara tepat. 50% kasus)± Nyeri dada ( e. 3. Hal ini sering terjadi pada obstruksi karena kanker bronkogenik. Bila terdapat hubungan dengan bronkus maka didalam kavitas terdapat Air fluid level. 1. sehingga terjadi likuifikasi nekrosis sentral. 4. meningkat lebih dari 12. Pada penderita emphisema paru atau polikisrik paru yang mengalami infeksi sekunder.φ tunggal dengan ukuran Gambaran ini sering dijumpai pada paru kanan lebih dari paru kiri. Obstruksi bronkus dapat menyebabkan pneumonia berlajut sampai proses abses paru. sering dijumpai adanya jari tabuh serta takikardi. Tetapi bila tidak ada hubungan maka hanya dijumpai tanda-tanda konsolidasi (opasitas). b. MANIFESTASI KLINIS. b. Gambaran Radiologis (1. Kadang dijumpai dengan temperatur > 400C. Pertumbuhan massa kanker bronkogenik yang cepat tidak diimbangi peningkatan suplai pembuluh darah. Pembentukan kavitas pada kanker paru. penurunan nafsu makan dan berat badan. 5) a. maka terbentuklah air fluid level bakteria masuk kedalam parenkim paru selain inhalasi bisa juga dengan penyebaran hematogen (septik emboli) atau dengan perluasan langsung dari proses abses ditempat lain (nesisitatum) misal abses hepar. Kavitas yang mengalami infeksi. Ditentukan leukositosis. Pada beberapa penderita tuberkolosis dengan kavitas. Pada pemeriksaan dijumpai tanda-tanda proses konsolidasi seperti redup. d. Pada pemeriksaan darah rutin. 6) Gejala klinis yang ada pada abses paru hampir sama dengan gejala pneumonia pada umumnya yaitu: a. Panas badan Dijumpai berkisar 70% – 80% penderita abses paru. 3.700/mm3. Bila terjadi hubungan rongga abses dengan bronkus batuknya menjadi meningkat dengan bau busuk yang khas (Foetor ex oroe (4075%). 4. c. Produksi sputum yang meningkat dan Foetor ex oero dijumpai berkisar 40 – 75% penderita abses paru. d. 3. Gejala tambahan lain seperti lelah. akibat inhalasi bakteri mengalami proses keradangan supurasi. Pemeriksaan kultur bakteri dan test kepekaan antibiotikan merupakan cara terbaik . Batuk. Kavitas ini bisa multipel atau 2 – 20 cm. 2. 25% kasus)± Batuk darah ( f. 5. Pemeriksaan laboratorium (2. Gejala yang sama juga terlihat pada aspirasi benda asing yang belum keluar. Pada hitung jenis sel darah putih didapatkan pergeseran shit to the left b. 9) Pada foto torak terdapat kavitas dengan dinding tebal dengan tanda-tanda konsolidasi disekelilingnya. c. Laju endap darah ditemukan meningkat > 58 mm / 1 jam. 2.000/mm3 (90% kasus) bahkan pernah dilaporkan peningkatan sampai dengan 32. c. Gejala klinis : (1. Bila berhubungan dengan bronkus.nekrosis. pada stadium awal non produktif. Kadang-kadang dijumpai juga pada obstruksi karena pembesaran kelenjar limphe peribronkial. suara nafas yang meningkat.

5. 4. 4. 5. Keluhan penderita yang khas misalnya malaise. Pneumokoniosis yang mengalami kavitasi. 2. Riwayat penyalahgunaan obat yang mungkin teraspirasi asam lambung waktu tidak sadar atau adanya emboli kuman diparu akibat suntikan obat. Maka bisa dipikrkan untuk memilih kombinasi antibiotika antara golongan . Hematom paru. Sekuester paru. Diagnosa harus ditegakkan berdasarkan : (1.dalam menegakkan diagnosa klinis dan etiologis. IV. Ada beberapa modalitas terapi yang diberikan pada abses paru : (2. 5. 2. Tuberkulosis paru atau infeksi jamur 3. 3. 9. 5. kultur darah yang dapat mengarah pada organisme penyebab infeksi. 4. Pada tuberkulosis didapatkan BTA dan pada infeksi jamur ditemukan jamur. Karsimoma bronkogenik yang mengalami kavitasi. tampak air fluid level. panas badan yang ringan. biasanya dinding kavitas tebal dan tidak rata. adanya air fluid level yang berubah posisi sesuai dengan gravitasi. 7. 3. Di sekitar bula tidak ada atau hanya sedikit konsolidasi. 10) 1. 4. Pilihan pertama antibiotika adalah golongan Penicillin pada saat ini dijumpai peningkatan Abses paru yang disebabkan oleh kuman anaerobs (lebih dari 35% kuman gram negatif anaerob). penurunan berat badan. Pekerjaan penderita jelas di daerah berdebu dan didapatkan simple pneumoconiosis pada penderita. Tidak ada gejala paru. Gambaran radiologis yang menunjukkan kavitas dengan proses konsolidasi disekitarnya. Diagnosis pasti dengan pemeriksaan sitologi/patologi. Riwayat penyakit sebelumnya. dan batuk yang produktif. 6. 6) 1. Diagnosa Banding (2) : 1. Batuk hanya sedikit. 9. Dindingnya tipis dan tidak ada reaksi di sekitarnya. trauma atau serangan epilepsi. DIAGNOSA Diagnosa abses paru tidak bisa ditegakkan hanya berdasarkan kumpulan gejala seperti pneumonia dan pemeriksaan phisik saja. Gejala klinisnya hampir sama atau lebih menahun daripada abses paru. Hiatus hernia. Pemeriksaan laboratorium sputum gram. V. Kista paru yang terinfeksi. Bula yang terinfeksi. Hasil pemeriksaan fisik yang mendukung adanya data tentang penyakit dasar yang mendorong terjadinya abses paru. Medika Mentosa Pada era sebelum antibiotika tingkat kematian mencapai 33% pada era antibiotika maka tingkat kkematian dan prognosa abses paru menjadi lebih baik. Diagnosis pasti dengan bronkografi atau arteriografi retrograd. 2. Diagnosis pasti dengan pemeriksaan barium foto. PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan Abses paru harus berdasarkkan pemeriksaan mikrobiologi dan data penyakit dasar penderita serta kondisi yang mempengaruhi berat ringannya infeksi paru. Ada riwayat trauma. 8. Letak di basal kiri belakang. Adanya riwayat penurunan kesadaran berkaitan dengan sedasi. Bronkoskopi Fungsi Bronkoskopi selain diagnostik juga untuk melakukan therapi drainase bila kavitas tidak berhubungan dengan bronkus. Nyeri restrosternal dan heart burn bertambah berat pada waktu membungkuk.

Pada penderita Abses paru yang tidak berhubungan dengan bronkus maka perlu dipertimbangkan drainase melalui bronkoskopi. Respon yang rendah terhadap therapi antibiotika. 3. Perawatan yang terlambat VII. Anemia dan Hipo Albuminemia b. Pada penderita dengan beberapa faktor predisposisi mempunyai prognosa yang lebih jelek dibandingkan dengan penderita dengan satu fakktor predisposisi. Drainage Drainase postural dan fisiotherapi dada 2-5 kali seminggu selama 15 menit diperlukan untuk mempercepat proses resolusi Abses paru. KOMPLIKASI DAN PROGNOSA 1.penicillin G dengan clindamycin atau dengan Metronidazole. Adanya gangguan drainase karena obstruksi. jadi diberikan antibiotika minimal 2-3 minggu. Bakteri aerob e. 5) a. Bedah Reseksi segmen paru yang nekrosis diperlukan bila: a. RINGKASAN Abses paru adalah suatu kavitas dalam jaringan paru yang berisi material purulent dan sel . VI. Alternatif lain adalah kombinasi Imipenem dengan B Lactamase inhibitase. Usia tua g. Waktu pemberian antibiotika tergantung dari gejala klinis dan respon radiologis penderita. Abses yang besar sehingga mengganggu proses ventilasi perfusi c.4% angka kematian Abses paru karena CAP dibanding 66% Abses paru karena HAP. φ Abses yang besar ( > 5-6 cm) c. Lesi obstruksi d. Perlman et al menemukan bahwa 2% angka kematian pada penderita dengan satu faktor predisposisi dibandingkan 75% pada penderita dengan multi predisposisi. 2. Muri et al melaporkan 2. Gangguan intelegensia h. Empyema b. Atelektasis d. Sepsis 2. pada penderita dengan pneumonia nosokomial yang berkembang menjadi Abses paru. Beberapa faktor yang memperbesar angka mortalitas pada Abses paru sebagai berikut : (7) a. Penderita diberikan terapi 2-3 minggu setelah bebas gejala atau adanya resolusi kavitas. Infeksi paru yang berulang d. Prognosa Abses paru masih marupakan penyebab morbiditas dan mortalitas yang signifikan. Beberapa komplikasi yang timbul adalah : (4. Immune Compromised f. b. Abses otak c. atau kombinasi clindamycin dan Cefoxitin. Angka kematian Abses paru berkisar antara 15-20% merupakan penurunan bila dibandingkan dengan era pre antibiotika yang berkisar antara 30-40% (7).

1995 . Pada pemeriksaan fisik didapatkan takikardia. 1992 . 115 . epilepsi). Canada . Pada abses paru memberikan gejala klinis panas. Abses Paru dalam Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Paru . Surabaya .radang akibat proses nekrotik parenkim paru oleh proses infeksi. 1993 . 1995 . Hammond JMJ et al . Barlett JG . 1997 . 2021 – 32. Hirshberg B et al . Lung Abscess in a Lange Clinical Manual : Internal Medicina : Diagnosis and Therapy 3rd . oral higine yang kurang serta obstruksi dan aspirasi benda asing. batuk. Lung Abscess Caused by Legionella micdadei . tanda-tanda konsolidasi. Lung Abscess. . Diagnosis pasti bila didapatkan biakan kuman penyebab sehingga dapat dilakukan terapi etiologis. Lung Abscess in : Cecil text book of Medicine 19th ed . 413 – 15. gangguan kesadaran (anestesi. DAFTAR PUSTAKA Asher MI. 1998 . Empyema and Lung Abscess . Phildelphia . dkk . disertai malaise. naspu makan dan berat badan yang turun. Oklahoma . Interventional Radiology of The Chest : Image Guided Percutaneons Drainage of Pleural Effusions. Johnson KM. 581 – 88. 1 . Assegaff H. Abses paru timbul karena faktor predisposisi seperti gangguan fungsi imun karena obat-obatan. Chest . 1990 : 429 – 34. 136 – 41. AJR . Huseby JS . 3 . Chest . Fishman JA . 164 . Lung Abscess in infections of Respicatory tract . Klein JS et al . AUP . 108 . Pada pemeriksaan foto polos dada didapatkan gambaran kavitas dengan air fluid level atau proses konsolidasi saja bila kavitas tidak berhubungan dengan bronkus. Finegold SM. and Pneumothorax . 746 – 52. in Fishman’s pulmonary Diseases and disorders 3rd ed . 119 – 120. 4 . 937 – 41. 109 – 13. Philadelphia . Garry et al . Chest 111 . Pemberian antibiotika merupakan pilihan utama disamping terapi bedah dan terapi suportif fisio terapi. Factors predicting mortality of patients with lung Abscsess . sputum purulen dan berbau. Beadry PH . The Ethiology and Anti Microbial Susceptibility Patterns of Microorganism in acute Commuity – Acquired Lung Abscess . 1999 .

Allergic broucho pulumonary aspergillosis with multiple Streptococceus pneumonie Lung Abscess : an unussual insitial case presentation . joutnal of allergy and clinical imonoligy . 2009 at 5:03 am emang w nnya Leave a Comment Name Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan TBC Paru Posted By irman somantri on May 28. . Angka kejadian (prevalensi) TB paru-paru pada usia 5-12 tahun cukup rendah. 1 Comment Add your own • 1.. kemudian meningkat setelah masa remaja di mana TB paru-paru menyerupai kasus pada pasien dewasa (sering disertai lubang/kavitas pada paru-paru).1. 104 . 2008 Proses keperawatan pada pasien dengan Tuberculosa dengan pendekatan 5 langkah proses keperawatan sebagai berikut : 1. Entry Filed under: Kesehatan. Bio Data Penyakit Tuberkulosa dapat menyerang dari mulai anak sampai dengan dewasa dengan komposisi antara laki-laki dan perempuan yang hampir sama menderita. 1 1999 . namun usia paling umum adalah antara 1-4 tahun. Biasanya timbul pada lingkungan rumah dengan kepadatan tinggi yang tidak memungkinkan cahaya matahari masuk ke dalam rumah. Anak lebih sering mengalami TB luar paru-paru (extrapulmonary) dibanding TB paru-paru dengan perbandingan 3:1. 238 – 40.Ricaurte KK et al . Pengkajian a. . TB pada anak dapat terjadi pada usia berapa pun. INDRA | Mei 25. TB luar paru-paru dan TB yang berat terutama ditemukan pada usia < 3 tahun.

Pemeriksaan Tambahan 1) Sputum Culture : Positif untuk mycobacterium tuberkulosa pada stadium aktif. Pemeriksaan Fisik • Pada tahap dini sulit diketahui. deposit kalsium pada lesi primer yang membaik atau cairan pada effusi. Vollmer Patch) : reaksi positif (area indurasi 10 mm atau lebih. timbul 48 – 72 jam setelah injeksi antigen intradermal) mengindikasikan infeksi lama dan adanya antibodi tetapi tidak mengindikasikan penyakit sedang aktif. 3) Sesak nafas : bila sudah lanjut dimana infiltrasi radang sampai setengah paru. Tine. nyeri timbul bila infiltrasi radang sampai ke pleura sehingga menimbulkan pleuritis. batuk ini terjadi untuk membuang/mengeluarkan produksi radang. 4) Nyeri dada : ini jarang ditemukan. karena biasanya penyakit ini muncul bukan karena sebagai penyakit keturunan tetapi merupakan penyakit infeksi menular. .°1) Demam : subfebris. Pada foto thorax tampak pada sisi yang sakit bayangan hitam dan diafragma menonjol ke atas. febris (40-41 2) Batuk : terjadi karena adanya iritasi pada bronchus. kolaps. 4) Chest X-Ray : dapat memperlihatkan infiltrasi kecil pada lesi awal di bagian paru-paru bagian atas. c. Riwayat Kesehatan Keluhan yang sering muncul antara lain : C) hilang timbul. Mantoux. sesak nafas. • Ronchi basah. Perubahan mengindikasikanTB yang lebih berat dapat mencakup area berlubang dan fibrous. kasar dan nyaring. keringat malam. sakit kepala. 7) Perlu ditanyakan dengan siapa pasien tinggal. dimulai dari batuk kering sampai dengan batuk purulen (menghasilkan sputum). berat badan menurun. 5) Malaise : ditemukan berupa anorexia. 2) Ziehl Neelsen (Acid-fast Staind applied to smear of body fluid) : positif untuk BTA 3) Skin Test (PPD. • Pada keadaan lanjut Atropi dan retraksi interkostal dan fibrosis • Bila mengenai pleura terjadi effusi pleura (perkusi memberikan suara pekak) d. nafsu makan menurun.b. Bagian dada klien tidak bergerak pada saat bernafas dan jantung terdorong ke sisi yang sakit. • Hipersonor/timpani bila terdapat kavitas yang cukup dan pada auskultasi memberikan suara umforik. nyeri otot. 6) Pada atelektasis terdapat gejala berupa : cyanosis.

berat dan sisa kerusakan paru.12. TLC meningkat dan menurunnya saturasi oksigen yang merupakan gejala sekunder dari fibrosis/infiltrasi parenchim paru dan penyakit pleura. adanya sel-sel besar yang mengindikasikan nekrosis. 11) Test Fungsi Paru : VC menurun.6/mm. 9) Bronchografi : merupakan pemeriksaan khusus untuk melihat kerusakan bronchus atau kerusakan paru karena TB. 8. Sebagian besar kuman terdiri atas asam lemak (lipid). 6) Needle Biopsi of Lung Tissue : positif untuk granuloma TB. Etiologi Tuberkulosis paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh basil mikrobakterium tuberkulosis tipe humanus.2009 Askep TBC Paru atau sering dikenal dengan TB paru adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tubeculosis. biopsi kulit) : positif untu mycobacterium tuberkulosa.html) 5) Histologi atau Culture jaringan (termasuk kumbah lambung. misalnya hiponatremia mengakibatkan retensi air. sejenis kuman yang berbentuk batang dengan ukuran panjang 1-4/mm dan tebal 0. Dead Space meningkat.3-0.org/irp/imint/docs/rst/Intro/Part2_26b. 10) Darah : lekositosis. mungkin ditemukan pada TB paru kronik lanjut. 7) Elektrolit : mungkin abnormal tergantung dari lokasi dan beratnya infeksi.Gambar 15 : Foto Rontgen Klien Tuberkulosa Paru (Sumber : www.fas. urine dan CSF. Askep TBC Paru AKPER PPNI SOLO. ABGs : mungkin abnormal. LED meningkat. Lipid inilah yang membuat kuman lebih tahan terhadap asam dan lebih tahan terhadap . tergantung lokasi.

Tuberkulosis juga telah menyebabkan kematian lebih banyak terhadap wanita dibandingkan dengan kasus kematian karena kehamilan. 1997). Insiden Penyakit tuberkulosis adalah penyakit yang sangat epidemik karena kuman mikrobakterium tuberkulosa telah menginfeksi sepertiga penduduk dunia. Setiapkali penderita ini batuk dapat mengeluarkan 3000 droplet nuclei. Tuberkulosis paru primer. Di bawah sinar matahari langsung basil tuberkel mati dengan cepat tetapi dalam ruang yang gelap lembab dapat bertahan sampai beberapa jam. meskipun sejak tahun 1993 telah dicanangkan kedaruratan global penyakit tuberkulosis. Di samping penularan melalui saluran pernapasan (paling sering). Tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi penting saluran pernapasan. . M. hal ini disebabkan banyak penderita yang tidak berhasil disembuhkan. penyakit tuberkulosis tidak terkendali. Dari sifat dormant ini kuman dapat bangkit kembali dan menjadikan tuberkulosis aktif kembali. peradangan terjadi sebelum tubuh mempunyai kekebalan spesifik terhadap basil mikobakterium. terutama penderita menular (BTA positif). Sifat ini menunjukkan bahwa kuman lebih menyenangi jaringan yang tinggi kandungan oksigennya. Kegelisahan global ini didasarkan pada fakta bahwa pada sebagian besar negara di dunia. keduanya dinamakan tuberkulosis primer. Sedangkan yang disebut tuberkulosis post primer (reinfection) adalah peradangan jaringan paru oleh karena terjadi penularan ulang yang mana di dalam tubuh terbentuk kekebalan spesifik terhadap basil tersebut. Pada tahun 1995. Di negara-negara berkembang kematian karena penyakit ini merupakan 25 % dari seluruh kematian. diperkirakan setiap tahun terjadi sekitar sembilan juta penderita dengan kematian tiga juta orang (WHO. tuberculosis juga dapat masuk ke dalam tubuh melalui saluran pencernaan dan luka terbuka pada kulit (lebih jarang). sehingga bagian apikal ini merupakan tempat predileksi penyakit tuberkulosis.gangguan kimia dan fisik. Sifat lain kuman adalah aerob. Program penaggulangan secara terpadu baru dilakkan pada tahun 1995 melalui strategi DOTS (directly observed treatment shortcourse chemoterapy). Penularan umumnya terjadi di dalam ruangan dimana droplet nuclei dapat tinggal di udara dalam waktu lebih lama. Dalam hal ini tekanan bagian apikal paru-paru lebih tinggi dari pada bagian lainnya. Proses Penularan Tuberkulosis tergolong airborne disease yakni penularan melalui droplet nuclei yang dikeluarkan ke udara oleh individu terinfeksi dalam fase aktif. maka terjadilah infeksi primer (ghon) selanjutnya menyebar kekelenjar getah bening setempat dan terbentuklah primer kompleks (ranke). yang dalam perjalanannya sebagian besar akan mengalami penyembuhan. Diperkirakan 95 % penyakit tuberkulosis berada di negara berkembang. Kuman ini tahan hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin (dapat tahan bertahun-tahun dalam lemari es). Basil mikrobakterium tersebut masuk kedalam jaringan paru melalui saluran napas (droplet infection) sampai alveoli. Hal ini terjadi karena kuman berada dalam sifat dormant. Tuberkulosis yang kebanyakan didapatkan pad usia 1-3 tahun. Dua faktor penentu keberhasilan pemaparan Tuberkulosis pada individu baru yakni konsentrasi droplet nuclei dalam udara dan panjang waktu individu bernapas dalam udara yang terkontaminasi tersebut di samping daya tahan tubuh yang bersangkutan. yang sebenarnya dapat dicegah. 75 % adalah kelompok usia produktif (15-50 tahun).

Maka ‘letaknya di belakang larinx (larinx-faringeal). secara kasar diperkirakan setiap 100.000 penduduk Indonesia terdapat 130 penderita baru tuberkulosis dengan BTA positif. Bronckus kanan lebih pendek dan lebih lebar daripada yang kiri.jenis sel yang sama. Alveolus yaitu tempat pertukaran gas assinus terdiri dari bronkhiolus dan respiratorius . (rongga) hidung. Saluran-saluran itu bermuara ke dalam bagian yang dikenal sebagai vestibulum. Trachea atau batang tenggorok kira-kira 9 cm panjangnya trachea berjalan dari larynx sarnpai kira-kira ketinggian vertebrata torakalis kelima dan di tempat ini bercabang mcnjadi dua bronckus (bronchi). yaitu saluran udara terkecil yang tidak mengandung alveoli (kantong udara). Tetapi dikelilingi oleh otot polos sehingga ukurannya dapat berubah.lengkap yang berupan cincin tulang rawan yang diikat bersama oleh jaringan fibrosa dan yang melengkapi lingkaran disebelah belakang trachea. Bronkus-bronkus itu berjalan ke bawah dan kesamping ke arah tampuk paru. rongga hidung. sampai ketinggian vertebrata servikals dan masuk ke dalarn trachea di bawahnya. berjalan dari farinx. Anatomi dan Fisiologi Saluran penghantar udara hingga mencapai paru-paru adalah hidung. Bronkhiolus tidak diperkuat oleh cincin tulang rawan. Laringx (tenggorok) terletak di depan bagian terendah farinx yang mernisahkan dari columna vertebrata. larinx trachea. bronkus. dan bersambung dengan lapisan farinx dan dengan selaput lendir sinus yang mempunyai lubang masuk ke dalam.20 lingkaran tak. sedikit lebih tinggi darl arteri pulmonalis dan mengeluarkan sebuah cabang utama lewat di bawah arteri. Larynx terdiri atas kepingan tulang rawan yang diikat bersama oleh ligarnen dan membran.000 kasus baru tuberkulosis dengan kematian sekitar 140. Bronkhiolus terminalis memiliki garis tengah kurang lebih I mm. farinx. Percabangan ini berjalan terus menjadi bronchus yang ukurannya semakin kecil. Cabang utama bronchus kanan dan kiri bercabang lagi menjadi bronchus lobaris dan kernudian menjadi lobus segmentalis. Seluruh saluran udara ke bawah sampai tingkat bronkbiolus terminalis disebut saluran penghantar udara karena fungsi utamanya adalah sebagai penghantar udara ke tempat pertukaran gas paru-paru. Trachea tersusun atas 16 . Farinx (tekak) . Bronchus yang terbentuk dari belahan dua trachea pada ketinggian kira-kira vertebrata torakalis kelima. WHO memperkirakan setiap tahun menjadi 583. dan nomor satu dari golongan penyakit infeksi. rongga hidung. Rongga hidung dilapisi sebagai selaput lendir yang sangat kaya akan pembuluh darah.000. mempunyai struktur serupa dengan trachea dan dilapisi oleh. sampai akhirnya menjadi bronkhiolus terminalis. Bronkus kiri lebih panjang dan lebih langsing dari yang kanan. hasil survey kesehatan rumah tangga (SKRT) menunjukkan bahwa penyakit tuberkulosis merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit jantung dan penyakit infeksi saluran pernapasan pada semua kelompok usia. Nares anterior adalah saluran-saluran di dalam. dan berjalan di bawah arteri pulmonalis sebelurn di belah menjadi beberapa cabang yang berjalan kelobus atas dan bawah. selain itu juga membuat beberapa jaringan otot. disebut bronckus lobus bawah. adalah pipa berotot yang berjalan dari dasar tengkorak sampai persambungannya dengan oesopagus pada ketinggian tulang rawan krikoid. dan bronkiolus. Di indonesia pada tahun yang sama.persalinan dan nifas. Hidung .

ductus alveolar. sakkus alveolar dan alveoli. (5) Perfusi. (2) menyaring bahan beracun dari sirkulasi (3) reservoir darah (4) fungsi utamanya adalah pertukaran gas-gas Patofisiologi Port de’ entri kuman microbaterium tuberculosis adalah saluran pernafasan. yaitu pemindahan gas secara efektif antara. . Paru kanan dibagi atas tiga lobus yaitu lobus superior. Basil tuberkel yang mencapai permukaan alveolus biasanya diinhalasi terdiri dari satu sampai tiga gumpalan basil yang lebih besar cenderung tertahan di saluran hidung dan cabang besar bronkus dan tidak menyebabkan penyakit.5 urn). transportasi yang terdiri dan beberapa aspek yaitu : (1) Difusi gas antara alveolus dan kapiler paru-paru (respirasi eksternal) dan antara darah sistemik dan sel. sehingga mempunyai permukaan yang cukup luas untuk tempat permukaan/pertukaran gas. asinus atau. Dilapisi oleh pleura yaitu parietal pleura dan visceral pleura. yaitu sel dimana metabolik dioksida untuk. Alveolus dipisahkan oleh dinding yang dinamakan pori-pori kohn. Secara garis besar bahwa Paru-paru memiliki fungsi sebagai berikut: (1) Terdapat permukaan gas-gas yaitu mengalirkan Oksigen dari udara atmosfer kedarah vena dan mengeluarkan gas carbondioksida dari alveoli keudara atmosfer.5 s/d 1. dan luka terbuka pada kulit. dan C02 dikeluarkan keudara ekspirasi dapat dibagi menjadi tiga stadium. Terdapat sekitar 20 kali percabangan mulai dari trachea sampai Sakus Alveolaris. Stadium kedua. venula. Ductus alveolaris seluruhnya dibatasi oleh alveoilis dan sakus alveolaris terminalis merupakan akhir paru-paru. Stadium pertama adalah ventilasi yaitu masuknya campuran gas-gas ke dalam dan keluar paruparu.0 cm. medius dan inferior sedangkan paru kiri dibagi dua lobus yaitu lobus superior dan inferior. Di dalam rongga pleura terdapat cairan surfaktan yang berfungsi untuk lubrikai. Paru-paru terdapat dalam rongga thoraks pada bagian kiri dan kanan. bronchial venula. dari unit pulmonary harus sesuai pada orang normal dengan posisi tegak dan keadaan istirahat maka ventilasi dan perfusi hampir seimbang kecuali pada apeks paru-paru. yaitu. alveolus dan kapiler paruparu membutuhkan distribusi merata dari udara dalam paru-paru dan perfusi (aliran darah) dalam kapiler dengan perkataan lain ventilasi dan perfusi. karena ada selisih tekanan yang terdapat antara atmosfer dan alveolus akibat kerja mekanik dari otot-otot. tahap kcdua dari proses pemapasan mencakup proses difusi gas-gas melintasi membran alveolus kapiler yang tipis (tebalnya kurang dari 0. yaitu melalui inhalasi droppet yang mengandung kuman-kuman basil tuberkel yang berasal dari orang yang terinfeksi.yang terkadang memiliki kantong udara kecil atau alveoli pada dindingnya.-sel jaringan (2) Distribusi darah dalam sirkulasi pulmonal dan penyesuaiannya dengan distribusi udara dalam alveolus. Diperkirakan bahwa stiap paru-paru mengandung 150 juta alveoli. (3) Reaksi kimia dan fisik dari 02 dan C02 dengan darah respimi atau respirasi interna menipak-an stadium akhir dari respirasi. saluran pencernaan. Setelah berada dalam ruang alveolus biasanya di bagian bawah lobus atau paru-paru. Proses fisiologi pernafasan dimana 02 dipindahkan dari udara ke dalam jaringan-jaringan.mendapatkan energi. dan C02 terbentuk sebagai sampah proses metabolisme sel dan dikeluarkan oleh paru-paru (4) Transportasi. atau di bagian atas lobus bawah. Tiap lobus dibungkus oleh jaringan elastik yang mengandung pembuluh limfe. arteriola. Kekuatan mendorong untuk pemindahan ini adalah selisih tekanan parsial antara darah dan fase gas.kadang disebut lobolus primer memiliki tangan kira-kira 0. kebanyakan infeksi tuberculosis terjadi melalui udara (air borne).

Makrofag yang mengadakan infiltrasi mcajadi lebih panjang dan sebagian bersatu sehingga membentuk sel tuberkel epiteloit. meliputi: a. penurunan berat badan serta malaise. Basil juga menyebar melalui getah bening menuju ke kelenjar bening regional. Pada sejumlah penderita gejala yang timbul tidak jelas sehingga diabaikan bahkan kadang-kadang asimtomatik. Leukosit polimorfonuklear tampak pada tempat tersebut dan memfagosit bacteria namun tidak membunuh organisme tersebut. Reaksi ini biasanya membutuhkan waktu 10 sampai 20 hari. Timbulnya gejala biasanya gradual dalam beberapa minggu-bulan. akan tetapi penampilan akut dengan batuk. Demam Merupakan gejala yang sering dijumpai biasanya timbul pada sore dan malam hari mirip demam influenza. Alveoli yang terserang akan mengalami konsolidasi dan timbul gejala pneumonia akut. gumpalan darah atau darah segar dalam jumlah sangat banyak. b. gejala respiratorik dan gejala sistemik: 1. hilang timbul dan makin lama makin panjang serangannya sedang masa bebas serangan makin pendek. Sesak napas Gejala ini ditemukan bila kerusakan parenkim paru sudah luas atau karena ada hal-hal yang menyertai seperti efusi pleura. mungkin tampak berupa garis atau bercak-bercak darak. Gejala sistemik lain Gejala sistemik lain ialah keringat malam. Batuk Gejala batuk timbul paling dini dan merupakan gangguan yang paling sering dikeluhkan. Pneumonia seluler ini dapat sembuh dengan sendirinya sehingga tidak ada sisa yang tertinggal. Gambaran klinik TB paru dapat dibagi menjadi 2 golongan. Gejala sistemik. 2. Batuk darak terjadi karena pecahnya pembuluh darah. anoreksia. c. Batuk darah Darah yang dikeluarkan dalam dahak bervariasi. panas. Gejala respiratorik. dan bakteri terus difagosit atau berkembang biak di dalam sel. meliputi: a. Gejala ini timbul apabila sistem persarafan di pleura terkena. Berat ringannya batuk darah tergantung dari besar kecilnya pembuluh darah yang pecah. sesak napas walaupun jarang dapat juga timbul menyerupai gejala pneumonia. yang dikelilingi oleh fosit. d. atau proses dapat juga berjalan terus. pneumothorax.Basil tuberkel ini membangkitkan reaksi peradangan. Nyeri dada Nyeri dada pada TB paru termasuk nyeri pleuritik yang ringan. b. anemia dan lain-lain. Sesudah hari-hari pertama maka leukosit diganti oleh makrofag. Manifestasi Klinik Tuberkulosis sering dijuluki “the great imitator” yaitu suatu penyakit yang mempunyai banyak kemiripan dengan penyakit lain yang juga memberikan gejala umum seperti lemah dan demam. Mula-mula bersifat non produktif kemudian berdahak bahkan bercampur darah bila sudah ada kerusakan jaringan. Gejala klinis Haemoptoe: Kita harus memastikan bahwa perdarahan dari nasofaring dengan cara membedakan ciri- .

oblik. BTA positif: mikroskopik positif 2 kali. Muntah darah a. Dengan atau tanpa gejala klinik 2. Klasifikasi Klasifikasi TB Paru dibuat berdasarkan gejala klinik. b. Darah dimuntahkan dengan rasa mual b. Batuk darah a. Benzidin test negatif 2. Darah bersifat asam e. Ditemukannya kuman micobakterium TBC dari dahak penderita memastikan diagnosis tuberculosis paru. Anemia seriang terjadi f. Bayangan yang berawan (patchy) atau berbercak (noduler) c. Darah bersifat alkalis e. mikroskopik positif 1 kali disokong biakan . Uji resistensi harus dilakukan apabila ada dugaan resistensi terhadap pengobatan. Bayang yang menetap atau relatif menetap setelah beberapa minggu e. Sesuai dengan program Gerdunas P2TB klasifikasi TB Paru dibagi sebagai berikut: a. Darah berwarna merah segar d. terutama bila terdapat di lapangan atas paru d. Klasifikasi ini penting karena merupakan salah satu faktor determinan untuk menetapkan strategi terapi.ciri sebagai berikut : 1. TB Paru BTA Positif dengan kriteria: 1. tomogram dan lain-lain. Batuk pelan kadang keluar c. Test Diagnostik Foto thorax PA dengan atau tanpa literal merupakan pemeriksaan radiology standar. Pemeriksaan sputum adalah diagnostik yang terpenting dalam prograrn pemberantasan TBC paru di Indonesia. Darah segar berwarna merah muda d. Pada pemeriksaan pertama. Pemeriksaan biasanya lebih sensitive daripada sediaan apus (mikroskopis). Darah dibatukkan dengan rasa panas di tenggorokan b. radiologik dan riwayat pengobatan sebelumnya. Anemia kadang-kadang terjadi f. Darah bersifat alkalis e. Bayangan bilier Pemeriksaan Bakteriologik (Sputum) . bakteriologik. Kelainan yang bilateral. Darah berbuih bercampur udara c. Darah bercampur sisa makanan c. Darah berwarna hitam karena bercampur asam lambung d. Benzidin test positif 3. Bayangan lesi radiology yang terletak di lapangan atas paru. Darah menetes dari hidung b. Epistaksis a. Pengambilan dahak yang benar sangat penting untuk mendapatkan hasil yang sebaik-baiknya. sebaiknya 3 kali pemeriksaan dahak. Anemia jarang terjadi 6. Karakteristik radiology yang menunjang diagnostik antara lain : a. Jenis pemeriksaan radiology lain hanya atas indikasi Top foto.

hasil pemeriksaan bakteriologik. B. TB Paru BTA Negatif dengan kriteria: 1. Paduan obat yang digunakan terdiri dari obat utama dan obat tambahan. Kesinambungan ketersediaan paduan OAT jangka pendek yang cukup. Pengobatan TB dengan paduan OAT jangka pendek dengan pengawasan langsung oleh Pengawas Menelan Obat (PMO) khususnya dalam 2 bulan pertama dimana penderita harus minum obat setiap hari. Kuinolon. Bekas TB Paru dengan kriteria: a. Pengkajian Data-data yang perlu dikaji pada asuhan keperawatan dengan Tuberkulosis paru (Doengoes. Diagnosis TB melalui pemeriksaan dahak secara mikroskopik langsung sedang pemeriksaan penunjang lainnya seperti pemeriksaan radiologis dan kultur dapat dilaksanakan di unit pelayanan yang memiliki sarana tersebut. Sedang jenis obat tambahan adalah Kanamisin. c. aktivitas berat timbul. Radiologik menunjukkan gambaran lesi TB inaktif. Pengobatan tuberkulosis terbagi menjadi 2 fase yaitu fase intensif (2-3 bulan) dan fase lanjutan (4-7 bulan). Makrolide dan Amoksisilin + Asam Klavulanat. Pencatatan dan pelaporan yang baku. 3. Gejala klinik dan gambaran radilogik sesuai dengan TB Paru aktif 2. d.positif satu kali atau disokong radiologik positif 1 kali. lanjut. Objektif : Takikardia. berat ringannya penyakit. Untuk keperluan pengobatan perlu dibuat batasan kasus terlebih dahulu berdasarkan lokasi tuberkulosa. infiltrasi . Ada riwayat pengobatan OAT yang adekuat (lebih mendukung). b. BTA negatif. sesak (nafas pendek). 3. 2000) ialah sebagai berikut : 1. 4. berkeringat pada malam hari. 2. Adanya komitmen politis berupa dukungan pengambil keputusan dalam penanggulangan TB. INH. demam. biakan negatif tetapi radiologik positif. Jenis obat utama yang digunakan sesuai dengan rekomendasi WHO adalah Rifampisin. hapusan dahak dan riwayat pengobatan sebelumnya. menggigil. c. mencegsah kekambuhan atau resistensi terhadap OAT serta memutuskan mata rantai penularan. Riwayat PerjalananPenyakit a. Pirasinamid. menunjukkan serial foto yang tidak berubah. Pola aktivitas dan istirahat Subjektif : Rasa lemah cepat lelah. sesak (tahap. Bakteriologik (mikroskopik dan biakan) negatif b. Penanganan Medik Tujuan pengobatan pada penderita TB Paru selain untuk mengobati juga mencegah kematian. Di samping itu perlu pemahaman tentang strategi penanggulangan TB yang dikenal sebagai Directly Observed Treatment Short Course (DOTS) yang direkomendasikan oleh WHO yang terdiri dari lima komponen yaitu: 1. Gejala klinik tidak ada atau ada gejala sisa akibat kelainan paru. Streptomisin dan Etambutol. takipnea/dispnea saat kerja. Gambaran radiologik sesuai dengan TB paru. 5. derivat Rifampisin/INH. sulit tidur. PROSES KEPERAWATAN 1. irritable.

Pernah berobat tetapi tidak sembuh. Faktor Pendukung: a. Riwayat kontak dengan penderita Tuberkulosis Paru. 5. kebiasaan merokok.). pasien menjalani pengobatan sehubungan dengan penyakitnya. tidak dapat berkomunikisi dengan bebas. masalah tentang masa depan/pekerjaan pasien. mukoid kuning atau bercak darah. takipneu (penyakit luas atau fibrosis parenkim paru dan pleural). masalah keuangan. f. gelisah. tidak enak diperut. minum alkohol. c. Respirasi Subjektif : Batuk produktif/non produktif sesak napas. ketakutan. kulit kering/bersisik. ansietas. dosis obat yang diminum. Tes Tuberkulin: Mantoux test reaksi positif (area indurasi 10-15 mm terjadi 48-72 jam). b. Jenis pekerjaan. mual. 3. untuk sembuh perlu waktu yang lama dan biaya yang banyak. Pernah berobat tetapi tidak teratur. sesak napas. pembengkakan kelenjar limfe. Integritas ego Subjektif : Faktor stress lama. 4. b. . Pola nutrisi Subjektif : Anoreksia. c. Objektif : Mulai batuk kering sampai batuk dengan sputum hijau/purulent. b. perkusi pekak dan penurunan fremitus (cairan pleural). pengembangan pernapasan tidak simetris (effusi pleura. Riwayat pekerjaan.radang sampai setengah paru). biasanya pada keluarga yang kurang marnpu. Kapan pasien mendapatkan pengobatan sehubungan dengan sakitnya. d. kebersihan diri. deviasi trakeal (penyebaran bronkogenik). Riwayat Sosial Ekonomi: a. c. Berapa lama. Tingkat pengetahuan/pendidikan pasien dan keluarga tentang penyakit. tidak bersemangat dan putus harapan. Kapan pasien mendapatkan pengobatan terakhir. Jenis. Aspek psikososial. Pemeriksaan Diagnostik: a. Merasa dikucilkan. kehilangan lemak sub kutan. demam subfebris (40 -410C) hilang timbul. Daya tahan tubuh yang menurun. pencegahan. Objektif : Menyangkal (selama tahap dini). Kultur sputum: Mikobakterium Tuberkulosis positif pada tahap akhir penyakit. terdengar bunyi ronkhi basah. nyeri bisa timbul bila infiltrasi radang sampai ke pleura sehingga timbul pleuritis. waktu dan tempat bekerja. menarik diri. e. Riwayat Penyakit Sebelumnya: a. b. Obiektif : Berhati-hati pada area yang sakit. warna. d. b. 2. Riwayat lingkungan. 6. Riwayat vaksinasi yang tidak teratur. d. Pernah sakit batuk yang lama dan tidak sembuh-sembuh. Riwayat Pengobatan Sebelumnya: a. jumlah penghasilan. perasaan tak berdaya/tak ada harapan. pola istirahat dan tidur. c. kasar di daerah apeks paru. prilaku distraksi. Pola hidup. Rasa nyaman/nyeri Subjektif : Nyeri dada meningkat karena batuk berulang. b. mudah tersinggung. penurunan berat badan. pengobatan dan perawatannya. Nutrisi. e. Objektif : Turgor kulit jelek. sakit dada. masalah berhubungan dengan kondisi ekonomi.

upaya batuk buruk. Poto torak: Infiltnasi lesi awal pada area paru atas . Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan: Sekret kental atau sekret darah. Berpartisipasi dalam program pengobatan sesuai kondisi. Bersihan jalan napas tidak efektif Tujuan: Mempertahankan jalan napas pasien. berupa cincin . Kaji fungsi pernapasan: bunyi napas. d. Pada kalsifikasi tampak bayangan bercak-bercak padat dengan densitas tinggi. Darah: peningkatan leukosit dan Laju Endap Darah (LED). Penurunan kemampuan finansial. 3. Dispnea. Sekret yang kental. sputum berdarah akibat kerusakan paru atau luka bronchial yang memerlukan evaluasi/intervensi lanjut. 2. sekret yang inenetap. Resiko tinggi infeksi dan penyebaran infeksi berhubungan dengan: Daya tahan tubuh menurun. b. Terkontaminasi oleh lingkungan. Bronchografi: untuk melihat kerusakan bronkus atau kerusakan paru karena TB paru. Batuk yang sering. Interpretasi yang salah. Kerusakan jaringan akibat infeksi yang menyebar. Malnutrisi. Kelemahan. 5. Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan yang lazim terjadi pada klien dengan Tuberkulosis paru adalah sebagai berikut: 1. kedalaman dan penggunaan otot aksesori. adanya produksi sputum. pencegahan berhubungan dengan: Tidak ada yang menerangkan. Rasional: Pengeluaran sulit bila sekret tebal. 4.c. Terbatasnya pengetahuan/kognitif 4. jumlah sputum. kecepatan. Edema trakeal/faringeal. ventilasi maksimal membuka area atelektasis dan peningkatan gerakan sekret agar mudah dikeluarkan . pengobatan. Pada tahap dini tampak gambaran bercak-bercak seperti awan dengan batas tidak jelas . ronki indikasi akumulasi secret/ketidakmampuan membersihkan jalan napas sehingga otot aksesori digunakan dan kerja pernapasan meningkat. Kerusakan membran alveolar kapiler. Perubahan kebutuhan nutrisi. Spirometri: penurunan fuagsi paru dengan kapasitas vital menurun. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan: Berkurangnya keefektifan permukaan paru. Catat kemampuan untuk mengeluarkan secret atau batuk efektif. c. catat karakter. Anoreksia. Bantu/ajarkan batuk efektif dan latihan napas dalam. Rasional: Penurunan bunyi napas indikasi atelektasis. adanya hemoptisis. f. Berikan pasien posisi semi atau Fowler. Kurang pengetahuan tentang kondisi. Menunjukkan prilaku untuk memperbaiki bersihan jalan napas. atelektasis. fungsi silia menurun. Mengeluarkan sekret tanpa bantuan. imma. Intervensi: a. kurang dari kebutuhan berhubungan dengan: Kelelahan. Kurang pengetahuan tentang infeksi kuman. Informasi yang didapat tidak lengkap/tidak akurat. Pada kavitas bayangan. 3. Mengidentifikasi potensial komplikasi dan melakukan tindakan tepat. Edema bronchial. Rasional: Meningkatkan ekspansi paru. Rencana Keperawatan Adapun rencana keperawatan yang ditetapkan berdasarkan diagnosis keperawatan yang telah dirumuskan sebagai berikut: 1. e.

e. Pertahankan intake cairan minimal 2500 ml/hari kecuali kontraindikasi. lingkaran ukuran lumen trakeabronkial. ciuman atau menyanyi. Anjurkan untuk bedrest. Lembabkan udara/oksigen inspirasi. Rasional: Membantu mengoreksi hipoksemia yang terjadi sekunder hipoventilasi dan penurunan permukaan alveolar paru. Rasional: Akumulasi secret dapat menggangp oksigenasi di organ vital dan jaringan. dan warna kuku. b. Bantu inkubasi darurat bila perlu. takipnea. pleural effusion dan meluasnya fibrosis dengan gejala-gejala respirasi distress. tertawa. dengan edema laring atau perdarahan paru akut. meludah. terutama pada pasien dengan fibrosis atau kerusakan parenkim. batasi dan bantu aktivitas sesuai kebutuhan. bronkodilator. Suction dilakukan bila pasien tidak mampu mengeluarkan sekret. h. c. Gangguan pertukaran gas Tujuan: Melaporkan tidak terjadi dispnea. Bebas dari gejala distress pernapasan. Berikan oksigen sesuai indikasi. Demonstrasikan/anjurkan untuk mengeluarkan napas dengan bibir disiutkan. Rasional: Membantu pasien agar mau mengerti dan menerima terapi yang diberikan . Resiko tinggi infeksi dan penyebaran infeksi Tujuan: Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah/menurunkan resiko penyebaran infeksi. suction bila perlu. kortikosteroid sesuai indikasi. Peningkatan upaya respirasi. penyebaran infeksi melalui bronkus pada jaringan sekitarnya atau aliran darah atau sistem limfe dan resiko infeksi melalui batuk. 3. aman. Menunjukkan/melakukan perubahan pola hidup untuk meningkatkan lingkungan yang. f. d. Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan adekuat dengan GDA dalam rentang normal. e. Rasional: Menurunnya saturasi oksigen (PaO2) atau meningkatnya PaC02 menunjukkan perlunya penanganan yang lebih. Rasional: Mencegah pengeringan membran mukosa. Bersihkan sekret dari mulut dan trakea. Intervensi a. bersin. Evaluasi perubahan-tingkat kesadaran. catat tanda-tanda sianosis dan perubahan warna kulit. Berikan obat: agen mukolitik. Rasional: Mencegah obstruksi/aspirasi. Kaji dispnea. membran mukosa. Intervensi a. Rasional: Diperlukan pada kasus jarang bronkogenik. Rasional: Membantu mengencerkan secret sehingga mudah dikeluarkan f. Rasional: Tuberkulosis paru dapat rnenyebabkan meluasnya jangkauan dalam paru-pani yang berasal dari bronkopneumonia yang meluas menjadi inflamasi. nekrosis. Rasional: Meningkatnya resistensi aliran udara untuk mencegah kolapsnya jalan napas. adekuat atau perubahan terapi. keterbatasan ekspansi dada dan kelemahan. 2. Rasional: Mengurangi konsumsi oksigen pada periode respirasi. Monitor GDA.d. Review patologi penyakit fase aktif/tidak aktif.. bunyi pernapasan abnormal. berguna jika terjadi hipoksemia pada kavitas yang luas. Rasional: Menurunkan kekentalan sekret. g.

untuk mencegah komplikasi. b. Identifikasi orang-orang yang beresiko terkena infeksi seperti anggota keluarga, teman, orang dalam satu perkumpulan. Rasional: Orang-orang yang beresiko perlu program terapi obat untuk mencegah penyebaran infeksi. c. Anjurkan pasien menutup mulut dan membuang dahak di tempat penampungan yang tertutup jika batuk. Rasional: Kebiasaan ini untuk mencegah terjadinya penularan infeksi. d. Gunakan masker setiap melakukan tindakan. Rasional: Mengurangi risilio penyebaran infeksi. e. Monitor temperatur. Rasional: Febris merupakan indikasi terjadinya infeksi. f. Identifikasi individu yang berisiko tinggi untuk terinfeksi ulang Tuberkulosis paru, seperti: alkoholisme, malnutrisi, operasi bypass intestinal, menggunakan obat penekan imun/ kortikosteroid, adanya diabetes melitus, kanker. Rasional: Pengetahuan tentang faktor-faktor ini membantu pasien untuk mengubah gaya hidup dan menghindari/mengurangi keadaan yang lebih buruk. g. Tekankan untuk tidak menghentikan terapi yang dijalani. Rasional: Periode menular dapat terjadi hanya 2-3 hari setelah permulaan kemoterapi jika sudah terjadi kavitas, resiko, penyebaran infeksi dapat berlanjut sampai 3 bulan. h. Pemberian terapi INH, etambutol, Rifampisin. Rasional: INH adalah obat pilihan bagi penyakit Tuberkulosis primer dikombinasikan dengan obat-obat lainnya. Pengobatan jangka pendek INH dan Rifampisin selama 9 bulan dan Etambutol untuk 2 bulan pertama. i. Pemberian terapi Pyrazinamid (PZA)/Aldinamide, para-amino salisik (PAS), sikloserin, streptomisin. Rasional: Obat-obat sekunder diberikan jika obat-obat primer sudah resisten. j. Monitor sputum BTA Rasional: Untuk mengawasi keefektifan obat dan efeknya serta respon pasien terhadap terapi. 4. Perubahan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan Tujuan: Menunjukkan berat badan meningkat mencapai tujuan dengan nilai laboratoriurn normal dan bebas tanda malnutrisi. Melakukan perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan mempertahankan berat badan yang tepat. Intervensi: a. Catat status nutrisi paasien: turgor kulit, timbang berat badan, integritas mukosa mulut, kemampuan menelan, adanya bising usus, riwayat mual/rnuntah atau diare. Rasional: berguna dalam mendefinisikan derajat masalah dan intervensi yang tepat. b. Kaji pola diet pasien yang disukai/tidak disukai. Rasional: Membantu intervensi kebutuhan yang spesifik, meningkatkan intake diet pasien. c. Monitor intake dan output secara periodik. Rasional: Mengukur keefektifan nutrisi dan cairan. d. Catat adanya anoreksia, mual, muntah, dan tetapkan jika ada hubungannya dengan medikasi. Awasi frekuensi, volume, konsistensi Buang Air Besar (BAB). Rasional: Dapat menentukan jenis diet dan mengidentifikasi pemecahan masalah untuk

meningkatkan intake nutrisi. e. Anjurkan bedrest. Rasional: Membantu menghemat energi khusus saat demam terjadi peningkatan metabolik. f. Lakukan perawatan mulut sebelum dan sesudah tindakan pernapasan. Rasional: Mengurangi rasa tidak enak dari sputum atau obat-obat yang digunakan yang dapat merangsang muntah. g. Anjurkan makan sedikit dan sering dengan makanan tinggi protein dan karbohidrat. Rasional: Memaksimalkan intake nutrisi dan menurunkan iritasi gaster. h. Rujuk ke ahli gizi untuk menentukan komposisi diet. Rasional: Memberikan bantuan dalarn perencaaan diet dengan nutrisi adekuat unruk kebutuhan metabolik dan diet. i. Konsul dengan tim medis untuk jadwal pengobatan 1-2 jam sebelum/setelah makan. Rasional: Membantu menurunkan insiden mual dan muntah karena efek samping obat. j. Awasi pemeriksaan laboratorium. (BUN, protein serum, dan albumin). Rasional: Nilai rendah menunjukkan malnutrisi dan perubahan program terapi. k. Berikan antipiretik tepat. Rasional: Demam meningkatkan kebutuhan metabolik dan konsurnsi kalori. 5. Kurang pengetahuan tentang kondisi, pengobatan, pencegahan. Tujuan: Menyatakan pemahaman proses penyakit/prognosis dan kebutuhan pengobatan. Melakukan perubahan prilaku dan pola hidup unruk memperbaiki kesehatan umurn dan menurunkan resiko pengaktifan ulang luberkulosis paru. Mengidentifikasi gejala yang mernerlukan evaluasi/intervensi. Menerima perawatan kesehatan adekuat. Intervensi a. Kaji kemampuan belajar pasien misalnya: tingkat kecemasan, perhatian, kelelahan, tingkat partisipasi, lingkungan belajar, tingkat pengetahuan, media, orang dipercaya. Rasional: Kemampuan belajar berkaitan dengan keadaan emosi dan kesiapan fisik. Keberhasilan tergantung pada kemarnpuan pasien. b. Identifikasi tanda-tanda yang dapat dilaporkan pada dokter misalnya: hemoptisis, nyeri dada, demam, kesulitan bernafas, kehilangan pendengaran, vertigo. Rasional: Indikasi perkembangan penyakit atau efek samping obat yang membutuhkan evaluasi secepatnya. c. Tekankan pentingnya asupan diet Tinggi Kalori Tinggi Protein (TKTP) dan intake cairan yang adekuat. Rasional: Mencukupi kebutuhan metabolik, mengurangi kelelahan, intake cairan membantu mengencerkan dahak. d. Berikan Informasi yang spesifik dalam bentuk tulisan misalnya: jadwal minum obat. Rasional: Informasi tertulis dapat membantu mengingatkan pasien. e. jelaskan penatalaksanaan obat: dosis, frekuensi, tindakan dan perlunya terapi dalam jangka waktu lama. Ulangi penyuluhan tentang interaksi obat Tuberkulosis dengan obat lain. Rasional: Meningkatkan partisipasi pasien mematuhi aturan terapi dan mencegah putus obat. f. jelaskan tentang efek samping obat: mulut kering, konstipasi, gangguan penglihatan, sakit kepala, peningkatan tekanan darah Rasional: Mencegah keraguan terhadap pengobatan sehingga mampu menjalani terapi.

g. Anjurkan pasien untuk tidak minurn alkohol jika sedang terapi INH. Rasional: Kebiasaan minurn alkohol berkaitan dengan terjadinya hepatitis h. Rujuk perneriksaan mata saat mulai dan menjalani terapi etambutol. Rasional: Efek samping etambutol: menurunkan visus, kurang mampu melihat warna hijau. i. Dorong pasien dan keluarga untuk mengungkapkan kecemasan. Jangan menyangkal. Rasional: Menurunkan kecemasan. Penyangkalan dapat memperburuk mekanisme koping. j. Berikan gambaran tentang pekerjaan yang berisiko terhadap penyakitnya misalnya: bekerja di pengecoran logam, pertambangan, pengecatan. Rasional: Debu silikon beresiko keracunan silikon yang mengganggu fungsi paru/bronkus. k. Anjurkan untuk berhenti merokok. Rasional: Merokok tidak menstimulasi kambuhnya Tuberkulosis; tapi gangguan pernapasan/ bronchitis. l. Review tentang cara penularan Tuberkulosis dan resiko kambuh lagi. Rasional: Pengetahuan yang cukup dapat mengurangi resiko penularan/ kambuh kembali. Komplikasi Tuberkulosis: formasi abses, empisema, pneumotorak, fibrosis, efusi pleura, empierna, bronkiektasis, hernoptisis, u1serasi Gastro, Instestinal (GD, fistula bronkopleural, Tuberkulosis laring, dan penularan kuman. 5. Evaluasi a. Keefektifan bersihan jalan napas. b. Fungsi pernapasan adekuat untuk mernenuhi kebutuhan individu. c. Perilaku/pola hidup berubah untuk mencegah penyebaran infeksi. d. Kebutuhan nutrisi adekuat, berat badan meningkat dan tidak terjadi malnutrisi. e. Pemahaman tentang proses penyakit/prognosis dan program pengobatan dan perubahan perilaku untuk memperbaiki kesehatan.

askep ARDS ( Acute Respiratory Distress Syndrome)
AKPER PPNI SOLO, 8.15.2009 Askep ARDS atau Acute Respiratory Distress Syndrome, Sering merupakan kelanjutan dari shock paru-paru, kongesti atelektasis, post traumatic paru-paru, post infusion paru, dan ventilasi paru. Kondisi akut paru-paru yang mengakibatkan macam-macam perubahan patofisiologi dalam paru. Menyerupai perubahan pada IRDS, perbedaannya terletak pada penurunan surfaktan akibat dari kerusakan paru. Kliennya umumnya masih muda yang sebelumnya dia sehat. Jenis ketidakstabilan akut, baik langsung atau tidak langsung berperan dalam menimbulkan syndrom. Keadaan yang langsung : Menghirup racun iritan Infeksi diffusi alveolar

Massive blood transfusion Reaksi transfusi Pembekuan darah intravaskuler By pass cardiopulmonary Penambahan tekanan intrakranial Cairan overload Eclampsia Gejala defisiensi autoimmune Patofisiologi. Keadaan yang tidak langsung : Trauma dan shock karena pembedahan Sepsis dengan pelepasan endotoksin Pembekuan darah intravaskuler Transfusi darah massive Reaksi transudasi Penyakit Yang Dapat Menyebabkan ARDS : Pulmonary : Virus pneumonia Fungi pneumonia Pneumocystis carinii Military tuberculosis Legionaire’s pneumonia Radiation pneumonitis Contusio paru Cairan aspirasi (gastric. Non pulmonary : Shock (traumatic. hydrocarbon. oleh karena itu . Plasma dan sel darah merah keluar dari kapiler-kapiler yang rusak. hemorrhagic. pneumonia septic) Emboli lemak Trauma kepala Trauma non thoraks Pancreatitis Uremia Drug overdose (heroin. amniotic fluid embolic. kimia corrosive. Cairan juga masuk dalam alveoli dan mengakibatkan oedema paru. O2 konsentrasi meningkat. tenggelam. Aspirasi virus pneumonia. ethylene glycol) Inhalasi racun (rokok. Adanya peningkatan permeabilitas kapiler dan akibat masuknya cairan ke dalam ruang interstitial. bacterial.Darah yang beracun. Hampir tenggelam dan trauma dada. methadone barbiturat). Banyak teori yang menerangkan patogenesis dari syndrom yang berhubungan dengan kerusakan awal paru-paru yang terjadi dimembran kapiler alveolar. seolah-olah dipengaruhi oleh aktifitas surfaktan. Akibatnya terjadi tanda-tanda atelektasis.

Distress pernafasan : Tachypnea > 20 x/menit.Kurangnya cardiac output berhubungan dengan tingginya PEEP (Positive End mengetahui atau berguna untuk memenuhi kebutuhan→Expiratory Pressure) ventilasi paru. Tanda-tanda utama manifestasi klinik: Dyspnea Tachicardia Cyanosis dengan atau tanpa retraksi intercostals refractory hypoxemia. 6. Pa O2 60 % Kompliance paru rendah 1000 gr) Congestive atelektasis Membran hyaline Fibrosis PENGKAJIAN Gejala terjadi tiba-tiba dalam 2 – 3 hari sesudah trauma atau kesakitan. Hypotensia/bradicardia atau hipertension/tachicardia.mungkin perdarahan merupakan manifestasi patologi yang umum. Radiografi Difusi pulmonal menyebar Infiltrasi interstitial (awal) Infiltrasi alveoli (lanjut/akhir) Fisiologi Hipoksemia refractory.Potensial injury berhubungan dengan barotrauma atau tidak aktifnya aliran ventilator. 3.→ O2 C →Hypoksimia.Tidak efektifnya pola napas berhubungan dengan kurangnya complain paru dan kecemasan. pada orang muda yang biasa mempunyai riwayat sakit paru-paru.Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan penambahan shunt dan ventilasi – perfusi terganggu. keadaan abnormal ventrikel kiri. 4. Kriteria untuk diagnosa ARDS : Klinik Keadaan katastropik : paru atau bukan paru Eksklusi : Penyakit paru kronis.Tidak efektifnya jalan napas berhubungan dengan immobilisasi dan jalan napas buatan. Diagnosa Keperawatan 1. 5. 2.Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penambahan (peningkatan) permiabilitas . susah bernafas. Dysritmia Tanda-tanda adanya asidosis metabolic dan respiratorik ⇓ menegakkan diagnosis: Status adanya kesulitan memperoleh pemenuhan ventilasi yang→klinik klien adekuat (sehingga penurunan pemenuhan ventilasi yang meningkatkan menurunkan kapasitas vital paru-paru infiltrasi→kekakuan paru-paru) alveolar.

lebih dari pada intake berhubungan dengan perubahan metabolisme dan ketidakmampuan intake makanan melalui oral. Berat badan stabil.Perubahan membran mukosa mulut berhubungan dengan jalan napas buatan. 9. utuh.Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kelumpuhan dan bedrest. Pencegahan dengan meminimalkan komplikasi dan stressor untuk klien dan keluarganya merupakan hal yang penting. Membran mukosa mulut baik.Gangguan pola tidur berhubungan dengan lingkungan yang kritis dan kebutuhan akan bantuan perawat. Perencanaan Dan Pelaksanaan Perawatan klien dengan ARDS perencanaannya yaitu perbaikan pola napas dan kestabilan hemodinamic. 11. 7.Mempertahankan oksigenasi secara adekuat. PEEP (Positive End Expiratory Pressure) Digunakan untuk memberi tekanan inflasi yang tinggi. untuk mempertahankan tekanan O2 arteri sekitar 20 mmHg (William. 8. Oksigenasi jaringan secara adekuat dilakukan dengan pemberian O2 konsentrasi tinggi. Kelemahan dan penyakit respirasi merupakan indikasi untuk menggunakan ventilasi mekanic. mengurangi rasa nyeri dan menjaga ketenangan klien. Kriteria tujuan untuk klien: Stabil dan sinkronnya antara pernapasan dengan ventilator dengan slow rate yang cukup dalam level yang normal ventilasi Pa CO2 35 – 45 mmHg. Tekanan maximum jalan napas 50 – 70 mmHg. 14.Gangguan integritas kulit berhubungan dengan perfusi dan immobilisasi. PaO2 lebih dari atau sama dengan 60 mmHg.Tidak efektifnya koping keluarga berhubungan dengan mengatasi stress dan kecemasan dalam kondisi kritis. shunt friction kurang atau sama dengan 20 % Jalan napas tetap.→Kegagalan mempertahankan O2 Meningkatkan keperluan O2 dengan mempertahankan suhu klien pada tingkat normal. kurang dari atau sama dengan 40 % Fi O2. 1982) tingkat rasa nyaman.Kelemahan berhubungan dengan ketergantungan dalam pemakaian alat. HR) stabil. Komunikasi nonverbal dapat diartikan. 12.Perubahan nutrisi. Integritas kulit baik. Pelaksanaan 1. Tekanan kapiler paru normal. Hemodinamic parameter (CO. 10.Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan jalan napas buatan dan kelumpuhan. BP. Keseimbangan intake dan output.membran pulmonal dan kelebihan sekresi ADH. Berguna terpenuhinya kebutuhan→untuk memenuhi kebutuhan ventilasi paru ventilasi . 13.

atau swan-Ganz cateter).→Klien dengan ARDS TKTP diberikan. . alat monitor khusus (CVP. Lingkungan sekitar klien harus tenang dan rileks.→Ketepatan pemeriksaan gas darah.Pencegahan cedera paru berlanjut. Kemungkinan kecenderungan terjadi retensi cairan dan edema paru selama ventilasi (intake dan output). Vena bercampur (mengalir dari kiri ke kanan) dan hypoxemia dikurangi. Jika keadaan ini tidak terpenuhi paru-paru akan kolaps.→Untuk mengurangi peradangan dari membran alveoli Kortikosteroid Mungkin juga meningkatkan kontraktilitas jantung dan perfusi sirkulasi periferal serta organ-organ vital. kortikosteroid.Nutrisi: resiko terjadi malnutrisi. Mempertahankan tekanan jalan napas di atas tekanan atmosfer melalui siklus respirasi.paru ditandai dengan adanya elastisitas paru dan dada. Keefektifan dari PEEP dimonitor dengan seringnya analisa gas darah.Individu dan family coping.→ 3. Sekresi sebaiknya dihisap dengan suction sesuai kebutuhan Posisi pasien sering diubah-ubah dan pentingnya dilakukan gerakan/latihan pasif. 4. Pemberian albumin dan dextran dengan molekul tinggi Mungkin juga mengurangi permeabilitas kapiler Untuk menjaga paru tetap kering Antibiotik Mencegah infeksi bakteri. Mempertinggi distribusi O2 ke seluruh paru-paru dengan mempertahankan expansi alveoli. Perawat harus memonitor perfusi pada organ vital : CNS : Tingkat kesadaran Pergerakan Sensasi Ginjal : Urine output Blood urine nitrogen (BUN) Serum kreatinin Myocardium : Heart rate Rhytm 2. Pemberian O2. Karena peningkatan metabolisme dan gangguan oral intake. menurun-kan permeabilitas kapiler paru-paru. cardiac output PEEP kemungkinan besar menurunkan cardiac output karena lemahnya aliran denyut nadi dan tekanan darah→darah vena yang kembali ke jantung harus sering dimonitor.

ASTHMA BRONCHIALE 1. emfisema paru-paru dan asthma bronchiale. infeksi. suatu hal yang menonjol pada semua penderita asthma adalah fenomena hiperreaktivitas bronchus. TIPE ASTHMA Asthma terbagi menjadi alergi. kegiatan.Asuhan keperawatan Pada Klien Dengan Chronic Obstructive Pulmonary Diseases (COPD) Penyakit Paru Obstruktif Kronik (COPD) merupakan suatu istilah yang sering digunakan untuk sekelompok penyakit paru-paru yang berlangsung lama dan ditandai oleh peningkatan resistensi terhadap aliran udara sebagai gambaran patofisiologi utamanya. bronchus penderita asthma sangat peka terhadap rangsangan imunologi maupun non-imunologi. Idiopathic atau Nonallergic Asthma/Intrinsik. Asthma merupakan penyakit yang kompleks yang dapat diakibatkan oleh faktor biochemical. debu. Bentuk asthma ini biasanya dimulai saat kanak-kanak. Asthma Alergik /Ekstrinsik. Sering juga penyakit ini disebut dengan “Chronic Airflow Limitation (CAL)” dan “Chronic Obstructive Lung Diseases (COLD)” A. merupakan bentuk asthma yang paling sering. Karena sifat inilah maka serangan asthma mudah terjadi akibat berbagai rangsangan baik fisis. merupakan suatu bentuk asthma dengan penyebab allergen (missal : bulu binatang. tepung sari. metabolik. endokrin. Rangsangan atau pencetus . Pasien dengan asthma alergik biasanya mempunyai riwayat penyakit alergi pada keluarga dan riwayat pengobatan exzema atau rhinitis alergik. Faktor-faktor seperti common cold. Ketiga penyakit yang membentuk satu kesatuan yang dikenal dengan COPD adalah : Bronchitis kronis. Serangan dari asthma idiopatik atau nonalergik menjadi lebih berat dan seringkali dengan berjalannya waktu dan dapat berkembang menjadi bronchitis dan emfisema. otonomik dan psikologi. ketombe. c. 2. idiopatik. alergen. infeksi saluran nafas atas. 3. kimia. DEFINISI Asthma adalah suatu gangguan pada saluran bronchial yang mempunyai ciri bronchospasme periodik (kontraksi spasme pada saluran nafas). beta-adrenergic antagonist dan agent sulfite (penyedap makanan) juga dapat sebagai faktor. Asthma Campuran (Mixed Asthma). Paparan terhadap alergi akan mencetuskan serangan asthma. Beberapa pasien berkembang menjadi asthma campuran. Dikarakteristikkan dengan bentuk kedua jenis asthma alergi dan idiopatik atau nonalergi. emosi dan polusi lingkungan akan mencetuskan serangan. ETIOLOGI Sampai saat ini etiologi asthma belum diketahui dengan pasti. makanan dll). infeksi dan sebagainya. Beberapa agent pharmakologi. tidak berhubungan secara langsung dengan allergen spesifik. Allergen terbanyak adalah airborne dan seasonal (musiman). b. non alergik atau campuran (mixed) : a. Bentuk asthma ini biasanya dimulai pada saat dewasa (> 35 tahun).

Iritan seperti asap. alergen tersebut harus tersedia dalam jumlah banyak untuk periode waktu tertentu. Perubahan cuaca yang ekstrim.yang sering menimbulkan asthma perlu diketahui dan sedapat mungkin dihindarkan. Kegiatan jasmani yang berlebihan. Setelah menjalani bentuk terapi ini. Obat yang paling sering berhubungan dengan induksi episode akut asthma adalah aspirin. gejala yang disebutkan terakhir sering dianggap sebagai gejala yang harus ada (“sine qua non”). Alergen utama : debu rumah. • Dapat disertai batuk dengan sputum kental. 4. Akan tetapi sekali sensitisasi telah terjadi pasien akan memperlihatkan respon yang sangat baik sehingga sejumlah kecil alergen yang mengganggu sudah dapat menghasilkan eksaserbasi penyakit yang jelas. • Fase ekspirasi memanjang disertai wheezing (di apex dan hilus) Subjektif • Klien merasa sukar bernafas. PATOFISIOLOGI Asthma akibat alergi bergantung kepada respon IgE yang dikendalikan oleh limfosit T dan B dan diaktifkan oleh interaksi antara antigen dengan molekul IgE yang berikatan dengan sel mast. Antagonis beta-adrenergik biasanya menyebabkan obstruksi jalan nafas pada pasien asthma demikian juga dengan pasien lain dengan peningkatan reaktifitas jalan nafas dan . pollutan c. sulit dikeluarkan. anoreksia. Lain-lain : seperti reflux gastro esofagus. Psikososial • Cemas. bahan pewarna seperti tartazin. e. Pasien yang sensitif terhadap aspirin dapat didesentisasi dengan pemberian obat setiap hari. GAMBARAN KLINIS Gejala asthma terdiri dari triad : dispnea. • Bernafas dengan menggunakan otot-otot nafas tambahan • Cyanosis. takut dan mudah tersinggung • Kurangnya pengetahuan klien terhadap situasi penyakitnya. Faktor-faktor tersebut adalah : a. f. toleransi silang juga akan terbentuk terhadap agen anti-inflamasi non-steroid lain. Obat-obatan. walaupun keadaan ini juga dapat dilihat pada masa kanak-kanak. Sebagian besar alergen yang mencetuskan asthma bersifat airborne dan supaya dapat menginduksi keadaan sensitivitas. h. Baru kemudian muncul asthma progresif. tachicardia. sesak. Masalah ini biasanya berawal dari rhinitis vasomotor perennial yang diikuti oleh rhinosinusitis hiperplastik dengan polip nasal. gelisah. batuk dan mengi. antagonis beta-adrenergik dan bahan sulfat. Sindroma pernafasan sensitif-aspirin khusus terutama mengenai orang dewasa. bau-bauan. spora jamur dan tepung sari rerumputan b. Emosi i. Lingkungan kerja g. Objektif • Sesak nafas yang berat dengan ekspirasi memanjang disertai wheezing. pulsus paradoksus. Mekanisme dengan aspirin dan obat lain dapat menyebabkan bronkospasme tidak diketahui tetapi mungkin berkaitan dengan pembentukan leukotrien yang diinduksi secara khusus oleh aspirin. 5. Infeksi saluran nafas terutama yang disebabkan oleh virus d.

adanya retraksi interkostal. natrium sulfit dan sulfat klorida. kerang dan anggur. Hasil dari hal tersebut timbul 3 gejala yaitu berkontraksinya otot polos. Penurunan toleransi beraktifitas b. Pulse rate permenit f. Pajanan biasanya terjadi setelah menelan makanan atau cairan yang mengandung senyawa ini. misal. peningkatan permeabilitas kapiler dan peningkatan sekresi mukus seperti terlihat pada gambar berikut ini. Obat sulfat. Penggunaan otot nafas tambahan. Tabel 2 :Pengkajian Untuk menentukan beratnya Asthma Manifestasi Klinis Skor 0 Skor 1 a. Pencetus serangan (alergen. kentang. kalium dan natrium bisulfit. emosi/stress. seperti kalium metabisulfit. buah segar. infeksi) Reaksi Antigen dan Antibodi Release Vasoactive Substance (histamin. Puncak Expiratory Flow Rate (L/menit) Ya Tidak ada Tidak ada < 25 . yang secara luas digunakan dalam industri makanan dan farmasi sebagai agen sanitasi dan pengawet juga dapat menimbulkan obstruksi jalan nafas akut pada pasien yang sensitif. bradikinin dan anafilatoksin. Teraba pulsus paradoksus g. c. bradikinin. Wheezing d. Respirasi rate permenit e. obat-obatan.harus dihindarkan pada pasien ini. Pencetus-pencetus serangan di atas ditambah cetusan lainnya dari internal pasien akan mengakibatkan timbulnya reaksi antigen dan antibodi yang mengakibatan dikeluarkan substansi pereda alergi yang sebetulnya merupakan mekanisme tubuh dalam menghadapi serangan yang dapat berupa dikeluarkannya histamin. salad. anafilatoxin) ↑ Permeabilitas Kapiler • Kontraksi Otot Polos • Edema mukosa • Hipersekresi Obstruksi Saluran Nafas Hipoventilasi Distribusi ventilasi tak merata dengan sirkulasi darah paru Gangguan difusi gas di alveoli Hipoxemia Hiperkapnia Gambar 13 : Skema Patofisiologi Asthma Bronchiale Untuk melihat derajat beratnya asthma biasanya dilakukan pemeriksaan secara komprehensif dengan menggunakan alat ukur seperti pada tabel 2.

klien harus diobservasi untuk menentukan adakah respon dari terapi atau segera dikirim ke rumah sakit.< 120 Tidak ada > 100 Tidak Ada Ada > 25 > 120 ada < 100 Keterangan : Skor 4/lebih disangkakan asthma berat. Diagnosis status asmatikus. Faktor penting yang harus diperhatikan : 1) Saatnya serangan 2) Obat-obatan yang telah diberikan (macam dan dosis) . PENATALAKSANAAN Prinsip-prinsip penatalaksanaan asthma bronchial : a. Konstriksi Otot Polos Bronchospasme ↑ Sekresi Mukus ↑ Produksi Mukus Bersihan jalan nafas tak efektif Kerusakan Pertukaran Gas Ketidakseimbangan Nutrisi : Kurang dari kebutuhan tubuh (Risiko/aktual) Tabel 3 : Perubahan Dalam Arteri Blood Gas yang berhubungan dengan Asthma Ringan Sedang Berat Status Asmatikus PaO2 PaCO2 pH Elevasi Menurun Alkalosis Normal sampai hipoxemia ringan Menurun sampai Normal Alkalosis Hipoxemia Elevasi Alkalosis Hipoxemia berat Elevasi Jelas Asidosis 6.

demikian sebaliknya. Efedrin. Baik digunakan untuk sesak nafas berat pada anak-anak dan dewasa. Penilaian terhadap perbaikan serangan. Bronchodilator Tidak digunakan bronchodilator oral. Mula-mula diberikan 2 sedotan dari Metered Aerosol Defire (Afulpen Metered Aerosol). c. Kortikosteroid Pemberian obat–obat bronchodilatator tidak menunjukkan perbaikan. Efek sampingnya tekanan darah menurun bila dilakukan tidak secara perlahan. Anak-anak 0. antibiotik . Obat-obatan bronchodilator golongan simpatomimetik bentuk selektif terhadap adrenoreseptor (Orsiprendlin. Isoprendlin) • Obat-obat bronchodilatator serta aerosol bekerja lebih cepat dan efek samping sistemik lebih kecil. tetapi dipakai secara inhalasi atau parenteral. 2) Modifikasi pengobatan penunjang selanjutnya. jika tidak ada perbaikan sampai 10-15 menit berikan Aminophilin intravena. c. Pemberian obat bronchodilator. Setelah serangan mereda : 1) Cari faktor penyebab. Obat ekspektoran seperti Gliserolguaiakolat dapat juga digunakan untuk memperbaiki dehidrasi. dengan diikuti pemberian 30 – 60 mg prednison atau dengan dosis 1 – 2 mg/Kg BB/hari secara oral dalam dosis terbagi. kemudian dosis dikurangi secara bertahap.9 mg/KgBB/Jam secara infus. sesuai dengan prinsip rehidrasi. 7. Pertimbangan terhadap pemberian kortikosteroid. Pada dewasa dicoba dengan 0. d. bila sebelumnya telah digunakan obat golongan Teofilin oral maka sebaiknya diberikan obat golongan simpatomimetik secara aerosol atau parenteral.3 ml larutan epinefrin 1 : 1000 secara subkutan. • Obat-obat Bronchodilatator simpatomimetik memberi efek samping tachicardia. dilanjutkan dengan pengobatan kortikosteroid 200 mg hidrokortison secara oral atau dengan dosis 3 – 4 mg/Kg BB intravena sebagai dosis permulaan dan dapat diulang 2 – 4 jam secara parenteral sampai serangan akut terkontrol. kardiovaskuler dan serebrovaskuler. disuntikkan perlahan dalam 5-10 menit. penggunaan parenteral pada orang tua harus hati-hati. b. Ispenturin. Jika sebelumnya telah digunakan obat golongan simpatomimetik. OBAT-OBATAN a. maka intake cairan peroral dan infus harus cukup. Terbutalin. berbahaya pada penyakit hipertensi. Salbutamol. Fenoterol) mempunyai sifat lebih efektif dan masa kerja lebih lama serta efek samping kecil dibandingkan dengan bentuk non-selektif (Adrenalin. Pemberian Oksigen Melalui kanul hidung dengan kecepatan aliran O2 2-4 liter/menit dan dialirkan melalui air untuk memberikan kelembaban. maka sebaiknya diberikan Aminophilin secara parenteral sebab mekanisme yang berlainan.b. • Pemberian Aminophilin secara intravena dosis awal 5 – 6 mg/Kg BB dewasa/anak-anak. Untuk dosis penunjang 0. e.01 mg/Kg BB subkutan (1 mg permil) dapat diulang tiap 30 menit untuk 2–3x sesuai kebutuhan. Jika menunjukkan perbaikan dapat diulang tiap 4 jam.

metaproterenol. pneumokokus. c. sterptokokus. pada perjalanan penyakit bronchitis kronis dapat ditemukan periode akut. Radang ini dapat timbul sebagai kelainan jalan nafas tersendiri atau sebagai bagian dari penyakit sistemik. merupakan keadaan yang berkaitan dengan produksi mukus takeobronkial yang berlebihan sehingga cukup untuk menimbulkan batuk dengan ekspektorasi sedikitnya 3 bulan dalam setahun untuk lebih dari 2 tahun secara berturut-turut. Infeksi sekunder oleh bakteri ini menimbulkan kerusakan yang lebih banyak sehingga akan memperburuk keadaan. Agent adrenergic yang sering digunakan antara lain epinephrine. Rangsang : misal asap pabrik. ETIOLOGI Terdapat 3 jenis penyebab bronchitis akut. d. menyebabkan gangguan susunan dan fungsi dinding bronchus sehingga infeksi bakteri mudah terjadi. 3. sehingga sering dinamai juga dengan “laringotracheobronchitis”. DEFINISI Bronchitis akut adalah radang mendadak pada bronchus yang biasanya mengenai trachea dan laring. PATOFISIOLOGI . yang dapat menimbulkan kelumpuhan bulu getar selaput lendir bronchus sehingga drainase lendir terganggu. Adrenergic Agent juga meningkatkan pergerakan cilliary. Infeksi : stafilokokus. isoetharine dan terbutaline. haemophilus influenzae. Penyakit Jantung Menahun. yaitu : a. Walaupun demikian. Rokok. pertusis. asap rokok dll. d. yang menunjukkan adanya serangan bakteri pada dinding bronchus yang tidak normal. 2. Dilatasi Bronchus (Bronchiectasi). Alergi c. b. baik yang berasal dari luar bronchus maupun dari bronchus itu sendiri. difteri dan typhus abdominalis. menurunkan mediator kimia anaphylaxis dan dapat meningkatkan efek broncholasi dari kortikosteroid. Kongesti menahun pada dinding bronchus melemahkan daya tahannya sehingga infeksi bakteri mudah terjadi. Beta Agonists Beta agonists (β -adrenergic agents) merupakan pengobatan awal yang digunakan dalam pengobatan asthma dikarenakan obat ini bekerja dengan jalan mendilatasikan otot polos. yaitu : a. Biasanya diberikan secara parenteral atau inhalasi.diberikan bila ada infeksi. Infeksi sinus paranasalis dan Rongga mulut. baik pada katup maupun myocardium. Bronchitis kronis dapat merupakan komplikasi kelainan patologik yang mengenai beberapa alat tubuh. B. Kumpulan lendir tersebut merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri. albuterol. asap mobil. merupakan sumber bakteri yang dapat menyerang dinding bronchus. misalnya pada morbili. BRONCHITIS KRONIS 1. b. Bronchitis kronis bukanlah merupakan bentuk menahun dari bronchitis akut. isoproterenol. Istilah bronchitis kronis menunjukkan kelainan pada bronchus yang sifatnya menahun (berlangsung lama) dan disebabkan oleh berbagai faktor. Jalan inhalasi merupakan jalan pilihan dikarenakan dapat mempengaruhi secara langsung dan mempunyai efek samping yang lebih kecil.

Pada infeksi saluran nafas bagian atas. b. terutama selama ekspirasi. maka terjadi polisitemia (overproduksi eritrosit). Mukus lebih kental c. b. Klien mengalami kekurangan oksigen jaringan . Aliran udara dapat atau mungkin juga tidak mengalami hambatan. Klien dengan bronchitis kronis akan mengalami : a. Cor Pulmonal. sering infeksi pada sistem respirasi. Hematokrit > 60% . Pengkajian : Batuk persisten. Obstruksi ini menyebabkan penurunan ventilasi alveolar. kongesti. Jika masalah tersebut tidak ditanggulangi. MANIFESTASI KLINIK BRONCHITIS KRONIS a. Selama infeksi klien mengalami reduksi pada FEV dengan peningkatan pada RV dan FRC. bronchitis lebih mempengaruhi jalan nafas kecil dan besar dibandingkan pada alveolinya. Mukus yang kental dan pembesaran bronchus akan mengobstruksi jalan nafas. dyspnea dalam beberapa keadaan. Gejala biasanya timbul pada waktu yang lama. 4. yang mana akan meningkatkan produksi mukus. Ketika infeksi timbul. Dokter akan mendiagnosa bronchitis kronis jika klien mengalami batuk atau produksi sputum selama beberapa hari + 3 bulan dalam 1 tahun dan paling sedikit dalam 2 tahun berturut-turut. edema (akibat CHF kanan). tetapi biasanya seluruh saluran nafas akan terkena. Sebagai kompensasi dari hipoxemia. Dinding bronchial meradang dan menebal (seringkali sampai dua kali ketebalan normal) dan mengganggu aliran udara. variabel wheezing pada saat ekspirasi. barrel chest. Peningkatan ukuran dan jumlah kelenjar mukus pada bronchi besar. Bronchitis kronis mula-mula mempengaruhi hanya pada bronchus besar. Kerusakan ventilasi dapat juga meningkatkan nilai PaCO2. d. diproduksi sejumlah sputum yang hitam. hipoxemia akan timbul yang akhirnya menuju penyakit cor pulmonal dan CHF. Mukus kental ini bersama-sama dengan produksi mukus yang banyak akan menghambat beberapa aliran udara kecil dan mempersempit saluran udara besar. edema mukosa dan bronchospasme. Bronchitis timbul sebagai akibat dari adanya paparan terhadap agent infeksi maupun non-infeksi (terutama rokok tembakau). hipoxia dan asidosis. Tidak seperti emfisema. dimana terjadi penurunan PaO2. “mucocilliary defence” dari paru mengalami kerusakan dan meningkatkan kecenderungan untuk terserang infeksi. Jalan nafas mengalami kollaps. Oleh karena itu. Penampilan umum : cenderung overweight. Kerusakan fungsi cilliary sehingga menurunkan mekanisme pembersihan mukus. Pada saat penyakit memberat. kelenjar mukus akan menjadi hipertropi dan hiperplasia sehingga produksi mukus akan meningkat. Usia : 45 – 65 tahun c. cyanosis akibat pengaruh sekunder polisitemia. seringkali merupakan awal dari serangan bronchitis akut. biasanya karena infeksi pulmonary. dan udara terperangkap pada bagian distal dari paru-paru. ratio ventilasi perfusi abnormal timbul. Klien terlihat cyanosis. biasanya virus. Iritan akan menyebabkan timbulnya respon inflamasi yang akan menyebabkan vasodilatasi. Jantung : pembesaran jantung.Bronchitis akut dapat timbul dalam serangan tunggal atau dapat timbul kembali sebagai eksaserbasi akut dari bronchitis kronis. produksi sputum seperti kopi.

3. Surgical Intervention C. tekanan positif intratorak akan menyebabkan kollapsnya jalan nafas. c. Emfisema Paraseptal Merusak alveoli pada lobus bagian bawah yang mengakibatkan isolasi dari blebs sepanjang perifer paru. biasanya pada region paru atas. Kollaps jalan nafas kecil dan udara terperangkap Ketika klien berusaha untuk ekshalasi secara kuat. Emfisema Panlobular (Panacinar) Merusak ruang udara pada seluruh asinus dan biasanya termasuk pada paru bagian bawah. Hyperinflation Paru Pembesaran alveoli mencegah paru-paru untuk kembali kepada posisi istirahat normal selama ekspirasi. Antimikrobial b. Hilangnya elastisitas paru. Inflamasi berkembang pada bronchiolus tetapi biasanya kantung alveolar tetap bersisa. b.. Sesuai dengan definisi tersebut. PATOGENESIS Terdapat 4 perubahan patologik yang dapat timbul pada klien emfisema. Bentuk ini bersama disebut centriacinar emfisema. DEFINISI Emfisema merupakan gangguan pengembangan paru-paru yang ditandai oleh pelebaran ruang udara di dalam paru-paru disertai destruksi jaringan (WHO). Bronchodilator d. Riwayat merokok ⊕ 5. Postural Drainage c. Akibat hal tersebut. Emfisema Centriolobular Merupakan tipe yang sering muncul. maka jika ditemukan kelainan berupa pelebaran ruang udara (alveolus) tanpa disertai adanya destruksi jaringan maka keadaan ini sebenarnya tidak termasuk emfisema. TIPE EMFISEMA Terdapat tiga tipe dari emfisema : a. kantung alveolar kehilangan elastisitasnya dan jalan nafas kecil menjadi kollaps atau menyempit. Aerosolized Nebulizer e. timbul sangat sering pada seorang perokok. EMFISEMA PARU 1. d. b. 2. Protease (enzim paru) merubah atau merusakkan alveoli dan saluran nafas kecil dengan jalan merusakkan serabut elastin. melainkan hanya sebagai “overinflation”. yaitu : a. Panacinar timbul pada orang tua dan klien dengan defisiensi .e. Pengobatan yang diberikan : a. Terbentuknya Bullae Dinding alveolar membengkak dan berhubungan untuk membentuk suatu bullae (ruangan tempat udara) yang dapat dilihat pada pemeriksaan X-ray. c. Beberapa alveoli rusak dan yang lainnya mungkin dapat menjadi membesar. Paraseptal emfisema dipercaya sebagai sebab dari pneumothorax spontan. menghasilkan kerusakan bronchiolus. MANAGEMENT MEDIS BRONCHITIS KRONIS Pengobatan yang utama ditujukan untuk mencegah dan mengontrol infeksi dan meningkatkan drainase bronchial menjadi jernih.

yang mana akan menyebabkan overdistensi permanen ruang udara. 4. udara akan tertahan diantara ruang alveolar (disebut blebs) dan diantara parenkim paru (disebut bullae). Proses ini akan menyebabkan peningkatan ventilatory pada “dead space” atau area yang tidak mengalami pertukaran gas atau darah. kollaps jalan nafas sebagian dan kehilangan elastisitas recoil. Perjalanan udara terganggu akibat dari perubahan ini. PATOFISIOLOGI Emfisema merupakan kelainan dimana terjadinya kerusakan pada dinding alveolar. 5. tetapi jika hal ini timbul pada awal kehidupan (usia muda).enzim alpha-antitripsin. Pada saat alveoli dan septa kollaps. Emfisema juga menyebabkan destruksi kapiler paru. biasanya berhubungan dengan bronchitis kronis dan merokok. MEKANISME PENYAKIT Asap tembakau Polusi Udara Gangguan pembersihan paru-paru Peradangan bronchus dan bronchiolus Obstruksi jalan nafas akibat peradangan Hipoventilasi alveolar Bronchiolitis kronik Predisposisi Genetik (defisiensi alfa antitripsin) Sekat & jaringan penyokong hilang Saluran nafas kecil kollaps saat ekspirasi PLE (Emfisema Panlobular) Dinding bronchiolus melemah dan alveoli pecah Saluran nafas kecil kolaps sewaktu ekspirasi Faktor-faktor yang tidak diketahui Seumur hidup PLE asimptomatik pada orang tua CLE dan PLE . terjadi peningkatan dyspnea dan infeksi pulmoner. Kerja nafas meningkat dikarenakan terjadinya kekurangan fungsi jaringan paru untuk melakukan pertukaran oksigen dan karbon dioksida. Kesulitan selama ekspirasi pada emfisema merupakan akibat dari adanya destruksi dinding (septum) diantara alveoli. Pada beberapa tingkat emfisema dianggap normal sesuai dengan usia. Pada keadaan lanjut. seringkali timbul Cor Pulmonal (CHF bagian kanan) timbul. lebih lanjut terjadi penurunan perfusi oksigen dan penurunan ventilasi.

• Mencegah dan mengobati infeksi • Teknik terapi fisik untuk memperbaiki dan meningkatkan ventilasi paru • Memelihara kondisi lingkungan yang memungkinkan untuk memfasilitasi pernafasan. Penampilan Umum • Kurus. Pengkajian fisik • Nafas pendek persisten dengan peningkatan dyspnea • Infeksi sistem respirasi • Pada auskultasi terdapat penurunan suara nafas meskipun dengan nafas dalam. & Wilson. normal ditemukan saat periode remisi (asthma) . d.M. Jenis obat yang diberikan : • Bronchodilators • Aerosol therapy • Treatment of infection • Corticosteroids • Oxygenation D. L. peningkatan ruang udara retrosternal. flattened diafragma. Riwayat merokok • Biasanya didapatkan. Pendekatan terapi mencakup : • Pemberian terapi untuk meningkatkan ventilasi dan menurunkan kerja nafas. • Wheezing ekspirasi tidak ditemukan dengan jelas. • Support psikologis • Patient education and rehabilitation. S. 7. PENGKAJIAN DIAGNOSTIK COPD 1. tapi tidak selalu ada riwayat merokok. c. MANIFESTASI KLINIK a. Chest X-Ray : dapat menunjukkan hiperinflation paru. warna kulit pucat. • Produksi sputum dan batuk jarang.. peningkatan bentuk bronchovaskular (bronchitis). memperlambat perkembangan proses penyakit dan mengobati obstruksi saluran nafas yang berguna untuk mengatasi hipoxia. MEDICAL MANAGEMENT Penatalaksanaan utama pada klien emfisema adalah untuk meningkatkan kualitas hidup. Usia 65 – 75 tahun.. b.A. penurunan tanda vaskular/bulla (emfisema). • Hematokrit < 60% e. 1996) 6.CLE Bronchiolitis kronik CLE (Emfisema Centriolobular) Gambar 14 : Mekanisme Timbulnya Emfisema (Sumber : Price. Pemeriksaan jantung • Tidak terjadi pembesaran jantung. Cor Pulmonal timbul pada stadium akhir. flattened hemidiafragma • Tidak ada tanda CHF kanan dengan edema dependen pada stadium akhir.

P pada Leads II. tetapi klien dengan emfisema berat juga dapat mengalami masalah ini. Infeksi Respiratory Infeksi pernafasan akut disebabkan karena peningkatan produksi mukus. menurun pada emfisema. fatique. Pada tahap lanjut timbul cyanosis. harus diobservasi terutama pada klien dengan dyspnea berat. 6. E. menentukan abnormalitas fungsi tersebut apakah akibat obstruksi atau restriksi. tinggi (bronchitis. 5. seringkali PaO2 menurun dan PaCO2 normal atau meningkat (bronchitis kronis dan emfisema) tetapi seringkali menurun pada asthma. Exercise ECG. pemeriksaan sitologi untuk menentukan penyakit keganasan atau allergi. dizzines. axis QRS vertikal (emfisema) 12. FEV1/FVC : ratio tekanan volume ekspirasi (FEV) terhadap tekanan kapasitas vital (FVC) menurun pada bronchitis dan asthma. 4. kollaps bronchial pada tekanan ekspirasi (emfisema). merencanakan/evaluasi program. Darah Komplit : peningkatan hemoglobin (emfisema berat). peningkatan rangsangan otot polos bronchial dan edema mukosa. Gagal jantung Terutama kor-pulmonal (gagal jantung kanan akibat penyakit paru). Terbatasnya aliran udara akan meningkatkan kerja nafas dan timbulnya dyspnea. AVF panjang. mengidentifikasi patogen. 9. mengevaluasi keefektifan obat bronchodilator. lethargi. 3. 11. gelombang P tinggi (asthma berat). Sputum Kultur : untuk menentukan adanya infeksi. tachipnea. emfisema). Komplikasi ini sering kali berhubungan dengan bronchitis kronis. Status Asmatikus . peningkatan eosinofil (asthma). atrial disritmia (bronchitis). efek obat atau asidosis respiratory.2. Tanda yang muncul antara lain : nyeri kepala. 7. penurunan konsentrasi dan pelupa. III. 2. memperkirakan tingkat disfungsi dan untuk mengevaluasi efek dari terapi. penyakit jantung lain. alkalosis respiratori ringan sekunder terhadap hiperventilasi (emfisema sedang atau asthma). Hipoxemia Hipoxemia didefinisikan sebagai penurunan nilai PaO2 kurang dari 55 mmHg. ABGs : menunjukkan proses penyakit kronis. dengan nilai saturasi Oksigen <85%. 6. 10. Kapasitas Inspirasi : menurun pada emfisema 5. Kimia Darah : alpha 1-antitrypsin dilakukan untuk kemungkinan kurang pada emfisema primer. Cardiac Disritmia Timbul akibat dari hipoxemia. pembesaran kelenjar mukus (bronchitis) 8. 3. Asidosis Respiratory Timbul akibat dari peningkatan nilai PaCO2 (hiperkapnia). Pemeriksaan Fungsi Paru : dilakukan untuk menentukan penyebab dari dyspnea. misal : bronchodilator. 4. Stress Test : menolong mengkaji tingkat disfungsi pernafasan. KOMPLIKASI COPD 1. Pada awalnya klien akan mengalami perubahan mood. gel. ECG : deviasi aksis kanan. Bronchogram : dapat menunjukkan dilatasi dari bronchi saat inspirasi. pH normal atau asidosis. TLC : meningkat pada bronchitis berat dan biasanya pada asthma.

potensial mengancam kehidupan dan seringkali tidak berespon terhadap therapi yang biasa diberikan. (1 – 5) setelah diberikan perawatan selama……. Bersihan jalan nafas tak efektif yang berhubungan dengan : Bronchospasme Peningkatan produksi sekret (sekret yang tertahan. crackles Batuk (persisten) dengan/tanpa produksi sputum.Merupakan komplikasi mayor yang berhubungan dengan asthma bronchial. kental) Menurunnya energi/fatique Data-data Klien mengeluh sulit untuk bernafas Perubahan kedalaman/jumlah nafas. dengan kriteria : • Tidak ada demam • Tidak ada cemas • RR dalam batas normal • Irama nafas dalam batas normal • Pergerakan sputum keluar dari jalan nafas . penggunaan otot bantu pernafasan Suara nafas abnormal seperti : wheezing. ronchi. Hari.. Penggunaan otot bantu pernafasan dan distensi vena leher seringkali terlihat. Penyakit ini sangat berat. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN COPD Intervensi dan rasional pada penyakit ini didasarkan pada konsep Nursing Intervention Classification (NIC) dan Nursing Outcome Classification (NOC) Tabel 4 : Rencana Asuhan keperawatan Klien COPD No Diagnosa Keperawatan Perencanaan (NANDA) Tujuan (NOC) Intervensi (NIC) 1. Status Respirasi : Kepatenan Jalan nafas # dengan skala…….

Manajemen asam dan basa . Monitoring tanda vital 2. Surveillance j. Pemberian posisi h. Monitoring respirasi i.• Bebas dari suara nafas tambahan a. bronchospasme. (1 – 5) setelah diberikan perawatan selama……. Terapi oksigen g. Latih batuk efektif f. Menurunnya toleransi terhadap aktifitas. Fisioterapi dada e. Kerusakan Pertukaran gas yang berhubungan dengan : Kurangnya suplai oksigen (obstruksi jalan nafas oleh sekret. Status Respirasi : Pertukaran gas # dengan skala ……. Destruksi alveoli Data-data : Dyspnea Confusion. Tidak mampu mengeluarkan sekret Nilai ABGs abnormal (hipoxia dan hiperkapnia) Perubahan tanda vital. Aspiration precautions d. lemah. Penurunan kecemasan c. air trapping). Manajemen jalan nafas b. Hari dengan kriteria : • Status mental dalam batas normal • Bernafas dengan mudah • Tidak ada cyanosis • PaO2 dan PaCO2 dalam batas normal • Saturasi O2 dalam rentang normal a.

nausea/vomiting. tonus otot jelek Dilaporkan adanya perubahan sensasi rasa Tidak bernafsu untuk makan. Status diet No Diagnosa Keperawatan Perencanaan (NANDA) Tujuan (NOC) Intervensi (NIC) dengan : Dyspnea. Data : Penurunan berat badan Kehilangan masa otot. Ketidakseimbangan nutrisi : Kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan Status Nutrisi : Intake cairan dan makanan gas # dengan skala ……. Monitoring tanda vital 3. Monitoring respirasi g. (1 – 5) setelah diberikan a. fatique Efek samping pengobatan Produksi sputum Anorexia. Terapi oksigen f. Hari dengan kriteria : • Asupan makanan skala (1 – 5) (adekuat) • Intake cairan peroral (1 – 5) (adekuat) • Intake cairan (1 – 5) (adekuat) Status Nutrisi : Intake Nutrien gas # dengan skala ……. Manajemen jalan nafas c. Latih batuk d. Manajemen cairan b. tidak tertarik makan perawatan selama……. Monitoring cairan c. Tingkatkan keiatan e.tubuh b. (1 – 5) .

Manajemen gangguan makan e. karbohidrat dan lemak (1 – 5) (adekuat) Kontrol Berat Badan gas # dengan skala ……. Hari dengan kriteria : • Mampu memeliharan intake kalori secara optimal (1 – 5) (menunjukkan) • Mampu memelihara keseimbangan cairan (1 – 5) (menunjukkan) • Mampu mengontrol asupan makanan secara adekuat (1 – 5) (menunjukkan) d. Terapi menelan j. Bantuan untuk peningkatan BB l. Monitoring tanda vital k. Terapi nutrisi g. Konseling nutrisi h. Hari dengan kriteria : • Intake kalori (1 – 5) (adekuat) • Intake protein. Manajemen nutrisi f. Kontroling nutrisi i.setelah diberikan perawatan selama……. Manajemen berat badan Keterangan : Untuk intervensi secara kronologi dapat dilihat dari aktifitas tindakan yang dapat anda temukan dalam buku Nursing Intervention Classification (NIC) dan Nursing Outcome Classification (NOC) Kanker paru-paru . (1 – 5) setelah diberikan perawatan selama…….

Frequency of histological types of lung cancer[3] Histological type Frequency (%) . ensiklopedia bebas Langsung ke: navigasi. The white area in the upper lobe is cancer. terutama asap rokok [1] . ICD-10 ICD-9 DiseasesDB MedlinePlus eMedicine MeSH C33. Halaman ini belum atau baru diterjemahkan sebagian dari bahasa Inggris. 162 7616 007194 med/1333 med/1336 emerg/335 radio/807 radio/405 radio/406 D002283 Kanker paru-paru adalah pertumbuhan sel kanker yang tidak terkendali dalam jaringan paru yang dapat disebabkan oleh sejumlah karsinogen lingkungan.-C34.Dari Wikipedia bahasa Indonesia. Sebagian besar kanker paru-paru berasal dari sel-sel di dalam paru-paru. cari Kanker paru-paru Klasifikasi dan bahan-bahan eksternal Cross section of a human lung. kanker paru merupakan penyebab kematian utama dalam kelompok kanker baik pada pria maupun wanita[2]. tetapi kanker paru-paru bisa juga berasal dari kanker di bagian tubuh lainnya yang menyebar ke paru-paru. Lihat panduan penerjemahan Wikipedia. the black areas indicate that the patient was a smoker. Bantulah Wikipedia untuk melanjutkannya. Menurut World Health Organization (WHO).

Banyak kanker yang berasal dari tempat lain menyebar ke paru-paru. Tumor paru-paru yang lebih jarang terjadi adalah: 1. Adenoma (bisa ganas atau jinak) 2. tetapi seringkali menyerang lebih dari satu daerah di paru-paru. usus besar. Biasanya kanker ini berasal dari payudara.8 0. [sunting] Penyebab utama Sub-types of non-small cell lung cancer in smokers and never-smokers[6] Frequency of nonsmall cell lung cancers (%) Histological sub-type Smokers 42 39 4 Squamous cell lung carcinoma Adenocarcinoma (not otherwise specified) Adenocarcinoma Bronchioloalveolar carcinoma Neversmokers 33 35 10 . 4. rektum. prostat. buah zakar. tiroid. ginjal. Sarkoma (ganas) Limfoma merupakan kanker dari sistem getah bening. tulang dan kulit. Karsinoma sel skuamosa Karsinoma sel kecil atau karsinoma sel gandum Karsinoma sel besar Adenokarsinoma Karsinoma sel alveolar berasal dari alveoli di dalam paru-paru.9 Lebih dari 90% kanker paru-paru berawal dari bronki (saluran udara besar yang masuk ke paru-paru). 3.Non-small cell lung carcinoma Small cell lung carcinoma Carcinoid[4] Sarcoma[5] Unspecified lung cancer 80. 2. leher rahim. lambung. Kanker ini bisa merupakan pertumbuhan tunggal. yang terdiri dari: 1. kanker ini disebut karsinoma bronkogenik.8 0. yang bisa berasal dari paru-paru atau merupakan penyebaran dari organ lain.1 1. Hamartoma kondromatous (jinak) 3.4 16.

Batuk yang terus menerus atau menjadi hebat. 2. Bekerja dengan asbes. seperti tuberkulosis dan fibrosis. 3. [sunting] Gejala kanker paru Gejala paling umum yang ditemui pada penderita kanker paru adalah: 1. klorometil eter. nikel. Napas sesak dan pendek-pendek. meskipun biasanya hanya terjadi pada pekerja yang juga merokok. radiasi. berubah warna dan makin banyak. Bronkoskopi. Kasuskkasus stadium dini/ awal sering ditemukan tanpa sengaja ketika seseorang melakukan pemeriksaan kesehatan rutin. Suara serak/parau. Pengobatan kanker paru dapat dilakukan dengan cara-cara seperti . Kadang kanker paru (terutama adenokarsinoma dan karsinoma sel alveolar) terjadi pada orang yang paru-parunya telah memiliki jaringan parut karena penyakit paru-paru lainnya. Pembengkakan di wajah atau leher. 5. Dahak berdarah. nyeri atau retak tulang dengan sebab yang tidak jelas. Sakit kepala. Beberapa kasus terjadi karena adanya pemaparan oleh gas radon di rumah tangga. Semakin banyak rokok yang dihisap.Carcinoid Other 7 8 16 6 Merokok merupakan penyebab utama dari sekitar 90% kasus kanker paru-paru pada pria dan sekitar 70% pada wanita. Peranan polusi udara sebagai penyebab kanker paru-paru masih belum jelas. gas mustard dan pancaran oven arang bisa menyebabkan kanker paru-paru. Gejala pada kanker paru umumnya tidak terlalu kentara. kromat. arsen. 4. Biopsi Jarum Halus. Hanya sebagian kecil kanker paru-paru (sekitar 10%-15% pada pria dan 5% pada wanita) yang disebabkan oleh zat yang ditemui atau terhirup di tempat bekerja. semakin besar resiko untuk menderita kanker paru-paru. 8. [sunting] Diagnosis dan pengobatan Beberapa prosedur yang dapat memudahkan diagnosa kanker paru antara lain adalah foto X-Ray. 6. sehingga kebanyakan penderita kanker paru yang mencari bantuan medis telah berada dalam stadium lanjut. CT Scan Toraks. Kelelahan kronis Kehilangan selara makan atau turunnya berat badan tanpa sebab yang jelas. 7. dan USG Abdomen.

^ (en) Ferlay J. Pertumbuhan sel yang berjalan dalam beberapa tahapan dan dikontrol oleh gen (pembawa informasi) yang sebagian bertindak sebagai pemicu. Mekanisme itu penting sebagai pengganti sel sel tubuh yang rusak dan perlu peremajaan. kanker leher rahim. kanker usus. . kanker prostat. • • • Radioterapi atau radiasi dengan sinar-X berintensitas tinggi untuk membunuh sel kanker. penghambat pertumbuhan dan gen pengkontrol proses lain dalam sel agar berjalan baik.kadang melebihi dari tempat ditemukannya tumor dan membuang semua kelenjar getah bening yang terkena kanker. [sunting] Refensi 1. Kesimpulan : Kanker adalah penyakit yang berhubungan dengan proses pertumbuhan dan perkembangan sel yang tidak terkontrol. ^ (id) Roche Indonesia: Kanker paru 2. Gangguan pada gen atau proses pertumbuhan itu dapat menyebabkan sel tumbuh tidak terkendali. Kemoterapi Meminum obat oral dengan efek samping tertentu yang bertujuan untuk memperpanjang harapan hidup penderita. umur berapa saja dan dimana saja dalam tubuh manusia. Pembedahan dengan membuang satu bagain dari paru . kanker nasofaring. Kanker yang paling banyak dikenal orang pada orang dewasa adalah kanker payudara. Bra Home Lung Cancer 101 Lung Cancer 101 Tuesday. 13 June 2006 Kanker Paru Kanker Dalam keadaan normal sel akan tumbuh sesuai kebutuhan tubuh dengan melalui tahapan tahapan dalam prosesnya. Pada beberapa kondisi tidak semua gangguan itu berkembang cepat namun dapat berhenti sebelum berubah menjadi ganas itulah yang kita kenal dengan tumor jinak. Besar kecilnya kemungkinan seseorang untuk menderita kanker jenis tertentu tergantung faktor risiko yang dimilikinya. Jika gangguan itu lebih berat dan gangguan pertumbuhan berlangsung terus dan menyebar ke tempat lain (metastasis) kita sebut dengan tumor ganas atau kanker. Kanker dapat terjadi pada siapa saja. kanker darah dan kanker paru..1.

Secara khusus dikatakan paru adalah tempat tubuh mengambil darah bersih (kaya O2) dan tempat pencucian darah yang berasal dari seluruh tubuh( banyak mengandung CO2) sebelum ke jantung untuk kembali diedarkan ke seluruh tubuh .Kanker paru merupakan jenis kanker yang paling sulit diobati. Untuk menjawab pertanyaan tersebut perlu dipahami dahulu tentang fungsi organ paru. banyak diderita lakilaki dewasa ( usia > 40 tahun) dan perokok. Karena fungsinya itu dapat dipahami bahwa paru paling terbuka dengan polusi udara yang diisap termasuk asap rokok yang dihisap dengan penuh kesengajaan itu. Pada tahap berikutnya setelah metabolisme maka sisa-sisa metabolisme itu terutama karbondioksida (CO2) akan dibawa darah untuk dibuang kembali ke udara bebas melalui paru pada saat membuang napas. jantung c. gangguan di saluran napas/paru. melalui saluran napas (bronkus) dan sampai di dinding alveoli (kantong udara) O2 akan ditranfer ke pembuluh darah yang di dalamnya mengalir anatara lain sel sel darah merah untuk dibawa ke sel-sel sel di berbagai organ tubuh lain sebagai energi dalam proses metabolisme. jantung atau gangguan pada darah. PARU Keterangan Gambar a. antara lain udara berpolusi sehingga kadar O2 sedikit. saluran napas b. Berbagai kelainan dapat menganggu sistem pernapasan itu. kantung udara Paru adalah organ tubuh yang berperan dalam sistem pernapasan (respirasi) yaitu proses pengambilan oksigen (O2) dari udara bebas saat menarik napas. Mengapa kanker paru sulit diobati.

Faktor Risiko Kanker Paru • • • • • • • • • Laki-laki Usia lebih dari 40 tahun Pengguna tembakau (perokok putih. Risiko pada bekas perokok lebih besar daripada orang-orang yang tidak pernah merokok. Kanker paru paling banyak ditemukan pada laki-laki dewasa dan perokok. sedangkan tumor yang terdapat dalam saluran napas dapat menyebabkan sumbatan pada saluran napas. kretek atau cerutu) Hidup atau kontal erat dengan lingkungan asap tembakau (perokok pasif) Radon dan asbes Lingkungan industri tertentu Zat kimia. Berhenti dari merokok akan mengurangi dengan sangat berarti risiko seseorang terkena kanker paru. antara lain • • • • • Sesak napas dengan atau suara mencicit (mengi) Rasa berat di dada jika bernapas Batuk Batuk darah Nyeri dada Kanker Paru Kanker Paru dalam arti luas adalah semua penyakit keganasan di paru. Tumor yang menekan dinding dada dapat menyebabkan kerusakan/destruksi tulang dinding dada dan menimbulkan nyeri. Definisi khusus untuk kanker paru primer yakni tumor ganas yang berasal dari epitel (jaringan sel) saluran napas atau bronkus. Bagaimanapun. Keluhan yang sering timbul pada penyakit paru disebut keluhan respirasi dapat terjadi hanya satu dan terkadang lebih dari satu. Faktor lain yang dapat menjadi faktor risiko terutama berkaitan dengan udara yang dihirup. obat-obatan. tidak semua perokok akhirnya menderita kanker paru. lingkungan . seperti arsenik Beberapa zat kimia organik Radiasi dari pekerjaan. Lebih dari 80% kanker paru berhubungan dengan perokok. mencakup keganasan yang berasal dari paru sendiri (primer) atau penyebaran (metastasis) tumor dari organ lain. Tumor yang besar di paru dapat menyebabkan sebagian paru dan/saluran napas kolaps.Secara umum gangguan pada pada saluran napas dapat merupa sumbatan pada jalan napas (obstruksi) atau gangguan yang menyebabkan paru tidak dapat kembang secara sempurna (restriktif). Cairan di rongga pleura yang sering ditmukan pada kanker paru juga menganggu fungsi paru.

Kecanduan nikotin pada perokok dapt disamakan dengan sakau pada pengguna heroin. Berhenti merokok akan mengurangi dengan sangat berarti risiko seseorang terkena kanker paru. Program berhenti merokok. Kemopreventif adalah penggunaan bahan alami. bahkan boleh jadi kadang kadang lebih keras lagi. Usaha pencegahan kanker yang lain dikenal dengan istilah kemopreventif (Chemoprevention). Seseorang perokok yang telah berhasil berhenti 10 tahun lamanya berarti telah dapat menurunkan risiko 30 -50 persen untuk terkena kanker paru. Tidak heran jika kebanyakan penderita kanker paru datang setelah staging atau tingkatan penyakitnya lanjut. Diagnosis Kanker Paru Seseorang dapat didiagnosis karena ada gejala atau tanda. cara ini sepertinya hal yang mudah tapi tidak untuk perokok. dan terapi hormone. Risiko pada bekas perokok lebih besar daripada orang-orang yang tidak pernah merokok. Kasus kasus staging awal (dini) sering ditemukan tanpa sengaja ketika seseorang melakukan pemeriksaan kesehatan rutin (check-up kesehatan). nyeri dada. Misalnya vitamin. Bagaimanapun banyak perokok yang telah mencoba berhenti merokok dan mengatakan usaha untuk berhenti merokok adalah hal luar biasa sulit. diet. sesak napas.• Polusi udara Seseorang yang termasuk golongan risiko tinggi (GRT) jika mempunyai keluhan napas (gangguan respirasi) seperti batuk. Faktor utama keberhasilan untuk program berhenti merokok adalah niat dan diikuti dengan bantuan lingkungan sekitarnya agar usaha itu berhasil dengan sukses. Ini barangkali catatan kenapa banyak sekali perokok berusaha untuk berhenti namun gagal. Jadi cara utama untuk seseorang mengurangi risiko terkena kanker paru adalah berhenti merokok. sebaiknya segera meneriksakan diri dan dirujuk ke dokter spesialis paru Pencegahan Kanker Paru Penelitian telah membuktikan bahwa lebih dari 80 % kanker paru berhubungan dengan merokok. tetapi jika kanker masih terlalu kecil sering belum menimbulkan gejala dan tanda. Banyak cara dan bahan yang sedang diuji cobakan dengan tujuan bukan hanya mengurangi resiko kanker. metode diet tertentu dan zat kimia sintetis untuk mencegah perkembangan penyakit. Untuk bukan perokok. Setelah datang ke dokter akan dicari kelainan pada seluruh tubuh atau fisik diagnostik dan . tetapi juga untuk mengurangi kesempatan akan berulangnya kanker (relapps). Hasilnya uji coba kemopreventif masih belum telralu mengembirakan berbeda denngan program berhenti merokok yang secara nyata telah menurunkan jumlah penderita kanker paru laki laki di Amerika karena meningkatnya jumlah orang yang berhenti merokok.

bahu atau nyeri punggung yang tidak berhubungan terhadap nyeri akibat batuk yang terus menerus Perubahan warna pada dahak Meningkatnya jumlah dahak Dahak berdarah Bunyi menciut-ciut saat bernafas pada bukan penderita asma Radang yang kambuh Sulit bernafas Nafas pendek Serak Suara kasar saat bernafas Selain dari itu juga barangkali tanda-tanda dan gejala-gejala disebabkan oleh penyebaran kanker paru pada bagian tubuh lainnya. Hal itu disebabkan tumor masih dengan volume kecil dan belum menyebar sehingga tidak menimbulkan . • • • • • • • Kelelahan kronis Kehilangan nafsu makan Sakit kepala. sakit yang menyertainya Retak tulang yang tidak berhubungan dengan luka akibat kecelakaan Gejala-gejala pada saraf (seperti: cara berjalan yang goyah dan atau kehilangan ingatan sebagian) Bengkak pada leher dan wajah Kehilangan berat badan yang tidak diketahui penyebabnya Pemeriksaan fisis Dokter terkadang tidak mendapatkan kelainan pada pemeriksaan fisis penderita kanker paru staging awal penyakitnya. Tergantung pada organ-organ yang dirusak. • • • • • • • • • • • • Batuk pada perokok yang terus menerus atau menjadi hebat Batuk pada bukan perokok yang menetap sampai dengan lebih dari dua minggu Dada. Tanda dan gejala Tanda dan gejala kanker paru membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dapat diketahui dan seringkali dikacaukan dengan gejala dari kondisi yang kurang serius. nyeri tulang.selanjutnya akan dilakukan pemeriksaan tambahan agar didapat kepastian tentang penyakitnya. Tanda dan gejala mungkin tidak kelihatan sampai penyakit telah mencapai tahap lanjut.

Dokter akan selalu meminta persetujuan pasien dan keluarganya untuk setiap pemeriksaan yang dilakukan. Pada kasus dengan staging lanjut akan dapat ditemukan kelainan tergantung pada gangguan yang ditimbulkan oleh tumor primer atau penyebarannya. Tidak jarang juga pasien datang dengan kelumpuhan akibat penyebaran di otak atau tulang belakang (vetebra). Kelainan yang didapat tergantung letak dan besar tumor sehingga menimbulkan gangguan. . misal pasien datang dengan sesak napas yang hebat dan muka/leher dan lengan bengkak karena tumor menekan pembulu darah balik (sindrom vena kava superior) atau nyeri yang hebat terutama jika kanker telah merusak tulang.gangguan di tempat lain. Pada kondisi umum yang buruk terkadang dokter akan memutuskan memberi pengobatan sebelum diagnosis pasti muncul. ketiak. Pada kasus dengan staging lanjut akan dapat ditemukan kelainan tergantung pada gangguan yang ditimbulkan oleh tumor primer atau penyebarannya. Tidak jarang juga pasien datang dengan kelumpuhan akibat penyebaran di otak atau tulang belakang (vetebra). Hal itu disebabkan tumor masih dengan volume kecil dan belum menyebar sehingga tidak menimbulkan gangguan di tempat lain. dll. Kelainan yang dapat ditemukan berkaitan penyebaran kanker. Kanker paru juga dapat menyebabkan timbulnya tumpukan cairan di rongga pleura atau menekan pembuluh darah balik (vena). Kanker paru juga dapat menyebabkan timbulnya tumpukan cairan di rongga pleura atau menekan pembuluh darah balik (vena). Kelainan yang didapat tergantung letak dan besar tumor sehingga menimbulkan gangguan. ketiak. Penting diingat tidak semua jenis pemeriksaan harus dilakukan pada pasien tetapi berdasarkan kondisi umum dan penyakit pada saat datang ke dokter. Pemeriksaan (prosedur diagnosis) Ditemukannya jenis sel (histologis) kanker adalah syarat utama untuk mengatakan seseorang menderita kanker dan selanjutnya dapat ditentukannya staging (tingkatan) penyakitnya secepat mungkin untuk menentukan pengobatan terbaik. dll. misalnya benjolan di leher. Kelainan yang dapat ditemukan berkaitan penyebaran kanker. Jenis sel kanker paru Beberapa pemeriksaan yang dilakukan dokter spesialis paru untuk mendapatkan jenis sel kanker paru antara lain : Dokter terkadang tidak mendapatkan kelainan pada pemeriksaan fisis penderita kanker paru staging awal penyakitnya. misalnya benjolan di leher.

Tehnik ini sangan sederhana dan jarang menimbulkan komplikasi berat. Dokter akan selalu meminta persetujuan pasien dan keluarganya untuk setiap pemeriksaan yang dilakukan.500 cc tergantung toleransi pasien. Penting diingat tidak semua jenis pemeriksaan harus dilakukan pada pasien tetapi berdasarkan kondisi umum dan penyakit pada saat datang ke dokter. jika volume cairan dikit dokter paru akan melacak lokasi yang tepat dengan bantuan USG toraks. ketiak atau dinding dada yang dapat diraba.Pemeriksaan (prosedur diagnosis) Ditemukannya jenis sel (histologis) kanker adalah syarat utama untuk mengatakan seseorang menderita kanker dan selanjutnya dapat ditentukannya staging (tingkatan) penyakitnya secepat mungkin untuk menentukan pengobatan terbaik. misalnya tuberkulosis(TBC). dll. Pada kondisi umum yang buruk terkadang dokter akan memutuskan memberi pengobatan sebelum diagnosis pasti muncul. Bahan hasil pemeriksaan ini akan diletakkan dalam gelas objek dansegera direndam dalam alkohol 98% dan dikirim ke patologi anatomi untuk di proses. Pada saat melakukan terkadang dibutuhkan anestesi (bius) lokal saja. Hasil positif tidak selalu didapt dengan tehnik ini tetapi harus dilakukan. Dokter paru biasanya dapat melakukan dengan cepat dan hasil kepositifannya cukup tinggi. Punksi ini menggunakan jarum infus ukuran 14. Kepositfan pemeriksaan ini < 10% dan sangat bergantung pada tehnik pasien membantukkan dahak yang akan diperiksa. Jika volume cairan cukup banyak dokter spesialis paru akan sekaligus mengeluarkan sampai 1. Biopsi jarum halus: yaitu mengambil spesimen jaringan dari tumor yang superfisial menggunakan jarum halus. Dahak yang diperiksa harus dahak segar pagi hari dan segera dibawa ke laboratorium patologi anatomi untuk diproses. Jika pasien merasa tidak enak. Misalnya untuk tumor yang ditemukan di leher. kanker kelenjar getah bening. Jenis sel kanker paru Beberapa pemeriksaan yang dilakukan dokter spesialis paru untuk mendapatkan jenis sel kanker paru antara lain : • Sitologi sputum: menemukan sel kanker pada sputum atau dahak penderita. Punksi pleura yaitu mengambil cairan dari rongga pleura (lapisan paru) jika ditemukan cairan akibat kanker paru. hasil positif biasanya ditemukan jika kanker ada di dalam saluran napas. hasil punksiini akan dianalisa dan dikirim ke laboratorium patologi anatomi untuk di proses. Tetapi perlu diingat terkadang hasilnya meski positif tapi bukan berupa sebaran kanker paru. sesak atau batuk • • . misal pasien datang dengan sesak napas yang hebat dan muka/leher dan lengan bengkak karena tumor menekan pembulu darah balik (sindrom vena kava superior) atau nyeri yang hebat terutama jika kanker telah merusak tulang.

maka dokter spesialis paru akan mengalirkan dengan cara memasang selang dada (WSD) sebagai usaha mengurangi keluhan dan paru dapat mengembang maksimal. Dapat dilakukan dengan berpedoman pada foto toraks atau dengan tuntutan CT-scan dll. karsinoma bronkoalveolar. apakh fungsi jantung baik. bersifat lebih agresif tetapi sangat responsif dengan pengobatan. apkah dsistem perdarahan baik atau komplikasi lain karena tehnik ini dapat menimbulkan komplikasi serius meski angka kejadiannyanya sangat kecil. Cara ini biasanya dilakukan bersamaan dengan punksi pleura. • • Jenis sel kanker paru secara garis besar dibagi atas 2 kelompok 1. Kanker paru jenis karsinoma sel kecil (KPKSK = SCLC) merupakan 20% dari seluruh kanker paru. Bronkoskopi adalah tehnik pemeriksaan memakai bronkoskop untuk melihat kelainan dalam saluran napas dan jika ditemukan kelainan akan dilakukan tindakan bilasan. . sikatan dan biopsi dan bahkan TBLB (trans-bronchial lung biopsy). Bronkoskopi memerlukan persiapan yang teliti. Kanker paru jenis karsinoma bukan sel kecil (KBKBSK= NSCLC) yang terbanyak yaitu sekitar 80% dari kanker paru-paru. TTNA ( Transthoracal needle aspiration): yaitu mengambil spesimen jaringan dengan menggunakan jarum halus menembus dinding dada. • Biopsi pleura yaitu mengambil sedikit jaringan pleura jika didapat rongga pleura akibat penumpukan cairan. Jika ditemukan kelaianan pada saluran napas itu merupakan poin bahwa tumor di paru itu adalah kanker paru. adalah jenis sel kanker terbanyak dan terutama pada perokok Karsinoma sel besar Lain-lain:merupakan jenis yang jarang ditemukan misalnya karsinoid. 2.batuk maka aliran cairan harus segera dihentikan. Pada kasus dengan jumlah cairan yang terus banyak. Ada beberapa jenis KPKBSK yang dapat dikenali diantaranya: • • • • Karsinoma epidermoid (disebut juga karsinoma sel skuamosa) Adenokarsinoma. Tetapi pada kondisi berat harus dilakukan di kamar operasi dengan bius umum. Kepositifnya juga tidak terlalu besar. Punksi pleura dan pemasangan selang dada kebanyakan dilakukan dokter spesialis paru dengan bius lokal. Cara lain adalah dengan mengambil bahan atau spesiem yang ada di saluran napas dengan bantuan prosedur bronkoskopi.Dokter spesialis paru biasa melakukan ini dengan bius lokal dengan tingkat kepositifan yang besar.

pemeriksaan untuk menetukan staging juga tidak mesti sama pada semua pasien tetapi masing masing pasien mempunyai prioriti pemeriksaan yang harus segera dilakukan tergantung kondisinya pada saat datang. Pemeriksaan lain. untuk kemudahannya maka CT-scan toraks dilakukan sampai kelenjar suprarenal sehingga dapat dipastikan belum terjadi penyebaran ke hati atau oragan perut lainnya. keterlibatan kelenjar getah bening (N) dan penyebaran jauh (M). paru kolaps luas menutup tumor sehingga tidak terlihat. Bahkan pada beberapa kondisi misalnya volume cairan yang banyak.Staging (tingkatan) kanker paru Staging kanker paru ditentukan oleh tumor (T). USG abdomen: dilakukan jika pada pemeriksaan fisik ditemukan pembengkakan hati tetapi dengan CT tehniknya lebih sederhana dan hasilnya lebih informatif. Bronkoskopi diperlukan untuk menlai apakah akan timbul kegawatan misalnya sumbatan pada saluran napas akibat tumor dalam saluran napas atau penekanan dari luar. CT-scan toraks : imaging (foto) ini lebih inforamatif karena dapat melihat karakteristik tumor lebih jelas termasuk menentukan ukuran. Pada pertemuan pertama dokter akan melakukan foto toraks (foto polos dada). Jika pasien membawa foto yang telah lebih dari 1 minggu maka akan dibuat foto yang baru. Pemeriksaan tambaban ini dilakukan jika ada keluhan atau pasien dengan staging awal dan akan dioperasi. • • • . lokasi dan apakah sudah terjadi keterlibatan kelenjar getah bening di dada serta ada tidaknya penyebaran di paru. Sama perti pencarian jenis histologis kanker. antara lain MRI toraks kurang bermanfaat untuk menentukan staging kanker paru. Tetapi foto toraks hanya dapat metentukan lokasi tumor. Foto toraks belum cukup karena tidak dapat menentukan keterlibatan kelenjar getah bening dan metastasis luar paru. ukuran tumor ada tidaknya cairan. • Bronkoskopi adalah tehnik pemeriksaan yang menggunakan alat bronkoskop yang dimasukkan ke dalam saluran napas sehingga dapat menilai keaadan saluran napas. Beberapa pemeriksaan tambahan harus dilakukan dokter spesialis paru untuk menentukan staging penyakit. dan sekaligus dapat mengambil spesimen untuk pemeriksaan sel kanker dengan cara bilasan. Bone scan /MRI untuk menilai metastasis di tulang. CT-scan dilakukan dengan menggunakan kontras dan sebagai persiapannya pasien harus puasa sekitar 4 jam sebelum CT dilakukan dan hanya dapat dilakukan jika fungsi ginjal baik 9craetinine darah normal). Untuk kanker paru pada kondisi tertentu dokter akan melakukan CT-scan ulang jika pasien membawa CT-scan lama yang telah dilakukan > 1 bulan. Pemeriksaan lain lebih ditujuan untuk melihat apakah telah terjadi penyebaran (metastasis) jauh :. sikat. atau biopsi. CT/MRI kepala untuk menilai metastasis di otak. Untuk kasus yang duduga staging awal.

keterlibatan organ dalam dada/dinding dada (T). atau penyebaran jauh (M) Kanker Paru Jenis Karsinoma Sel Kecil (KPKSK) Staging kanker paru dibagi berdasarkan jenis histologis kanker paru.Staging (Penderajatan atau Tingkatan) Kanker Paru Staging kanker paru dibagi berdasarkan jenis histologis kanker paru. penyebaran kelenjar getah bening (N). apakah KPKSK atau KPKBSK. penyebaran kelenjar getah bening (N). Staging ini penting untuk menentukan pilihan terapi yang harus segera diberikan pada pasien. atau penyebaran jauh (M) Kanker Paru Jenis Karsinoma Sel Kecil (KPKSK) • • • • Staging/Tingkatan Terbatas Tumor ditemukan didalam satu paru dan penjelaran ke kelenjar getah bening dalam paru yang sama Staging/Tingkatan Luas Tumor telah menyebar keluar dari satu paru atau ke organ lain diluar paru. keterlibatan organ dalam dada/dinding dada (T). Staging berdasarkan ukuran dan lokasi tumor primer. atau di dalam • • • . Staging berdasarkan ukuran dan lokasi tumor primer. Staging ini penting untuk menentukan pilihan terapi yang harus segera diberikan pada pasien. apakah KPKSK atau KPKBSK. Kanker Paru Jenis Karsinoma Bukan Sel Kecil (KPKBSK) • Staging/Tingkat I A/B Satu tumor ukuran kurang atau lebih dari 3 cm pada satu lobus paru Staging/Tingkat II A/B Satu tumor dalam lobus paru melekat ke dinding dada atau menyebar ke kelenjar getah bening di dalam paru yang sama Staging/Tingkat III A Tumor yang menyebar ke kelenjar getah bening didalam area trakeal memasuki dinding dada dan diaphragma Staging/Tingkat III B Tumor yang menyebar ke nodes getah bening pada lawan paru.

atau nyeri hebat. Bedah Hanya dilakukan untuk KPKBSK staging I atau II atau untuk pengobatan paliatif yaitu pada kondisi mengancam nyawa misal batuk darah masif. Radioterapi dapat diberikan jika sistem homeostatik (HB. Diagnosis sebelum bedah mungkin saja akan berubah setelah bedah. Di Indonesia (Jakarta) telah dapat melakukan terapi tampa pembedahan di kepala dengan menggunakan cyber knife. Bedah yang dilakukan adalah dengan membuang 1 lobus paru (kadang lebih) tempat ditemukannya tumor dan juga membuang semua kelenjar getah bening mediastinal. Pada kasus khusus misal dengan penyebaran kepala dan hanya ditemukan 1 tumor di otak dan mengganggu kualiti hidup pasien dapat dilakukan pembuangan tumor di kepala dengan bedah. Pilihan pengobatan untuk kanker paru Ada beberapa pilihan untuk pengobatan kanker paru pada masing-masing tingkatan yang dapat ditawarkan jika diagnosis pasti yaitu jenis histologis dan staging penyakit telah dapat ditentukan Mengenai keputusan pilihan pengobatan pasien harus dibuat oleh kedua belah pihak yaitu pasien dan dokter yang merawat. Hal itu terjadi karena keterbatasan alat bantu diagnosis atau penyakit telah berkembang selama putusan bedah dilakukan.leher. dapat diberikan tunggal untuk mengatasi masalah di paru (terapi lokal) atau gabungan dengan kemoterapi. • Staging/Tingkat IV Tumor yang menyebar kebagian lain paru atau organ lain di luar paru. Pasien yang diputuskan akan mendapat radioterapi akan dirujuk dokter spesialis paru ke dokter spesialis radioterapi dan akan kembali ke dokter semula jika terapi tidak memberikan respons atau radioterpai telah selesai atau muncul efek samping akibat radioterapi itu. Radioterapi Radioterapi atau iradiasi diberikan pada staging III dan IV KPKBSK. jumlah sel darah putih atau . Dokter harus menjelaskan mengapa pilihan terapi itu ditawarkan kepada pasien dan keluarganya. Dokter juga harus menjelaskan kelebihan dan kekurangan adri pilihan terapi itu termasuk kebutuhan biaya. Akibatnya mungkin saja setelah bedah pasien harus mendapat radiasi atau kemoterapi segera setelah luka operasinya sembuh. gawat napas yang mengancam jiwa.

Leukosit < 3. Kemoterapi Kemoterapi adalah memberikan obat anti-kanker pada pasien dengan cara diinfuskan. misal HB < 10 gr %.000/dl atau trombosit < 100. Pada kemoterapi diberikan lebih dari 1 jenis obat antikanker dan biasanya 2 macam.000 cGy) jika ada gangguan radiasi akan dihentikan sementara. mencret dan bahkan alergi. radiasi tulang jika tumor telah menyebar ke tulang. Efek samping dinilai sejak mulai kemoterapi I diberikan. misalnya COBALT atau LINAC Evaluasi efek samping dilakukan setiap setelah pemberian 5x (1. fungsi hati. Pemberian kemoterapi harus dilakukan di rumah sakit karena diberikan dalam prosedur tertentu atau ptotokol yang berbeda tergantung pada jenis obat antikanker yang digunakan. Efek samping lain yang dapat menganggu proses pemberian adalah gangguan fungsi hemostatik HB < 10 gr%. Kemoterapi dihitung dengan siklus pemberian yang dapat dilakukan setiap 21 – 28 hari setiap siklusnya. Pemberian kemoterapi memerlukan beberapa syarat antar lain kondisi umum pasien baik yaitu masih dapat melakukan aktiviti sendiri. Efek samping kemoterapi kadang sangat mengganggu. Radioterapi biasanya diberikan 5 hari dalam seminggu dengan dosis rata rata 200 cGy perhari hingga dosis 5000 – 6000 cGy. misalnya radiasi kepala jika tumor telah menyebar ke kepala. fungsi ginjal dan fungsi hemostatik (HB. tetapi jika respons negatif (tumor membesar atau tumbuh yang baru) radiasi harus dihentikan.000/dl. tujuannya agar lebih banyak sel kanker yang dapat dibunuh dengan jalur yang berbeda. Leukosit < 3000/dl atau trombosit < 100. misalnya rontoknya rambut s/d botak. Dokter akan melakukan koreksi dan jika telah memenuhi syarat maka radiasi dapat dilakukan kembali. Jika pada penelian respons positif (tumor mengecil atau menetap) maka radiasi dapat diteruskan. Kemoterapi dapat diberikan pada semua jenis kanker paru dan tujuannya bukan hanya membunuh sel kanker pada tumor primer tetapi juga mengejar sel kanker yang menyebar di tempat lain. Radioterapi juga dapat diberikan pada lokasi bukan tumor primer.leukosit dan trombosit darah) baik. Untuk melihat respons radiasi dokter akan melakukan foto toraks setiap setelah radiasi diberikan 10X (2. . Kemoterapi adalah pilihan terapi untuk KPKSK dan KPKBSK stage III/IV. Sinar yang diberikan tergantung pada alat yang ada di rumah sakit. semutan.000/dl. Untuk kasus KPKSK radiasi kepala harus diberikan setelah kemoterapi selesai diberikan 6 siklus. jumlah sel darah putih atau lekosit dan jumlah trombosit darah) harus baik. Efek samping itu tidak sama waktu muncul dan berat ringannya pada setiap orang dan juga tergantung pada jenis obat yang digunakan. mual muntah.000 cGy) .

Evaluasi dengan menggunakan CT-scan toraks dilakukan setelah pemberian 3 siklus ( sebelum pemberian kemoterapi IV). CATATAN PENTING • Pengobatan kanker paru bukan hanya tergantung pada jenis dan staging tetapi pada kondoisi umum pasien. Dapat terjadi semua memenuhi syarat kecuali kondosi umum maka dokter tidak akan memberikan pilihan terapi apapun lagi. Tetapi jika pada evaluasi terjadi perburukan misalnya tumor membesar atau tumbuh tumor yang baru. Evaluasi hasil kemoterapi dinilai minimal setelah 2 siklus pemberian (sebelum kemoterapi III diberikan) yang dapat merupa respons subyektif yaitu apkah BB meningkat atau keluhan berkurang dan foto toraks untuk melihat kelainan di paru. dokter akan mengkoreksi efek samping yang muncul dengan memberikan obat dan tranfusi darah jika perlu.Efek samping yang berat dapat menghentikan jadwal pemberian. Jika pada penelian tumor hilang (komplit respons) mengecil sebagian (respons partial) atau tumor menetap tapi respons subyektif baik maka kemoterapi dapat diterudskan samapi 4 – 6 siklus. Jika diputuskan itu pilihan pasien dan keluarga anjurannya adalah pasien tetap kontroil ke dokter spesialis parunya agar dapat dipantau efek samping obat obatan yang digunakan dan dapat memutuskan kapan obat obat alternatif itu tidak bermanfaat dan sebaiknya dihentikan. Sampai saat ini anjuran penggunaan targeted therapy untuk kanker paru adalah sebaiknya setelah kemoterapi diberikan kecuali pada kasus kasus pilihan terapi utama tidak dapat dilakukan. Obat golongan ini diberikan 1x perhari dengan cara diminum. kemoterapi harus dihentikan dan diganti dengan jenis obat anti-kanker yang lain. radioterapi atau kemoterapi maka dapat ditawarkan pemberian obat golongan baru dengan mekanisme kerja yang telah teruji dikenal dengan istilah targeted therapy. . Catatan : seringkali biaya untuk pengobatan alternatif itu lebih mahal dari pilihan pengobatan utama misalnya radiasi atau kemoterapi. Terapi lain Dengan berbagai alasan banyak pasien kanker paru memilih obat alternatif yang belum teruji dan bukan standar untuk pengobatan kanker paru. Targeted therapy Pada banyak kondisi pasien tidak dapat memenuhi syarat untuk dilakukan pembedahan.

you need Javascript enabled to view it [ Back ] Home | Contact Us | Disclosure | Privacy 03 Mei 2009 Askep COPD A. KONSEP DASAR MEDIS 1. Definisi a. obat obatn itu sebaiknya dengan resep dokter spesilais yang merawat karena menerlukan perubahan sesuai kondosi pasien.id This email address is being protected from spam bots. Selama pengobatan standar pasien sangat dianjurkan memakan dengan komposisi seimbang karena tidak ada larangan khusus untuk itu kecuali karena penyakit lain. Elisna Syahruddin. bronkietaksis dan asma. Asma ditandai oleh penyempitan jalan napas bronchial.ac. .ui.P Email: elisnas@fk. 1999. COPD atau yang lebih dikenal dengan PPOM merupakan suatu kumpulan penyakit paru yang menyebabkan obstruksi jalan napas. PPOM paling sering diakibatkan dari iritasi oleh iritan kimia (industri dan tembakau). Sp. pada empisema. banyak sayuran dan buahan dalah baik sekali. atau infeksi saluran pernapasan kambuh ( Carpernito. obstruksi jalan napas disebabkan oleh hperinflasi alveoli.• Pengobatan lain yang diberikan adalah obat obat penghilang gejala taua simptomatis. • Dr. Mengkonsumsi vitamin. empisema. kehilangan elastisitas jaringan paru dan penyempitan jalan napas kecil. polusi udara. hal 110 ). termasuk bronchitis. Bronkhitis kronis dan bronkietasis ditandai dengan pembentukan mucus bronchial yang berlebihan dan batuk yang disebabkan oleh inflamasi kronis bronkiolus dan hipertropi serta hyperplasia kelenjar mukosa. PhD.

debu dan kotoran yang masuk kedalam lubang hidung. Merupakan struktur epitel kartilago berbentuk rangkaian cincin yang meghubungkan faring dengan trakea. Trakea diliputi oleh selaput lendir yang memiliki silia. dan fisiologik terdapat “Overlopping“ satu sama lain sehingga penegakan diagnosis pasti dari pada salah satu penyakit sukar di tetapkan. Termasuk dalam kelompok ini yaitu : bronkiektasis . terutama beartambahnya resistensi terhadap jalan udara saat ekspirasi. dibelakang rongga hidung dan mulut sebelah depan ruas tulang leher. Pada lengkungan faring terdapat dua buah tonsil atau amandel yang bersimpulkan kelenjar limfe yang banyak mengandung lymfosit dan juga epiglotis yang berfungsi menutupi laring pada saat menelan makanan. keatas berhubungan dengan rongga hidung disebut nasofaring. bronkhitis menahun. Anatomi saluran pernapasan 1) Rongga hidung Merupakan saluran udara yang pertama. 1982. Merupakan lanjutan dari trakea ada dua buah yang terdapat pada ketinggian vertebral . fungsi hidung adalah bekerja sebagai saluran udara pernapasan sebagai penyaring udara pernapasan yang dilakukan oleh bulu-bulu hidung dapat menghangatkan udara pernapasan oleh mukosa. Walaupun masing-masing mempunyai karakteristik tersendiri tetapi sering secara klinis. Karina merupakan tempat percabangan trakea menjadi bronkus utama kiri dan kanan. Merupakan tempat persimpangan antara jalan pernapasan dan jalan makanan. terdapat dibawah dasar tengkorak. Penyakit obstruksi menahun (COPD) merupakan penyakit paru yang jelas secara anatomi memberikan tanda kesulitan pernapasan yang mirip yaitu keterbatasan jalan udara yang kronis. Trakea disokong oleh cincin tulang rawan yang berbentuk sepatu kuda dan panjangnya kurang lebih 5 inch. berfungsi untuk mengeluarkan benda asing yang masuk bersama-sama dengan udara pernapasan. bagian belakang adalah esofagus sebagai saluran pencernaan. Anatomi Fisiologi a. 137 ). Laring juga melindungi jalan pernapasan bawah dari obstruksi benda asing dan memudahkan batuk. 5) Bronkus. beberapa batuk dari asma. dan lain-lain. kedepan berhubungan denga rongga mulut disebut orofaring. Bagian ini memiliki banyak saraf dan dapat menyebabkan bronkospasme dan batuk yang kuat jika di rangsang. emfisema paru. hal. 3) Laring. COPD atau PPOM merupakan suatu kelompok paru yang mengakibatkan obstruksi yang menahun dan persisten dari jalan napas di dalam paru. ( Robbins.b. Didalamnya terdapat bulu-bulu yang berguna untuk menyaring udara. (“airways resistance”). c. Fungsi laring adalah memungkinkan terjadinya vokalisasi. 1995. ( Kapita selekta. mampunyai dua lubang (kavum nasi). dan dipisahkan oleh sekat hidung (septum nasi). 2) Faring. kebawah mempunyai dua lubang bagian depan disebut laringofaring. 4) Trakea. hal 218 ). membunuh kuman-kuman yang masuk bersama-sama udara pernapasan leukosit yang terdapat di dalam mukosa hidung. Secara fungsional semuanya akan mengakibatkan peningkataan tahanan saluran napas. radiologik.

torakalis ke IV dan V. Jika dibentang luas permukaan kurang lebih 90 m2. Pada bronkioli terdapat gelambung paru dan gelembunag hawa atau alveoli. 6) Paru-paru. Bronkus kiri lebih panjang dan lebih kecail atau ramping. bronkus yang bercabang-cabang yang lebih kecil disebut bronkeolus (bronkioli). berungsi untuk melucinkan permukaan selaput fleura agar dapat bergerak akibat inspirsi dan ekspirasi. 600 CM3 atau 2 ½ M jumlah pernapasan. Etiologi . Kapasitas paru-paru dapat dibedakan menjadi dua kapasitas yaitu kapasitas total yang mengandung arti jumlah udara dapat mengisi paru-paru pada inspirasi sedalam-dalamnya. hal. Bronkus kanan lebih pendek dan lebih besar dari pada bronkus kiri. 1996.000. Paru-paru ini dibagi menjadi dua yaitu paru-paru kanan yang terdiri dari 3 lobus dan paru-paru kiri mempunyai 2 lobus. Waktu ekspirasi di dalam paru-paru dapat masih tertinnggal kurang lebih 3 liter udara. Dalam keadaan noumal kedua paru-paru dapat menampung udara sebanyak kurang lebih5 liter. b. Sebagai terjadinya proses atmosfir karbondioksida dikeluarkan melalui kapiler-kapiler alveoli dibawa ke atrium sinistra vena purmonalis Yang kemudian diteruskan di vertikel sinestrayang di pomp[a di aorta. mempunyai tiga cabang. Alveoli terdiri dari sel-sel epitel dan endotel. ( Syarifuddin. pernapasan bisa bertambah cepat atau sebaliknya.000 buah (paru-paru kiri dan kanan). Banyaknya gelembung paru-paru ini kurang lebih 700. terditi dari 9-12 cincin mempunyai 2 cabang. mempunyai struktur serupa dengan trakea dan dilapisi oleh jenis sel sama. ( Sumber : Syaifuddin. Paru-paru dibungkus oleh dua selaput halus yang disebut fleura visceral. Letak paru-paru adalah pada rongga dada tepatnya pada cavum mediastinum. sedangkan selaput yang berhubungan langsung denga rongga dada sebelah dalam adalah selaput fleur parietal. Karbondioksida dikangkat oleh sirkulasidarah vena masuk ke atrium dekstra ke vertikel dekstra dan di pompa ke paru-paru melintasi arteri pulmonalis. Sedangkan kapasitas vital adalah jumalah udara dapat dikeluarkan setelah ekspirasi maksimal. Bronkus-bronkus ini berjalan kebawah dan kesamping tumpukan paru-paru. Diantara pleura ini terdapat sedikit cairan. Paru-paru merupakan salah satu alat tubuh yang sebagian besar terdiri dari gelembunggelembung (alveoli). paru-paru akan terlindungi dinding dada. Didalam sel paru-paru terjadi lagi proses oksidasi. hal 106 ). kemudian dialirkan keseluruh tubuh. 1996. Dalam keadaan tertentu keadaan tersebut akan berubah. Pada waktu kita bernapas biasa udarayang masuk kedalam paru-paru 2. terdiri dari 6-8 cincin. misalnya akibat dari suatu penyakit. pada lapisan inilah terjadi pertukaran udara. ampas dari sisa pembakaran tubuh adalah karbondioksida. udara dihirup masuk melintasi traktus respiratorius sampai alveoli. karbon dioksida dikeluarkan melalui ekspirasi sedangkan sisa lainnya dikeluarkan melalui traktus urogenital dalam bentuk air senidan kulit dalam bentuk keringat. O2 masuk kedalam darah dan CO2 dikeluarkan dari dalam darah. dan bayi : 30 x/menit. 107 ). didalam pubuh terjadi proses oksidasi atau pembakaran. anak-anak : 24 x/menit. Dalam keadaan normal orang dewasa 16-18 x/ menit. Fisiologi Pernapasan Bernapas atau respirasi adalah peristiwa menghirup udara luar atau atmosfer kedalam tubuh atau menghembuskan udara yang banyak mengandung karbondioksida sebagani sisa dari oksidasi.

Juga dapat menyebabkan bronkokonstriksi akut. akibatnya : . Infeksi Infeksi saluran pernapasan bagian atas pada seorang penderita bronchitis koronis hamper selalu menyebabkan infeksi paru bagian bawah. infeksi dan polusi. makrofage alveolar dan surfaktan. Akibat infeksi dan iritasi yang menahun pada lumen bronkus. alergi. hydrocarbon. Pada dasarnya ada tiga kelainan fisiologis yang dapat menimbulkan insufiensi atau ketidakcukupan pernapasan. a. a. Ventilasi yang tidak memadai di alveoli karena adanya kelainan yang menambah kerja ventilasi yaitu dengan penambahan tahanan jalan udara.Hipertrofi dari kelenjar-kelenjar mukus. serta menyebabkan kerusakan paru bertambah. yaitu karena : a. aldehid dan ozon. c. c. sebagian bronkus tertutup oleh secret ang berlebihan.Edema dan inflamasi (peradangan).Ada tiga factor yang mempengaruhi timbulnya COPD yaitu rokok. Ventilasi yang tidak memadai di alveoli. . Kelainan terjadi di luar saluran pernapsan. yang kemudaian menyebabkan infeksi sekunder oleh bakteri. hal. Polusi Polusi zat-zat kimia yang dapat juga menyebabkan brokhitis adalah zat pereduksi seperti O2. Mekanisme terjadinya obstruksi. Berkurangnya transportasi oksigen dari paru-paru ke jaringan. b. umur serta predisposisi genetic. Rokok Menurut buku report of the WHO expert comitte on smoking control. 218 ). . b. hal. Ekserbasi bronchitis koronis disangka paling sering diawali dengan infeksi virus. Intramular Dinding bronkus menebal. ( Sumber :Ilmu penyakit dalam. Pada umumnya COPD menimbulkan kelainan yang sama. Fathofisiologi Walaupun COPD terdiri dari berbagai penyakit tetapi seringkali memberikan kelainan fisiologis yang sama. Secara pisiologis rokok berhubungan langsung dengan hiperflasia kelenjar mukaos bronkusdan metaplasia skuamulus epitel saluran pernapasan. ( Sumber : Kapita Selekta. b. hal ini menimbulkan dinding .Kontraksi otot-otot polos bronkus dan bronkiolus seperti pada asma. sebagian bronkus tertutup oleh secret yang berlebihan. Pengurangan difusi gas melalui membrane pernapasan. sering terdapat pada bronkhitis dan asma. rokok adalah penyebab utama timbulnya COPD. zat-zat pengoksidasi seperti N2O. 1996. Destruksi dari jaringan paru mengakibatkan hilangnya kontraksi radial dinding bronkus ditambah dengan hiperinflamasi jeringan paru menyebabkan penyempitan saluran napas. tetapi belum diketahui dengan jelad apakah factor-faktor tersebut berperann atau tidak. Menurut Crofton & Doouglas merokok menimbulkan pula inhibisi aktivitas sel rambut getar. c. Intraluminer Akibat infeksi dan iritasi yan menahun pada lumen bronkus. 1982. selain itu pula berhubungan dengan factor keturunan. Ekstramular. 755 ).

tetapi perfusi baik. sehingga penyebaran pernapasan udara maupun aliran darah ke alveoli. Patoplodiagram Asap tembakau polusi udara Gg pembersihan paru-paru Jalan napas menyempit Bronkus tertutup oleh sekret Dinding bronkus menebal Edema dan inlamasi Terjadi infeksi Penempitan saluran napas Ventilasi terganggu Elastisitas paru menurun Hipertropi pada kelenjar mukus Sekresi lender meningkat Penurunan kerja silia Air way tak bersih Penumpukan dijalan napas Obstruksi . biasanya sudah dapat dibuktikan adanya tanda-tanda obstruksi. Bila sudah timbul gejala sesak. antara alveoli dan perfusi di alveoli (V/Q rasio yang tidak sama). akan menyebabkan ventilasi dan perfusi yang tidak seimbang. akibatnya otot-otot polos pada bronkus dan bronkielus berkontraksi. Timbul hipoksia dan sesak napas. ( Soemardi. Gangguan ventilasi yang berhubungan dengan obstruksi jalan napas mengakibatkan hiperventilasi (napas lambat dan dangkal) sehingga terjadai retensi CO2 (CO2 tertahan) dan menyebabkan hiperkapnia (CO2 di dalam darah/cairan tubuh lainnya meningkat). tekanan yang menarik jaringan paru akan berkurang. lebih jauh lagi hipoksia alveoli menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah paru dan polisitemia. sehingga menyebabkan hipertrofi dari kelenjar-kelenjar mucus dan akhirnya terjadi edema dan inflamasi. E.). sehingga saluran-saluran pernapasan bagian bawah paru akan tertutup. 1996. Tergantung dari kerusakannya dapat terjadi alveoli dengan ventilasi kurang/tidak ada.bronkus menebal. Pada orang noirmal sewaktu terjadi ekspirasi maksimal. S. Penyempitan saluran pernapasan terutama disebabkan elastisitas paru-paru yang berkurang. Pada penderita COPD saluran saluran pernapasan tersebut akan lebih cepat dan lebih banyak yang tertutup. Akibat cepatnya saluran pernapasan menutup serta dinding alveoli yang rusak.

756 ). Umur 35-45 tahun timbul batuk produktif. hal. ( Sumber : Ilmu Penyakit Dalam. hiposemia dan perubahannya pada pemeriksaan spirometri. 1996.biasanya dimulai pada seorang penderita perokok berumur 15-25 tahun produktivitasnya menurun dan timbul perubahan pada saluran pernapasan kecil dan fungsi paru mulai pula berubah. hal. . Manifestasi Klinis COPD merupakan penyakit obstruksi saluran napas. 1999. terjadai sedikit demi sedikit. Umur 55-65 tahun sudah ada kor pulmonal yang dapat menyebabkan kegagalan pernapasan dan meinggal dunia. Umur 45-55 tahun timbul sesak napas. 756 ) Semua penyakit pernapasan dikaraktaristikan oleh obstruksi koronis pada aliran udara. tidur Kerusakan pertukaran gas Gangguan rasa nyaman : nyeri dada ( Sumber : Ilmu Penyakit Dalam. bertahun tahun. Sering berulang-ulang mendapat infeksi saluran pernapasan bagian atas sehingga sering kali tidak dapat berkerja.Dispnea/sesak Proses pembersihan yang dilakukan silia tak efektif Hipoventilasi Gangguan istirahat.

Pemeriksaan Diagnostik. hal 152 ).357. Pemberian bronkodilator 1) Teoillin Golongan teofilin biasanya diberikan dengan dosis 10-15 mg/kg berat badan per oral. 1999. Analisis gas darah. Adapun penatalaksanaan yang dapat dilakukan adalah : a. b. Pemeriksaan penunjang dalam COPD adalah sebagai berikut : a. Penatalaksanaan Penatalaksanaan pada penderita COPD prinsifnya ialah untuk meringankan keluhan simtomatik. menghindari polusi udara. Pemeriksaan radiologis Pemeriksaan radiologist sangat membantu dalam menegakan atau menyokong diagnosis dan menyingkirkan penyakit-penyakit lain. Ekspektoran. Mengurangi retraksi usus Usaha untuk mengeluarkan dn mengurangi mukus. Yang sering digunakan gliserilquaiakolat. hal. c..45 dan PaCO2 35-45 mmHg. b. sehingga diharapkan mempunyai efek bronkodilator lebih kuat. merupakan pengobatan yang utama dan penting pada pengelalaan COPD. memperbaiki serta mempertahankan fungsi paru dan usaha pencegahan harus dilakukan seperti penghentian merokok. 2) Agonis B2 Sebaiknya diberikan scara aerosol atau nebulizer. 1996. c. sedangkan yang normal PH 7. d. kalium yodida dan ammonium klorida Nebulizasi dan humidifikasi dengan uap air menurunkan viskositas dan mengencer . Pada pemeriksaan gas darah arteri PH <> 45 mmHg. serta pO2 75-100 mmHg. Pemberian kortikosteroid Pada beberapa penderita pemberian kortikosteroid akan mengurangi obstruksi saluran pernapasan. Pemeriksaaan EKG (elektrokardiogram). Pemeriksaan faal paru Pada pemeriksaan fungsi paru FVC (kapasitas vital kuat) dan fev folume ekspirasi kuat mengalami penurunan menjadi kurang ari 20 %. Dapat juga diberikan kombinasi obat secara aerosol maupun oral. misalnya . Untuk itu dapat dilakukan : Minum air putih yang cukup agar tuidak dehidrasi. Inlamasi jalan napas Pelengketan mukosa Penyempitan lumen jalan napas Kerusakan jalan napas Takipnea Ortopnea ( Sumber : Doenges. ( Sumber : Ilmu Penyakit Dalam. 757 ).Penyebab utama abstruksi bermacam-macam.

dan jumlah klien makan dan minnum klien dalam sehari. apa upaya dan dimana kliwen mendapat pertolongan kesehatan. hal. kaji status riwayat kesehatan yang pernah dialami klien.sputum. warga Negara. tempat tanggal lahir. Identitas klien Nama. 1996. kesulitan/masalah dan juga . Kegagalan respirasi yang ditandai dengan sesak napas dengan manifestasi asidosis respirasi. timbang juga berat badan. Ukkus peptikum. Mengeluarkan mukus dari saluran pernapasan Memperbaiki efisiensi ventilasi Memperbaiki dan meningkatkan kekiatan fisis. lalu apa saja yang membuat status kesehatan klien menurun. Fisioterafi dan rehabilitasi. hubungan dengan klien. komplikasi yang sering terjadi dengan berlanjutnya penyakit. Pola nutris metabolik. implementasi dan evaluasi. Menurunnya saturasi O2 d. 1) Kaji terhadap rekuensi. dimana asukhan keperawatan ini mengguakan pendekatan proses diagnosa keperawatan. alamat. lingkaran lengan atas serta hitung berat badan ideal klien untuk memperoleh gambaran status nutrisi. KONSEP DASAR KEPERAWATAN Proses keperawatan adalah metode dimana suatu konsep diterapkan dalam praktek keperawatan. ( nursalam dikutip dari dr iyer. agama/suku. Komplikasi. kaji adanya mual muntah ataupun adanyaterapi intravena. karakteristik. 1). 1. penggunaan selang enteric. Pola eliminasi. 1 ). Dapat digunakan asetil sistein atau bromheksin. Pengkajian harus dilakukan secara teliti sehingga didapatkan informasi yang tepat. Pada bagian ini penulis akan menguraikan tentang konsep dasar asuhan keperawatan klien dengan COPD. b. intervensi keperawatan. penanggung jawap meliputi : nama. terjadinya sukar diketahui. ukur tinggi badan. 1996. bahasa yang digunakan. Pola persepsi kesehatan-pemeliharaan kesehatan. Tanyakan kepada klien tentang jenis. c. Hal ini biasa disebut sebagai suatu pendekatan problem solving atau pemecahan masalah. Pengkajian Pengkajian adalah langkah awal yang sangat menentukan keberhasilan dari proses keperawatan tersebut. frekuensi. B. hal. Berguna untuk . a. Mukolitik. jenis kelamin. Kaji selera makan berlebihan atau berkurang. umur. yang memerlukan ilmu teknik dan ketrampilan intrapersonal ditujukan untuk memenuki kebutuan klien. Adapun hal yang perlu dikaji dalam kasus ini antara lain . yaitu : a. (Nursalam. Retensi co2 c. d. d. Hematologik : polisitemia e. b.

Diagnosa Keperawatan Memberikan dasar-dasar memilih intervensi untuk mencapai hasil menjadi tanggung jawab dan tanggung gugat paerawat. Adakah gangguan persepsi sensori seperti pengelihatan kabur. l. jantung seperti berdebar. i. k. Pola peran hubungan dengan sesame Apakah peran klien dimasyarakat dan keluarga. Pola persepsi dan konsep diri Kaji tingkah laku mengenai dirinya. gatal. jumlah jam tidur. ukur juga intake dan output setiap sift. menonton televise. Kaji faktor yang membuat klien marah dan tidak dapat mengontrol diri. sekresi tertahan. Kaji apakah ada nilainilai tentang agama yang klien anut bertentangan dengan kesehatan. berkemih. h. e. pendengaran terganggu. menulis. karakteristik. Apakah klien memerlukan penghantar tidur seperti mambaca. kaji terhadap prekuensi. penyangkalan/penolakan terhadap diri sendiri. kesulitan/masalah defekasi dan juga pemakaian alat bantu/intervensi dalam Bab. memdengarkan musik. sesak dan lain-lain. minum susu. ugkapan. tidur siang. badan lemah. g. Pola tidur dan istirahat Tanyakan kepada klien kebiasan tidur sehari-hari. Bagaimana suasana tidur klien apaka terang atau gelap. . j. kursi roda dan lain-lain. Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan gangguan peningkatan produksi secret. Tanyakan kepada klien tentang penggunaan waktu senggang. 2. Adakah klien kesulitan mengingat sesuatu. Pola system kepercayaan Kaji apakah klien dsering beribadah. pendengaran. bagaimana hubungan klien di masyarakat dan keluarga dn teman sekerja. nyeri dada. tebal dan kental. Kaji tingkat orientasi terhadap tempat waktu dan orang. Pola mekanisme koping dan toleransi terhadap stress. f. Kaji keadaan klien saat ini terhadap penyesuaian diri. 2) Eliminasi proses. Adapun diagnosa keperawatan yang dapat muncul pada pasien dengan COPD adalah sebagai berikut : a. apakah klien pernah mengalami putus asa/frustasi/stress dan bagaimana menurut klien mengenai dirinya. tempat klien bertukar pendapat dan mekanisme koping yang digunakan selama ini. Pola produksi seksual Tanyakan kepada klien tentang penggunaan kontrasepsi dan permasalahan yang timbul. Sering bangun saat tidur dikarenakan oleh nyeri. Pola persepsi kogniti Tanyakan kepada klien apakah menggunakan alat bantu pengelihatan. Berapa jumlah anak klien dan status pernikahan klien. Adakah keluhanpada pernapasan.pemakaian alat bantu seperti folly kateter. bagaimana klien mengatasi tak nyaman : nyeri. klien menganut agama apa?. Kaji apakah ada gangguan komunikasi verbal dan gangguan dalam interaksi dengan anggota keluarga dan orang lain. Pola aktivitas dan latihan Kaji kemampuan beraktivitas baik sebelum sakit atau keadaan sekarang dan juga penggunaan alat bantu seperti tongkat.

. misalnya : penyebaran. duduk dan sandaran tempat tidur. atau tidak . c. criteria hasil. Rasional : Beberapa derajat spasme bronkus terjadi dengan obstruksi jalan napas dan dapat/tidak dimanifestasikan dengan adanya bunyi napas adventisius. krekels basah (bronchitis). dan mengurangi. 1) Kaji/pantau frekuensi pernapasan. Pernapasan dapat melambat dan frekuensi ekspirasi memanjang disbanding inspirasi. Sokongan tangan/kaki dengan meja. 1999. ( Doenges. Intervensi. Menurut Abraham moslow. meletakan kebutuhan fisiologis sebagai kebutuhan paling dasar. bantal dan lain-lain membantu menurunkan kelemahan otot dan dapat sebagai alat ekspansi dada. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplai oksigen berkurang. catat adanya bunyi napas misalnya : mengi. harga diri dan aktualisasi diri. Kriteria hasil : Mempertahankan jalan napas paten dan bunyi napas bersih/jelas. Setelah merumuskan diagnosa keperawatan langkah berikutnya adalah menentukan perencanaan keperawatan yang meliputi pengemabangan strategi desain untuk mencegah.b. Tahap dalam perencanaan meliputi penentuan prioritas masalah. Respon : Takipnea biasanya ada beberapa derajat dan dapat ditemukan pada penerimaan atau selama stress/adanya proses infeksi akut. ( Nursalam. (obstruksi jalan napas oleh secret. Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan gangguan peningkatan produksi secret. Pada dasarnya membuatan prioritas masalah dibuat berdasarkan kebutuhan dasar manusia. 2001. 3) Auskultasi bunyi napas. dan program perintah medis. misalnya peninggian kepala tempat tidur. rasa aman. hal 51 ). Rasional : Peninggian kepala tempat tidur mempermudah pernapasan dan menggunakan gravitasi. 2) Kaji pasien untuk posisi yang nyaman. mencintai dan dicintai. d. sekresi tertahan. catat rasio inspirasi/ekspirasi. hal 156 ). bunyi napas redup dengan ekspirasi mengi (emfisema). Kurang pengetahuan mengenai proses dan prognosis penyakit berhubungan dengan kurang informasi. Berdasarkan diagnosa keperawatan yang muncul pada klien dengan COPD adalah sebagai berikut : a. menentukan rencana dan tindakan pelimpahan (medis dan tim kesehatan lainnya). spasme bronkus). 3. tebal dan kental. Namun pasien dengan distress berat akan mencari posisi yang lebih mudah untuk bernapas. Tujuan : Ventilasi/oksigenisasi adekuat untuk kebutuhan individu. krokels dan ronki. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan proses peradangan pada selaput paru-paru. tujuan. Perencanaan Keperawatan.

catat pengguanaan otot aksesorius. Batuk paling efektif pada posisi duduk paling tinggi atau kepala dibawah setelah perkusi dada. sakit akut. gelisah. Cairan selama makan dapat meningkatkan distensi gaster dan tekanan pada diafragma. Tujuan : Mempertahankan tingkat oksigen yang adekuat untuk keperluan tubuh. 8) Bronkodilator. isoeetrain (brokosol. distress pernapasan. ansietas. napas bibir. Obat-obatan mungkin per oral. Rasional : Batuk dapat menetap tetapi tidak efektif. batuk pendek. ketidakmampuan bicara/berbincang. mempermudah pengeluaran. Rasional : Hidrasi membantu menurunkan kekentalan secret. b. dan penggunaan obat bantu. dapat meningkatkan distensi gaster dan tekanan pada diafragma. SaO2 95 % dank lien tidan mengalami sesak napas. brethaire). Penggunaan air hangat dapat menurunkan spasme bronkus. albuterol (proventil. 2) Kaji/awasi secara rutin kulit dan warna membrane mukosa. injeksi atau inhalasi. 5) Dorong/bantu latihan napas abdomen atau bibir. menurunkan spasme jalan napas. atau kelemahan. 6) Observasi karakteristik batuk. bantu tindakan untuk memperbaiki keefektifan jalan napas. bronkometer). efinefrin (adrenalin. Respon : Berguna dalam evaluasi derajat distress pernapasan dan kronisnya proses penyakit. kedalaman pernapasan. spasme bronkus). basah. Rasional : Sianosis mungkin perifer (terlihat pada kuku) atau sentral (terlihat sekitar bibir atau . terbutalin (brethine.Tanda-tanda vital dalam batas normal . Rasional : Merilekskan otot halus dan menurunkan kongesti local. Intervensi : 1) Kaji frekuensi. β-agonis.Tanpa terapi oksigen. (obstruksi jalan napas oleh sekret. 4) Catat adanya /derajat disepnea. ( Doenges. misalnya infeksi dan reaksi alergi. 7) Tingkatkan masukan cairan sampai 3000 ml/hari sesuai toleransi jantung. misalnya : menetap. khususnya bila pasien lansia. vavonefrin). hal 156 ). misalnya : keluhan “lapar udara”. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplai oksigen berkurang. Rasional : Memberikan pasien beberapa cara untuk mengatasi dan mengontrol dispnea dan menurunkan jebakan udara. mengi dan produksi mukosa. ventolin). Kriteria hasil : .Tidak ada tanda-tanda sianosis. misalnya.adanya bunyi napas (asma berat). . 1999. Rasional : Disfungsi pernapasan adalah variable yang tergantung pada tahap proses kronis selain proses akut yang menimbulkan perawatan di rumah sakit.

konsisten. mengatur pernapasan pasien ditentikan oleh kadar CO2 dan mungkin dikkeluarkan dengan peningkatan PaO2 berlebihan. Rasional : . 4) Dorong mengeluarkan sputum. bantu pasien untuk memilih posisi yang mudah untuk bernapas. tajam. pengisapan bila diindikasikan.danun telinga). 2.Klien mengatakan rasa nyeri berkurang/hilang. 3. Adanya mengi mengindikasikan spasme bronkus/ter-tahannya sekret. Tentukan karakteristik nyeri. Respon : Nyeri dada biasanya ada dalam beberapa derajat pneumonia. Dorong napas dalam perlahan atau napas bibir sesuai dengan kebutuhan/toleransi individu. dispnea dan kerja napas. di tusuk. Catatan . relaksasi/latihan napas. miaalnya . pijatan punggung. Berikan tindakan nyaman. musik tenang/perbincangan. Rasional : Bunyi napas mingkin redup karena penurrunan aliran udara atau area konsolidasi. Keabu-abuan dan dianosis sentral mengindikasikan beratnya hipoksemia. c. selidiki perubahan karakter/intensitasnyeri/lokasi. Rasional : Kental tebal dan banyak sekresi adalah sumber utama gangguan pertukaran gas pada jalan napas kecil. catat area penurunan aliran udara dan/atau bunyi tambahan. Krekles basah menyebar menunjukan cairan pada interstisial/dekompensasi jantung. disiretmia dan perubahan tekanan darah dapat menunjuak efek hipoksemia sistemik pada fungsi jantung. Rasional : Takikardi. dan pengisapan dibuthkan bila batuk tak efektif. emfisema koronis. 6) Awasi tanda-tanda vital dan irama jantung. 5) Auskultasi bunyi napas. 7) Berikan oksigen tambahan yang sesuai dengan indikasi hasil GDA dan toleransi pasien. perubahan posisi.Ekspresi wajah rileks. khususnya bila alasan lain untuk perubahan tanda-tanda vital. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan proses peradangan pada selaput paru-paru. hal 158 ). Intervensi : 1. misalnya . Rasional : Dapat memperbaiki/mencegah memburuknya hipoksia. ( Doenges. . Rasional : Pengiriman oksigen dapat diperbaiki dengan posisi duduk tinggi dan laithan napas untuk menurunkan kolaps jalan napas. juga dapat timbul komplikasi seperti perikarditis dan endokarditis. Tujuan : Rasa nyeri berkurang sampai hilang. 1999. Kriteria hasil : . Pantau tanda-tanda vital. Rasional : Perubahan frekuensi jantung atau TD menunjukan bahwa pasien mengalami nyeri. 3) Tinggikan kepala tempat tidur.

perawatan dan program pengobatannya. dan memberikan indivisu arti untuk mengontrol dispnea. 5. Diskusikan obat pernapasan. Penting bagi pasien memahami perbedaan antara efek samping menganggu (obat dilanjutkan) dan efek samping merugikan (obat mungkin dihentikan/diganti).Tindakan non-analgetik diberikan dengan sentuhan lembut dapat menghilangkan ketidaknyamanan dan memperbesar efek terapi analgesic. 1999. Rasional : Pernapasan mulut dan terapi oksigen dapat mengiritasi dan mengeringkan memberan mukosa.Melakukan perilaku/perubahan pada hidup untuk memperbaiki kesehatan umum dan menurunkan resiko pengaktifan ulang COPD. Diskusikan faktor individu yang menigkatkan kondisi. seprai aerosol. Tujuan : Klien mengerti tentang penyakit. meningkatkan kenyamanan/istirahat umum. Kriteria hasil : . Rasional : Alat untuk mengontrol ketidaknyamanan dada sementara meningkatkan keefektifan upaya batuk. polusi . hal 171 ). ( Doenges. Jelaskan/kuatkan penjelasan proses penyakit individu. 4. kekuatan otot. asap tembakau. . potensial ketidaknyamanan umum.Klien memahami proses penyakit dan kebutuhan pengobatan. Latihan kondisi umum meningkatkan toleransi aktivitas. udara terlalu kering. Intervensi. Berikan analgesic dan antitusif sesuai indikasi. Tawarkan pembersihan mulut dengan sering. efek samping dan reaksi yang tidak diinginkan/ Rasional : Pasien sering mendapatkan obat pernapasan banyak sekaligus yang mempunyai efek samping hamper sama dan potensial interaksi obat. 6. Respon : Menurunkan ansietas dan dapat menimbulkan perbaikan partisipasi pada rencana pengobatan. Instruksikan/kuatkan rasional untuk latihan napas. dan rasa sehat. Kurang pengetahuan mengenai proses dan prognosis penyakit berhubungan dengan kurang informasi. Rasional : Napas bibir dan napas abdominalis/diafragmatik menguatkan otot pernapasan. misalnya . lingkungan dan suhu ekstrem. angina. Anjurkan dan bantu pasien dalam teknik menekan dada selama episode batuk.Mengidentifikasi gejala yang menerlukan evaluasi intervensi. membantu meinimalkan kolaps jalan napas kecil. Dorong pasien/orang terdekat untuk menanyakan pertanyaan. batuk efektif. d. . dan latihan kondisi umum. Rasional : Obat ini dapat digunakan untuk menekan batuk non produktif/proksimal atau menurunkan mukosa berlebihan. serbuk.

( Doenges. Rasional : Pengawasan proses penyakit untuk membuat program tetapi untuk memenuhi perubahan kebutuhan dan dapat membantu mencegah komplikasi. MD. Meningkatkan nutrisi yang adekuat. Mampu mengendalikan stress dan emosional sebagai faktor pencetus terjadinya sesak c. Namun meskipun pasien ingin menghentikan merokok. Untuk meningkatkan efisiensi pernapasan secara maksimal. 2008 September 11 ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN EFUSI PLEURA OLEH : Ns. dimana kondisi ini jika dibiarkan akan membahayakan jiwa penderitanya (John Gibson. Secara bertahap dalam beraktivitas dan gaya hidup sehari-hari yang harus direncanakan untuk mencegah kekambuhan. b. d. 1999. Rasional : Penghentian merokok dapat memperlambat/menghambat kemajuan COPD. diperlukan kelompok pendukung dan pengawas medis. foto dada periodik. Memenuhi kebutuhan istirahat yang cukup dan mematuhi terapi. Perencanaan pulang. Mentaati aturan terapi pengobatan dan selalu control ulang. hal 162 ). Kamis. Kaji efek bahaya merokok dan nasehatkan menghentikan merokok pada pasien dan/atau orang terdekat. 786) • Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapat penumpukan cairan .SKp Definisi • Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapat cairan berlebihan di rongga pleura. anjurkan klien untuk : a. dan culture sputum. Dorong pasien/orang terdekat untuk mencari cara mengontrol faktor ini dan sekitar rumah. Catatan : penelitian menunjukan bahwa rokok “ side-streams “ atau “second hand’ dapat terganggu seperti halnya merokok nyata. e.udara. Rasional : Faktor lingkungan ini dapat menimbulkan/meningkatkan iritasi bronchial menimbulkan peningkatan produksi sekret dan menjadi hambatan jalan napas. Waspadji Sarwono (1999. Diskusikan tentang pentingnya mengikuti perawatan medik. 4. SUMEDI. 1995.

pneumoni. 1994. syndroma nefrotik. adanya neoplasma (carcinoma bronchogenic dan akibat metastasis tumor yang berasal dari organ lain). hipoalbumin dan lain sebagainya. • Akumulasi cairan pleura dapat terjadi apabila tekanan osmotik koloid menurun misalnya pada penderita hipoalbuminemia dan bertambahnya permeabilitas kapiler akibat ada proses keradangan atau neoplasma. Mukti A. infark paru. 1998. bertambahnya tekanan hidrostatis akibat kegagalan jantung dan tekanan negatif intra pleura apabila terjadi atelektasis paru (Alsagaf H. Amin M Saleh. • Effusi pleura berarti terjadi pengumpulan sejumlah besar cairan bebas dalam kavum pleura. 1995. trauma. 68) Patofisiologi • Dalam keadaan normal hanya terdapat 10-20 ml cairan di dalam rongga pleura. 111).gagal jantung yang menyebabkan tekanan kapiler paru dan tekanan perifer menjadi sangat tinggi sehingga menimbulkan transudasi cairan yang . (Allsagaaf H. Kemungkinan penyebab efusi antara lain 1.dari dalam kavum pleura diantara pleura parietalis dan pleura viseralis dapat berupa cairan transudat atau cairan eksudat ( Pedoman Diagnosis danTerapi / UPF ilmu penyakit paru. karena adanya tekanan hidrostatis pleura parietalis sebesar 9 cm H2O. 145). tuberculosis paru.penghambatan drainase limfatik dari rongga pleura 2. • Jumlah cairan di rongga pleura tetap. Etiologi • Penyebab efusi pleura bisa bermacam-macam seperti gagal jantung.

1997. Dengan membesarnya efusi akan terjadi restriksi ekspansi paru dan pasien mungkin mengalami : 1.Dispneu bervariasi 2. -Jika jumlah efusinya sedikit (misalnya < 250 ml).Suara nafas berkurang di atas efusi pleura 9.Perkusi meredup di atas efusi pleura 7.Fremitus vokal dan raba berkurang Penatalaksanaan • Drainase cairan jika efusi menimbulkan gejala subyektif seperti nyeri.Egofoni di atas paru-paru yang tertekan dekat efusi 8. 623-624). Egc.Ruang interkostal menonjol (efusi yang berat) 5.Trakea bergeser menjauhi sisi yang mengalami efusi 4.infeksi atau setiap penyebab peradangan apapun pada permukaan pleura dari rongga pleura. dyspnea • Antibiotik jika terjadi empiema • Pleurodesis .Nyeri pleuritik biasanya mendahului efusi sekunder akibat penyakit pleura 3.Pergerakan dada berkurang dan terhambat pada bagian yang terkena 6.berlebihan ke dalam rongga pleura 3. mungkin belum menimbulkan manifestasi klinik dan hanya dapat dideteksi dengan X-ray foto thorakks. jadi juga memungkinkan transudasi cairan yang berlebihan 4. Tanda & Gejala -Manifestasi klinik efusi pleura akan tergantung dari jumlah cairan yang ada serta tingkat kompresi paru.sangat menurunnya tekanan osmotik kolora plasma. yang memecahkan membran kapiler dan memungkinkan pengaliran protein plasma dan cairan ke dalam rongga secara cepat (Guyton dan Hall .

bahasa yang dipakai. berat badan menurun dan sebagainya. Apa tindakan yang telah dilakukan untuk menurunkan atau menghilangkan keluhankeluhannya tersebut. rasa berat pada dada. • Biasanya pada pasien dengan effusi pleura didapatkan keluhan berupa : sesak nafas. • Perlu juga ditanyakan mulai kapan keluhan itu muncul. Hal ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya faktor predisposisi. gagal jantung. rasa berat pada dada. trauma. nyeri pleuritik. status pendidikan dan pekerjaan pasien. suku bangsa. TB paru dan lain sebagainya . sesak nafas. umur. Riwayat Penyakit Keluarga >Perlu ditanyakan apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakitpenyakit yang disinyalir sebagai penyebab effusi pleura seperti Ca paru.• Operatif Pengkajian keperawatan Identitas Pasien Pada tahap ini perawat perlu mengetahui tentang nama. agama atau kepercayaan. jenis kelamin. nyeri pleuritik akibat iritasi pleura yang bersifat tajam dan terlokasilir terutama pada saat batuk dan bernafas serta batuk non produktif. alamat rumah. Riwayat Penyakit Sekarang • Pasien dengan effusi pleura biasanya akan diawali dengan adanya tandatanda seperti batuk. Keluhan Utama • Keluhan utama merupakan faktor utama yang mendorong pasien mencari pertolongan atau berobat ke rumah sakit. asma. Riwayat Penyakit Dahulu • Perlu ditanyakan apakah pasien pernah menderita penyakit seperti TBC paru. asites dan sebagainya. pneumoni.

• Karena keadaan umum pasien yang lemah.Riwayat Psikososial >Meliputi perasaan pasien terhadap penyakitnya. Pola eliminasi • Dalam pengkajian pola eliminasi perlu ditanyakan mengenai kebiasaan defekasi sebelum dan sesudah MRS. • Peningkatan metabolisme akan terjadi akibat proses penyakit. minum alkohol dan penggunaan obat-obatan bisa menjadi faktor predisposisi timbulnya penyakit. Pola nutrisi dan metabolisme • Dalam pengkajian pola nutrisi dan metabolisme. kita perlu melakukan pengukuran tinggi badan dan berat badan untuk mengetahui status nutrisi pasien. bagaimana cara mengatasinya serta bagaimana perilaku pasien terhadap tindakan yang dilakukan terhadap dirinya. pasien akan lebih banyak bed rest sehingga akan menimbulkan konstipasi. Pengkajian Pola Fungsi Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat • Adanya tindakan medis dan perawatan di rumah sakit mempengaruhi perubahan persepsi tentang kesehatan. • Kemungkinan adanya riwayat kebiasaan merokok. pasien dengan effusi pleura keadaan umumnya lemah. tapi kadang juga memunculkan persepsi yang salah terhadap pemeliharaan kesehatan. selain akibat pencernaan pada struktur abdomen menyebabkan penurunan peristaltik otot-otot . • Perlu ditanyakan kebiasaan makan dan minum sebelum dan selama MRS pasien dengan effusi pleura akan mengalami penurunan nafsu makan akibat dari sesak nafas dan penekanan pada struktur abdomen.

• Untuk memenuhi kebutuhan ADL nya sebagian kebutuhan pasien dibantu oleh perawat dan keluarganya. pasien tidak dapat menjalankan fungsinya sebagai seorang ibu yang harus mengasuh anaknya. Pola persepsi dan konsep diri • Persepsi pasien terhadap dirinya akan berubah. • Disamping itu pasien juga akan mengurangi aktivitasnya akibat adanya nyeri dada. tiba-tiba mengalami sakit. Pola hubungan dan peran • Akibat dari sakitnya. mengurus suaminya. dimana banyak orang yang mondar-mandir. peran pasien di masyarakatpun juga mengalami perubahan dan semua itu mempengaruhi hubungan interpersonal pasien. • Selain itu akibat perubahan kondisi lingkungan dari lingkungan rumah yang tenang ke lingkungan rumah sakit. berisik dan lain sebagainya. nyeri dada. • Dalam hal ini pasien mungkin akan . kebutuhan O2 jaringan akan kurang terpenuhi • Pasien akan cepat mengalami kelelahan pada aktivitas minimal.tractus degestivus. • Disamping itu. secara langsung pasien akan mengalami perubahan peran. Pasien mungkin akan beranggapan bahwa penyakitnya adalah penyakit berbahaya dan mematikan. • Pasien yang tadinya sehat. misalkan pasien seorang ibu rumah tangga. sesak nafas dan peningkatan suhu tubuh akan berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan tidur dan istitahat. Pola aktivitas dan latihan • Akibat sesak nafas. sesak nafas. Pola tidur dan istirahat • Adanya nyeri dada.

Pola reproduksi seksual • Kebutuhan seksual pasien dalam hal ini hubungan seks intercourse akan terganggu untuk sementara waktu karena pasien berada di rumah sakit dan kondisi fisiknya masih lemah. bagaimana mood pasien untuk mengetahui tingkat kecemasan dan ketegangan pasien. sikap dan perilaku pasien terhadap petugas. • Perlu juga dilakukan pengukuran tinggi badan berat badan pasien. demikian juga dengan proses berpikirnya. ruang antar iga melebar. ekspresi wajah pasien selama dilakukan anamnesa. Pola tata nilai dan kepercayaan • Sebagai seorang beragama pasien akan lebih mendekatkan dirinya kepada Tuhan dan menganggap bahwa penyakitnya ini adalah suatu cobaan dari Tuhan. Sistem Respirasi Inspeksi • Pada pasien effusi pleura bentuk hemithorax yang sakit mencembung. Pendorongan mediastinum ke arah hemithorax kontra lateral yang . Pola penanggulangan stress • Bagi pasien yang belum mengetahui proses penyakitnya akan mengalami stress dan mungkin pasien akan banyak bertanya pada perawat dan dokter yang merawatnya atau orang yang mungkin dianggap lebih tahu mengenai penyakitnya. • Pemeriksaan Fisik • Status Kesehatan Umum • Tingkat kesadaran pasien perlu dikaji. pergerakan pernafasan menurun.kehilangan gambaran positif terhadap dirinya Pola sensori dan kognitif • Fungsi panca indera pasien tidak mengalami perubahan. bagaimana penampilan pasien secara umum. iga mendatar.

yang disebut egofoni (Alsagaf H. Garis ini paling jelas di bagian depan dada. Disamping itu pada palpasi juga ditemukan pergerakan dinding dada yang tertinggal pada dada yang sakit. • Auskultasi Suara nafas menurun sampai menghilang. 1994. Bila cairannya tidak mengisi penuh rongga pleura. • Ditambah lagi dengan tanda i – e artinya bila penderita diminta mengucapkan kata-kata i maka akan terdengar suara e sengau. • Fremitus tokal menurun terutama untuk effusi pleura yang jumlah cairannya > 250 cc. normal berada pada ICS – 5 pada linea medio claviculaus kiri selebar 1 cm. dan dibaliknya ada kompresi atelektasis dari parenkian paru. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pembesaran jantung. mungkin saja akan ditemukan tandatanda auskultasi dari atelektasis kompresi di sekitar batas atas cairan. Widjaya Adjis. RR cenderung meningkat dan Px biasanya dyspneu.diketahui dari posisi trakhea dan ictus kordis. maka akan terdapat batas atas cairan berupa garis lengkung dengan ujung lateral atas ke medical penderita dalam posisi duduk. Ida Bagus. Garis ini disebut garis Ellis-Damoisseaux.79) Sistem Cardiovasculer • Pada inspeksi perlu diperhatikan letak ictus cordis. Mukty Abdol. perlu juga memeriksa adanya thrill yaitu getaran ictus cordis. . kurang jelas di punggung. • Palpasi untuk menghitung frekuensi jantung (health rate) dan harus diperhatikan kedalaman dan teratur tidaknya denyut jantung. Pada posisi duduk cairan makin ke atas makin tipis. • Suara perkusi redup sampai pekak tegantung jumlah cairannya.

perabaan dan pengecapan. umbilicus menonjol atau tidak. • Perkusi abdomen normal tympani. tepi perut menonjol atau tidak. • Auskultasi untuk mendengarkan suara peristaltik usus dimana nilai normalnya 5-35 kali permenit. adakah massa (tumor. • Auskultasi untuk menentukan suara jantung I dan II tunggal atau gallop dan adakah bunyi jantung III yang merupakan gejala payah jantung serta adakah murmur yang menunjukkan adanya peningkatan arus turbulensi darah. asites. • Selain itu fungsi-fungsi sensoris juga perlu dikaji seperti pendengaran. turgor kulit perut untuk mengetahui derajat hidrasi pasien. tumor). Sistem Pencernaan • Pada inspeksi perlu diperhatikan.• Perkusi untuk menentukan batas jantung dimana daerah jantung terdengar pekak. juga apakah lien teraba. Sistem Muskuloskeletal • Pada inspeksi perlu diperhatikan . • Pemeriksaan refleks patologis dan refleks fisiologisnya. adanya massa padat atau cairan akan menimbulkan suara pekak (hepar. Hal ini bertujuan untuk menentukan adakah pembesaran jantung atau ventrikel kiri. penciuman. adakah nyeri tekan abdomen. feces). Adakah composmentis atau somnolen atau comma. apakah abdomen membuncit atau datar. Sistem Neurologis • Pada inspeksi tingkat kesadaran perlu dikaji Disamping juga diperlukan pemeriksaan GCS. selain itu juga perlu di inspeksi ada tidaknya benjolan-benjolan atau massa. vesika urinarta. • Pada palpasi perlu juga diperhatikan. apakah hepar teraba. penglihatan.

hangat. • Pada palpasi perlu diperiksa mengenai kehangatan kulit (dingin. pada Px dengan effusi biasanya akan tampak cyanosis akibat adanya kegagalan sistem transport O2. Kemudian texture kulit (halus-lunak-kasar) serta turgor kulit untuk mengetahui derajat hidrasi seseorang.adakah edema peritibial • Palpasi pada kedua ekstremetas untuk mengetahui tingkat perfusi perifer serta dengan pemerikasaan capillary refil time. • Dengan inspeksi dan palpasi dilakukan pemeriksaan kekuatan otot kemudian dibandingkan antara kiri dan kanan. • Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan metabolisme tubuh. dkk. demam). Sistem Integumen • Inspeksi mengenai keadaan umum kulit higiene. 1998). penurunan nafsu makan akibat sesak nafas sekunder terhadap penekanan struktur abdomen (Barbara Engram. Pemeriksaan Penunjang • Pemeriksaan laboratorium • Darah lengkap dan kimia darah • Bakteriologis • Analisis cairan pleura • Pemeriksaan radiologis • Biopsi Diagnosa Keperawatan • Ketidakefektifan pola pernafasan berhubungan dengan menurunnya ekspansi paru sekunder terhadap penumpukkan cairan dalam rongga pleura (Susan Martin Tucleer. • Cemas berhubungan dengan adanya ancaman kematian yang dibayangkan (ketidakmampuan untuk bernafas). 1993). warna ada tidaknya lesi pada kulit. .

jsp? requestURI=/healthatoz/Atoz/ency/pleural_effusion. .healthatoz.com/2008/06/22/efusi-pleura/ 2.edu. faculty.wordpress.com/2008/01/09/efusi-pleura/ 3.jsp 4.com/healthatoz/Atoz/common/standard/transform. http://dokterfoto.sa/…/ Students’s%20Clinical%20presentations/Zahra’a %20Hussin%20AL5. http://dewabenny.ksu. NANDA 2007-2008 (keperawatan).• Gangguan pola tidur berhubungan dengan batuk yang menetap dan sesak nafas serta perubahan suasana lingkungan • Defisit perawatan diri berhubungan dengan keletihan (keadaan fisik yang lemah) • Kurang pengetahuan mengenai kondisi. aturan pengobatan berhubungan dengan kurang terpajan informasi di 03:45 Label: Keperawatan Askep Efusi Pleura Posted by yenichrist under Keperawatan [11] Comments Landasan teori medis diambil dari: 1. http://www.

gastric discomfort (dyspepsia). Empiema (nanah di dalam rongga pleura) bisa terjadi jika pneumonia atau abses paru menyebar ke dalam rongga pleura.Efusi pleura adalah akumulasi cairan yang berlebihan pada rongga pleura. Cairan dalam jumlah yang berlebihan dapat mengganggu pernapasan dengan membatasi peregangan paru selama inhalasi. Cairan serus (hidrothorax) Darah (hemothotaks) Chyle (chylothoraks) Nanah (pyothoraks atau empyema) Hemotoraks (darah di dalam rongga pleura) biasanya terjadi karena cedera di dada. chest pain. 3. 4. cairan tersebut mengisi ruangan yang mengelilingi paru. Terdapat empat tipe cairan yang dapat ditemukan pada efusi pleura. Empiema bisa merupakan komplikasi dari: • • Infeksi pada cedera di dada Pembedahan dada . 2.” It is characterized by shortness of breath. Darah di dalam rongga pleura tidak membeku secara sempurna. yaitu : 1. and cough. Pleural effusion occurs when too much fluid collects in the pleural space (the space between the two layers of the pleura). sehingga biasanya mudah dikeluarkan melalui sebuah jarum atau selang. Penyebab lainnya adalah: • • • pecahnya sebuah pembuluh darah yang kemudian mengalirkan darahnya ke dalam rongga pleura kebocoran aneurisma aorta (daerah yang menonjol di dalam aorta) yang kemudian mengalirkan darahnya ke dalam rongga pleura gangguan pembekuan darah. It is commonly known as “water on the lungs.

Apabila cairan yang terakumulasi lebih dari 500 ml.• • • Pecahnya kerongkongan Abses di perut Pneumonia Kilotoraks (cairan seperti susu di dalam rongga dada) disebabkan oleh suatu cedera pada saluran getah bening utama di dada (duktus torakikus) atau oleh penyumbatan saluran karena adanya tumor. dengan bantuan stetoskop akan terdengar adanya penurunan suara pernafasan. biasanya akan menunjukkan gejala klinis seperti penurunan pergerakan dada yang terkena efusi pada saat inspirasi. dilakukan pemeriksaan berikut: Rontgen dada Rontgen dada biasanya merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk mendiagnosis efusi pleura. yang hasilnya menunjukkan adanya cairan. CT scan dada CT scan dengan jelas menggambarkan paru-paru dan cairan dan bisa menunjukkan adanya pneumonia. dan vocal fremitus yang menurun. . Untuk membantu memperkuat diagnosis. Diagnosis Pada pemeriksaan fisik. Rongga pleura yang terisi cairan dengan kadar kolesterol yang tinggi terjadi karena efusi pleura menahun yang disebabkan oleh tuberkulosis atau artritis rematoid. auskultasi didapatkan suara pernapasan menurun. abses paru atau tumor USG dada USG bisa membantu menentukan lokasi dari pengumpulan cairan yang jumlahnya sedikit. pada pemeriksaan perkusi didapatkan dullness/pekak. sehingga bisa dilakukan pengeluaran cairan.

amylase. penyebabnya harus diketahui. maka dilakukan biopsi. kemudian cairan pleura diambil dengan jarum.Torakosentesis Penyebab dan jenis dari efusi pleura biasanya dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan terhadap contoh cairan yang diperoleh melalui torakosentesis (pengambilan cairan melalui sebuah jarum yang dimasukkan diantara sela iga ke dalam rongga dada dibawah pengaruh pembiusan lokal). dan di konfirmasi dengan foto thoraks. Pada sekitar 20% penderita. dan glucose 2. Dengan foto thoraks posisi lateral decubitus dapat diketahui adanya cairan dalam rongga pleura sebanyak paling sedikit 50 ml. Setelah didapatkan cairan efusi dilakukan pemeriksaan seperti: 1. laktat dehidrogenase (LDH). sedangkan dengan posisi AP atau PA paling tidak cairan dalam rongga pleura sebanyak 300 ml. Biopsi Jika dengan torakosentesis tidak dapat ditentukan penyebabnya. kultur. Pemeriksaan hitung sel 4. dimana contoh lapisan pleura sebelah luar diambil untuk dianalisa. albumin. Bila efusi pleura telah didiagnosis. Bronkoskopi Bronkoskopi kadang dilakukan untuk membantu menemukan sumber cairan yang terkumpul. Sitologi untuk mengidentifikasi adanya keganasan . tindakan ini disebut thorakosentesis. pH. penyebab dari efusi pleura tetap tidak dapat ditentukan. meskipun telah dilakukan pemeriksaan menyeluruh. sensitifitas untuk mengetahui kemungkinan terjadi infeksi bakteri 3. Komposisi kimia seperti protein. Analisa cairan pleura Efusi pleura didiagnosis berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Pada foto thoraks posisi AP atau PA ditemukan adanya sudut costophreicus yang tidak tajam. Dilakukan pemeriksaan gram.

sirosis hepatis.batuk . Misalnya pada keadaan gagal jantung kiri. Tuberkulosis paru merupakan penyebab paling sering dari efusi pleura di Negara berkembang termasuk Indonesia. emboli paru. dan sirosis hepatis. keadaan lain juga menyebabkan efusi pleura seperti pada penyakit autoimun systemic lupus erythematosus (SLE). abses intraabdomen. dan lymphoma merupakan 75 % penyebab efusi pleura oleh karena kanker).cegukan . dan keganasan Etiologi Penyebab paling sering efusi pleura transudatif di USA adalah oleh karena penyakit gagal jantung kiri. infeksi virus. Efusi pleura transudatif disebabkan oleh faktor sistemik yang mengubah keseimbangan antara pembentukan dan penyerapan cairan pleura. Gejala lainnya yang mungkin ditemukan: . Kadang beberapa penderita tidak menunjukkan gejala sama sekali.pernafasan yang cepat . dan efusi pleura karena adanya tumor ovarium). infeksi virus. penyakit pancreas. sedangkan penyebab efusi pleura eksudatif disebabkan oleh pneumonia bakteri.Langkah selanjutnya dalam evaluasi cairan pleura adalah untuk membedakan apakan cairan tersebut merupakan cairan transudat atau eksudat. Selain TBC. perdarahan (sering akibat trauma). keganasan (ca paru. sindroma Meig (asites. Gejala Gejala yang paling sering ditemukan (tanpa menghiraukan jenis cairan yang terkumpul ataupun penyebabnya) adalah sesak nafas dan nyeri dada (biasanya bersifat tajam dan semakin memburuk jika penderita batuk atau bernafas dalam). Efusi pleura jarang pada keadaan rupture esophagus. Sedangkan efusi pleura eksudatif disebabkan oleh faktor local yang mempengaruhi pembentukan dan penyerapan cairan pleura. Efusi pleura eksudatif biasanya ditemukan pada Tuberkulosis paru. ca mammae. pneumonia bakteri. rheumatoid arthritis. emboli paru.

blood pressure. 3. or no effective treatment is at hand. However. In the most severe cases. This will prevent further effusion by eliminating the pleural space. give drug in the morning Monitor fluid intake and output. if the cause is not known. the fluid can be drained away by placing a large-bore needle or catheter into the pleural space. 6. If heart failure is reversed or a lung infection is cured by antibiotics. Efusi pleura yang berulang mungkin memerlukan tambahan medikamentosan atau dapat dilakukan tidakan operatif yaitu pleurodesis. weight. just as in diagnostic thoracentesis.. Penatalaksanaan The best way to clear up a pleural effusion is to direct treatment at what is causing it. Nyeri akut/kronis Insomnia Pertukaran gas tidak efektif Kelelahan Intoleransi aktivitas Resiko ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh Koping individu tidak efektif The core responsibilities of nurses: • • To prevent nocturia. even after extensive tests. 2. apabila jumlah cairan banyak dapat dilakukan pemasangan drainase interkostalis atau pemasangan WSD. If large effusions continue to recur. open surgery with removal of a rib may be necessary to drain all the fluid and close the pleural space.nyeri perut. Aspirasi cairan menggunakan jarum dapat dilakukan untuk mengeluarkan cairan pleura. this can be repeated as often as is needed to control the amount of fluid in the pleural space. dimana kedua permukaan pleura ditempelkan sehingga tidak ada lagi ruangan yang akan terisi oleh cairan. a drug or material that irritates the pleural membranes can be injected to deliberately inflame them and cause them to adhere close together–a process called sclerosis. 4. Keperawatan 1. Penatalaksanaan tergantung pada penyakit yang mendasari terjadinya efusi pleura. 5. the effusion will usually resolve. 7. rather than treating the effusion itself. . If necessary. and electrolyte levels.

and the nurse assists the patient to assume positions that are the least painful. Monitor glucose level. Pain management is a priority. therapeutic response may be delayed several weeks. ketika “terpaksa” memasuki area yang belum saya jamah sebelumnya. and apricots. the nurse is responsible for educating the patient and family regarding management and care of the catheter and drainage system. daripada hilang begitu saja…. The nurse role in the care of the patient with a pleural effusion includes: • • • • • • Implementing the medical regimen. who are especially susceptible to excessive diuresis. the nurse is responsible for monitoring the system’s function and recording the amount of drainage at prescribed intervals. Cara saya belajar selagi bosan.• • • • • • Watch for signs and symptoms of hypokalemia. such as muscle weakness and cramps. proses penyakit primer jarang terjadi namun biasanya terjadi sekunder akibat penyakit lain. Monitor elderly patients. yang mungkin merupakan transudat. Foods rich in potassium include citrus fruits. If chest tube drainage and a water-seal system is used. bananas. In patients with hypertension. 2000) . dates. atau dapat berupa darah atau pus (Baughman C Diane. ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN EFUSI PLEURA Diarsipkan di bawah: Askep — rofiqahmad @ 12:54 pm A. If a patient is to be managed as an outpatient with a pleural catheter for drainage. tetapi hanya saya susun dari sumber-sumber yang saya gunakan. dengan bahasa yang masih campur-aduk. tomatoes. The nurse prepares and positions the patient for thoracentesis and offers support throughout the procedure. Consult to doctor and dietitian about a high-potassium diet. Definisi Efusi pleural adalah penumpukan cairan di dalam ruang pleural. Tidak saya tulis. especially in diabetic patients. Drug may be used with potassium sparing diuretic to prevent potassium loss. Efusi dapat berupa cairan jernih. eksudat. Frequent turning and ambulation are important to facilitate drainage the nurse administers analgesics as prescribed and as needed.

tumor mediatinum. panas tinggi (kokus). dan infeksi. banyak riak. Tanda dan Gejala . virus). karena adanya bendungan seperti pada dekompensasi kordis.Efusi pleural adalah pengumpulan cairan dalam ruang pleura yang terletak diantara permukaan visceral dan parietal. ruang pleural mengandung sejumlah kecil cairan (5 sampai 15ml) berfungsi sebagai pelumas yang memungkinkan permukaan pleural bergerak tanpa adanya friksi (Smeltzer C Suzanne. kardiovaskuler. Bila cairan banyak. penderita akan sesak napas. Etiologi 1. Kelebihan cairan rongga pleura dapat terkumpul pada proses penyakit neoplastik. sindroma meig (tumor ovarium) dan sindroma vena kava superior. setelah cairan cukup banyak rasa sakit hilang. subfebril (tuberkulosisi). tromboembolik. karena radang (tuberculosis. karena tumor dimana masuk cairan berdarah dan karena trauma. (Price C Sylvia. banyak keringat. Hambatan resorbsi cairan dari rongga pleura. pneumonia. Pembentukan cairan yang berlebihan. menggigil. C. Ini disebabkan oleh sedikitnya satu dari empat mekanisme dasar : ∗ ∗ ∗ ∗ ∗ Peningkatan tekanan kapiler subpleural atau limfatik Penurunan tekanan osmotic koloid darah Peningkatan tekanan negative intrapleural Adanya inflamasi atau neoplastik pleura Adanya timbunan cairan mengakibatkan perasaan sakit karena pergesekan. 2002). Di Indonesia 80% karena tuberculosis. abses amuba subfrenik yang menembus ke rongga pleura. Efusi pleura adalah istilah yang digunakan bagi penimbunan cairan dalam rongga pleura. 1995) B. 2. batuk. penyakit ginjal. Secara normal. proses penyakit primer jarang terjadi tetapi biasanya merupakan penyakit sekunder terhadap penyakit lain. bronkiektasis. dan nyeri dada pleuritis (pneumonia). ∗ Adanya gejala-gejala penyakit penyebab seperti demam.

∗ ∗

Deviasi trachea menjauhi tempat yang sakit dapat terjadi jika terjadi penumpukan cairan pleural yang signifikan. Pemeriksaan fisik dalam keadaan berbaring dan duduk akan berlainan, karena cairan akan berpindah tempat. Bagian yang sakit akan kurang bergerak dalam pernapasan, fremitus melemah (raba dan vocal), pada perkusi didapati daerah pekak, dalam keadaan duduk permukaan cairan membentuk garis melengkung (garis Ellis Damoiseu).

Didapati segitiga Garland, yaitu daerah yang pada perkusi redup timpani dibagian atas garis Ellis Domiseu. Segitiga Grocco-Rochfusz, yaitu daerah pekak karena cairan mendorong mediastinum kesisi lain, pada auskultasi daerah ini didapati vesikuler melemah dengan ronki.

Pada permulaan dan akhir penyakit terdengar krepitasi pleura.

D. Patofisiologi Didalam rongga pleura terdapat + 5ml cairan yang cukup untuk membasahi seluruh permukaan pleura parietalis dan pleura viseralis. Cairan ini dihasilkan oleh kapiler pleura parietalis karena adanya tekanan hodrostatik, tekanan koloid dan daya tarik elastis. Sebagian cairan ini diserap kembali oleh kapiler paru dan pleura viseralis, sebagian kecil lainnya (10-20%) mengalir kedalam pembuluh limfe sehingga pasase cairan disini mencapai 1 liter seharinya. Terkumpulnya cairan di rongga pleura disebut efusi pleura, ini terjadi bila keseimbangan antara produksi dan absorbsi terganggu misalnya pada hyperemia akibat inflamasi, perubahan tekanan osmotic (hipoalbuminemia), peningkatan tekanan vena (gagal jantung). Atas dasar kejadiannya efusi dapat dibedakan atas transudat dan eksudat pleura. Transudat misalnya terjadi pada gagal jantung karena bendungan vena disertai peningkatan tekanan hidrostatik, dan sirosis hepatic karena tekanan osmotic koloid yang menurun. Eksudat dapat disebabkan antara lain oleh keganasan dan infeksi. Cairan keluar langsung dari kapiler sehingga kaya akan protein dan berat jenisnya tinggi. Cairan ini juga mengandung banyak sel darah putih. Sebaliknya transudat kadar proteinnya rendah sekali atau nihil sehingga berat jenisnya rendah.

E. Pemeriksaan Diagnostik ∗ Pemeriksaan radiologik (Rontgen dada), pada permulaan didapati menghilangnya sudut kostofrenik. Bila cairan lebih 300ml, akan tampak cairan dengan permukaan melengkung. Mungkin terdapat pergeseran di mediatinum. ∗ ∗ Ultrasonografi Torakosentesis / pungsi pleura untuk mengetahui kejernihan, warna, biakan tampilan, sitologi, berat jenis. Pungsi pleura diantara linea aksilaris anterior dan posterior, pada sela iga ke-8. Didapati cairan yang mungkin serosa (serotorak), berdarah (hemotoraks), pus (piotoraks) atau kilus (kilotoraks). Bila cairan serosa mungkin berupa transudat (hasil bendungan) atau eksudat (hasil radang). ∗ Cairan pleural dianalisis dengan kultur bakteri, pewarnaan gram, basil tahan asam (untuk TBC), hitung sel darah merah dan putih, pemeriksaan kimiawi (glukosa, amylase, laktat dehidrogenase (LDH), protein), analisis sitologi untuk sel-sel malignan, dan pH. ∗ Biopsi pleura mungkin juga dilakukan

F. Penatalaksanaan medis  Tujuan pengobatan adalah untuk menemukan penyebab dasar, untuk mencegah penumpukan kembali cairan, dan untuk menghilangkan ketidaknyamanan serta dispneu. Pengobatan spesifik ditujukan pada penyebab dasar (co; gagal jantung kongestif, pneumonia, sirosis).  Torasentesis dilakukan untuk membuang cairan, untuk mendapatkan specimen guna keperluan analisis dan untuk menghilangkan disneu.  Bila penyebab dasar malignansi, efusi dapat terjadi kembali dalam beberapa hari tatau minggu, torasentesis berulang mengakibatkan nyeri, penipisan protein dan elektrolit, dan kadang pneumothoraks. Dalam keadaan ini kadang diatasi dengan pemasangan selang dada dengan drainase yang dihubungkan ke system drainase water-seal atau pengisapan untuk mengevaluasiruang pleura dan pengembangan paru.

 Agen yang secara kimiawi mengiritasi, seperti tetrasiklin dimasukkan kedalam ruang pleura untuk mengobliterasi ruang pleural dan mencegah akumulasi cairan lebih lanjut.  Pengobatan lainnya untuk efusi pleura malignan termasuk radiasi dinding dada, bedah plerektomi, dan terapi diuretic. G. Water Seal Drainase (WSD) 1. Pengertian WSD adalah suatu unit yang bekerja sebagai drain untuk mengeluarkan udara dan cairan melalui selang dada. 2. Indikasi a. b. c. e. Pneumothoraks karena rupture bleb, luka tusuk tembus Hemothoraks karena robekan pleura, kelebihan anti koagulan, pasca bedah toraks Torakotomi Empiema karena penyakit paru serius dan kondisi inflamasi d. Efusi pleura

3. Tujuan Pemasangan ∗ ∗ ∗ ∗ Untuk mengeluarkan udara, cairan atau darah dari rongga pleura Untuk mengembalikan tekanan negative pada rongga pleura Untuk mengembangkan kembali paru yang kolap dan kolap sebagian Untuk mencegah reflux drainase kembali ke dalam rongga dada.

4. Tempat pemasangan a. Apikal  Letak selang pada interkosta III mid klavikula  Dimasukkan secara antero lateral  Fungsi untuk mengeluarkan udara dari rongga pleura

irama jantung gallop. botol penghisap control ditambahkan ke system dua botol. Pernapasan Gejala : Kesulitan bernapas. Integritas ego Tanda : ketakutan. botol pertama mengumpulkan cairan/drainase dan botol kedua adalah botol water seal. nyeri/kenyamanan Gejala tergantung ukuran/area terlibat : Nyeri yang diperberat oleh napas dalam. Batuk.b. H. Aktifitas/istirahat Gejala : dispneu dengan aktifitas ataupun istirahat 2. Sirkulasi Tanda : Takikardi. Basal  Letak selang pada interkostal V-VI atau interkostal VIII-IX mid aksiller  Fungsi : untuk mengeluarkan cairan dari rongga pleura 5. hipertensi/hipotensi. • System tiga botol Sistem tiga botol. Jenis WSD • Sistem satu botol Sistem drainase ini paling sederhana dan sering digunakan pada pasien dengan simple pneumotoraks • Sistem dua botol Pada system ini. perilaku distraksi 6. disritmia. kemungkinan menyebar ke leher. System tiga botol ini paling aman untuk mengatur jumlah penghisapan. Makanan / cairan Adanya pemasangan IV vena sentral/ infus 5. gelisah 4. riwayat bedah dada/trauma. DVJ 3. abdomen Tanda : Berhati-hati pada area yang sakit. . bahu. Pengkajian 1.

penggunaan otot aksesori. Bunyi napas menurun dan fremitus menurun (pada sisi terlibat). penurunan pengembangan (area sakit). perubahan tanda vital) Auskultasi bunyi napas Catat pengembangan dada dan posisi trakea. proses inflamasi. perubahan kedalaman pernapasan. batas cairan Klem selang pada bagian bawah unit drainase bila terjadi kebocoran Catat karakter/jumlah drainase selang dada. gangguan musculoskeletal. nyeri/ansietas. Kulit : pucat.d penurunan ekspansi paru (akumulasi udara/cairan). ∗ periksa pengontrol penghisap. Diagnosa Keperawatan 1. gangguan pengembangan dada. e.berkeringat. Perkusi dada : hiperresonan diarea terisi udara dan bunyi pekak diarea terisi cairan Observasi dan palpasi dada : gerakan dada tidak sama (paradoksik) bila trauma atau kemps. sianosis. retraksi interkostal. c. krepitasi subkutan I. kaji fremitus. Tujuan : pola nafas efektif Kriteria hasil : ∗ ∗ ∗ ∗ ∗ ∗ Menunjukkan pola napas normal/efektif dng GDA normal Bebas sianosis dan tanda gejala hipoksia Identifikasi etiologi atau factor pencetus Evaluasi fungsi pernapasan (napas cepat. Pola napas tidak efektif b. sianosis. Observasi gelembung udara botol penampung d. takipneu. Pertahankan posisi nyaman biasanya peninggian kepala tempat tidur Bila selang dada dipasang : a. GDA taknormal. sianosis. Awasi pasang surutnya air penampung Berikan oksigen melalui kanul/masker Intervensi : . penggunaan otot aksesori pernapasan pada dada. Kemungkinan dibuktikan oleh : dispneu.Tanda : Takipnea. b.

Nyeri dada b. skala dan intensitas nyeri Ajarkan pada klien tentang manajemen nyeri dengan distraksi dan relaksasi Amankan selang dada untuk membatasi gerakan dan menghindari iritasi Kaji keefektifan tindakan penurunan rasa nyeri Berikan analgetik sesuai indikasi Intervensi : 3. catat gambaran keamanan Amankan unit drainase pada tempat tidur dengan area lalu lintas rendah Awasi sisi lubang pemasangan selang. catat kondisi kulit.d factor-faktor biologis (trauma jaringan) dan factor-faktor fisik (pemasangan selang dada) Tujuan : Nyeri hilang atau berkurang Kriteria hasil : ∗ ∗ ∗ ∗ ∗ Pasien mengatakan nyeri berkurang atau dapat dikontrol Pasien tampak tenang Kaji terhadap adanya nyeri. ganti ulang kasa penutup steril sesuai kebutuhan Anjurkan pasien menghindari berbaring/menarik selang Observasi tanda distress pernapasan bila kateter torak lepas/tercabut. Resiko tinggi trauma/henti napas b. kurang pendidikan keamanan/pencegahan Tujuan : tidak terjadi trauma atau henti napas Kriteria hasil : ∗ ∗ ∗ ∗ ∗ Mengenal kebutuhan/mencari bantuan untuk mencegah komplikasi Memperbaiki/menghindari lingkungan dan bahaya fisik Kaji dengan pasien tujuan/fungsi unit drainase. Intervensi : 4.2.d proses cidera. system drainase dada. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan aturan pengobatan Tujuan : Mengetahui tentang kondisinya dan aturan pengobatan Kriteria hasil : Menyatakan pemahaman tentang masalahnya .

6. EGC. 2000. 7. Patofisiologi : Konsep klinis proses-pross penyakit. Ed2.1982. Hudak. Jakarta.Carolyn M. WATER SEAL DRAINAGE (WSD) Posted in July 30th. 1999 3. Smeltzer c Suzanne. FKUI. Jakarta. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. 5. EGC. DAFTAR PUSTAKA 1. Keperawatan kritis : pendekatan holistic.EGC. EGC. Jakarta. Ed3. 2002. Ed4.1. Brunner and Suddarth’s. dkk. Ed5. Wim de Jong. Buku Ajar Keperawatan medical Bedah. Jakrta. EGC. 8. Susan Martin Tucker. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta EGC. Buku Ajar Ilmu Bedah. Doenges E Mailyn. Media Aesculapius. latihan Berikan informasi tentang apa yang ditanyakan klien Berikan reinforcement atas usaha yang telah dilakukan klien .1. 1998. 1997. Standar perawatan Pasien: proses keperawatan. Price. Edisi Revisi. Purnawan J. EGC. Jakarta. dan evaluasi. Vol.- Mengikuti program pengobatan dan menunjukkan perubahan pola hidup untuk mencegah terulangnya masalah Intervensi : ∗ ∗ ∗ ∗ ∗ Kaji pemahaman klien tentang masalahnya Identifikasi kemungkinan kambuh/komplikasi jangka panjang Kaji ulang praktik kesehatan yang baik. 2. Syamsuhidayat. Keperawatan medical bedah. 1997 4. Jakarta. Vol. 2008 by indonesian nurse in Bahasa Indonesia . Sylvia A. Ed8. istirahat. nutrisi. 1995. Baughman C Diane. diagnosis.

sehingga dapat ditentukan perlu operasi torakotomi atau tidak. Usahakan agar pasien dapat merasa enak dengan memasang bantal kecil dibelakang. Bullow Drainage / WSD Pada trauma toraks. sehingga rasa sakit di bagian masuknya slang dapat dikurangi. Untuk rasa sakit yang hebat akan diberi analgetik oleh dokter. dan perlu diperhatikan agar kain kassa yang menutup bagian masuknya slang dan tube tidak boleh dikotori waktu menyeka tubuh pasien.Penetapan slang. sehingga slang yang dimasukkan tidak terganggu dengan bergeraknya pasien. Dalam perawatan yang harus diperhatikan : . sebelum penderita jatuh dalam shoks. Perdarahan dalam 24 jam setelah operasi umumnya 500 – 800 cc. Mendeteksi di bagian dimana masuknya slang. Mencegah infeksi di bagian masuknya slang. Jika perdarahan dalam 1 jam melebihi 3 cc/kg/jam. . merubah posisi tubuh sambil mengangkat badan. WSD dapat berarti : a. Diagnostik : Menentukan perdarahan dari pembuluh darah besar atau kecil. c. Perawatan WSD dan pedoman latihanya : a. atau memberi tahanan pada slang. ? Kontrol dengan pemeriksaan fisik dan radiologi. 2. Jika banyaknya hisapan bertambah/berkurang. melakukan pernapasan perut. Preventive : Mengeluarkan udaran atau darah yang masuk ke rongga pleura sehingga “mechanis of breathing” tetap baik. ? Dengan WSD/Bullow drainage diharapkan paru mengembang.1. Slang diatur se-nyaman mungkin. dan pengganti verband 2 hari sekali. jangan batuk waktu slang diklem. Mendorong berkembangnya paru-paru. – Pergantian posisi badan. ? Latihan napas dalam. harus dilakukan torakotomi. atau menaruh bantal di bawah lengan atas yang cedera. c. ? Latihan batuk yang efisien : batuk dengan posisi duduk. perhatikan juga secara bersamaan keadaan pernapasan. Terapi : Mengeluarkan darah atau udara yang terkumpul di rongga pleura. b. Mengembalikan tekanan rongga pleura sehingga “mechanis of breathing” dapat kembali seperti yang seharusnya. Perhatikan keadaan dan banyaknya cairan suction. d. b. Mengurangi rasa sakit dibagian masuknya slang.

warna muka. keluhan pasien.. ? Perlu sering dicek. Perawatan “slang” dan botol WSD/ Bullow drainage. ? Perhatikan banyaknya cairan. coba merubah posisi pasien dari terlentang. denyut nadi. keadaan cairan. Suction harus berjalan efektif : Perhatikan setiap 15 – 20 menit selama 1 – 2 jam setelah operasi dan setiap 1 – 2 jam selama 24 jam setelah operasi.e. 4) Setiap penggantian botol/slang harus memperhatikan sterilitas botol dan slang harus tetap steril. botol terjatuh karena kesalahan dll. misal : slang terlepas. 2) Setiap hendak mengganti botol dicatat pertambahan cairan dan adanya gelembung udara yang keluar dari bullow drainage.. 3) Penggantian botol harus “tertutup” untuk mencegah udara masuk yaitu meng”klem” slang pada dua tempat dengan kocher. ke 1/2 terlentang atau 1/2 duduk ke posisi miring bagian operasi di bawah atau di cari penyababnya misal : slang tersumbat oleh gangguan darah. • • • • • • . Login • • This blog post All blog posts Subscribe to this blog post's comments through. dengan memakai sarung tangan. diukur berapa cairan yang keluar kalau ada dicatat. 6) Cegah bahaya yang menggangu tekanan negatip dalam rongga dada. keadaan pernapasan. d. slang bengkok atau alat rusak. atau lubang slang tertutup oleh karena perlekatanan di dinding paru-paru. apakah tekanan negative tetap sesuai petunjuk jika suction kurang baik. 1) Cairan dalam botol WSD diganti setiap hari . tekanan darah. 5) Penggantian harus juga memperhatikan keselamatan kerja diri-sendiri.

Be the first one! ... Close Login to IntenseDebate Or create an account Username or Email: Password: Forgot login? OpenID Cancel Login Close Login with your OpenID Or create an account using OpenID OpenID URL: Back Cancel Login Dashboard | Edit profile | Logout • þÿ þÿ Logged in as There are no comments posted yet.• • RSS Feed Subscribe via email Subscribe Follow the discussion þÿ Comments Logging you in.

Pnemococcus 3. 2. Empiema adalah penumpukan materi purulen pada areal pleural ( Hudak & Gallo. Pengertian. 2000 ). Drainase cairan pleura atau pus tergantung pada tahapan penyakit dengan : . III. Manisfestasi Klinik. berkeringat malam. nyeri pleural. arokreksia . Streptococcus. 1997 ) II. pendataran pada perkusi dada. 1. Empiema adalah penumpukan cairan terinfeksi atau pus pada cavitas pleura ( Diane C. Stapilococcus 2. Komplikasi. 3. V. Perubahan Fibrotik yang tidak dapat sembuh yang menggangu ventilasi paru yang disebabkan terjebaknya paru pada sisi yang terkena. Karena kuman menjalar perkontiniutatum dan menembus pleura visceral . Evaluasi Diagnosis Foto dada dan thoraksintesis. VI. Tidak terdapatnya bunyi nafas. • • • DASAR EMPIEMA Empiema adalah keadaan terkumpulnya nanah ( pus ) didalam ronggga pleura dapat setempat atau mengisi seluruh rongga pleura( Ngastiyah. Baughman. IV. Secara hematogen. Terjadinya empiema dapat melalui tiga jalur: Patogenesis. kuman dari focus lain sampai pada pleura visceral.dan penurunan berat badan. Demam.1997). Penyebab.Post a new comment Askep Empiema KONSEP I. dispneu. 1. anti biaotika (dosis besar ) dan atau streptokinase. Infeksi darti luar dinding thoraks yang menjalar kedalam pleura misalnya pada trauma thoraks. Penatalaksanaan (Medik). Sasaran penetalaksanaan adalah mengaliran cavitas pleura hingga mencapai ekspansi paru yang optimal. VII. Sebagai komplikasi pneumoni dan abses paru. penurunan premitus. abses dinding thoraks. Dicapai dengan drainase yang adekuat.

C. Bantu pasien mengatasi kondisi. peningkatan produksi secret. instruksi dalam latihan pernafasan (pernafasan bibir dan pernafasan diagpragmatik ) c. Mempertahankan patensi jalan nafas 2. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan bronchus spsame. peningkatan factor resiko. . Berikan perawatan spesifik terhadap metoda drainase pleural. VIII. Drainase dada terbuka untuk mengeluarkan pus pleural yang mengental dan debris serta mesekresi jaringan pulmonal yang mendasari penyakit. episode batuk hilang timbul. kelemahan • Kriteria hasal : 1. E. I. Integritas ego. Intervensi Keperawatan. kaji dan pantau suara pernafasan . keletihan. Membantu tindakan untuk mempermudah pertukaran gas. A. jika imflamasi telah bertahan lama. bila dilakukan fungsi plera atau dipasang WSD cara menolong tidak berbeda. malaise. indikasi bila nanah sangat kental. Pertahankan jalan nafasa paten dengan bunyi nafas bersih 2. b. penurunan libido. Pernafasan . Dispneu pada saat istirahat. B. Gejala . H. hubungan ketergantungan. kelemahan. Higiene . memperlambat memburuknya kondisi 5. Meningkatkan masukan nutrisi 4. Seksualitas. Dekortikasi.a. . Interaksi social . DIAGNOSA KEPERAWATAN. nafas pendek batuk menetap dengan produksi sputum. Perawatan pada umumnya sama dengan pasien pleuritis. pnemothoraks c. Memberikan informasi tentang proses penyakit / prognosis dan program pengobatan. Aktivitas / istirahat. Prioritas Keperawatan. D. Drainase tertutup dengan WSD. G. d. Auskultasi bunyi nafas catat adanya bunyi nafas. riwayat pneumoni berulang . ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN EMPIEMA . Keamanan. pembengkakan pada ekstremitas bawah. 3. F. setelah empiema sembuh pasien perlu pengobatan TB. Dasar data pengkajian. Menunjukkan perilaku batuk efektif dan mengeluarkan secret • Intervensi a. a. Ketidakmampuan melakukan ADL karena sulit bernapas. 1. Aspirasi jarum ( Thorasintesis ). Bila penyebab adalah kuman TBC maka. Mencegah komplikasi. penurunan kemampuan melakukan ADL. 1. kurang sistem pendukung. penyakit lama. INTERVENSI DAN RASIONAL. Ketidakmampuan untuk tidur. Sirkulasi . Makanan/cairan .jika cairan tidak terlalu kental b. perubahan pola hidup. mual muntah nafsu makan menurun . riwayat reaksi alergi atau sensitive terhadap zat / factor lingkungan.

c. menurunkan spasme jalan nafas. Tingkatkan masukan cairan sampai 3000 ml per hari sesuai toleransi jantung. Kriteria hasil Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenisasi jaringan adekuat. Catat adanya atau derajat dispneu.kedalaman pernapasan Rasional : Berguna dalam evaluasi derajat distress pernapasan dan atau kronisnya penyakit b.ansietas dan distress pernafasan Rasional : Disfungsi pernafasan merupakan tahap proses kronis yang yang dapat menimbulkan infeksi atau reaksi alergi. d.bunyi tambahan Rasional : Bunyi nafas redup karena penurunan aliran udara . Observasi karakteristik batuk Rasional : Batuk dapat menetap tetapi tidak efektif khususnya bila pasien lansia. atau kelemahan. Krekels basah menyebar menujukkan cairan pada dekompensasi jantung. Memberikan obata sesaui indikasi Rasional : Merilekskan otot halus dan menurunkan kongesti lokal. misalnya peninggian kepala tempat tidur. kerusakan alveoli . Tinggikan kepala tempat tidur Rasional . Bantu latihan nafas abdomen atau bibir. Pengiriman oksigen dapat diperbaiki dengan posisi tinggi dan latihan napas untuk menurunkan kolap jalan napas. tachipneu merupakan derajat yan ditemukan adanya proses infeksi akut. d. e. Palpasi primitus. Kaji frekwensi. c. sakit akut. Diagnosa keperawatan : Pertukaran gas. Rasional : Hidrasi membantu menurunkan kekentalan secret .mengi .berpartisipasi dalam program pengobatan. dan produksi mukosa. 2. mengi. f. Rasional : Peninggian kepala tempat tidur mempermudah fungsi pernafasan dengan menggunakan gravitasi. • Intervensi a. b. Kaji pasien untuk posisi yang nyaman . gelisah . Rasional : . Rasional : Memberikan pasien berbagao cara untuk mengatasi dan mengontrol dispneu dan menurunkan jebakan udara. Auskultasi bunyi nafas catat area penurunan aliran udara . kerusakan berhubungan dengan gangguan suplai oksigen . mempermudah pengeluaran g.Rasional : Untuk mengetahui adanya obstruksi jalan nafas. indikasi spasme bronchus / tertahannya sekret.

Auskultasi bunyi usus . Kaji kebiasaan diit . kuning atau kehijauan menujukkan adanya infeksi paru. c. Tachikardia . Rasional. b.Penurunan getarn fibrasi diduga adanya pengumpulan cairan atau udara terjebak e. Diagnosa keperawatan : Nutrisi. perubahan pola hidup untuk meningkatkan lingkungan yang aman. Awasi suhu Rasional : Demam dapat terjadi karena infeksi dan atau dehidrasi. 3. menyusun tujuan berat badan dan evaluasi keadekuatan rencana nutrisi. Observasi warna . kelemahan. Rasional : Metode makan dan kebutuhan dengan upaya kalori didasarkan pada kebutuhan individu untuk memberikan nutrisi maksimal dengan upaya minimal pasien /penggunaan energi 4.bau sputum.catat derajat kesulitan makan Rasional : Pasien distress pernafasan akut sering anoreksia karena dispneu. f.dan minuman karbonat Rasional : Dapat menghasilakan distensi abdomen yang menganggu nafas abdomen dan gerakan diagframa yang dapat meningkatan dispnea. c. Hindari makan yang mengandung gas. Intervensi : a. . perubahan tekanan darah dapat menujukkan efek hipoksemia sistemik pada fungsi jantung. kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan dispneu. b. Awasi tanda vital dan irama jantung. Dorong kesimbangan antara aktivitas dan istirahat. Kriteria hasil : Menunjukkan peningkatan berat badan mempertahankan berat badan Intervensi : a. Rasional : Penurunan atau hipoaktif bising usus menunjukkan motilitas gaster dan kostipasi yang berhubungan dengan pembatasan pemasukan cairan. penurunan aktivitas dan hipoksemia. Rasional : Sekret berbau. Hindari makan yang sangat panas dan dingin Rasional : Suhu ekstrim dapat mencetuskan / meningkatkan spasme batuk e. pilihan makanan buruk. perubahan. Timbang berat badan sesuai indikasi Rasional : Berguna untuk menetukan kebutuhan kalori. Diagnosa keperawatan : Resiko infeksi Kriteria hasil : • Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah / menurunkan resiko infeksi • Menunjukkan teknik. d.disritmia. anoreksia. mual muntah. produksi sputum. Kolaborasi dengan ahli gizi / nutrisi.

Kaji efek bahaya merokok dan nasehatkan untuk menghentikan rokok. Intervensi : a. DAFTAR PUSTAKA Hudak & Gallo. Rasional : Penghentian merokok dapat menghambat kemajuan PPOM d. Perawatan anak sakit . Rencana asuhan keperawatan. Berikan latihan atau batuk efektif Rasional : Pernafasan bibir dan nafas abdomen / diagframatik menguatkan otot pernafasan. Ngastiyah. Rasional : Malnutrisi dapat mempengaruhi kesehatan umum dan menurunkan tahanan terhadap infeksi. Kolaborasi pemeriksaan sputum. EGC. Diskusi pentingnya mengikuti perawatan medik ( Foto Thoraks dan kultur sputum ) Rasional : Pengawasan proses penyakit untuk membuata program therapy . Jakarta Diana C. membantu meminimalkan kolaps jalan nafas. Jakarta.. pendekatan untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. ( 1997 ). Jakarta. peningkatan penyembuhan . Doengoes. d. Kriteria hasil : Nyatakan atau pemahaman kondisi atau proses penyakit. Keperawatan kritis : suatu pendekatan holistic. Jakarta. (2000 ). Rasional : Menurunkan ansietas dan dapat menimbulkan perbaikan b. Baughman. ( 1997 ). Rasional : Dilakukan untuk mengidentifikasi organisme penyebab dan kerentanan terhadap anti microbial 5. c. Diagnosa keperawatan : Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang penyakitnya.Rasional : Menurunkan konsumsi / kebutuhan kesimbangan oksigen dan memperbaiki pertahan pasien terhadapa infeksi. Marilyn E. Jelaskan proses penyakit individu. Diskusi masukan nutrisi adekuat. EGC. e. ( 2000 ). Patofisiologi. EGC. By: HAy_Blue ^_^ Diposkan oleh Hayato Frizi di 17:37 . Kaji kebutuhan / dosis oksigen untuk pasien Rasional : Menurunkan resiko kesalahan penggunaan oksigen dan komplikasi lanjut. e. EGC.

Fisioterapi dada adalah salah satu dari pada fisioterapi yang sangat berguna bagi penderita penyakit respirasi baik yang bersifat akut maupun kronis. Fisioterapi dada ini meliputi rangkaian : postural drainage. Fisioterapi dada ini dapat digunakan untuk pengobatan dan pencegahan pada penyakit paru obstruktif menahun. Jadi tujuan pokok fisioterapi pada penyakit paru adalah mengembalikan dan memelihara fungsi otot-otot pernafasan dan membantu membersihkan sekret dari bronkus dan untuk mencegah penumpukan sekret. S. panas. Ns. air. Dalam fisioterapi tenaga alam yang dipakai antara lain listrik. penyakit pernafasan restriktif termasuk kelainan neuromuskuler dan penyakit paru restriktif karena kelainan parenkim paru seperti fibrosis dan pasien yang mendapat ventilasi mekanik.Label: Kesehatan 0 komentar: Poskan Komentar Link ke posting ini Buat sebuah Link ASKEP FISIOTERAPI DADA 14 Februari 2009 pada 9:54 am (fisioterapi dada) Tags: askep. dan vibrasi Kontra indikasi fisioterapi dada ada yang bersifat mutlak seperti kegagalan jantung. fisioterapi dada KEBUTUHAN DASAR MANUSIA FISIOTERAPI DADA By. memperbaiki pergerakan dan aliran sekret. renjatan dan perdarahan masif. sinar. status asmatikus. dingin. DEFINISI Fisioterapi adalah suatu cara atau bentuk pengobatan untuk mengembalikan fungsi suatu organ tubuh dengan memakai tenaga alam. massage dan latihan yang mana penggunaannya disesuaikan dengan batas toleransi penderita sehingga didapatkan efek pengobatan. AFIYAH HIDAYATI. sedangkan kontra .Kp A. Fisioterapi dada ini walaupun caranya kelihatan tidak istimewa tetapi ini sangat efektif dalam upaya mengeluarkan sekret dan memperbaiki ventilasi pada pasien dengan fungsi paru yang terganggu. perkusi.

1. 2. Edema paru 5.3. Pasien dengan atelektasis yang disebabkan oleh sekret 2. Pasien yang melakukan tirah baring yang lama 1. Efusi pleura yang luas Persiapan pasien untuk postural drainase.1.4. 2. Hemoptisis 3.4. Mengingat kelainan pada paru bisa terjadi pada berbagai lokasi maka PD dilakukan pada berbagai posisi disesuaikan dengan kelainan parunya. Apakah pasien mempunyai refleks batuk atau memerlukan suction untuk mengeluarkan sekret.3. Pada penderita dengan produksi sputum yang banyak PD lebih efektif bila disertai dengan clapping dan vibrating. Terapis harus di depan pasien untuk melihat perubahan yang terjadi selama Postural Drainase. Pasien dengan batuk yang tidak efektif . Pasien yang memakai ventilasi 1. PD dapat dilakukan untuk mencegah terkumpulnya sekret dalam saluran nafas tetapi juga mempercepat pengeluaran sekret sehingga tidak terjadi atelektasis. Profilaksis untuk mencegah penumpukan sekret yaitu pada : 1. Longgarkan seluruh pakaian terutama daerah leher dan pinggang.2. patah tulang iga atau luka baru bekas operasi. Indikasi untuk Postural Drainase : 1. Postural drainase Postural drainase (PD) merupakan salah satu intervensi untuk melepaskan sekresi dari berbagai segmen paru dengan menggunakan pengaruh gaya gravitasi. Mobilisasi sekret yang tertahan : 2. 2. 4.. Pasien dengan pneumonia 2. Cara melakukan pengobatan : 1. hipertensi. B.5.indikasi relatif seperti infeksi paru berat.2. tumor paru dengan kemungkinan adanya keganasan serta adanya kejang rangsang. 4. Tension pneumotoraks 2. Postoral Drainase dilakukan dua kali sehari. Pasien yang produksi sputum meningkat seperti pada fibrosis kistik atau bronkiektasis 1. Periksa nadi dan tekanan darah. Pasien neurologi dengan kelemahan umum dan gangguan menelan atau batuk Kontra indikasi untuk postural drainase : 1. Pasien pre dan post operatif 2. 3. Gangguan sistem kardiovaskuler seperti hipotensi. bila dilakukan pada beberapa . Terangkan cara pengobatan kepada pasien secara ringkas tetapi lengkap. infark miokard akutrd infark dan aritmia. Pasien dengan abses paru 2. 1. Waktu yang terbaik untuk melakukan PD yaitu sekitar 1 jam sebelum sarapan pagi dan sekitar 1 jam sebelumtidur pada malam hari.

Perkusi dapat dilakukan dengan membentuk . apakah sekret sangat encer atau kental. Pasien tidak demam dalam 24 – 48 jam. 4. 6. Pada auskultasi apakah suara pernafasan meningkat dan sama kiri dan kanan. Bagaimana perasaan pasien tentang pengobatan apakah ia merasa lelah. Suara pernafasan normal atau relative jelas. Kriteria untuk tidak melanjutkan pengobatan : 1. Dilakukan sebelum makan pagi dan malam atau 1 s/d 2 jam sesudah makan. Sambil PD bisa dilakukan clapping dan vibrating 9) Berikan tisu untuk membersihkan sputum 10) Minta pasien untuk duduk. Tujuan melepaskan sekret yang tertahan atau melekat pada bronkhus. 3. data klinis. 3. Apakah foto toraks ada perbaikan. Bagaimana efek yang nampak pada vital sign. nafas dalam dan batuk efektif 11) Evaluasi respon pasien (pola nafas. adakah temperatur dan nadi tekanan darah. Apakah batuk telah produktif. Perkusi dada merupakan energi mekanik pada dada yang diteruskan pada saluran nafas paru. Pada inspeksi apakah kedua sisi dada bergerak sama. Alat dan bahan : 1) Bantal 2-3 2) Tisu wajah 3) Segelas air hangat 4) Masker 5) Sputum pot Prosedur kerja : 1) Jelaskan prosedur 2) Kaji area paru. sputum: warna. suara pernafasan) 12) Cuci tangan 13) Dokumentasi (jam. foto x-ray 3) Cuci tangan 4) Pakai masker 5) Dekatkan sputum pot 6) Berikan minum air hangat 7) Atur posisi pasien sesuai dengan area paru yang akan didrainage 8. Pasien mampu untuk bernafas dalam dan batuk. sakit. hari. tanggal. merasa enakan. Minta pasien mempertahankan posisi tersebut selama 10-15 menit. 4. 5. maka prosedur dapat diulangi kembali dengan memperhatikan kondisi pasien C.posisi tidak lebih dari 40 menit. 2. respon pasien) 14) Jika sputum masih belum bisa keluar. tiap satu posisi 3 – 10 menit. Penilaian hasil pengobatan : 1. volume. Clapping/Perkusi Perkusi adalah tepukan dilakukan pada dinding dada atau punggung dengan tangan dibentuk seperti mangkok. 2. Foto toraks relative jelas. 3.

. Sesama postural drainase terapis biasanya secara umum memilih cara perkusi atau vibrasi untuk mengeluarkan sekret. Aliran terjadi dari cabang-cabang tersebut di atas ke bronki utama. lndikasi untuk perkusi : Perkusi secara rutin dilakukan pada pasien yang mendapat postural drainase. Skin graf yang baru 4. Vibrating Vibrasi secara umum dilakukan bersamaan dengan clapping. infeksi kulit 5. Patah tulang rusuk 2. Aliran terjadi dari cabang-cabang tersebut di atas ke bronki utama. Pasien disuruh bernafas dalam dan kompresi dada dan vibrasi dilaksanakan pada puncak inspirasi dan dilanjutkan sampai akhir ekspirasi. Vibrasi dilakukan hanya pada waktu pasien mengeluarkan nafas.kedua tangan deperti mangkok. Perkusi harus dilakukan hati-hati pada keadaan : 1. napas dalam dengan Purse lips breathing 3) Perkusi pada tiap segmen paru selama 1-2 menit dengan kedua tangan membentuk mangkok D. minta pasien untuk batuk Gambar A : Segmen apikal pada lobus kanan atas dan sub segmen apikal dari segmen posterior pada lobus kiri atas. Prosedur kerja : 1) Meletakkan kedua telapak tangan tumpang tindih diatas area paru yang akan dilakukan vibrasi dengan posisi tangan terkuat berada di luar 2) Anjurkan pasien napas dalam dengan Purse lips breathing 3) Lakukan vibrasi atau menggetarkan tangan dengan tumpuan pada pergelangan tangan saat pasien ekspirasi dan hentikan saat pasien inspirasi 4) Istirahatkan pasien 5) Ulangi vibrasi hingga 3X. Vibrasi dilakukan dengan cara meletakkan tangan bertumpang tindih pada dada kemudian dengan dorongan bergetar. Kontra indikasinya adalah patah tulang dan hemoptisis. Vibrasi dengan kompresi dada menggerakkan sekret ke jalan nafas yang besar sedangkan perkusi melepaskan/melonggarkan sekret. Gambar B : Segmen posterior pada lobus kanan atas dan sub segmen posterior dada segmen apikal posterior pada lobus kiri atas. Luka bakar. Emfisema subkutan daerah leher dan dada 3. Pneumotoraks tension yang tidak diobati Alat dan bahan : 1) Handuk kecil Prosedur kerja : 1) Tutup area yang akan dilakukan clapping dengan handuk untuk mengurangi ketidaknyamanan 2) Anjurkan pasien untuk rileks. Emboli paru 6. jadi semua indikasi postural drainase secara umum adalah indikasi perkusi.

Gambar H : (Posisi kepala ke bawah. (Posisi kepala ke bawah. Aliran terjadi dan percabangan bronkus ke bronkus yang bersangkutan. Gambar D : Segmen superior pada kedua belah lobus atas. Dengan memiringkan badan ke kiri dari ke kanan secara berganti-ganti aliran dari lobus atas kanan dan kiri ke bronkus utama. . tubuh oblik kanan) Sasaran : Lobus tengah kanan. Aliran dari percabangan tersebut ke bronkus kanan. Dengan sebuah bantal yang diletakkan di bawah perut tubuh dibuat agak dalam posisi menungging. Aliran dari percabangan tersebut ke bronkus kiri. Gambar G : Segmen basal lateral pada lobus bawah kiri. Aliran terjadi dari percabangan bronkus ke bronkus kanan. Gambar F : Segmen basal lateral pada lobus bawah kanan. Aliran terjadi dari percabangan bronlms kebonkus kiri. aliran terjadi dari Cabang tersebut ke bronkus utama. oblik kiri) Sasaran : Segmen lingular pada lobus atas kiri. Gambar E : Segmen basal posterior pada kedua belah lobus bawah.Gambar C : Segmen anterior pada kedua belah lobus atas.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful