1

©2003 Digitized by USU digital library ASUHAN KEPERAWATAN ASMA BRONKIAL DUDUT TANJUNG, S.Kp. Fakultas Kedokteran Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Sumatera Utara Pengertian Asma bronkhial adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermitten, reversible dimana trakeobronkial berespon secara hiperaktif terhadap stimuli tertentu. Asma bronchial adalah suatu penyakit dengan ciri meningkatnya respon trakea dan bronkus terhadap berbagai rangsangan dengan manifestasi adanya penyempitan jalan nafas yang luas dan derajatnya dapat berubah-ubah baik secara spontan maupun hasil dari pengobatan ( The American Thoracic Society ). Klasifikasi Berdasarkan penyebabnya, asma bronkhial dapat diklasifikasikan menjadi 3 tipe, yaitu : 1. Ekstrinsik (alergik) Ditandai dengan reaksi alergik yang disebabkan oleh faktor-faktor pencetus yang spesifik, seperti debu, serbuk bunga, bulu binatang, obat-obatan (antibiotic dan aspirin) dan spora jamur. Asma ekstrinsik sering dihubungkan dengan adanya suatu predisposisi genetik terhadap alergi. Oleh karena itu jika ada faktor-faktor pencetus spesifik seperti yang disebutkan di atas, maka akan terjadi serangan asma ekstrinsik. 2. Intrinsik (non alergik) Ditandai dengan adanya reaksi non alergi yang bereaksi terhadap pencetus yang tidak spesifik atau tidak diketahui, seperti udara dingin atau bisa juga disebabkan oleh adanya infeksi saluran pernafasan dan emosi. Serangan asma ini menjadi lebih berat dan sering sejalan dengan berlalunya waktu dan dapat berkembang menjadi bronkhitis kronik dan emfisema. Beberapa pasien akan mengalami asma gabungan. 3. Asma gabungan Bentuk asma yang paling umum. Asma ini mempunyai karakteristik dari bentuk alergik dan non-alergik. Etiologi Ada beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi dan presipitasi timbulnya serangan asma bronkhial. a. Faktor predisposisi Genetik Dimana yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum diketahui bagaimana cara penurunannya yang jelas. Penderita dengan penyakit alerg biasanya mempunyai keluarga dekat juga menderita penyakit alergi. Karena adanya bakat alergi ini, penderita sangat mudah terkena penyakit asma bronkhial jika terpapar dengan foktor pencetus. Selain itu hipersentifisitas saluran pernafasannya juga bisa diturunkan. b. Faktor presipitasi Alergen Dimana alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :

2

©2003 Digitized by USU digital library 1. Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan ex: debu, bulu binatang, serbuk bunga, spora jamur, bakteri dan polusi 2. Ingestan, yang masuk melalui mulut

ex: makanan dan obat-obatan 3. Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit ex: perhiasan, logam dan jam tangan Perubahan cuaca Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi asma. Atmosfir yang mendadak dingin merupakan faktor pemicu terjadinya serangan asma. Kadang-kadang serangan berhubungan dengan musim, seperti: musim hujan, musim kemarau, musim bunga. Hal ini berhubungan dengan arah angin serbuk bunga dan debu. Stress Stress/ gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma, selain itu juga bisa memperberat serangan asma yang sudah ada. Disamping gejala asma yang timbul harus segera diobati penderita asma yang mengalami stress/gangguanemosi perlu diberi nasehat untuk menyelesaikan masalah pribadinya. Karena jika stressnya belum diatasi maka gejala asmanya belum bisa diobati. Lingkungan kerja Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan asma. Hal ini berkaitan dengan dimana dia bekerja. Misalnya orang yang bekerja di laboratorium hewan, industri tekstil, pabrik asbes, polisi lalu lintas. Gejala ini membaik pada waktu libur atau cuti. Olah raga/ aktifitas jasmani yang berat Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika melakukan aktifitas jasmani atau aloh raga yang berat. Lari cepat paling mudah menimbulkan serangan asma. Serangan asma karena aktifitas biasanya terjadi segera setelah selesai aktifitas tersebut. Patofisiologi Asma ditandai dengan kontraksi spastic dari otot polos bronkhiolus yang menyebabkan sukar bernafas. Penyebab yang umum adalah hipersensitivitas bronkhioulus terhadap benda-benda asing di udara. Reaksi yang timbul pada asma tipe alergi diduga terjadi dengan cara sebagai berikut : seorang yang alergi mempunyai kecenderungan untuk membentuk sejumlah antibody Ig E abnormal dalam jumlah besar dan antibodi ini menyebabkan reaksi alergi bila reaksi dengan antigen spesifikasinya. Pada asma, antibody ini terutama melekat pada sel mast yang terdapat pada interstisial paru yang berhubungan erat dengan brokhiolus dan bronkhus kecil. Bila seseorang menghirup alergen maka antibody Ig E orang tersebut meningkat, alergen bereaksi dengan antibodi yang telah terlekat pada sel mast dan menyebabkan sel ini akan mengeluarkan berbagai macam zat, diantaranya histamin, zat anafilaksis yang bereaksi lambat (yang merupakan leukotrient), faktor kemotaktik eosinofilik dan bradikinin. Efek gabungan dari semua faktor-faktor ini akan menghasilkan adema lokal pada dinding bronkhioulus kecil maupun sekresi mucus yang kental dalam lumen bronkhioulus dan spasme otot polos bronkhiolus sehingga menyebabkan tahanan saluran napas menjadi sangat meningkat. Pada asma , diameter bronkiolus lebih berkurang selama ekspirasi daripada selama inspirasi karena peningkatan tekanan dalam paru selama eksirasi paksa

3

©2003 Digitized by USU digital library menekan bagian luar bronkiolus. Karena bronkiolus sudah tersumbat sebagian, maka sumbatan selanjutnya adalah akibat dari tekanan eksternal yang menimbulkan obstruksi berat terutama selama ekspirasi. Pada penderita asma biasanya dapat melakukan inspirasi dengan baik dan adekuat, tetapi sekali-kali melakukan ekspirasi. Hal ini menyebabkan dispnea. Kapasitas residu fungsional dan volume residu paru menjadi sangat meningkat selama serangan asma akibat kesukaran mengeluarkan

udara ekspirasi dari paru. Hal ini bisa menyebabkan barrel chest. Manifestasi Klinik Biasanya pada penderita yang sedang bebas serangan tidak ditemukan gejala klinis, tapi pada saat serangan penderita tampak bernafas cepat dan dalam, gelisah, duduk dengan menyangga ke depan, serta tanpa otot-otot bantu pernafasan bekerja dengan keras. Gejala klasik dari asma bronkial ini adalah sesak nafas, mengi ( whezing ), batuk, dan pada sebagian penderita ada yang merasa nyeri di dada. Gejala-gejala tersebut tidak selalu dijumpai bersamaan. Pada serangan asma yang lebih berat , gejala-gejala yang timbul makin banyak, antara lain : silent chest, sianosis, gangguan kesadaran, hyperinflasi dada, tachicardi dan pernafasan cepat dangkal . Serangan asma seringkali terjadi pada malam hari. Pemeriksaan laboratorium 1. Pemeriksaan sputum Pemeriksaan sputum dilakukan untuk melihat adanya: Kristal-kristal charcot leyden yang merupakan degranulasi dari kristal eosinopil. Spiral curshmann, yakni yang merupakan cast cell (sel cetakan) dari cabang bronkus. Creole yang merupakan fragmen dari epitel bronkus. Netrofil dan eosinopil yang terdapat pada sputum, umumnya bersifat mukoid dengan viskositas yang tinggi dan kadang terdapat mucus plug. 2. Pemeriksaan darah Analisa gas darah pada umumnya normal akan tetapi dapat pula terjadi hipoksemia, hiperkapnia, atau asidosis. Kadang pada darah terdapat peningkatan dari SGOT dan LDH. Hiponatremia dan kadar leukosit kadang-kadang di atas 15.000/mm3 dimana menandakan terdapatnya suatu infeksi. Pencetus : Allergen Olahraga Cuaca Emosi Imun respon menjadi aktif Pelepasan mediator humoral Histamine SRS-A Serotonin Kinin Bronkospasme Edema mukosa Sekresi meningkat inflamasi Penghambat kortikosteroid

4
©2003 Digitized by USU digital library

SVES. maka gambaran radiolusen akan semakin bertambah. Atelektasis 3. Terdapatnya tanda-tanda hipertropi otot jantung. Tidak adanya respon aerosol bronkodilator lebih dari 20%. Peningkatan FEV1 atau FVC sebanyak lebih dari 20% menunjukkan diagnosis asma. Spirometri Untuk menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas reversible. dan disesuaikan dengan gambaran yang terjadi pada empisema paru yaitu : perubahan aksis jantung. Pada waktu serangan menunjukan gambaran hiperinflasi pada paru-paru yakni radiolusen yang bertambah dan peleburan rongga intercostalis.Pada pemeriksaan faktor-faktor alergi terjadi peningkatan dari Ig E pada waktu serangan dan menurun pada waktu bebas dari serangan. Elektrokardiografi Gambaran elektrokardiografi yang terjadi selama serangan dapat dibagi menjadi 3 bagian. Pemeriksaan penunjang 1. 5. Pneumothoraks 5. Bila terjadi pneumonia mediastinum. 4. Pemeriksaan spirometri tidak saja penting untuk menegakkan diagnosis tetapi juga penting untuk menilai berat obstruksi dan efek pengobatan. Bila terdapat komplikasi. Scanning paru Dengan scanning paru melalui inhalasi dapat dipelajari bahwa redistribusi udara selama serangan asma tidak menyeluruh pada paru-paru. Emfisema 5 ©2003 Digitized by USU digital library . yakni terdapatnya RBB ( Right bundle branch block). dan pneumoperikardium. 3. Pemeriksaan spirometer dilakukan sebelum dan sesudah pamberian bronkodilator aerosol (inhaler atau nebulizer) golongan adrenergik. 2. maka dapat dilihat bentuk gambaran radiolusen pada paru-paru. dan VES atau terjadinya depresi segmen ST negative. maka terdapat gambaran infiltrate pada paru Dapat pula menimbulkan gambaran atelektasis lokal. yakni pada umumnya terjadi right axis deviasi dan clock wise rotation. Pemeriksaan tes kulit Dilakukan untuk mencari faktor alergi dengan berbagai alergen yang dapat menimbulkan reaksi yang positif pada asma. Akan tetapi bila terdapat komplikasi. Tanda-tanda hopoksemia. Bila terdapat komplikasi empisema (COPD). Status asmatikus 2. cara yang paling cepat dan sederhana diagnosis asma adalah melihat respon pengobatan dengan bronkodilator. Hipoksemia 4. Komplikasi Berbagai komplikasi yang mungkin timbul adalah : 1. Pemeriksaan radiologi Gambaran radiologi pada asma pada umumnya normal. maka bercak-bercak di hilus akan bertambah. maka kelainan yang didapat adalah sebagai berikut: Bila disertai dengan bronkitis. yakni terdapatnya sinus tachycardia. pneumotoraks. serta diafragma yang menurun. Benyak penderita tanpa keluhan tetapi pemeriksaan spirometrinya menunjukkan obstruksi.

Kromalin 6 ©2003 Digitized by USU digital library Kromalin bukan bronkodilator tetapi merupakan obat pencegah serangan asma. . Supositoria ini digunakan jika penderita karena sesuatu hal tidak dapat minum teofilin (misalnya muntah atau lambungnya kering). 2. tetapi cara kerjanya berbeda. Gagal nafas Penatalaksanaan Prinsip umum pengobatan asma bronchial adalah : 1.Terbutalin (bricasma) Obat-obat golongan simpatomimetik tersedia dalam bentuk tablet.Fenoterol (berotec) . Pengobatan pada asma bronkhial terbagi 2. Simpatomimetik/ andrenergik (Adrenalin dan efedrin) Nama obat : .Orsiprenalin (Alupent) . Yang berupa semprotan: MDI (Metered dose inhaler). Pengobatan farmakologik : Bronkodilator : obat yang melebarkan saluran nafas.6. suntikan dan semprotan.Aminofilin (Euphilin Retard) . Deformitas thoraks 7. dan disuntikan perlahan-lahan langsung ke pembuluh darah. sirup. Karena sering merangsang lambung bentuk tablet atau sirupnya sebaiknya diminum sesudah makan. Pengobatan non farmakologik: Memberikan penyuluhan Menghindari faktor pencetus Pemberian cairan Fisiotherapy Beri O2 bila perlu. baik pengobatannya maupun tentang perjalanan penyakitnya sehingga penderita mengerti tujuan penngobatan yang diberikan dan bekerjasama dengan dokter atau perawat yang merawatnnya. b. Mengenal dan menghindari fakto-faktor yang dapat mencetuskan serangan asma 3. Itulah sebabnya penderita yang mempunyai sakit lambung sebaiknya berhati-hati bila minum obat ini. Memberikan penerangan kepada penderita ataupun keluarganya mengenai penyakit asma. Cara pemakaian : Bentuk suntikan teofillin / aminofilin dipakai pada serangan asma akut. 2. brivasma serts Ventolin) yang oleh alat khusus diubah menjadi aerosol (partikel-partikel yang sangat halus ) untuk selanjutnya dihirup. Sehingga bila kedua obat ini dikombinasikan efeknya saling memperkuat. Terbagi dalam 2 golongan : a. Teofilin ada juga dalam bentuk supositoria yang cara pemakaiannya dimasukkan ke dalam anus. Santin (teofilin) Nama obat : . Menghilangkan obstruksi jalan nafas dengan segara.Teofilin (Amilex) Efek dari teofilin sama dengan obat golongan simpatomimetik. Manfaatnya adalah untuk penderita asma alergi terutama anakanak. yaitu: 1. Ada juga yang berbentuk bubuk halus yang dihirup (Ventolin Diskhaler dan Bricasma Turbuhaler) atau cairan broncodilator (Alupent. Berotec.Aminofilin (Amicam supp) .

Adanya ketergantungan pada orang lain. Integritas ego Ansietas Ketakutan Peka rangsangan Gelisah Asupan nutrisi Ketidakmampuan untuk makan karena distress pernapasan. Sirkulasi Adanya peningkatan tekanan darah. Kaji riwayat pekerjaan pasien. 7 ©2003 Digitized by USU digital library Seksualitas Penurunan libido Diagnosa dan Intervensi Keperawatan Diagnosa 1 : Tak efektif bersihan jalan nafas b/d bronkospasme. misalnya: meninggikan bahu. Adanya peningkatan frekuensi jantung. Adanya batuk berulang. Menggunakan obat bantu pernapasan. Susah bicara atau bicara terbata-bata. Adanya bunyi napas mengi. INTERVENSI RASIONAL Mandiri Auskultasi bunyi nafas. Kaji riwayat reaksi alergi atau sensitifitas terhadap zat/ faktor lingkungan. Pengkajian Hal-hal yang perlu dikaji pada pasien asma adalah sebagai berikut: Riwayat kesehatan yang lalu: Kaji riwayat pribadi atau keluarga tentang penyakit paru sebelumnya. Kemerahan atau berkeringat. Biasanya diberikan dengan dosis dua kali 1mg / hari. Napas memburuk ketika pasien berbaring terlentang ditempat tidur. Aktivitas Ketidakmampuan melakukan aktivitas karena sulit bernapas. Ketolifen Mempunyai efek pencegahan terhadap asma seperti kromalin. catat . Warna kulit atau membran mukosa normal/ abu-abu/ sianosis. Hasil yang diharapkan: mempertahankan jalan nafas paten dengan bunyi bersih dan jelas. melebarkan hidung.Kromalin biasanya diberikan bersama-sama obat anti asma yang lain. Adanya penurunan kemampuan/peningkatan kebutuhan bantuan melakukan aktivitas sehari-hari. dan efeknya baru terlihat setelah pemakaian satu bulan. Pernapasan Dipsnea pada saat istirahat atau respon terhadap aktivitas atau latihan. Keuntungnan obat ini adalah dapat diberika secara oral. Hubungan sosal Keterbatasan mobilitas fisik. Penurunan berat badan karena anoreksia. Tidur dalam posisi duduk tinggi.

Catat adanya derajat dispnea. Beberapa derajat spasme bronkus terjadi dengan obstruksi jalan nafas dan dapat/tidak dimanifestasikan adanya nafas advertisius. mengi. penggunaan cairan hangat dapat menurunkan spasme bronkus. ansietas. ex: mengi Kaji / pantau frekuensi pernafasan. Tachipnea biasanya ada pada beberapa derajat dan dapat ditemukan pada penerimaan atau selama stress/ adanya proses infeksi akut. distress pernafasan. catat rasio inspirasi / ekspirasi. Hidrasi membantu menurunkan kekentalan sekret. contoh: debu. asap dll Tingkatkan masukan cairan sampai dengan 3000 ml/ hari sesuai toleransi jantung memberikan air hangat. contoh : meninggikan kepala tempat tidur. penggunaan cairan hangat dapat menurunkan kekentalan sekret. Merelaksasikan otot halus dan menurunkan spasme jalan nafas. Disfungsi pernafasan adalah variable yang tergantung pada tahap proses akut yang menimbulkan perawatan di rumah sakit. Peninggian kepala tempat tidur memudahkan fungsi pernafasan dengan menggunakan gravitasi. dan produksi . Tempatkan posisi yang nyaman pada pasien. duduk pada sandara tempat tidur Pertahankan polusi lingkungan minimum. Kolaborasi Berikan obat sesuai dengan indikasi bronkodilator.adanya bunyi nafas. penggunaan obat bantu. Pencetus tipe alergi pernafasan dapat mentriger episode akut.

bau menurunkan nafsu makan dan dapat menyebabkan mual/muntah dengan peningkatan kesulitan nafas. Pasien distress pernafasan akut sering anoreksia karena dipsnea. berikan wadah khusus untuk sekali pakai. 8 ©2003 Digitized by USU digital library Diagnosa 2: Malnutrisi b/d anoreksia Hasil yang diharapkan : menunjukkan peningkatan berat badan menuju tujuan yang tepat. perbaikan ventilasi dan oksigen jaringan edukuat. Catat derajat kerusakan makanan. Rasa tak enak. Tachicardi. INTERVENSI RASIONALISASI Mandiri Kaji kebiasaan diet. Sering lakukan perawatan oral. INTERVENSI RASIONALISASI Mandiri Kaji/awasi secara rutin kulit dan membrane mukosa. buang sekret. Diagnosa 3 : Kerusakan pertukaran gas b/d gangguan suplai oksigen (spasme bronkus) Hasil yang diharapkan . Menurunkan dipsnea dan meningkatkan energi untuk makan. meningkatkan masukan. Palpasi fremitus Awasi tanda vital dan irama jantung Kolaborasi Berikan oksigen tambahan sesuai dengan indikasi hasil AGDA dan toleransi pasien. Sianosis mungkin perifer atau sentral keabu-abuan dan sianosis sentral mengindikasi kan beratnya hipoksemia. disritmia. dan perubahan tekanan darah . Penurunan getaran vibrasi diduga adanya pengumplan cairan/udara. masukan makanan saat ini. Kolaborasi Berikan oksigen tambahan selama makan sesuai indikasi.mukosa.

mengidentifikasikan intervensi untuk mencegah atau menurunkan resiko infeksi. INTERVENSI RASIONALISASI Jelaskan tentang penyakit individu Diskusikan obat pernafasan.salah mengerti.Perubahan ola hidup untuk meningkatkan lingkungan yang nyaman. Hasil yang diharapkan : menyatakan pemahaman kondisi/proses penyakit dan tindakan. Demam dapat terjadi karena infeksi dan atau dehidrasi. Tunjukkan tehnik penggunaan inhakler. Hasil yang diharapkan : . Malnutrisi dapat mempengaruhi kesehatan umum dan menurunkan tahanan terhadap infeksi untuk mengidentifikasi organisme penyabab dan kerentanan terhadap berbagai anti microbial Diagnosa 5: Kurang pengetahuan b/d kurang informasi .kultur/sensitifitas. INTERVENSI RASIONALISASI Mandiri Awasi suhu. Diskusikan kebutuhan nutrisi adekuat Kolaborasi Dapatkan specimen sputum dengan batuk atau pengisapan untuk pewarnaan gram. Pemberian obat yang tepat . 9 ©2003 Digitized by USU digital library Diognasa 4: Risiko tinggi terhadap infeksi b/d tidak adekuat imunitas. efek samping dan reaksi yang tidak diinginkan. Penting bagi pasien memahami perbedaan antara efek samping mengganggu dan merugikan.dapat menunjukan efek hipoksemia sistemik pada fungsi jantung. Menurunkan ansietas dan dapat menimbulkan perbaikan partisipasi pada rencana pengobatan. . Dapat memperbaiki atau mencegah memburuknya hipoksia.

Jakarta : Salemba Medika. 10 ©2003 Digitized by USU digital library DAFTAR PUSTAKA Baratawidjaja.STIKES-MUHAMMADIYAHPEKAJANGAN MARI KITA MAJUKAN KEPERAWATAN INDONESIA JANGAN ENGKAU DIAM JANGAN ENGKAU TERLENA PROFESI KITA SANGAT MEMBUTUHKAN PERAN SERTA DAN KARYA KITA Selasa. F. (1997) “Penanganan Asma dalam Penyakit Primer”. Apa dan Bagaimana Pengobatannya”. Jakarta : EGC. Blacwell Scientific Publication. (1995) “Asma . M. Brunner & Suddart (2002) “Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah”. C. E. J. M. Jakarta : EGC. H. Crockett. Rab. 2008 askep bronkhitis BRONCHITIS By. Jakarta : FK UI. (1995) “Pulmonary Disease”. Rab. Doenges. A. T. G & Lockhart. Jakarta : Hipocrates. Crompton. Maret 11.meningkatkan keefektifanya. (2000) “Rencana Asuhan Keperawatan”. Jakarta : Info Medika. S & Wilson. Buku Satu. L. Sundaru. (1995) “Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit”. (1980) “Diagnosis and Management of Respiratory Disease”. Reeves. Moorhouse. Volume 1. Jakarta : Hipokrates. M. (1999) “Keperawatan Medikal Bedah”. Roux. Price. Staff Pengajar FK UI (1997) “Ilmu Kesehatan Anak”. Guyton & Hall (1997) “Buku Ajar Fisiologi Kedokteran”. A. Dafid Arifiyanto . Pullen. Jakarta : FK UI. (1996) “Ilmu Penyakit Paru”. (1998) “Agenda Gawat Darurat”. Philadelpia : Lea & Febiger.. (1990) “Asma Bronchiale”. DAFID. R. Jakarta : AGC. K. dikutip dari Ilmu Penyakit Dalam. & Geissler. Hudak & Gallo (1997) “Keperawatan Kritis Pendekatan Holistik”. Jakarta : Hipokrates. G. L. R. Jakarta : EGC.. Jakarta : EGC. C. T.

Bronkus yang terkena umumnya bronkus kecil (medium size ). pneumonia ini merupakan komplikasi pertusis maupun influenza yang diderita semasa anak. Kekerapan setinggi itu ternyata mengalami penurunan yang berarti dengan pengobatan memakai antibiotik. hipo atau agamaglobalinemia. ternyata saudara kembarnya juga menderita bronkiektasis ).PENDAHULUAN Bronchitis adalah suatu penyakit yang ditandai adanya dilatasi ( ektasis ) bronkus lokal yang bersifat patologis dan berjalan kronik. Di Inggris dan Amerika penyakit paru kronik merupakan salah satu penyebab kematian dan ketidak mampuan pasien untuk bekerja. Di Indonesia belum ada laporan tentang anka-angka yang pasti mengenai penyakit ini. Kelainan didapat Kelaianan didapat merupakan akibat proses berikut : Infeksi Bronchitis sering terjadi sesudah seseorang menderita pneumonia yang sering kambuh dan berlangsung lama. Factor genetic atau factor pertumbuhan dan factor perkembangan fetus memegang peran penting. Dinegara barat. Penyakit ini dapat diderita mulai dari anak bahkan dapat merupakan kelainan congenital. sinusitis paranasal dan situs inversus ). kifoskoliasis konginetal.3% diantara populasi. Bronchitis kronis dan emfisema paru sering terdapat bersama-sama pada seorang pasien. ETIOLOGI Penyebab bronchitis sampai sekarang masih belum diketahui dengan jelas. bronkiektasis sering bersamaan dengan kelainan congenital berikut : tidak adanya tulang rawan bronkus. dalam keadaan lanjut penyakit ini sering menyebabkan obstruksi saluran nafas yang menetap yang dinamakan cronik obstructive pulmonary disease ( COPD ). kekerapan bronchitis diperkirakan sebanyak 1. tuberculosis paru dan sebagainya. Kelainan congenital Dalam hal ini bronchitis terjadi sejak dalam kandungan. Kenyataannya penyakit ini sering ditemukan di klinik-klinik dan diderita oleh laki-laki dan wanita. karsinoma bronkus atau tekanan dari luar terhadap bronkus PERUBAHAN PATOLOGIS ANATOMIK . Pada kenyataannya kasus-kasus bronchitis dapat timbul secara congenital maupun didapat. bronkiektasis pada anak kembar satu telur ( anak yang satu dengan bronkiektasis. Perubahan bronkus tersebut disebabkan oleh perubahan-perubahan dalam dinding bronkus berupa destruksi elemen-elemen elastis dan otot-otot polos bronkus. penyakit jantung bawaan. misalnya : mucoviscidosis ( cystic pulmonary fibrosis ). Bronchitis konginetal sering menyertai penyakit-penyakit konginetal lainya. Obstruksi bronkus Obstruksi bronkus yang dimaksud disini dapat disebabkan oleh berbagai macam sebab : korpus alineum. sedangkan bronkus besar jarang terjadi. Bronchitis yang timbul congenital ini mempunyai ciri sebagai berikut : Bronchitis mengenai hampir seluruh cabang bronkus pada satu atau kedua paru. sindrom kartagener ( bronkiektasis konginetal.

Infeksi bacterial pada bronkus atau paru. baik mengenai jumlah atau luasnya bronkus yang terkena maupun beratnya penyakit : Tempat predisposisi bronchitis Bagian paru yang sering terkena dan merupakan predisposisi bronchitis adalah lobus tengah paru kanan. Bronchitis merupakan penyakit paru yang mengenai paru dan sifatnya kronik. Patogenesis pada kebanyakan bronchitis yang didapat melalui dua mekanisme dasar : 1. fibrosis paru. Pada bronchitis yang didapat patogenesisnya diduga melelui beberapa mekanisme : factor obstruksi bronkus. pada mukosa akan terjadi pengelupasan. bagian lingual paru kiri lobus atas. Perubahan morfologis bronkus yang terkena Dinding bronkus Dinding bronkus yang terkena dapat mengalami perubahan berupa proses inflamasi yang sifatnya destruktif dan irreversibel. bronkus yang terkena dapat hanya satu segmen paru saja maupun difus mengenai bronki kedua paru. Apabila terjadi eksaserbasi infeksi akut. Mukosa bronkus Mukosa bronkus permukaannya menjadi abnormal. pada bagian distal obstruksi dan terjadi infeksi juga destruksi bronkus.. 2. Jaringan paru peribronchiale Pada keadaan yang hebat. Bentuk ini berbentuk kista. silia pada sel epitel menghilang. Keluhankeluhan yang timbul juga berlangsung kronik dan menetap . ulserasi. Bentuk ini merupakan komplikasi dari pneumonia. segmen basal pada lobus bawah kedua paru. 3. Bentuk kantong Ditandai dengan adanya dilatasi dan penyempitan bronkus yang bersifat irregular. keluhan-keluhan yang timbul . Infeksi pada bronkus atau paru akan diikuti proses destruksi dinding bronkus daerah infeksi dan kemudian timbul bronchitis. factor infeksi pada bronkus atau paru-paru.Terdapat berbagai macam variasi bronchitis. Variasi kelainan anatomis bronchialis Telah dikenal 3 variasi bentuk kelainan anatomis bronchitis. Jaringan bronkus yang mengalami kerusakan selain otot-otot polos bronkus juga elemen-elemen elastis. dan factor intrinsik dalam bronkus atau paru. Bentuk antara bentuk tabung dan kantong (Pseudobronchitis) Pada bentuk ini terdapat pelebaran bronkus yang bersifat sementara dan bentuknya silindris. Obstruksi bronkus akan diikuti terbentuknya bronchitis. Bentuk tabung Bentuk ini sering ditemukan pada bronchitis yang menyertai bronchitis kronik. 2. PATOGENESIS Apabila bronchitis kongenital patogenesisnya tidak diketahui diduga erat hubungannya dengan genetic serta factor pertumbuhan dan perkembangan fetus dalam kandungan. yaitu : 1. kemudian timbul bronchitis. Bronkus yang terkena Bronkus yang terkena umumnya yang berukuran sedang. terjadi perubahan metaplasia skuamosa. jaringan paru distal akan diganti jaringan fibrotik dengan kistakista berisi nanah.

Infeksi yang mendahului bronchitis adalah infeksi bacterial yaitu mikroorgansme penyebab pneumonia. sedangkan infeksi virus tidak dapat ( misalnya adenovirus tipe 21. Kuman yang erring ditemukan dan menginfeksi bronkus misalnya : streptococcus pneumonie. virus influenza. haemophilus influenza. 1. . pada kasus yang sudah berat. akan menimbulkan sputum sangat berbau. dan sebagainnya ). sedang apabila terjadi infeksi sekunder sputumnya purulen. misalnya pada saccular type bronchitis. tampak terpisah menjadi 3 bagian Lapisan teratas agak keruh Lapisan tengah jernih. Kalau tidak ada infeksi skunder sputumnya mukoid. 2. keluhan-keluhan yang timbul umumnya sebagai akibat adanya beberapa hal : adanya kerusakan dinding bronkus. Infeksi sekunder Tiap pasien bronchitis tidak selalu disertai infeksi sekunder pada lesi.erat dengan : luas atau banyaknya bronkus yang terkena. puruen. dan ada tidaknya komplikasi lanjut. dan apabila ditampung beberapa lama. Mengenai infeksi dan hubungannya dengan patogenesis bronchitis. Masih menjadi pertanyaan apakah infeksi yang mendahului terjadinya bronchitis tersebut disebabkan oleh bakteri atau virus. anaerobic streptococci. terdiri atas saliva ( ludah ) Lapisan terbawah keruh terdiri atas nanah dan jaringan nekrosis dari bronkus yang rusak ( celluler debris ). Bronchitis yang mengenai bronkus pada lobis atas sering dan memberikan gejala : Keluhan-keluhan Batuk Batuk pada bronchitis mempunyai ciri antara lain batuk produktif berlangsung kronik dan frekuensi mirip seperti pada bronchitis kronis. lokasi kelainannya. umumnya jumlahnya banyak terutama pada pagi hari sesudah ada perubahan posisi tidur atau bangun dari tidur. treponema vincenti. dapat memberikan bau yang tidak sedap. Dikatakan bahwa hanya infeksi bakteri saja yang dapat menyebabkan kerusakan pada dinding bronkus sehingga terjadi bronchitis. GAMBARAN KLINIS Gejala dan tanda klinis yang timbul pada pasien bronchitis tergantung pada luas dan beratnya penyakit. data dijelaskan sebagai berikut . adanya haemaptoe dan pneumonia berulang. Infeksi pertama ( primer ) Kecuali pada bentuk bronchitis kongenital. lokasi bronkus yang terkena. dan dapat tidak nyata atau tanpa gejala pada penyakit yang ringan. campak. Ciri khas pada penyakit ini adalah adanya batuk kronik disertai produksi sputum. ada atau tidaknya komplikasi lanjut. tingkatan beratnya penyakit. Apabila terjadi infeksi sekunder oleh kuman anaerob. jumlah seputum bervariasi. Gejala dan tanda klinis dapat demikian hebat pada penyakit yang berat. sputum jumlahnya banyak sekali. klebsiella ozaena. akibat komplikasi. apabila sputum pasien yang semula berwarna putih jernih kemudian berubah warnanya menjadi kuning atau kehijauan atau berbau busuk berarti telah terjadi infeksi sekunder oleh kuman anaerob misalnya : fusifomis fusiformis. adanya kerusakan fungsi bronkus..

sering disertai dengan silia bronkus imotil Situs inversus pembalikan letak organ-organ dalam dalam hal ini terjadi dekstrokardia. manifestasi klinis komplikasi bronchitis. Sinusitis paranasal atau tidak terdapatnya sinus frontalis. left sided gall bladder. Apabila bagian paru yang diserang amat luas serta kerusakannya hebat. Ditemukan ronchi basah yang jelas pada lobus bawah paru yang terkena dan keadaannya menetap dari waku kewaktu atau ronci basah ini hilang sesudah pasien mengalami drainase postural atau timbul lagi diwaktu yang lain. Kelainan ini merupakan klasifikasi kelenjar limfe yang biasanya merupakan gejala sisa komleks primer tuberculosis paru primer. haemaptoe justru gejala satu-satunya karena bronchitis jenis ini letaknya dilobus atas paru. Sindrom ini terdiri atas gejala-gejala berikut : Bronchitis congenital. left-sided liver. Perdarahan yang timbul bervariasi mulai dari yang paling ringan ( streaks of blood ) sampai perdarahan yang cukup banyak ( massif ) yaitu apabila nekrosis yang mengenai mukosa amat hebat atau terjadi nekrosis yang mengenai cabang arteri broncialis ( daerah berasal dari peredaran darah sistemik ) Pada dry bronchitis ( bronchitis kering ). yang biasanya menimbulkan fibrosis paru dan emfisema yang menimbulkan sesak nafas.. Bila terjadi komplikasi pneumonia akan ditemukan kelainan fisis sesuai dengan pneumonia. Timbul dan beratnya sesak nafas tergantung pada seberapa luasnya bronchitis kronik yang terjadi dan seberapa jauh timbulnya kolap paru dan destruksi jaringan paru yang terjadi sebagai akibat infeksi berulang ( ISPA ). Sesak nafas ( dispnue ) Pada sebagian besar pasien ( 50 % kasus ) ditemukan keluhan sesak nafas. Demam berulang Bronchitis merupakan penyakit yang berjalan kronik. sering mengalami infeksi berulang pada bronkus maupun pada paru. Kelainan ini bukan merupakan tanda . sputum tidak pernah menumpuk dan kurang menimbulkan reflek batuk. Wheezing sering ditemukan apa bila terjadi obstruksi bronkus. akibat adanya obstruksi bronkus. kelainan ini terjadi akibat nekrosis atau destruksi mukosa bronkus mengenai pembuluh darah ( pecah ) dan timbul perdarahan. Pada kasus yang berat dan lebih lanjut dapat ditemukan tandatanda korpulmonal kronik maupun payah jantung kanan. Pada tuberculosis paru. Sindrom kartagenr. bronchitis ( sekunder ) ini merupakan penyebab utama komplikasi haemaptoe. pasien tanpa batuk atau batukya minimal. drainasenya baik. right-sided spleen. jari tubuh. Kadang ditemukan juga suara mengi ( wheezing ).Haemaptoe Hemaptoe terjadi pada 50 % kasus bronchitis. Bronchitis. sehingga sering timbul demam (demam berulang) Kelainan fisis Tanda-tanda umum yang ditemukan meliputi sianosis. Wheezing dapat local atau tersebar tergantung pada distribusi kelainannya. Semua elemen gejala sindrom kartagener ini adalah keleinan congenital. Bagaimana asosiasi tentang keberadaanya yang demikian ini belum diketahui dengan jelas. dapat menimbulkan kelainan berikut : terjadi retraksi dinding dada dan berkurangnya gerakan dada daerah yang terkena serta dapat terjadi penggeseran medistenum kedaerah paru yang terkena.

Seing ditemukan anemia. Bila penyakitnya ringan gambaran darahnya normal. gambaran foto dada masih terlihat normal. ditemukan juga bercak-bercak pneumonia. dan bau mulut meyengat). kapasitas vital ( KV ) dan kecepatan aliran udara ekspirasi satu detik pertama ( FEV1 ). atau ditemukan leukositosis yang menunjukan adanya infeksi supuratif. selanjutnya terjadilah bronchitis. Bronchitis berat Ciri klinis : batuk produktif dengan sputum banyak. Dapat terjadi perubahan gas darah berupa penurunan PaO2 ini menunjukan abnormalitas regional ( maupun difus ) distribusi ventilasi. karena terjadinya obstruksi airan udara pernafasan. Erosi dinding bronkus oleh bronkolit tadi dapat mengenai pembuluh darah dan dapat merupakan penyebab timbulnya hemaptoe hebat. Sering ditemukannya pneumonia dengan haemaptoe dan nyeri pleura. sputum timbul setiap saat. Kelainan faal paru Pada penyakit yang lanjut dan difus. mirip seperti gambaran sarang tawon pada daerah yang terkena. yang menunjukan adanya infeksi kronik. yang berpengaruh pada perfusi paru. sering ditemukan infeksi piogenik pada kulit. fibrosis atau kolaps. Pemeriksaan kultur sputum dan uji sensivitas terhadap antibiotic. amiloidosis. umumnya pasien masih Nampak sehat dan fungsi paru normal. abses metastasis. foto dada normal. Kelainan radiologist Gambaran foto dada ( plain film ) yang khas menunjukan adanya kista-kista kecil dengan fluid level. Gambaran bronchitis akan jelas pada bronkogram. sianosis atau tanda kegagalan paru. pasien mudah timbul pneumonia. multiple cysts containing fluid levels. Bronchitis sedang Ciri klinis : batuk produktif terjadi setiap saat. ada haemaptoe ringan. (umumnya warna hijau dan jarang mukoid. Pada pemeriksaan paru sering ditemukannya ronchi basah kasar pada daerah paru yag terkena. pasien tampak sehat dan fungsi paru norma. infeksi mata . Kelainan laboratorium. Pada gambaran foto dada ditemukan kelianan : bronkovascular marking. Pada keadaan lanjut dan mulai sudah ada insufisiensi paru dapat ditemukan polisitemia sekunder. terdapat tendensi penurunan. adanya haemaptoe. septikemi. Umumnya pasien mempunyai keadaan umum kurang baik. Bila ada obstruksi nafas akan ditemukan adanya dispnea. . Tingkatan beratnya penyakit Bronchitis ringan Ciri klinis : batuk-batuk dan sputum warna hijau hanya terjadi sesudah demam. kelainan ini sering menimbulkan erosi bronkus didekatnya dan dapat masuk kedalam bronkus menimbulkan sumbatan dan infeksi. perlu dilakukan bila ada kecurigaan adanya infeksi sekunder.klinis bronchitis. berwarna kotor dan berbau. Dan pada pemeriksaan fisis ditemukan ronchi basah kasar pada daerah yang terkena. Urin umumnya normal kecuali bila sudah ada komplikasi amiloidosis akan ditemukan proteiuria.

penegakan diagnosis bronchitis dapat ditempuh melewati proses diagnostik yang lazim dikerjakan dibidang kedokteran.. meliputi: Anamnesis Pemeriksaan fisis Pemeriksaan penunjang DIAGNOSIS BANDING Beberapa penyakit yang perlu diingat atau dipertimbangkan kalau kita berhadapan dengan pasien bronchitis : · Bronchitis kronis ( ingatlah definisi klinis bronchitis kronis ) · Tuberculosis paru ( penyakit ini dapat disertai kelainan anatomis paru berupa bronchitis ) · Abses paru ( terutama bila telah ada hubungan dengan bronkus besar ) · Penyakit paru penyebab hemaptomisis misalnya karsinoma paru. kontraindikasi. timbul sianosis sentral. syarat-syarat kaan elakukannya. Selanjutnya akan terjadi gagal jantung kanan. karena terikat adanya indikasi. 9. Hal ini sering terjadi pada mereka drainase sputumnya kurang baik. 4. cabang arteri ( arteri bronchialis ) atau anastomisis pembuluh darah. Bronchitis kronik 2. Abses metastasis diotak. Kor pulmonal kronik pada kasus ini bila terjadi anastomisis cabang-cabang arteri dan vena pulmonalis pada dinding bronkus akan terjadi arterio-venous shunt. Umumnya pleuritis sicca pada daerah yang terkena. antara lain : 1. Oleh karena pasien bronchitis umumnya memberikan gambaran klinis yang dapat dkenal. Haemaptoe terjadi kerena pecahnya pembuluh darah cabang vena ( arteri pulmonalis ) . Kegagalan pernafasan merupakan komlikasi paling akhir pada bronchitis yang berat da luas . 3. kor pulmoner kronik. bronchitis sering mengalami infeksi berulang biasanya sekunder terhadap infeksi pada saluran nafas bagian atas. Komplikasi ini dapat timbul bersama dengan timbulnya pneumonia. Sinusitis merupakan bagian dari komplikasi bronchitis pada saluran nafas 8. selanjutnya terjadi hipoksemia. Sering menjadi penyebab kematian 6. terjadi gangguan oksigenasi darah. Bronkografi tidak selalu dapat dikerjakan pada tiap pasien bronchitis. 7. Pleuritis. Komplikasi haemaptoe hebat dan tidak terkendali merupakan tindakan beah gawat darurat. akibat septikemi oleh kuman penyebab infeksi supuratif pada bronkus.DIAGNOSIS Diagnosis pasti bronchitis dapat ditegakan apabila telah ditemukan adanya dilatasi dan nekrosis dinding bronkus dengan prosedur pemeriksaan bronkografi dan melihat bronkogram yang didapat. Pneumonia dengan atau tanpa atelektaksis. Pada keadaan lanjut akan terjadi hipertensi pulmonal. Efusi pleura atau empisema 5. adenoma paru ) · Fistula bronkopleural dengan empisema KOMPLIKASI Ada beberapa komplikasi bronchitis yang dapat dijumpai pada pasien.

Tiap kali melakukan drainase postural dilakukan selama 10 – 20 menit. mengguanakan obat-obat mukolitik dan sebagainya. Pengelolaan khusus. Mengontrol infeksi saluran nafas. Pengelolaan umum Pengelolaan umum ditujukan untuk semua pasien bronchitis. meliputi : Menciptakan lingkungan yang baik dan tepat untuk pasien : Contoh : Membuat ruangan hangat. terdiri atas : 1. apabila telah ada infeksi perlu adanya antibiotic yang sesuai agar infeksi tidak berkelanjutan. Mencegah / menghentikan rokok Mencegah / menghindari debu. Walaupun kemotherapi jelas kegunaannya pada pengelolaan bronchitis. 2. Amiloidosis keadaan ini merupakan perubahan degeneratif. dan dapat dibantu dengan tindakan memberikan ketukan pada pada punggung pasien dengan punggung jari. Antibiotik diberikan jika terdapat aksaserbasi infeki akut. misalnya inhalasi uap air panas. udara ruangan kering. tidak pada setiap pasien harus diberikan antibiotic. Prinsip drainase postural ini adalah usaha mengeluarkan sputum ( secret bronkus ) dengan bantuan gaya gravitasi. antibiotic diberikan selama 7-10 hari dengan therapy tunggal atau dengan beberapa . Posisi tubuh saat dilakukan drainase postural harus disesuaikan dengan letak kelainan bronchitisnya.asap dan sebagainya. cara yang baik untuk dikerjakan adalah sebagai berikut : Melakukan drainase postural Pasien dilelatakan dengan posisi tubuh sedemikian rupa sehingga dapat dicapai drainase sputum secara maksimum. Adanya infeksi saluran nafas akut ( ISPA ) harus diperkecil dengan jalan mencegah penyebaran kuman. Memperbaiki drainase secret bronkus. Mengatur posisi tepat tidur pasien Sehingga diperoleh posisi pasien yang sesuai untuk memudahkan drainase sputum. Mencairkan sputum yang kental Dapat dilakukan dengan jalan.10. pemkaian antibiotic antibiotic sebaikya harus berdasarkan hasil uji sensivitas kuman terhadap antibiotic secara empiric. Kemotherapi pada bronchitis Kemotherapi dapat digunakan : secara continue untuk mengontrol infeksi bronkus ( ISPA ) untuk pengobatan aksaserbasi infeksi akut pada bronkus/paru atau kedua-duanya digunakan Kemotherapi menggunakan obat-obat antibiotic terpilih. Pada pasien yang mengalami komplikasi ini dapat ditemukan pembesaran hati dan limpa serta proteinurea. sebagai komplikasi klasik dan jarang terjadi. PENATALAKSANAAN Pengelolaan pasien bronchitis terdiri atas dua kelompok : Pengobatan konservatif. tiap hari dilakukan 2 sampai 4 kali.

jumlah sputum dan gejala lainnya terutama pada saat terjadi aksaserbasi infeksi akut. Pengobatan demam. Indikasi pembedahan : Pasien bronchitis yang yang terbatas dan resektabel. Tindakan yang perlu segera dilakukan adalah upaya menghentikan perdarahan. Pasien dengan haemaptoe massif seperti ini mutlak perlu tindakan operasi. yang tidak berespon yang tidak berespon terhadap tindakan-tindakan konservatif yang adekuat. Pasien perlu dipertimbangkan untuk operasi Pasien bronchitis yang terbatas tetapi sering mengaami infeksi berulang atau haemaptoe dari daerakh tersebut. Drainase secret dengan bronkoskop Cara ini penting dikerjakan terutama pada saat permulaan perawatan pasien. Keperluannya antara lain : Menentukan dari mana asal secret Mengidentifikasi lokasi stenosis atau obstruksi bronkus Menghilangkan obstruksi bronkus dengan suction drainage daerah obstruksi. tetapi keadaan ini hanya bersifat sementara. Pengobatan pembedahan Tujuan pembedahan : mengangkat ( reseksi ) segmen/ lobus paru yang terkena. Kemotherapi dengan antibiotic ini apabila berhasil akan dapat mengurangi gejala batuk. Pengobatan haemaptoe. Cara operasi. Syarat-ayarat operasi. sampai terjadi konversi warna sputum yang semula berwarna kuning/hijau menjadi mukoid ( putih jernih ). Pengobatan obstruksi bronkus Apabila ditemukan tanda obstruksi bronkus yang diketahui dari hasil uji faal paru (%FEV 1 < 70% ) dapat diberikan obat bronkodilator. Pada pasien yang mengalami hipoksia perlu diberikan oksigen. Dari berbagai penelitian pemberian obat-obatan hemostatik dilaporkan hasilnya memuaskan walau sulit diketahui mekanisme kerja obat tersebut untuk menghentikan perdarahan.antibiotic. . Pengobatan hipoksia. Kelainan ( bronchitis ) harus terbatas dan resektabel Daerah paru yang terkena telah mengalami perubahan ireversibel Bagian paru yang lain harus masih baik misalnya tidak ada bronchitis atau bronchitis kronik. Kontra indikasi Pasien bronchitis dengan COPD Pasien bronchitis berat Pasien bronchitis dengan koplikasi kor pulmonal kronik dekompensasi. Pengobatan simtomatik Pengobatan ini diberikan jika timbul simtom yang mungkin mengganggu atau mebahayakan pasien. Pada pasien yang mengalami eksaserbasi inhalasi akut sering terdapat demam. lebih-lebih kalau terjadi septikemi. Pada kasus ini selain diberikan antibiotic perlu juga diberikan obat antipiretik.

Menurut beberapa literature untuk mencegah terjadinya bronchitis ada beberapa cara : Pengobatan dengan antibiotic atau cara-cara lain secara tepat terhadap semua bentuk pneumonia yang timbul pada anak akan dapat mencegah ( mengurangi ) timbulnya bronchitis Tindakan vaksinasi terhadap pertusis ( influenza. Asuhan keperawatan Data Fokus Anamnesa :è Faktor Predisposisi Aktifitas Gaya hidup Keadaan lingkungan Aspirasi Penyakit pernapasan lain Pemeriksaan Fisik : fokus dada Inspeksi :è Irama. payah jantung kanan. frekuensi pernapasan Kesimetrisan dinding dada saat bernapas Penggunaan otot bantu pernapasan Cuping hidung. yang gagal dalam pengobatan konservatif dipersiapkan secara baik utuk operasi. Operasi paliatif : ditujukan pada pasien bronchitis yang mengalami keadaan gawat darurat paru. pneumonia ) pada anak dapat pula diartikan sebagai tindakan preventif terhadap timbulnya bronchitis. survivalnya tidak akan lebih dari 5-10 tahun.analisis gas darah. pemeriksaan broncospirometri ( uji fungsi paru regional ) Scanning dan USG Meneliti ada atau tidaknya kontra indikasi operasi pada pasien Memperbaiki keadaan umum pasien PENCEGAHAN Timbulnya bronchitis sebenarnya dapat dicegah. empiema. Kematian pasien karena pneumonia. Umumnya operasi berhasil baik apabila syarat dan persiapan operasinya baik. Persiapan operasi : Pemeriksaan faal paru : pemeriksaan spirometri. PROGNOSIS Prognosis pasien bronchitis tergantung pada berat ringannya serta luasnya penyakit waktu pasien berobat pertama kali. haemaptoe dan lainnya. prognosisnya jelek. cyanosis pada ekstremitas . Pemilihan pengobatan secara tepat ( konservatif atau pembedahan ) dapat memperbaiki prognosis penyakit. kecuali dalam bentuk congenital tidak dapat dicegah. Pada kasus-kasus yang berat dan tidak diobati.Operasi elektif : pasien-pasien yang memenuhi indikasi dan tidak terdaat kontra indikasi. kedalaman. misalnya terjadi haemaptoe masif ( perdarahan arterial ) yang memenuhi syarat-syarat dan tidak terdapat kontra indikasi operasi.

he.blogspot youtube.com . vokal fremitus Perkusi : è Resonance. Diposkan oleh Dafid.s1 slankers 30 Oktober. 2008 06:19 Poskan Komentar Posting Lebih Baru Posting Lama Halaman Muka Langgan: Poskan Komentar (Atom) Web Tautan • • indah nursing. dulness Masalah keperawatan 1. antibiotik 2. Intoleransi aktifitas Tujuan : Klien menunjukan peningkatan aktifitas da kekuatan fisik Rencana keperawatan : Monitor toleransi klien terhadap aktifitas Jelaskan penyebab penurunan aktifitas Berikan/pegaturan waktu untuk istirahat yang baik Ajarkan manejemen tenaga pada klien Kolaborasi : oksigenasi.Stikes-Muhammadiyah-Pekajangan di 21:06 1 komentar: Anonim mengatakan..Palpasi : è Kesimetrisan dinding dada Taktil fremitus Letak trakhea Auskultasi è Ronkhi... Ketidak efektifan bersihan jalan napas Tujuan : Jalan Napas Efektif Rencana Keperawatan : Kaji Kemampuan klien mengeluarkan sputum Kaji suara pernapasan (paru) Ajarkan teknik batuk efektif Laksanakan fisioterapi dada dan inhalasi manual Kolaborasi : ekspektoran. fotonya itu lho Pd banget he.by....

love Reina my.my. love Nayla Berenang Di Laut .

Dengarkan Suara Alam Info keperawatan ini apakah membantu tugas anda Arsip Blog • ► 2009 (3) o ► Juli (3)  Metabolisme protein  Metabolisme Lemak  Metabolisme Karbohidrat ▼ 2008 (27) o ► November (1)  Askep Bronkhitis o ► Mei (1)  Self Concept o ▼ Maret (12)  Gangguan Miksi  Askep Stroke Non Hemoragic  Askep Hipertensi  Askep Aids  Konsep Diri  Konsep Berubah  askep bronkhitis  Infeksi Saluran Kencing  Askep Urolithiasis  Askep Klien BPH  Askep Trauma Saluran Kemih  Air Susu Ibu Vs Susu Bayi Sapi o ► Februari (13) • .

DEFINISI Pneumonia adalah suatu peradangan atau inflamasi pada parenkim paru yang umumnya disebabkan oleh agent infeksi .2 Keperawatan (4 org) Dosen d IV atau S.Stikes-Muhammadiyah-Pekajangan Info Lowongan Kerja Dibutuhkan Dosen S.             Kelainan Jantung : VSD Oksigenasi Osteomyelitis Askep Limfadenopaty Askep Fraktur GBPP STIKES Konsep manusia dan kebutuhan dasar Komunikasi Umum Konsep dasar keperawatan I Askep Hernia sehat-sakit Range Of Motion NERS PEKAJANGAN About me Dafid.1 Kebidanan (4 org) Lihat profil lengkapku DANO TOBA ANAK BOSS DARI DUSUN « ASKEP DHF ASKEP PNEUMONIA LAPORAN PENDAHULUAN PNEUMONIA 1.

Bakteri ini dapat merupakan organisme yang pada keadaan normal berkolonisasi di saluran napas atas atau bakteri yang ditransmisikan dari satu orang ke orang lain melalui penyebaran droplet di udara. aeruginosa. Bayi pada bulan-bulan pertama kehidupan juga memiliki antibodi maternal yang didapat secara pasif yang dapat melindunginya dari pneumokokus dan organismeorganisme infeksius lainnya. kerusakan yang disebabkan virus terhadap mekanisme pertahan yang normal dapat menyebabkan bakteri patogen menginfeksi saluran napas bagian bawah. Aspirasi: lambung 3. rubella. Bila suatu partikel dapat mencapai paru-paru. Jamur: candida albicans 5. Ada beberapa mekanisma yang pada keadaan normal melindungi paru dari infeksi. Micoplasma pneumonia 4. Hal ini menyebabkan lepasnya sel-sel epitel ke dalam saluran napas. Cairan eksudatif di alveoli menyebabkan konsolidasi lobaris yang khas pada foto toraks. MANIFESTASI KLINIK • Secara khas diawali dengan awitan menggigil. Pada anak tanpa faktor-faktor predisposisi tersebut. eneterobacter 2. deposit fibrin.2 Kemungkinan lain. dan juga dengan mekanisme imun sistemik.2. dan humoral. virus herpes simpleks ) dapat terjadi melalui penyebaran hematogen baik dari sumber terlokalisir atau bakteremia/viremia generalisata. partikel infeksius dapat mencapai paru melalui perubahan pada pertahanan anatomis dan fisiologis yang normal.5 ºC sampai 40. partikel tersebut akan berhadapan dengan makrofag alveoler. campak. Virus. Kadang-kadang pneumonia bakterialis dan virus ( contoh: varisella. . virus Epstein-Barr. Virus tersebut dapat menyebar ke saluran napas bagian bawah dan menyebabkan pneumonia virus. Partikel infeksius difiltrasi di hidung. atau terperangkap dan dibersihkan oleh mukus dan epitel bersilia di saluran napas. atau kelainan neurologis yang memudahkan anak mengalami aspirasi dan perubahan kualitas sekresi mukus atau epitel saluran napas. bakteri menyebabkan respons inflamasi akut yang meliputi eksudasi cairan.2 4. Perubahan pada mekanisme protektif ini dapat menyebabkan anak mudah mengalami pneumonia misalnya pada kelainan anatomis kongenital. Virus: virus influenza.5 ºC). Bakteri: stapilokokus. mikoplasma. seperti yang terjadi pada bronkiolitis. streplokokus. defisiensi imun didapat atau kongenital. CMV. ETIOLOGI Pneumonia dapat disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti: 1. dan infiltrasi leukosit polimorfonuklear di alveoli yang diikuti infitrasi makrofag. adenovirus 3. Ini paling sering terjadi akibat virus pada saluran napas bagian atas. demam yang timbul dengan cepat (39.2 Setelah mencapai parenkim paru. dan klamidia menyebabkan inflamasi dengan dominasi infiltrat mononuklear pada struktur submukosa dan interstisial. • Nyeri dada yang ditusuk-tusuk yang dicetuskan oleh bernafas dan batuk. PATOFISIOLOGI Sebagian besar pneumonia didapat melalui aspirasi partikel infektif.

Pemeriksaan fungsi paru: untuk mengetahui paru-paru. diberikan nutrisi dengan kalori yang cukup. PENATALAKSANAAN Pengobatan diberikan berdasarkan etiologi dan uji resistensi tapi karena hal itu perlu waktu dan pasien pneumonia diberikan terapi secepatnya: • Penicillin G: untuk infeksi pneumonia staphylococcus. penurunan toleransi terhadap aktivitas. Pemeriksaan serologi: membantu dalam membedakan diagnosis organisme khusus. kelelahan. rimantadine: untuk infeksi pneumonia virus • Eritromisin. Pemeriksaan gram/kultur.• Takipnea (25 – 45 kali/menit) disertai dengan pernafasan mendengur. derivat tetrasiklin: untuk infeksi pneumonia mikroplasma. • Amantadine. PENGKAJIAN Data dasar pengkajian pasien: • Aktivitas/istirahat Gejala : kelemahan. insomnia Tanda : letargi. • Nadi cepat dan bersambung • Bibir dan kuku sianosis • Sesak nafas 5. • Bila terjadi gagal nafas. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Bronkostopi: untuk menetapkan diagnosis dan mengangkat benda asing 7. Biopsi paru: untuk menetapkan diagnosis 6. 8. bronchial). pernafasan cuping hidung. 4. sputum dan darah: untuk dapat mengidentifikasi semua organisme yang ada. menetapkan luas berat penyakit dan membantu diagnosis keadaan. dapat juga menyatakan abses) 2. Spirometrik static: untuk mengkaji jumlah udara yang diaspirasi 7. • Menganjurkan untuk tirah baring sampai infeksi menunjukkan tanda-tanda • Pemberian oksigen jika terjadi hipoksemia. 5. . KOMPLIKASI • Efusi pleura • Hipoksemia • Pneumonia kronik • Bronkaltasis • Atelektasis (pengembangan paru yang tidak sempurna/bagian paru-paru yang diserang tidak mengandung udara dan kolaps). Sinar X: mengidentifikasikan distribusi struktural (misal: lobar. tetrasiklin. 3. • Komplikasi sistemik (meningitis) 6.

berkarat .perpusi: pekak datar area yang konsolidasi . riwayat diabetes mellitus Tanda : sistensi abdomen. penyakit kronis. 3.premikus: taksil dan vocal bertahap meningkat dengan konsolidasi . Nyeri (akut) berhubungan dengan inflamasi parenkim paru. 4. tugas pemeliharaan rumah 9.Bunyi nafas menurun . artralgia. Resiko tinggi terhadap infeksi (penyebaran) berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan sekunder (adanya infeksi penekanan imun). penggunaan alkohol kronis Tanda : DRG menunjukkan rerata lama dirawat 6 – 8 hari Rencana pemulangan: bantuan dengan perawatan diri.• Sirkulasi Gejala : riwayat adanya Tanda : takikardia. penggunaan steroid. gemetar • Penyuluhan/pembelajaran Gejala : riwayat mengalami pembedahan. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. kulit kering dengan turgor buruk.Warna: pucat/sianosis bibir dan kuku • Keamanan Gejala : riwayat gangguan sistem imun misal: AIDS. takipnea (sesak nafas). peningkatan produksi sputum. 6. 2. Tanda : . penampilan kemerahan. penampilan kakeksia (malnutrisi) • Neurosensori Gejala : sakit kepala daerah frontal (influenza) Tanda : perusakan mental (bingung) • Nyeri/kenyamanan Gejala : sakit kepala. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen. 5. Bersihan jalan nafas tak efektif berhubungan dengan inflamasi trachea bronchial. demam. imralgia. atau pucat • Makanan/cairan Gejala : kehilangan nafsu makan. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan kapasitas pembawa oksigen darah. malnutrisi.sputum: merah muda. Resiko tinggi terhadap nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan peningkatan . mual. batuk menetap. dispnea. pembentukan edema. nyeri dada (meningkat oleh batuk). Tanda : melindungi area yang sakit (tidur pada sisi yang sakit untuk membatasi gerakan) • Pernafasan Gejala : adanya riwayat ISK kronis. muntah. menggigil berulang. Tanda : berkeringat.

Kaji frekuensi/kedalaman pernafasan dan gerakan dada Rasional : takipnea. eks.Dispnea.Bunyi nafas tak normal . Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan berlebihan. sianosis .Sianosis Intervensi: .Batuk efektif atau tidak efektif dengan/tanpa produksi sputum. pernafasan dangkal dan gerakan dada tak simetris sering terjadi karena ketidaknyamanan. 2. Bersihan jalan nafas tak efektif berhubungan dengan inflamasi trachea bronchial. sianosis . . . karena dapat menurunkan upaya batuk/menekan pernafasan.Nafas normal . catat area penurunan 1 kali ada aliran udara dan bunyi nafas Rasional: penurunan aliran darah terjadi pada area konsolidasi dengan cairan. kedalaman pernafasan .Hipoksia . Jalan nafas efektif dengan kriteria: .Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat sesuai indikasi: mukolitik.Gelisah/perubahan mental . gangguan pengiriman oksigen ditandai dengan: . penurunan masukan oral.Bunyi nafas bersih . . 7. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan pembawa oksigen darah.Perubahan frekuensi. Rasional: alat untuk menurunkan spasme bronkus dengan mobilisasi sekret.Batuk efektif .Penghisapan sesuai indikasi Rasional: merangsang batuk atau pembersihan jalan nafas suara mekanik pada faktor yang tidak mampu melakukan karena batuk efektif atau penurunan tingkat kesadaran.Takikardia .Dispnea.kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses infeksi. RENCANA KEPERAWATAN 1.Auskultasi area paru. analgetik diberikan untuk memperbaiki batuk dengan menurunkan ketidaknyamanan tetapi harus digunakan secara hati-hati.Biarkan teknik batuk efektif Rasional : batuk adalah mekanisme pembersihan jalan nafas alami untuk mempertahankan jalan nafas paten. . 10. peningkatan produksi sputum ditandai dengan: .Berikan cairan sedikitnya Rasional: cairan (khususnya yang hangat) memobilisasi dan mengeluarkan sekret .

Gelisah Intervensi: . malnutrisi.Tinggikan kepala dan dorong sering mengubah posisi.Gangguan gas teratasi dengan: . Rasional: tindakan ini meningkat inspirasi maksimal.Nafas normal . penyakit kronis.Kolaborasi Berikan terapi oksigen dengan benar misal dengan nasal plong master. 3. membran mukosa dan kulit sekitar mulut menunjukkan hipoksemia sistemik. amantadin. O2 diberikan dengan metode yang memberikan pengiriman tepat dalam toleransi pe. Rasional: memudahkan proses penyembuhan dan meningkatkan tekanan alamiah .Tunjukkan teknik mencuci tangan yang baik Rasional: efektif berarti menurun penyebaran/perubahan infeksi. Rasional: mempertahankan PaO2 di atas 60 mmHg. Resiko tinggi terhadap infeksi (penyebaran) berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan sekunder (adanya infeksi penekanan imun). .Kaji status mental.Kolaborasi Berikan antimikrobial sesuai indikasi dengan hasil kultur sputum/darah misal penicillin. nafas dalam dan batuk efektif. . . Rasional: gelisah mudah terangsang. . sepalosporin. Rasional: menurunkan penularan terhadap patogen infeksi lain . Tujuan: Infeksi tidak terjadi dengan kriteria: . master venturi. . meningkat pengeluaran sekret untuk memperbaiki ventilasi tak efektif.waktu perbaikan infeksi/kesembuhan cepat tanpa . membran mukosa dan kuku. Rasional: sianosis kuku menunjukkan vasokontriksi respon tubuh terhadap demam/menggigil namun sianosis pada daun telinga.Hipoksia .Batasi pengunjung sesuai indikasi. tetrasiklin. potensial untuk fatal dapat terjadi. Rasional: Obat digunakan untuk membunuh kebanyakan microbial pulmonia.Pantau tanda vital dengan ketat khususnya selama awal terapi Rasional: selama awal periode ini.Observasi warna kulit.Kaji frekuensi/kedalaman dan kemudahan bernafas Rasional: manifestasi distress pernafasan tergantung pada indikasi derajat keterlibatan paru dan status kesehatan umum. amikalin.Potong keseimbangan istirahat adekuat dengan aktivitas sedang. eritromisin. Catat adanya sianosis perifer (kuku) atau sianosis sentral. . Tingkatkan masukan nutrisi adekuat.Sianosis .Sesak .penularan penyakit ke orang lain tidak ada Intervensi: . . bingung dan somnolen dapat menunjukkan hipoksia atau penurunan oksigen serebral.

4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen ditandai dengan: - Dispnea - Takikardia - Sianosis Intoleransi aktivitas teratasi dengan: - Nafas normal - Sianosis - Irama jantung Intervensi - Evaluasi respon pasien terhadap aktivitas Rasional: merupakan kemampuan, kebutuhan pasien dan memudahkan pilihan interan. - Berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung selama fase akut sesuai indikasi. Rasional: menurunkan stress dan rangsangan berlebihan, meningkatkan istirahat. - Jelaskan perlunya istirahat dalam rencana pengobatan dan perlunya keseimbangan aktivitas dan istirahat. - Bantu pasien memilih posisi nyaman untuk istirahat atau tidur. Rasional: pasien mungkin nyaman dengan kepala tinggi, tidur di kursi. - Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan Rasional: meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen. 5. Nyeri berhubungan dengan inflamasi parenkim varul, batuk menetap ditandai dengan: - Nyeri dada - Sakit kepala - Gelisah Nyeri dapat teratasi dengan: - Nyeri dada (-) - Sakit kepala (-) - Gelisah (-) Intervensi: - Tentukan karakteristik nyeri, misal kejan, konstan ditusuk. Rasional: nyeri dada biasanya ada dalam seberapa derajat pada pneumonia, juga dapat timbul karena pneumonia seperti perikarditis dan endokarditis. - Pantau tanda vital Rasional: Perubahan FC jantung/TD menu bawa Pc mengalami nyeri, khusus bila alasan lain tanda perubahan tanda vital telah terlihat. - Berikan tindakan nyaman pijatan punggung, perubahan posisi, musik tenang / berbincangan. Rasional: tindakan non analgesik diberikan dengan sentuhan lembut dapat menghilangkan ketidaknyamanan dan memperbesar efek derajat analgesik. - Aturkan dan bantu pasien dalam teknik menekan dada selama episode batuk. Rasional: alat untuk mengontrol ketidaknyamanan dada sementara meningkat keefektifan upaya batuk.

- Kolaborasi Berikan analgesik dan antitusik sesuai indikasi Rasional: obat dapat digunakan untuk menekan batuk non produktif atau menurunkan mukosa berlebihan meningkat kenyamanan istirahat umum. 6. Resiko tinggi terhadap nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses inflamasi ditandai dengan tujuan: Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh dapat diatasi dengan: - Pasien menunjukkan peningkatan nafsu makan - Pasien mempertahankan meningkat BB Intervensi - identifikasi faktor yang menimbulkan mual/muntah, misalnya: sputum, banyak nyeri. Rasional: pilihan intervensi tergantung pada penyebab masalah - Jadwalkan atau pernafasan sedikitnya 1 jam sebelum makan Rasional: menurun efek manual yang berhubungan dengan penyakit ini - Berikan makan porsi kecil dan sering termasuk makanan kering (roti panggang) makanan yang menarik oleh pasien. Rasional: tindakan ini dapat meningkat masukan meskipun nafsu makan mungkin lambat untuk kembali. - Evaluasi status nutrisi umum, ukur berat badan dasar. Rasional: adanya kondisi kronis keterbatasan ruangan dapat menimbulkan malnutrisi, rendahnya tahanan terhadap inflamasi/lambatnya respon terhadap terapi. 7. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan berlebihan, demam, berkeringat banyak, nafas mulut, penurunan masukan oral. Kekurangan volume cairan tidak terjadi dengan kriteria: Pasien menunjukkan keseimbangan cairan dibuktikan dengan parameter individual yang tepat misalnya membran mukosa lembab, turgor kulit baik, tanda vital stabil. Intervensi: - Kaji perubahan tanda vital contoh peningkatan suhu demam memanjang, takikardia. Rasional: peningkatan suhu/memanjangnya demam meningkat laju metabolik dan kehilangan cairan untuk evaporasi. - Kaji turgor kulit, kelembapan membran mukosa (bibir, lidah) Rasional: indikator langsung keadekuatan volume cairan, meskipun membran mukosa mulut mungkin kering karena nafas mulut dan O2 tambahan. - Catat laporan mual/muntah Rasional: adanya gejala ini menurunkan masukan oral - Pantau masukan dan keluaran catat warna, karakter urine. Hitung keseimbangan cairan. Ukur berat badan sesuai indikasi. Rasional: memberikan informasi tentang keadekuatan volume cairan dan keseluruhan penggantian.

- Tekankan cairan sedikit 2400 mL/hari atau sesuai kondisi individual Rasional: pemenuhan kebutuhan dasar cairan menurunkan resiko dehidrasi. - Kolaborasi Beri obat indikasi misalnya antipiretik, antimitik. Rasional: berguna menurunkan kehilangan cairan Berikan cairan tambahan IV sesuai keperluan Rasional: pada adanya penurunan masukan banyak kehilangan penggunaan dapat memperbaiki/mencegah kekurangan 11. IMPLEMENTASI Dilakukan sesuai dengan rencana tindakan menjelaskan setiap tindakan yang akan dilakukan sesuai dengan pedoman atau prosedur teknik yang telah ditentukan. 12. EVALUASI Kriteria keberhasilan: - Berhasil Tuliskan kriteria keberhasilannya dan tindakan dihentikan - Tidak berhasil Tuliskan mana yang belum berhasil dan lanjutkan tindakan. 13. DAFTAR PUSTAKA 1. Doenges, Marilynn, E. dkk. Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, 2000. EGC, Jakarta. 2. Bare Brenda G, Smeltzer Suzan C. Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8, Vol. 1, EGC, Jakarta. 3. Price Anderson Sylvia, Milson McCarty Covraine, Patofisiologi, buku-2, Edisi 4, EGC, Jakarta. 4. Tim Penyusun. Ilmu Penyakit Dalam, Edisi 3. Volume II, 2001, FKUI.
This entry was posted on Saturday, April 18th, 2009 at 2:55 am and is filed under Uncategorized. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

þÿ

Name (required) Mail (will not be published) (required) Website

þÿ

þÿ

Type the two words:Type what you hear:Incorrect. þÿ Submit Comment Powered by Blog. 8. 16 Askep Abses paru AKPER PPNI SOLO. lesi mengalami kolaps dan membentuk ruang.16.bahan purulen.2009 Askep Abses paru merupakan lesi nekrotik setempat pada parenkim paru .com Entries (RSS) and Comments (RSS). Try again. B. ETIOLOGI .

Mikroorganisme penyebab dapat berasal dari bermacam-macam basil dari flora mulut.1. Hubungan dengan bronkus dapat terjadi sehingga pus atau jaringan nekrotik dapat dikeluarkan. TANDA DAN GEJALA Gejala timbul satu sampai tiga hari setelah aspirasi. Malaise dengan panas badan disertai menggigil 2. embolisme paru atau trauma dada PASIEN YANG BERISIKO: 1. Dengan kerusakan reflek batuk dan tidak mampu menutup glotis 2. spiroketa. Infeksi karena aspirasi dari saluran napas. menyebar ke parenkim paru dikelilingi oleh jaringan granulasi. benda asing atau stenosis bronkial) 3. dll) 2. PATOLOGI Proses dimulai di bronki/bronkioli. bila yang masuk basil saja maka akan timbul pneumonia. C. Obstruksi mekanik atau fungsional bronki (tumor. tenggorokan. Perkusi: pekak b. Penurunan berat badan Bila tidak diobati gejala akan terus meningkat sampai kurang lebih hari ke sepuluh. Dengan pneumonia TEMPAT ABSES Berhubungan dengan pengumpulan akibat gaya gravitasi yang ditentukan oleh posisi klien pada waktu terjadinya aspirasi. Dengan kerusakan kesadaran karena anestesi. Darah: LED meningkat. Drainase dan pengobatan yang tidak memadai akan menyebabkan abses menjadi menaun. Yang mengalami kesulitan mengunyah 3. Dispnea 4. Nekrotisasi pneumonia. hidung. 1. Auskultasi: penurunan sampai tidak terdengarnya bunyi napas atau krekles 2. Batuk dan nyeri pleuritik (jawa: kemeng) 3. Perluasan ke pleura sering terjadi. mungkin juga berbau busuk (infeksi basil anaerob) E. Laboratorium a. D. Anoreksia 6. Sianosis 5.napas dengan akibat timbulnya atelektasis dengan infeksi. gangguan saraf pusat (kejang. Leukosit 20-30rb/mm3 b. penderita mendadak batuk pus bercampur darah dalam jumlah banyak. Dalam keadaan berbaring menuju ke subsegmen apikal lobus superior atau segmen superior lobus inferior. Sputum berupa pus dengan pengecatan gram terdapat dengan leukosit dan ditentukan . Pemeriksaan fisik dada a.Tuberkulosis. Dengan selang nasogastrik 5. Abses timbul bila organisme yang masuk ke paru bersama-sama dengan material yang terhirup yang akan membuntu sal. termasuk aerob dan aerob seperti Streptokokus. PEMERIKSAAN DIAGNOSIS 1. stroke) 4.

Terapi antibiotik pd pasien yg mengalami infeksi (pd gigi dan gusi) saat pencabutan gigi 2. Terapi antimikroba yg sesuai dg resep pd pasien dg pneumonia G. Dorong asupan diet:TKTP 6. 5. kemudian setelah kira-kira hari ke sepuluh. tekankan istirahat. Penkes jika klien menjalani pembedahan (prwtn luka.d lamanya waktu pengobatan Intervensi keperawatan: 1. Reseksi paru (lobektomi) Tindakan yg akan mengurangi risiko terjadinya abses. fisioterapi dada). pentingnya penyelesaian regimen antibiotik . PROSES KEPERAWATAN Diagnosa yang mungkin muncul: 1. B: BREATHING a.d lamanya waktu penyembuhan 7. Antibiotik oral utk mengganti IV setelah ada tanda perbaikan (suhu tbh normal. hitung Leukosit menurun. napas dalam. 3. Dosis IV yg banyak diperlukan karena antibiotik harus menembus jaringan nekrotik dan cairan dlm abses. Pertahankan kebersihan gigi dan mulut scr adekuat 3. 2. Gangguan tidur 5. PENATALAKSANAAN MEDIS 1. F.d penumpukan sekret 2. Kelemahan (fatigue) 6. Diet tinggi protein dan kalori utk katabolik pd infeksi kronik dan mempercepat penyembuhan 4. Terapi antimikroba intravena berdasar kultur dan sensitivitas pd sputum. 1. perbaikan gmbrn rontgen. Drainase adekuat abses paru (drainase postural dan fisioterapi dada) 3. jaringan nekrotik di dalamnya dikeluarkan dan meninggalkan kavitas dengan “air fluid level” yang berkarateristik. nutrisi.bermacam-macam basil. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh 4. Latih batuk efektif agar pengembangan paru max. Gangguan pertukaran gas 3. Bedah jarang dilakukan. Fisioterapi dada utk memudahkan drainase abses 3. A: AIRWAY Ketidakefektifan bersihan jalan napas b. Ketidakefektifan pola napas b. Ketidakefektifan manajemen regimen terapeutik b. Ajarkan napas dalam 4. Awasi terapi antibiotik yg diberikan pd klien: sesuai resep dan awasi efek samping yg merugikan (Pastikan klien menyelesaikan seluruh dosis terapi) 2. Beri dukungan secara emosional b. 5. PK: Infeksi 7. batuk efektif. Rontgen dada: pada mulanya memberi gambaran konsolidasi seperti pada pneumonia.

2008 OLeh : Hendra Arif Abses paru adalah suatu kavitas dalam jaringan paru yang berisi material purulent berisikan sel radang akibat proses nekrotik parenkim paru oleh proses terinfeksi .Baca Juga Artikel Dibawah askep medikal • • • • • • askep ARDS ( Acute Respiratory Distress Syndrome) Askep Pneumonia Askep Bronchopneumonia Askep TBC Paru Askep Hipertensi Askep Gastritis di 7:35 AM Label: askep medikal 0 komentar: Post a Comment BSES PARU Agustus 7. Bila diameter kavitas < 2 cm dan jumlahnya banyak (multiple small abscesses) dinamakan “necrotising pneumonia”. Pada umumnya kasus Abses paru ini berhubungan dengan karies gigi. penyakit sistemik atau komplikasi dari paska obstruksi. Pada negara-negara maju jarang dijumpai kecuali penderita dengan gangguan respons imun seperti penyalahgunaan obat. Abses timbul karena aspirasi benda terinfeksi. kerusakan paru sebelumnya dan penyalahgunaan alkohol. penurunan mekanisme pertahanan tubuh atau virulensi kuman yang tinggi. Pada beberapa studi didapatkan bahwa . epilepsi tak terkontrol. Abses besar atau abses kecil mempunyai manifestasi klinik berbeda namun mempunyai predisposisi yang sama dan prinsip diferensial diagnose sama pula.

Mendorong terjadinya resistensi antibiotika. Penelitian pada penderita Abses paru nosokonial ditemukan kuman aerob seperti golongan enterobacteriaceae yang terbanyak.6 : 1 (1. yang menimbulkan nekrosis dan likuifikasi. 10). Finegolal dan fisliman mendapatkan bahwa organisme penyebab abses paru lebih dari 89 % adalah kuman anaerob. Insidens Angka kejadian Abses Paru berdasarkan penelitian Asher et al tahun 1982 adalah 0. PATHOFISIOLOGI Garry tahun 1993 mengemukakan terjadinya abses paru disebutkan sebagai berikut : (5) a. 3. Merupakan proses lanjut pneumonia inhalasi bakteria pada penderita dengan faktor predisposisi. terapi dan prognosa sebagai penyegaran teori yang sudah ada. Dengan rasio jenis kelamin laki-laki banding wanita adalah 1. Adanya super infeksi bakteri yang mengakibatkan Nosokonial Pneumoni. 4. 2. terapi kombinasi masih memberikan beberapa permasalahan sebagai berikut : (4) 1. Sedangkan penelitian dengan teknik biopsi perkutan atau aspirasi transtrakeal ditemukan terbanyak adalah kuman anaerob. infeksi kemudian proses supurasi dan nekrosis. Asher dan Beandry mendapatkan bahwa pada anak-anak kuman penyebab abses paru terbanyak adalah stapillococous aureus (1).kuman aerob maupupn anaerob dari koloni oropharing yang sering menjadi penyebab abses paru. Pada umumnya para klinisi menggunakan kombinasi antibiotik sebagai terapi seperti penisilin.000 penderita yang masuk rumah sakit hampir sama dengan angka yang dimiliki oleh The Children’s Hospital of eastern ontario Kanada sebesar 0. Terapi ideal harus berdasarkan penemuan kuman penyebabnya secara kultur dan sensitivitas. Potensi reaksi keracunan obat tinggi 3. Waktu perawatan di RS yang lama 2. melokalisir proses abses dengan jaringan fibrotik.67 tiap 100. bila abses pecah ke rongga pleura maka terjadi empyema (2. Suatu saat abses pecah. Pembentukan jaringan granulasi terjadi mengelilingi abses. 2. 3.7 dari 100. kadang terjadi aspirasi pada bagian lain bronkus terbentuk abses baru. PATHOLOGI Abses paru timbul bila parenkim paru terjadi obstruksi. Perubahan reaksi radang pertama dimulai dari suppurasi dan trombosis pembuluh darah lokal. metronidazole dan golongan aminoglikosida pada abses paru. 1. Etiologi Kuman atau bakteri penyebab terjadinya Abses paru bervariasi sesuai dengan peneliti dan teknik penelitian yang digunakan. Bakteri mengadakan multiplikasi dan merusak parenkim paru dengan proses . Pada makalah ini akan dibahas Abses paru mulai patogenesis. 8). Walaupun masih efektif. Angka kematian yang disebabkan oleh Abses paru terjadi penurunan dari 30 – 40 % pada era preantibiotika sampai 15 – 20 % pada era sekarang (7).000 penderita anak-anak yang MRS. PATHOFISIOLOGI 1. Sputumnya biasanya berbau busuk. lalu jaringan nekrosis keluar bersama batuk.

Pemeriksaan kultur bakteri dan test kepekaan antibiotikan merupakan cara terbaik . Tetapi bila tidak ada hubungan maka hanya dijumpai tanda-tanda konsolidasi (opasitas). Batuk. sering dijumpai adanya jari tabuh serta takikardi. Kadang-kadang dijumpai juga pada obstruksi karena pembesaran kelenjar limphe peribronkial. Pada pemeriksaan darah rutin. d. 6) Gejala klinis yang ada pada abses paru hampir sama dengan gejala pneumonia pada umumnya yaitu: a. Gejala yang sama juga terlihat pada aspirasi benda asing yang belum keluar. Gejala klinis : (1. Ditentukan leukositosis. 3. Pemeriksaan laboratorium (2. Obstruksi bronkus dapat menyebabkan pneumonia berlajut sampai proses abses paru. Pada hitung jenis sel darah putih didapatkan pergeseran shit to the left b. 3. 1. Hal ini sering terjadi pada obstruksi karena kanker bronkogenik. MANIFESTASI KLINIS. Pada penderita emphisema paru atau polikisrik paru yang mengalami infeksi sekunder.700/mm3. Pembentukan kavitas pada kanker paru. Pertumbuhan massa kanker bronkogenik yang cepat tidak diimbangi peningkatan suplai pembuluh darah. 25% kasus)± Batuk darah ( f. 50% kasus)± Nyeri dada ( e. Bila terjadi infeksi dapat terbentuk abses. sehingga terjadi likuifikasi nekrosis sentral. Gambaran Radiologis (1.000/mm3 (90% kasus) bahkan pernah dilaporkan peningkatan sampai dengan 32. Kavitas yang mengalami infeksi. 2. Kavitas ini bisa multipel atau 2 – 20 cm. pada stadium awal non produktif. 4. 2. Gejala tambahan lain seperti lelah. 5. b. meningkat lebih dari 12. 3. c. c. suara nafas yang meningkat.nekrosis. Bila terdapat hubungan dengan bronkus maka didalam kavitas terdapat Air fluid level. d. b. penurunan nafsu makan dan berat badan. maka terbentuklah air fluid level bakteria masuk kedalam parenkim paru selain inhalasi bisa juga dengan penyebaran hematogen (septik emboli) atau dengan perluasan langsung dari proses abses ditempat lain (nesisitatum) misal abses hepar. Bila terjadi hubungan rongga abses dengan bronkus batuknya menjadi meningkat dengan bau busuk yang khas (Foetor ex oroe (4075%). Bila berhubungan dengan bronkus. Laju endap darah ditemukan meningkat > 58 mm / 1 jam. Pada beberapa penderita tuberkolosis dengan kavitas. 4.φ tunggal dengan ukuran Gambaran ini sering dijumpai pada paru kanan lebih dari paru kiri. Panas badan Dijumpai berkisar 70% – 80% penderita abses paru. akibat inhalasi bakteri mengalami proses keradangan supurasi. 9) Pada foto torak terdapat kavitas dengan dinding tebal dengan tanda-tanda konsolidasi disekelilingnya. Kadang dijumpai dengan temperatur > 400C. Produksi sputum yang meningkat dan Foetor ex oero dijumpai berkisar 40 – 75% penderita abses paru. Pemeriksaan sputum dengan pengecatan gram tahan asam dan KOH merupakan pemeriksaan awal untuk menentukan pemilihan antibiotik secara tepat. Pada pemeriksaan dijumpai tanda-tanda proses konsolidasi seperti redup. 5) a. 2. c.

9. 3. 5. Dindingnya tipis dan tidak ada reaksi di sekitarnya. IV. Pemeriksaan laboratorium sputum gram. Pekerjaan penderita jelas di daerah berdebu dan didapatkan simple pneumoconiosis pada penderita. 8. Diagnosis pasti dengan pemeriksaan sitologi/patologi. 4. Pada tuberkulosis didapatkan BTA dan pada infeksi jamur ditemukan jamur. Hematom paru. 4. 2. Maka bisa dipikrkan untuk memilih kombinasi antibiotika antara golongan . Tidak ada gejala paru. PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan Abses paru harus berdasarkkan pemeriksaan mikrobiologi dan data penyakit dasar penderita serta kondisi yang mempengaruhi berat ringannya infeksi paru. Ada beberapa modalitas terapi yang diberikan pada abses paru : (2. Sekuester paru. Gejala klinisnya hampir sama atau lebih menahun daripada abses paru. biasanya dinding kavitas tebal dan tidak rata. trauma atau serangan epilepsi. Letak di basal kiri belakang. Riwayat penyalahgunaan obat yang mungkin teraspirasi asam lambung waktu tidak sadar atau adanya emboli kuman diparu akibat suntikan obat. Diagnosis pasti dengan pemeriksaan barium foto. Batuk hanya sedikit. Pilihan pertama antibiotika adalah golongan Penicillin pada saat ini dijumpai peningkatan Abses paru yang disebabkan oleh kuman anaerobs (lebih dari 35% kuman gram negatif anaerob). DIAGNOSA Diagnosa abses paru tidak bisa ditegakkan hanya berdasarkan kumpulan gejala seperti pneumonia dan pemeriksaan phisik saja. Gambaran radiologis yang menunjukkan kavitas dengan proses konsolidasi disekitarnya. 2. Bronkoskopi Fungsi Bronkoskopi selain diagnostik juga untuk melakukan therapi drainase bila kavitas tidak berhubungan dengan bronkus. Nyeri restrosternal dan heart burn bertambah berat pada waktu membungkuk. Riwayat penyakit sebelumnya. Pneumokoniosis yang mengalami kavitasi. 6. Keluhan penderita yang khas misalnya malaise. Diagnosis pasti dengan bronkografi atau arteriografi retrograd. 5. Ada riwayat trauma. Adanya riwayat penurunan kesadaran berkaitan dengan sedasi. Karsimoma bronkogenik yang mengalami kavitasi. dan batuk yang produktif. penurunan berat badan. Bula yang terinfeksi. 6) 1. panas badan yang ringan. 10) 1. Diagnosa harus ditegakkan berdasarkan : (1. 5. Tuberkulosis paru atau infeksi jamur 3. 9. Kista paru yang terinfeksi. 7. tampak air fluid level. 3. V. Hasil pemeriksaan fisik yang mendukung adanya data tentang penyakit dasar yang mendorong terjadinya abses paru. Di sekitar bula tidak ada atau hanya sedikit konsolidasi.dalam menegakkan diagnosa klinis dan etiologis. Diagnosa Banding (2) : 1. 4. 4. Medika Mentosa Pada era sebelum antibiotika tingkat kematian mencapai 33% pada era antibiotika maka tingkat kkematian dan prognosa abses paru menjadi lebih baik. Hiatus hernia. kultur darah yang dapat mengarah pada organisme penyebab infeksi. 5. 2. adanya air fluid level yang berubah posisi sesuai dengan gravitasi.

Bakteri aerob e.penicillin G dengan clindamycin atau dengan Metronidazole. Infeksi paru yang berulang d. Immune Compromised f. b. atau kombinasi clindamycin dan Cefoxitin. KOMPLIKASI DAN PROGNOSA 1. Prognosa Abses paru masih marupakan penyebab morbiditas dan mortalitas yang signifikan. Angka kematian Abses paru berkisar antara 15-20% merupakan penurunan bila dibandingkan dengan era pre antibiotika yang berkisar antara 30-40% (7). jadi diberikan antibiotika minimal 2-3 minggu. Pada penderita Abses paru yang tidak berhubungan dengan bronkus maka perlu dipertimbangkan drainase melalui bronkoskopi. Respon yang rendah terhadap therapi antibiotika. VI.4% angka kematian Abses paru karena CAP dibanding 66% Abses paru karena HAP. Pada penderita dengan beberapa faktor predisposisi mempunyai prognosa yang lebih jelek dibandingkan dengan penderita dengan satu fakktor predisposisi. Perlman et al menemukan bahwa 2% angka kematian pada penderita dengan satu faktor predisposisi dibandingkan 75% pada penderita dengan multi predisposisi. 3. Anemia dan Hipo Albuminemia b. Waktu pemberian antibiotika tergantung dari gejala klinis dan respon radiologis penderita. Lesi obstruksi d. RINGKASAN Abses paru adalah suatu kavitas dalam jaringan paru yang berisi material purulent dan sel . Adanya gangguan drainase karena obstruksi. Atelektasis d. Empyema b. Muri et al melaporkan 2. Abses yang besar sehingga mengganggu proses ventilasi perfusi c. Beberapa faktor yang memperbesar angka mortalitas pada Abses paru sebagai berikut : (7) a. 5) a. 2. Penderita diberikan terapi 2-3 minggu setelah bebas gejala atau adanya resolusi kavitas. Sepsis 2. Drainage Drainase postural dan fisiotherapi dada 2-5 kali seminggu selama 15 menit diperlukan untuk mempercepat proses resolusi Abses paru. Beberapa komplikasi yang timbul adalah : (4. Usia tua g. Abses otak c. Perawatan yang terlambat VII. Alternatif lain adalah kombinasi Imipenem dengan B Lactamase inhibitase. Gangguan intelegensia h. φ Abses yang besar ( > 5-6 cm) c. pada penderita dengan pneumonia nosokomial yang berkembang menjadi Abses paru. Bedah Reseksi segmen paru yang nekrosis diperlukan bila: a.

Surabaya . Pada pemeriksaan fisik didapatkan takikardia. 937 – 41. Empyema and Lung Abscess . 746 – 52. Chest . Oklahoma . Abses Paru dalam Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Paru . AJR . Philadelphia . epilepsi). 1 . 2021 – 32.radang akibat proses nekrotik parenkim paru oleh proses infeksi. 3 . Beadry PH . dkk . 1998 . Johnson KM. Fishman JA . and Pneumothorax . Lung Abscess in infections of Respicatory tract . Chest 111 . Pada pemeriksaan foto polos dada didapatkan gambaran kavitas dengan air fluid level atau proses konsolidasi saja bila kavitas tidak berhubungan dengan bronkus. DAFTAR PUSTAKA Asher MI. Phildelphia . 1995 . 119 – 120. 4 . Lung Abscess in a Lange Clinical Manual : Internal Medicina : Diagnosis and Therapy 3rd . 413 – 15. sputum purulen dan berbau. Pemberian antibiotika merupakan pilihan utama disamping terapi bedah dan terapi suportif fisio terapi. Chest . Lung Abscess in : Cecil text book of Medicine 19th ed . 136 – 41. Pada abses paru memberikan gejala klinis panas. Lung Abscess. 1992 . The Ethiology and Anti Microbial Susceptibility Patterns of Microorganism in acute Commuity – Acquired Lung Abscess . . 164 . 1993 . Canada . naspu makan dan berat badan yang turun. Assegaff H. oral higine yang kurang serta obstruksi dan aspirasi benda asing. 581 – 88. Interventional Radiology of The Chest : Image Guided Percutaneons Drainage of Pleural Effusions. Garry et al . in Fishman’s pulmonary Diseases and disorders 3rd ed . 115 . 1997 . 1995 . 109 – 13. gangguan kesadaran (anestesi. 1990 : 429 – 34. 108 . disertai malaise. Hirshberg B et al . batuk. Factors predicting mortality of patients with lung Abscsess . Finegold SM. Klein JS et al . Hammond JMJ et al . 1999 . AUP . Abses paru timbul karena faktor predisposisi seperti gangguan fungsi imun karena obat-obatan. tanda-tanda konsolidasi. Lung Abscess Caused by Legionella micdadei . Huseby JS . Barlett JG . Diagnosis pasti bila didapatkan biakan kuman penyebab sehingga dapat dilakukan terapi etiologis.

INDRA | Mei 25. 2008 Proses keperawatan pada pasien dengan Tuberculosa dengan pendekatan 5 langkah proses keperawatan sebagai berikut : 1. TB luar paru-paru dan TB yang berat terutama ditemukan pada usia < 3 tahun.1.Ricaurte KK et al . kemudian meningkat setelah masa remaja di mana TB paru-paru menyerupai kasus pada pasien dewasa (sering disertai lubang/kavitas pada paru-paru).. Allergic broucho pulumonary aspergillosis with multiple Streptococceus pneumonie Lung Abscess : an unussual insitial case presentation . Biasanya timbul pada lingkungan rumah dengan kepadatan tinggi yang tidak memungkinkan cahaya matahari masuk ke dalam rumah. 1 1999 . 238 – 40. Bio Data Penyakit Tuberkulosa dapat menyerang dari mulai anak sampai dengan dewasa dengan komposisi antara laki-laki dan perempuan yang hampir sama menderita. namun usia paling umum adalah antara 1-4 tahun. 104 . joutnal of allergy and clinical imonoligy . Entry Filed under: Kesehatan. 2009 at 5:03 am emang w nnya Leave a Comment Name Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan TBC Paru Posted By irman somantri on May 28. . TB pada anak dapat terjadi pada usia berapa pun. Angka kejadian (prevalensi) TB paru-paru pada usia 5-12 tahun cukup rendah. Pengkajian a. Anak lebih sering mengalami TB luar paru-paru (extrapulmonary) dibanding TB paru-paru dengan perbandingan 3:1. 1 Comment Add your own • 1. .

5) Malaise : ditemukan berupa anorexia. nyeri timbul bila infiltrasi radang sampai ke pleura sehingga menimbulkan pleuritis. 6) Pada atelektasis terdapat gejala berupa : cyanosis. c. dimulai dari batuk kering sampai dengan batuk purulen (menghasilkan sputum). Bagian dada klien tidak bergerak pada saat bernafas dan jantung terdorong ke sisi yang sakit. keringat malam. karena biasanya penyakit ini muncul bukan karena sebagai penyakit keturunan tetapi merupakan penyakit infeksi menular. kolaps. • Hipersonor/timpani bila terdapat kavitas yang cukup dan pada auskultasi memberikan suara umforik. berat badan menurun. 3) Sesak nafas : bila sudah lanjut dimana infiltrasi radang sampai setengah paru. batuk ini terjadi untuk membuang/mengeluarkan produksi radang. sesak nafas. kasar dan nyaring. 7) Perlu ditanyakan dengan siapa pasien tinggal. sakit kepala. • Ronchi basah. Vollmer Patch) : reaksi positif (area indurasi 10 mm atau lebih. timbul 48 – 72 jam setelah injeksi antigen intradermal) mengindikasikan infeksi lama dan adanya antibodi tetapi tidak mengindikasikan penyakit sedang aktif. deposit kalsium pada lesi primer yang membaik atau cairan pada effusi. Pada foto thorax tampak pada sisi yang sakit bayangan hitam dan diafragma menonjol ke atas. Pemeriksaan Fisik • Pada tahap dini sulit diketahui. 2) Ziehl Neelsen (Acid-fast Staind applied to smear of body fluid) : positif untuk BTA 3) Skin Test (PPD.b. • Pada keadaan lanjut Atropi dan retraksi interkostal dan fibrosis • Bila mengenai pleura terjadi effusi pleura (perkusi memberikan suara pekak) d. . Riwayat Kesehatan Keluhan yang sering muncul antara lain : C) hilang timbul. Mantoux. nafsu makan menurun. Tine. febris (40-41 2) Batuk : terjadi karena adanya iritasi pada bronchus. Pemeriksaan Tambahan 1) Sputum Culture : Positif untuk mycobacterium tuberkulosa pada stadium aktif.°1) Demam : subfebris. 4) Nyeri dada : ini jarang ditemukan. 4) Chest X-Ray : dapat memperlihatkan infiltrasi kecil pada lesi awal di bagian paru-paru bagian atas. Perubahan mengindikasikanTB yang lebih berat dapat mencakup area berlubang dan fibrous. nyeri otot.

7) Elektrolit : mungkin abnormal tergantung dari lokasi dan beratnya infeksi. 8. tergantung lokasi. urine dan CSF. Askep TBC Paru AKPER PPNI SOLO. berat dan sisa kerusakan paru. sejenis kuman yang berbentuk batang dengan ukuran panjang 1-4/mm dan tebal 0. Etiologi Tuberkulosis paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh basil mikrobakterium tuberkulosis tipe humanus.org/irp/imint/docs/rst/Intro/Part2_26b. Sebagian besar kuman terdiri atas asam lemak (lipid). mungkin ditemukan pada TB paru kronik lanjut.6/mm.Gambar 15 : Foto Rontgen Klien Tuberkulosa Paru (Sumber : www. Lipid inilah yang membuat kuman lebih tahan terhadap asam dan lebih tahan terhadap . Dead Space meningkat. 6) Needle Biopsi of Lung Tissue : positif untuk granuloma TB. LED meningkat. TLC meningkat dan menurunnya saturasi oksigen yang merupakan gejala sekunder dari fibrosis/infiltrasi parenchim paru dan penyakit pleura.3-0.html) 5) Histologi atau Culture jaringan (termasuk kumbah lambung. ABGs : mungkin abnormal. 9) Bronchografi : merupakan pemeriksaan khusus untuk melihat kerusakan bronchus atau kerusakan paru karena TB.fas. biopsi kulit) : positif untu mycobacterium tuberkulosa. 10) Darah : lekositosis. 11) Test Fungsi Paru : VC menurun. misalnya hiponatremia mengakibatkan retensi air. adanya sel-sel besar yang mengindikasikan nekrosis.12.2009 Askep TBC Paru atau sering dikenal dengan TB paru adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tubeculosis.

Proses Penularan Tuberkulosis tergolong airborne disease yakni penularan melalui droplet nuclei yang dikeluarkan ke udara oleh individu terinfeksi dalam fase aktif. Program penaggulangan secara terpadu baru dilakkan pada tahun 1995 melalui strategi DOTS (directly observed treatment shortcourse chemoterapy). Sifat lain kuman adalah aerob. tuberculosis juga dapat masuk ke dalam tubuh melalui saluran pencernaan dan luka terbuka pada kulit (lebih jarang). meskipun sejak tahun 1993 telah dicanangkan kedaruratan global penyakit tuberkulosis. Sedangkan yang disebut tuberkulosis post primer (reinfection) adalah peradangan jaringan paru oleh karena terjadi penularan ulang yang mana di dalam tubuh terbentuk kekebalan spesifik terhadap basil tersebut. Dalam hal ini tekanan bagian apikal paru-paru lebih tinggi dari pada bagian lainnya. Sifat ini menunjukkan bahwa kuman lebih menyenangi jaringan yang tinggi kandungan oksigennya. Tuberkulosis juga telah menyebabkan kematian lebih banyak terhadap wanita dibandingkan dengan kasus kematian karena kehamilan. hal ini disebabkan banyak penderita yang tidak berhasil disembuhkan. Dari sifat dormant ini kuman dapat bangkit kembali dan menjadikan tuberkulosis aktif kembali. Di bawah sinar matahari langsung basil tuberkel mati dengan cepat tetapi dalam ruang yang gelap lembab dapat bertahan sampai beberapa jam. penyakit tuberkulosis tidak terkendali. Diperkirakan 95 % penyakit tuberkulosis berada di negara berkembang. Hal ini terjadi karena kuman berada dalam sifat dormant. Penularan umumnya terjadi di dalam ruangan dimana droplet nuclei dapat tinggal di udara dalam waktu lebih lama. Di samping penularan melalui saluran pernapasan (paling sering). yang dalam perjalanannya sebagian besar akan mengalami penyembuhan. Tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi penting saluran pernapasan. sehingga bagian apikal ini merupakan tempat predileksi penyakit tuberkulosis. Tuberkulosis paru primer. Basil mikrobakterium tersebut masuk kedalam jaringan paru melalui saluran napas (droplet infection) sampai alveoli. 75 % adalah kelompok usia produktif (15-50 tahun). Kuman ini tahan hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin (dapat tahan bertahun-tahun dalam lemari es). Tuberkulosis yang kebanyakan didapatkan pad usia 1-3 tahun. Kegelisahan global ini didasarkan pada fakta bahwa pada sebagian besar negara di dunia.gangguan kimia dan fisik. yang sebenarnya dapat dicegah. . terutama penderita menular (BTA positif). maka terjadilah infeksi primer (ghon) selanjutnya menyebar kekelenjar getah bening setempat dan terbentuklah primer kompleks (ranke). diperkirakan setiap tahun terjadi sekitar sembilan juta penderita dengan kematian tiga juta orang (WHO. Di negara-negara berkembang kematian karena penyakit ini merupakan 25 % dari seluruh kematian. keduanya dinamakan tuberkulosis primer. Insiden Penyakit tuberkulosis adalah penyakit yang sangat epidemik karena kuman mikrobakterium tuberkulosa telah menginfeksi sepertiga penduduk dunia. Pada tahun 1995. 1997). M. Setiapkali penderita ini batuk dapat mengeluarkan 3000 droplet nuclei. peradangan terjadi sebelum tubuh mempunyai kekebalan spesifik terhadap basil mikobakterium. Dua faktor penentu keberhasilan pemaparan Tuberkulosis pada individu baru yakni konsentrasi droplet nuclei dalam udara dan panjang waktu individu bernapas dalam udara yang terkontaminasi tersebut di samping daya tahan tubuh yang bersangkutan.

Di indonesia pada tahun yang sama. Bronkus-bronkus itu berjalan ke bawah dan kesamping ke arah tampuk paru. bronkus.persalinan dan nifas. larinx trachea. (rongga) hidung. Cabang utama bronchus kanan dan kiri bercabang lagi menjadi bronchus lobaris dan kernudian menjadi lobus segmentalis. Bronkhiolus tidak diperkuat oleh cincin tulang rawan. Rongga hidung dilapisi sebagai selaput lendir yang sangat kaya akan pembuluh darah. Seluruh saluran udara ke bawah sampai tingkat bronkbiolus terminalis disebut saluran penghantar udara karena fungsi utamanya adalah sebagai penghantar udara ke tempat pertukaran gas paru-paru.jenis sel yang sama. Trachea tersusun atas 16 . Saluran-saluran itu bermuara ke dalam bagian yang dikenal sebagai vestibulum. Laringx (tenggorok) terletak di depan bagian terendah farinx yang mernisahkan dari columna vertebrata. Bronckus kanan lebih pendek dan lebih lebar daripada yang kiri. Trachea atau batang tenggorok kira-kira 9 cm panjangnya trachea berjalan dari larynx sarnpai kira-kira ketinggian vertebrata torakalis kelima dan di tempat ini bercabang mcnjadi dua bronckus (bronchi).000. selain itu juga membuat beberapa jaringan otot. secara kasar diperkirakan setiap 100. WHO memperkirakan setiap tahun menjadi 583. Maka ‘letaknya di belakang larinx (larinx-faringeal). Bronkhiolus terminalis memiliki garis tengah kurang lebih I mm. Percabangan ini berjalan terus menjadi bronchus yang ukurannya semakin kecil. dan bersambung dengan lapisan farinx dan dengan selaput lendir sinus yang mempunyai lubang masuk ke dalam. dan bronkiolus. disebut bronckus lobus bawah. Anatomi dan Fisiologi Saluran penghantar udara hingga mencapai paru-paru adalah hidung. dan nomor satu dari golongan penyakit infeksi. Hidung . sampai akhirnya menjadi bronkhiolus terminalis. Tetapi dikelilingi oleh otot polos sehingga ukurannya dapat berubah. adalah pipa berotot yang berjalan dari dasar tengkorak sampai persambungannya dengan oesopagus pada ketinggian tulang rawan krikoid. Alveolus yaitu tempat pertukaran gas assinus terdiri dari bronkhiolus dan respiratorius .lengkap yang berupan cincin tulang rawan yang diikat bersama oleh jaringan fibrosa dan yang melengkapi lingkaran disebelah belakang trachea. Bronkus kiri lebih panjang dan lebih langsing dari yang kanan. sedikit lebih tinggi darl arteri pulmonalis dan mengeluarkan sebuah cabang utama lewat di bawah arteri. farinx. dan berjalan di bawah arteri pulmonalis sebelurn di belah menjadi beberapa cabang yang berjalan kelobus atas dan bawah. Bronchus yang terbentuk dari belahan dua trachea pada ketinggian kira-kira vertebrata torakalis kelima.000 kasus baru tuberkulosis dengan kematian sekitar 140.20 lingkaran tak. hasil survey kesehatan rumah tangga (SKRT) menunjukkan bahwa penyakit tuberkulosis merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit jantung dan penyakit infeksi saluran pernapasan pada semua kelompok usia. rongga hidung. Nares anterior adalah saluran-saluran di dalam. mempunyai struktur serupa dengan trachea dan dilapisi oleh. sampai ketinggian vertebrata servikals dan masuk ke dalarn trachea di bawahnya.000 penduduk Indonesia terdapat 130 penderita baru tuberkulosis dengan BTA positif. berjalan dari farinx. rongga hidung. Larynx terdiri atas kepingan tulang rawan yang diikat bersama oleh ligarnen dan membran. yaitu saluran udara terkecil yang tidak mengandung alveoli (kantong udara). Farinx (tekak) .

sakkus alveolar dan alveoli. Tiap lobus dibungkus oleh jaringan elastik yang mengandung pembuluh limfe. Di dalam rongga pleura terdapat cairan surfaktan yang berfungsi untuk lubrikai. (2) menyaring bahan beracun dari sirkulasi (3) reservoir darah (4) fungsi utamanya adalah pertukaran gas-gas Patofisiologi Port de’ entri kuman microbaterium tuberculosis adalah saluran pernafasan. medius dan inferior sedangkan paru kiri dibagi dua lobus yaitu lobus superior dan inferior. yaitu pemindahan gas secara efektif antara. saluran pencernaan. dan C02 terbentuk sebagai sampah proses metabolisme sel dan dikeluarkan oleh paru-paru (4) Transportasi. kebanyakan infeksi tuberculosis terjadi melalui udara (air borne).mendapatkan energi. Proses fisiologi pernafasan dimana 02 dipindahkan dari udara ke dalam jaringan-jaringan. Terdapat sekitar 20 kali percabangan mulai dari trachea sampai Sakus Alveolaris. . yaitu. bronchial venula. (3) Reaksi kimia dan fisik dari 02 dan C02 dengan darah respimi atau respirasi interna menipak-an stadium akhir dari respirasi. karena ada selisih tekanan yang terdapat antara atmosfer dan alveolus akibat kerja mekanik dari otot-otot. atau di bagian atas lobus bawah. asinus atau. Diperkirakan bahwa stiap paru-paru mengandung 150 juta alveoli. arteriola. dari unit pulmonary harus sesuai pada orang normal dengan posisi tegak dan keadaan istirahat maka ventilasi dan perfusi hampir seimbang kecuali pada apeks paru-paru. Setelah berada dalam ruang alveolus biasanya di bagian bawah lobus atau paru-paru. Stadium kedua.0 cm. venula. Dilapisi oleh pleura yaitu parietal pleura dan visceral pleura.yang terkadang memiliki kantong udara kecil atau alveoli pada dindingnya. Ductus alveolaris seluruhnya dibatasi oleh alveoilis dan sakus alveolaris terminalis merupakan akhir paru-paru. Stadium pertama adalah ventilasi yaitu masuknya campuran gas-gas ke dalam dan keluar paruparu.5 s/d 1. yaitu melalui inhalasi droppet yang mengandung kuman-kuman basil tuberkel yang berasal dari orang yang terinfeksi. alveolus dan kapiler paruparu membutuhkan distribusi merata dari udara dalam paru-paru dan perfusi (aliran darah) dalam kapiler dengan perkataan lain ventilasi dan perfusi. Kekuatan mendorong untuk pemindahan ini adalah selisih tekanan parsial antara darah dan fase gas.5 urn).kadang disebut lobolus primer memiliki tangan kira-kira 0. Paru-paru terdapat dalam rongga thoraks pada bagian kiri dan kanan.-sel jaringan (2) Distribusi darah dalam sirkulasi pulmonal dan penyesuaiannya dengan distribusi udara dalam alveolus. transportasi yang terdiri dan beberapa aspek yaitu : (1) Difusi gas antara alveolus dan kapiler paru-paru (respirasi eksternal) dan antara darah sistemik dan sel. tahap kcdua dari proses pemapasan mencakup proses difusi gas-gas melintasi membran alveolus kapiler yang tipis (tebalnya kurang dari 0. dan luka terbuka pada kulit. (5) Perfusi. sehingga mempunyai permukaan yang cukup luas untuk tempat permukaan/pertukaran gas. dan C02 dikeluarkan keudara ekspirasi dapat dibagi menjadi tiga stadium. Alveolus dipisahkan oleh dinding yang dinamakan pori-pori kohn. Basil tuberkel yang mencapai permukaan alveolus biasanya diinhalasi terdiri dari satu sampai tiga gumpalan basil yang lebih besar cenderung tertahan di saluran hidung dan cabang besar bronkus dan tidak menyebabkan penyakit. yaitu sel dimana metabolik dioksida untuk. Secara garis besar bahwa Paru-paru memiliki fungsi sebagai berikut: (1) Terdapat permukaan gas-gas yaitu mengalirkan Oksigen dari udara atmosfer kedarah vena dan mengeluarkan gas carbondioksida dari alveoli keudara atmosfer. ductus alveolar. Paru kanan dibagi atas tiga lobus yaitu lobus superior.

Sesak napas Gejala ini ditemukan bila kerusakan parenkim paru sudah luas atau karena ada hal-hal yang menyertai seperti efusi pleura. b. Nyeri dada Nyeri dada pada TB paru termasuk nyeri pleuritik yang ringan. Gejala ini timbul apabila sistem persarafan di pleura terkena. akan tetapi penampilan akut dengan batuk. sesak napas walaupun jarang dapat juga timbul menyerupai gejala pneumonia. Pneumonia seluler ini dapat sembuh dengan sendirinya sehingga tidak ada sisa yang tertinggal. Pada sejumlah penderita gejala yang timbul tidak jelas sehingga diabaikan bahkan kadang-kadang asimtomatik. gejala respiratorik dan gejala sistemik: 1. penurunan berat badan serta malaise. Makrofag yang mengadakan infiltrasi mcajadi lebih panjang dan sebagian bersatu sehingga membentuk sel tuberkel epiteloit. Manifestasi Klinik Tuberkulosis sering dijuluki “the great imitator” yaitu suatu penyakit yang mempunyai banyak kemiripan dengan penyakit lain yang juga memberikan gejala umum seperti lemah dan demam. pneumothorax. gumpalan darah atau darah segar dalam jumlah sangat banyak. Sesudah hari-hari pertama maka leukosit diganti oleh makrofag. anemia dan lain-lain. anoreksia. b. dan bakteri terus difagosit atau berkembang biak di dalam sel. Batuk Gejala batuk timbul paling dini dan merupakan gangguan yang paling sering dikeluhkan. Leukosit polimorfonuklear tampak pada tempat tersebut dan memfagosit bacteria namun tidak membunuh organisme tersebut. Alveoli yang terserang akan mengalami konsolidasi dan timbul gejala pneumonia akut. Gejala sistemik. Gambaran klinik TB paru dapat dibagi menjadi 2 golongan. panas. meliputi: a. Mula-mula bersifat non produktif kemudian berdahak bahkan bercampur darah bila sudah ada kerusakan jaringan. Timbulnya gejala biasanya gradual dalam beberapa minggu-bulan. Batuk darak terjadi karena pecahnya pembuluh darah. Basil juga menyebar melalui getah bening menuju ke kelenjar bening regional. Berat ringannya batuk darah tergantung dari besar kecilnya pembuluh darah yang pecah. c. Demam Merupakan gejala yang sering dijumpai biasanya timbul pada sore dan malam hari mirip demam influenza. atau proses dapat juga berjalan terus. hilang timbul dan makin lama makin panjang serangannya sedang masa bebas serangan makin pendek. d. meliputi: a. Batuk darah Darah yang dikeluarkan dalam dahak bervariasi. 2. Gejala klinis Haemoptoe: Kita harus memastikan bahwa perdarahan dari nasofaring dengan cara membedakan ciri- . Reaksi ini biasanya membutuhkan waktu 10 sampai 20 hari. Gejala respiratorik. yang dikelilingi oleh fosit.Basil tuberkel ini membangkitkan reaksi peradangan. mungkin tampak berupa garis atau bercak-bercak darak. Gejala sistemik lain Gejala sistemik lain ialah keringat malam.

Darah berwarna hitam karena bercampur asam lambung d. Kelainan yang bilateral. Darah menetes dari hidung b. Darah berwarna merah segar d. Bayangan yang berawan (patchy) atau berbercak (noduler) c. Pemeriksaan sputum adalah diagnostik yang terpenting dalam prograrn pemberantasan TBC paru di Indonesia. terutama bila terdapat di lapangan atas paru d. Epistaksis a. radiologik dan riwayat pengobatan sebelumnya. Pengambilan dahak yang benar sangat penting untuk mendapatkan hasil yang sebaik-baiknya. TB Paru BTA Positif dengan kriteria: 1. Batuk darah a. Darah dimuntahkan dengan rasa mual b. bakteriologik. Test Diagnostik Foto thorax PA dengan atau tanpa literal merupakan pemeriksaan radiology standar. b. Darah bercampur sisa makanan c. oblik. Darah dibatukkan dengan rasa panas di tenggorokan b. tomogram dan lain-lain. Darah berbuih bercampur udara c. Sesuai dengan program Gerdunas P2TB klasifikasi TB Paru dibagi sebagai berikut: a. Anemia jarang terjadi 6. BTA positif: mikroskopik positif 2 kali.ciri sebagai berikut : 1. Pemeriksaan biasanya lebih sensitive daripada sediaan apus (mikroskopis). Anemia seriang terjadi f. Darah bersifat alkalis e. Benzidin test negatif 2. Bayangan bilier Pemeriksaan Bakteriologik (Sputum) . Anemia kadang-kadang terjadi f. Darah segar berwarna merah muda d. Klasifikasi ini penting karena merupakan salah satu faktor determinan untuk menetapkan strategi terapi. sebaiknya 3 kali pemeriksaan dahak. Benzidin test positif 3. Batuk pelan kadang keluar c. Darah bersifat asam e. Bayang yang menetap atau relatif menetap setelah beberapa minggu e. Uji resistensi harus dilakukan apabila ada dugaan resistensi terhadap pengobatan. Karakteristik radiology yang menunjang diagnostik antara lain : a. Pada pemeriksaan pertama. Dengan atau tanpa gejala klinik 2. Darah bersifat alkalis e. mikroskopik positif 1 kali disokong biakan . Klasifikasi Klasifikasi TB Paru dibuat berdasarkan gejala klinik. Ditemukannya kuman micobakterium TBC dari dahak penderita memastikan diagnosis tuberculosis paru. Bayangan lesi radiology yang terletak di lapangan atas paru. Muntah darah a. Jenis pemeriksaan radiology lain hanya atas indikasi Top foto.

d. demam. hasil pemeriksaan bakteriologik. 3. derivat Rifampisin/INH. Pirasinamid. Jenis obat utama yang digunakan sesuai dengan rekomendasi WHO adalah Rifampisin. Pola aktivitas dan istirahat Subjektif : Rasa lemah cepat lelah. INH. Pencatatan dan pelaporan yang baku. lanjut. B. infiltrasi . c. aktivitas berat timbul. takipnea/dispnea saat kerja. Pengkajian Data-data yang perlu dikaji pada asuhan keperawatan dengan Tuberkulosis paru (Doengoes. BTA negatif. Radiologik menunjukkan gambaran lesi TB inaktif. Objektif : Takikardia. sulit tidur. irritable. b. Kesinambungan ketersediaan paduan OAT jangka pendek yang cukup. menunjukkan serial foto yang tidak berubah. Penanganan Medik Tujuan pengobatan pada penderita TB Paru selain untuk mengobati juga mencegah kematian. c. Gambaran radiologik sesuai dengan TB paru. mencegsah kekambuhan atau resistensi terhadap OAT serta memutuskan mata rantai penularan. PROSES KEPERAWATAN 1. 2. berkeringat pada malam hari. Di samping itu perlu pemahaman tentang strategi penanggulangan TB yang dikenal sebagai Directly Observed Treatment Short Course (DOTS) yang direkomendasikan oleh WHO yang terdiri dari lima komponen yaitu: 1. Riwayat PerjalananPenyakit a. Adanya komitmen politis berupa dukungan pengambil keputusan dalam penanggulangan TB. Pengobatan TB dengan paduan OAT jangka pendek dengan pengawasan langsung oleh Pengawas Menelan Obat (PMO) khususnya dalam 2 bulan pertama dimana penderita harus minum obat setiap hari. 4. Bekas TB Paru dengan kriteria: a. berat ringannya penyakit. biakan negatif tetapi radiologik positif. hapusan dahak dan riwayat pengobatan sebelumnya. Gejala klinik dan gambaran radilogik sesuai dengan TB Paru aktif 2. sesak (tahap. Paduan obat yang digunakan terdiri dari obat utama dan obat tambahan. Sedang jenis obat tambahan adalah Kanamisin. Gejala klinik tidak ada atau ada gejala sisa akibat kelainan paru. Untuk keperluan pengobatan perlu dibuat batasan kasus terlebih dahulu berdasarkan lokasi tuberkulosa. Streptomisin dan Etambutol. 2000) ialah sebagai berikut : 1. 3. Kuinolon. Bakteriologik (mikroskopik dan biakan) negatif b.positif satu kali atau disokong radiologik positif 1 kali. sesak (nafas pendek). menggigil. Ada riwayat pengobatan OAT yang adekuat (lebih mendukung). Diagnosis TB melalui pemeriksaan dahak secara mikroskopik langsung sedang pemeriksaan penunjang lainnya seperti pemeriksaan radiologis dan kultur dapat dilaksanakan di unit pelayanan yang memiliki sarana tersebut. Pengobatan tuberkulosis terbagi menjadi 2 fase yaitu fase intensif (2-3 bulan) dan fase lanjutan (4-7 bulan). TB Paru BTA Negatif dengan kriteria: 1. 5. Makrolide dan Amoksisilin + Asam Klavulanat.

pengobatan dan perawatannya. kulit kering/bersisik. mual. Pernah sakit batuk yang lama dan tidak sembuh-sembuh. b. b. Riwayat vaksinasi yang tidak teratur. Riwayat Pengobatan Sebelumnya: a. masalah tentang masa depan/pekerjaan pasien. penurunan berat badan. pola istirahat dan tidur. Tes Tuberkulin: Mantoux test reaksi positif (area indurasi 10-15 mm terjadi 48-72 jam). masalah berhubungan dengan kondisi ekonomi. mukoid kuning atau bercak darah. pencegahan. sesak napas. c. d. Riwayat Penyakit Sebelumnya: a. biasanya pada keluarga yang kurang marnpu. tidak enak diperut. kebiasaan merokok. Pola nutrisi Subjektif : Anoreksia. Objektif : Menyangkal (selama tahap dini). prilaku distraksi. pengembangan pernapasan tidak simetris (effusi pleura. Riwayat Sosial Ekonomi: a. Obiektif : Berhati-hati pada area yang sakit. Objektif : Turgor kulit jelek. warna. Aspek psikososial. Tingkat pengetahuan/pendidikan pasien dan keluarga tentang penyakit. sakit dada. deviasi trakeal (penyebaran bronkogenik). Kapan pasien mendapatkan pengobatan sehubungan dengan sakitnya. Pernah berobat tetapi tidak sembuh. jumlah penghasilan. ketakutan. b. Pernah berobat tetapi tidak teratur. masalah keuangan. Jenis pekerjaan. kebersihan diri. minum alkohol. Nutrisi. kasar di daerah apeks paru. e. kehilangan lemak sub kutan. 6. b. f. c. b. demam subfebris (40 -410C) hilang timbul.). Daya tahan tubuh yang menurun. d. gelisah. perasaan tak berdaya/tak ada harapan. pasien menjalani pengobatan sehubungan dengan penyakitnya. e. perkusi pekak dan penurunan fremitus (cairan pleural). dosis obat yang diminum. takipneu (penyakit luas atau fibrosis parenkim paru dan pleural). Kultur sputum: Mikobakterium Tuberkulosis positif pada tahap akhir penyakit. Berapa lama. Jenis.radang sampai setengah paru). Rasa nyaman/nyeri Subjektif : Nyeri dada meningkat karena batuk berulang. Faktor Pendukung: a. menarik diri. Objektif : Mulai batuk kering sampai batuk dengan sputum hijau/purulent. waktu dan tempat bekerja. 4. mudah tersinggung. nyeri bisa timbul bila infiltrasi radang sampai ke pleura sehingga timbul pleuritis. b. Pola hidup. tidak bersemangat dan putus harapan. c. Riwayat pekerjaan. Merasa dikucilkan. Respirasi Subjektif : Batuk produktif/non produktif sesak napas. . untuk sembuh perlu waktu yang lama dan biaya yang banyak. Pemeriksaan Diagnostik: a. terdengar bunyi ronkhi basah. pembengkakan kelenjar limfe. Riwayat kontak dengan penderita Tuberkulosis Paru. ansietas. d. c. Kapan pasien mendapatkan pengobatan terakhir. 5. 2. 3. Integritas ego Subjektif : Faktor stress lama. tidak dapat berkomunikisi dengan bebas. Riwayat lingkungan.

Resiko tinggi infeksi dan penyebaran infeksi berhubungan dengan: Daya tahan tubuh menurun. fungsi silia menurun. Edema bronchial. Penurunan kemampuan finansial. Bantu/ajarkan batuk efektif dan latihan napas dalam. Intervensi: a. kecepatan. f. Interpretasi yang salah. Kurang pengetahuan tentang infeksi kuman. berupa cincin . Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan: Sekret kental atau sekret darah. Rencana Keperawatan Adapun rencana keperawatan yang ditetapkan berdasarkan diagnosis keperawatan yang telah dirumuskan sebagai berikut: 1. ronki indikasi akumulasi secret/ketidakmampuan membersihkan jalan napas sehingga otot aksesori digunakan dan kerja pernapasan meningkat. Kerusakan membran alveolar kapiler. Rasional: Penurunan bunyi napas indikasi atelektasis. 2. Kurang pengetahuan tentang kondisi. Mengeluarkan sekret tanpa bantuan. 5. upaya batuk buruk. Bersihan jalan napas tidak efektif Tujuan: Mempertahankan jalan napas pasien. Malnutrisi. Informasi yang didapat tidak lengkap/tidak akurat. Kaji fungsi pernapasan: bunyi napas. imma. atelektasis. Terkontaminasi oleh lingkungan. catat karakter. c. Kelemahan. 3. Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan yang lazim terjadi pada klien dengan Tuberkulosis paru adalah sebagai berikut: 1. d. Dispnea. Terbatasnya pengetahuan/kognitif 4. Poto torak: Infiltnasi lesi awal pada area paru atas . kedalaman dan penggunaan otot aksesori. Rasional: Meningkatkan ekspansi paru. Kerusakan jaringan akibat infeksi yang menyebar. Pada tahap dini tampak gambaran bercak-bercak seperti awan dengan batas tidak jelas . Berpartisipasi dalam program pengobatan sesuai kondisi. adanya produksi sputum. b. Pada kavitas bayangan. pencegahan berhubungan dengan: Tidak ada yang menerangkan. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan: Berkurangnya keefektifan permukaan paru. 3. kurang dari kebutuhan berhubungan dengan: Kelelahan. e. Rasional: Pengeluaran sulit bila sekret tebal. Spirometri: penurunan fuagsi paru dengan kapasitas vital menurun. Anoreksia. Sekret yang kental. Mengidentifikasi potensial komplikasi dan melakukan tindakan tepat. Batuk yang sering. Perubahan kebutuhan nutrisi. adanya hemoptisis. 4. sputum berdarah akibat kerusakan paru atau luka bronchial yang memerlukan evaluasi/intervensi lanjut. Catat kemampuan untuk mengeluarkan secret atau batuk efektif. Pada kalsifikasi tampak bayangan bercak-bercak padat dengan densitas tinggi. Darah: peningkatan leukosit dan Laju Endap Darah (LED). sekret yang inenetap. Edema trakeal/faringeal.c. Menunjukkan prilaku untuk memperbaiki bersihan jalan napas. ventilasi maksimal membuka area atelektasis dan peningkatan gerakan sekret agar mudah dikeluarkan . pengobatan. jumlah sputum. Berikan pasien posisi semi atau Fowler. Bronchografi: untuk melihat kerusakan bronkus atau kerusakan paru karena TB paru.

Rasional: Tuberkulosis paru dapat rnenyebabkan meluasnya jangkauan dalam paru-pani yang berasal dari bronkopneumonia yang meluas menjadi inflamasi. Anjurkan untuk bedrest. Rasional: Menurunkan kekentalan sekret. Suction dilakukan bila pasien tidak mampu mengeluarkan sekret. terutama pada pasien dengan fibrosis atau kerusakan parenkim. ciuman atau menyanyi. d. bronkodilator. Rasional: Meningkatnya resistensi aliran udara untuk mencegah kolapsnya jalan napas. kortikosteroid sesuai indikasi. meludah. pleural effusion dan meluasnya fibrosis dengan gejala-gejala respirasi distress. Gangguan pertukaran gas Tujuan: Melaporkan tidak terjadi dispnea. takipnea. membran mukosa. Rasional: Menurunnya saturasi oksigen (PaO2) atau meningkatnya PaC02 menunjukkan perlunya penanganan yang lebih. keterbatasan ekspansi dada dan kelemahan. Demonstrasikan/anjurkan untuk mengeluarkan napas dengan bibir disiutkan. dan warna kuku. 3. bersin. f. adekuat atau perubahan terapi. Review patologi penyakit fase aktif/tidak aktif. c. h. Rasional: Mengurangi konsumsi oksigen pada periode respirasi. Bersihkan sekret dari mulut dan trakea. Menunjukkan/melakukan perubahan pola hidup untuk meningkatkan lingkungan yang. Kaji dispnea. Rasional: Mencegah obstruksi/aspirasi. Rasional: Membantu pasien agar mau mengerti dan menerima terapi yang diberikan . e. Resiko tinggi infeksi dan penyebaran infeksi Tujuan: Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah/menurunkan resiko penyebaran infeksi. bunyi pernapasan abnormal. Bantu inkubasi darurat bila perlu. Rasional: Akumulasi secret dapat menggangp oksigenasi di organ vital dan jaringan. Evaluasi perubahan-tingkat kesadaran. g. nekrosis. Peningkatan upaya respirasi. 2. suction bila perlu. Bebas dari gejala distress pernapasan. lingkaran ukuran lumen trakeabronkial. Berikan obat: agen mukolitik. catat tanda-tanda sianosis dan perubahan warna kulit. Rasional: Diperlukan pada kasus jarang bronkogenik. Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan adekuat dengan GDA dalam rentang normal.. berguna jika terjadi hipoksemia pada kavitas yang luas. Intervensi a.d. Lembabkan udara/oksigen inspirasi. Monitor GDA. aman. dengan edema laring atau perdarahan paru akut. batasi dan bantu aktivitas sesuai kebutuhan. e. tertawa. Pertahankan intake cairan minimal 2500 ml/hari kecuali kontraindikasi. Rasional: Membantu mengencerkan secret sehingga mudah dikeluarkan f. Rasional: Membantu mengoreksi hipoksemia yang terjadi sekunder hipoventilasi dan penurunan permukaan alveolar paru. Berikan oksigen sesuai indikasi. b. Rasional: Mencegah pengeringan membran mukosa. Intervensi a. penyebaran infeksi melalui bronkus pada jaringan sekitarnya atau aliran darah atau sistem limfe dan resiko infeksi melalui batuk.

untuk mencegah komplikasi. b. Identifikasi orang-orang yang beresiko terkena infeksi seperti anggota keluarga, teman, orang dalam satu perkumpulan. Rasional: Orang-orang yang beresiko perlu program terapi obat untuk mencegah penyebaran infeksi. c. Anjurkan pasien menutup mulut dan membuang dahak di tempat penampungan yang tertutup jika batuk. Rasional: Kebiasaan ini untuk mencegah terjadinya penularan infeksi. d. Gunakan masker setiap melakukan tindakan. Rasional: Mengurangi risilio penyebaran infeksi. e. Monitor temperatur. Rasional: Febris merupakan indikasi terjadinya infeksi. f. Identifikasi individu yang berisiko tinggi untuk terinfeksi ulang Tuberkulosis paru, seperti: alkoholisme, malnutrisi, operasi bypass intestinal, menggunakan obat penekan imun/ kortikosteroid, adanya diabetes melitus, kanker. Rasional: Pengetahuan tentang faktor-faktor ini membantu pasien untuk mengubah gaya hidup dan menghindari/mengurangi keadaan yang lebih buruk. g. Tekankan untuk tidak menghentikan terapi yang dijalani. Rasional: Periode menular dapat terjadi hanya 2-3 hari setelah permulaan kemoterapi jika sudah terjadi kavitas, resiko, penyebaran infeksi dapat berlanjut sampai 3 bulan. h. Pemberian terapi INH, etambutol, Rifampisin. Rasional: INH adalah obat pilihan bagi penyakit Tuberkulosis primer dikombinasikan dengan obat-obat lainnya. Pengobatan jangka pendek INH dan Rifampisin selama 9 bulan dan Etambutol untuk 2 bulan pertama. i. Pemberian terapi Pyrazinamid (PZA)/Aldinamide, para-amino salisik (PAS), sikloserin, streptomisin. Rasional: Obat-obat sekunder diberikan jika obat-obat primer sudah resisten. j. Monitor sputum BTA Rasional: Untuk mengawasi keefektifan obat dan efeknya serta respon pasien terhadap terapi. 4. Perubahan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan Tujuan: Menunjukkan berat badan meningkat mencapai tujuan dengan nilai laboratoriurn normal dan bebas tanda malnutrisi. Melakukan perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan mempertahankan berat badan yang tepat. Intervensi: a. Catat status nutrisi paasien: turgor kulit, timbang berat badan, integritas mukosa mulut, kemampuan menelan, adanya bising usus, riwayat mual/rnuntah atau diare. Rasional: berguna dalam mendefinisikan derajat masalah dan intervensi yang tepat. b. Kaji pola diet pasien yang disukai/tidak disukai. Rasional: Membantu intervensi kebutuhan yang spesifik, meningkatkan intake diet pasien. c. Monitor intake dan output secara periodik. Rasional: Mengukur keefektifan nutrisi dan cairan. d. Catat adanya anoreksia, mual, muntah, dan tetapkan jika ada hubungannya dengan medikasi. Awasi frekuensi, volume, konsistensi Buang Air Besar (BAB). Rasional: Dapat menentukan jenis diet dan mengidentifikasi pemecahan masalah untuk

meningkatkan intake nutrisi. e. Anjurkan bedrest. Rasional: Membantu menghemat energi khusus saat demam terjadi peningkatan metabolik. f. Lakukan perawatan mulut sebelum dan sesudah tindakan pernapasan. Rasional: Mengurangi rasa tidak enak dari sputum atau obat-obat yang digunakan yang dapat merangsang muntah. g. Anjurkan makan sedikit dan sering dengan makanan tinggi protein dan karbohidrat. Rasional: Memaksimalkan intake nutrisi dan menurunkan iritasi gaster. h. Rujuk ke ahli gizi untuk menentukan komposisi diet. Rasional: Memberikan bantuan dalarn perencaaan diet dengan nutrisi adekuat unruk kebutuhan metabolik dan diet. i. Konsul dengan tim medis untuk jadwal pengobatan 1-2 jam sebelum/setelah makan. Rasional: Membantu menurunkan insiden mual dan muntah karena efek samping obat. j. Awasi pemeriksaan laboratorium. (BUN, protein serum, dan albumin). Rasional: Nilai rendah menunjukkan malnutrisi dan perubahan program terapi. k. Berikan antipiretik tepat. Rasional: Demam meningkatkan kebutuhan metabolik dan konsurnsi kalori. 5. Kurang pengetahuan tentang kondisi, pengobatan, pencegahan. Tujuan: Menyatakan pemahaman proses penyakit/prognosis dan kebutuhan pengobatan. Melakukan perubahan prilaku dan pola hidup unruk memperbaiki kesehatan umurn dan menurunkan resiko pengaktifan ulang luberkulosis paru. Mengidentifikasi gejala yang mernerlukan evaluasi/intervensi. Menerima perawatan kesehatan adekuat. Intervensi a. Kaji kemampuan belajar pasien misalnya: tingkat kecemasan, perhatian, kelelahan, tingkat partisipasi, lingkungan belajar, tingkat pengetahuan, media, orang dipercaya. Rasional: Kemampuan belajar berkaitan dengan keadaan emosi dan kesiapan fisik. Keberhasilan tergantung pada kemarnpuan pasien. b. Identifikasi tanda-tanda yang dapat dilaporkan pada dokter misalnya: hemoptisis, nyeri dada, demam, kesulitan bernafas, kehilangan pendengaran, vertigo. Rasional: Indikasi perkembangan penyakit atau efek samping obat yang membutuhkan evaluasi secepatnya. c. Tekankan pentingnya asupan diet Tinggi Kalori Tinggi Protein (TKTP) dan intake cairan yang adekuat. Rasional: Mencukupi kebutuhan metabolik, mengurangi kelelahan, intake cairan membantu mengencerkan dahak. d. Berikan Informasi yang spesifik dalam bentuk tulisan misalnya: jadwal minum obat. Rasional: Informasi tertulis dapat membantu mengingatkan pasien. e. jelaskan penatalaksanaan obat: dosis, frekuensi, tindakan dan perlunya terapi dalam jangka waktu lama. Ulangi penyuluhan tentang interaksi obat Tuberkulosis dengan obat lain. Rasional: Meningkatkan partisipasi pasien mematuhi aturan terapi dan mencegah putus obat. f. jelaskan tentang efek samping obat: mulut kering, konstipasi, gangguan penglihatan, sakit kepala, peningkatan tekanan darah Rasional: Mencegah keraguan terhadap pengobatan sehingga mampu menjalani terapi.

g. Anjurkan pasien untuk tidak minurn alkohol jika sedang terapi INH. Rasional: Kebiasaan minurn alkohol berkaitan dengan terjadinya hepatitis h. Rujuk perneriksaan mata saat mulai dan menjalani terapi etambutol. Rasional: Efek samping etambutol: menurunkan visus, kurang mampu melihat warna hijau. i. Dorong pasien dan keluarga untuk mengungkapkan kecemasan. Jangan menyangkal. Rasional: Menurunkan kecemasan. Penyangkalan dapat memperburuk mekanisme koping. j. Berikan gambaran tentang pekerjaan yang berisiko terhadap penyakitnya misalnya: bekerja di pengecoran logam, pertambangan, pengecatan. Rasional: Debu silikon beresiko keracunan silikon yang mengganggu fungsi paru/bronkus. k. Anjurkan untuk berhenti merokok. Rasional: Merokok tidak menstimulasi kambuhnya Tuberkulosis; tapi gangguan pernapasan/ bronchitis. l. Review tentang cara penularan Tuberkulosis dan resiko kambuh lagi. Rasional: Pengetahuan yang cukup dapat mengurangi resiko penularan/ kambuh kembali. Komplikasi Tuberkulosis: formasi abses, empisema, pneumotorak, fibrosis, efusi pleura, empierna, bronkiektasis, hernoptisis, u1serasi Gastro, Instestinal (GD, fistula bronkopleural, Tuberkulosis laring, dan penularan kuman. 5. Evaluasi a. Keefektifan bersihan jalan napas. b. Fungsi pernapasan adekuat untuk mernenuhi kebutuhan individu. c. Perilaku/pola hidup berubah untuk mencegah penyebaran infeksi. d. Kebutuhan nutrisi adekuat, berat badan meningkat dan tidak terjadi malnutrisi. e. Pemahaman tentang proses penyakit/prognosis dan program pengobatan dan perubahan perilaku untuk memperbaiki kesehatan.

askep ARDS ( Acute Respiratory Distress Syndrome)
AKPER PPNI SOLO, 8.15.2009 Askep ARDS atau Acute Respiratory Distress Syndrome, Sering merupakan kelanjutan dari shock paru-paru, kongesti atelektasis, post traumatic paru-paru, post infusion paru, dan ventilasi paru. Kondisi akut paru-paru yang mengakibatkan macam-macam perubahan patofisiologi dalam paru. Menyerupai perubahan pada IRDS, perbedaannya terletak pada penurunan surfaktan akibat dari kerusakan paru. Kliennya umumnya masih muda yang sebelumnya dia sehat. Jenis ketidakstabilan akut, baik langsung atau tidak langsung berperan dalam menimbulkan syndrom. Keadaan yang langsung : Menghirup racun iritan Infeksi diffusi alveolar

ethylene glycol) Inhalasi racun (rokok. Keadaan yang tidak langsung : Trauma dan shock karena pembedahan Sepsis dengan pelepasan endotoksin Pembekuan darah intravaskuler Transfusi darah massive Reaksi transudasi Penyakit Yang Dapat Menyebabkan ARDS : Pulmonary : Virus pneumonia Fungi pneumonia Pneumocystis carinii Military tuberculosis Legionaire’s pneumonia Radiation pneumonitis Contusio paru Cairan aspirasi (gastric. Adanya peningkatan permeabilitas kapiler dan akibat masuknya cairan ke dalam ruang interstitial. bacterial. methadone barbiturat). seolah-olah dipengaruhi oleh aktifitas surfaktan. Akibatnya terjadi tanda-tanda atelektasis. kimia corrosive. Massive blood transfusion Reaksi transfusi Pembekuan darah intravaskuler By pass cardiopulmonary Penambahan tekanan intrakranial Cairan overload Eclampsia Gejala defisiensi autoimmune Patofisiologi. hemorrhagic. Cairan juga masuk dalam alveoli dan mengakibatkan oedema paru. Banyak teori yang menerangkan patogenesis dari syndrom yang berhubungan dengan kerusakan awal paru-paru yang terjadi dimembran kapiler alveolar. pneumonia septic) Emboli lemak Trauma kepala Trauma non thoraks Pancreatitis Uremia Drug overdose (heroin. O2 konsentrasi meningkat. oleh karena itu . Aspirasi virus pneumonia. Plasma dan sel darah merah keluar dari kapiler-kapiler yang rusak. Hampir tenggelam dan trauma dada. amniotic fluid embolic. hydrocarbon. tenggelam. Non pulmonary : Shock (traumatic.Darah yang beracun.

3. 5. pada orang muda yang biasa mempunyai riwayat sakit paru-paru. Radiografi Difusi pulmonal menyebar Infiltrasi interstitial (awal) Infiltrasi alveoli (lanjut/akhir) Fisiologi Hipoksemia refractory. Kriteria untuk diagnosa ARDS : Klinik Keadaan katastropik : paru atau bukan paru Eksklusi : Penyakit paru kronis. Pa O2 60 % Kompliance paru rendah 1000 gr) Congestive atelektasis Membran hyaline Fibrosis PENGKAJIAN Gejala terjadi tiba-tiba dalam 2 – 3 hari sesudah trauma atau kesakitan. Dysritmia Tanda-tanda adanya asidosis metabolic dan respiratorik ⇓ menegakkan diagnosis: Status adanya kesulitan memperoleh pemenuhan ventilasi yang→klinik klien adekuat (sehingga penurunan pemenuhan ventilasi yang meningkatkan menurunkan kapasitas vital paru-paru infiltrasi→kekakuan paru-paru) alveolar.Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penambahan (peningkatan) permiabilitas .Tidak efektifnya jalan napas berhubungan dengan immobilisasi dan jalan napas buatan. keadaan abnormal ventrikel kiri. Diagnosa Keperawatan 1. 6.mungkin perdarahan merupakan manifestasi patologi yang umum.→ O2 C →Hypoksimia. 2.Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan penambahan shunt dan ventilasi – perfusi terganggu. Distress pernafasan : Tachypnea > 20 x/menit. Hypotensia/bradicardia atau hipertension/tachicardia.Tidak efektifnya pola napas berhubungan dengan kurangnya complain paru dan kecemasan.Potensial injury berhubungan dengan barotrauma atau tidak aktifnya aliran ventilator. susah bernafas. 4. Tanda-tanda utama manifestasi klinik: Dyspnea Tachicardia Cyanosis dengan atau tanpa retraksi intercostals refractory hypoxemia.Kurangnya cardiac output berhubungan dengan tingginya PEEP (Positive End mengetahui atau berguna untuk memenuhi kebutuhan→Expiratory Pressure) ventilasi paru.

→Kegagalan mempertahankan O2 Meningkatkan keperluan O2 dengan mempertahankan suhu klien pada tingkat normal. Tekanan kapiler paru normal. 10. 12. Pelaksanaan 1. Komunikasi nonverbal dapat diartikan. Berat badan stabil.Tidak efektifnya koping keluarga berhubungan dengan mengatasi stress dan kecemasan dalam kondisi kritis. HR) stabil.Kelemahan berhubungan dengan ketergantungan dalam pemakaian alat. 11. 7.Mempertahankan oksigenasi secara adekuat. 8. Membran mukosa mulut baik. Tekanan maximum jalan napas 50 – 70 mmHg. 9. 13. untuk mempertahankan tekanan O2 arteri sekitar 20 mmHg (William. Kelemahan dan penyakit respirasi merupakan indikasi untuk menggunakan ventilasi mekanic. Integritas kulit baik.membran pulmonal dan kelebihan sekresi ADH. Kriteria tujuan untuk klien: Stabil dan sinkronnya antara pernapasan dengan ventilator dengan slow rate yang cukup dalam level yang normal ventilasi Pa CO2 35 – 45 mmHg.Perubahan membran mukosa mulut berhubungan dengan jalan napas buatan. Pencegahan dengan meminimalkan komplikasi dan stressor untuk klien dan keluarganya merupakan hal yang penting. PEEP (Positive End Expiratory Pressure) Digunakan untuk memberi tekanan inflasi yang tinggi. mengurangi rasa nyeri dan menjaga ketenangan klien. Perencanaan Dan Pelaksanaan Perawatan klien dengan ARDS perencanaannya yaitu perbaikan pola napas dan kestabilan hemodinamic.Perubahan nutrisi.Gangguan integritas kulit berhubungan dengan perfusi dan immobilisasi. kurang dari atau sama dengan 40 % Fi O2.Gangguan pola tidur berhubungan dengan lingkungan yang kritis dan kebutuhan akan bantuan perawat. shunt friction kurang atau sama dengan 20 % Jalan napas tetap.Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan jalan napas buatan dan kelumpuhan. PaO2 lebih dari atau sama dengan 60 mmHg. Oksigenasi jaringan secara adekuat dilakukan dengan pemberian O2 konsentrasi tinggi. utuh. Keseimbangan intake dan output. lebih dari pada intake berhubungan dengan perubahan metabolisme dan ketidakmampuan intake makanan melalui oral. BP. 1982) tingkat rasa nyaman. Berguna terpenuhinya kebutuhan→untuk memenuhi kebutuhan ventilasi paru ventilasi . Hemodinamic parameter (CO.Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kelumpuhan dan bedrest. 14.

Pemberian O2. Jika keadaan ini tidak terpenuhi paru-paru akan kolaps. Lingkungan sekitar klien harus tenang dan rileks.Nutrisi: resiko terjadi malnutrisi. Mempertinggi distribusi O2 ke seluruh paru-paru dengan mempertahankan expansi alveoli. 4.→ 3. Perawat harus memonitor perfusi pada organ vital : CNS : Tingkat kesadaran Pergerakan Sensasi Ginjal : Urine output Blood urine nitrogen (BUN) Serum kreatinin Myocardium : Heart rate Rhytm 2. menurun-kan permeabilitas kapiler paru-paru.Pencegahan cedera paru berlanjut.→Klien dengan ARDS TKTP diberikan.→Untuk mengurangi peradangan dari membran alveoli Kortikosteroid Mungkin juga meningkatkan kontraktilitas jantung dan perfusi sirkulasi periferal serta organ-organ vital.→Ketepatan pemeriksaan gas darah. kortikosteroid. Pemberian albumin dan dextran dengan molekul tinggi Mungkin juga mengurangi permeabilitas kapiler Untuk menjaga paru tetap kering Antibiotik Mencegah infeksi bakteri. atau swan-Ganz cateter). Kemungkinan kecenderungan terjadi retensi cairan dan edema paru selama ventilasi (intake dan output). cardiac output PEEP kemungkinan besar menurunkan cardiac output karena lemahnya aliran denyut nadi dan tekanan darah→darah vena yang kembali ke jantung harus sering dimonitor. . Sekresi sebaiknya dihisap dengan suction sesuai kebutuhan Posisi pasien sering diubah-ubah dan pentingnya dilakukan gerakan/latihan pasif. Keefektifan dari PEEP dimonitor dengan seringnya analisa gas darah. alat monitor khusus (CVP. Vena bercampur (mengalir dari kiri ke kanan) dan hypoxemia dikurangi.Individu dan family coping. Mempertahankan tekanan jalan napas di atas tekanan atmosfer melalui siklus respirasi.paru ditandai dengan adanya elastisitas paru dan dada. Karena peningkatan metabolisme dan gangguan oral intake.

Sering juga penyakit ini disebut dengan “Chronic Airflow Limitation (CAL)” dan “Chronic Obstructive Lung Diseases (COLD)” A. 3. suatu hal yang menonjol pada semua penderita asthma adalah fenomena hiperreaktivitas bronchus. c. bronchus penderita asthma sangat peka terhadap rangsangan imunologi maupun non-imunologi. ketombe. Ketiga penyakit yang membentuk satu kesatuan yang dikenal dengan COPD adalah : Bronchitis kronis. DEFINISI Asthma adalah suatu gangguan pada saluran bronchial yang mempunyai ciri bronchospasme periodik (kontraksi spasme pada saluran nafas). emosi dan polusi lingkungan akan mencetuskan serangan. Rangsangan atau pencetus . alergen. Beberapa pasien berkembang menjadi asthma campuran. idiopatik. kimia. makanan dll). TIPE ASTHMA Asthma terbagi menjadi alergi. non alergik atau campuran (mixed) : a. tidak berhubungan secara langsung dengan allergen spesifik. Faktor-faktor seperti common cold. Idiopathic atau Nonallergic Asthma/Intrinsik. tepung sari. merupakan suatu bentuk asthma dengan penyebab allergen (missal : bulu binatang. Beberapa agent pharmakologi. Pasien dengan asthma alergik biasanya mempunyai riwayat penyakit alergi pada keluarga dan riwayat pengobatan exzema atau rhinitis alergik. kegiatan. otonomik dan psikologi. infeksi saluran nafas atas. endokrin. Bentuk asthma ini biasanya dimulai saat kanak-kanak. Asthma merupakan penyakit yang kompleks yang dapat diakibatkan oleh faktor biochemical. Paparan terhadap alergi akan mencetuskan serangan asthma. emfisema paru-paru dan asthma bronchiale. 2. Serangan dari asthma idiopatik atau nonalergik menjadi lebih berat dan seringkali dengan berjalannya waktu dan dapat berkembang menjadi bronchitis dan emfisema. ASTHMA BRONCHIALE 1. metabolik. Dikarakteristikkan dengan bentuk kedua jenis asthma alergi dan idiopatik atau nonalergi. Asthma Alergik /Ekstrinsik. Asthma Campuran (Mixed Asthma). Allergen terbanyak adalah airborne dan seasonal (musiman). ETIOLOGI Sampai saat ini etiologi asthma belum diketahui dengan pasti. infeksi dan sebagainya. Karena sifat inilah maka serangan asthma mudah terjadi akibat berbagai rangsangan baik fisis. debu. infeksi. Bentuk asthma ini biasanya dimulai pada saat dewasa (> 35 tahun). b. beta-adrenergic antagonist dan agent sulfite (penyedap makanan) juga dapat sebagai faktor.Asuhan keperawatan Pada Klien Dengan Chronic Obstructive Pulmonary Diseases (COPD) Penyakit Paru Obstruktif Kronik (COPD) merupakan suatu istilah yang sering digunakan untuk sekelompok penyakit paru-paru yang berlangsung lama dan ditandai oleh peningkatan resistensi terhadap aliran udara sebagai gambaran patofisiologi utamanya. merupakan bentuk asthma yang paling sering.

Faktor-faktor tersebut adalah : a. Psikososial • Cemas. Objektif • Sesak nafas yang berat dengan ekspirasi memanjang disertai wheezing. Sebagian besar alergen yang mencetuskan asthma bersifat airborne dan supaya dapat menginduksi keadaan sensitivitas. spora jamur dan tepung sari rerumputan b. Akan tetapi sekali sensitisasi telah terjadi pasien akan memperlihatkan respon yang sangat baik sehingga sejumlah kecil alergen yang mengganggu sudah dapat menghasilkan eksaserbasi penyakit yang jelas. e. pulsus paradoksus. gejala yang disebutkan terakhir sering dianggap sebagai gejala yang harus ada (“sine qua non”). toleransi silang juga akan terbentuk terhadap agen anti-inflamasi non-steroid lain. GAMBARAN KLINIS Gejala asthma terdiri dari triad : dispnea. Baru kemudian muncul asthma progresif. takut dan mudah tersinggung • Kurangnya pengetahuan klien terhadap situasi penyakitnya. Lain-lain : seperti reflux gastro esofagus. Antagonis beta-adrenergik biasanya menyebabkan obstruksi jalan nafas pada pasien asthma demikian juga dengan pasien lain dengan peningkatan reaktifitas jalan nafas dan . Obat yang paling sering berhubungan dengan induksi episode akut asthma adalah aspirin. PATOFISIOLOGI Asthma akibat alergi bergantung kepada respon IgE yang dikendalikan oleh limfosit T dan B dan diaktifkan oleh interaksi antara antigen dengan molekul IgE yang berikatan dengan sel mast. Masalah ini biasanya berawal dari rhinitis vasomotor perennial yang diikuti oleh rhinosinusitis hiperplastik dengan polip nasal. • Bernafas dengan menggunakan otot-otot nafas tambahan • Cyanosis. Mekanisme dengan aspirin dan obat lain dapat menyebabkan bronkospasme tidak diketahui tetapi mungkin berkaitan dengan pembentukan leukotrien yang diinduksi secara khusus oleh aspirin. • Fase ekspirasi memanjang disertai wheezing (di apex dan hilus) Subjektif • Klien merasa sukar bernafas. Pasien yang sensitif terhadap aspirin dapat didesentisasi dengan pemberian obat setiap hari. Lingkungan kerja g. gelisah. alergen tersebut harus tersedia dalam jumlah banyak untuk periode waktu tertentu. Sindroma pernafasan sensitif-aspirin khusus terutama mengenai orang dewasa.yang sering menimbulkan asthma perlu diketahui dan sedapat mungkin dihindarkan. pollutan c. tachicardia. Kegiatan jasmani yang berlebihan. bahan pewarna seperti tartazin. Emosi i. 4. anoreksia. f. Setelah menjalani bentuk terapi ini. batuk dan mengi. Iritan seperti asap. sesak. bau-bauan. 5. Perubahan cuaca yang ekstrim. walaupun keadaan ini juga dapat dilihat pada masa kanak-kanak. Obat-obatan. antagonis beta-adrenergik dan bahan sulfat. h. sulit dikeluarkan. Infeksi saluran nafas terutama yang disebabkan oleh virus d. • Dapat disertai batuk dengan sputum kental. Alergen utama : debu rumah.

Hasil dari hal tersebut timbul 3 gejala yaitu berkontraksinya otot polos. emosi/stress. Respirasi rate permenit e. Tabel 2 :Pengkajian Untuk menentukan beratnya Asthma Manifestasi Klinis Skor 0 Skor 1 a. misal. obat-obatan. Pencetus serangan (alergen. kalium dan natrium bisulfit. natrium sulfit dan sulfat klorida. Puncak Expiratory Flow Rate (L/menit) Ya Tidak ada Tidak ada < 25 . bradikinin. Pajanan biasanya terjadi setelah menelan makanan atau cairan yang mengandung senyawa ini. Obat sulfat. kentang. infeksi) Reaksi Antigen dan Antibodi Release Vasoactive Substance (histamin.harus dihindarkan pada pasien ini. adanya retraksi interkostal. salad. Pulse rate permenit f. Wheezing d. yang secara luas digunakan dalam industri makanan dan farmasi sebagai agen sanitasi dan pengawet juga dapat menimbulkan obstruksi jalan nafas akut pada pasien yang sensitif. seperti kalium metabisulfit. anafilatoxin) ↑ Permeabilitas Kapiler • Kontraksi Otot Polos • Edema mukosa • Hipersekresi Obstruksi Saluran Nafas Hipoventilasi Distribusi ventilasi tak merata dengan sirkulasi darah paru Gangguan difusi gas di alveoli Hipoxemia Hiperkapnia Gambar 13 : Skema Patofisiologi Asthma Bronchiale Untuk melihat derajat beratnya asthma biasanya dilakukan pemeriksaan secara komprehensif dengan menggunakan alat ukur seperti pada tabel 2. buah segar. bradikinin dan anafilatoksin. peningkatan permeabilitas kapiler dan peningkatan sekresi mukus seperti terlihat pada gambar berikut ini. kerang dan anggur. Teraba pulsus paradoksus g. Penurunan toleransi beraktifitas b. c. Pencetus-pencetus serangan di atas ditambah cetusan lainnya dari internal pasien akan mengakibatkan timbulnya reaksi antigen dan antibodi yang mengakibatan dikeluarkan substansi pereda alergi yang sebetulnya merupakan mekanisme tubuh dalam menghadapi serangan yang dapat berupa dikeluarkannya histamin. Penggunaan otot nafas tambahan.

< 120 Tidak ada > 100 Tidak Ada Ada > 25 > 120 ada < 100 Keterangan : Skor 4/lebih disangkakan asthma berat. PENATALAKSANAAN Prinsip-prinsip penatalaksanaan asthma bronchial : a. klien harus diobservasi untuk menentukan adakah respon dari terapi atau segera dikirim ke rumah sakit. Konstriksi Otot Polos Bronchospasme ↑ Sekresi Mukus ↑ Produksi Mukus Bersihan jalan nafas tak efektif Kerusakan Pertukaran Gas Ketidakseimbangan Nutrisi : Kurang dari kebutuhan tubuh (Risiko/aktual) Tabel 3 : Perubahan Dalam Arteri Blood Gas yang berhubungan dengan Asthma Ringan Sedang Berat Status Asmatikus PaO2 PaCO2 pH Elevasi Menurun Alkalosis Normal sampai hipoxemia ringan Menurun sampai Normal Alkalosis Hipoxemia Elevasi Alkalosis Hipoxemia berat Elevasi Jelas Asidosis 6. Diagnosis status asmatikus. Faktor penting yang harus diperhatikan : 1) Saatnya serangan 2) Obat-obatan yang telah diberikan (macam dan dosis) .

Ispenturin. c. Pada dewasa dicoba dengan 0. Salbutamol. b. demikian sebaliknya. maka sebaiknya diberikan Aminophilin secara parenteral sebab mekanisme yang berlainan. Untuk dosis penunjang 0. jika tidak ada perbaikan sampai 10-15 menit berikan Aminophilin intravena. • Obat-obat Bronchodilatator simpatomimetik memberi efek samping tachicardia. d. Bronchodilator Tidak digunakan bronchodilator oral. Terbutalin. bila sebelumnya telah digunakan obat golongan Teofilin oral maka sebaiknya diberikan obat golongan simpatomimetik secara aerosol atau parenteral. Anak-anak 0. Pemberian Oksigen Melalui kanul hidung dengan kecepatan aliran O2 2-4 liter/menit dan dialirkan melalui air untuk memberikan kelembaban. 7. Jika menunjukkan perbaikan dapat diulang tiap 4 jam.9 mg/KgBB/Jam secara infus. Penilaian terhadap perbaikan serangan. Baik digunakan untuk sesak nafas berat pada anak-anak dan dewasa. Isoprendlin) • Obat-obat bronchodilatator serta aerosol bekerja lebih cepat dan efek samping sistemik lebih kecil. Kortikosteroid Pemberian obat–obat bronchodilatator tidak menunjukkan perbaikan. Fenoterol) mempunyai sifat lebih efektif dan masa kerja lebih lama serta efek samping kecil dibandingkan dengan bentuk non-selektif (Adrenalin. dilanjutkan dengan pengobatan kortikosteroid 200 mg hidrokortison secara oral atau dengan dosis 3 – 4 mg/Kg BB intravena sebagai dosis permulaan dan dapat diulang 2 – 4 jam secara parenteral sampai serangan akut terkontrol. Jika sebelumnya telah digunakan obat golongan simpatomimetik. kardiovaskuler dan serebrovaskuler. kemudian dosis dikurangi secara bertahap. antibiotik .b. Obat-obatan bronchodilator golongan simpatomimetik bentuk selektif terhadap adrenoreseptor (Orsiprendlin. tetapi dipakai secara inhalasi atau parenteral. Pertimbangan terhadap pemberian kortikosteroid. e. maka intake cairan peroral dan infus harus cukup. penggunaan parenteral pada orang tua harus hati-hati.3 ml larutan epinefrin 1 : 1000 secara subkutan. • Pemberian Aminophilin secara intravena dosis awal 5 – 6 mg/Kg BB dewasa/anak-anak. Efedrin. dengan diikuti pemberian 30 – 60 mg prednison atau dengan dosis 1 – 2 mg/Kg BB/hari secara oral dalam dosis terbagi. Pemberian obat bronchodilator. Obat ekspektoran seperti Gliserolguaiakolat dapat juga digunakan untuk memperbaiki dehidrasi. Efek sampingnya tekanan darah menurun bila dilakukan tidak secara perlahan. 2) Modifikasi pengobatan penunjang selanjutnya. c. Mula-mula diberikan 2 sedotan dari Metered Aerosol Defire (Afulpen Metered Aerosol). disuntikkan perlahan dalam 5-10 menit. OBAT-OBATAN a.01 mg/Kg BB subkutan (1 mg permil) dapat diulang tiap 30 menit untuk 2–3x sesuai kebutuhan. berbahaya pada penyakit hipertensi. Setelah serangan mereda : 1) Cari faktor penyebab. sesuai dengan prinsip rehidrasi.

Infeksi sinus paranasalis dan Rongga mulut. haemophilus influenzae. yang dapat menimbulkan kelumpuhan bulu getar selaput lendir bronchus sehingga drainase lendir terganggu. yaitu : a. BRONCHITIS KRONIS 1. pada perjalanan penyakit bronchitis kronis dapat ditemukan periode akut. b. Kongesti menahun pada dinding bronchus melemahkan daya tahannya sehingga infeksi bakteri mudah terjadi. pneumokokus. albuterol. d. Penyakit Jantung Menahun. sehingga sering dinamai juga dengan “laringotracheobronchitis”. Biasanya diberikan secara parenteral atau inhalasi. Bronchitis kronis bukanlah merupakan bentuk menahun dari bronchitis akut. Rangsang : misal asap pabrik. b. Infeksi : stafilokokus.diberikan bila ada infeksi. B. sterptokokus. ETIOLOGI Terdapat 3 jenis penyebab bronchitis akut. menurunkan mediator kimia anaphylaxis dan dapat meningkatkan efek broncholasi dari kortikosteroid. yang menunjukkan adanya serangan bakteri pada dinding bronchus yang tidak normal. d. difteri dan typhus abdominalis. merupakan keadaan yang berkaitan dengan produksi mukus takeobronkial yang berlebihan sehingga cukup untuk menimbulkan batuk dengan ekspektorasi sedikitnya 3 bulan dalam setahun untuk lebih dari 2 tahun secara berturut-turut. 2. Dilatasi Bronchus (Bronchiectasi). Walaupun demikian. merupakan sumber bakteri yang dapat menyerang dinding bronchus. DEFINISI Bronchitis akut adalah radang mendadak pada bronchus yang biasanya mengenai trachea dan laring. asap mobil. Rokok. menyebabkan gangguan susunan dan fungsi dinding bronchus sehingga infeksi bakteri mudah terjadi. misalnya pada morbili. baik yang berasal dari luar bronchus maupun dari bronchus itu sendiri. baik pada katup maupun myocardium. PATOFISIOLOGI . Infeksi sekunder oleh bakteri ini menimbulkan kerusakan yang lebih banyak sehingga akan memperburuk keadaan. isoproterenol. 3. Istilah bronchitis kronis menunjukkan kelainan pada bronchus yang sifatnya menahun (berlangsung lama) dan disebabkan oleh berbagai faktor. isoetharine dan terbutaline. pertusis. Bronchitis kronis dapat merupakan komplikasi kelainan patologik yang mengenai beberapa alat tubuh. asap rokok dll. Radang ini dapat timbul sebagai kelainan jalan nafas tersendiri atau sebagai bagian dari penyakit sistemik. Kumpulan lendir tersebut merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri. Adrenergic Agent juga meningkatkan pergerakan cilliary. Beta Agonists Beta agonists (β -adrenergic agents) merupakan pengobatan awal yang digunakan dalam pengobatan asthma dikarenakan obat ini bekerja dengan jalan mendilatasikan otot polos. Jalan inhalasi merupakan jalan pilihan dikarenakan dapat mempengaruhi secara langsung dan mempunyai efek samping yang lebih kecil. metaproterenol. yaitu : a. c. Alergi c. Agent adrenergic yang sering digunakan antara lain epinephrine.

hipoxia dan asidosis. edema (akibat CHF kanan). Tidak seperti emfisema. Dokter akan mendiagnosa bronchitis kronis jika klien mengalami batuk atau produksi sputum selama beberapa hari + 3 bulan dalam 1 tahun dan paling sedikit dalam 2 tahun berturut-turut. Mukus kental ini bersama-sama dengan produksi mukus yang banyak akan menghambat beberapa aliran udara kecil dan mempersempit saluran udara besar. barrel chest. produksi sputum seperti kopi. Kerusakan fungsi cilliary sehingga menurunkan mekanisme pembersihan mukus. dan udara terperangkap pada bagian distal dari paru-paru. Selama infeksi klien mengalami reduksi pada FEV dengan peningkatan pada RV dan FRC. Usia : 45 – 65 tahun c. maka terjadi polisitemia (overproduksi eritrosit). Aliran udara dapat atau mungkin juga tidak mengalami hambatan. Mukus lebih kental c. biasanya karena infeksi pulmonary. “mucocilliary defence” dari paru mengalami kerusakan dan meningkatkan kecenderungan untuk terserang infeksi. tetapi biasanya seluruh saluran nafas akan terkena. Pengkajian : Batuk persisten. biasanya virus. Kerusakan ventilasi dapat juga meningkatkan nilai PaCO2. Bronchitis timbul sebagai akibat dari adanya paparan terhadap agent infeksi maupun non-infeksi (terutama rokok tembakau). hipoxemia akan timbul yang akhirnya menuju penyakit cor pulmonal dan CHF. 4. Obstruksi ini menyebabkan penurunan ventilasi alveolar. Iritan akan menyebabkan timbulnya respon inflamasi yang akan menyebabkan vasodilatasi. Klien mengalami kekurangan oksigen jaringan . MANIFESTASI KLINIK BRONCHITIS KRONIS a. kelenjar mukus akan menjadi hipertropi dan hiperplasia sehingga produksi mukus akan meningkat. dimana terjadi penurunan PaO2. Pada saat penyakit memberat. bronchitis lebih mempengaruhi jalan nafas kecil dan besar dibandingkan pada alveolinya. edema mukosa dan bronchospasme. Jalan nafas mengalami kollaps. dyspnea dalam beberapa keadaan. cyanosis akibat pengaruh sekunder polisitemia. kongesti. Dinding bronchial meradang dan menebal (seringkali sampai dua kali ketebalan normal) dan mengganggu aliran udara. Klien dengan bronchitis kronis akan mengalami : a. b. seringkali merupakan awal dari serangan bronchitis akut. d. Bronchitis kronis mula-mula mempengaruhi hanya pada bronchus besar. Penampilan umum : cenderung overweight.Bronchitis akut dapat timbul dalam serangan tunggal atau dapat timbul kembali sebagai eksaserbasi akut dari bronchitis kronis. Klien terlihat cyanosis. Pada infeksi saluran nafas bagian atas. terutama selama ekspirasi. Peningkatan ukuran dan jumlah kelenjar mukus pada bronchi besar. Cor Pulmonal. diproduksi sejumlah sputum yang hitam. sering infeksi pada sistem respirasi. Gejala biasanya timbul pada waktu yang lama. Jantung : pembesaran jantung. yang mana akan meningkatkan produksi mukus. Sebagai kompensasi dari hipoxemia. Jika masalah tersebut tidak ditanggulangi. Oleh karena itu. Hematokrit > 60% . ratio ventilasi perfusi abnormal timbul. Mukus yang kental dan pembesaran bronchus akan mengobstruksi jalan nafas. b. variabel wheezing pada saat ekspirasi. Ketika infeksi timbul.

Paraseptal emfisema dipercaya sebagai sebab dari pneumothorax spontan. c. 3. menghasilkan kerusakan bronchiolus. yaitu : a. 2. Emfisema Panlobular (Panacinar) Merusak ruang udara pada seluruh asinus dan biasanya termasuk pada paru bagian bawah. tekanan positif intratorak akan menyebabkan kollapsnya jalan nafas. PATOGENESIS Terdapat 4 perubahan patologik yang dapat timbul pada klien emfisema. Beberapa alveoli rusak dan yang lainnya mungkin dapat menjadi membesar. c.. kantung alveolar kehilangan elastisitasnya dan jalan nafas kecil menjadi kollaps atau menyempit. Terbentuknya Bullae Dinding alveolar membengkak dan berhubungan untuk membentuk suatu bullae (ruangan tempat udara) yang dapat dilihat pada pemeriksaan X-ray. Riwayat merokok ⊕ 5. timbul sangat sering pada seorang perokok. TIPE EMFISEMA Terdapat tiga tipe dari emfisema : a. Aerosolized Nebulizer e. Protease (enzim paru) merubah atau merusakkan alveoli dan saluran nafas kecil dengan jalan merusakkan serabut elastin. DEFINISI Emfisema merupakan gangguan pengembangan paru-paru yang ditandai oleh pelebaran ruang udara di dalam paru-paru disertai destruksi jaringan (WHO). maka jika ditemukan kelainan berupa pelebaran ruang udara (alveolus) tanpa disertai adanya destruksi jaringan maka keadaan ini sebenarnya tidak termasuk emfisema. Antimikrobial b. MANAGEMENT MEDIS BRONCHITIS KRONIS Pengobatan yang utama ditujukan untuk mencegah dan mengontrol infeksi dan meningkatkan drainase bronchial menjadi jernih. Sesuai dengan definisi tersebut. Kollaps jalan nafas kecil dan udara terperangkap Ketika klien berusaha untuk ekshalasi secara kuat. d. melainkan hanya sebagai “overinflation”. Pengobatan yang diberikan : a. b. Hyperinflation Paru Pembesaran alveoli mencegah paru-paru untuk kembali kepada posisi istirahat normal selama ekspirasi. Emfisema Paraseptal Merusak alveoli pada lobus bagian bawah yang mengakibatkan isolasi dari blebs sepanjang perifer paru. EMFISEMA PARU 1. Akibat hal tersebut. Postural Drainage c. b. Bentuk ini bersama disebut centriacinar emfisema. Emfisema Centriolobular Merupakan tipe yang sering muncul. Hilangnya elastisitas paru.e. Inflamasi berkembang pada bronchiolus tetapi biasanya kantung alveolar tetap bersisa. Bronchodilator d. Panacinar timbul pada orang tua dan klien dengan defisiensi . Surgical Intervention C. biasanya pada region paru atas.

Perjalanan udara terganggu akibat dari perubahan ini. Pada beberapa tingkat emfisema dianggap normal sesuai dengan usia. Kesulitan selama ekspirasi pada emfisema merupakan akibat dari adanya destruksi dinding (septum) diantara alveoli. Pada saat alveoli dan septa kollaps. lebih lanjut terjadi penurunan perfusi oksigen dan penurunan ventilasi. Kerja nafas meningkat dikarenakan terjadinya kekurangan fungsi jaringan paru untuk melakukan pertukaran oksigen dan karbon dioksida. Proses ini akan menyebabkan peningkatan ventilatory pada “dead space” atau area yang tidak mengalami pertukaran gas atau darah. kollaps jalan nafas sebagian dan kehilangan elastisitas recoil. Emfisema juga menyebabkan destruksi kapiler paru. 4. PATOFISIOLOGI Emfisema merupakan kelainan dimana terjadinya kerusakan pada dinding alveolar. MEKANISME PENYAKIT Asap tembakau Polusi Udara Gangguan pembersihan paru-paru Peradangan bronchus dan bronchiolus Obstruksi jalan nafas akibat peradangan Hipoventilasi alveolar Bronchiolitis kronik Predisposisi Genetik (defisiensi alfa antitripsin) Sekat & jaringan penyokong hilang Saluran nafas kecil kollaps saat ekspirasi PLE (Emfisema Panlobular) Dinding bronchiolus melemah dan alveoli pecah Saluran nafas kecil kolaps sewaktu ekspirasi Faktor-faktor yang tidak diketahui Seumur hidup PLE asimptomatik pada orang tua CLE dan PLE . udara akan tertahan diantara ruang alveolar (disebut blebs) dan diantara parenkim paru (disebut bullae). 5. tetapi jika hal ini timbul pada awal kehidupan (usia muda).enzim alpha-antitripsin. Pada keadaan lanjut. terjadi peningkatan dyspnea dan infeksi pulmoner. yang mana akan menyebabkan overdistensi permanen ruang udara. seringkali timbul Cor Pulmonal (CHF bagian kanan) timbul. biasanya berhubungan dengan bronchitis kronis dan merokok.

PENGKAJIAN DIAGNOSTIK COPD 1.. • Mencegah dan mengobati infeksi • Teknik terapi fisik untuk memperbaiki dan meningkatkan ventilasi paru • Memelihara kondisi lingkungan yang memungkinkan untuk memfasilitasi pernafasan.. S. normal ditemukan saat periode remisi (asthma) . peningkatan ruang udara retrosternal. Pemeriksaan jantung • Tidak terjadi pembesaran jantung. Pengkajian fisik • Nafas pendek persisten dengan peningkatan dyspnea • Infeksi sistem respirasi • Pada auskultasi terdapat penurunan suara nafas meskipun dengan nafas dalam. • Support psikologis • Patient education and rehabilitation.A. Penampilan Umum • Kurus. 1996) 6. Cor Pulmonal timbul pada stadium akhir. memperlambat perkembangan proses penyakit dan mengobati obstruksi saluran nafas yang berguna untuk mengatasi hipoxia. Chest X-Ray : dapat menunjukkan hiperinflation paru. Jenis obat yang diberikan : • Bronchodilators • Aerosol therapy • Treatment of infection • Corticosteroids • Oxygenation D. Usia 65 – 75 tahun. c. penurunan tanda vaskular/bulla (emfisema). warna kulit pucat. L.M. MANIFESTASI KLINIK a. tapi tidak selalu ada riwayat merokok. • Wheezing ekspirasi tidak ditemukan dengan jelas. peningkatan bentuk bronchovaskular (bronchitis). • Hematokrit < 60% e. 7. • Produksi sputum dan batuk jarang. flattened diafragma. flattened hemidiafragma • Tidak ada tanda CHF kanan dengan edema dependen pada stadium akhir. b. d. MEDICAL MANAGEMENT Penatalaksanaan utama pada klien emfisema adalah untuk meningkatkan kualitas hidup.CLE Bronchiolitis kronik CLE (Emfisema Centriolobular) Gambar 14 : Mekanisme Timbulnya Emfisema (Sumber : Price. Pendekatan terapi mencakup : • Pemberian terapi untuk meningkatkan ventilasi dan menurunkan kerja nafas. Riwayat merokok • Biasanya didapatkan. & Wilson.

emfisema). gelombang P tinggi (asthma berat). Status Asmatikus . 5. harus diobservasi terutama pada klien dengan dyspnea berat. atrial disritmia (bronchitis). peningkatan rangsangan otot polos bronchial dan edema mukosa. 7. 3. pembesaran kelenjar mukus (bronchitis) 8. axis QRS vertikal (emfisema) 12. Hipoxemia Hipoxemia didefinisikan sebagai penurunan nilai PaO2 kurang dari 55 mmHg. FEV1/FVC : ratio tekanan volume ekspirasi (FEV) terhadap tekanan kapasitas vital (FVC) menurun pada bronchitis dan asthma. KOMPLIKASI COPD 1. Exercise ECG. 11. Darah Komplit : peningkatan hemoglobin (emfisema berat). peningkatan eosinofil (asthma). 6. dengan nilai saturasi Oksigen <85%. gel.2. misal : bronchodilator. penyakit jantung lain. efek obat atau asidosis respiratory. TLC : meningkat pada bronchitis berat dan biasanya pada asthma. Kimia Darah : alpha 1-antitrypsin dilakukan untuk kemungkinan kurang pada emfisema primer. merencanakan/evaluasi program. AVF panjang. Cardiac Disritmia Timbul akibat dari hipoxemia. Tanda yang muncul antara lain : nyeri kepala. Infeksi Respiratory Infeksi pernafasan akut disebabkan karena peningkatan produksi mukus. alkalosis respiratori ringan sekunder terhadap hiperventilasi (emfisema sedang atau asthma). III. 4. kollaps bronchial pada tekanan ekspirasi (emfisema). penurunan konsentrasi dan pelupa. Pemeriksaan Fungsi Paru : dilakukan untuk menentukan penyebab dari dyspnea. mengidentifikasi patogen. 3. 4. 10. 2. menentukan abnormalitas fungsi tersebut apakah akibat obstruksi atau restriksi. Kapasitas Inspirasi : menurun pada emfisema 5. pH normal atau asidosis. Gagal jantung Terutama kor-pulmonal (gagal jantung kanan akibat penyakit paru). Sputum Kultur : untuk menentukan adanya infeksi. Bronchogram : dapat menunjukkan dilatasi dari bronchi saat inspirasi. Asidosis Respiratory Timbul akibat dari peningkatan nilai PaCO2 (hiperkapnia). tinggi (bronchitis. ECG : deviasi aksis kanan. 9. Pada tahap lanjut timbul cyanosis. P pada Leads II. mengevaluasi keefektifan obat bronchodilator. Terbatasnya aliran udara akan meningkatkan kerja nafas dan timbulnya dyspnea. menurun pada emfisema. dizzines. memperkirakan tingkat disfungsi dan untuk mengevaluasi efek dari terapi. Pada awalnya klien akan mengalami perubahan mood. Stress Test : menolong mengkaji tingkat disfungsi pernafasan. fatique. E. 6. lethargi. seringkali PaO2 menurun dan PaCO2 normal atau meningkat (bronchitis kronis dan emfisema) tetapi seringkali menurun pada asthma. Komplikasi ini sering kali berhubungan dengan bronchitis kronis. tetapi klien dengan emfisema berat juga dapat mengalami masalah ini. ABGs : menunjukkan proses penyakit kronis. tachipnea. pemeriksaan sitologi untuk menentukan penyakit keganasan atau allergi.

Status Respirasi : Kepatenan Jalan nafas # dengan skala……. crackles Batuk (persisten) dengan/tanpa produksi sputum. penggunaan otot bantu pernafasan Suara nafas abnormal seperti : wheezing. Penggunaan otot bantu pernafasan dan distensi vena leher seringkali terlihat.. Hari. Bersihan jalan nafas tak efektif yang berhubungan dengan : Bronchospasme Peningkatan produksi sekret (sekret yang tertahan. dengan kriteria : • Tidak ada demam • Tidak ada cemas • RR dalam batas normal • Irama nafas dalam batas normal • Pergerakan sputum keluar dari jalan nafas . ronchi. Penyakit ini sangat berat. (1 – 5) setelah diberikan perawatan selama……. kental) Menurunnya energi/fatique Data-data Klien mengeluh sulit untuk bernafas Perubahan kedalaman/jumlah nafas. potensial mengancam kehidupan dan seringkali tidak berespon terhadap therapi yang biasa diberikan. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN COPD Intervensi dan rasional pada penyakit ini didasarkan pada konsep Nursing Intervention Classification (NIC) dan Nursing Outcome Classification (NOC) Tabel 4 : Rencana Asuhan keperawatan Klien COPD No Diagnosa Keperawatan Perencanaan (NANDA) Tujuan (NOC) Intervensi (NIC) 1.Merupakan komplikasi mayor yang berhubungan dengan asthma bronchial.

Surveillance j. Manajemen asam dan basa . Destruksi alveoli Data-data : Dyspnea Confusion. air trapping). Manajemen jalan nafas b. Aspiration precautions d. Monitoring respirasi i. Tidak mampu mengeluarkan sekret Nilai ABGs abnormal (hipoxia dan hiperkapnia) Perubahan tanda vital. lemah.• Bebas dari suara nafas tambahan a. (1 – 5) setelah diberikan perawatan selama……. Terapi oksigen g. Status Respirasi : Pertukaran gas # dengan skala ……. Fisioterapi dada e. Penurunan kecemasan c. bronchospasme. Menurunnya toleransi terhadap aktifitas. Hari dengan kriteria : • Status mental dalam batas normal • Bernafas dengan mudah • Tidak ada cyanosis • PaO2 dan PaCO2 dalam batas normal • Saturasi O2 dalam rentang normal a. Monitoring tanda vital 2. Kerusakan Pertukaran gas yang berhubungan dengan : Kurangnya suplai oksigen (obstruksi jalan nafas oleh sekret. Pemberian posisi h. Latih batuk efektif f.

Data : Penurunan berat badan Kehilangan masa otot. fatique Efek samping pengobatan Produksi sputum Anorexia. Monitoring respirasi g. tidak tertarik makan perawatan selama……. Monitoring cairan c. Monitoring tanda vital 3. Hari dengan kriteria : • Asupan makanan skala (1 – 5) (adekuat) • Intake cairan peroral (1 – 5) (adekuat) • Intake cairan (1 – 5) (adekuat) Status Nutrisi : Intake Nutrien gas # dengan skala ……. (1 – 5) setelah diberikan a. nausea/vomiting. Manajemen cairan b. (1 – 5) . Latih batuk d. Status diet No Diagnosa Keperawatan Perencanaan (NANDA) Tujuan (NOC) Intervensi (NIC) dengan : Dyspnea. Manajemen jalan nafas c. Terapi oksigen f. tonus otot jelek Dilaporkan adanya perubahan sensasi rasa Tidak bernafsu untuk makan.tubuh b. Ketidakseimbangan nutrisi : Kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan Status Nutrisi : Intake cairan dan makanan gas # dengan skala ……. Tingkatkan keiatan e.

Kontroling nutrisi i. Manajemen nutrisi f. Terapi nutrisi g. (1 – 5) setelah diberikan perawatan selama……. karbohidrat dan lemak (1 – 5) (adekuat) Kontrol Berat Badan gas # dengan skala ……. Hari dengan kriteria : • Intake kalori (1 – 5) (adekuat) • Intake protein. Hari dengan kriteria : • Mampu memeliharan intake kalori secara optimal (1 – 5) (menunjukkan) • Mampu memelihara keseimbangan cairan (1 – 5) (menunjukkan) • Mampu mengontrol asupan makanan secara adekuat (1 – 5) (menunjukkan) d. Bantuan untuk peningkatan BB l. Terapi menelan j. Monitoring tanda vital k. Manajemen berat badan Keterangan : Untuk intervensi secara kronologi dapat dilihat dari aktifitas tindakan yang dapat anda temukan dalam buku Nursing Intervention Classification (NIC) dan Nursing Outcome Classification (NOC) Kanker paru-paru .setelah diberikan perawatan selama……. Konseling nutrisi h. Manajemen gangguan makan e.

Lihat panduan penerjemahan Wikipedia. Halaman ini belum atau baru diterjemahkan sebagian dari bahasa Inggris.-C34. cari Kanker paru-paru Klasifikasi dan bahan-bahan eksternal Cross section of a human lung. The white area in the upper lobe is cancer. 162 7616 007194 med/1333 med/1336 emerg/335 radio/807 radio/405 radio/406 D002283 Kanker paru-paru adalah pertumbuhan sel kanker yang tidak terkendali dalam jaringan paru yang dapat disebabkan oleh sejumlah karsinogen lingkungan. kanker paru merupakan penyebab kematian utama dalam kelompok kanker baik pada pria maupun wanita[2]. Sebagian besar kanker paru-paru berasal dari sel-sel di dalam paru-paru. Frequency of histological types of lung cancer[3] Histological type Frequency (%) . terutama asap rokok [1] . tetapi kanker paru-paru bisa juga berasal dari kanker di bagian tubuh lainnya yang menyebar ke paru-paru. ICD-10 ICD-9 DiseasesDB MedlinePlus eMedicine MeSH C33. Menurut World Health Organization (WHO). Bantulah Wikipedia untuk melanjutkannya.Dari Wikipedia bahasa Indonesia. the black areas indicate that the patient was a smoker. ensiklopedia bebas Langsung ke: navigasi.

tiroid. [sunting] Penyebab utama Sub-types of non-small cell lung cancer in smokers and never-smokers[6] Frequency of nonsmall cell lung cancers (%) Histological sub-type Smokers 42 39 4 Squamous cell lung carcinoma Adenocarcinoma (not otherwise specified) Adenocarcinoma Bronchioloalveolar carcinoma Neversmokers 33 35 10 . Biasanya kanker ini berasal dari payudara. yang bisa berasal dari paru-paru atau merupakan penyebaran dari organ lain.8 0. rektum. lambung. Tumor paru-paru yang lebih jarang terjadi adalah: 1. kanker ini disebut karsinoma bronkogenik. prostat. 2. tetapi seringkali menyerang lebih dari satu daerah di paru-paru. 3. buah zakar. 4. usus besar.8 0. Sarkoma (ganas) Limfoma merupakan kanker dari sistem getah bening. Karsinoma sel skuamosa Karsinoma sel kecil atau karsinoma sel gandum Karsinoma sel besar Adenokarsinoma Karsinoma sel alveolar berasal dari alveoli di dalam paru-paru.Non-small cell lung carcinoma Small cell lung carcinoma Carcinoid[4] Sarcoma[5] Unspecified lung cancer 80. yang terdiri dari: 1. Kanker ini bisa merupakan pertumbuhan tunggal. Banyak kanker yang berasal dari tempat lain menyebar ke paru-paru. leher rahim. tulang dan kulit.4 16. Adenoma (bisa ganas atau jinak) 2. Hamartoma kondromatous (jinak) 3. ginjal.9 Lebih dari 90% kanker paru-paru berawal dari bronki (saluran udara besar yang masuk ke paru-paru).1 1.

nikel. seperti tuberkulosis dan fibrosis. Suara serak/parau. semakin besar resiko untuk menderita kanker paru-paru. 5. 7. Peranan polusi udara sebagai penyebab kanker paru-paru masih belum jelas. nyeri atau retak tulang dengan sebab yang tidak jelas. Pembengkakan di wajah atau leher. 4. gas mustard dan pancaran oven arang bisa menyebabkan kanker paru-paru. meskipun biasanya hanya terjadi pada pekerja yang juga merokok. [sunting] Gejala kanker paru Gejala paling umum yang ditemui pada penderita kanker paru adalah: 1. Biopsi Jarum Halus. CT Scan Toraks. [sunting] Diagnosis dan pengobatan Beberapa prosedur yang dapat memudahkan diagnosa kanker paru antara lain adalah foto X-Ray. Kasuskkasus stadium dini/ awal sering ditemukan tanpa sengaja ketika seseorang melakukan pemeriksaan kesehatan rutin. Beberapa kasus terjadi karena adanya pemaparan oleh gas radon di rumah tangga. berubah warna dan makin banyak. radiasi. Kadang kanker paru (terutama adenokarsinoma dan karsinoma sel alveolar) terjadi pada orang yang paru-parunya telah memiliki jaringan parut karena penyakit paru-paru lainnya. Semakin banyak rokok yang dihisap. Hanya sebagian kecil kanker paru-paru (sekitar 10%-15% pada pria dan 5% pada wanita) yang disebabkan oleh zat yang ditemui atau terhirup di tempat bekerja. 8. Batuk yang terus menerus atau menjadi hebat. Gejala pada kanker paru umumnya tidak terlalu kentara. Bekerja dengan asbes. 3. Napas sesak dan pendek-pendek. Bronkoskopi. 2. sehingga kebanyakan penderita kanker paru yang mencari bantuan medis telah berada dalam stadium lanjut. kromat.Carcinoid Other 7 8 16 6 Merokok merupakan penyebab utama dari sekitar 90% kasus kanker paru-paru pada pria dan sekitar 70% pada wanita. klorometil eter. dan USG Abdomen. Sakit kepala. 6. Dahak berdarah. Pengobatan kanker paru dapat dilakukan dengan cara-cara seperti . arsen. Kelelahan kronis Kehilangan selara makan atau turunnya berat badan tanpa sebab yang jelas.

Mekanisme itu penting sebagai pengganti sel sel tubuh yang rusak dan perlu peremajaan. penghambat pertumbuhan dan gen pengkontrol proses lain dalam sel agar berjalan baik.kadang melebihi dari tempat ditemukannya tumor dan membuang semua kelenjar getah bening yang terkena kanker. umur berapa saja dan dimana saja dalam tubuh manusia. Kanker yang paling banyak dikenal orang pada orang dewasa adalah kanker payudara. Pembedahan dengan membuang satu bagain dari paru . 13 June 2006 Kanker Paru Kanker Dalam keadaan normal sel akan tumbuh sesuai kebutuhan tubuh dengan melalui tahapan tahapan dalam prosesnya. ^ (en) Ferlay J. [sunting] Refensi 1. kanker nasofaring. Kesimpulan : Kanker adalah penyakit yang berhubungan dengan proses pertumbuhan dan perkembangan sel yang tidak terkontrol. Kanker dapat terjadi pada siapa saja. . kanker usus. Jika gangguan itu lebih berat dan gangguan pertumbuhan berlangsung terus dan menyebar ke tempat lain (metastasis) kita sebut dengan tumor ganas atau kanker. Kemoterapi Meminum obat oral dengan efek samping tertentu yang bertujuan untuk memperpanjang harapan hidup penderita. ^ (id) Roche Indonesia: Kanker paru 2. Pertumbuhan sel yang berjalan dalam beberapa tahapan dan dikontrol oleh gen (pembawa informasi) yang sebagian bertindak sebagai pemicu. Bra Home Lung Cancer 101 Lung Cancer 101 Tuesday. kanker leher rahim. kanker darah dan kanker paru. Pada beberapa kondisi tidak semua gangguan itu berkembang cepat namun dapat berhenti sebelum berubah menjadi ganas itulah yang kita kenal dengan tumor jinak. Besar kecilnya kemungkinan seseorang untuk menderita kanker jenis tertentu tergantung faktor risiko yang dimilikinya.. Gangguan pada gen atau proses pertumbuhan itu dapat menyebabkan sel tumbuh tidak terkendali. kanker prostat.1. • • • Radioterapi atau radiasi dengan sinar-X berintensitas tinggi untuk membunuh sel kanker.

Kanker paru merupakan jenis kanker yang paling sulit diobati. Mengapa kanker paru sulit diobati. kantung udara Paru adalah organ tubuh yang berperan dalam sistem pernapasan (respirasi) yaitu proses pengambilan oksigen (O2) dari udara bebas saat menarik napas. jantung c. jantung atau gangguan pada darah. Karena fungsinya itu dapat dipahami bahwa paru paling terbuka dengan polusi udara yang diisap termasuk asap rokok yang dihisap dengan penuh kesengajaan itu. Berbagai kelainan dapat menganggu sistem pernapasan itu. PARU Keterangan Gambar a. antara lain udara berpolusi sehingga kadar O2 sedikit. gangguan di saluran napas/paru. Pada tahap berikutnya setelah metabolisme maka sisa-sisa metabolisme itu terutama karbondioksida (CO2) akan dibawa darah untuk dibuang kembali ke udara bebas melalui paru pada saat membuang napas. banyak diderita lakilaki dewasa ( usia > 40 tahun) dan perokok. Untuk menjawab pertanyaan tersebut perlu dipahami dahulu tentang fungsi organ paru. melalui saluran napas (bronkus) dan sampai di dinding alveoli (kantong udara) O2 akan ditranfer ke pembuluh darah yang di dalamnya mengalir anatara lain sel sel darah merah untuk dibawa ke sel-sel sel di berbagai organ tubuh lain sebagai energi dalam proses metabolisme. Secara khusus dikatakan paru adalah tempat tubuh mengambil darah bersih (kaya O2) dan tempat pencucian darah yang berasal dari seluruh tubuh( banyak mengandung CO2) sebelum ke jantung untuk kembali diedarkan ke seluruh tubuh . saluran napas b.

Faktor lain yang dapat menjadi faktor risiko terutama berkaitan dengan udara yang dihirup. sedangkan tumor yang terdapat dalam saluran napas dapat menyebabkan sumbatan pada saluran napas. Cairan di rongga pleura yang sering ditmukan pada kanker paru juga menganggu fungsi paru. kretek atau cerutu) Hidup atau kontal erat dengan lingkungan asap tembakau (perokok pasif) Radon dan asbes Lingkungan industri tertentu Zat kimia. Lebih dari 80% kanker paru berhubungan dengan perokok. Tumor yang besar di paru dapat menyebabkan sebagian paru dan/saluran napas kolaps. Definisi khusus untuk kanker paru primer yakni tumor ganas yang berasal dari epitel (jaringan sel) saluran napas atau bronkus. Berhenti dari merokok akan mengurangi dengan sangat berarti risiko seseorang terkena kanker paru. seperti arsenik Beberapa zat kimia organik Radiasi dari pekerjaan. obat-obatan. Faktor Risiko Kanker Paru • • • • • • • • • Laki-laki Usia lebih dari 40 tahun Pengguna tembakau (perokok putih. Keluhan yang sering timbul pada penyakit paru disebut keluhan respirasi dapat terjadi hanya satu dan terkadang lebih dari satu. antara lain • • • • • Sesak napas dengan atau suara mencicit (mengi) Rasa berat di dada jika bernapas Batuk Batuk darah Nyeri dada Kanker Paru Kanker Paru dalam arti luas adalah semua penyakit keganasan di paru.Secara umum gangguan pada pada saluran napas dapat merupa sumbatan pada jalan napas (obstruksi) atau gangguan yang menyebabkan paru tidak dapat kembang secara sempurna (restriktif). tidak semua perokok akhirnya menderita kanker paru. Risiko pada bekas perokok lebih besar daripada orang-orang yang tidak pernah merokok. Bagaimanapun. Kanker paru paling banyak ditemukan pada laki-laki dewasa dan perokok. mencakup keganasan yang berasal dari paru sendiri (primer) atau penyebaran (metastasis) tumor dari organ lain. Tumor yang menekan dinding dada dapat menyebabkan kerusakan/destruksi tulang dinding dada dan menimbulkan nyeri. lingkungan .

Kemopreventif adalah penggunaan bahan alami. metode diet tertentu dan zat kimia sintetis untuk mencegah perkembangan penyakit. Banyak cara dan bahan yang sedang diuji cobakan dengan tujuan bukan hanya mengurangi resiko kanker. Hasilnya uji coba kemopreventif masih belum telralu mengembirakan berbeda denngan program berhenti merokok yang secara nyata telah menurunkan jumlah penderita kanker paru laki laki di Amerika karena meningkatnya jumlah orang yang berhenti merokok. Misalnya vitamin. Bagaimanapun banyak perokok yang telah mencoba berhenti merokok dan mengatakan usaha untuk berhenti merokok adalah hal luar biasa sulit. Seseorang perokok yang telah berhasil berhenti 10 tahun lamanya berarti telah dapat menurunkan risiko 30 -50 persen untuk terkena kanker paru.• Polusi udara Seseorang yang termasuk golongan risiko tinggi (GRT) jika mempunyai keluhan napas (gangguan respirasi) seperti batuk. diet. Program berhenti merokok. Untuk bukan perokok. Diagnosis Kanker Paru Seseorang dapat didiagnosis karena ada gejala atau tanda. sesak napas. Usaha pencegahan kanker yang lain dikenal dengan istilah kemopreventif (Chemoprevention). Ini barangkali catatan kenapa banyak sekali perokok berusaha untuk berhenti namun gagal. tetapi juga untuk mengurangi kesempatan akan berulangnya kanker (relapps). cara ini sepertinya hal yang mudah tapi tidak untuk perokok. Risiko pada bekas perokok lebih besar daripada orang-orang yang tidak pernah merokok. Faktor utama keberhasilan untuk program berhenti merokok adalah niat dan diikuti dengan bantuan lingkungan sekitarnya agar usaha itu berhasil dengan sukses. bahkan boleh jadi kadang kadang lebih keras lagi. Setelah datang ke dokter akan dicari kelainan pada seluruh tubuh atau fisik diagnostik dan . nyeri dada. sebaiknya segera meneriksakan diri dan dirujuk ke dokter spesialis paru Pencegahan Kanker Paru Penelitian telah membuktikan bahwa lebih dari 80 % kanker paru berhubungan dengan merokok. Tidak heran jika kebanyakan penderita kanker paru datang setelah staging atau tingkatan penyakitnya lanjut. Kasus kasus staging awal (dini) sering ditemukan tanpa sengaja ketika seseorang melakukan pemeriksaan kesehatan rutin (check-up kesehatan). Kecanduan nikotin pada perokok dapt disamakan dengan sakau pada pengguna heroin. dan terapi hormone. tetapi jika kanker masih terlalu kecil sering belum menimbulkan gejala dan tanda. Berhenti merokok akan mengurangi dengan sangat berarti risiko seseorang terkena kanker paru. Jadi cara utama untuk seseorang mengurangi risiko terkena kanker paru adalah berhenti merokok.

• • • • • • • • • • • • Batuk pada perokok yang terus menerus atau menjadi hebat Batuk pada bukan perokok yang menetap sampai dengan lebih dari dua minggu Dada. • • • • • • • Kelelahan kronis Kehilangan nafsu makan Sakit kepala.selanjutnya akan dilakukan pemeriksaan tambahan agar didapat kepastian tentang penyakitnya. Tergantung pada organ-organ yang dirusak. Hal itu disebabkan tumor masih dengan volume kecil dan belum menyebar sehingga tidak menimbulkan . bahu atau nyeri punggung yang tidak berhubungan terhadap nyeri akibat batuk yang terus menerus Perubahan warna pada dahak Meningkatnya jumlah dahak Dahak berdarah Bunyi menciut-ciut saat bernafas pada bukan penderita asma Radang yang kambuh Sulit bernafas Nafas pendek Serak Suara kasar saat bernafas Selain dari itu juga barangkali tanda-tanda dan gejala-gejala disebabkan oleh penyebaran kanker paru pada bagian tubuh lainnya. nyeri tulang. sakit yang menyertainya Retak tulang yang tidak berhubungan dengan luka akibat kecelakaan Gejala-gejala pada saraf (seperti: cara berjalan yang goyah dan atau kehilangan ingatan sebagian) Bengkak pada leher dan wajah Kehilangan berat badan yang tidak diketahui penyebabnya Pemeriksaan fisis Dokter terkadang tidak mendapatkan kelainan pada pemeriksaan fisis penderita kanker paru staging awal penyakitnya. Tanda dan gejala mungkin tidak kelihatan sampai penyakit telah mencapai tahap lanjut. Tanda dan gejala Tanda dan gejala kanker paru membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dapat diketahui dan seringkali dikacaukan dengan gejala dari kondisi yang kurang serius.

Kelainan yang dapat ditemukan berkaitan penyebaran kanker. Jenis sel kanker paru Beberapa pemeriksaan yang dilakukan dokter spesialis paru untuk mendapatkan jenis sel kanker paru antara lain : Dokter terkadang tidak mendapatkan kelainan pada pemeriksaan fisis penderita kanker paru staging awal penyakitnya. misalnya benjolan di leher. misalnya benjolan di leher.gangguan di tempat lain. Pemeriksaan (prosedur diagnosis) Ditemukannya jenis sel (histologis) kanker adalah syarat utama untuk mengatakan seseorang menderita kanker dan selanjutnya dapat ditentukannya staging (tingkatan) penyakitnya secepat mungkin untuk menentukan pengobatan terbaik. Kanker paru juga dapat menyebabkan timbulnya tumpukan cairan di rongga pleura atau menekan pembuluh darah balik (vena). dll. ketiak. Penting diingat tidak semua jenis pemeriksaan harus dilakukan pada pasien tetapi berdasarkan kondisi umum dan penyakit pada saat datang ke dokter. Pada kasus dengan staging lanjut akan dapat ditemukan kelainan tergantung pada gangguan yang ditimbulkan oleh tumor primer atau penyebarannya. Pada kasus dengan staging lanjut akan dapat ditemukan kelainan tergantung pada gangguan yang ditimbulkan oleh tumor primer atau penyebarannya. Kelainan yang dapat ditemukan berkaitan penyebaran kanker. Pada kondisi umum yang buruk terkadang dokter akan memutuskan memberi pengobatan sebelum diagnosis pasti muncul. Dokter akan selalu meminta persetujuan pasien dan keluarganya untuk setiap pemeriksaan yang dilakukan. Tidak jarang juga pasien datang dengan kelumpuhan akibat penyebaran di otak atau tulang belakang (vetebra). Kelainan yang didapat tergantung letak dan besar tumor sehingga menimbulkan gangguan. Kanker paru juga dapat menyebabkan timbulnya tumpukan cairan di rongga pleura atau menekan pembuluh darah balik (vena). misal pasien datang dengan sesak napas yang hebat dan muka/leher dan lengan bengkak karena tumor menekan pembulu darah balik (sindrom vena kava superior) atau nyeri yang hebat terutama jika kanker telah merusak tulang. dll. Kelainan yang didapat tergantung letak dan besar tumor sehingga menimbulkan gangguan. Hal itu disebabkan tumor masih dengan volume kecil dan belum menyebar sehingga tidak menimbulkan gangguan di tempat lain. Tidak jarang juga pasien datang dengan kelumpuhan akibat penyebaran di otak atau tulang belakang (vetebra). ketiak. .

Tetapi perlu diingat terkadang hasilnya meski positif tapi bukan berupa sebaran kanker paru.Pemeriksaan (prosedur diagnosis) Ditemukannya jenis sel (histologis) kanker adalah syarat utama untuk mengatakan seseorang menderita kanker dan selanjutnya dapat ditentukannya staging (tingkatan) penyakitnya secepat mungkin untuk menentukan pengobatan terbaik. sesak atau batuk • • . Bahan hasil pemeriksaan ini akan diletakkan dalam gelas objek dansegera direndam dalam alkohol 98% dan dikirim ke patologi anatomi untuk di proses. misal pasien datang dengan sesak napas yang hebat dan muka/leher dan lengan bengkak karena tumor menekan pembulu darah balik (sindrom vena kava superior) atau nyeri yang hebat terutama jika kanker telah merusak tulang. Pada kondisi umum yang buruk terkadang dokter akan memutuskan memberi pengobatan sebelum diagnosis pasti muncul. Penting diingat tidak semua jenis pemeriksaan harus dilakukan pada pasien tetapi berdasarkan kondisi umum dan penyakit pada saat datang ke dokter. Biopsi jarum halus: yaitu mengambil spesimen jaringan dari tumor yang superfisial menggunakan jarum halus. Kepositfan pemeriksaan ini < 10% dan sangat bergantung pada tehnik pasien membantukkan dahak yang akan diperiksa. Punksi ini menggunakan jarum infus ukuran 14. Tehnik ini sangan sederhana dan jarang menimbulkan komplikasi berat. Dokter paru biasanya dapat melakukan dengan cepat dan hasil kepositifannya cukup tinggi. Jenis sel kanker paru Beberapa pemeriksaan yang dilakukan dokter spesialis paru untuk mendapatkan jenis sel kanker paru antara lain : • Sitologi sputum: menemukan sel kanker pada sputum atau dahak penderita.500 cc tergantung toleransi pasien. hasil positif biasanya ditemukan jika kanker ada di dalam saluran napas. dll. Dahak yang diperiksa harus dahak segar pagi hari dan segera dibawa ke laboratorium patologi anatomi untuk diproses. Jika pasien merasa tidak enak. misalnya tuberkulosis(TBC). Dokter akan selalu meminta persetujuan pasien dan keluarganya untuk setiap pemeriksaan yang dilakukan. Hasil positif tidak selalu didapt dengan tehnik ini tetapi harus dilakukan. Jika volume cairan cukup banyak dokter spesialis paru akan sekaligus mengeluarkan sampai 1. ketiak atau dinding dada yang dapat diraba. hasil punksiini akan dianalisa dan dikirim ke laboratorium patologi anatomi untuk di proses. kanker kelenjar getah bening. Punksi pleura yaitu mengambil cairan dari rongga pleura (lapisan paru) jika ditemukan cairan akibat kanker paru. jika volume cairan dikit dokter paru akan melacak lokasi yang tepat dengan bantuan USG toraks. Misalnya untuk tumor yang ditemukan di leher. Pada saat melakukan terkadang dibutuhkan anestesi (bius) lokal saja.

apkah dsistem perdarahan baik atau komplikasi lain karena tehnik ini dapat menimbulkan komplikasi serius meski angka kejadiannyanya sangat kecil. 2. adalah jenis sel kanker terbanyak dan terutama pada perokok Karsinoma sel besar Lain-lain:merupakan jenis yang jarang ditemukan misalnya karsinoid. • • Jenis sel kanker paru secara garis besar dibagi atas 2 kelompok 1. Punksi pleura dan pemasangan selang dada kebanyakan dilakukan dokter spesialis paru dengan bius lokal. Pada kasus dengan jumlah cairan yang terus banyak.Dokter spesialis paru biasa melakukan ini dengan bius lokal dengan tingkat kepositifan yang besar. Tetapi pada kondisi berat harus dilakukan di kamar operasi dengan bius umum. Bronkoskopi adalah tehnik pemeriksaan memakai bronkoskop untuk melihat kelainan dalam saluran napas dan jika ditemukan kelainan akan dilakukan tindakan bilasan. bersifat lebih agresif tetapi sangat responsif dengan pengobatan. Dapat dilakukan dengan berpedoman pada foto toraks atau dengan tuntutan CT-scan dll. Ada beberapa jenis KPKBSK yang dapat dikenali diantaranya: • • • • Karsinoma epidermoid (disebut juga karsinoma sel skuamosa) Adenokarsinoma. Bronkoskopi memerlukan persiapan yang teliti. • Biopsi pleura yaitu mengambil sedikit jaringan pleura jika didapat rongga pleura akibat penumpukan cairan. Kanker paru jenis karsinoma bukan sel kecil (KBKBSK= NSCLC) yang terbanyak yaitu sekitar 80% dari kanker paru-paru. karsinoma bronkoalveolar. sikatan dan biopsi dan bahkan TBLB (trans-bronchial lung biopsy). apakh fungsi jantung baik. . maka dokter spesialis paru akan mengalirkan dengan cara memasang selang dada (WSD) sebagai usaha mengurangi keluhan dan paru dapat mengembang maksimal. Cara lain adalah dengan mengambil bahan atau spesiem yang ada di saluran napas dengan bantuan prosedur bronkoskopi. TTNA ( Transthoracal needle aspiration): yaitu mengambil spesimen jaringan dengan menggunakan jarum halus menembus dinding dada. Jika ditemukan kelaianan pada saluran napas itu merupakan poin bahwa tumor di paru itu adalah kanker paru. Kanker paru jenis karsinoma sel kecil (KPKSK = SCLC) merupakan 20% dari seluruh kanker paru. Cara ini biasanya dilakukan bersamaan dengan punksi pleura. Kepositifnya juga tidak terlalu besar.batuk maka aliran cairan harus segera dihentikan.

Jika pasien membawa foto yang telah lebih dari 1 minggu maka akan dibuat foto yang baru. • Bronkoskopi adalah tehnik pemeriksaan yang menggunakan alat bronkoskop yang dimasukkan ke dalam saluran napas sehingga dapat menilai keaadan saluran napas. atau biopsi. USG abdomen: dilakukan jika pada pemeriksaan fisik ditemukan pembengkakan hati tetapi dengan CT tehniknya lebih sederhana dan hasilnya lebih informatif. • • • . Bone scan /MRI untuk menilai metastasis di tulang. Pemeriksaan lain lebih ditujuan untuk melihat apakah telah terjadi penyebaran (metastasis) jauh :. Bahkan pada beberapa kondisi misalnya volume cairan yang banyak.Staging (tingkatan) kanker paru Staging kanker paru ditentukan oleh tumor (T). Untuk kasus yang duduga staging awal. CT-scan toraks : imaging (foto) ini lebih inforamatif karena dapat melihat karakteristik tumor lebih jelas termasuk menentukan ukuran. Beberapa pemeriksaan tambahan harus dilakukan dokter spesialis paru untuk menentukan staging penyakit. antara lain MRI toraks kurang bermanfaat untuk menentukan staging kanker paru. pemeriksaan untuk menetukan staging juga tidak mesti sama pada semua pasien tetapi masing masing pasien mempunyai prioriti pemeriksaan yang harus segera dilakukan tergantung kondisinya pada saat datang. Untuk kanker paru pada kondisi tertentu dokter akan melakukan CT-scan ulang jika pasien membawa CT-scan lama yang telah dilakukan > 1 bulan. Bronkoskopi diperlukan untuk menlai apakah akan timbul kegawatan misalnya sumbatan pada saluran napas akibat tumor dalam saluran napas atau penekanan dari luar. Sama perti pencarian jenis histologis kanker. CT-scan dilakukan dengan menggunakan kontras dan sebagai persiapannya pasien harus puasa sekitar 4 jam sebelum CT dilakukan dan hanya dapat dilakukan jika fungsi ginjal baik 9craetinine darah normal). Pemeriksaan lain. Pemeriksaan tambaban ini dilakukan jika ada keluhan atau pasien dengan staging awal dan akan dioperasi. Foto toraks belum cukup karena tidak dapat menentukan keterlibatan kelenjar getah bening dan metastasis luar paru. sikat. paru kolaps luas menutup tumor sehingga tidak terlihat. Tetapi foto toraks hanya dapat metentukan lokasi tumor. ukuran tumor ada tidaknya cairan. Pada pertemuan pertama dokter akan melakukan foto toraks (foto polos dada). keterlibatan kelenjar getah bening (N) dan penyebaran jauh (M). CT/MRI kepala untuk menilai metastasis di otak. dan sekaligus dapat mengambil spesimen untuk pemeriksaan sel kanker dengan cara bilasan. lokasi dan apakah sudah terjadi keterlibatan kelenjar getah bening di dada serta ada tidaknya penyebaran di paru. untuk kemudahannya maka CT-scan toraks dilakukan sampai kelenjar suprarenal sehingga dapat dipastikan belum terjadi penyebaran ke hati atau oragan perut lainnya.

penyebaran kelenjar getah bening (N). atau di dalam • • • . Staging ini penting untuk menentukan pilihan terapi yang harus segera diberikan pada pasien.Staging (Penderajatan atau Tingkatan) Kanker Paru Staging kanker paru dibagi berdasarkan jenis histologis kanker paru. apakah KPKSK atau KPKBSK. atau penyebaran jauh (M) Kanker Paru Jenis Karsinoma Sel Kecil (KPKSK) • • • • Staging/Tingkatan Terbatas Tumor ditemukan didalam satu paru dan penjelaran ke kelenjar getah bening dalam paru yang sama Staging/Tingkatan Luas Tumor telah menyebar keluar dari satu paru atau ke organ lain diluar paru. atau penyebaran jauh (M) Kanker Paru Jenis Karsinoma Sel Kecil (KPKSK) Staging kanker paru dibagi berdasarkan jenis histologis kanker paru. keterlibatan organ dalam dada/dinding dada (T). Staging berdasarkan ukuran dan lokasi tumor primer. penyebaran kelenjar getah bening (N). keterlibatan organ dalam dada/dinding dada (T). Kanker Paru Jenis Karsinoma Bukan Sel Kecil (KPKBSK) • Staging/Tingkat I A/B Satu tumor ukuran kurang atau lebih dari 3 cm pada satu lobus paru Staging/Tingkat II A/B Satu tumor dalam lobus paru melekat ke dinding dada atau menyebar ke kelenjar getah bening di dalam paru yang sama Staging/Tingkat III A Tumor yang menyebar ke kelenjar getah bening didalam area trakeal memasuki dinding dada dan diaphragma Staging/Tingkat III B Tumor yang menyebar ke nodes getah bening pada lawan paru. Staging ini penting untuk menentukan pilihan terapi yang harus segera diberikan pada pasien. Staging berdasarkan ukuran dan lokasi tumor primer. apakah KPKSK atau KPKBSK.

Di Indonesia (Jakarta) telah dapat melakukan terapi tampa pembedahan di kepala dengan menggunakan cyber knife. atau nyeri hebat. Akibatnya mungkin saja setelah bedah pasien harus mendapat radiasi atau kemoterapi segera setelah luka operasinya sembuh. Dokter harus menjelaskan mengapa pilihan terapi itu ditawarkan kepada pasien dan keluarganya. jumlah sel darah putih atau . dapat diberikan tunggal untuk mengatasi masalah di paru (terapi lokal) atau gabungan dengan kemoterapi. Bedah yang dilakukan adalah dengan membuang 1 lobus paru (kadang lebih) tempat ditemukannya tumor dan juga membuang semua kelenjar getah bening mediastinal. Bedah Hanya dilakukan untuk KPKBSK staging I atau II atau untuk pengobatan paliatif yaitu pada kondisi mengancam nyawa misal batuk darah masif. Pilihan pengobatan untuk kanker paru Ada beberapa pilihan untuk pengobatan kanker paru pada masing-masing tingkatan yang dapat ditawarkan jika diagnosis pasti yaitu jenis histologis dan staging penyakit telah dapat ditentukan Mengenai keputusan pilihan pengobatan pasien harus dibuat oleh kedua belah pihak yaitu pasien dan dokter yang merawat. Hal itu terjadi karena keterbatasan alat bantu diagnosis atau penyakit telah berkembang selama putusan bedah dilakukan. • Staging/Tingkat IV Tumor yang menyebar kebagian lain paru atau organ lain di luar paru. Diagnosis sebelum bedah mungkin saja akan berubah setelah bedah. gawat napas yang mengancam jiwa.leher. Dokter juga harus menjelaskan kelebihan dan kekurangan adri pilihan terapi itu termasuk kebutuhan biaya. Radioterapi Radioterapi atau iradiasi diberikan pada staging III dan IV KPKBSK. Pada kasus khusus misal dengan penyebaran kepala dan hanya ditemukan 1 tumor di otak dan mengganggu kualiti hidup pasien dapat dilakukan pembuangan tumor di kepala dengan bedah. Radioterapi dapat diberikan jika sistem homeostatik (HB. Pasien yang diputuskan akan mendapat radioterapi akan dirujuk dokter spesialis paru ke dokter spesialis radioterapi dan akan kembali ke dokter semula jika terapi tidak memberikan respons atau radioterpai telah selesai atau muncul efek samping akibat radioterapi itu.

mual muntah. misal HB < 10 gr %. Jika pada penelian respons positif (tumor mengecil atau menetap) maka radiasi dapat diteruskan. Pada kemoterapi diberikan lebih dari 1 jenis obat antikanker dan biasanya 2 macam. misalnya rontoknya rambut s/d botak. radiasi tulang jika tumor telah menyebar ke tulang. tujuannya agar lebih banyak sel kanker yang dapat dibunuh dengan jalur yang berbeda. Efek samping itu tidak sama waktu muncul dan berat ringannya pada setiap orang dan juga tergantung pada jenis obat yang digunakan. jumlah sel darah putih atau lekosit dan jumlah trombosit darah) harus baik. Kemoterapi Kemoterapi adalah memberikan obat anti-kanker pada pasien dengan cara diinfuskan.leukosit dan trombosit darah) baik. semutan.000/dl. mencret dan bahkan alergi. misalnya radiasi kepala jika tumor telah menyebar ke kepala. Dokter akan melakukan koreksi dan jika telah memenuhi syarat maka radiasi dapat dilakukan kembali.000/dl. Radioterapi juga dapat diberikan pada lokasi bukan tumor primer. Untuk kasus KPKSK radiasi kepala harus diberikan setelah kemoterapi selesai diberikan 6 siklus. Kemoterapi dapat diberikan pada semua jenis kanker paru dan tujuannya bukan hanya membunuh sel kanker pada tumor primer tetapi juga mengejar sel kanker yang menyebar di tempat lain. fungsi ginjal dan fungsi hemostatik (HB. Leukosit < 3000/dl atau trombosit < 100. Efek samping lain yang dapat menganggu proses pemberian adalah gangguan fungsi hemostatik HB < 10 gr%. Leukosit < 3. misalnya COBALT atau LINAC Evaluasi efek samping dilakukan setiap setelah pemberian 5x (1. Pemberian kemoterapi harus dilakukan di rumah sakit karena diberikan dalam prosedur tertentu atau ptotokol yang berbeda tergantung pada jenis obat antikanker yang digunakan.000 cGy) jika ada gangguan radiasi akan dihentikan sementara. Pemberian kemoterapi memerlukan beberapa syarat antar lain kondisi umum pasien baik yaitu masih dapat melakukan aktiviti sendiri. Kemoterapi adalah pilihan terapi untuk KPKSK dan KPKBSK stage III/IV. fungsi hati. Kemoterapi dihitung dengan siklus pemberian yang dapat dilakukan setiap 21 – 28 hari setiap siklusnya. Sinar yang diberikan tergantung pada alat yang ada di rumah sakit. Untuk melihat respons radiasi dokter akan melakukan foto toraks setiap setelah radiasi diberikan 10X (2. Radioterapi biasanya diberikan 5 hari dalam seminggu dengan dosis rata rata 200 cGy perhari hingga dosis 5000 – 6000 cGy. tetapi jika respons negatif (tumor membesar atau tumbuh yang baru) radiasi harus dihentikan. Efek samping kemoterapi kadang sangat mengganggu. Efek samping dinilai sejak mulai kemoterapi I diberikan.000 cGy) . .000/dl atau trombosit < 100.

CATATAN PENTING • Pengobatan kanker paru bukan hanya tergantung pada jenis dan staging tetapi pada kondoisi umum pasien. Sampai saat ini anjuran penggunaan targeted therapy untuk kanker paru adalah sebaiknya setelah kemoterapi diberikan kecuali pada kasus kasus pilihan terapi utama tidak dapat dilakukan. Terapi lain Dengan berbagai alasan banyak pasien kanker paru memilih obat alternatif yang belum teruji dan bukan standar untuk pengobatan kanker paru. Tetapi jika pada evaluasi terjadi perburukan misalnya tumor membesar atau tumbuh tumor yang baru. Catatan : seringkali biaya untuk pengobatan alternatif itu lebih mahal dari pilihan pengobatan utama misalnya radiasi atau kemoterapi. radioterapi atau kemoterapi maka dapat ditawarkan pemberian obat golongan baru dengan mekanisme kerja yang telah teruji dikenal dengan istilah targeted therapy.Efek samping yang berat dapat menghentikan jadwal pemberian. Jika diputuskan itu pilihan pasien dan keluarga anjurannya adalah pasien tetap kontroil ke dokter spesialis parunya agar dapat dipantau efek samping obat obatan yang digunakan dan dapat memutuskan kapan obat obat alternatif itu tidak bermanfaat dan sebaiknya dihentikan. Obat golongan ini diberikan 1x perhari dengan cara diminum. Jika pada penelian tumor hilang (komplit respons) mengecil sebagian (respons partial) atau tumor menetap tapi respons subyektif baik maka kemoterapi dapat diterudskan samapi 4 – 6 siklus. Targeted therapy Pada banyak kondisi pasien tidak dapat memenuhi syarat untuk dilakukan pembedahan. dokter akan mengkoreksi efek samping yang muncul dengan memberikan obat dan tranfusi darah jika perlu. Dapat terjadi semua memenuhi syarat kecuali kondosi umum maka dokter tidak akan memberikan pilihan terapi apapun lagi. kemoterapi harus dihentikan dan diganti dengan jenis obat anti-kanker yang lain. . Evaluasi dengan menggunakan CT-scan toraks dilakukan setelah pemberian 3 siklus ( sebelum pemberian kemoterapi IV). Evaluasi hasil kemoterapi dinilai minimal setelah 2 siklus pemberian (sebelum kemoterapi III diberikan) yang dapat merupa respons subyektif yaitu apkah BB meningkat atau keluhan berkurang dan foto toraks untuk melihat kelainan di paru.

Bronkhitis kronis dan bronkietasis ditandai dengan pembentukan mucus bronchial yang berlebihan dan batuk yang disebabkan oleh inflamasi kronis bronkiolus dan hipertropi serta hyperplasia kelenjar mukosa.• Pengobatan lain yang diberikan adalah obat obat penghilang gejala taua simptomatis. Elisna Syahruddin. obat obatn itu sebaiknya dengan resep dokter spesilais yang merawat karena menerlukan perubahan sesuai kondosi pasien. Selama pengobatan standar pasien sangat dianjurkan memakan dengan komposisi seimbang karena tidak ada larangan khusus untuk itu kecuali karena penyakit lain. polusi udara. bronkietaksis dan asma. 1999. COPD atau yang lebih dikenal dengan PPOM merupakan suatu kumpulan penyakit paru yang menyebabkan obstruksi jalan napas. banyak sayuran dan buahan dalah baik sekali. termasuk bronchitis. hal 110 ). PhD. obstruksi jalan napas disebabkan oleh hperinflasi alveoli. you need Javascript enabled to view it [ Back ] Home | Contact Us | Disclosure | Privacy 03 Mei 2009 Askep COPD A.ac. KONSEP DASAR MEDIS 1. Sp. • Dr.id This email address is being protected from spam bots. pada empisema. kehilangan elastisitas jaringan paru dan penyempitan jalan napas kecil. atau infeksi saluran pernapasan kambuh ( Carpernito. Definisi a.ui. . Asma ditandai oleh penyempitan jalan napas bronchial. PPOM paling sering diakibatkan dari iritasi oleh iritan kimia (industri dan tembakau).P Email: elisnas@fk. empisema. Mengkonsumsi vitamin.

Termasuk dalam kelompok ini yaitu : bronkiektasis . ( Kapita selekta. 1982. kedepan berhubungan denga rongga mulut disebut orofaring. Anatomi Fisiologi a. Laring juga melindungi jalan pernapasan bawah dari obstruksi benda asing dan memudahkan batuk. radiologik. debu dan kotoran yang masuk kedalam lubang hidung. hal 218 ). 1995. membunuh kuman-kuman yang masuk bersama-sama udara pernapasan leukosit yang terdapat di dalam mukosa hidung. kebawah mempunyai dua lubang bagian depan disebut laringofaring. bagian belakang adalah esofagus sebagai saluran pencernaan. dibelakang rongga hidung dan mulut sebelah depan ruas tulang leher. emfisema paru. 4) Trakea. Trakea diliputi oleh selaput lendir yang memiliki silia. dan lain-lain. Trakea disokong oleh cincin tulang rawan yang berbentuk sepatu kuda dan panjangnya kurang lebih 5 inch. terdapat dibawah dasar tengkorak. c. Merupakan lanjutan dari trakea ada dua buah yang terdapat pada ketinggian vertebral . (“airways resistance”).b. Didalamnya terdapat bulu-bulu yang berguna untuk menyaring udara. Pada lengkungan faring terdapat dua buah tonsil atau amandel yang bersimpulkan kelenjar limfe yang banyak mengandung lymfosit dan juga epiglotis yang berfungsi menutupi laring pada saat menelan makanan. Walaupun masing-masing mempunyai karakteristik tersendiri tetapi sering secara klinis. dan fisiologik terdapat “Overlopping“ satu sama lain sehingga penegakan diagnosis pasti dari pada salah satu penyakit sukar di tetapkan. Anatomi saluran pernapasan 1) Rongga hidung Merupakan saluran udara yang pertama. dan dipisahkan oleh sekat hidung (septum nasi). Bagian ini memiliki banyak saraf dan dapat menyebabkan bronkospasme dan batuk yang kuat jika di rangsang. beberapa batuk dari asma. Merupakan struktur epitel kartilago berbentuk rangkaian cincin yang meghubungkan faring dengan trakea. 137 ). Fungsi laring adalah memungkinkan terjadinya vokalisasi. COPD atau PPOM merupakan suatu kelompok paru yang mengakibatkan obstruksi yang menahun dan persisten dari jalan napas di dalam paru. hal. Penyakit obstruksi menahun (COPD) merupakan penyakit paru yang jelas secara anatomi memberikan tanda kesulitan pernapasan yang mirip yaitu keterbatasan jalan udara yang kronis. berfungsi untuk mengeluarkan benda asing yang masuk bersama-sama dengan udara pernapasan. Secara fungsional semuanya akan mengakibatkan peningkataan tahanan saluran napas. terutama beartambahnya resistensi terhadap jalan udara saat ekspirasi. mampunyai dua lubang (kavum nasi). 5) Bronkus. 2) Faring. keatas berhubungan dengan rongga hidung disebut nasofaring. Merupakan tempat persimpangan antara jalan pernapasan dan jalan makanan. ( Robbins. 3) Laring. bronkhitis menahun. Karina merupakan tempat percabangan trakea menjadi bronkus utama kiri dan kanan. fungsi hidung adalah bekerja sebagai saluran udara pernapasan sebagai penyaring udara pernapasan yang dilakukan oleh bulu-bulu hidung dapat menghangatkan udara pernapasan oleh mukosa.

bronkus yang bercabang-cabang yang lebih kecil disebut bronkeolus (bronkioli). paru-paru akan terlindungi dinding dada. Waktu ekspirasi di dalam paru-paru dapat masih tertinnggal kurang lebih 3 liter udara. hal 106 ). mempunyai struktur serupa dengan trakea dan dilapisi oleh jenis sel sama. Kapasitas paru-paru dapat dibedakan menjadi dua kapasitas yaitu kapasitas total yang mengandung arti jumlah udara dapat mengisi paru-paru pada inspirasi sedalam-dalamnya. Bronkus kanan lebih pendek dan lebih besar dari pada bronkus kiri. Bronkus kiri lebih panjang dan lebih kecail atau ramping. mempunyai tiga cabang. pernapasan bisa bertambah cepat atau sebaliknya. Diantara pleura ini terdapat sedikit cairan. Bronkus-bronkus ini berjalan kebawah dan kesamping tumpukan paru-paru. 6) Paru-paru. 600 CM3 atau 2 ½ M jumlah pernapasan. Letak paru-paru adalah pada rongga dada tepatnya pada cavum mediastinum. Pada bronkioli terdapat gelambung paru dan gelembunag hawa atau alveoli. Paru-paru dibungkus oleh dua selaput halus yang disebut fleura visceral. karbon dioksida dikeluarkan melalui ekspirasi sedangkan sisa lainnya dikeluarkan melalui traktus urogenital dalam bentuk air senidan kulit dalam bentuk keringat. didalam pubuh terjadi proses oksidasi atau pembakaran. berungsi untuk melucinkan permukaan selaput fleura agar dapat bergerak akibat inspirsi dan ekspirasi. 1996. Etiologi .torakalis ke IV dan V. b. Banyaknya gelembung paru-paru ini kurang lebih 700. misalnya akibat dari suatu penyakit. anak-anak : 24 x/menit. 1996.000. udara dihirup masuk melintasi traktus respiratorius sampai alveoli. Sebagai terjadinya proses atmosfir karbondioksida dikeluarkan melalui kapiler-kapiler alveoli dibawa ke atrium sinistra vena purmonalis Yang kemudian diteruskan di vertikel sinestrayang di pomp[a di aorta.000 buah (paru-paru kiri dan kanan). ( Syarifuddin. sedangkan selaput yang berhubungan langsung denga rongga dada sebelah dalam adalah selaput fleur parietal. Dalam keadaan tertentu keadaan tersebut akan berubah. O2 masuk kedalam darah dan CO2 dikeluarkan dari dalam darah. kemudian dialirkan keseluruh tubuh. terdiri dari 6-8 cincin. Paru-paru merupakan salah satu alat tubuh yang sebagian besar terdiri dari gelembunggelembung (alveoli). Jika dibentang luas permukaan kurang lebih 90 m2. dan bayi : 30 x/menit. ampas dari sisa pembakaran tubuh adalah karbondioksida. Didalam sel paru-paru terjadi lagi proses oksidasi. pada lapisan inilah terjadi pertukaran udara. Karbondioksida dikangkat oleh sirkulasidarah vena masuk ke atrium dekstra ke vertikel dekstra dan di pompa ke paru-paru melintasi arteri pulmonalis. Dalam keadaan noumal kedua paru-paru dapat menampung udara sebanyak kurang lebih5 liter. terditi dari 9-12 cincin mempunyai 2 cabang. Paru-paru ini dibagi menjadi dua yaitu paru-paru kanan yang terdiri dari 3 lobus dan paru-paru kiri mempunyai 2 lobus. 107 ). hal. Alveoli terdiri dari sel-sel epitel dan endotel. Pada waktu kita bernapas biasa udarayang masuk kedalam paru-paru 2. Dalam keadaan normal orang dewasa 16-18 x/ menit. Sedangkan kapasitas vital adalah jumalah udara dapat dikeluarkan setelah ekspirasi maksimal. Fisiologi Pernapasan Bernapas atau respirasi adalah peristiwa menghirup udara luar atau atmosfer kedalam tubuh atau menghembuskan udara yang banyak mengandung karbondioksida sebagani sisa dari oksidasi. ( Sumber : Syaifuddin.

tetapi belum diketahui dengan jelad apakah factor-faktor tersebut berperann atau tidak. Intramular Dinding bronkus menebal. zat-zat pengoksidasi seperti N2O. Pada umumnya COPD menimbulkan kelainan yang sama. .Edema dan inflamasi (peradangan). Intraluminer Akibat infeksi dan iritasi yan menahun pada lumen bronkus. yaitu karena : a. hal. serta menyebabkan kerusakan paru bertambah. akibatnya : .Ada tiga factor yang mempengaruhi timbulnya COPD yaitu rokok. 218 ). hal. sering terdapat pada bronkhitis dan asma. Ventilasi yang tidak memadai di alveoli. Akibat infeksi dan iritasi yang menahun pada lumen bronkus. Menurut Crofton & Doouglas merokok menimbulkan pula inhibisi aktivitas sel rambut getar. rokok adalah penyebab utama timbulnya COPD. Juga dapat menyebabkan bronkokonstriksi akut. sebagian bronkus tertutup oleh secret ang berlebihan. c. . Pada dasarnya ada tiga kelainan fisiologis yang dapat menimbulkan insufiensi atau ketidakcukupan pernapasan. b. b. ( Sumber :Ilmu penyakit dalam. makrofage alveolar dan surfaktan. c. 755 ). Rokok Menurut buku report of the WHO expert comitte on smoking control. Secara pisiologis rokok berhubungan langsung dengan hiperflasia kelenjar mukaos bronkusdan metaplasia skuamulus epitel saluran pernapasan. umur serta predisposisi genetic. aldehid dan ozon.Kontraksi otot-otot polos bronkus dan bronkiolus seperti pada asma. Mekanisme terjadinya obstruksi. Kelainan terjadi di luar saluran pernapsan. yang kemudaian menyebabkan infeksi sekunder oleh bakteri. Destruksi dari jaringan paru mengakibatkan hilangnya kontraksi radial dinding bronkus ditambah dengan hiperinflamasi jeringan paru menyebabkan penyempitan saluran napas. 1982. a. ( Sumber : Kapita Selekta. Ventilasi yang tidak memadai di alveoli karena adanya kelainan yang menambah kerja ventilasi yaitu dengan penambahan tahanan jalan udara.Hipertrofi dari kelenjar-kelenjar mukus. hydrocarbon. b. Fathofisiologi Walaupun COPD terdiri dari berbagai penyakit tetapi seringkali memberikan kelainan fisiologis yang sama. Berkurangnya transportasi oksigen dari paru-paru ke jaringan. selain itu pula berhubungan dengan factor keturunan. Infeksi Infeksi saluran pernapasan bagian atas pada seorang penderita bronchitis koronis hamper selalu menyebabkan infeksi paru bagian bawah. 1996. hal ini menimbulkan dinding . Pengurangan difusi gas melalui membrane pernapasan. Polusi Polusi zat-zat kimia yang dapat juga menyebabkan brokhitis adalah zat pereduksi seperti O2. sebagian bronkus tertutup oleh secret yang berlebihan. alergi. infeksi dan polusi. c. Ekstramular. a. Ekserbasi bronchitis koronis disangka paling sering diawali dengan infeksi virus.

Patoplodiagram Asap tembakau polusi udara Gg pembersihan paru-paru Jalan napas menyempit Bronkus tertutup oleh sekret Dinding bronkus menebal Edema dan inlamasi Terjadi infeksi Penempitan saluran napas Ventilasi terganggu Elastisitas paru menurun Hipertropi pada kelenjar mukus Sekresi lender meningkat Penurunan kerja silia Air way tak bersih Penumpukan dijalan napas Obstruksi . Tergantung dari kerusakannya dapat terjadi alveoli dengan ventilasi kurang/tidak ada. Penyempitan saluran pernapasan terutama disebabkan elastisitas paru-paru yang berkurang. Pada penderita COPD saluran saluran pernapasan tersebut akan lebih cepat dan lebih banyak yang tertutup. Akibat cepatnya saluran pernapasan menutup serta dinding alveoli yang rusak. Timbul hipoksia dan sesak napas. Pada orang noirmal sewaktu terjadi ekspirasi maksimal. sehingga penyebaran pernapasan udara maupun aliran darah ke alveoli.).bronkus menebal. E. tetapi perfusi baik. Bila sudah timbul gejala sesak. lebih jauh lagi hipoksia alveoli menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah paru dan polisitemia. antara alveoli dan perfusi di alveoli (V/Q rasio yang tidak sama). S. sehingga menyebabkan hipertrofi dari kelenjar-kelenjar mucus dan akhirnya terjadi edema dan inflamasi. tekanan yang menarik jaringan paru akan berkurang. ( Soemardi. biasanya sudah dapat dibuktikan adanya tanda-tanda obstruksi. akibatnya otot-otot polos pada bronkus dan bronkielus berkontraksi. 1996. sehingga saluran-saluran pernapasan bagian bawah paru akan tertutup. akan menyebabkan ventilasi dan perfusi yang tidak seimbang. Gangguan ventilasi yang berhubungan dengan obstruksi jalan napas mengakibatkan hiperventilasi (napas lambat dan dangkal) sehingga terjadai retensi CO2 (CO2 tertahan) dan menyebabkan hiperkapnia (CO2 di dalam darah/cairan tubuh lainnya meningkat).

hiposemia dan perubahannya pada pemeriksaan spirometri. 1996. hal. 756 ).Dispnea/sesak Proses pembersihan yang dilakukan silia tak efektif Hipoventilasi Gangguan istirahat. hal. bertahun tahun. Sering berulang-ulang mendapat infeksi saluran pernapasan bagian atas sehingga sering kali tidak dapat berkerja. Umur 55-65 tahun sudah ada kor pulmonal yang dapat menyebabkan kegagalan pernapasan dan meinggal dunia. tidur Kerusakan pertukaran gas Gangguan rasa nyaman : nyeri dada ( Sumber : Ilmu Penyakit Dalam. 1999. . Umur 45-55 tahun timbul sesak napas. 756 ) Semua penyakit pernapasan dikaraktaristikan oleh obstruksi koronis pada aliran udara. Manifestasi Klinis COPD merupakan penyakit obstruksi saluran napas. terjadai sedikit demi sedikit. ( Sumber : Ilmu Penyakit Dalam. Umur 35-45 tahun timbul batuk produktif.biasanya dimulai pada seorang penderita perokok berumur 15-25 tahun produktivitasnya menurun dan timbul perubahan pada saluran pernapasan kecil dan fungsi paru mulai pula berubah.

Pemeriksaan Diagnostik. Ekspektoran. Yang sering digunakan gliserilquaiakolat. Pemeriksaan radiologis Pemeriksaan radiologist sangat membantu dalam menegakan atau menyokong diagnosis dan menyingkirkan penyakit-penyakit lain.Penyebab utama abstruksi bermacam-macam.357. sedangkan yang normal PH 7. 1996. Mengurangi retraksi usus Usaha untuk mengeluarkan dn mengurangi mukus. kalium yodida dan ammonium klorida Nebulizasi dan humidifikasi dengan uap air menurunkan viskositas dan mengencer . serta pO2 75-100 mmHg. Untuk itu dapat dilakukan : Minum air putih yang cukup agar tuidak dehidrasi. hal 152 ). sehingga diharapkan mempunyai efek bronkodilator lebih kuat. 2) Agonis B2 Sebaiknya diberikan scara aerosol atau nebulizer. misalnya . Adapun penatalaksanaan yang dapat dilakukan adalah : a. Penatalaksanaan Penatalaksanaan pada penderita COPD prinsifnya ialah untuk meringankan keluhan simtomatik. c.. Pemeriksaaan EKG (elektrokardiogram). d. Pemeriksaan penunjang dalam COPD adalah sebagai berikut : a. ( Sumber : Ilmu Penyakit Dalam. merupakan pengobatan yang utama dan penting pada pengelalaan COPD. Inlamasi jalan napas Pelengketan mukosa Penyempitan lumen jalan napas Kerusakan jalan napas Takipnea Ortopnea ( Sumber : Doenges. c. Pemeriksaan faal paru Pada pemeriksaan fungsi paru FVC (kapasitas vital kuat) dan fev folume ekspirasi kuat mengalami penurunan menjadi kurang ari 20 %. b. Pemberian bronkodilator 1) Teoillin Golongan teofilin biasanya diberikan dengan dosis 10-15 mg/kg berat badan per oral.45 dan PaCO2 35-45 mmHg. b. Pemberian kortikosteroid Pada beberapa penderita pemberian kortikosteroid akan mengurangi obstruksi saluran pernapasan. Analisis gas darah. hal. Dapat juga diberikan kombinasi obat secara aerosol maupun oral. Pada pemeriksaan gas darah arteri PH <> 45 mmHg. menghindari polusi udara. 757 ). memperbaiki serta mempertahankan fungsi paru dan usaha pencegahan harus dilakukan seperti penghentian merokok. 1999.

Kegagalan respirasi yang ditandai dengan sesak napas dengan manifestasi asidosis respirasi. alamat. Menurunnya saturasi O2 d. 1996. Tanyakan kepada klien tentang jenis. frekuensi. yang memerlukan ilmu teknik dan ketrampilan intrapersonal ditujukan untuk memenuki kebutuan klien. agama/suku. KONSEP DASAR KEPERAWATAN Proses keperawatan adalah metode dimana suatu konsep diterapkan dalam praktek keperawatan. hal. Adapun hal yang perlu dikaji dalam kasus ini antara lain . c. Berguna untuk . Retensi co2 c. Pengkajian harus dilakukan secara teliti sehingga didapatkan informasi yang tepat. lalu apa saja yang membuat status kesehatan klien menurun. warga Negara.sputum. Kaji selera makan berlebihan atau berkurang. kaji adanya mual muntah ataupun adanyaterapi intravena. implementasi dan evaluasi. Hal ini biasa disebut sebagai suatu pendekatan problem solving atau pemecahan masalah. komplikasi yang sering terjadi dengan berlanjutnya penyakit. tempat tanggal lahir. Pola eliminasi. intervensi keperawatan. b. apa upaya dan dimana kliwen mendapat pertolongan kesehatan. b. B. Ukkus peptikum. lingkaran lengan atas serta hitung berat badan ideal klien untuk memperoleh gambaran status nutrisi. penggunaan selang enteric. (Nursalam. penanggung jawap meliputi : nama. 1 ). hubungan dengan klien. bahasa yang digunakan. d. Mengeluarkan mukus dari saluran pernapasan Memperbaiki efisiensi ventilasi Memperbaiki dan meningkatkan kekiatan fisis. Pola nutris metabolik. Pengkajian Pengkajian adalah langkah awal yang sangat menentukan keberhasilan dari proses keperawatan tersebut. karakteristik. yaitu : a. Hematologik : polisitemia e. a. timbang juga berat badan. 1) Kaji terhadap rekuensi. 1. Mukolitik. 1). hal. Fisioterafi dan rehabilitasi. umur. dan jumlah klien makan dan minnum klien dalam sehari. ( nursalam dikutip dari dr iyer. 1996. d. dimana asukhan keperawatan ini mengguakan pendekatan proses diagnosa keperawatan. Pola persepsi kesehatan-pemeliharaan kesehatan. Dapat digunakan asetil sistein atau bromheksin. kaji status riwayat kesehatan yang pernah dialami klien. jenis kelamin. kesulitan/masalah dan juga . Komplikasi. Pada bagian ini penulis akan menguraikan tentang konsep dasar asuhan keperawatan klien dengan COPD. Identitas klien Nama. ukur tinggi badan. terjadinya sukar diketahui.

jumlah jam tidur. Bagaimana suasana tidur klien apaka terang atau gelap. Pola persepsi kogniti Tanyakan kepada klien apakah menggunakan alat bantu pengelihatan. Kaji apakah ada gangguan komunikasi verbal dan gangguan dalam interaksi dengan anggota keluarga dan orang lain. 2) Eliminasi proses. Adakah klien kesulitan mengingat sesuatu. bagaimana hubungan klien di masyarakat dan keluarga dn teman sekerja. Pola aktivitas dan latihan Kaji kemampuan beraktivitas baik sebelum sakit atau keadaan sekarang dan juga penggunaan alat bantu seperti tongkat. tebal dan kental. Pola tidur dan istirahat Tanyakan kepada klien kebiasan tidur sehari-hari. Sering bangun saat tidur dikarenakan oleh nyeri. 2. f. minum susu. berkemih. pendengaran terganggu. Kaji tingkat orientasi terhadap tempat waktu dan orang. Pola persepsi dan konsep diri Kaji tingkah laku mengenai dirinya. klien menganut agama apa?. penyangkalan/penolakan terhadap diri sendiri. Pola system kepercayaan Kaji apakah klien dsering beribadah. Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan gangguan peningkatan produksi secret. Kaji apakah ada nilainilai tentang agama yang klien anut bertentangan dengan kesehatan.pemakaian alat bantu seperti folly kateter. Adapun diagnosa keperawatan yang dapat muncul pada pasien dengan COPD adalah sebagai berikut : a. Kaji keadaan klien saat ini terhadap penyesuaian diri. badan lemah. Tanyakan kepada klien tentang penggunaan waktu senggang. bagaimana klien mengatasi tak nyaman : nyeri. l. ukur juga intake dan output setiap sift. i. memdengarkan musik. tempat klien bertukar pendapat dan mekanisme koping yang digunakan selama ini. menulis. Apakah klien memerlukan penghantar tidur seperti mambaca. tidur siang. Kaji faktor yang membuat klien marah dan tidak dapat mengontrol diri. kaji terhadap prekuensi. g. e. Pola peran hubungan dengan sesame Apakah peran klien dimasyarakat dan keluarga. nyeri dada. Pola produksi seksual Tanyakan kepada klien tentang penggunaan kontrasepsi dan permasalahan yang timbul. h. j. Adakah keluhanpada pernapasan. jantung seperti berdebar. Pola mekanisme koping dan toleransi terhadap stress. karakteristik. Diagnosa Keperawatan Memberikan dasar-dasar memilih intervensi untuk mencapai hasil menjadi tanggung jawab dan tanggung gugat paerawat. gatal. ugkapan. . sekresi tertahan. kesulitan/masalah defekasi dan juga pemakaian alat bantu/intervensi dalam Bab. apakah klien pernah mengalami putus asa/frustasi/stress dan bagaimana menurut klien mengenai dirinya. Berapa jumlah anak klien dan status pernikahan klien. pendengaran. Adakah gangguan persepsi sensori seperti pengelihatan kabur. menonton televise. k. kursi roda dan lain-lain. sesak dan lain-lain.

Setelah merumuskan diagnosa keperawatan langkah berikutnya adalah menentukan perencanaan keperawatan yang meliputi pengemabangan strategi desain untuk mencegah. meletakan kebutuhan fisiologis sebagai kebutuhan paling dasar. misalnya peninggian kepala tempat tidur. 2) Kaji pasien untuk posisi yang nyaman. rasa aman.. krokels dan ronki. ( Doenges. Namun pasien dengan distress berat akan mencari posisi yang lebih mudah untuk bernapas.b. Berdasarkan diagnosa keperawatan yang muncul pada klien dengan COPD adalah sebagai berikut : a. Intervensi. Sokongan tangan/kaki dengan meja. tujuan. misalnya : penyebaran. krekels basah (bronchitis). 3. Respon : Takipnea biasanya ada beberapa derajat dan dapat ditemukan pada penerimaan atau selama stress/adanya proses infeksi akut. dan program perintah medis. mencintai dan dicintai. Rasional : Beberapa derajat spasme bronkus terjadi dengan obstruksi jalan napas dan dapat/tidak dimanifestasikan dengan adanya bunyi napas adventisius. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplai oksigen berkurang. ( Nursalam. 3) Auskultasi bunyi napas. Pada dasarnya membuatan prioritas masalah dibuat berdasarkan kebutuhan dasar manusia. duduk dan sandaran tempat tidur. criteria hasil. hal 156 ). catat adanya bunyi napas misalnya : mengi. Kurang pengetahuan mengenai proses dan prognosis penyakit berhubungan dengan kurang informasi. atau tidak . hal 51 ). dan mengurangi. catat rasio inspirasi/ekspirasi. Rasional : Peninggian kepala tempat tidur mempermudah pernapasan dan menggunakan gravitasi. spasme bronkus). d. bunyi napas redup dengan ekspirasi mengi (emfisema). (obstruksi jalan napas oleh secret. 1999. sekresi tertahan. Perencanaan Keperawatan. tebal dan kental. Menurut Abraham moslow. bantal dan lain-lain membantu menurunkan kelemahan otot dan dapat sebagai alat ekspansi dada. Tujuan : Ventilasi/oksigenisasi adekuat untuk kebutuhan individu. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan proses peradangan pada selaput paru-paru. 2001. menentukan rencana dan tindakan pelimpahan (medis dan tim kesehatan lainnya). Tahap dalam perencanaan meliputi penentuan prioritas masalah. 1) Kaji/pantau frekuensi pernapasan. Pernapasan dapat melambat dan frekuensi ekspirasi memanjang disbanding inspirasi. c. Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan gangguan peningkatan produksi secret. harga diri dan aktualisasi diri. Kriteria hasil : Mempertahankan jalan napas paten dan bunyi napas bersih/jelas.

b. 5) Dorong/bantu latihan napas abdomen atau bibir. bronkometer). isoeetrain (brokosol. ketidakmampuan bicara/berbincang. albuterol (proventil. menurunkan spasme jalan napas. (obstruksi jalan napas oleh sekret. hal 156 ). atau kelemahan. . Rasional : Batuk dapat menetap tetapi tidak efektif. napas bibir. kedalaman pernapasan. Penggunaan air hangat dapat menurunkan spasme bronkus. Batuk paling efektif pada posisi duduk paling tinggi atau kepala dibawah setelah perkusi dada. Rasional : Hidrasi membantu menurunkan kekentalan secret. Kriteria hasil : . 8) Bronkodilator. Obat-obatan mungkin per oral. misalnya : menetap. Cairan selama makan dapat meningkatkan distensi gaster dan tekanan pada diafragma. ( Doenges. ansietas. mengi dan produksi mukosa. Rasional : Merilekskan otot halus dan menurunkan kongesti local. basah.Tanda-tanda vital dalam batas normal . dan penggunaan obat bantu. 1999. 4) Catat adanya /derajat disepnea. efinefrin (adrenalin. misalnya : keluhan “lapar udara”. injeksi atau inhalasi. 7) Tingkatkan masukan cairan sampai 3000 ml/hari sesuai toleransi jantung. distress pernapasan. Rasional : Sianosis mungkin perifer (terlihat pada kuku) atau sentral (terlihat sekitar bibir atau . 6) Observasi karakteristik batuk. khususnya bila pasien lansia. batuk pendek. Intervensi : 1) Kaji frekuensi. 2) Kaji/awasi secara rutin kulit dan warna membrane mukosa. misalnya infeksi dan reaksi alergi.adanya bunyi napas (asma berat). Tujuan : Mempertahankan tingkat oksigen yang adekuat untuk keperluan tubuh. dapat meningkatkan distensi gaster dan tekanan pada diafragma. mempermudah pengeluaran. vavonefrin). Rasional : Disfungsi pernapasan adalah variable yang tergantung pada tahap proses kronis selain proses akut yang menimbulkan perawatan di rumah sakit.Tanpa terapi oksigen. Rasional : Memberikan pasien beberapa cara untuk mengatasi dan mengontrol dispnea dan menurunkan jebakan udara. misalnya. gelisah. bantu tindakan untuk memperbaiki keefektifan jalan napas. SaO2 95 % dank lien tidan mengalami sesak napas. ventolin). sakit akut. β-agonis.Tidak ada tanda-tanda sianosis. spasme bronkus). brethaire). Respon : Berguna dalam evaluasi derajat distress pernapasan dan kronisnya proses penyakit. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplai oksigen berkurang. catat pengguanaan otot aksesorius. terbutalin (brethine.

juga dapat timbul komplikasi seperti perikarditis dan endokarditis. Rasional : Perubahan frekuensi jantung atau TD menunjukan bahwa pasien mengalami nyeri. perubahan posisi. Rasional : Bunyi napas mingkin redup karena penurrunan aliran udara atau area konsolidasi. 5) Auskultasi bunyi napas. Rasional : Pengiriman oksigen dapat diperbaiki dengan posisi duduk tinggi dan laithan napas untuk menurunkan kolaps jalan napas. hal 158 ). konsisten. Rasional : Dapat memperbaiki/mencegah memburuknya hipoksia. catat area penurunan aliran udara dan/atau bunyi tambahan. musik tenang/perbincangan. Intervensi : 1. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan proses peradangan pada selaput paru-paru. c. Berikan tindakan nyaman. Dorong napas dalam perlahan atau napas bibir sesuai dengan kebutuhan/toleransi individu. pengisapan bila diindikasikan. mengatur pernapasan pasien ditentikan oleh kadar CO2 dan mungkin dikkeluarkan dengan peningkatan PaO2 berlebihan. Rasional : Takikardi. selidiki perubahan karakter/intensitasnyeri/lokasi. 6) Awasi tanda-tanda vital dan irama jantung.Ekspresi wajah rileks.Klien mengatakan rasa nyeri berkurang/hilang. Rasional : . emfisema koronis. dispnea dan kerja napas. Krekles basah menyebar menunjukan cairan pada interstisial/dekompensasi jantung. Adanya mengi mengindikasikan spasme bronkus/ter-tahannya sekret. 7) Berikan oksigen tambahan yang sesuai dengan indikasi hasil GDA dan toleransi pasien. 1999. 2. 4) Dorong mengeluarkan sputum. Respon : Nyeri dada biasanya ada dalam beberapa derajat pneumonia. ( Doenges. 3) Tinggikan kepala tempat tidur. Keabu-abuan dan dianosis sentral mengindikasikan beratnya hipoksemia. di tusuk. Rasional : Kental tebal dan banyak sekresi adalah sumber utama gangguan pertukaran gas pada jalan napas kecil. . khususnya bila alasan lain untuk perubahan tanda-tanda vital.danun telinga). dan pengisapan dibuthkan bila batuk tak efektif. Kriteria hasil : . bantu pasien untuk memilih posisi yang mudah untuk bernapas. miaalnya . Tujuan : Rasa nyeri berkurang sampai hilang. Pantau tanda-tanda vital. pijatan punggung. disiretmia dan perubahan tekanan darah dapat menunjuak efek hipoksemia sistemik pada fungsi jantung. relaksasi/latihan napas. Tentukan karakteristik nyeri. 3. Catatan . tajam. misalnya .

potensial ketidaknyamanan umum. dan rasa sehat. d. Respon : Menurunkan ansietas dan dapat menimbulkan perbaikan partisipasi pada rencana pengobatan. Diskusikan obat pernapasan. Jelaskan/kuatkan penjelasan proses penyakit individu. udara terlalu kering. asap tembakau. Instruksikan/kuatkan rasional untuk latihan napas. Kriteria hasil : . 1999. kekuatan otot. Diskusikan faktor individu yang menigkatkan kondisi. Rasional : Pernapasan mulut dan terapi oksigen dapat mengiritasi dan mengeringkan memberan mukosa.Tindakan non-analgetik diberikan dengan sentuhan lembut dapat menghilangkan ketidaknyamanan dan memperbesar efek terapi analgesic. . membantu meinimalkan kolaps jalan napas kecil. dan latihan kondisi umum. Intervensi. ( Doenges. Penting bagi pasien memahami perbedaan antara efek samping menganggu (obat dilanjutkan) dan efek samping merugikan (obat mungkin dihentikan/diganti).Klien memahami proses penyakit dan kebutuhan pengobatan. perawatan dan program pengobatannya. dan memberikan indivisu arti untuk mengontrol dispnea. Latihan kondisi umum meningkatkan toleransi aktivitas.Mengidentifikasi gejala yang menerlukan evaluasi intervensi. meningkatkan kenyamanan/istirahat umum. batuk efektif. Anjurkan dan bantu pasien dalam teknik menekan dada selama episode batuk. lingkungan dan suhu ekstrem. Rasional : Alat untuk mengontrol ketidaknyamanan dada sementara meningkatkan keefektifan upaya batuk. Tujuan : Klien mengerti tentang penyakit. Kurang pengetahuan mengenai proses dan prognosis penyakit berhubungan dengan kurang informasi. Berikan analgesic dan antitusif sesuai indikasi. Tawarkan pembersihan mulut dengan sering. efek samping dan reaksi yang tidak diinginkan/ Rasional : Pasien sering mendapatkan obat pernapasan banyak sekaligus yang mempunyai efek samping hamper sama dan potensial interaksi obat. misalnya . seprai aerosol.Melakukan perilaku/perubahan pada hidup untuk memperbaiki kesehatan umum dan menurunkan resiko pengaktifan ulang COPD. serbuk. Rasional : Obat ini dapat digunakan untuk menekan batuk non produktif/proksimal atau menurunkan mukosa berlebihan. 4. 5. Rasional : Napas bibir dan napas abdominalis/diafragmatik menguatkan otot pernapasan. hal 171 ). angina. 6. polusi . . Dorong pasien/orang terdekat untuk menanyakan pertanyaan.

1995.udara. Waspadji Sarwono (1999. Mampu mengendalikan stress dan emosional sebagai faktor pencetus terjadinya sesak c. Rasional : Pengawasan proses penyakit untuk membuat program tetapi untuk memenuhi perubahan kebutuhan dan dapat membantu mencegah komplikasi.SKp Definisi • Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapat cairan berlebihan di rongga pleura. MD. Secara bertahap dalam beraktivitas dan gaya hidup sehari-hari yang harus direncanakan untuk mencegah kekambuhan. 2008 September 11 ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN EFUSI PLEURA OLEH : Ns. Rasional : Penghentian merokok dapat memperlambat/menghambat kemajuan COPD. foto dada periodik. 1999. diperlukan kelompok pendukung dan pengawas medis. ( Doenges. Rasional : Faktor lingkungan ini dapat menimbulkan/meningkatkan iritasi bronchial menimbulkan peningkatan produksi sekret dan menjadi hambatan jalan napas. Untuk meningkatkan efisiensi pernapasan secara maksimal. SUMEDI. anjurkan klien untuk : a. Kaji efek bahaya merokok dan nasehatkan menghentikan merokok pada pasien dan/atau orang terdekat. Mentaati aturan terapi pengobatan dan selalu control ulang. dimana kondisi ini jika dibiarkan akan membahayakan jiwa penderitanya (John Gibson. Namun meskipun pasien ingin menghentikan merokok. Meningkatkan nutrisi yang adekuat. d. e. 786) • Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapat penumpukan cairan . Memenuhi kebutuhan istirahat yang cukup dan mematuhi terapi. b. Kamis. Catatan : penelitian menunjukan bahwa rokok “ side-streams “ atau “second hand’ dapat terganggu seperti halnya merokok nyata. Diskusikan tentang pentingnya mengikuti perawatan medik. Perencanaan pulang. 4. dan culture sputum. hal 162 ). Dorong pasien/orang terdekat untuk mencari cara mengontrol faktor ini dan sekitar rumah.

1998. hipoalbumin dan lain sebagainya. tuberculosis paru. infark paru. Mukti A. 111). karena adanya tekanan hidrostatis pleura parietalis sebesar 9 cm H2O. • Effusi pleura berarti terjadi pengumpulan sejumlah besar cairan bebas dalam kavum pleura. Amin M Saleh.dari dalam kavum pleura diantara pleura parietalis dan pleura viseralis dapat berupa cairan transudat atau cairan eksudat ( Pedoman Diagnosis danTerapi / UPF ilmu penyakit paru. trauma. 1995. Kemungkinan penyebab efusi antara lain 1. syndroma nefrotik.penghambatan drainase limfatik dari rongga pleura 2. 145).gagal jantung yang menyebabkan tekanan kapiler paru dan tekanan perifer menjadi sangat tinggi sehingga menimbulkan transudasi cairan yang . (Allsagaaf H. 68) Patofisiologi • Dalam keadaan normal hanya terdapat 10-20 ml cairan di dalam rongga pleura. bertambahnya tekanan hidrostatis akibat kegagalan jantung dan tekanan negatif intra pleura apabila terjadi atelektasis paru (Alsagaf H. Etiologi • Penyebab efusi pleura bisa bermacam-macam seperti gagal jantung. 1994. • Jumlah cairan di rongga pleura tetap. • Akumulasi cairan pleura dapat terjadi apabila tekanan osmotik koloid menurun misalnya pada penderita hipoalbuminemia dan bertambahnya permeabilitas kapiler akibat ada proses keradangan atau neoplasma. pneumoni. adanya neoplasma (carcinoma bronchogenic dan akibat metastasis tumor yang berasal dari organ lain).

Pergerakan dada berkurang dan terhambat pada bagian yang terkena 6.Perkusi meredup di atas efusi pleura 7.Fremitus vokal dan raba berkurang Penatalaksanaan • Drainase cairan jika efusi menimbulkan gejala subyektif seperti nyeri. Egc. Dengan membesarnya efusi akan terjadi restriksi ekspansi paru dan pasien mungkin mengalami : 1. 623-624).sangat menurunnya tekanan osmotik kolora plasma.berlebihan ke dalam rongga pleura 3. Tanda & Gejala -Manifestasi klinik efusi pleura akan tergantung dari jumlah cairan yang ada serta tingkat kompresi paru. -Jika jumlah efusinya sedikit (misalnya < 250 ml).infeksi atau setiap penyebab peradangan apapun pada permukaan pleura dari rongga pleura.Suara nafas berkurang di atas efusi pleura 9.Nyeri pleuritik biasanya mendahului efusi sekunder akibat penyakit pleura 3.Dispneu bervariasi 2. 1997.Trakea bergeser menjauhi sisi yang mengalami efusi 4.Ruang interkostal menonjol (efusi yang berat) 5. mungkin belum menimbulkan manifestasi klinik dan hanya dapat dideteksi dengan X-ray foto thorakks. dyspnea • Antibiotik jika terjadi empiema • Pleurodesis . jadi juga memungkinkan transudasi cairan yang berlebihan 4. yang memecahkan membran kapiler dan memungkinkan pengaliran protein plasma dan cairan ke dalam rongga secara cepat (Guyton dan Hall .Egofoni di atas paru-paru yang tertekan dekat efusi 8.

bahasa yang dipakai. alamat rumah. pneumoni.• Operatif Pengkajian keperawatan Identitas Pasien Pada tahap ini perawat perlu mengetahui tentang nama. • Biasanya pada pasien dengan effusi pleura didapatkan keluhan berupa : sesak nafas. trauma. • Perlu juga ditanyakan mulai kapan keluhan itu muncul. asites dan sebagainya. Riwayat Penyakit Dahulu • Perlu ditanyakan apakah pasien pernah menderita penyakit seperti TBC paru. jenis kelamin. rasa berat pada dada. umur. nyeri pleuritik. Riwayat Penyakit Sekarang • Pasien dengan effusi pleura biasanya akan diawali dengan adanya tandatanda seperti batuk. status pendidikan dan pekerjaan pasien. gagal jantung. berat badan menurun dan sebagainya. Apa tindakan yang telah dilakukan untuk menurunkan atau menghilangkan keluhankeluhannya tersebut. Hal ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya faktor predisposisi. TB paru dan lain sebagainya . nyeri pleuritik akibat iritasi pleura yang bersifat tajam dan terlokasilir terutama pada saat batuk dan bernafas serta batuk non produktif. suku bangsa. asma. rasa berat pada dada. sesak nafas. Keluhan Utama • Keluhan utama merupakan faktor utama yang mendorong pasien mencari pertolongan atau berobat ke rumah sakit. agama atau kepercayaan. Riwayat Penyakit Keluarga >Perlu ditanyakan apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakitpenyakit yang disinyalir sebagai penyebab effusi pleura seperti Ca paru.

Pola eliminasi • Dalam pengkajian pola eliminasi perlu ditanyakan mengenai kebiasaan defekasi sebelum dan sesudah MRS. tapi kadang juga memunculkan persepsi yang salah terhadap pemeliharaan kesehatan. • Peningkatan metabolisme akan terjadi akibat proses penyakit. • Karena keadaan umum pasien yang lemah. • Perlu ditanyakan kebiasaan makan dan minum sebelum dan selama MRS pasien dengan effusi pleura akan mengalami penurunan nafsu makan akibat dari sesak nafas dan penekanan pada struktur abdomen. Pola nutrisi dan metabolisme • Dalam pengkajian pola nutrisi dan metabolisme. minum alkohol dan penggunaan obat-obatan bisa menjadi faktor predisposisi timbulnya penyakit. selain akibat pencernaan pada struktur abdomen menyebabkan penurunan peristaltik otot-otot . bagaimana cara mengatasinya serta bagaimana perilaku pasien terhadap tindakan yang dilakukan terhadap dirinya. • Kemungkinan adanya riwayat kebiasaan merokok. Pengkajian Pola Fungsi Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat • Adanya tindakan medis dan perawatan di rumah sakit mempengaruhi perubahan persepsi tentang kesehatan. pasien akan lebih banyak bed rest sehingga akan menimbulkan konstipasi.Riwayat Psikososial >Meliputi perasaan pasien terhadap penyakitnya. pasien dengan effusi pleura keadaan umumnya lemah. kita perlu melakukan pengukuran tinggi badan dan berat badan untuk mengetahui status nutrisi pasien.

• Selain itu akibat perubahan kondisi lingkungan dari lingkungan rumah yang tenang ke lingkungan rumah sakit. misalkan pasien seorang ibu rumah tangga. secara langsung pasien akan mengalami perubahan peran. kebutuhan O2 jaringan akan kurang terpenuhi • Pasien akan cepat mengalami kelelahan pada aktivitas minimal. dimana banyak orang yang mondar-mandir. • Pasien yang tadinya sehat. • Disamping itu pasien juga akan mengurangi aktivitasnya akibat adanya nyeri dada. sesak nafas. • Dalam hal ini pasien mungkin akan . mengurus suaminya.tractus degestivus. Pola aktivitas dan latihan • Akibat sesak nafas. • Disamping itu. Pola tidur dan istirahat • Adanya nyeri dada. • Untuk memenuhi kebutuhan ADL nya sebagian kebutuhan pasien dibantu oleh perawat dan keluarganya. tiba-tiba mengalami sakit. Pola hubungan dan peran • Akibat dari sakitnya. peran pasien di masyarakatpun juga mengalami perubahan dan semua itu mempengaruhi hubungan interpersonal pasien. Pola persepsi dan konsep diri • Persepsi pasien terhadap dirinya akan berubah. nyeri dada. berisik dan lain sebagainya. Pasien mungkin akan beranggapan bahwa penyakitnya adalah penyakit berbahaya dan mematikan. pasien tidak dapat menjalankan fungsinya sebagai seorang ibu yang harus mengasuh anaknya. sesak nafas dan peningkatan suhu tubuh akan berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan tidur dan istitahat.

• Pemeriksaan Fisik • Status Kesehatan Umum • Tingkat kesadaran pasien perlu dikaji. ekspresi wajah pasien selama dilakukan anamnesa.kehilangan gambaran positif terhadap dirinya Pola sensori dan kognitif • Fungsi panca indera pasien tidak mengalami perubahan. Pendorongan mediastinum ke arah hemithorax kontra lateral yang . Pola reproduksi seksual • Kebutuhan seksual pasien dalam hal ini hubungan seks intercourse akan terganggu untuk sementara waktu karena pasien berada di rumah sakit dan kondisi fisiknya masih lemah. • Perlu juga dilakukan pengukuran tinggi badan berat badan pasien. iga mendatar. Sistem Respirasi Inspeksi • Pada pasien effusi pleura bentuk hemithorax yang sakit mencembung. ruang antar iga melebar. bagaimana mood pasien untuk mengetahui tingkat kecemasan dan ketegangan pasien. Pola tata nilai dan kepercayaan • Sebagai seorang beragama pasien akan lebih mendekatkan dirinya kepada Tuhan dan menganggap bahwa penyakitnya ini adalah suatu cobaan dari Tuhan. demikian juga dengan proses berpikirnya. Pola penanggulangan stress • Bagi pasien yang belum mengetahui proses penyakitnya akan mengalami stress dan mungkin pasien akan banyak bertanya pada perawat dan dokter yang merawatnya atau orang yang mungkin dianggap lebih tahu mengenai penyakitnya. pergerakan pernafasan menurun. bagaimana penampilan pasien secara umum. sikap dan perilaku pasien terhadap petugas.

Pada posisi duduk cairan makin ke atas makin tipis. Mukty Abdol. Widjaya Adjis. • Fremitus tokal menurun terutama untuk effusi pleura yang jumlah cairannya > 250 cc. Garis ini disebut garis Ellis-Damoisseaux. maka akan terdapat batas atas cairan berupa garis lengkung dengan ujung lateral atas ke medical penderita dalam posisi duduk. Ida Bagus. • Auskultasi Suara nafas menurun sampai menghilang. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pembesaran jantung.79) Sistem Cardiovasculer • Pada inspeksi perlu diperhatikan letak ictus cordis. Disamping itu pada palpasi juga ditemukan pergerakan dinding dada yang tertinggal pada dada yang sakit. 1994. • Ditambah lagi dengan tanda i – e artinya bila penderita diminta mengucapkan kata-kata i maka akan terdengar suara e sengau. • Palpasi untuk menghitung frekuensi jantung (health rate) dan harus diperhatikan kedalaman dan teratur tidaknya denyut jantung. yang disebut egofoni (Alsagaf H. mungkin saja akan ditemukan tandatanda auskultasi dari atelektasis kompresi di sekitar batas atas cairan. . Garis ini paling jelas di bagian depan dada. RR cenderung meningkat dan Px biasanya dyspneu. normal berada pada ICS – 5 pada linea medio claviculaus kiri selebar 1 cm. perlu juga memeriksa adanya thrill yaitu getaran ictus cordis.diketahui dari posisi trakhea dan ictus kordis. • Suara perkusi redup sampai pekak tegantung jumlah cairannya. dan dibaliknya ada kompresi atelektasis dari parenkian paru. kurang jelas di punggung. Bila cairannya tidak mengisi penuh rongga pleura.

juga apakah lien teraba. Hal ini bertujuan untuk menentukan adakah pembesaran jantung atau ventrikel kiri. • Selain itu fungsi-fungsi sensoris juga perlu dikaji seperti pendengaran. Sistem Pencernaan • Pada inspeksi perlu diperhatikan. adakah nyeri tekan abdomen.• Perkusi untuk menentukan batas jantung dimana daerah jantung terdengar pekak. vesika urinarta. selain itu juga perlu di inspeksi ada tidaknya benjolan-benjolan atau massa. umbilicus menonjol atau tidak. • Auskultasi untuk mendengarkan suara peristaltik usus dimana nilai normalnya 5-35 kali permenit. feces). penglihatan. tepi perut menonjol atau tidak. • Pemeriksaan refleks patologis dan refleks fisiologisnya. Sistem Neurologis • Pada inspeksi tingkat kesadaran perlu dikaji Disamping juga diperlukan pemeriksaan GCS. apakah abdomen membuncit atau datar. Sistem Muskuloskeletal • Pada inspeksi perlu diperhatikan . apakah hepar teraba. turgor kulit perut untuk mengetahui derajat hidrasi pasien. adakah massa (tumor. • Auskultasi untuk menentukan suara jantung I dan II tunggal atau gallop dan adakah bunyi jantung III yang merupakan gejala payah jantung serta adakah murmur yang menunjukkan adanya peningkatan arus turbulensi darah. perabaan dan pengecapan. • Pada palpasi perlu juga diperhatikan. • Perkusi abdomen normal tympani. penciuman. asites. tumor). adanya massa padat atau cairan akan menimbulkan suara pekak (hepar. Adakah composmentis atau somnolen atau comma.

• Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan metabolisme tubuh.adakah edema peritibial • Palpasi pada kedua ekstremetas untuk mengetahui tingkat perfusi perifer serta dengan pemerikasaan capillary refil time. Kemudian texture kulit (halus-lunak-kasar) serta turgor kulit untuk mengetahui derajat hidrasi seseorang. penurunan nafsu makan akibat sesak nafas sekunder terhadap penekanan struktur abdomen (Barbara Engram. Pemeriksaan Penunjang • Pemeriksaan laboratorium • Darah lengkap dan kimia darah • Bakteriologis • Analisis cairan pleura • Pemeriksaan radiologis • Biopsi Diagnosa Keperawatan • Ketidakefektifan pola pernafasan berhubungan dengan menurunnya ekspansi paru sekunder terhadap penumpukkan cairan dalam rongga pleura (Susan Martin Tucleer. Sistem Integumen • Inspeksi mengenai keadaan umum kulit higiene. warna ada tidaknya lesi pada kulit. . pada Px dengan effusi biasanya akan tampak cyanosis akibat adanya kegagalan sistem transport O2. • Dengan inspeksi dan palpasi dilakukan pemeriksaan kekuatan otot kemudian dibandingkan antara kiri dan kanan. hangat. 1998). dkk. • Cemas berhubungan dengan adanya ancaman kematian yang dibayangkan (ketidakmampuan untuk bernafas). 1993). demam). • Pada palpasi perlu diperiksa mengenai kehangatan kulit (dingin.

sa/…/ Students’s%20Clinical%20presentations/Zahra’a %20Hussin%20AL5.jsp? requestURI=/healthatoz/Atoz/ency/pleural_effusion.jsp 4.wordpress. aturan pengobatan berhubungan dengan kurang terpajan informasi di 03:45 Label: Keperawatan Askep Efusi Pleura Posted by yenichrist under Keperawatan [11] Comments Landasan teori medis diambil dari: 1.com/2008/06/22/efusi-pleura/ 2.com/healthatoz/Atoz/common/standard/transform. NANDA 2007-2008 (keperawatan).ksu. http://www. http://dewabenny.com/2008/01/09/efusi-pleura/ 3.• Gangguan pola tidur berhubungan dengan batuk yang menetap dan sesak nafas serta perubahan suasana lingkungan • Defisit perawatan diri berhubungan dengan keletihan (keadaan fisik yang lemah) • Kurang pengetahuan mengenai kondisi. .healthatoz. faculty. http://dokterfoto.edu.

Cairan dalam jumlah yang berlebihan dapat mengganggu pernapasan dengan membatasi peregangan paru selama inhalasi.” It is characterized by shortness of breath. 3. gastric discomfort (dyspepsia). sehingga biasanya mudah dikeluarkan melalui sebuah jarum atau selang. Empiema bisa merupakan komplikasi dari: • • Infeksi pada cedera di dada Pembedahan dada . Terdapat empat tipe cairan yang dapat ditemukan pada efusi pleura. Cairan serus (hidrothorax) Darah (hemothotaks) Chyle (chylothoraks) Nanah (pyothoraks atau empyema) Hemotoraks (darah di dalam rongga pleura) biasanya terjadi karena cedera di dada. Pleural effusion occurs when too much fluid collects in the pleural space (the space between the two layers of the pleura).Efusi pleura adalah akumulasi cairan yang berlebihan pada rongga pleura. Penyebab lainnya adalah: • • • pecahnya sebuah pembuluh darah yang kemudian mengalirkan darahnya ke dalam rongga pleura kebocoran aneurisma aorta (daerah yang menonjol di dalam aorta) yang kemudian mengalirkan darahnya ke dalam rongga pleura gangguan pembekuan darah. It is commonly known as “water on the lungs. chest pain. Empiema (nanah di dalam rongga pleura) bisa terjadi jika pneumonia atau abses paru menyebar ke dalam rongga pleura. yaitu : 1. and cough. cairan tersebut mengisi ruangan yang mengelilingi paru. Darah di dalam rongga pleura tidak membeku secara sempurna. 2. 4.

auskultasi didapatkan suara pernapasan menurun. Rongga pleura yang terisi cairan dengan kadar kolesterol yang tinggi terjadi karena efusi pleura menahun yang disebabkan oleh tuberkulosis atau artritis rematoid. dengan bantuan stetoskop akan terdengar adanya penurunan suara pernafasan. abses paru atau tumor USG dada USG bisa membantu menentukan lokasi dari pengumpulan cairan yang jumlahnya sedikit. Diagnosis Pada pemeriksaan fisik. yang hasilnya menunjukkan adanya cairan. pada pemeriksaan perkusi didapatkan dullness/pekak. dilakukan pemeriksaan berikut: Rontgen dada Rontgen dada biasanya merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk mendiagnosis efusi pleura. sehingga bisa dilakukan pengeluaran cairan. CT scan dada CT scan dengan jelas menggambarkan paru-paru dan cairan dan bisa menunjukkan adanya pneumonia. . Untuk membantu memperkuat diagnosis. dan vocal fremitus yang menurun. Apabila cairan yang terakumulasi lebih dari 500 ml. biasanya akan menunjukkan gejala klinis seperti penurunan pergerakan dada yang terkena efusi pada saat inspirasi.• • • Pecahnya kerongkongan Abses di perut Pneumonia Kilotoraks (cairan seperti susu di dalam rongga dada) disebabkan oleh suatu cedera pada saluran getah bening utama di dada (duktus torakikus) atau oleh penyumbatan saluran karena adanya tumor.

dan glucose 2. kemudian cairan pleura diambil dengan jarum. Komposisi kimia seperti protein. dan di konfirmasi dengan foto thoraks. Bila efusi pleura telah didiagnosis. pH. sedangkan dengan posisi AP atau PA paling tidak cairan dalam rongga pleura sebanyak 300 ml. Bronkoskopi Bronkoskopi kadang dilakukan untuk membantu menemukan sumber cairan yang terkumpul. laktat dehidrogenase (LDH). Pemeriksaan hitung sel 4. Pada foto thoraks posisi AP atau PA ditemukan adanya sudut costophreicus yang tidak tajam. maka dilakukan biopsi. albumin. tindakan ini disebut thorakosentesis. amylase. meskipun telah dilakukan pemeriksaan menyeluruh. Dilakukan pemeriksaan gram. Sitologi untuk mengidentifikasi adanya keganasan . penyebabnya harus diketahui. Analisa cairan pleura Efusi pleura didiagnosis berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. sensitifitas untuk mengetahui kemungkinan terjadi infeksi bakteri 3. Biopsi Jika dengan torakosentesis tidak dapat ditentukan penyebabnya. Setelah didapatkan cairan efusi dilakukan pemeriksaan seperti: 1. kultur. Pada sekitar 20% penderita. penyebab dari efusi pleura tetap tidak dapat ditentukan. Dengan foto thoraks posisi lateral decubitus dapat diketahui adanya cairan dalam rongga pleura sebanyak paling sedikit 50 ml. dimana contoh lapisan pleura sebelah luar diambil untuk dianalisa.Torakosentesis Penyebab dan jenis dari efusi pleura biasanya dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan terhadap contoh cairan yang diperoleh melalui torakosentesis (pengambilan cairan melalui sebuah jarum yang dimasukkan diantara sela iga ke dalam rongga dada dibawah pengaruh pembiusan lokal).

dan efusi pleura karena adanya tumor ovarium). infeksi virus.pernafasan yang cepat . Gejala Gejala yang paling sering ditemukan (tanpa menghiraukan jenis cairan yang terkumpul ataupun penyebabnya) adalah sesak nafas dan nyeri dada (biasanya bersifat tajam dan semakin memburuk jika penderita batuk atau bernafas dalam). Efusi pleura transudatif disebabkan oleh faktor sistemik yang mengubah keseimbangan antara pembentukan dan penyerapan cairan pleura. emboli paru. rheumatoid arthritis. perdarahan (sering akibat trauma).batuk . infeksi virus. Sedangkan efusi pleura eksudatif disebabkan oleh faktor local yang mempengaruhi pembentukan dan penyerapan cairan pleura.Langkah selanjutnya dalam evaluasi cairan pleura adalah untuk membedakan apakan cairan tersebut merupakan cairan transudat atau eksudat. pneumonia bakteri. dan lymphoma merupakan 75 % penyebab efusi pleura oleh karena kanker). keganasan (ca paru. Misalnya pada keadaan gagal jantung kiri. Efusi pleura jarang pada keadaan rupture esophagus. dan keganasan Etiologi Penyebab paling sering efusi pleura transudatif di USA adalah oleh karena penyakit gagal jantung kiri. Efusi pleura eksudatif biasanya ditemukan pada Tuberkulosis paru. sedangkan penyebab efusi pleura eksudatif disebabkan oleh pneumonia bakteri. penyakit pancreas. Gejala lainnya yang mungkin ditemukan: . sirosis hepatis.cegukan . emboli paru. keadaan lain juga menyebabkan efusi pleura seperti pada penyakit autoimun systemic lupus erythematosus (SLE). abses intraabdomen. Kadang beberapa penderita tidak menunjukkan gejala sama sekali. Tuberkulosis paru merupakan penyebab paling sering dari efusi pleura di Negara berkembang termasuk Indonesia. Selain TBC. ca mammae. sindroma Meig (asites. dan sirosis hepatis.

and electrolyte levels. even after extensive tests. give drug in the morning Monitor fluid intake and output. Keperawatan 1. 4. blood pressure. Nyeri akut/kronis Insomnia Pertukaran gas tidak efektif Kelelahan Intoleransi aktivitas Resiko ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh Koping individu tidak efektif The core responsibilities of nurses: • • To prevent nocturia. If large effusions continue to recur. the fluid can be drained away by placing a large-bore needle or catheter into the pleural space. apabila jumlah cairan banyak dapat dilakukan pemasangan drainase interkostalis atau pemasangan WSD. 5. weight. Aspirasi cairan menggunakan jarum dapat dilakukan untuk mengeluarkan cairan pleura. If heart failure is reversed or a lung infection is cured by antibiotics. 3. . just as in diagnostic thoracentesis. rather than treating the effusion itself. Efusi pleura yang berulang mungkin memerlukan tambahan medikamentosan atau dapat dilakukan tidakan operatif yaitu pleurodesis.nyeri perut. 2. Penatalaksanaan tergantung pada penyakit yang mendasari terjadinya efusi pleura. If necessary. or no effective treatment is at hand. 7. this can be repeated as often as is needed to control the amount of fluid in the pleural space. 6. However. open surgery with removal of a rib may be necessary to drain all the fluid and close the pleural space. In the most severe cases. if the cause is not known. the effusion will usually resolve. dimana kedua permukaan pleura ditempelkan sehingga tidak ada lagi ruangan yang akan terisi oleh cairan. Penatalaksanaan The best way to clear up a pleural effusion is to direct treatment at what is causing it. This will prevent further effusion by eliminating the pleural space. a drug or material that irritates the pleural membranes can be injected to deliberately inflame them and cause them to adhere close together–a process called sclerosis..

• • • • • • Watch for signs and symptoms of hypokalemia. bananas. Frequent turning and ambulation are important to facilitate drainage the nurse administers analgesics as prescribed and as needed. Consult to doctor and dietitian about a high-potassium diet. If chest tube drainage and a water-seal system is used. Foods rich in potassium include citrus fruits. therapeutic response may be delayed several weeks. Efusi dapat berupa cairan jernih. 2000) . and the nurse assists the patient to assume positions that are the least painful. tomatoes. the nurse is responsible for monitoring the system’s function and recording the amount of drainage at prescribed intervals. atau dapat berupa darah atau pus (Baughman C Diane. such as muscle weakness and cramps. Monitor glucose level. who are especially susceptible to excessive diuresis. Definisi Efusi pleural adalah penumpukan cairan di dalam ruang pleural. Drug may be used with potassium sparing diuretic to prevent potassium loss. The nurse role in the care of the patient with a pleural effusion includes: • • • • • • Implementing the medical regimen. ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN EFUSI PLEURA Diarsipkan di bawah: Askep — rofiqahmad @ 12:54 pm A. especially in diabetic patients. dates. If a patient is to be managed as an outpatient with a pleural catheter for drainage. Tidak saya tulis. eksudat. Pain management is a priority. yang mungkin merupakan transudat. tetapi hanya saya susun dari sumber-sumber yang saya gunakan. dengan bahasa yang masih campur-aduk. The nurse prepares and positions the patient for thoracentesis and offers support throughout the procedure. Cara saya belajar selagi bosan. Monitor elderly patients. In patients with hypertension. daripada hilang begitu saja…. proses penyakit primer jarang terjadi namun biasanya terjadi sekunder akibat penyakit lain. the nurse is responsible for educating the patient and family regarding management and care of the catheter and drainage system. ketika “terpaksa” memasuki area yang belum saya jamah sebelumnya. and apricots.

menggigil. penyakit ginjal. dan infeksi.Efusi pleural adalah pengumpulan cairan dalam ruang pleura yang terletak diantara permukaan visceral dan parietal. Pembentukan cairan yang berlebihan. panas tinggi (kokus). 1995) B. Efusi pleura adalah istilah yang digunakan bagi penimbunan cairan dalam rongga pleura. pneumonia. subfebril (tuberkulosisi). sindroma meig (tumor ovarium) dan sindroma vena kava superior. C. penderita akan sesak napas. proses penyakit primer jarang terjadi tetapi biasanya merupakan penyakit sekunder terhadap penyakit lain. abses amuba subfrenik yang menembus ke rongga pleura. Ini disebabkan oleh sedikitnya satu dari empat mekanisme dasar : ∗ ∗ ∗ ∗ ∗ Peningkatan tekanan kapiler subpleural atau limfatik Penurunan tekanan osmotic koloid darah Peningkatan tekanan negative intrapleural Adanya inflamasi atau neoplastik pleura Adanya timbunan cairan mengakibatkan perasaan sakit karena pergesekan. Hambatan resorbsi cairan dari rongga pleura. bronkiektasis. ∗ Adanya gejala-gejala penyakit penyebab seperti demam. Di Indonesia 80% karena tuberculosis. banyak keringat. Bila cairan banyak. Tanda dan Gejala . karena tumor dimana masuk cairan berdarah dan karena trauma. kardiovaskuler. Secara normal. karena radang (tuberculosis. ruang pleural mengandung sejumlah kecil cairan (5 sampai 15ml) berfungsi sebagai pelumas yang memungkinkan permukaan pleural bergerak tanpa adanya friksi (Smeltzer C Suzanne. banyak riak. Etiologi 1. setelah cairan cukup banyak rasa sakit hilang. tromboembolik. karena adanya bendungan seperti pada dekompensasi kordis. Kelebihan cairan rongga pleura dapat terkumpul pada proses penyakit neoplastik. (Price C Sylvia. tumor mediatinum. dan nyeri dada pleuritis (pneumonia). virus). 2002). 2. batuk.

∗ ∗

Deviasi trachea menjauhi tempat yang sakit dapat terjadi jika terjadi penumpukan cairan pleural yang signifikan. Pemeriksaan fisik dalam keadaan berbaring dan duduk akan berlainan, karena cairan akan berpindah tempat. Bagian yang sakit akan kurang bergerak dalam pernapasan, fremitus melemah (raba dan vocal), pada perkusi didapati daerah pekak, dalam keadaan duduk permukaan cairan membentuk garis melengkung (garis Ellis Damoiseu).

Didapati segitiga Garland, yaitu daerah yang pada perkusi redup timpani dibagian atas garis Ellis Domiseu. Segitiga Grocco-Rochfusz, yaitu daerah pekak karena cairan mendorong mediastinum kesisi lain, pada auskultasi daerah ini didapati vesikuler melemah dengan ronki.

Pada permulaan dan akhir penyakit terdengar krepitasi pleura.

D. Patofisiologi Didalam rongga pleura terdapat + 5ml cairan yang cukup untuk membasahi seluruh permukaan pleura parietalis dan pleura viseralis. Cairan ini dihasilkan oleh kapiler pleura parietalis karena adanya tekanan hodrostatik, tekanan koloid dan daya tarik elastis. Sebagian cairan ini diserap kembali oleh kapiler paru dan pleura viseralis, sebagian kecil lainnya (10-20%) mengalir kedalam pembuluh limfe sehingga pasase cairan disini mencapai 1 liter seharinya. Terkumpulnya cairan di rongga pleura disebut efusi pleura, ini terjadi bila keseimbangan antara produksi dan absorbsi terganggu misalnya pada hyperemia akibat inflamasi, perubahan tekanan osmotic (hipoalbuminemia), peningkatan tekanan vena (gagal jantung). Atas dasar kejadiannya efusi dapat dibedakan atas transudat dan eksudat pleura. Transudat misalnya terjadi pada gagal jantung karena bendungan vena disertai peningkatan tekanan hidrostatik, dan sirosis hepatic karena tekanan osmotic koloid yang menurun. Eksudat dapat disebabkan antara lain oleh keganasan dan infeksi. Cairan keluar langsung dari kapiler sehingga kaya akan protein dan berat jenisnya tinggi. Cairan ini juga mengandung banyak sel darah putih. Sebaliknya transudat kadar proteinnya rendah sekali atau nihil sehingga berat jenisnya rendah.

E. Pemeriksaan Diagnostik ∗ Pemeriksaan radiologik (Rontgen dada), pada permulaan didapati menghilangnya sudut kostofrenik. Bila cairan lebih 300ml, akan tampak cairan dengan permukaan melengkung. Mungkin terdapat pergeseran di mediatinum. ∗ ∗ Ultrasonografi Torakosentesis / pungsi pleura untuk mengetahui kejernihan, warna, biakan tampilan, sitologi, berat jenis. Pungsi pleura diantara linea aksilaris anterior dan posterior, pada sela iga ke-8. Didapati cairan yang mungkin serosa (serotorak), berdarah (hemotoraks), pus (piotoraks) atau kilus (kilotoraks). Bila cairan serosa mungkin berupa transudat (hasil bendungan) atau eksudat (hasil radang). ∗ Cairan pleural dianalisis dengan kultur bakteri, pewarnaan gram, basil tahan asam (untuk TBC), hitung sel darah merah dan putih, pemeriksaan kimiawi (glukosa, amylase, laktat dehidrogenase (LDH), protein), analisis sitologi untuk sel-sel malignan, dan pH. ∗ Biopsi pleura mungkin juga dilakukan

F. Penatalaksanaan medis  Tujuan pengobatan adalah untuk menemukan penyebab dasar, untuk mencegah penumpukan kembali cairan, dan untuk menghilangkan ketidaknyamanan serta dispneu. Pengobatan spesifik ditujukan pada penyebab dasar (co; gagal jantung kongestif, pneumonia, sirosis).  Torasentesis dilakukan untuk membuang cairan, untuk mendapatkan specimen guna keperluan analisis dan untuk menghilangkan disneu.  Bila penyebab dasar malignansi, efusi dapat terjadi kembali dalam beberapa hari tatau minggu, torasentesis berulang mengakibatkan nyeri, penipisan protein dan elektrolit, dan kadang pneumothoraks. Dalam keadaan ini kadang diatasi dengan pemasangan selang dada dengan drainase yang dihubungkan ke system drainase water-seal atau pengisapan untuk mengevaluasiruang pleura dan pengembangan paru.

 Agen yang secara kimiawi mengiritasi, seperti tetrasiklin dimasukkan kedalam ruang pleura untuk mengobliterasi ruang pleural dan mencegah akumulasi cairan lebih lanjut.  Pengobatan lainnya untuk efusi pleura malignan termasuk radiasi dinding dada, bedah plerektomi, dan terapi diuretic. G. Water Seal Drainase (WSD) 1. Pengertian WSD adalah suatu unit yang bekerja sebagai drain untuk mengeluarkan udara dan cairan melalui selang dada. 2. Indikasi a. b. c. e. Pneumothoraks karena rupture bleb, luka tusuk tembus Hemothoraks karena robekan pleura, kelebihan anti koagulan, pasca bedah toraks Torakotomi Empiema karena penyakit paru serius dan kondisi inflamasi d. Efusi pleura

3. Tujuan Pemasangan ∗ ∗ ∗ ∗ Untuk mengeluarkan udara, cairan atau darah dari rongga pleura Untuk mengembalikan tekanan negative pada rongga pleura Untuk mengembangkan kembali paru yang kolap dan kolap sebagian Untuk mencegah reflux drainase kembali ke dalam rongga dada.

4. Tempat pemasangan a. Apikal  Letak selang pada interkosta III mid klavikula  Dimasukkan secara antero lateral  Fungsi untuk mengeluarkan udara dari rongga pleura

H. Sirkulasi Tanda : Takikardi. Pengkajian 1. Basal  Letak selang pada interkostal V-VI atau interkostal VIII-IX mid aksiller  Fungsi : untuk mengeluarkan cairan dari rongga pleura 5. perilaku distraksi 6. riwayat bedah dada/trauma. bahu. botol penghisap control ditambahkan ke system dua botol. Pernapasan Gejala : Kesulitan bernapas. disritmia. gelisah 4. Integritas ego Tanda : ketakutan. Aktifitas/istirahat Gejala : dispneu dengan aktifitas ataupun istirahat 2. botol pertama mengumpulkan cairan/drainase dan botol kedua adalah botol water seal. abdomen Tanda : Berhati-hati pada area yang sakit. System tiga botol ini paling aman untuk mengatur jumlah penghisapan. irama jantung gallop. DVJ 3.b. hipertensi/hipotensi. Makanan / cairan Adanya pemasangan IV vena sentral/ infus 5. nyeri/kenyamanan Gejala tergantung ukuran/area terlibat : Nyeri yang diperberat oleh napas dalam. . Jenis WSD • Sistem satu botol Sistem drainase ini paling sederhana dan sering digunakan pada pasien dengan simple pneumotoraks • Sistem dua botol Pada system ini. kemungkinan menyebar ke leher. • System tiga botol Sistem tiga botol. Batuk.

perubahan kedalaman pernapasan. sianosis. Perkusi dada : hiperresonan diarea terisi udara dan bunyi pekak diarea terisi cairan Observasi dan palpasi dada : gerakan dada tidak sama (paradoksik) bila trauma atau kemps. c. penggunaan otot aksesori pernapasan pada dada. gangguan pengembangan dada.Tanda : Takipnea. sianosis. Tujuan : pola nafas efektif Kriteria hasil : ∗ ∗ ∗ ∗ ∗ ∗ Menunjukkan pola napas normal/efektif dng GDA normal Bebas sianosis dan tanda gejala hipoksia Identifikasi etiologi atau factor pencetus Evaluasi fungsi pernapasan (napas cepat. penurunan pengembangan (area sakit). Pertahankan posisi nyaman biasanya peninggian kepala tempat tidur Bila selang dada dipasang : a. retraksi interkostal. GDA taknormal. e. takipneu. ∗ periksa pengontrol penghisap. Pola napas tidak efektif b.berkeringat. gangguan musculoskeletal. nyeri/ansietas. Kemungkinan dibuktikan oleh : dispneu.d penurunan ekspansi paru (akumulasi udara/cairan). krepitasi subkutan I. Diagnosa Keperawatan 1. Bunyi napas menurun dan fremitus menurun (pada sisi terlibat). Kulit : pucat. kaji fremitus. perubahan tanda vital) Auskultasi bunyi napas Catat pengembangan dada dan posisi trakea. Observasi gelembung udara botol penampung d. batas cairan Klem selang pada bagian bawah unit drainase bila terjadi kebocoran Catat karakter/jumlah drainase selang dada. sianosis. b. penggunaan otot aksesori. Awasi pasang surutnya air penampung Berikan oksigen melalui kanul/masker Intervensi : . proses inflamasi.

system drainase dada.d proses cidera. Nyeri dada b. catat kondisi kulit. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan aturan pengobatan Tujuan : Mengetahui tentang kondisinya dan aturan pengobatan Kriteria hasil : Menyatakan pemahaman tentang masalahnya . ganti ulang kasa penutup steril sesuai kebutuhan Anjurkan pasien menghindari berbaring/menarik selang Observasi tanda distress pernapasan bila kateter torak lepas/tercabut.2. Resiko tinggi trauma/henti napas b. Intervensi : 4. skala dan intensitas nyeri Ajarkan pada klien tentang manajemen nyeri dengan distraksi dan relaksasi Amankan selang dada untuk membatasi gerakan dan menghindari iritasi Kaji keefektifan tindakan penurunan rasa nyeri Berikan analgetik sesuai indikasi Intervensi : 3.d factor-faktor biologis (trauma jaringan) dan factor-faktor fisik (pemasangan selang dada) Tujuan : Nyeri hilang atau berkurang Kriteria hasil : ∗ ∗ ∗ ∗ ∗ Pasien mengatakan nyeri berkurang atau dapat dikontrol Pasien tampak tenang Kaji terhadap adanya nyeri. catat gambaran keamanan Amankan unit drainase pada tempat tidur dengan area lalu lintas rendah Awasi sisi lubang pemasangan selang. kurang pendidikan keamanan/pencegahan Tujuan : tidak terjadi trauma atau henti napas Kriteria hasil : ∗ ∗ ∗ ∗ ∗ Mengenal kebutuhan/mencari bantuan untuk mencegah komplikasi Memperbaiki/menghindari lingkungan dan bahaya fisik Kaji dengan pasien tujuan/fungsi unit drainase.

1. EGC. dan evaluasi. WATER SEAL DRAINAGE (WSD) Posted in July 30th. dkk. Sylvia A. Ed8. Buku Ajar Keperawatan medical Bedah. Vol. Standar perawatan Pasien: proses keperawatan. Hudak. nutrisi.Carolyn M. Ed3. Susan Martin Tucker. Smeltzer c Suzanne. 2002. EGC. Keperawatan medical bedah. Jakarta. Ed5. latihan Berikan informasi tentang apa yang ditanyakan klien Berikan reinforcement atas usaha yang telah dilakukan klien . Syamsuhidayat. 8. 1995. istirahat. 2008 by indonesian nurse in Bahasa Indonesia . 5. FKUI. Media Aesculapius. Purnawan J. DAFTAR PUSTAKA 1. Ed4. Doenges E Mailyn. Keperawatan kritis : pendekatan holistic. Jakarta EGC. Vol. 2000. Jakarta. EGC.EGC. 1999 3. Ed2. Jakarta. 2. 7. 1997 4. EGC. Price. Baughman C Diane.1982. Jakarta. Brunner and Suddarth’s. 1997. 6. Jakrta. Patofisiologi : Konsep klinis proses-pross penyakit. 1998.- Mengikuti program pengobatan dan menunjukkan perubahan pola hidup untuk mencegah terulangnya masalah Intervensi : ∗ ∗ ∗ ∗ ∗ Kaji pemahaman klien tentang masalahnya Identifikasi kemungkinan kambuh/komplikasi jangka panjang Kaji ulang praktik kesehatan yang baik. Buku Ajar Ilmu Bedah. EGC. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta.1. Edisi Revisi. Wim de Jong. diagnosis.

Mengembalikan tekanan rongga pleura sehingga “mechanis of breathing” dapat kembali seperti yang seharusnya. dan perlu diperhatikan agar kain kassa yang menutup bagian masuknya slang dan tube tidak boleh dikotori waktu menyeka tubuh pasien. Slang diatur se-nyaman mungkin. d. c. Diagnostik : Menentukan perdarahan dari pembuluh darah besar atau kecil. – Pergantian posisi badan. perhatikan juga secara bersamaan keadaan pernapasan. b. sehingga slang yang dimasukkan tidak terganggu dengan bergeraknya pasien. Jika perdarahan dalam 1 jam melebihi 3 cc/kg/jam. Mencegah infeksi di bagian masuknya slang. ? Latihan batuk yang efisien : batuk dengan posisi duduk. Mendorong berkembangnya paru-paru. Preventive : Mengeluarkan udaran atau darah yang masuk ke rongga pleura sehingga “mechanis of breathing” tetap baik. 2. melakukan pernapasan perut. WSD dapat berarti : a. jangan batuk waktu slang diklem. merubah posisi tubuh sambil mengangkat badan. Terapi : Mengeluarkan darah atau udara yang terkumpul di rongga pleura. b. Dalam perawatan yang harus diperhatikan : .1. atau menaruh bantal di bawah lengan atas yang cedera. sebelum penderita jatuh dalam shoks. Untuk rasa sakit yang hebat akan diberi analgetik oleh dokter. Perdarahan dalam 24 jam setelah operasi umumnya 500 – 800 cc. Mengurangi rasa sakit dibagian masuknya slang. c. Perhatikan keadaan dan banyaknya cairan suction. Perawatan WSD dan pedoman latihanya : a. sehingga rasa sakit di bagian masuknya slang dapat dikurangi. Jika banyaknya hisapan bertambah/berkurang. harus dilakukan torakotomi. Usahakan agar pasien dapat merasa enak dengan memasang bantal kecil dibelakang. dan pengganti verband 2 hari sekali. ? Latihan napas dalam. . Mendeteksi di bagian dimana masuknya slang. ? Dengan WSD/Bullow drainage diharapkan paru mengembang. sehingga dapat ditentukan perlu operasi torakotomi atau tidak. ? Kontrol dengan pemeriksaan fisik dan radiologi. atau memberi tahanan pada slang.Penetapan slang. Bullow Drainage / WSD Pada trauma toraks.

diukur berapa cairan yang keluar kalau ada dicatat. denyut nadi. d. 5) Penggantian harus juga memperhatikan keselamatan kerja diri-sendiri. 4) Setiap penggantian botol/slang harus memperhatikan sterilitas botol dan slang harus tetap steril. Suction harus berjalan efektif : Perhatikan setiap 15 – 20 menit selama 1 – 2 jam setelah operasi dan setiap 1 – 2 jam selama 24 jam setelah operasi. tekanan darah. keadaan cairan. ? Perlu sering dicek. Perawatan “slang” dan botol WSD/ Bullow drainage.e.. misal : slang terlepas. • • • • • • . ke 1/2 terlentang atau 1/2 duduk ke posisi miring bagian operasi di bawah atau di cari penyababnya misal : slang tersumbat oleh gangguan darah. warna muka. dengan memakai sarung tangan. 6) Cegah bahaya yang menggangu tekanan negatip dalam rongga dada. 1) Cairan dalam botol WSD diganti setiap hari . Login • • This blog post All blog posts Subscribe to this blog post's comments through. atau lubang slang tertutup oleh karena perlekatanan di dinding paru-paru. coba merubah posisi pasien dari terlentang. apakah tekanan negative tetap sesuai petunjuk jika suction kurang baik.. 3) Penggantian botol harus “tertutup” untuk mencegah udara masuk yaitu meng”klem” slang pada dua tempat dengan kocher. ? Perhatikan banyaknya cairan. keluhan pasien. keadaan pernapasan. 2) Setiap hendak mengganti botol dicatat pertambahan cairan dan adanya gelembung udara yang keluar dari bullow drainage. botol terjatuh karena kesalahan dll. slang bengkok atau alat rusak.

• • RSS Feed Subscribe via email Subscribe Follow the discussion þÿ Comments Logging you in. Close Login to IntenseDebate Or create an account Username or Email: Password: Forgot login? OpenID Cancel Login Close Login with your OpenID Or create an account using OpenID OpenID URL: Back Cancel Login Dashboard | Edit profile | Logout • þÿ þÿ Logged in as There are no comments posted yet. Be the first one! ...

dispneu. 1. Streptococcus. Empiema adalah penumpukan cairan terinfeksi atau pus pada cavitas pleura ( Diane C. Empiema adalah penumpukan materi purulen pada areal pleural ( Hudak & Gallo. Secara hematogen. VI. Perubahan Fibrotik yang tidak dapat sembuh yang menggangu ventilasi paru yang disebabkan terjebaknya paru pada sisi yang terkena. 2000 ). Demam. Penatalaksanaan (Medik). Drainase cairan pleura atau pus tergantung pada tahapan penyakit dengan : . VII. 1. Sebagai komplikasi pneumoni dan abses paru. Karena kuman menjalar perkontiniutatum dan menembus pleura visceral . Manisfestasi Klinik.Post a new comment Askep Empiema KONSEP I. nyeri pleural. Tidak terdapatnya bunyi nafas. IV. Terjadinya empiema dapat melalui tiga jalur: Patogenesis. III. Pengertian. Stapilococcus 2. Evaluasi Diagnosis Foto dada dan thoraksintesis. arokreksia .dan penurunan berat badan. pendataran pada perkusi dada.1997). penurunan premitus. Dicapai dengan drainase yang adekuat. 1997 ) II. Infeksi darti luar dinding thoraks yang menjalar kedalam pleura misalnya pada trauma thoraks. Baughman. V. 2. Komplikasi. Pnemococcus 3. Sasaran penetalaksanaan adalah mengaliran cavitas pleura hingga mencapai ekspansi paru yang optimal. kuman dari focus lain sampai pada pleura visceral. abses dinding thoraks. • • • DASAR EMPIEMA Empiema adalah keadaan terkumpulnya nanah ( pus ) didalam ronggga pleura dapat setempat atau mengisi seluruh rongga pleura( Ngastiyah. Penyebab. berkeringat malam. anti biaotika (dosis besar ) dan atau streptokinase. 3.

riwayat pneumoni berulang . Interaksi social . Seksualitas. DIAGNOSA KEPERAWATAN. Mempertahankan patensi jalan nafas 2. Integritas ego. kelemahan. Drainase dada terbuka untuk mengeluarkan pus pleural yang mengental dan debris serta mesekresi jaringan pulmonal yang mendasari penyakit. . memperlambat memburuknya kondisi 5. malaise. I. instruksi dalam latihan pernafasan (pernafasan bibir dan pernafasan diagpragmatik ) c. INTERVENSI DAN RASIONAL. bila dilakukan fungsi plera atau dipasang WSD cara menolong tidak berbeda. jika imflamasi telah bertahan lama. perubahan pola hidup. Bantu pasien mengatasi kondisi. Meningkatkan masukan nutrisi 4. kurang sistem pendukung. Higiene . Auskultasi bunyi nafas catat adanya bunyi nafas. Menunjukkan perilaku batuk efektif dan mengeluarkan secret • Intervensi a. Dekortikasi. 1. 1. pnemothoraks c. B.jika cairan tidak terlalu kental b. Memberikan informasi tentang proses penyakit / prognosis dan program pengobatan. Intervensi Keperawatan. Pertahankan jalan nafasa paten dengan bunyi nafas bersih 2. Ketidakmampuan melakukan ADL karena sulit bernapas. mual muntah nafsu makan menurun . hubungan ketergantungan. H. Perawatan pada umumnya sama dengan pasien pleuritis. Drainase tertutup dengan WSD. Keamanan. kaji dan pantau suara pernafasan . a. episode batuk hilang timbul. penurunan libido. Bila penyebab adalah kuman TBC maka. Ketidakmampuan untuk tidur. b. ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN EMPIEMA . Makanan/cairan . penyakit lama. penurunan kemampuan melakukan ADL. pembengkakan pada ekstremitas bawah. Pernafasan . E. Aspirasi jarum ( Thorasintesis ). F. peningkatan produksi secret. Dispneu pada saat istirahat.a. peningkatan factor resiko. Prioritas Keperawatan. Gejala . d. VIII. A. keletihan. Mencegah komplikasi. kelemahan • Kriteria hasal : 1. Berikan perawatan spesifik terhadap metoda drainase pleural. . Membantu tindakan untuk mempermudah pertukaran gas. riwayat reaksi alergi atau sensitive terhadap zat / factor lingkungan. setelah empiema sembuh pasien perlu pengobatan TB. nafas pendek batuk menetap dengan produksi sputum. C. G. Sirkulasi . D. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan bronchus spsame. Aktivitas / istirahat. indikasi bila nanah sangat kental. Dasar data pengkajian. 3.

mempermudah pengeluaran g. d. Tinggikan kepala tempat tidur Rasional . Rasional : Peninggian kepala tempat tidur mempermudah fungsi pernafasan dengan menggunakan gravitasi.berpartisipasi dalam program pengobatan. menurunkan spasme jalan nafas. Memberikan obata sesaui indikasi Rasional : Merilekskan otot halus dan menurunkan kongesti lokal. Auskultasi bunyi nafas catat area penurunan aliran udara . c. misalnya peninggian kepala tempat tidur. Diagnosa keperawatan : Pertukaran gas. f.bunyi tambahan Rasional : Bunyi nafas redup karena penurunan aliran udara .mengi . dan produksi mukosa. Kriteria hasil Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenisasi jaringan adekuat. Kaji frekwensi. • Intervensi a. Rasional : Hidrasi membantu menurunkan kekentalan secret .ansietas dan distress pernafasan Rasional : Disfungsi pernafasan merupakan tahap proses kronis yang yang dapat menimbulkan infeksi atau reaksi alergi. atau kelemahan. Rasional : Memberikan pasien berbagao cara untuk mengatasi dan mengontrol dispneu dan menurunkan jebakan udara. sakit akut. e. Kaji pasien untuk posisi yang nyaman . Bantu latihan nafas abdomen atau bibir. tachipneu merupakan derajat yan ditemukan adanya proses infeksi akut. b. c. indikasi spasme bronchus / tertahannya sekret. 2. Krekels basah menyebar menujukkan cairan pada dekompensasi jantung.kedalaman pernapasan Rasional : Berguna dalam evaluasi derajat distress pernapasan dan atau kronisnya penyakit b. gelisah . d. mengi. Rasional : . kerusakan alveoli . kerusakan berhubungan dengan gangguan suplai oksigen . Observasi karakteristik batuk Rasional : Batuk dapat menetap tetapi tidak efektif khususnya bila pasien lansia.Rasional : Untuk mengetahui adanya obstruksi jalan nafas. Tingkatkan masukan cairan sampai 3000 ml per hari sesuai toleransi jantung. Palpasi primitus. Catat adanya atau derajat dispneu. Pengiriman oksigen dapat diperbaiki dengan posisi tinggi dan latihan napas untuk menurunkan kolap jalan napas.

Kolaborasi dengan ahli gizi / nutrisi.bau sputum. Rasional : Sekret berbau. mual muntah. d. Kaji kebiasaan diit . Hindari makan yang sangat panas dan dingin Rasional : Suhu ekstrim dapat mencetuskan / meningkatkan spasme batuk e. perubahan tekanan darah dapat menujukkan efek hipoksemia sistemik pada fungsi jantung. Tachikardia . Kriteria hasil : Menunjukkan peningkatan berat badan mempertahankan berat badan Intervensi : a. perubahan. Awasi suhu Rasional : Demam dapat terjadi karena infeksi dan atau dehidrasi. anoreksia. penurunan aktivitas dan hipoksemia. . Dorong kesimbangan antara aktivitas dan istirahat. f. c.disritmia. Diagnosa keperawatan : Nutrisi. kelemahan. kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan dispneu. Rasional : Metode makan dan kebutuhan dengan upaya kalori didasarkan pada kebutuhan individu untuk memberikan nutrisi maksimal dengan upaya minimal pasien /penggunaan energi 4. menyusun tujuan berat badan dan evaluasi keadekuatan rencana nutrisi. Rasional. Diagnosa keperawatan : Resiko infeksi Kriteria hasil : • Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah / menurunkan resiko infeksi • Menunjukkan teknik. b. produksi sputum. Intervensi : a. Timbang berat badan sesuai indikasi Rasional : Berguna untuk menetukan kebutuhan kalori. 3. Observasi warna . perubahan pola hidup untuk meningkatkan lingkungan yang aman. b.catat derajat kesulitan makan Rasional : Pasien distress pernafasan akut sering anoreksia karena dispneu. pilihan makanan buruk.Penurunan getarn fibrasi diduga adanya pengumpulan cairan atau udara terjebak e. Awasi tanda vital dan irama jantung. Hindari makan yang mengandung gas. c. Rasional : Penurunan atau hipoaktif bising usus menunjukkan motilitas gaster dan kostipasi yang berhubungan dengan pembatasan pemasukan cairan. Auskultasi bunyi usus .dan minuman karbonat Rasional : Dapat menghasilakan distensi abdomen yang menganggu nafas abdomen dan gerakan diagframa yang dapat meningkatan dispnea. kuning atau kehijauan menujukkan adanya infeksi paru.

e. Jakarta Diana C. Berikan latihan atau batuk efektif Rasional : Pernafasan bibir dan nafas abdomen / diagframatik menguatkan otot pernafasan. Kriteria hasil : Nyatakan atau pemahaman kondisi atau proses penyakit. Perawatan anak sakit . Diagnosa keperawatan : Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang penyakitnya.. Intervensi : a. membantu meminimalkan kolaps jalan nafas.Rasional : Menurunkan konsumsi / kebutuhan kesimbangan oksigen dan memperbaiki pertahan pasien terhadapa infeksi. Jelaskan proses penyakit individu. By: HAy_Blue ^_^ Diposkan oleh Hayato Frizi di 17:37 . Jakarta. ( 2000 ). Marilyn E. Kaji efek bahaya merokok dan nasehatkan untuk menghentikan rokok. Rasional : Malnutrisi dapat mempengaruhi kesehatan umum dan menurunkan tahanan terhadap infeksi. Diskusi masukan nutrisi adekuat. Keperawatan kritis : suatu pendekatan holistic. peningkatan penyembuhan . Rencana asuhan keperawatan. Rasional : Menurunkan ansietas dan dapat menimbulkan perbaikan b. Baughman. d. (2000 ). c. EGC. ( 1997 ). DAFTAR PUSTAKA Hudak & Gallo. Jakarta. ( 1997 ). Diskusi pentingnya mengikuti perawatan medik ( Foto Thoraks dan kultur sputum ) Rasional : Pengawasan proses penyakit untuk membuata program therapy . Patofisiologi. Rasional : Penghentian merokok dapat menghambat kemajuan PPOM d. EGC. Kolaborasi pemeriksaan sputum. Kaji kebutuhan / dosis oksigen untuk pasien Rasional : Menurunkan resiko kesalahan penggunaan oksigen dan komplikasi lanjut. Rasional : Dilakukan untuk mengidentifikasi organisme penyebab dan kerentanan terhadap anti microbial 5. Doengoes. EGC. EGC. Ngastiyah. pendekatan untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. e. Jakarta.

Fisioterapi dada adalah salah satu dari pada fisioterapi yang sangat berguna bagi penderita penyakit respirasi baik yang bersifat akut maupun kronis. AFIYAH HIDAYATI. Fisioterapi dada ini meliputi rangkaian : postural drainage. perkusi. memperbaiki pergerakan dan aliran sekret. Dalam fisioterapi tenaga alam yang dipakai antara lain listrik. status asmatikus.Kp A. DEFINISI Fisioterapi adalah suatu cara atau bentuk pengobatan untuk mengembalikan fungsi suatu organ tubuh dengan memakai tenaga alam. penyakit pernafasan restriktif termasuk kelainan neuromuskuler dan penyakit paru restriktif karena kelainan parenkim paru seperti fibrosis dan pasien yang mendapat ventilasi mekanik. sinar. massage dan latihan yang mana penggunaannya disesuaikan dengan batas toleransi penderita sehingga didapatkan efek pengobatan. renjatan dan perdarahan masif. S. Jadi tujuan pokok fisioterapi pada penyakit paru adalah mengembalikan dan memelihara fungsi otot-otot pernafasan dan membantu membersihkan sekret dari bronkus dan untuk mencegah penumpukan sekret. Fisioterapi dada ini walaupun caranya kelihatan tidak istimewa tetapi ini sangat efektif dalam upaya mengeluarkan sekret dan memperbaiki ventilasi pada pasien dengan fungsi paru yang terganggu. Fisioterapi dada ini dapat digunakan untuk pengobatan dan pencegahan pada penyakit paru obstruktif menahun. dan vibrasi Kontra indikasi fisioterapi dada ada yang bersifat mutlak seperti kegagalan jantung. fisioterapi dada KEBUTUHAN DASAR MANUSIA FISIOTERAPI DADA By. panas. Ns. sedangkan kontra .Label: Kesehatan 0 komentar: Poskan Komentar Link ke posting ini Buat sebuah Link ASKEP FISIOTERAPI DADA 14 Februari 2009 pada 9:54 am (fisioterapi dada) Tags: askep. dingin. air.

2. B. Pasien dengan abses paru 2. Profilaksis untuk mencegah penumpukan sekret yaitu pada : 1. Mengingat kelainan pada paru bisa terjadi pada berbagai lokasi maka PD dilakukan pada berbagai posisi disesuaikan dengan kelainan parunya. Gangguan sistem kardiovaskuler seperti hipotensi. Periksa nadi dan tekanan darah.5.3. Hemoptisis 3. Waktu yang terbaik untuk melakukan PD yaitu sekitar 1 jam sebelum sarapan pagi dan sekitar 1 jam sebelumtidur pada malam hari. Mobilisasi sekret yang tertahan : 2.1. Pasien dengan atelektasis yang disebabkan oleh sekret 2. PD dapat dilakukan untuk mencegah terkumpulnya sekret dalam saluran nafas tetapi juga mempercepat pengeluaran sekret sehingga tidak terjadi atelektasis. Efusi pleura yang luas Persiapan pasien untuk postural drainase.1. 4. Pasien pre dan post operatif 2.3. Tension pneumotoraks 2. Edema paru 5. 2.. Postural drainase Postural drainase (PD) merupakan salah satu intervensi untuk melepaskan sekresi dari berbagai segmen paru dengan menggunakan pengaruh gaya gravitasi. patah tulang iga atau luka baru bekas operasi.4. 1. Pasien yang memakai ventilasi 1. Pasien yang melakukan tirah baring yang lama 1.2. Pasien dengan batuk yang tidak efektif . Pasien neurologi dengan kelemahan umum dan gangguan menelan atau batuk Kontra indikasi untuk postural drainase : 1. hipertensi. Apakah pasien mempunyai refleks batuk atau memerlukan suction untuk mengeluarkan sekret.indikasi relatif seperti infeksi paru berat.4. tumor paru dengan kemungkinan adanya keganasan serta adanya kejang rangsang. bila dilakukan pada beberapa . Longgarkan seluruh pakaian terutama daerah leher dan pinggang. 4. Pada penderita dengan produksi sputum yang banyak PD lebih efektif bila disertai dengan clapping dan vibrating. Indikasi untuk Postural Drainase : 1. Cara melakukan pengobatan : 1. Pasien yang produksi sputum meningkat seperti pada fibrosis kistik atau bronkiektasis 1. 2. 2. 3. Postoral Drainase dilakukan dua kali sehari. Terapis harus di depan pasien untuk melihat perubahan yang terjadi selama Postural Drainase. infark miokard akutrd infark dan aritmia. Pasien dengan pneumonia 2. Terangkan cara pengobatan kepada pasien secara ringkas tetapi lengkap.

Pada inspeksi apakah kedua sisi dada bergerak sama. 6. adakah temperatur dan nadi tekanan darah. data klinis. Apakah foto toraks ada perbaikan. Clapping/Perkusi Perkusi adalah tepukan dilakukan pada dinding dada atau punggung dengan tangan dibentuk seperti mangkok. tanggal. maka prosedur dapat diulangi kembali dengan memperhatikan kondisi pasien C. Alat dan bahan : 1) Bantal 2-3 2) Tisu wajah 3) Segelas air hangat 4) Masker 5) Sputum pot Prosedur kerja : 1) Jelaskan prosedur 2) Kaji area paru. Bagaimana efek yang nampak pada vital sign. Penilaian hasil pengobatan : 1. 4. respon pasien) 14) Jika sputum masih belum bisa keluar. 3. 2. Bagaimana perasaan pasien tentang pengobatan apakah ia merasa lelah. 5. 4. sakit. nafas dalam dan batuk efektif 11) Evaluasi respon pasien (pola nafas. 3. Tujuan melepaskan sekret yang tertahan atau melekat pada bronkhus. volume. Pasien mampu untuk bernafas dalam dan batuk. sputum: warna. Perkusi dada merupakan energi mekanik pada dada yang diteruskan pada saluran nafas paru. merasa enakan. suara pernafasan) 12) Cuci tangan 13) Dokumentasi (jam. Perkusi dapat dilakukan dengan membentuk . Apakah batuk telah produktif. Pada auskultasi apakah suara pernafasan meningkat dan sama kiri dan kanan. apakah sekret sangat encer atau kental. 3. Minta pasien mempertahankan posisi tersebut selama 10-15 menit. Foto toraks relative jelas. Kriteria untuk tidak melanjutkan pengobatan : 1. Pasien tidak demam dalam 24 – 48 jam. foto x-ray 3) Cuci tangan 4) Pakai masker 5) Dekatkan sputum pot 6) Berikan minum air hangat 7) Atur posisi pasien sesuai dengan area paru yang akan didrainage 8. Dilakukan sebelum makan pagi dan malam atau 1 s/d 2 jam sesudah makan. hari. Suara pernafasan normal atau relative jelas. 2.posisi tidak lebih dari 40 menit. Sambil PD bisa dilakukan clapping dan vibrating 9) Berikan tisu untuk membersihkan sputum 10) Minta pasien untuk duduk. tiap satu posisi 3 – 10 menit.

lndikasi untuk perkusi : Perkusi secara rutin dilakukan pada pasien yang mendapat postural drainase. Sesama postural drainase terapis biasanya secara umum memilih cara perkusi atau vibrasi untuk mengeluarkan sekret. Vibrasi dilakukan dengan cara meletakkan tangan bertumpang tindih pada dada kemudian dengan dorongan bergetar. Skin graf yang baru 4. Aliran terjadi dari cabang-cabang tersebut di atas ke bronki utama. Gambar B : Segmen posterior pada lobus kanan atas dan sub segmen posterior dada segmen apikal posterior pada lobus kiri atas. infeksi kulit 5. minta pasien untuk batuk Gambar A : Segmen apikal pada lobus kanan atas dan sub segmen apikal dari segmen posterior pada lobus kiri atas. Pneumotoraks tension yang tidak diobati Alat dan bahan : 1) Handuk kecil Prosedur kerja : 1) Tutup area yang akan dilakukan clapping dengan handuk untuk mengurangi ketidaknyamanan 2) Anjurkan pasien untuk rileks. Prosedur kerja : 1) Meletakkan kedua telapak tangan tumpang tindih diatas area paru yang akan dilakukan vibrasi dengan posisi tangan terkuat berada di luar 2) Anjurkan pasien napas dalam dengan Purse lips breathing 3) Lakukan vibrasi atau menggetarkan tangan dengan tumpuan pada pergelangan tangan saat pasien ekspirasi dan hentikan saat pasien inspirasi 4) Istirahatkan pasien 5) Ulangi vibrasi hingga 3X. Emboli paru 6. Vibrating Vibrasi secara umum dilakukan bersamaan dengan clapping. . Luka bakar. Perkusi harus dilakukan hati-hati pada keadaan : 1. napas dalam dengan Purse lips breathing 3) Perkusi pada tiap segmen paru selama 1-2 menit dengan kedua tangan membentuk mangkok D. Vibrasi dilakukan hanya pada waktu pasien mengeluarkan nafas. Kontra indikasinya adalah patah tulang dan hemoptisis. Pasien disuruh bernafas dalam dan kompresi dada dan vibrasi dilaksanakan pada puncak inspirasi dan dilanjutkan sampai akhir ekspirasi. Emfisema subkutan daerah leher dan dada 3. Aliran terjadi dari cabang-cabang tersebut di atas ke bronki utama. Patah tulang rusuk 2.kedua tangan deperti mangkok. jadi semua indikasi postural drainase secara umum adalah indikasi perkusi. Vibrasi dengan kompresi dada menggerakkan sekret ke jalan nafas yang besar sedangkan perkusi melepaskan/melonggarkan sekret.

oblik kiri) Sasaran : Segmen lingular pada lobus atas kiri. Gambar D : Segmen superior pada kedua belah lobus atas.Gambar C : Segmen anterior pada kedua belah lobus atas. Gambar E : Segmen basal posterior pada kedua belah lobus bawah. Dengan sebuah bantal yang diletakkan di bawah perut tubuh dibuat agak dalam posisi menungging. Gambar H : (Posisi kepala ke bawah. Aliran terjadi dari percabangan bronkus ke bronkus kanan. (Posisi kepala ke bawah. Aliran dari percabangan tersebut ke bronkus kiri. Gambar F : Segmen basal lateral pada lobus bawah kanan. Aliran terjadi dari percabangan bronlms kebonkus kiri. aliran terjadi dari Cabang tersebut ke bronkus utama. Dengan memiringkan badan ke kiri dari ke kanan secara berganti-ganti aliran dari lobus atas kanan dan kiri ke bronkus utama. . Gambar G : Segmen basal lateral pada lobus bawah kiri. Aliran dari percabangan tersebut ke bronkus kanan. tubuh oblik kanan) Sasaran : Lobus tengah kanan. Aliran terjadi dan percabangan bronkus ke bronkus yang bersangkutan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful