P. 1
askep

askep

|Views: 977|Likes:
Published by Yayah Komariah

More info:

Published by: Yayah Komariah on Sep 28, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/14/2013

pdf

text

original

1

©2003 Digitized by USU digital library ASUHAN KEPERAWATAN ASMA BRONKIAL DUDUT TANJUNG, S.Kp. Fakultas Kedokteran Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Sumatera Utara Pengertian Asma bronkhial adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermitten, reversible dimana trakeobronkial berespon secara hiperaktif terhadap stimuli tertentu. Asma bronchial adalah suatu penyakit dengan ciri meningkatnya respon trakea dan bronkus terhadap berbagai rangsangan dengan manifestasi adanya penyempitan jalan nafas yang luas dan derajatnya dapat berubah-ubah baik secara spontan maupun hasil dari pengobatan ( The American Thoracic Society ). Klasifikasi Berdasarkan penyebabnya, asma bronkhial dapat diklasifikasikan menjadi 3 tipe, yaitu : 1. Ekstrinsik (alergik) Ditandai dengan reaksi alergik yang disebabkan oleh faktor-faktor pencetus yang spesifik, seperti debu, serbuk bunga, bulu binatang, obat-obatan (antibiotic dan aspirin) dan spora jamur. Asma ekstrinsik sering dihubungkan dengan adanya suatu predisposisi genetik terhadap alergi. Oleh karena itu jika ada faktor-faktor pencetus spesifik seperti yang disebutkan di atas, maka akan terjadi serangan asma ekstrinsik. 2. Intrinsik (non alergik) Ditandai dengan adanya reaksi non alergi yang bereaksi terhadap pencetus yang tidak spesifik atau tidak diketahui, seperti udara dingin atau bisa juga disebabkan oleh adanya infeksi saluran pernafasan dan emosi. Serangan asma ini menjadi lebih berat dan sering sejalan dengan berlalunya waktu dan dapat berkembang menjadi bronkhitis kronik dan emfisema. Beberapa pasien akan mengalami asma gabungan. 3. Asma gabungan Bentuk asma yang paling umum. Asma ini mempunyai karakteristik dari bentuk alergik dan non-alergik. Etiologi Ada beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi dan presipitasi timbulnya serangan asma bronkhial. a. Faktor predisposisi Genetik Dimana yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum diketahui bagaimana cara penurunannya yang jelas. Penderita dengan penyakit alerg biasanya mempunyai keluarga dekat juga menderita penyakit alergi. Karena adanya bakat alergi ini, penderita sangat mudah terkena penyakit asma bronkhial jika terpapar dengan foktor pencetus. Selain itu hipersentifisitas saluran pernafasannya juga bisa diturunkan. b. Faktor presipitasi Alergen Dimana alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :

2

©2003 Digitized by USU digital library 1. Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan ex: debu, bulu binatang, serbuk bunga, spora jamur, bakteri dan polusi 2. Ingestan, yang masuk melalui mulut

ex: makanan dan obat-obatan 3. Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit ex: perhiasan, logam dan jam tangan Perubahan cuaca Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi asma. Atmosfir yang mendadak dingin merupakan faktor pemicu terjadinya serangan asma. Kadang-kadang serangan berhubungan dengan musim, seperti: musim hujan, musim kemarau, musim bunga. Hal ini berhubungan dengan arah angin serbuk bunga dan debu. Stress Stress/ gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma, selain itu juga bisa memperberat serangan asma yang sudah ada. Disamping gejala asma yang timbul harus segera diobati penderita asma yang mengalami stress/gangguanemosi perlu diberi nasehat untuk menyelesaikan masalah pribadinya. Karena jika stressnya belum diatasi maka gejala asmanya belum bisa diobati. Lingkungan kerja Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan asma. Hal ini berkaitan dengan dimana dia bekerja. Misalnya orang yang bekerja di laboratorium hewan, industri tekstil, pabrik asbes, polisi lalu lintas. Gejala ini membaik pada waktu libur atau cuti. Olah raga/ aktifitas jasmani yang berat Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika melakukan aktifitas jasmani atau aloh raga yang berat. Lari cepat paling mudah menimbulkan serangan asma. Serangan asma karena aktifitas biasanya terjadi segera setelah selesai aktifitas tersebut. Patofisiologi Asma ditandai dengan kontraksi spastic dari otot polos bronkhiolus yang menyebabkan sukar bernafas. Penyebab yang umum adalah hipersensitivitas bronkhioulus terhadap benda-benda asing di udara. Reaksi yang timbul pada asma tipe alergi diduga terjadi dengan cara sebagai berikut : seorang yang alergi mempunyai kecenderungan untuk membentuk sejumlah antibody Ig E abnormal dalam jumlah besar dan antibodi ini menyebabkan reaksi alergi bila reaksi dengan antigen spesifikasinya. Pada asma, antibody ini terutama melekat pada sel mast yang terdapat pada interstisial paru yang berhubungan erat dengan brokhiolus dan bronkhus kecil. Bila seseorang menghirup alergen maka antibody Ig E orang tersebut meningkat, alergen bereaksi dengan antibodi yang telah terlekat pada sel mast dan menyebabkan sel ini akan mengeluarkan berbagai macam zat, diantaranya histamin, zat anafilaksis yang bereaksi lambat (yang merupakan leukotrient), faktor kemotaktik eosinofilik dan bradikinin. Efek gabungan dari semua faktor-faktor ini akan menghasilkan adema lokal pada dinding bronkhioulus kecil maupun sekresi mucus yang kental dalam lumen bronkhioulus dan spasme otot polos bronkhiolus sehingga menyebabkan tahanan saluran napas menjadi sangat meningkat. Pada asma , diameter bronkiolus lebih berkurang selama ekspirasi daripada selama inspirasi karena peningkatan tekanan dalam paru selama eksirasi paksa

3

©2003 Digitized by USU digital library menekan bagian luar bronkiolus. Karena bronkiolus sudah tersumbat sebagian, maka sumbatan selanjutnya adalah akibat dari tekanan eksternal yang menimbulkan obstruksi berat terutama selama ekspirasi. Pada penderita asma biasanya dapat melakukan inspirasi dengan baik dan adekuat, tetapi sekali-kali melakukan ekspirasi. Hal ini menyebabkan dispnea. Kapasitas residu fungsional dan volume residu paru menjadi sangat meningkat selama serangan asma akibat kesukaran mengeluarkan

udara ekspirasi dari paru. Hal ini bisa menyebabkan barrel chest. Manifestasi Klinik Biasanya pada penderita yang sedang bebas serangan tidak ditemukan gejala klinis, tapi pada saat serangan penderita tampak bernafas cepat dan dalam, gelisah, duduk dengan menyangga ke depan, serta tanpa otot-otot bantu pernafasan bekerja dengan keras. Gejala klasik dari asma bronkial ini adalah sesak nafas, mengi ( whezing ), batuk, dan pada sebagian penderita ada yang merasa nyeri di dada. Gejala-gejala tersebut tidak selalu dijumpai bersamaan. Pada serangan asma yang lebih berat , gejala-gejala yang timbul makin banyak, antara lain : silent chest, sianosis, gangguan kesadaran, hyperinflasi dada, tachicardi dan pernafasan cepat dangkal . Serangan asma seringkali terjadi pada malam hari. Pemeriksaan laboratorium 1. Pemeriksaan sputum Pemeriksaan sputum dilakukan untuk melihat adanya: Kristal-kristal charcot leyden yang merupakan degranulasi dari kristal eosinopil. Spiral curshmann, yakni yang merupakan cast cell (sel cetakan) dari cabang bronkus. Creole yang merupakan fragmen dari epitel bronkus. Netrofil dan eosinopil yang terdapat pada sputum, umumnya bersifat mukoid dengan viskositas yang tinggi dan kadang terdapat mucus plug. 2. Pemeriksaan darah Analisa gas darah pada umumnya normal akan tetapi dapat pula terjadi hipoksemia, hiperkapnia, atau asidosis. Kadang pada darah terdapat peningkatan dari SGOT dan LDH. Hiponatremia dan kadar leukosit kadang-kadang di atas 15.000/mm3 dimana menandakan terdapatnya suatu infeksi. Pencetus : Allergen Olahraga Cuaca Emosi Imun respon menjadi aktif Pelepasan mediator humoral Histamine SRS-A Serotonin Kinin Bronkospasme Edema mukosa Sekresi meningkat inflamasi Penghambat kortikosteroid

4
©2003 Digitized by USU digital library

Pemeriksaan spirometri tidak saja penting untuk menegakkan diagnosis tetapi juga penting untuk menilai berat obstruksi dan efek pengobatan. cara yang paling cepat dan sederhana diagnosis asma adalah melihat respon pengobatan dengan bronkodilator. dan VES atau terjadinya depresi segmen ST negative. Pemeriksaan spirometer dilakukan sebelum dan sesudah pamberian bronkodilator aerosol (inhaler atau nebulizer) golongan adrenergik. Pneumothoraks 5. Komplikasi Berbagai komplikasi yang mungkin timbul adalah : 1. Tanda-tanda hopoksemia. Scanning paru Dengan scanning paru melalui inhalasi dapat dipelajari bahwa redistribusi udara selama serangan asma tidak menyeluruh pada paru-paru. maka dapat dilihat bentuk gambaran radiolusen pada paru-paru. Pemeriksaan penunjang 1. 3. Atelektasis 3. Pemeriksaan radiologi Gambaran radiologi pada asma pada umumnya normal. Akan tetapi bila terdapat komplikasi. Tidak adanya respon aerosol bronkodilator lebih dari 20%. Pada waktu serangan menunjukan gambaran hiperinflasi pada paru-paru yakni radiolusen yang bertambah dan peleburan rongga intercostalis. yakni terdapatnya sinus tachycardia. Bila terdapat komplikasi empisema (COPD). Hipoksemia 4. SVES. Bila terjadi pneumonia mediastinum. Emfisema 5 ©2003 Digitized by USU digital library . Bila terdapat komplikasi. 4. 2. serta diafragma yang menurun. maka bercak-bercak di hilus akan bertambah. Benyak penderita tanpa keluhan tetapi pemeriksaan spirometrinya menunjukkan obstruksi. maka kelainan yang didapat adalah sebagai berikut: Bila disertai dengan bronkitis. maka terdapat gambaran infiltrate pada paru Dapat pula menimbulkan gambaran atelektasis lokal. dan pneumoperikardium. 5. Elektrokardiografi Gambaran elektrokardiografi yang terjadi selama serangan dapat dibagi menjadi 3 bagian. Pemeriksaan tes kulit Dilakukan untuk mencari faktor alergi dengan berbagai alergen yang dapat menimbulkan reaksi yang positif pada asma. yakni terdapatnya RBB ( Right bundle branch block). Spirometri Untuk menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas reversible.Pada pemeriksaan faktor-faktor alergi terjadi peningkatan dari Ig E pada waktu serangan dan menurun pada waktu bebas dari serangan. pneumotoraks. Peningkatan FEV1 atau FVC sebanyak lebih dari 20% menunjukkan diagnosis asma. yakni pada umumnya terjadi right axis deviasi dan clock wise rotation. Terdapatnya tanda-tanda hipertropi otot jantung. maka gambaran radiolusen akan semakin bertambah. dan disesuaikan dengan gambaran yang terjadi pada empisema paru yaitu : perubahan aksis jantung. Status asmatikus 2.

Gagal nafas Penatalaksanaan Prinsip umum pengobatan asma bronchial adalah : 1. b. Berotec.Terbutalin (bricasma) Obat-obat golongan simpatomimetik tersedia dalam bentuk tablet. sirup.Orsiprenalin (Alupent) . Simpatomimetik/ andrenergik (Adrenalin dan efedrin) Nama obat : . Cara pemakaian : Bentuk suntikan teofillin / aminofilin dipakai pada serangan asma akut. yaitu: 1. Santin (teofilin) Nama obat : . Supositoria ini digunakan jika penderita karena sesuatu hal tidak dapat minum teofilin (misalnya muntah atau lambungnya kering). Karena sering merangsang lambung bentuk tablet atau sirupnya sebaiknya diminum sesudah makan. Manfaatnya adalah untuk penderita asma alergi terutama anakanak. Terbagi dalam 2 golongan : a. Pengobatan non farmakologik: Memberikan penyuluhan Menghindari faktor pencetus Pemberian cairan Fisiotherapy Beri O2 bila perlu. Ada juga yang berbentuk bubuk halus yang dihirup (Ventolin Diskhaler dan Bricasma Turbuhaler) atau cairan broncodilator (Alupent. 2. suntikan dan semprotan.Aminofilin (Amicam supp) .Fenoterol (berotec) . Deformitas thoraks 7. Pengobatan pada asma bronkhial terbagi 2. Sehingga bila kedua obat ini dikombinasikan efeknya saling memperkuat. . Mengenal dan menghindari fakto-faktor yang dapat mencetuskan serangan asma 3. Memberikan penerangan kepada penderita ataupun keluarganya mengenai penyakit asma. tetapi cara kerjanya berbeda.Aminofilin (Euphilin Retard) . Pengobatan farmakologik : Bronkodilator : obat yang melebarkan saluran nafas. Yang berupa semprotan: MDI (Metered dose inhaler).Teofilin (Amilex) Efek dari teofilin sama dengan obat golongan simpatomimetik. brivasma serts Ventolin) yang oleh alat khusus diubah menjadi aerosol (partikel-partikel yang sangat halus ) untuk selanjutnya dihirup. dan disuntikan perlahan-lahan langsung ke pembuluh darah. Kromalin 6 ©2003 Digitized by USU digital library Kromalin bukan bronkodilator tetapi merupakan obat pencegah serangan asma. 2. baik pengobatannya maupun tentang perjalanan penyakitnya sehingga penderita mengerti tujuan penngobatan yang diberikan dan bekerjasama dengan dokter atau perawat yang merawatnnya.6. Teofilin ada juga dalam bentuk supositoria yang cara pemakaiannya dimasukkan ke dalam anus. Menghilangkan obstruksi jalan nafas dengan segara. Itulah sebabnya penderita yang mempunyai sakit lambung sebaiknya berhati-hati bila minum obat ini.

Pernapasan Dipsnea pada saat istirahat atau respon terhadap aktivitas atau latihan. INTERVENSI RASIONAL Mandiri Auskultasi bunyi nafas. Adanya penurunan kemampuan/peningkatan kebutuhan bantuan melakukan aktivitas sehari-hari. Aktivitas Ketidakmampuan melakukan aktivitas karena sulit bernapas. Warna kulit atau membran mukosa normal/ abu-abu/ sianosis. misalnya: meninggikan bahu. catat . Biasanya diberikan dengan dosis dua kali 1mg / hari. Integritas ego Ansietas Ketakutan Peka rangsangan Gelisah Asupan nutrisi Ketidakmampuan untuk makan karena distress pernapasan. Napas memburuk ketika pasien berbaring terlentang ditempat tidur. Susah bicara atau bicara terbata-bata. melebarkan hidung. Pengkajian Hal-hal yang perlu dikaji pada pasien asma adalah sebagai berikut: Riwayat kesehatan yang lalu: Kaji riwayat pribadi atau keluarga tentang penyakit paru sebelumnya. Hubungan sosal Keterbatasan mobilitas fisik. Penurunan berat badan karena anoreksia.Kromalin biasanya diberikan bersama-sama obat anti asma yang lain. Hasil yang diharapkan: mempertahankan jalan nafas paten dengan bunyi bersih dan jelas. Menggunakan obat bantu pernapasan. Sirkulasi Adanya peningkatan tekanan darah. Adanya bunyi napas mengi. Adanya peningkatan frekuensi jantung. Ketolifen Mempunyai efek pencegahan terhadap asma seperti kromalin. Kaji riwayat pekerjaan pasien. dan efeknya baru terlihat setelah pemakaian satu bulan. Keuntungnan obat ini adalah dapat diberika secara oral. Kaji riwayat reaksi alergi atau sensitifitas terhadap zat/ faktor lingkungan. Adanya ketergantungan pada orang lain. Tidur dalam posisi duduk tinggi. 7 ©2003 Digitized by USU digital library Seksualitas Penurunan libido Diagnosa dan Intervensi Keperawatan Diagnosa 1 : Tak efektif bersihan jalan nafas b/d bronkospasme. Adanya batuk berulang. Kemerahan atau berkeringat.

Merelaksasikan otot halus dan menurunkan spasme jalan nafas.adanya bunyi nafas. Hidrasi membantu menurunkan kekentalan sekret. catat rasio inspirasi / ekspirasi. penggunaan cairan hangat dapat menurunkan spasme bronkus. distress pernafasan. Pencetus tipe alergi pernafasan dapat mentriger episode akut. mengi. Tempatkan posisi yang nyaman pada pasien. contoh: debu. duduk pada sandara tempat tidur Pertahankan polusi lingkungan minimum. contoh : meninggikan kepala tempat tidur. Kolaborasi Berikan obat sesuai dengan indikasi bronkodilator. asap dll Tingkatkan masukan cairan sampai dengan 3000 ml/ hari sesuai toleransi jantung memberikan air hangat. Tachipnea biasanya ada pada beberapa derajat dan dapat ditemukan pada penerimaan atau selama stress/ adanya proses infeksi akut. Disfungsi pernafasan adalah variable yang tergantung pada tahap proses akut yang menimbulkan perawatan di rumah sakit. dan produksi . Beberapa derajat spasme bronkus terjadi dengan obstruksi jalan nafas dan dapat/tidak dimanifestasikan adanya nafas advertisius. Catat adanya derajat dispnea. penggunaan obat bantu. ex: mengi Kaji / pantau frekuensi pernafasan. penggunaan cairan hangat dapat menurunkan kekentalan sekret. ansietas. Peninggian kepala tempat tidur memudahkan fungsi pernafasan dengan menggunakan gravitasi.

INTERVENSI RASIONALISASI Mandiri Kaji/awasi secara rutin kulit dan membrane mukosa. berikan wadah khusus untuk sekali pakai. buang sekret. dan perubahan tekanan darah . Palpasi fremitus Awasi tanda vital dan irama jantung Kolaborasi Berikan oksigen tambahan sesuai dengan indikasi hasil AGDA dan toleransi pasien. INTERVENSI RASIONALISASI Mandiri Kaji kebiasaan diet. Penurunan getaran vibrasi diduga adanya pengumplan cairan/udara. Rasa tak enak. perbaikan ventilasi dan oksigen jaringan edukuat. Sering lakukan perawatan oral. meningkatkan masukan. bau menurunkan nafsu makan dan dapat menyebabkan mual/muntah dengan peningkatan kesulitan nafas. masukan makanan saat ini.mukosa. Diagnosa 3 : Kerusakan pertukaran gas b/d gangguan suplai oksigen (spasme bronkus) Hasil yang diharapkan . Sianosis mungkin perifer atau sentral keabu-abuan dan sianosis sentral mengindikasi kan beratnya hipoksemia. 8 ©2003 Digitized by USU digital library Diagnosa 2: Malnutrisi b/d anoreksia Hasil yang diharapkan : menunjukkan peningkatan berat badan menuju tujuan yang tepat. Kolaborasi Berikan oksigen tambahan selama makan sesuai indikasi. Catat derajat kerusakan makanan. Menurunkan dipsnea dan meningkatkan energi untuk makan. disritmia. Tachicardi. Pasien distress pernafasan akut sering anoreksia karena dipsnea.

INTERVENSI RASIONALISASI Jelaskan tentang penyakit individu Diskusikan obat pernafasan. Dapat memperbaiki atau mencegah memburuknya hipoksia. Tunjukkan tehnik penggunaan inhakler. Penting bagi pasien memahami perbedaan antara efek samping mengganggu dan merugikan.Perubahan ola hidup untuk meningkatkan lingkungan yang nyaman. Hasil yang diharapkan : menyatakan pemahaman kondisi/proses penyakit dan tindakan. Malnutrisi dapat mempengaruhi kesehatan umum dan menurunkan tahanan terhadap infeksi untuk mengidentifikasi organisme penyabab dan kerentanan terhadap berbagai anti microbial Diagnosa 5: Kurang pengetahuan b/d kurang informasi . Hasil yang diharapkan : . Demam dapat terjadi karena infeksi dan atau dehidrasi. 9 ©2003 Digitized by USU digital library Diognasa 4: Risiko tinggi terhadap infeksi b/d tidak adekuat imunitas. Pemberian obat yang tepat . Diskusikan kebutuhan nutrisi adekuat Kolaborasi Dapatkan specimen sputum dengan batuk atau pengisapan untuk pewarnaan gram. . efek samping dan reaksi yang tidak diinginkan.dapat menunjukan efek hipoksemia sistemik pada fungsi jantung. INTERVENSI RASIONALISASI Mandiri Awasi suhu.salah mengerti.kultur/sensitifitas.mengidentifikasikan intervensi untuk mencegah atau menurunkan resiko infeksi. Menurunkan ansietas dan dapat menimbulkan perbaikan partisipasi pada rencana pengobatan.

(1995) “Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit”. F. Blacwell Scientific Publication. A. Price. G. Reeves. Volume 1. Maret 11. J. H. Buku Satu. R. K. & Geissler. Sundaru. (1996) “Ilmu Penyakit Paru”. E.STIKES-MUHAMMADIYAHPEKAJANGAN MARI KITA MAJUKAN KEPERAWATAN INDONESIA JANGAN ENGKAU DIAM JANGAN ENGKAU TERLENA PROFESI KITA SANGAT MEMBUTUHKAN PERAN SERTA DAN KARYA KITA Selasa. (1999) “Keperawatan Medikal Bedah”. 2008 askep bronkhitis BRONCHITIS By. Doenges. Rab. Apa dan Bagaimana Pengobatannya”. (1995) “Asma . Hudak & Gallo (1997) “Keperawatan Kritis Pendekatan Holistik”. Jakarta : FK UI. Philadelpia : Lea & Febiger. (1998) “Agenda Gawat Darurat”. (1997) “Penanganan Asma dalam Penyakit Primer”. Brunner & Suddart (2002) “Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah”. Roux. (1995) “Pulmonary Disease”. Guyton & Hall (1997) “Buku Ajar Fisiologi Kedokteran”. Jakarta : EGC. Moorhouse. Jakarta : Salemba Medika. Crockett. dikutip dari Ilmu Penyakit Dalam. M. A. Jakarta : EGC. Staff Pengajar FK UI (1997) “Ilmu Kesehatan Anak”.meningkatkan keefektifanya. M. (1980) “Diagnosis and Management of Respiratory Disease”. Jakarta : Info Medika.. Rab. Jakarta : Hipocrates. Pullen. Jakarta : Hipokrates. T. (2000) “Rencana Asuhan Keperawatan”. Jakarta : EGC. C. (1990) “Asma Bronchiale”. 10 ©2003 Digitized by USU digital library DAFTAR PUSTAKA Baratawidjaja. L. Jakarta : EGC.. C. Crompton. T. Dafid Arifiyanto . DAFID. Jakarta : Hipokrates. G & Lockhart. Jakarta : AGC. M. R. S & Wilson. Jakarta : FK UI. L.

Kekerapan setinggi itu ternyata mengalami penurunan yang berarti dengan pengobatan memakai antibiotik.PENDAHULUAN Bronchitis adalah suatu penyakit yang ditandai adanya dilatasi ( ektasis ) bronkus lokal yang bersifat patologis dan berjalan kronik. ETIOLOGI Penyebab bronchitis sampai sekarang masih belum diketahui dengan jelas. Bronkus yang terkena umumnya bronkus kecil (medium size ). kifoskoliasis konginetal. Kelainan didapat Kelaianan didapat merupakan akibat proses berikut : Infeksi Bronchitis sering terjadi sesudah seseorang menderita pneumonia yang sering kambuh dan berlangsung lama. bronkiektasis pada anak kembar satu telur ( anak yang satu dengan bronkiektasis. Factor genetic atau factor pertumbuhan dan factor perkembangan fetus memegang peran penting. pneumonia ini merupakan komplikasi pertusis maupun influenza yang diderita semasa anak. sinusitis paranasal dan situs inversus ). hipo atau agamaglobalinemia. Di Inggris dan Amerika penyakit paru kronik merupakan salah satu penyebab kematian dan ketidak mampuan pasien untuk bekerja. Bronchitis konginetal sering menyertai penyakit-penyakit konginetal lainya. kekerapan bronchitis diperkirakan sebanyak 1. misalnya : mucoviscidosis ( cystic pulmonary fibrosis ). karsinoma bronkus atau tekanan dari luar terhadap bronkus PERUBAHAN PATOLOGIS ANATOMIK . penyakit jantung bawaan. bronkiektasis sering bersamaan dengan kelainan congenital berikut : tidak adanya tulang rawan bronkus. Penyakit ini dapat diderita mulai dari anak bahkan dapat merupakan kelainan congenital. sindrom kartagener ( bronkiektasis konginetal. Perubahan bronkus tersebut disebabkan oleh perubahan-perubahan dalam dinding bronkus berupa destruksi elemen-elemen elastis dan otot-otot polos bronkus. Dinegara barat. Kelainan congenital Dalam hal ini bronchitis terjadi sejak dalam kandungan.3% diantara populasi. Di Indonesia belum ada laporan tentang anka-angka yang pasti mengenai penyakit ini. dalam keadaan lanjut penyakit ini sering menyebabkan obstruksi saluran nafas yang menetap yang dinamakan cronik obstructive pulmonary disease ( COPD ). Kenyataannya penyakit ini sering ditemukan di klinik-klinik dan diderita oleh laki-laki dan wanita. tuberculosis paru dan sebagainya. Obstruksi bronkus Obstruksi bronkus yang dimaksud disini dapat disebabkan oleh berbagai macam sebab : korpus alineum. sedangkan bronkus besar jarang terjadi. Pada kenyataannya kasus-kasus bronchitis dapat timbul secara congenital maupun didapat. ternyata saudara kembarnya juga menderita bronkiektasis ). Bronchitis yang timbul congenital ini mempunyai ciri sebagai berikut : Bronchitis mengenai hampir seluruh cabang bronkus pada satu atau kedua paru. Bronchitis kronis dan emfisema paru sering terdapat bersama-sama pada seorang pasien.

bronkus yang terkena dapat hanya satu segmen paru saja maupun difus mengenai bronki kedua paru. Bentuk antara bentuk tabung dan kantong (Pseudobronchitis) Pada bentuk ini terdapat pelebaran bronkus yang bersifat sementara dan bentuknya silindris. 3. 2. silia pada sel epitel menghilang. terjadi perubahan metaplasia skuamosa. PATOGENESIS Apabila bronchitis kongenital patogenesisnya tidak diketahui diduga erat hubungannya dengan genetic serta factor pertumbuhan dan perkembangan fetus dalam kandungan. Pada bronchitis yang didapat patogenesisnya diduga melelui beberapa mekanisme : factor obstruksi bronkus. Keluhankeluhan yang timbul juga berlangsung kronik dan menetap . pada bagian distal obstruksi dan terjadi infeksi juga destruksi bronkus. Infeksi pada bronkus atau paru akan diikuti proses destruksi dinding bronkus daerah infeksi dan kemudian timbul bronchitis. Perubahan morfologis bronkus yang terkena Dinding bronkus Dinding bronkus yang terkena dapat mengalami perubahan berupa proses inflamasi yang sifatnya destruktif dan irreversibel. Bentuk ini merupakan komplikasi dari pneumonia. kemudian timbul bronchitis. Apabila terjadi eksaserbasi infeksi akut. bagian lingual paru kiri lobus atas. Bronkus yang terkena Bronkus yang terkena umumnya yang berukuran sedang. Variasi kelainan anatomis bronchialis Telah dikenal 3 variasi bentuk kelainan anatomis bronchitis. Jaringan bronkus yang mengalami kerusakan selain otot-otot polos bronkus juga elemen-elemen elastis. Mukosa bronkus Mukosa bronkus permukaannya menjadi abnormal. fibrosis paru. dan factor intrinsik dalam bronkus atau paru. Bentuk ini berbentuk kista. Bronchitis merupakan penyakit paru yang mengenai paru dan sifatnya kronik.Terdapat berbagai macam variasi bronchitis. jaringan paru distal akan diganti jaringan fibrotik dengan kistakista berisi nanah.. pada mukosa akan terjadi pengelupasan. Bentuk kantong Ditandai dengan adanya dilatasi dan penyempitan bronkus yang bersifat irregular. Bentuk tabung Bentuk ini sering ditemukan pada bronchitis yang menyertai bronchitis kronik. baik mengenai jumlah atau luasnya bronkus yang terkena maupun beratnya penyakit : Tempat predisposisi bronchitis Bagian paru yang sering terkena dan merupakan predisposisi bronchitis adalah lobus tengah paru kanan. Patogenesis pada kebanyakan bronchitis yang didapat melalui dua mekanisme dasar : 1. 2. Infeksi bacterial pada bronkus atau paru. yaitu : 1. keluhan-keluhan yang timbul . Obstruksi bronkus akan diikuti terbentuknya bronchitis. segmen basal pada lobus bawah kedua paru. factor infeksi pada bronkus atau paru-paru. ulserasi. Jaringan paru peribronchiale Pada keadaan yang hebat.

puruen. haemophilus influenza. lokasi bronkus yang terkena.erat dengan : luas atau banyaknya bronkus yang terkena. akan menimbulkan sputum sangat berbau. 1. Infeksi yang mendahului bronchitis adalah infeksi bacterial yaitu mikroorgansme penyebab pneumonia. Bronchitis yang mengenai bronkus pada lobis atas sering dan memberikan gejala : Keluhan-keluhan Batuk Batuk pada bronchitis mempunyai ciri antara lain batuk produktif berlangsung kronik dan frekuensi mirip seperti pada bronchitis kronis. misalnya pada saccular type bronchitis. Infeksi sekunder Tiap pasien bronchitis tidak selalu disertai infeksi sekunder pada lesi. lokasi kelainannya. dan apabila ditampung beberapa lama. sedangkan infeksi virus tidak dapat ( misalnya adenovirus tipe 21. anaerobic streptococci. Apabila terjadi infeksi sekunder oleh kuman anaerob. sedang apabila terjadi infeksi sekunder sputumnya purulen. Dikatakan bahwa hanya infeksi bakteri saja yang dapat menyebabkan kerusakan pada dinding bronkus sehingga terjadi bronchitis. Gejala dan tanda klinis dapat demikian hebat pada penyakit yang berat. Mengenai infeksi dan hubungannya dengan patogenesis bronchitis. ada atau tidaknya komplikasi lanjut. dan sebagainnya ). campak. Kuman yang erring ditemukan dan menginfeksi bronkus misalnya : streptococcus pneumonie. akibat komplikasi. tampak terpisah menjadi 3 bagian Lapisan teratas agak keruh Lapisan tengah jernih. terdiri atas saliva ( ludah ) Lapisan terbawah keruh terdiri atas nanah dan jaringan nekrosis dari bronkus yang rusak ( celluler debris ). dan ada tidaknya komplikasi lanjut. keluhan-keluhan yang timbul umumnya sebagai akibat adanya beberapa hal : adanya kerusakan dinding bronkus. tingkatan beratnya penyakit. dan dapat tidak nyata atau tanpa gejala pada penyakit yang ringan. dapat memberikan bau yang tidak sedap. klebsiella ozaena. 2. adanya haemaptoe dan pneumonia berulang. Masih menjadi pertanyaan apakah infeksi yang mendahului terjadinya bronchitis tersebut disebabkan oleh bakteri atau virus. adanya kerusakan fungsi bronkus. Kalau tidak ada infeksi skunder sputumnya mukoid. .. GAMBARAN KLINIS Gejala dan tanda klinis yang timbul pada pasien bronchitis tergantung pada luas dan beratnya penyakit. treponema vincenti. Ciri khas pada penyakit ini adalah adanya batuk kronik disertai produksi sputum. Infeksi pertama ( primer ) Kecuali pada bentuk bronchitis kongenital. apabila sputum pasien yang semula berwarna putih jernih kemudian berubah warnanya menjadi kuning atau kehijauan atau berbau busuk berarti telah terjadi infeksi sekunder oleh kuman anaerob misalnya : fusifomis fusiformis. jumlah seputum bervariasi. data dijelaskan sebagai berikut . sputum jumlahnya banyak sekali. virus influenza. umumnya jumlahnya banyak terutama pada pagi hari sesudah ada perubahan posisi tidur atau bangun dari tidur. pada kasus yang sudah berat.

Kelainan ini merupakan klasifikasi kelenjar limfe yang biasanya merupakan gejala sisa komleks primer tuberculosis paru primer. Demam berulang Bronchitis merupakan penyakit yang berjalan kronik. Timbul dan beratnya sesak nafas tergantung pada seberapa luasnya bronchitis kronik yang terjadi dan seberapa jauh timbulnya kolap paru dan destruksi jaringan paru yang terjadi sebagai akibat infeksi berulang ( ISPA ). left-sided liver. kelainan ini terjadi akibat nekrosis atau destruksi mukosa bronkus mengenai pembuluh darah ( pecah ) dan timbul perdarahan. Sinusitis paranasal atau tidak terdapatnya sinus frontalis. jari tubuh. sering mengalami infeksi berulang pada bronkus maupun pada paru. sputum tidak pernah menumpuk dan kurang menimbulkan reflek batuk. Perdarahan yang timbul bervariasi mulai dari yang paling ringan ( streaks of blood ) sampai perdarahan yang cukup banyak ( massif ) yaitu apabila nekrosis yang mengenai mukosa amat hebat atau terjadi nekrosis yang mengenai cabang arteri broncialis ( daerah berasal dari peredaran darah sistemik ) Pada dry bronchitis ( bronchitis kering ). Kelainan ini bukan merupakan tanda . Sindrom kartagenr. pasien tanpa batuk atau batukya minimal. left sided gall bladder. Kadang ditemukan juga suara mengi ( wheezing ). yang biasanya menimbulkan fibrosis paru dan emfisema yang menimbulkan sesak nafas. Wheezing sering ditemukan apa bila terjadi obstruksi bronkus. sering disertai dengan silia bronkus imotil Situs inversus pembalikan letak organ-organ dalam dalam hal ini terjadi dekstrokardia. Wheezing dapat local atau tersebar tergantung pada distribusi kelainannya. Bagaimana asosiasi tentang keberadaanya yang demikian ini belum diketahui dengan jelas. Bila terjadi komplikasi pneumonia akan ditemukan kelainan fisis sesuai dengan pneumonia. Sesak nafas ( dispnue ) Pada sebagian besar pasien ( 50 % kasus ) ditemukan keluhan sesak nafas.. drainasenya baik. Ditemukan ronchi basah yang jelas pada lobus bawah paru yang terkena dan keadaannya menetap dari waku kewaktu atau ronci basah ini hilang sesudah pasien mengalami drainase postural atau timbul lagi diwaktu yang lain.Haemaptoe Hemaptoe terjadi pada 50 % kasus bronchitis. Apabila bagian paru yang diserang amat luas serta kerusakannya hebat. Pada kasus yang berat dan lebih lanjut dapat ditemukan tandatanda korpulmonal kronik maupun payah jantung kanan. Semua elemen gejala sindrom kartagener ini adalah keleinan congenital. sehingga sering timbul demam (demam berulang) Kelainan fisis Tanda-tanda umum yang ditemukan meliputi sianosis. dapat menimbulkan kelainan berikut : terjadi retraksi dinding dada dan berkurangnya gerakan dada daerah yang terkena serta dapat terjadi penggeseran medistenum kedaerah paru yang terkena. haemaptoe justru gejala satu-satunya karena bronchitis jenis ini letaknya dilobus atas paru. Pada tuberculosis paru. Bronchitis. right-sided spleen. akibat adanya obstruksi bronkus. Sindrom ini terdiri atas gejala-gejala berikut : Bronchitis congenital. manifestasi klinis komplikasi bronchitis. bronchitis ( sekunder ) ini merupakan penyebab utama komplikasi haemaptoe.

klinis bronchitis. adanya haemaptoe. Kelainan faal paru Pada penyakit yang lanjut dan difus. kelainan ini sering menimbulkan erosi bronkus didekatnya dan dapat masuk kedalam bronkus menimbulkan sumbatan dan infeksi. infeksi mata . multiple cysts containing fluid levels. Urin umumnya normal kecuali bila sudah ada komplikasi amiloidosis akan ditemukan proteiuria. ada haemaptoe ringan. Kelainan radiologist Gambaran foto dada ( plain film ) yang khas menunjukan adanya kista-kista kecil dengan fluid level. Tingkatan beratnya penyakit Bronchitis ringan Ciri klinis : batuk-batuk dan sputum warna hijau hanya terjadi sesudah demam. Seing ditemukan anemia. Gambaran bronchitis akan jelas pada bronkogram. Pada keadaan lanjut dan mulai sudah ada insufisiensi paru dapat ditemukan polisitemia sekunder. pasien mudah timbul pneumonia. berwarna kotor dan berbau. (umumnya warna hijau dan jarang mukoid. Erosi dinding bronkus oleh bronkolit tadi dapat mengenai pembuluh darah dan dapat merupakan penyebab timbulnya hemaptoe hebat. yang menunjukan adanya infeksi kronik. mirip seperti gambaran sarang tawon pada daerah yang terkena. sianosis atau tanda kegagalan paru. gambaran foto dada masih terlihat normal. Dapat terjadi perubahan gas darah berupa penurunan PaO2 ini menunjukan abnormalitas regional ( maupun difus ) distribusi ventilasi. Pemeriksaan kultur sputum dan uji sensivitas terhadap antibiotic. terdapat tendensi penurunan. Bila penyakitnya ringan gambaran darahnya normal. karena terjadinya obstruksi airan udara pernafasan. sering ditemukan infeksi piogenik pada kulit. ditemukan juga bercak-bercak pneumonia. fibrosis atau kolaps. septikemi. yang berpengaruh pada perfusi paru. selanjutnya terjadilah bronchitis. umumnya pasien masih Nampak sehat dan fungsi paru normal. . Bronchitis berat Ciri klinis : batuk produktif dengan sputum banyak. Sering ditemukannya pneumonia dengan haemaptoe dan nyeri pleura. abses metastasis. dan bau mulut meyengat). Kelainan laboratorium. atau ditemukan leukositosis yang menunjukan adanya infeksi supuratif. perlu dilakukan bila ada kecurigaan adanya infeksi sekunder. Pada gambaran foto dada ditemukan kelianan : bronkovascular marking. Dan pada pemeriksaan fisis ditemukan ronchi basah kasar pada daerah yang terkena. Bronchitis sedang Ciri klinis : batuk produktif terjadi setiap saat. sputum timbul setiap saat. Pada pemeriksaan paru sering ditemukannya ronchi basah kasar pada daerah paru yag terkena. foto dada normal. Umumnya pasien mempunyai keadaan umum kurang baik. pasien tampak sehat dan fungsi paru norma. amiloidosis. Bila ada obstruksi nafas akan ditemukan adanya dispnea. kapasitas vital ( KV ) dan kecepatan aliran udara ekspirasi satu detik pertama ( FEV1 ).

meliputi: Anamnesis Pemeriksaan fisis Pemeriksaan penunjang DIAGNOSIS BANDING Beberapa penyakit yang perlu diingat atau dipertimbangkan kalau kita berhadapan dengan pasien bronchitis : · Bronchitis kronis ( ingatlah definisi klinis bronchitis kronis ) · Tuberculosis paru ( penyakit ini dapat disertai kelainan anatomis paru berupa bronchitis ) · Abses paru ( terutama bila telah ada hubungan dengan bronkus besar ) · Penyakit paru penyebab hemaptomisis misalnya karsinoma paru. selanjutnya terjadi hipoksemia. cabang arteri ( arteri bronchialis ) atau anastomisis pembuluh darah. Kor pulmonal kronik pada kasus ini bila terjadi anastomisis cabang-cabang arteri dan vena pulmonalis pada dinding bronkus akan terjadi arterio-venous shunt. Bronchitis kronik 2. Efusi pleura atau empisema 5. adenoma paru ) · Fistula bronkopleural dengan empisema KOMPLIKASI Ada beberapa komplikasi bronchitis yang dapat dijumpai pada pasien. Selanjutnya akan terjadi gagal jantung kanan. Pleuritis. terjadi gangguan oksigenasi darah. karena terikat adanya indikasi. Haemaptoe terjadi kerena pecahnya pembuluh darah cabang vena ( arteri pulmonalis ) . penegakan diagnosis bronchitis dapat ditempuh melewati proses diagnostik yang lazim dikerjakan dibidang kedokteran. 7. akibat septikemi oleh kuman penyebab infeksi supuratif pada bronkus. Pada keadaan lanjut akan terjadi hipertensi pulmonal. Pneumonia dengan atau tanpa atelektaksis. bronchitis sering mengalami infeksi berulang biasanya sekunder terhadap infeksi pada saluran nafas bagian atas. kontraindikasi. Sinusitis merupakan bagian dari komplikasi bronchitis pada saluran nafas 8. timbul sianosis sentral. Komplikasi haemaptoe hebat dan tidak terkendali merupakan tindakan beah gawat darurat. Komplikasi ini dapat timbul bersama dengan timbulnya pneumonia. Umumnya pleuritis sicca pada daerah yang terkena. 4. Bronkografi tidak selalu dapat dikerjakan pada tiap pasien bronchitis. antara lain : 1. Hal ini sering terjadi pada mereka drainase sputumnya kurang baik. Sering menjadi penyebab kematian 6. Oleh karena pasien bronchitis umumnya memberikan gambaran klinis yang dapat dkenal. Kegagalan pernafasan merupakan komlikasi paling akhir pada bronchitis yang berat da luas ..DIAGNOSIS Diagnosis pasti bronchitis dapat ditegakan apabila telah ditemukan adanya dilatasi dan nekrosis dinding bronkus dengan prosedur pemeriksaan bronkografi dan melihat bronkogram yang didapat. syarat-syarat kaan elakukannya. Abses metastasis diotak. 3. 9. kor pulmoner kronik.

Amiloidosis keadaan ini merupakan perubahan degeneratif.10. apabila telah ada infeksi perlu adanya antibiotic yang sesuai agar infeksi tidak berkelanjutan. Memperbaiki drainase secret bronkus. tiap hari dilakukan 2 sampai 4 kali. mengguanakan obat-obat mukolitik dan sebagainya. Posisi tubuh saat dilakukan drainase postural harus disesuaikan dengan letak kelainan bronchitisnya. meliputi : Menciptakan lingkungan yang baik dan tepat untuk pasien : Contoh : Membuat ruangan hangat. Pada pasien yang mengalami komplikasi ini dapat ditemukan pembesaran hati dan limpa serta proteinurea. misalnya inhalasi uap air panas. PENATALAKSANAAN Pengelolaan pasien bronchitis terdiri atas dua kelompok : Pengobatan konservatif. Mencairkan sputum yang kental Dapat dilakukan dengan jalan. Tiap kali melakukan drainase postural dilakukan selama 10 – 20 menit.asap dan sebagainya. antibiotic diberikan selama 7-10 hari dengan therapy tunggal atau dengan beberapa . Walaupun kemotherapi jelas kegunaannya pada pengelolaan bronchitis. sebagai komplikasi klasik dan jarang terjadi. Antibiotik diberikan jika terdapat aksaserbasi infeki akut. Kemotherapi pada bronchitis Kemotherapi dapat digunakan : secara continue untuk mengontrol infeksi bronkus ( ISPA ) untuk pengobatan aksaserbasi infeksi akut pada bronkus/paru atau kedua-duanya digunakan Kemotherapi menggunakan obat-obat antibiotic terpilih. Adanya infeksi saluran nafas akut ( ISPA ) harus diperkecil dengan jalan mencegah penyebaran kuman. dan dapat dibantu dengan tindakan memberikan ketukan pada pada punggung pasien dengan punggung jari. 2. pemkaian antibiotic antibiotic sebaikya harus berdasarkan hasil uji sensivitas kuman terhadap antibiotic secara empiric. Pengelolaan umum Pengelolaan umum ditujukan untuk semua pasien bronchitis. Mengontrol infeksi saluran nafas. terdiri atas : 1. Mencegah / menghentikan rokok Mencegah / menghindari debu. Pengelolaan khusus. Mengatur posisi tepat tidur pasien Sehingga diperoleh posisi pasien yang sesuai untuk memudahkan drainase sputum. Prinsip drainase postural ini adalah usaha mengeluarkan sputum ( secret bronkus ) dengan bantuan gaya gravitasi. tidak pada setiap pasien harus diberikan antibiotic. cara yang baik untuk dikerjakan adalah sebagai berikut : Melakukan drainase postural Pasien dilelatakan dengan posisi tubuh sedemikian rupa sehingga dapat dicapai drainase sputum secara maksimum. udara ruangan kering.

Pengobatan obstruksi bronkus Apabila ditemukan tanda obstruksi bronkus yang diketahui dari hasil uji faal paru (%FEV 1 < 70% ) dapat diberikan obat bronkodilator. sampai terjadi konversi warna sputum yang semula berwarna kuning/hijau menjadi mukoid ( putih jernih ). Syarat-ayarat operasi. Pasien dengan haemaptoe massif seperti ini mutlak perlu tindakan operasi. Pada pasien yang mengalami eksaserbasi inhalasi akut sering terdapat demam. Kemotherapi dengan antibiotic ini apabila berhasil akan dapat mengurangi gejala batuk. Kontra indikasi Pasien bronchitis dengan COPD Pasien bronchitis berat Pasien bronchitis dengan koplikasi kor pulmonal kronik dekompensasi. Indikasi pembedahan : Pasien bronchitis yang yang terbatas dan resektabel. Tindakan yang perlu segera dilakukan adalah upaya menghentikan perdarahan. Keperluannya antara lain : Menentukan dari mana asal secret Mengidentifikasi lokasi stenosis atau obstruksi bronkus Menghilangkan obstruksi bronkus dengan suction drainage daerah obstruksi. Drainase secret dengan bronkoskop Cara ini penting dikerjakan terutama pada saat permulaan perawatan pasien. Cara operasi. Pada kasus ini selain diberikan antibiotic perlu juga diberikan obat antipiretik. lebih-lebih kalau terjadi septikemi. Pengobatan pembedahan Tujuan pembedahan : mengangkat ( reseksi ) segmen/ lobus paru yang terkena. Pada pasien yang mengalami hipoksia perlu diberikan oksigen. yang tidak berespon yang tidak berespon terhadap tindakan-tindakan konservatif yang adekuat. Kelainan ( bronchitis ) harus terbatas dan resektabel Daerah paru yang terkena telah mengalami perubahan ireversibel Bagian paru yang lain harus masih baik misalnya tidak ada bronchitis atau bronchitis kronik. Pengobatan simtomatik Pengobatan ini diberikan jika timbul simtom yang mungkin mengganggu atau mebahayakan pasien. jumlah sputum dan gejala lainnya terutama pada saat terjadi aksaserbasi infeksi akut. Pengobatan haemaptoe. tetapi keadaan ini hanya bersifat sementara. Pengobatan demam. Pasien perlu dipertimbangkan untuk operasi Pasien bronchitis yang terbatas tetapi sering mengaami infeksi berulang atau haemaptoe dari daerakh tersebut. . Pengobatan hipoksia. Dari berbagai penelitian pemberian obat-obatan hemostatik dilaporkan hasilnya memuaskan walau sulit diketahui mekanisme kerja obat tersebut untuk menghentikan perdarahan.antibiotic.

misalnya terjadi haemaptoe masif ( perdarahan arterial ) yang memenuhi syarat-syarat dan tidak terdapat kontra indikasi operasi. kecuali dalam bentuk congenital tidak dapat dicegah. Persiapan operasi : Pemeriksaan faal paru : pemeriksaan spirometri. haemaptoe dan lainnya. cyanosis pada ekstremitas . Asuhan keperawatan Data Fokus Anamnesa :è Faktor Predisposisi Aktifitas Gaya hidup Keadaan lingkungan Aspirasi Penyakit pernapasan lain Pemeriksaan Fisik : fokus dada Inspeksi :è Irama. empiema. Operasi paliatif : ditujukan pada pasien bronchitis yang mengalami keadaan gawat darurat paru. PROGNOSIS Prognosis pasien bronchitis tergantung pada berat ringannya serta luasnya penyakit waktu pasien berobat pertama kali. Umumnya operasi berhasil baik apabila syarat dan persiapan operasinya baik. Pemilihan pengobatan secara tepat ( konservatif atau pembedahan ) dapat memperbaiki prognosis penyakit. Menurut beberapa literature untuk mencegah terjadinya bronchitis ada beberapa cara : Pengobatan dengan antibiotic atau cara-cara lain secara tepat terhadap semua bentuk pneumonia yang timbul pada anak akan dapat mencegah ( mengurangi ) timbulnya bronchitis Tindakan vaksinasi terhadap pertusis ( influenza. survivalnya tidak akan lebih dari 5-10 tahun. Kematian pasien karena pneumonia. kedalaman. prognosisnya jelek.analisis gas darah. payah jantung kanan. pemeriksaan broncospirometri ( uji fungsi paru regional ) Scanning dan USG Meneliti ada atau tidaknya kontra indikasi operasi pada pasien Memperbaiki keadaan umum pasien PENCEGAHAN Timbulnya bronchitis sebenarnya dapat dicegah. Pada kasus-kasus yang berat dan tidak diobati. yang gagal dalam pengobatan konservatif dipersiapkan secara baik utuk operasi.Operasi elektif : pasien-pasien yang memenuhi indikasi dan tidak terdaat kontra indikasi. frekuensi pernapasan Kesimetrisan dinding dada saat bernapas Penggunaan otot bantu pernapasan Cuping hidung. pneumonia ) pada anak dapat pula diartikan sebagai tindakan preventif terhadap timbulnya bronchitis.

dulness Masalah keperawatan 1.s1 slankers 30 Oktober.Stikes-Muhammadiyah-Pekajangan di 21:06 1 komentar: Anonim mengatakan. vokal fremitus Perkusi : è Resonance.com .blogspot youtube.by. Intoleransi aktifitas Tujuan : Klien menunjukan peningkatan aktifitas da kekuatan fisik Rencana keperawatan : Monitor toleransi klien terhadap aktifitas Jelaskan penyebab penurunan aktifitas Berikan/pegaturan waktu untuk istirahat yang baik Ajarkan manejemen tenaga pada klien Kolaborasi : oksigenasi.he... Ketidak efektifan bersihan jalan napas Tujuan : Jalan Napas Efektif Rencana Keperawatan : Kaji Kemampuan klien mengeluarkan sputum Kaji suara pernapasan (paru) Ajarkan teknik batuk efektif Laksanakan fisioterapi dada dan inhalasi manual Kolaborasi : ekspektoran.. antibiotik 2. fotonya itu lho Pd banget he.Palpasi : è Kesimetrisan dinding dada Taktil fremitus Letak trakhea Auskultasi è Ronkhi... Diposkan oleh Dafid. 2008 06:19 Poskan Komentar Posting Lebih Baru Posting Lama Halaman Muka Langgan: Poskan Komentar (Atom) Web Tautan • • indah nursing..

love Reina my. love Nayla Berenang Di Laut .my.

Dengarkan Suara Alam Info keperawatan ini apakah membantu tugas anda Arsip Blog • ► 2009 (3) o ► Juli (3)  Metabolisme protein  Metabolisme Lemak  Metabolisme Karbohidrat ▼ 2008 (27) o ► November (1)  Askep Bronkhitis o ► Mei (1)  Self Concept o ▼ Maret (12)  Gangguan Miksi  Askep Stroke Non Hemoragic  Askep Hipertensi  Askep Aids  Konsep Diri  Konsep Berubah  askep bronkhitis  Infeksi Saluran Kencing  Askep Urolithiasis  Askep Klien BPH  Askep Trauma Saluran Kemih  Air Susu Ibu Vs Susu Bayi Sapi o ► Februari (13) • .

2 Keperawatan (4 org) Dosen d IV atau S.Stikes-Muhammadiyah-Pekajangan Info Lowongan Kerja Dibutuhkan Dosen S.             Kelainan Jantung : VSD Oksigenasi Osteomyelitis Askep Limfadenopaty Askep Fraktur GBPP STIKES Konsep manusia dan kebutuhan dasar Komunikasi Umum Konsep dasar keperawatan I Askep Hernia sehat-sakit Range Of Motion NERS PEKAJANGAN About me Dafid.1 Kebidanan (4 org) Lihat profil lengkapku DANO TOBA ANAK BOSS DARI DUSUN « ASKEP DHF ASKEP PNEUMONIA LAPORAN PENDAHULUAN PNEUMONIA 1. DEFINISI Pneumonia adalah suatu peradangan atau inflamasi pada parenkim paru yang umumnya disebabkan oleh agent infeksi .

• Nyeri dada yang ditusuk-tusuk yang dicetuskan oleh bernafas dan batuk. Ada beberapa mekanisma yang pada keadaan normal melindungi paru dari infeksi. partikel tersebut akan berhadapan dengan makrofag alveoler.2 Setelah mencapai parenkim paru. Bakteri ini dapat merupakan organisme yang pada keadaan normal berkolonisasi di saluran napas atas atau bakteri yang ditransmisikan dari satu orang ke orang lain melalui penyebaran droplet di udara. Pada anak tanpa faktor-faktor predisposisi tersebut. MANIFESTASI KLINIK • Secara khas diawali dengan awitan menggigil. eneterobacter 2. rubella. dan humoral. deposit fibrin. Jamur: candida albicans 5. Micoplasma pneumonia 4. virus Epstein-Barr. streplokokus. Partikel infeksius difiltrasi di hidung. aeruginosa. virus herpes simpleks ) dapat terjadi melalui penyebaran hematogen baik dari sumber terlokalisir atau bakteremia/viremia generalisata. Cairan eksudatif di alveoli menyebabkan konsolidasi lobaris yang khas pada foto toraks. dan juga dengan mekanisme imun sistemik.5 ºC). seperti yang terjadi pada bronkiolitis. Ini paling sering terjadi akibat virus pada saluran napas bagian atas.2. demam yang timbul dengan cepat (39. campak. mikoplasma. Virus. PATOFISIOLOGI Sebagian besar pneumonia didapat melalui aspirasi partikel infektif. kerusakan yang disebabkan virus terhadap mekanisme pertahan yang normal dapat menyebabkan bakteri patogen menginfeksi saluran napas bagian bawah. Bila suatu partikel dapat mencapai paru-paru. Bakteri: stapilokokus. partikel infeksius dapat mencapai paru melalui perubahan pada pertahanan anatomis dan fisiologis yang normal. bakteri menyebabkan respons inflamasi akut yang meliputi eksudasi cairan. Aspirasi: lambung 3. atau terperangkap dan dibersihkan oleh mukus dan epitel bersilia di saluran napas. Hal ini menyebabkan lepasnya sel-sel epitel ke dalam saluran napas. Virus tersebut dapat menyebar ke saluran napas bagian bawah dan menyebabkan pneumonia virus. dan klamidia menyebabkan inflamasi dengan dominasi infiltrat mononuklear pada struktur submukosa dan interstisial.5 ºC sampai 40. Virus: virus influenza.2 Kemungkinan lain. ETIOLOGI Pneumonia dapat disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti: 1. CMV. . atau kelainan neurologis yang memudahkan anak mengalami aspirasi dan perubahan kualitas sekresi mukus atau epitel saluran napas. Bayi pada bulan-bulan pertama kehidupan juga memiliki antibodi maternal yang didapat secara pasif yang dapat melindunginya dari pneumokokus dan organismeorganisme infeksius lainnya. Kadang-kadang pneumonia bakterialis dan virus ( contoh: varisella. Perubahan pada mekanisme protektif ini dapat menyebabkan anak mudah mengalami pneumonia misalnya pada kelainan anatomis kongenital.2 4. adenovirus 3. dan infiltrasi leukosit polimorfonuklear di alveoli yang diikuti infitrasi makrofag. defisiensi imun didapat atau kongenital.

Pemeriksaan serologi: membantu dalam membedakan diagnosis organisme khusus. sputum dan darah: untuk dapat mengidentifikasi semua organisme yang ada. Pemeriksaan fungsi paru: untuk mengetahui paru-paru.• Takipnea (25 – 45 kali/menit) disertai dengan pernafasan mendengur. • Bila terjadi gagal nafas. PENGKAJIAN Data dasar pengkajian pasien: • Aktivitas/istirahat Gejala : kelemahan. dapat juga menyatakan abses) 2. PENATALAKSANAAN Pengobatan diberikan berdasarkan etiologi dan uji resistensi tapi karena hal itu perlu waktu dan pasien pneumonia diberikan terapi secepatnya: • Penicillin G: untuk infeksi pneumonia staphylococcus. • Menganjurkan untuk tirah baring sampai infeksi menunjukkan tanda-tanda • Pemberian oksigen jika terjadi hipoksemia. diberikan nutrisi dengan kalori yang cukup. Pemeriksaan gram/kultur. 5. Sinar X: mengidentifikasikan distribusi struktural (misal: lobar. tetrasiklin. 8. Biopsi paru: untuk menetapkan diagnosis 6. pernafasan cuping hidung. kelelahan. derivat tetrasiklin: untuk infeksi pneumonia mikroplasma. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. 4. KOMPLIKASI • Efusi pleura • Hipoksemia • Pneumonia kronik • Bronkaltasis • Atelektasis (pengembangan paru yang tidak sempurna/bagian paru-paru yang diserang tidak mengandung udara dan kolaps). bronchial). menetapkan luas berat penyakit dan membantu diagnosis keadaan. Bronkostopi: untuk menetapkan diagnosis dan mengangkat benda asing 7. 3. • Amantadine. Spirometrik static: untuk mengkaji jumlah udara yang diaspirasi 7. penurunan toleransi terhadap aktivitas. • Nadi cepat dan bersambung • Bibir dan kuku sianosis • Sesak nafas 5. • Komplikasi sistemik (meningitis) 6. insomnia Tanda : letargi. . rimantadine: untuk infeksi pneumonia virus • Eritromisin.

berkarat . menggigil berulang. muntah. 3. malnutrisi. dispnea. penggunaan alkohol kronis Tanda : DRG menunjukkan rerata lama dirawat 6 – 8 hari Rencana pemulangan: bantuan dengan perawatan diri. nyeri dada (meningkat oleh batuk). kulit kering dengan turgor buruk. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan kapasitas pembawa oksigen darah. peningkatan produksi sputum.premikus: taksil dan vocal bertahap meningkat dengan konsolidasi . Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.• Sirkulasi Gejala : riwayat adanya Tanda : takikardia. Tanda : . demam.sputum: merah muda. 2. tugas pemeliharaan rumah 9. artralgia. takipnea (sesak nafas). DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Nyeri (akut) berhubungan dengan inflamasi parenkim paru. gemetar • Penyuluhan/pembelajaran Gejala : riwayat mengalami pembedahan. mual. penampilan kakeksia (malnutrisi) • Neurosensori Gejala : sakit kepala daerah frontal (influenza) Tanda : perusakan mental (bingung) • Nyeri/kenyamanan Gejala : sakit kepala. atau pucat • Makanan/cairan Gejala : kehilangan nafsu makan.perpusi: pekak datar area yang konsolidasi . batuk menetap. Resiko tinggi terhadap infeksi (penyebaran) berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan sekunder (adanya infeksi penekanan imun). Tanda : berkeringat. Bersihan jalan nafas tak efektif berhubungan dengan inflamasi trachea bronchial. 4. penampilan kemerahan. 5.Bunyi nafas menurun . Resiko tinggi terhadap nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan peningkatan . imralgia. 6. penggunaan steroid.Warna: pucat/sianosis bibir dan kuku • Keamanan Gejala : riwayat gangguan sistem imun misal: AIDS. riwayat diabetes mellitus Tanda : sistensi abdomen. pembentukan edema. penyakit kronis. Tanda : melindungi area yang sakit (tidur pada sisi yang sakit untuk membatasi gerakan) • Pernafasan Gejala : adanya riwayat ISK kronis.

pernafasan dangkal dan gerakan dada tak simetris sering terjadi karena ketidaknyamanan. 2. Bersihan jalan nafas tak efektif berhubungan dengan inflamasi trachea bronchial.Penghisapan sesuai indikasi Rasional: merangsang batuk atau pembersihan jalan nafas suara mekanik pada faktor yang tidak mampu melakukan karena batuk efektif atau penurunan tingkat kesadaran. Jalan nafas efektif dengan kriteria: . peningkatan produksi sputum ditandai dengan: .Sianosis Intervensi: .Bunyi nafas bersih .Bunyi nafas tak normal .Batuk efektif .Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat sesuai indikasi: mukolitik. penurunan masukan oral.Batuk efektif atau tidak efektif dengan/tanpa produksi sputum. 7. . sianosis . eks.Hipoksia . catat area penurunan 1 kali ada aliran udara dan bunyi nafas Rasional: penurunan aliran darah terjadi pada area konsolidasi dengan cairan. analgetik diberikan untuk memperbaiki batuk dengan menurunkan ketidaknyamanan tetapi harus digunakan secara hati-hati.kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses infeksi. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan pembawa oksigen darah. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan berlebihan.Gelisah/perubahan mental .Perubahan frekuensi.Biarkan teknik batuk efektif Rasional : batuk adalah mekanisme pembersihan jalan nafas alami untuk mempertahankan jalan nafas paten.Kaji frekuensi/kedalaman pernafasan dan gerakan dada Rasional : takipnea.Nafas normal . sianosis .Berikan cairan sedikitnya Rasional: cairan (khususnya yang hangat) memobilisasi dan mengeluarkan sekret . RENCANA KEPERAWATAN 1.Takikardia . gangguan pengiriman oksigen ditandai dengan: . kedalaman pernafasan . 10. karena dapat menurunkan upaya batuk/menekan pernafasan. Rasional: alat untuk menurunkan spasme bronkus dengan mobilisasi sekret.Dispnea. . . .Auskultasi area paru.Dispnea.

Gelisah Intervensi: . amikalin. . Resiko tinggi terhadap infeksi (penyebaran) berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan sekunder (adanya infeksi penekanan imun). meningkat pengeluaran sekret untuk memperbaiki ventilasi tak efektif.Nafas normal . .Kolaborasi Berikan antimikrobial sesuai indikasi dengan hasil kultur sputum/darah misal penicillin. . O2 diberikan dengan metode yang memberikan pengiriman tepat dalam toleransi pe.Kolaborasi Berikan terapi oksigen dengan benar misal dengan nasal plong master.Kaji status mental. Rasional: memudahkan proses penyembuhan dan meningkatkan tekanan alamiah .Gangguan gas teratasi dengan: .Potong keseimbangan istirahat adekuat dengan aktivitas sedang. master venturi. . membran mukosa dan kuku. Rasional: sianosis kuku menunjukkan vasokontriksi respon tubuh terhadap demam/menggigil namun sianosis pada daun telinga. eritromisin. Rasional: tindakan ini meningkat inspirasi maksimal.Pantau tanda vital dengan ketat khususnya selama awal terapi Rasional: selama awal periode ini.Observasi warna kulit.Batasi pengunjung sesuai indikasi. tetrasiklin. . .Sianosis . membran mukosa dan kulit sekitar mulut menunjukkan hipoksemia sistemik.Tinggikan kepala dan dorong sering mengubah posisi. malnutrisi. Tujuan: Infeksi tidak terjadi dengan kriteria: .Sesak . Catat adanya sianosis perifer (kuku) atau sianosis sentral. Tingkatkan masukan nutrisi adekuat. potensial untuk fatal dapat terjadi.penularan penyakit ke orang lain tidak ada Intervensi: . amantadin. Rasional: gelisah mudah terangsang. Rasional: Obat digunakan untuk membunuh kebanyakan microbial pulmonia. penyakit kronis.Kaji frekuensi/kedalaman dan kemudahan bernafas Rasional: manifestasi distress pernafasan tergantung pada indikasi derajat keterlibatan paru dan status kesehatan umum.Hipoksia . nafas dalam dan batuk efektif.waktu perbaikan infeksi/kesembuhan cepat tanpa . . Rasional: menurunkan penularan terhadap patogen infeksi lain . bingung dan somnolen dapat menunjukkan hipoksia atau penurunan oksigen serebral. 3.Tunjukkan teknik mencuci tangan yang baik Rasional: efektif berarti menurun penyebaran/perubahan infeksi. sepalosporin. Rasional: mempertahankan PaO2 di atas 60 mmHg.

4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen ditandai dengan: - Dispnea - Takikardia - Sianosis Intoleransi aktivitas teratasi dengan: - Nafas normal - Sianosis - Irama jantung Intervensi - Evaluasi respon pasien terhadap aktivitas Rasional: merupakan kemampuan, kebutuhan pasien dan memudahkan pilihan interan. - Berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung selama fase akut sesuai indikasi. Rasional: menurunkan stress dan rangsangan berlebihan, meningkatkan istirahat. - Jelaskan perlunya istirahat dalam rencana pengobatan dan perlunya keseimbangan aktivitas dan istirahat. - Bantu pasien memilih posisi nyaman untuk istirahat atau tidur. Rasional: pasien mungkin nyaman dengan kepala tinggi, tidur di kursi. - Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan Rasional: meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen. 5. Nyeri berhubungan dengan inflamasi parenkim varul, batuk menetap ditandai dengan: - Nyeri dada - Sakit kepala - Gelisah Nyeri dapat teratasi dengan: - Nyeri dada (-) - Sakit kepala (-) - Gelisah (-) Intervensi: - Tentukan karakteristik nyeri, misal kejan, konstan ditusuk. Rasional: nyeri dada biasanya ada dalam seberapa derajat pada pneumonia, juga dapat timbul karena pneumonia seperti perikarditis dan endokarditis. - Pantau tanda vital Rasional: Perubahan FC jantung/TD menu bawa Pc mengalami nyeri, khusus bila alasan lain tanda perubahan tanda vital telah terlihat. - Berikan tindakan nyaman pijatan punggung, perubahan posisi, musik tenang / berbincangan. Rasional: tindakan non analgesik diberikan dengan sentuhan lembut dapat menghilangkan ketidaknyamanan dan memperbesar efek derajat analgesik. - Aturkan dan bantu pasien dalam teknik menekan dada selama episode batuk. Rasional: alat untuk mengontrol ketidaknyamanan dada sementara meningkat keefektifan upaya batuk.

- Kolaborasi Berikan analgesik dan antitusik sesuai indikasi Rasional: obat dapat digunakan untuk menekan batuk non produktif atau menurunkan mukosa berlebihan meningkat kenyamanan istirahat umum. 6. Resiko tinggi terhadap nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses inflamasi ditandai dengan tujuan: Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh dapat diatasi dengan: - Pasien menunjukkan peningkatan nafsu makan - Pasien mempertahankan meningkat BB Intervensi - identifikasi faktor yang menimbulkan mual/muntah, misalnya: sputum, banyak nyeri. Rasional: pilihan intervensi tergantung pada penyebab masalah - Jadwalkan atau pernafasan sedikitnya 1 jam sebelum makan Rasional: menurun efek manual yang berhubungan dengan penyakit ini - Berikan makan porsi kecil dan sering termasuk makanan kering (roti panggang) makanan yang menarik oleh pasien. Rasional: tindakan ini dapat meningkat masukan meskipun nafsu makan mungkin lambat untuk kembali. - Evaluasi status nutrisi umum, ukur berat badan dasar. Rasional: adanya kondisi kronis keterbatasan ruangan dapat menimbulkan malnutrisi, rendahnya tahanan terhadap inflamasi/lambatnya respon terhadap terapi. 7. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan berlebihan, demam, berkeringat banyak, nafas mulut, penurunan masukan oral. Kekurangan volume cairan tidak terjadi dengan kriteria: Pasien menunjukkan keseimbangan cairan dibuktikan dengan parameter individual yang tepat misalnya membran mukosa lembab, turgor kulit baik, tanda vital stabil. Intervensi: - Kaji perubahan tanda vital contoh peningkatan suhu demam memanjang, takikardia. Rasional: peningkatan suhu/memanjangnya demam meningkat laju metabolik dan kehilangan cairan untuk evaporasi. - Kaji turgor kulit, kelembapan membran mukosa (bibir, lidah) Rasional: indikator langsung keadekuatan volume cairan, meskipun membran mukosa mulut mungkin kering karena nafas mulut dan O2 tambahan. - Catat laporan mual/muntah Rasional: adanya gejala ini menurunkan masukan oral - Pantau masukan dan keluaran catat warna, karakter urine. Hitung keseimbangan cairan. Ukur berat badan sesuai indikasi. Rasional: memberikan informasi tentang keadekuatan volume cairan dan keseluruhan penggantian.

- Tekankan cairan sedikit 2400 mL/hari atau sesuai kondisi individual Rasional: pemenuhan kebutuhan dasar cairan menurunkan resiko dehidrasi. - Kolaborasi Beri obat indikasi misalnya antipiretik, antimitik. Rasional: berguna menurunkan kehilangan cairan Berikan cairan tambahan IV sesuai keperluan Rasional: pada adanya penurunan masukan banyak kehilangan penggunaan dapat memperbaiki/mencegah kekurangan 11. IMPLEMENTASI Dilakukan sesuai dengan rencana tindakan menjelaskan setiap tindakan yang akan dilakukan sesuai dengan pedoman atau prosedur teknik yang telah ditentukan. 12. EVALUASI Kriteria keberhasilan: - Berhasil Tuliskan kriteria keberhasilannya dan tindakan dihentikan - Tidak berhasil Tuliskan mana yang belum berhasil dan lanjutkan tindakan. 13. DAFTAR PUSTAKA 1. Doenges, Marilynn, E. dkk. Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, 2000. EGC, Jakarta. 2. Bare Brenda G, Smeltzer Suzan C. Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8, Vol. 1, EGC, Jakarta. 3. Price Anderson Sylvia, Milson McCarty Covraine, Patofisiologi, buku-2, Edisi 4, EGC, Jakarta. 4. Tim Penyusun. Ilmu Penyakit Dalam, Edisi 3. Volume II, 2001, FKUI.
This entry was posted on Saturday, April 18th, 2009 at 2:55 am and is filed under Uncategorized. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

þÿ

Name (required) Mail (will not be published) (required) Website

þÿ

þÿ

2009 Askep Abses paru merupakan lesi nekrotik setempat pada parenkim paru . B. 16 Askep Abses paru AKPER PPNI SOLO.bahan purulen.16. Try again. ETIOLOGI .Type the two words:Type what you hear:Incorrect. lesi mengalami kolaps dan membentuk ruang.com Entries (RSS) and Comments (RSS). 8. þÿ Submit Comment Powered by Blog.

Malaise dengan panas badan disertai menggigil 2. stroke) 4. spiroketa. Perkusi: pekak b. 1. Anoreksia 6. Dengan kerusakan kesadaran karena anestesi. Abses timbul bila organisme yang masuk ke paru bersama-sama dengan material yang terhirup yang akan membuntu sal. Hubungan dengan bronkus dapat terjadi sehingga pus atau jaringan nekrotik dapat dikeluarkan. mungkin juga berbau busuk (infeksi basil anaerob) E. Yang mengalami kesulitan mengunyah 3. Perluasan ke pleura sering terjadi. Batuk dan nyeri pleuritik (jawa: kemeng) 3. Sputum berupa pus dengan pengecatan gram terdapat dengan leukosit dan ditentukan . D. TANDA DAN GEJALA Gejala timbul satu sampai tiga hari setelah aspirasi. Drainase dan pengobatan yang tidak memadai akan menyebabkan abses menjadi menaun. Pemeriksaan fisik dada a. Dengan kerusakan reflek batuk dan tidak mampu menutup glotis 2. Dalam keadaan berbaring menuju ke subsegmen apikal lobus superior atau segmen superior lobus inferior. C. Nekrotisasi pneumonia. hidung. Laboratorium a. Infeksi karena aspirasi dari saluran napas. Leukosit 20-30rb/mm3 b.napas dengan akibat timbulnya atelektasis dengan infeksi. Dengan selang nasogastrik 5. Mikroorganisme penyebab dapat berasal dari bermacam-macam basil dari flora mulut. benda asing atau stenosis bronkial) 3.Tuberkulosis. Dengan pneumonia TEMPAT ABSES Berhubungan dengan pengumpulan akibat gaya gravitasi yang ditentukan oleh posisi klien pada waktu terjadinya aspirasi. gangguan saraf pusat (kejang. Obstruksi mekanik atau fungsional bronki (tumor. PATOLOGI Proses dimulai di bronki/bronkioli. PEMERIKSAAN DIAGNOSIS 1. Darah: LED meningkat. tenggorokan. Auskultasi: penurunan sampai tidak terdengarnya bunyi napas atau krekles 2. menyebar ke parenkim paru dikelilingi oleh jaringan granulasi. dll) 2. Dispnea 4. embolisme paru atau trauma dada PASIEN YANG BERISIKO: 1. Penurunan berat badan Bila tidak diobati gejala akan terus meningkat sampai kurang lebih hari ke sepuluh. penderita mendadak batuk pus bercampur darah dalam jumlah banyak. bila yang masuk basil saja maka akan timbul pneumonia. Sianosis 5.1. termasuk aerob dan aerob seperti Streptokokus.

Terapi antimikroba yg sesuai dg resep pd pasien dg pneumonia G. Kelemahan (fatigue) 6. A: AIRWAY Ketidakefektifan bersihan jalan napas b. Ketidakefektifan manajemen regimen terapeutik b. Ajarkan napas dalam 4. tekankan istirahat. fisioterapi dada). Terapi antimikroba intravena berdasar kultur dan sensitivitas pd sputum. Rontgen dada: pada mulanya memberi gambaran konsolidasi seperti pada pneumonia. 1.d penumpukan sekret 2. PK: Infeksi 7. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh 4. Dosis IV yg banyak diperlukan karena antibiotik harus menembus jaringan nekrotik dan cairan dlm abses. Beri dukungan secara emosional b. Dorong asupan diet:TKTP 6. Pertahankan kebersihan gigi dan mulut scr adekuat 3. 3. F. Awasi terapi antibiotik yg diberikan pd klien: sesuai resep dan awasi efek samping yg merugikan (Pastikan klien menyelesaikan seluruh dosis terapi) 2. Fisioterapi dada utk memudahkan drainase abses 3. perbaikan gmbrn rontgen. Penkes jika klien menjalani pembedahan (prwtn luka. jaringan nekrotik di dalamnya dikeluarkan dan meninggalkan kavitas dengan “air fluid level” yang berkarateristik. hitung Leukosit menurun. Antibiotik oral utk mengganti IV setelah ada tanda perbaikan (suhu tbh normal. Drainase adekuat abses paru (drainase postural dan fisioterapi dada) 3.bermacam-macam basil. Latih batuk efektif agar pengembangan paru max. batuk efektif. pentingnya penyelesaian regimen antibiotik . Reseksi paru (lobektomi) Tindakan yg akan mengurangi risiko terjadinya abses.d lamanya waktu penyembuhan 7.d lamanya waktu pengobatan Intervensi keperawatan: 1. 2. Gangguan tidur 5. kemudian setelah kira-kira hari ke sepuluh. PENATALAKSANAAN MEDIS 1. Gangguan pertukaran gas 3. nutrisi. B: BREATHING a. PROSES KEPERAWATAN Diagnosa yang mungkin muncul: 1. 5. Diet tinggi protein dan kalori utk katabolik pd infeksi kronik dan mempercepat penyembuhan 4. Ketidakefektifan pola napas b. napas dalam. Terapi antibiotik pd pasien yg mengalami infeksi (pd gigi dan gusi) saat pencabutan gigi 2. 5. Bedah jarang dilakukan.

penurunan mekanisme pertahanan tubuh atau virulensi kuman yang tinggi. epilepsi tak terkontrol. kerusakan paru sebelumnya dan penyalahgunaan alkohol. 2008 OLeh : Hendra Arif Abses paru adalah suatu kavitas dalam jaringan paru yang berisi material purulent berisikan sel radang akibat proses nekrotik parenkim paru oleh proses terinfeksi . Bila diameter kavitas < 2 cm dan jumlahnya banyak (multiple small abscesses) dinamakan “necrotising pneumonia”. Pada beberapa studi didapatkan bahwa .Baca Juga Artikel Dibawah askep medikal • • • • • • askep ARDS ( Acute Respiratory Distress Syndrome) Askep Pneumonia Askep Bronchopneumonia Askep TBC Paru Askep Hipertensi Askep Gastritis di 7:35 AM Label: askep medikal 0 komentar: Post a Comment BSES PARU Agustus 7. Pada umumnya kasus Abses paru ini berhubungan dengan karies gigi. Abses timbul karena aspirasi benda terinfeksi. penyakit sistemik atau komplikasi dari paska obstruksi. Pada negara-negara maju jarang dijumpai kecuali penderita dengan gangguan respons imun seperti penyalahgunaan obat. Abses besar atau abses kecil mempunyai manifestasi klinik berbeda namun mempunyai predisposisi yang sama dan prinsip diferensial diagnose sama pula.

Etiologi Kuman atau bakteri penyebab terjadinya Abses paru bervariasi sesuai dengan peneliti dan teknik penelitian yang digunakan. Sputumnya biasanya berbau busuk. Pembentukan jaringan granulasi terjadi mengelilingi abses. PATHOLOGI Abses paru timbul bila parenkim paru terjadi obstruksi. 3. Pada umumnya para klinisi menggunakan kombinasi antibiotik sebagai terapi seperti penisilin. Merupakan proses lanjut pneumonia inhalasi bakteria pada penderita dengan faktor predisposisi. Asher dan Beandry mendapatkan bahwa pada anak-anak kuman penyebab abses paru terbanyak adalah stapillococous aureus (1). kadang terjadi aspirasi pada bagian lain bronkus terbentuk abses baru. terapi dan prognosa sebagai penyegaran teori yang sudah ada. 10). lalu jaringan nekrosis keluar bersama batuk. metronidazole dan golongan aminoglikosida pada abses paru. terapi kombinasi masih memberikan beberapa permasalahan sebagai berikut : (4) 1. Terapi ideal harus berdasarkan penemuan kuman penyebabnya secara kultur dan sensitivitas. Waktu perawatan di RS yang lama 2. 1. infeksi kemudian proses supurasi dan nekrosis. bila abses pecah ke rongga pleura maka terjadi empyema (2. Insidens Angka kejadian Abses Paru berdasarkan penelitian Asher et al tahun 1982 adalah 0. yang menimbulkan nekrosis dan likuifikasi. Suatu saat abses pecah. Angka kematian yang disebabkan oleh Abses paru terjadi penurunan dari 30 – 40 % pada era preantibiotika sampai 15 – 20 % pada era sekarang (7).000 penderita anak-anak yang MRS. 2. Finegolal dan fisliman mendapatkan bahwa organisme penyebab abses paru lebih dari 89 % adalah kuman anaerob. Pada makalah ini akan dibahas Abses paru mulai patogenesis. melokalisir proses abses dengan jaringan fibrotik. Walaupun masih efektif.kuman aerob maupupn anaerob dari koloni oropharing yang sering menjadi penyebab abses paru.7 dari 100.67 tiap 100. Mendorong terjadinya resistensi antibiotika.6 : 1 (1.000 penderita yang masuk rumah sakit hampir sama dengan angka yang dimiliki oleh The Children’s Hospital of eastern ontario Kanada sebesar 0. 2. Perubahan reaksi radang pertama dimulai dari suppurasi dan trombosis pembuluh darah lokal. Penelitian pada penderita Abses paru nosokonial ditemukan kuman aerob seperti golongan enterobacteriaceae yang terbanyak. Adanya super infeksi bakteri yang mengakibatkan Nosokonial Pneumoni. Potensi reaksi keracunan obat tinggi 3. Sedangkan penelitian dengan teknik biopsi perkutan atau aspirasi transtrakeal ditemukan terbanyak adalah kuman anaerob. PATHOFISIOLOGI 1. 3. PATHOFISIOLOGI Garry tahun 1993 mengemukakan terjadinya abses paru disebutkan sebagai berikut : (5) a. 4. 8). Bakteri mengadakan multiplikasi dan merusak parenkim paru dengan proses . Dengan rasio jenis kelamin laki-laki banding wanita adalah 1.

5. 2. Bila terdapat hubungan dengan bronkus maka didalam kavitas terdapat Air fluid level. Pada beberapa penderita tuberkolosis dengan kavitas. Produksi sputum yang meningkat dan Foetor ex oero dijumpai berkisar 40 – 75% penderita abses paru. d. 4. Kadang dijumpai dengan temperatur > 400C. Pertumbuhan massa kanker bronkogenik yang cepat tidak diimbangi peningkatan suplai pembuluh darah. akibat inhalasi bakteri mengalami proses keradangan supurasi. Hal ini sering terjadi pada obstruksi karena kanker bronkogenik. Obstruksi bronkus dapat menyebabkan pneumonia berlajut sampai proses abses paru. Bila berhubungan dengan bronkus. Tetapi bila tidak ada hubungan maka hanya dijumpai tanda-tanda konsolidasi (opasitas). 3. Pemeriksaan sputum dengan pengecatan gram tahan asam dan KOH merupakan pemeriksaan awal untuk menentukan pemilihan antibiotik secara tepat. penurunan nafsu makan dan berat badan. Bila terjadi hubungan rongga abses dengan bronkus batuknya menjadi meningkat dengan bau busuk yang khas (Foetor ex oroe (4075%). c. 1. sehingga terjadi likuifikasi nekrosis sentral. 2. meningkat lebih dari 12. 25% kasus)± Batuk darah ( f. 4. 9) Pada foto torak terdapat kavitas dengan dinding tebal dengan tanda-tanda konsolidasi disekelilingnya. 5) a. Pada hitung jenis sel darah putih didapatkan pergeseran shit to the left b. 3. MANIFESTASI KLINIS. 50% kasus)± Nyeri dada ( e. d. Bila terjadi infeksi dapat terbentuk abses. Pada pemeriksaan dijumpai tanda-tanda proses konsolidasi seperti redup. Gejala tambahan lain seperti lelah.nekrosis. 3. Gejala klinis : (1. maka terbentuklah air fluid level bakteria masuk kedalam parenkim paru selain inhalasi bisa juga dengan penyebaran hematogen (septik emboli) atau dengan perluasan langsung dari proses abses ditempat lain (nesisitatum) misal abses hepar. Kavitas yang mengalami infeksi. Pemeriksaan laboratorium (2.700/mm3. Panas badan Dijumpai berkisar 70% – 80% penderita abses paru. Gejala yang sama juga terlihat pada aspirasi benda asing yang belum keluar. Pemeriksaan kultur bakteri dan test kepekaan antibiotikan merupakan cara terbaik . sering dijumpai adanya jari tabuh serta takikardi. 6) Gejala klinis yang ada pada abses paru hampir sama dengan gejala pneumonia pada umumnya yaitu: a. Pada pemeriksaan darah rutin. Laju endap darah ditemukan meningkat > 58 mm / 1 jam. b. suara nafas yang meningkat. Pembentukan kavitas pada kanker paru. Gambaran Radiologis (1. c. Kavitas ini bisa multipel atau 2 – 20 cm. Kadang-kadang dijumpai juga pada obstruksi karena pembesaran kelenjar limphe peribronkial. Batuk. pada stadium awal non produktif. Ditentukan leukositosis. b. 2.φ tunggal dengan ukuran Gambaran ini sering dijumpai pada paru kanan lebih dari paru kiri. Pada penderita emphisema paru atau polikisrik paru yang mengalami infeksi sekunder.000/mm3 (90% kasus) bahkan pernah dilaporkan peningkatan sampai dengan 32. c.

Riwayat penyakit sebelumnya. DIAGNOSA Diagnosa abses paru tidak bisa ditegakkan hanya berdasarkan kumpulan gejala seperti pneumonia dan pemeriksaan phisik saja. Diagnosis pasti dengan pemeriksaan barium foto. Diagnosis pasti dengan pemeriksaan sitologi/patologi. biasanya dinding kavitas tebal dan tidak rata. Medika Mentosa Pada era sebelum antibiotika tingkat kematian mencapai 33% pada era antibiotika maka tingkat kkematian dan prognosa abses paru menjadi lebih baik. Pilihan pertama antibiotika adalah golongan Penicillin pada saat ini dijumpai peningkatan Abses paru yang disebabkan oleh kuman anaerobs (lebih dari 35% kuman gram negatif anaerob). 2. Di sekitar bula tidak ada atau hanya sedikit konsolidasi. Ada beberapa modalitas terapi yang diberikan pada abses paru : (2. Hematom paru. penurunan berat badan. Pneumokoniosis yang mengalami kavitasi. 4. 8. 6) 1. panas badan yang ringan. Adanya riwayat penurunan kesadaran berkaitan dengan sedasi. dan batuk yang produktif. 5. trauma atau serangan epilepsi. 4. 2. Nyeri restrosternal dan heart burn bertambah berat pada waktu membungkuk.dalam menegakkan diagnosa klinis dan etiologis. Bronkoskopi Fungsi Bronkoskopi selain diagnostik juga untuk melakukan therapi drainase bila kavitas tidak berhubungan dengan bronkus. 6. kultur darah yang dapat mengarah pada organisme penyebab infeksi. Gejala klinisnya hampir sama atau lebih menahun daripada abses paru. Kista paru yang terinfeksi. Letak di basal kiri belakang. 7. PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan Abses paru harus berdasarkkan pemeriksaan mikrobiologi dan data penyakit dasar penderita serta kondisi yang mempengaruhi berat ringannya infeksi paru. Diagnosa Banding (2) : 1. Tuberkulosis paru atau infeksi jamur 3. 9. Pemeriksaan laboratorium sputum gram. Maka bisa dipikrkan untuk memilih kombinasi antibiotika antara golongan . Tidak ada gejala paru. 2. Diagnosis pasti dengan bronkografi atau arteriografi retrograd. Pekerjaan penderita jelas di daerah berdebu dan didapatkan simple pneumoconiosis pada penderita. 9. 4. Sekuester paru. adanya air fluid level yang berubah posisi sesuai dengan gravitasi. Gambaran radiologis yang menunjukkan kavitas dengan proses konsolidasi disekitarnya. Diagnosa harus ditegakkan berdasarkan : (1. 4. Ada riwayat trauma. Bula yang terinfeksi. Batuk hanya sedikit. IV. Karsimoma bronkogenik yang mengalami kavitasi. 3. 5. tampak air fluid level. 5. 5. Hiatus hernia. Dindingnya tipis dan tidak ada reaksi di sekitarnya. Hasil pemeriksaan fisik yang mendukung adanya data tentang penyakit dasar yang mendorong terjadinya abses paru. Riwayat penyalahgunaan obat yang mungkin teraspirasi asam lambung waktu tidak sadar atau adanya emboli kuman diparu akibat suntikan obat. Keluhan penderita yang khas misalnya malaise. 3. 10) 1. V. Pada tuberkulosis didapatkan BTA dan pada infeksi jamur ditemukan jamur.

5) a. Anemia dan Hipo Albuminemia b. b. Waktu pemberian antibiotika tergantung dari gejala klinis dan respon radiologis penderita. VI. Prognosa Abses paru masih marupakan penyebab morbiditas dan mortalitas yang signifikan. φ Abses yang besar ( > 5-6 cm) c. Sepsis 2. Alternatif lain adalah kombinasi Imipenem dengan B Lactamase inhibitase. Abses yang besar sehingga mengganggu proses ventilasi perfusi c. KOMPLIKASI DAN PROGNOSA 1. Beberapa faktor yang memperbesar angka mortalitas pada Abses paru sebagai berikut : (7) a.penicillin G dengan clindamycin atau dengan Metronidazole. Muri et al melaporkan 2. Atelektasis d. Penderita diberikan terapi 2-3 minggu setelah bebas gejala atau adanya resolusi kavitas. Bakteri aerob e. pada penderita dengan pneumonia nosokomial yang berkembang menjadi Abses paru. Abses otak c. Beberapa komplikasi yang timbul adalah : (4. Adanya gangguan drainase karena obstruksi. Usia tua g. Empyema b. Angka kematian Abses paru berkisar antara 15-20% merupakan penurunan bila dibandingkan dengan era pre antibiotika yang berkisar antara 30-40% (7). Lesi obstruksi d. Perawatan yang terlambat VII. 2. Drainage Drainase postural dan fisiotherapi dada 2-5 kali seminggu selama 15 menit diperlukan untuk mempercepat proses resolusi Abses paru. Immune Compromised f. Perlman et al menemukan bahwa 2% angka kematian pada penderita dengan satu faktor predisposisi dibandingkan 75% pada penderita dengan multi predisposisi. Respon yang rendah terhadap therapi antibiotika. jadi diberikan antibiotika minimal 2-3 minggu. Bedah Reseksi segmen paru yang nekrosis diperlukan bila: a. atau kombinasi clindamycin dan Cefoxitin. Infeksi paru yang berulang d. Pada penderita dengan beberapa faktor predisposisi mempunyai prognosa yang lebih jelek dibandingkan dengan penderita dengan satu fakktor predisposisi. Pada penderita Abses paru yang tidak berhubungan dengan bronkus maka perlu dipertimbangkan drainase melalui bronkoskopi. Gangguan intelegensia h. 3. RINGKASAN Abses paru adalah suatu kavitas dalam jaringan paru yang berisi material purulent dan sel .4% angka kematian Abses paru karena CAP dibanding 66% Abses paru karena HAP.

109 – 13. 937 – 41. Lung Abscess in a Lange Clinical Manual : Internal Medicina : Diagnosis and Therapy 3rd . Empyema and Lung Abscess . batuk. 1999 . DAFTAR PUSTAKA Asher MI. Phildelphia . 581 – 88. Pemberian antibiotika merupakan pilihan utama disamping terapi bedah dan terapi suportif fisio terapi. 136 – 41. 1 . gangguan kesadaran (anestesi. AUP . Lung Abscess in : Cecil text book of Medicine 19th ed . sputum purulen dan berbau. dkk . Klein JS et al . 2021 – 32. oral higine yang kurang serta obstruksi dan aspirasi benda asing. Pada abses paru memberikan gejala klinis panas. 1993 . 3 . Fishman JA . Hammond JMJ et al . Philadelphia . Lung Abscess. 119 – 120. Finegold SM. 4 . AJR . Chest . 164 . 746 – 52. Surabaya . in Fishman’s pulmonary Diseases and disorders 3rd ed . Chest . 1992 . Hirshberg B et al . 413 – 15. naspu makan dan berat badan yang turun. Canada . . Huseby JS . Johnson KM. Abses Paru dalam Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Paru . Pada pemeriksaan foto polos dada didapatkan gambaran kavitas dengan air fluid level atau proses konsolidasi saja bila kavitas tidak berhubungan dengan bronkus. Chest 111 . Interventional Radiology of The Chest : Image Guided Percutaneons Drainage of Pleural Effusions. 1997 . The Ethiology and Anti Microbial Susceptibility Patterns of Microorganism in acute Commuity – Acquired Lung Abscess . Lung Abscess in infections of Respicatory tract . 1998 . Oklahoma . Beadry PH . Abses paru timbul karena faktor predisposisi seperti gangguan fungsi imun karena obat-obatan. 108 . Diagnosis pasti bila didapatkan biakan kuman penyebab sehingga dapat dilakukan terapi etiologis. tanda-tanda konsolidasi. disertai malaise. Garry et al . and Pneumothorax . Lung Abscess Caused by Legionella micdadei . Pada pemeriksaan fisik didapatkan takikardia. 115 . Assegaff H. Barlett JG . 1990 : 429 – 34.radang akibat proses nekrotik parenkim paru oleh proses infeksi. 1995 . 1995 . epilepsi). Factors predicting mortality of patients with lung Abscsess .

1 1999 . kemudian meningkat setelah masa remaja di mana TB paru-paru menyerupai kasus pada pasien dewasa (sering disertai lubang/kavitas pada paru-paru). Bio Data Penyakit Tuberkulosa dapat menyerang dari mulai anak sampai dengan dewasa dengan komposisi antara laki-laki dan perempuan yang hampir sama menderita. 1 Comment Add your own • 1.Ricaurte KK et al . TB luar paru-paru dan TB yang berat terutama ditemukan pada usia < 3 tahun. 2009 at 5:03 am emang w nnya Leave a Comment Name Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan TBC Paru Posted By irman somantri on May 28. Entry Filed under: Kesehatan. Angka kejadian (prevalensi) TB paru-paru pada usia 5-12 tahun cukup rendah. joutnal of allergy and clinical imonoligy . 104 .. INDRA | Mei 25. 238 – 40. namun usia paling umum adalah antara 1-4 tahun. Pengkajian a. 2008 Proses keperawatan pada pasien dengan Tuberculosa dengan pendekatan 5 langkah proses keperawatan sebagai berikut : 1. Anak lebih sering mengalami TB luar paru-paru (extrapulmonary) dibanding TB paru-paru dengan perbandingan 3:1. Biasanya timbul pada lingkungan rumah dengan kepadatan tinggi yang tidak memungkinkan cahaya matahari masuk ke dalam rumah. TB pada anak dapat terjadi pada usia berapa pun. Allergic broucho pulumonary aspergillosis with multiple Streptococceus pneumonie Lung Abscess : an unussual insitial case presentation . .1. .

• Pada keadaan lanjut Atropi dan retraksi interkostal dan fibrosis • Bila mengenai pleura terjadi effusi pleura (perkusi memberikan suara pekak) d. sesak nafas. Perubahan mengindikasikanTB yang lebih berat dapat mencakup area berlubang dan fibrous. deposit kalsium pada lesi primer yang membaik atau cairan pada effusi. Mantoux. Pemeriksaan Tambahan 1) Sputum Culture : Positif untuk mycobacterium tuberkulosa pada stadium aktif. Bagian dada klien tidak bergerak pada saat bernafas dan jantung terdorong ke sisi yang sakit. 6) Pada atelektasis terdapat gejala berupa : cyanosis. sakit kepala. 5) Malaise : ditemukan berupa anorexia. nyeri timbul bila infiltrasi radang sampai ke pleura sehingga menimbulkan pleuritis. 4) Nyeri dada : ini jarang ditemukan. 4) Chest X-Ray : dapat memperlihatkan infiltrasi kecil pada lesi awal di bagian paru-paru bagian atas. kasar dan nyaring. timbul 48 – 72 jam setelah injeksi antigen intradermal) mengindikasikan infeksi lama dan adanya antibodi tetapi tidak mengindikasikan penyakit sedang aktif. 2) Ziehl Neelsen (Acid-fast Staind applied to smear of body fluid) : positif untuk BTA 3) Skin Test (PPD. nyeri otot. berat badan menurun. 7) Perlu ditanyakan dengan siapa pasien tinggal.°1) Demam : subfebris. karena biasanya penyakit ini muncul bukan karena sebagai penyakit keturunan tetapi merupakan penyakit infeksi menular. Pemeriksaan Fisik • Pada tahap dini sulit diketahui. • Hipersonor/timpani bila terdapat kavitas yang cukup dan pada auskultasi memberikan suara umforik. kolaps. Tine. • Ronchi basah. nafsu makan menurun. batuk ini terjadi untuk membuang/mengeluarkan produksi radang. dimulai dari batuk kering sampai dengan batuk purulen (menghasilkan sputum).b. . Vollmer Patch) : reaksi positif (area indurasi 10 mm atau lebih. keringat malam. c. febris (40-41 2) Batuk : terjadi karena adanya iritasi pada bronchus. Pada foto thorax tampak pada sisi yang sakit bayangan hitam dan diafragma menonjol ke atas. Riwayat Kesehatan Keluhan yang sering muncul antara lain : C) hilang timbul. 3) Sesak nafas : bila sudah lanjut dimana infiltrasi radang sampai setengah paru.

10) Darah : lekositosis. Askep TBC Paru AKPER PPNI SOLO. TLC meningkat dan menurunnya saturasi oksigen yang merupakan gejala sekunder dari fibrosis/infiltrasi parenchim paru dan penyakit pleura. Etiologi Tuberkulosis paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh basil mikrobakterium tuberkulosis tipe humanus. urine dan CSF. Dead Space meningkat.3-0. 9) Bronchografi : merupakan pemeriksaan khusus untuk melihat kerusakan bronchus atau kerusakan paru karena TB.fas. berat dan sisa kerusakan paru. 6) Needle Biopsi of Lung Tissue : positif untuk granuloma TB. 8. Sebagian besar kuman terdiri atas asam lemak (lipid).6/mm. sejenis kuman yang berbentuk batang dengan ukuran panjang 1-4/mm dan tebal 0.2009 Askep TBC Paru atau sering dikenal dengan TB paru adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tubeculosis. misalnya hiponatremia mengakibatkan retensi air. tergantung lokasi. Lipid inilah yang membuat kuman lebih tahan terhadap asam dan lebih tahan terhadap .org/irp/imint/docs/rst/Intro/Part2_26b. LED meningkat. 7) Elektrolit : mungkin abnormal tergantung dari lokasi dan beratnya infeksi.12.html) 5) Histologi atau Culture jaringan (termasuk kumbah lambung. mungkin ditemukan pada TB paru kronik lanjut. biopsi kulit) : positif untu mycobacterium tuberkulosa. adanya sel-sel besar yang mengindikasikan nekrosis. 11) Test Fungsi Paru : VC menurun.Gambar 15 : Foto Rontgen Klien Tuberkulosa Paru (Sumber : www. ABGs : mungkin abnormal.

Tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi penting saluran pernapasan. tuberculosis juga dapat masuk ke dalam tubuh melalui saluran pencernaan dan luka terbuka pada kulit (lebih jarang). Insiden Penyakit tuberkulosis adalah penyakit yang sangat epidemik karena kuman mikrobakterium tuberkulosa telah menginfeksi sepertiga penduduk dunia. . Dalam hal ini tekanan bagian apikal paru-paru lebih tinggi dari pada bagian lainnya. Di samping penularan melalui saluran pernapasan (paling sering). Pada tahun 1995. Proses Penularan Tuberkulosis tergolong airborne disease yakni penularan melalui droplet nuclei yang dikeluarkan ke udara oleh individu terinfeksi dalam fase aktif. Sedangkan yang disebut tuberkulosis post primer (reinfection) adalah peradangan jaringan paru oleh karena terjadi penularan ulang yang mana di dalam tubuh terbentuk kekebalan spesifik terhadap basil tersebut. Dua faktor penentu keberhasilan pemaparan Tuberkulosis pada individu baru yakni konsentrasi droplet nuclei dalam udara dan panjang waktu individu bernapas dalam udara yang terkontaminasi tersebut di samping daya tahan tubuh yang bersangkutan. Sifat ini menunjukkan bahwa kuman lebih menyenangi jaringan yang tinggi kandungan oksigennya. penyakit tuberkulosis tidak terkendali. terutama penderita menular (BTA positif). Sifat lain kuman adalah aerob. Setiapkali penderita ini batuk dapat mengeluarkan 3000 droplet nuclei. peradangan terjadi sebelum tubuh mempunyai kekebalan spesifik terhadap basil mikobakterium.gangguan kimia dan fisik. Program penaggulangan secara terpadu baru dilakkan pada tahun 1995 melalui strategi DOTS (directly observed treatment shortcourse chemoterapy). meskipun sejak tahun 1993 telah dicanangkan kedaruratan global penyakit tuberkulosis. yang dalam perjalanannya sebagian besar akan mengalami penyembuhan. Diperkirakan 95 % penyakit tuberkulosis berada di negara berkembang. M. Basil mikrobakterium tersebut masuk kedalam jaringan paru melalui saluran napas (droplet infection) sampai alveoli. Di negara-negara berkembang kematian karena penyakit ini merupakan 25 % dari seluruh kematian. Tuberkulosis juga telah menyebabkan kematian lebih banyak terhadap wanita dibandingkan dengan kasus kematian karena kehamilan. 1997). maka terjadilah infeksi primer (ghon) selanjutnya menyebar kekelenjar getah bening setempat dan terbentuklah primer kompleks (ranke). Kuman ini tahan hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin (dapat tahan bertahun-tahun dalam lemari es). Tuberkulosis paru primer. Penularan umumnya terjadi di dalam ruangan dimana droplet nuclei dapat tinggal di udara dalam waktu lebih lama. keduanya dinamakan tuberkulosis primer. Di bawah sinar matahari langsung basil tuberkel mati dengan cepat tetapi dalam ruang yang gelap lembab dapat bertahan sampai beberapa jam. Dari sifat dormant ini kuman dapat bangkit kembali dan menjadikan tuberkulosis aktif kembali. yang sebenarnya dapat dicegah. hal ini disebabkan banyak penderita yang tidak berhasil disembuhkan. diperkirakan setiap tahun terjadi sekitar sembilan juta penderita dengan kematian tiga juta orang (WHO. 75 % adalah kelompok usia produktif (15-50 tahun). Hal ini terjadi karena kuman berada dalam sifat dormant. Kegelisahan global ini didasarkan pada fakta bahwa pada sebagian besar negara di dunia. sehingga bagian apikal ini merupakan tempat predileksi penyakit tuberkulosis. Tuberkulosis yang kebanyakan didapatkan pad usia 1-3 tahun.

adalah pipa berotot yang berjalan dari dasar tengkorak sampai persambungannya dengan oesopagus pada ketinggian tulang rawan krikoid.000 kasus baru tuberkulosis dengan kematian sekitar 140. sampai ketinggian vertebrata servikals dan masuk ke dalarn trachea di bawahnya. Saluran-saluran itu bermuara ke dalam bagian yang dikenal sebagai vestibulum. dan nomor satu dari golongan penyakit infeksi. Trachea atau batang tenggorok kira-kira 9 cm panjangnya trachea berjalan dari larynx sarnpai kira-kira ketinggian vertebrata torakalis kelima dan di tempat ini bercabang mcnjadi dua bronckus (bronchi). mempunyai struktur serupa dengan trachea dan dilapisi oleh. rongga hidung. berjalan dari farinx. Bronkus-bronkus itu berjalan ke bawah dan kesamping ke arah tampuk paru. Maka ‘letaknya di belakang larinx (larinx-faringeal). bronkus. WHO memperkirakan setiap tahun menjadi 583. Anatomi dan Fisiologi Saluran penghantar udara hingga mencapai paru-paru adalah hidung. disebut bronckus lobus bawah. Trachea tersusun atas 16 . Larynx terdiri atas kepingan tulang rawan yang diikat bersama oleh ligarnen dan membran.20 lingkaran tak. farinx. Farinx (tekak) . dan bronkiolus. (rongga) hidung. Cabang utama bronchus kanan dan kiri bercabang lagi menjadi bronchus lobaris dan kernudian menjadi lobus segmentalis. Tetapi dikelilingi oleh otot polos sehingga ukurannya dapat berubah. Seluruh saluran udara ke bawah sampai tingkat bronkbiolus terminalis disebut saluran penghantar udara karena fungsi utamanya adalah sebagai penghantar udara ke tempat pertukaran gas paru-paru. Bronkhiolus tidak diperkuat oleh cincin tulang rawan. Rongga hidung dilapisi sebagai selaput lendir yang sangat kaya akan pembuluh darah. rongga hidung.000. Bronkus kiri lebih panjang dan lebih langsing dari yang kanan. Bronckus kanan lebih pendek dan lebih lebar daripada yang kiri. hasil survey kesehatan rumah tangga (SKRT) menunjukkan bahwa penyakit tuberkulosis merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit jantung dan penyakit infeksi saluran pernapasan pada semua kelompok usia.lengkap yang berupan cincin tulang rawan yang diikat bersama oleh jaringan fibrosa dan yang melengkapi lingkaran disebelah belakang trachea. sampai akhirnya menjadi bronkhiolus terminalis. secara kasar diperkirakan setiap 100. Di indonesia pada tahun yang sama. Laringx (tenggorok) terletak di depan bagian terendah farinx yang mernisahkan dari columna vertebrata. selain itu juga membuat beberapa jaringan otot. Bronchus yang terbentuk dari belahan dua trachea pada ketinggian kira-kira vertebrata torakalis kelima. Percabangan ini berjalan terus menjadi bronchus yang ukurannya semakin kecil. yaitu saluran udara terkecil yang tidak mengandung alveoli (kantong udara). Alveolus yaitu tempat pertukaran gas assinus terdiri dari bronkhiolus dan respiratorius . sedikit lebih tinggi darl arteri pulmonalis dan mengeluarkan sebuah cabang utama lewat di bawah arteri. dan berjalan di bawah arteri pulmonalis sebelurn di belah menjadi beberapa cabang yang berjalan kelobus atas dan bawah. Nares anterior adalah saluran-saluran di dalam. Bronkhiolus terminalis memiliki garis tengah kurang lebih I mm.persalinan dan nifas. larinx trachea. Hidung .jenis sel yang sama.000 penduduk Indonesia terdapat 130 penderita baru tuberkulosis dengan BTA positif. dan bersambung dengan lapisan farinx dan dengan selaput lendir sinus yang mempunyai lubang masuk ke dalam.

Setelah berada dalam ruang alveolus biasanya di bagian bawah lobus atau paru-paru. Terdapat sekitar 20 kali percabangan mulai dari trachea sampai Sakus Alveolaris. Diperkirakan bahwa stiap paru-paru mengandung 150 juta alveoli. bronchial venula. Tiap lobus dibungkus oleh jaringan elastik yang mengandung pembuluh limfe. Paru kanan dibagi atas tiga lobus yaitu lobus superior. transportasi yang terdiri dan beberapa aspek yaitu : (1) Difusi gas antara alveolus dan kapiler paru-paru (respirasi eksternal) dan antara darah sistemik dan sel. Ductus alveolaris seluruhnya dibatasi oleh alveoilis dan sakus alveolaris terminalis merupakan akhir paru-paru. kebanyakan infeksi tuberculosis terjadi melalui udara (air borne).yang terkadang memiliki kantong udara kecil atau alveoli pada dindingnya. .5 urn). medius dan inferior sedangkan paru kiri dibagi dua lobus yaitu lobus superior dan inferior. tahap kcdua dari proses pemapasan mencakup proses difusi gas-gas melintasi membran alveolus kapiler yang tipis (tebalnya kurang dari 0. Kekuatan mendorong untuk pemindahan ini adalah selisih tekanan parsial antara darah dan fase gas. Paru-paru terdapat dalam rongga thoraks pada bagian kiri dan kanan. dan C02 terbentuk sebagai sampah proses metabolisme sel dan dikeluarkan oleh paru-paru (4) Transportasi. dan luka terbuka pada kulit. (3) Reaksi kimia dan fisik dari 02 dan C02 dengan darah respimi atau respirasi interna menipak-an stadium akhir dari respirasi. venula. atau di bagian atas lobus bawah. Stadium pertama adalah ventilasi yaitu masuknya campuran gas-gas ke dalam dan keluar paruparu. sehingga mempunyai permukaan yang cukup luas untuk tempat permukaan/pertukaran gas. alveolus dan kapiler paruparu membutuhkan distribusi merata dari udara dalam paru-paru dan perfusi (aliran darah) dalam kapiler dengan perkataan lain ventilasi dan perfusi.mendapatkan energi.-sel jaringan (2) Distribusi darah dalam sirkulasi pulmonal dan penyesuaiannya dengan distribusi udara dalam alveolus. Stadium kedua. (2) menyaring bahan beracun dari sirkulasi (3) reservoir darah (4) fungsi utamanya adalah pertukaran gas-gas Patofisiologi Port de’ entri kuman microbaterium tuberculosis adalah saluran pernafasan. dan C02 dikeluarkan keudara ekspirasi dapat dibagi menjadi tiga stadium. (5) Perfusi. Alveolus dipisahkan oleh dinding yang dinamakan pori-pori kohn. asinus atau. Secara garis besar bahwa Paru-paru memiliki fungsi sebagai berikut: (1) Terdapat permukaan gas-gas yaitu mengalirkan Oksigen dari udara atmosfer kedarah vena dan mengeluarkan gas carbondioksida dari alveoli keudara atmosfer. sakkus alveolar dan alveoli. ductus alveolar. saluran pencernaan. arteriola. Proses fisiologi pernafasan dimana 02 dipindahkan dari udara ke dalam jaringan-jaringan.kadang disebut lobolus primer memiliki tangan kira-kira 0. Dilapisi oleh pleura yaitu parietal pleura dan visceral pleura. yaitu. Basil tuberkel yang mencapai permukaan alveolus biasanya diinhalasi terdiri dari satu sampai tiga gumpalan basil yang lebih besar cenderung tertahan di saluran hidung dan cabang besar bronkus dan tidak menyebabkan penyakit. Di dalam rongga pleura terdapat cairan surfaktan yang berfungsi untuk lubrikai. karena ada selisih tekanan yang terdapat antara atmosfer dan alveolus akibat kerja mekanik dari otot-otot. yaitu pemindahan gas secara efektif antara. dari unit pulmonary harus sesuai pada orang normal dengan posisi tegak dan keadaan istirahat maka ventilasi dan perfusi hampir seimbang kecuali pada apeks paru-paru.5 s/d 1. yaitu melalui inhalasi droppet yang mengandung kuman-kuman basil tuberkel yang berasal dari orang yang terinfeksi. yaitu sel dimana metabolik dioksida untuk.0 cm.

Mula-mula bersifat non produktif kemudian berdahak bahkan bercampur darah bila sudah ada kerusakan jaringan. Gejala klinis Haemoptoe: Kita harus memastikan bahwa perdarahan dari nasofaring dengan cara membedakan ciri- . meliputi: a. gejala respiratorik dan gejala sistemik: 1. Leukosit polimorfonuklear tampak pada tempat tersebut dan memfagosit bacteria namun tidak membunuh organisme tersebut. meliputi: a. penurunan berat badan serta malaise. panas. Sesudah hari-hari pertama maka leukosit diganti oleh makrofag. pneumothorax. Pneumonia seluler ini dapat sembuh dengan sendirinya sehingga tidak ada sisa yang tertinggal. Gejala respiratorik. Timbulnya gejala biasanya gradual dalam beberapa minggu-bulan. Reaksi ini biasanya membutuhkan waktu 10 sampai 20 hari. mungkin tampak berupa garis atau bercak-bercak darak. Gejala ini timbul apabila sistem persarafan di pleura terkena. yang dikelilingi oleh fosit. b.Basil tuberkel ini membangkitkan reaksi peradangan. 2. Gejala sistemik. atau proses dapat juga berjalan terus. sesak napas walaupun jarang dapat juga timbul menyerupai gejala pneumonia. Gambaran klinik TB paru dapat dibagi menjadi 2 golongan. Gejala sistemik lain Gejala sistemik lain ialah keringat malam. dan bakteri terus difagosit atau berkembang biak di dalam sel. hilang timbul dan makin lama makin panjang serangannya sedang masa bebas serangan makin pendek. anemia dan lain-lain. Pada sejumlah penderita gejala yang timbul tidak jelas sehingga diabaikan bahkan kadang-kadang asimtomatik. Makrofag yang mengadakan infiltrasi mcajadi lebih panjang dan sebagian bersatu sehingga membentuk sel tuberkel epiteloit. Alveoli yang terserang akan mengalami konsolidasi dan timbul gejala pneumonia akut. akan tetapi penampilan akut dengan batuk. Demam Merupakan gejala yang sering dijumpai biasanya timbul pada sore dan malam hari mirip demam influenza. Basil juga menyebar melalui getah bening menuju ke kelenjar bening regional. c. b. gumpalan darah atau darah segar dalam jumlah sangat banyak. Batuk darah Darah yang dikeluarkan dalam dahak bervariasi. Berat ringannya batuk darah tergantung dari besar kecilnya pembuluh darah yang pecah. Nyeri dada Nyeri dada pada TB paru termasuk nyeri pleuritik yang ringan. Sesak napas Gejala ini ditemukan bila kerusakan parenkim paru sudah luas atau karena ada hal-hal yang menyertai seperti efusi pleura. Batuk Gejala batuk timbul paling dini dan merupakan gangguan yang paling sering dikeluhkan. Manifestasi Klinik Tuberkulosis sering dijuluki “the great imitator” yaitu suatu penyakit yang mempunyai banyak kemiripan dengan penyakit lain yang juga memberikan gejala umum seperti lemah dan demam. Batuk darak terjadi karena pecahnya pembuluh darah. anoreksia. d.

Darah bersifat alkalis e. bakteriologik. Benzidin test negatif 2. Uji resistensi harus dilakukan apabila ada dugaan resistensi terhadap pengobatan. Darah berwarna hitam karena bercampur asam lambung d. Darah dibatukkan dengan rasa panas di tenggorokan b. Dengan atau tanpa gejala klinik 2. mikroskopik positif 1 kali disokong biakan . Sesuai dengan program Gerdunas P2TB klasifikasi TB Paru dibagi sebagai berikut: a. Darah dimuntahkan dengan rasa mual b.ciri sebagai berikut : 1. Darah bersifat alkalis e. Batuk pelan kadang keluar c. Pemeriksaan sputum adalah diagnostik yang terpenting dalam prograrn pemberantasan TBC paru di Indonesia. Jenis pemeriksaan radiology lain hanya atas indikasi Top foto. sebaiknya 3 kali pemeriksaan dahak. BTA positif: mikroskopik positif 2 kali. Bayangan bilier Pemeriksaan Bakteriologik (Sputum) . Darah bercampur sisa makanan c. Pemeriksaan biasanya lebih sensitive daripada sediaan apus (mikroskopis). Darah bersifat asam e. Bayangan lesi radiology yang terletak di lapangan atas paru. Darah berbuih bercampur udara c. Ditemukannya kuman micobakterium TBC dari dahak penderita memastikan diagnosis tuberculosis paru. Kelainan yang bilateral. Klasifikasi ini penting karena merupakan salah satu faktor determinan untuk menetapkan strategi terapi. oblik. tomogram dan lain-lain. Pengambilan dahak yang benar sangat penting untuk mendapatkan hasil yang sebaik-baiknya. Anemia kadang-kadang terjadi f. TB Paru BTA Positif dengan kriteria: 1. radiologik dan riwayat pengobatan sebelumnya. Muntah darah a. Benzidin test positif 3. Darah segar berwarna merah muda d. Darah menetes dari hidung b. terutama bila terdapat di lapangan atas paru d. Anemia seriang terjadi f. Batuk darah a. Anemia jarang terjadi 6. Darah berwarna merah segar d. Test Diagnostik Foto thorax PA dengan atau tanpa literal merupakan pemeriksaan radiology standar. Pada pemeriksaan pertama. Karakteristik radiology yang menunjang diagnostik antara lain : a. Bayang yang menetap atau relatif menetap setelah beberapa minggu e. Bayangan yang berawan (patchy) atau berbercak (noduler) c. Epistaksis a. Klasifikasi Klasifikasi TB Paru dibuat berdasarkan gejala klinik. b.

INH. sesak (nafas pendek). Bakteriologik (mikroskopik dan biakan) negatif b. demam. Pengobatan TB dengan paduan OAT jangka pendek dengan pengawasan langsung oleh Pengawas Menelan Obat (PMO) khususnya dalam 2 bulan pertama dimana penderita harus minum obat setiap hari. Paduan obat yang digunakan terdiri dari obat utama dan obat tambahan. 4. hasil pemeriksaan bakteriologik. PROSES KEPERAWATAN 1. Pengkajian Data-data yang perlu dikaji pada asuhan keperawatan dengan Tuberkulosis paru (Doengoes. berat ringannya penyakit. berkeringat pada malam hari. Adanya komitmen politis berupa dukungan pengambil keputusan dalam penanggulangan TB. Gejala klinik dan gambaran radilogik sesuai dengan TB Paru aktif 2. Pengobatan tuberkulosis terbagi menjadi 2 fase yaitu fase intensif (2-3 bulan) dan fase lanjutan (4-7 bulan). TB Paru BTA Negatif dengan kriteria: 1. 2. mencegsah kekambuhan atau resistensi terhadap OAT serta memutuskan mata rantai penularan. takipnea/dispnea saat kerja. Streptomisin dan Etambutol. d. Penanganan Medik Tujuan pengobatan pada penderita TB Paru selain untuk mengobati juga mencegah kematian. Pola aktivitas dan istirahat Subjektif : Rasa lemah cepat lelah. 3. Kuinolon. c. Gambaran radiologik sesuai dengan TB paru. BTA negatif. B. Makrolide dan Amoksisilin + Asam Klavulanat.positif satu kali atau disokong radiologik positif 1 kali. Untuk keperluan pengobatan perlu dibuat batasan kasus terlebih dahulu berdasarkan lokasi tuberkulosa. Gejala klinik tidak ada atau ada gejala sisa akibat kelainan paru. 5. Jenis obat utama yang digunakan sesuai dengan rekomendasi WHO adalah Rifampisin. Pencatatan dan pelaporan yang baku. aktivitas berat timbul. c. Bekas TB Paru dengan kriteria: a. menunjukkan serial foto yang tidak berubah. hapusan dahak dan riwayat pengobatan sebelumnya. menggigil. sesak (tahap. Pirasinamid. Riwayat PerjalananPenyakit a. Sedang jenis obat tambahan adalah Kanamisin. sulit tidur. Ada riwayat pengobatan OAT yang adekuat (lebih mendukung). lanjut. Di samping itu perlu pemahaman tentang strategi penanggulangan TB yang dikenal sebagai Directly Observed Treatment Short Course (DOTS) yang direkomendasikan oleh WHO yang terdiri dari lima komponen yaitu: 1. 3. Radiologik menunjukkan gambaran lesi TB inaktif. Objektif : Takikardia. biakan negatif tetapi radiologik positif. b. infiltrasi . irritable. Diagnosis TB melalui pemeriksaan dahak secara mikroskopik langsung sedang pemeriksaan penunjang lainnya seperti pemeriksaan radiologis dan kultur dapat dilaksanakan di unit pelayanan yang memiliki sarana tersebut. Kesinambungan ketersediaan paduan OAT jangka pendek yang cukup. derivat Rifampisin/INH. 2000) ialah sebagai berikut : 1.

Integritas ego Subjektif : Faktor stress lama. mudah tersinggung. Riwayat kontak dengan penderita Tuberkulosis Paru. Riwayat vaksinasi yang tidak teratur.). Tes Tuberkulin: Mantoux test reaksi positif (area indurasi 10-15 mm terjadi 48-72 jam). prilaku distraksi. 4. kebersihan diri. d. Kapan pasien mendapatkan pengobatan sehubungan dengan sakitnya. perkusi pekak dan penurunan fremitus (cairan pleural). b. Rasa nyaman/nyeri Subjektif : Nyeri dada meningkat karena batuk berulang. b. ketakutan. Pemeriksaan Diagnostik: a. c. waktu dan tempat bekerja. Obiektif : Berhati-hati pada area yang sakit. Berapa lama. perasaan tak berdaya/tak ada harapan. Pernah berobat tetapi tidak sembuh.radang sampai setengah paru). nyeri bisa timbul bila infiltrasi radang sampai ke pleura sehingga timbul pleuritis. kebiasaan merokok. Riwayat Sosial Ekonomi: a. Jenis. pencegahan. Merasa dikucilkan. takipneu (penyakit luas atau fibrosis parenkim paru dan pleural). jumlah penghasilan. tidak enak diperut. e. demam subfebris (40 -410C) hilang timbul. Pola nutrisi Subjektif : Anoreksia. Pernah berobat tetapi tidak teratur. Pola hidup. pengobatan dan perawatannya. b. masalah tentang masa depan/pekerjaan pasien. tidak bersemangat dan putus harapan. b. c. mual. terdengar bunyi ronkhi basah. Objektif : Mulai batuk kering sampai batuk dengan sputum hijau/purulent. ansietas. masalah berhubungan dengan kondisi ekonomi. Riwayat Pengobatan Sebelumnya: a. deviasi trakeal (penyebaran bronkogenik). 3. penurunan berat badan. b. sesak napas. kulit kering/bersisik. sakit dada. Pernah sakit batuk yang lama dan tidak sembuh-sembuh. Aspek psikososial. mukoid kuning atau bercak darah. pola istirahat dan tidur. e. Jenis pekerjaan. menarik diri. c. kasar di daerah apeks paru. gelisah. d. minum alkohol. 6. f. Faktor Pendukung: a. Riwayat Penyakit Sebelumnya: a. pengembangan pernapasan tidak simetris (effusi pleura. kehilangan lemak sub kutan. Daya tahan tubuh yang menurun. dosis obat yang diminum. pasien menjalani pengobatan sehubungan dengan penyakitnya. biasanya pada keluarga yang kurang marnpu. Tingkat pengetahuan/pendidikan pasien dan keluarga tentang penyakit. Nutrisi. . warna. Objektif : Menyangkal (selama tahap dini). 5. Riwayat lingkungan. Kapan pasien mendapatkan pengobatan terakhir. d. tidak dapat berkomunikisi dengan bebas. pembengkakan kelenjar limfe. b. c. Respirasi Subjektif : Batuk produktif/non produktif sesak napas. untuk sembuh perlu waktu yang lama dan biaya yang banyak. Objektif : Turgor kulit jelek. masalah keuangan. Riwayat pekerjaan. 2. Kultur sputum: Mikobakterium Tuberkulosis positif pada tahap akhir penyakit.

Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan: Sekret kental atau sekret darah. pencegahan berhubungan dengan: Tidak ada yang menerangkan. Catat kemampuan untuk mengeluarkan secret atau batuk efektif. Resiko tinggi infeksi dan penyebaran infeksi berhubungan dengan: Daya tahan tubuh menurun. Edema bronchial. Rencana Keperawatan Adapun rencana keperawatan yang ditetapkan berdasarkan diagnosis keperawatan yang telah dirumuskan sebagai berikut: 1. Bersihan jalan napas tidak efektif Tujuan: Mempertahankan jalan napas pasien. Mengidentifikasi potensial komplikasi dan melakukan tindakan tepat. 3. Anoreksia. Sekret yang kental. jumlah sputum. pengobatan. ventilasi maksimal membuka area atelektasis dan peningkatan gerakan sekret agar mudah dikeluarkan . 2. Mengeluarkan sekret tanpa bantuan. Interpretasi yang salah. ronki indikasi akumulasi secret/ketidakmampuan membersihkan jalan napas sehingga otot aksesori digunakan dan kerja pernapasan meningkat. c. sekret yang inenetap. Rasional: Penurunan bunyi napas indikasi atelektasis. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan: Berkurangnya keefektifan permukaan paru. atelektasis. Informasi yang didapat tidak lengkap/tidak akurat. kedalaman dan penggunaan otot aksesori. f. fungsi silia menurun. Perubahan kebutuhan nutrisi. Malnutrisi. adanya hemoptisis. Intervensi: a. Rasional: Pengeluaran sulit bila sekret tebal. upaya batuk buruk. Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan yang lazim terjadi pada klien dengan Tuberkulosis paru adalah sebagai berikut: 1. Edema trakeal/faringeal.c. Terkontaminasi oleh lingkungan. Darah: peningkatan leukosit dan Laju Endap Darah (LED). Kerusakan membran alveolar kapiler. 4. kecepatan. Pada kalsifikasi tampak bayangan bercak-bercak padat dengan densitas tinggi. Kelemahan. Batuk yang sering. imma. Spirometri: penurunan fuagsi paru dengan kapasitas vital menurun. Menunjukkan prilaku untuk memperbaiki bersihan jalan napas. e. Pada kavitas bayangan. Terbatasnya pengetahuan/kognitif 4. catat karakter. Bantu/ajarkan batuk efektif dan latihan napas dalam. Kurang pengetahuan tentang infeksi kuman. 5. berupa cincin . Bronchografi: untuk melihat kerusakan bronkus atau kerusakan paru karena TB paru. Kaji fungsi pernapasan: bunyi napas. adanya produksi sputum. Rasional: Meningkatkan ekspansi paru. Pada tahap dini tampak gambaran bercak-bercak seperti awan dengan batas tidak jelas . Poto torak: Infiltnasi lesi awal pada area paru atas . sputum berdarah akibat kerusakan paru atau luka bronchial yang memerlukan evaluasi/intervensi lanjut. Berikan pasien posisi semi atau Fowler. Penurunan kemampuan finansial. d. Kerusakan jaringan akibat infeksi yang menyebar. Dispnea. 3. Berpartisipasi dalam program pengobatan sesuai kondisi. b. kurang dari kebutuhan berhubungan dengan: Kelelahan. Kurang pengetahuan tentang kondisi.

dengan edema laring atau perdarahan paru akut. Intervensi a. Rasional: Tuberkulosis paru dapat rnenyebabkan meluasnya jangkauan dalam paru-pani yang berasal dari bronkopneumonia yang meluas menjadi inflamasi. bunyi pernapasan abnormal. ciuman atau menyanyi. meludah. dan warna kuku. aman. Rasional: Meningkatnya resistensi aliran udara untuk mencegah kolapsnya jalan napas. tertawa. keterbatasan ekspansi dada dan kelemahan. 3.d. Rasional: Membantu mengencerkan secret sehingga mudah dikeluarkan f. Rasional: Mengurangi konsumsi oksigen pada periode respirasi. Menunjukkan/melakukan perubahan pola hidup untuk meningkatkan lingkungan yang. pleural effusion dan meluasnya fibrosis dengan gejala-gejala respirasi distress. 2. d. Intervensi a. Gangguan pertukaran gas Tujuan: Melaporkan tidak terjadi dispnea. Rasional: Akumulasi secret dapat menggangp oksigenasi di organ vital dan jaringan. kortikosteroid sesuai indikasi. Monitor GDA. Evaluasi perubahan-tingkat kesadaran. Rasional: Membantu pasien agar mau mengerti dan menerima terapi yang diberikan . Suction dilakukan bila pasien tidak mampu mengeluarkan sekret. Bersihkan sekret dari mulut dan trakea. Rasional: Mencegah obstruksi/aspirasi. Review patologi penyakit fase aktif/tidak aktif. Demonstrasikan/anjurkan untuk mengeluarkan napas dengan bibir disiutkan. h. catat tanda-tanda sianosis dan perubahan warna kulit. g. Berikan oksigen sesuai indikasi. nekrosis. e. penyebaran infeksi melalui bronkus pada jaringan sekitarnya atau aliran darah atau sistem limfe dan resiko infeksi melalui batuk. Bebas dari gejala distress pernapasan. terutama pada pasien dengan fibrosis atau kerusakan parenkim. bersin. Kaji dispnea. Rasional: Menurunnya saturasi oksigen (PaO2) atau meningkatnya PaC02 menunjukkan perlunya penanganan yang lebih. Rasional: Mencegah pengeringan membran mukosa. Lembabkan udara/oksigen inspirasi. adekuat atau perubahan terapi. Rasional: Menurunkan kekentalan sekret. Rasional: Diperlukan pada kasus jarang bronkogenik. membran mukosa. Pertahankan intake cairan minimal 2500 ml/hari kecuali kontraindikasi. Resiko tinggi infeksi dan penyebaran infeksi Tujuan: Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah/menurunkan resiko penyebaran infeksi.. Rasional: Membantu mengoreksi hipoksemia yang terjadi sekunder hipoventilasi dan penurunan permukaan alveolar paru. berguna jika terjadi hipoksemia pada kavitas yang luas. Berikan obat: agen mukolitik. f. Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan adekuat dengan GDA dalam rentang normal. Peningkatan upaya respirasi. Bantu inkubasi darurat bila perlu. batasi dan bantu aktivitas sesuai kebutuhan. suction bila perlu. bronkodilator. e. lingkaran ukuran lumen trakeabronkial. Anjurkan untuk bedrest. takipnea. b. c.

untuk mencegah komplikasi. b. Identifikasi orang-orang yang beresiko terkena infeksi seperti anggota keluarga, teman, orang dalam satu perkumpulan. Rasional: Orang-orang yang beresiko perlu program terapi obat untuk mencegah penyebaran infeksi. c. Anjurkan pasien menutup mulut dan membuang dahak di tempat penampungan yang tertutup jika batuk. Rasional: Kebiasaan ini untuk mencegah terjadinya penularan infeksi. d. Gunakan masker setiap melakukan tindakan. Rasional: Mengurangi risilio penyebaran infeksi. e. Monitor temperatur. Rasional: Febris merupakan indikasi terjadinya infeksi. f. Identifikasi individu yang berisiko tinggi untuk terinfeksi ulang Tuberkulosis paru, seperti: alkoholisme, malnutrisi, operasi bypass intestinal, menggunakan obat penekan imun/ kortikosteroid, adanya diabetes melitus, kanker. Rasional: Pengetahuan tentang faktor-faktor ini membantu pasien untuk mengubah gaya hidup dan menghindari/mengurangi keadaan yang lebih buruk. g. Tekankan untuk tidak menghentikan terapi yang dijalani. Rasional: Periode menular dapat terjadi hanya 2-3 hari setelah permulaan kemoterapi jika sudah terjadi kavitas, resiko, penyebaran infeksi dapat berlanjut sampai 3 bulan. h. Pemberian terapi INH, etambutol, Rifampisin. Rasional: INH adalah obat pilihan bagi penyakit Tuberkulosis primer dikombinasikan dengan obat-obat lainnya. Pengobatan jangka pendek INH dan Rifampisin selama 9 bulan dan Etambutol untuk 2 bulan pertama. i. Pemberian terapi Pyrazinamid (PZA)/Aldinamide, para-amino salisik (PAS), sikloserin, streptomisin. Rasional: Obat-obat sekunder diberikan jika obat-obat primer sudah resisten. j. Monitor sputum BTA Rasional: Untuk mengawasi keefektifan obat dan efeknya serta respon pasien terhadap terapi. 4. Perubahan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan Tujuan: Menunjukkan berat badan meningkat mencapai tujuan dengan nilai laboratoriurn normal dan bebas tanda malnutrisi. Melakukan perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan mempertahankan berat badan yang tepat. Intervensi: a. Catat status nutrisi paasien: turgor kulit, timbang berat badan, integritas mukosa mulut, kemampuan menelan, adanya bising usus, riwayat mual/rnuntah atau diare. Rasional: berguna dalam mendefinisikan derajat masalah dan intervensi yang tepat. b. Kaji pola diet pasien yang disukai/tidak disukai. Rasional: Membantu intervensi kebutuhan yang spesifik, meningkatkan intake diet pasien. c. Monitor intake dan output secara periodik. Rasional: Mengukur keefektifan nutrisi dan cairan. d. Catat adanya anoreksia, mual, muntah, dan tetapkan jika ada hubungannya dengan medikasi. Awasi frekuensi, volume, konsistensi Buang Air Besar (BAB). Rasional: Dapat menentukan jenis diet dan mengidentifikasi pemecahan masalah untuk

meningkatkan intake nutrisi. e. Anjurkan bedrest. Rasional: Membantu menghemat energi khusus saat demam terjadi peningkatan metabolik. f. Lakukan perawatan mulut sebelum dan sesudah tindakan pernapasan. Rasional: Mengurangi rasa tidak enak dari sputum atau obat-obat yang digunakan yang dapat merangsang muntah. g. Anjurkan makan sedikit dan sering dengan makanan tinggi protein dan karbohidrat. Rasional: Memaksimalkan intake nutrisi dan menurunkan iritasi gaster. h. Rujuk ke ahli gizi untuk menentukan komposisi diet. Rasional: Memberikan bantuan dalarn perencaaan diet dengan nutrisi adekuat unruk kebutuhan metabolik dan diet. i. Konsul dengan tim medis untuk jadwal pengobatan 1-2 jam sebelum/setelah makan. Rasional: Membantu menurunkan insiden mual dan muntah karena efek samping obat. j. Awasi pemeriksaan laboratorium. (BUN, protein serum, dan albumin). Rasional: Nilai rendah menunjukkan malnutrisi dan perubahan program terapi. k. Berikan antipiretik tepat. Rasional: Demam meningkatkan kebutuhan metabolik dan konsurnsi kalori. 5. Kurang pengetahuan tentang kondisi, pengobatan, pencegahan. Tujuan: Menyatakan pemahaman proses penyakit/prognosis dan kebutuhan pengobatan. Melakukan perubahan prilaku dan pola hidup unruk memperbaiki kesehatan umurn dan menurunkan resiko pengaktifan ulang luberkulosis paru. Mengidentifikasi gejala yang mernerlukan evaluasi/intervensi. Menerima perawatan kesehatan adekuat. Intervensi a. Kaji kemampuan belajar pasien misalnya: tingkat kecemasan, perhatian, kelelahan, tingkat partisipasi, lingkungan belajar, tingkat pengetahuan, media, orang dipercaya. Rasional: Kemampuan belajar berkaitan dengan keadaan emosi dan kesiapan fisik. Keberhasilan tergantung pada kemarnpuan pasien. b. Identifikasi tanda-tanda yang dapat dilaporkan pada dokter misalnya: hemoptisis, nyeri dada, demam, kesulitan bernafas, kehilangan pendengaran, vertigo. Rasional: Indikasi perkembangan penyakit atau efek samping obat yang membutuhkan evaluasi secepatnya. c. Tekankan pentingnya asupan diet Tinggi Kalori Tinggi Protein (TKTP) dan intake cairan yang adekuat. Rasional: Mencukupi kebutuhan metabolik, mengurangi kelelahan, intake cairan membantu mengencerkan dahak. d. Berikan Informasi yang spesifik dalam bentuk tulisan misalnya: jadwal minum obat. Rasional: Informasi tertulis dapat membantu mengingatkan pasien. e. jelaskan penatalaksanaan obat: dosis, frekuensi, tindakan dan perlunya terapi dalam jangka waktu lama. Ulangi penyuluhan tentang interaksi obat Tuberkulosis dengan obat lain. Rasional: Meningkatkan partisipasi pasien mematuhi aturan terapi dan mencegah putus obat. f. jelaskan tentang efek samping obat: mulut kering, konstipasi, gangguan penglihatan, sakit kepala, peningkatan tekanan darah Rasional: Mencegah keraguan terhadap pengobatan sehingga mampu menjalani terapi.

g. Anjurkan pasien untuk tidak minurn alkohol jika sedang terapi INH. Rasional: Kebiasaan minurn alkohol berkaitan dengan terjadinya hepatitis h. Rujuk perneriksaan mata saat mulai dan menjalani terapi etambutol. Rasional: Efek samping etambutol: menurunkan visus, kurang mampu melihat warna hijau. i. Dorong pasien dan keluarga untuk mengungkapkan kecemasan. Jangan menyangkal. Rasional: Menurunkan kecemasan. Penyangkalan dapat memperburuk mekanisme koping. j. Berikan gambaran tentang pekerjaan yang berisiko terhadap penyakitnya misalnya: bekerja di pengecoran logam, pertambangan, pengecatan. Rasional: Debu silikon beresiko keracunan silikon yang mengganggu fungsi paru/bronkus. k. Anjurkan untuk berhenti merokok. Rasional: Merokok tidak menstimulasi kambuhnya Tuberkulosis; tapi gangguan pernapasan/ bronchitis. l. Review tentang cara penularan Tuberkulosis dan resiko kambuh lagi. Rasional: Pengetahuan yang cukup dapat mengurangi resiko penularan/ kambuh kembali. Komplikasi Tuberkulosis: formasi abses, empisema, pneumotorak, fibrosis, efusi pleura, empierna, bronkiektasis, hernoptisis, u1serasi Gastro, Instestinal (GD, fistula bronkopleural, Tuberkulosis laring, dan penularan kuman. 5. Evaluasi a. Keefektifan bersihan jalan napas. b. Fungsi pernapasan adekuat untuk mernenuhi kebutuhan individu. c. Perilaku/pola hidup berubah untuk mencegah penyebaran infeksi. d. Kebutuhan nutrisi adekuat, berat badan meningkat dan tidak terjadi malnutrisi. e. Pemahaman tentang proses penyakit/prognosis dan program pengobatan dan perubahan perilaku untuk memperbaiki kesehatan.

askep ARDS ( Acute Respiratory Distress Syndrome)
AKPER PPNI SOLO, 8.15.2009 Askep ARDS atau Acute Respiratory Distress Syndrome, Sering merupakan kelanjutan dari shock paru-paru, kongesti atelektasis, post traumatic paru-paru, post infusion paru, dan ventilasi paru. Kondisi akut paru-paru yang mengakibatkan macam-macam perubahan patofisiologi dalam paru. Menyerupai perubahan pada IRDS, perbedaannya terletak pada penurunan surfaktan akibat dari kerusakan paru. Kliennya umumnya masih muda yang sebelumnya dia sehat. Jenis ketidakstabilan akut, baik langsung atau tidak langsung berperan dalam menimbulkan syndrom. Keadaan yang langsung : Menghirup racun iritan Infeksi diffusi alveolar

Banyak teori yang menerangkan patogenesis dari syndrom yang berhubungan dengan kerusakan awal paru-paru yang terjadi dimembran kapiler alveolar. Cairan juga masuk dalam alveoli dan mengakibatkan oedema paru. Aspirasi virus pneumonia. Akibatnya terjadi tanda-tanda atelektasis. pneumonia septic) Emboli lemak Trauma kepala Trauma non thoraks Pancreatitis Uremia Drug overdose (heroin. methadone barbiturat). bacterial. hemorrhagic. tenggelam. Adanya peningkatan permeabilitas kapiler dan akibat masuknya cairan ke dalam ruang interstitial. hydrocarbon. Plasma dan sel darah merah keluar dari kapiler-kapiler yang rusak. Non pulmonary : Shock (traumatic. oleh karena itu . ethylene glycol) Inhalasi racun (rokok. kimia corrosive. seolah-olah dipengaruhi oleh aktifitas surfaktan. Massive blood transfusion Reaksi transfusi Pembekuan darah intravaskuler By pass cardiopulmonary Penambahan tekanan intrakranial Cairan overload Eclampsia Gejala defisiensi autoimmune Patofisiologi. Keadaan yang tidak langsung : Trauma dan shock karena pembedahan Sepsis dengan pelepasan endotoksin Pembekuan darah intravaskuler Transfusi darah massive Reaksi transudasi Penyakit Yang Dapat Menyebabkan ARDS : Pulmonary : Virus pneumonia Fungi pneumonia Pneumocystis carinii Military tuberculosis Legionaire’s pneumonia Radiation pneumonitis Contusio paru Cairan aspirasi (gastric. Hampir tenggelam dan trauma dada. amniotic fluid embolic.Darah yang beracun. O2 konsentrasi meningkat.

Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penambahan (peningkatan) permiabilitas .Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan penambahan shunt dan ventilasi – perfusi terganggu.→ O2 C →Hypoksimia.Tidak efektifnya jalan napas berhubungan dengan immobilisasi dan jalan napas buatan. 6. 5. Hypotensia/bradicardia atau hipertension/tachicardia. susah bernafas.Potensial injury berhubungan dengan barotrauma atau tidak aktifnya aliran ventilator.mungkin perdarahan merupakan manifestasi patologi yang umum. pada orang muda yang biasa mempunyai riwayat sakit paru-paru. 2.Kurangnya cardiac output berhubungan dengan tingginya PEEP (Positive End mengetahui atau berguna untuk memenuhi kebutuhan→Expiratory Pressure) ventilasi paru. Dysritmia Tanda-tanda adanya asidosis metabolic dan respiratorik ⇓ menegakkan diagnosis: Status adanya kesulitan memperoleh pemenuhan ventilasi yang→klinik klien adekuat (sehingga penurunan pemenuhan ventilasi yang meningkatkan menurunkan kapasitas vital paru-paru infiltrasi→kekakuan paru-paru) alveolar. 3. Diagnosa Keperawatan 1. 4. Distress pernafasan : Tachypnea > 20 x/menit. Radiografi Difusi pulmonal menyebar Infiltrasi interstitial (awal) Infiltrasi alveoli (lanjut/akhir) Fisiologi Hipoksemia refractory. keadaan abnormal ventrikel kiri.Tidak efektifnya pola napas berhubungan dengan kurangnya complain paru dan kecemasan. Kriteria untuk diagnosa ARDS : Klinik Keadaan katastropik : paru atau bukan paru Eksklusi : Penyakit paru kronis. Tanda-tanda utama manifestasi klinik: Dyspnea Tachicardia Cyanosis dengan atau tanpa retraksi intercostals refractory hypoxemia. Pa O2 60 % Kompliance paru rendah 1000 gr) Congestive atelektasis Membran hyaline Fibrosis PENGKAJIAN Gejala terjadi tiba-tiba dalam 2 – 3 hari sesudah trauma atau kesakitan.

PaO2 lebih dari atau sama dengan 60 mmHg. Kriteria tujuan untuk klien: Stabil dan sinkronnya antara pernapasan dengan ventilator dengan slow rate yang cukup dalam level yang normal ventilasi Pa CO2 35 – 45 mmHg. Integritas kulit baik.Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kelumpuhan dan bedrest. 9. Pencegahan dengan meminimalkan komplikasi dan stressor untuk klien dan keluarganya merupakan hal yang penting. 12.Mempertahankan oksigenasi secara adekuat. Oksigenasi jaringan secara adekuat dilakukan dengan pemberian O2 konsentrasi tinggi.Kelemahan berhubungan dengan ketergantungan dalam pemakaian alat. 1982) tingkat rasa nyaman. Perencanaan Dan Pelaksanaan Perawatan klien dengan ARDS perencanaannya yaitu perbaikan pola napas dan kestabilan hemodinamic. 13.Perubahan nutrisi.Gangguan pola tidur berhubungan dengan lingkungan yang kritis dan kebutuhan akan bantuan perawat. Tekanan kapiler paru normal. 8. 11. Tekanan maximum jalan napas 50 – 70 mmHg. lebih dari pada intake berhubungan dengan perubahan metabolisme dan ketidakmampuan intake makanan melalui oral. Komunikasi nonverbal dapat diartikan.Tidak efektifnya koping keluarga berhubungan dengan mengatasi stress dan kecemasan dalam kondisi kritis. Hemodinamic parameter (CO. untuk mempertahankan tekanan O2 arteri sekitar 20 mmHg (William. Berat badan stabil. kurang dari atau sama dengan 40 % Fi O2. shunt friction kurang atau sama dengan 20 % Jalan napas tetap.membran pulmonal dan kelebihan sekresi ADH. utuh.Gangguan integritas kulit berhubungan dengan perfusi dan immobilisasi. HR) stabil. PEEP (Positive End Expiratory Pressure) Digunakan untuk memberi tekanan inflasi yang tinggi. 7. Membran mukosa mulut baik. 10.→Kegagalan mempertahankan O2 Meningkatkan keperluan O2 dengan mempertahankan suhu klien pada tingkat normal. Pelaksanaan 1.Perubahan membran mukosa mulut berhubungan dengan jalan napas buatan.Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan jalan napas buatan dan kelumpuhan. mengurangi rasa nyeri dan menjaga ketenangan klien. Keseimbangan intake dan output. Kelemahan dan penyakit respirasi merupakan indikasi untuk menggunakan ventilasi mekanic. Berguna terpenuhinya kebutuhan→untuk memenuhi kebutuhan ventilasi paru ventilasi . BP. 14.

.Pencegahan cedera paru berlanjut.Nutrisi: resiko terjadi malnutrisi. Pemberian O2. alat monitor khusus (CVP.Individu dan family coping. Mempertinggi distribusi O2 ke seluruh paru-paru dengan mempertahankan expansi alveoli. menurun-kan permeabilitas kapiler paru-paru.→Ketepatan pemeriksaan gas darah. cardiac output PEEP kemungkinan besar menurunkan cardiac output karena lemahnya aliran denyut nadi dan tekanan darah→darah vena yang kembali ke jantung harus sering dimonitor. Perawat harus memonitor perfusi pada organ vital : CNS : Tingkat kesadaran Pergerakan Sensasi Ginjal : Urine output Blood urine nitrogen (BUN) Serum kreatinin Myocardium : Heart rate Rhytm 2.paru ditandai dengan adanya elastisitas paru dan dada.→ 3. Pemberian albumin dan dextran dengan molekul tinggi Mungkin juga mengurangi permeabilitas kapiler Untuk menjaga paru tetap kering Antibiotik Mencegah infeksi bakteri. atau swan-Ganz cateter). Vena bercampur (mengalir dari kiri ke kanan) dan hypoxemia dikurangi. Jika keadaan ini tidak terpenuhi paru-paru akan kolaps. Lingkungan sekitar klien harus tenang dan rileks.→Klien dengan ARDS TKTP diberikan. Sekresi sebaiknya dihisap dengan suction sesuai kebutuhan Posisi pasien sering diubah-ubah dan pentingnya dilakukan gerakan/latihan pasif. 4. kortikosteroid. Mempertahankan tekanan jalan napas di atas tekanan atmosfer melalui siklus respirasi. Kemungkinan kecenderungan terjadi retensi cairan dan edema paru selama ventilasi (intake dan output).→Untuk mengurangi peradangan dari membran alveoli Kortikosteroid Mungkin juga meningkatkan kontraktilitas jantung dan perfusi sirkulasi periferal serta organ-organ vital. Karena peningkatan metabolisme dan gangguan oral intake. Keefektifan dari PEEP dimonitor dengan seringnya analisa gas darah.

ASTHMA BRONCHIALE 1. infeksi dan sebagainya. Paparan terhadap alergi akan mencetuskan serangan asthma. TIPE ASTHMA Asthma terbagi menjadi alergi. ETIOLOGI Sampai saat ini etiologi asthma belum diketahui dengan pasti. Bentuk asthma ini biasanya dimulai saat kanak-kanak. tidak berhubungan secara langsung dengan allergen spesifik. Rangsangan atau pencetus . c. Ketiga penyakit yang membentuk satu kesatuan yang dikenal dengan COPD adalah : Bronchitis kronis. idiopatik. non alergik atau campuran (mixed) : a. merupakan suatu bentuk asthma dengan penyebab allergen (missal : bulu binatang. otonomik dan psikologi. DEFINISI Asthma adalah suatu gangguan pada saluran bronchial yang mempunyai ciri bronchospasme periodik (kontraksi spasme pada saluran nafas). Pasien dengan asthma alergik biasanya mempunyai riwayat penyakit alergi pada keluarga dan riwayat pengobatan exzema atau rhinitis alergik. tepung sari. debu. b. suatu hal yang menonjol pada semua penderita asthma adalah fenomena hiperreaktivitas bronchus. Bentuk asthma ini biasanya dimulai pada saat dewasa (> 35 tahun). infeksi saluran nafas atas. merupakan bentuk asthma yang paling sering. emosi dan polusi lingkungan akan mencetuskan serangan. Idiopathic atau Nonallergic Asthma/Intrinsik. kimia.Asuhan keperawatan Pada Klien Dengan Chronic Obstructive Pulmonary Diseases (COPD) Penyakit Paru Obstruktif Kronik (COPD) merupakan suatu istilah yang sering digunakan untuk sekelompok penyakit paru-paru yang berlangsung lama dan ditandai oleh peningkatan resistensi terhadap aliran udara sebagai gambaran patofisiologi utamanya. emfisema paru-paru dan asthma bronchiale. 3. Asthma Alergik /Ekstrinsik. Beberapa pasien berkembang menjadi asthma campuran. Sering juga penyakit ini disebut dengan “Chronic Airflow Limitation (CAL)” dan “Chronic Obstructive Lung Diseases (COLD)” A. Asthma merupakan penyakit yang kompleks yang dapat diakibatkan oleh faktor biochemical. Serangan dari asthma idiopatik atau nonalergik menjadi lebih berat dan seringkali dengan berjalannya waktu dan dapat berkembang menjadi bronchitis dan emfisema. infeksi. alergen. beta-adrenergic antagonist dan agent sulfite (penyedap makanan) juga dapat sebagai faktor. bronchus penderita asthma sangat peka terhadap rangsangan imunologi maupun non-imunologi. kegiatan. ketombe. Dikarakteristikkan dengan bentuk kedua jenis asthma alergi dan idiopatik atau nonalergi. makanan dll). metabolik. Allergen terbanyak adalah airborne dan seasonal (musiman). Beberapa agent pharmakologi. Asthma Campuran (Mixed Asthma). Karena sifat inilah maka serangan asthma mudah terjadi akibat berbagai rangsangan baik fisis. endokrin. 2. Faktor-faktor seperti common cold.

antagonis beta-adrenergik dan bahan sulfat. Pasien yang sensitif terhadap aspirin dapat didesentisasi dengan pemberian obat setiap hari. pulsus paradoksus. Objektif • Sesak nafas yang berat dengan ekspirasi memanjang disertai wheezing. Obat yang paling sering berhubungan dengan induksi episode akut asthma adalah aspirin. sesak. Sindroma pernafasan sensitif-aspirin khusus terutama mengenai orang dewasa. Baru kemudian muncul asthma progresif. 5. Psikososial • Cemas. pollutan c. f. Lingkungan kerja g. gelisah. batuk dan mengi. h. Masalah ini biasanya berawal dari rhinitis vasomotor perennial yang diikuti oleh rhinosinusitis hiperplastik dengan polip nasal. Mekanisme dengan aspirin dan obat lain dapat menyebabkan bronkospasme tidak diketahui tetapi mungkin berkaitan dengan pembentukan leukotrien yang diinduksi secara khusus oleh aspirin. gejala yang disebutkan terakhir sering dianggap sebagai gejala yang harus ada (“sine qua non”). Antagonis beta-adrenergik biasanya menyebabkan obstruksi jalan nafas pada pasien asthma demikian juga dengan pasien lain dengan peningkatan reaktifitas jalan nafas dan . takut dan mudah tersinggung • Kurangnya pengetahuan klien terhadap situasi penyakitnya. e. alergen tersebut harus tersedia dalam jumlah banyak untuk periode waktu tertentu. Sebagian besar alergen yang mencetuskan asthma bersifat airborne dan supaya dapat menginduksi keadaan sensitivitas. Alergen utama : debu rumah. Faktor-faktor tersebut adalah : a. tachicardia. Setelah menjalani bentuk terapi ini. Akan tetapi sekali sensitisasi telah terjadi pasien akan memperlihatkan respon yang sangat baik sehingga sejumlah kecil alergen yang mengganggu sudah dapat menghasilkan eksaserbasi penyakit yang jelas. Emosi i. toleransi silang juga akan terbentuk terhadap agen anti-inflamasi non-steroid lain. • Dapat disertai batuk dengan sputum kental. • Fase ekspirasi memanjang disertai wheezing (di apex dan hilus) Subjektif • Klien merasa sukar bernafas. Perubahan cuaca yang ekstrim. bau-bauan. PATOFISIOLOGI Asthma akibat alergi bergantung kepada respon IgE yang dikendalikan oleh limfosit T dan B dan diaktifkan oleh interaksi antara antigen dengan molekul IgE yang berikatan dengan sel mast. Kegiatan jasmani yang berlebihan. Obat-obatan. GAMBARAN KLINIS Gejala asthma terdiri dari triad : dispnea. sulit dikeluarkan. anoreksia. spora jamur dan tepung sari rerumputan b. 4. bahan pewarna seperti tartazin. Lain-lain : seperti reflux gastro esofagus. • Bernafas dengan menggunakan otot-otot nafas tambahan • Cyanosis. Iritan seperti asap.yang sering menimbulkan asthma perlu diketahui dan sedapat mungkin dihindarkan. walaupun keadaan ini juga dapat dilihat pada masa kanak-kanak. Infeksi saluran nafas terutama yang disebabkan oleh virus d.

bradikinin dan anafilatoksin. infeksi) Reaksi Antigen dan Antibodi Release Vasoactive Substance (histamin. Wheezing d. Tabel 2 :Pengkajian Untuk menentukan beratnya Asthma Manifestasi Klinis Skor 0 Skor 1 a. kentang. Penurunan toleransi beraktifitas b. Teraba pulsus paradoksus g. buah segar. Respirasi rate permenit e. Pajanan biasanya terjadi setelah menelan makanan atau cairan yang mengandung senyawa ini. Puncak Expiratory Flow Rate (L/menit) Ya Tidak ada Tidak ada < 25 . c. Obat sulfat. kalium dan natrium bisulfit. peningkatan permeabilitas kapiler dan peningkatan sekresi mukus seperti terlihat pada gambar berikut ini. Pencetus-pencetus serangan di atas ditambah cetusan lainnya dari internal pasien akan mengakibatkan timbulnya reaksi antigen dan antibodi yang mengakibatan dikeluarkan substansi pereda alergi yang sebetulnya merupakan mekanisme tubuh dalam menghadapi serangan yang dapat berupa dikeluarkannya histamin. anafilatoxin) ↑ Permeabilitas Kapiler • Kontraksi Otot Polos • Edema mukosa • Hipersekresi Obstruksi Saluran Nafas Hipoventilasi Distribusi ventilasi tak merata dengan sirkulasi darah paru Gangguan difusi gas di alveoli Hipoxemia Hiperkapnia Gambar 13 : Skema Patofisiologi Asthma Bronchiale Untuk melihat derajat beratnya asthma biasanya dilakukan pemeriksaan secara komprehensif dengan menggunakan alat ukur seperti pada tabel 2.harus dihindarkan pada pasien ini. kerang dan anggur. bradikinin. adanya retraksi interkostal. natrium sulfit dan sulfat klorida. Pulse rate permenit f. Penggunaan otot nafas tambahan. salad. Hasil dari hal tersebut timbul 3 gejala yaitu berkontraksinya otot polos. misal. Pencetus serangan (alergen. seperti kalium metabisulfit. emosi/stress. obat-obatan. yang secara luas digunakan dalam industri makanan dan farmasi sebagai agen sanitasi dan pengawet juga dapat menimbulkan obstruksi jalan nafas akut pada pasien yang sensitif.

PENATALAKSANAAN Prinsip-prinsip penatalaksanaan asthma bronchial : a. klien harus diobservasi untuk menentukan adakah respon dari terapi atau segera dikirim ke rumah sakit. Konstriksi Otot Polos Bronchospasme ↑ Sekresi Mukus ↑ Produksi Mukus Bersihan jalan nafas tak efektif Kerusakan Pertukaran Gas Ketidakseimbangan Nutrisi : Kurang dari kebutuhan tubuh (Risiko/aktual) Tabel 3 : Perubahan Dalam Arteri Blood Gas yang berhubungan dengan Asthma Ringan Sedang Berat Status Asmatikus PaO2 PaCO2 pH Elevasi Menurun Alkalosis Normal sampai hipoxemia ringan Menurun sampai Normal Alkalosis Hipoxemia Elevasi Alkalosis Hipoxemia berat Elevasi Jelas Asidosis 6. Diagnosis status asmatikus.< 120 Tidak ada > 100 Tidak Ada Ada > 25 > 120 ada < 100 Keterangan : Skor 4/lebih disangkakan asthma berat. Faktor penting yang harus diperhatikan : 1) Saatnya serangan 2) Obat-obatan yang telah diberikan (macam dan dosis) .

Pemberian obat bronchodilator. antibiotik . Obat-obatan bronchodilator golongan simpatomimetik bentuk selektif terhadap adrenoreseptor (Orsiprendlin. Pada dewasa dicoba dengan 0. c. Efedrin. Terbutalin. Ispenturin. Mula-mula diberikan 2 sedotan dari Metered Aerosol Defire (Afulpen Metered Aerosol). dengan diikuti pemberian 30 – 60 mg prednison atau dengan dosis 1 – 2 mg/Kg BB/hari secara oral dalam dosis terbagi. • Obat-obat Bronchodilatator simpatomimetik memberi efek samping tachicardia. d. demikian sebaliknya. Salbutamol. c. Obat ekspektoran seperti Gliserolguaiakolat dapat juga digunakan untuk memperbaiki dehidrasi. Kortikosteroid Pemberian obat–obat bronchodilatator tidak menunjukkan perbaikan. bila sebelumnya telah digunakan obat golongan Teofilin oral maka sebaiknya diberikan obat golongan simpatomimetik secara aerosol atau parenteral.9 mg/KgBB/Jam secara infus.b. Pertimbangan terhadap pemberian kortikosteroid. • Pemberian Aminophilin secara intravena dosis awal 5 – 6 mg/Kg BB dewasa/anak-anak. 2) Modifikasi pengobatan penunjang selanjutnya. maka intake cairan peroral dan infus harus cukup.01 mg/Kg BB subkutan (1 mg permil) dapat diulang tiap 30 menit untuk 2–3x sesuai kebutuhan. maka sebaiknya diberikan Aminophilin secara parenteral sebab mekanisme yang berlainan. b. jika tidak ada perbaikan sampai 10-15 menit berikan Aminophilin intravena. OBAT-OBATAN a. Jika sebelumnya telah digunakan obat golongan simpatomimetik. e. Pemberian Oksigen Melalui kanul hidung dengan kecepatan aliran O2 2-4 liter/menit dan dialirkan melalui air untuk memberikan kelembaban.3 ml larutan epinefrin 1 : 1000 secara subkutan. Setelah serangan mereda : 1) Cari faktor penyebab. berbahaya pada penyakit hipertensi. Anak-anak 0. dilanjutkan dengan pengobatan kortikosteroid 200 mg hidrokortison secara oral atau dengan dosis 3 – 4 mg/Kg BB intravena sebagai dosis permulaan dan dapat diulang 2 – 4 jam secara parenteral sampai serangan akut terkontrol. Untuk dosis penunjang 0. Bronchodilator Tidak digunakan bronchodilator oral. Penilaian terhadap perbaikan serangan. Isoprendlin) • Obat-obat bronchodilatator serta aerosol bekerja lebih cepat dan efek samping sistemik lebih kecil. Baik digunakan untuk sesak nafas berat pada anak-anak dan dewasa. kemudian dosis dikurangi secara bertahap. kardiovaskuler dan serebrovaskuler. tetapi dipakai secara inhalasi atau parenteral. Efek sampingnya tekanan darah menurun bila dilakukan tidak secara perlahan. penggunaan parenteral pada orang tua harus hati-hati. 7. Jika menunjukkan perbaikan dapat diulang tiap 4 jam. sesuai dengan prinsip rehidrasi. disuntikkan perlahan dalam 5-10 menit. Fenoterol) mempunyai sifat lebih efektif dan masa kerja lebih lama serta efek samping kecil dibandingkan dengan bentuk non-selektif (Adrenalin.

Agent adrenergic yang sering digunakan antara lain epinephrine. difteri dan typhus abdominalis. Bronchitis kronis dapat merupakan komplikasi kelainan patologik yang mengenai beberapa alat tubuh. Kongesti menahun pada dinding bronchus melemahkan daya tahannya sehingga infeksi bakteri mudah terjadi. merupakan keadaan yang berkaitan dengan produksi mukus takeobronkial yang berlebihan sehingga cukup untuk menimbulkan batuk dengan ekspektorasi sedikitnya 3 bulan dalam setahun untuk lebih dari 2 tahun secara berturut-turut. yaitu : a. pada perjalanan penyakit bronchitis kronis dapat ditemukan periode akut. c. Beta Agonists Beta agonists (β -adrenergic agents) merupakan pengobatan awal yang digunakan dalam pengobatan asthma dikarenakan obat ini bekerja dengan jalan mendilatasikan otot polos. Infeksi sekunder oleh bakteri ini menimbulkan kerusakan yang lebih banyak sehingga akan memperburuk keadaan. Adrenergic Agent juga meningkatkan pergerakan cilliary. haemophilus influenzae. 2. DEFINISI Bronchitis akut adalah radang mendadak pada bronchus yang biasanya mengenai trachea dan laring. Infeksi : stafilokokus. baik yang berasal dari luar bronchus maupun dari bronchus itu sendiri. d. b. Kumpulan lendir tersebut merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri. yaitu : a. d. sterptokokus. 3. PATOFISIOLOGI . Penyakit Jantung Menahun. Walaupun demikian. Jalan inhalasi merupakan jalan pilihan dikarenakan dapat mempengaruhi secara langsung dan mempunyai efek samping yang lebih kecil. Alergi c. misalnya pada morbili. yang menunjukkan adanya serangan bakteri pada dinding bronchus yang tidak normal. Bronchitis kronis bukanlah merupakan bentuk menahun dari bronchitis akut. yang dapat menimbulkan kelumpuhan bulu getar selaput lendir bronchus sehingga drainase lendir terganggu. isoproterenol. pneumokokus. isoetharine dan terbutaline. B. Biasanya diberikan secara parenteral atau inhalasi. asap rokok dll. asap mobil. Rokok. b. metaproterenol. BRONCHITIS KRONIS 1. albuterol. Rangsang : misal asap pabrik. sehingga sering dinamai juga dengan “laringotracheobronchitis”. ETIOLOGI Terdapat 3 jenis penyebab bronchitis akut. pertusis. menurunkan mediator kimia anaphylaxis dan dapat meningkatkan efek broncholasi dari kortikosteroid. Dilatasi Bronchus (Bronchiectasi). Radang ini dapat timbul sebagai kelainan jalan nafas tersendiri atau sebagai bagian dari penyakit sistemik. Istilah bronchitis kronis menunjukkan kelainan pada bronchus yang sifatnya menahun (berlangsung lama) dan disebabkan oleh berbagai faktor. baik pada katup maupun myocardium.diberikan bila ada infeksi. merupakan sumber bakteri yang dapat menyerang dinding bronchus. Infeksi sinus paranasalis dan Rongga mulut. menyebabkan gangguan susunan dan fungsi dinding bronchus sehingga infeksi bakteri mudah terjadi.

edema mukosa dan bronchospasme. Pada saat penyakit memberat. kelenjar mukus akan menjadi hipertropi dan hiperplasia sehingga produksi mukus akan meningkat. biasanya virus. Obstruksi ini menyebabkan penurunan ventilasi alveolar. bronchitis lebih mempengaruhi jalan nafas kecil dan besar dibandingkan pada alveolinya. Dokter akan mendiagnosa bronchitis kronis jika klien mengalami batuk atau produksi sputum selama beberapa hari + 3 bulan dalam 1 tahun dan paling sedikit dalam 2 tahun berturut-turut. Pengkajian : Batuk persisten. terutama selama ekspirasi. produksi sputum seperti kopi. dyspnea dalam beberapa keadaan. Sebagai kompensasi dari hipoxemia. cyanosis akibat pengaruh sekunder polisitemia. “mucocilliary defence” dari paru mengalami kerusakan dan meningkatkan kecenderungan untuk terserang infeksi. tetapi biasanya seluruh saluran nafas akan terkena. Klien terlihat cyanosis. hipoxemia akan timbul yang akhirnya menuju penyakit cor pulmonal dan CHF. variabel wheezing pada saat ekspirasi. Mukus lebih kental c. hipoxia dan asidosis. Cor Pulmonal. Ketika infeksi timbul. Selama infeksi klien mengalami reduksi pada FEV dengan peningkatan pada RV dan FRC. 4. kongesti. sering infeksi pada sistem respirasi. Bronchitis kronis mula-mula mempengaruhi hanya pada bronchus besar. Pada infeksi saluran nafas bagian atas. Aliran udara dapat atau mungkin juga tidak mengalami hambatan. Peningkatan ukuran dan jumlah kelenjar mukus pada bronchi besar. Oleh karena itu. ratio ventilasi perfusi abnormal timbul. Gejala biasanya timbul pada waktu yang lama. MANIFESTASI KLINIK BRONCHITIS KRONIS a. Tidak seperti emfisema. Kerusakan ventilasi dapat juga meningkatkan nilai PaCO2. d. Dinding bronchial meradang dan menebal (seringkali sampai dua kali ketebalan normal) dan mengganggu aliran udara. Iritan akan menyebabkan timbulnya respon inflamasi yang akan menyebabkan vasodilatasi. Klien mengalami kekurangan oksigen jaringan . maka terjadi polisitemia (overproduksi eritrosit). diproduksi sejumlah sputum yang hitam. barrel chest. Mukus kental ini bersama-sama dengan produksi mukus yang banyak akan menghambat beberapa aliran udara kecil dan mempersempit saluran udara besar. Klien dengan bronchitis kronis akan mengalami : a. Jalan nafas mengalami kollaps. biasanya karena infeksi pulmonary. Jantung : pembesaran jantung. dan udara terperangkap pada bagian distal dari paru-paru. Usia : 45 – 65 tahun c. Penampilan umum : cenderung overweight. Kerusakan fungsi cilliary sehingga menurunkan mekanisme pembersihan mukus. Mukus yang kental dan pembesaran bronchus akan mengobstruksi jalan nafas. yang mana akan meningkatkan produksi mukus. b. Jika masalah tersebut tidak ditanggulangi. b.Bronchitis akut dapat timbul dalam serangan tunggal atau dapat timbul kembali sebagai eksaserbasi akut dari bronchitis kronis. dimana terjadi penurunan PaO2. seringkali merupakan awal dari serangan bronchitis akut. Hematokrit > 60% . Bronchitis timbul sebagai akibat dari adanya paparan terhadap agent infeksi maupun non-infeksi (terutama rokok tembakau). edema (akibat CHF kanan).

biasanya pada region paru atas. 3. kantung alveolar kehilangan elastisitasnya dan jalan nafas kecil menjadi kollaps atau menyempit. Protease (enzim paru) merubah atau merusakkan alveoli dan saluran nafas kecil dengan jalan merusakkan serabut elastin. Bronchodilator d. Terbentuknya Bullae Dinding alveolar membengkak dan berhubungan untuk membentuk suatu bullae (ruangan tempat udara) yang dapat dilihat pada pemeriksaan X-ray. c. yaitu : a. Surgical Intervention C.e. Bentuk ini bersama disebut centriacinar emfisema. 2. tekanan positif intratorak akan menyebabkan kollapsnya jalan nafas. Emfisema Centriolobular Merupakan tipe yang sering muncul. Emfisema Paraseptal Merusak alveoli pada lobus bagian bawah yang mengakibatkan isolasi dari blebs sepanjang perifer paru. Emfisema Panlobular (Panacinar) Merusak ruang udara pada seluruh asinus dan biasanya termasuk pada paru bagian bawah. Riwayat merokok ⊕ 5. d. EMFISEMA PARU 1. DEFINISI Emfisema merupakan gangguan pengembangan paru-paru yang ditandai oleh pelebaran ruang udara di dalam paru-paru disertai destruksi jaringan (WHO).. Beberapa alveoli rusak dan yang lainnya mungkin dapat menjadi membesar. Akibat hal tersebut. TIPE EMFISEMA Terdapat tiga tipe dari emfisema : a. menghasilkan kerusakan bronchiolus. maka jika ditemukan kelainan berupa pelebaran ruang udara (alveolus) tanpa disertai adanya destruksi jaringan maka keadaan ini sebenarnya tidak termasuk emfisema. Aerosolized Nebulizer e. Kollaps jalan nafas kecil dan udara terperangkap Ketika klien berusaha untuk ekshalasi secara kuat. Hyperinflation Paru Pembesaran alveoli mencegah paru-paru untuk kembali kepada posisi istirahat normal selama ekspirasi. b. timbul sangat sering pada seorang perokok. Postural Drainage c. MANAGEMENT MEDIS BRONCHITIS KRONIS Pengobatan yang utama ditujukan untuk mencegah dan mengontrol infeksi dan meningkatkan drainase bronchial menjadi jernih. PATOGENESIS Terdapat 4 perubahan patologik yang dapat timbul pada klien emfisema. Pengobatan yang diberikan : a. b. Antimikrobial b. c. Inflamasi berkembang pada bronchiolus tetapi biasanya kantung alveolar tetap bersisa. melainkan hanya sebagai “overinflation”. Sesuai dengan definisi tersebut. Paraseptal emfisema dipercaya sebagai sebab dari pneumothorax spontan. Hilangnya elastisitas paru. Panacinar timbul pada orang tua dan klien dengan defisiensi .

Emfisema juga menyebabkan destruksi kapiler paru. terjadi peningkatan dyspnea dan infeksi pulmoner. Perjalanan udara terganggu akibat dari perubahan ini. Pada saat alveoli dan septa kollaps. Kerja nafas meningkat dikarenakan terjadinya kekurangan fungsi jaringan paru untuk melakukan pertukaran oksigen dan karbon dioksida. udara akan tertahan diantara ruang alveolar (disebut blebs) dan diantara parenkim paru (disebut bullae). Pada keadaan lanjut. yang mana akan menyebabkan overdistensi permanen ruang udara.enzim alpha-antitripsin. 5. MEKANISME PENYAKIT Asap tembakau Polusi Udara Gangguan pembersihan paru-paru Peradangan bronchus dan bronchiolus Obstruksi jalan nafas akibat peradangan Hipoventilasi alveolar Bronchiolitis kronik Predisposisi Genetik (defisiensi alfa antitripsin) Sekat & jaringan penyokong hilang Saluran nafas kecil kollaps saat ekspirasi PLE (Emfisema Panlobular) Dinding bronchiolus melemah dan alveoli pecah Saluran nafas kecil kolaps sewaktu ekspirasi Faktor-faktor yang tidak diketahui Seumur hidup PLE asimptomatik pada orang tua CLE dan PLE . Pada beberapa tingkat emfisema dianggap normal sesuai dengan usia. biasanya berhubungan dengan bronchitis kronis dan merokok. seringkali timbul Cor Pulmonal (CHF bagian kanan) timbul. Kesulitan selama ekspirasi pada emfisema merupakan akibat dari adanya destruksi dinding (septum) diantara alveoli. PATOFISIOLOGI Emfisema merupakan kelainan dimana terjadinya kerusakan pada dinding alveolar. kollaps jalan nafas sebagian dan kehilangan elastisitas recoil. Proses ini akan menyebabkan peningkatan ventilatory pada “dead space” atau area yang tidak mengalami pertukaran gas atau darah. 4. lebih lanjut terjadi penurunan perfusi oksigen dan penurunan ventilasi. tetapi jika hal ini timbul pada awal kehidupan (usia muda).

• Produksi sputum dan batuk jarang.. Cor Pulmonal timbul pada stadium akhir. Pendekatan terapi mencakup : • Pemberian terapi untuk meningkatkan ventilasi dan menurunkan kerja nafas. S.. Pemeriksaan jantung • Tidak terjadi pembesaran jantung. Jenis obat yang diberikan : • Bronchodilators • Aerosol therapy • Treatment of infection • Corticosteroids • Oxygenation D. flattened diafragma. 7. warna kulit pucat. Penampilan Umum • Kurus. PENGKAJIAN DIAGNOSTIK COPD 1. • Hematokrit < 60% e.A. d. MEDICAL MANAGEMENT Penatalaksanaan utama pada klien emfisema adalah untuk meningkatkan kualitas hidup. Chest X-Ray : dapat menunjukkan hiperinflation paru. memperlambat perkembangan proses penyakit dan mengobati obstruksi saluran nafas yang berguna untuk mengatasi hipoxia. penurunan tanda vaskular/bulla (emfisema).CLE Bronchiolitis kronik CLE (Emfisema Centriolobular) Gambar 14 : Mekanisme Timbulnya Emfisema (Sumber : Price. L. peningkatan bentuk bronchovaskular (bronchitis). • Wheezing ekspirasi tidak ditemukan dengan jelas. Pengkajian fisik • Nafas pendek persisten dengan peningkatan dyspnea • Infeksi sistem respirasi • Pada auskultasi terdapat penurunan suara nafas meskipun dengan nafas dalam. b. flattened hemidiafragma • Tidak ada tanda CHF kanan dengan edema dependen pada stadium akhir.M. & Wilson. 1996) 6. • Mencegah dan mengobati infeksi • Teknik terapi fisik untuk memperbaiki dan meningkatkan ventilasi paru • Memelihara kondisi lingkungan yang memungkinkan untuk memfasilitasi pernafasan. Riwayat merokok • Biasanya didapatkan. Usia 65 – 75 tahun. tapi tidak selalu ada riwayat merokok. normal ditemukan saat periode remisi (asthma) . MANIFESTASI KLINIK a. c. • Support psikologis • Patient education and rehabilitation. peningkatan ruang udara retrosternal.

Tanda yang muncul antara lain : nyeri kepala.2. dizzines. Hipoxemia Hipoxemia didefinisikan sebagai penurunan nilai PaO2 kurang dari 55 mmHg. harus diobservasi terutama pada klien dengan dyspnea berat. Infeksi Respiratory Infeksi pernafasan akut disebabkan karena peningkatan produksi mukus. gelombang P tinggi (asthma berat). emfisema). atrial disritmia (bronchitis). AVF panjang. ABGs : menunjukkan proses penyakit kronis. ECG : deviasi aksis kanan. 3. 9. efek obat atau asidosis respiratory. axis QRS vertikal (emfisema) 12. tetapi klien dengan emfisema berat juga dapat mengalami masalah ini. pembesaran kelenjar mukus (bronchitis) 8. Asidosis Respiratory Timbul akibat dari peningkatan nilai PaCO2 (hiperkapnia). seringkali PaO2 menurun dan PaCO2 normal atau meningkat (bronchitis kronis dan emfisema) tetapi seringkali menurun pada asthma. 4. menentukan abnormalitas fungsi tersebut apakah akibat obstruksi atau restriksi. mengevaluasi keefektifan obat bronchodilator. Komplikasi ini sering kali berhubungan dengan bronchitis kronis. 4. Cardiac Disritmia Timbul akibat dari hipoxemia. peningkatan eosinofil (asthma). Status Asmatikus . memperkirakan tingkat disfungsi dan untuk mengevaluasi efek dari terapi. gel. Pemeriksaan Fungsi Paru : dilakukan untuk menentukan penyebab dari dyspnea. peningkatan rangsangan otot polos bronchial dan edema mukosa. mengidentifikasi patogen. Gagal jantung Terutama kor-pulmonal (gagal jantung kanan akibat penyakit paru). 3. lethargi. Pada tahap lanjut timbul cyanosis. Darah Komplit : peningkatan hemoglobin (emfisema berat). 6. alkalosis respiratori ringan sekunder terhadap hiperventilasi (emfisema sedang atau asthma). Sputum Kultur : untuk menentukan adanya infeksi. KOMPLIKASI COPD 1. 10. pH normal atau asidosis. 11. III. dengan nilai saturasi Oksigen <85%. E. pemeriksaan sitologi untuk menentukan penyakit keganasan atau allergi. 6. P pada Leads II. penyakit jantung lain. merencanakan/evaluasi program. tachipnea. Pada awalnya klien akan mengalami perubahan mood. FEV1/FVC : ratio tekanan volume ekspirasi (FEV) terhadap tekanan kapasitas vital (FVC) menurun pada bronchitis dan asthma. Kapasitas Inspirasi : menurun pada emfisema 5. fatique. kollaps bronchial pada tekanan ekspirasi (emfisema). 5. Exercise ECG. Terbatasnya aliran udara akan meningkatkan kerja nafas dan timbulnya dyspnea. Bronchogram : dapat menunjukkan dilatasi dari bronchi saat inspirasi. menurun pada emfisema. penurunan konsentrasi dan pelupa. tinggi (bronchitis. 2. misal : bronchodilator. Stress Test : menolong mengkaji tingkat disfungsi pernafasan. TLC : meningkat pada bronchitis berat dan biasanya pada asthma. Kimia Darah : alpha 1-antitrypsin dilakukan untuk kemungkinan kurang pada emfisema primer. 7.

Bersihan jalan nafas tak efektif yang berhubungan dengan : Bronchospasme Peningkatan produksi sekret (sekret yang tertahan.Merupakan komplikasi mayor yang berhubungan dengan asthma bronchial. Status Respirasi : Kepatenan Jalan nafas # dengan skala……. Hari. ronchi. penggunaan otot bantu pernafasan Suara nafas abnormal seperti : wheezing. kental) Menurunnya energi/fatique Data-data Klien mengeluh sulit untuk bernafas Perubahan kedalaman/jumlah nafas. Penggunaan otot bantu pernafasan dan distensi vena leher seringkali terlihat.. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN COPD Intervensi dan rasional pada penyakit ini didasarkan pada konsep Nursing Intervention Classification (NIC) dan Nursing Outcome Classification (NOC) Tabel 4 : Rencana Asuhan keperawatan Klien COPD No Diagnosa Keperawatan Perencanaan (NANDA) Tujuan (NOC) Intervensi (NIC) 1. potensial mengancam kehidupan dan seringkali tidak berespon terhadap therapi yang biasa diberikan. dengan kriteria : • Tidak ada demam • Tidak ada cemas • RR dalam batas normal • Irama nafas dalam batas normal • Pergerakan sputum keluar dari jalan nafas . crackles Batuk (persisten) dengan/tanpa produksi sputum. Penyakit ini sangat berat. (1 – 5) setelah diberikan perawatan selama…….

Monitoring tanda vital 2. Tidak mampu mengeluarkan sekret Nilai ABGs abnormal (hipoxia dan hiperkapnia) Perubahan tanda vital. Surveillance j.• Bebas dari suara nafas tambahan a. Penurunan kecemasan c. Destruksi alveoli Data-data : Dyspnea Confusion. Pemberian posisi h. Monitoring respirasi i. Manajemen jalan nafas b. Status Respirasi : Pertukaran gas # dengan skala ……. lemah. Aspiration precautions d. Hari dengan kriteria : • Status mental dalam batas normal • Bernafas dengan mudah • Tidak ada cyanosis • PaO2 dan PaCO2 dalam batas normal • Saturasi O2 dalam rentang normal a. air trapping). Kerusakan Pertukaran gas yang berhubungan dengan : Kurangnya suplai oksigen (obstruksi jalan nafas oleh sekret. (1 – 5) setelah diberikan perawatan selama……. bronchospasme. Terapi oksigen g. Fisioterapi dada e. Menurunnya toleransi terhadap aktifitas. Latih batuk efektif f. Manajemen asam dan basa .

Monitoring tanda vital 3. Ketidakseimbangan nutrisi : Kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan Status Nutrisi : Intake cairan dan makanan gas # dengan skala ……. Data : Penurunan berat badan Kehilangan masa otot. Manajemen cairan b.tubuh b. Manajemen jalan nafas c. tidak tertarik makan perawatan selama……. (1 – 5) setelah diberikan a. Monitoring respirasi g. Monitoring cairan c. Tingkatkan keiatan e. Status diet No Diagnosa Keperawatan Perencanaan (NANDA) Tujuan (NOC) Intervensi (NIC) dengan : Dyspnea. Latih batuk d. nausea/vomiting. fatique Efek samping pengobatan Produksi sputum Anorexia. Hari dengan kriteria : • Asupan makanan skala (1 – 5) (adekuat) • Intake cairan peroral (1 – 5) (adekuat) • Intake cairan (1 – 5) (adekuat) Status Nutrisi : Intake Nutrien gas # dengan skala ……. tonus otot jelek Dilaporkan adanya perubahan sensasi rasa Tidak bernafsu untuk makan. Terapi oksigen f. (1 – 5) .

Konseling nutrisi h. Monitoring tanda vital k. (1 – 5) setelah diberikan perawatan selama……. karbohidrat dan lemak (1 – 5) (adekuat) Kontrol Berat Badan gas # dengan skala ……. Kontroling nutrisi i. Bantuan untuk peningkatan BB l.setelah diberikan perawatan selama……. Terapi menelan j. Terapi nutrisi g. Manajemen nutrisi f. Hari dengan kriteria : • Intake kalori (1 – 5) (adekuat) • Intake protein. Manajemen gangguan makan e. Hari dengan kriteria : • Mampu memeliharan intake kalori secara optimal (1 – 5) (menunjukkan) • Mampu memelihara keseimbangan cairan (1 – 5) (menunjukkan) • Mampu mengontrol asupan makanan secara adekuat (1 – 5) (menunjukkan) d. Manajemen berat badan Keterangan : Untuk intervensi secara kronologi dapat dilihat dari aktifitas tindakan yang dapat anda temukan dalam buku Nursing Intervention Classification (NIC) dan Nursing Outcome Classification (NOC) Kanker paru-paru .

-C34.Dari Wikipedia bahasa Indonesia. Sebagian besar kanker paru-paru berasal dari sel-sel di dalam paru-paru. Bantulah Wikipedia untuk melanjutkannya. tetapi kanker paru-paru bisa juga berasal dari kanker di bagian tubuh lainnya yang menyebar ke paru-paru. ensiklopedia bebas Langsung ke: navigasi. Menurut World Health Organization (WHO). Halaman ini belum atau baru diterjemahkan sebagian dari bahasa Inggris. terutama asap rokok [1] . ICD-10 ICD-9 DiseasesDB MedlinePlus eMedicine MeSH C33. Lihat panduan penerjemahan Wikipedia. cari Kanker paru-paru Klasifikasi dan bahan-bahan eksternal Cross section of a human lung. Frequency of histological types of lung cancer[3] Histological type Frequency (%) . The white area in the upper lobe is cancer. kanker paru merupakan penyebab kematian utama dalam kelompok kanker baik pada pria maupun wanita[2]. 162 7616 007194 med/1333 med/1336 emerg/335 radio/807 radio/405 radio/406 D002283 Kanker paru-paru adalah pertumbuhan sel kanker yang tidak terkendali dalam jaringan paru yang dapat disebabkan oleh sejumlah karsinogen lingkungan. the black areas indicate that the patient was a smoker.

prostat. [sunting] Penyebab utama Sub-types of non-small cell lung cancer in smokers and never-smokers[6] Frequency of nonsmall cell lung cancers (%) Histological sub-type Smokers 42 39 4 Squamous cell lung carcinoma Adenocarcinoma (not otherwise specified) Adenocarcinoma Bronchioloalveolar carcinoma Neversmokers 33 35 10 . Hamartoma kondromatous (jinak) 3. Tumor paru-paru yang lebih jarang terjadi adalah: 1. kanker ini disebut karsinoma bronkogenik. Banyak kanker yang berasal dari tempat lain menyebar ke paru-paru. usus besar. 3.Non-small cell lung carcinoma Small cell lung carcinoma Carcinoid[4] Sarcoma[5] Unspecified lung cancer 80. Kanker ini bisa merupakan pertumbuhan tunggal. Adenoma (bisa ganas atau jinak) 2. 2. 4. rektum.8 0. yang bisa berasal dari paru-paru atau merupakan penyebaran dari organ lain. tetapi seringkali menyerang lebih dari satu daerah di paru-paru. leher rahim. yang terdiri dari: 1. Karsinoma sel skuamosa Karsinoma sel kecil atau karsinoma sel gandum Karsinoma sel besar Adenokarsinoma Karsinoma sel alveolar berasal dari alveoli di dalam paru-paru. lambung.9 Lebih dari 90% kanker paru-paru berawal dari bronki (saluran udara besar yang masuk ke paru-paru).8 0. tiroid. Sarkoma (ganas) Limfoma merupakan kanker dari sistem getah bening. ginjal.4 16. buah zakar. Biasanya kanker ini berasal dari payudara. tulang dan kulit.1 1.

2. Bekerja dengan asbes. 5. dan USG Abdomen.Carcinoid Other 7 8 16 6 Merokok merupakan penyebab utama dari sekitar 90% kasus kanker paru-paru pada pria dan sekitar 70% pada wanita. Napas sesak dan pendek-pendek. Pembengkakan di wajah atau leher. arsen. Hanya sebagian kecil kanker paru-paru (sekitar 10%-15% pada pria dan 5% pada wanita) yang disebabkan oleh zat yang ditemui atau terhirup di tempat bekerja. 6. Kadang kanker paru (terutama adenokarsinoma dan karsinoma sel alveolar) terjadi pada orang yang paru-parunya telah memiliki jaringan parut karena penyakit paru-paru lainnya. berubah warna dan makin banyak. sehingga kebanyakan penderita kanker paru yang mencari bantuan medis telah berada dalam stadium lanjut. Batuk yang terus menerus atau menjadi hebat. kromat. nyeri atau retak tulang dengan sebab yang tidak jelas. Kelelahan kronis Kehilangan selara makan atau turunnya berat badan tanpa sebab yang jelas. radiasi. meskipun biasanya hanya terjadi pada pekerja yang juga merokok. 4. 3. klorometil eter. Peranan polusi udara sebagai penyebab kanker paru-paru masih belum jelas. semakin besar resiko untuk menderita kanker paru-paru. [sunting] Diagnosis dan pengobatan Beberapa prosedur yang dapat memudahkan diagnosa kanker paru antara lain adalah foto X-Ray. Dahak berdarah. 8. nikel. Semakin banyak rokok yang dihisap. Biopsi Jarum Halus. Gejala pada kanker paru umumnya tidak terlalu kentara. Bronkoskopi. [sunting] Gejala kanker paru Gejala paling umum yang ditemui pada penderita kanker paru adalah: 1. Pengobatan kanker paru dapat dilakukan dengan cara-cara seperti . Kasuskkasus stadium dini/ awal sering ditemukan tanpa sengaja ketika seseorang melakukan pemeriksaan kesehatan rutin. CT Scan Toraks. Sakit kepala. seperti tuberkulosis dan fibrosis. Suara serak/parau. gas mustard dan pancaran oven arang bisa menyebabkan kanker paru-paru. Beberapa kasus terjadi karena adanya pemaparan oleh gas radon di rumah tangga. 7.

Kanker yang paling banyak dikenal orang pada orang dewasa adalah kanker payudara. penghambat pertumbuhan dan gen pengkontrol proses lain dalam sel agar berjalan baik. Bra Home Lung Cancer 101 Lung Cancer 101 Tuesday. Mekanisme itu penting sebagai pengganti sel sel tubuh yang rusak dan perlu peremajaan. kanker darah dan kanker paru. ^ (en) Ferlay J. umur berapa saja dan dimana saja dalam tubuh manusia.. 13 June 2006 Kanker Paru Kanker Dalam keadaan normal sel akan tumbuh sesuai kebutuhan tubuh dengan melalui tahapan tahapan dalam prosesnya. Besar kecilnya kemungkinan seseorang untuk menderita kanker jenis tertentu tergantung faktor risiko yang dimilikinya. ^ (id) Roche Indonesia: Kanker paru 2. [sunting] Refensi 1. Jika gangguan itu lebih berat dan gangguan pertumbuhan berlangsung terus dan menyebar ke tempat lain (metastasis) kita sebut dengan tumor ganas atau kanker.kadang melebihi dari tempat ditemukannya tumor dan membuang semua kelenjar getah bening yang terkena kanker. kanker usus. kanker prostat. Pembedahan dengan membuang satu bagain dari paru . Kemoterapi Meminum obat oral dengan efek samping tertentu yang bertujuan untuk memperpanjang harapan hidup penderita. Gangguan pada gen atau proses pertumbuhan itu dapat menyebabkan sel tumbuh tidak terkendali. Kesimpulan : Kanker adalah penyakit yang berhubungan dengan proses pertumbuhan dan perkembangan sel yang tidak terkontrol. Pertumbuhan sel yang berjalan dalam beberapa tahapan dan dikontrol oleh gen (pembawa informasi) yang sebagian bertindak sebagai pemicu. . Kanker dapat terjadi pada siapa saja. kanker leher rahim.1. • • • Radioterapi atau radiasi dengan sinar-X berintensitas tinggi untuk membunuh sel kanker. kanker nasofaring. Pada beberapa kondisi tidak semua gangguan itu berkembang cepat namun dapat berhenti sebelum berubah menjadi ganas itulah yang kita kenal dengan tumor jinak.

Kanker paru merupakan jenis kanker yang paling sulit diobati. Karena fungsinya itu dapat dipahami bahwa paru paling terbuka dengan polusi udara yang diisap termasuk asap rokok yang dihisap dengan penuh kesengajaan itu. Pada tahap berikutnya setelah metabolisme maka sisa-sisa metabolisme itu terutama karbondioksida (CO2) akan dibawa darah untuk dibuang kembali ke udara bebas melalui paru pada saat membuang napas. jantung atau gangguan pada darah. Untuk menjawab pertanyaan tersebut perlu dipahami dahulu tentang fungsi organ paru. antara lain udara berpolusi sehingga kadar O2 sedikit. gangguan di saluran napas/paru. melalui saluran napas (bronkus) dan sampai di dinding alveoli (kantong udara) O2 akan ditranfer ke pembuluh darah yang di dalamnya mengalir anatara lain sel sel darah merah untuk dibawa ke sel-sel sel di berbagai organ tubuh lain sebagai energi dalam proses metabolisme. PARU Keterangan Gambar a. Berbagai kelainan dapat menganggu sistem pernapasan itu. jantung c. banyak diderita lakilaki dewasa ( usia > 40 tahun) dan perokok. kantung udara Paru adalah organ tubuh yang berperan dalam sistem pernapasan (respirasi) yaitu proses pengambilan oksigen (O2) dari udara bebas saat menarik napas. Secara khusus dikatakan paru adalah tempat tubuh mengambil darah bersih (kaya O2) dan tempat pencucian darah yang berasal dari seluruh tubuh( banyak mengandung CO2) sebelum ke jantung untuk kembali diedarkan ke seluruh tubuh . Mengapa kanker paru sulit diobati. saluran napas b.

Lebih dari 80% kanker paru berhubungan dengan perokok. Faktor Risiko Kanker Paru • • • • • • • • • Laki-laki Usia lebih dari 40 tahun Pengguna tembakau (perokok putih. Bagaimanapun. tidak semua perokok akhirnya menderita kanker paru. Kanker paru paling banyak ditemukan pada laki-laki dewasa dan perokok. Tumor yang besar di paru dapat menyebabkan sebagian paru dan/saluran napas kolaps. obat-obatan. lingkungan . Cairan di rongga pleura yang sering ditmukan pada kanker paru juga menganggu fungsi paru. seperti arsenik Beberapa zat kimia organik Radiasi dari pekerjaan. Definisi khusus untuk kanker paru primer yakni tumor ganas yang berasal dari epitel (jaringan sel) saluran napas atau bronkus. Tumor yang menekan dinding dada dapat menyebabkan kerusakan/destruksi tulang dinding dada dan menimbulkan nyeri. antara lain • • • • • Sesak napas dengan atau suara mencicit (mengi) Rasa berat di dada jika bernapas Batuk Batuk darah Nyeri dada Kanker Paru Kanker Paru dalam arti luas adalah semua penyakit keganasan di paru. kretek atau cerutu) Hidup atau kontal erat dengan lingkungan asap tembakau (perokok pasif) Radon dan asbes Lingkungan industri tertentu Zat kimia. Berhenti dari merokok akan mengurangi dengan sangat berarti risiko seseorang terkena kanker paru. Faktor lain yang dapat menjadi faktor risiko terutama berkaitan dengan udara yang dihirup.Secara umum gangguan pada pada saluran napas dapat merupa sumbatan pada jalan napas (obstruksi) atau gangguan yang menyebabkan paru tidak dapat kembang secara sempurna (restriktif). Risiko pada bekas perokok lebih besar daripada orang-orang yang tidak pernah merokok. sedangkan tumor yang terdapat dalam saluran napas dapat menyebabkan sumbatan pada saluran napas. Keluhan yang sering timbul pada penyakit paru disebut keluhan respirasi dapat terjadi hanya satu dan terkadang lebih dari satu. mencakup keganasan yang berasal dari paru sendiri (primer) atau penyebaran (metastasis) tumor dari organ lain.

tetapi jika kanker masih terlalu kecil sering belum menimbulkan gejala dan tanda. Bagaimanapun banyak perokok yang telah mencoba berhenti merokok dan mengatakan usaha untuk berhenti merokok adalah hal luar biasa sulit. Banyak cara dan bahan yang sedang diuji cobakan dengan tujuan bukan hanya mengurangi resiko kanker. bahkan boleh jadi kadang kadang lebih keras lagi. Kemopreventif adalah penggunaan bahan alami. Hasilnya uji coba kemopreventif masih belum telralu mengembirakan berbeda denngan program berhenti merokok yang secara nyata telah menurunkan jumlah penderita kanker paru laki laki di Amerika karena meningkatnya jumlah orang yang berhenti merokok. Diagnosis Kanker Paru Seseorang dapat didiagnosis karena ada gejala atau tanda. Program berhenti merokok.• Polusi udara Seseorang yang termasuk golongan risiko tinggi (GRT) jika mempunyai keluhan napas (gangguan respirasi) seperti batuk. Jadi cara utama untuk seseorang mengurangi risiko terkena kanker paru adalah berhenti merokok. Untuk bukan perokok. Berhenti merokok akan mengurangi dengan sangat berarti risiko seseorang terkena kanker paru. tetapi juga untuk mengurangi kesempatan akan berulangnya kanker (relapps). sebaiknya segera meneriksakan diri dan dirujuk ke dokter spesialis paru Pencegahan Kanker Paru Penelitian telah membuktikan bahwa lebih dari 80 % kanker paru berhubungan dengan merokok. Usaha pencegahan kanker yang lain dikenal dengan istilah kemopreventif (Chemoprevention). Setelah datang ke dokter akan dicari kelainan pada seluruh tubuh atau fisik diagnostik dan . cara ini sepertinya hal yang mudah tapi tidak untuk perokok. dan terapi hormone. sesak napas. Tidak heran jika kebanyakan penderita kanker paru datang setelah staging atau tingkatan penyakitnya lanjut. Misalnya vitamin. Kecanduan nikotin pada perokok dapt disamakan dengan sakau pada pengguna heroin. diet. Risiko pada bekas perokok lebih besar daripada orang-orang yang tidak pernah merokok. Faktor utama keberhasilan untuk program berhenti merokok adalah niat dan diikuti dengan bantuan lingkungan sekitarnya agar usaha itu berhasil dengan sukses. Ini barangkali catatan kenapa banyak sekali perokok berusaha untuk berhenti namun gagal. Kasus kasus staging awal (dini) sering ditemukan tanpa sengaja ketika seseorang melakukan pemeriksaan kesehatan rutin (check-up kesehatan). nyeri dada. metode diet tertentu dan zat kimia sintetis untuk mencegah perkembangan penyakit. Seseorang perokok yang telah berhasil berhenti 10 tahun lamanya berarti telah dapat menurunkan risiko 30 -50 persen untuk terkena kanker paru.

Tanda dan gejala Tanda dan gejala kanker paru membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dapat diketahui dan seringkali dikacaukan dengan gejala dari kondisi yang kurang serius.selanjutnya akan dilakukan pemeriksaan tambahan agar didapat kepastian tentang penyakitnya. Tergantung pada organ-organ yang dirusak. sakit yang menyertainya Retak tulang yang tidak berhubungan dengan luka akibat kecelakaan Gejala-gejala pada saraf (seperti: cara berjalan yang goyah dan atau kehilangan ingatan sebagian) Bengkak pada leher dan wajah Kehilangan berat badan yang tidak diketahui penyebabnya Pemeriksaan fisis Dokter terkadang tidak mendapatkan kelainan pada pemeriksaan fisis penderita kanker paru staging awal penyakitnya. bahu atau nyeri punggung yang tidak berhubungan terhadap nyeri akibat batuk yang terus menerus Perubahan warna pada dahak Meningkatnya jumlah dahak Dahak berdarah Bunyi menciut-ciut saat bernafas pada bukan penderita asma Radang yang kambuh Sulit bernafas Nafas pendek Serak Suara kasar saat bernafas Selain dari itu juga barangkali tanda-tanda dan gejala-gejala disebabkan oleh penyebaran kanker paru pada bagian tubuh lainnya. • • • • • • • • • • • • Batuk pada perokok yang terus menerus atau menjadi hebat Batuk pada bukan perokok yang menetap sampai dengan lebih dari dua minggu Dada. nyeri tulang. Hal itu disebabkan tumor masih dengan volume kecil dan belum menyebar sehingga tidak menimbulkan . Tanda dan gejala mungkin tidak kelihatan sampai penyakit telah mencapai tahap lanjut. • • • • • • • Kelelahan kronis Kehilangan nafsu makan Sakit kepala.

misalnya benjolan di leher. . Kanker paru juga dapat menyebabkan timbulnya tumpukan cairan di rongga pleura atau menekan pembuluh darah balik (vena). Tidak jarang juga pasien datang dengan kelumpuhan akibat penyebaran di otak atau tulang belakang (vetebra). ketiak. Hal itu disebabkan tumor masih dengan volume kecil dan belum menyebar sehingga tidak menimbulkan gangguan di tempat lain. Kelainan yang didapat tergantung letak dan besar tumor sehingga menimbulkan gangguan. Penting diingat tidak semua jenis pemeriksaan harus dilakukan pada pasien tetapi berdasarkan kondisi umum dan penyakit pada saat datang ke dokter. misal pasien datang dengan sesak napas yang hebat dan muka/leher dan lengan bengkak karena tumor menekan pembulu darah balik (sindrom vena kava superior) atau nyeri yang hebat terutama jika kanker telah merusak tulang. misalnya benjolan di leher. Kanker paru juga dapat menyebabkan timbulnya tumpukan cairan di rongga pleura atau menekan pembuluh darah balik (vena). Pemeriksaan (prosedur diagnosis) Ditemukannya jenis sel (histologis) kanker adalah syarat utama untuk mengatakan seseorang menderita kanker dan selanjutnya dapat ditentukannya staging (tingkatan) penyakitnya secepat mungkin untuk menentukan pengobatan terbaik. Tidak jarang juga pasien datang dengan kelumpuhan akibat penyebaran di otak atau tulang belakang (vetebra). dll. Dokter akan selalu meminta persetujuan pasien dan keluarganya untuk setiap pemeriksaan yang dilakukan.gangguan di tempat lain. Kelainan yang dapat ditemukan berkaitan penyebaran kanker. Kelainan yang didapat tergantung letak dan besar tumor sehingga menimbulkan gangguan. Pada kondisi umum yang buruk terkadang dokter akan memutuskan memberi pengobatan sebelum diagnosis pasti muncul. dll. Jenis sel kanker paru Beberapa pemeriksaan yang dilakukan dokter spesialis paru untuk mendapatkan jenis sel kanker paru antara lain : Dokter terkadang tidak mendapatkan kelainan pada pemeriksaan fisis penderita kanker paru staging awal penyakitnya. Kelainan yang dapat ditemukan berkaitan penyebaran kanker. Pada kasus dengan staging lanjut akan dapat ditemukan kelainan tergantung pada gangguan yang ditimbulkan oleh tumor primer atau penyebarannya. Pada kasus dengan staging lanjut akan dapat ditemukan kelainan tergantung pada gangguan yang ditimbulkan oleh tumor primer atau penyebarannya. ketiak.

Misalnya untuk tumor yang ditemukan di leher. Jenis sel kanker paru Beberapa pemeriksaan yang dilakukan dokter spesialis paru untuk mendapatkan jenis sel kanker paru antara lain : • Sitologi sputum: menemukan sel kanker pada sputum atau dahak penderita. Tehnik ini sangan sederhana dan jarang menimbulkan komplikasi berat. Punksi pleura yaitu mengambil cairan dari rongga pleura (lapisan paru) jika ditemukan cairan akibat kanker paru. Tetapi perlu diingat terkadang hasilnya meski positif tapi bukan berupa sebaran kanker paru. Dahak yang diperiksa harus dahak segar pagi hari dan segera dibawa ke laboratorium patologi anatomi untuk diproses. Jika pasien merasa tidak enak. misalnya tuberkulosis(TBC). Pada saat melakukan terkadang dibutuhkan anestesi (bius) lokal saja. Penting diingat tidak semua jenis pemeriksaan harus dilakukan pada pasien tetapi berdasarkan kondisi umum dan penyakit pada saat datang ke dokter. dll.Pemeriksaan (prosedur diagnosis) Ditemukannya jenis sel (histologis) kanker adalah syarat utama untuk mengatakan seseorang menderita kanker dan selanjutnya dapat ditentukannya staging (tingkatan) penyakitnya secepat mungkin untuk menentukan pengobatan terbaik. hasil positif biasanya ditemukan jika kanker ada di dalam saluran napas. misal pasien datang dengan sesak napas yang hebat dan muka/leher dan lengan bengkak karena tumor menekan pembulu darah balik (sindrom vena kava superior) atau nyeri yang hebat terutama jika kanker telah merusak tulang. ketiak atau dinding dada yang dapat diraba.500 cc tergantung toleransi pasien. Dokter paru biasanya dapat melakukan dengan cepat dan hasil kepositifannya cukup tinggi. Dokter akan selalu meminta persetujuan pasien dan keluarganya untuk setiap pemeriksaan yang dilakukan. jika volume cairan dikit dokter paru akan melacak lokasi yang tepat dengan bantuan USG toraks. Punksi ini menggunakan jarum infus ukuran 14. sesak atau batuk • • . Pada kondisi umum yang buruk terkadang dokter akan memutuskan memberi pengobatan sebelum diagnosis pasti muncul. Jika volume cairan cukup banyak dokter spesialis paru akan sekaligus mengeluarkan sampai 1. kanker kelenjar getah bening. hasil punksiini akan dianalisa dan dikirim ke laboratorium patologi anatomi untuk di proses. Bahan hasil pemeriksaan ini akan diletakkan dalam gelas objek dansegera direndam dalam alkohol 98% dan dikirim ke patologi anatomi untuk di proses. Hasil positif tidak selalu didapt dengan tehnik ini tetapi harus dilakukan. Biopsi jarum halus: yaitu mengambil spesimen jaringan dari tumor yang superfisial menggunakan jarum halus. Kepositfan pemeriksaan ini < 10% dan sangat bergantung pada tehnik pasien membantukkan dahak yang akan diperiksa.

. Ada beberapa jenis KPKBSK yang dapat dikenali diantaranya: • • • • Karsinoma epidermoid (disebut juga karsinoma sel skuamosa) Adenokarsinoma. Kanker paru jenis karsinoma sel kecil (KPKSK = SCLC) merupakan 20% dari seluruh kanker paru. bersifat lebih agresif tetapi sangat responsif dengan pengobatan.batuk maka aliran cairan harus segera dihentikan. Cara ini biasanya dilakukan bersamaan dengan punksi pleura. • • Jenis sel kanker paru secara garis besar dibagi atas 2 kelompok 1. Cara lain adalah dengan mengambil bahan atau spesiem yang ada di saluran napas dengan bantuan prosedur bronkoskopi. TTNA ( Transthoracal needle aspiration): yaitu mengambil spesimen jaringan dengan menggunakan jarum halus menembus dinding dada. Kanker paru jenis karsinoma bukan sel kecil (KBKBSK= NSCLC) yang terbanyak yaitu sekitar 80% dari kanker paru-paru. Bronkoskopi adalah tehnik pemeriksaan memakai bronkoskop untuk melihat kelainan dalam saluran napas dan jika ditemukan kelainan akan dilakukan tindakan bilasan. adalah jenis sel kanker terbanyak dan terutama pada perokok Karsinoma sel besar Lain-lain:merupakan jenis yang jarang ditemukan misalnya karsinoid. Dapat dilakukan dengan berpedoman pada foto toraks atau dengan tuntutan CT-scan dll. sikatan dan biopsi dan bahkan TBLB (trans-bronchial lung biopsy). Bronkoskopi memerlukan persiapan yang teliti. Punksi pleura dan pemasangan selang dada kebanyakan dilakukan dokter spesialis paru dengan bius lokal. apkah dsistem perdarahan baik atau komplikasi lain karena tehnik ini dapat menimbulkan komplikasi serius meski angka kejadiannyanya sangat kecil. Pada kasus dengan jumlah cairan yang terus banyak. apakh fungsi jantung baik. • Biopsi pleura yaitu mengambil sedikit jaringan pleura jika didapat rongga pleura akibat penumpukan cairan. 2. Kepositifnya juga tidak terlalu besar. Jika ditemukan kelaianan pada saluran napas itu merupakan poin bahwa tumor di paru itu adalah kanker paru.Dokter spesialis paru biasa melakukan ini dengan bius lokal dengan tingkat kepositifan yang besar. karsinoma bronkoalveolar. maka dokter spesialis paru akan mengalirkan dengan cara memasang selang dada (WSD) sebagai usaha mengurangi keluhan dan paru dapat mengembang maksimal. Tetapi pada kondisi berat harus dilakukan di kamar operasi dengan bius umum.

CT-scan dilakukan dengan menggunakan kontras dan sebagai persiapannya pasien harus puasa sekitar 4 jam sebelum CT dilakukan dan hanya dapat dilakukan jika fungsi ginjal baik 9craetinine darah normal). Untuk kanker paru pada kondisi tertentu dokter akan melakukan CT-scan ulang jika pasien membawa CT-scan lama yang telah dilakukan > 1 bulan. Sama perti pencarian jenis histologis kanker. • Bronkoskopi adalah tehnik pemeriksaan yang menggunakan alat bronkoskop yang dimasukkan ke dalam saluran napas sehingga dapat menilai keaadan saluran napas. USG abdomen: dilakukan jika pada pemeriksaan fisik ditemukan pembengkakan hati tetapi dengan CT tehniknya lebih sederhana dan hasilnya lebih informatif. antara lain MRI toraks kurang bermanfaat untuk menentukan staging kanker paru. Bahkan pada beberapa kondisi misalnya volume cairan yang banyak. atau biopsi. pemeriksaan untuk menetukan staging juga tidak mesti sama pada semua pasien tetapi masing masing pasien mempunyai prioriti pemeriksaan yang harus segera dilakukan tergantung kondisinya pada saat datang.Staging (tingkatan) kanker paru Staging kanker paru ditentukan oleh tumor (T). Bone scan /MRI untuk menilai metastasis di tulang. Bronkoskopi diperlukan untuk menlai apakah akan timbul kegawatan misalnya sumbatan pada saluran napas akibat tumor dalam saluran napas atau penekanan dari luar. sikat. • • • . Foto toraks belum cukup karena tidak dapat menentukan keterlibatan kelenjar getah bening dan metastasis luar paru. Pemeriksaan tambaban ini dilakukan jika ada keluhan atau pasien dengan staging awal dan akan dioperasi. Tetapi foto toraks hanya dapat metentukan lokasi tumor. untuk kemudahannya maka CT-scan toraks dilakukan sampai kelenjar suprarenal sehingga dapat dipastikan belum terjadi penyebaran ke hati atau oragan perut lainnya. paru kolaps luas menutup tumor sehingga tidak terlihat. Beberapa pemeriksaan tambahan harus dilakukan dokter spesialis paru untuk menentukan staging penyakit. dan sekaligus dapat mengambil spesimen untuk pemeriksaan sel kanker dengan cara bilasan. keterlibatan kelenjar getah bening (N) dan penyebaran jauh (M). Jika pasien membawa foto yang telah lebih dari 1 minggu maka akan dibuat foto yang baru. Untuk kasus yang duduga staging awal. CT-scan toraks : imaging (foto) ini lebih inforamatif karena dapat melihat karakteristik tumor lebih jelas termasuk menentukan ukuran. Pemeriksaan lain lebih ditujuan untuk melihat apakah telah terjadi penyebaran (metastasis) jauh :. CT/MRI kepala untuk menilai metastasis di otak. lokasi dan apakah sudah terjadi keterlibatan kelenjar getah bening di dada serta ada tidaknya penyebaran di paru. ukuran tumor ada tidaknya cairan. Pemeriksaan lain. Pada pertemuan pertama dokter akan melakukan foto toraks (foto polos dada).

atau di dalam • • • . atau penyebaran jauh (M) Kanker Paru Jenis Karsinoma Sel Kecil (KPKSK) Staging kanker paru dibagi berdasarkan jenis histologis kanker paru. Staging ini penting untuk menentukan pilihan terapi yang harus segera diberikan pada pasien. penyebaran kelenjar getah bening (N). Staging berdasarkan ukuran dan lokasi tumor primer. apakah KPKSK atau KPKBSK. penyebaran kelenjar getah bening (N). keterlibatan organ dalam dada/dinding dada (T). Staging berdasarkan ukuran dan lokasi tumor primer. Staging ini penting untuk menentukan pilihan terapi yang harus segera diberikan pada pasien. keterlibatan organ dalam dada/dinding dada (T).Staging (Penderajatan atau Tingkatan) Kanker Paru Staging kanker paru dibagi berdasarkan jenis histologis kanker paru. atau penyebaran jauh (M) Kanker Paru Jenis Karsinoma Sel Kecil (KPKSK) • • • • Staging/Tingkatan Terbatas Tumor ditemukan didalam satu paru dan penjelaran ke kelenjar getah bening dalam paru yang sama Staging/Tingkatan Luas Tumor telah menyebar keluar dari satu paru atau ke organ lain diluar paru. Kanker Paru Jenis Karsinoma Bukan Sel Kecil (KPKBSK) • Staging/Tingkat I A/B Satu tumor ukuran kurang atau lebih dari 3 cm pada satu lobus paru Staging/Tingkat II A/B Satu tumor dalam lobus paru melekat ke dinding dada atau menyebar ke kelenjar getah bening di dalam paru yang sama Staging/Tingkat III A Tumor yang menyebar ke kelenjar getah bening didalam area trakeal memasuki dinding dada dan diaphragma Staging/Tingkat III B Tumor yang menyebar ke nodes getah bening pada lawan paru. apakah KPKSK atau KPKBSK.

Dokter juga harus menjelaskan kelebihan dan kekurangan adri pilihan terapi itu termasuk kebutuhan biaya. Akibatnya mungkin saja setelah bedah pasien harus mendapat radiasi atau kemoterapi segera setelah luka operasinya sembuh. dapat diberikan tunggal untuk mengatasi masalah di paru (terapi lokal) atau gabungan dengan kemoterapi. Hal itu terjadi karena keterbatasan alat bantu diagnosis atau penyakit telah berkembang selama putusan bedah dilakukan. Pada kasus khusus misal dengan penyebaran kepala dan hanya ditemukan 1 tumor di otak dan mengganggu kualiti hidup pasien dapat dilakukan pembuangan tumor di kepala dengan bedah. Dokter harus menjelaskan mengapa pilihan terapi itu ditawarkan kepada pasien dan keluarganya. Pasien yang diputuskan akan mendapat radioterapi akan dirujuk dokter spesialis paru ke dokter spesialis radioterapi dan akan kembali ke dokter semula jika terapi tidak memberikan respons atau radioterpai telah selesai atau muncul efek samping akibat radioterapi itu. Di Indonesia (Jakarta) telah dapat melakukan terapi tampa pembedahan di kepala dengan menggunakan cyber knife. gawat napas yang mengancam jiwa. Diagnosis sebelum bedah mungkin saja akan berubah setelah bedah. • Staging/Tingkat IV Tumor yang menyebar kebagian lain paru atau organ lain di luar paru. Radioterapi Radioterapi atau iradiasi diberikan pada staging III dan IV KPKBSK.leher. Bedah yang dilakukan adalah dengan membuang 1 lobus paru (kadang lebih) tempat ditemukannya tumor dan juga membuang semua kelenjar getah bening mediastinal. Radioterapi dapat diberikan jika sistem homeostatik (HB. atau nyeri hebat. Pilihan pengobatan untuk kanker paru Ada beberapa pilihan untuk pengobatan kanker paru pada masing-masing tingkatan yang dapat ditawarkan jika diagnosis pasti yaitu jenis histologis dan staging penyakit telah dapat ditentukan Mengenai keputusan pilihan pengobatan pasien harus dibuat oleh kedua belah pihak yaitu pasien dan dokter yang merawat. jumlah sel darah putih atau . Bedah Hanya dilakukan untuk KPKBSK staging I atau II atau untuk pengobatan paliatif yaitu pada kondisi mengancam nyawa misal batuk darah masif.

000 cGy) jika ada gangguan radiasi akan dihentikan sementara. Pemberian kemoterapi harus dilakukan di rumah sakit karena diberikan dalam prosedur tertentu atau ptotokol yang berbeda tergantung pada jenis obat antikanker yang digunakan. tetapi jika respons negatif (tumor membesar atau tumbuh yang baru) radiasi harus dihentikan. Untuk melihat respons radiasi dokter akan melakukan foto toraks setiap setelah radiasi diberikan 10X (2. misalnya radiasi kepala jika tumor telah menyebar ke kepala. semutan. .000 cGy) . misal HB < 10 gr %. Radioterapi biasanya diberikan 5 hari dalam seminggu dengan dosis rata rata 200 cGy perhari hingga dosis 5000 – 6000 cGy. Radioterapi juga dapat diberikan pada lokasi bukan tumor primer. fungsi hati. Kemoterapi adalah pilihan terapi untuk KPKSK dan KPKBSK stage III/IV.000/dl. Kemoterapi dihitung dengan siklus pemberian yang dapat dilakukan setiap 21 – 28 hari setiap siklusnya. Sinar yang diberikan tergantung pada alat yang ada di rumah sakit. Efek samping lain yang dapat menganggu proses pemberian adalah gangguan fungsi hemostatik HB < 10 gr%. fungsi ginjal dan fungsi hemostatik (HB. tujuannya agar lebih banyak sel kanker yang dapat dibunuh dengan jalur yang berbeda. radiasi tulang jika tumor telah menyebar ke tulang. Efek samping itu tidak sama waktu muncul dan berat ringannya pada setiap orang dan juga tergantung pada jenis obat yang digunakan. Jika pada penelian respons positif (tumor mengecil atau menetap) maka radiasi dapat diteruskan.leukosit dan trombosit darah) baik. Untuk kasus KPKSK radiasi kepala harus diberikan setelah kemoterapi selesai diberikan 6 siklus. Dokter akan melakukan koreksi dan jika telah memenuhi syarat maka radiasi dapat dilakukan kembali. misalnya COBALT atau LINAC Evaluasi efek samping dilakukan setiap setelah pemberian 5x (1. Efek samping dinilai sejak mulai kemoterapi I diberikan. Efek samping kemoterapi kadang sangat mengganggu. Leukosit < 3000/dl atau trombosit < 100. Kemoterapi Kemoterapi adalah memberikan obat anti-kanker pada pasien dengan cara diinfuskan.000/dl atau trombosit < 100. mual muntah. Pemberian kemoterapi memerlukan beberapa syarat antar lain kondisi umum pasien baik yaitu masih dapat melakukan aktiviti sendiri. Leukosit < 3.000/dl. jumlah sel darah putih atau lekosit dan jumlah trombosit darah) harus baik. Kemoterapi dapat diberikan pada semua jenis kanker paru dan tujuannya bukan hanya membunuh sel kanker pada tumor primer tetapi juga mengejar sel kanker yang menyebar di tempat lain. mencret dan bahkan alergi. misalnya rontoknya rambut s/d botak. Pada kemoterapi diberikan lebih dari 1 jenis obat antikanker dan biasanya 2 macam.

CATATAN PENTING • Pengobatan kanker paru bukan hanya tergantung pada jenis dan staging tetapi pada kondoisi umum pasien. Evaluasi hasil kemoterapi dinilai minimal setelah 2 siklus pemberian (sebelum kemoterapi III diberikan) yang dapat merupa respons subyektif yaitu apkah BB meningkat atau keluhan berkurang dan foto toraks untuk melihat kelainan di paru. kemoterapi harus dihentikan dan diganti dengan jenis obat anti-kanker yang lain. . Jika diputuskan itu pilihan pasien dan keluarga anjurannya adalah pasien tetap kontroil ke dokter spesialis parunya agar dapat dipantau efek samping obat obatan yang digunakan dan dapat memutuskan kapan obat obat alternatif itu tidak bermanfaat dan sebaiknya dihentikan. Terapi lain Dengan berbagai alasan banyak pasien kanker paru memilih obat alternatif yang belum teruji dan bukan standar untuk pengobatan kanker paru. radioterapi atau kemoterapi maka dapat ditawarkan pemberian obat golongan baru dengan mekanisme kerja yang telah teruji dikenal dengan istilah targeted therapy. Targeted therapy Pada banyak kondisi pasien tidak dapat memenuhi syarat untuk dilakukan pembedahan. Sampai saat ini anjuran penggunaan targeted therapy untuk kanker paru adalah sebaiknya setelah kemoterapi diberikan kecuali pada kasus kasus pilihan terapi utama tidak dapat dilakukan. dokter akan mengkoreksi efek samping yang muncul dengan memberikan obat dan tranfusi darah jika perlu. Catatan : seringkali biaya untuk pengobatan alternatif itu lebih mahal dari pilihan pengobatan utama misalnya radiasi atau kemoterapi. Evaluasi dengan menggunakan CT-scan toraks dilakukan setelah pemberian 3 siklus ( sebelum pemberian kemoterapi IV). Jika pada penelian tumor hilang (komplit respons) mengecil sebagian (respons partial) atau tumor menetap tapi respons subyektif baik maka kemoterapi dapat diterudskan samapi 4 – 6 siklus. Obat golongan ini diberikan 1x perhari dengan cara diminum. Dapat terjadi semua memenuhi syarat kecuali kondosi umum maka dokter tidak akan memberikan pilihan terapi apapun lagi.Efek samping yang berat dapat menghentikan jadwal pemberian. Tetapi jika pada evaluasi terjadi perburukan misalnya tumor membesar atau tumbuh tumor yang baru.

Selama pengobatan standar pasien sangat dianjurkan memakan dengan komposisi seimbang karena tidak ada larangan khusus untuk itu kecuali karena penyakit lain. KONSEP DASAR MEDIS 1. you need Javascript enabled to view it [ Back ] Home | Contact Us | Disclosure | Privacy 03 Mei 2009 Askep COPD A. empisema. kehilangan elastisitas jaringan paru dan penyempitan jalan napas kecil.P Email: elisnas@fk. Mengkonsumsi vitamin. hal 110 ). polusi udara. . Bronkhitis kronis dan bronkietasis ditandai dengan pembentukan mucus bronchial yang berlebihan dan batuk yang disebabkan oleh inflamasi kronis bronkiolus dan hipertropi serta hyperplasia kelenjar mukosa. banyak sayuran dan buahan dalah baik sekali. PhD. Elisna Syahruddin. atau infeksi saluran pernapasan kambuh ( Carpernito. obat obatn itu sebaiknya dengan resep dokter spesilais yang merawat karena menerlukan perubahan sesuai kondosi pasien. COPD atau yang lebih dikenal dengan PPOM merupakan suatu kumpulan penyakit paru yang menyebabkan obstruksi jalan napas. • Dr. Definisi a. Asma ditandai oleh penyempitan jalan napas bronchial. obstruksi jalan napas disebabkan oleh hperinflasi alveoli. termasuk bronchitis. pada empisema.ac.• Pengobatan lain yang diberikan adalah obat obat penghilang gejala taua simptomatis. Sp. bronkietaksis dan asma.id This email address is being protected from spam bots. PPOM paling sering diakibatkan dari iritasi oleh iritan kimia (industri dan tembakau).ui. 1999.

bagian belakang adalah esofagus sebagai saluran pencernaan. Trakea diliputi oleh selaput lendir yang memiliki silia. 1982. berfungsi untuk mengeluarkan benda asing yang masuk bersama-sama dengan udara pernapasan. COPD atau PPOM merupakan suatu kelompok paru yang mengakibatkan obstruksi yang menahun dan persisten dari jalan napas di dalam paru. Merupakan tempat persimpangan antara jalan pernapasan dan jalan makanan. bronkhitis menahun. hal 218 ). 4) Trakea. c. ( Robbins. Merupakan struktur epitel kartilago berbentuk rangkaian cincin yang meghubungkan faring dengan trakea. hal. Secara fungsional semuanya akan mengakibatkan peningkataan tahanan saluran napas. 137 ).b. dibelakang rongga hidung dan mulut sebelah depan ruas tulang leher. membunuh kuman-kuman yang masuk bersama-sama udara pernapasan leukosit yang terdapat di dalam mukosa hidung. dan dipisahkan oleh sekat hidung (septum nasi). Fungsi laring adalah memungkinkan terjadinya vokalisasi. fungsi hidung adalah bekerja sebagai saluran udara pernapasan sebagai penyaring udara pernapasan yang dilakukan oleh bulu-bulu hidung dapat menghangatkan udara pernapasan oleh mukosa. Anatomi saluran pernapasan 1) Rongga hidung Merupakan saluran udara yang pertama. beberapa batuk dari asma. dan fisiologik terdapat “Overlopping“ satu sama lain sehingga penegakan diagnosis pasti dari pada salah satu penyakit sukar di tetapkan. Trakea disokong oleh cincin tulang rawan yang berbentuk sepatu kuda dan panjangnya kurang lebih 5 inch. radiologik. emfisema paru. Walaupun masing-masing mempunyai karakteristik tersendiri tetapi sering secara klinis. Laring juga melindungi jalan pernapasan bawah dari obstruksi benda asing dan memudahkan batuk. Penyakit obstruksi menahun (COPD) merupakan penyakit paru yang jelas secara anatomi memberikan tanda kesulitan pernapasan yang mirip yaitu keterbatasan jalan udara yang kronis. keatas berhubungan dengan rongga hidung disebut nasofaring. (“airways resistance”). kebawah mempunyai dua lubang bagian depan disebut laringofaring. Bagian ini memiliki banyak saraf dan dapat menyebabkan bronkospasme dan batuk yang kuat jika di rangsang. dan lain-lain. Anatomi Fisiologi a. 3) Laring. Didalamnya terdapat bulu-bulu yang berguna untuk menyaring udara. 2) Faring. 5) Bronkus. Termasuk dalam kelompok ini yaitu : bronkiektasis . terutama beartambahnya resistensi terhadap jalan udara saat ekspirasi. Karina merupakan tempat percabangan trakea menjadi bronkus utama kiri dan kanan. Pada lengkungan faring terdapat dua buah tonsil atau amandel yang bersimpulkan kelenjar limfe yang banyak mengandung lymfosit dan juga epiglotis yang berfungsi menutupi laring pada saat menelan makanan. mampunyai dua lubang (kavum nasi). debu dan kotoran yang masuk kedalam lubang hidung. Merupakan lanjutan dari trakea ada dua buah yang terdapat pada ketinggian vertebral . kedepan berhubungan denga rongga mulut disebut orofaring. ( Kapita selekta. 1995. terdapat dibawah dasar tengkorak.

600 CM3 atau 2 ½ M jumlah pernapasan. ampas dari sisa pembakaran tubuh adalah karbondioksida. bronkus yang bercabang-cabang yang lebih kecil disebut bronkeolus (bronkioli). 1996.000. karbon dioksida dikeluarkan melalui ekspirasi sedangkan sisa lainnya dikeluarkan melalui traktus urogenital dalam bentuk air senidan kulit dalam bentuk keringat.000 buah (paru-paru kiri dan kanan). pernapasan bisa bertambah cepat atau sebaliknya. Alveoli terdiri dari sel-sel epitel dan endotel. terdiri dari 6-8 cincin. udara dihirup masuk melintasi traktus respiratorius sampai alveoli. Etiologi . Fisiologi Pernapasan Bernapas atau respirasi adalah peristiwa menghirup udara luar atau atmosfer kedalam tubuh atau menghembuskan udara yang banyak mengandung karbondioksida sebagani sisa dari oksidasi. Sedangkan kapasitas vital adalah jumalah udara dapat dikeluarkan setelah ekspirasi maksimal. b. 107 ). sedangkan selaput yang berhubungan langsung denga rongga dada sebelah dalam adalah selaput fleur parietal. Dalam keadaan normal orang dewasa 16-18 x/ menit. Paru-paru merupakan salah satu alat tubuh yang sebagian besar terdiri dari gelembunggelembung (alveoli). Banyaknya gelembung paru-paru ini kurang lebih 700. terditi dari 9-12 cincin mempunyai 2 cabang. O2 masuk kedalam darah dan CO2 dikeluarkan dari dalam darah. misalnya akibat dari suatu penyakit. Pada bronkioli terdapat gelambung paru dan gelembunag hawa atau alveoli. Bronkus kiri lebih panjang dan lebih kecail atau ramping. pada lapisan inilah terjadi pertukaran udara. Paru-paru ini dibagi menjadi dua yaitu paru-paru kanan yang terdiri dari 3 lobus dan paru-paru kiri mempunyai 2 lobus. Bronkus-bronkus ini berjalan kebawah dan kesamping tumpukan paru-paru. Jika dibentang luas permukaan kurang lebih 90 m2. Pada waktu kita bernapas biasa udarayang masuk kedalam paru-paru 2. Paru-paru dibungkus oleh dua selaput halus yang disebut fleura visceral. mempunyai tiga cabang. hal 106 ). mempunyai struktur serupa dengan trakea dan dilapisi oleh jenis sel sama. kemudian dialirkan keseluruh tubuh. berungsi untuk melucinkan permukaan selaput fleura agar dapat bergerak akibat inspirsi dan ekspirasi. Karbondioksida dikangkat oleh sirkulasidarah vena masuk ke atrium dekstra ke vertikel dekstra dan di pompa ke paru-paru melintasi arteri pulmonalis. Waktu ekspirasi di dalam paru-paru dapat masih tertinnggal kurang lebih 3 liter udara. Bronkus kanan lebih pendek dan lebih besar dari pada bronkus kiri. Sebagai terjadinya proses atmosfir karbondioksida dikeluarkan melalui kapiler-kapiler alveoli dibawa ke atrium sinistra vena purmonalis Yang kemudian diteruskan di vertikel sinestrayang di pomp[a di aorta. ( Sumber : Syaifuddin. Diantara pleura ini terdapat sedikit cairan.torakalis ke IV dan V. Letak paru-paru adalah pada rongga dada tepatnya pada cavum mediastinum. Dalam keadaan tertentu keadaan tersebut akan berubah. hal. Dalam keadaan noumal kedua paru-paru dapat menampung udara sebanyak kurang lebih5 liter. Kapasitas paru-paru dapat dibedakan menjadi dua kapasitas yaitu kapasitas total yang mengandung arti jumlah udara dapat mengisi paru-paru pada inspirasi sedalam-dalamnya. ( Syarifuddin. 1996. anak-anak : 24 x/menit. 6) Paru-paru. Didalam sel paru-paru terjadi lagi proses oksidasi. didalam pubuh terjadi proses oksidasi atau pembakaran. paru-paru akan terlindungi dinding dada. dan bayi : 30 x/menit.

hal ini menimbulkan dinding . Intramular Dinding bronkus menebal. . b. ( Sumber :Ilmu penyakit dalam. tetapi belum diketahui dengan jelad apakah factor-faktor tersebut berperann atau tidak. zat-zat pengoksidasi seperti N2O. infeksi dan polusi. makrofage alveolar dan surfaktan.Ada tiga factor yang mempengaruhi timbulnya COPD yaitu rokok. yaitu karena : a. selain itu pula berhubungan dengan factor keturunan. hal.Hipertrofi dari kelenjar-kelenjar mukus. 1996. a. yang kemudaian menyebabkan infeksi sekunder oleh bakteri. Juga dapat menyebabkan bronkokonstriksi akut. Fathofisiologi Walaupun COPD terdiri dari berbagai penyakit tetapi seringkali memberikan kelainan fisiologis yang sama. Kelainan terjadi di luar saluran pernapsan. Mekanisme terjadinya obstruksi. Pada dasarnya ada tiga kelainan fisiologis yang dapat menimbulkan insufiensi atau ketidakcukupan pernapasan. Rokok Menurut buku report of the WHO expert comitte on smoking control. c. Ventilasi yang tidak memadai di alveoli karena adanya kelainan yang menambah kerja ventilasi yaitu dengan penambahan tahanan jalan udara. 755 ). sering terdapat pada bronkhitis dan asma. Secara pisiologis rokok berhubungan langsung dengan hiperflasia kelenjar mukaos bronkusdan metaplasia skuamulus epitel saluran pernapasan. . Pada umumnya COPD menimbulkan kelainan yang sama. c.Kontraksi otot-otot polos bronkus dan bronkiolus seperti pada asma. Menurut Crofton & Doouglas merokok menimbulkan pula inhibisi aktivitas sel rambut getar. hydrocarbon. c. Akibat infeksi dan iritasi yang menahun pada lumen bronkus. 1982. 218 ). hal. Ekserbasi bronchitis koronis disangka paling sering diawali dengan infeksi virus. Berkurangnya transportasi oksigen dari paru-paru ke jaringan. akibatnya : . Polusi Polusi zat-zat kimia yang dapat juga menyebabkan brokhitis adalah zat pereduksi seperti O2. aldehid dan ozon. serta menyebabkan kerusakan paru bertambah. b. b.Edema dan inflamasi (peradangan). Destruksi dari jaringan paru mengakibatkan hilangnya kontraksi radial dinding bronkus ditambah dengan hiperinflamasi jeringan paru menyebabkan penyempitan saluran napas. a. rokok adalah penyebab utama timbulnya COPD. Pengurangan difusi gas melalui membrane pernapasan. Ekstramular. alergi. Infeksi Infeksi saluran pernapasan bagian atas pada seorang penderita bronchitis koronis hamper selalu menyebabkan infeksi paru bagian bawah. Ventilasi yang tidak memadai di alveoli. Intraluminer Akibat infeksi dan iritasi yan menahun pada lumen bronkus. umur serta predisposisi genetic. ( Sumber : Kapita Selekta. sebagian bronkus tertutup oleh secret ang berlebihan. sebagian bronkus tertutup oleh secret yang berlebihan.

Gangguan ventilasi yang berhubungan dengan obstruksi jalan napas mengakibatkan hiperventilasi (napas lambat dan dangkal) sehingga terjadai retensi CO2 (CO2 tertahan) dan menyebabkan hiperkapnia (CO2 di dalam darah/cairan tubuh lainnya meningkat).bronkus menebal. akibatnya otot-otot polos pada bronkus dan bronkielus berkontraksi. Tergantung dari kerusakannya dapat terjadi alveoli dengan ventilasi kurang/tidak ada. tetapi perfusi baik. sehingga menyebabkan hipertrofi dari kelenjar-kelenjar mucus dan akhirnya terjadi edema dan inflamasi. akan menyebabkan ventilasi dan perfusi yang tidak seimbang. Pada penderita COPD saluran saluran pernapasan tersebut akan lebih cepat dan lebih banyak yang tertutup. biasanya sudah dapat dibuktikan adanya tanda-tanda obstruksi. antara alveoli dan perfusi di alveoli (V/Q rasio yang tidak sama).). tekanan yang menarik jaringan paru akan berkurang. Pada orang noirmal sewaktu terjadi ekspirasi maksimal. ( Soemardi. sehingga saluran-saluran pernapasan bagian bawah paru akan tertutup. S. Bila sudah timbul gejala sesak. sehingga penyebaran pernapasan udara maupun aliran darah ke alveoli. Penyempitan saluran pernapasan terutama disebabkan elastisitas paru-paru yang berkurang. E. lebih jauh lagi hipoksia alveoli menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah paru dan polisitemia. 1996. Akibat cepatnya saluran pernapasan menutup serta dinding alveoli yang rusak. Timbul hipoksia dan sesak napas. Patoplodiagram Asap tembakau polusi udara Gg pembersihan paru-paru Jalan napas menyempit Bronkus tertutup oleh sekret Dinding bronkus menebal Edema dan inlamasi Terjadi infeksi Penempitan saluran napas Ventilasi terganggu Elastisitas paru menurun Hipertropi pada kelenjar mukus Sekresi lender meningkat Penurunan kerja silia Air way tak bersih Penumpukan dijalan napas Obstruksi .

1999.Dispnea/sesak Proses pembersihan yang dilakukan silia tak efektif Hipoventilasi Gangguan istirahat. 1996. hal. 756 ) Semua penyakit pernapasan dikaraktaristikan oleh obstruksi koronis pada aliran udara. 756 ). bertahun tahun. Umur 35-45 tahun timbul batuk produktif. hal. hiposemia dan perubahannya pada pemeriksaan spirometri. tidur Kerusakan pertukaran gas Gangguan rasa nyaman : nyeri dada ( Sumber : Ilmu Penyakit Dalam. ( Sumber : Ilmu Penyakit Dalam.biasanya dimulai pada seorang penderita perokok berumur 15-25 tahun produktivitasnya menurun dan timbul perubahan pada saluran pernapasan kecil dan fungsi paru mulai pula berubah. Manifestasi Klinis COPD merupakan penyakit obstruksi saluran napas. Umur 45-55 tahun timbul sesak napas. Sering berulang-ulang mendapat infeksi saluran pernapasan bagian atas sehingga sering kali tidak dapat berkerja. terjadai sedikit demi sedikit. Umur 55-65 tahun sudah ada kor pulmonal yang dapat menyebabkan kegagalan pernapasan dan meinggal dunia. .

hal 152 ). c. Adapun penatalaksanaan yang dapat dilakukan adalah : a. Pemberian kortikosteroid Pada beberapa penderita pemberian kortikosteroid akan mengurangi obstruksi saluran pernapasan. Pemberian bronkodilator 1) Teoillin Golongan teofilin biasanya diberikan dengan dosis 10-15 mg/kg berat badan per oral. Pemeriksaan radiologis Pemeriksaan radiologist sangat membantu dalam menegakan atau menyokong diagnosis dan menyingkirkan penyakit-penyakit lain. b. Ekspektoran.45 dan PaCO2 35-45 mmHg. misalnya .Penyebab utama abstruksi bermacam-macam. 2) Agonis B2 Sebaiknya diberikan scara aerosol atau nebulizer. d. memperbaiki serta mempertahankan fungsi paru dan usaha pencegahan harus dilakukan seperti penghentian merokok. Analisis gas darah. Untuk itu dapat dilakukan : Minum air putih yang cukup agar tuidak dehidrasi. serta pO2 75-100 mmHg. c. sehingga diharapkan mempunyai efek bronkodilator lebih kuat. Pemeriksaaan EKG (elektrokardiogram). Yang sering digunakan gliserilquaiakolat. 757 ). Dapat juga diberikan kombinasi obat secara aerosol maupun oral. Pemeriksaan Diagnostik. b. 1999. sedangkan yang normal PH 7. Pemeriksaan penunjang dalam COPD adalah sebagai berikut : a. kalium yodida dan ammonium klorida Nebulizasi dan humidifikasi dengan uap air menurunkan viskositas dan mengencer . Mengurangi retraksi usus Usaha untuk mengeluarkan dn mengurangi mukus.357. hal.. 1996. Inlamasi jalan napas Pelengketan mukosa Penyempitan lumen jalan napas Kerusakan jalan napas Takipnea Ortopnea ( Sumber : Doenges. Penatalaksanaan Penatalaksanaan pada penderita COPD prinsifnya ialah untuk meringankan keluhan simtomatik. Pemeriksaan faal paru Pada pemeriksaan fungsi paru FVC (kapasitas vital kuat) dan fev folume ekspirasi kuat mengalami penurunan menjadi kurang ari 20 %. merupakan pengobatan yang utama dan penting pada pengelalaan COPD. menghindari polusi udara. ( Sumber : Ilmu Penyakit Dalam. Pada pemeriksaan gas darah arteri PH <> 45 mmHg.

implementasi dan evaluasi. KONSEP DASAR KEPERAWATAN Proses keperawatan adalah metode dimana suatu konsep diterapkan dalam praktek keperawatan. B. 1) Kaji terhadap rekuensi. Mukolitik. Berguna untuk . intervensi keperawatan. bahasa yang digunakan. Pengkajian Pengkajian adalah langkah awal yang sangat menentukan keberhasilan dari proses keperawatan tersebut. Pola nutris metabolik. 1996. apa upaya dan dimana kliwen mendapat pertolongan kesehatan. ukur tinggi badan. Adapun hal yang perlu dikaji dalam kasus ini antara lain . Hal ini biasa disebut sebagai suatu pendekatan problem solving atau pemecahan masalah. warga Negara. karakteristik. komplikasi yang sering terjadi dengan berlanjutnya penyakit. agama/suku. b. tempat tanggal lahir. jenis kelamin. Fisioterafi dan rehabilitasi. penanggung jawap meliputi : nama. d. penggunaan selang enteric. a. Pada bagian ini penulis akan menguraikan tentang konsep dasar asuhan keperawatan klien dengan COPD. dimana asukhan keperawatan ini mengguakan pendekatan proses diagnosa keperawatan. 1996. 1 ). (Nursalam. Komplikasi. alamat. ( nursalam dikutip dari dr iyer. Pola persepsi kesehatan-pemeliharaan kesehatan. Kaji selera makan berlebihan atau berkurang. dan jumlah klien makan dan minnum klien dalam sehari. Identitas klien Nama. Pengkajian harus dilakukan secara teliti sehingga didapatkan informasi yang tepat. Retensi co2 c. lalu apa saja yang membuat status kesehatan klien menurun. kaji adanya mual muntah ataupun adanyaterapi intravena. Mengeluarkan mukus dari saluran pernapasan Memperbaiki efisiensi ventilasi Memperbaiki dan meningkatkan kekiatan fisis. 1). hubungan dengan klien. yaitu : a. timbang juga berat badan. umur. Hematologik : polisitemia e. Kegagalan respirasi yang ditandai dengan sesak napas dengan manifestasi asidosis respirasi. d. frekuensi. Tanyakan kepada klien tentang jenis. Pola eliminasi. hal. Ukkus peptikum. b. yang memerlukan ilmu teknik dan ketrampilan intrapersonal ditujukan untuk memenuki kebutuan klien. terjadinya sukar diketahui. 1. Dapat digunakan asetil sistein atau bromheksin. Menurunnya saturasi O2 d. kesulitan/masalah dan juga . kaji status riwayat kesehatan yang pernah dialami klien.sputum. c. lingkaran lengan atas serta hitung berat badan ideal klien untuk memperoleh gambaran status nutrisi. hal.

pendengaran. berkemih. pendengaran terganggu. klien menganut agama apa?. nyeri dada. Pola persepsi kogniti Tanyakan kepada klien apakah menggunakan alat bantu pengelihatan. j. Adakah gangguan persepsi sensori seperti pengelihatan kabur. penyangkalan/penolakan terhadap diri sendiri. Bagaimana suasana tidur klien apaka terang atau gelap. kaji terhadap prekuensi. minum susu. menonton televise. l. Pola persepsi dan konsep diri Kaji tingkah laku mengenai dirinya. Pola system kepercayaan Kaji apakah klien dsering beribadah. memdengarkan musik. ugkapan. Pola peran hubungan dengan sesame Apakah peran klien dimasyarakat dan keluarga. g. Sering bangun saat tidur dikarenakan oleh nyeri. Tanyakan kepada klien tentang penggunaan waktu senggang. tebal dan kental. Adakah klien kesulitan mengingat sesuatu. bagaimana klien mengatasi tak nyaman : nyeri. Kaji tingkat orientasi terhadap tempat waktu dan orang. Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan gangguan peningkatan produksi secret. badan lemah. Pola produksi seksual Tanyakan kepada klien tentang penggunaan kontrasepsi dan permasalahan yang timbul. sekresi tertahan. karakteristik. . Pola aktivitas dan latihan Kaji kemampuan beraktivitas baik sebelum sakit atau keadaan sekarang dan juga penggunaan alat bantu seperti tongkat. jantung seperti berdebar. Kaji apakah ada gangguan komunikasi verbal dan gangguan dalam interaksi dengan anggota keluarga dan orang lain. 2. Berapa jumlah anak klien dan status pernikahan klien. i. kursi roda dan lain-lain. bagaimana hubungan klien di masyarakat dan keluarga dn teman sekerja. sesak dan lain-lain.pemakaian alat bantu seperti folly kateter. Diagnosa Keperawatan Memberikan dasar-dasar memilih intervensi untuk mencapai hasil menjadi tanggung jawab dan tanggung gugat paerawat. Kaji keadaan klien saat ini terhadap penyesuaian diri. Pola tidur dan istirahat Tanyakan kepada klien kebiasan tidur sehari-hari. f. Pola mekanisme koping dan toleransi terhadap stress. apakah klien pernah mengalami putus asa/frustasi/stress dan bagaimana menurut klien mengenai dirinya. jumlah jam tidur. menulis. gatal. ukur juga intake dan output setiap sift. h. Adapun diagnosa keperawatan yang dapat muncul pada pasien dengan COPD adalah sebagai berikut : a. Adakah keluhanpada pernapasan. tempat klien bertukar pendapat dan mekanisme koping yang digunakan selama ini. Kaji faktor yang membuat klien marah dan tidak dapat mengontrol diri. 2) Eliminasi proses. Apakah klien memerlukan penghantar tidur seperti mambaca. tidur siang. kesulitan/masalah defekasi dan juga pemakaian alat bantu/intervensi dalam Bab. e. k. Kaji apakah ada nilainilai tentang agama yang klien anut bertentangan dengan kesehatan.

dan mengurangi. d. 3) Auskultasi bunyi napas. criteria hasil. c. krokels dan ronki. catat adanya bunyi napas misalnya : mengi. dan program perintah medis. 3. Pernapasan dapat melambat dan frekuensi ekspirasi memanjang disbanding inspirasi. Intervensi. (obstruksi jalan napas oleh secret. sekresi tertahan. spasme bronkus). 1999. tebal dan kental. Kriteria hasil : Mempertahankan jalan napas paten dan bunyi napas bersih/jelas. 2) Kaji pasien untuk posisi yang nyaman. duduk dan sandaran tempat tidur. ( Doenges. Respon : Takipnea biasanya ada beberapa derajat dan dapat ditemukan pada penerimaan atau selama stress/adanya proses infeksi akut. misalnya peninggian kepala tempat tidur.. ( Nursalam. rasa aman. Pada dasarnya membuatan prioritas masalah dibuat berdasarkan kebutuhan dasar manusia. bunyi napas redup dengan ekspirasi mengi (emfisema). Perencanaan Keperawatan. hal 156 ). Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan gangguan peningkatan produksi secret. hal 51 ). meletakan kebutuhan fisiologis sebagai kebutuhan paling dasar. misalnya : penyebaran. Menurut Abraham moslow. Tujuan : Ventilasi/oksigenisasi adekuat untuk kebutuhan individu. Sokongan tangan/kaki dengan meja. Tahap dalam perencanaan meliputi penentuan prioritas masalah. Namun pasien dengan distress berat akan mencari posisi yang lebih mudah untuk bernapas. mencintai dan dicintai. atau tidak .b. tujuan. Setelah merumuskan diagnosa keperawatan langkah berikutnya adalah menentukan perencanaan keperawatan yang meliputi pengemabangan strategi desain untuk mencegah. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplai oksigen berkurang. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan proses peradangan pada selaput paru-paru. bantal dan lain-lain membantu menurunkan kelemahan otot dan dapat sebagai alat ekspansi dada. menentukan rencana dan tindakan pelimpahan (medis dan tim kesehatan lainnya). 2001. Berdasarkan diagnosa keperawatan yang muncul pada klien dengan COPD adalah sebagai berikut : a. krekels basah (bronchitis). 1) Kaji/pantau frekuensi pernapasan. Rasional : Peninggian kepala tempat tidur mempermudah pernapasan dan menggunakan gravitasi. Kurang pengetahuan mengenai proses dan prognosis penyakit berhubungan dengan kurang informasi. harga diri dan aktualisasi diri. Rasional : Beberapa derajat spasme bronkus terjadi dengan obstruksi jalan napas dan dapat/tidak dimanifestasikan dengan adanya bunyi napas adventisius. catat rasio inspirasi/ekspirasi.

isoeetrain (brokosol. Respon : Berguna dalam evaluasi derajat distress pernapasan dan kronisnya proses penyakit. Kriteria hasil : . 1999. 8) Bronkodilator. mempermudah pengeluaran. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplai oksigen berkurang. efinefrin (adrenalin. Batuk paling efektif pada posisi duduk paling tinggi atau kepala dibawah setelah perkusi dada. catat pengguanaan otot aksesorius. misalnya : menetap. 2) Kaji/awasi secara rutin kulit dan warna membrane mukosa. khususnya bila pasien lansia. batuk pendek. misalnya. bronkometer). Rasional : Memberikan pasien beberapa cara untuk mengatasi dan mengontrol dispnea dan menurunkan jebakan udara. Rasional : Hidrasi membantu menurunkan kekentalan secret. 7) Tingkatkan masukan cairan sampai 3000 ml/hari sesuai toleransi jantung. dapat meningkatkan distensi gaster dan tekanan pada diafragma. 5) Dorong/bantu latihan napas abdomen atau bibir. SaO2 95 % dank lien tidan mengalami sesak napas. dan penggunaan obat bantu.Tidak ada tanda-tanda sianosis. misalnya : keluhan “lapar udara”. ketidakmampuan bicara/berbincang. 4) Catat adanya /derajat disepnea. b. basah. hal 156 ). Rasional : Batuk dapat menetap tetapi tidak efektif. Rasional : Sianosis mungkin perifer (terlihat pada kuku) atau sentral (terlihat sekitar bibir atau . ventolin). injeksi atau inhalasi. sakit akut. Obat-obatan mungkin per oral. bantu tindakan untuk memperbaiki keefektifan jalan napas. ( Doenges. spasme bronkus). vavonefrin). Cairan selama makan dapat meningkatkan distensi gaster dan tekanan pada diafragma. Tujuan : Mempertahankan tingkat oksigen yang adekuat untuk keperluan tubuh. albuterol (proventil. mengi dan produksi mukosa. menurunkan spasme jalan napas. brethaire). terbutalin (brethine.adanya bunyi napas (asma berat). Penggunaan air hangat dapat menurunkan spasme bronkus. kedalaman pernapasan. distress pernapasan. atau kelemahan. β-agonis. 6) Observasi karakteristik batuk. ansietas. (obstruksi jalan napas oleh sekret. . Intervensi : 1) Kaji frekuensi. gelisah.Tanpa terapi oksigen. Rasional : Merilekskan otot halus dan menurunkan kongesti local.Tanda-tanda vital dalam batas normal . napas bibir. Rasional : Disfungsi pernapasan adalah variable yang tergantung pada tahap proses kronis selain proses akut yang menimbulkan perawatan di rumah sakit. misalnya infeksi dan reaksi alergi.

relaksasi/latihan napas. 6) Awasi tanda-tanda vital dan irama jantung. Kriteria hasil : . hal 158 ). . Catatan . Rasional : . mengatur pernapasan pasien ditentikan oleh kadar CO2 dan mungkin dikkeluarkan dengan peningkatan PaO2 berlebihan. 1999. 5) Auskultasi bunyi napas. dispnea dan kerja napas. 7) Berikan oksigen tambahan yang sesuai dengan indikasi hasil GDA dan toleransi pasien. ( Doenges. Pantau tanda-tanda vital. pijatan punggung. disiretmia dan perubahan tekanan darah dapat menunjuak efek hipoksemia sistemik pada fungsi jantung. Rasional : Kental tebal dan banyak sekresi adalah sumber utama gangguan pertukaran gas pada jalan napas kecil. pengisapan bila diindikasikan. Adanya mengi mengindikasikan spasme bronkus/ter-tahannya sekret. 4) Dorong mengeluarkan sputum. juga dapat timbul komplikasi seperti perikarditis dan endokarditis.danun telinga).Ekspresi wajah rileks. 2. Rasional : Perubahan frekuensi jantung atau TD menunjukan bahwa pasien mengalami nyeri. 3. misalnya . selidiki perubahan karakter/intensitasnyeri/lokasi. Keabu-abuan dan dianosis sentral mengindikasikan beratnya hipoksemia. Krekles basah menyebar menunjukan cairan pada interstisial/dekompensasi jantung. Rasional : Pengiriman oksigen dapat diperbaiki dengan posisi duduk tinggi dan laithan napas untuk menurunkan kolaps jalan napas. bantu pasien untuk memilih posisi yang mudah untuk bernapas. Tujuan : Rasa nyeri berkurang sampai hilang. 3) Tinggikan kepala tempat tidur. miaalnya . emfisema koronis. c. perubahan posisi. catat area penurunan aliran udara dan/atau bunyi tambahan. di tusuk. musik tenang/perbincangan. tajam.Klien mengatakan rasa nyeri berkurang/hilang. Berikan tindakan nyaman. Tentukan karakteristik nyeri. konsisten. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan proses peradangan pada selaput paru-paru. dan pengisapan dibuthkan bila batuk tak efektif. Intervensi : 1. Respon : Nyeri dada biasanya ada dalam beberapa derajat pneumonia. Dorong napas dalam perlahan atau napas bibir sesuai dengan kebutuhan/toleransi individu. khususnya bila alasan lain untuk perubahan tanda-tanda vital. Rasional : Bunyi napas mingkin redup karena penurrunan aliran udara atau area konsolidasi. Rasional : Takikardi. Rasional : Dapat memperbaiki/mencegah memburuknya hipoksia.

dan latihan kondisi umum. efek samping dan reaksi yang tidak diinginkan/ Rasional : Pasien sering mendapatkan obat pernapasan banyak sekaligus yang mempunyai efek samping hamper sama dan potensial interaksi obat. angina. kekuatan otot. .Melakukan perilaku/perubahan pada hidup untuk memperbaiki kesehatan umum dan menurunkan resiko pengaktifan ulang COPD. Rasional : Obat ini dapat digunakan untuk menekan batuk non produktif/proksimal atau menurunkan mukosa berlebihan. Kurang pengetahuan mengenai proses dan prognosis penyakit berhubungan dengan kurang informasi.Mengidentifikasi gejala yang menerlukan evaluasi intervensi. 1999. Intervensi. serbuk. meningkatkan kenyamanan/istirahat umum. Penting bagi pasien memahami perbedaan antara efek samping menganggu (obat dilanjutkan) dan efek samping merugikan (obat mungkin dihentikan/diganti). dan rasa sehat. 6. 5. Rasional : Napas bibir dan napas abdominalis/diafragmatik menguatkan otot pernapasan. Respon : Menurunkan ansietas dan dapat menimbulkan perbaikan partisipasi pada rencana pengobatan. membantu meinimalkan kolaps jalan napas kecil. Tawarkan pembersihan mulut dengan sering. udara terlalu kering. Diskusikan faktor individu yang menigkatkan kondisi. seprai aerosol. Anjurkan dan bantu pasien dalam teknik menekan dada selama episode batuk. Diskusikan obat pernapasan. dan memberikan indivisu arti untuk mengontrol dispnea.Klien memahami proses penyakit dan kebutuhan pengobatan. Rasional : Pernapasan mulut dan terapi oksigen dapat mengiritasi dan mengeringkan memberan mukosa. Berikan analgesic dan antitusif sesuai indikasi. Dorong pasien/orang terdekat untuk menanyakan pertanyaan. polusi .Tindakan non-analgetik diberikan dengan sentuhan lembut dapat menghilangkan ketidaknyamanan dan memperbesar efek terapi analgesic. asap tembakau. hal 171 ). 4. Latihan kondisi umum meningkatkan toleransi aktivitas. d. ( Doenges. perawatan dan program pengobatannya. potensial ketidaknyamanan umum. Jelaskan/kuatkan penjelasan proses penyakit individu. misalnya . Kriteria hasil : . . Instruksikan/kuatkan rasional untuk latihan napas. batuk efektif. lingkungan dan suhu ekstrem. Rasional : Alat untuk mengontrol ketidaknyamanan dada sementara meningkatkan keefektifan upaya batuk. Tujuan : Klien mengerti tentang penyakit.

Rasional : Pengawasan proses penyakit untuk membuat program tetapi untuk memenuhi perubahan kebutuhan dan dapat membantu mencegah komplikasi.udara. Namun meskipun pasien ingin menghentikan merokok. Dorong pasien/orang terdekat untuk mencari cara mengontrol faktor ini dan sekitar rumah. Catatan : penelitian menunjukan bahwa rokok “ side-streams “ atau “second hand’ dapat terganggu seperti halnya merokok nyata. Rasional : Faktor lingkungan ini dapat menimbulkan/meningkatkan iritasi bronchial menimbulkan peningkatan produksi sekret dan menjadi hambatan jalan napas. Mampu mengendalikan stress dan emosional sebagai faktor pencetus terjadinya sesak c. Meningkatkan nutrisi yang adekuat. Mentaati aturan terapi pengobatan dan selalu control ulang. anjurkan klien untuk : a. MD. 1995. b. Waspadji Sarwono (1999. hal 162 ). Diskusikan tentang pentingnya mengikuti perawatan medik. 1999. 786) • Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapat penumpukan cairan . Perencanaan pulang. ( Doenges. foto dada periodik. Kaji efek bahaya merokok dan nasehatkan menghentikan merokok pada pasien dan/atau orang terdekat. Memenuhi kebutuhan istirahat yang cukup dan mematuhi terapi. Rasional : Penghentian merokok dapat memperlambat/menghambat kemajuan COPD. dan culture sputum. Secara bertahap dalam beraktivitas dan gaya hidup sehari-hari yang harus direncanakan untuk mencegah kekambuhan. Kamis. dimana kondisi ini jika dibiarkan akan membahayakan jiwa penderitanya (John Gibson. diperlukan kelompok pendukung dan pengawas medis. SUMEDI. 4.SKp Definisi • Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapat cairan berlebihan di rongga pleura. Untuk meningkatkan efisiensi pernapasan secara maksimal. e. d. 2008 September 11 ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN EFUSI PLEURA OLEH : Ns.

Kemungkinan penyebab efusi antara lain 1. syndroma nefrotik. 145). (Allsagaaf H. 68) Patofisiologi • Dalam keadaan normal hanya terdapat 10-20 ml cairan di dalam rongga pleura. • Jumlah cairan di rongga pleura tetap. hipoalbumin dan lain sebagainya. Etiologi • Penyebab efusi pleura bisa bermacam-macam seperti gagal jantung. Amin M Saleh. karena adanya tekanan hidrostatis pleura parietalis sebesar 9 cm H2O. 111). adanya neoplasma (carcinoma bronchogenic dan akibat metastasis tumor yang berasal dari organ lain). tuberculosis paru. • Akumulasi cairan pleura dapat terjadi apabila tekanan osmotik koloid menurun misalnya pada penderita hipoalbuminemia dan bertambahnya permeabilitas kapiler akibat ada proses keradangan atau neoplasma. trauma.dari dalam kavum pleura diantara pleura parietalis dan pleura viseralis dapat berupa cairan transudat atau cairan eksudat ( Pedoman Diagnosis danTerapi / UPF ilmu penyakit paru. 1998.gagal jantung yang menyebabkan tekanan kapiler paru dan tekanan perifer menjadi sangat tinggi sehingga menimbulkan transudasi cairan yang . 1995.penghambatan drainase limfatik dari rongga pleura 2. pneumoni. • Effusi pleura berarti terjadi pengumpulan sejumlah besar cairan bebas dalam kavum pleura. 1994. infark paru. bertambahnya tekanan hidrostatis akibat kegagalan jantung dan tekanan negatif intra pleura apabila terjadi atelektasis paru (Alsagaf H. Mukti A.

Dispneu bervariasi 2.berlebihan ke dalam rongga pleura 3.Fremitus vokal dan raba berkurang Penatalaksanaan • Drainase cairan jika efusi menimbulkan gejala subyektif seperti nyeri.Perkusi meredup di atas efusi pleura 7. dyspnea • Antibiotik jika terjadi empiema • Pleurodesis .infeksi atau setiap penyebab peradangan apapun pada permukaan pleura dari rongga pleura. Dengan membesarnya efusi akan terjadi restriksi ekspansi paru dan pasien mungkin mengalami : 1.Nyeri pleuritik biasanya mendahului efusi sekunder akibat penyakit pleura 3. mungkin belum menimbulkan manifestasi klinik dan hanya dapat dideteksi dengan X-ray foto thorakks.Pergerakan dada berkurang dan terhambat pada bagian yang terkena 6. 623-624).Egofoni di atas paru-paru yang tertekan dekat efusi 8.Ruang interkostal menonjol (efusi yang berat) 5.Trakea bergeser menjauhi sisi yang mengalami efusi 4. yang memecahkan membran kapiler dan memungkinkan pengaliran protein plasma dan cairan ke dalam rongga secara cepat (Guyton dan Hall . -Jika jumlah efusinya sedikit (misalnya < 250 ml). 1997. jadi juga memungkinkan transudasi cairan yang berlebihan 4.sangat menurunnya tekanan osmotik kolora plasma.Suara nafas berkurang di atas efusi pleura 9. Tanda & Gejala -Manifestasi klinik efusi pleura akan tergantung dari jumlah cairan yang ada serta tingkat kompresi paru. Egc.

Riwayat Penyakit Keluarga >Perlu ditanyakan apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakitpenyakit yang disinyalir sebagai penyebab effusi pleura seperti Ca paru. trauma. Riwayat Penyakit Dahulu • Perlu ditanyakan apakah pasien pernah menderita penyakit seperti TBC paru. Riwayat Penyakit Sekarang • Pasien dengan effusi pleura biasanya akan diawali dengan adanya tandatanda seperti batuk. Keluhan Utama • Keluhan utama merupakan faktor utama yang mendorong pasien mencari pertolongan atau berobat ke rumah sakit. TB paru dan lain sebagainya . pneumoni. • Perlu juga ditanyakan mulai kapan keluhan itu muncul. suku bangsa. gagal jantung. rasa berat pada dada.• Operatif Pengkajian keperawatan Identitas Pasien Pada tahap ini perawat perlu mengetahui tentang nama. asma. agama atau kepercayaan. sesak nafas. bahasa yang dipakai. status pendidikan dan pekerjaan pasien. berat badan menurun dan sebagainya. nyeri pleuritik. alamat rumah. rasa berat pada dada. asites dan sebagainya. jenis kelamin. nyeri pleuritik akibat iritasi pleura yang bersifat tajam dan terlokasilir terutama pada saat batuk dan bernafas serta batuk non produktif. Hal ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya faktor predisposisi. Apa tindakan yang telah dilakukan untuk menurunkan atau menghilangkan keluhankeluhannya tersebut. umur. • Biasanya pada pasien dengan effusi pleura didapatkan keluhan berupa : sesak nafas.

Riwayat Psikososial >Meliputi perasaan pasien terhadap penyakitnya. pasien akan lebih banyak bed rest sehingga akan menimbulkan konstipasi. Pola eliminasi • Dalam pengkajian pola eliminasi perlu ditanyakan mengenai kebiasaan defekasi sebelum dan sesudah MRS. • Kemungkinan adanya riwayat kebiasaan merokok. kita perlu melakukan pengukuran tinggi badan dan berat badan untuk mengetahui status nutrisi pasien. tapi kadang juga memunculkan persepsi yang salah terhadap pemeliharaan kesehatan. • Karena keadaan umum pasien yang lemah. Pola nutrisi dan metabolisme • Dalam pengkajian pola nutrisi dan metabolisme. minum alkohol dan penggunaan obat-obatan bisa menjadi faktor predisposisi timbulnya penyakit. bagaimana cara mengatasinya serta bagaimana perilaku pasien terhadap tindakan yang dilakukan terhadap dirinya. pasien dengan effusi pleura keadaan umumnya lemah. selain akibat pencernaan pada struktur abdomen menyebabkan penurunan peristaltik otot-otot . Pengkajian Pola Fungsi Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat • Adanya tindakan medis dan perawatan di rumah sakit mempengaruhi perubahan persepsi tentang kesehatan. • Perlu ditanyakan kebiasaan makan dan minum sebelum dan selama MRS pasien dengan effusi pleura akan mengalami penurunan nafsu makan akibat dari sesak nafas dan penekanan pada struktur abdomen. • Peningkatan metabolisme akan terjadi akibat proses penyakit.

secara langsung pasien akan mengalami perubahan peran. mengurus suaminya. tiba-tiba mengalami sakit. • Disamping itu. Pola tidur dan istirahat • Adanya nyeri dada. peran pasien di masyarakatpun juga mengalami perubahan dan semua itu mempengaruhi hubungan interpersonal pasien. dimana banyak orang yang mondar-mandir. pasien tidak dapat menjalankan fungsinya sebagai seorang ibu yang harus mengasuh anaknya. berisik dan lain sebagainya. • Selain itu akibat perubahan kondisi lingkungan dari lingkungan rumah yang tenang ke lingkungan rumah sakit. Pola hubungan dan peran • Akibat dari sakitnya. sesak nafas. • Untuk memenuhi kebutuhan ADL nya sebagian kebutuhan pasien dibantu oleh perawat dan keluarganya. Pola persepsi dan konsep diri • Persepsi pasien terhadap dirinya akan berubah. kebutuhan O2 jaringan akan kurang terpenuhi • Pasien akan cepat mengalami kelelahan pada aktivitas minimal. nyeri dada. misalkan pasien seorang ibu rumah tangga. Pola aktivitas dan latihan • Akibat sesak nafas.tractus degestivus. • Pasien yang tadinya sehat. • Dalam hal ini pasien mungkin akan . Pasien mungkin akan beranggapan bahwa penyakitnya adalah penyakit berbahaya dan mematikan. sesak nafas dan peningkatan suhu tubuh akan berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan tidur dan istitahat. • Disamping itu pasien juga akan mengurangi aktivitasnya akibat adanya nyeri dada.

ruang antar iga melebar. ekspresi wajah pasien selama dilakukan anamnesa. Pola reproduksi seksual • Kebutuhan seksual pasien dalam hal ini hubungan seks intercourse akan terganggu untuk sementara waktu karena pasien berada di rumah sakit dan kondisi fisiknya masih lemah. bagaimana mood pasien untuk mengetahui tingkat kecemasan dan ketegangan pasien. bagaimana penampilan pasien secara umum. • Pemeriksaan Fisik • Status Kesehatan Umum • Tingkat kesadaran pasien perlu dikaji. • Perlu juga dilakukan pengukuran tinggi badan berat badan pasien. iga mendatar. Pendorongan mediastinum ke arah hemithorax kontra lateral yang . Sistem Respirasi Inspeksi • Pada pasien effusi pleura bentuk hemithorax yang sakit mencembung. demikian juga dengan proses berpikirnya. sikap dan perilaku pasien terhadap petugas.kehilangan gambaran positif terhadap dirinya Pola sensori dan kognitif • Fungsi panca indera pasien tidak mengalami perubahan. Pola tata nilai dan kepercayaan • Sebagai seorang beragama pasien akan lebih mendekatkan dirinya kepada Tuhan dan menganggap bahwa penyakitnya ini adalah suatu cobaan dari Tuhan. Pola penanggulangan stress • Bagi pasien yang belum mengetahui proses penyakitnya akan mengalami stress dan mungkin pasien akan banyak bertanya pada perawat dan dokter yang merawatnya atau orang yang mungkin dianggap lebih tahu mengenai penyakitnya. pergerakan pernafasan menurun.

dan dibaliknya ada kompresi atelektasis dari parenkian paru. Widjaya Adjis.79) Sistem Cardiovasculer • Pada inspeksi perlu diperhatikan letak ictus cordis. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pembesaran jantung. • Fremitus tokal menurun terutama untuk effusi pleura yang jumlah cairannya > 250 cc. • Auskultasi Suara nafas menurun sampai menghilang. . normal berada pada ICS – 5 pada linea medio claviculaus kiri selebar 1 cm. Garis ini paling jelas di bagian depan dada. • Palpasi untuk menghitung frekuensi jantung (health rate) dan harus diperhatikan kedalaman dan teratur tidaknya denyut jantung. • Suara perkusi redup sampai pekak tegantung jumlah cairannya.diketahui dari posisi trakhea dan ictus kordis. Garis ini disebut garis Ellis-Damoisseaux. mungkin saja akan ditemukan tandatanda auskultasi dari atelektasis kompresi di sekitar batas atas cairan. 1994. perlu juga memeriksa adanya thrill yaitu getaran ictus cordis. RR cenderung meningkat dan Px biasanya dyspneu. Ida Bagus. • Ditambah lagi dengan tanda i – e artinya bila penderita diminta mengucapkan kata-kata i maka akan terdengar suara e sengau. Disamping itu pada palpasi juga ditemukan pergerakan dinding dada yang tertinggal pada dada yang sakit. Mukty Abdol. kurang jelas di punggung. Bila cairannya tidak mengisi penuh rongga pleura. Pada posisi duduk cairan makin ke atas makin tipis. maka akan terdapat batas atas cairan berupa garis lengkung dengan ujung lateral atas ke medical penderita dalam posisi duduk. yang disebut egofoni (Alsagaf H.

• Auskultasi untuk mendengarkan suara peristaltik usus dimana nilai normalnya 5-35 kali permenit. apakah hepar teraba. Sistem Muskuloskeletal • Pada inspeksi perlu diperhatikan . selain itu juga perlu di inspeksi ada tidaknya benjolan-benjolan atau massa. penciuman. turgor kulit perut untuk mengetahui derajat hidrasi pasien. adakah massa (tumor. juga apakah lien teraba. feces). Hal ini bertujuan untuk menentukan adakah pembesaran jantung atau ventrikel kiri. • Perkusi abdomen normal tympani. penglihatan. asites. adanya massa padat atau cairan akan menimbulkan suara pekak (hepar. apakah abdomen membuncit atau datar. tumor). perabaan dan pengecapan. Adakah composmentis atau somnolen atau comma. • Pada palpasi perlu juga diperhatikan.• Perkusi untuk menentukan batas jantung dimana daerah jantung terdengar pekak. • Selain itu fungsi-fungsi sensoris juga perlu dikaji seperti pendengaran. Sistem Neurologis • Pada inspeksi tingkat kesadaran perlu dikaji Disamping juga diperlukan pemeriksaan GCS. umbilicus menonjol atau tidak. Sistem Pencernaan • Pada inspeksi perlu diperhatikan. adakah nyeri tekan abdomen. tepi perut menonjol atau tidak. • Pemeriksaan refleks patologis dan refleks fisiologisnya. vesika urinarta. • Auskultasi untuk menentukan suara jantung I dan II tunggal atau gallop dan adakah bunyi jantung III yang merupakan gejala payah jantung serta adakah murmur yang menunjukkan adanya peningkatan arus turbulensi darah.

penurunan nafsu makan akibat sesak nafas sekunder terhadap penekanan struktur abdomen (Barbara Engram. warna ada tidaknya lesi pada kulit. Pemeriksaan Penunjang • Pemeriksaan laboratorium • Darah lengkap dan kimia darah • Bakteriologis • Analisis cairan pleura • Pemeriksaan radiologis • Biopsi Diagnosa Keperawatan • Ketidakefektifan pola pernafasan berhubungan dengan menurunnya ekspansi paru sekunder terhadap penumpukkan cairan dalam rongga pleura (Susan Martin Tucleer. hangat. demam). 1998).adakah edema peritibial • Palpasi pada kedua ekstremetas untuk mengetahui tingkat perfusi perifer serta dengan pemerikasaan capillary refil time. pada Px dengan effusi biasanya akan tampak cyanosis akibat adanya kegagalan sistem transport O2. Kemudian texture kulit (halus-lunak-kasar) serta turgor kulit untuk mengetahui derajat hidrasi seseorang. • Cemas berhubungan dengan adanya ancaman kematian yang dibayangkan (ketidakmampuan untuk bernafas). 1993). • Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan metabolisme tubuh. • Pada palpasi perlu diperiksa mengenai kehangatan kulit (dingin. • Dengan inspeksi dan palpasi dilakukan pemeriksaan kekuatan otot kemudian dibandingkan antara kiri dan kanan. . Sistem Integumen • Inspeksi mengenai keadaan umum kulit higiene. dkk.

com/2008/06/22/efusi-pleura/ 2.healthatoz.sa/…/ Students’s%20Clinical%20presentations/Zahra’a %20Hussin%20AL5.com/healthatoz/Atoz/common/standard/transform.com/2008/01/09/efusi-pleura/ 3.ksu. faculty. http://dewabenny. http://www. .jsp? requestURI=/healthatoz/Atoz/ency/pleural_effusion.edu. aturan pengobatan berhubungan dengan kurang terpajan informasi di 03:45 Label: Keperawatan Askep Efusi Pleura Posted by yenichrist under Keperawatan [11] Comments Landasan teori medis diambil dari: 1.• Gangguan pola tidur berhubungan dengan batuk yang menetap dan sesak nafas serta perubahan suasana lingkungan • Defisit perawatan diri berhubungan dengan keletihan (keadaan fisik yang lemah) • Kurang pengetahuan mengenai kondisi. http://dokterfoto. NANDA 2007-2008 (keperawatan).jsp 4.wordpress.

Efusi pleura adalah akumulasi cairan yang berlebihan pada rongga pleura. chest pain. sehingga biasanya mudah dikeluarkan melalui sebuah jarum atau selang. 2. Empiema bisa merupakan komplikasi dari: • • Infeksi pada cedera di dada Pembedahan dada . Cairan serus (hidrothorax) Darah (hemothotaks) Chyle (chylothoraks) Nanah (pyothoraks atau empyema) Hemotoraks (darah di dalam rongga pleura) biasanya terjadi karena cedera di dada. 4. Empiema (nanah di dalam rongga pleura) bisa terjadi jika pneumonia atau abses paru menyebar ke dalam rongga pleura. cairan tersebut mengisi ruangan yang mengelilingi paru. 3. Terdapat empat tipe cairan yang dapat ditemukan pada efusi pleura. Pleural effusion occurs when too much fluid collects in the pleural space (the space between the two layers of the pleura). It is commonly known as “water on the lungs. and cough. yaitu : 1. gastric discomfort (dyspepsia). Darah di dalam rongga pleura tidak membeku secara sempurna.” It is characterized by shortness of breath. Penyebab lainnya adalah: • • • pecahnya sebuah pembuluh darah yang kemudian mengalirkan darahnya ke dalam rongga pleura kebocoran aneurisma aorta (daerah yang menonjol di dalam aorta) yang kemudian mengalirkan darahnya ke dalam rongga pleura gangguan pembekuan darah. Cairan dalam jumlah yang berlebihan dapat mengganggu pernapasan dengan membatasi peregangan paru selama inhalasi.

yang hasilnya menunjukkan adanya cairan. dengan bantuan stetoskop akan terdengar adanya penurunan suara pernafasan.• • • Pecahnya kerongkongan Abses di perut Pneumonia Kilotoraks (cairan seperti susu di dalam rongga dada) disebabkan oleh suatu cedera pada saluran getah bening utama di dada (duktus torakikus) atau oleh penyumbatan saluran karena adanya tumor. Diagnosis Pada pemeriksaan fisik. dan vocal fremitus yang menurun. abses paru atau tumor USG dada USG bisa membantu menentukan lokasi dari pengumpulan cairan yang jumlahnya sedikit. . CT scan dada CT scan dengan jelas menggambarkan paru-paru dan cairan dan bisa menunjukkan adanya pneumonia. pada pemeriksaan perkusi didapatkan dullness/pekak. sehingga bisa dilakukan pengeluaran cairan. Apabila cairan yang terakumulasi lebih dari 500 ml. Untuk membantu memperkuat diagnosis. Rongga pleura yang terisi cairan dengan kadar kolesterol yang tinggi terjadi karena efusi pleura menahun yang disebabkan oleh tuberkulosis atau artritis rematoid. auskultasi didapatkan suara pernapasan menurun. dilakukan pemeriksaan berikut: Rontgen dada Rontgen dada biasanya merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk mendiagnosis efusi pleura. biasanya akan menunjukkan gejala klinis seperti penurunan pergerakan dada yang terkena efusi pada saat inspirasi.

kemudian cairan pleura diambil dengan jarum. Pada foto thoraks posisi AP atau PA ditemukan adanya sudut costophreicus yang tidak tajam. Pada sekitar 20% penderita. amylase. Pemeriksaan hitung sel 4. meskipun telah dilakukan pemeriksaan menyeluruh. dimana contoh lapisan pleura sebelah luar diambil untuk dianalisa. albumin. Dengan foto thoraks posisi lateral decubitus dapat diketahui adanya cairan dalam rongga pleura sebanyak paling sedikit 50 ml. Analisa cairan pleura Efusi pleura didiagnosis berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. penyebab dari efusi pleura tetap tidak dapat ditentukan. kultur. penyebabnya harus diketahui.Torakosentesis Penyebab dan jenis dari efusi pleura biasanya dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan terhadap contoh cairan yang diperoleh melalui torakosentesis (pengambilan cairan melalui sebuah jarum yang dimasukkan diantara sela iga ke dalam rongga dada dibawah pengaruh pembiusan lokal). laktat dehidrogenase (LDH). Biopsi Jika dengan torakosentesis tidak dapat ditentukan penyebabnya. tindakan ini disebut thorakosentesis. dan glucose 2. Komposisi kimia seperti protein. Setelah didapatkan cairan efusi dilakukan pemeriksaan seperti: 1. maka dilakukan biopsi. dan di konfirmasi dengan foto thoraks. Bila efusi pleura telah didiagnosis. Dilakukan pemeriksaan gram. sensitifitas untuk mengetahui kemungkinan terjadi infeksi bakteri 3. Bronkoskopi Bronkoskopi kadang dilakukan untuk membantu menemukan sumber cairan yang terkumpul. sedangkan dengan posisi AP atau PA paling tidak cairan dalam rongga pleura sebanyak 300 ml. pH. Sitologi untuk mengidentifikasi adanya keganasan .

keadaan lain juga menyebabkan efusi pleura seperti pada penyakit autoimun systemic lupus erythematosus (SLE). sirosis hepatis. penyakit pancreas. keganasan (ca paru. Gejala Gejala yang paling sering ditemukan (tanpa menghiraukan jenis cairan yang terkumpul ataupun penyebabnya) adalah sesak nafas dan nyeri dada (biasanya bersifat tajam dan semakin memburuk jika penderita batuk atau bernafas dalam).pernafasan yang cepat . infeksi virus. Tuberkulosis paru merupakan penyebab paling sering dari efusi pleura di Negara berkembang termasuk Indonesia. emboli paru. Kadang beberapa penderita tidak menunjukkan gejala sama sekali. Selain TBC.batuk . emboli paru. rheumatoid arthritis. Sedangkan efusi pleura eksudatif disebabkan oleh faktor local yang mempengaruhi pembentukan dan penyerapan cairan pleura. sindroma Meig (asites. Misalnya pada keadaan gagal jantung kiri. dan keganasan Etiologi Penyebab paling sering efusi pleura transudatif di USA adalah oleh karena penyakit gagal jantung kiri. sedangkan penyebab efusi pleura eksudatif disebabkan oleh pneumonia bakteri. perdarahan (sering akibat trauma). dan sirosis hepatis. ca mammae. abses intraabdomen.cegukan . Efusi pleura jarang pada keadaan rupture esophagus. Efusi pleura transudatif disebabkan oleh faktor sistemik yang mengubah keseimbangan antara pembentukan dan penyerapan cairan pleura. dan lymphoma merupakan 75 % penyebab efusi pleura oleh karena kanker). pneumonia bakteri. infeksi virus. Efusi pleura eksudatif biasanya ditemukan pada Tuberkulosis paru.Langkah selanjutnya dalam evaluasi cairan pleura adalah untuk membedakan apakan cairan tersebut merupakan cairan transudat atau eksudat. dan efusi pleura karena adanya tumor ovarium). Gejala lainnya yang mungkin ditemukan: .

apabila jumlah cairan banyak dapat dilakukan pemasangan drainase interkostalis atau pemasangan WSD.nyeri perut. even after extensive tests. a drug or material that irritates the pleural membranes can be injected to deliberately inflame them and cause them to adhere close together–a process called sclerosis. 2. 5. and electrolyte levels. In the most severe cases. Penatalaksanaan The best way to clear up a pleural effusion is to direct treatment at what is causing it. If necessary. or no effective treatment is at hand. 4. If large effusions continue to recur. This will prevent further effusion by eliminating the pleural space.. blood pressure. However. the effusion will usually resolve. give drug in the morning Monitor fluid intake and output. Penatalaksanaan tergantung pada penyakit yang mendasari terjadinya efusi pleura. rather than treating the effusion itself. if the cause is not known. open surgery with removal of a rib may be necessary to drain all the fluid and close the pleural space. Nyeri akut/kronis Insomnia Pertukaran gas tidak efektif Kelelahan Intoleransi aktivitas Resiko ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh Koping individu tidak efektif The core responsibilities of nurses: • • To prevent nocturia. Aspirasi cairan menggunakan jarum dapat dilakukan untuk mengeluarkan cairan pleura. the fluid can be drained away by placing a large-bore needle or catheter into the pleural space. Keperawatan 1. this can be repeated as often as is needed to control the amount of fluid in the pleural space. . 6. just as in diagnostic thoracentesis. dimana kedua permukaan pleura ditempelkan sehingga tidak ada lagi ruangan yang akan terisi oleh cairan. If heart failure is reversed or a lung infection is cured by antibiotics. Efusi pleura yang berulang mungkin memerlukan tambahan medikamentosan atau dapat dilakukan tidakan operatif yaitu pleurodesis. 7. 3. weight.

Pain management is a priority. The nurse role in the care of the patient with a pleural effusion includes: • • • • • • Implementing the medical regimen. bananas. dengan bahasa yang masih campur-aduk. Foods rich in potassium include citrus fruits. Consult to doctor and dietitian about a high-potassium diet. therapeutic response may be delayed several weeks. In patients with hypertension. especially in diabetic patients. tomatoes. Monitor glucose level.• • • • • • Watch for signs and symptoms of hypokalemia. eksudat. who are especially susceptible to excessive diuresis. Drug may be used with potassium sparing diuretic to prevent potassium loss. daripada hilang begitu saja…. ketika “terpaksa” memasuki area yang belum saya jamah sebelumnya. yang mungkin merupakan transudat. If a patient is to be managed as an outpatient with a pleural catheter for drainage. atau dapat berupa darah atau pus (Baughman C Diane. Definisi Efusi pleural adalah penumpukan cairan di dalam ruang pleural. Cara saya belajar selagi bosan. Efusi dapat berupa cairan jernih. Monitor elderly patients. If chest tube drainage and a water-seal system is used. the nurse is responsible for monitoring the system’s function and recording the amount of drainage at prescribed intervals. 2000) . ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN EFUSI PLEURA Diarsipkan di bawah: Askep — rofiqahmad @ 12:54 pm A. the nurse is responsible for educating the patient and family regarding management and care of the catheter and drainage system. dates. Tidak saya tulis. and apricots. tetapi hanya saya susun dari sumber-sumber yang saya gunakan. proses penyakit primer jarang terjadi namun biasanya terjadi sekunder akibat penyakit lain. such as muscle weakness and cramps. The nurse prepares and positions the patient for thoracentesis and offers support throughout the procedure. and the nurse assists the patient to assume positions that are the least painful. Frequent turning and ambulation are important to facilitate drainage the nurse administers analgesics as prescribed and as needed.

kardiovaskuler. tumor mediatinum. Secara normal. penderita akan sesak napas. ruang pleural mengandung sejumlah kecil cairan (5 sampai 15ml) berfungsi sebagai pelumas yang memungkinkan permukaan pleural bergerak tanpa adanya friksi (Smeltzer C Suzanne. 2. proses penyakit primer jarang terjadi tetapi biasanya merupakan penyakit sekunder terhadap penyakit lain. karena tumor dimana masuk cairan berdarah dan karena trauma. karena adanya bendungan seperti pada dekompensasi kordis. C. virus). bronkiektasis. Di Indonesia 80% karena tuberculosis. pneumonia. tromboembolik. setelah cairan cukup banyak rasa sakit hilang. 2002). subfebril (tuberkulosisi).Efusi pleural adalah pengumpulan cairan dalam ruang pleura yang terletak diantara permukaan visceral dan parietal. Kelebihan cairan rongga pleura dapat terkumpul pada proses penyakit neoplastik. abses amuba subfrenik yang menembus ke rongga pleura. panas tinggi (kokus). Ini disebabkan oleh sedikitnya satu dari empat mekanisme dasar : ∗ ∗ ∗ ∗ ∗ Peningkatan tekanan kapiler subpleural atau limfatik Penurunan tekanan osmotic koloid darah Peningkatan tekanan negative intrapleural Adanya inflamasi atau neoplastik pleura Adanya timbunan cairan mengakibatkan perasaan sakit karena pergesekan. banyak riak. Etiologi 1. banyak keringat. Pembentukan cairan yang berlebihan. 1995) B. ∗ Adanya gejala-gejala penyakit penyebab seperti demam. Bila cairan banyak. penyakit ginjal. Efusi pleura adalah istilah yang digunakan bagi penimbunan cairan dalam rongga pleura. (Price C Sylvia. Tanda dan Gejala . dan infeksi. karena radang (tuberculosis. dan nyeri dada pleuritis (pneumonia). Hambatan resorbsi cairan dari rongga pleura. sindroma meig (tumor ovarium) dan sindroma vena kava superior. menggigil. batuk.

∗ ∗

Deviasi trachea menjauhi tempat yang sakit dapat terjadi jika terjadi penumpukan cairan pleural yang signifikan. Pemeriksaan fisik dalam keadaan berbaring dan duduk akan berlainan, karena cairan akan berpindah tempat. Bagian yang sakit akan kurang bergerak dalam pernapasan, fremitus melemah (raba dan vocal), pada perkusi didapati daerah pekak, dalam keadaan duduk permukaan cairan membentuk garis melengkung (garis Ellis Damoiseu).

Didapati segitiga Garland, yaitu daerah yang pada perkusi redup timpani dibagian atas garis Ellis Domiseu. Segitiga Grocco-Rochfusz, yaitu daerah pekak karena cairan mendorong mediastinum kesisi lain, pada auskultasi daerah ini didapati vesikuler melemah dengan ronki.

Pada permulaan dan akhir penyakit terdengar krepitasi pleura.

D. Patofisiologi Didalam rongga pleura terdapat + 5ml cairan yang cukup untuk membasahi seluruh permukaan pleura parietalis dan pleura viseralis. Cairan ini dihasilkan oleh kapiler pleura parietalis karena adanya tekanan hodrostatik, tekanan koloid dan daya tarik elastis. Sebagian cairan ini diserap kembali oleh kapiler paru dan pleura viseralis, sebagian kecil lainnya (10-20%) mengalir kedalam pembuluh limfe sehingga pasase cairan disini mencapai 1 liter seharinya. Terkumpulnya cairan di rongga pleura disebut efusi pleura, ini terjadi bila keseimbangan antara produksi dan absorbsi terganggu misalnya pada hyperemia akibat inflamasi, perubahan tekanan osmotic (hipoalbuminemia), peningkatan tekanan vena (gagal jantung). Atas dasar kejadiannya efusi dapat dibedakan atas transudat dan eksudat pleura. Transudat misalnya terjadi pada gagal jantung karena bendungan vena disertai peningkatan tekanan hidrostatik, dan sirosis hepatic karena tekanan osmotic koloid yang menurun. Eksudat dapat disebabkan antara lain oleh keganasan dan infeksi. Cairan keluar langsung dari kapiler sehingga kaya akan protein dan berat jenisnya tinggi. Cairan ini juga mengandung banyak sel darah putih. Sebaliknya transudat kadar proteinnya rendah sekali atau nihil sehingga berat jenisnya rendah.

E. Pemeriksaan Diagnostik ∗ Pemeriksaan radiologik (Rontgen dada), pada permulaan didapati menghilangnya sudut kostofrenik. Bila cairan lebih 300ml, akan tampak cairan dengan permukaan melengkung. Mungkin terdapat pergeseran di mediatinum. ∗ ∗ Ultrasonografi Torakosentesis / pungsi pleura untuk mengetahui kejernihan, warna, biakan tampilan, sitologi, berat jenis. Pungsi pleura diantara linea aksilaris anterior dan posterior, pada sela iga ke-8. Didapati cairan yang mungkin serosa (serotorak), berdarah (hemotoraks), pus (piotoraks) atau kilus (kilotoraks). Bila cairan serosa mungkin berupa transudat (hasil bendungan) atau eksudat (hasil radang). ∗ Cairan pleural dianalisis dengan kultur bakteri, pewarnaan gram, basil tahan asam (untuk TBC), hitung sel darah merah dan putih, pemeriksaan kimiawi (glukosa, amylase, laktat dehidrogenase (LDH), protein), analisis sitologi untuk sel-sel malignan, dan pH. ∗ Biopsi pleura mungkin juga dilakukan

F. Penatalaksanaan medis  Tujuan pengobatan adalah untuk menemukan penyebab dasar, untuk mencegah penumpukan kembali cairan, dan untuk menghilangkan ketidaknyamanan serta dispneu. Pengobatan spesifik ditujukan pada penyebab dasar (co; gagal jantung kongestif, pneumonia, sirosis).  Torasentesis dilakukan untuk membuang cairan, untuk mendapatkan specimen guna keperluan analisis dan untuk menghilangkan disneu.  Bila penyebab dasar malignansi, efusi dapat terjadi kembali dalam beberapa hari tatau minggu, torasentesis berulang mengakibatkan nyeri, penipisan protein dan elektrolit, dan kadang pneumothoraks. Dalam keadaan ini kadang diatasi dengan pemasangan selang dada dengan drainase yang dihubungkan ke system drainase water-seal atau pengisapan untuk mengevaluasiruang pleura dan pengembangan paru.

 Agen yang secara kimiawi mengiritasi, seperti tetrasiklin dimasukkan kedalam ruang pleura untuk mengobliterasi ruang pleural dan mencegah akumulasi cairan lebih lanjut.  Pengobatan lainnya untuk efusi pleura malignan termasuk radiasi dinding dada, bedah plerektomi, dan terapi diuretic. G. Water Seal Drainase (WSD) 1. Pengertian WSD adalah suatu unit yang bekerja sebagai drain untuk mengeluarkan udara dan cairan melalui selang dada. 2. Indikasi a. b. c. e. Pneumothoraks karena rupture bleb, luka tusuk tembus Hemothoraks karena robekan pleura, kelebihan anti koagulan, pasca bedah toraks Torakotomi Empiema karena penyakit paru serius dan kondisi inflamasi d. Efusi pleura

3. Tujuan Pemasangan ∗ ∗ ∗ ∗ Untuk mengeluarkan udara, cairan atau darah dari rongga pleura Untuk mengembalikan tekanan negative pada rongga pleura Untuk mengembangkan kembali paru yang kolap dan kolap sebagian Untuk mencegah reflux drainase kembali ke dalam rongga dada.

4. Tempat pemasangan a. Apikal  Letak selang pada interkosta III mid klavikula  Dimasukkan secara antero lateral  Fungsi untuk mengeluarkan udara dari rongga pleura

bahu. Aktifitas/istirahat Gejala : dispneu dengan aktifitas ataupun istirahat 2. disritmia. • System tiga botol Sistem tiga botol. . Pernapasan Gejala : Kesulitan bernapas. riwayat bedah dada/trauma. abdomen Tanda : Berhati-hati pada area yang sakit. hipertensi/hipotensi. gelisah 4. DVJ 3. irama jantung gallop. Integritas ego Tanda : ketakutan. Basal  Letak selang pada interkostal V-VI atau interkostal VIII-IX mid aksiller  Fungsi : untuk mengeluarkan cairan dari rongga pleura 5. Batuk. Makanan / cairan Adanya pemasangan IV vena sentral/ infus 5. nyeri/kenyamanan Gejala tergantung ukuran/area terlibat : Nyeri yang diperberat oleh napas dalam. botol penghisap control ditambahkan ke system dua botol. Sirkulasi Tanda : Takikardi. H. Jenis WSD • Sistem satu botol Sistem drainase ini paling sederhana dan sering digunakan pada pasien dengan simple pneumotoraks • Sistem dua botol Pada system ini. Pengkajian 1. kemungkinan menyebar ke leher. perilaku distraksi 6. System tiga botol ini paling aman untuk mengatur jumlah penghisapan. botol pertama mengumpulkan cairan/drainase dan botol kedua adalah botol water seal.b.

sianosis. Awasi pasang surutnya air penampung Berikan oksigen melalui kanul/masker Intervensi : . Bunyi napas menurun dan fremitus menurun (pada sisi terlibat). Kulit : pucat. Kemungkinan dibuktikan oleh : dispneu. GDA taknormal. batas cairan Klem selang pada bagian bawah unit drainase bila terjadi kebocoran Catat karakter/jumlah drainase selang dada. penggunaan otot aksesori. Perkusi dada : hiperresonan diarea terisi udara dan bunyi pekak diarea terisi cairan Observasi dan palpasi dada : gerakan dada tidak sama (paradoksik) bila trauma atau kemps. Tujuan : pola nafas efektif Kriteria hasil : ∗ ∗ ∗ ∗ ∗ ∗ Menunjukkan pola napas normal/efektif dng GDA normal Bebas sianosis dan tanda gejala hipoksia Identifikasi etiologi atau factor pencetus Evaluasi fungsi pernapasan (napas cepat. b. sianosis. ∗ periksa pengontrol penghisap.d penurunan ekspansi paru (akumulasi udara/cairan). gangguan pengembangan dada. perubahan kedalaman pernapasan.berkeringat. Observasi gelembung udara botol penampung d. nyeri/ansietas. penggunaan otot aksesori pernapasan pada dada. perubahan tanda vital) Auskultasi bunyi napas Catat pengembangan dada dan posisi trakea. Diagnosa Keperawatan 1. gangguan musculoskeletal. takipneu. penurunan pengembangan (area sakit). proses inflamasi. krepitasi subkutan I. sianosis. kaji fremitus. Pertahankan posisi nyaman biasanya peninggian kepala tempat tidur Bila selang dada dipasang : a. e. c.Tanda : Takipnea. retraksi interkostal. Pola napas tidak efektif b.

d factor-faktor biologis (trauma jaringan) dan factor-faktor fisik (pemasangan selang dada) Tujuan : Nyeri hilang atau berkurang Kriteria hasil : ∗ ∗ ∗ ∗ ∗ Pasien mengatakan nyeri berkurang atau dapat dikontrol Pasien tampak tenang Kaji terhadap adanya nyeri.d proses cidera. skala dan intensitas nyeri Ajarkan pada klien tentang manajemen nyeri dengan distraksi dan relaksasi Amankan selang dada untuk membatasi gerakan dan menghindari iritasi Kaji keefektifan tindakan penurunan rasa nyeri Berikan analgetik sesuai indikasi Intervensi : 3. ganti ulang kasa penutup steril sesuai kebutuhan Anjurkan pasien menghindari berbaring/menarik selang Observasi tanda distress pernapasan bila kateter torak lepas/tercabut. catat gambaran keamanan Amankan unit drainase pada tempat tidur dengan area lalu lintas rendah Awasi sisi lubang pemasangan selang. Resiko tinggi trauma/henti napas b. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan aturan pengobatan Tujuan : Mengetahui tentang kondisinya dan aturan pengobatan Kriteria hasil : Menyatakan pemahaman tentang masalahnya . kurang pendidikan keamanan/pencegahan Tujuan : tidak terjadi trauma atau henti napas Kriteria hasil : ∗ ∗ ∗ ∗ ∗ Mengenal kebutuhan/mencari bantuan untuk mencegah komplikasi Memperbaiki/menghindari lingkungan dan bahaya fisik Kaji dengan pasien tujuan/fungsi unit drainase.2. Intervensi : 4. Nyeri dada b. system drainase dada. catat kondisi kulit.

Jakarta. 1998. Price. Edisi Revisi. Baughman C Diane. Ed4. 7. Hudak. WATER SEAL DRAINAGE (WSD) Posted in July 30th. Keperawatan medical bedah. 2008 by indonesian nurse in Bahasa Indonesia . Smeltzer c Suzanne. Media Aesculapius. Doenges E Mailyn. Brunner and Suddarth’s. 2002. latihan Berikan informasi tentang apa yang ditanyakan klien Berikan reinforcement atas usaha yang telah dilakukan klien . nutrisi. EGC. 1995.1. Buku Ajar Ilmu Bedah.1982. 5. Vol. EGC. istirahat. Buku Ajar Keperawatan medical Bedah. 1997. EGC.- Mengikuti program pengobatan dan menunjukkan perubahan pola hidup untuk mencegah terulangnya masalah Intervensi : ∗ ∗ ∗ ∗ ∗ Kaji pemahaman klien tentang masalahnya Identifikasi kemungkinan kambuh/komplikasi jangka panjang Kaji ulang praktik kesehatan yang baik. Wim de Jong. Susan Martin Tucker. Ed2. diagnosis. 1999 3. EGC. Ed3.1. DAFTAR PUSTAKA 1. Vol. Jakrta. Jakarta. Kapita Selekta Kedokteran. EGC. Keperawatan kritis : pendekatan holistic. dan evaluasi. Ed5. Syamsuhidayat. Purnawan J. Jakarta EGC.Carolyn M. Ed8. Jakarta. Patofisiologi : Konsep klinis proses-pross penyakit.EGC. Jakarta. Standar perawatan Pasien: proses keperawatan. dkk. FKUI. Sylvia A. 2. 1997 4. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Jakarta. 2000. 6. 8.

sehingga rasa sakit di bagian masuknya slang dapat dikurangi. Diagnostik : Menentukan perdarahan dari pembuluh darah besar atau kecil. – Pergantian posisi badan. ? Latihan batuk yang efisien : batuk dengan posisi duduk. sehingga dapat ditentukan perlu operasi torakotomi atau tidak. Preventive : Mengeluarkan udaran atau darah yang masuk ke rongga pleura sehingga “mechanis of breathing” tetap baik. atau menaruh bantal di bawah lengan atas yang cedera. 2.1. Untuk rasa sakit yang hebat akan diberi analgetik oleh dokter. Bullow Drainage / WSD Pada trauma toraks. b. Perdarahan dalam 24 jam setelah operasi umumnya 500 – 800 cc. ? Latihan napas dalam. ? Dengan WSD/Bullow drainage diharapkan paru mengembang. Mencegah infeksi di bagian masuknya slang. Perawatan WSD dan pedoman latihanya : a. Jika perdarahan dalam 1 jam melebihi 3 cc/kg/jam. Perhatikan keadaan dan banyaknya cairan suction. dan perlu diperhatikan agar kain kassa yang menutup bagian masuknya slang dan tube tidak boleh dikotori waktu menyeka tubuh pasien. jangan batuk waktu slang diklem. sebelum penderita jatuh dalam shoks. ? Kontrol dengan pemeriksaan fisik dan radiologi. Mengembalikan tekanan rongga pleura sehingga “mechanis of breathing” dapat kembali seperti yang seharusnya. . melakukan pernapasan perut. Terapi : Mengeluarkan darah atau udara yang terkumpul di rongga pleura. Mengurangi rasa sakit dibagian masuknya slang. perhatikan juga secara bersamaan keadaan pernapasan. Usahakan agar pasien dapat merasa enak dengan memasang bantal kecil dibelakang. Dalam perawatan yang harus diperhatikan : . atau memberi tahanan pada slang. Jika banyaknya hisapan bertambah/berkurang. sehingga slang yang dimasukkan tidak terganggu dengan bergeraknya pasien. WSD dapat berarti : a. c. Mendeteksi di bagian dimana masuknya slang. dan pengganti verband 2 hari sekali. c. b. d. Mendorong berkembangnya paru-paru. merubah posisi tubuh sambil mengangkat badan.Penetapan slang. Slang diatur se-nyaman mungkin. harus dilakukan torakotomi.

ke 1/2 terlentang atau 1/2 duduk ke posisi miring bagian operasi di bawah atau di cari penyababnya misal : slang tersumbat oleh gangguan darah.e. keluhan pasien. 3) Penggantian botol harus “tertutup” untuk mencegah udara masuk yaitu meng”klem” slang pada dua tempat dengan kocher. Login • • This blog post All blog posts Subscribe to this blog post's comments through. keadaan cairan. atau lubang slang tertutup oleh karena perlekatanan di dinding paru-paru. ? Perlu sering dicek. 1) Cairan dalam botol WSD diganti setiap hari . ? Perhatikan banyaknya cairan. dengan memakai sarung tangan. coba merubah posisi pasien dari terlentang. Perawatan “slang” dan botol WSD/ Bullow drainage. d. denyut nadi. misal : slang terlepas. apakah tekanan negative tetap sesuai petunjuk jika suction kurang baik. 5) Penggantian harus juga memperhatikan keselamatan kerja diri-sendiri. botol terjatuh karena kesalahan dll. diukur berapa cairan yang keluar kalau ada dicatat.. Suction harus berjalan efektif : Perhatikan setiap 15 – 20 menit selama 1 – 2 jam setelah operasi dan setiap 1 – 2 jam selama 24 jam setelah operasi.. 2) Setiap hendak mengganti botol dicatat pertambahan cairan dan adanya gelembung udara yang keluar dari bullow drainage. keadaan pernapasan. tekanan darah. warna muka. slang bengkok atau alat rusak. • • • • • • . 4) Setiap penggantian botol/slang harus memperhatikan sterilitas botol dan slang harus tetap steril. 6) Cegah bahaya yang menggangu tekanan negatip dalam rongga dada.

.. Be the first one! .• • RSS Feed Subscribe via email Subscribe Follow the discussion þÿ Comments Logging you in. Close Login to IntenseDebate Or create an account Username or Email: Password: Forgot login? OpenID Cancel Login Close Login with your OpenID Or create an account using OpenID OpenID URL: Back Cancel Login Dashboard | Edit profile | Logout • þÿ þÿ Logged in as There are no comments posted yet.

IV. Pnemococcus 3. anti biaotika (dosis besar ) dan atau streptokinase. Komplikasi. arokreksia . 3. 2000 ). Streptococcus. penurunan premitus. Empiema adalah penumpukan cairan terinfeksi atau pus pada cavitas pleura ( Diane C. Terjadinya empiema dapat melalui tiga jalur: Patogenesis. Penatalaksanaan (Medik). pendataran pada perkusi dada. III.Post a new comment Askep Empiema KONSEP I. Infeksi darti luar dinding thoraks yang menjalar kedalam pleura misalnya pada trauma thoraks. Drainase cairan pleura atau pus tergantung pada tahapan penyakit dengan : . VII. Demam. Pengertian.1997). Sasaran penetalaksanaan adalah mengaliran cavitas pleura hingga mencapai ekspansi paru yang optimal. kuman dari focus lain sampai pada pleura visceral. Dicapai dengan drainase yang adekuat. 1. dispneu.dan penurunan berat badan. Perubahan Fibrotik yang tidak dapat sembuh yang menggangu ventilasi paru yang disebabkan terjebaknya paru pada sisi yang terkena. Tidak terdapatnya bunyi nafas. Empiema adalah penumpukan materi purulen pada areal pleural ( Hudak & Gallo. nyeri pleural. Evaluasi Diagnosis Foto dada dan thoraksintesis. Baughman. Secara hematogen. VI. V. 1. Karena kuman menjalar perkontiniutatum dan menembus pleura visceral . Manisfestasi Klinik. 1997 ) II. abses dinding thoraks. Stapilococcus 2. Penyebab. • • • DASAR EMPIEMA Empiema adalah keadaan terkumpulnya nanah ( pus ) didalam ronggga pleura dapat setempat atau mengisi seluruh rongga pleura( Ngastiyah. berkeringat malam. 2. Sebagai komplikasi pneumoni dan abses paru.

E. Ketidakmampuan untuk tidur. a. setelah empiema sembuh pasien perlu pengobatan TB. B. Gejala . riwayat reaksi alergi atau sensitive terhadap zat / factor lingkungan. instruksi dalam latihan pernafasan (pernafasan bibir dan pernafasan diagpragmatik ) c. Dekortikasi. Prioritas Keperawatan. Integritas ego. Aktivitas / istirahat. b. Memberikan informasi tentang proses penyakit / prognosis dan program pengobatan. 3. 1. bila dilakukan fungsi plera atau dipasang WSD cara menolong tidak berbeda. Drainase dada terbuka untuk mengeluarkan pus pleural yang mengental dan debris serta mesekresi jaringan pulmonal yang mendasari penyakit. Bila penyebab adalah kuman TBC maka. Berikan perawatan spesifik terhadap metoda drainase pleural. Makanan/cairan . Pertahankan jalan nafasa paten dengan bunyi nafas bersih 2. G. memperlambat memburuknya kondisi 5. Drainase tertutup dengan WSD. Menunjukkan perilaku batuk efektif dan mengeluarkan secret • Intervensi a. ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN EMPIEMA . peningkatan produksi secret. Membantu tindakan untuk mempermudah pertukaran gas. penyakit lama.jika cairan tidak terlalu kental b. Seksualitas. Dasar data pengkajian. . jika imflamasi telah bertahan lama. 1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan bronchus spsame. kurang sistem pendukung. Mencegah komplikasi. perubahan pola hidup. Keamanan. Auskultasi bunyi nafas catat adanya bunyi nafas.a. C. Interaksi social . Perawatan pada umumnya sama dengan pasien pleuritis. indikasi bila nanah sangat kental. . Mempertahankan patensi jalan nafas 2. kelemahan • Kriteria hasal : 1. kaji dan pantau suara pernafasan . nafas pendek batuk menetap dengan produksi sputum. pnemothoraks c. pembengkakan pada ekstremitas bawah. Pernafasan . penurunan libido. Higiene . riwayat pneumoni berulang . Aspirasi jarum ( Thorasintesis ). kelemahan. H. d. peningkatan factor resiko. keletihan. Sirkulasi . malaise. mual muntah nafsu makan menurun . Bantu pasien mengatasi kondisi. Ketidakmampuan melakukan ADL karena sulit bernapas. Intervensi Keperawatan. penurunan kemampuan melakukan ADL. hubungan ketergantungan. F. VIII. INTERVENSI DAN RASIONAL. Meningkatkan masukan nutrisi 4. A. Dispneu pada saat istirahat. DIAGNOSA KEPERAWATAN. D. I. episode batuk hilang timbul.

sakit akut. b. misalnya peninggian kepala tempat tidur. f. 2. Auskultasi bunyi nafas catat area penurunan aliran udara .berpartisipasi dalam program pengobatan.kedalaman pernapasan Rasional : Berguna dalam evaluasi derajat distress pernapasan dan atau kronisnya penyakit b. d. Kaji pasien untuk posisi yang nyaman . d. c. Observasi karakteristik batuk Rasional : Batuk dapat menetap tetapi tidak efektif khususnya bila pasien lansia. Krekels basah menyebar menujukkan cairan pada dekompensasi jantung. Kaji frekwensi. dan produksi mukosa. kerusakan berhubungan dengan gangguan suplai oksigen . c. Rasional : Peninggian kepala tempat tidur mempermudah fungsi pernafasan dengan menggunakan gravitasi. Rasional : . Palpasi primitus. mempermudah pengeluaran g. Pengiriman oksigen dapat diperbaiki dengan posisi tinggi dan latihan napas untuk menurunkan kolap jalan napas. Tingkatkan masukan cairan sampai 3000 ml per hari sesuai toleransi jantung. gelisah .ansietas dan distress pernafasan Rasional : Disfungsi pernafasan merupakan tahap proses kronis yang yang dapat menimbulkan infeksi atau reaksi alergi. Kriteria hasil Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenisasi jaringan adekuat.mengi . Rasional : Hidrasi membantu menurunkan kekentalan secret . tachipneu merupakan derajat yan ditemukan adanya proses infeksi akut. Tinggikan kepala tempat tidur Rasional . Memberikan obata sesaui indikasi Rasional : Merilekskan otot halus dan menurunkan kongesti lokal. mengi. atau kelemahan. kerusakan alveoli . • Intervensi a. e. menurunkan spasme jalan nafas. Rasional : Memberikan pasien berbagao cara untuk mengatasi dan mengontrol dispneu dan menurunkan jebakan udara.bunyi tambahan Rasional : Bunyi nafas redup karena penurunan aliran udara . Diagnosa keperawatan : Pertukaran gas.Rasional : Untuk mengetahui adanya obstruksi jalan nafas. indikasi spasme bronchus / tertahannya sekret. Bantu latihan nafas abdomen atau bibir. Catat adanya atau derajat dispneu.

dan minuman karbonat Rasional : Dapat menghasilakan distensi abdomen yang menganggu nafas abdomen dan gerakan diagframa yang dapat meningkatan dispnea. Rasional. Dorong kesimbangan antara aktivitas dan istirahat. Awasi tanda vital dan irama jantung. Hindari makan yang sangat panas dan dingin Rasional : Suhu ekstrim dapat mencetuskan / meningkatkan spasme batuk e. Timbang berat badan sesuai indikasi Rasional : Berguna untuk menetukan kebutuhan kalori. mual muntah.disritmia. Kolaborasi dengan ahli gizi / nutrisi. penurunan aktivitas dan hipoksemia. produksi sputum. b. Intervensi : a. Observasi warna .bau sputum.Penurunan getarn fibrasi diduga adanya pengumpulan cairan atau udara terjebak e. Tachikardia . Awasi suhu Rasional : Demam dapat terjadi karena infeksi dan atau dehidrasi. . kelemahan. perubahan tekanan darah dapat menujukkan efek hipoksemia sistemik pada fungsi jantung. perubahan. c. kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan dispneu. 3. pilihan makanan buruk. Diagnosa keperawatan : Nutrisi. Rasional : Metode makan dan kebutuhan dengan upaya kalori didasarkan pada kebutuhan individu untuk memberikan nutrisi maksimal dengan upaya minimal pasien /penggunaan energi 4. f. c.catat derajat kesulitan makan Rasional : Pasien distress pernafasan akut sering anoreksia karena dispneu. Kriteria hasil : Menunjukkan peningkatan berat badan mempertahankan berat badan Intervensi : a. Diagnosa keperawatan : Resiko infeksi Kriteria hasil : • Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah / menurunkan resiko infeksi • Menunjukkan teknik. d. Auskultasi bunyi usus . kuning atau kehijauan menujukkan adanya infeksi paru. Rasional : Sekret berbau. Hindari makan yang mengandung gas. anoreksia. b. Rasional : Penurunan atau hipoaktif bising usus menunjukkan motilitas gaster dan kostipasi yang berhubungan dengan pembatasan pemasukan cairan. menyusun tujuan berat badan dan evaluasi keadekuatan rencana nutrisi. Kaji kebiasaan diit . perubahan pola hidup untuk meningkatkan lingkungan yang aman.

EGC. Kriteria hasil : Nyatakan atau pemahaman kondisi atau proses penyakit. Jakarta. Jakarta. Marilyn E. Berikan latihan atau batuk efektif Rasional : Pernafasan bibir dan nafas abdomen / diagframatik menguatkan otot pernafasan. Kaji efek bahaya merokok dan nasehatkan untuk menghentikan rokok. Rasional : Penghentian merokok dapat menghambat kemajuan PPOM d. Rasional : Malnutrisi dapat mempengaruhi kesehatan umum dan menurunkan tahanan terhadap infeksi. c. Rencana asuhan keperawatan. EGC. e. Diskusi pentingnya mengikuti perawatan medik ( Foto Thoraks dan kultur sputum ) Rasional : Pengawasan proses penyakit untuk membuata program therapy . e.. Keperawatan kritis : suatu pendekatan holistic. DAFTAR PUSTAKA Hudak & Gallo. ( 1997 ). ( 1997 ). Kolaborasi pemeriksaan sputum. Intervensi : a. Jakarta. Doengoes. Jakarta Diana C. Perawatan anak sakit . EGC. pendekatan untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Diskusi masukan nutrisi adekuat. ( 2000 ). Ngastiyah. Rasional : Menurunkan ansietas dan dapat menimbulkan perbaikan b. Rasional : Dilakukan untuk mengidentifikasi organisme penyebab dan kerentanan terhadap anti microbial 5. Patofisiologi. (2000 ). Baughman. Diagnosa keperawatan : Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang penyakitnya. Jelaskan proses penyakit individu. Kaji kebutuhan / dosis oksigen untuk pasien Rasional : Menurunkan resiko kesalahan penggunaan oksigen dan komplikasi lanjut. membantu meminimalkan kolaps jalan nafas. By: HAy_Blue ^_^ Diposkan oleh Hayato Frizi di 17:37 . peningkatan penyembuhan .Rasional : Menurunkan konsumsi / kebutuhan kesimbangan oksigen dan memperbaiki pertahan pasien terhadapa infeksi. d. EGC.

panas. renjatan dan perdarahan masif. AFIYAH HIDAYATI. Fisioterapi dada ini walaupun caranya kelihatan tidak istimewa tetapi ini sangat efektif dalam upaya mengeluarkan sekret dan memperbaiki ventilasi pada pasien dengan fungsi paru yang terganggu. Fisioterapi dada ini meliputi rangkaian : postural drainage.Label: Kesehatan 0 komentar: Poskan Komentar Link ke posting ini Buat sebuah Link ASKEP FISIOTERAPI DADA 14 Februari 2009 pada 9:54 am (fisioterapi dada) Tags: askep. Fisioterapi dada ini dapat digunakan untuk pengobatan dan pencegahan pada penyakit paru obstruktif menahun. Fisioterapi dada adalah salah satu dari pada fisioterapi yang sangat berguna bagi penderita penyakit respirasi baik yang bersifat akut maupun kronis. memperbaiki pergerakan dan aliran sekret. Ns. fisioterapi dada KEBUTUHAN DASAR MANUSIA FISIOTERAPI DADA By. S. massage dan latihan yang mana penggunaannya disesuaikan dengan batas toleransi penderita sehingga didapatkan efek pengobatan. penyakit pernafasan restriktif termasuk kelainan neuromuskuler dan penyakit paru restriktif karena kelainan parenkim paru seperti fibrosis dan pasien yang mendapat ventilasi mekanik. sedangkan kontra . perkusi. dan vibrasi Kontra indikasi fisioterapi dada ada yang bersifat mutlak seperti kegagalan jantung. dingin. Dalam fisioterapi tenaga alam yang dipakai antara lain listrik. DEFINISI Fisioterapi adalah suatu cara atau bentuk pengobatan untuk mengembalikan fungsi suatu organ tubuh dengan memakai tenaga alam.Kp A. sinar. Jadi tujuan pokok fisioterapi pada penyakit paru adalah mengembalikan dan memelihara fungsi otot-otot pernafasan dan membantu membersihkan sekret dari bronkus dan untuk mencegah penumpukan sekret. air. status asmatikus.

Pasien yang melakukan tirah baring yang lama 1. 3. Mengingat kelainan pada paru bisa terjadi pada berbagai lokasi maka PD dilakukan pada berbagai posisi disesuaikan dengan kelainan parunya. Pasien dengan atelektasis yang disebabkan oleh sekret 2. Postoral Drainase dilakukan dua kali sehari.2. 2. Pasien yang memakai ventilasi 1.4. Profilaksis untuk mencegah penumpukan sekret yaitu pada : 1. Pada penderita dengan produksi sputum yang banyak PD lebih efektif bila disertai dengan clapping dan vibrating. Waktu yang terbaik untuk melakukan PD yaitu sekitar 1 jam sebelum sarapan pagi dan sekitar 1 jam sebelumtidur pada malam hari. 4. Terapis harus di depan pasien untuk melihat perubahan yang terjadi selama Postural Drainase.4. B. Edema paru 5. 4.1. Gangguan sistem kardiovaskuler seperti hipotensi. Periksa nadi dan tekanan darah. 1. Cara melakukan pengobatan : 1.2. Terangkan cara pengobatan kepada pasien secara ringkas tetapi lengkap. Postural drainase Postural drainase (PD) merupakan salah satu intervensi untuk melepaskan sekresi dari berbagai segmen paru dengan menggunakan pengaruh gaya gravitasi. tumor paru dengan kemungkinan adanya keganasan serta adanya kejang rangsang. Efusi pleura yang luas Persiapan pasien untuk postural drainase. hipertensi.. patah tulang iga atau luka baru bekas operasi. Pasien dengan batuk yang tidak efektif . Indikasi untuk Postural Drainase : 1. 2. Pasien neurologi dengan kelemahan umum dan gangguan menelan atau batuk Kontra indikasi untuk postural drainase : 1. PD dapat dilakukan untuk mencegah terkumpulnya sekret dalam saluran nafas tetapi juga mempercepat pengeluaran sekret sehingga tidak terjadi atelektasis.indikasi relatif seperti infeksi paru berat.3.3. Apakah pasien mempunyai refleks batuk atau memerlukan suction untuk mengeluarkan sekret.5. Pasien dengan pneumonia 2. Pasien yang produksi sputum meningkat seperti pada fibrosis kistik atau bronkiektasis 1. Longgarkan seluruh pakaian terutama daerah leher dan pinggang. Pasien pre dan post operatif 2. Hemoptisis 3.1. Tension pneumotoraks 2. Mobilisasi sekret yang tertahan : 2. 2. Pasien dengan abses paru 2. bila dilakukan pada beberapa . infark miokard akutrd infark dan aritmia.

Pada inspeksi apakah kedua sisi dada bergerak sama. sakit. data klinis. respon pasien) 14) Jika sputum masih belum bisa keluar. 2. Clapping/Perkusi Perkusi adalah tepukan dilakukan pada dinding dada atau punggung dengan tangan dibentuk seperti mangkok. Apakah foto toraks ada perbaikan. Bagaimana perasaan pasien tentang pengobatan apakah ia merasa lelah. apakah sekret sangat encer atau kental. 3. Tujuan melepaskan sekret yang tertahan atau melekat pada bronkhus. 5. Suara pernafasan normal atau relative jelas.posisi tidak lebih dari 40 menit. sputum: warna. volume. Pasien mampu untuk bernafas dalam dan batuk. Perkusi dada merupakan energi mekanik pada dada yang diteruskan pada saluran nafas paru. Bagaimana efek yang nampak pada vital sign. merasa enakan. adakah temperatur dan nadi tekanan darah. nafas dalam dan batuk efektif 11) Evaluasi respon pasien (pola nafas. 4. maka prosedur dapat diulangi kembali dengan memperhatikan kondisi pasien C. suara pernafasan) 12) Cuci tangan 13) Dokumentasi (jam. Apakah batuk telah produktif. tiap satu posisi 3 – 10 menit. 4. foto x-ray 3) Cuci tangan 4) Pakai masker 5) Dekatkan sputum pot 6) Berikan minum air hangat 7) Atur posisi pasien sesuai dengan area paru yang akan didrainage 8. 2. Foto toraks relative jelas. Sambil PD bisa dilakukan clapping dan vibrating 9) Berikan tisu untuk membersihkan sputum 10) Minta pasien untuk duduk. Penilaian hasil pengobatan : 1. 6. Pasien tidak demam dalam 24 – 48 jam. hari. 3. 3. Minta pasien mempertahankan posisi tersebut selama 10-15 menit. Pada auskultasi apakah suara pernafasan meningkat dan sama kiri dan kanan. Alat dan bahan : 1) Bantal 2-3 2) Tisu wajah 3) Segelas air hangat 4) Masker 5) Sputum pot Prosedur kerja : 1) Jelaskan prosedur 2) Kaji area paru. tanggal. Perkusi dapat dilakukan dengan membentuk . Kriteria untuk tidak melanjutkan pengobatan : 1. Dilakukan sebelum makan pagi dan malam atau 1 s/d 2 jam sesudah makan.

Skin graf yang baru 4. Vibrasi dilakukan hanya pada waktu pasien mengeluarkan nafas.kedua tangan deperti mangkok. Perkusi harus dilakukan hati-hati pada keadaan : 1. . Vibrasi dengan kompresi dada menggerakkan sekret ke jalan nafas yang besar sedangkan perkusi melepaskan/melonggarkan sekret. Aliran terjadi dari cabang-cabang tersebut di atas ke bronki utama. Luka bakar. Patah tulang rusuk 2. Emboli paru 6. minta pasien untuk batuk Gambar A : Segmen apikal pada lobus kanan atas dan sub segmen apikal dari segmen posterior pada lobus kiri atas. lndikasi untuk perkusi : Perkusi secara rutin dilakukan pada pasien yang mendapat postural drainase. Pneumotoraks tension yang tidak diobati Alat dan bahan : 1) Handuk kecil Prosedur kerja : 1) Tutup area yang akan dilakukan clapping dengan handuk untuk mengurangi ketidaknyamanan 2) Anjurkan pasien untuk rileks. Emfisema subkutan daerah leher dan dada 3. Pasien disuruh bernafas dalam dan kompresi dada dan vibrasi dilaksanakan pada puncak inspirasi dan dilanjutkan sampai akhir ekspirasi. napas dalam dengan Purse lips breathing 3) Perkusi pada tiap segmen paru selama 1-2 menit dengan kedua tangan membentuk mangkok D. infeksi kulit 5. Sesama postural drainase terapis biasanya secara umum memilih cara perkusi atau vibrasi untuk mengeluarkan sekret. Kontra indikasinya adalah patah tulang dan hemoptisis. Gambar B : Segmen posterior pada lobus kanan atas dan sub segmen posterior dada segmen apikal posterior pada lobus kiri atas. Vibrating Vibrasi secara umum dilakukan bersamaan dengan clapping. Vibrasi dilakukan dengan cara meletakkan tangan bertumpang tindih pada dada kemudian dengan dorongan bergetar. Prosedur kerja : 1) Meletakkan kedua telapak tangan tumpang tindih diatas area paru yang akan dilakukan vibrasi dengan posisi tangan terkuat berada di luar 2) Anjurkan pasien napas dalam dengan Purse lips breathing 3) Lakukan vibrasi atau menggetarkan tangan dengan tumpuan pada pergelangan tangan saat pasien ekspirasi dan hentikan saat pasien inspirasi 4) Istirahatkan pasien 5) Ulangi vibrasi hingga 3X. jadi semua indikasi postural drainase secara umum adalah indikasi perkusi. Aliran terjadi dari cabang-cabang tersebut di atas ke bronki utama.

Gambar G : Segmen basal lateral pada lobus bawah kiri. oblik kiri) Sasaran : Segmen lingular pada lobus atas kiri. Dengan memiringkan badan ke kiri dari ke kanan secara berganti-ganti aliran dari lobus atas kanan dan kiri ke bronkus utama. . Gambar F : Segmen basal lateral pada lobus bawah kanan. Gambar E : Segmen basal posterior pada kedua belah lobus bawah. Aliran dari percabangan tersebut ke bronkus kiri. (Posisi kepala ke bawah. Dengan sebuah bantal yang diletakkan di bawah perut tubuh dibuat agak dalam posisi menungging. Aliran terjadi dari percabangan bronkus ke bronkus kanan. Aliran dari percabangan tersebut ke bronkus kanan. aliran terjadi dari Cabang tersebut ke bronkus utama.Gambar C : Segmen anterior pada kedua belah lobus atas. Aliran terjadi dari percabangan bronlms kebonkus kiri. Gambar D : Segmen superior pada kedua belah lobus atas. Gambar H : (Posisi kepala ke bawah. tubuh oblik kanan) Sasaran : Lobus tengah kanan. Aliran terjadi dan percabangan bronkus ke bronkus yang bersangkutan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->