1

©2003 Digitized by USU digital library ASUHAN KEPERAWATAN ASMA BRONKIAL DUDUT TANJUNG, S.Kp. Fakultas Kedokteran Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Sumatera Utara Pengertian Asma bronkhial adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermitten, reversible dimana trakeobronkial berespon secara hiperaktif terhadap stimuli tertentu. Asma bronchial adalah suatu penyakit dengan ciri meningkatnya respon trakea dan bronkus terhadap berbagai rangsangan dengan manifestasi adanya penyempitan jalan nafas yang luas dan derajatnya dapat berubah-ubah baik secara spontan maupun hasil dari pengobatan ( The American Thoracic Society ). Klasifikasi Berdasarkan penyebabnya, asma bronkhial dapat diklasifikasikan menjadi 3 tipe, yaitu : 1. Ekstrinsik (alergik) Ditandai dengan reaksi alergik yang disebabkan oleh faktor-faktor pencetus yang spesifik, seperti debu, serbuk bunga, bulu binatang, obat-obatan (antibiotic dan aspirin) dan spora jamur. Asma ekstrinsik sering dihubungkan dengan adanya suatu predisposisi genetik terhadap alergi. Oleh karena itu jika ada faktor-faktor pencetus spesifik seperti yang disebutkan di atas, maka akan terjadi serangan asma ekstrinsik. 2. Intrinsik (non alergik) Ditandai dengan adanya reaksi non alergi yang bereaksi terhadap pencetus yang tidak spesifik atau tidak diketahui, seperti udara dingin atau bisa juga disebabkan oleh adanya infeksi saluran pernafasan dan emosi. Serangan asma ini menjadi lebih berat dan sering sejalan dengan berlalunya waktu dan dapat berkembang menjadi bronkhitis kronik dan emfisema. Beberapa pasien akan mengalami asma gabungan. 3. Asma gabungan Bentuk asma yang paling umum. Asma ini mempunyai karakteristik dari bentuk alergik dan non-alergik. Etiologi Ada beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi dan presipitasi timbulnya serangan asma bronkhial. a. Faktor predisposisi Genetik Dimana yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum diketahui bagaimana cara penurunannya yang jelas. Penderita dengan penyakit alerg biasanya mempunyai keluarga dekat juga menderita penyakit alergi. Karena adanya bakat alergi ini, penderita sangat mudah terkena penyakit asma bronkhial jika terpapar dengan foktor pencetus. Selain itu hipersentifisitas saluran pernafasannya juga bisa diturunkan. b. Faktor presipitasi Alergen Dimana alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :

2

©2003 Digitized by USU digital library 1. Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan ex: debu, bulu binatang, serbuk bunga, spora jamur, bakteri dan polusi 2. Ingestan, yang masuk melalui mulut

ex: makanan dan obat-obatan 3. Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit ex: perhiasan, logam dan jam tangan Perubahan cuaca Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi asma. Atmosfir yang mendadak dingin merupakan faktor pemicu terjadinya serangan asma. Kadang-kadang serangan berhubungan dengan musim, seperti: musim hujan, musim kemarau, musim bunga. Hal ini berhubungan dengan arah angin serbuk bunga dan debu. Stress Stress/ gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma, selain itu juga bisa memperberat serangan asma yang sudah ada. Disamping gejala asma yang timbul harus segera diobati penderita asma yang mengalami stress/gangguanemosi perlu diberi nasehat untuk menyelesaikan masalah pribadinya. Karena jika stressnya belum diatasi maka gejala asmanya belum bisa diobati. Lingkungan kerja Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan asma. Hal ini berkaitan dengan dimana dia bekerja. Misalnya orang yang bekerja di laboratorium hewan, industri tekstil, pabrik asbes, polisi lalu lintas. Gejala ini membaik pada waktu libur atau cuti. Olah raga/ aktifitas jasmani yang berat Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika melakukan aktifitas jasmani atau aloh raga yang berat. Lari cepat paling mudah menimbulkan serangan asma. Serangan asma karena aktifitas biasanya terjadi segera setelah selesai aktifitas tersebut. Patofisiologi Asma ditandai dengan kontraksi spastic dari otot polos bronkhiolus yang menyebabkan sukar bernafas. Penyebab yang umum adalah hipersensitivitas bronkhioulus terhadap benda-benda asing di udara. Reaksi yang timbul pada asma tipe alergi diduga terjadi dengan cara sebagai berikut : seorang yang alergi mempunyai kecenderungan untuk membentuk sejumlah antibody Ig E abnormal dalam jumlah besar dan antibodi ini menyebabkan reaksi alergi bila reaksi dengan antigen spesifikasinya. Pada asma, antibody ini terutama melekat pada sel mast yang terdapat pada interstisial paru yang berhubungan erat dengan brokhiolus dan bronkhus kecil. Bila seseorang menghirup alergen maka antibody Ig E orang tersebut meningkat, alergen bereaksi dengan antibodi yang telah terlekat pada sel mast dan menyebabkan sel ini akan mengeluarkan berbagai macam zat, diantaranya histamin, zat anafilaksis yang bereaksi lambat (yang merupakan leukotrient), faktor kemotaktik eosinofilik dan bradikinin. Efek gabungan dari semua faktor-faktor ini akan menghasilkan adema lokal pada dinding bronkhioulus kecil maupun sekresi mucus yang kental dalam lumen bronkhioulus dan spasme otot polos bronkhiolus sehingga menyebabkan tahanan saluran napas menjadi sangat meningkat. Pada asma , diameter bronkiolus lebih berkurang selama ekspirasi daripada selama inspirasi karena peningkatan tekanan dalam paru selama eksirasi paksa

3

©2003 Digitized by USU digital library menekan bagian luar bronkiolus. Karena bronkiolus sudah tersumbat sebagian, maka sumbatan selanjutnya adalah akibat dari tekanan eksternal yang menimbulkan obstruksi berat terutama selama ekspirasi. Pada penderita asma biasanya dapat melakukan inspirasi dengan baik dan adekuat, tetapi sekali-kali melakukan ekspirasi. Hal ini menyebabkan dispnea. Kapasitas residu fungsional dan volume residu paru menjadi sangat meningkat selama serangan asma akibat kesukaran mengeluarkan

udara ekspirasi dari paru. Hal ini bisa menyebabkan barrel chest. Manifestasi Klinik Biasanya pada penderita yang sedang bebas serangan tidak ditemukan gejala klinis, tapi pada saat serangan penderita tampak bernafas cepat dan dalam, gelisah, duduk dengan menyangga ke depan, serta tanpa otot-otot bantu pernafasan bekerja dengan keras. Gejala klasik dari asma bronkial ini adalah sesak nafas, mengi ( whezing ), batuk, dan pada sebagian penderita ada yang merasa nyeri di dada. Gejala-gejala tersebut tidak selalu dijumpai bersamaan. Pada serangan asma yang lebih berat , gejala-gejala yang timbul makin banyak, antara lain : silent chest, sianosis, gangguan kesadaran, hyperinflasi dada, tachicardi dan pernafasan cepat dangkal . Serangan asma seringkali terjadi pada malam hari. Pemeriksaan laboratorium 1. Pemeriksaan sputum Pemeriksaan sputum dilakukan untuk melihat adanya: Kristal-kristal charcot leyden yang merupakan degranulasi dari kristal eosinopil. Spiral curshmann, yakni yang merupakan cast cell (sel cetakan) dari cabang bronkus. Creole yang merupakan fragmen dari epitel bronkus. Netrofil dan eosinopil yang terdapat pada sputum, umumnya bersifat mukoid dengan viskositas yang tinggi dan kadang terdapat mucus plug. 2. Pemeriksaan darah Analisa gas darah pada umumnya normal akan tetapi dapat pula terjadi hipoksemia, hiperkapnia, atau asidosis. Kadang pada darah terdapat peningkatan dari SGOT dan LDH. Hiponatremia dan kadar leukosit kadang-kadang di atas 15.000/mm3 dimana menandakan terdapatnya suatu infeksi. Pencetus : Allergen Olahraga Cuaca Emosi Imun respon menjadi aktif Pelepasan mediator humoral Histamine SRS-A Serotonin Kinin Bronkospasme Edema mukosa Sekresi meningkat inflamasi Penghambat kortikosteroid

4
©2003 Digitized by USU digital library

yakni terdapatnya sinus tachycardia. maka bercak-bercak di hilus akan bertambah. Pemeriksaan spirometri tidak saja penting untuk menegakkan diagnosis tetapi juga penting untuk menilai berat obstruksi dan efek pengobatan. Scanning paru Dengan scanning paru melalui inhalasi dapat dipelajari bahwa redistribusi udara selama serangan asma tidak menyeluruh pada paru-paru. dan VES atau terjadinya depresi segmen ST negative. Pemeriksaan penunjang 1.Pada pemeriksaan faktor-faktor alergi terjadi peningkatan dari Ig E pada waktu serangan dan menurun pada waktu bebas dari serangan. yakni terdapatnya RBB ( Right bundle branch block). Tanda-tanda hopoksemia. maka terdapat gambaran infiltrate pada paru Dapat pula menimbulkan gambaran atelektasis lokal. yakni pada umumnya terjadi right axis deviasi dan clock wise rotation. Bila terdapat komplikasi empisema (COPD). cara yang paling cepat dan sederhana diagnosis asma adalah melihat respon pengobatan dengan bronkodilator. pneumotoraks. Pemeriksaan radiologi Gambaran radiologi pada asma pada umumnya normal. dan disesuaikan dengan gambaran yang terjadi pada empisema paru yaitu : perubahan aksis jantung. 3. 5. maka dapat dilihat bentuk gambaran radiolusen pada paru-paru. 4. Spirometri Untuk menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas reversible. Benyak penderita tanpa keluhan tetapi pemeriksaan spirometrinya menunjukkan obstruksi. 2. dan pneumoperikardium. Pemeriksaan spirometer dilakukan sebelum dan sesudah pamberian bronkodilator aerosol (inhaler atau nebulizer) golongan adrenergik. Atelektasis 3. Emfisema 5 ©2003 Digitized by USU digital library . SVES. Bila terdapat komplikasi. Pemeriksaan tes kulit Dilakukan untuk mencari faktor alergi dengan berbagai alergen yang dapat menimbulkan reaksi yang positif pada asma. Terdapatnya tanda-tanda hipertropi otot jantung. Status asmatikus 2. Akan tetapi bila terdapat komplikasi. Pada waktu serangan menunjukan gambaran hiperinflasi pada paru-paru yakni radiolusen yang bertambah dan peleburan rongga intercostalis. Komplikasi Berbagai komplikasi yang mungkin timbul adalah : 1. serta diafragma yang menurun. Tidak adanya respon aerosol bronkodilator lebih dari 20%. maka kelainan yang didapat adalah sebagai berikut: Bila disertai dengan bronkitis. maka gambaran radiolusen akan semakin bertambah. Hipoksemia 4. Bila terjadi pneumonia mediastinum. Peningkatan FEV1 atau FVC sebanyak lebih dari 20% menunjukkan diagnosis asma. Elektrokardiografi Gambaran elektrokardiografi yang terjadi selama serangan dapat dibagi menjadi 3 bagian. Pneumothoraks 5.

baik pengobatannya maupun tentang perjalanan penyakitnya sehingga penderita mengerti tujuan penngobatan yang diberikan dan bekerjasama dengan dokter atau perawat yang merawatnnya. dan disuntikan perlahan-lahan langsung ke pembuluh darah. Santin (teofilin) Nama obat : .Aminofilin (Amicam supp) .Aminofilin (Euphilin Retard) . Ada juga yang berbentuk bubuk halus yang dihirup (Ventolin Diskhaler dan Bricasma Turbuhaler) atau cairan broncodilator (Alupent. Kromalin 6 ©2003 Digitized by USU digital library Kromalin bukan bronkodilator tetapi merupakan obat pencegah serangan asma. Sehingga bila kedua obat ini dikombinasikan efeknya saling memperkuat.6. Terbagi dalam 2 golongan : a. 2. Simpatomimetik/ andrenergik (Adrenalin dan efedrin) Nama obat : . . Memberikan penerangan kepada penderita ataupun keluarganya mengenai penyakit asma. Mengenal dan menghindari fakto-faktor yang dapat mencetuskan serangan asma 3. Itulah sebabnya penderita yang mempunyai sakit lambung sebaiknya berhati-hati bila minum obat ini. Pengobatan pada asma bronkhial terbagi 2. sirup. Berotec.Fenoterol (berotec) . suntikan dan semprotan. 2. Manfaatnya adalah untuk penderita asma alergi terutama anakanak. Pengobatan farmakologik : Bronkodilator : obat yang melebarkan saluran nafas. Cara pemakaian : Bentuk suntikan teofillin / aminofilin dipakai pada serangan asma akut. Supositoria ini digunakan jika penderita karena sesuatu hal tidak dapat minum teofilin (misalnya muntah atau lambungnya kering). brivasma serts Ventolin) yang oleh alat khusus diubah menjadi aerosol (partikel-partikel yang sangat halus ) untuk selanjutnya dihirup. tetapi cara kerjanya berbeda. Pengobatan non farmakologik: Memberikan penyuluhan Menghindari faktor pencetus Pemberian cairan Fisiotherapy Beri O2 bila perlu. Gagal nafas Penatalaksanaan Prinsip umum pengobatan asma bronchial adalah : 1.Orsiprenalin (Alupent) . yaitu: 1. b.Terbutalin (bricasma) Obat-obat golongan simpatomimetik tersedia dalam bentuk tablet.Teofilin (Amilex) Efek dari teofilin sama dengan obat golongan simpatomimetik. Menghilangkan obstruksi jalan nafas dengan segara. Teofilin ada juga dalam bentuk supositoria yang cara pemakaiannya dimasukkan ke dalam anus. Yang berupa semprotan: MDI (Metered dose inhaler). Deformitas thoraks 7. Karena sering merangsang lambung bentuk tablet atau sirupnya sebaiknya diminum sesudah makan.

Aktivitas Ketidakmampuan melakukan aktivitas karena sulit bernapas. Adanya ketergantungan pada orang lain. Pengkajian Hal-hal yang perlu dikaji pada pasien asma adalah sebagai berikut: Riwayat kesehatan yang lalu: Kaji riwayat pribadi atau keluarga tentang penyakit paru sebelumnya. Menggunakan obat bantu pernapasan. Penurunan berat badan karena anoreksia. Susah bicara atau bicara terbata-bata. Adanya penurunan kemampuan/peningkatan kebutuhan bantuan melakukan aktivitas sehari-hari. Warna kulit atau membran mukosa normal/ abu-abu/ sianosis. melebarkan hidung. Pernapasan Dipsnea pada saat istirahat atau respon terhadap aktivitas atau latihan. Kaji riwayat reaksi alergi atau sensitifitas terhadap zat/ faktor lingkungan. catat . Tidur dalam posisi duduk tinggi. misalnya: meninggikan bahu. Adanya batuk berulang. Hubungan sosal Keterbatasan mobilitas fisik. Hasil yang diharapkan: mempertahankan jalan nafas paten dengan bunyi bersih dan jelas. dan efeknya baru terlihat setelah pemakaian satu bulan.Kromalin biasanya diberikan bersama-sama obat anti asma yang lain. 7 ©2003 Digitized by USU digital library Seksualitas Penurunan libido Diagnosa dan Intervensi Keperawatan Diagnosa 1 : Tak efektif bersihan jalan nafas b/d bronkospasme. Napas memburuk ketika pasien berbaring terlentang ditempat tidur. Integritas ego Ansietas Ketakutan Peka rangsangan Gelisah Asupan nutrisi Ketidakmampuan untuk makan karena distress pernapasan. Biasanya diberikan dengan dosis dua kali 1mg / hari. Adanya peningkatan frekuensi jantung. Keuntungnan obat ini adalah dapat diberika secara oral. Ketolifen Mempunyai efek pencegahan terhadap asma seperti kromalin. Sirkulasi Adanya peningkatan tekanan darah. Adanya bunyi napas mengi. Kaji riwayat pekerjaan pasien. INTERVENSI RASIONAL Mandiri Auskultasi bunyi nafas. Kemerahan atau berkeringat.

Peninggian kepala tempat tidur memudahkan fungsi pernafasan dengan menggunakan gravitasi. penggunaan cairan hangat dapat menurunkan spasme bronkus. catat rasio inspirasi / ekspirasi. duduk pada sandara tempat tidur Pertahankan polusi lingkungan minimum. contoh : meninggikan kepala tempat tidur. Tempatkan posisi yang nyaman pada pasien. Hidrasi membantu menurunkan kekentalan sekret. penggunaan obat bantu. Catat adanya derajat dispnea. Disfungsi pernafasan adalah variable yang tergantung pada tahap proses akut yang menimbulkan perawatan di rumah sakit.adanya bunyi nafas. mengi. Beberapa derajat spasme bronkus terjadi dengan obstruksi jalan nafas dan dapat/tidak dimanifestasikan adanya nafas advertisius. Pencetus tipe alergi pernafasan dapat mentriger episode akut. asap dll Tingkatkan masukan cairan sampai dengan 3000 ml/ hari sesuai toleransi jantung memberikan air hangat. ex: mengi Kaji / pantau frekuensi pernafasan. Kolaborasi Berikan obat sesuai dengan indikasi bronkodilator. contoh: debu. distress pernafasan. Tachipnea biasanya ada pada beberapa derajat dan dapat ditemukan pada penerimaan atau selama stress/ adanya proses infeksi akut. ansietas. Merelaksasikan otot halus dan menurunkan spasme jalan nafas. penggunaan cairan hangat dapat menurunkan kekentalan sekret. dan produksi .

INTERVENSI RASIONALISASI Mandiri Kaji kebiasaan diet. disritmia. dan perubahan tekanan darah . Diagnosa 3 : Kerusakan pertukaran gas b/d gangguan suplai oksigen (spasme bronkus) Hasil yang diharapkan . meningkatkan masukan.mukosa. Sering lakukan perawatan oral. berikan wadah khusus untuk sekali pakai. Rasa tak enak. Tachicardi. buang sekret. Sianosis mungkin perifer atau sentral keabu-abuan dan sianosis sentral mengindikasi kan beratnya hipoksemia. Kolaborasi Berikan oksigen tambahan selama makan sesuai indikasi. Catat derajat kerusakan makanan. INTERVENSI RASIONALISASI Mandiri Kaji/awasi secara rutin kulit dan membrane mukosa. bau menurunkan nafsu makan dan dapat menyebabkan mual/muntah dengan peningkatan kesulitan nafas. masukan makanan saat ini. Palpasi fremitus Awasi tanda vital dan irama jantung Kolaborasi Berikan oksigen tambahan sesuai dengan indikasi hasil AGDA dan toleransi pasien. perbaikan ventilasi dan oksigen jaringan edukuat. Menurunkan dipsnea dan meningkatkan energi untuk makan. Pasien distress pernafasan akut sering anoreksia karena dipsnea. Penurunan getaran vibrasi diduga adanya pengumplan cairan/udara. 8 ©2003 Digitized by USU digital library Diagnosa 2: Malnutrisi b/d anoreksia Hasil yang diharapkan : menunjukkan peningkatan berat badan menuju tujuan yang tepat.

Hasil yang diharapkan : menyatakan pemahaman kondisi/proses penyakit dan tindakan. . Pemberian obat yang tepat . efek samping dan reaksi yang tidak diinginkan. Malnutrisi dapat mempengaruhi kesehatan umum dan menurunkan tahanan terhadap infeksi untuk mengidentifikasi organisme penyabab dan kerentanan terhadap berbagai anti microbial Diagnosa 5: Kurang pengetahuan b/d kurang informasi .salah mengerti. Dapat memperbaiki atau mencegah memburuknya hipoksia. Tunjukkan tehnik penggunaan inhakler. INTERVENSI RASIONALISASI Jelaskan tentang penyakit individu Diskusikan obat pernafasan. Demam dapat terjadi karena infeksi dan atau dehidrasi. Hasil yang diharapkan : .kultur/sensitifitas. Penting bagi pasien memahami perbedaan antara efek samping mengganggu dan merugikan. INTERVENSI RASIONALISASI Mandiri Awasi suhu. 9 ©2003 Digitized by USU digital library Diognasa 4: Risiko tinggi terhadap infeksi b/d tidak adekuat imunitas.dapat menunjukan efek hipoksemia sistemik pada fungsi jantung. Menurunkan ansietas dan dapat menimbulkan perbaikan partisipasi pada rencana pengobatan. Diskusikan kebutuhan nutrisi adekuat Kolaborasi Dapatkan specimen sputum dengan batuk atau pengisapan untuk pewarnaan gram.mengidentifikasikan intervensi untuk mencegah atau menurunkan resiko infeksi.Perubahan ola hidup untuk meningkatkan lingkungan yang nyaman.

Price. Sundaru. Pullen. (1995) “Asma . Staff Pengajar FK UI (1997) “Ilmu Kesehatan Anak”. G. M. L. (1995) “Pulmonary Disease”. T. (1998) “Agenda Gawat Darurat”. Hudak & Gallo (1997) “Keperawatan Kritis Pendekatan Holistik”. Blacwell Scientific Publication. (1997) “Penanganan Asma dalam Penyakit Primer”. Jakarta : Hipokrates. G & Lockhart. (1999) “Keperawatan Medikal Bedah”. Crockett. Crompton. C. Maret 11. Rab. E. (2000) “Rencana Asuhan Keperawatan”. Guyton & Hall (1997) “Buku Ajar Fisiologi Kedokteran”. R. 10 ©2003 Digitized by USU digital library DAFTAR PUSTAKA Baratawidjaja. Jakarta : FK UI. L. Roux. Jakarta : AGC. C. Jakarta : FK UI. Doenges. Moorhouse. (1980) “Diagnosis and Management of Respiratory Disease”. Jakarta : Hipokrates.. (1996) “Ilmu Penyakit Paru”. S & Wilson. Jakarta : Info Medika. A. Buku Satu. & Geissler. A. M. R. Reeves. DAFID. Philadelpia : Lea & Febiger. Jakarta : EGC. H. 2008 askep bronkhitis BRONCHITIS By. Jakarta : Salemba Medika. Brunner & Suddart (2002) “Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah”. (1990) “Asma Bronchiale”. Jakarta : Hipocrates.. J. M. Jakarta : EGC.meningkatkan keefektifanya. Apa dan Bagaimana Pengobatannya”. Volume 1. Rab. F. Jakarta : EGC. Jakarta : EGC. (1995) “Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit”. Dafid Arifiyanto .STIKES-MUHAMMADIYAHPEKAJANGAN MARI KITA MAJUKAN KEPERAWATAN INDONESIA JANGAN ENGKAU DIAM JANGAN ENGKAU TERLENA PROFESI KITA SANGAT MEMBUTUHKAN PERAN SERTA DAN KARYA KITA Selasa. K. T. dikutip dari Ilmu Penyakit Dalam.

Factor genetic atau factor pertumbuhan dan factor perkembangan fetus memegang peran penting. pneumonia ini merupakan komplikasi pertusis maupun influenza yang diderita semasa anak. kifoskoliasis konginetal. Penyakit ini dapat diderita mulai dari anak bahkan dapat merupakan kelainan congenital. bronkiektasis sering bersamaan dengan kelainan congenital berikut : tidak adanya tulang rawan bronkus. sedangkan bronkus besar jarang terjadi. Bronchitis yang timbul congenital ini mempunyai ciri sebagai berikut : Bronchitis mengenai hampir seluruh cabang bronkus pada satu atau kedua paru. sindrom kartagener ( bronkiektasis konginetal. ETIOLOGI Penyebab bronchitis sampai sekarang masih belum diketahui dengan jelas. misalnya : mucoviscidosis ( cystic pulmonary fibrosis ). kekerapan bronchitis diperkirakan sebanyak 1. sinusitis paranasal dan situs inversus ). Kenyataannya penyakit ini sering ditemukan di klinik-klinik dan diderita oleh laki-laki dan wanita. Kelainan congenital Dalam hal ini bronchitis terjadi sejak dalam kandungan.PENDAHULUAN Bronchitis adalah suatu penyakit yang ditandai adanya dilatasi ( ektasis ) bronkus lokal yang bersifat patologis dan berjalan kronik. Bronchitis konginetal sering menyertai penyakit-penyakit konginetal lainya. Kekerapan setinggi itu ternyata mengalami penurunan yang berarti dengan pengobatan memakai antibiotik. Perubahan bronkus tersebut disebabkan oleh perubahan-perubahan dalam dinding bronkus berupa destruksi elemen-elemen elastis dan otot-otot polos bronkus. Kelainan didapat Kelaianan didapat merupakan akibat proses berikut : Infeksi Bronchitis sering terjadi sesudah seseorang menderita pneumonia yang sering kambuh dan berlangsung lama. Bronchitis kronis dan emfisema paru sering terdapat bersama-sama pada seorang pasien. tuberculosis paru dan sebagainya. Di Inggris dan Amerika penyakit paru kronik merupakan salah satu penyebab kematian dan ketidak mampuan pasien untuk bekerja. karsinoma bronkus atau tekanan dari luar terhadap bronkus PERUBAHAN PATOLOGIS ANATOMIK . Obstruksi bronkus Obstruksi bronkus yang dimaksud disini dapat disebabkan oleh berbagai macam sebab : korpus alineum. Pada kenyataannya kasus-kasus bronchitis dapat timbul secara congenital maupun didapat. Dinegara barat. Di Indonesia belum ada laporan tentang anka-angka yang pasti mengenai penyakit ini. hipo atau agamaglobalinemia. dalam keadaan lanjut penyakit ini sering menyebabkan obstruksi saluran nafas yang menetap yang dinamakan cronik obstructive pulmonary disease ( COPD ).3% diantara populasi. ternyata saudara kembarnya juga menderita bronkiektasis ). penyakit jantung bawaan. bronkiektasis pada anak kembar satu telur ( anak yang satu dengan bronkiektasis. Bronkus yang terkena umumnya bronkus kecil (medium size ).

pada bagian distal obstruksi dan terjadi infeksi juga destruksi bronkus.. Apabila terjadi eksaserbasi infeksi akut.Terdapat berbagai macam variasi bronchitis. bronkus yang terkena dapat hanya satu segmen paru saja maupun difus mengenai bronki kedua paru. Mukosa bronkus Mukosa bronkus permukaannya menjadi abnormal. dan factor intrinsik dalam bronkus atau paru. Jaringan paru peribronchiale Pada keadaan yang hebat. 3. Bronchitis merupakan penyakit paru yang mengenai paru dan sifatnya kronik. fibrosis paru. Bronkus yang terkena Bronkus yang terkena umumnya yang berukuran sedang. jaringan paru distal akan diganti jaringan fibrotik dengan kistakista berisi nanah. Obstruksi bronkus akan diikuti terbentuknya bronchitis. ulserasi. Bentuk ini berbentuk kista. PATOGENESIS Apabila bronchitis kongenital patogenesisnya tidak diketahui diduga erat hubungannya dengan genetic serta factor pertumbuhan dan perkembangan fetus dalam kandungan. Variasi kelainan anatomis bronchialis Telah dikenal 3 variasi bentuk kelainan anatomis bronchitis. Patogenesis pada kebanyakan bronchitis yang didapat melalui dua mekanisme dasar : 1. keluhan-keluhan yang timbul . Bentuk ini merupakan komplikasi dari pneumonia. Perubahan morfologis bronkus yang terkena Dinding bronkus Dinding bronkus yang terkena dapat mengalami perubahan berupa proses inflamasi yang sifatnya destruktif dan irreversibel. terjadi perubahan metaplasia skuamosa. factor infeksi pada bronkus atau paru-paru. Bentuk antara bentuk tabung dan kantong (Pseudobronchitis) Pada bentuk ini terdapat pelebaran bronkus yang bersifat sementara dan bentuknya silindris. Bentuk kantong Ditandai dengan adanya dilatasi dan penyempitan bronkus yang bersifat irregular. Jaringan bronkus yang mengalami kerusakan selain otot-otot polos bronkus juga elemen-elemen elastis. silia pada sel epitel menghilang. Bentuk tabung Bentuk ini sering ditemukan pada bronchitis yang menyertai bronchitis kronik. baik mengenai jumlah atau luasnya bronkus yang terkena maupun beratnya penyakit : Tempat predisposisi bronchitis Bagian paru yang sering terkena dan merupakan predisposisi bronchitis adalah lobus tengah paru kanan. Infeksi pada bronkus atau paru akan diikuti proses destruksi dinding bronkus daerah infeksi dan kemudian timbul bronchitis. Infeksi bacterial pada bronkus atau paru. pada mukosa akan terjadi pengelupasan. kemudian timbul bronchitis. bagian lingual paru kiri lobus atas. Keluhankeluhan yang timbul juga berlangsung kronik dan menetap . yaitu : 1. 2. 2. Pada bronchitis yang didapat patogenesisnya diduga melelui beberapa mekanisme : factor obstruksi bronkus. segmen basal pada lobus bawah kedua paru.

klebsiella ozaena. apabila sputum pasien yang semula berwarna putih jernih kemudian berubah warnanya menjadi kuning atau kehijauan atau berbau busuk berarti telah terjadi infeksi sekunder oleh kuman anaerob misalnya : fusifomis fusiformis.. puruen. Ciri khas pada penyakit ini adalah adanya batuk kronik disertai produksi sputum. sedang apabila terjadi infeksi sekunder sputumnya purulen. dapat memberikan bau yang tidak sedap. lokasi kelainannya. jumlah seputum bervariasi. data dijelaskan sebagai berikut . dan apabila ditampung beberapa lama. terdiri atas saliva ( ludah ) Lapisan terbawah keruh terdiri atas nanah dan jaringan nekrosis dari bronkus yang rusak ( celluler debris ). pada kasus yang sudah berat. akibat komplikasi. akan menimbulkan sputum sangat berbau.erat dengan : luas atau banyaknya bronkus yang terkena. virus influenza. lokasi bronkus yang terkena. 2. ada atau tidaknya komplikasi lanjut. tingkatan beratnya penyakit. Mengenai infeksi dan hubungannya dengan patogenesis bronchitis. keluhan-keluhan yang timbul umumnya sebagai akibat adanya beberapa hal : adanya kerusakan dinding bronkus. sputum jumlahnya banyak sekali. adanya kerusakan fungsi bronkus. tampak terpisah menjadi 3 bagian Lapisan teratas agak keruh Lapisan tengah jernih. Apabila terjadi infeksi sekunder oleh kuman anaerob. campak. Bronchitis yang mengenai bronkus pada lobis atas sering dan memberikan gejala : Keluhan-keluhan Batuk Batuk pada bronchitis mempunyai ciri antara lain batuk produktif berlangsung kronik dan frekuensi mirip seperti pada bronchitis kronis. haemophilus influenza. Gejala dan tanda klinis dapat demikian hebat pada penyakit yang berat. anaerobic streptococci. . dan sebagainnya ). GAMBARAN KLINIS Gejala dan tanda klinis yang timbul pada pasien bronchitis tergantung pada luas dan beratnya penyakit. Kalau tidak ada infeksi skunder sputumnya mukoid. Infeksi pertama ( primer ) Kecuali pada bentuk bronchitis kongenital. treponema vincenti. adanya haemaptoe dan pneumonia berulang. Masih menjadi pertanyaan apakah infeksi yang mendahului terjadinya bronchitis tersebut disebabkan oleh bakteri atau virus. dan ada tidaknya komplikasi lanjut. sedangkan infeksi virus tidak dapat ( misalnya adenovirus tipe 21. Infeksi sekunder Tiap pasien bronchitis tidak selalu disertai infeksi sekunder pada lesi. 1. Kuman yang erring ditemukan dan menginfeksi bronkus misalnya : streptococcus pneumonie. dan dapat tidak nyata atau tanpa gejala pada penyakit yang ringan. umumnya jumlahnya banyak terutama pada pagi hari sesudah ada perubahan posisi tidur atau bangun dari tidur. Dikatakan bahwa hanya infeksi bakteri saja yang dapat menyebabkan kerusakan pada dinding bronkus sehingga terjadi bronchitis. misalnya pada saccular type bronchitis. Infeksi yang mendahului bronchitis adalah infeksi bacterial yaitu mikroorgansme penyebab pneumonia.

drainasenya baik. Sindrom kartagenr. bronchitis ( sekunder ) ini merupakan penyebab utama komplikasi haemaptoe. jari tubuh. Bagaimana asosiasi tentang keberadaanya yang demikian ini belum diketahui dengan jelas. Sinusitis paranasal atau tidak terdapatnya sinus frontalis. Kelainan ini bukan merupakan tanda .. Apabila bagian paru yang diserang amat luas serta kerusakannya hebat. Wheezing sering ditemukan apa bila terjadi obstruksi bronkus. Perdarahan yang timbul bervariasi mulai dari yang paling ringan ( streaks of blood ) sampai perdarahan yang cukup banyak ( massif ) yaitu apabila nekrosis yang mengenai mukosa amat hebat atau terjadi nekrosis yang mengenai cabang arteri broncialis ( daerah berasal dari peredaran darah sistemik ) Pada dry bronchitis ( bronchitis kering ). Ditemukan ronchi basah yang jelas pada lobus bawah paru yang terkena dan keadaannya menetap dari waku kewaktu atau ronci basah ini hilang sesudah pasien mengalami drainase postural atau timbul lagi diwaktu yang lain. Demam berulang Bronchitis merupakan penyakit yang berjalan kronik. sering disertai dengan silia bronkus imotil Situs inversus pembalikan letak organ-organ dalam dalam hal ini terjadi dekstrokardia. right-sided spleen.Haemaptoe Hemaptoe terjadi pada 50 % kasus bronchitis. Timbul dan beratnya sesak nafas tergantung pada seberapa luasnya bronchitis kronik yang terjadi dan seberapa jauh timbulnya kolap paru dan destruksi jaringan paru yang terjadi sebagai akibat infeksi berulang ( ISPA ). manifestasi klinis komplikasi bronchitis. left-sided liver. dapat menimbulkan kelainan berikut : terjadi retraksi dinding dada dan berkurangnya gerakan dada daerah yang terkena serta dapat terjadi penggeseran medistenum kedaerah paru yang terkena. Kadang ditemukan juga suara mengi ( wheezing ). Bronchitis. sehingga sering timbul demam (demam berulang) Kelainan fisis Tanda-tanda umum yang ditemukan meliputi sianosis. Pada tuberculosis paru. pasien tanpa batuk atau batukya minimal. kelainan ini terjadi akibat nekrosis atau destruksi mukosa bronkus mengenai pembuluh darah ( pecah ) dan timbul perdarahan. haemaptoe justru gejala satu-satunya karena bronchitis jenis ini letaknya dilobus atas paru. akibat adanya obstruksi bronkus. Sindrom ini terdiri atas gejala-gejala berikut : Bronchitis congenital. Bila terjadi komplikasi pneumonia akan ditemukan kelainan fisis sesuai dengan pneumonia. Sesak nafas ( dispnue ) Pada sebagian besar pasien ( 50 % kasus ) ditemukan keluhan sesak nafas. Pada kasus yang berat dan lebih lanjut dapat ditemukan tandatanda korpulmonal kronik maupun payah jantung kanan. sputum tidak pernah menumpuk dan kurang menimbulkan reflek batuk. Kelainan ini merupakan klasifikasi kelenjar limfe yang biasanya merupakan gejala sisa komleks primer tuberculosis paru primer. Semua elemen gejala sindrom kartagener ini adalah keleinan congenital. left sided gall bladder. sering mengalami infeksi berulang pada bronkus maupun pada paru. yang biasanya menimbulkan fibrosis paru dan emfisema yang menimbulkan sesak nafas. Wheezing dapat local atau tersebar tergantung pada distribusi kelainannya.

ada haemaptoe ringan. Kelainan radiologist Gambaran foto dada ( plain film ) yang khas menunjukan adanya kista-kista kecil dengan fluid level.klinis bronchitis. septikemi. amiloidosis. Bila penyakitnya ringan gambaran darahnya normal. Sering ditemukannya pneumonia dengan haemaptoe dan nyeri pleura. karena terjadinya obstruksi airan udara pernafasan. Bronchitis sedang Ciri klinis : batuk produktif terjadi setiap saat. Gambaran bronchitis akan jelas pada bronkogram. Pada pemeriksaan paru sering ditemukannya ronchi basah kasar pada daerah paru yag terkena. sputum timbul setiap saat. foto dada normal. atau ditemukan leukositosis yang menunjukan adanya infeksi supuratif. yang menunjukan adanya infeksi kronik. mirip seperti gambaran sarang tawon pada daerah yang terkena. sianosis atau tanda kegagalan paru. kapasitas vital ( KV ) dan kecepatan aliran udara ekspirasi satu detik pertama ( FEV1 ). Dapat terjadi perubahan gas darah berupa penurunan PaO2 ini menunjukan abnormalitas regional ( maupun difus ) distribusi ventilasi. yang berpengaruh pada perfusi paru. fibrosis atau kolaps. pasien mudah timbul pneumonia. selanjutnya terjadilah bronchitis. multiple cysts containing fluid levels. kelainan ini sering menimbulkan erosi bronkus didekatnya dan dapat masuk kedalam bronkus menimbulkan sumbatan dan infeksi. Dan pada pemeriksaan fisis ditemukan ronchi basah kasar pada daerah yang terkena. Kelainan faal paru Pada penyakit yang lanjut dan difus. Kelainan laboratorium. perlu dilakukan bila ada kecurigaan adanya infeksi sekunder. Pada keadaan lanjut dan mulai sudah ada insufisiensi paru dapat ditemukan polisitemia sekunder. gambaran foto dada masih terlihat normal. berwarna kotor dan berbau. dan bau mulut meyengat). pasien tampak sehat dan fungsi paru norma. Pemeriksaan kultur sputum dan uji sensivitas terhadap antibiotic. abses metastasis. infeksi mata . (umumnya warna hijau dan jarang mukoid. terdapat tendensi penurunan. ditemukan juga bercak-bercak pneumonia. Bronchitis berat Ciri klinis : batuk produktif dengan sputum banyak. sering ditemukan infeksi piogenik pada kulit. Bila ada obstruksi nafas akan ditemukan adanya dispnea. umumnya pasien masih Nampak sehat dan fungsi paru normal. Umumnya pasien mempunyai keadaan umum kurang baik. adanya haemaptoe. Pada gambaran foto dada ditemukan kelianan : bronkovascular marking. Seing ditemukan anemia. Tingkatan beratnya penyakit Bronchitis ringan Ciri klinis : batuk-batuk dan sputum warna hijau hanya terjadi sesudah demam. Urin umumnya normal kecuali bila sudah ada komplikasi amiloidosis akan ditemukan proteiuria. . Erosi dinding bronkus oleh bronkolit tadi dapat mengenai pembuluh darah dan dapat merupakan penyebab timbulnya hemaptoe hebat.

7. Kor pulmonal kronik pada kasus ini bila terjadi anastomisis cabang-cabang arteri dan vena pulmonalis pada dinding bronkus akan terjadi arterio-venous shunt.. meliputi: Anamnesis Pemeriksaan fisis Pemeriksaan penunjang DIAGNOSIS BANDING Beberapa penyakit yang perlu diingat atau dipertimbangkan kalau kita berhadapan dengan pasien bronchitis : · Bronchitis kronis ( ingatlah definisi klinis bronchitis kronis ) · Tuberculosis paru ( penyakit ini dapat disertai kelainan anatomis paru berupa bronchitis ) · Abses paru ( terutama bila telah ada hubungan dengan bronkus besar ) · Penyakit paru penyebab hemaptomisis misalnya karsinoma paru. Komplikasi ini dapat timbul bersama dengan timbulnya pneumonia. Hal ini sering terjadi pada mereka drainase sputumnya kurang baik. 3. timbul sianosis sentral. Sinusitis merupakan bagian dari komplikasi bronchitis pada saluran nafas 8. adenoma paru ) · Fistula bronkopleural dengan empisema KOMPLIKASI Ada beberapa komplikasi bronchitis yang dapat dijumpai pada pasien. kontraindikasi. kor pulmoner kronik. terjadi gangguan oksigenasi darah.DIAGNOSIS Diagnosis pasti bronchitis dapat ditegakan apabila telah ditemukan adanya dilatasi dan nekrosis dinding bronkus dengan prosedur pemeriksaan bronkografi dan melihat bronkogram yang didapat. Selanjutnya akan terjadi gagal jantung kanan. Bronchitis kronik 2. Kegagalan pernafasan merupakan komlikasi paling akhir pada bronchitis yang berat da luas . Bronkografi tidak selalu dapat dikerjakan pada tiap pasien bronchitis. Efusi pleura atau empisema 5. selanjutnya terjadi hipoksemia. Komplikasi haemaptoe hebat dan tidak terkendali merupakan tindakan beah gawat darurat. Pada keadaan lanjut akan terjadi hipertensi pulmonal. akibat septikemi oleh kuman penyebab infeksi supuratif pada bronkus. Haemaptoe terjadi kerena pecahnya pembuluh darah cabang vena ( arteri pulmonalis ) . Sering menjadi penyebab kematian 6. Umumnya pleuritis sicca pada daerah yang terkena. antara lain : 1. 4. Abses metastasis diotak. penegakan diagnosis bronchitis dapat ditempuh melewati proses diagnostik yang lazim dikerjakan dibidang kedokteran. 9. bronchitis sering mengalami infeksi berulang biasanya sekunder terhadap infeksi pada saluran nafas bagian atas. karena terikat adanya indikasi. syarat-syarat kaan elakukannya. Oleh karena pasien bronchitis umumnya memberikan gambaran klinis yang dapat dkenal. Pleuritis. cabang arteri ( arteri bronchialis ) atau anastomisis pembuluh darah. Pneumonia dengan atau tanpa atelektaksis.

antibiotic diberikan selama 7-10 hari dengan therapy tunggal atau dengan beberapa . terdiri atas : 1. PENATALAKSANAAN Pengelolaan pasien bronchitis terdiri atas dua kelompok : Pengobatan konservatif. Pengelolaan khusus. Mencegah / menghentikan rokok Mencegah / menghindari debu.asap dan sebagainya. Prinsip drainase postural ini adalah usaha mengeluarkan sputum ( secret bronkus ) dengan bantuan gaya gravitasi. Memperbaiki drainase secret bronkus. Antibiotik diberikan jika terdapat aksaserbasi infeki akut. Pada pasien yang mengalami komplikasi ini dapat ditemukan pembesaran hati dan limpa serta proteinurea. apabila telah ada infeksi perlu adanya antibiotic yang sesuai agar infeksi tidak berkelanjutan. cara yang baik untuk dikerjakan adalah sebagai berikut : Melakukan drainase postural Pasien dilelatakan dengan posisi tubuh sedemikian rupa sehingga dapat dicapai drainase sputum secara maksimum. Mengatur posisi tepat tidur pasien Sehingga diperoleh posisi pasien yang sesuai untuk memudahkan drainase sputum. Amiloidosis keadaan ini merupakan perubahan degeneratif. Kemotherapi pada bronchitis Kemotherapi dapat digunakan : secara continue untuk mengontrol infeksi bronkus ( ISPA ) untuk pengobatan aksaserbasi infeksi akut pada bronkus/paru atau kedua-duanya digunakan Kemotherapi menggunakan obat-obat antibiotic terpilih. misalnya inhalasi uap air panas. Adanya infeksi saluran nafas akut ( ISPA ) harus diperkecil dengan jalan mencegah penyebaran kuman. 2. Mengontrol infeksi saluran nafas. mengguanakan obat-obat mukolitik dan sebagainya. tidak pada setiap pasien harus diberikan antibiotic. meliputi : Menciptakan lingkungan yang baik dan tepat untuk pasien : Contoh : Membuat ruangan hangat. tiap hari dilakukan 2 sampai 4 kali. Mencairkan sputum yang kental Dapat dilakukan dengan jalan. Tiap kali melakukan drainase postural dilakukan selama 10 – 20 menit. sebagai komplikasi klasik dan jarang terjadi.10. Posisi tubuh saat dilakukan drainase postural harus disesuaikan dengan letak kelainan bronchitisnya. dan dapat dibantu dengan tindakan memberikan ketukan pada pada punggung pasien dengan punggung jari. udara ruangan kering. Pengelolaan umum Pengelolaan umum ditujukan untuk semua pasien bronchitis. pemkaian antibiotic antibiotic sebaikya harus berdasarkan hasil uji sensivitas kuman terhadap antibiotic secara empiric. Walaupun kemotherapi jelas kegunaannya pada pengelolaan bronchitis.

Pada kasus ini selain diberikan antibiotic perlu juga diberikan obat antipiretik. tetapi keadaan ini hanya bersifat sementara. Pengobatan simtomatik Pengobatan ini diberikan jika timbul simtom yang mungkin mengganggu atau mebahayakan pasien. sampai terjadi konversi warna sputum yang semula berwarna kuning/hijau menjadi mukoid ( putih jernih ). Pasien dengan haemaptoe massif seperti ini mutlak perlu tindakan operasi. . Pengobatan hipoksia. Cara operasi. Pada pasien yang mengalami eksaserbasi inhalasi akut sering terdapat demam. jumlah sputum dan gejala lainnya terutama pada saat terjadi aksaserbasi infeksi akut. Kelainan ( bronchitis ) harus terbatas dan resektabel Daerah paru yang terkena telah mengalami perubahan ireversibel Bagian paru yang lain harus masih baik misalnya tidak ada bronchitis atau bronchitis kronik. Pengobatan demam. lebih-lebih kalau terjadi septikemi. Pada pasien yang mengalami hipoksia perlu diberikan oksigen. Syarat-ayarat operasi. Kontra indikasi Pasien bronchitis dengan COPD Pasien bronchitis berat Pasien bronchitis dengan koplikasi kor pulmonal kronik dekompensasi. Keperluannya antara lain : Menentukan dari mana asal secret Mengidentifikasi lokasi stenosis atau obstruksi bronkus Menghilangkan obstruksi bronkus dengan suction drainage daerah obstruksi. Drainase secret dengan bronkoskop Cara ini penting dikerjakan terutama pada saat permulaan perawatan pasien. Kemotherapi dengan antibiotic ini apabila berhasil akan dapat mengurangi gejala batuk. Pengobatan pembedahan Tujuan pembedahan : mengangkat ( reseksi ) segmen/ lobus paru yang terkena. yang tidak berespon yang tidak berespon terhadap tindakan-tindakan konservatif yang adekuat. Tindakan yang perlu segera dilakukan adalah upaya menghentikan perdarahan. Pengobatan haemaptoe. Pasien perlu dipertimbangkan untuk operasi Pasien bronchitis yang terbatas tetapi sering mengaami infeksi berulang atau haemaptoe dari daerakh tersebut. Pengobatan obstruksi bronkus Apabila ditemukan tanda obstruksi bronkus yang diketahui dari hasil uji faal paru (%FEV 1 < 70% ) dapat diberikan obat bronkodilator. Indikasi pembedahan : Pasien bronchitis yang yang terbatas dan resektabel. Dari berbagai penelitian pemberian obat-obatan hemostatik dilaporkan hasilnya memuaskan walau sulit diketahui mekanisme kerja obat tersebut untuk menghentikan perdarahan.antibiotic.

Operasi elektif : pasien-pasien yang memenuhi indikasi dan tidak terdaat kontra indikasi. Kematian pasien karena pneumonia. prognosisnya jelek. survivalnya tidak akan lebih dari 5-10 tahun. haemaptoe dan lainnya. Persiapan operasi : Pemeriksaan faal paru : pemeriksaan spirometri. cyanosis pada ekstremitas . Asuhan keperawatan Data Fokus Anamnesa :è Faktor Predisposisi Aktifitas Gaya hidup Keadaan lingkungan Aspirasi Penyakit pernapasan lain Pemeriksaan Fisik : fokus dada Inspeksi :è Irama. yang gagal dalam pengobatan konservatif dipersiapkan secara baik utuk operasi. PROGNOSIS Prognosis pasien bronchitis tergantung pada berat ringannya serta luasnya penyakit waktu pasien berobat pertama kali. kedalaman. Operasi paliatif : ditujukan pada pasien bronchitis yang mengalami keadaan gawat darurat paru. Umumnya operasi berhasil baik apabila syarat dan persiapan operasinya baik. Menurut beberapa literature untuk mencegah terjadinya bronchitis ada beberapa cara : Pengobatan dengan antibiotic atau cara-cara lain secara tepat terhadap semua bentuk pneumonia yang timbul pada anak akan dapat mencegah ( mengurangi ) timbulnya bronchitis Tindakan vaksinasi terhadap pertusis ( influenza. frekuensi pernapasan Kesimetrisan dinding dada saat bernapas Penggunaan otot bantu pernapasan Cuping hidung. kecuali dalam bentuk congenital tidak dapat dicegah. pneumonia ) pada anak dapat pula diartikan sebagai tindakan preventif terhadap timbulnya bronchitis. payah jantung kanan. Pada kasus-kasus yang berat dan tidak diobati. pemeriksaan broncospirometri ( uji fungsi paru regional ) Scanning dan USG Meneliti ada atau tidaknya kontra indikasi operasi pada pasien Memperbaiki keadaan umum pasien PENCEGAHAN Timbulnya bronchitis sebenarnya dapat dicegah.analisis gas darah. empiema. misalnya terjadi haemaptoe masif ( perdarahan arterial ) yang memenuhi syarat-syarat dan tidak terdapat kontra indikasi operasi. Pemilihan pengobatan secara tepat ( konservatif atau pembedahan ) dapat memperbaiki prognosis penyakit.

Stikes-Muhammadiyah-Pekajangan di 21:06 1 komentar: Anonim mengatakan.Palpasi : è Kesimetrisan dinding dada Taktil fremitus Letak trakhea Auskultasi è Ronkhi..he. Ketidak efektifan bersihan jalan napas Tujuan : Jalan Napas Efektif Rencana Keperawatan : Kaji Kemampuan klien mengeluarkan sputum Kaji suara pernapasan (paru) Ajarkan teknik batuk efektif Laksanakan fisioterapi dada dan inhalasi manual Kolaborasi : ekspektoran.s1 slankers 30 Oktober.by. vokal fremitus Perkusi : è Resonance. fotonya itu lho Pd banget he.... 2008 06:19 Poskan Komentar Posting Lebih Baru Posting Lama Halaman Muka Langgan: Poskan Komentar (Atom) Web Tautan • • indah nursing. dulness Masalah keperawatan 1.. Intoleransi aktifitas Tujuan : Klien menunjukan peningkatan aktifitas da kekuatan fisik Rencana keperawatan : Monitor toleransi klien terhadap aktifitas Jelaskan penyebab penurunan aktifitas Berikan/pegaturan waktu untuk istirahat yang baik Ajarkan manejemen tenaga pada klien Kolaborasi : oksigenasi.com .. antibiotik 2. Diposkan oleh Dafid.blogspot youtube.

love Reina my.my. love Nayla Berenang Di Laut .

Dengarkan Suara Alam Info keperawatan ini apakah membantu tugas anda Arsip Blog • ► 2009 (3) o ► Juli (3)  Metabolisme protein  Metabolisme Lemak  Metabolisme Karbohidrat ▼ 2008 (27) o ► November (1)  Askep Bronkhitis o ► Mei (1)  Self Concept o ▼ Maret (12)  Gangguan Miksi  Askep Stroke Non Hemoragic  Askep Hipertensi  Askep Aids  Konsep Diri  Konsep Berubah  askep bronkhitis  Infeksi Saluran Kencing  Askep Urolithiasis  Askep Klien BPH  Askep Trauma Saluran Kemih  Air Susu Ibu Vs Susu Bayi Sapi o ► Februari (13) • .

Stikes-Muhammadiyah-Pekajangan Info Lowongan Kerja Dibutuhkan Dosen S. DEFINISI Pneumonia adalah suatu peradangan atau inflamasi pada parenkim paru yang umumnya disebabkan oleh agent infeksi .1 Kebidanan (4 org) Lihat profil lengkapku DANO TOBA ANAK BOSS DARI DUSUN « ASKEP DHF ASKEP PNEUMONIA LAPORAN PENDAHULUAN PNEUMONIA 1.             Kelainan Jantung : VSD Oksigenasi Osteomyelitis Askep Limfadenopaty Askep Fraktur GBPP STIKES Konsep manusia dan kebutuhan dasar Komunikasi Umum Konsep dasar keperawatan I Askep Hernia sehat-sakit Range Of Motion NERS PEKAJANGAN About me Dafid.2 Keperawatan (4 org) Dosen d IV atau S.

Kadang-kadang pneumonia bakterialis dan virus ( contoh: varisella. Bakteri: stapilokokus. Virus: virus influenza.2 Setelah mencapai parenkim paru. Virus. Micoplasma pneumonia 4. dan infiltrasi leukosit polimorfonuklear di alveoli yang diikuti infitrasi makrofag. Ada beberapa mekanisma yang pada keadaan normal melindungi paru dari infeksi. ETIOLOGI Pneumonia dapat disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti: 1. Partikel infeksius difiltrasi di hidung. bakteri menyebabkan respons inflamasi akut yang meliputi eksudasi cairan. Perubahan pada mekanisme protektif ini dapat menyebabkan anak mudah mengalami pneumonia misalnya pada kelainan anatomis kongenital. kerusakan yang disebabkan virus terhadap mekanisme pertahan yang normal dapat menyebabkan bakteri patogen menginfeksi saluran napas bagian bawah. Virus tersebut dapat menyebar ke saluran napas bagian bawah dan menyebabkan pneumonia virus. atau kelainan neurologis yang memudahkan anak mengalami aspirasi dan perubahan kualitas sekresi mukus atau epitel saluran napas. . Bayi pada bulan-bulan pertama kehidupan juga memiliki antibodi maternal yang didapat secara pasif yang dapat melindunginya dari pneumokokus dan organismeorganisme infeksius lainnya.2 4.2 Kemungkinan lain. campak. Bakteri ini dapat merupakan organisme yang pada keadaan normal berkolonisasi di saluran napas atas atau bakteri yang ditransmisikan dari satu orang ke orang lain melalui penyebaran droplet di udara. MANIFESTASI KLINIK • Secara khas diawali dengan awitan menggigil. rubella. Hal ini menyebabkan lepasnya sel-sel epitel ke dalam saluran napas. Jamur: candida albicans 5. virus Epstein-Barr.2. Cairan eksudatif di alveoli menyebabkan konsolidasi lobaris yang khas pada foto toraks. dan juga dengan mekanisme imun sistemik. Bila suatu partikel dapat mencapai paru-paru. aeruginosa. defisiensi imun didapat atau kongenital. CMV. Aspirasi: lambung 3.5 ºC). seperti yang terjadi pada bronkiolitis. partikel tersebut akan berhadapan dengan makrofag alveoler. demam yang timbul dengan cepat (39. dan humoral. • Nyeri dada yang ditusuk-tusuk yang dicetuskan oleh bernafas dan batuk. eneterobacter 2. PATOFISIOLOGI Sebagian besar pneumonia didapat melalui aspirasi partikel infektif. atau terperangkap dan dibersihkan oleh mukus dan epitel bersilia di saluran napas. streplokokus. partikel infeksius dapat mencapai paru melalui perubahan pada pertahanan anatomis dan fisiologis yang normal. virus herpes simpleks ) dapat terjadi melalui penyebaran hematogen baik dari sumber terlokalisir atau bakteremia/viremia generalisata. mikoplasma.5 ºC sampai 40. adenovirus 3. Pada anak tanpa faktor-faktor predisposisi tersebut. deposit fibrin. Ini paling sering terjadi akibat virus pada saluran napas bagian atas. dan klamidia menyebabkan inflamasi dengan dominasi infiltrat mononuklear pada struktur submukosa dan interstisial.

Pemeriksaan serologi: membantu dalam membedakan diagnosis organisme khusus. rimantadine: untuk infeksi pneumonia virus • Eritromisin. • Amantadine. pernafasan cuping hidung. tetrasiklin. PENGKAJIAN Data dasar pengkajian pasien: • Aktivitas/istirahat Gejala : kelemahan. bronchial).• Takipnea (25 – 45 kali/menit) disertai dengan pernafasan mendengur. 4. diberikan nutrisi dengan kalori yang cukup. insomnia Tanda : letargi. Pemeriksaan fungsi paru: untuk mengetahui paru-paru. • Komplikasi sistemik (meningitis) 6. • Menganjurkan untuk tirah baring sampai infeksi menunjukkan tanda-tanda • Pemberian oksigen jika terjadi hipoksemia. Spirometrik static: untuk mengkaji jumlah udara yang diaspirasi 7. dapat juga menyatakan abses) 2. 8. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. PENATALAKSANAAN Pengobatan diberikan berdasarkan etiologi dan uji resistensi tapi karena hal itu perlu waktu dan pasien pneumonia diberikan terapi secepatnya: • Penicillin G: untuk infeksi pneumonia staphylococcus. Biopsi paru: untuk menetapkan diagnosis 6. penurunan toleransi terhadap aktivitas. sputum dan darah: untuk dapat mengidentifikasi semua organisme yang ada. • Bila terjadi gagal nafas. Bronkostopi: untuk menetapkan diagnosis dan mengangkat benda asing 7. • Nadi cepat dan bersambung • Bibir dan kuku sianosis • Sesak nafas 5. derivat tetrasiklin: untuk infeksi pneumonia mikroplasma. Sinar X: mengidentifikasikan distribusi struktural (misal: lobar. kelelahan. 3. menetapkan luas berat penyakit dan membantu diagnosis keadaan. Pemeriksaan gram/kultur. KOMPLIKASI • Efusi pleura • Hipoksemia • Pneumonia kronik • Bronkaltasis • Atelektasis (pengembangan paru yang tidak sempurna/bagian paru-paru yang diserang tidak mengandung udara dan kolaps). 5. .

Bunyi nafas menurun .sputum: merah muda. kulit kering dengan turgor buruk.• Sirkulasi Gejala : riwayat adanya Tanda : takikardia.perpusi: pekak datar area yang konsolidasi . Resiko tinggi terhadap infeksi (penyebaran) berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan sekunder (adanya infeksi penekanan imun). artralgia. Tanda : melindungi area yang sakit (tidur pada sisi yang sakit untuk membatasi gerakan) • Pernafasan Gejala : adanya riwayat ISK kronis. 2. berkarat . penyakit kronis. penampilan kemerahan. pembentukan edema. dispnea. muntah. menggigil berulang. penggunaan steroid.Warna: pucat/sianosis bibir dan kuku • Keamanan Gejala : riwayat gangguan sistem imun misal: AIDS.premikus: taksil dan vocal bertahap meningkat dengan konsolidasi . Nyeri (akut) berhubungan dengan inflamasi parenkim paru. demam. penggunaan alkohol kronis Tanda : DRG menunjukkan rerata lama dirawat 6 – 8 hari Rencana pemulangan: bantuan dengan perawatan diri. 6. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. nyeri dada (meningkat oleh batuk). atau pucat • Makanan/cairan Gejala : kehilangan nafsu makan. Tanda : . gemetar • Penyuluhan/pembelajaran Gejala : riwayat mengalami pembedahan. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen. peningkatan produksi sputum. mual. batuk menetap. malnutrisi. 3. 5. Bersihan jalan nafas tak efektif berhubungan dengan inflamasi trachea bronchial. takipnea (sesak nafas). imralgia. Resiko tinggi terhadap nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan peningkatan . penampilan kakeksia (malnutrisi) • Neurosensori Gejala : sakit kepala daerah frontal (influenza) Tanda : perusakan mental (bingung) • Nyeri/kenyamanan Gejala : sakit kepala. tugas pemeliharaan rumah 9. Tanda : berkeringat. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan kapasitas pembawa oksigen darah. riwayat diabetes mellitus Tanda : sistensi abdomen. 4.

pernafasan dangkal dan gerakan dada tak simetris sering terjadi karena ketidaknyamanan.Bunyi nafas tak normal .Dispnea. Bersihan jalan nafas tak efektif berhubungan dengan inflamasi trachea bronchial.kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses infeksi. . penurunan masukan oral. analgetik diberikan untuk memperbaiki batuk dengan menurunkan ketidaknyamanan tetapi harus digunakan secara hati-hati. catat area penurunan 1 kali ada aliran udara dan bunyi nafas Rasional: penurunan aliran darah terjadi pada area konsolidasi dengan cairan. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan pembawa oksigen darah. 10.Hipoksia . karena dapat menurunkan upaya batuk/menekan pernafasan.Bunyi nafas bersih .Berikan cairan sedikitnya Rasional: cairan (khususnya yang hangat) memobilisasi dan mengeluarkan sekret . 2. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan berlebihan. RENCANA KEPERAWATAN 1. . peningkatan produksi sputum ditandai dengan: . . Jalan nafas efektif dengan kriteria: .Dispnea.Sianosis Intervensi: .Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat sesuai indikasi: mukolitik. sianosis . gangguan pengiriman oksigen ditandai dengan: . eks.Gelisah/perubahan mental .Perubahan frekuensi.Batuk efektif atau tidak efektif dengan/tanpa produksi sputum.Batuk efektif .Takikardia . .Nafas normal . sianosis . Rasional: alat untuk menurunkan spasme bronkus dengan mobilisasi sekret.Auskultasi area paru. kedalaman pernafasan .Penghisapan sesuai indikasi Rasional: merangsang batuk atau pembersihan jalan nafas suara mekanik pada faktor yang tidak mampu melakukan karena batuk efektif atau penurunan tingkat kesadaran. 7.Kaji frekuensi/kedalaman pernafasan dan gerakan dada Rasional : takipnea.Biarkan teknik batuk efektif Rasional : batuk adalah mekanisme pembersihan jalan nafas alami untuk mempertahankan jalan nafas paten.

. Tingkatkan masukan nutrisi adekuat. membran mukosa dan kuku. Resiko tinggi terhadap infeksi (penyebaran) berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan sekunder (adanya infeksi penekanan imun).waktu perbaikan infeksi/kesembuhan cepat tanpa .Batasi pengunjung sesuai indikasi. penyakit kronis.penularan penyakit ke orang lain tidak ada Intervensi: .Tinggikan kepala dan dorong sering mengubah posisi. O2 diberikan dengan metode yang memberikan pengiriman tepat dalam toleransi pe. amantadin.Pantau tanda vital dengan ketat khususnya selama awal terapi Rasional: selama awal periode ini. eritromisin. . master venturi. Tujuan: Infeksi tidak terjadi dengan kriteria: .Observasi warna kulit. Rasional: tindakan ini meningkat inspirasi maksimal. . Rasional: menurunkan penularan terhadap patogen infeksi lain .Kaji status mental. tetrasiklin. amikalin.Sianosis .Gangguan gas teratasi dengan: .Sesak . Rasional: mempertahankan PaO2 di atas 60 mmHg.Tunjukkan teknik mencuci tangan yang baik Rasional: efektif berarti menurun penyebaran/perubahan infeksi. meningkat pengeluaran sekret untuk memperbaiki ventilasi tak efektif. malnutrisi. . Rasional: sianosis kuku menunjukkan vasokontriksi respon tubuh terhadap demam/menggigil namun sianosis pada daun telinga. bingung dan somnolen dapat menunjukkan hipoksia atau penurunan oksigen serebral.Potong keseimbangan istirahat adekuat dengan aktivitas sedang.Kaji frekuensi/kedalaman dan kemudahan bernafas Rasional: manifestasi distress pernafasan tergantung pada indikasi derajat keterlibatan paru dan status kesehatan umum. 3. .Kolaborasi Berikan antimikrobial sesuai indikasi dengan hasil kultur sputum/darah misal penicillin. sepalosporin. Rasional: memudahkan proses penyembuhan dan meningkatkan tekanan alamiah .Kolaborasi Berikan terapi oksigen dengan benar misal dengan nasal plong master.Hipoksia . membran mukosa dan kulit sekitar mulut menunjukkan hipoksemia sistemik.Gelisah Intervensi: . . Catat adanya sianosis perifer (kuku) atau sianosis sentral. Rasional: Obat digunakan untuk membunuh kebanyakan microbial pulmonia. nafas dalam dan batuk efektif. . Rasional: gelisah mudah terangsang. potensial untuk fatal dapat terjadi.Nafas normal .

4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen ditandai dengan: - Dispnea - Takikardia - Sianosis Intoleransi aktivitas teratasi dengan: - Nafas normal - Sianosis - Irama jantung Intervensi - Evaluasi respon pasien terhadap aktivitas Rasional: merupakan kemampuan, kebutuhan pasien dan memudahkan pilihan interan. - Berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung selama fase akut sesuai indikasi. Rasional: menurunkan stress dan rangsangan berlebihan, meningkatkan istirahat. - Jelaskan perlunya istirahat dalam rencana pengobatan dan perlunya keseimbangan aktivitas dan istirahat. - Bantu pasien memilih posisi nyaman untuk istirahat atau tidur. Rasional: pasien mungkin nyaman dengan kepala tinggi, tidur di kursi. - Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan Rasional: meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen. 5. Nyeri berhubungan dengan inflamasi parenkim varul, batuk menetap ditandai dengan: - Nyeri dada - Sakit kepala - Gelisah Nyeri dapat teratasi dengan: - Nyeri dada (-) - Sakit kepala (-) - Gelisah (-) Intervensi: - Tentukan karakteristik nyeri, misal kejan, konstan ditusuk. Rasional: nyeri dada biasanya ada dalam seberapa derajat pada pneumonia, juga dapat timbul karena pneumonia seperti perikarditis dan endokarditis. - Pantau tanda vital Rasional: Perubahan FC jantung/TD menu bawa Pc mengalami nyeri, khusus bila alasan lain tanda perubahan tanda vital telah terlihat. - Berikan tindakan nyaman pijatan punggung, perubahan posisi, musik tenang / berbincangan. Rasional: tindakan non analgesik diberikan dengan sentuhan lembut dapat menghilangkan ketidaknyamanan dan memperbesar efek derajat analgesik. - Aturkan dan bantu pasien dalam teknik menekan dada selama episode batuk. Rasional: alat untuk mengontrol ketidaknyamanan dada sementara meningkat keefektifan upaya batuk.

- Kolaborasi Berikan analgesik dan antitusik sesuai indikasi Rasional: obat dapat digunakan untuk menekan batuk non produktif atau menurunkan mukosa berlebihan meningkat kenyamanan istirahat umum. 6. Resiko tinggi terhadap nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses inflamasi ditandai dengan tujuan: Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh dapat diatasi dengan: - Pasien menunjukkan peningkatan nafsu makan - Pasien mempertahankan meningkat BB Intervensi - identifikasi faktor yang menimbulkan mual/muntah, misalnya: sputum, banyak nyeri. Rasional: pilihan intervensi tergantung pada penyebab masalah - Jadwalkan atau pernafasan sedikitnya 1 jam sebelum makan Rasional: menurun efek manual yang berhubungan dengan penyakit ini - Berikan makan porsi kecil dan sering termasuk makanan kering (roti panggang) makanan yang menarik oleh pasien. Rasional: tindakan ini dapat meningkat masukan meskipun nafsu makan mungkin lambat untuk kembali. - Evaluasi status nutrisi umum, ukur berat badan dasar. Rasional: adanya kondisi kronis keterbatasan ruangan dapat menimbulkan malnutrisi, rendahnya tahanan terhadap inflamasi/lambatnya respon terhadap terapi. 7. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan berlebihan, demam, berkeringat banyak, nafas mulut, penurunan masukan oral. Kekurangan volume cairan tidak terjadi dengan kriteria: Pasien menunjukkan keseimbangan cairan dibuktikan dengan parameter individual yang tepat misalnya membran mukosa lembab, turgor kulit baik, tanda vital stabil. Intervensi: - Kaji perubahan tanda vital contoh peningkatan suhu demam memanjang, takikardia. Rasional: peningkatan suhu/memanjangnya demam meningkat laju metabolik dan kehilangan cairan untuk evaporasi. - Kaji turgor kulit, kelembapan membran mukosa (bibir, lidah) Rasional: indikator langsung keadekuatan volume cairan, meskipun membran mukosa mulut mungkin kering karena nafas mulut dan O2 tambahan. - Catat laporan mual/muntah Rasional: adanya gejala ini menurunkan masukan oral - Pantau masukan dan keluaran catat warna, karakter urine. Hitung keseimbangan cairan. Ukur berat badan sesuai indikasi. Rasional: memberikan informasi tentang keadekuatan volume cairan dan keseluruhan penggantian.

- Tekankan cairan sedikit 2400 mL/hari atau sesuai kondisi individual Rasional: pemenuhan kebutuhan dasar cairan menurunkan resiko dehidrasi. - Kolaborasi Beri obat indikasi misalnya antipiretik, antimitik. Rasional: berguna menurunkan kehilangan cairan Berikan cairan tambahan IV sesuai keperluan Rasional: pada adanya penurunan masukan banyak kehilangan penggunaan dapat memperbaiki/mencegah kekurangan 11. IMPLEMENTASI Dilakukan sesuai dengan rencana tindakan menjelaskan setiap tindakan yang akan dilakukan sesuai dengan pedoman atau prosedur teknik yang telah ditentukan. 12. EVALUASI Kriteria keberhasilan: - Berhasil Tuliskan kriteria keberhasilannya dan tindakan dihentikan - Tidak berhasil Tuliskan mana yang belum berhasil dan lanjutkan tindakan. 13. DAFTAR PUSTAKA 1. Doenges, Marilynn, E. dkk. Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, 2000. EGC, Jakarta. 2. Bare Brenda G, Smeltzer Suzan C. Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8, Vol. 1, EGC, Jakarta. 3. Price Anderson Sylvia, Milson McCarty Covraine, Patofisiologi, buku-2, Edisi 4, EGC, Jakarta. 4. Tim Penyusun. Ilmu Penyakit Dalam, Edisi 3. Volume II, 2001, FKUI.
This entry was posted on Saturday, April 18th, 2009 at 2:55 am and is filed under Uncategorized. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

þÿ

Name (required) Mail (will not be published) (required) Website

þÿ

þÿ

2009 Askep Abses paru merupakan lesi nekrotik setempat pada parenkim paru . þÿ Submit Comment Powered by Blog. lesi mengalami kolaps dan membentuk ruang. B.com Entries (RSS) and Comments (RSS). Try again.Type the two words:Type what you hear:Incorrect.16.bahan purulen. 16 Askep Abses paru AKPER PPNI SOLO. ETIOLOGI . 8.

Pemeriksaan fisik dada a. bila yang masuk basil saja maka akan timbul pneumonia. spiroketa. Sputum berupa pus dengan pengecatan gram terdapat dengan leukosit dan ditentukan . embolisme paru atau trauma dada PASIEN YANG BERISIKO: 1. 1. tenggorokan. Darah: LED meningkat. Anoreksia 6. PEMERIKSAAN DIAGNOSIS 1. Dengan kerusakan kesadaran karena anestesi. stroke) 4. Dispnea 4. Perluasan ke pleura sering terjadi. Auskultasi: penurunan sampai tidak terdengarnya bunyi napas atau krekles 2. Nekrotisasi pneumonia.Tuberkulosis. D. C. Hubungan dengan bronkus dapat terjadi sehingga pus atau jaringan nekrotik dapat dikeluarkan. menyebar ke parenkim paru dikelilingi oleh jaringan granulasi. TANDA DAN GEJALA Gejala timbul satu sampai tiga hari setelah aspirasi. Perkusi: pekak b. PATOLOGI Proses dimulai di bronki/bronkioli. Dalam keadaan berbaring menuju ke subsegmen apikal lobus superior atau segmen superior lobus inferior. benda asing atau stenosis bronkial) 3. penderita mendadak batuk pus bercampur darah dalam jumlah banyak. Batuk dan nyeri pleuritik (jawa: kemeng) 3. Penurunan berat badan Bila tidak diobati gejala akan terus meningkat sampai kurang lebih hari ke sepuluh. Obstruksi mekanik atau fungsional bronki (tumor. Yang mengalami kesulitan mengunyah 3. Dengan kerusakan reflek batuk dan tidak mampu menutup glotis 2. dll) 2. Abses timbul bila organisme yang masuk ke paru bersama-sama dengan material yang terhirup yang akan membuntu sal. termasuk aerob dan aerob seperti Streptokokus. Leukosit 20-30rb/mm3 b. mungkin juga berbau busuk (infeksi basil anaerob) E. Mikroorganisme penyebab dapat berasal dari bermacam-macam basil dari flora mulut. hidung. Sianosis 5.1. gangguan saraf pusat (kejang. Drainase dan pengobatan yang tidak memadai akan menyebabkan abses menjadi menaun. Infeksi karena aspirasi dari saluran napas. Laboratorium a.napas dengan akibat timbulnya atelektasis dengan infeksi. Malaise dengan panas badan disertai menggigil 2. Dengan selang nasogastrik 5. Dengan pneumonia TEMPAT ABSES Berhubungan dengan pengumpulan akibat gaya gravitasi yang ditentukan oleh posisi klien pada waktu terjadinya aspirasi.

5. Penkes jika klien menjalani pembedahan (prwtn luka. Fisioterapi dada utk memudahkan drainase abses 3. Latih batuk efektif agar pengembangan paru max. 3. Ketidakefektifan manajemen regimen terapeutik b. B: BREATHING a. F. fisioterapi dada). nutrisi. Dosis IV yg banyak diperlukan karena antibiotik harus menembus jaringan nekrotik dan cairan dlm abses. Kelemahan (fatigue) 6. Terapi antibiotik pd pasien yg mengalami infeksi (pd gigi dan gusi) saat pencabutan gigi 2. Reseksi paru (lobektomi) Tindakan yg akan mengurangi risiko terjadinya abses. 1.d penumpukan sekret 2. napas dalam. PROSES KEPERAWATAN Diagnosa yang mungkin muncul: 1. Gangguan tidur 5. Beri dukungan secara emosional b. batuk efektif. kemudian setelah kira-kira hari ke sepuluh.bermacam-macam basil. Terapi antimikroba yg sesuai dg resep pd pasien dg pneumonia G. Drainase adekuat abses paru (drainase postural dan fisioterapi dada) 3. PENATALAKSANAAN MEDIS 1. Ketidakefektifan pola napas b. Diet tinggi protein dan kalori utk katabolik pd infeksi kronik dan mempercepat penyembuhan 4. A: AIRWAY Ketidakefektifan bersihan jalan napas b. pentingnya penyelesaian regimen antibiotik . Dorong asupan diet:TKTP 6. Terapi antimikroba intravena berdasar kultur dan sensitivitas pd sputum. Antibiotik oral utk mengganti IV setelah ada tanda perbaikan (suhu tbh normal. Ajarkan napas dalam 4. 2. jaringan nekrotik di dalamnya dikeluarkan dan meninggalkan kavitas dengan “air fluid level” yang berkarateristik.d lamanya waktu pengobatan Intervensi keperawatan: 1. hitung Leukosit menurun. Gangguan pertukaran gas 3. Rontgen dada: pada mulanya memberi gambaran konsolidasi seperti pada pneumonia. PK: Infeksi 7. Pertahankan kebersihan gigi dan mulut scr adekuat 3. Awasi terapi antibiotik yg diberikan pd klien: sesuai resep dan awasi efek samping yg merugikan (Pastikan klien menyelesaikan seluruh dosis terapi) 2. 5. tekankan istirahat. Bedah jarang dilakukan. perbaikan gmbrn rontgen.d lamanya waktu penyembuhan 7. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh 4.

penyakit sistemik atau komplikasi dari paska obstruksi. Abses besar atau abses kecil mempunyai manifestasi klinik berbeda namun mempunyai predisposisi yang sama dan prinsip diferensial diagnose sama pula. 2008 OLeh : Hendra Arif Abses paru adalah suatu kavitas dalam jaringan paru yang berisi material purulent berisikan sel radang akibat proses nekrotik parenkim paru oleh proses terinfeksi . epilepsi tak terkontrol. Bila diameter kavitas < 2 cm dan jumlahnya banyak (multiple small abscesses) dinamakan “necrotising pneumonia”. penurunan mekanisme pertahanan tubuh atau virulensi kuman yang tinggi. Pada negara-negara maju jarang dijumpai kecuali penderita dengan gangguan respons imun seperti penyalahgunaan obat.Baca Juga Artikel Dibawah askep medikal • • • • • • askep ARDS ( Acute Respiratory Distress Syndrome) Askep Pneumonia Askep Bronchopneumonia Askep TBC Paru Askep Hipertensi Askep Gastritis di 7:35 AM Label: askep medikal 0 komentar: Post a Comment BSES PARU Agustus 7. Pada umumnya kasus Abses paru ini berhubungan dengan karies gigi. Pada beberapa studi didapatkan bahwa . Abses timbul karena aspirasi benda terinfeksi. kerusakan paru sebelumnya dan penyalahgunaan alkohol.

2. kadang terjadi aspirasi pada bagian lain bronkus terbentuk abses baru. Insidens Angka kejadian Abses Paru berdasarkan penelitian Asher et al tahun 1982 adalah 0. Pada umumnya para klinisi menggunakan kombinasi antibiotik sebagai terapi seperti penisilin. 10). Merupakan proses lanjut pneumonia inhalasi bakteria pada penderita dengan faktor predisposisi. metronidazole dan golongan aminoglikosida pada abses paru.000 penderita yang masuk rumah sakit hampir sama dengan angka yang dimiliki oleh The Children’s Hospital of eastern ontario Kanada sebesar 0. yang menimbulkan nekrosis dan likuifikasi. Etiologi Kuman atau bakteri penyebab terjadinya Abses paru bervariasi sesuai dengan peneliti dan teknik penelitian yang digunakan. Pembentukan jaringan granulasi terjadi mengelilingi abses. Sedangkan penelitian dengan teknik biopsi perkutan atau aspirasi transtrakeal ditemukan terbanyak adalah kuman anaerob. infeksi kemudian proses supurasi dan nekrosis. Adanya super infeksi bakteri yang mengakibatkan Nosokonial Pneumoni. Perubahan reaksi radang pertama dimulai dari suppurasi dan trombosis pembuluh darah lokal. Potensi reaksi keracunan obat tinggi 3. terapi dan prognosa sebagai penyegaran teori yang sudah ada. Walaupun masih efektif. Angka kematian yang disebabkan oleh Abses paru terjadi penurunan dari 30 – 40 % pada era preantibiotika sampai 15 – 20 % pada era sekarang (7). 1. terapi kombinasi masih memberikan beberapa permasalahan sebagai berikut : (4) 1. Terapi ideal harus berdasarkan penemuan kuman penyebabnya secara kultur dan sensitivitas. Penelitian pada penderita Abses paru nosokonial ditemukan kuman aerob seperti golongan enterobacteriaceae yang terbanyak.67 tiap 100.6 : 1 (1. Bakteri mengadakan multiplikasi dan merusak parenkim paru dengan proses . Sputumnya biasanya berbau busuk. 3. Mendorong terjadinya resistensi antibiotika. melokalisir proses abses dengan jaringan fibrotik. Asher dan Beandry mendapatkan bahwa pada anak-anak kuman penyebab abses paru terbanyak adalah stapillococous aureus (1). 3. PATHOFISIOLOGI Garry tahun 1993 mengemukakan terjadinya abses paru disebutkan sebagai berikut : (5) a.kuman aerob maupupn anaerob dari koloni oropharing yang sering menjadi penyebab abses paru. Dengan rasio jenis kelamin laki-laki banding wanita adalah 1.000 penderita anak-anak yang MRS. Finegolal dan fisliman mendapatkan bahwa organisme penyebab abses paru lebih dari 89 % adalah kuman anaerob. 2. Waktu perawatan di RS yang lama 2. bila abses pecah ke rongga pleura maka terjadi empyema (2. Pada makalah ini akan dibahas Abses paru mulai patogenesis. lalu jaringan nekrosis keluar bersama batuk. Suatu saat abses pecah. 4. 8).7 dari 100. PATHOFISIOLOGI 1. PATHOLOGI Abses paru timbul bila parenkim paru terjadi obstruksi.

Pemeriksaan laboratorium (2. c. Kadang-kadang dijumpai juga pada obstruksi karena pembesaran kelenjar limphe peribronkial. 3. suara nafas yang meningkat. 9) Pada foto torak terdapat kavitas dengan dinding tebal dengan tanda-tanda konsolidasi disekelilingnya. d. Laju endap darah ditemukan meningkat > 58 mm / 1 jam. Pembentukan kavitas pada kanker paru. Pada hitung jenis sel darah putih didapatkan pergeseran shit to the left b. MANIFESTASI KLINIS. Pada pemeriksaan darah rutin. b. 2. 4. Produksi sputum yang meningkat dan Foetor ex oero dijumpai berkisar 40 – 75% penderita abses paru. 3. Bila terjadi infeksi dapat terbentuk abses. Pertumbuhan massa kanker bronkogenik yang cepat tidak diimbangi peningkatan suplai pembuluh darah. meningkat lebih dari 12. pada stadium awal non produktif. d. Pemeriksaan sputum dengan pengecatan gram tahan asam dan KOH merupakan pemeriksaan awal untuk menentukan pemilihan antibiotik secara tepat. 25% kasus)± Batuk darah ( f. Kavitas ini bisa multipel atau 2 – 20 cm. 2. Panas badan Dijumpai berkisar 70% – 80% penderita abses paru. b. sehingga terjadi likuifikasi nekrosis sentral. 5) a. penurunan nafsu makan dan berat badan.nekrosis. Batuk. 5. Bila terjadi hubungan rongga abses dengan bronkus batuknya menjadi meningkat dengan bau busuk yang khas (Foetor ex oroe (4075%). Pada penderita emphisema paru atau polikisrik paru yang mengalami infeksi sekunder. c. Pada pemeriksaan dijumpai tanda-tanda proses konsolidasi seperti redup. 6) Gejala klinis yang ada pada abses paru hampir sama dengan gejala pneumonia pada umumnya yaitu: a. Obstruksi bronkus dapat menyebabkan pneumonia berlajut sampai proses abses paru. maka terbentuklah air fluid level bakteria masuk kedalam parenkim paru selain inhalasi bisa juga dengan penyebaran hematogen (septik emboli) atau dengan perluasan langsung dari proses abses ditempat lain (nesisitatum) misal abses hepar. Gejala klinis : (1. Tetapi bila tidak ada hubungan maka hanya dijumpai tanda-tanda konsolidasi (opasitas). Kadang dijumpai dengan temperatur > 400C. 3.700/mm3. Ditentukan leukositosis. 1.φ tunggal dengan ukuran Gambaran ini sering dijumpai pada paru kanan lebih dari paru kiri. Pemeriksaan kultur bakteri dan test kepekaan antibiotikan merupakan cara terbaik . akibat inhalasi bakteri mengalami proses keradangan supurasi. Bila terdapat hubungan dengan bronkus maka didalam kavitas terdapat Air fluid level. sering dijumpai adanya jari tabuh serta takikardi. c.000/mm3 (90% kasus) bahkan pernah dilaporkan peningkatan sampai dengan 32. Gejala tambahan lain seperti lelah. Bila berhubungan dengan bronkus. Gejala yang sama juga terlihat pada aspirasi benda asing yang belum keluar. 2. Pada beberapa penderita tuberkolosis dengan kavitas. 50% kasus)± Nyeri dada ( e. Kavitas yang mengalami infeksi. Gambaran Radiologis (1. 4. Hal ini sering terjadi pada obstruksi karena kanker bronkogenik.

Ada riwayat trauma. 2.dalam menegakkan diagnosa klinis dan etiologis. 3. Ada beberapa modalitas terapi yang diberikan pada abses paru : (2. IV. tampak air fluid level. Hiatus hernia. 3. Batuk hanya sedikit. Diagnosa Banding (2) : 1. Pada tuberkulosis didapatkan BTA dan pada infeksi jamur ditemukan jamur. 4. 5. PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan Abses paru harus berdasarkkan pemeriksaan mikrobiologi dan data penyakit dasar penderita serta kondisi yang mempengaruhi berat ringannya infeksi paru. Diagnosa harus ditegakkan berdasarkan : (1. Maka bisa dipikrkan untuk memilih kombinasi antibiotika antara golongan . Kista paru yang terinfeksi. Hasil pemeriksaan fisik yang mendukung adanya data tentang penyakit dasar yang mendorong terjadinya abses paru. Dindingnya tipis dan tidak ada reaksi di sekitarnya. Tidak ada gejala paru. 7. 6) 1. Pneumokoniosis yang mengalami kavitasi. panas badan yang ringan. trauma atau serangan epilepsi. adanya air fluid level yang berubah posisi sesuai dengan gravitasi. Diagnosis pasti dengan pemeriksaan barium foto. Hematom paru. Pemeriksaan laboratorium sputum gram. Bula yang terinfeksi. Pilihan pertama antibiotika adalah golongan Penicillin pada saat ini dijumpai peningkatan Abses paru yang disebabkan oleh kuman anaerobs (lebih dari 35% kuman gram negatif anaerob). 4. Keluhan penderita yang khas misalnya malaise. Sekuester paru. 10) 1. 2. Adanya riwayat penurunan kesadaran berkaitan dengan sedasi. Medika Mentosa Pada era sebelum antibiotika tingkat kematian mencapai 33% pada era antibiotika maka tingkat kkematian dan prognosa abses paru menjadi lebih baik. Nyeri restrosternal dan heart burn bertambah berat pada waktu membungkuk. Riwayat penyakit sebelumnya. Gejala klinisnya hampir sama atau lebih menahun daripada abses paru. Di sekitar bula tidak ada atau hanya sedikit konsolidasi. dan batuk yang produktif. Riwayat penyalahgunaan obat yang mungkin teraspirasi asam lambung waktu tidak sadar atau adanya emboli kuman diparu akibat suntikan obat. penurunan berat badan. Diagnosis pasti dengan bronkografi atau arteriografi retrograd. 8. 9. 4. 2. 5. DIAGNOSA Diagnosa abses paru tidak bisa ditegakkan hanya berdasarkan kumpulan gejala seperti pneumonia dan pemeriksaan phisik saja. Diagnosis pasti dengan pemeriksaan sitologi/patologi. 4. Karsimoma bronkogenik yang mengalami kavitasi. V. Pekerjaan penderita jelas di daerah berdebu dan didapatkan simple pneumoconiosis pada penderita. Letak di basal kiri belakang. 9. kultur darah yang dapat mengarah pada organisme penyebab infeksi. 6. Gambaran radiologis yang menunjukkan kavitas dengan proses konsolidasi disekitarnya. Tuberkulosis paru atau infeksi jamur 3. biasanya dinding kavitas tebal dan tidak rata. Bronkoskopi Fungsi Bronkoskopi selain diagnostik juga untuk melakukan therapi drainase bila kavitas tidak berhubungan dengan bronkus. 5. 5.

2. Lesi obstruksi d. Perawatan yang terlambat VII. Bakteri aerob e. Atelektasis d. Waktu pemberian antibiotika tergantung dari gejala klinis dan respon radiologis penderita. pada penderita dengan pneumonia nosokomial yang berkembang menjadi Abses paru. Penderita diberikan terapi 2-3 minggu setelah bebas gejala atau adanya resolusi kavitas. atau kombinasi clindamycin dan Cefoxitin. Bedah Reseksi segmen paru yang nekrosis diperlukan bila: a. Sepsis 2. RINGKASAN Abses paru adalah suatu kavitas dalam jaringan paru yang berisi material purulent dan sel . 3. Prognosa Abses paru masih marupakan penyebab morbiditas dan mortalitas yang signifikan. Alternatif lain adalah kombinasi Imipenem dengan B Lactamase inhibitase. Beberapa komplikasi yang timbul adalah : (4.penicillin G dengan clindamycin atau dengan Metronidazole. VI. Empyema b. Pada penderita Abses paru yang tidak berhubungan dengan bronkus maka perlu dipertimbangkan drainase melalui bronkoskopi. Perlman et al menemukan bahwa 2% angka kematian pada penderita dengan satu faktor predisposisi dibandingkan 75% pada penderita dengan multi predisposisi. Beberapa faktor yang memperbesar angka mortalitas pada Abses paru sebagai berikut : (7) a. jadi diberikan antibiotika minimal 2-3 minggu. Immune Compromised f. Infeksi paru yang berulang d. Angka kematian Abses paru berkisar antara 15-20% merupakan penurunan bila dibandingkan dengan era pre antibiotika yang berkisar antara 30-40% (7). φ Abses yang besar ( > 5-6 cm) c. Usia tua g. Drainage Drainase postural dan fisiotherapi dada 2-5 kali seminggu selama 15 menit diperlukan untuk mempercepat proses resolusi Abses paru. Anemia dan Hipo Albuminemia b.4% angka kematian Abses paru karena CAP dibanding 66% Abses paru karena HAP. Abses otak c. Abses yang besar sehingga mengganggu proses ventilasi perfusi c. Gangguan intelegensia h. 5) a. KOMPLIKASI DAN PROGNOSA 1. Adanya gangguan drainase karena obstruksi. Respon yang rendah terhadap therapi antibiotika. b. Pada penderita dengan beberapa faktor predisposisi mempunyai prognosa yang lebih jelek dibandingkan dengan penderita dengan satu fakktor predisposisi. Muri et al melaporkan 2.

Pada abses paru memberikan gejala klinis panas. DAFTAR PUSTAKA Asher MI. Klein JS et al . 1997 . 1990 : 429 – 34. Diagnosis pasti bila didapatkan biakan kuman penyebab sehingga dapat dilakukan terapi etiologis. Huseby JS . 1998 . Hirshberg B et al . Garry et al . 119 – 120. 413 – 15. epilepsi). dkk . Phildelphia . Assegaff H. 937 – 41. 136 – 41. 746 – 52. gangguan kesadaran (anestesi. AUP . Barlett JG .radang akibat proses nekrotik parenkim paru oleh proses infeksi. 108 . Lung Abscess in a Lange Clinical Manual : Internal Medicina : Diagnosis and Therapy 3rd . Empyema and Lung Abscess . Pemberian antibiotika merupakan pilihan utama disamping terapi bedah dan terapi suportif fisio terapi. Canada . Fishman JA . Lung Abscess in : Cecil text book of Medicine 19th ed . and Pneumothorax . Oklahoma . Chest . Johnson KM. 115 . Abses Paru dalam Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Paru . 1995 . 2021 – 32. Pada pemeriksaan foto polos dada didapatkan gambaran kavitas dengan air fluid level atau proses konsolidasi saja bila kavitas tidak berhubungan dengan bronkus. Finegold SM. 109 – 13. 581 – 88. 1992 . 164 . 1 . 3 . Beadry PH . in Fishman’s pulmonary Diseases and disorders 3rd ed . 1995 . Chest 111 . AJR . Hammond JMJ et al . . disertai malaise. naspu makan dan berat badan yang turun. sputum purulen dan berbau. Lung Abscess Caused by Legionella micdadei . Interventional Radiology of The Chest : Image Guided Percutaneons Drainage of Pleural Effusions. Pada pemeriksaan fisik didapatkan takikardia. 4 . Surabaya . Lung Abscess in infections of Respicatory tract . batuk. oral higine yang kurang serta obstruksi dan aspirasi benda asing. Lung Abscess. 1999 . tanda-tanda konsolidasi. Factors predicting mortality of patients with lung Abscsess . Philadelphia . The Ethiology and Anti Microbial Susceptibility Patterns of Microorganism in acute Commuity – Acquired Lung Abscess . Abses paru timbul karena faktor predisposisi seperti gangguan fungsi imun karena obat-obatan. Chest . 1993 .

Allergic broucho pulumonary aspergillosis with multiple Streptococceus pneumonie Lung Abscess : an unussual insitial case presentation . 104 . kemudian meningkat setelah masa remaja di mana TB paru-paru menyerupai kasus pada pasien dewasa (sering disertai lubang/kavitas pada paru-paru). 238 – 40. Anak lebih sering mengalami TB luar paru-paru (extrapulmonary) dibanding TB paru-paru dengan perbandingan 3:1. Biasanya timbul pada lingkungan rumah dengan kepadatan tinggi yang tidak memungkinkan cahaya matahari masuk ke dalam rumah. Entry Filed under: Kesehatan. joutnal of allergy and clinical imonoligy . 2008 Proses keperawatan pada pasien dengan Tuberculosa dengan pendekatan 5 langkah proses keperawatan sebagai berikut : 1. Angka kejadian (prevalensi) TB paru-paru pada usia 5-12 tahun cukup rendah. namun usia paling umum adalah antara 1-4 tahun.Ricaurte KK et al . TB pada anak dapat terjadi pada usia berapa pun. .. Pengkajian a. INDRA | Mei 25. 1 Comment Add your own • 1. TB luar paru-paru dan TB yang berat terutama ditemukan pada usia < 3 tahun. 1 1999 . Bio Data Penyakit Tuberkulosa dapat menyerang dari mulai anak sampai dengan dewasa dengan komposisi antara laki-laki dan perempuan yang hampir sama menderita. .1. 2009 at 5:03 am emang w nnya Leave a Comment Name Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan TBC Paru Posted By irman somantri on May 28.

batuk ini terjadi untuk membuang/mengeluarkan produksi radang. karena biasanya penyakit ini muncul bukan karena sebagai penyakit keturunan tetapi merupakan penyakit infeksi menular. kasar dan nyaring. 2) Ziehl Neelsen (Acid-fast Staind applied to smear of body fluid) : positif untuk BTA 3) Skin Test (PPD. nafsu makan menurun. . Perubahan mengindikasikanTB yang lebih berat dapat mencakup area berlubang dan fibrous. Pada foto thorax tampak pada sisi yang sakit bayangan hitam dan diafragma menonjol ke atas. 4) Nyeri dada : ini jarang ditemukan. febris (40-41 2) Batuk : terjadi karena adanya iritasi pada bronchus. deposit kalsium pada lesi primer yang membaik atau cairan pada effusi. keringat malam.°1) Demam : subfebris. 4) Chest X-Ray : dapat memperlihatkan infiltrasi kecil pada lesi awal di bagian paru-paru bagian atas. timbul 48 – 72 jam setelah injeksi antigen intradermal) mengindikasikan infeksi lama dan adanya antibodi tetapi tidak mengindikasikan penyakit sedang aktif. 3) Sesak nafas : bila sudah lanjut dimana infiltrasi radang sampai setengah paru. sesak nafas. 6) Pada atelektasis terdapat gejala berupa : cyanosis. Pemeriksaan Fisik • Pada tahap dini sulit diketahui. nyeri otot. sakit kepala. dimulai dari batuk kering sampai dengan batuk purulen (menghasilkan sputum). 5) Malaise : ditemukan berupa anorexia. berat badan menurun. Vollmer Patch) : reaksi positif (area indurasi 10 mm atau lebih. • Ronchi basah. Pemeriksaan Tambahan 1) Sputum Culture : Positif untuk mycobacterium tuberkulosa pada stadium aktif. nyeri timbul bila infiltrasi radang sampai ke pleura sehingga menimbulkan pleuritis. • Pada keadaan lanjut Atropi dan retraksi interkostal dan fibrosis • Bila mengenai pleura terjadi effusi pleura (perkusi memberikan suara pekak) d. Tine. 7) Perlu ditanyakan dengan siapa pasien tinggal. • Hipersonor/timpani bila terdapat kavitas yang cukup dan pada auskultasi memberikan suara umforik. Bagian dada klien tidak bergerak pada saat bernafas dan jantung terdorong ke sisi yang sakit. Riwayat Kesehatan Keluhan yang sering muncul antara lain : C) hilang timbul. Mantoux.b. kolaps. c.

8. Sebagian besar kuman terdiri atas asam lemak (lipid). 10) Darah : lekositosis. tergantung lokasi. Etiologi Tuberkulosis paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh basil mikrobakterium tuberkulosis tipe humanus. ABGs : mungkin abnormal. LED meningkat. 6) Needle Biopsi of Lung Tissue : positif untuk granuloma TB.org/irp/imint/docs/rst/Intro/Part2_26b. sejenis kuman yang berbentuk batang dengan ukuran panjang 1-4/mm dan tebal 0. berat dan sisa kerusakan paru. 11) Test Fungsi Paru : VC menurun. misalnya hiponatremia mengakibatkan retensi air. adanya sel-sel besar yang mengindikasikan nekrosis. mungkin ditemukan pada TB paru kronik lanjut. TLC meningkat dan menurunnya saturasi oksigen yang merupakan gejala sekunder dari fibrosis/infiltrasi parenchim paru dan penyakit pleura.3-0.fas.Gambar 15 : Foto Rontgen Klien Tuberkulosa Paru (Sumber : www. 9) Bronchografi : merupakan pemeriksaan khusus untuk melihat kerusakan bronchus atau kerusakan paru karena TB. 7) Elektrolit : mungkin abnormal tergantung dari lokasi dan beratnya infeksi.12.6/mm. Lipid inilah yang membuat kuman lebih tahan terhadap asam dan lebih tahan terhadap .html) 5) Histologi atau Culture jaringan (termasuk kumbah lambung.2009 Askep TBC Paru atau sering dikenal dengan TB paru adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tubeculosis. Dead Space meningkat. Askep TBC Paru AKPER PPNI SOLO. biopsi kulit) : positif untu mycobacterium tuberkulosa. urine dan CSF.

yang sebenarnya dapat dicegah. sehingga bagian apikal ini merupakan tempat predileksi penyakit tuberkulosis. M. maka terjadilah infeksi primer (ghon) selanjutnya menyebar kekelenjar getah bening setempat dan terbentuklah primer kompleks (ranke). diperkirakan setiap tahun terjadi sekitar sembilan juta penderita dengan kematian tiga juta orang (WHO. tuberculosis juga dapat masuk ke dalam tubuh melalui saluran pencernaan dan luka terbuka pada kulit (lebih jarang). Tuberkulosis juga telah menyebabkan kematian lebih banyak terhadap wanita dibandingkan dengan kasus kematian karena kehamilan. Kuman ini tahan hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin (dapat tahan bertahun-tahun dalam lemari es). terutama penderita menular (BTA positif). Tuberkulosis yang kebanyakan didapatkan pad usia 1-3 tahun. Di samping penularan melalui saluran pernapasan (paling sering). 75 % adalah kelompok usia produktif (15-50 tahun). Penularan umumnya terjadi di dalam ruangan dimana droplet nuclei dapat tinggal di udara dalam waktu lebih lama. Tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi penting saluran pernapasan. 1997). Di bawah sinar matahari langsung basil tuberkel mati dengan cepat tetapi dalam ruang yang gelap lembab dapat bertahan sampai beberapa jam. Dari sifat dormant ini kuman dapat bangkit kembali dan menjadikan tuberkulosis aktif kembali. Proses Penularan Tuberkulosis tergolong airborne disease yakni penularan melalui droplet nuclei yang dikeluarkan ke udara oleh individu terinfeksi dalam fase aktif. Hal ini terjadi karena kuman berada dalam sifat dormant. yang dalam perjalanannya sebagian besar akan mengalami penyembuhan. Pada tahun 1995. Sedangkan yang disebut tuberkulosis post primer (reinfection) adalah peradangan jaringan paru oleh karena terjadi penularan ulang yang mana di dalam tubuh terbentuk kekebalan spesifik terhadap basil tersebut. Dua faktor penentu keberhasilan pemaparan Tuberkulosis pada individu baru yakni konsentrasi droplet nuclei dalam udara dan panjang waktu individu bernapas dalam udara yang terkontaminasi tersebut di samping daya tahan tubuh yang bersangkutan. Setiapkali penderita ini batuk dapat mengeluarkan 3000 droplet nuclei. Program penaggulangan secara terpadu baru dilakkan pada tahun 1995 melalui strategi DOTS (directly observed treatment shortcourse chemoterapy). Dalam hal ini tekanan bagian apikal paru-paru lebih tinggi dari pada bagian lainnya. Sifat ini menunjukkan bahwa kuman lebih menyenangi jaringan yang tinggi kandungan oksigennya. Insiden Penyakit tuberkulosis adalah penyakit yang sangat epidemik karena kuman mikrobakterium tuberkulosa telah menginfeksi sepertiga penduduk dunia. keduanya dinamakan tuberkulosis primer. . Diperkirakan 95 % penyakit tuberkulosis berada di negara berkembang. penyakit tuberkulosis tidak terkendali. Kegelisahan global ini didasarkan pada fakta bahwa pada sebagian besar negara di dunia. Di negara-negara berkembang kematian karena penyakit ini merupakan 25 % dari seluruh kematian. Tuberkulosis paru primer. meskipun sejak tahun 1993 telah dicanangkan kedaruratan global penyakit tuberkulosis. hal ini disebabkan banyak penderita yang tidak berhasil disembuhkan. Sifat lain kuman adalah aerob. peradangan terjadi sebelum tubuh mempunyai kekebalan spesifik terhadap basil mikobakterium. Basil mikrobakterium tersebut masuk kedalam jaringan paru melalui saluran napas (droplet infection) sampai alveoli.gangguan kimia dan fisik.

Seluruh saluran udara ke bawah sampai tingkat bronkbiolus terminalis disebut saluran penghantar udara karena fungsi utamanya adalah sebagai penghantar udara ke tempat pertukaran gas paru-paru. Laringx (tenggorok) terletak di depan bagian terendah farinx yang mernisahkan dari columna vertebrata. Alveolus yaitu tempat pertukaran gas assinus terdiri dari bronkhiolus dan respiratorius . Bronchus yang terbentuk dari belahan dua trachea pada ketinggian kira-kira vertebrata torakalis kelima. dan nomor satu dari golongan penyakit infeksi. selain itu juga membuat beberapa jaringan otot. Anatomi dan Fisiologi Saluran penghantar udara hingga mencapai paru-paru adalah hidung. Bronkus-bronkus itu berjalan ke bawah dan kesamping ke arah tampuk paru. rongga hidung. farinx. adalah pipa berotot yang berjalan dari dasar tengkorak sampai persambungannya dengan oesopagus pada ketinggian tulang rawan krikoid. berjalan dari farinx. sampai ketinggian vertebrata servikals dan masuk ke dalarn trachea di bawahnya. Bronkhiolus tidak diperkuat oleh cincin tulang rawan. dan berjalan di bawah arteri pulmonalis sebelurn di belah menjadi beberapa cabang yang berjalan kelobus atas dan bawah. mempunyai struktur serupa dengan trachea dan dilapisi oleh. hasil survey kesehatan rumah tangga (SKRT) menunjukkan bahwa penyakit tuberkulosis merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit jantung dan penyakit infeksi saluran pernapasan pada semua kelompok usia. Trachea tersusun atas 16 . (rongga) hidung. larinx trachea. Saluran-saluran itu bermuara ke dalam bagian yang dikenal sebagai vestibulum. Cabang utama bronchus kanan dan kiri bercabang lagi menjadi bronchus lobaris dan kernudian menjadi lobus segmentalis. Farinx (tekak) . bronkus.jenis sel yang sama. WHO memperkirakan setiap tahun menjadi 583. yaitu saluran udara terkecil yang tidak mengandung alveoli (kantong udara).000 penduduk Indonesia terdapat 130 penderita baru tuberkulosis dengan BTA positif. Bronckus kanan lebih pendek dan lebih lebar daripada yang kiri.lengkap yang berupan cincin tulang rawan yang diikat bersama oleh jaringan fibrosa dan yang melengkapi lingkaran disebelah belakang trachea. Rongga hidung dilapisi sebagai selaput lendir yang sangat kaya akan pembuluh darah. Tetapi dikelilingi oleh otot polos sehingga ukurannya dapat berubah.000 kasus baru tuberkulosis dengan kematian sekitar 140.000. Trachea atau batang tenggorok kira-kira 9 cm panjangnya trachea berjalan dari larynx sarnpai kira-kira ketinggian vertebrata torakalis kelima dan di tempat ini bercabang mcnjadi dua bronckus (bronchi). rongga hidung. secara kasar diperkirakan setiap 100. dan bersambung dengan lapisan farinx dan dengan selaput lendir sinus yang mempunyai lubang masuk ke dalam. sampai akhirnya menjadi bronkhiolus terminalis. Hidung .persalinan dan nifas. dan bronkiolus. Nares anterior adalah saluran-saluran di dalam. sedikit lebih tinggi darl arteri pulmonalis dan mengeluarkan sebuah cabang utama lewat di bawah arteri. Maka ‘letaknya di belakang larinx (larinx-faringeal).20 lingkaran tak. Di indonesia pada tahun yang sama. Percabangan ini berjalan terus menjadi bronchus yang ukurannya semakin kecil. Larynx terdiri atas kepingan tulang rawan yang diikat bersama oleh ligarnen dan membran. Bronkhiolus terminalis memiliki garis tengah kurang lebih I mm. disebut bronckus lobus bawah. Bronkus kiri lebih panjang dan lebih langsing dari yang kanan.

alveolus dan kapiler paruparu membutuhkan distribusi merata dari udara dalam paru-paru dan perfusi (aliran darah) dalam kapiler dengan perkataan lain ventilasi dan perfusi. Di dalam rongga pleura terdapat cairan surfaktan yang berfungsi untuk lubrikai. transportasi yang terdiri dan beberapa aspek yaitu : (1) Difusi gas antara alveolus dan kapiler paru-paru (respirasi eksternal) dan antara darah sistemik dan sel.5 urn).0 cm. sehingga mempunyai permukaan yang cukup luas untuk tempat permukaan/pertukaran gas. karena ada selisih tekanan yang terdapat antara atmosfer dan alveolus akibat kerja mekanik dari otot-otot. tahap kcdua dari proses pemapasan mencakup proses difusi gas-gas melintasi membran alveolus kapiler yang tipis (tebalnya kurang dari 0. Setelah berada dalam ruang alveolus biasanya di bagian bawah lobus atau paru-paru. venula. kebanyakan infeksi tuberculosis terjadi melalui udara (air borne). Stadium pertama adalah ventilasi yaitu masuknya campuran gas-gas ke dalam dan keluar paruparu. Tiap lobus dibungkus oleh jaringan elastik yang mengandung pembuluh limfe. atau di bagian atas lobus bawah. yaitu sel dimana metabolik dioksida untuk. ductus alveolar. (3) Reaksi kimia dan fisik dari 02 dan C02 dengan darah respimi atau respirasi interna menipak-an stadium akhir dari respirasi. dan C02 dikeluarkan keudara ekspirasi dapat dibagi menjadi tiga stadium. yaitu melalui inhalasi droppet yang mengandung kuman-kuman basil tuberkel yang berasal dari orang yang terinfeksi. saluran pencernaan. asinus atau.mendapatkan energi. dan C02 terbentuk sebagai sampah proses metabolisme sel dan dikeluarkan oleh paru-paru (4) Transportasi.5 s/d 1. Paru-paru terdapat dalam rongga thoraks pada bagian kiri dan kanan. dari unit pulmonary harus sesuai pada orang normal dengan posisi tegak dan keadaan istirahat maka ventilasi dan perfusi hampir seimbang kecuali pada apeks paru-paru. medius dan inferior sedangkan paru kiri dibagi dua lobus yaitu lobus superior dan inferior. yaitu pemindahan gas secara efektif antara. Kekuatan mendorong untuk pemindahan ini adalah selisih tekanan parsial antara darah dan fase gas. sakkus alveolar dan alveoli. Secara garis besar bahwa Paru-paru memiliki fungsi sebagai berikut: (1) Terdapat permukaan gas-gas yaitu mengalirkan Oksigen dari udara atmosfer kedarah vena dan mengeluarkan gas carbondioksida dari alveoli keudara atmosfer.-sel jaringan (2) Distribusi darah dalam sirkulasi pulmonal dan penyesuaiannya dengan distribusi udara dalam alveolus. Diperkirakan bahwa stiap paru-paru mengandung 150 juta alveoli. (2) menyaring bahan beracun dari sirkulasi (3) reservoir darah (4) fungsi utamanya adalah pertukaran gas-gas Patofisiologi Port de’ entri kuman microbaterium tuberculosis adalah saluran pernafasan. (5) Perfusi. Alveolus dipisahkan oleh dinding yang dinamakan pori-pori kohn. Terdapat sekitar 20 kali percabangan mulai dari trachea sampai Sakus Alveolaris. dan luka terbuka pada kulit. .kadang disebut lobolus primer memiliki tangan kira-kira 0. yaitu. Stadium kedua. Proses fisiologi pernafasan dimana 02 dipindahkan dari udara ke dalam jaringan-jaringan. Paru kanan dibagi atas tiga lobus yaitu lobus superior. arteriola. bronchial venula.yang terkadang memiliki kantong udara kecil atau alveoli pada dindingnya. Dilapisi oleh pleura yaitu parietal pleura dan visceral pleura. Basil tuberkel yang mencapai permukaan alveolus biasanya diinhalasi terdiri dari satu sampai tiga gumpalan basil yang lebih besar cenderung tertahan di saluran hidung dan cabang besar bronkus dan tidak menyebabkan penyakit. Ductus alveolaris seluruhnya dibatasi oleh alveoilis dan sakus alveolaris terminalis merupakan akhir paru-paru.

Leukosit polimorfonuklear tampak pada tempat tersebut dan memfagosit bacteria namun tidak membunuh organisme tersebut. Basil juga menyebar melalui getah bening menuju ke kelenjar bening regional. gejala respiratorik dan gejala sistemik: 1. Nyeri dada Nyeri dada pada TB paru termasuk nyeri pleuritik yang ringan. atau proses dapat juga berjalan terus. pneumothorax. akan tetapi penampilan akut dengan batuk. panas. Alveoli yang terserang akan mengalami konsolidasi dan timbul gejala pneumonia akut. Batuk darah Darah yang dikeluarkan dalam dahak bervariasi. Gejala klinis Haemoptoe: Kita harus memastikan bahwa perdarahan dari nasofaring dengan cara membedakan ciri- . mungkin tampak berupa garis atau bercak-bercak darak. Gejala sistemik. d. Batuk Gejala batuk timbul paling dini dan merupakan gangguan yang paling sering dikeluhkan. Gambaran klinik TB paru dapat dibagi menjadi 2 golongan. Demam Merupakan gejala yang sering dijumpai biasanya timbul pada sore dan malam hari mirip demam influenza. dan bakteri terus difagosit atau berkembang biak di dalam sel. Makrofag yang mengadakan infiltrasi mcajadi lebih panjang dan sebagian bersatu sehingga membentuk sel tuberkel epiteloit. hilang timbul dan makin lama makin panjang serangannya sedang masa bebas serangan makin pendek. Pneumonia seluler ini dapat sembuh dengan sendirinya sehingga tidak ada sisa yang tertinggal. Berat ringannya batuk darah tergantung dari besar kecilnya pembuluh darah yang pecah. Reaksi ini biasanya membutuhkan waktu 10 sampai 20 hari. meliputi: a. Mula-mula bersifat non produktif kemudian berdahak bahkan bercampur darah bila sudah ada kerusakan jaringan.Basil tuberkel ini membangkitkan reaksi peradangan. Manifestasi Klinik Tuberkulosis sering dijuluki “the great imitator” yaitu suatu penyakit yang mempunyai banyak kemiripan dengan penyakit lain yang juga memberikan gejala umum seperti lemah dan demam. yang dikelilingi oleh fosit. 2. anoreksia. b. meliputi: a. c. gumpalan darah atau darah segar dalam jumlah sangat banyak. Gejala sistemik lain Gejala sistemik lain ialah keringat malam. Batuk darak terjadi karena pecahnya pembuluh darah. b. Gejala respiratorik. Gejala ini timbul apabila sistem persarafan di pleura terkena. Pada sejumlah penderita gejala yang timbul tidak jelas sehingga diabaikan bahkan kadang-kadang asimtomatik. sesak napas walaupun jarang dapat juga timbul menyerupai gejala pneumonia. Sesudah hari-hari pertama maka leukosit diganti oleh makrofag. Sesak napas Gejala ini ditemukan bila kerusakan parenkim paru sudah luas atau karena ada hal-hal yang menyertai seperti efusi pleura. penurunan berat badan serta malaise. anemia dan lain-lain. Timbulnya gejala biasanya gradual dalam beberapa minggu-bulan.

Uji resistensi harus dilakukan apabila ada dugaan resistensi terhadap pengobatan. Pada pemeriksaan pertama. Pemeriksaan sputum adalah diagnostik yang terpenting dalam prograrn pemberantasan TBC paru di Indonesia. terutama bila terdapat di lapangan atas paru d. Ditemukannya kuman micobakterium TBC dari dahak penderita memastikan diagnosis tuberculosis paru. Karakteristik radiology yang menunjang diagnostik antara lain : a. Bayang yang menetap atau relatif menetap setelah beberapa minggu e. b. Batuk pelan kadang keluar c. Jenis pemeriksaan radiology lain hanya atas indikasi Top foto. Darah dibatukkan dengan rasa panas di tenggorokan b. radiologik dan riwayat pengobatan sebelumnya. Anemia seriang terjadi f. Epistaksis a. tomogram dan lain-lain. Klasifikasi Klasifikasi TB Paru dibuat berdasarkan gejala klinik. Muntah darah a. Sesuai dengan program Gerdunas P2TB klasifikasi TB Paru dibagi sebagai berikut: a. Kelainan yang bilateral. Klasifikasi ini penting karena merupakan salah satu faktor determinan untuk menetapkan strategi terapi. Dengan atau tanpa gejala klinik 2. Benzidin test positif 3. Benzidin test negatif 2. TB Paru BTA Positif dengan kriteria: 1. Test Diagnostik Foto thorax PA dengan atau tanpa literal merupakan pemeriksaan radiology standar. Bayangan bilier Pemeriksaan Bakteriologik (Sputum) . Pengambilan dahak yang benar sangat penting untuk mendapatkan hasil yang sebaik-baiknya. Bayangan yang berawan (patchy) atau berbercak (noduler) c. Darah segar berwarna merah muda d. oblik. Darah berwarna merah segar d. Batuk darah a. sebaiknya 3 kali pemeriksaan dahak. mikroskopik positif 1 kali disokong biakan . Darah menetes dari hidung b.ciri sebagai berikut : 1. Bayangan lesi radiology yang terletak di lapangan atas paru. Darah bercampur sisa makanan c. bakteriologik. Darah bersifat asam e. Pemeriksaan biasanya lebih sensitive daripada sediaan apus (mikroskopis). Darah berbuih bercampur udara c. BTA positif: mikroskopik positif 2 kali. Darah bersifat alkalis e. Darah berwarna hitam karena bercampur asam lambung d. Anemia kadang-kadang terjadi f. Anemia jarang terjadi 6. Darah bersifat alkalis e. Darah dimuntahkan dengan rasa mual b.

Makrolide dan Amoksisilin + Asam Klavulanat. hapusan dahak dan riwayat pengobatan sebelumnya. Gejala klinik dan gambaran radilogik sesuai dengan TB Paru aktif 2. lanjut. sesak (nafas pendek). c. Objektif : Takikardia. irritable. hasil pemeriksaan bakteriologik. 2. Di samping itu perlu pemahaman tentang strategi penanggulangan TB yang dikenal sebagai Directly Observed Treatment Short Course (DOTS) yang direkomendasikan oleh WHO yang terdiri dari lima komponen yaitu: 1. Jenis obat utama yang digunakan sesuai dengan rekomendasi WHO adalah Rifampisin. takipnea/dispnea saat kerja. Pengobatan TB dengan paduan OAT jangka pendek dengan pengawasan langsung oleh Pengawas Menelan Obat (PMO) khususnya dalam 2 bulan pertama dimana penderita harus minum obat setiap hari. BTA negatif. demam. infiltrasi . biakan negatif tetapi radiologik positif. Gambaran radiologik sesuai dengan TB paru. Streptomisin dan Etambutol. berkeringat pada malam hari. sesak (tahap. Ada riwayat pengobatan OAT yang adekuat (lebih mendukung). menggigil.positif satu kali atau disokong radiologik positif 1 kali. Untuk keperluan pengobatan perlu dibuat batasan kasus terlebih dahulu berdasarkan lokasi tuberkulosa. TB Paru BTA Negatif dengan kriteria: 1. Pengkajian Data-data yang perlu dikaji pada asuhan keperawatan dengan Tuberkulosis paru (Doengoes. berat ringannya penyakit. d. Pencatatan dan pelaporan yang baku. 4. Adanya komitmen politis berupa dukungan pengambil keputusan dalam penanggulangan TB. sulit tidur. Radiologik menunjukkan gambaran lesi TB inaktif. Pola aktivitas dan istirahat Subjektif : Rasa lemah cepat lelah. aktivitas berat timbul. menunjukkan serial foto yang tidak berubah. Pengobatan tuberkulosis terbagi menjadi 2 fase yaitu fase intensif (2-3 bulan) dan fase lanjutan (4-7 bulan). Kesinambungan ketersediaan paduan OAT jangka pendek yang cukup. Bakteriologik (mikroskopik dan biakan) negatif b. Paduan obat yang digunakan terdiri dari obat utama dan obat tambahan. c. derivat Rifampisin/INH. Riwayat PerjalananPenyakit a. b. 3. INH. Pirasinamid. Kuinolon. 5. 3. Bekas TB Paru dengan kriteria: a. Diagnosis TB melalui pemeriksaan dahak secara mikroskopik langsung sedang pemeriksaan penunjang lainnya seperti pemeriksaan radiologis dan kultur dapat dilaksanakan di unit pelayanan yang memiliki sarana tersebut. Gejala klinik tidak ada atau ada gejala sisa akibat kelainan paru. Penanganan Medik Tujuan pengobatan pada penderita TB Paru selain untuk mengobati juga mencegah kematian. B. PROSES KEPERAWATAN 1. Sedang jenis obat tambahan adalah Kanamisin. 2000) ialah sebagai berikut : 1. mencegsah kekambuhan atau resistensi terhadap OAT serta memutuskan mata rantai penularan.

e. gelisah. b. pembengkakan kelenjar limfe. Pola nutrisi Subjektif : Anoreksia. ketakutan. Tingkat pengetahuan/pendidikan pasien dan keluarga tentang penyakit. e. Pernah sakit batuk yang lama dan tidak sembuh-sembuh. pengembangan pernapasan tidak simetris (effusi pleura. masalah berhubungan dengan kondisi ekonomi.).radang sampai setengah paru). b. ansietas. 4. Riwayat kontak dengan penderita Tuberkulosis Paru. 6. Riwayat Penyakit Sebelumnya: a. menarik diri. Pola hidup. d. Pernah berobat tetapi tidak sembuh. biasanya pada keluarga yang kurang marnpu. Jenis pekerjaan. Tes Tuberkulin: Mantoux test reaksi positif (area indurasi 10-15 mm terjadi 48-72 jam). Riwayat Sosial Ekonomi: a. c. 2. d. . kasar di daerah apeks paru. kehilangan lemak sub kutan. Kultur sputum: Mikobakterium Tuberkulosis positif pada tahap akhir penyakit. tidak dapat berkomunikisi dengan bebas. Pernah berobat tetapi tidak teratur. pencegahan. masalah keuangan. c. Nutrisi. Objektif : Menyangkal (selama tahap dini). jumlah penghasilan. b. pola istirahat dan tidur. Rasa nyaman/nyeri Subjektif : Nyeri dada meningkat karena batuk berulang. mukoid kuning atau bercak darah. Objektif : Turgor kulit jelek. penurunan berat badan. Merasa dikucilkan. Pemeriksaan Diagnostik: a. b. d. f. perasaan tak berdaya/tak ada harapan. sesak napas. untuk sembuh perlu waktu yang lama dan biaya yang banyak. mual. Riwayat pekerjaan. takipneu (penyakit luas atau fibrosis parenkim paru dan pleural). warna. dosis obat yang diminum. Kapan pasien mendapatkan pengobatan terakhir. 5. Respirasi Subjektif : Batuk produktif/non produktif sesak napas. b. deviasi trakeal (penyebaran bronkogenik). demam subfebris (40 -410C) hilang timbul. perkusi pekak dan penurunan fremitus (cairan pleural). masalah tentang masa depan/pekerjaan pasien. Riwayat lingkungan. Riwayat Pengobatan Sebelumnya: a. c. terdengar bunyi ronkhi basah. Berapa lama. 3. minum alkohol. b. Daya tahan tubuh yang menurun. pengobatan dan perawatannya. Objektif : Mulai batuk kering sampai batuk dengan sputum hijau/purulent. kebiasaan merokok. prilaku distraksi. tidak enak diperut. nyeri bisa timbul bila infiltrasi radang sampai ke pleura sehingga timbul pleuritis. c. Jenis. kulit kering/bersisik. mudah tersinggung. sakit dada. Aspek psikososial. Obiektif : Berhati-hati pada area yang sakit. waktu dan tempat bekerja. Faktor Pendukung: a. kebersihan diri. Riwayat vaksinasi yang tidak teratur. Kapan pasien mendapatkan pengobatan sehubungan dengan sakitnya. tidak bersemangat dan putus harapan. pasien menjalani pengobatan sehubungan dengan penyakitnya. Integritas ego Subjektif : Faktor stress lama.

kedalaman dan penggunaan otot aksesori.c. Bronchografi: untuk melihat kerusakan bronkus atau kerusakan paru karena TB paru. Kerusakan membran alveolar kapiler. Terkontaminasi oleh lingkungan. Intervensi: a. 5. pencegahan berhubungan dengan: Tidak ada yang menerangkan. catat karakter. pengobatan. Mengidentifikasi potensial komplikasi dan melakukan tindakan tepat. Pada tahap dini tampak gambaran bercak-bercak seperti awan dengan batas tidak jelas . berupa cincin . 3. Kelemahan. 3. Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan yang lazim terjadi pada klien dengan Tuberkulosis paru adalah sebagai berikut: 1. Kerusakan jaringan akibat infeksi yang menyebar. Spirometri: penurunan fuagsi paru dengan kapasitas vital menurun. Informasi yang didapat tidak lengkap/tidak akurat. atelektasis. Pada kalsifikasi tampak bayangan bercak-bercak padat dengan densitas tinggi. Catat kemampuan untuk mengeluarkan secret atau batuk efektif. kecepatan. Penurunan kemampuan finansial. Pada kavitas bayangan. Kaji fungsi pernapasan: bunyi napas. e. Kurang pengetahuan tentang infeksi kuman. 4. Bersihan jalan napas tidak efektif Tujuan: Mempertahankan jalan napas pasien. d. Rasional: Penurunan bunyi napas indikasi atelektasis. Rasional: Pengeluaran sulit bila sekret tebal. Menunjukkan prilaku untuk memperbaiki bersihan jalan napas. Kurang pengetahuan tentang kondisi. Malnutrisi. Anoreksia. jumlah sputum. Berikan pasien posisi semi atau Fowler. sputum berdarah akibat kerusakan paru atau luka bronchial yang memerlukan evaluasi/intervensi lanjut. adanya hemoptisis. kurang dari kebutuhan berhubungan dengan: Kelelahan. Darah: peningkatan leukosit dan Laju Endap Darah (LED). Edema trakeal/faringeal. Terbatasnya pengetahuan/kognitif 4. adanya produksi sputum. f. Rencana Keperawatan Adapun rencana keperawatan yang ditetapkan berdasarkan diagnosis keperawatan yang telah dirumuskan sebagai berikut: 1. ronki indikasi akumulasi secret/ketidakmampuan membersihkan jalan napas sehingga otot aksesori digunakan dan kerja pernapasan meningkat. Dispnea. fungsi silia menurun. Interpretasi yang salah. b. Resiko tinggi infeksi dan penyebaran infeksi berhubungan dengan: Daya tahan tubuh menurun. sekret yang inenetap. Perubahan kebutuhan nutrisi. Berpartisipasi dalam program pengobatan sesuai kondisi. Mengeluarkan sekret tanpa bantuan. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan: Berkurangnya keefektifan permukaan paru. Poto torak: Infiltnasi lesi awal pada area paru atas . Bantu/ajarkan batuk efektif dan latihan napas dalam. ventilasi maksimal membuka area atelektasis dan peningkatan gerakan sekret agar mudah dikeluarkan . Edema bronchial. upaya batuk buruk. Rasional: Meningkatkan ekspansi paru. Batuk yang sering. Sekret yang kental. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan: Sekret kental atau sekret darah. c. imma. 2.

Berikan obat: agen mukolitik. b. suction bila perlu. Monitor GDA. penyebaran infeksi melalui bronkus pada jaringan sekitarnya atau aliran darah atau sistem limfe dan resiko infeksi melalui batuk. pleural effusion dan meluasnya fibrosis dengan gejala-gejala respirasi distress. kortikosteroid sesuai indikasi. meludah. Kaji dispnea. lingkaran ukuran lumen trakeabronkial. Rasional: Membantu mengencerkan secret sehingga mudah dikeluarkan f. membran mukosa. f. Rasional: Mencegah obstruksi/aspirasi. tertawa. batasi dan bantu aktivitas sesuai kebutuhan. h. Demonstrasikan/anjurkan untuk mengeluarkan napas dengan bibir disiutkan. Evaluasi perubahan-tingkat kesadaran.d. e. aman. keterbatasan ekspansi dada dan kelemahan. catat tanda-tanda sianosis dan perubahan warna kulit. dengan edema laring atau perdarahan paru akut. Berikan oksigen sesuai indikasi. Lembabkan udara/oksigen inspirasi. Resiko tinggi infeksi dan penyebaran infeksi Tujuan: Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah/menurunkan resiko penyebaran infeksi. Rasional: Mengurangi konsumsi oksigen pada periode respirasi. Rasional: Diperlukan pada kasus jarang bronkogenik. Intervensi a. 3. Peningkatan upaya respirasi. 2. Suction dilakukan bila pasien tidak mampu mengeluarkan sekret. Rasional: Menurunnya saturasi oksigen (PaO2) atau meningkatnya PaC02 menunjukkan perlunya penanganan yang lebih. Bebas dari gejala distress pernapasan. c. berguna jika terjadi hipoksemia pada kavitas yang luas. Rasional: Membantu pasien agar mau mengerti dan menerima terapi yang diberikan . ciuman atau menyanyi. Rasional: Menurunkan kekentalan sekret. Rasional: Membantu mengoreksi hipoksemia yang terjadi sekunder hipoventilasi dan penurunan permukaan alveolar paru. Rasional: Mencegah pengeringan membran mukosa. takipnea. dan warna kuku. Rasional: Tuberkulosis paru dapat rnenyebabkan meluasnya jangkauan dalam paru-pani yang berasal dari bronkopneumonia yang meluas menjadi inflamasi. Anjurkan untuk bedrest. Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan adekuat dengan GDA dalam rentang normal. g. bersin. nekrosis. d. Rasional: Akumulasi secret dapat menggangp oksigenasi di organ vital dan jaringan. e. Review patologi penyakit fase aktif/tidak aktif. Intervensi a. adekuat atau perubahan terapi. bunyi pernapasan abnormal. Rasional: Meningkatnya resistensi aliran udara untuk mencegah kolapsnya jalan napas. Menunjukkan/melakukan perubahan pola hidup untuk meningkatkan lingkungan yang. Pertahankan intake cairan minimal 2500 ml/hari kecuali kontraindikasi.. terutama pada pasien dengan fibrosis atau kerusakan parenkim. Bersihkan sekret dari mulut dan trakea. bronkodilator. Gangguan pertukaran gas Tujuan: Melaporkan tidak terjadi dispnea. Bantu inkubasi darurat bila perlu.

untuk mencegah komplikasi. b. Identifikasi orang-orang yang beresiko terkena infeksi seperti anggota keluarga, teman, orang dalam satu perkumpulan. Rasional: Orang-orang yang beresiko perlu program terapi obat untuk mencegah penyebaran infeksi. c. Anjurkan pasien menutup mulut dan membuang dahak di tempat penampungan yang tertutup jika batuk. Rasional: Kebiasaan ini untuk mencegah terjadinya penularan infeksi. d. Gunakan masker setiap melakukan tindakan. Rasional: Mengurangi risilio penyebaran infeksi. e. Monitor temperatur. Rasional: Febris merupakan indikasi terjadinya infeksi. f. Identifikasi individu yang berisiko tinggi untuk terinfeksi ulang Tuberkulosis paru, seperti: alkoholisme, malnutrisi, operasi bypass intestinal, menggunakan obat penekan imun/ kortikosteroid, adanya diabetes melitus, kanker. Rasional: Pengetahuan tentang faktor-faktor ini membantu pasien untuk mengubah gaya hidup dan menghindari/mengurangi keadaan yang lebih buruk. g. Tekankan untuk tidak menghentikan terapi yang dijalani. Rasional: Periode menular dapat terjadi hanya 2-3 hari setelah permulaan kemoterapi jika sudah terjadi kavitas, resiko, penyebaran infeksi dapat berlanjut sampai 3 bulan. h. Pemberian terapi INH, etambutol, Rifampisin. Rasional: INH adalah obat pilihan bagi penyakit Tuberkulosis primer dikombinasikan dengan obat-obat lainnya. Pengobatan jangka pendek INH dan Rifampisin selama 9 bulan dan Etambutol untuk 2 bulan pertama. i. Pemberian terapi Pyrazinamid (PZA)/Aldinamide, para-amino salisik (PAS), sikloserin, streptomisin. Rasional: Obat-obat sekunder diberikan jika obat-obat primer sudah resisten. j. Monitor sputum BTA Rasional: Untuk mengawasi keefektifan obat dan efeknya serta respon pasien terhadap terapi. 4. Perubahan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan Tujuan: Menunjukkan berat badan meningkat mencapai tujuan dengan nilai laboratoriurn normal dan bebas tanda malnutrisi. Melakukan perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan mempertahankan berat badan yang tepat. Intervensi: a. Catat status nutrisi paasien: turgor kulit, timbang berat badan, integritas mukosa mulut, kemampuan menelan, adanya bising usus, riwayat mual/rnuntah atau diare. Rasional: berguna dalam mendefinisikan derajat masalah dan intervensi yang tepat. b. Kaji pola diet pasien yang disukai/tidak disukai. Rasional: Membantu intervensi kebutuhan yang spesifik, meningkatkan intake diet pasien. c. Monitor intake dan output secara periodik. Rasional: Mengukur keefektifan nutrisi dan cairan. d. Catat adanya anoreksia, mual, muntah, dan tetapkan jika ada hubungannya dengan medikasi. Awasi frekuensi, volume, konsistensi Buang Air Besar (BAB). Rasional: Dapat menentukan jenis diet dan mengidentifikasi pemecahan masalah untuk

meningkatkan intake nutrisi. e. Anjurkan bedrest. Rasional: Membantu menghemat energi khusus saat demam terjadi peningkatan metabolik. f. Lakukan perawatan mulut sebelum dan sesudah tindakan pernapasan. Rasional: Mengurangi rasa tidak enak dari sputum atau obat-obat yang digunakan yang dapat merangsang muntah. g. Anjurkan makan sedikit dan sering dengan makanan tinggi protein dan karbohidrat. Rasional: Memaksimalkan intake nutrisi dan menurunkan iritasi gaster. h. Rujuk ke ahli gizi untuk menentukan komposisi diet. Rasional: Memberikan bantuan dalarn perencaaan diet dengan nutrisi adekuat unruk kebutuhan metabolik dan diet. i. Konsul dengan tim medis untuk jadwal pengobatan 1-2 jam sebelum/setelah makan. Rasional: Membantu menurunkan insiden mual dan muntah karena efek samping obat. j. Awasi pemeriksaan laboratorium. (BUN, protein serum, dan albumin). Rasional: Nilai rendah menunjukkan malnutrisi dan perubahan program terapi. k. Berikan antipiretik tepat. Rasional: Demam meningkatkan kebutuhan metabolik dan konsurnsi kalori. 5. Kurang pengetahuan tentang kondisi, pengobatan, pencegahan. Tujuan: Menyatakan pemahaman proses penyakit/prognosis dan kebutuhan pengobatan. Melakukan perubahan prilaku dan pola hidup unruk memperbaiki kesehatan umurn dan menurunkan resiko pengaktifan ulang luberkulosis paru. Mengidentifikasi gejala yang mernerlukan evaluasi/intervensi. Menerima perawatan kesehatan adekuat. Intervensi a. Kaji kemampuan belajar pasien misalnya: tingkat kecemasan, perhatian, kelelahan, tingkat partisipasi, lingkungan belajar, tingkat pengetahuan, media, orang dipercaya. Rasional: Kemampuan belajar berkaitan dengan keadaan emosi dan kesiapan fisik. Keberhasilan tergantung pada kemarnpuan pasien. b. Identifikasi tanda-tanda yang dapat dilaporkan pada dokter misalnya: hemoptisis, nyeri dada, demam, kesulitan bernafas, kehilangan pendengaran, vertigo. Rasional: Indikasi perkembangan penyakit atau efek samping obat yang membutuhkan evaluasi secepatnya. c. Tekankan pentingnya asupan diet Tinggi Kalori Tinggi Protein (TKTP) dan intake cairan yang adekuat. Rasional: Mencukupi kebutuhan metabolik, mengurangi kelelahan, intake cairan membantu mengencerkan dahak. d. Berikan Informasi yang spesifik dalam bentuk tulisan misalnya: jadwal minum obat. Rasional: Informasi tertulis dapat membantu mengingatkan pasien. e. jelaskan penatalaksanaan obat: dosis, frekuensi, tindakan dan perlunya terapi dalam jangka waktu lama. Ulangi penyuluhan tentang interaksi obat Tuberkulosis dengan obat lain. Rasional: Meningkatkan partisipasi pasien mematuhi aturan terapi dan mencegah putus obat. f. jelaskan tentang efek samping obat: mulut kering, konstipasi, gangguan penglihatan, sakit kepala, peningkatan tekanan darah Rasional: Mencegah keraguan terhadap pengobatan sehingga mampu menjalani terapi.

g. Anjurkan pasien untuk tidak minurn alkohol jika sedang terapi INH. Rasional: Kebiasaan minurn alkohol berkaitan dengan terjadinya hepatitis h. Rujuk perneriksaan mata saat mulai dan menjalani terapi etambutol. Rasional: Efek samping etambutol: menurunkan visus, kurang mampu melihat warna hijau. i. Dorong pasien dan keluarga untuk mengungkapkan kecemasan. Jangan menyangkal. Rasional: Menurunkan kecemasan. Penyangkalan dapat memperburuk mekanisme koping. j. Berikan gambaran tentang pekerjaan yang berisiko terhadap penyakitnya misalnya: bekerja di pengecoran logam, pertambangan, pengecatan. Rasional: Debu silikon beresiko keracunan silikon yang mengganggu fungsi paru/bronkus. k. Anjurkan untuk berhenti merokok. Rasional: Merokok tidak menstimulasi kambuhnya Tuberkulosis; tapi gangguan pernapasan/ bronchitis. l. Review tentang cara penularan Tuberkulosis dan resiko kambuh lagi. Rasional: Pengetahuan yang cukup dapat mengurangi resiko penularan/ kambuh kembali. Komplikasi Tuberkulosis: formasi abses, empisema, pneumotorak, fibrosis, efusi pleura, empierna, bronkiektasis, hernoptisis, u1serasi Gastro, Instestinal (GD, fistula bronkopleural, Tuberkulosis laring, dan penularan kuman. 5. Evaluasi a. Keefektifan bersihan jalan napas. b. Fungsi pernapasan adekuat untuk mernenuhi kebutuhan individu. c. Perilaku/pola hidup berubah untuk mencegah penyebaran infeksi. d. Kebutuhan nutrisi adekuat, berat badan meningkat dan tidak terjadi malnutrisi. e. Pemahaman tentang proses penyakit/prognosis dan program pengobatan dan perubahan perilaku untuk memperbaiki kesehatan.

askep ARDS ( Acute Respiratory Distress Syndrome)
AKPER PPNI SOLO, 8.15.2009 Askep ARDS atau Acute Respiratory Distress Syndrome, Sering merupakan kelanjutan dari shock paru-paru, kongesti atelektasis, post traumatic paru-paru, post infusion paru, dan ventilasi paru. Kondisi akut paru-paru yang mengakibatkan macam-macam perubahan patofisiologi dalam paru. Menyerupai perubahan pada IRDS, perbedaannya terletak pada penurunan surfaktan akibat dari kerusakan paru. Kliennya umumnya masih muda yang sebelumnya dia sehat. Jenis ketidakstabilan akut, baik langsung atau tidak langsung berperan dalam menimbulkan syndrom. Keadaan yang langsung : Menghirup racun iritan Infeksi diffusi alveolar

Aspirasi virus pneumonia. Cairan juga masuk dalam alveoli dan mengakibatkan oedema paru. amniotic fluid embolic. Keadaan yang tidak langsung : Trauma dan shock karena pembedahan Sepsis dengan pelepasan endotoksin Pembekuan darah intravaskuler Transfusi darah massive Reaksi transudasi Penyakit Yang Dapat Menyebabkan ARDS : Pulmonary : Virus pneumonia Fungi pneumonia Pneumocystis carinii Military tuberculosis Legionaire’s pneumonia Radiation pneumonitis Contusio paru Cairan aspirasi (gastric. Non pulmonary : Shock (traumatic. ethylene glycol) Inhalasi racun (rokok. Plasma dan sel darah merah keluar dari kapiler-kapiler yang rusak. hemorrhagic. tenggelam. pneumonia septic) Emboli lemak Trauma kepala Trauma non thoraks Pancreatitis Uremia Drug overdose (heroin. Banyak teori yang menerangkan patogenesis dari syndrom yang berhubungan dengan kerusakan awal paru-paru yang terjadi dimembran kapiler alveolar. oleh karena itu . bacterial. hydrocarbon. Akibatnya terjadi tanda-tanda atelektasis. methadone barbiturat). O2 konsentrasi meningkat.Darah yang beracun. Adanya peningkatan permeabilitas kapiler dan akibat masuknya cairan ke dalam ruang interstitial. Massive blood transfusion Reaksi transfusi Pembekuan darah intravaskuler By pass cardiopulmonary Penambahan tekanan intrakranial Cairan overload Eclampsia Gejala defisiensi autoimmune Patofisiologi. kimia corrosive. seolah-olah dipengaruhi oleh aktifitas surfaktan. Hampir tenggelam dan trauma dada.

5.→ O2 C →Hypoksimia.Potensial injury berhubungan dengan barotrauma atau tidak aktifnya aliran ventilator.Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan penambahan shunt dan ventilasi – perfusi terganggu.mungkin perdarahan merupakan manifestasi patologi yang umum.Tidak efektifnya jalan napas berhubungan dengan immobilisasi dan jalan napas buatan.Kurangnya cardiac output berhubungan dengan tingginya PEEP (Positive End mengetahui atau berguna untuk memenuhi kebutuhan→Expiratory Pressure) ventilasi paru. pada orang muda yang biasa mempunyai riwayat sakit paru-paru. 2. Pa O2 60 % Kompliance paru rendah 1000 gr) Congestive atelektasis Membran hyaline Fibrosis PENGKAJIAN Gejala terjadi tiba-tiba dalam 2 – 3 hari sesudah trauma atau kesakitan. Kriteria untuk diagnosa ARDS : Klinik Keadaan katastropik : paru atau bukan paru Eksklusi : Penyakit paru kronis. keadaan abnormal ventrikel kiri.Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penambahan (peningkatan) permiabilitas . 3. Radiografi Difusi pulmonal menyebar Infiltrasi interstitial (awal) Infiltrasi alveoli (lanjut/akhir) Fisiologi Hipoksemia refractory.Tidak efektifnya pola napas berhubungan dengan kurangnya complain paru dan kecemasan. Diagnosa Keperawatan 1. Tanda-tanda utama manifestasi klinik: Dyspnea Tachicardia Cyanosis dengan atau tanpa retraksi intercostals refractory hypoxemia. 6. susah bernafas. Distress pernafasan : Tachypnea > 20 x/menit. Hypotensia/bradicardia atau hipertension/tachicardia. 4. Dysritmia Tanda-tanda adanya asidosis metabolic dan respiratorik ⇓ menegakkan diagnosis: Status adanya kesulitan memperoleh pemenuhan ventilasi yang→klinik klien adekuat (sehingga penurunan pemenuhan ventilasi yang meningkatkan menurunkan kapasitas vital paru-paru infiltrasi→kekakuan paru-paru) alveolar.

mengurangi rasa nyeri dan menjaga ketenangan klien. 9. 14. 12. Tekanan maximum jalan napas 50 – 70 mmHg.Perubahan nutrisi. PEEP (Positive End Expiratory Pressure) Digunakan untuk memberi tekanan inflasi yang tinggi. Pencegahan dengan meminimalkan komplikasi dan stressor untuk klien dan keluarganya merupakan hal yang penting. utuh. Integritas kulit baik. PaO2 lebih dari atau sama dengan 60 mmHg. BP. HR) stabil. Membran mukosa mulut baik. kurang dari atau sama dengan 40 % Fi O2. Hemodinamic parameter (CO. shunt friction kurang atau sama dengan 20 % Jalan napas tetap. Berat badan stabil. 1982) tingkat rasa nyaman. Kriteria tujuan untuk klien: Stabil dan sinkronnya antara pernapasan dengan ventilator dengan slow rate yang cukup dalam level yang normal ventilasi Pa CO2 35 – 45 mmHg.Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan jalan napas buatan dan kelumpuhan.membran pulmonal dan kelebihan sekresi ADH. Pelaksanaan 1. 7.Gangguan pola tidur berhubungan dengan lingkungan yang kritis dan kebutuhan akan bantuan perawat. untuk mempertahankan tekanan O2 arteri sekitar 20 mmHg (William. Komunikasi nonverbal dapat diartikan. Perencanaan Dan Pelaksanaan Perawatan klien dengan ARDS perencanaannya yaitu perbaikan pola napas dan kestabilan hemodinamic. Oksigenasi jaringan secara adekuat dilakukan dengan pemberian O2 konsentrasi tinggi. 13. lebih dari pada intake berhubungan dengan perubahan metabolisme dan ketidakmampuan intake makanan melalui oral.Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kelumpuhan dan bedrest.Tidak efektifnya koping keluarga berhubungan dengan mengatasi stress dan kecemasan dalam kondisi kritis. Tekanan kapiler paru normal.Mempertahankan oksigenasi secara adekuat. Keseimbangan intake dan output.Gangguan integritas kulit berhubungan dengan perfusi dan immobilisasi. 10. Kelemahan dan penyakit respirasi merupakan indikasi untuk menggunakan ventilasi mekanic.Kelemahan berhubungan dengan ketergantungan dalam pemakaian alat.→Kegagalan mempertahankan O2 Meningkatkan keperluan O2 dengan mempertahankan suhu klien pada tingkat normal. 11.Perubahan membran mukosa mulut berhubungan dengan jalan napas buatan. Berguna terpenuhinya kebutuhan→untuk memenuhi kebutuhan ventilasi paru ventilasi . 8.

Vena bercampur (mengalir dari kiri ke kanan) dan hypoxemia dikurangi. 4. Sekresi sebaiknya dihisap dengan suction sesuai kebutuhan Posisi pasien sering diubah-ubah dan pentingnya dilakukan gerakan/latihan pasif. Mempertahankan tekanan jalan napas di atas tekanan atmosfer melalui siklus respirasi. Keefektifan dari PEEP dimonitor dengan seringnya analisa gas darah. kortikosteroid. Pemberian O2.→Klien dengan ARDS TKTP diberikan.→Ketepatan pemeriksaan gas darah.→ 3. cardiac output PEEP kemungkinan besar menurunkan cardiac output karena lemahnya aliran denyut nadi dan tekanan darah→darah vena yang kembali ke jantung harus sering dimonitor.→Untuk mengurangi peradangan dari membran alveoli Kortikosteroid Mungkin juga meningkatkan kontraktilitas jantung dan perfusi sirkulasi periferal serta organ-organ vital. Kemungkinan kecenderungan terjadi retensi cairan dan edema paru selama ventilasi (intake dan output).Nutrisi: resiko terjadi malnutrisi. Karena peningkatan metabolisme dan gangguan oral intake. Perawat harus memonitor perfusi pada organ vital : CNS : Tingkat kesadaran Pergerakan Sensasi Ginjal : Urine output Blood urine nitrogen (BUN) Serum kreatinin Myocardium : Heart rate Rhytm 2.paru ditandai dengan adanya elastisitas paru dan dada. . Jika keadaan ini tidak terpenuhi paru-paru akan kolaps. atau swan-Ganz cateter). Mempertinggi distribusi O2 ke seluruh paru-paru dengan mempertahankan expansi alveoli. Pemberian albumin dan dextran dengan molekul tinggi Mungkin juga mengurangi permeabilitas kapiler Untuk menjaga paru tetap kering Antibiotik Mencegah infeksi bakteri. alat monitor khusus (CVP.Pencegahan cedera paru berlanjut.Individu dan family coping. menurun-kan permeabilitas kapiler paru-paru. Lingkungan sekitar klien harus tenang dan rileks.

emfisema paru-paru dan asthma bronchiale. merupakan suatu bentuk asthma dengan penyebab allergen (missal : bulu binatang. makanan dll). Rangsangan atau pencetus . b. Allergen terbanyak adalah airborne dan seasonal (musiman). Beberapa pasien berkembang menjadi asthma campuran. metabolik. debu. merupakan bentuk asthma yang paling sering. Asthma Alergik /Ekstrinsik. ketombe. Karena sifat inilah maka serangan asthma mudah terjadi akibat berbagai rangsangan baik fisis. 2. endokrin. beta-adrenergic antagonist dan agent sulfite (penyedap makanan) juga dapat sebagai faktor. Ketiga penyakit yang membentuk satu kesatuan yang dikenal dengan COPD adalah : Bronchitis kronis. Pasien dengan asthma alergik biasanya mempunyai riwayat penyakit alergi pada keluarga dan riwayat pengobatan exzema atau rhinitis alergik. Beberapa agent pharmakologi. bronchus penderita asthma sangat peka terhadap rangsangan imunologi maupun non-imunologi. Faktor-faktor seperti common cold. Bentuk asthma ini biasanya dimulai pada saat dewasa (> 35 tahun). otonomik dan psikologi. ASTHMA BRONCHIALE 1. suatu hal yang menonjol pada semua penderita asthma adalah fenomena hiperreaktivitas bronchus. kegiatan. Paparan terhadap alergi akan mencetuskan serangan asthma. Asthma merupakan penyakit yang kompleks yang dapat diakibatkan oleh faktor biochemical. c. TIPE ASTHMA Asthma terbagi menjadi alergi. infeksi dan sebagainya. tidak berhubungan secara langsung dengan allergen spesifik. idiopatik. DEFINISI Asthma adalah suatu gangguan pada saluran bronchial yang mempunyai ciri bronchospasme periodik (kontraksi spasme pada saluran nafas). Asthma Campuran (Mixed Asthma). Dikarakteristikkan dengan bentuk kedua jenis asthma alergi dan idiopatik atau nonalergi. non alergik atau campuran (mixed) : a. alergen. ETIOLOGI Sampai saat ini etiologi asthma belum diketahui dengan pasti.Asuhan keperawatan Pada Klien Dengan Chronic Obstructive Pulmonary Diseases (COPD) Penyakit Paru Obstruktif Kronik (COPD) merupakan suatu istilah yang sering digunakan untuk sekelompok penyakit paru-paru yang berlangsung lama dan ditandai oleh peningkatan resistensi terhadap aliran udara sebagai gambaran patofisiologi utamanya. tepung sari. Bentuk asthma ini biasanya dimulai saat kanak-kanak. infeksi saluran nafas atas. infeksi. Idiopathic atau Nonallergic Asthma/Intrinsik. emosi dan polusi lingkungan akan mencetuskan serangan. kimia. Serangan dari asthma idiopatik atau nonalergik menjadi lebih berat dan seringkali dengan berjalannya waktu dan dapat berkembang menjadi bronchitis dan emfisema. 3. Sering juga penyakit ini disebut dengan “Chronic Airflow Limitation (CAL)” dan “Chronic Obstructive Lung Diseases (COLD)” A.

Perubahan cuaca yang ekstrim. Sindroma pernafasan sensitif-aspirin khusus terutama mengenai orang dewasa. e. • Dapat disertai batuk dengan sputum kental. Lingkungan kerja g. Psikososial • Cemas. GAMBARAN KLINIS Gejala asthma terdiri dari triad : dispnea. h. bahan pewarna seperti tartazin. Iritan seperti asap. pollutan c. tachicardia. PATOFISIOLOGI Asthma akibat alergi bergantung kepada respon IgE yang dikendalikan oleh limfosit T dan B dan diaktifkan oleh interaksi antara antigen dengan molekul IgE yang berikatan dengan sel mast. 5. Obat yang paling sering berhubungan dengan induksi episode akut asthma adalah aspirin. Antagonis beta-adrenergik biasanya menyebabkan obstruksi jalan nafas pada pasien asthma demikian juga dengan pasien lain dengan peningkatan reaktifitas jalan nafas dan . Objektif • Sesak nafas yang berat dengan ekspirasi memanjang disertai wheezing. • Bernafas dengan menggunakan otot-otot nafas tambahan • Cyanosis. Kegiatan jasmani yang berlebihan. Mekanisme dengan aspirin dan obat lain dapat menyebabkan bronkospasme tidak diketahui tetapi mungkin berkaitan dengan pembentukan leukotrien yang diinduksi secara khusus oleh aspirin. Faktor-faktor tersebut adalah : a. Alergen utama : debu rumah. Emosi i. Setelah menjalani bentuk terapi ini. Lain-lain : seperti reflux gastro esofagus. anoreksia. bau-bauan. walaupun keadaan ini juga dapat dilihat pada masa kanak-kanak.yang sering menimbulkan asthma perlu diketahui dan sedapat mungkin dihindarkan. Infeksi saluran nafas terutama yang disebabkan oleh virus d. pulsus paradoksus. Sebagian besar alergen yang mencetuskan asthma bersifat airborne dan supaya dapat menginduksi keadaan sensitivitas. Pasien yang sensitif terhadap aspirin dapat didesentisasi dengan pemberian obat setiap hari. toleransi silang juga akan terbentuk terhadap agen anti-inflamasi non-steroid lain. batuk dan mengi. Baru kemudian muncul asthma progresif. Obat-obatan. f. Masalah ini biasanya berawal dari rhinitis vasomotor perennial yang diikuti oleh rhinosinusitis hiperplastik dengan polip nasal. 4. gelisah. spora jamur dan tepung sari rerumputan b. sulit dikeluarkan. alergen tersebut harus tersedia dalam jumlah banyak untuk periode waktu tertentu. • Fase ekspirasi memanjang disertai wheezing (di apex dan hilus) Subjektif • Klien merasa sukar bernafas. takut dan mudah tersinggung • Kurangnya pengetahuan klien terhadap situasi penyakitnya. Akan tetapi sekali sensitisasi telah terjadi pasien akan memperlihatkan respon yang sangat baik sehingga sejumlah kecil alergen yang mengganggu sudah dapat menghasilkan eksaserbasi penyakit yang jelas. sesak. antagonis beta-adrenergik dan bahan sulfat. gejala yang disebutkan terakhir sering dianggap sebagai gejala yang harus ada (“sine qua non”).

emosi/stress. kerang dan anggur. Tabel 2 :Pengkajian Untuk menentukan beratnya Asthma Manifestasi Klinis Skor 0 Skor 1 a. Penggunaan otot nafas tambahan. salad. Pajanan biasanya terjadi setelah menelan makanan atau cairan yang mengandung senyawa ini. obat-obatan. yang secara luas digunakan dalam industri makanan dan farmasi sebagai agen sanitasi dan pengawet juga dapat menimbulkan obstruksi jalan nafas akut pada pasien yang sensitif. Pencetus-pencetus serangan di atas ditambah cetusan lainnya dari internal pasien akan mengakibatkan timbulnya reaksi antigen dan antibodi yang mengakibatan dikeluarkan substansi pereda alergi yang sebetulnya merupakan mekanisme tubuh dalam menghadapi serangan yang dapat berupa dikeluarkannya histamin. natrium sulfit dan sulfat klorida. anafilatoxin) ↑ Permeabilitas Kapiler • Kontraksi Otot Polos • Edema mukosa • Hipersekresi Obstruksi Saluran Nafas Hipoventilasi Distribusi ventilasi tak merata dengan sirkulasi darah paru Gangguan difusi gas di alveoli Hipoxemia Hiperkapnia Gambar 13 : Skema Patofisiologi Asthma Bronchiale Untuk melihat derajat beratnya asthma biasanya dilakukan pemeriksaan secara komprehensif dengan menggunakan alat ukur seperti pada tabel 2. Wheezing d. seperti kalium metabisulfit. Pencetus serangan (alergen. Respirasi rate permenit e. Pulse rate permenit f. Teraba pulsus paradoksus g. Puncak Expiratory Flow Rate (L/menit) Ya Tidak ada Tidak ada < 25 . c. Penurunan toleransi beraktifitas b. buah segar.harus dihindarkan pada pasien ini. kentang. Hasil dari hal tersebut timbul 3 gejala yaitu berkontraksinya otot polos. kalium dan natrium bisulfit. adanya retraksi interkostal. infeksi) Reaksi Antigen dan Antibodi Release Vasoactive Substance (histamin. peningkatan permeabilitas kapiler dan peningkatan sekresi mukus seperti terlihat pada gambar berikut ini. bradikinin dan anafilatoksin. Obat sulfat. misal. bradikinin.

< 120 Tidak ada > 100 Tidak Ada Ada > 25 > 120 ada < 100 Keterangan : Skor 4/lebih disangkakan asthma berat. Konstriksi Otot Polos Bronchospasme ↑ Sekresi Mukus ↑ Produksi Mukus Bersihan jalan nafas tak efektif Kerusakan Pertukaran Gas Ketidakseimbangan Nutrisi : Kurang dari kebutuhan tubuh (Risiko/aktual) Tabel 3 : Perubahan Dalam Arteri Blood Gas yang berhubungan dengan Asthma Ringan Sedang Berat Status Asmatikus PaO2 PaCO2 pH Elevasi Menurun Alkalosis Normal sampai hipoxemia ringan Menurun sampai Normal Alkalosis Hipoxemia Elevasi Alkalosis Hipoxemia berat Elevasi Jelas Asidosis 6. PENATALAKSANAAN Prinsip-prinsip penatalaksanaan asthma bronchial : a. Diagnosis status asmatikus. klien harus diobservasi untuk menentukan adakah respon dari terapi atau segera dikirim ke rumah sakit. Faktor penting yang harus diperhatikan : 1) Saatnya serangan 2) Obat-obatan yang telah diberikan (macam dan dosis) .

Pemberian obat bronchodilator. penggunaan parenteral pada orang tua harus hati-hati. Efek sampingnya tekanan darah menurun bila dilakukan tidak secara perlahan. Pemberian Oksigen Melalui kanul hidung dengan kecepatan aliran O2 2-4 liter/menit dan dialirkan melalui air untuk memberikan kelembaban. dengan diikuti pemberian 30 – 60 mg prednison atau dengan dosis 1 – 2 mg/Kg BB/hari secara oral dalam dosis terbagi. Terbutalin. • Obat-obat Bronchodilatator simpatomimetik memberi efek samping tachicardia. Setelah serangan mereda : 1) Cari faktor penyebab. OBAT-OBATAN a. maka sebaiknya diberikan Aminophilin secara parenteral sebab mekanisme yang berlainan.9 mg/KgBB/Jam secara infus. c. d. jika tidak ada perbaikan sampai 10-15 menit berikan Aminophilin intravena. Ispenturin. • Pemberian Aminophilin secara intravena dosis awal 5 – 6 mg/Kg BB dewasa/anak-anak. Fenoterol) mempunyai sifat lebih efektif dan masa kerja lebih lama serta efek samping kecil dibandingkan dengan bentuk non-selektif (Adrenalin. maka intake cairan peroral dan infus harus cukup. demikian sebaliknya. e. disuntikkan perlahan dalam 5-10 menit. Obat-obatan bronchodilator golongan simpatomimetik bentuk selektif terhadap adrenoreseptor (Orsiprendlin. b. Efedrin. 7. Anak-anak 0. Pada dewasa dicoba dengan 0. Pertimbangan terhadap pemberian kortikosteroid. Jika sebelumnya telah digunakan obat golongan simpatomimetik. kardiovaskuler dan serebrovaskuler. Bronchodilator Tidak digunakan bronchodilator oral. dilanjutkan dengan pengobatan kortikosteroid 200 mg hidrokortison secara oral atau dengan dosis 3 – 4 mg/Kg BB intravena sebagai dosis permulaan dan dapat diulang 2 – 4 jam secara parenteral sampai serangan akut terkontrol. Untuk dosis penunjang 0.3 ml larutan epinefrin 1 : 1000 secara subkutan. c. sesuai dengan prinsip rehidrasi. Mula-mula diberikan 2 sedotan dari Metered Aerosol Defire (Afulpen Metered Aerosol). Kortikosteroid Pemberian obat–obat bronchodilatator tidak menunjukkan perbaikan. tetapi dipakai secara inhalasi atau parenteral. berbahaya pada penyakit hipertensi.01 mg/Kg BB subkutan (1 mg permil) dapat diulang tiap 30 menit untuk 2–3x sesuai kebutuhan. Obat ekspektoran seperti Gliserolguaiakolat dapat juga digunakan untuk memperbaiki dehidrasi. Baik digunakan untuk sesak nafas berat pada anak-anak dan dewasa. Jika menunjukkan perbaikan dapat diulang tiap 4 jam. Penilaian terhadap perbaikan serangan. Salbutamol. 2) Modifikasi pengobatan penunjang selanjutnya. Isoprendlin) • Obat-obat bronchodilatator serta aerosol bekerja lebih cepat dan efek samping sistemik lebih kecil. bila sebelumnya telah digunakan obat golongan Teofilin oral maka sebaiknya diberikan obat golongan simpatomimetik secara aerosol atau parenteral. antibiotik . kemudian dosis dikurangi secara bertahap.b.

Radang ini dapat timbul sebagai kelainan jalan nafas tersendiri atau sebagai bagian dari penyakit sistemik. merupakan keadaan yang berkaitan dengan produksi mukus takeobronkial yang berlebihan sehingga cukup untuk menimbulkan batuk dengan ekspektorasi sedikitnya 3 bulan dalam setahun untuk lebih dari 2 tahun secara berturut-turut. yaitu : a. baik pada katup maupun myocardium. difteri dan typhus abdominalis.diberikan bila ada infeksi. d. ETIOLOGI Terdapat 3 jenis penyebab bronchitis akut. merupakan sumber bakteri yang dapat menyerang dinding bronchus. b. Dilatasi Bronchus (Bronchiectasi). BRONCHITIS KRONIS 1. asap mobil. metaproterenol. Infeksi : stafilokokus. Adrenergic Agent juga meningkatkan pergerakan cilliary. Beta Agonists Beta agonists (β -adrenergic agents) merupakan pengobatan awal yang digunakan dalam pengobatan asthma dikarenakan obat ini bekerja dengan jalan mendilatasikan otot polos. Infeksi sinus paranasalis dan Rongga mulut. Bronchitis kronis bukanlah merupakan bentuk menahun dari bronchitis akut. Kumpulan lendir tersebut merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri. menurunkan mediator kimia anaphylaxis dan dapat meningkatkan efek broncholasi dari kortikosteroid. albuterol. Penyakit Jantung Menahun. PATOFISIOLOGI . yaitu : a. 3. pertusis. misalnya pada morbili. Istilah bronchitis kronis menunjukkan kelainan pada bronchus yang sifatnya menahun (berlangsung lama) dan disebabkan oleh berbagai faktor. sehingga sering dinamai juga dengan “laringotracheobronchitis”. Jalan inhalasi merupakan jalan pilihan dikarenakan dapat mempengaruhi secara langsung dan mempunyai efek samping yang lebih kecil. sterptokokus. Bronchitis kronis dapat merupakan komplikasi kelainan patologik yang mengenai beberapa alat tubuh. b. Kongesti menahun pada dinding bronchus melemahkan daya tahannya sehingga infeksi bakteri mudah terjadi. yang dapat menimbulkan kelumpuhan bulu getar selaput lendir bronchus sehingga drainase lendir terganggu. B. Walaupun demikian. Alergi c. asap rokok dll. DEFINISI Bronchitis akut adalah radang mendadak pada bronchus yang biasanya mengenai trachea dan laring. 2. haemophilus influenzae. Agent adrenergic yang sering digunakan antara lain epinephrine. isoetharine dan terbutaline. yang menunjukkan adanya serangan bakteri pada dinding bronchus yang tidak normal. Infeksi sekunder oleh bakteri ini menimbulkan kerusakan yang lebih banyak sehingga akan memperburuk keadaan. pneumokokus. d. Biasanya diberikan secara parenteral atau inhalasi. isoproterenol. pada perjalanan penyakit bronchitis kronis dapat ditemukan periode akut. Rangsang : misal asap pabrik. baik yang berasal dari luar bronchus maupun dari bronchus itu sendiri. c. menyebabkan gangguan susunan dan fungsi dinding bronchus sehingga infeksi bakteri mudah terjadi. Rokok.

edema (akibat CHF kanan). Pada saat penyakit memberat. Mukus lebih kental c. biasanya virus. Penampilan umum : cenderung overweight. Sebagai kompensasi dari hipoxemia. Pengkajian : Batuk persisten. kelenjar mukus akan menjadi hipertropi dan hiperplasia sehingga produksi mukus akan meningkat. biasanya karena infeksi pulmonary. ratio ventilasi perfusi abnormal timbul. Usia : 45 – 65 tahun c. Klien terlihat cyanosis. Tidak seperti emfisema. maka terjadi polisitemia (overproduksi eritrosit). Dinding bronchial meradang dan menebal (seringkali sampai dua kali ketebalan normal) dan mengganggu aliran udara. Kerusakan fungsi cilliary sehingga menurunkan mekanisme pembersihan mukus. variabel wheezing pada saat ekspirasi. Aliran udara dapat atau mungkin juga tidak mengalami hambatan. terutama selama ekspirasi. kongesti. Selama infeksi klien mengalami reduksi pada FEV dengan peningkatan pada RV dan FRC. b. sering infeksi pada sistem respirasi. produksi sputum seperti kopi. dan udara terperangkap pada bagian distal dari paru-paru. Mukus yang kental dan pembesaran bronchus akan mengobstruksi jalan nafas. Klien mengalami kekurangan oksigen jaringan . Mukus kental ini bersama-sama dengan produksi mukus yang banyak akan menghambat beberapa aliran udara kecil dan mempersempit saluran udara besar. Jantung : pembesaran jantung. yang mana akan meningkatkan produksi mukus. Jalan nafas mengalami kollaps. Hematokrit > 60% .Bronchitis akut dapat timbul dalam serangan tunggal atau dapat timbul kembali sebagai eksaserbasi akut dari bronchitis kronis. d. diproduksi sejumlah sputum yang hitam. Peningkatan ukuran dan jumlah kelenjar mukus pada bronchi besar. Gejala biasanya timbul pada waktu yang lama. dyspnea dalam beberapa keadaan. bronchitis lebih mempengaruhi jalan nafas kecil dan besar dibandingkan pada alveolinya. hipoxemia akan timbul yang akhirnya menuju penyakit cor pulmonal dan CHF. Bronchitis kronis mula-mula mempengaruhi hanya pada bronchus besar. b. seringkali merupakan awal dari serangan bronchitis akut. edema mukosa dan bronchospasme. Obstruksi ini menyebabkan penurunan ventilasi alveolar. Oleh karena itu. “mucocilliary defence” dari paru mengalami kerusakan dan meningkatkan kecenderungan untuk terserang infeksi. Iritan akan menyebabkan timbulnya respon inflamasi yang akan menyebabkan vasodilatasi. Klien dengan bronchitis kronis akan mengalami : a. Cor Pulmonal. Bronchitis timbul sebagai akibat dari adanya paparan terhadap agent infeksi maupun non-infeksi (terutama rokok tembakau). 4. hipoxia dan asidosis. barrel chest. Pada infeksi saluran nafas bagian atas. dimana terjadi penurunan PaO2. Kerusakan ventilasi dapat juga meningkatkan nilai PaCO2. tetapi biasanya seluruh saluran nafas akan terkena. MANIFESTASI KLINIK BRONCHITIS KRONIS a. Ketika infeksi timbul. Jika masalah tersebut tidak ditanggulangi. Dokter akan mendiagnosa bronchitis kronis jika klien mengalami batuk atau produksi sputum selama beberapa hari + 3 bulan dalam 1 tahun dan paling sedikit dalam 2 tahun berturut-turut. cyanosis akibat pengaruh sekunder polisitemia.

yaitu : a. Antimikrobial b. c. Panacinar timbul pada orang tua dan klien dengan defisiensi . DEFINISI Emfisema merupakan gangguan pengembangan paru-paru yang ditandai oleh pelebaran ruang udara di dalam paru-paru disertai destruksi jaringan (WHO). Surgical Intervention C. maka jika ditemukan kelainan berupa pelebaran ruang udara (alveolus) tanpa disertai adanya destruksi jaringan maka keadaan ini sebenarnya tidak termasuk emfisema. Terbentuknya Bullae Dinding alveolar membengkak dan berhubungan untuk membentuk suatu bullae (ruangan tempat udara) yang dapat dilihat pada pemeriksaan X-ray. Akibat hal tersebut. Emfisema Paraseptal Merusak alveoli pada lobus bagian bawah yang mengakibatkan isolasi dari blebs sepanjang perifer paru. kantung alveolar kehilangan elastisitasnya dan jalan nafas kecil menjadi kollaps atau menyempit. Hilangnya elastisitas paru. timbul sangat sering pada seorang perokok. 3. Sesuai dengan definisi tersebut. biasanya pada region paru atas. Riwayat merokok ⊕ 5. Paraseptal emfisema dipercaya sebagai sebab dari pneumothorax spontan. 2. Inflamasi berkembang pada bronchiolus tetapi biasanya kantung alveolar tetap bersisa. Aerosolized Nebulizer e. PATOGENESIS Terdapat 4 perubahan patologik yang dapat timbul pada klien emfisema. EMFISEMA PARU 1. b. Kollaps jalan nafas kecil dan udara terperangkap Ketika klien berusaha untuk ekshalasi secara kuat. menghasilkan kerusakan bronchiolus. Bentuk ini bersama disebut centriacinar emfisema. Pengobatan yang diberikan : a. c. melainkan hanya sebagai “overinflation”. tekanan positif intratorak akan menyebabkan kollapsnya jalan nafas. Emfisema Centriolobular Merupakan tipe yang sering muncul. Postural Drainage c. Bronchodilator d. Beberapa alveoli rusak dan yang lainnya mungkin dapat menjadi membesar.. Protease (enzim paru) merubah atau merusakkan alveoli dan saluran nafas kecil dengan jalan merusakkan serabut elastin. MANAGEMENT MEDIS BRONCHITIS KRONIS Pengobatan yang utama ditujukan untuk mencegah dan mengontrol infeksi dan meningkatkan drainase bronchial menjadi jernih.e. b. Hyperinflation Paru Pembesaran alveoli mencegah paru-paru untuk kembali kepada posisi istirahat normal selama ekspirasi. d. TIPE EMFISEMA Terdapat tiga tipe dari emfisema : a. Emfisema Panlobular (Panacinar) Merusak ruang udara pada seluruh asinus dan biasanya termasuk pada paru bagian bawah.

lebih lanjut terjadi penurunan perfusi oksigen dan penurunan ventilasi. 5. MEKANISME PENYAKIT Asap tembakau Polusi Udara Gangguan pembersihan paru-paru Peradangan bronchus dan bronchiolus Obstruksi jalan nafas akibat peradangan Hipoventilasi alveolar Bronchiolitis kronik Predisposisi Genetik (defisiensi alfa antitripsin) Sekat & jaringan penyokong hilang Saluran nafas kecil kollaps saat ekspirasi PLE (Emfisema Panlobular) Dinding bronchiolus melemah dan alveoli pecah Saluran nafas kecil kolaps sewaktu ekspirasi Faktor-faktor yang tidak diketahui Seumur hidup PLE asimptomatik pada orang tua CLE dan PLE .enzim alpha-antitripsin. Pada beberapa tingkat emfisema dianggap normal sesuai dengan usia. terjadi peningkatan dyspnea dan infeksi pulmoner. Proses ini akan menyebabkan peningkatan ventilatory pada “dead space” atau area yang tidak mengalami pertukaran gas atau darah. seringkali timbul Cor Pulmonal (CHF bagian kanan) timbul. udara akan tertahan diantara ruang alveolar (disebut blebs) dan diantara parenkim paru (disebut bullae). Perjalanan udara terganggu akibat dari perubahan ini. Pada keadaan lanjut. PATOFISIOLOGI Emfisema merupakan kelainan dimana terjadinya kerusakan pada dinding alveolar. Kesulitan selama ekspirasi pada emfisema merupakan akibat dari adanya destruksi dinding (septum) diantara alveoli. tetapi jika hal ini timbul pada awal kehidupan (usia muda). biasanya berhubungan dengan bronchitis kronis dan merokok. yang mana akan menyebabkan overdistensi permanen ruang udara. kollaps jalan nafas sebagian dan kehilangan elastisitas recoil. 4. Pada saat alveoli dan septa kollaps. Emfisema juga menyebabkan destruksi kapiler paru. Kerja nafas meningkat dikarenakan terjadinya kekurangan fungsi jaringan paru untuk melakukan pertukaran oksigen dan karbon dioksida.

PENGKAJIAN DIAGNOSTIK COPD 1. 7.A. Chest X-Ray : dapat menunjukkan hiperinflation paru. penurunan tanda vaskular/bulla (emfisema). normal ditemukan saat periode remisi (asthma) . Cor Pulmonal timbul pada stadium akhir. Jenis obat yang diberikan : • Bronchodilators • Aerosol therapy • Treatment of infection • Corticosteroids • Oxygenation D. memperlambat perkembangan proses penyakit dan mengobati obstruksi saluran nafas yang berguna untuk mengatasi hipoxia. 1996) 6. Riwayat merokok • Biasanya didapatkan. • Produksi sputum dan batuk jarang. flattened diafragma. peningkatan ruang udara retrosternal. c. MEDICAL MANAGEMENT Penatalaksanaan utama pada klien emfisema adalah untuk meningkatkan kualitas hidup. Pengkajian fisik • Nafas pendek persisten dengan peningkatan dyspnea • Infeksi sistem respirasi • Pada auskultasi terdapat penurunan suara nafas meskipun dengan nafas dalam.CLE Bronchiolitis kronik CLE (Emfisema Centriolobular) Gambar 14 : Mekanisme Timbulnya Emfisema (Sumber : Price. L.. b. Pendekatan terapi mencakup : • Pemberian terapi untuk meningkatkan ventilasi dan menurunkan kerja nafas. • Wheezing ekspirasi tidak ditemukan dengan jelas. Usia 65 – 75 tahun. • Support psikologis • Patient education and rehabilitation. flattened hemidiafragma • Tidak ada tanda CHF kanan dengan edema dependen pada stadium akhir. • Hematokrit < 60% e.M. tapi tidak selalu ada riwayat merokok.. Penampilan Umum • Kurus. Pemeriksaan jantung • Tidak terjadi pembesaran jantung. d. warna kulit pucat. peningkatan bentuk bronchovaskular (bronchitis). & Wilson. MANIFESTASI KLINIK a. S. • Mencegah dan mengobati infeksi • Teknik terapi fisik untuk memperbaiki dan meningkatkan ventilasi paru • Memelihara kondisi lingkungan yang memungkinkan untuk memfasilitasi pernafasan.

Status Asmatikus . mengidentifikasi patogen. ABGs : menunjukkan proses penyakit kronis. pemeriksaan sitologi untuk menentukan penyakit keganasan atau allergi. 3. atrial disritmia (bronchitis). Exercise ECG. AVF panjang. tinggi (bronchitis. alkalosis respiratori ringan sekunder terhadap hiperventilasi (emfisema sedang atau asthma). dizzines. misal : bronchodilator. Pada tahap lanjut timbul cyanosis. Stress Test : menolong mengkaji tingkat disfungsi pernafasan. 6. axis QRS vertikal (emfisema) 12. P pada Leads II. tetapi klien dengan emfisema berat juga dapat mengalami masalah ini. Asidosis Respiratory Timbul akibat dari peningkatan nilai PaCO2 (hiperkapnia). fatique. menentukan abnormalitas fungsi tersebut apakah akibat obstruksi atau restriksi.2. seringkali PaO2 menurun dan PaCO2 normal atau meningkat (bronchitis kronis dan emfisema) tetapi seringkali menurun pada asthma. pembesaran kelenjar mukus (bronchitis) 8. harus diobservasi terutama pada klien dengan dyspnea berat. menurun pada emfisema. peningkatan eosinofil (asthma). Gagal jantung Terutama kor-pulmonal (gagal jantung kanan akibat penyakit paru). tachipnea. Kapasitas Inspirasi : menurun pada emfisema 5. 10. TLC : meningkat pada bronchitis berat dan biasanya pada asthma. 9. memperkirakan tingkat disfungsi dan untuk mengevaluasi efek dari terapi. gel. Kimia Darah : alpha 1-antitrypsin dilakukan untuk kemungkinan kurang pada emfisema primer. 5. III. Sputum Kultur : untuk menentukan adanya infeksi. 11. Terbatasnya aliran udara akan meningkatkan kerja nafas dan timbulnya dyspnea. Darah Komplit : peningkatan hemoglobin (emfisema berat). emfisema). Pemeriksaan Fungsi Paru : dilakukan untuk menentukan penyebab dari dyspnea. efek obat atau asidosis respiratory. kollaps bronchial pada tekanan ekspirasi (emfisema). ECG : deviasi aksis kanan. 6. mengevaluasi keefektifan obat bronchodilator. Tanda yang muncul antara lain : nyeri kepala. 4. Cardiac Disritmia Timbul akibat dari hipoxemia. lethargi. gelombang P tinggi (asthma berat). penurunan konsentrasi dan pelupa. pH normal atau asidosis. penyakit jantung lain. 2. Pada awalnya klien akan mengalami perubahan mood. 4. Komplikasi ini sering kali berhubungan dengan bronchitis kronis. KOMPLIKASI COPD 1. Hipoxemia Hipoxemia didefinisikan sebagai penurunan nilai PaO2 kurang dari 55 mmHg. peningkatan rangsangan otot polos bronchial dan edema mukosa. Infeksi Respiratory Infeksi pernafasan akut disebabkan karena peningkatan produksi mukus. dengan nilai saturasi Oksigen <85%. Bronchogram : dapat menunjukkan dilatasi dari bronchi saat inspirasi. merencanakan/evaluasi program. 3. E. FEV1/FVC : ratio tekanan volume ekspirasi (FEV) terhadap tekanan kapasitas vital (FVC) menurun pada bronchitis dan asthma. 7.

potensial mengancam kehidupan dan seringkali tidak berespon terhadap therapi yang biasa diberikan. kental) Menurunnya energi/fatique Data-data Klien mengeluh sulit untuk bernafas Perubahan kedalaman/jumlah nafas. Hari. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN COPD Intervensi dan rasional pada penyakit ini didasarkan pada konsep Nursing Intervention Classification (NIC) dan Nursing Outcome Classification (NOC) Tabel 4 : Rencana Asuhan keperawatan Klien COPD No Diagnosa Keperawatan Perencanaan (NANDA) Tujuan (NOC) Intervensi (NIC) 1. Penyakit ini sangat berat. Bersihan jalan nafas tak efektif yang berhubungan dengan : Bronchospasme Peningkatan produksi sekret (sekret yang tertahan. penggunaan otot bantu pernafasan Suara nafas abnormal seperti : wheezing. Penggunaan otot bantu pernafasan dan distensi vena leher seringkali terlihat.. (1 – 5) setelah diberikan perawatan selama……. dengan kriteria : • Tidak ada demam • Tidak ada cemas • RR dalam batas normal • Irama nafas dalam batas normal • Pergerakan sputum keluar dari jalan nafas . Status Respirasi : Kepatenan Jalan nafas # dengan skala……. crackles Batuk (persisten) dengan/tanpa produksi sputum. ronchi.Merupakan komplikasi mayor yang berhubungan dengan asthma bronchial.

Penurunan kecemasan c. Manajemen jalan nafas b. Tidak mampu mengeluarkan sekret Nilai ABGs abnormal (hipoxia dan hiperkapnia) Perubahan tanda vital. Kerusakan Pertukaran gas yang berhubungan dengan : Kurangnya suplai oksigen (obstruksi jalan nafas oleh sekret. Surveillance j. Destruksi alveoli Data-data : Dyspnea Confusion.• Bebas dari suara nafas tambahan a. bronchospasme. Monitoring tanda vital 2. Aspiration precautions d. Hari dengan kriteria : • Status mental dalam batas normal • Bernafas dengan mudah • Tidak ada cyanosis • PaO2 dan PaCO2 dalam batas normal • Saturasi O2 dalam rentang normal a. Menurunnya toleransi terhadap aktifitas. air trapping). (1 – 5) setelah diberikan perawatan selama……. lemah. Fisioterapi dada e. Manajemen asam dan basa . Terapi oksigen g. Monitoring respirasi i. Latih batuk efektif f. Pemberian posisi h. Status Respirasi : Pertukaran gas # dengan skala …….

Ketidakseimbangan nutrisi : Kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan Status Nutrisi : Intake cairan dan makanan gas # dengan skala ……. Latih batuk d. (1 – 5) . Data : Penurunan berat badan Kehilangan masa otot.tubuh b. Monitoring cairan c. Hari dengan kriteria : • Asupan makanan skala (1 – 5) (adekuat) • Intake cairan peroral (1 – 5) (adekuat) • Intake cairan (1 – 5) (adekuat) Status Nutrisi : Intake Nutrien gas # dengan skala ……. Tingkatkan keiatan e. fatique Efek samping pengobatan Produksi sputum Anorexia. Monitoring tanda vital 3. Manajemen jalan nafas c. tidak tertarik makan perawatan selama……. tonus otot jelek Dilaporkan adanya perubahan sensasi rasa Tidak bernafsu untuk makan. nausea/vomiting. Status diet No Diagnosa Keperawatan Perencanaan (NANDA) Tujuan (NOC) Intervensi (NIC) dengan : Dyspnea. (1 – 5) setelah diberikan a. Manajemen cairan b. Terapi oksigen f. Monitoring respirasi g.

Manajemen nutrisi f. Kontroling nutrisi i. Hari dengan kriteria : • Mampu memeliharan intake kalori secara optimal (1 – 5) (menunjukkan) • Mampu memelihara keseimbangan cairan (1 – 5) (menunjukkan) • Mampu mengontrol asupan makanan secara adekuat (1 – 5) (menunjukkan) d. Bantuan untuk peningkatan BB l. Konseling nutrisi h. Terapi menelan j. (1 – 5) setelah diberikan perawatan selama……. Monitoring tanda vital k. Manajemen berat badan Keterangan : Untuk intervensi secara kronologi dapat dilihat dari aktifitas tindakan yang dapat anda temukan dalam buku Nursing Intervention Classification (NIC) dan Nursing Outcome Classification (NOC) Kanker paru-paru . Manajemen gangguan makan e. Hari dengan kriteria : • Intake kalori (1 – 5) (adekuat) • Intake protein.setelah diberikan perawatan selama……. karbohidrat dan lemak (1 – 5) (adekuat) Kontrol Berat Badan gas # dengan skala ……. Terapi nutrisi g.

the black areas indicate that the patient was a smoker. kanker paru merupakan penyebab kematian utama dalam kelompok kanker baik pada pria maupun wanita[2]. The white area in the upper lobe is cancer. Lihat panduan penerjemahan Wikipedia. ensiklopedia bebas Langsung ke: navigasi.-C34. cari Kanker paru-paru Klasifikasi dan bahan-bahan eksternal Cross section of a human lung. Halaman ini belum atau baru diterjemahkan sebagian dari bahasa Inggris. Sebagian besar kanker paru-paru berasal dari sel-sel di dalam paru-paru. tetapi kanker paru-paru bisa juga berasal dari kanker di bagian tubuh lainnya yang menyebar ke paru-paru. Frequency of histological types of lung cancer[3] Histological type Frequency (%) . 162 7616 007194 med/1333 med/1336 emerg/335 radio/807 radio/405 radio/406 D002283 Kanker paru-paru adalah pertumbuhan sel kanker yang tidak terkendali dalam jaringan paru yang dapat disebabkan oleh sejumlah karsinogen lingkungan.Dari Wikipedia bahasa Indonesia. terutama asap rokok [1] . Bantulah Wikipedia untuk melanjutkannya. Menurut World Health Organization (WHO). ICD-10 ICD-9 DiseasesDB MedlinePlus eMedicine MeSH C33.

tiroid. rektum. 3. [sunting] Penyebab utama Sub-types of non-small cell lung cancer in smokers and never-smokers[6] Frequency of nonsmall cell lung cancers (%) Histological sub-type Smokers 42 39 4 Squamous cell lung carcinoma Adenocarcinoma (not otherwise specified) Adenocarcinoma Bronchioloalveolar carcinoma Neversmokers 33 35 10 . Hamartoma kondromatous (jinak) 3. Tumor paru-paru yang lebih jarang terjadi adalah: 1.4 16. Karsinoma sel skuamosa Karsinoma sel kecil atau karsinoma sel gandum Karsinoma sel besar Adenokarsinoma Karsinoma sel alveolar berasal dari alveoli di dalam paru-paru. buah zakar.8 0. leher rahim. tetapi seringkali menyerang lebih dari satu daerah di paru-paru. Banyak kanker yang berasal dari tempat lain menyebar ke paru-paru. usus besar. tulang dan kulit. Kanker ini bisa merupakan pertumbuhan tunggal. prostat. 4. Adenoma (bisa ganas atau jinak) 2.8 0.9 Lebih dari 90% kanker paru-paru berawal dari bronki (saluran udara besar yang masuk ke paru-paru). kanker ini disebut karsinoma bronkogenik. lambung. ginjal. 2. yang terdiri dari: 1. Sarkoma (ganas) Limfoma merupakan kanker dari sistem getah bening. Biasanya kanker ini berasal dari payudara.1 1.Non-small cell lung carcinoma Small cell lung carcinoma Carcinoid[4] Sarcoma[5] Unspecified lung cancer 80. yang bisa berasal dari paru-paru atau merupakan penyebaran dari organ lain.

Suara serak/parau. 5. Kadang kanker paru (terutama adenokarsinoma dan karsinoma sel alveolar) terjadi pada orang yang paru-parunya telah memiliki jaringan parut karena penyakit paru-paru lainnya. dan USG Abdomen.Carcinoid Other 7 8 16 6 Merokok merupakan penyebab utama dari sekitar 90% kasus kanker paru-paru pada pria dan sekitar 70% pada wanita. Bekerja dengan asbes. klorometil eter. Batuk yang terus menerus atau menjadi hebat. 2. Pengobatan kanker paru dapat dilakukan dengan cara-cara seperti . Hanya sebagian kecil kanker paru-paru (sekitar 10%-15% pada pria dan 5% pada wanita) yang disebabkan oleh zat yang ditemui atau terhirup di tempat bekerja. Kelelahan kronis Kehilangan selara makan atau turunnya berat badan tanpa sebab yang jelas. Peranan polusi udara sebagai penyebab kanker paru-paru masih belum jelas. Biopsi Jarum Halus. nikel. 4. Semakin banyak rokok yang dihisap. Kasuskkasus stadium dini/ awal sering ditemukan tanpa sengaja ketika seseorang melakukan pemeriksaan kesehatan rutin. meskipun biasanya hanya terjadi pada pekerja yang juga merokok. seperti tuberkulosis dan fibrosis. 3. Gejala pada kanker paru umumnya tidak terlalu kentara. radiasi. [sunting] Gejala kanker paru Gejala paling umum yang ditemui pada penderita kanker paru adalah: 1. kromat. Bronkoskopi. Pembengkakan di wajah atau leher. [sunting] Diagnosis dan pengobatan Beberapa prosedur yang dapat memudahkan diagnosa kanker paru antara lain adalah foto X-Ray. arsen. berubah warna dan makin banyak. 8. Sakit kepala. CT Scan Toraks. Beberapa kasus terjadi karena adanya pemaparan oleh gas radon di rumah tangga. nyeri atau retak tulang dengan sebab yang tidak jelas. gas mustard dan pancaran oven arang bisa menyebabkan kanker paru-paru. semakin besar resiko untuk menderita kanker paru-paru. Napas sesak dan pendek-pendek. 7. 6. sehingga kebanyakan penderita kanker paru yang mencari bantuan medis telah berada dalam stadium lanjut. Dahak berdarah.

Pembedahan dengan membuang satu bagain dari paru . ^ (id) Roche Indonesia: Kanker paru 2. ^ (en) Ferlay J. penghambat pertumbuhan dan gen pengkontrol proses lain dalam sel agar berjalan baik. Gangguan pada gen atau proses pertumbuhan itu dapat menyebabkan sel tumbuh tidak terkendali. kanker darah dan kanker paru. . Kesimpulan : Kanker adalah penyakit yang berhubungan dengan proses pertumbuhan dan perkembangan sel yang tidak terkontrol.1.kadang melebihi dari tempat ditemukannya tumor dan membuang semua kelenjar getah bening yang terkena kanker. • • • Radioterapi atau radiasi dengan sinar-X berintensitas tinggi untuk membunuh sel kanker. kanker nasofaring. Bra Home Lung Cancer 101 Lung Cancer 101 Tuesday. kanker prostat. [sunting] Refensi 1. kanker leher rahim. Mekanisme itu penting sebagai pengganti sel sel tubuh yang rusak dan perlu peremajaan. Besar kecilnya kemungkinan seseorang untuk menderita kanker jenis tertentu tergantung faktor risiko yang dimilikinya. 13 June 2006 Kanker Paru Kanker Dalam keadaan normal sel akan tumbuh sesuai kebutuhan tubuh dengan melalui tahapan tahapan dalam prosesnya. Jika gangguan itu lebih berat dan gangguan pertumbuhan berlangsung terus dan menyebar ke tempat lain (metastasis) kita sebut dengan tumor ganas atau kanker. Pertumbuhan sel yang berjalan dalam beberapa tahapan dan dikontrol oleh gen (pembawa informasi) yang sebagian bertindak sebagai pemicu. kanker usus. Kanker yang paling banyak dikenal orang pada orang dewasa adalah kanker payudara.. Pada beberapa kondisi tidak semua gangguan itu berkembang cepat namun dapat berhenti sebelum berubah menjadi ganas itulah yang kita kenal dengan tumor jinak. Kemoterapi Meminum obat oral dengan efek samping tertentu yang bertujuan untuk memperpanjang harapan hidup penderita. umur berapa saja dan dimana saja dalam tubuh manusia. Kanker dapat terjadi pada siapa saja.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut perlu dipahami dahulu tentang fungsi organ paru. PARU Keterangan Gambar a. gangguan di saluran napas/paru. Mengapa kanker paru sulit diobati. Karena fungsinya itu dapat dipahami bahwa paru paling terbuka dengan polusi udara yang diisap termasuk asap rokok yang dihisap dengan penuh kesengajaan itu. banyak diderita lakilaki dewasa ( usia > 40 tahun) dan perokok. melalui saluran napas (bronkus) dan sampai di dinding alveoli (kantong udara) O2 akan ditranfer ke pembuluh darah yang di dalamnya mengalir anatara lain sel sel darah merah untuk dibawa ke sel-sel sel di berbagai organ tubuh lain sebagai energi dalam proses metabolisme. Secara khusus dikatakan paru adalah tempat tubuh mengambil darah bersih (kaya O2) dan tempat pencucian darah yang berasal dari seluruh tubuh( banyak mengandung CO2) sebelum ke jantung untuk kembali diedarkan ke seluruh tubuh . antara lain udara berpolusi sehingga kadar O2 sedikit. jantung c. kantung udara Paru adalah organ tubuh yang berperan dalam sistem pernapasan (respirasi) yaitu proses pengambilan oksigen (O2) dari udara bebas saat menarik napas.Kanker paru merupakan jenis kanker yang paling sulit diobati. Berbagai kelainan dapat menganggu sistem pernapasan itu. jantung atau gangguan pada darah. Pada tahap berikutnya setelah metabolisme maka sisa-sisa metabolisme itu terutama karbondioksida (CO2) akan dibawa darah untuk dibuang kembali ke udara bebas melalui paru pada saat membuang napas. saluran napas b.

Keluhan yang sering timbul pada penyakit paru disebut keluhan respirasi dapat terjadi hanya satu dan terkadang lebih dari satu. sedangkan tumor yang terdapat dalam saluran napas dapat menyebabkan sumbatan pada saluran napas. Faktor Risiko Kanker Paru • • • • • • • • • Laki-laki Usia lebih dari 40 tahun Pengguna tembakau (perokok putih.Secara umum gangguan pada pada saluran napas dapat merupa sumbatan pada jalan napas (obstruksi) atau gangguan yang menyebabkan paru tidak dapat kembang secara sempurna (restriktif). Kanker paru paling banyak ditemukan pada laki-laki dewasa dan perokok. mencakup keganasan yang berasal dari paru sendiri (primer) atau penyebaran (metastasis) tumor dari organ lain. lingkungan . Tumor yang menekan dinding dada dapat menyebabkan kerusakan/destruksi tulang dinding dada dan menimbulkan nyeri. Definisi khusus untuk kanker paru primer yakni tumor ganas yang berasal dari epitel (jaringan sel) saluran napas atau bronkus. Faktor lain yang dapat menjadi faktor risiko terutama berkaitan dengan udara yang dihirup. Bagaimanapun. Berhenti dari merokok akan mengurangi dengan sangat berarti risiko seseorang terkena kanker paru. kretek atau cerutu) Hidup atau kontal erat dengan lingkungan asap tembakau (perokok pasif) Radon dan asbes Lingkungan industri tertentu Zat kimia. obat-obatan. tidak semua perokok akhirnya menderita kanker paru. Risiko pada bekas perokok lebih besar daripada orang-orang yang tidak pernah merokok. Cairan di rongga pleura yang sering ditmukan pada kanker paru juga menganggu fungsi paru. seperti arsenik Beberapa zat kimia organik Radiasi dari pekerjaan. antara lain • • • • • Sesak napas dengan atau suara mencicit (mengi) Rasa berat di dada jika bernapas Batuk Batuk darah Nyeri dada Kanker Paru Kanker Paru dalam arti luas adalah semua penyakit keganasan di paru. Tumor yang besar di paru dapat menyebabkan sebagian paru dan/saluran napas kolaps. Lebih dari 80% kanker paru berhubungan dengan perokok.

Tidak heran jika kebanyakan penderita kanker paru datang setelah staging atau tingkatan penyakitnya lanjut. cara ini sepertinya hal yang mudah tapi tidak untuk perokok. Faktor utama keberhasilan untuk program berhenti merokok adalah niat dan diikuti dengan bantuan lingkungan sekitarnya agar usaha itu berhasil dengan sukses. sebaiknya segera meneriksakan diri dan dirujuk ke dokter spesialis paru Pencegahan Kanker Paru Penelitian telah membuktikan bahwa lebih dari 80 % kanker paru berhubungan dengan merokok. Bagaimanapun banyak perokok yang telah mencoba berhenti merokok dan mengatakan usaha untuk berhenti merokok adalah hal luar biasa sulit. tetapi jika kanker masih terlalu kecil sering belum menimbulkan gejala dan tanda. Hasilnya uji coba kemopreventif masih belum telralu mengembirakan berbeda denngan program berhenti merokok yang secara nyata telah menurunkan jumlah penderita kanker paru laki laki di Amerika karena meningkatnya jumlah orang yang berhenti merokok. dan terapi hormone. Seseorang perokok yang telah berhasil berhenti 10 tahun lamanya berarti telah dapat menurunkan risiko 30 -50 persen untuk terkena kanker paru. Risiko pada bekas perokok lebih besar daripada orang-orang yang tidak pernah merokok. Program berhenti merokok. metode diet tertentu dan zat kimia sintetis untuk mencegah perkembangan penyakit. Usaha pencegahan kanker yang lain dikenal dengan istilah kemopreventif (Chemoprevention). Untuk bukan perokok. Kecanduan nikotin pada perokok dapt disamakan dengan sakau pada pengguna heroin. nyeri dada. diet. Kasus kasus staging awal (dini) sering ditemukan tanpa sengaja ketika seseorang melakukan pemeriksaan kesehatan rutin (check-up kesehatan). Jadi cara utama untuk seseorang mengurangi risiko terkena kanker paru adalah berhenti merokok. Setelah datang ke dokter akan dicari kelainan pada seluruh tubuh atau fisik diagnostik dan . Kemopreventif adalah penggunaan bahan alami. Ini barangkali catatan kenapa banyak sekali perokok berusaha untuk berhenti namun gagal. sesak napas. Berhenti merokok akan mengurangi dengan sangat berarti risiko seseorang terkena kanker paru. Misalnya vitamin. Banyak cara dan bahan yang sedang diuji cobakan dengan tujuan bukan hanya mengurangi resiko kanker. bahkan boleh jadi kadang kadang lebih keras lagi.• Polusi udara Seseorang yang termasuk golongan risiko tinggi (GRT) jika mempunyai keluhan napas (gangguan respirasi) seperti batuk. tetapi juga untuk mengurangi kesempatan akan berulangnya kanker (relapps). Diagnosis Kanker Paru Seseorang dapat didiagnosis karena ada gejala atau tanda.

Hal itu disebabkan tumor masih dengan volume kecil dan belum menyebar sehingga tidak menimbulkan . Tanda dan gejala mungkin tidak kelihatan sampai penyakit telah mencapai tahap lanjut. sakit yang menyertainya Retak tulang yang tidak berhubungan dengan luka akibat kecelakaan Gejala-gejala pada saraf (seperti: cara berjalan yang goyah dan atau kehilangan ingatan sebagian) Bengkak pada leher dan wajah Kehilangan berat badan yang tidak diketahui penyebabnya Pemeriksaan fisis Dokter terkadang tidak mendapatkan kelainan pada pemeriksaan fisis penderita kanker paru staging awal penyakitnya. bahu atau nyeri punggung yang tidak berhubungan terhadap nyeri akibat batuk yang terus menerus Perubahan warna pada dahak Meningkatnya jumlah dahak Dahak berdarah Bunyi menciut-ciut saat bernafas pada bukan penderita asma Radang yang kambuh Sulit bernafas Nafas pendek Serak Suara kasar saat bernafas Selain dari itu juga barangkali tanda-tanda dan gejala-gejala disebabkan oleh penyebaran kanker paru pada bagian tubuh lainnya. • • • • • • • • • • • • Batuk pada perokok yang terus menerus atau menjadi hebat Batuk pada bukan perokok yang menetap sampai dengan lebih dari dua minggu Dada. Tanda dan gejala Tanda dan gejala kanker paru membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dapat diketahui dan seringkali dikacaukan dengan gejala dari kondisi yang kurang serius. Tergantung pada organ-organ yang dirusak. nyeri tulang.selanjutnya akan dilakukan pemeriksaan tambahan agar didapat kepastian tentang penyakitnya. • • • • • • • Kelelahan kronis Kehilangan nafsu makan Sakit kepala.

Kelainan yang didapat tergantung letak dan besar tumor sehingga menimbulkan gangguan. Kanker paru juga dapat menyebabkan timbulnya tumpukan cairan di rongga pleura atau menekan pembuluh darah balik (vena). Kelainan yang didapat tergantung letak dan besar tumor sehingga menimbulkan gangguan. ketiak. misalnya benjolan di leher. dll. Jenis sel kanker paru Beberapa pemeriksaan yang dilakukan dokter spesialis paru untuk mendapatkan jenis sel kanker paru antara lain : Dokter terkadang tidak mendapatkan kelainan pada pemeriksaan fisis penderita kanker paru staging awal penyakitnya. Tidak jarang juga pasien datang dengan kelumpuhan akibat penyebaran di otak atau tulang belakang (vetebra).gangguan di tempat lain. . Dokter akan selalu meminta persetujuan pasien dan keluarganya untuk setiap pemeriksaan yang dilakukan. Kelainan yang dapat ditemukan berkaitan penyebaran kanker. Pemeriksaan (prosedur diagnosis) Ditemukannya jenis sel (histologis) kanker adalah syarat utama untuk mengatakan seseorang menderita kanker dan selanjutnya dapat ditentukannya staging (tingkatan) penyakitnya secepat mungkin untuk menentukan pengobatan terbaik. Pada kondisi umum yang buruk terkadang dokter akan memutuskan memberi pengobatan sebelum diagnosis pasti muncul. dll. Pada kasus dengan staging lanjut akan dapat ditemukan kelainan tergantung pada gangguan yang ditimbulkan oleh tumor primer atau penyebarannya. Kelainan yang dapat ditemukan berkaitan penyebaran kanker. Hal itu disebabkan tumor masih dengan volume kecil dan belum menyebar sehingga tidak menimbulkan gangguan di tempat lain. Pada kasus dengan staging lanjut akan dapat ditemukan kelainan tergantung pada gangguan yang ditimbulkan oleh tumor primer atau penyebarannya. misal pasien datang dengan sesak napas yang hebat dan muka/leher dan lengan bengkak karena tumor menekan pembulu darah balik (sindrom vena kava superior) atau nyeri yang hebat terutama jika kanker telah merusak tulang. misalnya benjolan di leher. Kanker paru juga dapat menyebabkan timbulnya tumpukan cairan di rongga pleura atau menekan pembuluh darah balik (vena). ketiak. Tidak jarang juga pasien datang dengan kelumpuhan akibat penyebaran di otak atau tulang belakang (vetebra). Penting diingat tidak semua jenis pemeriksaan harus dilakukan pada pasien tetapi berdasarkan kondisi umum dan penyakit pada saat datang ke dokter.

Misalnya untuk tumor yang ditemukan di leher. Jenis sel kanker paru Beberapa pemeriksaan yang dilakukan dokter spesialis paru untuk mendapatkan jenis sel kanker paru antara lain : • Sitologi sputum: menemukan sel kanker pada sputum atau dahak penderita. Biopsi jarum halus: yaitu mengambil spesimen jaringan dari tumor yang superfisial menggunakan jarum halus. Punksi pleura yaitu mengambil cairan dari rongga pleura (lapisan paru) jika ditemukan cairan akibat kanker paru. sesak atau batuk • • . hasil punksiini akan dianalisa dan dikirim ke laboratorium patologi anatomi untuk di proses. Jika volume cairan cukup banyak dokter spesialis paru akan sekaligus mengeluarkan sampai 1. Tetapi perlu diingat terkadang hasilnya meski positif tapi bukan berupa sebaran kanker paru. Tehnik ini sangan sederhana dan jarang menimbulkan komplikasi berat. Kepositfan pemeriksaan ini < 10% dan sangat bergantung pada tehnik pasien membantukkan dahak yang akan diperiksa.500 cc tergantung toleransi pasien. Jika pasien merasa tidak enak. misalnya tuberkulosis(TBC). Hasil positif tidak selalu didapt dengan tehnik ini tetapi harus dilakukan. Pada saat melakukan terkadang dibutuhkan anestesi (bius) lokal saja. Pada kondisi umum yang buruk terkadang dokter akan memutuskan memberi pengobatan sebelum diagnosis pasti muncul. jika volume cairan dikit dokter paru akan melacak lokasi yang tepat dengan bantuan USG toraks. Punksi ini menggunakan jarum infus ukuran 14. Dokter paru biasanya dapat melakukan dengan cepat dan hasil kepositifannya cukup tinggi. Bahan hasil pemeriksaan ini akan diletakkan dalam gelas objek dansegera direndam dalam alkohol 98% dan dikirim ke patologi anatomi untuk di proses. misal pasien datang dengan sesak napas yang hebat dan muka/leher dan lengan bengkak karena tumor menekan pembulu darah balik (sindrom vena kava superior) atau nyeri yang hebat terutama jika kanker telah merusak tulang. ketiak atau dinding dada yang dapat diraba. Penting diingat tidak semua jenis pemeriksaan harus dilakukan pada pasien tetapi berdasarkan kondisi umum dan penyakit pada saat datang ke dokter. Dokter akan selalu meminta persetujuan pasien dan keluarganya untuk setiap pemeriksaan yang dilakukan. dll. hasil positif biasanya ditemukan jika kanker ada di dalam saluran napas.Pemeriksaan (prosedur diagnosis) Ditemukannya jenis sel (histologis) kanker adalah syarat utama untuk mengatakan seseorang menderita kanker dan selanjutnya dapat ditentukannya staging (tingkatan) penyakitnya secepat mungkin untuk menentukan pengobatan terbaik. kanker kelenjar getah bening. Dahak yang diperiksa harus dahak segar pagi hari dan segera dibawa ke laboratorium patologi anatomi untuk diproses.

Jika ditemukan kelaianan pada saluran napas itu merupakan poin bahwa tumor di paru itu adalah kanker paru. Kepositifnya juga tidak terlalu besar.batuk maka aliran cairan harus segera dihentikan. Cara lain adalah dengan mengambil bahan atau spesiem yang ada di saluran napas dengan bantuan prosedur bronkoskopi. apkah dsistem perdarahan baik atau komplikasi lain karena tehnik ini dapat menimbulkan komplikasi serius meski angka kejadiannyanya sangat kecil.Dokter spesialis paru biasa melakukan ini dengan bius lokal dengan tingkat kepositifan yang besar. Kanker paru jenis karsinoma sel kecil (KPKSK = SCLC) merupakan 20% dari seluruh kanker paru. Ada beberapa jenis KPKBSK yang dapat dikenali diantaranya: • • • • Karsinoma epidermoid (disebut juga karsinoma sel skuamosa) Adenokarsinoma. maka dokter spesialis paru akan mengalirkan dengan cara memasang selang dada (WSD) sebagai usaha mengurangi keluhan dan paru dapat mengembang maksimal. sikatan dan biopsi dan bahkan TBLB (trans-bronchial lung biopsy). karsinoma bronkoalveolar. Pada kasus dengan jumlah cairan yang terus banyak. Dapat dilakukan dengan berpedoman pada foto toraks atau dengan tuntutan CT-scan dll. Cara ini biasanya dilakukan bersamaan dengan punksi pleura. Tetapi pada kondisi berat harus dilakukan di kamar operasi dengan bius umum. 2. • Biopsi pleura yaitu mengambil sedikit jaringan pleura jika didapat rongga pleura akibat penumpukan cairan. Bronkoskopi adalah tehnik pemeriksaan memakai bronkoskop untuk melihat kelainan dalam saluran napas dan jika ditemukan kelainan akan dilakukan tindakan bilasan. bersifat lebih agresif tetapi sangat responsif dengan pengobatan. . Punksi pleura dan pemasangan selang dada kebanyakan dilakukan dokter spesialis paru dengan bius lokal. Kanker paru jenis karsinoma bukan sel kecil (KBKBSK= NSCLC) yang terbanyak yaitu sekitar 80% dari kanker paru-paru. • • Jenis sel kanker paru secara garis besar dibagi atas 2 kelompok 1. adalah jenis sel kanker terbanyak dan terutama pada perokok Karsinoma sel besar Lain-lain:merupakan jenis yang jarang ditemukan misalnya karsinoid. Bronkoskopi memerlukan persiapan yang teliti. TTNA ( Transthoracal needle aspiration): yaitu mengambil spesimen jaringan dengan menggunakan jarum halus menembus dinding dada. apakh fungsi jantung baik.

Untuk kanker paru pada kondisi tertentu dokter akan melakukan CT-scan ulang jika pasien membawa CT-scan lama yang telah dilakukan > 1 bulan. Foto toraks belum cukup karena tidak dapat menentukan keterlibatan kelenjar getah bening dan metastasis luar paru. Pemeriksaan lain. Tetapi foto toraks hanya dapat metentukan lokasi tumor. Untuk kasus yang duduga staging awal. Bone scan /MRI untuk menilai metastasis di tulang. lokasi dan apakah sudah terjadi keterlibatan kelenjar getah bening di dada serta ada tidaknya penyebaran di paru. • • • . Beberapa pemeriksaan tambahan harus dilakukan dokter spesialis paru untuk menentukan staging penyakit. keterlibatan kelenjar getah bening (N) dan penyebaran jauh (M). Sama perti pencarian jenis histologis kanker. Pemeriksaan tambaban ini dilakukan jika ada keluhan atau pasien dengan staging awal dan akan dioperasi. antara lain MRI toraks kurang bermanfaat untuk menentukan staging kanker paru. Pada pertemuan pertama dokter akan melakukan foto toraks (foto polos dada). ukuran tumor ada tidaknya cairan. CT-scan dilakukan dengan menggunakan kontras dan sebagai persiapannya pasien harus puasa sekitar 4 jam sebelum CT dilakukan dan hanya dapat dilakukan jika fungsi ginjal baik 9craetinine darah normal). CT/MRI kepala untuk menilai metastasis di otak. pemeriksaan untuk menetukan staging juga tidak mesti sama pada semua pasien tetapi masing masing pasien mempunyai prioriti pemeriksaan yang harus segera dilakukan tergantung kondisinya pada saat datang. atau biopsi. paru kolaps luas menutup tumor sehingga tidak terlihat. untuk kemudahannya maka CT-scan toraks dilakukan sampai kelenjar suprarenal sehingga dapat dipastikan belum terjadi penyebaran ke hati atau oragan perut lainnya.Staging (tingkatan) kanker paru Staging kanker paru ditentukan oleh tumor (T). sikat. Bronkoskopi diperlukan untuk menlai apakah akan timbul kegawatan misalnya sumbatan pada saluran napas akibat tumor dalam saluran napas atau penekanan dari luar. Jika pasien membawa foto yang telah lebih dari 1 minggu maka akan dibuat foto yang baru. Pemeriksaan lain lebih ditujuan untuk melihat apakah telah terjadi penyebaran (metastasis) jauh :. USG abdomen: dilakukan jika pada pemeriksaan fisik ditemukan pembengkakan hati tetapi dengan CT tehniknya lebih sederhana dan hasilnya lebih informatif. • Bronkoskopi adalah tehnik pemeriksaan yang menggunakan alat bronkoskop yang dimasukkan ke dalam saluran napas sehingga dapat menilai keaadan saluran napas. Bahkan pada beberapa kondisi misalnya volume cairan yang banyak. dan sekaligus dapat mengambil spesimen untuk pemeriksaan sel kanker dengan cara bilasan. CT-scan toraks : imaging (foto) ini lebih inforamatif karena dapat melihat karakteristik tumor lebih jelas termasuk menentukan ukuran.

Kanker Paru Jenis Karsinoma Bukan Sel Kecil (KPKBSK) • Staging/Tingkat I A/B Satu tumor ukuran kurang atau lebih dari 3 cm pada satu lobus paru Staging/Tingkat II A/B Satu tumor dalam lobus paru melekat ke dinding dada atau menyebar ke kelenjar getah bening di dalam paru yang sama Staging/Tingkat III A Tumor yang menyebar ke kelenjar getah bening didalam area trakeal memasuki dinding dada dan diaphragma Staging/Tingkat III B Tumor yang menyebar ke nodes getah bening pada lawan paru. Staging ini penting untuk menentukan pilihan terapi yang harus segera diberikan pada pasien. atau penyebaran jauh (M) Kanker Paru Jenis Karsinoma Sel Kecil (KPKSK) • • • • Staging/Tingkatan Terbatas Tumor ditemukan didalam satu paru dan penjelaran ke kelenjar getah bening dalam paru yang sama Staging/Tingkatan Luas Tumor telah menyebar keluar dari satu paru atau ke organ lain diluar paru. Staging berdasarkan ukuran dan lokasi tumor primer. penyebaran kelenjar getah bening (N). atau di dalam • • • . Staging berdasarkan ukuran dan lokasi tumor primer. penyebaran kelenjar getah bening (N). Staging ini penting untuk menentukan pilihan terapi yang harus segera diberikan pada pasien.Staging (Penderajatan atau Tingkatan) Kanker Paru Staging kanker paru dibagi berdasarkan jenis histologis kanker paru. apakah KPKSK atau KPKBSK. atau penyebaran jauh (M) Kanker Paru Jenis Karsinoma Sel Kecil (KPKSK) Staging kanker paru dibagi berdasarkan jenis histologis kanker paru. apakah KPKSK atau KPKBSK. keterlibatan organ dalam dada/dinding dada (T). keterlibatan organ dalam dada/dinding dada (T).

• Staging/Tingkat IV Tumor yang menyebar kebagian lain paru atau organ lain di luar paru.leher. jumlah sel darah putih atau . Radioterapi Radioterapi atau iradiasi diberikan pada staging III dan IV KPKBSK. Bedah yang dilakukan adalah dengan membuang 1 lobus paru (kadang lebih) tempat ditemukannya tumor dan juga membuang semua kelenjar getah bening mediastinal. gawat napas yang mengancam jiwa. Dokter juga harus menjelaskan kelebihan dan kekurangan adri pilihan terapi itu termasuk kebutuhan biaya. Pilihan pengobatan untuk kanker paru Ada beberapa pilihan untuk pengobatan kanker paru pada masing-masing tingkatan yang dapat ditawarkan jika diagnosis pasti yaitu jenis histologis dan staging penyakit telah dapat ditentukan Mengenai keputusan pilihan pengobatan pasien harus dibuat oleh kedua belah pihak yaitu pasien dan dokter yang merawat. Di Indonesia (Jakarta) telah dapat melakukan terapi tampa pembedahan di kepala dengan menggunakan cyber knife. Pada kasus khusus misal dengan penyebaran kepala dan hanya ditemukan 1 tumor di otak dan mengganggu kualiti hidup pasien dapat dilakukan pembuangan tumor di kepala dengan bedah. dapat diberikan tunggal untuk mengatasi masalah di paru (terapi lokal) atau gabungan dengan kemoterapi. Diagnosis sebelum bedah mungkin saja akan berubah setelah bedah. Pasien yang diputuskan akan mendapat radioterapi akan dirujuk dokter spesialis paru ke dokter spesialis radioterapi dan akan kembali ke dokter semula jika terapi tidak memberikan respons atau radioterpai telah selesai atau muncul efek samping akibat radioterapi itu. Akibatnya mungkin saja setelah bedah pasien harus mendapat radiasi atau kemoterapi segera setelah luka operasinya sembuh. Hal itu terjadi karena keterbatasan alat bantu diagnosis atau penyakit telah berkembang selama putusan bedah dilakukan. atau nyeri hebat. Radioterapi dapat diberikan jika sistem homeostatik (HB. Bedah Hanya dilakukan untuk KPKBSK staging I atau II atau untuk pengobatan paliatif yaitu pada kondisi mengancam nyawa misal batuk darah masif. Dokter harus menjelaskan mengapa pilihan terapi itu ditawarkan kepada pasien dan keluarganya.

Leukosit < 3. fungsi hati. Dokter akan melakukan koreksi dan jika telah memenuhi syarat maka radiasi dapat dilakukan kembali. tetapi jika respons negatif (tumor membesar atau tumbuh yang baru) radiasi harus dihentikan. Radioterapi juga dapat diberikan pada lokasi bukan tumor primer.000/dl. Pemberian kemoterapi harus dilakukan di rumah sakit karena diberikan dalam prosedur tertentu atau ptotokol yang berbeda tergantung pada jenis obat antikanker yang digunakan. Kemoterapi dapat diberikan pada semua jenis kanker paru dan tujuannya bukan hanya membunuh sel kanker pada tumor primer tetapi juga mengejar sel kanker yang menyebar di tempat lain. Untuk melihat respons radiasi dokter akan melakukan foto toraks setiap setelah radiasi diberikan 10X (2. Untuk kasus KPKSK radiasi kepala harus diberikan setelah kemoterapi selesai diberikan 6 siklus. Efek samping dinilai sejak mulai kemoterapi I diberikan. Kemoterapi adalah pilihan terapi untuk KPKSK dan KPKBSK stage III/IV. Pada kemoterapi diberikan lebih dari 1 jenis obat antikanker dan biasanya 2 macam. mual muntah.leukosit dan trombosit darah) baik. Sinar yang diberikan tergantung pada alat yang ada di rumah sakit. tujuannya agar lebih banyak sel kanker yang dapat dibunuh dengan jalur yang berbeda. misal HB < 10 gr %. Efek samping lain yang dapat menganggu proses pemberian adalah gangguan fungsi hemostatik HB < 10 gr%. Pemberian kemoterapi memerlukan beberapa syarat antar lain kondisi umum pasien baik yaitu masih dapat melakukan aktiviti sendiri. Kemoterapi Kemoterapi adalah memberikan obat anti-kanker pada pasien dengan cara diinfuskan. misalnya COBALT atau LINAC Evaluasi efek samping dilakukan setiap setelah pemberian 5x (1. Efek samping itu tidak sama waktu muncul dan berat ringannya pada setiap orang dan juga tergantung pada jenis obat yang digunakan.000/dl atau trombosit < 100. fungsi ginjal dan fungsi hemostatik (HB. jumlah sel darah putih atau lekosit dan jumlah trombosit darah) harus baik. Efek samping kemoterapi kadang sangat mengganggu. Kemoterapi dihitung dengan siklus pemberian yang dapat dilakukan setiap 21 – 28 hari setiap siklusnya. Jika pada penelian respons positif (tumor mengecil atau menetap) maka radiasi dapat diteruskan.000 cGy) jika ada gangguan radiasi akan dihentikan sementara. semutan.000/dl. radiasi tulang jika tumor telah menyebar ke tulang.000 cGy) . misalnya radiasi kepala jika tumor telah menyebar ke kepala. . misalnya rontoknya rambut s/d botak. mencret dan bahkan alergi. Leukosit < 3000/dl atau trombosit < 100. Radioterapi biasanya diberikan 5 hari dalam seminggu dengan dosis rata rata 200 cGy perhari hingga dosis 5000 – 6000 cGy.

Efek samping yang berat dapat menghentikan jadwal pemberian. Terapi lain Dengan berbagai alasan banyak pasien kanker paru memilih obat alternatif yang belum teruji dan bukan standar untuk pengobatan kanker paru. Dapat terjadi semua memenuhi syarat kecuali kondosi umum maka dokter tidak akan memberikan pilihan terapi apapun lagi. radioterapi atau kemoterapi maka dapat ditawarkan pemberian obat golongan baru dengan mekanisme kerja yang telah teruji dikenal dengan istilah targeted therapy. Sampai saat ini anjuran penggunaan targeted therapy untuk kanker paru adalah sebaiknya setelah kemoterapi diberikan kecuali pada kasus kasus pilihan terapi utama tidak dapat dilakukan. CATATAN PENTING • Pengobatan kanker paru bukan hanya tergantung pada jenis dan staging tetapi pada kondoisi umum pasien. . Targeted therapy Pada banyak kondisi pasien tidak dapat memenuhi syarat untuk dilakukan pembedahan. dokter akan mengkoreksi efek samping yang muncul dengan memberikan obat dan tranfusi darah jika perlu. Tetapi jika pada evaluasi terjadi perburukan misalnya tumor membesar atau tumbuh tumor yang baru. kemoterapi harus dihentikan dan diganti dengan jenis obat anti-kanker yang lain. Evaluasi dengan menggunakan CT-scan toraks dilakukan setelah pemberian 3 siklus ( sebelum pemberian kemoterapi IV). Obat golongan ini diberikan 1x perhari dengan cara diminum. Evaluasi hasil kemoterapi dinilai minimal setelah 2 siklus pemberian (sebelum kemoterapi III diberikan) yang dapat merupa respons subyektif yaitu apkah BB meningkat atau keluhan berkurang dan foto toraks untuk melihat kelainan di paru. Jika pada penelian tumor hilang (komplit respons) mengecil sebagian (respons partial) atau tumor menetap tapi respons subyektif baik maka kemoterapi dapat diterudskan samapi 4 – 6 siklus. Catatan : seringkali biaya untuk pengobatan alternatif itu lebih mahal dari pilihan pengobatan utama misalnya radiasi atau kemoterapi. Jika diputuskan itu pilihan pasien dan keluarga anjurannya adalah pasien tetap kontroil ke dokter spesialis parunya agar dapat dipantau efek samping obat obatan yang digunakan dan dapat memutuskan kapan obat obat alternatif itu tidak bermanfaat dan sebaiknya dihentikan.

ui. Definisi a. termasuk bronchitis. pada empisema. empisema. 1999.ac. PPOM paling sering diakibatkan dari iritasi oleh iritan kimia (industri dan tembakau). • Dr. Asma ditandai oleh penyempitan jalan napas bronchial. kehilangan elastisitas jaringan paru dan penyempitan jalan napas kecil. obat obatn itu sebaiknya dengan resep dokter spesilais yang merawat karena menerlukan perubahan sesuai kondosi pasien. Elisna Syahruddin. Selama pengobatan standar pasien sangat dianjurkan memakan dengan komposisi seimbang karena tidak ada larangan khusus untuk itu kecuali karena penyakit lain. Bronkhitis kronis dan bronkietasis ditandai dengan pembentukan mucus bronchial yang berlebihan dan batuk yang disebabkan oleh inflamasi kronis bronkiolus dan hipertropi serta hyperplasia kelenjar mukosa. hal 110 ). obstruksi jalan napas disebabkan oleh hperinflasi alveoli.P Email: elisnas@fk. banyak sayuran dan buahan dalah baik sekali. . Sp. Mengkonsumsi vitamin. you need Javascript enabled to view it [ Back ] Home | Contact Us | Disclosure | Privacy 03 Mei 2009 Askep COPD A. polusi udara. PhD. bronkietaksis dan asma. KONSEP DASAR MEDIS 1. atau infeksi saluran pernapasan kambuh ( Carpernito.• Pengobatan lain yang diberikan adalah obat obat penghilang gejala taua simptomatis.id This email address is being protected from spam bots. COPD atau yang lebih dikenal dengan PPOM merupakan suatu kumpulan penyakit paru yang menyebabkan obstruksi jalan napas.

5) Bronkus. 137 ). hal. radiologik. c. beberapa batuk dari asma. Trakea diliputi oleh selaput lendir yang memiliki silia. terutama beartambahnya resistensi terhadap jalan udara saat ekspirasi. Pada lengkungan faring terdapat dua buah tonsil atau amandel yang bersimpulkan kelenjar limfe yang banyak mengandung lymfosit dan juga epiglotis yang berfungsi menutupi laring pada saat menelan makanan. Laring juga melindungi jalan pernapasan bawah dari obstruksi benda asing dan memudahkan batuk. COPD atau PPOM merupakan suatu kelompok paru yang mengakibatkan obstruksi yang menahun dan persisten dari jalan napas di dalam paru.b. Merupakan lanjutan dari trakea ada dua buah yang terdapat pada ketinggian vertebral . kedepan berhubungan denga rongga mulut disebut orofaring. 1982. dibelakang rongga hidung dan mulut sebelah depan ruas tulang leher. terdapat dibawah dasar tengkorak. dan fisiologik terdapat “Overlopping“ satu sama lain sehingga penegakan diagnosis pasti dari pada salah satu penyakit sukar di tetapkan. Anatomi Fisiologi a. Termasuk dalam kelompok ini yaitu : bronkiektasis . (“airways resistance”). bagian belakang adalah esofagus sebagai saluran pencernaan. fungsi hidung adalah bekerja sebagai saluran udara pernapasan sebagai penyaring udara pernapasan yang dilakukan oleh bulu-bulu hidung dapat menghangatkan udara pernapasan oleh mukosa. 4) Trakea. 2) Faring. Merupakan struktur epitel kartilago berbentuk rangkaian cincin yang meghubungkan faring dengan trakea. emfisema paru. Secara fungsional semuanya akan mengakibatkan peningkataan tahanan saluran napas. Trakea disokong oleh cincin tulang rawan yang berbentuk sepatu kuda dan panjangnya kurang lebih 5 inch. 3) Laring. kebawah mempunyai dua lubang bagian depan disebut laringofaring. dan dipisahkan oleh sekat hidung (septum nasi). mampunyai dua lubang (kavum nasi). ( Robbins. debu dan kotoran yang masuk kedalam lubang hidung. hal 218 ). Didalamnya terdapat bulu-bulu yang berguna untuk menyaring udara. Anatomi saluran pernapasan 1) Rongga hidung Merupakan saluran udara yang pertama. Karina merupakan tempat percabangan trakea menjadi bronkus utama kiri dan kanan. Bagian ini memiliki banyak saraf dan dapat menyebabkan bronkospasme dan batuk yang kuat jika di rangsang. berfungsi untuk mengeluarkan benda asing yang masuk bersama-sama dengan udara pernapasan. keatas berhubungan dengan rongga hidung disebut nasofaring. ( Kapita selekta. dan lain-lain. membunuh kuman-kuman yang masuk bersama-sama udara pernapasan leukosit yang terdapat di dalam mukosa hidung. 1995. Fungsi laring adalah memungkinkan terjadinya vokalisasi. Merupakan tempat persimpangan antara jalan pernapasan dan jalan makanan. Walaupun masing-masing mempunyai karakteristik tersendiri tetapi sering secara klinis. bronkhitis menahun. Penyakit obstruksi menahun (COPD) merupakan penyakit paru yang jelas secara anatomi memberikan tanda kesulitan pernapasan yang mirip yaitu keterbatasan jalan udara yang kronis.

Bronkus kiri lebih panjang dan lebih kecail atau ramping. 107 ). Pada waktu kita bernapas biasa udarayang masuk kedalam paru-paru 2. Etiologi . bronkus yang bercabang-cabang yang lebih kecil disebut bronkeolus (bronkioli). Paru-paru ini dibagi menjadi dua yaitu paru-paru kanan yang terdiri dari 3 lobus dan paru-paru kiri mempunyai 2 lobus. Letak paru-paru adalah pada rongga dada tepatnya pada cavum mediastinum. mempunyai tiga cabang. paru-paru akan terlindungi dinding dada. hal. ( Sumber : Syaifuddin. Paru-paru dibungkus oleh dua selaput halus yang disebut fleura visceral. udara dihirup masuk melintasi traktus respiratorius sampai alveoli. Paru-paru merupakan salah satu alat tubuh yang sebagian besar terdiri dari gelembunggelembung (alveoli). didalam pubuh terjadi proses oksidasi atau pembakaran.000 buah (paru-paru kiri dan kanan).torakalis ke IV dan V. Pada bronkioli terdapat gelambung paru dan gelembunag hawa atau alveoli. sedangkan selaput yang berhubungan langsung denga rongga dada sebelah dalam adalah selaput fleur parietal. 1996. Bronkus-bronkus ini berjalan kebawah dan kesamping tumpukan paru-paru. pernapasan bisa bertambah cepat atau sebaliknya. 600 CM3 atau 2 ½ M jumlah pernapasan. hal 106 ). berungsi untuk melucinkan permukaan selaput fleura agar dapat bergerak akibat inspirsi dan ekspirasi. Diantara pleura ini terdapat sedikit cairan. 6) Paru-paru. O2 masuk kedalam darah dan CO2 dikeluarkan dari dalam darah.000. Sedangkan kapasitas vital adalah jumalah udara dapat dikeluarkan setelah ekspirasi maksimal. Kapasitas paru-paru dapat dibedakan menjadi dua kapasitas yaitu kapasitas total yang mengandung arti jumlah udara dapat mengisi paru-paru pada inspirasi sedalam-dalamnya. Waktu ekspirasi di dalam paru-paru dapat masih tertinnggal kurang lebih 3 liter udara. pada lapisan inilah terjadi pertukaran udara. Karbondioksida dikangkat oleh sirkulasidarah vena masuk ke atrium dekstra ke vertikel dekstra dan di pompa ke paru-paru melintasi arteri pulmonalis. 1996. dan bayi : 30 x/menit. mempunyai struktur serupa dengan trakea dan dilapisi oleh jenis sel sama. Sebagai terjadinya proses atmosfir karbondioksida dikeluarkan melalui kapiler-kapiler alveoli dibawa ke atrium sinistra vena purmonalis Yang kemudian diteruskan di vertikel sinestrayang di pomp[a di aorta. Jika dibentang luas permukaan kurang lebih 90 m2. Banyaknya gelembung paru-paru ini kurang lebih 700. Alveoli terdiri dari sel-sel epitel dan endotel. Didalam sel paru-paru terjadi lagi proses oksidasi. ( Syarifuddin. karbon dioksida dikeluarkan melalui ekspirasi sedangkan sisa lainnya dikeluarkan melalui traktus urogenital dalam bentuk air senidan kulit dalam bentuk keringat. kemudian dialirkan keseluruh tubuh. Bronkus kanan lebih pendek dan lebih besar dari pada bronkus kiri. Dalam keadaan tertentu keadaan tersebut akan berubah. terditi dari 9-12 cincin mempunyai 2 cabang. b. misalnya akibat dari suatu penyakit. anak-anak : 24 x/menit. terdiri dari 6-8 cincin. ampas dari sisa pembakaran tubuh adalah karbondioksida. Fisiologi Pernapasan Bernapas atau respirasi adalah peristiwa menghirup udara luar atau atmosfer kedalam tubuh atau menghembuskan udara yang banyak mengandung karbondioksida sebagani sisa dari oksidasi. Dalam keadaan normal orang dewasa 16-18 x/ menit. Dalam keadaan noumal kedua paru-paru dapat menampung udara sebanyak kurang lebih5 liter.

218 ). Infeksi Infeksi saluran pernapasan bagian atas pada seorang penderita bronchitis koronis hamper selalu menyebabkan infeksi paru bagian bawah. Rokok Menurut buku report of the WHO expert comitte on smoking control. . yaitu karena : a. Ventilasi yang tidak memadai di alveoli karena adanya kelainan yang menambah kerja ventilasi yaitu dengan penambahan tahanan jalan udara. ( Sumber :Ilmu penyakit dalam. tetapi belum diketahui dengan jelad apakah factor-faktor tersebut berperann atau tidak. b. Destruksi dari jaringan paru mengakibatkan hilangnya kontraksi radial dinding bronkus ditambah dengan hiperinflamasi jeringan paru menyebabkan penyempitan saluran napas.Kontraksi otot-otot polos bronkus dan bronkiolus seperti pada asma. Menurut Crofton & Doouglas merokok menimbulkan pula inhibisi aktivitas sel rambut getar.Edema dan inflamasi (peradangan). sebagian bronkus tertutup oleh secret yang berlebihan. hydrocarbon. selain itu pula berhubungan dengan factor keturunan. Polusi Polusi zat-zat kimia yang dapat juga menyebabkan brokhitis adalah zat pereduksi seperti O2. zat-zat pengoksidasi seperti N2O. Berkurangnya transportasi oksigen dari paru-paru ke jaringan. sering terdapat pada bronkhitis dan asma. Juga dapat menyebabkan bronkokonstriksi akut. Pada umumnya COPD menimbulkan kelainan yang sama. rokok adalah penyebab utama timbulnya COPD. Fathofisiologi Walaupun COPD terdiri dari berbagai penyakit tetapi seringkali memberikan kelainan fisiologis yang sama. hal ini menimbulkan dinding . Ventilasi yang tidak memadai di alveoli. infeksi dan polusi. akibatnya : . 1996. . aldehid dan ozon. b. Secara pisiologis rokok berhubungan langsung dengan hiperflasia kelenjar mukaos bronkusdan metaplasia skuamulus epitel saluran pernapasan. c. makrofage alveolar dan surfaktan. Kelainan terjadi di luar saluran pernapsan. hal.Ada tiga factor yang mempengaruhi timbulnya COPD yaitu rokok. 1982. yang kemudaian menyebabkan infeksi sekunder oleh bakteri.Hipertrofi dari kelenjar-kelenjar mukus. serta menyebabkan kerusakan paru bertambah. Pada dasarnya ada tiga kelainan fisiologis yang dapat menimbulkan insufiensi atau ketidakcukupan pernapasan. a. b. c. Akibat infeksi dan iritasi yang menahun pada lumen bronkus. 755 ). Ekserbasi bronchitis koronis disangka paling sering diawali dengan infeksi virus. Ekstramular. ( Sumber : Kapita Selekta. umur serta predisposisi genetic. a. hal. Intramular Dinding bronkus menebal. Mekanisme terjadinya obstruksi. sebagian bronkus tertutup oleh secret ang berlebihan. Intraluminer Akibat infeksi dan iritasi yan menahun pada lumen bronkus. c. alergi. Pengurangan difusi gas melalui membrane pernapasan.

( Soemardi. E. Timbul hipoksia dan sesak napas.). Pada orang noirmal sewaktu terjadi ekspirasi maksimal. sehingga penyebaran pernapasan udara maupun aliran darah ke alveoli. sehingga saluran-saluran pernapasan bagian bawah paru akan tertutup. Pada penderita COPD saluran saluran pernapasan tersebut akan lebih cepat dan lebih banyak yang tertutup. akibatnya otot-otot polos pada bronkus dan bronkielus berkontraksi. 1996. antara alveoli dan perfusi di alveoli (V/Q rasio yang tidak sama). biasanya sudah dapat dibuktikan adanya tanda-tanda obstruksi. Penyempitan saluran pernapasan terutama disebabkan elastisitas paru-paru yang berkurang. Patoplodiagram Asap tembakau polusi udara Gg pembersihan paru-paru Jalan napas menyempit Bronkus tertutup oleh sekret Dinding bronkus menebal Edema dan inlamasi Terjadi infeksi Penempitan saluran napas Ventilasi terganggu Elastisitas paru menurun Hipertropi pada kelenjar mukus Sekresi lender meningkat Penurunan kerja silia Air way tak bersih Penumpukan dijalan napas Obstruksi . Tergantung dari kerusakannya dapat terjadi alveoli dengan ventilasi kurang/tidak ada. Akibat cepatnya saluran pernapasan menutup serta dinding alveoli yang rusak.bronkus menebal. S. Gangguan ventilasi yang berhubungan dengan obstruksi jalan napas mengakibatkan hiperventilasi (napas lambat dan dangkal) sehingga terjadai retensi CO2 (CO2 tertahan) dan menyebabkan hiperkapnia (CO2 di dalam darah/cairan tubuh lainnya meningkat). tekanan yang menarik jaringan paru akan berkurang. tetapi perfusi baik. akan menyebabkan ventilasi dan perfusi yang tidak seimbang. sehingga menyebabkan hipertrofi dari kelenjar-kelenjar mucus dan akhirnya terjadi edema dan inflamasi. lebih jauh lagi hipoksia alveoli menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah paru dan polisitemia. Bila sudah timbul gejala sesak.

hal. Sering berulang-ulang mendapat infeksi saluran pernapasan bagian atas sehingga sering kali tidak dapat berkerja. ( Sumber : Ilmu Penyakit Dalam.Dispnea/sesak Proses pembersihan yang dilakukan silia tak efektif Hipoventilasi Gangguan istirahat. tidur Kerusakan pertukaran gas Gangguan rasa nyaman : nyeri dada ( Sumber : Ilmu Penyakit Dalam. Manifestasi Klinis COPD merupakan penyakit obstruksi saluran napas. 1996. . Umur 55-65 tahun sudah ada kor pulmonal yang dapat menyebabkan kegagalan pernapasan dan meinggal dunia. Umur 35-45 tahun timbul batuk produktif. Umur 45-55 tahun timbul sesak napas. terjadai sedikit demi sedikit. 756 ) Semua penyakit pernapasan dikaraktaristikan oleh obstruksi koronis pada aliran udara. bertahun tahun. 756 ). hiposemia dan perubahannya pada pemeriksaan spirometri. hal. 1999.biasanya dimulai pada seorang penderita perokok berumur 15-25 tahun produktivitasnya menurun dan timbul perubahan pada saluran pernapasan kecil dan fungsi paru mulai pula berubah.

sehingga diharapkan mempunyai efek bronkodilator lebih kuat. ( Sumber : Ilmu Penyakit Dalam. serta pO2 75-100 mmHg. Analisis gas darah. Pemeriksaan radiologis Pemeriksaan radiologist sangat membantu dalam menegakan atau menyokong diagnosis dan menyingkirkan penyakit-penyakit lain. misalnya . Penatalaksanaan Penatalaksanaan pada penderita COPD prinsifnya ialah untuk meringankan keluhan simtomatik. Inlamasi jalan napas Pelengketan mukosa Penyempitan lumen jalan napas Kerusakan jalan napas Takipnea Ortopnea ( Sumber : Doenges. Pemberian bronkodilator 1) Teoillin Golongan teofilin biasanya diberikan dengan dosis 10-15 mg/kg berat badan per oral.357. Pemberian kortikosteroid Pada beberapa penderita pemberian kortikosteroid akan mengurangi obstruksi saluran pernapasan. hal. d. 1999. Pemeriksaan Diagnostik. c. memperbaiki serta mempertahankan fungsi paru dan usaha pencegahan harus dilakukan seperti penghentian merokok. Pemeriksaaan EKG (elektrokardiogram). kalium yodida dan ammonium klorida Nebulizasi dan humidifikasi dengan uap air menurunkan viskositas dan mengencer . Yang sering digunakan gliserilquaiakolat. Pemeriksaan penunjang dalam COPD adalah sebagai berikut : a. b. menghindari polusi udara.Penyebab utama abstruksi bermacam-macam. Pada pemeriksaan gas darah arteri PH <> 45 mmHg. c. Untuk itu dapat dilakukan : Minum air putih yang cukup agar tuidak dehidrasi. hal 152 ). Pemeriksaan faal paru Pada pemeriksaan fungsi paru FVC (kapasitas vital kuat) dan fev folume ekspirasi kuat mengalami penurunan menjadi kurang ari 20 %.. 2) Agonis B2 Sebaiknya diberikan scara aerosol atau nebulizer. Mengurangi retraksi usus Usaha untuk mengeluarkan dn mengurangi mukus. sedangkan yang normal PH 7. 1996. Ekspektoran. b.45 dan PaCO2 35-45 mmHg. merupakan pengobatan yang utama dan penting pada pengelalaan COPD. Dapat juga diberikan kombinasi obat secara aerosol maupun oral. 757 ). Adapun penatalaksanaan yang dapat dilakukan adalah : a.

Berguna untuk . Hematologik : polisitemia e. Pengkajian Pengkajian adalah langkah awal yang sangat menentukan keberhasilan dari proses keperawatan tersebut. lingkaran lengan atas serta hitung berat badan ideal klien untuk memperoleh gambaran status nutrisi. kesulitan/masalah dan juga . jenis kelamin. ( nursalam dikutip dari dr iyer. Adapun hal yang perlu dikaji dalam kasus ini antara lain . dimana asukhan keperawatan ini mengguakan pendekatan proses diagnosa keperawatan. Pada bagian ini penulis akan menguraikan tentang konsep dasar asuhan keperawatan klien dengan COPD. yang memerlukan ilmu teknik dan ketrampilan intrapersonal ditujukan untuk memenuki kebutuan klien. 1996. Retensi co2 c. implementasi dan evaluasi. hubungan dengan klien. penggunaan selang enteric. yaitu : a. ukur tinggi badan. Dapat digunakan asetil sistein atau bromheksin. Menurunnya saturasi O2 d. Kaji selera makan berlebihan atau berkurang. b. frekuensi. kaji adanya mual muntah ataupun adanyaterapi intravena. warga Negara. Pola nutris metabolik. apa upaya dan dimana kliwen mendapat pertolongan kesehatan. a. KONSEP DASAR KEPERAWATAN Proses keperawatan adalah metode dimana suatu konsep diterapkan dalam praktek keperawatan. Pengkajian harus dilakukan secara teliti sehingga didapatkan informasi yang tepat. Ukkus peptikum. timbang juga berat badan. kaji status riwayat kesehatan yang pernah dialami klien. intervensi keperawatan. alamat. dan jumlah klien makan dan minnum klien dalam sehari. 1). 1996. komplikasi yang sering terjadi dengan berlanjutnya penyakit. 1. Pola eliminasi. Mukolitik. Identitas klien Nama. Tanyakan kepada klien tentang jenis.sputum. d. b. Pola persepsi kesehatan-pemeliharaan kesehatan. (Nursalam. Fisioterafi dan rehabilitasi. Kegagalan respirasi yang ditandai dengan sesak napas dengan manifestasi asidosis respirasi. karakteristik. Komplikasi. d. terjadinya sukar diketahui. tempat tanggal lahir. hal. 1 ). B. bahasa yang digunakan. 1) Kaji terhadap rekuensi. Hal ini biasa disebut sebagai suatu pendekatan problem solving atau pemecahan masalah. hal. lalu apa saja yang membuat status kesehatan klien menurun. agama/suku. Mengeluarkan mukus dari saluran pernapasan Memperbaiki efisiensi ventilasi Memperbaiki dan meningkatkan kekiatan fisis. umur. penanggung jawap meliputi : nama. c.

penyangkalan/penolakan terhadap diri sendiri. Adapun diagnosa keperawatan yang dapat muncul pada pasien dengan COPD adalah sebagai berikut : a. Kaji keadaan klien saat ini terhadap penyesuaian diri. g. Pola persepsi dan konsep diri Kaji tingkah laku mengenai dirinya. memdengarkan musik. pendengaran terganggu. Sering bangun saat tidur dikarenakan oleh nyeri. i. Apakah klien memerlukan penghantar tidur seperti mambaca. Adakah keluhanpada pernapasan. Kaji apakah ada gangguan komunikasi verbal dan gangguan dalam interaksi dengan anggota keluarga dan orang lain. karakteristik. Berapa jumlah anak klien dan status pernikahan klien. apakah klien pernah mengalami putus asa/frustasi/stress dan bagaimana menurut klien mengenai dirinya. tebal dan kental. kursi roda dan lain-lain. Bagaimana suasana tidur klien apaka terang atau gelap. Tanyakan kepada klien tentang penggunaan waktu senggang. Adakah gangguan persepsi sensori seperti pengelihatan kabur.pemakaian alat bantu seperti folly kateter. h. kesulitan/masalah defekasi dan juga pemakaian alat bantu/intervensi dalam Bab. nyeri dada. minum susu. Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan gangguan peningkatan produksi secret. pendengaran. Kaji tingkat orientasi terhadap tempat waktu dan orang. Pola persepsi kogniti Tanyakan kepada klien apakah menggunakan alat bantu pengelihatan. bagaimana klien mengatasi tak nyaman : nyeri. l. Adakah klien kesulitan mengingat sesuatu. j. 2) Eliminasi proses. menulis. f. Pola peran hubungan dengan sesame Apakah peran klien dimasyarakat dan keluarga. klien menganut agama apa?. Pola produksi seksual Tanyakan kepada klien tentang penggunaan kontrasepsi dan permasalahan yang timbul. ugkapan. tidur siang. Pola aktivitas dan latihan Kaji kemampuan beraktivitas baik sebelum sakit atau keadaan sekarang dan juga penggunaan alat bantu seperti tongkat. gatal. 2. . sesak dan lain-lain. Diagnosa Keperawatan Memberikan dasar-dasar memilih intervensi untuk mencapai hasil menjadi tanggung jawab dan tanggung gugat paerawat. berkemih. menonton televise. tempat klien bertukar pendapat dan mekanisme koping yang digunakan selama ini. jumlah jam tidur. ukur juga intake dan output setiap sift. Kaji faktor yang membuat klien marah dan tidak dapat mengontrol diri. jantung seperti berdebar. sekresi tertahan. Pola system kepercayaan Kaji apakah klien dsering beribadah. badan lemah. Kaji apakah ada nilainilai tentang agama yang klien anut bertentangan dengan kesehatan. k. Pola tidur dan istirahat Tanyakan kepada klien kebiasan tidur sehari-hari. Pola mekanisme koping dan toleransi terhadap stress. kaji terhadap prekuensi. bagaimana hubungan klien di masyarakat dan keluarga dn teman sekerja. e.

Namun pasien dengan distress berat akan mencari posisi yang lebih mudah untuk bernapas. spasme bronkus). Pada dasarnya membuatan prioritas masalah dibuat berdasarkan kebutuhan dasar manusia. bantal dan lain-lain membantu menurunkan kelemahan otot dan dapat sebagai alat ekspansi dada. ( Nursalam. Rasional : Beberapa derajat spasme bronkus terjadi dengan obstruksi jalan napas dan dapat/tidak dimanifestasikan dengan adanya bunyi napas adventisius. dan mengurangi. 2001. hal 51 ). misalnya peninggian kepala tempat tidur. Perencanaan Keperawatan. Kurang pengetahuan mengenai proses dan prognosis penyakit berhubungan dengan kurang informasi. sekresi tertahan. catat adanya bunyi napas misalnya : mengi. 3) Auskultasi bunyi napas. krokels dan ronki. menentukan rencana dan tindakan pelimpahan (medis dan tim kesehatan lainnya). Pernapasan dapat melambat dan frekuensi ekspirasi memanjang disbanding inspirasi. tujuan. misalnya : penyebaran. Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan gangguan peningkatan produksi secret. bunyi napas redup dengan ekspirasi mengi (emfisema). tebal dan kental. meletakan kebutuhan fisiologis sebagai kebutuhan paling dasar. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplai oksigen berkurang. c. mencintai dan dicintai. Rasional : Peninggian kepala tempat tidur mempermudah pernapasan dan menggunakan gravitasi. krekels basah (bronchitis). 3. harga diri dan aktualisasi diri. Kriteria hasil : Mempertahankan jalan napas paten dan bunyi napas bersih/jelas. (obstruksi jalan napas oleh secret. catat rasio inspirasi/ekspirasi. Respon : Takipnea biasanya ada beberapa derajat dan dapat ditemukan pada penerimaan atau selama stress/adanya proses infeksi akut. atau tidak . duduk dan sandaran tempat tidur. Berdasarkan diagnosa keperawatan yang muncul pada klien dengan COPD adalah sebagai berikut : a. Setelah merumuskan diagnosa keperawatan langkah berikutnya adalah menentukan perencanaan keperawatan yang meliputi pengemabangan strategi desain untuk mencegah. dan program perintah medis. Intervensi. ( Doenges.b. Menurut Abraham moslow. Sokongan tangan/kaki dengan meja.. criteria hasil. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan proses peradangan pada selaput paru-paru. Tujuan : Ventilasi/oksigenisasi adekuat untuk kebutuhan individu. 2) Kaji pasien untuk posisi yang nyaman. Tahap dalam perencanaan meliputi penentuan prioritas masalah. rasa aman. 1) Kaji/pantau frekuensi pernapasan. d. 1999. hal 156 ).

Kriteria hasil : . . misalnya : keluhan “lapar udara”. Obat-obatan mungkin per oral. khususnya bila pasien lansia.adanya bunyi napas (asma berat).Tidak ada tanda-tanda sianosis. napas bibir. spasme bronkus). Respon : Berguna dalam evaluasi derajat distress pernapasan dan kronisnya proses penyakit.Tanda-tanda vital dalam batas normal . Batuk paling efektif pada posisi duduk paling tinggi atau kepala dibawah setelah perkusi dada. ventolin). catat pengguanaan otot aksesorius. Rasional : Merilekskan otot halus dan menurunkan kongesti local. mengi dan produksi mukosa. (obstruksi jalan napas oleh sekret. Intervensi : 1) Kaji frekuensi. Rasional : Memberikan pasien beberapa cara untuk mengatasi dan mengontrol dispnea dan menurunkan jebakan udara. atau kelemahan.Tanpa terapi oksigen. misalnya infeksi dan reaksi alergi. kedalaman pernapasan. Cairan selama makan dapat meningkatkan distensi gaster dan tekanan pada diafragma. 5) Dorong/bantu latihan napas abdomen atau bibir. Tujuan : Mempertahankan tingkat oksigen yang adekuat untuk keperluan tubuh. sakit akut. injeksi atau inhalasi. vavonefrin). Rasional : Batuk dapat menetap tetapi tidak efektif. distress pernapasan. 6) Observasi karakteristik batuk. 4) Catat adanya /derajat disepnea. 8) Bronkodilator. 1999. Rasional : Disfungsi pernapasan adalah variable yang tergantung pada tahap proses kronis selain proses akut yang menimbulkan perawatan di rumah sakit. misalnya. SaO2 95 % dank lien tidan mengalami sesak napas. dapat meningkatkan distensi gaster dan tekanan pada diafragma. ( Doenges. Rasional : Sianosis mungkin perifer (terlihat pada kuku) atau sentral (terlihat sekitar bibir atau . menurunkan spasme jalan napas. bantu tindakan untuk memperbaiki keefektifan jalan napas. Rasional : Hidrasi membantu menurunkan kekentalan secret. 7) Tingkatkan masukan cairan sampai 3000 ml/hari sesuai toleransi jantung. efinefrin (adrenalin. ansietas. 2) Kaji/awasi secara rutin kulit dan warna membrane mukosa. β-agonis. batuk pendek. albuterol (proventil. bronkometer). terbutalin (brethine. basah. brethaire). b. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplai oksigen berkurang. Penggunaan air hangat dapat menurunkan spasme bronkus. gelisah. dan penggunaan obat bantu. isoeetrain (brokosol. hal 156 ). mempermudah pengeluaran. misalnya : menetap. ketidakmampuan bicara/berbincang.

dispnea dan kerja napas. misalnya . Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan proses peradangan pada selaput paru-paru. musik tenang/perbincangan. Dorong napas dalam perlahan atau napas bibir sesuai dengan kebutuhan/toleransi individu. hal 158 ). Adanya mengi mengindikasikan spasme bronkus/ter-tahannya sekret. tajam. Rasional : Kental tebal dan banyak sekresi adalah sumber utama gangguan pertukaran gas pada jalan napas kecil. Rasional : Bunyi napas mingkin redup karena penurrunan aliran udara atau area konsolidasi. Tentukan karakteristik nyeri. juga dapat timbul komplikasi seperti perikarditis dan endokarditis. 7) Berikan oksigen tambahan yang sesuai dengan indikasi hasil GDA dan toleransi pasien. di tusuk. catat area penurunan aliran udara dan/atau bunyi tambahan. Rasional : Perubahan frekuensi jantung atau TD menunjukan bahwa pasien mengalami nyeri. 1999. Tujuan : Rasa nyeri berkurang sampai hilang. Rasional : Pengiriman oksigen dapat diperbaiki dengan posisi duduk tinggi dan laithan napas untuk menurunkan kolaps jalan napas. Rasional : . perubahan posisi. 3. c. dan pengisapan dibuthkan bila batuk tak efektif.Klien mengatakan rasa nyeri berkurang/hilang. Krekles basah menyebar menunjukan cairan pada interstisial/dekompensasi jantung. 3) Tinggikan kepala tempat tidur. Rasional : Dapat memperbaiki/mencegah memburuknya hipoksia. 6) Awasi tanda-tanda vital dan irama jantung. konsisten. pijatan punggung. pengisapan bila diindikasikan. Rasional : Takikardi. mengatur pernapasan pasien ditentikan oleh kadar CO2 dan mungkin dikkeluarkan dengan peningkatan PaO2 berlebihan. Intervensi : 1. selidiki perubahan karakter/intensitasnyeri/lokasi.danun telinga). Pantau tanda-tanda vital. relaksasi/latihan napas. 5) Auskultasi bunyi napas. Catatan . ( Doenges. Keabu-abuan dan dianosis sentral mengindikasikan beratnya hipoksemia. Kriteria hasil : . bantu pasien untuk memilih posisi yang mudah untuk bernapas. emfisema koronis. miaalnya . Respon : Nyeri dada biasanya ada dalam beberapa derajat pneumonia. disiretmia dan perubahan tekanan darah dapat menunjuak efek hipoksemia sistemik pada fungsi jantung.Ekspresi wajah rileks. . 2. khususnya bila alasan lain untuk perubahan tanda-tanda vital. 4) Dorong mengeluarkan sputum. Berikan tindakan nyaman.

Anjurkan dan bantu pasien dalam teknik menekan dada selama episode batuk.Mengidentifikasi gejala yang menerlukan evaluasi intervensi. kekuatan otot. seprai aerosol. 6. udara terlalu kering. angina. Dorong pasien/orang terdekat untuk menanyakan pertanyaan. . meningkatkan kenyamanan/istirahat umum. potensial ketidaknyamanan umum. dan latihan kondisi umum. 4. Respon : Menurunkan ansietas dan dapat menimbulkan perbaikan partisipasi pada rencana pengobatan. 1999. Rasional : Pernapasan mulut dan terapi oksigen dapat mengiritasi dan mengeringkan memberan mukosa. ( Doenges. Penting bagi pasien memahami perbedaan antara efek samping menganggu (obat dilanjutkan) dan efek samping merugikan (obat mungkin dihentikan/diganti). Jelaskan/kuatkan penjelasan proses penyakit individu. Diskusikan obat pernapasan. dan memberikan indivisu arti untuk mengontrol dispnea. efek samping dan reaksi yang tidak diinginkan/ Rasional : Pasien sering mendapatkan obat pernapasan banyak sekaligus yang mempunyai efek samping hamper sama dan potensial interaksi obat. lingkungan dan suhu ekstrem. misalnya . Rasional : Napas bibir dan napas abdominalis/diafragmatik menguatkan otot pernapasan. Kurang pengetahuan mengenai proses dan prognosis penyakit berhubungan dengan kurang informasi. polusi . Rasional : Obat ini dapat digunakan untuk menekan batuk non produktif/proksimal atau menurunkan mukosa berlebihan.Melakukan perilaku/perubahan pada hidup untuk memperbaiki kesehatan umum dan menurunkan resiko pengaktifan ulang COPD. Instruksikan/kuatkan rasional untuk latihan napas. Berikan analgesic dan antitusif sesuai indikasi.Tindakan non-analgetik diberikan dengan sentuhan lembut dapat menghilangkan ketidaknyamanan dan memperbesar efek terapi analgesic. Rasional : Alat untuk mengontrol ketidaknyamanan dada sementara meningkatkan keefektifan upaya batuk. d. Tawarkan pembersihan mulut dengan sering. .Klien memahami proses penyakit dan kebutuhan pengobatan. batuk efektif. serbuk. perawatan dan program pengobatannya. Tujuan : Klien mengerti tentang penyakit. Intervensi. 5. Latihan kondisi umum meningkatkan toleransi aktivitas. Diskusikan faktor individu yang menigkatkan kondisi. dan rasa sehat. asap tembakau. membantu meinimalkan kolaps jalan napas kecil. Kriteria hasil : . hal 171 ).

Secara bertahap dalam beraktivitas dan gaya hidup sehari-hari yang harus direncanakan untuk mencegah kekambuhan. MD. Catatan : penelitian menunjukan bahwa rokok “ side-streams “ atau “second hand’ dapat terganggu seperti halnya merokok nyata. Rasional : Faktor lingkungan ini dapat menimbulkan/meningkatkan iritasi bronchial menimbulkan peningkatan produksi sekret dan menjadi hambatan jalan napas. Waspadji Sarwono (1999. Kamis. hal 162 ). Rasional : Pengawasan proses penyakit untuk membuat program tetapi untuk memenuhi perubahan kebutuhan dan dapat membantu mencegah komplikasi. Diskusikan tentang pentingnya mengikuti perawatan medik. 786) • Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapat penumpukan cairan .SKp Definisi • Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapat cairan berlebihan di rongga pleura. Untuk meningkatkan efisiensi pernapasan secara maksimal. Meningkatkan nutrisi yang adekuat. Mampu mengendalikan stress dan emosional sebagai faktor pencetus terjadinya sesak c. e. b.udara. 2008 September 11 ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN EFUSI PLEURA OLEH : Ns. Rasional : Penghentian merokok dapat memperlambat/menghambat kemajuan COPD. Memenuhi kebutuhan istirahat yang cukup dan mematuhi terapi. dimana kondisi ini jika dibiarkan akan membahayakan jiwa penderitanya (John Gibson. Kaji efek bahaya merokok dan nasehatkan menghentikan merokok pada pasien dan/atau orang terdekat. foto dada periodik. anjurkan klien untuk : a. SUMEDI. Namun meskipun pasien ingin menghentikan merokok. Perencanaan pulang. diperlukan kelompok pendukung dan pengawas medis. Dorong pasien/orang terdekat untuk mencari cara mengontrol faktor ini dan sekitar rumah. d. dan culture sputum. ( Doenges. Mentaati aturan terapi pengobatan dan selalu control ulang. 1999. 4. 1995.

karena adanya tekanan hidrostatis pleura parietalis sebesar 9 cm H2O. 145). bertambahnya tekanan hidrostatis akibat kegagalan jantung dan tekanan negatif intra pleura apabila terjadi atelektasis paru (Alsagaf H. • Akumulasi cairan pleura dapat terjadi apabila tekanan osmotik koloid menurun misalnya pada penderita hipoalbuminemia dan bertambahnya permeabilitas kapiler akibat ada proses keradangan atau neoplasma. infark paru. • Jumlah cairan di rongga pleura tetap. pneumoni.gagal jantung yang menyebabkan tekanan kapiler paru dan tekanan perifer menjadi sangat tinggi sehingga menimbulkan transudasi cairan yang . • Effusi pleura berarti terjadi pengumpulan sejumlah besar cairan bebas dalam kavum pleura.penghambatan drainase limfatik dari rongga pleura 2. 1995. Mukti A. 111).dari dalam kavum pleura diantara pleura parietalis dan pleura viseralis dapat berupa cairan transudat atau cairan eksudat ( Pedoman Diagnosis danTerapi / UPF ilmu penyakit paru. adanya neoplasma (carcinoma bronchogenic dan akibat metastasis tumor yang berasal dari organ lain). trauma. syndroma nefrotik. Etiologi • Penyebab efusi pleura bisa bermacam-macam seperti gagal jantung. 68) Patofisiologi • Dalam keadaan normal hanya terdapat 10-20 ml cairan di dalam rongga pleura. 1998. Kemungkinan penyebab efusi antara lain 1. (Allsagaaf H. tuberculosis paru. hipoalbumin dan lain sebagainya. 1994. Amin M Saleh.

Egofoni di atas paru-paru yang tertekan dekat efusi 8. 623-624). mungkin belum menimbulkan manifestasi klinik dan hanya dapat dideteksi dengan X-ray foto thorakks.sangat menurunnya tekanan osmotik kolora plasma.Dispneu bervariasi 2. Egc.Fremitus vokal dan raba berkurang Penatalaksanaan • Drainase cairan jika efusi menimbulkan gejala subyektif seperti nyeri.Pergerakan dada berkurang dan terhambat pada bagian yang terkena 6. Dengan membesarnya efusi akan terjadi restriksi ekspansi paru dan pasien mungkin mengalami : 1.Perkusi meredup di atas efusi pleura 7.Nyeri pleuritik biasanya mendahului efusi sekunder akibat penyakit pleura 3.Ruang interkostal menonjol (efusi yang berat) 5. jadi juga memungkinkan transudasi cairan yang berlebihan 4.berlebihan ke dalam rongga pleura 3. yang memecahkan membran kapiler dan memungkinkan pengaliran protein plasma dan cairan ke dalam rongga secara cepat (Guyton dan Hall . Tanda & Gejala -Manifestasi klinik efusi pleura akan tergantung dari jumlah cairan yang ada serta tingkat kompresi paru.infeksi atau setiap penyebab peradangan apapun pada permukaan pleura dari rongga pleura. dyspnea • Antibiotik jika terjadi empiema • Pleurodesis .Trakea bergeser menjauhi sisi yang mengalami efusi 4. -Jika jumlah efusinya sedikit (misalnya < 250 ml).Suara nafas berkurang di atas efusi pleura 9. 1997.

nyeri pleuritik akibat iritasi pleura yang bersifat tajam dan terlokasilir terutama pada saat batuk dan bernafas serta batuk non produktif. status pendidikan dan pekerjaan pasien. TB paru dan lain sebagainya . berat badan menurun dan sebagainya. alamat rumah. umur. pneumoni.• Operatif Pengkajian keperawatan Identitas Pasien Pada tahap ini perawat perlu mengetahui tentang nama. jenis kelamin. Riwayat Penyakit Keluarga >Perlu ditanyakan apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakitpenyakit yang disinyalir sebagai penyebab effusi pleura seperti Ca paru. • Perlu juga ditanyakan mulai kapan keluhan itu muncul. Apa tindakan yang telah dilakukan untuk menurunkan atau menghilangkan keluhankeluhannya tersebut. asites dan sebagainya. Hal ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya faktor predisposisi. suku bangsa. bahasa yang dipakai. rasa berat pada dada. trauma. rasa berat pada dada. agama atau kepercayaan. sesak nafas. Riwayat Penyakit Sekarang • Pasien dengan effusi pleura biasanya akan diawali dengan adanya tandatanda seperti batuk. • Biasanya pada pasien dengan effusi pleura didapatkan keluhan berupa : sesak nafas. Keluhan Utama • Keluhan utama merupakan faktor utama yang mendorong pasien mencari pertolongan atau berobat ke rumah sakit. nyeri pleuritik. Riwayat Penyakit Dahulu • Perlu ditanyakan apakah pasien pernah menderita penyakit seperti TBC paru. gagal jantung. asma.

selain akibat pencernaan pada struktur abdomen menyebabkan penurunan peristaltik otot-otot . • Perlu ditanyakan kebiasaan makan dan minum sebelum dan selama MRS pasien dengan effusi pleura akan mengalami penurunan nafsu makan akibat dari sesak nafas dan penekanan pada struktur abdomen. tapi kadang juga memunculkan persepsi yang salah terhadap pemeliharaan kesehatan.Riwayat Psikososial >Meliputi perasaan pasien terhadap penyakitnya. minum alkohol dan penggunaan obat-obatan bisa menjadi faktor predisposisi timbulnya penyakit. Pengkajian Pola Fungsi Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat • Adanya tindakan medis dan perawatan di rumah sakit mempengaruhi perubahan persepsi tentang kesehatan. • Kemungkinan adanya riwayat kebiasaan merokok. Pola eliminasi • Dalam pengkajian pola eliminasi perlu ditanyakan mengenai kebiasaan defekasi sebelum dan sesudah MRS. • Peningkatan metabolisme akan terjadi akibat proses penyakit. pasien akan lebih banyak bed rest sehingga akan menimbulkan konstipasi. bagaimana cara mengatasinya serta bagaimana perilaku pasien terhadap tindakan yang dilakukan terhadap dirinya. Pola nutrisi dan metabolisme • Dalam pengkajian pola nutrisi dan metabolisme. • Karena keadaan umum pasien yang lemah. kita perlu melakukan pengukuran tinggi badan dan berat badan untuk mengetahui status nutrisi pasien. pasien dengan effusi pleura keadaan umumnya lemah.

mengurus suaminya. sesak nafas dan peningkatan suhu tubuh akan berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan tidur dan istitahat. • Disamping itu. berisik dan lain sebagainya. Pasien mungkin akan beranggapan bahwa penyakitnya adalah penyakit berbahaya dan mematikan. sesak nafas. Pola aktivitas dan latihan • Akibat sesak nafas.tractus degestivus. Pola tidur dan istirahat • Adanya nyeri dada. tiba-tiba mengalami sakit. • Dalam hal ini pasien mungkin akan . misalkan pasien seorang ibu rumah tangga. dimana banyak orang yang mondar-mandir. pasien tidak dapat menjalankan fungsinya sebagai seorang ibu yang harus mengasuh anaknya. Pola hubungan dan peran • Akibat dari sakitnya. kebutuhan O2 jaringan akan kurang terpenuhi • Pasien akan cepat mengalami kelelahan pada aktivitas minimal. • Selain itu akibat perubahan kondisi lingkungan dari lingkungan rumah yang tenang ke lingkungan rumah sakit. • Disamping itu pasien juga akan mengurangi aktivitasnya akibat adanya nyeri dada. • Pasien yang tadinya sehat. secara langsung pasien akan mengalami perubahan peran. nyeri dada. peran pasien di masyarakatpun juga mengalami perubahan dan semua itu mempengaruhi hubungan interpersonal pasien. • Untuk memenuhi kebutuhan ADL nya sebagian kebutuhan pasien dibantu oleh perawat dan keluarganya. Pola persepsi dan konsep diri • Persepsi pasien terhadap dirinya akan berubah.

pergerakan pernafasan menurun. ekspresi wajah pasien selama dilakukan anamnesa. ruang antar iga melebar.kehilangan gambaran positif terhadap dirinya Pola sensori dan kognitif • Fungsi panca indera pasien tidak mengalami perubahan. • Perlu juga dilakukan pengukuran tinggi badan berat badan pasien. • Pemeriksaan Fisik • Status Kesehatan Umum • Tingkat kesadaran pasien perlu dikaji. demikian juga dengan proses berpikirnya. iga mendatar. bagaimana penampilan pasien secara umum. Pola penanggulangan stress • Bagi pasien yang belum mengetahui proses penyakitnya akan mengalami stress dan mungkin pasien akan banyak bertanya pada perawat dan dokter yang merawatnya atau orang yang mungkin dianggap lebih tahu mengenai penyakitnya. Sistem Respirasi Inspeksi • Pada pasien effusi pleura bentuk hemithorax yang sakit mencembung. Pola tata nilai dan kepercayaan • Sebagai seorang beragama pasien akan lebih mendekatkan dirinya kepada Tuhan dan menganggap bahwa penyakitnya ini adalah suatu cobaan dari Tuhan. Pendorongan mediastinum ke arah hemithorax kontra lateral yang . sikap dan perilaku pasien terhadap petugas. bagaimana mood pasien untuk mengetahui tingkat kecemasan dan ketegangan pasien. Pola reproduksi seksual • Kebutuhan seksual pasien dalam hal ini hubungan seks intercourse akan terganggu untuk sementara waktu karena pasien berada di rumah sakit dan kondisi fisiknya masih lemah.

1994. Garis ini disebut garis Ellis-Damoisseaux. . dan dibaliknya ada kompresi atelektasis dari parenkian paru. Disamping itu pada palpasi juga ditemukan pergerakan dinding dada yang tertinggal pada dada yang sakit.79) Sistem Cardiovasculer • Pada inspeksi perlu diperhatikan letak ictus cordis. • Palpasi untuk menghitung frekuensi jantung (health rate) dan harus diperhatikan kedalaman dan teratur tidaknya denyut jantung. Ida Bagus. Pada posisi duduk cairan makin ke atas makin tipis. perlu juga memeriksa adanya thrill yaitu getaran ictus cordis. Garis ini paling jelas di bagian depan dada.diketahui dari posisi trakhea dan ictus kordis. • Auskultasi Suara nafas menurun sampai menghilang. • Fremitus tokal menurun terutama untuk effusi pleura yang jumlah cairannya > 250 cc. mungkin saja akan ditemukan tandatanda auskultasi dari atelektasis kompresi di sekitar batas atas cairan. Bila cairannya tidak mengisi penuh rongga pleura. yang disebut egofoni (Alsagaf H. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pembesaran jantung. • Ditambah lagi dengan tanda i – e artinya bila penderita diminta mengucapkan kata-kata i maka akan terdengar suara e sengau. kurang jelas di punggung. • Suara perkusi redup sampai pekak tegantung jumlah cairannya. Mukty Abdol. Widjaya Adjis. maka akan terdapat batas atas cairan berupa garis lengkung dengan ujung lateral atas ke medical penderita dalam posisi duduk. RR cenderung meningkat dan Px biasanya dyspneu. normal berada pada ICS – 5 pada linea medio claviculaus kiri selebar 1 cm.

• Perkusi untuk menentukan batas jantung dimana daerah jantung terdengar pekak. Sistem Pencernaan • Pada inspeksi perlu diperhatikan. penglihatan. adakah massa (tumor. adanya massa padat atau cairan akan menimbulkan suara pekak (hepar. • Perkusi abdomen normal tympani. tumor). apakah abdomen membuncit atau datar. umbilicus menonjol atau tidak. tepi perut menonjol atau tidak. • Pada palpasi perlu juga diperhatikan. adakah nyeri tekan abdomen. feces). apakah hepar teraba. vesika urinarta. • Pemeriksaan refleks patologis dan refleks fisiologisnya. • Auskultasi untuk mendengarkan suara peristaltik usus dimana nilai normalnya 5-35 kali permenit. Hal ini bertujuan untuk menentukan adakah pembesaran jantung atau ventrikel kiri. juga apakah lien teraba. Adakah composmentis atau somnolen atau comma. perabaan dan pengecapan. Sistem Neurologis • Pada inspeksi tingkat kesadaran perlu dikaji Disamping juga diperlukan pemeriksaan GCS. • Auskultasi untuk menentukan suara jantung I dan II tunggal atau gallop dan adakah bunyi jantung III yang merupakan gejala payah jantung serta adakah murmur yang menunjukkan adanya peningkatan arus turbulensi darah. turgor kulit perut untuk mengetahui derajat hidrasi pasien. penciuman. selain itu juga perlu di inspeksi ada tidaknya benjolan-benjolan atau massa. asites. Sistem Muskuloskeletal • Pada inspeksi perlu diperhatikan . • Selain itu fungsi-fungsi sensoris juga perlu dikaji seperti pendengaran.

penurunan nafsu makan akibat sesak nafas sekunder terhadap penekanan struktur abdomen (Barbara Engram. Pemeriksaan Penunjang • Pemeriksaan laboratorium • Darah lengkap dan kimia darah • Bakteriologis • Analisis cairan pleura • Pemeriksaan radiologis • Biopsi Diagnosa Keperawatan • Ketidakefektifan pola pernafasan berhubungan dengan menurunnya ekspansi paru sekunder terhadap penumpukkan cairan dalam rongga pleura (Susan Martin Tucleer. demam). • Cemas berhubungan dengan adanya ancaman kematian yang dibayangkan (ketidakmampuan untuk bernafas). hangat.adakah edema peritibial • Palpasi pada kedua ekstremetas untuk mengetahui tingkat perfusi perifer serta dengan pemerikasaan capillary refil time. • Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan metabolisme tubuh. • Pada palpasi perlu diperiksa mengenai kehangatan kulit (dingin. . Sistem Integumen • Inspeksi mengenai keadaan umum kulit higiene. warna ada tidaknya lesi pada kulit. • Dengan inspeksi dan palpasi dilakukan pemeriksaan kekuatan otot kemudian dibandingkan antara kiri dan kanan. pada Px dengan effusi biasanya akan tampak cyanosis akibat adanya kegagalan sistem transport O2. Kemudian texture kulit (halus-lunak-kasar) serta turgor kulit untuk mengetahui derajat hidrasi seseorang. 1998). dkk. 1993).

http://www.com/healthatoz/Atoz/common/standard/transform. aturan pengobatan berhubungan dengan kurang terpajan informasi di 03:45 Label: Keperawatan Askep Efusi Pleura Posted by yenichrist under Keperawatan [11] Comments Landasan teori medis diambil dari: 1. . http://dokterfoto.sa/…/ Students’s%20Clinical%20presentations/Zahra’a %20Hussin%20AL5.com/2008/01/09/efusi-pleura/ 3. faculty.• Gangguan pola tidur berhubungan dengan batuk yang menetap dan sesak nafas serta perubahan suasana lingkungan • Defisit perawatan diri berhubungan dengan keletihan (keadaan fisik yang lemah) • Kurang pengetahuan mengenai kondisi. NANDA 2007-2008 (keperawatan).ksu.com/2008/06/22/efusi-pleura/ 2.healthatoz. http://dewabenny.edu.jsp? requestURI=/healthatoz/Atoz/ency/pleural_effusion.jsp 4.wordpress.

2. 3. cairan tersebut mengisi ruangan yang mengelilingi paru. yaitu : 1. Empiema bisa merupakan komplikasi dari: • • Infeksi pada cedera di dada Pembedahan dada . chest pain. Terdapat empat tipe cairan yang dapat ditemukan pada efusi pleura.” It is characterized by shortness of breath. 4.Efusi pleura adalah akumulasi cairan yang berlebihan pada rongga pleura. Darah di dalam rongga pleura tidak membeku secara sempurna. Cairan serus (hidrothorax) Darah (hemothotaks) Chyle (chylothoraks) Nanah (pyothoraks atau empyema) Hemotoraks (darah di dalam rongga pleura) biasanya terjadi karena cedera di dada. Cairan dalam jumlah yang berlebihan dapat mengganggu pernapasan dengan membatasi peregangan paru selama inhalasi. Empiema (nanah di dalam rongga pleura) bisa terjadi jika pneumonia atau abses paru menyebar ke dalam rongga pleura. gastric discomfort (dyspepsia). It is commonly known as “water on the lungs. and cough. Pleural effusion occurs when too much fluid collects in the pleural space (the space between the two layers of the pleura). Penyebab lainnya adalah: • • • pecahnya sebuah pembuluh darah yang kemudian mengalirkan darahnya ke dalam rongga pleura kebocoran aneurisma aorta (daerah yang menonjol di dalam aorta) yang kemudian mengalirkan darahnya ke dalam rongga pleura gangguan pembekuan darah. sehingga biasanya mudah dikeluarkan melalui sebuah jarum atau selang.

dengan bantuan stetoskop akan terdengar adanya penurunan suara pernafasan. auskultasi didapatkan suara pernapasan menurun. Rongga pleura yang terisi cairan dengan kadar kolesterol yang tinggi terjadi karena efusi pleura menahun yang disebabkan oleh tuberkulosis atau artritis rematoid. yang hasilnya menunjukkan adanya cairan. Diagnosis Pada pemeriksaan fisik. pada pemeriksaan perkusi didapatkan dullness/pekak.• • • Pecahnya kerongkongan Abses di perut Pneumonia Kilotoraks (cairan seperti susu di dalam rongga dada) disebabkan oleh suatu cedera pada saluran getah bening utama di dada (duktus torakikus) atau oleh penyumbatan saluran karena adanya tumor. sehingga bisa dilakukan pengeluaran cairan. abses paru atau tumor USG dada USG bisa membantu menentukan lokasi dari pengumpulan cairan yang jumlahnya sedikit. Untuk membantu memperkuat diagnosis. . CT scan dada CT scan dengan jelas menggambarkan paru-paru dan cairan dan bisa menunjukkan adanya pneumonia. Apabila cairan yang terakumulasi lebih dari 500 ml. biasanya akan menunjukkan gejala klinis seperti penurunan pergerakan dada yang terkena efusi pada saat inspirasi. dan vocal fremitus yang menurun. dilakukan pemeriksaan berikut: Rontgen dada Rontgen dada biasanya merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk mendiagnosis efusi pleura.

sedangkan dengan posisi AP atau PA paling tidak cairan dalam rongga pleura sebanyak 300 ml. maka dilakukan biopsi. dan di konfirmasi dengan foto thoraks. penyebab dari efusi pleura tetap tidak dapat ditentukan. Setelah didapatkan cairan efusi dilakukan pemeriksaan seperti: 1. kultur. Bronkoskopi Bronkoskopi kadang dilakukan untuk membantu menemukan sumber cairan yang terkumpul. penyebabnya harus diketahui. Pemeriksaan hitung sel 4. Sitologi untuk mengidentifikasi adanya keganasan . Pada foto thoraks posisi AP atau PA ditemukan adanya sudut costophreicus yang tidak tajam. sensitifitas untuk mengetahui kemungkinan terjadi infeksi bakteri 3. Bila efusi pleura telah didiagnosis. dan glucose 2. Analisa cairan pleura Efusi pleura didiagnosis berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Pada sekitar 20% penderita. dimana contoh lapisan pleura sebelah luar diambil untuk dianalisa. pH. laktat dehidrogenase (LDH). Komposisi kimia seperti protein. Biopsi Jika dengan torakosentesis tidak dapat ditentukan penyebabnya. meskipun telah dilakukan pemeriksaan menyeluruh. tindakan ini disebut thorakosentesis.Torakosentesis Penyebab dan jenis dari efusi pleura biasanya dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan terhadap contoh cairan yang diperoleh melalui torakosentesis (pengambilan cairan melalui sebuah jarum yang dimasukkan diantara sela iga ke dalam rongga dada dibawah pengaruh pembiusan lokal). Dengan foto thoraks posisi lateral decubitus dapat diketahui adanya cairan dalam rongga pleura sebanyak paling sedikit 50 ml. Dilakukan pemeriksaan gram. albumin. amylase. kemudian cairan pleura diambil dengan jarum.

batuk . Efusi pleura eksudatif biasanya ditemukan pada Tuberkulosis paru. perdarahan (sering akibat trauma). Tuberkulosis paru merupakan penyebab paling sering dari efusi pleura di Negara berkembang termasuk Indonesia. rheumatoid arthritis. Kadang beberapa penderita tidak menunjukkan gejala sama sekali. dan lymphoma merupakan 75 % penyebab efusi pleura oleh karena kanker). keganasan (ca paru. keadaan lain juga menyebabkan efusi pleura seperti pada penyakit autoimun systemic lupus erythematosus (SLE). penyakit pancreas. pneumonia bakteri. infeksi virus. dan sirosis hepatis. Sedangkan efusi pleura eksudatif disebabkan oleh faktor local yang mempengaruhi pembentukan dan penyerapan cairan pleura. ca mammae. emboli paru. Efusi pleura jarang pada keadaan rupture esophagus.pernafasan yang cepat . infeksi virus. sindroma Meig (asites. dan efusi pleura karena adanya tumor ovarium).cegukan . abses intraabdomen. Selain TBC. Gejala Gejala yang paling sering ditemukan (tanpa menghiraukan jenis cairan yang terkumpul ataupun penyebabnya) adalah sesak nafas dan nyeri dada (biasanya bersifat tajam dan semakin memburuk jika penderita batuk atau bernafas dalam). sedangkan penyebab efusi pleura eksudatif disebabkan oleh pneumonia bakteri. Misalnya pada keadaan gagal jantung kiri. Efusi pleura transudatif disebabkan oleh faktor sistemik yang mengubah keseimbangan antara pembentukan dan penyerapan cairan pleura. dan keganasan Etiologi Penyebab paling sering efusi pleura transudatif di USA adalah oleh karena penyakit gagal jantung kiri. Gejala lainnya yang mungkin ditemukan: . emboli paru.Langkah selanjutnya dalam evaluasi cairan pleura adalah untuk membedakan apakan cairan tersebut merupakan cairan transudat atau eksudat. sirosis hepatis.

6. 5. even after extensive tests. 2. 7. give drug in the morning Monitor fluid intake and output.nyeri perut. or no effective treatment is at hand. 4. the effusion will usually resolve. dimana kedua permukaan pleura ditempelkan sehingga tidak ada lagi ruangan yang akan terisi oleh cairan. If necessary. Efusi pleura yang berulang mungkin memerlukan tambahan medikamentosan atau dapat dilakukan tidakan operatif yaitu pleurodesis. open surgery with removal of a rib may be necessary to drain all the fluid and close the pleural space. blood pressure. If heart failure is reversed or a lung infection is cured by antibiotics. just as in diagnostic thoracentesis. If large effusions continue to recur. apabila jumlah cairan banyak dapat dilakukan pemasangan drainase interkostalis atau pemasangan WSD. This will prevent further effusion by eliminating the pleural space. . In the most severe cases. Aspirasi cairan menggunakan jarum dapat dilakukan untuk mengeluarkan cairan pleura. weight. 3. this can be repeated as often as is needed to control the amount of fluid in the pleural space. Penatalaksanaan tergantung pada penyakit yang mendasari terjadinya efusi pleura. and electrolyte levels. Nyeri akut/kronis Insomnia Pertukaran gas tidak efektif Kelelahan Intoleransi aktivitas Resiko ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh Koping individu tidak efektif The core responsibilities of nurses: • • To prevent nocturia. Penatalaksanaan The best way to clear up a pleural effusion is to direct treatment at what is causing it. rather than treating the effusion itself. if the cause is not known. the fluid can be drained away by placing a large-bore needle or catheter into the pleural space. a drug or material that irritates the pleural membranes can be injected to deliberately inflame them and cause them to adhere close together–a process called sclerosis.. Keperawatan 1. However.

bananas. Tidak saya tulis. The nurse role in the care of the patient with a pleural effusion includes: • • • • • • Implementing the medical regimen. Monitor elderly patients. daripada hilang begitu saja…. and apricots. such as muscle weakness and cramps. yang mungkin merupakan transudat. and the nurse assists the patient to assume positions that are the least painful. Monitor glucose level. dengan bahasa yang masih campur-aduk. In patients with hypertension. ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN EFUSI PLEURA Diarsipkan di bawah: Askep — rofiqahmad @ 12:54 pm A. If a patient is to be managed as an outpatient with a pleural catheter for drainage. 2000) . especially in diabetic patients. Foods rich in potassium include citrus fruits. Cara saya belajar selagi bosan. Consult to doctor and dietitian about a high-potassium diet. dates. proses penyakit primer jarang terjadi namun biasanya terjadi sekunder akibat penyakit lain. atau dapat berupa darah atau pus (Baughman C Diane.• • • • • • Watch for signs and symptoms of hypokalemia. tetapi hanya saya susun dari sumber-sumber yang saya gunakan. the nurse is responsible for monitoring the system’s function and recording the amount of drainage at prescribed intervals. tomatoes. The nurse prepares and positions the patient for thoracentesis and offers support throughout the procedure. Definisi Efusi pleural adalah penumpukan cairan di dalam ruang pleural. Drug may be used with potassium sparing diuretic to prevent potassium loss. Pain management is a priority. ketika “terpaksa” memasuki area yang belum saya jamah sebelumnya. If chest tube drainage and a water-seal system is used. therapeutic response may be delayed several weeks. eksudat. the nurse is responsible for educating the patient and family regarding management and care of the catheter and drainage system. Frequent turning and ambulation are important to facilitate drainage the nurse administers analgesics as prescribed and as needed. Efusi dapat berupa cairan jernih. who are especially susceptible to excessive diuresis.

C. ∗ Adanya gejala-gejala penyakit penyebab seperti demam. Tanda dan Gejala . karena tumor dimana masuk cairan berdarah dan karena trauma. Ini disebabkan oleh sedikitnya satu dari empat mekanisme dasar : ∗ ∗ ∗ ∗ ∗ Peningkatan tekanan kapiler subpleural atau limfatik Penurunan tekanan osmotic koloid darah Peningkatan tekanan negative intrapleural Adanya inflamasi atau neoplastik pleura Adanya timbunan cairan mengakibatkan perasaan sakit karena pergesekan. abses amuba subfrenik yang menembus ke rongga pleura. setelah cairan cukup banyak rasa sakit hilang.Efusi pleural adalah pengumpulan cairan dalam ruang pleura yang terletak diantara permukaan visceral dan parietal. menggigil. tromboembolik. tumor mediatinum. kardiovaskuler. dan nyeri dada pleuritis (pneumonia). banyak riak. (Price C Sylvia. Kelebihan cairan rongga pleura dapat terkumpul pada proses penyakit neoplastik. panas tinggi (kokus). Pembentukan cairan yang berlebihan. sindroma meig (tumor ovarium) dan sindroma vena kava superior. ruang pleural mengandung sejumlah kecil cairan (5 sampai 15ml) berfungsi sebagai pelumas yang memungkinkan permukaan pleural bergerak tanpa adanya friksi (Smeltzer C Suzanne. Etiologi 1. subfebril (tuberkulosisi). batuk. 2. 2002). penderita akan sesak napas. Di Indonesia 80% karena tuberculosis. Hambatan resorbsi cairan dari rongga pleura. Secara normal. penyakit ginjal. Efusi pleura adalah istilah yang digunakan bagi penimbunan cairan dalam rongga pleura. bronkiektasis. karena adanya bendungan seperti pada dekompensasi kordis. 1995) B. virus). pneumonia. dan infeksi. Bila cairan banyak. proses penyakit primer jarang terjadi tetapi biasanya merupakan penyakit sekunder terhadap penyakit lain. banyak keringat. karena radang (tuberculosis.

∗ ∗

Deviasi trachea menjauhi tempat yang sakit dapat terjadi jika terjadi penumpukan cairan pleural yang signifikan. Pemeriksaan fisik dalam keadaan berbaring dan duduk akan berlainan, karena cairan akan berpindah tempat. Bagian yang sakit akan kurang bergerak dalam pernapasan, fremitus melemah (raba dan vocal), pada perkusi didapati daerah pekak, dalam keadaan duduk permukaan cairan membentuk garis melengkung (garis Ellis Damoiseu).

Didapati segitiga Garland, yaitu daerah yang pada perkusi redup timpani dibagian atas garis Ellis Domiseu. Segitiga Grocco-Rochfusz, yaitu daerah pekak karena cairan mendorong mediastinum kesisi lain, pada auskultasi daerah ini didapati vesikuler melemah dengan ronki.

Pada permulaan dan akhir penyakit terdengar krepitasi pleura.

D. Patofisiologi Didalam rongga pleura terdapat + 5ml cairan yang cukup untuk membasahi seluruh permukaan pleura parietalis dan pleura viseralis. Cairan ini dihasilkan oleh kapiler pleura parietalis karena adanya tekanan hodrostatik, tekanan koloid dan daya tarik elastis. Sebagian cairan ini diserap kembali oleh kapiler paru dan pleura viseralis, sebagian kecil lainnya (10-20%) mengalir kedalam pembuluh limfe sehingga pasase cairan disini mencapai 1 liter seharinya. Terkumpulnya cairan di rongga pleura disebut efusi pleura, ini terjadi bila keseimbangan antara produksi dan absorbsi terganggu misalnya pada hyperemia akibat inflamasi, perubahan tekanan osmotic (hipoalbuminemia), peningkatan tekanan vena (gagal jantung). Atas dasar kejadiannya efusi dapat dibedakan atas transudat dan eksudat pleura. Transudat misalnya terjadi pada gagal jantung karena bendungan vena disertai peningkatan tekanan hidrostatik, dan sirosis hepatic karena tekanan osmotic koloid yang menurun. Eksudat dapat disebabkan antara lain oleh keganasan dan infeksi. Cairan keluar langsung dari kapiler sehingga kaya akan protein dan berat jenisnya tinggi. Cairan ini juga mengandung banyak sel darah putih. Sebaliknya transudat kadar proteinnya rendah sekali atau nihil sehingga berat jenisnya rendah.

E. Pemeriksaan Diagnostik ∗ Pemeriksaan radiologik (Rontgen dada), pada permulaan didapati menghilangnya sudut kostofrenik. Bila cairan lebih 300ml, akan tampak cairan dengan permukaan melengkung. Mungkin terdapat pergeseran di mediatinum. ∗ ∗ Ultrasonografi Torakosentesis / pungsi pleura untuk mengetahui kejernihan, warna, biakan tampilan, sitologi, berat jenis. Pungsi pleura diantara linea aksilaris anterior dan posterior, pada sela iga ke-8. Didapati cairan yang mungkin serosa (serotorak), berdarah (hemotoraks), pus (piotoraks) atau kilus (kilotoraks). Bila cairan serosa mungkin berupa transudat (hasil bendungan) atau eksudat (hasil radang). ∗ Cairan pleural dianalisis dengan kultur bakteri, pewarnaan gram, basil tahan asam (untuk TBC), hitung sel darah merah dan putih, pemeriksaan kimiawi (glukosa, amylase, laktat dehidrogenase (LDH), protein), analisis sitologi untuk sel-sel malignan, dan pH. ∗ Biopsi pleura mungkin juga dilakukan

F. Penatalaksanaan medis  Tujuan pengobatan adalah untuk menemukan penyebab dasar, untuk mencegah penumpukan kembali cairan, dan untuk menghilangkan ketidaknyamanan serta dispneu. Pengobatan spesifik ditujukan pada penyebab dasar (co; gagal jantung kongestif, pneumonia, sirosis).  Torasentesis dilakukan untuk membuang cairan, untuk mendapatkan specimen guna keperluan analisis dan untuk menghilangkan disneu.  Bila penyebab dasar malignansi, efusi dapat terjadi kembali dalam beberapa hari tatau minggu, torasentesis berulang mengakibatkan nyeri, penipisan protein dan elektrolit, dan kadang pneumothoraks. Dalam keadaan ini kadang diatasi dengan pemasangan selang dada dengan drainase yang dihubungkan ke system drainase water-seal atau pengisapan untuk mengevaluasiruang pleura dan pengembangan paru.

 Agen yang secara kimiawi mengiritasi, seperti tetrasiklin dimasukkan kedalam ruang pleura untuk mengobliterasi ruang pleural dan mencegah akumulasi cairan lebih lanjut.  Pengobatan lainnya untuk efusi pleura malignan termasuk radiasi dinding dada, bedah plerektomi, dan terapi diuretic. G. Water Seal Drainase (WSD) 1. Pengertian WSD adalah suatu unit yang bekerja sebagai drain untuk mengeluarkan udara dan cairan melalui selang dada. 2. Indikasi a. b. c. e. Pneumothoraks karena rupture bleb, luka tusuk tembus Hemothoraks karena robekan pleura, kelebihan anti koagulan, pasca bedah toraks Torakotomi Empiema karena penyakit paru serius dan kondisi inflamasi d. Efusi pleura

3. Tujuan Pemasangan ∗ ∗ ∗ ∗ Untuk mengeluarkan udara, cairan atau darah dari rongga pleura Untuk mengembalikan tekanan negative pada rongga pleura Untuk mengembangkan kembali paru yang kolap dan kolap sebagian Untuk mencegah reflux drainase kembali ke dalam rongga dada.

4. Tempat pemasangan a. Apikal  Letak selang pada interkosta III mid klavikula  Dimasukkan secara antero lateral  Fungsi untuk mengeluarkan udara dari rongga pleura

. riwayat bedah dada/trauma. Batuk. gelisah 4. perilaku distraksi 6. botol pertama mengumpulkan cairan/drainase dan botol kedua adalah botol water seal. Pernapasan Gejala : Kesulitan bernapas. botol penghisap control ditambahkan ke system dua botol. hipertensi/hipotensi. Basal  Letak selang pada interkostal V-VI atau interkostal VIII-IX mid aksiller  Fungsi : untuk mengeluarkan cairan dari rongga pleura 5. • System tiga botol Sistem tiga botol. nyeri/kenyamanan Gejala tergantung ukuran/area terlibat : Nyeri yang diperberat oleh napas dalam. abdomen Tanda : Berhati-hati pada area yang sakit. Sirkulasi Tanda : Takikardi. System tiga botol ini paling aman untuk mengatur jumlah penghisapan. disritmia. H. irama jantung gallop. Jenis WSD • Sistem satu botol Sistem drainase ini paling sederhana dan sering digunakan pada pasien dengan simple pneumotoraks • Sistem dua botol Pada system ini. Makanan / cairan Adanya pemasangan IV vena sentral/ infus 5. DVJ 3. bahu.b. Aktifitas/istirahat Gejala : dispneu dengan aktifitas ataupun istirahat 2. Pengkajian 1. kemungkinan menyebar ke leher. Integritas ego Tanda : ketakutan.

takipneu. perubahan tanda vital) Auskultasi bunyi napas Catat pengembangan dada dan posisi trakea. penggunaan otot aksesori pernapasan pada dada. gangguan pengembangan dada.d penurunan ekspansi paru (akumulasi udara/cairan).berkeringat. Tujuan : pola nafas efektif Kriteria hasil : ∗ ∗ ∗ ∗ ∗ ∗ Menunjukkan pola napas normal/efektif dng GDA normal Bebas sianosis dan tanda gejala hipoksia Identifikasi etiologi atau factor pencetus Evaluasi fungsi pernapasan (napas cepat. Perkusi dada : hiperresonan diarea terisi udara dan bunyi pekak diarea terisi cairan Observasi dan palpasi dada : gerakan dada tidak sama (paradoksik) bila trauma atau kemps. Observasi gelembung udara botol penampung d. e. batas cairan Klem selang pada bagian bawah unit drainase bila terjadi kebocoran Catat karakter/jumlah drainase selang dada. sianosis. Awasi pasang surutnya air penampung Berikan oksigen melalui kanul/masker Intervensi : . proses inflamasi. nyeri/ansietas.Tanda : Takipnea. c. penurunan pengembangan (area sakit). Pola napas tidak efektif b. sianosis. sianosis. retraksi interkostal. GDA taknormal. Bunyi napas menurun dan fremitus menurun (pada sisi terlibat). ∗ periksa pengontrol penghisap. perubahan kedalaman pernapasan. krepitasi subkutan I. Pertahankan posisi nyaman biasanya peninggian kepala tempat tidur Bila selang dada dipasang : a. Diagnosa Keperawatan 1. gangguan musculoskeletal. Kemungkinan dibuktikan oleh : dispneu. Kulit : pucat. kaji fremitus. penggunaan otot aksesori. b.

Intervensi : 4.d factor-faktor biologis (trauma jaringan) dan factor-faktor fisik (pemasangan selang dada) Tujuan : Nyeri hilang atau berkurang Kriteria hasil : ∗ ∗ ∗ ∗ ∗ Pasien mengatakan nyeri berkurang atau dapat dikontrol Pasien tampak tenang Kaji terhadap adanya nyeri. skala dan intensitas nyeri Ajarkan pada klien tentang manajemen nyeri dengan distraksi dan relaksasi Amankan selang dada untuk membatasi gerakan dan menghindari iritasi Kaji keefektifan tindakan penurunan rasa nyeri Berikan analgetik sesuai indikasi Intervensi : 3. Nyeri dada b. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan aturan pengobatan Tujuan : Mengetahui tentang kondisinya dan aturan pengobatan Kriteria hasil : Menyatakan pemahaman tentang masalahnya . catat gambaran keamanan Amankan unit drainase pada tempat tidur dengan area lalu lintas rendah Awasi sisi lubang pemasangan selang. Resiko tinggi trauma/henti napas b.2. system drainase dada. ganti ulang kasa penutup steril sesuai kebutuhan Anjurkan pasien menghindari berbaring/menarik selang Observasi tanda distress pernapasan bila kateter torak lepas/tercabut. catat kondisi kulit. kurang pendidikan keamanan/pencegahan Tujuan : tidak terjadi trauma atau henti napas Kriteria hasil : ∗ ∗ ∗ ∗ ∗ Mengenal kebutuhan/mencari bantuan untuk mencegah komplikasi Memperbaiki/menghindari lingkungan dan bahaya fisik Kaji dengan pasien tujuan/fungsi unit drainase.d proses cidera.

Doenges E Mailyn. Smeltzer c Suzanne. EGC. Price. EGC. dan evaluasi. Ed5. Patofisiologi : Konsep klinis proses-pross penyakit. 2000. Buku Ajar Ilmu Bedah. nutrisi. 1997. 2002. 1998. Ed8. Media Aesculapius. Ed3.Carolyn M. Jakarta. DAFTAR PUSTAKA 1. Hudak. Sylvia A. Vol.EGC. Standar perawatan Pasien: proses keperawatan. Jakarta. Syamsuhidayat. Jakrta. EGC. 6. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. 7. 1999 3.1. Ed2. EGC. Jakarta. Keperawatan medical bedah. latihan Berikan informasi tentang apa yang ditanyakan klien Berikan reinforcement atas usaha yang telah dilakukan klien . Susan Martin Tucker. Purnawan J. Jakarta. Jakarta. 1997 4. 1995. WATER SEAL DRAINAGE (WSD) Posted in July 30th. 5. Wim de Jong. Baughman C Diane. Ed4. 2. Buku Ajar Keperawatan medical Bedah.- Mengikuti program pengobatan dan menunjukkan perubahan pola hidup untuk mencegah terulangnya masalah Intervensi : ∗ ∗ ∗ ∗ ∗ Kaji pemahaman klien tentang masalahnya Identifikasi kemungkinan kambuh/komplikasi jangka panjang Kaji ulang praktik kesehatan yang baik.1982. istirahat.1. 2008 by indonesian nurse in Bahasa Indonesia . Vol. FKUI. Edisi Revisi. Jakarta EGC. diagnosis. Keperawatan kritis : pendekatan holistic. dkk. Kapita Selekta Kedokteran. EGC. 8. Brunner and Suddarth’s.

? Latihan napas dalam. ? Kontrol dengan pemeriksaan fisik dan radiologi.Penetapan slang. melakukan pernapasan perut. – Pergantian posisi badan. Terapi : Mengeluarkan darah atau udara yang terkumpul di rongga pleura. atau memberi tahanan pada slang.1. b. perhatikan juga secara bersamaan keadaan pernapasan. merubah posisi tubuh sambil mengangkat badan. jangan batuk waktu slang diklem. 2. Perhatikan keadaan dan banyaknya cairan suction. . ? Dengan WSD/Bullow drainage diharapkan paru mengembang. atau menaruh bantal di bawah lengan atas yang cedera. Untuk rasa sakit yang hebat akan diberi analgetik oleh dokter. sebelum penderita jatuh dalam shoks. Mendorong berkembangnya paru-paru. b. d. Mencegah infeksi di bagian masuknya slang. ? Latihan batuk yang efisien : batuk dengan posisi duduk. Preventive : Mengeluarkan udaran atau darah yang masuk ke rongga pleura sehingga “mechanis of breathing” tetap baik. WSD dapat berarti : a. dan pengganti verband 2 hari sekali. Dalam perawatan yang harus diperhatikan : . harus dilakukan torakotomi. c. sehingga dapat ditentukan perlu operasi torakotomi atau tidak. Perawatan WSD dan pedoman latihanya : a. Mengembalikan tekanan rongga pleura sehingga “mechanis of breathing” dapat kembali seperti yang seharusnya. Perdarahan dalam 24 jam setelah operasi umumnya 500 – 800 cc. Jika perdarahan dalam 1 jam melebihi 3 cc/kg/jam. Slang diatur se-nyaman mungkin. Jika banyaknya hisapan bertambah/berkurang. sehingga rasa sakit di bagian masuknya slang dapat dikurangi. Usahakan agar pasien dapat merasa enak dengan memasang bantal kecil dibelakang. sehingga slang yang dimasukkan tidak terganggu dengan bergeraknya pasien. Bullow Drainage / WSD Pada trauma toraks. Mendeteksi di bagian dimana masuknya slang. Mengurangi rasa sakit dibagian masuknya slang. dan perlu diperhatikan agar kain kassa yang menutup bagian masuknya slang dan tube tidak boleh dikotori waktu menyeka tubuh pasien. c. Diagnostik : Menentukan perdarahan dari pembuluh darah besar atau kecil.

2) Setiap hendak mengganti botol dicatat pertambahan cairan dan adanya gelembung udara yang keluar dari bullow drainage. slang bengkok atau alat rusak. denyut nadi. ? Perlu sering dicek. keadaan cairan. 4) Setiap penggantian botol/slang harus memperhatikan sterilitas botol dan slang harus tetap steril. ke 1/2 terlentang atau 1/2 duduk ke posisi miring bagian operasi di bawah atau di cari penyababnya misal : slang tersumbat oleh gangguan darah. 1) Cairan dalam botol WSD diganti setiap hari . 5) Penggantian harus juga memperhatikan keselamatan kerja diri-sendiri. dengan memakai sarung tangan. • • • • • • . misal : slang terlepas. atau lubang slang tertutup oleh karena perlekatanan di dinding paru-paru.e. botol terjatuh karena kesalahan dll. 6) Cegah bahaya yang menggangu tekanan negatip dalam rongga dada. ? Perhatikan banyaknya cairan. Perawatan “slang” dan botol WSD/ Bullow drainage. keluhan pasien.. keadaan pernapasan.. apakah tekanan negative tetap sesuai petunjuk jika suction kurang baik. d. warna muka. tekanan darah. diukur berapa cairan yang keluar kalau ada dicatat. Suction harus berjalan efektif : Perhatikan setiap 15 – 20 menit selama 1 – 2 jam setelah operasi dan setiap 1 – 2 jam selama 24 jam setelah operasi. Login • • This blog post All blog posts Subscribe to this blog post's comments through. coba merubah posisi pasien dari terlentang. 3) Penggantian botol harus “tertutup” untuk mencegah udara masuk yaitu meng”klem” slang pada dua tempat dengan kocher.

Close Login to IntenseDebate Or create an account Username or Email: Password: Forgot login? OpenID Cancel Login Close Login with your OpenID Or create an account using OpenID OpenID URL: Back Cancel Login Dashboard | Edit profile | Logout • þÿ þÿ Logged in as There are no comments posted yet..• • RSS Feed Subscribe via email Subscribe Follow the discussion þÿ Comments Logging you in.. Be the first one! .

Drainase cairan pleura atau pus tergantung pada tahapan penyakit dengan : .dan penurunan berat badan.Post a new comment Askep Empiema KONSEP I. Komplikasi. penurunan premitus. 1. 2000 ). Stapilococcus 2. • • • DASAR EMPIEMA Empiema adalah keadaan terkumpulnya nanah ( pus ) didalam ronggga pleura dapat setempat atau mengisi seluruh rongga pleura( Ngastiyah. Infeksi darti luar dinding thoraks yang menjalar kedalam pleura misalnya pada trauma thoraks. IV. Evaluasi Diagnosis Foto dada dan thoraksintesis. VII. Terjadinya empiema dapat melalui tiga jalur: Patogenesis. abses dinding thoraks. Sasaran penetalaksanaan adalah mengaliran cavitas pleura hingga mencapai ekspansi paru yang optimal. pendataran pada perkusi dada. Manisfestasi Klinik. nyeri pleural. 1997 ) II. 3. Empiema adalah penumpukan cairan terinfeksi atau pus pada cavitas pleura ( Diane C. Tidak terdapatnya bunyi nafas. anti biaotika (dosis besar ) dan atau streptokinase. berkeringat malam. Streptococcus. arokreksia . Penatalaksanaan (Medik).1997). Pnemococcus 3. Perubahan Fibrotik yang tidak dapat sembuh yang menggangu ventilasi paru yang disebabkan terjebaknya paru pada sisi yang terkena. Dicapai dengan drainase yang adekuat. 2. Baughman. Karena kuman menjalar perkontiniutatum dan menembus pleura visceral . dispneu. III. Pengertian. VI. Demam. Penyebab. V. Secara hematogen. Sebagai komplikasi pneumoni dan abses paru. 1. kuman dari focus lain sampai pada pleura visceral. Empiema adalah penumpukan materi purulen pada areal pleural ( Hudak & Gallo.

Prioritas Keperawatan. bila dilakukan fungsi plera atau dipasang WSD cara menolong tidak berbeda. riwayat pneumoni berulang . G. perubahan pola hidup. VIII. kurang sistem pendukung. Dekortikasi. Perawatan pada umumnya sama dengan pasien pleuritis. Sirkulasi . Seksualitas. Dasar data pengkajian. pnemothoraks c.a. C. Bila penyebab adalah kuman TBC maka. D. penyakit lama.jika cairan tidak terlalu kental b. 1. jika imflamasi telah bertahan lama. Berikan perawatan spesifik terhadap metoda drainase pleural. episode batuk hilang timbul. b. peningkatan produksi secret. Keamanan. penurunan libido. Bantu pasien mengatasi kondisi. memperlambat memburuknya kondisi 5. penurunan kemampuan melakukan ADL. DIAGNOSA KEPERAWATAN. Ketidakmampuan untuk tidur. mual muntah nafsu makan menurun . kelemahan • Kriteria hasal : 1. a. peningkatan factor resiko. Makanan/cairan . Auskultasi bunyi nafas catat adanya bunyi nafas. Mempertahankan patensi jalan nafas 2. Drainase dada terbuka untuk mengeluarkan pus pleural yang mengental dan debris serta mesekresi jaringan pulmonal yang mendasari penyakit. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan bronchus spsame. d. Pertahankan jalan nafasa paten dengan bunyi nafas bersih 2. Memberikan informasi tentang proses penyakit / prognosis dan program pengobatan. INTERVENSI DAN RASIONAL. Intervensi Keperawatan. keletihan. Gejala . F. Ketidakmampuan melakukan ADL karena sulit bernapas. malaise. Dispneu pada saat istirahat. instruksi dalam latihan pernafasan (pernafasan bibir dan pernafasan diagpragmatik ) c. riwayat reaksi alergi atau sensitive terhadap zat / factor lingkungan. Pernafasan . 1. pembengkakan pada ekstremitas bawah. Mencegah komplikasi. Aktivitas / istirahat. Higiene . B. Meningkatkan masukan nutrisi 4. . Menunjukkan perilaku batuk efektif dan mengeluarkan secret • Intervensi a. hubungan ketergantungan. Interaksi social . Aspirasi jarum ( Thorasintesis ). 3. H. setelah empiema sembuh pasien perlu pengobatan TB. I. kelemahan. A. E. . indikasi bila nanah sangat kental. Membantu tindakan untuk mempermudah pertukaran gas. kaji dan pantau suara pernafasan . ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN EMPIEMA . nafas pendek batuk menetap dengan produksi sputum. Integritas ego. Drainase tertutup dengan WSD.

dan produksi mukosa. indikasi spasme bronchus / tertahannya sekret. d. mengi. d. atau kelemahan. Tingkatkan masukan cairan sampai 3000 ml per hari sesuai toleransi jantung. c. Observasi karakteristik batuk Rasional : Batuk dapat menetap tetapi tidak efektif khususnya bila pasien lansia. Diagnosa keperawatan : Pertukaran gas. Palpasi primitus. kerusakan berhubungan dengan gangguan suplai oksigen .bunyi tambahan Rasional : Bunyi nafas redup karena penurunan aliran udara . gelisah . Catat adanya atau derajat dispneu. Rasional : Hidrasi membantu menurunkan kekentalan secret . 2. Memberikan obata sesaui indikasi Rasional : Merilekskan otot halus dan menurunkan kongesti lokal. misalnya peninggian kepala tempat tidur. Rasional : Memberikan pasien berbagao cara untuk mengatasi dan mengontrol dispneu dan menurunkan jebakan udara. Krekels basah menyebar menujukkan cairan pada dekompensasi jantung. Pengiriman oksigen dapat diperbaiki dengan posisi tinggi dan latihan napas untuk menurunkan kolap jalan napas.berpartisipasi dalam program pengobatan. • Intervensi a. Bantu latihan nafas abdomen atau bibir.ansietas dan distress pernafasan Rasional : Disfungsi pernafasan merupakan tahap proses kronis yang yang dapat menimbulkan infeksi atau reaksi alergi. mempermudah pengeluaran g. Auskultasi bunyi nafas catat area penurunan aliran udara . Tinggikan kepala tempat tidur Rasional . e.Rasional : Untuk mengetahui adanya obstruksi jalan nafas. tachipneu merupakan derajat yan ditemukan adanya proses infeksi akut. menurunkan spasme jalan nafas.kedalaman pernapasan Rasional : Berguna dalam evaluasi derajat distress pernapasan dan atau kronisnya penyakit b. b. Kriteria hasil Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenisasi jaringan adekuat.mengi . f. c. sakit akut. Rasional : . Rasional : Peninggian kepala tempat tidur mempermudah fungsi pernafasan dengan menggunakan gravitasi. Kaji frekwensi. Kaji pasien untuk posisi yang nyaman . kerusakan alveoli .

f. produksi sputum. Diagnosa keperawatan : Resiko infeksi Kriteria hasil : • Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah / menurunkan resiko infeksi • Menunjukkan teknik. mual muntah. perubahan tekanan darah dapat menujukkan efek hipoksemia sistemik pada fungsi jantung. Kolaborasi dengan ahli gizi / nutrisi.dan minuman karbonat Rasional : Dapat menghasilakan distensi abdomen yang menganggu nafas abdomen dan gerakan diagframa yang dapat meningkatan dispnea. Auskultasi bunyi usus . Observasi warna . kelemahan. Kriteria hasil : Menunjukkan peningkatan berat badan mempertahankan berat badan Intervensi : a.disritmia. Hindari makan yang sangat panas dan dingin Rasional : Suhu ekstrim dapat mencetuskan / meningkatkan spasme batuk e. Rasional : Penurunan atau hipoaktif bising usus menunjukkan motilitas gaster dan kostipasi yang berhubungan dengan pembatasan pemasukan cairan. Timbang berat badan sesuai indikasi Rasional : Berguna untuk menetukan kebutuhan kalori. c. Hindari makan yang mengandung gas. Rasional : Sekret berbau. menyusun tujuan berat badan dan evaluasi keadekuatan rencana nutrisi. pilihan makanan buruk. . Intervensi : a. anoreksia. Kaji kebiasaan diit . b. Diagnosa keperawatan : Nutrisi. Awasi suhu Rasional : Demam dapat terjadi karena infeksi dan atau dehidrasi. kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan dispneu. c. Tachikardia . Dorong kesimbangan antara aktivitas dan istirahat. b. Rasional. kuning atau kehijauan menujukkan adanya infeksi paru. Rasional : Metode makan dan kebutuhan dengan upaya kalori didasarkan pada kebutuhan individu untuk memberikan nutrisi maksimal dengan upaya minimal pasien /penggunaan energi 4. Awasi tanda vital dan irama jantung. penurunan aktivitas dan hipoksemia.catat derajat kesulitan makan Rasional : Pasien distress pernafasan akut sering anoreksia karena dispneu. d. perubahan. 3.bau sputum.Penurunan getarn fibrasi diduga adanya pengumpulan cairan atau udara terjebak e. perubahan pola hidup untuk meningkatkan lingkungan yang aman.

DAFTAR PUSTAKA Hudak & Gallo. ( 2000 ). Diskusi masukan nutrisi adekuat. Diskusi pentingnya mengikuti perawatan medik ( Foto Thoraks dan kultur sputum ) Rasional : Pengawasan proses penyakit untuk membuata program therapy . Baughman. Jakarta Diana C. Rasional : Dilakukan untuk mengidentifikasi organisme penyebab dan kerentanan terhadap anti microbial 5. Berikan latihan atau batuk efektif Rasional : Pernafasan bibir dan nafas abdomen / diagframatik menguatkan otot pernafasan. Jakarta. d. Rasional : Malnutrisi dapat mempengaruhi kesehatan umum dan menurunkan tahanan terhadap infeksi. Jelaskan proses penyakit individu. EGC. Kriteria hasil : Nyatakan atau pemahaman kondisi atau proses penyakit. ( 1997 ). e. Marilyn E. Rencana asuhan keperawatan. Kolaborasi pemeriksaan sputum. Rasional : Penghentian merokok dapat menghambat kemajuan PPOM d. Perawatan anak sakit . (2000 ). Diagnosa keperawatan : Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang penyakitnya. ( 1997 ). e.Rasional : Menurunkan konsumsi / kebutuhan kesimbangan oksigen dan memperbaiki pertahan pasien terhadapa infeksi. Kaji efek bahaya merokok dan nasehatkan untuk menghentikan rokok. membantu meminimalkan kolaps jalan nafas. Ngastiyah. Keperawatan kritis : suatu pendekatan holistic. pendekatan untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. peningkatan penyembuhan . Intervensi : a. By: HAy_Blue ^_^ Diposkan oleh Hayato Frizi di 17:37 . Jakarta. EGC. Rasional : Menurunkan ansietas dan dapat menimbulkan perbaikan b. EGC. Kaji kebutuhan / dosis oksigen untuk pasien Rasional : Menurunkan resiko kesalahan penggunaan oksigen dan komplikasi lanjut.. Doengoes. Jakarta. c. Patofisiologi. EGC.

perkusi. status asmatikus. sinar. penyakit pernafasan restriktif termasuk kelainan neuromuskuler dan penyakit paru restriktif karena kelainan parenkim paru seperti fibrosis dan pasien yang mendapat ventilasi mekanik. Jadi tujuan pokok fisioterapi pada penyakit paru adalah mengembalikan dan memelihara fungsi otot-otot pernafasan dan membantu membersihkan sekret dari bronkus dan untuk mencegah penumpukan sekret. panas. Fisioterapi dada ini walaupun caranya kelihatan tidak istimewa tetapi ini sangat efektif dalam upaya mengeluarkan sekret dan memperbaiki ventilasi pada pasien dengan fungsi paru yang terganggu. Fisioterapi dada adalah salah satu dari pada fisioterapi yang sangat berguna bagi penderita penyakit respirasi baik yang bersifat akut maupun kronis. Ns.Label: Kesehatan 0 komentar: Poskan Komentar Link ke posting ini Buat sebuah Link ASKEP FISIOTERAPI DADA 14 Februari 2009 pada 9:54 am (fisioterapi dada) Tags: askep. Fisioterapi dada ini meliputi rangkaian : postural drainage. fisioterapi dada KEBUTUHAN DASAR MANUSIA FISIOTERAPI DADA By. Dalam fisioterapi tenaga alam yang dipakai antara lain listrik. dingin. sedangkan kontra .Kp A. DEFINISI Fisioterapi adalah suatu cara atau bentuk pengobatan untuk mengembalikan fungsi suatu organ tubuh dengan memakai tenaga alam. Fisioterapi dada ini dapat digunakan untuk pengobatan dan pencegahan pada penyakit paru obstruktif menahun. massage dan latihan yang mana penggunaannya disesuaikan dengan batas toleransi penderita sehingga didapatkan efek pengobatan. S. air. renjatan dan perdarahan masif. AFIYAH HIDAYATI. memperbaiki pergerakan dan aliran sekret. dan vibrasi Kontra indikasi fisioterapi dada ada yang bersifat mutlak seperti kegagalan jantung.

Cara melakukan pengobatan : 1. Postural drainase Postural drainase (PD) merupakan salah satu intervensi untuk melepaskan sekresi dari berbagai segmen paru dengan menggunakan pengaruh gaya gravitasi. Indikasi untuk Postural Drainase : 1. PD dapat dilakukan untuk mencegah terkumpulnya sekret dalam saluran nafas tetapi juga mempercepat pengeluaran sekret sehingga tidak terjadi atelektasis.. Pasien yang produksi sputum meningkat seperti pada fibrosis kistik atau bronkiektasis 1. Pasien pre dan post operatif 2. tumor paru dengan kemungkinan adanya keganasan serta adanya kejang rangsang. 3. Tension pneumotoraks 2. Terangkan cara pengobatan kepada pasien secara ringkas tetapi lengkap. Pasien neurologi dengan kelemahan umum dan gangguan menelan atau batuk Kontra indikasi untuk postural drainase : 1. Pasien yang memakai ventilasi 1. Pasien yang melakukan tirah baring yang lama 1. Edema paru 5. Profilaksis untuk mencegah penumpukan sekret yaitu pada : 1. B. Pasien dengan batuk yang tidak efektif . Pasien dengan pneumonia 2.indikasi relatif seperti infeksi paru berat. hipertensi.2.2. Efusi pleura yang luas Persiapan pasien untuk postural drainase. 4. Terapis harus di depan pasien untuk melihat perubahan yang terjadi selama Postural Drainase. Hemoptisis 3. Pada penderita dengan produksi sputum yang banyak PD lebih efektif bila disertai dengan clapping dan vibrating. Waktu yang terbaik untuk melakukan PD yaitu sekitar 1 jam sebelum sarapan pagi dan sekitar 1 jam sebelumtidur pada malam hari. Gangguan sistem kardiovaskuler seperti hipotensi. Pasien dengan abses paru 2.1.4. patah tulang iga atau luka baru bekas operasi. 4. Mobilisasi sekret yang tertahan : 2.3.1. Apakah pasien mempunyai refleks batuk atau memerlukan suction untuk mengeluarkan sekret. Longgarkan seluruh pakaian terutama daerah leher dan pinggang. 1.5. 2. 2.4. 2. Pasien dengan atelektasis yang disebabkan oleh sekret 2. infark miokard akutrd infark dan aritmia. Periksa nadi dan tekanan darah. Postoral Drainase dilakukan dua kali sehari. bila dilakukan pada beberapa .3. Mengingat kelainan pada paru bisa terjadi pada berbagai lokasi maka PD dilakukan pada berbagai posisi disesuaikan dengan kelainan parunya.

tanggal. data klinis. 4. Pada auskultasi apakah suara pernafasan meningkat dan sama kiri dan kanan. Perkusi dapat dilakukan dengan membentuk . Apakah batuk telah produktif. 5. Foto toraks relative jelas. Clapping/Perkusi Perkusi adalah tepukan dilakukan pada dinding dada atau punggung dengan tangan dibentuk seperti mangkok. sputum: warna. maka prosedur dapat diulangi kembali dengan memperhatikan kondisi pasien C. foto x-ray 3) Cuci tangan 4) Pakai masker 5) Dekatkan sputum pot 6) Berikan minum air hangat 7) Atur posisi pasien sesuai dengan area paru yang akan didrainage 8. 3. suara pernafasan) 12) Cuci tangan 13) Dokumentasi (jam. Tujuan melepaskan sekret yang tertahan atau melekat pada bronkhus. 3. volume. Perkusi dada merupakan energi mekanik pada dada yang diteruskan pada saluran nafas paru. Apakah foto toraks ada perbaikan. Alat dan bahan : 1) Bantal 2-3 2) Tisu wajah 3) Segelas air hangat 4) Masker 5) Sputum pot Prosedur kerja : 1) Jelaskan prosedur 2) Kaji area paru. Bagaimana efek yang nampak pada vital sign. Minta pasien mempertahankan posisi tersebut selama 10-15 menit. 2. tiap satu posisi 3 – 10 menit. hari. merasa enakan. sakit. 2. 4. Penilaian hasil pengobatan : 1. Pada inspeksi apakah kedua sisi dada bergerak sama. 6. adakah temperatur dan nadi tekanan darah. respon pasien) 14) Jika sputum masih belum bisa keluar. nafas dalam dan batuk efektif 11) Evaluasi respon pasien (pola nafas. Suara pernafasan normal atau relative jelas. Bagaimana perasaan pasien tentang pengobatan apakah ia merasa lelah. Pasien mampu untuk bernafas dalam dan batuk. 3. apakah sekret sangat encer atau kental. Dilakukan sebelum makan pagi dan malam atau 1 s/d 2 jam sesudah makan. Pasien tidak demam dalam 24 – 48 jam. Kriteria untuk tidak melanjutkan pengobatan : 1.posisi tidak lebih dari 40 menit. Sambil PD bisa dilakukan clapping dan vibrating 9) Berikan tisu untuk membersihkan sputum 10) Minta pasien untuk duduk.

Kontra indikasinya adalah patah tulang dan hemoptisis. Aliran terjadi dari cabang-cabang tersebut di atas ke bronki utama. . Pasien disuruh bernafas dalam dan kompresi dada dan vibrasi dilaksanakan pada puncak inspirasi dan dilanjutkan sampai akhir ekspirasi. Prosedur kerja : 1) Meletakkan kedua telapak tangan tumpang tindih diatas area paru yang akan dilakukan vibrasi dengan posisi tangan terkuat berada di luar 2) Anjurkan pasien napas dalam dengan Purse lips breathing 3) Lakukan vibrasi atau menggetarkan tangan dengan tumpuan pada pergelangan tangan saat pasien ekspirasi dan hentikan saat pasien inspirasi 4) Istirahatkan pasien 5) Ulangi vibrasi hingga 3X. Gambar B : Segmen posterior pada lobus kanan atas dan sub segmen posterior dada segmen apikal posterior pada lobus kiri atas. Emfisema subkutan daerah leher dan dada 3.kedua tangan deperti mangkok. Vibrating Vibrasi secara umum dilakukan bersamaan dengan clapping. Vibrasi dengan kompresi dada menggerakkan sekret ke jalan nafas yang besar sedangkan perkusi melepaskan/melonggarkan sekret. lndikasi untuk perkusi : Perkusi secara rutin dilakukan pada pasien yang mendapat postural drainase. minta pasien untuk batuk Gambar A : Segmen apikal pada lobus kanan atas dan sub segmen apikal dari segmen posterior pada lobus kiri atas. Emboli paru 6. Vibrasi dilakukan hanya pada waktu pasien mengeluarkan nafas. Luka bakar. napas dalam dengan Purse lips breathing 3) Perkusi pada tiap segmen paru selama 1-2 menit dengan kedua tangan membentuk mangkok D. Sesama postural drainase terapis biasanya secara umum memilih cara perkusi atau vibrasi untuk mengeluarkan sekret. Patah tulang rusuk 2. infeksi kulit 5. Skin graf yang baru 4. jadi semua indikasi postural drainase secara umum adalah indikasi perkusi. Vibrasi dilakukan dengan cara meletakkan tangan bertumpang tindih pada dada kemudian dengan dorongan bergetar. Aliran terjadi dari cabang-cabang tersebut di atas ke bronki utama. Pneumotoraks tension yang tidak diobati Alat dan bahan : 1) Handuk kecil Prosedur kerja : 1) Tutup area yang akan dilakukan clapping dengan handuk untuk mengurangi ketidaknyamanan 2) Anjurkan pasien untuk rileks. Perkusi harus dilakukan hati-hati pada keadaan : 1.

Gambar E : Segmen basal posterior pada kedua belah lobus bawah. . Gambar D : Segmen superior pada kedua belah lobus atas. aliran terjadi dari Cabang tersebut ke bronkus utama. Dengan memiringkan badan ke kiri dari ke kanan secara berganti-ganti aliran dari lobus atas kanan dan kiri ke bronkus utama. Dengan sebuah bantal yang diletakkan di bawah perut tubuh dibuat agak dalam posisi menungging. Aliran terjadi dan percabangan bronkus ke bronkus yang bersangkutan. oblik kiri) Sasaran : Segmen lingular pada lobus atas kiri. Aliran dari percabangan tersebut ke bronkus kanan. Aliran dari percabangan tersebut ke bronkus kiri. Aliran terjadi dari percabangan bronlms kebonkus kiri. Gambar H : (Posisi kepala ke bawah. (Posisi kepala ke bawah. tubuh oblik kanan) Sasaran : Lobus tengah kanan. Aliran terjadi dari percabangan bronkus ke bronkus kanan. Gambar F : Segmen basal lateral pada lobus bawah kanan. Gambar G : Segmen basal lateral pada lobus bawah kiri.Gambar C : Segmen anterior pada kedua belah lobus atas.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful