ISOLASI DAN IDENTIF.

IKASI BAKTERI PENYEBAB

MOUrH ROT DISEASE PADA ULAR PYTHON AMETHYSTINUS SERTA
PENGUJIAN SENSITIFJTASNYA TERHADAP ANTIBIOTIKA

ANORIYANTI

FAKULTAS INSTITur

KEDOKrERAN

HEWAN

PERTANIAN BOGaR

2003

ABSTRAK

ANDRI VANTI.

B01499013.

Isolasi dan Identifikasi Sakteri Penyebab serta Pengujian Sensitifitasnya

Mouth Rot terhadap

Disease pada Ular Python amethystinus

Antibiotika. Dibawah bimbingan Dr. drh. Fachriyan

Hasmi Pasaribu.

Mouth rot disease merupakan suatu gejaJa dari infeksi sistemik pada reptil. Dari berbagai gejala yang ada, penyakit ini dicirikan dengan pada jaringan adanya perkejuan

kuhing atau abu-abu kekuningan

lunak gusi di dalam mulut yang

diikuti erythem« dan peningkatan saliva. Mouth rot biasanya banyak ditemukan pada beberapa jenis utar dan kadal dan kadang pada kura-kura. Python amethystinus merupakan jenis ular yang bagus dan indah, sehingga

sering dijadikan sebagai hewan komersial dan hewan peliharaan oleh para pencinta ular. Menurut konvensi CITES ular tersebut dikelompokkan sebagai hewan yang dilindungi. ekor. Perpindahan ke dalam apendiks /I

Kuotanya pada tahun 2000 hanya sebanyak 450

ular terse but dari habitat alaminya ke lingkungan baru (kandang)

~k~n menimbulkan stres, sehingga sistem kekebalannya menurun. Kondisi kandang yang sempit dapat menyebabkan ular terse but sering mengalami trauma atau

perlukaan pada mulutnya. Hal tersebut akan memicu terjadinya mouth rot disease. Spesimen diambil dari gusi yang rusak (plaque) yang terdapat di dalam mulut ular Python amethystinus yang menderita mouth rot disease, kemudian ditumbuhkan pada media agar darah dan MCA (Mac Concey Aga" Dari setiap koloni yang berbeda dibuat pewamaan dengan uji motilitas, katalase dan oksidase. dilakukan hidrogen serangkaian sulfida, uji biokimia sehingga membentuk kolonL Gram kemudian dilanjutkan jenis bakteri karbohidrat, dengan

Untuk mengidentifikasi dari uji fermentasi antibiotika

yang terdiri

indol, sitrat dan urea. Pengujian

dilakukan

metode Kirby-Bauer. Hasil penelitian menunjukkan menderita Aeromonas caseolitycus. mouth rot disease bahwa pada ular Python amethystinus yang sp.,

terdapat

5 jenis bakteri yaitu Pseudomonas
sp., Khurtia sp. dan

hydrophila,

Clostridium

Staphylococcus

Suspensi bakteri terse but resisten ternadap kanamisin pada dosis 10

ppm dan sensitif terhadap streptomisin 10 ppm dan enrofloksasin 5 ppm.

ISOLASI DAN IOENTIFIKASI BAKTERI PENYEBAB MOUTH ROT DISEASE PADA ULAR PYTHON AMETHYST/NUS PENGUJIAN SENSITIFITASNYA TERHAOAP ANTIBIOTIKA SERTA

ANORIYANTI

801499013

Skripsi sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran Hewan di Fakultas Kedokteran Hewan Instirut Pertanlan Bogor

FAKULTAS KEOOKTERAN HEWAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2003

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Skripsi

: Isalasi dan Identifikasi pada Ular

Bakteri Penyebab Mouth Rot Disease

Python
terhadap

amethystinus
Antibiotika

serta

Pengujian

Sensitifltasnya

(Isolation

and

Identification the Bacteria that Cause Infection of Mouth Rot Disease in Python amethystinus and It's Susceptibility Test against Antibiotics)
Nama Mahasiswa NRP : Andri Yanti : B01499013

Telah disetujui dan diperiksa aleh :

Dr. drh. Fachriyan Hasmi Pasaribu Dosen Pembimbing

Mengetahui
J

(

___ A>r.'i:i :;'. I Wayan Teguh Wibawan , Pembantu Dekan J

~"rt=l-, ~

Pe""bantu Dekan I FKH IPB

Tanggallulus

: 15 Agustus 2003

dan melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah Negri Padang Japang.RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Padang Panjang. Pada tahun 1993 penulis tamat dan Sekolah Oasar Negri 06 Ampang Gadang. Pada tahun 1996 penulls tercatat sebagai siswi di SMUN I Suliki Gunung Mas dan tamat pada tahun 1999. . Pada tahun yang sama penulis lulus dalam seleksi penerimaan mahasiswa baru (USMI) di Institut Pertanian Bogor dan tercatat sebagai mahasiswa di Fakultas Kedokteran Hewan IPB. 24 Januari 1982 sebagai anak ketiga dari tiga bersaudara dan ayah bernama Masri dan ibu bemama Animar Abdullah.

Karya keeil yang sangat berarti ini tidak akan dapat terse/esaikan tanpa bantuan dari berbagai pihak. miss fi2e. Special thank's for my "vhotqha" atas kebersamaan dan kesabarannya. Terimakasih juga kepada Bapak Drs. Hasco dan karyawan. hidayah dan ridho yang telah diberikan oleh ~Sang Khalik~ Allah subhanahuataala. drh. Agus Soemantri yang telah membimbing dengan penuh kesabaran selarna di Laboratorium Baktenologi. vien. dapat terselesaikan. ikeu. Kepada ternan dekatku yang cantik-cantik : novi. terimakasih atas bimbingan. sehingga penulis dapat menyelesaikan penelilian mengenai M Isolasi dan Identifikasi Baktsri Penyebab Mouth Rot Disease pada Ular Python amethystinus serta Pengujian Sensitifitasnya terhadap Antibiotika • sampai pada penulisan skripsi inl. Oleh karena itu tak ada kata yang pantas penulis ucapkan selain ueapan terimakasih yang sebesar-besarnya. Untuk . Bapak Drh. terimakasih telah mengizinkan dan membantu penulis da/am melakukan pengambilan spesimen di perusahaanya. Kepada Bapak Direktur Fa. serta ternan pene/itianku Yosro atas kerjasama dan suka duka dalam melakukan penel/tian. uniku "Jenny" yang cantik serta semua saudara-saudaraku yang sangat kusayangi. glennie. floryn. uda dan keluarga (tito & mba' santi). Faehriyan Hasmi Pasaribu. Kepada dosen pembimbing penelitianku Bapak Dr. Johan Pumama atas diskusinya yang sangat membantu.PRAKATA AlhamdulilJahirobbilalamin penulis ucapkan atas segala rahmat. arahan dan masukan serta kritikankritikannya sehingga penulisan skripsi in. erica terimakasih atas hari-hari indah yang pernah kita jalani. ney froz. terutama atas dukungan moral dan materil serta doa yang tak terhingga dari keluargaku tercmta: Mama (you are my hero).

ita. yeni mbung. Agustus 2003 Penu/is . 8elamat dan sukses juga untuk semua teman-temanku angkatan "kodok" Gamet '36. shytp.. cirit. ijal. Kepada keluarga besar "PM Club" 36 : opi. iya. Jang lupa beta e. Akhimya penulis berharap semoga karya ini dapat bermanfaat bagi semua pihak dan dengan senang hati penulis menerima saran dan kritikan yang sifatnya membangun untuk kesempumaan di masa yang akan datang. Bogor. ipin.semua anak-anak KFlobamora~:I love your culture.Kesten ll.. ilep dan zul (Kapan kita kumpul lagi ?).

..... 8 8 9 9 10 10 12 13 16 16 16 19 21 29 30 33 ................... DAFTAR LAMP/RAN PENDAHULUAN Latar Belakang...... LAMPIRAN Python amethystinus................. Tujuan TINJAUAN PUSTAKA ix x x 1 1 4 5 5 Etiologi I Causa Symptom I Gejala Klinis............................................................................................................ Patogenesa Prognosa dan Diagnosa Terapi lsolasl dan Identmkasi Bakteri................................................................................................................................................................................................................................. Antibiotika BAHAN DAN METODE Bahan dan Alat Metode Penelitian Pembacaan Hasil............................................. Mouth Rot Disease.......... DAFTAR PUST AKA................................. HASIL DAN PEMBAHASAN KESIMPULAN DAN SARAN......................................................................................................................DAFTAR lSI Hatarnan DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR................................................................................................

............................................................DAFTAR TABEL Halaman 1 2 3 4 5 Hasil isolasi mouth rot disease dan Python amethystinus pada media agar darah dan MeA....... streptomisin dan enrofloksasin..................................................... oksidase dan kata/ase dan isolat mouth rot disease pada Python amethystinus.................................... 24 Sensitifitas iso/at bakteri dari Python amethystinus terhadap kanamisin....... 27 ............................................................... Hasil pewamaan Gram dan iso/at mouth rot disease pada Python amethystinus 21 22 23 Hasil uji motilitas....................... Hasil uji biokimia dan identifikasi spesies bakteri yang diiso/asi dari Python amethystinus.......

.......................DAFTAR GAM BAR Halaman 1 2 Ular Python amethystinus Ular yang menderita mouth rot disease..................................................................... 3 Spesies ular dan Indonesia (python dan sinduk) yang diperdagangkan ke luar negri dengan menggunakan spesies untuk tahun 2000 Konvensi CITES serta kuota per 36 ................................... 5 10 DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Foto uji biokimia salah satu bakteri penyebab mouth rot disease: 34 Aeromonas hydrophila 2 8eberapa antibiotika yang dapat digunakan untuk pengobatan mouth 35 rot disease.................

kemampuan dari individu untuk membatasi kerusakan dan mengeliminasi mikroba. Bakteri non patogen adalah bakten yang tidak merugikan secara langsung terhadap makhluk hidup. Ada berbagai macam komponen dar. Sedangkan bakteri patagen adalah bakteri yang secara langsung dapat merugikan dan menyebabkan penyakit bagi makhluk hidup. Pada keadaan yang sama respon berperantara sel juga dibutuhkan (Greenwood et a/. Pada prinsipnya di dalarn tubuh terdapat 2 macam sistem kekebalan tubuh yang mempunyai hubungan erat satu dengan yang lainnya. Menurut Guyton (1996) . bakteri dapat bersifat patogen dan non patagen. Sebagai salah satu mikroorganisme. beberapa bakteri dapat mengeluarkan toksin yang sangat rnernbahayakan dan akan menlmbulkan penyakit-penyakit tertentu. Antibodi spesifik dapat mengikat f1agelaatau fimbriae bakteri.BABI PENOAHULUAN latar Belakang Bakteri merupakan salah satu mikroorganisme yang banyak berperan penting dalam kehidupan makhluk hidup baik tumbuhan. Ketika bakteri mendapat jalan masuk menuju jaringan. karena keberadaannya dalam jumlah yang normal dibutuhkan untuk proses-proses tertentu. Karena dalam jumlah yang sangat banyak tersebut. hewan ataupun manusia. Kemudian se/-sel fagosit akan menghancurkan dan menghilangkan bakteri tersebut. Bakteri non patagen bisa menjadi patagen jika berada dalam jumlah yang sangat banyak atau melebihi jumlah normal. akan tergantung pada sistem kekebalan masing-masing individu. sistem kekebalan yang akan merespon antigen-antigen yang masuk ke dalam tubuh. sehingga akan menghalangi beberapa proses-proses penting bakteri. 1992).

Menurut Ananimus (2001b) mouth rot sering terjadi pada reptil yang dikandangkan. Hal seperti inilah yang terjadi pada kasus mouth rot disease pada kebanyakan reptil. misalnya ular yang biasanya hidup bebas di alam lalu ditangkap dan dikandangkan. Biasanya penyakit tersebut banyak ditemukan pada beberapa jenis ular dan kadal dan kadang pada kura-kura. Pada keadaan yang kranis akan terjadi kerusakan pada tulang rahang dan jika penanganan tidak benar maka penyakit tersebut akan berakhir dengan kematian. seperti ruang gerak yang sangat terbatas karena kandang yang sempit. Dari berbagai gejala yang ada. Sedangkan kekebalan berperantara sel (Cell mediated immunity) didapat melalui pembentukan sel limfosit yang teraktivasi dalam jumlah besar dan secara khusus dibuat untuk menghancurkan benda asing. Menurut Sasipreeyajan dan Goasduf (1999) faktor yang dapat mempengaruhi status kekebalan hewan adalah suhu yang dingin. Ketidakmampuan individu untuk merespon berbagai antigen-antigen asing yang masuk ke dalam tubuh akan menimbulkan penyakit-penyakit tertentu yang kadang-kadang dapat membahayakan dan bisa juga menyebabkan kematian.sistem kekebalan humoral adalah antibodi yang bersirkulasi (circulating antibody) merupakan molekul globulin yang dapat menyerang agen penyakit. temperatur dan sebagainya. makanan. Mouth rot disebabkan oleh infeksi sekunder yang diawali aleh adanya trauma atau perlukaan pada mulut. 2 . Mouth rot merupakan suatu gejala dari infeksi sistemik pada reptil (Kaplan dan Jereb 1995). penyakit tersebut dicirikan dengan adanya perkejuan kuning atau abu-abu kekuningan pada jaringan lunak gusi di dalam mulut yang diikuti erythema dan peningkatan saliva. kekurangan makanan dan stres. Kandis! tersebut akan menyebabkan ular menjadi stres dengan lingkungan baru yang sangat asing bagi dirinya.

belum mendapat penanganan yang serius. sedangkan pembelian antibiotika jarang dilakukan atau belum dilakukan sesuai dengan jenis mikroorganisme penyebabnya. kasus tersebut merupakan suatu masalah yang besar dan akan sangat merugikan. Dewasa ini kasus mouth rot disease di Indonesia terutama di perusahaanperusahaan eksportir reptil. 1995). Berdasarkan spektrumnya antibiotika dibagi menjadi dua kelompok. Pengobatan yang dilakukan hanyalah sebatas pembersihan mulut dengan larutan-Iarutan pencuci mulut. Keadaan ini menyebabkan kasus tersebut berulang sampai beberapa kali dan selalu akan berakhir dengan kematian. Oleh karena itu diperlukan suatu pengidentifikasian bektert penyebab penyakit tersebut sehingga dapat ditentukan jenis antibiotika yang tepat untuk pengobatannya. Bakteri yang awalnya peka terhadap suatu antibiotika. Beberapa perusahaan eksportir reptil mengalami kerugian karena ular-utar mereka yang menderita mouth rot tidak bisa lagi diekspor. Para pencinta ular juga harus merelakan ular kesayangan mereka mati begitu saja karena sulitnya proses persembuhan penyakit tersebut. bisa berubah menjadi resisten jika bakteri tersebut mampu bertahan terhadap antibiotika. Antibiotika adalah zat yang dihasilkan oleh mikroorganisme terutama fungi dalam konsentrasi yang rendah dan dapat menghambat pertumbuhan serta membunuh mikroorganisme lain (Ganiswara et al. Tetapi bagi orang-orang yang mengerti terutama para pencinta reptil. Sedangkan berdasarkan mekanisme ke~anya antimikroba dibagi menjadi 3 .Bagi masyarakat biasa kasus tersebut mungkin tidak menjadi masalah karena pada umumnya masyarakat menganggap ular sebagai hewan yang menakutkan dan mungkin tidak ada manfaatnya. yaitu yang berspektrum luas (broad spectrum) dan yang berspektrum sempit (narrow spectrum).

(3) mengganggu permeabilitas membran sel mikroba. 1995). 4 . yaitu : (1) mengganggu metabolisme sel mikroba. sehingga dapat menentukan jenis antibiotika yang tepat untuk bakteri tersebut. (2) menghambat sintesa dinding sel mikroba.5 kelompok. (4) menghambat sintesa protein sel mikroba dan (5) dapat menghambat atau merusak asam nukleat sel mikroba (Ganiswara et a/. Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis bakteri penyebab infeksi dari mouth rot disease pada ular Python amethystinus.

sehingga sering dijadikan sebagai hewan komersial dan hewan peliharaan oleh para pencinla ular.BAB II TINJAUAN PUSTAKA Python amethystinus Python amethyslinus merupakan jenis ular yang bagus dan indah. Kuotanya pada tahun 2000 hanya sebanyak 450 ekor (Soehartono dan Mardiastuti 2003). Gambar 1. Menurut konvensi CITES (Convention on International Trade In Endangered ke dalam apendiks II Species of Wild Fauna and Flora) ular tersebut dikelompokkan sebagai hewan yang dilindungi. Ular Python amethystinus (Sumber: Anderson 2001) .

hutan 6 . serta gabungan dari beberapa wama coklat gelap sampai hitam tidak teratur yang bersatu di sepanjang sisl paling bawah untuk membentuk satu atau lebih garis longitudinal (Hoser 1997). Kulit bagian dorsal tubuhnya berwama kuning sampai coklat.Menurut Gow (1989) klasifikasi berikut: ~ ~ ~ Kingdom Phylum Subphylum Class Subclass Ordo Subordo Family Subfamily Genus Spesies : Animalia : Chordata : Vertebrata : Reptilia : Lepidosauria : Squamata : Serpentes : Boidae : Pythonidae : Python ular Python amethystinus adalah sebagai »»}> )- »»). Kulit bagian ventralnya berwama putih cream. Python ini juga ditemukan di New Guinea dan pulau-pulau yang berbatasan dengan New Guinea.> )- : Python amethystinus Python amethystinus mempunyai kepala yang lebar dan luas. Kepala biasanya hanya terdiri dari satu wama yaitu coklat dan kadang-kadang membentuk bintik-bintik atau garis-garis. lahan hutan savana yang terbuka. Ular tersebut dapat dijumpai di beberapa habitat yaitu hutan hujan tropis. berbeda dengan leher dan tubuhnya yang panjang dan langsing. Python amethystinus ditemukan di Queesland Tenggara dan pulau-pulau yang berbatasan dengannya di Australia.

tetapi tempat ini lebih didominasi oleh Python Carpet Python Water (Liasis fUSGus). tetapi tidak boleh kurang dari 25°C. Jika ingin memelihara ular di dalam kandang. banyak faktor yang harus diperhatikan. SUmber 7 . Gigitannya akan terasa sakit. Temperamen atau tabiat dari ular ini sangat sulit untuk diamati. Telur dierami selama 10 minggu. Hal tersebut yang menyebabkan para petemak melakukan pembunuhan tehadap spesies tersebut. Makanan dari spesies ini terdln dan bermaeam-maeam. Sebuah tempat air yang luas dengan air yang segar sangat dibutuhkan sebagai sumber dingin. Untuk meneukupi kebutuhan ini maka kandang seharusnya mempunyai area dingin dan area panas sehingga ular bisa menyeimbangkan temperatur tubuhnya. Habitat lainnya adalah di hutan payau bakau. dengan sekali pengeraman rata-rata 15 butir telur. ular ini semestinya dikandangkan dengan kandang yang sesuai dengan lingkungan aslinya serta dengan temperatur stabil dan tinggi yang eukup untuknya. tetapi Python amethystinus (Morelia spilotes variegata) dan kelihatannya lebih menyukai unggas-unggas domestik. Pada saat menetas ukuran anaknya adalah antara 45 em sampai 60 em (Hoser 1997). Temperatur optimal pada boa dan python adalah sekitar 80-95 F atau sekitar 2r- 3rC (Anonimus 2000). Menurut Johnson (2003) kematian Python amethystinus seeara cepat atau tidak disebabkan oleh temperatur panas atau dingin yang berJebih. dapat melukai terutama jika giginya patah dan terdapat bekas-bekas patahan dari gigi tersebut.musim serta hutan vegetasi yang bersemak-semak (Hoser 1997).Oleh karena itu. Perkawinan terjadi sekitar akhir dan musim hujan (April-Mei) dan telur akan dikeluarkan 3 bulan kemudian. Ular tersebut juga ditemukan berJimpahterutama di hulu sungai dan di sekitar payau-payau bukit pasir yang berbatasan dengan laut.

Mouth Rot Disease Etiologi I Causa Mouth rot adalah nama lain dari stomatitis. Kausa primer yang menyebabkan te~adinya infeksi sekunder tersebut terdiri dari beberapa faktor diantaranya trauma.panas dapat diberikan dengan menggunakan lampu pijar dan tidak boleh lebih dari 38°C. Penyimpanan kayu dan benda-benda lainnya yang kotor akan dapat masuk ke mulut ular pada waktu makan. maka berbagai macam mikroorganisme tersebut akan menjadi penyebab terjadinya inflamasi pada beberapa struktur di dalam mulut seperti pipi. langitlangit dan lidah. Satu kenyataan penting yang sering tidak terlihat oleh para pemilik hewan. terutama bahan yang digunakan. Jika penanganan tidak benar. penurunan sistem kekebalan tubuh dan stres (Edward 1997). virus atau fungi yang terdapat pada jaringan gusi. agen penyakit tersebut dapat menyerbu tulang rahang. Hal tersebut dapat menjadi sumber penyebab dari mouth rot disease (Anonimus 2001a). Dalam kasus ini yaitu mouth rot. tetapi merupakan sebuah infeksi sekunder yang dipacu oleh infeksi sistemik (Anonimus 2003). lidah. merupakan suatu infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Kandang seharusnya terbuat dari bahan yang mudah dibersihkan karena setiap saat kandang harus bersih dari kotoran. dan pada kasus yang lebih lanjut akan menyebabkan runtuhnya tulang dan jaringan tersebut. Keadaan tersebut akan memudahkan masuknya mikroorganisme patogen yang akan merusak daerah yang diserangnya. bibir serta langit·langit dan dasar mulut. gusi. 8 . bahwa mouth rot bukanlah penyakit yang disebabkan oleh kausa primer. Konstruksi kandang juga penting untuk diperhatikan.

Citrobacter freundii. Pada kasus yang lebih lanjut. serta peningkatan jumlah dan kepekatan saliva (Anderson 2001).Beberapa jenis mikroorganisme yang telah dihubungkan dengan mouth rot yaitu Aeromonas aerogenes. Gejala awal mungkin sulit diketahui dan sering tidak terlihat yaitu adanya petechia ringan. mungkin terdapat inflamasi akut pada pipi dan membran pharingeal serta nekrosis gigi. Staphylococcus sp. Sejumlah nanah berwama kuning seperti kayu. Kondisi stres akan menyebabkan kekebalan seekor hewan menurun. Sedangkan Anonimus (2003b) mengemukakan bahwa mouth rot hadir sebagai plaque kekuningan. dan Proteus sp. Pada kasus dengan onset yang cepat dan tiba-tiba. keadaan tersebut bisa berlanjut menjadi osteomyelitis pada mandibula dan struktur-struktur kranial. Patogenesa Terjadinya infeksi sistemik dari berbagai macam mikroorganisme penyebab mouth rot tersebut dipicu oleh adanya trauma dan stres pada ular. Pseudomonas Streptococcus aeruginosa dan P. Symptom I Gejala Klinis Menurut Anonimus (2002b) mouth rot didefenisikan sebagai suatu inflamasi pada membran mukosa mulut. yang bersifat aerob juga telah ditemukan pada lesio dan eksudat tersebut (Kaplan dan Jereb 1995). A. Bakteri lainnya seperti Mycobacterium chelonie dan Clostridium sp. hewan tidak bersemangat. fluorescens. Pada penanganan yang salah. malas makan atau perubahan dalam memilih makanan. A. abu-abu kekuningan atau putih abu-abu dapat terkumpul pada jaringan lunak tersebut.. kepala mungkin akan menjadi bengkak (Kaplan dan Jereb 1995). aerophila . keputihan atau bintik-bintik tidak teratur pada gusi. hydrophila. Di dalam kandang yang 9 . sp..

Penyakit ini sulit disembuhkan dan pada umumnya selaJu berakhir dengan kematian (infausta). maka tubuh tidak mampu mengeliminasi mikroorganisme tersebut dan terjadilah perkembangan mikroorganisme menjadi lebih banyak di dalam jaringan mulut. Karena sistem kekebalan yang rnenurun. Diagnosa dapat diketahui berdasarkan gejaka klinis yang terjadi dan dengan pengkuHuran spesimen dan mukosa mulut yang mengalami kerusakan (Anonimus zeoze. Ular yang menderita mouth rot disease (Sumber: Anonimus 2001b) 10 . prognosa dan dlagnosa Pada kasus yang akut hewan akan mati dalam 2-3 bulan. Gambar 2.sempit ular akan sering mengalami trauma atau perlukaan pada mulutnya. Lama kelamaan mikroorganisme tersebut akan merusak jaringan-janngan yang ada di dalam mulut ular. Pada yang kronis dapat berlanjut menjadi osteomyelitis dan pembengkakan kepala menjadi lebih besar. Hal tersebut akan memudahkan masuknya berbagai macam mikroorganisrne ke dalam mulut ular.

Menurut Vaughn (2002) selain pemberian antibiotika. C dan B kompleks secara oral. yaitu berulang dua kali atau lebih selama persembuhan. mulut harus dicek setiap hari untuk melihat terbentuknya plaque yang berulang. Jika ular sudah tidak bisa makan. Dilute solution seperti povidine chlorhexidin iodine (Betadine) dan (Nolvasan) merupakan produk yang mempunyai sitotoksik rendah (Kaplan dan Jereb 1995). Beberapa kerusakan-kerusakan yang tertinggat harus dibersihkan lagi dengan swab yang dicelupkan terJebih dahulu ke dalam dilute solution. maka cara terakhir yang dilakukan adalah dengan menggunakan alat yaitu sonde lambung (tube feeding). Terutama pada kasus yang akut mungkin membutuhkan lebih dari satu macam pengobatan pada hari pertama dan kedua. Tetapi beberapa dan produk-produk tersebut kemungkinan mempunyai sifat sitotoksik dan tidak digunakan sebagai obatobat sistemik antibiotika. iodoform dan sejumlah substansi lainnya. Hal tersebut biasa terjadi selama proses pengobatan. pengobatan dapat juga dilakukan dengan pemberian vitamin A.25 %-0. telah digunakan berbagai substansi untuk membersihkan rongga mulut seperti : cuka. Rongga mulut harus dicek untuk memastikan pengeluaran dari keseluruhan material. Mulut dapat disemprot dengan povidine iodine 1 % atau 0. mulut harus disemprot lagi. Beberapa dan substansi tersebut dapat mengurangi pertumbuhan beberapa organisme. II . Kemudian hewan baru diberikan pengobatan dengan antibiotika (Kaplan dan Jereb 1995). Selama pengobatan dengan antibiotika.Terapi Sebelum munculnya antibiotika-antibiotika modem. hydrogen peroxide.50 % larutan chlorhexidine diacetate. Pemberian vitamin tersebut dapat juga disuntikkan pada makanan (hewan) yang akan dimakan oleh ular. Segera sesudah plaque dikeluarkan.

sitat biakan dan sitat biokimiawi. Sedangkan bakteri Gram negatif berwama merah karena kompleks tersebut larut sewaktu pemberian larutan pemucat dan kemudian mengambil zat warna kedua yang berwama merah. sehingga mikroorganisme yang tumbuh dalam lingkungan aerob harus menguraikan bahan toksik tersebut. Uji oksidase digunakan untuk melihat adanya enzim sitrokom oksidase sedangkan uji katalase membuktikan adanya enzim katalase yang berfungsi dalam penguraian H202 yang bersitat racun. 12 . Hidrogen peroksida terbentuk sewaktu metabolisme aerob. sehingga identifikasi bakteri didasarkan pada morfologi. Mikroba yang akan diisolasi dapat berupa biakan murni atau populasi campuran. Perbedaan hasil dalam pewarnaan ini disebabkan oleh perbedaan struktur kedua kelompok bakteri tersebut (Lay dan Hastowo 1992). Bakteri Gram positif berwarna ungu disebabkan kompleks zat warna kristal violet-yodium tetap dipertahankan meskipun diberi larutan pemucat.Isolasi dan Identifikasi Bakteri Mikroba tidak memiliki ciri anatomi yang nyata. Pewarnaan Gram memllahkan bakteri menjadi kelompok Gram positif dan Gram negatif. Enzim lainnya yang dapat menguraikan hidrogen peroksida adalah peroksidase yang tidak menghasilkan oksigen pada proses penguraian (lay 1994). Untuk melihat kemurnian biakan dibuat pewarnaan Gram dan untuk mengetahui jenis mikrobanya dilanjutkan dengan beberapa uji biokimia. Bila biakan yang akan diidentifikasi berasal dari populasi campuran maka harus dilakukan pemumian terlebih dahulu. Uji katalase dan oksidase adalah contoh proses yang memerlukan oksigen. Katalase adalah enzim yang mengkatalisasikan hidrogen peroksida (H202) menjadi air dan O2• Hidrogen peroksida bersitat toksik terhadap sel karena bahan ini mengaktivasikan enzim dalam sel.

ke dalam media ditambahkan juga beef extract dan pepton sebagai sumber nitrogen. Uji sitrat digunakan untuk melihat kemampuan mikroorganisme menggunakan sitrat sebagai satu-satunya sumber karbon dan energi. NH4+ sebagai sumber N dan brom thymol blue sebagai indikator pH. Dengan perkataan lain. Indikator yang sering digunakan adalah merah fenol dan bromcresol purple (Lay 1994). antibiotika merupakan zat kimia yang 13 . maka asam akan dihilangkan dari medium biakan sehingga menyebabkan peningkatan pH dan mengubah warna medium dari hijau menjadi biru (Lay 1994). Media ini mengandung 3 macam gula yaitu glukosa. indikator merah fenol dan FeS04 untuk memperlihatkan pembentukan H2S yang ditunjukkan dengan adanya endapan hitam.Kemampuan memfermentasikan berbagai karbohidrat dan produk fermentasi yang dihasilkan merupakan ciri yang sangat berguna dalam identifikasi mikroorganisme. Karbohidrat yang sering dipakai adalah glukosa. Triple Sugar Iron Agar (TSIA) digunakan terutama untuk mengidentifikasi bakteri Gram negatif. maltosa dan sukrosa. Untuk mengetahui pembentukan asam. vitamin dan mineral. sukrosa. ke dalam media ditambahkan indikator. Kaldu karbohidrat yang digunakan untuk uji pembentukan asam dan gas mengandung 0. yang daJam jumlah sangat keeil bersifat merusak atau menghambat mikroorganisme lain. Antibiotika Kata antibiotika diberikan pada produk yang dihasilkan suatu organisme tertentu. Bila mikroorganisme mampu menggunakan sitrat. Selain karbohidrat. Simmon's citrate agar merupakan medium sintetik dengan Na sitrat sebagai satu-satunya sumber karbon.5-1 % karbohidrat. laktosa. laktosa. manitol.

Kanamisin dan gentamisin aktif terhadap berbagai macam bakteri Gram positif dan Gram negatif. Proteus dan beberapa 14 . efektif terhadap banyak bakteri Gram positif dan negatif. Sesuai dengan namanya persenyawaan tersebut mengandung gula amino dan komponen molekulnya dihubungkan oieh ikatan glikosida. spektinomisin. kanamisin. Antibiotika tersebut bekerja dengan menghambat bakteri DNA gyrase. gentamisin dan tobramisin. azlosilin dan mezlosilin. tikarsilin. Secara kimiawi. Karbenisilin efektif terhadap infeksi yang disebabkan oleh Pseudomonas strain dari Escherichia coli.dihasilkan oleh suatu mikroorganisme yang dapat menghambat mikroorganisme lain (Pelczar dan Chan 1981). enrof1oksasin. ceftazidim (Fortaz). Antibiotika tersebut diinjeksikan secara parenteral. Antibiotika lain dalam kelompok tersebut adalah dihidrostreptomisin. Enrofloksasin adalah antibiotika turunan fluorokuinolon asam karbolik dan sering digunakan pada hewan. Gentamisin terutama aktif terhadap beberapa galur Pseudomonas. karbenisilin. yaitu Gram positif dan Gram negatif serta mikoplasma. dan bersifat sebagai antimikroba bakterisidal pada konsentrasi rendah (Brown 1996). neomisin. Menurut Booth dan McDonald (1988) karbenisilin merupakan turunan dari penisilin (Anti Pseudomonas Penisilin). Anti Pseudomonas Penisilin yang lain adalah karbenisilin indanil. gentamisin dan piperasilin. streptomisin tergolong ke dalam kelompok antibiotika yang disebut aminoglikosida. Enrofloksasin mempunyai aktivitas antimikroba yang luas. Menurut Kaplan dan Jereb (1995) beberapa antibiotika yang sering dipakai untuk mengobati mouth rot adalah amikasin. Streptomisin melancarkan efek antimikrobialnya dengan cara bergabung serta aeruginosa. Streptomisin dihasilkan olen Streptomyces griseus.

15 . Menurut Brander at a/. Tetapi bakteri tersebut akan masih peka terhadap gentamisin karena gentamisin lebih aktif dan antibiotika aminoglikosida lainnya. Bakteri yang semula sensitif terhadap antibiotika tersebut jika mengalami perubahan pada unit 30 S akan berubah menjadi resisten (Lay dan Hastowo 1992).menyebabkan distorsi pada subunit-subunit ribosom. sehingga mengganggu sintesis protein. Antibiotika tersebut bekeria dengan cara berikatan pada ribosom 30 S yang menyebabkan tidak terbentuknya rantai peptida sehingga terjadl kegagalan sintesa protein. (1991) bakteri yang menjadi resisten terhadap gentamisin juga akan resisten terhadap antibiotika aminoglikosida yang lain. Gentamisin dan streptomisin merupakan antibiotika aminoglikosida dan bersifat bakterioksidal tetapi pada konsentrasi rendah hanya bersifat bakteriostatik (Fraser 1986).

zat warna kristal violet. manitol. Spesimen diambil langsung dan plaque pada gusi yang terdapat di dalam mulut ular dengan menggunakan cotton swab steril. pinset. Hasco (eksportir reptil). cover glass. Simon's Citrat Agar (SCA). reagens oksidase. cawan petri. aquades. Dengan menggunakan . ose. vaselin. Mac Concey Agar (MCA). Fakultas Kedokteran Hewan. pada media agar darah dan MCA. Sedangkan alat-alat yang digunakan adalah cotton swab steril. object glass. Nutrien Agar (NA). Triple Sugar Iron Agar (TSIA). dan mikroskop. larutan H2023 %.BAB III BAHAN DAN METODE Bahan dan Alat Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi 2 ekor ular Python amethystinus yang menderita mouth rot disease. aseton. pipet ukur. indol. Untuk mengisolasi ditumbuhkan bakteri yang terdapat pada spesimen maka spesimen pinset. minyak emersi. kertas cakram serta beberapa kelompok antibiotika yaitu kanamisin. glukosa. Jakarta. bunsen. agar darah. Bagian Penyakit Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner. Gang Masjid. lugol. Institut Pertanian Bogor pada bulan Maret 2003 sampai Juni 2003. streptomisin dan enrofloksasin. media Trypticase Soy Broth (TSB). inkubator. laktosa. tabung reaksi. urea. Pengambilan spesimen dilakukan di Fa. maltosa. Metode Penelitian Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Baktenologi. Jalan Condet Raya. sukrosa. reagens Kovacs. safranin. lalu dimasukkan dalam larutan TSB steril dan disimpan dalam termos es sebagai media pembawa. rak tabung reaksi.

lalu diinkubasi pada suhu 37°C selama 24 jam. Zat warna terakhir yaitu safranin yang diberikan selama 1 menit. kemudian dengan menggunakan ujung ose yang bulat. kemudian difiksasi di atas api atau di udara sampai kering. Dengan menggunakan tusuk gigi. Uji motilitas dilakukan dengan metode tetes bergantung. Isolat yang tumbuh pada media NA diambil dengan menggunakan ese steril lalu dihomegenkan dengan aquades yang ada pada object glass.cotton swab yang ada di dalam tabung reaksi berlsi larutan TSB diambil dan dioleskan pada kedua media tersebut. Sebelum dilakukan uji biokimia terlebih dahulu dilakukan uji motilitas. Isolat dari media NA diambil dengan ose steri! lalu dihomogenkan dengan aquades yang ada 17 . Selanjutnya diamati di bawah mikroskop perbesaran 100 x dengan menggunakan minyak emersi. sudut-sudut cover glass diberi vaselin secukupnya kemudian bagian tengahnya ditetesi dengan 1 mata ese aquades stern. Koloni yang berbeda tersebut diambil dan digereskan pada media NA dengan menggunakan ose steril. katalase dan oksidase. Zat warna pertama yang diberikan adalah kristal violet. olesan tersebut disebar dengan menggoreskannya pada permukaan agar. Kemudian dengan menggunakan ose steril. Setelah itu diberikan aseten alkohol selama 20 detik dan segera dicuci dengan air mengalir. Object glass terlebih dahulu difiksasi diatas bunsen. Pewamaan Gram dilakukan dari isolasi pada media NA. Pengamatan koloni dilakukan dengan memperhatikan tumbuhnya keloni yang berbeda pada masing-masing media. object glass tersebut ditetesi dengan aquades steri!. kemudian ditambah dengan zat warna lugel masing-masing selama 1 menit lalu dicuci dengan air mengalir. lalu diinkubasi pada suhu 37°C selama 24 jam. lalu dicuci dengan air mengalir dan dikeringkan di udara atau dengan kertas saring.

Kelima deret tabung karbohidrat tersebut diinkubasi dalam inkubator 37°C sejarna 24 jam. Beberapa tetes reagens ditambahkan pada masing-masing koloni terpisah dari suspensi biakan. Uji Indol menggunakan biakan semi padat yang kaya triptofan dan reagens Kovacs untuk melihat pembentukan indol. Untuk uji hidrogen sulfida media yang digunakan adalah TSIA. Tabung TSIA diinkubasikan pada suhu 3rC selama 24 jam. Object glass diletakkan di atas kaca penutup kemudian dibalikkan dengan cepat. laktosa. Pada hari kedua reagens Kovacs ditambahkan kedalam biakan semi padat tersebut dan 18 . Katalase positif ditandai oleh pembentukan gelembung udara pada koloni dan sekitarnya.pada cover glass. Dengan menggunakan ose lurus steril. isolat ditusukkan kedalam media (but) sampai % nya kemudian baru digoreskan pada bagian yang miring (slant). sukrosa. maltosa dan manitol yang mengandung indikator BPC (Brom Cresol Purple) atau PR (Phenol Red) sebagai indikator pH. lalu diinkubasikan pada suhu 37°C selama 24-48 jam.masing isolat bakteri diinokulasikan ke tiap-tiap karbohidrat tersebut dengan menggunakan ose steril secara hati-hati sehingga tidak menimbulkan gelembung gas dalam tabung durham. Masing. Preparat tetes bergantung diperiksa dengan pembesaran 1Ox dan 4Sx. Oksidase positif ditandai dengan perubahan warna menjadi warna hitam dalam beberapa menit atau memerlukan waktu 30 menit untuk beberapa bakteri. Pengujian oksidase dilakukan dengan menambahkan reagens oksidase pada masing-masing koloni terpisah dari suspensi biakan. Penentuan adanya katalase diuji dengan larutan H202 3 % pada koloni terpisah. Isolat diinokulasikan kedalam biakan semi padat dengan cara menusukkan ose lurus steril sampai pada kedalaman % bagian dari permukaan media. Uji fermentasi karbohidrat menggunakan media kaldu karbohidrat yaitu glukosa.

5 ppm menjadi 2 kali lebih tinggi dan 2 kali lebih rendah. Dengan menggunakan cotton swab steril suspensi bakteri tersebut diambil dan digoreskan pada lempengan agar. Cawan agar yang telah ditempel kertas cakaram diinkubasi pada 37°C selama 24 jam. Pada media TSIA • 8ila terjadi perubahan warna menjadi kuning (asam). dijadikan satu suspensi dengan mencampurkannya ke dalam aquades steril secukupnya. dengan menyamakan tingkat kekeruhannya. Pengujian antibiotika dilakukan dengan metode Kirby-Bauer. Uji sitrat menggunakan media biakan Simmon's citrate agar berupa medium padat dan berwarna hijau. Isolat diinokulasikan ke dalam biakan dengan membuat goresan pada bagian yang miring lalu diinkubasikan pada suhu 37°C selama 48 jam. maka uji tersebut positif 19 . Pembacaan Hasll a. Satu cawan agar sebaiknya tidak diisi lebih dari 5 kertas cakram karena dikhawatirkan dapat menyebabkan tercampurnya antibiotika. Uji sitrat positif ditandai dengan terjadinya perubahan warna media dari hijau menjadi biru. Kemudian isolat pada media NA yang telah dimurnikan sebelumnya. lalu ditempelkan pada agar yang telah digores dengan suspensi bakteri. • 8ila terjadi perubahan warna menjadi merah maka uji tersebut negatif (basa). Tahap pertama yang dilakukan adalah mengencerkan antibiotika dari dosis 2.diamati setelah beberapa menit kemudian. Lalu suspensi bakteri tersebut distandarkan dengan standar Mc Farfant 108. Kemudian kertas cakram dicelupkan ke dalam masing-masing pengenceran antibiotika.

b. Bila setelah ditambahkan reagens Kovacs terbentuk warna merah muda maka uji indol positif. BHa terdapat warna hitam berarti uji H2S positif. jika tidak terbentuk maka uji indol negatif. Media Sitrat • Bila warna media berubah dari hijau menjadi biru maka uji sitrat positif. Media Urea • Bila warna media berubah menjadi merah.• • Bila media retak-retak berarti positif ada gas. 20 . Bila bakteri tumbuh di sepanjang tusukan saja maka uji motilitas negatif. d. maka uji gula positif. Bila warna media tetap merah maka uji gula negatif. maka uji urea positif. Pada media indol • • • Bila bakteri tumbuh di permukaan media maka uji motilitas posit if. c. Pada media gula-gula • • Bila warna media berubah menjadi kuning. e.

Hasil isolasi mouth rot disease dari Python amethystinus darah dan MCA Ularl Kriteria Agar darah koloni 1 pada media agar Ular 1\ MCA koloni 3 koloni 4 Coklat Rata Licin Sedang Mengkilat Bulat Tidak Subur Agar darah koloni 5 Opaque Rata Licin Sedang Mengkilat Bulat Tidak Subur koloni 6 Putih Rata Licin MCA koloni 7 Coklat Rata Liein Sedang Mengkitat Bulat Tidak Subur koloni 8 Coklat Rata Liein Besar Mengkilat Bulat Tidak Subur koloni 2 Putih Rata Licin Kecil Mengkilat Bulat Tidak Subur Warna Tepi Permukaan Ukuran Aspek Bentuk Hemolisis Pertumbuhan Opaque Rata Licin Sedang MengkHat Bulat Tidak Subur Coklat Rata Liein Besar Mengkilat Bulat Tidak Subur Keeil Tidak Mengkilat Bulat Tidak Subur Menurut Pelczar dan Chan (1986) setiap koloni yang berbeda dapat mewakili jenis mikroorganisme mikroorganisme. Perbedaan T erda pat 2 jenis ciri koloni yang berbeda Tabel 1. Hal ini berarti bahwa koloni terse but bukanlah merupakan suatu biakan . media. yang berbeda dan merupakan biakan murni dan satu jenis berdekatan maka Jika dua koloni pada medium dan masing-masing agar letaknya koloni yang terbentuk sel akan bercampur atau paling tidak bersentuhan.BABIV HASIL DAN PEMBAHASAN 8eberapa koloni yang berbeda didapatkan pada agar darah dan Mac Concey Agar (MCA) dari isolat mouth rot 2 ekor ular Python amethystinus. koloni berbeda pada masing-masing tersebut disajikan dalam Tabel 1.

Ada beberapa media yang tersedia untuk mendapatkan biakan mumi. Bila digunakan biakan tua terdapat kemungkinan penyimpangan hasil pewarnaan Gram. Oleh karena itu dalam mengamati pertumbuhannya pada media agar darah dan MCA. Sedangkan media MCA merupakan media selektif yang akan menghambat pertumbuhan bakteri Gram positif yang disebabkan garam empedu dan kristal violet. Hasil pewarnaan Gram dari isolat mouth rot disease pada Python amethystinus Ularl Kriteria Agar darah koloni 1 Morfologi Batang koloni 2 Batang Kelompok Ungu positif MCA koloni 3 Batang Rantai & kelompok Merah negatif koloni 4 Bulat Rantai & kelompok Ungu positif Merah negatif Ungu positif Rantai Rantai Agar darah koloni 5 Batang koloni 6 Batang Ular II MCA koloni 7 Bulat Rantai & kelompok Ungu positif koloni 8 Batang Rantai & kelompok Merah negatif Penataan Rantai Warn a Gram Merah negatif Pewarnaan Gram memberikan hasil yang baik bila digunakan biakan segar yang berumur 24-48 jam.mumi. salah satunya adalah jenis mikroorganisme yang akan ditumbuhkan. Bakteri Gram negatif yang tumbuh dibedakan kemampuannya dalam memfermentasikan laktosa. Tabel 2. Pada biakan tua banyak sel mengalami kerusakan pada dinding selnya. Menurut Lay (1994) media agar darah digunakan untuk menumbuhkan mikroorganisme yang sulit untuk dibiakkan dan juga untuk membedakan kelompok rmkroorqanlsme yang melisis atau tidak rnellsiskan butir darah merah. sehingga zat warna dapat keluar sewaktu dicuci 22 . koloni yang ditandai adalah yang benar-benar terpisah dengan yang lainnya. Jenis media mana yang akan dipakai tergantung pada banyak faktor.

Pada bakteri Gram positif akan terbentuk persenyawaan kompleks kristal violet-yodium ribonukleat yang tidak larut dalam larutan pemucat. Perbedaan warna ungu dan merah yang terjadi pada pewamaan ini.. Hasil uji motilitas.dengan larutan pemucat.. sedangkan dinding sel bakteri Gram negatif mempunyai kandungan lipida yang tinggi dibandingkan bakteri Gram positif. 23 . Hal ini akan menyebabkan meningkatnya daya larut kompleks kristal violet-yodium pada dinding sel bakteri Gram negatif. Sebagian besar dinding sel bakteri Gram positif terdiri dari peptidoglikan. Tabel 3. oksidase dan katalase dari isolat mouth rot disease pada Python amethystinus Ular I Agardarah Uji koloni 1 Motilitas Katalase Oxidase Keterangan :+ Ular II MeA Agardarah koloni koloni MeA koloni 7 koloni 8 + + + koloni 2 + + koloni 3 + + + koloni 4 5 + + + 6 + + + + . sehingga pori-pori dinding sel membesar. disebabkan oleh perbedaan dalam struktur dinding sel bakteri Gram positif dan Gram negatif. Lipida akan larut dalam alkohol dan aseton yang digunakan sebagai larutan pemucat. + + + + - = UJI positif = uji negatif . Ini berarti bahwa balderi Gram positif dengan dinding yang rusak tidak lagi dapat mempertahankan kompleks warna kristal violet yodium sehingga terlihat sebagai bakteri Gram negatif.

sehingga akhirnya didapatkan 5 jenis koloni yang berbeda. tetapi ketika metewati saturan 24 . +. = asamlbasa. katalase dan oksidase didapatkan beberapa koloni yang mempunyai yang sarna antara ular I dan II.-. + Pseudomonas sp..D (-) .- - Sukrosa Manitol Maltosa Laktosa TSIA Indol Sitrat Urea Spesies + + + + + + + (-) + + (-) (-) (-) (-) Staphylococcus (. Hasil uji biokimia dan identifikasi spesies bakteri yang diisolasi dari Python ame thys tinus Media Agardarah Uji Koloni Koloni II Koloni Koloni IV + MeA Koloni I Glukosa III + + V + (gas) alb. Pengujian biokimia hanya dilakukan pada perwakilan dari satu koloni saja. yaitu koloni 1dan 5. MCA. Keterangan : a/b.gas. Pada waktu lahir membran mukosa mulut dan pharyng pada awalnya steril.+ + D Aeromonas hydrophila + (-) Khurtia sp. 3 dan 8 serta koloni 4 dan 7.Dari hasil isolasi pada media agar darah.) ala. . pewarnaan Gram serta uji ciri motilitas. = UJI POSltit = uji caseolyticus negatif Mikroba yang secara alamiah menghuni tubuh hewan dan manusia disebut flora normal atau mikrobiota (Pelczar dan Chan 1981).H2S = dubius = uji tdak dilakukan (-) (-) Clostridium sp.. Tabel 4.-.

kecuali Staphylococcus caseolyticus. Dari Tabel 4 dapat terlihat bahwa jenls bakteri yang didapatkan dari isolasi terhadap mouth rot disease. Dalam 4-12 jam setelah lahir mulut akan memperoleh flora mikroba yang akan menjadi mikrobiotanya yang asli. berbentuk batang dan tidak berspora. (Neisseria).kelahiran maka akan terjadi kontaminasi mikroba. zopfi. gibson. dan K. tetapi mungkin jenis Staphylococcus yang Terdiri dari 2 spesies yaitu K. 1962) Selain dari flora normal mulut seperti yang telah disebutkan diatas berarti merupakan mikroba yang tidak normal. bacillus dan Vibrious (Jawetz et al. Ketika gigi mulai tumbuh Fusfform maka muncullah beberapa bakteri anaerob seperti bakteri Spirochetes. yang biasanya didapat dari daging dan produk-produk daging. Salah satu jenis bakteri tersebut adalah S. sp. semuanya adalah bakteri yang tidak normal ada di dalam mulut. Menurut Kaplan dan Jereb (1995) beberapa mikroorganisme telah didapatkan dari isolat mouth rot. Sumber lain dari kedua spesies tersebut adalah 25 .. Flora normal yang terdapat di dalam mulut adalah Staphylococcus. salah satunya yaitu Staphylococcus sp. Bakteri tersebut normal ada di dalam mulut dan bukanlah merupakan penyebab dari mouth rot disease. Dhiptheroids. yang menyebabkan mouth rot disease caseoJiticus. Actinomyces Diplococcus dan Lactobacillus. S. Bakteri ini tidak ditemukan berhubungan dengan penyakit infeksi pada manusia dan hewan (Krieg dan John 1984). sedangkan habitat alaminya belum diketahui secara jelas. caseolyticus ditemukan dalam susu dan dairy product. Khurlia adalah bakteri Gram positif. caseoliyticus yang hubungannya tidak erat dengan jenis Staphylococcus lainnya. Jadi Staphylococcus bukanlah staphylococcus lainnya. Mikroba tidak normal yang terdapat di dalam mulut dan bersifat patogen dapat menimbulkan penyakit.

streptomisin dan lain-lain. Aeromonas adalah bakteri Gram negatif. berbentuk batang dan bersifat fakultatif anaerob. Aeromonas resisten terhadap penisilin dan ampisilin dan beberapa spesies sensitif terhadap gentamisin. Salah satu spesiesnya adalah Aeromonas hydrophila yang bersifat patogen pada ular sehingga menimbulkan mouth rot disease. Pseudomonas adalah bakteri Gram nagatif. tetrasiklin dan kolistrin. Kemungkinan juga bisa berasal dari tanah yang menempel pada kayu yang diletakkan di dalam kandang ular tersebut. Keberadaannya sebagai penyebab dari mouth rot mungkin berasal dari makanan atau air yang diberikan pada ular. Lebih dari 30 spesies telah ditemukan. contohnya karbenisilin. Bakteri tersebut tidak normal ada di dalam mulut tetapi bukanlah merupakan penyebab dari mouth rot disease.dari feses pada peternakan-petemakan hewan terutama peternakan ayam dan babi (Krieg dan John 1984). ditemukan pada sumber-sumber air alarni dan tanah serta sering menjadi patogen pada hewan berdarah dingin dan hewan yang hidup di air segar (Davis et al. Bakteri dari genus in. Clostridium adalah bakteri Gram positif. tetapi hanya Pseudomonas aeruginosa yang bersifat patogen terhadap manusia dan hewan (Merchant dan Packer 1961). 1992). Keberadaan spesies ini mungkin berasal dari makanan atau air yang diberikan pada ular. berbentuk batang berspora dan bersifat anaerob. Beberapa diantaranya dapat menguraikan protein dan dapat mengeluarkan zat toksin. Ada beberapa antibiotika yang bekerja efektif terhadap Pseudomonas. gentamisin. Habitat alaminya yaitu terdapat di tanah atau pada saluran 26 . berbentuk batang dan bersifat aerob. serta bisa juga dari tanah yang terdapat pada kayu yang diletakkan di dalam kandang ular. Bakteri genus ini banyak ditemukan terutama di dalam air dan tanah.

Dosis antibiotika yang rendah dapat menyebabkan resisten. Streptomisin 10 ppm sedangkan pertumbuhan dapat menghambat pertumbuhan bakteri pada dosis menghambat enrofloksasin pada dosis 5 ppm telah dapat bakteri. mIllIon R I S I = Intermechet Kanamisin pada dosis 10 ppm belum dapat menghambat pertumbuhan suspensi bakteri.intestinal hewan dan manusia. sehingga menyebabkan kanamisin tidak dapat bekerja efektif. karena belum mencapai tingkatan dosis yang efektif untuk membunuh bakteri.. Sensitifitas isolat bakteri dari Python Bmethystinus streptomisin dan enrofloksasin lingkatan 0.5 ppm R R 10 ppm R S (+) S(++) = resisten = part per . Kemungkinan organisme saprofrt tanah tersebut didapatkan ditangkap ular dari habitat aslinya yaitu di alam. bukan ini mematikan Dewasa 27 . Jenis Antibiotika Kanamisin Streptomisin En rofloksasin Keterangan : R dosis Sppm R R S(+) = sensitif 1. 1960). Ketika ular menjadi stres karena dan dikandangkan maka bakteri tersebut akan berkembang biak dan menjadi patogen.2Sppm R R 2. label S.62Sppm R R R ppm terhadap kanamisin. Resistensi bakteri terhadap antibiotika dapat disebabkan oleh bakteri menjadi beberapa faktor. Penggunaan merupakan cara satu yang jenis terbaik antibiotika untuk dapat saja sebagai pengobatan bakteri. Kebanyakan dari spesies ini merupakan organisme saprofit tanah (Jawetz et a/. Faktor lain yang dapat menimbulkan resistensi kanamisin tersebut mungkin karena suspensi bakteri yang merupakan gabungan dan beberapa bakteri.

Antibiotika yang diberikan secara bersamaan tersebut haruslah mempunyai kinerja yang sinergis yang dapat saling bekerjasarna untuk memusnahkan bakteri (Booth dan McDonald 1988). dan gentamisin yang efektif terhadap infeksi Satu antibiotika juga dapat bersitat antagonis terhadap antibiotika lainnya sehingga penggunaannya tidak boleh diberikan secara bersamaan. 28 .penggunaan antibiotika dilakukan dengan pemberian lebih dari satu jenis antibiotika. Contoh antibiotika yang bekeria sinergis adalah karbenisilin Pseudomonas. terutama untuk penyakit-penyakit yang disebabkan oleh campuran dari berbagai macam bakteri.

Kanamisin mungkin bisa menjadi sensitif jika dosisnya ditingkatkan.BABV KESIMPULAN DAN SARAN Keslmpulan Mouth rot disease pada ular Python amethystinus merupakan penyakit sistemik dengan infeksi sekunder yang disebabkan oleh bakteri Pseudomonas sp. . Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap dosis dan jenis antibiotika lainnya serta penentuan kombinasi yang tepat dari antibiotika yang diujikan di laboratorium. Antibiotika yang sensitif terhadap suspensi bakteri tersebut adalah streptomisin 10 ppm dan enrofloksasin 5 ppm.. 2. Aeromonas hydrophila dan Clostridium sp. Saran 1. Penelitian secara patologi pada hewan pasea mati merupakan hal baru yang dapat dilakukan untuk mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan mouth rot disease.

2002b. http://www. 1992. [5 April 2003]. Veterinary Applied Pharmacology and Therapeutics. http://www.wanadoo. http://home. [9 Agustus 2003}.com/Rain 8661/diesase. Edward MC. 946-947. [30 Maret 2003]. http://www. Ed ke-2. Ron boa's Snake Page.vet2pet. [9 Agustus 2003].aol. [Anonimus]. Ulcerative Stomatitis). http://aolsvc. [20 April 2003]. 30 . [20 April 2003}.html. Reptil Ailments Incomplete. 19: 1-4. Pugh OM. 2003. Suyatna FD. http://www.. 1995. Microbiology: including Immunology and Molecular Genetics. and disease prevention and control for the veterinarian. Nofrialdi. ukltortoisehealthltortoiseJvetproblems/mouth rot. 1986. New York: Harper and Row Publication. [9 Agustus 2003]. http://www. htm. 1988.htm.com/articles/artShow. Jakarta: FKUI. Ganiswara SG. Ulcerative Stomatitis (Mouthrot) In Reptiles. Purwantyastuti. Eisen. [15 April 2003]. 2001.newenglandreptile. [Anonimus}. Setiabudi R. Inc. Iowa: Iowa State Univ Pro Brander GC. Infectious Stomatitis (Mouth Rot). 415-494. a handbook of diagnosis. 2001b. Ulcerative Stomatitis (Mouth Rot). htm\. htm. McDonald LE. [Anonimus]. icomm. Dulbecco. Potensial Veterinary Problems. Farmakologi dan Terapi. Brown SA. caI-dragon/mouthrot. 2002a. therapy. Rahway.asp?art 10=468. [Anonimus]. J of Veterinary Pharmacology Therapy.nlld. 2001a. ~. [Anonimus].petplace.DAFTAR PUSTAKA Anderson N. http://www.htm. Merc & Co. 2000.co.com/ allrepticare21 page15. Ed-4. Veterinary Pharmacology and Therapeutics. Jenkins WL. The Merck Veterinary Manual. Fluoroquinolones in animal health. vandorp/infectious%20stomatitis. Care of Snakes in Captivity. Bailliere Tindal. Ed ke6. Bywater RJ.geocities. Ed ke-6. snaketalk. 1991. 1997.com IcarelnfO/Ailments.angelfire. 1996. Eins. Davis BD. com/snaketalklsnakecare.9th NH. Fraser CM. Mouth Rot (Infectious Stomatitis.htm. Forest / [AI' onsnus].

1981. Adelberg EA. Adelberg EA. Analisis Mikroba di Laboratorium. [9 Agustus 2003]. com! Jawetz E. Jereb R. Hadioetomo RS. http:" WNW.htm. http:// Care1. 1961. penerjemah. Jakarta: UI Pro Pleczar MJ. uk! Hermanns Kaplan M. Ed ke-7. Hoser RT. 1989. CITES di Indonesia. Bergey's Manual of SystematiC Bacteriologi. Baltimore: Williams & Wilkins. Churchiil Guyton AC. 2003. reptilecrazy. Pelaksanaan Konvensr Jakarta: Japan Intenational Cooperation Agency. Ed ke-14. BW. co. Greenwood. 1960. 1992. Iowa: Iowa State Univ Pro Pleczar MJ. 1986. Peuthereer. Elements of Microbiology. Medical Microbiology. 1984. Mikrobiologi. Lay BW. WNW. [9 Agustus 2003]. Are antibiotic able to stimulate vaccinal response in poultry ? Asian Poult Magazine (Januari-Februari): 30-31. Elisabeth MS. Slack. Elements of Microbiology. Volume ke-2. Australian Pythons (Part three). 1995. Soehartono T. Ed ke-4. Review of Medical Microbiology. Johnson P. Chan ECS. Los Atlos: Lange Medical Publications. auspyt3. 1994. The Complete Guide to Australian Robertson Publisher. Jawetz E. Institut Pertanian Bogor. La. smuggled. 31 . Hadioetomo RS. Hastowo S. Australia: Angus and 1992. Jakarta: Raja Grafindo Persada. J of Wildlife Rehabilitation 18 (2): 13. Packer RA. UlceratiVe stomatitis ( mouth rot) in reptiles. Jakarta: UI Pro Ed ke-1. Chan ECS. PAU-Bioteknologi. 1962. Buku Ajar Fisiologi Ked oktera n. penerjemah. 1996. Baltimore: Williams & Wilkins. Mardiastut. Krieg NR. Melnick JL. G. Volume ke-1. 1999.Gow. Los Atlos: Lange Medical Publications. Review of Medical Microbiology. Veterinary Bacteriologi and Virology. Melnick JL.htm. Jakarta: Rajawali Pers. 2003. Ed ke-5. John GH. Ed ke-6. Snakes. Ed ke-2. Livingstone: ELBS. Goasduf B. A. 1997. Hermanns Care. Bergey's Manual of Systematic Bacteriologi. Sneath PHA. John GH. Nicholas SM. Merchant lA. Jakarta: Kedokteran EGC. 1986. Sasipreeyajan Jx.

http://www. Vaughn S. Philadephia: WB Saunders Company.Tizard I. 1987. Veterinary Immunology An Introduction. 2002. Ed ke-3. Disease of Snakes From Associates Stonefield.html. 32 . [9 Agustus 2003].vetcity.com/lnfocenterISnakelllness2.

LAMPIRAN .

# tJ.. .t 1 '. ..Lampiran 1.. .. . Foto uji biokimia salah satu balden penyebab mouth rot disease: Aeromonas hydrophila ..~<: J ... f I l.• 34 .

5 mg~JlIM 100 mg/kg 1M 35 . SK. Beberapa antibiotika yang dapat digunakan untuk pengobatan mouth rot disease pada ular Obat Amikasin Ceftazidime (Fortaz) Enrofloksasin (8aytril) Gentamisin Piperasilin Sumber: Kaplan dan Jereb 1995 Dosis 5 mg/kg SK.Lampiran 2. 1M 2. 1M 20 mglkg 1M 5 mglkg PO.

Spesies ular dari Indonesia (python dan sinduk) yang diperdagangkan ke luar negri dengan menggunakan Konvensi CITES serta kuata per spesies untuk tahun 2000 (Apendiks 11) Nama Ular Sanca Irian Apodara More/ia/Liasis papuana Boa New Guinea Gandoia aspera Boa Pahon Irian Gandoia carinata Sanca Bibir Putih Leiopython (Morelia) a/bertisii Orange-bellied Black Water Python Liasis fuscus (Morelia fuses) Sanea Air Indonesia Liasis_fMorelia) mack/oti Sanca Batu Morelia amethystina Sanca Hitam Morelia bo/eani Sanea Carpet Morelia spi/ota variegata Sanca Darah Python curtus Ular Sanca Python reticu/atus Ular Sinduk Naja sputatrix Sinduk Raja Ophiophagus hannah Sumber: Soehartono dan Mardiastuti 2003 Kuota 270 ekar (hidup) 1170 ekor (hid up) 1108 ekor (hidup) 450 ekor (hidup) 270 ekor (hid up) 450 ekar (hidup) 450 ekor (hidup) 110 ekor (hidup) 360 ekor (hidup) 441.400 lembar kulit dan 3600 ekor (hidup) 132.300 lembar kulit dan 2700 ekor (hidup) 90 ekor (hidup] 36 .Lampiran 3.760 lembar kulit dan 3240 ekor (hidup) 158.