1.

Definisi Kortikosteroid adalah suatu kelompok hormon steroid yang dihasilkan di bagian korteks kelenjar adrenal sebagai tanggapan atas hormon adrenokortikotropik (ACTH) yang dilepaskan oleh kelenjar hipofisis, atau atas angiotensin II. Hormon ini berperan pada banyak sistem fisiologis pada tubuh, misalnya tanggapan terhadap stres, tanggapan sistem kekebalan tubuh, dan pengaturan inflamasi, metabolisme karbohidrat, pemecahan protein, kadar elektrolit darah, serta tingkah laku1. Kortikosteroid dibagi menjadi 2 kelompok berdasarkan atas aktivitas biologis yang menonjol darinya, yakni glukokortikoid (contohnya kortisol) yang berperan mengendalikan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein, juga bersifat anti inflamasi dengan cara menghambat pelepasan fosfolipid, serta dapat pula menurunkan kinerja eosinofil. Kelompok lain dari kortikosteroid adalah mineralokortikoid (contohnya aldosteron), yang berfungsi mengatur kadar elektrolit dan air, dengan cara penahanan garam di ginjal. Beberapa kortikosteroid menunjukkan kedua jenis aktivitas tersebut dalam beberapa derajat, dan lainnya hanya mengeluarkan satu jenis efek. Hormon kortikosteroid dihasilkan dari kolesterol di korteks kelenjar adrenal yang terletak di atas ginjal. Reaksi pembentukannya dikatalisis oleh enzim golongan sitokrom P450. Dalam bidang farmasi, obat-obatan yang disintesis sehingga memiliki efek seperti hormon kortikosteroid alami memiliki manfaat yang cukup penting. Deksametason dan turunannya tergolong glukokortikoid, sedangkan prednison dan turunannya memiliki kerja mineralokortikoid disamping kerja glukokortikoid. 2. Penggunaan Klinis Kortikosteroid merupakan obat yang sangat banyak dan luas dipakai dalam dunia kedokteran terutama golongan glukokortikoid. Glukokortikoid sintetik digunakan pada pengobatan nyeri sendi, arteritis temporal, dermatitis, reaksi alergi, asma, hepatitis, systemic lupus erythematosus, inflammatory bowel disease, serta sarcoidosis. Selain sediaan oral, terdapat pula sediaan dalam bentuk obat luar untuk pengobatan kulit, mata, dan juga

inflammatory bowel disease. Kortikosteroid juga digunakan sebagai terapi penunjang untuk mengobati mual, dikombinasikan dengan antagonis 5-HT3 (misalnya ondansetron)2. Baik kortikosteroid alami maupun sintetik digunakan untuk diagnosis dan pengobatan kelainan fungsi adrenal. Hormon ini juga sering digunakan dalam dosis lebih besar untuk pengobatan berbagai kelainan peradangan dan imunologi. Penggunaan glukokortikoid pada pengobatan gangguan fungsi adrenal biasanya diberikan pada keadaan insufisiensi atau hiperfungsi dari adrenokortikal. Keadaan insufisiensi adrenokortikal dapat berupa akut maupun kronis (penyakit Addison) yang ditandai dengan hiperpigmentasi, lemah, kelelahan, berat badan menurun, hipotensi, dan tidak ada kemampuan untuk memelihara kadar gula darah selama puasa. Untuk keadaan hiperfungsi adrenokortikal misalnya terjadi pada hiperplasia adrenal kongenital, sindrom chusing, atau aldosteronisme. Glukokortikoid dapat pula digunakan untuk tujuan diagnostik dari sindrom chusing. Dengan tes supresi deksametason, obat ini diberikan sejumlah 1 mg per oral pada jam 11 malam, dan sampel plasma diambil pada pagi hari. Pada individu normal, konsentrasi kortisol biasanya kurang dari 5 µg/dl, sedangkan pada sindrom chusing kadarnya biasanya lebih besar daripada 10 µg/dl. Namun hasil ini tidak dapat dipercaya pada keadaan depresi, ansietas, penyakit, dan kondisi stress yang lain. Selain itu, maturasi paru-paru pada janin diatur oleh sekresi kortisol janin. Ibu dengan pengobatan glukokortikoid dalam dosis besar akan dapat menurunkan insiden sindrom gawat nafas pada bayi yang dilahirkan secara prematur. Kortisol dan analog sintetiknya berguna dalam pengobatan berbagai kelompok penyakit yang tidak berhubungan dengan kelainan fungsi adrenal. Kegunaan kortikosteroid pada kelainan ini merupakan kemampuannya untuk menekan respon peradangan dan respon imun. Pada keadaan yang respons peradangan atau respon imunnya penting untuk mengendalikan proses patologi, terapi dengan kortikosteroid mungkin berbahaya tetapi dibenarkan untuk mencegah timbulnya kerusakan yang tak dapat diperbaiki akibat respon peradangan jika digunakan bersama dengan terapi spesifik untuk proses penyakitnya2.

dibedakan oleh penemuan fisik dari hiperfungsi adrenokortikal endogen. Iatrogenic Cushing’s syndrome. Sindrom Cushing iatrogenic dijumpai pada penderita arthritis rheumatoid. limfoma. Sindrom cushing iatrogenik disebabkan oleh pemberian glukokortikoid jangka panjang dalam dosis farmakologik untuk alasan yang bervariasi. 4. Efek ini mungkin diperantarai oleh mekanisme nontranskripsi3. Selain itu. Perbedaan kerja glukokortikoid pada berbagai jaringan dianggap dipengaruhi oleh protein spesifik jaringan lain yang juga harus terikat pada gen untuk menimbulkan ekspresi unsur respons glukokortikoid utama. . Efek utama yang tidak diinginkan dari glukokortikoidnya dan menimbulkan gambaran klinik sindrom cushing iatrogenik. diinduksikan dengan pemberian glukokortikoid atau steroid lain seperti megesterol yang mengikat reseptor glukokortikoid. dan gangguan kulit umum yang menerima glukokortikoid sintetik sebagai agen anti inflamasi. Perbedaan dapat dibuat. Heat shock protein dilepaskan dan kemudian kompleks hormon reseptor ditranspor ke dalam inti. jadi hormon ini tidak menghambat kerja reseptor pada DNA. Pada keadaan tanpa adanya hormon. Harus dipertimbangkan dengan hati-hati pada setiap penderita terhadap banyaknya efek pada setiap bagian organism ini. protein reseptor dihambat dari ikatannya dengan DNA. glukokortikoid berdifusi atau ditranspor menembus sel membran dan terikat pada kompleks reseptor sitoplasmik glukokortikoid heat-shock protein kompleks. Efek Samping Kortikosteroid Manfaat yang diperoleh dari penggunaan glukokortikoid sangat bervariasi. asma. glukokortikoid mempunyai beberapa efek penghambatan umpan balik yang terjadi terlalu cepat untuk dijelaskan oleh ekspresi gen.3. Farmakodinamik kortikosteroid Pada waktu memasuki jaringan. dimana akan berinteraksi dengan respon unsur respon glukokortikoid pada berbagai gen dan protein pengatur yang lain dan merangsang atau menghambat ekspresinya.

tetapi hal ini tidak ditemukan setelah pemberian kortikosteroid. Pengaruh kortikosteroid yang terpenting pada manusia adalah penghambatan akumulasi makrofag dan netrofil di tempat radang. Kompleks kortikosteroid-reseptor masuk ke dalam nukleus dalam bentuk aktif. dengan mengukur kadar kortisol urine dalam keadaan basal. Secara teoritis limfositopeni dapat terjadi melalui dua mekanisme yaitu: migrasi hebat keluar dari pembuluh darah dan blok perifer. Keparahan dari iatrogenic Cushing’s syndrome terkait dengan dosis steroid total. Mekanisme yang mendasari terjadinya redistribusi limfosit belum diketahui secara pasti. dan akan mengikat DNA serta meningkatkan sintesis messenger RNA (mRNA).bagaimanapun. Redistribusi ini lebih banyak mempengaruhi limfosit-T daripada limfosit-B. Apabila kortikosteroid diberikan kepada golongan resisten akan menyebabkan limfositopeni akibat redistribusi limfosit ke luar sirkulasi darah menuju organ-organ limfoid lainnya terutama sumsum tulang. Limfositopeni akan mencapai puncaknya 4-6 jam setelah pemberian 20 mg prednison intravena dan kembali ke nilai normal setelah 24 jam. Messenger RNA ini akan menimbulkan sintesis protein yang baru. Protein baru ini akan menghambat fungsi sel-sel limfoid dengan penghambatan uptake glukosa3. Spesies yang resisten terhadap kortikosteroid adalah manusia dan kera sedangkan yang sensitif adalah tikus dan kelinci. Kortikosteroid dapat mempengaruhi sel-sel melalui reseptor-reseptor glukokortikoidnya dengan mekanisme kerja sebagai berikut: kortikosteroid berdifusi ke dalam sel melewati membran s?l dan selanjutnya berikatan dengan reseptor. pada sindrom iatrogenik pada kadar ini merupakan rendah secara sekunder akibat penekanan dari aksis adrenal pituari. Mekanisme blok perifer ini ditunjang oleh penemuan bahwa aktifitas fisik pada orang normal menyebabkan limfositosis akibat mobilisasi cadangan perifer. steroid paruh hidup biologis. Sehubungan dengan pengaruh kortikosteroid ini kita kenal dua golongan spesies yaitu golongan yang resisten dan sensitif terhadap kortikosteroid. dan lama terapi. Berat dan lamanya limfositopeni tidak berbeda apabila dosis prednison ditingkatkan sampai 40 mg atau 80 mg. Selain itu kortikosteroid juga .

sesuai dengan yang dilaporkan oleh Saavedra-Delgado dkk yang menggunakan 35–70 mg prednison per oral. karena tempat kerja kortikosteroid diperkirakan pada membran makrofag.menyebabkan berkurangnya aktifitas makrofag baik yang beredar dalam darah (monosit) maupun yang terfiksir dalam jaringan (sel Kupffer). Hasil akhir pengaruh kortikosteroid adalah menghambat migrasi dan akumulasi netrofil pada daerah radang. tetapi hanya sedikit mempengaruhi stabilitas membran lisosom pada kadar farmakologik. Di samping itu kortikosteroid juga meningkatkan masa paruh netrofil dalam sirkulasi. walaupun fungsi bakterisidanya menurun. Leonard melaporkan bahwa pemberian 10 mg prednison per oral pada orang sehat sudah cukup untuk meningkatkan netrofil dan menurunkan jumlah limfosit. Penggunaan kortikosteroid selang sehari telah dapat mengembalikan akumulasi netrofil pada hari bebas pemberian obat. monosit dan eosinofil dalam darah. tetapi akumulasi makrofag pada hari tersebut masih rendah. Mungkin pengaruh kortikosteroid pada makrofag dan netrofil inilah yang menyebabkan peningkatan kejadian infeksi pada penggunaan kortikosteroid setiap hari2. Dilaporkan pula bahwa penggunaan kortikosteroid selang sehari tidak disertai peningkatan angka infeksi. Pengaruh tersebut berupa penghambatan fiksasi C3b terhadap reseptornya pada fagosit mononuklear. Kortikosteroid mungkin juga mengurangi pelepasan enzim-enzim lisosom. Hal ini menunjukkan bahwa makrofag lebih sensitif daripada netrofil terhadap pengaruh antiinflamasi kortikosteroid. . bukan akibat penghambatan kemotaksis yang hanya dapat dihambat oleh kortikosteroid pada kadar suprafarmakologik. Penghambatan akumulasi netrofil di tempat radang adalah akibat kerja kortikosteroid mengurangi daya lekat netrofil pada dinding endotel pembuluh darah. Kortikosteroid mempunyai pengaruh terhadap aktifitas biologik komplemen. Kepustakaan lain melaporkan bahwa kortikosteroid mempunyai pengaruh yang kompleks terhadap distribusi netrofil. Pengaruh tersebut diperkirakan akibat penghambatan kerja faktor-faktor limfokin yang dilepaskan oleh sel-T sensitif pada makrofag. Kombinasi kedua pengaruh ini menyebabkan terjadinya netrofilia. Kortikosteroid meningkatkan pelepasan netrofil muda dari sumsum tulang ke sirkulasi.

osteoporosis. dapat diselubungi oleh kortikosteroid. dapat menyebabkan retensi natrium dan cairan serta hilangnya kalium. Frekuensi terjadinya miopati lebih besar pada penderita yang diobati dengan triamnisolon. Intravena atau secara invivo dengan hidrokortison dosis 120 mg/kgbb intravena. Beberapa penderita mengalami miopati. terutama infeksi bakteri dan jamur. yang sifatnya belum diketahui. pusing dan penurunan berat badan pada beberapa penderita4. Pada penderita dengan fungsi kardiovaskular dan ginjal normal. Terapi jangka lama dapat menimbulkan perkembangan katarak subkapsular posterior. Hal ini dapat memperberat dan mempermudah terjadinya infeksi oleh karena terjadi gangguan mekanisme pertahanan kulit. dan penderita harus diawasi dengan teliti untuk menghindari kecelakaan serius bila digunakan dosis tinggi. Beberapa efek samping lain yang mungkin terjadi adalah diabetes melitus. Pengaruh non-spesifik ini hanya terjadi pada pemberian kortikosteroid dosis tinggi. Hal ini telah dibuktikan secara invitro dengan pemberian metilprednisolon dosis 30 mg/kgbb. Gambaran klinik yang menyertai kelainan lain. Hal ini ditunjukkan dengan pemeriksaan slitlamp periodik pada penderita ini. hal ini dapat menimbulkan alkalosis hipokloremik . Pada dosis 45 mg/m2/hari atau lebih. C5a dan C567 pada lekosit PMN. Juga terjadi hipertensi intrakranial jinak. mengkilat dan keriput seperti kertas sigaret. Psikosis juga dapat terjadi. Jika diberikan dalam jumlah lebih besar dari jumlah fisiologi. gangguan psikologik dan hipertensi. Efek samping lain yang cukup serius meliputi perkembangan ulkus peptikum dan komplikasinya. Kepustakaan lain melaporkan bahwa kortikosteroid topikal juga berpengaruh terhadap sistem imun. terutama pada penderita yang mendapat dosis besar kortikosteroid. dan mungkin menyebabkan glaukoma. Biasa terjadi peningkatan tekanan intraokular. Pengaruh tersebut berupa atrofi kulit sehingga kulit tampak tipis. steroid seperti kortison dan hidrokortison yang mempunyai efek mineralokortikoid selain efek glukokortikoid.dan penghambatan pengaruh C3a. Penggunaan obat ini maupun metilprednisolon berhubungan dengan timbulnya mual. dapat terjadi retardasi pertumbuhan pada anak-anak.

Kortikosteroid sering disebut sebagai life saving drug. Pada umumnya penderita yang diobati dengan kortikosteroid seharusnya diberi diet protein tinggi. diobati dengan diet dan insulin. Jika timbul diabetes. otot dan resistensi tubuh. namun jarang berkembang menjadi ketoasidosis. Manfaat dari preparat ini cukup besar tetapi karena efek samping yang tidak diharapkan cukup banyak.2 Kortikosteroid adalah derivat dari hormon kortikosteroid yang dihasilkan oleh kelenjar adrenal.4 Dalam klinik umumnya kortikosteroid dibedakan menjadi dua golongan besar yaitu glukokortikoid dan mineralokortikoid. misalnya deksametason yang mempunyai efek antiinflamasi 30 kali lebih kuat dan efek retensi natrium lebih kecil dibandingkan dengan kortisol. Kortikosteroid topikal adalah obat yang digunakan di kulit pada tempat tertentu dan .1. 5. dapat terjadi edema. kadar gula darah. Pada penderita hiponatremia. tingkat retensi natrium yang sedikit saja dapat menyebabkan gagal jantung kongestif. atau penyakit hati. Sering penderita yang resisten dengan insulin. Pada penderita penyakit jantung. Hormon ini dapat mempengaruhi volume dan tekanan darah.hipokalemik. dan peningkatan pemberian kalium serta rendah natrium seharusnya digunakan apabila diperlukan5.3. maka dalam penggunaannya dibatasi termasuk dalam bidang dermatologi kortikosteroid merupakan pengobatan yang paling sering diberikan kepada pasien. Berdasarkan cara penggunaannya kortikosteroid dapat dibagi dua yaitu kortikosteroid sistemik dan kortikosteroid topikal. penyakit ginjal. dan akhirnya peningkatan tekanan darah. Berbagai jenis kortikosteroid sintetis telah dibuat dengan tujuan utama untuk mengurangi aktivitas mineralokortikoidnya dan meningkatkan aktivitas antiinflamasinya. Kortikosteroid merupakan obat yang mempunyai khasiat dan indikasi klinis yang sangat luas. Penanganan Efek Samping Kortikosteroid Penanganan yang disarankan untuk saat ini pada penderita yang mendapatkan efek samping kortikosteroid adalah dengan melakukan penurunan konsumsi dosis kortikosteroid secara perlahan-lahan (tapering off).

khususnya mengenai peradangan kulit.7 BAB II KORTIKOSTEROID 1. Terapi dengan obat ini bukan merupakan terapi kausal melainkan terapi pengendalian atau paliatif saja. DEFINISI Kortikosteroid adalah suatu kelompok hormon steroid yang dihasilkan di bagian korteks kelenjar adrenal sebagai tanggapan atas hormon adrenokortikotropik (ACTH) yang dilepaskan . 3. penyakit berat yang dahulu dapat menyebabkan kematian.4. kecuali pada insufisiensi korteks adrenal.3.merupakan terapi topikal yang memberi pilihan untuk para ahli kulit dengan menyediakan banyak pilihan efek pengobatan yang diinginkan. Semakin maju ilmu pengetahuan semakin banyak pula ditemukan berbagai jenis kortikosteroid yang dapat digunakan dengan berbagai keunggulan dan efek samping yang semakin sedikit. Berbagai penyakit yang dahulu lama penyembuhannya dapat dipersingkat. angka kematiannya dapat ditekan berkat pengobatan dengan kortikosteroid. Sejak salap hidrokortison asetat pertama kali dilaporkan penggunaannya oleh Sulzberger pada tahun 1952. Dibidang dermatologi pada umumnya lebih ditekankan sebagai obat antialergi. demikian pula sindrom Stevens-Jhonson yang berat dan nekrolisis epidermal toksik. pemakaian kortikosteroid menjadi semakin rasional dan efektif. Hal ini berkat kemajuan dalam pengetahuan mengenai mekanisme kerja serta pemahaman patogenesis berbagai penyakit. Karena khasiat inilah kortikosteroid banyak digunakan dalam bidang dermatologi. antialergi atau imunosupresif. misalnya dermatitis. melicinkan. Sejak kortikosteroid digunakan dalam bidang dermatologi. Dengan berbagai kemajuan ini. perkembangan pengobatan dengan kortikosteroid berjalan dengan pesat. misalnya pemfigus.6 Pengobatan berbagai penyakit kulit dengan menggunakan kortikosteroid sudah menjadi kegiatan sehari-hari di setiap poliklinik penyakit kulit. diantaranya termasuk melembabkan kulit. atau mendinginkan area yang dirawat.5 Sebagian besar khasiat yang diharapkan dari pemakaian kortikosteroid adalah sebagai antiinflamasi. obat tersebut sangat menolong penderita.

Umumnya golongan ini tidak mempunyai khasiat anti-inflamasi yang berarti. pemecahan protein.9 Golongan mineralokortikoid adalah kortikosteroid yang efek utamanya terhadap keseimbangan air dan elektrolit menimbulkan efek retensi Na dan deplesi K. metabolisme karbohidrat. sedangkan bagian korteks terbagi lagi menjadi 2 zona yaitu fasikulata dan glomerulosa. Oleh karena itu mineralokortikoid jarang digunakan dalam terapi.9. Berdasarkan cara penggunaannya kortikosteroid dapat dibagi dua yaitu kortikosteroid sistemik dan kortikosteroid topikal. Zona fasikulata mempunyai peran yang lebih besar dibandingkan zona glomerulosa. Semua steroid termasuk glukokortikosteroid mempunyai struktur dasar 4 cincin kolestrol dengan 3 cincin heksana dan 1 cincin pentana.11 .oleh kelenjar hipofisis. Modifikasi dari struktur cincin dan struktur luar akan mengakibatkan perubahan pada efektivitas dari steroid tersebut.1. dan betametason.8 Kelenjar adrenal terdiri dari 2 bagian yaitu bagian korteks dan medulla. dan pengaturan inflamasi.2. tanggapan sistem kekebalan tubuh.3.3. Hormon ini berperan pada banyak sistem fisiologis pada tubuh. FARMAKOLOGI Semua hormon steroid sama-sama mempunyai rumus bangun siklopentanoperhidrofenantren 17-karbon dengan 4 buah cincin yang diberi label A – D (Gambar 1).3. kadar elektrolit darah. meskipun demikian sediaan ini tidak pernah digunakan sebagai obat anti-inflamasi karena efeknya pada keseimbangan air dan elektrolit terlalu besar.9 10 2. Zona fasikulata menghasilkan 2 jenis hormon yaitu glukokortikoid dan mineralokortikoid. misalnya tanggapan terhadap stres. kecuali 9 α-fluorokortisol. Prototip dari golongan ini adalah desoksikortikosteron. sedangkan pengaruhnya terhadap penyimpanan glikogen hepar sangat kecil. Prototip untuk golongan ini adalah kortisol dan kortison. Terdapat juga glukokortikoid sintetik. Atom karbon tambahan dapat ditambahkan pada posisi 10 dan 13 atau sebagai rantai samping yang terikat pada C17. misalnya prednisolon. triamsinolon. serta tingkah laku. sedangkan pengaruhnya pada keseimbangan air dan elektrolit kecil atau tidak berarti. Golongan glukokortikoid adalah kortikosteroid yang efek utamanya terhadap penyimpanan glikogen hepar dan khasiat anti-inflamasinya nyata. yang merupakan glukokortikoid alam.

Molekul hormon memasuki jaringan melalui membran plasma secara difusi pasif di jaringan target. Korteks adrenal mengubah asetat menjadi kolestrol. pada jaringan lain. sore hari dan pada malam hari sebelum tidur. Pada pagi hari kadar kortisol yang paling tinggi dibandingkan waktu lainnya yang membuat orang menjadi lebih semangat dalam menjalani aktivitasnya. hormon steroid merangsang transkripsi dan sintesis protein spesifik. Sebagian besar kolesterol yang digunakan untuk steroidogenesis ini berasal dari luar (eksogen).125 Pada pemeriksaan sampel dengan tes saliva sebanyak 4 kali dalam satu hari yaitu sebelum sarapan pagi hari. lalu bergerak menuju nukleus dan berikatan dengan kromatin.1. jumlah yang tersedia dalam kelenjar adrenal tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan normal.12 3. misalnya hepar.9 Dalam korteks adrenal kortikosteroid tidak disimpan sehingga harus disintesis terus menerus. Ikatan ini menstimulasi transkripsi RNA dan sintesis protein spesifik.01 Jam 16. Kompleks ini mengalami perubahan bentuk. Berikut adalah tabel yang menunjukkan kecepatan sekresi dan kadar plasma kortikosteroid terpenting pada manusia.00 16 0.9 Kecepatan dalam Kortisol Aldosteron sekresi Kadar plasma keadaaan (μg/100ml) Jam 08. meskipun hanya untuk beberapa menit saja. yang kemudian dengan bantuan enzim diubah lebih lanjut menjadi kortikosteroid dengan 21 atom karbon dan androgen lemah dengan 19 atom karbon. Oleh karenanya kecepatan biosintesisnya disesuaikan dengan kecepatan sekresinya. misalnya sel limfoid dan fibroblas . Orang yang ssehat pengeluaran kortisol mengikuti kurva dimana dapat dibuat grafik mulai menurunnya kadar kortisol hingga kadar terendah yaitu pada pukul 11 malam dibuktikan dengan seseorang yang dapat beristirahat dengan cukup. Pada beberapa jaringan. MEKANISME KERJA Kortikosteroid bekerja dengan mempengaruhi kecepatan sintesis protein. siang. Induksi sintesis protein ini merupakan perantara efek fisiologis steroid.Hormon steroid adrenal disintesis dari kolestrol yang terutama berasal dari plasma. kemudian bereaksi dengan reseptor steroid.00 4 - optimal (mg/hari) 20 0. baik pada keadaan basal maupun setelah pemberian ACTH. Bila biosintesis berhenti.

3. mekanik. sedangkan sisanya sekitar 5-10% terikat lemah atau bebas dan tersedia untuk digunakan efeknya pada sel target. distribusi dan fungsi leukosit perifer dan juga disebabkan oleh efek supresinya terhadap cytokyne .1. termasuk regulasi metabolisme perantara. infeksi. dan ikatan protein. Jika kadar plasma kortisol melebihi 20-30%. Prednison adalah prodrug yang dengan cepat diubah menjadi prednisolon bentuk aktifnya dalam tubuh. disekresi 10-20 mg kortisol setiap hari tanpa adanya stres. Perubahan struktur kimia sangat mempengaruhi kecepatan absorpsi. dilatasi kapiler. hal ini menimbulkan efek katabolik.9. Pada plasma. Hal ini karena efeknya yang besar terhadap konsentrasi.hormon steroid merangsang sintesis protein yang sifatnya menghambat atau toksik terhadap selsel limfoid. kortisol terikat pada protein dalam sirkulasi. Hanya 1% kortisol diekskresi tanpa perubahan di urin sebagai kortisol bebas.1 Waktu paruh kortisol dalam sirkulasi. Sintesis dan sekresinya diregulasi secara ketat oleh sistem saraf pusat yang sangat sensitif terhadap umpan balik negatif yang ditimbulkan oleh kortisol dalam sirkulasi dan glukokortikoid eksogen (sintetis). waktu paruh dapat meningkat apabila hydrocortisone (prefarat farmasi kortisol) diberikan dalam jumlah besar. normalnya sekitar 60-90 menit. Dalam kondisi normal sekitar 90% berikatan dengan globulin-α 2 (CBG/ corticosteroid-binding globulin). migrasi leukosit ke tempat radang dan aktivitas fagositosis. hipotiroidisme atau penyakit hati. pertumbuhan dan imunitas. pengumpulan kolagen dan pembentukan sikatriks. atau alergen. mula kerja dan lama kerja juga mempengaruhi afinitas terhadap reseptor. deposit fibrin. Kortikosteroid sintetis seperti dexametason terikat dengan albumin dalam jumlah besar dibandingkan CBG. Selain itu juga dapat menghambat manifestasi inflamasi yang telah lanjut yaitu proliferasi kapiler dan fibroblast.1 Kortisol dan analog sintetiknya dapat mencegah atau menekan timbulnya gejala inflamasi akibat radiasi. Kortisol (juga disebut hydrocortison) memiliki berbagai efek fisiologis. sekitar 20% kortisol diubah menjadi kortison di ginjal dan jaringan lain dengan reseptor mineralokortikoid sebelum mencapai hati. zat kimia. fungsi kardiovaskuler. CBG menjadi jenuh dan konsentrasi kortisol bebas bertambah dengan cepat. Pada orang dewasa normal.11 Gambaran mekanisme kerja kortikosteroid 13 Metabolisme kortikosteroid sintetis sama dengan kortikosteroid alami. atau pada saat terjadi stres. Secara mikroskopik obat ini menghambat fenomena inflamasi dini yaitu edema.

dan imunosupresif. Selain efeknya terhadap fungsi leukosit. konsentrasi neutrofil meningkat . Melalui proses penetrasi. Peristiwa tersebut diperantarai oleh serangkaian interaksi yang komplek dengan molekul adhesi sel. metalloproteinase dan activator plasminogen. monosit dan eosinofil dan basofil dalam sirkulasi tersebut berkurang jumlahnya. sedangkan limfosit. interleukin-1. Perubahan tersebut menjadi maksimal dalam 6 jam dan menghilang setelah 24 jam. produksi fibrolas mengurangi kolagen dan bahan dasar (atropi dermal. ditandai dengan ekstravasasi dan infiltrasi leukosit kedalam jaringan yang mengalami inflamasi. Inflamasi. Sesudah pemberian dosis tunggal glukokortikoid dengan masa kerja pendek. tanpa memperhatikan penyebabnya. khususnya yang berada pada sel endotel dan dihambat oleh glukokortikoid. anti-proliferatif. efek vaskuler kebanyakan berhubungan dengan jaringan konektif vaskuler (telangiektasis. sehingga aktivitas sel-sel tersebut mengalami perubahan. Kemampuan sel tersebut untuk bereaksi terhadap antigen dan mitogen diturunkan. glukokortikoid masuk ke dalam inti sel-sel lesi. re-epitalisasi lambat). sehingga menyebabkan penurunan jumlah sel pada tempat inflamasi. Konsepnya berguna untuk memisahkan efek ke dalam sel atau struktur-struktur yang bertanggungjawab pada gambaran klinis . dan kerusakan angiogenesis (pembentukan jaringan granulasi yang lambat). berikatan dengan kromatin gen tertentu.1 Glukokortikoid juga menghambat fungsi makrofag jaringan dan sel penyebab antigen lainnya. purpura). Khasiat glukokortikoid adalah sebagai anti radang setempat. glukokortikoid mempengaruhi reaksi inflamasi dengan cara menurunkan sintesis prostaglandin. .dan chemokyne imflamasi serta mediator inflamasi lipid dan glukolipid lainnya. Sel-sel ini dapat menghasilkan protein baru yang dapat membentuk atau menggantikan sel-sel yang tidak berfungsi. striae). 1 Gambar mekanisme inflamasi 14 Efek katabolik dari kortikosteroid bisa dilihat pada kulit sebagai gambaran dasar dan sepanjang penyembuhan luka. keratinosik (atropi epidermal.leukotrien dan platelet-aktivating factor. Peningkatan neutrofil tersebut disebabkan oleh peningkatan aliran masuk ke dalam darah dari sum-sum tulang dan penurunan migrasi dari pembuluh darah. Efek terhadap makrofag tersebut terutama menandai dan membatasi kemampuannya untuk memfagosit dan membunuh mikroorganisme serta menghasilkan tumor nekrosis factor-a.

tidak berkhasiat secara topikal. salep. Mekanisme lain yang turut memberikan efek anti-inflamasi kortikosteroid adalah menghibisi proses fagositosis dan menstabilisasi membran lisosom dari sel-sel fagosit. karena kortison di dalam tubuh mengalami transformasi menjadi dihidrokortison.11 Glukokortikoid topikal adalah obat yang paling banyak dan tersering dipakai.3.11 4. Mekanisme sebenarnya dari efek anti-inflamasi sangat kompleks dan kurang dimengerti. Dibandingkan absorpsi di daerah lengan bawah. Kortikosteroid hanya sedikit diabsorpsi setelah pemberian pada kulit normal. Potensi kortikosteroid ditentukan berdasarkan kemampuan menyebabkan vasokontriksi pada kulit hewan percobaan dan pada manusia. Efektifitas kortikosteroid topikal bergantung pada jenis kortikosteroid dan penetrasi. tampaknya sedikit sawar untuk penetrasi. 0. Hidrokortison efektif secara topikal mulai konsentrasi 1%. Dipercayai bahwa kortikosteroid menggunakan efek anti-inflamasinya dengan menginhibisi pembentukan prostaglandin dan derivat lain pada jalur asam arakidonik. Penetrasi perkutan lebih baik apabila yang dipakai adalah vehikulum yang bersifat tertutup.11 Efektivitas kortisteroid bisa akibat dari sifat immunosupresifnya. fatty ointment (paling baik penetrasinya).menghambat mitosis (anti-proliferatif). dan pada penyakit eksfoliatif berat. Penetrasi ditingkatkan beberapa kali pada daerah kulit yang terinfeksi dermatitis atopik . KLASIFIKASI . sedangkan di kulit tidak menjadi proses itu. Sejak tahun 1958. hidrokortison diabsorpsi 0. Mekanisme yang terlibat dalam efek ini kurang diketahui. 2. Beberapa studi menunjukkan bahwa kortikosteroid bisa menyebabkan pengurangan sel mast pada kulit.3. Hal ini bisa menjelaskan penggunaan kortikosteroid topikal pada terapi urtikaria pigmentosa. 6 kali yang melalui dahi.83 kali yang melalui daerah telapak tangan. misalnya. kira-kira 1% dari dosis larutan hidrokortison yang diberikan pada lengan bawah ventral diabsorpsi.14 kali yang melalui daerah telapak kaki.2. 3.5 kali yang melalui tengkorak kepala. molekul hidrokortison banyak mengalami perubahan. dan 42 kali melalui kulit scrotum. seperti psoriasis eritodermik. Pada umumnya molekul hidrokortison yang mengandung fluor digolongkan kortikosteroid poten. sehingga enzim-enzim yang dapat merusak jaringan tidak dikeluarkan. Glukokotikoid juga dapat mengadakan stabilisasi membran lisosom.3. lotion. Jelas ada hubungan dengan struktur kimiawi. Kortison. 9 kali melalui vulva. bergantung pada jenis dan stadium proses radang. gel. misalnya. Di antara jenis kemasan yang tersedia yaitu krem.

S = kerja singkat (t1/2 biologik 8-12 jam) I = intermediate. betametason.8 0.3 15.75 2. Hampir semua golongan kortikosteroid mempunyai efek glukokortikoid.0 Lama kerja Dosis ekuivalen (mg)* 20 25 4 5 5 4 2 0.9 Tabel perbandingan potensi relatif dan dosis ekuivalen beberapa sediaan kortikosteroid15 Potensi Kortikosteroid Glukokortikoid Kortisol (hidrokortison) Kortison 6-α-metilprednisolon Prednisone Prednisolon Triamsinolon Parametason Betametason Deksametason Mineralokortikoid Aldosteron Fluorokortison Desoksikortikosteron asetat Keterangan: * hanya berlaku untuk pemberian oral atau IV. umumnya potensi sediaan alamiah maupun yang sintetik ditentukan oleh besarnya efek retensi natrium dan penyimpanan glikogen di hepar atau besarnya khasiat anti-inflamasinya.8 5 4 4 5 10 25 25 0.Meskipun kortikosteroid mempunyai berbagai macam aktivitas biologik.5. 1. dan deksametason mempunyai potensi paling kuat dengan waktu paruh 36-72 jam. dan deksametason tidak mempunyai efek mineralokortikoid.2. Sedangkan kortison dan Mineralkortikoid Glukokortikoid 1 0.6. kerja sedang (t1/2 biologik 12-36 jam) L = kerja lama (t1/2 biologik 36-72 jam) Pada tabel diatas terlihat bahwa triamsinolon. dosis ekuivalen dan potensi mineralokortikoid.0 0. Parametason.0 - S S I I I I L L L S I - . betametason.8 0. potensi glukokortikoid.8 0 0 0 0 300 150 20 1 0. Sediaan kortikosteroid sistemik dapat dibedakan menjadi tiga golongan berdasarkan masa kerjanya. parametason.5 0.75 0. Pada tabel ini obat disusun menurut kekuatan (potensi) dari yang paling lemah sampai yang paling kuat.

2 Berikut tabel penggolongan kortikosteroid topikal berdasarkan potensi klinis :2. immunosupresif dan antiinflamasi. yang akan mengurangi eritema.11 Klasifikasi Nama Dagang Golongan 1: (super poten) Diprolene ointment Diprolene AF cream Psorcon ointment Temovate ointment Temovate cream Olux foam Ultravate ointment Ultravate cream Golongan II: (potensi tinggi) Cyclocort ointment Diprosone ointment Elocon ointment Florone ointment Halog ointment Halog cream Halog solution Lidex ointment Lidex cream Lidex gel Lidex solution Maxiflor ointment Maxivate ointment Maxivate cream Topicort ointment Topicort cream Topicort gel Aristocort A ointment Nama Generik 0.05% diflorasone diacetate 0. diantaranya Golongan I yang paling kuat daya anti-inflamasi dan antimitotiknya (super poten).1% amcinonide 0. Sebaliknya golongan VII yang terlemah (potensi lemah). Steroid topikal menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah di bagian superfisial dermis.25% desoximetasone 0.01% mometasone fuorate 0.5 Efektifitas kortiksteroid berhubungan dengan 4 hal yaitu vasokonstriksi.6.05% clobetasol propionate 0. Kemampuan untuk menyebabkan vasokontriksi ini biasanya berhubungan dengan potensi anti-inflamasi.3. dan biasanya vasokontriksi ini digunakan sebagai suatu tanda untuk mengetahui aktivitas klinik dari suatu agen.05% fluocinonide 0. antiproliferatif.05% halobetasol propionate 0.05% desoximetasone 0.05% diflorasone diacetate 0.1% triamcinolone acetonide Golongan III: (potensi . Harus diingat semakin kuat potensinya semakin besar efek samping yang terjadi.05% diflorasone diacetate 0.05% betamethason dipropionate 0.01% halcinonide 0. Kombinasi ini digunakan untuk membagi kortikosteroid topikal mejadi 7 golongan besar.05% betamethasone dipropionate 0.05% betamethasone dipropionate 0.hidrokortison mempunyai waktu paruh paling singkat yaitu kurang dari 12 jam.

05% desonide 0.1% hydrocortisone butyrate 0.05% aclometasone 0.1% hydrocortisone butyrate 0. 0.05% diflorosone diacetate 0.1% betamethasone valerate Golongan IV: (potensi medium) Golongan V: (potensi medium) Golongan VI: (potensi medium) Golongan VII: (potensi lemah) .01% fluocinolone acetonide 0.005% fluticasone propionate 0.1% triamcinolone acetonide 0.1% triamcinolone acetonide 0.025% fluocinolone acetonide 0.1% betamethasone valerate 0.05% betamethasone dipropionate 0.05% desonide 0.05% desoximetasone 0.1 amcinonide 0.05% betamethasone dipropionate 0.025% fluocinolone acetonide 0.05% betamethasone dipropionate 0.tinggi) Cultivate ointment Cyclocort cream Cyclocort lotion Diprosone cream Flurone cream Lidex E cream Maxiflor cream Maxivate lotion Topicort LP cream Valisone ointment Aristocort ointment Cordran ointment Elocon cream Elocon lotion Kenalog ointment Kenalog cream Synalar ointment Westcort ointment Cordran cream Cutivate cream Dermatop cream Diprosone lotion Kenalog lotion Locoid ointment Locoid cream Synalar cream Tridesilon ointment Valisone cream Westcort cream Aclovate ointment Aclovate cream Aristocort cream Desowen cream Kenalog cream Kenalog lotion Locoid solution Synalar cream Synalar solution Tridesilon cream Valisone lotion Obat topical dengan hidrokortison.05% fluticasone propionate 0.05% diflorosone diacetate 0.05% desonide 0.1% triamcinolone acetonide 0.1% triamcinolone acetonide 0.05% flurandrenolide 0.1% mometasone furoate 0.01% betamethasone valerate 0.05% flurandrenolide 0.05% fluocinonide 0.025% triamcinolone acetonide 0.2% hydrocortisone valerate 0.2% hydrocortisone valerate 0.1% prednicarbate 0.

dan dermatitis numular. eksantema fikstum.dekametason. Jika kelainan kronis dan tebal dipakai kortikosteroid potensi kuat contohnya pada psoriasis. kortikosteroid dipakai dengan harapan agar remisi lebih cepat terjadi. PEGGUNAAN KLINIK Kortikosteroid topikal dengan potensi kuat belum tentu merupakan obat pilihan untuk suatu penyakit kulit. glumetalone. sarkoidosis. Yang harus diperhatikan adalah kadar kandungan steroidnya.2. pemfigoid. Jika masa kritis telah diatasi dan penderita telah dapat menelan diganti dengan tablet prednison. Bila ada gangguan hepar digunakan prednisolon karena prednison dimetabolisme di hepar menjadi prednisolon. kortikosteroid diberikan secara sistemik.3. vitiligo.3. liken planus. Sedangkan pada bayi memiliki risiko efek samping yang tinggi karena kulit bayi masih belum . dermatitis atopik. Biasanya pada kelainan akut dipakai kortikosteroid dengan potensi lemah contohnya pada anak-anak dan usia lanjut. Pada penyakit berat dan sukar menelan.2.6 Pengobatan kortikosteroid pada bayi dan anak harus dilakukan dengan lebih hati-hati. Perlu diperhatikan bahwa kortikosteroid topikal bersifat paliatif dan supresif terhadap penyakit kulit dan bukan merupakan pengobatan kausal. Dermatosis yang kurang responsif terhadap kortikosteroid ialah lupus eritematousus diskoid. dermatitis dishidrotik.11 Pada pemberian kortikosteroid sistemik yang paling banyak digunakan adalah prednison karena telah lama digunakan dan harganya murah. Erupsi eksematosa biasanya diatasi dengan salep hidrokortison 1%. sedangkan pada kelainan subakut digunakan kortikosteroid sedang contonya pada dermatitis kontak alergik.11 Pada dermatitis atopik yang penyebabnya belum diketahui. Pada penyakit kulit akut dan berat serta pada eksaserbasi penyakit kulit kronik. psoriasis di telapak tangan dan kaki. granuloma anulare. nekrobiosis lipiodika diabetikorum. prednisolone.6. misalnya toksik epidermal nekrolisis dan sindrom Stevens-Jhonson harus diberikan kortikosteroid dengan dosis tinggi biasa secara intravena. dermatitis seboroik dan dermatitis intertriginosa. Kortikosteroid yang memberi banyak efek mineralkortikoid jangan dipakai pada pemberian long term (lebih daripada sebulan). dan metilprednisolone 5. Penggunaan pada anak-anak memiliki efektifitas yang tinggi dan sedikit efek samping terhadap pemberian kortikosteroid topikal dengan potensi lemah dan dalam jangka waktu yang singkat.

pada geriatric juga telah mengalami kulit yang atropi sekunder karena proses penuaan.2. sedangkan dosis dibawah 30 mg/hari tidak bersifat buruk pada mental penggunanya. Belum diketahui dengan pasti apakah steroid topikal diekskresi melalui ASI. Secara umum.17 6. Pada kasus kelahiran prematur. Bagi pengguna yang sebelumnya memiliki gangguan jiwa dan sedang menggunakan pengobatan kortikosteroid sekitar 20% dapat menginduksi timbulnya gangguan mental sedangkan 80% tidak.1.sempurna dan fungsinya belum berkembang seutuhnya. Kortikosteroid sistemik yang biasa digunakan pada saat kehamilan adalah prednison dan kortison.16 Kortikosteroid dapat menyebabkan gangguan mental bagi penggunanya. Rata-rata dosis yang dapat menyebabkan gangguan mental adalah 60 mg/hari.11 Pada geriatri memiliki kulit yang tipis sehingga penetrasi steroid topikal meningkat. DOSIS DAN MEKANISME PEMBERIAN . sering digunakan steroid untuk mempercepat kematangan paru-paru janin (standar pelayanan). Sedangkan untuk topikal biasa digunakan hidrokortison dan betametason. Percobaan pada hewan menunjukkan penggunaan kortikosteroid pada kulit hewan hamil akan menyebabkan abnormalitas pada pertumbuhan fetus. Kortikosteroid topikal harus digunakan secara tidak sering. Percobaan pada hewan tidak ada kaitan dengan efek pada manusia. Begitu juga pada waktu menyusui. tetapi mungkin ada sedikit resiko apabila steroid yang mencukupi di absorbsi di kulit memasuki aliran darah wanita hamil terutama pada penggunaan dalam jumlah yang besar.1. waktu singkat dan dengan pengawasan yang ketat. tetapi sebaiknya tidak digunakan pada wanita sedang menyusui. lebih cepat menyerap obat sehingga kemungkinan efek toksis lebih cepat terjadi serta sistem imun belum berfungsi secara sempurna Pada bayi prematur lebih berisiko karena kulitnya lebih tipis dan angka penetrasi obat topikal sangat tinggi. Kemungkinannya 1 % dapat terjadi cleft lip atau cleft palate saat penggunaan steroid selama kehamilan. Selain itu. jangka waktu lama dan steroid potensi tinggi.2. penggunaan kortikosteroid topikal harus dihindari dan diperhatikan. ikatan sel-sel epidermisnya masih longgar. Analisis yang baru saja dilakukan memperlihatkan hubungan yang kecil tetapi penting antara kehamilan terutama trisemester pertama dengan bimbing sumbing. kulit bayi lebih tipis.2 Kortikosteroid topikal tidak seharusnya dipakai sewaktu hamil kecuali dinyatakan perlu atau sesuai oleh dokter untuk wanita yang hamil.

yang pada suhu kamar berkonsistensi seperti mentega. yakni :3. Krim adalah suspensi minyak dalam air. Takifilaksis ialah menurunnya respons kulit terhadap glukokortikoid karena pemberian obat yang berulang-ulang berupa toleransi akut yang berarti efek vasokonstriksinya akan menghilang.Pada saat memilih kortikosteroid topikal dipilih yang sesuai. Meskipun itu. Gel komponen solid pada suhu kamar tetapi mencair pada saat kontak dengan kulit. dalam/dangkalnya lesi dan lokalisasi lesi. lotion mirip dengan krim.9 Ada beberapa cara pemakaian dari kortikosteroid topikal.2.3. Selain itu juga baik untuk pengobatan pada kulit yang tebal contoh telapak tangan dan kaki. Lama pemakaian kortikosteroid topikal sebaiknya tidak lebih dari 4-6 minggu untuk steroid potensi lemah dan tidak lebih dari 2 minggu untuk potensi kuat. luas/tidaknya lesi. Lotion. solution. Lotion (bedak kocok) tediri atas campuran air dan bedak. . Jenis ini merupakan yang terbaik untuk pengobatan kulit yang kering karena banyak mengandung pelembab. alkohol dan propylene glycol. efek samping sedikit dan harga murah. Solution tidak mengandung minyak tetapi kandungannya terdiri dari air. Pemakaian kortikosteroid topikal poten tidak dibenarkan pada bayi dan anak. setelah diistirahatkan beberapa hari efek vasokonstriksi akan timbul kembali dan akan menghilang lagi bila pengolesan obat tetap dilanjutkan. Banyak pasien lebih mudah menemukan krim untuk kulit dan secara kosmetik lebih baik dibandingkan ointments. Lotion terdiri dari agents yang membantu melarutkan kortikosteroid dan lebih mudah menyebar ke kulit. Bahan dasar biasanya vaselin. krim terdiri dari emulsi dan bahan pengawet yang mempermudah terjadi reaksi alergi pada beberapa pasien. aman. Krim memiliki komposisi yang bervariasi dan biasanya lebih berminyak dibandingkan ointments tetapi berbeda pada daya hidrasi terhadap kulit.2. dan gel memiliki daya penyerapan yang lebih rendah dibandingkan ointment tetapi berguna pada pengobatan area rambut contoh pada daerah scalp dimana lebih berminyak dan secara kosmerik lebih tidak nyaman pada pasien. Perlu juga dipertimbangkan umur penderita3. Salep mampu melembabkan stratum korneum sehingga meningkatkan penyerapan dan potensi obat. jenis vehikulum. tetapi dapat pula lanolin atau minyak.11 Steroid topikal terdiri dari berbagai macam vehikulum dan bentuk dosis.6 Pada umumnya dianjurkan pemakaian salep 2-3 x/hari sampai penyakit tersebut sembuh. yang biasanya ditambah dengan gliserin sebagai bahan perekat.11 1. disamping itu ada beberapa faktor yang perlu di pertimbangkan yaitu jenis penyakit kulit. kondisi penyakit yaitu stadium penyakit. Salep (ointments) ialah bahan berlemak atau seperti lemak. Perlu dipertimbangkan adanya gejala takifilaksis.

Apabila diagnosis suatu dermatosis tidak jelas. Bila lesi sudah membaik. Pada sindrom putus obat terdapat keluhan lemah. Sedangkan pada malam hari kortikosteroid level yang rendah dan dengan sekresi ACTH yang normal sehingga dosis rendah dari prednison (2. Jangan menyangka bahwa kortikosteroid topikal adalah obat mujarab (panacea) untuk semua dermatosis. sebaiknya jangan lebih lama dari 2 minggu. Pemakaian kortikosteroid poten orang dewasa hanya 40 gram per minggu.2. Supresi terjadi kalau dosis prednison meebihi 5 mg per hari dan kalau lebih dari sebulan.5 mg hingga beberapa ratus mg setiap hari. bila telah mengalami perbaikan dosisnya diturunkan berangsur-angsur agar penyakitnya tidak mengalami eksaaserbasi. Kortikosteroid secara sistemik dapat diberikan secara intralesi. oral.5 sampai 5mg) pada malam hari sebelum tidur dapat digunakan untuk memaksimalkan supresi adrenal pada kasus akne maupun hirsustisme. Jika terjadi supresi korteks kelenjar adrenal. intravena. Kortikosteroid biasanya digunakan setiap hari atau selang sehari. Jika digunakan kurang dari 3-4 minggu. Pada suatu penyakit dimana kortikosteroid digunakan karena efek samping seperti pada alopesia areata. Untuk . kortikosteroid diberhentikan tanpa tapering off. intramuskular. tidak terjadi supresi korteks kelenjar adrenal dan sindrom putus obat. penderita tidak dapat melawan stress. Tinea dan scabies incognito adalah tinea dan scabies dengan gambaran klinik tidak khas disebabkan pemakaian kortikosteroid. lelah. Pemilihan preparat yang digunakan tergantung dengan keparahan penyakit.00 pagi dan terjadi umpan balik yang maksimal dari seekresi ACTH. jangan pakai kortikosteroid poten karena hal ini dapat mengaburkan ruam khas suatu dermatosis. anoreksia dan demam ringan yang jaranng melebihi 39ºC. Dosis yang paling kecil dengan masa kerja yang pendek dapat diberikan setiap pagi untuk meminimal efek samping karena kortisol mencapai puncaknya sekitar jam 08. 6 Penggunaan glukokortikoid jangka panjang yaitu lebih dari 3 sampai 4 minggu perlu dilakukan penurunan dosis secara perlahan-lahan untuk mencari dosis pemeliharaan dan menghindari terjadi supresi adrenal. Cara penurunan yang baik dengan menukar dari dosis tunggal menjadi dosis selang sehari diikuti dengan penurunan jumlah dosis obat.2 Pada pengobatan berbagai dermatosis dengan kortikosteroid. 3. kortikosteroid yang diberikan adalah kortikosteroid dengan masa kerja yang panjang. Initial dose yang dugunakan untu mengontrol penyakit rata-rata dari 2. pilihlah salah satu dari golongan sedang dan bila perlu diteruskan dengan hidrokortison asetat 1%.

Jika setelah beberapa hari belum tampak perbaikan.6 Nama penyakit Dermatitis Erupsi alergi obat ringan SJS berat dan NET Eritrodermia Reaksi lepra DLE Pemfigoid bulosa Pemfigus vulgaris Pemfigus foliaseus Pemfigus eritematosa Psoriasis pustulosa Reaksi Jarish-Herxheimer Macam kortikosteroid dan dosisnya sehari Prednison 4x5 mg atau 3x10mg Prednison 3x10 mg atau 4x10 mg Deksametason 6x5 mg Prednison 3x10 mg atau 4x10 mg Prednison 3x10 mg Prednison 3x10 mg Prednison 40-80 mg Prednison 60-150 mg Prednison 3x20 mg Prednison 3x20 mg Prednison 4x10 mg Prednison 20-40 mg Dosis yang tertulis ialah dosis patokan untuk orang dewasa menurut pengalaman. Untuk mencegahnya. Bila dosis telah mencapi 7. Seterusnya dapat diberikan selang sehari. MONITOR Dasar evaluasi yang digunakan sebelum dilakukan pengobatan kortikosteroid untuk mengurangi potensi terjadinya efek samping adalah riwayat personal dan keluarga dengan perhatian khusus kepada penderita yang memiliki predisposisi diabetes. tidak bersifat mutlak karena bergantung pada respons penderita. Jika dilakukan pengobatan jangka lama perlu . Tekanan darah dan berat badan harus tetap di ukur. Kemudian perlahan-lahan dosisnya diturunkan. glaukoma dan penyakit yang terpengaruh dengan pengobatan steroid. pada hari yang seharusnya bebas obat masih diberikan kortikosteroid dengan dosis yang lebih rendah daripada dosis pada hari pemberian obat.5 mg prednison. Keburukan pemberian dosis selang sehari ialah pada hari bebas obat penyakit dapat kambuh.6 Berikut berbagai penyakit yang dapat diobati dengan kortikosteroid beserta dosisnya:1.6 7. selanjutnya pada hari yang seharusnya bebas obat tidak diberikan kortikosteroid lagi. Alasannya ialah bila diturunkan berarti hanya 5 mg dan dosis ini merupakan dosis fisiologik.mencegah terjadinya supresi korteks kelenjar adrenal kortikosteroid dapat diberikan selang sehari sebagai dosis tunggal pada pagi hari (jam8). karena kadar kortisol tertinggi dalam darah pada pagi hari. hipertensi. dosis ditingkatkan sampai ada perbaikan. hiperlipidemia. Dosis untuk anak disesuaikan dengan berat badan / umur.

EFEK SAMPING Kortikosteroid merupakan obat yang mempunyai khasiat dan indikasi klinis yang sangat luas.6 Berikut efek samping kortikosteroid sistemik secara umum. glukosa (t.dilakukan pemeriksaan mata. Berat badan dan tekanan darah tetap selalu di monitor. 1. kolesterol. . pengukuran densitas tulang spinal dengan menggunakan computed tomography (CT). ileitis regional. lipid. Pemeriksaan tinja perlu dilakukan pada kasus darah yang menggumpal. 4.2 Sedangkan selama penggunan kortikosteroid tetap perlu dilakukan evaluasi diantaranya menanyakan kepada pasien terjadinya poliuri. mudah tersinggung. miopati panggul/bahu. kolitis ulseratif.2 Berikut hal-hal yang perlu di monitor selama penggunaan glukokortikoid jangka panjang2 No. insomnia. paranoid. atau dual-energy x ray absorptiometry (DEXA). Selain itu. 8. 6. Otot Hipotrofi. mengubah proteksi gaster. fibrosis. kecendrungan bunuh diri).1 Tempat 1. 7. Efek samping Hipertensi Berat badan meningkat Reaktivasi infeksi Abnormalitas metabolik Osteoporosis Mata Katarak Glaukoma Ulkus peptik Supresi kelenjar adrenal Monitor Tekanan darah Berat badan PPD. Manfaat dari preparat ini cukup besar tetapi karena efek samping yang tidak diharapkan cukup banyak. nyeri abdomen. 3. Tulang makan bertambah. ulkus peptikum/perforasi. test PPD. polidipsi. demam. gangguan tidur dan efek psikologi. kadar gula darah puasa. 5. 3. maka dalam penggunaannya dibatasi. pankreatitis. 2. Penggunaan glukokortikoid dosis besar mempunyai kemungkinan terjadinya efek yang serius terhadap afek bahkan psikosis. periksa serum kortisol pada jam 8 pagi sebelum tapering off. Elektrolit serum. pemeriksaan lanjut pada mata karena ditakutkan terjadinya katarak dan glaukoma. (12 hari setelah pemakaian prednison) Elektrolit. psikosis. dan trigliserida tetap diukur dengan regular. gelisah.u penderita diabetes dan hiperlipidemia) Densitas tulang Pemeriksaan slit lamp (setiap 6 sampai 12 bulan) Tekanan intraokular (saat bulan pertama dan ke enam) Pertimbangkan pengunaan antagonis H2 atau proton pump inhibitor Dosis tunggal di pagi hari. 8. dual-photon absorptiometry. nafsu 4. Susunan saraf pusat Perubahan kepribadian (euforia. Saluran cerna Macam efek samping Hipersekresi asam lambung. hiperkinesis. 2.

Darah Glaukoma dan katarak subkapsular posterior 8. KH dan Kehilangan protein (efek katabolik). penebalan lemak supraklavikula. Hirsutisme. eritrosit. hipotropi. dermatosis akneformis dan hirsustisme. Pembuluh darah Kenaikan Hb. purpura. 7. tetani. kejiwaan. Pada anak memperlambat pertumbuhan. kehilangan kalium (astenia. skoliosis. hepatomegali dan keadaan aterosklerosis dipercepat. Mata telangiektasis. paralisis.Osteoporosis. Elektrolit Retensi Na/air. lemak obesitas. Namun masalah yang mungkin timbul berikut: • • • • Gangguan tidur Meningkatkan nafsu makan Meningkatkan berat badan Efek psikologis. Metabolisme protein. efek samping yang serius jarang. Kulit Efek samping pada tulang terjadi umumnya pada manula dan wanita saat menopause. hiperhidrosis. 6. hiperlipidemia. jantung.fraktur. perlemakan hati. striae atrofise. reaktivasi Tb dan herpes simplek. obesitas sentral. Selain itu juga gangguan menstruasi. flushing. fraktur tulang panjang. Sistem immunitas kor) Menurun. tidak bisa melawan stres 10. 5.6 Efek Samping Dari Penggunaan Singkat Steroids Sistemik1 Jika sistemik steroids telah ditetapkan untuk satu bulan atau kurang. impotensi. ulkus peptik. strie atrofise. Efek Samping Penggunaan Steroid dalam Jangka Waktu yang Lama1 . Efek samping lain adalah sindrom Cushing yang terdiri atas muka bulan. dermatosis akneiformis. aritmia 12. kompresi vertebra. vertigo. termasuk peningkatan atau penurunan energi Jarang tetapi lebih mencemaskan dari efek samping penggunaan singkat dari kortikosteroids termasuk: mania. psedudotumor serebri. buffalo hump. diabetes dan nekrosis aseptik yang pinggul. 11. buffalo hump. rentan terhadap infeksi. keganasan dapat timbul. Kelenjar adrenal Kenaikan tekanan darah bagian kortek Atrofi.gula meninggi. nyeri kepala. purpura. leukosit dan limfosit 9.

Sakit kepala dan menaikkan tekanan intrakranial. Selama dan setelah pengobatan steroid. Ini terjadi setelah tahun pertama dalam 10-20% dari pasien dirawat dengan lebih dari 7. terutama ketika dosis tinggi diresepkan (misalnya tuberkulosis). delirium atau depresi. Otot lemah. termasuk kelelahan. khususnya glaukoma (peningkatan tekanan intraocular) dan katarak subcapsular posterior. terutama pada pengobatan yang menggunakan anti-inflamasi. kegembiraan. perempuan postmenopausal. yang dihasilkan dari kelenjar di bawah otak-hypopituitary-adrenal (HPA) penindasan axis. yang tidak dapat mengejar ketinggalan jika steroids akan dihentikan (tetapi biasanya tidak). orang-orang yang kurang berat atau yg tak bergerak. nekrosis avascular pada caput tulang paha (pemusnahan sendi pinggul). ribs atau pinggul bersama dengan sedikit trauma. Ulkus peptikum. Ada juga efek samping dari mengurangi dosis. Hal ini diperkirakan hingga 50% dari pasien dengan kortikosteroid oral akan mengalami patah tulang.• Pengurangan produksi cortisol sendiri. punuk kerbau dan truncal obesity. Meningkatkan diabetes mellitus (gula darah tinggi). meningkatkan berat badan dan gagal jantung. Peningkatan resiko infeksi internal. peningkatan energi. • Osteoporosis terutama perokok. orang tua. Kegoyahan dan tremor. dan pasien dengan diabetes atau masalah paru-paru. Redistribusi lemak tubuh: wajah bulan. Penyakit mata. • Penurunan pertumbuhan pada anak-anak. Efek psikologis termasuk insomnia. • • • • • • • • • • • • • . Retensi garam: kaki bengkak. nyeri otot dan sendi dan depresi. sakit kepala.5mg Prednisone per hari. menaikkan tekanan darah. terutama di bahu dan otot paha. maka kelenjar adrenal memproduksi sendiri sedikit cortisol. Osteoporosis dapat menyebabkan patah tulang belakang. Kenaikan lemak darah (trigliserida). Untuk sampai dua belas bulan setelah steroids dihentikan. perubahan mood. kurangnya respon terhadap steroid terhadap stres seperti infeksi atau trauma dapat mengakibatkan sakit parah. Jarang.

6 Pada penggunan kortikosteroid topikal efek samping dapat terjadi apabila :3. Secara umum efek samping dari kortikosteroid topikal termasuk atrofi.3. kapan.E. Penipisan epidermal yang disertai dengan peningkatan aktivitas kinetik dermal. hitung jenis. hendaknya diperiksa tekanan darah dan berat badan (seminggu sekali) terutama pada usia diatas 40 tahun dan pemeriksaan laboratorium Hb. telah ditemukan. hipopigmentasi. dermatitis peroral. Penggunaan kortikosteroid topikal yang lama dan berlebihan. L. Ini menyebabkan terbentuknya striae dan keadaan vaskulator dermal yang lemah akan menyebabkan . suatu penurunan ketebalan rata-rata lapisan keratosit. 2. purpura. hipertrikosis setempat.11 1. dermatosis akneformis. tetapi belum dibuktikan kemungkinan efek samping yang terpisah dari potensi. 2. Penggunaan kortikosteroid topikal dengan potensi kuat atau sangat kuat atau penggunaan sangat oklusif. telangiektasis. Inhibisi dari melanosit. Efek Dermal Terjadi penurunan sintesis kolagen dan pengurangan pada substansi dasar. Komplikasi ini muncul pada keadaan oklusi steroid atau injeksi steroid intrakutan.11 Beberapa penulis membagi efek samping kortikosteroid kepada beberapa tingkat yaitu3. dengan pendataran dari konvulsi dermoepidermal. striae atrofise. foto toraks.11 Efek Epidermal Ini termasuk : 1. Efek samping yang tidak diinginkan adalah berhubungan dengan sifat potensiasinya. gula darah (seminggu sekali). jumlah leukosit.D. dan dimana harus digunakan jika menggunakan yang lebih paten.Pada pengobatan jangka panjang harus waspada terhdap efek samping. kecuali mungkin merujuk kepada supresi dari adrenokortikal sistemik. suatu keadaan seperti vitiligo. urin lengkap kadar Na dan K dalam darah. Efek ini bisa dicegah dengan penggunaan tretinoin topikal secara konkomitan. apakah ada tuberkulosis paru (3bulan sekali). Dengan ini efek samping hanya bisa dielakkan sama ada dengan bergantung pada steroid yang lebih lemah atau mengetahui dengan pasti tentang cara penggunaan.

18 . Vasodilatasi yang terfiksasi. gagal jantung. herpes simpleks keratitis. yang terlihat seperti usia kulit prematur. Sebaliknya pada pengobatan jangka panjang (beberapa bulan/tahun) harus diadakan tindakan untuk mencegah terjadi efek tersebut. positive purified derivative. glaucoma. riwayat adanya gangguan jiwa. ulkus peptic. yang bisa mengakibatkan edema. tuberculosis aktif. yang biasanya kami berikan ialah ACTH sintetik yaitu synacthen depot sebanyak 1 mg (qoo IU). Efek Vaskular Efek ini termasuk : 1. diabetes. jika terjadi defisiensi K Obat anabolik ACTH diberikan 4 minggu sekali. Pada pemberian kortikosteroid dosis tinggi dapat diberikan seminggu sekali • • Antibiotik perlu diberikan jika dosis prednison melebihi 40 mg sehari Antasida Kontraindikasi pada kortikosteroid terdiri dari kontraindikasi mutlak dan relatif. dan kadang-kadang pustulasi. yaitu :6 • • • • Diet tinggi protein dan rendah garam Pemberian KCl 3 x 500 mg sehari untuk orang dewasa. Fenomena rebound. Pada kontraindikasi absolut. Terjadi efek samping bergantung pada dosis. Vasokontriksi yang lama akan menyebabkan pembuluh darah yang kecil mengalami dilatasi berlebihan.mudah ruptur jika terjadi trauma atau terpotong. kortikosteroid tidak boleh diberikan pada keadaan infeksi jamur yang sistemik. kehamilan. inflamasi lanjut. osteoporosis. Pendarahan intradermal yang terjadi akan menyebar dengan cepat untuk menghasilkan suatu blot hemorrhage. Kortikosteroid diberikan disertai dengan monitor yang ketat pada keadaan hipertensi. hipersensitivitas biasanya kortikotropin dan preparat intravena. 2. Pada pendek (beberapa hari/minggu) umumnya tidak terjadi efek samping yang gawat. Sedangkan kontraindikasi relatif kortikosteroid dapat diberikan dengan alasan sebagai life saving drugs. katarak. Ini nantinya akan terserap dan membentuk jaringan parut stelata. Kortikosteroid pada awalnya menyebabkan vasokontriksi pada pembuluh darah yang kecil di superfisial. depresi berat. lama pengobatan macam kortikosteroid.

. penggunaan kortikosteroid bukan merupakan terapi kausal ataupun kuratif tetapi hanya bersifat paliatif karena efek antiinflamasinya.3. (3) Penggunaan kortikosteroid untuk beberapa hari tanpa adanya kontraindikasi spesifik.1. Kortikosteroid adalah derivat dari hormon kortikosteroid yang dihasilkan oleh kelenjar adrenal. (5) Kecuali untuk insufisiensi adrenal. Kortikosteroid terbagi kepada dua golongan utama yaitu glukokortikoid dan mineralokortikoid. (4) Bila pengobatan diperpanjang sampai 2 minggu atau lebih hingga dosis melebihi dosis substitusi. potensi medium.1. dan vaskular. Efek katabolik dari kortikosteroid bisa dilihat pada kulit sebagai gambaran dasar dan sepanjang penyembuhan luka serta mengurangi akses dari sejumlah limfosit ke daerah inflamasi yaitu di daerah yang menghasilkan vasokontriksi.2. insidens efek samping dan efek letal potensial akan bertambah. Dapat dibagi beberapa tingkat yaitu efek epidermal. (6) Penghentian pengobatan tiba-tiba pada terapi jangka panjang dengan dosis besar. dosis efektif harus ditetapkan dengan trial and error. dan harus dievaluasi dari waktu ke waktu sesuai dengan perubahan penyakit. tidak membahayakan kecuali dengan dosis sangat besar. Efek samping lokal yang terjadi . potensi tinggi.9 Efek samping dapat terjadi apabila penggunaan kortikosteroid topikal yang lama dan berlebihan serta pada potensi kuat atau sangat kuat atau penggunaan sangat oklusif.BAB III RINGKASAN kortikosteroid merupakan pengobatan yang paling sering diberikan kepada pasien. (2) Suatu dosis tunggal besar kortikosteroid umumnya tidak berbahaya. Kortikosteroid bekerja dengan mempengaruhi kecepatan sintesis protein yang mana terjadi induksi sintesis protein yang merupakan perantara efek fisiologis steroid. mempunyai resiko insufisiensi adrenal yang hebat dan dapat mengancam jiwa pasien.3. efek anti-proliferasi.2.10 Berdasarkan potensi klinisnya dibedakan ke dalam beberapa golongan yaitu super poten. dermal. immunosupresan. dan efek anti-inflamasi. dan potensi lemah. Efek klinis dari kortikosteroid topikal berhubungan dengan empat hal yaitu : vasokontriksi.10 Dari pengalaman klinis dapat diajukan minimal 6 prinsip terapi yang perlu diperhatikan sebelum obat kortikosteroid digunakan: (1) Untuk tiap penyakit pada tiap pasien.

purpura.10 . telangiektasis. hipopigmentasi. dan dermatitis perioral.3. striae atrofise. hipertrikosis setempat.meliputi atrofi. dermatosis acneformis.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful